MAKALAH TYPHUS ABDOMINALIS

Oleh : dr. KRISTYO SUWASIYATNO NIP. 19630601 198903 1 012

1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan RahmatnNya sehingga kami dapat menyusun "MAKALAH TYPHUS ABDOMINALIS". Adapaun maksud dan tujuan membuat "MAKALAH TYPHUS ABDOMINALIS"adalah untuk memberikan nilai tambah angka kredit dalam pengembangan profesi agar dapat naik pangkat dari golongan IV C ke golongan IV D. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih sangat kurang sempurna. Tak ada gading yang tak retak. Untuk itu kami mengharap kritik, saran, dan masukan dari semua pihak agar nantinya dapat kami gunakan sebagai bahan kesempurnaan ditahun yang akan datang.

Trenggalek, 8 Juni 2012

dr. KRISTYO SUWASIYATNO NIP. 19630601 198903 1 012

2

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ......................................................................................................... DAFTAR ISI ....................................................................................................................... BAB I BAB II PENDAHULAN........................................................................................... HASIL KEGIATAN.....................................................................................
1. GAMBARAN 10 PENYAKIT TERBANYAK DIRAWAT JALAN DAN RAWAT INAP RSUD dr SOEDOMO TRENGGALEK TAHUN 2009,2010, 2011 2. DISTRIBUSI PENYAKIT THYPUS ABDOMINALIS MENURUT GOLONGAN UMUR DAN JENIS KELAMIN DI RAWAT JALAN DAN RAWAT INAP RSUD dr SOEDOMO TRENGGALEK TAHUN 2009, 2010, 2011

BAB III BAB IV BAB V

PEMBAHASAN........................................................................................... KESIMPULAN DAN SARAN..................................................................... PENUTUP.....................................................................................................

3

selain ini dapat juga menyebabkan gastroenteritis (keracunan makanan) dan septikemia (tidak menyerang usus).2 MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dan tujuan membuat makalah diabetes melitus adalah untuk menambah nilai angka kredit dalam pengembangan profesi agar dapat naik pangkat dari golongan IV C ke golongan IV D. B dan C.1 Latar Belakang Tipes atau thypus adalah penyakit infeksi bakteri pada usus halus dan terkadang pada aliran darah yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi A. Kuman tersebut masuk melalui saluran pencernaan. karena berhubungan dengan usus pada perut. Dalam masyarakat penyakit ini dikenal dengan nama Tipes atau thypus. Kemudian dapat terjadi pembiakan di sistem retikuloendothelial dan menyebar kembali ke pembuluh darah yang kemudian menimbulkan berbagai gejala klinis. masuk ke dalam pembuluh darah dalam 24-72 jam. setelah berkembang biak kemudian menembus dinding usus menuju saluran limfa. tetapi dalam dunia kedokteran disebut TYPHOID FEVER atau Thypus abdominalis. 4 . I.BAB I PENDAHULUAN 1.

2010. Emfisema.56 1893 100 5 . 2011 10 Besar Penyakit Rawat Jalan Tahun 2009 No 1 2 3 4 5 Kode ICD 10 I10 E14 L63 A15. GAMBARAN 10 PENYAKIT TERBANYAK DIRAWAT JALAN DAN RAWAT INAP RSUD dr SOEDOMO TRENGGALEK TAHUN 2009.36 6.55 11.131 5.38 7.BAB II HASIL KEGIATAN 1. dan Penyakit Paru Obstruksi menahun Gangguan Refraksi dan Akomodasi Penyakit Jantung Rheumatik. Kronik Gatritis dan Duodenitis Infeksi Saluran Nafas Akut 1355 1128 992 946 840 7.39 5.10 9.52 6 7 8 9 10 J40-44 H52 I05-09 K29 J00-01 J05-06 Brochitis.0 S00-S99 T00-T14 Diagnosa Hipertensi Essensial (primer) Diabetes Melitus Infark Cerebral Tuberkulosis Paru BTA+ dengan/tanpa biakan kuman TB Cedera daerah badan multiple Jumlah kasus 6173 2043 1809 1727 1384 % Total Kasus 33.14 4.83 9.

5% 5 % 5% 6% 7% 8% 9 % 1 1% 10% 34% I10 E14 L 36 A1 5.0 S 0 0-99T0 0-T14 J40-44 H 5 2 I09-09 K 29 J00-01J05-06 6 .

60 7 .06 6.82 100 Diagnosa Hipoksia Intra Uterus dan Asfiksia Lahir Diare dan Gastro Enteritis Penyakit Kehamilan dan Persalinan Jumlah kasus 1072 709 494 % Total Kasus 23.22 10.45 8.86 8.01 15.31 4.57 7.07 7.10 Besar Penyakit Rawat Inap Tahun 2009 No 1 2 3 Kode ICD 10 P20-21 A09 O20-30 O45-99 4 5 6 7 8 9 10 A91 S06 L63 K29 E14 J00-01 O42 Demam Berdarah Cedera Intra Kranial Infark Cerebral Gastritis dan Duodenis Diabetes Melitus Infeksi Pernafasan Saluran Akut Ketuban Pecah Dini 413 394 376 353 329 294 225 4659 8.

6% 7% 8% 8% 8% 5% 23% 15% 11% 9% P 20-21 A09 O20-30 O45-99 A91 S 06 L 63 K 29 E 14 J100-01 O42 8 .

28 7.38 4.84 7.24 4.10 Besar Penyakit Rawat Jalan Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kode ICD 10 I10 H52 K29 L63 Diagnosa Hipertensi Essensial (primer) Gangguan Refraksi dan Akomodasi Gastritis dan Duodenitis Infark cerebral Penyakit Pulpa dan periapikal Caries Gigi Gangguan Daya Lihat Nyeri Punggung Bawah Radang Servix Asma Akibat Kerja Jumlah kasus 684 518 288 244 238 196 145 118 118 93 2692 % Total Kasus 25.24 10.38 3.70 9.41 19.06 8.45 100 9 .

H ipertens i 4% 4% 7% 7% 9% 3% 2 6% g ang g uan R efraks i dan akom odas i Gas tritisdan D uodenitis Infark C erebral Penyakit Pulpa dan Periapikal C aries Gig i Gang g uan D aya L ihat 20% 9% 11% Nyeri Pung g ung B awah R adangS ervix As m a Akibat K erja 10 .

30 100 11 .10 Besar Penyakit Rawat Inap Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kode ICD 10 Diagnosa Diare dan Gastroentritis Demam Berdarah Dengue Infark Cerebral Gastritis dan Duodenitis Diabetes Melitus YTT Gagal Jantung Cedera Intrakranial Dispepsia Hipertensi Essensial (primer) Tuberkulosis Paru BTA+ dengan/tanpa biakan kuman TB Jumlah kasus 1049 1046 448 352 307 260 244 222 209 186 4323 % Total Kasus 24.64 5.14 7.36 8.83 4.27 24.14 4.10 6.20 10.01 5.

D ia re da ng a s troenitis 5% 5% 6% 6% 7% 8% 4% 25% D B D Infa rkCerebra l G a s tritisda nD uodenitis D ia betesMelitusYT T G a g a l Ja ntung C ederaIntra k ra nia l 24% 10% D is peps ia H ipertens iE s s ens ia l T uberk ulos isPa ru B T A+ deng a n/ta npabia k a n kuma nT B 12 .

27 100 13 .5 K29 E14 H52 E11 G40.47 2.18 7.10 Besar Penyakit Rawat Jalan Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kode ICD 10 Z03 I63 M54.9 J06.82 8.92 9.9 Diagnosa Suspect KP CVA LBP Gastritis dan Duodenitis Diabetes Melitus Gangguan Refraksi dan Akomodasi Diabetes Melitus tidak tergantung Insulin Epilepsi ISPA Osteoartritis Jumlah kasus 2891 2573 1944 1371 1143 1109 1097 898 625 317 13968 % Total Kasus 20.70 18.9 M19.43 4.42 13.89 6.94 7.

5 K 29 E 14 H 52 E 11 G40.9 M19.6% 8% 8 % 5 % 2% 21% 18% 8% 10% 1 4% Z 03 I63 M54.9 J06.9 14 .

48 11.0 Diagnosa Aspiksia Sedang GEA CVA Decom Cordis KPP KP ICH ISPA Post date Fase laten Jumlah kasus 975 791 422 376 285 282 149 146 136 121 3683 % Total Kasus 26.9 O48 O63.69 3.15.42.9 J06.47 21.21 7.0 O.1 A09 I63.0 I61.46 10.9 A.96 3.05 3.3 I50.66 4.29 100 15 .10 Besar Penyakit Rawat Inap Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kode ICD 10 P21.74 7.

42.4% 3% 4% 4% 8% 8% 10% 11% 27% 21% P21.9 J06.9 A15.1 A09 I63.0 16 .3 I50.0 I61.9 O48 O63.0 O.

DISTRIBUSI PENYAKIT TYPHUS ABDOMINALIS MENURUT GOLONGAN UMUR DAN JENIS KELAMIN DI RAWAT JALAN RSUD dr SOEDOMO TRENGGALEK TAHUN 2009 No Kode ICD 10 Kasus Baru Menurut Golongan Umur Kasus Baru Menurut Sex Jumlah Kasus baru Jumlah Kunjungan 028 hr 28h r<1t h 14th 514th 1524 2544 45-64 ≥65th Lakilaki Perem puan 1 2 A01 A75 0 0 5 0 10 1 18 0 2 0 6 0 3 0 1 0 24 0 21 1 45 1 54 1 17 .2.

2. DISTRIBUSI PENYAKIT TYPHUS ABDOMINALIS MENURUT GOLONGAN UMUR DAN JENIS KELAMIN DI RAWAT JALAN RSUD dr SOEDOMO TRENGGALEK TAHUN 2010 No Kode ICD 10 Kasus Baru Menurut Golongan Umur Kasus Baru Menurut Sex Jumlah Kasus baru Jumlah Kunjungan 028 hr 28h r<1t h 14th 514th 1524 2544 45-64 ≥65th Lakilaki Perem puan 1 2 A01 A75 0 0 0 0 0 0 1 0 5 0 1 0 0 0 0 0 4 0 3 0 7 0 12 0 18 .

DISTRIBUSI PENYAKIT TYPHUS ABDOMINALIS MENURUT GOLONGAN UMUR DAN JENIS KELAMIN DI RAWAT JALAN RSUD dr SOEDOMO TRENGGALEK TAHUN 2011 No Kode ICD 10 Kasus Baru Menurut Golongan Umur Kasus Baru Menurut Sex Jumlah Kasus baru Jumlah Kunjungan 028 hr 28h r<1t h 14th 514th 1524 2544 45-64 ≥65th Lakilaki Perem puan 1 2 A01 A75 0 0 0 0 1 0 1 0 2 0 2 1 1 0 0 0 3 1 4 0 7 1 17 1 19 .2.

DISTRIBUSI PENYAKIT TYPHUS ABDOMINALIS MENURUT GOLONGAN UMUR DAN JENIS KELAMIN DI RAWAT INAP RSUD dr SOEDOMO TRENGGALEK TAHUN 2009 No Kode ICD 10 Px Keluar (Hidup dan Mati) Menurut Golongan Umur 028 hr 28h r<1t h 14th 514th 1524 2544 45-64 ≥65th Px Keluar (H&N) menurut Sex Lakilaki Perem puan Jumlah Px keluar Jumlah Px keluar mati 1 2 A01 A75 0 0 1 0 29 0 57 0 38 0 43 0 28 0 4 0 98 0 129 0 227 0 1 0 20 .2.

DISTRIBUSI PENYAKIT TYPHUS ABDOMINALIS MENURUT GOLONGAN UMUR DAN JENIS KELAMIN DI RAWAT INAP RSUD dr SOEDOMO TRENGGALEK TAHUN 2010 No Kode ICD 10 Px Keluar (Hidup dan Mati) Menurut Golongan Umur 028 hr 28h r<1t h 14th 514th 1524 2544 45-64 ≥65th Px Keluar (H&N) menurut Sex Lakilaki Perem puan Jumlah Px keluar Jumlah Px keluar mati 1 2 A01 A75 0 0 0 0 13 0 37 0 19 0 17 0 16 0 5 0 55 0 52 0 107 0 0 0 21 .2.

2. DISTRIBUSI PENYAKIT TYPHUS ABDOMINALIS MENURUT GOLONGAN UMUR DAN JENIS KELAMIN DI RAWAT INAP RSUD dr SOEDOMO TRENGGALEK TAHUN 2011 No Kode ICD 10 Px Keluar (Hidup dan Mati) Menurut Golongan Umur 028 hr 28h r<1t h 14th 514th 1524 2544 45-64 ≥65th Px Keluar (H&N) menurut Sex Lakilaki Perem puan Jumlah Px keluar Jumlah Px keluar mati 1 2 A01 A75 0 0 2 0 10 0 30 0 20 0 16 0 15 0 7 0 49 0 51 0 100 0 2 0 Keterangan : A01 A75 : Demam Tipoid dan Paratipoid : Typhus Abdominalis 22 .

3 Angka kunjungan Rawat Jalan Tahun 2009: 54.2 Angka kematian kasus Typhus Abdominalis di Rawat Inap Tahun 2009: 1. menelan. 2. 1 Typhus abdominalis tidak masuk 10 besar penyakit baik rawat inap maupun rawat jalan.3 Anatomi Saluran gastrointestinal adalah jalur (panjang totalnya 23 sampai 26 kaki) yang berjalan dari mulut melalui esofagus.BAB III PEMBAHASAN 1. 23 . kecap dan bercakap. disebarkan dari kotoran ke mulut melalui makanan dan air minum yang tercemar dan sering timbul dalam wabah. Mempunyai sekurang-kurngnya 3 macam antigen yaitu antigen O (somatic terdiri dari zat komplek lipopolisakarida). 2. basil gram negatif. antigen H (flagella) dan antigen Vi. 2011: 2 (ada kecenderungan peningkatan) 1.2 Pengertian Tifus Abdominalis (demam tifoid enteric fever) adalah penyakit infeksi akut yang besarnya tedapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 7 hari. Dinding dari cavum oris mempunyai struktur yang melayani fungsi mastikasi. Tifus abdominalis adalah infeksi yang mengenai usus halus. bergerak dengan bulu getar. gangguan pada saluran pencernaan dan gangguan kesadaran. salivasi. Mulut dibatasi pada kedua sisi pipi yang dibentuk oleh muskulis businatorius. 2011: 17 (ada kecenderungan penurunan) 2. 2010: 12. atapnya adalah palatum yang memisahkannya dari hidung dan bagian atas dari faring. tidak berspora. lidah membentuk bagian terbesar dari dasar mulut. 1. Dalam serum penderita terdapat zat anti (glutanin) terhadap ketiga macam antigen tersebut.1 Etiologi Tyfus abdominalis disebabkan oleh salmonella typhosa. 2010: 1. lambung dan usus sampai anus 1)Mulut Mulut merupakan bagian pertama dari saluran pencernaan.

Pada akhir bulan pertama ini sekitar 10 ml. Sacharin. mandibular dan sublingual). 1993). korpus dan pilorus (outler). Terdapat 20 gigi susu dan 32 gigi permanen (Rosa M. fundus. menjadi distensi bila makanan melewatinya (Smeltzer Suzanne C. 2001). 1993). 1993). Dalam rongga mulut terdapat : a)Lidah Lidah menempati kavum oris dan melekat secara langsung pada epiglotis dalam laring. 24 . yang jumlah panjangnya kira-kira dua pertiga dari panjang total saluran. 4)Usus halus Adalah segmen paling panjang dari saluran gastrointestinal. 2001). Glandula salivarius mensekresikan saliva via duktus ke dalam mulut. Bagian ini membalik dan melipat diri yang memungkinkan kira-kira 7000 cm area permukaan untuk sekresi dan absorbsi. Lambung dapat dibagi dalam empat bagian anatomis : kardia (jalan masuk). 2)Esofagus Terletak di mediastinum rongga torakal. 3)Lambung Lambung ditempatkan di bagian atas abdomen sebelah kiri dari garis tengah tubuh. Sacharin. Glandulla diinervasi baik oleh saraf parasimpatis dan simpatis (Rosa M. anterior terhadap tulang punggung dan posterior terhadap trakea dan jantung. tepat di bawah diafragma kiri.Terdapat tiga pasang glandula salivarius (parotid. Sacharin. Set kedua atau set permanen menggantikan gigi primer dan ini mulai tumbuh pada sekitar umur 6 tahun. Kapasitas lambung adalah antara 30 dan 35 ml saat lahir dan meningkat sampai sekitar 75 ml pada kehidupan minggu kedua. Otot halus sirkuler di dinding pilorus membentuk sfingter piloris dan mengontrol lubang diantara lambung dan usus halus (Smeltzer Suzanne C. Selang yang dapat mengempis ini. sementara kapasitas lambung rata-rata orang dewasa adalah 1000 ml (Rosa M. b)Gigi Manusia dilengkapi dengan dua set gigi yang tampak pada masa kehidupan yang berbeda-beda. panjangnya kira-kira 25 cm (10 inci). Set pertama adalah gigi primer atau susu yang bersifat sementara dan tumbuh melalui gusi selama satu tahun pertama dan kedua.

Kontraksi peristaltik di dalam lambung mendorong isi 25 . Lambung mensekresi cairan yang sangat asam dalam berespon atau sebagai antisipasi terhadap pencernaan makanan.Fisiologi Proses pencernaan mulai dengan aktivitas mengunyah. 4 L/hari. Sekresi lambung juga mengandung enzim pepsin yang penting untuk memulai pencernaan protein. Menelan mulai sebagai aktifitas volunter yang di atur oleh pusat menelan di medulla oblongata dari sistem saraf pusat. Terdiri dari segmen asenden pada sisi kanan abdomen. Menelan.Usus halus dibagi 3 bagian anatomik : bagian atas disebut duodenum. memperoleh keasamannya dari asam hidroklorida yang disekresikan oleh kelenjar lambung. segmen transversum yang memanjang dari abdomen atas kanan ke kiri. Saliva adalah sekresi pertama yang kontak dengan makanan. yang berakhir sebagai aktivitas refleks. b. epiglotis bergerak menutup lubang trakea dan karenanya mencegah aspirasi makanan ke dalam paru-paru. Saat makanan ditelan. Faktor instrinsik juga disekresi oleh mukosa gaster. Akhirnya. Lambung dapat menghasilkan sekresi kira-kira 2.  Untuk membantu destruksi kebanyakan bakteri pencernaan. yang berfungsi untuk mengontrol pasase isi usus ke dalam usus besar dan mencegah refluks bakteri ke dalam usus halus. sfingter esofagus menutup dengan rapat untuk mencegah refluks isi lambung ke dalam esofagus. mengakibatkan bolus makanan berjalan ke dalam esofagus atas. Pertemuan antara usus halus dan usus besar terletak di bagian bawah kanan duodenum ini disebut sekum. Rektum berlanjut pada anus. Jalan keluar anal di atur oleh jaringan otot lurik yang membentuk baik sfingter internal dan eksternal. dan segmen desenden pada sisi kiri abdomen. sfingter esofagus bawah rileks dan memungkinkan bolus makanan masuk lambung. Selama proses peristaltik esofagus ini. Cairan ini yang dapat mempunyai pH serendah 1. otot halus di dinding esofagus berkontraksi dalam urutan irama dari esofagus ke arah lambung untuk mendorong bolus makanan sepanjang saluran. Pada pertemuan ini yaitu katup ileosekal. Fungsi sekresi asam ini dua kali lipat :  Untuk memecah makanan menjadi komponen yang lebih dapat diabsorbsi. Bagian ujung dari usus besar terdiri dari dua bagian kolon sigmoid dan rektum. bagian tengah disebut yeyunum dan bagian bawah disebut ileum. dimana makanan dipecah ke dalam partikel kecil yang dapat ditelan dan dicampur dengan enzim pencernaan. Pada tempat ini terdapat apendiks veriformis.

partikel ini diaduk kembali ke korpus lambung. yang membantu dalam pencernaan protein. hepar dan kelenjar di dinding usus itu sendiri. Peristaltik di dalam lambung dan kontraksi sfingter pilorus memungkinkan makanan dicerna sebagian untuk masuk ke usus halus (Smeltzer Suzanne C. komposisi makanan dan faktor lain. Proses pencernaan berlanjut ke duodenum. yang menyelimuti sel-sel dan melindungi mukosa dari serangan oleh asam hidroklorida. elektrolit dan enzim. Karakteristik utama dari sekresi ini adalah kandungan enzim pencernaan yang tinggi. materi sisa residu melewati ileum terminalis dan dengan perlahan melewati bagian proksimal kolon melalui katup ileusekal. Lemak dicerna diemulsifikasi menjadi monogliserida dan asam lemak. Sekresi kelenjar usus terdiri daru mukus. dari setengah jam sampai beberapa jam tergantung pada ukuran partikel makanan.5 L/hari dan kelenjar usus halus 3 L/hari. 26 . 2001).lambungnya ke arah pilorus. sekresi di dalam duodenum datang dari pankreas. Ada 2 tipe kontraksi yang terjadi secara teratur di usus halus :  Kontraksi segmental yang menghasilkan campuran gelombang yang menggerakkan isi usus ke belakang dan ke depan dalam gerakan mengaduk. empedu 0. berfungsi mengontrol laju sekresi usus dan mempengaruhi motilitas gastrointestinal. hormon. Ini menetralisir asam yang memasuki duodenum dari lambung. Makanan tetap berada di lambung selama waktu yang bervariasi. amilase yang membantu dalam pencernaan zat pati dan lipase yang membantu dalam pencernaan lemak. Pankreas juga mensekresi enzim pencernaan. Populasi bakteri adalah komponen utama dari isi usus besar. Dalam 4 jam setelah makan. termasuk tripsin. Bakteri membantu menyelesaikan pemecahan materi sisa dan garam empedu. Karbohidrat dipecahkan menjadi disakarida dan monosakarida. Hormon. neuroregulator dan regulator lokal ditemukan di dalam sekresi usus. Karena partikel makanan besar tidak dapat melewati sfingter pilorus. Sekresi pankreas mempunyai pH alkalin karena konsentrasi bikarbonatnya yang tinggi.  Peristaltik usus mendorong isi usus halus tersebut ke arah kolon. Empedu (disekresi oleh hepar dan disimpan di dalam kandung empedu) membantu mengemulsi lemak yang dicerna. Sekresi usus total kira-kira getah pankreas 1 L/hari. Protein dipecahkan menjadi asam amino dan peptida.

Pada hati dan limpa akan terjadi hepatospleno megali. perfarasi. Transport lambat ini memungkinkan reabsorbsi efisien terhadap air dan elektrolit. meningitis. neuropsikratrik). Konstipasi bisa terjadi menyebabkan komplikasi intestinal (perdarahan usus. 27 . Materi sisa dari makanan akhirnya mencapai dan mengembangkan anus. Distensi rektum secara relatif menimbulkan kontraksi otot-ototnya dan merilekskan sfinger anal internal yang biasanya tertutup. Pada hipotalamus akan menekan termoregulasi yang mengakibatkan demam remiten dan terjadi hipermetabolisme tubuh akibatnya tubuh menjadi mudah lelah. sabagian besar akan mati oleh asam lambung HCL dan sebagian ada yang hidup. Sfingter internal dikontrol oleh sistem saraf otonom.Aktivitas peristaltik yang lemah menggerakkan isi kolonik dengan perlahan sepanjang saluran. kemudian kuman melalui pembuluh darah limfe akan menuju ke organ RES terutama pada organ hati dan limfe. peritonitis) dan ekstra intestinal (pnemonia. Rata-rata frekuensi defekasi pada manusia adalah sekali sehari. Bahan kekal kira-kira 75 % materi cair dan 25 materi padat (Smeltzer Suzanne C. kemudian kuman masuk kedalam usus (plag payer) dan mengeluarkan endotoksin sehingga menyebabkan bakterimia primer dan mengakibatkan peradangan. sfringter eksternal di bawah kontrol sadar dari kortektes serebral.4 Patogenesis Kuman salmonella typhosa masuk kedalam saluran cerna. 2001). 2. tetapi frekuensi bervariasi diantara individu. biasanya dalam kirakira 12 jam sebanyak seperempat dari materi sisa makanan mungkin tetap berada direktum 3 hari setelah makanan dicerna. Selain itu endotoksin yang masuk kepembuluh darah kapiler menyebabkan roseola pada kulit dan lidah hipermi. bersama makanan dan minuman. kolesistitis. materi anorganik. dibutuhkan jumlah bakteri 105-109 untuk menimbulkan infeksi. Di organ RES ini sebagian kuman akan difagosif dan sebagian yang tidak difagosif akan berkembang biak dan akan masuk pembuluh darah sehingga menyebar ke organ lain. terutama usus halus sehingga menyebabkan peradangan yang mengakibatkan malabsorbsi nutrien dan hiperperistaltik usus sehingga terjadi diare. air dan bakteri. faeces terdiri dari bahan makanan yang tidak tercerna.

sakit kepala yang berat. nyeri tekan / spontan pada perut di daerah Mc Burney (kanan bawah). b. anoreksia. tepi hiperemis). c. Di tandai dengan demam insidus yang berlangsung lama. lidah tipoid (tremor. Disamping gejala tersebut mungkin terdapat gejala lainnya. ujung dan tepinya kemerahan. Kadangkadang ditemukan pula bradikardia dan epistaksis. biasanya sering terjadi konstipasi tetapi juga dapat diare atau normal. Dalam minggu kedua pasien terus berada dalam keadaan demam. masa inkubasi berlangsung dari 3 hari sampai dengan 1 bulan dengan rata-rata antara 8-14 hari. tengah kotor. koma atau gelisah (kecuali penyakitnya berat dan terlambat mendapatkan pengobatan). pada minggu ketiga suhu berangsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.angsur naik setiap hari. Demam Kasus khas demam berlangsung 3 minggu bersifat febris remiten dan suhu tidak tinggi sekali. yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit yang dapat ditemukan pada minggu pertama demam. Gambar klinis yang biasa ditemukan adalah : a. badan lemah. splenomegali pada penderita kulit putih 25% diantaranya menujukan adannya”rose spot” pada tubuhnya. Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan. lidah tertutup selaput putih kotor (coated tongue). bibir kering dan pecah-pecah (ragaden). bradikardi relatif. Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan roseola. agak tuli. jarang terjadi sopor. batuk tidak produktif pada awal penyakit. pada penderita dewasa lebih banyak terjadi konstipasi di bandingkan dengan diare. jarang disetai tremor. Pada abdomen dapat ditemukan keadaan perut kembung (meteorimus). suhu tubuh berangsur . Selama minggu pertama. obstipasi. biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. keluhan utama : demam terutama sore atau malam hari. Gangguan pada saluran pencernaan Mulut terdapat napas berbau tidak sedap. Gangguan kesadaran Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak dalam yaitu apatis sampai samnolen. Masa inkubasi tergantung pada besarnya jumlah bakteri yang menginfeksi. batuk-batuk. 28 .2.5 Pemeriksaan fisik Masa inkubasi : 10-14 hari.

Anak : 50 mg/kgBB 4 x sehari selama 5 – 7 hari bebas panas.2.typhii pada biakan empedu yang diambil dari darah pasien. meskipun dapat terjadi positif maupun negatif palsu akibat adanya reaksi silang antara spesies salmonella. tinja. Dewasa : 4 x 500 mg selama 14 hari b. Anak : 50 – 100 mg/kgBB 4 x sehari selama 10 – 14 hari. SGOT dan SGPT Uji serologis  Widal : Titer O. limfositosis relatif. feses. lebih dari 99% penderita dapat disembuhkan. urin atau empedu) 2. Terapi simtomatik (anti piretik. . Dewasa : 500 mg 4 x sehari selama 5 – 7 hari bebas panas.6 Laboratorium Pemeriksaan darah : leukopenia. Dewasa : 500 mg 4 x sehari selama 10 – 14 hari.9 Terapi 1.8 Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan fisik. dilakukan biakan darah. 2. leukositosis relatif fase akut. Anak : 50-100 mg/kgBB 4 x sehari selama 10 – 14 hari. Diagnosis pasti ditegakkan dengan menemukan kuman dengan S. 2. air kemih atau jaringan tubuh lainnya guna menemukan bakteri penyebabnya.  Ampisilin a.  Tiamfenikol. titer antibodi tehadap antigen O yang bernilai lebih besar ≥ 1/200 atau peningkatan lebih besar lagi 4x antara masa akut dan konvalesens mengarah kepada demam tifoid.Untuk memperkuat diagnosis. a. Dari pemeriksaan Widal. aneosinofilia. 2. a. H (titer untuk menyatakan seseorang positif thyfoid adalah tergantung dari daerah endemik dan kesepakatan institusi) Isolasi/ biakan kuman (darah. b. Antibiotik untuk penderita tifoid :  Kloramfenikol. b. Dengan antibiotik yang tepat. anti emetik) 29 . Mungkin terdapat anemia dan trombositopenia ringan. mungkin terdapat anemia dan trombositopenia.7 Pemeriksaan penunjang Pada pemeriksaan darah tepi dapat ditemukan leukopenia .

konstipasi atau diare. jenis kelamin.3.10 Asuhan kebidanan/keperawatan 1. Riwayat kesehatan 1) Informasi dan latar belakang yang berhubungan Penyakit atau kondisi yang menyertai misalnya sering infeksi atau penyakit sebelumnya. Keadaan umum Pucat. 2. banyak keringat. Pengkajian Pengkajian pada pasien dengan Tyfus Abdominalis adalah sebagai berikut: a. c. perubahan tanda vital dan berat badan. kadang makanan diberikan melalui infus sampai penderita dapat mencerna makanan. lemah. dehidrasi. 2) Riwayat keluarga 30 . Terapi cairan. b. Biodata Biodata meliputi usia. latar belakang budaya dan suku.

Meningkatkan SDM terutama dokter umum dengan diadakanya seminar. Penderita kasus Typhus Abdominalis merupakan penyakit menular sehingga jaga kebersihan agar tidak menular ke orang lain. Pasien ada yang meninggal karena datang sudah dengan komplikasi 3. 2010: 1. workshop tentang Typhus Abdominalis. 2010: 12.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN 1. 2011: 17 (ada kecenderungan penurunan) SARAN 1. 2011: 2 (ada kecenderungan peningkatan) 1. 31 .3 Angka kunjungan Rawat Jalan Tahun 2009: 54. 1 Typhus abdominalis tidak masuk 10 besar penyakit baik rawat inap maupun rawat jalan. 2. 4.2 Angka kematian kasus Typhus Abdominalis di Rawat Inap Tahun 2009: 1. Adanya penyuluhan rutin baik dari puskesmas maupun rumah sakit tentang penyakit menularr termasuk Typhus Abdominalis. 1.

BAB V PENUTUP Dengan mengucap Alhamdulillah makalah ini dapat kami selesaikan dan kami berharap mudahmudahan bisa menambah wawasan dan meningkatkan nilai angka kredit dalam pengembangan profesi agar nantinya dapat naik pangkat dari golongan IV C ke golongan IV D. 32 . Amin.