MATERI OBSERVASI Objek yang dapat diamati yaitu : a.

Perilaku Verbal: Intonasi jelas, jeda, kelancaran, volume suara, artikulasi, vibrasi suara, gaya bicara, dialog/dialek/logat, salah ucap, kebiasaan, mengucap, kota kata, isi pembicaraan atau materi, gagap. b. Perilaku non-verbal Gerak motorik tubuh, ekspansi wajah, bahasa tubuh, aktivitas, dan isyarat. c. Peristiwa / kejadian Saat dimana kejadian itu berlangsung. Wisuda, ultah, khitanan, pasca bencana, upacara pernikahan. d. Setting. Fisik, waktu, tempat. Kapan terjadinya. Waktu: pagi, siang, sore, malam, saat dihalte. Tempatnya, dikelas, mall atau di lapangan. e. Interaksi Individu Berhubungan dan berkomunikasi secara langsung dengan subyek yang ingin diamati. Menurut Azwar (2001), materi observasi tidak dapat bisa di lepaskan dari scope dan tujuan dari pada penelitian yang hendak dilakukan, perlu sekali observer memusatkan perhatiannya pada apa yang sudah dikerangkakan ( observation guide) dan tidak terlalu insindental pada observasinya, dibawah ini adalah contoh kerangka faktor-faktor yang dapat diobservasi ( observation guide) secara partisipant beserta ciri-ciri tertentu dari faktor-faktor itu: Para pelakunya a. Berapa atau bagaimana jumlahnya, besar-kecil b. Tingkat keaktifan pelaku, aktif-menonton c. Peranan, pemimpin-anggota dll d. Sifat hubungan, erat-longgar Konsekuensi interaksi a. Keinsyafan: kosekuensi disadari-tidak disadari, dilaksanakan tidak dilaksanakan, b. Tujuan: sama-beda, jangka panjang-jangka pendek, dapat dicapa dalam situasi_ tidak dapat dicapai. WAKTU DAN PENCATATAN Jika situasi normal Apabila situasi berjalan normal, maka dilakukan pencatatan sesegera mungkin/pencatatan “on the spot”, sehingga data yang ingin diperoleh tidak hilang atau lupa. (menurut Sutrisno Hadi). Jika situasi tidak normal. a. Situasi obstrusif, subyek mengetahui bahwa sedang diamati sehingga perilaku yang dimunculkan dibuat-buat atau tidak alami.

c.b. seperti hujan atau panas. Gangguan ini bisa dari alam. Gejala observee terlalu cepat. jeda waktunya sangat cepat. Apabila terjadi situasi yang tidak normal kita bisa melakukan pencatatan dengan kode/symbol (coding system) atau pencatatan dengan kata kunci (key word) . Atau bisa juga orang ketiga yang menganggu. Ada gangguan dari luar. Saat kejadian berlangsung.

00 – 09. Seorang anak sedang duduk termenung seorang diri.00 – 11. Dinamika. Waktu jeda < jarak amatan Contoh : Perilaku prososial siswa SD X kelas 2 Waktu Deskripsi 07.4 X amatan . 08. Jadi seorang pengamat harus mencatat segala sesuatu yang dianggap penting agar dapat membuat laporan mengenai hasil pengamatannya. 09. teman sebangkunya meminjami kepada anak itu. melainkan menjadi pengumpul sebanyak mungkin keterangan atas dasar apa yang terlihat mengenai sasaran tadi. Beberapa pertimbangan untuk menempatkan waktu amatan dan waktu jeda a. Pencatatan berbentuk sistematis yaitu pencatatan yang dilakukan dengan memasukkan tiap-tiap gejala yang diamati kedalam kategori tertentu. ternyata uangnya hilang kemudian temannya membelikan minum untuknya. c. Menurut Hadari (2007) dari uruaian tentang alat pengumpul data dalam observasi dapat disimpulkan bahwa pencatatan pada dasarnya dilakukan dalam salah satu dari dua bentuk sebagai berikut : a.waktu pengamatan : 50 menit .00 – 07.00 – 08. Waktu observasi . lalu ketika ada anak perempuan yang melintas diambilkannya buku tersebut. Kemampuan observer mengingat dan meralat data hasil amatan.50 Ketika jam istirahat. b. tanpa memperhatikan urutan kejadiannya. fleksifitas.07.00 Buku pelajaran yang ada diatas meja seorang anak lakilaki terjatuh. Kronologis Bentuk pencatatan yang menekankan pada urutan kejadian/waktu kejadian.BENTUK PENCATATAN Tugas seorang pengamat bukanlah sekedar menjadi penonton dari apa yang menjadi sasaran perhatiannya. Ingatan manusia sangat terbatas waktunya sehingga pengamat perlu selekas mungkin membuat catatan yang terperinci mengenai apa yang dilihatnya. 11. Pencatatan berbentuk kronologis yaitu pencatatan yang dilakukan menurut urutan kejadian b.00 .500 Guru akan menulis materi berikutnya tetapi papan tulis penuh dengan tulisan kemudian seorang anak perempuan menolong menghapuskan. kompleksitas perilaku atau kejadian yang muncul.50 Pada saat awal pelajaran ada seorang anak terlihat lupa membawa buku dan pensil.00 – 11.

Sistematis Kita memasukkan kejadian kedalam kategori atau klasifikasi perilaku yang sejenis. Data yang diperoleh tidak selengkap data kronologis Pencatatan Lapangan Hasil Observasi Asa √ √ . 4. Atau ciri utama kita memasukkan data amatan kedalam klasifikasi atau kategorisasi prilaku yang dibuat sebelum observasi. 2. 3. Menolong guru sehingga tugas belajar √ menjadi lancar. karena tinggal memberi data (misal : √) Kelemahan dari bentuk tersebut : 1. Menolong teman yang sedang kesulitan. 2. reliabilitas dan validitas kurang karena datanya sukar diterjemahkan secara kuantitatif. √ √ Kelebihan dari bentuk yang sistematis adalah : 1. Contoh : Perilaku prososial siswa SD X kelas 2 No Kategori / Klasifikasi prilaku Ayu Abi Abu 1. Konteks waktu bisa dipertahankan 2. Menolong teman dengan memberikan √ √ bantuan sarana/fasilitas belajar. Sudah menjadi data yang kuantitatif 2. lebih praktis. Data deskripsi (kualitatif) ditransfer ke data kuantitatif 2. Tidak bisa melihat urutan kejadian secara utuh. Menolong teman dalam memahami √ √ √ pelajaran.- Jeda waktu : 10 menit Deskripsi Ada bentuk lain Waktu Amatan I Amatan II Amatan III Amatan IV Kelebihan dari bentuk pencatatan kronologis adalah : 1. Bisa mendapatkan data yang lengkap (deskripsi lengkap) Kelemahannya 1.

melahirkan data konkrit berkenaan dengan fenomena yang diamati. Interpretasi dengan memberikan label/penjelasan sifat-sifat tidak dianjurkan. Penulisan catatan lapangan dapat dilakukan dalam cara yang berbeda-beda. Dengan uraian deskriptif sekaligus informatif demikian. Bila relevan dan memungkinkan. Catatan kronologis. Dalam hal ini pengamat bebas membuat catatan dan biasanya dilakukan pada malam hari setelah melakukan observasi. . diberi tanggal dan waktu dan dicatat dengan menyertakan informasi-informasi dasar seperti dimana observasi dilakukan. catatan lapangan perlu juga diisi kutipankutipan langsung apa yang dikatakan obyek yang diamati selama proses observasi. Yang perlu dilakukan adalah menjabarkan situasi yang diamati tanpa segera mengambil kesimpulan tentang hal tersebut. yang dibuat dalam bentuk yang teratur dan ditulis setiap hari.Catatan lapangan berisi tentang hal-hal yang diamati. Guba dan Lincoln telah memberikan pedoman dalam pembuatan catatan: a. yaitu catatan rinci tentang tema yang muncul. sehingga dengan sendirinya juga dapat mengembangkan analisis yang lebih akurat saat menginterpretasikan seluruh data yang ada. Catatan lapangan harus deskriptif. Pembuatan catatan lapangan. Buku harian. sangat mungkin akan kehilangan nuansa yang diamati. dengan keterangan tanggal dan waktu yang lengkap. Pengamat tidak mencatat kesimpulan/interpretasi. bagaimana setting fisik lingkungan. yaitu gambaran umum peristiwa-peristiwa yang telah diamati oleh peneliti. yang isinya diambil dari catatan lapangan. b. Bila pencatatan tidak mungkin dilakukan langsung di lapangan. pengamat meminimalkan biasnya. Untuk mampu menulis catatan lapangan yang lengkap dan informatif. Deskripsi interpretatif dengan menggunakan penyimpulan-penyimpulan dari peneliti harus dihindari. interaksi sosial dan aktivitas apa yang berlangsung dan sebagainya. Yang penting untuk diingat adalah catatan lapangan mutlak dibuat secara lengkap. apapun yang oleh peneliti dianggap penting. Catatan tentang satuan-satuan sistematis. c. yang merupakan catatan rinci tentang urutan peristiwa dari waktu ke waktu. Peneliti harus menyadari ia tidak dapat mengandalkan ingatannya saja dan bila ia tidak segera mencatat apa yang ia amati. peneliti perlu melatih kedisiplinan untuk melakukan pencatatan secara kontinue dan menuliskannya langsung saat melakukan observasi dilapangan. tidak interpretatif. hal tersebut wajib dilakukan sesegera mungkin setelah peneliti meninggalkan lapangan. Penting untuk diingat bahwa peneliti yang baik akan melaporkan hasil observasinya secara deskriptif. siapa yang hadir di sana. Hal itu akan membantu peneliti dalam mengungkap perspektif orang yang diamati mengenai realitas yang alami. d. Deskripsi harus memadai dalam detil dan ditulis sedemikian rupa untuk memungkinkan pembaca memvisualisasikan setting yang diamati.

Taksonomi dan kategori. Banister (1994) mengemukakan hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu membuat catatan observasi. i. yaitu alat perekam suara yang diletakkan secara tersembunyi di tubuh peneliti. f. Deskripsi tentang siapa yang melakukan observasi. Kuesioner. Piranti elektronik. Interpretasi sementara peneliti terhadap kejadian yang diamati. sketsa atau diagram. Peta konteks. dibuat untuk mengecek apakah semua aspek informasi yang diperlukantelah direkam. Pencatatan data faktual yaitu pencatatan gejala yang timbul sebagimana adanya tanpa interpretasi dari observer. b. c. Pertimbangan mengenai alternatif interpretasi lain. juga dapat memperbaiki teknik pengamatan yang dipergunakannya. Panel. n. Jadwal observasi berisi deskripsi waktu secara rinci tentang apa yang dikerjakan. g. yaitu pengamatan terhadap seseorang atau sekelompok orang secara periodik. yaitu : a. Dengan peta konteks ini dapat diperoleh gambaran umum tentang posisi subyek serta perkembangannya. kapan dan lain-lain. b. merupakan diagram hubungan antara subyek yang sedang diamati. k. j. Deskripsi mengenai karakteristik orang-orang yang diamati. yang dapat berbentuk peta. yaitu: a. l. Disamping itu dapat pula dibedakan dua bentuk pencatatan dalam versi data yang dicatat. misalnya kamera/handycam yang disembunyikan. Deskripsi konteks. yang dikembangkan selama analisis di lapangan. yang diisi oleh pengamat untuk memberikan balikan kepada pengamat sehingga dapat lebih mengarahkan dan memperbaiki teknik pengamatannya. Balikan dari pengamat lainnya. apa yang diamati. m. “Topeng Steno”. di mana. h. Siometrik. Deskripsi mengenai perilaku yang ditampilkan orang-orang yang diamati. . d. Daftar cek. g. e. f. Pencatatan secara interpretatif yaitu pencatatan yang dilakukan dengan memberikan interpretasi terhadap gejala yang timbul oleh observer yang berkewajibannn memasukkan atau menggolongkan gejala yang diamatinya kedalam suatu kategori yang telah ditetapkan. Eksplorasi perasaan dan penghayatan peneliti terhadap kejadian yang diamati.e.

peneliti dapat mengamati bagaimana masing-masing an yang kurang bagus. bagaimana hubungan satu karyawan dengan karyawan lainnya. tajam dan sampai mengetahui pada tingkat makna. komponen mesin mana yang masih bagus di proses produksi. Makna adalah nilai-nilai di balik perilaku yang tampak. c. yang terucapkan dan yang tertulis. Selanjutnya dari segi instrumentasi yang digunakan maka observasi dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur. . b. maka data yang diperoleh akan lebih lengkap. dimana tempatnya. Observasi berperan serta (Participan observation) Dalam observasi ini. Sambil melakukan pengamatan. peneliti dapat mengamati bagaimana perilaku pembeli terhadap barang-barang. Peneliti mencatat menganalisis dan selanjutnya dapat membuat kesimpulan tentang perilaku pembeli.JENIS-JENIS OBSERVASI Macam-macam Observasi menurut Sugiyono (2004) Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data. Contoh: dalam suatu pusat belanja. hubungan antara karyawan dengan supervisor dan pimpinan. a. dan tidak sampai pada tingkat makna. Observasi terstruktur Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis tentang apa yang akan diamati. Jadi observasi terstruktur dilakukan apabila peneliti telah tahu dengan pasti tentang variabel apa yang akan diamati. Dalam suatu bekerja dalam mengolah bahan baku. peneliti ikut melakukan apa yang dikedakan oleh sumber data. Barang-barang apa saja yang paling diminati pembeli saat itu.Observasi Non Partisipan Kalau dalam observasi partisipan peneliti terlibat langsung dengan aktivitas-aktivitas orang-orang yang sedang diamati. Pedoman wawancara terstruktur atau angket tertutup dapat juga digunakan sebagai pedoman untuk melakukan observasi. peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau digunakan sebagai sumber data penelitian. dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini. maka dalam observasi non partisipan peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. Ia dapat mengamati bagaimana perilaku karyawan dalam bekerja. keluhan dalam pekerjaan dan lain sebagainya. Pengumpulan data dengan observasi non partisipan ini tidak akan mendapatkan data yang mendalam. bagaimana kualitas barang yang dihasilkan dan bagaimana performance tenaga kerja atau operator mesinnya. observasi dapat dibedakan menjadi participan observation (observasi berperan serta) dan non participan observation. dari setiap perilaku yang nampak. dan barang-barang apa saja yang paling diminati pembeli. bagaimana semangat keduanya. Contoh: Dalam suatu perusahaan peneliti dapat berperan sebagai karyawan. Dalam melakukan pengamatan peneliti menggunakan instrumen penelitian yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya.

peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku.Observasi tidak terstruktur Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. dan (b) pada lingkungan alamiah tiruan (simulated natural environment) sehingga subjek penelitian dapat bebas bereaksi secara alamiah akan tetapi tetap dalam batas-batas fenomena yang dikehendaki oleh peneliti. maka peneliti dapat menilai setiap perilaku dengan menggunakan instrumen yang digunakan untuk mengukur kinerja karyawan tersebut. melakukan analisis dan kemudian dibuat kesimpulan. Oleh karena itu peneliti dapat melakukan pengamatan bebas. berinteraksi langsung dan mengumpulkan data dalam situasi atau lingkungan yang diobservasi (Bagdam & Taylor. menyelidiki perilaku individu dalam situasi sosial. peneliti belum tahu pasti apa yang akan diamati.Contoh: Peneliti akan melakukan pengukuran terhadap kinja karyawan bidang pemasaran melalui pengamatan. Objek observasi adalah fenomena-fenomena yang dibiarkan terjadi secara alamiah. tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan. Observasi alamiah dapat dilakukan pada paling tidak dua arena (settings) yang berbeda. Observasi alamiah yang diadakan pada lingkungan alamiah dicontohkan oleh penelitian. Dalam suatu pameran produk industri dalam berbagai negara. OBSERVASI PARTISIPAN • Observasi terjun langsung. d.. • Untuk riset eksploratif. Menurut Hadi (1991). Dalam melakukan pengamatan. jenis-jenis observasi adalah sebagai berikut : Observasi Partisipasi VS Non Partisipan Observasi Sistematik VS Non Sistematik Observasi Eksperiment VS Non Ekperiment 1. mengenai tradisi sosial suku bangsa dengan partisipan langsung dari fihak peneliti. meleburkan diri. • Hal yang perlu diperhatikan : . yaitu (a) pada lingkungan alamiah (natural environment) berupa "dunia nyata" tempat subjek penelitian berada. Peneliti harus membaurkan diri dalam masyarakat setempat dan mengikuti semua aktivitas sosial yang berlaku sehingga seakan-akan menjadi bagian dari kehidupan sosial subjek penelitian. mencatat apa yang tertarik. 1984). Azwar (2003) menambahkan dalam penelitian dapat menggunakan metode observasi alamiah (naturalistic Observation). Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. dalam pendekatan alamiah ini. observasi dilakukan tanpa adanya campur tangan sama sekali dari pihak peneliti.

Cara pencatatan Memungkinkan jawaban respon. 2. • Hal yang perlu diperhatikan : a. Partical Partisipation juga dibagi menjadi 2 : a. Waktu dan cara pencatatan : dilakukan pencatatan sesegera mungkin agar data tidak hilang atau lupa. Intensive Partical Ikut beberapa aktivitas dan mengali informasi sedalamdalamnya. Intensive Partisipation Menggali informasi yang sedalam-dalamnya / sedetail-detailnya b.a. supaya hubungan yang terjalin setelah melakukan observasi tetap baik. Dalam dan luasnya partisipasi tergantung pada tujuan dan situasi. Surface Partisipation Ikut semua kegiatan. d. Materi observasi : materi yang diobservasi lebih khusus (judul dikhususkan). b. Full Partisipation dibagi menjadi 2 : a. dicatat secara teliti. Observasi Partisipasi dibagi menjadi 2 yaitu : 1. agar subyek tidak tahu kalau sedang diamati. Partical Partipation Observer hanya mengikuti beberapa aktivitas saja. reaksi. Materi observasi : materi yang dibuat sebelum melakukan observasi harus benar-benar matang sehingga tidak lepas dari tujuan yang sebenarnya. Hubungan antara observer dan observee 1) Mencegah kecuriaan observee terhadap observer 2) Mengadakan pendekatan yang baik. Full Partisipation Obseerver ikut semua aktifitas yang dibedakan oleh masyarakat sekitar. untuk lebih memudahkan dapat memakai kode atau kata kunci. c. b. tapi tidak perlu digali lebih dalam /hanya permukaan saja. 3) Menjaga situasi tetap wajar. Surface Partical Hanya permukaan saja/secara garis besar saja. b. 2. OBSERVASI SISTEMATIK (Observasi kerangka berstruktur) • Observer sudah menyiapkan kerangka (pedoman) yang memuat aspekaspek atau ciri-ciri khusus dari tiap variabel yang diamati. Memungkinkan mengadakan kuantifikasi .

Kekurangan Nilai terapan kecil LINCOLN & GUBA (1989) Mengkategorikan bentuk observasi dalam kombinasi 3 dimensi. yaitu : 1. • Ciri-ciri dari observasi eksperimental : a. Observee tidak tahu maksud situasi observasi yang sebenarnya. Kita bisa memunculkan perilaku yang jarang muncul / tampak. situasi yang dibuat oleh observer harus sama untuk semua subyek yang ingin diteliti. 3. Hubungan antara observer dan abservee Mengusahakan pendekatan yang baik. reaksi secara lengkap. karena bila tahu sedang diamati subyek akan memunculkan perilaku yang tidak alami atau dibuat-buat. Dimensi kesadaran subyek (Covert Vs Overt) 2. Peneliti mudah untuk membandingkan antara 1 orang dengan orang yang lain karen ada kontrol yang kuat. sehingga akan memunculkan keunikan atau variasi tingkah laku. Situasi yang seragam untuk semua observee. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku telah dikontrol sehingga tinggal 1 atau 2 faktor yang diamati dari satu karya observasi dapat memunculkan banyak pengetahuan daripada observer natural yang dilakukan dalam waktu yang lama. OBSERVASI EKSPERIMENTAL • Dengan mengendalikan unsur-unsur penting kedalam situasi sedemikian rupa sehingga situasi tersebut dapat diatur sesuai dengan tujuan riset dan dapat dikendalikan untuk menghindari atau mengurangi bahaya timbulnya faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi situasi itu. Contoh : Konsentrasi Belajar Judul : Pengaruh kebisingan terhadap konsentrasi belajar Faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi belajar 1. b. c. Dimensi derajat interaksi dengan subyek (Partisipan Vs Non Partisipant) . c. Suhu 2. Kenyamanan sarana dan prasarana Kelebihan dari observasi eksperimental : a. Seorang observer harus pandai membuat situasi yang mendukung. Situasi dibuat sedemikian rupa sehingga muncul variasi tingkah laku. b. Subyek sebaiknya tidak tahu kalau sedang diamati. Penerangan 3. Dibuat catatan tentang aksi-aksi.c. d.

Observasi Overt – Partisipan – Buatan (OPB) Contoh : Mengobserver pada anak saat dipertontonkan film action.      Jenis-jenis observasi. Partisipan : Terjun langsung. Observasi Overt – Partisipan – Alami (OPA) Contoh : Mengamati adat istiadat sebuah suku di pedalaman di Kalimantan 6. 7. tidak ada perlakuan. dan ada interaksi antara observee dan observer. berdasar kombinasi 3 dimensi : 1. tidak menyadari kalau sedang diamati oleh observer. Observer memberitahukan kepada observer kalau dia sedang diamati. yakni: .3. Observasi Overt – Non Partisipan – Alami (ONA) Contoh : Mengamati orang membuat kue untuk lebaran 8. Overt : Kebalikan dari covert. Observer menjaga jarak dengan observee. dan lain-lain. tanpa ada manipulasi. Observasi Covert – Partisipan – Buatan (CPB) Contoh : Mengajari anak play group untuk berkreasi dengan tepung dan pewarna. Observasi Covert – Non Partisipan – Alami (CAN) Contoh : Mengamati pendukung festival band. Non Partisipan : Tidak terjun langsung dan tidak terjadi interaksi antara observee dengan observer. 5. Ada rekayasa kecintaan. Observasi Overt – Non Partisipan – Buatan (ONB) Contoh : Lomba memasak yang diadakan saat 17 an. tidak memberikan reaksi/tanda kalau dirinya sedang mengamati observee. Buatan : Lingkungan yang kita buat sedemikian rupa. Dan biasanya ada perlakuan. Alami : Tempat kita melakukan observasi adalah tempat yang aslinya situasi yang apa adanya. 4. Obsevee tahu bahwa dirinya sedang diamati oleh observer. Observasi Covert – Partisipan – Alami (CPA) Contoh : Melihat demonstrasi di Kantor Pos Malioboro 2. Contohnya : pasar. pengharapan bisa muncul. ada manipulasi. 3. Dimensi situasi observasi (alam/natural Vs buatan/contrived)  Covert : Observasi (subyek) yang sedang diamati. Observer tidak memberitahu. Patton menjelaskan berbagai alternatif cakupan dalam pendekatan observasi yang perlu dipertimbangkan dengan baik. Observasi Overt – Partisipan – Buatan (OPB) Contoh : Reka adegan sebuah pembunuhan di sebuah rumah. mall.

konteks politis. tinjauan etis mengungkapkan problema berbeda: apakah etis melakukan observasi sistematis tanpa memberi tahu dan meminta izin? Apakah observasi perlu dilakukan dalam jangka waktu lama/cukup dalam waktu yang terbatas? Dalam tradisi studi antropologis. berpartisipasi langsung sekaligus mengamati dan melakukan introspeksi. maupun pertanyaan-pertanyaan peneliti. Apakah pengamat berpartisipasi aktif dalam setting yang diamatinya ataukah ia menjadi pengamat pasif. sebagian peneliti berpendapat observasi yang tidak terbuka (covert) akan memungkinkan peneliti menangkap kejadian yang sesungguhnya daripada observasi terbuka. 2. dalam studi ilmu sosial fenomena osial pada umumnya tujuan digunakannya observasi adalah untuk mengungkap kompleksitas dan pola-pola realitas sosial. Hal-hal tersebut tidak dilakukan peneliti yang melakukan observasi tidak terlibat (tidak partisipasif). Keputusan sejauh mana peneliti perlu terlibat dalam aktivitas yang diteliti akan tergantung pada pada banyak hal. ataukah secara tertutup/terselubung? (overt/covert) Diyakini bahwa manusia pada umumnya akan bertingkah laku berbeda bila tahu bahwa mereka diamati. Bila sebagian peneliti menyatakan keterlibatan aktif dalam konteks yang diamati merupakan cara paling ideal. dalam arti tidak terlibat dalam aktivitas yang diamatinya tersebut? (partisipasi/non partisipasi) Pengamat yang partisipasif akan menggunakan strategi pendekatan lapangan yang beragam: secara simultan mengkombinasikan analisis dokumen.1. maupun konteks sosial politik yang melingkupi fenomena yang diteliti. mewawancara responden dan informan. Dalam situasi yang demikian. Dalam kasuskasus tertentu. dengan maksud agar peneliti dapat memperoleh pemahaman holistik mengenai budaya kelompok yang ditelitinya. yang penting adalah . apalagi bila fenomena yang diteliti adalah fenomena spesifik yang berlangsung pada saat-saat tertentu saja. waktu observasi yang terlalu lama tidak diperlukan. individu yang tidak menyadari bahwa ia sedang diamati akan bertingkah laku biasa (tidak dibuatbuat/disesuaikan dengan harapan sosial). keterlibatan dan partisipasi aktif pengamat justru dapat memunculkan masalah dan mengganggu langkah-langkah pengumpulan data. dilakukan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. antara lain sifat fenomena yang diteliti. Patton menganjurkan agar kita tidak perlu berpikir demikian. observasi dapat berlangsung sangat lama. Meski demikian. 3. Apakah peneliti melakukan observasinya secara terbuka. sifat interaksi peneliti-subjek penelitian. Sementara. Untuk studi yang lebih praktis. Yang paling penting adalah menegosiasikan dan menyesuaikan derajat partisipasi aktif peneliti dengan karakteristik subjek/objek penelitian. Karenanya. Sebaliknya.

Ada pula observasi yang sempit. 4. stop watch/alat-alat yang lebih canggih seperti perekam suar dan gambar. kehadiran dalam area penelitian hanya untuk melakukan observasi tetapi tidak diketahui oleh subyek yang diamati. 2. dalam situasi seperti ini dibutuhkan perhatian meluas pada semua aspek yang terlibat. penggunaan komputer (note book). keberhasilan peneliti melakukan observasi terhadap fenomena khusus yang jarang terjadi tersebut. Pemberian umpan balik: Apakah umpan balik (perlu) diberikan kepada orang-orang yang diamati? Bila umpan balik disampaikan. 3. Variasi dalam struktur observasi: Dapat bervariasi mulai dari observasi yang dilakukan secara sangat terstruktur dan mendetail sampai pada observasi yang tidak terstruktur. misalnya dengan memfokus pada aspekaspek/elemen-elemen tertentu saja dari keseluruhan fenomena yang kompleks. dipakainya lembar pengecek. Pengamatan semacam itu juga bisa dilakukan dengan cara menggunakan handycam sehingga peneliti benar-benar tidak melakukan peran sam sekali. Variasi dalam fokus observasi: Dapat bervariasi mulai dari dikonsentrasikan secara sempit pada aspekaspek tertentu saja (misal: bentuk komunikasi non verbal tertentu saja)/diarahkan secara luas pada berbagai aspek yang dianggap relevan. Variasi berkenaan dengan fokus observasi: fenomena utuh/aspek-aspek khusus? Ada observasi yang difokuskan pada fenomena utuh. Sedangkan Banister (1994) menambahkan beberapa variasi pendekatan yang perlu dipertimbangkan lebih lanjut: 1. misalnya dengan menggunakan kaca “one way mirror” seperti pengamatan pada sekolompok anak-anak dengan perilakunya di dalam kelas dalam suatu ruangan/kelas. Observasi ini bisa dilakukan. sejauh mana informasi akan disampaikan dan mengapa? Observer Spradley (1980) menyebutkan bahwa peran observer dalam metode observasi adalah: 1. Observer berperan pasif . Variasi dalam metode dan sarana/instrumen yang digunakan untuk melakukan dan mencatat observasi: Mulai dari tulisan tangan. /menggunakan teropong jarak jauh untuk mengamati perilaku seorang/sekelompok orang. Observer tidak berperan sama sekali Dalam observasi observer tidak berperan. 2.4.

4. Kehadirannya sebagai orang asing diketahui oleh orang yang diamati dan bagaimanapun hal itu membawa pengaruh. peneliti harus segera membuat catatannya secepatnya sebelum tertumpuk oleh informasi lainnya. Untuk mengobservasi tentang perkembangan anak maka seorang observer . bukan sekedar partisipasi aktif dalam kegiatan subyek yang diteliti. Keberadaan peneliti sebenarnya diketahui oleh subyek yang diteliti. 3. tetapi peneliti telah dianggap sebagai bagian dari mereka dan kehadirannya tidak mengganggu/mempengaruhi sifat naturalistiknya. Tetapi setelah selesai melakukan pengamatan. Pengertian observer tentang gejala yang diobservasi. Agar kehadiran peneliti tidak mempengaruhi sifatalamiah subyek. Prasangka-prasangka dan keinginan-keinginan dari observer. Dalam jenis ini observer mendatangi peristiwa. 4. Observer berperan penuh Pada observasi ini peneliti ini bisa jadi sebagai anggota resmi dari kelompok yang diamati/sebagai orang dalam/orang luar tetapi telah dianggap sebagai orang dalam. kemampuan pengamatan dan ingatan manusia. Peran peneliti dalam observasi terlibat penuh. indera pada suatu waktu. 6. Observer berperan aktif Dalam observasi ini peneliti dapat memainkan berbagai peran yang dimungkinkan dalam suatu situasi sesuai dengan kondisi subyek yang diamati. Keterbatasan panca indera. Dalam melakukan observasi ada beberapa hal yang mempengaruhi kecermatan dalam observasi. akan tetapi kehadirannya di lapangan menunjukkan peran paling pasif. Ketepatan alat dalam observasi. 2. Ketelitian pencatatan hasil-hasil observasi. 8. Keterbatasan wilayah pandang. tetapi juga bisa lebih menjadi pengarah acara agar sebuah peristiwa terarah sesuai dengan skenario peneliti agar kedalaman dan keutuhan datanya tercapai. Cara ini dilakukan semata untuk dapat mengakses data yang diperlukan bagi penelitian.3. Oleh karena itu untuk dapat menjadi seorang observer yang baik harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut: 1. 7. Ketangkasan menggunakan alat-alat pencatatan. yaitu: 1. 5. sebaiknya peneliti tidak membuat catatan selama penelitian. kecuali mungkin dengan menggunakan perekaman secara tersembunyi. Apa yang dilakukan peneliti tak ubahnya sebagaimana yang dilakukan subyek yang diteliti. Mengerti latar belakang tentang materi yang akan diobservasi. Kemampuan menangkap hubungan sebab akibat tergantung pada keadaan mental.

Contoh: ekspresi wajah marah.2. Seorang obsever hendaknya mempunyai kemampuan untuk membedakan tanda-tanda tingkah laku agar dapat membedakan tingkah laku yang satu dengan yang lain. 5. Seorang observer harus bisa memahami dengan cepat perilaku yang ditunjukkan oleh observee dan bagaimana respon yang harus diberikan. harus menguasai teori tentang perkembangan yang harus dilalui oleh setiap anak. Juga perlu mengetahui perbedaan mengekspresikan emosi ke dalam perilaku bagi masing-masing kelompok masyarakat. 3. Menjaga hubungan antara observer dan observee. Dapat melihat hal-hal yang detail Seorang observer harus mampu mengamati perilaku observee sampai pada perilaku yang sekecil-kecilnya. 4. sedih dan gembira. Dapat mereaksi dengan cepat dan menerangkan contoh-contoh tingkah laku secara verbal/non verbal. . 6. karena bisa saja perilaku yang dianggap tidak penting justru merupakan perilaku yang sangat penting. Membagi perhatian. Kemampuan menjalin hubungan baik dengan observee merupakan faktor yang sangat penting dalam observasi. Mampu memahami kode-kode/tanda-tanda tingkah laku untuk membedakan tingkah laku yang satu dengan yang lain. Seorang observer harus mampu membagi perhatiannya antara mengamati tindakan yang dilakukan oleh observee dan mencatat perilaku tersebut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful