DEFINISI Vektor adalah organisme yang tidak menyebabkan penyakit tapi menyebarkannya dengan membawa patogen dari satu

inang ke yang lain. Berbagai jenis nyamuk, sebagai contoh, berperan sebagai vektor penyakit malaria yang mematikan. Pengertian tradisional dalam kedokteran ini sering disebut "vektor biologi" dalam epidemiologi dan pembicaraan umum. Dalam terapi gen, virus dapat dianggap sebagai vektor jika telah di-rekayasa ulang dan digunakan untuk mengirimkan suatu gen ke sel targetnya. "Vektor" dalam pengertian ini berfungsi sebagai kendaraan untuk menyampaikan materi genetik seperti DNA ke suatu sel. (Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas). Peraturan Pemerintah No.374 tahun 2010 menyatakan bahwa vektor merupakan arthropoda yang dapat menularkan, memindahkan atau menjadi sumber penularan penyakit pada manusia. Sedangkan menurut, vektor adalah arthropoda yang dapat memindahkan/menularkan suatu infectious agent dari sumber infeksi kepada induk semang yang rentan. Vektor penyakit merupakan arthropoda yang berperan sebagai penular penyakit sehingga dikenal sebagai arthropod - borne diseases atau sering juga disebut sebagai vektor – borne diseases yang merupakan penyakit yang penting dan seringkali bersifat endemis maupun epidemis dan menimbulkan bahaya bagi kesehatan sampai kematian. Di Indonesia, penyakit – penyakit yang ditularkan melalui serangga merupakan penyakit endemis pada daerah tertentu, seperti demam berdarah, Dengue (DBD), malaria, kaki gajah, Chikungunya yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Disamping itu, ada penyakit saluran pencernaan seperti dysentery, cholera, typhoid fever dan paratyphoid yang ditularkan secara mekanis oleh lalat rumah. ada 4 faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya suatu penyakit : 1. Cuaca Iklim dan musim merupakan faktor utama yang mempengaruhi terjadinya penyakit infeksi. Agen penyakit tertentu terbatas pada daerah geografis tertentu, sebab mereka butuh reservoir dan vektor untuk hidup. Iklim dan variasi musim mempengaruhi kehidupan agen penyakit, reservoir dan vektor. Di samping itu perilaku manusia pun dapat meningkatkan transmisi atau menyebabkan rentan terhadap penyakit infeksi. Wood tick adalah vektor arthropoda yang menyebabkan penularan penyakit yang disebabkan ricketsia. 2. Reservoir Hewan-hewan yang menyimpan kuman patogen dimana mereka sendiri tidak terkena penyakit disebut reservoir. Reservoir untuk arthropods borne disease adalah hewan-hewan dimana kuman patogen dapat hidup bersama. Binatang pengerat dan kuda merupakan reservoir untuk virus encephalitis. Penyakit ricketsia merupakan arthropods borne disease yang hidup di dalam reservoir alamiah.seperti tikus, anjing, serigala serta manusia yang menjadi reservoir untuk penyakit ini. Pada banyak kasus,kuman patogen mengalami multifikasi di dalam vektor atau reservoir tanpa menyebabkan kerusakan pada intermediate host.

Penyakit ini ditularkan melalui gigitan tungau yang terinfeksi. Berikut jenis dan klasifikasi vektor yang dapat menularkan penyakit : Arthropoda yang dibagi menjadi 4 kelas : 1. terdapat ordo dari kelas hexapoda yang bertindak sebagai binatang pengganggu antara lain:   Ordo hemiptera. Dari kelas hexapoda dibagi menjadi 12 ordo. Kelas hexapoda (berkaki 6) : misalnya nyamuk . dan merupakan salah satu phylum yang terbesar jumlahnya karena hampir meliputi 75% dari seluruh jumlah binatang. Kelas crustacea (berkaki 10): misalnya udang 2. seperti Rocky Mountains spotted fever merupakan penyakit bakteri yang memiliki penyebaran secara geografis. kelembaban dan curah hujan) dan fauna lokal pada daerah tertentu. Ordo Anophera yaitu kutu kepala  Kutu kepala sebagai vektor penyakit demam bolak-balik dan typhus exantyematicus. kebersihan individu dan lingkungan dapat menjadi penyebab penularan penyakit arthropoda borne diseases. kebiasaan manusia.membuang sampah secara sembarangan. Kelas Myriapoda : misalnya binatang berkaki seribu 3. contoh kutu busuk Ordo isoptera. contoh rayap . 4. Perilaku Manusia Interaksi antara manusia.3. Jenis-jenis Vektor Penyakit Sebagian dari Arthropoda dapat bertindak sebagai vektor. Ordo Dipthera yaitu nyamuk dan lalat    Nyamuk anopheles sebagai vektor malaria Nyamuk aedes sebagai vektor penyakit demam berdarah Lalat tse-tse sebagai vektor penyakit tidur b. Ordo Siphonaptera yaitu pinjal  Pinjal tikus sebagai vektor penyakit pes c. Geografis Insiden penyakit yang ditularkan arthropoda berhubungan langsung dengan daerah geografis dimana reservoir dan vektor berada. Kelas Arachinodea (berkaki 8) : misalnya Tungau 4.oleh ricketsia dibawa oleh tungau kayu di daerah tersebut dan dibawa oleh tungau anjing ke bagian timur Amerika Serikat. Bertahan hidupnya agen penyakit tergantung pada iklim (suhu. Selain vektor diatas. antara lain ordo yang perlu diperhatikan dalam pengendalian adalah : a. yang mempunyai ciri-ciri kakinya beruas-ruas.

Melalui makanan dan air d. lipan. vektor mempunyai peranan yaitu sebagai pengganggu dan penular penyakit. yang kebanyakan speciesnya penting secara medis. semut. Tikus kecil (mice). Melalui hewan e. Penularan penyakit pada manusia melalui vektor penyakit berupa serangga dikenal sebagai arthropod . dapat dibagi menjadi 2 golongan : a. kelas Arachinida serta kelas Crustacea. kutu busuk. (Rat) Contoh : -Rattus norvigicus (tikus riol ) -Rattus-rattus diardiil (tikus atap) -Rattus-rattus frugivorus (tikus buah-buahan) b. kumbang. kecoa/lipas. atau vektor organisme yang dapat menularkan penyakit pada manusia. dll. Vektor penyakit dari arthropoda yang berperan sebagai penular penyakit dikenal sebagai arthropod . Arthropoda yang Penting dalam dunia Kedokteran adalah arthropoda yang berperan penting sebagai vektor penyebaran penyakit (arthropods borne disease) dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Melalui vektor arthropoda. pinjal. contoh belalang Ordo coleoptera. Dari orang ke orang b. Peranan Vektor Penyakit Secara umum. membuat klasifikasi arthropods borne diseases pada kejadian penyakit epidemis di Amerika Serikat Transmisi Arthropoda Bome Diseases . tungkai bersatu. kutu kepala. lalat. Melalui udara c. Vektor yang berperan sebagai pengganggu yaitu nyamuk.Contoh:Mussculus (tikus rumah) Arthropoda [arthro + pous ] adalah filum dari kerajaan binatang yang terdiri dari organ yang mempunyai lubang eksoskeleton bersendi dan keras. Paul A.borne diseases atau sering juga disebut sebagai vector – borne diseases. Agen penyebab penyakit infeksi yang ditularkan pada manusia yang rentan dapat melalui beberapa cara yaitu : a. Arthropods Borne Disease Istilah ini mengandung pengertian bahwa arthropoda merupakan vektor yang bertanggung jawab untuk terjadinya penularan penyakit dari satu host (pejamu) ke host lain. Ketchum. Tikus besar. sebagai parasit. dan termasuk di dalamnya kelas Insecta. contoh kecoak Sedangkan dari phylum chordata yaitu tikus yang dapat dikatakan sebagai binatang pengganggu.borne diseases atau sering juga disebut sebagai vector – borne diseases.  Ordo orthoptera.

Definitive Host dan Intermediate Host Disebut sebagai host definitif atau intermediate tergantung dari apakah dalam tubuh vektor atau manusia terjadi perkembangan siklus seksual atau siklus aseksual pada tubuh vektor atau manusia. maka nyamuk anopheles adalah host definitive dan manusia adalah host intermediate. 2. sebagai contoh scabies. sebagai contoh parasit malaria dalam tubuh nyamuk anopheles berkisar antara 10 – 14 hari tergantung dengan temperatur lingkungan dan masa inkubasi intrinsik dalam tubuh manusia berkisar antara 12 – 30 hari tergantung dengan jenis plasmodium malaria.developmental. Extrinsic Incubation Period dan Intrinsic Incubation Period Waktu yang diperlukan untuk perkembangan agen penyakit dalam tubuh vektor Disebut sebagai masa inkubasi ektrinsik. . 4. Propagative. Cyclo – Propagative dan Cyclo . Banyak cara yang dapat digunakan dalam aplikasi antara lain pengasapan (Fogging) dan penyemprotan (Spraying). 1. cyclo – propagative dan cyclo . Inokulasi (Inoculation) Masuknya agen penyakit atau bibit yang berasal dari arthropoda kedalam tubuh manusia melalui gigitan pada kulit atau deposit pada membran mukosa disebut sebagai inokulasi. 5. PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT Upaya pengendalian serangga sebagai vektor penyakit terutama lalat dan nyamuk dapat dilakukan dengan menghilangkan tempat (habitat) sebagai sarang dan perlindungan lingkungan manusia dengan mencegah keberadaan vektor. Pengendalian vektor penyakit dengan bahan kimia menggunakan insektisida harus dilengkapi dengan peralatan aplikasi. dengue (DBD) bila agen penyakit mengalami perubahan siklus dan multifikasi dalam tubuh vektor disebut cyclo – propagative seperti parasit malaria dalam tubuh nyamuk anopheles dan terakhir bila agen penyakit mengalami perubahan siklus tetapi tidak mengalami proses multifikasi dalam tubuh vektor seperti parasit filarial dalam tubuh nyamuk culex. khusus pada arthropods borne diseases ada dua periode masa inkubasi yaitu pada tubuh vektor dan pada manusia. apabila terjadi siklus sexual maka disebut sebagai host definitif. sebagai contoh parasit malaria mengalami siklus seksual dalam tubuh nyamuk. 3. bila agen penyakit atau parasit tidak mengalami perubahan siklus dan hanya multifikasi dalam tubuh vektor disebut propagative seperti plague bacilli pada kutu tikus.Masuknya agen penyakit kedalam tubuh manusia sampai terjadi atau timbulnya gejala penyakit disebut masa inkubasi atau incubation period. Upaya dan tindakan pencegahan serta pengendalian vektor bertujuan menekan populasi dan kepadatan vektor sampai batas yang tidak merugikan dan membahayakan kesehatan manusia yang bertujuan memutus mata rantai penularan agent penyakit.Developmental Pada transmisi biologik dikenal ada 3 tipe perubahan agen penyakit dalam tubuh vektor yaitu propagative. Infestasi (Infestation) Masuknya arthropoda pada permukaan tubuh manusia kemudian berkembang biak disebut sebagai infestasi.

Upaya pengendalian ini sangat cocok dilaksanakan dalam kondisi : 1. Malathion murni Technical Grade Insecticides (TGI) dengan Dosis murni 438 gr sama dengan 500 ml setiap hektar dengan cara sebagai . Pada panduan ini menjelaskan beberapa prinsip tentang : 1. Pulsfog. jatuh dan mati (Knock Down Effect). pergerakan dan distribusi vektor serta pola penularan penyakit berdasarkan prinsipprinsip epidemiologis. Insektisida yang umum digunakan adalah Malathion dalam larutan yang diencerkan sebanyak 4. Pengasapan dapat dilakukan dengan mesin aplikator/mesin fogging dengan merek yang beragam. Dynafog. · Sistem panas (Thermal System) Sistem panas merupakan cara aplikasi insektisida bersama peralatannya menghasilkan panas yang keluar bersama asap/fog dari mesin aplikator dari pemecahan larutan insektisida yang disemburkan udara panas dari cerobong/knalpot hasil pembakaran dari mesin aplikator. Terhadap vektor / serangga sasaran pengendalian sesuai kesukaan menggigit dan tempat menggigit (feeding) 3. Pada beberapa daerah pedesaan dan kota yang belum memiliki tata ruang (landscape) yang baik untuk mencegah keberadaan vektor.5 % Pelarut (Solar ataupun Minyak Tanah). Penggunaan larvasida yang menimbulkan kekhawatiran pencemaran konsumsi air bersih. panas dan kecepatan angin yang ekstrim. Kondisi ini sangat cocok pada luar ruangan (outdoor) dengan cakupan areal ± 40 sampai dengan 50 hektar dengan jangkauan jarak pengasapan dan penyemprotan sampai dengan 100 meter dengan waktu operasional setiap siklusnya mencapai 3 jam. SN 50. antara lain Swingfog SN 11. Pengendalian juga memberi gambaran upaya bermakna dalam membatasi dan menekan populasi. Jetfog dan Superfogger. Penanggulangan outbreak / wabah / Kejadian Luar Biasa (KLB) dimana peran vektor dalam menularkan bibit penyakit dapat diputus pada setiap fase hidup vektor 2. 5. 4. Asap yang keluar dan kontak dengan udara serta bidang pengasapan terhadap vektor sasaran setelah dikontakan dengan efek sasaran akan lemah. Penggunaan sistem ini sangat cocok di dalam ruangan (Indoor) karena efektifitasnya tidak terlalu dipengaruhi oleh perubahan cuaca seperti suhu. · Sistem Pengasapan Dingin (Cold (Fogging) System) Sistem ini biasanya menggunakan alat aplikator Ultra Low Volume (ULV) berupa aerosol dingin yang disemprotkan dengan batuan kendaraan khusus sebagai space spraying yang menggunakan racun insektisida yang relatif lebih sedikit pada areal yang lebih luas.

00 sampai jam 11.1 – 50 micron harus mengenai serangga (vektor) atau nyamuk sasaran yaitu tubuh nyamuk. PRINSIP APLIKASI FOGGING Diperlukan tim atau tenaga khusus yang bertanggung jawab dan mengetahui aspek perencanaan dan teknis operasional fogging. Albopictus adalah : § § Pagi Sore hari hari harus dilakukan antara antara jam jam 16. 2. yang shock ataupun meninggal 2.00 06.berikut : Insektisida yang umum digunakan adalah Malathion dalam larutan yang diencerkan sebanyak 45 % Pelarut (Solar ataupun Minyak Tanah). dengan demikian fog yang diaplikasikan harus merata disemua areal/bidang fogging.Adanya kasus/penderita terutama penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). menutup. Fogging Focus Merupakan kegiatan pengendalian nyamuk Aedes aegypti pada areal Kasus DBD dalam radius ± 100 m dari titik kasus (Rumah Penderita) dengan 2 kali siklus fogging antara ( 7 – 14 hari) biasanya diikuti dengan abatisasi.00 terbenam. dan menimbun (3M plus). Fogging untuk nyamuk Anopheles dilakukan pada kasus Malaria yang tinggi dengan sasaran adalah rumah-rumah dalam areal tertentu. Indikasi Daerah Pengasapan . 1. berikut dengan turun : sampai matahari sebagai Pengasapan § § Jangan Jangan memperhatikan pengasapan saat keadaan angin saat berhembus akan kencang hujan dilakukan pengasapan . Fogging Massal Merupakan fogging yang dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan pengendalian lainnya yaitu Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan Gerakan menguras. Kabut (fog) ataupun asap yang mengandung percikan aerosol dengan ukuran berkisar 0. Jumlah kasus meningkat Waktu dalam periode waktu tertentu Pengasapan Waktu yang baik dilakukan pengasapan untuk pengendalian nyamuk Aedes aegypti dan Ae. Fogging dilaksanakan dalam pengendalian vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) : 1.

Bahan .§ Jangan dilakukan pengasapan saat Suhu udara tinggi (kondisi panas terik). Jerican. saat fogging § Peracikan dan Formulasi insektisida yang digunakan.5 %. Ember dan Pengaduk. Penggunaan malathion merupakan bahan terbesar. 3. Masker.0 1. Sepatu dan Pelindung mata (Goggles) dan kain Lap/Serbet 3. Dengan prediksi Perhitungan Insektisida Bahan : * * 1. § Tentukan petugas Penentuan Route Operasional operator dan pemandu/-pendamping dan alur pengasapan Pengasapan. 3. 6.9 1. ada juga menggunakan Merk Vectron Solution. Cynoff dalam bentuk tepung dan Icon 25 EC dll. Untuk Asap yang 0. Malathion murni Technical Grade Insecticides (TGI) dengan Dosis murni 438 gr sama dengan 500 ml setiap hektar dengan cara sebagai berikut : 1 liter malathion 96 % Emulsi Concentrate (EC) ditambahkan dengan 19 Liter solar (Menjadi 20 Liter larutan) campuran malathion 4. § § § Pemetaan Penentuan Persiapan Wilayah Jadwal Persiapan operasional Fogging (Denah I dan dan Alur Pengasapan Transportasi) Siklus II Pengasapan Peralatan Siklus maupun Bahan Petugas. 2. makanan dan hewan peliharaan dilindungi dengan baik § 4.4 kapasitas keluar mm mm mm mm mm mm Tangki 5-6 Liter untuk Ukuran Nozzle : à 10 liter/jam à 14 liter/jam à 17 liter/jam à 20 liter/jam à 24 liter/jam à 30 liter/jam § Peralatan utama yang digunakan adalah mesin aplikator/ mesin fogging (Swingfog) Peralatan lain seperti Corong. 4. Pengasapan § Penentuan Formulasi dan Konsentrasi serta besarnya Nozzle mesin aplikator § Persiapan Rumah-rumah (Pintu dan Jendela dibuka terlebih dahulu) Penduduk keluar dari rumah.1 1. sarung tangan Topi. Peralatan Proteksi antara lain.8 % untuk aplikasi ( 1 Berbanding 20 ) atau 1 liter malathion 50 % EC + 10 Liter Solar menjadi 11 Liter Malathion 4.8 0. 5.2 1. Literan.

tanah) (Premium) kebersihan 4. 8. malathion. 9. 7. Literan. Untuk Rumah yang telah difogging personil lain segera menutup pintu dan memberi penjelasan kepada penghuni : à Tidak perlu membersihkan sisa pengasapan di dinding dan lantai. 2. Personil lain melakukan persiapan space pengasapan rumah dan lingkungannya dengan perhatian makhluk hidup lain yang terkena (Ikan. ataupun Bakar untuk cuci Icon 25 minyak dan EC dll. Peracikan dan Formulasi insektisida yang digunakan. anjuran PSN & 3 M plus untuk menghilangkan sarang dan tempat istirahat nyamuk vektor. . Ember dan Pengaduk Sudder Fly Grill. lebacyde dll. Vectron Solution. Jerican. Burung dan Ternak). Penyemprotan (Spraying) 1. Biasanya diguanakan dalam pengendalian Lalat di Tempat Pembuangan Akhir Sampah dan Kecoak serta Residual Effect pada pemberantasan Malaria. Peralatan utama yang digunakan adalah mesin aplikator /mesin spaying (Knapsack Sraying dan Sprayier Hudson) Peralatan lain seperti Corong. Pengasapan dilakukan dengan berjalan mundur keluar menuju pintu utama dibantu pendamping sebagai pemandu alur dan sekaligus menutup pintu untuk memberikan waktu yang cukup bagi bahan aktif membunuh nyamuk vektor ± 30 – 60 menit baru masuk ruangan rumah. Cone trap/Fly Trap serta Counter dan Perangkap Kecoak . Periksa kelengkapan peralatan pendukung dan peralatan proteksi untuk keselamatan 5. Kenali dan pastikan peralatan aplikasi dengan baik dan pelajari bagian dan fungsi dari peralatan. (solar Bahan dan Air Vectron. 2.* * * * Insektisida à Pelarut Sabun Malathion. Operator fogging dan pendamping menghidupkan mesin menuju bagian belakang rumah/ruangan pengasapan dengan posisi cerobong / knalpot mesing fogging selalu datar untuk mencegah percikan api. Cynoff dalam bentuk tepung dan Icon 25 EC. 6. 10. Setelah pengasapan tutup semua kran asap maupun kran cairan dan peralatan di dingin kan pada tempat yang jauh dari benda dan bahan yang dapat menimbulkan ledakan. Cynoff. Tentukan operator dan pendamping penunjuk alur fogging. Perhatikan kran asap dan cerobong jangan timbul percikan api 11.

disemprot · Untuk Rumah yang telah disemprot personil lain segera menutup pintu dan memebri penjelasan tentang : Tidak perlu membersihkan sisa pengasapan di dinding dan lantai. · · Mapping Tentukan areal operator dan spraying luas areal dan yang sketsa akan /alur. Masker. TPS Kantor dan perumahan) · Kenali dan pastikan peralatan aplikasi dengan baik dan pelajari bagian dan fungsi dari peralatan. · Operator spraying memompa alat sesuai tekanan yang dibutuh sesuai space yang akan disemprot dan luas bidang semprot dengan posisi semburan (nozzle) bisa secara horizontal pada bidang maupun vertikal dengan jarak bidang semprot dengan operator memperhatikan pantulan bahan insektisida dan kecepatan angin untuk mengantisipasi bahan insektisida mengenai tubuh operator. dan cuci dan Icon. Sepatu dan Pelindung mata (Goggles) dan kain Lap/Serbet 3. · Siapkan dan buat formulasi bahan untuk penyemprotan sesuai dosis dan kebutuhan. Periksa kelengkapan peralatan pendukung dan peralatan proteksi untuk keselamatan.Peralatan Proteksi antara lain. anjuran PSN & 3 M plus untuk menghilangkan sarang dan tempat istirahat nyamuk vektor. goloongan kebersihan operator Bahan dll alkohol) spraying (air untuk Operasional Penyemprotan · Waktu pelaksanaan pada areal spraying harus dikonfirmasi dengan pengelola lokasi penghuni dan dan perangkat wilayah setempat (TPA. . · Setelah berakhir penyempotan bersihkan seluruh peralatan yang digunakan dengan air bersih mengalir dan sabun lalu dikeringkan baru disimpan. sarung tangan Topi. · Perhatikan sempburan alat semprot jangan sampai macet dan tersendat untuk mencgah bocornya tangkai nozzle yang bisa mengenai tubuh operator. Insektisida Pelarut Sabun dan Air Malathion. * * * 4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful