P. 1
BUDAYA POLITIK KAMPUS

BUDAYA POLITIK KAMPUS

|Views: 284|Likes:
Published by wijayahendri74

More info:

Published by: wijayahendri74 on Jul 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/29/2015

pdf

text

original

BUDAYA POLITIK KAMPUS

STUDI TERHADAP AKTIVIS MAHASISWA DI LINGKUNGAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

SKRIPSI
Diajukan dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata 1 untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh : Nama NIM Jurusan : Kamal Muasik : 1214000002 : Pendidikan Luar Sekolah

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

PENGESAHAN

Telah dipertahankan di hadapan Sidang Panitia Ujian skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang Pada Hari Tanggal : Rabu, : 3 Febuari 2005

Panitia Ujian

Ketua,

Sekretaris,

Drs. Siswanto. MM NIP. 130515769 Penguji Utama

Drs. S.Suryana. MPd NIP. 131413203

Drs. Zudindarto. Bdh NIP. 130345749 Anggota Penguji I Anggota Penguji II

Drs. Amin Yusuf M.Si NIP. 131967648

Dr. Agus Salim . MS NIP. 131127082

ABSTRAK Muasik, Kamal. 2004, “ BUDAYA POLITIK KAMPUS “ Studi terhadap Aktivis Mahasiswa Universitas Negeri Semarang. Skripsi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Universitas Negeri Semarang adalah salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang mengemban tugas untuk merealisasikan cita-cita proklamasi kemerdekaan RI dengan menyelenggarakan pendidikan tinggi guna mencerdaskan kehidupan bangsa. Yang menjadi pokok masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana aspirasi mahasiswa terhadap budaya politik kampus maupun realita politik yang sedang terjadi, bagaimana implikasi kegiatan mahasiswa kearah gerakan aktivis mahasiswa UNNES (baik internal maupun eksternal) dalam menghidupkan budaya politik kampus, dan faktor apa yang menghambat kegiatan mahasiswa yang kearah politik kampus ? Tujuan penelitian yakni untuk mendeskripsikan sikap mahasiswa terhadap kehidupan politik kampus maupun politik yang terjadi di UNNES, dan mendeskripsikan implikasi kegiatan mahasiswa kearah gerakan aktivis mahasiswa UNNES (baik internal maupun eksternal) dalam menghidupkan budaya politik kampus, serta mendeskripsikan faktor-faktor yang menghambat kegiatan mahasiswa yang kearah politik kampus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara open ended maupun wawancara mendalam. Dalam mengumpulkan data tidak diabaikan juga penggunaan sumbersumber non manusia seperti dokumen dan catatan-catatan yang tersedia. Pengamatan deskriptif digunakan untuk melihat secara umum tentang kondisi Universitas Negeri Semarang, setelah itu dilakukan pengamatan yang berfokus pada objek yang diteliti. Proses selanjutnya dilakukan pengamatan secara selektif untuk melihat sejauh mana kondisi dan keadaan Universitas dalam mendukung pelaksanaan budaya politik kampus. Bersamaan dengan proses pengamatan tersebut dilakukan pula wawancara open ended maupun wawancra mendalam untuk memperoleh gambaran secara umum tentang budaya maupun kehidupan politik yang terjadi di UNNES. Kriteria keabsahan data diterapkan dalam rangka membuktikan temuan hasil penelitian dengan kenyataan yang diteliti di lapangan. Teknik-teknik yang digunakan untuk membuktikan kebenaran data dilakukan melalui ketekunan pengamatan di lapangan, triangulasi sumber, triangulasi metode, triangulasi peneliti. Bersamaan proses pengumpulan data dilakukan analisis data dengan pengujian, pengkatagorian, pentabulasian maupun pengominasian kembali bukti-bukti untuk menunjuk proposi penelitian secara umum dan menyeluruh dari suatu fokus permasalahan yang diteliti, analisis dilaksanakan dengan perjodohan pola, pembuatan penjelasan, dan analisi deret waktu untuk mendeskripsikan secara menyeluruh dan menampilkan makna dari yang menjadi fokus penelitian. Dari hasil penelitian ini,” Budaya Politik Kampus “ studi terhadap aktivis mahasiswa di lingkungan Universitas Negeri Semarang dapat dijelaskan melalui gambaran umum Universitas Negeri Semarang, aspirasi mahasiswa terhadap

politik di kampus, dan gerakan realitas aktivis mahasiswa pasca reformasi sampai sekarang. Hasil di lapangan diperoleh tentang budaya politik kampus di UNNES, kehidupan politik di UNNES, pendidikan politik di UNNES, Organisasi lembaga Kemahasiswaan di UNNES, dan dimensi gerakan, karakteristik gerakan, kekuatan maupun kelemahan gerakan mahasiswa, serta faktor penghambat kegiatan aktivis di UNNES. Harapan yang harus dilakukan adalah Mengakomodir aspirasi mahasiswa dan adanya pengembangan lebih lanjut dengan menggunakan sistem kesadaran individu tentang pentingnya politik dalam kehidupan sehari-hari serta penyelenggaraan pendidikan politik di kampus harus ditingkatkan. Pelaksanaan pergerakan mahasiswa perlu adanya rekontruksi kembali apa dan bagaimana tujuan yang harus dicapai dalam melaksanakan agenda reformasi dengan cara mensosialisasikan dan mengadakan kontrol terhadap perjalanan politik negara.

MOTO DAN PERSEMBAHAN

Segalanya mengalir atas nama Allah, dengan Pertolongan Allah dan kekuatan Allah semata, Dan Ketahuilah Allah selalu mengabulkan Permohonan dari hambanya serta jangan lupa DUIT ( Doa, Usaha, Iktiar, Taqwa ).

Skripsi ini dengan penuh keiklasan kupersembahkan kepada: 1. Ibu dan Bapak yang senantiasa bahagia dan sejahtera 2. Adik-adiku tercinta : Zaenal, Andi, dan yuli , yang tidak henti-hentinya mengucurkan dukungan doa. 3. Rekan-rekan yang setia memberikan moril dan dukungan serta rela bersusah payah bersama 4. Teman-teman aktivis di UNNES maupun di luar kampus yang seperjuangan dalam menghadapi rintangan. 5. Almameter yang dengan dan sabar lebih

mendewasakan

saya

memberikan

sebuah kebanggaan

KATA PENGANTAR

Hanya karena rindha Allah SWT semata, penyusunan skripsi berjudul “ BUDAYA POLITIK KAMPUS” ; studi terhadap aktivis mahasiswa dilingkungan Universitas Negeri Semarang ini dapat penulis selesaikan. Oleh karena itu puji syukur wajib penulis panjatkan atas kehadirat Allah Yang Maha Kuasa, Alhamdu li Allahi rabbi al-alamin. Selesainya skripsi yang memungkasi studi jenjang S1 ini, tidak lepas dari motivasi dan bantuan yang mengalir dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih atas segala bantuan dan dukungan langsung maupun tidak langsung, bagi kelancaran studi dan skripsi ini. Kepada Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan izin dan Ketua Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberi persetujuan penulisan skripsi ini. Izin dan persetujuan tersebut memberikan peluang dan kemudahan untuk menyelesaikan program ini. Secara khusus, penulis menyampaikan terima kasih pula kepada Drs. Suyono Mangun sebagai dosen wali, yang dengan sabar memberikan dukungan dan doa. Kepada Drs. Amin Yusuf MSi, dosen pembimbing I, yang dengan sabar membimbing selama ini. Kepada Dr. Agus Salim MS, sebagai pembimbing II. kecermatan keduanya dalam memberikan bimbingan memungkinkan penulis lebih memahami permasalahan skripsi ini. Juga kepada dosen-dosen jurusan Pendidikan Luar Sekolah yang telah memberikan dasar pengetahuan. Adalah sebuah keniscayaan kesulitan dalam menyusun skripsi pasti menghadang, jika tidak ditopang dengan proses pembelajaran itu. Para informan ( Usep, Saeful, Hariyoto, Siswanto, Wahyu ) yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini dan para ketua maupun pemimpin Lembaga Kemahasiswaan baik ektra atau intra kampus yang telah mendukung dan membantu penyelesaian penyusunan skripsi . Dorongan ibu dan bapak, seperti suluh bagi jalan hidup penulis semoga bapak dan ibu senantiasa sejatera, bahagia, dan dirindhoi Allah SWT. Demikian

pula adik-adik saya ( zaenal, Andi, Yuli) yang kepada mereka skripsi ini penulis saya persembahkan, serta seseorang yang selalu mendampingi penulis baik dalam suka dan duka, untuk skripsi ini penulis saya berikan. Kepada teman-teman sekelas, mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah angkatan 2000/2001, terima kasih atas dukungannya. Terutama teman seperjuangan yang senangtiasa memberikan masukan, kritik, serta saran kepada penulis. Dan tidak lupa kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satupersatu, yang telah memberi banyak dukungan, motivasi, dan bantuan yang penyusun butuhkan selama penyusunan skripsi ini.

Semarang, 2 Februari 2005 Penyusun,

Kamal Muasik NIM.1214000002

PENGESAHAN Skripsi ini diajukan oleh:

Nama NIM Jurusan

: KAMAL MUASIK : 1214000002 : Pendidikan Luar Sekolah

Skripsi disahkan pada: Hari Tanggal : : Mengetahui,

Dosen pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Drs. Amin Yusuf M.Si. NIP. 131967648

Drs. Agus Salim , M.Si. NIP. 131127082

Mengetahui, Ketua Jurusan PLS FIP UNNES

Drs. Achmad Rifai RC., M.Pd. NIP. 131413232

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini adalah dosen pembimbing penulisan skripsi mahasiswa:

Nama NIM Jurusan Fakultas

: Kamal Muasik : 12140000002 : Pendidikan Luar Sekolah : Ilmu pendidikan

Meyatakan bahwa mahasiswa yang bersangkutan telah selesai dibimbing dalam menulis skripsi dengan judul: “BUDAYA POLITIK KAMPUS” Studi terhadap aktivis mahasiswa di lingkungan Universitas Negeri Semarang dan selanjutnya siap untuk melaksanakan ujian.

Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Drs. Amin Yusuf Msi NIP. 131967648

Drs. Agus Salim . MPd NIP. 131127082

Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan Luar sekolah Universitas Negeri Semarang

Drs. Ahmad Rifai MSc NIP. 131413232

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL............................................................................... LEMBAR PENGESAHAN .................................................................... ABSTRAK .............................................................................................. MOTTO DAN PERSEMBAHAN .......................................................... KATA PENGANTAR ........................................................................... DAFTAR ISI .......................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN........................................................................... DAFTAR TABEL................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... A. Latar Belakang ............................................................................ B. Pembatasan masalah.................................................................... C. Rumusan masalah ....................................................................... D. Tujuan Penelitian ........................................................................ E. Manfaat Penelitian ...................................................................... F. Definisi operasional .................................................................... G. Tata alur penulisan Skripsi ....................................................... BAB II KERANGKA TEORITIK A. Budaya Politik............................................................................. 1. Pengertian Budaya politik .............................................. 2. Budaya Politik Indonesia ................................................ 3. Strutur Politik ................................................................. 4. Fungsi politik .................................................................. 12 12 15 16 18 i ii iii v vi viii xi xii 1 1 6 7 7 8 9 11

B. Masyarakat Madani..................................................................... 1. Pengertian Masyarakat Madani ...................................... 2. Konsep masyarakat madani ............................................ C. Tinjauan politik Kampus ............................................................ 1. Budaya akademik ................................................................. 2. Peraturan mimbar akademik................................................ 3. Kebebasan akademik dan mimbar akademik ...................... 4. Pendidikan politik di kampus .............................................. 5. Organisasi Kampus............................................................... 6. Pergerakan politik mahasiswa ............................................. D. Faktor penghambat...................................................................... E. Kerangka berfikir ........................................................................

21 21 22 24 24 24 25 27 28 31 40 42

BAB III METODE PENELITIAN......................................................... A. Sifat Penelitian ........................................................................... B. Lokasi Penelitian ........................................................................ C. Subjek Penelitian ........................................................................ D. Fokus Penelitian ......................................................................... E. Sumber Data Penelitian .............................................................. F. Metode Pengumpulan Data ........................................................ G. Keabsahan Data .......................................................................... H. Tehnik Analisis Data ..................................................................

43 43 44 44 45 46 47 50 51

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ....................... A. Hasil Penelitian........................................................................ 1. Gambaran Umum Universitas Negeri Semarang.......... 2. Aspirasi Mahasiswa ....................................................... 3. Gerakan real aktivis mahasiswa ...................................... 4. Hambatan politik............................................................. B. Pembahasan 1. Budaya politik kampus.................................................... 2. Kehidupan politik............................................................ 3. Pendidikan Politik ........................................................... 4. Organisasi........................................................................ 5. Dimensi gerakan.............................................................. 6. Karateristik gerakan ........................................................ 7. Kekuatan dan kelemahan gerakan .................................. 8. Faktor penghambat.......................................................... 9. Sisi lain penelitian .......................................................... BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ................................................................................. B. Saran............................................................................................ DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. LAMPIRAN-LAMPIRAN......................................................................

53 53 53 71 87 92

93 93 96 98 100 102 103 106 109

137 142 144 147

DAFTAR LAMPIRAN

1. Kisi-Kisi Penelitian ............................................................................ 2. Pedoman Wawancara .......................................................................... 3. Kisi-kisi Observasi .............................................................................. 4. Pedoman observasi.............................................................................. 5. Informan wahyu .................................................................................. 4. Informan Saeful................................................................................... 5. Informan Usep..................................................................................... 6. Informan Siswanto .............................................................................. 7. Informan Hariyoto............................................................................... 8. Tabel Hasil penelitian ......................................................................... 9. Hasil poling ........................................................................................ 10. Biodata Informan .............................................................................. SURAT – SURAT

147 151 158 160 162 188 207 239 259 279 292 297

1. Surat izin penelitian dari Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. 2. Surat Pernyataan sebagai informan penelitian dari subjek penelitian 3. Surat Keterangan setelah selesai melakukan penelitian

DAFTAR TABEL

1. Tabel Hasil penelitian ........................................................................ 2. Tabel Informan terhadap Budaya Politik Kampus..............................

81 107

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 telah mengubah secara bermakna sistem politik Indonesia. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), yang tadinya lembaga tertinggi negara dan diposisikan sebagai pelaksana kedaulatan rakyat, penjelmaan seluruh rakyat Indonesia, dengan kekuasaan tanpa batas, telah direposisi. Lembaga yang memiliki kekuasaan tertentu dan terbatas. Presiden tidak lagi dipilih oleh dan bertanggung jawab kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Selanjutnya pasangan presiden dan wakil presiden dipilih secara langsung oleh rakyat. Sekarang ini, lembaga–lembaga negara hasil pemilihan umum telah menyesuaikan diri dengan ketentuan–ketentuan baru pada Undang-Undang Dasar 1945 (setelah Amandemen). Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah memegang kekuasaan membentuk Undang–Undang. Presiden telah meminta pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam mengangkat duta besar. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) telah menyesuaiakan diri. Sidang tahunan tidak lagi meminta laporan–laporan lembaga negara, termasuk dari presiden untuk disikapi. Forum sidang tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) telah menjadi forum untuk mendengarkan berbagai perkembangan dan permasalahan bangsa untuk sharing bersama.

Mahkamah Agung (MA) telah mulai berfungsi sebagai mahkamah kontitusi dan penentuan hukum tertinggi di Indonesia. Perubahan–perubahan itu pada dasarnya bermakna bahwa sistem politik Indonesia telah dikonsolidasikan untuk mampu menerima beban dinamika politik seraya terus melandasi proses demokrasi dan reformasi berkelanjutan tanpa harus terjerumus dalam situasi kacau . Dengan perbaikan sistem politik yang telah terjadi, kita bisa berharap bahwa gejolak politik yang akan masih terjadi itu justru dapat berakibat positif yaitu sebagai proses pembelajaran politik demokratis untuk semua pihak, guna memilah–milah dan sekaligus membentuk budaya dan tradisi politik demokrasi di tengah masyarakat. Tahun 2004 ini, Indonesia telah mengalami sebuah proses pemilihan umum anggota legislatif dan pemilihan langsung pasangan presiden dan wakil presiden. Bila tidak, kita akan kehilangan momentum. Untuk itu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah harus bersama-sama menyelesaikan paket Undang–Undang politik yang tersisa, termasuk penyelesaian Undang–Undang pemilihan umum dan Undang–Undang tata cara pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung tanpa ada hambatan dan tepat pada waktunya. Oleh karena itu dibutuhkan sistem nilai budaya politik yang menjadi landasan bagi berlangsungnya sebuah tatanan negara yang dikehendaki oleh masyarakat itu sendiri. Hal itu sesuai dengan hipotesis Amalinda Savirani ( 2003: 6 ) tentang Merintis kajian budaya ilmu politik di Indonesia: bahwa

politik sesungguhnya sangat dekat dengan kajian budaya, bahkan bisa lebih dekat ketimbang dengan ilmu politik sendiri. Sejarah perkembangan kajian budaya adalah sejarah perlawanan terhadap dominasi atau kekuasaan sebuah tradisi ilmu pengetahuan. Kajian budaya muncul dari pemikiran–pemikiran sekelompok orang yang menyakini bahwa bangun teori adalah sebuah praktek politik sehari–hari manusia . Keberhasilan demokrasi adalah sebuah kebudayaan politik, satu kajian khusus dalam ilmu politik. Kebudayaan bermakna orientasi, nilai dan seperangkat yang dimiliki oleh warga negara. Hal tersebut jelas bahwa kebudayaan bagi politik adalah suatu produk jadi. Budaya politik kampus di antaranya dilakukan dan diperoleh dari sebuah pemikiran–pemikiran mahasiswa yang ingin tahu perkembangan politik yang terjadi. Oleh karena itu mahasiswa sebagai agen perubahan (Agen of Change) harus mampu memberikan sebuah perubahan dan berperan dalam proses penentuan sebuah kebijakan yang dilakukan oleh birokrat pemerintahan dan sekaligus mampu mengkontrol sebuah perjalanan sistem politik yang sesuai dengan kontitusi yang berlaku. Dengan demikain peran mahasiswa dalam berpolitik sangat diperlukan demi tercapainya demokrasi dan reformasi dalam membangun sebuah negara yang adil, aman dan tentram. Mahasiswa selaku generasi kepemimpinan negara masa depan, merupakan aset penting yang paling berharga bagi sebuah negara. Hebatnya golongan mahasiswa akan menjanjikan mantapnya kepimpinan akan datang.

Begitulah sebaliknya. Di Indonesia, sejarah pergerakan mahasiswa bukanlah perkara baru. Sejak tahun 60-an hingga kini banyak peristiwa penting yang berlaku sama ada di peringkat kebangsaan maupun antar bangsa yang melibatkan golongan mahasiswa. Penyertaan mahasiswa ini dilihat sebagai suatu yang positif menangani berbagai isu yang berlaku di dalam negara. ( Akhi Masrawi, 2003: 20) Dalam konteks transisi politik di Indonesia, pergerakan mahasiswa telah memainkan peranan penting sebagai kekuatan yang secara nyata mampu mendobrak rezim ortoritarian. Jika kita lihat pengalaman histories perjuangan bangsa, kita akan menemukan bahwa mahasiswa selalu memainkan peranan penting dalam setiap perjuangan. Demikian pula,

gerakan mahasiswa pada reformasi ini akan menjadi bagian yang terpenting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Meskipun demikian, dari kenyataan di lapangan harus diakui bahwa gerakan mahasiswa sebagai salah satu kekuatan reformasi bukanlah kekuatan yang solid. Keragaman latar belakang, motivasi, visi politik serta orientasi masing-masing kesatuan aksi telah menjadikan gerakan mahasiswa tidak bisa dilihat sebagai identitas yang homogen. Terciptanya Persatuan Aksi Mahasiswa dari berbagai elemen organisasi mahasiswa merupakan bukti bahwa mahasiswa tidak bisa dianggap remeh dalam dunia politik maupun dalam membawa aspirasi rakyat kecil dan bawah. Hal tersebut terwujud dalam proses jatuhnya rezim orde baru yang dipelopori oleh mahasiswa dan setiap ada permasalahan yang

merugikan rakyat, mahasiswa siap untuk membela dengan berunjukrasa demi tercapainya tujuan yang adil dan sesuai dengan kontitusi. Aktivis Mahasiswa Universitas Negeri Semarang mengharapkan adanya sebuah perubahan yang signifikan supaya apa yang dicita-citakan atau yang diharapkan dapat terwujud sesuai dengan demokrasi dan reformasi yang kita junjung tinggi keberadaanya di negara Indonesia. Sikap mahasiswa dalam berpolitik di lingkungan Universitas Negeri Semarang merupakan wujud nyata dari sebuah lahirnya generasi muda yang demokrasi dan reformis sejati yang ingin menjadi pembawa aspirasi rakyat kecil dan rakyat bawah yang selalu dirugikan oleh para birokrat. Hal tersebut dilakukan oleh mahasiswa dengan mengadakan kontrol terhadap kebijakan–kebijakan pemerintah dan apabila tidak sesuai maka mahasiswa akan mengadakan dialog maupun diskusi sampai berunjukrasa bersama. Hal tersebut akan terwujud apabila kerjasama antara mahasiswa dengan pihak birokrat berjalan dengan baik, akan tetapi birokrat membatasi kegiatan–kegiatan yang berbentuk kearah politik dengan membuat peraturan– peraturan yang tidak menguntungkan mahasiswa. Bertitik tolak dari uraian di atas, ada beberapa alasan yang mendasari peneliti memilih judul “BUDAYA POLITIK KAMPUS “ studi terhadap Aktivis Mahasiswa di Lingkungan Universitas Negeri Semarang, adalah sebagai berikut:

1. Melihat latar belakang aspirasi mahasiswa terhadap realita kehidupan dan kegiatan politik di kampus sebagai awal pergerakan mahasiswa di tingkat kampus. 2. Mengidentifikasi pemahaman unsur–unsur budaya politik kampus dan sikap mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan politik di kampus. Dalam hal ini, penting juga melihat karakteristik pergerakan mahasiswa, visi politik serta perspektif demokrasi para aktivis yang mempelopori budaya politik kampus. 3. Mengidentifikasi upaya yang dilakukan oleh pihak birokrat dalam memberikan pembelajaran politik dan respon mahasiswa terhadap upaya yang dilakukan pihak birokrat dalam pendidikan berpolitik di kampus. 4. Melihat latar belakang budaya politik mahasiswa di kampus yang dilakukan dan diperoleh dari sebuah pemikiran–pemikiran mahasiswa yang ingin tahu perkembangan politik yang terjadi. 5. Mengidentifikasi faktor kendala kegiatan mahasiswa dalam membangun budaya politik di kampus.

Pembatasan permasalahan Mengingat luasnya permasalahan dan supaya pembahasan

permasalahan–permasalahan penelitian dapat dilakukan dengan teliti, terpusat, dan mendalam, maka dilakukan pembatasan masalah penelitian, yaitu ;

Budaya politik yang dibahas dalam penelitian ini adalah budaya politik di kampus. Kegiatan politik mahasiswa dibatasi pada kegiatan intra maupun ekstra yang dilakukan oleh mahasiswa. Guna mengetahui lebih dalam peran mahasiswa dalam berpolitik, maka di lihat juga hambatan–hambatan pelaksanaan politik di kampus. Kampus yang dijadikan sasaran penelitian ini adalah Universitas Negeri Semarang.

Rumusan masalah Berpijak dari latar belakang serta hal–hal tersebut di atas, maka masalah yang dikaji di rumuskan sebagai berikut : Bagaimana aspirasi mahasiswa terhadap budaya politik kampus maupun realita politik yang sedang terjadi ? Bagaimana implikasi kegiatan mahasiswa kearah gerakan aktivis mahasiswa UNNES (baik internal dan eksternal) dalam menghidupkan budaya politik kampus ? Faktor–faktor yang menghambat kegiatan mahasiswa yang ke arah politik di kampus ?

Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut :

Aspirasi mahasiswa terhadap kehidupan politik kampus maupun realita politik yang sedang terjadi di Universitas Negeri Semarang. Implikasi kegiatan mahasiswa kearah gerakan aktivis mahasiswa UNNES (baik internal mapun eksternal) dalam menghidupkan budaya politik kampus di lingkungan Universitas Negeri Semarang. Faktor – faktor yang menghambat kegiatan mahasiswa yang ke arah politik di kampus Universitas Negeri Semarang.

Manfaat penelitian Hasil penelitian ini di harapkan mempunyai manfaat teoritis, praktis, dan administratif sebagi berikut : Manfaat teoritis. Manfaat secara teoritis dimaksudkan bahwa hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu tentang budaya politik mahasiswa yang terjadi di kampus untuk menjelaskan apa dan bagaimana sikap dan kemampuan mahasiswa dalam berpolitik ? Manfaat Praktis. 1. Bagi masyarakat pengguna, penelitian dapat menjadi salah satu sumber pengetahuan tentang budaya politik mahasiswa, khususnya tetang proses, aspirasi, dan kemampuan mahasiswa berpolitik ? 2. Bagi lembaga masyarakat, LSM, FORKOT, aliansi mahasiswa dan tentunya aktivis kampus, penelitian ini memaparkan budaya politik

mahasiswa, yang dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam literatur dan memberikan panduan. 3. Bagi pemerintah, penelitian ini dapat menjadi salah satu riferensi untuk mengetahui sejauhmana perkembangan budaya politik mahasiswa di kampus. 4. Bagi peneliti, penelitian ini dapat menambah wawasan tentang budaya politik yang terjadi di kampus Universitas Negeri semarang.

Definisi operasional Berdasarkan judul di atas, maka untuk memperjeles dan menghindari salah penafsiran serta perbedaan pendapat, ditetapkan definisi operasional sebagai berikut : Budaya Kebudayaan yaitu seluruh total dari pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya dan dicetuskan manusia sesudah suatu proses belajar ( Koentjoro Ningrat , 1974: 44 ) Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang menajam dan tidak hanya mengenai sebagian dari cara hidup itu yaitu bagian yang dianggap oleh masyarakat lebih tinggi atau lebih diinginkan. ( T.O . Ihromi : 1986 , 23 ). Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar ( Prof. Dr. Koentjoro Ningrat , 1998 :55)

Politik Politik selalu diartikan sebagai persoalan kekuasaan atau lebih tepat politik berbicara bagaimana mengelola dan mempertahankan kekuasaan ( Ag. Eka. W.W : politisasi, ekonomisasi, dan dunia sedang berubah, 18 feb 2004 ). Politik mewujudkan keadilan sosial dan kebebasan, itulah politik partai dan gerakan sosialis atau demokrasi sosial. Namun Anthony Giddens dalam The Third Way:The Renewal of Social Democracy (Polity Press, UK, 1998) dan dilanjutkan dengan The Third Way and its Critic (Polity Press, UK, 2000) mencoba memodernisasi praktek politik demokrasi sosial klasik tersebut, dan melampaui neoliberalisme (Thatcherism, Reaganism, dan kanan-baru lainnya). Hal ini merupakan restrukturisasi kerangka pemikiran dan pembentukan kebijakan demokrasi sosial baru menghadapi lima dilema besar masyarakat kontemporer: globalisasi, individualisme, signifikansi kiri atau kanan, pemeran politik baru dan isu ekologi. Menurut Tony Blair, Perdana Menteri Inggris sekarang, dikutip Giddens, bahwa The Third Way relevan mengatasi dominasi dua doktrin politik: demokrasi sosial yang terlalu bertumpu pada negara dan neoliberalisme yang terlalu bertumpu pada filsafat pasar bebas dan menjawab bagaimana menerapkan nilai-nilai progresif secara global dengan cara-cara baru. (M. Fadjroel Rahman; He Third Way and it’s Critics “A.Giddens dan sosilisme kerakyatan: 12 februari 2004 )

Kampus Perguruan tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi. Perguruan tinggi bisa berbentuk : akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, dan universitas. Universitas adalah bentuk perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik ataupun pendidikan profesional dalam sejumlah disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, maupun kesenian. (Darmanto Djojodibroto, 2004: 65)

Tata Alur Penulisan Skripsi Bagian pendahuluan terdiri atas : judul, Pegesahan, Abstrak, Motto, dan persembahan, Kata Pengantar, Daftar isi, Daftar tabel, Daftar lampiran. Bagian isi Skripsi Bab pertama, tentang pendahuluan, meliputi alasan pemilihan judul, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, garis besar sitematika skripsi. Bab kedua, kajian pustaka meliputi tentang budaya politik, politik kampus, dan sikap mahasiswa dalam berpolitik di kampus. Bab ketiga, tentang metodologi penelitian meliputi sifat penelitian, lokasi penelitian, metode pengumpulan data, keabsahan data, dan teknik analisis data.

Bab keempat, hasil penelitian dan pembahasan berisi: hasil penelitian meliputi budaya politik kampus dilingkungan Universiats Negeri Semarang. Bab kelima, penutup berisi tentang simpulan dan saran Bagian akhir, berisi daftar pustaka dan lampiran

BAB II

KERANGKA TEORITIK

A. Budaya Politik
Perkembangan kajian budaya adalah perlawanan terhadap dominasi atau kekuasaan sebuah tradisi ilmu pengetahuan. Kajian budaya muncul dari pemikiran kelompok orang yang menyakini bahwa bangun teori adalah sebuah praktek politik sehari - hari manusia 1) Budaya politik
Budaya politik adalah pola tingkah laku individu dan orientasinya terhadap kehidupan politik yang dihayati oleh para anggota suatu sistem politik. (Dr Rusadi Kantaprawira, SH, 2002 :22) Persepsi budaya politik sering diberi arti sebagai peradaban politik yang digandengkan dengan prestasi dalam bidang peradaban dan teknologi. Hal ini terlihat pula dari lingkup budaya politik yang meliputi: pola orientasi individu, yang diperoleh dari pengetahuan yang luas maupun yang sempit; orientasinya yang dipengaruhi oleh perasaan keterlibatan, keterlekatan ataupun penolakan; orientasi yang bersifat menilai terhadap objek, dan peristiwa politik, hal tersebut dinilai sebagai peradaban daripada sebagai kebudayaan. Oleh karena budaya politik merupakan persepsi manusia, pola sikapnya terhadap berbagai masalah politik dan peristiwa politik terbawa pula ke dalam pembentukan struktur dan proses kegiatan politik masyarakat maupun pemerintah(an), karena sistem politik sendiri adalah interrelasi antara manusia yang menyangkut soal kekuasaan, aturan, dan wewenang. Hubungan budaya politik dengan perilaku politik menurut Robert K. carr (et.al) dirumuskan bahwa perilaku politik adalah suatu telaah mengenai tindakan manusia dalam situasi politik . Situasi politik meliputi; pengertian repons emosional berupa dukungan maupun simpati kepada pemerintah, respon terhadap perundang-undangan dan lain-lain. Suatu model budaya politik tertentu tidak dapat dihubungkan secara kekar dengan suatu sistem politik tertentu. Budaya politik dapat diklasifikasikan menjadi tiga: a). Budaya politik parokral ( parochial political culture) adalah

budaya politik yang terbatas pada wilayah atau lingkup yang kecil, sempit misalnya propinsial dan adanya kesadaran anggota masyarakat akan adanya pusat kewenangan atau keuasaan politik dalam masyarakatnya, b). Budaya politik kaula (subject political culture) adalah dimana anggota masyarakat mempunyai minat, perhatian, mungkin pula kesadaran, terhadap sistem sebagai keseluruhan terutama terhadap segi output dan orientasi mereka yang nyata terhadap objek politik dapat terlihat dari pernyataannya, baik berupa kebanggaan, ungkapan sikap mendukung maupun sikap bermusuhan terhadap sistem, terutama terhadap aspek outputnya, dan c). Budaya politik partisipan (participant

political culture) adalah ditandai oleh adanya perilaku yang berbeda perilaku sebagai kaula dimana seseorang dengan sendirinya menyadari setiap hak dan tanggung jawabnya (kewajibannya) dan dapat pula merealisasi dan mempergunakan hak serta menaggung kewajibannya. Agar dapat diperoleh pola yang cukup tepat dan petunjuk yang relevan mengenai orientasi seseorang terhadap kehidupan politik, haruslah dikumpulkan berbagai informasi, yang meliputi antara lain: pengetahuan, keterlibatan, dan penilaian seseorang terhadap salah satu obyek pokok orientasi politik. Yang meliputi keterlibatan seseorang terhadap: a). Sistem politik secara keseluruhan, meliputi intensitas pengetahuan, ungkapan perasaan yang ditandai oleh apresiasi terhadap sejarah, ukuran lingkup lokasi, persoalan kekuasaan, karakteristik kontitusional, negara atau sistem politiknya. b). Proses input, meliputi : intensitas pengetahuan dan perbuatan tentang proses penyaluran segala tuntutan yang diajukan atau diorganisasi oleh masyarakat, termasuk perkara untuk menterjemahkan atau menkonfersi tuntutantuntutan tersebut sehingga menjadi kebijakan yang otoratif sifatnya. Dengan demikian proses input antara lain meliputi pula pengamatan atas partai politik, kelompok kepentingan, dan alat komunikasi massa yang nyata berpengaruh dalam politik sebagai alat (sarana) penampung berbagai tuntutan. c). Proses output, meliputi antara lain: intesitas pengetahuan dan perbuatan tentang proses aktivitas berbagai cabang pemerintahan yang berkenaan dengan penerapan dan pemaksaan keputusan-keputusan otoritatif. Singkatnya berkenaan dengan fungsi pembutan aturan atau perundangundangan oleh badan legislatif, fungsi pelaksanaan aturan eksekutif (termasuk birokrasi) dan fungsi peradilan. d). Diri sendiri, meliputi antara lain: intensitas pengetahuan dan frekuensi perbuatan seseorang dalam mengambil peranan di arena sistem politik. Dipersoalkan apakah yang menjadi hak, kekuasaan, dan kewajibannya. Apakah yang bersangkutan dapat memasuki lingkungan orang atau kelompok yang mempunyai pengaruh atau bahkan bagaimana caranya untuk meningkatkan pengaruhnya sendiri. Kemudian lebih lanjut dipersoalkan kriteria apakah yang dipakai dalam membentuk pendapat dalam masyarakat atau dalam sistem politik sebagai keseluruhan. Budaya politik sebagai salah satu unsur atau bagian kebudayaan merupakan satu diantara sekian jenis lingkungan yang mengelilingi, mempengaruhi, dan menekan sistem politik. Dalam kultur politik itu sendiri berinteraksi antara lain sejumlah sistem : sistem ekologi, sistem sosial, dan sistem kepribadian yang tergolong dalam kategori lingkungan masyarakat, maupun lingkungan luar masyarakat, sebagai hasil kontak sistem politik dengan dunia luar.

2) Budaya politik Indonesia Budaya dan struktur politik tidak pernah berada dalam keadaan diam (stasioner) tetapi selalu bergerak dan berinteraksi satu sama lain. Dengan demikian, pembangunan politik Indonesia dapat pula diukur berdasarkan keseimbangan atau harmoni yang dicapai antara lain oleh budaya politik dengan pelembagaan politik yang ada atau akan ada. Perkembangan

budaya politik Indonesia, yang tentunya harus ditelaah dan dibuktikan adalah dengan pengamatan tentang variabel sebagai berikut: a). Konfigurasi subkultur di Indonesia masih aneka ragam dengan ditanggulangi berkat usaha pembangunan bangsa dan pembangunan karakter bangsa. b).Budaya politik Indonesia yang bersifat parokal-kaula disatu pihak dan budaya politik partisipan di lain pihak: di satu segi masih ketinggalan dalam menggunakan hak dan dalam memikul tanggung jawab politiknya yang mungkin disebabkan oleh isolasi dari kebudayaan luar, pengaruh penjajahan, feodalisme, bapakisme, ikatan primodarial–sedang di lain pihak kaum elitnya sungguh-sungguh merupakan partisipan yang aktif–yang kira-kira disebabkan oleh pengaruh pendidikan modern (barat) –kadang bersifat sekuler dalam arti relatif dapat membedakan faktor penyebab disintegrasi seperti: agama, kesukuan, dan lain-lain. c). Sifat ikatan primodial yang masih kuat berakar, yang dikenal melalui indikatornya berupa sentimennya kedaerahan, kesukuan, keagamaan, perbedaan pendekatan terhadap keagamaan tertentu; puritanisme dan non puritanisme dan lain-lain. d). Kecenderungan budaya politik Indonesia yang masih mengukuhi sikap partenalisme dan sifat patrimonial; sebagai indikator dapat disebutkan antara lain: ABS ( asal bapak senang). e). Dilema interaksi tentang introduksi modernisasi (dengan segala

konsekuensinya) dengan pola-pola yang telah lama berakar menjadi tradisi dalam masyarakat.

Hasil

penelitian

para

ahli

yang

dikenal

denga

pola-pola

masyarakatnya sendiri dapat dijadikan salah satu pengukuran dalam membantu pembangunan politik dalam sistem politik Indonesia. 3) Struktur politik Struktur adalah pelembagaan hubungan organisasi antara komponenkomponen yang membentuk bangunan itu. Struktur politik sebagai salah satu spesies struktur pada umumnya, selalu berkenaan dengan alokasi nilai-nilai yang bersifat otoritatif, yaitu yang dipengaruhi oleh distribusi serta penggunaan kekuasaan. Kekuasaan merupakan subtansi pokok bahasan dalam ilmu politik. Kekuasaan harus diberi arti sebagai suatu kapasitas, kapabilitas, atau kemampuan untuk mempengaruhi,

menyakinkan, mengendalikan, menguasai, dan memerintah orang lain. Politik berkenaan dengan pencapaian tujuan masyarakat, bidang tugasnya ialah keputusan yang menyangkut kepentingan seluruh masyarakat dan bersifat dapat dipaksaan berlakunya. Wilayah inti politik ialah wilayah keputusan yang mendapat paksaan dan esensi politik, menurut Deutsch ialah koordinasi usaha manusia yang dapat diandalkan untuk mencapai tujuan masyarakat. Politik ialah suatu proses dalam mana masyarakat memutuskan bahwa aktivitas tertentu adalah lebih baik dari yang lain dan harus dilaksanakan. Contoh-contoh konsep struktur politik yaitu: a). Faktor-faktor yang bersifat informal (kurang resmi) yang dalam kenyataan mempengaruhi cara kerja aparat masyarakat untuk

mengemukakan, menyalurkan, menerjemahkan, mengkonversi tuntutan,

dukungan, dan masalah tertentu dimana tersangkut keputusan yang berhubungan dengan kepentingan umum. b). Lembaga yang dapat disebut mesin politik formal atau resmi yang dengan absah mengidentifikasi

segala masalah, menentukan dan menjalankan segala keputusan yang mengikat seluruh anggota masyarakat untuk mencapai kepentingan umum. Untuk kemudahan analisis tentang struktur politik melalui pendekatan sebagai berikut; 1. Pengelompokan masyarakat atas dasar persamaan sosial ekonomi. 2. Pengelompokan masyarakat atas dasar perbedaan cara, gaya di satu pihak, dan di lain pihak pengelompokan atas dasar kesadaran akan adanya persamaan jenis-jenis tujuan. 3. Pengelompokan masyarakat atas dasar kenyataan dalam kehidupan politik rakyat, yang satu sama lain mengembangkan fungsi dan peranan politik tertentu, yang secara konvensional dikenal dalam sistem politik. 4) Fungsi politik. Fungsi politik adalah pemenuhan tugas dan tujuan struktur politik, Struktur politik dapat dinyatakan berfungsi apabila sebagian atau seluruh tugasnya terlaksana dan tujuannya tercapai. Oleh karena itu struktur politik dibedakan atas infrastruktur politik yaitu struktur politik masyarakat atau rakyat, suasana kehidupan politik masyarakat atau rakyat, sektor politik masyarakat atau rakyat, dan suprastruktur politik yaitu struktur politik pemerintahan sektor pemerintahan, suasana pemerintahan, sektor politik pemerintahan. Fungsi yang ditunaikan oleh struktur politik masyarakat meliputi; a). Pendidikan politik, yaitu untuk meningkatkan pengetahuan

politik rakyat dan agar mereka dapat berpartisipasi secara maksimal dalam sistem politiknya. Sesuai dengan paham kedaulatan rakyatan atau demokrasi, rakyat harus mampu menjalankan tugas partisipasi. Arah pendidikan masyarakat guna meningkatkan daya pikir dan daya tanggapnya dalam masalah politik sangat erat hubunganya dengan kebudayaan dan orientasi politik. Pendidikan politik ini dapat

diselenggarakan antara lain melalui; 1. Bahan bacan seperti surat kabar, majalah dan lain-lain . Bentuk publikasi massa yang biasa membentuk pendapat umum. 2. Siaran radio dan televisi serta Film ( audio visual media). 3. Lembaga atau asosiasi dalam masyarakat dan lembaga pendidikan formal maupun informal. b). Mempertemukan kepentingan yang beraneka ragam dan nyata hidup dalam masyarakat. Masyarakat mempunyai pandangan, pendapat, kepentingan yang berbeda-beda, tergantung kepada keadaan atau lingkungan yang mempengaruhinya. Interaksi dalam masyarakat, selain dapat menjelma dalam bentuk kerjasama, juga dapat terwujud dalam bentuk kompetisi, ketegangan, persaingan, kontraversi dan konflik. (fungsi Artikulasi kepentingan). c). Agresi kepentingan yaitu menyalurkan segala hasrat atau aspirasi dan pendapat masyarakat kepada pemegang kekuasaan atau pemegang kekuasaan yang berwenang agar tuntutan atau dukungan menjadi perhatian dan menjadi keputusan politik. (fungsi agregatif). d). Seleksi

kepemimpinan, yaitu menyelenggarakan pemelihan pemimpin dan calon pemimpin bagi masyarakat. Penyelengaraan seleksi ini dilakukan secara

terencana dan teratur berdasarkan hukum kemasyarakatan dan norma serta harapan masyarakat. Dalam kepustakaan ilmu politik, diuraikan tentang sifat-sifat ideal seseorang pemimpin, dilukiskan oleh Herman Finner sebagai berikut: 1. Kesadaran, berarti bahwa seseorang pemimpin harus dapat menguasai fakta-fakta yakni pengetahuan yang dibutuhkan agar mampu menjalankan jabatannya. 2. Kebulatan pandangan: adalah bersifat esensial bahwa seseorang pemimpin harus mampu menghubungkan berbagai cabang pengatahuan yang terpenting bagi kedudukannya. 3. Ketetapan jiwa: …… dari seseorang pemimpin kita mengharapkan adanya ketetapan jiwa emosi, kelakuan, sikap dimana dia akan selalu menguasai setiap persoalan bila dibutuhkan, dan dia akan selalu mampu menggunakan pikiranya secara tepat dalam setiap permasalahan yang muncul. 4. Keyakinan: ….. artinya seseorang pemimpin mempunyai ideaide, imajinasi, kebijaksanaan-kebijaksanaan, prinsip-prinsip, mempunyai pola pandangan yang positif dan kontruktif tentang masyarakat yang baik di dalam daya cipta yang diperjuangkan dengan gigih dan berketetapan. 5. Kekreatifan: …. Artinya kemampuan dari seseorang pemimpin untuk menemukan hal-hal yang baru dan menerapkan kebijaksanaanya dalam situasi tertentu, menciptakan segala keyakinannya dalam kenyataan, memikirkan jauh hari kedepan: karenanya pengatahuan, ketetapannya, kebulatan pandangannya, keyakinan akan diterapkan terhadap berbagai situasi yang belum pernah terjadi, tetapi telah terduga dan teramal sebelumnya. 6. Kepekaan hati nurani: …… seseorang pemimpin

terpanggil oleh hati nurani dan oleh rasa tanggung jawabnya atas segala kualitas yang telah terurai di atas dan malah hal-hal lainya yang harus diperinci lebih lanjut. 7. Keberanian: …. Dia mingkin mempunyai musuhmusuh dan menderita oleh segala bentuk ketidak beruntungan. Tetapi seseorang pemimpin dengan hakekat kepemimpinannya harus menaggung resiko dan tidak menyerah pada perasaan atau kepentingan subjektifnya. 9. Kemampuan memukau: …. Kualitas yang dinamakan “daya pikat’ atau kekuatan menawan hati rakyat melalui gaya pidato, pemunculan yang tepat atau korek dan anjuran tindakan untuk melakukan sesuatu. 10. Kepandaian: … kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang banyak untuk bekerjasama guna suatu tujuan yang dijadikan keinginan mereka. e). Komunikasi politik gunanya untuk menghubungkan

pikiran politik yang hidup dalam masyarakat, baik pikiran intra golongan, institut, asosiasi, ataupun sektor kehidupan politik masyarakat dengan sektor pemerintahan. Komunikasi politik adalah proses dimana informasi politik yang relevan diteruskan dari satu bagian sistem-sistem politik kepada bagian yang lainya, dan di antara system-sistem social dengan system-sistem politik . maka komunikasi politik itu memainkan peranan yang penting sekali dalam system politik: komunikasi politik menentukan elemen dinamis, dan menjadi bagian menetukan dari sosialisasi politik, partisipasi politik, dan pengrekrutan politik.

B. Tinjauan masyarakat madani
Pengertian Masyarakat Madani Jean I. Cohen dan Andrew Arato (1992: 53) mendefinisikan masyarakat madani sebagai wilayah interaksi sosial yang di dalamnya mencakup semua kelompok sosial yang paling akrab ( khususnya keluarga), asosiasi-asosiasi (khususnya yang bersifat sukarela), gerakan kemasyarakatan, dan berbagai wadah komunikasi publik lainnya, yang diciptakan melalui bentuk-bentuk pengaturan dan mobilisasi sendiri, dan independen dalam kelembagaan ataupun kegiatannya. Andre Gors (1992: 57) mendefinisikan masyarakat madani sebagai jaringan hubungan sosial yang dibangun orang perorang diantara mereka sendiri, dalam konteks kelompok atau komunitas, yang eksistensinya tidak tergantung pada otoritas negara. Adapun Ernes Gellner ( 1994: 55)mendefinisikan masyarakat madani sebagai aktor di luar pemerintah yang mempunyai cukup kekuatan mengimbangi negara. Mengimbangi berarti dapat mencegah atau membendung negara dalam mendominasi atau memanipulasi kehidupan masyarakat, namun demikian tidak mengingkari pula peran negara sebagai penjaga perdamaian dan wasit di antara kepentingan besar yang dapat menghancurkan tatanan sosial dan politik keseluruhan. Berikutnya, Alfred Stepan ( 1978 : 31 )mendefinisikan masyarakat madani sebagai arena tempat berbagai gerakan sosial (seperti himpunan

ketetanggaan, kelompok keagamaan, kelompok wanita, dan kelompok intelektual), serta organisasi sipil dari semua kelas ( seperti ahli hukum, wartawan, serikat buruh, dan usahawan) berusaha menyatakan diri mereka dalam suatu himpunan, sehingga mereka dapat mengekspresikan diri mereka sendiri dan memajukan berbagai kepentingan mereka. Konsep Masyarakat Madani
Konsep masyarakat madani adalah mencakup intitusi-intitusi non-negara, yang berada di masyarakat yang secara kongkrit mewujudkan diri dalam bentuk pengelompokan-pengelompokan atau perkumpulan-perkumpulan sosial dan politik yang mandiri. Secara kongkrit sebagai pengejawantahan masyarakat madani adalah berbagai jaringan-jaringan maupun pengelompokan-pengelompokan sosial yang mencakup nilai dari rumah tangga (Hausehold), organisasiorganisasi sukarela seperti lembaga masyarakat (LSM), organisasi sosial dan keagamaan, panguyuban-panguyuban, dan juga kelompok-kelompok kepentingan (interest groups) yang diciptakan oleh masyarakat di luar pengaruhpengaruh negara. Bahkan, juga mencakup organisasi-organisasi yang mungkin pada awalnya dibentuk oleh negara, tetapi melayani kepentingan masyarakat, yaitu sebagai perantara dari negara di satu pihak dan individu dengan masyarakat di pihak lain. Gagasan masyarakat madani pada dasarnya menyiratkan keniscayaan adanya kebebasan dan keterbukaan untuk berserikat berkumpul dan mengeluarkan pendapat serta kesempatan yang sama dalam mempertahankan kepentingankepentingan di depan umum. Bahwa konsep masyarakat madani sebagai konsep politik adalah terkait dengan adanya kelompok-kelompok atau asosiasi-asosiasi independen di luar negara, yang berupaya mempengaruhi proses politik terutama dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kepentingan umum, di mana kelompok-kelompok tersebut mengagregasikan tuntutan politik mereka dengan perantaraan masyarakat politik dan masyarakat ekonomi 2003. 59) ( Adi Suryadi C.

C. Tinjauan politik kampus
1) Budaya akademik Pengembangan budaya akademik diarahkan guna menjamin iklim yang kondusif bagi tumbuhnya masyarakat akademik yang makin dewasa, pandangan serta pendapat perlu mendapat dukungan data dan informasi yang akurat sebagai wujud masyarakat rasional yang mengutamakan kebenaran dan tanggung jawab ilmiah. Iklim akademik tersebut perlu mendapatkan kekayaan pendidikan moral yang religius. Oleh karena itu keseimbangan jasmani dan rohani akan mendapat perhatian serius dengan menumbuhkan rasa tanggung jawab ilmiah dengan dasar ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 2) Peraturan dalam kebebasan mimbar atau kebebasan ilmiah yaitu; Ketetapan MPRS. No. XXVII/1966, lampiran bab II, Pasal 6, supaya di perguruan-perguruan tinggi diberikan kebebasan mimbar atau kebebasan ilmiah seluas-luasnya, yang tidak menyimpang dari UndangUndang Dasar 1945 dan falsafah negara pancasila. Undang-Undang tentang Perguruan Tinggi No. 22/1961, Pasal 4, “ Undang-undang ini pada asasnya mengakui dan melindungi kebebasan seorang pengajar dan penyelidik ilmiah pada perguruan tinggi untuk mengajarkan, mengatakan, dan mengadakan penelitian supaya dengan demikian usaha dan

kegiatannya mencapai taraf dan perkembangan yang setinggi-tingginya dan sempurna-sempurnanya”. Keputusan Deputi menteri Perguruan Tinggi No. 1/ 1966 tentang pedoman mengenai penggunaan dan pelaksanaan kebebasan ilmiah dan kebebasan mimbar pada perguruan tinggi. Sebagai lembaga ilmiah, perguruan tinggi hanya dapat mencapai taraf dan perkembangan yang setinggi-tingginya dan sempurna-sempurnanya, apabila perguruan tinggi tersebut mempunyai kebebasan ilmiah dan kebebasan mimbar. Pemberian kebebasan tersebut pada perguruan tinggi adalah merupakan usaha pengakuan dan pengamalan perikemanusiaan, dan perikeadilan yang menjunjung tinggi rakyat Indonesia seperti yang ditegaskan dalam pembukaan Undang-Undang dasar 1945. Dalam Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 2002 yang sudah di amandemen juga jelas menyatakan berlakunya kebebasan mimbar akademik , dengan pernyataan yang dirumuskan dalam bagian tentang pendidikan itu berbunyi: peranan perguruan tinggi dan lembaga penelitiannya dalam menunjang kegiatan pembangunan makin

ditingkatkan, antara lain dengan memantapkan iklim yang menjamin penggunaan kebebasan mimbar akademik secara kreatif, kontruktif dan bertanggung jawab, sehingga mampu memberikan hasil pengkajian dan penelitian yang bermutu dan bermanfaatbagi pebangunan ilmu

pengetahuan dan teknologi dan bagi masyarakat yang sedang membangun. 3) Kebebasan akademik dan mimbar akademik.

Kemandirian ialah suatu modus keberadaan yang selalu melekat pada kesadaran bertanggung jawab, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Kemandirian adalah manifestasi keberadaan yang menjadi signifikan oleh keterkaitannya dengan suatu kebersamaan. Kemandirian adalah penghayatan kebebasan dari suatu yang serentak dengan kebebasan untuk sesuatu. Kemandirian adalah penjelamaan subjektifitas pribadi yang mengakui objektifitas kebersaman sebagai kondisinya. Kesadaran dan penghayatan kebebasan untuk sesuatu sebagai kebebasan bertanggung jawab. Kebebasan akademik merupakan sesuatu modus kebebasan yang mempunyai kaidah-kaidah dan norma-normanya; kebebasan akademik merupakan penjelmaan kebebasan yang terikat pada etika tertentu, maka kebebasan akademik bukan kebebasan tuna-norma. Kebebasan akademik adalah hak dan tanggung jawab sebagai satu keutuhan tak terpisahkan; manuggalnya hak dan tangung jawab ini menjadikan kebebasan akademik terikat pada susila akademik. Menurut Prof.Dr Sartono Kartodirejo ( 1988 :15 )menegaskan bahwa: kebebasan mimbar adalah prinsip yang melekat pada satu kebudayaan kepakaran di lingkungan Universitas, oleh sebab itu meskipun Universitas dituntut tidak menjadi menara gading, tidak berarti landasan intergritas, otoritas, dan sifat otonom yang membawa pengembangan kebudayaaan kepakaran dibenarkan untuk dimanfaaatkan demi kepentingan yang bersifat politik. Di dalam otoritas itulah terletak tangggung jawab yang didasarkan atas integritas, yaitu bahwa selaku pelaku dalam bidang akademis terikat kepada etika dalam menghayati ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu dalam upayanya menunju kebenaran ilmu pengetahuan, integritas yang dimilikinya menjamin tidak akan menggunakan ilmu pengetahuan bagi kepentingan lain, politik khususnya.

4) Pendidikan politik di kampus Sistem pendidikan yang berlaku di Perguruan Tinggi saat ini membuat kampus tak lebih dari sebuah pabrik yang memproduksi ahli teknologi dan ahli ideologi, di mana peranannya dalam melanggengkan struktur yang ada sangatlah diharapkan. Sebagai sebuah produsen bagi tenaga kerja industri dan birokrasi maka kaum bourjuis memiliki kepentingan yang cukup signifikan dalam menentukan kebijakan kampus. Keadaan seperti itu telah menempatkan perguruan tinggi pada tiga posisi penting, yakni: 1. Sebagai lembaga atau institusi yang berperan dalam proses transformasi nilai-nilai dan tatanan masyarakat yang ada. 2.

Memiliki keharusan untuk tunduk pada kepentingan politik negara. 3. Memiliki kewajiban memenuhi kebutuhan pasar. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk melakukan akselerasi pencerahan moral dan politik di kalangan mahasiswa. Metode-metode ini telah terbukti cukup ampuh membangun kesadaran dan daya kritis mahasiswa pada masa lalu dan dirasa efektif untuk sekarang. Di antaranya; 1. Menghidupkan kembali mimbar bebas di setiap kampus, baik tingkat Universitas, Fakultas maupun Jurusan; 2. Menggalakkan forum-forum diskusi tentang berbagai permasalahan dan isu-isu yang berkembang di masyarakat. Forum diskusi ini bisa melakukan kajian berdasarkan pandangan disiplin ilmu tertentu, ataupun interdisipliner yang pesertanya berasal dari fakultas, jurusan maupun universitas berbeda; gerakan moral mahasiswa; 3. Mengintensifkan seminar-seminar tentang 4. Menghidupkan pers mahasiswa sebagai

sarana komunikasi, aktualisasi dan artikulasi gagasan-gagasan brilian serta ide-ide cerdas mahasiswa untuk mencari solusi atas berbagai permasalahan; 5. Optimalisasi kegiatan-kegiatan pengkaderan di

organisasi-organisasi kemahasiswaan yang diarahkan untuk mencetak kader-kader mahasiswa dan calon pemimpin bangsa yang cerdas, terampil, moralis, religius, kredibel, peduli terhadap permasalahan yang terjadi di sekitar serta memiliki integritas diri yang diakui. 6. Memperbanyak penelitian-penelitian ilmiah yang berkaitan dengan problem-problem nyata di masyarakat; 7. Membangun organisasi-

organisasi kemahasiswaan yang layak disebut student government, yang mandiri dalam menentukan sikap tanpa tekanan birokrat atau pihak mana pun. Ada dua faktor yang menyebabkan perilaku politik mahasiswa dalam merespons fenomena yang ada. Pertama karena kondisi objektif masyarakat yang penuh dengan ketidakadilan dan krisis sosial; dan kedua karena sistem pendidikan yang dipratekkan di banyak perguruan tinggi telah mengekang hak-hak demokrasi bagi mereka. 5) Organisasi kampus
Organisasi adalah suatu sistem perserikatan formal, berstruktur dan terkoordinasi dari kelompok orang yang bekerjasama dalam mencapai tujuan tertentu. Organisasi hanya merupakan alat dan wadah (Melayu Hasibuan, 1996: 24). Organisasi kemahasiswaan merupakan wahana dan sarana pengembangan diri kearah perluasan wawasan dan peningkatan kecedikiawan, serta integritas kepribadian mahasiswa. Hal ini penting untuk menyiapkan kader masyarakat yang memilki kemampuan akademik dan profesional yang dapat mengembangkan iptek dan kesenian. ( UKM penerbitan 1998:1) SK Mendikbud No. 155/U/ 1998 sebagai pengganti SK Mendikbud No.1457/u/1990, telah memberikan perubahan yang sangat mendasar pada pengolahan lembaga kemahasiswaan di seluruh perguruan tinggi yaitu dengan bergulirnya SK tersebut yang menjelaskan bahwa pengolahan maupun pembentukan lembaga kemahasiswaan diatur sepenuhnya oleh mahasiswa, berkaitan dengan pembuatan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi kemahasiswaan yang sebelumnya diatur secara garis besar oleh pemerintah. Dalam perguruan tinggi organisasi kemahasiswaan terbagi atas:

a. Organisasi intra kampus yang meliputi 1. Konggres Keluarga Mahasiswa Universitas (KKMU) adalah sebagai forum pemegang kedaulatan tertinggi dalam kehidupan lembaga kemahasiswaan di tingkat Universitas.

2.

Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas (DPMU) adalah lembaga tinggi legislative organisasi kemahasiswaan berkedudukan dan bertugas di tingkat Universitas. yang

3.

BEMU: singkatan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas adalah lembaga tinggi eksekutif organisasi lembaga

kemahasiswaan berkedudukan dan bertugas di tingkat Universitas. 4. UKM : singkatan Unit Kegiatan Mahasiswa adalah lembaga tinggi kegiatan ekstra kurikuler mahasiswa dalam kehidupan

kemahasiswaan. 5. Konggres Mahasiswa Fakultas (KMF) adalah lembaga pemegang kedaulatan tertinggi dalam kehidupan organisasi kemahasiswaan berkedudukan dan bertugas di tingkat fakultas. 6. Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (DPMF) adalah lembaga tinggi legislative dalam kehidupan organisasi kemahasiswaan berkedudukan dan bertugas di tingkat fakultas. 7. Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) adalah sebagai lembaga tinggi eksekutif dalam kehidupan organisasi

kemahasiswaan yang bertugas dan berkedudukan di tingkat fakultas. 8. Keluarga Mahasiswa Jurusan (KMJ) adalah sebagai forum pemegang kedaulatan tertinggi dalam kehidupan lembaga

kemahasiswaan berkedudukan dan bertugas di tingkat jurusan. b. Organisasi ekstra kampus

9.

KAMMI : singkatan dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia

10. GMNI : singkatan dari Gerakan Mahasisiwa Nasional Indonesia. 11. PMII : singkatan dari Pergerakan Mahasiswa Muslim Indonesia 12. HMI : singkatan dari Himpunan Mahasiswa Islam. 6) Pergerakan politik mahasiswa a. Gerakan mahasiswa Gerakan mahasiswa sebagai salah satu kekuatan sosial dan politik yang bergerak di masyarakat, bagaimanapun akan menarik perhatian sebagai pelaku sejarah. Gerakan mahasiswa hadir merupakan faktum perubahan, hal ini disebabkan eksistensi mahasiswa sesuai dengan predikat yang disandangnya, merupakan sebuah elemen yang sangat strategis, setidaknya dilihat dari dua dimensi utama sebagai berikut: Pertama , sebagai bagian dari lapisan angkatan muda, terutama karena tingkat pendidikan tinggi yang mereka miliki, mereka merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki nasib negara dan bangsanya. Sebagai pelaku perubahan sosial, oleh karena itu mahasiswa ingin melibatkan diri untuk menyelesaikan dan mencari jalan keluar terhadap permasalahan-permasalahan yang praktis yang dialami oleh masyarakat. Kedua, sesuai dengan jenjang pendidikan yang mereka sedang jalani, mahasiswa merupakan kelompok intelektual yang merasa keberadaannya dituntut untuk memusatkan diri guna memikirkan ide dan masalah non-material

dengan menggunakan kemampuan penalaran ilmiahnya. Suryadi Culla, 2002: 233)

( Adi

Istilah gerakan mahasiswa menjadi sangat populer setelah terjadi fenomena monumental ditahun 1998. meskipun pada masa sebelumnya, gerakan mahasiswa juga pernah secara aktif

mempelopori perubahan di tahun 1965, kesan yang muncul kemudian menjadi sangat berbeda. Dalam bingkai sejarah, gerakan mahasiswa pernah menjadi bagian dari sebuah gerakan pemuda Indonesia. Mahasiswa pernah menjadi salah satu bagian dari gerakan pemuda sebagaimana dilukiskan sebagai sosok yang paling dinamis. Dan sebagai sosok yang dinamis ini, posisi pemuda yang didalamnya termasuk mahasiswa, tidak bisa dipisahkan dengan proses

perjuangan bangsa, sejak terjadinya kebangkitan pemuda 1908. Pemuda adalah pelopor pada zamannya, pada masa kebangkitan nasional pemuda adalah bagian pendobrak cara pandangan kegelapan dengan cara mengadopsi cara pikir Aufklaris dalam gagap gempita modernisasi. Pemuda memiliki posisi mitologis sebagai kekuatan yang selalu tampil untuk menyuarakan dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan menentang segala bentuk ketidakadilan pada zamannya. Dan dari perjalan sejarah pembentukan bangsa modern sampai era reformasi ini, pemuda (mahasiswa) terbukti selalu memberikan kontribusi yang sangat besar bagi bangsa dan rakyat

Indonesia. Kesan herois ini di satu sisi memang tidak bisa ditolak meskipun di sisi lain perlu dikritisi secara lebih mendalam. Posisi pemuda dan mahasiswa paska tahun 1908 adalah munculnya generasi gerakan di tahun 1966 yang diyakini berhasil menumbangkan rezim orde lama dan menggantikan orde baru, kemudian, gerakan mahasiswa angkatan 78 muncul sebagai kekuatan menolak usaha-usaha deploitasi terhadap mahasiswa dengan NKK/BKK. Sementara itu, angkatan 80-an muncul generasi gerakan yang kritis dengan mengembangkan wacana-wacana yang berbeda dengan yang dikembangkan negara. Generasi 80-an ini tidak

memunculkan gerakan yang masif, tetapi intensif dalam kelompokkelompok diskusi dan LSM yang bekerja secara langsung dengan masyarakat basis. Puncak gerakan mahasiswa terjadi pada angkatan 98 yang diyakini berhasil menumbangkan orde baru. Gerakan yang dipelopori oleh mahasiswa ini bersifat masif dan berhasil meruntuhkan hegemoni dan kekuasaan riel negara. Bahkan militer yang berhasil redupkan posisinya berkat kekuatan masa di bawah kepeloporan mahasiswa. Berkaitan dengan keberhasilan gerakan mahasiswa angkatan 98 ini, disadari oleh beberapa pihak bahwa keberhasilan tidak terwujud apabila tidak ditopang oleh elemen-elemen lainnya yang bersama-sama melakukan perubahan. Artinya dengan kata lain ada sebuah kematangan struktural yang mengakibatkan posisi

gerakan mahasiswa Dalam bagian

penting dan berhasil melakukan perubahan. sudah dijelaskan sebuah proses

terdahulu

perkembangan masyarakat yang akhirnya mampu menunjukan sebuah kontek terjadinya kemacetan disegala bidang, sehingga gerakan mahasiswa menemukan momentumnya yang paling tepat. Munculnya gerakan mahasiswa yang telah berhasil melakukan perombakan sangat dimungkinkan dengan adanya kondisi yang semakin hari semakin parah, sehingga masyarakat berada pada titik kulminasi dan sudah tidak memiliki pilihan lain kecuali harus bangkit dan melakukan perlawanan demi suatu perubahan. Gerakan tersebut sebenarnya adalah ungkapan idealis mereka akan suatu fakta sejarah masyarakat yang dihadapinya, sehingga memunculkan suatu bentuk koletifisme yang kuat dan mengakar dalam semangat untuk melakukan perubahan. Sampai pada penghujung proses gerakan paska turunya Soeharto, masih terjadi perdebatan tentang posisi gerakan

mahasiswa sebagai bagian dari gerakan pemuda. Ada semacam kerancuan yang menghadapi para pelaku perubahan itu sendiri dalam memposisikan dirinya sebagai bagian dari gerakan mahasiswa ataupun gerakan pemuda. Pada bagian analisis empiris terhadap penelitian lapangan akan ditemukan bahwa ambiguitas posisi ini menjadi salah satu pasal yang menimbulkan perbedaan pandangan

yang akhirnya mengakibatkan pemecahan dikalangan para aktivis gerakan mahasiswa angkatan 98. Kebingungan indetitas ini tentu saja terkait oleh suatu konteks tertentu yang membedakannya dengan posisi gerakan mahasiswa pada era sebelumya. Jika angkatan 66 dan 78 sangat bangga tentang predikatnya sebagai gerakan mahasiswa, tidak begitu dengan angkatan 98. Ada semacam pertanyaan kritis dari pihak mereka sendiri tentang predikat tersebut, mengingat posisinya yang tidak lagi terpisah dari gerakan massa rakyat pada umumnya. Pertanyaan kritis terhadap predikat gerakan mahasiswa ini muncul karena memang unsur inti dari gerakan mahasiswa angkatan 98 sudah menjadi bagian dari gerakan semesta rakyat Indonesia. Artinya, bangunan paradigma yang dipasangkan oleh para tokoh inti gerakan mahasiswa adalah cara pandang yang tidak lagi memisahkan mahasiswa dari rakyat, sebagaimana selama rezim orde baru berkuasa sengaja diciptakan jarak yang sangat jauh. Gerakan mahasiswa angakatan 98 yang lahir dari generasi angkatan 80-an telah akrab dengan rakyat, sebagai basis

pengorganisasian mereka, pertama kelompok studi yang tumbuh subur di era 1980-an adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari proses penyatuan gerakan mahasiswa dengan gerakan rakyat. Dalam kelompok studi inilah wacana yag menentang arus penghangusan oleh rezim orde baru dibangun dan ditanamkan serta disosialisasikan

baik pada tingkatan masa mahasiswa maupun di tingkat gerakan rakyat pada umumnya . Wacana hegemoni inilah yang

membangkitkan kesadaran di antara masa mahasiswa dan masa rakyat pada umumnya dalam melakukan perlawanan terhadap rezim orde baru. Selain kelompok–kelompok studi yang tumbuh subur di tahun 1980-an, munculnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang semakin marak dipelopori oleh mahasiswa dan mantan mahasiswa juga semakin mendekatkan relasi antara mahasiswa dan rakyat. Posisi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pada umumnya adalah menjadi titik singgung yang menghubungkan dunia kampus dengan dunia riel (nyata) dalam masyarakat, karena kebanyakan, karena Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mempunyai kaki di dua tempat ini, dunia kampus dan basis masa rakyat. Dan melalui kerjakerja pengorganisasian masa rakyat ini, mahasiswa secara lambat tapi pasti menjadi bagian masyarakat. Dan manakala terjadi gelombang gerakan mahasiswa, ada sebagian pusat-pusat

pengorganisasian masa rakyat ini yang dijadikan basis penyatuan masa mahasiswa dengan masa rakyat. Dengan demikian, muncul terminologi yang semakin

berkembang antara gerakan mahasiswa, gerakan pemuda dan gerakan rakyat. Terminologi terakhir ini muncul dan aktual pada fenomena gerakan angkatan 98. dan inilah tipologi dan ciri khas

yang membedakan gerakan 98 dengan angkatan sebelumnya. Pengorganisasian gerakan mahasiswa ini ternyata bukan sesuatu yang relatif baku dan konstan untuk jangka waktu relatif lama, karena dalam kenyataannya pengorganisasian tersebut belangsung secara dinamis, yaitu masing-masing kelompok berubah nama dan infilisasi secara relatif cepat. Hal ini terjadi karena memang terjadi perkembangan yang terus menerus di lapangan, baik dalam hal kepentingan, strategi, keprihatinan sampai lahirnya pemahaman yang bersifat ideologis. Munculnya organisasi gerakan mahasiswa sangat diwarnai oleh pluraliritas yang ada dalam dunia gerakan dan dunia mahasiswa, akar pengorganisasian bila dilacak dari angkatan 80-an yang sudah memulai dengan melakukan gerakan alternatif sebagai eksperimen perlawanan mahasiswa yang kemudian melahirkan paradigma baru dalam gerakan mahasiswa. Isu yang diangkat dari generasi mahasiswa 1998 merupakan sebuah paradigma gerakan yang prinsipal sesuai dengan zamannya, dan sekaligus membedakan gerakan mahasiswa sebelumnya. Mereka menuntut reformasi menyeluruh disegala bidang; ekonomi, politik, hukum. b. Karateristik gerakan mahasiswa Hariman Siregar (1998: 45)dalam bukunya "Gerakan

Mahasiswa, Pilar Ke-5 Demokrasi" menjelaskan ciri Gerakan

Mahasiswa, yaitu,

1. Bersifat spontanitas. Partisipasi mahasiswa

dalam gerakan merupakan respon spontan atas situasi sosial yang tidak sehat, bukan atas ideologi tertentu, melainkan atas nilai-nilai ideal. Namun hal ini bukan berarti tidak ada pendidikan publik di kalangan mahasiswa; 2. Bercorak nonstruktural. Gerakan mahasiswa tak dikendalikan oleh suatu organisasi tunggal, termasuk

kepemimpinan komando, melainkan bercorak organisasi cair, dengan otonomi masing-masing basis kampus sangat besar. Agenda aksi dibicarakan secara terbuka dan diputuskan serta diorganisasikan secara kolektif; 3. Bukan agen politik di luar kampus. Gerakan mahasiswa bersifat independen dari kelompok kepentingan tertentu, tetapi tidak menutup kemungkinan ada langkah bersama. Ini bisa terjadi lantaran sifat gerakan mahasiswa itu sendiri yang merupakan reaktikulator kepentingan rakyat atau gerakan moral; 4. Memiliki jaringan yang luas. Mengingat otonomi masing-masing kampus begitu tinggi, pola gerakan mahasiswa terletak pada jaringan yang dibinanya. Bentuk jaringan menjadi salah satu ciri dari

pengorganisasian gerakan mahasiswa. Jaringan yang terbentuk biasanya luwes sehingga memudahkan untuk bermanuver serta tidak mudah untuk di kooptasi oleh kelompok kepentingan yang bertentangan dengan gerakan moral, termasuk pemerintah. c. Kelemahan dan kekuatan gerakan mahasiswa

Kelemahan dari gerakan mahasiswa secara umum, yang dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Ketidakmampuan mahasiswa membina hubungan yang baik dengan masyarakat. 2. Ada motivasi dari sekelompok mahasiswa yang hanya sekedar mencari kesenangan atau hobi. 3. Pengorganisasian massa di basis gerakan yang lemah : karena hanya berfokus pada aktivisme yang berciri heroisme, gerakan mahasiswa secara umum lalai untuk melakukan

pengorganisasian. 4. Terkadang mahasiswa memakan agenda atau masih masih terjebak untuk mengangkat isu-isu lama. 5. Mahasiswa sekarang merupakan bagian dari produk orde baru. 6. Adanya jarak antara mahasiswa dan rakyat. 7. Adanya perpecahan di tingkat kesatuan aksi gerakan mahasiswa. 8. Mahasiswa terlalu arogan. 9. Tidak arah dan tujuan yang pasti tentang proses reformasi yang dikumandangkan oleh mahasiswa. 10. Menggagap masyarakat sebagai objek tranformasi. 11. Gerakan bersifat reaktif keluar, temporer, dan kemahasiswaan. 12. Gerakan kehilangan daya reflektif. Kekuatan gerakan mahasiswa, meliputi : 1. Merupakan gerakan strategis dimana gerakan mahasiswa memainkan peranan yang sangat penting dan posisinya sangat strategis. 2. Memiliki kemampuan untuk berkembang karena banyaknya waktu yang di dapat dipakai untuk belajar mengenai teori perubahan. 3. Sebagian mahasiswa dapat mengkritisi situasi di dalam gerakan maupun di

masyarakat. 4. Pers mahasiswa membawa dampak yang baik, dapat dengan cepat mensosialisasikan gerakan mahasiswa di masyarakat. 5. Gerakan mahasiswa bagian dari integral dari semesta gerakan rakyat. 6. Dampak perubahan yang diberikan gerakan mahasiswa sangat besar dan Mahasiswa bagian dari investasi perubahan dan pembangunan ke depan. 7. Gerakan tidak dapat dimatikan oleh kekuatan, kekuasaan manapun atau proses perubahan dan Mahasiswa mengelola gerakan sendiri. 8. Mampu menjadi penghubung masyarakat yang bermasalah dengan pihak yang berpengaruh.

D. Faktor penghambat perkembangan budaya politik mahasiswa di kampus.
Adapun cara yang ditempuh untuk mengubur kekritisan mahasiswa, pihak kampus dalam hal ini adalah rektorat, biasanya akan memperketat kebijakan akademik dan membuat bagaimana mahasiswa merasa enjoy dengan sejumlah aktivitas di kampus. Sejumlah acara seperti pertunjukan musik atau acara yang bersifat entertainment akan menjadi suatu acara yang pasti menyedot banyak mahasiswa. Ketika mereka berjingkrak-jingkrak

menikmati alunan musik, mereka lupa bahwa masyarakat di luar kampus membutuhkan peranan mereka untuk bersama-sama melakukan perubahan menuju iklim yang lebih baik. Aktivitas-aktivitas yang sifatnya politis seperti demonstrasi, orasi politik ilmiah dan aktivitas kritis lainnya selalu mendapat respons negatif dari pihak birokrat. Eny Prihatiyani (2004: 5) mengemukakan ada lima macam metode yang biasanya dilakukan oleh birokrat kampus untuk meredam aktivitas kritis mahasiswa, yakni : 1. Memperketat absensi (kuantitas kehadiran mahasiswa) minimal

80%/semester. Jika dalam satu semester absensi mahasiswa di bawah 80%, mahasiswa tersebut dilarang untuk mengikuti ujian final. 2. Merepresi nilai bagi mahasiswa yang berseberangan pendapat dan pemikiran dengan dosen atau mahasiswa yang kritis di kampusnya. Biasanya birokrat kampus atau dosen memberikan nilai tidak objektif terhadap mahasiswa yang kritis. 3. Membuat perjanjian tertulis diatas materai secara sepihak tanpa didialogkan terlebih dahulu kepada mahasiswa. Salah satu isi

perjanjiannya tidak boleh terlibat dalam aktivitas politik praktis seperti unjuk rasa tentang permasalahan kampus. Dengan alasan kampus adalah wadah untuk mencari ilmu bukan sebagai tempat berpolitik. 4. Merepresi psikologis mahasiswa yang kritis dengan sanksi sepihak dan memanggil orang tua wali. Dengan begitu kontradiksi yang dihadapi mahasiswa menjadi luas. Yang tadinya hanya berkontradiksi dengan pihak

birokrat kampus meluas dengan keluarga. Sehingga banyak aktifis mahasiswa yang terdemoralisasi, dengan sendirinya tidak menjadi kritis lagi. 5. Pemecatan status kemahasiswaan secara sepihak (skorsing). Kebijakan tersebut membuat tujuan pendidikan yang seharusnya membebaskan manusia dari ketertindasan justru berlangsung sebaliknya. Tidak mengherankan kalau dalam dua bulan terakhir mahasiswa banyak turun ke jalan karena di samping kondisi objektif masyarakat dengan kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah Megawati terbukti merugikan masyarakat bawah juga dipicu oleh sistem pendidikan yang banyak mengekang kebebasan berekspresi di kampus

E. Kerangka berfikir

Mahasiswa

Budaya politik kampus

Organisasi kampus

Budaya akdemik

Organisasi Intra Kampus : BEMU, BEMF, HIMA

Realita kehidupan politik di indonesia

Budaya politik internal kampus

Organisasi ekstra kampus: KAMMI, HMI, PMII, GMINI

Budaya politik eksternal kampus

ASPIRASI

PERGERAKAN APLIKASI POLITIK

FAKTOR PENGHAMBAT A

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Sifat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan diskriptif kualitatif yaitu penelitian dengan cara memandang objek kajian sebagai suatu system artinya objek kajian dilihat sebagai satuan yang terdiri dari unsur-unsur yang saling terkait dan mendiskripsikan fenomena-fenomena yang ada (Arikunto, 1998; 209). Penelitian diskriptif ini bertujuan agar peneliti dapat mendiskripsikan secara jelas dan terperinci serta memperoleh data yang mendalam dari focus penelitian yaitu bagaimana sikap dan aplikasi aktivis mahasiswa terhadap realita politik yang terjadi dan bagaimana hal tersebut dilakukan. Adapun alasan peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena penelitian kualitatif memiliki ciri-ciri tertentu sebagaimana menurut Liancoln dan Guba dalam (lexy J Moleong, 2001; 4) yang meluas 11 ciri penelitian kualitatif yaitu: (1) Dilakukan pada latar alamiah, (2) Manusia sebagai alat instrumen, (3) Metode Kualitatif, (4)Analisis data secara induktif, (5) Arah Penyusunan teori berdasar dari bawah, (6) Bersifat deskriptif, (7) Mementingkan proses dari pada hasil, (8) Menghendaki ditetapkannya batas dasar fokus, (9) Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data, (10) Desain bersifat sementara, dan (11) Hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama. Penelitian kualitatif ini dengan studi kasus, sebagai upaya studi kasus dapat memberi nilai tambah pada pengetahuan kita secara unik tentang fenomena individual, organisasi, sosial, dan politik. Studi kasus memungkinkan peneliti untuk mempertahankan karekteristik holistic dan bermakna dari peristiwa kehidupan nyata (Robert K.Yin, 2003: 4). Dalam hal ini, peneliti ingin mengatahui dan memahami sesuatu dibalik fenomena budaya politik kampus yang dilakukan oleh para mahasiswa aktivis Universitas Negeri Semarang yang mengikuti kegiatan intra maupun ekstra kampus, yang mana dibutuhkan suatu metode pengumpulan data secara mendalam, terbuka, tersektruktur, serta mempertahankan karakteristik holistic dan bermakna dari peristiwa-peristiwa kehidupan nyata. Dari alasan ini peneliti memandang bahwa jenis penelitian kualitatif sesuia bila digunakan dalam penelitian ini.

B. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan mengambil lokasi di lingkungan Universitas Negeri Semarang. Dipilihnya Universitas Negeri Semarang sebagai lokasi penelitian di karenakan; Pertama adalah tempat tersebut memilki lembaga kemahasiswaan baik intern organisasi maupun ekstern

organisasi yang berpengaruh di tingkat lokal dan nasional serta regional, kedua adalah para aktivis mahasiswa Universitas Negeri Semarang memilki karekteristik yang unik sehingga mereka dipercaya dalam memimpin sebuah jaringan aktivis mahasiswa.

C. Subjek Penelitian Subjek Penelitian merupakan keseluruhan badan atau elemen yang akan diteliti. Adapun yang menjadi subjek penelitian ini adalah para aktivis mahasiswa yang tergabung pada lembaga intra kemahasiswaan meliputi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas ( BEMU ) dan Mahasiswa Fakultas Badan Eksekuti

(BEMF) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HIMA)

maupun ekstra kemahasiswaan meliputi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), GMNI ( Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), Pergerakan Mahasiswa Muslim Indonesia (PMII) dan informan tambahan dari mahasiswa non aktifis.

D. Fokus Penelitian Pada penelitian pada dasarnya adalah masalah yang bersumber pada pengalaman peneliti atau melalui pengetahuan yang di perolehnya melalui keputusan ilmiah ataupun keputusan lainnya (Moleong, 2001; 65). Rumusan masalah atau fokus dalam penelitian kualitatif bersifat tentatife artinya penyempurnaan fokus atau masalah tetap dilakukan sewaktu penelitian sudah berada dilatar penelitian.

1.

Penelitian ini memfokuskan pada bagaimana budaya politik kampus tentang aspirasi dan aplikasi aktivis mahasiswa terhadap realita politik yang terjadi.

2.

Bagaimana faktor-faktor yang menghambat kegiatan mahasiswa yang ke arah politik di kampus.

E. Sumber Data Penelitian Bukti atau data untuk keperluan studi kasus bisa berasal dari enam sumber yaitu; dokumen, rekaman, arsip, wawancara, pengamatan langsung, observasi partisipan dan perangkat fisisk. Penggunaan ke-enam sumber ini memerlukan keterampilan dan prosedur metodologis yang berbeda-beda. ( Noeng Muhadjir, 1996: 98) Sumber data penelitian terdiri dari: Informan utama: 5 orang aktivis terdiri dari ketua dari lembaga kemahasiswaan baik intra kampus meliputi I orang perwakilan dari Badan eksekutif mahasiswa Universitas (BEMU) dan I orang perwakilan dari Badan eksekuti mahasiswa Fakultas (BEMF) dan ekstra kemahasiswaan meliputi 2 orang aktivis Muslim Indonesia (KAMMI), dari; Kesatuan Aksi Mahasiswa

GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional

Indonesia) serta I Informan dari UKM BP2M ( Badan Penerbitan dan Penulisa

Mahasiswa). Selain informan utama peneliti juga menggali sumber data dari pihak lain seperti: informan yang non aktivis mahasiswa serta pihak dosen yang membina lembaga kemahasiswaan dan sumber-sumber lain yang tepat. Selain sumber-sumber individual ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengumpulan data studi kasus, hal ini mencakup penggunaan: 1. Berbagai sumber bukti yaitu bukti dari dua atau lebih sumber, tetapi menyatu dengan serangkaian dengan fakta atau temuan yang sama. 2. Data dasar yaitu kumpulan formal bukti yang berlainan dari laporan akhir studi kasus yang bersangkutan. 3. Serangkaian bukti yaitu keterkaitan yang eksplisit antara pertanyaanpertanyaan yang diajukan, data yang terkumpul dan konklusi-konklusi yang ditarik ( Robert K. Yin, 2003:3001).

F. Metode Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. a. Wawancara Wawancara merupakan sumber informasi yang esensial bagi studi kasus, yang dalam hal ini bisa mengambil beberapa bentuk. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tipe yang paling umum, yaitu wawancara studi kasus bertipe open ended, dimana peneliti dapat bertanya kepada responden kunci tentang fakta-fakta suatu peristiwa disamping opini

mereka menganai peristiwa yang ada. Pada beberapa situasi, peneliti bahkan bisa meminta responden untuk mengetengahkan pendapatnya sendiri terhadap peristiwa tertentu dan bisa menggunakan proporsi tersebut sebagai dasar penelitian selanjutnya. Informan kunci seringkali sangat penting bagi keberhasilan studi kasus. ( Robert K. Yin, 2003:108-109 ). Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dimana terjadi komunikasi secara verbal antara pewawancara dengan subjek wawancara. Menurut Moleong (2001; 135) Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan itu dilakuakan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai, yang memberikan jawaban pertanyaan itu. Dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam karena peneliti ingin mengetahui secara menyeluruh bagaimana Penelitian ini memfokuskan pada bagaimana budaya politik kampus tentang aspirasi dan aplikasi aktivis mahasiswa terhadap realita politik yang terjadi. Bagaimana faktor-faktor yang menghambat kegiatan mahasiswa yang ke arah politik di kampus. Dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara dengan beberapa responden atau informan. 5 orang aktivis terdiri dari ketua dari lembaga kemahasiswaan baik intra kampus meliputi I orang perwakilan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU) dan 1 orang perwakilan dari Badan Eksekuti Mahasiswa Fakultas ( BEMF) dan ekstra kemahasiswaan meliputi 2 orang aktivis dari; Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), dan 1 aktivis

UKM BP2M (Badan Penerbitan Penulisan Mahasiswa).

Selain informan

utama peneliti juga menggali sumber data dari pihak lain seperti: informan yang non aktivis mahasiswa serta pihak dosen yang membina lembaga kemahasiswaan dan sumber-sumber lain yang tepat. b. Observasi Metode observasi ini merupakan pengamatan atau mendengarkan perilaku individu dalam situasi atau selang waktu tanpa manipulasi atau mengontrol dimana perilaku itu ditampilkan. Dalam metode observasi ini juga tidak mengabaikan kemungkinan menggunakan sumber-sumber non manusia seperti dokumen dan catatan-catatan. Adapun observasi non partisipan yang bertujuan untuk menjaring perilaku manusia sebagaimana perilaku itu terjadi dalam kenyatan sebenarnya dan mendiskripsikan kehidupan sosial yang sebenarnya. ( Dedy Mulyanan. 2001: 67) Dalam penelitian ini, objek yang akan diobservasi oleh peneliti yaitu budaya politik kampus ( studi aktivis mahasiswa di lingkungan Universitas Negeri Semarang.) c. Dokumentasi Tipe informasi ini bisa menggunakan berbagai bentuk dan hendaknya menjadi objek rencana-recana pengumpulan data yang eksplisit. Studi dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian. Dalam penelitian ini dokumentasi dimaksudkan untuk melengkapi data dari hasil wawancara dan observasi. Dokumentasi yang diteliti dapat berupa berbagai macam, tidak

hanya dokumentasi resmi. Dokumentasi dapat berupa buku harian, surat pribadi, laporan, catatan kasus dan dokumen lainnya yang berkaitan dengan budaya politik kampus tentang sikap dan aplikasi aktivis mahasiswa terhadap realita politik yang terjadi dan faktor-faktor yang menghambat kegiatan mahasiswa yang ke arah politik di kampus. Untuk studi kasus, penggunaan dokumen yang paling penting adalah mendukung dan menambah bukti dari sumber-sumber lain; Pertama dokumen membantu penferifikasian ejaan dan judul atau nama benar dari organisasi-organisasi yang telah disinggung dalam wawancara; kedua dokumen dapat menambah rincian spesifik lainnya guna mendukung informasi dari sumber-sumber lainnya; ketiga inferensi dapat dibuat dari dokumen-dokumen karena nilainya secara keseluruhan, dokumen

memainkan peran yang sangat penting dalam pengumpulan data studi kasus. ( Robert K. Yin, 2003:103-104).

G. Keabsahan Data Dalam penelitian ini keabsahan data dilakukan untuk membuktikan temuan hasil penelitian dengan kenyataan yang diteliti di lapangan. Pemeriksaan keabsahan data ini, didasarkan atas kriteria tertentu seperti yang dikemukakan oleh Moleong ( 2001:173), yaitu : derajat kepercayaan ( credebility), keteralihan ( tranvebility), kebergantungan ( dependability) dan kepastian ( confirbality). Pada penelitian ini untuk menjamin validitas dan data temuan yang diperoleh, peneliti melakukan beberapa upaya disamping

menanyakan langsung kepada subyek, peneliti juga berupaya mencari jawaban dari sumber lain. Keabsahan data dilakukan untuk meneliti kredibilitasnya menggunakan teknik triangulasi adalah teknik pemeriksa keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2001; 178). Triangulasi merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang di luar data itu. Densin ( dalam moleong, 2001: 178) membedakan trianggulasi menjadi empat macam yaitu: sumber, metode, penyidik, dan teori. Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan teknik pemeriksaan dengan memanfaatkan penggunaan sumber, yang berarti membandingkan dengan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda.

H. Teknik Analisis Data Analisis bukti (data) terdiri dari pengujian, pengkategorian,

pengtabulasian ataupun pengombinasian kembali bukti-bukti untuk menunjuk proposi awal suatu penelitian. Setiap penelitian hendaknya dimulai dengan strategi analisis yang umum mengandung perioritas tentang apa yang akan dianalisis. Dalam strategi seperti itu, tiga teknik analisis yang menetukan hendakanya dipergunakan yaitu; perjodohan pola, pembuatan penjelasan, dan analisis deret waktu. 1. perjodohan pola

Untuk analisis studi kasus, salah satu strategi yang paling disenangi adalah penggunaan logika perjodohan pola. Logika seperti itu

membandingkan pola yang didasarkan atas empiris dengan pola yang diprediksikan ( atau dengan beberapa prediksi alternatif). Jika kedua pola ini ada persaamaan, hasilnya dapat menguatkan validitas internal studi kasus yang bersangkutan. Jika studi kasus yang bersangkutan eksploratis, polanya mungkin berkaitan dengan variable-variabel dependen atau independen dari penelitian yang bersangkutan. Jika studi kasus tersebut deskriptif, perjodohan pola akan relevan dengan pola variabel-variabel spesifik yang diprediksi dan ditentukan sebelum pengumpulan datanya.

2.

Pembuatan eksplansi Strategi analisis yang kedua ini pada dasarnya merupakan tipe khusus perjodohan pola, tetapi prosedurnya lebih sulit dan karenanya patut mendapat perhatian tersendiri. Disini, tujuannya adalah analisis data studi kasus dengan cara membuat suatu eksplanasi tentang kasus yang bersangkutan. Prosedur tersebut pada dasarnya relevan untuk studi kasus eksplanotoris. Prosedur tersebut, bagi studi kasus eksplanotoris, umumnya dipandang sebagai bagian dari proses pengembangan hipotesis ( Glaser dan Starus 1967), namun tujuannya bukan untuk menyimpulkan suatu penelitian melainkan mengembangkan gagasan-gagasan untuk penelitian selanjutnya.

3.

Analisis deret waktu Strategi analisis ketiga adalah penyelenggaraan analisis deret waktu, yang secara langsung analog dengan analisis deret waktu yang diselengarakan dalam eksperimen dan kusai ekperimen. Analisis semacam ini dapat mengikuti banyak pola sebagaimana telah menjadi judul di beberapa buku teks dalam psikologi eksperintal dan klinis ( Kratochil, 1978).

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

HASIL PENELITIAN Gambaran Umum Penelitian. Universitas Negeri Semarang 1.1 Profil UNNES Universitas Negeri Semarang diresmikan pada tahun 2000, di mana asal mula Universitas Negeri Semarang adalah IKIP (Institut Keguruan Ilmu Pendidikan) Semarang, terletak di dataran tinggi kota Semarang yaitu di jalan raya Sekaran kecamatan Gunungpati kabupaten Semarang. Dalam mengembangkan

perguruan tinggi yang ideal maka Universitas Negeri Semarang menjalankan kerjasama dan pengembangan kampus yang meliputi pembangunan sarana dan prasarana aktivitas kegiatan di kampus, pengembangan para pendidik atau pengajar mahasiswa dan

karyawan serta peningkatan mutu pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan dan tujuan perguruan tinggi. Semua hal tersebut dapat dilihat dari berbagai bidang yang ditingkatkan oleh UNNES seperti bidang pembinaan tenaga akademik dan administrative, bidang pendidikan dan pengajaran, bidang penelitian, bidang pengabdian masyarakat, bidang pembinaan profesi keguruan,

bidang pembinaan profesi non keguruan, bidang sarana akademik, dan bidang kerjasama. a. Bidang pembinaan tenaga akademik dan administratif Di lingkungan perguruan tinggi, dosen dan tenaga akademik adalah penggerak utama kehidupan kampus, kualitas suatu perguruan tinggi, sebagian besar sangat bergantung pada kualitas tenaga akademiknya, disamping kualitas tenaga administrasinya. UNNES memiliki dosen 813 tenaga akademik dan 428 tenaga administrasi. b. Bidang pendidikan dan pengajaran, Tahun akademik 2003-2004, UNNES menyelenggarakan pendidikan berdasarkan surat keputusan DIRJEN DIKTI, UNNES menyelenggarakan 4 program studi S2, 26 program studi S1 kependidikan, 13 program studi S1 non kependidikan, dan 8 program diploma tiga non pendidikan, 3 program studi diploma dua kependidikan. c. Bidang penelitian, Penelitian adalah dharma perguruan tinggi kedua yang pelaksanaanya diorganisir oleh lembaga penelitian. d. Bidang pengabdian masyarakat Pengabdian masyarakat adalah dharma perguruan tinggi ketiga, pelaksanaanya dikoordinasikan oleh lembaga pengabdian pada masyarakat. Salah satu program pengabdian yang

dilaksanakan mahasiswa adalah dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) di berbagai daerah pedesaan. e. Bidang pembinaan profesi keguruan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) dalam bentuk praktek mengajar di sekolah, latihan merupakan program pembinaan profesi keguruan. f. Bidang pembinaan profesi non keguruan, Praktek Kerja Lapangan (PKL) ditangani oleh UPT PKL, bertujuan untuk pembinaan profesi non keguruan. g. Bidang sarana akademik Meningkatakan lulusan UNNES dari tahun ketahun, baik kuantitas mapun kualitas merupakan salah satu hasil nyata program peningkatan mutu yang terus menerus dilakukan, baik melalui system penerimaan mahasiswa baru, proses belajarmengajar, peningkatan mutu dosen, penyediaan sarana

akademik, budaya akademik, dan lain-lain. h. Bidang kerjasama Mulai tahun 2003 UNNES telah membangun jaringan kerjasama, baik dengan instansi dalam negeri mapun luar negeri. 1.2 Tujuan pendidikan nasional Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan

kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,

bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertagwa kepada Tuhan Yanag Maha Esa, berahkhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap , mandiri dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab. Oleh karena itu perguruan tinggi berkewajiban

mengembangkan potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertagwa kepada Tuhan Yanag Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 1.3 Paradikma perguruan tinggi Globalisasi mendorong terjadinya perubahan-perubahan pada berbagai segi kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk dunia pendidikan tinggi. Oleh karena itu peran perguruan tinggi di letakkan dalam kerangka konsep pemikiran atau paradikma baru perguruan tinggi. Paradikma baru perguruan tinggi dimaksud meliputi : (1) Daya saing bangsa, (2) Otonomi, (3) Organisasi yang sehat. 1. Daya saing bangsa Daya saing bangsa bisa dicapai dengan kerangka kerja dan karakter kebangsaan yang kuat, di sini sistem pendidikan tinggi bertanggung jawab untuk menyajikan pengetahuan dan pemahaman yang lebih kepada para mahasiswa agar menjadi warga negara yang baik dan menuju hidup yang lebih berarti.

2. Otonomi Sistem pengaturan otonomi yang baik dapat mendukung cita-cita lembaga pendidikan tinggi dan nilai-nilai yang membentuknya. Oleh karenanya hal ini menjadi kebijaksanaan lembaga yang bersangkutan untuk merencanakan sistem pengaturan otonomi di masa mendatang. Pengaturan otonomi yang baik harus dapat mendukung kebebasan akademis dan mengakui hak–hak akdemis guna membedakan bidang-bidang mereka dalam hal penelitian, pengajaran dan publikasi. Dalam lingkungan system pendidikan tinggi yang terdesentralisasi, system pengaturan otonomi memungkinkan pihak fakultas dan penyelenggara menyuarakan kebijakan intitusi lembaga mereka, dengan demikian desentralisasi dan otonomi yang lebih luas akan mendorong berkembangnya potensi perguruan tinggi dalam meningkatkan daya saing bangsa . 3. Organisasi yang sehat Organisasi yang sehat berkaitan dengan kondisi yang memungkinkan suatu organisasi untuk melaksanakan visi dan misinya. Dalam konteks akademik, ciri-ciri organisasi yang sehat adalah adanya kemampuan untuk menciptakan kebebasan akademis. Inovasi dan kreatifitas yang tinggi memberikan kesempatan setiap orang untuk menimba ilmu, bekerja demi kesuksesan organisasi. Organisasi yang sehat bisa berkembang dalam system

yang sehat secara sistematis dapat menumbuhkan suatu pendekatan proaktif guna mengatur setiap individu agar organisasi tersebut lebih efektf dan efisien dengan kejelasan hak, tanggung jawab, dan akuntabilitas. 1.4 Tugas dan Fungsi Universitas Negeri Semarang Universitas Negeri Semarang mempunyai tugas

menyelenggarakan pendidikan akademik dan atau kesenian tertentu. Untuk menyelengarakan tugas tersebut Universitas Negeri

Semarang mempunyai fungsi : a. Pelaksanaan dan pengembangan pendidikan tinggi b. Pelaksanaan penelitian dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi atau dan kesenian. c. Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat d. Pelaksanaan pembinaan civitas akademika dan hubungan dengan lingkungan e. Pelaksanaan kegiatan layanan administratif. 1.5 Visi dan Misi UNNES a. Visi Universitas Negeri Semarang
Universitas Negeri Semarang adalah lembaga pendidikan tinggi yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan , teknologi, olah raga, seni dan budaya, serta menghasilkan tenaga akademik profesional dalam bidang kependidikan dan non kependidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

b. Misi Universitas Negeri Semarang. Universitas Negeri Semarang menyelenggarakan

pendidikan akademik dan profesional di bidang pendidikan dan

non kependidikan dalam berbagai jenjang pendidikan serta mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan,

teknologi, olah raga, seni dan budaya melalui penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dibidang kemahasiswaaan, visi edukatif adalah

mengembangkan potensi mahasiswa dengan seperangkat aspek kepribadiannya dalam koridor norma dan etika. Sedangkan visi pengembangan adalah didasarkan kebutuhan, aspirasi dan ekspektasi mahasiswa dan kepribadiannya untuk memberikan kemudahan mahasiswa mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki secara komperehensip. Sebagai dari serangkaian dari visi bidang kemahasiswaan maka misi bidang kemahasiswaan adalah mendampingi, membina, memfasilitasi dan menyalurkan perkembangan

potensi mahasiswa khususya dalam aspek pribadi agar seimbang dengan perkembangan akdemika intelektualnya. 1.6 Etika mahasiswa Universitas Negeri Semarang a. Etika akademik Etika akademik merupakan seperangkat nilai yang

diharapkan menjadi acuan bagi mahasiswa dalam berbagai aktivitas akademik seperti mengikuti perkuliahan, melakukan kegiatan di laboratorium, mengadakan penelitian, berdikusi, menempuh ujian dan sebagainya. Sebagai bagian dari

masyarakat

ilmiah,

mahasiswa

memiliki

kejujuran

dan

tanggungjawab akademik dalam menggali informasi dan menyebarkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. b. Etika pergaulan Etika pergaulan merupakan seperangkat alat nilai yang diharapkan menjadi acuan bagi mahasiswa dalam berinteraksi dengan sesama warga civitas akademika dan masyarakat sekitarnya. Dalam pergaulan antar civitas akademika,

mahasiswa mengembangkan kepribadian, sopan-santun, nilainilai budaya dan agama, sebagai landasan utamanya. Mahasiswa mampu bergaul secara baik dengan sesama mahasiswa, dosen ,karyawan, dan masyarakat sekitar kampus sebagai langkah awal untuk menciptakan iklim kerjasama yang kondusif. c. Etika berkreasi Etika berkreasi merupakan seperangkat alat nilai yang diharapkan menjadi acuan bagi mahasiswa dalam penciptaan karya dalam bentuk tulisan, gambar, poster, leaflet, tarian, puisi, dan sebagainya. Pada dasarnya mahasiswa harus memiliki sikap kreatif sebagai insan akademis.

d. Etika berekspresi

Etika berekspresi merupakan seperangkat nilai yang diharapkan menjadi acuan bagi mahasiswa dalam berekspresi, yakni mengemukakan pendapat, pandangan, ide atau gagasan, serta konsep baik secara lisan maupun tertulis, sebagai bagian dari upaya pengkajian ilmu pengatahuan sesuai dengan bidangnya serta dalam fungsi sebagai kontrol social. e. Etika berbusana Etika berbusana merupakan seperangkat nilai yang

diharapkan menjadi acuan bagi mahasiswa dalam berpakaian dan atau berdandan. Mahasiswa sebagai insan akademik hendaknya membiasakan berbusana yang mencerminkan nilainilai etis, estetis, dan religius, sehingga menampakan

keberadaannya sebagai warga sivitas akademika yang sopan dan berbudaya. 1.7 Budaya politik Budaya politik yang terjadi di UNNES sudah mengalami perubahan dan pengembangan pendidikan politik dapat dilihat dari bertambahnya partispasi mahasiswa dalam ikut serta dalam berpolitik di kampus. Kehidupan politik yang terjadi di UNNES masih dalam keadaan sederhana tetapi sudah memberikan warna politik dalam peningkatan budaya politik kampus sehingga kampus menjadi fasilitas dalam melakukan kegiatan politik dan menjadikan kampus bebas dari politik praktis.

Lembaga kemahasiswaan 2.1 Kebijakan bidang kemahasiswaan Kebijakan pengembangan bidang kemahasiswaan terdiri dari : a. Restrukturisasi Lembaga Kemahasiswaan b. Revitalisasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) menjadi UKM bidang; penalaran, kesejahteraan , bakat , minat dan kegemaran, minat dan teknologi, seni dan olah raga. c. Promosi prestasi d. Menyiapkan fasilitas untuk kegiatan mahasiswa. 2.2 Organisasi kemahasiswaan Organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi merupakan

kelengkapan non structural pada organsiasi perguruan tinggi. Di UNNES terdiri dari : a. Organisasi intra kampus Organisasi Tingkat Universitas Konggres Keluarga Mahasiswa Universitas ( KKMU) Konggres Keluarga Mahasiswa Universitas adalah sebagai forum pemegang kedaulatan tertinggi dalam kehidupan lembaga kemahasiswaan di Universitas Negeri Semarang. Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas (DPMU) Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas adalah lembaga tinggi legislative organisasi mahasiswa di Universitas Negeri Semarang.

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU) Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas adalah lembaga tinggi eksekutif organisasi kemahasiswaan di Universitas Negeri Semarang berkedudukan di tingkat universitas. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unit Kegiatan Mahasiswa adalah sebagai lembaga tinggi ekstra kurikuler mahasiswa, berkedudukan di tingkat universitas. Organisasi Tingkat Fakultas Konggres Mahasiswa Fakultas ( KMF) Konggres Mahasiswa Fakultas adalah sebagai forum pemegang kedaulatan tertinggi dalam kehidupan organisasi kemahasiswaan fakultas di Universitas Negeri Semarang.. Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (DPMF) Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas adalah lembaga tinggi legislative organisasi mahasiswa fakultas di

Universitas Negeri Semarang. Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas ( BEMF) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas adalah lembaga tinggi eksekutif organisasi kemahasiswaan di Universitas Negeri Semarang berkedudukan di tingkat fakultas .

Organisasi Tingkat Jurusan Keluarga Mahasiswa Jurusan (KMJ) Keluarga Mahasiswa Jurusan adalah forum pemegang kedaulatan Semarang. Himpunan Mahasiswa (HIMA) Himpunan Mahasiswa adalah sebagai lembaga tinggi dalam kehidupan lembaga kemahasiswaan tingkat jurusan atau program studi di Universitas Negeri Semarang. b. Organisasi ektra kampus 1. KAMMI ( Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia ) Kesatuan Aksi Mahasiwa Indonesia adalah lembaga organisasi ekstra kampus yang bergerak di bidang politik dan keagamaan. 2. GMNI ( Gerakan mahasiswa Nasional Indonesia ) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia adalah lembaga organisasi ekstra yang bergerak di bidang politik dan advokasi pada rakyat. 3. HMI ( Himpunan Mahasiswa Islam ) Himpunan Mahasiswa Indonesia adalah lembaga organisasi ekstra yang bergerak di bidang politik dan agama. 4. PMII ( Persatuan Mahasiswa Muslim Indonesia ) tertinggi jurusan di Universitas Negeri

Persatuan Mahasiswa Muslim Indonesia adalah lembaga organisasi ekstra yang bergerak di bidang politik dan agama.

5. PMKRI (Persatuan Mahasiswa Kristen Indonesia ) Persatuan Mahasiswa Kristen Indonesia adalah lembaga organisasi ekstra yang bergerak di bidang politik dan agama.

2.3 Keadan organisasi mahasiswa Organisasi perkembangan mahasiswa proses UNNES sudah mengalami masih tahap

walaupun

perkembangan

sederhana dibandingkan dengan perguruan tinggi lainnya dan perlu adanya sosialisasi dan pendidikan politik sebagai kesadaran dalam berpolitik sehingga tercipta sebuah dinamika politik yang dinamis dengan pewarnaan kegiatan politik yang rasional , ilmiah , dan religius. Hal tersebut sesuai dengan pendapat informan; Wahyu mengatakan lambatnya proses dinamika politik di kampus, kurang ada tanggapan atau peran yang harus dimainkan masing-masing elemen politik kampus. Menurut pendapat Saeful mengatakan kehidupan politik masih sangat kurang sehingga perlu adanya sebuah pemikiran-pemikiran baru dan konsep-konsep baru. Menurut pendapat Usep mengatakan saya melihatnya tidak begitu dinamis . Organisasi intra kampus maupun ekstra kampus masih mengalami diploma dengan adaptasi dengan lingkungan masyarakat

UNNES yang begitu religius dan masih sederhana sehingga perkembangan politik di UNNES masih terpengaruh oleh lingkungan di kampus. Gerakan politik 3.1 Gerakan kampus Gerakan mahasiswa di kampus dilaksanakan untuk mengkontrol kebijakan pihak rektorat yang tidak memihak mahasiswa maupun yang merugikan mahasiswa sehingga perjalanan dinamika politik di UNNES terjadi secara dinamis dan sesuai harapan dan tujuan dari pendidikan . Gerakan tersebut dilakukan dalam rangka menyampaikan aspirasi mahasiswa kepada pihak birokrat akan pentinggnya sebuah perjalanan kampus yang bersih dan bebas dari KKN. Dengan adanya pergerakan politik yang diwadahi oleh lembaga mahasiswa maka mahasiswa harus kritis dan memberikan solusi penyelesaikan suatu masalah yang terjadi di kampus bukan sebagai gerakan penggulingan birokrat tanpa adanya proses penyelesaian dan hasil kegiatan. 3.2 Gerakan lokal Gerakan local di daerah dilaksanakan untuk mengkontrol para birokrat pemerintah yang tidak memihak pada rakyat maupun yang merugikan rakyat dalam melakukan dan melaksanakan kebijakan yang diambil untuk kepentingan kemajuan daerah.

Gerakan yang dilakukan mahasiswa di daerah dengan mengerahkan massa sebagai wujud dan ikut serta dalam mengawal rakyat untuk menyampaikan aspirasi rakyat . Gerakan itu dilakukan dalam bentuk penyampaian aspirasi seperti pengerahan massa untuk menolak peraturan daerah yang merugikan rakyat misalnya isu kenaikan pajak yang tinggi, isu penggusuran tanpa ada peneyelesaian yang baik. Gerakan secara local dilakukan bersama gabungan

lembaga-lembaga lain maupun lembaga masyarakat dalam membela kepentingan yang tidak sesuai dengan aturan dan wewenang yang berlaku oleh karena itu mahasiswa bergerak apabila pemerintah tidak sejalan dengan rakyat . 3.3 Gerakan nasional Gerakan nasional di Indonesia dilakukan untuk mengontrol para elit politik dan pemerintah yang tidak memihak rakyat maupun yang merugikan rakyat dalam malakukan dan melaksanakan kebijakan yang diambil untuk perkembangan dan kemajuan bangsa dan negara. Gerakan tersebut terwujud atas dukungan rakyat serta elemen-elemen politik untuk mengadakan proses dinamika politik yang bebas dari pelanggaran kontitusi, serta mengiginkan negara yang besih dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme yang sudah menjamur di Indonesia. Pergerakan mahasiswa di tingkat nasional

dilakukan dalam bentuk aksi turun kejalan dengan menyampaikan aspirasi untuk membela rakyat misalnya aksi BEM se-Indonesia yang mengiginkan reformasi , aksi tuntutan rakyat yang mengiginkan bahan bakar dan minyak diturunkan, subsidi pendidikan dinaikan, serta isu-isu nasional yang lainya.

3.4 Gerakan regional Gerakan regional di seluruh dunia merupakan wujud keprihatinan mahasiswa terhadap keadaan negara-negara yang megalami konflik atau paraturan dan kebijakan yang tidak memihak seluruh umat maupun seluruh warga di dunia. Hal tersebut dilakukan dalam rangka mengaspirasikan seluruh kepentingan umat secara universal seperti kegiatan pengerahan massa untuk anti perang dan kekerasan perang, penolakan peraturan tidak diperbolehkan memakai jilbab, kegiatan untuk gerakan bebas narkoba.

Elemen politik 4.1 Civitas akademika Mahasiswa Mahasiswa sebagai agen of change atau agen pembaru bukan agen politik di kampus sehingga kehadiran mahasiswa sebagai pembawa dan pengawal masyarakat untuk pembaharuan sangat dinantikan. Mahasiswa UNNES dalam

melakukan politik kampus sangat rendah dan masih sederhana berbeda jauh dengan kampus yang lain sehingga perkembangan mahasiswa akan kesadaran berpolitik sangat sedikit untuk itu semua elemen berperan penting dalam pendidikan politik yang terjadi di kampus sebagai bekal mahasiswa untuk terjun kemasyarakat dan menyikapi keadaan relita politik yang terjadi saat ini. Dosen Dosen adalah sebagai pendidik dalam proses kedewasaan dan kesadaran untuk mengembangan yang dimiliki serta memberikan fasilitas kepada mahasiswa untuk kebebasan berkembang lebih mandiri dan berfikir ilmiah serta rasional. Dosen di UNNES dalam mengikuti perkembangan politik dengan mengadakan diskusi dan seminar tentang politik kotemporer dan masih hangat untuk di perbincangkan. Para dosen berperan sebagai fasilitator mahasiswa dalam mengembangkan budaya politik di kampus , yang akan natinya dibawa kemana, apakah sesuai dengan ideolgi atau mempunyai arah yang lain. Karyawan Karyawan adalah bagian dari sebuah elemen politik untuk mewarnai kampus dalam menjalankan proses dinamika politik yang bersih, dan bebas dari KKN. Mereka adalah seseorang yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam politik, oleh karena itu karyawan mempunyai peranan dalam politik sebagai fasilitator dalam mengembangkan budaya politik yang terjadi di kampus. 4.2 Birokrat kampus

Rektor Rektor adalah pimpinan tertinggi di Universitas sehingga pemegang kebijakan dan keputusan ditentukan oleh rektor sehingga rektor dapat menggunakan hak progratif dalam manilai dan menentukan suatu kebijakan, rektor harus memperhatikan kebijakan yang dapat menguntungkan Universitas serta

mahasiswa yang dijadikan objek di kampus. Pembantu Rektor Pembantu Rektor adalah seseorang yang membantu rektor dalam melakukan aktivitas kegiatan di kampus sehingga pembantu rektor melakukan aktivitas sesuai dengan bidang yang dijabatnya. Oleh karena itu Pembantu Rektor harus pandai memahami situasi dan kondisi serta keadaan UNNES dalam mengembangkan kampus yang ideal sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Pembantu rektor berperan sebagai fasilitas mahasiswa dalam melakukan aktivitas kegiatan akademik mapun non akademik dikampus oleh sebab itu pembantu rektor harus memperhatikan kebutuhan dan aspirasi dari mahsiswa. Tata Usaha Tata Usaha adalah pelayanan administrasi mahasiswa dalam menunjang aktivitas kegiatan yang ada di kampus, sehingga Tata Usaha berperan dalam mensukseskan dan

mendukung

mahasiswa melakukan kegiatan yang

lebih

menonjol dan lebih menantang untuk dijadikan agenda dalam kegiatan kampus.

Dekan Dekan adalah pimpinan tertinggi pada fakultas sehingga kebijakan dan keputusan yang menyangkut permasalahan yang terjadi di fakultas ditentukan oleh dekan. Oleh karena itu dekan saling mengkritisi dan saling memberikan masukan kepada mahasiswa dalam melakukan kegiatan atau aktivitas di kampus. 4.3 Masyarakat Elemen yang terakhir adalah masyarakat yang mempunyai posisi untuk dilaksanakannya sebuah kebijakan yang diambil oleh para elit politik maupun pejabat yang mempunyai kepentingan untuk penyampaian sebuah tujuan yang diharapkan dalam pengembangan sebuah intitusi yang dikembangkannnya.

Aspirasi mahasiswa. 1. Aspirasi terhadap kampus Berdasarkan hasil penelitian mengenai aspirasi mahasiswa terhadap kampus diperoleh; Pendapat wahyu mengatakan ; lambatnya proses dinamika politik di kampus sehingga kurang ada tanggapan

atau peran yang harus dimainkan masing-masing elemen politik sehingga mahasiswa mencoba mengembangkan gagasan atau ide

pengembangan jaringan kamunikasi kampus dengan harapan atau aspirasi positif yang diakomodir oleh mahasiswa sebagai tinjauan untuk melaksanakan perubahan-perubahan positif dengan

mengedepankan nilai kebenaran dan keadilan secara universal sehingga dapat diterima oleh semua umat. Saeful berpendapat bahwa kehidupan politik masih sederhana sehingga perlu adanya sebuah pemikiran-pemikiran baru, konsep-konsep baru dan sekaligus kebijakan-kebijakan politik yang sesuai dengan aspirasi atau harapan rakyat melalui pegembangan pendapat dan gagasan yang positif , normative, realities, dan rasional. Oleh karena, harapan mahasiswa sebagai Agen of Change adalah harus mampu merubah dan memberikan solusi dalam penyelesaian suatu masalah yang terjadi pada rakyat. Pendapat Usep tentang kehidupan kampus adalah penilaian objektif dalam menetukan politik yang dinamis dimana kita harus tahu mana itu lawan atau musuh sehingga kita tidak terperangkap oleh permainan politik. Harapan yang diperoleh yaitu sebuah gagasan dan pemikiran yang rasional yang dapat diterima oleh semua, semua rakyat, semua umat, serta sesuai dengan tujuan yang diharapkan atau sesuai dengan kaidah yang ada. Oleh karena itu aspirasi yang diharapkan adalah perlu adanya sebuah perubahan yang positif dan rasional sehingga dapat diterima oleh semua. Pandangan

Siswanto mengenai kehidupan kampus yaitu keadaan yang perlu adanya kesadaran dalam pendidikan politik sebagai langkah dalam menghidupkan dinamika politik mahasiswa yang positif dan mempunyai nilai lebih dimasyarakat. Oleh karena itu perlu adanya sebuah gagasan atau ide dalam membangun kehidupan politik yang sesuai dengan harapan dan tujuan yang diinggingkan bersama yang meliputi kampus yang ideal dan independent dalam melaksanakan kegiatan politik, memberikan kontribusi baik sebuah pemikiran atau solusi dalam penyelesaian masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Pendapat Hariyoto tentang kampus adalah masih perlu adanya sebuah perbaikan system politik dengan di dukung oleh kesadaran dalam pendidikan politik sebagai langkah menuju dinamika politik yang dinamis melalui gagasan yang membangun kepentingan bersama dengan melihat masing-masing tujuan yang ingin dicapai yaitu membangun masyarakat yang adil dan demokratis dalam politik. Dari pandangan dan pendapat informan diperoleh aspirasi dan harapan yang diinginkan oleh mahasiswa adalah perlu adanya perubahan yang positif dan rasional dan dapat diterima oleh semua melalui perubahan ide atau gagasan baru, konsep-konsep baru, dan kebijakan-kebijakan baru sebagai langkah menuju dinamika politik yang dinamis sesuai dengan kebenaran dan keadilan universal atau sesuai dengan kaidah yang ada dengan memetingkan kepentingan umat dan rakyat.

Dan diperkuat dengan berdasarkan hasil poling jaringan aspirasi “ UNNES apa adanya “ BEM UNNES 2004 diperoleh hasil aspirasi mahasiswa terhadap kampus sebagai berikut : a. Ketersediaan dan kualitas dosen di UNNES Berdasarkan hasil poling dalam kategori prosentase diperoleh; 139 orang menyatakan cukup, 237 orang menyatakan kurang, 73 orang menyatakan kurang sekali, 28 orang

menyatakan tidak tahu, 17 orang menyatakan lainnya. Apabila dilihat dan diperoleh hasil bahwa ketersediaan dan kualitas dosen UNNES masih kurang dan belum memenuhi standar yang

diharapkan oleh Perguruan tinggi. b. Aturan penilaian, cuti kuliah, dan pindah jurusan Berdasarkan hasil poling dalam kategori prosentase diperoleh; 14 orang menyatakan memuaskan, 211 orang menyatakan kurang memuaskan, 84 orang menyatakan tidak memuaskan, 159 orang menyatakan tidak tahu, 26 orang menyatakan lainnya. Apabila dilihat dan diperoleh hasil bahwa aturan penilaian, cuti kuliah, dan pindah jurusan di kurang memuaskan UNNES

dan belum memenuhi standart yang

diharapkan oleh Perguruan tinggi. c. Layanan dan sistem registrasi di UNNES Berdasarkan hasil poling dalam kategori prosentase diperoleh; 45 orang menyatakan memuaskan, 239 orang

menyatakan kurang memuaskan, 159 orang menyatakan tidak memuaskan, 15 orang menyatakan tidak tahu, 36 orang

menyatakan lainnya. Apabila dilihat dan diperoleh hasil bahwa layanan dan system registrasi di UNNES kurang memuaskan

dan belum memenuhi standar yang diharapkan oleh Perguruan tinggi. d. Ketersediaan sarana penunjang perkuliahan di UNNES Berdasarkan hasil poling dalam kategori prosentase diperoleh; 22 orang menyatakan sudah lengkap, 309 orang menyatakan sangat

menyatakan kurang lengkap, 127 orang kurang lengkap, 12 orang

menyatakan tidak tahu, 24 orang

menyatakan lainnya. Apabila dilihat dan diperoleh hasil bahwa ketersediaan sarana penunjang perkuliahan di UNNES kurang

lengkap dan belum memenuhi standar yang diharapkan oleh Perguruan tinggi. e. Transparasi pengangkatan pegawai dan karyawan UNNES Berdasarkan hasil poling dalam kategori prosentase diperoleh; 34 orang menyatakan cukup bagus, 128 orang

menyatakan kurang layak, 94 orang menyatakan ada kejanggalan, 214 orang menyatakan tidak tahu, 24 orang menyatakan lainnya. Apabila dilihat dan diperoleh hasil bahwa transparasi

pengangkatan pegawai dan karyawan UNNES responden kurang tahu dan adanya kejanggalan yang terjadi di Perguruan Tinggi.

f. Informasi, layanan, dan penghargaan mahasiswa prestasi Berdasarkan hasil poling dalam kategori prosentase diperoleh; 100 orang menyatakan bagus, 195 orang menyatakan kurang, 84 orang menyatakan sangat kurang, 105 orang

menyatakan tidak tahu, 10 orang menyatakan lainnya. Apabila dilihat dan diperoleh hasil bahwa informasi, layanan, dan penghargaan mahasiswa prestasi di UNNES kurang dan belum memenuhi standar yang diharapkan oleh Perguruan tinggi. g. Pelayanan dan proporsionalitas beasiswa dan dana setia kawan Berdasarkan hasil poling dalam kategori prosentase diperoleh; 51 orang menyatakan bagus, 200 orang menyatakan kurang, 121 orang menyatakan adanya kejanggalan, 100 orang menyatakan tidak tahu, 22 orang menyatakan lainnya. Apabila dilihat dan diperoleh hasil bahwa pelayanan dan proporsionalitas beasiswa dan dana setia kawan di UNNES masih kurang dan

belum memenuhi standar yang diharapkan oleh Perguruan tinggi.

h. Sarana telekomunikasi dan informasi di sekitar UNNES Berdasarkan hasil poling dalam kategori prosentase diperoleh; 34 orang menyatakan baik, 269 orang menyatakan kurang, 145 orang menyatakan kurang sekali, 22 orang

menyatakan tidak tahu, 24 orang menyatakan lainnya. Apabila

dilihat dan diperoleh hasil bahwa sarana telekomunikasi dan informasi di UNNES masih kurang dan belum memenuhi standar yang diharapkan oleh Perguruan tinggi. i. Transparansi kebijakan birokrasi UNNES Berdasarkan hasil poling dalam kategori prosentase diperoleh; 27 orang menyatakan bagus, 175 orang menyatakan kurang, 102 orang menyatakan ada kejanggalan, 169 orang menyatakan tidak tahu, 21 orang menyatakan lainnya. Apabila dilihat dan diperoleh hasil bahwa transparasi kebijakan birokrasi UNNES masih kurang dan ada kejangglan di Perguruan tinggi.

j. Sikap karyawan dan birokrat UNNES Berdasarkan hasil poling dalam kategori prosentase diperoleh; 51 orang menyatakan merakyat dan punya semangat pelayanan, 83 orang menyatakan elitis dan berjiwa priyayi, 139 orang menyatakan sok tahu, 95 orang menyatakan tidak tahu, 126orang menyatakan lainnya. Apabila dilihat dan diperoleh hasil bahwa sikap karyawan dan birokrat dan tak acuh terhadap mahasiswa. k. Pernyataan sikap atas permasalahan yang terjadi di UNNES Pernyataan sikap atas permasalahan yang terjadi di UNNES sebagai berikut : UNNES adalah sok tahu

-

Menuntut perbaikan kinerja birokrat UNNES menuju good and clean governance guna membangun UNNES yang bermasa depan. Hal ini diwujudkan pada poin-poin sebagai berikut : a. Peningkatan transparansi dan informatifnya kebijakan. Kebijakan yang diambil selama ini seakan-akan hanya menguntungkan kepentingan sekelompok orang.

Kepentingan membangun UNNES seutuhnya dengan cara terbaik adalah pilihan satu-satunya. Sehingga tranparansi dan informatifnya kebijakan adalah hal yang harus direalisasikan. b. Peningkatan mutu kebijakan kemahasiswaan. Intervensi dan arogansi kebijakan rektorat terhadap lembaga kemahasiswaan harus ditiadakan. Jangan menggunakan dalih ” kebersamaan” dan “keberaturan” untuk merusak kedinamisan gerak kemahasiswaan yang telah tercipta. c. Peningkatan pengembangan UNNES ke depan yang terarah ( meliputi perencaan sampai evaluasi ). Kebijakan pengembangan (khusunya gedung) mencerminkan

pembangunan yang tidak terencana dan menghamburhamburkan dana yang ada. Hal yang menjadi kebutuhan malah tidak diperhatikan.

-

Menuntut

peningkatan

keterlibatan

mahasiswa

dalam

perumusan dan pelaksanaan arah kebijakan pengembangan UNNES baik secara langsung maupun tidak langsung. Mengajak segenap civitas akademika UNNES dan warga UNNES seluruhnya untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan dan masa depan kampus UNNES tercinta. 2. Aspirasi terhadap budaya politik Menurut pendapat wahyu aspirasi yang saya harapkan adalah terciptanya kampus ideal dan melakukan kegiatan pendidikan tanpa ada suatu tekanan dan melakukan kegiatan politik sesuai dengan kebebasan mimbar akademik. Menurut pendapat saeful adalah saya mengingkan kampus netral dan bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta akan melakukan sebuah solusi perubahan untuk menjalankan misi dan visi saya dalam melakukan politik kampus. Menurut pendapat usep adalah saya menginginkan aspirasi

mahasiswa sebagai pertimbagngan dalam menentukan kebijakan sebagai langkah untuk memberikan kebebasan demokrasi politik di kampus. Menurut siswanto adalah saya megingkan adanya sebuah perubahan yang positif di kampus untuk menata pelaksanaan kebebasan demokrasi kampus. Menurut hariyoto adalah saya menginginkan adanya kebebasan penyampaian pendapat politik dan kebebasan dalam mengkritisi kebijakan tanpa deskriminasi dari birokrat atau pemerintah.

Aspirasi mahasiswa terhadap kehidupan politik adalah mewujudkan budaya politik yang bebas dan bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang sudah menjadi akar budaya bangsa Indonesia. Oleh karena itu mahasiswa di tuntut untuk mengawal dan memberikan perubahan yang positif dalam mengedepankan

kepentingan rakyat dengan berfikir rasional dan ilmiah dalam mewujudkan sebuah negara yang bersih dan bebas dari kegiatan politik praktis. Diberikan kebebasan untuk berpolitik tanpa adanya suatu bentuk intimidasi dalam melakukan politik sehingga mahasiswa dapat berkembang dalam kedewasaan berpolitik sesuai dengan tuntutan dan harapan rakyat. Hal tersebut dapat dilaksanakan apabila kerjasama dari berbagai elemen untuk menjalankan politik sesuai dengan aturan dan wewenang yang sudah berlaku berdasarkan peruturan-peraturan kehidupan berpolitik negara sebagai acuan dalam melakukan kegiatan politik.

2. Realita aspirasi politik di UNNES Raelita aspirasi politik menurut wahyu: sangat minim sekali, lebih cenderung mereka tidak berfikir denga hal tersebut, menurut saeful; masih kurang menurut saya, hanya bebrapa mahasiswa saja yang sangat inten ikut berpartisipasi aktif dalam rangka

pengembangan politik kampus, menurut usep; realita saat ini masih

kurang misalkan pemilihan presiden dari enam belas ribuy mahasiswa hanya berapa tiga ribu lima ratus atau empat ribu mahasiswa, itu tanda aspirasi masih kurang. Pendapat menurut non aktifis; saya kurang tahu tentang masalah organisasi dan saya tidak ikut organisasi sehingga sama sekali tidak mengerti hal tersebut kalaupun ada mungkin saya tidak mengikuti perkembangan politik dikampus. Pelaksanaan kegiatan politik di UNNES masih sederhana dan masih memerlukan proses panjang dalam membentuk budaya politik kampus yang dinamis, bebas dan bersih dari KKN, sehingga

diperlukan sebuah kesadaran tentang pentinggnya pendidikan politik bagi mahasiswa untuk itu perlu kerjasama dalam mewujudkan kehidupan budaya politik kampus yang sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang sudah ada dalam kehidupan berpolitik negara yaitu kebebasan akademik dan mimbar akademik. Realita tersebut dapat dilihat dari pelaksanan pemilihan presiden mahasiswa yang diselenggarakan setiap tahun, keadaan mahasiswa yang kurang aktif, apatis, dan acuh tak acuh atau tidak mau tahu tentang keadaan dan relita politik di kampus, dan mayoritas mereka hanya melakukan kuliah tanpa mengikuti kegiatan kampus

Tabel. 1. HASIL PENELITIAN BUDAYA POLITIK KAMPUS
STUDI KASUS TERHADAP AKTIVIS MAHASISWA

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
N O BIDANG PENELITIAN

INFORMAN PENELITIAN
WAHYU

SAEFU L
Terlibat dalam menanamkan kebebasan aktivitas politik. Mengkritisi kebijakan birokrat yang tidak memihak mahasiswa. Mahasiswa adem ayem, tentrem, dan partisispasi politik yang rendah Bila terjadi mengecewakan kerena kampus sebagai lembaga independen dalam mengkritis orang yang berkuasa. Partisipasi aktif dalam politik rendah dan bergerak tidak dinamis Lokasi berpengaruh pada gerakan, pegembangan politik kampus. Kekuasaan berpengaruh dalam kebijakan sebuah keputusan Kontitusi jauh dari ideal

USEP
Terlibat dalam menanamkan diri dalam berbagai situasi. Penolakan secara frontal, dilakukan dialog dan diskusi dalam penolakan. Dilihat dari penguasa, mahasiswa

SISWA HARI NTO YOTO
Terlibat dalam upaya membantu rakyat dan wadah berpolitik. Penolakan apabila tidak sesuai dengan realita. Dari sudut pandang birokrat, mahasiswa, media digunakan Kurang begitu tahu tetapi wajar karena orde baru menetapkan kebijakan pegawai masuk golkar Tidak jauh dari kampus lain dan dimobilisasi oleh kepentingan Berpengarauh terhadap perkembangan politik Kekuasaan otoriter dapat mempengaruhi kebijakan politik Jauh dari ideal , dinamika konngres kurang berjalan Wewenang sesuai kontitusi dan kebersamaan Berpengaruh terhadap kebebasan akademik dan berpendapat Melalui diskusi, Terlibat dalam upaya membrikan warna politik. Tidak bisa menangapi lebih jauh. Kurang dinamis dan masih stagnan

1.

Budaya politik (Keterlibatan, Penolakan, Penilaian terhadap politik)

Hanya terlibat di aktivitas politik kampus dalam bidang agama. Unsur manfaat kebijakan dalam sistem. Gerakan dalam skala kegiatan yang lebih sederhana

2.

Kehidupan politik (Sistem politik a. Sejarah masa orde baru

b. Sejarah politik

Belum begitu paham mengenai asumsi itu dan belum mengecek dan hanya bisa merasakan hal tersebut Sebagai pewarnaaan dalam kehidupan politik Pengaruh dilihat dari sosialisasi dan pola pemikiran mereka Kekuasaan mempunyai kekuatan real dan untuk mengarahkan roda perubahan. Dikotomi organisasi dan pemebatasan pergerakan politik Berperan sebagi power kontrol dalam kebijakan Berpengaruh terhadap kosolidasi bem sebagai gerakan mahasiswa, aspiarasi rakyat Mencoba untuk

c. Lokasi

d. Kekuasaan

e. Aturan

Tidak banyak tahu, karena semua pns harus masuk ke golkar sehingga kebijakan diperoleh dari golkar Tiga bagian ; penguasa, mahasiswa, masyarakat Berpengaruh, politik di unnes ketinggalan jauh dengan pt lain. Politik adalah kekuasaan , politik yaitu mempertahankan kekuasaan Jelas, dilandasi ilmiah dan sesuai dengan kampus wewenang berdasarkan aturan lembaga kampus Berpengaruh terhadap pergerakan mahasiswa dalam politik Tiga gerbong;

Dilihat dari kekebasan ekspresi dan ilmiah itu tidak benar karena kampus harus steril Tidak jauh dari sebelumnya penuh intrik dan perebutan posisi Perbedaan antara letak kota dengan diluar kota. Kebijakan terpengaruh oleh penguasa.

Sudah jelas dan belum berjalan spenuhnya Pers untuk mengkritik kebijakan Berpengaruh terhadap kebebasan beraspirasi

f. Wewenang

g. Negara

Berdasarkan kontitsi dan patuh terhadap hasil kongres. Berpengaruh terhadap kebebasan berpendapat untuk mengkritisi kebijakan Mencoba

-

Proses input

Melalui

media

a. tuntutan

mengasah ketajaman berplitik

dalam

b. Pengamatan

Melalui kondisi kegiatan berpolitik Sebagai warga bernegara dapat menyalurkan aspirasi lewat partai Kepentingan poltik dakwah Akses kedepan alat komunikasi politik diperlukan Hanya menkontrol hasil kebijakankebijakan. Pasif, terjadi ketimpangan dalam fungsinya dan structural masih tetap sama Masih mandul, dan apabila berjalan sesuai penempatan diri sebagai fungsi itu baik Belum ada dan penting dalam mentasi konflik Sebatas meggunakan hak pilih di kampus. Amanah visi mahasiswa dan melakukan pendidikan politik. Referensi referensi pendidikan politik dan buku politik islam Merupakan alat komunikasi massa dan sangat efektif Melihat kegunaan dan kapasistas penggunaan media dalam politik

meyelipkan misi mengarah kedewasaan berpolitik Melalui diskusi, tukar informasi Memimpin lembaga mahasiswa harus netral

lembaga, mahasiswa, birokrat

dan

hubungan kerja, menggunakan media Pandangan politik di kampus dan ideologi Tidak terlibat karena mahasiswa itu netral Kepentingan secara universal Komunikasi pers sangat diperlukan dalam informasi Sesuai dengan kontitusi berlaku

pers

c. Partai politik

Pilar demokrasi kampus ; media, lemabaga, birokrat Orang politikus, sebagai simpatik partai

Melalui kaca mata pers dengan data real Tidak terlibat karena ikut pers dan harus netral

d. Kelompok kepentingan e. Alat komunikasi Proses out put a. Undang2 politik b. Badan Legislative

Politik pasti ada kepentingan. Komunikasi sebagi penopang tertinggi. Patuh pada kontitusi kelembagaan mahasiswa Kurang menonjol dalam mengakomodir aspirasi dan konsep kontitusi Kurang, Berjalan kuat apabila dijalankan sesuai funsinya sebagai eksekutif body. Belum ada dan penting apabila ada badan tersebut Menggunakan hak politik secara maksimal Menggunakan kewajiban politik secara optimal Bacaan tentang kemerdekaan dan kebeasan tentang berpolitik Publikasi massa penting dalam kehidupan politik Media dipergunakan dalam pengembangan pendidikan politik.

Politik mempunyai kepentingan perlu dan efektif dalam komunikasi Patuh dan sesuai dengan aturan konggres mahasiswa Tidak berjalan dan masih stagnan, belum memiliki kinerja yang jelas Sedikit mengalami perkembangan tetapi mulai berjalan baik Sangat dinantikan badan peradilan tersebut Menggunakan hak olitik dengan baik dan teratur Melaksanakan kewajiban penuh kesadaran dan tanggung jawab Referensi politik kotemporer dan berita pergerakan politik Alat pengembangan informasi Melihat manfaat media, kegunaan dan fungsinya media tersebut

Kepentingan ideology mereka Komunikasi pers sangat penting Hanya formalitas dan pelaksaan nol Mereka memprihatinkan

Mereka mengalami kemunduran

c. Badan Eksekutif

Banyak dilakukan tetapi advokasi belum berjalan baik Diperlukan sebagai peradilan pelanggaran Menggunakan hak politik sebaik mungkin Menjalankan sepenuh hati dan kaidah kebenaran Referensi referensi yang posistif dalam politik Mengikuti perkembangan politik Belum digunakan karena fasilitas minim

Kurang, masih menggalng kekuatan dan melakukan aksi Sangat diperlukan Tidak menggunakan hak politik Tidak melakukan apapun

d. Badan peradilan - diri sendiri a. hak politik b. kewajiban politik

3.

Pendidikan politik Penyelengaraan a. Bahan bacaan b. Publikasi masa c. Media

Referensi kehidupan politik dan berita politik Sebagai wacana perang dinamika politik Belum banyak digunakan

d. Penyelengga ra

e. Lembaga masyarakat

f. Lembaga formal

g. Lembaga non formal

- Pertemuan kepentingan a. Pandangan

b. Kepentingan c. Gagasan

- Agresi kepentingan a. Aspirasi b. Pendapat

c. Kesadaran

Kepemimpinan a. Kesadaran

b. Kebulatan tekat c. Ketetapan jiwa d. Keyakinan

Diselenggarakan oleh banyak elemen dalam pendidikan politik. Terlibat sebagai proses timbal balik antara masyarakt dengan mahasiswa Terlibat dalam satu bagian kehidupan politik sebagai sentralistik politik Terlibat dalam pemberian keuntungan pendidikan politik Dinamika politik kurang ada respon perlu ada pewarnaan wacana pendidikan politik Sebagai power of kontrol Gagasan yang menguntungkan dan evaluasi diri Masih minim dan tidak mau tahu , keegoisan seorang mementingkan diri Biasa, dinamika konflik terjadi di internal yang tidak bermanfaat. Dalam proses, dan perlu adanya perubahan Pemimpin sebagai top figure maka kesadaran politiknya tinggi Kebulatan yang positif dan perubahan positif Sikap Ketegasan dan kedepan untuk kebaikan bersama Keyakinan pada kebenaran

e. Kreatif

Inovasi-inovasi dalam membrikan jalan keluar

Diselenggrakan oleh pemerintah, lembg masyarakat, dan para ahli politik Lembaga masyarakat terlibat dalam pencapaian kedewasaan politik Lembaga formal terlibat dalam mewujudkan demokrasi Lembaga non formal, lsm-lsm terlibat dalam pendidikan politik Masih sederhana, perlu adanya konsep, pemikran dan kebijakan baru berpolitik. Strategi dalam menyikapi politik Bersifat umum dan universal untuk kebenaran positif Masih sederhana dan mahasiswa dituntut dapat merubah politik. Minimnya dalam berpolitik dengan bukti pasifnya pemilu presma Mulai berkembang dalam kesdaran berpolitik Kesadaran berpolitik wajib dan harus sebagai contoh kepada bawahan. Kebulatan bertanggung jawab dan berkorban. Ketegasan dalam menentukan keputusan Keyakinan universal dan yang utuh dalam dasar-dasar kehidupan Kreatif dalam melihat kondoisi , posisi dan situasi yang ada .

Semua, penguasa, birokrat, pejabat , mahasiswa, ormas lembaga politik Terlibat sebagai peneyelenggara dan mendesaian politik Terlibat sebatas memeberikan pendidikan dan pembelajaran Sama dengan formal

Pihak-pihak yang bergerak di pendidikan politik Jelas terlibat, secara tidak langsung Tanggung jawab dan mewujudkan demokrasi Terlibat dalam pelatihan pendidikan politik Kurang dinamis dan perlu konsep, kebijakan dan pemikiran baru Kepentingan melalui diskusi Gagasan yang membangun dan tujuan bersama Masih kurang dan partisipasi pasif dalam politik Belum banyak berkembang

Semua pihak yang terkait di pendidikan politik Jelas terlibat

Terlibat secara tidak langsung

Sama formal

dengan

Dinamika politik belum dinamis dan perlu perubahan konsep dan kebijakan Kepentingan untuk rakyat Gagasan yang rasional dan positif serta alamiah Pasif dan belum aktif dalam menggunakan aspirasi Masih pasif dan perlu adanya kesadaran politik Tahap berkembang dan masih perlu sosialisasi Kesadaran dalam konsep berpolitik untuk rakyat dan bernegara Kebulatan hakiki, melalui kebenaran dan kebaikan Berprinsip dan berwibawa Keyakinan kemampuan dimilki pada yang

Politik stagnan dan kurang dinamis

Kepentingan aspirasi rakyat Sesuai dengan aturan main dan kreatifitas berita Terakomodasi dan masih sedikit

Stagnan dan belum berkembang Sebagaian kecil, yang lain ikutikutan Kesadaran dengan aturan main dan konsep berpolitik Kebulatan sesuai kebenaran Mempunyai prinsip , tidak terpengaruh Keyakinan pada diri sendiri

Kreatif dalam menetukan gagasan untuk maju

Digulirkannya kesadaran berpolitik Kesadaran dengan konsep berpolitik yang matang Kebulatan berkorban dan tanggung resiko Ketetapan dalam ketegasan dan disiplin Keyakinan terhadap diri sendiri , percaya diri Kreatif dalam memberikan solusi atau gagasan

Kreatif dalam mengembangkan ide-ide

f. Keberanian

- Komunikasi politik a. Informasi b. Perekrutan

c. Partispasi

Keberanian, tekat menyampikan kebenaran Melalui media tulis, gambar, dan media visual Proses kaderisasi, dan mengadakan penerimaan Menagakomodir dan menyampiakan isu-isu politik Hubungan informal dan structural serat harmonis antara kedua lemabaga Seluruh elemen yang ada dalam lemabaga politik. Hubungan kerjasama dan forum diskusi bersama Mencoba membangun kerjasama dan komunikasi harmonis Mencoba kerjasama yang baik Saling berdikusi dan bersilaturahmi

Keberanian untuk tidak merugikan orang lain. Melalui media tulis, gambar dan media visual. Mengunakan hak preogratif seorang pemimpin. Menggunakan hak suara dan hak politik secar maksimal. Sangat erat tatapi mahasiswa yang studi oriented adaha rugi. Tanggung jawab bersama, dan sebagai wadah dalam berpolitik Saling mengisi dan melengkapai dan bergerak di bidang kemahasiswaan Saling memberikan masukan dan kritrik dalam kebijakan politik.

Keberanian sesuai kepentingan dan kebaikan Bermacam cara mendapatkan informasi politik Memberikan peluang mereka untuk gabung Menggunakan hak politik sesuai aturan Berhubungan karena lembaga adalah wadah mahasiswa Pemimpin, staf , anggota lembaga politik

Keberanian Keberanian berdasar situasi berdasar hati dan kondisi nurani Melalui media Melalui diskusi informasi dan media pers Menggunakan ajakan dan himbauan Mengikuti kegiatan yang ada di kampus Seperti mata uang logam yang salaing berkaitan Belum pernah melakukan Menempati posisi stategis

4.

Organisasi - Hubungan / keterkaitan a. Mhs dgn lembaga kampus b. Siapa yang terkait dalam lembaga politik c. Lembaga intra dan ekstra d. Lembaga mahasiswa dengan rektorat e. Lembaga mahasiswa dengan dekanat f. mahasiswa dengan dosen.

Saling mengisi satu dengan yang lain

Memberikan bantuan dan dukungan untuk persatuan Memberikan kontrol dan memberikan aspirasi politik - memberikan Saling memebrikan Aspirasi dan usul dan saran dari masukan politik aspirasi mahasiswa Mahasiswa dapat memposisikan diri terhadap dosen, karyawan kampus. Aktivis mempunyai nilai plus dan lebih dalam organisasi. Harus mempuyai posisi tawar terhadap lemabga mahasiswa Mempunyai posisi tawar yang jelas dan mengkrisi kebijakan pemerintah. Harus jelas dan mengontrol, memantau partai politik dalam aspirasi dan Melihat situasi dan kondisi penempatan mahasiswa Sesama mahasiswa tidak punya posisi tawar Bagus, dalam mengkritis kebijakan yang bersebrangan Di atas karena presiden takut pada mahasiswa Kuat dalam melakukan konspirasi politik dan menyataukan aspirasi rakyat

Semua civitas akademika dan elemen lembaga politik Saling memberi aspirasi dan bantuan dibidang kemahasiswaan Memcoba menjalin kerjasama sama dengan rektorat Sama rektorat dengan

Elemen-elemen lembaga politik

Saling memberi dukungan

Memcoba dengan skoci dalam membuat identitas Sama rektorat dengan

- Burgaining Posisi sama tetapi a. Mahasiswaaktivis mempunyai mahasiswa nilai plus b. Mahasiswa Menilai kontribusi dengan lembaga tersebut, lembaga terhadap individu kampus yang dipimpin c. Lembaga Di atas dan mahasiswa merepresi kebijakan dengan pemerintah pemerintah d. Lembaga Satu elemen mahasiswa mengarah satu dengan tujuan, timbal balik partai politik dan mensinergikan sebagai kekuatan

Aktivis menempatkan diri terhadap semua dosen Punya posisi dan nilai lebih terhadap lainnya Kelayakan terhadap nilai mahasiswa Posisi yang tetap dan sebagai kontrol pemerintah posisi yang jelas terhadap partai sebagai kekuatan politik

Punya pengaruh dalm posisi tawar Aktivis punya nilai lebih Punya posisi yang layak

Disegani karena keberaniannya

Saling menegur dan mengingatkan

e. Lembaga mahasiswa dengan organisasi masyarakat. - Kontrol sosial a. Cara kontrol masyarakat b. Kontrol masyarakat

- Pengabdi masyarakat a. Pengabdi

b. Pelayan

politik Bagaiman kontribusi masyarakat terhadap mahasiswa Terlibat langsung di masyarakat, serta melakukan penelitian dan pengenalan . Mengarahkan, dapat berperilaku beradab dan negara berdaulat Komunitas kecil dan bagian dari rakyat kerena independenya dan intelektualnya. Proses advokasi kepada masyarakat dalam penyampaian aspirasi Mahasiswa adalah harapan besar melakukan perubahan Meningkatkan potensi , melakukan evaluasi, mengarahkan masayarakat Secara akademik dan kompensasi lebih kedepan Gerakan monitor, melakukan perubahan fisik dan non fisik

kebijakan partai. Hubungan saling menguntungkan dalam pengembangan politik Melihat keadaan real yang terjadi dimasyarakt dan aspiarsi masyarakat. Dapat menjadi warga yang baik dan sadar hokum . Karena mahasiswa adalah rakyat yang memepunyai nilai lebih. Mengawal masyarakat memberikan aspiarsi.

Cikal bakal organisasi masyarakat dan lahirnya generasi baru Melihat kebijakan, relita masyarakt, kondisi masyarakat

Saling terkait karena mahasiswa terjun ke masyarakat Membuat jaringan aspiarsi rakyat atau koalisi rakyat Mengawal masyarakat dalam aspirasi Mahasiswa adalah bagian dari rakyat

Lembaga intelektual dan nilai plus serta berkaitan Memberikan pencerahan dan mengadakan diskusi Tidak perlu hanya diberi pencerahan Karena kita terjun ke masyarakat

Mahasiswa adalah aspirasi dari rakyat

Karena mahasiswa adalah bagian dari masyarakat

Mengadakan presser pada kebijakan yang merugikan rakyat

Kegiatan dan berfikir maju serta aspirasi untuk rakyat

Mensosilisasikan ilmu dan mendampingi masyaraka

5.

Dimensi gerakan - Angkatan muda a. Arti b. Kegiatan angkatan muda

Masih muda dan pemikiran muda

Keadaan fisik dan, pengalaman muda

Pemikiran dan pengalaman muda Membrikan wacana dan warna dalam berpolitik

Dari usia muda, pengalaman muda Melakukan pembaharuan dilandaskan analisi rakyat

Memposisikan negara sebagai alat keadilan dan persatuan.

Melakukan kotrol terhadap pelaksanan kebijakan politik

- Angkatan intelektual a. Arti b. Harapan angkatan intelektual

Secara akademik dan intelektual mahasiswa lebih mumpuni. Aman dan berkiprah secara maksimal dalam demokrasi dan berpolitik.

Cara berfikir rasional dan ilmiah dalam kegiatan Melakukan kebebasan demokrasi berpolitik

dan

Belajar di perguruan tinggi secara ilmiah dan rasional Menyumbah pemikiran rasional dan ilmiah

Berkecimpung di dunia ilmu pengetahuan melakukan pemabaharuan dan demokrasi

6.

Karakteristik gerakan - Spontanitas a. Arti

Gerakan yang bermisi dalam proses perubahan

Mahasiswa berpolitik tidak berfikir terlalu lama apabila rakyat tertindas. Wujud kepedulian terhadap kehidupan politik

Pola piker mereka paktis dan strategis

Tidak jauh melihat politik

berfikir dalam relita

Mengkritisi dengan spontanitas

b. Mendorong spontanitas

Melihat kondisi temporal dan iraksional rakyakat

Melihat rakyat tertindas

kondisi yang

Melihat politik terjadi

relita yang

Idealismen mahasiswa dalam politik

- Non structural a. Pola gerakan non structural - Bukan agen politik a. Arti bukan agen politik - Jaringan yang luas a. Jaringan yang dibangun mahasiswa b. Pengeloalaan jaringan mahasiswa

Belum melihat hal tersebut

Mahasiswa adalah egen perubah dan agen golobal. Jaringan yang memasyarakat dan jaringan komunikasi tujuan reformasi Jaringan masa bersifat pragmatis dan bersifat permanent

Dalam rangka mewujudkan negara demokratis , dinamis dan religius. Memeposisikan sebagai profesionalisme dalam politik. Jaringan yang posistif dan berkembang.

Sebagai wahana persatuan dan kesatuan untuk pergerakan Mempunyai posisi profesinalime dan idealisme Jaringan pergerakan mahasiswa

Dalam membagun jaringan gerkan mahasiswa Bersifat independen dan netral Membangun jaringan pergerakan politik Pegerakan dengan strategi dan konsep pergerakan dalam satu tujuan Kemampuan agen of change dari untuk rakyat

Semacam lembag skoci dan komunitas tertentu Mempunyai posisi ganda dan idealisme Membangun kekuatan dan memberikan tekanan kepada pemerintah Gerakan murni dengan pengelompokan

Melalui strategi dan konsep pergerakan dalam satu kesatuan.

Membuat pos-pos kesatuan dan membrikan strategi dan konsep politik

7.

Kekuatan gerakan - Kemampuan perubahan

Kemamapuan perubahan karena agen perubahan

Merupakan agen perubah dan pembaharu dalam kehidupan politik. Dinamis, mengah kedepan dan perubahan positif. Perlu dilakukan kerena mahasiswa adalah objek politik. Sesuai dengan relita yang terjadi dikampus. Wahana yang tepet untuk sosialisasi. Pers adalah media untuk informasi dan pendidikan politik Mahasiswa adalah bagian dari rakyat Perubahan yang dinamis, perubahan kebenaran, berpihak kepada rakyat. Independen dan dapat mengelola sendiri. Kebebasan gerakan mahasiswa dalam mengkritisi kebijakan

Kemampuan perubahan apabila digunakan sebaik mungkin Perubahan yang positif dan menuju kemajuan Keharusan yang digunakan dalam menilai kebijakan Memenuhi aspirasi yang bermanfaat dan reliata Sosilisasi pers melalui seminar dan diskusi Efektif pengembangan politik Mahasiswa adalah rakyat Perubahan yang signifikan melalui ketenagan dan aman Dipengaruhi oleh klolusi, korupsi dan nepotisme Dinamika baik dan lembaga yang independen

Kemampuan signifikan kala semua elem bersatu Kemampuan didasari hati nurani Secara jernih dan objektif dalam aspirasi Memenuhi segala aspirasi yang bermanfaat Membuka publik dialog dalam pers Efektif dalam memberikan pengetahuan Membela rakyat dan bagian rakyat Politik mapan dengan mengedepankan rakyat Dipengaruhi oleh politik yang ada Dinamika yang sehat, sinergis dan lembag yang bersih

a. Potensi mahasiswa

- Mengkritis aspiarsi a. Mengkritisi b. Perlakuan

- Sosialisasi pers a. Sosilisasi b. Efektifitas

-Gerakan rakyat

Kemampuan membela kebenaran dan sesuai kontitusi Mengkritisi aspirasi yang positif Membandingkan kelayakan dan mengedepankan kebenaran Pers liris dan media tulis serta media gambar Efektif dan dikondisikan dengan baik Mahasiswa adalah bagian rakyat Perubahan yang posistif dan perbaikan kinerja pemerintahan Melihat kondisi yang ada. Memberikan aspirasi dan pewarnaan dinamika politik

Perubahan mengarah positif

Memberikan wacana kebijakan politik Mengkritisi yang tidak sesuai realita Sosialisasi media visual dan non visual Efektif dalam informasi Menyampaikan aspirasi rakyat Keadilan dan menjunjung tinggi demokrasi Kurang berpengaruh krena independen Kebebasan menyampiakan aspirasi

-Dampak perubahan a. Harapan. b. Pengaruh

- Pengelolaan gerakan a. Harapan

- Penghubung rakyat a. Arti b. Kehendak

8.

Faktor penghambat ( memperketat absensi, merepresi nilai, perjanjian, merepresi psikologi, pemecatan status

Mahasiswa menyuarakan suara rakyat Mengedepankan dan memperjuangankan perubahan yang posistif tidak berpengaruh, harus objektif dan independensi mahasiswa dengan dosen, belum ada, memepersulit ijin dan memberiakan aturan kuliah, belum melihat

Dikaruniai intelektual dan keberanian. Kesatuan dan persatuan dan memandang Indonesia lebih baik. aktivis tidak menghiraukan absensi tetapai mengunakan strategi yang terokomodir, Belum ada tetai kalau ada kita bantu dengan advokasi, Kotrak kuliah tetapi haraus pinter memutar otak, Belum ada, tetapai kalau ada kita Bantu dengan advokasi, Belum ada, tetapai kalau ada kita preser birokrat.

Ketika bersuara atas realita nama rakyat Rakyat mendapat perhatian yang lebih

Menyampaikan aspiarsi rakyat pelaku politik memeperhatikan rakyat kecil

Ketika bersuara atas realita nama rakyat Rakyat mendapat perhatian yang lebih baik

Tidak terhambat dan mempunyai prisip kuliah adalah no 1, tahu penempatannya, Belum ada, menerima dengan lapang dada dan memperbaiki diri, Lulus delapan semester dan kuliah terbaik, Tekanan membuat malas dan mahasiswa harus kuat, Belum pernah dan bila terjadi ditijau terlebih dahulu

Tidak perlu takut dan pandai dalam argumen, Belum pernah mendengar, Kontak kuliah dan aturan dosen, Membatasi kegiatan dalam politik , Belum pernah mendengar

Tidak terpengaruh karena ada jatah 25% tidak kuliah, saya kira tidak, kontak kuliah untuk selesai tepat waktu, ancaman do, tekanantekanan fisik dan moral, belum pernah terjadi , dan melakukan advokasi bila terjadi

Gerakan real aktivis mahasiswa. 1. Gerakan pasca reformasi Gerakan yang dilakukan mahasiswa pasca reformasi adalah melakukan serangkaian kegiatan reformasi dan rekontruksi kembali sebuah pemerintahan yang dinamis, stabil, bebas dan bersih dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Untuk menjaga perjalanan pemerintahan yang diharapkan, mahasiswa melakukan aksi dan diskusi dalam mengkritisi kebijakan maupun pelaksanaan agenda reformasi yang tidak sesuai dengan harapan rakyat. Mahasiswa mengadakan tuntutan kepada pemerintah untuk segera menjalankan

egenda politik reformasi sebagai jalan keluar dari masalah krisis moneter yang terjadi sehingga masyarakat dapat menikmati harapan yang diingingkan oleh rakyat. Agenda yang dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa sebagai organisasi intern mahasiswa adalah mempersiapkan

serangkaian kegiataian Kontrol dan mengkritisi kebijakan pemerintah seperti pelaksanaan kegiatan Sidang Istimewa Majelis

Permusyawaratan Rakyat (SI MPR), Menetapkan agenda reformasi seperti penghapusan Dwi fungsi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), Menuntut pelaksanaan pemilu dipercepat dan jurdil, Menuntut pengadilan atas koruptor terutama Soeharto, Mendukung eksistensi pemerintah Habibie secara kontitusi serta Kabinet yang bersih dari Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN). Agenda kegiatanm yang dilakukan oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan Gerakan Mahasisiwa Masional Indonesia sebagai organisasi ekstra adalah melakukan serangkaian kegiatan kontrol terhadap Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat (SI MPR), Menetapkan agenda reformasi seperti penghapusan Dwi fungsi ABRI ( Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), Menuntut pelaksanaan pemilu dipercepat dan jurdil, Menuntut pengusutan tuntas kasus Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN) dan pengadilan mantan Presiden Soeharto, Mendukung

eksistensi pemerintah Habibie secara kontitusi serta Kabinet yang bersih dari Korupsi Kolusi Nepotime (KKN). Agenda yang dilakukan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa

Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (UKM BP2M) adalah melakukan serangkaian kegiatan persrilis terhadap informasi perkembangan

pelaksanaan pemerintahan Habibie. 2 . Gerakan pada pemerintahan Abdurahman Wahid Gerakan yang dilakukan mahasiswa pada pemerintahan Abdurahman Wahid adalah melakukan sebuah konspirasi politik terhadap pemerintah untuk segera melakukan pemulihan ekonomi dan keadaan negara yang mengalami krisis ekonomi. Agenda kegiatan yang dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa sebagai organisasi intern mahasiswa adalah

Mempersiapkan serangkaian kegiatan kontrol dan mengkritisi kebijakan pemerintah dalam menjalankan agenda reformasi,

Menuntut pemerintah untuk tidak melakukan kebohongan publik. Agenda kegiatanm yang dilakukan oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia ( KAMMI) dan Gerakan Mahasisiwa Masional Indonesia sebagai organisasi ekstara adalah melakukan serangkaian kegiatan dengan menuntut pelaksanaan agenda refortmasi dan pemerintahan yang bersih dari KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).

Agenda

yang dilakukan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa

Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (UKM BP2M) adalah melakukan serangkaian kegiatan persrilis terhadap informasi perkembangan pelaksanaan pemerintahan Abdurrahman Wahid ( Gusdur). 3 . Gerakan pada pemerintahan Megawati Soekarno Putri Gerakan yang dilakukan pada pemerintahan Megawati Soekarno Putri adalah gerakan untuk megadakan perubahan dan menuntut megawati untuk melaksanakan agenda politik reformasi serta mengadili para koruptor dan para elit politik yang melanggar peraturan hukum. Agenda yang dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa sebagai organisasi intern mahasiswa adalah mengadakan konggres mahasiswa seluruh Indonesia di UNNES dengan mempersiapkan serangkaian kegiatan kontrol dan mengkritisi kebijakan pemerintah. Agenda kegiatan meliputi Menuntut pengadilan terhadap para koruptor, mengkritisi kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Tarif Dasar Listrik (TDL), Mengkritisi tentang Undang-Undang untuk militer sebagai kekuatan pertahanan nasional.. Agenda kegiatanm yang dilakukan oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan Gerakan Mahasisiwa Masional Indonesia sebagai organisasi ekstra adalah melakukan serangkaian kegiatan mengkritisi pelaksanaan kebijakan

pemerintahan Megawati seperti kebijakan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan Tarif Dasar Listrik ( TDL). Agenda yang dilakukan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa

Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (UKM BP2M) adalah melakukan serangkaian kegiatan persrilis terhadap informasi perkembangan pelaksanaan pemerintahan Megawati. 4. Gerakan pasca pemilu 2004. Melakukan kontrak kerja dengan para elit politik dalam menjalankan sebuah perjalanan pemerintahan yang bersih dan bebas dari Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme sehingga diharapkan kinerja pemerintah dapat terkontrol dengan baik sesuai dengan aturan dan undang-undang yang berlaku, untuk itu mahasiswa harus berperan sebagai power kontrol terhadap pemerintah dan masyarakat dalam megurangi dan mencegah para elit politik untuk tidak melakukan pelanggaran. Meneruskan dan meluruskan jalannya sebuah reformasi untuk kepentingan bersama tanpa ada kepentingan golongan sehingga perjalanan pemerintahan berjalan dengan baik tanpa ada gangguan dan ancaman dalam pelaksaan kegiatan pemerintahan. Agenda yang dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa sebagai organisasi intern mahasiswa adalah mempersiapkan

serangkaian kegiataian control dan mengkritisi kebijakan pemerintah seperti; melakukan kontrak kerja dengan Dewan Perwakilan Rakyat

(DPR) dan Kabinet Indonesia Bersatu, mengkritisi pelaksanaan kegiatan 100 Hari Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, Agenda kegiatan yang dilakukan oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan Gerakan Mahasisiwa Masional Indonesia sebagai organisasi ekstara adalah melakukan serangkaian kegiatan agenda politik seperti; melakukan kontark kerja dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) serta Kabinet Indonesia Bersatu, mengkritisi pelaksanaan kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Agenda yang dilakukan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa

Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (UKM BP2M) adalah melakukan serangkaian kegiatan agenda politik dengan mempersiapkan persrilis untuk mahasiswa sebagai informasi perkembangan politik yang terjadi.

Hambatan politik kampus 1. Hambatan politik yang terjadi di kampus Hambatan politik di kampus misalnya memperketat absensi mahasiswa, merepresi nilai mahasiswa, melakukan perjanjian kampus maupun kontrak kuliah, merepresi psikologi yang dilakukan oleh dosen, serta pemecatan status yang sepihak apabila mahasiswa melanggar peraturan kampus dengan melakukan kegiatan politik di kampus.

2. Hambatan diluar kampus Hambatan politik di luar kampus seperti ekonomi orang tua, apabila orang tua mereka cukup maka mahasiswa tersebut dalam melaksanakan kegiatan mahasiswa dapat maksimal dan menggunakan kemampuannya secara optimal oleh karena itu ekonomi keluarga berpengarauh terhadap kelancaran studi mahasiswa. Tuntuntan keluarga supaya dapat lulus dengan cepat, hal itu menjadi beban mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan karena dituntut hal tersebut karena itu mahasiswa harus dapat membagi kegiatan antara kuliah dengan lulus cepat terhadap kegiatan kemahasiswaan.

Pembahasan Budaya Politik Kampus Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan politik di kampus meliputi bidang-bidang sosial dan agama yang dijadikan sebagai basis kegiatan politik dan pewarnaan politik di kampus. Dalam melakukan penolakan politik di kampus melihat unsur manfaat dan keuntungan kebijakan tersebut serta melakukan penolakan secara frontal maupun melakukan diskusi apabila tidak sesuai dengan realita serta melakukan presser dan mengkritisi kebijakan-kebijakan yang merugikan mahasiswa. Penilaian politik yang terjadi kampus UNNES masih sederhana, kurang dinamis, dan masih stagnan, hal tersebut dilihat dari sudut pandang penguasa,

mahasiswa , media yang digunakan dalam politik serta partisipasi politik yang rendah.

Kehidupan politik Sejarah UNNES dijadikan politik golkar adalah tidak betul karena UNNES sebagai lembaga kampus yang independen dan steril dari kepentingan politik, hal tersebut dapat mempengaruhi kebebasan ekspresi dan ilmiah kampus. Sejarah politik UNNES ditentukan oleh partisipasi yang kurang aktif dan bergerak tidak dinamis yang dapat dilihat dari penguasa, mahasiswa serta masyarakat yang ikut dalam pewarnaan kehidupan politik kampus dan tidak jauh dari keadaan kampus-kampus yang lain. Di mana lokasi berpengaruh terhadap perkembangan politik sehingga UNNES menjadi lambat salah satunya adalah faktor lokasi UNNES yang jauh dari pusat kota. Politik adalah mempertahankan kekuasaan sehingga kekuaasaan mempuyai kekuatan dan pengaruh terhadap kebijakan maupun perubahan kehidupan politik oleh karena itu penguasa sangat dekat dengan kekuasaan serta aturan maupun kontitusi ditentukan oleh dinamika dan pembatasan politik oleh penguasa. Mahasiswa mempunyai wewenang sebagai power kontrol dalam kebijakan yang disesuaikan dengan aturan maupun kontitusi yang ditentukan oleh konggres dan negara terlibat dalam memberikan sebuah kekebasan mimbar akademik kemudian mempunyai pengaruh terhadap gerakan mahasiswa dalam melakukan kebebasan beraspirasi untuk rakyat.

Mahasiswa menjalankan tuntutan politik kampus dengan mencoba untuk mendewasakan berpolitik secara rasional dan ilmiah, mencoba menyelipkan visi dan misi agenda politik yang ditentukan dalam konggres mahasiswa dengan melalui pengamatan kondisi politik, diskusi maupun menentukan informasi perkembangan politik, serta menggunakan pilar demokrasi kampus. Sebagai mahasiswa mempunyai kewajiban sebagai pengawal rakyat yang diwadahi oleh lembaga kemahasiswaan dan sebagai warga negara menyampaikan aspirasi melalui wadah partai politik maupun LSM. Mahasiswa mempunyai kepentingan yang meliputi kepentingan pribadi, kelompok , maupun untuk umat sehingga kepentingan tersebut dapat terealisasikan sehingga Penggunaan alat komunikasi sangat diperlukan sebagai penopang pengembangan kehidupan politik di kampus dan sangat efektif dalam penyampaian isu mapun berita politik terbaru. Pelaksanaan kontitusi maupun peraturan yang ada di kampus UNNES masih dalam proses pengembangan sehingga pelaksanaan kegiatan hanya mengacu pada peruturan yang sudah ditetapkan berdasarkan keputusan konggres yang bersifat sementara hal ini membuat lembaga kemahasiswa berjalan berdasarkan otonomi masing-masing lembaga kampus. Badan legislatif di UNNES masih pasif dan kurang menonjol dalam fungsi serta mengakomodir aspirasi konsep kontitusi mahasiswa serta kondisi mereka sangat memprihatinkan. Badan Eksekutif Mahasiswa sebagai eksekutif body dalam menjalankan kegiatan politik masih dalam proses pengembangan sehingga perlu adanya sebuah

perbaikan sistem dan kontitusi supaya badan eksekutif dan badan legislatif dapat berkembang sejalan dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Badan peradilan di UNNES diperlukan sebagai wadah mahasiswa untuk mengadili maupun pengaduan advokasi mahasiswa yang dirugikan oleh kebijakan-kebijakan birokrat maupun dosen. Penggunaan hak politik di kampus, mahasiswa menggunakan hak pilih dan hak politik secara maksimal dan sebaik mungkin sehingga pelaksanaan kegiatan politik di kampus berjalan dengan lancar. Dalam menjalankan kewajiban berpolitik mahasiswa menggunakan kewajiban secara optimal dan bertanggung jawab serta sepenuh hati sesuai dengan kaidah kebenaran sebagai pelaksanaan amanat dari mahasiswa dan melakukan pendidikan politik.

Pendidikan politik Pendidikan politik di kampus dilakukan dalam rangka untuk menanamkan kesadaran berpolitik sehingga penyelenggaraan pendidikan politik sangat diperlukan, untuk itu penyelengaraan pendidikan politik diperlukan bahan bacaan-referensi politik kotemporer dan berita politik yang positif serta permasalahan politik yang terbaru supaya dapat mengikuti perkembangan politik. Penyelengaraan pendidikan politik diperlukan publikasi masa sebagai alat yang efektif untuk

mengembangkan informasi politik dan wacana dinamika politi, dalam mengembangkan pendidikan politik juga diperlukan media sebagai

pengembangan pendidikan politik karena manfaat kegunaan , dan fungsi media dalam proses pengembangan pendidikan politik. Pendidikan politik diselenggarakan oleh elemen-elemen dalam politik seperti lembagalembaga pemerintah, lembaga mahasiswa, lembaga masyarakat dan para pihak-pihak yang berpentingan maupun para ahli dalam politik. Lembaga masyarakat terlibat dalam menyelengarakan pendidikan politik di karenakan masyarakat adalah objek dari pelaku politik sebagai proses pencapaian kedewasaan berpolitik. Lembaga formal dalam pendidikan politik akan terlibat langsung dalam tanggung jawab beban moral untuk mewujudkan demokrasi dan sebagai sentralisasi lembaga pendidikan politik yang resmi. Lembaga non formal juga terlibat secara tidak langsung meliputi pelaksanaan pelatihan pendididkan politik yang dilakukan oleh ormas, LSM-LSM serta organisasi non formal lainnya. Pandangan budaya politik di kampus UNNES masih sederhana, perlu adanya konsep maupun pemikiran baru dalam melakukan kegiatan politik, dinamika yang terjadi masih stagnan belum mengalami perubahan yang baik hal ini dilihat dari respon mahsiswa yang ikut serta dalam kegiatan kemahasiswaan serta perlu sebuah gagasan baru tentang dinamika politik yang diharapkan oleh semua elemen politik di kampus. Dalam menyampaikan kepentingan mahasiswa harus mempunyai strategi dan konsep yang matang dalam berpolitik, untuk itu mahasiswa digunakan sebagai powerkontrol terhadap kebijkan-kebijakan yang merugikan rakyat. Dalam mewujudkan hal tersebut diperlukan sebuah gagasan yang bersifat

positif, universal rasional dan kebenaran dalam membangun kehidupan politik bersama. Aspirasi mahasiswa terhadap kehidupan politik kampus sekarang masih sederhana dan masih pasif dalam menggunakan aspirasi sehingga kehidupan dinamika politik di kampus UNNES belum mengalami perubahan yang baik oleh karena itu pendapat mengenai kehidupan politik di UNNES masih pasif dilihat dari partisipasi mahasiswa dalam pemilihan presiden mahasiswa maupun kegiatan politik lainnya. Proses kesadaran berpolitik di UNNES yang sudah mulai maka perlu ditunjang dengan wadah maupun lembaga kemahasiswaan yang kridibel dan mampu membawa mahasiswa berpolitik secara rasional dan ilmiah serta

dibutuhkan pemimpin yang memiliki kesadaran berpolitik dengan aturan dan konsep matang, memiliki kebulatan tekat yang positif , bertanggung jawab, dan mempertahankan kebenaran, memilki ketetapan jiwa , berprinsip, sikap ketegasan dan berwibawa, memiliki keyakinan universal maupun kebenaran yang utuh, dan percaya pada diri sendiri, memiliki kreatifitas dalam memberikan solusi maupun penyelesaian permasalahan yang dihadapi serta memiliki keberanian dan tekad menyampaikan kebenaran sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Dalam melakukan komunikasi politik mahasiswa dapat

memperoleh informasi melalui media informasi, diskusi, media pers dan lain sebagainya. Dalam melakukan perekrutan maupun proses kaderisasi pemimpin menggunakan hak preogratif dan memberikan peluang kepada

mahasiswa untuk bergabung dalam kegiatan mahasiswa sehingga partisipasi mahasiswa dapat terakomodir dalam kegiatan yang positif untuk menyampaikan aspirasi secara maksimal. Dengan adanya partisipasi tersebut mahasiswa dapat menempatkan diri sebagai agen of change atau perubah dan menempati posisi yang strategis.

Organisasi Hubungan atau keterkaitan lembaga mahasiswa dengan mahasiswa adalah ibarat mata uang logam yang tak dapat terpisahkan karena lembaga mahasiswa adalah wadah mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi dan ekspresi kegiatan dan bersifat saling mengisi satu dengan yang lain. Elemen politik yang ada di kampus terlibat dalam proses pencapaian tujuan budaya politik kampus yang diharapkan oleh karena itu hubungan lembaga intra dan lembaga ekstra harus bekerjasama dan saling memberikan dukungan dalam melakukan kegiatan maupun aksi

mahasiswa. Hubungan lembaga mahasiswa dengan pihak rektorat mapun dekanat yaitu mencoba membangun kerjasama dan komunikasi dalam memberikan masukan serta kritik dalam penentuan kebijakan yang akan diambil. Hubungan mahasiswa dengan dosen adalah hubungan antara pengajar dan anak didik yang berdikusi dan bersilaturahmi sehingga mahasiswa dapat menempatkan posisinya sesuai dengan situasi dan kondisi mahasiswa terhadap dosen.

Posisi tawar aktivis mahasiswa dengan mahasiswa lainnya adalah aktivis mempunyai nilai plus atau lebih dalam menjalankan kegiatan serta mempunyai posisi tawar terhadap lembaga kemahasiswaan yang layak dalam menilai kontribusi terhadap kebijakan yang di ambil. Posisi tawar lembaga kemahasiswaan dengan pemerintah yaitu mempunyai posisi tawar diatas dikarenakan mahasiswa berani dalam mempreser dan mengkritisi kebijakan pemerintah serta sebagai power kontral yang terjadi di masyarakat. Posisi tawar lembaga mahasiswa dengan partai politik adalah harus saling mengingatkan, memantau, mangontrol dan melakukan konspirasi politik serta menyatukan aspirasi rakyat dalam mengarah pada satu tujuan. Begitu juga dengan posisi tawar lembaga mahasiswa terhadap organisasi masyarakat yaitu sebagai cikal bakal atau lahirnya generasi baru dalam mengembangkan politik yang saling menguntungkan dengan menggunakan intelektual dalam berfikir ilmiah dan rasional. Untuk mengontrol masyarakat, mahasiswa melakukan kajian penelitian dan membuat jaringan aspirasi rakyat yang disesuaikan dengan aspirasi rakyat dalam melihat keadaan realita kondisi dan situasi rakyat maupun kebijakan kepada rakyat. Hal yang dilakukan mahasiswa dalam kontrol masyarakat meliputi mengarahkan agar rakyat dapat sadar

tentang hukum dan berperilaku beradab, serta mengawal masyarakat dalam manyampaikan aspirasi. Mahasiswa adalah bagian rakyat yang mempunyai intelektual dan independen yang akan terjun ke masyarakat maka mahasiswa melakukan preser terhadap kebijakan yang merugikan

rakyat dan melakukan advokasi kepada rakyat dalam penyampaian aspirasi.

Dimensi gerakan Mahasiswa adalah harapan besar untuk melakukan perubahan dalam mewujudkan aspirasi rakyat oleh karena itu mahasiswa melakukan peningkatan potensi intelektual, melakukan evaluasi, mengarahkan masyarakat, melakukan kontrol terhadap pelaksanaan kebijakan,

memberikan wacana dan warna dalam politik, serta memposisikan negara sebagai alat keadilan dan persatuan. Mahasiswa sebagai angkatan intelektual bertanggung jawab memberikan gagasan ide yang rasional dan ilmiah dalam memberikan sebuah solusi dari permasalahan untuk itu mahasiswa mempunyai harapan melakukan perubahan gerakan, perubahan fisik dan non fisik, melakukan kebebasan berpolitik dan demokrasi, dan berkiprah secara maksimal dalam demokrasi dengan berfikir rasional dan ilmiah. Generasi muda atau mahasiswa mempunyai nilai maupun makna yang bersifat ideologis, sosiologis dan cultural. Generasi muda adalah bagian dari mahasiswa sebagai penentu dan tulang punggung bangsa. Kehadiran generasi muda mempunyai makna dan arti tersendiri di mata masyarakat, karena keberadaannya mempunyai gaung yang cukup besar dan apresiasi yang cukup memadai, sehingga dimanapun ia berada selalu mendapatkan ruang untuk berekspresi. Latar belakang masyarakat

menerima mahasiswa adalah Pertama, mahasiswa mempunyai makna dan nilai yang strategis serta signifikan dalam menetukan masa depan bangsa. Kedua, eksistensi mahasiswa selalu menjadi symbol progresifitas, pelopor, penentu arah dinamika suatu bangsa. Ketiga, mahasiswa merupakan prototip ideal sebagai generasi penerus, karena ia masih mempunyai semangat, keteguhan cita-cita, ketegasan sikap, visi yang konsisten dan jelas. Sebagaimana yang dikatakan oleh Taufik Abdulah (1974), kehadiran mahasiswa bukan semata-mata gejala demografis, tetapi juga sosiologis, dan histories. Ia memandang mahasiswa bagian dari generasi muda tidak hanya mengisi sebuah episode generasi baru dalam sebuah komunitas masyarakat, tetapi merupakan subjek potensial bagi sebuah perubahan pada komunitas itu sendiri.

Karakteristik gerakan Gerakan mahasiswa bersifat spontan karena mahasiswa

mempunyai pola pikir praktis dan strategis dalam menyikapi hal yang tidak menguntungkan bagi rakyat. Hal yang mendorong mahasiswa melakukan hal tersebut adalah melihat kondisi temporal dan iraksional rakyat dalam mewujudkan kepedulian terhadap kehidupan politik. Mahasiswa melakukan gerakan dalam rangka mewujudkan negara demokratis, dinamis dan religius, dan sebagai wahana persatuan dan

kesatuan untuk pergerakan dalam membangun kehidupan politik yang baik. Mahasiswa adalah agen perubah tetapi bukan agen politik maka mahasiswa dapat memposisikan sebagai profesional dan idealisme dalam politik sera bersifat independen dan netral. Pembagunan jaringan gerakan mahasiswa dengan memperhatikan jaringan yang positif dan berkembang, jaringan memasyarakat dan jaringan komunikasi tujuan reformasi, jaringan gerakan mahasiswa dalam membangun kekuatan dan basis dalam berpolitik. Pengelolaan jaringan pergerakan mahasiswa dilakukan melalui strategi dan konsep pergerakan dalam satu kesatuan yang bersifat pragmatis dan permanen dalam konsep pergerakan dalam satu tujuan. Kokohnya sebuah misi dan visi pergerakan mahasiswa untuk melakukan otokritik terhadap kiprah sebagai generasi penerus bangsa dalam mengekspresikan dan mengaktualisasikan ide dan gagasannya. Mahasiswa sebagai entitas kaum muda juga dituntut mempunyai keberanian untuk melakukan introspeksi dan evalusi kritis terhadap visi dan corak gerakan yang selama ini kita banggakan dan yakini akan kebenarannya. Dalam konteks ini mahasiswa dituntut kejujuran dan

kearifannya untuk melihat untuk melihat dan sekaligus mengakui keberhasilan yang telah dicapai oleh mahasiswa terdahulu. Dalam pergerakan mahasiswa mempunyai beberapa keunggulan kooperatif. Pertama, adanya konsistensi visi untuk menumbuhkan kesadaran kolektif bangsa atau nasionalisme sebagai langkah menuju reformasi. Mahasiswa

di persatukan oleh adanya kepedulian, keprihatinan, dan nasib yang sama terhadap kondisi social, politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya yang berada dalam lingkungan. Kedua, pola gerakan yang mahasiswa tempuh berdasarkan pijakan rasionalitas dan bukan emosionalitas semata, sehingga aktivitas yang dilakukannya tidak bersifat sesaat dan terpecah-pecah, melainkan bersifat menyeluruh serta berdimensi jangka panjang. Ketiga, pembacaan terhadap realitas empiris yang menjadi fenomena kebangsaan sangat diperhitungan. Maka tidak mengherankan jika mereka dapat merekam kebutuhan dasar masyarakat yang kemudian yang diaplikasikan dalam gerakan.

Kekuatan dan kelemahan gerakan Mahasiswa adalan agen pembaru dalam kehidupan sehingga kemampuan yang dimiliki mahasiswa dalam memberikan suatu gagasan dan ide dalam pengembangan kehidupan politik sangat penting untuk itu mahasiswa diharapkan mampu memberikan perubahan yang positif dan membela kebenaran sesuai dengan kontitusi yang berlaku sehingga dalam mengkritisi kebijakan maupun menilai kebijakan disesuaikan dengan nilai kelayakan dan aspirasi rakyat yang bermanfaat untuk kepentingan umat. Dalam mensosialisasikan politik diperlukan berbagai macam media mulai dari media tulis hingga media elektronik sehingga penyampaian isuisu politik dapat tersosialisasikan langsung kepada rakyat untuk itu efektifitas media dalam mensosialisasikan harus diperhatikan dengan baik.

Mahasiswa adalah bagian dari rakyat, yang lahir dari rakyat dan kembali untuk rakyat oleh karena itu harapan mahasiswa tentang perubahan yaitu perubahan yang positif, perbaikan kinerja pemerintah untuk rakyat, menghendaki adanya rasa aman, tentram, keadilan dan menjunjung tinggi demokrasi maupun kebenaran, adanya politik yang mapan dengan mengedepankan rakyat serta pemerintah yang bebas dan bersih dari KKN. Harapan dari pergerakan mahasiswa adalah memberikan aspirasi dan pewarnaan dinamika politik dalam melakukan kebebasan

menyampaikan aspirasi dan kebebasan dalam mengkritisi kebijakan serta menjadikan lembaga yang bersih dan independent. Mahasiswa sebagai penghubung rakyat dengan menyuarakan aspirasi rakyat maupun kepentingan rakyat sesuai dengan harapan dan keinginan rakyat oleh karena itu kehendak yang dilakukan mahasiswa yaitu mengedepankan dan memperjuangkan perubahan yang positif dan memberikan sebuah kesatuan dan persatuan dalam kehidupan berpolitik sehingga rakyat dapat perhatian yang layak dari para elit politik maupun pemerintah. Nilai historis mahasiswa dijadikan pijakan dalam melakukan refleksi terhadap realitas objektif organisasi mahasiswa yang sedang menunjukan surutnya vitalitas dan keringnya spirit dalam melakukan transformasi secara menyeluruh, baik dalam ranah kemasyarakatan, kebangsaan maupun kemahasiswaan. Secara fenomenologis, eksistensi gerakan organisasi mahasiswa menunjukan gejala adanya perpecahan,

pengentalan indentitas kelompok masing-masing dan bersifat primordial. Hal ini terjadi karena beberapa hal. Pertama, adanya kecenderungan bahwa bangunan interaksi sosial-politik terpola berdasarkan pada moment, bukan karena perjumpaan dan persamaan visi yang lebih mendasar. Kondisi ini akan menyeret pada fenomena gerakan yang bersifat sesaat dan terpecahpecah. Kedua, adanya kecenderungan pragmatis dalam merumuskan visi dan orientasi gerakan di kalangan aktivis organisasi mahasiswa. Kecenderungan ini menyebabkan terkikisnya sikap independen dan terkuburnya konsistensi sikap serta keringnya komitmen, sehingga tidak dapat membaca realitas objektif secara kritis. Kenyataan ini akhirnya melahirkan kondisi gerakan mahasiswa yang terasing dan nilai-nilai luhur sejarah. Hal ini diperparah lagi dengan adanya kecenderungan menonjolkan kepentingan kelompok sehingga gerakan mahasiswa seolah tidak mempunyai visi yang dapat

mempertemukan berbagai kelompok dan kepentingan yang ada. Dalam kondisi yang demikian, wajar jika gerakan mahasiswa saat ini tidak mampu secara optimal dan menyeluruh dalam menterjemahkan dan menerapkan nilai-nilai historis pergerakan nasional mahasiswa. Meskipun demikian, memerlukan kontinuitas untuk mengawal jalannya reformasi, memperdayakan masyarakat, mengatasi krisi

multidimensi serta membangun kemandirian bangsa. mengingat misi yang begitu besar, maka pentingnya organisasi mahasiswa untuk memperkokoh

visi kebangsaan dalam kerangka untuk mempererat tali persatuan dan kesatuan bangsa.

Faktor penghambat Faktor penghambat dari kegiatan para aktivis meliputi dengan memperketat absensi sehingga mahasiswa dituntut hadir setiap ada perkuliahan untuk itu aktivis mahasiswa dituntut kreatif dalam menyikapi hal tersebut kemudian adanya peraturan harus hadir tujuh lima persen untuk mengikuti kuliah maka aktivis dapat menggunakan kesempatan itu untuk mengekspresikan aspirasinya. Kontrak kuliah antara pihak kampus dengan mahasiswa yaitu kontrak kelulusan dengan tepat waktu dengan delapan semester sehingga para aktivis harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kontrak kuliah tersebut sehingga dalam perjalanan kuliah tidak terjadi keterlambatan untuk lulus. Di UNNES belum pernah terjadi pemecatan status maupun

merepresi psikologi mahasiswa kalau itu terjadi maka mahasiswa harus siap menghadapi tuntutan tersebut dengan melakukan advokasi dan mempreser birokrat dan dosen agar tidak melakukan hal tersebut.

9. Informan terhadap budaya politik Tabel 2. Informan terhadap budaya politik No Komponen Wahyu Saeful Usep Siswanto Hariyoto

1.

Latar belakang a. Sifat Religius, demokratis b. Ekonomi Sederhana, cukup c. Pendidikan Ibu: SMA Ayah:SMA d. Agama Keluarga Islam e. Pekerjaan Swasta Leadersip, religius mampu, Sederhana Ibu : SD Ayah: SD Keluarga Islam Swasta Dakwah, demokrasi Cukup, sederhana Ibu: SD Ayah:SMU Keluarga Islam Swasta Leadersip, nasionalis Mampu, sederhana Ibu : SLTP Ayah: SMA Keluarga Islam Swasta Idealis, independen Sederhana, cukup Ibu: SD Ayah: SLTP Keluarga Islam Swasta

f. Suku / adapt 2. Memori (ingatan)

Jawa Untuk mengedepa nkan

Jawa , Islam Berorganisa si

Sunda Untuk

Jawa, Islam Berorganisa

Jawa, Untuk

untuk mengadakan si presser kepada birokrat dalam kebijakan

untuk idealime dan dan independen mahasiswa terhadap realita

dan belajar hidup

aspirasi rakyat

memeperju angkan kepentinga n rakyat 3. Intitusi kegiatan Lembaga mahasiswa ektra (KAMMI) 4. Pengaruh kekuasaan (power) Mengarahk an

kepentingan bersama

Lembaga mahasiswa UNNES

Lembaga mahasiswa intra ekstra

Lembaga GMNI,

Unit Kegiatan mahasiswa BP2M Kekuasaan

dan Ektra UNNES Kekuasaan untuk

Penentuan

Mempreser kebijakan yang

roda kebijakan dengan kehendak

visi untuk misi mengkritisi kebijakan

perubahan dinamika

tidak dan

memihak mahasiswa atau rakyat Memberika

organisasi

politik yang dan terjadi 5. Fakta sosial Kecakapan demokratis Kritis

dan harapan melalui demokrasi tulisan

Aktif dalam Kecakapan

dalam berorganisa si

terhadap lingkungan

n kontribusi kegiatan pendidikan politik ekstra LSM

dalam lobi, , menulis berita

a. Informan I ( Wahyu Triyuda) Wahyu adalah seseorang yang berjiwa religius dan demokratis dimana dia ikut dalam organisasi karena ingin mewujudkan harapan dan cita-cita yang ingin dicapai yaitu amar ma’ruf nahi munkar oleh karena itu ia dalam melaksanakan kegiatan dengan ihklas dan bertanggung jawab. Ekonomi keluarganya adalah sederhana dan cukup karena ayah bekerja di swasta sebagai buruh, oleh sebab itu ia dalam kuliah sering mengutamakan kuliah dan dilanjutkan dengan kegiatan keagamaan untuk menunjang kualitas disiplin ilmu yang dimilikinya. Pendidikan ke dua orang tuanya adalah SMA sehingga pendidikan akan pengetahuan dan pengalaman orang tua akan pendidikan lebih maju dan berorientasi positif tentang pendidikan. Fasilitas yang dimiliki di kampus meliputi tempat kost dan buku kuliah, sekretariat kegiatan dari organisasi KAMMI. Lingkungan yang ia tempati adalah lingkungan yang agamis dan berbudaya jawa karena berasal dari pekalongan Sehingga tingkah laku maupun pola perilaku berdasarkan adat ketimuran. Motivasi ia ikut dalam organisasi lembaga kemahasiswaan ektra seperti KAMMI ( Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) yaitu ingin mencoba untuk mengasah ketajaman berfikir dalam politik, sehingga diharapkan mampu menjadi kader-kader pemimpin yang berguna bagi diri

sendiri, agama, nusa dan bangsa. Memori yang mendorong wahyu ikut dalam organisasi yaitu melihat kondisi temporal dan iraksional rakyat terhadap gejolak permasalahan krisis moneter dan sistem politik yang tidak kondusif dan dinamis sehingga ia melakukan dan ikut organisasi untuk memperjuangkan dan mengedepankan kepentingan aspirasi rakyat menuju perubahan yang positif. Intitusi yang ia ikuti adalah lembaga kemahasiswaan ekstra seperti KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), lembaga dakwah di kampus serta lembaga kemahasiswaan intra seperti HIMA EKONOMI ( Himpunan Mahasiswa Ekonomi). Orientasi bidang kegiatan yang dikuti oleh wahyu yaitu bidang keagamaan dan dakwah sebagai jalan menjalankan sebuah harapan dan cita-cita yang dingginkan olehnya. Budaya politik yang dingingkan dikampus adalah kebebasan untuk melakukan segala aktivitas kegiatan politik tanpa ada tekanan maupun paksaan dari pihak birokrat maupun pemerintah dalam melaksanakan kegiatan politik oleh karena itu harapan yang dingingkan agar terciptannya stabilitas politik yang dinamis dan mengarah keperubahan yang positif. Proses yang dilakukan oleh wahyu yaitu dengan mengikuti kegiatan politik dengan berdakwah sebagai landasan menjalankan keingingan dan harapan dari aspirasi mahasiswa dan rakyat. Kekuasaan maupun power yang dimiliki oleh wahyu digunakan untuk melakukan dan mengarahkan roda perubahan dinamika politik yang terjadi. Dalam pelaksanaan ia lakukan dengan tanggung jawab serta

melakukan konsolidasi kepada mahasiswa dan masyarakat

dalam

melakukan maupun menjalankan amanah dari aspirasi mahasiswa dan rakyat. Hasil yang dilakukan oleh wahyu yaitu mendapatkan keterampilan dalam beroganisasi, kecakapan dalam memimpin, berfikir secara religius dan rasional. Hal tersebut dilakukan untuk membangun pribadi yang sesuai dengan ajaran agama islam dalam menjalankan aktivitas dakwah maupun politik dengan memperhatikan kepentingan demokrasi.

b. Informan 2 ( Saeful Alim) Saeful Alim adalah mahasiswa yang memiliki potensi dan karekteristik leadership yang ditunjang dengan keagamaan sehingga dia ikut serta dalam kegiatan kemahasiswaan maupun kegiatan pondok pesantren. Hal tersebut dibuktikannya dengan ikut serta menjadi ketua BEM FIP UNNES dalam melakukan visi dan misi yang ia ingin di capai serta harapan akan kehidupan politik yang dinamis, dan bebas KKN. Ekonomi keluarga dari keluarga yang mampu sehingga ia dapat melaksanakan kegiatan

kemahasiswaan dengan penuh tanggung jawab dan tanpa ada hambatan dalam masalah ekonomi maupun keuangan. Pendidikan orang tua keduanya lulusan dari sekolah dasar sehingga mereka mendukung anak mereka untuk belajar keperguruan tinggi dengan memberikan fasilitas sebuah kendaraan dan perlengkapan kuliah. Lingkungan yang ia tinggali adalah lingkungan

agamis karena ia berasal dari kota demak yang penuh dengan ke Islaman dan aturan keagamaan. Motivasi Saeful Alim dalam melakukan kegiatan politik yaitu ingin menyampaikan visi dan misi yang mengarah kedewasaan demokrasi dalam politik sehingga aspirasi yang diperoleh dari rakyat dapat disampaikan

kepada pemerintah maupun elit politik. Ingatan Saeful tentang motivasi dalam realita politik ketika melihat kondisi masyarakat yang mengalami kegelisahan tentang masalah krisis moneter dan krisis moral sehingga ia terdorong ikut dalam organisasi oleh karena itu mengawal rakyat untuk menyampaikan saeful dituntut untuk rakyat. Belajar

keinginan

berorganisasi untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman organisasi sebagai jalan untuk belajar hidup bermasyarakat. Intitusi yang diikuti saeful meliputi lembaga kemahasiswaan intra kampus seperti HIMA BK (Himpunan Mahasiswa Bimbingan Konseling), BEM FIP (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan), BEMU (Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas), IPPNU ( Ikatan Pemuda-Pemudi Nadlatul Ulama), maupun kegiatan keagamaan di pondok pesantren seperti pengajian, dakwah, dan tadarus. Orientasi yang sering dilakukan dalam organisasi adalah bidang keagamaan dan demokrasi politik di kampus. Demokrasi politik kampus yang diingingkan oleh saeful adalah kebebasan akademik, kebebasan dalam mengkritisi kebijakan dan perubahan politik yang positif. Proses yang ia lakukan adalah dengan melakukan kesadaran dalam berpolitik sehingga mahasiswa dapat melakukan politik

dengan sederhana dan dapat memposisikan mahasiswa sebagai agen perubah sesuai dengan harapan dan tujuan pendidikan. Kekuasan yang di peroleh oleh saeful digunakan dalam menjalankan visi dan misi yang diharapkan sesuai dengan keinginan dan hasil konggres yang ditentukan secara demokrasi dalam sidang konggres mahasiswa tingkat fakultas maupun di tingkat universitas serta penentuan kebijakan dengan demokrasi dan kehendak mahasiswa. Dalam

melaksanakan kegiatan tersebut sesuai dengan karakteristik yang ia laksanakan mengacu pada kegaiatan-kegiatan yang ia lakukan sebelumnya. Hasil dari kegiatan yang ia lakukan dapat membimbing saeful untuk berfikir kritis, rasional, dan mandiri dalam melaksanakan kegiatan dengan keahlian yang ia peroleh dalam melaksanakan kegiatan organisasi, dapat membaca situasi dan kondisi realita kehidupan mahasiswa di kampus maupun di masyarakat. c. Infortman 3 (Usep Badruzaman) Usep adalah sosok seorang pribadi yang penuh tanggung jawab dan berjiwa pemimpin dan mampu memberikan tausiyah dan pengajian di lingkungan kampus, sehingga di dalam melaksanakan kegiatan

kemahasiswaan ia lakukan dengan berpolitik secara demokratis dan mengedepankan kepentingan umat, hal tersebut ditunjang dengan

keikutsertaan dalam BEM UNNES dan Organisasi Ekstra di bidang keagaaman. Ekonomi keluarga usep adalah keluarga yang sederhana dan dia membiayai kuliah dengan mandiri dengan penuh kesabaran dan keuletan.

Pendidikan

orang tua adalah SMA sehingga kepentingan akan belajar

diperhatikan dalam keluarga untuk itu usep dituntut untuk kuliah dengan serius dan lulus dengan predikat terbaik. Pekerjaan dari orang tua adalah swasta yang bekerja di instansi perusahaan swasta sehingga kehidupan mereka cukup dan sederhana. Fasilitas yang dimiliki oleh usep yaitu sekretariat organisasi dan pondok pesantren untuk berdakwah. Lingkungan usep adalah lingkungan yang agamis dan berbudaya keislaman sehingga di banyak berpedoman dalam melaksanakanan kegiatan dengan aturan keislaman. Motivasi usep dalam melakukan kegiatan organisasi yaitu membawa gerbong yang meliputi gerbong mahasiswa, lembaga

kemahasiswaa, gerbong birokrat dengan upaya untuk pemasangan dalam menjalankan politik di kampus oleh karena itu usep berharap dinamika politik di kampus sejalan dengan aspirasi mahasiswa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan mahasiswa. Memori usep dalam menjalankan politik yaitu melihat kondisi rakyat yang tertindas seperti penyalahgunaan kekuasaan yang melibatkan rakyat menjadi sengsara dan aturan-aturan kebijakan yang merugikan masyarakat yang dibuat oleh pemerintah. Usep belajar organisasi sebagai presser terhadap birokrat terhadap kebijakan yang tidak memihak pada rakyat maupun mahasiswa dan sebagai wujud kepedulian mahasiswa terhadap realita politik yang terjadi. Intitusi yang diikuti oleh usep meliputi lembaga mahasiswa intra seperti HIMA KIMIA ( Himpunan Mahasiswa Kimia ), BEMU (Badan

Eksekutif Mahasiswa Universitas), lembaga mahasiswa ektra seperti KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), Lembaga dakwah kampus dan kegiatan LSM Qolbu Salim. Orientasi kegiatan yang dilakukan meliputi bidang keagamaan, dakwah, politik, social dan pendidikan oleh karena itu kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan berdasarkan situasi dan kondisi tempat yang digunakan daam melakukan kegiatan. Budaya politik yang diinginkan adalah dinamika politik yang dinamis dan menuju lembaga independen tanpa ada unsur presser pemerintah dalam melakukan kegiatan politik dan diharapkan rakyat sejahtera ,rakyat menikmati kemerdekaanya ,rakyat menikmati kekayaanya, rakyat menikmati bumi pertiwi ,itu yang menjadi pekerjaan rumah mahasiswa, saatu saat ini rakyat tidak menikmati semua itu, karena terdapat manipulasi ,dibohongi kalangan penguasa ,oleh orang orang yang saat ini masih mencokol dan menjadi pejabat korup di Indonesia . Salah satu yang dilakukan kita sebagai mahasiswa adalah belajar, persiapan, selalu

membiasakan diri bersih di berkondisi secara bersih sesuai dengan koridor yang ada ya rapi, bersih, tidak kolusi , tidak korupsi, tidak nepotisme dan sebagainya Kekuasaaan yang diperoleh oleh usep digunakan untuk

mempertahankan kekuasaaan karena politik adalah kekuasaan

sehingga

kekuasaan adalah untuk mempertahankan posisi atau jabatan di dalam politik untuk menjalankan maupun mempreser kepentingan kepada pemerintah atau birokrat. Dalam melaksanakan kegiatan ia mempergunakan

hak dan kewajiban dalam berorganisasi secara demokratis dan terpimpin dengan satu tujuan kepentingan bersama atau umat tanpa membedakan perbedaan yang ada serta memntingkan kebenaran untuk aspirasi mahasiswa maupun rakyat. Hasil kegiatan yang dilakukan oleh usep adalah memberikan kontribusi kepada masyarakat akan arti penting politik sebagai akses untuk menjalankan sebuah kekuasaan dan penentuan kebijakan. Memahami situasi dan kondisi realitas masyarakat akan kebutuhan mereka karena mahasiswa adalah rakyat dan untuk rakyat serta kembali ke rakyat.

d. Informan 4 (Siswanto) Siswanto adalah mahasiswa yang mempunyai karakter seorang pemimpin yang nasionalis dan berjiwa besar dalam ikut serta dalam membela rakyat kecil yang merasa tertindas. Hal tersebut dilakukan dalam rangka membela kepentingan rakyat dengan memimpin lembaga ekstra kemahasiswaan yaitu GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia).

Ekonomi keluarga ia adalah keluarga yang mampu dengan di fasilitasi orang tua dalam melakukan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan di kampus sehinga ia dapat mengekspresikan kebebasan dengan leluasa tanpa memikirkan keadaan ekonomi. Pendidikan kedua orang tuanya adalah SMA sehingga tuntutan akan pendidikan diharapkan mampu menjadi seseorang yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, bangsa dan negara. Lingkungan yang di tempati adalah lingkungan kalangan para aktivis yang berkecimpung di

daerah dengan mendirikan LSM maupun Partai sehingga ia banyak belajar dari keadaan tersebut. Motivasi siswanto mengkuti kegiatan organisasi yaitu membela dan meangakomodir kepentingan mahasiswa atau rakyat dengan melakukan kegiatan politik yang berdasarkan aspirasi dan kebutuhan mahasiswa. Memori siswanto dalam realita politik yaitu melihat realita politik yang terjadi sekarang dengan sudut pandang dibidang krisis ekonomi dan moral terhadap mahasiswa dan rakyat yang mengalami proses kemunduran serta mengalami krisis kepemimpinan dalam melakukan pergerakan mahasiswa sebagai kekuatan gerakan rakyat. Belajar organisasi untuk menjalankan kepentingan dan aspirasi mahasiswa dalam menentukan kebijakan dan aturan yang sesuai dengan aspirasi mahasiswa dan kebutuhan mahasiswa. Oleh karena itu mahasiswa dituntut untuk dapat memberikan kontribusi maupun solusi dalam penyelesaiaan masalah kehidupan politik maupun masalah yang lainnya. Intitusi yang diikuti oleh siwanto meliputi lembaga kemahasiwaan ekstra yang bergerak untuk kepentingan mahasiswa dan rakyat yaitu GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) yang berorientasi dibidang ekonomi, social dan budaya serta realita politik yang terjadi dengan mengedepankan kepentingkan aspirasi mahasiswa dan rakyat. Budaya politik yang diharapkan yaitu kebebasan dalam melakukan kegiatan dengan memperoleh jaminan untuk tidak mendapat tekanan dari birokrat atau pemerintah dan memperhatikan kepentingan aspirasi dan

kebutuhan mahasiswa. Proses yang dilakukan dengan mengadakan diskusi maupun jaringan pergerakan bersama untuk menjalankan persepsi dan tujuan bersama sebagai langkah untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan serta keutuhan mahasiswa dan rakyat.oleh karena itu siswanto menghendaki adanya proses pergerakan mahasiswa yang mempunyai nilai dan burgening terhadap kebijakan dan keputusan yang dilakukan oleh pemerintah atau birokrat. Kekuasaan yang diperoleh siswanto dipergunakan untuk menjalan visi dan misi aspirasi mahasiswa dan rakyat dengan melibatkan diri dalam kancah politik sehingga dapat mengikuti perkembangan politik yang terjadi. Dalam melakukan dan majalankan visi ia melakukan serangkaian kegiatan yang bertahap dan terkoordinir sesuai dengan perioritas kebutuhan yang mendesak sebagai agenda jangka pendek dengan mempertimbangkan agenda jangka panjang, asas demokrasi sebagai pilar dalam melakukan kegiatan digunakan sebagai penyelesaiaan masalah yang terjadi perbedaan pendapat maupun aspirasi. Hasil kegiatan yang ikuti meliputi aktif dalam organisasi mahasiswa ektra yaitu GMNI (gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) serta LSM GRANAT (Gerakan Anti Narkoba), memberikan kontribusi pemikiran yang rasional dan ilmiah dalam memberikan sebuah solusi dalam penyelesaian masalah yang dihadapi, serta tidak meninggalkan demokrasi untuk kepentingan bersama.

e. Informan 5 ( Hariyoto) Hariyoto adalah sosok seorang mahasiswa dengan penuh idealis dan mempunyai indepedensi yang cukup bagus, hal tersebut dapat dibuktikan dengan keikutsertaan ia dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BP2M). Ekonomi keluarga hariyoto adalah ekonomi keluarga yang cukup dengan membiayai kuliah melalui sebuah tulisan lewat media-media. Pendidikan keluarga orang tua yaitu SMP sehingga tuntutan akan pendidikan tidak begitu diperhatikan oleh karena itu ia melakukan kuliah karena ia ingin harapan dan cita-cita untuk menjadi wartawan dapat ia raih. Pekerjaan orang tua hariyoto yaitu bekerja dibidang dagang atau toko sebagai penjual mapun pengecer bahan sembako di lingkungan pasar tradisional dengan berpenghasilan cukup. Lingkungan dia adalah lingkungan petani dan peternak sehingga dia dalam melaksanakan kegaitan masih sederhana dan dalam tahap belajar. Motivasi hariyoto mengikuti kegiatan organisasi yaitu idealisme mahasiswa dalam melakukan kegiatan dan melakukan pembaharuan dilandaskan analisa kebutuhan mahasiswa dan rakyat. Memori dalam relita politik yang terjadi ketika melihat kondisi dan relita politik yang mengalami sebuah krisis ekonomi dan moral sehingga hariyoto memberikan pers rilis kepada birokrat sebagai wujud kepedulian mahasiswa terhadap kehidupan politik yang terjadi. Belajar berorganisasi sebagai wahana untuk belajar memahami situasi dan kondisi realita kehidupan politik dengan menuangkan

tulisan maupun ide kreatif sebagai langkah untuk menyampaikan aspirasi dan keprihatinan mahasiswa terhadap budaya politik. Intitusi yang diikuti oleh hariyoto adalah UKM BP2M (Unit

Kegiatan Mahasiswa Badan Penerbitan Pers Mahasiswa), dan bekerja sebagai wartawan lepas harian kompas. Orinetasi yang dilakukan dibidang pencari informasi yang actual dan masih hangat untuk di perbincangkan dengan segala bentuk berita yang ilmiah, tajam, dan dapat dipercaya kebenarannya. Budaya politik yang dingingkan yaitu budaya politik yang bersih dari hal KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), dan mengaharapkan pemerintahan maupun birokrat yang mengedepankan kepentingan

mahasiswa dan rakyat sebagai objek dalam melaksanakan pendidikan politik dengan baik. Proses yang dilakukan adalah dengan membrikan kontribuis tulisan maupun berita politik yang dapat dipahami dan dicerna oleh mahasiswa maupun masyarakat sebagai pembaca oleh karena itu ia

melakukan dan mencari berita yang diharapkan mahasiswa atau rakyat mampu memahami keadaan realitas politik yang terjadi. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka wujud kepedulian mahasiswa akan nasib mahasiswa dan rakyat. Kekuasaan yang diperoleh hariyoto dipergunakan untuk

mengkritisi kebijakan maupun keputusan yang dilakukan oleh penguasa yang tidak memihak pada mahasiswa maupun rakyat melalui media pers sebagai kritik dan saran akan aspirasi mahasiswa dan nasib rakyat

dikarenakan mahasiswa berbicara untuk rakyat dan kemabali ke rakyat. Dalam melakukan kegiatan pers ia memperhatikan idealime dan independensi serta kebenaran yang sesuai dengan realita yang ada, dan menggunakan lobi yang baik serta memakai tulisan yang ilmiah dan rasional sehingga mudah untuk dipahamai dan dicerna. Idealisme hariyoto digunakan sebagai langkah untuk kenetralan dalam memihak suatu permasalah mapun berita yang hangat untuk diperbincangkan. Hasil dari kegiatan yaitu memberikan sebuah hasil karya tulisan yang ilmiah, rasional dan dipahami oleh semua pihak, memberikan kontribusi akan arti pentinggnya berita dalam memahami realita kehidupan politik yang terjadi, serta dapat memberikan sebuah penghasilan melalui tulisan sebagai matapencaharian dalam mencukupi kehidupan sehari-hari.

Dari uraian di atas dapat diperoleh pembahasan analisis tentang asal maupun latar belakang informan terhadap politik atau kekuasaan yang akan digunakan sebagai power of control indivisu dalam pelaksanaan kegiatan yang dilakukan. Bahwa budaya politik yang terjadi di UNNES dapat dilihat dari hasil penelitian sebagai berikut : 1. Perbedaan antara individu informan satu dengan yang lain dipengaruhi oleh latar belakang mereka dalam mengikuti kegiatan organisasi yang ia ikuti. Latar belakang yang diperoleh dari lima informan yaitu , Wahyu adalah seseorang yang berjiwa religius dan demokratis dimana ia ikut dalam organisasi karena ingin mewujudkan harapan dan cita-cita yang

ingin dicapai yaitu amar ma’ruf nahi mungkar oleh karena itu ia dalam melaksanakan kegiatan dengan iklas dan bertanggung jawab. Ekonomi keluraganya adalah sederhana dan cukup karena ayah bekerja di swasta menjadi buruh,oleh sebab itu ia dalam kuliah sering mengutamakan kuliah dan dilanjutkan dengan keagamaan untuk menunjang kulitas disiplin ilmu yang dimilikinya. Pendidikan ke dua orang tuanya adalah SMA sehingga pendidikan akan pengetahuan dan pengalaman orang tua akan pendidikan lebih maju dan berorientasi positif tentang pendidikan. Fasilitas yang dimiliki di kampus meliputi tempat kost dan buku kuliah, sekretariat kegiatan dari organisasi KAMMI. Lingkungan yang ia

tempati adalah lingkungan yang agamis dan berbudaya jawa karena berasal dari pekalongan Sehingga tingkah laku maupun pola perilaku berdasarkan adat ketimuran. Saeful Alim adalah mahasiswa yang memiliki potensi dan karekteristik leadership yang ditunjang dengan keagamaan sehingga dia ikut serta dalam kegiatan kemahasiswaan maupun kegiatan pondok pesantren. Hal tersebut dibuktikannya dengan ikut serta menjadi ketua BEM FIP UNNES dalam melakukan visi dan misi yang ia ingin di capai serta harapan akan kehidupan politik yang dinamis, dan bebas KKN. Ekonomi keluarga dari keluarga yang mampu sehingga ia dapat melaksanakan kegiatan kemahasiswaan dengan penuh tanggung jawab dan tanpa ada hambatan dalam masalah ekonomi maupun keuangan. Pendidikan orang tua keduanya lulusan dari sekolah dasar sehingga mereka mendukung anak mereka untuk belajar keperguruan

tinggi dengan memberikan fasilitas sebuah kendaraan dan perlengkapan kuliah. Lingkungan yang ia tinggali adalah lingkungan agamis karena ia berasal dari kota demak yang penuh dengan ke Islaman dan aturan keagamaan. Usep adalah sosok seorang pribadi yang penuh tanggung jawab dan berjiwa pemimpin dan mampu memberikan tausiyah dan pengajian di lingkungan kampus, sehingga di dalam melaksanakan kegiatan kemahasiswaan ia lakukan dengan berpolitik secara demokratis dan mengedepankan kepentingan umat, hal tersebut ditunjang dengan keikutsertaan dalam BEM UNNES dan Organisasi Ekstra di bidang keagaaman. Ekonomi keluarga usep adalah keluarga yang sederhana dan dia membiayai kuliah dengan mandiri dengan penuh kesabaran dan keuletan. Pendidikan orang tua adalah SMA sehingga kepentingan akan belajar diperhatikan dalam keluarga untuk itu usep dituntut untuk kuliah dengan serius dan lulus dengan predikat terbaik. Pekerjaan dari orang tua adalah swasta yang bekerja di instansi perusahaan swasta sehingga kehidupan mereka cukup dan sederhana. Fasilitas yang dimiliki oleh usep yaitu sekretariat organisasi dan pondok pesantren untuk berdakwah. Lingkungan usep adalah lingkungan yang agamis dan berbudaya keislaman sehingga di banyak berpedoman dalam melaksanakanan kegiatan dengan aturan keIslaman. Siswanto adalah mahasiswa yang mempunyai karakter seorang pemimpin yang nasionalis dan berjiwa besar dalam ikut serta dalam membela rakyat kecil yang merasa tertindas. Hal tersebut dilakukan dalam rangka membela kepentingan rakyat dengan

memimpin lembaga ekstra kemahasiswaan yaitu GMNI

(Gerakan

Mahasiswa Nasional Indonesia). Ekonomi keluarga ia adalah keluarga yang mampu dengan di fasilitasi orang tua dalam melakukan kegiatankegiatan kemahasiswaan di kampus sehinga ia dapat mengekspresikan kebebasan dengan leluasa tanpa memikirkan keadaan ekonomi. Pendidikan kedua orang tuanya adalah SMA sehingga tuntutan akan pendidikan diharapkan mampu menjadi seseorang yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, bangsa dan negara. Lingkungan yang di tempati adalah lingkungan kalangan para aktivis yang berkecimpung di daerah dengan mendirikan LSM maupun Partai sehingga ia banyak belajar dari keadaan tersebut. Hariyoto adalah sosok seorang mahasiswa dengan penuh idealis dan mempunyai indepedensi yang cukup bagus, hal tersebut dapat dibuktikan dengan keikutsertaan ia dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BP2M). Ekonomi keluarga hariyoto adalah ekonomi keluarga yang cukup dengan membiayai kuliah melalui sebuah tulisan lewat media-media. Pendidikan keluarga orang tua yaitu SMP sehingga tuntutan akan pendidikan tidak begitu diperhatikan oleh karena itu ia melakukan kuliah karena ia ingin harapan dan cita-cita untuk menjadi wartawan dapat ia raih. Pekerjaan orang tua hariyoto yaitu bekerja dibidang dagang atau toko sebagai penjual mapun pengecer bahan sembako di lingkungan pasar tradisional dengan berpenghasilan cukup. Lingkungan dia adalah lingkungan petani dan peternak sehingga dia dalam melaksanakan kegaitan masih sederhana dan dalam tahap belajar.

Dari hasil di atas dapat dilakukan penilaian terhadap individu dengan kajian teori kepribadian . kepribadian adalah susunan unsur atau akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan seseorang individu ( yang berada pada setiap individu ). Bahwa seseorang memiliki kepribadian ialah individu tersebut memiliki beberapa ciri watak yang diperlihatkan secara konsisten dan konsekuen, yang menyebabkan bahwa ia memiliki indentitas yang berbeda dari individu-individu lainnya. ( Koentjaranigrat ,1974 : 99). Sesuai dengan pengertian tersebut jelas bahawa individu seseorang ditentukan oleh watak maupun jiea yang dimiliki oleh indivisu masingmasing sehingga tingkah laku mereka dapat diartikan sebagai heterogen dalam perlakukan kegiatan maupun keinginan kegiatan.

2. Ingatan memori mereka terhadap realita politik yang terjadi sehingga mereka membawanya dalam aspirasi melalui wadah organisasi hal tersebut dibuktikan dengan hasil temuan data yang diperoleh oleh peneliti dilapangan melalui motivasi mereka mengikuti kegiatan kemahasiswaan di kampus sehingga diperoleh data dari informan yaitu; Motivasi Wahyu ia ikut dalam organisasi lembaga kemahasiswaan ektra seperti KAMMI ( Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) yaitu ingin mencoba untuk mengasah ketajaman berfikir dalam politik, sehingga diharapkan mampu menjadi kader-kader pemimpin yang berguna bagi diri sendiri, agama, nusa dan bangsa. Memori yang mendorong wahyu ikut dalam

organisasi yaitu melihat kondisi temporal dan iraksional rakyat terhadap gejolak permasalahan krisis moneter dan sistem politik yang tidak kondusif dan dinamis sehingga ia melakukan dan ikut organisasi untuk memperjuangkan dan mengedepankan kepentingan aspirasi rakyat menuju perubahan yang positif. Motivasi Saeful Alim dalam melakukan kegiatan politik yaitu ingin menyampaikan visi dan misi yang mengarah kedewasaan demokrasi dalam politik sehingga aspirasi yang diperoleh dari rakyat dapat disampaikan kepada pemerintah maupun elit politik. Ingatan Saeful tentang motivasi dalam realita politik ketika melihat kondisi masyarakat yang mengalami kegelisahan tentang masalah krisis moneter dan krisis moral sehingga ia terdorong ikut dalam organisasi oleh karena itu saeful dituntut untuk mengawal rakyat untuk menyampaikan keinginan rakyat. Belajar berorganisasi untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman organisasi sebagai jalan untuk belajar hidup

bermasyarakat. Motivasi usep dalam melakukan kegiatan organisasi yaitu membawa gerbong yang meliputi gerbong mahasiswa, lembaga kemahasiswaa, gerbong birokrat dengan upaya untuk pemasangan dalam menjalankan politik di kampus oleh karena itu usep berharap dinamika politik di kampus sejalan dengan aspirasi mahasiswa dengan

memperhatikan kepentingan dan kebutuhan mahasiswa. Memori usep dalam menjalankan politik yaitu melihat kondisi rakyat yang tertindas seperti penyalahgunaan kekuasaan yang melibatkan rakyat menjadi sengsara dan aturan-aturan kebijakan yang merugikan masyarakat yang

dibuat oleh pemerintah. Usep belajar organisasi sebagai presser terhadap birokrat terhadap kebijakan yang tidak memihak pada rakyat maupun mahasiswa dan sebagai wujud kepedulian mahasiswa terhadap realita politik yang terjadi. Motivasi siswanto mengkuti kegiatan organisasi yaitu membela dan meangakomodir kepentingan mahasiswa atau rakyat dengan melakukan kegiatan politik yang berdasarkan aspirasi dan kebutuhan mahasiswa. Memori siswanto dalam realita politik yaitu melihat realita politik yang terjadi sekarang dengan sudut pandang dibidang krisis ekonomi dan moral terhadap mahasiswa dan rakyat yang mengalami proses kemunduran serta mengalami krisis kepemimpinan dalam melakukan pergerakan mahasiswa sebagai kekuatan gerakan rakyat. Belajar organisasi untuk menjalankan kepentingan dan aspirasi

mahasiswa dalam menentukan kebijakan dan aturan yang sesuai dengan aspirasi mahasiswa dan kebutuhan mahasiswa. Oleh karena itu mahasiswa dituntut untuk dapat memberikan kontribusi maupun solusi dalam penyelesaiaan masalah kehidupan politik maupun masalah yang lainnya. Motivasi hariyoto mengikuti kegiatan organisasi yaitu idealisme mahasiswa dalam melakukan kegiatan dan melakukan pembaharuan dilandaskan analisa kebutuhan mahasiswa dan rakyat. Memori dalam relita politik yang terjadi ketika melihat kondisi dan relita politik yang mengalami sebuah krisis ekonomi dan moral sehingga hariyoto memberikan pers rilis kepada birokrat sebagai wujud kepedulian mahasiswa terhadap kehidupan politik yang terjadi. Belajar berorganisasi

sebagai wahana untuk belajar memahami situasi dan kondisi realita kehidupan politik dengan menuangkan tulisan maupun ide kreatif sebagai langkah untuk menyampaikan aspirasi dan keprihatinan mahasiswa terhadap budaya politik. Dengan hasil tersebut dapat diperoleh sebuah argumen dengan teori yang dapat memeprkuat hasil penelitian oleh kareana itu teori digunakan sebagai kajian pertimbangan penelitian. Para ahli memandang ingatan sebagai hubungan antara pengalaman dengan masa lampau, hal ini menunjukan manusia mampu menerima, menyimpan, dan menimbulkan kembali pengalaman-pengalaman yang telah lampau, dan ingatan itu tidak hanya kemampuan untuk menyimpan apa yang telah pernah dialaminya saja, tetapi juga meliputi kemampuan untuk menerima, menyimpan, dan menimbulkan kembali ( Prof. DR. Bimo Walgito ; 1997 : 116) Dengan demikian maka skematis dapat dikemukakan bahwa ingatan itu mencakup kemampuan-kemampuan sebagai berikut : Masukan kembali (Learning) Menyimpan (Retention) Dari hal tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa ingatan merupakan kemampuan pasikis untuk memasukan (learning), Menyimpan ( Remembering) mengeluarkan

(retention), dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang lampau. Dengan demikian bahwa memori dari seorang informan dapat dijadikan sebagai motivasi mendorong mereka melakukan sesuatu atas kehendak dan realita yang terjadi pada waktu sekarang maupun yang sudah terjadi dimasa lampau sehingga ingatan sangat berperan dalam membangun individu untuk belajar dari mssa lampau sebagai evaluasi diri dalam peningkatan kepribadian seseorang.

3. Intitusi kegiatan yang dilakukan adalah organisasi yang sesuai dengan karakter dan keinginan aspirasi yang sejalan dengan ideologi mereka. Berdasarkan data yang diperoleh dilapangan yaitu; Intitusi yang Wahyu ikuti adalah lembaga kemahasiswaan ekstra seperti KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), lembaga dakwah di kampus serta lembaga kemahasiswaan intra seperti HIMA EKONOMI ( Himpunan Mahasiswa Ekonomi). Orientasi bidang kegiatan yang dikuti oleh wahyu yaitu bidang keagamaan dan dakwah sebagai jalan menjalankan sebuah harapan dan cita-cita yang dingginkan olehnya. Intitusi yang diikuti saeful meliputi lembaga kemahasiswaan intra kampus seperti HIMA BK (Himpunan Mahasiswa Bimbingan Konseling), BEM FIP (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan), BEMU (Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas), IPPNU ( Ikatan Pemuda-Pemudi Nadlatul Ulama), maupun kegiatan keagamaan di pondok pesantren

seperti pengajian, dakwah, dan tadarus. Orientasi yang sering dilakukan dalam organisasi adalah bidang keagamaan dan demokrasi politik di kampus. Intitusi yang diikuti oleh usep meliputi lembaga mahasiswa intra seperti HIMA KIMIA ( Himpunan Mahasiswa Kimia ), BEMU (Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas), lembaga mahasiswa ektra seperti KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), Lembaga dakwah kampus dan kegiatan LSM Qolbu Salim. Orientasi kegiatan yang dilakukan meliputi bidang keagamaan, dakwah, politik, social dan pendidikan oleh karena itu kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan berdasarkan situasi dan kondisi tempat yang digunakan daam melakukan kegiatan. Intitusi yang diikuti oleh siwanto meliputi lembaga

kemahasiwaan ekstra yang bergerak untuk kepentingan mahasiswa dan rakyat yaitu GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) yang

berorientasi dibidang ekonomi, social dan budaya serta realita politik yang terjadi dengan mengedepankan kepentingkan aspirasi mahasiswa dan rakyat Intitusi yang diikuti oleh hariyoto adalah UKM BP2M (Unit Kegiatan Mahasiswa Badan Penerbitan Pers Mahasiswa), dan bekerja sebagai wartawan lepas harian kompas. Orinetasi yang dilakukan dibidang pencari informasi yang actual dan masih hangat untuk di perbincangkan dengan segala bentuk berita yang ilmiah, tajam, dan dapat dipercaya kebenarannya.. Melihat keterangan di atas di peroleh konsep tentang organisasi sebagai wadah untuk menyampiakan aspirasi dan pengembangan potensi

diri individu untuk berkembang menjadi jiwa yang mandiri dan dapat bersosialisasi dengan berbagai keadaan kondisi dan situasi lingkungan dimana mereka berada. Organisasi adalah sekumulan dua orang atau lebih yang terorganisir dan memiliki tujuan yang ingin dicapai bersama ( Artikel Amin Yusuf). Dengan demikian organisasi dapat menetukan kemana seseorang akan belajar ideology yang sesuai dengan karakter mereka yang inginkan. 4. Proses pembentukan karakteristik atau tempramen budaya politik terhadap informan dilakukan dalam proses pelaksanaan kegiatan aktivis untuk pengembangan poetnsi atau kemampuan indivisu dalam berpolitik sehingga hasil yang diharapkan mampu membawa aspirasi dan kepentingan yang dapat dikembangkan secara maksimal dan kegiatan dilakukan secara optimal. Hal tersebut diperoleh dari data lapangan yaitu; Budaya politik yang dingingkan oleh Wahyu di kampus adalah kebebasan untuk melakukan segala aktivitas kegiatan politik tanpa ada tekanan maupun paksaan dari pihak birokrat maupun pemerintah dalam melaksanakan kegiatan politik oleh karena itu harapan yang dingingkan agar terciptannya stabilitas politik yang dinamis dan mengarah

keperubahan yang positif. Proses yang dilakukan oleh wahyu yaitu dengan mengikuti kegiatan politik dengan berdakwah sebagai landasan menjalankan keingingan dan harapan dari aspirasi mahasiswa dan rakyat. Demokrasi politik kampus yang diingingkan oleh Saeful adalah kebebasan akademik, kebebasan dalam mengkritisi kebijakan dan

perubahan politik yang positif. Proses yang ia lakukan adalah dengan melakukan kesadaran dalam berpolitik sehingga mahasiswa dapat melakukan politik dengan sederhana dan dapat memposisikan mahasiswa sebagai agen perubah sesuai dengan harapan dan tujuan pendidikan. Budaya politik yang diinginkan Usep adalah dinamika politik yang dinamis dan menuju lembaga independen tanpa ada unsur presser pemerintah dalam melakukan kegiatan politik dan diharapkan rakyat sejahtera ,rakyat menikmati kemerdekaanya ,rakyat menikmati

kekayaanya, rakyat menikmati bumi pertiwi ,itu yang menjadi pekerjaan rumah mahasiswa, saatu saat ini rakyat tidak menikmati semua itu, karena terdapat manipulasi, dibohongi kalangan penguasa ,oleh orang orang yang saat ini masih mencokol dan menjadi pejabat korup di Indonesia . Salah satu yang dilakukan kita sebagai mahasiswa adalah belajar,

persiapan, selalu membiasakan diri bersih di berkondisi secara bersih sesuai dengan koridor yang ada ya rapi, bersih, tidak kolusi , tidak korupsi, tidak nepotisme dan sebagainya. Budaya politik yang

diharapkan oleh Siswanto yaitu kebebasan dalam melakukan kegiatan dengan memperoleh jaminan untuk tidak mendapat tekanan dari birokrat atau pemerintah dan memperhatikan kepentingan aspirasi dan kebutuhan mahasiswa. Proses yang dilakukan dengan mengadakan diskusi maupun jaringan pergerakan bersama untuk menjalankan persepsi dan tujuan bersama sebagai langkah untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan serta keutuhan mahasiswa dan rakyat.oleh karena itu siswanto menghendaki

adanya proses pergerakan mahasiswa yang mempunyai nilai dan burgening terhadap kebijakan dan keputusan yang dilakukan oleh pemerintah atau birokrat. Budaya politik yang dingingkan oleh hariyoto yaitu budaya politik yang bersih dari hal KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), dan mengaharapkan pemerintahan maupun birokrat yang mengedepankan kepentingan mahasiswa dan rakyat sebagai objek dalam melaksanakan pendidikan politik dengan baik. Proses yang dilakukan adalah dengan membrikan kontribuis tulisan maupun berita politik yang dapat dipahami dan dicerna oleh mahasiswa maupun masyarakat sebagai pembaca oleh karena itu ia melakukan dan mencari berita yang diharapkan mahasiswa atau rakyat mampu memahami keadaan realitas politik yang terjadi. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka wujud kepedulian mahasiswa akan nasib mahasiswa dan rakyat. Dari data di atas dapat diberikan pendapat tentang buday politik adalah pola tingkah laku individu dan orientasinya terhadap kehidupan politik yang dihayati oleh para anggota suatu sistem politik ( Dr. Rusadi Kanta Prawira). Dengan demikian budaya politik yang diharapkan di kampus adalah independent dalam melakukan segala pelaksaan kebijakan politik yang menyangkut tentang kekuasaan dan kewenangan dalam menjalankan politik kampus. 5. Pengaruh kekuasaan terhadap informan dari suatu kebijakan maupun keputusan adalah suatu posisi tawar aktivis terhadap lembaga dimana keterlibatan mereka diharapkan mampu memberikan kontribusi warna

dan solusi penyelesaian masalah, oleh karena itu pengaruh diperoleh dan diakui apabila aktivis mempunyai nilai dan power kontrol terhadap suatu keputusan maupun kebijakan yang dikeluarkan oleh para birokrat pemerintah maupun birokrat kampus. Dari data lapangan diperoleh analisis tentang kuasaan maupun power yang dimiliki oleh Wahyu digunakan untuk melakukan dan mengarahkan roda perubahan dinamika politik yang terjadi. Dalam pelaksanaan ia lakukan dengan tanggung jawab serta melakukan konsolidasi kepada mahasiswa dan masyarakat dalam melakukan maupun menjalankan amanah dari aspirasi mahasiswa dan rakyat. Kekuasan yang di peroleh oleh Saeful digunakan dalam menjalankan visi dan misi yang diharapkan sesuai dengan keinginan dan hasil konggres yang ditentukan secara demokrasi dalam sidang konggres mahasiswa tingkat fakultas maupun di tingkat universitas serta penentuan kebijakan dengan demokrasi dan kehendak mahasiswa. Dalam

melaksanakan kegiatan tersebut sesuai dengan karakteristik yang ia laksanakan mengacu pada kegaiatan-kegiatan yang ia lakukan

sebelumnya. Kekuasaaan yang diperoleh oleh usep digunakan untuk mempertahankan kekuasaaan karena politik adalah kekuasaan sehingga kekuasaan adalah untuk mempertahankan posisi atau jabatan di dalam politik untuk menjalankan maupun mempreser kepentingan kepada pemerintah atau birokrat. Dalam melaksanakan kegiatan ia

mempergunakan hak dan kewajiban dalam berorganisasi secara demokratis dan terpimpin dengan satu tujuan kepentingan bersama atau

umat tanpa membedakan perbedaan yang ada serta memntingkan kebenaran untuk aspirasi mahasiswa maupun rakyat. Kekuasaan yang diperoleh siswanto dipergunakan untuk menjalan visi dan misi aspirasi mahasiswa dan rakyat dengan melibatkan diri dalam kancah politik sehingga dapat mengikuti perkembangan politik yang terjadi. Dalam melakukan dan majalankan visi ia melakukan serangkaian kegiatan yang bertahap dan terkoordinir sesuai dengan perioritas kebutuhan yang mendesak sebagai agenda jangka pendek dengan mempertimbangkan agenda jangka panjang, asas demokrasi sebagai pilar dalam melakukan kegiatan digunakan sebagai penyelesaiaan masalah yang terjadi perbedaan pendapat maupun aspirasi. Kekuasaan yang diperoleh hariyoto dipergunakan untuk mengkritisi kebijakan maupun keputusan yang dilakukan oleh penguasa yang tidak memihak pada mahasiswa maupun rakyat melalui media pers sebagai kritik dan saran akan aspirasi mahasiswa dan nasib rakyat dikarenakan mahasiswa berbicara untuk rakyat dan kemabali ke rakyat. Dalam melakukan kegiatan pers ia memperhatikan idealime dan independensi serta kebenaran yang sesuai dengan realita yang ada, dan menggunakan lobi yang baik serta memakai tulisan yang ilmiah dan rasional sehingga mudah untuk dipahamai dan dicerna. Idealisme hariyoto digunakan sebagai langkah untuk kenetralan dalam memihak suatu permasalah mapun berita yang hangat untuk diperbincangkan.

Dari keterangan di atas diperoleh pendapat tentang teori keuasaan yang berhubungan dengan masalah politik yang terjadi sekarang ini, menurut Max Waber mengatakan kekuasaan adalah kesempatan seseorang atau kelompok orang untuk menyadarkan masyarakat akan kemauan-kemauan sendiri, sekaligus menerapkan terhadap tindakantindakan perlawanan dari orang atau golongan tertentu. Hak milik dan kedudukan adalah sumber keuasaan sehingga birokrasi merupakan sumber keuasaan disamping kemampuan khusus di bidang ilmu pengetahuan yang tertentu ataupun atas dasar peraturan-peraturan hokum tertentu ( Prof. Dr. Soerjono Soekanto, SH.MA: 2002 :265) Dengan demikian bahwa kekuasaan digunakan sebagai langkah untuk menetukan strategi dalam mempengaruhi dan menjalankan kehendak demi kepentigan pribadi maupun kepentingan golongan atau kepentingan umat sehingga kekuasaan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan berjalannya suatu roda kehidupan dalam berorganisasi maupun bernegara.

6. Realitas yang diperoleh dari aktivis adalah terbentuknya individu dengan karakter leadership, kritis, solutif, aktif dan mampu mengawal dan membawa aspirasi rakyat untuk kepentingan bersama mapun umat. Berdasarkan data diperoleh hasil yaitu : wahyu mendapatkan

keterampilan dalam beroganisasi, kecakapan dalam memimpin, berfikir secara religius dan rasional. Hal tersebut dilakukan untuk membangun

pribadi yang sesuai dengan ajaran agama islam dalam menjalankan aktivitas dakwah maupun politik dengan memperhatikan kepentingan demokrasi. Hasil dari kegiatan yang ia lakukan dapat membimbing saeful untuk berfikir kritis, rasional, dan mandiri dalam melaksanakan kegiatan dengan keahlian yang ia peroleh dalam melaksanakan kegiatan organisasi, dapat membaca situasi dan kondisi realita kehidupan mahasiswa di kampus maupun di masyarakat. Hasil kegiatan yang dilakukan oleh usep adalah memberikan kontribusi kepada masyarakat akan arti penting politik sebagai akses untuk menjalankan sebuah kekuasaan dan penentuan kebijakan. Memahami situasi dan kondisi realitas masyarakat akan kebutuhan mereka karena mahasiswa adalah rakyat dan untuk rakyat serta kembali ke rakyat. Hasil kegiatan yang ikuti oleh siswanto meliputi aktif dalam organisasi mahasiswa ektra yaitu GMNI (gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) serta LSM GRANAT (Gerakan Anti Narkoba), memberikan kontribusi pemikiran yang rasional dan ilmiah dalam memberikan sebuah solusi dalam penyelesaian masalah yang dihadapi, serta tidak meninggalkan demokrasi untuk kepentingan bersama. Hasil dari kegiatan yaitu memberikan sebuah hasil karya tulisan yang ilmiah, rasional dan dipahami oleh semua pihak, memberikan kontribusi akan arti pentinggnya berita dalam memahami realita kehidupan politik yang terjadi, serta dapat memberikan sebuah penghasilan melalui tulisan sebagai matapencaharian dalam mencukupi kehidupan sehari-hari.

Dari data diperoleh pendapat tentang teori pembelajaran sebagai proses penetuan akhir atau hasil maupun out put kegiatan. Belajar adalah berubah, belajar berarti usaha mengubah tingkah laku atau belajar sebagai rangkaian jiwa raga, psikofisik untuk menuju keperkembangan pribadi manusia seutuhnya yang berarti menyangkut cipta, rasa, karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pengertian mengajar adalah sebagai kegiatan mengorganisasi proses belajar. Skema Proses pengajaran ; Intrumental input

Raw Input / masukan

Proses pengajaran

Hasil langsung

Hasil akhir/ out put

Lingkungan Dari bagan di atas dapat diperoleh keterangan bahwa pembelajaran adalah proses pengajaran, merupakan proses interakasi antara unsur raw input (siswa Subjek Belajar), instrumental input (tenaga, fasilitas, kurikulum, sistem adminitrasi) dan pengaruh lingkungan dengan menghasilkan tingkah laku sesuai dengan materi atau bahan yang dipelajarinya dengan hasil akhir perubahan cognitive, afektif,

psikomotorik ( Sardiman AM: 1997: 48). Dengan demikian hasil dari proses pembelajaran adalah perubahan perilaku individu sesuai dengan materi atau bahan yang diperoleh dari proses belajar mengajar.

BAB V

PENUTUP

KESIMPULAN Budaya ilmu politik di Indonesia yaitu bahwa politik sesungguhnya sangat dekat dengan kajian budaya, bahkan bisa lebih dekat ketimbang dengan ilmu politik sendiri. Sejarah perkembangan kajian budaya adalah sejarah perlawanan terhadap dominasi atau kekuasaan sebuah tradisi ilmu pengetahuan. Kajian budaya muncul dari pemikiran–pemikiran sekelompok orang yang menyakini bahwa bangun teori adalah sebuah praktek politik sehari–hari manusia . a. Budaya politik kampus Budaya politik kampus diantaranya dilakukan dan diperoleh dari sebuah pemikiran–pemikiran mahasiswa yang ingin tahu perkembangan politik yang terjadi. Oleh karena itu mahasiswa sebagai social change harus mampu memberikan sebuah perubahan dan berperan dalam proses penentuan sebuah kebijakan yang dilakukan oleh birokrat pemerintahan dan sekaligus mampu mengkontrol sebuah perjalan sistem politik yang sesuai dengan kontitusi yang berlaku. Dengan demikian peran mahasiswa dalam berpolitik sangat diperlukan demi tercapainya demokrasi dan reformasi dalam membangun sebuah negara yang adil, aman dan tentram.

b. Aspirasi Mahasiswa Aspiarasi mahasiswa terhadap kehidupan politik adalah mewujudkan budaya politik yang bebas dan bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme yang sudah menjadi akar budaya bangsa Indonesia. Oleh karena itu mahasiswa di tuntut untuk mengawal dan memberikan perubahan yang positif dalam mengedepankan kepentingan rakyat dengan berfikir rasional dan ilmiah dalam mewujudkan sebuah negara yang bersih dan bebas dari kegiatan politik praktis. Diberikan kebebasan untuk berpolitik tanpa adanya suatu bentuk intimidasi dalam melakukan politik sehingga mahasiswa dapat

berkembang dalam kedewasaan berpolitik sesuai dengan tuntutan dan harapan rakyat. Hal tersebut dapat dilaksanakan apabila kerjasama dari berbagai elemen untuk menjalankan politik sesuai dengan aturan dan wewenang yang sudah berlaku dan ada dalam peruturan-peraturan kehidupan berpolitik negara sebagai acuan dalam melakukan kegiatan politik. Pelaksanaan kegiatan politik di UNNES masih sederhana dan masih memerlukan proses panjang dalam membentuk budaya kehidupan politik yang dinamis, bebas dan bersih dari KKN, sehingga diperlukan sebuah kesadaran tentang pentinggnya pendidikan politik bagi mahasiswa, untuk itu kita perlu kerjasama dalam mewujudkan kehidupan politik yang sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang sudah ada dalam kehidupan berpolitik negara.

Mahasiswa adalah harapan besar untuk melakukan perubahan dalam mewujudkan aspirasi rakyat oleh karena itu mahasiswa melakukan peningkatan potensi intelektual, melakukan evaluasi, mengarahkan masyarakat, melakukan kontrol terhadap pelaksanaan kebijakan,

memberikan wacana dan warna dalam politik, serta memposisikan negara sebagai alat keadilan dan persatuan. Mahasiswa sebagai angkatan intelektual bertanggung jawab memberikan gagasan ide yang rasional dan ilmiah dalam memberikan sebuah solusi dari permasalahan untuk itu mahasiswa mempunyai harapan melakukan perubahan gerakan, perubahan fisik dan non fisik, melakukan kebebasan berpolitik dan demokrasi, dan berkiprah secara maksimal dalam demokrasi dengan berfikir rasional dan ilmiah.

c. Implikasi pergerakan mahasiswa Harapan dari pergerakan mahasiswa adalah memberikan aspirasi dan pewarnaan dinamika politik dalam melakukan kebebasan menyampaikan aspirasi dan kebebasan dalam mengkritisi kebijakan serta menajadikan lembaga yang bersih dan independent. Mahasiswa sebagai penghubung rakyat dengan menyuarakan aspirasi rakyat maupun kepentingan rakyat sesuai dengan harapan dan keinginan rakyat, oleh karena itu kehendak yang dilakukan mahasiswa yaitu mengedepankan dan memperjuangkan perubahan yang positif dan memberikan sebuah kesatuan dan persatuan dalam kehidupan berpolitik sehingga rakyat mendapat perhatian yang layak dari para elit politik maupun pemerintah. Gerakan politik yang dilakukan mahasiswa adalah gerakan nilai yang memiliki agenda yang disesuaikan dengan realitas aspiarsi mahasiswa dan rakyat. Apabila hal tersebut tidak tercapai maka mahasiswa melakukan serangkaian kegiatan kritisasi kebijakan serta melakukan aksi pengerahan masa turun ke jalan sebagai wujud kepedulian mahasiswa terhadap perjalanan pemerintahan serta kepedulihan terhadap rakyat kecil.

d. faktor penghambat Faktor penghambat dari kegiatan para aktivis meliputi dengan memperketat absensi sehingga mahasiswa dituntut hadir setiap ada perkuliahan , untuk itu aktivis mahasiswa dituntut kreatif dalam menyikapi hal tersebut , kemudian adanya peraturan harus hadir tujuh lima persen untuk mengikuti kuliah maka aktivis dapat menggunakan kesempatan itu untuk mengekspresikan aspiarsinya. Kontrak kuliah antara pihak kampus dengan mahasiswa yaitu kontrak kelulusan dengan tepat waktu dengan aturan lulus delapan semester sehingga para aktivis harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kontrak kuliah tersebut sehingga dalam perjalanan kuliah tidak terjadi keterlambatan untuk lulus.

e. Sisi lain penelitian pembahasan analisis tentang asal maupun latar belakang informan terhadap politik atau kekuasaan yang akan digunakan sebagai power of control indivisu dalam pelaksanaan kegiatan yang dilakukan. Bahwa budaya politik yang terjadi di UNNES dapat dilihat dari hasil penelitian sebagai berikut : 1. Perbedaan antara individu informan satu dengan yang lain dipengaruhi oleh latar belakang mereka dalam mengikuti kegiatan organisasi yang ia ikuti. 2. Ingatan memori mereka terhadap realita politik yang terjadi sehingga mereka membawanya dalam aspirasi melalui wadah organisasi

3. Intitusi kegiatan yang dilakukan adalah organisasi yang sesuai dengan karakter dan keinginan aspirasi yang sejalan dengan ideologi mereka. 4. Proses pembentukan karakteristik atau tempramen budaya politik terhadap informan dilakukan dalam proses pelaksanaan kegiatan aktivis untuk pengembangan poetnsi atau kemampuan indivisu dalam berpolitik sehingga hasil yang diharapkan mampu membawa aspirasi dan kepentingan yang dapat dikembangkan secara maksimal dan kegiatan dilakukan secara optimal. 5. Pengaruh kekuasaan terhadap informan dari suatu kebijakan maupun keputusan adalah suatu posisi tawar aktivis terhadap lembaga dimana keterlibatan mereka diharapkan mampu memberikan kontribusi warna dan solusi penyelesaian masalah, oleh karena itu pengaruh diperoleh dan diakui apabila aktivis mempunyai nilai dan power kontrol terhadap suatu keputusan maupun kebijakan yang dikeluarkan oleh para birokrat pemerintah maupun birokrat kampus. 6. Realitas yang diperoleh dari aktivis adalah terbentuknya individu dengan karakter leadership, kritis, solutif, aktif dan mampu mengawal dan membawa aspirasi rakyat untuk kepentingan bersama mapun umat.

SARAN Pelaksanaan demokrasi maupun politik di kampus harusnya disesuaikan dengan kontitusi konggres mahasiswa sehingga pelaksaan kegiatan

mahasiswa dapat maksimal dan optimal dengan selalu mengadakan evaluasi dan perbaikan peraturan maupun kontitusi yang sudah ada. Aspirasi mahasiswa di UNNES masih sederhana dan perlu adanya pengembangan lebih lanjut dengan menggunakan sistem kesadaran individu tentang pentingnya politik dalam kehidupan sehari-hari serta peneyelenggaraan pendidikan politik di kampus harus ditingkatkan. Pelaksanaan pergerakan mahasiswa perlu adanya rekontruksi kembali apa dan bagaimana tujuan yang harus dicapai dalam melaksanakan agenda reformasi dengan cara mensosialisasikan dan mengadakan kontrol terhadap perjalanan politik negara. Lembaga mahasiswa sebagai wadah kegiatan mahasiswa harus dipertahankan dari netralitas dan independesi dalam melakukan politik sehingga mahasiswa sebagai pengawal rakyat dapat menyampaikan aspirasi dengan baik oleh karena itu lembaga mahasiswa harus dapat memilah, menilai dan mengembangkan isu-isu politik yang sedang terjadi. Faktor penghambat dalam kegiatan berpolitik di UNNES masih belum berpengaruh dalam kegiatan maupun pelaksanaan politik kampus sehingga mahasiswa dapat melakukan kegiatan politik dengan bebas sesuai dengan aspirasi yang dibawanya oleh karena itu antara pihak eleman politik kampus harus bekerjasama. Mengajak segenap civitas akademika UNNES dan warga UNNES seluruhnya untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan dan masa depan kampus UNNES tercinta

DAFTAR PUSTAKA Amalinda Savirani , 2003. Artikel Kajian Budaya politik Akhi Masrawi , 2003. Artikel Gerakan mahasiswa dan demokrasi Indonesia. Koentjaraningrat: 1974 , Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, PT. Gramedia. Jakarta . Ihromi.T.O : 1986 , Pokok – pokok Antropologi Budaya : YOI – FIS Universitas Indonesia , Jakarta. Ag. Eka. W.W 2004, 2004. Artikel Politisasi, ekonomisasi, dan dunia sedang berubah . Rahman, M. Fadjroel : 2003 , artikel Pelopor dan Pengawal Refolusi Demokrasi : gerkan mahsiswa sebagi gerakan politik nilai . Djojodibroto, Darmanto. 2004, Tradisi Kehidupan Akademik, yogyakta, galang press. Kantaprawira, Rusadi. 2002, Sistem Politik Indonesia, Bandung, Sinar baru Algensindo. Jean I. Cohen dan Andrew Arato, Andre Gors, Ernes Gellner, Alfred Stepan, 2002. terj Tilaar, Prof. Dr. H.A.R. 1999. Pendidikan kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia: Strategi reformasi pendidikan nasional. PT Remaja Rosdakarya Offset, Bandung. Culla, Adi Suryadi , 2002, Masyarakat Madani; pemikiran, teori dan relevansinya dengan cita-cita reformasi. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. Prof.Dr Sartono Kartodirejo , 1988. Kebebasan Mimbar Akademik. YOI. Jakarta. Melayu Hasibuan, 1996. Terj Tom Bottomore. 1992. Sosiologi politik. Jakarta , Penerbit Rineka Cipta. Culla, Adi Suryadi , 1999, Patah Tumbuh Tulang Berganti; Sketsa Pergolakan Mahasiswa Dalam Politik dan Sejarahnya Indonesia ( 1908 –1998). PT. Raja Garfindo Persada, Jakarta. Hariman Siregar, 1998. "Gerakan Mahasiswa, Pilar Ke-5 Demokrasi. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Prihatiyani, Eny : 2004, artikel Sistem Pendidikan dan Politik Mahasiswa.

Arikunto, 1998. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta . PT Gramedia Pustaka utama Moleong, lexy j. 1997. Metodologi Penelitian Kualitatif, Jakarta ; Roesdakarya. Yin, Robert K. 2003. Studi kasus desain Dan metode . PT Raja Grafindo persada. Jakarta Mulyanan, Deddy. 2001, Metodologi Penelitian Kualitatif : paradigma baru ilmu komunikasi dan ilmu sosial lainnya, Bandung , Remaja Roesdakarya. Miles, Matthew B. Huberman, a, Michael, 1992 : Analisis data Kualitatif : Buku sumber tentang metode- metode baru ( terj : Tjejep Rohendi Rohidi ). Jakarta : Ui Pres. Prof.Dr. Koentjaraningrat: 1998 , Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, PT. Gramedia. Jakarta . Walgito, prof.Dr. Bimo. 1997. Pengantar Psikologi Umum. PT.Andi Yogyakarta, Yogyakarta. Soekanto, Prof.Dr. Soerjono. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta . Sardiman AM, 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Harsojo, Prof. 1971. Pengantar Antropologi . Putra Arbadin, Bandung. Edward Shils, penerjemah A Agus Nugroho, Etika Akademis, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1993. Tobing, Jakob. 2003 : Peralihan dan Sistem Politik , Suara Pembaharuan, Jakarta. Rahman, M. fadjroel : 2004 , artikel Kepemimpinan politik kaum muda dan revolusi demokrasi baru. Kusumah, Indra : 2004 , artikel Pencerahan Moral dan Politik Mahasiswa. Rahman, M.Fadjroel : 2003 , artikel He Third Way dan jalan baru. Budianta, Melani : 2003 , artikel Sastra dan kajian budaya,. A. Prasetyotoko, dkk, Gerakan mahasiswa dan demokrasi di indonesia. Bandung, penerbit YHDS

Budiarjo, Prof Miriam. 2003. Dasar-Dasar Ilmu politik. Jakarta. PT Gramedia Pustaka utama Dr. Hariyatmoko. 2003. Etika politik dan kekuasaan, Jakarta , kompas

HASIL PENELITIAN BUDAYA POLITIK KAMPUS STUDI KASUS TERHADAP AKTIVIS MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG I (satu) Nama Alamat : WAHYU TRIYUDA : SEKRETARIAT KAMMI UNNES JL. RAYA SEKARAN NO 12 Gunung Pati. Status : MAHASISWA/ KADEP KOSTRAT KAMMI AGUSTUS 2004

Hari/ Tgl/ Jam : RABU/

Pedoman wawancara ini disusun untuk mengungkap data tentang budaya politik kampus ( studi kasus terhadap aktivis mahasiswa di Universitas Negeri Semarang ).

1. Lingkup Budaya Politik a. Orientasi individu 1. Bagaimana keterlibatan anda dalam berpolitik di kampus ? Jawab : untuk sampai saat ini kalau ditanyakan tentang individu kebetulan keterlibatan saya berpolitik dikampus baru KAMMI, kemudian lembaga-lembaga lainnya saya terlibat di akltivitas dakwah, jadi di rohis fakultas kami organisasi politik yang asaskan dakwah .

2. Bagaimana cara anda melakukan penolakan politik di kampus ? Jawab : penolakan itu kita kaji sejauh mana nilai kemanfaatanya, kemandorotannya bagi mahasiswa secara umum apakah kebijakan itu memihak mahasiswa atau malah justru malah merugikan mahasiswa sekarang ini banyak sekali keuangan mungkin dari spp,bangunaan ,dan kegiatan mahasiswa. Komunikasi yang menjadi hambatan elemen mahasiswa.

3. Bagaimana anda melakukan penilaian terhadap politik di kampus ? Jawab : Sebagai gerakan mahasiswa yang saya geluti saat ini, gerakan ekstra untuk politik di kampus di unnes di bandingkan politik-politik yang lain misalnya UGM saat ini UNNES masih ketingalaan jauh terkait dengan mungkin pola peledakan, pola pemikiran, paradikma karena kita sering menonjolkan baju-baju individu kelompok. kita belum mencari suatu wadah untuk menggusung isu bersama, sekarang jangankan kualisi BEM mahasiswaatau ekstra dengan intra yang cendrung agak mengkotak-kotakkan gerakan. Untuk itu sebuah alamiah atau sebuah rekayasapolitik yang dilakukan seseorang. Sekarang ini yang kami lakukan adalah mengandeng gerakan-gerakan mahasiswa di ekstra. Kalau di ekstra nanti terjadi fitnah kita masih sering melakukan komunikasi.

2. Kehidupan Politik a. Sistem politik keseluruhan 1. Menurut pendapat anda bagaimana latar belakang sejarah UNNES dijadikan kampus milik golkar pada zaman orde barau ? Jawab : Sejarah IKKIP ke UNNES belum begitu paham ada asumsi di UNNES merupakaan kampus miniatur dari Orba. Kita belum mengecek sejauh mana opini itu betul apa tidak Cuma kita bisa rasakan bersama kalau ada pemikiran bersama mengajak semua elemen ekstra untuk merivisi kebijakaan tentang otonomi kampus karena konsepnya belum jelas, sampai sejauh mana keterbukaanya pada mahasiswa. 2. Bagaimana pendapat anda tentang sejarah politik kampus di UNNES ? Jawab : Untuk temen –temen aktivis dakwah kita lebih

mengedepankan dakwah sama satu terobosan yang bagus untuk politik dakwah sendiri untuk masuk dalam jenjang lembaga publik, harapan kami satuan mahasiswa atau rohis dapat memberikan pewarnaanpewarnaan terhadap politik di UNNES yang lebih baik kalau dulu

lebih cendrung tunduk pada birokrat-birokat UNNES, pejabat walikota, kita lebih condong menekankan pada suatu gerakaan mahasiswa yang independen, bersih norma-norma yang ada kita junjung bersama siapapun itu. 3. Apakah menurut anda lokasi berpengaruh terhadap kehidupan politik di kampus ? Jawab : Pengaruh sekali kalau dilihat dari kajian sosialisasinya kehidupan di UNNES terutama input mahasiswanya itu bisa dilihat dari ketidak kritisan mahasiswa tapi cenderung dilihat dari seberapa besar ketertarikan mahasiswa pada kegiatan mahasiswa itu salah satunya. Ketika diajak ke hal-hal yang bersifat ilmiah atau edukatif itu cenderung sedikit. kamu yang fungsionaris pasti lebih tahu. kemudian kalau ke hal-hal yang bersifat hedonis atau hura-hura itu bersifat akbar sekali. Perbandingan yang tidak sebanding sangat curam sekali perbedaanya itu mempengaruhi kondisi sosial politik di kampus sudah bisa di tebak, lain dengan UGM, UI, teman-teman UGM. Studi banding di UGM inputnya jelas berbeda dari sisi-sisi akademik, walaupun di sana yang menguasai bukan teman-teman kami, tapi pola pikir hampir sama dengan kebenaran universal itu yang kita kedepankan untuk kemaslahataan umat itu kita dukung seperti yang di BEM FIS saat ini calon dari kami gagal. Siapapun yang lebih mementingkan umat itu kita dukung ketik itu melanggar itu kita tolak. 4. Apakah menurut anda kekuasaan berpengaruh terhadap kebijakan dan keputusan politik di kampus ? Jawab : sangat berpengaruh karena kekuasaan merupakan simbol dan mempunyai kekuataan riel dari elemen–elemen yang mendukungnya, Kalau misalkan tanpa kekuasaan bukan merupakan gila kekuasaan tapi merupakan sarana dalam islam disebut amar ma’ruf nahi mungkar itu sarana untuk berdakwah, lewat itu ketika ada yang lainnya dalam sebuah perebutan lomba politik itu kita tawarkan sisi itu. seperti halnya yang dilakukan aktivis ketika mereka masuk dalam kekuasaan tidak

mutlak dari KAMI contoh halnya untuk penggabungan elemen yang satu orientasi satu pemikiran pemahaman kita bisa jalan bersama yang kita gandeng. Jadi kekuasaan itu mutlak untuk mengarahkan roda perubahan minimal di kampus kita karena kalau kita mengikuti reformasi yang berjalan secara normal kalau itu dipegang oleh orang yang sama atau seperti orde barau jelas lain ceritanyya, makanya ada istilah jangan titipkan reformasi . 5. Bagaimana pendapat anda tentang aturan kampus ? Jawab : Lembaga ekstra sampai saat ini mungkin bukan hanya di unnes seluruhnya ruang gerak di batasi mulai pengunaan fasilitas gedung dan lain-lain yang sangat dirasakan adalah pengunaan fasilitas gedung kalau mengusung independent Cuma keterbatasan mahasiswa kita punya hak mengunakan fasilitas itu Cuma yang tidak piker sampai pemasangan spanduk, pamlet dan demo ekspo bersama sampai dipermasalahkan karena stepmen dari pimpinan rektor masuknya elemen-elemen ekstra itu menghilangkan ekstra lembaga itu sendiri justru lembaga intral merupakan sebuah wadah untuk konsulidasi gerakan mahasiswa disitulah wadahnya. kebijakan-kebijakan yang yang sampai saat ini dirasakan isu yang mereka goreskan adalah dikotomi antara ekstra dan intara itulah yang biasa terhadap pola pengembangaan secara umum . 6. Bagaimana anda menjalankan wewenang politik di kampus ? Jawab : wewenang lembaga ekstra kalau memang kebijakan tidak masuk dalam sistem kita memegang hak kita mempunyai peran power kontrol sselagi kebijakan itu berpihak pada mahasiswa kita adakan komunikasi kalau tidak kita bisa melakukan riset-riset biokrat baik itu dosen maupun mahasiswa . 7. Apakah menurut anda negara berpengaruh terhadap kehidupan pilitik di kampus ? kehidupan politik di

Jawab : Pengaruh sekali karena dulu pada Orde Baru ada NHKBKK(yaitu gerakan mahasiswa yang Orde Lama . Dikembalikan sitasnya ke kampus dimana pemikiran nya berpengaruh pada kehidupan saat ini kemudian NKKBK di cabut sistim di ubahnya senat mahasiswa di ganti bem saat ini itu ada analisis yang mengarahkan kalau dulu senat lebih cendrung kritis tapi kalAu BEM lebih cendrung bagaimana mahasiswa di sibukkan dengan kegiatankegiatan berantai berarti sehinga melupakan kebijakan yang itu kalau kita kritis .tapi kalau kita ambil manfaatnya BEM dapat dijadikan sebuah wadah konsolidasi gerakan mahasiswa itu dari segi positifnya dari segi negatif lebih cendrung sibuk pada kegiatan-kegiatan sehinga melupakan agenda-agenda nasional yang seharusnya menjadi amanat mereka sebagai amanat masyarakat mahluk intelektual untuk menyuarakan aspirasi masyarakat itu sendiri . b. Proses input 1. Bagaimana anda menjalankan tuntutan politik di kampus ? Jawab : Unsuk input tentang politik nol karena studi di ekonomi tapi dulu di SMA saya senang dengan pelajaran tata negara jadi ada kecenderungan kesana. Kemarin pada waktu SPMB permintaan di ekonomi hanya itu yang saya arahkan ke KAMMI yang ada sendisendi politiknya tidak politik masjid dan nilai lebih di KAMMI nilai politknya sama sajalah, wawancara semacam ini menjadi bekal saya untuk mengasah ketajaman politik itu sendiri. 2. Bagaimana anda melakukan pengamatan kehidupan politik di kampus ? Jawab : Pengamatan kehidupan politik kampus biasanya kita terlibat di kepanitiaan dan setidaknya lebih tahu persis apa yang ada di kondisi diperpolitikan kampus sampai pada pemilu kita juga mengamati sampai di situ yang setidaknya punya masukan lebih bagaiman sosiolisai masyarakat seperti ini ,kemudian kultur masyarakat seperti ini kemudian ada penilian-penilian dan mungkin suatu pemeriksa cita-

cita ke depan ingin merangkul seluruh elemen yang ada terutama yang muslim walaupun tidak menutup yang non muslim lebih

mengedepankan itu .Kondisinya semoga punya harapan bersama atau masih ada harapan untuk bersatu.

3.

Apakah anda ikut dalam kegiatan partai politik ? jelaskan sejauh mana anda terlibat ? Jawab : Secara pribadi sebagai mahasiswa kita juga punya hak politik sebagai warga negara saya wajib menyalurkan aspirasi politik saya di rumah saya tergabung di temen-temen IKA SEJAHTERA jadi kalau banyak yang mengisukan IKA SEJAHTERA aktivitas secara

structural mamang tidak kita dilahirkan dalam lingkungan aktivitas dakwah lingkup tarbiyah itu walaupun beda gerakan di sini masuk gerakan mahasiswa walaupun pada suatu saat kami akan mengoreksi pimpinan IKA SEJAHTERA walaupun aktivis kami, aktivis kita masih muda, masih-masih awal jadi kita tidak bisa memisahkan, tapi secara idialisme harus dipisahkan, temen-temen di unnes ini dulun kita mengusung “cultur education “(pendidikan multi masyarakat) ketika pemilu itu dipusingkan banyak kader yang ikut kampanye juga, kontra disitu banyak idialisme sendiri. 4. Apakah menurut anda ada kelompok kepentingan dalam politik di kampus ? sebutkan dan jelaskan ? Jawab : walaupun secara eksplisit tidak tapi yang jelas seseorang punya kepentingan politik kalau kami temen-temen bagaimana kita lembaga-lembaga intra ini, lembaga-lembaga ekstra ini sebagai motor dakwah amar ma’ruf nahi mungkar tidak untuk kekuasaan atau apa tapi yang jelas untuk kepentingan dakwah yang lainnya tidak tahu.

5.

Apakah menurut anda penggunaan alat kominikasi dalam politik sangat di perlukan ? jelaskan dan beri contoh ? Jawab : Kaau komunikasi seperti alat-alat modern sampai saat ini di unnes belum begitu di butuhkan tapi untuk akses kedepan seperti akses keluar dengan mahasiswa yang lain itu butuh karena kita keterbatasan jangkauan kalu kita lingkup di unnes kita hanya butuh silaturrohmi politik secara personal itu yang menumbuhkan kondisi politik yang kondusif.

c. Proses out put 1. Bagaimana anda menjalankan perundang-undangan politik di kampus ? Jawab : Kalau menjalani undang-undang yang saya tahu karena saya tidak masuk dalam lembaga intra, maaf tidak bisa memberikan jawaban, maaf pelakunya bukan saya kalau sekedar mengawasi kalau kalau kita sebagai mahasiswa sebagai rakyat hanya bisa mengontrol hasil kebijakaan mereka kaya apa . 2. Bagaimana pendapat anda tentang badan legislative dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab : Kalau dilingkup unnes badan legeslatif masih mandul,kalau dulu badan legeslatif lebih tajam dari pada eksekutif harapan ke depan badan legeslatif menempatkan diri pada fungsinya karena kemarin ikut konggres KMU itu juga memposisikan DPR sebagaimana fungsinya sebagai kontrol , sebagai pengawas dan sebagainya itu berfungsi secara optimal ,kan sekarang badan legeslatif di unnes ke pontal-pontal mengikuti gerakan dari eksekutif tapi bukan hanya eksekutif saja yang di kontrol tapi juga kebijakaan universitas yang harus di suarakan 3. Bagaimana pendapat anda tentang badan eksekutif dalam kehidupan politik di kampus ?

Jawab : Dikampus eksekutif ada 3 jajaran, jurusan sebagaimana menguasai massa secara pasif bagaimana ia menyurakaan,

mengapdikan dirinaya bagaimana layaknya pemerintahan eksekutif pada masa riel kemudian di fakultas harus bisa menempatkan ,menagani temen –temen eksekutif walaupun di jajaran jurusan setidaknya ada pembagian tugas ..semacam ini masih ada kerancuan walaupun secara structural berbeda tapi secara fungsional masih tetap sama harapan besuk adalah perubahan di universitas bisa lebih keluar kampus ,fungsinya sebagai mahasiswa lebih berfungsi ketimbang dia hanya keluar hanya di intra kampus tapi ia mandul.

4. Bagaimana pendapat anda tentang badan peradilan dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab : Badan peradilan yang mengatasi politik kampus ,nantinya itu bisa di fungsikan ketika ada konflik-konflik yang terjadi baik itu sesama lembaga mahasiswa ataupun dengan birokarasi kampus nantinya juga yang memutuskan ataupun seluruh itu tentang hal-hal yang sebagai penengah karena jalur birokrasi kemudian hubungan structural itu menjadikan kita tidak independent dalam memutuskan sesuatu .bukan lembaga pengadilan tetapi fungsinya sebagai penengah konflik atau sebagai wacana kedepan. d. Diri sendiri 1. Bagaimana anda menggunakan hak politik di kampus ? Jawab : Hak politik di kampus hanya sebatas pemilu itu yang saya rasakan karena saya tidak terjun langsung ke politik praktis dalam sebuah lembaga intra jadi yang bisa dirasakan hanya sebatas suara pemilu kemudian kalau pemilu dalam artian yang has kita juga berhak untuk mengadakan kegiatan dalam artian kita puya hak dan kewajiban itu sudah bayar spp . kemudian saran akemahasiswaan harusnya kegiatan mahasiswa menyuarakan suara mahasiswa itu sendiri .

2.

Bagaimana anda melakukan kewajiban politik di kampus ? Jawab : Kewajiban sampai saat ini yang saya rasakan terkait dengan amanah yang ada hanya menyampaikan terkait dengan isu-isu yang ada bik itu isu nasional maupun kedaerahan kepada mahasiswa secara umum kkita melakukan visi kita ,melakukan pendidikan politik di kampus ini tidak lebih dari itu untuk memotivasi temen –temen dari intra

3. Pendidikan politik a. Penyelengaraan. 1. Menurut anda bahan bacaan apa yang dapat mendorong menjadi aktivis mahasiswa dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab : Banyak yang menjalani kehidupan politikterutama kehidupan di KAMMI pda dakwah terutama yang saya baca bukunya pak Andi Rahmat terkat dengan judulnya gerakan perlawanan dari mahasiswa di kampus itu mengisahkan bagaimana gerakan KAMMIdiera-era tahun 1998 yang jadi inspirasi dan jatuh cinta KAMMI selamanya . semester dua itu saya mendapat mata kuliah sosiologi politik , ekonomi ada mata kuliah sosiologi politik ekonomi justru saya memperbanyak buku itu ketimbang ekonominya ,ekonomi bukunya mahal-mahal .dasar – dasar ilmu politik yang lainnya ilmu politik secara kapasitas atau ilmu politik islam . 2. Menurut anda publikasi massa tersebut sangat penting bagi kehidupan politik di kampus ? jelaskan ? Jawab : Media merupakan salah satu alat untuk melakukan komunikasi politik terhadap politik sanat berpengaruh

masa secara umum bukan hanya kiya yang mengkonsumsi tapi temen –teman secara umum bisa mengkonsumsi secara sangat efektif 3. Menurut anda apakah media visual digunakan dalam pengembangan dan penyelenggaraan pendidikan politik di kampus ? Jawab : Lebih ketulisanya ,tpi untuk fisiknya dilihat dari fungsi lembaga fisual untuk lingkup UNNES kita lihat seberapa banyak mereka yang mendengarkan juga walaupun juga tidak ditutup kemungkinan bisa bermanfaaattapi kapasitas lebih besar dan cendrung pada kapasitas fisualnya.

4. Menurut anda siapa saja yang menyelenggarakan pendidikan politik ? Jawab : banyak yang memberikan pandangan politik di kampus sebagai kondisi dikampus itu secara dinamis , bergejolak dan harapanya itu tidak sampai kebablasen walaupun itu dilakukan dengan norma –norma yang ada tanpa harus melangar peraturan apapun bisa dilakukan dan banyak yang dilawan . 5. Menurut anda apakah lembaga masyarakat terlibat dalam

penyelengaraan pendidikan politik ? jelaskan ? Jawab : Lembaga ormas sampai saat ini ormas belum ormas bukan karena mahaisiwa tapi dilihat dari perjalananya itu mahasiswa,harapan agar masyarakat sekitar bisa memberikan pendidikan politik terhadap mahasiswa walaupun ada timbal balik antara masyarakat ke mahasiswa atau mahasiswa ke masyarakat menjadi suatu yang jelas dan lebih bagus tapi untuk saat ini kondisi masyarakat sekitar belum mengarah kesana 6. Menurut anda apakah lembaga formal terlibat dalam penyelengaraan pendidikan politik ? jelasakan ?

Jawab : Untuk yang saya rasakan kemari itu wacana wacana dari pemimpin rektorat kemudian fakultas mewacanakan bagaimana pemilu kemudian berorganisasi lembaga lembaga instal itu tepat waktunya . itu juga salah satu bagian kehidupan berpolitik untuk tetap sesuai dengan jalur yang ada (sentrarlistik)jadi disitu . 7. Menurut anda apakah lembaga non formal terlibat dalam

penyelengaraan pendidikan politik ? jelaskan ? Jawab : Setidaknya kalau non formal . itu yang bisa di harapkan untuk memberikan keuntungan politik .tapi kesulitannya ,apakah pendidikan politik mengarah pada hal hal yang bersifat positif atau sebaliknya ,karena kalau non formal ini tidak bisa di ambil siapa yang bertanggung jawab ,akhirnya di formal kan lebih dahulu siapa yang akan bertanggung jawab baru kita bisa mengkomunikasikan lebih lanjut ,tindakan lanjut yang bagaimana ,itu yang lebih mudahnya kalau .itu sangat sulit untuk memberikan kelanjutannya

b. Pertemuan kepentingan 1. Bagaimana pandangan anda terhadap kehidupan politik di kampus ? Jawab : Sejauh ini kami memandang iya ,itu tadi lambatnya proses dinamika politik di kampus sehingga kurang ada tanggapan tanggapan atau peran peran yang harus dimainkan masing masing elemen ,itu yang belum di lakukan .kalaupun ada hanya beberapa teman teman kami ,yang muncul aja . kemusian di kami sekarang ada 13 atau sebuah komunitas politik itu nantinya ada perwacanaan pendidikan multi politik bersama ,baik dilakukan PMI ,HMI dan Ormas masyarakat lainnya 2. Bagaimana cara anda menyampaikan kepentingan dalam politik di kampus ? Jawab : Sangat sulit ,sangat sulit untuk kepentingan ini ,kepentingan ini cukup luas ,kalau kami terus terang aja tidak punya kepentingan politik indivindu ,kami lebih cenderung mengkondisikan dirinya sebagai power of control ,kemudian sebagai orang pendidikan

,sebagai pendidik politik itu . jadi isu isu nasional yang kita ,bagaimanan kita membiasakan pada masyarakat 3. Gagasan apa sajakah yang digunakan dalam pengembangan politik di kampus ? Jawab : Untuk ide atau gagasan pengembangan kampus kita coba untuk lebih mengkomunikasikan ,komunikasi politik itu gagasan yang sedang kita cari cari dengan ektra ,intra maupun dengan dunia

biokrasi yang sampai saat ini pun kami punya kelamahan seperti itu .padahal kita masih terkesan exlusif walaupun secara individual kita tidak mengenal seperti begitu itu harapanya mereka tahu apa yang kami tahu dan kami tau apa yang mereka tau .nanti ada toleransi sehingga kita paham

c. Agresi kepentingan 1. Menurut anda bagaimana aspirasi mahasiswa terhadap budaya politik kampus atau relita politik saat ini ? Jawab : Sangat minim sekali,lebih cenderung mereka tidak berfikir artinya yang saya asumsikan lebih mudahnya saja seperti halnya ,saya tidak butuh Persiapan menjadi persiden ,tapi saya butuh ,saya makan apapun ,itu bisa di asumsikan dalamkehidupan kampus ,siapa ketua BEM ,siapa itu pemimpinnya ,yang penting saya suka ,apa yang dengan saya laksanakan 2. Bagaimana pendapat anda tentang kehidupan politik di kampus sekarang ini ? Jawab : Masih biasa ,ada yang dinamikannya masih begitu .di UNNES lebih cenderung pada konflik konflik internal yang sangat tidak bermanfaat bagi sebuah gerakan mahasiswa friksi friksi itu yang

dilakukan justru friksi golongan

.tidak mengacuh isu bersama

,bagaimana melakukan proses perubahan melanjutkan transisi demokrasi .bagaimana proses menjadi PR kita yang sebenarnyayang lebih baik ,itu bagi mahasiswa untuk lebih

bersama

mengkondisikan gerakan gerakan mahasiswa ini berfungsi sebagai mana mestinya untuk mengontrol kebijaksanaan .apalagi besok ada pemilusecara langsung .itu kita lakukan presen atau melakukan kontrolpemerintah daerah atau nasional 3. Apakah peranan kesadaran berpolitik mahasiswa sekarang sudah mulai terjadi ? jelaskan ? Jawab : Masih dalam proses ,semuanya masih dalam proses ,karena tidak mungkin secara jlek .tapi ada proses pembelajaran baik mereka aktifis yang ada di fakultas , jurusan maupun adminitrasi .tiap tahun seharusnya ada perubahan biokrasinya

d. Seleksi kepemimpinan 1. Menurut anda apakah seorang pemimpin harus memilliki kesadaran tentang politik di kampus ? jelaskan ? Jawab : Harus karena dia sebagai top figurenya ,dia sebagai konseptator ,sebagai puncak pemimpin ,sebagai kuncinya

.dia harus mengerti apa yang diharapkan mahasiswa secara umum ,dia harus mengerti kondisi secara umum masyarakat Indonesia .makanya kesadaran politik terbangun dari politik itu sendiri yang diturunkan oleh teman teman penceritanya .pemimpin yang diartikan kalau ketua jauh daripemimpin lainnya .tiap individu adalah pemimpin bagi dunia masing masing seluruhnya 2. Menurut anda kebulatan tekad yang bagaimanakah untuk digunakan oleh seorang pemimpin ?

Jawab : Kebulatan tekat yang harus dimiliki tentunya kebulatan tekat yang mengarah pada hal positif pada proses perubahan positif dari tahun ke tahun mahasiswa lebih cenderung membutuhkan proses advokasi .yang diUNNES masih sangat minim prosesadvokasi yang dilakukan di UNNES .ketika pemimpin UNNES mengenag perubahan perubahan internal dikampus . adanya komunikasi politik ,kemudian perubahan politikyang di inginkan itu harus terjalin dan kesolitan 3. Bagaimana diharapkan ? Jawab : Kebulatan tekat sangat dibutuhkan kemantapan jiwa seseoran pemimpin karena ketegasan dan lainya yang harus di sifat dan tentang ketetapan jiwa seorang pemimpin yang

perilaku yang mulia dan harus kedepan pula ,bukan asal tegas aja .tegas tapi tidak terarah dengan nilai nilai kebaikan sama saja bohong ,ia berani menyuarakan ini lho rokok kemudian minuman keras dan lain sebagainya baik di kampus ,kita nanti semacam itu bisa jadi menerima sponsor dari angker bir .harapannya tidak semacam itu

4. Keyakinan yang bagaimanakah yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin ? Jawab : keyakinan pada kebenaran 5. Apakah seorang pemimpin harus dituntut kreatif dalam menjalankan tugasnya ? Jawab ; sangat penting sekali ,karena kita tidak mungkin memakan buah yang sama atau suatu hal yang sama pula tahun ke tahun ,tapi ada inovasi inovasi yang di lakukan oleh pemimpin 6. Keberanian yang bagaimana dalam mengambil keputusan mapun kebijakan yang dilakukan oleh seorang pemimpin ? Jawab : bisa jadi seorang pemimpin harus mempunyai ketegasan ,keberanian ,inovasi ,seperti kalau dulu belum dilakukan ,besok kita

melakukan awalan awalan ,baik di butuhkan keberanian ,tekat ,seperti halnya saat ini kita belum pernah ,seperti mas kamal mendemo dekan .kita bagaimana melakukan komunikasi atau presen demokrasi ,salah satu contoh melakukan inovasi inovasi atau pun proses advokasi kepada mahasiswa sampai saat ini masih kurang .itu bisa di lakukan atau dengan hal hal lainya mungkin UNNES punya desa binaan dan sebagainya itu bisa dilakukan .nantinya inovasi inovasi mengarah pada proses proses perubahan dan perubahan itu mengakar e. Komunikasi politik 1. Menurut anda bagaimana mahasiswa medapatkan informasi tentang politik di kampus ? Jawab : Kalau kita memandang politik di kampus itu terkait dengan kegiatan dan lan sebagainya .semacam itu banyak kita lihat ada madding dan lain sebagainya ,famlet terpampang pengumuman itu bisa dilakukan ,tapi itu dari pihah pelaku sebegitu gencarnya menyampaikan atau mengkomunikasikan urutan kehidupan di kampus .respon yang sampai saat ini kita masih cari tahu .temen temen di intra mencari tahu ,PR nya bagaimana ,solusinya bagaimana untuk mengajak mereka aktif itu kehidupan di kampus ini ,kalau politik praktis di kampus itu tergantung kecantikan masing masing yang mengusungnya 2. Bagaimana anda melakukan perekrutan dalam menjalankan politik di kampus ? Jawab : Seperti layaknya sebuah organisasi ,proses kadernisasi sangat ya sama kita mengadakan drame kemudian kita ikut ,tidak ada yang lebih semua sama ,di PMI ada MABA , .

3. Partisipasi apakah yang dilakukan mahasisiwa dalam melakukan kegiatan politik di kampus ? Jawaban : Partisipasinya secara kelembagaan kita tidak

mengakomodasikan kader kader tidak untuk melakukan ini itu .yang

jelas misi kita menyebarkan isu isu yang kita usung itu bisa tersampaikan secara personal ,monggo kita melepas kader kader kami mau berpartisipasi dimana 4. Organisasi a. Hubungan atau keterkaitan 1. Menurut pendapat anda bagaimana hubungan atau keterkaitan mahasiswa dengan lembaga dalam politik di kampus ? Jawaban : Secara structural,hubungan dengan biokrasi baik jurusan maupun fakultas itu secara kelembagaan masih harmonis baik pimpinan jurusan dengan pimpinan hima ekonomi masih harmonis ,kita sering silaturami ,kadang banyak satu rombongan dan

hubungan informal kita jalin hubungan itu belum bisa membuahkan sebuah kebijaksanaan yang aspiratif inputnya .bagaimana out putnya ,kita belum mengkaji sampai sana 2. Menurut anda siapa saja yang terkait dalam kelembagaan politik di kampus ? jelaskan ? Jawaban : Semuanya seperti tadi ,seluruh elemen di lembaga intra .pimpinan rektorat dengan pimpinan fakultas ,jurusan semua bisa memperankannya masing masing 3. Bagaiman hubungan lembaga intra dan ekstra dalam kehidupan politik di kampus ? Jawaban : Hubyang kita lakukan ,kalau di kami hanya sebatas forum forum diskusi .hubungan bagaimana kita berkembang wacana ,ise gagasan untuk ,pokoknya yang kita usung ,itu isu isu lokal ,nasional atau daerah . bukan isu kampus ,isu isu masalah kampus kehidupan lokal diUNNES itu terjalin dilingkup gerakan extra 4. Bagaimana hubungan lembaga mahasiswa ( intra dan ekstra terhadap rektorat ? Jawaban : Masih jauh dari yang kita terangkan karena kita belum membangun komunikasi yang harmonis yang bisa memunculkan yang harus dimulai dari mana dulu .apakah dari pihak mahasiswa )

,pemimpin rektorat sehinga ada kesadaran dari masing masing pihak yang mengarahkan ke situ 5. Bagaimana hubungan lembaga mahasiswa ( intra dan ekstra terhadap pihak dekanat ? Jawaban : sama dengan hubungan lembaga mahasiswa terhadap rektorat yairu belum terbagun jaringan kerjasama yang baik. 6. Bagaimana hubungan aktivis mahasiswa terhadap dosen maupun kayawan Universitas ? Jawaban : Dengan dosen kita secara personal ,sering bersilaturami ,berdiskusi dengan beberapa dosen .kita kemarin dengan dosen fakultas ilmu sosial sering diajak diskusi ,dimana dosen diajak sebagai pembicara ,bertukar wacana ,pikiran di forumdiskusi itu b. Burgaining ( posisi tawar ) 1. Bagaimana posisi tawar aktivis mahasiswa terhadap mahasiswa di kampus ? Jawaban : Posisi tawarnya semuanya punya potensi dan punya posisi tawar yang sama .kadang tergantung dari kemantapan dari masing masing aktifis itu sendiri .apakah dia lembagannya terbangun . yang positif atau sebaliknya kalau kita walaupun teman teman di kami tentunya ikut dankatakanlah biasa biasa saja kemudian . )

2. Bagaimana posisi tawar mahasiswa terhadap lembaga–lembaga di kampus ? Jawaban : Semua sangat berpengaruh di kehidupan dunia extra .bagaimana kita punya aktifitas kontrubusi lebih dilembaga intra tersebut ,karena kita tidak membawai lembaga tersebut .membawai indivindu ketika indivindu itu punya kontribusi lebih di lembaga intra maka kontribusi akan lebihwalaupun dia dari lembaga besar ,kontribusi dan manfaatnya tidak ada di lembaga intra maka yang di harapkan punya 3. Bagimana posisi tawar lembaga ( intern dan eks organisasi ) mahaisiwa terhadap lembaga pemerintah dalam politik ?

Jawaban : Kalau di kami posisi burgaining cukup di atas ,karena beberapa kali kami melakukan prefting yang sekarang ini di pemerintah jawa tengah (semarang)di anggota dewan kita meprefting untuk bagaimana melakukan pembenahan APBDyang mereka lakukan itu sangat memberatkan ,mengingat posisi kami sama dengan lembaga lembaga exlusif maupun lesgilatif 4. Bagimana posisi tawar lembaga mahasiswa terhadap partai politik ? Jawaban : Kalau mahasiswa dengan lembaga politik itu dua elemen yang mengarah satu tujuan ,itu harus mempunyai timbal balik atau setidaknya bisa mengsinergiskan sebagai kekuatan dua orang .dia mempunyai fungsi yang harus dimainkan kalau lembaga partai politik lebih cenderung menekan masalah internal sistem dan dimahasiswa lebih secara non formal 5. Bagaimana posisi tawar lembaga mahasiswa terhadap organisasi masyarakat ? Jawaban : Masyarakat tergantung itu saja .bagaimana dia melakukan kontribusi terhadap masyarakat melakukan pendidikan ,pelayanan .kami begitu

c. Kontrol sosial 1. Bagaimana cara anda sebagai aktivis dalam mengontrol masyarakat yang luas dan majemuk ? Jawab : Control kami yang dilakukan lebih cenderung terjun ke masyarakat .beberapakah itu yang dilakukan kami diUNNES ke desa desa melakukan penelitian ,pengenalan masyarakat

kalau control masih belum dapat dilaksanakan .hanya penggambaran masyarakat itu sendiri 2. Menurut pendapat anda mengapa masyarakat harus di kontrol ? Jawab : Kalau itu bukan dikontrol,tapi lebih tepatnya mengarahkan ,karena misi dalam islam satu pembentukan pribadi yang soleh dan soleha dankemudian terbinah keluarga yang sakinah ,masyarakat yang

berperilaku beradab dan nantinya terbentuklah negara yang berdaulat sesuai dengan apa yang di contohkan pada d. Pengabdi dan pelayan masyarakat 1. Menurut pendapat anda mengapa mahasiswa diartikan sebagai pengabdi dan pelayan masyarakat ? Jawaban : Kalau mahasiswa ini lebih cenderung komunitas terkecil dari elemen yang ada ,hanya ada beberapa yang bisa menikmati

pendidikan perguruan tinggi maka mahasiswa memanfaatkannya lebih diharapkanketimbang elemen elemen lainnya karena independennya ,intelektualnya itu lebih mempengaruhi dan proses pembinan pribadi itu lebih lama ,harapanitu lebih berada di mahasiswa itu sendiri 2. Menurut anda apa yang dilakukan dalam mengabdi dan melayani masyarakat ? Jawaban : Pengabdian dan pelayanan itu lebih cenderung pada proses proses advokasi yang dilakukan mahasiswa ,seperti kemarin aktifis aktifis lingkungan .melakukan advokasi di buyat kasus itusebagian kecil dan kemudian di peguruan UNNES advokasi di pendidikan dan perjanjiannya adalah nilai lebih kita sebagai mahasiswa nilai positif kepada masyarakat yang lebih kita kedepankan ,karena yang terbaik 5. Dimensi gerakan a. Angkatan muda 1. Mengapa mahasiswa dikatakan sebagai angkatan muda dalam politik bernegara ? jelaskan ? Jawaban : Kalau bisa dikatakan sebuah proses transisi sebuah proses perubahaan .itu tentunya salah satu indikator juga merupakan pergantian perilaku politik itu sendiri makanya kaum muda ,mahasiswa itu sendiri itu merupakan harapan besaruntuk melakukan proses perubahan itu sendiri ,awalnya dari situ 2. Apa yang akan anda lakukan sebagai angkatan muda dalam bagian politik negara ?

Jawaban : Tentunya yang pertama adalah meningkatkan potensi diantara kalangan mahasiswa itu sendiri ,bagaimana mungkin kita melakukan kontrol ,melakukan evaluasi ,melakukan demo ,dan sebagainya tanpa mengarahkan sebuah solusi yang berarti .itu nantinya kita sudah waktunya kita di pasrahi untuk memegang puncuk pimpinan atau berada di exlusif atau legislatif .kita sebagai pelakunya bukan sebagai baking controlnya .kita harus

mempunyainilai lebih dari yang sebelumnya b. Angkatan intelektual 1. Mengapa mahasiswa diartikan sebagai angkatan intelektual dalam perjalan politik sebuah negara ? Jawaban : Angkatan intelektual lebih cenderung seperti komunitas mereka yang ada dikampus ,sisi akademis ,intelektual lebih di kedepankan karena setiap orang tentunya bekal ilmu ,kompensasi ,spesifikyang berbeda itu yang lebih diharapkan ,kita punya masalah ekonomi ,mereka mereka yang ada di ekonomi bermunculan sebagai tokoh tokoh ekonomi muda ,kita punya masalah kesehatan,tokoh tokoh muda di kesehatan akan muncul

2. Apa yang diharapkan oleh mahasiswa sebagai angkatan intelektual dalam perjalan politik sebuah negara? Jawaban : Setidaknya kontribusi yang dimainkan atau peran peran yang dimainkan sebagai tokoh intelektual .ketika menjadi mahasiswa lebih cenderung pada penguatan kompensasi atau penguatan ilmu itu sendiri dan ketika dihadapkan pada realita yang ada mereka bisa berperan sebagai gerakan monitor .kita naik lagi sebagai

pelakunya,mereka bisa melakukan perubahan fisik 6. Karateristik gerakan a. Spontanitas

1. Menurut anda mengapa gerakan mahasiswa dikatakan spontanitas dalam kegiatan politik ? Jawaban : Kalau dikami lebih cenderung spotanitas .tapi kami lebih pada membawa misi misi nilai nilai itu sendiri atau misi misi dakwa itu. Jadi bukan gerakan reaksional tapi gerakan yang bermisi.kalau visi kami merupakan mempercepat proses perubahan ,menghasilkan konlik mental ,ke dalam sebuah wadah kami 2. Apa yang mendorong mahasiswa melakukan gerakan yang bersifat spontanitas dalam kehidupan politik ? Jawaban : Karena tergantung dari kondisi itu sendiri kondisi kondisi temporal yang ada lebih cenderung mereka bersifat dramatis lebih cenderung bersifat irreaksional .itu juga suatu hal bukannya

mahasiswa yang mengarahkan tetapi mahasiswa sendiri yang terarahkan oleh kondisi kondisi temporal yang ada. b. Non structural 1. Apa yang anda ketahui tentang pola gerakan yang bersifat non structural dalam kehidupan politik ? Jawaban : Yang di UNNES belum ,sampai saat ini belum untuk gerakan non structural belum ada

c. Bukan agen politik diluar kampus 1. Menurut anda mengapa mahasiswa diartikan sebagai bukan agen politik diluar kampus ? Jawaban : Karena mahasiswa memang itu dibentuk sebagai agen global bukan agen politik tapi agen perubah yang dihasilkan ,di godok ,di didikdan diperawat dalam proses pembinaan dalam kampus itu sendiri .nantinya harapannya kedepanliam hingga sepuluh tahun kedepan merekalah yang akan mengagntikan pemimpin yang sekarnag yang ada jadi bukan agen-agen poltik agen praktisi di luar kampus melainkan agen stock perubahan.

d. Memiliki jaringan yang luas 1. Menurut anda bagaimana jarigan yang dibagun oleh mahasiswa dalam berpolitik ? Jawaban : Jaringan yang sekarang lebih cenderung jaringan yang harus memasarakat karena bahasa informasi lebih cenderung intelek dan melangit dan sulit dipahamimi oleh masyarakt itu harapannya yang harus menadi PR bedsar bagaiman kita mengkomunikasikan tjuan-tjuan reformasi ini pada masyarakt natinya mereka ang diperjuangkan itupunpaham siapa yang memprejuangkan jangan sampai komuniksai itu terputus sehingga kelihatannya mahasiswa yang memeprjuangkan tetapi masyarakt tidak merasa diperjuangkan 2. bagaimana pendapat anda tentang mahasiswa yang begitu luas ? jawaban : Jaringan massaa yang dibangun saat ini lebih cenderung jaringan jaringan yang bersifat pragmatis belaka jaringan jaringan aliansi yang dibagun satau tujuan tertentu misalkan kami yang dilakukan saat ini adalah arimgan masyarakt yang tergabung dala faraksi-fraksi anti korupsi mempuanyai tujuan satu yaitu pengelolaan jaringan gerakan

pemberantasan korupsi legislatif dijawatengan dan kota semarang belum ada jaringan mahasiswa atau jaringan yang ada bersifat permanen biasanya yang bersifat permanen lebih cenderung pada ikatan ideolgis saja 7. Kekuatan gerakan mahasiswa a. Kemampuan perubahan 1. Bagaimana pendapat anda mengenai kemampuan perubahan yang dimiliki mahasiswa ? Jawaban : kemampuann yang harus dimiliki oleh mahaiswa adalah kemampuan perubahan karena mahasiswa merupakan agen perubah 2. Menurut anda kemampuan perubahan yang bagaimanakah yang harus dimiliki mahasiswa ?

Jawaban : ya menurut saya adalah kemamapuan perubahan yang membela kbenaran yang universal dan berjalan lurus sesuaia dengan kontitusi dan ajaran agama yang di jalankannya. b. Mengkritisi aspirasi 1. Bagaimana anda mengkritisi aspirasi terhadadap politik di kampus ? Jawaban : aspirasi yang sampai saat ini bukan dalam artian aspirasi banyak sekali , ada aspirasi bernilai positif , aspirasi bernilai negatif . Kita coba untuk mengakomodik mereka mereka yang mempunyai aspirasi yang positif karena bukan , bisa saja mahasiswa secara keseluruhan itu mengingikan proses perubahan yang justru bernilai negatif . bisa saja , karena sebuah komunitas itu sangat menentukan banyak sedikitnya kuantitas kita itu menentukan aspirasi itu sendiri bisa dilaksanakan atau tidak , bisa jadi mereka di sebuah

lokalisasikan ngak mungkin adanya aspirasi yang secara kolektif itu baik , mungkin misalkan semacam itu tapi kita coba untuk

mengakomodik atau lebih menyuarakan aspirasi aspirasi yang bersifat secara positif yang bisa diterima semua kalangan 2. menurut anda mengkritisi aspirasi yang bagaimana dalam kehidupan politik di kampus ? Jawaban : artinya kita pedoman untuk membandingkan aspirasi itu apakah layak diaspirasikan atau tidak , pedoman kita makanya kita lebih mengedepankan asset asset kebenaran secara universal dan diterima di semua kalangan dan sumbernya itu bisa dari hukum itu sendiri , norma norma yang ada .dan juga sebagai muslim kita lebih mengedepankan apa yang menjadi pedoman kita c. Sosialisasi pers 1. Bagaimana yang anda lakukan dalam mensosialisasikan pers politik kepada mahasiswa ? Jawaban : Yang di lakukan di kami hanya sebatas tugas pers riliis , itu kita sering menyebarkan media kalau ditingkat daerah . kalau ditingkatan kampus kita menyebarkan famlet ,filet , maupun madding di dinding .lalu dibagikann secara orang persaorangan

2. Apakah sosialisasi pers sangat efektif dalam pengembangan kehidupan politik di kampus ? Jawaban : sengat effektif setidaknya isu di bangun itu bisa terlaksanahkan dengan baik , dikondisikan dengan baik ,arah arah apa, tujuan – tujuan apa , mengapa kita melaksanakan itu dan nantinya tidak muncul sebuah kecurigaan atau buruk sangkah di kalangan mahasiswa atau kalangan sesama aktifis d. Gerakan rakyat 1. Kenapa mahasiswa disebut sebagai bagian dari gerakan rakyat dalam perjalan politik sebuah negara ? Jawaban : dan mahasiswa memang bagian dari rakyat , kita tidak bisa memisahkan realita mahasiswa adalah kaum tersendiri , kaum terspesial dan sekarang seharusnya mahasiswa memang bagian rakyat itu sendiri dan orang orang terpelajar tokoh tokoh intelektual . di awal dari situ sudah selayaknya dan sewajibnya itu mahasiswa

menyuarakan apa yang menjadi penderitaan rakyat itu sendiri e. Dampak perubahan 1. Dampak perubahan yang bagaimanakan yang diharapakan oleh mahasiswa dalam kehidupan politik ? Jawaban : tentunya perubahan yang mengarah pada proses perubahan yang bersifat positif ,karena perubahan-perubahan itu bisa sama ,tidak mengadukan atau perubahan yang lebih buruk lagi .itu yang kita diharapkan pada proses pemilu besok.,artinya kita masih punya harapan .bagaimana pemeritahan besok melakukan perubahan . 2. Apakah dampak perubahan tersebut mempenagaruhi kinerja kegiatan politik di kampus ? Jawaban : sangat berpengaruh ketika sistem dibangun itu ,mempunyai nilai perubahan atau masih tetap sama atau mungkin lebih buruk itu sangat berpengaruh pada kegiatan kemahasiswaan .bisa jadi suatu saat lembaga massa bisa dibekukan, bisa jadi itu suatu resiko yang ada dikalangan aktifis mahasiswa

f. Pengelolaan gerakan 1. Apa yang diharapkan oleh mahasiswa dalam pengeloaan gerakan politik di kampus ? Jawaban : yang diharapkan mahasiswa secara keseluruan ,harapannya karena aspirasi itu banyak sekali ,komunitas itu banyak sekali ,masing masing pergerakan memberikan perwarnaan tersendiri supaya bisa punya kedepan khusus atau ciri khas ,setidaknya memberikan dinamika politik bagi sebuah pendidikan politik yang ada di kampus mahasiswa g. Penghubung rakyat 1. Mengapa mahasiswa dikatakan sebagai penghubung rakyat dalam perjalan politik sebuah negara ? Jawaban : hampir sama dengan pertanyaan yang tadi karena

mahasiswa merupakan bagian rakyat dan tidak bisa dipisahkan dari rakyat itu sendiri, tidak mungkin mahasiswa menyuarakan apa yang tidak menjadi keluhan rakyat 2. Apa yang akan dikehendaki mahasiswa sebagai penghubung rakyat dalam kehidupan berpolitik ? Jawaban : yang dikendaki mahasiswa ,mahasiswa tentunya punya potensi potensi yang lebih ,di situ tentunya harus mengedepankan atau memperjuangkan perubahan perubahan yang nantinya bisa

berpengaruh secara sefifikan pada perubahan itu harus mengarah pada perubahan yang baik 8. Faktor birokrat kampus a. Memperketat absensi 1. Dengan memperketat absensi, apakah kegiatan anda menjadi terhambat ? Jawaban : memperketat absensi sampai saat ini belum yang ada difakultas peguruhan tinggi , kan mahasiswa masih mempunyai jatah beberapa persen dari absensi yang ada .itu merupakan hak cipta untuk beraktifitas , aktifitas lainnya dapat diperoleh diluar jam kuliah

2. Bagaimana cara anda untuk mengantisipasinya ? Jawaban : tidak masalah karena yang kita kelolah bukan sebuah aktifitas indivindu ,tapi aktifitas kolektif .kalau pun bukan tanpa kehadiran individu saya,masih ada yang lainnya b. Merepresi nilai 1. Apakah birokrat kampus sering merepresi nilai dari aktivis mahasiswa ? Jawaban : untuk pengalaman pribadi belum ,jadi ketika bentrok dekan/dosen suatu saat iya 2. apa yang akan anda lakukan sebagai mahasiswa melihat hal tersebut ? Jawaban : itu merupakan proses yang pembelajaran yang tidak baik dalam lingkup ke akademisan ,keilmuan,keindependenan .itu sebuah ketidak adilan yang muncul ,kalau dasen lebih mengutarahkan hal hal yang obyektif dan ilmiah ,mahasiswa seharusnya begitu ketika melihat yang buruk ,katakana buruk ,yang baik katakan baik c. Membuat perjanjian 1. Perjanjian apa sajakah yang dapat menghambat kegiatan anda ? Jawaban ; belum ada 2. Apa yang akan anda lakukan dengan hal tersebut ? Jawaban : d. Merepsesi psikologi 1. Bagaimana cara birokrat merepresi psikologi mahasiswa dalam politik kampus ? Jawaban : saya mungkin kalau bisa tadi dengan nilai ,bisa tadi dengan mempersulit hal hal berkaitan dengan keakademisan itu salah satu bagian 2. Bagaiman solusi anda apabila mahasiswa terkena sanksi tersebut ? Jawaban : di UNNES belum ada selantang itu .kalau dulu pak salah satu ketua kami ,pernah di sel selama satu jam melakukan aksi demo di pelantikan pak e. Pemecatan status

1. Apakah pemecatan status digunakan birokrat untuk aktivis yang melanggar peraturan kampus ? Jawaban : untuk sementara belum ada di UNNES. 2. Bagaimana anda menyikapi keadan tersebut ? Jawaban : kalau hal itu terjadi tentunya masing msing pihak juga akan memperjuangkan hahnya masing masing .bagi dikalangan mahasiswa juga menuntut keadilan agar itu jelas sesuai dengan porsinya dan dikendalikan dengan nilai nilai keadilan yang ada .tentunya di pihak biokrat lain .kita juga akan memperjuangkan tujuan tujuannya mulus ,lancar sebuah bentuk kepimpinan yang otoriter ,sebuah prosesi yang stabil dan aman

HASIL PENELITIAN BUDAYA POLITIK KAMPUS STUDI KASUS TERHADAP AKTIVIS MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2 ( dua ) Nama : SAEFUL ALIM

Alamat

: SEKRETARIAT PKM FIP UNNES JL. RAYA KAMPUS SEKARAN FIP UNNES Gunung

Pati. Status : MAHASISWA/ KETUA BEM FIP AGUSTUS 2004

Hari/ Tgl/ Jam : RABU/

Pedoman wawancara ini disusun untuk mengungkap data tentang budaya politik kampus ( studi kasus terhadap aktivis mahasiswa di Universitas Negeri Semarang ).

1. Lingkup Budaya Politik a. Orientasi individu 1. Bagaimana keterlibatan anda dalam berpolitik di kampus ? Jawab : Keterlibatan saya dalam berpolitik kampus tentu saya sebagai mahasiswa activis berusaha untuk mengedapan nilai-nilai kebebasan berpendapat, berpendapat itu hal biasa, menanamkan kepada temen semua bahwa tidak hanya apa itu kebesan saja tetapi aktivitas politik sangat penting 2. Bagaimana cara anda melakukan penolakan politik di kampus ? Jawab : Kebijakan politik pimpinan sebenarnya, mahasiswa

mempunyai daya kritis yang harus digunakan , jadi mahasiswa tidak hanya duduk saja kampus, diwarung, menggarap tugas tetapi fungsi dari mahasiswa adalah mengkritisi kebijakan pimpinanan baik dari pimpinanan fakultas mapun pimpinan rektorat tentunya kebijakan yang tidak memihak kepada mahasiswa kita akan tolak dan kita kritisi yang membangun.

3. Bagaimana anda melakukan penilaian terhadap politik di kampus ? Jawab : Di UNNES ini memang terkenal mahasiswa yang adem ayem ini saya melihat dan sering diskusikan dari tetemn ketua bem bahwa

masih sangat rendah mahasiswa secara umum untuk mengikuti atau berpartisi aktif dalam hal berpolitik ini di buktikan dari paertisipasi aktifnya yang sangat kurang dalam kampanya maupun pemilihan ketua bem baik presiden mahasiswa dan ketua bem fakultas beda dengan aktivis bahwa aktivis itu sudah sedikit banyak mengetahui dan sedikit banyak sudah berpartisipasi mulai dari pra dan kegiatan politik, hal kegiatan sekedar diskusi mengenai dunia perpolitikan, kampanye di kampus dan sebagainya . 2. Kehidupan Politik a. Sistem politik keseluruhan 1. Menurut pendapat anda bagaimana latar belakang sejarah UNNES dijadikan kampus milik golkar pada zaman orde baru ? Jawab : Saya tidak tahu persis memang, untuk latar belakang UNNES dijadikan kampus milik golkar pada zaman baru, tetapi itu memang terjadi itu sangat mengecewakan tentunya, karena kampus sebagai

lembaga indenpen, sebagai lembaga pengkritis dari orang –orang yang berkuasa bukan anti dengan partai, disisni lembaga pendidikan yang harus ada jarak yang kelihatan antara partai dengan lembaga

pendidikan, bukan berarti kita tidak mau menerima partai di dalam kampus, partai dari pada kepentingan yang ditonjolkan partai yang

harus kritis, propesional berkepntingan untuk negara. 2. Bagaimana pendapat anda tentang sejarah politik kampus di UNNES ? Jawab : Saya tidak tahu begitu banyak karena saya belum bayak terlibat dalam politik kampus yang terdahulu tetapi saya melihat bahwa partisipasi mahasiswa dalam berpolitik seperti partissipasi dalam pemilihan presiden mahasiswa dan ketua BEM fakultas, hal tersebut sedikit kurang dari lima persen dari semua mahasiswa hal itu membuat aktivis mahasiswa begerak tidak dinamis. 3. Apakah menurut anda lokasi berpengaruh terhadap kehidupan politik di kampus ?

Jawab : Ya, sangat berpengaruh karena lokasi menetukan setiap gerakan yang akan ditempuh masing-masing aktivis dalam mengolak pergerakan massa dan mendapatkan informasi dalam penegmbangan politik dikampus, begitu banyak saya melihat sangat berpengaruh. 4. Apakah menurut anda kekuasaan berpengaruh terhadap kebijakan dan keputusan politik di kampus ? Jawab : ya memeng begitu kekuasan itu ya , kekuasaan , kebijakan, keputusan merupakan satu rangkaian bagi orang yang berkuasa, bagi orang yang memberikan kebijakan yang memberikan keputusan ada di kampus bagaimanapun juga politik harus dikembangkan agar mahasiswa tahu melek dengan politik dalam pengembangan pendidikan politik . 5. Bagaimana pendapat anda tentang aturan kehidupan politik di kampus ? Jawab : Kontitusi di kampus ini masih jauh dari ideal terlihat dari beberapa dinamika kongres yang kurang berjalan dengan bagus dan kita sudah mulai mendiskusikan mendesain kontitusi lembaga

kemahasiswaan secara bagus ,kalau hari kemaren sudah tersiar isu pemilihan presiden mahasiswa melalui partai, ini akan menarik kalau bisa. Terkait dari garis intruksi dan kordinasi masih kabur sehingga aturan kehidupan politik kampus masih rendah. 6. Bagaimana anda menjalankan wewenang politik di kampus ? Jawab : Saya menjalankan wewenang di kampus sesuai dengan kontitusi yang sekarang ini berlaku, ada garis intruksi ,ada garis kordinasi baik itu dengan hima, maupun BEM universitas maupun dengan UKM. dengan segala kelemahan yang ada dalam kontitusi iti karena merupakan

keeutusan konggres maka saya patuh dengan kontitusi yang sudah berlaku.

7. Apakah menurut anda negara berpengaruh terhadap kehidupan pilitik di kampus ? Jawab : Menurut saya negara juga berpengaruh terhadap politik di kampus. kebebasan berpendapat sekarang atau system sekarang ini

mengarah ke yang lebih baik. kebebasan berpendapat, kebebasan melakukan aksi dan lain sebagainya. Hal itu merupakan bagian dari aktivis untuk mengkkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah atau untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan para elit politik yang kadang tidak

memihak rakyat, siapa lagi kalau bukan mahasisiswa yang mau dan mampu mendengungkan atau mengaspirasikan aspirasi rakyat. b. Proses input 1. Bagaimana anda menjalankan tuntutan politik di kampus ? Jawab : Ada beberapa hal yang sebenaranya bisa dilakukan, yang pertama saya mencoba menyelipkan beberapa misi-misi yang sengaja saya masukan kepada temen untuk bisa menjadi aktifis yang tidak kagetan. Ini akan mengarah kepada kedewaasaan berpolitik sehingga kita ada isu perbedaan pendapat itu mnjadi hal biasa. 2. Bagaimana anda melakukan pengamatan kehidupan politik di kampus ? Jawab : Saya sebagai ketua bem melakukan pengamatan kehidupan politik di kampus dengan cara diskusi dengan lain aktifis, diskusi

dengan mahasiswa lain secar umum, sejauhmana daya piker dan daya serap mahasiswa mengenai politik di kampus ini. 3. Apakah anda ikut dalam kegiatan partai politik ? jelaskan sejauh mana anda terlibat ? Jawab : Selama ini saya tidak terlibat dalam partai politik karena saya melihat saya mempunyai prinsip, bukan karena saya tidak suka partai politik tetapi karena saya memimpin lembaga kemahasiswa maka saya harus netral tanpa memihak suatu partai dan malah kebijakan yang ada. mengkritisi

4. Apakah menurut anda ada kelompok kepentingan dalam politik di kampus ? sebutkan dan jelaskan ? Jawab : Jelas, setiap politik pasti mempunyai kepentingan begitu juga politik kampus . 5. Apakah menurut anda penggunaan alat kominikasi dalam politik sangat di perlukan ? jelaskan dan beri contoh ? Jawab : sangat-sangat diperlukan karena bagaimanapun alat komuniksai sebagai penopang tertinggi dari alat mengkomuniksikan bahasa-bahasa yang disampaikan kepada audien. c. Proses out put 1. Bagaimana anda menjalankan perundang-undangan politik di kampus ? Jawab : Saya menjalankan perundang-undangan kalau di UNNES disebut dengan kontitusi lembaga kemahasiswaan UNNES itu saya mencoba patuh pada kontitusi tersebut, sehingga garis intruktif, garis koordinatif, garis komando dan sebagainya mencoba saya lakukan dalam politik kampus. 2. Bagaimana pendapat anda tentang badan legislative dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab : Sebenarnya di UNNES ada lembaga yang berperan penting yaitu legislative sayang sebenarnya kurang menonjol dalam kiprahnya, sebenarnya disinilah badan legislative harus mampu mengakomodir beberapa pemikiran-pemikiran dan aspirasi-aspirasi dan dan lebih khusus lagi dinamisasi lembaga kemahasiswaan dalam bentuk konsep dan bedah-bedah kontitusi. 3. Bagaimana pendapat anda tentang badan eksekutif dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab : BEM sebagai badan eksekutif tentu merupakan sebuah lembaga pemerintahan yang itu dikatakan kuat apabila kehidupan kampus di jalankan oleh bem sebagaimana fungsinya yaitu fungsi pertama sebagai eksekutif burdy yaitu menjalan garis-garis besar

haluan kerja

yang dihasilkan

oleh kesepakatan konggres yang

didalamnnya terdapat para anggota-anggotanya. 4. Bagaimana pendapat anda tentang badan peradilan dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab : Di UNNES memang belum ada badan peradilan tetapi menurut saya sangatlah penting apabila ada sehingga kasus pelanggaran kontitusi mampu dipecahkan dan mampu dibuka secara legal sehingga mana yang salah mana yang benar akan kelihatan. d. Diri sendiri 1. Bagaimana anda menggunakan hak politik di kampus ? Jawab : Saya sebagai warga kampus yang baik saya akan menggunakan hak poltik saya secara maksimal. 2. Bagaimana anda melakukan kewajiban politik di kampus ? Jawab : saya juga sebagai warga kampus yang baik saya berpatisipasi dan akan menggunakan kewajiban politik secara optimal. 3. Pendidikan politik a. Penyelengaraan. 1. Menurut anda bahan bacaan apa yang dapat mendorong menjadi aktivis mahasiswa dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab : Bahan bacaan - bahan bacaan yang merdeka tentunya

sehingga bahan bacaan merdeka itu membuat pemikiran kita menjadi bebas, membuat pikiran kita menjadi luas sehingga sisi-sisi lain sebenaranya yang dimiliki oleh mahasiswa kita dapat lakukan untuk menjadi aktivis kampus . 2. Menurut anda publikasi massa tersebut sangat penting bagi kehidupan politik di kampus ? jelaskan ? Jawab : Ya menurut saya memang publikasi masa itu sangat penting , bagaiamapun juga kehidupan politik tanpa publikasi masa sama saja itu bohong.

3. Menurut anda apakah media visual digunakan dalam pengembangan dan penyelenggaraan pendidikan politik di kampus ? Jawab : Di UNNES media visual sudah dilakukan dengan berbagai pamflet, gambar-gambar untuk pengembangan dan peneyelengaraan pendidikan politik. 4. Menurut anda siapa saja yang menyelenggarakan pendidikan politik ? Jawab : menurut saya yang menyelenggarakan politik tentu pemerintah dan badan-badan lembaga swadaya masyarakat dan orang–orang yang tahu banyak pendidikan politik sehingga mampu dapat ditranfer kepada masyarakat. 5. Menurut anda apakah lembaga masyarakat terlibat dalam

penyelengaraan pendidikan politik ? jelaskan ? Jawab : Ya, menurut saya lembaga masyarakat harus terlibat dalam penddikan politik bagaimanapun juga kedewasaan berpolitik ini

harsus ada pada masyarakat secara utuh. 6. Menurut anda apakah lembaga formal terlibat dalam penyelengaraan pendidikan politik ? jelasakan ? Jawab : ya, menurut saya lembaga juga formal harus mempunyai atau untuk terlibat dalam penyelengaaran pendidikan politik karena bagaimanapun juga kedewaasan dalam berpolitik harus ada pada masyarakat untuk mewujudkan negara demokrasi dengan cara semua lemabag formal dan non formal dapat terlibat merupakan langkah yang baik. 7. Menurut anda apakah lembaga non formal terlibat dalam

penyelengaraan pendidikan politik ? jelaskan ? Jawab : Ya begitu juga lembaga non formal, LSM–LSM sangat membantu dan terlibat dalam penyelenggaran pendidikan politik.

b.

Pertemuan kepentingan 1. Bagaimana pandangan anda terhadap kehidupan politik di kampus ? Jawab : menurut pandangan saya terhadap kehidupan politik masih sangat kurang sehingga perlu adanya sebuah pemikiran-pemikiran baru dan konsep-konsep baru dan sekaligus kebijakan-kebijakan baru bagaimana pentingnya berpolitik untuk diketahui masayarakat dan mahasiswa. 2. Bagaimana cara anda menyampaikan kepentingan dalam politik di kampus ? Jawab : Bebeicara kepentingan berarti harus ada strategi–strategi

tentang sebuah diskusi-diskusi, obrolan-obrolan yang terarah itu saya tujukan untuk bagaimanan menyikapi tentang politik di kampus 3. Gagasan apa sajakah yang digunakan dalam pengembangan politik di kampus ? Jawab : gagasan ini lebih bersifat umum artinya bahwa bebeda pendapat atau pendapat yang tidak cocok itu hal yang wajar saja, harus diskapi secara positif , normative dan sebagainya. c. Agresi kepentingan 1. Menurut anda bagaimana aspirasi mahasiswa terhadap budaya politik kampus atau relita politik saat ini ? Jawab : Budaya politik kampus mahasiswa di UNNES masih kurang menurut saya, hanya beberapa mahasiswa saja yang sangat inten ikut berpartisipasi aktif dalam rangka pengembangan politik kampus, dan ini harus dapat diubah bagaimanapun mahasiswa sebagai agen social cahange harus mampu merubah keadaan-keadaan saat ini sehingga dijadikan contoh kepada masyarakat.

2. Bagaimana pendapat anda tentang kehidupan politik di kampus sekarang ini ? Jawab : Pendapat saya tentang kehidupan politik di kampus saat sekarang ini saya melihat lebih spesifik di UNNES masih sangat kurang kehidupan politiknya , ini terbukti sangat minimnya mahasiswa dalam penggunaan hak suara dalam pemilihan ketua BEM mapun presiden mahasiswa. 3. Apakah peranan kesadaran berpolitik mahasiswa sekarang sudah mulai terjadi ? jelaskan ? Jawab : Ini lambat tahun sengaja kita gulirkan misi-misi itu , kita gulirkan isu-isu kesadaran berpolitik sehingga mahasiswa tidak hanya kuliah saja ada sisi-sisi lain yang harus diketahui dan digeluti

mahasiswa yaitu politik kampus. d. Seleksi kepemimpinan 1. Menurut anda apakah seorang pemimpin harus memilliki kesadaran tentang politik di kampus ? jelaskan ? Jawab : Menurut saya seorang pemimipin harus dan wajib memilki kesadaran tentang politik , bagaimanapun juga pemimpin itu merupakan contoh bagi semuannya ketika pemimpin memilki kesadaran politik anak buah pun akan ikut. 2. Menurut anda kebulatan tekad yang bagaimanakah untuk digunakan oleh seorang pemimpin ? Jawab : kebulatan tekat ini harus dimiliki seorang pemimpin, pemimpin harsus berkorban dan menanggung resiko atas di

keputusannya 3. Bagaimana diharapkan ? Jawab : Seorang pemimpin harus mampu mengatakan ya dan atau tidak ini sangat sulit bagi pemimpin sehingga ketetapan jiwa mengatakan ya atau tidak merupakan kewajiban seorang pemimpian. tentang ketetapan jiwa seorang pemimpin yang

4. Keyakinan yang bagaimanakah yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin ? Jawab : Keyakinan yang universal tentunya dan yang utuh terhadap dasar –dasar agama, dasar -dasar politik, dasar-dasar kehidupan sehingga seorang pemimpin tidak akan goyah. 5. Apakah seorang pemimpin harus dituntut kreatif dalam menjalankan tugasnya ? Jawab : jelas seorang pemimpin harus keratif ,harus mampu melihat kondisi yang ada , melihat posisi dan situasi yang ada pula. 6. Keberanian yang bagaimana dalam mengambil keputusan mapun kebijakan yang dilakukan oleh seorang pemimpin ? Jawab : Kebijakan maupun keputusan itu merupakan sebuah dinamika yang ada dalam organisasi, tentu keberanian seorang pemimpin harus dilakukan dengan cara melihat kondisi dan situasi secara tepat sehingga analisis keputusan itu tidak merugikan orang banyak. e. Komunikasi politik 1. Menurut anda bagaimana mahasiswa medapatkan informasi tentang politik di kampus ? Jawab : Menurut saya mahasiswa mendapatkan informasi tentang politik kampus sebenarnya sangat banyak informasi melalui pamflet, media inframasi yang sekarang sudah ada , media pers mahasiswa, apabila ada mahasiswa yang ketinggalan dengan inforamasi politik kampus adalah kuper sekali. 2. Bagaimana anda melakukan perekrutan dalam menjalankan politik di kampus ? Jawab : Perekrutan dalam organisasi, saya memang menggunakan hak pregroatif saya sebagai ketua BEM untuk melakukan prekrutan

funsionaris dalam rangka menjalankan misi-misi politik yang ada pada BEM itu sendiri.

3. Partisipasi apakah yang dilakukan mahasisiwa dalam melakukan kegiatan politik di kampus ? Jawab : banyak sebenarnya apa yang dilakukan mahasiswa, yang paling minimal adalah mengunakan hak suara dan hak politiknya dalam pemilahan secara optimal. 4. Organisasi a. Hubungan atau keterkaitan 1. Menurut pendapat anda bagaimana hubungan atau keterkaitan mahasiswa dengan lembaga dalam politik di kampus ? Jawab : Mahasiswa dan lembaga politik atau lembaga dalam berpolitik di kampus sebenaranya sangat erat hubungannya karena mahasiswa harus bisa berpolitik kalau mahasiswa tidak bisa politik hanya studi oriented saja hal itu adalah rugi. 2. Menurut anda siapa saja yang terkait dalam kelembagaan politik di kampus ? jelaskan ? Jawab : Menurut saya kelembagaan politik di kampus merupakan tanggung jawab mahasiswa, karena mahasiswa mempunyai lembaga kemahasiswaan sebagai wadah dalam berpolitik di kampus. 3. Bagaiman hubungan lembaga intra dan ekstra dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab : Hubungan lembaga intra dan ekstra dalam kehidupan politik kampus sebenarnya saling mengisi artinya ada sisi yang beda antara ektra dan intra tetapi, ada persamanya, sama-sama dalam bergerak di bidang mahasiswa. 4. Bagaimana hubungan lembaga mahasiswa ( intra dan ekstra terhadap rektorat ? )

Jawab : hubungan (eksta dan intra) dengan rektorat sebenarnya saling memberikan masukan dan kritikan sehingga badan intra mengkritisi dalam hal menyangkut kebijakan mahasiswa. mampu

5.

Bagaimana hubungan lembaga mahasiswa ( intra dan ekstra terhadap pihak dekanat ?

)

Jawab : Begitu juga hubungan lembaga kemahasiswa intra di bem terhadap dekanat, mahasiswa memberikan usul dan saran dari asapirasi mahasiswa terkait sarana dan prassarana, lembaga

kemahasiswaan ,akademiik dan lainya . 6. Bagaimana hubungan aktivis mahasiswa terhadap dosen maupun kayawan Universitas ? Jawab : hubungan tidak hanya aktivis saja tetapi semua mahasiswa harus bisa memposisikan diri terhadap dosen maupun karyawan dimana kita harus bertemu, dimana berada, kita harus perhatikan. b. Burgaining ( posisi tawar ) 1. Bagaimana posisi tawar aktivis mahasiswa terhadap mahasiswa di kampus ? Jawab : Posisi tawar bagaimana mahasiswa dilihat oleh mahasiswa secara umum antara mahasiswa aktivis dengan mahasiswa studi oriented saja, ada nilai lebih yang dimiliki oleh mahasiswa aktivis. 2. Bagaimana posisi tawar mahasiswa terhadap lembaga–lembaga di kampus ? Jawab : Begitu juga posisi tawar mahasiswa dengan lembaga-lembaga di kampus ini tentunya aktivis mampunyai prinsip dan aktivis

memepunyai lembaga yaitu lembaga kemahasiswaan yaitu harus mempunyai burgening atau lembaga-lembaga yang lain. 3. Bagimana posisi tawar lembaga ( intern dan eks organisasi ) mahaisiwa terhadap lembaga pemerintah dalam politik ? memepuayai posisi tawar terhadap

Jawab : itu juga kita harus mempunyai burgening posisi yang jelas terhadap pemerintah dimana kebijakan-kebijakan memihak rakyat, segera kita harus kritisi. yang tidak

4. Bagimana posisi tawar lembaga mahasiswa terhadap partai politik ? Jawab : posisi tawar mahasiswa terhadap partai politik sangatlah harus dilakukan sehingga partai politik tidak sebagai alat untuk memperkaya diri tetapi partai politik harus mengaspirasikan aspirasi rakyat dan ini lembaga mahasiswa harus mampu memantau kebijakan-kebijakan partai poltik. 5. Bagaimana posisi tawar lembaga mahasiswa terhadap organisasi masyarakat ? Jawab : begitu juga hubungan mahasiswa tehadap masyarakat ini lebih kepada hubungan yang saling mengungtungkan antara lembaga kemahasiswaan dengan masyarakat. c. Kontrol sosial 1. Bagaimana cara anda sebagai aktivis dalam mengontrol masyarakat yang luas dan majemuk ? Jawab : Masyarakat yang sangat heteorgen yang ada di Indonesia harus disikapi oleh aktivis secara dewasa ,ini tentunya harus melihat secara reil keadaan yang ada di masyarakat, masyarakat petani tentu meginginkan harga beras naik dan harga padi naik ini harus di lihat dan kontrol oleh aktivis sehingga kalau tidak reil yang terjadi di masyarakat petani dan harga menjadi anjlok maka aktivis yang mampu mangawal untuk beraksi atau mengaspirasiksan kepada peerintah. 2. Menurut pendapat anda mengapa masyarakat harus di kontrol ? Jawab : masyarakat memang harus di kontrol karena untuk menjadi warga yang baik, untuk menjadi warga yang sadar hukum tentu harus

ada

pemberitahuan-pemeberitahuan

dan

sosialisasi-sosialisasi

sehingga mewujudkan masyarakat yang dewasa.

d. Pengabdi dan pelayan masyarakat 1. Menurut pendapat anda mengapa mahasiswa diartikan sebagai pengabdi dan pelayan masyarakat ? Jawab : mahasiswa sebagai pengabdi karena mahasiswa juga masyarakat, sebagai pelayan masayarakat karena mahasiswa diberi nilai lebih yaitu keberanian untuk menghadapi pemerintah. 2. Menurut anda apa yang dilakukan dalam mengabdi dan melayani masyarakat ? Jawab : mengabdi dan melayani masyarakat bukan berati memberikan uang kepada masyarakat tetapi untuk mengawal untuk memberikan aspirasi kepada pemerintah, keluhan keluhan masyarakat, realita di masyarakat pemerintah 5. Dimensi gerakan a. Angkatan muda 1. Mengapa mahasiswa dikatakan sebagai angkatan muda dalam politik bernegara ? jelaskan ? Jawab : ya memang mahasiswa itu masih muda sehingga dikatakan angkatan muda karena pemikiran pemikiran mahasiswa itu muda dan mahasiswa secara fisik masih muda 2. Apa yang akan anda lakukan sebagai angkatan muda dalam bagian politik negara ? Jawab : yang dilakukan banyak sebenarnya salah satunya adalah bagaimana kita memposisikan politik negara ini sebagai mana di bawa mahasiswa untuk disamapaikan kepada

mestinya yaitu sebagai alat penegakan keadilan dan perastuan di negara ini b. Angkatan intelektual 1. Mengapa mahasiswa diartikan sebagai angkatan intelektual dalam perjalan politik sebuah negara ? Jawab : mahasiswa sebagai salah satu unsur yang sangat penting dikatakann sebagai angkatan intelektual karena memang secara pendidikan dan akademik mahasiswa sedikit banyak mumpuni menganai hal-hal yang telah ditempuhya. 2. Apa yang diharapkan oleh mahasiswa sebagai angkatan intelektual dalam perjalan politik sebuah negara? Jawab : diharapkan dari mahasiswa sebagai angakatan intelektual adalah bahwa politik itu merupakan sebuah alat untuk bagsa Indonesia lebih baik sehingga kaum intelektual berharap Indonesia lebih aman sehingga dalam berkiprah dalam politik dapat secara maksima 6. Karateristik gerakan a. Spontanitas 1. Menurut anda mengapa gerakan mahasiswa dikatakan spontanitas dalam kegiatan politik ? Jawab : gerakan mahasiswa dikatakan spontanitas dalam kegaitan politik karena kadang mahasiswa tidak berpikir terlalu banyak dalam kegiatan politik. 2. Apa yang mendorong mahasiswa melakukan gerakan yang bersifat spontanitas dalam kehidupan politik ? Jawab : ada beberapa aktivis yang memang melakukan kegiatan seperti spontanitas itu sebagai wujud dari kepedulian aktivis terhadap kehidupan berpolitik . a. Non structural 1. Apa yang anda ketahui tentang pola gerakan yang bersifat non structural dalam kehidupan politik ?

Jawab : pola gerakan yang bersifat non strukrtural ini dilakukan dalam rangka untuk bagaimana kehidupan berpolitik berjalan sesuai dengan yang diharapkan , sesuai dengan kaidah-kaidah yang dibenarkan, dan mampu mengawal bangsa menjadi bangsa Indonesia yang dinamis dan bangsa religius . b. Bukan agen politik diluar kampus 2. Menurut anda mengapa mahasiswa diartikan sebagai bukan agen politik diluar kampus ? Jawab : mahasiswa dengan karekteristiknya dengan agen sosial of cahange yang disandangnya tentu mahasiswa harus bisa

memposisikan dengan baik yaitu dengan cara bertindak secara professional, sebagai mahasiswa yang baik tentunya melihat partai politik, melihat politik yang ada sekarang ini harus segera diawasi dan di kontrol oleh mahasiswa sehingga bukan agen politik di luar kampus. c. Memiliki jaringan yang luas 1. Menurut anda bagaimana jarigan yang dibagun oleh mahasiswa dalam berpolitik ? Jawab : menurut saya jaringan yang dibangun oleh mahasiswa dalam politik itu merupakan sesuatu yang wajar dan positif bagaimanapun juga politik harus bisa memebuka jaringan. 2. bagaimana pendapat anda tentang mahasiswa yang begitu luas ? jawab : pengelolaan jeringan memang sedikit banyak agak sulit dan harus disertai dengan strategi-stratgi dan konsep-konsep yang matang sehingga gerakan mahasiswa yang selama ini yang ada dapat terjaring menjadi satu dan ada kasatuan dalam sebuah pemikiran. 7. Kekuatan gerakan mahasiswa a. Kemampuan perubahan 1. Bagaimana pendapat anda mengenai kemampuan perubahan yang dimiliki mahasiswa ? pengelolaan jaringan gerakan karena

Jawab : kemampuan yang dimiliki mahasiswa itu merupakan suatu keharusan karena mahasiswa merupakan agen perubah 2. Menurut anda kemampuan perubahan yang bagaimanakah yang harus dimiliki mahasiswa ? Jawab : tentu perubahan yang dinamis, perubahan yang mengarah kedepan, dan perubahan yang positif b. Mengkritisi aspirasi 1. Bagaimana anda mengkritisi aspirasi terhadadap politik di kampus ? Jawab : saya mengkritisi aspirasi politik sebagai sesuatu hal yang harus dilakukan oleh aktivis mahasiswa karena dikampus ini tentu sebagai objek adalah mahasiswa . 2. menurut anda mengkritisi aspirasi yang bagaimana dalam kehidupan politik di kampus ? jawab : mengkritisi aspirasi yang sesuai dengan real yang terjadi di kampus itu. c. Sosialisasi pers 1. Bagaimana yang anda lakukan dalam mensosialisasikan pers politik kepada mahasiswa ? Jawab : ada beberapa yang bisa dilakukan dalam mensosialisasikan pers politik karena bagaimanapun juga pers politik itu merupakan wahana yang tepat untuk mensosialisasikan politik mahsiswa. 2. Apakah sosialisasi pers sangat efektif dalam pengembangan kehidupan politik di kampus ? Jawab : ya, karena pers adalah media , banyak orang membaca, banyak orang mendengarkan sehingga sangat efektif. d. Gerakan rakyat 1. Kenapa mahasiswa disebut sebagai bagian dari gerakan rakyat dalam perjalan politik sebuah negara ? Jawab : mahasiswa adalah rakyat dan mahsiswa dikatakan bagian dari gerakan rakyat itu memang benar. e. Dampak perubahan

1. Dampak perubahan yang bagaimanakan yang diharapakan oleh mahasiswa dalam kehidupan politik ? Jawab : dampak perubahan yang diharapkan oleh mahasiswa dalam politik adalah dampak perubahan yang dinamis, perubahan yang mengarah kepada kebenaran, dan perubahan yang mengarah berpihak kepada rakyat. 2. Apakah dampak perubahan tersebut mempenagaruhi kinerja kegiatan politik di kampus ? Jawab : saya kira tidak begitu berpengaruh terhadap kegiatan politik kampus karena kampus merupakan sesuatu intitusi independen yang mau dan mampu mengurusi lembaga kemahasiswaan. f. Pengelolaan gerakan 2. Apa yang diharapkan oleh mahasiswa dalam pengeloaan gerakan politik di kampus ? Jawab : diharapkan oleh mahasiswa dalam pengelolaan gerakan politik adalah diberikan kebebasan terhadap gerakan mahasiswa untuk mengktisi kebijakan pemerintah sehingga kita mamapu secara objektif mengkritisi kebijakan – kebijakan pemerintahan g. Penghubung rakyat 1. Mengapa mahasiswa dikatakan sebagai penghubung rakyat dalam perjalan politik sebuah negara ? Jawab : mahasiswa yang dikarunia nilai kebih yaitu intelektual dan keberanian maka sudah pasa kitakan penghubung rakya karena mahasiswa adalah rakyat 2. Apa yang akan dikehendaki mahasiswa sebagai penghubung rakyat dalam kehidupan berpolitik ? Jawab : yang dikendaki mahasiswa cukup sederhana sebenaranya. Persatuan dan kesatauan, hilangkan krisis moneter, mari kita bersama-sama untuk mamandanag Indonesia lebih baik.

8. Faktor birokrat kampus a. Memperketat absensi 1. Dengan memperketat absensi, apakah kegiatan anda menjadi terhambat ? Jawab : aktivis tidak terlalu menghiraukan absensi sehingga memang kadang banyak yang tidak mau gabung organisasi kemahasiswa karena tuntutan akademik yang terlalu berlibihan sehingga ini harus disiskapai oleh pihak birokrat yang ada di kampus. 2. Bagaimana cara anda untuk mengantisipasinya ? Jawab : megantisipasi perlu ada sterategi, ada jadwal yang terkoordinir sehingga kapan harus masuk kuliah kapan tidak masuk kuliah, kapan kita harus beroganisasi, kapan melakukan kegaiatan kemahasiswaan.

b. Merepresi nilai 1. Apakah birokrat kampus sering merepresi nilai dari aktivis mahasiswa ? Jawab : saya kira tidak . 2. apa yang akan anda lakukan sebagai mahasiswa melihat hal tersebut ? jawab : saya melihat tersebut berarti mahasiswa harus mau berkomunikasi dengan dosen yang bersangkutan sehingga mengapa ini harus terjadi. a. Membuat perjanjian 1. Perjanjian apa sajakah yang dapat menghambat kegiatan anda ? Jawab : perjanjian kegiatan, memang system yang ada harus mewajibkan megikuti kuliah sampai selesai delapan semester. 2. Apa yang akan anda lakukan dengan hal tersebut ? Jawab : ya , bagaimana pinter-peintenya membuat strategi . b. Merepsesi psikologi 1. Bagaimana cara birokrat merepresi psikologi mahasiswa dalam politik kampus ? Jawab : ya, dengan cara kebijakan yang tidak menguntungkan mahasiswa .

2. Bagaiman solusi anda apabila mahasiswa terkena sanksi tersebut ? Jawab : solusinya apabila mahasiswa terkena sanksi tersebut pertama tentu mahasiswa mempreser birokrat untuk mancabut sanksi tersebut. c. Pemecatan status 1. Apakah pemecatan status digunakan birokrat untuk aktivis yang melanggar peraturan kampus ? Jawab : di unes belum perbah terjadi 2. Bagaimana anda menyikapi keadan tersebut ? Jawab : saya menyikapi , kalau memang terjadi suatu kesalahan yang besar dan itu harus dipecat dan sesuai dengan mekanisme, ya nga apa-apa , tapi kalau memang di plotisir maka mahasiswa harus mau mempreser keputusan tersebut kepada birokrat.

HASIL PENELITIAN BUDAYA POLITIK KAMPUS STUDI KASUS TERHADAP AKTIVIS MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 3 ( tiga ) Nama Alamat : USEP BADRUZAMAN : SEKRETARIAT PKM BEM UNNES JL. RAYA KAMPUS SEKARAN FIP UNNES Gunung Pati. Status : MAHASISWA/ KETUA BEM UNNES AGUSTUS 2004

Hari/ Tgl/ Jam : RABU/

Pedoman wawancara ini disusun untuk mengungkap data tentang budaya politik kampus ( studi kasus terhadap aktivis mahasiswa di Universitas Negeri Semarang ).

1. Lingkup Budaya Politik a. Orientasi individu 1. Bagaimana keterlibatan anda dalam berpolitik di kampus ?

Jawab : ya, menurut keterlibatan saya selama ini dalam politik kampus, saya selalu menempatkan diri saya selalu berada di depan, selalau berada di tengah selalau berada dibelakang, ketika saya di depan ya harus didepan artinya memang itu menurut pemahaman sebagai idealisme mahasiswa saya harus didepan maka saya harus didepan , suatu menurut saya sebagai mahasiswa, idesalismen mahasiswa ketika saya di tengah maka saya akan ditengah, menurut saya sebagai mahasiswa, idealismen mahasiswa dan pergerakan mahasiswa dalam nilai dan moral ketika saya dibelakang maka saya akan dibelakang artinya tidak terlalu banyak peran saya mungkin hanya sebagai peran dibelakang layar, suatu saat kita di depan, ditengah dan di belakang.

2. Bagaimana cara anda melakukan penolakan politik di kampus ? Jawab : ya ada dua hal yang akan kita lakukan pertama kita

melaksanakan secara frontal ketika apa-apa yang dilaksanakan yang berhubungan dengan politik tersebut berhubungan dengan kebijakan ketika tidak bisa dilaksanakan kompromi artinya birokrat kampus melaksanakan kebijakan tapi kebijakan itu tidak bisa dikompromikan dengan kita maka melaksanakan secara frontal dengan pelaksanaan cara demo jalanan tapi tidak tertutup kemungkinan mahasiswa adalah orang ilmiah tetapi yang diutamakan dialaog, proses menemukan satu dengan yang lainnya, proses menemukan jalan keluar secara ilmiah dan diskusi tetapi kalau ngga ada itu kita lakukan secara frontal. 3. Bagaimana anda melakukan penilaian terhadap politik di kampus ? Jawab : saya melakukan penilaian terhadap politik di kampus meliahat dari bebrapa segi pertama peguasa itu siapa, oh penguasanya itu rector, kita mempunyai latar belakang , latar belakang apa, latar

belakangnya bergeraknya dimana, yang kedua dari birokrat sama, kita akan melihat pembatu rector missal pembantu rector tiga , pembantu

rector tiga siapa dia , latar belakang siapa , asal muaranya siapa biasanya kebijakan politik tidak akan jauh beda dari asal muaranya, kita akan melihat dari mahasiswa , dimana kelompoknya gerakan darimana dahulu itulah mahasiswa dimana mahasiswa kelompok besar maka di situlah akan diwarnai kelompok yang besar semacam itu. Ketika kita melihat peta politik kampus kita semuannya dimana saja kita lihat oh UNNES itu petak politiknya seperti ini mulai dari birokrat seperti ini , kampus seperti ini mahasiswa, serta

masyarakatnya, masyarakat kampus artinya masyarakat yang ditempati itu masyarakat gunung pati, masyarakatnya seperti apa, politiknya bagaimana . politik adalah seni meguasai atau mempertahankan kekuasaan artinya politik identik dengan kekuasaan.

2. Kehidupan Politik a. Sistem politik keseluruhan 1. Menurut pendapat anda bagaimana latar belakang sejarah UNNES dijadikan kampus milik golkar pada zaman orde baru ? Jawab : iya tidak terlalu banyak tahu , kalau dulu terbukti kalau memang mingkin dikatakan politik golkar memang latar belakang golakr kareana dulu semua penjabat dari 2. Bagaimana pendapat anda tentang sejarah politik kampus di UNNES ? Jawab : kita akan membagi tiga bagian ,yang pertama kita melihat dari penguasa pihak rektorat.sejarah di kampus UNNES bagaiman pun pihak rektorat adalah orang orang itu harus netral,netral dari segala hal tapi ternyata tidak bisa kecuali orang orang yang bisa sejarah politik di kampus UNNES dulu itu katanya dulu UNNESitu sebelumnya ,sebelum banyaknya ini UNNES itu masih IKKIP dulu ,itu rawan sekali ,saya mendengar bahwa di UNNESitu sangat rawan mahasiswa itu dulu terusdicegati,terus di todong ,terus di rampok atau di kompasir uang oleh

masyarakat sini .iya kebijakan yang dulu karena takut .mungkin mahasiswa adalah dukungan ,pelindungan dari UNNES kebijaksanaan dulu berkerja sama dengan orang orang kampung ini ,kerja sama ,orang kampung sini dimasukan di UNNES tanpa melalui tes dan sebagainya itu salah satu kerja sama nya atau juga banyak orang orang kampung masuk UNNES itu jadi pegawai dan sebagainya .itu salah satu politik kampus itu bagaimana memeperkuat kekuasaan dikampus UNNES

dengan cara itu tapi ternyata disana masih banyak kajangalan banyak pencuriaan motor ,komputer secara politiknyabagaimana dulu dan arah politiknya jelas berubah menjadi UNNES masih orde baru itu jelas itu adalah salah satu partai besar bagi rezim ,setelah itu saya tahunya sedikit dari pada ,emang ketika dulu dengan kondisi kebijakaan seperti itu terkondisikan sehinga para masyarakat masa kampung juga terbagi apalagi dangan adanya kost-kostan dan sebagainya . sekarang kondusif tidak ada hal –hal semaacm itu walaupun humanisme mungkin juga sering masuk .Padapelaksanaan yang kedua banyak kekurangan Karena anak-anak orang kampung perlu di perhatikan saat ini , walaupun sama rector ngak juga katanya mudah-mudahan sering di perhatikan lagi tapi kalu secara poltik saya cendrung kelihatanya masih kesana terbukti kalu mahasiswa bergerak masih ada keseriusan miaslkan takut UNNES terceladsb dan kita harus tahu bahwa UNNESitu belum babas sebagai UUES yang bener-bener punya wibawa Karena kita masih tunduk dterhadap beberapa atiran dan kebijakan –kebijakan yang imposibel yang saya tidak tahu dimana tapi kelihatanya kebijakan –kebijakan tidak menutup pda kebijakan pendidikan tapi kelihatanya kebijakan politik kelihatannya sehinga UNNES itu tidak akan berkembang kalau masih melihat kebijakan poltik sat ini ,pembagian kekuasaan dsb ,wah sangat sulit saya kalau nanti kebijakan –kebijakan pendidikan itu kalau .sekarang oleh mahasiswa kita tahu pergerakan mahasiswa saat ini dulu lebih banyak pada orang –oramg intra yang bergabung kalau mungkin kebanyaakan orang HMI tapi dengan reformasi kampus UNNES

berkembang ada gerakan lain selain HMI ada KAMMIini mulai bergesr ada intra ,ekstara belum masuk sehinga pola pemikiran politik lebih canggih Karena bukan hanya berfikir masalah UNNES tetapi berfikir masalah lainnya karena masalah pergerakan sehinga pada tahun-tahun sekarang di pegang oleh orang –orang peergerakan orang –orang ekstra sehinga lembaga ini dinamis yang kritis .dinamis karena gerakan di pengaruhi oleh orang-orang yang pemikiran bagus masa politik kebangasaan namun dikatakan kritis berbahaya kalu seandainya gerakan politik terkontaminasi oleh kepentingan –kepentinagan ekstra itu yang di hawatirkan tapi sekarang ini lembaga di kuasi oleh organsasi islam . 3. Apakah menurut anda lokasi berpengaruh terhadap kehidupan politik di kampus ?sangat berpengaruh kalau kita membandingkan politik di

UNNES dengan politik selain di UNNES ketinggalan jauh, karena manusia sangat tergantung terhadap lingkungan sama juga politik tergantung sama lingkungan, lingkungan yang masih jauh dari keramaian politik terkadang just one terhegemoni salah satu yang kuat tapi kalau di kota tidak bisa karena sudah bebas dan rasional, mungkin disisni irrasional masih kuat kalau di kampus kampus yang dekat kota rasional . 4. Apakah menurut anda kekuasaan berpengaruh terhadap kebijakan dan keputusan politik di kampus ? Jawab : jelas menurut saya, bahwa politik adalah kekuasaan, kalau kita memahami bagaiman kebijakan politik dalam kekuasaan jelas bahwa politik adalah mempertahankan kekuasaan. Sehingga kalau dikatakan berpengaruh jelas sangat berpengaruh orang berkuasa akan

mempertahankan bagaimana dia akan berkuasa kembali, bagaiman kebijakan-kebijakan politik itu mengarah agar dia berkuasa atau orang kelompok berkuasa kembali. 5. Bagaimana pendapat anda tentang aturan kehidupan politik di kampus ? Jawab : aturan kehidupan politik di kampus jelas bahwa kehidupan politik di kampus kalau saya memahami bahwa politik kehidupan

kampus adalah politik yang di warnai oleh keadaan ilmiah dilandasi oleh ilmiah dilandasi oleh bahasan bahsaan ilmiah artinya berpolitik sesuai dengan nama kampus adalah lembaga inti sehingga kalau berfikir

jangan pakai dengkul tetapi dengan pakai otak. Pakai dengan rasional jangan sampai dengkul yang bekerja. Salah satu dari orang orang kampus ikut partai, ikut pada salah satu ormas jangan sampai kita membawa nama label kampus untuk di jual pada masyarakat atau partai tertentu karena kampus lembaga independen, etikanya adalah semuanya boleh masuk partai tapi jangan samapai masuk partai dengan nama identitas kita sebagai seorang unnes, kalau masuk boleh dengan lembaganya, bem unnes partai ini , rektorat partai ini, ngga boleh tapi kalau masih hanya ikut asalkan dengan ilmiah bukan dengan dengkul. 6. Bagaimana anda menjalankan wewenang politik di kampus ? Jawab : wewenang politik kampus aturan aturan yang ada di kampus, kode etik kampus sudah jelas , jadi wewenang politik kampus kita sesuai dengan aturan-aturan lembaga politik kampus, mungkin sudah paham semnua kode etik kampus , aturan-aturan seperti apa sehingga anda paham yang jelas kalau kampus harus sesuai dengan system over budy kita. Kecuali kita membahas wewenang saya di politik kampus pegertianya bukan bagaimana saya memperjuangkan kampus unnes tapi memeperjuangkan ormas saya, golongan saya wewenag politik sebagai seorang ormas adalah saya menjalankan politik saya tidak memamaki lembaga saya tetapi lemabaga saya sebagai pribadi saya kalau sebagai mahasiswa bukan sebagai orang ketua lembaga semacam itu. 7. Apakah menurut anda negara berpengaruh terhadap kehidupan pilitik di kampus ? Jawab : negara sangat berpengarauh contoh orang kampus orang rasional kalau misalkan negara kita . contoh investasi indosat yang cukup actual dan sangat konsistik ini tidak akan diam kampus ini pasti kan bergerak contoh mahasiwa bergerak karena tidak sesuai dengan menghancurkan pemerintah tapi birokrat kampus adalah antek-antek pemerintah itu

sangat memepengarhi nanti mungkin BEMnya siapanya atau gerakannya bikin trik-trik agaer bem hancur tidak bergerak biasa antek ini mahasiswanya kacau gimana cara agar mahasiswa tidak kacau akhirnya punya startegi lain yang berhubungan lagi. b. Proses input 1. Bagaimana anda menjalankan tuntutan politik di kampus ? Jawab :saya menjalankan politik kampus saya harus membawa tiga gerbong, gerbong pertama adalah gerbong lembaga kemahasiswaan gerbong mahasiswa sebagai kekuasaan tertinggi di kampus yang ketiga adalah birokrat kampus tiga gerbong ini kita gunakan untuk pemasangan politik di kampus kalau seandainya di kampus ini ada hal yang kita tidak kita ingingkan misalkan kebijakan kurang sesuai dengan keinginan mahasiswa maka gunakan gerbong-gerbong, gunakan bem sret, gunakan gerbong masa mahasiswa masudnya gunakan gerbong pertama ini kita adakan proses kooperatif, proses diskusi dengan para birokrat, ngga bisa gunakan yang kedua, bawa masaa mahasiswa ke rektorat laksanakan demokrasi ngga berhasil juga cari birokrat kampus yang kira-kira stuju dengan kita gabung sama kita masa tidak kuat, masak kalah denga politik kalau itu terjadi salah satu cara untuk politik kampus. 2. Bagaimana anda melakukan pengamatan kehidupan politik di kampus ? Jawab : saya mengamati kehidupan politik di kampus saya tetap

berpegang pada pilar demokrasi kampus salah satu diantaranya pilar demokrasi di kampus adalah media, kedua lemabaga eksekutif, lemabag legisalatif, kekempat lembaga peguasa atau birokrasinya , penguasanya adalah presiden bemnya kira-kira pilar demokrasi lemabag

kemahasiswaan itu berjalan atau tidak . kalau berjalan proses politik dikampus cukup dinamis , tapi kalau tidak berjalan , ya ini jadi bencana kita harus jalani , itu cara mengamati gitu aja ngga usah sulit-sulit, kita melihat rektorat di uunes, legislatifnya gimana, medianya dikekang

ngga kalau tidak dikekang mencerdasakan mahasiswa .

bebas, terbuka ,bagus itu akan

3. Apakah anda ikut dalam kegiatan partai politik ? jelaskan sejauh mana anda terlibat ? Jawab : kalau saya mengatakan saya ikut partai politik sejauh saya sebagai pribadi saya, saya harus ikut kalau saya adalah ornga politikus , orang yang harus berpolitik , sejauhmana saya berperan politik selama ini peran saya selama ini hanya sebagai pendukung hanya sebagai seorang promotor, kareana sesuai dengan kondisis saya sebagai orang kebijakan publik dikampus ini tidak boleh orang publik memperlihatkan bahwa saya dari partai ini , ini kacau dan selama ini saya sebagai simpatik partai 4. Apakah menurut anda ada kelompok kepentingan dalam politik di kampus ? sebutkan dan jelaskan ? Jawab : kelompok kepentingan itu pasti ada tidak bisa kita pungkiri semua orang pasti memmpunyai kepentingan tapi kita lihat kepentingan yang bagaimana kepentingan pribadi, kepentingan kelompok,

kepentingan secar keseluruhan orang itu banyak kepentingan tetapi kita nngga , ini kepentingan siapa yang bermain , ini kepentingan umat atau kepentingan hanya satu kelompok atau kepentinga pribadi, kita lihat kebanyakan , ini ambil kepentingan pribadi, pingin apa, pinging terkenal, dan ada lagi kepentinga ke dua , kepentinga kelompok saya harus banyak uang hari ini , tapi kepentingan juga kepentingan umat semau harus dilaksanakan, jelas tidak peranah ada penguasa tidak punya kepentingan , kalau ngga punya kepentingan jangan berkuasa . 5. Apakah menurut anda penggunaan alat kominikasi dalam politik sangat di perlukan ? jelaskan dan beri contoh ? Jawab :sejauh memang apa adan, ya sangat perlu , efektifnya ya dilaksanakan tapai tidak harus menutup kemungkinan bahwa alat komunikasi harus dilaksanakan jangan sampai nga punya uang pakai alat kaminikasi , artinya uang rakyat untuk membeli alat komunikasi

untuk melaksankan memang secar real butuh efektif tapi kalau tidak punya kenapa pakai alat kominikasi dengan melaksanakan pertemuan, kita mengadakan agenda –agenda yang perlu dan sebagainya, . c. Proses out put 1. Bagaimana anda menjalankan perundang-undangan politik di kampus ? Jawab : menjalankan perundang undangan politik di kampus saya batasi masalah mahasiswa, ketika saya menjadi presiden mahasiswa saya menjalankan sesuai dengan apa yang dilaksanakan oleh konggres mahasiswa unnes ketika saya dilantik saya laminating, saya ambil, saya simpan di tempat saya , sumpah saya, saya suruh mengecek itu sumapah sumpah itu agar kita melaksankan tidak melenceng dari ketentuan, kedua undang-undang saya selalu membaca undang-undang , mudah apa yang dilakukan tidak terlalu jauh dari undang undang. Ketika menjlankan undang-undang tidak jauh dari undang undang sehingga kita ketika melaksanakan lpj kita sudah siap karean kita sudah banya argumen menyesuaikan kitab undang-undang. . 2. Bagaimana pendapat anda tentang badan legislative dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab : : badan legislative dalam kehidupan politik di kampus ini cukup bagus, sangat strategis, tapi kenyataanya badan mahasiswa ini tidak punya pamor, ini saya mengamati beberapa dari dua-tiga tahun ini tidak ada kemampuan untuk mengakui bahwa legislative, saat ini mahasiswa memandangnya eksekutive, kerena apa ! karena orang-orang legislative tidak mau menjadikan dirinya orang-orang eksekutive bahkan hanya lemah

3. Bagaimana pendapat anda tentang badan eksekutif dalam kehidupan politik di kampus ?

Jawab : badan eksekutive tadi jelas, kebalikannya eksekutive dengan organisasi legislative sebetulnya ya sama, peranannya adalah untuk memberikan lembaga eksekutif mahasiswa eksekutive itu artinya menjalankan perintah dari lesgilative, menjalankan perintah dari konggres artinya kita legislative peranan di kampus sungguh luar

biasa, karena di kampus kita sebetulnya di kampus yang benar itu, eksekutive kampus itu adalah yang menaungi mahasiswa jadi mahasiswa ada apa, ada kejelekan, ada tindakan-tindakan yang tidak sesuai kepada mahasiswa misalnya dizolimi dan sebagainya maka eksekutive yang bergerak membela mahasiswa, maka itu salah satunya jadi membela mahasiswa, yang kedua memaparkan mahasiswa, artinya memberi pembelajaran kepada mahasiswa, karena eksekutif sebagai ajang pembelajaran mahasiswa berpolitik di massa, agar mahasiswa bisa menjadi seorang penguasa, karena siapa lagi besok bukan kita yang menguasai, yang ketiga sebagai pemercepat atau mahasiswa unit menjual nama baik UNNES dengan lembaga, karena kita harus sadar bahwa kurikulum publik cukup besar, kelembagaan kemahasiswaan harus bisa menghantarkan mahasiswa sejajar dengan ITB,sejajar dengan UGM, kalau masalah pendidikan kita harus mengakui kita belum sampai kesana, mudah mudahan sangat berakpreatif sekali peranan lembaga eksekutive kampus besok sangat luar biasa, artinya jangan di pegang dong politiknya mahasiswa agar mahasiswa bisa.

4. Bagaimana pendapat anda tentang badan peradilan dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab : badan peradilan dalam kehidupan politik sepamahaman saya perananya cukup strategis, bagaimanapun peradilan seperti ini saya kasih contoh kalau di kampus contohnya gugatan eksen popularis yang dilaksanakan oleh indosat yang dilakukan oleh 135 (seratus tiga

puluh lima) tokoh yang dilaksanakan ke jaksaan hakim agung itu tidak di gubris padahal kalau kita lihat data datanya itu luar biasa mosok indosat di jual pada singapura , singapura itu siapa di belakangnya vertex milik Israil kita semaunya seperti itu hanya dengan 65 (enam puluh lima) triyun pada hal utang kita berapa 2125 (dua ribu seratus dua puluh lima) triyun dengan dalih membayar utang itu tidak ada apa apanya bahkan 3 (tiga) persenya dipotong yang entah di bawa oleh siapa, ketika di gugat presesen tidak ada permasalahan atau tidak di gubris sampai saat ini kita masih mengajukan naik banding artinya apa di dalam politik itu peradilan sangat cukup penting jangan sampai, itukan salah satunya inikan juga politik mereka berpolitik peranan agar tetap dijual di kuasai itu hakimnya ini apa ya kuat walaupun seolah olah tetep karena hakimnya di makan di kasih makan oleh mereka.sehingga tetep aja mereka kuat kalah itu kebenaran, karena peradilan ini di pakai politik d. Diri sendiri 1. Bagaimana anda menggunakan hak politik di kampus ? Jawab : saya mengunakan hak, ini dalam segi apa ! saya

mengunakan hak di kampus harus jelas ya saya harus seorang kampus saya harus membangun sama sama kampus ke depan lebih baik yaitu peran politik pertama saya mencari orang yang berkuasa saya harus benar benar harus mencari orang orang yang benar benar bisa membuat kampus ini baik, baik bagi mahasiswa bagi rektorat jadi saya tidak akan pernah memilih, walaupun senat yang memilihnya, tapi bisa peran politik kita mempengaruhinya ke sana bisa saja, memilih calon yang baik yang bisa membawa UNNES ke depan lebih bagus, jadi itu yang kita pilih, itu peranan yang bisa kita pilih, yang kedua ialah memilih pemilu yang kedua ini atau saya sebagai mantan presiden, berarti memberikan pengalaman . 2. Bagaimana anda melakukan kewajiban politik di kampus ?

Jawab : kewajiban politik di kampus tidak ada di saya ,saya melaksanakan atau menegakan kebenaraan mungkaraan walaupun itu di rasa berat 3. Pendidikan politik a. Penyelengaraan. 1. Menurut anda bahan bacaan apa yang dapat mendorong menjadi aktivis mahasiswa dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab : banyak bacaan yang harus di batasi yang pertama kita harus baca sejarah perpolitikan bangsa, sejarah perjuangan, itu bagus sejarh soekarno sejarah jendral sudirman sejarahnya siapalah sejarahnya cut nyak dien misalkan, itu politik, kita bisa melihat atau budi utamo misalnya jadi kita baca dahulu, jangan kita melihat serangannya, kalau kita sudah menyatu, kita tahu sejarahnya, kita tahu pergerakanya itu akan termotivasi kesana, kita coba lihat peran spisifik untuk melihat beragam politik yang lain, misalnya perang fasifik atau politik shun chu, misalkan adakan atau kita bagaimana misalkan perang uni soviet atau pergerakan kontenporer yang harus anda baca, banyak tuh baca-bacaan apa kebangkitan abad 2001dan sebagainya atau selain itu sebagai seorang moderat tahu sedikit dari SPPI ( sistem pendidik politik Indonesia) walaupun kita bukan dari orang politik katakanlah kita baca SPPI misalkan, itu salah satu bacaan yang lainnya banyak di internet ini banyak berita.kukira itu. 2. Menurut anda publikasi massa tersebut sangat penting bagi kehidupan politik di kampus ? jelaskan ? Jawab : publikasi massa penting, sangat penting jadi kalau seandainya kita punya itu di kampus karena tidak ada publikasi massa ya ada karena politik kita indetik dengan massa indetik dengan media, jadi dua hal media dan massa, media berperan melalui pikiran massa berperan melalui eksta parlementer langsung. 3. Menurut anda apakah media visual digunakan dalam pengembangan dan penyelenggaraan pendidikan politik di kampus ? harus memberantas ke

Jawab : saya mengatakan setuju media visual dan sangat besar pengaruhnya media saat ini contoh misalkan sekarang apa banyak pengaruhnya media visual contoh dulu audio apa sama audio semacam macam pendengaran walaupun bung tomo bergerak tadi ngak kelihatan bagi mahasiswa aksi ini memberikan semangat. 4. Menurut anda siapa saja yang menyelenggarakan pendidikan politik ? Jawab : semua terlibat mula mula dari linkungan, massa masyarakat, kemudian obyek politik, misalkan kita mengatakan obyek politiknya adalah mahasiswa, tapi bukan mahasiswa yang menjadi obyeknya, melainkan yang menjalankannya adalah biokrat ,juga biokrat menjalankanpendidikan kita,jangan salah politik menekan kita, itu memberikan politik bagi kita, kalau kita berjiwa besar waktu itu bagus sekali politik itu baik, pihak biokrat menekan kita itu bagus sekali karena kita bisa kontak. 5. Menurut anda apakah lembaga masyarakat terlibat dalam

penyelengaraan pendidikan politik ? jelaskan ? Jawab : Ya, menurut saya lembaga masyarakat harus terlibat dalam penddikan politik bagaimanapun juga kedewasaan berpolitik ini

harsus ada pada masyarakat secara utuh. 6. Menurut anda apakah lembaga formal terlibat dalam penyelengaraan pendidikan politik ? jelasakan ? Jawab : ya lembaga masyarakat sangat terlibat, lembaga masyarakat di sini, di kampus misalkan di sekaran misalkan lembaga karang taruna, kelurahaan ataupun lembaga mayarakat lainnya seperti Nadulatul Ulama sangat berperan dalam pendidikan kampus artinya pendidikan politik kit lihat kodisi lingkungan seperti ini atau lingkunganya keras kita akan berfikir-fikir harus melaksanakannya atau sebaliknya itu salah satu cara berpolitik, cara mempertahankan kekuasaan kita harus tahu kuncinya salah satu peranan mereka .

7. Menurut

anda

apakah

lembaga

non

formal

terlibat

dalam

penyelengaraan pendidikan politik ? jelaskan ? Jawab : ya jelas sekali lembaga formal dan non formal terutama di kampus,misalnya lembaga formal adalah Universitas Negeri

Semarang ,membentuk karakteristik mahasiswa .lembaga non formal contohnya pondok persantren ,UKMdi masyarakat itu sangat membantu. Contoh misalkan saya jelaskan lembaga formal ini lembaga formal seperti apa ! lembaga formal itu mahasiswa mampu menilai sejauh mana,memberikan in put materi tentng masa politik di lembaga kemahasiswaan dimana mahasiswa harus bergerak di sana ,meminit, mencoba berusaha mengaktualisasikan,membaca,

berinteraksi, dan segala tindakan-tindakannya terjun, lembaga non formal kita lihat misalkan contohnya beda antara siswa di persantren dengan yang tidak atau mahasiswa yang ikut pergerakan mahasiswa di KAMMI dengan mahasiswa yang tidak ikut itu perilaku politiknya berbeda .

b.

Pertemuan kepentingan 1. Bagaimana pandangan anda terhadap kehidupan politik di kampus ? Jawab : saya melihat saat ini kehidupan di kampus saya melihatnya secara jujur saya harus obyektif saya melihatnya tidak begitu dinamis,kelihatan kegiatan atau kiprah politik di kampus parameter dinamis itu apa! parameter dinamis adalah ada kawan dan lawan ketika kawan dan lawan berperan masing-masiang ,kawan itu berfungsi sama sama kedua-duanya berfungsi kawan dengan lawan misalkan kawan sebagai pengusaha,pengusaha yang baik sedangkan lawan berperan sebagai lawan yang baik jika itu dilaksanakan dengan dewasa itu akan membuat suatu organisasi politik yang akan memojokan orang-orang mempunyai kemapuan politik yang lebih kalau cuma satu nanti kemampuannya sulit nanti kaget kalau bergerakdi masyarakat,di mayarakat ada dua yaitu lawan dan kawan.

2. Bagaimana cara anda menyampaikan kepentingan dalam politik di kampus ? Jawab : kalau saya mempunyai kepentingan di kampus ini kepentingan pribadi saya atau kepentingan kelompok, saya biasanya kepentingan pribadi saya !saya menyampai kepentingan pribadi biasanya kepentingan pribadi saya tidak terluput dari kepentingan bersama-sama, mudah-mudahan juga kepentingan mahasiswa

,kalaupun saya menyampaikan biasanya kepentingan pribadi saya adalah kuliah, saya sampaikan ya kuliah kalau kepentingan kelompok saya menengah, saya secara rasional dan diterima oleh semua, semua masyarakat, semua lembaga, semua temen-teman saya apa lagi itu untuk kepentingan umat jelas kita menyampaikan rasional apapun kepentingan kita sampaikan secara rasional itu pun sesuai dengan tujuan, biasanya sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada. 3. Gagasan apa sajakah yang digunakan dalam pengembangan politik di kampus ? Jawab : pengembangan politik saya mempunyai berbagai gagasan pertama yang saya sampaikan tolonglah kampus ini di beri satu kebebasan , bem itu eksekutif body artinya satu lemabag yang bebas dari incara atau intruksi dari rektorat , artintya eksekutif body , badan tersendiri artinya berhak untuk mengataur . bolehlah kalau dengan rektorat dengan koordinasi artinya biarakan bem tumbuh dengan

sendirinya, kedua mahsiawanya , di unnes ini realita mahasiswanya sulit reliata apatis terhadapa politik padaha siapa lagi yang yang membangun manusia, mereka cenderung mereka sulit untuk politik, lebih baik kita kuliah , bagaimana caranya , saya mangharapakan forum diskusi dilaksanaka bukan hanya bem tetapi lembaga kampusnya, misalkan unnes mempunyai labotorium politik , diskusi penegembangan politik, dan lemabag politik bagaimana kita bisa politik , dilaboratorium politik ini sehingga mahasiswa belajar bebas berbicara, forum diskusi antara mahasiswa dengan ahli akdemik,

pakar politik seperti doktor, profersor, kumpul dengan mahasiswa sehingga menemukan sebuah teori, mennemikan sebuah asumsi, menemukan sebuah kesimpulan, sehainga mendapatkan hasil prakarsa , bagus sekali itu.

c.

Agresi kepentingan 1. Menurut anda bagaimana aspirasi mahasiswa terhadap budaya politik kampus atau relita politik saat ini ? Jawab : itu saya katakan aspirasi masing kurang tapi melihat perkembangan zaman melihat perkembangan unnes sangat ini mau menjadi kota apalagi digabung dengan srondol akan bagus tuh berkembang tetapi relaita saat ini masih kurang contoh misalakan pemilihan presiden dari enam belas ribu mahasiswa hanya berapa tiga ribu lima ratus atau emapat ribu mahasiswa , itu tanda aspiarsi masih kurang, atau contoh saat ini kondisi negara indonesia jelek yang demo berapa hanya lima puluh sampai seratus mahasiswa artinya peranan aspirasi politik masih rendah . 2. Bagaimana pendapat anda tentang kehidupan politik di kampus sekarang ini ? Jawab : kehidupan kampus sekarang ini saya katakan masih relaitif normal tidak ada haal yang menonjol menuju satu kepentingan politik dan wajar-wajar saja. 3. Apakah peranan kesadaran berpolitik mahasiswa sekarang sudah mulai terjadi ? jelaskan ? Jawab : kesadarannya dikatakan mulai ya sudah mulai tetapi belum berkembang, kareana mulai tumbuh , unnes mulai bergerak , mulai berbicara disana ada koalisi kebangsaan , disanalah politik akan tumbuh , suatu kesadaran politik ada dan berpolitik menjadi bagus. kalau dipupuk agar

d.

Seleksi kepemimpinan 1. Menurut anda apakah seorang pemimpin harus memilliki kesadaran tentang politik di kampus ? jelaskan ? Jawab : Menurut saya seorang pemimipin harus dan wajib memilki kesadaran tentang politik , bagaimanapun juga pemimpin itu merupakan contoh bagi semuannya ketika pemimpin memilki kesadaran politik anak buah pun akan ikut. 2. Menurut anda kebulatan tekad yang bagaimanakah untuk digunakan oleh seorang pemimpin ? Jawab : kebulatan tekad yang harus dipunyai seorang pemimpin adalah tadi seorang pemimpin adalah orang harus bisa menegakan mungkin sekali lagi ya negara dan keadilan, kalau seorang pemimpin sudah bisa membuat tekad selain itu, tiga jangan mengungkit ulama silakan turun dengan sendirinya pegangannya ini adalah keadilan dan tanggung jawab itu adalah amanah di masyarakat, amanah mahasiswa yang jelas seorang pemimpin itu bukan dia pingin tapi dipilih itu yang harus kita perhatikan kenapa harus ada pemilihan karena pemimpin pingin di pilih bukan di inginkan. 3. Bagaimana diharapkan ? Jawab : seorang pemimpin harus mempunyai ketetapan jiwa yang satria, tegas, tegar, dan idealis. Kalau kita seorang pemimpin tidak idealis, jelas sekali banyak godaanya, luar biasa itu, uang-uang itu wah-wah itu banyak sekali, kalau kita tidak idealis kedudukan kita banyak. 4. Keyakinan yang bagaimanakah yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin ? Jawab : keyakinan yang sesuai dengan agama, keyakinan yang sesuai dengan hati nurani, kalau dilandasi akidah, dilandasi agama, dilandasi keyakinan-keyakinan maka insyak Allah dia mampu melaksanakan kepemimpin karena dalam agama itu di atur bagaimana dia tentang ketetapan jiwa seorang pemimpin yang

memimpin, keyakinan jelas itulah yang sesuai dengan agama masing masing. 5. Apakah seorang pemimpin harus dituntut kreatif dalam menjalankan tugasnya ? Jawab : ya, seorang pemimpin juga memang dituntut kreatif, tapi bukan berarti seorang pemimpin itu, yang tidak kreatif tidak boleh menjadi pemimpin, asalkan dia mampu memahami orang,

memenejemen orang, orang orang kreatif cukup di bawahnya itu bisa kita sepakati. 6. Keberanian yang bagaimana dalam mengambil keputusan mapun kebijakan yang dilakukan oleh seorang pemimpin ? Jawab : man bagi dakwa, bukan keberanian memikul resiko memikul tanggung jawab, sebelum kita menghitung-hitung terlebih dahulu, menganalisis terlebih dahulu, apa kelebihannya, apa kekuranganya apa akibatnya yang terjadi, pertimbangannya itu jelas itu keberanian. jangan keberanian yang ngak-ngak seperti anak TK

e.

Komunikasi politik 1. Menurut anda bagaimana mahasiswa medapatkan informasi tentang politik di kampus ? Jawab : dia mendapatkan informasi politik kampus itu, dia mendapatkan dari banyak sumber karena mahasiswa itu bukan orang buta, orang yang goib, dia bisa melihat, dia bisa mendengar, dia bisa mendapatkan informasi politik dari apa yang dia lihat, dia dengar itu. 2. Bagaimana anda melakukan perekrutan dalam menjalankan politik di kampus ? Jawab : kita menjalankan politik ada dua hal kita lakukan secara lembaga, kedua kita melakukan secara pribadi, secara lembaga, kita punya lembaga yang bisa kita gunakan merefedum misalnya BEM itu kita gunakan kembali, kita gunakan merefedum masalahya mahasiwa secara keseluruhan itu boleh ikut politik atau tidak, yang kedua adalah

pribadi kita ,kita bisa dengan membuka wacana, melaksanakan diskusi itu, diskusi di situ dengan melaksanakanya kita menarik respon, satu orang kita sadarkan, dua orang kita sadarkan akhirnya banyak orang yang kita sadarkan semacam itulah. 3. Partisipasi apakah yang dilakukan mahasisiwa dalam melakukan kegiatan politik di kampus ? Jawab : partisipasi yang paling dominan pada mahasiwa adalah dia belajar untuk menjadi seorang politikus itu yang paling bagus, jadi bukan menjadi seorang politikus tetapi dia belajar dari seorang politikus artinya dia masanya lebih banyak belajar itu pada warga, besok siapa lagi yang mendata selama ini mahasiswa bukan sebagai pelaku politikdan hanya sebagai pelaku belajar

4. Organisasi a. Hubungan atau keterkaitan 1. Menurut pendapat anda bagaimana hubungan atau keterkaitan mahasiswa dengan lembaga dalam politik di kampus ? Jawab : melihat hubungan antara keterkaitan mahasiswa dengan lembaga langsung itu antara dua mata uang artinya lembaga

kemahasiswaan satu mata uang dan satu lagi adalah mahasiswanya adalah tidak bisa dipisahkan ,kalau tidak ada mahasiswamaka tidak ada lembaga kemahasiswaanya satu hal yang tumpul mahasiswa tidak bisa walaupun tidak semua mahasiswa berpartisipasi politik, tapi

sebetulnya partisipasi politik adalah pasif juga berpartisipasi. 2. Menurut anda siapa saja yang terkait dalam kelembagaan politik di kampus ? jelaskan ? Jawab : yang terkait dalam kelembagaan politik di kampus yang pertama lembaga kemahasiswaan, kira-kira demokrasi di kampuslah ,media kelembagaankemahasiswaan legislative,eksekutive dan UKM ,dan terus juga yang lain biokrasi kampus, juga dosen ,dan juga warga masyarakat di depan kampus

3. Bagaiman hubungan lembaga intra dan ekstra dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab : hubungan lembaga intra dan ekstra, saya mengatakan intra dan ekstra di sini hubungannya timbal balik kalau menurut saya kalau saat ini saya katakan ekstra memberikan orang-orang atau kader-kader yang besar ,karena otomatis berterima kasih juga ke ekstra, ekstra bisa membangun orang-orang atau tokoh-tokoh politik dari kampus timbal baliknya begini ekstra memberikan kadernya di kampus otomatis sebalikannya dari kampus adalah bagaimana kampus membiarkan, tidak merasa melarang ekstra, untuk juga memperkerut orang orang kampus masuk kesini, itu timbal baliknya kita tidak melarang lembaga ekstra. 4. Bagaimana hubungan lembaga mahasiswa ( intra dan ekstra ) terhadap rektorat ? Jawab : hubungan lembaga mahasiswa sejauh ini kalau menurut saya, kita hanya hubungan koordinatif jadi kita sadari kita bahwa kita lembaga mahasiswa dengan rektorat sama hubungannya, oh tidah lebih tinggi rektorat,jadi kita sama, misalkan mahasiswa dengan rektorat samalah hubungannya,ya samalah dengan teman proses koordinasi bukan sebagai anak dan bapak, atau guru dan murid, tetapi lembaga sama, yaitu sama-sama berhak mengkritik

5. Bagaimana hubungan lembaga mahasiswa ( intra dan ekstra ) terhadap pihak dekanat ? Jawab : Begitu juga hubungan lembaga kemahasiswa intra di bem terhadap dekanat, mahasiswa memberikan usul dan saran dari asapirasi mahasiswa terkait sarana dan prassarana, lembaga

kemahasiswaan ,akademiik dan lainya . 5. Bagaimana hubungan aktivis mahasiswa terhadap dosen maupun kayawan Universitas ?

Jawab : hubungan mahasiswa saat ini saya melihat mungkin beberapa sekian persennya itu sangat bagus sekali persennya tapi sebeberapa persennya lagi yang besarnya misalkan dua persenya baik tetapi selebihnya itu kelihatannya kurang bagus kelihatannya dosennya juga tidak memberikan asperative terhadap apa yang bisa aktivis kampus karena aktivis kampus memang tidak bisa menjadi suri teladan, bolosan terus tapi tidak ngak pinter kayak sama seperti saya, lainya ngak baik jadi suri teladan, ya oke-lah dosen itu merasakan

terhinakan, merasa dilecehkan oleh aktivis .

b. Burgaining ( posisi tawar ) 1. Bagaimana posisi tawar aktivis mahasiswa terhadap mahasiswa di kampus ? Jawab :posisi tawar mahasiswa terhadap mahasiswa kita adalah mahasiswa aktif mahasiswa adalah mahasiswa ada posisi tawarnya saya katakan tidak ada posisi tawar mahasiswa ,mahaiswa itu sama lah kita tidak punya prsi tawar sam –sanmalah gitu bagaimanapun aktivis harus berterimakasih pada non aktivis karena tingkatan aktivis ada yang tidak aktivis tidak punya porsi tawar . 2. Bagaimana posisi tawar mahasiswa terhadap lembaga–lembaga di kampus ? Jawab : nah pada lembaga ini lembaga kampus misalkan mahasiswa ini saya sempitkan dengan borokrat posisi tawearnya cukup bagus misalkan bagaimana kondisinya kalau ada kebijakan-kebijakan ya dari lembaga yang kurang bermanfaat atau kurang bersebrangan dengan keinginan mahasiswa aktivis akan bergerak dan posisi tawarnya

tinggi kalau dulu pernah banyak aktivis di culik ,dan ditawari mau jadi dosen ngak kan lumayan itu 3. Bagimana posisi tawar lembaga ( intern dan eks organisasi ) mahaisiwa terhadap lembaga pemerintah dalam politik ?

Jawab : persiden itu takut pada mahasiswa tapi mahasiwa takut pada dosen, dosen takut pada rector,rector takut pada presiden ,seperti lingkaran setan ,posisi tawar mahaiswa sebagai oposisi abadi kalaumau ditawar degan uang, oh banyak sekali uang yang akan keluar mahaiswa aktivis yang gadungan –gadunga n dan opertinis mudah –mudahan tidak ada mahasiswa yang begitu. 4. Bagimana posisi tawar lembaga mahasiswa terhadap partai politik ? Jawab : Posisi tawar lembaga mahasiswa terhadap partai politik

adalah sebagai akses untuk menjalankan sebuah konspirasi politik dalam mnegembangkan maupun menyalurkan aspirasi rakyat. Mempunyai askses yang kuat dalam menjalankan sebuah politik sehingga mahasiswa dapat mengkontrol partai politik untuk tidak menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri. 5. Bagaimana posisi tawar lembaga mahasiswa terhadap organisasi masyarakat ? Jawab : posisi tawar masyarakat , mahasiswa akan terjun ke masyarakat dikatakan posisi tawarnya bahwa mahasisiwa cikal bakal organisasi masyarakat kalau organisasi mahasiswanya terbisa dengan kkn ,kolusi ,nepotisme masuk msyarakat jadi seperti itu banyak masyarakat kkn dan nepotisme jangan salahkan masyarakat .

c. Kontrol sosial 1. Bagaimana cara anda sebagai aktivis dalam mengontrol masyarakat yang luas dan majemuk ? Jawab : kita mengontrol masyarakat yang majemuk dan luas kita melihat dengan cara yang pertama kita lihat pada kebijakan, apakah kebijakan pemerintah sesuai ngak dengan masyarakat sehinga kita mengonrolnya kesan aja

peranan kita membela masyarakat

sehinga kita membela masyarakat dari kezaliman penguasa ,kedua kita melihat kondisi masyarakat seperti apa secara majemuk kita

sudah mempuyai lembaga komunikasi kita punya lsm sebagi kontrol masyarakat .

2. Menurut pendapat anda mengapa masyarakat harus di kontrol ? Jawab : masyarakat harus di kontrol, saya mengatakan bahwa masyarakat perlu dikontrol karena masyarakat bagian dari kita, kita berada di sini karena masyarakat contoh misalkan karena pajak-pajak dilakukan oleh petani, pajak-pajak oleh pedagang, pajak-pajak oleh desa, pajak-pajak oleh ojek, pajak-pajak oleh orang-orang pegawai negeri, kita bisa sekolah,kita punya pengetahuan lebih, jelas kita punya tanggung jawab besar dalam masyarakat

d. Pengabdi dan pelayan masyarakat 1. Menurut pendapat anda mengapa mahasiswa diartikan sebagai pengabdi dan pelayan masyarakat ? Jawab : : kita sebagai pengabdi sekali lagi kita mahasiswa ada disini, bukan karena kemampuan kita jelas ini walaupun orang tua kita kaya jelas kontribusinya adalah masyarakat dari mulai dari anak jalan

masyarakat petani, pengusaha semuanya punya peranan karena semua membayar pajak salah satu pengabdianyaatau caranya kita mengabdi pada masyarakat itu kewajiban kita 2. Menurut anda apa yang dilakukan dalam mengabdi dan melayani masyarakat ? Jawab : mengabdi dan melayani masyarakat sebagai mahasiswa saat ini kita adalah selalu memberikan sebagai pengayom atau sebagai kepanjang tangan dari masyarakat bila melihat masyarakat kesakitan kita ikut kalau kita terjun ke masyarakat kita langsung saja terjun, sebagai mahasiswa ya adalah panjang tangan

5. Dimensi gerakan a. Angkatan muda 1. Mengapa mahasiswa dikatakan sebagai angkatan muda dalam politik bernegara ? jelaskan ? Jawab : angkatan muda diakatakan sebagai angkatan muda karena umur kita masih muda yang kedua pengalaman masih muda ketiga orang muda diindentikan dengan idealis angkatan muda dengan angkatan idelis yakni sama di masyarakat katakanlah angkatan muda adalah angkatan yang diharapkan sebetulnya angkatan yang

sebetulnya diharapkan oleh generasi penerus walaupun dia udah tua tetapi sepertinya dia punya harapan dia tetap muda itu jadi angkatan muda karena masih punya harapan

2. Apa yang akan anda lakukan sebagai angkatan muda dalam bagian politik negara ? Jawab : salah satu yang dilakukan kita sebagai mahasiswa adalah belajar, persiapan, selalu membiasakan diri bersih di berkondisi

secara bersih sesuai dengan koridor yang ada ya rapi, bersih, tidak kolusi , tidak korupsi, tidak nepotisme dan sebagainya. diusahakan walaupun itu banyak sekali cenderung-cenderung ke sana tadi di biasakan sehingga kita menjadi angkatan muda yang benar . b. Angkatan intelektual 1. Mengapa mahasiswa diartikan sebagai angkatan intelektual dalam perjalan politik sebuah negara ? Jawab : angkatan intelektual pengertian dari intelektual itu apa ? kita mengunakan akal pikiran kita ya karena mahasiswa adalah selalu

mengunakan akal pikiran maka dikatakan orang-orang intelektual adalah orang-orang yang berfikir bukan orang-orang berperasaan tapi yang berfikir

2. Apa yang diharapkan oleh mahasiswa sebagai angkatan intelektual dalam perjalan politik sebuah negara? Jawab : sebagai orang intelektual yang diharap oleh kita adalah yang pertama kita sangat diharap politik ini politik yang berawal dari hati nurani artinya politik yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat kita tahu bahwa saat ini politik di Indonesia masih berkepentingan golongan atau biokrat atau kepentingan salah satu politiknya atau masyarakatnya saya mengatakan kedua-duanya bisa politiknya yang memberikan kebebasaanatau memberikan kemudahan kepada pelaku politik untuk berbuat zolim yang kedua orangnya orang ya tidak bermoral sehingga harapan dari generasi kita kedepan politik berbasis kepada intelektual dan moral, berbasis pada moralitas hati nurani sehingga kita berpolitik membegingin masyarakat ketika kita bisa kita bisa berbicara kemakmuran rakyat ketika kita bersamasama politik kita bisa berbicara masalah keadilan ketika kita bisa bersama-sama politik kita bisa berbicara masalah penegakan hukum ketika kita bisa kita bisa berbicara masalah bagaimana rakyat Indonesia berada atau punya kekuatan,wibawa di hadapan negara itu yang harus kita bicarakan bukan yang dibicarakan adalah korupsi lagi aduh gimana nih wah di Indonesia seperti itu sulit kasus

6. Karateristik gerakan a. Spontanitas 1. Menurut anda mengapa gerakan mahasiswa dikatakan spontanitas dalam kegiatan politik ?

Jawab : gerakan mahasiswa dikatakan spontanitas ya karena memang spotanitas ya hanya berapa umurnya mahasiswa di masyarakat kampus paling cuma 4 (empat) tahun paling banyak 5 (lima) tahun jadi spontan, gerakannya spontan karena tidak terstruktur tapi gerakan mahasiswa adalah gerakan yang intinya minoritas kreatif dan dia selalu bergejolak seperti itu seorang minoritas tidak akan pernah berubah menjadi gerakan yang statis jadi ya spontan terus tapi karena spontan ini gerakan mahasiswa gerakan yang bermoral, mempunyai nilai, tidak ada unsur-unsur apa 2. Apa yang mendorong mahasiswa melakukan gerakan yang bersifat spontanitas dalam kehidupan politik ? Jawab : ada beberapa aktivis yang memang melakukan kegiatan seperti spontanitas itu sebagai wujud dari kepedulian aktivis terhadap kehidupan berpolitik dan idealisme mahasiswa . b. Non structural 1. Apa yang anda ketahui tentang pola gerakan yang bersifat non structural dalam kehidupan politik ? Jawab : gerakan non structural adalah gerakan yang tidak sesuai dengan sistem atau tidak mengarah pada sistem negara artinya gerakan yang tidak akan pernah berhubungan dengan negara gerakan yang tidak berada di salah satu pihak atau dikatakan gerakan berserak atau gerakan parlementer atau gerakan jalanan itu misalnya dikatakan gerakan non structural kalau gerakan structural mungkin gerakan romen gerakan yang sudah kita gerakan yang sudah ada di

masyarakat . c. Bukan agen politik diluar kampus 1. Menurut anda mengapa mahasiswa diartikan sebagai bukan agen politik diluar kampus ? Jawab : mahasiswa dengan karekteristiknya dengan agen sosial of cahange yang disandangnya tentu mahasiswa harus bisa

memposisikan dengan baik yaitu dengan cara bertindak secara

professional, sebagai mahasiswa yang baik tentunya melihat partai politik, melihat politik yang ada sekarang ini harus segera diawasi dan di kontrol oleh mahasiswa sehingga bukan agen politik di luar kampus.

d. Memiliki jaringan yang luas 1. Menurut anda bagaimana jarigan yang dibagun oleh mahasiswa dalam berpolitik ? Jawab : menurut saya jaringan yang dibangun oleh mahasiswa dalam politik itu merupakan sesuatu yang wajar dan positif bagaimanapun juga politik harus bisa memebuka jaringan. 2. bagaimana pendapat anda tentang mahasiswa yang begitu luas ? jawab : pengelolaan jaringan gerakan mahasiswa yang begitu luas kita selalu mengadakan beberapa pertemuan ada pertemuan BEM SI( S Indonesia ) ada pertemuan BEM sejateng ,membangun sebuah gerakan atau gerakan kordinasi lewat aksi masyarakat serempak atau aksi parsial kita lakukan tiap-tiap wilayah kita melakukan itu dengan proses kita punya beberapa kordinator wilayah misalkan contoh se Indonesia memiliki koordinator kegiatan koordinator wilayah jogya koordinator wilayahsumatra itu kita lakukan kita punya kontaknya. 7. Kekuatan gerakan mahasiswa a. Kemampuan perubahan 1. Bagaimana pendapat anda mengenai kemampuan perubahan yang dimiliki mahasiswa ? Jawab : kemampuan perubahan yang dimiliki mahasiswa sebetulnya mahasiswa ‘annas mustakim ’ adalah generasi karena perubah siapa, pengelolaan jaringan gerakan karena

kemampuanyaluar biasa

dahsyat sukarno jatuh

mahasiswa

.yang

mengangkat meruntukan

dulu siapa

suharto

karena

siapa, yang

mahasiswa.yang

mahasiswa

menyebabkangusdur naik siapa mahasiswa yang menurukan gusdur siapa mahasiswa itu perubahan yang mengoncang-gancingkan megawati siapa mahasiswa 2. Menurut anda kemampuan perubahan yang bagaimanakah yang harus dimiliki mahasiswa ? Jawab : kemampuan perubahan yang membawa baik artinya perubahan yang konstruktif ya memang selama ini yang kita nilai perubahanperubahan mahasiswa tidak konstruktif karena memang tidak ada jalan yang lain jadi di hancurin aja ya gitu diturunin walaupun menurut banyak ahli dikatakan bahwa di Indonesia itu di awal dengan sengsara dan diakhiri dengan sengsara ynag sengasara itu siapa mahasiswaitu yang harus dipikir memang harus seperti ini terus karena belum ada pemimpin yang baik. b. Mengkritisi aspirasi 1. Bagaimana anda mengkritisi aspirasi terhadadap politik di kampus ? Jawab : salah satu cara untuk mengkritisi aspirasi terhadap politik kampus saya mengatakan bagaimana sih aspirasi itu bisa masuk atau ngak kalu ngak berati aspirasi itu ngak sampai kita punya lembaga aspirasi sampaikan ngak masuk buat kita atau itu tidak jalan ya itu salah satu cara mengkrtisinya atau yang kedua cara mengkritisi

kampus sejauh mana aspirasi-aspirasi yang dilakukan di kampus berperan berperan dalam perubahan, berperan kebijakan, kalau tidak punya kebijakan bagi kita tidak punya padahal tadi diabaikan . 2. menurut anda mengkritisi aspirasi yang bagaimana dalam kehidupan politik di kampus ? jawab : mengkritisi aspirasi yang kira-kira aspirasi itu sesuai, sesuai dengan tuntutan perubahan pada kebaikan atau mengkritisi aspirasi yang menghancurkan yang akan menghancurkan tatanan tatanan idealisme kita sebagai mahasiswa.

c. Sosialisasi pers 1. Bagaimana yang anda lakukan dalam mensosialisasikan pers politik kepada mahasiswa ? Jawab : sosialisasi press memang sangat efektif dalam kehidupan politik kita jadi sekali lagi itu pilar demokrasi jadi saya katakan sosialisasinya harus disosialisasikan ke masyarakat agar masyarakat atau mahasiswa salah satu pencerdasan masyarakat atau pencerdasan mahasiswa adalah dengan media-media demokrasi. 2. Apakah sosialisasi pers sangat efektif dalam pengembangan kehidupan politik di kampus ? Jawab : sangat efektif sekali, di kampus ini sekarang mulai bagus dan sangat efektif dalam pengembangan politik kampus. d. Gerakan rakyat 1. Kenapa mahasiswa disebut sebagai bagian dari gerakan rakyat dalam perjalan politik sebuah negara ? Jawab : karena sekali lagi mahasiswa adalah rakyat, siapa yang tidak mengatakan mahasiswa itu bukan rakyat, mahasiswa itu rakyat, anak rakyat, bagian dari rakyat. e. Dampak perubahan 1. Dampak perubahan yang bagaimanakan yang diharapakan oleh mahasiswa dalam kehidupan politik ? Jawab : mahasiswa itu seperti air, air itu akan bergejolak terus bila tidak bertemu dengan muara . muara itu tenang , kalau masih bergejolak berarti belum ketemu dengan muaranya, kalau saat ini masih bergerak terus menerus berati belum ada perubahan yang signifikan, mahasiswa back to campus seandainya kita telah menemukan muara , bahwa indonesia di pimpin orang – orang yang baik, orang yang tidak zolim maka mahasiswa akan kembali kekampus dan akan tenang kembali. 2. Apakah dampak perubahan tersebut mempenagaruhi kinerja kegiatan politik di kampus ?

Jawab : jelas, dampak perubahan akan mempegaruhi kinerja kita , politik kita sesuai dengan politik indonesia sesuai dengan hati nurani, kita ngga usah pikir masalah nepotieme, penegakan hukum, tapi bagaimana kita mnesejahterahkan rakyat, bagaiman indonesia berwibawa dengan negara lain..

f. Pengelolaan gerakan 1. Apa yang diharapkan oleh mahasiswa dalam pengeloaan gerakan politik di kampus ? Jawab : satu hal yang harus diperhatikan politik itu mo by mahasiswa itu mo by bergerak terus menerus ,kita tidak pernah bisa menentukan kapan masih setatis gerakaannya pegembangan berpolitik harus

berlandaskan pada sifat mahasiswa yang mo by sifat mahasiswa yang kritis okelah pengelolaan yang dilakukanoleh mahasiswa adalah sesuai dengan hal tersebut berarti yang melakukan kejanggalan misalkan kita membuat gerakan politik atau misalkan lembagayang sifatnya tidak strategis hanya mencetak saja karena kita biasanya pengelolan seperti itu tidak bisa seperti itu g. Penghubung rakyat 1. Mengapa mahasiswa dikatakan sebagai penghubung rakyat dalam perjalan politik sebuah negara ? Jawab : kerana hati nurani mahasiswa tidak pernah mengatas namakan kepentingan mahasiswa ,pastilah atas kepentingan rakyat dan mereka digerakan atas kepentingan rakyat biasanya seperti itu ,contoh semua yang dilakukan oleh mahasiswa gerakan gerakan esklusif mahasiswa karena ada satu hal ada satu kejanggalan ,adasatu kezaliman , kelalaian yang dilakukan oleh masyarakat 2. Apa yang akan dikehendaki mahasiswa sebagai penghubung rakyat dalam kehidupan berpolitik ?

Jawab : rakyat sejahtera ,rakyat menikmati kemerdekaanya ,rakyat menikmati kekayaanya,rakyat menikmati bumi pertiwi ,itu yang menjadi kalangan mahasiswa,satu saja saat ini rakyat tidak menikmati semua itu .karena ini manipulasi ,dibohongi kalangan penguasa ,oleh orang orang yang saat ini masih mencokol dan menjadi indonesia .

8. Faktor birokrat kampus a. Memperketat absensi 1. Dengan memperketat absensi, apakah kegiatan anda menjadi terhambat ? Jawab : tidak terhambat ,ah tidak terhambat ,silakan saja memperketat absensi .karena kita bergerak sesuai dengan gerakan kita ,sesuai dengan taimer kita,ataupokoknya kuliah ya kuliah,pokoknya bergerak ya bergerak ,tapi kita punya profitas lebih ,ketika memang rakyat butuh apa denngan hal ini kita bisa mengangsumsikan ,mengapa kita takut kalau kita sudah bergerak ya bergerak ,kalau kita

sudah punya jiwa ,punya tanggung jawab ,punya amanat untuk bergerak tidak apa apa kita bergerak karena untuk bergerak ,karena apa.,nantinya nilai bisa diulang tapi tanggung jawab itu tidak bisa diulang ,jelas semacam itu.. 2. Bagaimana cara anda untuk mengantisipasinya ? Jawab :cara saya mengantisipasinya ,saya selalu melakukan sesuatu itu nomer satu kuliah nomer satu ,organisasi nomer satu artinya

kalaudi kuliah kita tidak berfikir organisasi kuliah ya kuliah walaupun misalkan dikatakan nomer satu itu bukan berarti selalu kita harus absen terus ,datang ngak sesuatu ketika datang kita harus benar benar nih

serius kuliahnya kita bisa bener bener mengejar bisa mengejar temen temen yang pernah kuliah yang dikatakan saat ini begitu menurut pengamatan saya ,kita tidak usah berfikir belajar saya tidak berfikirh dan hanya belajar secara maksimal.

b. Merepresi nilai 1. Apakah birokrat kampus sering merepresi nilai dari aktivis mahasiswa ? Jawab : saya selala ini tidak menemukan kalau nilai jelek itu kesalahn kita sebagai akativis yang malesan sehingga hasilnya jelek ya, terima aja, saya tidak mau ketika aktivis untuk minta di perbaiki, nilai jelek ya jelek udah terima aja. Dan insyaallah tidak ada mahasiswa seperti itu.

2. apa yang akan anda lakukan sebagai mahasiswa melihat hal tersebut ? jawab : sebagai mahasiswa, mahasiswa itu bukan mencari nilai tetapi mnecari ilmu mencarai visi hidup, kalau ada seperti tanya dosesn buat apa, dikuliah itu ada tiga yaitu cari nilai, cari ilmu, yang satu ngga tahulah. Kalau dalam cari represi nilai tunujakn kalau kita bagaus, kalau bisa menjukan bagus , nilanya jelek kita bisa tuntutan , mudah sekali. c. Membuat perjanjian 1. Perjanjian apa sajakah yang dapat menghambat kegiatan anda ? Jawab : kotrak kuliah tidak juga menurut saya, karena sekalai lagi gerakan kita kalau di kampus masih gerakan pelajar bukan pelaku politik tapi gerakan pelajar , anrtinya kontak kampus sampai bebrapa tahun tidak masalah.. 2. Apa yang akan anda lakukan dengan hal tersebut ? Jawab : ya , bagaimana pinter-peintenya membuat strategi . d. Merepsesi psikologi

1. Bagaimana cara birokrat merepresi psikologi mahasiswa dalam politik kampus ? dengan menggunakan tekanan tekana yang bisa membuat mahasiswa malas untuk megikuti kuliah seperti tugas- tugas yang sulit dan mencari bahan yang belum ada dalam mata kuliah tersebut. 2. Bagaiman solusi anda apabila mahasiswa terkena sanksi tersebut ? Jawab : eh, ingat bahwa mahasiswa itu harus kuat dalam mengahadapi segala hal terutama cobaan dalam bidang pembelaran karena itu merupakan pelajaran hidup untuk lebih giat dan maju. e. Pemecatan status 1. Apakah pemecatan status digunakan birokrat untuk aktivis yang melanggar peraturan kampus ? Jawab : selama saya belajar di unnes , saya belum pernah melihat hal tersebut.

2. Bagaimana anda menyikapi keadan tersebut ? Jawab : ditinjau dulu baru diputuskan dalam menagani hal tersebut tetapi kalu sepihak maka saya akan membantu dalam proses pemebelaan terhadap mahasiswa tersebut..

HASIL PENELITIAN BUDAYA POLITIK KAMPUS STUDI KASUS TERHADAP AKTIVIS MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Empat ( dua ) Nama Alamat : SISWANTO : SEKRETARIAT GMNI I UNNES JL. RAYA SEKARAN Gunung Pati SMG. Status : MAHASISWA/ KADEP SOSPOL AGUSTUS 2004

Hari/ Tgl/ Jam : RABU/

Pedoman wawancara ini disusun untuk mengungkap data tentang budaya politik kampus ( studi kasus terhadap aktivis mahasiswa di Universitas Negeri Semarang ).

1. Lingkup Budaya Politik

a. Orientasi individu 1. Bagaimana keterlibatan anda dalam berpolitik di kampus ? Jawab : keterlibatan saya dibidang poltik ya baru diorganisasi GMNI atau GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA unnes yang mana telah memebrikan saya kesempatan berpolitik dengan rakyat untuk memeperjuangkan nasib rakyat sebagai tujuan dari

organisasi yang saya geluti saat ini. GMNI merupakan wadah bagai mahasiswa untuk meejalankan kegiatan politik dalam rangka membagaun masayarakat Indonesia yang sejahatera, adil dan makmur. 2. Bagaimana cara anda melakukan penolakan politik di kampus ? Jawab : saya melakukan penolakan politik dikampus apabila ada hala yang tidak sesuai dengan realita politik yang terjadi dilapangan

misanya kebijakan –kebijakan yang merugikan mahasiswa dan peraturan-peratauran yang mengahabat mahasiswa dalam

mengekpresikan kegiatan politik secara bebas dan mengkritisi kebijakan –kebijakan yang tidak memihak mahsiswa.

3. Bagaimana anda melakukan penilaian terhadap politik di kampus ? Jawab : saya melakukan penilaian politik di kampus disesuaikan dengan darai mana sudut pandang yang kita ambil yaitu pertama dari sudut pandang birokrat kampus dimana sekarang ini birokrat kampus memiliki tugas dan fungsi politik sebagai penyelenggara dan pendidikan politik bagi mahasiswa tetapi hal tersebut masih minim dilakukan di kampus, dan kedua dari sudut pandang mahasiswa kalau saya lihat sekarang ini mahasiswa unnes sangatlah kurang

berpartisipasi aktif dalam kegiatan politik hal ini terlihat dari keikutsertaan mahasiswa dalam pemelihan presiden mahasiswa dikapus dan kurangnya minat mahasiswa untuk menjadi aktivis mapun funsionaris lembaga-lemabag kemahasiswaan, dan yang ketiga adalah dari sudut pandang media yang digunakan mahasiswa untuk menjalankan sebuah informasi-informasi politik dikampus, hal ini saya

lihat masih kurang juga karena , ya tadi yaitu kurang minatnya mahasiswa membaca berita tentang politik, dan yang terakhir yaitu dari sudut pandang masyarakat yang ada disekita kampus yang masih kental dengan budaya islamik dan agamanya sehingga berpengaruh pada budaya yang akan dibawa mahsiswa dalam berpolitik. 2. Kehidupan Politik a. Sistem politik keseluruhan 1. Menurut pendapat anda bagaimana latar belakang sejarah UNNES dijadikan kampus milik golkar pada zaman orde baru ? Jawab : saya kurang begitu tahu jelasnya tetapai akalu itu saya menilai hal tersebut wajar-wajar saja karena pada masa rezim orde baru seluruh lembaga pemerintah dan pegawai negeri di wajibkan untuk bergabung dengan partai golkar untuk memobilisasi jalannnya sebuah pemerintahan yang ideal bagi massa orde baru.

2. Bagaimana pendapat anda tentang sejarah politik kampus di UNNES ? Jawab :. yang saya ketahui bahwa sejarah politik unnes dari mulai ikip semarang sampai sekarang, mingkin sama dengan kamapus-kampus yang lain seperti kampus yang dimobilisasi oleh kepentingankepentingan kelompok tertentu sehingga kemurnian kampus sebagai lembaga independen menjadi kurang baik tetapi itulah yang menjadi arena dalam sebuah perjalanan politik di kampus. 3. Apakah menurut anda lokasi berpengaruh terhadap kehidupan politik di kampus ? Jawab : ya sangat berpengaruh, karena lokasi menentukan apa dan bagaimana pergerakan mahasiswa dalam mengikuti perkembangan politik. Misalnya kalau dekan denga wilayah kota setidaknya informasi lebih cepat dan dapat diberitahukan secara langsung oleh mahasiswa dan

apabila diluar wilayah kota informasi terhambat dalam penyampainnya sehingga lokasi sangat berpengaruh. 4. Apakah menurut anda kekuasaan berpengaruh terhadap kebijakan dan keputusan politik di kampus ? Jawab : ya, berpengaruh : karena dengan kekuasaan yang ada, seseorang pemimpin yang otoriter dalam sebuah lembaga akan dianut dari para anggota dibawahnya sehingga mudah sekali dalam menaruh kebijakan atau membuat sebuah keputusan. 5. Bagaimana pendapat anda tentang aturan kehidupan politik di kampus ? Jawab : aturan di kampus ini masih jauh dari ideal terlihat dari beberapa dinamika kongres yang kurang berjalan dengan bagus dan kita sudah mulai mendiskusikan mendesain aturan lembaga kemahasiswaan secara bagus . dalam aturan tersebut harus memihak mahasiswa untuk mejalankan poliik sebenas-bebasnya tanpa ada tekanan dari pihak manapun dengan disesuaikan kaidah dantauran yang sudah berlaku di UNNES.

6. Bagaimana anda menjalankan wewenang politik di kampus ? Jawab : saya menjalankan wewenang politik yang ada dikampus sesuai dengan hasil kontitusi yang disepakati bersama dalam forum di rapat tahunan dan pertanggung jawaban dalam satu periode sehingga perjalanan politik organisasi dapat tercapai dan sesuai dengan harapan dan tujuan dari organsiasi yang saya jalankan saat ini. 7. Apakah menurut anda negara berpengaruh terhadap kehidupan pilitik di kampus ? Jawab : Menurut saya negara juga berpengaruh terhadap politik di kampus. kebebasan berpendapat maupuan kebebasan akademik di unnes sekarang ini mengarah ke yang lebih baik dan mulai ada kesadaran dalam politik sehingga kebebasan berpendapat, kebebasan melakukan

aksi, kebebasan berekpresi dan lain sebagainya dapat dilakukan di kampus . Hal itu merupakan bagian dari aktivis untuk mengkkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah atau untuk mengkritisi kebijakankebijakan para elit politik yang kadang tidak memihak rakyat, siapa lagi kalau bukan mahasisiswa yang mau dan mampu mendengungkan atau mengaspirasikan aspirasi rakyat. b. Proses input 1. Bagaimana anda menjalankan tuntutan politik di kampus ? Jawab : saya menjalankan tuntutan politik dikampus melalaui berbagai cara yaitu pertama dengan melakukan diskusi-diskusi tetang politik , yang kedua melakukan hubungan dengan apara aktivis dalam mengembangkan sebuah informasi politik guna mengkritisi para elit politik mapaun biroktrasi yang ada di kampus, yang ktiga dengan menggunakan media informasi sebagi jembatan salaing tukan menukar inforamsi dalam pergerakan politik yang ada di kampus.

2. Bagaimana anda melakukan pengamatan kehidupan politik di kampus ? Jawab : saya sebagai ketua GMNI yang bergerak kepada rakyat kecil , maka saya melakuakn pengamatan politik melalui pandangan pandangan politik yang ada di kampus seperti sejauh mana keterlibatan mahasiswa dalam berpolitik, siapa saja yang brepolitik , dan ideology apa yang digunakan dalam berpolitik , dari hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan politik yang ada di kampus. 3. Apakah anda ikut dalam kegiatan partai politik ? jelaskan sejauh mana anda terlibat ? Jawab : saya sebagai mahasiswa mencoba untuk tidak ikut partai tetapai saya sebagi rakayat mencoba menyampaikan aspiarsi saya melalaui sebuah paratai, jadi saya baru partisipasi dalam partai asalkan saya tidak

memabawa atribut nama UNNES dalam parati, karena perguruan tinggi bersifat netral dan independen. Dan sejauh mana saya terlibat hanya pada saya ikut serta dalam mengkampanyekan parati tertentu. . 4. Apakah menurut anda ada kelompok kepentingan dalam politik di kampus ? sebutkan dan jelaskan ? Jawab : pasti ada kelompok kepentingan yang ada di kampus , kerana orang yang memimpin atau yang berkuasa pasti mempunyai kepentingan baik secara pribadi , kelompok mapun secara universal dalam menjalankan politik kebenaran yang ada. Dan seorang pempin akan menggunakan kepentingan untuk kemajuan bagi harapan dirinya sendiri mapun kelompoknya.. 5. Apakah menurut anda penggunaan alat kominikasi dalam politik sangat di perlukan ? jelaskan dan beri contoh ? Jawab : sangat-sangat diperlukan , pertama sebagai penyampaian informasi politik, dan kedua sebagai proses dala menjalin hubungan antara yanglemabag yang dengan yang lain sehingga bagaimanapun alat komuniksai sebagai penopang tertinggi dari alat mengkomuniksikan bahasa-bahasa yang disampaikan kepada audien.

c. Proses out put 1. Bagaimana anda menjalankan perundang-undangan politik di kampus ? Jawab : Saya menjalankan perundang-undangan yang ada sesuai dengan kontitusi yang berlaku atau sesuai dengan hasil konggres mapun rapat tahunan dan pertanggung jawaban yang sudah disepakati bersama . kontiursi tersebut akan diperbarui apabila dilapangan terjadi ketidaksesuaian dengan reliata yang ada dengan mengadang sidang istimewa dalam organisasi. 2. Bagaimana pendapat anda tentang badan legislative dalam kehidupan politik di kampus ?

Jawab : karena saya orang ektra maka saya berpendapat dilihat dari kegiatan kegiatan kemaren , badan legislative yang ada di unnes tidak mengalami perkembangan tetapi mengalami kemunduran karena funsi badan legislati tidak berjalan sesuai dengan harapan yang ada di kampus. 3. Bagaimana pendapat anda tentang badan eksekutif dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab : kalau saya melihat dan memperhatikan , bahwa badan legiaslatif di unnes yaitu bem sudah menjalankan kewajiban dan peraturan konggres mahasiswa, sebagai badan eksekutif suadah

banyak yang dilakukan tetapi mengeani bidang-bidang advokasi kepada mahasiswa kurang begitu bagus. 4. Bagaimana pendapat anda tentang badan peradilan dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab :badan peradilan di unnes kayaknya belum ada tetapi kalaupun itu ada sangat bagus sekali, setidaknya ada badan yang mengurus kasus-kasus mahasiswa yang melanggar mapuan mahsiswa yang mengadukan permasalahan yang dihadapinya. d. Diri sendiri 1. Bagaimana anda menggunakan hak politik di kampus ? Jawab : dalam menggunakan hak politik, saya akan gunakan

semaksimala mungkin dan sesuai dengan aturan yang ada di kampus. 2. Bagaimana anda melakukan kewajiban politik di kampus ? Jawab : dalam melakukan kewajiban politik, saya akan mencoba menjalankan sepenuh hati sesuai dengan hati nurani dan kaidah kebenaran secara universal. 3. Pendidikan politik a. Penyelengaraan. 1. Menurut anda bahan bacaan apa yang dapat mendorong menjadi aktivis mahasiswa dalam kehidupan politik di kampus ?

Jawab :bacaan bacaan tentang politik tentunya, seperti halnya majalan tentang politik mahasiswa dan pergerakannya, serta referensi referensi yang positif dalam mengembangan palitik di kampus.. 2. Menurut anda publikasi massa tersebut sangat penting bagi kehidupan politik di kampus ? jelaskan ? Jawab : memang penting karena dengan publikasi masa masyarakat mapun mahasiswa dapat mengikuti perkembangan politik yang terjadi di kampus. 3. Menurut anda apakah media visual digunakan dalam pengembangan dan penyelenggaraan pendidikan politik di kampus ? Jawab : untuk semantara belum terjadi karena di kampus unnes ini masih minin perlengkaannya.. 4. Menurut anda siapa saja yang menyelenggarakan pendidikan politik ? Jawab : yang dapat menyelenggarakan pendidikan politik tentu saja pemerintah dan badan-badan lembaga swadaya masyarakat dan orang–orang yang peduli tentang pendidikan politik sehingga mampu dapat ditranfer kepada masyarakat. 5. Menurut anda apakah lembaga masyarakat terlibat dalam

penyelengaraan pendidikan politik ? jelaskan ? Jawab : betul , karena masyarakt bagaian dari sebuah poltik sehingga secara tidak langsung pendidikan politik diberikan kepada

masyarakat.

6. Menurut anda apakah lembaga formal terlibat dalam penyelengaraan pendidikan politik ? jelasakan ? Jawab : betul , kareana lembaga formal harus juga mempunyai tanggung jawab untuk terlibat dalam penyelengaaran pendidikan politik karena bagaimanapun juga kedewaasan dalam berpolitik harus ada pada masyarakat untuk mewujudkan negara demokrasi.

7. Menurut

anda

apakah

lembaga

non

formal

terlibat

dalam

penyelengaraan pendidikan politik ? jelaskan ? Jawab : betul, lembaga non formal terlibat dalam pendidikan politik seperti elatihan yang dilakukan oleh LSM, FORKOT, mapun aliasialiansi yang ada pada rakyat.. b. Pertemuan kepentingan 1. Bagaimana pandangan anda terhadap kehidupan politik di kampus ? Jawab : menurut pandangan saya terhadap kehidupan politik masih sangat kurang sehingga perlu adanya sebuah pemikiran-pemikiran baru dan konsep-konsep baru dan sekaligus kebijakan-kebijakan baru bagaimana pentingnya berpolitik untuk diketahui masayarakat dan mahasiswa. 2. Bagaimana cara anda menyampaikan kepentingan dalam politik di kampus ? Jawab : menurut saya dalam menyampaikan kepentingan, saya gunakan berbagai macam cara seperti diskusi-diskusi, penulisan melalui media, , forum pertemuan mahssiswa, dan lain sebagainya 3. Gagasan apa sajakah yang digunakan dalam pengembangan politik di kampus ? Jawab : mungkin mengunakan gagasan yang membangun sebuah kepentingan bersama dengan melihat masing masing tujuan yang ingin kita capai bersama yaitu membangun masyarakat yang adail dan demokratis dalam politik.

c.

Agresi kepentingan 1. Menurut anda bagaimana aspirasi mahasiswa terhadap budaya politik kampus atau relita politik saat ini ? Jawab : Budaya politik kampus mahasiswa di UNNES masih kurang menurut saya, hanya beberapa mahasiswa saja yang sangat inten ikut berpartisipasi aktif dalam rangka pengembangan politik kampus, dan

ini harus dapat diubah bagaimanapun mahasiswa sebagai agen social cahange harus mampu merubah keadaan-keadaan saat ini sehingga dijadikan contoh kepada masyarakat. 2. Bagaimana pendapat anda tentang kehidupan politik di kampus sekarang ini ? Jawab : menurut saya belum banyak mengalami perkembangan

karena unnes masih tahap membangun dan mengembangakan potensi potensi yang ada pada kampus unnes .. 3. Apakah peranan kesadaran berpolitik mahasiswa sekarang sudah mulai terjadi ? jelaskan ? Jawab : Ini lambat tahun sengaja kita gulirkan misi-misi itu , kita gulirkan isu-isu kesadaran berpolitik sehingga mahasiswa tidak hanya kuliah saja ada sisi-sisi lain yang harus diketahui dan digeluti

mahasiswa yaitu politik kampus. d. Seleksi kepemimpinan 1. Menurut anda apakah seorang pemimpin harus memilliki kesadaran tentang politik di kampus ? jelaskan ? Jawab : Menurut saya seorang pemimipin harus dan wajib memilki kesadaran tentang politik , bagaimanapun juga pemimpin itu merupakan contoh bagi semuannya ketika pemimpin memilki kesadaran politik anak buah pun akan ikut.

2. Menurut anda kebulatan tekad yang bagaimanakah untuk digunakan oleh seorang pemimpin ? Jawab : kebulatan tekat ini harus dimiliki seorang pemimpin, pemimpin harsus berkorban dan menanggung resiko atas di

keputusannya 3. Bagaimana diharapkan ? tentang ketetapan jiwa seorang pemimpin yang

Jawab : Seorang pemimpin harus mampu mengatakan ya dan atau tidak ini sangat sulit bagi pemimpin sehingga ketetapan jiwa mengatakan ya atau tidak merupakan kewajiban seorang pemimpian. 4. Keyakinan yang bagaimanakah yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin ? Jawab : Keyakinan yang universal tentunya dan yang utuh terhadap dasar –dasar agama, dasar -dasar politik, dasar-dasar kehidupan sehingga seorang pemimpin tidak akan goyah. 5. Apakah seorang pemimpin harus dituntut kreatif dalam menjalankan tugasnya ? Jawab : jelas seorang pemimpin harus keratif ,harus mampu melihat kondisi yang ada , melihat posisi dan situasi yang ada pula. 6. Keberanian yang bagaimana dalam mengambil keputusan mapun kebijakan yang dilakukan oleh seorang pemimpin ? Jawab : Kebijakan maupun keputusan itu merupakan sebuah dinamika yang ada dalam organisasi, tentu keberanian seorang pemimpin harus dilakukan dengan cara melihat kondisi dan situasi secara tepat sehingga analisis keputusan itu tidak merugikan orang banyak. e. Komunikasi politik 1. Menurut anda bagaimana mahasiswa medapatkan informasi tentang politik di kampus ? Jawab : Menurut saya mahasiswa mendapatkan informasi tentang politik kampus sebenarnya sangat banyak informasi melalui pamflet, media inframasi yang sekarang sudah ada , media pers mahasiswa, apabila ada mahasiswa yang ketinggalan dengan inforamasi politik kampus adalah kuper sekali. 2. Bagaimana anda melakukan perekrutan dalam menjalankan politik di kampus ? Jawab :saya dalam melakukan prekrutan anggota , saya menggunkan hak preogratif ketua untuk merekrut orang-orang yans sesuai dan

sepaham dengan saya dan sesuai dengan visi , misi organisasi GMNI. . 3. Partisipasi apakah yang dilakukan mahasisiwa dalam melakukan kegiatan politik di kampus ? Jawab : banyak sebenarnya apa yang dilakukan mahasiswa, yang paling minimal adalah mengunakan hak suara dan hak politiknya dalam pemilahan secara optimal. 4. Organisasi a. Hubungan atau keterkaitan 1. Menurut pendapat anda bagaimana hubungan atau keterkaitan mahasiswa dengan lembaga dalam politik di kampus ? Jawab : lembaga politik yang ada di kampus salah satunya adalah lembaga kemahasiwaan sebagai wadah bagi mahasiwa untuk belajar berpolitik dan berorgasnisasi sehingga ketrkaitan mahasiswa dengan lembaga mahasiswa , ibarat mata uang yang tidak dapat terpisahkan.. 2. Menurut anda siapa saja yang terkait dalam kelembagaan politik di kampus ? jelaskan ? Jawab : menurut saya, semua civitas akademika dan elemen elemen kelembagan yang ada dikampus, semuanya bertanggung jawab dalam pengembangan dan pendidikan politik yang terjadi di kampus. 3. Bagaiman hubungan lembaga intra dan ekstra dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab : Hubungan lembaga intra dan ekstra dalam kehidupan politik kampus sebenarnya saling mengisi artinya ada sisi yang beda antara ektra dan intra tetapi, ada persamanya, sama-sama dalam bergerak di bidang mahasiswa.

4. Bagaimana hubungan lembaga mahasiswa ( intra dan ekstra ) terhadap rektorat ?

Jawab : selama ini belum terjalin hubungan baik antara pihak rektorat dengan lembaga ekstra kampus dalam kerjasama berbagai macam bidang kegiatan. Hanya sebatas proses izin untuk mahasiswa lemabag ekstra dalam melakukan kegiatan di kampus. 5. Bagaimana hubungan lembaga mahasiswa ( intra dan ekstra ) terhadap pihak dekanat ? Jawab : sama dengan pihak rektorat . 6. Bagaimana hubungan aktivis mahasiswa terhadap dosen maupun kayawan Universitas ? Jawab : hubungan tidak hanya aktivis saja tetapi semua mahasiswa harus bisa memposisikan diri terhadap dosen maupun karyawan dimana kita harus bertemu, dimana berada, kita harus perhatikan. b. Burgaining ( posisi tawar ) 1. Bagaimana posisi tawar aktivis mahasiswa terhadap mahasiswa di kampus ? Jawab : menurut saya ada nilai lebih atau plus dari aktivis dari pada mahasiswa yang hanya duduk manis, kuliah , makan, dan ke belakang . kalau mahasiswa aktivis dapat belajar organsiasi yang akan nantinya di gunakan dalam masyarakat.. 2. Bagaimana posisi tawar mahasiswa terhadap lembaga–lembaga kampus ? Jawab : Begitu juga posisi tawar mahasiswa dengan lembaga-lembaga di kampus ini tentunya aktivis mampunyai prinsip dan aktivis di

memepunyai lembaga yaitu lembaga kemahasiswaan yaitu harus mempunyai burgening atau lembaga-lembaga yang lain. memepuayai posisi tawar terhadap

3. Bagimana posisi tawar lembaga ( intern dan eks organisasi ) mahaisiwa terhadap lembaga pemerintah dalam politik ?

Jawab : lembaga mahasiswa harus mempunyai bergening posisi yang jelas dengan pemerintah sehingga lembaga kemahasiswaan sebagai kontrol dari para elit politi mapun pmerintah dapat menjalankan funsi dan tusanya dengan baik. 4. Bagimana posisi tawar lembaga mahasiswa terhadap partai politik ? Jawab : posisi tawar mahasiswa terhadap partai politik sangatlah harus dilakukan sehingga partai politik tidak sebagai alat untuk memperkaya diri tetapi partai politik harus mengaspirasikan aspirasi rakyat dan ini lembaga mahasiswa harus mampu memantau kebijakan-kebijakan partai poltik. 5. Bagaimana posisi tawar lembaga mahasiswa terhadap organisasi masyarakat ? Jawab : posisi tawar lembaga masyarakat dengan lembaga mahasiswa adalah tidak sebatas saling melengakapi dan menguntungkan bagi rakyat tetapi bagaimana cara untuk mengembangan kerjasama dalam berbagai macam bidang kegiatan . c. Kontrol sosial 1. Bagaimana cara anda sebagai aktivis dalam mengontrol masyarakat yang luas dan majemuk ? Jawab : saya sebagai aktivis organisasi ekstra, pertama akan mencoba untuk memberikan kontrol kepada rakyat dalam rangka melindungi rakyat dari ketidak adilan para elit politik yang memberikan kebijakan yang tidak memihak pada rakyat, dan kedua mencoba membuat jaringan – jaringan aspirasi di kalangan masyarakat untuk membangun sebuah gerakan arakyat pabiula pemerintah tidak sesuai dengaan apa yang telah ditentukan oleh aspiasi rakyat.

2. Menurut pendapat anda mengapa masyarakat harus di kontrol ?

Jawab : karena mahasiswa adalah sebagai kontrol masyarakat dan apabila kebijakan politik yang ada tidak sessuai dengan apa yang telah direncanakan dan disepakati bersama dalam kontrak politik maka mahasiswa mengawal untuk memperjuangkan nasib rakyat. . d. Pengabdi dan pelayan masyarakat 1. Menurut pendapat anda mengapa mahasiswa diartikan sebagai pengabdi dan pelayan masyarakat ? Jawab : menurut saya dikatakan sebagai pengabdi karana mahsiswa adalah bagian dari rakyat dan mahasiswa akan terjun kelingkungan masyarakat sehingga mahsiswa adalah pengabdi dan pelayan masyarakat. 2. Menurut anda apa yang dilakukan dalam mengabdi dan melayani masyarakat ? Jawab : saya akan mencoba melakukan kegaiatan – kegiatan dalam mengembangkan pendidikan di masyarakat untuk berfikir lebih maju dan mencoba menyampaikan aspirasi mereka kepada para elit politik yang duduk di pemerintahan. 5. Dimensi gerakan a. Angkatan muda 1. Mengapa mahasiswa dikatakan sebagai angkatan muda dalam politik bernegara ? jelaskan ? Jawab : karena memang mahasiswa itu mahasiswa secara fisik masih muda sehingga dikatakan angkatan muda karena pemikiran pemikiran mahasiswa itu muda . 2. Apa yang akan anda lakukan sebagai angkatan muda dalam bagian politik negara ? Jawab : saya akan mencoba memberikan warna dan wacana berpolitik dengan baik sehingga tatanan demokrasi politik berjalan sesuai denga peraturan yang berlakau dan sesuai dengan budaya politik yang ada.

b. Angkatan intelektual 1. Mengapa mahasiswa diartikan sebagai angkatan intelektual dalam perjalan politik sebuah negara ? Jawab : mahasiswa adalah warga negara yang belajar di perguruan tinggi dan mampu berfikir secara ilmiah dan rasional dalam memebrikan ide maupun gagasan pemecahan masalah-masalah yang terjadi pada rakyat. 2. Apa yang diharapkan oleh mahasiswa sebagai angkatan intelektual dalam perjalan politik sebuah negara? Jawab : harapan mahasiswa sebagai angkatan intelektual adalah menyumbangkan sebuah pemikiran- pemikiran yang rasional dan ilmiah dalam berpolitik sehingga rakyat dapat belajar politik demokrasi secara meneyeluruh dan berkesinambungan sebagai proses pengembangan pendidikan politik di indonesia.. 6. Karateristik gerakan a. Spontanitas 1. Menurut anda mengapa gerakan mahasiswa dikatakan spontanitas dalam kegiatan politik ? Jawab : karena mahasiswa tidak terlalu berfikir panjang apabila

melihat fenomena yang terjadi pada rakyat, dimana rakyat dirugikan oleh peraturan dan kebijakan politik yang dilakukan oleh elit poltik. 2. Apa yang mendorong mahasiswa melakukan gerakan yang bersifat spontanitas dalam kehidupan politik ? Jawab : sebenaranya mahasiswa melakukan gerakan yang bersifat spontanistas apabila mahasiswa melihat rakyat kecil tertindas dan para elit politik memebrikan kebijakan yang tidak memihak pada rakyat.

. b. Non structural 1. Apa yang anda ketahui tentang pola gerakan yang bersifat non structural dalam kehidupan politik ? Jawab : pola gerakan tersebut dilakukan dalam rangka untuk membangun pergerakan berpolitik yang berjalan sesuai dengan yang diharapkan , sesuai dengan kaidah-kaidah yang dibenarkan, dan mampu mengawal bangsa makamur dan sentosa. menjadi bangsa Indonesia yang adil,

c. Bukan agen politik diluar kampus 1. Menurut anda mengapa mahasiswa diartikan sebagai bukan agen politik diluar kampus ? Jawab : karena mahasiswa dalam berkegiatan politik harus bersifat netral dan independen sehingga dalam menjalankan sebuah

pergerakan politik ataupun aktivitas politik harus di jaga dari pengarauh pihak – pihak yang berkepentingan untuk menggerakan mahasiswa jauh dari rakyat. d. Memiliki jaringan yang luas 1. Menurut anda bagaimana jarigan yang dibagun oleh mahasiswa dalam berpolitik ? Jawab : menurut saya jaringan yang dibangun oleh mahasiswa adalah jaringan pergerakan politik yang bergerak dari kampus satu dengan kampus yang lain dalam memberikan informasi politik dan bekerjasama dengan lemabag – lembaga masyarakat . 2. bagaimana pendapat anda tentang mahasiswa yang begitu luas ? jawab : menurut pendapat saya , dalam mengelola jaringan gerakan mahasiswa di perlukan berbagai macam strategi dan konsep – konsep pergerakan dalam sebuah politik sehingga hasil yang akan di capai pengelolaan jaringan gerakan

dapat terkodinir dan terakomodir . dengan pendirian pos – pos aliansi dalam mengembangkan sebuah jaringan misalnya joglo semar, aliansi bem jawa bali, dan sebagainya.

7. Kekuatan gerakan mahasiswa a. Kemampuan perubahan 1. Bagaimana pendapat anda mengenai kemampuan perubahan yang dimiliki mahasiswa ? Jawab : mahasiswa adalah agen of change atau agen perubah sehingga mahasiawa diharapakn mampu membrikan perubahan yang terjadi pada masyarakat. 2. Menurut anda kemampuan perubahan yang bagaimanakah yang harus dimiliki mahasiswa ? Jawab : menurut saya kemampuan perubahan yang mengarah positif dan memihak rakyat. b. Mengkritisi aspirasi 1. Bagaimana anda mengkritisi aspirasi terhadadap politik di kampus ? Jawab : saya mengkritisi aspirasi politik sebagai sesuatu hal yang harus dilakukan oleh aktivis kebijakan politik yang dalam memberikan sebuah wacana memihak mahasiswa dan saling

menguntungkan dari berbagai pihak. . 2. menurut anda mengkritisi aspirasi yang bagaimana dalam kehidupan politik di kampus ? jawab :mengkritisi aspiarsi yang tidak sesuai dengan relaiata mapaun tauran yang ada dalam masyarakat bernegara. .

c. Sosialisasi pers 1. Bagaimana yang anda lakukan dalam mensosialisasikan pers politik kepada mahasiswa ? Jawab : dalam organsiasi saya dalam mensosialisaikan pers malaui berbagai macam cara , pertama dengan media visual mapun media

cetak auat tulis, missal media cetak dengan memebrikan kritiakan yang membangun kepada para elit politik, kemudian mendia visual dengan gambar-gambar dengan misi politik yang akan disampaikan oleh mahasiswa. . 2. Apakah sosialisasi pers sangat efektif dalam pengembangan kehidupan politik di kampus ? Jawab : menurut saya sangat efektif sekali karena pers sangat baik digunakan dalam peyampikan informasi politik kepada civitas akademika yang ada di kampus.. d. Gerakan rakyat 1. Kenapa mahasiswa disebut sebagai bagian dari gerakan rakyat dalam perjalan politik sebuah negara ? Jawab :karena mahasiswa merupakan bagian dari rakyat sehingga dalam penyampaian aspirasi dilakukan oleh mahasiswa , jadi mahasiswa adalah bagian dari gerakkan rakyat. e. Dampak perubahan 1. Dampak perubahan yang bagaimanakan yang diharapakan oleh mahasiswa dalam kehidupan politik ? Jawab : saya kira yang diharapkan oleh mahasiswa dari dampak perubahan politik saat ini adalah keadailan dan kebersamaan menjunjung tinggi demokrasi di indonesia . 2. Apakah dampak perubahan tersebut mempenagaruhi kinerja kegiatan politik di kampus ? Jawab : kurang begitu pengaruh karena masing masing lembaga mempunyai tujuan dan visi yang dikehendaki oleh lemabag tersebut. f. Pengelolaan gerakan 1. Apa yang diharapkan oleh mahasiswa dalam pengeloaan gerakan politik di kampus ? Jawab : menurut saya yang diharapkan oleh mahasiswa dalam pengeloalaan gerakan politik adalah bagaiman mahasiswa dapat menyampaikan aspiarsi tanpa ada halangan suatu apauan sehingga

mahasiwa dapat mengelola gerakan ttersebut menjadi gerakan nilai dan murni. g. Penghubung rakyat 1. Mengapa mahasiswa dikatakan sebagai penghubung rakyat dalam perjalan politik sebuah negara ? Jawab : karaeana mahasiswa adalah rakayat jadi dikatakan penghubung rakayat adalah betul, karena yang selalau menyampaikan aspiarasi rakyat adalah mahasiswa. 2. Apa yang akan dikehendaki mahasiswa sebagai penghubung rakyat dalam kehidupan berpolitik ? Jawab : sebenaranya yang dikehendaki mahasiswa sebagai penghubung rakayat adalah supaya para elit politik memperhatikan rakyat kecil dan tidak seenakanya saja memnggunakan kekuasaan dan kebijakan yang tidak memihak rakyat kecil dan mengahrapakan masyarakat yang adil, makmur dan sentosa..

8. Faktor birokrat kampus a. Memperketat absensi 1. Dengan memperketat absensi, apakah kegiatan anda menjadi terhambat ? Jawab : sebagai aktivis tidak perlu takut dengan hal tersebut , karenakativis harus mempunyai argumen dalam melakaukan kegiatan politik yang positif bagi perekambangan kehidupan politik sekarang ini . dan suadah ada aturan tetang tidak mengikuti kulaih selama dua lima persen dari perkulian yang masuk. 2. Bagaimana cara anda untuk mengantisipasinya ? Jawab : megantisipasi perlu ada sterategi, ada jadwal yang terkoordinir sehingga kapan harus masuk kuliah kapan tidak masuk kuliah, kapan kita harus beroganisasi, kapan melakukan kegaiatan kemahasiswaan. b. Merepresi nilai

1. Apakah birokrat kampus sering merepresi nilai dari aktivis mahasiswa ? Jawab : selama ini yang saya lihat belum ada. 2. apa yang akan anda lakukan sebagai mahasiswa melihat hal tersebut ? jawab : kalau itu ada maka saya akan membela mahasiswa tersebut , mengenai apa yang menyebabkan mahasiswa tersebut terkena represi nilai.. c. Membuat perjanjian 1. Perjanjian apa sajakah yang dapat menghambat kegiatan anda ? Jawab : biasanya perjanjian tentang kontark kluiah dengan pihak birokrat mapun pihak dosen.. 2. Apa yang akan anda lakukan dengan hal tersebut ? Jawab : saya akan mencoba mencari startegi- strategi dalam mengantisipasi hal tersebut.. d. Merepsesi psikologi 1. Bagaimana cara birokrat merepresi psikologi mahasiswa dalam politik kampus ? Jawab : mungkin dengan menggunakan tekanan-tekanan yang dapat membatasi mahasiswa dalam melakukan aktivitas politik atau dengan menggunakan kebijakan mapupun peraturan yang ada di kampus.. 2. Bagaiman solusi anda apabila mahasiswa terkena sanksi tersebut ? Jawab : saya akan mencoba membantu dalam bidang advokasi supaya mahasiswa tersebut tidak terkena sanksi.. e. Pemecatan status 1. Apakah pemecatan status digunakan birokrat untuk aktivis yang melanggar peraturan kampus ? Jawab : selama ini belum pernah terjadi 2. Bagaimana anda menyikapi keadan tersebut ? Jawab : apabila hal tersebut terjadi maka saya sebagai aktivis akan mencoab memabantu dalam advokasi agar ditinjau kemabali lagi atau

menimbang bagaimana hal tersebut dapat terjadi dan sejauh mana pelanggran yang dilakukan oleh mahasiswa tersebut.

HASIL PENELITIAN BUDAYA POLITIK KAMPUS STUDI KASUS TERHADAP AKTIVIS MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 5 ( lima ) Nama Alamat : HARYOTO : SEKRETARIAT KOMPLEKS JOGLO UNNES JL. KOMPLEK JOGLO UNNES SEKARAN Gunung Pati. Status : MAHASISWA/ KETUA REDAKSI KOMPAS AGUSTUS 2004

Hari/ Tgl/ Jam : RABU/

Pedoman wawancara ini disusun untuk mengungkap data tentang budaya politik kampus ( studi kasus terhadap aktivis mahasiswa di Universitas Negeri Semarang ).

1. Lingkup Budaya Politik a. Orientasi individu 1. Bagaimana keterlibatan anda dalam berpolitik di kampus ? Jawab : kalau terlibat Semua aktivis baik di UKM maupun di BEM terlibat dalam berpolitik, kalau UKM dalam sekup kegiatan mahasiswa kalua BEM secara menyeluruh mahasiswa, kalau UKM tentang upayaupaya memberikan warna pada intitusinya ataupun melakukan upayaupaya strategis meningkatkan posisi tawarnya .Sekarang saya akan memberikan penjelasan keterlibatan saya di wilayah eksekutif, kalau di eksekutis sebagai tim sukses mahasiswa ali subhan, tapi gagal atau kalah namun sebagai bentuk semacam rekonsiliasi melalui kekuatan mendukung seseorang dalam perjalannya, sayanggnya di unnes ini

lucu karena prepektif politik yang kurang ideal . jelas – jelas yang bermain di sana adalah kamunitas komunitas dari kelompok kepentingan ekstra dan rohis. Sejak mulai dari kepemimpinan tafsir sampai BEM sekarang komunitas rohis dan ekstra yang mendukung dalam pemilihan presiden mahasiswa sehingga kemurnian politik mejadi tidak demokrastis kerana didukung oleh komunitas yang kuat seperti rohis dan itu saya anggap lucu. 2. Bagaimana cara anda melakukan penolakan politik di kampus ? Jawab : karena saya bukan orang lembaga intra atau eksekutif di kampus tetapi pimpinan redaksi kompas atau pers mahasiswa oleh karena itu saya tidak bisa menaggapi terlalu jauh. 3. Bagaimana anda melakukan penilaian terhadap politik di kampus ? Jawab : Di UNNES politiknya itu masih belum dinamis dan masih stagnan yaitu berjalan di tempat dan belum banyak berkembang. 2. Kehidupan Politik a. Sistem politik keseluruhan 1. Menurut pendapat anda bagaimana latar belakang sejarah UNNES dijadikan kampus milik golkar pada zaman orde baru ? Jawab : saya tidak UNNES saja tetapi semua intitusi yang berbau politik karena massa itu golkar dan selalu dijadikan alat politik golkar, kalau dilihat dari kaca mata politik sah-sah saja tetapai kalau dilihat dari kaca mata kebeasan ekpresi dan ilmiah itu tidak benar karena kampus itu steril dari politik praktis. 2. Bagaimana pendapat anda tentang sejarah politik kampus di UNNES ? Jawab : kalau politik di UNNES tidak jauh dari yang dahulu atau sama– sama penuh intrik – intrik dalam perebutan posisi jabatandan kekuasaan , mulai dari bapak rasdi, pak at yang penuh intrik sama–sama kokohnya dalam politik. 3. Apakah menurut anda lokasi berpengaruh terhadap kehidupan politik di kampus ?

Jawab : jadi bedanya kalau lokasi politik di bawah di sorot oleh publik media kalu di UNNES itu kurang tapi kalau masalah strategi itu semuanya sama.

4. Apakah menurut anda kekuasaan berpengaruh terhadap kebijakan dan keputusan politik di kampus ? Jawab : ya jelas berpengaruh ,kalau di rektorat itu jelas, di bem sendiri pun berpengarauh kemana orientasi bem tersebut apakah kekiri atau kekanan itukan ditentukan oleh kebijakan politik kampus. 5. Bagaimana pendapat anda tentang aturan kehidupan politik di kampus ? Jawab : kalau aturan politik di kampus sudah jelas , mahasiswa masih belum berjalan , namun ditataran civitas akademika, rektorat, sudah berjalan bagus persoalannya kan aspirasi mahasiswa terkaver maximal 6. Bagaimana anda menjalankan wewenang politik di kampus ? Jawab :kalau saya di bidang pers ini , ya saya menggunakn pers untuk mengkritik – mengkritik reliata politik lewat tulisan dan sindiran yang membangun.. 7. Apakah menurut anda negara berpengaruh terhadap kehidupan pilitik di kampus ? Jawab : Jelas berpengaruh, negara di sini bukan yang tidak melayani rakyat tetapi yang menjalankan system penerintahan negara totoliter seperti zaman soeharto mungkin segala sesuatu yang di kampus itu pengauasa tapi sekarang kan zaman demokratis yang lebih menghargai aspirasi b. Proses input 1. Bagaimana anda menjalankan tuntutan politik di kampus ? Jawab : Melalui media pers karena saya orang pers 2. Bagaimana anda melakukan pengamatan kehidupan politik di kampus ?

Jawab : Pengamatan saya itu pada kacamata pers menekan data akurat yang pasti dilakukan oleh seluruh pers . 3. Apakah anda ikut dalam kegiatan partai politik ? jelaskan sejauh mana anda terlibat ? Jawab : Kalau partai politik jelas tidak, karena kita ikut partai politik otomatis kita lagi bukan orang pers karena ada laranga bahwa pers harus nertaral dan independent. 4. Apakah menurut anda ada kelompok kepentingan dalam politik di kampus ? sebutkan dan jelaskan ? Jawab : Jelas, kepentingan itukan upaya mewarnai kampus ini dengan ideologi mereka kalau dimahasiswa bem juga seperti itu yang mewaranai ideology mereka, pertarungan ideolgi kami , hmi terhadap setiap politik pasti kampus . 5. Apakah menurut anda penggunaan alat kominikasi dalam politik sangat di perlukan ? jelaskan dan beri contoh ? Jawab : Sangat di perlukan sekali , pada dasarnya media pers sangat efektif dalam memeberiakan informasi politik dikampus. c. Proses out put 1. Bagaimana anda menjalankan perundang-undangan politik di kampus ? Jawab : Kalau undang –undang UNNES saya piker sudah ada kebebsanya tentang lembaga itu serta dengan kondisi situasi UNNES terutama undang –undang yang di buat oleh temen –temen mahasiswa UNNES belum ideal selanjutnya secara formalitas saja pelaksanaanya nol 2. Bagaimana pendapat anda tentang badan legislative dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab :. Mereka memperihatinkan mempunyai kepentingan begitu juga politik

3. Bagaimana pendapat anda tentang badan eksekutif dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab :. Badan eksekutif yang ada di UNNES saat ini tampaknya ,sebenarnya walaupun mereka menolak idiologinya seperti itu dia melakukan aksi dan pengalanggan kekuatan denagan siapa saja. 4. Bagaimana pendapat anda tentang badan peradilan dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab : . Perlu sih , tapi di UNNES ini perlu di fikirkan kembali

d. Diri sendiri 1. Bagaimana anda menggunakan hak politik di kampus ? Jawab : . Kebetulan saya tak mengunakan hak politik di kampus 2. Bagaimana anda melakukan kewajiban politik di kampus ? Jawab : . Saya juga tidak melakukan apapun

3. Pendidikan politik a. Penyelengaraan. 1. Menurut anda bahan bacaan apa yang dapat mendorong menjadi aktivis mahasiswa dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab : . Semua bacaan tapi terutama yamh bisa menjadi referensi seperti majalah tetang kehidupan politik dan berita-berita hangat yang ditulis di suara kabar mapun pers. 2. Menurut anda publikasi massa tersebut sangat penting bagi kehidupan politik di kampus ? jelaskan ? Jawab :. Penting tujuanya untuk perang dinamika politik di kampus sendiri di UNNES kalau publikasi keluar sebagai wacana 3. Menurut anda apakah media visual digunakan dalam pengembangan dan penyelenggaraan pendidikan politik di kampus ? Jawab :. Saat ini di UNNES belum

4. Menurut anda siapa saja yang menyelenggarakan pendidikan politik ? Jawab : Yang menyelengarakan ,jelas semua mahasiswa . 5. Menurut anda apakah lembaga masyarakat terlibat dalam

penyelengaraan pendidikan politik ? jelaskan ? Jawab :. masyarakat jelas terlibat misalkan organisasi intara atau pemerintahan 6. Menurut anda apakah lembaga formal terlibat dalam penyelengaraan pendidikan politik ? jelasakan ? Jawab :. Ya terlibat tapi secara tidak langsung karna tidak boleh

7. Menurut

anda

apakah

lembaga

non

formal

terlibat

dalam

penyelengaraan pendidikan politik ? jelaskan ? Jawab :. Sama

b.

Pertemuan kepentingan 1. Bagaimana pandangan anda terhadap kehidupan politik di kampus ? Jawab : politiknya satagnan dan diciptakan dinamika politik yang belum dinamis misalkan ada suatu kepentingan kuat yang melatar belakangi kegiatan politik tersebut. . 2. Bagaimana cara anda menyampaikan kepentingan dalam politik di kampus ? Jawab : saya dalam pers menyampaikan kepentinga sesuai dengan kehedak yang di aspiarasikan oleh temen-temen pers. 3. Gagasan apa sajakah yang digunakan dalam pengembangan politik di kampus ? Jawab :. Gagasan yang sesuai dengan aturan main dalam pers dalam menyampaikan keratifitas dan berita actual dalam politik kampus.

c.

Agresi kepentingan 1. Menurut anda bagaimana aspirasi mahasiswa terhadap budaya politik kampus atau relita politik saat ini ?

Jawab : sudah terakomodasi tetapi persoalanya apakah aspirasi meraka dapat diterima oleh semua kalangan. 2. Bagaimana pendapat anda tentang kehidupan politik di kampus sekarang ini ? Jawab :. Satagnan dan belum banyak berkembang. 3. Apakah peranan kesadaran berpolitik mahasiswa sekarang sudah mulai terjadi ? jelaskan ? Jawab : peranan kesadaran politik kalau di unnes sebagaian kecil saja, yang lainya hanya ikuta-ikutan saja selebihnya duduk manis dan kuliah saja.

d.

Seleksi kepemimpinan 1. Menurut anda apakah seorang pemimpin harus memilliki kesadaran tentang politik di kampus ? jelaskan ? Jawab : ya harus mempunyai kesadaran, pertama pemimpin harus menguasai aturan main berpolitik dikampus dan yang kedua memiliiki konsep yang matang dalam berpolitik. 2. Menurut anda kebulatan tekad yang bagaimanakah untuk digunakan oleh seorang pemimpin ? Jawab : ya kebulatan tekat yang sesuai dengan kebenaran dan dapat dipertanggung jawabkan. 3. Bagaimana diharapkan ? Jawab :. Dia harus mempunyai prinsip bahwa kampus adalah lembaga netral dan independen sehinnga tidak terpengaruh oleh hal apapun. 4. Keyakinan yang bagaimanakah yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin ? Jawab :.keyakinan yang ada pada dirinya sendiri tanpa pengaruh orang lain mapun lingkungaannya. 5. Apakah seorang pemimpin harus dituntut kreatif dalam menjalankan tugasnya ? tentang ketetapan jiwa seorang pemimpin yang

Jawab :.ya jelas dituntut untuk kreatif sehingga anggota dapat mengikuti dan mengembangkan ide-die meraka dalam bentuk tulisan. 6. Keberanian yang bagaimana dalam mengambil keputusan mapun kebijakan yang dilakukan oleh seorang pemimpin ? Jawab :.keberanian yang berdasarkan hati nurani dan kontitusi yang ada.

e.

Komunikasi politik 1. Menurut anda bagaimana mahasiswa medapatkan informasi tentang politik di kampus ? Jawab : dalam memberikan informasi politik dapat melalui dua jalaur melalui tulisan-tulisan, diskusi-diskusi, pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan bem dan yang kedua melalui media pers kampus. 2. Bagaimana anda melakukan perekrutan dalam menjalankan politik di kampus ? Jawab :. Kalau saya belum pernah melakukan perekrutan dalam menjalankan politik. 3. Partisipasi apakah yang dilakukan mahasisiwa dalam melakukan kegiatan politik di kampus ? Jawab :. Partisipasi dapat menempati posisi-posisi yang strategis , dengan posisi tersebut dapat memberikan warna ideolgi yang dipegang mereka.

4. Organisasi a. Hubungan atau keterkaitan 1. Menurut pendapat anda bagaimana hubungan atau keterkaitan mahasiswa dengan lembaga dalam politik di kampus ? Jawab : saling mengisi satu dengan yang lainnya dan lembaga adalah wadah untuk mahasiswa sehingga mahasiswa menyampaikan aspirasi dengan wadah atau lemabag tersebut .

2. Menurut anda siapa saja yang terkait dalam kelembagaan politik di kampus ? jelaskan ? Jawab :mahasiswa, lemabaga mahasiswa , birkkrat, serat masyarakat yang ada di kampus. 3. Bagaiman hubungan lembaga intra dan ekstra dalam kehidupan politik di kampus ? Jawab :.hubungan intra itu secara langsung kepada rektorat, birokrasi serta mahsiawa, tetapi ekstra mewadai mahasiswa dalam berpolitik dalan lingkup yang luas dan secara tidak langsung. 4. Bagaimana hubungan lembaga mahasiswa ( intra dan ekstra ) terhadap rektorat ? Jawab : ekstar mempunyai semacam peran tetapi menggunakan skoci misalkan membuat identitas-identitas tentunya mereka tidak

mengunakan ekstranya karena tidak boleh jadi dia harus mengunakan skocing 5. Bagaimana hubungan lembaga mahasiswa ( intra dan ekstra ) terhadap pihak dekanat ? Jawab : . sama juga dengan rektorat 6. Bagaimana hubungan aktivis mahasiswa terhadap dosen maupun kayawan Universitas ? Jawab :. mahasiswa punya pengaruh dan keterlibatan tinggi akan tetapi aktivitas mahasiswa itu pecundang dari posisi tawar

b. Burgaining ( posisi tawar ) 1. Bagaimana posisi tawar aktivis mahasiswa terhadap mahasiswa di kampus ? Jawab :. Dimata mahasiswa punya nilai lebih walaupun mereka tidak mengikuti arah pemikiranya juga mahasiswa umum itu mereka sedikit penghargaan para aktivis 2. Bagaimana posisi tawar mahasiswa terhadap lembaga–lembaga di kampus ?

Jawab :. Itu sangat diperlukan sekali tapi kalau aktivis baik itu walaupun yang layak kalau partisipasi secara setengah –setangah saja ngak tahu 3. Bagimana posisi tawar lembaga ( intern dan eks organisasi ) mahaisiwa terhadap lembaga pemerintah dalam politik ? Jawab :. Lumayan di segani oleh lembaga pemerintahan karena di lembaga politik itu kan tidak sama lembaga itu di segani kemudian keakuratan

4. Bagimana posisi tawar lembaga mahasiswa terhadap partai politik ? Jawab :. Posisi tawarnya kadang kalau partai politik itu juga lembaga semacam legetimasi dari lembaga mahasiswa jadi ada sejumlah partai politik yang menegur mahasiswa dalam bidang politik

5. Bagaimana posisi tawar lembaga mahasiswa terhadap organisasi masyarakat ? Jawab :. Bagaimanapun juga lembaga yang intelektual dan nilai plus c. Kontrol sosial 1. Bagaimana cara anda sebagai aktivis dalam mengontrol masyarakat yang luas dan majemuk ? Jawab : Aktivitas itu ngak bisa mengontrol hanya bisa hanya bisa memberikan pencerahan pada masyarakat ,kalu aktivis itu hanya bisa mengadakan diskusi-diskusi dan hasil itu sosialisasiakan kepada mereka baik jalur formal maupun non formal kepada masyarakat. 2. Menurut pendapat anda mengapa masyarakat harus di kontrol ? Jawab :. Masyarakat tidak perlu di kontrol tapi kita hanya memberi pencerahan karena kalau kita mengontrol ngak punya legitimasi yang kuat d. Pengabdi dan pelayan masyarakat

1. Menurut pendapat anda mengapa mahasiswa diartikan sebagai pengabdi dan pelayan masyarakat ? Jawab :. Mahasiswa tidak sebagai pengabdi dan pelayan masyarakat tapi sebagiaan kecil kita sumbang dalam masyarakat . 2. Menurut anda apa yang dilakukan dalam mengabdi dan melayani masyarakat ? Jawab : Kalau mahasiswa penagabdian nya adalah pengabdian intelektul mensosialisasikan ilmu yang di miliki nya kemudian mendampingi masyarakat yang membutuhkan memberi informasi yang tepat pada masyarakat

5. Dimensi gerakan a. Angkatan muda 1. Mengapa mahasiswa dikatakan sebagai angkatan muda dalam politik bernegara ? jelaskan ? Jawab : Dari segi usia itu memang relatif muda ,pengalaman mahaiswa itu masih muda perlu pematangan 2. Apa yang akan anda lakukan sebagai angkatan muda dalam bagian politik negara ? Jawab : idialnya bukan politik praktis tapi melaului intelektual ,kita melalui jalur –jalur intelektual b. Angkatan intelektual 1. Mengapa mahasiswa diartikan sebagai angkatan intelektual dalam perjalan politik sebuah negara ? Jawab :. Karena mahasiswa berkecimpung di dunia ilmu yang melaksanakan keilmuan

2. Apa yang diharapkan oleh mahasiswa sebagai angkatan intelektual dalam perjalan politik sebuah negara? Jawab : Diharapakan negara itu melakukan pembaharuan-

pembaharuan setiap saaat yang di landaskan ssatu analisah masyarakat yang tepat.

6. Karateristik gerakan a. Spontanitas 1. Menurut anda mengapa gerakan mahasiswa dikatakan spontanitas dalam kegiatan politik ? Jawab :. Biasanya mahasiswa mengkritis situasi yng terjadi terkini di negara dengankenaikan BBM spontanitas mahasiswa 2. Apa yang mendorong mahasiswa melakukan gerakan yang bersifat spontanitas dalam kehidupan politik ? Jawab : Idialisme mahasiswa ,idialisme yang bersifat menciptakan masyarakat yang menyenagkan sejahtera. . b. Non structural 1. Apa yang anda ketahui tentang pola gerakan yang bersifat non structural dalam kehidupan politik ? Jawab : . Semcam lembaga –lembaga skoci itu bukan BEM,UKM ekstara tapi semacam komunitas kecil untuk pengembangan pelaksanaan saja c. Bukan agen politik diluar kampus 1. Menurut anda mengapa mahasiswa diartikan sebagai bukan agen politik diluar kampus ? Jawab :. Kalau agen politik di luar kampus berarti mahasiswa itu sudah sepaham ganda dia di satu sisi ingin idialisme tapi di jalur lain ia harus mengikuti garis-garis partai politik tertentu.itu kalu terjadi d. Memiliki jaringan yang luas

1. Menurut anda bagaimana jarigan yang dibagun oleh mahasiswa dalam berpolitik ? Jawab :. Tujuanyanuntuk membangun suatu kekuatan dan memberikan tekanan kepada lembaga –lembaga masyarakat yang menyeleweng atau menjaga terjadinya kasus penyelewenggan 2. bagaimana pendapat anda tentang mahasiswa yang begitu luas ? jawab : . Kalau pengelompokan itu duatu komunikasi dan sama persepsi kemudian ada semacam arah gerakan murni gerakan mahasiswa pengelolaan jaringan gerakan

7. Kekuatan gerakan mahasiswa a. Kemampuan perubahan 1. Bagaimana pendapat anda mengenai kemampuan perubahan yang dimiliki mahasiswa ? Jawab : Kemampuan itu cukup siknifikan mana kala semua elemen itu bersatu dan memeilikai satu tujuan ,tujuan untuk melakukan suatu perubahaan tanpa kepentingan politik

2. Menurut anda kemampuan perubahan yang bagaimanakah yang harus dimiliki mahasiswa ? Jawab : Kemampuan yang di dasari oleh hati nurani ,tujuanya murni untuk mencapai masyarakat madani b. Mengkritisi aspirasi 1. Bagaimana anda mengkritisi aspirasi terhadadap politik di kampus ? Jawab : . Kita harus memantpkan secara jernih dan objektif dankita harus melihat manfaat apa yang akan di peroleh dari aspirasi trsebut. 2. menurut anda mengkritisi aspirasi yang bagaimana dalam kehidupan politik di kampus ?

jawab :. Kita harus memenuhi segala aspirasi yang bermanfaat tapi kita berpikiran selalu paranoid atau tanpa perasaan curiga tanpa kita lebih mendendam secara kompensif c. Sosialisasi pers 1. Bagaimana yang anda lakukan dalam mensosialisasikan pers politik kepada mahasiswa ? Jawab :. Tentunya dengan membuka publik dialog politik yang di hasilkan di kompas mahasiswa 2. Apakah sosialisasi pers sangat efektif dalam pengembangan kehidupan politik di kampus ? Jawab : .Sangat efektif setidaknya dapat memberikan pengetahuan baru kepada yang belum pernah bersingungan dengan politik atau menambah referensi bagi temen-temen tentang politik d. Gerakan rakyat 1. Kenapa mahasiswa disebut sebagai bagian dari gerakan rakyat dalam perjalan politik sebuah negara ? Jawab :. Cap yang di berikan negara kepada mahasiswa dari awal – awal munculnya mahasiswa terhadap pembelaan terhadap rakyat kecil

e. Dampak perubahan 1. Dampak perubahan yang bagaimanakan yang diharapakan oleh mahasiswa dalam kehidupan politik ? Jawab : Terjadinya suatu politik yang mapan dengan mengedepankan masyarakat. 2. Apakah dampak perubahan tersebut mempenagaruhi kinerja kegiatan politik di kampus ? Jawab :. Yang jelas mempengaruhi ,sebelum reformasi politik di kampus sangat etrbelit dan sistem di kampus ini sama dengan persurhan hinga minimal ada perbaikan demokrasi .setiap perguruan

tinggi punya kebebasan untuk kemahasiswaan ,nuansa yang ada di sana penuh ekspresi. f. Pengelolaan gerakan 1. Apa yang diharapkan oleh mahasiswa dalam pengeloaan gerakan politik di kampus ? Jawab : Diharapkan ini terjadinya dinamika yang sehat ,sinergis di kampus kemudian terjadinya pengelolaan lembaga mahasiswa secara bersih g. Penghubung rakyat 1. Mengapa mahasiswa dikatakan sebagai penghubung rakyat dalam perjalan politik sebuah negara ? Jawab : Mahasiswa itu ketika bersuara itu berdasarkan realita dan rakyat .oleh negara itu terjadi karna lembaga peradilan tidak basa berfungsi sehinga mahasiswa dikatakan sebagai penghubung rakyat dengan negara.Nuansa itu lebih besar dari pada lembaga perwakilan 2. Apa yang akan dikehendaki mahasiswa sebagai penghubung rakyat dalam kehidupan berpolitik ? Jawab : rakyat itu mendapat perhatian yang lebih mendapat hak yang lebih dari negara.

8. Faktor birokrat kampus a. Memperketat absensi 1. Dengan memperketat absensi, apakah kegiatan anda menjadi terhambat ? Jawab :. sebenarnya tadak berpengaruh karna sebagai mana kita bertanggung jawab saja kita kuliah tapi kemampuan akademiknya kalah dengan yang tidak kuliah 2. Bagaimana cara anda untuk mengantisipasinya ? Jawab :.karena sudah ada jatah 25 % untuk tidak masuk kuliah. b. Merepresi nilai

1. Apakah birokrat kampus sering merepresi nilai dari aktivis mahasiswa ? Jawab : saya kira tidak . 2. apa yang akan anda lakukan sebagai mahasiswa melihat hal tersebut ? jawab : tentang dengan sesama mahasiswa. c. Membuat perjanjian 1. Perjanjian apa sajakah yang dapat menghambat kegiatan anda ? Jawab :. kotrak kuliah 2. Apa yang akan anda lakukan dengan hal tersebut ? Jawab : ya , bagaimana pinter-peintenya membuat strategi . d. Merepsesi psikologi 1. Bagaimana cara birokrat merepresi psikologi mahasiswa dalam politik kampus ? Jawab : 1dengan ancaman-ancaman DO tekanan-takanan fisik

kadang ada juga pebubaran lebaga yang dimasuki penutupan dana ancaman keras tidak seperti fisik 2. Bagaiman solusi anda apabila mahasiswa terkena sanksi tersebut ? Jawab :. mimta atfokasi dari taman-taman yang lain kita membangun suatu aliansi taman-taman sebagai pebelaan

e. Pemecatan status 1. Apakah pemecatan status digunakan birokrat untuk aktivis yang melanggar peraturan kampus ? Jawab : di unes belum perbah terjadi 2. Bagaimana anda menyikapi keadan tersebut ? Jawab : saya menyikapi , kalau memang terjadi suatu kesalahan yang besar dan itu harus dipecat dan sesuai dengan mekanisme, ya nga

apa-apa , tapi kalau memang di plotisir maka mahasiswa harus mau mempreser keputusan tersebut kepada birokrat.

HASIL PENELITIAN BUDAYA POLITIK KAMPUS STUDI KASUS TERHADAP AKTIVIS MAHASISWA

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG NO
1. BIDANG PENELITIAN

WAHYU
Budaya politik - Keterlibatan

INFORMAN PENELITIAN SAEFUL USEP

SISWANT

2.

- hanya terlibat di - Terlibat dalam aktivitas politik menanamkan kampus dalam kebebasan aktivitas bidang agama politik - Penolakan - unsur manfaat - Mengkritisi kebijakan dalam kebijakan birokrat sistem yang tidak memihak mahasiswa - penilaian terhadap - gerakan dalam skala - Mahasiswa adem politik kegiatan yang lebih ayem, tentrem, dan sederhana partisispasi politik yang rendah Kehidupan politik - belum begitu paham - bila terjadi - sistem politik mengenai asumsi itu mengecewakan h. sejarah masa orde dan belum mengecek kerena kampus baru dan hanya bisa sebagai lembaga merasakan hal independen dalam tersebut mengkritis orang yang berkuasa. i. sejarah politik - sebagai pewarnaaan - Partisipasi aktif dalam kehidupan dalam politik rendah politik dan bergerak tidak dinamis j. lokasi - pengaruh dilihat dari - Lokasi berpengaruh sosialisasi dan pola pada gerakan, pemikiran mereka pegembangan politik kampus. k. kekuasaan - kekuasaan - Kekuasaan mempunyai berpengaruh dalam kekuatan real dan kebijakan sebuah untuk mengarahkan keputusan roda perubahan. l. aturan - Dikotomi organisasi - Kontitusi jauh dari dan pemebatasan ideal pergerakan politik m. wewenang

d - terlibat dalam - terlibat menanamkan diri upaya memb dalam berbagi rakyat dan w berpolitik situasi - penolakan secara - penolakan frontal, dilakukan apabila de dialog dan diskusi sesuai realita dalam penolakan s - dilihat dari - dari pandang biro penguasa, mahasiswa, mahasiswa media diguna - tidak banyak tahu, - Kurang b karena semua pns tahu tetapi w harus masuk ke karena orde golkar sehingga meneapkan kebijaka kebijakan diperoleh dari masuk golka golkar - tiga bagian ; - Tidak jauh kampus lain penguasa, dimobilisasi mahasiswa, kepentingan masyarakat - Berpengarau - berpengaruh, politik di unnes terhadap ketinggalan jauh perkembanga politik dengan pt lain. - politik adalah - Kekuasaan d kekuasaan , otoriter politik yaitu mempengaru kebijakan po mempertahankan kekuasaan - jelas, dilandasi - Jauh dari id ilmiah dan sesuai dinamika konngres ku dengan kampus berjalan - Berperan sebagi - Berdasarkan kontitsi - wewenang - Wewenang sesuai power kontrol dalam dan patuh terhadap berdasarkan kebijakan hasil kongres. aturan lembaga kontitusi

n. negara

- proses input f. tuntutan

g. pengamatan

h. partai politik

i. kelompok kepentingan j. alat komunikasi

- proses out put e. undang-undang politik f. badan legislative

g. badan eksekutif

h. badan peradilan

- diri sendiri c. hak politik

d. kewajiban politik

- Berpengaruh - Berpengaruh kampus terhadap kosolidasi terhadap kebebasan - berpengaruh bem sebagai gerakan berpendapat untuk terhadap mahasiswa, aspiarasi mengkritisi pergerakan rakyat kebijakan mahasiswa dalam politik - mencoba untuk - mencobameyelipkan mengasah ketajaman misi mengarah - tiga gerbong; dalam berplitik kedewasaan lembaga, berpolitik mahasiswa, dan - melalui kondisi - melalui diskusi, birokrat kegiatan berpolitik tukar informasi - pilar demokrasi kampus ; media, - sebagai warga - memimpin lembaga lemabaga, bernegara dapat mahasiswa harus birokrat menyalurkan aspirasi netral - orang politikus, lewat partai sebagai simpatik - kepentingan poltik - politik pasti ada partai dakwah kepentingan. - akses kedepan alat - Komunikasi sebagi - politik komunikasi politik penopang tertinggi. mempunyai diperlukan kepentingan - hanya menkontrol - Patuh pada kontitusi - perlu dan efektif hasil kebijakan- kelembagaan dalam komunikasi kebijakan. mahasiswa - patuh dan sesuai - pasif, terjadi - Kurang menonjol dengan aturan ketimpangan dalam dalam konggres fungsinya dan mengakomodir mahasiswa structural masih aspirasi dan konsep - tidak berjalan dan tetap sama kontitusi masih stagnan, - masih mandul, dan - Kurang, Berjalan belum memiliki apabila berjalan kuat apabila kinerja yang jelas sesuai penempatan dijalankan sesuai diri sebagai funsinya sebagai - sedikit mengalami fungsinya akan baik eksekutif body. perkembangan - belum ada dan - Belum ada dan tetapi mulai penting dalam penting apabila ada berjalan baik mentasi konflik badan tersebut - sebatas meggunakan - Menggunakan hak - Sangat dinantikan hak pilih di kampus. politik secara badan peradilan maksimal tersebut - Amanah visi - Menggunakan - Menggunakan hak mahasiswa dan kewajiban politik olitik dengan baik melakukan secara optimal dan teratur pendidikan politik. - Melaksanakan

kebersamaan - Berpengaruh terhadap kebebasan akademik berpendapat - Melalui dis hubungan k menggunaka media - Pandangan politik di kam dan ideologi - Tidak ter karena mahasiswa netral - Kepentingan secara univer - Komuni sangat diperl dalam inform - Sesuai de kontitusi berl

- Mereka mengalami kemunduran

- Banyak dilakukan t advokasi b berjalan baik

- diperlukan sebagai pera pelanggaran - menggunaka hak politik se mungkin - menjalankan sepenuh hati kaidah keben

3.

Pendidikan politik - Penyelengaraan h. bahan bacaan i.

j.

k.

l.

m.

- referensi referensi pendidikan politik dan buku politik islam - merupakan alat publikasi masa komunikasi massa dan sangat efektif - melihat kegunaan media dan kapasistas penggunaan media dalam politik - diselenggarakan oleh penyelenggara banyak elemen dalam pendidikan politik. sebagai lembaga masyarakat - Terlibat proses timbal balik antara masyarakt dengan mahasiswa - Terlibat dalam satu lembaga formal bagian kehidupan politik sebagai sentralistik politik

- bacaan tentang kemerdekaan dan kebeasan tentang berpolitik - publikasi massa penting dalam kehidupan politik - media dipergunakan dalam pengembangan pendidikan politik. - Diselenggrakan oleh pemerintah, lembaga masyarakat, dan para ahli politik - Lembaga masyarakat terlibat dalam pencapaian kedewasaan politik - Lembaga formal terlibat dalam mewujudkan demokrasi

-

-

-

-

-

-

kewajiban penuh kesadaran dan tanggung jawab referensi politik kotemporer dan berita pergerakan politik alat pengembangan informasi melihat manfaat media, kegunaan dan fungsinya media tersebut semua, penguasa, birokrat, pejabat , mahasiswa, ormas lembaga politik terlibat sebagai peneyelenggara dan mendesaian politik terlibat sebatas memeberikan pendidikan dan pembelajaran

- referensi referensi posistif d politik - mengikuti perkembanga politik - belum digun karena fas minim

- pihak-pihak bergerak pendidikan politik - jelas ter secara langsung

- tanggung ja dan mewuju demokrasi

dalam n. lembaga non formal - Terlibat pemberian keuntungan pendidikan politik politik - pertemuan kepentingan - Dinamika kurang ada respon d. pandangan perlu ada pewarnaan wacana pendidikan politik - Sebagai power of e. kepentingan kontrol - Gagasan f. gagasan yang menguntungkan dan evaluasi diri - agresi kepentingan - Masih minim dan d. aspirasi tidak mau tahu , keegoisan seorang mementingkan diri

- Lembaga non formal, lsm-lsm terlibat dalam pendidikan politik - masih sederhana, perlu adanya konsep, pemikran dan kebijakan baru berpolitik. - Strategi dalam menyikapi politik - Bersifat umum dan universal untuk kebenaran positif - Masih sederhana dan mahasiswa dituntut dapat merubah dalam

- sama formal

-

-

-

d dengan - terlibat pelatihan pendidikan politik dinamika politik - kurang din belum dinamis dan perlu kon dan perlu kebijakan perubahan konsep pemikiran ba dan kebijakan kepentingan untuk - kepentingan rakyat melalui disku gagasan yang - gagasan rasional dan membangun positif serta tujuan bersam alamiah - masih kurang pasif dan belum partisipasi aktif dalam dalam politik menggunakan

e. pendapat

f. kesadaran

aspirasi berpolitik. sendiri. dalam - masih pasif dan - belum - Biasa, dinamika - Minimnya ba adanya berkembang dengan perlu konflik terjadi di berpolitik internal yang tidak bukti pasifnya dalam kesadaran politik pemilu presma bermanfaat. - Dalam proses, dan - Mulai berkembang - tahap berkembang - digulirkanny kesdaran dan masih perlu kesadaran perlu adanya dalam sosialisasi berpolitik perubahan berpolitik

- seleksi kepemimpinan g. kesadaran

h. kebulatan tekat

i. ketetapan jiwa

j. keyakinan

- Pemimpin sebagai top figure maka kesadaran politiknya tinggi - Kebulatan yang positif dan perubahan positif - Sikap Ketegasan dan kedepan untuk kebaikan bersama - Keyakinan pada kebenaran

k. kreatif

-

l. keberanian

-

- komunikasi politik d. informasi e. perekrutan

-

-

f. partispasi

-

4.

Organisasi - hubungan / keterkaitan g. mahasiswa dengan lembaga politik

- kesadaran dalam - kesadaran konsep berpolitik dengan ko untuk rakyat dan berpolitik bernegara matang - kebulatan hakiki, melalui kebenaran - kebulatan dan kebaikan berkorban - berprinsip dan tanggung res berwibawa - ketetapan d ketegasan - keyakinan pada disiplin kemampuan yang - keyakinan dimilki terhadap sendiri , per - keratif dalam diri inovasi-inovasi menetukan dalam memebrikan - keratif d gagasan untuk memberikan jalan keluar maju solusi - keberanian sesuai gagasan keberanian, tekat kepentingan dan - keberanian menyampikan kebaikan kebenaran berdasar si - bermacam cara dan kondisi melalui media tulis, mendapatkan gambar, dan media - melalui m informasi politik visual informasi - memberikan proses kaderisasi, peluang mereka - menggunaka dan mengadakan untuk gabung penerimaan anggota ajakan - menggunakan menagakomodir dan himbauan hak politik sesuai - mengikuti menyampiakan isuaturan isu politik kegiatan ada di kampu hubungan informal - sangat erat tatpi - berhubungan - seperti mata dan structural serat mahasiswa yang karena lembaga logam harmonis antara studi oriented adaha adalah wadah salaing berka kedua lemabaga rugi. mahasiswa - Kesadaran berpolitik wajib dan harus sebagai contoh kepada bawahan. - Kebulatan bertanggung jawab dan berkorban. - Ketegasan dalam menentukan keputusan - Keyakinan universal dan yang utuh dalam dasar-dasar kehidupan - Kreatif dalam melihat kondoisi , posisi dan situasi yang ada . - Keberanian untuk tidak merugikan orang lain. - Melalui media tulis, gambar dan media visual. - Mengunakan hak preogratif seorang pemimpin. - Menggunakan hak suara dan hak politik secar maksimal.

h.

i.

j.

k.

l.

kampus orang yang terkait - seluruh elemen yang - Tanggung jawab dalam lembaga ada dalam lemabaga bersama, dan politik politik. sebagai wadah dalam berpolitik lembaga intra dan - Hubungan kerjasama - Saling mengisi dan ekstra dan forum diskusi melengkapai dan bersama bergerak di bidang kemahasiswaan lembaga - mencoba - Saling memberikan mahasiswa dengan membangunkerjasam masukan dan kritrik rektorat a dan komunikasi dalam kebijakan harmonis politik. - mencoba kerjasama - Saling memebrikan lembaga yang baik usul dan saran dari mahasiswa dengan aspirasi mahasiswa dekanat - saling berdikusi dan - Mahasiswa dapat bersilaturahmi memposisikan diri mahasiswa dengan terhadap dosen, dosen. karyawan kampus.

- pemimpin, staf , - semua ci anggota lembaga akademika politik elemen lem politik - saling mem - memberikan bantuan dan aspirasi dukungan untuk bantuan dibi kemahasiswa persatuan - memberikan - memcoba kontrol dan menjalin kerjasama memberikan aspirasi politik dengan rekto - memberikan - sama de aspirasi dan rektorat masukan politik - melihat situasi - aktivis dan kondisi menempatka diri terh penempatan semua dosen mahasiswa

- posisi sama tetapi - Aktivis mempunyai aktivis mempunyai nilai plus dan lebih - Burgaining nilai plus dalam organisasi. f. mahasiswa dengan - menilai kontribusi - Harus mempuyai mahasiswa lembaga tersebut, posisi tawar g. mahasiswa dengan terhadap individu terhadap lemabga lembaga kampus yang dipimpin mahasiswa - diatas dan merepresi - Mempunyai posisi kebijakan tawar yang jelas dan h. lembaga pemerintah mengkrisi kebijakan mahasiswa dengan pemerintah. pemerintah - satu elemen - Harus jelas dan mengarah satu mengontrol, tujuan, timbal balik memantau partai i. lembaga dan mensinergikan politik dalam mahasiswa dengan sebagai kekuatan aspirasi dan partai politik politik kebijakan partai. - bagaiman kontribusi - Hubungan saling masyarakat terhadap menguntungkan mahasiswa dalam j. lembaga pengembangan mahasiswa dengan politik organisasi masyarakat. - Terlibat langsung di - Melihat keadaan real

- punya pos - sesama mahasiswa tidak nilai punya posisi terhadap lain - kelayakan tawar - bagus, dalam terhadap mengkritis mahasiswa kebijakan yang bersebrangan - posisi yang - diatas karena dan seb presiden takut kontrol pada mahasiswa pemerintah - posisi yang - kuat dalam terhadap p melakukan sebagai keku konspirasi politik politik dan menyataukan aspirasi rakyat - saling te - cikal bakal karena organisasi mahasiswa t masyarakat dan ke masyaraka lahirnya generasi baru - membuat

- kontrol sosial c. cara kontrol masyarakat - mangawal - Mengarahkan, dapat - Dapat menjadi berperilaku beradab warga yang baik dan - mahasiswa adalah masyarakat dan negara berdaulat sadar hokum . aspirasi dari dalam aspira - mahasiswa - Komunitas kecil dan - Karena mahasiswa rakyat d. kontrol masyarakat ba bagian dari rakyat adalah rakyat yang - karena mahasiswa adalah kerena independenya memepunyai nilai adalah bagian dari dari rakyat dan intelektualnya. lebih. masyarakat - pengabdi masyarakat - kegiatan - Proses advokasi - Mengawal c. pengabdi berfikir kepada masyarakat masyarakat - mengadakan asp dalam penyampaian memberikan presser pada serta aspirasi aspiarsi. kebijakan yang untuk rakyat d. pelayan merugikan rakyat 5. Dimensi gerakan - mahasiswa adalah - masih muda dan - angkatan muda harapan besar pemikiran muda c. arti angkatan muda melakukanperubahan d. kegiatan angkatan - meningkan potensi , - memposisikan muda melakukan evaluasi, negara sebagai alat mengarahkan keadilan dan masayarakat persatuan. - angkatan intelektual - seacara akademik - Secara akademik c. arti angkatan dan kompensasi dan intelektual intelektual lebih kedepan mahasiswa lebih mumpuni. d. harapan angkatan - gerakan monitor, - Aman dan berkiprah intelektual melakukan secara maksimal perubahan fisik dan dalam demokrasi non fisik dan berpolitik. - Keadaan fisisk dan, pengalaman muda - Melakukan kotrol terhadap pelaksanan kebijakan politik - Cara berfikir rasional dan ilmiah dalam kegiatan - Melakukan kebebasan demokrasi dan berpolitik

masyarakat, melakukan penelitian pengenalan .

serta dan

yang terjadi - melihat kebijakan, dimasyarakt dan relita masyarakt, aspiarsi masyarakat. kondisi masyarakat

jaringan rakyat koalisi rakya

- pemikiran pengalaman muda - membrikan wacana warna d berpolitik - belajar perguruan t secara ilmiah rasional - menyumbah pemikiran rasional ilmiah

6.

Karakteristik gerakan - spontanitas c. arti spontanitas

- gerakan yang - mahasiswa - pola piker mereka - tidak be bermisi dalam proses berpolitik tidak paktis dan jauh d perubahan berfikir terlalu lama strategis melihat politik apabila rakyat tertindas. d. mendorong - melihat kondisi - Wujud kepedulian - melihat kondisi - melihat spontanitas temporal dan terhadap kehidupan rakyat yang politik iraksional rakyakat politik tertindas terjadi - non structural - belum melihat hal - Dalam rangka - sebagai wahana - dalam b. pola gerakan non tersebut mewujudkan negara persatuan dan membagun

demokratis , dinamis kesatuan untuk jaringan ge dan religius. mahasiswa pergerakan - bukan agen politik - mahaisswa adalah - Memeposisikan - mempunyai posisi b. arti bukan agen egen perubah dan sebagai profesinalime dan - bersifat politik agen golobal. profesionalisme independen idealisme netral dalam politik. - jaringan yang luas - jaringan yang - jaringan c. jaringan yang memasyarakat dan posistif dibangun mahasiswa jaringan komunikasi berkembang. tujuan reformasi d. pengeloalaan jaringan mahasiswa yang - jaringan dan pergerakan mahasiswa

structural

- membangun jaringan pergerakan politik

- jaringan masa - Melalui strategi dan - membuat pos-pos bersifat pragmatis konsep pergerakan kesatuan dan - gerakan de strategi dan bersifat dalam satu kesatuan. membrikan permanen strategi dan konsep pergerakan konsep politik dalam satu tu

7.

Kekuatan gerakan mahasiswa - kemamapuan - merupakan agen - kemampuan perubahan perubahan karena perubah dan b. kemampuan agen perubah pembaharu dalam perubahan kehidupan politik. c. potensi mahasiswa - kemempuan - Dinamis, mengah membela kebenaran kedepan dan dan sesuai kontitusi perubahan positif. - mengkritis aspiarsi - mengkritisi aspirasi - Perlu dilakukan c. mengkritisi yang positif kerena mahasiswa adalah objek politik. d. perlakuan - membandingkan - Sesuai dengan relita kelayakan dan yang terjadi mengedepankan dikampus. kebenaran - sosialisasi pers - pers liris dan media - Wahana yang tepet c. sosilisasi tulis serta media untuk sosialisasi. gambar d. efektifitas - efektif dan - Pers adalah media dikondisikan dengan untuk informasi dan baik pendidikan politik - gerakan rakyat - mahasiswa adalah - Mahasiswa adalah bagian rakyat bagian dari rakyat - dampak perubahan c. harapan. - perubahan posistif perbaikan

- kemampuan perubahan apabila digunakan sebaik mungkin - perubahan yang positif dan menuju kemajuan - keharusan yang digunakan dalam menilai kebijakan - memenuhi aspirasi yang bermanfaat dan reliata

- kemampuan of change untuk rakyat

- perubahan mengarah po

- memberikan wacana kebijakan po - mengkritisi tidak s realita

- sosialisasi m - sosilisasi pers visual dan melalui seminar visual dan diskusi - efektif d informasi - efektif pengembangan - menyampaik politik - mahasiswa adalah aspirasi raky rakyat yang - perubahan yang - keadilan dan dinamis, perubahan - perubahan yang menjunjung kinerja kebenaran, berpihak signifikan melalui tinggi demok

pemerintahan d. Pengaruh

kepada rakyat.

ketenagan aman

dan

- pengelolaan gerakan b. harapan

- penghubung rakyat c. arti d. kehendak

- melihat kondisi yang - Independen dan ada. dapat mengelola sendiri. - memberikan aspirasi - Kebebasan gerakan dan pewarnaan mahasiswa dalam dinamika politik mengkritisi kebijakan - mahasiswa - Dikaruniai menyuarakan suara intelektual dan rakyat keberanian. - mengedepankan dan - Kesatuan dan memperjuangankan persatuan dan perubahan yang memandang posistif Indonesia lebih baik. - tidak berpengaruh

- dipengaruhi oleh klolusi, korupsi dan nepotisme - dinamika baik dan lembaga yang independen

- kurang berpengaruh krena indepe - kebebasan menyampiak aspirasi

- menyampika - ketika bersuara aspiarsi raky atas reaita nama rakyat - pelaku - rakyat mendapat memeperhati perhatian yang rakyat kecil lebih

8.

Faktor penghambat - memperketat absensi

- merepresi nilai

- perjanjian kampus

- aktivis tidak - Tidak terhambat - Tidak perlu menghiraukan dan mempunyai dan pandai d absensi tetapai prisip kuliah argumen mengunakan strategi adalah no 1, tahu yang terokomodir. penempatannya pe - harus objektif dan - Belum ada tetai - Belum ada, - Belum independensi kalau ada kita bantu menerima dengan mendengar mahasiswa dengan dengan lapang dada dan dosesn - advokasi memperbaiki diri k - belum ada - Lulus delapan - Kontak - Kotrak kuliah tetapi semester dan dan aturan do haraus pinter kuliah terbaik memutar otak

- merepresi psikologi

- pemecatan status

- Membatasi - memepersulit ijin - Tekanan dan memberiakan - Belum ada, tetapai membuat malas kegiatan d aturan kuliah kalau ada kita Bantu dan mahasiswa politik - Belum pe - belum melihat dengan advokasi harus kuat - Belum ada, tetapai - Belum pernah dan mendengar kalau ada kita preser bila terjadi ditijau birokrat. terlebih dahulu

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->