BERITA DAERAH KOTA SEMARANG

TAHUN 2009 NOMOR 19A

PERATURAN WALIKOTA SEMARANG
NOMOR 19A TAHUN 2009
TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH KOTA SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SEMARANG, Menimbang : a. bahwa dengan dilaksanakannya Peraturan Organisasi Perangkat Daerah Dilingkungan Pemerintah Kota Semarang serta Penataan Organisasi dan Tata Kerja di lingkungan Pemerintah Kota Semarang maka Peraturan Walikota Nomor 25 Tahun 2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah, perlu ditinjau kembali; b. bahwa sehubungan dengan hal tersebut diatas, perlu ditetapkan Peraturan Walikota tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan barang Milik Daerah Kota Semarang. Mengingat : 1. Undang - Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kota Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta; 2. Undang - Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3679) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048); 3. Undang - Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 3851); 4. Undang - Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 5. Undang - Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

-1-

6. Undang - Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389); 7. Undang - Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400); 8. Undang - Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 9. Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 10. Undang - Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1976 tentang Perluasan Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1976 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3079); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1992 tentang Pembentukan Kecamatan di Wilayah Kabupaten-kabupaten Daerah Tingkat II Purbalingga, Cilacap, Wonogiri, Jepara dan Kendal serta Penataan Kecamatan di Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang dalam Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 89); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4574); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4576); 16. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah kepada Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4577);

-2-

17. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 18. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593); 19. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4609); 20. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2006 Nomor 11 Seri E). 21. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 1971 tentang Penjualan Kendaraan Perorangan Dinas Milik Negara ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1971 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2971); 22. Peratuaran Pemerintah Nomor 40 Tahun 1994 tentang Rumah Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun1994 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3573); 23. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2001 tentang Pengamanan dan Pengalihan Barang Milik/Kekayaan Negara dari Pemerintah Pusat Kepada Pemerintah Daerah dalam Rangka Pelaksanaan Otonomi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4073); 24. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standart Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6503); 25. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerajasama Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4761); 26. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4855); 27. Keputusan Presiden Nomor 81 Tahun 1982 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Nomor 13 Tahun 1974 tentang Pedoman Pengelolaan Barang/Kekayaan Milik Negara/Daerah; 28. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah; 29. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyerahan Prasarana, Sarana dan Utilitas Perumahan dan Permukiman di Daerah; 30. Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2007 Nomor 11 seri E, Tambahan Lembaran Daerah Kota Semarang Nomor 8);

-3-

31. Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Semarang (Lembaran Daerah Kota Semarang Tahun 2008 Nomor 15, Tambah Lembaran Daerah Kota Semarang Nomor 22 ).

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH KOTA SEMARANG BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Walikota ini, yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah Kota Semarang. 2. Pemerintah Daerah adalah Walikota penyelenggara Pemerintahan Daerah. 3. Walikota adalah Walikota Semarang. 4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Semarang. 5. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disebut APBD adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Semarang. 6. Barang Milik Daerah adalah semua barang milik Pemerintah Kota Semarang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. 7. Pengelola Barang Milik Daerah yang selanjutnya disebut Pengelola adalah pejabat yang berwenang dan bertanggungjawab menetapkan kebijakan dan pedoman serta melakukan pengelolaan Barang Milik Daerah. 8. Pembantu Pengelola Barang Milik Daerah yang selanjutnya disebut Pembantu Pengelola adalah pejabat yang bertanggungjawab mengkoordinir penyelenggaraan pengelolaan Barang Milik Daerah yang ada pada Satuan Kerja Perangkat Daerah. 9. Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah yang selanjutnya disebut kepala DPKAD Kota Semarang adalah Pembantu Pengelola Barang Milik Daerah Kota Semarang. 10. Pengguna Barang adalah Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagai pejabat pemegang kewenangan penggunaan Barang Milik Daerah. 11. Kuasa Pengguna Barang Milik Daerah adalah Kepala Unit Kerja atau Pejabat yang ditunjuk oleh Pengguna Barang untuk menggunakan barang Milik Daerah yang berada dalam penguasaannya dengan sebaik-baiknya. 12. Penyimpan Barang Milik Daerah adalah pegawai yang diserahi tugas untuk menerima, menyimpan, dan mengeluarkan barang. 13. Pengurus Barang Milik Daerah adalah pegawai yang diserahi tugas untuk mengurus Barang dalam proses pemakaian yang ada di setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah/unit kerja. 14. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat daerah selaku Pengguna Barang. 15. Unit Kerja adalah bagian dari SKPD selaku Kuasa Pengguna Barang.
-4-

dan

Perangkat

Daerah

sebagai

unsur

27. pengamanan dan pemeliharaan. kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati. 20. penilaian. Pengadaan adalah kegiatan untuk melakukan pemenuhan kebutuhan Barang Milik Daerah dan jasa. 24.16. pengadaan. 26. Pinjam Pakai adalah penyerahan penggunaan barang antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dan antar Pemerintah Daerah dalam jangka waktu tertentu tanpa menerima imbalan dan setelah jangka waktu tersebut berakhir diserahkan kembali kepada Pengelola Barang. Penggunaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh Pengguna Barang dalam mengelola dan menatausahakan Barang Milik Daerah yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi instansi yang bersangkutan. penggunaan. untuk selanjutnya diserahkan kembali tanah beserta bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya setelah berakhirnya jangka waktu. Pemanfaatan adalah pendayagunaan Barang Milik Daerah yang tidak dipergunakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam bentuk sewa. Pengamanan adalah kegiatan tindakan pengendalian dalam pengurusan Barang Milik Daerah dalam bentuk fisik. Pemeliharaan adalah kegiatan atau tindakan yang dilakukan agar semua Barang Milik Daerah selalu dalam keadaan baik dan siap untuk digunakan secara berdaya guna dan berhasil guna. 25. pembinaan. 19. dan bangun serah guna/bangun guna serah dengan tidak mengubah status kepemilikan. pemanfaatan. Bangun guna serah adalah pemanfaatan Barang Milik Daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya. Sewa adalah pemanfaatan Barang Milik Daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dan menerima imbalan uang tunai. 17. pinjam pakai. 30. penatausahaan. Perencanaan kebutuhan adalah kegiatan merumuskan rincian kebutuhan Barang Milik Daerah untuk menghubungkan pengadaan barang yang telah lalu dengan keadaan yang sedang berjalan sebagai dasar dalam melakukan tindakan pemenuhan kebutuhan yang akan datang. -5- . 22. Penyaluran adalah kegiatan untuk menyalurkan/pengiriman Barang Milik Daerah dari gudang ke unit kerja pemakai. Kas Umum Daerah yang selanjutnya disebut Kas Daerah adalah tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh Walikota untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan membayar seluruh pengeluaran daerah. 23. kerja sama pemanfaatan. 18. Bangun serah guna adalah pemanfaatan Barang Milik Daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya dan setelah selesai pembangunannya diserahkan untuk didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang disepakati. penghapusan. Pengelolaan Barang Daerah adalah rangkaian kegiatan terhadap barang daerah yang meliputi perencanaan kebutuhan dan penganggaran. 28. pemindahtanganan. Penghapusan adalah tindakan menghapus Barang Milk Daerah dari daftar barang dengan menerbitkan surat keputusan dari pejabat yang berwenang untuk membebaskan pengguna dan/atau Kuasa Pengguna Barang dan/atau Pengelola Barang dari tanggungjawab administrasi dan fisik atas barang yang berada dalam penguasaannya. pengawasan dan pengendalian. 21. 29. Kerjasama pemanfaatan adalah pendayagunaan Barang Milik Daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dalam rangka peningkatan PAD dan sumber pembiayaan lainnya. administratif dan tindakan upaya hukum.

rumah dinas dan kendaraan dinas. Standarisasi Harga adalah penetapan besaran harga barang sesuai jenis. 37. kendaraan dinas operasional/kendaraan dinas jabatan dan kendaraan dinas khusus/lapangan. 36. sekurang-kurangnya dengan nilai seimbang. inventarisasi dan pelaporan Barang Milik Daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kendaraan Dinas adalah Kendaraan Milik Pemerintah Daerah yang dipergunakan hanya untuk kepentingan dinas. 38. Badan Usaha Milik Daerah. antar Pemerintah Daerah. Penatausahaan adalah rangkaian kegiatan yang meliputi pembukuan. Daftar Barang Kuasa Pengguna. 33. 46. 32. pencatatan dan pelaporan hasil pendataan Barang Milik Daerah. yang selanjutnya disingkat dengan DBKP adalah daftar yang memuat data barang yang dimiliki oleh masing-masing Kuasa Pengguna Barang. Daftar Barang Pengguna yang selanjutnya disingkat dengan DBP adalah daftar yang memuat data barang yang digunakan oleh masing-masing Pengguna Barang. 47. Penjualan adalah pengalihan kepemilikan Barang Milik Daerah kepada pihak lain dengan menerima penggantian dalam bentuk uang. -6- .31. dipertukarkan. 40. perlengkapan kantor. Penyertaan modal Pemerintah Daerah adalah pengalihan kepemilikan Barang Milik Daerah yang semula merupakan kekayaan yang tidak dipisahkan menjadi kekayaan yang dipisahkan untuk diperhitungkan sebagai modal/saham daerah pada Badan Usaha Milik Negara. Rumah Dinas adalah Rumah Milik atau yang dikelola Pemerintah Daerah. Tukar menukar adalah pengalihan kepemilikan Barang Milik Daerah yang dilakukan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah. Standarisasi sarana dan prasarana kerja Pemerintahan Daerah adalah pembakuan ruang kantor. Penilaian adalah suatu proses kegiatan penelitian yang selektif didasarkan pada data/fakta yang obyektif dan relevan dengan menggunakan metode/teknis tertentu untuk memperoleh nilai Barang Milik Daerah. 44. atau badan hukum lainnya yang dimiliki Negara. dihibahkan atau disertakan sebagai modal Pemerintah Kota Semarang. dengan menerima penggantian dalam bentuk barang. atau Pemerintah Daerah dengan pihak lain. 35. Rumah Dinas/Instansi dan Rumah Pegawai. terdiri atas kendaraan dinas. Pelelangan Terbatas adalah Penjualan Barang Milik Daerah yang dilakukan secara terbatas sebagai tindak lanjut atas penghapusan Barang Milik Daerah. 43. Hibah adalah pengalihan kepemilikan barang dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah. antar Pemerintah Daerah. spesifikasi dan kualitas dalam 1 (satu) periode tertentu. 39. 34. 41. 42. dari Pemerintah Daerah kepada Pemerintah Pusat. 45. atau dari Pemerintah Daerah kepada pihak lain. Inventarisasi adalah kegiatan untuk melakukan pendataan. tanpa memperoleh penggantian. Pelelangan Umum adalah Penjualan Barang Milik Daerah yang dilakukan secara umum melalui Kantor Lelang Negara atau Instansi yang berwenang sebagai tindak lanjut atas penghapusan Barang Milik Daerah. Standar Akuntansi Pemerintahan adalah prisip–prinsip Akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan Pemerintah. terdiri atas Rumah Jabatan. Pemindahtanganan adalah pengalihan kepemilikan Barang Milik Daerah sebagai tindak lanjut dari penghapusan dengan cara dijual.

Pertamanan dan pertanian. transmisi.48. Tempat pembuangan sampah. b. televisi. f. dan sarana pendukungnya. g. Menetapkan kebijakan pengamanan Barang Milik Daerah. (2) Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Barang Milik Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai wewenang : a. diruang atas tanah. b. c. bendungan. Menyetujui atau menolak usul pemanfaatan Barang Milik Daerah selain tanah dan bangunan. saluran pembuangan air dan sanitasi. dan -7- . Pembangkit. f. h. i. Pasar umum. Pendidikan/sekolah. ataupun di ruang bawah tanah). dan g. seperti tanggul penanggulangan bahaya banjir. Fasilitas keselamatan umum. e. dan l. Pos dan telekomunikasi. Pengadaan tanah guna Pembangunaan selain untuk kepentingan umum adalah pengadaan tanah untuk pembangunan : a. Menetapkan kebijakan pengelolaan Barang Milik Daerah. Menetapkan penggunaan. Waduk. Sarana olah raga. lahar dan lain-lainnya. bandara udara. Peribadatan. c. bendungan irigasi dan bangunaan pengairan lainnya. Pelabuhan. Menyetujui atau menolak usul pemindahtanganan dan penghapusan Barang Milik Daerah sesuai batas Kewenangannya. k. Mengajukan usul pemindahtanganan Barang Milik Daerah yang memerlukan Persetujuan DPRD. Stasiun penyiaran radio. b. j. d. bendungan irigasi dan bangunan pengairan lainnya. d. d. pemanfaatan atau pemindahtanganan tanah dan bangunan. 49. e. Rumah sakit umum dan pusat kesehatan masyarakat. BAB II PELAKSANA PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH Pasal 2 (1) Walikota adalah pemegang kekuasaan pengelolaan Barang Milik Daerah. rel kereta api ( diatas tanah. c. Panti sosial. distribusi tenaga listrik. Cagar alam dan cagar budaya. saluran air minum/air bersih. Rumah Susun Sederhana. Fasilitas pemakaman umum. e. Pengadaan tanah guna Pembangunan untuk kepentingan umum adalah pengadaan tanah untuk pembangunan : a. Jalan umum dan jalan tol. f. Kantor Pemerintah Daerah.

Mengatur pelaksanaan pemanfaatan. (2) Pengguna Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai Wewenang dan Tanggungjawab : a. -8- . Pemindahtanganan dan Penatausahaan. Melakukan Pengawasan dan Pengendalian atas Pengelolaan Barang Milik Daerah. d. Menggunakan Barang Milik Daerah yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya. Menyetujui dan menetapkan penjualan barang milik daerah yang tidak melalui kantor lelang negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Meneliti dan Menyetujui rencana kebutuhan pemeliharaan/perawatan Barang Milik Daerah. Penggunaan. dan c. penghapusan. Menetapkan Pejabat yang menyimpan dan mengurus Barang Milik Daerah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi SKPD. f. f dan g. Membantu Pengelola Barang Milik Daerah dalam melaksanakan Tanggungjawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf b. Pasal 5 (1) Kepala SKPD adalah Pengguna Barang. Mengkoordinir Penyelenggaraan Pengelolaan Barang Milik Daerah yang ada pada SKPD yang meliputi : Perencanaan Kebutuhan dan Penganggaran. b. Menyusun rencana kebutuhan Barang Unit untuk tahun berikunya dan melaporkan kepada Pembantu Pengelola Barang b. d. Mengamankan dan memelihara barang Milik Daerah yang berada dalam penguasaanya. e.g. Mengelola Sistem Informasi Barang Milik Daerah (SIMBADA). dan pemindahtangan Barang Milik Daerah yang telah disetujui oleh Walikota dan/atauDPRD. Penghapusan. Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan Inventarisasi Barang Milik Daerah. e. (2) Pengelola sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai wewenang dan tanggung jawab : a. b. Melakukan pencatatan dan inventarisasi Barang Milik Daerah yang berada dalam penguasaanya. d. c. Pasal 3 (1) Sekretaris Daerah adalah Pengelola. c. (2) Pembantu Pengelola sebagaimana dimaksud ayat (1) mempunyai tugas : a. Menyusun standarisasi sarana dan prasarana kerja Pemerintah Daerah serta standarisasi harga. c. Penilaian. Pengamanan. Pemanfaatan. Meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan Barang Milik Daerah. dan g. Pasal 4 (1) Kepala DPKAD adalah Pembatu Pengelola .

dan -9- . Pengajuan usul pemindahtanganan Barang Milik Daerah berupa Tanah dan / atau Bangunan yang tidak memerlukan persetujuan DPRD dan Barang Milik Daerah selain Tanah dan/atau Bangunan kepada Walikota melalui Pengelola. Mengamankan dan memelihara Barang Milik Daerah yang berada dalam penguasaannya. Menyusun rencana kebutuhan Barang Unit untuk tahun berikutnya dan melaporkan kepada Pengguna Barang. dan i. penyaluran dan stock/persediaan Barang Milik Daerah kepada Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang setiap 1 (satu) bulan sekali. Meneliti dan menghimpun Dokumen Pengadaan Barang yang diterima. Melakukan Pengawasan dan Pengendalian atas Penggunaan Barang Milik Daerah yang ada dalam penguasaannya. h.e. Menyimpan dan Menyalurkan Barang Milik Daerah. e. d. Membuat Laporan penerimaan. Melaporkan Barang Milik Daerah hasil pengadaan kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola setiap tahun anggaran dengan Berita Acara Penyerahan Barang/kegiatan pada akhir tahun anggaran. Melakukan Pengawasan dan Pengendalian atas Penggunaan Barang Milik Daerah yang ada dalam penguasaannya. d. b. Mencatat Barang Milik Daerah yang diterima kedalam buku/kartu barang. Penyusunan dan menyampaikan Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran (LBKPS) dan Laporan Kuasa Pengguna Tahunan (LBKPT) yang berada dalam penguasaannya kepada Pengguna Barang. f. Pasal 7 Penyimpan Barang mempunyai tugas : a. Menyampaikan Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) yang berada dalam penguasaannya kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola. Pasal 6 (1) Kepala UPTD adalah Kuasa Pengguna Barang. c. Mengamankan Barang Milik Daerah yang ada dalam persediaan. dan f. Meneliti jumlah dan kualitas barang yang diterima sesuai dengan dokumen pengadaan. e. dan f. Penggunaan Barang Milik Daerah yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi unit kerja yang dipimpinnya. Menerima. Menyerahkan tanah dan bangunan yang tidak dimanfaatkan untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah yang dipimpinnya kepada Walikota melalui Pengelola. Melakukan pencatatan dan inventarisasi Barang Milik Daerah yang berada dalam penguasaanya. c. (2) Kuasa Pengguna Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai Wewenang dan Tanggungjawab : a. b. g.

BAB III PERENCANAAN DAN PENGADAAN Bagian Pertama Perencanaan Kebutuhan dan Penganggaran Pasal 9 (1) Pembantu Pengelola menyusun: a. Standarisasi Harga. d. sesuai kodefikasi dan penggolongan Barang Milik Daerah. Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja Pemerintahan Daerah. Buku Inventaris (BI) dan Buku Induk Inventaris (BII). berpedoman pada Kebutuhan Satuan Kerja Perangkat Daerah. Standarisasi Sarana Dan Prasarana Kerja Pemerintahan Daerah dan Standarisasi Harga. (2) SKPD sebagai Pengguna Barang menyusun Rencana Kebutuhan Barang dan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang untuk disampaikan kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola Barang untuk meneliti dan menyusun menjadi Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah (RKBMD) dan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (RKPBMD). Melakukan pencatatan Barang Milik Daerah yang dipelihara/diperbaiki kedalam kartu pemeliharaan. Menyiapkan usulan penghapusan Barang Milik Daerah yang rusak atau tidak dipergunakan lagi. . Kartu Inventaris Ruangan (KIR). Menghimpun seluruh tanda bukti penerimaan dan pengeluaran/penyerahan barang secara tertip dan teratur sehingga memudahkan untuk mencari apabila sewaktu-waktu diperlukan terutama dalam hubungannya dengan pengawasan. dan e. Membantu mengelola pendapatan atas Barang Milik Daerah yang berada dalam pengurusannya.10 - . Pasal 8 Pengurus Barang mempunyai tugas : a. (3) Penyusunan Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah (RKBMD) dan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (RKPBMD) sebagaimana dimaksud pada ayat (2). c.g. dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pasal 10 (1) SKPD sebagai Pengguna Barang merencanakan dan menyusun kebutuhan barang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD) sebagai bahan dalam penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD). Mecatat seluruh Barang Milik Daerah yang berada dimasing-masing SKPD yang berasal dari APBD maupun perolehan lain yang sah kedalam Kartu Inventaris Barang (KIB). b. dan b. (2) Standarisasi sebagaimana Walikota. Menyiapkan Laporan Barang Pengguna semesteran (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) serta Laporan Inventarisasi 5 (lima) Tahunan.

ayat (4) dan ayat (5) dengan Persetujuan Walikota. . (3) Pengadaan tanah diatas 1 (satu) hektar dilaksanakan oleh Pengelola. (8) Pengecualian pelaksanaan Pengadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).11 - . Bagian Rumah Tangga dan Sandi Telekomunikasi mengajukan Usul Penetapan Status Penggunaan Barang Milik Daerah. Kendaraan Dinas Operasional dan Pakaian Seragam Dinas dilaksanakan oleh Bagian Perlengkapan Sekretariat Daerah. ayat (3).(4) Setelah APBD ditetapkan. Bagian Kedua Pengadaan Pasal 11 (1) Pengadaan barang dilaksanakan oleh Pengguna Barang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. ayat (2) . (5) Pengadaan Mebelair untuk SKPD Kecamatan dilaksanakan oleh Bagian Perlengkapan Sekretariat Daerah. Pasal 12 (1) Hasil Pengadaan yang dibiayai dari APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10. dilaporkan oleh Pengguna Barang kepada Walikota melalui Pembantu Pengelola dilengkapi dengan Berita Acara Penyerahan Barang dan Dokumen Pengadaan pada setiap akhir Tahun Anggaran dalam Daftar Hasil Pengadaan Barang Milik Daerah Satuan Kerja Perangkat Daerah (DHP-SKPD). Pembantu Pengelola Barang menyusun Daftar Kebutuhan Barang Milik Daerah (DKBMD) dan Daftar Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (DKPBMD) sebagai dasar pelaksanaan Pengadaan dan Pemeliharaan Barang Milik Daerah yang ditetapkan dengan Keputusan Walikota . Pembantu Pengelola mengajukan Usul Penetapan Status Penggunaan Barang Milik Daerah. (2) Daftar Hasil Pengadaan Barang Milik Daerah Satuan Kerja Perangkat Daerah (DHPSKPD) sebagaimana ayat (1) terdiri dari Hasil Pengadaan Barang Inventaris dan Barang Pakai Habis. (3) Setelah serah terima hasil pengadaan barang sebagaimana ayat (1). (2) Pengadaan Tanah dan Bangunan dilaksanakan oleh Pengelola. (6) Pengadaan Kendaraan Perorangan Dinas. (7) Pengadaan Kendaraan Dinas Operasional khusus/lapangan dan Pakaian Seragam Dinas khusus/lapangan dilaksanakan oleh Pengguna. (4) Pengadaan Tanah s/d 1 (satu) hektar dilaksanakan oleh Pengguna. (2) Setelah serah terima hasil pengadaan barang sebagaimana ayat (1). Pasal 14 (1) Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum dilaksanakan oleh Pengguna. Pasal 13 (1) Hasil pengadaan kendaraan dinas sebagaimana dimaksud Pasal 11 ayat (6) dan ayat (7) dilaporkan kepada Walikota melalui Bagian Rumah Tangga dan Sandi Telekomunikasi disertai dengan Berita Acara Serah Terima Barang dan Dokumen Pengedaan Barang.

c. (3) Pengadaan Tanah bagi pelaksanaan pembangunan selain untuk kepentingan umum dilaksanakan oleh Pembantu Pengelola. d. k. PENYIMPANAN DAN PENYALURAN Pasal 16 (1) Penerimaan. Surat Perintah Pengeluaran/Penyaluran Barang. j. Kartu Inventaris Barang (KIB) B Peralatan dan Mesin. Buku Barang Inventaris. dan l. Penyimpanan dan penyaluran barang dilakukan oleh Penyimpan Barang. i. atau cara lain yang disepakati Pemerintah Kota dengan Pihak yang menguasai tanah. Berita Acara Serah Terima Gudang. Daftar Penerimaan Barang dari Pihak Ketiga. . (5) Dokumen pengelolaan barang yang harus dilaksanakan Pengurus Barang yaitu : a. (4) Dokumen Penerimaan. Buku Penerimaan Barang. f. Penyimpanan dan Penyaluran Barang yang harus dibuat Penyimpan Barang yaitu : a. Pasal 15 (1) Berdasarkan Daftar Hasil Pengadaan Barang Milik Daerah Satuan Kerja Perangkat Daerah (DHP-SKPD) sebagaimana dimaksud pada pasal 11. Bukti Pengambilan Barang dari Gudang. (4) Pengadaan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan secara langsung melalui jual beli. (2) Pengurus Barang bertanggung jawab membantu Pengguna Barang atas terlaksananya tertib administrasi pengelolaan barang pada setiap SKPD. Berita Acara Penerimaan Barang. Buku Barang Pakai Habis. (5) Pelaksanaan pengadaan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat dibantu oleh Panitia Pengadaan Tanah Kota.(2) Dalam hal pengadaan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) lebih dari 1 (satu) hektar maka pelaksanaannya dibantu oleh Panitia Pengadaan Tanah Kota. Laporan Semesteran tentang Penerimaan dan Pengeluaran Barang Inventaris. Kartu Barang. e. c. (2) Daftar Hasil Pengadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk lampiran perhitungan APBD. b. BAB IV PENERIMAAN. Kartu Persediaan Barang. Kartu Inventaris Barang (KIB) A Tanah. tukar menukar. Laporan Semesteran tentang Penerimaan dan Pengeluaran Barang Pakai Habis. g.12 - . Buku Pengeluaran Barang. h. b. (3) Penyimpan dan Pengurus Barang ditetapkan oleh Pengelola. Pembantu Pengelola berkewajiban membuat Daftar Hasil Pengadaan Barang.

m. .d. Pembantu Pengelola dan Pengawas Fungsional Daerah Kota Semarang. Menyiapkan Kartu Inventaris Barang (KIB) F Konstruksi dalam Pengerjaan. dan sumbangan diserahkan kepada Walikota melalui Pembantu Pengelola. (3) Barang yang diterima oleh Penyimpan Barang diserahkan kepada Pengurus Barang untuk dicatat kedalam Kartu Inventaris Barang (KIB). (4) Atasan langsung penyimpan barang/pengurus barang bertanggung jawab atas terlaksananya tertib Administrasi Perbendaharaan Barang Milik Daerah. bantuan. (2) Panitia Pemeriksa Barang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. Kartu Inventaris Barang (KIB) C Gedung dan Bangunan. h. j. l. dalam hal terjadi kerugian akibat kelalaian penyimpan barang. Menyiapkan Daftar Barang Milik Daerah yang digunausahakan Pasal 17 (1) Penerimaan barang hasil pengadaan yang dibiayai dengan APBD dilakukan setelah diperiksa oleh Panitia Pemeriksa Barang. g. i. Daftar Usulan Barang yang akan dihapus. Laporan Mutasi Barang. e. Kartu Inventaris Ruangan (KIR). Irigasi dan Jaringan. Buku Inventaris (BI). Kartu Inventaris Barang (KIB) D Jalan. Buku Inventaris. Hasil pemeriksaan harus dibuat dalam berita acara pemeriksaan dan dicatat dalam buku pemeriksaan penyimpan barang yang bersangkutan. (2) Penerimaan barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terlebih dahulu diverifikasi oleh Tim Penerimaan Barang yang ditetapkan dengan Keputusan Walikota. Pasal 18 (1) Penerimaan barang yang berasal dari hibah. Hasil pemeriksaan dimaksud dikirim kepada Pengelola dan tembusannya masing-masing untuk kepala SKPD yang bersangkutan. Kartu Inventaris Barang (KIB) E Barang Milik Daerah Tetap Lainnya. (6) a. f. Dalam hal atasan langsung penyimpan barang berhalangan maka Pengelola atau pejabat yang berwenang menunjuk pejabat lain sebagai atasan langsung penyimpan/pengurus barang. dan b. k. Rekapitulasi Buku Inventaris (Rekap Hasil Sensus). atasan langsung turut bertanggungjawab atas kerugian yang terjadi. Daftar Mutasi Barang. yaitu pemeriksaan pembukuan/pencatatan dan pemeriksaan gudang. sesuai kodefikasi dan penggolongan Barang Milik Daerah. Rekapitulasi Daftar Mutasi Barang.13 - . n. (5) Atasan langsung penyimpan barang/pengurus barang sebagaimana dimaksud pada ayat (5) mempunyai kewajiban : secara berkala 6 (enam) bulan sekali mengadakan pemeriksaan atas penyelenggaraan tugas penyimpan barang. Kartu Inventaris Ruangan (KIR). dan o.

(2) Pembentukan Tim Verifikasi sebagaimana dimaksud ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (3) Hasil Penerimaan Barang Milik Daerah dari Tim Verifikasi dilaporkan kepada Walikota melalui Pembantu Pengelola yang selanjutnya dimasukkan dalam Daftar Inventaris Barang Milik Daerah dan ditetapkan status penggunaannya.14 - . dan c. (4) Setiap akhir tahun anggaran Pengguna Barang wajib melaporkan stock atau sisa barang kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola. (3) Penyaluran Barang Milik Daerah yang merupakan mutasi barang antar SKPD dilaksanakan oleh Pengelola berdasarkan evaluasi dari rencana Penetapan Pengguna Barang. Pengguna Barang melaporkan Barang Milik Daerah yang diterimanya kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola disertai dengan usul penggunaannya. Daftar barang yang diterima beserta nilainya.(3) Tim Penerimaan Barang sebagaimana dimaksud ayat (2) terdiri dari unsur Pengelola dan Pengguna Barang terkait. Pasal 20 (1) Penyaluran Barang Milik Daerah oleh Penyimpan Barang dilaksanakan atas dasar Surat Perintah Pengeluaran Barang (SPPB) dari Pengguna/Kuasa Pengguna Barang disertai dengan berita acara serah terima. (4) Penerimaan Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima dengan dilampiri : a. (2) Penyaluran Barang Milik Daerah yang merupakan mutasi barang yang berada pada SKPD selaku Pengguna Barang daerah dilaksanakan oleh Pengguna Barang dan dilaporkan kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola. BAB V PENGGUNAAN Bagian Pertama Penetapan Status Penggunaan Barang Milik Daerah Pasal 21 (1) Status penggunaan Barang Milik Daerah untuk masing-masing SKPD ditetapkan dengan Keputusan Walikota. b. Pasal 19 (1) Penerimaan Barang Milik Daerah dari pemenuhan kewajiban Pihak lain kepada Pemerintah Daerah berdasarkan perjanjian dan atau pelaksanaan dari suatu perizinan tertentu dilakukan setelah diperiksa Tim Verifikasi yang ditetapkan dengan Keputusan Walikota. (2) Tata cara penetapan status penggunaan Barang Milik Daerah sebagai berikut : a. Dokumen keabsahan barang/Dokumen kepemilikan asli beserta dokumen pendukungnya. . Berita Acara Hasil Penerimaan Barang yang ditandatangani oleh Tim Penerimaan Barang. Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan.

(3) Penggunaan atas tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud Ayat (2) menjadi tanggung jawab Pembantu Pengelola. Bagian Ketiga Pengaturan Penggunaan Tanah yang berasal dari Eks Bengkok/Bondo Desa Pasal 23 (1) Status Pengguna Tanah milik Pemerintah Daerah berupa eks bengkok/bondo deso pada SKPD Kecamatan. Pembantu Pengelola meneliti laporan tersebut dan mengajukan usul penggunaan dimaksud kepada Walikota melalui Pengelola untuk ditetapkan status penggunaannya. dimuat dalam Kartu Inventaris Barang A. E. Penggolongan dan kodefikasi Barang Daerah sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Walikota. Pencatatan sebagaimana dimaksud ayat (1). dan F. (5) Pembantu Pengelola membantu memfasilitasi penyelesaian permasalahan atas penggunaan tanah Milik Pemerintah Daerah.15 - . D. (2) Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang wajib menyerahkan tanah dan/atau bangunan yang tidak digunakan sebagaimana dimaksud Ayat (1) kepada Walikota melalui Pembantu Pengelola . (2) Pemanfaatan terhadap Tanah milik Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dengan persetujuan pengelola. B. BAB VI PENATAUSAHAAN Bagian Pertama Pembukuan Pasal 24 (1) Pengguna Barang dan atau Kuasa Pengguna Barang melakukan pendaftaran dan pencatatan Barang Milik Daerah ke dalam Daftar Barang Pengguna (DBP)/Daftar Barang Kuasa Pengguna (DBKP) menurut penggolongan dan kodefikasi barang.b. (4) Khusus untuk penggunaan tanah eks bengkok yang belum dimanfaatkan diserahkan kepada SKPD Kecamatan setempat. (3) Pemanfaatan terhadap Tanah milik Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat insidentil harus dengan seijin SKPD Pengguna. Bagian Kedua Pengaturan Penggunaan Tanah dan atau bangunan Pasal 22 (1) Penetapan status Penggunaan tanah dan/atau bangunan kepada SKPD dilakukan dengan ketentuan bahwa tanah dan/atau bangunan tersebut dipergunakan untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi SKPD. Pembantu Pengelola menghimpun pencatatan Barang Milik Daerah dalam Daftar Barang Milik Daerah. (2) (3) (4) . C.

Barang Milik Daerah. Dokumen kepemilikan kendaraan dinas milik Pemerintah Daerah disimpan oleh Bagian Rumah Tangga dan Santel Sekretariat Daerah. Pasal 26 Penatausahaan Kendaraan Dinas dilaksanakan oleh Bagian Rumah Tangga dan Santel Sekretariat Daerah. Pasal 29 (1) Barang yang disensus sebagaimana dimaksud pada pasal 23 adalah seluruh barang milik Pemerintah Daerah yang terdiri dari : a. dan b. Pasal 28 (4) (5) (1) Pemerintah Daerah wajib melaksanakan Sensus Barang Milik Daerah sekali dalam 5 (lima) tahun untuk menyusun Buku Inventaris dan Buku Induk Inventaris beserta rekapitulasinya. (2) Pengguna Barang wajib melaksanakan Sensus Barang Milik Daerah sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) untuk SKPD yang bersangkutan. disampaikan kepada pengelola melalui Pembantu Pengelola secara periodik 6 (enam) bulan sekali. penilaian dan pendokumentasian dan penggunaan Barang Milik Daerah. Dokumen selain tanah dan/atau bangunan serta kendaraan dinas sebagaimana dimaksud Ayat (1) dan Ayat (2) disimpan oleh Pengguna Barang /Kuasa Pengguna Barang. (3) Pembantu Pengelola bertanggungjawab atas koordinasi pelaksanaan Sensus Barang Milik Daerah.16 - dilakukan .Pasal 25 (1) (2) (3) Dokumen kepemilikan tanah dan/atau bangunan milik Pemerintah Daerah disimpan oleh Pembantu Pengelola. Bagian Kedua Inventarisasi Pasal 27 (1) (2) (3) Pengelola melakukan inventarisasi terhadap seluruh Barang Milik Daerah. termasuk barang yang dipisahkan pada Perusahaan Daerah/Badan Usaha Milik Daerah/Yayasan Milik Daerah. (4) Pelaksanaan Sensus Barang Milik Daerah sebagaimana pada Ayat (1) dengan cara swakelola dan/atau pihak lain. Pembantu Pengelola bertanggungjawab untuk menghimpun hasil inventarisasi Barang Milik Daerah dari SKPD sebagaimana dimaksud pada Ayat (4) dalam Buku Induk Inventaris Barang Daerah. Inventarisasi sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) meliputi pencatatan. Barang milik/kekayaan Negara yang dipergunakan oleh Pemerintah Daerah. . baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Pengguna Barang bertanggungjawab untuk menginventarisasi seluruh Barang Milik Daerah/barang inventaris yang ada di lingkungan tanggungjawabnya dalam Buku Inventaris. Buku Inventaris sebagaimana dimaksud pada Ayat (3).

Laporan mutasi barang merupakan pencatatan barang bertambah dan/atau berkurang selama 6 (enam) bulan untuk dilaporkan kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola. penyediaan biaya persiapan dan pelaksanaan Sensus Barang Daerah. Rekapitulasi sebagaimana dimaksud pada Ayat (3) digunakan sebagai bahan penyusunan Neraca Pemerintah Daerah. penyusunan petunjuk teknis pelaksanaan Sensus Barang Milik Daerah.(2) Pelaksanaan Sensus Barang Milik Daerah melalui tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. tahunan kepada Pengguna Barang. dan masing-masing dibuatkan Daftar Rekapitulasi Barang Milik Daerah. Daftar mutasi Pengelola. dan tahunan kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola. Pengguna Barang menyampaikan laporan Pengguna Barang semesteran. D. Pelaporan hasil sensus barang daerah kepada Departemen Dalam Negeri melalui Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. penyediaan kartu/formulir pada petunjuk teknis serta peralatan yang diperlukan. Laporan Mutasi Barang semester I dan semester II digabungkan menjadi Daftar Mutasi Barang selama 1 (satu) tahun. penyampaian formulir dan bahan sampai unit kerja terendah. e. c. Pembantu Pengelola menghimpun seluruh laporan Pengguna Barang semesteran dan tahunan dari masing-masing SKPD. pembuatan Buku Induk Inventaris. dicatat secara tertib pada Laporan Mutasi Barang dan Daftar Mutasi Barang. b. pengawasan dan evaluasi hasil sensus barang dalam SKPD. pembentukan panitia Sensus Barang Daerah. d. d. penataran petugas pelaksaaan Sensus Barang Milik Daerah. pelaksanaan sensus barang daerah yang masing-masing di SKPD dengan mengisi KIB dan KIR. Mutasi barang bertambah dan/atau berkurang pada masing-masing SKPD setiap semester. jumlah maupun nilai serta dibuat rekapitulasinya. b. Laporan sebagaimana dimaksud Ayat (1) dan Ayat (2) merupakan hasil pencatatan Barang Milik Daerah yang termuat dalam Kartu Inventaris Barang A. E dan F. (4) Tahap pelaksanaan meliputi : a. c. penyelesaian hasil sensus Barang Milik Daerah dengan menyampaikan buku inventaris oleh unit kerja terendah kepada atasan. f. (3) Tahap persiapan meliputi : a. pembuatan daftar rekapitulasi oleh SKPD. B. Bagian Ketiga Pelaporan Pasal 30 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Kuasa Pengguna Barang menyampaikan laporan Barang Milik Daerah semesteran. C.17 - . dan e. dan g. barang selama 1 (satu) tahun tersebut disimpan pada Pembantu (9) .

b) alat-alat besar apung. . b) alat kedokteran gigi. alat-alat bengkel dan alat ukur : a) alat bengkel bermotor. dan c) alat-alat pertanian/peternakan lain sejenisnya. e) alat kedokteran THT. b) alat pemeliharaan tanaman/pasca penyimpanan. 7. c) alat-alat bantu. b) alat bengkel tak bermotor. merek. 6. dan h) alat-alat kedokteran lain sejenisnya. alat-alat pertanian/peternakan : a) alat pengolahan tanah dan tanaman. b. f) alat rontgen. d) alat angkut apung tak bermotor. Pasal 31 Barang Milik Daerah digolongkan dalam 6 (enam) kelompok yaitu : a. alat-alat kantor dan rumah tangga. d) alat kedokteran mata. alat-alat kedokteran : a) alat kedokteran umum. alat-alat angkutan : a) alat angkutan darat bermotor. 5. c) alat angkut apung bermotor. g) alat farmasi. dan d) alat-alat besar sejenisnya. alat-alat besar : a) alat-alat besar darat. e) alat angkut bermotor udara. 4. b) alat angkutan darat tak bermotor. type. dan c) alat-alat bengkel dan alat ukur lain sejenisnya. 2. Tanah. meliputi : 1. dan lain sebagainya juga harus mencantumkan nilai barang. 3. c) alat kedokteran keluarga berencana.(10) Laporan inventarisasi barang (mutasi bertambah dan/atau berkurang) selain mencantumkan jenis. alat studio dan alat komunikasi. dan f) alat-alat angkutan lain sejenisnya. peralatan dan mesin.18 - .

monumen sejarah. b) jembatan. jalan: a) jalan. c. h) bangunan air kotor. gedung/bangunan meliputi : 1. jaringan/instalasi : a) jaringan/instalasi air minum. d) polder. 3. 4. d) jaringan/instalasi pembangkit listrik. 5. b) alat peraga/praktek sekolah. dan d) jalan lain sejenisnya. irigasi dan jaringan/instalasi meliputi : 1. bangunan tempat ibadah. gedung/bangunan lain sejenisnya. dan c) alat-alat laboratorium lain sejenisnya. e) tanggul. b) jaringan/instalasi air kotor. jalan. b) persenjatan non senjata api. alat-alat keamanan : a) senjata api. 2. dan i) irigasi lain sejenisnya. c) bangunan air pengembangan rawa. gedung kantor.8. 7. 2. 9. dan 8. dan c) alat-alat keamanan lain sejenisnya. c) jaringan/instalasi pengolahan sampah. f) waduk. c) terowongan. 3. rumah tempat tinggal. b) bangunan air pasang. g) bangunan air minum. . 6. bangunan instalansi.19 - . d. irigasi : a) bangunan air irigasi. tugu peringatan. candi. alat-alat laboratorium : a) unit alat laboratorium.

Tanah dan/atau bangunan yang tidak digunakan oleh Pengguna Barang dan sudah diserahkan kepada Walikota. hewan/ternak. pencatatan. dan f) jaringan/instalasi lain sejenisnya. inventarisasi dan pelaporan agar diperoleh data yang akurat. 3. f. sewa. dan c. untuk sementara waktu Barang Milik Daerah tersebut belum dimanfaatkan oleh SKPD. untuk mengoptimalkan daya guna dan hasil guna Barang Milik Daerah. Sebagian tanah dan/atau bangunan yang masih dalam penggunaan Barang/Kuasa Pengguna barang. b. kerjasama pemanfaatan.20 - . Selain tanah dan/atau bangunan yang masih dalam penggunaan Pengguna Barang yang bernilai sampai dengan 5 (Lima) milyard. b. dan 4. atau d. . (2) Barang Milik Daerah yang dapat disewakan adalah sebagai berikut: a. bangun guna serah dan bangun serah guna. dan Pengguna c. Barang Milik Daerah tetap lainnya meliputi : 1. tumbuhan-tumbuhan/pepohonan. b. mencegah penggunaan Barang Milik Daerah oleh pihak lain secara tidak sah.e) jaringan/instalasi gardu listrik. 2. BAB VII PEMANFAATAN Bagian Pertama Bentuk Pemanfaatan Pasal 33 Bentuk-bentuk pemanfaatan Barang Milik Daerah berupa: a. Pasal 32 Dalam rangka tertib administrasi pengelolaan Barang Milik Daerah melalui pendaftaran. barang bercorak kesenian/kebudayaan. c. buku dan perpustakaan. pinjam pakai. Bagian Kedua Sewa Pasal 34 (1) Barang Milik Daerah dapat disewakan kepada Pihak lain sepanjang menguntungkan Pemerintah Daerah dengan ketentuan : a. dilaksanakan Program Sistem Informasi Manajemen Barang Daerah (SIMBADA) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. kontruksi dalam pengerjaan. e.

kelayakan penyewaan tanah dan/atau bangunan berdasarkan permintaan pihak lain yang akan menyewa tanah dan/atau bangunan dimaksud. f. Pengelola menetapkan barang milik Daerah yang disewakan berdasarkan hasil penelitian kelayakan tersebut.21 - . (7) Hasil penyewaan merupakan penerimaan daerah dan wajib disetor ke Kas Daerah. untuk sewa yang dilakukan oleh Pembantu Pengelola . dan b. perpanjangan dilakukan setelah dilakukan evaluasi oleh Pengelola dengan persetujuan Walikota. Tim menyampaikan laporan pelaksanaan tugasnya disertai laporan penilaian Barang Milik Daerah kepada Pengelola yang selanjutnya diajukan kepada Walikota untuk mendapatkan persetujuan.(3) Subjek Pelaksana Sewa adalah : a. Pengguna Barang dengan persetujuan Pengelola. kelayakan penyewaan Barang Milik Daerah yang ada dalam pengelolaannya. yang didasarkan pada kebutuhan Pengelola untuk melakukan penyewaan tanah dan/ atau bangunan dimaksud. (4) Jangka waktu penyewaan Barang Milik Daerah paling lama (5) lima tahun dan dapat diperpanjang. g. b. Pembantu Pengelola melakukan penelitian mengenai : 1. Tim Penyewaan sebagaimana dimaksud huruf c sekaligus bertugas sebagai Tim Penilai untuk melakukan penghitungan nilai Barang Milik Daerah yang disewakan dalam rangka penentuan besaran tarif sewa. untuk: (a) Sebagian tanah dan/atau bangunan yang status penggunaannya ada pada Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang. dan (b) Barang Milik Daerah selain tanah dan/atau bangunan yang berada dalam Penguasaannya yang bernilai sampai dengan 5 (Lima) Milyar. e. Walikota memutuskan untuk menyetujui atau tidaknya permintaan sewa Barang Milik Daerah dengan mempertimbangkan laporan Pengelola. Pengelola membentuk tim Penyewaan dengan Keputusan Walikota yang beranggotakan unsur Pengelola dan dinas teknis untuk melakukan penelitian dalam rangka penyewaan dimaksud terhadap Barang Milik Daerah disewakan serta menyiapkan hal-hal yang bersifat teknis. Pasal 35 Prosedur penyewaan Barang Milik Daerah sebagaimana dimaksud pasal 34 Ayat (2) huruf a adalah sebagai berikut : a. Pengelola dengan persetujuan Walikota. disertai alasannya. Pengelola memberitahukan kepada pihak yang mengajukan permintaan sewa. dan 2. (5) Perpanjangan jangka waktu sewa Barang Milik Daerah dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut : a. untuk sewa yang dilakukan oleh Pengguna Barang. perpanjangan dilakukan setelah dievaluasi oleh Pembantu Pengelola dan disetujui oleh Pengelola. d. . Dalam hal Walikota tidak menyetujui permintaan tersebut. b. (6) Penghitungan besaran sewa didasarkan pada formula tarif sewa yang diatur dalam Peraturan Perundangan yang berlaku. untuk tanah dan/atau bangunan yang berada dalam Penguasaan Pengelola dan/atau Bangunan yang bernilai lebih dari 5 (Lima) Milyar. c.

penyewa menyerahkan tanah dan/atau bangunan yang disewa kepada Pengelola Barang. Penyewaan tanah dan/atau bangunan dituangkan dalam perjanjian sewa menyewa yang memuat sekurang-kurangnya hak dan kewajiban para pihak. nilai perolehan dan NJOP tanah dan/atau bangunan. j. Bagian Kerjasama Sekretariat Daerah melaksanakan penatausahaan pelaksanaan sewa. maka permintaan tersebut harus disampaikan oleh Pengguna Barang kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu sewa. Pembantu Pengelola melakukan penelitian atas usulan untuk menyewakan Barang Milik Daerah yang disewakan dari Pengguna Barang tersebut yang selanjutnya diajukan persetujuan kepada Pengelola. Walikota menetapkan surat keputusan penyewaan. l. Dalam hal penyewa mengajukan permintaan perpanjangan jangka waktu sewa. Dalam hal Pengelola tidak menyetujui usulan tersebut. Pengguna melaporkan pelaksanaan sewa menyewa kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola dengan disertai bukti setor dan perjanjian sewa menyewa. nilai tanah dan/atau bangunan. pihak penyewa dan jangka waktu sewa. f. yang sekurangkurangnya memuat tanah dan/atau bangunan yang disewakan. Pengelola menerbitkan surat persetujuan penyewaan atas sebagian tanah dan/atau bangunan. besaran sewa. Dalam hal Walikota menyetujui permintaan tersebut. e.h. data transaksi sebanding dan sejenis. nilai sewa dan jangka waktu sewa. Pengelola memberitahukan kepada Pengguna Barang. besaran sewa.22 - . disertai alasannya. serta jangka waktu penyewaan. nilai sewa. calon penyewa. Dalam hal penyewa mengajukan permintaan perpanjangan jangka waktu sewa. maka permintaan tersebut harus disampaikan kepada Pengelola paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu sewa. nilai Barang Milik Daerah yang disewakan. c. g. luas yang akan disewakan. Penyewa menyetorkan uang sewa ke Kas Daerah. Bagian Kejasama melakukan monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan penyewaan. pihak penyewa. Dalam hal Pengelola menyetujui usulan tersebut. k. yang sekurang-kurangnya memuat Barang Milik Daerah yang disewakan. Setelah berakhirnya masa sewa. m. . Pengguna mengajukan usulan kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola untuk menyewakan sebagian tanah dan/atau bangunan dengan disertai pertimbangan penyewaan. d. dan h. Penyewaan dituangkan dalam perjanjian sewa menyewa yang ditandatangani oleh pengelola dan pihak penyewa yang sekurang-kurangnya memuat Barang Milik Daerah yang disewakan. Pasal 36 Prosedur penyewaan Barang Milik Daerah sebagaimana dimaksud pasal 34 Ayat (2) huruf b adalah sebagai berikut : a. i. dan n. gambar lokasi. Penyewa menyetorkan uang sewa ke kas Daerah. serta ditandatangani oleh Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang dan pihak penyewa. pihak penyewa dan jangka waktu sewa. yang penyerahannya dituangkan dalam berita acara serah terima. b.

nilai sewa dan jangka waktu penyewaan. Bagian Ketiga Pinjam Pakai Pasal 38 (1) Pinjam pakai dilaksanakan antara Pemerintah Daerah dengan Pemerintah Pusat dan antar Pemerintah Daerah. Barang Milik Daerah yang dapat dipinjampakaikan adalah sebagai berikut: a. d. Pengguna mengajukan usulan kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola disertai dengan hasil penelitian mengenai kelayakan kemungkinan penyewaan Barang Milik Daerah selain tanah dan/atau bangunan yang bernilai sampai 5 (lima) Milyard dimaksud. Penyewa menyetorkan uang sewa ke Kas Daerah. Sebagian tanah dan/atau bangunan yang masih dalam penggunaan Barang/Kuasa Pengguna barang. permintaan tersebut harus disampaikan oleh Pengguna Barang kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu sewa. c. yang sekurang-kurangnya memuat Barang Milik Daerah yang disewakan. dan jangka waktu sewa. dan h. Pinjam pakai selain hal tersebut diatas dapat diberikan kepada alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam rangka menunjang penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Pengguna Barang melaporkan pelaksanaan sewa menyewa tersebut kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola dengan disertai bukti setor dan perjanjian sewa menyewa. b. nilai sewa. Pembantu Pengelola melakukan penelitian atas usulan Penyewaan tersebut yang selanjutnya diajukan kepada Pengelola untuk mendapatkan persetujuan. Jangka waktu pinjam pakai Barang Milik Daerah paling lama (2) dua tahun kecuali kendaraan bermotor paling lama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang. e. Pengguna (2) (3) (4) (5) .Pasal 37 Prosedur penyewaan Barang Milik Daerah sebagaimana dimaksud pasal 34 Ayat (2) huruf c adalah sebagai berikut : a. Tanah dan/atau bangunan yang tidak digunakan oleh Pengguna Barang dan sudah diserahkan kepada Walikota. Dalam hal Pengelola menyetujui usulan tersebut. Dalam hal Pengelola tidak menyetujui usulan tersebut.23 - . Pengelola memberitahukan kepada Pengguna Barang disertai alasannya. Dalam hal penyewa mengajukan permintaan perpanjangan jangka waktu sewa. g. yang ditetapkan dengan Surat Perjanjian tanpa menerima imbalan dan setelah jangka waktu perjanjian berakhir. Pelaksana Pinjam pakai adalah Pengelola dengan persetujuan Walikota. Pengelola menerbitkan surat persetujuan. dan c. f. b. Penyewaan dituangkan dalam perjanjian sewa menyewa yang memuat sekurangkurangnya hak dan kewajiban para pihak. calon penyewa. serta ditandatangani oleh Pengguna/Kuasa Pengguna dan pihak penyewa. termasuk pertimbangan mengenai calon penyewa. Selain tanah dan/atau bangunan yang masih dalam penggunaan Pengguna. Barang Milik Daerah diserahkan kembali kepada Pemerintah Daerah melalui Pengelola.

b. Dalam hal Walikota menyetujui permohonan tersebut. Setelah berakhirnya jangka waktu peminjaman. dan c. tanah dan/atau bangunan dan selain tanah dan/atau bangunaan yang bernilai lebih dari 5 Milyar yang sudah diserahkan oleh Pengguna Barang kepada Pengelola. Barang Milik Daerah selain tanah dan/atau bangunan. jangka waktu peminjaman. c.(6) (7) (8) Perpanjangan jangka waktu pinjam pakai Barang Milik Daerah dilakukan oleh Pengelola dengan persetujuan Walikota. yang sekurang-kurangnya memuat pihak yang akan meminjam. e. f. Pelaksanaan pinjam pakai dituangkan dalam naskah perjanjian pinjam pakai antara Pengelola Barang dengan pemerintah daerah selaku peminjam. Pengelola dibantu Pembantu Pengelola melakukan kajian atas permintaan pinjam pakai tersebut. dan persyaratan lain yang dianggap perlu. disertai alasannya. jangka waktu peminjaman. hak dan kewajiban para pihak antara lain kewajiban peminjam untuk melakukan pemeliharaan dan menanggung biaya yang timbul selama pinjam pakai. dan Pinjam Pakai yang telah terjadi sebelum terbitnya peraturan walikota ini agar disesuaikan paling lambat 2 tahun sejak ditetapkan. selanjutnya diajukan kepada Walikota untuk mendapatkan persetujuan. Walikota memberitahukan kepada pemohon yang mengajukan permintaan pinjam pakai. terutama menyangkut kelayakan peminjaman Barang Milik Daerah yang diusulkan.24 - . Bagian Keempat Kerjasama Pemanfaatan Pasal 40 (1) Barang Milik Daerah yang dapat dikerjasamakan adalah : a. dan g. Pemohon pinjam pakai mengajukan permohonan kepada Walikota melalui Pengelola sekurang-kurangnya memuat pertimbangan yang mendasari diajukannya permintaan. Setelah masa pinjam pakai berakhir. dan spesifikasi barang milik Daerah serta detail peruntukannya. d. Pemeliharaan dan segala biaya yang timbul selama masa pelaksanaan pinjam pakai menjadi tanggung jawab peminjam. dan kewajiban peminjam untuk melakukan pemeliharaan Barang Milik Daerah yang dipinjam. peminjam wajib menyerahkan objek pinjam pakai kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola yang dituangkan dalam berita acara serah terima. . Dalam hal Walikota tidak menyetujui permohonan tersebut. Pasal 39 (9) Prosedur Pelaksanaan Pinjam Pakai Barang Milik Daerah adalah sebagai berikut : a. Hasil kajian tersebut dalam huruf b. Walikota menerbitkan surat persetujuan pinjam pakai Barang Milik Daerah. jenis dan besaran Barang Milik Daerah yang dipinjamkan. peminjam harus mengembalikan Barang Milik Daerah yang dipinjam dalam kondisi sebagaimana yang dituangkan dalam perjanjian. yang antara lain memuat subjek dan objek pinjam pakai. sebagian tanah dan/atau bangunan yang masih digunakan oleh Pengguna Barang. b.

(5) Biaya yang berkenaan dengan persiapan dan pelaksanaan penyusunan surat perjanjian. . kecuali untuk Barang Milik Daerah yang bersifat khusus (senjata api. Penilaian dan pengumuman lelang. Pengguna Barang dengan persetujuan Pengelola . bandar udara. penelitian. pengembangbiakan/pelestarian satwa langka. (4) Biaya pengkajian. peserta kurang dari 5 dapat dilakukan pemilihan langsung dan/atau penunjukan langsung dengan negosiasi baik teknis maupun harga. dan c. dan (b) Barang Milik Daerah selain tanah dan/atau bangunan yang nilainya s/d 5 (Lima) Milyar. Infrastruktur sumber daya air meliputi saluran pembawa air baku dan waduk/bendungan. (9) Infrastruktur sebagaimana dimaksud ayat (8) terdiri atas : a. Infrastruktur transportasi. (8) Jangka waktu kerjasama pemanfaatan Barang Milik Daerah infrastruktur paling lama 50 (lima puluh) tahun sejak perjanjian ditandatangani dan dapat diperpanjang. (7) Jangka waktu kerjasama pemanfaatan Barang Milik Daerah non infrastruktur paling lama 30 (tiga puluh) tahun sejak perjanjian ditandatangani dan dapat diperpanjang. jaringan rel dan stasiun kereta api. Pengelola dibantu oleh Bagian Kerjasama Sekretariat Daerah dengan persetujuan Walikota. (6) Selama jangka waktu pengoperasian. Infrastruktur air minum meliputi bangunan pengambilan air baku. d. konsultan pelaksana/pengawas dibebankan pada pihak ketiga. Infrastruktur jalan meliputi jalan tol dan jembatan tol. pendidikan dan sarana olah raga) dapat dilakukan penunjukan langsung. tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dana dalam APBD untuk memenuhi biaya operasional/pemeliharaan/perbaikan yang diperlukan terhadap Barang Milik Daerah dimaksud. mitra kerjasama pemanfaatan dilarang menjaminkan atau menggadaikan Barang Milik Daerah yang menjadi obyek kerjasama pemanfaatan. (3) Kerjasama pemanfaatan atas Barang Milik Daerah dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut : a. jaringan distribusi dan instalasi pengolahan air minum. untuk : (a) sebagian tanah dan/atau bangunan yang status penggunaannya ada pada Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang yang nilainya s/d 5 (Lima) Milyar. b. untuk tanah dan/atau bangunan yang berada dalam penguasaan Pengelola serta selain tanah dan/atau bangunan yang nilainya diatas 5 (Lima) Milyar. mitra kerjasama pemanfaatan harus membayar kontribusi tetap dan pembagian keuntungan ke rekening Kas Daerah setiap tahun selama jangka waktu pengoperasian yang telah ditetapkan dan pembagian keuntungan hasil kerjasama pemanfaatan. meliputi Pelabuhan laut.25 - . pengelolaan limbah. dibebankan pada APBD. sungai atau danau. pelabuhan laut. jaringan transmisi. pelabuhan udara. b. c. mitra kerjasama pemanfaatan ditetapkan melalui tender dengan mengikutsertakan sekurang-kurangnya 5 (lima) peserta/peminat dan apabila diumumkan 2 x. b.(2) Subjek Pelaksana Kerjasama Pemanfaatan atas Barang Milik Daerah sebagaimana ayat (1) adalah : a.

bertugas untuk melakukan penilaian terhadap Barang Milik Daerah yang akan dikerjasamakan serta menghitung besaran kontribusi dan pembagian keuntungan. . f. Berdasarkan surat penetapan tersebut. transmisi atau distribusi tenaga listrik. transmisi. Dalam pelaksanaan tugasnya. besaran kontribusi tetap dan pembagian hasil keuntungan. kurangnya memuat objek kerjasama pemanfaatan. Sekretariat Tim Kerjasama Pemanfaatan sebagaimana dimaksud huruf a berada pada Bagian Kerjasama Sekretariat Daerah Kota Semarang. g. selanjutnya dilakukan proses pemilihan mitra kerjasama pemanfaatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku yang dilaksanakan oleh Panitia Pemilihan Mitra Kerjasama Barang Milik Daerah. Infrastruktur telekomunikasi meliputi jaringan telekomunikasi. dan pembagian hasil keuntungan yang didasarkan pada ketentuan yang berlaku. Infrastruktur air limbah meliputi instalasi pengolah air limbah jaringan pengumpul dan jaringan utama. Panitia Pemilihan sebagaimana dimaksud huruf c diketuai oleh Kepala Badan Pelayanan Perijinan Terpadu. dan jangka waktu pemanfaatan. Pasal 41 Prosedur Pelaksanaan Kerjasama Pemanfaatan Barang Milik Daerah yang dilakukan oleh Pengelola atas tanah dan/atau bangunan sebagaimana Pasal 40 Ayat (1) huruf a adalah sebagai berikut : a. yang bertugas melaksanakan proses kerjasama pemanfaatan Barang Milik Daerah mulai dari perencanaan. d. Hasil pelaksanaan pemilihan mitra kerjasama pemanfaatan disampaikan kepada Walikota melalui Pengelola untuk ditetapkan. pengangkutan. c. mitra kerjasama pemanfaatan. Walikota menerbitkan surat penetapan nilai tanah dan/atau bangunan.26 - . Dalam melaksanakan tugas sebagaimana huruf d. b. Penilai dapat melibatkan Penilai Eksternal yang ditetapkan oleh Walikota.e. bertugas untuk melakukan proses pemilihan mitra kerjasama. penghitungan besaran kontribusi tetap. i. Infrastruktur ketenagalistrikan meliputi pembangkit. Penilai sebagaimana dimaksud huruf c ditetapkan dengan Keputusan Walikota. Tim Kerjasama pemanfaatan Barang Milik Daerah sebagaimana huruf a dibantu oleh Penilai dan Panitia Pemilihan Mitra Kerjasama Barang Milik Daerah yang ditetapkan dengan Keputusan Walikota. Apabila telah memenuhi persyaratan dan disetujui. dan sarana persampahan yang meliputi pengangkut dan tempat pembuangan. Penilai menyampaikan laporan kepada Walikota melalui Pengelola terkait dengan hasil penelitian atas tanah dan/atau bangunan. Berdasarkan laporan Penilai dimaksud. Walikota menerbitkan pelaksanaan kerjasama pemanfaatan tanah dan/atau bangunan dimaksud. j. e. k. Infrastruktur minyak dan gas bumi meliputi pengolahan. atau h. Pengelola membentuk Tim Kerjasama Pemanfaatan Barang Milik Daerah. h. dan distribusi minyak dan gas bumi. keputusan sekurangtetap dan kerjasama penyimpanan. g. diketuai oleh Pembantu Pengelola. pelaksanaan sampai dengan pengawasan dan pengendalian dengan Keputusan Walikota. besaran kontribusi pembagian keuntungan. f.

Pelaksanaan kerjasama pemanfaatan dituangkan dalam naskah perjanjian. f. . nilai tanah dan/atau bangunan. dan nilai perolehan dan/atau NJOP tanah dan/atau bangunan. m. besaran kontribusi tetap dan pembagian hasil keuntungan. hak dan kewajiban para pihak. dan q. n. Berdasarkan permohonan persetujuan tersebut. Pengguna Barang mengajukan usulan kerjasama pemanfaatan sebagian tanah dan/atau bangunan kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola. Perpanjang jangka waktu kerjasama pemanfaatan Barang Milik Daerah dilakukan setelah dievaluasi oleh Pengelola dengan persetujuan Walikota. Pengelola memberitahukan kepada Pengguna Barang disertai dengan alasannya. yang antara lain memuat objek kerjasama pemanfaatan. pertimbangan yang mendasari usulan kerjasama pemanfaatan. dengan disertai gambar lokasi.27 - . dan jangka waktu kerjasama pemanfaatan. dengan memperhatikan azas optimalisasi daya guna dan hasil guna Barang Milik Daerah. antara Walikota dengan mitra kerjasama pemanfaatan. hasil penghitungan besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan. Pasal 42 Prosedur Kerjasama pemanfaatan atas sebagian tanah dan/atau bangunan yang berlebih dari tanah dan/atau bangunan yang sudah digunakan oleh Pengguna Barang sebagaimana dimaksud pasal 40 ayat (1) huruf b adalah sebagai beikut : a. Tim Kerjasama menyiapkan konsep perjanjian kerjasama pemanfaatan serta menyiapkan konsep berita acara serah terima barang Berdasarkan Keputusan Walikota sebagaimana dimaksud huruf k. Setelah berakhirnya jangka waktu kerjasama pemanfaatan. luas. Pengelola memutuskan disetujui atau tidaknya usulan kerjasama pemanfaatan. Dalam rangka penghitungan besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan. sanksi. Permohonan perpanjangan jangka waktu kerjasama pemanfaatan harus disampaikan oleh mitra kerjasama kepada Walikota paling lambat 1 (satu) tahun sebelum berakhirnya jangka waktu kerjasama pemanfaatan. Dalam hal Pengelola tidak menyetujui usulan tersebut. p. g. Dalam hal Pengelola menyetujui usulan tersebut. b. berikut dengan sarana dan prasarana yang menjadi bagian dari pelaksanaan kerjasama pemanfaatan. Pembantu Pengelola melakukan kajian atas usulan Pengguna Barang tersebut. mitra kerjasama menyerahkan objek kerjasama pemanfaatan. mitra kerjasama pemanfaatan. Pengelola menerbitkan surat persetujuan yang sekurang-kurangnya memuat bagian tanah dan/atau bangunan yang akan dijadikan objek kerjasama pemanfaatan. mekanisme pembayaran.l. c. Penilai menyampaikan hasil penilaian kepada Pengguna Barang yang selanjutnya dimohonkan persetujuan kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola. Pengelola menugaskan Penilai untuk melakukan penghitungan nilai Barang Milik Daerah yang akan dijadikan objek kerjasama pemanfaatan. terutama menyangkut kelayakan kemungkinan kerjasama pemanfaatan Barang Milik Daerah dimaksud. evaluasi. d. besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan. o. serta peningkatan penerimaan daerah. dan jangka waktu kerjasama pemanfaatan. dilengkapi dengan dokumen terkait kepada Pengelola yang dituangkan dalam berita acara serah terima. dan penatausahaan pelaksanaan kerjasama pemanfaatan Barang Milik Daerah. e. serta jangka waktu kerjasama pemanfaatan. Tim Kerjasama melakukan monitoring.

m. l. Permohonan perpanjangan jangka waktu kerjasama pemanfaatan harus disampaikan oleh Pengguna Barang kepada Pengelola melalui pembantu pengelola paling lambat 6 (enam) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu kerjasama pemanfaatan. disertai dengan penetapan besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan. fotokopi dokumen kepemilikan. penghitungan besaran kontribusi tetap. Dalam hal Pengelola tidak menyetujui usulan tersebut. g. nilai perolehan. terutama menyangkut kelayakan kemungkinan kerjasama pemanfaatan Barang Milik Daerah selain tanah dan/atau bangunan dimaksud.28 - . dan p. dan jangka waktu kerjasama pemanfaatan. besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan. Pengelola menerbitkan surat persetujuan atas usulan kerjasama pemanfaatan. mitra menyerahkan objek kerjasama pemanfaatan. Pembantu Pengelola melakukan kajian atas usulan Pengguna Barang tersebut.h. Pengguna Barang menetapkan mitra kerjasama pemanfaatan berdasarkan hasil pelaksanaan pemilihan dimaksud. Dalam hal Pengelola menyetujui usulan tersebut. berikut dengan sarana dan prasarana yang menjadi bagian dari pelaksanaan kerjasama pemanfaatan. evaluasi dan penatausahaan pelaksanaan kerjasama pemanfaatan Barang Milik Daerah tersebut. Pengelola memberitahukan kepada Pengguna Barang disertai dengan alasannya. Berdasarkan persetujuan dari Pengelola tersebut dalam huruf g. Perpanjangan jangka waktu kerjasama pemanfaatan Barang Milik Daerah dilakukan setelah dievaluasi oleh Pengguna Barang dan disetujui oleh Pengelola. d. Pengguna Barang menyampaikan laporan pelaksanaan kerjasama pemanfaatan kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola. Pelaksanaan kerja sama pemanfaatan dituangkan dalam bentuk naskah perjanjian kerja sama pemanfaatan antara Pengguna Barang dengan mitra kerja sama pemanfaatan yang sekurang-kurangnya memuat pihak mitra kerja sama pemanfaatan. n. k. o. dan pembagian keuntungan. Berdasarkan persetujuan dari Pengelola. disertai dengan pertimbangan kerjasama pemanfaatan. kartu identitas barang. disampaikan kepada Pengguna Barang untuk mendapatkan penetapan. Pengguna Barang melakukan pemilihan mitra kerjasama pemanfaatan. Pengelola memutuskan disetujui atau tidaknya usulan kerjasama pemanfaatan yang diajukan oleh Pengguna Barang. c. Hasil penelitian. jangka waktu kerjasama pemanfaatan dan kewajiban kerjasama. Pasal 43 Prosedur Kerjasama pemanfaatan atas Barang Milik Daerah selain tanah dan/atau bangunan yang digunakan oleh Pengguna Barang sebagaimana dimaksud Pasal 40 Ayat (1) huruf c adalah sebagai beikut : a. j. Berdasarkan kajian dimaksud. Pengguna Barang mengajukan usul kerjasama pemanfaatan kepada Pengelola melalui Pembantu pengelola. dilengkapi dengan dokumen terkait kepada Pengelola yang dituangkan dalam berita acara serah terima. Pengguna Barang melakukan pemilihan mitra kerjasama pemanfaatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Penyerahan Barang Milik Daerah yang menjadi objek kerjasama pemanfaatan dituangkan dalam berita acara serah terima. serta jangka waktu kerja sama pemanfaatan. i. b. e. . Pengguna Barang melakukan monitoring. Setelah berakhirnya jangka waktu kerjasama pemanfaatan. yang sekurang-kurangnya memuat objek kerjasama pemanfaatan. f.

dan fotokopi perjanjian kerjasama pemanfaatan. evaluasi. untuk mengoptimalisasikan Barang Milik Daerah. besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan. j. serta jangka waktu kerjasama pemanfaatan. dan e.h. dan o. mitra Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna harus mempunyai kemampuan keuangan dan keahlian. mitra kerja sama pemanfaatan. disertai bukti setor kontribusi tetap. d. dana untuk pembangunan berikut penyelesaian fasilitasnya tidak membebani APBD. i. Barang Milik Daerah belum dimanfaatkan. dapat menambah/meningkatkan PAD. m. n. mitra menyerahkan objek kerjasama pemanfaatan dilengkapi dengan dokumen terkait kepada Pengguna Barang yang dituangkan dalam berita acara serah terima. Penyerahan Barang Milik Daerah yang menjadi objek kerjasama pemanfaatan dituangkan dalam berita acara serah terima. Pelaksanaan kerja sama pemanfaatan dituangkan dalam naskah perjanjian kerjasama pemanfaatan antara Pengguna Barang dengan mitra kerjasama pemanfaatan. Pemerintah Daerah memiliki tanah yang belum dimanfaatkan. k. c. Bagian Kelima Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna Pasal 44 (1) Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna atas Barang Milik Daerah dilaksanakan dengan pertimbangan: a. Setelah berakhirnya jangka waktu kerjasama pemanfaatan. dapat menunjang program pembangunan dan kemasyarakatan. Perpanjangan jangka waktu kerjasama pemanfaatan Barang Milik Daerah dilakukan setelah dievaluasi oleh Pengguna Barang dan disetujui oleh Pengelola. Pengguna Barang dan Pengelola melakukan monitoring.29 - . b. gedung yang dibangun berikut fasilitasnya harus sesuai dengan kebutuhan Pemerintah Daerah sesuai dengan tugas dan fungsi. Permohonan perpanjangan jangka waktu kerjasama pemanfaatan harus disampaikan oleh Pengguna Barang kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola paling lambat 1 (satu) tahun sebelum berakhirnya jangka waktu kerjasama pemanfaatan. c. yang sekurang-kurangnya memuat objek kerjasama pemanfaatan. disertai dengan besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan kerjasama pemanfaatan. l. dalam rangka efisiensi dan efektifitas. (2) Pelaksana Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna adalah Pengelola dengan Persetujuan Walikota Pasal 45 Pelaksanaan Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna atas Barang Milik Daerah dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Pengguna Barang melaporkan pelaksanaan kerjasama pemanfaatan dimaksud kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola. Pengguna Barang menetapkan mitra kerjasama pemanfaatan. . d. dan menatausahakan pelaksanaan kerjasama pemanfaatan. b.

obyek pemeliharaan meliputi tanah beserta bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya. . m. Panitia Tender/lelang sebagaimana dimaksud huruf c diketuai oleh Kepala Badan Pelayanan Perijinan Terpadu memiliki tugas sebagai berikut : a. tidak boleh dijaminkan. masa pengelolaan. f. n. Apabila Walikota menyetujui. d. ditindaklanjuti dengan c. biaya penelitian. i. Pasal 46 Prosedur Kegiatan Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna dilaksanakan sebagai berikut : a. dibantu oleh Panitia tender/lelang pemilihan mitra dan Penilai yang ditetapkan dengan Keputusan Walikota. penggunaan tanah yang dibangun harus sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Wilayah/Kota (RUTRWK). j. menerima dan meneliti secara administratif permohonan yang diajukan oleh pemohon. biaya yang berkenaan dengan persiapan dan pelaksanaan penyusunan surat perjanjian. Berdasarkan penelitian dan pengkajian tersebut sebagaimana huruf a dan huruf b. Pengelola dibantu Bappeda melaksanakan kajian teknis/Feasibility Study tentang Kelayakan Rencana Pembangunan. b. mitra kerjasama Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna membayar kontribusi ke kas daerah setiap tahun selama jangka waktu pengoperasian. digadaikan dan dipindahtangankan. selama masa pengoperasian. dibebankan pada APBD. h. besarnya kontribusi dan hal-hal lain yang dianggap perlu sesuai bentuk pemanfaatannya bersama-sama dengan pihak pemohon. Pengelola membentuk Panitia Penggunausahaan dengan sekretariat pada Bagian Kerjasama Sekretariat Daerah. Feasibility Study sebagaimana dimaksud selanjutnya penyusunan Detail Engineering Design oleh SKPD terkait.e. Penilai dan pengumuman lelang. obyek Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna berupa sertifikat tanah Hak Pengelolaan (HPL) milik Pemerintah Daerah. pihak ketiga akan memperoleh Hak Guna Bangunan (HGB) diatas HPL milik Pemerintah Daerah selama masa perjanjian. e.30 - c. g. l. . dan o. dibebankan pada pihak ketiga. Pengelola mengajukan Persetujuan kepada Walikota untuk pelaksanaan rencana penggunausahaan Barang Milik Daerah dengan cara Bangun Guna Serah atau Bangun Serah Guna. diagunkan dengan dibebani hak tanggungan dan hak tanggungan dimaksud akan hapus dengan habisnya Hak Guna Bangunan (HGB). pengkajian. b. f. izin mendirikan bangunan atas nama Pemerintah Daerah. tanah dan/atau bangunan tetap milik Pemerintah Daerah. Hak Guna Bangunan (HGB) diatas HPL milik Pemerintah Daerah dapat dijadikan jaminan. k. jangka waktu penggunausahaan paling lama 30 (tiga puluh) tahun sejak perjanjian ditandatangani. meneliti dan membahas proposal/surat permohonan yang diajukan pemohon yang berkaitan dengan jenis usaha. melakukan penelitian lapangan. Panitia Penggunausahaan sebagaimana dimaksud huruf d. konsultan pelaksana/pengawas.

maka nilai tanahnya diperhitungkan separuh / 50% (lima puluh per seratus) dari nilai sebagaimana dimaksud huruf a. apabila diumumkan 2 kali berturut-turut peminatnya kurang dari 5. apabila pemanfaatan tanah tidak merubah status penggunaan/ pemanfaatan (fungsi). membuat berita acara hasil penelitian. dan jangka waktu penggunausahaan. memberikan dan menyampaikan saran pertimbangan kepada Walikota. d. c. dan menyiapkan surat Penetapan Mitra Pengguna Usahaan. besaran nilai investasi yang diperlukan/disediakan pihak ketiga. Penetapan mitra kerjasama penggunausahaan dilaksanakan melalui tender/ lelang dengan mengikut sertakan sekurang-kurangnya 5 peserta/peminat. h. besaran kontribusi bangun guna serah Penilai harus nilai tanah milik Pemerintah Daerah sebagai obyek bangun guna serah ditetapkan dengan mencari nilai rata-rata antara nilai NJOP dan Harga Pasaran Umum setempat. g. dapat dilakukan proses pemilihan langsung atau penunjukan langsung melalui negosiasi baik teknis maupun harga. peruntukan bangun guna serah untuk kepentingan umum dan/atau kepentingan perekonomian/perdagangan. Panitia Penggunausahaan menyiapkan konsep perjanjian serta menyiapkan konsep berita acara serah terima barang Berdasarkan Keputusan Walikota sebagaimana dimaksud huruf k. dan lainlain. d. e. mitra yang dipilih. b. sekurang-kurangnya memuat objek yang digunausahakan. mengajukan proposal. i. memiliki keahlian dibidangnya. j. memiliki modal kerja yang cukup. dan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja dan peningkatan PAD. Dalam menghitung memperhatikan : a. Hasil pelaksanaan pemilihan mitra penggunausahaan disampaikan kepada Walikota melalui Pengelola untuk ditetapkan. h. bangunan. k. Penilai sebagaimana dimaksud huruf e. dan Persyaratan lain yang dianggap perlu. Apabila telah memenuhi persyaratan dan disetujui. memiliki pengalaman kegiatan usaha sesuai bidangnya. e. f. akte pendirian perusahaan. e. diketuai oleh Pembantu Pengelola Barang. memiliki SIUP sesuai bidangnya. g. data teknis antara lain : tanah. Walikota menerbitkan keputusan pelaksanaan Penggunausahaan dimaksud. besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan.31 - . c. rencana pembangunan gedung. m. . Permohonan penggunausahaan ditujukan kepada panitia tender/lelang dengan dilengkapi data-data sebagai berikut : a. b. l. f. dimana pola bangun guna serah dilakukan pembangunannya dibawah permukaan tanah.d.

dan pengadaan label dimaksud dilaksanakan oleh Pembantu Pengelola. hak dan kewajiban para pihak. Permohonan perpanjangan jangka waktu kerjasama pemanfaatan harus disampaikan oleh mitra kerjasama kepada Walikota paling lambat 1 (satu) tahun sebelum berakhirnya jangka waktu kerjasama pemanfaatan. (2) Penyimpanan bukti kepemilikan Barang Milik Daerah tanah dan/atau bangunan dilakukan oleh Pembantu Pengelola Barang. serta peningkatan penerimaan daerah. dan r. Perpanjangan jangka waktu Bangun Serah Guna Barang Milik Daerah dilakukan setelah dievaluasi oleh Pengelola dengan persetujuan Walikota. pemasangan label oleh Pengguna Barang. mekanisme pembayaran. Pelaksanaan Penggunausahaan dituangkan dalam naskah perjanjian. dan penatausahaan p. antara Walikota dengan mitra pengunausahaan. Pasal 48 (1) Pengamanan Barang Milik Daerah dilaksanakan oleh Pengguna Barang sesuai dengan Peraturan Walikota tentang Penggunaan Barang Milik Daerah. yang antara lain memuat objek penggunausahaan. (4) Penyimpanan bukti kepemilikan Barang Milik Daerah selain ayat (2) dan ayat (3). penyelesaian bukti kepemilikan Barang Milik Daerah selain tanah dan/atau bangunan oleh Pengguna Barang. 3.32 - . sanksi. Setelah berakhirnya jangka waktu kerjasama pemanfaatan. mitra kerjasama menyerahkan objek kerjasama pemanfaatan. evaluasi. besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan. BAB VIII PENGAMANAN DAN PEMELIHARAAN Bagian Pertama Pengamanan Pasal 47 (1) Bukti kepemilikan Barang Milik Daerah wajib disimpan dengan tertib dan aman. 2. mitra penggunausahaan. dan 4. pelaksanaan Penggunausahaan Barang Milik Daerah. penyelesaian bukti kepemilikan Barang Milik Daerah atas tanah dan/atau bangunan oleh Pembantu Pengelola. pencatatan oleh Pengguna Barang dan dilaporkan kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola. dilakukan oleh Pengguna Barang. .n. dengan memperhatikan azas optimalisasi daya guna dan hasil guna Barang Milik Daerah. (2) Pengamanan Barang Milik Daerah dilaksanakan dengan langkah–langkah: a pengamanan administratif meliputi : 1. Tim Penggunausahaan melakukan monitoring. berikut dengan sarana dan prasarana yang menjadi bagian dari pelaksanaan kerjasama pemanfaatan. serta jangka waktu penggunausahaan. q. o. (3) Penyimpanan bukti kepemilikan Kendaraan Dinas dilakukan oleh Bagian Rumah Tangga dan Santel Sekretariat Daerah. dilengkapi dengan dokumen terkait kepada Pengelola yang dituangkan dalam berita acara serah terima. Penyerahan kembali bangunan/gedung beserta fasilitas kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan dilaksanakan setelah masa pengoperasian yang dijanjikan berakhir dan dituangkan dalam bentuk berita acara.

2. waktu dan pelaksanaan. c tindakan hukum meliputi : 1. Pembantu Pengelola. jenis pekerjaan. c. (2) Barang yang dipelihara dan dirawat adalah barang inventaris yang tercatat dalam buku inventaris. perkiraan biaya. Rencana pemeliharaan barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi bahan dalam menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD). Pengguna Barang dan SKPD terkait. upaya pengadilan perdata maupun pidana dengan dikoordinasikan oleh Bagian Hukum. dan (b) pemasangan papan tanda kepemilikan dilakukan oleh Pembantu Pengelola terhadap tanah dan/atau bangunan yang dipergunakan untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi SKPD.33 - . Barang Milik Daerah selain tanah dan/atau bangunan : (a) Pemanfaatan sesuai tujuan. (2) . menambah atau mengurangi bentuk maupun konstruksi asal.b pengamanan fisik meliputi : 1. dan e. dan (c) Pemasangan tanda kepemilikan (labeling). macam/jenis barang. tanpa merubah. penyegelan atau penyitaan secara paksa dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama-sama Bagian Hukum. (b) Penggudangan/penyimpanan. Bagian Kedua Pemeliharaan Pasal 49 (1) Pemeliharaan dilakukan terhadap barang inventaris yang sedang dalam pemakaian. musyawarah untuk mencapai penyelesaian atas Barang Milik Daerah yang bermasalah dengan pihak lain pada tahap awal dilakukan oleh Pengguna Barang dan pada tahap selanjutnya oleh Pembantu Pengelola. banyaknya atau volume pekrjaan. d. Pasal 50 (1) Setiap SKPD diwajibkan untuk menyusun rencana pemeliharaan barang yang merupakan rangkaian tindakan atau gambaran pekerjaan yang akan dilaksanakan terhadap barang inventaris yang memuat ketentuan mengenai: a. penerapan hukum melalui tindakan represif/pengambil alihan. b. 2. sehingga dapat dicapai pendayagunaan barang yang memenuhi persyaratan. dan 3. Barang Milik Daerah atas tanah dan/atau bangunan : (a) pemagaran dilakukan oleh Pengguna Barang terhadap tanah dan/atau bangunan yang dipergunakan untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pada masing-masing SKPD.

Pasal 51 (1) Pelaksanaan pemeliharaan Barang Milik Daerah dilaksanakan oleh Pembantu Pengelola. Pasal 53 Pelaksanaan penilaian Barang Milik Daerah dilakukan dalam rangka pengamanan. (2) (3) Penilaian Barang Milik Daerah berpedoman pada Standar Akuntansi Pemerintah (SAP). (4) Penggunaan wajib melaporkan hasil pelaksanaan pekerjaan/pemeliharaan barang yang bernilai diatas 5% dari Harga Perolehan kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola. d. penilaian Barang Milik Daerah untuk tanah dan/atau bangunan. penilaian Barang Milik Daerah selain tanah dan/atau bangunan berdasarkan nilai perolehan dan/atau harga pasaran umum dikurangi penyusutan serta memperhatikan kondisi fisik Barang Milik Daerah dimaksud. (4) Penggunaan wajib melaporkan hasil pelaksanaan pekerjaan/pemeliharaan barang yang bernilai diatas 5% dari Harga Perolehan kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola. Pengguna Barang dan Kuasa Pengguna Barang sesuai dengan Daftar Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (DKPBMD) yang ada di masing-masing SKPD. b. dan b. pencatatan. Pengamanan.34 - . pelaksanaan penilaian Barang Milik Daerah dilakukan oleh Penilai yang ditetapkan dengan Keputusan Walikota dan dapat melibatkan lembaga independen bersertifikat dibidang penilaian asset. lembaga independen sebagaimana dimaksud huruf a adalah perusahaan penilai yang memenuhi persyaratan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. BAB IX PENILAIAN Pasal 52 (1) Penilaian Barang Milik Daerah dilakukan dalam rangka : a. dilakukan dengan penilaian terendah menggunakan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) sehingga diperoleh nilai wajar.(3) Rencana pemeliharaan barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Pengelola melalui Pembantu Pengelola untuk dipergunakan sebagai pedoman selama tahun anggaran berjalan. . (3) Pelaksanaan pemeliharaan Barang Milik Daerah ditetapkan dengan Surat Perintah Kerja/Surat Perjanjian/Kontrak yang ditandatangani oleh Pengguna Barang. (2) Pelaksanaan pemeliharaan Barang Milik Daerah yang berada dalam masa kerjasama pemanfaatan dengan pihak lain menjadi tanggung jawab pihak tersebut. pemanfaatan dan pemindahtanganan Barang Milik Daerah. inventarisasi dan penyusunan neraca Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pasal 52 ayat (1) huruf a dengan ketentuan : a. c. Kegiatan penilaian Barang Milik Daerah harus didukung dengan data yang akurat atas seluruh kepemilikan Barang Milik Daerah yang tercatat dalam daftar inventaris Barang Milik Daerah. pencatatan. inventarisasi dan penyusunan neraca Pemerintah Daerah.

kalkulasi biaya dan kapitalisasi pendapatan serta dilakukan sesuai standar penilaian yang diakui oleh Pemerintah. kebutuhan organisasi karena perkembangan tugas. rusak berat. b. BAB X PENGHAPUSAN Pasal 56 Penghapusan Barang Milik Daerah meliputi : a. penilaian terhadap benda-benda bersejarah dan benda-benda bercorak kebudayaan. penilaian Barang Milik Daerah yang dilaksanakan oleh lembaga independen dilakukan dengan pendekatan salah satu atau perpaduan dari data pasar. Pasal 57 (1) Penghapusan barang tidak bergerak berdasarkan pertimbangan/alasan-alasan sebagai berikut : a. terkena bencana alam/force majeure. d.35 - . g. Pasal 55 Pelaksanaan penilaian Barang Milik Daerah dilakukan dalam rangka pemanfaatan dan pemindahtanganan Barang Milik Daerah sebagaimana dimaksud pasal 52 ayat (1) huruf b dengan ketentuan : a. dapat melibatkan tenaga ahli dibidang tersebut. tidak dapat digunakan secara optimal (idle). Penghapusan dari Daftar Barang Pengguna dan/atau Kuasa Pengguna. c. pasal 48 dengan (2) Metode Penyusutan sebagaimana dimaksud ayat (1) menggunakan Metode Garis Lurus dan Penentuan Nilai penyusutan pertahun berpedoman pada masa manfaat Barang Milik Daerah yang ditetapkan oleh Walikota. dan b. pelaksanaan penilaian Barang Milik Daerah dilakukan oleh penilai internal yang ditetapkan oleh Walikota dan dapat melibatkan penilai eksternal yang ditetapkan oleh Walikota. maka dapat dilakukan penilaian oleh Penilai Barang Milik Daerah dengan membandingkan barang yang sejenis dan tahun yang sama. dan h. apabila harga barang pembelian. dan b. Barang Milik Daerah yang kondisinya telah rusak sama sekali dan tidak mempunyai nilai. Penghapusan dari Daftar Barang Milik Daerah. .e. terkena planologi kota. tidak perlu dicantumkan dalam daftar nilai di neraca. Pasal 54 (1) Dalam pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud memperhitungkan nilai penyusutan Barang Milik Daerah. pembuatan atau harga barang yang diterima dari sumbangan/hibah tidak diketahui nilainya. f. penilaian sebagaimana dimaksud huruf b dilaksanakan untuk mendapatkan nilai wajar dengan estimasi terendah menggunakan NJOP.

bagi tanaman atau hewan/ternak.000. (2) Penghapusan Barang Milik Daerah selain tanah dan/atau bangunan sampai dengan Rp. c. pertimbangan teknis. (c) telah melampaui batas waktu kegunaannya/kedaluwarsa. (c) mati. jumlah barang. hilang.000. (b) secara teknis tidak dapat digunakan lagi akibat modernisasi. Laporan sebagaimana dimaksud huruf a menyebutkan nama. (b) secara ekonomis lebih menguntungkan bagi daerah apabila dihapus. dokumen kepemilikan. pertimbangan ekonomis. dan (e) selisih kurang dalam timbangan/ukuran disebabkan penggunaan/ susut dalam penyimpanan/pengangkutan.000. Walikota membentuk Panitia Penghapusan Barang Milik Daerah yang susunan personilnya terdiri dari SKPD terkait. penggunaan. (d) karena penggunaan mengalami perubahan dasar spesifikasi. pertimbangan dalam rangka pelaksanaan rencana strategis Pertahanan Keamanan. c. pembiayaan.00 ( lima milyar rupiah) dilakukan oleh Pengelola setelah mendapat persetujuan Walikota. . antara lain: (a) untuk optimalisasi Barang Milik Daerah yang berlebih. 5. (2) Penghapusan barang bergerak berdasarkan pertimbangan/alasan-alasan sebagai berikut : a. antara lain: (a) secara fisik barang tidak dapat digunakan karena rusak dan tidak ekonomis bila diperbaiki.36 - . Pasal 58 (1) Penghapusan Barang Milik Daerah berupa barang tidak bergerak seperti tanah dan/atau bangunan dan selain tanah dam/atau bangunaan dengan nilai lebih dari Rp. karena biaya operasional dan pemeliharaannya lebih besar dari manfaat yang diperoleh. tugas Panitia Penghapusan sebagaimana dimaksud huruf c adalah meneliti barang yang rusak. (b) diluar kesalahan/kelalaian Penyimpan Barang dan/atau Pengurus Barang. b. b. nomor kode barang. dan (d) karena kecelakaan atau alasan tidak terduga (force majeure). mati (bagi hewan dan tanaman).000. susut.000. Pengguna melaporkan Barang Milik Daerah yang rusak. yang disebabkan: (a) kesalahan atau kelalaian Penyimpan Barang dan/atau Pengurus Barang. administrasi. penyatuan lokasi dalam rangka efisiensi dan memudahkan koordinasi.e. 5. Karena hilang/kekurangan perbendaharaan atau kerugian.00 (lima milyar rupiah) ditetapkan dengan Keputusan Walikota setelah mendapat persetujuan DPRD. lokasi. pemeliharaan/ perbaikan maupun data lainnya yang dipandang perlu berdasarkan laporan Pengguna Barang. Pasal 59 Proses penghapusan Barang Milik Daerah dilaksanakan sebagai berikut : a. dan f. d.000. berlebih dan tidak efisien lagi untuk kepentingan dinas kepada Walikota melalui Pengelola guna dilaksanakan penghapusan. nilai barang dan lain-lain yang diperlukan.

setelah mendapat persetujuan Walikota. hasil penelitian sebagaimana dimaksud huruf d dituangkan dalam bentuk Berita Acara hasil penelitian penghapusan. Pasal 61 (1) Penghapusan Barang Milik Daerah dengan tindak lanjut pemusnahan dilakukan apabila Barang Milik Daerah dimaksud : a. Pengelola mengajukan permohonan persetujuan kepada Walikota mengenai rencana penghapusan barang dimaksud dari daftar barang pengguna berdasarkan berita acara hasil penelitian Panitia Penghapusan. dan i. rusak berat yang disebabkan oleh bencana alam seperti gempa bumi. (3) Alasan-alasan pembongkaran bangunan gedung dimaksud pada ayat (2) adalah sebagai berikut : a. f. selanjutnya pengelola menetapkan penghapusan Barang Milik Daerah dari daftar barang pengguna sekaligus cara pemindah tanganan. (2) Pemusnahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Pengguna Barang dengan Surat Keputusan dari Pengelola setelah mendapat persetujuan Walikota. b. penghapusannya ditetapkan dengan Keputusan Walikota. dan c. angin topan.37 - . Pasal 60 (1) Penghapusan gedung milik Daerah yang harus segera dibangun kembali (rehap total) sesuai dengan peruntukan semula serta yang sifatnya mendesak dan/atau membahayakan. . apabila diperoleh pendapatan dari proses pemindahtanganan maka harus di setorkan di Kas Daerah. kebakaran dan yang sejenis. tidak dapat digunakan. (2) Dalam keadaan bangunan yang membahayakan keselamatan jiwa dapat dilakukan pembongkaran terlebih dahulu sambil menunggu keputusan Walikota. rusak berat yang disebabkan oleh kondisi konstruksi bangunan gedung sangat membahayakan jiwa dan mengakibatkan robohnya bangunan tersebut. setelah dilaksanakan pemindah tanganan Walikota menetapkan penghapusan Barang Milik Daerah dari daftar Barang Milik Daerah. g. h. alasan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Pelaksanaan pemusnahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan dalam Berita Acara dan dilaporkan pada Pengelola melalui Pembantu Pengelola. banjir. Mendesak unutk dibangun kembali guna kebutuhan organisasi karena perkembangan tugas dan bangunan pengganti sudah dianggarkan dalam APBD. tidak dapat dimanfaatkan dan/atau tidak dapat dipindah tangankan. atau b.e.

Pasal 65 (1) Kelengkapan administrasi penjualan kendaraan perorangan dinas adalah sebagai berikut: a. lampiran keputusan pengangkatan pertama sebagai Walikota dan Wakil Walikota. dan d. apabila : a. (3) Pemindahtanganan Barang Milik Daerah berupa tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan Walikota. tukar menukar. Bagian Kedua Penjualan Kendaraan Perorangan Dinas Pasal 64 (1) Kendaraan perorangan dinas yang dapat dijual adalah kendaran perorangan dinas yang digunakan oleh Walikota dan Wakil Walikota. b. diperuntukkan bagi Pegawai Negeri Sipil.00 (Lima Milyard Rupiah). Pasal 63 (1) Pemindahtanganan Barang Milik Daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 62 ditetapkan dengan Keputusan Walikota setelah mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah untuk : a. c. hibah.000.BAB XI PEMINDAH TANGANAN Bagian Pertama Bentuk-bentuk Pemindahtanganan Pasal 62 Bentuk-bentuk pemindahtanganan meliputi : a. penjualan. . penyertaan modal pemerintah daerah. (2) Pemindah tanganan Barang Milik Daerah berupa tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a. dikuasai negara berdasarkan keputusan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap dan/atau berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang jika status kepemilikannya dipertahankan tidak layak secara ekonomis. dan e. yang tidak memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. harus dihapuskan karena anggaran untuk pembangunan pengganti sudah disediakan dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA). b. selain tanah dan/atau bangunan yang bernilai lebih dari Rp. sudah ada pengganti dan tidak mengganggu kelancaran pelaksanaan tugas. diperuntukkan bagi kepentingan umum. sudah tidak sesuai dengan Tata Ruang Wilayah atau penataan kota. tanah dan/atau bangunan.000. c. d. 5. dan b. (2) Kendaraan perorangan dinas yang dapat dijual adalah kendaraan yang sudah dipergunakan selama 5 tahun atau lebih.000.38 - .

dan 2. 2. d. membuat Surat Perjanjian Sewa Beli Kendaraan Perorangan Dinas yang ditandatangani oleh Pengelola Barang atas nama Walikota. apabila ada biaya perbaikan selama 1 (satu) tahun terakhir atas kendaraan tersebut. setelah harga jual kendaraan perorangan dinas dilunasi. kendaraan perorangan dinas yang telah berumur 5 sampai dengan 7 tahun. e. pejabat pembeli kendaraan perorangan dinas dapat melakukan balik nama kendaraan tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.b. harga yang ditetapkan. dan . c. b. d. 3. data mengenai kendaraan. Surat perjanjian sewa beli berisi : 1. harga jual kendaraan perorangan dinas ditentukan sebagai berikut : 1. apabila dilunasi dalam waktu kurang dari 1 (satu) tahun. berita acara hasil penelitian/pemeriksaan panitia penjualan. maka balik nama atas kendaraan tersebut dapat dilaksanakan. b. e. f. kendaraan perorangan dinas yang telah berumur 8 tahun atau lebih. c. dalam hal kendaraan tersebut masih dipergunakan untuk kepentingan dinas. d. menghapuskan kendaraan perorangan dinas dari Buku Inventaris Pemerintah Daerah. dan f. semua harga jual dan biaya perbaikan selama 1 (satu) tahun terakhir merupakan penerimaan Pemerintah Daerah dan harus disetor ke Kas Daerah. harga jualnya adalah 40 % (empat puluh persen) dari harga umum/pasaran yang berlaku. besaran cicilan bulanan atas harga jual kendaraan dimaksud dengan ketentuan harus sudah dilunasi paling lambat dalam waktu 5 (lima) tahun. berdasarkan Keputusan Walikota dimaksud pada huruf (f) di atas. harga jualnya 20 % (dua puluh persen) dari harga umum/pasaran yang berlaku. maka biaya dimaksud harus dibayar lunas sekaligus oleh pembeli sebelum surat perjanjian ditandatangani. maka untuk biaya oli dan BBM dapat disediakan pemerintah daerah sepanjang memungkinkan. jumlah harga yang harus dibayar pembeli. biaya perbaikan selama 1 (satu) tahun terakhir.39 - . maka dikeluarkan Keputusan Walikota yang menetapkan : 1. surat pernyataan belum pernah membeli kendaraan perorangan dinas dalam tenggang waktu 10 (sepuluh) tahun. (2) Walikota menetapkan Keputusan penjualan kendaraan perorangan dinas dengan Lampiran Keputusan yang memuat antara lain: a. g. (3) Setelah penetapan keputusan penjualan kendaraan perorangan dinas dilaksanakan ketentuan sebagai berikut : a. selama belum dilunasi kendaraan perorangan dinas tersebut tetap tercatat sebagai barang inventaris milik pemerintah daerah. harga jual sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pelepasan hak Pemerintah Daerah atas Kendaraan Perorangan Dinas tersebut kepada pembelinya. nama dan jabatan pembeli. dan 2. c.

(5) . Yang dapat mengikuti pelelangan terbatas terhadap kendaraan dinas operasional yaitu pejabat/Pegawai Negeri Sipil yang telah mempunyai masa kerja 10 (sepuluh) tahun dengan prioritas pejabat/pegawai yang akan memasuki masa pensiun dan pejabat/pegawai pemegang kendaraan dan/atau pejabat/pegawai yang lebih senior dan Ketua dan/atau Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang telah mempunyai masa bhakti 5 (lima) tahun. Penghapusan kendaraan dinas operasional sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) harus tetap memperhatikan kelancaran pelaksanaan tugas dan/atau sudah ada penggantinya. minibus dan pickup. Dalam tenggang waktu 10 (sepuluh) tahun pejabat/pegawai. mobil pemadam kebakaran. Pelelangan umum dilaksanakan melalui kantor lelang negara. Bagian Ketiga Penjualan Kendaraan Dinas Operasional Pasal 66 (1) (2) (3) Kendaraan dinas operasional yang dapat dihapus dari Daftar Inventaris Barang Milik Daerah adalah kendaraan dinas operasional yang telah berumur 5 (lima) tahun lebih. Pelelangan terbatas dilaksanakan oleh panitia pelelangan terbatas yang ditetapkan dengan Keputusan Walikota. jeep. dan kendaraan diatas air. biaya operasional. Panitia Penghapusan Kendaraan Dinas Operasional bertugas melakukan penelitian dari segi administratif/pemilikan kendaraan. Pasal 67 (5) (6) (7) (8) (1) (2) (3) (4) Kendaraan dinas operasional yang telah dihapus dari Daftar Inventaris Barang Milik Daerah dapat dijual melalui pelelangan umum dan/atau pelelangan terbatas. Apabila memenuhi persyaratan. jenis sedan. Ketua/Wakil Ketua DPRD dapat mengikuti pelelangan terbatas kembali sejak saat pembeliannya yang pertama. dan hal-hal lain yang diperlukan. Walikota membentuk dan menetapkan Panitia Penghapusan Kendaraan Dinas Operasional. Walikota menetapkan Keputusan tentang penghapusan kendaraan dinas operasional. Walikota dan Wakil Walikota dapat diberikan hak untuk membeli lagi kendaraan perorangan dinas setelah jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sejak saat pembelian kendaraan perorangan dinas yang pertama. c. alat-alat besar. bus. mikro bus. dan jenis kendaraan dinas operasional khusus terdiri dari mobil ambulans. Kendaraan dinas operasional yang dapat dihapus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari : a. Hasil penelitian Panitia Penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dituangkan dalam bentuk Berita Acara dan dilaporkan kepada Walikota. jenis kendaraan bermotor beroda 2 (dua). keadaan fisik.h. nilai jual kendaraan. truck. efisiensi penggunaannya. (4) Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang dapat mengajukan usul penghapusan kendaraan dinas operasional yang telah memenuhi persyaratan umur kendaraan kepada Walikota melalui pengelola. station wagon. kemungkinan mengganggu kelancaran tugas dinas. b.40 - .

(6) Kendaraan dinas operasional yang dapat dilakukan penjualan/pelelangan terbatas berupa jenis sedan. budaya dan kepentingan Pemerintah Daerah yang bersangkutan. truck. b. (2) Pelepasan hak atas tanah dan/atau bangunan dengan cara pembayaran ganti rugi harus dilengkapi dengan Surat Pernyataan dari Pihak lain mengenai kesediaan menerima pelepasan tanah dan/atau bangunan tersebut dengan pembayaran ganti rugi sesuai ketentuan yang berlaku yang dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima. (2) Hasil penelitian Penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam bentuk Berita Acara dan dilaporkan kepada Walikota. Bagian Keempat Pelepasan Hak Atas Tanah dan atau Bangunan Pasal 68 (7) (8) (1) Proses Pelepasan Hak Atas Tanah dan atau Bangunan dilaksanakan dengan membentuk Panitia Penilai yang ditetapkan oleh Walikota dan memiliki tugas-tugas sebagai berikut : a. alat-alat berat. Hasil penjualan/pelelangan sebagaimana dimaksud ayat (6) dan (7) disetor ke kas daerah. . c. ambulance. ekonomi. penjualan/pelelangannya dilakukan melalui pelelangan umum atau pelelangan terbatas. minibus. nama dan alamat Pihak lain dan besarnya nilai ganti rugi atau nilai tukar menukar tanah dan/atau bangunan tersebut. (3) Pembantu Pengelola menyiapkan surat permohonan Walikota kepada DPRD untuk mengajukan permohonan persetujuan atas rencana pelepasan hak atas tanah dan/atau bangunan dengan cara ganti rugi atau cara tukar menukar (ruilslag/tukar guling) dengan melampirkan Berita Acara hasil Penilaian Panitia Penilai. jeep. pemadam kebakaran.41 - . menaksir besarnya nilai atas tanah dan/atau bangunan tersebut dengan berpedoman pada harga dasar/umum/NJOP tanah yang berlaku setempat. Kendaraan dinas operasional khusus lapangan (bus. dihubungkan dengan rencana pelepasan hak atas tanah ditinjau dari segi sosial. meneliti bonafiditas dan loyalitas calon pihak lain dan memberikan saran-saran kepada Walikota serta melakukan tugas-tugas lain yang dianggap perlu. Luas dan tahun perolehan. meneliti bukti penguasaan atas tanah dan/atau bangunan objek pelepasan. dlsb). (5) Pada lampiran Keputusan Walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (4) harus memuat data atas tanah dan/atau bangunan yakni : Letak/alamat. (4) Berdasarkan persetujuan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) selanjutnya ditetapkan Keputusan Walikota tentang pelepasan hak atas tanah dengan ganti rugi atau tukar menukar. pick up dan jenis kendaraan bermotor beroda 2 (dua). d. station wagon. meneliti kenyataan lokasi dan keadaan lingkungan tanah dan/atau bangunan tanah tersebut. Pasal 69 (1) Pelepasan hak atas tanah dan/atau bangunan dengan cara ganti rugi dilakukan dengan pelelangan/tender dan apabila peminatnya hanya satu dilakukan dengan penunjukan langsung dan dilakukan negosiasi harga yang dituangkan dalam Berita Acara.

meneliti dan mengkaji alasan/pertimbangan perlunya tukar menukar tanah dan/atau bangunan dari aspek teknis. d. ekonomis dan yuridis. Pengelola atau Pengguna membentuk Tim Penjualan. ketentuan mengenai sanksi dan ketentuan lain yang dipandang perlu. Pengguna Barang untuk Penjualan Barang Milik Daerah selain Kendaraan Perorangan Dinas atau Kendaraan Dinas Operasional yang nilainya s/d 20 (Dua puluh) juta.Pasal 70 (1) Pelepasan hak atas tanah dan/atau bangunan dengan cara tukar menukar dilakukan langsung dengan Pihak lain (tidak dilakukan pelelangan/tender) dan dilakukan negosiasi harga yang dituangkan dalam Berita Acara. tukar menukar tanah dan/atau bangunan dilaksanakan setelah mendapat persetujuan DPRD. apabila memenuhi syarat sesuai peraturan yang berlaku. Bagian Kelima Penjualan Barang Milik Daerah selain Kendaraan Perorangan Dinas atau Kendaraan Dinas Operasional. (3) Dalam Surat Perjanjian Bersama sebagaimana dimaksud ayat (2) harus dicantumkan secara jelas mengenai data tanah dan/atau bangunan. Pengelola Untuk Penjualan Barang Milik Daerah selain Kendaraan Perorangan Dinas atau Kendaraan Dinas Operasional yang nilainya diatas 20 (Dua puluh) juta. hak dan kewajiban kedua belah pihak. . (4) Hasil Penjualan disetor ke Kas Daerah.42 - . c. (2) Pelepasan hak atas tanah dan/atau bangunan dengan cara tukar menukar (ruilslag) dimaksud harus diatur dalam Surat Perjanjian Bersama antara Pemerintah Daerah dengan Pihak lain. Walikota dapat mempertimbangkan untuk menyetujui dan menetapkan tanah dan/atau bangunan yang akan dipertukarkan. (3) Dalam Pelaksanaan Penjualan sebagaimana disebut ayat (2). Pasal 71 (1) Barang Milik Daerah selain Kendaraan Perorangan Dinas atau Kendaraan Dinas Operasional yang dapat dihapus adalah Barang yang dalam kondisi telah rusak/ rusak berat / tidak dapat digunakan lagi. Pengelola mengajukan usul tukar menukar Barang Milik Daerah berupa tanah dan/atau bangunan kepada Walikota disertai alasan/pertimbangan dan kelengkapan data. (2) Subjek Pelaksanaan Penjualan Barang Milik Daerah Sebagaimana ayat (1) adalah sebagai berikut : a. b. dan b. Bagian Keenam Tukar Menukar Pasal 72 Tukar menukar Barang Milik Daerah dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut : a. Walikota melalui Tim yang dibentuk dengan Keputusan Walikota.

maka Walikota mengajukan permohonan kepada DPRD untuk pelaksanaan hibah tanah dan/atau bangunan tersebut. Pasal 74 (4) (5) (6) Prosedur pelaksanaan hibah dilaksanakan sebagai berikut : a.000. f.e. b. c. Walikota membentuk panitia untuk meneliti rencana pelaksanaan hibah dengan memperhatikan kepentingan sosial.. dan f. Pengelola melaksanakan tukar menukar dengan berpedoman pada persetujuan Walikota. Hibah Barang Milik Daerah selain tanah dan/atau bangunan dilakukan oleh Pengguna Barang setelah mendapat persetujuan oleh Pengelola Barang. Pengelola mengajukan usul hibah atas tanah dan/atau bangunan kepada Walikota disertai dengan penjelasan serta kelengkapan data. apabila Walikota menyetujui atas usul hibah tersebut. dan penyelenggaraan pemerintahan. dan g. ditindak lanjuti dengan surat keputusan penghapusan tanah dan/atau bangunan dan dituangkan dalam berita acara hibah. bukan merupakan barang rahasia negara/daerah. Bagian Ketujuh Hibah Pasal 73 (1) (2) Hibah Barang Milik Daerah dilaksanakan dengan pertimbangan untuk kepentingan sosial. Barang Milik Daerah yang dapat dihibahkan harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. keagamaan. d.(lima milyar rupiah) dilaksananakan oleh Walikota tanpa persetujuan DPRD. (3) Hibah Barang Milik Daerah berupa tanah dan/atau bangunan yang telah diserahkan kepada pengelola yang sejak awal pengadaaannya direncanakan untuk dihibahkan sesuai yang tercantum dalam dokumen penganggaran. e.000. Hibah Barang Milik Daerah selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai sampai dengan Rp 5. bukan merupakan barang yang menguasai hajat hidup orang banyak.000. keagamaan. Walikota menetapkan Barang Milik Daerah berupa tanah dan/atau bangunan yang akan dihibahkan sesuai batas kewenangannya. Pengguna Barang mengajukan usul hibah selain tanah dan/atau bangunan kepada Walikota melalui Pengelola disertai dengan penjelasan serta kelengkapan data. dan tidak digunakan lagi dalam penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi dan penyelenggaraan pemerintahan negara/daerah. pelaksanaan serah terima barang yang dilepas dan barang pengganti harus dituangkan dalam berita acara serah terima barang. setelah mendapat persetujuan DPRD. Pengguna Barang melaksanakan serah terima hibah yang dituangkan dalam berita acara serah terima. setelah mendapat persetujuan Walikota ditindaklanjuti dengan keputusan yang ditandatangani oleh Pengelola atas nama Walikota. dilaksanakan setelah mendapat persetujuan Walikota. kemanusiaan. kemanusiaan dan penyelenggaraan pemerintahan. .43 - . c. b.

dan f. setelah Peraturan Daerah ditetapkan. setelah mendapat persetujuan DPRD. apabila Walikota menyetujui atas rencana penyertaan modal tersebut. b. c. e. Pengelola dapat mempertimbangkan untuk menyetujui usul penyertaan modal. c. b. selanjutnya Pengelola Barang menyiapkan rancangan Peraturan Daerah dan disampaikan kepada DPRD. selanjutnya dilakukan penyerahan barang dengan berita acara serah terima kepada pihak lain selaku mitra penyertaan modal daerah. setelah Peraturan Daerah ditetapkan. Pengelola melakukan penelitian dan pengkajian dan apabila memenuhi syarat. (2) Prosedur penyertaan modal selain tanah dan/atau bangunan dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut: a. d. hasil penelitian dan kajian disampaikan kepada Walikota dan apabila Walikota menyetujui. pelaksanaan penyertaan modal dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan. Walikota membentuk Panitia untuk meneliti dan mengkaji usul yang disampaikan oleh Pengelola. dan d. kemudian Pengelola menyiapkan rancangan Peraturan Daerah tentang Penyertaan Modal Daerah. selanjutnya Walikota mengajukan permohonan persetujuan kepada DPRD untuk menghapus/memindahtangankan Barang Milik Daerah tersebut yang akan dijadikan sebagai penyertaan modal. yang selanjutnya disampaikan kepada DPRD untuk ditetapkan.44 - . . Pengguna Barang mengajukan usul kepada Walikota melalui Pengelola disertai alasan pertimbangan dan kelengkapan data dan hasil kajian dari SKPD Pengguna Barang.Bagian Kedelapan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pasal 75 (1) Prosedur pelaksanaan penyertaan modal daerah atas tanah dan/atau bangunan dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Pengelola mengajukan usul penyertaan modal Pemerintah Daerah atas tanah dan/atau bangunan kepada Walikota disertai alasan pertimbangan serta kelengkapan data. (2) Pengawasan fungsional dilakukan oleh aparat pengawas fungsional untuk melakukan audit tindak lanjut hasil pemantauan dan penertiban terhadap pengelolaan Barang Milik Daerah. Pengguna Barang melakukan penyerahan barang kepada pihak lain dan dituangkan dalam berita acara serah terima. (3) Pengendalian terhadap tertib pelaksanaan pengelolaan Barang Milik Daerah dilakukan oleh Walikota dibantu oleh Kepala Bagian Umum/Bagian Perlengkapan/unit kerja pengelolaan barang. Walikota menetapkan penghapusan terhadap Barang Milik Daerah yang menjadi penyertaan modal. BAB XII PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN Pasal 76 (1) Pengawasan terhadap pengelolaan Barang Milik Daerah dilakukan oleh Walikota.

b. dan jumlah keanggotaan Majelis dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah anggota harus ganjil dan paling banyak berjumlah 9 (sembilan) orang. selaku Ketua. selaku Wakil Ketua Satu. dapat diberikan tunjangan/insentif dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah. Inspektur. memproses dan melaksanakan penyelesaian tuntunan ganti rugi. Pejabat/pegawai yang melaksanakan pengelolaan Barang Milik Daerah yang menghasilkan pendapatan dan penerimaan daerah. Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah selaku Sekretaris. selaku Anggota. dan g. d. mengumpulkan. b. c. Kepala Badan Kepegawaian Daerah. BAB XIV Tuntutan Ganti Rugi Barang Milik Daerah Pasal 78 (3) (1) Tuntutan ganti rugi dilakukan apabila terjadi kerugian daerah yang diketahui oleh Walikota melalui laporan. Asisten Administrasi Umum Sekda selaku Wakil Ketua Dua. selaku Anggota. selaku Anggota. c. Penyimpan Barang dan Pengurus Barang dalam melaksanakan tugas dapat diberikan tunjangan insentif yang besarnya ditetapkan dengan Keputusan Walikota dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah. (2) Keanggotaan Majelis Pertimbangan Tuntutan Ganti Rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. Kepala Bagian Hukum Setda.BAB XIII PEMBIAYAAN Pasal 77 (1) (2) Dalam pelaksanaan tertib pengelolaan Barang Milik Daerah. Kepala Bagian Perlengkapan/unit kerja pengelola barang. Pasal 79 (1) Majelis Pertimbangan Tuntutan Ganti Rugi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 ayat (2) ditetapkan dengan keputusan Walikota. disediakan biaya operasional yang dibebankan pada APBD. (4) Tugas Majelis Pertimbangan Tuntutan Ganti Rugi adalah : a. dan .45 - . Penyimpan Barang dan/atau Pengurus Barang yang bersangkutan. f. menganalisis serta mengevaluasi kasus tuntunan ganti rugi yang diterima. memberikan saran/pertimbangan tuntunan ganti rugi kepada Walikota atas setiap kasus yang menyangkut tuntunan ganti rugi. e. (2) Dalam melaksanakan tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada Ayat (1). Sekretaris Daerah. Walikota dibantu oleh Majelis Pertimbangan Tuntutan Ganti Rugi. menatausahakan. baik yang merupakan laporan hasil pemeriksaan dari aparat pengawasan maupun laporan Kepala SKPD yang membawahi pejabat/pegawai. (3) Keanggotaan Majelis Pertimbangan Tuntutan Ganti Rugi sebagaimana dimaksud Ayat (2) tidak boleh diwakilkan.

tenggang waktu 14 hari untuk mengajukan keberatan/pembelaan diri terhitung dari tanggal diterimanya surat pemberitahuan oleh pegawai yang bersangkutan. Walikota melaksanakan penagihan kepada yang bersangkutan atau dengan cara memotong gaji/penghasilan yang bersangkutan dan apabila dianggap perlu. d. 2). c. . (6) Sekretariat Majelis Pertimbangan Tuntutan Ganti Rugi. akan tetapi harus didasarkan pada kenyataan yang sebenarnya dan dalam pelaksanaannya tidak perlu menunggu Keputusan Pengadilan Negeri. pengajuan surat permohonan naik banding. menyiapkan laporan Walikota mengenai perkembangan penyelesaian kasus kerugian daerah secara periodik kepada Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Administrasi Keuangan Daerah. b. dan 3). Berdasarkan hasil penelitian tersebut. sehingga karena perbuatannya tersebut mengakibatkan kerugian bagi daerah. atas dasar Surat Keputusan Pembebanan Ganti Rugi. Pasal 80 (1) Tuntutan ganti rugi barang dikenakan terhadap Pegawai Negeri. (5) Anggota Majelis Pertimbangan Tuntutan Ganti Rugi sebelum menjalankan tugasnya mengucapkan sumpah/janji dihadapan Walikota sesuai dengan ketentuan dan tata cara yang berlaku. sebab-sebab dan alasan penuntutan dilakukan.d. Surat Keputusan Pembebanan Ganti Rugi tidak mengurangi hak yang bersangkutan untuk mengajukan permohonan banding kepada pejabat yang berwenang dalam waktu 30 hari sejak diterimanya surat keputusan. berada pada Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah. tidak menunda pelaksanaan Surat Keputusan Pembebanan Ganti Rugi. jumlah kerugian yang diderita oleh daerah yang harus diganti. Majelis Tuntunan Ganti Rugi mengumpulkan bahan-bahan bukti. e. (3) Walikota harus berusaha memperoleh penggantian atas semua kerugian yang diderita oleh daerah dan sedapat mungkin diusahakan dengan jalan/upaya damai. dapat meminta bantuan yang berwajib supaya dilakukan penagihan dengan paksa. (4) Apabila usaha untuk mendapatkan penggantian kerugian dengan upaya damai tidak berhasil. mengadakan penelitian dan menentukan berapa besar kerugian yang sebenarnya diderita oleh Daerah. proses tuntutan ganti rugi barang dilakukan sebagai berikut : a. f. Walikota menetapkan Surat Keputusan Pembebanan Ganti Rugi. apabila dalam tenggang waktu 14 hari tidak diajukan pembelaan diri atau diajukan pembelaan diri akan tetapi Walikota tetap pada pendiriannya karena tidak dapat membebaskannya dari kesalahan/kekeliruan. menyampaikan laporan kepada Walikota dan Walikota mengeluarkan surat pemberitahuan tertulis kepada pihak yang akan dituntut dengan menyebutkan : 1).46 - . (2) Tuntutan ganti rugi barang tidak dapat dilakukan atas dasar sangkaan atau dugaan. sedangkan penetapan/penunjukan Majelis Pertimbangan. Pegawai Perusahan Daerah dan Pegawai Daerah yang melakukan perbuatan melanggar hukum atau perbuatan melalaikan kewajiban atau tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana mestinya sesuai dengan fungsi atau status jabatannya.

Pasal 81 (1) Dalam hal tertentu. dalam pencatatan wajib dikenakan Tuntunan Ganti Rugi setelah mendapat saran dari Majelis Pertimbangan. diketahui bahwa pihak yang dituntut tidak mampu membayar ganti rugi dan telah memberitahukan secara tertulis kepada Walikota untuk memohon pembebasan atas kewajiban mengganti kerugian derah dan setelah diadakan penelitian. Pegawai Perusahaan Daerah dan Pegawai Daerah ternyata dibebaskan dari kewajiban mengganti kerugian daerah. (9) Tuntutan ganti rugi barang kadaluwarsa jika telah lewat 5 (lima) tahun setelah akhir tahun anggaran dimana kerugian daerah itu diketahui atau jika telah lewat 8 (delapan) tahun setelah akhir tahun anggaran dimana perbuatan melanggar hukum atau kelalaian yang menyebabkan kerugian daerah itu dilakukan. (2) Apabila Walikota telah menerima laporan tentang kekurangan/kerugian Daerah dari pejabat/pegawai. maka Walikota menerbitkan Surat Keputusan Pembebasan kekurangan kerugian daerah. (10) Keputusan pembebanan ganti rugi barang disampaikan kepada Pengelola/ Pembantu Pengelola untuk selanjutnya dilakukan proses penghapusan sesuai ketentuan yang berlaku.(5) Dalam hal Pegawai Negeri. karena kerugian tersebut disebabkan diluar kemampuannya/bukan kesalahannya/bukan karena kelalaiannya. (8) Penggantian kerugian daerah dapat dilakukan dalam bentuk uang atau barang sesuai dengan cara penggantian kerugian yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (13) Surat Keputusan Pembebanan kepada Pegawai Negeri yang melarikan diri. kasus bersangkutan dikeluarkan dari administrasi Pembukuan. Pegawai Perusahaan Daerah atau pegawai daerah tidak mampu membayar ganti rugi. (11) Dengan diterbitkannya Keputusan Pembebanan. (12) Surat Keputusan Pembebanan kepada Pegawai Negeri yang meninggal dunia tanpa ahli waris atau melarikan diri tidak diketahui alamatnya. (4) Setelah ada keputusan Pengadilan Negeri bahwa yang bersangkutan tidak bersalah. Penyimpan Barang dan/atau Pengurus Barang tidak ditahan oleh yang berwajib karena melakukan pelanggaran atau melalaikan kewajiban sehingga merugikan daerah. tuntutan ganti rugi barang tersebut dapat ditiadakan. maka Walikota menerbitkan keputusan penghentian/penghapusan tuntutan ganti rugi baik sebagian atau seluruhnya. maka Walikota dapat melakukan tindakan sementara berupa membebaskan pegawai yang bersangkutan dari jabatannya. setelah terlebih dahulu kepada yang bersangkutan diberi kesempatan untuk membela diri. (7) Apabila biaya pelaksanaan tuntutan ganti rugi barang akan memerlukan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan uang yang akan diterima oleh daerah. (3) Jika pejabat/pegawai. yang bersangkutan harus mengajukan pemberitahuan secara tertulis kepada Walikota untuk mohon pembebasan atas kewajibannya untuk membayar ganti rugi.47 - . . maka pemberhentian sementara harus dicabut. maka yang bersangkutan dapat diberhentikan sementara oleh Walikota atau pejabat yang berwenang. tidak mengurangi tanggung jawab pegawai/pihak yang merugikan daerah atas tuntutan berdasarkan Hukum Perdata. Tuntunan Ganti Rugi tetap dilakukan terhadap ahli warisnya dengan memperhatikan harta peninggalan yang dihasilkan dari perbuatan yang menyebabkan kerugian Daerah. (6) Apabila keputusan tingkat banding menyatakan bahwa seorang Pegawai Negeri.

BAB XVI KETENTUAN PENUTUP Pasal 83 Dengan berlakunya Peraturan Walikota ini. Ditetapkan di Semarang pada tanggal 15 september 2009 WALIKOTA SEMARANG ttd H. . BAB XV KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 82 Spesifikasi Daftar. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi. Pasal 84 Peraturan Walikota ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundangan dengan penetapannya dalam Berita Daerah Kota Semarang. SUKAWI SUTARIP Diundangkan di Semarang pada tanggal 15 september 2009 Plt. (6) Putusan Pengadilan Negeri untuk menghukum atau membebaskan yang bersangkutan dari tindak pidana/pelanggaran hukum tidak menggugurkan hak daerah untuk mengadakan tuntutan ganti rugi. Rekapitulasi dan tatacara pengisiannya. Bukti. Walikota memberhentikan pejabat/pegawai. Laporan. Penyimpan Barang dan/atau Pengurus Barang tersebut. Buku. HARINI KRISNIATI Ka. sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Walikota ini. SEKRETARIS DAERAH KOTA SEMARANG ttd Hj. Berita Acara. Dinas Sosial. Surat Pernyataan. Kartu.48 - . Pemuda dan Olahraga Kota Semarang BERITA DAERAH KOTA SEMARANG TAHUN 2009 NOMOR 19A.(5) Dalam hal putusan Pengadilan Negeri menyatakan yang bersangkutan bersalah dan dijatuhkan hukuman kurungan. maka Peraturan Walikota semarang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah (Berita Daerah Kota Semarang Tahun 2007 Nomor Seri E).

kuitansi/bon tanggal dan nomor. Cara Pengisian : Di Sudut kiri atas : Nama unit yang bersangkutan.……. kemudian ditandatangani oleh yang bersangkutan. : diisi bukti pembayaran.. Kolom10 : diisi keterangan atau penjelasan yang dipandang perlu. : diisi tanggal atau waktu perbaikan/perawatan.SUKAWI SUTARIP .. sedang atau berat : diisi penyedia jasa/barang yang melakukan pemeliharaan. Setelah laporan tersebut diterima oleh Biro/Bagian Perlengkapan/Umum/Unit Pengelola Barang.49 - . : diisi Nama barang barang yang diperbaiki/dirawat. : diisi jenis pemeliharaan : ringan.. maka dikompilasi dan dibuat rekapitulasi dalam bentuk DHP untuk lampiran perhitungan APBD. WALIKOTA SEMARANG ttd H.PETUNJUK PENGISIAN KARTU PEMELIHARAAN BARANG DARI TANGGAL 1 JANUARI 20… s/d . : diisi besarnya/biaya pemeliharaan dalam rupiah. 20. Pada kanan bawah setealh dibubuhi tanggal pencatatan. Kolom 1 : diisi Nomor urut pencatatan Kolom 2 : diisi Nomor Kode Barang yang diperbaiki/dirawat Kolom3 Kolom4 Kolom5 Kolom6 Kolom7 Kolom8 Kolom9 : diisi Nomor Register barang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful