Kriminologi- Paradigma dan Pembaharuan Soal No.

1 : Mengenai Paradigma Kriminologi, kita sebaiknya mencermati sejarahnya, dari Klasik hingga Kritis. Aliran klasik, mulai berkembang di Inggris pada akhir abad ke 19 dan kemudian meluas ke negara-negara lain di Eropa dan Amerika, dasar dari mazhab ini adalah hedonistic-psycology dan metodenya ArmChair (tulis menulis). Psikologi mejadi dasar aliran ini , sifatnya adalah individualistis, intelectualistis dan voluntaristis, aliran ini berpandangan adanya kebebasan kehendak sedemikain rupa, sehingga tidak ada kemungkinan untuk menyelidiki lebih lanjut sebab-sebab kejahatan atau usaha-usaha pencegahan kejahatan. Contoh yang sederhana adalah setiap perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang, sangat sederhana, namun pandangan ini berhasil menjadi tulang punggung hukum pidana dan merupakan doktrin yang berpengaruh hingga sekarang. Menurut aliran ini orang yang melanggar undang-undang tertentu harus menerima hukuman yang sama tanpa mengingat umur, kesehatan jiwa, kaya miskinnya, posisi sosial dan keadaan-keadan lain. Hukuman dijatuhkan harus berat, namun propossional, dan untuk memperbaiki, dan lain-lain. Meskipun aliran ini kurang mampu menjelaskan mengapa seseorang berperilaku jahat, namun hingga sekarang mencengkram kuat dan mempengaruhi terhadap pemberian makna penjahat. Penjahat adalah mereka yang dicap demikian oleh undang-undang, merupakan pengaruh nyata terhadap pola berfikir banyak ahli (hukum) di Indonesia. Aliran positivis muncul sebagai proses ketidak puasan dari jawaban-jawaban aliran klasik, aliran ini berusaha menjelaskan mengapa seseorang bisa bertindak jahat. Aliran ini bertolak pada pandangan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh faktorfaktor di luar kontrolnya, baik yang berupa faktor biologik maupun kultural. Ini berarti bahwa manusia bukan makhluk yang bebas untuk berbuat menuruti dorongan keinginannya dan intelegensinya, akan tetapi makhluk yang dibatasi atau ditentukan oleh perangkat biologiknya dan situasi kulturalnya. Lambroso, yang dianggap sebagai pelopor mazhab ini pada pertengahan abad ke 19 secara tegas mengetengahkan apa yang disebut Born Criminal (penjahat sejak lahir), bahwa penjahat sejak lahirnya merupakan tipe khusus, dengan kalsifikasi khusus misalnya pencuri, pembunuh atau penjahat-penjahat lainnya memiliki tanda atau ciri yang berbeda-beda, Aliran biologis yang dipeloporinya ini meskipun mendapat kritikan dari beberapa ahli kriminologi, namun sampai saat ini pengaruh dari Lombroso masih terasa, misalnya seseorang akan dicurigai apabila

sebagai hasilnya muncul apa yang disebut denagan perspektif aliran kriminologi baru yang memiliki pemikiran-pemikiran kritis dan radikal. dipengaruhi oleh kondisi-kondisi sosial. Disusul kemudian oleh teori-teori yang dikemukakan Austin Turk. seperti satau atau dua jumlah uyeng-uyeng di kepala bayi yang baru dilahirkan. dengan teori Konflik. Munculnya aliran ini. Kejahatan bukanlah kualitas perbuatan yang dilakukan oleh orang. muncul apa yang disebut dengan kriminologi kritis sampai radikal. Wawasan kriminologi ini disebut kriminologi baru. Lacasagne. meskipun istilah pertamanya teori ini muncul dalam bukunya Frank Tannenbaun. perbuatan jahat (kejahatan) ditafsirkan sebagai hasil dari keadaan disorganisasi sosial dan kejahatan diakibatkan dari berbagai hal yang bersifat sosial seperti Industrialisasi. melainkan sebagai akibat diterapkannya peraturan dan sanksi oleh orang-orang lain kepada seorang pelanggar. Bagi aliran-aliran kriminologi baru penyimpangan adalah normal . dalam menyatakan kebhinekaan . dll. Ketidak puasan terhadap aliran-aliran di atas kemudian menampilkan perspektif baru dalam melihat mengapa seseorang dapat menjadi jahat. tidak luput dari perkembangan atau konteks perubahanperubahan sosial di Amerika Serikat sekitar tahun 1960. dalam pengertian manusia terlibat secara sadar dalam penjara-penjara yang sesungguhnya dan masyarakat yang juga merupakan penjara. bahwa pengungkapan terhadap kejahatan harus lebih kritis. Oleh karena itu teori labelling ini telah merubah konteks studi kriminologi. Munculnya kriminologi baru ini salah satunya dan di mulai dengan munculnya teori Labbeling (labelling theory). dikemukakan Howard Becker yang mengatakan pada dasarnya kejahatan merupakan suatu proses dalam konteks. selektif dan waspada. berdahi lebar. Kemudian muncul aliran yang memperluas dari individu (biologis) kepada kondisi-kondisi yang dapat menghasilkan penjahat.aliran ini disebut pula dengan aliran Kriminologi radikal. rasisme dan lain-lain. dan dibagian-bagian dunia setelah redanya perang dingin. perubahan sosial yang cepat dan modernisasi. Ralf Dahrendorf Chambliss dan Seidman. WA Bonger dan Sutherland. kemiskinan. yaitu dari penjahat kepada proses terjadinya kejahatan.menampilakan ciri-ciri biologis berambut gondrong. dan E.M Lemert. Kejahatan merupakan produk sistem sosial. Perkembangan selanjutnya. sebagai faktor penyebab yang penting. Tercatat beberapa tokoh teori ini seperti Tarde.. yang menekankan pada struktur kesempatan yang berbeda atau diffrential opartunity structure.

Pada intinya aliran baru mengecam statistik kriminalitas yang tidak mampu memberikan data akurat. dan . dan menjelaskan kejahatan secara faktual.” Terutama di Indonesia. memberikan komentar terhadap pandangan aliran-aliran kriminologi baru ini. disaat kriminologi tradisional atau oleh Taylor disebut dengan istilah Orthodoks kriminologi. sehingga lahirnya aliran-lairan baru dalam kriminologi. Akan tetapi bahaya praktek pengalaman yang terbatas adalah adanya penyempitan kesadaran dan diadakannya generalisasi terlalu jauh jangkauannya. yang jarang diketahui. Seorang kriminolog Indonesia yaitu Paul Moedikdo. Menurut Mardjono. maka proses ini bisa disebut sebagai Lompatan Paradigmatik. hal ini telah menyita tenaga dari sistem peradilan pidana sehingga kejahatan-kejahatan dengan klasifikasi lain atau kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan menjadi tidak tersentuh. Munculnya aliran baru kriminologi sebenarnya merupakan kritik terhadap perkembangan kriminologi itu sendiri. dilaporkan dan dicatat. bahwa angka kriminalitas yang tidak dilaporkan dan tidak tercatat cukup besar (the dark number of crime). Mereka sampai kepada perumusan-perumusan tentang kejahatan dan perilaku . fokus kejahatan hanyalah terhadap apa yang disebut dengan “kejahatan jalanan.lahirnya Kriminologi yang non konvensional memberikan analisa berbeda. apabila ditempatkan dalam konteks paradigma Thomas Kuhn.mereka. Tugas ahli kriminologi bukanlah sekedar mempermasalahkan stereotype atau bertindak sebagai pembawa-pembawa alternatif phenomenological realities. dilihat dari kacamata kriminologi yang non konvensional itu maka apa yang disajikan oleh kriminologi konvensional adalah menyesatkan. guna memperbaiki posisi hukum atau pengurangan keterbelakangan mereka dalam masyarakat. organik dan sosial manusia tidak menjadi korban kriminalisasi penguasa. bahwa Ilmu pengetahuan itu hidup karena revolusi bukan akumulasi. menurutnya kadar kebenaran dan nilai praktis teori kritis dapat bertambah apabila hal itu dikembangkan dalam situasi kongkret demi kepentingan atau bersama-sama mereka yang diterbelakangkan.di samping kejahatan jalanan masih terdapat kejahatan korporasi (Corporate crime) dan kejahatan-kerah putih/orang berdasi (White Collar Crime). dengan dua hal yang menjadi sangat penting. Terlebih lagi studi yang dilakukan masih tradisional. kewajiban ahli kriminologi adalah untuk menciptakan suatu masyarakat di mana kenyataan-kenyataan keragaman personal. tidak mampu memuaskan jawabanjawabn terutama terhadap mengapa mereka melakukan perbuatan-perbuatan jahat.

Paul Moedikdo juga memberikan komentarnya terhadap Ian Taylor dll. nampaknya banyak yang tidak tepat. dan teori ini tidak berlaku untuk semua jenis kejahatan. apalagi pandangan yang dikemukakan aliran kritis/radikal sering bersinggungan dengan konteks kekuasaan atau bentuk perlawanan. Namun apabila kita lihat pandangan-pandangan atau kritik yang dikemukakan oleh Paul Modikdo dan Soejono terhadap Kriminologi baru itu. Kenyataannya bahwa hanya kejahatan yang sangat serius memperoleh reaksi masyarakat atau cap. meski bisa dipertimbangkan (sebagai scientific device). Hanya saja kritik tersebut terkesan umum (tidak cermat) serta kurang memiliki landasan cukup tajam terhadap pandangan-pandangan kriminologi baru.menyimpang yang tidak dapat dipertahankan oleh karena adanya generalisasi yang berlebihan bahwa delik-delik adalah pernyataan dari perlawanan sadar dan rasional terhadap masyarakat yang tidak adil yang hendak menyamaratakan orang menjadi objek-objek pengaturan oleh birokrasi ekonomi. bukan berdasarkan hierarkhikal dan eksploitatif. Suatu kritik dilontarkan pula terhadap teori Labelling bahwa. dengan kata lain kriminologi baru melupakan sama sekali adanya street crime yang konvensional dan tradisional yang berkait dengan tatanan birokratis yang ada. dilekatkan secara random. bahkan meurut Hagan. Bukan kekuasaan untuk mengkriminalisasi kajahatan yang harus dirumuskan atas dasar prinsip-prinsip egalitarian dan kooperatif. Ini kemudian dipertegas oleh Soedjono bahwa. yaitu bahwa rumusan kewajiabn ahli kriminologi untuk berusaha menciptakan suatu masyarakat dimana kenyataan-kenyataan kebhinekaan manusia tidak menjadi korban kriminalisasi penguasa adalah rumusan yang keliru. teori ini bersifat deterministik dan menolak pertanggungjawaban individual. sehingga justru melahirkan pertentangan pendapat yang berkepanjangan dan dapat memecah belah para kriminologi ke dalam dua kubu. pemikiran kritis sering dicap sebagai bagian yang harus diwaspadai dalam pengertian negatif. maka dapat dikatakan catatan atau kritik terhadap kriminologi baru ini bahwa. teori labeling yang selalu berangapan bahwa setiap orang melakukan kejahatan dan nampak bahwa argumentasinya adalah cap. namun rumusannya tentang kejahatan dan generalisasinya mengenai teori kejahatan dan perilaku menyimpang terlalu jauh. sehingga apabila dibaca dalam paradigma kekuasaan yang pada waktu itu sangat dominan (Rezim Orde Baru begitu . perspektif baru memang diperlukan dalam meluruskan pandangan sempit dari kriminologi konvensional. apalagi kritik itu lebih bersifat kehati-hatian daripada melihat substansi teori yang dikembangkan.

Tengok pula bagaimana di Indonesia kejahatan mengalir tanpa hambatan melalui legalisasi peraturan perundang-undangan. adalah untuk meningkatkan kekuasan polisi untuk menyerang privasi individu dan menunda mereka sampai bukti ditemukan. Melalui undang-undang ini wewenang polisi telah ditambah dan bukannya dikurangi. Sebagai contoh. 1981. untuk mencakup usaha pencurian materi yang tidak di kenal oleh orang-orang tidak dikenal. bisa dibayangkan efek yang timbul. dengan kata lain untuk tidak menerima apa adanya Take for Granted. sehingga aliran-aliran kritis sering dicurigai). (police and Criminal Evidence Bill 1982 ) adalah contoh lain dari usaha negara untuk mendapatkan kekuasaanya. serta usaha untuk mencuri mobil yang sedang diparkir. yang timbul akibat perubahan besar disegala bidang kehidupan. dengan menguraikan suatu analisis bahwa “Undang-Undang Percobaan usaha kriminal (Criminal Attemps Act). Ini hanya sekedar satu di dalam satu deretan manuver legal yang konsekuensi latennya. mengenai hubungan kejahatan dengan kekuasaan. Sekedar keberadaan (kehadiran). bahwa terbitnya undang-undang itu merupakan rasa peduli pemerintah dan kekhawatiran pemerintah.alergi terhadap pandangan-pandangan kritis dan perlawanan. dimaksudkan untuk mencabut hukum-hukum ‘sus’ yang banyak dikutuk orang. atau warna kulit anda kurang layak di sebuah jalan dengan sebuah mobil yang sedang diparkir. terutama kalau wajah anda tidak sesuai. sehingga kalau boleh saya jelaskan bahwa kritik terhadap kriminologi baru yang dikemukakan kedua pakar krimonolog di atas adalah kritik yang kering interpretasi. Apabila kita melihat seadanya maka nampak. tidak peduli apapun maksud yang dinyatakan. Bahwa aliran aliran baru terutama kritis dan radikal. namun pemerintah sendiri telah menciptakan opini publik yang . dimata polisi bisa di anggap sebagai suatu usaha percobaan pencurian mobil. Hanya perlu diperhatikan mengenai kritik dari Paul Meodikdo. dalam menguraikan teori mereka didasarkan kepada kemampuan apa yang disebut dengan motif-motif berfikir kritis dengan “melihat tembus “ “melihat dibalik” (adegan). tentang generalisasi yang terlau jauh dari jangkauannya. hal ini bisa dilihat dari uraian Steven Box . terhadap warganegaranya. Demikian pula dengan undang-undang polisi dan Bukti Kriminal. Saat ini penafsiran terhadap kejahatan mengalami suatu perubahan cukup mendasar. tidak melihat konteks. untuk kategori ini kita memang harus berhati-hati karena penyamarataan itu memang akan menyesatkan mengenai pandangan kita tentang kejahatan. Akan tetapi penguatan hukum usaha percobaan bisa direntangkan sebagai akibat dari undang-undang ini.

Dengan cara inilah sosiologi memandang arti sebuah kejahatan. maka angka-angka kejahatan dalam masyarakat. sementara pada kenyataanya tujuannya adalah untuk menanamkan kedisiplinan dan rasa takut akan penganggur yang menerima keuntungan negara. persaingan dan penentangan kebudayaan. Pada gilirannya pemerintah kemudian tampak responsif terhadap keprihatinan publik. baik sebelum maupun sesudah kriminologi mengalami pertumbuhan dan perkembangan seperti dewasa ini. golongan-golongan masyarakat dan kelompok-kelompok sosial mempunyai hubungan dengan kondisikondisi dari proses-proses misalnya gerak sosial. serta lebih banyak merupakan pemujaan dari pada analisa perbuatan menyimpang yang dikagumi penyusun-penyusun teori seperti perilaku hippi. politik. pemakaian narkotik. dari para pengemis. vandalisme dan sabotase industri. Namun harus diakui apa yang ditawarkan oleh aliran kriminologi baru. Masalah ini merupakan suatu masalah yang sangat menarik. ideologi. sosiologi berpendapat bahwa kejahatan disebabkan karena kondisi-kondisi dan proses-proses sosial yang sama. .2 : Relativitas Kejahatan. Aliran-aliran kriminologi baru ( Taylor dll ) mengakui secara jujur bahwa gambaran yang diromantisasikan merupakan suatu formulasi yang kasar dan bahkan salah. Tinggi rendahnya angka kejahatan berhubungan erat dengan bentuk-bentuk dan organisasi-organisasi sosial di mana kejahatan tersebut terjadi. yaitu pertama yang terdapat hubungan antara variasi kejahatan dengan variasi organisasi-organisasi sosial di mana kejahatan tersebut terjadi. kritis dan radikal adalah alternatif pemikiran yang mencoba membuka pemahaman kita akan realitas kejahatan serta memberikan kegairahan perkembangan pemikiran kejahatan dalam konteks kriminolog. ekonomi. Soal No. agama.berlebihan tentang kejahatan (warungan) melalui media-media. yang menghasilkan perilaku-perilaku sosial lainnya. bahkan dari sejak Adam-Hawa kejahatan sudah tercipta. karena mereka bukan golongan menegah yang terhormat atau yang secara potensial rusak. maka dari itulah kejahatan merupakan persoalan yang tak henti-hentinya untuk diperbincangkan oleh karena itu di mana ada manusia. pencuri jaminan sosial. Kejahatan merupakan persoalan yang dialami manusia dari waktu ke waktu. dan menciptakan setan rakyat. Analisis terhadap kondisi-kondisi dan proses-proses tersebut menghasilkan dua kesimpulan. Maka pengertian kejahatan adalah relativ tak memilki batasRelativitas kejahatan dan aspek yang terkait di dalamnya tidaklah merupakan konsepsi hukum semata-mata. pasti ada kejahatan “Crime is eternal-as eternal as society”.

Dalam lapangan kriminologi. ada pula perbedannya antara “mala in se” dengan “mala in prohibita”. namun merupakan sebuah perkembangan yang begitu dasyat dalam lapangan kriminologi.. boleh kita sebuat sebagai seorang berani tampil beda dalam menelaah kejahatan. adalah suatu perbuatan manusia yang diklasifikasikan sebagai kejahatan apabila telah dirumuskan sebagai kejahatan dalam Undang-undang. aliran-aliaran ini kembali mendapat kritikan dari aliran atau mazhab sosiologis.. Namun dalam perkembangan selanjutnya. Akan tetapi mereka hanya dicap sebagai penjahat dengan sebutan “barang siapa” (Yesmil Anwar.”Misdaad is benoming” yang berarti tingkah laku didefenisikan sebagai jahat oleh manusiamanusia yang tidak mengkualifikasikan diri sebagai penjahat. aliran ini paling banyak melahirkan variasi-variasi dan perbedaan-perbedaan analisa dari sebab musabab kejahatan. positivistik. dan KUH-Pidana kita tidak menyebutkan siapakah orangnya yang menyandang gelar penjahat. tentunya penjahat itu merupakan label atau stigma dari undang-undang. Siapakah sebenarnya penjahat itu. bahwa kejahatan tidak hanya dilakukan orang-orang kelas . yang ia hasilkan. karena kenisbian konsep kejahatan yang aneka macam seperti itu sering didengar didalam percakapan sehari-hari.. sosiologi. Edwin Hardin Sutherland (1883-1950). kejahatan dalam artian hukum. ternyata aliran klasik atau aliran positif tidak dapat bertahan lama. serta siapa yang menamakan seuatu itu adalah kejahatan. ”the white collar crime” adalah suatu hal yang bagus. 2004:5). dan kombinasi dari semuanya itu. akan tetapi aspek-aspek hukum diluar itu (extra legal) tidaklah mudah untuk ditafsirkan. Relativitas jelas akan berpengaruh terhadap penggalian faktor sebab musababnya yang pada gilirannya berpengruh terhadap metode penanggulangan kriminalitas pada umumnya. Pokok pangkal dari ajaran ini adalah kelakuan-kelakuan jahat yang dihasilkan dari proses-proses yang sama seperti kelakuan-kelakuan sosial lainnya.sekalipun memang legalitas penentuan kejahatan lebih nyata nampak dan dapat dipahami. Bukan suatu penjungkirbalikan terhadap paham klasik. Sedangka Mala in prohibita. Meskipun kejahatan itu relatif. Tentunya relativitas kejahatan memerlukan atau bergantung kepada ruang dan waktu. Apakah cukup mereka yang dinyatakan melakukan perbuatan yang dilarang dan diberi sanksi hukum yang tercantum dalam pasal undang-undang disebut sebagai penjahat? Dalam KUH-Pidana (kita) tidak ada satu pasal pun yang mengatakan bahwa penjahat adalah.Mala in se adalah suatu perbuatan yang tanpa dirumuskan sebagai kejahatan sudah merupakan kejahatan.

yang penyebabnya tidak dapat dijelaskan secara tradisional. sehingga akan sulit ketika akan mengugat. J. atau fakto-faktor patologik yang bersifat individual. 23 tahun 1992. karena kejahatan dipandang sebagai Tiap kelakuan yang merugikan (merusak) dan asusila.E Sahetapy menyebut hal ini sebagai ”kejahatan dalam kemasan baru”. Kejahatan dalam tataran seperti yang Sutherland kemukakan adalah merupakan ”educated criminals”. Selain itu Sellin mengatakan Kriminologi tidak hanya mempelajari perbuatan yang melawan hukum. Akan tetapi dari sudut pandang kriminologi perbuatan malpractice yang dilakukan dokter termasuk dalam kejahatan. namun kejahatan dilakukan juga oleh orang-orang kelas atas. Maka jika tuntutan terhadap perkara malpractice ini. tetapi juga perbuatan yang melawan norma. pencurian.3 : Analisa kasus Malpraktik yang dilakukan Dokter Dalam pandangan hukum perilaku malpractice tidak dapat dituntut dengan Undang-undang (UU) Kesehatan No. kejahatan tersebut itu berupa. biasanya hakim kembali menggunakan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang sifatnya lebih umum. Kelemahan yang lain Undang-undang No 23 tahun 1992 menjadi tidak efektif ketika pemberlakuan otonomi daerah. sementara yang baru dibuat hanya 4 PP yang kesemuanya pun tidak secara tegas memberikan perlindungan terhadap konsumen. seperti kemiskinan. dan kekerasan lainya hal ini menunjukan bahwa kejahatan merupakan fenomena yang dapat diketemukan juga dalam kelaskelas masyarakat yang lebih tinggi. sehingga masyarakat itu berhak mencela dan mengadakan perlawanan terhadap kelakuan tersebut dengan jalan menjatuhkan dengan sengaja suatu nestapa terhadap pelaku perbuatan tersebut . Diantaranya kelemahan peraturan yang ada adalah tidak adanya definisi yang jelas tentang malpractice. karena kantor-kantor wilayah kesehatan ditiadakan sebagai konsekuensi dari otonomi daerah. Pelaku kejahatan adalah orang-orang yang berasal dari kelas-kelas sosial dan ekonomi yang rendah. Karena dalam UU tersebut tidak memberikan aturan tentang malpractice. Jadi walaupun perbuatan tersebut tidak termasuk sebagai perbuatan kejahatan menurut pandangan .bawah. Dalam KUHP untuk perkara ini biasanya dikenai pasal 359 mengenai kelalaian yang mengakibatkan kematian3. Dalam pandangannya. ditambah lagi UU tersebut menuntut adanya pembuatan 29 Peraturan pemerintah (PP) yang mengatur lebih terinci hal-hal yang belum diatur dalam UU tersebut. Soal No. perampokan. yang menimbulkan kegoncangan sedemikian besar dalam suatu masyarakat tertentu.

failure of one rendering profesional service to exercise that degree of skill and learning commonly applied under all circumstances in the comunity by the average prudent member of the profession with the result of injury. Marius Widjajarta. Menurut pengertian lain Malpractice dikatakan sebagai : Profesional misconduct or unreasonable lack of skill. akan tetapi jika sudah menyinggung norma dan merugikan dapat dikatakan sebagai perbuatan yang jahat. loss or damage to the recipient of these services or to those entitle to rely upon them” (Black.1968:111)6 Dapat diambil suatu pengertian bahwa pelaku malpractice ini adalah orang yang berkompeten dalam bidangnya tetapi tidak melakukan pekerjaannya sesuai dengan Standart Operating Procedure (SOP) yang telah ditetapkan. karena harus ditempuh dengan pendidikan yang lama dan cukup sulit serta mahal. sehingga kebanyakan kasus-kasus tersebut hanya dikenai pasal 359 KUHP. akan tetapi perbuatan tersebut sudah termasuk kejahatan. dr. Selain status sosial yang tinggi dokter juga dianggap “can’t do wrong”.hukum. mereka akan menjawab “ ingin jadi dokter”. Bahkan ada anekdot5 yang menyatakan bahwa “ ada dua orang yang susah dinasehati yaitu kiai dan dokter” ( karena pekerjaannya menasehati orang lain). menurut pandangan sistem sosial masyarakat Indonesia adalah golongan masyarakat yang memiliki status sosial yang tinggi. Ketiadaan undang-undang/peraturan yang mengatur tentang malpractice sudah menjadi suatu persolan cukup rumit. Proses peradilan dalam kasus malpractice yang menjadikan dokter sebagai tersangka akan menemui banyak sekali kesulitan. Peristiwa malpactice yang dilakukan oleh dokter terhadap pasiennya sebenarnya lebih tepat . dan tidak menjurus pada pokok permasalahan tentang adanya malpractice. Padahal menurut Ketua YPPKI. sehingga hampir semua yang disarankan oleh dokter akan dituruti oleh pasiennya. SE yang disebut malpractice adalah seorang profesional yang tidak melakukan pekerjaannya secara professional. Model proses pidana yang berlaku Dokter sebagai pelaku dalam perbuatan ini. Dalam perbuatan malpractice yang dilakukan dokter walaupun tidak ada peraturan yang mengatur secara tegas. karena kemampuan keilmuan dan keahlian yang mereka miliki. Hal ini dikarenakan kehadiran dokter bisa diibaratkan sebagai “dewa Penolong” yang sanggup menyembuhkan seseorang dari penyakit yang dideritannya. karena sudah merugikan pasien. Kesempatan untuk menjadi dokter juga sangat sulit. Status sosial yang tinggi ini menjadikan banyak anak-anak ketika ditanyakan kepadanya tentang cita-cita.

Walaupun sebenarnya tidak berarti berlakunya Due Process Model dikarenakan adanya status sosial yang tinggi. satu-satunya cara adalah harus mendatangkan saksi ahli yang juga seorang yang berprofesi dokter. Karena hanya orang yang menekuni bidang tersebutlah yang mengetahui proses dan cara kerjanya. Akan tetapi dampak yang patut diperkirakan disini kemudian muncul sentimen-sentimen primordialisme jabatan. Kekhususan istilah yang dimiliki dalam ilmu kedokteran juga menyulitkan pembuktian kasus malpractice. akan tetapi karena watak dasarnya model ini yang lebih mementingkan proses formal sehingga terkesan hanya dilakukan pada tersangka pelaku perbuatan pidana yang memiliki status sosial tinggi. Dalam proses peradilan kasus ini biasanya model peradilan pidana yang berlaku adalah Due Process Model. Walaupun dalam konstitusi kita secara tegas dikatakan “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahanan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya” seperti termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27.digolongkan kedalam White Collar Crime yang menurut Sutherland adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang yang memiliki pengetahuan dan status tinggi dan dilakukan denngan kaitannya dengan pekerjaannya. Hal ini dapat terjadi mengingat dalam kode etik baik kedokteran (umum) maupun kedokteran gigi terdapat kewajiban dokter kepada teman sejawatnya yang harus memperlakukan teman sejawatnya tersebut dengan perlakuan yang ingin dia terima dari temannya tersebut10. Jika kode etik ini disalah tafsirkan maka tidak mungkin usaha-usaha melindungi dokter lain yang terkena perkara tersebut dalam upaya menghindari pencemaran nama baik jabatan. Pemberian hukuman biasanya tergantung dari pandangan/paradigma . misalnya dalam melakukan pengkapan terhadap tersangka harus memperhatikan prosedur baku. ini dikarena pelaku yang memiliki status sosial tinggi. Kenyataan ini dalam sistem peradilan pidana ternyata sangat nyata seperti pada kasus Tommy Soeharto yang ternyata memiliki hak-hak lebih di dalam Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. serta lebih mementingkan efektifitas dari pada efisiensi8. tetapi pada kenyataannya pengecualian dalam praktek hukum masih saja terjadi. Pidana yang paling sesuai untuk para tersangka Menentukan hukuman yang tepat dalam setiap kasus kejahatan memang sangat sulit. Filosofi dasar dari model ini adalah menghargai sekali akan hak-hak tersangka sehingga. yang mengakibatkan adanya usaha saling melindungi diantara para dokter tersebut.

Ada pembelaan sebagian dokter yang menyatakan bahwa belum tentu setiap kasus malpractice ini karena kesalahan dokter. Pandangan yang memandang miring SOP juga harus dirubah. maka dengan adanya efek deterrence diharapkan dokter akan lebih berhatihati dalam menjalankan tugasnya. hukuman ini akan memberikan efek bagi dokter lain untuk lebih menggali keterangan dari pasien dengan lebih mendetail dan memperhatikan apabila ada keterangan-keterangan yang ganjil dan menelusurinya agar lebih jelas. Terlepas dari itu semua setiap perbuatan pidana harus diberikan hukuman. Bentuk hukuman ini lebih ditekankan pada hukuman yang berat. telah menghambat kemajuan ilmu kedokteran sendiri. Berhubungan dengan hambatan di tersebut. karena dalam menangani nyawa manusia tidak bisa dilakukan dengan sembarangan dan harus hati-hati. Sehingga banyak kasus malpractice ini yang sampai menyebabkan kematian pasien hanya dituntut dengan pidana yang ringan (maksimal penjara lima tahun dan kurungan maksimal satu tahun-menurut pasal 359 KUHP) karena adanya unsur kelalaian dalam perbuatan tersebut. Untuk kasus malpractice teori penghukuman yang paling tepat mungkin utilitarian prevention. Selain itu ada pandangan miring sebagian dokter terhadap SOP yang ditetapkan oleh institusi yang berwenang.Dalam proses peradilan pidana yang berlangsung juga banyak dipengaruhi oleh sistem sosial masyarakat yang memandang status dokter sebagai status yang tinggi dan anggapan dokter tidak pernah . Dengan membatasi prosedur penanganan suatu penyakit dengan serangkaian aturan yang sudah baku. Karena dokter dalam melakukan pekerjaannya selalu berhubungan dengan manusia.yang umumnya berkembang dalam institusi peradilan pidana. Hukuman yang paling sesuai bagi tersangka pelaku kejahatan dalam kasus malpractice yang dilakukan oleh dokter terhadap pasiennya juga sulit unutk ditentukan. apalagi jika SOP tersebut sudah ketinggalan jaman. Hukuman yang diberikan juga harus mempunyai tujuan tertentu yang harus dapat dicapai melalui penghukuman tersebut. sehingga dokter tidak mengetahui secara tepat kondisi pasien. Kasus malprctice yang dilakukan oleh Dokter semakin marak diketahui oleh masyarakat. dalam hal ini bahkan nyawa manusia. dengan asumsi akan memberikan efek deterrence yang lebih kuat. Akan tetapi ternyata hal ini tidak diimbangi dengan regulasi yang mengatur tentang perbuatan tersebut. bisa juga dari pasien karena ketidak memberikan keterangan yang benar tentang keadaan dirinya ketika akan didiagnosa (anamnesa). mungkin hal ini dikarenakan semakin mengertinya masyarakat tentang hukum.

http://melitanotlonely.com/journal/item/16/Kriminologi_Paradigma_dan_Pembaharuan . Selain itu juga adanya solidaritas diantara dokter yang biasanya mengganggu pula proses pembuktian kasus ini. karena banyak istilah-istilah yang hanya dimengerti oleh sesama dokter.salah.multiply.

Lain halnya dengan pengamat pendidikan. Lain halnya kalo berkaitan dengan video porno yang beredar dikalangan pelajar melalui handphone. melainkan hanya mencegah efek publikasinya saja. Itu saja. dengan menggunakan tinjauan kriminologis. baik menengah pertama maupun atas. Perspektif diantara keduanya sangat berbeda. tidak perlu kita besarbesarkan. Kebijakan tersebut dapat berupa melarang siswanya membawa handphone saat mengikuti pelajaran. dan tidak ketemu kalo diperbincangkan. Kekerasan yang dilakukan pelajar tetap tidak teratasi. Bedanya. Menurutku. Kepala sekolah harusnya memiliki kebijakan bersifat preventif untuk menanggulangi kekerasan yang dilakukan oleh pelajar dalam lingkungannya. Jadi adanya kebijakan yang dilakukan dengan melarang membawa handphone ke lingkungan sekolah tidak mencegah permasalahan utama yang terjadi. Dari zaman saya menjadi pelajar. Perspektifku berbeda dari keduanya. Kalau kita bertanya mengapa para pelajar melakukan kekerasan. Permasalahan utama terletak pada labilnya emosi pelajar sehingga kekerasan muncul dan secara kebetulan ada media untuk merekam dan mempublikasikannya. Untuk mencegah pelajar melihat video porno melalui handphone. atau melarang membawa handphone dalam lingkungan sekolah. tapi bukan pembinaan mental solusinya.Kekerasan Anak dalam Perspektif Kriminologi Kepala Pusat Informasi Humas Depdiknas menuding manajerial kepala sekolah yang patut diperbaiki. Akan tetapi yang menarik dan perlu dikaji dengan perspektif kriminologis adalah. informasi kekerasan pelajar hanya menular dari mulut ke mulut sedangkan sekarang dari bluetooth ke bluetooth. di sisi lain penekanannya pada pembinaan mental pelajarnya. mengingat munculnya permasalahan kekerasan yang dilakukan oleh pelajar di lingkungan sekolah merupakan tanggung jawab kepala sekolah selaku pimpinan tertinggi dalam institusi tersebut. walaupun ada kecenderungan mengarah pada kondisi psikologis pelajar. jelas perspektif Kepala Pusat Informasi Humas Depdiknas tidak menjawab permasalahan . mengapa para pelajar tersebut melakukan kekerasan. kepala sekolah bisa membuat kebijakan melarang muridnya membawa handphone di lingkungan sekolah plus razia berkala untuk upaya kontrolnya. kurang lebih 10 sampai 15 tahun yang lalu. karena di satu sisi menekankan pada kebijakan yang tidak tepat sasaran. para pelajar yang melakukan kekerasan bukan merupakan fenomena baru dan menarik. 10 sampai 15 tahun yang lalu. yang tak perlu disebut namanya. kekerasan pelajar sudah merupakan hal yang lumrah.

Bandura dan Gerrard Patterson menyebutnya sebagai observational learning dan direct experience learning. unsure kekerasan dan percintaan adalah unsure yang .conventional level (usia 12-20 tahun) 3. usia pelajar adalah usia yang rentan untuk melakukan apapun sesuai dengan apa yang dipelajarinya melalui pengamatan dan pengalaman yang terjadi di sekitarnya. Jika kita perhatikan. maka pengaruh yang buruk akan dengan mudah terserap oleh individu itu. kenapa mental tersebut labil dan bagaimana mengatasinya? Pembinaan mental sebagai solusi yang ditawarkanpun dirasa kurang lengkap. Jika lingkungan itu buruk. kualitas sinetron. permasalahan tersebut dapat terjawab. Jadi.postconventional level (usia >21 tahun) pelajar menengah pertama atau atas termasuk dalam kategori conventional level dimana dalam tahapan ini seorang individu meyakini dan mengadopsi nilai yang berkembang di masyarakat atau lingkungan sekitarnya. perkembangan moral manusia berlangsung selama tiga tahap: 1.11 tahun) 2. yaitu pengamatan dan pengalaman.tersebut. atau tidak cukup. Manajerial seperti apa yang dapat menyelami kondisi psikologis siswa? Apakah pembinaan moral yang kurang? Melalui apa pembinaan moralnya dan seperti apa bentuk kontrolnya? Jelas perspektif itu tidak tepat sasaran. ada suatu unsure baru yang masuk dan perlu dipertimbangkan. Mengapa pelajar melakukan kekerasan? Karena labilnya mental pelajar? Pertanyaan berikutnya. A. Dalam perspektif kriminologis. Seseorang dalam melakukan suatu tindakan akan dipengaruhi oleh dua hal. Kenapa gitu? Kalau kita perhatikan. orang tuanya melakukan KDRT atau tontonan televisi dan film yang mengumbar kekerasan serta mungkin ada pengalaman kekerasan langsung yang dilakukan terhadap mereka. Sedangkan perspektif sang pengamat pendidikan lebih dekat sasaran. Kekerasan yang dilakukan oleh pelajar menurut teori ini. Social Learning Theory ini didukung pula dengan teori perkembangan moral atau Moral Development Theory yang dikembangkan oleh Lawrence Kohlberg. disebabkan karena mereka mengamati hal-hal disekitarnya. Mengapa pelajar melakukan kekerasan? Kriminologi menjawabnya dengan teori pembelajaran social (social learning theory). baik melalui orang tua (KDRT) ataupun lingkungan pertumbuhannya. yaitu kualitas tontonan usia pelajar di televisi sebagai salah satu sumber informasi.preconventional stage (usia 9. langsung saja saya menjudge sebagai bentuk pembodohan. Terlepas dari permasalahan manajerial dan pembinaan moral. Menurut teori ini.

Dalam benak mereka. Lembaga sensor tutup mata. maka dianggapnya itu adalah hal yang tidak dilarang di masyarakat.mendominasi selain unsure mistis yang semakin membawa pemuda kita ke zaman kegelapan kembali. Permasalahan merekam dalam kamera handphone merupakan suatu bentuk antisocial baru yang berkembang dalam masyarakat. dalam hal ini pelajar yang berada dalam tahapan conventional stage sehingga mereka berdasarkan observational learning merekam setiap adegan dan mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. undang-undang sudah menjadi alat preventif maupun represif. Akibatnya. Suatu bentuk imitasi sempurna yang dilakukan oleh pelajar kita. terjadilah dalam dunia nyata apa yang seharusnya tidak terjadi. Cara-cara yang biasanya ada di televisi-televisi melalui sinetron bodoh. tutup telinga dan tutup mulut persis seperti monyet kebajikan. suatu hal yang tak kumengerti dalam Republik ini. Bagaimana dengan persoalan sinetron pembodohan itu? Komisi Penyiaran Indonesia santai-santai aja melihat muatan pembodohan itu. Mereka tidak perduli dengan kekerasan itu.com/ .blogspot. Entah apa yang ada di dalam pikiran para produser sinetron itu. Lalu siapa yang akan menyelamatkan anak bangsa dari moral penuh kekerasan? Majelis Ulama kah? Atau Front Pembela Islam (FPI) kah? Suatu hal yang semakin tak kumengerti dalam Republik ini… Posted by Te Effendi at http://te-effendi-kriminologi. Kekerasan yang dipertunjukkan dalam sinetron saya anggap memiliki sumbangsih yang besar terhadap tingkah laku para penontonnya. bahkan di dunia film. bahkan mengabadikannya dalam sebuah media untuk ditonton dan disebarluaskan. yang ditonton oleh masyarakat yang ingin menjadi bodoh. Permasalahan KDRT sebagai pengalaman yang mungkin dialami oleh pelajar. karena itu diperbolehkan ditelevisi sebagai salah satu penyebar informasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful