P. 1
Askep Fraktur Femur

Askep Fraktur Femur

|Views: 257|Likes:
Published by Joy Hawkins
Askep Fraktur Femur
Askep Fraktur Femur

More info:

Published by: Joy Hawkins on Jul 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2014

pdf

text

original

Askep Fraktur Femur

.
Definisi Fraktur Femur

Fraktur femur adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang / osteoporosis.

Anatomi Fisiologi Fraktur

Persendian panggul merupakan bola dan mangkok sendi dengan acetabulum bagian dari femur, terdiri dari : kepala, leher, bagian terbesar dan kecil, trokhanter dan batang, bagian terjauh dari femur berakhir pada kedua kondilas. Kepala femur masuk acetabulum. Sendi panggul dikelilingi oleh kapsula fibrosa, ligamen dan otot. Suplai darah ke kepala femoral merupakan hal yang penting pada faktur hip. Suplai darah ke femur bervariasi menurut usia. Sumber utamanya arteri retikuler posterior, nutrisi dari pembuluh darah dari batang femur meluas menuju daerah tronkhanter dan bagian bawah dari leher femur.
Klasifikasi Fraktur

Ada 2 type dari fraktur femur, yaitu : 1. Fraktur Intrakapsuler; femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul dan kapsula. • Melalui kepala femur (capital fraktur) • Hanya di bawah kepala femur • Melalui leher dari femur 2. Fraktur Ekstrakapsuler; • Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur yang lebih besar/yang lebih kecil /pada daerah intertrokhanter. • Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokhanter kecil.
Patofisiologi Fraktur

Penyebab Fraktur Adalah Trauma Fraktur patologis; fraktur yang diakibatkan oleh trauma minimal atau tanpa trauma berupa

yang disebabkan oleh suatu proses., yaitu : • Osteoporosis Imperfekta • Osteoporosis • Penyakit metabolik Trauma Dibagi menjadi dua, yaitu : Trauma langsung, yaitu benturan pada tulang. Biasanya penderita terjatuh dengan posisi miring dimana daerah trokhanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan). Trauma tak langsung, yaitu titik tumpuan benturan dan fraktur berjauhan, misalnya jatuh terpeleset di kamar mandi pada orangtua.
Tanda Dan Gejala Fraktur

• Nyeri hebat di tempat fraktur • Tak mampu menggerakkan ekstremitas bawah • Rotasi luar dari kaki lebih pendek • Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah, bengkak, kripitasi, sepsis pada fraktur terbuka, deformitas.
Penatalaksanaan Medik Fraktur

• X.Ray • Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans • Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler. • CCT kalau banyak kerusakan otot.
Traksi

Penyembuhan fraktur bertujuan mengembalikan fungsi tulang yang patah dalam jangka waktu sesingkat mungkin Metode Pemasangan traksi: Traksi Manual Tujuan : Perbaikan dislokasi, Mengurangi fraktur, Pada keadaan Emergency. Dilakukan dengan menarik bagian tubuh.
Traksi Mekanik

Ada dua macam, yaitu : Traksi Kulit Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk struktur yang lain, misalnya: otot. Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5 kg. Untuk anak-anak waktu beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai fraksi definitif, bila tidak diteruskan dengan pemasangan gips.
Traksi Skeletal

Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction. Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal atau penjepit melalui tulang/jaringan metal.

Riwayat perjalanan penyakit • Keluhan utama klien datang ke RS atau pelayanan kesehatan • Apa penyebabnya. Kadang-kadang juga digunakan untuk terapi nyeri punggung bagian bawah. Macam – Macam Traksi Traksi Panggul Disempurnakan dengan pemasangan sebuah ikat pinggang di atas untuk mengikat puncak iliaka. lengan atau panggul. dipasang staples pada steiman pen. terbatasnya gerakan • Kehilangan fungsi • Apakah klien mempunyai riwayat penyakit osteoporosis b. kegunaannya : • Mengurangi nyeri akibat spasme otot • Memperbaiki dan mencegah deformitas • Immobilisasi • Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi). Traksi ini dibuat sebuah bagian depan dan atas untuk menekan kaki dengan pemasangan vertikal pada lutut secara horisontal pada tibia atau fibula.Kegunaan Pemasangan Traksi Traksi yang dipasang pada leher. di tungkai. sampai tulangnya membentuk callus yang cukup. Riwayat keperawatan a. terutama pada wanita . Askep Fraktur Femur Pengkajian Keperawatan 1. Traksi kulit untuk skeletal yang biasa digunakan. adanya nyeri. Digunakan untuk immibilisasi tungkai lengan untuk waktu yang singkat atau untuk mengurangi spasme otot. kapan terjadinya kecelakaan atau trauma • Bagaimana dirasakan. Paha ditopang dengan thomas splint. Riwayat pengobatan sebelumnya • Apakan klien pernah mendapatkan pengobatan jenis kortikosteroid dalam jangka waktu lama • Apakah klien pernah menggunakan obat-obat hormonal. bengkak • Perubahan bentuk. • Mengencangkan pada perlekatannya. panas. Traksi Ekstension (Buck’s Extention) Lebih sederhana dari traksi kulit dengan menekan lurus satu kaki ke dua kaki. sedang tungkai bawah ditopang atau Pearson attachment. di bawah tuberositas tibia dibor dengan steinman pen. Sementara itu otot-otot paha dapat dilatih secara aktif. Traksi Russell’s Traksi ini digunakan untuk frakstur batang femur. Tarikan dipertahankan sampai 2 minggu atau lebih. Traksi khusus untuk anak-anak Penderita tidur terlentang 1-2 jam.

Palpasi • Bengkak.Kehilangan fungsi daerah yang cidera c. adanya nyeri dan penyebaran • Krepitasi • Nadi.• Berapa lama klien mendapatkan pengobatan tersebut • Kapan klien mendapatkan pengobatan terakhir c. nyeri. Gangguan rasa nyaman: Nyeri s/d perubahan fragmen tulang. dan pengobatan sehubungan dengan kesalahan dalam penafsiran.Edema. Rencana Keperawatan Diagnosa 1 Resiko terjadinya syok s/d perdarahan yg banyak Intervensi Indenpenden: a)Observasi tanda-tanda vital. b)Mengkaji sumber. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi. tidak familier dengan sumber informasi. 4. Pemeriksaan fisik a. luka pada jaringan lunak. dingin • Observasi spasme otot sekitar daerah fraktur Diagnosa Keperawatan pada Fraktur Femur 1.Deformitas yang nampak jelas .Laserasi . prognosa. lokasi. stress. Adona) dan penghentian perdarahan dgn fiksasi. Potensial infeksi sehubungan dengan luka terbuka. Ht) Rasional: a)Untuk mengetahui tanda-tanda syok sedini mungkin . ekimosis sekitar lokasi cedera . c)Pemeriksaan laboratorium (Hb. Resiko terjadinya syok s/d perdarahan yg banyak 2. Proses pertolongan pertama yang dilakukan • Pemasangan bidai sebelum memindahkan dan pertahankan gerakan diatas/di bawah tulang yang fraktur sebelum dipindahkan • Tinggikan ekstremitas untuk mengurangi edema 2. Mengidentifikasi tipe fraktur b. Gangguan aktivitas sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler skeletal. dan banyaknya per darahan c)Memberikan posisi supinasi d)Memberikan banyak cairan (minum) Kolaborasi: a)Pemberian cairan per infus b)Pemberian obat koagulan sia (vit. immobilisasi. Inspeksi daerah mana yang terkena .K. dan cemas. pemasangan back slab. 3.Perubahan warna kulit .

b) Mencegah pergeseran tulang dan penekanan pada jaringan yang luka. immobilisasi. Diagnosa 2 Gangguan rasa nyaman: Nyeri s/d perubahan fragmen tulang. d) Untuk mempersiapkan mental serta agar pasien berpartisipasi pada setiap tindakan yang akan dilakukan. dll ). monitor kebiasa an eliminasi dan menganjurkan agar b. c) Menganjurkan pasien untuk melakukan latihan pasif dan aktif pada yang cedera maupun yang tidak. f)Membantu proses pembekuan darah dan untuk menghentikan perdarahan. membaca kora. stress. d)Untuk mencegah kekurangan cairan (mengganti cairan yang hilang) e)Pemberian cairan perinfus.b. e) Mengurangi rasa nyeri Diagnosa 3 Gangguan aktivitas sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler skeletal. Kolaborasi: a) Konsul dengan bagian fisioterapi . dan mineral.b)Untuk menentukan tindak an c)Untuk mengurangi perdarahan dan mencegah kekurangan darah ke otak. durasi. intensitas nyeri dengan menggunakan skala nyeri (0-10) b) Mempertahankan immobilisasi (back slab) c) Berikan sokongan (support) pada ektremitas yang luka. c) Peningkatan vena return. menurunkan edem. vitamin . d) Membantu pasien dalam perawatan diri e) Auskultasi bising usus. d) Menjelaskan seluruh prosedur di atas Kolaborasi: e) Pemberian obat-obatan analgesik Rasional a) Untuk mengetahui tingkat rasa nyeri sehingga dapat menentukan jenis tindak annya. g)Untuk mengetahui kadar Hb. pemasangan back slab. luka pada jaringan lunak. f) Memberikan diit tinggi protein . Ht apakah perlu transfusi atau tidak. dan mengurangi nyeri.a. nyeri. b) Mendorong partisipasi dalam aktivitas rekreasi (menonton TV. dan cemas Intervensi Independen: a) Mengkaji karakteristik nyeri : lokasi. Independen: a) Kaji tingkat immobilisasi yang disebabkan oleh edema dan persepsi pasien tentang immobilisasi tersebut. teratur.

e) Penyembuhan fraktur tulang kemungkinan lama (kurang lebih 1 tahun) sehingga perlu disiapkan untuk perencanaan perawatan lanjutan dan pasien koopratif. Rasional: a) Pasien mengetahui kondisi saat ini dan hari depan sehingga pasien dapat menentukan pilihan. meningkatkan kemauan pasien untuk sembuh. Daftar Kepustakaan . Untuk menentukan program latihan.formasi. perawat keluarga (home care) e) Mendiskusikan tentang perawatan lanjutan. d) Mengidentifikasi pelayanan umum yang tersedia seperti team rehabilitasi.fasilitaskan perawatan mandiri memberi support untuk mandiri. meningkatkan perasaan mengontrol diri pasien dan membantu dalam mengurangi isolasi sosial. c) Memilah-milah aktifitas yang bisa mandiri dan yang harus dibantu. Diagnosa 4 Kurangnya pengetahuan tentang kondisi. (apakah fisioterapi. f) Mempercepat proses penyembuhan. memusatkan perhatian. mencegah kontraktur / atropi dan reapsorbsi Ca yang tidak digunakan. perawat atau keluarga). Independen: a) Menjelaskan tentang kelainan yang muncul prognosa. dan pengo.Pasien akan membatasi gerak karena salah persepsi (persepsi tidak proposional) b) Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi.nafsiran. penggunaan analgetika dan perubahan diit dapat menyebabkan penurunan peristaltik usus dan konstipasi. d) Membantu meng. mencegah penurunan BB. c) Mengorganisasikan kegiatan yang diperlu kan dan siapa yang perlu menolongnya. mempertahankan mobilitas sendi. meningkatkan pasien dalam mengontrol situasi. dan harapan yang akan datang. e) Bedrest. tidak familier dengan sumber in. Catatan : Untuk sudah dilakukan traksi. karena pada immobilisasi biasanya terjadi penurunan BB (20 – 30 lb). b) Memberikan dukungan cara-cara mobilisasi dan ambulasi sebagaimana yang dianjurkan oleh bagian fisioterapi. b) Sebagian besar fraktur memerlukan penopang dan fiksasi selama proses penyembuhan sehingga keterlambatan penyembuhan disebabkan oleh penggunaan alat bantu yang kurang tepat. c) Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot.batan sehubungan dengan kesalahan dalam pe. prognosa. d) Meningkatkan kekuatan dan sirkulasi otot.

Philadelpia. . Cv. F. Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ).E.Doenges M.A. BC and Phipps WJ (1985) Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach St. Mosby Company. Louis. (1989) Nursing Care Plan. Davis Company. Long.

alkoholism. Ruang lingkup Fraktur tulang femur terdiri atas: Femoral Head fracture. Fraktur bisa bersifat transversal atau oblik karena trauma langsung atau angulasi. Bisa disertai perdarahan masif sehingga berakibat syok b. disertai pergeseran tapi masih ada perlekatan atau inkomplet disertai pergeseran tipe varus. Femoral Shaft fracture. merokok. merupakan trauma high energy. (2) Garden 2: fraktur lengkap. (2) Tipe 2: fraktur diatas fovea. (3) Tipe 3: tipe 1 atau tipe 2 ditambah fraktur femoral neck.Introduksi a. (3) Garden 3: fraktur lengkap. biasanya tulang bersifat osteoporotik. (2) Femoral Trochanteric fraktur karena trauma langsung atau trauma yang bersifat memuntir. (2) Tipe 2: fraktur melewati trokanter mayor disertai pergeseran trokanter minor. terapi steroid. (3) Tipe 3 : sudut inklinasi garis fraktur > 70° Berdasarkan klasifikasi Garden: (1) Garden 1: Fraktur inkomplet atau tipe abduksi/valgus atau impaksi. (4) Garden 4: Fraktur lengkap disertai pergeseran penuh Trochanteric fraktur Diklasifikasikan menjadi 4 tipe (1) Tipe 1: fraktur melewati trokanter mayor dan minor tanpa pergeseran. Subtrochanteric fracture. Supracondylar/Intercondylar Femoral fracture (Distal Femoral fracture) Femoral Head fraktur Berdasarkan klasifikasi Pipkin: (1) Tipe 1: fraktur dibawah fovea. Intertrochanteric fracture. (2) Tipe 2: sudut inklinasi garis fraktur 30-50°. terpeleset di kamar mandi dimana panggul dalam keadaan fleksi dan rotasi. (3) Femoral Shaft fraktur terjadi apabila pasien jatuh dalam posisi kaki melekat pada dasar disertai putaran yang diteruskan ke femur. berat badan rendah. tidak ada pergeseran. Sering terjadi pada usia 60 tahun ke atas. Fraktur patologis biasanya terjadi akibat metastasis tumor ganas. jatuh pada tempat yang tidak tinggi. (4) Tipe 4: fraktur disertai fraktur spiral Femoral Shaft fraktur . phenytoin. Definisi   Fraktur yang terjadi pada tulang femur. (4) Tipe 4: tipe 1 atau tipe 2 ditambah fraktur acetabulum Femoral Neck fraktur Berdasarkan klasifikasi Pauwel: (1) Tipe 1: sudut inklinasi garis fraktur <30°. Mekanisme trauma yang berkaitan dengan terjadinya fraktur pada femur antara lain: (I) pada jenis Femoral Neck fraktur karena kecelakaan lalu lintas. pada pasien awal menopause. (3) Tipe 3: fraktur disertai fraktur komunitif. Femoral Neck fracture. dan jarang berolahraga.

antara lain fraktur spiral. Pipkin I. Pada anak usia 5-10 tahun ditatalaksana dengan skin traksi dan pulang dengan hemispica gips. (4) Tipe 3: >50% communition. hemiarthroplasti dan arthtroplasti total. Terapi konsevatif hanya bersifat untuk mengurangi spasme. prinsipnya adalah reduksi dulu dislokasi panggul. sedangkan pada dewasa tua dengan endoprothesis. (3) Tipe 2: 25-50% butterfly. Sedangkan usia 10 tahun ke atas ditatalaksana dengan pemasangan intamedullary nails atau plate dan screw. leukosit. Sedangkan operatif dilakukan pemasangan pin. Penanganan konservatif dilakukan pada supracondylar dan intercondylar. Indikasi Operasi Pada fraktur femur anak. CT. II dengan peranjakan >1mm diterapi dengan ORIF. transversal. c. (2) Tipe II A : fraktur suprakondiler dan kondiler dengan sebagian metafise (bentuk Y). Anak diperbolehkan pulang dengan hemispica. (2) Tipe B: wedge/butterfly comminution fraktur. indikasi konservatif sangat terbatas. Selain itu ditemukan nyeri dan bengkak. Tipe Femoral Neck. untuk terapi konservatif. (6) Tipe 5 : segmental dengan bone loss Supracondylar/Intercondylar Femoral fraktur (Distal Femoral fraktur) Klasifikasi Neer. Sedangkan pemeriksaan laboratorium antara lain hemoglobin. (2) Tipe 1: 25% butterfly. beban traksi 6 kg. BT. Fraktur Shaft femur bisa dilakukan ORIF dan terapi konservatif. Sedangkan untuk intercondylar. tipe Femoral Head. Sedangkan usia 2-5 tahun dilakukan pemasangan thomas splint. Tipe II B : bagian metafise lebih kecil. II post reduksi diterapi dengan touch down weight-bearing 4-6 minggu. Juga dinilai gangguan sensoris daerah jari I dan II. Beban traksi 9 kg dan posisi lutut turns selama 12 minggu. Fraktur Trochanteric yang tidak bergeser dilakukan terapi konservatif dan yang bergeser dilakukan ORIF. trombosit. selama 12-14 minggu. Pipkin III pada dewasa muda dengan ORIF. plate dan screw atau arthroplasti (pada pasien usia >55 tahun).Klasifikasi OTA: (1) Tipe A: Simple fraktur. reposisi dan immobilisasi. Untuk pemeriksaan penunjang berupa foto roentgen posisi anteroposterior dan lateral. Grantham. berupa eksisi arthroplasti. Indikasi pada anak dan remaja. Shelton (1) Tipe 1: fraktur suprakondiler dan kondiler bentuk 1. Pipkin I. (3) fraktur suprakondiler komunitif dengan fraktur kondiler tidak total Untuk penegakkan diagnosis diperlukan diperlukan pemeriksaan fisik. . oblik. Pipkin IV diterapi dengan cara yang sama pada fraktur acetabulum. Pada fraktur tipe femoral neck dan trochanteric. Konservatif berupa pemasangan skin traksi selama 12-16 minggu. femur atau proksimal tibia. Untuk fraktur femur dewasa. ditemukan pemendekkan dan rotasi eksternal. dilakukan terapi berdasarkan tingkatan usia. juga pulsasi arteri distal. (3) Tipe C: Segmental communition Klasifikasi Winquist-Hansen: (1) Type 0: no communition. Pada anak usia baru lahir hingga 2 tahun dilakukan pemasangan bryant traksi. (5) tipe segmental .

Pada proximal tibia 1 inchi inferior dan 5 inchi inferior tubercle tibia.level fraktur terlalu distal atau proksimal dan fraktur sangat kominutif. Kontraindikasi untuk traksi. Anestesi disuntikkan hingga ke periosteum. . dengan fleksi pada art genu.Pasien tidur miring ke sisi sehat dengan fleksi sendi panggul dan lutut . Jenis wire yang bisa digunakan disini adalah Kirschner wire no.5 Pemasangan K-Nail (Kuntscher-Nail) secara terbuka pada fraktur femur 1/3 tengah — > Adapun teknik pemasangan K-nail adalah sebagai berikut: . CT Scan dan MRI. f. Bagian kulit yang tertembus dibuat sayatan. Kontraindikasi Operasi Pada pasien dengan fraktur terbuka. Atau pada pasien yang kondisi kesehatan tidak memungkinkan untuk operasi. . Teknik Terapi Konservatif Operasi Pemasangan skeletal traksi        Pasien berbaring posisi supine.Fascia lata dibelah dan m.Ukur panjang K-nail.K-nail dipasang dengan guide menghadap posteromedial . Approach bagian medial untuk distal femur dan lateral untuk proksimal tibia Wire diinsersikan dengan menggunakan hand drill. untuk menghindari nekrosis tulang sekitar insersi pin (bila menggunakan alat otomatis). dengan posisi fleksi dan adduksi sendi panggul. Mikulicz line. adanya thromboplebitis dan pneumonia. Pemeriksaan Penunjang Foto roentgen. vastus lateralis dibebaskan secara tajam dan septum intermuskularis disisihkan ke anterior Ligasi a/v perforantes . pada distal femur 1 inchi inferior tubercle adduktor. Pada anak. Cast bracing dilakukan bila terjadi clinical union. Jika perlu dilakukan foto perbandingan. Insisi dengan pisau no.Bebaskan periosteum untuk mencapai kedua fragmen fraktur. d. diperlukan debridement hingga cukup bersih untuk dilakukan pemasangan ORIF.11. Anestesi lokal dengan lidokain 1%. Prosedur aseptik/antiseptik Approach.Bebaskan kedua fragmen fraktur dari darah dan otot .Approach posterolateral dari trochanter mayor ke condylus lateral sepanjang 15cm di atas daerah fraktur . Pasang guide ke arah fragmen proksimal dan Ietakkan di tengah.

jika terdapat rotational instability. vastus lateralis dibebaskan secara tajam dan septum intermuskularis disisihkan ke anterior Ligasi a/v perforantes Bebaskan periosteum untuk mencapai kedua fragmen fraktur. h.. g.Pemasangan K-nail sebaiknya setelah 7-14 hari pasca trauma. thromboembolism. Pada fraktur femur 1/3 proksimal traksi abduksi >30˚ dan exorotasi. Perawatan Pasca Bedah Pasien dengan pemasangan traksi. 15°. Komplikasi Operasi Komplikasi pada fraktur femur. lakukan isometric exercise sesegera mungkin dan jika edema hilang. Mortalitas Mortalitas berkaitan dengan adanya syok dan embolisme. i. ISK dan joint stiffness. . lakukan latihan isotonik. Pada pemasangan K-nail adventitious bursa. Komplikasi lambat: delayed union. Plating pada fraktur fémur 1/3 tengah         Pasien tidur miring ke sisi sehat dengan fleksi sendi panggul dan lutut Approach posterolateral dari trochanter mayor ke condylus lateral sepanjang 15cm di atas daerah fraktur Fascia lata dibelah dan m. Sedangkan pada pasien dengan pemasangan ORIF. . beri anti rotation bar. volkmann ischemic dan infeksi. cek hemoglobin pasca operasi. fat embolism. decubitus ulcer. bersifat segera: syok. Follow up Untuk Follow up pasien dengan skeletal traksi. termasuk yang diterapi secara konservatif antara lain. atau pakai cerelage wiring atau ganti K-nail . tungkai adduksi < 30˚ dan kaki mid posisi. sedangkan pada 1/3 distal. j. Bebaskan kedua fragmen fraktur dari darah dan otot Reduksi fragmen fraktur Pemasangan plate (Broad Plate) pada permukaan anterior atau lateral dengan memakai 8 screw pada masing-masing fragmen fraktur. nervus peroneus.Ujung proksimal K-nail dibenamkan 1-2 cm di atas tulang. jika fiksasi terlalu panjang dan fiksasi tidak rigid jika terlalu pendek. berikan fleksi ringan. rawat di ruangan pemulihan. Pada 1/3 tengah posisi abduksi 30˚ dan tungkai mid posisi. non union.Cara lain pemasangan K-nail dengan bantuan fluoroscopy. Pada fraktur distal perhatikan ganjal lutut. rawat di ruangan dengan fasilitas ortopedi. neurovascular injury seperti injury nervus pudendus.

Fungsi lutut harus pulih dalam 6 minggu.Setiap harinya. posterior dan anterior bowing. kemudian minggu selanjutnya miring-miring. half weight bearing dan non weight bearing dengan jarak tiap 4 minggu. minggu ke-1 –> hari pertama kaki fleksi dan ektensi. perhatikan arah. maka dilakukan weight bearing. Sedangkan untuk follow up pasca operatif. About these ads . pasang hemispica dan pasien boleh kontrol poliklinik. Minggu ke-2 jalan dengan tongkat dan isotonik quadricep. Jika tercapai clinical union. Pada pasien anak. Periksa dengan roentgen tiap 2 hari sampai accepted. jika sudah terjadi clinical union. kemudian tiap 2 minggu. follow up dengan roentgen. kedudukan traksi.

atau penarikan. Femoral shaft adalah bagian tubular dengan slight anterior bow. yang terletak antara trochanter minor hingga condylus femoralis. linea aspera. tekanan yang berulang-ulang. Umumnya fraktur femur terjadi pada batang femur 1/3 tengah. metafisis proximal. belakang. Fraktur dapat terjadi akibat peristiwa trauma tunggal. Yang menghubungkan dua trochanter ini adalah linea intertrochanterica di depan dan crista intertrochanterica yang mencolok di bagian belakang. Sebagian suplai darah untuk caput femoris dihantarkan sepanjang ligamen ini dan memasuki tulang pada fovea. kolum. trokanter. lateral dan membentuk sudut lebih kurang 125 derajat (pada wanita sedikit lebih kecil) dengan sumbu panjang batang femur. yang ke bawah berhubungan dengan linea aspera. PENDAHULUAN Femur adalah tulang terkuat. dan metafisis distal. dan trochanter major dan minor. Bagian caput merupakan lebih kurang dua pertiga bola dan berartikulasi dengan acetabulum dari os coxae membentuk articulatio coxae. atau kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologik). namun pada bagian posteriornya terdapat rabung. Tulang ini terdiri atas tiga bagian. Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan. di bawah trochanter major terdapat tuberositas glutealis. Bagian batang melebar ke arah ujung distal dan membentuk daerah segitiga datar pada permukaan posteriornya. penghancuran. tulang rawan epifisis dan atau tulang rawan sendi baik yang bersifat total maupun yang parsial. Pada pusat caput terdapat lekukan kecil yang disebut fovea capitis. yaitu tempat perlekatan ligamen dari caput. pemuntiran. Bagian collum. Trauma langsung berarti benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu.1. Trauma tidak langsung bila titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan. yang dapat berupa pemukulan. Besarnya sudut ini perlu diingat karena dapat dirubah oleh penyakit. penekukan. disebut fascia poplitea. Ujung atas femur memiliki caput. Tepian linea aspera melebar ke atas dan ke bawah. terpanjang. terpanjang. collum. suprakondilus biasanya memerlukan tindakan operatif. yaitu femoral shaft atau diafisis. dan padanya terdapat tuberculum quadratum. Tulang ini terdiri atas tiga bagian. Trochanter major dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher dan batang. Ia licin dan bulat pada permukaan anteriornya. Fraktur dapat disebabkan trauma langsung atau tidak langsung. Bagian batang femur umumnya menampakkan kecembungan ke depan. subtrokanter. Femoral shaft adalah bagian tubular dengan slight anterior bow. dan metafisis distal. Pada permukaan posterior batang femur. Fraktur batang femur mempunyai insiden yang cukup tinggi di antara jenis-jenis patah tulang. yang terletak antara trochanter minor hingga condylus femoralis. collum. berjalan kebawah. Tepian lateral menyatu ke bawah dengan crista supracondylaris lateralis. yaitu femoral shaft atau diafisis. dan terberat di tubuh dan memiliki fungsi yang sangat penting untuk pergerakan normal. ANATOMI Femur adalah tulang terkuat. 2. . dan trochanter major dan minor. Ujung atas femur memiliki caput. yang menghubungkan kepala pada batang femur. metafisis proximal. Fraktur adalah hilangnya kontinuitas jaringan tulang. Tepian medial berlanjut ke bawah sebagai crista supracondylaris medialis menuju tuberculum adductorum pada condylus medialis. dan terberat di tubuh dan amat penting untuk pergerakan normal. Fraktur di daerah kaput.

Fraktur patologik karena kelemahan pada tulang . Di atas condylus terdapat epicondylus lateralis dan medialis. Trauma tidak langsung Disebut trauma tidak langsung bila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. penghancuran. Kedua condylus ikut membentuk articulatio genu. yang di bagian posterior dipisahkan oleh incisura intercondylaris. DEFINISI FRAKTUR Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang. 4. Penghancuran kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas. apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. 3. Keadaan ini paling sering dikemukakan pada tibia. Bila tekanan kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut rusak. penari atau calon tentara yang berjalan baris-berbaris dalam jarak jauh. c. MEKANISME PENYEBAB FRAKTUR Trauma dapat bersifat: a. tulang rawan epifisis baik bersifat total ataupun parsial yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan. Permukaan anterior condylus dihubungkan oleh permukaan sendi untuk patella. Fraktur akibat peristiwa trauma Sebagian fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang dapat berupa pemukulan. b. Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain akibat tekanan berulang-ulang.Ujung bawah femur memiliki condylus medialis dan lateralis. b. perubahan pemuntiran atau penarikan. Trauma langsung Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur dapat diakibatkan oleh beberapa hal yaitu: a. tulang rawan sendi. fibula atau matatarsal terutama pada atlet. pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh. Trauma tidak langsung. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya. Tuberculum adductorium berhubungan langsung dengan epicondylus medialis. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur lunak juga pasti akan ikut rusak.

Fragmen proksimal dalam posisi fleksi sedangkan distal dalam posisi adduksi dan bergeser ke proksimal. atau spiral dan sering bersifat komunitif. Kompresi vertikal dapat menyebabkan fraktur kominutif atau memecah. Orang tua lebih dari 50 tahun dapat mengalami fraktur subtrokanterik dari mekanisme lower-energy seperti jatuh. atau trauma tembus. Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi. Garis fraktur dapat bersifat transversal. Tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat oblik atau spiral Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversa 3. Pada pemeriksaan radiologis dapat menunjukkan fraktur yang terjadi dibawah trokanter minor. atau fraktur dislokas 4. dislokasi. Fraktur oleh karena remuk Trauma karena tarikan pada ligamen atau tendo akan menraik sebagian tulang FRAKTUR SUBTROKANTER FEMORIS Fraktur subtrokanter merupakan fraktur dengan garis patahnya berada 5 cm distal dari trochanter minor. misalnya pada badan vertebra talus atau fraktur buckle pada anak-anak 5.Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang tersebut lunak (misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh. Trauma langsung disertai dengan resistensi pada satu jarak tertentu akan menyebabkan fraktur oblik atau fraktur Z 6. memendek dan ditemukan pembengkakan pada daerah proksimal femur disertai nyeri pada pergerakan. b. jatuh dari ketinggian. Gambaran klinis fraktur subtrokanter anggota gerak bawah dalam keadaan rotasi eksterna. oblik. 2. 7. Fraktur subtrokanter dapat terjadi pada setiap umur dan biasanya terjadi akibat trauma yang hebat. Kelompok usia yang lebih muda biasa terjadi karena mekanisme higher-energy seperti kecelakaan lalu lintas. Klasifikasi ini paling berguna pada kepentingan penelitian. 5. Seinsheimer : klasifikasi dengan 8 subgrup yang mengidentifikasi fraktur dengan hilangnya stabilitas kortikal. Tekanan pada tulang dapat berupa: 1. Association for the Study of Internal Fixation (AO-ASIF) : klasifikasi 3 bagian dengan 10 subtipe. KLASIFIKASI FRAKTUR SUBTROCHANTER a. 6. .

Syok. pembengkakan. Penderita biasanya datang karena adanya nyeri. Fraktur tipe 1 tidak melibatkan fossa piriformis. panggul dan abdomen .Kerusakan pada organ-organ lain. Tipe 2A memiliki buttress medial stabil. Tipe 2B tidak memiliki stabilitas korteks medial femoral. misalnya otak. 7. untuk fraktur di bawah trokanter minor. Inspeksi (look) – Bandingkan dengan bagian yang sehat – Perhatikan posisi anggota gerak secara keseluruhan – Ekspresi wajah karena nyeri – Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan – Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur tertutup atau terbuka – Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari – Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi. The Russell-Taylor classification system : membantu menentukan metode pengobatan yang tepat. PEMERIKSAAN KLINIS Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatic fraktur). misalnya pada fraktur patologis. kelainan gerak. Fraktur tipe 1 dapat diobat dengan generasi pertama atau kedua intramedullarydevices sementara fraktur tipe 2 memerlukan reduksi terbuka dan fiksasi internal (ORIF) dengan screw plate devices atau fixed angle implants. rotasi dan kependekan – Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ-organ lain – Perhatikan kondisi mental penderita . Pada pemeriksaan awal penderita perlu diperhatikan: . anemia atau perdarahan . dan tipe B yang melibatkan trokanter minor. baik yang hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidak mampuan untuk menggunakan anggota gerak. Pemeriksaan lokal a. deformitas. sumsum tulang belakang atau organ-organ dalam rongga thoraks.c. krepitasi atau datang dengan gejala lain.Faktor predisposisi. gangguan fungsi anggota gerak. Fraktur tipe 2 melibatkan fossa piriformis. Dibagi kedalam subtype A.

Tujuan pemeriksaan radiologis: Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi . dan deformitas. dan adduktor paha mengadduksi fragmen distal 8.PEMERIKSAAN RADIOLOGI Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan. dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara hati-hati Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis. temperatur kulit Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai. pembengkakan. Halhal yang perlu diperhatikan: Temperatur setempat yang meningkat Nyeri tekan. disamping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf. Refilling (pengisian) arteri pada kuku. b. setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar. c.– Keadaan vaskularisasi. nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang Krepitasi. warna kulit pada bagian distal daerah trauma. Pada fraktur femur ditemukan nyeri paha. ekstensi (iliopsoas menyebabkan fleksi dari fragmen proksimal) dan varus (otot pinggul menyebabkan abduksi dan rotasi eksternal fragmen proksimal. Fraktur subtrokanterik dapat ditemukan pemendekan tungkai yang fraktur. Pada penderita dengan fraktur. arteri dorsalis pedis. arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena. Pergerakan (move) Periksa pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Palpasi (feel) Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh sangat nyeri. lokasi serta ekstensi fraktur.

maka perlu dilakukan foto pada panggul dan tulang belakang Dua kali dilakukan foto. pada trauma yang hebat sering menyebabkan fraktur pada dua daerah tulang. PENATALAKSANAAN . 9.- Untuk konfirmasi adanya fraktur Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta pergerakannya - Untuk menentukan teknik pegobatan Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang Untuk melihat adanya benda asing. misalnya peluru Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip dua: Dua posisi proyeksi: dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada anteroposterior dan lateral Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto. Misalnya pada fraktur kalkaneus atau femur. Pada fraktur tertentu misalnya fraktur tulang skafoid foto pertama biasanya tidak jelas sehingga biasanya diperlukan foto berikutnya 10-14 hari kemudian. di atas dan di bawah sendi yang mengalami fraktur Dua anggota gerak. Pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto pada ke dua anggota gerak terutama pada fraktur epifisis Dua trauma.

Fraktur yang meliputi trokanter mayor dan fossa piriformis. Infeksi.1. stabilisasi dapat dilakukan dengan fixed-angle devices. IM nailing : merupakan penanganan pilihan untuk cedera ini karena dapat dilakukan secara tertutup dan dapat memantau jaringan lunak tetap terbungkus 3. Nonunion: apabila permukaan fraktur menjadi bulat dan sklerotik dicurigai adanya nonunion dan diperlukan fiksasi interna dan bone graft. Angulasi sering ditemukan. Fraktur pada batang femur atau regio subtrokanter akan sembuh dengan imobilisasi. Emboli lemak. jika di atas atau pada trokanter minor. Stabilisasi fraktur subtrokanter : di bawah trokanter minor dan pada batang femur ditangani dengan standard interlocking IM nails. Trauma Saraf. . maka diperlukan pengamatan terus menerus selama perawatan. tapi traksi dan casting memerlukan rawat inap yang lama serta hasil yang tak dapat diprediksi 2. dan anak kecil Fiksasi eksternal : pada fraktur terbuka yang tidak dapat di debridemen sempurna. Trauma Pembuluh darah. Komplikasi Lanjut Delayed union: fraktur femur pada orang dewasa mengalami union dalam 4 bulan. 10. 4. KOMPLIKASI Komplikasi Dini Syok: dapat terjadi perdarahan sebanyak 1-2 liter walaupun fraktur bersifat tertutup. Malunion: bila terjadi pergeseran kembali kedua ujung fragmen. Malunion juga menyebabkan pemendekan pada tungkai sehingga dieprlukn koreksi berupa osteotomi. Metode ini juga dapat untuk stabilisasi temporer. Alternatif: Traksi skeletal dan bracing : dapat dilakukan pada orang dewasa yang tidak dapat dilakukan operasi. dengan fossa piriformis intak dapat ditangani dengan generasi kedua locking (rekonstruksi atau sefalomedulary) IM nails.

Hal ini dapat dihindari apabila fisioterapi yang intensif dan sistematis dilakukan lebih awal. Hal ini disebabkan oleh adanya adhesi periartikuler atau adhesi intrmuskuler. .- Kaku sendi lutut: setelah fraktur femur biasanya terjadi kesulitan pergerakan pada sendi lutut.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->