URGENSI PENGELOLAAN ZAKAT OLEH NEGARA Oleh: M.

Showwam Azmy1 Zakat merupakan ibadah yang sangat fundamental, dan berkaitan erat dengan aspek-aspek ketuhanan maupun sosial ekonomi. Sesuai ketentuan Islam, zakat dikenakan atas tiap-tiap jiwa manusia yang hidup (zakat fitrah), dan atas harta-harta yang memenuhi syarat (zakat maal). Zakat-zakat yang dikumpulkan selanjutnya didistribusikan kaum fakir, miskin, amil zakat, muallaf, budak belian, gharimin, pejuang fi sabilillah, dan ibnu sabil. Potensi Zakat sebagai instrumen pengentasan kemiskinan telah lama mendapatkan perhatian serius dalam berbagai literatur Ekonomi Islam. Namun masih sedikit ruang lingkup yang mengkaji peran negara dalam pengelolaan zakat. Isu ini baru berkembang dalam beberapa tahun belakangan ini. Menurut Usher, ada empat motif yang mendasari orang kaya untuk membagi porsi dari pendapatan atau kekayaan mereka dengan orang miskin, yaitu: altruisme, perlindungan diri, mencegah kriminalitas, dan menjaga masyarakat liberal. Motifmotif ini dalam ilmu ekonomi sering dikategorikan sebagai aktivitas mengkonsumsi barang yang mempunyai karakteristik sebagai barang publik. Dalam Islam, altruisme merupakan alasan utama untuk melakukan tindakan charity, yang merupakan wujud kepatuhan kepada perintah Allah. Hal ini dilakukan dengan membayar zakat yang diberikan untuk golongan miskin. Seorang muslim sejati akan mendapatkan kepuasan ketika mampu meningkatkan kesejahteraan kelompok miskin. Pencapaian ini oleh semangat persaudaraan dan kemanusiaan. Mannan (1997), menyebut zakat sebagai aktivitas ekonomis-religius dengan lima unsur penting. Pertama, unsur kepercayaan keagamaan, dalam arti bahwa seorang muslim yang membayar zakat meyakini tindakannya itu sebagai manifestasi keimanan dan ketaatan. Kedua, unsur pemerataan dan keadilan, yang menunjukkan tujuan zakat sebagai media redistribusi kekayaan. Ketiga, unsur kematangan dan produktivitas, yang menekankan waktu pembayaran sampai lewat satu tahun –ukuran normal bagi manusia untuk mengusahakan penghasilan. Keempat, unsur kebebasan dan nalar, dalam arti bahwa kewajiban zakat hanya berlaku bagi manusia yang sehat jasmani dan rohani, yang merasa bertanggung jawab untuk membayarkannya demi kepentingan diri dan umat. Kelima,
1 Anggota BK (Badan Khusus) ForSEI dan Penggiat VoDKa (Vorum Diskusi KUI-3 Angkatan 2004).

1

pornografi. prostitusi. dan keuangan. Argumen tentang pentingnya peran negara dalam pengelolaan zakat harus mencakup rasional ekonomi yang dilengkapi dengan alasan non-ekonomi. kekufuran sebagai dampak kemiskinan dapat diperluas artinya meliputi kejahatan. Diperlukan pemetaan kembali hubungan mekanisme yang lebih besar antara sistem politik. ekonomi. Zakat mempunyai arti yang sangat penting dalam ajaran Islam sehingga harus ditunaikan setiap muslim. tanpa meninggalkan beban yang justru menyulitkan si pembayar zakat. Bahkan data tahun 1990-an menunjukkan bahwa tranfer pendapatan untuk orang miskin di negara AS setara dengan 2. 2 . Sekarang ini dibutuhkan fondasi mikro ekonomi untuk memperkuat pendekatan agama (fiqih) dalam hal menumbuhkan kepercayaan bahwa pengelolaan zakat oleh negara dilakukan secara bertanggung jawab. Sekaligus membuktikan sebagai sebuah mekanisme yang kuat dibandingkan sebagai kepentingan politik semata. Spesifikasi nisab dan objek pengenaan zakat akan menjadi program pengentasan kemiskinan dalam Islam. Pernyataan Nabi bahwa kemiskinan dapat menjerumuskan manusia menuju kekufuran. dll. yang mengandung pengertian bahwa zakat ditarik secara wajar sesuai kemampuan.5% pendapatan nasional mereka. penganiayaan anak. Dengan demikian menjadi sangat beralasan bagi negara untuk turut campur tangan dalam pengelolaan zakat. Program ini akan berperan secara signifkan jika dioperasikan dengan mekanisme administrasi yang tepat. Beberapa bukti empiris menunjukkan bahwa kritik terhadap potensi dana zakat adalah tidak tepat. Pada konteks modern ini. Pemerintah berkewajiban mendorong dan memfasilitasi kaum muslimin sedemikian rupa sehingga perintah-perintah keagamaan – termasuk zakat. dapat dilaksanakan.unsur etik dan kewajaran.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful