P. 1
Skripsi Pendidikan Matematika BAB I

Skripsi Pendidikan Matematika BAB I

|Views: 121|Likes:
Published by Teddy Alfra Siagian
“Perbedaan Hasil Belajar Siswa Yang Menggunakan Media Berbasis Komputer Model Tutorial dengan Media Berbasis Komputer Model Simulasi Di Kelas VIII SMP Negeri 6 Medan Tahun Ajaran 2008/2009.”
“Perbedaan Hasil Belajar Siswa Yang Menggunakan Media Berbasis Komputer Model Tutorial dengan Media Berbasis Komputer Model Simulasi Di Kelas VIII SMP Negeri 6 Medan Tahun Ajaran 2008/2009.”

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Teddy Alfra Siagian on Jul 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/20/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan masyarakat yang selalu berubah, idealnya pendidikan

tidak hanya berorientasi pada masa lalu dan masa kini, tetapi sudah seharusnya mengantisipasi dan membicarakan masa depan. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Sebagaimana dikemukakan Buchori (dalam Trianto, 2011:5), bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para siswanya untuk sesuatu profesi atau jabatan, tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Dewasa ini, dunia pendidikan khususnya matematika telah menjadi perhatian utama dari berbagai kalangan. Matematika merupakan disiplin ilmu yang mempunyai peranan penting dalam menunjang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuannya tidak saja menambah ilmu pengetahuan guna mempersiapkan diri memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, tetapi juga berguna bagi kehidupan sehari-hari dan untuk ilmu pengetahuan lainnya. Cockroft (dalam Abdurrahman, 2009:253) mengemukakan : “Matematika perlu diajarkan kepada siswa karena: (1) selalu digunakan dalam segala segi kehidupan; (2) semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai; (3) merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat, dan jelas; (4) dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara; (5) meningkatkan kemampuan berpikir logis, ketelitian, dan kesadaran keruangan; dan (6) memberikan kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang”. Namun saat ini mutu pendidikan matematika di negara kita masih sangat memprihatinkan. Berdasarkan data UNESCO (dalam ugm, 2012) mutu pendidikan matematika Indonesia berada pada peringkat 34 dari 38 negara yang

1

komunikasimatematika. Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya prestasi matematika. peneliti . Siswa menganggap matematika adalah pelajaran yang terlalu banyak berhitung dan penuh rumus. dan malu mengungkapkan ideide atas soal yang diberikan guru. Bagi dunia keilmuan.2 diamati. Data lain yang menunjukkan rendahnya prestasi matematika siswa Indonesia dapat dilihat dari hasil survei Pusat Statistik Internasional untuk pendidikan terhadap 41 negara dalam pembelajaran matematika. tetapi siswa harus bisa mengartikan simbol-simbol matematika dan rumus yang terdapat dalam matematika karena simbol-simbol matematika bersifat “artificial” yang baru memiliki arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya”. dimana Indonesia mendapatkan peringkat ke 39 di bawah Thailand dan Uruguay. logis. Selain itu. sistematis. Hal senada juga diungkapkan oleh Fathoni bahwa : “Dalam mempelajari matematika bukan semata-mata hanya menghafal. Siswa lebih bersifat pasif. diantaranya adalah karakteristik matematika yang bersifat abstrak. dan penuh dengan lambang-lambang dan rumus yang membingungkan. matematika memiliki peran sebagai bahasa simbolik yang memungkinkan terwujudnya komunikasi secara cermat dan tepat. (www. Mata pelajaran matematika perlu diajarkan untuk membekali bahasa siswa dengan dalam mengembangkan kemampuan menggunakan matematika mengkomunikasikan ide atau gagasan matematika. khususnya komunikasi matematis siswa yaitu matematika merupakan pelajaran yang sulit oleh siswa. Hal ini menyebabkan siswa kurang berminat dalam mengikuti pelajaran matematika dan kurang antusias menerimanya. 2007) bahwa : “Banyak faktor yang menyebabkan matematika dianggap pelajaran sulit. Akan tetapi ketakutan-ketakutan yang muncul dari siswa tidak hanya disebabkan siswa itu sendiri. tetapi juga disebabkan oleh ketidakmampuan guru menciptakan situasi yang mampu membawa siswa tertarik terhadap matematika. enggan. beberapa pelajar tidak menyukai matematika karena matematika penuh dengan hitungan dan miskin komunikasi”. kuadrat dan akar kuadrat suatu bilangan sebagai materi prasyarat pada teorema Pythagoras di SMP Harapan 2 Medan pada Kelas VIII-A tahun ajaran 2012/2013.com) Dari observasi yang dilakukan peneliti pada materi luas segitiga. Menurut Bambang R (dalam Rbaryans.

73.dan BC = 25 cm. AC = 20 cm. Diberikan 1 soal untuk mengukur komunikasi siswa.Pd) diperoleh keterangan pada pokok bahasan Pythagoras. siswa sulit untuk mengungkapkan ide atau memberi penjelasan dari permasalahan yang ada.89% siswa tidak mampu menjelaskan permasalahan matematika.1 Salah Satu Jawaban Siswa pada Soal No. antara lain : “1. Diperoleh juga 16. Bagaimanakah gambar dari keterangan yang di peroleh tersebut? b. Namun. siswa di tuntut untuk menemukan sendiri bagaimana menunjukkan teorema Pythagoras serta bagaimana syarat berlakunya.1 Peneliti juga melakukan wawancara dengan salah satu guru matematika di SMP Harapan 2 Medan (Ibu Nurhadijah Lubis S. a. Jelaskan bagaimana memperoleh luas  ABC”.18% siswa tidak mampu membuat gambar segitiga sikusiku dan 80.3 menemukan beberapa fakta. Hal ini menyebabkan kemampuan komunikasi matematis siswa menjadi rendah pada pokok bahasan teorema Pythagoras. Pembelajaran kooperatif jarang dilakukan khususnya menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Bamboo Dancing.  ABC siku-siku di A. Berdasarkan keterangan siswa kesulitan untuk mengungkapkan ide atau memberi penjelasan dari masalah yang ada dapat disimpulkan bahwa salah satu . Diperoleh nilai rata-rata siswa kelas VIII-A yang berjumlah 32 orang adalah 46. Gambar 1. dengan AB=15 cm.

dan bekerja sama sehingga dapat membantu siswa pada pemahaman yang mendalam tentang matematika. Pada pembelajaran Ekspositori lebih ditekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa . sementara itu kebanyakan guru mengajar masih kurang memperhatikan kemampuan komunikasi siswa. menggambar. 2004) meliputi: 1) kemampuan memberikan alasan rasional terhadap suatu pernyataan.4 kesulitan untuk mempelajari matematika adalah rendahnya kemampuan komunikasi matematis siswa. menggambarkan. menjelaskan. National Council of Teacher of Mathematics (dalam Ronis. diagram. Tujuan pembelajaran matematika yaitu siswa memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan gagasan dengan simbol. tabel. menulis. 2007) pentingnya peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa juga tertulis dalam tujuan pembelajaran matematika. Menurut Rofiah (dalam Depdiknas. mendengarkan. 2010) menyatakan bahwa kemampuan komunikasi menjadi penting ketika diskusi antar siswa dilakukan. 2009 : 118) menjelaskan : “Komunikasi bisa membantu pembelajaran siswa tentang konsep matematika baru ketika mereka memerankan situasi. Within (dalam Herdy. Model pembelajaran yang berlangsung di sekolah masih berpusat pada guru seperti model pembelajaran Ekspositori. Kemampuan komunikasi matematika menurut Rofiah (dalam Wihatma. menanyakan. 2) kemampuan mengubah bentuk uraian ke dalam model matematika. Pembelajaran matematika yang cenderung abstrak. atau media lain untuk memperjelas masalah. Juga ketika menggunakan diagram. dan 3) kemampuan mengilustrasikan ide-ide matematika dalam bentuk uraian yang relevan. dan menggunakan simbol matematika.” Rendahnya kemampuan komunikasi matematis siswa juga tidak terlepas dari kemampuan guru mengajarkan matematika. memberikan laporan dan penjelasan verbal. menggunakan objek. Siswa diharapkan mampu menyatakan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan upaya untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa.

Senada dengan keterangan di atas. Model ini lebih banyak diberikan melalui ceramah sehingga guru dapat mengontrol keluasan materi pembelajaran dan dianggap efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas. sementara waktu yang dimiliki untuk belajar terbatas. bekerja sama. dan membantu teman. Kemudian masing-masing sepasang siswa yang berhadapan saling bertukar informasi. memberi jawaban. kemampuan berkomunikasi. siswa yang duduk di ujung salah satu jajaran pindah ke ujung lainnya di jajaran yang lain sehingga jajaran ini akan bergeser mirip seperti dua potong bambu. 2009:21) mengemukakan bahwa : “Pembelajaran kooperatif dirancang bagi tujuan melibatkan pelajar secara aktif dalam proses pembelajaran menerusi perbincangan dengan rekanrekan dalam kelompok kecil. Seharusnya kegiatan belajar mengajar ditentukan oleh kerjasama antara guru dan siswa. dan media yang tepat dalam penyajian materi pelajaran. Salah satu solusi kreativitasnya adalah menerapkan model pembelajaran kooperatif. Model kooperatif tipe Bamboo Dancing merupakan model pembelajaran kooperatif dengan siswa duduk saling berjajar dan berhadapan. Beberapa ahli menyatakan bahwa model ini tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit. pendekatan. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang menekankan dan mendorong kerja sama antar siswa dalam mempelajari sesuatu. tetapi juga sangat berguna untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Kreativitas yang dimaksud adalah kemampuan seorang guru dalam memilih metode.” Salah satu tipe dari pembelajaran kooperatif adalah Bamboo Dancing. Dengan menggunakan tipe ini diharapkan terjadi . Setelah waktu yang diberikan untuk berdiskusi habis. serta mewujudkan dan membina proses penyelesaian kepada suatu masalah. Namun kesempatan untuk mengontrol kemampuan komunikasi matematis siswa sangat terbatas. berdiskusi untuk menyelesaikan soal dengan menjelaskan suatu masalah serta mengungkapkan ide yang muncul saat diskusi berlangsung. Oleh karena itu diperlukan kreatifitas dan gagasan yang baru untuk mengembangkan cara penyajian materi pelajaran di sekolah. Effandi Zakaria (dalam Isjoni. saling bertukar pendapat.5 agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal.

Kemampuan komunikasi matematika siswa khususnya komunikasi matematika tulisan masih rendah. Dari uraian di atas. 4. . Identifikasi Masalah Dari latar belakang masalah di atas.2. serta adanya komunikasi antar anggota kelompok. Penelitian yang dilakukan dengan judul “Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Bamboo Dancing Terhadap Komunikasi Matematis Siswa Pada Pokok Bahasan Teorema Phytagoras Kelas VIII SMP Harapan 2 Medan”. mengemukakan bahwa : “Pembelajaran kooperatif tipe bamboo dancing sangat baik digunakan untuk mengajarkan informasi . Suwarno (2010). terdapat tanggung jawab perorangan.6 pemerataan informasi yang diketahui oleh siswa. Diskusi antar siswa terjadi pada saat berpasangan dan pada saat presentasi topik pelajaran”. Pembelajaran kooperatif jarang dilakukan apalagi menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Bamboo Dancing.informasi awal guna mempelajari materi selanjutnya. Ini berarti dalam Bamboo Dancing terdapat saling ketergantungan positif antar siswa. 2. Siswa mengalami kesulitan dalam belajar matematika. 3. peneliti tertarik untuk mencoba mengadakan penelitian yang diharapkan mampu melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran matematika. Tipe ini sangat bermanfaat guna membangun kebersamaan antar siswa karena tidak terjadi persaingan. 1. khususnya pada pokok bahasan teorema Pythagoras. Bamboo Dancing merupakan salah satu variasi atau tipe pembelajaran kooperatif maka semua prinsip dasar pembelajaran kooperatif melekat pada tipe ini. masalah yang dapat teridentifikasi yaitu: 1. siswa saling berbagi informasi. Pembelajaran yang dilakukan masih berpusat pada guru (Ekspositori).

7 1. 1. dan kemampuan komunikasi matematika siswa. dapat membantu siswa dalam memahami pelajaran matematika dan untuk meningkatkan aktifitas. 3. . Rumusan Masalah Berdasarkan batasan masalah di atas yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah kemampuan komunikasi matematis siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Bamboo Dancing lebih baik daripada siswa yang belajar dengan model pembelajaran Ekspositori pada pokok bahasan Teorema Phytagoras di kelas VIII SMP Harapan 2 Medan? 1.5. Kepada guru. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah: 1.4. 2. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah kemampuan komunikasi matematis siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Bamboo Dancing lebih baik daripada siswa yang belajar dengan model pembelajaran Ekspositori pada pokok bahasan Teorema Phytagoras di kelas VIII SMP Harapan 2 Medan.6. dapat menjadi masukan sebagai calon guru untuk menerapkan model pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran matematika dan sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya. acuan untuk dapat menerapkan model pembelajaran yang paling sesuai dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. prestasi.3. Batasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas. 1. Bagi siswa. Kepada peneliti. maka penelitian dibatasi pada kemampuan komunikasi matematis siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Bamboo Dancing dan Ekspositori pada pokok bahasan teorema Phytagoras kelas VIII SMP Harapan 2 Medan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->