Kewibawaan (Gezag) dalam pendidikan Gezag berasal dari zeggen yang berarti “berkata”.

Siapa yang perkataannya mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain berarti mempunyai kewibawaan/gezag terhadap orang lain. ¬ Macam-macam kewibawaan 1) Kewibawaan pendidikan 2) Kewibawaan keluarga ¬ Fungsi kewibawaan dalam pendidikan adalah membawa si anak ke arah pertumbuhannya yang kemudian dengan sendirinya mengakui wibawa orang lain dan mau menjalankannya juga. ¬ Kewibawaan dalam masyarakat orang dewasa tidak menjadi berkenang tetapi harus stabil ¬ Kewibawaan dalam pendidikan harus berstandar kepada perwujudan norma-norma dalam diri anak si pendidik sendiri. ¬ Kewibawaan dan identifkasi a) Spanduk mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan dan kebahagiaan si anak b) Sianak mengidentifikasikan dirinya terhadap pendidiknya. Kewibawaan Guru BAB I PENDAHULUAN PENDIDIKAN merupakan salah satu nilai terpenting yang tak dapat tergantikan dalam kehidupan bangsa. Karena pendidikan mampu membawa generasi muda sebagai cikal bakal penerus bangsa untuk mampu memimpin dan merubah ke arah yang lebih baik lagi. Perkembangan pengetahuan semakin bertambah seiring kedewasaan pola pikir yang telah dibekali oleh pendidikan. Berkat pendidikan jugalah watak, sikap, dan sifat seseorang terwujud. Mulai dari penampilan, gaya berbicara, kewibawaan, hingga memanage waktu, persoalan dan kesibukan sehari-hari mencerminkan tinggi atau rendahnya pendidikan seseorang. Fenomena yang menarik kita cermati dalam aspek kehidupan sosial saat ini, diantaranya adalah terjadinya krisis kepemimpinan dan kewibawaan. Krisis kepemimpinan tidak hanya terjadi pada ranah politik kenegaraan tetapi merambah ke semua kelembagaan sosial-

kemasyarakatan lainnya, misalnya lembaga pendidikan (juga pesantren), bisnis (swasta), parpol, organisasi sosial-keagamaan, dll. Dan, yang lebih tragis selain krisis kepemimpinan juga diikuti oleh krisis kewibawaan, banyak sekarang Kyai yang ditinggalkan santrinya, banyak guru yang tidak lagi layak digugu dan ditiru, tidak adanya nilai atau norma hubungan antara murid dengan guru ini dapat dijadikan sebagai indikasi krisis kewibawaan seorang guru. Untuk itu, sekolah yang menjadi wadah untuk menggembleng seseorang menjadi faktor utama dan terpenting. Besarnya pengorbanan guru juga menjadi penentu kualitas dari pendidikan. Tatkala mutu guru untuk memberikan ilmu pengetahuan kurang maksimal, terutama di bidang moral sudah dipastikan banyak murid yang terjerumus dalam perilaku yang melenceng. Walau ada perhatian dan andil yang besar dari orang tua saat di rumah. Oleh karena itu kepemimpinan pembelajaran seorang guru dituntut menguasai alat pembelajaran yang disebut kewibawaan. BAB II PEMBAHASAN A.Kewibawaan Kewibawaan merupakan “alat pendidikan” yang diaplikasikan oleh guru untuk menjangkau (to touch) kedirian anak didik dalam hubungan pendidikan. Kewibawaan ini mengarah kepada kondisi high touch, dalam arti perlakuan guru menyentuh secara positif, kontruktif, dan komprehensif aspek-aspek kedirian/kemanusiaan anak didik. Dalam hal ini guru menjadi fasilitator bagi pengembangan anak didik yang diwarnai secara kental oleh suasana kehangatan dan penerimaan, keterbukaan dan ketulusan, penghargaan, kepercayaan, pemahaman empati, kecintaan dan penuh perhatian (Rogers, 1969; Gordon, 1974; Smith, 1978; Barry & King, 1993; Hendricks, 1994). Sejalan dengan pengembangan suasana demikian itu, guru dengan sungguh-sungguh memahami suasana hubungannya dengan anak didik secara sejuk, dengan menggunakan bahasa yang lembut, tidak meledak-ledak (Silberman, 1970 dan Gordon, 1974). Dalam melaksanakan tugas sebagai guru, hal penting yang harus diperhatikan bagi seorang guru adalah persoalan kewibawaan. Pendidik harus meliliki kewibawaan (keluasan batin dalam mendidik) dan menghindari penggunaan kekuasaan lahir, yaitu kekuasaan

Kasih sayang mengandung makna. menerima dan “menuruti” dengan penuh pengertian atas keluasaan tersebut. Kewibawaan pendidik hanya dimiliki oleh mereka yang dewasa. yaitu kepercayaan. Kedewasaan pikiran hanya akan tercapai oleh individu yang telah melakukan proses atau dialektika dengan realitas social yang pernah dilaluinya. yaitu penyerahan diri kepada yang disayangi/peserta didik dan melakukan proses pembebasan terhadap yang disayangi dalam batasan-batasan yang tidak merugikan peserta didik dan kesediaan untuk berkorban dalam bentuk konkretnya berupa pengabdian dalam kerja. mengambil manfaat dari pengalaman kerja. Misalnya ketika masih mahasiswa aktif melakukan diskusi-diskusi dengan berbagai kelompok dalam kampus atau terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang sifatnya memacu perkembangan kognitif. tetapi tidak sampai guru dijadikan sebagai sesuatu yang sangat agung yang terlepas dari kritik. Kedua.semata-mata pada unsure kewenangan jabatan. sehingga guru tidak hanya seperti burung beo yang pengetahuannya tidak pernah bertambah. kasih sayang dan kemampuan. Kewibawaan yang efektif menurut Charles Schaefer (1996:86) didasarkan atas pengetahuan yang lebih utama atau keahlian yang dilaksanakan dalam suatu suasana kasih sayang dan saling menghormati. Ada tiga sendi kewibawaan. Ketiga. Yang dimaksud dengan kedewasaan disini adalah kedewasaan pikiran. Pertama. kepercayaan. kemampuan mendidik dapat dikembangkan melalui beberapa cara. afektif dan psikomotorik Atau terlibat dalam advokasi-advokasi kemahasiswaan. agar guru mengajar sambil belajar hal-hal yang baru. Kewibawaan guru akan lebih berarti jika membuat siswanya dapat melakukan koreksi atau kritik terhadap dirinya. antara lain pengkajian terhadap ilmu pengetahuan kependidikan. Wens Tanlain dkk. senantisa megikuti alur perkembangan ilmu pengetahuan. (1996:78) . guru diharapkan memiliki kewibawaan agar mampu membimbing siswa kepada pencapaian tujuan belajar yang sesungguhnya ingin direalisasikan. pendidik harus percaya bahwa dirinya bisa mendidik dan juga harus percaya bahwa peserta didik dapat mengembangkan dirinya sehingga dalam proses pembelajaran guru berfungsi sebagai pembangkit potensi peserta dididik. Karenanya. Kewibawan justru menjadikan suatu pancaran batin yang dapat memimbulkan pada pihak lain untuk mengakui.

Kewibawaan meliputi: a. Dasar dari suasana hubungan seperti ini adalah love dan caring dengan fokus segala sesuatu diarahkan untuk kepentingan dan kebahagiaan anak didik. b. tindakan menghukum yang menimbulkan suasana negatif pada diri anak didik dihindarkan. sesuai dengan prinsip-prinsip humanistik. dan permisifkonstruktif bersifat pengembangan. Seorang guru menurut Hadiyanto (2004:30). Pemberian penguatan didasarkan pada kaidah-kaidah pengubahan tingkah laku. Penguatan adalah upaya guru untuk meneguhkan tingkah laku positif anak didik melalui bentuk-bentuk pemberian penghargaan secara tepat yang menguatkan (reinforcement). Keteladanan adalah penampilan positif dan normatif guru yang diterima dan ditiru oleh anak didik. peranan. pengakuan. tidak mengurangi kebebasan anak didik sebagai subjek yang pada dasarnya otonom dan diarahkan untuk menjadi pribadi yang mandiri. serta penerimaan dan perilaku anak didik terhadap guru atas dasar status. sampai internalization (Musen & Rosenzweig. tuntunan dan nilai-nilai manusiawi. dan komunikasi guru terhadap anak didik didasarkan atas hubungan sosioemosional yang dekat-akrab-terbuka. e. Kasih sayang dan kelembutan adalah sikap. d. Pengarahan adalah upaya guru untuk mewujudkan ke mana anak didik membina diri dan berkembang. merupakan manusia terhormat dalam segala aspek. dari yang berpola compliance. Upaya yang bernuansa direktif ini. 1973). fasilitatif. Dengan tindakan tegas yang menddik ini. Tindakan tegas yang mendidik adalah upaya guru untuk mengubah tingkah laku anak didik yang kurang dikehendaki melalui penyadaran anak didik atas kekeliruannya dengan tetap menjunjung kemanusiaan anak didik serta tetap menjaga hubungan baik antara anak didik dan guru. termasuk di dalamnya kepemimpinan guru. kepercayaan siswa terhadap guru sebagai pendidik yang memberi bantuan. dan kualitas yang tinggi. Pengakuan adalah penerimaan dan perlakuan guru terhadap anak didik atas dasar kedirian/kemanusiaan anak didik. perlakuan. Dasar dari keteladanan adalah konformitas sebagai hasil pengaruh sosial dari orang lain. f. yang harus menjadi suri tauladan di . c.lebih tegas menjelaskan bahwa kewibawaan adalah adanya penerimaan. identification.

Raka Joni (1982:65) menyatakan bahwa karakteristik guru meliputi: a. B. mengutamakan standar prestasi yang tinggi untuk siswa dan dirinya. penguasaan materi yang mantap. dekat dan suka bergaul dengan siswa. LEADER adalah orang yang membimbing dan mengarahkan dalam tindakan orang lain. Khususnya di sekolah-sekolah kota yang hanya menghormati guru apabila ada maksud-maksud tertentu seperti untuk mendapatkan nilai tinggi dan dispensasi. keterampilan. T. Kepemimpinan Guru Pemimpin disebut juga LEADER. baik dalam hal kemampuan berpikir.kelas dan di luar kelas. Sejalan dengan itu. Raka Joni (1985:66) bahwa proses internalisasi tercermin pada pendekatan guru yang dekat dengan siswa. merasakan dan berpengalaman yang semuanya itu terpadu dalam bentuk pertimbangan-pertimbangan yang matang terhadap apa yang akan dilakukan. Lebih jauh Prayitno (2002:14) menjelaskan bahwa pamrih-pamrih yang ada. menguasai berbagai strategi pembelajaran. selain dapat merugikan dan membebani peserta didik. sepenuh hati menyukai bidangnya. Dengan demikian. dan f. b. kelompok dan individual e. Menurut T. LEADERSHIP (menurut arti katanya) adalah sifat yang dimiliki oleh . merupakan pencederaan terhadap makna pendidikan dan menurunkan kewibawaan pendidik. pandangan yang luas serta harus memiliki kewibawaan dan kesungguhan melaksanakan tanggung jawabnya. Artinya bahwa proses internalisasi pada diri peserta didik berlangsung melalui diaktifkannya kekuatan yang ada pada mereka melalui pendekatan yang digunakan guru yaitu kekuatan berpikir. d. bersikap. maupun bertutur kata yang tercermin dari tingkah lakunya. Kewibawaan guru tersebut di atas harus didasarkan pada proses internalisasi pada diri peserta didik. guru harus memiliki kemampuan. c. Prayitno (2002:14) menyatakan bahwa dalam proses pendidikan ada kedekatan antara pendidik dan peserta didik. luwes tetapi tegas dan sistematis dalam pengaturan kerja. mampu mengelola kegiatan pembelajaran secara klasikal. Muhibbin Syah (1997:221) menyatakan bahwa wibawa guru di mata murid kian jatuh.

Target akhir kepemimpinan pembelajaran adalah guru mampu menumbuhkan motivasi (internal motivation) internal belajar anak didik. Kepemimpinan merupakan hal yang mutlak dalam tiap segi kehidupan. (2) menggerakkan siswa mencapai kompetensi dasar semaksimal mungkin. kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain. reseources linker. Kepemimpinan juga pada dasarnya berarti kemampuan untuk memimpin. Tapi di sekolah? Walaupun sudah jelas ada jabatan kepala sekolah serta sederet jabatan lain yang intinya adalah pemimpin para guru namun guru sebagai individu tidak bisa tidak harus juga punya aspek kepemimpinan. memelihara kesediaan bekerja sama dan menjamin kelancaran serta keutuhan hubungan guru dengan siswa. . Newstrom & Davis berpendapat bahwa kepemimpinan merupakan suatu proses mengatur dan membantu orang lain agar bekerja dengan benar untuk mencapai tujuan. yaitu menyediakan suatu system komunikas. Menurut Gibson. Ketiga orientasi tersebut tidak diterjadikan secara terpisah-pisah. dengan maksud untuk mencapai tujuan dan prestasi kerja. advisor) dalam mencapai kompetensi dasar pada dirinya secara maksimal sebagai bentuk kualitas pembelajarannya. dan (3) penumbuhan motivasi internal belajar anak didik. yang selanjutnya menjadi penggerak (drive) bagi anak didik untuk secara mandiri (self motivation) berupaya (guru sekadar fasilitator. yang dilakukan melalui hubungan interpersonal dan proses komunikasi untuk mencapai tujuan. Dalam kontekstual pembelajaran kepemimpinan pembelajaran lebih berorientasi pada: (1) proses bagaimana kualitas pembelajaran mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.pemimpin untuk membimbing dan mengarahkan tindakan orang lain. Sedangkan Stogdill berpendapat bahwa kepemimpinan juga merupakan proses mempengaruhi kegiatan kelompok. kemampuan untuk menentukan secara benar apa yang harus dikerjakan. Dalam rangka implementasi kepemimpinan pembelajaran seorang guru dituntut menguasai alat pembelajaran yang disebut kewibawaan. Dari kepemimpinan negara sampai kepemimpinan di dalam rumah tangga adalah hal yang bisa dan gampang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun Fungsi kepemimpinan itu pada pokoknya adalah menjalankan wewenang kepemimpinan. mediator.

menerima atau menolak. Mangambil hati dan pikiran pribadi-pribadi yang ada disekitarnya Mudah sekali memimpin siswa dikelas jika kita sudah bisa mengambil hati serta bisa membaca pikiran siswa kita dikelas. 3.A. Jika kita sudah menguasai keterampilan dalam mengambil hati dan pikiran akan labih mudah juga bagi guru untuk mendukung siswa melewati hambatan dalam proses belajarnya. Sikap berorientasi pada diri sendiri bukan berarti egois. 4. Banyak guru yang mengalami tekanan pekerjaan karena kurang berorientasi pada diri sendiri. Misalnya ketika ada guru lain yang meminta kita melakukan sesuatu pertolongan yang berhubungan dengan pekerjaan adakalanya sikap kita hanya dua. rekan sesame guru. Padahal ada sikap satu lagi yaitu menerima untuk kemudian mengatur waktu agar bisa dikerjakan . ada banyak pihak yang ada disekeliling lingkup pekerjaannya sebagai pendidik. Tapi dibutuhkan teknik mengajar yang kreatif untuk mewujudkan itu semua. Dalam menumbuhkan dan meyuburkan suasana mencari ilmu dikelas Guru dibutuhkan perannya agar siswa menguasai subyek yang diajarkan. Ada kepala sekolah. Ingat singakatan dari T. administrasi dan pihak lain yang jika tidak diperlakuakn sebagai team akan menimbulkan masalah dikemudian hari. Mau mengerti diri sendiri dan orang lain.E. Ada 4 Aspek yang termasuk dalam kepemimpinan guru di kelas yaitu: 1. Bermitra dalam bekerja dengan orang lain Dalam mengajar sebuah kelas guru pastinya tidak sendiri. mempunyai inisiatif dalam mencari pengetahuan diluar yang diajarkan serta berpikiran kritis dan analitis. Sebenarnya bukan hal yang mudah dalam membaca pikiran siswa.Ada dua perbedaan nyata namun menariknya keduanya saling mendukung dan memberikan kontribusi yang sama bagi sekolah sebagai komunitas pembelajar yang professional. tetapi lebih kepada upaya untuk menggali apa yang menjadi potensi orang-orang disekitarnya sambil menghormati diri kita sendiri.M artinya Together wE Achieve More atau bersama untuk meraih yang terbaik. 2. Tapi jika kita mau membiasakan melihat apa yang tersirat maka lama kelamaan akan menjadi mudah membaca pertanda atau isyarat yang diberikan siswa mengenai sesuatu hal.

sehingga dengan demikian guru akan dijadikan sebagai panutan. yaitu sebagai berikut: • Memilih teks book • Membuat kurikiulum • Mengelola perilaku siswa Kesimpulan Disimpulkan bahwa kewibawaan adalah merupakan tonggak utama yang harus dimiliki seorang guru sebagai pendidik dan pembimbing.sambil berusaha mengajarkannya agar dilain kesempatan rekan tadi mampu menolong dirinya sendiri. PENDAHULUANPendidikan bukan sekedar mengajarkan atau mentransfer pengetahuan. dan teman yang disegani oleh siswa. contoh. kemampuan mengelola kelas. Dengan kewibawaan yang dipunyai guru berarti memiliki kemampuan lebih. Dengan kata lain. Kewibawaan merupakan “alat pendidikan” yang diaplikasikan oleh guru untuk menjangkau (to touch) kedirian anak didik dalam hubungan pendidikan. kedekatan dengan siswa. nilai-nilai dan budaya serta didik. untuk meningkatkan harkat dan martabat sebuah bangsa pada era global ini. melainkan juga untuk mengembangkan karakter. berpenampilan menarik. bertanggungjawab dan sungguh-sungguh. tidak adajalan lain kecuali dengan meningkatkan kualitas pendidikan. moral. Karena itu. bapak. dan terbebas dari tujuantujuan ekstrinsik yang bersifat pamrih untuk kepentingan pribadi pendidik Dalam rangka implementasi kepemimpinan pembelajaran seorang guru dituntut menguasai alat pembelajaran yang disebut kewibawaan. Beberapa upaya yang bisa dilakukan sekolah dan guru untuk meningkatkan aspek kepemimpinan dalam diri guru. membangun masa depan bangsa. Hubungan antara pendidik dan peserta didik haruslah mengarah kepada tujuan-tujuan instrinsik pendidikan. KEWIBAWAAN (GEZAG) DALAM PENDIDIKAN01:36  Posted by IkhsanA. atau semata mengembangkan aspek intelektual. membangun peradaban.Dengan meningkatkan kualitas pendidikan maka akan . mempunyai kekuatan dan keahlian yang berhubungan dengan pembelajaran yang meliputi: penguasaan materi pelajaran. pendidikan adalah membangun budaya.

. Orang tua atau keluarga mendapat hak untuk mendidik anak-anaknya. Hak dan kewajiban yang ada pada orang tua itu keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan. penguasaan iptek (ilmu pengetahuan dan ). seorang pendidik itu harus memiliki wibawa (gezag). sesuatu yang terus diperjuangkan perbaikan dan kemajuannya.B. suatu hak yang tidak dapat dicabut. Sebab. Meminjam ungkapan Mendiknas. Agar bisa menjadi tenaga pendidik yang baik dan profesional. pendidikan Indonesia adalah sebuah proses pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Setiap harinya.tercipta kesatuan utuh dalam rencana dan gerak langkah pembangunan bangsa di masa depan. PEMBAHASAN1.Pada suatu sekolah ada seorang guru yang bernama Bapak Budi yang sangat diseganioleh murid-muridnya. Dan yang penting disadari ialah bahwa pendidikan merupakan sebuahproses. kita tidak bisa lepas dari pada tenaga pendidik itu sendiri. Untuk jelasnyadapat penulis kemukakan contoh dibawah ini. karena terikat oleh kewajiban. Kualitas pendidikan mesti bersandar pada segenap aspek yang terdapat dalam diri manusia atauwarga negara. berarti mempunyai kewibawaan atau gezag terhadap orang itu. Mereka (murid-murid) sangat takut dan patuh kepadanya. Orang tua dengan langsung mendapat tugas dari Tuhan untuk mendidik anak-anaknya. Dapatkita katakan bahwa kewibawaan yang ada pada orang tua (ayah dan ibu) itu adalahasli. yang setidaknya akan termanifestasikan dalam tiga hal. kualitas pendidikan sangat menentukan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Di samping mempunyai atau memiliki ilmu dan seni dalam mendidik. Pengertian Kewibawaan (Gezag)Gezag berasal dari kata zeggen yang berarti  berkata  . Siapa yang  perkataannya  mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain. (Tim Prima Pera: 2006=147)Gezag atau kewibawaan itu ada pada orang dewasa. Di dalam makalah ini penulis akan membahas tentangwibwa () di dalam pendidikan. terutama pada orang tua.Berbicara tentang pendidikan.

Orang tua (ayah dan ibu) adalah pendidik yang terutama dan yang sudah semestinya. Adapun nasihat-nasihat yang dimintanya atau diterimanya dari orang tua meskipun orang yang meminta atau menerima nasihat itu sudah dewasa. lebih meresap dan lebih mudah ser ta dengan senang menjalankan daripada Bapak Salim. murid-murid sudah duduk dengan tenang dan tertib menantikan Pak Budi itu mengajar. sering kalau tidak dikerjakan oleh murid-muridnya. Merekalah pendidik asli.sebelum Pak Budi masuk ke dalam kelas.2. Anak-anak tidak merasa segan atau patuh kepadanya.Adapun kewibawaan orang tua itu terdiri dari 2 sifat :1) Kewibawaan pendidikanIni berarti bahwa dengan kewibawaannya itu orang tua bertujuan memelihara keselamatan anak-anaknya. Karena itu pak Salim seringkali marah dan menghukum anak dalam kelas. Anak-anak maumengerjakan apa yang diperintahkannya karena mereka takut. Atau dengan kata lain: pengaruh yang ditimbulkan oleh Bapak Budi lebih dipatuhi oleh anak-anak. dan selanjutnya berkembang jasmani dan rohaninya menjadi manusia dewasa. Anak-anak hormat kepadanya. yang menerima tugasnya dari kodrat. bahwa Bapak Budi lebih berwibawa. Anak-anak lebih patuh dan lebih segan terhadap Bapak Budi. Peringatan-peringatan dan nasihatnasihat yang diberikannya tidak atau kurang dihiraukannya oleh murid-muridnya. Perintah-perintah atau tugas-tugas yang diberikannya. Ia kurang disegani anak-anak muridnya. jadi bukan karena insaf atau percaya kepadanya. Segala sesuatu yang diperintahkan atau dinasihatkan ataupun diperingatkan oleh Bapak Budi. Semua perintah dan larangannya serta nasihatnya yang diberikan kepada murid-muridnya. Karena itu sudah semestinya mereka mempunyai kewibawaan terhadap anakanaknya. Kewibawaan Orang Tua dan Kewibawaan Gurua. sehingga kelas menjadi ribut. Tetapi anakitu bukan semakin patuh atau menurut kepadanya. dan banyak juga . diturut dan dipatuhi oleh anak-anaknya.Sebaliknya dengan Bapak Salim yang ada di sekolah itu. agar mereka dapat hidup terus. bahkan sebaliknya. dari Tuhan untuk mendidik anak-anaknya. anak-anak ada saja yang selalu membuatribut dalam kelas. lebih mempunyai kewibawaan atau gezag daripada Bapak Salim.Dari contoh di atas dapat kita mengatakan. Setiap pak Salim mengajar.

melainkan ia menerima jabatan itu dari pemerintah. dan diberi kekuasaan sebagai pendidik oleh negara atau masyarakat. Soal sudah dewasa atau belum. Tetapi hal itu hendaknya timbul dari hati yang tulus ikhlas. guru atau pendidik karena jabatan berkenaan dengan jabatannya sebagai pendidik. tidak karena keharusan. Selain itu. Kekuasaan tersebut meliputi .b. Dengan demikian orang tuasebagai kepala keluarga dan dalam hubungan kekeluargaannya mempunyai wibawa terhadap anggota-anggota keluarganya. guru atau pendidik karena jabatan menerima kewibawaannya sebagian lagi dari pemerintah yang mengangkat mereka. guru atau pendidik karena jabatannya jugamempunyai kewibawaan memerintah. Maka dari itu kewibawaan yang ada padanya pun berlainan dengan kewibawaan orang tua. selama ia menjadi anggota keluarga itu.2) Kewibawaan keluargaOrang tua merupakan kepala dari suatu keluarga. Kewibawaan guru atau pendidik (yang bukan orang tua) menerima jabatannya sebagai pendidik bukan dari kodrat (dari Tuhan). Kewibawaan keluarga itu bertujuan untuk pemeliharaan dan keselamatan keluarga. dan setiap tahun berganti murid. Ia ditunjuk. Mereka telah diberi kekuasaan oleh pemerintahatau instansi yang mengangkat mereka. Kewibawaan pendidikan yang ada pada guru ini terbatas oleh banyaknya anak-anak yang diserahkan kepadanya.2) Kewibawaan memerintahSelain memiliki kewibawaan pendidikan. itu bukan soal yang penting lagi. Tiap anggota keluarga harus tunduk kepada kewibawaan keluarga.yang dituruti.Kewibawaan guru atau pendidik juga ada 2 sifat :1) Kewibawaan pendidikanSama halnya dengan kewibawaan pendidikan yang ada pada orang tua. Tiap-tiap anggota keluarga harus patuh kepadaperaturan-peraturan yang berlaku dalam keluarga itu. telah diserahisebagian dari tugas orang tua untuk mendidik anak-anaknya. yang sudah tentu dalam  masyarakat  itu harus ada peraturan-peraturan yang harus dipatuhi dan dijalankan. Tiap-tiap keluarga merupakan  masyarakat kecil  . ditetapkan.

Demikian pula pergaulan antara anak-anak dengan anak-anak biarpun sering kali seorang anak menguasai dan dituruti oleh anak-anak lainnya tetapi kekuasaan atau gezag yang terdapat pada anak itu tidak bersifat gezag pendidikan.Tidak setiap macam tunduk menurut terhadap orang lain (seperti menurut perintah-perintah anak lain) dapat dikatakan  tunduk terhadap wibawa pendidikan  . mau menjalankan suruhannya dengan sadar. dan dirinya merasa sendiri terikat akan memenuhi perintah itu. Bagi kepala sekolah kewibawaan ini lebih luas. di sanalah anak-anak telah diserahkan kepadanya. yaitu dengan sadar mengikuti kewibawaan. karena kekuasaan itu tidak tertuju kepada tujuan pendidikan.Dalam pergaulan baru terdapat pendidikan jika di dalamnya telah terdapat kepatuhan dari si anak. Tetapi tidak semua pergaulan a ntara orang dewasa dengan anak-anak merupakan pendidikan.b) Sikap tunduk atau patuh (). yaitu bersikap menuruti atau mengikuti wibawa yang ada pada orang lain. meliputi pimpinan sekolahnya. orang menerima dan bertanggung jawab sendiri terhadap pengaruh-pengaruh pergaulan itu. (Ngalim Purwanto. ada pula pergaulan semacam itu yang mempunyai pengaruh-pengaruh jahat atau pergaulan yang netral saja.Dalam hal yang terakhir inilah tampak fungsi wibawa pendidikan. Fungsi Kewibawaan dalam PendidikanPendidikan itu terdapat dalam pergaulan antara orang dewasa dengan anak-anak. takut.pimpinan kelas. Sebab pergaulan antara orang dewasa sesamanya. yaitu mengakui kekuasaan orang lain yang lebih besar karena paksaan. yaitu membawa sianak ke arah pertumbuhannya yang kemudian dengan sendirinya mengakui wibawa orang lain dan . artinyamengakui hak pada orang lain untuk memerintah dirinya. 2000 : 49)3. Bagaimana sikap anak terhadap kewibawaan pendidik? Dalam hal ini Langeveld menjelaskan dengan dua buah kata:a) Sikap menurut atau mengikut (volagen). jadi bukan tunduk atau menuruti yang sebenarnya. Satu-satunya pengaruh yang dapat dinamakan pendidikan ialah pengaruh yang menujuke kedewasaan si anak: untuk menolong si anak menjadi orang yang kelak dapat atau sanggup memenuhi tugas hidupnya dengan berdiri sendiri.

mengeritik atau tidak  pemerintah tidak mengindahkannya. Jadi mempunyai pengertiantentang norma-norma atau ukuran hidup. yang berarti bahwa mereka sudah seharusnya mempunyai cukup kesadaran akan keharusan dan faedahnyakewajiban-kewajiban itu mengurangi kebebasan mereka. Jadi kekuasaan pemerintah hanya mengenai perbuatan-perbuatan kita yang lahir.2) Masyarakat menurut atau patuh kepada pendukung-pendukung kekuasaan pemerintahitu bukan karena sempurnanya kepribadiannya.mau menjalankannya. supaya dapat tercapai maksud masyarakat itu. (Athiyah Alabrasy.Anggota-anggota masyarakat adalah orang-orang yang telah  dewasa  . pemerintah meminta kita semua mentaati segala peraturannya.4) Kewibawaan dan pelaksanaan kewibawaan dalam masyarakat tidak . Kewibawaan dalam Masyarakat1) Dalam masyarakat harus ada wibawa.3) Sebaliknya. perlu kiranya penulis adakan perbandingan antara kewibawaan yang berlaku di dalam masyarakat dengan kewibawaan yang berlaku bagi pendidikan. yaitu badan kekuasaan legisltif. Kewibawaan dalam Masyarakat dan Kewibawaan dalam PendidikanAgar lebih jelas mengenai apa yang dimaksud dengan kewibawaan pendidikan dan bagaimana melaksanakan kewibawaan itu didalam praktek mendidik anak-anak.a. dan sebagai bupati ia berhak mengeluarkan peraturan-peratutan dan melaksanakannya. yaitu: kesejahteraan umum. tetapi hanya karena orang-orang itu telah mendapat pengangkatannya untuk menjalankan kewajibankewajibannya. 2001 : 55)4. Bagaimana kebatinan kita (masing-masing orang) yang sebenarnya  setuju atau tidak. asal kita taat kepada apa yang diperintahkannya. kita adalah warga negara yang baik. selama perbuatan-perbuatan kita yang lahir ini sesuai denganperaturan-peraturan. dan kita telah memenuhi kewajiban kita. dengan sendirinya dalam batas-batas kekuasaannya saja. Kitamenurut kepada seorang bupati. Di dalam negara (yang berdasar demokrasi) ada 3 badan yang memegang kewibawaan. eksekutif dan yudisial.

Kewibawaan dan IdentifikasiDi atas telah dikatakan bahwa tujuan dari wibawa dalam pendidikan itu ialah. akan tetapi dalam pendidikan akan selalu menjadi berkurang.b. pertama-tama yang kita tuju ialah bahwa si anak dengan sepe nuh kepercayaannya menyerahkan dirinya kepada pendidiknya (orang tuanya).3) Wibawa dan pelaksanaan wibawa dalam masyarakat tetap. dan kita tidak dapat mencapai: si anak itu mengenal nilai-nilai. karena tujuannya ialah hendak mengatur perputaran masyarakat yang baik.menjadi berkurang. secara berangsur-angsur anak dapat mengenal nilai-nilai hidup atau normanorma (seperti norma-norma kesusilaan. Bila tidak. dan berusaha hidup sesuai dengan kewibawaan itu. melainkan tetap stabil.2) Dalam pendidikan. dan dengan keyakinan hidup menyesuaikan diri dengan nilai-nilai itu. yaitu mengenal dan hidup yangsesuai dengan norma-norma. (Ngalim Purwanto. 2000 : 57)5. sebaliknya dengan kesukarelaan dan keikhlasan sendirilah sianak mengakui adanya wibawa negara. dengan wibawa itu di pendidik hendak berusaha membawa anak itu ke arah kedewasaannya. Itulah arti  kedewasaan  yang tepat. Justru karena wibawa itu mempunyai tujuan untuk membawa si anak ke tingkat kedewasaannya. ketuhanan dan . Ini berarti. keindahan. dan dengan demikian mencapai peryesuaian batin.Ini tidak berarti bahwa si anak (yang telah dewasa itu) tidak lagiperlu mengakuiadanya kewibawaan. kita tetap taat di bawahkewibawaannya dan negara tetap akan melaksanakan kewibawaannya di atas kita. yang berarti si anak hanya mengerjakan apa yang diperintahkan saja. Kewibawaan dalam Pendidikan1) Pelaksanaan kewibawaan dalam pendidikan itu harus bersandarkan perwujudan norma-norma dalam diri si pendidik sendir.Tidak ada seorang pun yang lebih banyak kewibawaannya daripada mereka yang mewujudkan kewibawaan itu dalam dirinya sendiri. maka menjadi syaratlah bahwa si pendidik memberi contoh dengan jalan menyesuaikan dirinya dengan norma-norma itu sendiri. kita tidak akan dapat mencapai tingkatan di atas dresur. Selama kita hidup dalam masyarakat. Tuhan. dan akhirnya selesai bila telah tercapai tingkat kedewasaan.

juga yang dididik mempersatukan dirinya terhadap pendidiknya.sebagainya) dan menyesuaikan diri dengan norma-norma itu dalam hidupnya.Pada anak dua kemungkinan cara mengidentifikasi itu :1) Ia menurut dengan sempurna. yang semestinyamenjadi tanggung jawab anak itu sendiri. Si anak mengidentifikasi dirinya terhadap pendidiknya. tidak menentang.Dalam setiap masam kewibawaan terdapatlah suatu identifikasi sebagai dasar. Artinya. mempertimbangkan. pendidikan tidak akan berhasil baik. Itulah syarat untuk membuat si anak berdiri sendiri. Bahanyanya ialah. selama si anak itu sendiri belum dapat memilih. menurut pengalamannya.Jadi dalam hal ini identifikasi mengandung dua arti :a. Ia berbuat untuk anak karena anak belum dapat berbuat sendiri. perintah dan larangan dilakukansecara pasif saja. jadi untuk anaknya itulah ia mengambil tanggung jawab. Si pendidik mengindentifikasi dirinya dengan kepentingan dan kebahagiaan si anak. Hal sedemikian dapat dipertanggung jawabkan dan memang perlu.b.Si pendidik memilih. Tanpa kewibawaan itu.Syarat mutlak dalam pendidikan ialah adanya kewibawaan pada si pendidik. tentu saja berlain-lainan menurut perkembangan umurnya. Tetapi lambat-laun camput tangan orang tua atau pendidik itu harus makin berkurang. mempertimbangkan dan mengambil keputusan untuk dirinya. ia memilih untuknya. dalam melakukan kewibawaan itu si pendidik mempersatukan dirinya dengan didik. di dlam diri anak itu tidak tumbuh kesadaran akan norma-norma sehingga karena itu ia tidak akan mungkin sampai pada tingkatan  penentuan sendiri  (mandiri).2) Karena ikatan dengan sang pemegang-wibawa (pendidik) terlalu kuat-erat sehingga merintangi perkembangan  Aku  . dan memutuskan untuk anak didiknya. Identifikasi anak sebagai makhluk yang sedang tumbuh. Jadi si pendidik seakan-akan mewakili kata hati didiknya untuk sementara.

Jadi hal itu berarti. tidak ada jalan lain kecuali dengan meningkatkan kualitas pendidikan. PENDAHULUAN Pendidikan bukan sekedar mengajarkan atau mentransfer pengetahuan. pendidikan adalah membangun budaya. yaitu menututnya itu tidak seperti yang kita kehendaki. melainkan juga untuk mengembangkan karakter. bahwa si anak harus kita didiktidak saja dengan hak. melainkan karena norm 1 KEWIBAWAAN (GEZAG) DALAM PENDIDIKAN Posted by Ikhsanudin | 01:36 | Makalah | 1 comments » A. melainkan dengan kwajiban membawa dirinya ke suatu tingkatan untuk makin dapat berdiri sendiri. membangun peradaban.Anak yang menurut dapat memberikan gambaran seakan-akan kita mencapai hasil baikdalam pendidikan kita. Karena itu. membangun masa depan bangsa. yakni memperoleh norma-norma bagi diripribadinya. Di sini pun masih ada pula bahayanya. Artinya: si anak harus menunjukkan sifat menurut bukan karena diri si pendidik itu. nilai-nilai dan budaya serta didik. Dengan kata lain. Tetapi kita harus ingat. . moral. identifikasi si anak terhadap orang tua atau pendidiknya lambat-laun harus dilepaskan dari sifat perseorangan. untuk meningkatkan harkat dan martabat sebuah bangsa pada era global ini. Tetapi ikatan yang sangat erat itu dapatjuga menimbulkan usaha yang sangat aktif untuk mencapai persamaan dengan pendidiknya:  berbuat seperti apa yang diharapkan dari pendidiknya  atau  si anak ingin menjadi sang pemegang-wibawa  itu. atau semata mengembangkan aspek intelektual. dan harus ditujukan kepada norma-normanya.anak itu.

Pengertian Kewibawaan (Gezag) Gezag berasal dari kata zeggen yang berarti “berkata”. pendidikan Indonesia adalah sebuah proses pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Meminjam ungkapan Mendiknas. Untuk jelasnya dapat penulis kemukakan contoh dibawah ini. Berbicara tentang pendidikan. B. PEMBAHASAN 1. Agar bisa menjadi tenaga pendidik yang baik dan profesional. Orang tua atau keluarga mendapat hak untuk mendidik anak-anaknya. Siapa yang “perkataannya” mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain. Di dalam makalah ini penulis akan membahas tentang wibwa () di dalam pendidikan. Pada suatu sekolah ada seorang guru yang bernama Bapak Budi yang sangat disegani oleh murid-muridnya.Dengan meningkatkan kualitas pendidikan maka akan tercipta kesatuan utuh dalam rencana dan gerak langkah pembangunan bangsa di masa depan. Hak dan kewajiban yang ada pada orang tua itu keduanya tidak dapat dipisahpisahkan. karena terikat oleh kewajiban. yang setidaknya akan termanifestasikan dalam tiga hal. suatu hak yang tidak dapat dicabut. Orang tua dengan langsung mendapat tugas dari Tuhan untuk mendidik anak-anaknya. seorang pendidik itu harus memiliki wibawa (gezag). Kualitas pendidikan mesti bersandar pada segenap aspek yang terdapat dalam diri manusia atau warga negara. sesuatu yang terus diperjuangkan perbaikan dan kemajuannya. Dan yang penting disadari ialah bahwa pendidikan merupakan sebuah proses. kualitas pendidikan sangat menentukan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Dapat kita katakan bahwa kewibawaan yang ada pada orang tua (ayah dan ibu) itu adalah asli. kita tidak bisa lepas dari pada tenaga pendidik itu sendiri. Di samping mempunyai atau memiliki ilmu dan seni dalam mendidik. (Tim Prima Pera: 2006=147) Gezag atau kewibawaan itu ada pada orang dewasa. Sebab. penguasaan iptek (ilmu pengetahuan dan ). berarti mempunyai kewibawaan atau gezag terhadap orang itu. terutama pada orang tua. Mereka (murid-murid) sangat .

Tetapi anak itu bukan semakin patuh atau menurut kepadanya. bahwa Bapak Budi lebih berwibawa. Orang tua (ayah dan ibu) adalah pendidik yang terutama dan yang sudah semestinya. Segala sesuatu yang diperintahkan atau dinasihatkan ataupun diperingatkan oleh Bapak Budi.takut dan patuh kepadanya. Dari contoh di atas dapat kita mengatakan. lebih meresap dan lebih mudah serta dengan senang menjalankan daripada Bapak Salim. Sebaliknya dengan Bapak Salim yang ada di sekolah itu. sering kalau tidak dikerjakan oleh murid-muridnya. agar mereka dapat hidup terus. bahkan sebaliknya. Atau dengan kata lain: pengaruh yang ditimbulkan oleh Bapak Budi lebih dipatuhi oleh anak-anak. Merekalah pendidik asli. diturut dan dipatuhi oleh anak-anaknya. sehingga kelas menjadi ribut. Perintahperintah atau tugas-tugas yang diberikannya. Ia kurang disegani anak-anak muridnya. sebelum Pak Budi masuk ke dalam kelas. Karena itu pak Salim seringkali marah dan menghukum anak dalam kelas. Setiap pak Salim mengajar. murid-murid sudah duduk dengan tenang dan tertib menantikan Pak Budi itu mengajar. 2. dan selanjutnya berkembang jasmani dan rohaninya menjadi . Anak-anak hormat kepadanya. Anak-anak tidak merasa segan atau patuh kepadanya. Setiap harinya. Karena itu sudah semestinya mereka mempunyai kewibawaan terhadap anakanaknya. yang menerima tugasnya dari kodrat. lebih mempunyai kewibawaan atau gezag daripada Bapak Salim. dari Tuhan untuk mendidik anak-anaknya. Peringatan-peringatan dan nasihat-nasihat yang diberikannya tidak atau kurang dihiraukannya oleh murid-muridnya. Adapun kewibawaan orang tua itu terdiri dari 2 sifat : 1) Kewibawaan pendidikan Ini berarti bahwa dengan kewibawaannya itu orang tua bertujuan memelihara keselamatan anak-anaknya. Anakanak mau mengerjakan apa yang diperintahkannya karena mereka takut. Anak-anak lebih patuh dan lebih segan terhadap Bapak Budi. Kewibawaan Orang Tua dan Kewibawaan Guru a. jadi bukan karena insaf atau percaya kepadanya. Semua perintah dan larangannya serta nasihatnya yang diberikan kepada murid-muridnya. anak-anak ada saja yang selalu membuat ribut dalam kelas.

Adapun nasihat-nasihat yang dimintanya atau diterimanya dari orang tua meskipun orang yang meminta atau menerima nasihat itu sudah dewasa. ditetapkan. Kewibawaan guru atau pendidik (yang bukan orang tua) menerima jabatannya sebagai pendidik bukan dari kodrat (dari Tuhan). dan diberi kekuasaan sebagai pendidik oleh negara atau masyarakat. Maka dari itu kewibawaan yang ada padanya pun berlainan dengan kewibawaan orang tua. Selain itu.manusia dewasa. telah diserahi sebagian dari tugas orang tua untuk mendidik anak-anaknya. Tiap anggota keluarga harus tunduk kepada kewibawaan keluarga. b. Kewibawaan keluarga itu bertujuan untuk pemeliharaan dan keselamatan keluarga. guru atau pendidik karena jabatan berkenaan dengan jabatannya sebagai pendidik. dan setiap tahun berganti murid. guru atau pendidik karena jabatannya juga mempunyai kewibawaan memerintah. 2) Kewibawaan memerintah Selain memiliki kewibawaan pendidikan. Tiap-tiap anggota keluarga harus patuh kepada peraturan-peraturan yang berlaku dalam keluarga itu. Ia ditunjuk. yang sudah tentu dalam “masyarakat” itu harus ada peraturan-peraturan yang harus dipatuhi dan dijalankan. itu bukan soal yang penting lagi. selama ia menjadi anggota keluarga itu. Mereka telah . Soal sudah dewasa atau belum. Tiap-tiap keluarga merupakan “masyarakat kecil”. guru atau pendidik karena jabatan menerima kewibawaannya sebagian lagi dari pemerintah yang mengangkat mereka. melainkan ia menerima jabatan itu dari pemerintah. Tetapi hal itu hendaknya timbul dari hati yang tulus ikhlas. Kewibawaan pendidikan yang ada pada guru ini terbatas oleh banyaknya anak-anak yang diserahkan kepadanya. Kewibawaan guru atau pendidik juga ada 2 sifat : 1) Kewibawaan pendidikan Sama halnya dengan kewibawaan pendidikan yang ada pada orang tua. 2) Kewibawaan keluarga Orang tua merupakan kepala dari suatu keluarga. dan banyak juga yang dituruti. tidak karena keharusan. Dengan demikian orang tua sebagai kepala keluarga dan dalam hubungan kekeluargaannya mempunyai wibawa terhadap anggota-anggota keluarganya.

di sanalah anakanak telah diserahkan kepadanya. takut. jadi bukan tunduk atau menuruti yang sebenarnya. Sebab pergaulan antara orang dewasa sesamanya. yaitu mengakui kekuasaan orang lain yang lebih besar karena paksaan. b) Sikap tunduk atau patuh (). ada pula pergaulan semacam itu yang mempunyai pengaruh-pengaruh jahat atau pergaulan yang netral saja. Bagi kepala sekolah kewibawaan ini lebih luas. Demikian pula pergaulan antara anak-anak dengan anak-anak biarpun sering kali seorang anak menguasai dan dituruti oleh anak-anak lainnya tetapi kekuasaan atau gezag yang terdapat pada anak itu tidak bersifat gezag pendidikan. 2000 : 49) 3. Bagaimana sikap anak terhadap kewibawaan pendidik? Dalam hal ini Langeveld menjelaskan dengan dua buah kata: a) Sikap menurut atau mengikut (volagen). Fungsi Kewibawaan dalam Pendidikan Pendidikan itu terdapat dalam pergaulan antara orang dewasa dengan anak-anak. orang menerima dan bertanggung jawab sendiri terhadap pengaruhpengaruh pergaulan itu. karena kekuasaan itu tidak tertuju kepada tujuan pendidikan. mau menjalankan suruhannya dengan sadar.diberi kekuasaan oleh pemerintah atau instansi yang mengangkat mereka. meliputi pimpinan sekolahnya. Tetapi tidak semua pergaulan antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan pendidikan. Satu-satunya pengaruh yang dapat dinamakan pendidikan ialah pengaruh yang menuju ke kedewasaan si anak: untuk menolong si anak menjadi orang yang kelak dapat atau sanggup memenuhi tugas hidupnya dengan berdiri sendiri. Dalam pergaulan baru terdapat pendidikan jika di dalamnya telah terdapat kepatuhan dari si anak. yaitu dengan sadar mengikuti . Kekuasaan tersebut meliputi pimpinan kelas. yaitu bersikap menuruti atau mengikuti wibawa yang ada pada orang lain. Tidak setiap macam tunduk menurut terhadap orang lain (seperti menurut perintah-perintah anak lain) dapat dikatakan “tunduk terhadap wibawa pendidikan”. (Ngalim Purwanto.

artinya mengakui hak pada orang lain untuk memerintah dirinya. Dalam hal yang terakhir inilah tampak fungsi wibawa pendidikan. Anggota-anggota masyarakat adalah orang-orang yang telah “dewasa”. dan dirinya merasa sendiri terikat akan memenuhi perintah itu. selama perbuatan-perbuatan kita . 2001 : 55) 4. yang berarti bahwa mereka sudah seharusnya mempunyai cukup kesadaran akan keharusan dan faedahnya kewajiban-kewajiban itu mengurangi kebebasan mereka. Jadi kekuasaan pemerintah hanya mengenai perbuatan-perbuatan kita yang lahir. Di dalam negara (yang berdasar demokrasi) ada 3 badan yang memegang kewibawaan. (Athiyah Alabrasy. Kewibawaan dalam Masyarakat 1) Dalam masyarakat harus ada wibawa. a. asal kita taat kepada apa yang diperintahkannya. Kita menurut kepada seorang bupati. yaitu badan kekuasaan legisltif. tetapi hanya karena orang-orang itu telah mendapat pengangkatannya untuk menjalankan kewajiban-kewajibannya. Kewibawaan dalam Masyarakat dan Kewibawaan dalam Pendidikan Agar lebih jelas mengenai apa yang dimaksud dengan kewibawaan pendidikan dan bagaimana melaksanakan kewibawaan itu didalam praktek mendidik anak-anak. Bagaimana kebatinan kita (masing-masing orang) yang sebenarnya – setuju atau tidak. dengan sendirinya dalam batas-batas kekuasaannya saja. perlu kiranya penulis adakan perbandingan antara kewibawaan yang berlaku di dalam masyarakat dengan kewibawaan yang berlaku bagi pendidikan. yaitu: kesejahteraan umum. pemerintah meminta kita semua mentaati segala peraturannya. yaitu membawa si anak ke arah pertumbuhannya yang kemudian dengan sendirinya mengakui wibawa orang lain dan mau menjalankannya. Jadi mempunyai pengertian tentang norma-norma atau ukuran hidup. dan sebagai bupati ia berhak mengeluarkan peraturanperatutan dan melaksanakannya. mengeritik atau tidak – pemerintah tidak mengindahkannya. supaya dapat tercapai maksud masyarakat itu. 3) Sebaliknya.kewibawaan. eksekutif dan yudisial. 2) Masyarakat menurut atau patuh kepada pendukung-pendukung kekuasaan pemerintah itu bukan karena sempurnanya kepribadiannya.

dan berusaha hidup sesuai dengan kewibawaan itu. yang berarti si anak hanya mengerjakan apa yang diperintahkan saja. 2000 : 57) 5. Kewibawaan dalam Pendidikan 1) Pelaksanaan kewibawaan dalam pendidikan itu harus bersandarkan perwujudan norma-norma dalam diri si pendidik sendir. 3) Wibawa dan pelaksanaan wibawa dalam masyarakat tetap. maka menjadi syaratlah bahwa si pendidik memberi contoh dengan jalan menyesuaikan dirinya dengan normanorma itu sendiri. akan tetapi dalam pendidikan akan selalu menjadi berkurang. dan kita tidak dapat mencapai: si anak itu mengenal nilai-nilai. 2) Dalam pendidikan. Itulah arti “kedewasaan” yang tepat.yang lahir ini sesuai dengan peraturan-peraturan. kita adalah warga negara yang baik. pertama-tama yang kita tuju ialah bahwa si anak dengan sepenuh kepercayaannya menyerahkan dirinya kepada pendidiknya (orang tuanya). b. kita tetap taat di bawah kewibawaannya dan negara tetap akan melaksanakan kewibawaannya di atas kita. Tidak ada seorang pun yang lebih banyak kewibawaannya daripada mereka yang mewujudkan kewibawaan itu dalam dirinya sendiri. yaitu mengenal dan hidup yang sesuai dengan norma-norma. Kewibawaan dan Identifikasi Di atas telah dikatakan bahwa tujuan dari wibawa dalam pendidikan . Justru karena wibawa itu mempunyai tujuan untuk membawa si anak ke tingkat kedewasaannya. karena tujuannya ialah hendak mengatur perputaran masyarakat yang baik. dan kita telah memenuhi kewajiban kita. sebaliknya dengan kesukarelaan dan keikhlasan sendirilah si anak mengakui adanya wibawa negara. (Ngalim Purwanto. dan akhirnya selesai bila telah tercapai tingkat kedewasaan. Bila tidak. dan dengan demikian mencapai peryesuaian batin. 4) Kewibawaan dan pelaksanaan kewibawaan dalam masyarakat tidak menjadi berkurang. Ini tidak berarti bahwa si anak (yang telah dewasa itu) tidak lagiperlu mengakui adanya kewibawaan. melainkan tetap stabil. Selama kita hidup dalam masyarakat. kita tidak akan dapat mencapai tingkatan di atas dresur. Tuhan. dan dengan keyakinan hidup menyesuaikan diri dengan nilai-nilai itu.

Si pendidik memilih. di dlam diri anak itu tidak tumbuh kesadaran akan norma-norma sehingga karena itu ia tidak akan mungkin sampai pada tingkatan “penentuan sendiri” (mandiri). Jadi si pendidik seakan-akan mewakili kata hati didiknya untuk sementara. Si pendidik mengindentifikasi dirinya dengan kepentingan dan kebahagiaan si anak. Jadi dalam hal ini identifikasi mengandung dua arti : a. tidak menentang. b. dengan wibawa itu di pendidik hendak berusaha membawa anak itu ke arah kedewasaannya. Artinya. Ini berarti. tentu saja berlain-lainan menurut perkembangan umurnya. yang semestinya menjadi tanggung jawab anak itu sendiri. pendidikan tidak akan berhasil baik. mempertimbangkan dan mengambil keputusan untuk dirinya. menurut pengalamannya. Itulah syarat untuk membuat si anak berdiri sendiri.itu ialah. Dalam setiap masam kewibawaan terdapatlah suatu identifikasi sebagai dasar. keindahan. ketuhanan dan sebagainya) dan menyesuaikan diri dengan norma-norma itu dalam hidupnya. mempertimbangkan. Syarat mutlak dalam pendidikan ialah adanya kewibawaan pada si pendidik. dan memutuskan untuk anak didiknya. juga yang dididik mempersatukan dirinya terhadap pendidiknya. Ia berbuat untuk anak karena anak belum dapat berbuat sendiri. selama si anak itu sendiri belum dapat memilih. Bahanyanya ialah. dalam melakukan kewibawaan itu si pendidik mempersatukan dirinya dengan didik. Identifikasi anak sebagai makhluk yang sedang tumbuh. ia memilih untuknya. Hal sedemikian dapat dipertanggung jawabkan dan memang perlu. Tanpa kewibawaan itu. perintah dan larangan dilakukan secara pasif saja. secara berangsur-angsur anak dapat mengenal nilai-nilai hidup atau norma-norma (seperti norma-norma kesusilaan. Pada anak dua kemungkinan cara mengidentifikasi itu : 1) Ia menurut dengan sempurna. Tetapi lambat-laun camput tangan orang tua atau pendidik itu harus makin berkurang. jadi untuk anaknya itulah ia mengambil tanggung jawab. Si anak mengidentifikasi dirinya terhadap pendidiknya. 2) Karena ikatan dengan sang pemegang-wibawa (pendidik) terlalu .

Fungsi kewibawaan dalam pendidikan ialah membuat si anak mendapat nilai-nilai dan norma-norma hidup. melainkan karena norma-norma dan nilai-niali dalam pribadi pendidiknya itu. Jadi hal itu berarti. 3. perbuatannya tingkah laku dan ilmu pengetahuannya. Tetapi kita harus ingat. identifikasi si anak terhadap orang tua atau pendidiknya lambat-laun harus dilepaskan dari sifat perseorangan. wibawa itu tidak di miliki oleh semua orang tetapi hanya dimiliki oleh orangorang tertentu. Di sini pun masih ada pula bahayanya. dan harus ditujukan kepada norma-normanya. bahwa si anak harus kita didik tidak saja dengan hak. 2008 : 59) C. 4. dengan demikian kemudian ternyata nilai-nilai dan norma-normanya. Indentifikasi pada diri pribadi pendidiknya. Artinya: si anak harus menunjukkan sifat menurut bukan karena diri si pendidik itu. Anak yang menurut dapat memberikan gambaran seakan-akan kita mencapai hasil baik dalam pendidikan kita.kuat-erat sehingga merintangi perkembangan “Aku” anak itu. kelak dia lebih melepaskan diri dari di sipendidiknya dan lebih lagi mewujutkan dirinya kepada nilai-nilai dan norma itu. Orang tua adalah pendidik yang utama mereka adalah pendidikan asli. Wibawa atau gezag bisa saja ada pada seseorang mungkin melalui tutur katanya. yaitu menututnya itu tidak seperti yang kita kehendaki. (Ngalim Purwanto. yang terdapat pada seseorang. KESIMPULAN 1. 2. si anak harus ditujukan kepada norma-norma itu. Tetapi ikatan yang sangat erat itu dapat juga menimbulkan usaha yang sangat aktif untuk mencapai persamaan dengan pendidiknya: “berbuat seperti apa yang diharapkan dari pendidiknya” atau “si anak ingin menjadi sang pemegang-wibawa” itu. melainkan dengan kwajiban membawa dirinya ke suatu tingkatan untuk makin dapat berdiri sendiri.  . yang menerima tugas dari Tuhan Yang Maha Esa untuk mendidik anak-anaknya oleh karena itu orang tua harus mempunyai wibawa terhadap seluruh keluarganya. yakni memperoleh norma-norma bagi diri pribadinya. Wibawa adalah gezag.