STUDY PREPARASI SAMPEL ENDAPAN NIKEL LATERIT HASIL PEMBORAN EKSPLORASI PADA PT.

WEDA BAY NICKEL KECAMATAN WEDA TENGAH KABUPATEN HALMAHERA TENGAH PROVINSI MALUKU UTARA LAPORAN KERJA PRAKTEK Diajukan Sebagai Persyaratan Mata Kuliah Kerja Praktek Pada Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Oleh : Jumahir Badrun NPM : 12105.10212.06.010 Ismail Asri NPM : 12105.10212.06.006 JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALUKU UTARA TERNATE 2011

KATA PENGANTAR Bismillahirahmanirahim

Puji Syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena limpahan rahmat, nikmat dan hidayah-Nya yang telah diberikan kepada kita yang tidak terhitung nilai dan harganya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan laporan Kerja Praktek (KP) ini disusun berdasarkan referensi yang dijadikan rujukan untuk penyusunan Laporan Kerja Praktek (KP) ”Study Preparasi Sampel Endapan Nikel Laterit Hasil Pemboran Eksplorasi” yang diperoleh langsung dari perpustakaan dan buku-buku kuliah di berbagai perguruan tinggi. Maksud dan tujuan penulisan laporan Kerja Praktek (KP) usulan penelitian ini adalah untuk memenuhi persyaratan untuk melanjutkan penelitian Tugas Akhir dalam Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) Ternate dan juga menjadi salah satu tuntutan kurikulum. Dengan selesainya penyusunan laporan Kerja Praktek (KP) ini. Dengan selesainya laporan ini, tak lupa penulis mengucapka terima kasih kepada : 1. 2. Bapak Kasman Hi. Achmad, S.Ag, M.Pd, Rektor UMMU Ternate Bapak Arbi Haya, ST. M.Eng, Dekan Fakultas Teknik UMMU Ternate

3. Bapak Muhammad Djunaidi, ST, MT, Ketua Jurusan Teknik Pertambangan UMMU Ternate. 4. Bapak Abjan Hi. Masuara, ST, MT, Sebagai dosen pembimbing yang telah waktunya dalam penyusunan laporan ini. 5. meluangkan

Bapak Ruslan M. Umar, ST, Sekertaris jurusan teknik pertambangan UMMU Ternate

6. Bapak Thalib M. Umar, ST Sebagai pembimbing lapangan yang telah banyak memberikan arahan dan bantuannya. 7. Seluruh staf dan karyawan PT. Weda Bay Nickel yang telah banyak membantu selama praktek berlangsung 8. 9. 10. Para Karyawan Coreshed PT. Weda Bay Nickel dan PT. Intetek Testing Service. Para Karyawan PT. Weda Bay Nickel, camp 2 dan camp Sake West. Seluruh staf dan dosen pengajar teknik pertambangan

11. Kedua orang tua kami, yang telah memberikan cinta dan kasih sayang dan pengorbananya yang tiada berkurang. 12. Teman-teman seprjuangan Angkatan “06” dan seluruh rekan – rekan teknik pertambangan yang selalu memberikan dorongan moril demi terselesainya penyusunan laporan kerja praktek ini

Akhirnya segala saran dan kritikan yang konstruktif dari pembaca demi kesempurnaan laporan ini akan diterima dengan segala kerendahan hati. Amin Ternate, 18 Februari 2011

PENULIS

DAFTAR ISI Halaman Halaman Sampul Halaman Pengesahan Kata Pengantar …………………………………………………………………………………… i Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………. ii Daftar Gambar ………………………………………………………………………………….. vi Daftar Tabel ……………………………………………………………………………………… vi BAB I. …. PENDAHULUAN ………………………………………………………………. 1 1.1 1.2 1.3 1.4 Latar Belakang ………………………………………………………………. 1 Rumusan Masalah ………………………………………………………….. 4 Batasan Masalah …………………………………………………………….. 4 Tujuan Kerja Praktek ………………………………………………………. 4

3.1. Bagan Alir Penelitian …………………………………………………….2 Vegetasi………………………………………………………………… 17…. 18 3.5.3.6. 5 1. 6 1.5.1 Kegiatan Pemboran Eksplorasi…………………………………………. 5 1. 8 Kondisi Geologi ………………………………………………………….1.3 Teknik Pengolahan Data………………………………………….1 Manfaat Bagi Peneliti ……………………………………………… 4 1. 22 3.6. 10 Geografis Daerah Penelitian …………………………………………… 15 2.7.1 Pengertian Pemboran Eksplorasi………………………………. 18 3....2 Mengeluarkan dan Menyimpan Core………………………… 19 3..2 Preparasi Sampel……………………………………………………………..6. 2.3 Manfaat Bagi Perusahaan ………………………………………… 5 1.22 ..2 Manfaat Bagi Akademisi ………………………………………… 5 1.1 Teknik Pengambilan Data ………………………………………. 7 BAB II….5 Manfaat Penelitian ………………………………………………………….3 Menghitung Kemajuan Bor dan Core Recovery…………..2 Jenis-jenis Data………………………………………………………. 15 2. 20 3. TINJAUAN UMUM …………………………………………………………… 8 2.6.1. Metode Penelitian …………………………………………………………. . DASAR TEORI ………………………………………………………………… 18 3.2 2.1 2. 17 BAB III.1.2.5.3 Lokasi dan Kesampaian Daerah ………………………………………. 4 1.4 Iklim dan Curah Hujan…………………………………………………….1 Topografi dan Morfologi………………………………………….1 Pengertian Preparasi Sampel……………………………………. 5 1..

4 Nikel Laterit………………………………………………………………….2. 37 4.4 Logging Core dan Sampling…………………………………………….3 Profil Endapan Nikel Laterit……………………………………..2.2 Persiapan Kegiatan Pemboran…………………………………………... 40 BAB V.3 Water Line…………………………………………………………….4.23 3..3.1 Sampling……………………………………………………………….2.24 3..3. 37 4.2. PEMBAHASAN…………………………………………………………………. Weda Bay Nickel………………… 37 4. 37 4..2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Bijih Nikel Laterit…………………………………………………. 30 3.1 Timbang………………………………………………………………… 44 . 37 4.. 44 5. 37 4. 44 5.3.3 Sampling dan Analisa Ayak…………………………………………….1 Pengertian Nikel Laterit………………………………………….. KEGIATAN LAPANGAN…………………………………………………. 32 3.2..4 Saran Pendukung Lainnya………………………………………..2 Prosedur Preparasi Sampel………………………………………. 37 4.4. 37 4.1 Kegiatan Eskplorasi Pada PT... 24 3.24 3.2 Analisa Ayak…………………………………………………………..1 Preparasi Sample…………………………………………………………….2 Drill Site……………………………………………………………….3 Kegiatan Pemboran Di Lapangan…………………………………….2..4.1 Penentuan Titik Bor………………………………………………. 44 5.2 Prosedur dan Tahapan-tahapan Kegiatan Preparasi Sample…………………………………………………………………………. 30 3. 34 BAB IV.

2.2. 51 5. 52 5. 52 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………. 52 6.. 39 LAMPIRAN .2. 48 …. Profil Endapan Nikel Laterit ………………………………………………………. 17 2.2. 47 5.2 Drying/Pengeringan………………………………………………… 46 5. 36 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1..2. Data Curah Hujan Dari Tahun 2008-2010 ………………………………………..6 Test Kehalusan Sample…………………………………………… 50 5.2 Saran…………………………………………………………………………….1 Kesimpulan…………………………………………………………………….4 Pulverizing…………………………………………………………….………………………………………….7 Packing…………………………………………………………………. Peta Lokasi Peneltian ………………………………………………………………….3 Crusher………………………………………………………………….2. 51 BAB VI.5. Komponen Pemboran dan Fungsinya . 53 LAMPIRAN DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1.2.7 Target Penggilingan Sample…………………………………….. 5. 9 2. PENUTUP………………………………………………………………………….. Peta Geologi Regional Daerah Halmahera……………………………………… 11 3.5 Roll Mix………………………………………………………………… 50 5..

yang metodenya disesuaikan dengan keadaan contoh dan kepentingan. Unit Gamin. Latar Belakang Bahan galian adalah semua bahan atau substansi yang terjadi dengan sendirinya di alam dan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk keperluan industrinya. agar upaya kelayakan untuk pembukaan usaha pertambangan yang di maksud dapat di lakukan dengan teliti dan benar (akurat). Pemboran adalah pembuatan lubang eksplorasi yang daimeternya relative kecil bila di bandingkan dengan kedalamannya. Moisture Determination Report L-2. bagi Indonesia nikel merupakan salah satu komoditi tambang yang utama hingga saat ini masih menjadi komoditi penghasil devisa cukup besar bagi Negara. Bahan tersebut dapat berupa logam maupun non logam dan dapat berupa bahan tunggal ataupun berupa campuran lebih dari satu bahan. terdapat 2 jenis preparasi: 1. Pemboran ini biasanya di lakukan pada batuan atau formasi batuan dalam rangka pengumpulan data informasi dan pengambilan conto (sample). Hasil dari kegiatan eksplorasi itu harus dapat memberikan informasi yang lengkap dan akurat mengenai sumber daya mineral/bahan galian maupuan kondisi geologi yang ada. Contoh ruah (bulk samples) . Test Kehalusan Sample 200# BAB I PENDAHULUAN 1.L-1. sehingga nikel laterit merupakan cadangan yang strategis. Preparasi merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam mempersiapkan contoh untuk dianalisis. Berdasarkan keadaan contohnya. khususnya bagi Negara kiata yang mempunyai cadangan nikel laterit yang cukup besar untuk dapat memberikan konstribusi memasok kebutuhan nickel di dunia. 2003). Dewasa ini penggunaan logam nikel diberbagai sektor industri di dunia semakin meningkat. Antam Tbk.1. (Nickel Laterit. Oleh karena itu kegiatan eksplorasi merupakan suatu kegiatan penting yang harus di lakukan sebelum suatu usaha pertambangan di laksanakan. PT.

Tingkat kepastian dari penyebaran endapan. Weda Bay Nickel. Weda Bay Nickel. 1. kemudian dilanjutkan dengan pembanguan pabrik. pengayakan. pendulangan. dan penimbangan masing-masing fraksi. Hal inilah yang melatar belakang salah satu perusahan tambang swasta Indonesia yaitu PT. Batasan Masalah Adapun dalam kegiatan kerja praktek ini. Tingginya permintaan terhadap bijih nikel ini datangnya dari pasar internasional seperti China. perumahan staf dan karyawan. Kecamatan Weda Tengah Kabupaten Halmahera Tengah. pengeringan. jalan. Pada tahun 2007. penulis membatasi masalah pada kegiatan preparasi sampel endapan nikel laterit hasil pemboran eksplorasi di PT. Weda Bay Nickel. . Provinsi Maluku Utara ”. penimbangan (pengukuran volume). yang gunanya untuk memulai usahanya di bidang pertambangan. India. terjadi peningkatan permintaan pasar terhadap bijih nikel.3. 2. Peralatan yang digunakan pada kegiatan preparasi sampel Hasil akhir (produk) dari preparasi sampel. pencucian. Saat ini PT. 2. 3. jumlah cadangan serta kualitas cadangan merupakan dasar dalam perencanaan aktivitas pada industri pertambangan. Weda Bay Nickel masih dalam tahap eksplorasi dan kontruksi.Preparasinya meliputi pengeringan. pemagnetan. Konsentrat dulang kemagnetan (magnetic Prinsip preparasinya adalah pemisahan mineral berdasarkan sifat separation). Tahapan-tahapan dalam preparasi sampel. Kegiatan ekplorasi dilakukan untuk mengetahui bentuk penyebaran biji nikel dan kegiatan kontruksi dilakukan dengan membangun perkantoran. melakukan kegiatan eksplorasi terhadap endapan nikel laterit yang terdapat di Halmahera Tengah. laboratorium dan fasilitas penunjang kegiatan pertambangan yang lain. sehingga peranan kegiatan eksplorasi menjadi hal yang sangat penting sebagai langkah awal dari seluruh rangkaian pekerjaan dalam industri pertambangan. Kegiatan eksplorasi lebih difokuskan agar cepat terselesaikan dan dilanjutkan dengan kegiatan yang lain seperti kontruksi dan penambangan. Jepang dan Eropa Timur. Atas dasar latar belakang inilah yang mendorong kami untuk melakukan kerja praktek (KP) dengan judul : “ Study Preparasi Sampel Endapan Nikel Laterit Hasil Pemboran Eksplorasi Pada PT. 1.2. Rumusan Masalah 1.

5. 1. disamping itu penelitian ini juga diharapkan dapat berguna bagi peneliti-peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian dengan topik yang sama.1.4.1. 1. Manfaat Bagi Akademisi Hasil penelitian ini merupakan salah satu bahan masukan kepada pihak lembaga pendidikan dalam rangka meningkatkan dan pemberdayaan perpustakaan di Fakultas Teknik.1.5.3. Manfaat Bagi perusahaan Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan terutama di PT. Weda Bay Nickel. Manfaat Bagi peneliti Untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi peneliti khususnya tentang kegiatan preparasi sample hasil pemboran eksplorasi nikel laterit. Studi Literatur masukan bagi pihak perusahaan Dilakukan dengan mengumpulkan data.6. khususnya Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.6. 2. b. Untuk mengetahui tahapan-tahapan dalam kegiatan preparasi sampel Untuk mengetahui peralatan apa saja yang digunakan dalam kegiatan preparasi sampel Untuk mengetahui seperti apa hasil akhir (produk) dari preparasi sampel.5.2 Jenis-jenis Data . 1. Teknik Pengambilan Data Teknik pengambilan data dilapangan dilakukan bebrapa tahapan diantaranya adalah sebagai berikut: a.5. 3.6 Metode Penelitian 1. 1. Tujuan Penilitian Tujuan dalam melakukan penelitian : 1. Manfaat Penelitian 1. 1.2. Penelitian langsung di lapangan meliputi : Tahapan-tahapan serta metode preparasi sampel yang digunakan. referinsi dan informasi-informasi lain yang terkait dengan judul penelitian.

Data sekunder. antara lain : lokasi dan kesampaian daerah. b. iklim dan curah hujan. Pengambilan Data Wawancara : Mengumpulkan data atau informasi Yang berkaitan dengan kegiatan preparasi sampel.6. yaitu data yang dikumpulkan baik melalui observasi (pengamatan) maupun wawancara.a.3 Teknik Pengolahan Data Pengolahan data didasarkan pada data yang diambil langsung dari lapangan. serta vegetasi dan topografi. peralatan yang digunakan. Observasi : -Tahapan preparasi sampel -Metode preparasi sampel -Peralatan yang digunakan -Hasil sampel Pengolahan Data Analisa Data Hasil Penelitian Bagan Alir Prosedur Penelitian BAB II TINJAUAN UMUM . 1. kondisi geologi. metode. Data primer. data yang diperloleh dari hasil pengumpulan beberapa daftar bacaan yang berhubungan dengan permasalahan yang ada. serta hasil akhir dari preprasi sampel. Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data antara lain : tahapan-tahapan preparasi sampel. Sedangkan wawancara dilakukan dilapangan terhadap teknisi dilapangan untuk mengumpulkan informasi-informasi yang begkaitan dengan kegiatan preparasi sampel. yaitu mendiskripsikan seluruh kegiatan preparasi sampel mulai dari awal hingga akhir kegiatan.

2. Untuk mencapai lokasi penelitian dapat ditempuh dengan rute sebagai berikut: 1. terletak pada titik koordinat 00° 35’ 44. Ternate – Sofifi Ternate – Sofifi. . Ternate-Tanjung Ulie Ternate-Tanjung Ulie. 3.2. Kondisi Geologi 2. Wilayah ini merupakan busur kepulauan sejak akhir paleogen. dibagian selatan tersingkap di pulau Bacan juga pulau Obi dan sekitarnya yaitu batuan metamorf skis kristalin berumur jura. Lokasi dan Kesampaian Daerah Daerah Tanjung Ulie (Wilayah Kontrak Karya PT. 1973). Weda-Lelief (Tanjung Ulie) Weda-Lelief (Tanjung Ulie). Alternatif lain bisa dilalui dengan menggunakan kendaraan roda dua ke Desa Kobe kemudian dilanjutkan ke Desa Lelief (Tanjung Ulie) dengan waktu tempuh 30 menit.000 Ha dengan 5 lokasi pertama oleh PT.2. dan Uni-uni (Tarzan). Dicapai dengan mengunakan kendaraan roda empat dengan waktu tempuh kurang lebih 4 jam. Weda Bay Nickel.1 Geologi Regional Pulau Halmahera Pulau Halmahera didominasi oleh batuan vulkanik dimana berjalannya waktu menjadi lingkungan batuan tertua. Luas areal eksplorasi yang dikelola oleh PT. Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara.1” Bujur Timur. 2.2. Sofifi – Weda Sofifi – Weda. Boki Makot. Dicapai dengan mengunakan transportasi laut (Speed Boat) dengan waktu tempuh kurang lebih 45 menit. Menggunakan pesawat udara Merpati dengan waktu tempuh ± 15 menit. Weda Bay Nickel (WBN) adalah sebesar 54. 4. dimana batuan vulkanik berumur akhir dengan batuan klastik sedimen karbonat yang diperkirakan merupakan aktivitas vulkanik pada lingkungan laut. Secara geografis wilayah Kontrak Karya PT. kemudian Pinto. (Pushehsrosvky. Weda Bay Nickel adalah weda project. Weda Bay Nickel) secara administratif terletak di daerah kecamatan Weda. Menggunakan speed-boat atau long boat dengan waktu tempuh ± 2 jam. Sake West.3” Lintang Utara dan 128° 00’ 29.1.

1980 . Satuan Batuan Beku Basa. Masing-masing wilayah ini berbeda dari segi fisiografi. disebut garis meridian. Selain itu teramati sejumlah retas andesit dan diorit yang tidak terpetakan di daerah Formasi Bacan. tersingkap di dalam komplek Satuan Batuan Ultra Basa dan ini dinamakan Seri Wato-wato( Bessho. sedangkan Halmahera Barat (Morotai. (Silitonga. Satuan ini berumur Paleosen – Eosen Formasi Dorosagu. mengandung asbes dan garnerit. Sokamto dan Suhanda. Satuan Batuan Ultra Basa terdiri dari serpentinit. dicirikan oleh adanya komponen batu lempung berumur kapur dan batuan ultra basa didalam konglomerat yang membentuk formasi dorosagu. tebal kurang lebih 400 meter. (Silitonga. terbreksikan. terdiri dari batupasir berselingan dengan serpih merah dan batugamping. batuan tertua ini ditutupi oleh Formasi Dodaga yang tersusun oleh serpih berselingan dengan batugamping coklat muda dan sisipan rijang yang berumur Kapur Satuan Batugamping. Bacan dan Obi) oleh batuan gunung api. batuan tertua daerah ini dibentuk oleh Satuan batuan ultra basa yang sebarannya cukup luas dan satuan batuan beku basa. Zona perbatasan antara kedua mandala tersebut terisi oleh batuan formasi weda yang sangat terlipat dan tersesarkan. Weda. gabro hornblende dan gabro olivine. terdiri dari batuan diorit kuarsa dan diorit hornblende. Gebe. tersingkap juga dalam komplek batuan ultra basa. kelompok batuan yang membentuknya. piroksenit dan dunit. 1977). stratigrafi struktur dan perkembangan tektonik. R. dan Waigeo) dicirikan dengan batuan ultra basa. maka Maluku Utara dan (Pulau Halmahera dan pulau-pulau sekitarnya) dikelompokkan menjadi tiga wilayah tektonik (R. Sukamto dkk.. getas. 1985). Kegiatan tektonik kemungkinan dimulai pada kapur dan awal tersier.Satuan batuan ini oleh Bessho. Halmahera Tengah • • Mandala Geologi Halmahera Timur. umumnya berarah utara-selatan dan barat laut-tenggara. terdiri dari gabro piroksen. Struktur lipatan berupa sinklin dan antiklin terlihat jelas pada formasi Weda berumur miosen tengah-pliosen awal. posisinya diantara sesar dalam batuan ultra basa. Sumbu lipatan berarah utara-selatan. Kab. serta satuan batuan beku intermediate yang mengintrusi kedua satuan batuan sebelumnya. 1994. umumnya berwarna hitam atau hitam kehijauan. dinamakan Formasi Watileo (Watileo Series). Struktur sesar terdiri dari sesar normal dan sesar naik. 1985).Mandala tektonik Halmahera Timur (Gag. Secara tidak selaras. Hubungan dengan batuan yang lebih tua (ultra basa) berupa • • • • • . Pada satuan ini teramati batuan metasedimen dan rijang.1944) Satuan Batuan Intermediate. dengan batuan yang lebih tua (ultra basa) oleh ketidakselarasan dan dengan batuan yang lebih muda oleh sesar. timur laut-barat daya dan barat laut tenggara. hubungannya dengan satuan batuan yang lebih muda berupa bidang ketidakselarasan atau bidang sesar naik. Akibat dari perkembangan tektonik tersebut.

tersusun oleh batugamping hablur dan batugamping pasiran dengan sisipan napal dan batupasir. Formasi Tingteng. Formasi Weda. sesar dan sebagiannya. diduga berumur Miosen Tengah – Awal Pliosen. • Satuan Konglomerat. Tampak pula batuan ultra basa pada penelitian ini telah mengalami proses serpentinisasi yang cukup kuat selain oleh keadaan morfologi. tufa. • • • • • • 2. Formasi ini berumur Miosen Tengah – Awal Pliosen Satuan Konglomerat. Litologi endapan nikel didaerah ini hampir seluruhnya berasal dari pelapukan batuan ultra basa yang lebih dikenal dengan sebutan endapan bijih nikel laterit : harzburgit merupakan batuan asal penghasil nikel tersebut. tersusun oleh batuan gunungapi berupa lava. retakan. kemudian mengalami . dan batusabak tebal ± 100 meter. menutupi satuan batuan ultra basa secara tidak selaras. Pada lapangan terlihat bahwa banyak rekahan-rekahan kecil yang umumnya telah terisi oleh mineralmineral sekunder (silica dan magnetit). Formasi Tingteng.2 Geologi Lokal Daerah Penelitian Mengenai adanya endapan nikel secara geologi dapat disebutkan bahwa pelapukan batuan ultra basa membentuk lapisan laterit yang menghasilkan residual serta pengkayaan nikel yang tidak mudah larut dan membentuk endapan nikel (Ni) dan Magnesium (Mg) dalam bentuk garnierite (Ni Mg)3 SiO2 Os (OH)4 pada lapisan saprolit terbentuk pula mineral himatit (Fe2 O3 ) pada lapisan laterit. terdiri dari batupasir berselingan dengan napal. Oleh adanya sisipan batupasir dapat diketahui umur Formasi Bacan yaitu Oligosen – Miosen Bawah. Pelapukan batuan pada hakekatnya dipermudah karena adanya bagian yang lemah seperti perakahan. Singkapan batuan ultra basa umumnya telah mengalami pelapukan berwarna kuning kecoklatan berbentuk hitam atau abu-abu putih dengan warna kehijauan pada bagian tepi atau pinggir. dan tufa dengan sisipan konglomerat dan batupasir. Olivine itu sendiri mengandung nikel dalam jumlah kecil ± 0. tersusun oleh batuan konglomerat dengan sisipan batupasir. batulempung dan batubara yang tebalnya lebih dari 500 meter. Formasi Bacan.2. Formasi ini diduga berumur Paleosen – Eosen. utamanya tufa batuapung berwarna putih dan kuning. berupa batuan gunungapi terdiri dari breksi. tebal ± 250 meter. konglomerat dan batugamping. diorit. Formasi ini identik dengan Weda series ( Bessho. rijang.ketidakselarasan dan sesar naik. breksi. Satuan Tufa. Pembentukan endapan bijih nikel laterit brecia sangat banyak pula terpengaruh oleh tektonik lempeng. berkomponen batuan ultra basa. berumur Akhir Miosen – Awal Pliosen. Formasi Kayasa. tebal ± 600 meter. 1944 ). lava dan tufa diduga berumur Pliosen. Satuan ini berumur Kapur Atas. secara umum disusun oleh mineral-mineral olivine dan ortopiroksine.25%. basal.

pohon ketapang.1 Topografi dan Morfologi Secara umum ciri khas yang menonjol pada lokasi penelitian adalah Topografi yang landai dan ditandai dengan kemiringan lereng yang sangat curam dengan kemiringan lereng yang berkisar ± 35° – 45°. Harzburgit : berwarna hijau tua.3 Peta Topografi dan Morfologi Kondisi morfologi daerah penelitian. Sumber : PT. granular eahedral dalam keadaan segar. Batuan sedimen kapur Berupa batu gamping berwarna putih kelabu dan merah. Stratigrafi daerah Weda project disusun oleh beberapa batuan diantaranya adalah batuan ultra basa dan batuan sediment kapur : Batuan Ultra Basa : Dunit umumnya berwarna hijau tua franerik. alang-alang dan sejenis liana berdaun lebar. merupakan daerah perbukitan yang berlereng curam dengan ketingian mencapai ± 400 – 500 meter diatas permukaan laut. Vegetasi hutan pantai menempati hampir seluruh garis pantai daerah PT.3. menunjukkan umur kapur akhir dengan pengendapan laut dalam. 2. mengandung banyak fosil dan plankton. Geografis Daerah Penelitian 2.2 Vegetasi Daerah Penelitian Vegetasi yang ada pada daerah ini sama halnya dengan daerah sekitarnya dapat dibedakan secara vertikal terdiri dari vegetasi bakau. Daerah dataran hanya ditemukan pada beberapa tempat disepanjng daerah pesisir pantai. dan mengandung olivine > 90% dan piroksin. rumputrumputan. Pada tiap daerah perbukitan terlihat adanya pungungan utama yang kemudian di batasi oleh lembah hingga lereng dengan kedalaman yang sangat berfariasi dan daerah ini dicirikan oleh batuan ultra basa yang menjadi penyusun utama dari daerah ini.3. dan pohon nyamplung.pengayaan hingga mencapai kadar bijih tertentu. granular subhedral mengandung piroksin dan olivine. Sedangkan vegetasi hutan pegunungan . berbutir halus-sedang. Weda Bay Nickel dan sekitarnya.Weda Bay Nickel Gambar 2. Tumbuhan bawah yang terdiri dari tanaman pandan. Proses pelapukan pada batuan ultra mafik tersebut antara lain oleh pensesaran.3. dan vegetasi hutan pegunungan. vegetasi hutan pantai. 2. perlipatan. fanerik sedang. dan pengkekaran yang terjadi dalam waktu yang cukup lama dan berulang-ulang sehingga mineral penyusunnya mengalami desintegrasi dan dekomposisi. Vegetasi yang ada merupakan asosiasi yang terdiri dari pohon kelapa.

3 253. vegetasi yang ada merupakan asosiasi jenis-jenis berdaun jarum seperti cemara.6 227 300 April 408.4 307.3 223.2 355.4 348. Weda Bay Nickel 2010) Average 2008-2010 277. dan hanya sebagian kecil tumbuhan berdaun lebar. PT. yaitu daerah yang beriklim tropis dengan curah hujan dari tahun 2008-2010.8 June 500. rata-rata 307.2mm) 268 222 222 Sumber : (PT.8 August 336.7 481.2 307.1 CURAH HUJAN TAHUN 2008 – 2010 WBN – RAINFALL DATA at Bukit Limber (mm) Month/Year 2008 2009 2010 January 181.disusun oleh sebagian vegetasi yang hampir sama dikepulauan Halmahera dan sekitarnya.4 Iklim dan Curah Hujan Keadaan iklim daerah Santa Monica.8 205.2 May 398.4 310.8 3291.4 383.2 281 December 433. pinus irian.0 361. TABEL 2.7 3467. Pada bagian punggung.2 October 324 110.8 204.1 Kegiatan Pemboran Eksplorasi 3.6 319.2 Average 339.1.2 342.4 110 409.1 369. damar. Weda Bay Nickel pada dasarnya sama dengan keadaan iklim Indonesia pada umumnya dan daerah-daerah di Wilayah Propinsi khususnya.6 Total Rainfall (mm) 4076.9 3034.9 381.2 208.4 422.1 Pengertian Pemboran Eksplorasi .0 427.4 July 588.8 178 November 226.3 373.4 February 318.3 237.8 308 427.3 353.1 September 216 22.3 mm/tahun.7 252. Musim yang berlangsung setiap tahun dipengaruhi oleh keadaan angin yaitu musim utara dan musim selatan diselingi oleh musim pancaroba yang merupakan masa transisi antara kedua musim tersebut.3 BAB III DASAR TEORI 3. 2.4 428 337.1 # Raindays (>0.6 298.4 428.9 329.2 148.3 398.4 March 144.3 Max Monthly Rainfall 588.

Membuka/mengeluarkan core 1. 9. 2. Eksplorasi mineral dan batubara Kontrol pertambangan Keperluan perhitungan cadangan Penirisan tambang Ventilasi tambang Geoteknik Untuk Persiapan eksploitasi bahan tambang Sebagai sarana untuk eksplorasi dengan metode lain (geofisika) 10. 7. 3. 8. Pemboran adalah pembuatan lubang eksplorasi yang daimeternya relative kecil bila di bandingkan dengan kedalamannya. Untuk mengetahui/mempelajari data/informasi geologi (batuan. 6. ruang ataupun suatu areal yang sebelumnya tidak diketahui keberadaannya. Untuk peledakan. Tujuan pemboran secara umum adalah : 1. Pemboran ini biasanya di lakukan pada batuan atau formasi batuan dalam rangka pengumpulan data informasi dan pengambilan conto (sample). Pelaksanaan pemboran sangat penting jika kegiatan yang di lakukan adalah untuk menetukan zona mineralisasi dari permukaan sebaik mungkin.Eksplorasi adalah suatu aktivitas untuk mencari tahu keadaan suatu daerah. 5. mineralisasi). 2. 3. 3. namun demikian kegiatan pemboran dapat di hentikan jika telah dapat mengetahui gambaran geologi permukaan dan mineralisasi bawah permukaan secara menyeluruh. stratigrafi. 4. Istilah eksplorasi geologi yang di pergunakan adalah mencari tahu keberadaan suatu obyek geologi yang pada umumnya berupa cebakan mineral. Buka dengan menggunakan kunci innertube bagian head dan core lifter case Pastikan dop terpasang Sambungan bagian yang ada dopnya (posisi head) dengan join ke pompa air .1. struktur.2 Mengeluarkan dan Menyimpan Core a.

Kunci roods dengan chuck. maka hasilnya adalah kedalaman bor.4 Menghitung Kemajuan Bor dan Core Recovery a. Tuliskan pada bagian muka core box.1. b. Menghitung kemajuan bor 1. Tiap box terdiri dari lima alur penyimpanan core dengan panjang isi 1 meter Simpan core box pada tempat yang aman. 5. Masukkan core pada core box mulai dari bagian atas/head innertube (bagian core yang pertama masuk pada innertube) 5. Angkat rangkaian roods sampai sampai sambungan terlihat di atas spindle. 2. spindle posisikan ke nol. pasang dop. Posisi core searah 6. Menyimpan Core 1. core lifter 7. 1.4. bersihkan split. jumlah rangkaian rood dan core barrel dikurangi selisih pengurangan tinggi spindle. maka innertube assay siap di pergunakan. nomor box. innertube. Ukur dari batas tadi sampai sambungan. maka selisihnya adalah panjang roods yang muncul di permukaan tanah. 9. Siapkan core box Belah split innertube tadi pada posisi datar Ukur dan catat panjang core yang ada pada split innertube 4. pegang split tersebut jangan sampai jatuh Setelah core di keluarkan. dan tulis pada bagian samping kedalaman bor (dari – sampai) dimana box penuh 8. Untuk menjumlahkan rangakaian. 6. kode titik bor. 3. lumuri split dengan pelumas dan masukan kedalam innertube dengan didorong. pasang head innertube. kurangi tinggi spindle dengan hasil pengukuran. Pasang core lifter case. beri tanda. Tuliskan kedalaman bor (dari – sampai) pada core box dengan posisi kedalaman awal pada bagian core sebelah atas dan kedalaman yang di capai pada posisi core sebelah bawah 7. size penginti. Berikan tekanan pompa secara perlahan sehingga split innertube terdorong keluar Pada split mulai terdorong oleh tekanan pompa. Sambungan Dalam Spindel : Setelah bor di hentikan mata bor tetap pada posisi bottom. rood yang belum masuk kebawah permukaan tanah/casing tidak dihitung .

Hitung rangkaian rod dan core barel (rod bagian atas di abaikan) dan jumlahkan dengan panjang rod hasil pengukuran (pengukuran dari batas sampai sambungan). di atas permukaan tanah atau casing dalam perhitungan kedalaman dengan mengabaikan rod bagian atas. Prinsip menghitung core recovery : Pengukuran panjang core sebaiknya dalam split tube/innertube. Kemajuan bor adalah kedalaman akhir dikurangi kedalaman awal. pengayakan. Sambungan di bawah spindle. Konsentrat dulang Prinsip preparasinya adalah pemisahan mineral berdasarkan sifat kemagnetan (magnetic separation). terdapat 2 jenis preparasi: 1. Contoh ruah (bulk samples) Preparasinya meliputi pengeringan. Menghitung Core Recovery Core recovery. 1.1 Pengertian Preparasi Sampel Preparasi merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam mempersiapkan contoh untuk dianalisis. Jumlah rangkaian rod dan core barel di kurangi hasil pengukuran. b. Ukur dari sambungan ke permukaan tanah/casing. 2.2. angkat rangakaian sampai terlihat sambungan. maka hasilnya adalah kedalaman bor 3. kemajuan dan kedalaman bor dihitung dan di catat pada form laporan. ukur dari batas sampai sambungan. penimbangan (pengukuran volume). dan penimbangan masing-masing fraksi. yang metodenya disesuaikan dengan keadaan contoh dan kepentingan. Sambungan di bawah permukaan tanah/casing : Bor posisi netral. itulah kedalaman bor. pengeringan. pendulangan. pemagnetan.2. Berdasarkan keadaan contohnya. ini penting di karenakan kualitas product pengeboran adalah besarnya core recovery yang dihasilkan (max 100%). beri tanda pada rood sejajar permukaan tanah atau casing.2 Preparasi Sampel 3. . pencucian.

tanpa merusak bentuk aslinya.3.2 Prosedur Preparasi Sampel Sebelum dilakukan pengamatan dengan mikroskop. 1/4 mm. Pengeringan Contoh yang diterima dalam keadaan basah dikeringkan terlebih dahulu di udara terbuka atau dalam oven dengan temperatur di bawah 1000 C. 1/8 mm. secara umum preparasi untuk contoh adalah sebagai berikut: 1. Penumbukan Penumbukan hanya dilakukan terhadap contoh berupa sedimen dan batuan padat untuk mendapatkan butiran mineral dan fragmen batuan yang halus. Penghitungan komposisi fraksi Setiap fraksi dihitung persentasenya terhadap berat contoh asal. 7. Pengambilan contoh . dan lebih kecil dari 1/8 mm. Penimbangan Contoh yang sudah kering ditimbang dan dicatat dalam formulir analisis.3 Sampling dan Analisa Ayak 3. 1 mm. 5. 4. Pengayakan Pengayakan dilakukan untuk mendapatkan mineral berdasarkan perbedaan ukuran besar butirnya. 1/2 mm. 3. 3.2. 2.1 Sampling Sampling atau pengambilan sampel/contoh adalah tahap awal dari suatu analisis.3. Pembagian Pembagian contoh (cone quartering/splitting) dilakukan apabila berat contoh yang diterima melebihi kebutuhan (> 1000 gram). Sehingga diperoleh 6 fraksi butiran berukuran lebih besar dari 2 mm. oleh karena itu pengambilan contoh ini dipilih seperlunya saja tetapi representatif.

2. Semakin besar pengambilan dilakukan. 3. Bentuk dan ukuran material Bentuk dan ukuran material akan menentukan cara pengambilan sampel/setiap increment-nya. sedemikian rupa sehingga contoh mewakili sifat seluruh material tersebut. Cara ini sangat sederhana. tetapi perlu diingat segi biaya. Hand sampling Hand sampling adalah suatu cara pengambilan contoh yang dilakukan dengan tangan. Keberhasilan analisis terhadap bahan galian ditentukan berhasil tidaknya hasil sampling. yaitu : 1. Ukuran Populasi Populasi adalah sekumpulan besar material yang akan diambil contohnya.8105-1966. waktu yang diperlukan sedikit. Grab sampling Grab sampling adalah cara pengambilan sampel yang paling sederhana. Dengan cara ini mempunyai keuntungan antara lain adalah lebih murah. Didalam melakukan pengambilan. Sampel yang diperoleh biasanya kurang representatif. dan memerlukan tempat yang tidak begitu luas. . diantaranya adalah : 1. Besarnya populasi akan berpengaruh pada kuantitas atau jumlah contoh yang harus diambil. b.merupakan pekerjaan pengambilan sebagian kecil dari material. rencana pengambilan contoh meliputi beberpa hal. Cara pengambilannya dengan menggunakan sekop tangan dengan jumlah yang sama dan dalam interval tertentu. Increment Adalah jumlah satuan mineral yang dikumpulkan dari populasi sebagai bagian dari contoh yang diperoleh dengan sekali pengambilan contoh. Ada dua mekanisme sampling. lebih baik mengambil contoh beberapa kali dengan jumlah kecil daripada mengambil contoh hanya sekali dengan jumlah yang banyak. sehingga hasilnya sangat tergantung pada ketelitian operatornya. Cara pengambilan contoh secara hand sampling ini ada beberapa macam yaitu : a. serta tenaga. maka semakin baik data yang diperoleh. Menurut Japannese Industrial Standard M. Shovel sampling Shovel sampling adalah cara pengambilan sampel dengan menggunakan shovel. Cara ini memerlukan ketelitian dari operatornya dan dilakukan apabila material yang akan diambil benar-benar homogen (serba sama). Syarat pengambilannya dengan metode ini adalah bahwa sampel yang diambil tidak boleh lebih dari dua inci ukuran butirnya. waktu.

Stream sampling Stream sampling adalah cara pengambilan contoh dengan menggunakan alat yang disebut hand sampel cutter. 1. Bentuk dari alat ini berupa pipa dengan ujung yang satu dibuat rinci dan ujung lainnya dibuat untuk pegangan. Riffle sampler . Seperempat bagian yang bersilangan diambil sebagai sampel untuk dianalisa 1. Pipe sampling Pipe sampling adalah suatu cara pengambilan sampel dengan menggunakan alat pipa atau tabung dengan diameter ½ inchi. Disamping itu dengan cara ini akan didapat hasil yang lebih representative dari pada “ Hand Sampling “.5 inchi. Diambil secukupnya dan dibuat bentuk kerucut (cone) 3. 1 inchi. Kerucut tersebut ditekan hingga bagian atasnya rata membentuk kerucut terpotong. 2. sebagai langkah selanjutnya adalah melakukan pengalisaan. Dilakukan pencampuran (mixing) terhadap material yang akan diambil sebagai contoh. Dari hasil pengambilan contoh baik dengan metode “Hand sampling “ maupun “mechanical sampling”. Sampel yang diambil harus berupa pulp basah dan diambil searah aliran yang ada pada stream tersebut. Langkah-langkah yang dilakukan dalam cara ini adalah : 1. Coning and Quartering Cara ini merupakan cara yang tertua tetapi masih banyak digunakan dalam laboratorium. Cara ini dipakai apabila material yang akan diambil berupa material padat yang tidak terlalu keras dan halus. Pipa tersebut terdiri dari dua buah pipa dimana yang ada dibagian dalam berukuran lebih kecil. kemudian dibagi menjadi empat bagian yang sama besarnya. sehingga antara kedua pipa tersebut terdapat celah untuk tempat sampel nantinya. 4. e. Mechanical Sampling Metode ini biasanya dipergunakan untuk mengambil contoh dalam jumlah banyak dibandingkan dengan cara hand sampling.c. kemudian pipa diputar kekanan dan kekiri kemudian diangkat. d. Contoh alat termasuk mechanical sampling adalah : a. Cara pengambilannya hanya dengan menekankan alat tersebut pada material yang akan diambil dengan posisi tegak lurus.

2 Analisa Ayak Tujuan dari analisa ayak adalah: 1. Mengetahui “Recovery”. Mengetahui “ Ratio of Concentration” 4. Vezin sampler Alat ini pada bagian dalamnya dilengkapi dengan “revolting cutter”. 3. Riffle-Riffle inilah yang berfungsi sebagai pembagi contoh tersebut dengan harapan dapat terbagi sama rata. Dalam analisa ayak ini diperlukan peralatan yang menunjang antara lain adalah : Screen (ayakan) Timbangan Microscop Standar ukuran yang dipakai dalam screen dapat dinyatakan dalam mesh maupun dalam metrik (mm). Ukuran rata-rata material yang menembus lubang ayakan. 3. tergantung numeriknya.3. misalnya 20 mesh berarti dalam satu inchi persegi terdapat 20 lubang. Untuk mesh disini yang dimaksud adalah bahwa dalam satu inchi persegi screen terdapat lubang sebanyak sekian lubang. 2. Pelolosan material dalam pengayakan dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain adalah : a. Jadi dalam mesh ini bukan menunjukkan besarnya diameter dari partikel. tetapi menunjukkan berapa banyaknya lubang pada screen setiap inchi persegi. b. . untuk ukuran dalam mesh maka makin besar angkanya berarti makin halus material itu. Ukuran material yang sesuai dengan lubang ayakan. Mengetahui distribusi partikel pada ukuran tertentu. semakin besar angkanya maka akan semakin besar pula ukuran material itu. Yaitu pemotong yang dapat berputar pada porosnya sehingga akan membentuk suatu area yang bulat/bundar sehingga diharapkan dapat memotong seluruh alur dari bijih. Mengetahui kuantitas produksi suatu alat.Alat ini bentuknya berupa persegi panjang dan pada bagian dalam dibagi menjadi beberapa sekat yang arahnya saling berlawanan. b. Tetapi sebaliknya untuk metric (mm).

Komposisi air dalam material akan diayak.c. Unsur nikel tersebut terdapat dalam kisi-kisi kristal mineral olivin dan piroksin. kandungan air. Sifat lainnya dari feed : seperti berat jenis. 3.2 %. sebagai hasil substitusi terhadap atom Fe dan Mg. Luas penampang permukaan screen b.4. b. d. d. Effisiensi secara umum dalam screen tergantung pada beberapa hal sebagai berikut : a. Proses serpentinisasi yang terjadi pada batuan peridotit . Lamanya feed didalam atau diatas screen Jumlah lubang yang terbuka Kecepatan feed Tebal lapisan feed Cocoknya lubang ayakan dengan bentuk dan ukuran rata-rata material yang diolah. Tipe dari mechanical screen yang di gunakan Effisiensi screen dalam mechanical engineering didefinisikan sebagai perbandingan dari energy out put dengan input. Ukuran bukaan c. Menurut Vinogradov batuan ultra basa rata-rata mempunyai kandungan nikel sebesar 0. Letak pelapisan material pada permukaan sebelum diayak. Proses terjadinya substitusi antara Ni. c.4 Nikel Laterit 3. dan temperature. e. Kapasitas screen pada umumnya tergantung pada : a. Sudut yang dibentuk oleh gaya pukulan partikel. d. e.1 Pengertian Nikel Laterit Batuan induk bijih nikel adalah batuan peridotit. Fe dan Mg dapat diterangkan karena radius ion dan muatan ion yang hampir bersamaan diantara unsur-unsur tersebut. Dengan demikian dalam screening bukannya effisiensi melainkan ukuran keefektifan dari operasi.

Fe. akan merubah batuan peridotit menjadi batuan serpentinit atau batuan serpentinit peroditit. Ni yang larut. Dilapangan urat-urat ini dikenal sebagai batas petunjuk antara zona pelapukan dengan zona batuan segar yang disebut dengan akar pelapukan (Root of weathering).akibat pengaruh larutan hydrothermal. Nikel yang terkandung dalam rantai silikat atau hydrosilikat dengan komposisi yang mungkin bervariasi tersebut akan mengendap pada celah-celah atau rekahan-rekahan yang dikenal dengan urat-urat garnierit dan krisopras. maka ada kecenderungan untuk membentuk endapan hydrosilikat. seperti olivin dan piroksin – mempunyai komponenkomponen yang mudah larut dan memberikan lingkungan pengendapan yang baik untuk nikel. hingga pada suatu kondisi dimana suasana cukup netral akibat adanya kontak dengan tanah dan batuan. 2. Sedangkan proses kimia dan fisika dari udara. 3. Batuan Asal Adanya batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan nikel laterit. Unsur-unsur lainnya seperti Ca dan Mg yang terlarut sebagai bikarbonat akan terbawa kebawah sampai batas pelapukan dan akan diendapkan sebagai dolomit. 3. akhirnya membentuk mineral-mineral seperti geothit. Perbedaan temperatur yang cukup besar akan membantu terjadinya pelapukan mekanis. Reagen-reagen Kimia dan Vegetasi . Bersama mineral-mineral ini selalu ikut serta unsur cobalt dalam jumlah kecil.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Bijih Nikel Laterit 1. Didalam larutan. menyebabkan disintegrasi dan dekomposisi pada batuan induk. menghasilkan Mg. Sedangkan larutan residunya akan membentuk suatu senyawa yang disebut saprolit yang berwarna coklat kuning kemerahan. magnesit yang biasa mengisi celah-celah atau rekahan-rekahan pada batuan induk. Larutan yang mengandung Mg. air serta pergantian panas dingin yang bekerja kontinu. limonit. Pada pelapukan kimia khususnya. Iklim Adanya pergantian musim kemarau dan musim penghujan dimana terjadi kenaikan dan penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan terjadinya proses pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Si cenderung membentuk koloid dari partikel-partikel silika yang sangat halus. dan haematit dekat permukaan. dan Si terus menerus kebawah selama larutannya bersifat asam.4. Ni. Dalam hal ini pada batuan ultra basa tersebut: – terdapat elemen Ni yang paling banyak diantara batuan lainnya – mempunyai mineral-mineral yang paling mudah lapuk atau tidak stabil. air tanah yang kaya akan CO2 berasal dari udara dan pembusukan tumbuh-tumbuhan menguraikan mineral-mineral yang tidak stabil (olivin dan piroksin) pada batuan ultra basa. dimana akan terjadi rekahan-rekahan dalam batuan yang akan mempermudah proses atau reaksi kimia pada batuan. macam batuan asalnya adalah batuan ultra basa. Fe teroksidasi dan mengendap sebagai ferri-hydroksida.

5. Akumulasi andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan sedang. vegetasi akan mengakibatkan: 1. Air tanah yang mengandung CO2 memegang peranan penting didalam proses pelapukan kimia. Akumulasi air hujan akan lebih banyak Humus akan lebih tebal.4. secara teoritis. Untuk daerah yang landai.Yang dimaksud dengan reagen-reagen kimia adalah unsur-unsur dan senyawa-senyawa yang membantu mempercepat proses pelapukan. Selain itu. Dalam hal ini. Pada daerah yang curam. 4. Topografi Keadaan topografi setempat akan sangat mempengaruhi sirkulasi air beserta reagen-reagen lain. vegetasi dapat berfungsi untuk menjaga hasil pelapukan terhadap erosi mekanis. maka air akan bergerak perlahan-lahan sehingga akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan. Penetrasi air dapat lebih dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur akar pohonpohonan 2. dimana hutannya lebat pada lingkungan yang baik akan terdapat endapan nikel yang lebih tebal dengan kadar yang lebih tinggi. Iron Capping . batuan beku mempunyai porositas dan permeabilitas yang kecil sekali sehingga penetrasi air sangat sulit. Profil Endapan Nikel Laterit Profil endapan nikel laterit keseluruhan terdiri dari 4 zona gradsi sebagai berikut: 1. Struktur Struktur yang sangat dominan yang terdapat didaerah Polamaa ini adalah struktur kekar (joint) dibandingkan terhadap struktur patahannya. Asam-asam humus menyebabkan dekomposisi batuan dan dapat merubah ph larutan. jumlah air yang meluncur (run off) lebih banyak daripada air yang meresap ini dapat menyebabkan pelapukan kurang intensif. 3. maka dengan adanya rekahan-rekahan tersebut akan lebih memudahkan masuknya air dan berarti proses pelapukan akan lebih intensif. Waktu Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup intensif karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi. Asam-asam humus ini erat kaitannya dengan vegetasi daerah. hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi. 6. Seperti diketahui. 3. Keadaan ini merupakan suatu petunjuk.3.

5. vein dari endapan garnierite. Sebagian dari nikel pada zona ini hadir di dalam mineral manganese oxide. Terkadang terdapat mineral talc. quartz. dan sempat hilang karena erosi. akan tetapi posisinya tersembunyi. merupakan kumpulan massa goethite dan limonite. maghemite. tremolite. Zona boxwork jarang terdapat pada bedrock yang serpentinized. 4.Berwarna merah tua. Terkadang terdapat mineral opal. mengisi sepanjang fractured dan sebagian menggantikan zona terluar dari unserpentine fragmen peridotite. chlorite. kadang membuka. Frakturisasi ini diperkirakan menjadi penyebab adanya root zone yaitu zona high grade Ni. mangan dan pada beberapa kasus terdapat silika boxwork. chromiferous. butiran halus limonite. Garnierite di lapangan biasanya diidentifikasi sebagai kolloidal talc dengan lebih atau kurang nickeliferous serpentin. quartz. nickeliferous quartz. terisi oleh mineral garnierite dan silika. Terkadang terdapat mineral quartz yang mengisi rekahan. Akumulasi dari garnierite-pimelite di dalam boxwork mungkin berasal dari nikel ore yang kaya silika. Zona ini terfrakturisasi kuat. Tersusun atas bongkah yang lebih besar dari 75 cm dan blok peridotit (batuan dasar) dan secara umum sudah tidak mengandung mineral ekonomis (kadar logam sudah mendekati atau sama dengan batuan dasar). bentukan dari suatu zona transisi dari limonite ke bedrock. 2. Bedrock Merupakan bagian terbawah dari profil laterit. lithiophorite. Limonite Layer Berwarna merah coklat atau kuning. 3. Struktur dan tekstur batuan asal masih terlihat. Silika Boxwork Berwarna putih – orange chert. Lapisan ini tipis pada daerah yang terjal. Terkadang terdapat mineralmineral hematite. saprolitic rims. magnesite. gibsite. lapisan kaya besi dari limonit soil menyelimuti seluruh area. chromiferous. Saprolite Merupakan campuran dari sisa-sisa batuan. sebagian mengawetkan struktur dan tekstur dari batuan asal. . Iron capping mempunyai kadar besi yang tinggi tapi kadar nikel yang rendah. mineral-mineral primer yang terlapukkan.

kegiatan pemboran. logging core.4 Sarana pendukung lainnya Sarana pendukung yang dibutuhkan untuk kegiatan pemboran berupa Core box.1 Drill site pada lokasi penelitian 4. Weda Bay Nickel Kegiatan eksplorasi pada PT. 4.1 Kegiatan Eksplorasi Pada PT.2. core block. kemudian di lakukan pengukuran ulang setelah kegiatan pemboran untuk mengetahui pergeseran titik bor jika ada perubahan koordinat. 4.3 Water line Yang dimaksud dengan water line adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan suplai air dari sumbernya menuju drill site untuk keperluan pemboran. hingga preparasi sampel.2 Drill site Drill Site adalah tempat yang dipersiapkan untuk melakukan aktivitas pengeboran.3 Kegiatan Pemboran Di Lapangan . alat tulis dan meteran serta peralatan lainnya. sampling.2.1 Penentuan titik bor Penentuan titik bor dilakukan oleh tim survai dengan menggunakan alat ukur Total Station sesuai dengan perencanaan yang telah di buat terlebih dahulu oleh departemen eksplorasi. 4. Kemudian dilanjutkan dengan analisa kimia (assay). 4. Weda Bay Nickel meliputi beberapa pekerjaan yang dilaksanakan antara lain persiapan kegiatan pemboran.2. luas drill site sesuai SOP adalah 6×8 meter. dilakukan beberapa pekerjaan antara lain : 4.BAB IV KEGIATAN LAPANGAN 4. Sumber : Dokumentasi Penulis 2010 Gambar 4.2 Persiapan kegiatan pemboran Dalam persiapan kegiatan pemboran.2.

mendinginkan bit .menyalurkan fluida memotong/menghancurkan batuan Diamond seri 2 – 6 menampung core Triple core barrel penyimpanan core . casing. Tabel 4. Weda Bay Nickel dilakukan dengan menggunakan slim rotary drilling (triple core barrel).mengangkat rod. core barrel .Kegiatan pemboran pada PT. Komponen pemboran dan fungsinya ALAT Mesin bor FUNGSI memutar rod mengangkut rod Transportasi Mesin pompa mengatur sirkulasi fluida bor (pembilas) Derek/menara menyangga beban Hoist .menyangga dinding agar tidak ambruk Polimer .membantu memecah batuan .meredam getaran Reiming shell memperbesar lubang Chuck memegang rod Pompa mengatur WOB hidraulik Drill collar menambah WOB Core lifter menahan core dalam core barrel - .mengangkut cuttings ke permukaan .mengantar rod dan bit .1.transpor alat Rod .meneruskan tenaga ke bit SPESIFIKASI Yanmar TF-155 Yanmar TF-55 Top Hole - NQ Bit Core barrel Core box Fluida bor .

Dan data logging core nantinya akan dikomparasikan dengan data assay. dan umumnya keras. Batuan dianggap sebagai corestone bila memiliki panjang ≥5 cm. serta deskripsi lainnya untuk interpretasi bawah permukaan.5 m.Dalam pelaksanaan pemboran. 3.50 m. dan 0. kemudian disimpan dalam core box dan dipisahkan sesuai kedalaman pemboran dengan menggunakan core block. dan setengahnya disimpan untuk berbagai keperluan (Arsip). proses pengambilan inti bor (core) sesuai dengan Standard Operational Procedure (SOP) yang ditetapkan oleh perusahaan. 4.4 Logging core dan sampling Setelah pemboran selesai dilaksanakan. Dilakukan maksimal setiap kedalaman 1 m. selanjutnya dilakukan sampling yaitu kelanjutan dari logging core. 4. Tentukan batasan corestone dengan menggunakan pita biru. Adapun prosedur kerja logging core adalah : 1. Sumber : Dokumentasi Penulis 2010 Gambar 4.3 Sampel yang telah di logging core Setelah di logging. maka selanjutnya sampel dikirim ke Coreshed untuk di lakukan logging. Panjang maksimal break sampling adalah 1. Rubble zone merupakan yang panjangnya <5 cm yang berada dalam zona saprolite. 2. Rangkaian proses ini disebut sebagai Perlakuan sampel. jika core recovery yang didapat >90% dan akan diperpendek menjadi 0. Tentukan batasan lithotype ( limonite. dimana kegiatan ini bertujuan mengambil setengah dari core yang telah dideskripsi dan diberikan tanda break sampling guna keperluan preparasi sampel. .30 m jika core recovery <90%. Tentukan batasan yang akan disampling dengan menggunakan pita merah. Tujuan dari logging core adalah untuk mengetahui ketebalan setiap lapisan. dan hal yang harus diperhatikan adalah pengukuran core dan posisi penyimpanan core jangan sampai terbalik. Core yang didapat selanjutnya diukur untuk mengetahui core recovery. saprolite dan bedrock ). Tentukan rubble zone (zona pecahan) dengan menggunakan pita putih.5 m dan minimal 0. dengan menggunakan pita berwarna kuning.

Weda Bay Nickel ditangani oleh PT. 2. Sample hasil pulverizer dimasukkan kedalam box sample sesuai dengan titik bor dan kode hasil preparasi kemudian dikirim ke laboratorium analisis di Jakarta.1 Preparasi Sample Preaparasi Sample yaitu suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui berapa kadar ore yang ada pada lokasi pemboran atau yang akan ditambang. bila tidak tercapai maka dilakukan pulverizing kembali dengan cara sample dipanaskan terlebih dahulu kemudian dilakukan pulverizing dengan set waktu tambahan 1 menit dan dicek kehalusan sample kembali 5. BAB V PEMBAHASAN 5. Kegiatan Preparasi sample pada PT. Setelah kehalusannya sudah mencapai 200 mesh sample dimixing dan displitting untuk kemudian diambil 100 gram untuk dianalisis dan sisanya dijadikan duplikat.4. Sample yang sudah dalam kondisi kering kemudian ditimbang untuk mengetahui berat keringnya 3. 5.2 Prosedur dan Tahapan-Tahapan Kegiatan Preparasi Sample . apakah lokasi tersebut layak untuk ditambang atau tidak. Setelah mengetahui berat keringnya sample langsung dimasukkan kedalam mesin penghancur ( Jaw Crusher ) untuk dilakukan crushing sampai dengan fraksi 5 mm kemudian dimixing dan direduksi sampai sample tersebut dianggap homogen dengan menggunakan Pullpress. 4. Itertek Testing Services. Langkah – langkah dalam melakukan preparasi sample : 1. Sebelum sample dianalisis. tergantung dari hasil kegiatan Preparasi Sample. Catat berat sample dari lapangan kemudian sample tersebut ditumpahkan ke basin untuk dilakukan pengeringan pada oven selama 24 jam dengan temperatur ± 105 0 C. terlebih dahulu dilakukan preparasi dengan tujuan untuk mereduksi baik jumlahnya maupun ukuran butirnya sampai dengan kehalusan 200 mesh yang representatif dari sample itu sendiri. Cek hasil pulverizing apakah kehalusannya sudah mencapai 200 mesh (95 % harus lolos 200 mesh).5 Preparasi Sample Preparasi sample merupakan suatu pekerjaan untuk mempersiapkan sample dikirim kelaboratorium untuk dianalisis kadar nikelnya. 6.

5. karena akan memperlambat proses pengeringan. Sebelum di masukkan kedalam oven pengering. dengan suhu 1050 C. sample tersebut kemudian di timbang untuk mengetahui berapa berat dan kadar air pada sample. Sumber : Dokumentasi Penulis 2010 Gambar 5. Sample dikeringkan selama 1 X 24 jam atau satu hari. dan untuk menghitung moisture. Sample yang sudah dikeringkan kemudian diditimbang lagi untuk mengetahui berapa % kadar air yang hilang setelah sample dikeringkan. atau untuk menghitung moisture. dimulai dari nomor yang paling kecil. sample harus dicek kembali. Sample yang sudah ditimbang kemudian diatur diatas troly.5. Rumus menghitung moisture : WT1 + WT2 .2. Tetapi sebelum sample dihancurkan. Sample dilogging dan disampling sesuain dengan nomor core box. Sample yang diatur diatas troly tidak bias terlalu banyak.2. Kemudian di masukan ke laboratorium untuk di preparasi. Setelah sample diterima dari core shed.3 Crusher Crusher yaitu tahapan untuk menghancurkan sample yang sudah dikeringkan didalam oven. Pastikan sample sudah pada urutannya dimilai dari nomor yang terkecil sampai pada nomor terbesar dan lihat nomor digit pada lebel alumunium tag yang ada didalam tray. Sebelum sample ditimbang. sedangkan satu troly mampu menampung sample sebanyak 150 sample yang sudah diletakan didalam tray. timbangan ini dapat menimbang sample dengan berat maximal 30 kg.2. Setelah sample cek dan tidak ada masalah. sample yang beratnya lebih dari 2 kg dibagi menjadi dua tray. Sample di timbang. Oven hanya mampu menampung satu buah troly. langkah awal yang dilakukan yaitu sample ditimbang. untuk mempermudah proses pengeringan didalam oven 5.1 Timbang Sample yang sudah dibor dilapangan kemudian dimasukan ke core shed untuk dilogging dan disampling. dalam pengeringan sample ini suhu tidak boleh lebih dari 1050 karena akan mengurangi elemen-elemen dari sample tersebut.1 Proses penimbangan sample Sample ditimbang sesuai dengan nomor urut sample yang sada di didalam tray. timbangan yang gunakan yaitu timbangan digital AND FG < 30 KAM. sample tersebut kemudian dimasukan kedalam oven pengering.2 Drying/Pengeringan Setelah semua sample ditimbang dan telah diatur diatas troly.

WT1 Keterangan : WT1 : Berat Sample Sebelum ditimbang (berat basah) WT2 : Berat Sample Setelah dikeringkan (berat kering) Selanjutnya sample yang sudah ditimbang kemudian dihancurkan (crusher) dengan menggunakan mesin jaw crusher. 3. bowl ini bisa digunakan untuk menggiling sample jenis tanah dan batu. untuk sample . 5. Setelah diroll mix. Untuk sample yang ukurannya lebih dari 2 kg akan digiling 2 kali. bowl ini sama dengan bowl 1000 namun ukurannya lebih besar. tujuannya untuk menyatukan sample yang digiling. waktunya tidak terlalu cepat. setiap selesai menggiling sample bowl harus dibersihkan dengan barren wash/batu batu pembersih yang digunakan yaitu batu rijang (chert). Sample yang sudah dihancurkan kemudian dituangkan ke dalam bowl dan selanjutnya dimasukkan ke dalam mesin penggiling untuk digilling. Bowl 2000. sehingga mampu menggiling sample dengan ukuran maksimal 1 – 2.5 Roll Mix Roll mix yaitu suatu metode yang digunakan dalam kegiatan preparasi sample. Bowl ini hanya bisa menggiling sample dengan ukuran maksimal 400-500 gr. 2. karena bowl ini menggunakan disc seperti pada bowl 500. bowl ini hanya digunakan untuk menggiling sample jenis tanah.7 kg. Sample dihancurkan dengan 5 mm. Pada proses penggilingan ini. Bowl 500.4 Pulverizing Setalah semua sample sudah dihancurkan. namun untuk sample jenis tanah. Mesin penggiling yang digunakan yaitu mesin LAB TECHNIK dari Australia (LM 02).2. sample yang di roll mix hanya yang digiling dua kali. Waktu penggilingan tidak ditentukan karena ada sample yang cepat halus digiling dan ada juga yang lama digiling tergantung volume sample dan type sample. Ada tiga jenis bowl yang digunakan pada tahapan ini yaitu : 1. karena daya tampung dari bowl tidak sampai 2 kg. Bowl 1000. bowl ini menampung sample dengan ukuran maksimal 700 gr. pada tahapan ini seteleh menghancurkan satu sample. untuk menghindari terjadinya kontaminasi pada sample.2. kemudian digiling dengan ukuran butir 200 mesh (200 lubang ayak). untuk sample yang hanya digiling satu kali tidak perlu di roll mix. mesin crusher dibersihkan dengan menggunakan barren wash (batu pembersih 5.

5.2. ITS yaitu satu hari ITS harus menggiling sample sebanyak 100 sample.2. Dalam satu hari ITS mampu manggiling . Sample yang sudah di masukan ke kedalam packet kecil. sedangkan untuk sample yang nomornya tidak masuk pada test kehalusan sample langsung diambil sekitar 100 gr untuk dikirim ke LAB ITS Jakarta untuk dianalisa.dianggap tidak mewakili.7 Packing Yaitu akhir dari tahapan preparasi sample. Weda Bay Nickel kepada PT.8 Target Penggilingan Sample Target penggilingan sample yang diberikan PT. kemudian di masukan lagi kedalam karton kecil lalu bungkus dengan karung yang sudah di sediakan untuk dipacking. selanjutnya sample yang sudah dipacking itu kemudian di timbang dan selanjutnya dibawa ke kantor untuk dikirim ke Jakarta.2. test kehalusan sample menggunakan ayakan 200# (200 lubang ayak) dengan ketentuan bahwa % kehalusan (-200#):95 %-100% atau % kekasaran (+200#):0-5%. (minimum 30 gr) apabila terlalu sedikit.yang nomornya masuk pada test kehalusan sample. dibawa ke meja test kehalusan. Rumus test kehalusan sample : Dimana : A B = Berat Halus (gr) = Berat Kasar (gr) A+B = Total Berat (gr) 5. 5. dan sisanya dimasukan kegudang sebagai arsip.6 Test Kehalusan Sample kehalusan sample harus selalu di test setiap 20 sample dan dicatat dalam buku yang telah disediakan. jumlah sample yang akan di ayak untuk di test tidak boleh tidak terlalu sedikit.

6. Untuk mencapai target. Volume sample 4.sample sebanyak 100 sample bahan lebih dari 100 sample. Kegiatan pemboran. sehingga dalam 1 tahun ITS menggiling sample sekitar 40. Sample dari lapangan kadar airnya cukup banyak 3. Kurangnya crew yang bekerja BAB VI PENUTUP 6. Sample yang besar volumenya dan kadar air yang tinggi harus dibagi dua. Terlambatnya sample yang dimasukkan ke tempat preparasi 1. Proses pengeringan sample yang cukup lama 2. . Sampling. Faktor-Faktor yang mempengaruhi kegiatan preparasi sample : 1. 1) 2) 3) 4) 5) langkah-langkah sebelum melakukan kegiatan preparasi yaitu sebagai berikut: Persiapan kegiatan pemboran. agar mempermudah proses pengeringannya 2. Logging core. maka kami dapat menyimpulkan bahwa: 1.1 Kesimpulan Dari hasil Kerja Praktek. Analisa Laboratorium. pekerjaan di preparasi di bagi dua shift yaitu shift siang dan malam 1.2 Saran 1. Crew yang bekerja harus di tambah.000 sample.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful