MAKALAH KEPERAWATAN ANAK I DETEKSI DINI PEKEMBANGAN BALITA

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak I Dosen Pengampu: Puji Purwaningsih, Skep., Ns

Disusun oleh: 1. Ismaya Setiafiid 2. Kurnia Dewi 3. Sahrun 4. Vyna Anggraeny DS (010601065) (010601073) (010601100) (010601113)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDI WALUYO UNGARAN 2008

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas ridho dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Deteksi Dini Perkembangan Balita”. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Puji Purwaningsih Skep., Ns dan kepada semua pihak yang turut membantu menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu saran dan kritik yang sifatnya membangun, penulis harapkan demi perbaikan makalah ini. Dan semoga penulisan ini dapat memberikan manfaat kepada penulis pada khususnya dan semua pembaca pada umumnya.

Sikap seperti ini dapat menghambat pemulihannya. dan menjadi sangat disayangkan adalah kurangnya perhatian orang tua terhadap anak. sehingga tumbuh kembang dapat berlangsung seoptimal mungkin (Soetjiningsih. bahkan pada kasus-kasus tertentu dapat mengakibatkan cacat yang permanen yang tidak seharusnya dapat dihindari (Soetjiningsih. 1995). Pada saat ini berbagai metode deteksi dini untuk mengetahui gangguan perkembangan anak telah dibuat. Perkembangan anak akan optimal bila interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangnnya. dimana diperlukan rangsangan atau stimulasi yang berguna agar potensi berkembang (Soetjiningsih. Hanya saja dewasa ini banyak anak-anak yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang kurang optimal. bahkan sejak bayi masih dalam kandungan. banyak ahli kesehatan yang percaya bahwa tidak banyak yang dapat dikerjakan untuk mengatasi kelainan ini dan mereka percaya pula bahwa kelainan yang ringan dapat normal dengan sendirinya. . 1995). Perkembangan sosial sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan interaksi anak dengan orang tuanya/ orang dewasa lainnya. Padahal dalam perkembangan anak terdapat masa kritis. Latar Belakang Setiap orang tua menginginkan anak mereka tumbuh dengan sehat dan berkembang dengan optimal. Sedangkan lingkungan yang tidak mendukung akan menghambat serta menimbulkan penyakit-penyakit yang potensial dapat mengakibatkan gangguan perkembangan anak (Soetjiningsih.BAB II PENDAHULUAN A. Sayangnya. Karena deteksi dini kelainan perkembangan anak sangat berguna. 1995). agar diagnosis maupun pemulihannya dapat dilakukan lebih awal. 1995).

B. Tujuan 1. Mampu c. Tujuan Khusus a. Tujuan Umum Setelah mengikuti seminar diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan deteksi dini perkembangan balita 2. Mampu menjelaskan melaksanakan peran upaya perawat deteksi dalam upaya deteksi balita perkembangan perkembangan menggunakan DENVER II dan KPSP (Kuisioner Pre Screening Perkembangan) . Mampu mengetahui deteksi dini perkembangan balita serta instrumen yang digunakan b.

ukuran atau dimensi tingkat sel. 1). Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar. organ-organ dan system organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Di sini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh. kilogram). jaringan tubuh. Pertumbuhan dan perkembangan adalah proses dari maturasi dan pembelajaran (Suruadi dan Yulianni. 2006) Pertumbuhan adalah Proses bertambahnya ukuran/dimensi akibat bertambah banyaknya sel-sel dan atau bertambah besarnya sel-sel serta bertambahnya jaringan interseluler (http://edwintohaga.com/2008/04//3/deteksi-dini-tumbuh-kembanganak-kita/) Pertumbuhan berhubungan dengan perubahan pada kuantitas yang maknanya terjadi perubahan pada jumlah dan ukuran sel tubuh yang ditunjukkan dengna adanya peningkatan ukuran dan berat seluruh bagian tubuh (Whaley dan Wong. dan terjadi perubahan pada individu semasa hidupnya. intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya (Soetjiningsih. 2000). 1995) Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemapuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan. pound. organ maupun individu. yang bias diukur denghan ukuran berat (gram. sebagai hasil dari proses pematangan. 1995.wordpress. Pengertian Tumbang Pertumbuhan dan perkembangan adalah suatu proses yang berlangsung terus menerus pada berbagai segi dan saling berkaitan. jumlha. . ukuran pangjang (meter dan sentimeter).BAB II TINJAUAN TEORI A. Termasuk juga perkembangan emosi. umur tulang dan keseimbangan metabolic (retensi kalsium dan nitrogen tubuh) (Soetjiningsih.

Cara Deteksi Tumbuh Kembang Anak 1. (http://edwintohaga. . deteksi dini penyimpangan mental emosional. Jadi perkembangan adalah suatu proses untuk menghasilkan peningkatan kemampuan untuk berfungsi pada tingkat tertentu (Marlow. lingkar lengan atas terhadap umur. TB terhadap umur.Perkembangan berhubungan dengan perubahan secara kualitas. Deteksi dini perkembangan bertujuan untuk mengetahui perkembangan anak normal atau adanya penyimpangan. Semakin dini maka intervensinya akan dapat semakin cepat. Deteksi Dini Tumbuh Deteksi dini tumbuh adalah kegiatan/pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra sekolah. Jenis deteksi dini yaitu deteksi dini penyimpangan pertumbuhan. 2000) Perkembangan sebagai peningkatan ketrampilan dan kapasitas anak untuk berfungsi secara bertahap dan terus-menerus.wordpress. 1988). deteksi dini perkembangan.com/2008/04//3/deteksi-dini-tumbuh-kembanganak-kita/) C. diantaranya terjadi peningkatan kapasitas individu untuk berfungsi yang dicapai melalui proses pertumbuhan. pematangan dan pembelajaran (Whaley dan Wong. lingkar kepala terhadap umur. B. Penilaian Pertumbuhan Anak a. Ukuran Antropometrik • Tergantung umur (age dependence) BB terhadap umur.

Bila terdapat kenaikan tiap bula adalah normal. TB terhadap umur:  Menurut Kanawati dan McLaren >/= 95%: normal 95-90%: mal nutrisi ringan 90-85%: mal nutrisi sedang 85%: mal nutrisi berat >/= 90%: normal < 90%: stunted/mal nutrisi kronis  CDC/WHO . kemudian kenaikan BB dicatat pada KMS.Interpretasi: BB terhadap umur:  Menurut Gomez > 90 % = normal 90%-75% = malnutrisi ringan (grade I) 75 %-61% = malnutrisi sedang (grade II) < / = 60% = malnutrisi berat (grade III)  Menurut Jelliffe 110 % .61% = malnutrisi sedang (grade II dan III) < / = 60% = malnutrisi berat (grade IV) percentil ke 50 – 3 = normal percentil < / = 3 = malnutrisi  Menurut WHO  Klasifikasi di Indonesia Menggunakan modifikasi Gomez pada KMS.90% = normal 90% . bila tidak terjadi kenaikan maka resiko tinggi terjadinya gangguan pertumbuhan.81% = malnutrisi ringan (grade I) 80% .

lingkaran perut dan lingkaran leher b.5 cm: mal nutrisi berat Tidak tergantung umur BB terhadap TB.BB terhadap TB:  McLaren/Read  NCHS persentil ke 75-25: normal persentil ke 10-5: mal nutrisi sedang < persentil ke 5: mal nutrisi berat 110-90%: normal 90-85%: mal nutrisi ringan 85-75%: mal nutrisi sedang <75% dengan/tanpa edema: mal nutrisi berat 110-90%: normal 90-80%: mal nutrisi ringan 80-70%: mal nutrisi sedang <70%: mal nutrisi berat 85-80%: mal nutrisi sedang <80%:wasting/mal nutrisi akut  Waterlow  CDC/WHO Lingkar lengan atas  WHO dan Shakir • • >85% atau >14 cm: normal <76% atau > 12. Pemeriksaan Fisik • Keseluruhan fisik . LLA terhadap TB Lainnya Lingkaran dada.

yaitu umur tulang (bone age). sifat (keriting/lurus). diameter (tebal/tipis). perbandingan bagian kepala. tidak). kadar Hb. 1995) 2. saat tanggal. • Skrining gangguan perkembangan anak warna. dan akar rambut (mudah dicabut/ . (Soetjiningsih. Tahap-Tahap Penilaian Perkembangan Anak • Anamnesis Melakukan anamnesis lengkap. karena kelainan perkembangan dapat disebabkan oleh berbagai faktor. • Jaringan lemak Diperiksa pada kulit di bawah trisep dan subskapula dengan cara cubitan tipis. Pemeriksaan Laboratorium Terutama pemeriksaan darah.Dilihat bentuk tubuh. tubuh dan anggota. Juga diperhatikan apa ada edema atau tidak • Jaringan otot Pertumbuhan otot diperiksa pada lengan atas. c. pantat dan paha dengan cara cubitan tebal. Pemeriksaan Radiologis Untuk menilai umur biologis. dan erupsi gigi permanen. yaitu antara lain. Penilaian Perkembangan Anak a. hormon. dll d. serum protein (albumin dan globulin). biasanya dilakukan apabila ada kecurigaan adanya gangguan pertumbuhan. • Rambut Yang diperiksa adalah pertumbuhannnya. Dengan anamnesis yang teliti maka salah satu penyebabnya dapat diteliti. • Gigi-geligi Saat erupsi gigi susu.

• Pemeriksaan fisik Untuk melengkapi anamnesis agar diketahui kelainan fisik yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak. dan di atas 3 tahun dengan huruf E. • Evaluasi lingkungan anak Melakukan • evaluasi lingkungan anak misalnya dengan menggunakan HSQ (Home Screening Quetionnaire). anak 2.5 – 3 tahun dengan kartu gambar dari Allen. • Evaluasi bicara dan bahasa anak Untuk mengetahui apakah kemampuan anak berbicara maíz dalam batas-batas yang normal atau tidak. Melalui anamnesis atau menggunakan audiometer kalau ada alatnya.Pada tahap ini dianjurkan digunakan instrument-instrumen untuk skrining guna mengetahui kelainan perkembangan anak. (Soetjiningsih. juga diperiksa apakah ada strabismus dan selanjytnya periksa korne dan retinanya. Tes Perkembangan Menurut Denver (Denver Developmental Screening Test/DDST ) . atau tes psikologi lainnya. Misalnya dengan menggunakan DDST. Evaluasi pendengaran dan penglihatan anak Untuk anak umur < 3 tahun dengan tes fiksasi. • Pemeriksaan neurology Untuk • • mengetahui secara dini adanya palsi cerebralis menggunakan pemeriksaan neurologi Evaluasi penyakit-penyakit metabolic integrasi dari hasil penemuan Pembuatan suatu kesimpulan diagnosis dari gengguan perkembangan tersebut. 1995) b. tes IQ.

motorik halus. Denver II adalah revisi utama dan standararisasi ulang dari Denver Development Screning Test (DDST) dan reviced Denver Developmental Screening Test (DDST-R). Language (bahasa) Mendengar. melompat. Personal social ( social personal ) Penyesuaian diri dengan masyarakat da perhatian terhadap kebutuhan perorangan. Tujuan DDST II 1. 2003) Manfaat Denver II Pada penilaian Denver II menilai perkembangan anak dalam empat faktor. 2. sebagai berikut: 1. tes ini juga mengkaji motorik kasar. bahasa. Wong. Fine motor adaptive (motorik halus adaptif) Koordinasi mata tangan. mengerti. 4. Gross motor (motorik kasar) Duduk. dan gerakan-gerakan umum otot besar. tes ini bukanlah tes diagnostic atau tes IQ (Soetjiningsih. interpretasi dan rujukan seperti tes. jalan. dan menggunaka bahasa. 2. adaptif dan perkembangan social personal pada anak-anak dari 1 bulan sampai 6 tahun (Donna L. Denver II ini berbeda dari test skrining sebelumnya dalam bagian-bagian yang meliputi bentuk. umur dari lahir sampai dengan enam tahun .Pengertian DDST adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelaianan perkembangan anak.1995). Untuk menilai perkembangan anak sesuai usia Memantau anak yang tampak sehat. memainkan atau menggunakan bendabenda kecil pemecahan masalah 3.

2005). Menjaring anak tanpa gejala terhadap kemungkinan adanya kelainan perkembangan Memastikan apakah anak dengan persangkaan ada kelainan. 2. Memonitor anak dengan resiko perkembangan Petunjuk Pelaksanaan DDST II 1. motorik halus dan personal sosial. 4. Alat untuk DDST II (a) Benang sulaman merah (b) kismis atau permen (c) Kerincingan dengan pegangan (d) Kubus kayu berwarna (2. Cara pemeriksaan DDST II (a) Tentukan umur anak pada saat pemeriksaan (b) Tarik garis pada lembar DDST II sesuai dengna umur yang telah ditentukan (c) Lakukan pengukuran pada anak setiap komponen dengan batasan garis yang ada mulai dari motorik kasar. 5.5 cm) 8-10 buah . (Hidayat. apakah benar-benar ada kelainan. meragukan. Meragukan apabila 1 sektor terdapat 2 keterlambatan/ lebih. (d) Tentukan hasil penilaian apakah normal. dan abnormal Keterlambatan (abnormal) apabila terdapat keterlambatan / lebih pada 2 sektor atau bila dalam 1 sektor didapat 2 keterlambatan lebih ditambah 1 sektor atau lebih terdapat 1 ketrlambatan.3. Dapat juga dengan menentukan ada tidaknya keterlambatan pada masing-masing sector bila menilai tiap sector atau tidak menyimpulkan gangguan perkembangan keseluruhan. atau 1 sektor/lebih didapatkan 1 keterlambatan. bahasa.

tanggal pemeriksaan 14 november 2003.  Test yang menggunakan alat yang sama dilakukan secra berurutan  Test dilakukan untuk setiap sector. jika anak kurang tepat melakukannya beri stimulus dan lakukan test ulang.(e) Botol kaca bening yang dapat dibuka (f) Lonteng kecil (g) Pensil warna (h) Boneka dan botol kecil (i) Bola tennis (j) Cangkir plastik dengan pegangan (k) Kertas kosong Cara menghitung umur dan menggambar garis Contoh: Indah dibawa oleh ibunya ke poliklinik tumbang RSU Ungaran. motorik halus. Tanggal lahir 5 april 2000. bahas dan motorik kasar. Hitung umur indah dan ganbar garis umurnya? Jawab: Tahun Tgl tes Tgl lahir Umur 2003 2000 3 Bulan 11 4 7 Hari 14 5 9 Kemudian buat garis umur dan cantumkan tanggal pemeriksaan pada format DDST HAL – HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN  Lakukan test dari sector yang kurang aktif terlebih dahulu : personal social.  Mulailah dari yang mudah dilakukan . dan mulailah dari sebelah kiri garis umur terus kekanan .

KODE PENILAIAN F R = Fail (Gagal) = Refusal (Menolak) .BILA ADA RESIKO PERKEMBANGAN  Lakukan paling sedikit 3 test yang paling dekat disebelah garis umur serta tiap test yang ditembus garis umur pada setiap sektor  Bila anak tidak mampu untuk melakukan salah satu pertama (gagal. Ibu atau pengasuh memberi laporan tepat. menolak. bahwa anak tidak dapat melakukan dengan baik. NO: No Opportunity/ Tidak ada kesempatan Anak tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan test karena ada hambatan. tepat atau dapat dipercaya bahwa anak dapat melakukan F: Fail/Gagal Anak tidak dapat melakukan test dengan baik. no Opportunity) → lakukan test tambahan kesebelah kiri pada sektor yang sam sampai anak dapat melewati 3 test BILA ANAK LEBIH RELATIF KEMAMPUAN  Pada setiap sektor dilakukan paling sedikit 3 test yang paling dekat kesebelah kiri garis umur dan test yang ditembus garis umur  Lanjutkan test kekanan dari setiap test yang dalam satu sektor hingga tercapai 3 gagal  Tiap test dilakukan 3 kali sebelum ditentukan gagal SKOR YANG DIPAKAI DALAM DDST II P: Pas/lewat Anak melakukan test dengan baik Ibu atau pengasuh memberi laporan L. R: Refusal/Menolak Anak menolak untuk malakukan test.

P = Pass (Lewat) NO = No Opportunity (tidak ada kesempatan) INTERPRETASI DARI NILAI DDST II A. AGE LINE B. gagal atau menolak pokok yang di potong berdasarkan garis usia antara persentil ke-25 dan ke-75. ADVANCED/PENILAIAN LEBIH Melewati pokok secara lengkap ke kanan dari garis usia (dilewati pada <25% anak pada usia yang lebih besar dari anak tersebut). NORMAL Melewati. AGE LINE R Apabila anak gagal/menolak tugas pada item disebelah kakan garis umur AGE LINE P F .

Keuntungan dari Kuisioner Resived Pre Screening Developmental (RPDQ) meliputi penambahan dan pengaturan bagian-bagian agar menjadi lebih tepat usia. menyederhanakan penilaian orang tua dan mempermudah perbandingan dengna norma-norma Denver Developmental Screening Test (DDST). R-PDQ adalah pra skrining yang dijawab orang tua yang terdiri dari 105 pertanyaan dari DDST. Pada orang tua yang .R Apabila anak lulus. C. gagal/menolak tugas dimana garis umur berada antara 25%-75% (warna putih). AGE LINE Apabila anak gagal/menolak tugas pada item dimana pada garis umur berada diantara 75%-90% (warna kelabu) d. CAUTION /PERINGATAN Gagal atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia di atas atau di antara persentil ke-75 dan ke-90. meskipun hanya subset pertanyaan yang diajukan untuk setiap kelompok usia. Kuisioner Resived Pre Screening Developmental (KPSP) Kuisioner Resived Pre Screening Developmental atau Kuisioner Pre Skrining Perkembangan (KPSP) adalah revisi dari PDQ yang asli.

dan ekonomi. Faktor individu si pelaku sering menjadi pendorong atau pemicunya. Bertahun-tahun barulah kasus tersebut terungkap berkat tetangganya yang curiga sering mendengar suara tangisan. serta guru. Anak-anak kemudian menjadi pelampiasan. Ada banyak bekas luka di sekujur tubuhnya. Contohnya awal tahun ini ada berita seorang ibu membakar dua anak kandungnya sendiri yang masih berusia 3 tahun dan 11 bulan. . psikologis. seksual. Sebuah hasil penelitian menyebutkan 90% pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang dewasa. bisa pula akibat sengaja ditutuptutupi. Sebenarnya sangat banyak kasus kekerasan terhadap anak namun tidak terekspos oleh media massa karena berbagai alasan. format mungkin perlu dibacakan oleh pemberi asuhan. Ada pula seorang ibu yang menganiaya anak angkatnya. Jumlah sebenarnya diyakini lebih banyak lagi mengingat banyak yang tidak dilaporkan atau sengaja dirahasiakan karena dianggap aib baik oleh korban. Kebanyakan penyebabnya adalah kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis serta kesulitan ekonomi. sedangkan adiknya harus menjalani perawatan cukup lama di rumah sakit.pendidikannya kurang. BAB III FENOMENA Kekerasan terhadap Anak di Sekitar Kita KITA pernah tersentak oleh berita-berita mengenai kekerasan terhadap anak yang seringkali berada di luar akal sehat. Ketika ketahuan si anak sudah telanjur mengalami derita lahir dan batin amat berat. misalnya orang tua atau wali. kerabat. Bahkan kebanyakan orang terdekat korban. Kekerasan pada anak bisa berupa kekerasan fisik. Bisa karena kasusnya tidak tragis sehingga dianggap kurang bernilai sebagai berita. Data Komisi Nasional Perlindungan Anak menyebutkan tahun 2004 ada 544 kasus kekerasan terhadap anak dan 2005 meningkat menjadi 736 kasus. Si sulung akhirnya meninggal dunia karena luka bakarnya sangat parah.

dan sebagainya.000 anak lainnya menjadi korban eksploitasi seksual. Kekerasan terhadap anak sering terjadi di sekitar kita tetapi barangkali kita tidak menyadari karena kurang peka.000 anak yang ditahan dan 84% di antaranya ditempatkan di penjara untuk orang dewasa. Kasus itu bisa terjadi dalam keluarga dan sekolah. Mereka beranggapan anak adalah miliknya dan bebas diperlakukan apa saja.000-70. maupun masyarakat. Dalam kadar yang ringan si anak diberi hukuman berupa pukulan atau tugas lain. Sepintas hukuman semacam itu dianggap lumrah. Di sekolah sudah dianggap sebagai kewajaran jika guru menghukum muridnya yang melakukan kesalahan atau lalai dengan cara berdiri di depan kelas. yakni dijemur di halaman sekolah atau diminta membersihkan kamar mandi. Sebenarnya cakupan kekerasan terhadap anak sangat luas. Di lingkungan keluarga kekerasan terhadap anak lebih disebabkan oleh paradigma keliru orangtua. menganggap sebagai hal biasa. Misalnya karena nilai-nilai rapornya jelek si anak dimarahi dan mendapat sebutan ''goblog''.000 wanita dan anak-anak diperdagangkan setiap tahun. Masih ditambah sekitar 100. Unicef menyebutkan beberapa fakta yang cukup memprihatinkan. Sekitar sepertiga pekerja seks komersial berumur kurang dari 18 tahun. Bahkan bagi murid yang dianggap ''nakal'' hukumannya bisa lebih berat. . terutama anak-anak dan wanita yang tinggal di daerah konflik atau bekas bencana. ''idiot''. Masalah lain yang tak kalah memprihatinkan adalah pelecehan terhadap anak. atau bahkan abai. Lebih dari 3 juta anak terlibat dalam pekerjaan yang berbahaya. serta dilecehkan jika tidak melakukan sesuatu yang diinginkan. Termasuk kekerasan kategori agak berat dan berat antara lain diminta bekerja tanpa mengenal waktu untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. tetapi sebenarnya merupakan tindak kekerasan juga meskipun kadarnya lebih ringan.keluarga. Contohnya seorang ibu atau ayah memukuli anaknya dengan alasan untuk mendisiplinkan. ''bloon''. sedangkan 40. Diperkirakan sekitar 60% anak balita Indonesia tidak memiliki akta kelahiran. Lalu ada sekitar 5.

Anakanak tersebut mempunyai hak disayangi. Anak yang kerap menerima tindak kekerasan secara fisik berupa hukuman ketika dewasa bisa tumbuh menjadi pribadi yang agresif dan suka melakukan kekerasan. Kita telah memiliki UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak untuk menjamin anak-anak di seluruh Tanah Air memperoleh perlakuan yang layak. peragu. . Mereka mendapat contoh kekerasan di masa kecilnya sehingga pola dan cara hidup mereka akan dijalani dengan kekerasan pula. psikologis. memperoleh pendidikan yang baik. berkreasi. Ada yang dilecehkan dengan sebutan atau perlakuan yang bersifat merendahkan dan bagi yang dianggap ''nakal'' memperoleh hukuman. baik yang ringan maupun berat. ekonomi. Agresif Bagi yang sering dilecehkan kemungkinan besar menjadi pribadi yang kurang percaya diri. dihidupi secara layak. bahkan hak untuk ''nakal''. dan sosial terhadap anak. Para orang tua dan guru yang melakukan kekerasan itu mungkin tidak menyadari tindakannya bisa berdampak panjang bagi si anak. kebebasan. Pelecehan dan hukuman akan membekas pada benak si anak dan bisa mempengaruhi perkembangan kejiwaannya. bukan dialog atau diskusi. dan bergantung pada orang lain.Bahkan yang sangat memilukan adalah kenyataan tak sedikit anak-anak yang semestinya menikmati keriangan dunia bermain bersama temannya dijual dan dijadikan pekerja seks komersial. Di sekolah anak-anak yang kurang pandai atau prestasinya tertinggal dari temannya serta mendapat cap ''nakal'' sering diperlakukan kurang layak oleh gurunya. minder. Seringan apapun jenis kekerasan yang dilakukan tetaplah sebuah kekerasan yang bisa berdampak terhadap perkembangan anak-anak kita. marilah sejak sekarang kita hentikan kekerasan terhadap mereka. Butuh penyadaran pada masyarakat luas untuk menghindarkan tindakan kekerasan fisik. Jika kita masih menganggap anak-anak merupakan generasi masa depan bangsa.

media massa. Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk menekan atau bahkan menghilangkan kasus-kasus kekerasan terhadap anak. para penegak hukum harus lebih serius menindaklanjuti laporanlaporan kasus kekerasan terhadap anak hingga tuntas. Liputannya diharapkan tidak hanya mengutamakan nilai berita. Kedua. dan direhabilitasi kondisi fisik serta kejiwaannya. memberi dorongan kepada para korban kekerasan untuk melaporkan kasus yang menimpanya kepada pihak berwajib. perlu dibentuk norma sosial dan budaya baru yang bersifat melindungi serta menghormati anak-anak. Caranya dengan menyebar stiker atau melakukan penyuluhan langsung kepada masyarakat bekerja sama lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang peduli pada anak-anak. Di sinilah LSMLSM. Bukan hanya pada kekerasan yang termasuk kategori berat.Meski harus diakui tidak mudah. Penegakan hukum yang buruk sehingga kasus-kasus kekerasan. sehingga tidak mengedepankan hal-hal yang tragis atau bombastis. melapor ke polisi. Namun lebih dari itu juga perlu mempertimbangkan misi memerangi kekerasan terhadap anak. menyosialisasikan tindakan-tindakan yang tergolong sebagai kekerasan terhadap anak beserta peraturan-peraturannya. Dalam konteks ini peran media massa baik cetak maupun elektronik cukup penting. dan kelompok-kelompok masyarakat yang peduli pada anakanak memegang peran amat penting. . Ketiga. Sekecil apapun tindak kekerasan terhadap anak harus mendapat perhatian dari masyarakat. Pertama. didukung. Hak-hak korban tindak kekerasan mesti dilindungi dan dihormati. para korban perlu ditampung. Bisa dengan cara saling mengingatkan atau kalau tidak. Selain kasusnya dilaporkan. termasuk kekerasan pada anak tidak ditangani sebagaimana mestinya harus diperbaiki. Bekerja sama dengan pemerintah dan instansi terkait perlu didirikan rumah penampungan bagi korban kekerasan terhadap anak hingga ke daerah-daerah. melainkan juga yang ringan dan mungkin dianggap sebagai kewajaran oleh sebagian orang. khususnya jika berupa kekerasan seksual kategori berat.

Ada cara-cara ''menghukum'' yang lebih mendidik dan manusiawi tanpa mencederai fisik atau kejiwaan si anak yang bisa berdampak sangat panjang. dan menganiaya hingga luka parah atau bahkan meninggal.(Bambang Tri Subeno-27) (Suara Merdeka. Jika kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan terhadap perempuan telah memperoleh perhatian selayaknya. Bagi pelaku kekerasan terhadap anak kategori berat.Para pelakunya diproses dan diberi hukuman yang setimpal. Butuh proses dan waktu serta kerja keras karena hal tersebut berhubungan erat dengan persoalan norma sosial dan budaya yang sudah mengakar kuat di masyarakat. yakni pemerintah-penegak hukum-LSM-media massa mesti bahu-membahu dan terus bekerja sama untuk mewujudkan itu. Langkah tersebut diharapkan menjadi semacam shock theraphy sehingga orang akan berpikir ulang untuk melakukan. kita menginginkan tidak lagi ada orang tua atau guru menghukum anak atau muridnya dengan cara apapun walau beralasan untuk mendisiplinkan. dan sebagainya. melacurkan. 16 Oktober 2006) tidak segampang membalikkan telapak tangan untuk mewujudkan suatu masyarakat yang mau melindungi dan menghormati anak- . kini saatnya kekerasan terhadap anak juga demikian. memperbaiki perilaku. Ke depan.Empat serangkai. antara lain memperdagangkan. Memang anak. tak ada pilihan lain kecuali dihukum berat.

Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian juga dibentuk pada masa ini. kesadaran sosial. 75% anak akan mencapai kemampuan lebih kemudian. akan mengurangi kualitas sumber daya manusia kelak kemudian hari. Karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita ini perkembangan kemampuan berbahasa. Masalah tumbuh kembang anak merupakan masalah yang perlu diketahui atau dipahami sejak konsepsi hingga dewasa yang menurut WHO sampai usia 18 tahun.BAB IV PEMBAHASAN Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita. kreatifitas. 50% anak akan mencapai kemampuan kemudian. 90% anak akan sudah harus dapat mencapai kemampuan pada batas usia paling lambat masih dalam batas normal dan 10% anak dimasukkan dalam katagori terlambat apabila belum bias mencapai kemampuannya.5 bulan belum bias tersenyum . Bahkan ada sarjana yang mengatakan bahwa ”The child is the father of the man”. dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. Secara umum terdapat beberap ciri anak yang memiliki kelainan dan perlu pendeteksian diantaranya apabila pada usia 1-1. sedang menurut Undang-Undang Kesejaheraan Anak RI No 4 Tahun 1979 sampai dengan usia 21 tahun sebelum menikah. Sehingga setiap kelainan/ penyimpanagn sekecil apapun apabila tidak terdeteksi apalagi tidak ditangani dengan baik. emosional. Beberapa masalah tumbuh kembang anak hyang perlu dijadikan acuan dalam pemndeteksian diantaranya: 10% anak akan mencapai kemampuan pada usia dini.

Banyak anak dibawah umur yang terlibat dalam pekerjaan yang berbahaya bahkan pekerja seks komersial yang merupakan pelecehan terhadap anak. Kekerasan pada anak bisa berupa kekerasan fisik. dan sebagainya. pada usia 30 bulan anak belum bisa menggambar. seksual. kekerasan terhadap anak merupakan salah satu penyebab dari timbulnya masalah perkembangan anak/ balita. psikologis. Hal ini berdampak panjang bagi si anak karena bisa mempengaruhi perkembangan kejiwaannya misalnya anak menjadi pribadi yang kurang percaya diri.5 tahun anak belum bisa mengenal warna. dihidupi secara layak. minder. pada usia 7-8 bulan anaka belum bias disusukkan tanpa bantuan.secara spontan.”blo’on”. pada usia 2 tahun anak belum bisa menyebut nama sendiri. pada usia 15 bulan belum berjalan. pada usia 3 tahun anak belum bisa berpakaian. kebebasan bahkan hak untuk ”nakal” sehingga masalah perkembangan dapat dihindari . Sehingga anak menjadi pelampiasan. peragu. Di lingkungan keluarga kekerasaan terhadap anak lebih disebabkan oleh paradigma keliru orang tua. yaitu mereka beranggapan bahwa anak adalah miliknya dan bebas diperlakukan apa saja. Kebanyakan penyebabnya adalah kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis serta kesulitan ekonomi.5 tahun anak belum bisa bercerita maka perilaku di atas perlu dilakukan pendeteksian untuk mengenal berbagai masalah tumbuh kembang anak. padahal anak mempunyai hak disayangi. pada usia 12 bula belum bisa menjepit. anak usia lebih 3 bulan masih menggenggam dan belum bersuara. memperoleh pendidikan yang baik. Misalnya memberi hukuman berupa pukulan atau tugas lain bahkan si anak dimarahi dan mendapat sebutan ”goblok”. usia 4-5 bulan belum tengkurap dengan kepala diangkat. berkreasi. dan bergantung pada orang lain bahkan ketika dewasa bisa tumbuh menjadi pribadi yang agresif dan suka melakukan kekerasan. dan ekonomi. pada usia 18 bulan anak belum mampu mengucapkan 4-5 kata. pada usia 4 tahun anak belum bisa manggambar orang 3 bagian dan pada usia 4. Begitu banyak fenomena kekerasan pada anak/ balita yang tercatat pada tahun 2006. pada usia 3. Jadi apapun jenis kekerasan yang dilakukan tetaplah sebuah kekerasan yang bisa berdampak terhadap perkembangan anak.

Untuk mendukung hal ini. Dengan kerja sama tenaga kesehatan dan lembaga sosial lainnya (misalnya.Dalam rangka menanggulangi masalah atau gangguan perkembangan anak. Untuk menilai perkembangan anak. LSM. perawat melakukan koordinasi dan kolaborasi dengan keluarga serta anggota tim kesehatan lainnya. dan motorik kasar. Demikian pula dengan skrining untuk mengetahui penyakit-penyakit yang potensial dapat mengakibatkan gangguan perkembangan anak. 2004). sehingga harus terbina dengan baik. motorik halus. Dengan melakukan beberapa tes tersebut diharapkan resiko masalah perkembangan anak dapat terdeteksi lebih dini dan dapat diatasi lebih awal. pemeriksaan fisik yang teliti dan pemeriksaan penunjang lainnya agar diagnosis dapat dibuat. Dengan pendekatan interdisiplin. evaluasi fungsi penglihatan. Keluarga adalah mitra perawat. sehingga tumbuh kembang anak dapat berlangsung seoptimal mungkin (Soetjiningsih. seperti pemeriksaan neurologis. agar diagnosis maupun pemulihannya dapat dilakukan lebih awal. melainkan seluruh rangakaian proses perawatan anak harus melibatkan keluarga secara aktif (Supartini. pendengaran. pada saat ini berbagai metode deteksi dini untuk mengetahui gangguan perkembangan anak. Karena deteksi dini kelainan perkembangna anak sangat berguna. perawat mempunyai tugas yang sangat penting. bahasa. tes IQ dan tes psikologi lainnya. supaya intervensi dan pengobatan dapat dilakukan sebaik-baiknya. bicara. maka diperlukan anamnesis yang baik. dan lain-lain) diharapkan gangguan perkembangan . serta melakukan pemeriksaan fisik lainny. kemudian melakukan tes skrining perkembangan anak dengan DDST (DENVER II). Selain itu juga dapat dilakukan tes lainnya seperti evaluasi dalam lingkungan anak yaitu interaksi anak selama ini. tidak hanya saat perawat membutuhkan informasi dari keluarga saja. dan lain-lain. Karena Denver II dan tes-tes lainnya mencakup penilaian terhadap personal sosial. pertama yang dapat dilakukan adalah dengan wawancara tentang faktor kemungkinan yang menyebabkan gangguan dalam perkembangan. Untuk membantu mengatasi masalah perkembangan anak. pemerintah. 1995). metabolik . bahasa.

Beberapa peran penting seorang perawat anak. perawatan anak selama anak dirawat di rumah sakit. evaluator. tidak dapat mengambil keputusan/ menentukan pilihan. pembuat keputusan etik. pendidik. baik secara langsung dengan memberi penyuluhan/ pendidikan kesehatan pada orang tua anak maupun secara ridak langsung dengan menolong orang tua/ anak memahami pengobatan dan perawatan anaknya. Kebutuhan orang tua terhadap pendidikan kesehatan dapat mencakup pengertian dasar tentang penyakit anaknya. Suatu waktu anak dan keluarganya mempunyai kebutuhan psikologis berupa dukungan / dorongan mental. 2005). mutisme efekti.anak. dan prosedur yang dilakukan dengan cara melibatkan keluarga. ketrampilan. hiperaktif. koodinator. yaitu sebagai pembela (advocacy). Perawat dituntut sebagai pembela bagi anak atau keluarganya pada saat mereka membutuhkan pertolongan. Sebagai konselor. pemantau. gangguan makan. Perawat berperan sebagai pendidik. Dengan cara . autisme. perawatan lanjut untuk persaiapan pulang ke rumah. enkopresis fungsional. konselor. gangguan perkembangan spesifik. gagap. Hal inilah yang membedakan layanan konseling dengan pendidikan kesehatan. bahkan sampai gangguan dalam fungsi fungsional. yaitu retardasi mental dapat dihindari (Hidayat. pengobatan. seperti gagal tumbuh. BAB V PERAN PERAWAT dalam UPAYA DETEKSI PERKEMBANGAN BALITA Perawat adalah salah satu anggota tim kesehatan yang bekerja dengan anak dan orang tua. Tiga domain yang dapat diubah oleh perawat melalui pendidikan kesehatan adalah pengetahuan. perawat dapat memberi konseling keperawatan ketika anak dan orang tuanya membutuhkan. serta sikap keluarga dalam hal kesehatan. dan meyakinkan keluarga untuk menyadari pelayanan yang tersedia. pembina hubungna terpeutik. khususnya perawatan anak sakit. dan peneliti. gangguan tidur. enuresis fungsional. perencana kesehatan.

Untuk peran ini diperlukan kemampuan berpikir kritis dalam melihat fenomena yang ada dalam layanan asuhan keperawatan anak sehari. Keluarga adalah mitra perawat. Perawat dituntut untuk dapat berperan sebagai pembuat keputusan etik dengan berdasarkan pada nilai moral yang diyakini dengan penekanan pada hak pasien untuk mendapat otonomi. Perwat yang paling mengerti tentang layanan keperawatan anak. dan hadir secara pisik. perawat dapat saling bertukar pikiran dan pendapat dengan orang tua anak tentang masalah anak dan kelurganya. melakukan sentuhan. Perawat berada pada posisi kunci untuk menjadi koordinator pelayanan kesehatan karena 24 jam berada disamping pasien. Oleh karena itu perawat dapat meyakinkan pemegang kebijakan bahwa usulan tentang perencanaan pelayanan keperawatan yang di ajukan dapat memberi dmpak terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan anak. ditingkat kebijakan. Akhirnya sebagai peneliti. dan keuntungan asuhan keperawatan yaitu meningkatkan kesejahteraan pasien.mendengarkan segala keluhan. Perawat harus mempunyai suara untuk di dengar oleh para pemegang kebijakan dan harus aktif dalam gerakan yang bertujuan untuk meningkatkatkan kesejahteraan anak. dan menggunakan hasil penelitian kesehatan / keperawatan anak dengan tujuan meningkatkan kualitas praktik / asuhan keperawatan pada anak. melaksanakan penelitian langsung. melainkan seluruh rangkain proses perawatan anak harus melibatkan keluarga secara aktif. Oleh karena itu kerja sama dengan keluarga juga harus terbina dengan baik. dengan tujuan terlaksananya asuhan yang holistik dan komprehensif. perawat anak membutuhkan keterlibatan penuh dalam upaya menemukan masalah – masalah keperawatan anak yang harus diteliti. dan membantu mencarikan alternatif pemecahannya. perawat melakukan koordinasi dan kolaborasi dengan anggota tim kesehatan lain. Dengan pendekatan interdisiplin. tidak hanya saat perawat membutuhkan inpormasi dari kelurga saja. menghindari hal – hal yang merugikan pasien. Pada tingkat .hari dan menelusuri penelitian yang telah dilakukan serta menggunakan literatur untuk memvalidasi masalah penelitian yang ditemukan.

B. Kesimpulan Deteksi dini tumbuh adalah kegiatan/pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra sekolah. bahasa. pemeriksaan fisik. tapi yang paling digunakan untuk menentukan keadaan pertumbuhan adalah antropometri Untuk mendukung perkembangan anak yang optimal maka dilakukan tes yang dikenal dengan nama DDST II (Denver II) yang menilai empat faktor. perawat harus dapat melaksanakan penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas praktik keperawatan anak. motorik halus. Saran Untuk mengatasi gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan pada balita. maka perawat sebaiknya melakukan deteksi dini perkembangan balita. khususnya apda masa balita. BAB VI KESIMPULAN A.kualifikasi tertentu. diantaranya penilaian terhadap personal sosial. Penilaian pertumbuhan anak meliputi antropometri. pemeriksaan laboratirium dan radiologis. dan motorik kasar. . Peran perawat dan orang tua maupun petugas kesehatan lainnya sangatlah penting dalam upaya mewujudkan pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.

Yupi. Jakarta: Salemba Medika. Jakarta: EGC.com/2008/04//3/deteksi-dini-tumbuh-kembanganak-kita/) (http://suaramerdeka. Jakarta: CV. Suriadi dan Rita Yuliani. Dona L. SAGUNG SETO. Supartini. A. Wong.com) .wordpress. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik Edisi 4.Aziz Alimul. Asuhan Keperawatan pada Anak. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. (http://edwintohaga. 2005. Jakart: EGC. 1995. 2004. Soetjiningsih.DAFTAR PUSTAKA Hidayat. 2006. Jakarta: EGC. 2003. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I Edisi I. Tumbuh Kembang Anak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful