Kriminologi- Paradigma dan Pembaharuan Soal No.

1 : Mengenai Paradigma Kriminologi, kita sebaiknya mencermati sejarahnya, dari Klasik hingga Kritis. Aliran klasik, mulai berkembang di Inggris pada akhir abad ke 19 dan kemudian meluas ke negara-negara lain di Eropa dan Amerika, dasar dari mazhab ini adalah hedonistic-psycology dan metodenya ArmChair (tulis menulis). Psikologi mejadi dasar aliran ini , sifatnya adalah individualistis, intelectualistis dan voluntaristis, aliran ini berpandangan adanya kebebasan kehendak sedemikain rupa, sehingga tidak ada kemungkinan untuk menyelidiki lebih lanjut sebab-sebab kejahatan atau usaha-usaha pencegahan kejahatan. Contoh yang sederhana adalah setiap perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang, sangat sederhana, namun pandangan ini berhasil menjadi tulang punggung hukum pidana dan merupakan doktrin yang berpengaruh hingga sekarang. Menurut aliran ini orang yang melanggar undang-undang tertentu harus menerima hukuman yang sama tanpa mengingat umur, kesehatan jiwa, kaya miskinnya, posisi sosial dan keadaan-keadan lain. Hukuman dijatuhkan harus berat, namun propossional, dan untuk memperbaiki, dan lain-lain. Meskipun aliran ini kurang mampu menjelaskan mengapa seseorang berperilaku jahat, namun hingga sekarang mencengkram kuat dan mempengaruhi terhadap pemberian makna penjahat. Penjahat adalah mereka yang dicap demikian oleh undang-undang, merupakan pengaruh nyata terhadap pola berfikir banyak ahli (hukum) di Indonesia. Aliran positivis muncul sebagai proses ketidak puasan dari jawaban-jawaban aliran klasik, aliran ini berusaha menjelaskan mengapa seseorang bisa bertindak jahat. Aliran ini bertolak pada pandangan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh faktorfaktor di luar kontrolnya, baik yang berupa faktor biologik maupun kultural. Ini berarti bahwa manusia bukan makhluk yang bebas untuk berbuat menuruti dorongan keinginannya dan intelegensinya, akan tetapi makhluk yang dibatasi atau ditentukan oleh perangkat biologiknya dan situasi kulturalnya. Lambroso, yang dianggap sebagai pelopor mazhab ini pada pertengahan abad ke 19 secara tegas mengetengahkan apa yang disebut Born Criminal (penjahat sejak lahir), bahwa penjahat sejak lahirnya merupakan tipe khusus, dengan kalsifikasi khusus misalnya pencuri, pembunuh atau penjahat-penjahat lainnya memiliki tanda atau ciri yang berbeda-beda, Aliran biologis yang dipeloporinya ini meskipun mendapat kritikan dari beberapa ahli kriminologi, namun sampai saat ini pengaruh dari Lombroso masih terasa, misalnya seseorang akan dicurigai apabila

bahwa pengungkapan terhadap kejahatan harus lebih kritis. sebagai faktor penyebab yang penting. Kemudian muncul aliran yang memperluas dari individu (biologis) kepada kondisi-kondisi yang dapat menghasilkan penjahat. Munculnya kriminologi baru ini salah satunya dan di mulai dengan munculnya teori Labbeling (labelling theory). Wawasan kriminologi ini disebut kriminologi baru. Munculnya aliran ini. kemiskinan. perbuatan jahat (kejahatan) ditafsirkan sebagai hasil dari keadaan disorganisasi sosial dan kejahatan diakibatkan dari berbagai hal yang bersifat sosial seperti Industrialisasi. Kejahatan bukanlah kualitas perbuatan yang dilakukan oleh orang. muncul apa yang disebut dengan kriminologi kritis sampai radikal. dan E. dan dibagian-bagian dunia setelah redanya perang dingin. dipengaruhi oleh kondisi-kondisi sosial. WA Bonger dan Sutherland. Ketidak puasan terhadap aliran-aliran di atas kemudian menampilkan perspektif baru dalam melihat mengapa seseorang dapat menjadi jahat. dengan teori Konflik. dll. dalam menyatakan kebhinekaan .M Lemert. Bagi aliran-aliran kriminologi baru penyimpangan adalah normal . berdahi lebar. Oleh karena itu teori labelling ini telah merubah konteks studi kriminologi.aliran ini disebut pula dengan aliran Kriminologi radikal. Ralf Dahrendorf Chambliss dan Seidman..menampilakan ciri-ciri biologis berambut gondrong. meskipun istilah pertamanya teori ini muncul dalam bukunya Frank Tannenbaun. seperti satau atau dua jumlah uyeng-uyeng di kepala bayi yang baru dilahirkan. Perkembangan selanjutnya. selektif dan waspada. yaitu dari penjahat kepada proses terjadinya kejahatan. melainkan sebagai akibat diterapkannya peraturan dan sanksi oleh orang-orang lain kepada seorang pelanggar. Tercatat beberapa tokoh teori ini seperti Tarde. Kejahatan merupakan produk sistem sosial. Lacasagne. sebagai hasilnya muncul apa yang disebut denagan perspektif aliran kriminologi baru yang memiliki pemikiran-pemikiran kritis dan radikal. yang menekankan pada struktur kesempatan yang berbeda atau diffrential opartunity structure. dalam pengertian manusia terlibat secara sadar dalam penjara-penjara yang sesungguhnya dan masyarakat yang juga merupakan penjara. tidak luput dari perkembangan atau konteks perubahanperubahan sosial di Amerika Serikat sekitar tahun 1960. Disusul kemudian oleh teori-teori yang dikemukakan Austin Turk. rasisme dan lain-lain. dikemukakan Howard Becker yang mengatakan pada dasarnya kejahatan merupakan suatu proses dalam konteks. perubahan sosial yang cepat dan modernisasi.

tidak mampu memuaskan jawabanjawabn terutama terhadap mengapa mereka melakukan perbuatan-perbuatan jahat. memberikan komentar terhadap pandangan aliran-aliran kriminologi baru ini. Menurut Mardjono.” Terutama di Indonesia. Terlebih lagi studi yang dilakukan masih tradisional. sehingga lahirnya aliran-lairan baru dalam kriminologi. bahwa Ilmu pengetahuan itu hidup karena revolusi bukan akumulasi. hal ini telah menyita tenaga dari sistem peradilan pidana sehingga kejahatan-kejahatan dengan klasifikasi lain atau kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan menjadi tidak tersentuh.di samping kejahatan jalanan masih terdapat kejahatan korporasi (Corporate crime) dan kejahatan-kerah putih/orang berdasi (White Collar Crime). dengan dua hal yang menjadi sangat penting. apabila ditempatkan dalam konteks paradigma Thomas Kuhn. Munculnya aliran baru kriminologi sebenarnya merupakan kritik terhadap perkembangan kriminologi itu sendiri. dilihat dari kacamata kriminologi yang non konvensional itu maka apa yang disajikan oleh kriminologi konvensional adalah menyesatkan.lahirnya Kriminologi yang non konvensional memberikan analisa berbeda. Seorang kriminolog Indonesia yaitu Paul Moedikdo. Mereka sampai kepada perumusan-perumusan tentang kejahatan dan perilaku . dan . organik dan sosial manusia tidak menjadi korban kriminalisasi penguasa. bahwa angka kriminalitas yang tidak dilaporkan dan tidak tercatat cukup besar (the dark number of crime). kewajiban ahli kriminologi adalah untuk menciptakan suatu masyarakat di mana kenyataan-kenyataan keragaman personal. fokus kejahatan hanyalah terhadap apa yang disebut dengan “kejahatan jalanan. dilaporkan dan dicatat. Akan tetapi bahaya praktek pengalaman yang terbatas adalah adanya penyempitan kesadaran dan diadakannya generalisasi terlalu jauh jangkauannya. dan menjelaskan kejahatan secara faktual. Tugas ahli kriminologi bukanlah sekedar mempermasalahkan stereotype atau bertindak sebagai pembawa-pembawa alternatif phenomenological realities. Pada intinya aliran baru mengecam statistik kriminalitas yang tidak mampu memberikan data akurat. maka proses ini bisa disebut sebagai Lompatan Paradigmatik. guna memperbaiki posisi hukum atau pengurangan keterbelakangan mereka dalam masyarakat. disaat kriminologi tradisional atau oleh Taylor disebut dengan istilah Orthodoks kriminologi.mereka. yang jarang diketahui. menurutnya kadar kebenaran dan nilai praktis teori kritis dapat bertambah apabila hal itu dikembangkan dalam situasi kongkret demi kepentingan atau bersama-sama mereka yang diterbelakangkan.

bukan berdasarkan hierarkhikal dan eksploitatif. Bukan kekuasaan untuk mengkriminalisasi kajahatan yang harus dirumuskan atas dasar prinsip-prinsip egalitarian dan kooperatif. Paul Moedikdo juga memberikan komentarnya terhadap Ian Taylor dll. sehingga justru melahirkan pertentangan pendapat yang berkepanjangan dan dapat memecah belah para kriminologi ke dalam dua kubu. dengan kata lain kriminologi baru melupakan sama sekali adanya street crime yang konvensional dan tradisional yang berkait dengan tatanan birokratis yang ada. namun rumusannya tentang kejahatan dan generalisasinya mengenai teori kejahatan dan perilaku menyimpang terlalu jauh. perspektif baru memang diperlukan dalam meluruskan pandangan sempit dari kriminologi konvensional. yaitu bahwa rumusan kewajiabn ahli kriminologi untuk berusaha menciptakan suatu masyarakat dimana kenyataan-kenyataan kebhinekaan manusia tidak menjadi korban kriminalisasi penguasa adalah rumusan yang keliru. nampaknya banyak yang tidak tepat.menyimpang yang tidak dapat dipertahankan oleh karena adanya generalisasi yang berlebihan bahwa delik-delik adalah pernyataan dari perlawanan sadar dan rasional terhadap masyarakat yang tidak adil yang hendak menyamaratakan orang menjadi objek-objek pengaturan oleh birokrasi ekonomi. meski bisa dipertimbangkan (sebagai scientific device). dan teori ini tidak berlaku untuk semua jenis kejahatan. Suatu kritik dilontarkan pula terhadap teori Labelling bahwa. Kenyataannya bahwa hanya kejahatan yang sangat serius memperoleh reaksi masyarakat atau cap. teori labeling yang selalu berangapan bahwa setiap orang melakukan kejahatan dan nampak bahwa argumentasinya adalah cap. apalagi pandangan yang dikemukakan aliran kritis/radikal sering bersinggungan dengan konteks kekuasaan atau bentuk perlawanan. dilekatkan secara random. Hanya saja kritik tersebut terkesan umum (tidak cermat) serta kurang memiliki landasan cukup tajam terhadap pandangan-pandangan kriminologi baru. bahkan meurut Hagan. apalagi kritik itu lebih bersifat kehati-hatian daripada melihat substansi teori yang dikembangkan. teori ini bersifat deterministik dan menolak pertanggungjawaban individual. maka dapat dikatakan catatan atau kritik terhadap kriminologi baru ini bahwa. pemikiran kritis sering dicap sebagai bagian yang harus diwaspadai dalam pengertian negatif. sehingga apabila dibaca dalam paradigma kekuasaan yang pada waktu itu sangat dominan (Rezim Orde Baru begitu . Ini kemudian dipertegas oleh Soedjono bahwa. Namun apabila kita lihat pandangan-pandangan atau kritik yang dikemukakan oleh Paul Modikdo dan Soejono terhadap Kriminologi baru itu.

Apabila kita melihat seadanya maka nampak. tidak melihat konteks. (police and Criminal Evidence Bill 1982 ) adalah contoh lain dari usaha negara untuk mendapatkan kekuasaanya. Akan tetapi penguatan hukum usaha percobaan bisa direntangkan sebagai akibat dari undang-undang ini. dimata polisi bisa di anggap sebagai suatu usaha percobaan pencurian mobil. namun pemerintah sendiri telah menciptakan opini publik yang . tidak peduli apapun maksud yang dinyatakan. yang timbul akibat perubahan besar disegala bidang kehidupan. untuk kategori ini kita memang harus berhati-hati karena penyamarataan itu memang akan menyesatkan mengenai pandangan kita tentang kejahatan. Sebagai contoh.alergi terhadap pandangan-pandangan kritis dan perlawanan. Saat ini penafsiran terhadap kejahatan mengalami suatu perubahan cukup mendasar. dimaksudkan untuk mencabut hukum-hukum ‘sus’ yang banyak dikutuk orang. sehingga aliran-aliran kritis sering dicurigai). mengenai hubungan kejahatan dengan kekuasaan. Ini hanya sekedar satu di dalam satu deretan manuver legal yang konsekuensi latennya. adalah untuk meningkatkan kekuasan polisi untuk menyerang privasi individu dan menunda mereka sampai bukti ditemukan. bisa dibayangkan efek yang timbul. terutama kalau wajah anda tidak sesuai. Demikian pula dengan undang-undang polisi dan Bukti Kriminal. atau warna kulit anda kurang layak di sebuah jalan dengan sebuah mobil yang sedang diparkir. Sekedar keberadaan (kehadiran). Melalui undang-undang ini wewenang polisi telah ditambah dan bukannya dikurangi. dengan kata lain untuk tidak menerima apa adanya Take for Granted. tentang generalisasi yang terlau jauh dari jangkauannya. serta usaha untuk mencuri mobil yang sedang diparkir. 1981. dengan menguraikan suatu analisis bahwa “Undang-Undang Percobaan usaha kriminal (Criminal Attemps Act). untuk mencakup usaha pencurian materi yang tidak di kenal oleh orang-orang tidak dikenal. sehingga kalau boleh saya jelaskan bahwa kritik terhadap kriminologi baru yang dikemukakan kedua pakar krimonolog di atas adalah kritik yang kering interpretasi. bahwa terbitnya undang-undang itu merupakan rasa peduli pemerintah dan kekhawatiran pemerintah. dalam menguraikan teori mereka didasarkan kepada kemampuan apa yang disebut dengan motif-motif berfikir kritis dengan “melihat tembus “ “melihat dibalik” (adegan). Hanya perlu diperhatikan mengenai kritik dari Paul Meodikdo. Bahwa aliran aliran baru terutama kritis dan radikal. Tengok pula bagaimana di Indonesia kejahatan mengalir tanpa hambatan melalui legalisasi peraturan perundang-undangan. terhadap warganegaranya. hal ini bisa dilihat dari uraian Steven Box .

maka angka-angka kejahatan dalam masyarakat. . Analisis terhadap kondisi-kondisi dan proses-proses tersebut menghasilkan dua kesimpulan. pemakaian narkotik. agama. pasti ada kejahatan “Crime is eternal-as eternal as society”. kritis dan radikal adalah alternatif pemikiran yang mencoba membuka pemahaman kita akan realitas kejahatan serta memberikan kegairahan perkembangan pemikiran kejahatan dalam konteks kriminolog. sementara pada kenyataanya tujuannya adalah untuk menanamkan kedisiplinan dan rasa takut akan penganggur yang menerima keuntungan negara. serta lebih banyak merupakan pemujaan dari pada analisa perbuatan menyimpang yang dikagumi penyusun-penyusun teori seperti perilaku hippi.berlebihan tentang kejahatan (warungan) melalui media-media. Dengan cara inilah sosiologi memandang arti sebuah kejahatan. bahkan dari sejak Adam-Hawa kejahatan sudah tercipta. dan menciptakan setan rakyat. Kejahatan merupakan persoalan yang dialami manusia dari waktu ke waktu. Tinggi rendahnya angka kejahatan berhubungan erat dengan bentuk-bentuk dan organisasi-organisasi sosial di mana kejahatan tersebut terjadi. Soal No. ideologi. Pada gilirannya pemerintah kemudian tampak responsif terhadap keprihatinan publik. ekonomi. pencuri jaminan sosial. vandalisme dan sabotase industri. yaitu pertama yang terdapat hubungan antara variasi kejahatan dengan variasi organisasi-organisasi sosial di mana kejahatan tersebut terjadi. dari para pengemis. baik sebelum maupun sesudah kriminologi mengalami pertumbuhan dan perkembangan seperti dewasa ini. golongan-golongan masyarakat dan kelompok-kelompok sosial mempunyai hubungan dengan kondisikondisi dari proses-proses misalnya gerak sosial. yang menghasilkan perilaku-perilaku sosial lainnya. politik. Maka pengertian kejahatan adalah relativ tak memilki batasRelativitas kejahatan dan aspek yang terkait di dalamnya tidaklah merupakan konsepsi hukum semata-mata. Aliran-aliran kriminologi baru ( Taylor dll ) mengakui secara jujur bahwa gambaran yang diromantisasikan merupakan suatu formulasi yang kasar dan bahkan salah. Namun harus diakui apa yang ditawarkan oleh aliran kriminologi baru.2 : Relativitas Kejahatan. maka dari itulah kejahatan merupakan persoalan yang tak henti-hentinya untuk diperbincangkan oleh karena itu di mana ada manusia. karena mereka bukan golongan menegah yang terhormat atau yang secara potensial rusak. persaingan dan penentangan kebudayaan. sosiologi berpendapat bahwa kejahatan disebabkan karena kondisi-kondisi dan proses-proses sosial yang sama. Masalah ini merupakan suatu masalah yang sangat menarik.

karena kenisbian konsep kejahatan yang aneka macam seperti itu sering didengar didalam percakapan sehari-hari. tentunya penjahat itu merupakan label atau stigma dari undang-undang. ternyata aliran klasik atau aliran positif tidak dapat bertahan lama.”Misdaad is benoming” yang berarti tingkah laku didefenisikan sebagai jahat oleh manusiamanusia yang tidak mengkualifikasikan diri sebagai penjahat. dan kombinasi dari semuanya itu. akan tetapi aspek-aspek hukum diluar itu (extra legal) tidaklah mudah untuk ditafsirkan..sekalipun memang legalitas penentuan kejahatan lebih nyata nampak dan dapat dipahami. 2004:5).. Pokok pangkal dari ajaran ini adalah kelakuan-kelakuan jahat yang dihasilkan dari proses-proses yang sama seperti kelakuan-kelakuan sosial lainnya. kejahatan dalam artian hukum. sosiologi. aliran ini paling banyak melahirkan variasi-variasi dan perbedaan-perbedaan analisa dari sebab musabab kejahatan. Tentunya relativitas kejahatan memerlukan atau bergantung kepada ruang dan waktu. aliran-aliaran ini kembali mendapat kritikan dari aliran atau mazhab sosiologis. Apakah cukup mereka yang dinyatakan melakukan perbuatan yang dilarang dan diberi sanksi hukum yang tercantum dalam pasal undang-undang disebut sebagai penjahat? Dalam KUH-Pidana (kita) tidak ada satu pasal pun yang mengatakan bahwa penjahat adalah. Relativitas jelas akan berpengaruh terhadap penggalian faktor sebab musababnya yang pada gilirannya berpengruh terhadap metode penanggulangan kriminalitas pada umumnya. positivistik. Sedangka Mala in prohibita.. Akan tetapi mereka hanya dicap sebagai penjahat dengan sebutan “barang siapa” (Yesmil Anwar.Mala in se adalah suatu perbuatan yang tanpa dirumuskan sebagai kejahatan sudah merupakan kejahatan. namun merupakan sebuah perkembangan yang begitu dasyat dalam lapangan kriminologi. bahwa kejahatan tidak hanya dilakukan orang-orang kelas . Bukan suatu penjungkirbalikan terhadap paham klasik. Dalam lapangan kriminologi. adalah suatu perbuatan manusia yang diklasifikasikan sebagai kejahatan apabila telah dirumuskan sebagai kejahatan dalam Undang-undang. yang ia hasilkan. Edwin Hardin Sutherland (1883-1950). Namun dalam perkembangan selanjutnya. boleh kita sebuat sebagai seorang berani tampil beda dalam menelaah kejahatan. Meskipun kejahatan itu relatif. ada pula perbedannya antara “mala in se” dengan “mala in prohibita”. serta siapa yang menamakan seuatu itu adalah kejahatan. dan KUH-Pidana kita tidak menyebutkan siapakah orangnya yang menyandang gelar penjahat. ”the white collar crime” adalah suatu hal yang bagus. Siapakah sebenarnya penjahat itu.

sehingga akan sulit ketika akan mengugat. dan kekerasan lainya hal ini menunjukan bahwa kejahatan merupakan fenomena yang dapat diketemukan juga dalam kelaskelas masyarakat yang lebih tinggi. Pelaku kejahatan adalah orang-orang yang berasal dari kelas-kelas sosial dan ekonomi yang rendah. sementara yang baru dibuat hanya 4 PP yang kesemuanya pun tidak secara tegas memberikan perlindungan terhadap konsumen. ditambah lagi UU tersebut menuntut adanya pembuatan 29 Peraturan pemerintah (PP) yang mengatur lebih terinci hal-hal yang belum diatur dalam UU tersebut. tetapi juga perbuatan yang melawan norma.bawah. yang penyebabnya tidak dapat dijelaskan secara tradisional. Kelemahan yang lain Undang-undang No 23 tahun 1992 menjadi tidak efektif ketika pemberlakuan otonomi daerah.3 : Analisa kasus Malpraktik yang dilakukan Dokter Dalam pandangan hukum perilaku malpractice tidak dapat dituntut dengan Undang-undang (UU) Kesehatan No. perampokan. Dalam KUHP untuk perkara ini biasanya dikenai pasal 359 mengenai kelalaian yang mengakibatkan kematian3. kejahatan tersebut itu berupa. Soal No. sehingga masyarakat itu berhak mencela dan mengadakan perlawanan terhadap kelakuan tersebut dengan jalan menjatuhkan dengan sengaja suatu nestapa terhadap pelaku perbuatan tersebut . Dalam pandangannya. Selain itu Sellin mengatakan Kriminologi tidak hanya mempelajari perbuatan yang melawan hukum. pencurian. Diantaranya kelemahan peraturan yang ada adalah tidak adanya definisi yang jelas tentang malpractice. 23 tahun 1992. J. Karena dalam UU tersebut tidak memberikan aturan tentang malpractice. Maka jika tuntutan terhadap perkara malpractice ini. karena kantor-kantor wilayah kesehatan ditiadakan sebagai konsekuensi dari otonomi daerah. Jadi walaupun perbuatan tersebut tidak termasuk sebagai perbuatan kejahatan menurut pandangan . Kejahatan dalam tataran seperti yang Sutherland kemukakan adalah merupakan ”educated criminals”. karena kejahatan dipandang sebagai Tiap kelakuan yang merugikan (merusak) dan asusila. yang menimbulkan kegoncangan sedemikian besar dalam suatu masyarakat tertentu. Akan tetapi dari sudut pandang kriminologi perbuatan malpractice yang dilakukan dokter termasuk dalam kejahatan. seperti kemiskinan. namun kejahatan dilakukan juga oleh orang-orang kelas atas. biasanya hakim kembali menggunakan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang sifatnya lebih umum. atau fakto-faktor patologik yang bersifat individual.E Sahetapy menyebut hal ini sebagai ”kejahatan dalam kemasan baru”.

Menurut pengertian lain Malpractice dikatakan sebagai : Profesional misconduct or unreasonable lack of skill. Peristiwa malpactice yang dilakukan oleh dokter terhadap pasiennya sebenarnya lebih tepat . Selain status sosial yang tinggi dokter juga dianggap “can’t do wrong”. sehingga kebanyakan kasus-kasus tersebut hanya dikenai pasal 359 KUHP. dr. karena sudah merugikan pasien. loss or damage to the recipient of these services or to those entitle to rely upon them” (Black. dan tidak menjurus pada pokok permasalahan tentang adanya malpractice. Dalam perbuatan malpractice yang dilakukan dokter walaupun tidak ada peraturan yang mengatur secara tegas. karena kemampuan keilmuan dan keahlian yang mereka miliki. Status sosial yang tinggi ini menjadikan banyak anak-anak ketika ditanyakan kepadanya tentang cita-cita. akan tetapi perbuatan tersebut sudah termasuk kejahatan. SE yang disebut malpractice adalah seorang profesional yang tidak melakukan pekerjaannya secara professional. Kesempatan untuk menjadi dokter juga sangat sulit. Model proses pidana yang berlaku Dokter sebagai pelaku dalam perbuatan ini. Ketiadaan undang-undang/peraturan yang mengatur tentang malpractice sudah menjadi suatu persolan cukup rumit. Hal ini dikarenakan kehadiran dokter bisa diibaratkan sebagai “dewa Penolong” yang sanggup menyembuhkan seseorang dari penyakit yang dideritannya. Proses peradilan dalam kasus malpractice yang menjadikan dokter sebagai tersangka akan menemui banyak sekali kesulitan. failure of one rendering profesional service to exercise that degree of skill and learning commonly applied under all circumstances in the comunity by the average prudent member of the profession with the result of injury. menurut pandangan sistem sosial masyarakat Indonesia adalah golongan masyarakat yang memiliki status sosial yang tinggi. akan tetapi jika sudah menyinggung norma dan merugikan dapat dikatakan sebagai perbuatan yang jahat. sehingga hampir semua yang disarankan oleh dokter akan dituruti oleh pasiennya. mereka akan menjawab “ ingin jadi dokter”. Marius Widjajarta.1968:111)6 Dapat diambil suatu pengertian bahwa pelaku malpractice ini adalah orang yang berkompeten dalam bidangnya tetapi tidak melakukan pekerjaannya sesuai dengan Standart Operating Procedure (SOP) yang telah ditetapkan. karena harus ditempuh dengan pendidikan yang lama dan cukup sulit serta mahal.hukum. Bahkan ada anekdot5 yang menyatakan bahwa “ ada dua orang yang susah dinasehati yaitu kiai dan dokter” ( karena pekerjaannya menasehati orang lain). Padahal menurut Ketua YPPKI.

Walaupun dalam konstitusi kita secara tegas dikatakan “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahanan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya” seperti termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27.digolongkan kedalam White Collar Crime yang menurut Sutherland adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang yang memiliki pengetahuan dan status tinggi dan dilakukan denngan kaitannya dengan pekerjaannya. Filosofi dasar dari model ini adalah menghargai sekali akan hak-hak tersangka sehingga. Pidana yang paling sesuai untuk para tersangka Menentukan hukuman yang tepat dalam setiap kasus kejahatan memang sangat sulit. Jika kode etik ini disalah tafsirkan maka tidak mungkin usaha-usaha melindungi dokter lain yang terkena perkara tersebut dalam upaya menghindari pencemaran nama baik jabatan. yang mengakibatkan adanya usaha saling melindungi diantara para dokter tersebut. tetapi pada kenyataannya pengecualian dalam praktek hukum masih saja terjadi. Karena hanya orang yang menekuni bidang tersebutlah yang mengetahui proses dan cara kerjanya. Akan tetapi dampak yang patut diperkirakan disini kemudian muncul sentimen-sentimen primordialisme jabatan. Walaupun sebenarnya tidak berarti berlakunya Due Process Model dikarenakan adanya status sosial yang tinggi. misalnya dalam melakukan pengkapan terhadap tersangka harus memperhatikan prosedur baku. satu-satunya cara adalah harus mendatangkan saksi ahli yang juga seorang yang berprofesi dokter. akan tetapi karena watak dasarnya model ini yang lebih mementingkan proses formal sehingga terkesan hanya dilakukan pada tersangka pelaku perbuatan pidana yang memiliki status sosial tinggi. Dalam proses peradilan kasus ini biasanya model peradilan pidana yang berlaku adalah Due Process Model. Hal ini dapat terjadi mengingat dalam kode etik baik kedokteran (umum) maupun kedokteran gigi terdapat kewajiban dokter kepada teman sejawatnya yang harus memperlakukan teman sejawatnya tersebut dengan perlakuan yang ingin dia terima dari temannya tersebut10. serta lebih mementingkan efektifitas dari pada efisiensi8. ini dikarena pelaku yang memiliki status sosial tinggi. Kekhususan istilah yang dimiliki dalam ilmu kedokteran juga menyulitkan pembuktian kasus malpractice. Kenyataan ini dalam sistem peradilan pidana ternyata sangat nyata seperti pada kasus Tommy Soeharto yang ternyata memiliki hak-hak lebih di dalam Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Pemberian hukuman biasanya tergantung dari pandangan/paradigma .

Bentuk hukuman ini lebih ditekankan pada hukuman yang berat. bisa juga dari pasien karena ketidak memberikan keterangan yang benar tentang keadaan dirinya ketika akan didiagnosa (anamnesa). Kasus malprctice yang dilakukan oleh Dokter semakin marak diketahui oleh masyarakat. sehingga dokter tidak mengetahui secara tepat kondisi pasien.yang umumnya berkembang dalam institusi peradilan pidana. Dengan membatasi prosedur penanganan suatu penyakit dengan serangkaian aturan yang sudah baku. apalagi jika SOP tersebut sudah ketinggalan jaman. Terlepas dari itu semua setiap perbuatan pidana harus diberikan hukuman. dengan asumsi akan memberikan efek deterrence yang lebih kuat. Akan tetapi ternyata hal ini tidak diimbangi dengan regulasi yang mengatur tentang perbuatan tersebut. Sehingga banyak kasus malpractice ini yang sampai menyebabkan kematian pasien hanya dituntut dengan pidana yang ringan (maksimal penjara lima tahun dan kurungan maksimal satu tahun-menurut pasal 359 KUHP) karena adanya unsur kelalaian dalam perbuatan tersebut. Selain itu ada pandangan miring sebagian dokter terhadap SOP yang ditetapkan oleh institusi yang berwenang. Ada pembelaan sebagian dokter yang menyatakan bahwa belum tentu setiap kasus malpractice ini karena kesalahan dokter. Berhubungan dengan hambatan di tersebut. Karena dokter dalam melakukan pekerjaannya selalu berhubungan dengan manusia. Hukuman yang paling sesuai bagi tersangka pelaku kejahatan dalam kasus malpractice yang dilakukan oleh dokter terhadap pasiennya juga sulit unutk ditentukan. Pandangan yang memandang miring SOP juga harus dirubah. maka dengan adanya efek deterrence diharapkan dokter akan lebih berhatihati dalam menjalankan tugasnya. dalam hal ini bahkan nyawa manusia. Hukuman yang diberikan juga harus mempunyai tujuan tertentu yang harus dapat dicapai melalui penghukuman tersebut. telah menghambat kemajuan ilmu kedokteran sendiri. karena dalam menangani nyawa manusia tidak bisa dilakukan dengan sembarangan dan harus hati-hati.Dalam proses peradilan pidana yang berlangsung juga banyak dipengaruhi oleh sistem sosial masyarakat yang memandang status dokter sebagai status yang tinggi dan anggapan dokter tidak pernah . Untuk kasus malpractice teori penghukuman yang paling tepat mungkin utilitarian prevention. hukuman ini akan memberikan efek bagi dokter lain untuk lebih menggali keterangan dari pasien dengan lebih mendetail dan memperhatikan apabila ada keterangan-keterangan yang ganjil dan menelusurinya agar lebih jelas. mungkin hal ini dikarenakan semakin mengertinya masyarakat tentang hukum.

multiply.com/journal/item/16/Kriminologi_Paradigma_dan_Pembaharuan . Selain itu juga adanya solidaritas diantara dokter yang biasanya mengganggu pula proses pembuktian kasus ini.salah. http://melitanotlonely. karena banyak istilah-istilah yang hanya dimengerti oleh sesama dokter.

tapi bukan pembinaan mental solusinya. mengingat munculnya permasalahan kekerasan yang dilakukan oleh pelajar di lingkungan sekolah merupakan tanggung jawab kepala sekolah selaku pimpinan tertinggi dalam institusi tersebut. Kepala sekolah harusnya memiliki kebijakan bersifat preventif untuk menanggulangi kekerasan yang dilakukan oleh pelajar dalam lingkungannya. kurang lebih 10 sampai 15 tahun yang lalu. Akan tetapi yang menarik dan perlu dikaji dengan perspektif kriminologis adalah. informasi kekerasan pelajar hanya menular dari mulut ke mulut sedangkan sekarang dari bluetooth ke bluetooth. kepala sekolah bisa membuat kebijakan melarang muridnya membawa handphone di lingkungan sekolah plus razia berkala untuk upaya kontrolnya. baik menengah pertama maupun atas. melainkan hanya mencegah efek publikasinya saja. yang tak perlu disebut namanya. dan tidak ketemu kalo diperbincangkan. karena di satu sisi menekankan pada kebijakan yang tidak tepat sasaran. Permasalahan utama terletak pada labilnya emosi pelajar sehingga kekerasan muncul dan secara kebetulan ada media untuk merekam dan mempublikasikannya. 10 sampai 15 tahun yang lalu. Dari zaman saya menjadi pelajar. tidak perlu kita besarbesarkan. para pelajar yang melakukan kekerasan bukan merupakan fenomena baru dan menarik. Perspektif diantara keduanya sangat berbeda. Lain halnya kalo berkaitan dengan video porno yang beredar dikalangan pelajar melalui handphone. Kekerasan yang dilakukan pelajar tetap tidak teratasi. Jadi adanya kebijakan yang dilakukan dengan melarang membawa handphone ke lingkungan sekolah tidak mencegah permasalahan utama yang terjadi. mengapa para pelajar tersebut melakukan kekerasan. Kebijakan tersebut dapat berupa melarang siswanya membawa handphone saat mengikuti pelajaran. Untuk mencegah pelajar melihat video porno melalui handphone. Kalau kita bertanya mengapa para pelajar melakukan kekerasan. dengan menggunakan tinjauan kriminologis. jelas perspektif Kepala Pusat Informasi Humas Depdiknas tidak menjawab permasalahan . Lain halnya dengan pengamat pendidikan. Itu saja. walaupun ada kecenderungan mengarah pada kondisi psikologis pelajar. atau melarang membawa handphone dalam lingkungan sekolah. Menurutku. di sisi lain penekanannya pada pembinaan mental pelajarnya.Kekerasan Anak dalam Perspektif Kriminologi Kepala Pusat Informasi Humas Depdiknas menuding manajerial kepala sekolah yang patut diperbaiki. kekerasan pelajar sudah merupakan hal yang lumrah. Bedanya. Perspektifku berbeda dari keduanya.

orang tuanya melakukan KDRT atau tontonan televisi dan film yang mengumbar kekerasan serta mungkin ada pengalaman kekerasan langsung yang dilakukan terhadap mereka. perkembangan moral manusia berlangsung selama tiga tahap: 1. Jika lingkungan itu buruk. unsure kekerasan dan percintaan adalah unsure yang . Sedangkan perspektif sang pengamat pendidikan lebih dekat sasaran.tersebut. Manajerial seperti apa yang dapat menyelami kondisi psikologis siswa? Apakah pembinaan moral yang kurang? Melalui apa pembinaan moralnya dan seperti apa bentuk kontrolnya? Jelas perspektif itu tidak tepat sasaran. permasalahan tersebut dapat terjawab. atau tidak cukup. Bandura dan Gerrard Patterson menyebutnya sebagai observational learning dan direct experience learning. Seseorang dalam melakukan suatu tindakan akan dipengaruhi oleh dua hal. yaitu kualitas tontonan usia pelajar di televisi sebagai salah satu sumber informasi. Social Learning Theory ini didukung pula dengan teori perkembangan moral atau Moral Development Theory yang dikembangkan oleh Lawrence Kohlberg. kenapa mental tersebut labil dan bagaimana mengatasinya? Pembinaan mental sebagai solusi yang ditawarkanpun dirasa kurang lengkap. kualitas sinetron. Menurut teori ini. Kekerasan yang dilakukan oleh pelajar menurut teori ini. Jadi. langsung saja saya menjudge sebagai bentuk pembodohan. maka pengaruh yang buruk akan dengan mudah terserap oleh individu itu. Mengapa pelajar melakukan kekerasan? Karena labilnya mental pelajar? Pertanyaan berikutnya. Jika kita perhatikan. disebabkan karena mereka mengamati hal-hal disekitarnya. Dalam perspektif kriminologis. Terlepas dari permasalahan manajerial dan pembinaan moral.preconventional stage (usia 9. Mengapa pelajar melakukan kekerasan? Kriminologi menjawabnya dengan teori pembelajaran social (social learning theory). Kenapa gitu? Kalau kita perhatikan. A. usia pelajar adalah usia yang rentan untuk melakukan apapun sesuai dengan apa yang dipelajarinya melalui pengamatan dan pengalaman yang terjadi di sekitarnya. ada suatu unsure baru yang masuk dan perlu dipertimbangkan.11 tahun) 2.postconventional level (usia >21 tahun) pelajar menengah pertama atau atas termasuk dalam kategori conventional level dimana dalam tahapan ini seorang individu meyakini dan mengadopsi nilai yang berkembang di masyarakat atau lingkungan sekitarnya. baik melalui orang tua (KDRT) ataupun lingkungan pertumbuhannya. yaitu pengamatan dan pengalaman.conventional level (usia 12-20 tahun) 3.

Mereka tidak perduli dengan kekerasan itu. Bagaimana dengan persoalan sinetron pembodohan itu? Komisi Penyiaran Indonesia santai-santai aja melihat muatan pembodohan itu. Suatu bentuk imitasi sempurna yang dilakukan oleh pelajar kita. undang-undang sudah menjadi alat preventif maupun represif. dalam hal ini pelajar yang berada dalam tahapan conventional stage sehingga mereka berdasarkan observational learning merekam setiap adegan dan mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.mendominasi selain unsure mistis yang semakin membawa pemuda kita ke zaman kegelapan kembali. Akibatnya. Lembaga sensor tutup mata. bahkan mengabadikannya dalam sebuah media untuk ditonton dan disebarluaskan. Permasalahan merekam dalam kamera handphone merupakan suatu bentuk antisocial baru yang berkembang dalam masyarakat. Kekerasan yang dipertunjukkan dalam sinetron saya anggap memiliki sumbangsih yang besar terhadap tingkah laku para penontonnya. tutup telinga dan tutup mulut persis seperti monyet kebajikan. Dalam benak mereka.blogspot. terjadilah dalam dunia nyata apa yang seharusnya tidak terjadi. karena itu diperbolehkan ditelevisi sebagai salah satu penyebar informasi. Permasalahan KDRT sebagai pengalaman yang mungkin dialami oleh pelajar. maka dianggapnya itu adalah hal yang tidak dilarang di masyarakat. Entah apa yang ada di dalam pikiran para produser sinetron itu. suatu hal yang tak kumengerti dalam Republik ini. bahkan di dunia film.com/ . yang ditonton oleh masyarakat yang ingin menjadi bodoh. Cara-cara yang biasanya ada di televisi-televisi melalui sinetron bodoh. Lalu siapa yang akan menyelamatkan anak bangsa dari moral penuh kekerasan? Majelis Ulama kah? Atau Front Pembela Islam (FPI) kah? Suatu hal yang semakin tak kumengerti dalam Republik ini… Posted by Te Effendi at http://te-effendi-kriminologi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful