PEMETAAN

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

PEMETAAN

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Ismail Cawidu Nurlaili 1. Rosmiati 2. Lukman Hakim 3. Marulak Simangunsong 4. Enung Dahliawati 5. Fera Setia Nurana 6. Yudi Syahrial Design / Layouter

7. Dewi Farida Simatupang 8. Aditya Ranadireksa 9. Wasi Andono 10. Triani Setyowati 11. Rokayah 12. Sri Mulyani Suprawoto Nursodik Gunarjo : M. T. Hidayat

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

SAMBUTAN

pabila buku ini sampai di tangan pembaca, setidak-tidaknya upaya kami untuk mendokumentasikan hasil diskusi para ahli di bidang seni tradisi sebagian sudah sampai pada tujuan. Kami selaku Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, sampai saat ini sudah berusaha memberikan ruang dengan cara mementaskan seni tradisi komunikatif di berbagai tempat di Indonesia, baik di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Dalam setiap pementasan, antusiasme masyarakat untuk menonton seni tradisi masih sangat tinggi. Terbukti setiap pementasan selalu dipenuhi penonton sampai pertunjukan selesai. Namun apakah antusiasme penonton tersebut akan tetap bertahan dan langgeng? Kumpulan hasil diskusi ahli di bidang seni tradisi ini sengaja kami bukukan agar bisa memberikan informasi, dan siapa tahu justru menumbuhkan gairah untuk memberikan perhatian lebih terhadap seni tradisi, sehingga bisa tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Buku ini tentunya tidak akan terwujud tanpa kontribusi bebe-rapa pihak. Untuk itu kami perlu menyampaikan terima kasih, utamanya kepada para narasumber Diskusi Pemetaan Media Tradisional yang Komunikatif di lima kota, yakni Solo (Jawa Tengah), Denpasar (Bali), Bukittinggi (Sumatera Barat), dan Mataram (Nusa Tenggara Barat).
i

A

Demikian juga kepada para seluruh peserta diskusi yang menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi selama diskusi berlangsung. Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada rekan-rekan di Monumen Pers Solo, kawan-kawan Dinas Infokom dan Humas serta Balai Monitoring yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Kerja keras kawan-kawan semua ikut menyukseskan pelaksanaan dikusi yang menjadi bahan penyusunan buku ini. Khusus rekan-rekan di Sekretariat dan Biro Umum Kementerian Komunikasi dan Informatika, terima kasih atas dukungan dalam pelaksanaan diskusi ahli. Tiada gading yang tak retak. Kritik dan saran demi perbaikan penerbitan buku selalu kami harapkan.

Jakarta, September 2011 Direktur Jenderal ender e al a Informasi dan Komunikasi Publik muni ni n ikasi s Pu

Freddy ddy y H. Tulung Tu

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

PENGANTAR

I

ndonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari 17.508 pulau, 485 suku bangsa dan 583 bahasa daerah. Kenyataan itu sungguh sangat fantastis. Dengan begitu beragamnya suku bangsa, bahasa, dan adat istiadat, setiap masyarakat memiliki keunikan tersendiri. Sebagaimana dinyatakan Louise Grenier (1998), setiap masyarakat memiliki kearifan lokal yang secara tradisional terus dipelihara dan dikembangkan untuk mempertahankan diri ketika menghadapi perubahan dan tantangan dari lingkungannya. Dalam kearifan lokal itu biasanya terdapat sistem informasi dasar yang memfasilitasi komunikasi dan pengambilan keputusan komunitas atau masyarakat. Sistem informasi tersebut umumnya bersifat dinamis karena dipengaruhi kreativitas internal maupun pembelajaran masyarakat terhadap pengetahuan eksternal yang disosialisasikan secara berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Flavier et al. 1995: 479). Sejalan dengan perkembangan teknologi, tantangan terbesar adalah bagaimana membangun sistem komunikasi yang berkualitas dengan memadukan tiga aspek yang disebut Giddens dalam The Constitution of Society (1980) menjadi bagian tak terpisahkan dalam masyarakat saat ini, yaitu globalisasi, detradisionalisasi, dan social reflexivity.
iii

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Globalisasi menghubungkan manusia di seluruh dunia pada setiap aspek kehidupan. Komunikasi dan transportasi telah meng-hubungkan manusia di mana pun ia berada. Telepon dan internet membuat orang “bertemu” tanpa susah payah bertatap muka. Detradisionalisasi bukan berarti hilangnya tradisi. Tradisi masih ada bahkan “diciptakan”, tetapi tradisi bukan lagi satu-satunya dasar pembuatan keputusan. Kalau orang menemukan bahwa konsultasi dengan tradisi tidak memuaskannya, ia dapat berpaling dan memakai pertimbangan dari sumber lain. Hal terakhir berkaitan dengan social reflexivity merupakan pro-ses pengambilan keputusan. Manusia modern menghadapi banyak informasi, akan tetapi juga bebas menyeleksi informasi mana yang dibutuhkan. Arus (tepatnya: banjir) informasi memang membuat bingung, namun individu dapat menolak sebuah informasi semata-mata karena ia tidak suka atau tidak cocok. Inilah sebagian kenyataan yang dihadapi semua seni dan media tradisional di Indonesia saat ini. Menjadi tugas kita bersama untuk senantiasa berupaya meningkatkan kualitas pemanfaatan seni dan media tradisional agar bisa berpadu dengan perkembangan teknologi serta dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Media tradisional komunikatif diharapkan dapat mengambil peran dalam posisi ini. Dalam perkembangan sebelumnya peran media tradisional komunikatif demikian besar. Bagaimana perkembangan saat ini dan ke depan perlu pembahasan yang mendalam. Oleh karena itu, kami mencoba menghadirkan para pakar di bidang seni pertunjukan tradisional dalam merumuskan sinergi dan pemanfaatan media tradisional yang komunikatif. Kepada para pakar yang telah berkenan memberikan sumbangan pemikiran dalam bentuk tulisan serta wacana dalam diskusi kami sampaikan terima kasih. Buku ini sengaja kami hadirkan untuk memantik pemikiran baru guna lebih memberikan sumbangan terhadap pengembangan media tradisional yang komunikatif. Jakarta, September 2011 Suprawoto Editor
iv

Meningkatkan Peran Media Tradisional ............ M...........LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI DAFTAR ISI SAMBUTAN ................. Dr............ MS............................ v vii ix 1 3 9 11 Prof........................ PENDAHULUAN ....................................... Pakar Ilmu Estetika Ketua LPPM Dosen ISI Surakarta Peran Seni tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Tengah dan DI Jogjakarta ............. Prof. Hari Mulyatno... M.. 43 F............. 55 Prof... Pakar Bidang Akademis Seni Tari............... Dr................................. Endang Caturwati.....Kar............................... Dr....... Darsono..... S......................... Sri Hastanto......................Sn............ 17 Prof............................... S........ anggota Dewan Pengawas TVRI Mencari Model Pertunjukan Seni Tradisi dengan Teknologi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik ...... 71 v ........ SINERGI SENI TRADISI DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PENDIDIKAN PUBLIK ........ Pakar Pertunjukan dan Kajian Budaya STSI Bandung Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Barat ......... DAFTAR ISI ................................. Dosen ISI Surakarta Peran Seni Budaya Tradisional Kalimantan dalam Dimensi Informasi/Komunikasi Pembangunan ...................... PENGANTAR EDITOR .............Kar.................. Pakar Etnomusikologi ISI Surakarta Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Timur ....Hum........................................... Musa Asy’arie...

.......... Dosen Jurusan Seni Teater STSI Padang Panjang Seni Tradisi Populer Aceh sebagai Media Komunikasi Sosial .... M................................................. Ahli Seni Tari............... Dosen ISI Denpasar Mencerdaskan Rakyat dengan Seni Tradisi dan Pertunjukan Komunikatif ....................... MA............ SST. S Kar.. Dosen Sastra Universitas Udayana Aktivitas Pasantian dan Sastra Bali sebagai Media Pencerdasan Rakyat .......... MA................ Dr I Nyoman Suarka M Hum....... Dr..... I Nyoman Windha.............PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF MENGGUBAH SENI TRADISI DAN PERTUNJUKAN YANG KOMUNIKATIF UNTUK PERCERDASAN RAKYAT ................... Ketua STSI Padang Panjang Ragam Kemasan Seni Tradisi Sumatera Barat dalam Komunikasi Sosial Rakyat dan Pemerintah ...... Daryusti.Sn. I Nyoman Murtana................ Dosen ISI Denpasar Seni Musik Bali dan Gamelan Gong Kebyar sebagai Media Pencerdasan Rakyat .......... MA....... M Hum.......... Hajizar.Hum.. S Kar....Sn........... M.......... Ahli Seni Pertunjukan................... Prof.......... MENGEMAS SENI TRADISI SUMATERA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL ..... S. Sulaiman Juned. Komposer.......................... Pakar Sastra.....Sn.. Dosen ISI Denpasar Seni Pertunjukan Populer sebagai Media Pencerdasan Rakyat: Potensi Tari Topeng dan Teater Bali ........ Dosen Kajian Budaya Universitas Udayana Pertunjukan Wayang Kulit Bali: Media Komunikasi Pencerdasan Rakyat . Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Penggunaan Seni Tradisi dalam Media Komunikasi Sosial di Sumatera Utara vi 91 93 107 123 135 145 159 161 181 .. Drs.... M............... Dr I Nyoman Catra.......... Dr Ni Made Wiratini............. SST.. 197 ....... Ahli Seni Karawitan...

....... 317 vii .......................... Asril.................Kar... S....... M.............. 307 Nasib Seni Tradisi Senjakala Sang Penenang Kalbu ........Kar..........LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Nirwana Murni......... Mantan Kepala Taman Budaya NTB Seni Tradisi NTB dalam Proses Kreatif Menuju Media Komunikasi Sosial ............................... Mustakim Biawan......... Dosen Jurusan Seni Tari STSI Padang Panjang Strategi Kemasan Seni Tradisi sebagai Media Komunikasi Sosial di Sumatera Barat ................... Muchtar S......................Pd.Hum.... MENGEMAS SENI TRADISI NUSA TENGGARA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL .........................................Si..................... Pakar Komunikasi IAIN Mengemas Seni Tradisional Komunikatif NTB untuk Media Komunikasi Sosial ....................................... Ketua Dewan Kesenian Provinsi NTB Memfungsikan Teater Tradisi Amaq Abir sebagai Media Komunikasi Tradisional ..... 221 235 255 257 277 293 PENUTUP ........... Kongso Sukoco.. 305 Lestarikan Media Tradisi ........................ Kadri M................ Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Upacara Tabuik dan Tabot di Pesisir Barat Sumatra ...................... Dr......... M..

.

PENDAHULUAN 1 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 2 .

Keragaman itu juga mempengaruhi bentuk maupun isi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Meningkatkan Peran Media Tradisional I ndonesia memiliki keragaman budaya yang sangat luas. 2005). Konsep media tradisional seringkali dipertukarkan dengan seni tradisi atau bahkan seni pertunjukan tradisional. Seniman misalnya. meskipun fakta menunjukkan bahwa sebagian seni tradisional bisa digunakan dan seringkali dikembangkan menjadi media komunikasi. Oleh karena itu. Dalam masing-masing sistem budaya tersebut terdapat pola kesenian. nelayan. Sementara seni tradisi jauh lebih luas dari media komunikasi. Kesenian tradisional pada dasarnya memiliki pola atau pakem yang 3 . seperti petani. seni tradisional tidak bisa dilihat hanya dari satu pendekatan atau hanya berdasar pada prinsip umum (universal) yang diberlakukan untuk semua. 2009). media komunikasi pada dasarnya merupakan sarana yang dipergunakan untuk memproduksi. dan posisi seniman yang beragam. Untuk melihat makna dan fungsi suatu kesenian. Padahal. ada yang profesional atau menjadikan seni sebagai profesi namun ada pula seniman yang memiliki profesi-profesi lain. harus dilakukan pendekatan sesuai dengan karakteristik masyarakat di mana kesenian dan tradisi itu hidup dan berkembang (Limbeng. media kesenian. guru dan pemuka adat. pedagang. mereproduksi mendistribusikan atau menyebarkan dan menyampaikan informasi (Suranto.

yang pada gilirannya memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi tradisional. kini tidak ada lagi instansi pemerintah yang secara bersungguhsungguh menangani media tradisional ini. Menggali Potensi Dari inventarisasi yang telah disusun tahun 1978-1979 oleh Direktorat Penerangan Rakyat. Departemen Penerangan. Walhasil. melainkan pada pesan moral atau nilai tradisi. Realitas seperti itu sangat dirasakan oleh para kelompok seni pertunjukkan tradisional. Akibatnya. seni pertunjukkan rakyat mampu menciptakan hubungan antara komunikan dan komunikator. Akan tetapi. pola. melainkan potensi yang dapat berkembang. dan bercampur satu sama lain. pemilihan media dan khalayak yang menjadi penikmat atau peminat seni tradisi tersebut. Dalam tiga aspek itulah sesungguhnya terletak kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi keindahan. dan komentar sosial. dan (3) muatan-muatan atau pesan-pesan yang berisikan pendidikan kultural. mungkin bisa memberikan dukungan moral dan finansial bagi para seniman.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF membuat kesenian itu menjadi khas. Sebagai media komunikasi tradisional yang telah populer. Hanya saja sejak Departemen Penerangan dibubarkan. atau pakem. Oleh karena pemanfaatan seni tradisi sebagai sebuah media komunikasi akan sangat berkaitan dengan aspek (1) bentuk. untuk memberikan bantuan sosial bagi maestro seni tradisi dengan kriteria tertentu. Inisiatif Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. terdapat 118 jenis kesenian tradisional yang telah dibuat deskripsi singkatnya dan kurang lebih 292 jenis yang diketahui namanya tanpa diketahui deskripsinya (Siswojo. dimana komunikator dapat mengungkapkan ide dan gagasannya kepada komunikan melalui cerita-ceri4 . spiritual. (2) daya atau potensi untuk berubah. pakem tersebut bukanlah suatu aturan “mati”. Akan tetapi. pemberdayaan dan pengembangan kesenian-kesenian tradisional menjadi terabaikan. 1984). berubah. Melalui pertunjukkan ini terdapat pertemuan langsung antara komunikan dan komunikator. seni tradisi secara alami mampu mengakomodasi perubahan isi sesuai dengan kepentingan situasi. sejak tahun 2008. terutama bagi mereka yang tinggal di wilayahwilayah pedesaan. berkesenian atau unjuk seni tradisi tidak hanya bergantung pada seniman semata. berbeda dari kesenian jenis lainnya.

keberadaan media tradisional tidak ada artinya. Sementara untuk mengusung suatu media tradisional dalam dalam konteks lintas budaya. Perlunya mengangkat suatu budaya tradisional sekaligus dengan media yang mengampunya. Budaya tradisional pada hakekatnya berfungsi dalam memelihara solidaritas suatu masyarakat budaya. adalah untuk fungsi konservasi. Seni tradisi yang lain. misalnya yang mengandalkan gerak atau nyanyian dalam batas tertentu sulit digunakan sebagai media penyampai informasi. Ciri dari setiap media tradisional adalah partisipasi warga. Oleh karena itu dibutuhkan pemetaan seni tradisi yang bisa digunakan sebagai media penyampaian pesan dan media informasi yang komunikatif. karenanya bersifat eksklusif. Dalam formatnya yang asli. Seperti pada beberapa pertunjukkan wayang. melalui keterlibatan fisik atau psikis. Tanpa adanya dukungan warga. tetapi dimaksudkan untuk memelihara keberadaan dan identitas suatu masyarakat. seorang dalang dapat menyebarluaskan gagasan dan pesan informasi dari pemerintah melalui cerita-cerita yang telah ada. Mungkin hanya media tradisional yang verbal dan komunikatif-dialogis saja yang cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. kita mengakui bahwa tidak semua seni pertunjukkan rakyat dapat menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif. Setiap masyarakat budaya memiliki mitos yang khas yang menjadi perekat kelompok/komunitas. secara praktis hanya dapat dilakukan jika secara substansial budaya dan media dimaksud sudah mengalami transformasi sebagai spectacle. Begitu pula pemanfaatan media tradisional sebagai wahana bagi isu-isu kontemporer bagi 5 . Melestarikan Media Tradisional Tantangan yang dihadapi dalam menghadirkan media tradisional adalah bagaimana menempatkannya di antara konstelasi proses mediasi masyarakat. Hal ini penting. media tradisional hanya relevan secara eksklusif bagi masyarakat budaya pendukungnya. Kendatii demikian. Media tradisional tidak hanya sebagai obyek hiburan (spectacle) dalam fungsi pragmatis untuk kepentingan sesaat. karena keberadaan media tradisional tidak dapat dilepaskan dari masyarakat/komunitas budaya pendukungnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ta yang dibawakannya.

Tentang Buku Ini Pemetaan media tradisonal yang komunikatif ini dilakukkan dengan tiga tahapan. Karakteristik eksklusif semacam ini tentu kurang menguntungkan apabila ditinjau dari teori media. tontonan yang bisa dinikmati dan diterima oleh masyarakat dalam jumlah lebih besar dan dalam wilayah teritorial yang lebih luas.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF suatu masyarakat budaya pendukungnya. sulit menempatkan dua fungsi (hiburan dan media penyebaran informasi) secara berimbang. bukan sekadar sebagai spectacle? Pertanyaan ini sangat penting. Secara keseluruhan kegiatan akan berlangsung mulai bulan Maret hingga Juni 2010. Pertanyaan lain yang tak kalah penting adalah. maka fungsinya sebagai media penyebaran informasi dengan sendirinya akan menurun. karena salah satu ciri dari media yang baik adalah kemampuannya menjangkau massa dalam jumlah besar. akan relevan manakala media tersebut sudah tidak lagi sebagai sumber mitos budaya tertentu. maka ia akan kehilangan karakteristik utamanya sebagai sumber mitos bagi masyarakat. Kegiatan pertama atau pengumpulan data awal mencakup penjajagan dan penelusuran dokumen untuk mengidentifikasi aspek dan unsur kebijakan komunikasi serta pemetaan potensi seni tradisional yang 6 . Sebaliknya. jika porsi hiburan terlalu banyak. Jika kesenian tradisional terlalu dipaksakan untuk berfungsi sebagai media penyebaran informasi aktual. ketiga tahapan penulisan laporan dan penyu-sunan buku. Oleh karena itu. dalam konteks penyebaran informasi. Inovasi dalam hal ini bisa dilakukan. pertama tahapan pengumpulan data awal. sepanjang tidak mendekonstruksi wujud dan karakter asli dari kesenian tradisional dimaksud. sudahkah kesenian tradisional di Indonesia saat ini benarbenar diposisikan sebagai “media”. sehingga cenderung hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu dalam jumlah yang terbatas. tantangan ke depan adalah bagaimana mentrasformasikan media tradisional agar bisa menjadi general spectacle. salah satu kendala dari media tradisional adalah sifatnya yang eksklusif dan lingkupnya yang lokal. kedua tahapan diskusi ahli. Pertanyaan yang harus dijawab adalah. karena dalam banyak kasus. sudahkah media tradisional mentransformasikan diri sebagai spectacle yang bisa dinikmati masyarakat di luar komunitas pendukungnya? Seperti diketahui.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ada di Indonesia. Tahapan ketiga penulisan laporan yang merupakan kompilasi dari hasil pemetaan. pengamat seni tradisional. pada masa dulu. sekarang dan yang akan agar dapat digunakan untuk kepentingan pendidikan publik dan komunikasi sosial. Indonesia Tengah dan Indonesia Timur. Kegiatan ini diarahkan untuk mendapatkan gambaran opini dan ekspektasi stakeholders seni tradisi tentang potensi seni dan media komunikasi tradisional. pegiat seni tradisi. pemuka pendapat. akan dibagi dalam tiga wilayah.* 7 . serta rekomendasi kegiatan diskusi. diskusi ahli adalah kegiatan yang dikemas dalam bentuk diskusi kelompok terbatas yang melibatkan para ahli. Kedua. Untuk kebutuhan kegiatan ini. diskusi terbatas (focus group discussion). serta unsur pemerintah daerah. yakni Indonesia Barat. Hasil kompilasi juga akan dibukukan dengan kemasan ilmiah populer agar dapat dijadikan sebagai acuan pemanfaatan seni tradisional.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 8 .

SINERGI SENI TRADISI DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PENDIDIKAN PUBLIK 2 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

sekaligus seorang pengusaha. tidak kriminal. budayawan. cendikiawan. Musa Asy’arie adalah seorang filosof. Musa Asy’arie menolak pandangan dualisme (jasmani dan rohani) manusia yang selama ini mempengaruhi cara berpikir mayoritas umat Islam. Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta ini pernah menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika. 10 . Saat ini menjadi anggota Dewan Pengawas Televisi Republik Indonesia. namun tidak sampai selesai. Ia adalah pencetus gagasan Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan. Lingkungan pondok pesantren inilah mengubah sikap dan cara pandangnya dalam menapaki kehidupan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. Kabinet Indonesia Bersatu. Berpikir yang salah bukan suatu kejahatan. sehingga tidak perlu ditakuti. Dalam disertasinya “Konsep Manusia Sebagai Pembentuk Kebudayaan dalam Alquran” yang dipertahankannya dalam ujian disertasi 26 Januari 1991. Ayahnya memindahkan Musa ke pondok pesantren Tremas Pacitan Jawa timur. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di SD Muhammadiyah Ambukembang. Setelah menyelesaikan pendidikan di lingkungan pondok pesantren. di desa Pekajangan Pekalongan.Dr. Musa Asy’arie dilahirkan tanggal 13 Desember 1951. bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat. sekaligus birokrat dan pengusaha ikut mewarnai pemikirannya bahwa berpikir an sich adalah bebas sebebas-bebasnya. Musa menempuh pendidikan kesarjanaannya di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Filsafat. Ia besar dalam lingkungan masyarakat pengusaha. Ia melanjutkan ke SMPMuhammadiyah di Pekajangan. Guru Besar Filsafat Islam. Musa menikah dengan Muslihah teman kuliah satu fakultasnya di IAIN Sunan Kalijaga. H. Sebagai Guru Besar Filsafat Islam UIN Yogyakarta. sebuah desa yang kental dengan budaya santri yang entrepreneurship.

Misalnya yang kita percayai bahwa dalam Islam melukis benda bernyawa itu tidak boleh. Dr. Bicara tentang keindahan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Mencari Model Pertunjukan Seni Tradisi dengan Teknologi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik Prof. Jika tuhan diabaikan dalam keindahan maka akan ada fenomena radikalisme. Di dekat kekuasan juga ada seni. Kesenian berkaitan dengan semua aspek kehidupan masyarakat. patung . Musa Asy’arie. baik itu seni suara. Boleh melukis tapi jangan sampai seperti hidup. politik. dan bahkan seni agama. Seni juga masuk ke seluruh kehidupan. Dalam perspektif kebudayaan nilai-ni11 S . ada Abunawas yang bisa mengemas kritik dalam bentuk seni. manusia juga merupakan bentuk keindahan karya agung Tuhan. Sayangnya ada stagnasi kalau kita bicara seni agama. Banyak hal seni punya besar dalam kehidupan agama terutama jika bersentuhan dengan nilai rasa keindahan karena Tuhan juga memiliki nilai keindahan. Ajaran agama seringkali mempengaruhi hal ini. Namun secara umum seni dan agama saling mendukung. tari. arsitektur. Jika dilihat dari dalam pemikiran filsafat. seni adalah perwujudan kreatif nilai-nilai estetika. misalnya cerita 1001 malam. Anggota Dewan Pengawas TVRI eni adalah karya keindahan. Saya kira berkaitan dengan seni tradisi dan soal teknologi ini adalah persoalan membangun model. Di sini kita bisa melihat bahwa kemasan seni itu bisa melakukan kritik.

Jadi saya kira. Seni pada dasarnya berkaitan dengan perasaan atau rasa atau emosi. maka diambil kemaslahatan yang banyak. Kita ketahui bahwa logika berpikir orang itu punya tingkatan. dalam setiap karya seni tidak bisa dilepaskan dari aspek nilai logika dan etika. Puncak pengalaman religius adalah estetis dalam dunia sufi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF lai itu merupakan wujud kesatuan dari (1) nilai logika. Bahkan mendasarinya. industri. Oleh karena itu kita bisa menemukan tradisi masyarakat agraris. kelas bawah hingga tradisi masyarakat elit. (2) berkaitan dengan pemikiran atau nilai etika yakni baik dan buruk. tapi jika kemanfaatan lebih banyak dari hal yang buruk. Oleh karena itu. Nanti kita bisa lihat bagai segmentasi masyarakat akan berkaitan dengan kemampuan untuk menerima seni ini. juga masih relevan. Pertautan itu membuat seni berperan dalam peradaban. Oleh karena itu. moral dan agama. Sedangkan tradisi adalah kebiasaan atau adat istiadat yang dilestarikan secaraturun temurun dalam suatu kehidupan masyarakat tertentu. Kebenaran dan kebaikan menyatu dalam karya estetika. akademik. kota. atau yang menyangkut benar dan salah. seni tidak bisa dipisahkan dari logika dan etika. aspek nilai seni tak boleh dipisahkan dari logika etika dan estetika. Dimensi estetik merupakan dimensi tertinggi dalam pengalaman religius. Misalkan masyarakat aga12 . Jika diterapkan dalam kehidupan masa kini. Artinya semua bentuk seni ini jadi dasar bagaimana mengemas sosialisasi melalui seni. Dalam Kisah Baratayudha misalnya. Di situ dapat dilihat bahwa seni punya publiknya sendiri. Misalnya bagaimana dialog tentang pembangunan dan kemiskinan? Di situ ada dampak buruk. dialog antara Puntadewa dengan Arjuna itu adalah dialog yang menarik bagaimana bisa memisahkan pikiran dan rasa. pedalaman. dalam pandangan saya. Karya seni menyatu dengan etika dan logika. Komunikasi seni dalam masyarakat pada dasarnya hendak menyampaikan nilai kebenaran yang berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan. Kesenian tradisional juga menyampaikan etika dan nilai. Nilai kebaikan yang berkembang dalam adat istiadat. dan (3) berkaitan dengan perilaku atau nilai estika yaitu indah dan jelek. lantas diekspresikan melalui karya keindahan. semua punya tradisi. Sehingga pesan kebenaran dan kebaikan akan terasa indah untuk diresapi dan dihayati oleh publiknya. Jika bicara tradisi.

Oleh karena itu. Saya kira semua masyarakat punya tradisi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI raris dan kota. Sehingga diketahui mana yang komunikatif bagi masyarakat dan mana yang tidak komunikatif terkait pesan yang disampaikan. ya harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Kalau pejabat dari Kominfo sedang menyanyi di tengah acara limbukan wayang. maka logika itu yang harus diubah dan dinaikkan sesuai dengan perubahan masyarakat. karena kalau tidak pakai toga terasa hambar meski kita tak tahu apa di balik toga itu. Setiap seni dikemas dengan baik agar tak menyinggung orang. Memakai toga. Setiap tradisi memiliki masing-masing karakter dan publiknya sendri dan tradisi pedalaman dan pesisiran misalnya untuk orang-orang pinggiran dan elit untuk kalangan keraton. pembaharuan dalam karya seni tidak bisa dilepaskan dari pembaharuan nilai dalam kehidupan masyarakat. Tapi satu hal yang menarik adalah bahwa sms yang masuk dari masyarakat cukup banyak. etika dan estetika. Saya kira perlu ada pembaruan sesuai dengan perkembangan masyarakat. Jadi itu efektif sekali untuk menyampaikan informasi. Tapi jika bisa dikemas dengan baik. Ada pertunjukan wayang yang disiarkan oleh RRI dan TVRI. Sementara etika diaktualisasikan sesuai dengan kebutuhan jaman. Tradisi ini hendak dipetakan dan sudah dipetakan bagaimana tradisi yang dipetakan oleh Kominfo harus punya nilai logika. Bagaimana tradisi kota? Bagaimana tradisi masyarakat industri? Ada pula masyarakat kota. Demikian pula dengan estetika. Persoalannya sekarang adalah bagaimana tiga hal itu dan dikemas jadi satu kesatuan? Karena ketika masyarakat berubah. Sehingga karya seni terlepas dari konteks nilai yang dianut oleh masyarakat. itu bisa jadi saingannya Mus Mulyadi. itu misalnya bagian dari tradisi akademik. Yang ingin saya katakan adalah bahwa perlu kreativitas untuk bisa mengemas agar sesuai dengan tradisi masyarakat. seni tradisi mung13 . Perlu kreativitas atau seni tradisi akan ditinggalkan dan hanya akan dikenang. Permasalahan terjadi jika kesatuan nilai-nilai itu tidak tercermin lagi dalam karya estetika. Dampaknya karya seni tidak bisa dimengerti secara utuh oleh masyarakatnya sendiri sehingga komunikasi karya estetika itu terputus dari masyarakatnya. Di kampus dipertahankan. Saya pernah ikut acaranya Kementerian Kominfo di Gunung Kidul. desa dan akademik.

maka ruangnya jadi beda. maka bukan lagi menggunakan alun-alun tapi menggunakan ruang maya. TIK lahir dari proses perkembangan masyarakat agraris menuju masyarakat industri dan membentuk masyarakat informasi. Itu tingkat etika dan logikanya jadi tinggi dan waktunya pun menyesuaikan dengan kondisi penontonnya. Logikanya harus bertahap. Saya kira dalang yang pentas di Mahkamah Konstitusi atau RRI. Bagaimana TIK jadi forum pengembangan kreatifitas resmi yang 14 . Hal penting kalau dilihat dalam sisi komunikasi adalah bicaralah pada masyarakat sesuai dengan kadar akalnya. Selama ini seni dipanggungkan di tengah lapangan bola. Ini saya kira pekerjaan yang harus dilakukan oleh Kominfo. bukan lagi semalam suntuk. Persoalannya kembali pada bagaimana karya estetik diberi ruh dengan logika dan etika. Dalam masyarakat seperti ini. model pertunjukan seni tradisi. Dalam era konvergensi TIK. Dalam kaitan dengan karya estetika telah terjadi perkembangan pula estetika agraris berkembang dalam estetika industri menuju estetika informasi. ini yang perlu dilakukan secara kreatif. Namun ketika bergabung dengan TIK. akan tetapi bergerak dalam ruang maya yang berlangsung cepat dan dinamis. mau tidak mau. Karena kalau gunakan TIK yang kini konvergen. Ada kelas. Di sinilah kemudian muncul problem. konflik. misalnya. Ada yang cuma dua atau tiga jam. Di media konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) faktor waktu juga penting. Kalau itu dikemas. pasti berubah. Dalam masyarakat informasi. ada tradisi yang ada. Bahkan bisa disebarluaskan dari suatu wilayah ke wilayah yang lainnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kin juga bisa memacu perubahan sosial. Persoalan mengemasnya juga menjadi tidak sederhana. peran seni akan luar biasa. juga akan mengemas dengan logika yang berbeda. TIK adalah produk ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis pada nilai logika. kemasan logikanya seperti apa? Dalam masyarakat pesisir itu logikanya seperti apa? Kreativitas juga termasuk bagaimana memasukkan etika dan logika dalam kemasan estetika? Tentu akan menyesuaikan dengan kondisi penontonnya. Melalui benda kotak yang menyatukan dunia yang sarat pluralitas. perubahan dan pembaharuan. dinamis dan tidak simpel. pertunjukan seni tradisi tidak lagi berada dalam ruang fisik yang dibatasi dinding atap dan kaca.

Pertunjukan seni tradisi harus mencari model yang dinamis sesuai perkembangan masyarakat. Misalkan Wayang Suket Slamet Gundono. Namun pengemasannya pun tak boleh lepas dari etika dan logika. bisa ditampilkan berapa jam? Kalau dengan TIK jadi kemasan yang perlu kreativitas tinggi. ketiga masyarakat itu tetap ada dan tidak saling menafikan. Kecende-rungan sekarang ini. Di Wonogiri model masyarakat seperti itu masih ada.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI gabungkan etika dan estetika. Mungkin kemasan itu yang akan menyesuaikan. Jika ruangnya TIK. sebagian seni tradisi mulai ditinggalkan dengan pertumbuhan masyarakat lantaran tak semua seni tradisi bisa menjawab perubahan. maka harus menjadi dasar penyesuaian. di Solo juga ada. Model itu menyesuaikan dengan kondisi masyarakat. dan informasi. Hal itu harus dilakukan terus-menerus agar seni tetap hidup. semua memerlukan kemasan tersendiri. Dan untuk mengemas itu adalah pekerjaan luar biasa yang harus tetap menjaga bahwa karya seni tak boleh dilepaskan dari etika logika dan estetika. Tentu waktunya akan berubah. Tetapi di Indonesia ketiga kategori masyarakat itu masih ada. Di TVRI. wayang kulit semalam suntuk tidak bisa ditampilkan begitu saja. Dalam masyarakat Indonesia. * 15 . industri. entah itu pada kategori masyarakat agraris. Karena kalau lepas dari itu maka tak bisa membentuk peradaban. Apalagi jamnya ketat dan menyesuaikan dengan layar dan waktu. Sehingga model pertunjukan seni tradisi seharusnya menyesuaikan dengan realitas masyarakatnya. Saya kira masyarakat perlu model yang tepat untuk pengemasan seni tradisi.

Tari Anak-anak dan Permasalahannya. S. Endang Caturwati. Sejarah Tari. Jepang. pemain pada drama suara atau sebagai penabuh Degung. Dr. India. tahun 2006. selain sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STSI Bandung. Sosiologi Seni. Buku-buku karyanya antara lain berjudul: Tata Rias Busana Tari Sunda. dan Organisasi Sosial Masyarakat Sunda hingga masa kini. Tjetje Somantri Tokoh Pembaru Tari Sunda. dan Manajemen Objek Daya Tarik Wisata Daerah. Kajian Gender. Lokalitas. M. Pesona Perempuan dalam Sastra dan Seni Pertunjukan. Kariaan: Tari Anak-anak di Daerah Subang Jawa Barat. China. Pengantar Seni Pertunjukan Indonesia. Kapita Selekta. Aktivitasnya sebagai pengajar mata kuliah Seni Pertunjukan Indonesia. Jabatan yang pernah diemban antara lain. Longser Grup STSI Bandung (2005-2008). Antara lain Gending Karesmen dengan lakon Si Kabayan. 25 Desember 1956. penulis pernah menjadi pelaku pada grup-grup seni tradisi yang dipimpin para tokoh seni terkenal.S dilahirkan di Bandung. masih disibukkan sebagai Pimpinan Redaksi Jurnal Ilmiah Seni dan Budaya ‘Panggung’ STSI Bandung (terakreditasi). ed. Sek Hubungan Kelembagaan. Gugum Gumbira pencita Jaipongan. Itali.. Kepala Pengabdian Masyarakat. dan Ka Humas. Sebagai Kepala Humas Endang mempromosikan Lembaganya tidak saja di tingkat regional.S. dan Tradisi Sebagai Tumpuan Kreativitas Seni. Gugum Gumbira dari Jaipongan ke Cha Cha. Program Studi Pengkajian Seni Rupa dan Seni Pertunjukan. Dewan Redaksi di beberapa Penerbitan Jurnal Ilmiah dan Artikel Ilmiah di Jawa Barat dan Jakarta. tetapi juga ke berbagai manca negara di antaranya Malaysia. seperti Mang Koko (Ganda Mekar 1973-1978). ed. merupakan doktor pertama di STSI Penulis (kedua dari kiri) bersama Tati Saleh penari JaiBandung dan Guru Besar bidang pongan.* 16 . (Gentra Madya (1973-1978). Australia. Beruntung. ed. Dadang Sulaeman (Mayang Binekas 1973-1978). Literatur Tari. Thailand. dan Belanda. Nano. Seni dalam Dilema Industri. UPI (Pariwisata). baik. UNPAD. juga aktif menulis artikel di beberapa mass media. Pimpinan Penerbitan Sunan Ambu Press. Sinden Penari di Atas dan Di Balik Panggung. dan beberapa seni pertunjukan tradisional lainnya. Tari di Tatar Sunda.ST. maupun beberapa perguruan tinggi lainnya. dan Sistriarji Seni Pertunjukan Indonesia di Sutradara Longser STSI Jawa Barat (2007). di STSI. Gentra Madya. Kesibukan lainnya.. Gender dan Seni Pertunjukan di Jawa Barat. Protokoler dan Penerbitan. Lulus S-3 Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. baik sebagai penari. serta Organisasi Seni dan Budaya. Jurna Ilmiahl dan buku. ed. Pahlawan Samudra dan Gondang Samagaha pada Grup Ganda Mekar: Degung pada Grup Mayang Binekas.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. . ed.

penerangan. antara lain dengan munculnya berbagai seni pertunjukan yang didukung oleh para elite birokrat. hiburan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Barat Endang Caturwati. Pada dasarnya seni pertunjukan memang mempunyai fungsi primer dan sekunder. atau media politik. baik di perkotaan maupun di perdesaan. Kondisi ini bisa diamati dari kehadiran berbagai genre seni pertunjukan. serta berbagai pertunjukan yang tidak saja berkembang di kalangan rakyat. Fungsi primer. serta melahirkan berbagai genre seni pertunjukan yang terbukti mampu bertahan terhadap kuatnya arus perubahan dinamika sosial dan budaya masyarakat. baik sebagai upacara ritual. maupun penyajian estetis. berperan juga sebagai sarana pendidikan. dalam arti. yaitu (1) sebagai sarana upacara. bahkan kini telah banyak yang menjadikan sebagai ajang ekonomi sebagai seni industri. bahwa seni pertunjukan memiliki tiga fungsi. ajang prestise. Pakar Pertunjukan dan Kajian Budaya STSI Bandung J awa Barat dikenal dengan berbagai seni pertunjukan dengan berbagai bentuk serta fungsi. (2) sebagai ungka17 . ajang gensi. hiburan. Bentuk seni tradisi yang banyak difungsikan masyarakat. selain untuk kepentingan ritual. Di berbagai daerah bermunculan proses reinterpretasi. dan eksperimentasi seni. dan tontonan atau apresiasi estetis. penyebaran agama. seleksi. Seiring dengan berjalannya waktu. akan tetapi juga di kalangan masyarakat menak serta pengusaha dan petani kaya.

kemudian karya Nano dan garap tari dan Karawitan Jaipongan karya Gugum Gumbira. yang bisa memenuhi sebuah fungsi sosial. Metode Penelitian Seni Pertunjukan (Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Memang. calung. The Sociology of Art (Chicago and London: The University Of Chicago Press. atau fungsi sosial yang belum tentu abadi dari waktu ke waktu2. dan kemudian muncul para generasi penerus para koreografi muda dan komposer muda yang akhir-akhir ini semakin variatif coraknya. Sebagai media komunikasi. seni pertunjukan memiliki progresivitas dalam berkembangnya ragam dan format sajian untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan masyarakat pendukungnya. 2004. 1985). Seminar Revitalisasi. The Antropology of Dance (Bloomington and London: Indiana University Press. terutama pada kesenian rakyat seperti sandiwara. pantun. dan (3) sebagai presentasi estetis1. seleksi dan eksperimentasi budaya berbasis pada tradisi seni pertunjukan lokal. Soedarsono. 3. Adapun fungsi sekunder apabila seni pertunjukan bertujuan bukan untuk dinikmati. pada kenyataannya banyak yang tumbuh sebagai ekspresi masyarakat. tetapi untuk kepentingan yang lain. atau multifungsi. 1980). reog. 2001). Anya Peter Royce. ajang bisnis dan mata pencaharian. 170. Bahkan muncul berbagai pertunjukan yang merupakan langkahlangkah baru dalam konsep penciptaan.M. longser. ajang gengsi. Seni pertunjukan yang berkembang di Jawa Barat. dengan berbagai medium. interaksi. pada dasarnya setiap seni pertunjukan yang otentik. “Dialektika Seni Pertunjukan Tradisi”. kemudian gending-gending kreasi baru atau wanda anyar karya Mang Koko. media komunikasi. 18 . berarti nilai kualitatifnya tidaklah lenyap di dalam fungsinya3. Mereka melahirkan ‘karya-kaya kreatif’ yang bersumber dari lokal 4 . Arnold Hauser. wayang golek. menunjukkan kecenderungan dalam melakukan reinterpretasi. Dewan Kesenian Kabupaten Sleman Yogyakarta. 308.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pan pribadi. tapi menyebar ke wilayah Jawa Barat. yang lebih komunikatif serta sarat dengan interaktif. Artinya ‘format sajian’ disesuaikan dengan fungsi dan kondisi. beluk. 1 2 3 4 R. yang berkembang tidak saja di wilayah Priangan. dan Globalisasi Seni. adalah tumbuh sebagai ekspresi masyarakat pendukungnya. Bambang Pudjasworo. Progresivitas seni pertunjukan sebagai media komunikasi dapat diamati dengan ‘pelebaran’ wilayah pertunjukan. antara lain sebagai pengikat kebersamaan. 57. Transformasi.

di sawah. sebagian dari sistem lama yang berlaku dalam masyarakat perlu mendapatkan penafsiran kembali untuk mendukung tumbuh dan berkembangnya budaya baru. atau negara lain yang disajikan tidak saja di gedung pertunjukan atau tempat pertunjukan seperti pendapa. yang lebih menuntut hal-hal yang komunikatif. bahwa seni pertunjukan tradisional. serta seniman-seniman seni pertunjukan yang memikirkan seni bukan hanya sekadar ekspresi. yang lebih banyak menghabiskan dana daripada memperoleh dana. di terminal. candi. diperlukan suatu sintesa agar kelangsungan hidup seni pertunjukan etnik bisa tetap survive. seniman-seniman yang menyajikan karyanya. di Jawa Barat selama masa Orde Baru berkuasa hingga Orde Reformasi mengisyaratkan. hutan. Terlebih dengan zaman yang sarat dengan informasi. dan merespon tarian zaman). dalam rangka sesaat untuk ‘ekspresi diri’. bahwa “urang kudu bisa ngigel. Dalam hal ini dapat dibedakan. menarikan. Dalam persaingan budaya dan kepentingan masyarakat semakin beragam. yang harus memperhitungkan nilai uang. atau berupa helaran (arak-arakan). dan karena itu sekaligus merupakan wilayah kegiatan yang bisa merasuk pada penggalian nilainilai manusia yang tidak akan pernah habis. tetapi juga sebagai tuntutan ekonomi. merupakan sesuatu yang bukan hanya diartikan sebagai sekadar media hiburan atau alat komunikasi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI berbagai kolaborasi. jeung ngigeulan zaman” (kita harus bisa menari. yang menjadi ciri manusia sebagai makhluk khusus. Berdasarkan dari hasil-hasil penelitian yang ada. melainkan sebagai ekspresi diri dan sumber inspirasi gerakan spriritual 19 . di halaman. dan tempat-tempat lain sesuai dengan konsep dari sang seniman. baik antara etnik. Akan tetapi dalam proses globalisasi. adalah bagian dari totalitas kehidupan. Akan tetapi juga kini banyak pertunjukan yang tampil di tepi sungai. tanpa memperhitungkan dana yang diperoleh. serta hanya dalam waktu temporer (tidak berlaku ulang atau dipertunjukkan kembali di tempat yang sama). Sebagaimana yang sering diungkapkan oleh para sesepuh Sunda. Kondisi Masa Lalu Seni pertunjukan. amphyteater. tanpa harus meninggalkan nilai-nilai etika dan estetika. di tempat sampah. ngigelkeun. danau.

serta suasana eros dan chaos. baik dialog ataupun syair lagu. tetap masih mempertahankan nilai-nilai edukatif. cengkok lagu. dengan tidak menggurui. Wilayah Priangan Di wilayah Priangan dikenal dengan berbagai pertunjukan tradisional yang di dalamnya bermuatan media dialog. Lampu Aladin). 5 Jeninfer Linsay . antagonis dan tritagonis. gaya. dan estetika. tetap saja dikemas melalui simbol-simbol. yang bisa dilihat dari bentuk. serta busana yang dikenakan. wilayah Cirebon dan Indramayu. Pada tahun 1960-an. dan Ceritera Desik (atau kisah-kisah dari ceritera seribu satu malam seperti Sang Kuntala. nilai-nilai moral. baik busana. yaitu wilayah Priangan. Babad. Bentuk seni pertunjukan tersebut dapat dibedakan menjadi tiga wilayah. atau komentar sosial. gerak tari. Seni tradisi yang berkembang di Jawa Barat. gerak tari. dan wilayah Pantai Utara atau dikenal dengan sebutan Pantura. iringan musik. Seni pertunjukan tersebut. spriritual. 151. protagonis. Adanya muatan pesan-pesan pendidikan sangat dominan dengan ditampilkannya tokoh. Roman (kehidupan sehari-hari). tetapi sifatnya menghibur. maupun arak-arakan atau helaran. informasi pemerintah berupa penanggulangan kesehatan dan pertanian. bahkan pencak dan lawak. “ Cultural Policy an Performing Arts in Soteasst Asia”. lagu. Masing-masing bentuk sajiannya memiliki kekhasan yang sangat unik. pendidikan. Kendatipun di dalamnya bermuatan pesan-pesan agama. dalam Biddragen. baik verbal maupun non verbal secara etis dan estetis. antara lain sebagai berikut: 1) Sandiwara Sunda (Priangan) Sandiwara Sunda merupakan pertunjukan yang berkembang di kalangan rakyat dengan ceritera yang diambil dari ceritera Wayang. baik berupa seni tari. etika. drama. Jawa Barat dikenal dengan berbagai seni pertunjukan yang menjadi prestise para pejabat dan dapat berkembang di masyarakat. 20 . karawitan. bahasa. properti. Pertunjukan yang memiliki unsur bertutur. Masingmasing wilayah memiliki ciri khas. memang unik dan spesifik.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF sebuah komunitas lokal5. 1. maupun stuktur pertunjukannya. sesuai dengan tradisi daerah para pendukungnya.

Sebagai contoh. terutama dengan munculnya tokoh ‘si Cepot’ sebagai ikon dominan pada setiap pertunjukannya dengan dialog-dialog dan gerak yang lucu. Bahasa yang digunakan dalah bahasa Sunda dan diringi gamelan Sunda berlaras Pelog dan Salendro. Sri Murni dan Sri Mukti. 2) Wayang Golek (Jawa Barat) Wayang Golek merupakan pertunjukan teater boneka yang sangat popular di Jawa Barat. dengan vokal yang dibawakan oleh sinden. Media komunikasi antara pemain dengan penonton sangat dominan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Yang paling menarik. Grup yang paling dikenal pada tahun 1960-an di kota Bandung. tapi 10 hingga 20 orang sinden. Pertunjukan Wayang bahkan menjadi pertunjukan prestise di daerah-daerah tertentu dengan dalang-dalang favorit setempat. antara lain untuk daerah Cilangkap Sumedang Dalang Asep 21 . sebagai Kliningan Bajidoran yang dominan menampilkan sinden yang juga menyanyi dan menari. Begitu pula pada cerita Babad sebagaimana tokoh dalam ceritera sejarah Sangkuriang. kemudian beralih menjadi pertunjukan yang mandiri tanpa dalang dan wayang. yang kini masih berkembang di daerah Subang dan Karawang sebagai seni hiburan yang menjadi andalah daerahnya. serta gerak. kostum. dan lain-lainnya. Wayang Golek memiliki lakonlakon galur dan carangan yang bersumber dari ceritera besar Ramayana dan Mahabrata. dari dialog-dialog para pemain dan lagu-lagu yang dilantukan penyayi. karena pada tahun 1960-an pernah terjadi adanya peran dalang yang tergeser oleh sinden yang kemudian dikenal sebagai sinden legendaris Titim Fatimah. dialog. Perkembangan selanjutnya. Adapun Wayang Golek mulai bangkit kembali setelah kehadiran Dalang Asep Sunandar Sunarya sekitar tahun 1980-an dengan kemasan baru. ketika menampilkan ceritera Wayang. antara lain. dan Upit Sarimanah yang bisa mengubah struktur pertunjukan menjadi dominan penampilan sinden dengan saweran uang. atau sejarah Pajajaran. tidak hanya satu atau dua orang sinden. Pertunjukan wayang golek sangat menarik. sebagaimana tokoh dan adegan dalam pewayangan. adalah setting layar dan kostum disesuaikan dengan tema.

Gending Karesmen. yang terkadang diselingi dengan gerak tari. Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya dari kisah sejarah atau legenda. Nyai Dasimah. Gending karesmen yang terkenal di Jawa Barat. Gesan Ulun. yaitu Koko Koswara. dinamakan Lagu-lagu Ageng. dan lain-lainnya. berupa drama suara minimalis dengan diiringi kecapi. Kinteul Buek. cinta ibu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Sunandar Sunarya. Kulu-kulu yang bias mengiringi berbagai lagu dengan syair yang sarat dengan pesan-pesan atau informasi mengenai pendidikan. Samagaha. daerah Buah Dua Sumedang Dalang Dede Amung. Pahlawan Samudra. Raja Kecit. Pada musim pemilihan umum dan pencalonan Presiden. 3) Gending Karesmen (Priangan) Gending Karesmen (Drama Suara) merupakan drama yang dialognya berupa syair yang dilagukan. Bima Mobos. kendang dan gong. Lutung Kasarung. dan lain-lain. Galatik Manggut. Ceritera yang dibawakan mengenai pesan moral dan sosial yang tentu saja bermuatan pendidikan. Beber Layar. Manintin. pernah berjaya di tahun 1970-an. Ganda Mekar pimpinan Mang 22 . cinta tanah air. dengan sutradara seniman yang piawai dalam bidangnya. menabung. 4) Degung (Priangan) Degung merupakan sajian karawitan (musik tradisi) dan vokal dengan diringi gamelan degung. seperti Pajajaran. akan tetapi yang berkembang di masyarakat terutama pada perayaan-perayan HUT Proklamasi Indonesia. Wayang Golek sering dijadikan sebagai media kampanye yang pesan-pesannya dititipkan melalui dialog tokoh Wayang. kendatipun awalnya diiringi dengan gamelan pelog-salendro yang lengkap. Perkembangan selajutnya degung berkembang menjadi lagu-lagu sawilet seperti Catrik. Si Kabayan. Grup-grup yang terkenal pada tahun 1970-an adalah Parahiayangan pimpinan E Tjarmedi. antara lain lakon Pangeran Jayakarta. Pada awalnya lagu-lagu Degung berupa instrumental yang sangat khas yang tabuhannya sangat unik. dan lain-lainnya. Degung sering ditanggap pada acaraacara resmi atau hajatan-hajatan pernikahan dan sunatan.

Yang sangat menarik adalah. Damas (Daya Mahasiswa Sunda). seperti lagu Kalangkang. selain menyajikan ceritera rakyat. sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi. 5) Longser (Bandung) Longser merupakan teater rakyat. Sebagai pertunjukan rakyat Longser memiliki fungsi sosial. adalah gerak ‘uyeg’ pada Ketuk Tilu dengan sebutan khas ‘keplok cendol’ yang dibawakan oleh para penari perempuan yang disebut ronggeng. serta grup-grup di tingkat daerah. Paraguna (Jepang). Anjen. 23 . S dengan grup Gentra Madyanya. masyarakat dari berbagai tempat bertemu di satu tempat untuk bersama-sama menyaksikan cerminan dari kehidupan mereka sendiri. Rachel Swindell (London-Inggris). Bahkan pada tahun 1980-an di luar Indonesia. Cinta Ketok Magic. Selain media komunikasi berupa dialog. Mayang Binekas pipmpinan Dadang Sulaeman. Gentra Madya pimpinan Nano. Kesenian ini sebagai perkembangan dari pertunjukan Doger dan Ketuk Tilu yang mulai tidak disukai oleh masyarakat yang muncul sebagai teater keliling dengan penyajian di arena terbuka. unsur yang disukai oleh penonton adalah hadirnya bodoran atau lawakan serta para penari Ketuk Tilu Ci-keruhan dan Pencak Silat. Konsep melodramatik mendasari ceriteta-ceritera tersebut karena selalu diakhiri dengan happy ending. Evergreen dan John Sidal (Kanada). S. antara lain Lingkung Seni Pusaka Sunda University of California (Santra Cruz-USA). oleh Nining Meida dan Barman Syahyana (1984 dan 1986). pengembangan Degung dilakukan oleh perguruan tinggi Seni dan beberapa musisi. adalah Nano. gerak dan syair lagu yang diiringgi gamelan salendro. Yang tidak kalah penting. Dewi Permanik pimpinan Euis Komariah. Gerak tari yang sangat khas.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Koko. tanah lapang atau tempat-tempat yang berhalaman luas dengan penerangan oncor (obor) berkaki lima yang diletakkan di tengah arena pertunjukan. kebun bambu. terutama karena setiap pertunjukannya. Grup Ujang Suryana. musisi Lou Harrison (USA) beserta para mahasiswanya. membuat banyak lagu Degung dengan introduksi dan arasement tersendiri yang dapat menaikkan omset rekaman kasetnya.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF adanya dialog interaktif dengan penonton. ‘Pancasila’ Jaya) Lagu Senggot: Lagu Es Lilin Es lilin mah ceuceu kalapa muda Dibantunmah ceceu ke Kota Bandung Jangan lupa ceceu dan anak muda Narkoba sangat merusak penerus bangsa Longser yang paling dikenal pada zamannya tahun 1960-an adalah Longser Bang Tilil dan Longser Ateng Japar. Lagu yang sangat komunikatif pada masyarakat Jawa Barat. Soreang. 6) Beluk (Cianjur. ialah satu jenis Tembang Sunda yang mempergu24 . berupa pesan spriritual. Pangalengan. Selain dialog. Alunalun. Tegal Lega. karena syairnya sangat fleksibel dapat diisi dengan berbagai muatan pesan dan informasi. Cicadas dan wilayah kota Bandung). Sedangkan Longser Ateng Japar menguasai daerah Bandung Selatan. Ciamis) Beluk. serta daerah sekitarnya). sebagai berikut. Bang Tilil menguasai pertunjukan di daerah kota Bandung ( Stasiun. Bandung. Cikawao. Contoh syair Lagu Kulu-Kulu Sadunya: Kulu-Kulu Sedunia Dewi Sinta Dewa-dewa Rama Kasasarmah di alas roban. Banjaran. ‘Pancasila’ Jaya (Dewi Sinta Dewa-dewa Rama Yang kesasar di hutan rimba Mencitai-mencintai kepada sesama Satu dasar kebangsaaan Indonesia. maupun sosial. Dalam hal ini untuk lebih menghidupkan suasana penonton diajak terlibat pada adegan-adegan tertentu. geuning Mikacinta-mikacinta ka sasama Hiji dasar kabangsaan Indonesia. sindiran yang termuat pada syair sinden pun merupakan pesan yang handal untuk media komunikasi. Bogor. adalah lagu Kulu-kulu Sadunya dan Es Lilin. Cililin.

Antara pembaca naskah dan penyayi terkadang tidak sama misalnya “ Ada raja mengembara” dinyanyikan menjadi “ Ada raja tidak bercelana”. Dangdanggula. tampilan para mojang (gadis) menumbuk padi dan para jajaka yang mencari cinta. Setiap penyanyi berusaha melantunkan suaranya yang paling nyaring. Namun demikian semenjak populernya radio dan adanya TV. dan Kinanti. Penyajian pertunjukan 25 . 8) Reog (Jawa Barat) Pertunjukan Reog. atau sebagai pertunjukan. sebab itulah yang menjadi ukuran terbaik. Lagu yang dibawakan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI nakan nada-nada tinggi. dan biasa diselenggarakan pada waktu syukuran bayi berumur 40 hari. maka naskah dibacakan oleh juru ilo. antara lain menggunakan pupuh Asmarandana. Irama dentuman lesung para mojang yang membentuk irama atraktif. melengking. 7) Gondang (Jawa Barat) Merupakan seni pertunjukan yang berkembang di masyarakat dengan tampilan ‘drama suara mini’. Adapun unsur pertunjukan yang mendukung. Beluk dibawakan oleh 4 orang dan dibantu seorang juru ilo dan diselenggarakan pada malam hari. mulai dari mulai ukuran besar hingga kecil. Perkembangan berikutnya Beluk sering ditanggap pada acara-acara syukuran di perkawinan. populasi Beluk kian hilang. merupakan pertunjukan yang dimainkan oleh para laki-laki dengan membawa alat tepuk berupa dogdog yang dilitkan di bagian perutnya. Sehubungan banyak para penyanyi Beluk yang tidak bisa membaca. Perkembangan berikutnya dilakukan pula oleh para pemain Reog perempuan. dan segar. Pada masa kini di Jawa Barat hanya tinggal beberapa kelompok grup yang masih hidup. Sinom. kocak. yang dibawakan oleh lima orang. adalah properti ‘lesung dan alu’ diiringi kacapi. kemudian dinyanyikan oleh penyayi Beluk. kendang dan gong. tinggi. serta enak didengar. menjadikan para jejaka (pemuda) datang memburu. Hal ini supaya penonton ketawa dan kantuknya hilang. Tampilan para jajaka sangat kocak dan terjadi dialog yang terkadang romantis. terutama dengan adanya festifal-festifal Reog bermunculan grupgrup yang berada di wilayah Jawa Barat.

tabuh. bas. Ciung Wanara. kenong. Ceritera Pantun pun berkisar pada kisah-kisah Anggalarang. Perkembangan masa kini pertunjukan Angklung lebih dominan lagu-lagu vokalnya daripada dialognya. seperti kosrek. akan tetapi dipukul dengan tabuh stik bambu. Pertunjukan Calung diilhami dari pertunjukan Reog yang memadukan unsur-unsur dialog.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Reog kolaborasi antara dialog. Bogor) Seni Pantun. Sumur Bandung. Dalam naskah Siksa Kandang Karesian. Mundinglayadikusumah. Unsur vokal menjadi sangat dominan. kacapi. dan lagu. sebagai prototipe angklung. Banyacatra. pengisi ritme. vocal dan gerak tari. dan Siliwangi. Bandung. maupun perguruan tinggi. piul (biola) bahkan organ dan gitar. dan Siliwangi. khususnya isu-isu penting di selingi dengan bodoran segar. Dialog yang dibahas seputar fenomena masyarakat. Banyacatra. antara lain ceritera Lutung Kasarung. Perkembangan selanjutnya pada penyajiannya. Bedanya cara membunyikannya tidak digoyang seperti angklung. terutama Universitas Padjadjaran (UNPAD) merupakan lembaga yang mensosialisasikan pertunjukan Calung sebagai seni pertunjukan yang sarat hiburan dan informasi (penyuluhan). gerak. dan goong. Selain waditra Calung ada penambahan beberapa alat musik. Lima orang pemain. 9) Calung (Jawa Barat) Calung merupakan pertunjukan Sunda dengan menyajikan alat waditra (instrumen) bambu yang dijinjing oleh lima orang pemain. dengan nada pentatonis pelog atau salendro. baik di tingkat daerah. 10) Pantun (Ciamis. Reog sering dijadikan sebagai media penerangan hal-hal yang penting oleh pemerintah. 26 . (Darso). Perkembangan berkutnya lakon yang disajikan ditambah dengan naskah yang dianggap bernilai tinggi. sehingga bermunculan vokalis Calung terkenal seperti Adang Cengos dan Hendarsonya. disebutkan babwa Pantun telah digunakan sejak zaman Langgalarang. masing-masing mempunyai peran sebagai melodi. yang ditulis pada 1518 M. Perkembangan Calung di Jawa Barat begitu pesat dengan adanya festival-festival Calung. adalah seni yang berusia cukup tua.

Kama Salah Murwakala. Kicir-Kicir. Dogdog Lojor. Dalam sajian hiburan ceritera yang diambil dari salah satu ceritera pantun yang dikuasai Juru pantun atau atas permintaan penanggap. Selain jenis pertunjukan-pertunjukan yang telah diuraikan. Acung. Tompel. ka pohaci. antara lain Oncom Lele. tahyan dan kecrek. yang pernah mengalami kejayaan pada masanya. Ada dua bentuk seni Pantun yang biasa disajikan oleh masyarakat Sunda. Beluk. Balo-balo. (tolak bala). para karuhun. Lagu Karawangan. tertangkap juga ucapan ka dewata. dan Jali-jali. Salah Colek. antara lain Paleredan. antara lain Bangket. ceritera yang ditampilkan sama dengan pertunjukan Wayang. di atas terdapat berbagai pertunjukan yang komunikatif. dengan iringan rebana. Seni pantun disajikan oleh juru Pantun berupa ceritera tutur dengan diiringi oleh kacapi berlaras pelog. dan Maulana. sedangkan untuk acara ruwatan. nama raja. tak heran jiga ungkapan dan ajaran (petuah) ki juru Pantun. Sebagai seni yang hidup di tatar Sunda sejak zaman Hindu sampai Islam dan menjadi anutan masyarakat. dan lain-lainnya. Para pelawak Topeng Blantek di Bogor yang dikenal masyarakat. dan Topeng Cisalak. sedangkan lagu-lagu. 11) Blantek (Parung Bogor) Blantek adalah sebutan dari pertunjukan Sandiwara Rakyat Parung Bogor. Karawang dan Jakarta. Pertunjukan-petunjukan tersebut pada 27 . Ubrug. adalah merupakan pembauran kedua zaman tersebut. dan Lagu Bogor. Ketiban Duren. para buyut. dan lain-lain. seperti Batara Kala. Blantek merupakan perpaduan seni daerah Bogor. perkembangan selanjutnya banyak yang menggunakan laras salendro. Selain terdapat kata isthigfar (islam). Aisyah. sebagai sajian hiburan dan acara ritual (ruwatan). baik dialog dan lagu serta gerakan tari yang atraktif. Surak Ibra. Koyok. dalam arti menggunakan media komunikasi verbal. Rendeu. antara lain adalah Ronggeng Gunung (Ciamis). Ceritera-ceritera yang dipertunjukkan antara lain: Bodoh pinter. dan Sang Bango. Angklung Bungko. Kedung. Si Jampang Jago Betawi. antara lain lagu Al Fiah. Reak.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Ratu Bungsu Kamajaya. Lagu-lagu yang dibawakannya adalah yang bernafaskan Islam.

serta mengenakan kacamata hitam. Di Wilayah Cirebon dan Indramayu 1) Tarling Tarling merupakan pertunjukan yang menggunakan paduan gitar. Pegat Balen. jadi nama pertunjukan diambil dari kedua alat tersebut. adalah buyung. bersih desa. suling. ialah dengan tampilnya pawing. Oleh karena instrumen yang mendominasi gitar dan suling. seperti Saida-Saeni. seperti ruwatan. Baridin. kecrek (dari sapu lidi). Pasrah Mati Njaluk Urip.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF masa kini masih berkembang. yang tercermin lewat lagu-lagu yang disajikannya dengan monoton dan sederhana. lodong bambu. Sintren pada awalnya digunakan sebagai media dalam upacara tertentu. Mbrebes mili. Lahir Batin. yang pemainnya (perempuan) dimasukkan pada kurungan ayam dengan mata ditutup kain. naeken suhunan. dengan ciptaan lakon drama. Kembang Tarate. terdapat pada kesenian Sintren antara lain. dengan adanya properti kurungan ayam. dan lain-lain. juga lagu Banyu Mata. Makna teatrikal Sintren yang digambarkan. ngunjung. Grup Tarling yang paling terkenal di Cirebon pada tahun 1966. tapi secara frekuensi pertunjukannya semakin jarang tampil karena jarang ditanggap atau difungsikan oleh masyarakat pendukungnya. adalah grup Tarling Nada Budaya dan Putra Sangkala. yang membuat adegan simultan. Saida Saini. Padang Wulan. kendang dan gong. 28 . 2. dengan lagu Turun Sintren. seperti Marta Bakrun. serta penyayi sinden (perempuan) atau penyayi laki-laki. Perkembangan Tarling pada tahun 1960-an cukup pesat dengan lagu andalan Kiser (lakon yang dinyanyikan). Simbar Pati. makna mistis karena memiliki hubungan dengan perolehan magi simpatetis. sintren dan kurungan. 2) Sintren Sintren merupakan pertunjukan yang unik. nebus weteng. hihid (sekarang diganti oleh karet bahan sandal). Musik pengiring Sintren. dan lain-lain. Beberapa makna yang mampu memberikan kekuatan.

Tumenggung.tengah pertunjukan biasanya diselingi dengan bodoran si Pentul atau Tembem dengan dialog yang segar dan lucu. Perbedaannya yang menonjol hanya pada bahasa yang digunakan. Dalam pertunjukannya. yaitu Klana. Nunung). dan Keni. Bermula dari Pak Krian seorang dalang Topeng. seperti Sutia. Di tengah. Penggunaan lima buah kedok (berwarna merah. Suparta. Salah satu fungsi pertunjukan Wayang di Indramayu 29 . Para penarinya juga dapat menabuh waditra. dilanjutkan dengan Pamindo. Hanya saja di daerah Indramayu. selain lengkap koreografinya. Kini yang masih melanjutkan Topeng Cirebon gaya Slangit tinggal Keni. Ditengah-tengah pertunjukan sering ditampilkan bodoran/lawakan. Wayang sering dipakai sebagai media dakwah Wali Sunan Kalijaga atas perintah Sunan Gunung Jati. (yang lainnya sudah almarhum) dan anakanak Keni (Yono. Rumiang. putih). kuning. serta Inu Kertapani anak Sujana. dikabarkan sejarahnya. menggambarkan sifat manusia (lima nafsu). Suparti.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI yang dilantunkan oleh Sinden. Jingga Anom. Pamindo. dengan dialog-dialog yang lucu tapi bermuatan sosial. Pertunjukan Topeng Cirebon sarat dengan pendidikan dan budi pekerti. gerakannya lebih indah dibanding daerah lain di Cirebon. Topeng Palimanan. 3) Topeng Cirebon Grup Penari Topeng dari desa Slangit Palimanan. Arja pernah mendapat surat pengangkatan sebagai penari Kraton Cirebon. Pada Arjalah Topeng Slangit mulai dikenal. jingga. Topeng Dermayon (Indramayu). berisi muatan pendidikan dan masalah sosial. dimulai dengan menampilkan tari Panji. gading. 4) Wayang Kulit Cirebon dan Indramayu Wayang Kulit Cirebon dan Indramayu pada dasarnya tidak banyak bedanya dengan Wayang Kulit Jawa. Tumenggung. Rumiang. Sujana. dengan tingkatan karakter. Topeng terdapat beberapa gaya sesuai dengan nama daerah di antaranya. diturunkan kepada anaknya Arja (1879-1954). Panji. Sujaya. Topeng Losari. kemudian Klana. lebih tepat apabila disebut grup keluarga. dan semua anak-anaknya bisa menari yang kemudian sebagai penerus generasi.

maka tidak heran. yaitu membersihkan dari hal-hal yang dapat mencelakakan manusia. yang selanjutnya dikenal dengan nama Kliningan 30 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan Cirebon. sebagai berikut: musik pembuka (sebagai tatalu). Pada tahun 1970-an Sandiwara Cirebon mengalami masa kejayaannya. Walangsungsang. jika pada masa itu bermunculan grup-grup Sandiwara di setiap desa dan kecamatan. Grup Sandiwara yang jadwal panggungnya penuh dan dikenal di masyarakat. pertunjukan lakon. Tandange Ki Bangus Rangin. adegan gimmick (surprise dengan trik panggung kembang api). adalah sajian pertunjukan hiburan kalangenan dengan menampilkan sinden-penari dan sinden-penyanyi sebagai media pertunjukannya. Di Wilayah Pantai Utara (Pantura) 1)Kliningan Bajidoran (Jaipongan Pantura) Kliningan Bajidoran. adalah sebagai sarana Ngaruat. 6) Sandiwara Indramayu Perkembangan Sandiwara di Indramayu tidak terlepas dari perkembangan Ketoprak dan Sandiwara Cirebon. Ki Gede Trusmi. dan Panca Tunggal. dengan strutur pertunjukan. 5) Sandiwara Cirebon Sandiwara Cirebon di kalangan masyarakat Jawa Barat dikenak dengan sebutan ‘Masres’. 3. Pertunjukannya dilakukan pada malam hari. Aneka Tunggal. Sandiwara Cirebon juga menyajikan kesenian yang lebih menonjolkan unsur dialog dengan bahasa Cirebon. yang kemudian berkembang dengan adanya tarian hiburan. serta banyak menggunakan spectacle-spectacle dan musik Dangdut Cerbon-Dermayon. tarian pembuka. adalah Grup Darma Saputra. Bedanya menggunakan bahasa Cirebon. Gema Nusantara. antara lain Nyi Mas Gandasari. dan Pusaka Golok Cabang. Sebagaimana juga Sandiwara Sunda. Adapun ceritera yang disajikan mengambil dari babad Cirebon. penutup dengan musik dan epilog pimpinan sandiwara. Pertunjukan model ini merupakan perkembangan dari pertunjukan yang menyajikan unsur karawitan (musik tradisi) dengan menggunakan gamelan Pelog-Salendro. Sang Putra Darma.

terutama dengan munculnya grup-grup Kliningan Bajidoran yang dipimpin oleh para perempuan. Banjet mempunyai sebaran yang cukup luas. baik bagi seniman. sebagai ajang prestise. merupakan persoalan masyarakat Karawang. Topeng Banjet hingga sekarang masih dipertunjukan oleh masyarakat Karawang terutama di desa-desa sebagai sarana pelengkap upacara hajat Bumi. antara lain ke Bekasi. Purwakarta. apa adanya.00 dini hari. Banjet memiliki waktu pertunjukan yang hampir sama dengan tetaer lainnya (Longser. Sandiwara Indramayu. Di Subang tercatat pada tahun 1999 terdapat 158 grup. Priangan. sunatan. Sandiwara Sunda. ajang komunikasi. penanggap. dengan menggunakan iringan gamelan yang sederhana (mudah dibawa) serta bahasa Sunda yang dicampur dengan bahasa Indonesia dialog Betawi. dan difungsikan sebagai tanggapan yang wajib disajikan pada hajatan masyarakat Subang. populasi tersebut makin berkurang. bahkan. Selain tariannya yang erotis. yang menunjuk pada sebuah tontonan yang menampilkan ronggeng dan diringi gamelan yang dinamis. yang kemudian banyak dikenal dengan sebutan ‘Goyang Karawang ’ . ajang interaksi. Pertunjukan ini sangat digemari oleh masyarakat. yaitu waktu musim turun nyambut (membajak sawah). nyambut cai (menjemput air dari irigasi). yaitu goyang pinggul dan bokong yang aduhai. Ceritera yang dimainkanpun sangat akrab. yang mengutamakan adanya interaksi sinden-penari atau penyanyi dengan para pengibing. 2)Topeng Banjet Karawang Topeng Banjet . 31 . juga syukuran seperti hajat perkawinan.00 hingga pukul 05. dan para pedagang yang selalu hadir di manapun Bajidoran idolanya ditanggap. dll. Bogor Utara.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bajidoran. Sebagaimana umumnya teater rakyat. Banjet identik dengan dengan Doger. Namun demikian semenjak adanya musik Organ Tunggal dan Dangdut. Pertujukannya dimulai sekitar pukul 21. adalah Tetater khas Karawang dengan cirri yang paling dominan pada gerak tari yang cenderung erotis. juga lawakannya cenderung lugu. atau upacara perputaran waktu. bahkan ajang ekonomi. Matres. dll). Subang.

antara lain Kelompok Topeng Banjet Asmu atau Pendul (sekarang Pendul Putra). Topeng Banjet Sapar menjadi Topeng Banjet Alisyaban (sekarang menjadi dua. Bang Kacrit (Bekasi) serta Bang Ali Syaban dan Bang Awing (Karawang).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Kelompok Banjet sebagaimana juga pertunjukan Longser. serta Dede Amung. atau bahkan orientasi nilai budaya. Wayang Golek masih difungsikan di masyarakat. kendatipun secara frekuensi pertunjukannya tidak sebanyak pada tahun 1960an dan tahun 1990-an pada masa Dalang Asep Sunandar Sunarya. dari daerah-ke daerah. Topeng Banjet Tinggal menjadi Topeng Banjet Baskom. terutama juga tarif yang tinggi atau terlalu mahal. prestise. Dalam hal ini. sementara yang lain mengalami perubahan bentuk. Bang Jiun dan Mak Kinang (Cijantung). Tidak dapat dimungkiri. di antaranya: selera. Namun demikian beberapa seni pertunjukan yang hingga kini masih berkembang dan difungsikan oleh masyarakat pendukungnya. Tokoh Banjet. sebagai berikut: 1) Wayang Golek. Dasim menjadi Topeng Banjet Reman. Kondisi diakibatkan berbagai faktor. status. Mang Dalih (Cimanggis Bogor). masih banyak seni pertunjukan lokal yang hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat yang menyebut dirinya sebagai masyarakat modern. Bahkan banyak yang hilang seiring dengan bergulirnya zaman. dalam era globalisasi. yakni Kelompok Ijem dan Askin) Kondisi Masa Sekarang Pada era komunikasi yang serba canggih. bang Enjin (Subang). masyarakat Jawa Barat dihadapkan pada banyak pilihan. 32 . seni pertunjukan tradisional di Jawa Barat banyak mengalami perubahan. dalam perjalanan sejarahnya (sebelum tahun 1960-an) aktif mengalami tradisi ngamen. Faktor-faktor yang terjadi didasari pertimbangan. Walaupun kemudian terjadi pasang-surut. adalah. dan sebagainya. bahkan dijadikan ajang prestise. Ade Kosasih (alm). Sejalan dengan perkembangan zaman Kelompok yang bertahan dan cukup popular. Bang Nasmi Pagaden Subang. Sebagian di antaranya ada yang berubah fungsinya. antara lain Bang Seli (Tambun). dalam menentukan pilihan.

antara lain adalah. Wahyu Wibisana. serta Deden Sunandar Kosasih (putra Ade Kosasih Sunandar Sunarya) yang tarifnya berkisar Rp 20 juta (dalam kota). Akan tetapi dengan munculnya para dalang muda seperti Hedi Riskonda. dan Dede Amung (untuk dalang Asep Sunandar Sunarya berkisar Rp 50 juta rupiah. Longser Antar Pulau yang para pemainnya para alumni STSI Bandung. Stuktur pertunjukan sebagaimana pertunjukan Teater berbahasa Sunda lainnya. Argo. pada masa kini mulai kem33 . Yosep Iskandar yang diterjemahkan oleh Eti RS ke dalam bahasa Sunda. Ki Daus dll. dan lembaga-lembaga tertentu yang masih mampu menanggap dalang-dalang kahot.didirikan tahun 1975 dengan koordinator Hidayat Suryalaga. lebih memilih untuk menambah membeli mobil atau ibadah Haji. dan Dede Amung berkisar Rp 40 juta rupiah). 4) Calung dan Reog Adapun seni Calung dan Reog. daripada Rp 50 juta hanya untuk sebuah pertunjukan Wayang Golek. Hanya orang-orang yang berduit serta beberapa kelompok organisasi parpol (sebagai ajang kampanye). 3)Teater Sunda Kiwari (Bandung) Kelompok Teater yang menggunakan bahasa Sunda. seperti Asep Sunandar Sunarya. 2) Longser (Bandung) Adapun Longser yang masih bertahan. Pada masa kini masyarakat perkotaan dan perdesaan sebagaian besar berpikir praktis dan ekonomis. di daerah Bandung selatan pimpinan putra Ateng Japar. Wayang Golek dengan dalang-dalang muda ini masih bertahan digunakan untuk masyarakat-masyarakat tertentu. serta Longser Sasagon campuran Alumni STSI Bandung yang melahirkan artis-artis yang sering manggung di TV seperti Sule. Asep Koswara Dede Amung. Wawan Dede Amung Sutarsa. Rina. dll. Ceritera yang ditampilkan naskah karya Saini KM.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Untuk para dalang-dalang kahot. Longserlongser yang berkembang pada masa kini adalah. Dadan Sunandar Sunarya (putra Asep Sunandar Sunarya).

dengan menitikberatkan pada garap vokal tradisi Sunda dan dilengkapi dengan dengan garap vokal kekinian. biola. yang dikolaborasikan dengan lagu pop Indonesia dan Barat. antara lain: 5) Glamor Glamor. Minang.15 juta. salendro dan pelog dengan pemain enam orang. Grup Jenaka Sunda Panglima beralamat di Bandung pimpinan Lili Suparli. di Jalan Buah Batu Bandung. gerak. lagu. asal kata dari. kendang dan gong. Keunikan grup ini adalah pada vokal yang dijanyikan oleh Tarjo yang bernada tinggi. Glamor berdomisili di Kota Bandung dengan pimpinan Atang Warsita.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF bali digalakkan dengan cara diselenggarakannya ajang festival antar daerah se Jawa Barat yang diikuti oleh Grup Reog laki-laki dan Grup Reog Perempuan Calung Remaja. Batak. bermunculan pula seni-seni baru. Pada acara kampanye parpol. merupakan kelompok seni pertunjukan yang bergerak di bidang seni komedi. Keroncong. kendang dan gong. Selain seni-seni tradisi. serta geraknya tarinya yang membuat geli serta dialog plesetan yang membuat suasana segar. bertangga nada diatonis. pengembangan dari seni tradisi yang sifatnya menghibur. mengelu-ngelu sebagai duplikasi kesenian ‘Beluk’ yang hampir punah (karena salah satu vokalisnya (mang Ukok) yang telah almarhum). serta gerak dan mimik ekspresi muka yang lucu dari para pemainnya membuat para penonton terhibur. Dangdut. Tampilannya sungguh memukau karena dialognya yang kocak. dll. dengan memasang tarip lokal berkisar Rp 10 juta. dan humor. Jawa. Grup Jenaka Sunda dimainkan oleh lima orang pemain serta 3 orang pemain musik kacapi. 6) Jenaka Sunda Grup Jenaka Sunda ‘Kanca Panglima’. Penyajiannya diringi kecapi elektrik. diiringi tampilan lagu-lagu daerah Sunda. Grup Reog Gembol Perempuan dari Kota Bandung yang mendapat juara. di Komplek Panyileukan Bandung. 34 . sering mendapat tawaran manggung pada acara-acara pesta rakyat. Glamor sering diminta untuk manggung keliling daerah dengan tarif lokal berkisar Rp 10 . dan pemusik empat orang.

Selain Jepang. 2) Topeng Banjet Topeng Banjet yang masih bertahan pada masa kini. Linda Grup. Namin Grup. selain industrinya terdepan dibandingkan dengan negaranegara lain. adalah Kelompok Ijem dan Askin. antara lain Kliningan Bajidoran di daerah Subang. memiliki gedung Seni Pertunjukan yang modern lengkap 35 . dapat diacungi jempol. serta dapat di temui di belahan dunia manapun. China pun dikenal dengan ramu-ramuan pengobatan tradisional. kini secara populasi lebih banyak grup yang dipimpin oleh perempuan yang banyak manggung daripada yang dipimpi laki-laki. seni sastra serta seni lukisnya pun maju. Untuk daerah Karawang Suwanda Grup. Dan yang paling dikenal dunia. Ipah Gebot. Selain dikenal dengan peninggalan budaya. di beberapa negara maju seperti Jepang. seni pertunjukan dan bangunan-bangunan bersejarah. Selain Kabuki. Budaya Lokal dan Tantangan Masa Depan Barangkali bisa dijadikan referensi. dan Euis Dongkrak. ternyata penghargaan masyarakat terhadap seni pertunjukan tradisionalnya (teater tradisional) Kabuki. adalah makanan tradisional khas China. Cicih Cangkurileung. serta lembaga-lembaga seni dan budaya sebagai apresiasi Seni masyarakat. Bahkan dengan munculnya grup-grup yang dipimpin oleh perempuan. itupun hanya ditanggap pada hajatanhajatan perkawinan di kampung-kampung.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Adapun di wilayah Pantura hingga saat ini seni pertunjukan yang masih eksis antara lain: 1) Kliningan Bajidoran atau Jaipongan Pantura Pertunjukan model ini di daerah Subang dan Karawang masih menjadi primadona. dan Euis Oray. Ati Grup. Begitu pula nilai-nilai etika yang masih sangat dijunjung tinggi. negara yang masih menjujung tinggi budayanya antara lain adalah China. Cineur Grup. Malaysia. Grup Giler Kameumeut. baik berupa seni pertunjukan Opera. Cabe Rawit. juga seni Pertunjukan Akrobatik dengan kolaborasi teknologi canggih. China dikenal memiliki berbagai Gedung Seni Pertunjukan yang representatif yang ditangani secara profesional dengan melibatkan 200 orang seniman. Titin Dongkrak.

bahwa penyajian seni pertunjukan tersebut. hendaknya ‘bersifat simbiotis’. dengan seniman tari. serta radio-radio yang menyiarkan musik tradisional (di antaranya juga Keroncong Indonesia). bahwa tantangan masa depan seni pertunjukan tradisional dapat dipilah menjadi dua. adalah milik negara Malaysia. akan memiliki daya tarik yang universal. Lambat-laun dunia mengakui. Atas dasar uraian yang telah dipaparkan. dll). Tidak adanya ‘ruang’ 6 publik yang dapat digunakan sebagai ajang kreativitas para seniman. serta mensosialisasikan dengan dana yang murah . atau menghabiskan dana proyek daripada hangus. Begitu pula program-program konservasi. dan Perancis.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dengan panggung sistem hidrolik (lighting. Demikian pula dengan Jerman. Kebijakan pemerintah dalam menumbuhkembangkan seni pertunjukan tradisional sebagai kekuatan lokal. Bahkan di Malyasia. sastra. dan produk kesenian rakyat lainnya. seperti tari Kuda Lumping. maupun mancanegara. musik. TV-TV Swasta dan Pemerintah. pengembangan dan pembinaan seni perunjukan tradisional. tari Piring. artistik. karena di negara asalnya Indonesia jarang ditemui dalam event/event terbuka. yang dikunjungi masyarakat pewisata baik negara asal. sepeda. selain digelar pertunjukan budaya Malaysia juga digelar pertunjukan Indonesia hampir di setiap antar Kota. 36 . ternyata masyarakatnya sangat menghargai musik rakyat. terutama Jawa Barat agaknya justru menjauhi seni tradisi. Bukan hanya bersifat kesementaraan dengan hanya berpedoman ‘SPJ’. dll. Padahal kesenian yang paling lokal. sekitar 250 orang. merupakan salah satu kendala untuk berkembangnya seni tradisi di Jawa Barat. Wisuda perguruan tinggi yang wajib diiringi gamelan. tetapi juga aktivitas-aktivitas seni pertunjukan. serta pertunjukan Angklung. lomba-lomba balap mobil. tari Rantak Minang. dan seniman lainnya. yaitu : (1) Sumber Daya Manusia (SDM seniman yang kreatif). jika benar-benar merupakan ekspresi artistik dan mengungkapkan kedalaman naluri manusia. Inggris. haruslah bersifat komprehensif dan berkesinambungan. dan cenderung mengedepankan teknologi dan ekonomi kemasan yang baru (yang sebelumnya tidak ada). Masyarakat Indonesia. 6 Ruang. akhirya dapat disimpulkan. dalam arena balap sepeda. tidak berarti hanya sekadar ‘ tempat’. selain mengedepankan teknologi juga tidak mengesampingkan seni pertunjukan milik negaranya. baik pada festival-festival. Amerika Serikat sebagai negara adikuasa. serta (2) Motivasi berbagai pihak terkait untuk memberdayakannya (memfungsikan). Pertunjukan pun disajikan secara periodik.

UNPAD program studi Pariwisata dan Budaya) . tanpa sekat-sekat ruang komunikasi. sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Adanya sinergi. dan lembaga-lembaga terkait. 3. Kerjasama semua pihak antara pemerintah.’ Semua lokal merupakan bagian dari global. Kebijakan Pemerintah untuk menyusun Perda. Program studi Pariwisata. diwajibkan adanya ‘ruang’. 5. baik yang mewakili daerah khususnya. pengembangan. Diadakannya berbagai Festival Seni Tradisi oleh lembaga-lembaga terkait. kerajinan tradisional. STISI. dan hotel berbintang. Kurikulum yang sinergis. dan pembinaan budaya /kepentingan masyarakat (STSI. 2. serta pembinaan seni dan budaya. Kita perlu memiliki kesadaran global. 1. juga pertunjukan tradisional. yakni pemahamam (pengakuaan. secara teks dan konteks. dari lembaga terkait. serta masyarakat. Pembuatan film dokumenter sebagai arsip kekayaan daerah. 4. selain menyajikan makanan tradisional. akan tetapi merupakan tanggungjawab kita semua. pihak swasta. Difungsikan oleh masyarakat. UPI-Jurusan Sendratasik UPI. kepercayaan) terhadap kesalinghubungan semua pihak yang terkait. atau ruang-ruang yang terpisah. supermaket. Kerjasama yang dimaksud. 6. Penulisan buku-buku serta penelitian seni tradisi yang didanai khusus oleh lembaga-lembaga terkait. 9. Indonesia pada umumnya. 7. 37 . atau pihak-pihak terkait dengan dipertunjukkannya pada acara-acara penting di berbagai event.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Terlepas dari itu semua kini diperlukan bukan hanya melihat satu persatu. dan sebaliknya dunia yang berupa bola (globe) menuntut kepedulian lokal-lokal. antara lain sebagai berikut. khususnya ‘materi terapan’ untuk kepentingan konservasi budaya serta kepentingan pengembangan. Kurikulum Muatan Lokal (Seni) di sekolah-sekolah yang disosialisasikan secara menyeluruh. 8. Sekolah-sekolah Pariwisata. khususnya dengan makin banyaknya mall. interior tradisional. serta adanya ‘Ruang bagi seniman dan karya seni pertunjukan lokal. khususnya program-program konservasi. Semua tersebut di atas dapat terwujud apabila ada kerjasama ‘teks dan konteks’.

berarti masyarakat Jawa Barat atau lembaga-lembaga terkait telah memahami arti dari pelestarian dan pengembangan budaya dengan makna yang sesungguhnya. dkk. bahkan sepanjang zaman. Sebagaimana julukan Indonesia yang dikenal di dunia sebagai bangsa yang sangat berbudaya. tak ada pokok kayu tak akan ada batang. tetapi juga kesetiaan untuk memelihara dan merekayasa nilai-nilai luhur dan tradisi besar bangsanya. Massachusetts: Havard University Press. Sebagaimana yang tersurat dalam “Amanat Galunggung” yang berbunyi: “Hana nguni hana mangke. Itu berarti. tan hana nguni tan hana mangke. aya nu ayeuna. bila ada tunggulnya tentu ada cabangnya (Saleh Danasasmita. serta Ekspresi Budaya Lokal tidak hanya sekadar memberikan kebanggaan. Pelestarian seni tradisi sebagai warisan budaya bangsa yang bukan hanya merupakan obsesi. maupun nasional. Endang Caturwati. 1987: 130). setiap lembaga pemerintah atau swasta untuk mempertunjukkan seni tradisi minimal 1 tahun 2 kali pertunjukan. hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna. Penutup Dengan demikian. Keyakinan historis. aya ma beuheula. bahwa tradisi merupakan akar budaya serta kekuatan lokal.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF terutama acara-acara penting. apabila semua itu telah terwujud. ada masa lalu ada masa kini. hana ma tunggulna aya tu catangna”. Pertunjukan Indonesia. James R. tidak ada dahulu tidak ada sekarang.. Daftar Pustaka Brandon. hana tunggak hana watang. 10. bila tidak ada masa lalu tidak ada masa kini. ada pokok kayu ada batang. 1967. Bandung: Sunan Ambu STSI Press 2007. Theatre in Southeast Asia. bahwa kebudayaan nasional yang dibangun harus berfungsi sebagai instrumen yang mengakomodasi masa kini dan membuka pintu masa depan. untuk menghantarkan kembali masyarakat ke koridor sejarah masa lalu. Ada dahulu ada sekarang. baik di daerah regiaonal. Cabridge. Dibuatnya undang-undang dan didanai khusus. 38 . tan hana tunggak tan hana watang.

com/ballroomcountry/wallz.1996-2004. Pudjasworo.htm . Hauser. ed. The Sociology of Art ( Chicago and London: The University Of Chicago Press. http. 2004.copyright. Seni dalam Tumpuan Tradisi. Seminar Revitalisasi. Transformasi.www.M. Dewan Kesenian Kabupaten Sleman Yogyakarta.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI _______________. “Dialektika Seni Pertunjukan Tradisi”. Bandung: Sunan Ambu Press. 39 . Harian Pikiran Rakyat. Manusia. 1985). R. dan Globalisasi Seni. 2001. Ensiklopedi Sunda: Alam.centralhome. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. 2009. 2000. Soedarsono. Metode Penelitian Seni Pertunjukan . Bambang. 7 Januari. Heikkila. Arnold. 2008. Lori Waltz. dan Budaya Jakarta: Pustaka Jaya.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ALAMAT KELOMPOK SENI TRADISI JAWA BARAT No 1 Nama Grup Jenis Seni Alamat Seni Jenaka Sunda Hiburan Lagu.Sandiwara Dr Cangkring ma Samudra Cirebon Kec. Mohamad Hedi Putra Golek Sunda Toha Pimpinan Lili Suparli 2 3 4 5 Atang Warsita Oyib Herman Efendi Keni Arja 6 Inu Kertapati Amud 7 8 Sanija 9 Umar Karsiyan Hedi Riskonda 10 40 . Lagu Jalan Buah Batu dan Humor Bandung Beluk Tembang & Ciapus Banjaran Tutur Bandung Longser Antar Teater Tradisi Jalan Buah Batu Pulau Bandung Topeng Aninin.Desa Slangit Asmara bon Klangenan Cirebon Jati Suara Wayang Kulit Kalianyar Cirebon Arjawi-nangun Cirebon Langgeng Putra Topeng Cire.Desa Slangit bon Klangenan Cirebon Sandiwara Dhar. Komplek Bumi Kanca Panglima dialog dan Panyileukan Blok humor FI No 11 RT 01 RW 05 Bandung Glamor Gerak . Plered Cirebon Wayang Golek Wayang Jl.Desa Slangit grum bon Klangenan Cirebon Topeng Panji Topeng Cire.Topeng Cire.

Kecapi. 13 Banjet Ijem No Nama Grup Seni 14 Calung Darso 15 16 17 Reog Gembol Asep Dede Amung Muda Wawan Dede Amung Muda Teater Tradisi Jenis Seni Musik. Suling. Moh Toha dialog dan humor Teater Tradisi Banjaran Bandung Karawang Alamat Bandung Ujung Berung Bandung Bandung Bandung Nano.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 11 12 Prakpilinkung (Keprak. Jl. lagu. S. dialog. Humor Reog Perempuan Wayang Golek Wayang Golek Areng Japar Putra Ijem Pimpinan Darso Euis Gembol Asep Koswara Wawan Dede Amung Sutarsa Dadan Sunandar Sunarya Deden Sunandar Kosasih 18 Dadan Asep Sunandar Muda Deden Ade Kosasih Muda Wayang Golek Wayang Golek Jelekong Bandung Jelekong Bandung 19 41 . Ang-klung) Longser Pancawarna Hiburan Lagu.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. Direktur Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1998–2000). Direktur Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI (2000–2006). S. Dr. 0813-29954762. Surakarta 57126. Telepon/HP: 0271-664014 / 0813-88808037. Telepon/Faks : 0271-647658. Sejak tahun 2009 aktivitasnya lebih banyak mengajar di Program Pendidikan Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta (sejak 2009). E-mail : tanto47@isi-ska. Alamat Kantor : Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Jln. 22 Desember 1946 ini adalah Guru Besar Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta. Lulusan S3 Etnomusikologi University of Durham Inggris (1985) ini pernah menjadi Direktur Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta (1986–1988).id 42 . Sri Hastanto.ac. Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta (1988–1997). Jebres. Ki Hadjar Dewantara 19 Kentingan. Pria kelahiran Jombang. Alamat Rumah : Jln. 638974 / 0271-638974. Chairman ASEAN bidang Culture and Information (COCI) pada tingkat nasional Indonesia (2003–2006) dan tingkat regional ASEAN (2005–2006). Bimasakti III/1 Kaplingan RT 05 RW 20 Jebres Surakarta 57126.Kar.

tetapi tidak pernah kekuatan penerangan itu digunakan untuk menyelamatkan kehidupan seni tradisi. Saya sangat mengharapkan kali ini tidak seperti yang sudah-sudah. Satu sisi seni tradisi digunakan sebagai wahana penyampaian informasi untuk pendidikan publik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Timur Sri Hastanto Pakar Etnomusikologi ISI Surakarta M akalah dengan judul seperti tertera di atas (judul pemberian panitia) itu ditulis dalam rangka tema yang lebih besar yaitu: “Sinergi Seni Tradisi dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik” Tema sejenis pernah melandasi kegiatan yang diadakan oleh almarhum Departemen Penerangan pada masa itu. dan berkali-kali dalam berbagai kesempatan saya melontarkan kritik bahwasanya “sinergi” itu hanya berjalan sepihak yaitu: Hanya seni tradisi yang terus-menerus dijadikan wahana penerangan. di sisi lain teknologi informasi dan komunikasi digunakan sebagai wahana penyelamat kehidupan seni tradisi yang notabene sebagai perangkat pendidikan publik. Pada saat itu. Saya percaya dengan demikian masing-masing akan memetik manfaatnya sehingga kegiatan itu akan dilaksanakan secara ikhlas. Substansi Informasi Kita sadar semua bahwa kini masyarakat rawan melakukan demon43 .

yaitu seni tradisi yang dapat secara verbal menyampaikan informasi dengan substansi yang berkaitan dengan pen44 . Substansi itu masih banyak lagi. Masalah yang berkaitan dengan pilkada sampai dengan pemilihan presiden informasi pendidikan publiknya tidak cukup hanya dengan yang bersifat fisik atau verbal. Seni Tradisi Komunikatif Sebenarnya semua seni bila senimannya cukup matang dan penikmatnya cukup mempunyai bekal. Kedua jenis matra tersebut dapat dibawakan oleh seni tradisi secara sabtun dan tidak vulgar tergantung seniman serta penikmatnya. atau pesan mengihindari serangan fajar dan lain sebagainya. Ini juga diperlukan pendidikan publik. Hal ini pemerintah harus benar-benar berpihak kepada rakyat dan keberpihakannya itu harus diinformasikan kepada rakyat dan sampai ke alamat yang dituju. fisik. Juga masalah-masalh yang berhubungan dengan terorisme dan lain sebagainya. Mungkin kesenian tradisi dapat pula ambil bagian dalam pendidikan publik sehubungan dengan hal ini. Tetapi dalam konteks tema besar tertera di atas seni tradisi komunikatif ini tentu diartikan khusus. Tetapi sering gerakan unjuk rasa ini lebih dipicu oleh emosi dibandingkan oleh pikiran kritis.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF strasi yang menurut perkiraan mereka sebagai wujud dari warga negara yang kritis. maka semua seni adalah komunikatif. di sana ada berbagai tingkatan Pilkada yang juga sering berujung pada gejolak masa. Sifat dan Matra Informasi Sifat informasi akan sangat menentukan matranya. Secara sederhana saya membagi matra ini ke dalam dua golongan. Kita sadar pula gejolak masyarakat yang kini mengendap tetapi dapat meletus sewaktu-waktu berhubungan dengan lumpur Lapindo. dan kedua matra yang bermuatan informasi ringan. misalnya penjelasan tentang arti dan dampak “legawa” dan sebaliknya penjelasan tentang tidak legawa dan dampaknya. Hal ini perlu pendidikan publik. atau penjelasan tentang caranya menyontreng. Kita juga sadar bahwa ditengah-tengah terengah-engahnya rakyat mencari nafkah untuk hidup. Misalnya menanamkan slogan-slogan jurdil. yang pertama adah matra yang bermuatan konsep. atau verbal. Permasalahan ini juga diperlukan informasi untuk pendidikan publik yang bersifat konseptual.

. trung .trung. “Kowe ki bakul apa buruh” (Kamu itu pedagang atau buruh) tanya dalang kentrung. dan banyak pula yang sudah tidak bekegiatan alias mati. Selingan itu masih menggunakan metrum yang sama seperti induk ceritanya: tontonen punggawa desa terampil ngopeni warga nggarap KTP gak tambah redana kabeh wis siap rampung sedina Lihatlah itu pamong desa terampil melayani warga Mengerjakan KTP tanpa tambah biaya Semua siap selesai dalam sehari Mendengar lantunan pujian terhadap punggawa desa itu ratusan penonton yang berkerumun di dekat panggung bergeredeng. Untuk itu dalam rangka ini saya hanya akan mengutarakan empat jenis kesenian yang teba jangkauan penikmatnya cukup luas: Pertama Kentrung. kedua Wayang Kulit.. “Lho piye kok ngapusi” (Lho bagaimana kok bohong). Di Jawa Timur seni tradisi semacam itu sangat banyak tetapi ada yang bersifat sangat lokal sepertimisalnya Remo di Madura. padahal sudah bayar mbah) “O” kata dalang kentrung. ketiga Ludruk dan keempat Ngremo Kentrung Setelah hampir 1 jam nyerocos menceritakan bagaimana kesaktian Patih Batik Madrim (ceritera Anglingdarmo) dengan diiringi kendang dan terbang mbah dalang kentrung yang umurnya merayap ke satu abad itu membuat selingan dengan masih diiringi kendang dan rebana trung . dalang kentrung balik bertanya dengan bahasa dialog biasa tidak dilagukan walaupun masih dibingkai dengan iringan kendang dan rebana. dan tiba-tiba seorang penonton berteriak: “ngapusi kuwi mbah” (bohong itu mbah). ”Aku nelayan je mbah” (Aku seorang nelayan 45 . lalu dilanjutkan dengan masih tanpa dilagukan. mangka wis mbayar lho mbah” (sudah sebulan KTP-ku belum jadi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI didikan publik. “Wis sesasi KTP-ku ra dadi...

sampai dengan Runtuhnya Majapahit. Padahal kentrung mempunyai muatan yang sangat positif bagi bangsa ini. artinya uang KTP itu telah ludes di meja judi. Walaupun demikian karena jam terbang mbah dalang kentrung menghadapi publik telah sangat tinggi. maka dengan lancarnya ia menyusun teks spontan dan mengandung banyak muatan. Itulah hebatnya kentrung. Seni kentrung adalah seni tutur yang dilagukan dibingkai dengan iringan bermatra metrik oleh kendang dan rebada. Selingan itu dapat berupa apa saja. Ceritera yang dibawakan adalah berbagai legenda. dongeng. juga muatan kritik sosial. bahkan sering dalang kentrung membawakan current afair atau sekadar banyolan untuk meredakan ketegangan dan membuat refreshing perhatian penonton. Dialog ini terjadi spontan dan tidak dirancang.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF mbah). yang hidup di masyarakat. karena substansi yang dilantunkan adalah berbagai ceritera rakyat dan legenda yang sarat dengan nilai kehidupan manusia. Kata “kucing” itu salah satu nama kartu cina yang dipakai berjudi mereka. Seni Kentrung kini dalam keadaan sekarat dalang kentrung hanya tinggal tidak lebih dari jari sebelah tangan kita. Langsung dalang kentrung tertawa terkekeh. muatan sastra. Kentrung dapat berceritera mulai dengan jenis Suminten Edan. Ia dapat berfungsi sebagai agen transfer nilai-nilai. atau hal-hal yang bersifat verbal lainnya. lalu ujarnya (kini menggunakan lagu mengikuti irama kendang dan rebana: Lha dhuwitmu mambu amis Lha wong ambumu iya amis – wong nelayan – dhuwitmu digondhol kucing KTP-mu ya digondhol kucing (Uangmu berbau amis Karena kamu juga amis – maklum nelayan – Uangmu digondol kucing KTP-mu juga digondol kucing) Spontan penonton tepuk tangan dan bersorak sebab dalang kentrung dengan sigap menanggapi respon penonton tadi sambil menyentil kelakuan punggawa desa yang senang berjudi. Dalam berceritera dalang kentrung sering melakukan selingan diantara babak satu dengan lainnya. Ia juga dapat berfungsi sebagai wahana kontrol sosial 46 . Dengan keluwesannya itu kentrung sangat efektif untuk menyampaikan informasi ringan.

Sekali lagi hal ini dilandasi dengan semangat ‘Sinergi Seni Tradisi dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik” secara timbal balik jangan hanya berjalan satu arah yaitu: Seni tradisi digunakan sebagai wahana penyampai informasi saja. Perguruan tinggi Seni seperti Institut Seni Indonesia dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia mestinya kapabel melangsungkan kehidupan kentrung dengan konsep yang matang. seperti yang telah dicontohkan di atas. Tetapi juga bagaimana teknologi informasi dan komunikasi ini dapat menyelamatkan seni tradisi yang notabene sebagai wahana pendidikan publik. Sebagian besar waktunya hanya untuk “banyolan” kalau tidak “cengengesan” saat adegan LimbukCangik dan Goro-goro. Para petugas dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten dan Kota juga telah berusaha mementaskan kentrung tetapi sekali lagi sepi penonton. Wayang Kulit Wayang kulit gaya Jawa Timuran relatif masih lebih murni dibanding dengan wayang kulit yang kini laku di Jawa Tengah. Jadi jika selera masyarakatnya rendah maka sajian wayang kulitnya juga menjadi dangkal. Wayang Jawa Timuran belum tertular virus ini. Sinergi seni tradisi dengan teknologi informasi dan komunikasi kiranya jangan hanya berjalan satu arah yaitu: Seni tradisi digunakan sebagai wahana penyampai informasi saja. Saya percaya Kementerian Koninfo dan Pendidikan Tinggi Seni dapat saling bersimbiose mutualistis menghadapi hal-hal semacam ini. Dari berbagai berita bahwasanya beberapa radio swasta niaga telah berusaha mengadakan siaran kentrung walaupun terbatas pada setiap ulang tahunnya yang tentu saja tidak berbekas di hati masyarakat. porsi alur cerita masih merupakan prioritas. Apa yang dapat kita perbuat. Tetapi hal ini belum berhasil mendapatkan tanggapan dari yang berwenang untuk mendapatkan dana yang pantas. Jadi juga tidak berbekas. 47 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI secara santun. dalam hal ini menyelamatkan kentrung dari kepunahan. Tetapi juga bagaimana teknologi informasi dan komunikasi ini dapat menyelamatkan seni tradisi yang nota bene sebagai wahana pendidikan publik seperti tema besar pertemuan ini. Wayang kulit Jawa Tengah banyak yang kini telah menjadi tontonan yang meladeni selera masyarakat.

Untuk para petinggi daerah tentunya harus disajikan “masakan” lain yang lebih bergizi. Celakanya kalau sang petinggi itu malah tidak dapat menerima informasi yang lebih bersifat konseptual tetapi sudah merasa bahagia dapat mencerna informasi dangkal semacam itu. maka atas kehendak Bagaspati Aji Candhabirawa agar masuk ke dalam tubuh Nrasoma dan menjadi miliknya.” Pesan pendidikan publik semacam ini mudah sekali disipkan pada waktu yang tepat. E thole mula pada diwaspada. Durung nganti putune lair kowe ganti sebutan. Ia nekat menculik Narasoma karena anaknya yang sangat cantik Dewi Pujawati. Dalam “pakem” diceritakan bahwa Narasoma kemudian malu mempunyai mertua seorang Raksasa. Kalau hal itu terjadi sebenarnya sang petinggi belum saatnya jadi petinggi. dadi maratuwane teroris.. Tadinya Narasoma menolak bahkan sempat perang tanding dengan Sang Begawan tetapi kalah. maka ia membunuh sang mertua. Kebetulan sang mertua mempunyai Aji Candhabirawa yang luar biasa kekuatannya. Apa ra cilaka. yen ana wong anyar nyalawadi. bermimpi bertemu dengan Narasoma dan jatuh cinta. Apa lagi bila teksnya disusun oleh seniman yang mempunyai wawasan luas. Ia kemudian memaksa ayahnya mencari Narasoma sampai ketemu. maka kadar kesantunan dan bobot informasinya akan dapat dipertanggungjawabkan Pesan semacam itu tentunya untuk konsumen masyarakat yang berpendidikan menengah ke bawah. Berikut ini sebuah contoh informasi yang lebih bermartabat: Ketika Raden Narasoma (kelak ia bergelar Prabu Salya) masih muda. . aja malah dipek mantu. Setelah melihat kejelitaan Pujawawati iapun jatuh hati. Dalam adegan punakawan memang sering ada hiburan ringan seperti pilihan pendengar. ia diculik oleh pendeta raksasa bernama Bagaspati. Dinikahkanlah mereka.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Pak Suleman dari Waru dan murid-muridnya seperti Mas Wardono dan kawan-kawan masih membatasi diri menyisipkan hiburan ringan. Tetapi sebagai bagian dari kreatifas dalang berhak 48 . . . “. . apike enggal dilaporake marang sing berwajib. Pada adegan inilah pesan-pesan propaganda dangkal dan yang bersifat verbal dapat dilontarkan.

. Hati Narasoma bersorak. . mangkatlah Bagaspati. . . kiranya garapan ini relevan untuk disajikan. dan Aji Candhabirawa pindah raga yaitu raga Narasoma. Narasoma menjawab: “Ya”. hanya dengan kematianlah aku dapat mewariskannya kepada Raden. Demikian wayang kulit dapat menjadi wahana pendidikan publik “agal-alus” jadi tidak hanya pesan verbal saja. Dengan bercucur air mata Narasoma menghunus kerisnya dan dengan serta merta Bagaspati menubruk keris itu dan menghunjamkannya di ulu hatinya. . Karena telah sanggup. “Syaratnya Raden harus membunuh aku. Ya Bapa saya dengan senang hati akan aku terima warisan Bapa . Dalam ingar-bingar pilkada di mana penjabat lama dipandang sudah waktunya turun. bagi mereka yang mempunyai bekal pengetahuan lebih luas. Di Jawa Timur sebe49 .” “Tetapi ada syaratnya Raden . . .” Lalu Bagaspati menceritakan bagaimana kekuatan aji tersebut.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI melakukan sanggit cerita. Narasoma menjawab “Ya. dengan segala kemampuanku”. maka jawabnya “. Bagaspati juga berkata bahwa aji itu tidak lagi berguna bagi dirinya karena sudah tua dan sudah sepantasnya dimiliki oleh yang muda.” “Saya sanggup memenuhi syarat-syarat itu. Bagaspati tetap mati tetapi kandungan nulai dari peristiwa itu sangat berbeda. memang ia membutuhkan “sipat kandel” nanti setelah ia menjadi raja Mandaraka. . Kalau demikian Narasoma sanggup tidak menterlantarkan Pujawati di kemudian hari. . sebab aji itu telah menyatu dalam tubuhku. Norasoma dipanggil Bagaspati. aku minta engkau berkenan menerima warisan Aji Candhabirawa . . agar dapat diamalkan untuk kebaikan manusia selanjutnya. Inilah sanggit itu: Setelah malam pertama. Info itu bila dicerna cukup dalam akan mempermalukan mereka yang setelah merasakan enaknya duduk di kursi lalu tidak mau turun walaupun sebenarnya sudah waktunya. apakah dia mencintai Dewi Pujawati. “Raden. Garapan seperti ini juga merupakan informasi untuk pendidikan publik. . Narasoma menjawab “Sanggup” Seandainya Bagaspati mempunyai permintaan khusus apa Narasoma mau memenuhinya. Informasi itu memberi pemahaman bagaimana seorang tua yang legawa kedudukannya dilengser oleh yang muda.

Teks dalam kidungan sering sekali menggunakan bahasa klise yang menyanjung program pemerintah secara vulgar. Apapun ceriteranya sutradara berhak membuat “sanggit” seperti dalam wayang kulit tadi. Bedanya Ludruk lebih leluasa menggarap sanggit-nya. Hal itulah salah satu penyebab mengapa banyak orang menyenangi Ludruk. Peranan wanitanya selalu dimainkan oleh pria (waria) yang biasanya sangat cantik. Misalnya: Ketika kita sedang dipusingkan dengan adanya tawuran antar fakultas dan bahkan antar kampus di banyak kota 50 . Ludruk Tidak banyak yang dapat saya utarakan perihal Ludruk ini. Dalam tulisan ini akan dibahas “kidungan”nya yanmg merupakan wahana ampuh untuk melontarkan infrormasi pendidikan publik yang ringan-ringan. Dalam Tari Ngremo selalu ada bagian yang disebut “Nggandhang” yaitu sang penari berhenti menari tetap dalam sikap tari dan melantunkan nyanyian yang disebut Kidungan. Penari ini biasanya wanita yang nanti akan bertindak sebagai pesinden dalam wayangan semalam suntuk. Kidungan Seperti telah saya singgung bahwa kidungan terdapat di dalam pertunjukan Tari Ngrema yang sering mengawali pertunjukan Wayang Kulit maupun Ludruk. kidungan ini dapat sangat efektif digunakan sebagai wahana pendidikan publik. Ludruk adalah teater daerah Jawa Timur dan yang terkenal adalah Ludruk Surabaya. Dalam pertunjukan Ldruk juga demikian. Ceriteranya bisa apa saja kalau perlu cerita Romeo and Juliet. Misalnya: Pembangunan (dulur) kudu dipentingna Marga pembangunan kanggo kabeh kita Ayo kanca padha aja tidha-tidha Mbantu pemerintah urun tenaga Tetapi bila si penari mempunyai latar belakang mendidikan yang memadai. Sayangnya belum bayak kaum intelektual yang mau menggarap Ludruk sehingga pesan ceritanya dapat digunakan sebagai pendidikan publik yang memadai. Hal ini akan dibahas setelah pembahasan Ludruk.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF lum pergelaran wayang dilaksanakan biasanya didahului dengan Tari Ngremo oleh seorang penari tau lebih.

sebagai berikut: Manuk cocak (dulur). demikian dana habis. Sekarang apa yang dapat dilakukan Koninfo untuk menghidupi partnernya itu. berilah ru51 . Kritik bukannya mencela karya seni. kocak dan konyol tetapi tepat dan sempat membuat kaum menengah keatas berfikir tentang ulah mahasiswa yang sudah keterlaluan. sebab konsumennya telah dipersiapkan oleh kritik. Dalam kritik dijelaskan apa yang kuat dan apa yang lemah sehingga penikmat akhirnya mengerti kesenian itu. Kritik seni adalah karya ilmiah yang berdiri di antara karya seni dan penghayat. Seperti kita ketahui bersama bahwa di dalam dunia seni tradisional belum tumbuh budaya kritik. Si tukang kidung menempatkan martabat rekannya para tukang becak yang kala itu melihat pementasannya jauh lebih tinggi dibanding dengan martabat mahasiswa. Tapi saya berpikir lain. tetapi kritik mendudukkan karya seni pada proporsi yang semestinya. Peningkatan kualitas baik penghayat maupun seniman inilah yang akan mendorong seni tradisi hidup. Padahal fungsi kritik itu menyambung karya seni dengan penikmatnya yang kurang bekal. Saya akan berterus-terang sesuatu yang saya usulkan. sehingga dapat membantu penghayat menghayatinya untuk mendapatkan keluasan pandangan dan kekayaan imajinasi hayatan. ngoceh neng tegalan Ocehe panjang kaya huruf palawa Dadi tukang becak (dulur) aja seneng dha tukaran Yen seneng tukaran. Kepada penghayat kritik memberikan penjelasan hal-hal yang kurang jelas dan kepada karya seni kritik menginformasikan bagian mana dari karya itu yang kuat dan yang lemah. matilah mereka dan menyodorkan tangan lagi untuk meminta. ndhak kaya mahasiswa Sentilan ini luar biasa.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI beberapa tahun yang lalu sempat disentil dalam kidungan oleh seorang penari ngrema pada sebuah hajatan di Mojokerto. Sinergitas Seni Tradisi dan Kominfo Bagaimana seni tradisi dapat dijadikan wahana pendidikan publik telah saya paparkan di depan. Pertanyaan ini biasanya dijawab dengan mengucuran dana. Sebab kalau diberi dana maka kehidupan seni tradisi bagaikan mayat hidup. sehingga baik penghayat maupun seniman akan meningkat kualitasnya.

Berilah sebuah sudut untuk kritik seni tradisi di koran nasional. Jogya dan sebagainya. Ditambah gula rujake degan Manawi lepat (dulur) lha nggih kajengipun Wong dhasare kula niku dhagelan. Solo.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ang kepada intelektual seni untuk untuk menulis kritiknya dan dapat dibaca oleh banyak orang baik secara regional maupun nasional. Pertunjukan Kentrung di sudut kota Tuban akan merambah Jakarta. Medan Surabaya. dan koran-koran daerah tentu saja dengan honornya yang memadai maka karya kritik seni tradisi akan bertumbuh dan itulah wujud sinergi yang sesungguhnya.* 52 . Mangan kupat (dulur) lalape timun. Kidungan di pelosok Mojokerto juga akan dinikmati secara nasional.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 53 .

Lulusan S2 UGM Jurusan Pengkajian Seni Pertunjukkan Indonesia juga pernah pentas di luar negeri untuk Unjuk Budaya yang dilakukan oleh Pura Mangkunegaran (Surakarta). Aktif dalam berbagai organisasi antara lain Pendiri/Ketua Umum Lembaga MENTARI SEGARA ANAKAN. Pengging dan Pendiri/Pemilik padepokan LESUNG. semua di Surakarta. Anggota MOYO TIRTO. Karanganyar. Pendiri/Anggota Lembaga SOLO KOBAR. Sardono Dance Company Jakarta. Hari Mulyatno S. Perintis Padepokan PANDAWA (kawasan wisata religius).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF F. Mahasiswa S3 Universitas Gadjah Mada Jurusan Kajian Budaya ini juga aktif dalam berbagai kegiatan penyadaran masyarakat melalui Seni Budaya Tradisional di Jawa Tengah.Kar. dan Pemda Kutai Barat dan Pemprop Kaltim. 54 . Jawa Timur. STSI/ ISI Surakarta. Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. M. Bengkalis (Sumatera). Saat ini tinggal di Bonoroto. Plesungan. Dosen Seni Tari ISI – Surakarta ini akrab dipanggil Hari Genduk di kalangan komunitas seni. Gondangrejo. Hum.

Pada kesempatan diskusi hari ini.Kar. khususnya yang berada di wilayah peradapan masyarakat Kalimantan. dalam hal ini jajaran Kementerian Kominfo. tentang peran seni budaya tradisional Indonesia khususnya dari belahan pulau Kalimantan untuk sama-sama mengkaji seni dalam Dimensi Informasi dan Komunikasi Pembangunan Indonesia. yaitu bagaimana seni dapat dipergunakan untuk menyampaikan informasi pembangunan. Saya menyadari bahwa sebagai salah satu pemerhati kebudayaan Kalimantan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni Budaya Tradisional Kalimantan dalam Dimensi Informasi/ Komunikasi Pembangunan F. M. Hari Mulyatno. bahwa pada hari ini saya diperkenankan menyampaikan pokok-pokok pikiran tentang Peran Seni Budaya Tradisional Kalimantan Sebagai Dimensi Informasi Publik.Hum Dosen Seni Tari ISI Surakarta Pengantar uji syukur kepada Tuhan Allah Yang Maha Bijaksana. apa yang saya sampaikan adalah P 55 . Saya sadar bahwa sebenarnya kurang tepat bahwa saya yang duduk dan menyampaikan pandangan dan informasi tentang seni budaya Kalimantan yang begitu luas. dalam dan beragam. Saya juga berterima kasih kepada panitia/penyelenggara yang memberikan kesempatan untuk memberi masukan tentang seni dan budaya masyarakat Kalimantan-Indonesia yang majemuk kepada peserta diskusi dan pemerintah pusat. merasa perlu dan mempunyai kepentingan tersendiri untuk menyampaikan pandangan pada forum diskusi pada hari ini dan pada Pemerintah Pusat. S.

ketua Adat Besar Suku/ Etnik Bahau dan ketua Adat Besar Dayak-Borneo. Pandangan Umum tentang Seni Pada dasarnya seni adalah sarana komunikasi/sarana pengungkapan pengalaman dan kebutuhan jiwa manusia kepada sesama manusia. manusia kepada alam semesta raya dan manusia kepada makhluk yang dipercaya ada di alam lain.serta komunikasi makhluk bumi dengan makhluk di atas langit. dan komunikasi makhluk bumi dengan makhluk langit. 56 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF suatu pandangan dari hasil pengamatan dan pengalaman pribadi sebagai insan pemerhati Kalimantan dalam bingkai penguatan sikap kebangsaan dan ketahanan masyarakat Indonesia melalui media seni dan budaya tradisional di Kalimantan sejak tahun 2006 sampai sekarang. Oleh sebab itu apabila pada kesempatan diskusi pada hari ini. Malaikat dan Tuhan. untuk langkah kerja saya lebih lanjut di dalam mendarma baktikan kemampuan saya di bidang seni untuk penyadaran masyarakat yang bangga menjadi Warga Negara dan Bangsa Indonsia pada masyarakat Kalimantan khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. ataupun yang tidak pernah dilahirkan di bumi yaitu makhluk alam gaib yang masih dapat dijangkau. seni dipandang mampu menjadi sarana komunikasi lintas batas kemampuan akal pikir (rasional) manusia. Saya juga mohon tanggapan dan masukan dari peserta diskusi tentang pandangan saya terhadap peran seni dalam Dimensi Informasi (non estetis). Sedangkan Kalbar dan Kalsel baru dalam proses awal penjajagan. Artinya bahwa menurut pandangan masyarakat Kalimantan (Dayak). Blawing Barek. dan saya bersedia melengkapi informasi-informasi atau data-data tambahan yang diperlukan setelah forum diskusi ini. apa yang saya sampaikan kurang atau tidak mencapai sasaran dari tujuan panitia. maka mohon maaf apabila naskah dan presentasi saya ini kurang atau tidak mencapai sasaran yang dikehendaki. khususnya di Kaltim dan di Kalteng. Yang dimaksud makhluk langit yaitu para leluhur dan makhluk Tuhan yang pernah dilahirkan di bumi dan telah meninggal dunia. Makhluk di atas langit adalah kekuatan luar biasa yang tidak dapat dijangkau oleh indra manusia pada umumnya secara langsung seperti para Dewa. menjelaskan bahwa seni budaya Kalimantan (Dayak) itu sarana komunikasi antara makhluk bumi dengan sesama makhluk bumi. mulai awal 2009.

sehingga setelah mendapatkan informasi yang terekam di pikiran kemudian informasi tersebut ditancapkan di dalam lubuk hati sanubari yang paling dalam (rasa). tidak efisien dan tidak tepat sasaran. bukan inti atau esensi komunikasi. kemudian akan berlanjut pada pembentukan sikap dan perilaku yang bertanggung jawab bagi penghayat di kemudian hari. sehingga penyampaian pesan tidak dapat efektif. kemudian ditancapkan lebih lanjut ke dalam lubuk hati yang paling dalam untuk menjadikan sebuah perenungan. agar isi informasi dapat terekam dengan baik. Kalaupun toh ada seni yang menggunakan media bahasa verbal. Menurut saya lebih baik seni tidak untuk menyampaikan informasi yang bersifat verbal. setelah mendapat sentuhan hati melalui media seni. kemudian akan tumbuh sikap dan perilaku lanjutan pasca penghayatan seni yaitu menindaklanjuti pesan-pesan pendidikan dan pembangunan yang telah diterimanya dengan tulus melalui media seni tersebut. bahkan masyarakat bias menjadi apriori terhadap pesan-pesan penting melalui jasa seni. dan bukan bahasa kesenian Bahasa Seni Bahasa seni itu bahasa simbolik. Hal ini memang tugas berat bagi kreator dan para motivator dan atau pemilik gagasan utama yang akan disalurkan melalui media seni. maka dari itu sebaiknya penyampaian informasi cukup menggunakan media bahasa verbal yaitu dengan bahasa lisan ataupun bahasa tulis saja. kemudian baru didalami lebih lanjut melalui media seni. Kalau kita ingin menyampaikan informasi tanpa memerlukan proses penghayatan atau perenungan yang lebih mendalam. bisa jadi sebaliknya dan masyarakat penonton tidak mengerti atau tidak paham inti pesan yang disampaikan. Artinya isi informasi disampaikan terlebih dahulu melalui media-media verbal. dan kemudian isi informasi tersebut akan diaplikasikannya dengan baik di 57 . akan tetapi itu hanya materi ungkapan. jadi suatu media ungkap yang efektif untuk menancapkan pesan yang sudah terlebih dahulu terekam di dalam pikiran. Apabila kita tidak bijaksana dalam mempergunakan seni untuk media propaganda atau seni sebagai penyampai informasi. jadi bukan komunikasi verbal. tetapi informasi bersifat simbolik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Sifat ungkap atau komunikasi seni adalah sifat ungkap simbolik. Oleh sebab itu para seniman dan budayawan seyogyanya lebih bijaksana di dalam memaknai seni untuk dipergunakan sebagai media penyampaian pesan-pesan verbal.

Sumbing Jawa Tengah. manteb dll). lebih tepat seni-seni tersebut dinikmati dengan cara dilihat dan didengar karya seni tersebut. Merbabu. dan seni-seni pergaulan lainnya. senang. Seni budaya didalam konteks seni yang dipergunakan untuk sarana penyampaian informasi. kebutuhan psikologis (tahu. Teater. Seni Film. dan bukan pesan-pesan estetik. Mereka didalam menghayati seni di lingkungan komunitasnya. sesuai dengan situasi dan kondisi serta latar belakang kebudayaan masyarakat di daerah tersebut. plong. lebih tepat dinikmati dengan cara mengikuti atau melibatkan diri dengan cara menari-menyanyi atau berjingkrakjingkrak. maka fungsi seni juga beragam. Oleh karena kebutuhan manusia itu beragam. Ada seni budaya yang cara menikmatinya dengan cara dilihat dan di dengar. Seni Tayub dan Musik Rock. Termasuk jenis-jenis seni religius cara penghayatannya dengan ikut serta menjadi pelaku seni secara aktif. dan ada yang melibatkan diri di luar pentas. minum. Wayang. paham. Ada cara lain bagi masyarakat pangombyong atau anggota kesenian di wilayah kebudayaan lereng Merapi. mengerti. dengan cara ikut serta mendatangi pergelaran pentas seni dari kelompok anggota/grup mereka. mere58 . Jadi dengan demikian masyarakat penonton atau pelaku seni menjadi lebih paham dan apa yang dipesankan melalui media seni tersebut. ada juga yang hanya mendengar atau melihat saja.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pentas Musik. Cara Menghayati Seni Ada beberapa cara masyarakat di dalam menghayati dan menikmati seni. ada pula yang dengan cara dilakukan sendiri. Menurut saya. Fungsi Seni Saya lebih suka memaknai fungsi seni dari pengertian seni untuk hidup. Masyarakat pangombyong tersebut di dalam sebuah peristiwa pergelaran seni tanpa melihat kesenian tersebut secara langsung. Sindoro dan. pada dasarnya kebutuhan hidup manusia itu meliputi kebutuhan jasmani (makan. sehat). ini berarti menempatkan seni sebagai sarana penyampaian pesan-pesan pendidikan dan pembangunan. Seni dapat dipergunakan sesuai konteks kebutuhan hidup manusia tersebut. sreg. bangga) dan kebutuhan rohani/spiritual (nyes. sehingga pesan dapat diterimanya secara tulus lahir dan batin.

Semua seni termasuk tari (gerak). Apabila subjek penyampai informasi salah dalam memilih media dan tidak memperhitungkan latar belakang kehidupan masyarakat sebagai objek. lukisan. melainkan semua seni dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan secara efektif. dan pemilihan media seni yang akan digarap harus tepat sesuai dengan latar belakang budaya berkesenian masyarakat bagi tersebut. maka akan dapat melenceng dari sasaran dan menjadi lebih boros biaya penyelenggaraan. Keberadaan masyarakat sebagai obyek termotivasi. seni pahat. seni lukis. serta kekuatan ungkap aktor (daya pangaribawa pemain). kebiasaan berkesenian mereka berkaitan erat dengan tata upacara adat dari etnik-etnik tersebut. Jadi dengan demikian antara subjek motivator dan kreator seni. Bentuk Seni Bentuk seni-budaya tradisional di Indonesia pada umumnya dan di Kalimantan khususnya cukup beragam. maka para motivator dan kreator seni harus pandaipandai memilih materi dan cara penggarapan seni yang sesuai dengan lingkungan budaya masyarakat setempat. musik (suara). Pada umumnya para pangombyong atau anggota tersebut terdiri dari kaum laki-laki yang sudah tua dan mantan pemain kesenian tersebut. Ada seni visual seperti seni tari. seni teater. Seni yang dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan itu bukan hanya seni “komunikatif” sejenis teater daerah dan wayang saja. seni tato dan tindik. 59 . yang dipilih untuk menjadi objek sasaran penyampaian informasi. dan seni vokal lainnya. untuk golongan masyarakat apresian tertentu. Oleh sebab itu dalam menggarap kesenian pada konteks seni sebagai sarana informasi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ka seperti orang berkenduri di dalam rumah sambil menunggui pemain yang sedang berhias. Hal ini sangat tergantung dari kemauan motivator (pemerintah-lembaga pemberi motivasi ) dan kepiawaian para kreator (penggarap). teater daerah (wayang dan sejenisnya). seni pantun. dan seni pertunjukan. adat istiadat dan upacara-upacara tradisional. patung. latar belakang budaya masyarakat dan keberadaan patron sebagai pengukuh/penguat. Di Kalimantan khususnya bagi masyarakat etnik Dayak dan Melayu. semua itu dapat dipergunakan untuk media informasi dan komunikasi secara efektif apabila tepat didalam memilih media. Ada pula seni audio berupa musik tradisional.

negarawan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dalam konteks seni budaya sebagai media informasi/komunikasi yang perlu dipehatikan adalah kecerdasan kreator sebagai pribadi ataupun kreator tangan panjang dari pemerintah. Seni yang keluar dari rangkaian upacara adat biasanya seni tradisi yang sudah menjadi komersial. Kyai. Pejabat Kepala Daerah. Ketua Adat/Ketua Suku. Sosok pribadi yang dapat dipergunakan sebagai patron atau panutan masyarakat diantaranya. Prasyarat penggunaan seni untuk sarana penyampaian pesan/informasi-informasi pembangunan adalah sebagai berikut : a. apabila digarap dan diolah secara tepat. Pendeta. khususnya di Kalimantan merupakan bagian dari perilaku budaya masyarakat adat. oleh sebab itu seyogyanya berhati-hati di dalam memperlakukan seni dan memilih bentuk seni yang tepat sesuai dengan sasaran yang akan dituju agar dapat menjadi lebih efisien. Kepiawaian mereka tersebut adalah unsur utama dalam penggarapan seni untuk informasi pembangunan. menurut saya seni dan budaya dalam konteks pemanfaatan seni sebagai media informasi dan komunikasi itu harus melekat dengan adat istiadat setempat pula. dan biasanya seni terkait dengan upacara-upacara adat masyarakat setempat. pemerintah pusat (Jakarta). misalnya lembaga kabupaten. Seni tradisional Indonesia. Pemilik ide (pemerintah. Seniman. budayawan. para pemikir) 60 . semua itu dapat menjadi efektif dan efisien untuk dipergunakan menyampaikan pesan. propinsi. Pengukuh tersebut sebaiknya berupa lembaga dan atau pribadi tokoh panutan yang sangat dikenal. Kemudian diperlukan pengukuh.efektif. alat atau media penyampai pesan dan objek penerima pesan. Seni Sebagai Media Informasi Seni budaya menempati salah satu fungsinya yaitu sebagai media informasi dan sebagai media pendidikan atau propaganda. Oleh sebab itu. Seni budaya seperti yang telah di sebutkan di depan. jadi bukan bentuk keseniannya yang diutamakan sebagai media komunikasi. Oleh sebab itu para penggarap harus memperhitungkan akar budaya masyarakat setempat untuk menentukan bentuk seni macam apa yang tepat dan sesuai dengan sasaran objek yang dituju. Raja dan orang-orang terpandang lainnya. dan tepat guna. baik itu dalam bentuk lembaga ataupun pribadi-pribadi yang kharismatik. dan yang paling penting adalah keseimbangan antara subjek pemberi pesan.

Aktor/bahan kesenian. Masyarakat daerah ini di bawah doktrin Negara Islam Melayu. Patron. namun demikian di wilayah Sabah dan Serawak ini eksistensi masyarakat Dayak mendapatkan kemerdekaan yang lebih longgar. Adapun tujuannya adalah menghantarkan sebuah perenungan dan aplikasi atas isi dan inti pesan pasca menikmati seni budaya. bahkan lebih menjulang ke utara dari garis tengah Pulau Kalimantan di bawah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan doktrin Negara Pancasila dan UUD ‘45 . Motivator. Masyarakat/penonton kesenian. dan yang tidak boleh dilupakan bahwa seni bukan untuk konsumsi penalaran atau akal pikir semata melainkan untuk konsumsi indra rasa/batin. sebagai seniman yang menyalurkan pesan (aktivis) c.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI b. sebagai pengukuh (penguat) g. Di Negara Indonesia dengan doktrin Pancasila ini memberi warna tersendiri dan menjadi berbeda dengan warga Kalimantan di wilayah Malaysia Timur. Gambaran secara garis besar 61 . Di bagian Kalimantan sebelah selatan sampai tengah. Kalimantan Indonesia secara garis besar dihuni oleh masyarakat mayoritas etnik Dayak dan etnik Melayu. sebagai penerima pesan dan aplikasi lanjutan (penghayat seni) f. Walaupun prosesnya tetap melalui penalaran tetapi penalaran bukanlah tujuan. yaitu di wilayah Malaysia Timur ialah sub Kerajaan Sabah dan Serawak. Di bagian utara membentang dari barat ke timur pulau Kalimantan di bawah kedaulatan Negara Kerajaan Malaysia. Selayang Pandang tentang Kalimantan Kalimantan secara garis besar terbagi dalam tiga kawasan yang berbeda kedaulatan yaitu di sebelah utara dibawah kedaulatan Kesultanan Brunai Darussalam dengan doktrin kedaulatan negara Islami. Kreator Seni. sebagai seniman penggarap seni untuk pesanan (seniman kreator) d. dan warga di Kalimantan Brunai Darussalam. sebagai alat untuk mewadai pesan dan mengeluarkan daya pesan (seniman pelaku) e. Aplikasi Lanjutan sebagai bentuk tindakan nyata (dampak) Dengan demikian terjadilah proses penyampaian informasi yang efektif.

tari Gantar berkaitan dengan upacara panen padi. Masyarakat Dayak tersebar di belantara Pulau Kalimantan dan terbagi dalam berbagai sub kultur Dayak.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF etnik penghuni Kalimantan Indonesia ialah. Cina 5%. sama dengan Reog Ponorogo Jawa. Berbeda dengan seni dalam bingkai budaya Dayak. Beda suku beda bentuk dan beda makna. Madura. terutama disajikan pada waktu-waktu jumpa komunitas seperti dalam acara pengajian. yang hidup berkelompok dalam ikatan kelompok-kelompok kecil dan kuat. Misalnya Reog Ponorogo Kalimantan.Artinya masih dapat dipahami seperti seni dalam bingkai budaya asalnya. Kesenian dari etnik Dayak selalu berkaitan dengan upacara-upacara adat tradisi masyarakat setempat. Dayak 30%. dan selebihnya adalah Bugis. hajatan kemudian 62 . Seni Budaya Kalimantan Secara Garis Besar Secara garis besar kesenian Kalimantan tumbuh dan berkembang berdasarkan akar budaya asal dari masing-masing etnik. dan lain-lain sebanyak 20%. Etnis Jawa. jauh dari keramaian kota dan jauh dari peradaban yang serba modern. Masyarakat Melayu mayoritas hidup di daerah pesisir pulau Kalimantan. arisan. Jawa dan Melayu tidak terlalu beragam. dan tidak kurang dari 500 anak sub kultur Dayak Kalimantan Indonesia. Zapin di Kalimantan sama dengan Zapin yang ada di Melayu Malaysia dan Sumatra. Batak. Tari Ngerangkau (Tari upacara kematian) berkaitan dengan upacara Kwangkai (Ritual kematian). masyarakat Jawa di kota-kota besar dan kota-kota kecil pedalaman dan daerah perkebunan (daerah transmigrasi). Kesenian Barongsai di komunitas Cina khususnya masyarakat Kabupaten Singkawang Kalimantan Barat yang mayoritas di huni etnik Cina. Jawa 10%. Sedangkan seni-seni masyarakat etnik Jawa dan etnik Melayu lebih beragam fungsi dan waktu pergelarannya. Dan upacara-upacara hari besar etnik Cina. karena beda bingkai dasar kebudayaannya.Sunda. Melayu 25%. Seni dari akar masyarakat etnis Cina . Banjar 10%. Masyarakat Dayak mayoritas hidup di daerah pedalaman. Masyarakat Dayak menguasai daerah hutan dan perkebunan yang maha luas. Sebagai contoh Tari Hudoq berkaitan dengan upacara tanam padi. Barongsai Kalimantan sama dengan Barongsai di Hongkong dan Cina. pergelaran Barongsai ditampilkan pada waktu upacara tahun baru Cina. Cina dan Melayu menguasai daerah perdagangan dan persawahan serta pemerintahan.

ada panitia penyelenggara. yaitu Lembaga Adat dan Kerajaan atau Kasultanan. penggunaan seni sebagai media komunikasi lebih baik disusun sebuah karya kemasan khusus. bagi masyarakat Kalimantan pada umumnya. ada seniman pemain/peraga. Maksudnya. serta tepat sesuai dengan bingkai kebudayaan mereka. Oleh sebab itu Kerajaan atau Kasultanan adalah lembaga jaringan informasi yang potensial untuk diperankan sebagai lembaga jaringan informasi 63 . dan ada masyarakat penonton. Di Kalimantan ada dua lembaga besar yang potensial sebagai lembaga jaringan penyampai pesan. jadi dengan demikian penontonnya adalah para pemain / pelaku adat itu sendiri. memilih lembaga jaringan mana yang dipandang cocok untuk dipergunakan sebagai mitra jaringan agar sesuai dengan program penyampaian informasi yang telah ditetapkan oleh lembaga (pemerintah) tersebut. Kesenian masyarakat Cina-Melayu-Jawa dan etnik lainnya selain etnik Dayak memiliki pemain dan penonton. Pemimpinnya biasa disebut Ketua Adat Besar dan Ketua Adat Besar ini memiliki kedudukan seperti seorang Raja di Jawa-Bali. Oleh sebab itu dalam konteks seni untuk sarana infomasi pembangunan harus diperlakukan lebih arif dan bijaksana. dalam jumlah sub kultur yang sangat banyak. yaitu garapan baru yang menggunakan perabot seni tradisi setempat untuk garapan kemasan seni propaganda untuk informasi publik. Masyarakat etnik Melayu-Jawa dan Bugis lebih akrab dengan Instansi atau Lembaga Kerajaan bila dibandingkan dengan kedekatanya dengan masyarakat Adat. tinggal pemilik ide / isi informasi (pemerintah) sebagai pemilik informasi. Lembaga-lembaga adat di Kalimantan meskipun kecilkecil akan tetapi mereka memiliki ikatan yang kuat dengan lembaga besarnya. Lembaga-Lembaga Potensial untuk Jaringan Penyampaian Seni Sebagai Media Informasi Lembaga-lembaga yang potensial untuk menjadi agen mitra kerja dalam penyampian informasi pembangunan dari pemerintah kepada masyarakat ada beberapa pilihan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI di sajikan seni Rodad-Salawat-Zapin-Hapsi-Reog-Jathilan-Jaran Dor Sentherewe-Ledek dan lainnya. Sedangkan seni dalam masyarakat adat Dayak hanya ada forum (adat/upacara) – ada penyelenggara (lembaga adat) dan ada peserta (pelaku adat). Dengan demikian.

dan masyarakat daerah tempat penelitian-penelitiannya dilakukan di daerah-daerah pedalaman tersebut. Lembagalembaga di peringkat ke-tiga ini meskipun kecil-kecil akan tetapi aktifitas. Paguyuban Etnik pendatang dan Sanggar Seni.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF melalui Seni Budaya. Lembaga Perguruan Tinggi tersebut memiliki jaringan Dosen. pada konteks tertentu dapat menempatkan diri atau ditempatkan oleh pihak Pemerintah menjadi lembaga penyambung jaringan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah. untuk melaksanakan program-program pengabdian masyarakat di Indonesia. Dinas Pendidikan memiliki jaringan siswa dan guru serta tenaga administrasi di sekolah yang sangat banyak dan mudah dikendalikan secara sistematis. Mahasiswa. Dalam hal ini posisi Perguruan Tinggi dapat sejajar dengan Lembaga Adat dan Keraton / Kasultanan. Akademi Seni dan Sekolah Tinggi Seni baik Negri maupun Swasta. Lembaga Pendidikan Tinggi memiliki potensi untuk menyambung jaringan dengan sesama Lembaga Pendidikan Tinggi di Indonesia. Alumni. Pondok Pesantren. Lembaga yang tidak kalah pentingnya untuk diperhitungkan adalah Lembaga Pendidikan Tinggi dan Pendidikan Tinggi Seni seperti Institut Seni. dari pihak Pemerintah Pusat kepada masyarakat di daerah khususnya di daerah pedalaman yang susah dijangkau dengan transportasi dan jaringan komunikasi apapun. dan lembaga-lembaga Adat di daerah pedalaman Kalimantan. Lembaga Adat dan Kerajaan tersebut menduduki peringkat utama dalam menentukan jaringan penyampai informasi melalui Seni Budaya. Dalam satu jaringan dinas ini telah terikat ribuan manusia yang terkait di dalam sistem kelembagaan tersebut secara formal. Adapun kegiatannya akan direalisasikan melalui gelar seni Budaya dan tata upacara-upacara adat/tradisi masyarakat setempat. Dinas Pariwisata memiliki jaringan Sanggar-sanggar Seni/Padepokan Seni. kreatifitas dan produktifitas tergolong sangat tinggi apabila dibandingkan dengan lembaga-lembaga di peringkat pertama maupun yang 64 . Lembaga Pendidikan Tinggi ini. dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata ditingkat Kabupaten maupun tingkat Provinsi. Lembaga jaringan pada peringkat ke-tiga adalah Gereja. Kantong-kantong Seni dan termasuk Lembaga-lembaga Adat di wilayah kerja Dinas Pariwisata tersebut khususnya di tingkat kabupaten-kabupaten. Lembaga jaringan di peringkat kedua adalah Pemerintah Daerah.

untuk melakukan tindakan teknis agar dapat efisien. yang dipandang sesuai 65 . Tentu saja pilihan seniman kreator ini berkaitan erat dengan materi seni apa yang akan dipergunakan untuk media informasi publik tersebut. efektif dan tepat sasaran sesuai dengan yang hendak dituju. yaitu suatu gagasan untuk menyampaikan informasi tertentu. Sasaran-sasaran yang dituju nantinya akan menjawab ide/gagasan awal. perlu menentukan langkah-langkah strategis. dan diharapkan pekerjaan dapat tercapai lebih ringan dan mencapai target yang telah ditetapkan. 3) Memilih dan menetapkan lembaga jaringan kerja sama. mana yang lebih dahulu di prioritaskan. misalnya akan munculnya gejala atau kecenderungan dari golongan masyarakat dan seniman tertentu. 2) Menetapkan sasaran. yaitu pihak panitia penggagas melakukan pengelompokan-pengelompokan sasaran. tidak menutup kemungkinan nantinya justru mempersulit diri sendiri. Apabila tidak ditetapkan pilihan strategi yang telah ditentukan. Dari beberapa kelompok kategori sasaran.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI kedua. Produktifitas kecil-kecil itulah yang dalam kurun waktu yang lama dan terus menerus berproduksi maka akan membentuk kristalkristal pemahaman. Selain daripada itu. menempatkan program Penyadaran Masyarakat ini menjadi sebuah proyek yang ditunggu. 4) Memilih dan menetapkan kreator seni sebagai agen penggarap media seni untuk penyampaian informasi publik melalui seni tradisi. Langkah-Langkah Strategis Pemanfaatan sebagai Media Informasi Pemerintah atau Lembaga yang memiliki gagasan untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan dan pembangunan melalui media seni budaya tradisional. ada beberapa langkah yang perlu di tetapkan untuk landasan strategis yaitu : 1) Penetapan isi informasi. Menurut pendapat saya. sekaligus memperhitungkan harapan atau target capaian selama program itu dilakukan. kegiatan kurang dapat bermanfaat dan pengelolaan dana / biaya akan menjadi lebih besar daripada capaian hasil yang hendak dituju. 5) Memilih dan menetapkan media seni. agar maksud dan tujuan yang telah digagas sebelumnya dapat tersampaikan secara baik.

apakah langkah yang telah ditetapkan ini sudah sesuai atau tidak. 6) Memilih dan menetapkan materi seni dan seniman pelaku. Pemilihan materi seni dan pemilihan peraga seni harus juga tepat. Model-model ini dapat digarap di Perguruan Tinggi Seni kemudian disosialisasikan pada seniman daerah untuk dikaryakan di daerahnya tersebut. dan juga dapat dihayati masyarakat lain yang tidak di prioritaskan. baik Kalimantan Indonesia. untuk mewadahi isi pesan yang akan dituangkan melalui sebuah karya seni untuk menyentuh hati nurani masyarakat penonton (apresian). Lembaga kontrol ini bertugas untuk mengkritisi dan memberikan penilaian kepada langkah kerja pemilik gagasan (pemerintah). 10) Mengukur tingkat keberhasilan melalui kajian-kajian atau penelitian. tidak tepat untuk melakukan kegiatan-kegiatan berkesenian yang berhubungan dengan siswa.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dengan konteks kebutuhannya. apa betul program yang dulu dilakukan dapat mencapai sasaran atau tidak. Misalnya musim ujian sekolah. dan lembaga ini seperti LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sejenis dengan programnya. Tentu saja pilihan ini berkaitan dengan keadaan masyarakat sebagai objek dan kekuatan media seni yang tepat untuk menyentuh objek tersebut. Malaysia maupun Brunai Darussalam memiliki forum berupa kegiatan budaya seperti upacara-upacara akbar yang melibatkan banyak hadirin sebagai peserta maupun penonton dalam upacara tersebut. agar pesan dapat dengan mudah diterima masyarakat. Forum Yang Paling Efektif untuk Penyampaian Informasi Melalui Seni Di Kalimantan pada umumnya. Upacara66 . 7) Memilih dan menetapkan lembaga kontrol sebagai tim pengamat. maka tinggal menindak lanjuti dan apabila salah akan segera dapat merevisi. 8) Memilih dan menetapkan waktu penyampaian informasi (gelar seni) agar masyarakat sasaran dapat terlibat lebih maksimal karena tidak terganggu kebutuhannya. 9) Membuat atau menyusun model bentuk media seni seperti apa yang cocok untuk suatu masyarakat tertentu. Apabila pola kerja sudah dinilai betul.

Forum STQ-STQ tersebut mampu menghadirkan ribuan bahkan jutaan manusia yang hadir dalam forum akbar tersebut. Blawing Barek.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI upacara besar pada masyarakat Dayak dikenal nama-nama upacara yaitu Gawai Dayak. Lembaga dan Pribadi Sebagai Agen Penyampai Pesan Di Kalimantan yang begitu luas tidaklah mudah untuk memilih lembaga atau pribadi yang mampu mewadahi gagasan-gagasan atau informasi melalui media seni untuk publik. demikian juga forum STQ bahwa gelar seni dilakukan untuk pembukaan dan penutupan serta disetiap hari menjelang gelar kompetisi. dikenal istilah Grebeg). kemudian seleksi ini akan dilanjutkan ditingkat propinsi dan akan dilanjutkan pada Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional. untuk menjaring pribadi-pribadi sebagai agen penyampai pesan yaitu : 1. dalam hal ini Dinas Pariwisata tingkat Provinsi. Belakangan ini muncul forum sejenis STQ bagi masyarakat Kristiani yaitu Pusparawi / Pusparani yang juga mulai dibesarkan pada tiap tahunnya dengan disertai gelar seni budaya di acara pembukaan dan penutupan serta disela-sela acara kompetisi. lebaran Haji dan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) di tiap-tiap kabupaten. Upacara-upacara besar tersebut belakangan ini sudah mulai dikemas menjadi objek seni wisata dan kemasan wisata oleh Pemerintah Daerah setempat. Dangai. Pada masyarakat etnik Melayu memiliki beberapa forum besar di antaranya lebaran Idul Fitri. Erau. Dalam acara ini berbagai etnik Dayak besar dan sub etnik Dayak. namun demikian saya punya pandangan untuk langkah awal yang mungkin lebih efektif. dia juga diangkat oleh tokohtokoh adat Dayak Kalimantan (Dayak Borneo) untuk memimpin keutuhan suku-suku Dayak yang tersebar di Kalimantan besar. keluar tampil bersama-sama etnik Dayak yang lain untuk melakukan upacara dalam bentuk gelar seni budaya (seperti di Jawa. Ketua Adat Besar Suku Bahau dari alur keluarga Dayak Long Gelaat / Apo Kayan. dengan demikian Forum akbar ini dapat dibidik menjadi ajang penyaluran informasi publik melalui gelar seni. Gawai Dayak dan STQ tersebut dilakukan tiap tahun. Anak-anak dan cucu67 . Ditingkat Kabupaten dilakukan secara berpindah-pindah tempat pentasnya sesuai hasil rapat panitia tahun sebelumnya. Dahau yang artinya pesta dan upacara besar. Blawing Barek adalah seorang tokoh adat yang kharismatik dan sebagai penari serta pemusik yang piawai.

Pangeran Muashidin Syah. Dia tinggal di Jalur hulu sungai sampai Hilir sungai Mahakam Kalimantan Timur. 2. 4. Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Posisi rumah di hulu Mahakam di daerah Long Pahangai. Semua seni dapat diperankan sebagai media penyampai informasi publik. di bagian tengah di kampung Melak Sendawar. Dapat dibayangkan berapa orang yang terjaring dalam ikatan garis karisma pribadinya tersebut. Insan akademis baik itu dosen ataupun mahasiswa dan alumni dapat menjadi Tim Ahli dalam bidang olah seni dan gelar seni untuk penyadaran masyarakat . 2. Tokoh semacam ini potensial menjadi pribadi agen penyampai informasi publik melalui seni budaya. Jaringan utama penyalur gagasan /informasi pada masyarakat Kalimantan adalah lembaga adat dan kerajaan. 3. Di wilayah Kalimantan dan Sumatra di Kalimantan membawahi lima belas (15) kerajaan dan di Asosiasi Raja dan Sultan membawahi enam belas(16) kerajaan Islam. dan lembaga tersebut memiliki para ahli dan kreator seni yang patut diperhitungkan dan diperankan. Pangeran dari Kasultanan Kotawaringin. lembaga ini memiliki jaringan dengan UNS-UMS-UNISRI dan lain-lain. 3. Intisari 1. Bahasa seni adalah bahasa simbol. Motivator dan kreator seni adalah unsur utama dalam program penyadaran masyarakat melalui seni. adik Sultan Alidin Syah yang memiliki kharisma kepemimpinan yang luar biasa.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF cucunya juga seniman yang cukup disegani dilingkungan komunitasnya. Dia sangat dihormati dan disegani oleh Raja-raja komunitas Kalimantan kemudian diangkat menjadi penasehat Kerajaan dan Kesultanan Kalimantan.Lembaga ISI dapat menyentuh jalur Adat dan lembaga Kerajaan sekaligus menyentuh Sanggar-sanggar seni dan Komunitas seni di Kalimantan. sedangkan di hilir Mahakam ada di Samarinda. 68 . belakangan ini juga di daulat untuk menjadi penasehat Asosiasi Raja dan Sultan (Rasul). Pengaruhnya melampaui lintas batas propinsi bahkan lintas batas Negara.

6.Serduwar Liah Luhat. Ada tujuh prasarat ideal untuk memanfaatkan seni sebagai media informasi. 69 . Airlangga Press. Pontianak Yohanes Bonoh 2003 ADAT PERKAWINAN SUKU DAYAK TUNJUNG. Demikian sekelumit kata tentang seni sebagai media penyampaian informasi. Surabaya Pamung 2003 PELULUKNG. KEBERAGAMAN SUB SUKU DAN BAHASA DAYAK DI KALBAR. Airlangga Press. Surabaya Sujarni Alloy 2008 MOZAIK DAYAK. Airlangga University.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 5. Daftar Pustaka Frans Jiu Luai 2002 HUDOQ SEBUAH LEGENDA (TARIAN) HUDOQ PADA ADAT DAYA MODANG/ LUNG GELAAT. Fungsi seni untuk kehidupan manusia. Airlangga Press. Surabaya Frans Jiu Luay 2009 Adat Nemlaai-Lung Gelaat. khususnya mengenai seni tradisional dan adat budaya masyarakat Kalimantan. Pemda Kutai Barat. Ford Foundation-Insitut Dayakologi. Tata Cara Pengesahan Perkawinan Orang Dayak Benoak. semoga dapat menjadi bahan diskusi dan dapat menjadi masukan untuk menyumbang kebutuhan informasi di jajaran Kementerian Kominfo. Surabaya.S 2002 PAKAIAN ADAT (tradisional) KAYAAN MEKAAM (Bahau).

Lahir di Klaten. Dharsono. Ketua Lembaga Pengkajian dan Konservasi Budaya Nusantara di Surakarta. 2008 Tinggal di Jl. Bandung: Rekayasa Sain 2004. Dosen Pasca Sarjana ISI Surakarta. Bandung: Rekayasa Sain 2006). Estetika Barat dan Timur. STSI Press. Bandung: Rekayasa Sain 2004. Ketua Litbang SNKI (Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia) Di Jakarta. Tinjauan estetika Nusantara. Budaya Nusantara (Kajian Pohon Hayat pada Batik).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. 14 Juli 1951. 08122656566. mendapatkan gelar doktor pada Sekolah Pasca sarjana ITB 2005. Seni Rupa Modern. MSn (Sony Kartika). Beberapa buku yang pernah dipublikasikan antara lain: Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sain 2007. Dosen Luar Biasa Pascasarjana Universitas Trisakti Jakarta Saat ini menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ISI Surakarta. Bandung: Rekayasa Sain 2007.co. e-mail: kartikasony@yahoo. Kritik Seni. Sebagai ilmuwan menawarkan beberapa konsep estetika sebagai alternatif penulisan kajian dan pengamatan seni budaya sebagai salah satu model penelitian dan penulisan karya ilmiah.id 70 . Dr.Pembangunan I/13 Perum UNS Jaten Karanganyar 57731. Guru besar Bidang Ilmu Estetika.

Pendahuluan ondisi kesenian tradisi kita. Musik dan tari Jawa terbingkai dalam sistem kekuatan monarki-absolut yang berdialektika dengan sistem-sistem lainnya di waktu itu. Adapun waktu tersebut adalah waktu yang telah menyelesaikan suatu putaran dialektika budaya. Seni tradisi yang layak untuk diangkat dan dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif adalah seni tradisi yang dapat dikemas sebagai bentuk tontonan yang komunikatif-dialogis. Sedang kesenian tradisi “rakyat” kita terbingkai dalam dialektika budaya masa K 71 . telah terbingkai dalam satu pigura waktu. yang kemudian terkenal dengan media komunikasi dengan tujuan tertentu. disebut tradisi karena “tradisi” itu. maka muncul kelompok-kelompok penggagas budaya tertentu (perekayasa budaya) yang memanfaatkan kesenian tradisi sebagai alat propaganda politik maupun propaganda sosial. Pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenas. Kesenian tradisi yang mampu mewadahi ungkapan gagasan dalam seni dan sekaligus cocok untuk digunakan sebagai media komunikasi untuk penyampaian pesan kepada khalayak sesuai dengan kebutuhan maisenas. baik yang “klasik” maupun yang”rakyat”.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Tengah dan DI Jogjakarta Dharsono (Sony Kartika) Pakar Ilmu Estetika Ketua LPPM Dosen ISI Surakarta Seni tradisi dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial tertentu.

Pengamatan atau apresiasi cenderung dimensi logis. Pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi akan sangat berkaitan dengan rekayasa budaya yang dikemas lewat pesan-pesan tertentu. Kini budaya kita terbingkai oleh pranata sosial yang bermuara pada industri kreatif. sesuai dengan kebutuhan maisenasnya (dalam halini Pemerintah. Penyajian karya seni merupakan rekayasa yang dirancang dan disajikan untuk pengamat seni . karya dan pengamatnya. dan atau lembaga pemesan tertentu). Yang menjadi sasaran topik dalam makalah ini adalah bagaimana kita mensiasati penonton. Penyajian karya seni merupakan salah satu bentuk aktivitas yang memberi kemungkinan terjadinya interaksi dialog tiga komponen antara seniman. Pemetakan seni tradisi seyogyanya dipilih terhadap kesenian tradisi yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi yang efektif dan informatif. yang dirasakan baik oleh seniman maupun pengamatnya. sebagai emplementasi globalisasi ekonomi dalam trasformasi kapitalisme konsumen. Proses pengamatan tidak sama dengan penikmatan. Namun demikian. Kesenian tradisi sebagai eksprsi kebudayaan Kondisi budaya Indonesia telah mengalami proses transformasi budaya sejak jaman prasejarah. dalam menembus keterbatasan. Namun demikian pelaku seni sebaiknya tetap diharapkan untuk menjaga kareakter. Untuk itu perlu memetakan seni pertunjukkan tradisi yang mampu menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif. maka muncullah kelompok-kelompok kesenian yang memanfaatkan kesenian rakyat sebagai alat propaganda sosial. yaitu komunitas pengamat dan penikmat (penonton). Proses tersebut mencerminkan adanya 72 . sedang penikmatan sebagai proses cenderung masuk pada demensi psikologis. secara lebih luas dan efektif dan diharapkan dapat menemukan maknanya yang hakiki. sesuai kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi. akibatnya kesenian tersebut akan dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial yang berorientasi pada industri kreatif. kita dihadapkan kepada dua komunitas. kenyataan yang terjadi dalam sebuah pertunjukan/sajian seni. dan kekaligus untuk diajak bersama-sama menangkap pesan yang disampaikan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF lampau kita di mana sistem ekonomi pertanian tradisi dan sistem sosial.

Keempuan para Wali dan Raja dalam mengolah unsur–unsur wayang. Kesenian tradisi sebagai salah satu produk budaya sejak zaman dulu merupakan salah satu bentuk seni Jawa tradisional yang mengalami proses tranformasi. Misalnya “wayang” sebagai produk perkembangan kesenian Indonesia Hindu-Budha. Ciri menonjol dari kesenian Indonesia ialah bentuk yang plu-ralistis yang tersebar hampir di kawasan Nusantara. dan wayang dan sebagainya. menghasilkan wayang baru. Akibat dari kesenjangan proses perkembangan kesenian Indonesia hanya mengharapkan pelestarian tradisi seni semata-mata tanpa upaya pengembangan untuk mencapai tradisi baru. 1993:41). perlu adanya kajian dan penggalian sebagai satu usaha pelestarian. Adanya perkembangan budaya tersebut. interior. Proses perkembangan yang berkesinambungan antara budaya tradisi masa lalu dengan tradisi selanjutnya terus berlangsung hingga kini. keris. Seni tradisi perlu dilestarikan keberadaannya. Tiap daerah memiliki akar budaya prasejarah sebagai dasar dari tradisi kesenian Indonesia yang sampai sekarang ada yang masih dipertahankan (Wiyoso. Usaha untuk mengenal kesenian Jawa termasuk mencoba untuk menggali latar belakang budaya masyarakat Jawa. Kesenjangan itulah yang terjadi pada saat lesunya kebudayaan pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. batik. terutama untuk memberikan satu aset budaya dalam pembangunan dewasa ini. terutama perkembangan sejarah kesenian Indonesia mempunyai ciri yang menonjol. ketika pamor budaya kerajaan Indone73 . dari berbagai macam budaya-seni menurut daerahnya masing-masing merupakan modal dasar pembangunan. merupakan proses perkembangan seni tradisi masa lalu. 1996:1). yang kemudian merupakan cermin keragaman budaya. Kebudayaan hasil ekspresi masarakat Jawa (sekarang Indonesia).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI perkembangan budaya etnik (walaupun tidak semua). Kebudayaan Jawa ini melahirkan berbagai bentuk seni klasik dalam bentuk karawitan. tari. Ciri-ciri tersebut mencerminkan keanekaragaman kebudayaan sesuatu bangsa yang mendiami daerah yang terpisah. sebagai salah satu identitas dan jati-diri bangsa Indonesia. Ini mengisyaratkan terjadinya proses kesinambungan kesenian tradisi (terutama wayang ) dilihat dari aspek seni rupa maupun pertunjukannya (Wiyoso. arsitektur. Kesinambungan tradisi seni memang pernah terputus sehingga perintisan untuk mencapai bentuk kesenian baru terhalang bahkan terhenti sama sekali.

dalam menembus keterbatasan. Di saat itulah kesadaran tradisi bangsa yang terjajah terdesak yang berakibat kurangnya daya cipta untuk menemukan bentuk ekspresi baru yang mencerminkan kekuatan tradisi seni masa lampau. Sedang penikmatan yang di dalamnya sarat dengan demensi psikologi yang sangat subyektif dan mengabaikan dimensi logis. Proses pengamatan dalam pelaksanaannya adalah apresiasi. Seorang pengamat yang sedang memahami karya sajian maka sebenarnya ia ha74 . Makin menipisnya kesadaran tradisi berakibat pula surutnya daya apresiasi seni karya cipta bangsa sendiri. Kesenian sebagai media apresiasi Kegaiatan seni akan selalu dihadapkan oleh dua komunitas. Itulah sebabnya sangat dibutuhkan hadirnya pengamat seni dan atau kritisi seni. Salah satu bentuk kesenian lama yang sarat dengan nilai-nilai budaya yang masih sempat berkembang pada pemerintahan kolonial adalah wayang. karya dan pengamat. baik dilihat dari sudut pertunjukan maupun dari seni rupa (Wiyoso. Apresiasi adalah proses untuk menafsirkan sebuah makna yang terkandung dalam karya seni. dan merupakan salah satu cermin adanya transformasi budaya. Hanya di pusat-pusat kesenian lama kesadaran tradisi tersebut masih tersisa untuk sekadar melestarikan nilai seni yang diwariskan dari para pencipta pendahulunya. Namun kini kesenian tradisi diminati kembali sebagai salah satu alternatif sebagai sumber inspirasi penciptaan dan rekayasa budaya dan dimanfaatkan sebagai propaganda sosial. dalam proses mencari format budaya Indonesia. yang dirasakan baik oleh seniman maupun penghayatnya. yang mampu menterjemahkan beragam bahasa visual dalam ragam bentuk dan ragam makna yang terbentuk oleh pengalaman emosional. Hal ini dapat dikatakan sebagai bukti adanya proses kontinuitas dalam upaya pelestarian tradisi. komunitas pengamat dan komunitas penikmat. Sajian seni merupakan rekayasa yang dirancang dan disajikan untuk penghayat seni secara lebih luas dan efektif dan diharapkan dapat menemukan maknanya yang hakiki.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF sia-Islam mulai memudar. Apresiasi seni merupakan proses sadar yang dilakukan pengamat dalam menghadapi dan memahami karya seni. 1986:41). Sajian seni merupakan salah satu bentuk aktivitas yang memberi kemungkinan terjadinya interaksi dialog tiga komponen antara seniman.

Pengamatan atau pemahaman nerupakan proses dimensi logis. tingkat relativitas ini merupakan ultimatum senang atau tidak senang atas keputusan sikap psikologis karena ika75 . Tingkatan pertama disebut tingkat subyektif relativitas.. Pengalaman estetika dari seseorang dipersoalkan bagaimana seseorang pengamat menanggapi atau memahami suatu benda indah atau karya seni? Seseorang tidak lagi hanya membahas sifat-sifat yang merupakan kualitas dari benda estetik. Pengalaman estetik bukanlah sesuatu yang mudah muncul atau mudah diperoleh. merupakan hasil tafsir makna (arti) yang terkandung di dalamnya. Relativitas kajian tersebut tergantung dari tingkat relativitas seseorang dalam menghadapi sebuah karya sajian. Apresiasi seni merupakan proses sadar yang dilakukan penghayat dalam menghadapi dan menghargai karya seni. melainkan juga menelaah kualitas abstrak dari benda estetik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI rus terlebih dahulu mengenal struktur organisasi atau dasar-dasar penyusunan dari karya yang sedang dihayati. sedang penikmatan merupakan proses dimensi psikologis. Tingkatan tersebut menurut Steppen C. karena untuk semua itu memerlukan pemusatan atau perhatian yang sungguh-sungguh. Keputusan senang dan tidak senang lahir dari akibat pengaruh aspek psikologis secara instrinsik. Pepper dalam bukunya berjudul The Principles of Appreciation memberikan empat tingkatan ultimatum kesenangan berdasarkan tingkat relativitas seseorang. dan lengkap dari semua gejala psikologis yang berhubungan dengan karya seni (Liang Gie 1978:51). terutama usaha menguraikan dan menjelaskan secara cermat. Tingkatan relativitas tersebut juga tergantung dari tingkat intelektual seseorang dan latar budayanya. dimana seseorang dalam memberikan ultimatum senang dan tidak senang karena adanya keputusan subjektivitas. Proses dalam pengenalan nilai karya seni... Tingkatan kedua disebut tingkat relativitas budaya. Hasil dari interaksi proses tersebut merupakan ultimatum senang atau tidak senang terhadap keberlangsungan terhadap karya seni. Apresiasi menuntut ketrampilan dan kepekaan estetik untuk memungkinkan seseorang mendapatkan pangalaman estetika dalam mengamati karya seni.”. misalnya. proses interaksi antara aspek intrinsik seseorang terhadap sebuah karya estetik. lepas sebelum atau setelah menikmati karya tersebut. “Saya senang karena film itu dimainkan oleh . ultimatum tersebut berdasarkan keputusan yang berorientasi pada selera pribadi. Penikmatan berbeda dengan pengamatan (pemahaman).

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

tan latar belakang budaya. Tingkatan ini selalu berorientasi terhadap sikap budaya dimana mereka hidup. Misalnya: ”saya senang karena karya seni yang disajikan merupakan kebudayaan daerah ...”. Alasan yang menyangkut atas budaya kesukuan, kebangsaan, dan semua yang menyangkut tentang adanya orentasi budaya yang sepihak terhadap budayanya, akan mempengaruhi ultimatum senang dan tidak senang terhadap karya seni setelah ataupun sebelum karya seni tersebut dinikmati. Tingkatan ketiga disebut tingkat biological relativity, dimana ultimatum senang dan tidak senang didasari atas keputusan yang berdasarkan atas intrinsik yang muncul setelah menikmati karya tersebut. Ultimatum tersebut hampir mendekati proses apresiasi, namun masih banyak menggunakan aspek psikologis dibanding logika pemahaman estetik. Keputusan senang dan tidak merupakan proses penikmatan karya estetika yang sedang disajikan. Hal itu biasanya dilakukan pada penikmat yang tidak sepihak terhadap subyektivitas ataupun budaya simpatik. Tingkatan keempat merupakan tingkatan relativitas yang disebut absolut, artinya ultimatum senang atau tidak senang bukan dari intrinksik tetapi cenderung kepada sikap ekstrinsik. Ultimatum didasarkan atas pengaruh dari luar. Misal: Semua seni itu indah, tanpa berusaha menikmati dengan segala kekuatan aspek psikologis yang ia punyai. Semua tingkat relativitas tersebut menunjukkan adanya tingkat relativitas yang dipunyai oleh seorang penikmat. Tingkat tersebut merupakan proses interaksi psikologis seorang penikmat, sehingga untuk penyajian karya seni diperlukan penikmat atau penonton sesbagai audien pertunjukan. Ini yang oleh penggagas rekayasa seni budaya sebagai salah satu dasar untuk mampu membangun pertunjukan/kegiatan seni yang sarat akan pesan-pesan yang komunikatif tetapi tetap punya kapabilitas seni sebagai ekspresi dan berkarakter.

Seni tradisi sebagai rekayasa budaya Ketika seni tradisi dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial tertentu, maka muncul kelompok-kelompok kesenian yang memanfaatkan kesenian rakyat sebagai alat propaganda politik maupun propaganda sosial. Kesenian sebagai ajaran rokhani yang wigati (lihat seni sebagai tuntunan dan tontonan) terpinggirkan oleh kekuatan global secara vertikal horisantal. Ajaran kebudayaan yang telah berakar di bumi pertiwi yang kita cintai ini, telah tergadaikan dan tergantikan dengan kebuday76

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

aan asing akibat pendidikan populer. Kebudayaan populer yang menjadi ujung tombak menejemen kapitalisme konsumen mulai menggeser kearifan lokal yang menjadi ”ruh” dari kebudayaan, mulai terancam krisis demensi. Politik, ekonomi, hukum, dan bahkan kesenian, agama, mulai tercabut dari akar kebudayan dan berjalan sendiri-sendiri, seperi kereta tanpa masinis. Jadi janganlah heran apabila antara politik, hukum, ekonomi, agama dan seni saling bertabrakan.

Rekayasa sebagai media budaya populer Seni budaya masa yang sering disebut budaya populer atau seni populer, merupakan rekayasa budaya yang berorientasi dari perluasan kontinuitas pada seni rakyat atau seni yang berkembang dari masyarakat. Seni rakyat berkembang dari arus bawah, sedang populer art atau mass culture (budaya massa) berkembang sesuai dengan rekayasa klas atas. dikatakan demikian karena produk budaya massa dibuat oleh teknisi-teknisi yang disewa oleh para pengusaha; audiennya merupakan konsumen yang pasif, partisipasinya bukan karena adanya ikatan nilai sosio-cultural seperti pada seni rakyat tetapi partisipan dihadapkan pada alternatif membeli atau tidak... Kini, masyarakat di mana pertumbuhan gaya hidup semakin meningkat, memikat dan mengundang hasyrat, seperti perkembangan terakhir ini. Masyarakat konsumen Indonesia mutakhir tampaknya tumbuh dan beriringan dengan sejarah globalisasi ekonomi dan trasformasi kapitalisme konsumen yang ditandahi dengan menjamurnya pusat pembelajaan bergaya semacam Shopping Mall, industri waktu luang, industri mode atau fayen, industri kecantikan, industri koliner, industri nasehat, industri gosip, kawasan huni mewah, apartemen, real estate, gencarnya iklan barang-barang supermakket dan liburan wisata ke luar negeri, berdirinya sekolah-sekolah mahal (dengan label plus), kegandrungan terhadap merek asing, makanan serba instan (fast food), telepon seluler (HP), dan serbuan gaya hidup lewat industri iklan dan telivisi yang sudah masuk ke ruang-ruang pribadi dan bahkan mungkin sudah masuk ke relung-relung jiwa kita yang paling dalam... (Idi Subandi 2007). Tak disangsikan lagi, bahwa yang bertindak sebagai agen public relation dari kaum selibritis adalah media populer dan terutama televisi. Telivisi dengan kuatnya pada aspek hiburan ini bagi sebagaian kalangan bahkan dianggap mengkolonisasi waktu luang. Saluran musik te77

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

livisi non-stop 24 jam seperti MTV tidak hanya menghibur anak muda diberbagai penjuru Asia dengan video klip lagu-lagu dari grup-grup yang lagi in, tetapi juga menghibur mereka dengan pesan-pesan komersial, dan ini secara tidak lasung menanamkan nilai dan kesadaran akan betapa bahagianya kalau dapat mengisi luang dengan dengan bersenang dan bersantai bersama keluarga. Sementara pabrik gaya hidup yang sekian lama didominasi iklan kini dipercanggih dengan lewat rekayasa citra yang melahirkan para praktisi public relation dalam dunia bisnis, tontonan, dan juga politik. Dalam abad media, citra adalah segalanya, bahkan untuk menjadi bintang, orang tidak perlu sehebat Gandhi, Soekarno. Untuk menjadi hero, orang tidak perlu susah melakukan hal-hal yang luar biasa atau mesti menciptakan karya besar. Orang-orang yang dianggap besar kini adalah orang-orang biasa yang tenar dan ditenarkan oleh media; selibriti menurut media jurnalistik sekarang lebih asyik tokoh, bintang atau selibriti, untuk kemudian sewaktu-waktu mengenyahkannya dan menggantikannya dengan yang baru. Seperti siklus mode atau fashion dalam dunia bintang. Akhirnya kita hanya mampu menggaruk-garuk kepala, betapa hebatnya dunia ini.

Rekayasa sebagai media komunikasi Kesenian tradisi rakyat yang pernah berkembang di daerah, perlu kita pikirkan sebelum punah dimakan jaman. Seni rakyat dengan berbagai ragam bentuk dan ragam budaya daerah yang merupakan kekayaan bumi nusantara perlu ada rekayasa kultural sesuai dengan perkembangan teknologi dan informasi yang semakin global. Peningkatan sumber daya manusia yang menitik beratkan pada kekayaan daerah, mau tidak mau akan menoleh terhadap ragam seni tradisi rakyat yang berkembang di daerah sebagai alternatif garap yang mengarah pada seni komoditas, itu tak mungkin dapat dielakkan. Selanjutnya kita harus berfikir bahwa kesenian rakyat adalah merupakan aset budaya daerah, yang perlu dikembangkan dan dilestarikan dengan sebuah rekayasa budaya yang arif. Rekayasa yang punya kearifan, apabila sebuah pelestarian budaya merupakan upaya untuk mengangkat kembali warisan budaya lokal sebagai langkah nyata dari kelompok masyarakat dalam membangun kembali warisan budaya leluhurnya, serta menatap masa depan, dengan penuh keyakinan tentang kekuatan diri di tengah peradaban yang
78

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

kian mengglobal. Budaya tradisi lokal merupakan kesenian warisan yang menjadi unggulan daerah dan kemudian menjadi ikon daerahnya, maka perlu dilindungi dan dilestarikan keberadaannya, sebagai bentuk ketahanan budaya. Ketahanan budaya akan menjadi cermin atas ketahanan nasional. Maka sebaiknya pelestarian budaya sebaiknya dikonsentrasikan dengan mengambil ikon warisan budaya secara aktual. Aktualisasi terhadap karya-karya tersebut sebaiknya dibangun dengan basic warisan budaya yang disesuaikan dengan perkembangan kini tanpa meninggalkan nilai essensinya. Ketika seni tradisi dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial tertentu, maka muncul kelompok-kelompok penggagas budaya tertentu (perekayasa budaya) yang memanfaatkan kesenian tradisi sebagai alat propaganda politik maupun propaganda sosial, yang kemudian terkenal dengan media komunikasi dengan tujuan tertentu. Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat luas. Dalam masing-masing budaya tersebut terdapat pola kesenian, media kesenian, dan posisi seniman yang beragam. Keragaman itu juga mempengaruhi bentuk maupun isi. Oleh karena itu, seni tradisional tidak bisa dilihat hanya dari satu pendekatan atau hanya berdasar pada prinsip umum (universal) yang diberlakukan untuk semua. Untuk melihat makna dan fungsi suatu kesenian, harus dilakukan pendekatan sesuai dengan karakteristik masyarakat di mana kesenian dan tradisi itu hidup dan berkembang (Limbeng, 2009). Kesenian tradisi pada dasarnya memiliki pola atau pakem yang membuat kesenian itu menjadi khas, berbeda dari yang lainnya. Namun sebenarnya pakem tersebut bukanlah suatu aturan “mati”, melainkan punya potensi untuk dikembangkan, berubah, dan berkembang sesuai dengan kebutuhan, bahkan mampu mengakomodasi perubahan isi sesuai dengan kepentingan (misal: propaganda politik ataupun propaganda sosial), Ini yang kemudian dikatakan sebagai rekayasa budaya sebagai rekayasa kepentingan. Pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenas. Namun demikian tetap tergantung kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi namun tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi lewat seni tradisi .
79

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Seni tradisi sebagai media komunikasi, maka perlu dipilih bentukbentuk seni tradisi yang telah populer, seni pertunjukkan rakyat yang punya kemampuan untuk menciptakan hubungan antara seni dan masyarakatnya. Maka melalui seni tradisi sebagai media komunikasi yang komunikatif adalah (di Jawa-Tengah) melalui pertunjukkan seni tradisi: wayang, teater tradisi (ketoprak, wayang orang). Kesenian tersebut mampu membangun dialog langsung antara pelaku dan komunitasnya. Pelaku seni. Para dalang dan pelaku seni dapat mengungkapkan ide dan gagasannya kepada komunitasnya, maka akan terjadi dialog interaktif disela-sela cerita-cerita yang dibawakannya. Seorang dalang atau sutradara dapat mengungkapkan gagasan dan sekaligus menyampaikan pesan yang dikemas sebagai bentuk informasi yang diracik dalam satu rangkaian cerita, maka ungkapan seni dan pesan dari maisenasnya secara holistik.

Pemetakan seni tradisi sebagai media komunikasi Pemetaan kegiatan Seni tradisi yang layak untuk diangkat dan dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif adalah seni tradisi yang dapat dikemas sebagai tontonan yang komunikatif-dialogis. Kesenian tradisi yang mampu mewadahi ungkapan gagasan dalam seni dan sekaligus cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. Meski semua seni tradisi merupakan ajaran dan tontonan, namun tidak semua seni pertunjukkan tradisi dapat menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif. Mungkin hanya media seni tradisi yang verbal dan komunikatif-dialogis saja yang cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. Seni tradisi yang lain, misalnya yang mengandalkan gerak atau nyanyian dalam batas tertentu sulit digunakan sebagai media penyampai. Oleh karena itu dibutuhkan pemetaan seni tradisi yang bisa digunakan sebagai media penyampaian pesan dan media informasi yang komunikatif. Pemerintah dalam halini lewat Kementrian Komunikasi dan Informatika, Pemerintah daerah tingkat propinsi ataupun kabupaten/Kota diharapkan mampu mewadahi potensi kesenian tradisi tersebut sebagai satu daya untuk mendorong aktivitas budaya, dan sekaligus mampu dimanfaatkan sebagai media komunikasi.

80

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

1. Wayang Kesenian wayang, merupakan jenis kesenian yang pada dasarnya menggunakan sosok wayang sebagai tema, sumber dan gagasan. Penggunaan sosok tersebut dapat saja merupakan media ekspresi secara murni ataupun penggambaran tematik tertentu. Sehingga kesenian wayang ini juga dapat disebut sebagai pertunjukan dengan menggunakan wayang sebagai sosok utama. Sosok wayang tersebut dapat tidak terbatas pada wayang kulit, tetapi juga wayang beber, wayang golek, wayang reka (termasuk wayang suket (Pedepoan Wayang Suket), wayang kampung (Komunitas Wayang Kampung Sebelah) dan sebagainya dan sebagainya.
Wayang wahyu Wayang krucil wayang Wayang beber Wayang Reka Wayang golek Wayang purwa

1

2

Wayang kampung Wayang Suket Wayang bhuda Wayang suluh Wayang reka yang lain

81

Perubahan bentuk realistis pada budaya Hindu kemudian menjadi bentuk non-realistik pada budaya Islam. tetapi justru memperkaya kualitas yang tercermin lewat perlambangan pada setiap ujud rupa wayang. Wayang purwa kemudian merupakan sarana dahwah agama islamiah .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Wayang merupakan seni tradisi layak untuk diangkat dan dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif adalah seni tradisi yang dapat dikemas sebagai tontonan yang komunikatif-dialogis. adalah wayang purwa. Wayang mulai meninggalkan kepengaruhan budaya India yang realistik ke bentuk non-realistik. Kemudian wayang kulit Purwa yang non realistik tersebut merupakan wayang kulit klasik tradisionil yang mampu memberikan jatidiri bangsa Indonesia. wayan kampung dan wayang suket Pilihan ini sudah digarap oleh keompok seni maupun komunitas peduli wayang. kekuatan perlambangan justru lebih memperkaya kualitas. yang tercermin pada setiap unsur rupa wayang. Hal ini merupakan cerminan adanya kekuatan kosmologi yang mampu memberikan dasar dalam mengejawantahkan bentuk wayang sebagai perlambangan kehidupan manusia. Kekentalan kosmis-magis kemudian merupakan satu kekuatan yang menjadi landasan munculnya local-genius. Hal ini karena adanya pandangan kosmis-magis yang mendasari penciptaan wayang. Wayang Purwa Wayang Purwa. kemudian teradaptasi dengan budaya Jawa yang kental dengan kekuatan kosmis-magis dalam kosmologi Jawa.1. Sekaligus merupakan bukti munculnya local-genius bangsa Indonesia. Wayang dalam bentuknya realistis akibat pengaruh budaya India melalui agama Hindu. 1. namun dilihat dari segi bentuknya maka nampak adanya kesinambungan bentuk wayang pada masa hindu dengan masa 82 . Pemilihan kesenian wayang yang efektif dan komunikatif untuk wilayah JawaTengah dan DIJ. sebagai wayang klasik tradisional tersebut di atas merupakan karya local-genius yang kaya akan perlambangan kehidupan. Pengaruh kebudayaan dari luar tak menggoyahkan pandangan hidup itu. Hal tersebut membuktikan adanya kesinambungan bentuk wayang pada masa Indonesia Hindu dan Islam. Kelanjutan pada kebudayaan Islam.

2. Hal ini merupakan pertimbangan para wali. tetapi dikonsentrasikan ga83 . Kesinambungan tradisi mendorong para empu wayang untuk melestarikan dan mengembangkan wayang dengan fungsi yang sama yaitu sebagai media pendidikan dan sebagai sarana seni pertunjukan yang bersifat lokal. merupakan pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi. Wayang Reka Wayang Reka merupakan wayang alternatif garaf yang beorientasi pada konsepsi wayang purwo. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi namun tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi 1.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI agama Islam. hanya mengalami distorsi-stilasif pada wayang purwa. Pertunjukan wayang tersebut akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenasnya. sebagai sarana adaptasi seperti yang telah disinggung di depan. Wayang sebagai karya seni pertunjukan ini mengandung berbagai nilai karena sifatnya yang mixmedia Pertunjukan Wayang Purwa Pertunjukan Wayang Purwa di halaman balai Kota Surakarta (Dokumen Komunitas Ronggo Winter Wisma Seni TBS Surakarta 2010) Pertunjukan dengan menggunakan sosok wayang purwo di atas.

1. Wayang reka ini di diJawa Tengah dan DIJ telah lahir karya wayang alternatif antara lain: wayang kampung.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF rap tematik dan mengacu pada funsi gara tertentu. Nasution. Wayang kampung ini secara figur garap menyerupai wayang suluh. wayang suket. para Bupati dan sebagainya. wayang suluh. 1. bedanya wayang suluh figur-figur yang dibangun berorientasi pada tokoh-tokoh pejabat tnggi waktu itu. Suharto. para menteri. Wayang Kampung Wayang kampung reka garapnya berorientasi terhadap wayang purwa. wayang budha.2. dan lain sebagainya. Bung Hatta. dan berfungsi sebagai penyuluhan departemen Penerangan saat itu. Pertunjukan Wayang Kampung Pertunjukan wayang kampung dengan ki Dalang Drs. wayang kampung direka dengan sosok orang kampung dan dufungsikan sebagai penebaran nilainilai kearifan lokal. merupakan pemanfaatan seni tradisi alter84 . Jliteng Suparman. Apabila perjalanan wayang purwa kemudian merupakan sarana dahwah agama islamiah. Wayang Kampung Sebelah di Serambi Museum Radya Pustaka dan di halaman Kampung Baluwarti (Dokumen Komunitas Ronggo Winter Wisma Seni TBS Surakarta 2010) Pertunjukan dengan menggunakan sosok wayang reka (wayang kampung) di atas. bung Karno.

namun secara konsepsi masih berorientasi pada wayang konvensi pada wayang purwa Sosok wayang atau Boneka wayang yang dibuat dari kulit.2. di tangan Slamet Gundono bisa diubah dengan apa saja. Wayang Suket Wayang Suket Slamet Gundono komunitas Wayang Suket merupakan pertunjukan wayang alternatif. karena pertunjukan ini juga melibatkan aktoraktor lain yang bermain di panggung. sehingga penonton dapat mengikuti jalan ceri85 . secara eksitensi memang seolah lepas dari pakem. Pertunjukan wayang seperti itu. Dikatakan teater. kepandaiannya ini membuat narasi yang disampaikan. namun alur cerita yang dibangun masih ada benang merahnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI natif sebagai media komunikasi. Namun. Kedua. Jika pertunjukan Slamet Gundono harus diberi istilah. tentu saja sudah sangat menjauh dari pakem pertunjukan wayang kulit konvensional. sebagaimana layaknya dalang konvensional yang pandai menembang. yang biasa digunakan untuk pertunjukan wayang kulit.2. pandai menembang dengan suara yang merdu. dan dalam beberapa adegan para aktor itu berinteraksi dengan wayang yang dimainkan. Setidaknya ada empat unsur yang menjadi kekuatan dalam pertunjukan Slamet. sekalipun lakon yang dibawakan bernuansa surealis. Pertama. Pertunjukan wayang tersebut akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenasnya. Ketiga. Sesuai dengan fungsinya yaitu untuk penebaran nilai kearifan lokal. Slamet Gundono selalu memasukan unsur humor namun tidak dengan maksud melawak. Pertunjukan gado-gado seperti itu sudah merebak di Tanah Air. dengan tingkat penghayatan yang tepat. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas penyaji sebagai media ungkap atau ekspresi dan sekaligus tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi. Slamet Gundono yang setiap kali pentas selalu ditemani ukulele. 1. ada satu kekuatan yang dimiliki Slamet dan kawan-kawannya sehingga pertunjukannya tetap memikat dan enak ditonton. Banyak yang melakukannya. jadi lebih memikat. dengan pertunjukan teater wayang.

Makyong. Pertunjukan wayang tersebut merupakan ekspresi seniman secara intuitif garap dan dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenasnya. Ketoprak. misalnya Lenong.tamanismailmarzuki. Komunitas Wayang Suket Mojosongo Surakarta (Dokumen Esha Kardus .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ta yang dibentangkan. Slamet selalu mengusahakan pertunjukannya berlangsung secara komunikatif. (www. Keempat. 86 . Ludruk. Longser.com Garibaba’s Strange World 2009) Pertunjukan Wayang Suket Beberapa adegan dalam wayang suket.2009) Pertunjukan dengan menggunakan sosok wayang reka oleh Komunitas Wayang Suket (Slamet Gundono) dirakit seadanya Wayang suket merupakan teater tradisi alternatif sebagai media komunikasi antara aktor sekaligus dalang Slamet gundono. Ada interaksi antara pemain dengan penonton seperti yang terdapat dalam pertunjukkan teater tradisional. dalang dan sutradara Slamet Gundono. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas penyaji sebagai media ungkap atau ekspresi dan sekaligus tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi.

Kini ketoprak ataupun wayang orang (panggung) ditinggalkan penggemarnya dan beralih ke layar kaca. telah mengalami proses transformasi budaya sejak jaman prasejarah. Adanya perkembangan teater tradisi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 2. yang kemudian merupakan. Teater Tradisi Teater tradisi di Jawa (seperti. tidak hanya digemari tetapi sangat populer pada masyarakat. Pertunjukan ketoprak Beberapa adegan dalam ketoprak. Pertunjukan ketoprak terse87 . Taman Budaya Jawa-Tengah TBS Surakarta (Dokumen Esha Kardus. maka ketoprak dan wayang orang yang dulu mengalami kejayaan sebagai budaya populer. sandiworo). sandiworo radio). wayang orang. Parede ketoprak sse Jawa tengah dan DIJ. Teater tradisi sebagai salah satu produk budaya merupakan salah satu bentuk seni Jawa tradisional yang mengalami proses tranformasi budaya. wayang orang. ketoprak. 2009) Pertunjukan Ketoprak (di atas) merupakan pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi. sebagai salah satu seni punya identitas dan karakter jati diri bangsa. Proses tersebut mencerminkan adanya perkembangan budaya etnik (kesenian rakyat). Seputar 1960-1970-an teater tradisi yang muncul sebagai budaya masa di tengah masyarakat (ketoprak. Ketoprak dan wayang orang kini menjadi budaya kelangenan. mempunyai ciri yang menonjol.

ataupun wayang panggung. dan lain sebagainya. Oleh karena itu dibutuhkan pemetaan seni tradisi yang bisa digunakan sebagai media penyampaian pesan dan media informasi yang komunikatif. Catatan terakhir muncul fragmen ketoprak/wayang orang. Perlu diingat bahwa seni tradisi merupakan ajaran dan tontonan. sehingga kesenian tersebut masih punya karakter. yang dikemas sebagai. sebagai alternatif. di halaman-halaman. namun tetap berpegang terhadap kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi. wayang orang garap. dan punya kemampuan untuk menciptakan hubungan antara seni dan masyarakatnya. dapat mengungkapkan ide dan gagasannya sekaligus mampu membangun dialog interaktif disela-sela ceritacerita yang disajikan. guyon maton. maka maisenas dalam halini “pemerintah” (Kementrian Komunikasi dan Informatika. 88 . tetapi sebenarnya masih punya penggemar yang baik. Pemerintah daerah ataupun lembaga lain) perlu selektif memilih seni tradisi dapat menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif-dialogis saja yang cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. Seyogyanya para penggagas/pemrakarsa perlu memilih bentukbentuk seni tradisi yang telah populer.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF but akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas secara tematik garap. 2. 3. fragmen wayang orang. ketoprak petilan.. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi. Pemakaian dan pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi. pendapa. Sehingga para pelaku seni. kini kurang diminati. Ketoprak sepert di atas ada peluang untuk tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi. Harus mampu membangun rekayasa budaya yang dikemas secara tematik garap. Penggagas ketoprak. Maka melalui seni tradisi sebagai media komunikasi tersebut mampu membangun dialog langsung antara pelaku dan komunitasnya. Rekomendasi 1. ketoprak gremeng. Kotoprak dan wayang orang kini mulai merambah ke gedung pertemuan.

Makalah Pengantar. Makalah Pengantar. Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa. Asmujo J (1999). Yogyakarta: Penerbit Karya. Terjemahan Clare Holt dalam Art in Indonesian Continuities and Change. TTh. Gadjah Mada University Press Simuh. Yogyakarta. Yogyakarta. Kria Dalam Pendidikan Tinggi. Duta Wacana University Press. RM (1999). (1996). 1996 Seni Prasejarah di Indonesia. Haryono Haryoguritno. Seni Indonesia (kontinuitas dan Perubahan. I. The Liang Gie. Yogyakarta:ISI Sumardjo. Agama Asli Indonesia. Budaya Populer sebagai Komunikasi (Dinamika Popscape dan Mediascape di Indonesia Kontemporer). Mandala. Wiyoso Yodoseputro. Rahmat. Corne. The Religion of Java. Estetika. Kuntara. New York: The Free Press. Pameran Seni Rupa Kontemporer Pekan Wayang Indonesia VI. Sinar Harapan dan Yayasan Cipta Loka Caraka Soedarsono. University (1967). yayasan Bentang Budaya Subagyo. Bandung: Seni Rupa PPS-ITB. Diktat PascaSajana ITB (tidak diterbitkan) Wiryamartana. Wiyoso Yodoseputro. Niel (1984). Clifford (1960). Diktat Kuliah. 1993 Kesinambungan Tradisi dan Sumber Pengilhaman. Arjunawiwaha: Tranformasi Teks Jawa Kuna lewat Tanggapan dan Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa. Memahami Seni. Rupa Wayang dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Bandung.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Daftar Pustaka Claire Holt. 1993 Wayang Purwa Gagrak Surakarta Ditinjau dari Aspek Rupanya. 1973 Art in Indonesia: Continuties and Change. Boelder and London: Shambala Koentjaraningrt (1985). Rupa Wayang dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Bandung: Rekayasa Sain Geertz. Adi Subandi Ibrahim (2007). (1981). Jakarta. Jakob. New York Ithaca: Cornell University Press. Jogyakarta:Jalasutra Dharsono (Sony Kartika) (2007). Irianto. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. 89 . Yogyakarta. New York: Oxford University Press Mulder. Pameran Seni Rupa Kontemporer dalam Rangka Pekan Wayang Indonesia VI. 1990. Javanese Culture. 1976 Garis Besar Filsafat Keindahan.. Makalah Seminar Nasional Seni Rupa Tradisi Nusantara Topik: Implementasi Konsep Kriya dalam Pendidikan Tinggi Surakarta:STSI Jose an Miriam Arguelles (1972).

.

MENGGUBAH SENI TRADISI DAN PERTUNJUKAN YANG KOMUNIKATIF UNTUK PENCERDASAN RAKYAT 3 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

Pemimpin sanggar tari Bali Waturenggong di Denpasar ini. Baru-baru ini. Lulus Sarjana Muda dari ASTI Denpasar tahun 1973. Amerika Serikat. antara lain. serta Singapura (1977). 1974). dengan Ikranagara menata drama Rimba Triwikrama (Jakarta. Beberapa buku pernah ia tulis. 1978). 92 . Dramatari Sunda Upasunda (Yogyakarta. ikut memprotes pemerintah Malaysia atas klaimnya terhadap tari Pendet. Dramatari Cak DewaRuci”(1982). 12 April 1948. Dramatari Calonarang Katundung Ratnamanggali”(Yogyakarta. 1978). Perkembangan Seni Tari Bali” (Proyek Sasana Budaya Bali-Denpasar) dan Pengantar Karawitan Bali (ASTI Denpasar. bersama dengan beberapa seniman Bali. melanjutkan ke ASTI Yogyakarta. Mulai belajar menari pada usia 11 tahun dari ayahnya sendiri. 1975). Catatan Beberapa Seni Pertunjukan Bali”(sebuah karya bersama ASTI Denpasar. juga mendapatkan gelar guru besar bidang koreografi dari STSI Denpasar pada tahun 1999. menyusun Dramatari Topeng Puputan Badung”(Denpasar. Sering juga berkunjung ke berbagai lembaga pendidikan untuk bertukar pengetahuan tentang dunia seni khususnya seni tari. diantaranya dengan I Made Bandem MA.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Lahir di Singapadu. serta dengan Keith Terry memproduksi tarian terkenal Tjak (1990). Sedangkan pentasnya di dalam negeri antara lain. Amerika Serikat pada tahun 1992. mendapatkan gelar PhD dari University of California. New England. Jerman (1975). lulus tahun 1975. ia sering mengikuti pentas baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bali. 1976) dan Dramatari Apa”(Denpasar. kemudian. Hongkong (1977). 1977). Sendratari Abimanyu Gugur”(Denpasar. Sebagai penari. 1977). Lawatan pentasnya di luar negeri di lakukan antara lain di Iran (1969). 1975). salah satu tempat yang ia kunjungi adalah Holy Cross College in Worcester. 1977). Dramatari Cak Subali Sugriwa”(Denpasar. pernah bekerja sama dengan beberapa seniman tari.

Dosen ISI Denpasar Pengantar eni. adalah suatu perwujudan ekspresi artistik yang diikat oleh nilai-nilai budaya. Local Knowledge. Further Essays in Interpretative Anthropopogy. Indonesia adalah negara multi-etnis yang memiliki beraneka ragam warisan kesenian. 1983. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian. Dalam fungsinya sebagai persembahan kepada Tuhan (niskala) dan manusia (sekala). 93 . Di Bali. seperti yang dikatakan Bambang Sugiharto (Dosen Universitas Katolik Parahy- S 1 Clifford Geertz. kesenian menjadi sarana komunikasi sekaligus edukasi bagi masyarakat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Mencerdaskan Rakyat dengan Seni Tradisi dan Pertunjukan Komunikatif I Wayan Dibia Ahli Seni Tari. apapun media ungkapnya. cenderung lebih mengutamakan unsur hiburan dan mengabaikan unsur pendidikan. Setiap kelompok etnis. sajian kesenian di Bali. h. Dengan ini dimaksudkan bahwa seni tidak berdiri sendiri melainkan selalu terkait dengan unsur-unsur budaya lainnya1. seni merupakan suatu sistem budaya. New York. Lahir dari berbagai konsepsi yang dimiliki manusia tentang sesuatu yang ada di sekitar mereka.94-120. Belakangan ini. masyarakat Hindu Bali memperlakukan kesenian bukan saja sebagai sarana upacara ritual melainkan juga sebagai hiburan masyarakat. yang tersebar di seluruh tanah air. menggunakan kesenian tersebut dengan cara dan maksud yang berbeda-beda sesuai kebiasaan yang berlaku setempat. Basic Books Inc. seperti yang juga terjadi di daerah lain.

Wayang Kulit. Secara singkat dapat dikatakan bahwa gerak dan 2 Ignatius Bambang Sugiarto. khususnya seni pertunjukan. sebagai fokus. serta informasi-informasi lainnya yang tidak benar ke dalam sajian kesenian mereka. sebagai akibat dari masuknya unsurunsur budaya global. dan Pesantian sebagai obyek material. Gong Kebyar. melalui sajian gerak dan dialog-dialog yang dapat memancing ketawa penonton. Topeng. sejumlah kesenian tradisional Bali masih tetap eksis dan bertahan di masyarakat. kiranya diperlukan adanya upaya-upaya revitalisasi terhadap unsur-unsur pendidikan di dalam kesenian tradisi yang ada. tulisan ini mencoba untuk membahas kondisi seni pertunjukan tradisional Bali dewasa ini serta mencari berbagai kemungkinan untuk mengembalikan keseimbangan muatannya. Gong Kebyar. Walaupun mungkin bisa menghibur. dan daya pikir. 16 Desember 2006. Topeng. Untuk menjadikan kesenian tradisi sebagai sistem budaya yang lebih strategis dalam kehidupan masyarakat kita. tulisan ini bertu-juan untuk menjelaskan bahwa jika sajian kesenian sudah diseimbangkan muatan tontonan dan tuntunannya maka kesenian tersebut akan mampu memberikan pencerahan untuk mencerdaskan masyarakat. agar seimbang antara aspek tontonan dengan tuntutannya. kesenian seperti ini tidak akan mampu mencerdaskan masyarakat. membantu kita untuk sejenak melarikan diri dari persoalan. Bandung. 5 94 . Ilmu Pengetahuan dan Peradaban” (Pidato Pengukuhan Guru Besar). yaitu sajian seni yang mampu secara holistik membangkitkan energi. “Seni. Patut dipahami bahwa kesenian Bali. Dengan menjadikan Arja. Dengan menjadikan kesenian tradisional Bali.”2 Untuk menyenangkan penonton dan membuat mereka tertawa. Wayang Kulit. hal. Tidak sedikit pelaku kesenian yang secara tidak sadar telah memasukan lelucon kasar dan vulgar. menawarkan komunikasi artistik berkualitas bayu-sabda-idep. Seni Tradisi dan Pertunjukan Komunikatif di Bali Di tengah-tengah pergeseran nilai-nilai sosio-kultural masyarakat Pulau Dewata belakangan ini. jorok dan porno.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF angan) diadakan hanya untuk membuat hati senang dan pikiran tenang. terutama seni pertunjukan dramatik. bunyi. dan Pesantian adalah beberapa kesenian tradisional Bali yang hingga kini masih memperoleh tempat cukup istimewa di dalam kehidupan masyarakat Hindu-Bali. Arja. para seniman seringkali memasukkan adegan-adegan lucu.

Ketika sajian gerak dan tari yang mendominasi suatu pertunjukan. Interaksi dan totalitas dari ketiga unsur inilah menghasilkan kenikmatan artistik yang berkualitas bayu-sabda-idep3. A Study of Change and Transformation” (disertasi) Los Angeles : University of California. dan pesan) dalam suatu peristiwa pertunjukan Bali. serta unsur-unsur aural lainnya. bayu. yang mengikat seni pertunjukan. Ketika satu aspek berada di atas. Pesan-pesan etika dan moral. dan idep. didukung oleh aspek sabda dan idep. yang disajikan dalam bentuk lakon dengan berbagai narasinya. Ketika sajian musik yang mendominir maka aspek sabda akan berada di atas. termasuk aspek sabda. “Arja : A Sung Dance-Drama of Bali. Bayu Idep Sabda 3 Baca: I Wayan Dibia. maka bayu akan berada di atas. Sajian bunyi-bunyian. masing-masing aspek bisa berada di atas untuk menunjukkan dominasinya terhadap kedua aspek yang lainnya. Lingkaran di tengah adalah seni pertunjukan sedangkan segi tiga menggambarkan ke tiga aspek. termasuk unsur visual lainnya. Los Angeles (1992). untuk menunjukkan bagian seni pertunjukan Bali yang tengah didominasi oleh sajian gerak dan tari. termasuk aspek bayu. Secara bergantian. pandangan hidup maupun gagasan-gagasan lainnya. musik (vokal dan instrumental). Keterkaitan yang dinamis dari ketiga aspek di atas dalam seni pertunjukan Bali dapat dituangkan ke dalam suatu bagan berupa lingkaran dalam segi tiga. yang bisa dicerap lewat mata. aspek bayu berada di atas. yang dapat merangsang pikiran penonton. Aspek idep akan berada di posisi atas ketika bagian-bagian suatu pertunjukan didominasi oleh sajian lakon dengan berbagai pesannya. dua aspek lainnya tetap memberikan dukungan. yang dapat dicerap dengan telinga. 95 . sabda.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI tari. Pada bagan di bawah ini. bunyi. Hal ini menunjukkan adanya interaksi total antara ke tiga aspek (gerak. termasuk aspek idep.

Telah dikemukakan di atas bahwa sejumlah kesenian tradisional Bali seperti Arja.1 Arja dan Topeng Arja dan Topeng adalah dua dramatari tradisional Bali yang hingga kini masih digemari masyarakat Bali.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Di Bali. Topeng. manis dan buduh. dan Pesantian hingga kini masih digemari oleh masyarakat setempat. Brandon memasukkan kedua kesenian ini ke dalam seni pertunjukan rakyat4. Gong Kebyar. Harvard University Press. Keduanya merupakan seni pertunjukan dramatik yang sangat dekat dengan masyarakat. Theatre in Southeast Asia.80. Wayang Kulit. Struktur pertunjukan Arja sangat diikat oleh prinsip rwa-bhineda. Brandon. Tiga fase penting yang mewarnai sejarah perkembangan Arja adalah munculnya Arja Doyong (tanpa iringan dan dimainkan oleh satu orang). Arja adalah sebuah dramatari yang menggunakan dialog berbentuk bahasa bertembang (tembang macapat). Namun demikian belum ada data-data tertulis yang mengungkap secara pasti kemunculan dan keberadaan Arja pada zaman itu. Karena hidup dan mati kesenian ini sangat tergantung pada dukungan sosial dan financial masyarakat. Cambridge-Massachusetts. 96 . Dramatari ini diperkirakan muncul pada tahun 1825. kesenian bukan saja menjadi ekspresi artistik yang bersifat kolektif melainkan juga sebagai wadah interaksi dan komunikasi sosial di antara mereka yang ikut terlibat dan masyarakat penonton. dan Arja Gede (yang dibawakan oleh antara 10 sampai 11 orang pelaku dengan struktur pertunjukan yang sudah baku seperti yang ada 4 James R. Dengan demikian. h. Kesenian-kesenian ini dapat digolongkan sebagai kesenian komunikatif karena oleh masyarakat kesenian-kesenian tersebut bukan saja dijadikan sarana untuk menyebarkan atau menyampaikan informasi melainkan yang lebih penting lagi adalah sebagai media komunikasi. 2. yaitu pada jaman pemerintahan raja Klungkung I Dewa Agung Sakti. kesenian merupakan produk budaya komunal yang lahir melalui hasil kerja bersama dan atau yang melibatkan banyak orang. alus dan keras. 1967. Lakon-lakon yang dibawakan pada umumnya bersumber pada cerita Panji (Malat) yang diajukan dalam seni drama yang tragic-komedi. Arja Gaguntangan (yang memakai gamelan Gaguntangan dengan jumlah pelaku lebih dari satu orang).

Panasar (Kelihan—yang lebih tua.49. Arja selalu menampilkan peran-peran utama (stock characters) yang meliputi inya. Kaja and Kelod.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sekarang. h. Jenis-jenis Dramatari Topeng yang ada di Bali adalah: Topeng Pajegan yang ditarikan oleh seorang aktor dengan memborong semua tugas-tugas yang terdapat didalam lakon yang dibawakan. Semua tokoh yang mengenakan topeng bungkulan atau penuh tidak berdialog langsung. Kuala. politik. Balinese Dance In Transition. Tokoh-tokoh utama yang terdapat dalam dramatari Topeng terdiri dari Pangelembar (topeng Keras dan topeng Tua). limbur. Topeng Panca yang dimainkan oleh empat atau lima orang penari yang memainkan peranan yang berbeda-beda sesuai tuntutan lakon.lumpur. Topeng adalah dramatari yang semua pelakunya mengenakan topeng dengan cerita yang bersumber pada cerita sejarah yang lebih dikenal dengan Babad. dan Bondres (rakyat). 97 . Dalam membawakan peran-peran yang dimainkan. galuh. dan keberhasilan pertunjukan Topeng sangat tergantung dari kemampuan para pemainnya memainkan topeng yang digunakan. Ratu (Dalem dan Patih). hidung. Dengan selipan pesan-pesan aktual seperti ini masyarakat merasa dekat dengan kejadian-kejadian yang digambarkan dalam lakon. Topeng Prembon yang menampilkan tokoh-tokoh campuran yang di ambil dari Dramatari Topeng Panca dan beberapa dari 5 I Made Bandem and Frederik Eugene deBoer. sebagian muka--dari dahi hingga rahang atas (topeng sibakan). dan Cenikan yang lebih kecil). Topeng (berwajah manusia) menjadi elemen utama dari dramatari ini. dan mantri (manis dan buduh). liku. dan yang hanya bagian tertentu seperti dahi. Agar pertunjukan Arja bisa lebih komunikatif. ke dalam lakon yang dibawakan. sedangkan semua tokoh yang memakai topeng sibakan dan topeng kepehan sebagian memakai dialog berbahasa Kawi dan Bali. dan ekonomi. atau mulut (topeng kepehan). 1981. para penari memakai topeng yang menutup seluruh bagian muka penari (topeng bungkulan). Lakon apapun yang dibawakan. sudah menjadi kebiasaan para pemain untuk menyelipkan pesanpesan keagamaan. panasar (manis dan buduh). desak. Oxford University Press. Diperkirakan dramatari ini muncul sekitar abad XVIII5. sosial.

Bentuk empat punakawan inti: Malen. 2. Delem. salah satunya adalah aringgit yang berarti bermain wayang6. juga dikete-mukan beberapa istilah. terutama oleh dalang-dalang ternama. prilaku dalang di Bali Utara berada pada pertemuan dunia spiritual dan dunia seni (teatrikal). Di lihat dari bentuknya. dan Sangut. lebih dari seorang seniman.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dramatari Arja. Dengan busana seperti ini. Dalam tradisi budaya Bali. 98 . Malen Bali Selatan mengggunakan kuncir berbentuk tanduk. jumlah pelakunya. h. Merdah. Berdasarkan wilayah geografi dan budayanya. 5-6. seni pewayangan Bali dapat dibedakan menjadi 2 (dua). Perbedaan ini bisa dilihat. Pertunjukan Wayang Kulit. secara umum dapat dikatakan bahwa ornamen ukiran Wayang Kulit Bali Utara lebih sederhana dari pada wayang-wayang Bali Selatan yang cenderung lebih rumit. (Denpasar: Proyek Pencetakan/Penerbitan NaskahNaskah Seni Budaya dan Pembelian Benda-benda Seni Budaya. selalu dibanjiri oleh penonton. yaitu Bali Utara (Buleleng) dan Bali Selatan (Badung. sementara dalang Bali Selatan lebih banyak di wilayah teatrikal. Dalam prasasti Gurun Pai Desa Pandak Bandung. Gianyar. Dalam prasasti Bebetin yang berangka tahun caka 818 atau 896 Masehi. seorang dalang berstatus mangku dalang sehingga harus berbusana putih-putih sebagaimana layaknya seorang rohaniawan. pertunjukan wayang kulit diperkirakan sudah ada sejak abad IX. Perbedaan cukup mendasar Wayang Kulit dari kedua wilayah ini terlihat dari status sosial dalangnya. pada bagian kepalanya. 1975). dan Topeng Bondres.2 Wayang Kulit Wayang Kulit adalah seni pertunjukan tradisional Bali yang hingga kini masih digemari oleh masyarakat setempat. diketemukan sejumlah istilah seni pertunjukan yang salah satunya adalah parbwayang yang diyakini berarti wayang atau pertunjukan wayang. Tabanan. Di Bali Utara. Berbeda dengan dalang di Bali Selatan yang lebih diperlakukan sebagai seorang seniman. bentuk wayangnya. di kota maupun di desa. Denpasar. di kedua wilayah budaya ini juga sangat berbeda. dan lain-lain). seni pertunjukan topeng yang masih relatif muda yang lebih mengutamakan penampilan tokoh-tokoh lucu untuk menyajikan humor-humor yang segar. dari zaman pemerintahan Raja Ugrasena. sedangkan 6 Lihat: Serba Neka Wayang Kulit Bali.. misalnya.

rasa tabuh-tabuh Palegongan terasa sangat dominan dalam tabuh-tabuh Gong 99 . New Haven. yaitu Kebyar yang berarti suara keras dan menggelegar yang datang secara tiba-tiba. dalam tehnik olah vokal. Baik rasa musikal maupun jalinan melodi serta tehnik pukulan Gong Kebyar ada kala. Pola gineman Gender Wayang atau pukulan Kakenyongan Gong Gede muncul dalam berbagai tabuh Gong Kebyar8. Hasil-hasil penelitian selama ini menunjukkan Gong Kebyar muncul di Bali Utara sekitar tahun 19157. Secara estetik. Gamelan Gong Kebyar Blaluan. musik Gong Kebyar adalah perpaduan antara Gender Wayang. Pangkung. Perkembangan Gong Kebyar mencapai salah satu puncvaknya pada tahun 1925 dengan datangnya seorang penari Jauk yang bernama I Ketut Marya (Mario) dari Tabanan ke Bali Utara yang kemudian menciptakan sebuah tarian yang lebih banyak dilakukan dalam posisi duduk atau jongkok sambil memainkan instrumen terompong. pada umumnya terdiri atas 2 (dua) orang penabuh gender dengan seorang dalang. walaupun sama-sama menggunakan suara kerongkongan namun ada perbedaan dalam proyeksi suara. oleh Edward Herbst 2009. Busungbiu. Di Bali Seletan. Tarian ini kemudian disebut tari terompong (kebyar terompong). A Study in Form and Instrumental Organization in Balinese Orchestral Music. gamelan ini menghasilkan musik-musik keras yang dinamis. Gong Gede. Desa yang disebut-sebut sebagai tempat kelahiran Gong Kebyar adalah Bungkulan walaupun kemudian Gong Kebyar Jagaraga yang lebih berkembang di Bali Utara.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Malen Bali Utara biasanya dengan kepala gundul. Gong Gede yang kokoh dan agung. penabuh gender pada umumnya berjumlah 4 (empat) orang.3 Gong Kebyar Gong Kebyar adalah sebuah ensambel yang diciptakan untuk memainkan musik-musik Kakebyaran. 328. seperti yang terlihat pada Wayang Parwa. dan Palegongan. 7 8 Colin McPhee. di Bali Utara suara ngelur diarahkan ke dalam.nya terasa Gender Wayang yang lincah. Yale University Press. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini. 1966. Music in Bali. h. Dalam album Bali 1928. Satu hal lagi. Jika di Bali Selatan suara ngelur diproyeksikan ke luar. 2. Pelaku pertunjukan Wayang Kulit di Bali Utara. suara ngelur atau jeritan keras oleh dalang. atau Palegongan yang melodis.

kidung.4 Pesantian Pesantian adalah pembacaan (pertunjukan) karya-karya sastra klasik bertembang yang ditulis dalam metrum sekar agung dan sekar madya. sangat jarang sebuah upacara seperti tiga bulan bayi. gamelan ini juga bisa digunakan untuk memainkan tabuh-tabuh lelambatan untuk mengiringi upacara adat dan agama. menjadi semakin bergairah terhadap aktivitas pesantian (dari kata santi yang berarti damai). memiliki sedikitnya satu barungan Gong Kebyar. melainkan juga di kalangan masyarakat bawah. Selain untuk mengiringi untuk mengiringi tari-tarian dan memainkan tabuh-tabuh kebyar. menyanyikan tembang-tembang macapat di luar konteks seni drama. di Bali. Kini. dan kantor-kantor pemerintah memiliki gamelan ini. persepsi masyarakat terhadap pesantian. 100 . semaraknya aktivitas pesantian seperti sekarang menunjukkan adanya revitalisasi dari berbagai jenis wirama. Munculnya fenomena pesantian ini sedikit banyak didorong oleh adanya kerinduan terhadap nilai-nilai budaya masa lalu. Dewasa ini. Kebyar. misalnya di tahun 1970an. di desa maupun di kota. atau peminangan yang dimeriahkan oleh pesantian seperti yang terjadi belakangan ini. Belakangan ini masyarakat Bali. merupakan suatu hal yang baru di Bali. jika tidak di semua desa pakraman. Di sisi lain. Fenomena seperti ini muncul bukan saja di kalangan masyarakat golongan menengah ke atas. Hampir setiap sekolah. hampir tidak ada upacara adat dan agama Hindu di Bali yang tanpa dimeriahkan oleh pesantian. semuanya itu bisa terdengar dalam pesantian. atau pupuh-pupuh yang selama ini hampir dilupakan masyarakat Bali modern. 2.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dewasa ini Gong Kebyar merupakan kesenian yang paling populer di Bali. Pada masa-masa sebelumnya. atau membacakan karya-karya sastra bermetrum sekar agung (makakawin) untuk manusa yadnya dan pitra yadnya. Menyanyikan lagu-lagu pemujaan Tuhan (makidung) memang tidak pernah lenyap dari kegiatan upacara dewa yadnya. Untuk sekian lama. dan hampir setiap Kecamatan. upacara hari kelahiran. perguruan tinggi.

Kar ena kegiatan ini melibatkan pembacaan pustaka-pustaka lontar yan g disucikan. Walaupun penggunaan iringan musik dari barungan kecil ini lebi h banyak sebagai ilustrasi (background). dan lomba-lomba makakawin. Masyarakat setempat cukup tahu dengan struktur per tunjukan. Hal ini men unjukkan bahwa keseniankesenian tradisional tersebut di atas tela h memiliki “jembatan komunikasi” dengan masyarakat penont on. Bagi warga masyaraka t yang ingin hiburan ringan yang sekaligus dapat memeriahka n suasana pelaksanaan dari upacara adat dan agama mereka laku kan. Oleh sebab itu. para generasi muda cenderung menjauh dari aktivitas ini.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI terutama makakawin/mawirama. Kini para pela ntun kakawin (juru baca) termasuk penerjemahnya (juru basa) adalah orang-orang dewasa setengah baya yang masih ganteng atau cantik dan bertubuh tegak. kehadirannya sangat mem perkaya aroma dan aural dari pesantian. 101 . ada lah kegiatan orang tua yang bermuka kriput. Nampaknya kegiatan Utsava Dharma Gita. menjadi pilihan yang sangat tepat. sambil mengunyah sirih (nginang). Masyarakat Bali pada umumnya sud ah tidak asing lagi dengan kesenian yang telah disebutkan di atas. baik Gender Wayang mau pun Geguntangan. patut dimanfaatk an dengan sebaik-baiknya untuk mencerdaskan masyarakat. Potensi seperti ini. Ken yataan yang ada sekarang sungguh sangat berbeda. bahkan sering kali juga dari golongan remaja. dari kesenian tradisional. yang selama ini dilakukan oleh pem erintah dan masyarakat telah memberikan dampak yang cukup bes ar terhadap munculnya kegairahan pesantian ini. dengan tubuh yang sudah mulai bungkuk. Akhir-akhir ini kegiatan pesantian sudah menjadi semakin meriah dan menarik untuk dinikm ati dengan digunakannya gamelan pengiring berupa ensambel kecil seperti Gender Wayang dan gamelan Geguntangan. banyak orang yang melihatnya sebagai sebuah keg iatan yang hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang telah memiliki proses penyucian serta kesiapan batin. tata penyajian dari masing-masing kesenian. pesantian yang diiringi gamelan. serta bahasa yang digunakan oleh para pemainnya (bahasa Bali).

9. pelaku seni harus senantiasa berupaya untuk melakukan penggarapan dan pengkemasan terhadap beberapa bagian dari kesenian mereka. h. Mayfield Publishing Company. para seniman harus senantiasa berpegang teguh kepada sumber literatur yang digunakan. pakar pendidikan. Theatre (Third Edition). 10 Robert Cohen. 102 . jika perlu mengambil lakon-lakon Barat atau mengangkat karya-karya sastra modern. New York. Para seniman Arja misalnya harus berani menampilkan lakon-lakon di luar cerita Panji. baik pada masyarakat penonton maupun para pelakunya. Dalam membawakan suatu lakon. para seniman seni drama perlu terus berupaya untuk menampilkan lakon-lakon baru dalam sajian mereka. memadatkan durasi pentas. pernah mengatakan bahwa seni (teater) dapat mempertajam daya pikir dan menyatukan rasa10. Apa yang dikatakan Cohen dan Taylor menunjukkan bahwa kesenian sangat potensial untuk mencer-daskan rakyat (masyarakat). Menurut Harold Taylor. seperti menyehatkan muatan dramatik (lakon). Kesenian yang mencerdaskan bukan saja yang mengibur melainkan yang mampu membangkitkan interaksi intelektual. kesadaran identitas dan jati diri. Topeng) dan teater (Wayang Kulit) sering kali sangat bergantung kepada muatan dramatiknya yaitu lakon yang dibawakan. Robert Cohen. Satu hal yang patut diingat bahwa upaya penggarapan dan pengkemasan ini harus dilaksanakan tanpa merusak identitas kesenian yang ada. The Museum of Modern Art. Mountain View-California. kontemplasi estetis. serta yang mampu meningkatkan keluhuran budi. Untuk membuat kesenian mereka mampu mencerdaskan rakyat. Masyarakat pada umumnya akan tertarik untuk menyaksikan sebuah pertunjukan jika mereka tahu adanya lakon baru yang akan dipentaskan. memperkaya elemen pertunjukan. 1960. pada dasarnya adalah hasil sebuah kreativitas yang mengandung sekumpulan pengetahuan. Pengkemasan terhadap kesenian-kesenian tradisional dapat dilakukan dengan beberapa cara.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Mencerdaskan Rakyat Dengan Kesenian Seni. 16-17. apapun media ungkapnya. 1994. Ahli teater Barat. Hal ini menjadi sangat penting ketika berhadapan dengan penonton 9 Harold Taylor. Keberhasilan sebuah pertunjukan seni drama (Arja. dan memperbarui teknik penyajian. dari manapun sumbernya. untuk memahami suatu produk karya seni dibutuhkan kemampuan otak untuk memikirkan konsep-konsep yang terkandung di dalamnya9. kesadaran budaya (termasuk kepekaan rasa). Art and The Intellectual. h. Oleh sebab itu.

Ada kecenderungan bahwa dewasa ini penonton kurang tertarik dengan sajian seni drama yang terlalu serius. Oleh sebab itu. maka dibutuhkan adanya pemadatan durasi pentas. kedua kesenian ini telah tampil dengan elemen-elemen pertunjukan yang baru. Masyarakat di zaman modern pada umumnya sudah ”sadar waktu” sehingga mereka tidak bisa menghabiskan waktu terlalu lama untuk menyaksikan pertunjukan. pemadatan durasi pentas hendaknya jangan sampai menghilangkan bagian-bagian penting dari suatu kesenian. Bagian-bagian esensial dari suatu pertunjukan hendaknya tetap dipertahankan karena jika tidak akan bisa jadi pemadatan durasi akan justru merusak identitas kesenian yang bersangkutan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI yang sudah mulai melek baca seperti masyarakat Bali di zaman modern ini. misalnya dalam rangka Pesta Kesenian Bali. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah meniadakan pengulangan bagian-bagian pertunjukan yang terlalu sering diulang-ulang. Oleh sebab itu. Pementasan kesenian semalam suntuk kiranya sudah semakin jarang terjadi di zaman ini. secara relatif berimbang. Dalam Gong Kebyar kita bisa melihat berbagai penambahan instrumen untuk melahirkan rasa musikal yang lebih menarik dan sesuai dengan selera zaman sekarang. Namun demikian. para pelaku kesenian tradisional harus rela menyesuaikan waktu pertunjukan mereka dengan kondisi yang ada. Mereka menjadi cepat bosan mendengar adegan-adegan serius yang dijejali oleh dialog-dialog bermuatan filosofis berat. antara yang mendidik dan menghibur. yang biasa disebut dengan pada misi. Gong Kebyar dan pesantian adalah dua kesenian tradisional Bali yang telah banyak melakukan pengayaan terhadap elemen-elemen pertunjukan. muatan dramatik yang kiranya bisa diterima oleh penonton pada zaman ini adalah yang berisikan adegan-adegan serius dan lucu. Agar suatu pertunjukan kesenian tradisional seperti Arja. Hal yang sama juga terlihat pada pesantian yang kini sudah biasa meng103 . Durasi pentas merupakan salah satu unsur pertunjukan kesenian tradisional yang memerlukan penanganan yang serius. Topeng. Dalam beberapa kali Festival Gong Kebyar se Bali. Masyarakat cenderung tidak bisa menghadari pertunjukan seni dengan durasi pentas melebihi dari 3 sampai 4 jam. atau Wayang Kulit. tidak sampai ditinggalkan penonton. Atau meniadakan bagian-bagian yang tidak penting.

Penutup Semua yang telah diurai di atas menunjukkan potensi besar dari kesenian tradisional dan pertunjukan komunikatif. kesenian tradisi. yang dimiliki oleh bangsa ini. atau penggunaan microphone agar jangan sampai merusak tembang penari Arja. dalam mencerdaskan rakyat. dari yang tidak menggunakan pengeras suara menjadi berpengeras suara. Anggapan seperti ini sesungguhnya tidak sepenuhnya benar. set dan dekorasi. Seiring dengan kemajuan teknologi. dapat digunakan sebagai sarana pencerdasan masyarakat. hampir semua kesenian tradisional Bali mengalami perubahan tehnik pementasan. Hanya dengan cara seperti ini sajian kesenian mereka akan bermanfaat bagi upaya peningkatan kualitas kemanusiaan masyarakat kita. Agar upaya-upaya pencerdasan melalui kesenian ini bisa terwujud maka dibutuhkan upaya-upaya pengkemasan dari para pelaku dan pemilik kesenian itu sendiri. Bagi masyarakat seniman pertunjukan di Bali.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF gunakan gamelan pengiring (Gender Wayang atau Gaguntangan). teknik pementasan kesenian tradisional Bali sudah sepatutnya diperbaharui. dari kalangan tradisional yang berbentuk arena menjadi panggung tapal kuda atau semi proscenium. Dari yang menggunakan lampu petromak atau obor menjadi lampu elektrik yang modern. Temuan-temuan teknologi baru di bidang tata cahaya. jika tidak sebelumnya. Sebagai contoh. bagaimana penggunaan tata lampu agar jangan sampai membunuh warna topeng yang digunakan penari Topeng. Jika teknik pementasan itu dirubah maka akan menghilangkan jati diri dari kesenian yang bersangkutan. kiranya dapat digunakan dalam pertunjukan tradisional. Di mata masyarakat luas. kesenian tradisional memiliki teknik penyajian yang sudah baku. 104 . Dalam kenyataannya. mereka harus senantiasa berupaya untuk menyeimbangkan segisegi tontonan dan tuntunan dan memperhatikan konsep bayu-sabdaidep dalam sajian mereka. Jika diberdayakan dengan baik dan benar. semenjak tahun 1960-an. penggunaan teknologi modern ini hendaknya diupayakan sedemikian rupa agar jangan sampai merupak unsur-unsur esensial dari kesenian yang bersangkutan. Namun demikian. yang selama ini hanya dipandang sebagai sumber hiburan.

1967. Further Essays in Interpretative Anthropology. A Study of Change and Transformation” (disertasi) Los Angeles : University of California. Universitas Katolik Parahyangan (Bandung). 2009. 1960. 1975. Seni. Kaja and Kelod. Serba Neka Wayang Kulit Bali. Harold. Frederik Eugene. 1992. Brandon. Busungbiu (CD). Robert . Cohen. Colin. Balinese Dance In Transition. Arbiter. Daftar Pustaka 105 . Publisher. “Arja : A Sung Dance-Drama of Bali. A Study in Form and Instrumental Organization in Balinese Orchestral Music. New York: The Museum of Modern Arts. 2006. Geertz. Kuala Lumpur. 1966.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bandem. Gamelan Gong Kebyar Blaluan. 1981. Cambridge: Harvard University Press. Ignatius Bambang. Taylor. Sugiharto. deBoer. Los Angeles. Music in Bali. Denpasar: Proyek Pen-cetakan/Penerbitan Naskah-Naskah Seni Budaya dan Pembelian Benda-benda Seni Budaya. dan Peradaban. Art and the Intellect. I Wayan. Pangkung. Mountain View-California: Mayfield Publishing Company. Dibia. Clifford. New Haven: Yale University Press. Theatre (Third Edition). James R. 1983. Oxford University Press. Edward. Theatre in Southeast Asia. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Herbst. Proyek Pencetakan/Penerbitan Naskah-Naskah Seni Budaya dan Pembelian Benda-benda Seni Budaya. Bali 1928. New York: Basic Books Inc.1994 [1981]. McPhee. Ilmu Pengetahun.Local Knowledge. I Made.

Dosen Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan. Lahir di Denpasar. Sejak tahun 2004 mengelola Sanggar Seni Citta Usadhi Kabupaten Badung sebagai ketua dan hingga kini memegang posisi ketua Himpunan Seniman Kabupaten Badung (HSKB). 31 Desember 1954. 6 Denpasar Bali Tlp. 081338265446 Alamat Kantor: Jalan Nusa Indah Denpasar Tlp.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF I Nyoman Catra. Kapuslit Bidang Seni Tradisional LP2M ISI Denpasar. Alamat Rumah: Jalan Nangka. (0361) 262193 HP. Institut Seni Indonesia Denpasarini lulus sarjana muda (BA) Seni Tari ASTI Denpasar Tahun 1987. dan ikut dalam Litbang Yayasan Saba Budaya Hindu Bali. Sebelumnya juga pernah menjadi Pembantu Ketua I Bidang Akademis STSI Denpasar. Saat ini menjabat Sekretaris dan Ketua Jurusan Tari/Karawitan dan Pedalangan ASTI Denpasar. Sekretaris LP2M ISI Denpasar. (0361) 227316 106 . Gang Kenari VI No. Sementara gelar master (MA) Teater diambil di Emerson Collega Boston USA (1996) dan memperoleh gelar Doktor Ethnomusicology dari Wesleyan University Middleton Connecticut USA (2005). Gelar S1 (SST) Seni Tari diselesaikan tahun 1983 di ASTI Yogyakarta.

sejahtera lahir batin dengan pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani secara berimbang. M 107 . Manusia sebagai perwujudan dunia kecil (mikrokosmos) beraviliasi dengan dunia besar/jagadraya (makrokosmos) berelemen dari panca maha bhuta yakni lima unsur yang terdiri dari.yang dikatakan sebagai mahluk tertinggi diantara mahluk hidup . dengan senantiasa mengedepankan dharma. Dari panca maha bhuta terlahirlah panca tan matra yakni lima unsur pendorong kehendak manusia yang terdiri dari sparsa. air (apah).dalam memahami tujuan hakiki menjalani hidup dan kehidupan ini. angin (bayu). dan sabda. rupa. ganda. Dalam kaitan berbangsa dan bernegara. sinar/panas (teja). belum pernah mendapatkan jawaban tuntas. di samping memperoleh kebahagiaan duniawi di dunia fana ini. Menurut kepercayaan Hindu tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai “Moksartham Jagadhita ya ca Iti Dharma” yakni pendakian pencapaian kebahagiaan abadi manunggal dengan sifat asali. pemerintah dalam meningkatkan kwalitas anggota masyarakatnya memiliki tujuan untuk membentuk Manusia Indonesia seutuhnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Seni Pertunjukan Populer sebagai Media Pencerdasan Rakyat: Potensi Tari Topeng dan Teater Bali I Nyoman Catra Ahli Seni Pertunjukan. dan ether (akasa). Dosen ISI Denpasar Pendahuluan isteri kehidupan yang sering memunculkan kebingungan menyelimuti insani manusia . rasa. sebuah visi yang menjadi idaman bersama. tanah (pertiwi).

pendidikan regulasi pemerintahan dan pendidikan masyarakat/alam lingkungannya. uttpeti. Disadari bahwa unsur-unsur tersebut sebagai elemen jasad dan jiwa perwujudannya dari bendawi yang kasatmata sampai pada yang bersifat maya termasuk jiwa dan sifat kehendak/ego manusia. pralina (trikono) yang berproses secara alami terus menerus penuh intensitas dalam perjalanan peredaran waktu yang tak terhitung. Kecerdasan rasio dan rasa seyogyanya saling melengkapi dalam memahami hidup ini. media 108 . Ta. Ma Si. Wa. suara. I. Pendidikan formal lebih menekankan pada pembentukan kecerdasan intelektual. dan sifat lain yang bertentangan. Na. dan unsur lainnya (pangider bhuana). A. manusia tumbuh dan berkembang mendapat pendidikan dari orang tua. neptu. cetana–acetana. Dua kekuatan sifat yang bertentangan ini yang dikenal dengan sebutan rua-bineda merupakan dialektik yang tak terpisahkan dalam alam raya ini termasuk pada diri manusia. atas–bawah. Dunia dan alam semesta ciptaan Beliau bergerak secara ritmis. senjata. berpengaruh pada dinamika kehidupan setiap insan sebagai mahluk individu maupun dalam kaitannya sebagai mahluk sosial. Sementara pencerdasan yang dilakukan melalui pengalaman agama dan seni. Tarian kosmik Hyang Siwa disebut dengan Siwanataraja. Ya). suka–duka.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Digambarkan dalam mitos peredaran bumi bahwa Hyang Siwa menciptakan dunia dan alam semesta ini dengan tarian sakralnya sebagai wujud proses kreatif berkesinambungan. kedua formulasi ini bergolak mempengaruhi perangai manusia. senantiasa bergolak tarik-menarik. sastra. Sepuluh fomulasi aksara suci (dasa aksara) yang terpilah menjadi dua dikenal denga panca tirta dan panca geni (Sa. yang dipercayai terlahir telah membawa karma dari hasil perbuatan manusia pada kehidupan sebelumnya (punarbawa). Untuk memahami misteri kehidupan tersebut. di bumi berputarnya seluruh penjuru mata angin dengan istana dewa dan dewinya. membentang luas pada perputaran kosmik. gelap–terang. purusa–predana. pendidikan formal. positif–negatif. Ba. timur–barat. Seni pertunjukan merupakan media ampuh untuk promosi penyampaian pesan. Unsur panca maha bhuta dipadu dengan sifat unsur panca tan matra. warna. sekala–niskala. pengasahan akan rasio dari kerja otak. yakni adanya sifat: baik–buruk. sifat bhuta. merupakan elemen pergolakan kreativitas dalam siklus. indah dalam keteraturan. stiti. lebih ditekankan pada pencerdasan rasa.

sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam menjalani ritual keagamaan. sebagai varian genre seni pertunjukan. pada berbagai jenjang usia. sebagai cermin pembekalan masyarakat tentang pemaknaan hidup. persembahan diperuntukkan membangun keharmonisan dengan alam semesta. mengerti dsb. yang berkaitan dengan logika berdasar pada rasa.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI propaganda. tidak saja sebagai pemberi hiburan juga sebagai pencerahan masyarakat penontonnya. kehadirannya memiliki peran yang sangat penting.” (Kamus Besar BI: 164) Topeng dan berbagai jenis dramatari lainnya. bertautan dengan kehidupan masyarakat. tugas dan kewajiban profesi. baik yang menyangkut rentang waktu.” Cerdas berarti ”sempurna perkembangan akal budinya (untuk berfikir. Dikatakan penting mengingat kehadirannya memiliki tugas dan fungsi sebagai legitimasi keberhasilan sebuah ritual keagamaan. lengkap walau tetap 1 Panca Yadnya: Lima domain peruntukan persembahan yadnya yang digelar oleh masyarakat Hindu yakni: Dewa Yadnya persembahan diperuntukkan kehadapan Tuhan dengan berbagai manifestasinya. Penggambaran dunia dengan berbagai permasalahannya didalam arena pentas. dan Manusa Yadnya. wayang. indah. Rsi Yadnya persembahan untuk menghormati para pendeta. Bhuta Yadnya. Peran Tari Topeng dan Teater Bali di tengah masyarakatnya Masyarakat menyadari arti penting dan memberikan ruang kepada seni pertunjukan seperti topeng. Sebagai kesenian popular kebanyakan seni pertunjukan dramatari Bali. konflik internal dan eksternal tokoh yang mengemuka tanpa batas. Dengan kata lain pendidikan budi pekerti menjadi muatan isian dramatisasi seni pertunjukan. 109 . wayang dan berbagai dramatari lainnya. sistem kehidupan. adaptatif dengan situasi. persembahan untuk memuliakan manusia itu sendiri. Ritual keagamaan yang domainnya dikategorikan kedalam panca yadnya1. Mencerdaskan masyarakat mengandung pengertian sebagai upaya ”mengusahakan supaya sempurna akal budinya. memiliki format sajian yang sangat fleksibel. status sosial. Pitra Yadnya. dimana dalam tingkatan tertentu seni pertunjukan topeng pajegan dan wayang lemah menjadikan bagian tak terpisahkan melengkapi kesempurnaan tatacara upacara yang digelar. persembahan diperuntukkan menghormati leluhur. dan kondisi. merefleksikan dunia kehidupan maya secara luas. Persembahan pengagungan karunia Tuhan melalui karma sandyasin melibatkan tatacara dan elemen persembahan yang megah.

dan utama. Sebutan dalang diperuntukkan pada seniman yang piawi dalam memainkan wayang. arja. wayang. Orang yang bertanggungjawab pelaksanaan upacara (yajyamana). Fungsi kesenian berlakon di Bali seperti topeng. 110 . dengan permaianan patet dari alunan ritmik aransemen instrumen perkusi. dan sang sulingih yang bertugas menghaturkan upakara tersebut sesuai tujuan dan peruntukannya dengan mengelar sang catur weda (yogiswara). berkenaan dengan makna dan arti dari tata upacara dan upakara beserta filsafat yang melatarbelakangi-nya. dua dimensi tujuan pergelaran yang saling melengkapi dibutuhkan dalam pengalaman estetik masyarakat penontonnya. tata struktur musik yang megah. memiliki seting penokohan yang besar dengan varian tingkatan hirarkinya. Gambuh sebagai sebuah dramatari yang menekankan pada kemegahan/keagungan pemerintahan raja-raja.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF memperhatikan pada tingkatan kemampuan nista. Seniman mempunyai ruang terbuka untuk memberi pemaknaan terhadap apa yang sedang berlangsung dan untuk tujuan apa upacara tersebut diselenggarakan. Ketika sebuah upacara keagamaan digelar yang melibatkan anggota masyarakat secara luas. merupakan upaya pembayaran hutang hidup (tri rnam). disamping melodis melankolis sapta nada dialunkan dengan sejumlah suling berukuran besar. dan sejenisnya. Koreografi tari yang komplek. seniman seni pertunjukan (praregina/dalang2) yang ikut meligitimasi ritual tersebut memiliki peran yang sangat penting. tidak memiliki kuasa untuk memaparkan dan menerangkan kehadapan khalayak. Oleh karenanya sangat strategis dan memiliki peran yang sangat potensial sebagai pencerahan masyarakat pemirsanya lewat sentilan-sentilan yang menghibur dengan nilai-nilai kebijaksanaan sebagai kandungan isian dramanya. madya. membentang dari keterkaitannya dengan peristiwa sakral (wali). drama gong. Seni pertunjukan dramatari Gambuh yang ditengarai sebagai sumber utama munculnya tari/dramatari lainnya di Bali. calonarang. utamanya sebagai pencerahan masyarakat dalam kategori bebeali. dan secara luas memiliki rambahan peruntukannya sebagai seni hiburan sekuler (balih-balihan). orang ahli pembuat upakara (niniwedya). Tujuan tontonan dan tuntunan. Tata busana dan rias mencerminkan kemegahan regalia penampilan tokoh dari kalangan 2 Sebutan pragina diberikan kepada seseorang yang memiliki profesi sebagai seniman tari. baik sebagai penyaji pada tarian murni maupun para actor dalam dramatari Bali.

Legong. tembang dan retorika antawacana sebagai preservasi keragaman seni tradisi memperkokoh budaya bangsa. Dalam seni pertunjukan dramatri seperti: topeng. Wayang Wong. dikategorikan sebagai pragina nugur. karakterisasi. Arja. dan elemen lainnya. busana. olah sastra. dan pragina ngerangkep. arja. Dramatari gambuh masih didominasi dengan penggunaan bahasa Jawa Kuno (kawi) dan adanya pengulangan kata-kata sebagai korus kekuatan kebersamaan yang dewasa ini tidak banyak dimengerti kontent dan konteksnya. arti dari dramatisasinya. Tingkat penguasaan sebagai pemeran satu tokoh dengan baik/sempurna. elemen komposisi. Wayan Dibia (2004: 119) memberikan identifikasi wilayah kiprah pragina menekuni profesi berkeseniannya ke dalam: pragina nugur. Seniman naduin untuk mereka yang memiliki kemampuan penguasaan lebih pada satu jenis kesenian yang sering juga disebut ngiwa. sebagai sumber dan model pada berbagai jenis perunjukan dramatari seperti Topeng. Koreografer Bali moderen sangat kuat bertumpu pada Gambuh dalam pendekatan struktur. Sementara seniman ngerangkep diperuntukkan bagi seseorang yang memiliki multi talenta sebagai seniman serba bisa. Pendidikan seni kepada generasi penerus pelaku kesenian menuntut penguasaan pada unsur-unsur seni sebagai preservasi kekayaan khasanah bangsa. dimana tokoh Panji sebagai tokoh protagonis digambarkan sebagai pahlawan kebudayaan. repertoar musikalnya. Gambuh yang mengambil kisah pengembaraan cinta dan kekuasaan. Seorang seniman setidaknya dituntut agar menguasai beberapa cabang ilmu seni untuk memperkuat identitas kesenimanannya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI bangsawan. 111 . dan Baris Melampahan. gamelan. Disamping penguasaan secara cabangnya yang demikian banyak seniman juga ditutut dalam kreativitas kemasan tari. Sebagai sebuah dramatari total teater (Bandem & deBoer 1995: 27) gambuh memiliki kontribusi penting di dalam tarian Bali karena pengaruhnya pada bentuk dramatari lainnya pada perkembangan berikutnya. pragina naduin. Terbuka luas pengusaan berbagai cabang seni yang sudah tentu memperkuatan profesi kesenimannnya. calon arang. Secara tematis dan sajian dramatari gambuh memberikan refleksi kemegahan sebuah negara dan keindahan alunan lebut gerak tari tokoh protagonis yang mampu menaklukkan gerakan kasar dari tokoh antagonis dalam balutan kisah cinta dan kekuasaan.

termasuk wayang kulit. 112 . Dalam Dharma Pewayangan (lihat Hooykass 1973: 130) posisi penasar dalam stananya menurut arah mata angin dibahas secara komprehensif. perwujudan figur penasar dalam wayang yakni Tualen. antagonis. maupun di buana agung. menjadikan pertunjukan tersebut bisa dibuat bersentuhan langsung dengan persoalan masyarakat sekitar. pemberi wejangan. Delem dan Sangut. merupakan momen baik untuk menyisipkan pesan-pesan kebijaksanaan. komentator. dewasa dan orang tua. legende. Oleh karenanya seniman dituntut secara sadar mempertimbangkan keragaman dialog panakawan (kandan penasar) yang dapat menutrisi masyarakat pengapresiasi pada tingkatan perbedaan umur. termasuk diantaranya menjadi pendamping tokoh tritagonis. Namun dengan hadirnya penasar yang bertugas sebagai penerjemah. berpihak pada tokoh protagonis. menjadikan pertunjukan tersebut sebagai bagian dari kisah yang dialami masyarakat penikmatnya. Seniman praktisi menyadari bahwa penonton yang hadir dari kalangan anak-anak. dimana peran penasar yakni adanya tokoh sisipan lokal genius yang selalu hadir sebagai panakawan. Panakawan menggunakan bahasa daerah/lokal dengan varian dialeknya. sementara keempat penasar diposisikan pada empat penjuru mata angin selaras dengan sifat dan karakterisasi tokoh. Kendati ceriteranya mengambil dari kisah-kisah epos. yang kurang dapat dipahami oleh kebanyakan masyarakat umum. Sambil melontar selingan lelucon yang mengundang gelak ketawa sebagai bukti perhatian penonton penuh terhadap dinamika dramatik adegan berlangsung. Dengan demikian penasar adalah tokoh misteri yang penuh dengan pemaknaan dan memiliki aviliasi dengan kanda pat berkaitan dengan paralel posisi tata letak baik di buana alit. yang sudah barang tentu memiliki kesenangan nutrisi kejiwaan yang berbeda. secara filosofis memiliki aviliasi dengan ista dewata nawasanga dalam kosmik buana agung. dimana hadirnya tokoh utama kebanyakan berbahasa kawi. Secara pemaknaan hidup. Wayang Kayonan diposisikan di tengah. sejarah/ babad masa silam. sehingga posisi wayang penasarpun dijadikan ikon sakral dalam pemaknaan hidup ini. Merdah. remaja. status sosial dan profesinya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF wayang wong. mengelaborasikan topik pembicaraan dan mengembangkannya dengan memasukkan petuah tentang nilai-nilai kebijaksanaan. Sekala dan niskala cara pandang masyarakat Hindu pada kenyataan hidup ini.

corong partai ajang kompanye dalam pengumpulan masa. kesenian tradisional terutamanya yang memakai lakon dijadikan corong penerangan sosialisasi program pemerintah. Yel-yel penggugah semangat masa dengan pekikan propaganda flatform partai. Namun secara filsafati sebagai purusa sumber asali dia dikatakan memiliki darah putih. Pada era pemerintahan Orde Baru. Munculnya kesenian popular seperti Topeng Bondres mendominasi perhelatan politik di samping berbagai jenis kesenian tradisi lainnya seperti topeng. yang memiliki keterbatasan. dan terang merupakan busana dari penasar Tualen. arah menuju sorga. menjadi konfigurasi menarik mengangkat ideologi partai lewat simnol-simbol. Acintya dan Kayonan dijadikan ikon untuk proses dimaksud.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Tokoh Tualen yang secara kasat mata berwarna gelap/hitam beravilisasi dengan stana Wisnu berada di Utara. Kesedehanaan tokoh Tualen memliki simbolik yang sangat dalam. arja. bersama tokoh Siwa. Timur-laut adalah arah ke hulu (luanan) berada diantara warna hitam dan putih. laut berwarna biru. Lirik-lirik lagu janger membangkitkan semangat partisipan partai dan pengikutnya untuk mempersatukan masanya. adalah tune warna untuk jangkauan luas tak terbatas. menjadikan kesenian populer ini seakan identik dengan kesenian partai politik. dan pembentukan lambang partai dengan gerak maknawi. dikumandangkan oleh korus kecak dan janger. sungguh menggugah. Pada masa pergolakan partai politik di tahun 1965an pertunjukan dramatari janger menjadi komuditas politik. anggota legislatif. 113 . abu-abu. Format yang sama masih terasa pada perhelatan pemilihan. sebagai pencerminan gelap. keduanya mencerminkan keluasan bidang yang ujungnya tak terjangkau oleh pandangan mata manusia. dijadikan wahana ampuh menyampaikan pesan-pesan pembangunan. beraviliasi dengan stana Dewa Iswara yang menempati posisi di Timur. Ketiga tone warna ini (hitam. Langit berwarna biru. Ada ke abu-abuan pemahaman kita dalam memandang arah manadala timur laut yang dikatakan sebagai arah hulu (luanan). Oleh karenanya dalam upacara ruwatan. Dalam penempatan warna pangider buwana arah di timurlaut ditandai dengan warna biru. dan putih) adalah warna magis. formasi huruf. tokoh Tualen seorang abdi kebanyakan yang sesungguhnya memiliki sifat asali. pembuatan air suci (ngarga tirta) dalam pertunjukan wayang upacara. prembon dan termasuk wayang. Dominasi warna tertentu. abu-abu.

epos. menjadi tuntutan yang mesti di capai melalui pelatihan panjang. yang seakan peristiwa tersebut berlangsung dewasa ini. melalui peran penasar dapat diaktualisasikan menjadi kisah kekinian. Transformasi tokoh dapat diwujudkan dengan estetika dan kaidah-kaidah gerak yang sesuai dengan karakterisasi. kisah raja-raja pada jaman feodal. kelompok ataupun perorangan yang bertindak sebagai tuan rumah (host) dicerna dan diformat ke dalam bahasa pentas oleh seniman penyaji. Agem. berbangsa dan bernegara. menjadi tuntutan wujud keindahan pakem tari. Dengan posisi badan miring menjauh dari pusat grafitasi dalam kemiringan kesamping. Dengan menyerap pesan yang ingin disampaikan dari institusi. Transformasi diri menjadi tokoh yang diperankan. sangat ampuh sebagai wahana mengakomudir pesan-pesan kebijaksanaan sebagai pencerahan dan menjembatani kisah dari dunia kedewataan. Ibarat bandul jarum metronum yang ayunmengayun. tangkis dan tangkep yang dibalut dengan olah wiraga. wirama. Menjadi seorang pregina/dalang dituntut memiliki multi talenta untuk bisa mentranformasi diri tiga kali lebih besar dari dirinya. Ini membuktikan betapa peran kesenian memiliki arti strategis sebagai pencerdasan masyarakat akan kesadaran berpolitik. ditambah lagi memiliki kekuatan karismatik penyatuan dengan kekuatan ekstasi magis sebagai tampilan yang memukau (mataksu). Tari Topeng dan Teater Bali sebagai Media Pencerdasan Rakyat. maupun kisah kerakyatan dari bentangan spektrum waktu tanpa batas. dunia dari alam gaib.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pimpinan politis pemerintahan pada masa reformasi. membentuk desain-desain tubuh yang dinamis. dunia mithos. terus menerus. dan wirasa. tandang. menjadikan unsur-unsur yang akan mematangkan profesinya. kemudian secara penguasaan isian drama menuntut kecerdasan dan berbekal dengan kedalaman sastra. samping-menyamping. purana. Penasar yang berfungsi sebagai penerjemah bahasa tokoh utama yang kurang dipahami oleh kebanyakan penonton. Dalam format pertunjukan dramatari Bali konvensional tokoh ”penasar” yang merupakan tokoh sisipan namun menjadi esensial figur selalu hadir pada setiap pertunjukan termasuk dalam pertunjukan wayang. Secara figura desain tubuh penari di arena pentas. yang membutuhkan dukungan masa banyak. Posisi badan yang terbi114 . Pertunjukan yang mengambil kisah dari dunia kedewataan.

Pregina/dalang dituntut memiliki referensi yang cukup untuk dituang sebagai kandungan isian drama persembahannya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI las dalam liukan postur tubuh. sementara seniman membangun dunia panggung dengan konflik permasalahannya sebagai refleksi gejolak konflik dunia itu sendiri. menentukan bobot keindahan bentuk. dengan tahanan berat badan pada tumpuan satu kaki secara bergantian. memberikan pandangannya bahwa spektakuler dramatari Bali dibangun dari kompleksitas image murni panggung. merupakan pergolakan literatur hidup dengan mengusung hyang tiga jnyana yakni sanghyang guru reka. dan realitas tersembunyi yang menurutnya di dunia Barat hal seperti itu sepenuhnya ditindas. menakjubkan. para yogi mengembangkan sabda Tuhan dengan pencerahannya. filsuf. Estetika ini memberikan pandangan bahwa kemiripan pergolakan pencaharian keseimbangan dalam tari seperti mengingatkan kita pada kenyataan hidup yang saling tarik menarik dari dua kepentingan yang berlawanan. menghadirkan secara komprehensif bahasa ungkap baru yang diciptakan para penari/ pregina memanipulasi pemanfaatan busana menyusunnya menjadi hidup melalui berbagai perubahan bentuk. pendidikan dan sosial kemasyarakatan termasuk retorika politik merupakan teba luas dinamika perubahan dunia konflik kehidupan. Para filsuf mengendapkan pikirannya lewat tulisan. ajaran agama. Menari dan juga hidup adalah upaya yang tak berkesudahan ”mencari keseimbangan di dalam ketidakseimbangan. hieroglyphs yang bergerak. Hieroglyphs3 tiga dimensional tersebut berubah menjadi brokat dengan sejumlah gesture. yang berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui. Alam semesta dan lingkungan hidup manusia sendiri sudah memberi materi isian drama yang tak pernah kering sebagai acuan pementasan. seniman.” Seorang penulis essay dramawan Barat Antonin Arturd yang hanya menyaksikan pertunjukan lawatan grup Bali di Paris tahun 1931 (1958: 61). simbol yang mistirius. disamping masalah pemerintahan. memiliki kesamaan bahwa kerja kreatif menjadikan jantung kerisauannya dalam mengungkap misteri jagadraya ini. Seorang yogi. sanghyang saraswati dan sanghyang kawiswara sebagai pu3 Hieroglyphs Gambar atau simbul digunakan dalam tulis-menulis khususnya dalam sistem penulisan dari jaman Mesir Kuno (Webster’s Contemporary American Dictionary: of English Language :335) 115 . baik satra tutur maupun sastra tulis kebijaksanaan. Terlebih lagi kedalaman sastra. ditekuk pada bagian-bagian ruas angota badan.

Guru-rurunya. sementara para Korawa terjerumus ke dalam luapan panas kawah neraka. menjadi hancur mendapat gempurna dari Ramadewa yang hanya berwadwakan pasukan kera. berucap dan bertindak menjalai swadarma. memaksakan kehendak dengan menculik Dewi Sita untuk dijadikan istrinya. muasal internal konflik yang mesti diselaraskan. akhirnya mengorbankan seluruh kerajaannya yang amat terkenal mewah. Terlebih lagi ketika manusia berkumpul sebagai komunitas kelompok sosial yang 116 . Keadaan baru menjadi terbalik. Sesungguhnya ceritera itu sendiri sudah memberikan gambaran pilihan yang mesti untuk disikapi dalam memahami diri. Legenda. ceritera Binatang. Raja-raja sahabat (prakanti). para Porohita kerajaan. Pada akhir perjalanan kisahnya di Sorgaloka pun. ceritera Panji. termasuk anak-anak kecil yang tidak berdosa ikut menerima akibat dari peperangan tersebut. ketika Yudistira menceburkan diri menemani saudara-saudaranya di dalam penderitaan luapan panas lahar neraka. Kisah Ramayana yang menggambarkan perebutan kekuasaan dan keserakahan Raja Rahwana. Epos Mahabharata memberikan gambaran penderitaan panjang Pandawa mesti dijalani untuk meperoleh kembali haknya yang dirampas secara kasar oleh saudara sepupunya sendiri yakni. Perang saudara tersebut mengorbankan seluruh keluarga Korawa. dengan mengedepankan ajaran dharma. ceritera Rakyat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF saran kreatif. para Korawa tetap mengejek penderitaan para Pandawa yang terjerumus ke dalam kawah neraka sebagai pahala dari perbuatannya ketika masih hidup. yang berubah menjadi sorga. Demikian juga halnya dengan ceritera-ceritera lainnya seperti Purana. Secara episodik penggalan ceritera yang dijadikan lakon (bantang satwa) pada suatu pementasan juga mengakomudir pergolakan rua-bineda tersebut. pendikan moral menjadikan pilihan pencerahan akal budi sebagai cermin dalam menyikapi hidup ini yang penuh dengan persoalan. Secara tematik pergolakan dulisme baik buruk menjadi tema sentral kemasan pertunjukan dengan memberi peluang kepada penonton untuk memilih dan memilah yang mana baik dan yang mana buruk sebagai pedoman berfikir. Secara keseluruhan alur ceritera mendidik kita bahwa kemenangan akhir dari perjalanan panjang mesti tetap diupayakan. Duryodana dengan satus Korawanya. Pemenuhan tuntutan jasmani dan rohani manusia sebagai mahluk individu.

Dalam hal ini peran seniman yang dijuluki sebagai seorang ”guru loka” dengan mengusung sanghyang tiga jnyana sebagai kebebasan kreativitas. sampai dewasa ini konflik antar bangsa yang dicarikan solusi pemecahannya tidak jarang harus berhadapan dengan pernyataan perang yang tidak sedikit menelan korban jiwa. merupakan kelenturan sifat dan penampilannya dalam membentuk drama. bisa terealisasi dengan baik dengan tetap mempertimbangkan alur dramatiknya. bila ada pesanan sisipan yang mesti diakomudasi dalam pementasannya. yang kiranya tidak cocok dengan plot lakon. durasi waktu. tutur kebijaksanaan. Oleh karenanya. cinta. menjadikan hidup ini penuh dengan ketegangan. Pesan-pesan sisipan seperti itu pada umumnya diolah dengan bahasa simbol yang memiliki image ganda dan dapat dimengerti oleh penontonnya. Format seni pertunjukan konvensional Bali sangat fleksibel untuk dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan lakon. tempat pementasan dan keadaan yang mesti diatasi. tujuan peruntukan pergelarannya. Hal-hal yang berkaitan dengan masalah seperti inilah yang menjadikan isian drama (dramatic content) pencerahan masyarakat penontonnya. Kritik tajam tentang sosial kemasyarakatan. dalang wayang kulit. dan tuntutan lainnya tidak bisa cair dari kebekuan sikap kukuhnya. Mereka sesungguhnya sadar bahwa hidup rukun berdampingan dengan sesama menjadi idaman menjalani kehidupan ini. harta/ materialistis. karena sering melenceng dengan babon ceritera. Gejala alampun dapat memporak porandakan kehidupan manusia akibat dari ekploitasi alam secra berlebihan sehingga ekosistem tidak seimbang. sehingga konflik seperti itu selalu ada. kekuasaan. Pada kenyataannya. Cara ungkapnya yang spontan terkadang menjadi liar setelah menerima respond dari penonton. Yoga sebagai seorang pregina terletak pada kecerdasannya mengimbangi pasangan mainnya dalam pergulatan dialog. Tidak demikian halnya dengan jenis pertunjukan bondres yang memang memiliki keterbukaan untuk dikisahkan secara kontemporer. Namun atas nama martabat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sering juga memiliki kepentingan berbeda dengan kelompok sosial lainnya. yang dibalut dengan humoris dapat mengingatkan masyarakatnya sebagai pendidikan moral dan budi pekerti. Ungkapan yang bersifat fulgar sebisanya dihindari. casting penari. Sajian solo seperti topeng pajegan. lebih memilih pada media topeng/wayang sebagai media ungkapnya untuk di117 .

menjadi landasan dasar kehidupan dalam mencapai keseimbangan. Tiga kerangka yang mengkemas ajaran agama dengan berelemenkan kandungan filsafat (tatwa). dibarengi dengan pemahaman secara filosofis dengan kedalaman jnyana. sehingga unsur sekala dan niskala tersebut menyatu dalam kerja karma. Pergolakan baik buruk perseteruan yang tak berkesudahan dari daya tarik menarik kepentingan sifat yang bertentangan. Sarana upakara merupakan media mendekatkan diri dan menyatakan terima kasih akan kelimpahan karunia Tuhan. bhuwana alit dan bhuwana agung. membangun kedamaian hidup berdampingan dengan sesama. Seni pertunjukan memiliki akses luas pada penjabaran semua itu untuk lebih mudah difahami melalui menyimak gambaran kompleksitas dinamika kehidupan lewat kemasan seni pertunjukan seperti: tari. Pengujian di atas pentas untuk dialog antar tokoh oleh sejumlah pemain dalam membangun struktur drama menuntut kepekaan dan reflek yang spontan dibingkai oleh estetika dan pakem-pakem yang tidak boleh dilanggar. disamping bercermin pada tuntunan kehidupan yang digambarkan melalui kisah-kisah kehidupan dikemas dalam dunia estetik dalam berbagai bentuk dan tatacara sajiannya. dan sarana dan prasarana laku estetika (upakara/upacara) terbangun 118 . wayang dan teater lainnya. rua-bineda.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF sisipi pesan-pesan pencerdasan masyarakatnya. serta menjaga keharmonisan alam semesta sebagai ekosistem pemberi kehidupan dalam arti luas. Secara vertikal membangun kesadaran hubungan manusia dengan berbagai manifestasi Tuhan dan keEsaanNya. Secara tematik dunia seni pertunjukan selalu mengajarkan pergolakan dharma versus adharma yang pada kesimpulannya dimenangkan oleh dharma. Keseimbangan secara horizontal. manusia membutuhkan penguasaan dan pemahaman intelektual. Penutup Pemahaman konsepsi simbol tampakdara (+) yang terbangun dari persilangan garis sederhana namun memiliki kedalaman makna sebagai filsafat kehidupan setiap individu dan kelompok masyarakat. Swastika simbol agama Hindu berdasar kepada tampakdara yang pada implementasinya membentang pada bhuwana sarira. etika dan tata cara (susila). topeng. perlu diseimbangkan sebagai sifat alami yang sulit ditampik oleh setiap orang. Dalam memahami guliran perjalanan hidup. saling menghormati.

keseimbangan ide/gagasan. pendidikan moral. lebih menuntun masyarakat pemirsanya dengan ajaran-ajaran pemahaman diri berkaitan dengan rasa syujud dengan Tuhan. wujud/bentuk sajian. dibanding pada era sebelumnya. I Made dan Fredrick Eugene deBoer. Bandem. Brett Hough. 1995 [1981]. sabda dan bayu. “Education for the Performing Arts: Contesting and Mediating Identity in Contemporary Bali” in Staying Local in the Global Village: Bali 119 . Brandon. drama gong yang gelombang kehidupannya mengalami masa surut. New York: Grove Weidenfeld. Kemajuan teknologi informasi seperti televisi. Kewajiban seorang pragina. 1958. 1974 [1967]. Percepatan pergerakan dan konsumerisme masyarakat moderen seperti dewasa ini membuat setiap orang sibuk untuk mengejar materialistik pemenuhan kebutuhan hidupnya. Theatre in Southeast Asia. termasuk gejolak sosial sebagai bagian tak terpisahkan dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini. Harvard University Press. video. Beberapa dekade belakangan ini ada kecendrungan pergeseran kecintaan masyarakat penonton pada jenis-jenis pertunjukan konvesnsional seperti arja.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pada mantra. tantra dan yantra tak terpisahkan dari konsepsi idep. Kualalumpur: Oxford University Press. Balinese Dance in Trasition: Kaja and Kelod. wayang. Nilai-nilai ajaran kebijaksanaan lebih menjadi kandungan dramatik dari sebuah pementasan. belum banyak digarap sebagai media penyampaian pesanpesan kebijaksanaan yang dapat diakses ke rumah-rumah dengan jangkauan pemirsa yan sangat luas. James R. internet. kepemimpinan. The Theater and Its Double (translated from French by Mary Caroline Richards). Cambridge Massachusetts. dan greget penampilan yang memukau mataksu merupakan kekuatan yang dicari oleh para penyaji dan masyarakat pengapresiasi. Sebuah tantangan bagi seniman untuk menjawab masa depan tugas dan fungsi seni sebagai pencerdasan masyarakatnya. yang memangku tugas sebagai guru loka. Antonin. dalang. Terobosan kreatif bagi seniman penyaji dituntut untuk merevitalisasi jenis kesenian seperti itu agar tetap eksis dengan nafas dan kemasan yang lebih segar. Daftar Pustaka Artaud. Pencerdasan masyarakat penikmat lebih ditekankan pada peningkatan olah rasa dalam memaknai kehidupan ini. 1999.

Pendit.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF in the Twentieth Century. Ramayana. Nyoman. 120 . Connor). London: North Holland Publishing Company. Honolulu: University of Hawai’i Press. Woodbury. The Invisible Mirror .2004. Middletown CT: Wesleyan University. Dibia. Amsterdam. Walter and Beryl deZoete 2002 [1938]. Spies. (ed. 2004. by Raechelle Rubinstein & Linda H. Zurbuchen. I Wayan. Mary Sabina. Princeton. New York: Bobley Publishing Corp. “Penasar: A Central Mediator in Balinese Dance Drama” (unpublished dissertation). Denpasar: International Translation Center ISI Denpasar. Nyoman S. The Language of Balinese Shadow Theater. Surabaya: Paramita. Webster’s Contemporary American Dictionary: of the English Language. Ron & I Nyoman Catra. Kama and Kala: Materials for Study Shadow Theater in Bali. Kamala. Jakarta: Balai Pustaka. Jenkins. Dance and Drama in Bali. Hongkong – Singapore: Periplus Editions. Subramania. 1990 [1988]. 1994. Hooykass. 1987.Siwalatrikalpa: Balinese Literature in Performance – Sastra Bali dalam Seni Pertunjukan. Subversive Laughter: The Liberating Power of Comedy. 2005. 2009. Malang: Sava Media. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa . Kamus Besar Bahasa Indonesia. Aktor dan Pelaku Seni Pertunjukan. Ron. Jenkins. New York: Free Press. C. 1973. Pragina: Penari. 2008. New Jersey: Princeton University Press. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Mahabharata. Catra. The American Heritage Dictionary (William Moris editor).

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 121 .

Nias 13 Denpasar. Kesusastraan Hindu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dr. Gunung. Lumut V/2A Denpasar Barat 80117 Telp. PNS yang juga sering menjadi juri berbagai lomba ini saat ini menjabat Ketua Pusat Pengkajian dan Pelayanan Lontar. Lulusan Program Pascasarjana UGM Yogyakarta (1997) ini juga aktig sebagai penatar bagi generasi muda Hindi dan calon Pinandita/Pemangku di Bali. Stilistika. Jurusan PGSD Universitas Terbuka. pada Program Magister (S2) dan Program Doktor (S3) Linguistik Program Pascasarjana Universitas Udayana dan Program Magister (S2) Ilmu Agama dan Kebudayaan. Banyak karya ilmiah Ketua Tim Penyusunan Tema Pesta Kesenian Bali yang dipublikasikan.com 122 . 12 Pebruari 1961ini mengasuh berbagai mata kuliah yang berkaitan dengan Sastra. Telp. Estetika. Laki-laki kelahiran Cekik-Berembeng. 08123770885 e-mail: tuarik4@yahoo.Hum. Fakultas Sastra Unud dan Sekretaris I Yayasan Sabha Budaya Hindu Bali. terutama yang berkaitan dengan sastra bali. (0361) 734363 HP. 224121 Alamat rumah: Jl.Fakultas Bahasa dan Seni. M. serta Sekretaris Umum Widyasabha Dharmagita Provinsi Bali Alamat kantor: Jl. IKIP PGRI Bali dan STIKES “WIRA MEDIKA PPNI BALI”. Doktor lulusan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ( 2 0 0 7 ) bidang Ilmu Sastra dan Filologi juga menjadi pengajar di Fakulas Sastra Universitas Udayana. Universitas Hindu Indonesia. I Nyoman Suarka. dan Sosiologi Sastra. aktif mentransliterasi lontar dari aksara Bali ke dalam tulisan latin Bahasa Kawi dan menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Wwang mahyun ri kawehaning dana darīdra krěpana dumadak dhaneśwara. orang-orang dilarang ke tempat ibadah hingga sepi. dan lawan dijadikan kawan. berebut kekuasaan. bergulat sesama sanak saudara. Wwang duśśila suśila durnaya wiweka kujana sujanāwibhāgana.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Aktivitas Pasantian dan Sastra Bali Sebagai Media Pencerdasan Rakyat I Nyoman Suarka Pakar Sastra. Dosen Sastra Universitas Udayana Pengantar Pangdening kali mūrkaning jana wimoha matukar-arěbut kawiryawān. Benda-benda suci dihancurkan. Sumpah tak berguna. Manusia tidak lagi mengenal dunianya. (Kakawin Nitisastra. IV. tempat ibadah leluhur dirusak. Sang rājā siwiteng sushena ta ya sang madum-amilih-ulah wiparya. Wwang dūrātmaka dīrghajīwita sirang sujana dumadak-alpakāmrěta. Dewādrěwya wināśa dharma rinurah kabuyutan-inilan padhāsěpi. berkelahi. Tan wring rātnya makol lawan bhratara wandhawa ripu kinayuh pakāśrayan. Wyarthang śāpatha supraśāsti liněbur těkaping-adhama mūrka ring jagat. 10—11) Terjemahannya: Dampak masa krisis telah menyebabkan manusia kebingungan. piagam perjanjian dilanggar oleh para penjahat di du- 123 .

Berbagai krisis politik. destruktif. angin puting beliung. yakni pasantian dan sastra Bali sebagai sumber pembangkitan budi. dengan tanda-tanda zaman yang dialami masyarakat Indonesia saat ini. Para elite politik lebih banyak bertengkar bahkan saling adu jotos. Orang-orang hanya ingin diberi uang. bukan hanya buta aksara tetapi juga buta hati. membuat pikiran dan hati gelap (awidya). Guna mengantisipasi berbagai fenomena tersebut di atas. tanah longsor. Namun kini. ada baiknya pada kesempatan ini kita mencoba memberdayakan potensi budaya. Penjahat menjadi panjang umur. sewenangwenang. Era krisis atau zaman Kali yang konon dipenuhi oleh Bhutakala membuat masyarakat kita mengalami kebutaan. Kerapkali sekelompok masyarakat cenderung bertindak arogan atas nama agama. mereka sulit dibedakan. masyarakat kita sekan-akan telah kehilangan kendali dan cenderung bertindak biadab. orang miskin mendadak menjadi orang kaya. mulai dari gempa bumi. pemegang keadilan cenderung berlaku tidak adil. seperti tersebut di atas. sedangkan orang saleh menjadi pendek usia. moral telah memberikan dampak negatif kepada perilaku masyarakat kita.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF nia. anarkis. kejaksaan. pencerdasan pikiran. lebih suka memamerkan diri daripada memikirkan nasib rakyat yang semakin melarat. berbudi pekerti luhur. sopan. dan sebagainya. B 124 . orang bodoh berlagak pintar. dan pencerahan nurani. sosial. ekonomi. seperti kepolisian. ilamana kita mencermati tanda-tanda zaman krisis yang dilukiskan seorang pujangga tak dikenal pada enam abad yang lampau. hukum. Bencana alam pun datang silih berganti. barangkali tidak jauh berbeda. Raja tunduk kepada panglima. Dulu bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang beradab. tsunami. bajingan berlagak saleh. kasar. Orang jahat berlagak arif. banjir. ramah. pengadilan kini mencuat ke permukaan. Berbagai kasus ketidakadilan dan kasus suap yang dilakukan para markus di kalangan penegak hukum.

seorang pembaca (pangwacen) akan merasa kesulitan membaca dan menembangkan teks yang dihadapi. ketentraman. Dengan demikian. kata pasantian berasal dari kata dasar ”śānti” yang berarti ’ketenangan. Sementara itu. 1995:1017). yang dituntut memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup dalam penguasaan pasang aksara Bali (tata tulisan Bali). bahasa Bali dalam berbagai tingkatan). kedamaian pikiran’. penerjemah (paneges). kedamaian pikiran’ (Zoetmulder. dan kedamaian bagi para pelakunya. Tanpa kemampuan dan pengetahuan yang cukup. bahasa Jawa Tengahan. ketentraman. Di samping memahami kode sastra.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Hakikat Pasantian Secara etimologis. sekar madya. serta kualitas suara yang memadai. Ada lima peran dalam aktivitas pasantian. yang mendengarkan dengan setia setiap teks yang dilagukan. aktivitas pasantian dilakukan dan diarahkan dengan tujuan mendapatkan ketenangan. ten125 . Masing-masing peran tersebut dituntut memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup sesuai bidang masing-masing. yang sering disebut panca siksaning angaji. Tanpa kemampuan dan pengetahuan yang cukup bagi penerjemah. yaitu pendengar (pamiarsa). penanya (pamitaken). Pendengar (pamiarsa) yang dimaksud adalah pendengar yang baik. bahasa teks (bahasa Jawa Kuna. dan semua peran menunjukkan adanya sikap bhakti. penerjemah wajib memahami kode bahasa dan kode budaya teks yang sedang dibaca. dan nara sumber (narawakya). dan sekar ageng). pembaca (pangwacen). maka ada kemungkinan besar pula penerjemah mengalami kesalahan dalam menerjemahkan. peserta mabebasan secara keseluruhan pun pada akhirnya mengalami kesalahan dalam penafsiran teks. Pembaca yang baik adalah pembaca (pangwacen). dan kaidah metrum yang digunakan (sekar macapat. Jika pembaca (pangwacen) salah membaca. dan mendapat konfiks ka-an menjadi pasantian. penerjemah (paneges) juga dituntut kemampuan dan pengetahuan-nya seluas mungkin dalam penguasaan bahasa sumber dan bahasa sasaran. diterjemahkan. Karena itu. ketentraman. yang berarti ’tempat atau wadah untuk mendapatkan ketenangan. dan diulas oleh peran-peran yang lain. Kesulitan pembaca bukan hanya berpengaruh kepada pembaca sendiri tetapi juga berpengaruh terhadap penerjemah (paneges) yang juga akan merasa kesulitan dalam menerjemah-kan teks.

Apabila penanya (pamitaken) tidak memiliki kepekaan sastra. Pasantian pun akan menjadi pasif. Oleh karena itu. wiraga. Oleh karena itu. maka semakin banyak penerjemah memiliki bekal pengalaman baca. menjadi dinamisator dalam aktivitas pasantian. Dengan berbagai horison harapan. Tercapai atau tidaknya horison harapan para peserta atau pendengar itu akan sangat mempengaruhi keberlangsungan aktivitas pasantian tersebut. yaitu wirama. kemampuan yang memadai. Nara sumber yang baik tentu dapat memberikan penjelasan-penjelasan yang memuaskan kepada setiap peran dalam aktivitas mabebasan. banyolan atau senda gurau belaka. seorang peserta atau pendengar dalam pasantian setidaknya dituntut memiliki horison harapan. Semakin kaya pendengar dengan horison harapan. Tidak setiap kata dalam bahasa sumber dapat dicarikan padanannya secara tepat dalam bahasa sasaran. dan wirasa. nara sumber harus mempunyai kepekaan sastra yang cukup. Peran nara sumber (narawakya) sangat memegang peranan penting. dan pengetahuan yang luas bagi penerjemah. dan kode budaya sendiri. maka dapat dipastikan bahwa apa yang dibaca atau dilagukan oleh pembaca (pangwacen) dan apa yang diterjemahkan oleh penerjemah (paneges) akan menjadi sebuah dagelan. maka semakin banyak hasil interpretasi yang muncul. dan mengulas makna teks yang sedang diapresiasi. Teks yang dengan susah payah dibaca atau dilagukan oleh pembaca dan diterjemahkan oleh penerjemah akan hilang begitu saja tanpa meninggalkan bekas di dalam pikiran peserta pasantian. pendengar akan dapat berperan aktif. Di sinilah dituntut kepekaan seni. tidak ada dialog yang berarti.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF tu akan merasa kesulitan dalam menerjemahkan dan menafsirkan teks sumber ke dalam bahasa sasaran. Sebagaimana diketahui bahwa setiap bahasa memiliki kaidah bahasa. memiliki penguasaan bahasa. terutama dalam menuntun peserta mabebasan untuk membaca. dan keterampilan mengulas serta menguasai dengan baik materi yang sedang diapresiasi. Penanya (pamitaken) juga dituntut memiliki kemampuan dan pengetahuan serta kepekaan sastra yang cukup. menerjemahkan. Aktivitas pasantian meliputi tiga bidang. Wirama adalah kegiatan membaca teks sambil melagukannya 126 . kosa kata. maka ia akan semakin mudah melaksanakan tugasnya dan tentu pula akan membuahkan hasil yang semakin memuaskan. Dengan demikian.

maka akan terjadi keharmonisan antara kecerdasan pikiran (hasil belajar). laras) dan memahami konsep-konsep yang terkandung dalam teks sambil bernyanyi atau melagukan teks. norma-norma. ideide. Dalam pasantian. lelengutan basa) serta nilai-nilai yang tersurat dan tersirat di dalam teks. bahasa Tengahan ke dalam bahasa Bali ataupun membuat parafrase jika teks sumber menggunakan bahasa Bali. magending sambilang malajah). sekar madya. Cerita yang dibaca bukan hanya dipahami sebagai sebuah cerita (satua). kecerdasan emosional (hasil bernyanyi). aturan metrum dan pupuh. di samping membaca (menembangkan. Jawa Tengahan. Dalam diskusi itu dapat diciptakan kondisi yang memungkinkan berkembangnya penalaran dan logika interpretasi setiap peserta. Dalam kegiatan pasantian. palawakya. 127 . Pembaca (pangwacen) belajar aksara Bali (jenis dan pasang aksara Bali) karena teks ditulis dengan menggunakan aksara Bali. penafsiran selalu dimungkinkan dengan hasil yang beraneka ragam sesuai dengan bekal pengalaman dan horison harapan peserta. dan sloka. sekar agung. konsep-konsep budaya dan yang terpenting adalah belajar menghayati nilai-nilai yang dikandung dalam naskah lontar. Dengan demikian.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI menurut kaidah metrum yang digunakan dalam teks. nilai-nilai lewat karya sastra yang tokoh dan lakuannya dimaksudkan sebagai pelambang peri kehidupan yang sebenarnya (tattwa). Wirasa adalah aktivitas penghayatan dan apresiasi secara mendalam untuk mendapatkan makna teks yang dibaca melalui diskusi antar peserta. pembaca (pangwacen) juga mempelajari bahasa (bahasa Kawi. Lebih jauh dapat dipahami bahwa ketiga aktivitas pasantian itu pada hakikatnya tindakan belajar sambil bernyanyi atau bernyanyi sambil belajar (malajah sambilang magending. para anggota pasantian mendiskusikan teks yang dibaca. pada lingsa. Di samping itu. aksara. tetapi lebih sebagai sebuah metode penyampaian gagasan moral. bahasa Bali) serta mempelajari kaidah metrum (uger-uger guru laghu. bernyanyi) dan menerjemahkan teks. Demikian pula penerjemah (paneges) akan mempelajari bahasa teks dan kaidah bahasa sasaran (sor singgih basa. dan kecerdasan sosial (hasil diskusi). Wiraga adalah aktivitas menerjemahkan teks dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. misalnya sekar alit. para peserta akan belajar mengenai bahasa. Karena itu. yakni dari bahasa Kawi.

bahasa Sasak. istilah aksara atau huruf dalam tradisi Bali bukan sekadar sebagai lambang bunyi tetapi merupakan simbol budaya. Demikian pula. seolah-olah tidak ada perbedaan antara tradisi lisan dengan tradisi tulisan. Berbeda halnya dalam tradisi Bali. baik dilihat dari segi bahasa yang digunakan. Dalam tradisi nyastra. Umumnya. maupun aksara yang digunakan dalam menuliskan karya sastra. Ditinjau dari aksara yang digunakan. bahasa Melayu. sastra Jepang menggunakan bahasa Jepang. Aktivitas Pasantian dan Sastra Bali sebagai Media Pencerdasan Aktivitas pasantian berfungsi membentuk dan menumbuhkan budi 128 . sastra. Hal itu dapat dibuktikan dengan munculnya istilah nyastra yang mempunyai arti segala aktivitas manusia Bali yang berhubungan dengan bahasa. sastra Sunda menggunakan bahasa Sunda.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Hakikat Sastra Bali Tradisi Bali memiliki keunikan dalam peristilahan sastra. Dari segi bahasa yang digunakan dalam karya-karya sastra. Dalam tradisi Bali. Lagipula. penamaan sastra didasarkan pada bahasa yang digunakan dalam karya sastra. jenis sastra. kakawin. seperti terlihat pada naskah-naskah satua. 1990: 615). istilah sastra tumpang tindih dengan aksara. istilah nyastra melingkupi tradisi lisan dan tradisi tulisan secara sekaligus. kesusastraan Bali menggunakan bahasa Sanskerta. misalnya sastra Jawa adalah sastra yang menggunakan bahasa Jawa. Karena itu. dan lain-lain. seperti parwa. Teks lisan ditulis ke dalam naskah. kesusastraan Bali ditulis dalam aksara Bali dan aksara Latin. dan aksara Bali. gěguritan. bahasa Jawa Kuna. istilah kesusastraan Bali mempunyai ruang lingkup sangat luas. bahasa Tengahan. babad sebagai teks tulisan dibacakan atau dipertunjukkan dalam kegiatan maběbasan. sastra Inggris menggunakan bahasa Inggris. Aksara memiliki fungsi sebagai bagian integral dalam tindakan magis dan keagamaan masyarakat Bali. sastra Indonesia menggunakan bahasa Indonesia. sastra Sasak menggunakan bahasa Sasak. sastra Melayu menggunakan bahasa Melayu. kidung. kita tidak bisa dengan mudah menyebutkan bahwa sastra Bali adalah sastra yang menggunakan medium bahasa Bali. dan bahasa Bali. seperti penamaan sastra di atas. dan sebaliknya teks tulisan dibacakan atau dipertunjukkan. Kata sastra dapat berarti sastra dan aksara atau huruf (Dinas Pendidikan Dasar Propinsi Dati I Bali.

Perbuatan yang berpegang pada kebenaran (dharma) akan menghasilkan pahala mulia berupa kehidupan bahagia lahir dan batin (anandam). Dalam Geguritan Purwasanghara dijelaskan bahwa untuk dapat mengarungi samudra zaman Kali (era keributan) yang penuh badai itu dapat ditempuh melalui kesusilaan budi. pengalaman estetik menjadi identik dengan pengalaman religius. emosi individual ditransformasikan menjadi rasa. Malādi yolanya magöng mahāwisa. dan kedamaian dalam mengarungi masa krisis sebagaimana dijelaskan dalam kutipan Kakawin Ramayana berikut. Salah satu cara untuk mengasah kepekaan rasa dan hati nurani adalah dengan membaca. Budi nurani suci akan dapat menguasai pikiran atau manah. karya sastra yang dibaca dalam aktivitas pasantian merupakan perpaduan antara nilai seni (estetik) dan nilai moral. apabila pembacaan karya sastra melalui pasantian dilakukan dengan baik dan benar. maka dapat dikatakan bahwa aktivitas pasantian dan sastra Bali dapat dijadikan salah satu media pencerdasan dan sekaligus sarana untuk mencapai ketenangan. Pikiran (manah) yang kuat akan mengendalikan nafsu keinginan (indria). Dalam menyikapi berbagai situasi dan problema kehidupan. Nafsu keinginan (indria) yang terkendali dengan baik akan dapat mengarahkan perbuatan kita untuk berpegang pada kebenaran (dharma). penggunaan akal budi harus diimbangi dengan kepekaan hati nurani. Guhā pětěng tang mada moha kasmala. universal. 129 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pekerti luhur (budi kaparamartan). Kalinghaning śāstra suluh nikāprabha. Di situ. baik sebagai individu maupun masyarakat sosial. Dalam proses sublimasi emosi itu. Dengan demikian. mengatasi ruang dan waktu. Aspek estetis akan menyantuh budi. Wiśāta sang wruh rikanang jurang kali. ketentraman. maka akan dapat menggetarkan hati nurani yang paling suci (budi). Jika demikian halnya. yakni pengalaman estetik non-individual. yakni keseimbangan antara akal budi dan kepekaan hati nurani. Di dalam rasa terjadi sublimasi emosi dari tataran psikologis ke tataran estetik. dan kemudian mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra karena karya sastra diciptakan berdasarkan rasa. menghayati. Karena itu.

sebagai asal dan tujuan. Sang kawi memulai karyanya dengan menyembah dewa pilihannya sebagai dewa keindahan. dan sekaligus tujuan. dengan menciptakan kakawin sang kawi berharap dapat mencapai kelepasan. kakawin merupakan yantra. yakni di atas padma hati atau jiwa sang kawi. berhasil ditemukan berkat laku tapa atau samadi sang kawi. bingung. menjelajah gunung. Dewa keindahan yang berada di alam niskala. menyusuri pantai. hutan. maka kakawin merupakan yoga sastra dan yoga keindahan. kecantikan wanita. sehingga kita dapat melewati berbagai terpaan dan pahit getir kehidupan ini (jurang kali) dengan tenang (wiśāta). Sejalan dengan itu. sakala-niskala. Dalam rangka yoga itu. Di samping sebagai media pencerdasan. sungai. sebagai candi tempat semayam dewa keindahan dan objek samadi bagi para pemuja dewa keindahan serta sebagai silunglung. Dewa itu dipandang menjelma dalam segala keindahan. maupun alam niskala. yakni dengan persatuan itu sang kawi “bertunas keindahan” sehingga ia mampu menciptakan kakawin. dan sastra adalah lampu penerangnya yang terang benderang. baik di alam sakala. noda dan dosa ibarat ularnya yang besar dan berbisa. mengamati pertempuran. Guna menemukan dewa keindahan yang menjelma di alam sakala. orang cerdas akan dapat melewati jurang dan kali dengan tenang. aktivitas pasantian juga dapat berfungsi atau berperan memberi vibrasi kesucian pada lingkungan. dan lain-lain sambil berlaku tapa. Pada kutipan di atas tampak jelas disebutkan bahwa fungsi sastra (kalinghaning śāstra) adalah sebagai lampu penerang yang terang benderang (suluh nikāprabha) dalam meraih perkembangan akal budi yang sempurna atau menjadi manusia cerdas yang dapat berpikir dan mengerti (sang wruh) arti hidup dan kehidupan. Dewa keindahan berkenan turun dan bersemayam di alam sakala-niskala. Zoetmulder (1985) menjelaskan bahwa kakawin diciptakan oleh penyair melalui beberapa tahapan. Persatuan itu merupakan sarana. Sang kawi berupaya mempersatukan diri dengan dewa tersebut. sang kawi mengembara. bekal kematian sang kawi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Artinya: Mabuk. dan segala jenis najis bagaikan goa gelap gulita. 130 .

Pengenalan dan pemahaman nilainilai luhur itu akan dapat meningkatkan kualitas hidup. nilai-nilai luhur. aktivitas pasantian bergulat dengan upaya apresiasi semendalam mungkin terhadap karya sastra Bali trandisional tersebut. memperkuat kepribadian. dalam aktivitas pasantian teks-teks yang dibaca adalah teks-teks sastra lama yang terekam dalam naskah. buah pikiran. Sementara itu. baik secara nyata maupun hanya dalam imajinasi. dan penghayatan nilai-nilai luhur yang tersurat dan tersirat di dalam teks yang dibaca. Oleh karena itu. mempertebal rasa harga diri dan 131 . penggalian. dalam aktivitas pasantian. aktivitas pasantian merupakan tempat menumbuhkan kepribadian dan jatidiri. dan hal-hal mulia lainnya yang pernah dialami dan dilakukan serta dijadikan pedoman dalam kehidupan masyarakat pada masa lampau. yang pada akhirnya dapat menumbuhkan kualitas hidup bangsa. Tujuannya adalah untuk mendapatkan ketenangan pikiran. berlangsung pembacaan teks lama oleh pembaca masa kini. kepribadian. karya sastra Bali tradisional diciptakan melalui proses perpaduan antara estetika dan religiusitas. rasa harga diri dan kebanggaan masyarakat. dan kedamaian. ide. di samping kegiatan pembacaan. memperkuat kepribadian bangsa. renungan. dan kebanggaan masyarakat. Di sinilah pasantian berperanan memediasi masa lampau dengan masa kini. penerjemahan. pemahaman. maka berbagai persoalan pada masa kini akan sulit dimengerti atau dipahami jika tidak diketahui latar belakang sejarahnya. ketentraman.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Sebagaimana telah disebutkan di atas. Oleh karena itu. Sementara itu. Apabila demikian halnya. Dalam kegiatan pasantian dilakukan upaya pengenalan. dan pendiskusian. Masa kini diberi tempat justru dalam hubungannya dengan masa lampau dan masa lampau dihargai dalam konteks kekiniannya. gagasan. Teks-teks itu merupakan perbendaharaan yang memuat berbagai persoalan. pasantian sebagai wujud tradisi lisan atau pelisanan teks-teks suci apabila dilakukan secara meluas dan berkesinambungan akan dapat menimbulkan vibrasi kesucian pada lingkungan. mempertebal rasa harga diri. Perlu dikemukakan bahwa masa sekarang sesungguhnya merupakan kelanjutan atau perpanjangan masa lampau. Kualitas hidup. Lingkungan yang tervibrasi oleh kesucian akan dapat membawa masyarakat pada kehidupan yang harmonis dan dinamis dalam mewujudkan pembangunan manusia seutuhnya. Kecuali itu. Dalam aktivitas pasantian pada prinsipnya dilakukan beberapa kegiatan.

Hal ini terlihat pada proses berlangsungnya pasantian itu. Dalam tataran inilah terlihat kenyataan bahwa pasantian merupakan wahana untuk menggalang persatuan dan kesatuan masyarakat. Anggota kelompok pasantian itu bisa saja berasal dari kalangan Brahmana. Kebersamaan sangat penting artinya dalam menumbuhkan sikap kemitraan. barulah penerjemah melaksanakan tugasnya. Jalinan kemitraan dibina sedemikian rupa untuk menciptakan ke132 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kebanggaan nasional. menekankan aspek pendengaran yang mempersatukan. Wesia maupun Jaba atau juga berasal dari pedagang. aktivitas pasantian merupakan wahana persatuan dan kesatuan. yang mampu memperkaya jiwa dan semangat baru dalam menjawab tantangan zaman globalisasi. yang mengakrabkan sidang pendengar. Secara sosiologis. Hal ini dapat dilihat berdasarkan ke-wangsa-an maupun ke-warna-an peserta dalam pasantian. petani. dan lain-lain. Dalam tradisi lisan. pejabat. Lebih jauh. guru. Setelah pembaca selesai membaca. peran-peran dalam pasantian itu dapat diperankan oleh sekelompok orang yang berasal dari berbagai stratifikasi sosial maupun kelompok sosial yang ada dalam masyarakat. buruh. seniman. sastra dianggap sebagai milik bersama sehingga harus dibacakan. Ksatria. ABRI. pasantian merupakan usaha terus-menerus yang dilakukan untuk mengapresiasi dan menawarkan berbagai penafsiran baru dengan tanpa meninggalkan akarnya. tokoh-tokoh masyarakat. peserta pasantian lainnya. termasuk kepada pembaca dan penerjemah. karyawan. akan senantiasa memberikan kesempatan kepada peserta lain. pemuka agama. Setiap anggota pasantian secara demokratis menunjukkan rasa toleransi dan sikap saling menghormati kepada sesama anggota. untuk melaksanakan tugas masingmasing. dan gotong royong. Pembaca (pangwacen) akan menjalankan tugas dan peran semaksimal mungkin. Ketika pembaca masih aktif membaca atau melagukan teks. tetapi penerjemah mempersilakan pembaca sampai selesai membaca teks. dipertunjukkan di hadapan sejumlah orang untuk dapat dinikmati bersama. Demikian pula. saling menghormati. Kemitraan akan dapat diwujudkan bila ada rasa toleransi. penerjemah tidak akan menyela atau memotongnya begitu saja. Pasantian sebagai wujud tradisi lisan di Bali menunjukkan ciri kelisanannya yaitu pentingnya kebersamaan. Dalam konteks ini.

Dengan kata lain. _______________. 1995. Denpasar: Pustaka Larasan. dan S. Kidung Tantri Piśācarana. Karya sastra diciptakan melalui akal budi pengarang yang dijiwai perasaan yang halus dan indah. 2007.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI bersamaan dan keharmonisan. 133 . Jakarta: Pustaka Jaya. P. Karena itu. Jakarta: Djambatan. Jilid I dan II. P. Di sinilah pasantian menunjukkan cirinya sebagai wahana kemitraan. keharmonisan. Teeuw. 1994. Robson. Daftar Pustaka Suarka. Kemitraan dan keharmonisan itu. menjalin persatuan dan kesatuan para anggotanya dengan penuh dinamika melalui lantunan irama dan keluwesan bahasa. Zoetmulder. dan diapresiasi secara mendalam dalam aktivitas pasantian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kamus Jawa Kuna Indonesia.J. dihayati. Zoetmulder. Denpasar. 1985. Karya sastra itu dibaca. Penutup Aktivitas pasantian merupakan kegiatan bersastra yang pada prinsipnya merupakan kegiatan olah rasa dan sekaligus olah pikiran. aktivitas pasantian dapat menyempurnakan perkembangan akal budi masyarakat sehingga masyarakat mampu berpikir dan mengerti makna kehidupan. Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan. lewat pasantian sebagai wujud tradisi lisan dapat dibina atau dipertahankan solidaritas dan kebersamaan guna menumbuhkan semangat nasional. dilagukan. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. 1998.J. A. “MABEBASAN: Wahana Pembauran”.O. pada akhirnya akan melahirkan persatuan dan kesatuan. I Nyoman.

Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat UNS Surakarta.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF I Nyoman Murtana. “Lakon Gareng Dadi Dewa: Sebuah tinjauan Sosiologis” (2002) “Konsepsi Segara-Gunung dalam Cerita Cupak-Grantang” (2003) dan “Nilai Ajaran Inkarnasi dalam Lakon Purba Sejati” (2005). 19 April 1958. 134 . Beberapa penelitian mandiri dan hibah yang dilakukan antara lain “Ideologi Lakon Cupak Ke Swargan oleh Dalang I Made Jangga”(2009).Kar. S. Karanganyar. dan menabuh gamelan. Durmo No. Dharmasmrti – Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan. baik di dalam maupun di luar negeri. RC. Skotlandia. Telp. Jurnal Seni Budaya. dan Taiwan. untuk berbagai kepentingan. Cakra Wisata – Jurnal Pariwisata Budaya. Jawa Tengah. teater. Beberapa kali pentas seni di luar negeri. tetapi mengembangkan juga keterampilan menari. dan tari. Australia. “Konsepsi Kekuasaan Paku Buwana II Pada Kayon Gapuran (1998). “LAKON” Jurnal Jurusan Pedalangan STSI Surakarta. Sejak tahun 1982 sering menyusun karya-karya baru “wayang layar lebar berbahasa Indonesia” dengan mengaplikasikan konsep pewayangan baru yang berbeda dengan pertunjukan wayang kulit konvensional. 193 Perum.Hum. HP: 081329088782. Lulusan Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Jurusan Ilmu-ilmu Humaniora Pengkajian Seni Pertunjukan (1996) ini juga berpartisipasi dalam pentas wayang kulit. 0271-827708. 57772 Jaten. Jepang. Dosen STSI Surakarta ini tengah menyelesaikan pendidikan Doktor (S3) pada Program Studi Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar. Thailand.. seperti di London. Dasar kesenimanan bidang yang dikuasainya adalah pedalangan. Alamat : Jl. teater. Lahir di Tabanan. M. Ngringo. Banyak pula publikasi artikel ilmiah luluasan Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta Pedalangan (1986) ini antara lain di “Mudra”.

raksasa.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Pertunjukan Wayang Kulit Bali: Media Komunikasi Pencerdasan Rakyat Dr. bahasa visual.Kar. cerita yang dimainkan oleh dalang dan seluruh anggota grup pendukung pertunjukan wayang kulit. dan Bahasa Indonesia. Ia digunakan sebagai sarana untuk membangun satu pertunjukan wayang kulit yang menimbulkan citra estetik tertentu. Bahasa kawi digunakan oleh para raja. irama antawacana. Dosen Kajian Budaya Universitas Udayana Pengantar ertunjukan wayang kulit.. pendeta. layar putih sebagai arena memainkan seluruh figur wayang kulit diandaikan sebagai panggung kehidupan. bahasa Bali. dan nyanyian dalang dalam berbagai suasana. dan dewa. Dengan cara itu pertunjukan wayang kulit menjadi menarik dan menggairahkan apresiator. Seluruh unsur budaya tersebut dipandang sebagai “bahasa” atau teks. Kelir. baik abdi perempuan maupun lelaki. Selain hal tersebut. bahasa auditif maupun tanda-tanda simbolik lainnya. Bahasa verbal dalam pedalangan Bali tampak pada bahasa kawi. bahasa auditif dapat dinikmati dari berbagai suasana yang dibangun melalui suara gamelan yang mengiringi. Bahasa Bali dan bahasa Indonesia digunakan oleh para abdi. adalah media komunikasi audiovisual. S. I Nyoman Murtana. ksatria. juga mentransmisi- P 135 . Bahasa visual dapat dinikmati dari aneka bentuk rupa dan gerak seluruh figur wayang serta bayang-bayang yang ditimbulkan dari sorot lampu blencong yang bersuasana magis. Selain itu.Hum. M. baik melalui bahasa verbal.

lakon yang digelar dalam pertunjukan wayang kulit sering merupakan kasus-kasus kekuasaan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kan berbagai nilai kehidupan manusia. pendeta. pada tulisan ini akan dibicarakan aspek-aspek tertentu saja dari pertunjukan wayang kulit dalam fungsinya sebagai media pencerdasan rakyat. atau perangkat gamelan yang lain. memandang ranah sebagai arena kekuatan yang di dalamnya terdapat upaya perjuangan untuk memperebutkan sumber-sumber daya (modal) demi memperoleh akses tertentu yang dekat dengan hierarki kekuasaan. rupa. Ada peran raja. sehingga terbentuk sebuah lakon pertunjukan wayang kulit yang mampu menembus keterbatasan dunia lokal sehingga memancarkan sinar mulianya di dunia global. Dengan demikian. aspek religius sebagai ekspresi rasa sujud terhadap Tuhan. gerak. peran. Seluruh aspek tersebut diramu dengan berbagai problema sosial dan unsur-unsur budaya yang aktual. baik lokal maupun global. Membangun Kecerdasan Struktur Sosial Pertunjukkan wayang kulit merupakan gambaran tentang kehidupan manusia yang terkait dengan kedudukan. Struktur ranah membimbing dan memberikan strategi bagi penghuni posisi tertentu untuk melindungi atau meningkatkan posisi mereka dalam jenjang pencapaian sosial. dapat dimaknai sebagai aktivitas politik kebudayaan. seperti aspek solidaritas sosial untuk mengeksresikan nilai tolerans dan kebersamaan. Bagi mereka yang menempatinya dapat mempertahankan atau mengubah konfigurasi kekuasaan yang ada. 136 . Berbicara tentang pertunjukan wayang kulit bagaikan membicarakan secara total kehidupan manusia. ranah menjadi arena pertarungan. Oleh karena itu. dan fungsi yang berbeda-bedadalam masyarakat. Wilayah atau Ranah itulah yang diperebutkannya. Masing-masing peran memiliki wilayah atau ranah kekuasaan yang berbeda-beda pula. semua unsur budaya Bali yang digunakan oleh dalang sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasan-gagasan dalam pertunjukan wayang kulit. kesatria. aspek ideologi politik untuk mengekspresikan kepentingan manusia dalam memperjuangkan atau mempertahankan kekuasaan. terutama jika dikaitkan dengan upaya pelestarian. Selain itu. instrumen musik tradisional (gender wayang). Bourdieu (dalam Fashri. seperti bahasa. dan abdi atau rakyat. 2007:95). Oleh karena itu.

Cerita Dewaruci mengartikulasikan konflik vertikal yang terkait dengan sistem keyakinan hingga Bima bisa bertemu dengan Dewaruci. teman atau kolega. atau mengalah dan mau membuka komunikasi agar segalanya bisa dibicarakan secara baik-baik. Hal ini berarti pihak yang kalah dapat menerima kekalahan sebagai kemenangan dan pihak yang memberi ampun adalah orang yang memiliki kesadaran historis terhadap masa lalu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Membangun Kecerdasan Atas Konflik Dalam pertunjukan wayang kulit selalu terdapat perang antara kelompok yang satu dengan yang lain. bahwa problema sosial yang terjadi dalam masyarakat mewarnai proses penciptaan karya pedalangan. bahkan juga sebagai pemberontak yang radikal. bahwa konflik. Akibat dari itu. sangat dimungkinkan bisa saling bunuh di antara sanak saudara. baik konflik horizontal maupun vertikal merupakan kekuatan penggerak drama dan hati penonton. Perbedaan sikap dan perilaku tokoh-tokoh cerita bisa sangat tajam. baik profane maupun dengan yang sakral. pertunjukan wayang kulit merepresentasikan aneka konflik kemanusiaan. Perang tersebut merupakan ekspresi simbolik mengenai konflik sosial dalam masyarakat. Konflik horizontal menyangkut interaksi manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. 1985:122). dikalahkan. Menurut Ratna (2004:179). sedangkan konflik vertikal menyangkut hubungan sistem keyakinan. Lagi pula. Hal itu sesuai dengan pernyataan Constance Nash (Hamzah. Ketiga bentuk konflik itulah yang diwacanakan dalam lakon pertunjukan wayang kulit melalui perbedaan-perbedaan karakteristik tokoh. 2009:85-86) bahwa kesadaran his137 . dan perbedaan kepentingan yang tercermin dalam tindakan-tindakannya. Dengan kata lain. bahwa dalam karya seni yang problematis. Apabila dilihat dari filsafat perubahan dari Hegel (dalam Aiken. pandangan hidup. Membangun Kecerdasan Humanis Dalam konflik kehidupan selalu ada pihak-pihak yang kalah. kerabat. sehingga menyebabkan pertentangan yang hebat. Misalnya pertempuran Pandawa dengan Kurawa di Padang Kurukasetra untuk berebut kekuasaan. Dengan cara tersebut konflik-konflik dapat dilerai dan semua pihak bisa mengarungi kelangsungan hidup. sehingga pertunjukan wayang kulit menampakkan kekerasan simbolik mengenai kehidupan. tokoh-tokoh cerita justru berfungsi sebagai oposisi ideologis terhadap subjek.

Setiap proses historis adalah sesuatu yang baru. dan dapat merasakan pikiran orang lain. dengan dunia yang luas. Hakikat Tat Twam Asi itu sesuai dengan yang dikatakan oleh Snijders (2008:106). Aku terbuka untuk sesama. Mereka menemukan identitas diri di posisi yang tepat dalam tatanan masyarakat (Suseno (1992:247). Dengan begitu. Tiap individu berharap memperoleh kesatuan sosial dengan sesama anggota masyarakat yang lain. Aku terbuka untuk pikiran orang lain. dan berharap pula memperoleh kesatuan dengan kekuatan yang mahadahsyat dari maha pengasih dan penyayang segala makhluk. Tiap-tiap individu berorientasi pada keselarasan. Dalam konteks inilah konsep “the others”—yang lain—memancarkan nilai humanisme sosialnya yang mau peduli terhadap dan untuk orang lain serta tidak hanya berlaku untuk kelompok sosial tertentu. Bagi Hegel. atau yang oleh Hegel disebut momea. untuk dunia. Hal ini berlaku bagi struktur masyarakat. yakni sebagai sebuah proses menjadi. Tidak satu pun ada yang sama persis seperti keadaan sebelumnya. Tat Twam Asi dimaknai sebagai ajaran perilaku humanis yang menerima kehadiran orang lain bagaikan menerima dan mencintai dirinya sendiri. dan untuk Tuhan. bahwa aku dapat hadir pada diriku dengan refleksi. Sikap mengalah itu menunjukkan implementasi ajaran Tat Twan Asi. Hal tersebut merupakan pemberitahuan dan ajakan kepada rakyat atau masyarakat untuk saling menghormati. meskipun dengan dalih meningkatkan kemakmuran.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF toris mampu memahami realitas sebagaimana adanya. dan yang melebihi segala sesuatu yang ada di dunia. Tat Twam Asi—Ajaran cinta kasih yang mengedepankan sikap hidup toleran dan berorientasi demi kebaikan orang lain tersebut. dapat berkomunikasi dengan yang lain. tetapi untuk semua. yaitu ajaran normatif (Wesnawa. mengingatkan manusia agar berhati-hati mengelola kekuasaan—sumber kebahagiaan yang sangat potensial menjadi penyebab kesengsaraan. dipandang sebagai konsekuensi niscaya yang sepenuhnya berbeda dari tahapan sebelumnya. yaitu Tuhan. Hukum perubahan historis mana pun bukan sebagai rangkaian daur perubahan yang berputar terus secara abadi. 2004:60) yang memancarkan sinar energi Tuhan dari sikap tokoh-tokoh pemaaf. sejarah berarti perkembangan. tetapi sebagai perkembangan yang progresif bahwa setiap tahapan. Semua itu merupakan pelajaran yang bernilai katarsis yang dalam tradisi ritual pemurnian jiwa di 138 .

bermasyarakat. moralitas. Kekuasaan dibiarkan tersebar dan melekat secara otonomi pada semua yang hadir di alam semesta dengan pancaran energinya masing-masing. (1989: 322-32) dalam tulisannya yang berjudul Sekala & Niskala: Essays on Religion. dan memiliki buah pikiran. Dalang memiliki popularitas dan kedudu139 . Dengan menghayati nilai-nilai itu masyarakat dapat memperbaharuai. melestarikan kesadaran kultural dan kesatuan komunitas. saling berhubungan. kesenian. yakni individu hanya dapat mencapai perkembangan diri yang menyeluruh melalui interaksinya dengan orang lain. Eisseman. Menurut Suseno (1992:247) kebudayaan tradisional merupakan satu kesatu-an yang memiliki unsur-unsur kognitif (pengetahuan). tetapi juga bermula sebagai proses sosial. Seperti dikatakan oleh Bizawie (2002:66) bahwa kekuasaan adalah ungkapan energi illahi yang selalu kreatif meresapi seluruh kosmos. dan bertindak dengan baik demi kebaikan dunia. Pertunjukan wayang kulit adalah salah satu wujud kebudayaan tradisi-onal. Hakikat diri tidak hanya berfungsi sebagai proses sosial. Kekuasaan adalah realitas itu sendiri yang dapat dilihat dari kekuatan-kekuatan yang mengalir dari pada-Nya. tingkah laku. dan kepercayaan diawali dari sebuah karya seni. Kekuasaan bukanlah suatu gejala khas sosial yang berbeda dari kekuatan-kekuatan alam. Ritual. melakukan revitalisasi. Fisher (1990:231 dan 233) menambahkan bahwa manusia dalam dirinya memiliki esensi kebudayaan. berujar. setiap bentuk kekuasaan tidak lagi dimaksudkan untuk memaksakan kehendak terhadap pihak lain dalam mencapai tujuan. Ketiga unsur tersebut didasarkan atas satu pandangan dunia yang hampir selalu ditentukan oleh agama. Berdasarkan prinsip ke-Tuhan-an seperti itu. bahwa seni pada hakikatnya merangkum semua aspek kehidupan manusia. normatif (harkat moral norma-norma sosial). Berkaitan dengan hal tersebut Fananie (1994:127) mengatakan. melainkan kekuatan kosmis yang dapat memenuhi seluruh kosmos. dan pertunjukan wayang kulit. and Art. agar manusia dapat berpikir.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bali disebut dengan istilah panglukatan. bahwa peradaban yang meliputi pandangan. Menurutnya. upacara. Membangun Kecerdasan Religius Seorang dalang memformulasikan nilai-nilai keagamaan dalam pertunjukan wayang kulit. diuraikan tentang kehidupan agama. dan ekspresif (estetis).

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kan di masyarakat. seorang dalang wayang kulit Parwa dari Desa Tunjuk. Perjalanan hidup teater “wayang kulit” yang melewati sekian zaman telah membuktikan diri sebagai barometer kepribadian yang telah berakar (Hamzah. Nilai-nilai kultural 3. antara nilainilai keagamaan dan seni disinergikan dalam pertunjukan wayang kulit. Tabanan menyatakan. 3 Keterangan gambar 1. Pernyataan Eisseman tersebut koheren karena hingga kini pertunjukan wayang kulit merupakan bagian yang sistemik dalam berbagai pelaksanaan upacara ritual keagamaan di Bali. Teater merupakan sarana yang efektif untuk menanamkan kepribadian. Dengan demikian pandangan dunia yang diekspresikan dalam pertunjukan wayang kulit. Satuan sosial budaya 2. Dalang/transformer 4. 1985:114). Apabila diskemakan proses interaksi situasi sosial dan nilai budaya yang dipersiapkan sepanjang masa oleh seorang dalang adalah sebagai berikut. Masyarakat apresiator/simulasi 2 4 1 Kehadiran nilai-nilai keagamaan dalam pertunjukan wayang kulit merupakan kekuatan teatrikal bagi suatu daya pembangunan bangsa. Pendeta mendoakan keselamatan dunia melalui sesaji dan doa-doa dan dalang menyelamatkan dunia dengan menjelaskannya perilaku baik-buruk tokoh-tokoh wayang dalam konsepsi “rwabhineda” dalam satu peristiwa lakon pertunjukan wayang kulit. menempatkan fungsi ritual dan edukasi pertunjukan wayang kulit bagi masyarakat Bali. Hal itu sesuai dengan pernyataan Kuntowijoyo (1987:51-52) yang me-ngatakan. bahwa pertunjukan wayang kulit dan sistem upacara keagamaan bagaikan pasangan suami istri yang dalam kehidupannya saling melengkapi satu sama lain. Artinya. bukan kerajaan-keraja140 . sehingga memancarkan aspek sosial dan kultural yang menarik sebagai wahana komunikasi. unsur-unsur estetis hadir dalam sistem keagamaan dan sebaliknya unsur-unsur agama hadir dalam seni. Menurut Berata (almarhum).

yaitu sebuah era informasi dan tanda-tanda yang diatur oleh pelbagai macam model. 2007:109). sekolah. yaitu argumen kosmologis megungkapkan bahwa Tuhan harus ada karena kalau tidak akan ada rangkaian kausalitas yang tidak terhingga untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa. penerbit. melainkan di dalamnya. lembaga-lembaga agama. literer.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI an dan kekuasaan-kekuasaan dunia lahiriah semata yang tersaji dalam latar utama bagi tindakan manusia. Pertunjukan wayang kulit adalah model. melainkan dunia batiniah dari sentimen-sentimen dan hasrat-hasrat. Mereka bisa datang dari latar seperti status. 2002:98) tentang masyarakat sebagai simulasi yang terjadi di era postmodern. Komunikasi manusia dengan Tuhan dilandasi tiga argumen. medis. Dengan kata lain Kuntowijoyo (1987:135) menyatakan. Adapun argumen ontologis mengemukakan bahwa Tuhan ada karena kita memikirkan dan memprediksi eksistensi terhadapnya (Khuza’i. kode dan sibernetik atau dunia maya yang mensimulasi nilai-nilai kultural yang divisualisasikan dalam wujud-wujud prilaku tertentu tokohtokoh pelaku cerita wayang. dan firma-firma hukum. 1992:60-61). media. pertunjukan wayang kulit bukanlah pementasan sebuah politik filosofis semata melainkan suatu psikologi metafisis (Geertz. Kenyataan dicari bukan di luar diri. Argumen teologis mengungkapkan. bahwa dari struktur final realitas dapat ditarik kesimpulan adanya Sang Pencipta yang menerapkan struktur tersebut. maka dalang adalah orang yang terpelajar atau intelektual. Wayang jika ditafsirkan secara psikologis dimaksudkan untuk memelihara kecenderungan untuk menemukan realitas tertinggi (Geertz 1983:362). kode dan sibernetik. termasuk universitas. Oleh karena itu. Cara kerja skema transmisi nilai-nilai itu sesuai dengan identifikasi yang dilakukan oleh Baudrillard (dalam Budiman. Setiap orang harus bersikap seperti kesatria yang terus-menerus memerangi raksasa dan raksasi yang diandaikan sebagai simbol nafsu-nafsu yang menguasai hidup manusia. bahwa realitas sosial yang diungkapkan lewat tokoh-tokoh imajiner dapat memberi gambaran yang hidup. Ditinjau dari proses itu. Perilaku tokoh-tokoh wayang kulit ditafsirkan sebagai referensi dalam kehidupan sosial. Simulasi wayang mempengaruhi sikap mental masyarakat. filosofis dan religius di masyarakat. posisi dan fungsi yang berbeda dan indepen141 . Gramsci menganggap penting para intelektual tradisional yang menempati posisi ilmiah.

Selain itu. Mengingat nilai—nilai edukasi yang terkandung di dalam pertunjukan wayang kulit demikian penting bagi kehidupan. pertunjukan wayang kulit menyiratkan ajakan untuk meningkatkan kecerdasan mengenai realitas kehidupan sosial yang antara lain menyangkut kecerdasan manusia terhadap struktur sosial sebagai ajang untuk melakukan interaksi sosial. Saran Berdasarkan uraan di atas diperoleh pemahaman. membangun kecerdasan humanis. Di balik keindahan itu. Hal itu sesuai dengan sikap masyarakat Bali yang mendudukkan dalang wayang kulit sebagai “guru loka” yang bersikap independen. lepas dari komitmen kelas atau peran ideologis manapun (Barker. 142 . bahwa pertunjukan wayang kulit berfungsi sebagai ajang peningkatan kecerdasan rakyat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF den. seyogyakan kesenian tersebut dijaga keberlangsungan hidupnya dengan cara memberi peluang tampil secara maksimal dalam berbagai kesempatan. Simpulan Pertunjukan wayang kulit merupakan contoh dari salah satu unsur kebudayaan yang terjadi karena manusia hendak memuaskan kebutuhan nalurinya akan rasa keindahan dan menjadikan pengalaman estetik sebagai penyeimbang kondisi materiil. Perlu pula dilakukan reaktualisasi isi garapan lakon dan memposisikan peran serta fungsinya pada struktur sosial budaya masyarakat. 2005:469). dilakukan peningkatan kualitas teknis dan nonteknis secara berkelanjutan. maka para intelektual dan peneliti perlu mengkaji secara berkesinambungan pertunjukan wayang kulit yang hasilnya dapat dijadikan sarana pembelajaran bagi generasi berikutnya dan dapat diacu untuk mengembangkan pertunjukan wayang kulit sesuai konteks jamannya. Oleh karena itu. karena ia menjadi guru bagi semua golongan sosial. pertunjukan wayang kulit juga mencerdaskan rakyat dalam mengelola konflik kehidupan. dan memiliki kecerdasan akal budi untuk menyadarkan manusia sebagai makhluk sosial dan individu yang berketuhanan. sehingga memperoleh daya hidup bersama masyarakat pendukungnya.

Kebudayaan & Agama: Refleksi Budaya. 2004. Essays on Religion. Zainul Milal. Hikmat. Henry D. Metode. Suseno. Yogyakarta: Kanisius. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Mach Nietzsche. 1990. Zainuddin. Berkeley-Singepore: Periplus Edition Fananie. Ratna. Penyingkapan Kuasa Simbol. Hamzah. Nyoman Kutha. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2009. 1992. Cultural Studies: Teori dan Prakktik. Teori. Chris. 2004. Bandung: Bentang Budiman. Schopenhouer. Psikologis. Marx. Ritual. Filsafat Kebudayaan Politik:Buti-Butir Pemikiran Kritis. A. Fisher. Pandangan Dunia KGPAA Hamengkoenagoro I alam Babad Tutur: Sebuah Restruturisasi Budaya. Fred B. Yogyakarta: Kanisius. Wesnawa. 2008. Mill Spencer. Comte. Hegel. Bizawie. Barker. 1989. Eisman. Teori-Teori Komunikasi:Perspektif Mekanistis. Yogyakarta: Samha. Clifford. Perlawanan Kultural Agama Rakyat: Pikiran dan Paham Keagamaan Syekh Ahmad al-Mutamakkin dalam Pergugmulan Islam dan Tradisi (1645-1740). Adjib. Kuntowijoyo. 2005.dan Pragmatis. dan Teknik Penelitian Sastra Dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme: Perspektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. MLS. 1987. Yogyakarta: Juxtapose.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Daftar Pustaka Aiken. Ida Bagus Putu. Interaksional. Yogyakarta: Tiara Wacana. “Sekala & Niskala: volume I. 2002. Snijders. 2002. and Art” . Aubrey. Pengantar Bermain Drama. Antropologi Filsafat: Manusia Paradoks danSeruan. Budaya dan Masyarakat. 143 . Revitalisasi Kebudayaan Hindu untuk Ketahanan Masyarakat Bali:Pokok-pokok Pikiran Ketua DPRD Bali tentang Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Bali. Fausi. 1985. Geertz. Penerjemah: Soejono Trimo. Franz Magnis. Adelbert. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Penerjemah: Prancisco Budi Hardiman. Abad Ideologi: Kant. Pembunuhan yang Selalu Gagal: Modernisme dan Krisis Rasionlaitas Menurut Daniel Bell. 1994. Fichte. Surakarta: Muhammadiyah University Press. 1992. B. Denpasar: Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Bali. Bandung: CV Rosda. dan Kierkegaard. 2007. Fashri.

Penata iringan tari kebesaran ISI Denpasar Ciwa Nataraja ini telah melakukan perjalanan melintas dunia untuk menunjukkan kebolehannya. Lulusan ISI Denpasar. Komposisi-Nya. tetapi terutama dalam gaya kebyar. Gianyar. Jepang. Lahir di Banjar Kutri. antara lain ke Australia. 144 . serta inovasi penggunaan 3/4 waktu. Bali. Singapadu. Bali. seperti Puspanjali (1989).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF I Nyoman Windha merupakan salah satu musisi terkemuka dan komposer kontemporer musik gamelan Bali. Mengajar sejak tahun 1985. Hongkong. Eropa dan Amerika. penggabungan bentuk-bentuk dan gaya dari gamelan Jawa. ini telah menyusun puluhan komposisi untuk gamelan Bali dalam berbagai genre. Windha terkenal dengan komposisi musik yang bermelodi indah. telah dimasukkan ke dalam repertoar standar kelompok pertunjukan Bali dan banyak yang telah memenangkan penghargaan di kompetisi tahunan gamelan Bali.

Sekar Rare (gending anak_anak). Gamelan Angklung dengan karakter sedih dan biasanya dimainkan pada saat ada upacara kematian. di Bali terdapat sekaitar 30 jenis barungan gamelan. Jegog dan gamelan gandrung dan gamelan yang terbuat dari bahan besi seperti gamelan selunding. Sekar Alit ( jenis pupuh) dan yang ke 4. Sedangkan seni seuara instrumental adalah alat Gamelan. yang terakhir gamelan yang dibuat dari bahan perunggu seperti. 3.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Seni Musik Bali dan Gamelan Gong Kebyar sebagai Media Pencerdasan Rakyat I Nyoman Windha. gong kebyar dan gamelan semarandana. karakter dan bentuk gending yang berbeda-beda. Sekar Ageng (jenis kekawin). Masing-masing gamelan diatas memiliki fungsi. gender wayang. Ahli Seni Karawitan. yaitu: 1. Sekar Madia(jenis Kidung. 2. Dosen ISI Denpasar Pendahuluan usik Bali atau yang lazim disebut dengan Karawitan Bali adalah Seni Suara Vokal dan instrumental yang berlaras selendro dan pelog. semarpagulingan. angklung. Berbicara tentang gamelan. SSKar. yang jika dilihat dari bahannya ada yang terbuat dari bahan bambu seperti gamelan Gambang. gamelan Gong Kebyar memiliki multi- M 145 . Seperti misalnya gamelan Gong Gede yang memiliki karakter agung dan berwibawa yang dimainkan berkaitan dengan upacara dipura-pura. Rindik . MA Komposer. yang dapat dikolompokan menjadi 4 kelompok. Sama halnya dengan di Jawa seni suara vokal di Bali desebut Tembang atau Sekar. gong gede. Diantara jenis-jenis gamelan diatas.

Namun dalam perkembangan selanjutnya berkembang menjadi musik iringan tari. dewasa dan kaum Ibu-ibu. terompong. Dan dia bahkan menjadi media pembelajaran dalam mengawali belajar bermain gamelan. rumit dan tempo yang cepat. Ansambel yang baru ini desebut gamelan gong kebyar dan tari kreasi baru ini juga disebut tari kebyar. jegogan. yang lainnya semua alat-alat dari gong kebyar adalan alat perkusi. keduanya merupakan ekspresi kesenian yang lahir pada awal abad 20. dimana sebagian besar dari orang Bali mulai melajar megambel dari gamelan Gong Kebyar. Peranan gong kebyar tidak saja mampu mencetak bibit-bibi baru. Gamelan gong kebyar dan tari kebyar ini tak bisa dipisahkan satu dengan dengan yang lain. tapi juga mampu mengadopsi ide-ide kreatif didalam usaha mewujudkan garapan-garapan kreasi baru kakebyaran baik dalam bentuk tari kreasi maupun tabuh kreasi baru. gangsa.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF fungsi. penyacah. Tari kebyar merupakan sebuah ekspresi individu atau kelompok yang memilki ciri-ciri yang sama dengan gong kebyar. kajar. Gamelan yang tergolong baru ini sangat digemari oleh masyarakat Bali mulai dari kalangan anak-anak. jublag. suling dan rebab. Kecuali suling dan rebab yang masing-masing merupakan alat tiup dan gesek. dan tarinya pun disebut dengan tari kebyar. dinamis. kendang. Asal Mula dan Perkembangan Kebyar Istilah kebyar berasal dari bentuk permainan gamelan yang dipukul secara bersamaan yang menghasilkan suara menggelagar “byar” yang kemudian dipergunakan untuk memberi nama kepada ansambel baru dan tari kreasi baru dalam kesenian Bali yang memiliki cirriciri keras. reong . Kedua jenis kesenian ini. Kebyar di Masa Lampau Berdasarkan informasi yang ada bahwa untuk pertama kalinya gong kebyar muncul di Bali utara tepatnya didesa Bukulan Buleleng sekaitar 146 . baik ansambel maupun tarinya menonjolkan pada pengungkapan emosi yang meluap-luap dan aksi dramatis yang menakjubkan. Gamelan gong kebyar adalah alat musik perkusi yang instrumentasinya terdiri dari: gong.. Gamelan gong kebyar yang dimainkan oleh kurang lebih 25 orang musisi (penabuh) ini diperkirakan muncul pada awal abad ke 20 dan gamelan ini awalnya diciptakan hanya untuk lagu instrumental ( gending petegak).

Tabanan oleh seka gamelan dari desa bantiran (Buleleng) pada tahun 1919. menari dengan posisi jongkok yang kemudian menjadi cikal bakal tari Kebyar Duduk dan tari Kebyar Trompong. Mereka memasukan “emosi dan aksi dramatis” dalam permainan gamelan yang menjadi bentuk awal dari gong kebyar. Disini belum nampak ada indikasi bahwa gong kebyar itu digunakan untuk mengiringi tari. Baru tahun 1920 terciptalah tari Kebyar Duduk dan tahun 1925 menjadi tari Kebyar Trompong seperti yang kita lihat sekarang. Perjalanan gong kebyar selanjutnya diawali dari diperdengarkannya dipuri Subamya. Bahkan hampir tak ada lagi ciptaan instrumental baru dalam lagu gong kebyar. kebebasan mencipatakan lagu baru. Buleleng yang selanjutnya tari ini menjadi tari Taruna jaya. Saat awal pemunculannya gamelan ini diciptakan untuk menyajikan gending-gending petegak atau lagu-lagu instrumental dan media bagi para pencipta lagu (komposer) untuk mengekspresikan diri. masyarakat Bali hampir mulupakan bahwa kebyar itu adalah musik instrumental. Bentuk awal dari permainan gong kebyar pada saat awal pemunculannya adalah didesa Bungkulan. Demikian juga halnya dengan tari Kebyar Legong yang diciptakan oleh Pan Wandres dan I Gde Manik dari Jagaraga . disana dia menarikan sebuah lagu gong kebyar secara bebas yang berinteraksi dengan tukang kendang. Para penabuh gamelan mulai memainkan ritme-ritme unisono bersama. gending Jerebu yang juga ditarikan oleh penari kebyar saat itu seperti I Maria dan murid-muridnya. membuat aransemen yang rumit sebagai ciri dari kreasi baru. Buleleng. Tari Kebyar saat itu masih berkiblat pada tari Kebyar Duduk dengan gerak bebas yang penuh improvisasi mengikuti aksen-aksen lagu gong kebyar. yang konon tabuh pengiringnya diciptakan oleh I Wayan Sukra. Awal munculnya tari kebyar adalah ketika I Maria diundang untuk mengajar tari di desa Busungbiu. Pada tahun 1928 ditemukanlan rekaman komersial mengenai gamelan Bali. dan baru diketahui bahwa telah tercipta lagu-lagu kebyar seperti Kebyar Ding Sempati. yang disertai dengan entakan-entakan yang tajam.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI tahun 1914. Ketenaran I Maria sebagai penari Kebyar Duduk. seperti I Gusti Ngurah Raka dan I Nyong-nyong. Selanjutnya pada era tahun 1930 an munculah Tari Kebyar yang 147 . sinkopasi-sinkopasi yang jarang ditemukan pada jenis-jenis gamelan gong kuna. dalam rangka upacara pelebon.

Pada tahun 1960-an sudah tercipta 4 buah sendratari yaitu sendratari Ramayana. Mrgepati. dimana orientasinya mengarah kepada wanita cantik. Ekspresi realirtas kehidupan mulai diperkenalkan. yaitu perkembangan tari kebyar menjadi sendratari. Puspa Warna. dimana tema-tema kebyar yang semula berorientasi pada tari murni dan keindahan semata dan kini berubah menjadi tarian kebyar programatik. Demang Miring. Candra Metu dan Bayan Nginte.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dibawakan oleh penari wanita. Bentuk tari kelompok lebih diutamakan. kendatipun tariannya ditarikan oleh lebih dari seorang penari. kehadiran kebyar juga berdampak pada perubahan karakter. pimpinan KOKAR Bali saat itu. Sehingga antara tari dan musik menjadi satu sebagai sebuah kesatuan. Konsep tari kebyar telah berkembang dari konsep tari tunggal laki-laki dan wanita menjadi konsep tari duet laki-laki dan perempuan. Penciptaan Sendratari ini distimulasi oleh munculnya sendratari Ramayana Prambanan pada tahun sebelumnya. Munculah sebuah wadah estetika baru. dimana penari cantik membawakan tokoh laki-laki sepeti yang terlihat pada tari-tarian ciptaan I Nyoman Kaler. Tokoh-tokoh seperti Ketut Merdana ( Buleleng) dan I Wayan Beratha (Denpasar) muncul sebagai generasi awal dalam katagori ini. Disini nampak terjadi perubahan yang sangat drastis. yang masih mempergunakan konsep tari tunggal. Ada nafas baru yang juga muncul pada periode ini. I Nyoman Kaler berhasil mencipatakan beberapa jenis tari kebyar seperti Panji Semirang. Ja-yaprana. Raja148 . Pada dekade 1960 –an lahirlah tari Tani dan tari Nelayan. Memasuki zaman kemerdekan mulai ada rasa aman. Pada awal tahun 1960-an terjadi lagi sebuah pergeseran. yang idenya datang dari I Gusti Bagus Nyoman Panji. Selain mengalami perubahan struktur. sebagai suatu respon perkembangan sosial politik di Indonesia. yang merupakan tari duet dengan tema percintaan. Tarian ini diciptakan oleh I Maria. Sebagai dampaknya terjadilah perubahan estetika dari tarian yang bersifat improvisasi kebentuk tarian yang memiliki struktur yang ketat. kebebasan berkreativitaspun muncul sehingg pada tahun 1951 terciptalah sebuah tarian baru yang berjudul tari Oleg Tambulilinagn. Dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun yang pertama KOKAR Bali pada tqhun 1962 Bapak I Wayan Beratha menciptakan sebuah sendratari yang berjudul Jayaprana. Kemudian berkumandanglah sebutan tari babancihan sebagai ciri khas tarian kebyar.

Kehidupan kebyar semakin semarak. Kalau kita lihat dari instrumentasinya. Hampir diseluruh dunia memiliki alat musik perkusi. Diluar negeri sekitar 100 barungan gong kebyar tersebar luas di Amerika Serikat. Tari kebyar menjadi salah satu primadona dalam misi-misi tersebut. Suatu hal yang menjadi alasan kenapa gong kebyar bisa menyebar luas di seluruh dunia. India. Inggris. Sebagai puncak dari keberhasilan pelestarian dan pengembangan kesenian Bali itu kemudian ditampung dalam sebuah festival seni yaitu Pesta Kesenian Bali (PKB). sehingga keberadaannya sudah mencapai lebih dari 1500 barung. Barangkali suatu hal yang perlu diteliti kedepan. Di Bali. ketika Pemerintah Daerah Bali menyelenggarakan pentas Gong Kebyar kedalam sebuah wadah Merdangga Utsawa (Festival Gong Kebyar) pada tahun 1968 yang dimotori oleh Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibya) dalam usaha melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Bali. Filiphina. Eropa dan Word Fair di New York menjadi kebangaan bagi seniman Indonesia. Thailand dan belum terhitung gong kebyar yang dibawa oleh penduduk Bali yang bertransmigrasi keseluruh nusantara. Era 1960 –an adalah masa semaraknya pertumbuhan gong kebyar di Bali. Dr. Perkusi merupakan jenis instrumen yang sifatnya sangat universal. PKB yang lahir pada tahun 1979 dijadikan strategi pembinaan dan pengembangan kebudayaan Bali. Pakistan. Jepang. Mantra. Soekarno. Kecuali Rabab dan suling. sendratari ini juga diungkapkan lewat narasi dalang yang berfungsi sebagai komentator pergelaran itu. Korea. Kebyar Masa Kini Gong kebyar maupun tari kebyar sangat popular baik diluar maupun diluar negeri. Hal ini dikarenakan oleh adanya diplomasi kebudayaan oleh Presiden Republik Indonesia. I. Australia. Pengiriman kesenian keluar negeri seperti ke Thailand. Spanyol. Disamping mengutamakan ungkapan pantomim dan programatik. Dan sampai sekarang PKB sudah berjalan selama 31 tahun.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pala dan sendratari Maya Danawa. sebagian besar terdiri dari alat perkusi. dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling rumit. Oleh pencetusnya Prof. Dalam dunia musik barat juga memiliki perkusi sehingga secara psikologis 149 . Kanada. Camboja. China. gong kebyar tidak saja dimiliki oleh banjarbanjar akan tetapi dimiliki oleh perorangan.B.

Permainan trompong yang dapat dimainkan dengan tehnik ngempyung dan ngembat serta kekembangan yang selalu menjadi tantangan menarik bagi pemain gamelan. Instrumen kendang sebagai alat vital walaupun sudah memiliki pola yang baku. Sebuah tehnik paniti atau nyacah yang dapat dimainkan oleh semua instrumen melodi yang kemudian dapat dikembangkan menjadi kotekan yang sangat rumit. yang merupakan gabungan dari gong kebyar dan gamelan semar pagulingan. akan tetapi setiap saat bisa membangun improvisasi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF para musisi barat merasa dekat dengan instrumen gong kebyar. Gong kebyar memiliki tangga nada pentatonik atau laras pelog lima nada dengan saih yang berbeda-beda. Sejalan dengan tuntutan kreativitas kini muncul gamelah baru yang disebut dengan gamelan Semarandana. urutan nada-nadanya terdiri dari 5 nada dibagian bawah memakai laras pelog 5 nada. Gamelan yang baru ini mampu memainkan lagu-lagu kekebyaran dan lagu-lagu semarpagulingan serta garapan-garapan baru lainnya. Para pemain Rock atau Jazz sangat menyenangi gamelan gong kebyar karena fleksibelitasnya dalam bentuk maupun bunyi. DVD dari karya-karya maestro Bali kini mulai mudah diperoleh dan setidak ada 40 volume rekaman STSI Denpasar yang menjadi stimulasi tertariknya 150 . buku Music in Bali oleh Colin McPhee(1966). gamelan yang lahir tahun 1985 ini bentuk nya mirip dengan dengan gong kebyar. Demikian juga buku_buku tari Bali yang sering memberi deskripsi tari kebyar. Tehnik permainan gong kebyar terdiri dari tehnik yang paling sederhana sampai pada tingkat kerumitan yang tinggi. ada saih gede (tembung) dan ada saih cenik (selisir). namun jumlah bilahnya lebih banyak yaitu 12 bilah. Pemahaman masyarakat dunia terhadap gong kebyar lebih terbantu dengan terbitnya buku –buku berbahasa asing seperti DeToonkunst van Bali oleh Jaap Kunst (1925). Disamping itu rekaman-rekaman audio maupun VCD. dan 7 nada dibagian atas memakai laras pelog 7 nada. The Art of Twentieth –Century Balinese Music oleh Michael Tenzer (2000). Lagu-lagu gong kebyar yang sangat komplek dan kaya dengan ritme serta dinamis menjadi ketertarikan para pemusik kontemporer dunia dewasa ini. buku Gamelan gong Kebyar. Dan tehnik pukulan gangsa yang disebut dengan kotekan dengan berbagai sistem seperti kotekan telu dan kotekan pat dengan berbagai variasinya selalu menjadi tantangan utama bagi setiap pemain dan hal sangat menarik perhatian mereka untuk mempelajari gong kebyar.

mengambil bagian pengawak dari legong Kuntir menjadi bagian yang penting dari tarian tersebut. keterkaitan antara klasik dan kebyar tetap terpelihara dengan baik dan masyarakatpun tidak dikejutkan dengan perubahan-perubahan yang asing baginya. Dilihat dari tehnik permainan. Bentuk-kreasi kebyar sebagai sajian musik instrumental seperti gending Gambang Suling. Kebyar Sebagai Wadah Kreativitas. Kebyar Masa Depan 1. Namun belakangan ini hampir semua kelompok instrumen diberikan kesempatan untuk mendemonstrasikan kelompoknya. Dengan beberapa alasan diatas gong kebyar sudah menjadi milik bangsa yang sudah tersebar diseluruh penjuru dunia. Dari uraian diatas lelas menunjukan bahwa pakem gong kebyar berbeda dengan gamelan lainnya di Bali. Motif dan tehnik dari gamelan tersebut dijadikan bagian yang penting dalam permainan gong kebyar. Dimasukannya pengawak Kuntir dalam tari Kebyar Legong untuk membuat perubahan dinamika. menjadikan gong kebyar sebagai sebuah ansambel yang bisa menjadi jembatan dalam mempelajari gamelan lainnya di Bali. cengceng dan reong terutama didalam mengolah ritme. seperti kendang. kini mulai mengadopsi lagu-lagu dari gamelan lainnya seperti gender wayang dan gambang. kesederhanaan dan kerumitannya . Ujan Mas. Semula gong kebyar hanya memainkan lagu-lagu ostinato dengan aksen-aksen yang mengagetkan. demikian juga gegambangan yang menjadi bagian akhir dari lagu kebyar. kedua motif lagu diatas juga dipergunakan dalam lagu semarpaguling dan pelegongan. Kapiraja . Satu contoh lagi tari Kebyar Legong sebagai awal dari tari Taruna Jaya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI masyarakat dengan kebyar. dan tersedianya rekaman-rekaman diatas menjadi akses untuk mempelajari gong kebyar . yang dijadikan bagian pokok gegenderan pada salah satu bagian dari kreasi kekebyaran. Swabuana Paksa dan Kapiraja lebih menitikberatkan pada demonstrasi kelompok – kelompok instrumen tertentu. Selain gong kebyar. Contohnya Gending merak ngelo. Bahkan dalam penyajian tabuh kreasi semua kelompok instrumen yang ada dalam gong 151 .

dinamika.Australia. Dan ini sangat tergantung dari kepiawian dari seorang komposer dalam menykapi hal tersebut. seperti lagu panyembrama. rime. Dan sayang gamelan Genta Pinara Pitu yang satu-satunya di Bali saat itu. Kebyar merupakan sebuah ansambel yang sangat kaya dengan motif dan hiasan-hiasan. Kebyar Menjadi Elemen Musik Dunia Kehadiran dari komposer-komposer barat yang pernah bela152 . Mrgapati dan Cendrawasih dimainkan pada gemelan Angklung. Adi Mrdangga yang diciptakan tahun 1984 oleh ASTI Denpasar saat itu. Dan masih segar dalam ingatan kita. gong suling. Garapan Janger kreasi baru ini diciptakan pada tahun 1986. Kebetulan penulis sendiri sebagai komposernya dan I Nyoman Catra sebagai koreografernya. Hal ini menunjukan bahwa kebyar menjadi sumber yang kaya bagi gamelan-gamelan lain untuk dipinjamkan lagu-lagunya kedalam tehnik yang baru. sebagai pengganti Drum Band Barat dalam pembukaan PKB tahun 1984. Dalam Adi Mrdangga ini. 2. Gending Tari Belibis dimainkan pada gamelan Joged dan Jegog. kini digarap dengan iringan gamelan Genta Pinara Pitu dengan membuat lagu-lagu baru sesuai dengan mode yang dimiliki oleh gamelan tersebut.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kebyar memiliki hak yang sama. sehingga dia dianggap sebagai sumber yang kaya akan melodi. yang sudah barang tentu tehnik permaianannya disesuaikan dengan tehnik gamelan yang dipakai . sekarang ada di Monash University . angklung. drama gong. beberapa motif ritme juga diambil dari Drum Band Barat. Gong Kebyar telah banyak memberi kontribusi terhadap perkembangan gamelan yang lain seperti. sendratari dan lain-lain. Tari Janger yang biasanya menggunakan iringan Batel dan suling . Adalah pengembangn dari gamelan Balaganjur yang dikolosalkan. selain menonjolkan angsel rumit yang berasal dari kebyar. Disitulah letak fleksibelitas gong kebyar yang bisa menerima dan mempengaruhi gamelan lain. harmoni dan aspek musikal lainnya. sehingga banyak lagu-lagu kebyar dimainkan dengan media gamelan lain.

Michael Tenzer misalnya. menorehkan sejarah baru bagi perkembangan gong Kebyar baik di Bali maupun di Luar Negeri. tapi sebagai komposer dia sangat lihai memadukan elemen musik Barat dan musik India kedalam tabuh kreasi kebyar. Swis untuk membuat iringan tari modern dengan gong kebyar yang dipadukan dengan alat musik biola. Banyak komposer yang mencoba membuat komposisi dengan memadukan beberapa alat musik dengan harapan dapat menghasil garapan yang bernafas baru. Michael Tenzer. Talakalam dan Puser Belah. Evan Ziporyn dan Andy Mc Graw. yang sudah barang tentu semua pengalaman yang mereka peroleh dapat memparkaya wawasan mereka dalam melakukan aktivitas musik. Karya 153 . Evan Ziporyn dan Andy Mc Graw. I Wayan Tembres dan I Wayan Suweca. . Penulis mendapat undangan kekota Basel. Banyuari. Penulis sendiri pernah berkolaborasi dengan Evan Ziporyn dalam kreasi Kekembangan . Pengalamannya tinggal di Bali dan belajar gamelan kebyar pada seniman-seniman andal di Bali seperti: I Gde Manik. membuat dia tidak saja mampu memainkan gong kebyar dengan baik. Wayne Vitaly. 3. Kolaborasi Dengan Musik Lain Dewasa ini. Dan pada tahun 1998. dia seorang komposer barat yang lama tinggal di Bali. saat mereka menempuh ujian akhir dikampus mereka. disini Penulis dan Evan menggabungkan gamelan gong kebyar dengan alat musik barat Saxophone . Garapan ini dipentaskan di tiga Negara. Dan hal ini banyak dilakukan oleh mahasiswa Jurusan Karawitan ISI Denpasar. Beberapa dari hasil karyanya yang pernah ditampilkan pada ajang PKB seperti. Demikian juga halnya dengan Wayne Vitaly . mereka memperdalam Gamelan Gong kebyar baik secara teori maupun praktek. Indonesia (Bali dan Jakarta) dan Singapura. Basel. ketika penulis mengajar grup gamelan Sekar Jaya padatahun 1989.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI jar gamelan di Bali seperti. Dan komposisi yang paling besar yang penulis lakukan adalah ketika penulis berkola-borasi dengan seorang komposer dari Kanada yang bernama Hose Evangelista dalam sebuah garapan yang berjudul Bali Simponi. istilah kolaborasi menjadi istilah yang sangat ngetren. Situbanda.

Penulis ingin menyingkapi persoalan bangsa itu dengan mengusung tema persatuan. yang selalu melibatkan kesenian Rodat dari desa SuwungPemogan. Ditengan-tengah suasana disintegrasi bangsa dan pergolakan politik yang kian carut –marut. Sebagai penggarap penu154 . Karya ini pentaskan untuk pertama kalinya di San Fransisico State University. Dan khusus pada materi tabuh kreasi seorang penabuh wanita harus memainkan instrumen kendang. “Lekesan” adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebutkan benda yang berisikan bermacam-macam unsur dikemas dalam satu ikatan. Pada pelaksanaan PKB tahun 2001 pernah terjadi sesuatu yang sedikit agak ekstrem khususnya dalam materi festival gong kebyar. Dalam proses penggarapannya penulis mencoba mengusung teme persatuan dan semangat kebangsaan dengan memanfaatkan potensi lingkungan sekitar. Desa Sidakarya yang ditunjuk oleh kota Denpasar sebagai duta yang letakanya berdekatan dengan kawasan Suwung Batan Kendal sebagai kawasan etnik muslim dengan kesenian rodatnya yang khas. mengingatkan penulis pada peristiwa budaya terutama kegiatan upacara di puri Pemecutan Denpasar. pada tahun 2004. Kebetulan pada saat itu penulis dipercaya oleh wakil Kota Denpasar untuk menggarap meteri tabuh kreasi baru. dimana kretiria festival meharuskan mengguanakan instrumen tambahan khususnya pada materi tabuh kreasi baru dan penabuhnyapun harus campuran laki-laki dan perempuan dengan komposisi masing-masing grup diharuskan mempergunakan 10 orang penabuh wanita. Dalam konteks garapan “Lekesan” adalah sebuah karya yang beranjak dari kelisahan menyikapi suatu fenomena sosial dalam wadah Negara kesatuan yang terancam oleh riak-riak disintegrasi bangsa.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ini mencoba menggabungkan ansambel gong kebyar dengan alat musik orkestra lengkap. Situasi kerukunan hidup dengan sikap toleransi yang tinggi penting untuk dikemukakan. yang dimainkan oleh grup Gamelan Sekar Jaya yang bergabung dengan California Simponi. Hal ini disebabkan karena secara budaya masih ada kedekatan emosional dengan kerajaan Badung (Puri Pemecutan) sebagaimana juga terjadi di Karangasem antara keturunan muslim Sasak (Islam Waktu Telu) dengan Puri Karangasem.

benih yang tertanam mulai rapuh. ras. Beranjak dari situasi seperti itu Penulis melalui konsepsi musikalitasnya ingin menawarkan solusi betapa perbedaan itu akan membentuk suatu kekuatan dan menjadikan hidup ini lebih indah dan bermakna dalam kehidupan. Akibatnya. Ujung-ujungnya rasa persaudaraan dan tali pengikat persatuan mulai tercabik. CAL ART. 2 buah tamburin dan 10 buah suling. Dal hal yang sama juga terjadi dinegara-negara lain seperti Jepang. Kebyar Dipelajari di Seluruh Dunia Dijalur pendidikan formal keberadan gamelan gong kebyar sudah merambah keberbagai Universitas yang ada diseluruh dunia seperti. 155 . dan latar belakang budaya yang luhur mulai terkontaminasi oleh serakahnya kepentingan individu maupun golongan yang sarat dengan muatan politis. Esensinya penulis ingin menorehkan pesan keharmonisan hidup dalam wadah persatuan lewat karya sekaligus kritik terhadap fenomena faktual yang sedang berkembang. MIT. Australia dan Eropa. UCLA. 4. Dalam tabuh kreasi Lekesan ini penulis didalam mengekspresikan idenya tetap menggunakan barungan gong kebyar sebagai ansambel pokok yang diwajibkan. penulis menambahkan barungan gong kebyar dengan 5 buah rebana. serta perjalanannya mulai tanpa arah terseret arus perubahan. Adapun dalam Tabuh Kreasi Lekesan penulis. 4 buah kendang angklung . agama.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI lis melihat fenomena bahwa semboyan Bhineka Tunggal Ika sudah bergerak diluar relnya. dan banyak lagi gamelan gong kebyar diluar kampus seperti yang dimiliki oleh Kedutaan maupun Konsulat Indonesia yang ada di Amerika Serikat. sebagaimana kekuatan keragaman ekspresi musikal bersatu padu membentuk harmoni kedamaian dan keindahan rasa dalam bingkai struktur komposisi yang saling mengisi satu sama lainnya . namun disana-sini ditambahkan beberapa instrumen perkusi sesuai dengan kebutuhan garapan. Diangkatnya instrumen bernuansa muslim dalam pada tabuh kreasi baru Lekesan tak terlepas dari sebuah upaya untuk mengusung tema diatas. keragaman suku.

instrumen reong dan gangsa berfungsi untuk mengelaborasi kalima lagu melalui teknik pukulan ngubit. bahwasanya ada beberapa alasan yang menjadi pertimbangan mereka. instrumen kajar berfungsi intuk memegang mat lagu. Memiliki colotomic structure dimana masing-masing instrumen yang terdapat dalam barungan gong kebyar masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Tantangan masa depan Untuk menjawab tantangan masa depan. yaitu gong kebyar memiliki karakter yang unik dan terbuka. Seperti kendang misalnya yang berfungsi sebagai pemangku irama (conductor) dalam dalam musik klasik. sangat dibutuhkan pencip156 . norot dan oncang-oncangan. Adanya teknik pukulan “kebyar” yaitu memukul gamelan secara serentak dengan aksi dramatis tanpa seorang conductor atau dirigen. dimana pelatih memberikan contoh dari depan dan penabuh mengikuti dan menghafalkan. instrumen jublag dan jegogan berfungsi untuk mempertegas ruas-ruas lagu. Keunikan terletak pada tangga nadanya yang berlaras pelog lima nada dengan sistem pelarasan menggunakan sistem ngumbang-ngisep yang tidak dimiliki oleh alat-alat musik lainnya. maka secara tidak langsung kita sudah bermain dengan perasaan dan jika perasaan dibarengi dengan penghayatan disanalah letak jiwa dari lagu yang sedang dimainkan. Dari hasil pengamatan penulis yang pernah mengajar orang barat baik di Bali maupun diluar negeri. instrumen ugal dan trompong berfungsi sebagai pemangku melodi. cengceng untuk memperkaya hiasanhiasan lagu dan instrumen suling dan rebeb berfungsi untuk memaniskan lagu. ngotek. Dengan menghafalkan semua elemen yang membentuk musik tersebut dan berusaha bernyanyi dalam hati sambil bermain.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Sebuah pertanyaan sering muncul kenapa orang-orang barat khususnya musisi-musisi dunia demikian tertarik dengan gamelan gong kebyar. aba-aba datang dari pemain ugal yang tidak ada pada musik dunia lainnya. Satu hal lain yang membuat para musisi barat kagum dengan gong kebyar adalah cara mengajarkan gamelan kepada penabuh yang memakai sistem meniru dan menghafal.

2000 Zoete. 2005. I Wayan and Rocina Ballinger. Miguel. 1958. 157 . Kaja and kelod Balinese Dance in Transition. 1942 Dibia. Islang of Bali.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ta-pencipta yang unggul. Eropa. Dance and Drama ini Bali. Tenzer. New Haven and London: Yale University Press. Chicago and London: The University of Chicago Press. Daftar Pustaka Bandem. Drama and Music. Covarrubias. Singapore: Periplus Editions. Beryl and Walter Spies. Mc Phee. New York : Thomas Yoselof. New york: Alfred A. India dan Jepang yang sudah barang tentu memiliki aliran musik yang berbeda. Gamelan Gong kebyar : The Art of Twentieth-Century Balinese Music. I Made and Fredrik deBoer. Colin. Berani mengangkat kebyar menjadi musik kontemporer yang serius . Michael. Music in Bali. 1966. Perlu adanya keberanian untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan musisimusisi dari dunia lain seperti dari Amerika. Balinese Dance. Karena melodi merupakan kekuatan dasar dalam permainan gamelan Bali. mampu mencipta agar kebyar tidak menjadi musik yang ramai (baroque) tanpa melodi yang jelas. 1981. Kuala Lumpur : Oxford University Press. Knopf.

.

MENGEMAS SENI TRADISI SUMATERA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL 4 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. Dr. Beberapa buku yang pernah diterbitkan antara lain Fleksibelitas Gerak Dalam Tari (1992). Tulisan dan karya ilmiah Prof. Sejak tahun 1987 menjadi staf Pengajar Jurusan Tari STSI Padangpanjang. Jurnal IDEA Seni Pertunjukan BP. Bundo Kanduang No. 35 Padangpanjang Sumatera Barat. Sistem Penganalisisan dalam Tari (2003). Lahir di Lubuk Basung. Guguk Malintang Kec. Interdependensi Seni Tari dengan Seni Lainnya (1996). Majalah Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. Daryusti. Selain itu juga menjadi Pengajar Luar Biasa Akademi Bahasa Asing (AB) Bukittinggi. 26 RT VIII Kel. Penanggungjawab Pascasarjana STSI Padangpanjang ini telah cukup banyak melakukan penelitian dan membuat karya seni. 160 . Padangpanjang Timur Padangpanjang Sumatera Barat. Beberapa Perspektif dalam Tari (2000).. Alamat Rumah: Jln. Hegemoni Penghulu Dalam Perspektif Budaya (2006). Agam. Estetika Tari (1996). 28 Desember 1960. Daryusti juga banyak dipublikasikan di Majalah Berkala Penelitian Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Abu Hanifah No. Fasper ISI Yogyakartadan Majalah Jurnal Penelitian STSI Padangpanjang. Kajian Tari dalam Berbagai Segi (2001). Alamat Kantor: Jln. Etnologi Tari (2006) dan Analisis Tari (2007).Hum. Peraih Tanda Kehormatan Satyalencana Karya Satya X Tahun (2006) ini pernah merebut penghargaan sebagai Dosen Teladan III ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) (1993) dan Dosen Teladan I STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Padangpanjang (1997). M. Dr. Ketua STSI Padangpanjang ini menyelesaikan program Doktor pada Program Studi Kajian Budaya Universitas Udayana Denpasar (2006).

161 . setiap tradisi tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda. Warisan seni tradisi merupakan modal budaya masyarakat yang terus menerus dipertahankan untuk kepentingan sosial. Ketua STSI Padang Panjang Pendahuluan umatera Barat merupakan daerah administrasi pemerintahan Republik Indonesia. Setiap kecamatan terdiri atau kelurahan atau nagari1. Daryusti. karena seni mengandung nilai-nilai dan makna di dalamnya. Setiap nagari memiliki seni tradisi. Setiap seni tradisi akan dapat berkomunikasi sosial yang sesuai dengan ukuran pendukungnya. karena setiap orang daya serapnya terhadap seni akan ber- S 1 Nagari adalah gabungan desa-desa yang mempunyai satu kesatuan sosial.Hum. Daryusti (2006) mengatakan bahwa setiap nagari di Sumatera Barat mempunyai seni tradisi. Masing-masing kota paling sedikit memiliki 2 kecamatan dan masing-masing kabupaten memiliki paling sedikit 8 kecamatan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Ragam Kemasan Seni Tradisi Sumatera Barat dalam Komunikasi Sosial Rakyat dan Pemerintah Prof. Daerah Sumatera Barat secara keseluruhan terdiri atas 19 kabupaten dan 7 kota. Dalam hal ini yang menyebabkan perbedaan fungsi tersebut disebabkan adanya faktor agama dan adat setempat. Perbedaan tersebut terlihat dalam masyarakat tradisional yang menempatkan kesenian sebagai sesuatu yang memiliki fungsi dan kedudukan yang penting terutama dalam upacara adat. M. Seni tradisi dikembangkan oleh masing-masing masyarakat pendukungnya. Dr.

Sebagai contoh di Sumatera 162 . lahir di dalam masyarakat dan oleh masyarakat. Dengan masuknya Islam.S. yang sebagian besar berkembang di kalangan masyarakat. dan seni teater. Mansoer dkk. khususnya pertunjukan tari. Seni yang termasuk kelompok seni pertunjukan adalah seni tari. yang mengandung unsur bukan Islam. Dengan demikian. Kondisi Masa Lalu Secara umum ragam kemasan seni tradisi Sumatera Barat dalam komunikasi rakyat dan pemerintah dapat dibagi dua kelompok.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF beda. seni musik. dapat dikatakan bahwa seni hadir dalam kehidupan masyarakat sebagai pendukung merupakan bagian terpenting sesuai dengan kebutuhan hidup. Seni yang termasuk kelompok seni rupa adalah terdiri dari seni kriya dan seni artistik. Kerjasama tersebut dilakukan dengan komunikasi yang efektif melalui simbol dan kesepakatan antar individu dan kelompok. (1997) menjelaskan bahwa. Secara berkelompok masyarakat sebagai pendukung seni tradisi akan bekerjasama untuk melestarikan seni yang berada di lingkungannya. baik secara eksplisit maupun implisit orang Minangkabau percaya akan adanya kekuatan gaib. (1970) menjelaskan bahwa Islam masuk dan berkembang di daerah Sumatera Barat dibawa oleh pedagang-pedagang dari Aceh pada akhir abad ke-16. Oleh karena itu.S (1997) mengatakan bahwa ajaran tentang “spiritismeanimisme” adalah ajaran yang berhubungan dengan pemujaan terhadap roh nenek moyang dan kepercayaan terhadap benda yang mempunyai roh. yakni yang berupa mitos. Maka dari itu. maka dapat dikatakan bahwa sesungguhnya bentuk seni di Sumatera Barat. Amir M. Amir M. dalam hal ini seni tari. Komunikasi masyarakat atau para pendukung dalam lingkungan seni tradisi yang ada individu dan kelompok akan dihadapkan kepada masalah-masalah yang dalam situasi untuk disepakati. Kepercayaan tersebut memunculkan keanekaragaman bentuk tari di Sumatera Barat. karena manusia turut serta menciptakan keberadaan seni tradisi di lingkungannya. maka upacara-upacara yang berhubungan dengan seni pertunjukan. Masyarakat sebagai pendukung seni tradisi dalam kehidupan seharihari selalu bertemu dengan berbagai gejala kehidupan dari segi keindahan untuk kepuasan batin. yaitu seni pertunjukan dan seni rupa. sering dipentaskan.

Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Imran dkk. Hal ini dapat dilihat karena adanya sesaji atau jamba sebagai syarat untuk penyajian tari Alang Suntiang Pangulu. khususnya seni tari. tetapi untuk dipahami dan dihayati maknanya serta dipercaya. atau dengan kata lain seluruh mekanisme kehidupan sosial bagi semua anggota dijiwai oleh adat. Hal ini dapat dilihat pada pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu dalam masyarakat Padang Laweh. maka mitos dapat dikatakan tidak untuk diukur dan dijelaskan dengan ukuran kebenaran rasional manusia. dan diletakkan di depan penghulu yang akan dinobatkan. Kepercayaan terhadap mitos bercampur dengan agama Islam tertuang di dalam bentuk kesenian Sumatera Barat. Oleh karena itu. yakni ditentukan oleh berbagai aturan. Sementara itu. sesaji atau jamba tersebut dibacakan doanya menurut syariat agama Islam. Oleh karena mitos merupakan kesadaran langsung masyarakat tentang realitas yang dipercaya untuk menangkap dunia realitas dengan kepercayaan yang diyakini. Said (2004) menyatakan bahwa adat adalah aturan-aturan tentang kehidupan manusia yang disepakati penduduk dalam suatu daerah tertentu untuk mengatur tingkah laku anggota masyarakat sebagai kelompok sosial. Syarat tersebut sudah merupakan keyakinan masyarakat Padang Laweh sampai saat ini. sebelum tari Alang Suntiang Pangulu dipertunjukkan salah seorang kemenakan dari penghulu yang akan dinobatkan harus menyediakan sesaji atau jamba yang berisikan siriah langkok (sirih lengkap) dalam carano. Tari Alang Suntiang Pangulu menurut kepercayaan masyarakat Nagari Padang Laweh merupakan tari yang dipertunjukkan untuk ritual upacara penobatan penghulu oleh kaum atau suku. Dengan demikian. Pertama. Uraian di atas menunjukkan bahwa adat dan agama di Sumatera Barat merupakan satu kesatuan yang saling menunjang dan kait-mengait. setiap manusia yang berada dalam lingkaran kehidupan adat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari unit sosial. maka manusia telah menerima adat secara total sebagai sistem kehidupan sosialnya serta percaya bahwa hanya dengan berpedoman pada adatlah ketenteraman 163 . (2002) bahwa pemikiran dalam mitos hanya dapat dibaca melalui pengkajian semiotik terhadap simbol-simbol yang digunakan. Dalam hal ini diperkenankannya tari ini dipertunjukkan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Barat pada masyarakat Padang Laweh mitos didasarkan kepada kepercayaan yang lebih dari fakta. Selanjutnya.

Sementara itu. yakni untuk mengatur kehidupan manusia dari hal yang sekecil-kecilnya sampai kepada masalah yang lebih luas dan besar. Kedua. Koentjaraningrat (1984) mengatakan bahwa agama erat hubungannya dengan upacara-upacara religius dan menentukan tata alur unsur-unsur acara serta rangkaian alatalat yang dipakai dalam upacara itu. baik secara peribadi maupun pada cara bermusyawarah saat tari Alang Suntiang Pangulu dipertunjukkan untuk penghulu yang dinobatkan dan didudukkan di antara penghulu lain. adat bagi masyarakat Padang Laweh. Dalam kekuasaan penghulu terdapat adat yang mengatur pentingnya mewujudkan persatuan masyarakat Padang Laweh dan tentang dapat atau tidaknya tari Alang Suntiang Pangulu dipertunjukkan. hal ini merupakan pernyataan rasa menghormati dan mencintai penghulu yang dinobatkan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan kebahagiaan bagi setiap anggota masyarakat dapat terjamin. Penghulu yang dinobatkan diapit kiri kanan oleh penghulu lainnya. Dalam hal ini Al-Quranul Karim sebagai sumber hukum dalam Agama Islam yang diwahyukan Allah melalui Jibril kepada Nabi Muhammad SAW berisi ajaran dan perintah Allah tentang mempelajari alam semesta untuk kepentingan hidup manusia. maka adat dan agama dalam pertunjukan tari tersebut pada masyarakat Padang Laweh mengandung ajaran pokok sebagai berikut. Di samping itu. 164 . Selain itu. aturan adat untuk bertingkah laku dalam perbuatan yang sekecil-kecilnya dapat dilihat dari tempat duduknya penghulu yang dinobatkan di rumah gadang (rumah adat) pada saat pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu. di samping telah memegang dan menjunjung tinggi prinsip demokrasi yang disebut musyawarah dan mufakat. masyarakat Padang Laweh mengakui kekuasaan penghulu terhadap tari Alang Suntiang Pangulu. baik secara peribadi maupun secara mufakat. adat yang mengatur pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu tentang hal yang lebih besar dan lebih luas. hal ini juga mengatur tentang prinsip persatuan dan kesatuan untuk mencapai tujuan bersama. Penghulu yang dinobatkan duduk diapit penghulu lain. seperti mengatur besarnya kekuasaan penghulu terhadap tari Alang Suntiang Pangulu dalam masyarakat Padang Laweh. Berdasarkan uraian adat dan agama yang terkait dalam pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu. Perihal untuk kepentingan hidup manusia. Dalam hal bermasyarakat pada umumnya. Pada masyarakat Padang Laweh dapat dilihat.

Balai adat adalah lembaga kebudayaan tempat penghulu nagari mengadakan rapat atau musyawarah sesama penghulu dan masyarakat Padang Laweh. atau pun enam orang laki-laki secara berpasangan. hubungan adat dan agama lebih lanjut dalam masyarakat Padang Laweh digambarkan dengan simbol kelengkapan berdirinya sebuah nagari. agama bersendikan kitab (Al Quran)’. Simbol nagari adalah balai adat dan masjid. Para penari tidak diperbolehkan keluar dari tikar selama menari dan tidak dibenarkan atau dilarang untuk melintasi arena pertunjukan. pemilihan penari laki-laki dilandasi oleh pandangan perihal tabu bagi wanita untuk menari di depan umum. yaitu antara penghulu dengan kemenakannya. tari Alang 165 . 4) Aturan tentang memegang teguh prinsip musyawarah dan mufakat antara sesama penghulu. adat basandi syarak. yaitu adanya agama. Di samping itu. Tidak lengkap dan sempurna suatu nagari apabila salah satu dari dua institusi yaitu balai adat dan masjid tidak ada. Di samping itu. dikenakan denda seekor ayam singgang (daging ayam yang digulai dan dimasak hingga kental kuahnya). Ketiga. Masjid merupakan lembaga agama tempat sholat dan musyawarah penghulu dengan masyarakat Padang Laweh. 2) Aturan yang mengatur tentang hubungan antarsesama manusia. Tari ini biasanya dibawakan oleh dua orang. Perpaduan antara keduanya kemudian melahirkan suatu pepatah Minangkabau yang berbunyi. Apabila ada yang melintasi penari atau melanggar ketentuan ini. syarak basandi kitabullah. 5) Selanjutnya. artinya ‘adat bersendikan agama.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 1) Aturan yang mengatur tentang hubungan manusia dengan Tuhan-Nya. maka tari Alang Suntiang Pangulu di Padang Laweh Sumatera Barat memiliki hubungan yang erat dengan agama Islam. para penari tari Alang Suntiang Pangulu menari di atas tikar yang dibentangkan dalam rumah gadang (rumah adat). empat orang. Penari yang berjumlah genap tersebut sudah mentradisi dalam masyarakat Padang Laweh. 3) Aturan yang mengatur tentang membina persatuan dalam masyarakat Padang Laweh. Dengan demikian.

Selanjutnya. tari ini dapat dibawakan oleh masyarakat dalam lingkungan Nagari Padang Laweh. dan Tara Jali Sutan Majo Kayo secara adat (pada 1970) karena mengajarkan tari Alang Suntiang Pangulu di ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) Padangpanjang dalam rangka pertunjukan di Jakarta Fair. faktor sejarah menunjukkan bahwa penghulu pernah mengusir atau mengeluarkan Inun Pakiah Bungsu. Wih Sutan Maralauik. Dalam hal ini. komunikasi akan tercapai atau sukses apabila bentuk-bentuk hubungan komunikasi menggambarkan upaya yang sadar dari kelompok yang berkomunikasi dengan tujuan mencapai kebutuhan untuk bersatu. Hal ini akan memperlihatkan keharmonisan sosial dalam masyarakat. Pada umumnya setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang lain. Mengusir pengajar tari tersebut merupakan salah satu bentuk kekuasaan penghulu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Suntiang Pangulu dibawakan dengan iringan musik. tanpa seizin para penghulu dan angku. Hal ini tampak ketika orang perorang dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut. yakni pengangkatan angku tersebut sama dengan pengangkatan penghulu yang baru diangkat). Bahkan. Alat musik yang dipergunakan untuk mengiringi tari Alang Suntiang Pangulu adalah adok. Dengan kata lain. Kebutuhan akan terpenuhi melalui pertukaran peran dan pikiran yang dapat berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia. orang yang tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain akan terisolasi. Dengan interaksi akan muncul proses sosial yang diartikan sebagai pengaruh timbal-balik antara pelbagai segi kehidupan bersama. tidak dibolehkan oleh para penghulu dan angku atau rang mudo (gelar yang diberikan kepada seseorang untuk bertukar pikiran dengan para penghulu. dan talempong pacik. Selain itu. Seandainya ada penari di luar Nagari Padang Laweh yang berkeinginan untuk mempelajari tari Alang Suntiang Pangulu. Daryusti (2006) komunikasi akan berhubungan dengan manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia lainnya. maka pengajar tari tersebut diusir dan dikucilkan dari nagarinya. seandainya ada di antara penari yang mengajarkan tari ini pada penari di luar Nagari Padang Laweh. Keempat. gandang (gendang). Interaksi yang efektif sangat tergantung dari komunikasi antarindividu. 166 . Interaksi terlihat pada cara-cara berhubungan. tari ini diiringi dengan tepukan tangan dan dendang (vokal).

yakni di satu pihak. orang-orang dapat berhubungan satu dengan yang lainnya melalui telepon. seperti berbicara dengan pihak lain. Kontak sosial pada penghulu dengan masyarakat dan penari akan dapat berlangsung dalam dua bentuk. Sebagai gejala sosial. Angku adalah tempat penghulu berkonsultasi tentang kemajuan dan kejadiankejadian yang ditemui oleh penari. memberikan instruksi kepada masyarakat. Di samping itu. pemusik. penari. dan lain-lain yang tidak memerlukan sentuhan secara fisik. Dalam hal ini individu dan kelompok akan dihadapkan kepada masalah-masalah yang ada dalam suatu situasi karena suatu pesan harus disepakati dalam masyarakat. b.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Komunikasi terjadi jika ada unsur pesan dan penerima pesan. a. dan masyarakat terkait dengan larangan mengajarkan tari Alang Suntiang Pangulu di luar Nagari Padang Laweh. mereka telah mengetahui dan sadar akan kedudukannya masing-masing. kontak tidak berarti hubungan badaniah. Orang dapat mengadakan hubungan dengan pihak lain tanpa menyentuhnya. kontak baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniah. Soekanto (1993) mengatakan bahwa suatu interaksi tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat. Interaksi penghulu dengan kaum atau masyarakat mempunyai beberapa unsur pokok yang terkait dalam kehidupan masyarakatnya. Di samping itu. pemusik. dan masyarakat. telegrap. Hal 167 . kontak sosial adalah bersama-sama menyentuh. dalam hal ini penghulu dan angku. Sumatera Barat. Apabila ada penari. integrasi dapat mempengaruhi orang yang berkomunikasi. dan pemusik. Kontak sosial antara penghulu dengan angku. Dalam hal ini kontak diperlukan antara penghulu dengan angku atau rang mudo atau sesepuh tari Alang Suntiang Pangulu dengan penari dan masyarakat. sedangkan secara fisik. yaitu adanya kontak sosial dan komunikasi. pemusik. radio. surat. Dengan kata lain. Davis (1960) mengatakan bahwa hubungan badaniah tidak perlu menjadi syarat utama terjadinya kontak. seperti uraian berikut ini. Kontak sosial antara penghulu dengan penari. Secara harfiah. sesuai dengan perkembangan teknologi dewasa ini. dan masyarakat yang mengajarkan tari ini di luar Nagari Padang Laweh akan diusir secara adat. Hal ini berarti bahwa masing-masing pihak siap untuk mengadakan interaksi sosial.

terharu. sehingga menimbulkan rasa senang. Syair-syair Dikie yang disajikan tersebut secara umum tidak dimengerti artinya (bahasa Indonesianya) baik sang si-seniman maupun si-pendengar. Sehingga Musik Dikie merupakan nyanyian malam ”kaum kuno”. yang diyakini sebagai pembawa ajaran Islam dimuka bumi ini. dan kisah-kisah para nabi Allah terutama nabi Muhammad SAW.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ini berkaitan dengan rasa takut. rasa aman dan nyaman. pemujaan. Dalam 2 Ungku adalah ulama dari kaum kuno atau ustaz 168 . mereka bernyanyi dalam bentuk bersahut-sahutan dan pada bagian-bagian tertentu berbentuk koor. Dalam pengembangan Islam di Sumatera Barat sering dimulai dari seni musik dan pada akhirnya menjadi musik tradisional Sumatera Barat yang bernuansa Islam. dan kekuasaan tradisional. Desmawardi (2007) Musik Dikie sangat populer dikalangan yang menamakan dirinya ”kaum kuno” di Sumatera Barat terutama dalam kabupaten Padang Pariaman. mereka terpaku.. teks-teks tersebut bertemakan tentang pemujaan terhadap Allah SWT. Sebelum penyajian Musik Dikie. dan manyanjung nabi Muhammad SAW. Teks-teks nyanyian bersumber dari kitab Maulud Sariful Anam berbahasa Arab.. dan setelah mereka terkumpul maka sang Ungku2 akan memberikan pelajaran-pelajaran tentang ajaran Islam. puas. terlebih dahulu mereka berdoa yang dipimpin oleh seorang Ungku memohon kepada sang pencipta mengharapkan keridhaanNya. Mereka hanya meyakini bahwa yang didendangkan itu adalah hal yang baik dipandang secara ajaran Islam dan melodi yang dimainkan menyentuh jiwanya. rasa cinta. bahagia. walaupun telah dinikmati berkali-kali. serta keinginan untuk mengalami kembali perasaan itu. Pada mulanya Musik Dikie merupakan salah satu media untuk mengumpulkan segenap orang agar dapat mendengarkan syair-syair Arab yang bertemakan pemujaan kepada sang pencipta serta sanjungan terhadap nabi Muhammad SAW. sehingga timbullah kesenian yang bernuansa Islam.. Akibat dari perasaan itu sangat kuat. kepercayaan. terpesona. Pergeseran nilai menjadi hiburan dan kontemplasi terhadap sang pencipta akan menambah perbendaharaan seni pertunjukan Sumatera Barat Musik Dikie yang berkembang pada yang berkembang pada masyarakat ”kaum kuno” ini disajikan dalam bahasa Arab tanpa memakai alat musik. Pertunjukan Musik Dikie umumnya ditampilkan pada malam hari sesudah shalat Isya sampai menjelang masuk waktu Subuh.

dan keterlibatan kaum wanita hanya sebatas menyiapkan hidangan dengan berbagai bentuk dan jenis makanan sesuai dengan konteks penyajian waktu itu. Para penonton akan datang dan pulang sesuai dengan kehendaknya sendiri-sendiri. Seni tradisi bukan merupakan hasil kreativitas individu-individu. namun para penyaji musik dikalangan ”kaum kuno” ini tidak membiasakan penampilannya secara individu. Menurut pengakuan para tukang Dikie apabila mereka telah mencapai klimaks dalam pertunjukannya. Semakin larut malam penyajian Dikie. sehingga upacara maulud terkesan sangat mewah. begitu juga halnya dengan buah-buahan ditata dengan rapi. seperti orang menonton pertunjukan musik Jaz yang harus berpakaian rapi dan kapan perlu memakai dasi. membuat suasana semakin melankolis dan konsentrasi pemain semakin tinggi. mau ngobrol atau memang benar-benar memperhatikan apa yang dibaca dan dinyanyikan tukang Dikie. maka para ibu-ibu harus menyiapkan hidangan yang sangat mewah seperti nasi jamba. karena saat itu seolah-olah mereka melihat segala kebesaran Ilahi. semua terserah penonton. Bila diperhatikan pada waktu penyajian Dikie dalam Maulud nabi. bahkan tak pernah mereka lakukan hal ini menggambarkan sifat kegotong royongan yang sangat kental antara sesama pemusik (seniman Dikie). Dalam perjalanannya. dan peringatan hari-hari besar 169 . Pertunjukan Musik Dikie di kalangan ”kaum kuno” biasa disajikan pada saat adanya peristiwa maulud nabi. Musik Dikie hanya dimainkan oleh para lelaki. berbagai jenis kue dan segala macam jenis buah yang musim saat itu. Penonton Musik Dikie bebas saja mau duduk atau berdiri. Walau Musik Dikie dapat dimainkan secara individu dan dapat diiringi dengan alat musik. Musik Dikie merupakan pencerminan dari suatu kultur yang berkembang dari masyarakat kecil yang saling mengenal secara akrab dan komunikatif. bahkan tak jarang terjadi mereka menangis bahkan ada yang sampai intren tak sadarkan diri.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI penyajian Dikie mereka selalu menekankan keharmonisan dalam kebersamaan. mereka tidak diharuskan memakai pakaian tertentu. tetapi tercipta secara anonim bersama dengan sifat kreativitas masyarakat yang menunjangnya. Penyajian Musik Dikie tidak menuntut banyak penonton atau tidak menentukan siapa penontonnya. maka mereka akan menangis atau intren. Kue-kue tersebut dihiasi sangat indah sesuai dengan nilai seni yang dimiliki kaum ibu.

rumah 170 . 2 x 7. Gerakan-gerakan galombang yang dilakukan oleh para pemain randai dalam formasi melingkar dapat diinterprestasikan berbentuk lingkaran seperti rantai. dimainkan oleh rakyat untuk rakyat itu sendiri.helat lainnya. waktu pesta penen. Seni Teater Pada Masa Lampau Randai suatu bentuk teater rakyat tradisional Sumatera Barat. helat batagak penghulu. dendang yang disebut gurindam. Kehadiran randai dalam upacara-upacara itu hanya sebagai pelengkap dan penyemarak. (manujuah hari. Akan tetapi sebagai kesenian tradisional rakyat. dan ravan-li-da’i. randai jelas dapat mempertebal rasa ketradisian dan karakyatan terhadap upacara-upacara tradisional. Ia hadir atau ditampilkan dalam upacara-upacara tradisional. randai hidup dalam kehidupan rakyat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Islam lainnya kemudian peringatan 7 hari. tanpa randai upacara-upacara tersebut masih bisa tetap dilaksanakan. dialog dan akting. penyampaian ajaran-ajaran tersebut dalam bentuk dialog dan akting pada penampilan randai dekat dengan pengertian dakwah dalam Islam.pemainnya. randai hidup bersama tradisi-tradisi yang berlaku dalam masyarakatnya. dan helat. maampek puluah. Dengan arti kata. Apabila diperhatikan penggarapan randai yang berbentuk teater. 40 hari bahkan 100 hari seseorang setelah meninggal dunia yang biasa disebut mando’a. dan galombang atao gerakan-gerakan tari bersumber pada gerakan-gerakan pencak silat tradisional Sumatera Barat yang dilakukan dalam formasi melingkar oleh pemain. karena pada kesenian tersebut terdapat unsur-unsur penceritaan yang bersifat kiasan atau pengandaian yang disampaikan oleh para pemain dalam bentuk dialog dan akting. padanya terdapat unsur-unsur pokok yaitu. rantai. cerita. Cerita yang disajikan dalam randai pada awalnya mengutamakan cerita yang berisi tentang pejaran-pelajaran adat istiadat Sumatera Barat yang bermanfaat untuk publik. manduo kali tujuah. helat perkawinan. dan manyaratuih). Sebagai kesenian tradisional. maka ada benarnya jika randai dikatakan berasal dari andai atau handai. Zulkifli (1993) randai sebagai teater rakyat. Seni Arsitektur Pada Masa Lalu Rumah gadang (besar) Sumatera Barat dibangun di atas tiang.

tidak melukiskan lambang-lambang atau simbol-simbol. Arsitektur Sumatera Barat sebagai suku bangsa menganut falsafah alam terkembang jadi guru. Atapnya yang lancip merupakan arsitektur yang khas serta membedakannya dengan bangunan suku bangsa lain di edaran garis khatulistiwa. berbunga. Pola akar itu berbentuk lingkaran. dan berbuah. menyelaraskan kehidupannya pada susunan alam yang harmonis tetapi juga dinamis. Garis melintangnya melengkung secara tajam dan juga landai dengan bagian tengahnya lebih rendah. sifat ukiran nonfiguratif. maka segi empat yang membesar ke atas ditutup. Pada pintu dan jendela serta pada setiap persambungan papan pada paran dan bendul terdapat papan bingkai yang lurus. dan kesetangkupan dalam keutuhannya yang merupakan satu kesatuan. Pada dasarnya ukiran itu merupakan ragam hias pengisi bidang dalam bentuk garis melingkar atau persegi. semuanya membentuk suatu keseimbangan estetika yang sesuai dengan ajaran hidup. terkecuali dinding bagian belakang yang dari bambu. Lengkung pada atapnya tajam seperti garis tanduk kerbau. keseimbangan. yang menimbulkan berbagai pertentangan dan keseimbangan. Garis segi empat yang membesar ke atas dikombinasikan dengan garis yang melengkung rendah di bagian tengah secara estetika merupakan komposisi yang dinamis. kelarasan. Jika dilihat secara keseluruhan. sedangkan lengkung badan rumah landai seperti badan kapal. berhimpitan. sehingga seluruh dinding menjadi penuh ukiran. Motifnya tumbuhan merambat yang disebut akar yang berdaun. ber171 . Akar berjajaran.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI gadang mempunyai kolong yang tinggi. Bentuk dasar rumah gadang berbentuk segi empat yang tidak simetris yang mengembang ke atas. Ajaran falsafah Sumatera Barat yang bersumber dari alam terkembang. arsitektur rumah gadang dibangun menurut syarat-syarat estetika dan fungsi yang sesuai dengan kodrat atau yang mengandung nilai-nilai kesatuan. Navis (1986) semua dinding rumah gadang dari papan. Jika dilihat dari sebelah sisi bangunan. yang disebut bakarano bakajadian (bersebab dan berakibat). sehingga kehidupannya menganut teori dialektis. Semua papan yang menjadi dinding dan menjadi bingkai diberi ukiran. Papan dinding dipasang vertikal. Ada kalanya tiang yang tegak di tengah diberi juga sebaris ukiran pada pinggangnya.

maka masing-masing diberi nama. Ada keluk yang searah di samping ada yang berlawanan. 2. 6. Akar ganda yang paralel dinamakan kambang (kembang = mekar). 5. Lingkaran yang sambung-bersambung dinamakan aka (akar). Lingkaran yang bertingkat dinamakan salompek (selompat). 4. Lingkaran yang berjajar dinamakan ular gerang karena lingkaran itu menimbulkan asosiasi pada bentuk ular yang sedang melingkar. salah satunya cara adalah dengan mengolah bahan lidi dengan menggunakan 172 . Ukiran segi empat genjang dinamakan sayat gelamai karena bentuknya seperti potongan gelamai yang disayat genjang. ke atas. Nama pucuk rebung diambil karena pucuk rebung memang runcing seperti segitiga maknanya adalah ajaran tentang orang yang berguna. Pemeberian nama itu tergantung garis yang dominan pada ukiran. karena bentuknya merambat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF jalinan. Pada dasarnya nama yang diberikan ialah sebagai berikut. 1. dan buah. ke dalam. Ukuran atau bentuk tingkatan lingkaran itu sama atau tidak sama. Yuli (2008) Kelurahan Jalan Baru Pariaman memiliki masyarakat yang sangat kreatif dan inovatif memanfaatkan dan meningkatkan limbah lidi sebagai barang yang berfungsi serta bernilai tinggi. Simbol potongan gelamai ini mengingatkan terhadap makanan khas dari Payakumbuh Sumatera Barat Seni Kriya Pada Masa Lampau. Cabang atau ranting akar itu berkeluk ke luar. Seluruh bidang diisi dengan daun. Nama ukiran geometri bersegi tiga pada umumnya disebut dengan pucuk rebung. Lingkaran bercabang atau beranting yang terputus dinamakan kaluak (keluk). Lingkaran yang berkaitan dinamakan saluak (seluk) karena bentuknya yang berseluk atau berhubungan satu sama lain. 3. Lingkaran yang berjalin dinamakan jalo (jala) atau tangguak (tangguk) atau jarek (jerat) karena mernyerupai jalinan benang pada alat penangkap hewan. Akar itu bervariasi banyak. dan juga sambung menyambung. bunga. dan ke bawah.

akan tetapi piring yang dimaksud digunakan sebagai alas (tadah) ketika kita akan makan nasi bungkus. dimana benda tersebut digunakan sebagai wadah tempat buah pada meja tamu di setiap acara pesta. Dengan semangat dan dukungan dari teman-teman seprofesi. 173 . ini dapat dilihat dalam beberapa jenis produk antara lain piring. tudung saji. Karena anyaman berbentuk piring ini pernah dipesan oleh Yosa Katering dari Padang. seperti yang pernah dilakukan oleh sebagian penjual nasi sek (nasi tanpa lauk pauk dibungkas dengan daun sebanyak satu kepal) dipinggir pantai Pariaman dan sebagian penjual pecel lele Wong Solo baik yang ada di kota Pariaman maupun Wong Solo yang ada di kota Padang dan sebagian daerah yang ada di pulau Jawa. kriya anyaman lidi milik Syafrudin sudah mendapat tempat di hati masyarakat. baik di dalam maupun di luar wilayah Pariaman. dan 3 cm untuk tinggi badan. Piring Piring yang dimaksud disini bukanlah bentuk piring yang sebenarnya seperti piring porselen yang biasa di temukan dalam kehidupan sehari-hari di meja makan. usaha ini berjalan dan berkembang dengan pesatnya. sehingga usaha keluarga tersebut diberi nama “Usaha Anyaman Lidi Ilham”. Kemunculan anyaman lidi ini juga dilatar belakangi oleh tuntutan profesi dan tanggung jawab moril Syafruddin sebagai salah satu staf dinas perindustrian kota Pariaman. terbukti baru beberapa bulan berjalan. akan tetapi piring anyaman ini bentuknya miring layah menyerupai piring makan namun tidak bisa difungsikan seperti piring makan biasa. Piring-piring ini memiliki ukuran diameter 11 cm untuk alas dan 20 cm untuk badan sedangkan tinggi piring 2 cm untuk kaki. Ada juga piring ini difungsikan sebagai tempat buah tergantung bagaimana si konsumen menempatkannya. dan carano. a.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI teknik anyaman sehingga menghasilkan benda-benda bernilai guna dalam kehidupan sehari-hari denagn berbagai bentuk yang unik dan menarik. Benda anyaman lidi yang permukaannya berbentuk lingkaran. Lahirnya ide dalam membuat anyaman lidi merupakan satu anugrah yang sangat besar yang diilhamkan kepada Syafruddin oleh Allah SWT dan dibantu oleh doa dan restu anggota keluarga.

Carano Carano mepunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat. Carano terbuat dari logam atau pun kuningan dengan permukaan sebelah atas (mulutnya) bulat seperti piring dengan diameter ± 33. Tudung saji Tudung saji ini digunakan untuk menutup makanan di atas meja makan. Dalam kehidupan sehari-hari carano di Minangkabau. karena carano dari anyaman lidi harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan carano dari bahan logam atau kuningan. hal itu sudah menjamur dipasaran. sadah. atau lebih kecil dari permukaan sebelah atas carano. yang digunakan sebagai tempat sirih dan perlengkapannya. Dengan adanya carano dari bahan lidi dapat membantu meringankan beban masyarakat untuk memiliki carano.5 cm. gambir. Tudung saji dibuat dengan ukuran berdiameter 40 cm dan tinggi 25 cm. dan tembakau yang ditutup dengan dalamak untuk pertunjukan tari Alang Sentiang Pangulu. Sumatera Barat dikenal sebagai tempat daun sirih. Dalam hal ini carano (cerana) yang digunakan untuk pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu dapat dikatakan sebagai penanda. pisang. Dalam pada itu. namun kali ini Syafrudin mencoba membuat carano dari anyaman lidi dengan pertimbangan karena keadaan krisis ekonomi semua bahan harganya sudah pasti naik. memiliki leher agak panjang dan alasnya berbentuk bulat dengan diameter ± 30 cm. Carano ini biasanya dibuat dari bahan logam atau kuningan. Penghubung antara permukaan dengan alas carano (leher cerana) 174 . dan tembakau. Tudung saji pada umumnya terbuat dari bahan plastik dan anyaman rotan. masyarakat Padang Magek Sumatera Barat menyebut tudung atau penutup bagian atas dengan tuduang aia. c. berisikan sesaji daun sirih. Carano (cerana). Tuduang aia berguna sebagai penutup makanan dalam talam atau dulang tinggi. sadah. pinang. Tapi kali ini tudung saji dibuat dari bahan lidi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF b. Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990) istilah tudung berarti sesuatu yang diapakai untuk menutup atau melingkupi bagian sebelah atas. hal ini berimbasan pada harga jual carano yang terbuat dari logam. yang disuguhkan pada setiap acara adat.

tari Alang Suntiang Pangulu pertama kali disajikan untuk ritual adat dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (1981) di Gedung Triarga Bukittinggi. dan penyambutan tamu agung diperlukan ongkos produksi (production cost).pada acara-acara di nagari masyarakat Padang Laweh dan di sekolah-sekolah sekitar nagari tersebut. Pada umumnya ongkos produksi (production cost) dibebankan kepada panitia kegiatan. dan khitanan. di Bali carano hampir sama dengan istilah pengasapan yang digunakan untuk membakar dupa atau bubuk cendana oleh pedanda. Dalam pada itu. bentuk carano hampir sama dengan kecohan (tempat meludah). Kondisi Masa Sekarang Komunikasi sosial seni tradisi dengan pemerintah dapat dilihat pada saat fungsi tari Alang Suntiang Pangulu adalah untuk menyambut tamu agung yang datang ke Nagari Padang Laweh. Sebagai contoh. Diwaktu penampilan Musik Dikie ini disampaikanlah apa yang dimaksudkan oleh masyarakat kepada unsur pemerintah ini melalui pantun-pantun atau dendang Dikie tersebut. Dalam adat Jawa. Pada malam penampilan Musik Dikie. Dalam hal ini untuk memproduksi tari Alang Suntiang Pangulu sebagai ritual khitanan. pesta perkawinan. Biasanya carano yang telah diisi lengkap ditutup dengan dalamak. pesta pernikahan. Pantun itu seperti: Batang aua paantak sawah Pangkanyo sarang sipasin Pado bapak diadokan sambah Indak madok ka nan lain Ligundi di sawah landai Sariak indak babungo lado Karano jalan kami tabangkalai 175 . Sementara itu. diundanglah unsur-unsur pemerintah untuk menyaksikan penampilan Musik Dikie tersebut. tari Alang Suntiang Pangulu pada saat sekarang telah dapat disajikan sebagai sajian estetis. Kehadiran Musik Dikie saat ini juga berfungsi sebagai alat komunikasi antara rakyat dan pemerintah. yakni panitia pelaksananya diketuai oleh Jarmias Kasi Kebudayaan Kota Madya Bukittinggi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dapat dipegang dengan tangan.

Salah satunya dapat lihat dari usaha Dt Bandaro Putiah salah seorang pemuka adat di Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam yang menggunakan randai Cindua Mato sebagaimedia penyuluhan pendidikan pada masyarakat sekitarnya. pada saat sekarang dikembangkan dalam bentuk wadah-wadah seperti keranjang bunga atau keranjang buah.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Bantulah apo ala kadarnyo (Batang aur penahan sawah Pangkalnya sarang si pasin Kepada bapak terhadap sembah Tidak menghadap pada yang lain Ligundi di sawah landai Sariak tidak berbunga lada Karena jalan kami belum siap Bantulah kami ada adanya) Keikutsertaan pemerintah Sumatera Barat membina dan mengembangkan kesenian randai mengakibatkan munculnya cerita randai yang berisikan pesan-pesan pembangunan seperti masalah KB. Seni anyaman lidi yang diproduksi dalam berbagai bentuk. pada masa sekarang makin dikembangkan dan makin dipromosikan untuk memajukan industri kecil rumah tangga. Hal ini akan menampakkan ciri khas bangunan adat Sumatera Barat itu sendiri. Jika ada tamu-tamu resmi yang datang disuguhi dengan sirih di carano yang dalam perjalanannya sirih dapat diganti dengan permen. Sekarang tudung saji dikembangkan dengan membuat hiasanhiasan dinding atau penutup makanan dengan berbagai variasi sehingga dapat berbentuk cendra mata yang cantik. juga sudah makin dikembangkan. dan juga cerita yang mengandung nilai-nilai pendidikan Pancasila. pertanian. Arsitektur tradisi Minangkabau khususnya bangunan rumah gadang. Carano juga sekarang sudah diproduksi dengan berbagai ben176 . Pada zaman dahulu yang dibuat dalam bentuk piring atau yang disebut senggan. K3. Carano yang dikembangkan saat ini juga dikembangkan bentuk dan penggunaannya. Sedangkan anyaman dengan bentuk tudung saji yang biasa dipakai untuk penutup makanan. sekarang dipakai dalam bangunan kantor-kantor dengan memakai ciri atapnya yang berbentuk tanduk kerbau serta ada dinding atau palang atapnya dipakai dengan ukiran khas tradisi.

Seni pertunjukan pada umumnya di Sumatera Barat dapat dikatakan seni yang dipertunjukan untuk upacara ritual tertentu dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan frekwensi festival-festival atau keramaiankeramaian tentang seni. Pada seni rupa juga diperlukan peningkatan dan komitmen dalam aplikasi banguanan dan pengembangan industri-industri kecil dengan pemberian kredit-kredit untuk pengembangan industri tersebut sebagai modal.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI tuk yang dapat dijadikan sebagai cendramata sebagai ciri khas daerah Sumatera Barat. Penutup Ragam kemasan seni tradisi Sumatera Barat dalam komunikasi sosial rakyat dan pemerintah dapat dibagi dua kelompok yaitu seni pertunjukan dan seni rupa. Sementara itu dalam seni rupa terutama dalam arsitektur dan seni kriya dapat dilihat dalam arsitek bangunan rumah gadang atau rumah adat Sumatera Barat yang saat ini digunakan pada bangunan-banguan kantor atau gedung-gedung pertemuan di Sumatera Barat. serta selalu menggali seni tradisi tersebut. Terutama dibidang pembinaan dan pendanaan pada seni pertunjukan. karena seni tradisi tersebut adanya di kantongkantong setiap nagari yang ada di Sumatera Barat. Di samping itu pemerintah daerah sangat diharapkan peran sertanya untuk pengembangan seni tradisi dimasa datang. Namun demikian ada juga yang dipertunjukan sebagai penyemarak dalam upacara adat seperti randai. Dengan melihat pernyebaran masyarakat sebagai pendukung seni pertunjukan dan seni rupa sudah barang tentu kontak-kontak dengan masyarakat lain akan dialami. Upaya pembinaan seni dapat dilakukan dimana saja para pelaku seni tersebut berada. Sudah barang tentu penyebaran seni tersebut akan berkembang pemetaannya. karena sudah banyak juga para pelaku seni tersebut yang merantau ke daerah lain untuk mencari kehidupan yang sesuai menurut mereka. Dalam pada 177 . Kemungkinan Pengembangan di Masa Yang Akan Datang Seni tradisi di Sumatera Barat seperti seni pertunjukan dan seni rupa hendaknya menyebar dari satu tempat ke tempat lain seiring dengan persebaran masyarakat pendukungnya yang juga tidak selalu menetap di daerahnya.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

itu seni kriya dapat ditemui dalam karajinan-krajinan rakyat yang pada saat sekarang banyak dikembang dalam industri-industri kecil dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat sehingga dapat menambah sumber penghasilan masyarakat pengrajin.
Daftar Pustaka Daryusti. 2006. Hegemoni Penghulu Dalam Perspektif Budaya. Yogyakarta : Pustaka. Davis, Kingsley. 1960. Human Society. New York: The macmillan Company. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Desmawardi. 2007. ”Musik Dikie : Antara Tradisi dan Nilai-Nilai Religius dalam Realitas Masyarakat ”Kaum Kuno di Nagari Ajo laweh Sumatera Barat”, Jurnal Ekepresi Seni STSI Padangpanjang, volume 9,No.2. Imran, Amran., Idris, Asmaniar., Johan, Bahder., Nan Sabatang, Dt. Perpati., Hodgson, Geoffrei A., Hamka., Sumatera Barat, LKAAM., Mansoer, M.D., Hatta, Mohammad., Gani, Rizanur., Soekmono., dan RPSDM, Tim. 2002. Menelusuri Sejarah Minangkabau. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia dengan LKAAM Sumatera Barat. Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka. ______________. 1990. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: Universitas Indonesia Jakarta Press. M.S, Amir. 1977. Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang. Jakarta: Mutiara Sumber Widya. Mansoer , MD., Imran, Amrin, Sofwan, Mardanas, Idris, Asmaniar, Buchari, Sidi I. 1970. Sejarah Minangkabau. Jakarta: Bharata. Navis, A.A. 1986. Alam Terkembang jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta : Pustaka Grafitipers. Said, A. A. 2004. Simbolisme Unsur Visual Rumah Tradisional Toraja dan Perubahan Aplikasinya pada Desain Modern. Yogyakarta: Ombak. Yuli Marni. 2008. “Deskripsi Kriya Anyaman Lidi di Kelurahan Jalan baru Pariaman Tengah”, dalam Daryusti, ed. Seni Budaya Berkelanjutan Dalam Kehidupan Masyarakat, STSI Padangpanjang Pers. Zulkifli. 1993. “Randai Sebagai Teater Rakyat Minangkabau di Sumatera Barat: Dalam Dimensi Sosial Budaya”. Tesis. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

178

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

179

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

SULAIMAN JUNED Lahir di Gampong (desa) kecil Usi Dayah Kecamatan Mutiara Kab. Pidie, Nangroe Aceh Darussalam, 12 Mei 1965. Kini memiliki istri dan seorang putra laki-laki. Menetap di Padangpanjang, menekuni pekerjaan sebagai Seniman, dosen tetap Jurusan Seni Teater di ISI Padangpanjang Sumatera Barat, Dosen Ahli di FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia Daerah di Univ. Muhammadiyah Sumatera Barat, Guru teater di SMA Negeri 1 Sawahlunto Sumatera Barat, Guru teater di SMA Negeri 1 Padangpanjang Sumatera Barat, Guru Kesenian serta Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Sore Padangpanjang. Mulai menulis sejak tahun 80-an, ketika masih belajar di SLTP. Karya puisi, cerpen, esai, drama, reportase budaya, artikel, kolom di muat di media seperti; Serambi Indonesia, Kiprah, Aceh Post, Aceh Ekspres, Srambi Mekkah Post (ACEH). Analisa, Dunia Wanita, Waspada (MEDAN). Singgalang, Haluan, Mimbar Minang, Padang Ekspres, Postmetro, Jurnal Palanta, (SUMATERA BARAT). Riau Post, Metroexpres (RIAU). Indefendent (JAMBI). Lampung Post (LAMPUNG). Kedaulatan Rakyat, Majalah Seni Gong (YOGYAKARTA). Solo Pos dan Jawa Pos (JAWA TENGAH). Bali Post (BALI). Suara Karya Minggu, Republika, Media Indonesia, Kompas, Koran Tempo, Majalah Sastra Horison (JAKARTA). Majalah Bahasa dan Sastera (MALASYIA dan BRUNEI DARUSSALAM). Jurnal Aswara (MALASYIA). Antologi puisi tunggal berjudul ‘Riwayat’ mendapat Juara III dalam Lomba Penulisan buku pengayaan sastra tingkat nasional pada Pusat Perbukuan Dinas Pendidikan Nasional (2007). Lelaki berkumis ini menyelesaikan studi S-1 di jurusan seni teater STSI Padangpanjang dengan yudisium Cumlaude, juga menyelesai Program Pascasarjana di Institut Seni Indonesia Surakarta dengan yudisium Cumlaude. Sering mengikuti seminar sastra, teater dan jurnalistik. Ia juga sering terlibat dalam dunia musik, sebagai pemusik dan pembaca puisi. Juga sebagai dramatug pertunjukan teater. Soel juga aktif dalam organisasi seni dan pers serta dipercayakan sebagai Dewan Penasehat Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Cabang Padangpanjang (2010-2015). Editor Novel “Cinta di Kota Serambi Karya Irzen Hawer diterbitkan Kuflet Publishing, Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, Sumatera barat (Maret 2010). Soel sangat aktif dalam dunia teater, baik ketika masih di Aceh maupun kini bermukim di Padangpanjang, ia sudah memainkan 250 judul naskah lakon baik naskah luar negeri maupun dalam negeri, ia berperan jadi aktor menjadi tokoh yang tanpa dialog sampai menjadi tokoh utama. Sudah menyutradarai 152 judul naskah lakon baik dari karya penulis dunia-nasional-daerah. Dewasa ini Soel hanya mau menyutradarai naskah lakon yang ditulisnya atau naskah lakon yang diproduksi oleh rekan-rekannya di komunitas Kuflet. Teater-Sastra-Jurnalistik telah membawanya mengelilingi Indonesia; dari Aceh hingga Irian Jaya. Kini menetap di Jl. Dr. A.Rivai No. 146 RT.11 Kampung Jambak, Kelurahan Guguk Malintang, Kecamatan Padangpanjang Timur, Padangpanjang Sumatera Barat. 180

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

Seni Tradisi Populer Aceh sebagai Media Komunikasi Sosial
Sulaiman Juned
Dosen Jurusan Seni Teater STSI Padang Panjang

Pendahuluan eni tradisi adalah gambaran kebudayaan suatu masyarakat pada sebuah daerah. Indonesia memiliki keberagaman seni lokalitas yang sangat kaya dengan kearifan lokal. Kekayaan kultur budaya bangsa dalam seni tradisi secara tidak langsung memiliki karakter etnis yang sangat beragam dan berbeda. Karya-karya yang dipertunjukan oleh seniman-seniman tradisional, merupakan suatu bukti betapa beragamnya kultur-seni dan budaya masyarakat Indonesia. Berdasarkan itulah, ini kali penulis ingin membahas tiga seni tradisi Aceh sebagai media komunikasi sosial. kesenian Aceh rata-rata memiliki transformasi moral dan sosial. Tiga seni tradisi tersebut; Teater Tutur PM TOH, Sandiwara Keliling Gelanggang Labu, dan Biola Aceh. Ketiga bidang seni yang penulis paparkan ini, berangkat dari realitas Sastra Aceh (hikayat) menuju realitas seni pertunjukan. Dewasa ini tanpa sengaja berangkat dari perkembangan jaman kesenian tradisi mulai bergeser fungsinya, awalnya menjadi alat komunikasi dalam ruang sosial bagi kehidupan bermasyarakat di Aceh. Seni tradisi ini memang masih tetap bertahan di Aceh, walau terasa sudah mulai langka. Hal ini disebabkan oleh terjadinya konflik bersenjata yang begitu panjang antara Gerakan Atjeh Merdeka dengan Negara Kesatuan Republik In-

S

181

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

donesia yang melahirkan kondisi psikologis terhadap masyarakat Aceh. Tindakan sosial yang terjadi di Aceh sebelum dilaksanakan perdamaian saling berinteraksi dan saling melahirkan kekejaman dari pihak-pihak yang bertikai, tentu melahirkan restrukturisasi terhadap tingkah laku masyarakat. Interaksi sosial melalui seni tradisi membuat prilaku masyarakat Aceh, terwujud dari keharusan normatif yang terlahir dari kesantunan, rasa persaudaraan, pemurah, peramah, dan setia terhadap siapapun. Namun kondisional ini menjadi lenyap karena terjadi tindakan sosial melalui kekerasan yang dilawan pula dengan kekerasan. Rakyat tersublima ketakutan dan kecemasan karena setiap detik menyaksikan pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, pembakaran. Muaranya kesenian tradisi Aceh pun terancam punah. Kondisi inilah yang membuat seni tradisi Aceh terkesan sulit untuk mencarinya. Syukurlah dewasa ini telah di bentuk Qanun (hukum/aturan) di bidang seni, untuk menghidupkan kembali seni tradisional Aceh yang kaya nilai-nilai agama, adat, moralitas, dan sosial.

Teater Tutur Aceh: Adnan PM TOH ‘Troubador yang Menulis di atas Angin’ Lima puluh tahun bersolo karier, (Almarhum) Teungku H. Adnan PM TOH berusaha mencari penggantinya agar kesenian Aceh yang disebut teater tutur ini memiliki penerusnya. Namun sayang sampai dengan Teungku Adnan menghadap sang khalik (meninggal dunia dalam usia 75 tahun, pada tanggal 4 Juli 2006), belum mampu menemukan penggantinya seperti beliau. Kesenian teater tutur berasal dari peugah haba yang berarti berbicara dengan bercerita semacam bakaba di Minangkabau. Sering juga disebut masyarakat Aceh poh tem berarti orang yang pekerjaannya bercerita. Ada juga yang menyebutnya dangderia seperti drama monolog atau berbicara sendiri. Teater Tutur ini menjadi menarik setelah dikembangkan Teungku Adnan dengan mempergunakan alat musik rapa’i, pedang, suling (flute), bansi (block flute) dan mempergunakan properti mainan anakanak serta kostum. Properti, alat musik serta kostum memperkaya teknik pemeranan seperti metode Brechtian yang memakai teknik multiple set (properti tangan yang banyak fungsinya), dan efek alinasi (memisahkan penonton dari peristiwa panggung, sehingga mereka dapat
182

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

melihat panggung dengan kritis). Teknik ini sekaligus memberi kekuatan dan dapat mengubah kejadian-kejadian peran menjadi seolah-olah, serta adanya intrupsi dari penonton. Teungku Adnan bermain sendiri, namun mampu menghadirkan beratus-ratus tokoh, dengan ekspresi dan karakter vokal yang berubahubah. Inilah kelebihan yang dimiliki Teungku Adnan, ia bermain sendiri di atas pentas, tetapi penonton laksana menyaksikan ratusan aktor sedang berada di pentas. Hal ini yang membuat Teungku Adnan dijuluki “traubador dunia” oleh Prof. Dr. John Smith seorang peneliti dari Amerika Serikat. Teungku Adnan dikenal juga sebagai seorang tokoh ulama oleh masyarakat pendukungnya, sedangkan pekerjaannya disamping sebagai seniman adalah penjual obat keliling Aceh. Kesenian (teater tutur) ini dinamakan PM TOH oleh Teungku Adnan. “Asal muasal nama itu berangkat dari peristiwa yang sangat berkesan bagi saya, saya sering menaiki bus PM TOH ketika berpergian ke seluruh Aceh untuk berdagang obat, lalu bunyi klakson bus tersebut membuat saya terkesan. Maka dalam pertunjukan saya untuk selingan jual obat saya tampilkan poh tem, peugah haba, dan dangderia. Sembari memamerkan kebolehannya berteater itu, saya memulainya dengan menirukan bunyi klakson bus PM TOH, masyarakat Aceh sangat senang dengan penampilan saya itu. Setiap saya jual obat, penonton pasti ramai, dagangan saya laris tapi saya harus menampilkan Hikayat Malem Dewa. Akhirnya masyarakat Aceh setiap ketemu saya sering memanggil nama saya dengan sebutan Teungku Adnan PM TOH setelah saya pikirkan sepertinya nama teater tutur saya ini adalah PM TOH”. (Wawancara dengan Teungku H. Adnan, 14 April 1999, di Blang Pidie-Aceh Selatan) Ternyata nama teater tutur PM TOH itu merupakan pemberian oleh masyarakat pendukungnya. Ini bukti bahwasannya sejak tahun 1970an nama itu telah dilekatkan kepada Teungku Adnan, dan ia diterima sebagai pembaharu teater tutur Dangderia yang pemanggungannya hanya ada satu bantal, pedang dari pelepah kelapa hanya mengandalkan kekuatan ekspresi dan kekayaan vokal dalam menyampaikan Hikayat. Sementara Teungku Adnan diterima oleh masyarakat pendukungnya, sehingga dimanapun masyarakat mendengar tentang kehadiran Teungku Adnan, mereka pasti ramai-ramai mendatanginya karena ingin menyaksikan pertunjukan PM TOH.
183

Ia sanggup menghafal 9 (sembilan) buah Hikayat-hikayat Aceh. Sama halnya dengan teater modern yang tidak terlepas dari teks naskah drama yang akan digarap sutradara menuju realita teater (pertunjukan). Ada pula hikayat yang disebut dengan hikayat undang-undang seperti. hampir setiap keluarga di Aceh mengetahui secara tradisional cerita-cerita dalam hikayat. pelajaran adat. Teungku Adnan jika ada undangan lalu mempertunjukan PM TOH satu hikayat seperti Malem Dewa baru selesai dipertunjukan dalam durasi waktu 7 (tujuh) malam berturut-turut. Hikayat keagamaan. Sementara itu. Bukan saja roman-roman. dongeng keagamaan. baik perubahan suara (vokal). Tentang adat istiadat. yang tampak adalah seorang penutur cerita penuh dengan nuansa teaterikal. Indra Budiman. Kalimat demi kalimat mengalir deras. dan ini merupakan hasil sastra yang sangat luas dalam khazanah kesenian Aceh karena menjadi seni pertunjukan” (Budiman Sulaiman. Bahkan. 1983:78). Raja Si Ujud. seperti. Teungku Adnan diberikan kekuatan pada ingatan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Andaikan membicarakan tentang teater tutur Aceh. Sanggamara. “adapun hikayat yang menyimpan peristiwa sejarah. sarakata Poteumeureuhom Meukuta Alam. diantaranya. Bahkan. Sipheut Dua Ploh. Malem Dagang dan lain-lain. Hikayat Malem Dewa. hikayat Gumbak meueh. kostum. 1988: 38). lalu dituturkan kembali selengkapnya. “Hikayat dalam bahasa Aceh tidak diartikan arti asli yaitu ‘kisah’ (cerita). buku bacaan serta cerita lainnya juga dinamakan hikayat jika bahan-bahannya telah dituliskan dalam bentuk sajak (puisi) di sebut hikayat. Raja Jeumpa” (Muhammad Nur. Biasanya seorang ibu dari etnis Aceh pada masa lalu merasa berkewajiban untuk menceritakan hikayat-hikayat itu kepada anak-anaknya. seperti benang dibentangkan tak pernah habis. Tuhan memang Maha Kuasa. Dialog-dialog yang memperagakan cara-cara berperang. Hikayat tentang dongeng. sastra Aceh menyimpan peristiwa budaya. Hikayat ketika dipertunjukan oleh Teungku Adnan dengan menghadirkan berbagai karakter tokoh di atas pentas. teks sastra hikayat menjadi dasar penceritaannya. jika dalam cerita tersebut terjadi peperangan antar kerajaan. Prang Sabi. Adnan PM TOH melakukan pengembangan menakjubkan lewat teater tutur yang awalnya peugah haba atau dangderia. beliau mampu menyampaikan pertunjukan yang 184 . Nalam. Hal yang termaktub dalam teater tutur itu merupakan eksistensi kesusastraan Aceh ‘hikayat’ yang tidak dapat lepas dari subtansinya. Malem Budiman.

Guru Teungku Adnan adalah Mak Lapee. Kemampuan Teungku Adnan tak pernah tergantikan oleh siapapun. ahli nujum. Mengenakan sepotong selendang. bermain musik sendiri. Suatu hari dalam Hikayat Malem Dewa ia berubah peran dengan sigap. Ketika menjadi raja. puteri. Seketika pula Teungku Adnan menjadi raja dengan karakter watak dan karakter bahasa yang berbeda. Meletakkan kotak (tong) dikiri dan disebalah kanan. Kemampuan ini yang tidak dimiliki oleh tukang cerita yang lain seperti. generasi kedua Teungku Ali Meukek. cerita yang sama dengan kata-kata yang relatif sama pula. lalu dikembangkan menjadi sebuah seni pertunjukan yang sangat menarik dan unik dengan inprovisasi yang sangat-sangat kaya. Setiap peran yang berubah. Menyaksikan teater tutur PM TOH. putri yang jeli185 . berangkat dari ilmu yang diterima dari gurunya Mak Lapee (Seorang Ulama di Aceh Selatan yang lumpuh). namun beliau melakukan pertunjukan persis sama dengan pertunjukan sebelumnya. rakyat kampung. Lima detik pertama ia mengekspresikan wajah genit. Lain halnya dengan Teungku Adnan. sehingga penonton tidak bosan. Penampilan nyaris tanpa akting. menyaksikan pentas yang dipenuhi aktor secara imajiner. Begitu pula ketika menjadi tentara (panglima). vokalnya juga berubah sehingga penonton dengan mudah mengidentifikasi tokoh yang diperankan Teungku Adnan. sebuah wig. Teungku Adnan. ia pun menjelma menjadi tokoh Puteri Bungsu. ekspresi wajahnya berubah (tipikalnya). Luar biasa. matanya berkedip-kedip. Tengku Adnan bermain dengan teknik duduk. Muda Belia bahkan Agus Nuramal. Seorang juru bicara “penyihir” yang mampu memberikan pesona seni peran. Properti yang digunakan hanya sebilah pedang dan batal. yaitu Puteri Bungsu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sama di tempat yang berbeda. langsung memakai baju ala kerajaan yang telah tersusun di dalam kotak disesuaikan dengan alur cerita. Zulkifli. karena yang disajikan hanya membaca hikayat (peugah haba). Namun pada masa itu. penyajian hikayat secara bertutur tak dapat dikategorikan seni pertunjukan (teater tutur). sambil berinprovisasi dengan nyanyian Teungku Adnan menggantikan kostum. andai membawakan Hikayat Malem Dewa yang menceritakan tentang anak raja yang mempersunting putri dari khayangan. dan agak sulit mengikuti alur cerita karena tidak terjadi perubahan karakter tokoh. di dalam tong ada pakaian (kostum) serta senjata mainan. padahal ia bermain sendiri.

hanya jawaban basa-basi” (Wawancara. Sekarang Teungku Adnan PM TOH telah meninggalkan kita tanpa mewariskan PM TOH kepada siapapun. teungku memang tidak rugi. 20 Januari 1989). Beliau tak akan berdosa dan berduka sebab beliau semasa hidupnya sudah pernah menawarkan ini kepada pihak Pemerintah Daerah Istimewa Aceh (Sekarang NAD). Berbagai karakter dengan cepat saling berganti di tubuh dan suara Teungku Adnan. Abad ke-12 di Perancis Selatan lahir seorang Traubadur. jadi nenek penjaga gubuk Buntul Kubu. dan Kakanwil Depdikbud Aceh. setelah itu kita sebarkan ke sekolah dasar (SD). lalu kita tuliskan bagaimana persiapan menjadi aktor PM TOH. ia berganti peran menjadi pemuda gagah siap bertempur memperebut Puteri Bungsu. Sementara mulutnya tak putus-putus ia derukan kisah pemuda bernama Malem Dewa yang harus berangkat ke negeri di atas awan untuk menemui kekasihnya. saya pernah tawarkan program regenerasi kepada Gubernur kita. Sepotong pedang terhunus di tangan. pemuda yang mencuri baju sang puteri atau seorang anak yang merindukan sang ibu. laskar Aceh. kita cetak buku tentang Hikayat-hikayat Aceh yang belum tersebar itu. tapi tidak ada respon sedikitpun. Gaya komedikalnya membawakan hikayat masa lalu dikaitkan dengan peristiwa masa kini. bukan hanya Aceh yang kehilangan “Traubadur Dunia” seluruh dunia juga merasa kehilangan Teungku Adnan. Tapi apa jawab mereka. Suatu waktu. Lalu 900 tahun kemudian 186 . Kekuatan yang paling mendasarkan dalam teater tutur PM TOH adalah daya improvisasi penyaji yang sangat tinggi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ta dari khayangan. Kemampuan Teungku Adnan menyiasati pertunjukan ternyata dapat menghadirkan sejumlah tokoh di atas pentas dengan vokal yang berubah-ubah. Ia dapat menjadi hulubalang. Benar Teungku Adnan. kita pertimbangankan. Kini Sang Maestro. topi baja melekat di kepala. ketika penulis masih di Aceh sempat berdiskusi dengan beliau. “Soel. Aceh khususnya dan Indonesia umumnya yang rugi sebab tak mau merawat penerus pencerita Aceh. tanpa ada pengganti. Di SD ada mata pelajaran Hikayat dan PM TOH. Teungku Adnan PM TOH. seniman ‘Traubador Dunia’ meninggal dunia dalam usia 75 tahun. Lima detik kemudian. lalu setiap tahun kita adakan festival menulis hikayat dan PM TOH kalau ini dilakukan pasti akan muncul dan lahir penerus atau pengganti saya.

Bawang Mirah Ngoen Bawang Puteh. dan lebih banyak pemain yang melakukan improvisasi. Pembagian babak atau episode dilakukan sangat longgar dengan adanya selingan antara babak yang diisi dengan nyanyian (band). Buloeh Peurindu. sebelum permainan dimulai para aktornya memperkenalkan diri sekaligus dengan peran apa yang dia mainkan. Benteng Harapan. Mutiara Jeumpa. dan Geunta Aceh. Hal ini dapat dilihat dari reportoar yang dipilih. Sinar Desa. Cakradonya. samasama mengangkat cerita 1001 malam dari hikayat-hikayat Aceh (haba). Jeumpa Aceh. Ciri-ciri yang mendasar. NAD.Luar biasa. Seulanga Dara. Sandiwara ini mulai tumbuh dari sebuah desa Gelanggang Labu Kecamatan Peukusangan dahulu kabupaten aceh utara sekarang kabupaten Biureun. lawak. seperti. Awal tahun 70-an mulai menjamur grup-grup sandiwara di seluruh Aceh. Sandiwawara Keliling Gelanggang Labu Pemain sandiwara keliling gelanggang labu tidak pernah belajar dramaturgi. Adeganadengan gembira atau sedih dalam gelanggng labu memang dilakukan dengan dialog bukan dengan opera (nyanyian) seperti dalam komedi stamboel. Sandiwara ini keliling sudah ada sejak tahun 1950an. dijulukilah dengan istilah Gelanggang Labu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI di seluruh dunia hanya di Aceh muncul kembali seorang “traubadur dunia” yakni Teungku Adnan. Sekarang sang “traubadur” benar-benar sudah tiada. Gelanggang Labu merupakan sandiwara keliling tradisional Aceh. Ciri-ciri pertunjukan Gelanggang Labu memiliki kesamaan yang kontras dengan ‘Komedi Stamboel’ yang dilakukan August Mahieu (1860-1906). diantaranya yang terkenal. Sebagai aktor di187 . Sinar Jeumpa. ilmu pemeranan. tapi sayang masyarakat dan pemerintah Aceh tidak mau peduli. Kesenian Aceh mampu menjadi transformasi moral dan sosial bagi masyarakat Aceh. dan penyutradaraan secara formal. dan lain-lain. mereka memperoleh keahlian secara non-formal namun mampu mensugestif penonton. berapa ratus ribu tahun lagi kita harus menunggu untuk kelahiran seorang “traubadur seni tradisi yang luar biasa itu. Cerita-cerita yang akan dimainkan oleh pelakonnya hanya diceritakan secara garis besarnya saja kepada pemain (berbentuk wos). Putroe Ijoe. serta tari-tarian. Sinar Harapan. Ketika teater ini mulai merakyat. Ahmad Rhangmanyang. dan diterima ditengah-tengah masyarakat.

Umumnya pemain sandiwara keliling Gelanggang Labu tidak pernah memiliki atau mempelajari dramaturgi secara formal. triplek untuk dinding.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pentas sandiwara keliling harus mampu menjadi penyanyi. seperti tragedi rumah tangga. dipuja-puji oleh penonton. sebab mereka dekat dengan masyarakat sehingga tahu persis tentang peristiwa yang muncul ditengah masyarakat. dan berdiam (melakukan pertunjukan) di suatu daerah minimal dua bulan setelah melakukan perjalanan dan menetap di daerah lain. di tengah areal sawah setelah usai panen padi. mereka melakukan keliling ke seluruh Aceh. Namun pada malam hari dia tampil sebagai mahabintang di atas panggung. waktu siang hari ia berperan sebagai buruh pemetik kopi dengan pakaian kumal. Yusuf Syam. setiap dia muncul selalu saja mendapat applaus dari penonton. Umar Abdi. Mereka menciptakan tema-tema cerita baru yang digemari masyarakat. Ide atau gagasan rata-rata bertemakan sosial dengan mudah diperoleh sutradara teater keliling. sandiwara keliling Gelanggang Labu sangat sederhana dengan konstruksi panggung berukuran 9X6 meter didirikan menggunakan drum kosong yang diatasnya diletakkan papan. Ahmad Harun. masalah ambisiusnya manusia. Rata-rata latar belakang pendidikan mereka hanya sampai Sekolah Dasar. Sementara bentuk pemanggungannya. Grup sandiwara ini hidup dan beranakpinak di dalam panggung tersebut (berumah). Maka tidak heran bila siang hari mereka bergaul dengan masyarakat dimana mereka melakukan pertunjukan. Keterbatasan ilmu tentang bermain drama bukanlah suatu halangan bagi mereka untuk tetap terus bertahan. kemunafikan. seng sebagai atap. Lokasi pertunjukan biasanya dilakukan di tanah lapang. pelawak dan penari sekaligus. pengkhianatan. Semuanya mengalir begitu saja dengan pengetahuan otodidak yang mereka miliki. Ibnu Arhas (sekarang mantan Anggota DPRD Kabupaten Pidie). lalu melakukan pembaharuan agar masyarakat penonton tidak bosan. serta Idawati merupakan tokoh-tokoh teater keliling yang sadar betul atas kekurangan mereka. kain yang dilukis sebagai dekorasi sesuai tuntutan cerita dan lampu reflektor kecil untuk penerang dan pengubah suasana. bahkan ada yang menjadi buruh kasar di tempat itu. seorang aktor yang pernah melakukan pertunjukan di Takengon. Sutradara 188 . batang kayu sebagai penyangga.

sehingga nama tersebut begitu melekat dan populer di tengah masyarakat Aceh. Namun gangguan keamanan di Daerah Istimewa Aceh (Sekarang NAD) yang mulai pecah pada tahun 1989. Aceh yang memiliki teater tradisional atau teater tutur. PM TOH. Misalnya. serta Didong mulai terusik untuk berproses. Ahmad Harun. Maka. Ahmad Harun benar-benar mampu masuk ke dalam penokohan Cut Maruhoi. dan Biola Aceh. sangat terasa dampaknya bagi perkembangan insan seni untuk melakukan kreatifitas berkesenian. alasannya gangguan keamanan. Awal dekade 1992. Keunggulan inilah yang membuat teater keliling ini mampu bertahan hidup dan memperoleh sambutan hangat dari penonton di seluruh Aceh. Pertunjukan sirkus di Lhoekseumawe pada tahun 1989 sempat menimbulkan kekacauan. Sebagian terpaksa pulang kampung menjadi petani atau buruh kasar. Aceh 189 . Situasi semakin membaik. kondisi keamanan mulai kondusif. dan panggung artis ibukota Dina Mariana pada tahun 1990 sempat dibakar oleh gerombolan tak di kenal. Yusuf Syam. cerita Cut Maruhoi diperankan Ahmad Harun (lelaki yang menjadi wanita) mengisahkan tentang seorang ibu mertua yang cerewet. batal melakukan pertunjukan karena izinnya dicabut. jahat dan sadis. Seruan ini dikeluarkan PEMDA Aceh karena beberapa pertunjukan sebelumnya di daerah-daerah rawan konflik sering terjadi keributan. Cerita yang ditampilkan selalu aktual dan kontekstual dengan daerah dimana mereka melakukan pertunjukan. Juga karena adanya operasi militer malam. dan pertunjukan di beberapa kota Aceh Utara. seperti. Sandiwara keliling Gelanggang Labu. Bahkan dalam pergaulan sehari-hari Ahmad Harun sering dipanggil Cut Maruhoi. dan Idawati mencoba kembali membangun panggung keliling. empat tokoh seniman teater keliling. banyak panggung sandiwara keliling pada dekade 90-an terpaksa tutup sehingga pemainnya banyak yang menganggur. lalu diadopsi menjadi cerita yang menarik lewat kekuatan improvisasi para aktornya. Mengigat hal itulah pertunjukan sandiwara keliling ‘Geunta Aceh’ pimpinan Umar Abdi pada pertengahan tahun 1991 di desa Blang Malu Kecamatan Mutiara Pidie. Kemandekan kehidupan panggung keliling sangat terasa karena sering di cekal oleh Pemda dengan cara tidak memberi izin pertunjukan. Umar Abdi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengangkat realitas sosial yang tumbuh dan hidup dimana mereka melakukan pementasan.

bila hal ini terjadi terus-menerus teater keliling Aceh hanya tinggal nama sebab tak ada lagi pewarisnya. tidak pernah terdengar di Aceh ada pertunjukan Sandiwara keliling Gelanggang Labu dipentaskan. seperti hilang di telan bumi. lagi-lagi dengan dalih keamanan. suasana yang tak menentukan itulah menyebabkan izin pertunjukan tidak dapat diberikan kepada sandiwara keliling Gelanggang labu. Teater Gita Pimpinan Junaidi Bantasyam. Bila tak ada pemanggungannya secara otomatis para aktor panggung keliling semakin lanjut usia dan tak ada yang mampu mewarisinya untuk melanjutkan grup-grup sandiwara keliling. mahasiswa serta ulama dayah seAceh menuntut referendum. Nah. Teater Mata pimpinan Almarhum Maskirbi. menjadi penjual ikan. Sementara disisi lain. daerah Aceh secara tidak langsung telah memusnahkan kekayaan keseniannya. Kemandekan kehidupan panggung yang disebabkan oleh gangguan keamanan betul-betul membuat para pelakon. menurut amatan penulis dari tahun 1998 hingga sekarang 2009. Suasana seperti itu. kru panggung dengan seluruh awaknya kehilangan pekerjaan tetap yang telah diyakininya berpuluh-puluh tahun pekerjaan itu mampu menghidupi keluarganya. Grup-Grup yang pernah jaya.jangankan sandiwara keliling Gelanggang Labu. kenyataannya menjadi lain. denyut nadi Taman Budaya Aceh juga ikut terkena imbasnya. Sekaligus mampu membangun realitas sosial bagi penontonnya. Tahun 1998 dengan berhasilnya gerakan reformasi yang dilakukan mahasiswa seluruh Indonesia untuk menumbangkan Orde Baru. Kondisi Aceh kembali mencekam dan tak menentu. buruh kasar dan lain sebagainya demi menghidupi keluarganya. dan GAM (Gerakan Atjeh Merdeka) kembali bergerak. Betapa tidak. petani. seniman-seniman panggung terpaksa beralih profesi. Teater Bola pimpinan Almarhum Junaidi Yacob. Daerah Istimewa Aceh kembali bergolak. namun yang lebih menyedihkan dapat menelan sisi kebudayaan dan kesenian. Teater Kuala Pimpinan Yun 190 . Sengketa yang terjadi di tanah rencong tidak hanya menelan korban manusia. Taman Budaya Aceh sejak tahun 1970-an sampai 1997 aktif melaksanakan pertunjukan teater modern Indonesia di Aceh tiap bulan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Besar. Aceh Tengah dan Sabang mulai diizinkan untuk melakukan aktivitasnya. TNI dan POLRI kembali menjalankan operasi. seperti. ternyata tidak bertahan lama.

Para pekerja teater banyak yang beralih profesi. Teater Peduli Pimpinan Almarhum Nurgani Asyik. Kita rindu tokoh Cut Maruhoi muncul di atas panggung. orang-orang lebih banyak membicarakan politik. Andaikan situasi Aceh dibiarkan larut tanpa penyelesaian akhir. dan dua orang lagi sebagai penari dan pelawak. Sampai kapan hal ini terus terjadi. Teater Alam Pimpinan Din Saja. Konfliks-Tsunamisengketa tak pernah reda mengancam seni budaya Aceh pada nadir kepunahan. penyanyi sekaligus pelawak bahkan mampu menari. Namun kini dimana mereka para punggawa sandiwara keliling Gelanggang Labu bermuara. Hal ini disebabkan karena gangguan keamanan. rindu lawakan yang menggelitik dari si Ma’e (Ismail) yang mampu melahirkan derai tawa. Di Kabupaten Aceh Utara kesenian ini diberi nama Mop-mop sedangkan di Aceh Besar dan Kaputen Pidie. ada yang menjadi penyair. kematian dan keadilan. maka Aceh secara global akan kehilangan seni budayanya yang sangat kaya tersebut. atawa mereka tergerus air raya (tsunami) beberapa tahun yang lalu pada 26 Desember 2004. dan cerpenis. biola Aceh ini di sebut Genderang Kleng. Sanggar Cempala Karya Pimpinan Sulaiman Juned. Kesenian ini dimainkan paling banyak 5 (lima) orang pemain. berperan sebagai Linto Baro dan Dara 191 . Penabuh gendang. Teater Kosong Pimpinan T. masing-masing satu orang bertindak sebagai violis (syech) yang merangkap vokalis. Orang-orang tak lagi membicarakan kesenian. Penamaan terhadap kesenian ini karena penggunaan instrumen biola sebagai instrumen utamanya. Aceh Besar dan Pidie sejak tahun 50-an. Taman Budaya sepi pertunjukan. Namun berkembang di Kabupaten Aceh Utara. pemimpin grup sekaligus sebagai sutradara yang menyusun dialog untuk menyanyi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Casalona. Rindu Idawati Sri panggung sandiwara keliling yang mampu menjadi aktris. Hanya seniman sastra (penyair) dan pelukis yang masih terus melakukan prosesnya. penyanyi. Namun awal 1998 pertunjukan teater Modern Indonesia di Aceh mulai hilang denyutnya. Biola Aceh Kesenian biola Aceh telah hidup di tengah masyarakat semenjak jaman colonial Belanda. Denyut nadi kesenian Aceh seperti terhenti. Biola yang digunakan adalah biola violin.Yanuarsyah. Apakah mereka ikut terkena imbas konflik panjang di Aceh.

cerita (dialog). penyulut tawa adalah pantunnya yang jenaka. Pantun dan nyanyian. Juga diselingi cerita mertua atau isteri yang cerewet. terkadang mengenakan rok dan blus. ditingkahi suara gendang. Kesenian ini sampai sekarang masih mampu berinteraksi dengan masyarakarat. loen jak bak gata. Mari kita nikmati salah satu pantunnya: Ta ek u glee tajak koh sigeudum Lam kayee ruhung umpung ‘nggang dama Gajah di dumpek. bangau bersarang Gakah menguak. Meskipun pola dasarnya paduan musik dengan nyanyian. dan secara tidak langsung terselip nilai kritik sosial melalui pantunnya yang kocak. Ciri khasnya adalah adanya tarian. Ini terbukti dari setiap kali pertunjukannya mendapat sambutan meriah dari penonton. ku datang padamu. rimueng di taum Loen dhoe geuliunyeueng. nyanyian lewat berbalas pantun dengan ungkapan-ungkapan lucu. Penonton turut terbahak-bahak menyaksikan bunyi biola yang terdengan sumbang. namun magnitumnya justru pada gerak tubuh dan tingkah pemainnya yang kocak membuat penonton bertahan sampai dini hari. menggelikan. dan penuh humor. Apalagi dihadiri penari joget yang adalah lelaki berperan sebagai wanita. serta para pemainnya memakai pakaian yang warnanya kontras. Artinya: Mendaki gunung memotong pohon sigeudum Di lobang kayu. serta dialog dari penari berisi cerita lucu tentang perkawinan. tak jarang memakai kebaya dengan selendang berwarna hijau atau merah menutup kepala. harimau mengaum Ku tutu telinga. Sementara penari pria 192 . dan disahuti pantun yang jenaka. dan rumah tangga yang sarat dengan masalah sosial.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Baro (suami Istri atau marapulai kalau di Minangkabau) yang melakukan gerak tari dan banyolan sesuai irama Biola dan pukulan Rapa’i. Biola Aceh komunikasi disampaikan lewat kekuatan humor. Sebaliknya pria yang telah memiliki istri namun masih mencari wanita lain. Kisah rumah tangga tentang wanita yang bersuami tetapi mencintai pria lain. segar dan menggelitik terkadang terkesan porno. Pertunjukannya membutuhkan panggung hanya 6 X 6 meter. Tampil dengan dandanan menor dan mencolok.

walau biola pertama sekali diperkenalkan di Italia tahun 1719. bahkan banyak yang tidak mengenal tentang biola Aceh. Teknik memainkannya sangat mirip dengan rabab di Minangkabau. namun dipengaruhi oleh unsur-unsur agama Islam. Sama persis seperti alat musik konvensional barat. Hal ini. penggesek biola Aceh memainkan biolanya secara terbaik. Perkembangan Biola Aceh selanjutnya memang jalan ditempat jika tidak mau dikatakan punah. Menurut mereka. 20 Januari 2005). dan integrasi dengan kesenian ronggeng yang berasal dari Sumatera Timur. disebabkan h terjadinya konflik bersenjata dan tsunami di Aceh. Sudah selayaknyalah kesenian ini perlu dilestarikan. akulturasi. dan Syech Ma’e (Ismail). serta digarap secara bervariasi. menciptakan kesenian yang hampir mirip ronggeng. dalam proses adaptasi menyerap nilai-nilai budaya islam. asimilasi. Jadi menyaksikan pertunjukan biola Aceh. yaitu Syech Abdul Gani Krueng Mane. perkembangan musik modern mengakibatkan minat generasi muda terhadap biola Aceh menurun. Secara tidak langsung generasi muda mengalami fase a-history. Progresi melodi pada biola aceh membentuk harmoni vertikal dengan interval kwint. dan kurangnya pengetahuan. 193 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengenakan pakaian biasa. penabuh gendang yang dikombinasikan dengan berpantun. menyaksikan pemain biola. Syech Maneh. biola sebagai alat musik instrumen kesenian tradisi Aceh yang berasal dari Mesir. dan melawak. Proses adaptasi terjadi ketika terjadi pertandingan kesenian antara Aceh dengan Sumatera Timur di jaman Belanda. Aceh sepulang dari pertandingan tersebut. satu nada ditahan sementara nada lainnya bergerak membentuk progesi melodi. Bentuk perubahan tersebut adanya adaptasi. namun baju atau jasnya di pakai terbalik. Masyarakat Aceh yang menganut sistem feodal. terkadang juga memakai sepatu yang kebesaran. Kesenian biola Aceh. menari. terjadi interaksi sosial yang memberikan dampak perubahan terhadap budaya. Sumatera Timur kesenian yang ditampilkan ronggeng. Sampai saat ini masih hidup empat orang penggesek biola. serta Syech Ali Basyah. Di samping itu. tampak pada tekhnik memainkannya yaitu mengiringi vokal dengan mengikuti melodi vokal yang ditambah dengan nada hias. diberinama Biola Aceh” (Wawancara Syech Ma’e Pidie. Melodi dasar lagu sama dengan melodi dasar biola. Perbedaannya terletak pada metode dalam memainkannya.

Sebab seni tradisi Aceh selalu bersentuhan secara aktual dan universal lewat konsep kebersamaan. biola Aceh sebagai salah satu seni tradisi yang populer dapat menjadi media komunikasi sosial antara sesama etnis di Aceh yang multi-etnis. para intelektual seni. Manusia acap kali saling bersilang pendapat tentang idealisme yang mengakar dalam diri. Namun kesenian cenderung merekatkan keretakan manusia tersebut. Teungku Adnan PM TOH-Cut MaharuhoiIdawati-Syech Abdul Gani Krueng Mane-Syech Ma’e-dan Syech Ali Basyah. Didong. dan mampu mengikuti kemajuan jaman. Sebab pertunjukan seni tradisi Aceh sesungguhnya telah melaksanakan 194 . atau Kementerian Pendidikan Nasional berkenan menjadikan seni lokal menjadi kurikulum nasional agar seni tradisi populer dapat menjadi media komunikasi sosial. dan Biola Aceh memang kesepian dalam peti. Seni pertunjukan seperti teater tutur PM TOH. Dalupa. Lokalitas seni sebagai fenomena budaya diletakkan dalam perspektif kehidupan global untuk melakukan kontruksi indentitas diri. Tugas lembaga pendidikan tinggi seni. tetapi tetap berinteraksi dengan jamannya. pihak yang terkait. Seni tradisi Aceh.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Padahal. Guel. seniman. apakah seni-seni tradisional yang maha agung itu akan hidup. perlu duduk bersama bicarakan pentingnya menghidupkan kesenian tradisi. Pho. Pasca konflik dan tsunami. Poh Tem. Konsep kultural dalam nilai etnisitas keacehan untuk mengidentifikasikan masyarakat jadi ‘ahli waris’ dari seni tradisi sekaligus sebagai pelaku bagi transformasi identitas lokal yang independen. Penutup Kesenian memang mampu menjadi perekat antar sesama. dan menumbuhkan kebersamaan. Teatermusik-tari dan kesenian lainnya membuat masyarakatnya luruh dalam ‘kearifan lokal’ menghilangkan perbedaan. dinas pariwisata dan budaya. Indonesia kehilangan seniman besar. Seniman. tak usah mempertentangkan konsepsi pertunjukan antara tradisi dengan kontemporer. atau seni Aceh tersebut akan ikut terkubur bersama ratusan ribu rakyat Aceh yang entah dimana makamnya? Generasi muda Aceh sekarang ini pasti banyak yang tidak kenal lagi. Aceh kehilangan juru bicara. Sandiwara Gelanggang Labu. atau Sandiwara Gelanggang Labu. Dangderia. Biola Aceh. Peugah Haba.

Ekspresi dalam Seni Teater. Jika ketiga seni ini hilang maka tanpa kita sadari budaya Aceh yang sarat dengan muatan penyadaran moral..LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI konsepi pertunjukan dalam tataran kontemporer. 1984. Unsyiah Press Banda Aceh Efeendy.Nalan Etno Teater Bandung Sahid. 2000. Yogyakarta: Tarawang Pers Santosa. Aktor di Panggung Teater. Kesusastraan Aceh.. Bandung: Rosda Karya Herwanfakhrizal. 2003.. 1996/1997 Margaret J. Ilmu Komunikasi. 1998 195 .M. Nur (ed).. Konflik di Aceh: Sandiwara Keliling Gelanggang Labu Terancam Punah.. Pengantar Bermain Drama. 1988.. adat dan sosial terkikis dari kehidupan bermasyarakat. Jurnal Palanta Padangpanjang: STSI Padangpanjang VCD Hikayat Malem Dewa. Teori dan Praktek. 2005. 1999.. Semoga! Daftar Pustaka A. Jurnal Palanta Padangpanjang: STSI Padang Panjang ---------------------. 2007. agama. Permasalahan yang perlu diselesaikan. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. tetapi mampu menjadi sebagai media komunikasi. Gelitik Biola Aceh Makin Langka.H Trobadour yang Menulis di atas Angin. bagaimana seni tradisi Aceh dapat dihidupkan kembali. event-event kesenian bertaraf nasional dan internasional seperti. Serambi Indonesia Banda Aceh: 30 Agustus 2008 Budiman Sulaiman. Semoga seni tradisi Aceh ini tetap hidup dan berkembang. Kesenian tradisi di Aceh tidak hanya dianggap sebagai media hiburan semata-mata.. Produksi Jurusan Teater STSI Padangpanjang. 2000. Teater Tutur Aceh: Adnan P.Adjib Hamzah.T. Kartomi. CV Rosda Bandung Agus Noor.. 2006. 1999. Oleh karena itu. Interkulturalisme Teater. Jurnal Ekspresi Seni Program Studi Pascasarjana UGM.... Bandung: Angkasa Sulaiman Juned. dalam Asvi Warman Adam. Kegiatan ini mampu menumbuhkan seni-seni tradisi yang mulai punah.O. Harian Kompas Jakarta: 26 Maret 2006 Basri Daham. 1996/1997.. Harian Kompas Jakarta: 18 Desember 2005 Mursal Esten. Festival Baiturrahman. Kajian Transformasi Budaya. Pekan Kebudayaan Aceh. 1999. Peneliti Musik Aceh Pasca Tsunami. 1993. Pengantar Drama Monolog Enam Tuan Arthur S. Monolog. Bandung: Penerbit Angkasa Rahman Sabur. dan Diwana Cakradonya perlu dikembangkan.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 196 .

karena propinsi Sumatra Utara didiami oleh banyak etnis yang memiliki konsep budaya.Sn Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Pendahuluan embicarakan masalah penggunaan seni tradisi dalam media komunikasi sosial di Sumatera Utara merupakan obyek diskusi yang sangat luas. dan beratus konteks pertunjukannya. Outline dasar yang menjadi fokus berkisar tentang fungsionalnya suatu genre seni sebagai mediasi untuk pencapaian niat atau maksud diadakannya suatu upacara atau acara yang berhubungan dengan religius/keagamaan. atau hiburan oleh suatu etnis di daerah Sumatera Utara. M. ritual adat. Hajizar. Sungguh pun begitu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Penggunaan Seni Tradisi dalam Media Komunikasi Sosial di Sumatera Utara Drs. dan sistem komunikasi sosial yang spesifik sesuai dengan latar belakang keturunan nenek moyang mereka masing-masing. Berlatar kompleksnya sistem kehidupan masyarakatnya. Setiap etnis asli Sumatera Utara menghendaki keharmonisan dan M 197 . ketersediaan data pendukung yang penulis miliki. materi seni yang banyak. baik seni Melayu. maupun aneka seni dari etnis-etnis Batak adalah cukup memberikan rasa optimis untuk merealisasikan sasaran minimal tema tulisan di atas. ditambah dengan pengalaman praktikal selama empat tahun menjadi pelaku seni di Sumatera Utara. dan bervariasi konsep seni yang dimiliki mereka membawa penulis untuk memilih pendekatan “induktif” untuk mengidentifikasinya. Minang. bahasa.

Bagian pertama ini berposisi sebagai pembentukan frame pemikiran terhadap kelayakan tema ini menjadi sebuah informasi yang bermanfaat. tulisan ini disajikan dalam empat bagian. Kesenian diapresiasi sebagai mediasi yang mujarab untuk menjembatani komunikasi horizontal antar individu. dan komuniksi vertikal antara manusia dengan supranatural yang gaib. Sedangkan bagian ketiga merupakan informasi masa silam yang difungsikan sebagai landasan penting untuk melihat kondisi kehidupan kesenian masyarakat Sumatera Utara masa sekarang. atau hiburan pada konteksnya adalah setelah terkoneknya maksud itu dengan resepsi obyek upacara tersebut.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kelanggengan sistem kemasyarakatan (kekerabatan) dan struktur sosial yang diwarisi mereka. Dengan demikian. maka wujudlah aneka upacara ritual adat. Sudah sama dipahami. upacara religi/keagamaan. Kemudian bagian kelima sebagai konklusi dari temuan yang diperoleh dari hasil keseluruhan deskripsi tulisan. Bagian kedua memperlihatkan sekilas demografi wilayah dan penduduk Sumatera Utara untuk menggambarkan keadaan hunian yang bersinerji dengan kompleksitas konsep sosial masyarakat yang menghuninya. Sekilas Demografi dan Wilayah Penduduk 198 . karena keyakinan tercapainya maksud atau niat pelaksana upacara. antar kelompok. bahwa konteks upacara dan acara-acara seremoial merupakan suatu produk sosial dan salah satu komunikasi yang wujud di dalamnya adalah komunikasi sosial. atau diperolehnya kesenangan batin melalui hiburan. dan acara-acara sosial lainnya. tetapi berdasarkan penggunaan dan berfungsinya suatu produk seni dalam suatu konteksnya berarti sudah menunjukkan keberhasilan suatu komunikasi. Tulisan ini tidak secara gamblang membicarakan masalah ‘komunikasi sosial’ secara konseptual. Bagian keempat menfokuskan diskusi kepada dinamika kehidupan masyarakat dan kreativitas seni yang terjadi dalam konteks perubahan di masa sekarang dan prospek keberlanjutannya di masa depan. dengan Tuhan atau “Sesuatu” yang dianggap berperan sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa penentu jalannya kehidupan di dunia dan hidup sesudah mati. Mayoritas wahana yang dipilih oleh etnis-etnis Sumatera Utara dalam rangka tercapainya pengharapan di atas adalah kesenian. serta tercapainya kebahagiaan hidup sesudah mati melalui sistem kepercayaan yang dianut.

ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. serta diprovokasi oleh semangat otonomi daerah untuk memacu pertumbuhan pembangunan di segala bidang. Nias Selatan. Karo. kelapa sawit. Labuhan Batu. Nias. penduduk Sumatera Utara berjumlah 11. Serdang Bedagai. dan juga meliputi 419 pulau yang berada di luar pulau Sumatera. di antaranya pulau Imanna. Bau. Mandailing Natal. coklat. Kepulauan Nias yang terletak di lepas pantai pesisir Barat Samudera Hindia merupakan pulau utama dan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya. Humbang Hasundutan. Toba Samosir. kopi. 199 . Batubara. PT. Sibolga. Langkat. Padang Lawas Utara.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Sumatera Utara sebuah provinsi yang keempat terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa Barat. kayu manis. ialah pulau Simuk (kepulauan Nias). batu bara. dan Kepulauan Batu1. Tanah Bala. Padang Sidempuan. Makole. Asahan. Tapanuli Selatan. Dengan begitu. Tapanuli Utara. Tanjung Balai. dan 7 kota): Kabupaten Angkola Sipirok. Lego. Binjai. Batumakalele. gas alam. Kepulauan Batu yang terletak di Tenggara kepulauan Nias terdiri dari 51 pulau. dan Jawa Tengah. Jake. Berlatar luas daerah dan jumlah penduduk Sumatera Utara pada dasawarsa terakhir ini. Hamutaia. Kepadatan penduduk Sumatera Utara pada tahun 2002 menjadi 165 jiwa per km². kondisi alam Sumatera Utara pada dasarnya dapat dibagi atas: Pesisir Timur. Simalungun. Samosir. Masa. teh. di antara 4 pulau yang terbesar: Sibuasi. Pegunungan Bukit Barisan. cengkeh. Selain geografis Propinsi Sumatera Utara yang terbentang dari daerah pesisir Timur ke pesisir Barat. Deli Serdang. Sedangkan pulau yang terluar dari sekian ratus pulau tersebut. Selain itu terdapat beratus pulau lain di Samudera Hindia yang termasuk propinsi di Sumatera Utara. Wunga. Jawa Timur. Bawa. Potensi bumi Sumatera Utara yang luas dan subur telah mewujudkan perkebunan (karet. Pini. dan Sigata. dan Kota Medan. Inalum di Kuala Tanjung Kabupaten Asahan terdapat 1 Sumber Wikipedia Indonesia. Pematang Siantar. maka Pemda Tingkat II di Sumatera Utara yang semula berjumlah sekitar 17 kabupaten/kota. dan tembakau) dan pertambangan minyak bumi. Simaleh. telah dimekarkan menjadi 29 Kabupaten/kota (22 kabupaten. dan pulau Berhala di Selat Malaka. Dairi. Pesisir Barat. Kepulauan Nias. Pakpak Bharat. Tebing Tinggi. Tapanuli Tengah.85 juta jiwa. kelapa. Pasu. Tanah Masa. Padang Lawas. Menurut hasil Sensus Penduduk (SP) tahun 2002.

Minang. Simalungun. mengadu nasib masuk ke daerah Sumatera Utara dan berdomisili sesuai sentra-sentra aktivitasnya masing-masing. sebagian Batak Karo. agama Kristen (Protestan dan Katolik) terutama dipeluk oleh suku Batak Toba. 200 . Aceh dan Jawa.” Begitu juga masih terdapat sejenis aliran kepercayaan bernama “Parmalim” yang dianut oleh sebagian suku Batak Toba yang berpusat di Huta Tinggi. Konghucu terutama dipeluk oleh suku Tionghoa di perkotaan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF yang bergerak di bidang penambangan bijih dan peleburan aluminium yang merupakan satu-satunya di Asia Tenggara. Sentra aktivitas pada berbagai lokasi ini yang bersentuhan langsung dengan sosio-budaya lokal yang beragam pula sebagai lingkungan kerja dan kehidupan mereka. dan komunikasi dalam pergaulan umum selalu menggunakan Bahasa Indonesia dialek Melayu. India Keling. Batak Simalungun. Tionghoa. Dengan demikian. Batak Pakpak Dairi. bermunculan lagi beraneka pabrik di berbagai kota sehingga kota Medan telah menjadi kota industri utama di Sumatera. Namun. dan suku Nias. Suku pendatang ialah Jawa. Kesemuanya ini telah mengundang pendatang dari etnis lain merantau. Karo. Suku asli ialah 1) suku Melayu (Pesisir Timur Sumatera Utara). Agama Hindu terutama dipeluk oleh keturunan India yang minoritas di perkotaan. dan tentu beraneka pula corak seni tradisional yang berfungsi membentuk komunikasi sosial dalam kehidupan kotakota di Sumatera Utara. 2) Pesisir Sibolga (Pesisir Barat Sumatera Utara). 4) suku Nias. 3) suku Batak (Toba. persoalan kepercayaan memiliki fenomena yang menarik dalam kehidupan masyarakat Sumatera Utara yang heterogen tersebut. Buddha terutama dipeluk oleh suku Tionghoa di perkotaan. PLTA Asahan yang merupakan terbesar di Sumatra terdapat di Kabupaten Toba Samosir. Pesisir Sibolga. lengkaplah identitas Sumatera Utara sebagai propinsi multi etnis di Sumatera. Di samping itu. Setiap etnis (asli dan pendatang) di Sumatera Utara menggunakan Bahasa Ibu masing-masing. dan lainnya. Minang. dan Mandahiling). Agama Islam menjadi agama mayoritas yang dianut oleh suku Melayu. Realita di atas telah menjadikan Sumatera Utara didiami oleh multietnis yang terdiri dari suku asli dan suku pendatang. Angkola. Aceh. Bahkan sebagian suku Batak Toba dan Nias masih menganut kepercayaan Animisme yang bernama “Pelebegu Parhabonaron. Pakpak Dairi. Mandahiling.

Berikut ini. Buku Buklet. Begitu pun pada upacara adat. 201 . Melalui penyajian Gondang Sabangunan disampaikan permohonan peserta upacara kepada Tuhan-Nya. kedudukan musik tradisional Gondang Sabangunan bagi masyarakat Batak Toba dipakai dalam kepentingan upacara religius untuk mengatur hubungan antara peserta upacara dengan Tuhan dan dunia gaib. kita coba melihat sampel genre-genre seni utama dari etnis-etnis asli Sumatera Utara yang berhubungan dengan fungsinya sebagai pembangun komunikasi sosial tradisional dalam kelompok-kelompok etnis masyarakatnya masing-masing. baik berbentuk sistem kemasyarakatan yang diwarisinya. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. Menurut Marpaung. 1994. bahwa salah satu contoh dari repertoar tersebut adalah “Gondang Debata Sori” yang dalam hal ini adalah nama salah satu dari Tuhan menurut Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di dalam masyarakat Batak Toba. Banggal Marpaung. Nomor-nomor gondang yang disajikan selalu didahului dengan ungkapan-ungkapan tradisional yang disampaikan oleh partisipan upacara melalui tonggo-tonggo. serta lingkungannya. gondang dan tortor selalu hadir menjadi alat mengekspresikan perasaan dan maksud. hal 3. Dengan demikian. Pada setiap upacara adat. gondang-gondang yang dimainkan pada kegiatan religius itu bersifat sakral. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. Pertama.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Identifikasi Sosio-Seni Warisan Etnis-Etnis Asli Sumatera Utara Berdasarkan identifikasi terhadap tradisi sosial dan seni dari etnisetnis asli yang mendiami Sumatera Utara dijumpai beraneka ragam aktivitas. umumnya peranan Gondang Sabangunan berfungsi sebagai pengiring tarian (tortor) dari kelompok masyarakat yang mempunyai marga (clan) yang terkait sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu (Tungku Nan Tiga). maupun berbentuk upacara-upacara tradisional yang diadatkan dalam bentuk seremoni adat masing-masing sebagai konsekuensi dari sistem kemasyarakatan yang dianut mereka. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. hal 2. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. dan tidak dapat sembarangan dimainkan2. Ungkapanungkapan itu dapat mengakrabkan pergaulan sehari-hari para peserta 2 3 Banggal Marpaung. 1994. Apabila dikaji secara seksama makna ungkapan-ungkapan tradisional tersebut sifatnya universal dan dapat bertahan sepanjang masa3. Buku Buklet.

Instrumentasi Gendang Lima Sendalemen terdiri dari sarune terbuat dari kayu selantam. Gondang utamanya dimainkan dalam kaitannya dengan berbagai ritual maupun upacara keagamaan. tidak hanya dalam memenuhi berbagai kebutuhan sosialnya. Tiruan bunyi itu akan mujarab untuk mencegah matinya segala manusia. kilat. lobangnya 7. Cacing. tetapi juga meliputi berbagai hal terkait dengan hal yang bersifat spiritual. 202 . disamping juga dipakai dalam konteks aktivitas seremonial adat. Dalam masyarakat lokal-tradisional Batak Toba. dan ada juga garantung sebagai pembawa ritme variabel.” Makalah. dan banjir. bahwa: “pada masa dahulu.” Kehadiran ensambel musik ini berlatar belakang sebuah mitos yang hidup dalam masyarakat Karo. Katak. Mitos tentang suara-suara inilah yang dipercayai masyarakat Karo untuk menemani kehidupan mereka yang diimitasikan melalui musikal instrumen Gendang Lima Sendalemen5. hal 3-4. Pentingnya peranan ini dapat dilihat kaitannya dengan salah satu filosofi dasar masyarakat Batak Toba.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF upacara. Gendang Indung Na. Tersirat di sini. Kumbang. bahwa seorang pemusik Batak Toba berfungsi sebagai mediator utama dalam menjalin hubungan antar dunia manusia dengan dunia para dewa. bahwa seorang anak boru berkewajiban untuk 4 5 Rithaony Hutajulu. Kedua. 2002. gendang Anak Na. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara. bahkan menjadi sarana penguat identitas dan pembangun rasa solidaritas sesama antar individu dan antar kelompok masyarakat yang seatap dalam suatu upacara adat. Pada suatu kali terjadi angin topan. Menurut adat Karo. Gondang (“musik”) memiliki peranan yang penting dalam aktivitas kehidupan mereka. dimana gondang dianggap menjadi alat utama untuk mencapai dan membangun hubungan antara manusia dan “Sang Pencipta” (Mulajadi Na Bolon)4. Secara tiba-tiba bermunculan bermacam suara sebagaimana karakter dan warna suara yang dimiliki oleh Tung-tung. manusia itu tidak mati-mati. Kemudian anak yang mati itu disuruh oleh ibunya untuk menirukan segala bunyi tadi. maka matilah anak sang putri tersebut. Amphok (burung). Bandung: UPI. etnis Batak Karo memiliki ensambel musik tradisional utama disebut “Gendang Lima Sendalemen. dan batangnya dari gelondah berperan sebagai pembawa melodi. Tentu pemusik gondang dituntut untuk memahami sepenuhnya tentang struktur dan materi sebuah ritual/upacara yang sedang dimediasinya. badai. sementara Gung. dan penganak berfungsi sebagai pembawa ritme konstan.

untuk menghormati raja-raja. Sebab gendang ini diiringi dengan nyanyian-nyanyian tradisi berjudul ’Lagu Pengangkat’ --mungkin jenazah ini diangkat ke sorga-. karena sewaktu padi berperut. Guro-guro Aron bermakna suatu upacara syukuran panen bagi suatu desa. Begitu juga halnya tentang masalah hubungan timbal-balik antara musik dengan tor-tor dalam kehidupan masyarakat Batak Mandahiling. Tali Sasayap. Salung sebagai pemegang melodi. yaitu Gordang Sembilan6. Doal sebagai ritem konstan. 2) berfungsi horizontal. Sedangkan ensambel Gordang Lima memiliki dua fungsi: 1) berfungsi vertikal. 2 buah Padua 1 pemain. Dia harus tahu susunan struktur famili dari orang yang meninggal sewaktu diadakan seremonial upacara kematian lengkap dengan ensambel gendangnya. sekaligus minta nasehat. Momongan. Suling. Gordang Sembilan digunakan untuk menghormati Mayat Harimau. sekaligus untuk memberi semangat terhadap para remaja di desa masing-masing. Salah satu konteks sosial yang paling memasyarakat lagi populer untuk penyajian ensambel Gendang Lima Sendalemen ialah Pesta Guro-guro Aron yang diadakan pada setiap desa di tanah Karo. Apabila roh telah menghinggapi diri Sibaso. maka dia ditanyai tentang apa-apa yang perlu. Sarune. Gordang Lima7.’ 203 .sebagai lagu tradisi untuk mengusung jenazah yang terdiri dari 48 lagu berturut-turut yang dikenal dengan istilah ‘50 . 2 buah Udong-Kudong 1 pemain. 6 7 8 2 buah Jangat 1 pemain. karena binatang ini dianggap hewan yang beradat. atau Dalihan Na Tolu.2’ yang semua teks lagunya berisi magis yang berkaitan dengan kepercayaan. 2 buah Patolu 1 pemain. Sordam. Ritem Variabel : Gondang. Gong. remaja di desa merasa resah.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mempersiapkan suatu upacara adat pada waktu kematian. Bagi orang Karo. untuk memanggil roh-roh melalui Sibaso/Sisaman (dukun). sebagai ritme variabel. dan agar keresahan itu tidak berlanjut. Ketiga. gendang berguna sebagai ‘basis pengantar’ bagi suatu upacara kematian. masyarakat Batak Mandahiling memiliki tiga jenis ensambel musik yang penting dalam tatanan kehidupan sosial mereka. yaitu mengundang rasa kemanusiaan dan rasa sedih bagi orang yang ikut upacara. dan Gondang dua8. boruboru. maka diadakanlah upacara Guro-guro Aron sambil berhibur oleh muda-mudi. 1 buah Enek-Kenek 1 pemain. Penyanyinya diistilahkan dengan “Parkolong-kolong. Cabutan satu-satu buah dari 5 unit Gordang Sembilan.

seperti pesta kawin atau kelahiran (dimainkan repertoar ‘Horja Sirizon). Berdasarkan beberapa sampel di atas. Tortor Mora. Berhubungan dengan “adat-istiadat” tentang urusan kehidupan dan kematian. Musik dan tortor dimainkan untuk urusan upacara suka-cita. yaitu tor-tor dan musik langsung berhubungan dengan pihak yang berpesta. Berhubungan dengan “kepercayaan” kepada roh. dan Sarama Datu. dan untuk upacara duka-cita. seperti kematian dimainkan repertoar ‘Horja Silulutan.’ Begitu juga pada upacara kematian raja. dan di sini ditampilkan tortor. d.’ yaitu orang-orang yang menangisi mayat secara bersama. Tortor Suhut Sihabolon. karena segala sesuatu di dunia ini berasal dari roh. Figur yang berperan menghubungkan manusia dengan roh ini adalah melalui perantaraan ‘Bayo Dato (Sibaso). dipukul canang dan beduk yang terusmenerus dimainkan hingga seluruh famili datang ke rumah duka. Naposo Bulung. Jolo-jolo Turun. Selain itu. dan waktu mayat berangkat ke kuburan. yaitu urusan pesta yang langsung berhubungan dengan famili isteri.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Terdapat suatu ungkapan masyarakat Mandahiling: “Terter Mulani Gondang. b.” Secara fungsional tortor Mandahiling dibagi dua: 1. Tortor Anak Boru. bahwa pada masa dahulu dalam masyarakat Batak Mandahiling terdapat upacara ‘Mahadongi Hamatian. bahwa segala aspek kehidupan masyarakat Batak Mandahiling selalu diling- 204 . diiringi dengan repertoar ‘gondang roto. yaitu urusan pesta yang berhubungan dengan pihak bapak. yaitu urusan pesta para muda-mudi. itu kata tari). Somba Mulani Tortor (apa kata gendang. c. 2. Penyajian tortor dan musik merupakan suatu kesatuan yang difungsikan untuk mengundang roh.’ Repertoar yang biasa dimainkan berhubungan dengan kepercayaan ialah Alap-alap Tondi. dapat disimpulkan.’ Horja dalam musik tradisional Batak Mandahiling dapat dibagi kepada: a.

’ Klasifikasi upacara adat-istiadat dipertimbangkan oleh Sulang Selima10 berdasarkan sumber penyebab wujudnya upacara tersebut. dapat dikatakan bahwa prinsip kehidupan sosial masyarakat Batak Pak Pak Dairi yang selalu dimediasi oleh ensambel gendrang Gorci cukup mirip dengan fungsi gordang dan gendang dari 9 Terdiri dari: Gendrang 9 (dengan 5 pemain). subyek upacara itu disebut dengan “kerja” yaitu kerja baik. c. Gong. Untuk upacara ini dipakai Gendrang 9. Gendrang 5 (dengan 3 pemain). 2. Gendrang 7 (dengan 3 pemain). Mre Kemban yaitu suatu pesta yang diadakan untuk menyembah berhala. merupakan seperangkat alat musik yang pemakaiannya berhubungan dengan upacara ‘adat istiadat. etnis Batak Pakpak Dairi terkenal dengan ensambel Gorci9. Dengan demikian. sejahtera. Kerja Baik. Sewaktu lahir pakai gondang. Mangokal Tulan dipakai Gendrang 5. agar seluruh masyarakat mendapat berkat dan taufik hidayat. dan waktu mati pakai gondang. Kettuk. Merkata Sipitu yaitu suatu pesta yang diadakan sewaktu padi belum ditanam. Mase Sayur Matua dipakai Gendrang 5. hidup sentosa. Terbagi kepada tiga macam upacara: a. Mendeger Uruk yaitu suatu pesta atau kerja baik untuk meminta/memohon kepada Debata Guru (Tuhan) “Beras Pati Tana dan Mungkeni Kula. Kalondang. Untuk upacara ini dipakai Gendrang 7. Terbagi kepada dua macam upacara: a. serta memanggil roh dan menolaknya pun juga pakai gondang. sebagaiman pengertian berikut: 1. Kerja Njahat. yaitu pesta sewaktu terjadi keliahan/kemalangan yang tanpa perencanaan sebelumnya. Gendrang 2. adil dan makmur. 10 Sulang Selima yaitu unsur adat yang tertinggi sebagai adat yang menentukan paling akhir pada setiap pelaksanaan ‘kerja’ dalam masyarakat Pak-Pak Dairi. kawin pakai gondang. Untuk upacara ini dipakai Gendrang 2. yaitu pesta yang mempunyai perencanaan yang baik yang mempunyai makna dan cita-cita. b.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI kungi dengan tor-tor dan musik gondang atau gordang. Gerantung. Keempat. misalnya orang tua yang meninggal pada usia lanjut. dan kerja njahat. agar mendapat hasil yang melimpah. sebelum mengenal agama. 205 . Cilat-cilat. b.

Oleh sebab itu. merupakan repertoar pendahuluan sesudah repertoar pembukaan. etnis Nias terkenal dengan musik vokal ‘Ho Ho” yaitu kesenian vokal yang teksnya berbentuk puisi. Topeng ini selalu dihadirkan pada setiap upacara kematian orang berumur tua yang diiringi dengan Gondrang Si Pitu-pitu. masyarakat Batak Simalungun memiliki Topeng Huda yang penting sekali artinya bagi rakyat Simalungun. Tiga musisinya mengenakan kostum yang berbeda. Dahulu pada dual ini dipakai gondrang si dua-dua. Nyanyian ini disajikan dalam konsep responsorial. Selain dari penabuh dual ini adalah tidak boleh menabuhnya. burung enggang.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF masyarakat Batak Mandahiling. dan biasanya lebih tua dari penabuh lainnya. Repertoar “Dual Rambing-rambing” yang diiringi dengan tari. Repertoar “Dual Parahot” yang khusus sebagai pembukaan upacara yang mempunyai hubungan dengan religi (roh jahat dan roh baik). Keenam. Dalam upacara kematian. tetapi sekarang sudah dipakai gondrang si pitu-pitu. biasanya dinyanyikan Ho Ho yang menceritakan riwayat hidup orang tua yang meninggal. sedangkan pada upacara ritual keagamaan dinyanyikan “Fo’ Ere (nyanyian pendeta) yang langsung dipimpin oleh Ere (pen206 . adat. etnis Batak Simalungun menggunakan musik dan tari untuk kepentingan religi. 2. dan beras” pada setiap penampilannya sebagai simbol spirit kemasyarakatan mereka. 2) Ho Ho Bame Sidi Ndo (berdiri). sehingga musisi menempati strata yang terhormat dalam masyarakatnya. yaitu desain pakaian menyerupai kuda. kemudian direspon oleh kelompok penyanyi ‘Sono Yohi’ untuk menghiasi melodi Sondrono. tanpa musik. Repertoar musik Simalungun yang terkenal sebagai berikut: 1. dimana leader (disebut Sandroto) bernyanyi secara solo dengan melodi yang tidak banyak variasi. Kelima. Selain itu. kepentingankepentingan itu tidak dapat dilakukan. yaitu 1) Ho Ho Ba Fetatoro (duduk). sekaligus berfungsi untuk membedakan materi garapannya. sedangkan roh-roh jahat diusir (diiringi tari). Terdapat dua bentuk penyajian Ho Ho. artinya berguna untuk persembahan dan yang menari hanya roh-roh baik. Secara adat. panarunai yang menjadi pimpinan rombongan diberi “ayam. seperti “Panarunai” lebih tinggi kedudukannya. dan hiburan. musisi mendapat penghormatan yang tinggi dari masyarakat. kelapa.

namun penggunaan musik Sikambang mesti mendapat persetujuan dari pengetua adat terlebih dahulu. tetapi puncak kemeriahannya terjadi pada malam ketiga. dan 3) pesta keturunan rakyat biasa dengan memotong kambing. 207 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI deta) yang memegang Fondrahi. upacara “pesta perkawinan” dan kesenian yang melekat padanya menjadi seremoni adat yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat Pesisir Sibolga dan sekitarnya. yaitu suatu tanda kelengkapan adat istiadat dalam bentuk selendang beraneka ragam warna yang dipasang pada langit-langit di atas pelaminan yang disangkutkan dengan bambu yang sudah ditata sesuai dengan perlengkapan pelaminan. tetapi tidak berhak memakai kain sampe gala. dimana pengantin duduk di atas pelaminan untuk berinai. hal 7. Menyampe. bahwa upacara basanding duo diadakan pada malam ketiga. 1985. Galombang 12 adalah suatu permainan pencak silat oleh 24 orang pesilat yang dibagi atas dua kelompok. Fadlin.” Laporan Penelitian. Menurut Fadlin. maka pengetua adat akan mengatur pelaksanaannya sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan. 2) pesta keturunan bangsawan dengan memotong sapi yang berhak memakai kain sampe gala 9. dan telah memenuhi syarat-syaratnya antara lain sebagai berikut: 1. yaitu sejenis gendang yang dipakai untuk menyampaikan sesuatu maksud dari pendeta. cs. Ketujuh. Biasanya hiburan musik Sikambang diadakan pada malam ketiga ini. Ketiga kelas upacara pesta perkawinan ini tetap dilaksanakan selama 7 hari 7 malam. irama Lagu Duo serta Tari Salendang. Kemudian dengan iringan lagu Dampeng. Kelompok per11 Fadlin. Apabila seseorang anggota masyarakat Pesisir Sibolga ingin menggunakan musik Sikambang pada pesta perkawinan. pengantin laki-laki diarak masuk ke dalam ruangan tempat besanding yang langsung disandingkan dengan pengantin wanita yang sudah duduk menanti11. Pesta Perkawinan masyarakat Pesisir Sibolga dibagi atas tiga kelas: 1) pesta keturunan raja dengan memotong kerbau yang berhak memakai kain sampe gala 12. Medan: USU. dilanjutkan dengan irama Kapulo Pinang dan Tari Payung. dan upacara ini dibuka dengan irama Kapri dan Tari Sapu Tangan. cs. Walaupun pesta perkawinan dilaksanakan selama 7 hari dan 7 malam. 2. “Tata Cara Adat Perkawinan Pesisir Sibolga.

kalau dilanggar adalah dianggap melanggar adat dan bagi pelanggar ada sangsi sosial bagi kelompok yang melanggar. 1985. “Tata Cara Adat Perkawinan Pesisir Sibolga. 2005. Perubahan. mambang dan lain-lain. hal 45. dewa. dan lain-lain. syetan. 208 . Misalnya. Walaupun falsafah orang Melayu “adat bersendi syarak. musik Sikambang dimainkan di bawah langitlangit dan pelaminan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF tama mendampingi pengantin pria sebagai panglima atau raja sehari dan kelompok kedua berfungsi sebagai pengawal dari pengantin wanita. jin. mendu. Teater 12 Fadlin. sehingga aktivitas berkesenian memang banyak berhubungan dengan kuasa-kuasa gaib yang dimulai dengan jampi-jampi (mantera). seperti wayang kulit. Apabila pesta perkawinan akan disempurnakan dengan penyajian Galombang 12. Makalah. menjauhkan bencana. “Musik Melayu: Akar Budaya. makyong. puaka. dan Kontinuitas. Medan: USU. terutama dipakaikan pada alat-alat musiknya. Akulturasi. menhora. Kedelapan. jin. Ini merupakan arti tersirat yang tidak boleh dilanggar. hal 6. Lagu dampeng adalah lagu vokal yang dinyanyikan oleh laki-laki. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan. untuk rasa perdamaian dengan kuasa gaib. sebaiknya tidak menampilkan kesenian Sikambang. maka pihak pengantin wanita/pria diharuskan menyembelih kerbau atau lembu sebagai persyaratan dalam peradatan. musik-musik sebelum Hindu/Islam digunakan untuk mengiringi teater-teater tradisional Melayu. syarak bersendi Kitabullah” tetapi cukup sarat produk sosial dan seninya dibarengi oleh unsurunsur kepercayaan kepada alam roh. yang dinyanyikan secara bersahutsahutan antara solo vokal yang teksnya berupa doa’-doa’ kepada Tuhan dan disambut oleh orang ramai yang pada dasarnya menguatkan doa’ yang dinyanyikan oleh solo vokal12. di samping kepercayaan kepada Allah YME. cs.” Laporan Penelitian. lagu bertuah. Ketangkasan bermain silat sewaktu penyambutan pengantin lakilaki diiringi dengan lagu dampeng. kesenian tradisional warisan etnis Melayu. seperti hantu jembalang tanah. Medan: Etnomusikologi USU. jembalang laut. mengusir hantu atau setan13. bangsawan. Salah satu contoh teater tradisi di sini ialah teater Bangsawan. Fadlin. 13 Muhammad Takari. bahwa pada waktu berhubungan dengan adat. jikalau tidak sanggup menghadirkan langit-langit dan pelaminan.

Kelompok Stambul 3. Hal yang menarik dalam teater Bangsawan. di mana Sri Panggung dan Anak Muda harus pandai bernyanyi dan menari. dengan membawakan tema mengenai kesatriaan seorang tokoh. dan hilangnya lafal norma-norma bahasa Melayu. TV). 209 . Tokoh Anak Muda yang berperan sebagai pahlawan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bangsawan dikenal juga dengan istilah Opera Melayu. Bangsawan merupakan cikal-bakal terjadinya jenis teater —peralihan— ke teater modern dengan dua dimensi. harus dipelajari dengan meniru tokoh dahulu secara oral tradisi. Kelompok Dardanela Setelah jaman Jepang perkembangan teater Bangsawan menurun. Ada Jin Jahat yang berperan untuk merong-rong ide-ide dari tokoh. 3. Menjelang Perang Dunia II teater bangsawan sudah tidak bisa bersaing lagi dengan kemajuan teknologi (film. 3. Di dalam cerita Bangsawan sudah dipakai cerita-cerita kejadian yang bersumber dari peristiwa-peeristiwa di negeri Barat. maupun Primadona yang mempunyai karakater permainan yang baik. 2. Teater bangsawan mahal biayanya. 2. Para pemain utama dengan ciri-cirinya sebagai berikut: 1. Pembukaan dan penutup dalam permainan teater Bangsawan juga dibarengi dengan mantera-mantera. Dialog tidak bisa dipelajari dengan naskah. karena sarat sekali dengan perlengkapan-perlengkapan yang harus dipersiapkan. Terdapat Sri Panggung yang menjadi primadona dalam cerita. tetapi tidak bisa bertahan lama karena pemain yang berkualitas akan disabet oleh rombongan lain yang lebih kaya. tersingkirkan oleh sandiwara-sandiwara modern. Kelompok Indra Ratu (Sultan Serdang) 2. karena: 1. Terdapat Tukang Lawak yang selalu menghidupkan suasana panggung 4. Pada daerah Melayu teater Bangsawan muncul secara berkelompok atau kumpulankumpulan. di antaranya yang terkenal adalah: 1. Baik Anak Muda.

b. Tempo tercepat dari Rentak Lagu Dua ini diistilahkan dengan ‘Rentak Pulau Sari’ yang difungsikan untuk pengiring Tari ‘Serampang 12’ yang diciptakan almarhum Guru Sauti dari daerah Perbaungan. Ragam Gila Kepayang yang artinya mabuk kepayang. adalah nyanyian hiburan yang umum dinyanyikan di daerah Asahan dan Labuhan Batu. 2. Rentak Senandung berasal daripada lagu-lagu Senandung. yaitu lagu yang menurut keterangan orang-orang Melayu di Sumatera Timur (kini Sumatera Utara) berfungsi untuk memanggil angin di laut sa’at mereka mengalami mati angin sewaktu menangkap ikan. ragam Berjalan yang artinya 210 . maka lagu ini sering dilagukan oleh pelaut/nelayan. dan mengiringi lagu yang memakai pantun jenaka yang merupakan pantun anak muda. seperti Kuala Deli. e. Dendang Sayang. Beberapa lagunya yang terkenal.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Kemudian. Ragam Berjalan yang artinya cinta meresap. Beberapa Irama atau Rentak Musik Melayu Deli sebagai berikut: 1. Rentak Senandung berbirama 4/4 dengan tempo lambat (andante) tetapi siklus pola ritemnya 8/4. Ragam Permulaan yang artinya pertemuan pertama. Pola ritem Rentak Lagu Dua sangat populer di tengah-tengah masyarakat Melayu. Tarian Serampang 12 mengisahkan percintaan yang diakhiri dengan perkawinan dengan struktur gerak meliputi sejumlah 12 ragam: a. Berbirama 2/4 dengan membawakan tempo agak cepat. sampel seni dari etnis Melayu Sumatera Utara yang dipilih ialah lagu-lagu Melayu Deli yang langsung berhubungan dengan tarian. Bagi etnis Melayu Deli ‘Irama’ berhubungan dengan pola ritem gendang yang sekaligus tersangkut di dalamnya pemahaman terhadap “tempo” permainan suatu lagu. Tanjung Katung. sebagaimana tempo Samba. c. Rentak Senandung (Malaysia: Rentak Asli). sering disebut juga dengan ‘Lagu Menari’ yang sangat digemari dalam tarian bebas. Ragam Pusing Tari yang artinya memendam rasa. Pancang Jermal dan lainnya. Damak. dan lain-lain. Beberapa lagunya yang terkenal ialah Dua Singapura. d. Irama ini diiringi dengan lagu yang memaki pantun nasib. bernada sedih tentang peruntungan yang malang. dan Mambo. Makan Sireh. Rentak Lagu Dua (Malaysia: Rentak Joget).

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI bersifat isyarat tanda-tanda cinta. Rentak Gubang berasal dari lagu Gubang yang terdapat di daerah Asahan. Rentak Mak Inang (Malaysia: Rentak Inang). 5. ialah nama yang diberikan kepada wanita pengasuh setengah baya yang mengepalai sejumlah dayang-dayang dan penari di Istana raja. sehingga tidak diiringi dengan nyanyian/vokal manusia. Berbirama 4/4 dengan membawakan tempo cepat yang diiringi dengan lagu yang memakai pantun jenaka. Ragam Gencat-gencat yang artinya balasan isyarat. 4. i. Pada abad ke 20 rentak Mak Inang ini lebih dicepatkan dan lahirlah lagu dan tari Cek Minah Sayang yang memakai sapu tangan atau selendang untuk penampilannya. Pada mulanya irama ini hanya berkembang pada daerah-daerah yang dipengaruhi oleh Batak Karo. Tempo tercepat dari Mak Inang ialah rentak Patam-patam dengan memakai birama 4/4 dengan tempo cepat sekali. Mak Inang Kayangan dan sebagainya. f. serta Serdang. yang kemudian dipergunakan pula oleh rakyat awam. Tarian Mak Inang biasa dibawakan oleh Mak Inang (dayang pengasuh keluarga kerajaan). Rentak Ghazal berasal dari perkembangan/pengaruh dari India Utara yang dibawa oleh orang-orang Islam pada awal abad 19 ke Pulau Pinang terus ke Medan. Irama ghazal ini dipakai pada 211 . h. j. dan kemudian rentak ini diadopsi oleh penari dan pemusik seni pertunjukan ronggeng. Beberapa di antaranya lagunya yaitu Mak Inang Pulau Kampai. Irama ini mendapat pengaruh dari Arab yang bercampur dengan pengaruh suku Batak Perdambanan di hulu Sungai Asahan. Ragam Sapu Tangan yang artinya pertemuan kasih mereka. karena dalam lagu tradisi Batak Karo juga ada lagu patam-patam. k. Ragam Datang Mendatangi yang artinya pinangan dilakukan. Tempo rentaknya sedang (sekitar 100 ketukan dasar per menit). seperti daerah Langkat. g. dan Deli. Ragam Sebelah Kaki yang artinya menduga. Ragam Rupa-rupa yang artinya mengantar penganten. 3. Ragam Langkah Melonjak yang artinya masih belum percaya. Ragam Meloncat-loncat yang artinya jawaban sudah diterima. l.

seperti Rentak Senandung dilahirkan dengan gendang ronggeng. Rentak Chalti. Berbagai Rentak atau irama Melayu di atas dimainkan sesuai dengan ciri khas alat musik gendang yang dimiliki oleh masing-masing rentak di atas. Dengan demikian. kedelapan jenis rentak Melayu Deli ini termasuk klasifikasi musik modal yang masuk kategori musik tradisional etnis Melayu di Sumatera Utara. dan lainnya. 8. Berasal dari Irama Chalti inilah berkembangnya pola ritme gendang pop dangdut. atau ada yang mengatakan Laila Majnun yang merupakan pengaruh dari Arab. bahkan karakter lagu dan melodi Melayu tersebut telah menuntut terjadinya pemodifikasian progresi akord-akord musik Melayu Deli yang tidak lagi sepenuhnya mengaplikasikan konsep harmoni musik Barat (musik tonal). dan Melayu Nusantara umumnya. di antara kedelapan jenis rentak yang dimiliki etnis Melayu Deli ini telah menjadi master-piece pada tataran konteks hiburan dalam masyarakat Melayu Sumatera khususnya. Rentak Kelantan. merupakan pengaruh dari India Selatan. Rentak zapin dimainkan dengan gendang Marwas. konsep musikal dan konsep pertunjukan masing-masing rentak di atas telah mengadopsi konsep harmoni musik Barat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF nyanyian yang mempunyai syair-syair cinta. Sebetulnya. Rentak Zapin. 6. tetapi ciri-ciri khas dalam pembawaan lagu dan melodi tetap didominasi oleh karakter Melayu. berasal dari daerah Malaysia Utara atau dari daerah Thailand Selatan yang berkembang sampai ke berbagai daerah Melayu. berkembang merata di seluruh wilayah alam Melayu Nusantara yang merupakan suatu ritme atau rentak atau irama yang merupakan pengaruh dari irama-irama Timur Tengah. seperti kisah Laila. 7. Walaupun instrumentasi. Kondisi Kehidupan Kesenian Tradisional di Sumatera Utara Dewasa Ini (Perubahan dan Keberlanjutan) Dahulu areal kabupaten lebih merujuk kepada geografis yang didi212 . Biasanya irama Kelantan ini dipakai untuk kesenian dzikir yang berkembang di daerah Melayu Singapura.

akan terdapat etnis tertentu yang berada pada daerah kabupaten yang dominan didiami oleh etnis lainnya.dalam komunikasi sosial kehidupan masyarakat Sumatera Utara dewasa ini. Nias. sangat disayangkan bahwa potensi ini tidak dapat diraih oleh genre musik Melayu Deli ini. 4) karakter lagu dan melodinya mudah dicerna dan diterima oleh semua etnis. serta prospek keberlanjutannya di masa datang. ternyata kondisi kesenian tradisional dalam sosio-kehidupan masyarakat dari etnis Batak Mandahiling. Batak Simalungun. Mengamati dinamika kehidupan delapan etnis asli Sumatera Utara dewasa ini. sekarang terjadi pemekaran pemerintahan yang beroreantasi kepada luas wilayah dan jumlah penduduk. Dengan demikian. Beberapa alasannya: 1) teks lagu-lagunya menggunakan bahasa Melayu yang beranalogi dengan bahasa Indonesia. dan kondisi kehidupan kesenian pada masyarakat kota-kota di Sumatera Utara yang heterogen dalam membangun komunikasi sosial mereka. Oleh karena itu. dan Melayu masih tetap dan belum mengalami perkembangan yang berarti. Pesisir Sibolga. 2) Instrumentasi dan konsep musikalnya telah mengadopsi unsur-unsur musik Barat. dan dalam perjalanan waktu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ami suatu etnis. di antara masyarakat dari delapan etnis asli Sumatera Utara juga pergi merantau ke kota-kota propinsi ini bergabung dengan para perantau yang berasal dari etnis di luar Sumatera Utara. karena terjadi kemandekan kreativitas para senimannya. dijumpailah kondisi kehidupan kesenian pada masing-masing etnis secara homogen. Batak Pak Pak Dairi. sehingga repertoar lagunya 213 . posisi musik dan tari Melayu Deli yang didasarkan kepada konsep rentak sebagaimana pembicaraan di atas sangat potensial sebagai musik tradisi etnis Melayu yang bisa membangun komukasi sosial pada tataran pergaulan semua etnis (asli dan pendatang) Sumatera Utara di masa sekarang dan akan datang. bahkan pengaruhnya terhadap etnis lain di luar Sumatera Utara. Analoginya. secara garis besar pembicaraan bagian ini akan terfokus kepada tiga fokus utama terhadap penggunaan kesenian tradisional –yang tetap dan yang berubah-. 3) konsep pertunjukannya telah meminjam cara-cara pertunjukan musik populer. Sehubungan dengan itu. Penilaian ini didasarkan atas eksistensi kesenian itu di dalam etnisnya masing-masing. Sebetulnya. dan pengaruhnya terhadap penikmatan seni masyarakat heterogen di kotakota Sumatera Utara.

Misionarisasi Kristen di tanah Batak dimulai sejak tahun 1860an. dan etnis lainnya. Konsekuensi yang diterima bagi anggota masyarakat Batak Kristen yang tetap melakukannya. ataupun pada kehidupan kota-kota Sumatera Utara yang heterogen. karena telah gagalnya semiman senior mewujudkan kaderisasi generasi mudanya. Rithaony Hutajulu menjelaskan proses perubahan eksistensi musik gondang dalam kehidupan etnis Batak Toba sebagaimana berikut.” Makalah. hal 11-12. baik di tengah kehidupan etnisnya sendiri. Bandung: UPI. Bahkan yang cukup mengiris perasaan. bahwa pertunjukan Musik Melayu Deli dewasa ini adalah dihidupkan oleh musisi-musisi yang sebagiannya berasal dari etnis Minang.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF masih nomor-nomor sediakala yang telah usang. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara. 214 . musik gondang hanya boleh dimainkan pada acara-acara tertentu yang “hanya” berkaitan dengan aktivitas sosial. para misionaris Kristen memperkenalkan jenis ensambel musik tiup Barat (brass music) kepada masyarakat Batak Toba. Perubahan kondisi kehidupan kesenian yang cukup fenomenal terjadi pada etnis Batak Toba dan Batak Karo. Pada sisi lain. sehingga berdampak terhadap eksistensi kesenian etnis tersebut di tengah percaturan kesenian. misalnya. Dalam hal ini. khususnya dalam penyembahan roh (“sipelebegu”). misalnya dalam upacara adat. Pembatasan dan larangan ini khususnya dikenakan pada masyarakat Batak Toba yang telah beralih (converted) ke agama Kristen. Sejak saat itu berbagai pertunjukan tradisi gondang secara praktis dibatasi (restricted) dan dalam beberapa kasus dilarang (prohibited). 14 Rithaony Hutajulu. Batak Karo. bahwa perubahan yang mendasar terjadi dalam dinamika keberlangsungan kehidupan tradisi seni gondang pada masyarakat Batak Toba dapat ditandai dengan masuknya agama kristen ke tanah Batak. 2002. terutama digunakan dalam aktivitas ritual keagamaannya14. Alat musik Gondang Sabangunan sering ditambah dengan musik ringan. dan harus minta izin pada gereja. repertoir Gondang Sabangunan yang semata-mata untuk tujuan hiburan mempunyai garapan melodis yang lebih luas. mereka akan dikeluarkan (“ban”) dari gereja. Sebaliknya. Pembatasan biasanya dilakukan dengan adanya sejumlah kompromi. Sedangkan hal yang sama sekali dilarang adalah berbagai elemen ritual atau upacara terkait dengan kepercayaan lama (pra-Kristen). maupun pada taraf nasional. perkawinan.

Tangga nada yang dipakai jauh lebih luas. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. garantung lagu dan garantung bass. Sebaliknya. maka sesuatu modifikasi dalam bentuk kreativitas bisa terjadi. 1994. sebagaimana yang dinyatakan oleh Ritha Ony Hutajulu. sulim (suling). 2. Gaya seperti ini lazim dipakai mengiringi lagu daerah Batak Toba dengan kombinasi garapan melodis dengan pendekatan ’modern’. Tiga macam klasifikasi fungsi Gondang Batak Toba yang sekarang. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. Contoh musik Gondang Sabangunan ditambah musik ringan mengiringi lagu-lagu disertai vokal dengan judul “Alai Badogem’15. 3. bila berhubungan dengan selera populer.” 15 Banggal Marpaung. Margondang Pesta. yakni menggabungkan/ mengakumulasikan semua jenis alat musik tradisi Batak Toba dalam format “orkestra. kematian. untuk mengiringi orang mati. 2. Buku Buklet. orang tidak kawin. masyarakat etnis Batak Toba telah menyikapi pergolakan sosio-seni yang terjadi dalam kehidupan beradat dan beragama mereka dari format lama ke dalam formulasi baru yang tidak menghilangkan konsep seni tradisinya yang asli. bahwa fenomena lainnya bisa dilihat adalah kreativitas dari Nortir Simanungkalit. gereja dll. Margondang Religi. Margondang Mamele. Margondang Adat. Margondang Hiburan. sebagaimana contoh berikut: Tiga macam klasifikasi fungsi Gondang Batak Toba yang dahulu: 1. tetapi nilai-nilai estetika tradisional masih tetap dipertahankan. untuk pesta keagamaan/kepercayaan suku Batak Toba. orang tidak punya anak. hal 3-4. hasapi lagu (kecapi lagu). seorang pemusik/komposer Batak Toba. untuk mencari dana pembangunan gedung. perkawinan. 3. upacara adat di Batak Toba. yang memiliki latar belakang musik Barat dengan karya eksperimentalnya. sebagai berikut: 1.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sarunai etek (sarunai kecil). Margondang Sibarang. Dengan demikian. untuk mengiringi upacara pemberian nama. untuk mengiringi pesta. 215 . untuk mengiringi upacara yang bersifat keagamaan.

baik dalam konteks upacara Guro-guro Aron dan upacara adat lainnya.” Ironisnya. tetapi dalam garapan harmoni Barat16. Permainan Kulcapi secara manual yang diperkeras suaranya dengan bantuan mic dikembangkan dengan penggunaan spull mic yang langsung dipasangkan pada badan Kulcapi tersebut. misalnya. 216 . dan 3) memainkan lagu-lagu Barat dan populer Batak. maka seniman Kulcapi Karo yang terkenal bernama Jasa Tarigan membuat lompatan yang drastis dengan meninggalkan instrumen Kulcapi dan menukarnya dengan alat musik orgen yang mengadaptasikan karakter permainan melodi Kulcapi padanya. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara. sehingga lahirlah paket musik pop yang bernama Pop Karmina (Pop Karo Minang).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Beberapa hal yang ia kerjakan antara lain: 1) menstandardisasi laras/ tuning semua alat musik berdasarkan konsepsi musik diatonis Barat. 2) meluaskan peran musikal tiap alat musik berdasarkan peniruan standar orkestrasi Barat. maupun dalam konteks musik populer Karo. alto.” Makalah. hal 16. Walaupun kreativitas ini masih berada pada tataran eksperimen. garantung. Seniman Gendang Lima Sendalemen etnis Batak Karo membuat sesuatu yang kontroversial dalam masalah penggunaan instrumen Kulcapi. permainan Gendang Lima Sendalemen plus Kulcapi Orgen mendapat sambutan baik oleh masyarakat Batak Karo. 2002. Terdorong oleh kemajuan tekonologi elektronik. sarune etek dan sulim berdasarkan tingkatan soprano. Selanjutnya. terinspirasi oleh permainan Kulcapi Orgen. Sebetulnya penggunaan spull-mic inipun sudah bermasalah terhadap originalitas akustik dari Kulcapi itu sendiri. tenor dan bass. sehingga disebut dengan “Kulcapi Orgen. Pada sisi lain. tetapi konsumen etnis Karo. membuat formulasi alat musik hasapi. tidak dalam kaidah tekstural heterofonis tradisional. Bandung: UPI. senimanseniman pop Karo mengembangkan lagi sayapnya dengan memadukan karakter melodi Kulcapi/Sarune Karo dengan karakter melodi Saluang Minang sebagai aransemen musik pengiring lagu-lagu pop Minang. sehingga karakter bunyinya sudah terbias oleh rambatan bunyi spull-mic tersebut. perubahan yang cukup mencengangkan juga terjadi pada kesenian tradisional Batak Karo. bahkan kombinasi komposisi Kulcapi/Sarune Karo juga terjadi untuk musik Melayu Deli. Minang dan 16 Rithaony Hutajulu.

Tari Martonun dari Simalungun. dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. sehingga paket yang khas LK USU ini telah menjadi model bagi pihak pemerintah dalam mengadakan resepsi-resepsi kesenian. Gendrang Goci dari Pak Pak Dairi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Melayu cukup mengapresiasi kehadiran kaset-kaset tersebut. khususnya bagi heterogenitas kota Medan. tari Serampang 12 dari Melayu. Paket pertunjukan ini menghadirkan Gondang Sabangunan dan tot-tor dari Toba. dan misi kesenian atas nama pemerintahan Sumatera Utara. Gondang Hasapi dan Uning-uningan telah dikonsumsi oleh masyarakat urban kota-kota Sumatera Utara yang heterogen. Sordam dan Piso Surit dari Karo. dan Tari Rantak dari Minang. Kesimpulan Berdasarkan studi kasus seni tradisi dan poluler yang terjadi di Sumatera Utara dalam membangun media komunikasi sosial di Sumatera Utara. Dampak dari segala kreativitas seniman-seniman Batak Toba di atas. Musik tradisional dari berbagai etnis asli Sumatera Utara yang tidak mengalami pergolakan kreativitas oleh seniman-senimannya ternyata eksistensinya masih tetap berada pada lingkaran kehidupan etnisnya sendiri sehingga tidak banyak diapresiasi oleh masyarakat urban kota-kota Sumatera Utara yang hetero217 . ternyata karya-karya musik populer Batak Toba yang masih memiliki sentuhan aransemen musiknya dengan instrumentasi Gondang Sabangunan. Sehubungan hal di atas. Melalui model paket seperti ini. Ratoh dari Aceh.juga telah mendapat sambutan dari masyarakat urban kota di Sumatera Utara tersebut. Gordang Sembilang dari Mandahiling. Begitu juga lagu-lagu populer Batak Karo yang aransemen musiknya mendapat sentuhan Kulcapi Orgen dan Sarune Orgen –walaupun kuantitasnya tidak sebanyak musik Batak Toba-. Sikambang dari Pesisir Sibolga. sebetulnya usaha membangun komunikasi sosial antar etnis yang mendiami kota-kota di Sumatera Utara melalui kesenian tradisional telah digagas oleh Lembaga Kesenian Universitas Sumatera Utara (LK USU) dalam bentuk paket seni pertunjukan yang terdiri dari kombinasi nomor-nomor seni tradisional dari semua etnis (asli dan pendatang) yang mendiami kota Medan. kesenian tradisional telah memberikan sumbangan yang cukup berarti terhadap bangunan komunikasi sosial. Paket ini cukup mendapat perhatian dari pihak pemerintahan.

Etnis asli Sumatera Utara Batak Toba dan Batak Karotelah mengalami dinamika perubahan yang cukup fenomenal untuk era dewasa ini. kecuali oleh etnisnya masing-masing yang merantau ke kota tersebut. Emmi Simangunsong. “Musik Melayu Nusantara dalam Era Globalisasi (Pelestarian dan Pengembangan). Perubahan. Fadlin. “Musik Melayu: Akar Budaya. 1988.sebagaimana modelnya yang telah ditunjukkan oleh Lembaga Kesenian USU Medan. Shah Alam: UiTM Shah Alam.” Laporan Penelitian. dan melakukan penginovasian kesenian tradisinya untuk kepeluan hiburan masyarakatnya. Kecamatan Silaen. Medan: USU. Etnis ini telah mengadakan peninovasian. Walaupun permasalahan agama (Kristen) telah mengintervensi eksistensi kesenian tradisional Batak Toba terhadap konteksnya yang religius. Hajizar. Buku Buklet. Muhammad Takari. Paket-paket pertunjukan seni yang terdiri dari kombinasi materi seni dari etnis-etnis asli dan etnis pendatang di Sumatera Utara untuk mengisi berbagai jenis resepsi hiburan –terutama kota-kota-. adalah memiliki potensi yang sangat ideal lagi strategis sebagai media pembangun komunikasi sosial bagi masyarakat Sumatera Utara yang heterogen. 1994. Fadlin. 3. penukaran instrumentasi dan konsep musikal ensambel musiknya terhadap konteks yang berhubungan dengan ibadah keagamaan sesuai dengan pengaruh visi dan misi tokoh-tokoh agama tersebut. Makalah. 218 . Ansambel Musik Gondang Sabangunan. 2005. cs. Pada sisi lain. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. Medan: Etnomusikologi USU. 2. Malaysia.” Skripsi.” Skripsi. mereka masih tetap mempertahankan instrumentasi dan konsep musikal ensambel musiknya yang asli untuk keperluan yang berhubungan dengan upacara-upacara adat. 1996. “Studi Deskriptif Konstruksi dan Dasar-dasar Pola Ritem Gendang Melayu Sumaera Timur. Akulturasi. 1985. namun masyarakat Batak Toba telah menyikapinya dengan bijaksana. “Fungsi Musik Gondang Sabangunan dalam Upacara Ritual Parmalim Sipaha Sada di Desa Lumban Gambiri. Daftar Pustaka Banggal Marpaung. “Tata Cara Adat Perkawinan Pesisir Sibolga. Medan: Etnomusikologi USU. 1988.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF gen.

“Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara. 2004.” Makalah. Rithaony Hutajulu. Medan: Panitia Pesta Budaya Daerah Sumatera Utara. ------------------------. Medan: Etnomusikologi USU. ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. 219 . Soegijo. Medan: Etnomusikologi USU.” Makalah. ”Budaya Sumatera Utara dan Upaya Pembinaan-Pelestariannya. Bandung: UPI. 1987. 2002.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dan Kontinuitas. Wikipedia Indonesia.” Makalah. “Tari dalam Konteks Budaya Melayu. Makalah.

Pd. Nirwana Murni. Aktif dalam penelitian dan pendiiakan mengenai Tari Minangkabau. Saat ini menjadi Dosen ISI Padang Panjang.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Hj. S. M. Kar. 220 .. Kelahiran Agam 17 Agustus 1952. Pernah menjadi Pembantu Ketua II ISI Padang Panjang. Sumatera Barat dengan kepangkatan Lektor Kepala.

Pd. Ada juga yang dilakukan secara khusuk. Dosen Jurusan Seni Tari STSI Padang Panjang Pendahuluan eni pertunjukan dengan beragam jenis dan bentuknya dapat terkait dan hadir di dalam bermacam-macam kesempatan. Palembang merupakan sebuah wilayah kota madya yang berada di S 221 . upacara-upacara yang bersifat ritual merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. S. Ia tampil sebagai ungkapan kepentingan yang berlainan.. Mereka memiliki tradisi dan bentuk upacaranya sendiri sesuai dengan kebudayaan masing-masing. Ada yang dilakukna dengan arak-arakan mengelilingi desa. Sampai saat ini masyarakat Indonesia juga mengadakan upacara-upacara dalam berbagai bentuk dan dalam rangka tertentu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Strategi Kemasan Seni Tradisi Sebagai Media Komunikasi Sosial di Sumatera Barat Nirwana Murni. Tontonan. dan hal ini disebut dengan seni tradisional. Ada yang didahulukan dengan potong tumpeng disertai tepuk tangan dan nyanyian.Kar. Seni pertunjukan yang diselenggarakan berkaitan dengan upacara masih dapat dijumpai di berbagai daerah. Antara daerah satu dengan daerah yang lainnya memiliki cirri khas kedaerahan yang berbeda-beda. tenang tanpa ada suara bergaung. Ada juga duduk bersama semalam suntuk sambil mendengarkan pantun atau puisi yang dilagukan. khidmat. Seni tradisional dimaksud adalah tari. Tetapi diantara bentuk-bentuk upacara tersebut ada bentuk upacara yang tergolong “seni pertunjukan”. M.

termasuk di dalamnya adalah tari Gending Sriwijaya. Palembang sebagai sebuah wilayah budaya di kenal dengan kerajaan Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan maritim di Sumatera pada abad ke-7 dengan pusat kedatuannya terletak di Bukit Siguntang. Oleh karena itu hampir setiap penyelenggaraan upacara adat selalu dijumpai seni pertunjukan yang menyertai. Selain sembilan orang penari putri tersebut. Struktur dan pola penyajian ini sangat teratur dan hierarkis. seperti tari penganten. tari sembah. Kedatuan ini dikenal dengan nama kedatuan bukit yang menjadi penguasa tunggal daerah sebelah barat Indonesia pada masa itu (Depdikbub. Hirarki penari yang ditentukan berdasarkan kedudukan orang tua di dalam pemerintahan semakin menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terdapat di dalam tari ini mempunyai makna tersendiri. Dengan lahirnya Kedatuan Sriwijaya lahir pula kesenian di kalangan bangsawan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Sumatera Selatan. Tari Gending Sriwijaya yang dikenal sebagai tari adat oleh masyarakat Palembang merupakan peninggalan masa itu dengan Hindu Budha sebagai agama masyarakat. Dari sisi koreografi tari Gending Sriwijaya merupakan sebuah sajian tari yang dilakukan oleh 9 orang penari putri dengan rincian. dan tari gending sriwijaya. tari ini didukung pula oleh dua orang pria/ garis panjang dan tombak. Volume gerak tangan dan kaki terkontrol cenderung membangun sebuah ciri karakteristik dan gaya putri halus. Pada tari ini unsur agama tersebut terlihat suasana keagamaan yang dibangun oleh gerak-gerak tari yang menggambarkan sebagai Budha tengah bersemadi (Leoni Wagirah. yaitu suatu tempat di sekitar sungai musi di sebelah utara kota Palembang. Sebagaimana tari 222 . Masyarakat di wilayah ini sebagian besar hidup dan mencari nafkah dalam pola budaya nelayan. dan seorang lagi bertugas sebagai penyanyi. 1975: 3). 1984: 13). dua orang pembawa peridonan kembar (tempat tepak) dan enam orang sebagai pengiring. Lingkungan istana mulai memelihara dan mengembangkan seni yang mengagungkan kebesaran raja. Keberadaan pada upacaraupacara adat yang bersifat komunal maupun individual dianggap penting. Gerak tari yang lembut mengalun perlahan ditunjang dengan tata rias dan busana penari seperti pengantin wanita Palembang memberikan sentuhan emosional tersendiri. satu orang sebagai pembawa tepak (tempat berbentuk segi empat untuk sekapur sirih). tari sitabih.

Mungkin karena kerajaan maritim. 1975: 32). Ibu jari tidak bertanggai. pusat kerajaan tidak begitu penting. Fungsi awal tari ini diyakini sebagai sajian pada waktu raja mengadakan pertemuan dengan seluruh kerabat sebelum melaksanakan pekerjaan berat. 1987: 13). Mereka adalah putra putri dari raja. terdiri dari putri-putri menteri. Bentuk tanggai yang melengkung ke atas melambangkan perahu. mereka yang bukan keturunan raja umumnya tidak diperkenankan memakai pakaian pengantin Asean Gede (dadot Palembang). Hal ini dimungkinkan karena pada masyarakat maritim di muara sungai dan laut 223 ..LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI budaya yang memiliki penamaan pada setiap pelaku tarinya.R. Ciri lain yang terdapat pada tari Gending Sriwijaya adalah properti yang dipakai yaitu tanggai. kedua. sedangkan liriknya digubah oleh Mungcek A. dua. Tinjauan Historis Sekitar tahun 1659 Palembang jatuh ke tangan Belanda. Pada baris berikutnya yaitu nomor enam dan tujuh adalah penari tingkat Asean Selendang Mantri. manis. Tanggai adalah kuku panjang yang memakai rumbai disebut oncer. tiga. Penari pada barisan pertama. dan pesta perkawinan anak raja. sehingga tari bukan merupakan pusaka keratin yang tetap terjaga. Tanggai ini dipakai di jari kelingking. dan ketiga yaitu penari nomor satu. tengah dan telunjuk. Lagu ini melodinya diciptakan oleh M. pada Gending Sriwijaya juga ditemukan perbedaan penamaan itu. Pada masa lampau penentuan pakaian pengantin ini terjadi pula di masyarakat umum artinya. Tari ini disebut Gending karena lagu pengiringnya berjudul Gending Sriwijaya. Sedangkan oncer melambangkan kekayaan yang melimpah dari sungai musi yang membelah kota Palembang. untuk ulang tahun raja. empat dan lima adalah penari tingkat Asean Gede. Dahlan. menceritakan kejayaan Sriwijaya di masa lampau. Hal ini menyebabkan tari Gending Sriwijaya turut hilang bersama runtuhnya kesultanan ini. Pada baris terakhir yaitu nomor delapan dan sembilan adalah tingkat Asean Pak Sangkang yaitu putrid pejabat biasa dalam pemerintahan (Leoni Wagirah. Kuntowijoyo mengatakan bahwa pada masyarakat mungkin tipe-tipe kerajaan maritim dan komersial pusat kerajaan tidak begitu penting sehingga sulit dicari kesinambungan lembaga yang memproduksi kearifan simbolis (Kuntowijoyo.

Sumatera.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF seperti umumnya kerajaan-kerajaan di semenanjung Malaysia. Dari uraian di atas maka tidak mengher224 . karena selain tidak ada lagi lembaga budaya yang mewadahinya. Berbeda dengan kesultanan laut. Tari ini muncul lagi pada masa penjajahan Jepang. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa selama ada keraton. bersama sama raja dan bangsawan memiliki modal (kapal) yang kadang-kadang berniaga sendiri atau mempercayakan modalnya kepada ahli-ahli perniagaan yang disebut syahbandar dengan hulubalang yang bertugas menjaga keamanan disebut Hang (Ensiklopedi Nasional Indonesia. Sultan masih tetap memegang teguh konsep kekuasaan Ratu Gung Binantahara atau “raja yang di dewakan”. dengan hanya dalam bidang budaya. Dengan politik halus. Sejak saat itu tari Gending Sriwijaya sebagai sebuah pertunjukan tari dipentaskan hanya pada penyambutan tamu agung dalam upacara kenegaraan sebagai ucapan selamat datang. di kerajaan agrarian kesatuan politik tetap ada selama masih ada pusaka-pusaka dan siti hinggil (tahta) masih berada di tempat suci. dan rakyat ikut serta dalam perniagaan. bernilai tinggi. raja. Dari uraian tersebut dimungkinkan bila tari Gending Sriwijaya sebagai hasil budaya kesultanan Palembang turut hidup bersama runtuhnya kesultanan ini. Jepang membentuk sebuah organisasi musisi kesenian bernama Hodohang beranggotakan orang Jepang dan masyarakat Palembang. pada tipe kerajaan maritim pusat kerajaan tidaklah begitu penting sehingga tari bukan merupakan pusaka keraton yang tetap terjaga. Bila tidak diacara kenegaraan. 1990: 467). maka pementasan tari ini harus mendapat izin khusus dari pemerintah. Golongan bangsawan. Bahkan kerajaan yang fungsi politiknya telah dihapuskan seperti pada Sultan Hamengkubuwono VIII. Dari sini dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara Kesultanan laut dengan Kerajaan agrarian yang melahirkan budaya keraton. Pada masa itu tari Gending Sriwijaya muncul lagi kepermukaan dan setelah kemerdekaan tari ini disahkan menjadi tari adat oleh pemerintah daerah. Perjalanan sejarah dan wujud yang indah dari tari Gending Sirwijaya semakin mengukuhkan tari ini dianggap merupakan hasil dari sebuah lembaga budaya kerajaan yang diyakini menghasilkan budaya yang halus. karena perbedaan antara rakyat dengan penguasa pada dasarnya tidak besar. kerajaan masih ada. dan Kalimantan mempunyai cirri demokratis.

Di daerah Pariaman Sumatera Barat juga ditemui seni pertunukan yang mereka sebut galombang seabgai bagian upacara pengangkatan penghulu suku. Tradisi seni pertunjukan galombang khas orang Pariaman dapat ditemui hampir disetiap daerah dalam wilayah kebudayaan Pariaman.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ankan apabila tari Gending Sriwijaya terpilih oleh penguasa daerah sebagai identitas yang ditunjukkan guna kebanggaan daerah. merupakan aib apabila tidak dapat menjamu tamu sebaik mungkin. kedatangan tamu merupakan suatu yang menjadi perhatian masyarakat sekitar. 1998: 24-25). Kekhasan pertunjukan galombang dapat diamati dari dua sisi. bahkan Serampang Duabelas dijadikan “bomnya” tari Melayu pada peresmian hari kemerdekaan Republik Indonesia I tahun 1945 di Istana Negara Jakarta yang diresmikan oleh Presiden Pertama Indonesia Soekarno. Akan tetapi apakah usahan pensakralan yang dilakukan kaum birokrat telah pula menyentuh masyarakat Palembang sebagai penyangga budaya tersebut?. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa orang yang seringkali didatangi tamu adalah orang yang sering dijadikan tempat bertanya bagi orang lain. Galombang ini di bawah 6 – 12 orang penari lakilaki dewasa dengan gerakan tertentu dan diiringi musik tambua. Orang asing akan selalu menarik perhatian dari sebuah lingkungan homogen yang cenderung saling mengenal satu sama lain sampai pada keturunan mereka. sehingga ia terhormat karena ilmu yang dimilikinya atau karena kedudukannya yang menyebabkan tamu harus bertandang ke rumah tersebut. Bagi mereka. sebagaimana yang selalu didengungkan pada masa lalu sebagai puncak budaya daerah yang pada akhirnya dianggap sebagai kebudayaan nasional. pertama. disajikan dalam bentuk menyongsong tamu. Tamu yang dimaksud adalah 225 . Pada masyarakat Sumatera Utara kebanggaan mereka menerima tamu diwujudkan dalam bentuk tari Serampang Duabelas. Hal ini dikarenakan bila dilihat secara umum. Keduanya dipertunjukkan serentak dalam bentuk berlawanan. Pada sebuah perkampungan yang relatif sepi dalam rutinitas keseharian. Pertunjukan ini biasanya menjadi bagian atau menempati posisi sebagai bagian dari pesta yang berhubungan dengan pelantikan pemimpin (penghulu) (Mahdi Bahar. masyarakat Sumatera memiliki tradisi kuat untuk menghormati dan menjamu tamu sebagaimana seorang raja. galombang tamu dan kedua galombang tuan rumah.

Dari tradisi ini tidak mengherankan bahwa tari-tari yang mengiringi penyambutan tamu tumbuh subur di daerah Sumatera. Dari sana terungkap kesan bahwa ada usaha dari pemerintah daerah untuk menempatkan diri pada posisi sebagai penguasa yang melegitimasi kedudukan mereka baik secara birokrat maupun simbolis. Pelestarian mempunyai makna bahwa di dalamnya terdapat dua aspek sekaligus. 1987: 14). Inovasi dan kreativitas perlu didampingkan dalam proses sosialisasi tersebut. yaitu 1) kelembagaan. kaidah-kaidah. pola-pola. Namun dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa pelestarian tidak harus berarti pembekuan. 1997: 52). masyarakat teknoratis yang memerlukan sejumlah rekayasa simbolis yang dikerjakan oleh birokrasi. sehingga merupakan kelompok orang yang sangat dihormati. sebagai seorang yang memiliki kedudukan tertinggi pada struktur lembaga pemerintahan tingka I sebuah propinsi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF setiap rombongan penghulu suku yang datang dari persukuan dalam kenagarian di daerah mana upacara diselenggarakan (Hartati. Hanya dengan membuka peluang untuk kreativitas dan inovasi itulah kebudayaan dapat tumbuh semakin kaya dan 226 . Kreativitas di dalam “tradisi” harus tetap diberi ruang gerak. dan nilai-nilai harus dilakukan terus menerus dari generasi ke generasi agar itu semua dapat lestari. dan 2) sumber daya manusia. Kenyataan di dalam masyarakat yang mendudukkan seorang penerima tamu (tuan rumah) setara dengan tamu yang hadir di rumahnya barangkali yang menyebabkan tari Gending Sriwijaya mensyaratkan bahwa tamu yang datang harus pula setingkat Gubernur. yang mengambil manfaat kearifan aktual dan kearifan simbolis yang menyatu (Kuntowijoyo. Disamping itu harus ditetapkan lebih dahulu apa tujuan dari pelestarian warisan budaya itu. Ia memandang bahwa masyarakat teknokratis kita benar-benar sebagai sebuah masyarakat neo patrimonial. Beberapa tari penyambutan tamu seringkali juga ditampilkan pada upacara perkawinan berkaitan dengan kenyataan bahwa kelompok besar adalah tamu yang datang dan masuk ke dalam lingkungan rumah dan keluarga besar. Pendekatan lain yang perlu diambil untuk melestarikan warisan budaya adalah sosialisasi konsep-konsep. Tampaknya kita secara umum memasuki masyarakat baru. Strategi Kemasan Seni Tradisi Strategi pelestarian warisan budaya berkenaan dengan dua aspeknya. yaitu pemertahan dan dinamika.

siapa yang akan mulai yang mengkoordinasi semua tindakan yang diperlukan ini dan lewat mekanisme apa?. di dalam kancah hubungan antar budaya yang selalu terjadi. konstum. sedemikian rupa agar jati diri bangsa senantiasa tampil dengan jelas dan tidak ditenggelamkan. rekreasi dan penilaian artistik. dan tempat pertunjukan harus disorot. Warga masyarakat yang demikianlah yang pada gilirannya mampu menjadikan bangsanya yang kuat juga dalam segi budaya. Untuk memenuhi kebutuhan ini adalah anggota masyarakat dalam berbagai perannya. yaitu khalayak ramai. Ini berarti bahwa semakin banyak pelaku seni pertunjukan yang dibutuhkan. Akibatnya. karena pemerintah bertujuan membangun sektor ini sebagai bagian dari kebijakan pembangunan regional dan nasional. Oleh pengaruh asing tertentu. pendidik formal dan non formal). Berbagai upaya harus dilakukan yang memungkinkan berperannya tari Gending Sriwijaya adalah festival seni daerah pada perayaan 17 Agustus. Melalui jalur pendidikan dan media massa pulalah masyarakat luas dapat dilayani untuk membuat dirinya menjadi masyarakat yang sadar budaya dan sadar sejarah. pola lantai. adalah agar keseimbangan senantiasa dipertahankan. Yang selalu harus dijaga oleh masyarakat pemilikinya. tidak terkecuali dalam peristiwa seperti kedatangan pejabat pemerintah atau orang terkemuka lain ke desa mereka untuk maksud hiburan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI canggih dan sekaligus lestari oleh sebab daya hidupnya (Edi Sedyawati. antara keberlanjutan dan perubahan. 227 . Latihan khusus dengan sentuhan professional dibutuhkan untuk menjamin pertunjukan dapat memenuhi standar artistic dan pada saat yang sama memberikan hiburan dan rekreasi. Untuk mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan tersebut sisi artistik dari tari Gending Sriwijaya harus dipertimbangkan. Tari Gending Sriwijaya sebagai kebudayaan suku bangsa selalu berada dalam proses. termasuk di dalamnya unsur pemerintah. prinsip artistik dari seni pertunjukan seperti properti. Sekadar latihan dasar pertunjukan tidak akan cukup. iringan. 2008: 208). Tetapi masih ada pertanyaan yang tertinggal. Mereka yang merupakan pelaku dan penerus nilai-nilai (pemimpin. terdapat pula mereka yang berkedudukan sebagai penerima. gerak. Kebutuhan yang sama juga muncul dari sektor turism. Disamping mereka yang berperan sebagai pelaku dalam penerusan warisan budaya.

tipe turis yang pertama biasanya tidak hanya menikmati aspek rekreasi dan hiburan dari tarian itu. 1992: 4 – 6). maka tari Gending Sriwijaya tersebut masih dapat berfungsi seperti masa lalu. 4) ditanggalkan dari nilai-nilai sacral atau magis dan simbolisme. kontinuitas pelaksanaan seni pertunjukan ritual selain ditunjang oleh latar belakang yang berorientasi pada kebutuhan bersama juga dikuatkan oleh transmisi yang berlangsung. Sedangkan bagi tipe kedua. Langkah menuju pada. Untuk memungkinkan masyarakat desa dapat mengatur paket turis. serta 5) murah harganya (Soedarsono. elemen artistik tidaklah begitu penting. Dari sudut pandang fungsional. untuk menarik lebih banyak lagi turis ke desa mereka. 3) penuh variasi. terutama yang berkaitan dengan warisan kultural penduduk lokal. Sebagai bagian dari upacara penyambutan tamu. 2) singkat atau padat. termasuk durasi pertunjukannya. turisme akan menjadi mekanisme efektif untuk melestarikan dan mengembangkan seni pertunjukan tradisional. Dalam kaitannya dengan tari Gending Sriwijaya. kita harus mempertimbangkan kebiasaan para turis dalam mengunjungi desa-desa. bila paket turis diatur dengan baik. 2003: 15 – 17) sudah menunjukkan tanda-tanda mulai dilakukan. Beberapa turis lebih senang menikmati tamasya kultural di pedesaan. bila tari Gending Sriwijaya akan dijadikan salah satu daya tari turis ke desa-desa dan akibatnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal serta kesejahteraan sosial ekonomi mereka. Menurut Hermien Kusmayati. Aspek yang dialihgenerasi228 . Kedua jenis kebutuhan ini harus dipenuhi dalam pengaturan paket turisme oleh masyarakat lokal di desa. aspek hiburan. rekreasi dan keterlibatan dalam pertunjukan yang lebih penting bagi mereka. tetapi juga momen-momen artistiknya. yang lain senang berpartisipasi dalam aktivitas kultural dan kehidupan sosial masyarakat lokal (Zeppel.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prospek Masa Depan Dalam hubungannya dengan turisme. 1) tiruan dari asliya. Proses transmisi atau penyampaian pola-pola seni pertunjukan dari satu generasi kepada generasi yang lain dapat terjadi dengan disengaja dan dapat pula berlangsung tanpa disadari. Dalam pandangan saya. penanganan hal yang berkaitan dengan elemen artistic seni pertunjukan tentu saja diperlukan.

Disamping dampak yang nyata dan nilai tambah ekonomis tersebut. Padahal bila ditampilkan secara utuh dengan durasi pementasan lebih panjang. susunan pemain dan pengiring yang lengkap. 1999: 10). penampilan seadanya yang itu-itu juga menyebabkan kesan monoton merebak ke permukaan. Diyakini ritual ini dapat dikembangkan menjadi objek turisme yang menarik di Sumatera Selatan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI kan meliputi materi atau bentuk. kualitas penampilan dan makna sacral yang terwujud tentu akan lebih baik pula. juga akan meningkatkan penghargaan masyarakat lokal terhadap lingkungan alam serta warisan budaya mereka dan dapat meningkatkan kelestarian budaya dan konservasi lingkungan. Apalagi. Pariwisata dan Seni Pertunjukan Sebagai suatu perkembangan seni. Hal ini baik bagi upaya konservasi lingkungan. Karenanya ritual tradisional seperti Gending Sriwijaya sangat menarik. Mutu penampilan seni pertunjukan yang sudah mengalami pengalan-penggalan pada bagian-bagian tertentu tentunya tidak bisa diharapkan optimal. ditunjang dengan tata rias dan busana penari seperti pengantin wanita Palembang memberikan sentuhan emosional tersendiri. Perkembangan seperti ini. setting dan lokasi pementasan yang sepatutnya. misalnya pada saat penari berbaris dengan teratur dan hierarkis. pelaku dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya (Hermien Kusmayati. Melalui turisme perkembangan Gending Sriwijaya dapat meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat lokal. Ditinjau dari sisi karya seni pertunjukan. kehadirannya yang terkemas dikhawatirkan bisa menimbulkan citra bahwa seni pertunjukan tersebut hanya “sedemikian saja kualitasnya”. sehingga secara perlahan-lahan akan mengurangi ketergantungan masyarakat lokal terhadap penggunaan sumber alam mereka secara ekstensif. Kalau keadaan ini tidak cepat diantisipasi. maka rasa bosan akan cepat menghinggapi pamain. adanya upaya pengemasan seni pertunjukan untuk tujuan-tujuan pariwisata sering dinilai menimbulkan ekses negative terhadap keberadaan dan kelangsungan seni pertunjukan itu sendiri. diciptakannya bentuk baru seni pertunjukan bagi para wisatawan ini merupakan suatu dampak yang 229 . serta dengan didukung oleh sarana musik dan penyiapan properti yang memadai. Perkembangan turisme sangat menarik bila ia memperhatikan dimensi lingkungan dan sosial budaya.

perlu dilembagakan aturan-aturan main atau kode etik dalam mengantisipasi pesan. asosiasi seniman seni pertunjukan dibentuk. jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah melalui jalur pendidikan. Apalagi dasarnya dampak teknologi canggih dalam bidang home entertainment yang menawarkan alternative seni budaya asing yang cukup menggoda bagi generasi penerus kita tampaknya mendesak untuk diantisipasi dengan cepat. dari manapun datangnya. Disamping itu upaya tersebut juga diarahkan kepada pengungkapan kekayaan khasanah budaya seni pertunjukan di panggung internasional (bagi para wisman) dan juga di panggung nasional (para wisnu). sehingga dapat disusun program paket pariwisata yang tidak saja berdampak meningkatkan nilai ekonomis tetapi juga berorientasi kepada pengembangan dan revitalisasi kesenian rakyat dalam rangka pelestarian jenis-jenis seni tradisi yang ada. Bila perlu. Hal ini perlu dipikirkan secara terpadu dengan sektor pariwisata terkait. baik formal maupun non formal. tari Gending Sriwijaya yang juga mempunyai potensi untuk digarap dan diperkenalkan kepada wisatawan yang datang dari jauh untuk menyaksikan sesuatu yang baru. harus dimulai persiapan sejak Sekolah Dasar dengan memberikan masukan lebh kepada porsi pengetahuan 230 . Untuk jalur pendidikan formal. Peningkatan martabat sumber daya manusia di sektor seni pertunjukan dalam kaitannya dengan iklim persaingan yang sehat perlu direnungkan dan ditindaklanjuti sebagai upaya untuk menghindari eksploitasi para seniman oleh para pengusaha industri wisata.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF positif. Tantangan sekaligus juga harapan adalah bagaimana kita harus mempersiapkan alih generasi dalam rangka pewarisan semua yang telah kita miliki saat ini kepada anak cucu kita. Untuk itu. Hanya masalahnya apakah hal itu perlu dilanjutkan kepada penciptaan bentuk-bentuk baru dengan keberanian untuk mengeksplorasi jenis-jenis seni pertunjukan yang selama ini belum tersentuh jamahan pariwisata. Hal ini mengisyaratkan adanya pertumbuhan yang menjawab tantangan untuk berkreasi bagi para seniman seni pertunjukan. dan menetapkan standar harga yang layak dan manusiawi bagi semua. unik dan asli. Misalnya. Sedangkan bagi upaya pengemasan bentuk yang sudah ada. Kalau sudah ada. dapat dikaitkan dengan upaya rasionalisasi dalam rangka pemadatan yang bertujuan yakni melestarikan seni itu sendiri.

tiada jalan lain yang mungkin dilakukan. kursus keterampilan dan sistem sanggar perlu digalakkan. dan pengelola industri itu sendiri. Kenyataan yang ada dan terjadi dalam lingkup seni pertunjukan Indonesia saat ini adalah hasil upaya antisipatif terhadap tuntutan yang ada dalam masyarakat yang terimplementasikan dalam bentuk-bentuk seni pertunjukan kemasan. baik yang bermakna positif. 231 . sedangkan ekses negatif yang timbul ternyata berpulang kepada diri kita sendiri sebagai orang-orang kreatif yang terlibat. Penyikapan masalah ini harus dilandasi pemikiran maju yang berorientasi kepada pendekatan-pendekatan pragmatis bagi pemenuhan kepentingan segala pihak. Dampak yang timbul merupakan hasil proses sebab akibat. Dalam kaitannya dengan pertunjukan rakyat. Pada jalur non formal. Apalagi. sehingga mendukung peningkatan apresiasi masyarakat. Meskipun hal ini merupakan masalah klasik dengan alternative solusi yang klasik dan terdengar klise. pemilihan topik studi. kita harus dapat lebih arif dan berupaya mencoba menghilangkan ekses tersebut. sejauh menyangkut masalah pendidikan formal dan non formal. Adanya dampak ekonomis dan tantangan untuk bersikap kreatif bagi pengembangan bentuk seni pertunjukan yang baru haruslah disyukuri dan ditingkatkan. Kunjungan siswa sekolah non kesenian ke kampus-kampus kesenian yang lebih tinggi sebaiknya perlu dilakukan untuk memperluas wawasan kesenian itu sendiri. apresiasi siswa dapat ditingkatkan dengan mengadakan workshop dan pertunjukan di sekolah maupun di kampus-kampus. baik bagi pelaku. Pada tingkat Sekolah Kejuruan dan Perguruan Tinggi. Sekali waktu. yang dilakukan adalah menghimbau para eksekutif penentu kebijakan agar dapat menciptakan suasana “sadar kesenian rakyat” di kalangan eksekutif penentu kebijakan politik kebudayaan. terutama pada pengisian mata pelajaran pilihan lokal di kurikulum pendidikan nasional. Suatu diskusi untuk mencari alternatif masalah tersebut perlu digalang agar tema-tema “eksploitasi”.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dan keterampilan kesenian yang ada. hal itu kait mengait dalam suatu lingkaran keadaan yang kurang kondusif bagi pengembangan kesenian yang layak. sejak Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah. penikmat. maupun negatif. penelitian dan tugas akhir studi haruslah diarahkan kepada bidang kesenian rakyat tradisi. Dengan menyikapi adanya tuntutan tersebut.

Banyak karya tari baru yang dihasilkan oleh seniman-seniman besar mengambil ide dari tradisi rakyat dan menjadi sebuah garapan tari yang merangkai berbagai unsur-unsur motif gerak tari daerah secara semena-semena. Rakyat pemiliki kesenian itu sendiri hanya bisa melihat dari kejauhan. Hermien Kusumayati. : ). 1984. mungkin dari televisi atau foto-foto di koran. Daftar Pustaka Adat Istiadat Upacara Perkawinan Daerah Sumatera Selatan. tanpa izin dari pemilik asal atau niat kerja sama. karena di dalamnya terjadi suatu pertemuan yang menguntungkan kedua belah pihak. Serial Seminar Seni Pertunjukan Indonesia di Gedung Teater Tertutup Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta tanggal 9 – 10 Mei 1999. 1990. Jakarta: Cipta Adi Pustaka. Melibatkan rakyat dalam ekspresi komunal mereka ternyata bisa dilakukan. Bahkan. Konteks tradisi pun semakin pudar tanpa penghargaan. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. ketika orientasi mereka berubah dari sebuah pertunjukan upacara adat ke format wisata seni. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. kendati menepiskan makian. Kemiskinan kreatifitas ini tertutup oleh nama besar dan kesempatan yang telah didapat. dan semacamnya dapat dieliminasi dari lingkup seni pertunjukan yang kita cintai bersama ini. kerja kreatif yang terjadi menjadi langka. “paling rendah”. Kantor Wilayah Propinsi Sumatera Selatan: Proyek Pembinaan Kesenian Sumatera Selatan tahun 1990/ 1991. Ekspresi Jurnal Institut Seni Indonesia Yogyakarta: Seni: Kearifan dan Keunggulan Vol232 . mereka dilibatkan untuk mengambil keputusan untuk menjual atau mempertunjukkan keseniannya. ketika beberapa karya tradisional mulai laku dijual yang ada hanyalah tiruan dari kemasan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. “kurang bergengsi”. Nama-nama kesenian diambil tanpa rasa bersalah. Senja Ulang Pertunjukan yang Menghibur. Jajuk Dwi Sasanadjati.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF “Sapi Perahan”. Ensiklopedi Nasional Indonesia jilid 4. (Soerapto Soedjono. Deskripsi Tari Pangutan. sehingga muncul ke permukaan adalah dampak positif saja. “derajat”. Bahkan. Dalam kasus tari Gending Sriwijaya.

Kecak Rina. 2003. 2003. Ekspresi. tahun 5. 2005 Koentowijoyo. dan Ekonomi. Lintasan Sejarah Budaya Sumatera Selatan Pusat Penelitian Lembaga Sosial Budaya Penelitian Univesitas Sriwijaya tahun 1997. Ke Indonesiaan Dalam Budaya. Budaya dan Masyarakat Yogyakarta: Tesis Wacana. 233 . 2006. Seni Pertunjukan Indonesia dan Pariwisata. Kenyataan dan Harapan: Dampak Industri Pariwisata Pada Seni Pertunjukan. 1987. Jakarta: Wedatama Widya Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1997. R. buku 2. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Soedarsono. Seni Pertrunjukan dari Perspektif Politik Sosial. Jurnal Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sedyawati Edi. Soejono Soeprapto. Soedarsono.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ume 14. Diyah Larasati. Kusumo dan Arma (Kerja Kreatif Seniman Tradisional dan Modern). 2008. Sardono W. Jurnal Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia tahun VIII.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Asril Muchtar adalah Sekretaris Program Pascasarjana dan dosen jurusan Karawitan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang. 234 .

12. kepentingan penyelenggara dan kepentingan masyarakat penikmat. Periksa H. sedangkan Upacara Tabot terdapat di kota Bengkulu. 1974). Adam Saleh (Djakarta: PT Sinar Hudaya. Husein Sjahid Agung..A. sementara di Pariaman sudah terjadi pergeseran waktu pelaksanaan dengan tidak lagi berpatokan pada tanggal 1-10 Muharam. “Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di 235 . Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Latar Belakang radisi ritual berskala besar dan kolosal yang dimiliki masyarakat pantai bagian Barat Sumatra adalah Upacara Tabuik dan Upacara Tabot. tetapi bisa menjadi dari tanggal 1-11. S. tetapi kedua ritual ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang sama.). Shorter Encyclopaedia of Islam (Leiden: EJ Brill. Periksa Asril. M. Namun terjadi sedikit perbedaan.13. Dalam peperangan ini Husein T 1 Fazl Ahmad. Meskipun berada di tempat yang berbeda. di Bengkulu Upacara Tabot masih tetap dilaksanakan dari tanggal 1-10 Muharram. 1972). Terj. Kedua ritual ini sama-sama dilaksanakan pada awal hingga paroh pertama (1-10) Muharam dalam kalender tahun Hijriyah.a. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharam tahun 680 (61 H)1.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Upacara Tabuik dan Tabot di Pesisir Barat Sumatra Asril Muchtar. Sumatra Barat. dan 14 Muharam—dengan perhitungan hari puncak upacara jatuh pada hari minggu. 142..Hum.H Kamer (ed. Pergeseran ini agaknya ingin mengadopsi dua kepentingan yakni. 190191.R Gibb dan J. yakni peristiwa perang Karbala Irak antara pasukan Yazid dari Bani Umayyah dengan rombongan Husein Bin Ali cucu Nabi Muhammad s.Kar.w. Upacara Tabuik terdapat di kota Pariaman.

Sementara di tempat lain ditafsir pula berdasarkan kekuatan budaya lokalnya. dan tak terkecuali juga dari Islam Sunni di berbagai kawasan Asia Tenggara. Husein bagi kalangan penganut Syi’ah dianggap Imam ketiga setelah ayahnya Ali Bin Abi Thalib. Akan tetapi. 2002. Masing-masing hanya menggunakan satu tabuik gadang (tabuik besar). Ia melihat bangunan istana raja berbentuk piramida. yang memiliki unsur seperti piramid--kemudian disebut tabot. Uniknya. Sementara di Bengkulu tabot ditafsir dari mimpi seorang leluhur keturunan tabot saat bermimpi di Karbala. seperti yang masih dapat kita jumpai di kawasan pantai barat Sumatra adalah Upacara Tabuik dan Upacara Tabot. bentuk upacara dan perayaannya di masing-masing daerah tidak semata-mata bertolak dari peristiwa perang Karbala. Di Pariaman pelaksanaan Upacara Tabuik dilakukan oleh dua kelompok pendukung tabuik. Mimpi itu kemudian diwujudkan dengan bentuk menara setinggi sekitar 5-6 meter. Benda ini kemudian disebut tabuik. dan pelaksanaan upacara. 51. mereka melakukan “pemitosan” sejarah perang Karbala dengan menafsirkannya sendiri rasa simpati terhadap Husein sesuai dengan versi daerah masing-masing. yaitu patung kuda bersayap berkepala wanita yang dianggap sebagai kendaraan yang membawa arwah Husein. Misalnya. termasuk di berbagai tempat di Indonesia. spirit upacara. 236 . Di Bengkulu pelaksanaan Upacara Tabot juga terdiri atas dua kelompok tabot yaitu kelompok tabot berkas (tabot tuo) dan kelompok tabot bangsal. Peristiwa Karbala bisa menjadi seperti legenda. Akan tetapi. masing-masing kelompok tabot memiliki Pariaman Sumatra Barat”. yaitu tabuik pasa dan tabuik subarang. benda upacara (tabuik dan tabot). Tesis S2 UGM Yogyakarta. Penafsiran ini berimbas pada bentuk upacara. dan Hasan Bin Ali (kakak Husein). di Pariaman tabuik diwujudkan dalam bentuk sebuah benda atau menara yang dibuat setinggi sekitar 10-12 meter dan pada bagian tengahnya dibuat seekor buraq.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan pasukannya mati terbunuh kecuali beberapa perempuan dan anakanak. Kedua kelompok ini seolah-olah menggambarkan dua kubu yang berperang. Bentuk penghormatan itu di kawasan Timur Tengah diwujudkan dalam pertunjukan drama bergaya sufi yang menyajikan kronologi penderitaan yang dialami oleh Husein. Kematian Husein meninggalkan duka yang mendalam bagi penganut Syi’ah. Kebesaran namanya dan penghormatan terhadapnya dilakukan oleh kalangan umat Islam dari penganut Syi’ah dari seluruh dunia.

tetapi bentuk upacara. 61. Dalam setiap penyelenggaraan upacara ini di masing-masing kota. Misalnya dari ritual ke sekuler. Mereka berasal dari Madras India. Upacara tabuik dan Upacara Tabot sudah menjadi identitas budaya bagi masing-masing daerah. ataupun berubah secara parsial. Margaret Kartomi berdasarkan legenda yang berkembang di Bengkulu menceritakan. kemudian diwariskan kepada keturunan mereka dan keturunan mereka hasil asimilasi dengan warga setempat3. 13-14. 237 . Ibid. sehingga jumlah tabot yang digunakan dalam upacara bisa mencapai 12 buah atau lebih2. Kemudian seorang to2 3 Badrul Munir Hamidy (ed. Seiring dengan perkembangan zaman. Bahkan masyarakat yang menyaksikan upacara itu secara tidak langsung terlibat sebagai bagian dari pendukung upacara. 1991/1992). Perbedaan ini muncul karena adanya interpretasi masyarakat terutama para pendukung dan keluarga tabuik dan tabot. Versi lain menyebutkan. sehingga menjadi kolosal. perubahan kecenderungan selera dan perilaku masyarakat dan berbagai perkembangan politik. Kedua kelompok tabot di Bengkulu tidak secara tegas dan terbuka sebagai gambaran dua kubu yang sedang bertentangan. setiap perayaan upacara ini tidak kurang dihadiri oleh 200-an ribu orang dari berbagai daerah sekitarnya. mampu memobilisasi masyarakat untuk menyaksikannya. dan spirit yang dimunculkannya terdapat perbedaan-perbedaan yang signifikan. upacara tabot pada awalnya merupakan upacara berkabung kaum Syi’ah yang dibawa ke Bengkulu orang Sipahi yang bekerja membangun benteng Marlborought. telah turut pula mewarnai “wajah” perkembangan upacara. Interpretasi Masyarakat dari Perang Karbala ke Upacara Kendatipun Upacara Tabuik dan Upacara Tabot sama-sama berasal dari peristiwa perang Karbala. bahwa upacara tabut berasal dari India dibawa ke Bengkulu oleh Imam Senggolo--seorang pemuka Islam yang dikenal pula dengan nama Syeikh Burhanuddin.).. pelaksanaannya. Di Pariaman misalnya. Menurut Hamidy.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pula anggota tabot pendukungnya. struktur atau kronologi upacara. Upacara Tradisional Daerah Bengkulu: Upacara Tabot di Kotamadya Bengkulu (Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Depdikbud.

142. “Nadere gegevens omtrent het Hasan¬Hoesain feest”. (Clayton: Centre of Southeast Asia Studies. Berdasarkan keterangan Snouck Hurgronje di atas. oleh karena baru pada abad XVI sampai XVIII. diterjemahkan oleh Hartoyuwono. dulu berambut panjang.. Perkiraan kedua. et al. sedangkan tabot Bengkulu tidak memiliki buraq. Ethnography of Muhammadan 238 . Buraq termasuk binatang mitologi yang hanya ada dalam konsep pikiran saja.). dalam David P. dan untuk membantu menduduki bentengnya di Bengkulu5.C. The Encyclopaedia of Islam: Dictionary of the Geography. S. Houtsma. Hamdan Basyar (ed. Iran membuat ikatan budaya yang kuat dengan India melalui berbagai penguasa Syi’ah di India Utara dan India Selatan. op. Color and Symbolism in Islamic Architecture: Eight Century of the Tile Maker’s Art (London: Thames and Hudson Ltd. Ricklefs (ed. l44. diduga karena hikayat Ali Hanafiyah yang menceritakan tentang kematian Husein. kuat dugaan tabuik diperkirakan masuk ke Pariaman pada akhir abad XVII. Azyumardi Azra mencatat bahwa tabuik masuk ke pantai barat Sumatra antara tahun 1750-8256. en Volkenkunde (Batavia: Albrecht & Co. Snouck Hurgronje memperkirakan bahwa tabuik berasal dari India dan masuk ke Sumatra diperkirakan pada abad XIV. 1914). berkembang dan memiliki kesamaan dasar di India7. Cerita tentang buraq sering dikaitkan dengan peristiwa isra’ dan mi’raj Nabi Muhammad8. Th. 284. sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu pada masa itu. Chandler dan M. “Syiah di Indonesia: Antara Mitos dan Realitas” (pengantar) dalam A. Monash University.. Kartomi.) Nineteenth and Twentieth Century Indonesia. Periksa Ph. sekarang berkembang pula dengan memakai jilbab yang diidentikkan seperti burung raksasa. Land--. dalam Tijdschri ft voor Indische Taal--. van Ronkel. 4 5 6 7 8 Margaret J. Michael Barry. 2000).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF koh Islam yang bernama Kadar Ali membawa tabut itu ke Pariaman4. cit. tabuik masuk ke Sumatra pada akhir abad XVII. Buraq itu bentuknya seperti kuda bersayap berkepala wanita. Kecepatan terbangnya seperti kilat. ketika Inggris membawa pasukan Sepoy India (orang Sipahi atau Cipai) yang berusaha menguasai pesisir pantai Barat Sumatra. “Tabut . 21. Azyumardi Azra. 1986)..a Shiah Ritual Tranplanted from India to Sumatra”. Kartomi. 334-335.. Rahman Zainuddin dan M. Melihat pada bentuk tabuik yang ada di Pariaman. et al. Bentuk yang seperti ini ditemui di India Selatan. salah satu ciri terpentingnya yang sangat berbeda sekali dengan tabot Bengkulu adalah buraq.. Syiah dan Politik di Indonesia: Sebuah Penelitian (Bandung: Mizan dan PPW-LIPI. Periksa juga M. 1996). Masa kontak budaya ini menjadikan ta’ziah atau tabut dari Iran.

63. Periksa Asril.. 239 . dan Delhi yang disebut pula dengan tabut atau buraq9. antara tabuik Pariaman dengan tabot Bengkulu masing-masing memiliki mitos sendiri-sendiri. Setelah itu mayat Husein dan para pengikutnya dikuburkan di Karbala. “Tabuik. Adapun mitos tabuik Pariaman adalah sebagai berikut.. 793. dan mereka memohon kepada malaikat ikut bersama jenazah Husein. Atau mungkin saja masuknya tabuik ke Pariaman dan Bengkulu dalam kurun waktu yang bersamaan. Sebagai pertimbangan lain. yang tidak bisa diPeoples (London: Luzac and Co. para malaikat mencium adanya bau manusia dalam rombongan tersebut. 145-146. 10 Parsi Tanjung. Setelah arak-arakan itu mendarat di lokasi Husein terbunuh. Rupanya mereka prajurit Husein yang selamat yang berasal dari Cipahi (Keling) bergantung pada arak-arakan itu. Akan tetapi masyarakat Pariaman membuat rekayasa sendiri yang bersifat imajinatif. Setelah Husein terbunuh dengan kondisi tubuh dicincang oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. tetapi malaikat tidak mengizinkannya. 9 Ibid. Singgalang Minggu. dengan datangnya arak-arakan para malaikat beserta buraq membawa jenazah Husein terbang ke langit. Pesta Kolosal Anak Nagari Piaman”.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI seperti di Dekkan. dan selanjutnya arak-arakan itu lepas landas menuju langit. dan arak-arakan itulah kini yang disebut dengan tabuik10. “Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di Pariaman Sumatra Barat”. para malaikat memasukkan bagian tubuh Husein ke dalam peti yang ada di punggung buraq. Tesis S2 UGM Yogyakarta. Dalam perjalanan menuju langit. 1913). Lucknow. tiba-tiba datanglah sebuah arak-arakan dari langit yang terdiri dari para malaikat dan seekor buraq. ketika Upacara tabuik masih dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten Padang Pariaman. Kemudian malaikat itu memberikan nasehat agar orang Cipai itu dapat melaksanakan arak-arakan tersebut seperti yang dilihatnya. 2002. Mitos ini yang menjadi ilham dalam mewujudkan bentuk fisik tabuik dan tabot itu. Jadi kemungkinan besar tabuik Pariaman berasal dari India Selatan tidak melalui Bengkulu. yang sangat berbeda. Ungkapan mitos ini juga dimuat dalam leaflet pariwisata Kabupaten Padang Pariaman. Mitos di atas dimulai dari kematian Husein oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. 26 Juni 1994). pada hal itu adalah fakta sejarah yang terjadi di Karbala.

lalu Nabi menampar wajah Natsal dengan mengucapkan kata-kata. dan Nabi Muhammad datang memberikan penghormatan kepada Husein. Mayat Husein yang tanpa kepala ditinggalkan di padang Karbala. Natsal menjelaskan semua kejadian yang ia alami. Setelah kejadian itu. ia pergi ke Mekkah memohon ampunan dari Allah di Ka’bah atas perbuatan buruknya itu. Kemudian ia mendengar kata-kata. mitosnya juga berawal dari tragedi Karbala. Menurut Natsal lebih baik ia mengambil barang itu. Dalam keadaan sadar Natsal melihat bagaikan dalam mimpi sebuah istana raja berbentuk piramida muncul di sepanjang tempat itu. menemuinya dan menanyakan masalah apa yang dihadapi oleh Natsal. kilat menyambar ke segala arah dengan suara yang menakutkan. Nabi Musa. Pada saat ia berdoa Ja’far Ibnu Muhammad Siddik seorang ulama yang sedang mengelilingi Kabah. mitos tabot dilukiskan sebagai berikut. Seseorang yang bernama Natsal. Natsal melihat wajah Nabi Muhammad. Berbeda pula dengan tabot Bengkulu. mereka bisa mewujudkan arak-arakan malaikat dengan buraq dalam mitos itu seperti Upacara Tabuik yang ada sekarang. Melihat kejadian itu Natsal berbaring di tanah.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF hubungkan dengan fakta. dari pada diambil atau dirampas oleh orang lain. pembantu Husein mengetahui bahwa di dalam ikat pinggang Husein tersimpan sebuah intan atau jimat yang berharga. berilah jalan Nabi Adam. Natsal menyesali perbuatannya. Ketika Natsal membuka pakaian Husein untuk mengambil barang itu. disertai lantunan iramairama yang harmonis. kedua tangan Husein bergerak-gerak menolak tangan Natsal. lalu Ja’far memberikan jawaban kepadanya. Nabi Isa. Nabi Ibrahim. Berdasarkan catatan yang dibuat oleh penguasa Belanda di Bengkulu pada akhir abad ke-19. Siti Fatimah. untuk memberi tanda perbuatan burukmu bukan hanya wajahmu yang tetap hitam. tetapi keturunanmu akan dilahirkan dengan wajah hitam. bahwa dosa Natsal bisa diampuni dengan syarat ia dan keturunannya setiap tahun harus mengenang dan memperingati kematian Husein melalui suatu 240 . akan tetapi pada saat yang sama ia mendengar guruh. Natsal kemudian menebas tangan mayat Husein. Namun ketika mereka membuat tabuik.

Berpedoman pada dua mitos di atas. 22. kemungkinan berasal dari daerah yang berbeda di India dan datang dalam kurun waktu yang sama atau berbeda. (2) Upacara maambiak batang pisang (mengambil batang pisang) merupakan prosesi ritual mengambil dan menebas batang pisang yang dilakukan di masing-masing tempat upacara. begitu juga mimpinya. Bentuk Upacara Upacara Tabuik dan Upacara Tabot terdiri atas beberapa ritus atau rangkaian upacara yang pada dasar memiliki kesamaan. “Het Hasan-Hosein of Taboet-Feest te Benkoelen”. 13 Zelly Marissa Haque. et al. W. Natsal yang disebut sebagai pembantu Husein hanyalah sebuah rekayasa saja. M. Mereka menganggap Natsal sebagai leluhurnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI upacara yang khidmat11. sehingga menjadi kewajiban bagi mereka melaksanakan upacara tabot secara khidmat setiap tanggal 1-10 Muharram setiap tahun. Mengenai bentuk tabot keturunan Natsal membuat seperti menara yang memiliki unsur piramida. 12 Ibid. sebagai hasil penafsiran mereka terhadap mimpi Natsal di Karbala12. tabot di Bengkulu tidak memiliki buraq. Trap. Berdasarkan mitos itu. Upacara ini dilaksanakan pada tanggal 01 Muharam pada sore hari selesai salat ‘Ashar.. untuk menebus dosa-dosa Natsal. Akan tetapi nama Natsal sangat dihormati oleh orang-orang Cipai Bengkulu termasuk para serdadu Cipai. dalam Internationales Archiv fur Ethnographie (Leiden: Verlag von P. namun dalam perkembangan sekarang sudah ada pula tabot yang memakai buraq13. sebagaimana bentuk tabot yang ada di Bengkulu saat ini. meskipun ada beberapa perbedaan. 241 . memberikan gambaran bahwa orang-orang Cipai yang datang ke Bengkulu dan ke Pariaman. “Perkembangan Musik Dol di Kota Bengkulu”. Skripsi (Padangpanjang: STSI. Helfrich. 2009). 1888). kemu11 O. L. 192-193. Ritus-ritus yang terdapat dalam Upacara Tabuik adalah sebagai berikut. (1) Upacara maambiak tanah (mengambil tanah) merupakan prosesi ritual mengambil tanah ke sungai yang menggambarkan pengambilan mayat Husein yang masih tertinggal di Karbala.

selanjutnya dikumpulkan di suatu tempat. Upacara ini dilakukan pada malam hari setelah upacara mahatam. Upacara maarak sorban merupakan prosesi mengarak sorban (penutup kepala) sebagai gambaran setelah menemukan sorban Husein. pada malam hari (pukul 20. Upacara ini dilaksanakan pada pagi hari (subuh) pada hari puncak upacara. Upacara ini menggambarkan saat-saat Husein dipancung oleh tentara Yazid. dan lain sebagainya.00.00). 15 Dalam pembuatan tabuik Pariaman dilakukan atas dua bagian.00. Upacara ini dilaksankan pada tanggal 05 Muharam mulai dari sore hingga sekitar pukul 21. puncak tabuik. Setiap bagian disebut dengan pangkek.30. sedangkan pangkek ateh (atas) terdiri atas bungo salapan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) dian dibawa ke daraga14. Jika lokasi memungkinkan.00-14. Upacara maarak jari-jari adalah upacara berupa prosesi mengarak jari-jari dengan melintasi berbagai kampung sebagai gambaran keganasan tentaraYazid. Kandang tabuik dapat pula dibuat terpisah dari daraga. di sekitar daraga juga dibuat pondok tempat membuat tabuik yang disebut dengan kandang tabuik. Upacara tabuik dibuang ke laut merupakan upacara terakhir berupa prosesi membuang tabuik ke laut. Upacara ini dilaksanakan sekitar pukul 12. Upacara tabuik naiak pangkek adalah penggabungan pangkek 15 (bagian) bawah dengan pangkek atas badan tabuik yang sebelumnya dibuat secara terpisah. Upacara mahatam merupakan penurunan jari-jari dari rumah tabuik (keluarga tabuik).00-22. Pangkek bawah adalah kaki tabuik dan buraq.00. Upacara maradai merupakan prosesi yang bertujuan mengundang simpati masyarakat guna menyumbang dana atau apa saja yang bisa membantu biaya pembuatan tabuik. Upacara maoyak tabuik merupakan upacara puncak dari seluruh rangkaian Upacara Tabuik. yaitu bagian atas dan bagian bawah.00-16. sebagai gambaran 14 Daraga adalah areal yang dimitoskan sebagai tempat makam Husein. 242 . Upacara ini menggambarkan jari-jari Husein yang berserakan di Karbala. Upacara ini dilaksanakan dua hari menjelang upacara puncak. biliak-biliak. Upacara ini dilakukan pada tanggal 06 Muharam (dapat menyesuaikan dengan rentang waktu upacara) pada malam hari sekitar pukul 19. kemudian dibawa ke daraga. Upacara ini dimulai dari pukul 11.

Upacara ini dilaksanakan dari pukul 16. Adapun ritus-ritus yang terdapat dalam Upacara Tabot menurut Hamidy sebagai berikut. 16 Asril. Pada masa lalu di Pariaman tanggal 2-4 Muharam disebut dengan hari gam. Masa jeda antara upacara maambiak tanah dengan upacara maambiak batang pisang.00-21. (4) Meradai. Pelaku upacara adalah anakanak dan remaja. maka harus dicuci dengan air bunga dan air limau [jeruk] setiap tahunnya. Menjara dilakukan pada malam hari dari pukul 20. Penja adalah benda berbentuk telapak tangan manusia lengkap dengan jari-jarinya. Tanah yang diambil adalah tanah yang dianggap mengandung nilai magis. di masing-masing rumah tabuik dan kandang tabuik dilakukan kegiatan pembuatan tabuik dan permainan gandang tasa (musik pendukung Upacara Tabuik).00-23. Peserta meradai disebut jola. kemudian tanggal 06 Muharam kelompok tabot berkas mengunjungi kelompok tabot bangsal. Op cit.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengantarkan jenazah Husein ke pemakaman. (3) Menjara artinya mengandun atau berkunjung mendatangi kelompok tabot lain untuk beruji dol (bertanding membunyikan dol). (5) Arak penja: atau disebut juga arak jari-jari dilaksanakan pada tanggal 08 Muharam mulai pukul 19. Penja menurut keluarga Sipai adalah benda keramat yang mengandung magis. Menjara dilakukan dua kali yaitu pada tanggal 05 Muharam oleh kelompok tabot bangsal ke kelompok tabot berkas. (1) Mengambiak tanah (mengambil tanah).. Setelah dicuci penja diletakkan di gerga17. berjalan mengitari kampung dilakukan oleh anakanak usia 10-12 tahun dalam rangka pengumpulan dana untuk pembuatan tabot. 66-67. 17 Gerga adalah pusat kegiatan tabot. 243 .3016.00 dengan menempuh rute yang telah ditentukan. namun sudah banyak yang tidak tahu lagi tersebut. Acara dimulai di lapangan Merdeka Bengkulu (lapangan Tugu Propinsi) dan selesai kembali di lapangan Tugu Propinsi.00-18. Penja disebut juga dengan jari-jari. Meradai dilaksanakan pada tanggal 06 Muharam dari pagi sampai sore. Tidak ada terjadi perkelahian. (2) Duduk penja (jari-jari).00.

hampir semua ritus upacara yang dilakukan menggunakan sesajen. Arak serban berupa prosesi membawa serban (sorban) putih yang diletakkan pada tabot coki (tabot kecil). Upacara Tabuik termasuk upacara yang berdimensi keras dan bersifat kolosal. 66-73. Sesampai di Lapangan Merdeka. Kampung Jawa. pelopor upacara tabot. sehingga disebut pula dengan tabot besanding. dan berbagai kembang dan limau (jeruk). Kampung Cina. Pasir.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF (6) Arak serban: dilakukan pada tanggal 09 Muharam pada malam hari dari pukul 19.00-21.. minuman. Selama acara tabot besanding berbagai hiburan dan kesenian rakyat ditampilkan untuk menghibur para pengunjung.00. hijau atau biru yang bertuliskan “Hasan dan Husen” dengan kaligrafi Arab. (7) Gam: yaitu masa tenang yang ditentukan tidak boleh ada kegiatan apapun yang berkaitan dengan tabot. Pelaku utama upacara itu terdiri dua tabuik.00-21. (9) Tabot tebuang: upacara tabot tebuang dimulai dari Lapangan Merdeka. yaitu tabuik pasa dengan pusat aktivitasnya di Kampung Perak. Selesai ritual tabto tebuang. Di Bengkulu.00. Menyatunya kelompok-kelompok tabot dalam satu arak-arakan ini disebut dengan arak gedang (pawai akbar). Karabela. (8) Arak gedang: yaitu prosesi kelompok tabot yang dimulai dari markas masing-masing menuju Lapangan Merdeka. tabot-tabot dibariskan seperti bershaf. Cara ini menampakkan bahwa di Bengkulu nilai ritual dan sakral masih dipertahankan. dan tabuik subarang dengan pusat aktivitasnya di Kampung Pondok. berupa makanan. Op cit. Upacara tabot tebuang dipimpin oleh dukun tabot dan dipandang bernilai magis. Di makam ini dimakamkan Imam Senggolo. Gam dimulai dari pukul 07. sekitar pukul 11.00 arak-arakan tabot menuju Padang Jati dan berakhir di kompleks pemakaman umum. dan pasar Pariaman (bekas nagari Pasar Pariaman). 18 Hamidy.00. meskipun gerusan perubahan ke arah mempertipis nilai tetap saja terjadi. Upacara dimulai pada pukul 19. 244 . tabot-tabot itu dibuang ke rawa-rawa di sekitar makam18.00-16. dilengkapi dengan bendera atau panji-panji berwarna putih.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

dan Jawi-Jawi (bekas nagari Lima Koto Air Pampan). Kedua tabuik ini menggambarkan dua kelompok yang sedang berseteru. Bisa dianalogikan dengan pasukan Husein dan pasukan Yazid yang sedang berperang di Karbala. Walaupun sesungguhnya masing-masing pendukung tabuik itu sama-sama “mengagungkan” dan merayakan peringatan kematian Husein, dan tidak satu pun yang berperan sebagai pasukan Yazid. Akan tetapi antara satu dengan lainnya saling tuding menjadi lawannya. Ini memang aktivitas budaya yang direkayasa untuk itu. Bentuk-bentuk kekerasan itu muncul, seperti mengadu tabuik, caci maki dalam bahasa kasar, sindiran dalam bentuk sarkasme, dan perkelahian massal di antara kedua belah pihak. Namun sekarang sindiran dan caci makian dalam bahasa kasar sudah mulai hilang. Bentuk kekerasan itu muncul pada upacara maambiak batang pisang, maarak jari-jari, maarak sorban, dan tabuik dioyak. Perkelahian itu dianggap sebagai bagian penting dari upacara. Perkelahian merupakan luapan dan puncak atau klimaks dari konflik-konflik yang ada selama upacara. Tanpa ada perkelahian maka upacara dianggap “dingin”, karena bagian ini merupakan salah satu daya tarik pengunjung dan para perantau Pariaman untuk menyaksikan Upacara Tabuik. Bagi para pengunjung jika tidak melihat bagian upacara yang menyajikan permainan keras, dianggap belum menyaksikan Upacara Tabuik. Bagi mereka yang mengerti dengan Upacara Tabuik, dalam kerangka fantasi fikirannya sudah terpola akan menyaksikan perkelahian dan bentuk permainan keras lainnya. Perkelahian massal itu setidaknya bisa terjadi dua kali, yaitu pada upacara maambiak batang pisang dan upacara maarak jari-jari atau maarak sorban. Meskipun dalam pelaksanaannya bisa saja tidak terjadi seperti itu, tetapi biasanya satu kali akan dilakukan, terutama pada upacara maambiak batang pisang, karena upacara maambiak batang pisang merupakan gambaran penebasan dengan pedang di peperangan. Pada masa lalu korban-korban perkelahian dalam Upacara Tabuik tidak merasa dendam dengan kejadian itu, walaupun mereka tahu orang mencedarainya. Mereka menerima dengan keikhlasan dan dianggap sebagai pengorbanan, yang belum seberapa nilainya jika dibandingkan dengan pengorbanan Husein. Mereka yang berjiwa seperti itu memiliki pemahaman dan penghayatan yang dalam terhadap upacara yang dilakukan. Selain itu, para ninik mamak dan tokoh masyarakat dapat meredam dan merangkul kedua belah pihak untuk berdamai, serta
245

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

memberikan pengertian tentang insiden yang terjadi merupakan bagian dari Upacara Tabuik. Bahkan setelah mereka berkelahi, lalu mereka berkumpul bersama, makan, dan minum bersama bagaikan tidak terjadi sesuatu. Upacara Tabuik yang bersifat kolosal terutama sekali dapat dilihat pada saat tabuik dihoyak dan tabuik dibuang ke laut. Kedua upacara itu dilaksanakan pada hari yang sama. Para pengunjung atau pelayat datang dari berbagai pelosok daerah menyaksikan upacara. Jumlah mereka diperkirakan sekitar 200-an ribu orang19, sehingga memadati areal wisata Pariaman seperti, Pantai Gandoriah, stasion kereta api, areal sekitar pasar Pariaman. Kartomi pada saat melakukan penelitian pada tahun 1982 pernah mencatat jumlah pengunjung atau pelayat yang menyaksikan Upacara Tabuik sekitar 200 ribu orang20. Merujuk pada mitos sebagai rujukan pembangun Upacara Tabot di Bengkulu, tampak pada tahap-tahap upacara tidak menyajikan upacara yang berdimensi keras yang mengarah ke perkelahian massal seperti yang terjadi pada Upacara Tabuik. Upacara yang dianggap keras dalam Upacara Tabot adalah upacara menjara (beruji dol). Inti dari upacara menjara adalah beruji dol, yaitu masing-masing kelompok tabot berusaha mengalahkan kelompok lain. Kelompok yang paling terampil memainkan dol 21 (dol dan tasa) dan paling sedikit dol pecah (robek membrannya) dianggap menang22. Kekerasan ditunjukkan dengan melampiaskan emosional pendukung upacara melalui pemain musik ke alat musik dol. Mereka secara pisik tidak melakukan persentuhan antar kelompok pendukung tabot, apalagi perkelahian. Beruji dol dilakukan di lapangan terbuka, sehingga dapat disaksikan oleh banyak orang. Bahkan beruji dol dianggap salah satu bagian upacara yang mampu menyedot banyak penonton. Dalam upacara beruji dol diadakan pula selingan pertunjukan tari-tarian dan musik tradisi sejenis gamat. Upacara menjadi meriah dengan hadirnya hiburan selingan ini. Beruji dol dilakukan di dua tempat yaitu, di kelompok tabot ber19 Asril, op cit., 69. 20 Ibid., 70 21 dol sejenis gendang bermuka satu berbentuk kettle drum, dengan ukuran diameter cukup besar antara 50-60 cm. Dol dimainkan sambil berdiri dengan cara diletakkan di lantai atau tanah. 22 Hamidy, Op cit., 89-90.

246

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

kas dan di kelompok tabot bangsal. Mereka saling mengunjungi secara bergantian selama dua malam. Lagu-lagu yang biasa dimainkan dalam beruji dol adalah Matam-matam, Suwena, dan Suweri. Ketiga lagu ini sama-sama mereka mainkan dalam waktu yang bersamaan. Lagu Suweri merupakan lagu andalan bagi masing-masing kelompok tabot dalam beruji dol. Masyarakat sangat mengetahui bahwa lagu tersebut amat disukai. Para pemusik biasanya memainkan lagu ini dengan penuh semangat hingga bermain dengan tenaga yang maksimal. Akibatnya sering terjadi kerusakan pada alat musik seperti pada kulit (membrane) robek, pemukul (stick) patah, resonator instrumen retak, dan lain-lain23. Akan tetapi ini muara yang ingin dicapai dari upacara beruji dol. Situasi ini sangat berbeda dengan Upacara Tabuik di Pariaman. Gandang tasa sebagai musik pendukung upacara justru digunakan untuk membangun semangat “heroik” dan “patriotik” di antara kedua kelompok tabuik. Lagu-lagu Oyak Tabuik dan Sosoh misalnya, dimanfaatkan untuk membangun emosional para pendukung tabuik, khususnya untuk membangun emosi ke arah perkelahian dan yang berdimensi keras.

Pelibatan Seni dalam Upacara Rentangan waktu yang cukup panjang dalam pelaksanaan Upacara Tabuik dan Upacara Tabot, dimanfaatkan dengan menampilkan berbagai kesenian tradisi setempat dan kesenian yang bernuansa Islami. Di Pariaman misalnya, pada malam hari yang tidak ada aktivitas upacara, panitia penyelenggara upacara menyajikan pertunjukan indang piaman, tari indang, gandang tasa, orkes gambus, dan jenis musik bernuansa Islami. Prinsip utamanya adalah memberikan hiburan kepada masyarakat atau pengunjung yang datang. Sementara di Bengkulu, hal yang sama juga dilakukan yaitu pertunjukan tari Ikan-ikan, kolintang, musik bernuansa Melayu seperti gamat, dan yang cukup menggembirakan sekarang adalah pertandingan atau festival dol kreasi. Para remaja Bengkulu mampu memainkan “musik baru” yang dikembangkan dari musik tradisi dol dengan atraktif24. Selain itu, juga ditampilkan berbagai tarian tradisi dan tari kreasi yang bersumber dari Upacara Tabot.
23 Hanefi, dkk., “Musik Tabot dalam Beruji Dol di Bengkulu: Tinjauan Musikologis” Laporan penelitian (Padangpanjang: ASKI, 1998), 45. 24 Haque, Op cit., 56-57.

247

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Perubahan dan Perkembangan Upacara Perubahan dan perkembangan yang terjadi pada Upacara Tabuik dan Upacara Tabot berbeda bentuk dan jenisnya. Ada yang berubah dari aspek nilai ritual dan sakralnya, dan ada yang berkembang secara parsial dari aspek musiknya saja. Di Bengkulu upacara berkembang secara parsial, yakni dari aspek musiknya. Pada masa lalu, dol adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Upacara Tabot. Dol hanya dapat dimainkan bersamaan dengan Upacara Tabot, sebagai musik pendukung upacara. Akan tetapi, pada tahun 1980-an dan 1990-an dol sudah dapat ditampilkan secara terpisah untuk penyambutan tamu pemerintah, meskipun masih dalam bentuk ansambel yang aslinya. Perkembangan yang cukup menggembirakan adalah ketika dol dijadikan sebagai sumber penataan musik kreasi untuk iringan tari “baru” (kreasi) dan untuk musik kreasi. Dalam penelitian Haque, ada tiga aspek perkembangan yang terjadi pada dol, yaitu: dol sebagai media seremonial di kota Bengkulu; dol dijadikan sebagai materi pembelajaran musik di sekolah dan di sanggar; dol sebagai sumber sebagai garapan komposisi baru. Dol sebagai media seremonial disajikan pada acara penyambutan tamu-tamu penting, acar ulang kota Bengkulu, acara yang bersifat umum lainnya, dan penggabungan dol dengan musik tradisi lainnya seperti gendang sarunai dan gamat yang digunakan untuk hiburan. Dol sebagai materi pembelajaran di sekolah, walaupun masih bersifat ekstrakurikuler, tetapi telah diajarkan di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di berbagai daerah khususnya di kota Bengkulu. Perkembangan yang cukup menarik adalah dol dijadikan sebagai sumber penciptaan karya baru. Dol telah digabung dengan berbagai alat musik di luar tradisinya. Misalnya dengan menghadirkan gitar bass eletrik, kolintang, set rebana, dan cara memainkan dol pun lebih atraktif. Misalnya, dol tidak saja diletakkan di lantai, tetapi telah disandang dan dimainkan sambil berbuai atau berayun, bahkan sambil tidur. Pertunjukan ini pun kemudian disebut dengan dol buai25. Yang tak kalah menarik juga perkembangan yang terjadi dari aspek alat musiknya, berbagai jenis ukuran dol pun dibuat untuk keperluan perbedaan atau variasi warna bunyi. Para remaja Bengkulu sangat antusias memainkan
25 Ibid., 46-47, 48-49, 50,57.

248

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

dol kreasi ini. Di Pariaman perubahan yang terjadi adalah pada nilai sakral upacara dan juga dalam bentuk parsial. Upacara Tabuik tidak lagi dilaksanakan dari tanggal 1-10 Muharam, melainkan berubah menjadi tanggal 1-11, 12, 13, dan 14 Muharam, yang diperlukan upacara puncak maoyak tabuik jatuh pada hari minggu. Perubahan ini dilatarbelakangi oleh embel-embel “pariwisata”. Artinya jika upacara puncak dilakukan pada hari minggu maka akan banyak orang yang menyaksikannya. Dari satu sisi ada benarnya, memang banyak orang menyaksikan upacara maoyak tabuik. Imbas dari itu, ekonomi masyarakat juga terdongkrak, mulai dari penjual makanan, transportasi, pengelola parkir, hingga penginapan. Namun demikian, cara praktis ini ternyata telah menguburkan nilai-nilai sakral kesejarahan peristiwa Karbala sebagai titik tolak upacara. Oleh karena pada tanggal 10 Muharam 680 (61 H) adalah hari kematian Husein di Karbala. Lambat laun generasi berikutnya tidak akan tahu lagi makna 10 Muharam dalam Upacara Tabuik. Bentuk lain dari pengembangan Upacara Tabuik adalah perayaan Oyak Tabuik yaitu cuplikan dari salah satu rangkaian Upacara Tabuik. Biasanya yang diambil adalah upacara puncak, maoyak tabuik. Pelaksanaannya terbilang meriah, kolosal karena melibatkan ratusan bahkan ribuan orang warga Pariaman khususnya dan ditambah dengan ‘warga partisipan’. Akan tetapi pelaksanaannya sudah terlepas dari semua aspek ritual dan sakral, yaitu: (1). Tidak diharuskan pada bulan Muharam (tergantung hajatan); (2). Dilaksanakan di luar kota Pariaman (Padang, Pekan Baru, Batam, Jakarta, Padangpanjang, Bukittinggi, Payakumbuh, Darmasraya, bahkan di luar negri seperi Washington, dsb); (3). Tidak diperlukan benda-benda sakral (jari-jari, benda-benda prosesi, dsb); (4). Tidak diharuskan pelaksananya masyarakat dari bekas nagari Pasar Pariaman dan V Koto Air Pampan; (5). Tabuik yang diusung tidak mesti dua buah, satu saja dibolehkan; (6). Ukuran tabuik yang diusung pun relatif, tidak harus sama tingginya dengan tabuik yang digunakan di kota Pariaman (dapat saja ukurannya tinggi sekitar enam meter); (7). Setelah perayaan selesai, tabuik tidak perlu dibuang.

249

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Waktu pelaksanaan perayaan Oyak Tabuik tidak terikat lagi dengan bulan Muharam. Hal ini disebabkan karena tujuan dan makna perayaan Oyak Tabuik juga tidak terkait lagi dengan peringatan kematian Husein. Perayaan ditujukan untuk memeriahkan suatu event, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah maupun yang dilakukan sendiri oleh masyarakat Pariaman. Misalnya, perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus, perayaan festival Muharam, hajatan keluarga besar Persatuan Keluarga daerah Pariaman (PKDP), peresmian pengurus baru PKDP, dan lain sebagainya. Jadi, waktu pelaksanaan tergantung dari masyarakat Pariaman di perantauan. Pelaksanaannya pun tidak harus setiap tahun atau berkala secara periodik. Dalam hal ini organisasi PKDP di masing-masing daerah atau kotalah yang menentukan kapan mereka akan melaksanakan perayaan Oyak Tabuik. Mengenai tempat penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik dilaksanakan di luar kota Pariaman, maksudnya adalah karena perayaan ini juga tidak ditujukan untuk memperingati kematian Husein. Perayaan dimaksudkan untuk memeriahkan berbagai hajatan atau event. Siapa dan dimana tempat penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik juga tidak ada kesepakatan antara masing-masing organisasi PKDP. Ini amat tergantung dari animo masing-masing masyarakat Pariaman di suatu tempat. Misalnya, pada bulan Januari 2008, PKDP Kota Padangpanjang melakukan perayaan Oyak Tabuik. Pada bulan April 2008, masyarakat kota Padang melakukan perayaan Oyak Tabuik. Pada bulan Juli 2008, masyarakat Pariaman di kabupaten Darmasraya melakukan perayaan Oyak Tabuik, sedangkan kota Bukittinggi dilakukan perayaan Oyak Tabuik pada pertengahan tahun 2007. Tahun 2007 masyarakat Pariaman di Duri dan Pekan Baru melakukan perayaan Oyak Tabuik. Tahun 2006 masyarakat Pariaman di Batam melakukan perayaan Oyak Tabuik. Jadi tempat penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik dapat dilaksanakan di daerah atau kota mana saja, tergantung dari keinginan masyarakat setempat. Dalam setiap penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik tidak diperlukan benda-benda sakral untuk kekhidmatan perayaan. Misalnya, panja atau jari-jari sebagai simbol jari-jari Husein yang terlepas akibat tebasan pedang lawan, tidak perlu diarak melintasi kota atau mengelilingi daraga. Begitu juga dengan benda-benda lainnya sebagai lambang kebesaran Husein yang diarak pada saat mengambil tanah, mengarak jari-jari,
250

dan biru. sangat sedikit sekali yang menggunakan warna kuning. Padangpanjang melakukan perayaan Oyak Tabuik pada tahun 1993 menggunakan dua tabuik. Namun biasanya masyarakat tempat penyenggara perayaan Oyak Tabuik minta bantuan untuk pemain gandang tasa yang mengiringi perayaan. yang khusus digunakan untuk perayaan tabuik. tempat. dan mengarak sorban juga tidak dilakukan. Kota-kota yang pernah melakukannya perayaan Oyak Tabuik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengambil batang pisang. dan situasi perayaannya tidak sama dengan perayaan Upacara Tabuik pada bulan Muharam di Pariaman. tidak ada keharusan memiliki tinggi yang sama dengan yang digunakan di Pariaman. Setelah perayaan selesai. Mengenai pelaku perayaan Oyak Tabuik. Perayaan Oyak Tabuik di Bukittinggi tahun 2007 juga hanya menggunakan satu tabuik saja. di Padangpanjang hanya digunakan satu tabuik saja. dan pada saat tertentu hanya menggunakan satu tabuik. dan warna yang dominan adalah putih. dilakukan oleh masyarakat Pariaman dimana perayaan Oyak Tabuik itu dilaksanakan. pada tahun 2008. Penulis menyaksikan ukuran tabuik yang digunakan di Padangpanjang tahun 2008. tabuik tidak harus dibuang. Akan tetapi. hanya memiliki tinggi sekitar 6-6. Satu hal lagi yang tidak umum dilakukan pada perayaan Oyak Tabuik adalah selesai perayaan Oyak Tabuik pada sore hari. Payakumbuh pada masa lalu juga pernah menggunakan dua tabuik dalam perayaan Oyak Tabuik di kota itu. merah. Pelakunya tidak harus didatangkan dari kota Pariaman yang biasa menjadi pelaku perayaan Upacara Tabuik. bahkan termasuk warna yang digunakan tampaknya tidak ada keharusan mengikuti cara yang digunakan di kota Pariaman pada bula Muharam. Biasanya tabuik disimpan sebagai benda budaya asset pemerintah setempat. Begitu juga dengan ukuran tinggi tabuik yang digunakan. Apalagi dibuang ke laut. Bahkan saat sekarang sudah ada pula jasa penyewaan tabuik di Bukittinggi. Padahal tinggi tabuik yang ideal adalah antara 10-12 meter. Baik dari jumlah dan ukuran tabuik. mereka adakalanya membuat dua tabuik untuk diusung dan dihoyak. 251 . tabuik dibawa kembali oleh pemiliknya. Begitu juga dengan tahun-tahun sebelumnya. Gandang tasa dapat saja didatangkan dari Pariaman sendiri atau dari kota lain. Oleh karena waktu.5 meter dengan warna dominasi kuning. Misalnya.

yang tak kalah menarik juga diamati adalah semangat para masyarakat perantau Pariaman dalam mengekspresikan diri melaksanakan Oyak Tabuik. seperti beberapa aspek sakral yang telah ditanggalkan merupakan perubahan yang terjadi pada Upacara Tabuik. tempat sakral. Oleh karena waktu sakral. benda-benda sakral. pelaku upacara atau perayaan tidak lagi memiliki kaitan langsung dari aspek makna dengan Upacara Tabuik. ia telah menyewakan tabuik yang dibuatnya ke Pekan Baru. Mereka melakukannya secara totalitas dengan penuh pengorbanan pisik. “Upacara Tabuik dalam Dimensi Sosial Budaya Masyarakat Pariaman: Keberlangsungan dan Perubahannya” (Padangpanajng: STSI. Padangpanjang. Begitu juga dengan tujuan dan maksud perayaan juga tidak lagi untuk memperingati kematian Husein27. jika suatu daerah menginginkan. Bagian yang tak terelakkan juga ada perubahan yang terjadi pada kedua upacara tersebut bisa terjadi secara parsial dan penggerusan nilai sakral. 26 Febrizal Sutan Sati (60 thn). dan pelaksanaannya. 74-79. Dari seluruh aspek penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik yang tidak lagi menggunakan cara-cara yang lazim pada perayaan Upacara Tabuik. Penutup Meskipun Upacara Tabuik dan Upacara Tabot berasal dari peristiwa yang sama (perang Karbala). Ia juga menyewakan satu grup gandang tasa lengkap dengan pemainnya untuk mengiringi perayaan Oyak Tabuik. spirit. Identitas sebagai warga yang berasal dari Pariaman benar-benar mengapung ke permukaan. 2008). Di luar megah dan meriahnya pelaksanaan Upacara Tabuik. Melalui Oyak Tabuik momentum identitas dimunculkan. 252 . dan material. pimpinan grup gandang tambua dan randai “Rabuang Kuniang” Bukittinggi (wawancara: Bukittingi. Jumlah nominal sewa yang dipungutnya relatif. bergantung pada jauh dekatnya tempat perayaan26. dan Padangpanjang. kecuali spirit kebersamaan dalam semangat yang dibangun dalam Upacara Tabuik. tetapi dalam pengimplementasian upacara sangat banyak dipengaruhi oleh interpretasi masyakarat dengan cara “pemitosan” sejarah yang kemudian seolah-olah seperti legenda. Unsur-unsur budaya lokal dan kebiasaan mayarakat juga turut mempengaruhi bentuk upacara. Desember 2007. mental. Januari 2008). Bukittinggi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Menurut Febrizal Sutan Sati. 27 Asril.

1888. Trap. diterjemahkan oleh Hartoyuwono. Leiden: EJ Brill. 2000. Michael. Hamdan Basyar ed.R dan J. “Perkembangan Musik Dol di Kota Bengkulu”. “Musik Tabot dalam Beruji Dol di Bengkulu: Tinjauan Musikologis” Laporan penelitian.. “Tabut . The Encyclopaedia of Islam: Dictionary of the Geography. dalam Tijdschri ft voor Indische Taal--. en Volkenkunde. Padangpanjang: ASKI. et al. 2009. Ethnography of Muhammadan Peoples. Land--. “Upacara Tabuik dalam Dimensi Sosial Budaya Masyarakat Pariaman: Keberlangsungan dan Perubahannya” Padangpanajng: STSI. Ronkel. Chandler dan M. W. Singgalang Minggu. “Nadere gegevens omtrent het Hasan¬Hoesain feest”. Helfrich. Terj. L.. 1998. Upacara Tradisional Daerah Bengkulu: Upacara Tabot di Kotamadya Bengkulu. Ph. Gibb. Syiah dan Politik di Indonesia: Sebuah Penelitian. Margaret J.H Kamer ed.C. “Syiah di Indonesia: Antara Mitos dan Realitas” (pengantar) dalam A. 253 . Asril. Husein Sjahid Agung. Padangpanjang: STSI. Clayton: Centre of Southeast Asia Studies. Pesta Kolosal Anak Nagari Piaman”. Tanjung. van. dkk. London: Luzac and Co. Fazl. 2008. Ricklefs (ed. Tesis S2 UGM Yogyakarta. H.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Daftar Pustaka Ahmad. ed.. et al. Kartomi. 1974. Bandung: Mizan dan PPW-LIPI. Leiden: Verlag von P. Hanefi. Adam Saleh Djakarta: PT Sinar Hudaya. M. 26 Juni 1994. Zelly Marissa. Hamidy. Batavia: Albrecht & Co. 1986. Barry. Haque.) Nineteenth and Twentieth Century Indonesia. Monash University. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Depdikbud. “Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di Pariaman Sumatra Barat”. 1914.. 1996.A. Skripsi. 2002. Azyumardi. dalam David P. O. Shorter Encyclopaedia of Islam. Azra.a Shiah Ritual Tranplanted from India to Sumatra”.. 1972.. Parsi “Tabuik. S. Badrul Munir. 1913. 1991/1992. Rahman Zainuddin dan M. Color and Symbolism in Islamic Architecture: Eight Century of the Tile Maker’s Art. “Het Hasan-Hosein of Taboet-Feest te Benkoelen”. __________. dalam Internationales Archiv fur Ethnographie. London: Thames and Hudson Ltd.

.

MENGEMAS SENI TRADISI NUSA TENGGARA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL 5 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

cerpen dan puisi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Kongso Sukoco. 256 . Dikenal pula sebagai sutradara senior lokal Mataram. Saat ini menjabat Ketua Dewan Kesenian Nusa Tenggara Barat. dikenal sebagai seniman dan penulis naskah \sandiwara.

alur bahkan durasi dan bagaimana pertunjukan diakhiri. Bagaimana proses pertemuan organisme hidup itu berlangsung sangat mempengaruhi efektifitas penyampaian informasi. isi cerita. Memang bisa saja ada perubahan dalam pertunjukan seni tradisi namun 257 . Dalam pertunjukan teater tradisi ada konvensi atau ”aturan main” yang menjadi landasan berlangsungnya komunikasi. Dalam situasi ini komunikasi tidak melulu di tingkat isi pesan. yakni pengolahan pesan dalam bingkai estetika teater dan di lain pihak berlangsung pencernaan makna yang dilakukan khalayak. Komunikasi bersifat empiris. Tontonan teater mempertemukan organisme hidup. tapi juga emosi dan bersifat situasional. Pertunjukan teater berlangsung dalam lingkungan komunitas dengan warga penonton yang sharing terhadap idiom teater tradisi. Bahwa dalam prosesnya harus dipahami. tentu tidak sekadar urusan menyampaikan pesan agar dapat diterima publik atau khalayak.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Memfungsikan Teater Tradisi Amaq Abir sebagai Media Komunikasi Tradisional Kongso Sukoco Ketua Dewan Kesenian Provinsi NTB M embicarakan teater tradisi sebagai media komunikasi. Dan tidak melulu domain ketrampilan. Khalayak memahami idiom seninya. Orang mulai memikirkan secara spesifik bila proses komunikasi itu menimbulkan masalah. Di dalamnya berlangsung reproduksi nilai. peristiwa teater (berlangsungnya komunikasi pertunjukan teater dan penontonnya) adalah peristiwa kebudayaan. antara seniman dan penonton. meski keberhasilannya terkait dengan seni dan ketrampilan.

khususnya bentuk seni pertunjukan tradisi yang efektif sebagai media penyaluran pesan informasi. pemberdayaan dan pengembangan teater tradisi – termasuk seni tradisi lainnya – yang dilakukan saat itu lebih memberatkan fungsinya sebagai ”alat” untuk mengantarkan pesan. dengan sedikit perhatian dalam mengintensifkan peristiwa komunikasi kultural. Ini faktor penting terjalinnya komunikasi yang efektif. Karena konvensi itu maka memfungsikan dan memanfaatkan teater tradisi sebagai sarana penyampai informasi pada khalayak primordialnya bisa sangat efektif. Banyak bentuk teater tradisi di Lombok yang bisa dikembangkan menjadi sarana atau media tradisional untuk penyampai informasi kebijakan pemerintah. Salah satu teater tradisi di Lombok adalah Teater Amaq Abir. Kantor Wilayah Departemen Penerangan di tiap provinsi banyak menyelenggarakan pertunjukan rakyat.merupakan jaminan bahwa motivasi penonton primordial itu akan terpenuhi. Pili258 . Harus diakui. Prioritasnya semata-mata penyampaian kebijakan pembangunan pemerintah. Kalau kita menengok masa Departemen Penerangan dengan program ”Sosio-drama”-nya. Sebab komukasi yang terbangun dalam teater tradisi adalah penyelarasan pemahaman karena adanya konvensi yang dipahami bersama. Hal itu seperti mengesampingkan pentingnya meningkatkan kualitas ”bentuk seni” kelompok-kelompok seni tradisi yang sebenarnya justru menjadi faktor penting meningkatkan efektifitas penyampateraian pesan. bertolak dari motivasi ini mereka memiliki ekspektasi terhadap pesan yang akan diterimanya. Meski ada catatan penting.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF perubahan itu selalu dikenali karena ada pertautan dengan konvensi sebelumnya (bandingkan dengan teater modern yang sering ”tidak komunikatif” dengan penontonnya karena tak pernah terjadi penyerasan konvensi tersebut). Di pelosok-pelosok desa sering kita jumpai mobil panggung pertunjukan rakyat milik Departemen Penerangan yang menggelar seni pertunjukan tradisi. penyampaian isi pesan sangat mekanis. Sebab telah terbangun kedekatan kultural kesenian itu dengan komunitas primordialnya. Salah satu sebabnya. sebelum era reformasi pemerintah menaruh perhatian besar dalam hal pemanfaatan seni tradisi. Hal itu berpengaruh positif pada eksistensi seni pertunjukan tradisi. Konvensi -.termasuk konvensi artistik -.

Namun tetap saja. Ada yang menyebutnya setelah masa kemerdekaan atau sekitar tahun 5060an (meski Teater Amaq Abir dikenal di Desa Medana. Saat pertunjukan seni sastra. Sampai tahun 70-an teater tradisi di Lombok mengalami masa keemasannya. dengan minimnya pembinaan (kalau tidak dikatakan tidak ada sama sekali) dari pemerintah setempat. musik dan tari tak memenuhi kebutuhan masyarakat untuk menjalin komunikasi dialogis. Teater ini telah membangun penonton primordialnya yang meluas di beberapa wilayah di Lombok. Namun tidak seperti Teater Cupak Gurantang dan Kemidi Rudat yang bertahan dan tetap populer hingga kini. Tumbuhnya seni pertunjukan yang verbal dan membangun komunikasi dialogis ini seiring kebutuhan masyarakatnya untuk lebih tersurat dan intens dalam mengkomunikasikan pesan moral dan paedagogik. maka seni teater mendapat tempat khusus. Kalau kita temui jejak dan pengaruh dari ” Jawa-Bali” dalam teater tradisi -. Asal-usul Teater tradisi Sasak bisa digolongkan sebagai bentuk baru dalam jajaran khasanah seni tradisi yang tumbuh di Lombok. musik dan tari. Lombok Tengah. sebaliknya Teater Amaq Abir nyaris punah. bahkan berkembang di beberapa tempat di Lombok. Teater Tradisi di Lombok a. dan kini Teater Amaq Abir sekali tempo masih dimainkan kalangan generasi muda di Desa Marong. Lombok Timur dikenal jauh sebelum jaman Jepang). nasib kepunahan itu akan terulang kembali. Lebih dari itu ada kebutuhan menjalin komunikasi dengan publik yang melintasi batas komunitasnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI han untuk mendeskripsikannya karena alasan. Tumbuhnya teater tradisi Sasak cepat mendapat dukungan luas. Karena itu dipandang penting mendeskripsikannya untuk didiskusikan bersama dalam forum ini. Pembinaan yang dilakukan Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud (pertengahan tahun 80-an) berhasil menyelamatkannya. bahwa Teater Amaq Abir sangat populer pada jamannya. Masyarakat Sasak memiliki perjalanan seni tradisi yang panjang dan kaya seperti tradisi sastra.seperti kita temui pada seni budaya Lombok (ma259 . Namun seni pertunjukan tradisi Sasak yang verbal dan dialogis – yang menjadi salah satu ciri teater tradisi – tumbuh belakangan.

Tapi paling kuat meninggalkan jejak sejarah adalah Kerajaan Karang Asem pada abad XVII-XIX (1692-1839) yang diteruskan oleh Kerajaan Mataram yang merupakan metamorfose Karang Asem sampai tahun 1894. tapi sekaligus mampu meluaskan sebaran bentuk teater tersebut di beberapa tempat. Dalam hal penguatan eksistensi perluasan publik seninya. Teater Kayaq Sandongan. Ini tak lepas dari kemampuan Lalu Nasib yang menjadi Wayang Sasak selalu kontekstual dengan publiknya. juga meninggalkan pengaruhnya pada corak seni budaya Sasak. Cupak Gurantang dan Kemidi Rudat sangat populer di komunitasnya masing-masing. Memang hanya Cupak Gurantang dan Kemidi Rudat yang mampu bertahan lebih lama. Wayang Sasak. Teater Amaq Darmi. Teater Cupak Gurantang bukan hanya menjangkau wilayah penonton yang lebih luas. Pada abad XI tercatat Anak Wungsu (Bali) datang ke Lombok. meninggalkan jejak seni budaya ”Rumpun Melayu”. Semua sastra lontar itu digubah dengan menggunakan Aksara Jejawen. Hingga kini jumlah komunitas Bali termasuk besar di Lombok. yang merupakan turunan dari Aksara Jawa. Kedatangan Kerajaan Gowa (Sulawesi Selatan) pada abad XVII. Teater Amaq Amir. yang patut mendapat perhatian khusus adalah Wayang Gerung dengan dalang legendaris Lalu Nasib. Meski demikian. Hanacaraka. Namun kebudayaan Jawa baik seni musik. Perlu diungkapkan disini.karena Lombok sempat menjadi ”persinggahan” kerajaan Jawa dan Bali. Kerajaan Gowa yang lebih dekat dengan pengaruh Melayu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF syarakat Sasak) umumnya -. Di tangan Lalu Nasib. kemudian ekspedisi militer Majapahit yang dipimpin Mahapatih Gajah Mada pada abad XIV meninggalkan jejak budaya maupun kepercayaan yang jelas. Wayang Sasak bukan hanya sanggup bertahan namun juga sangat populer di seluruh penjuru Lombok. pengaruh sastra Jawa (Madya) yang dominan itu bukan satu-satunya. teater maupun sastra lontar (Sastra Takepan). demikian pula budaya dan kepercayaan yang dianutnya terus tumbuh dan berkembang. Hal yang sama juga terjadi pada Kemidi Rudat. meninggalkan pengaruh paling kuat kuat pada masyarakat Sasak. 260 .

teater tradisi yang bentuk penyajiannya melalui tembang dan tari (dramatari). yakni persoalan etika. Tidak demikian dengan teater ”Rumpun Melayu” (Kemidi Rudat) yang kostumnya mencolok ala Arab/Turki. Perwatakan dalam teater tradisi umumnya ”stereotip”. khadam. Teater Kemidi Rudat. penolong dan menjunjung watak-watak ksatria. moral maupun komentar-komentar sosial. karena kebutuhannya untuk menampilkan cerminan keadaan dan persoalan masyarakat. Struktur teater tradisi umumnya naratif. perampok. kutub moral yang tidak kabur antara yang baik dan buruk. Pengelompokan Secara umum pengelompokan teater tradisi di Lombok bisa dikelompokkan: 1. Pada Teater Cupak-Gurantang kita temukan watak Cupak yang rakus. misalnya dalam konstum banyak yang memakai kostum sehari-hari. Teater Kayaq. permaisuri. hitamputih. Sebaliknya watak Gurantang mewakili watak mulia yaitu ihlas. Pada Teater Amaq Abir yang semula dalam narasinya dibawakan dengan cara nembang (bekayaq) pada perkembangannya menggunakan menggunakan dialog verbal agar terbangun komunikasi intens dengan penonton. Dari narasi-narasi yang diungkapkan teater tradisi. wasir. tidak pendendam. puteri. Teater Topeng.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI b. Penokohan dalam lakon teater yang terakhir ini didasarkan pada jenis mahluk dan kedudukan. semua pemainnya memakai topeng. Generasi muda di Desa marong. Kalau teater yang berasal dari ”Rumpun Jawa-Bali” (Teater Kayaq dan Terater Topeng) lebih sederhana. sebab dalam masyarakat tradisi memerlukan pijakan yang jelas. Pada ”Rumpun Bali Jawa” tekanan diberikan pada pembawaan manusia. yang dialog-dialognya seperti percakapan sehari-hari dan pemainnya juga menari. anak muda dan lain-lain. raja (Dari Baghdad dan Yaman). 3. menembang dengan iringan gamelan. penipu dan jauh dari nilai-nilai etis. diharapkan masyarakatnya mampu memahami masalah yang dihadapi dan syukur kalau bisa menyelesaikannya. Lombok Tengah kini memainkan Teater Amaq Abir dengan dialog yang dominan dari261 . 2.

malah sudah punah. 41 km dari Mataram atau 13 km dari Praya. teater tradisi dari Marong ini pertama kali mendapat pembinaan dari Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud (Sekarang Dinas Dikpora) melalui Proyek Pengembangan Kesenian pada tahun 1984. dan menampilkannya pada Festival Teater Daerah NTB. Teater Amaq Abir sudah 50 tahun tidak pernah mengadakan pementasan (jauh sebelum Jepang menduduki Lombok). tapi eksistensinya memprihatinkan. Waktu ditemukan untuk pembinaan saat itu. Tapi kenapa bukan Cupak Gurantang atau Kemidi Rudat yang lebih eksis dan masih memiliki publik yang lebih jelas? Justru karena kemerosotan Teater Amaq Abir itu lebih kontekstual dibicarakan dalam forum ini. Khusus di Desa Marong. Teater Topeng Amaq Abir yang mendapat predikat ”terbaik”. tapi dari sinilah para orang tua melepaskan anaknya untuk menonton sebab tahu dalam tontonan tersebut ada nilai-nilai yang perlu diapresiasi. Ini dimaksudkan agar teater itu bisa lebih kontekstual. Di Kabupaten Lombok Timur kita dapati di Desa Mendana bisa dikatakan ”hidup segan mati pun tak mau”. pada tahun itu juga dipentaskan di Jakarta dalam Pekan Teater Tradisi Tingkat Nasional.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pada tembangnya. Dalam uraian berikut akan dideskripsikan lebih jauh tentang Teater Amaq Abir yang sempat sangat populer pada jamannya. Saat itu pemainnya rata-rata berumur 75-80 tahun. lebih leluasa berimprovisasi dalam mengomentari persoalan-persoalan sosial dan lebih dekat dengan persoalanpersoalan kekinian. Sebagian perlengkapannya (terutama gamelan) telah dijual oleh 262 . Teater Amaq Abir Teater Topeng Amaq Abir merupakan salah satu bentuk teater tradisi Sasak yang pernah sangat populer pada jamannya. bisa jadi sekarang sudah mati. Di beberapa desa di Kabupaten Lombok Barat. Sedang di Kabupaten Lombok Tengah di Desa Marong masih sering tampil dalam acara-acara hajatan masyarakat. Tercatat pernah hidup di beberapa daerah di Lombok. Sebab cerita-ceritanya umumnya sudah diketahui penontonnya. Tapi karena langkanya pertunjukan karena pelakunya mulai tak ada. ibu kota Kabupaten Lombok Tengah. seperti di Desa Tanjung dan Narmada.

Amaq artinya Bapak. sedang yang pertama pada kebesaran moral dan ahlak. Banyak nilai-nilai yang terkandung dalam teater topeng ini. namun mereka bisa memvitalkan jiwa dan semangat di dalamnya. sedikitnya kelompok teater asal Marong ini tampil sebanyak 20 kali di berbagai acara masyarakat desa.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI yang menyimpannya karena saat itu kemiskinan menghimpit masyarakatnya. sosial dan nilai-nilai luhur lainnya yang menjelma dalam keseluruhan batang tubuh teater topeng tersebut. maksudnya adalah tokoh yang mempunyai keunggulan ada keistimewaan. Teater Amaq Abir tetap jarang tampil. kedua pengertian itu maksudnya sama yaitu sebutan Bapak Abir. yang ditampilkan adalah pemain-pemain dari generasi muda. Generasi muda di Marong memang belum mampu sepenuhnya memfungsikan teater tradisi itu. a. Tapi yang jelas. yang pernah mengikuti kursus pelatihan di Padepokan Tari Bagong Kussudiardjo di Jogja tahun 1990-an. yang dalam bahasa Sasak maksudnya. Sebenarnya sejak mendapat pembinaan itu gairah menghidupkan teater tradisi di Marong mulai tumbuh. nilai-nilai paedagogis. Tapi beberapa informan lain memberikan catatan. pihak Taman Budaya NTB juga sempat mengundang untuk pentas melalui program pementasan rutinnya. Perbedaannya. kelompok teater topeng dari Marong itu memboyong pemain-pemain yang masih muda. bahwa Abir dalam bahasa Sasak memang berarti Besar. sedangkan Abir ada yang mengatakan dari bahasa Arab ”Akbar” yang berarti besar. yang terakhir lebih ditekankan dalam arti besar fisik seseorang. Penggeraknya yang sekaligus menjadi pimpinan teater itu adalah Lalu Sahibi. Riwayat Pertumbuhan Arti Kata Beberapa informan yang ditemui di Desa Marong mengungkapkan. nama Amaq Abir yang terdiri dua kata Amaq dan Abir. baik di Mataram maupun di Jakarta. nilai-nilai artistik. Apalagi dalam acara Pekan Teater Daerah. Sejak tahun 1996. Sejarah Teater Topeng Amaq Abir tercatat pernah hidup di beberapa 263 . Pada tahun 2008.

. sedang duplikatnya berwarna merah jambu. meninggal tahun 1980 dalam usia 125 tahun. Amaq Tempenges. kedua matanya normal. semacam sesajen yang terdiri dari beras. biasanya untuk mengambil topeng selalu didahulu dengan persembahan ”andang-andang” seperti disebut 264 . Hinga kini Amaq Sitah dikenal sebagai dukun desa yang banyak didatangi masyarakat untuk minta obat orang yang kesurupan.. pergi naik haji. kelapa dan lain-lainnya. Ada lima karakter topeng yang disakralkan. yang dipakai hanya duplikatnya. Untuk menyebarkan Islam di Lombok. Ida Bagus atau Datu. Lombok Timur. benang. Konon. Topeng Amaq Abir yang asli jarang dikeluarkan untuk pementasan. uang kepeng (Cina). Di Desa Mendana teater topeng ini memang disakralkan. sirih. Salah seorang pengikutnya adalah Amaq Nursalim. misalnya di Desa Tanjung (Lombok Utara). ia membuat topeng dan memainkannya dengan pengikut-pengikutnya.Di Desa Mendana Pada awal Lombok menerima ajaran Islam. Sebelum pertunjukan. sebelah matanya agak sipit. Amaq Sitah sering kedatangan orang yang sakit minta obat. di Desa Mendana (Lombok Timur) dan Desa Marong (Lombok Tengah). Tentu saja. Tiap hari Senin dan Jumat malam Amaq Sitah membakar kemenyan di bawah tempat topeng-topeng itu. Anaknya yang bernama Amaq Sitah kalau masih hidup berusia sekitar 75 tahun) menyimpan topeng-topeng itu dalam ”besek” yang diletakkan di tempat khusus. Yang asli berwarna putih. ada seseorang yang berasal dari Sakra (sekitar 10 km dari Desa Mendana). Untuk menurunkan topeng-topeng itu harus ada mantra-mantra khusus sebagai syarat minta izin. Untuk melihat topengtopeng itu harus ada ”andang-andang”nya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF desa di Lombok. kini di semua desa itu kehidupan teater tradisi itu nyaris punah (di beberapa desa lainnya benar-benar punah karena ditinggalkan para pelakunya. Topeng Amaq Abir yang asli dimandikan dan airnya ditadah dan diminum oleh yang sakit. Amaq Abir (yang duplikat dan asli) dan topeng Haji. lumpuh dan penyakit lainnya yang berhubungan dengan guna-guna. Kembali dari Mekah ia dipanggil Haji Ali Batu.

hal-hal gaib atau sebagai pelengkap upacara sehubungan dengan hidup seseorang. Warga desa yang berusia lanjut di Marong mengungkapkan. merupakan generasi keempat (setelah Datul Somba) yang kembali membangkitkan Teater Amaq Abir. tiap akan dimulai pertunjukan selalu dengan acara doa bersama yang dipimpin oleh seorang ustadz. Sekitar tahun 1800. Pada masanya cerita Amaq Abir ini sangat populer di beberapa desa di Lombok. sebab sumber-sumber lisan yang ditemui tidak pernah menyebut upaya-upaya yang dilakukan anaknya. Sebenarnya di desa ini banyak tumbuh berbagai bentuk kesenian. termasuk di Desa Marong. Pementasannya semata-mata merupakan acara kesenian yang membawa pesan moral. sekitar tahun 1980-an warga desa sering terancam bahaya kelaparan karena daerah ini dulu termasuk dalam lingkaran ”daerah kritis Lombok Selatan”. . yaitu Lalu Darmaji. lahir sekitar tahun 1936. Sedang di Marong. perputaran waktu dan sebagainya. asal-usul cerita Amaq Abir berasal dari Kerajaan Selaparang. Tapi cucu Mamiq Rumintang. teater itu mengalami kelesuan. generasi kedua yang meneruskan usaha kedua orang tuanya. Diperkirakan setelah usaha yang dilakukan Mamiq Rumintang. Lalu 265 . Tapi versi lain menceritakan. tapi sekarang semuanya sudah banyak yang punah. Datuk Somba diperkirakan keluarga atau pengikut Haji Ali Batu yang menyebarkan Islam ke Marong. Pengarang cerita Amaq Abir dipercayai sebagai waliullah Kerajaan Selaparang. Datuk Somba punya anak bernama Mamiq Rumintang. Desa ini sering mengalami kemarau panjang.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI di atas. seorang yang bernama Mamiq Jiring yang lahir dan dibesarkan di Marong mencoba mengangkat cerita itu ke dalam bentuk teater topeng. lebih tepatnya dua pertiga warganya adalah buruh tani. Di Desa Marong teater topeng ini sama sekali tak disakralkan. Amaq Abir adalah satu-satunya judul cerita yang pernah dipentaskan.Di Desa Marong Desa Marong sebagian besar penduduknya adalah petani. yang pertama mengenalkan Amaq Abir adalah Datuk Somba. Lotim) yang meninggal tahun 1800-an. dan tidak dihubungkan dengan suatu upacara agama. berasal dari Sakra (dekat Desa Mendana.

termasuk untuk peran putri juga dimainkan laki-laki. Dalam organisasi Berkat Patuh yang terbentuk saat Kanwil Depdikbud NTB melakukan pembinaan tahun 1984. namun di Desa Mendana topeng yang dikenakan menutupi seluruh wajah. Meskipun dalam teater itu terdapat dialog-dialog tokoh-tokoh cerita. Lalu Darmaji dipercaya sebagai pimpinan organisasi teater itu. Tapi setelah mendapat pembinaan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Darmaji menjadi ”juru lakon” (berfungsi semacam sutradara). Kalau di Desa Marong dibuka dengan Tari Satang lebih merupakan tari kreasi). Selain diberi kesempatan pentas di Mataram dan Jakarta. topengnya tidak sampai menutupi mulut (agar dialognya sampai ke penonton). di Desa Mendana selalu diawali dengan Tari Oncer sebagai pembukaan. sekarang untuk memainkan tokoh putri sudah dibawakan oleh pemain perempuan. Di Desa Mendana ada tokoh-tokohnya. Bentuk Teater Amaq Abir Bentuk Teater Amaq Abir adalah teater topeng. Hingga kini. Sasak). B. organisasi kesenian dari Marong itu sudah beralih pada generasi muda. Berbeda dengan di Desa Marong. meski intensitasnya menurun. Lalu Sahibi yang memahami seni pertujukan yang memfungsikan vokal pemainnya. Teater Amaq Abir mulai dipentaskan sebagai hiburan di berbagai acara. Tokoh/karakter Baik di Desa Mendana atau di Marong. seluruh pemainnya adalah laki-laki. hanya namanya berbeda. grup teater itu juga mendapat bantuan seperangkat alat gamelan. Semua pemainnya mengenakan topeng. Sebelumnya. Sebelum pementasan selalu diawali. tari dengan diiringi alat musik seperangkat gamelan. Dalam pementasan di Taman Budaya NTB tahun 2008. karakter atau tokoh ceritanya sama. seperti: Topeng Haji Topeng Keliang Topeng Putri Topeng Papuk Dulahman 266 - . Dalam teater ini kita dapati unsur tembang (kayaq.

tokoh-tokohnya adalah: Topeng Ida Bagus/Datu Topeng Putri Topeng Amaq Abri Topeng Amaq Tempenges Topeng Amaq Baris Topeng Amaq Beang Topeng Amaq Dante dan Inaq Danti Topeng Amaq Bangkol Topeng Inaq Randa Topeng Raksasa Di Desa Marong di bawah asuhan Lalu Sahibi memang lebih kratif. kuda ini sebagai simbol dari tokoh Jayengrana dengan kudanya yang bernama Sekardiu. terdiri: Gong Gamelan Rincik Terompong Kendang Suling Petuk Jalan Cerita Baik di Mendana maupun di Marong ada kemiripan jalan 267 - .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI - Topeng Amaq Abir Topeng Amaq Ampes Topeng Raksasa Sedang di Desa Marong. tokoh Amaq Abir selalu digambarkan sebagai kstria berkuda. Baik di Mendana atau di Marong. Musik Pengiring Musik pengiri dalam Teater Amaq Abir adalah seperangkat gamelan. Konon. Toloh-tokoh baru banyak diciptakan untuk mengungkapkan persoalan-persoalan masyarakatnya dan membuat pertunjukan lebih segar.

Tokoh ini sering berjudi (sabung ayam). Kesimpulan itu bisa berlaku saat kita mencoba memahami kesenian (teater) tradisi dan modern. Suatu hari. isi cerita dan perkembangan bentuk-bentuk kesenian suatu komunitas (suatu bangsa) bisa dipahami secara utuh dalam hubungannya dengan ”pola psikologi aktual” masyarakat yang bersangkutan. Memahami Konvensi Tehnik. Kesimpulan itu pernah diungkapkan Sigfried Cracauer. dan disindir dengan cara menembang. perubahan status poleksosbud dari bangsa terjajah kemudian merdeka. ahli sejarah teoritikus film. Penguasa atau orang kaya itu akhirnya menginsyafi kesalahannya setelah mendapat nasehat dari Amaq Abir. mabuk-mabukan (minum tuak). Memfungsikan Teater Tradisi a. kemudian beranjak dari cengkraman penguasa otoriter menuju era reformasi tapi kemudian tergerus oleh selera global. Karena itu. Pelayannya yang dikenal berhati lurus ini juga sering membicarakan keburukan ini pada Putri atau anak penguasa atau orang kaya tersebut. Tingkah laku ini sering mendapat kritikan dari pelayannya. yang membedakan hanyalah nama-nama tokoh-tokohnya yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakatnya. Akhirnya bertemulah pelayan tersebut dengan Amaq Abir yang sedang berdakwah. upaya memahami ma268 . serta tingkah laku lainnya yang bertentangan dengan kepatutan atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. merupakan background sosial yang mempengaruhi dan membentuk ”pola psikologi aktual” masyarakat saat berekspresi dalam bentuk-bentuk keseniannya. Pelayan pun mendapat tugas untuk mencari orang yang bisa menemukan dan membebaskan Putri dari cengkeraman raksasa. Amaq Abir pun berhasil mengalahkan raksasa dan membebaskan Putri. nilai-nilai budaya. Perubahan-perubahan sosial politik. Gegerlah seluruh wilayah kedatuan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF cerita. sang Putri ketika berjalan-jalan di taman sari diculik oleh raksasa. mungkin dengan sedikit perbedaan dalam intensitasnya. Ceritanya berkisar tentang penguasa atau orang kaya di desa yang perangai maupun tingkah lakunya kurang terpuji.

Teater tradisi Sasak di Lombok -. Ada baiknya kita merinci perbedaan antara teater tradisi dan teater modern. Nilai-nilai artistik terungkapkan lewat tembang atau kidung. Anggota masyarakat yang menjadi pendukung kesenian tersebut bisa menghayati dan mengungkapkan pengalamannya. Teater tradisi menjadi sarana penting dalam sistem pewarisan nilai-nilai. Sedang teater modern berusaha menggambarkan realitas obyektif dengan bahasanya yang analitik prosaik. hakekat drama sebagai gerakan mempertahankan tradisi. 269 . Dalam teater tradisi terdapat konvensi-konvensi yang mengikat penampilannya. lewat teknik pembuatan topeng dan musik pengiring.berfungsi sebagai ”pranata” masyarakatnya. Misalnya. Manusia dalam teater tradisi tidak dipisahkan dari gejala metafisik-kosmik. Nilai-nilai paedagogis maupun nilai-nilai lainnya hingga kini masih dihayati masyarakat pendukungnya. menonjolkan individu sebagai entitas psikososial. Teater tradisi mengungkapkan nilai-nilai dengan cara tersirat dalam alur ceritanya serta pada penggambaran perwatakannya. dan teater itu menjadi media komunal yang (antara lain) berfungsi penyampai informasi untuk mencocokkan nilai bersama tersebut. kita selama ini memahami terdapat dua jenis bentuk teater yakni yang digolongkan sebagai ”teater tradisi” dan ”teater modern”. Pertunjukan teater mengungkapkan nilai-nilai itu dan masyarakat mencocokkan dengan konvensi yang telah terbangun bersama.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI syarakat pelaku teater tradisi dan kemungkinan ”pengembangan” nilai-nilai pesan yang disampaikannya memang harus paralel dengan background sosial yang dimaksudkan itu. dan konflik sebagai hakekat drama. Kesenian merupakan salah satu sarana menonjolkan komunalisme.seperti halnya seni tradisi lainnya -.

Pengayaan batin kolektif yang mengacu Kerangka pemikiran dan perasaan yang telah dibentuk secara kolektif 6.Satu gaya ekspresi .Mahluk dari dunia lain 3. . tapi lambang dari spiritual state (teater metafisik). a. konflik sebagai hakekat drama 4. Teatrikalisme. Perwatakan bukan entitas psikologis. merupakan bagian integral 7. Musik dapat diabaikan dari watak tokoh dan adegan/suasana 7. Teater Modern 1.Manusia fisik .Linier. Fungsi. .bukan kenyataan obyektif tapi realitas Transcendental 5. Sering disebut sebagai sebagai ”teater total” a. Penonton. Bahasa bisa prosa. puisi dan nyanyian . rasa dan kemauan b. . Salah satu kodrat manusia c.Manusia fisik 3. Struktur. Menontonnya butuh totalitas akal. . Tokoh dalam teater tradisi sadar akan ketergantungan tenaga kosmik dan spiritual 6.bahasa tidak dominan . Bahasa dan sastra sangat penting tapi berbeda kedudukannya bila dibandingkan dengan teater modern.Satu macam bahasa. Tokoh sebagai entitas psikososial 8. Penonton : .Semua arwah . Bahasa sebagai alat analisis.Penjabar dan penyampai nilai-nilai .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Teater Tradisi 1. .Satu tema pokok . sejajar dengan musik dan tari . Musik dan Tari. prosa atau puisi atau nyanyian (opera) 2. Struktur.Pengikat solidaritas . rasa ingin tahu.Tokoh. Total secara kualitatif (tehnik dan naskah) 2. nilai alternatif diperhitungkan 270 . Kesetiaan individual.bahasa lebih formal. Semata-mata menghidangkan. Total dalam tehnik. terikat pada fungsi artistik dan teatrikalnya 8. sirkuler (kosmologis masyarakat agraris) 4. secara kuantitatif b. Realisme (teater ilusionis) 5.

apa yang dikatakan nilai itu. Dalam masyarakat tradisional. Atau lebih khusus. Perubahan-perubahan nilai estetik pada gilirannya mempengaruhi nilai-nilai sosial dan moral. Nilai estetik yakni anggapan tentang indah atau sebaliknya. tiap perwujudan ekspresi seni anggota masyarakatnya dianggap menjadi bagian tak terpisahkan dari kesepakatan akan nilai-nilai bersama. Teater tradisi merupakan salah satu intitusi yang menjadi sarana pewarisan nilai-nilai dalam kebudayaan. atau hidup dalam harmoni.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Perubahan dalam apa yang disebut “pola psikologi aktual” seperti disebut di atas. Uraian yang membedakan “yang tradisi” dan “yang modern/ baru” itu untuk memperjelas. Sebagai catatan. Ini berlaku bagi kesenian tradisi atau yang modern/baru. menyebabkan pergeseran. hanya dapat tetap mempertahankan eksistensinya bila memenuhi fungsinya sebagai pengungkap pengalaman suatu komunitas sosial. adalah bagian dari dunia simbolik tersebut. pandangan dunia menentukan bentuk konvensi. Sementara pandangan faustianistis ingin memahami realitas untuk mengendalikan atau menguasai dan memanfaatkannya (eksploitasi). pendalaman dan perluasan 271 . makna maupun nilai dan norma dalam kebudayaan. karena itu (ada konvensi) harus menjaga harmoni dengan masyarakatnya. Dunia simbolik adalah dunia yang menjadi tempat diproduksi dan disimpan muatan mental dan muatan kognitif kebudayaan baik berupa pengetahuan dan kepercayaan. Suatu bentuk kesenian. Pandangan yang religius-magis berusaha memahami realitas untuk menyesuaikan diri. apa yang pantas dan sebaliknya. di kalangan ilmu sosial biasanya dianggap sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kebudayaan. dunia simbolik dalam kebudayaan. Dengan kata lain. perubahan atau pengembangan dalam kesenian. Dan untuk memahami fungsi suatu konvensi perlu dipahami pandangan dunia masyarakat atau komunitas yang menopangnya. Karena itu landasan “pengalaman bersama” harus ditemukan. ada penjernih masalah. ada hubungan kuat antara “konvensi teater” dengan “pandangan dunia”. sebab dari sana pengungkapan nilai-nilai simbolik itu butuh pengakuan. Di sana anggota masyarakat menghayati dan mengungkapkan pengalamannya. Sebab kesenian butuh “dukungan” masyarakatnya.

Dalam teater tradisi penonton sekaligus menemukan dua hal. bahwa segala konvensi untuk mengidentifikasi keindahan bentuk seni tradisi bukanlah aturan mati yang tak membuka diri dari kemungkinan berubah. yang menimbulkan resiko keracunan dalam memandang nilainilai kebudayaan. Kesenian selalu memiliki kebutuhan mengembangkan potensinya agar mampu mengakomodasi perubahan isi pesan seninya untuk menjangkau “pandangan dunia” yang lebih dari batas-batas komunitasnya. seni atau teater tradisi saat ini tentu tidak 272 . b.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pengalaman. mereka menemukan dan mencocokkan nilai-nilai yang selama ini dihayati bersama. mereka akan melihat diri mereka dan kenyataan sosial. dan pentas teater itu menjadi milik bersama. Dan kenyataannya. Pemahaman tentang “konvensi” ini penting. Kalau itu terjadi maka sebenarnya telah terjadi perampokan. seperti kita mencampuradukkan faustianisme atau religious-magis. maksuknya agar tidak kehilangan akar (tetap ada “ruh” tradisi). dua pandangan dunia yang bertentangan. Kedua. Mengambil tanpa memahami esensi estetisnya. Pemahaman sebelum melakukan penggalian nilainilai dari teater tradisi. Catatan yang terakhir ini juga penting kalau hendak memberdayakan teater tradisi sebagai Media Komunikasi Tradisional. Teater menawarkan keterlibatan secara psikis. Media Komunikasi Tradisional Uraian tentang konvensi seni atau teater tradisi di atas untuk memberi gambaran tentang pentingnya memahami pandangan dunia tradisi yang melahirkan bentuk estetik dalam keseniannya. Idiom teater selayaknya tidak hanya dilihat dari daya tarik lahiriah saja. Pertama. Sebab bisa jadi ada nilai-nilai konvensi (dalam bentuk fisik estetika) yang tak terpisahkan dari pandangan dunia yang menopangnya. jadi apa yang mereka tonton merupakan (idealisasi) pengalaman hidup sehari-hari. misalnya bagi seniman-seniman teater baru yang mencoba mengambil idiom teater tradisi. setidaknya untuk menjaga agar nilai-nilai itu tidak disalahtafsirkan. Namun harus juga dipahami.

seperti Teater Cupak Gurantang 273 . Tanpa kehilangan identitas Wayang Sasak-nya. kemungkinan perubahan dan pengembangan bentuk seni Teater Amaq Abir terbukti sangat terbuka masuknya unsur tehnik teater modern (pembinaan yang dilakukan menjelang tampil dalam festival teater tradisi di Jakarta tahun 1986). yang sebenarnya menginginkan keseniannya bisa berkomunikasi dengan publik yang lebih luas. ketiga. cerita maupun penokohan bisa dikembangkan sesuai kebutuhan. Lombok Tengah. tapi semata-mata dianggap sebagai acara kesenian yang membawa pesan moral. dengan potensi untuk “menyesuaikan diri” tersebut maka Teater Amaq Abir dengan mudah membawa “misi” penyampai muatan-muatan nilai dan moral baru. Sejak awal pertumbuhannya Teater Amaq Abir bagi masyarakat buruh tani di Marong tidak dihubungkan yang berkaitan dengan upacara agama atau hal-hal gaib. Teater Amaq Abir di Medana (Lombok Timur) yang terlanjur terikat dalam nilai religius-magis komunitasnya. Lombok Barat. pertama. akhirnya tak mampu mempertahankan eksistensinya. teater topeng ini sama sekali tak disakralkan. kedua. Mempertahankan eksistensi serta mengembangkan Teater Amaq Abir di Marong lebih memungkinkan. Hal ini merupakan bagian untuk mempertahan eksistensi seni (sebagai konkritisasi nilai-nilai) yang mampu bertandang dan diapresiasi oleh nilai-nilai di luar masyarakatnya. setidaknya teater tradisi tersebut memiliki potensi. Pada dasarnya fungsi tersebut juga bisa dilakukan teater tradisi yang lain yang kini masih eksis di Lombok. Struktur. penyesuaian “bentuk seni”-nya sebagai pengungkapan nilai estetik yang mampu menyesuaikan diri dengan apresiasi estetis publiknya. dalang Lalu Nasib sangat memahami “pola psikologi aktual” masyarakat Kecamatan Gerung. plot. pengadeganan. atau lebih jauh lagi menjadi media komunikasi tradisional yang berfungsi sebagai penyampai pesan dan media informasi yang komunikatif pada komunitasnya atau pada publik yang lebih luas. Pertunjukan Wayang Gerung dengan dalang Lalu Nasib adalah contoh bagaimana seniman tradisi mampu menjelajah ruang nilai yang melintasi batas-batas komunitasnya. Berbeda dengan yang ada di Desa Marong.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI semata-mata ditopang komunitasnya dimana kesenian itu mulai tumbuh.

Selebihnya Lalu Nasib masih memainkan wayangnya sesuai konvensi pewayangan Sasak. topeng dalam Teater Amaq Abir perlu pembinaan teknis. 274 . Peningkatan nilai estetis itu justru menguatkan kemampuan dan efektivitasnya sebagai media komunikasi tradisional. termasuk teknis penggarapan pertunjukaan yang perlu sentuhan teater modern. tembang. memfungsikan teater tradisi sebagai media komunikasi tradisional. moral atau komentas sosialnya melalu episode yang menampilkan tokoh-tokoh kocak seperti Amaq Amet. tentu tak harus mengurangi nilai estetiknya. Amaq Kisiq dan kawannya-kawannya (tokoh-tokoh yang diciptakan dari personifikasi orang Jawa. Unsur musik. Demikian juga seharusnya dalam memfungsikan teater tradisi di Lombok sebagai media komunikasi tradisional. Bentuk-bentuk seni yang menjadi konvensi estetiknya tak harus luntur. Wayang Gerung-nya Lalu Nasib menyampaikan pesan-pesan pendidikan. Keberhasilan Wayang Gerung memang tak lepas dari kesenimanan Lalu Nasib yang hingga kini belum ada duanya. Tentu saja.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan Kemidi Rudat yang masih mendapat tempat masyarakat Sasak. Amaq Locong. Bima dan bisa muncul dari etnis lainnya). bahkan bila mungkin dipertajam.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 275 .

Beberapa lagu pop Sumbawa dan Hymne/ Mars Universitas Samawa/ KSB (sudah jadi NSP) pernah dibuatnya. Sebagai pembicara Budaya di tingkat Lokal. Direktur SKENARIO 1999-sekarang. Lahir di Sumbawa. Kasi Bina Program Bid. Temu Ilmiah MSPI. Kepala Taman Budaya Prop. Pendidikan : (Formal/ Non Formal) : SGA 3 th – Kupang 1959 PGSLP 2 th jurusan Ilmu Pasti (BI) 1963 Cantrik angkatan I Padepokan Seni Bagong K. NTB 4 tahun (pensiun). 1998. Nasional : Kongres Kebudayaan V di Bukit Tinggi. Namun Musbiawan mengaku masih ada sekitar 200 puisi yang jarang dipublikasikan. Bogor 2000. Jakarta 2007. Karier : Guru Ilmu Pasti/ Kesenian 21 tahun di SMP/SPG Kepala Kebudayaan Sumbawa 7 tahun. Termasuk naskah sandiwara radio dan musik iringan tari. Kalimutu 1994. Seminar Wawasan Kebangsaan. Bali 1999. Regional. Temu Teater Nasional Yogya. Skenario Indonesia Masa Depan Komnas Ham. 26 Juli 1940. 2002. Yogya 1978/1979 Diklat Seni Tk. Seminar Seni Kawasan Timur Indonesia. Kesenian NTB 5 tahun. Seminar Seni Pertunjukan Indonesia STSI Solo. 1999.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Mustakim Biawan alias Musbiawan. Ketua Umum Dewan Kesenian NTB 2 tahun. Nasional. 276 .

Mengapa? Karena – sejatinya konflik-konflik multi dimensional yang melanda negara saat ini salah satu penyebabnya adalah mulai tersumbatnya komunikasi antar komponen bangsa. Ketika kita belum menganggap pendekatan kultural penting sehingga melahirkan generasi bringas yang mengira bahwa anarkhisme adalah solusi ampuh segala kekacauan musibah bangsa.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Seni Tradisi NTB dalam Proses Kreatif Menuju Media Komunikasi Sosial Mustakim Biawan Mantan Kepala Taman Budaya NTB etika orientasi pembangunan masih menjadikan dimensi ekonomi dan politik jadi panglima. K Kondisi Masa Lalu Seperti yang secara umum terjadi di daerah lain. Adanya kegiatan Pemetaan Seni Tradisi ini menjadi sangat penting dan harus diberi apresiasi. juga 277 . Ketika teknologi membidani lahirnya media baru “diktator baru” yang mengubah hampir semua gaya hidup bangsa. Artinya keterlibatan rakyat sangat menentukan keberhasilan program. Hal ini dimungkinkan selain karena lembaga-lembaga adat sebagai pengawal keberadaan etnik masih berperan dan dihormati – termasuk tokoh-tokoh lainnya. Tentu saja dengan selalu merujuk pada sikap bahwa geopolitik dan geokultural tidak ditentukan oleh satu pihak saja. kehidupan seni tradisi di NTB pada masa lalu berkembang dengan baik dan sangat diminati oleh hampir seluruh anggota masyarakat.

dimana hidup suku Mbojo yang meliputi 2 kabupaten yaitu kabupaten Bima dan Dompu hampir sama dengan Sumbawa. ketauladanan dan gampang dicernakan. Yang terjadi di Bima. Termasuk juga dongeng sebelum tidur yang dalam bahasa Sumbawa disebut “BATUTIR” (Bertutur). 278 . Begitu juga yang terjadi di Sumbawa: Sakeco. Lirik-lirik yang dipilih adalah lirik yang penuh dengan nasehat-nasehat yang bersumber dari PATU (Pantun) yang dipilih sesuai dengan konteks tempat dan waktu penyajian. Pada umumnya – karena sikap paternalistik masyarakat – rakyat banyak meniru ketauladanan yang ditunjukkan oleh petinggi pemerintah dalam semua tingkat yang selalu “menanggap” seni tradisi dalam hampir setiap event. Kita sepertinya sukar menentukan apakah rakyat sadar dalam mengikuti jejak bos-bos tersebut atau memang tanpa pengaruh merekapun rakyat memilih karena sudah mengakrabi kesenian tersebut cukup lama. Cupak Gurantang. Tentu saja unsur hiburannya tetap dijaga dengan baik. serta jenis-jenis teater tradisional lainnya di lima kabupaten/ kota di Lombok termasuk Wayang masih sangat diminati dan menjadi sumber belajar masyarakat lewat pesanpesannya yang penuh kearifan. Dongeng-dongeng tersebut membekas dalam kehidupan mereka hingga dewasa. sebab isinya penuh dengan pedoman kehidupan. yaitu lagu tunggal yang diiringi oleh biola tunggal yang biasanya penyanyi adalah wanita dan pemain biola laki-laki. di Bima idola dan primadonanya adalah RAWA MBOJO (Nyanyian Bima). Dongeng tersebut ada dalam kehidupan ketiga etnik di NTB walaupun dalam versi yang disesuaikan dengan idiom lokal. Kalau di Sumbawa sangat populer Seni Sakeco. selalu ditunggu anak-anak sebelum berangkat ke dunia mimpi. a.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF oleh belum adanya serbuan budaya instant yang tidak lagi bersahabat dengan nilai-nilai masa lampau tersebut. Komedi Rudat. sebuah musik tradisi yang melantunkan sastra lisan yang memuat pesan-pesan kearifan lokal lewat irama dan jenis pesan yang variatif sungguh jadi idola saat itu. Dan seperti juga semua seni radisi yang lain di NTB kadar komunikatifnya tetap selalu dijaga agar pesan yang akan disampaikan mencapai target.

Salah satunya dengan pesan-pesan yang disampaikan lewat media tradisi yang diakrabi rakyat. cerita yang kadang-kadang jadi karya yang cukup artistik tapi tidak jarang pula terjadi karya yang disuguhkan lebih mengutamakan pesan daripada aspek struktur teatrikal dan estetikanya. Ditambah lagi dari kalangan tokoh agama dan masyarakat pada waktu itu cukup banyak memberi fatwa atau petuah yang mendukung program tersebut. c. Kepatuhan rakyat terhadap tokoh-tokoh (tomas) dan pemerintah yang masih terjaga dan dipelihara akibat adanya kearifan lokal yang mengemuka dalam kehidupan ketiga etnik : .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI b. pesan-pesan pembangunan disampaikan lewat semacam seni pertunjukan yang biasa disebut pertunjukan rakyat atau lebih dikenal dengan sosiodrama. Hal ini berlangsung cukup lama apalagi setelah program KB mewarnai aspek hidup masyarakat.Sabalong Samalewa (Samawa) . Ada saatnya – terutama masa orde baru. Dalam proses kreatifnya terjadi penentuan pesan-pesan dari kalangan birokrasi lalu lewat kreativitas para seniman dimasukkan ke dalam sekwen. ada hal yang perlu dicatat yaitu catatan lisan tentang pemasungan kreativitas seniman. Program-program tersebut dianggap berhasil disebabkan oleh beberapa hal antara lain : a. Selain dari sukses-sukses tersebut. Sifat pemerintah pada saat itu yang otoriter menyebabkan seniman-seniman tradisional yang 279 . Ledakan jumlah penduduk yang menghantui masa depan kesejahteraan Indonesia harus segara diredam dengan berbagai cara. b.Maja Labo Dahu (Mbojo) Secara tidak langsung membantu keberhasilan program tersebut.Patut Patuh Pacu (Sasak) . Dua buah intitusi birokrasi yaitu Deppen dan Depdikbud sangat solid dan gencar bekerjasama dalam proses pembentukan karyakarya seni pertujukan yang ampuh dan mampu memukau rakyat sekaligus menimbulkan kesadaran akan pentingnya ber KB (Penilik Kebudayaan dan Jupen sangat pegang peranan).

Walaupun media tradisi cukup subur tumbuh di hampir semua daerah. Kelahiran teknologi baru tehun 1962 yang bernama TVRI bukannya menambah wadah kreativitas sang seniman malahan cuma menambah alat penyampaian pesan pemerintah yang tanpa saingan apalagi ada seperti yang kelihatan sekarang dialog interaktif semacam “SUARA ANDA” di sebuah stasiun TV SWASTA. Budaya instan tanpa pandang bulu melanda seluruh wilayah nusantara. Kondisi Masa Sekarang Tumbangnya Orde Baru diganti Orde Reformasi tahun 1998. Barangkali ada benarnya seperti yang dikatakan oleh George Orwell yang mengemukakan bahwa media yang dikuasai oleh seorang tiran akan sangat melipat gandakan kekuatan dan kekuasaan untuk menindas dari Sang Tiran kepada rakyatnya. seni “modern” ataupun yang kontemporer yang dengan kemampuannya yang tinggi dalam aspek kreativitas tidak jarang berhadapan dengan penguasa sebab karyanya yang menurut mereka cukup menggugah diterjemahkan oleh penguasa cukup menggugat sehingga diberangus. Televisi” menjadi pedoman sehari-hari sehingga 280 . Moh. Dr. Keadaan ini “dipelihara” dengan cerdas oleh penguasa lewat Deppen yang merupakan corong tunggal kebijakan pemerintah tanpa dialog seimbang dengan rakyat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ingin mengembangkan gagasan-gagasan baru di luar pakem apalagi memasukkan gaya yang mengeritik kebijakan pemerintah adalah hal yang mustahil. tapi pertumbuhannya lebih disebabkan oleh ketiadaan pilihan lain selain berkreasi dan mempertahankan asap dapur. Program baru menggiatkan pariwisata membuat NTB bergegas membenahi diri – setelah ditetapkan sebagai salah satu DTW handal di Indonesia. Sebelum itu sekitar 1989 mulai bebas tumbuhnya stasiun TV Swasta dan aroma kebebasan berbicara mewarnai hampir semua aspek kehidupan tidak lalu menyebabkan media tradisi tambah berkembang sesuai arus globalisasi. termasuk di NTB. Jangankan media tradisi. Kondisi ini cukup lama dipertahankan. Hal-hal baru yang diajarkan oleh “sang diktator baru” yang berjuluk “Prof. memberi kebebasan kepada warga untuk berkarya.

Tapi keadaan itu belum mampu membalikkan “kejayaan” seni tradisi masa Orde Baru. bukan mendorong pemberdayaan masyarakat. 281 . Kondisi organisasi seni tradisi yang mengusung teater tradisional misalnya di Lombok “Komedi Rudat” sudah jarang ditanggap. Media tradisi nyaris tidak dapat tempat lagi. Apalagi dengan wajah kehidupan ekonomi masa kini yang cukup memprihatinkan. gaya hidup. Pesan-pesan pembangunan lebih banyak Cuma jadi porsi TVRI sedangkan TV Swasta lebih banyak mengadakan berita sensasional – iklan-iklan – gosip-gosip – sinetron yang lebih banyak jual mimpi dan mistik-mistik. Muatan-muatan atau pesan-pesan yang sebelumnya banyak mengandung unsur kearifan lokal (local wisdom) karena tuntutan zaman berubah menjadi pesan sebuah seni media yang cuma jadi aspirin yang tidak menyembuhkan permasalahan masyarakat tetapi mengarahkan manusia pada suatu mimpi. Tentang honorarium tersebut sering terjadi ada calo yang nakal “menyunat” honor mereka dengan dalih macam-macam yang diamini begitu saja oleh anggota group yang memang lugu. kalah bersaing dengan gemerlap layar kaca dan seni modern lainnya yang berkiblat pada daya bius budaya instant. Tapi dibandingkan dengan masa lalu – bila dilihat dari jumlah pertunjukan sudah berkurang intensitasnya. Khusus di NTB masih terjadi sampai saat ini group-group seni tradisi menjadi korban para calo yang secara sepihak menentukan apa dan bagaimana group tersebut harus bermain dan berapa hak yang mereka dapat. Wayang Sasak di Lombok. Memang ada yang masih tetap bertahan karena adanya event musiman pariwisata atau karena kepiawaian seniman pendukungnya membaca tanda-tanda zaman semisal Cupak Gurantang. Sakeco di Sumbawa dan Rawa Mbojo di Bima dan Dompu. anggota-anggotanya ada yang jadi TKI ke negeri Jiran. Memang ada satu dua stasiun yang kelihatan peduli terhadap seni tradisi semisal Ketoprak Humor di RCTI – Wayang di Indosiar dan TV Lokal NTB : Lombok TV. Keadaan di NTB pun demikian.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI terjadi situasi yang tak terduga sebelumnya di saat mana masyarakat tidak peduli pada apapun yang tidak menghibur. Hobby bermain mereka dalam seni tradisi secara perlahan ditukar dengan hobby baru yang tanpa pilihan : mencari penopang kehidupan lewat krya-karya baru di wilayah yang sangat asing dari aroma kesenian.

Pesan-pesan pembangunan yang diharapkan lebih tersosialisasi lewat media seni tradisional yang komunikatif dan unik akan dengan mudah menyebar dan diserap masyarakat ketimbang pidato panjang dan rumit elit-elit politik. Semoga!! Prospek Pengembangan Masa Depan Pada dasarnya sebuah upaya pengembangan budaya adalah bagian dari pelestarian. Adanya hajatan besar Pemda NTB mengadakan VISIT LOMBOK SUMBAWA 2012 yang tujuan utamanya menjadikan NTB destinasi jempolan di Indonesia barangkali bukan cuma mimpi. Kelihatannya – mudah-mudahan – senimanseniman tradisional akan banyak dapat peluang dalam berkarya akhirakhir ini. harusnya menjadi cair dan mudah-mudahan saling mengerti dan memaafkan. Sejatinya – oleh warga NTB terutama seniman – ajang VLS 2012 diharapkan dapat sedikit memberi harapan kepada bangkitnya seni tradisi – tentu saja yang komunikatif – di tengah budaya asal jadi saat ini. Tetapi hajat kita lewat pemetaan saat ini bukan cuma sekadar menambah isi kocek sang seniman atau calo yang memperdaya mereka. Saat ini organisasi seni tradisi sudah mulai bergegas membenahi diri untuk menjadi salah satu “barang dagangan” pada ajang tersebut. budaya yang aneka. atau bahkan antara rakyat dengan rakyat sehingga melahirkan konflik berkepanjangan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Tetapi hal tersebut sudah mulai berkurang sejak adanya pembinaan organisasi seni yang diadakan oleh lembaga pemerintah maupun swasta. khas dan unik adalah potensi yang menjanjikan ke arah itu. Dari kalangan pemerintah oleh Disbudpar dan Diskominfo dan kalangan swasta pada tahun 1999 oleh yayasan KELOLA yang dibiayai oleh Ford Fondation. Alam yang indah. Dalam kaitannya dengan upaya pengembangan seni tradisi untuk 282 . Sumbatan-sumbatan komunikasi selama ini dirasakan antar komponen bangsa : antar pemerintah dan rakyat atau pemerintah dengan sesama pemerintah. Sudah tentu harus memenuhi kriteria layak tampil – layak jual dan akhirnya layak dibayar. pengembangan dan pemanfaatan. yang mempunyai 3 aspek yaitu perlindungan. Di dalam potensi tersebut ada seni tradisional yang perlu “dipoles” sebagai seni turistik sudah tentu tanpa menghilangkan roh tradisinya.

Festival/ Lomba Seni 283 . atau pakem. Jadi artinya dapat dapat dan mungkin diubah. Sehubungan dengan hal tersebut. misalnya . Event-event yang mendukung kreativitas seniman cukup banyak. 2. Dalam kegiatan ini harus dapat disepakati bahwa pakem-pakem yang ada pola-pola ataupun bentuk seni tradisi adalah sebuah produk seni dan bukan syahadat kita yang baru. 3. demi berbagai tujuan yang lebih khusus.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI jadi media komunikasi sosial. 2. Untuk menumbuhkan kepekaan dan toleransi dalam pergaulan antar sesama. maka beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam upaya pengembangan menjadikan seni tradisi yang komunikatif di NTB sebagai media komunikasi sosial adalah sebagai berikut : 1. Mengadakan upaya pengembangan lewat usaha kolaborasi antara seniman akademis dengan bakat alam atau tradisional. 2. Jenis pesan atau muatan yang mengandung pendidikan kultural. spiritual dan komentar sosial. Inventarisasi jenis-jenis seni tradisional yang komunikatif di seluruh wilayah NTB termasuk di dalamnya deskripsi lengkap tentang aspek-aspek : a. Contoh : BCB (Bulan Citra Budaya). 3. ada beberapa faktor pendukung kearah tersebut : 1. formal maupun non formal atau pendidikan masyarakat. b. Merujuk kepada hal-hal tersebut dan TOR dari kegiatan ini. Pemanfaatan seni tradisi untuk tujuan pendidikan adalah sebagai substansi untuk disosialisasikan. Untuk memacu internalisasi nilai-nilai budaya yang dapat memperkuat integritas sebagai bangsa yang mampu menjunjung moral yang tinggi. Bentuk. kita sebenarnya membicarakan pemanfaatan seni tersebut untuk tujuan pendidikan baik yang terstruktur maupun tidak terstruktur. Potensi untuk berubah. Masyarakat cukup terbuka terhadap pembaharuan. c. Untuk tingkatkan dan tumbuhkan kesadaran sejarah. Potensi seni-budaya NTB beragam dan khas. 1. pola.

Contoh upaya pengembangan : 1. Wayang sasak Dengan mulai munculnya Dalang muda. Sebenarnya kalangan penonton yang kebanyakan sudah mulai bosan dengan pakem dan pesan yang sama dari tahun ke tahun datang menonton lebih disebabkan mau mendengar banyolan baru hadam karena pakem statis tak memberi nuansa segar. Walaupun sebagian besar para Dalang masih asyik terjebak dalam pola-pola lama tanpa ingin menikmati “kebebasan” yang diberikan oleh reformasi tapi ada beberapa yang mencoba “melawan” tradisi den284 . maka yang kita bicarakan dipersempit kepada jenis-jenis tersebut. Di Pulau Lombok Rata-rata seni tradisi di Lombok adalah seni kerakyatan. harapan kita di NTB terhadap pengembangan seni tradisi cukup baik.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Tradisi dan saat ini sedang giat menyiapkan diri terhadap kegiatan skala besar bidang pariwisata yaitu VISIT LOMBOK SUMBAWA 2012. dipentaskan di arena terbuka dan mempunyai ciri khas dan unik serta komunikatif. Kita dapat menyatakan bahwa kemungkinan pengembangan di masa yang akan datang tidak akan mengalami banyak hambatan. Misalnya : Komedi Rudat Dapat dikembangkan dengan memberikan nuansa humor yang “dipelajari” dari jenis humor masa kini (apakah lewat tv ataupun pentas terbuka) agar dapat lebih dihayati oleh audience tanpa menghilangkan roh cerita yang bernuansa Arab-Melayu. Juga fungsi hadam yang dominan dapat lebih dimaksimalkan dengan tambahan pesan-pesan cerdas tentang hal-hal factual yang terjadi. sudah tentu dengan tetap mengedepankan keutuhan cerita (unity) dan aspek artistik. Begitu pula pola dan bentuknya. Karena yang diharapkan dalam pemetaan ini adalah seni tradisional yang komunikatif.

Tetapi Sumbawa dalam khasanah seni musik tradisional cukup kaya. Yang paling populer saat ini ialah musik SAKECO. Syukurlah NTB masih memiliki rakyat yang memberi apresiasi tinggi terhadap seni wayang walaupun tanpa malu-malu menganggap budaya instan adalah segala-galanya sebagai pedoman kehidupan. 2. Ambil contoh misalnya Wayang Sasak Lalu Nasib (Panginang Robek). termasuk generasi muda. Balawas. Di Sumbawa Etnik Samawa yang tersebar di dua Kabupaten yaitu Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat tidak memiliki teater tradisional dalam pengertian teater terstruktur seperti Komedi Rudat atau Wayang di Lombok. dll yang dalam takaran komunikatif agak kurang.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI gan upaya-upaya kreatif. Bagesa. Walaupun saat ini pamornya sudah mulai memudar akibat banyolan-banyolannya kadang-kadang nyerempet hal-hal sensitif. Dan upaya ini menambah asap dapur anggota groupnya. Batutir. tetapi sejarah mencatat bahwa dia berani meretas penghalang kreativitas dalam berkesenian. Apalagi serbuan-serbuan seni kontemporer lewat panggung-panggung glamour layar-layar kaca seakan-akan meminta media tradisi untuk segera undur diri dari panggung seni Indonesia. Lewat banyolan-banyolannya yang nyerempet wilayah pornografi yang khas sejak dekade 90an keatas cukup mendapat tempat di hati penonton. Ada juga teater tradisional yang lain semacam Cupak Gurantang dan Topeng Amaq Abir yang mengambil cerita dari Serat Menak yang masih digandrungi masyarakat walaupun dalam jumlah terbatas karena wilayah pertunjukannya juga terbatas. Jadilah dia tumpuan pesanan dari instansi pemerintah yang punya program yang harus disosialisasikan lewat media wayang. Pesan285 . Di Sumbawa Cuma ada (smpai saat ini) teater mula berupa Ngumang. Sakeco adalah duet tradisional Sumbawa yang melantunkan LAWAS (Sastra Lisan Sumbawa) diiringi rebana dalam irama yang sangat variatif dan kelincahan duet yang rampak.

Saat ini (dalam kurun waktu 3 tahun terakhir) sudah dicoba kembangkan Sakeco wanita dan ternyata dapat sambutan yang lumayan baik dari masyarakat. Di Bima/ Dompu Etnik Mbojo yang mendiami Kab. yang segar dan sarat dengan variasi irama dan pesan. Artinya racik (irama yang mirip rap) harus lebih diperbanyak karena seperti dalam wayang racik adalah seolah-olah punakawan yang ditunggu banyolan segarnya. • Jenis-jenis pesan melalui lirik-lirik lawas atau cerita-cerita agar lebih diseleksi tanpa menghilangkan sifat khas Sakeco. Begitu juga RABALAS LAWAS atau sejenis BERBALAS PANTUN yang sudah sering dilombakan antar kecamatan. yang perlu diperhatikan adalah : • Perubahan irama harus lebih terasa. Isi lawas sangat lentur dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Dalam upaya pengembangan. dibuat komposisi yang lebih baik dan pesan-pesan yang dipilih lebih pas dengan situasi. dll. Selain Sakeco ada satu lagi seni tradisi Sumbawa yang layak dikembang jadi media komunikasi sosial yaitu NGUMANG : semacam penyampaian (ekspresi) seorang pria yang sambil memegang sebatang kayu berhias dengan suara giring-giring menggerak-gerakkan tubuhnya dalam gerak tari khas sambil menyampaikan lawas di hadapan gadis-gadis atau audience dalam event-event tertentu seperti Karapan Kerbau dan – saat ini – di dalam pawai. Seperti juga yang 286 . Untuk pengembangan dapat ditambah jumlah orang sehingga vokal jadi lebih menarik. 3. Bima dan Dompu memiliki seni musik khas yang disebut RAWA MBOJO.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pesan yang disampaikan berasal dari Lawas atau kejadian yang sedang IN yang dikemas dalam kadar komunikasi yang intens dengan audience. (ingat pameo Sumbawa “Kurang racik kurang maras”) • Mengenai waktu penyajian yang biasanya semalam suntuk (sampai keluarnya Nasi Goreng) dapat dirancang agar lebih dipadatkan tanpa mengurangi daya pukaunya.

maka upaya pengembangannya cukup berhasil walaupun belum berhasil menggaet anak muda untuk berpaling dari dunia mereka : musik modern yang serba canggih mengasyikkan. seniman-seniman di kedua daerah tersebut telah mencoba mengangkat Rawa Mbojo lewat persentuhan dengan irama yang merajai wilayah musik tanah air saat ini yang disebut DANGDUT. tetapi karena settingnya tidak lagi statis (panggungnya mulai dibenahi). 2. Prestasi nasional baru-baru ini sebagai penyanyi terbaik lagu pop daerah tingkat nasional di Jakarta memberi semangat kepada musisi pop daerah Sumbawa untuk berkarya. Daripada ditinggalkan pendukungnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI terjadi di Sumbawa. • Event-event pariwista dan festival atau lomba seni yang diadakan oleh pemerintah dan swasta cukup memberi peluang kepada para seniman atau pelaku seni untuk mengembangkan karya. Karena lirik-lirik lagu tersebut kebanyakan berasal dari sastra lisan tradisional maka peluang penyampaian pesan-pesan moral cukup baik. Lomba cipta lagu pop sering diadakan terutama di Sumbawa. Ada satu hal yang layak dikembangkan bagi ketiga etnik di NTB yaitu maraknya penciptaan lagu pop daerah yang sudah diproduksi secara besar-besaran dari tahun ketahun dan cukup diminati rakyat. Kesimpulan • Media tradisional NTB masih punya potensi untuk menjadi media komunikasi sosial. Walaupun lirik-liriknya hampir sama dengan pesan-pesan yang sama. Saran-saran • Dalam setiap usaha pengembangan agar selalu dijaga keseim287 . kaidah-kaidah pentas sebagai sebuah seni pertunjukan mulai diakrabi. Penutup 1. sneiman-seniman rawa Mbojo mengadakan perpaduan antara irama asli mbojo dengan gempitanya Dangdut yang lalu menghasilkan karya yang mulai digandrungi lagi oleh khalayak. Ada juga Kapatu yang sama dengan Rabalas Lawas di Sumbawa.

Temu Teater Nasional Yogyakarta. Kekuatan Itu Dimulai Ketika Cinta Bau Bensin. Otonomi daerah yang dihajatkan untuk memberi peluang maksimal bagi daerah dalam pengembangan segala kehidupan termasuk budaya jangan dijadikan ajang pemenuhan nafsu politik dan ekonomi semata. Dialog Interaktif Bappeda NTB. Made Bandem Melacak Identitas di tengah Budaya Global. ______. Fred Wibowo Seni Media dan Media Seni. Kerth Tester Media Cultural Morality. 2003. Temu Ilmiah MSPI. 1999 Mus Biawan Semangat Etnis Teater Kita. Daftar Pustaka Edi Sedyawati.Temu Teater Nasional Yogyakarta. 1999. 2002. Kemajuan teknologi harus dimanfaatkan secara maximal untuk mengembangkan kreativitas seniman disertai peningkatan frekuensi festival/ lomba seni terutama seni tradisional. Seminar Seni Pertunjukan Indonesia Seri I STSI Surakarta. Bagaimanapun hambatan-hambatan komunikasi yang akhirakhir ini terasa menjadi penghambat kemajuan bangsa. Mataram. Prof. Tirtagangga. 1998 288 . Juxtapose. Peningkatan Pemanfaatan Tradisi Seni Budaya Sebagai Obyek Daya Tarik Pariwisata. Agar seniman yang berprestasi mendapat apresiasi sesuai dengan mutu karya-karya dan pengabdiannya. barangkali salah satu sebabnya adalah karena pembuat kebijakan belum begitu mengerti yang diinginkan rakyat disebabkan adanya barikade protokuler yang sengaja dibuat untuk mengurangi keakraban penguasa dengan rakyatnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF • • • • bangan antara porsi pesan dan unsur artistik sehingga karya yang dihasilkan adalah karya unity yang dapat diterima secara “ikhlas” oleh pendukungnya. Dr. 1999.

Paraya Timur Lombok Tengah NTB (didirkan tahun 1987) : Lalu Sahibi : Komang Restu (tlp : 0370 654706) : Teater Topeng Amaq Abir : : : : Dasan Agung Mataram M. Suanda Putra Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan 3. Gerung Lombok Barat Pimpinan : Nuradi Kontak Person : Materi Garapan : Wayang Sasak 5. Desa Marong Kec. Yusuf M. Darma Kerti Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan : Dusun Batu Pandang. Yusuf Cupak Gurantang 2. Pimpinan : Guru Bangka Kontak Person : Suhardi (Tlp : 0376 22454) Materi Garapan : Komedi Rudat 289 Alamat . Pringgabaya. Kec. Baluq Diarsa Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan : Dusun Karang Bliq. Komedi Rudat Borok Alamat : Desa Buntiang. Lombok Timur : Sukiman : : Topeng amaq Abir 4. Sakra Lombok Timur. Desa Sapit Kec.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI LAMPIRAN DAFTAR KONTAK ORGANISASI SENI TRADISIONAL NTB LOMBOK 1. Gema Karyawan : Depdikbud Kec.

Doro Kumbe Alamat : Kec. Sahiruddin Kontak Person : Sukardi (Tlp. 0371 22720) Materi Garapan : Sakeco 3. Sumbawa Pimpinan : Hasanuddin. Hilir Ismail (Tlp. Sumbawa. S. dll.Pd. PLK Kab. Wayang Lalu Nasib Alamat : Gerung Lombok Barat Pimpinan : Lalu Nasib Materi Garapan : Wayang Sasak 8. Kontak Person : Jemaan (tlp. 0374 42408) Materi Garapan : Musik Tradisional 290 . S. S. 0370 622068) Materi Garapan : Teater tradisional. (Hp. Sumbawa. Pimpinan : Maladi. Kontak Person : Hasanuddin.Pd. Rasange Bima Pimpinan : H. Kec. Kemang Satange Alamat : Pelat. 08123719063) Materi Garapan : semua jenis seni 2. 0370 621209) Materi Garapan : Komedi Rudat 7. SUMBAWA 1. Purnama Ria Alamat : Gapuk Selatan Dasan Agung Mataram Pimpinan : Ramiun Kontak Person : Ramiun (tlp.Pd. Komedi Rudat Kembali Jaya Alamat : Penede Gandor Lombok Timur Pimpinan : Drs. Muhtar Kontak Person : Drs.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 6. Kab. Sumbawa Alamat : Kantor Budpar Kab.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 4. Sumbawa Barat 6. 0374 42408) Musik Tradisi 84261 5. Dompu Zulkifly Adidin Rifai. 2000. Utan 4. SH (tlp. Harin Alamat : Kaiang Moyo Hilir Subawa 291 . Kec. Editor dan penulis artikel Sapardi Djoko Damono. Kahar/ Mustafa (Sambu) Alamat : Kec. DUET SAKECO 1. Wera Bima H. Darmiati/ Rukaiyah (perempuan) Alamat : Desa Seminar Kab. Abd. Tini Cs (perempuan) Alamat : Kec. 0373 22807) Musik Tradisional Taliwang. Kab. Syamsuddin/ Sukardi Alamat : Pamulung 3. Alamat : Moyohilir Sumbawa 2. Usman Drs. Ompu Nae Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan Sumber : Direktori Seni dan Budaya Indonesia. Hilir Ismail (tlp. Kempo. Kec. Abdul Horin Cs. Mada Duli Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan : : : : : : : : Desa Kempu. Utan 5. Diterbitkan oleh Yayasan Kelola atas bantuan Ford Foundation.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF aram. M. Pemerhati Komunikasi dan Dosen Ilmu Komunikasi IAIN Mat- 292 . Kadri. Dr.Si.

Memang. Namun ekspektasi ideal tersebut di atas harus berhadapan dengan kecenderungan memudarnya seni dan budaya tradisional di setiap daerah. kini tidak banyak lagi dikenal oleh generasi muda. upaya pelestarian dan penanaman kencintaan public (terutama generasi muda) terhadap seni dan budaya tradisional menjadi tugas K 293 . untuk dilestarikan dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. upaya pelestarian dan pewarisan senibudaya tradisional menjadi tugas yang tidak mudah di tengah semakin terbukannya akses masyarakat untuk mempelajari seni dan budaya asing lewat kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. M.Si Pakar Komunikasi IAIN Mataram Pengantar eragaman seni dan budaya merupakan salah satu karakter bangsa Indonesia yang membedakannya dengan negara lain. Sehingga tidak heran bila anak-anak lebih banyak mengenal nilai dan budaya asing ketimbang seni dan budaya sendiri. Kadri. Sungguh banyak nilai dan pelajaran yang dapat diambil dari setiap seni dan budaya tradisional untuk dijadikan sebagai referensi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Mengemas Seni Tradisional Komunikatif NTB untuk Media Komunikasi Sosial Dr. Pada saat bersamaan mereka (generasi muda) tidak bisa melepaskan diri dari ‘serangan’ budaya global yang terus menerpa. Keragaman ini sekaligus menjadi kekayaan bangsa yang tak ternilai. Oleh karena itu. Seni dan budaya tradisional yang selama ini menjadi kebanggaan.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF awal yang mesti direalisasikan. saat ini sangat susah ditemukan. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang didiami oleh tiga etnik mayoritas (Sasak. sebelum berbicara tentang pemanfaatan seni tradisional sebagai media komunikasi sosial. yang baru mendapat perhatian beberapa tahun terakhir. Di sisi lain. Permainan ini diiringi dengan alunan musik tradisional Mbojo. memiliki seni dan budaya tradisional yang beragam. Budaya Gantao1 yang pernah semarak di Bima (suku Mbojo) misalnya kini sangat jarang lagi dipentaskan dalam setiap pesta budaya di Bima. Prosesi pernikahan dengan adat Mbojo pun sudah mulai disederhanakan dan mengikuti prosesi budaya modern. 294 . Kondisi ini diperparah lagi dengan minimnya perhatian pemerintah untuk melestarikan seni dan budaya tradisional setiap daerah. 1 Gantao adalah sejenis permainan bela diri pencak silat yang melibatkan dua orang lelaki Bima dengan memperagakan adegan saling serang menggunakan kaki dan tangan untuk saling banting. Selama ini seni dan budaya tradisional masih dimaknai sebatas karya seni pemuas naluri estetika setiap orang. Belum lagi kita berbicara tentang cagar dan bangunan budaya. di antaranya menjadikan seni tradisional sebagai media komunikasi sosial. bersamaan dengan giatnya kampanye pariwisata di provinsi dan kabupaten yang ada di NTB. Beberapa seni dan budaya tradisional yang selama ini menjadi produk dan pernah dihidupkan oleh rakyat Bumi Gora. Rumah-rumah tradisional Bima seperti rumah panggung bukan lagi menjadi kebanggaan. Generasi muda pun tidak lagi menjadikan seni tradisional ini sebagai karya dan seni yang disenangi. Eksistensi Seni Tradisional di tengah Media Modern Tidak mudah untuk mempertahankan eksistensi seni tradisional di tengah membanjirnya seni dan budaya global. dan Mbojo) serta etnik-etnik lainnya. Samawa. mengharuskan pemerintah daerah untuk menggunakan media komunikasi yang beragam. Namun harus diakui bahwa eksistensi seni dan budaya tradisional di NTB mengalami ‘reduksi’. meskipun belakangan mulai terlihat adanya perhatian pemerintah daerah. Satu-satunya yang masih tertinggal adalah gaung penganten yang menggunakan adat Mbojo. karakter geografis NTB yang kepulauan dan terdiri dari wilayah yang masih jauh dari pusat ibu kota provinsi dan kabupaten. sehingga belum banyak yang berpikir pemanfaatan hal tersebut sebagai sebagai media komunikasi untuk menyampaikan pesan social baik oleh pemerintah kepada publik secara vertical maupun secara horizontal di antara masyarakat.

rumah panggung masih menjadi kebanggaan. Pemanfaatan seni dan budaya tradisional yang minim tidak hanya dilakukan oleh rakyat atau media massa. Sebagian besar acara dan isi tayangan media massa kita cenderung hedonis. Pemerintah daerah lebih senang menggunakan media modern seperti televisi. Kini keluarga baru sudah senang dengan rumah-rumah berarsitek modern. dan juga di komunitas Sasak. Rumah adat yang berjenis rumah panggung dan kayu bukan lagi menjadi rumah favorit. Kota Mataram mungkin dapat dikecualikan dalam generalisasi ini. Bahkan orang tua pun tengah melakukan upaya ’pemudaran’ rumah panggung untuk diganti dengan rumah modern. Di samping itu. surat kabar. Dalam konteks seni tradisional juga mengalami reduksi peminat. Seni tradisional Sasak seperti Teater Cepung dan Teater Cupak Gerantang misalnya saat ini tidak lagi menjadi seni teater yang masif digandrungi. dan baliho sebagai sarana kampanye program atau kampanye publik (public campaign). Selama ini sangat susat 295 . Banyak faktor yang menyebabkan fenomena pereduksian seni budaya tradisional terjadi. Kemudahan mengakses informasi berkontribusi bagi entengnya mereka (generasi muda) untuk mengkonsumsi seni budaya apa saja dengan dukungan visualisasi dan audio mutakhir. Sangat susah ditemukan acara atau tayangan media massa tentang seni tradisional daerah tertentu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Pada puluhan tahun silam. Sebagai contoh. Kecenderungan yang tidak terlalu beda juga terjadi di Sumbawa (suku Samawa). Salah satunya adalah pengaruh kehidupan global yang dimotori oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. pemerintah belum optimal mengupayakan pelestarian dan pengembangan seni tradisional. Dalam beberapa kebijakannya. belum banyak setiap pemerintah daerah yang ada di NTB mengadakan atraksi dan kompetisi seni dan budaya tradisional di tingkat pelajar. meskipun apa yang dilakukan pemerintah kota Mataram belum maksimal. tetapi juga oleh pemerintah. Pengaruh ini terutama melanda generasi muda. pemerintah juga belum bisa mengoptimalkan eksistensi seni dan budaya tradisional sebagai media komunikasi sosial. Belum lagi kita berbicara tentang wajah televisi dan media massa kita (Indonesia). dengan mempraktekkan dan mengajarkan gaya hidup bergelimang kemewahan dengan asesoris modern yang jauh dari identitas tradisional. radio. dan bahkan menjadi mahar favorit yang disediakan oleh penganten pria.

faktor media yang digunakan juga turut berkontribusi menciptakan komunikasi yang efektif. Komunikasi dalam konteks ini harus dimaknai secara luas. dan masyarakat pada umumnya) harus membangun tekad yang sama untuk menjadikan seni dan budaya tradisional sebagai media komunikasi sosial sekaligus sebagai perekat ikatan sosial di antara warga se-etnik dan se-bangsa. Di samping itu. Kita masih memiliki harapan karena proses reduksi seni budaya tradisional tidak berlangsung secara radikal (tidak menjadi gerakkan anti budaya tradisional secara massal). pengusaha. dengan cara mendorong pegiat media dan penyiaran yang ada di NTB untuk menyiapkan paket seni buya tradisional untuk ditayangkan di media nasional. Ketika pemerintah menjadikan seni tradisional sebagai media komunikasi sosial tentu akan memberikan keuntungan ganda. yang ti296 . Momentum ini dapat dimanfaatkan sebagai wadah yang baik untuk mengkampanyekan atau mensosialisasikan seni dan budaya tradisional setiap daerah. Ketepatan memilih media komunikasi dan kelihaian mengemas tampilan media yang telah dipilih merupakan kunci keefektifan komunikasi yang dilakukan. sekaligus untuk mengimbangi serangan budaya global yang kian mengancam. Efektifitas Komunikasi Melalui Seni Tradisional Salah satu ukuran efektif dan tidaknya komunikasi adalah ketika apa yang dimaksudkan oleh pengirim pesan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF terlihat (untuk mengatakan tidak pernah) seni tradisional dimanfaatkan sebagai sarana publikasi dan penyampai informasi pembangunan dan sosial lainnya dari pemerintah. Di samping itu. Ketika hal ini dapat diwujudkan maka sedahsat apapun serangan informasi dan media global. yakni melestarikan seni budaya tradisional sekaligus membantu kesuksesan program yang dilaksanakan. sama dengan apa yang dipahami oleh penerima pesan. pemerintah juga harus memanfaatkan amanah Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran. yang antara lain menganjurkan untuk mengakomodir sepuluh porsen (10% porsen) siaran berkonten lokal bagi televisi berjaringan nasional. Ini berarti kita masih memiliki sisasisa ruang dan waktu untuk merevitalisasi seni tradisional di benak publik. tidak akan mampu menggoyahkan kecintaan anak bangsa terhadap seni dan budayanya sendiri. Secara pelan tapi pasti setiap kalangan (pemerintah.

Ketika seni tradisional telah diminati masyarakat dan dikemas secara menarik. (4) diambil keputusan (decide) untuk menerimannya. maka dalam konteks seni dan budaya tradisional.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dak hanya sebatas komunikasi verbal tetapi juga yang nonverbal. tentu saja hal tersebut akan membuat seni tradisional dapat dengan mudah berperan sebagai media komunikasi sosial yang menjadi pilihan publik. (3) berkeinginan (desire) untuk menerimannya. (1) pesan tersebut mendapat perhatian (Attention) sasaran pesan. maka prasyarat awal yang harus dilakukan dalam rangka menjadikan seni tradisional sebagai media komunikasi yang efektif (komunikatif) adalah bagaimana menjadikan atau mengemas seni tradisional sebagai suatu karya seni yang diperhatikan atau diminati oleh masyarakat agar mereka tertarik. Bandung: Citra Aditya Bhakti 297 . Oleh beberapa pakar komunikasi. Oleh karena itu. 2 Teori ini pada dasarnya merupakan teori yang berkaitan dengan penggunaan media massa oleh khalayak. pada umumnya tradisi komunikasi orang Indonesia menggunakan jenis komunikasi konteks tinggi. Dengan pemaknaan yang luas seperti ini. Suatu pesan akan diterima dengan baik antara lain ketika pesan tersebut memenuhi empat unsur. dan (5) dilaksanakan (action) sesuai dengan isi pesan. komunikasi tidak hanya dimaknai dalam konteks seni pertujukan dan nyayian serta musik yang berbasis verbal. Dalam asumsi dasar teori uses and gratifications 2 dikatakan bahwa penggunaan media yang dilakukan oleh seseorang bergantung kebutuhan dan ketertarikannya terhadap suatu pesan yang ditawarkan. tetapi juga menyangkut seni dan budaya yang berdimensi nonverbal. 2000. Ketika hal ini dapat diwujudkan maka proses transfer pesan sosial lewat seni tradisional menjadi relatif mudah. Apabila mengikuti alur komunikasi atau proses transfer pesan seperti di atas. Upaya ini penting ketika hendak menyelipkan pesan-pesan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan sosial dan pembangunan yang akan melibatkan partisipasi publik untuk mensukseskannya. (2) menarik perhatian (interest) yang menerimanya. yakni. segala produk dan wujud seni mesti dimaknai sebagai bentuk pesan yang memiliki makna tersendiri. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. Suatu hal yang tidak kalah pentingnya adalah menjadikan seni tradisional sebagai suatu kebutuhan setiap individu. Lihat Effendy.

maka ada jaminan bahwa komunikasi tersebut akan berlangsung secara efektif. 2002. berputar-putar atau gaya komunikasi yang tidak simpel dan tidak langsung pada point dan sasaran utama. Seni tradisional merupakan ikatan emosional yang dapat dijadikan sebagai perekat komunikasi sosial di antara masyarakat. Tradisi komunikasi seperti ini lebih relevan dengan karakter seni tradisional yang ada (khususnya di NTB). Esensi pesan yang terkandung di dalamnya pun tidak bisa diperoleh secara instan. 3 Lihat Deddy Mulyana. Kebanyakan orang Indonesia senang dengan gaya bertutur melalui proses panjang menuju sasaran. atau Teater Sakeco dan musik berpantun ”Bakelong” (yang berasal dari suku Samawa) merupakan bentuk seni tradisional yang berkarakter dialogis dengan durasi waktu yang relatif lama. dan akan menghasilkan sesuatu yang lebih kontributif. bahwa langkah awal yang harus dilakukan untuk menjadian seni tradisional NTB sebagai media komunikasi sosial yang efektif adalah dengan menjadikan hal tersebut sebagai hiburan atau karya seni yang digandrungi publik. Ketika ikon ini dapat dikemas dengan sebaik-baiknya menjadi media komunikasi sosial. Salah satu prinsip komunikasi disebutkan bahwa ”semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi”3. Menjadikan Seni Tradisional NTB sebagai Media Komunikasi Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya. Prinsip komunikasi ini semakin mempertegas bahwa komunikasi yang efektif tidak terlepas dari adanya kesamaan nilai sosial dan budaya. Teater Cupak Gerantang (yang berasal dari suku Sasak). ketika orang yang ber-etnik sama membicarakan persoalan yang sama lewat media komunikasi yang sama.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF yakni cara berkomunikasi yang berbelit-belit. Teater-teater tradisional seperti teater Cepung. Seni tradisional merupakan salah satu ikon kesamaan yang bisa menyatukan setiap perbedaan personal. Artinya. Bandung: Rosda 298 . Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Kesamaan sosial dan budaya bukan hanya dalam konteks kesamaan nilai dan seni yang dimiliki tetapi juga kesamaan latarbelakang etnik dan suku dari setiap peserta (orang yang terlibat dalam) komunikasi. maka proses transfer pesan lewat seni tradisional menjadi lebih efektif. Ikatan emosional atas persamaan sosial dan budaya menjadi faktor penting dalam kesuksesan komunikasi manusia.

Hal yang lebih penting lagi adalah bagaimana menanamkan kencintaan terhadap seni dan budaya tradisional sejak usia dini. Saatnya alat permainan edukatif (APE) lebih banyak menyuguhkan permainan dari bahan lokal dan bermuatan nilai lokal.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk merevitalisasi eksistensi seni tradisional di tengah tantangan global yang multi bentuk. Proses identifikasi ini penting terutama untuk menentukan strategi pemanfaatan seni tradisional yang ada secara tepat dan efesien sehingga bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan yang diinginkan. Kurikulum tentang seni dan budaya tradisional harus mendapat perhatian maksimal sebagai langkah akademik untuk menanamkan nilai dan kearifan lokal pada diri setiap anak. Event-event seni budaya tradisional harus terus digalakkan di setiap jenjang pendidikan dasar dan menengah. nyanyian-nyanyian yang tidak terlalu mendidik dan minim muatan lokal. agar anak cinta produk lokal. Selama ini. diperlukan identifikasi menyeluruh terhadap karya dan jenis seni tradisional yang ada. Proses penanaman kecintaan ini harus terus berjalan (tanpa terikat dengan waktu dan ruang). Untuk kebutuhan optimalisasi performance seperti inilah. Ben299 . Komitmen yang tinggi untuk menjadikan seni tradisional NTB sebagai media komunikasi sosial tidak cukup sampai penanaman kesadaran mencintainya. Permainan-permainan anak di PAUD dan TK formal harus direkonstruksi. anak kita banyak disuguhi dengan permainan modern yang tidak jelas asal usulnya. sambil mengambil upaya serius untuk mengemas seni tradisional yang ada agar menjadi produk atau karya yang diminati. Penanaman nilai dan kecintaan terhadap seni tradisional dapat dilakukan lewat berbagai cara. Hal yang sama dapat dilakukan di pendidikan formal dengan cara mereformasi kebijakan dan kurikulum Pendidikan SD sampai SMA. dan seni serta budaya tradisional. Setiap momen apapun harus dimanfaatkan untuk mensosialisasikan seni tradisional. Dua di antaranya adalah lewat pendidikan nonformal dan formal. Usia dini merupakan waktu yang tepat untuk penanaman nilai dan tradisi tertentu dengan harapan akan membekas dan turut mewarnai aktivitasnya di masa yang akan datang. karya sendiri. Dibutuhkan kemasan yang serius dengan dukungan maksimal dari semua kalangan untuk mengkampanyekan atau mensosialisasikan seni tradisional agar mendapat tempat di hati rakyat.

Seni tradisional berkarakter seperti ini sangat berpotensi untuk mengumpulkan massa yang lebih banyak. Yang dimaksud dengan kategori seni tradisional yang pertama ini adalah semua seni tradisional yang yang tidak berkarakter penyampai pesan secara langsung. Kedua. Seni tradisional dalam kategori kedua ini adalah semua seni tradisional yang berbasis drama dan teater. Tentu saja untuk mewujudkan hal ini membutuhkan sentuhan ide dan tangan kreatif seniman di setiap daerah. Selama ini dalam penghamatan saya. Pada umumnya yang termasuk dalam kategori ini adalah karya seni non drama/teater. Momen berkumpulnya massa itulah yang dapat dimanfaatkan oleh siapapun untuk menyelipkan agenda-agenda tambahan terutama dalam menyampaikan pesan tertentu sesuai kebutuhan. yakni sekitar tahun 1850an. seperti musik tradisional. 300 . Teater Cepung. yakni: Pertama. seperti: a. lirik lagu biola di Bima lebih banyak didominasi oleh lirik asmara dan percintaan. yang muncul tidak lama setelah penulisan lontar ”Tutur Monyeh oleh Jero Mihran. seni tradisional yang dapat dijadikan sebagai media penghimpun massa. tanpa menghilangkan nilai historis dari setiap karya seni yang ada. dan agama. dalam pergelaran seni tari juga dapat dimodifikasi sehingga dapat lebih komunikatif. dalam artian tidak hanya pesan nonverbal lewat gerakan anggota badan tetapi juga bisa dengan membuat improvisasi musik pengiring dengan lagu-lagu sarat pesan tertentu. Dalam seni tradisional Bima seperti ”Biola” misalnya dapat diselipkan irama lagu perpantun yang mengandung pesan-pesan sosial tertentu. sosial. Peran teater cepung di tengah masyarakat Sasak menyangkut berbagai aspek seperti politik. Teater ini merupakan teater klasik yang berasal dari etnik Sasak. Di samping itu. seni tradisional yang dapat dimanfaatkan secara langsung sebagai media komunikasi sosial. ekonomi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dasarkan identifikasi sederhana terhadap seni tradisional di NTB. maka dapat dibagi dua jenis seni tradisional dalam konteks penggunaannya sebagai media komunikasi sosial. apalagi bila dikemas dan dimodifikasi semenarik mungkin. pergelaran pertunjukan tradisional. dan berbagai tari tradisional di provinsi NTB.

Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta 301 . kritik sosial. Sayang hingga saat ini. apalagi aktor yang terlibat dalam teater itu adalah seluruh representasi masyarakat yang ada.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI karena lontar Tutur Monyeh sebagai sumber teater Cepung yang berisi tentang nilai. 2010. yaitu pendidikan moral. 4 Salman Alfarisi. sangat tepat untuk menjadikan seni tradisional seperti teater dan drama sebagai media komunikasinya. Teater Sakeco. Penutup Gambaran panjang lebar di atas semakin mempertegas betapa pentingnya seni tradisional daerah NTB sebagai media komunikasi sosial. Tesis. teater dan drama memiliki posisi strategis dan dapat berperan sebagai forum penghilang ketegangan dan pencair perbedaan. Alur cerita yang ada dalam teater tersebut sangat mungkin untuk dimodifikasi dan diselipi dengan pesan-pesan tertentu yang penuh makna. Karakter wilayah NTB dengan tingkat konflik sosial yang relatif masih tinggi. eksistensi kedua teater tersebut akan lebih bermakna sebagai media yang komunikatif ketika keduanya telah digandrungi oleh masyarakat. Sebagai bentuk apresiasi seni. Teater ini adalah karya seni tradisional yang berasal dari suku Samawa. ritual. Bahkan menurut penelitian Alfarisi4 b. keberadaan keduanya tidak seperti saat awal keberadaannya. Saya sangat tertarik dengan upaya yang dilakukan oleh sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Eropa yang merekrut beberapa pelajar di wilayah konflik di NTB untuk diajarkan atau dilatih drama bertema perdamaian/persamaan yang akan dipentaskan di depan saudara dan orang tua mereka. dan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat Sasak. berisi tentang dialog komedi berpantun yang diiringi dengan alat musik tradisional seperti gendang dan rebana Kedua jenis teater di atas merupaka dua karya seni berbasis drama/ teater yang dapat dimanfaatkan secara langsung sebagai media komunikasi sosial. Namun lagi-lagi. Teater Cepung Lombok (Kajian Tekstual Seni Pertunjukan). LSM ternama tersebut sadar benar bahwa karya seni seperti drama dan teater menjadi wadah yang efektif untuk menyampaikan pesan bermakna.

302 . Lebih dari itu. pemerintah daerah harus memberi apresiasi (dukungan) yang serius untuk menyediakan fasilitas seni dan budaya sebagai wadah dan ruang ekspresi publik sekaligus sebagai benteng pelestarian budaya lokal. Sosialisasi dan penanaman kesadaran berbudaya dan mencintai seni tradisional sendiri merupakan langkah awal yang baik menuju efektifitasnya pemanfaatan seni tradisional NTB sebagai media komunikasi sosial.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Atas dasar kesadaran itulah dibutuhkan upaya serius semua kalangan untuk mengidentifikasi dan memodifikasi kemasan seni tradisional agar dapat dimanfaatkan sebagai media yang komunikatif dalam menyampaikan pesan sosial tertentu.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 303 .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 304 .

PENUTUP 6 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 306 .

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Lestarikan Media Tradisi Suprawoto ulu ketika penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) belum seperti saat sekarang. Sistem pemerintahan lebih memberikan otonomi yang luas. di tengah TIK yang makin berkembang tapi informasi tentang program pemerintah oleh masyarakat luas relatif sulit tersebar dan dipahami masyarakat. Bayangkan jika separuh kabupaten/ 307 D . Ketika reformasi bergulir. Kondisi ini memicu terjadi paradoks. utamanya kepada pemerintah kabupaten/kota. Memang sistem yang dibangun waktu itu sangat sentralistik. Sebaliknya. pasokan informasi dari pemerintah daerah pun relatif lambat dipahami oleh pemerintah pusat. Ibaratnya komunikasi bisa dibangun seperti kontak listrik. ketika TIK akses komunikasi menjadi semakin mudah. informasi tentang kebijakan pemerintah bisa diketahui pemerintah daerah dengan cepat. Pemerintah tinggal menghidupkan saklar on/off-nya saja lantas semua infomasi dari atas bisa tersebar luas dan relatif seragam. demikian pula media massa berada dalam kontrol pemerintah. Memang ada ironi di kalangan pemerintah. tapi komunikasi antar lembaga justru terasa tidak lancar? Ketidaklancaran tercermin dari betapa banyaknya kantor perwakilan pemerintah daerah yang berada di Jakarta. dapat mudah kita temukan kantor perwakilan pemerintah kabupaten atau kota. Di beberapa penjuru kota.

wayang Bali. televisi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kota punya perwakilan di Jakarta! Berapa ratus gedung harus dibangun? Berapa anggaran yang mesti dikeluarkan? Kalau perwakilan pemerintah provinsi mungkin masih sesuai dengan konteks pembagian kewenangan pemerintahan. menghadapi Bencana dan lain sebagainya. dan sebagainya masih sangat digemari masyarakat. adalah melakukan penyebaran informasi atau diseminasi informasi dan komunikasi kepada masyarakat. ketoprak. Peta Poang. Dul Muluk. ternyata media tradisional komunikatif seperti wayang kulit. Agar yang menikmati pertunjukan bukan hanya yang hadir di tempat pertunjukan diselenggarakan. Ada beberapa pengalaman menarik dalam menggunakan seni tradisi untuk diseminasi informasi kebijakan publik. penanggulangan Flu Burung. Terbukti setiap pementasan selalu dipenuhi pengunjung. Bukan untuk kepentingan kelompok atau partai tertentu. Baik media mainstream (radio. *** Perlunya kebijakan pemerintah untuk dapat segera dipahami masyarakat luas. Penyebaran informasi saat ini betulbetul harus merupakan informasi untuk kepentingan masyarakat banyak. Kantor perwakilan pemerintah provinsi dibutuhkan bisa menjembatani koordinasi kewenangan pengaturan pemerintah pusat dan daerah. Seperti kebijakan Pemerintah tentang kenaikan BBM. wayang golek. maka juga disiarkan RRI atau radio lokal setempat dan juga siaran langsung/tunda di TVRI setempat atau nasional. Untuk itulah. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Penanggulangan HIV/ AIDS. Pertama. Di beberapa kawasan Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Informatika mencoba mengembangkan komunikasi dan penyebaran informasi melalui berbagai media. sewaktu Menteri Komunikasi dan Informatika (semasa dijabat M. Hal ini tentunya sesuai dengan salah satu tugas Kementerian Komunikasi dan Informatika. mengingat seni tradisi komunikatif masih efektif untuk penyampaian pesan tentang kebijakan Pemerintah. maka pada tahun 2009. Nuh) meminta mencoba untuk mencari masukan dari para ahli di bidangnya bagaimana ke depan dan sekaligus memetakan seni tradisi yang komunikatif dimaksud. pengalaman 308 . dan cetak) hingga media baru bahkan media tradisonal yang komunikatif.

namun itupun pentasnya hanya sekali seminggu. sekarang bisa dihitung dengan jari. Demikian kondisi pertunjuan seni tradisi saat ini. yang kalau di Jawa seperti Kentrung. yakni Wayang Orang Sriwedari diSurakarta. Pengalaman kedua ketika diminta untuk menjelaskan mengenai kenaikan BBM dan program BLT (Bantuan Langsung Tunai). Banyak tantangan yang dihadapi. Seni itu efektif sekali untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang program Pemerintah khususnya mengenai infromasi tentang MoU Helsinki waktu itu. Karena dengan bahasa dan kesenian lokal masih lebih efektif untuk segera dipahami. Di setiap pertunjukkannya kemudian disiarkan RRI atau radio setempat. Seperti Ketoprak Suryo Budoyo di Kediri nasibnya tak jauh berbeda. Salah satu media yang digunakan juga menggunakan seni tradisi. Itupun penontonnya sangat sedikit dapat dihitung dengan jari. Di Aceh kami gunakan seni tradisi semacam teater tutur “poh tem” . Di Jawa digunakan wayang kulit. Di kota Surabaya sendiri. Ludruk tinggal satu yang pentas. Malahan kadang-kadang sebagian besar turis asing. Demikian juga di Sumsel dan Riau Kepulauan. yaitu yang di Wonokromo. Tentunya itu bukan satu-satunya cara untuk menjawab eksistensi seni tradisi komunikatif. Wayang Orang Bharata yang dulunya demikian mendapat tempat di hati warga kota Jakarta saat ini pentas secara rutin hanya sekali seminggu. Malahan Ketoprak Siswo Budoyo dari Tulung Agung yang demikian legendaris bagi masyarakat Jawa khususnya Jawa Timur sudah lama gulung tikar. seni Dul Muluk tidak 309 . Yang masih ada nasibnya kembang kempis.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI saat menjadi ketua tim sosialisasi MoU Helsinki di kalangan masyarakat Aceh juga menunjukkan betapa seni tradisi dapat berperan penting. kini hanya ada satu seni tradisi yang pentas secara rutin. Ternyata luar biasa penontonnya. Seni ludruk keliling yang dulunya begitu banyak di Jawa Timur saat ini nasibnya sangat menyedihkan. Malah dalam prakteknya. di Jawa misalnya. Selama ini Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menggelar ratusan kali pertunjukan seni tradisi komunikatif untuk menyampaikan kebijakan Pemerintah tersebut. ketoprak yang digelar di alun-alun kemudian disiarkan langsung oleh TVRI dan RRI. Di Jakarta sendiri. melestarikan seni tradisi bukanlah hal mudah. Saat ini saja sudah terbukti. Demikian juga Ketoprak yang dulunya sangat banyak group keliling.

Total kru ketoprak yang berdiri sejak 12 tahun silam 40 orang. Padahal total jumlah kru pemain dan wiyogo mencapai Rp 40 orang (Surya 7 September 2011).” tambahnya. Sehingga baginya berapa pun jumlah penonton. Namun. pertunjukan tetap berlangsung sampai selesai dengan durasi permainan sekitar tiga jam lebih. mulai dari sepinya penonton sampai guyuran hujan deras yang membatalkan pentas. bahkan gulung tikar vakum kegiatan.” tuturnya.” ungkapnya. Namun. “Setiap bulan puasa jumlah penonton sangat sepi. “Bagi kami. Jika penonton yang membeli karcis hanya 20 orang. karena para personel benar-benar memiliki jiwa seni. Anang mengungkapkan. pertunjukan ketoprak harus tetap jalan. “Beginilah kondisi kami serba sederhana.000. Mereka ini selain seniman pemain juga para wiyogo atau penabuh gamelan serta kru pendukung lainnya. tapi kami tetap bermain berapapun penontonnya. Kabupaten Kediri. Kesenian ketoprak juga termasuk kesenian padat karya yang melibatkan banyak pemain. Malahan. Pernah suatu ketika jumlah penonton yang membeli tiket masuk hanya belasan orang.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Seniman Ketoprak Mencoba Bertahan dalam Impitan (1) Tiket Rp 2. Suka duka sudah dilalui para seniman ketoprak itu. berarti uang yang diperoleh hanya Rp 40. 310 . Bangunan tobong atau tonil tempat pemain ketoprak bermain juga sangat sederhana alias ala kadarnya. Diakui Anang Sukardi. Namun. Penonton Cuma 20 ”Hampir setahun ini Ketoprak Suryo Budoyo manggung di lapangan Desa Padangan. Uang memang penting tapi yang terpenting bagi kami adalah jiwa seni. Diakuinya kelompoknya sudah sering jatuh bangun. semua halangan itu tak mampu memupus jiwa seni para pemain ketoprak pimpinan Ki Anang Sukardi yang memiliki nama panggung Pak Koyek. Kecamatan Kayen Kidul. grup ketopraknya selalu nrima ing pandum atau menerima apa adanya rezeki yang diperoleh dari bermain ketoprak. Bambu yang menjadi tiang penyangga terlihat sudah banyak yang lapuk. Harga tiket masuk ketoprak Suryo Budoyo hanya dijual Rp 2. grup ini akhirnya tetap bertahan. uang bukan segala-galanya. Termasuk para senimannya banyak yang tinggal di belakang tonil dengan membuat kamar-kamar darurat yang seringkali bocor saat diguyur hujan deras. saat ini kesenian ketoprak semakin tersisih serta kalah dengan pertunjukan sinetron dan film yang banyak diputar di layar TV.000. Kami tetap bertahan karena ingin melestarikan kesenian ini agar jangan sampai punah.000 setiap pertunjukan.

Oleh sebab itu sekarang perlu di-up date lagi agar bisa menjadi salah satu referensi bagi kita semua. saat nonton wayang kulit yang dipentaskan semalam suntuk. salah satu pemicu perubahan peradaban terjadi karena teknologi. sudah ada yang menggunakan lampu dan infokus (LCD Projector). apa salahnya sekarang dilakukan kembali. Semua itu memengaruhi cara kita melihat dan menikmati wayang. Dari latar belakang itulah. sayang tidak ditayangkan pada jam-jam prime time. yang menjadi pertanyaan terkait seni tradisi komunikatif ini dimana posisinya? Apakah masih bisa berada di dunia realitas ataukah bisa juga bertahan di tengah perkembangan teknologi yang sedemikian dahsyat dalam dunia yang seolah makin tanpa batas ini? Dalam konsep materialisme Thorstein Veblen. Tidak ada salahnya meniru yang baik. Di Bali ada dalang wayang cengblong yang main pada saat bersamaan empat orang sekaligus. Utamanya di tengah perkembangan teknologi sekarang. Bagaimana teknologi telah memengaruhi dalam pertunjukkan seni tradisi komunikatif. Menurut catatan yang dapat ditelusuri. Jika dulu pernah dilakukan oleh pemerintah Orde Baru dan berhasil. Dulu kala ketika saya kecil. blencong atau lampu penerangan untuk layar digunakan petromak. salah satu alasan Kemenkominfo tergerak menggunakan seni tradisi untuk mengkomunikasikan kebijakan pemerintah. Dari fakta di atas. Paradigma ini tentunya ada benarnya juga. Kurun waktu 37 tahun tentunya telah terjadi prubahan dan pergeseran. Kemudian di Jawa Barat ada Asep Sunarya yang bisa menampilkan efek tambahan yang menarik penon311 . Televisi memang masih ada yang mementaskan seni tradisi. terakhir pada tahun 1974 waktu itu Departemen Penerangan melakukan pemetaan dan dibukukan dalam peta seni tradisi yang komunikatif.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dipentaskan secara rutin. Sementara sekarang ini. Dengan catatan. tentunya ada beberapa catatan dan dokumen tentang hal tersebut. jelas bahwa pertunjukan seni tradisi semakin lama makin berkurang. Oleh karena sejak Pemerintahan terdahulu penggunaan seni tradisi komunikatif telah dilakukan untuk penyampaian program Pemerintah. Apalagi ini terkait dengan upaya pelestarian budaya bangsa. kalau dulu diseminasi melalui seni tradisi komunikatif untuk kepentingan penguasa saat ini lebih ditekankan pada penyampaian program Pemerintah yang perlu segera dipahami dan untuk kepentingan publik.

ada leher salah satu kepala wayang tertebas senjata hingga terpotong. Makalah-makalah yang disajikan dalam diskusi ini sangat menarik. Thomas L. kemudian kami share kepada pembaca. Banyak kegelisahan mengenai kelangsungan hidup seni tradisi yang menjadi perhatian berbagai pihak. Kalau melihat sisi positip. tapi mengupayakan agar Kominfo akan mendukung hidup seni tradisi yang ada dengan cara menggandeng untuk kegiatan sosialisasi kebijakan pemerintah. ada peluang untuk itu. setidak-tidaknya bisa menjadi dasar kebijakan. Friedman dalam buku The World of Flat bercerita tentang bagaimana dampak teknologi terhadap pergaulan dunia dan interaksi antar manusia. Kominfo tidak hanya melaksanakan diskusi saja. Oleh sebab itulah. * 312 . Dengan demikian Kementerian Kominfo mengharapkan masukan dari para ahli sekaligus setelah memetakan seni tradisi yang komunikatif. Pak Asep bisa menampilkan cipratan darah karena bantuan teknologi. sekaligus memprovokasi untuk ikut mencari jalan keluarnya. Saya melihat ini juga bisa dianggap jadi peluang bagi seni tradisi yang kita cintai. agar menjadi kegelisahan kita semua. Misalnya dengan internet. rekaman pertunjukan seni tradisi begitu bisa kita upload dari Padang Panjang dan bisa dilihat di manapun juga. Selanjutnya Kominfo bisa mengunakan seni tradisi itu untuk diseminasi kebijakan Pemerintah di seluruh Indonesia.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ton. Kalau adegan perang tanding. Dengan demikian untuk seni tradisi ini.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 313 .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF KALIMANTAN SUAMTERA JAKARTA JAWA 314 .

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI SULAWESI MALUKU PAPUA NUSA TENGGARA 315 .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 316 .

ketika penulis akhirnya bertemu dengan Suryadi Wanasukarja BA. namun tak banyak warga Trucuk yang kenal. namanya saja banyak yang tidak tahu. Bambang mengaku sudah kenal dengan Suryadi. Kab Klaten. Jateng. Wayang Golek. Kec Trucuk. Kendati penulis sudah memberi keterangan tambahan bahwa nama yang dicari adalah ‘Suryadi dalang Wayang Sadat’. B egitulah nasib Wayang Sadat. Lelaki dua anak ini baru percaya Wayang Sadat benar-benar ada. “Saya malah baru tahu dari njenengan (anda—red) kalau ada wayang yang namanya Wayang Sadat. jangankan wujud keseniannya.” kilah Bambang. Kalau Wayang Kulit. Tapi Wayang Sadat saya tidak pernah dengar.” kata Bambang (19 th). Anehnya. Kini. Suryadi hanya tersenyum kecut mendengar penuturan Bambang. Wayang Wong (Orang— red). sang dalang yang dicari-cari.” imbuh Bambang. “Yang namanya Suryadi di sini banyak. bukan dalang Wayang Sadat. mas. kesenian tradisional yang namanya pernah berkibar pada zaman Orde Baru. namun yang ia tahu profesi Suryadi adalah guru. Zaman memang telah menyilapkan kata Wayang Sadat dari pemaha317 . saya tahu. tapi beliau seorang guru. tukang ojek yang mengantarkan penulis menjelajahi Desa Mireng. bukan dalang.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Catatan Akhir Senjakala Sang Penenang Kalbu Nursodik Gunarjo Butuh waktu satu jam lebih untuk menemukan rumah Suryadi di Desa Mireng. tapi Suryadi dalang Wayang Sadat saya tidak tahu. “Kalau Pak Suryadi yang ini sih saya sudah kenal sejak lama.

” tutur bapak empat anak ini sambil menghapus debu yang melekat di kotak wayang dengan kemoceng. blangkon atau berpeci. Suryadi adalah dalang Wayang Sadat terkemuka di Kabupaten Klaten. ia dibersihkan dengan lap basah satu per satu. “Terakhir saya membersihkan wayang ini bulan Februari 2008. semua tokoh yang ada dalam wayang ini mengenakan alas kaki. saat kotak dibuka. melainkan Para sunan/wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa seperti Sunan Bonang. “Sudah setahun lebih kotak wayang ini tidak dibuka. Syukurlah. sepatu maupun sandal. Moga-moga saja wayangnya tidak ikut dimakan rayap. wayang yang sepintas modelnya mirip dengan Wayang Kulit itu. Wajar jika sekarang ia tidak tahu apa itu Wayang Sadat. Sunan Giri. Sunan Kalijaga dan lainnya yang jumlahnya sembilan orang (Wali Songo). Penggiat seni ini lantas menjajarkan tokoh-tokoh Wayang Sadat di atas meja. bahkan sudut bawah kotak wayang yang terbuat dari kayu tampak keropos.” urai lelaki 318 .” kata Suryadi. sebelum latihan pentas di halaman rumah saya ini. Padahal pada era 80-an. wayangnya masih utuh. Ia lantas mengajak penulis ke salah satu ruang di rumahnya. blencong atau lampu pertunjukan dan satu kotak wayang. Hanya catnya tampak kusam karena terbalut debu lumayan tebal. Mas Bambang belum lahir. tabuh gamelan berbagai jenis. kelir dari kain putih. Di sana masih ada seperangkat gamelan slendro-pelog lengkap. Uniknya. Jangan heran kalau nama tokohnya bukan Gatotkaca. “Filosofinya adalah para wali dan tokoh muslim lainnya dalam wayang ini selalu suci atau terjaga dari najis dan hadats.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF man anak muda sepantaran Bambang. ditambah tokoh-tokoh lain dari zaman Kerajaan Demak Bintoro. Semuanya tampak berdebu. “Mungkin waktu saya masih sering di-tanggap (pentas—red) dulu. Kresna atau Bima.” tuturnya. Sunan Drajat. Sarana Dakwah dan Penyejuk Kalbu Berbeda dengan Wayang Kulit yang tokoh-tokohnya diambil dari cerita Ramayana dan Mahabharata. Pakaiannya berciri khas Islam yakni berjubah dan bersorban—kecuali Sunan Kalijaga yang digambarkan mengenakan pakaian adat Jawa—sementara masyarakat umum digambarkan memakai ikat kepala. Dengan hati-hati. baik terompah. peraga Wayang Sadat diambil dari tokoh-tokoh sejarah Kerajaan Demak dan Babad Tanah Jawa.

yakni penyebaran agama Islam khususnya pada zaman Demak Bintoro. Karena pakelirannya padat. dan kutipan ayat-ayat Al-Qur’an. dan blangkon. “Ini memang termasuk wayang realis. Kapan Wayang Sadat lahir. hingga karakter sungging (tatahan) wayang. namun cukup empat jam. Selain itu. keris. Nama “Sadat” sendiri diambilkan dari akronim. “Sifat wayang ini memang sangat religius Islami. jarit. semua mirip dengan Wayang Kulit. maka Wayang Sadar sering dipentaskan untuk mucuki (pentas pendahuluan) pagelaran Wayang Kulit. antawacana (dialog—red). Niyaga (penabuh gamelan) mengenakan baju muslim (baju koko). Hanya di dalam Wayang Sadat ditambah dengan shalawat nabi. dalang Wayang Sadat justru mengenakan jubah biasa (seperti surjan) dan surban di kepalanya. “Gending-gending (musik pengiring) yang digunakan. pentas wayang ini juga tidak semalam suntuk seperti Wayang Kulit. hadits. Mulai gamelan. Selama pergelaran Wayang Sadat. imbuh Suryadi.” ujarnya. perangkat pentas. dan sabet (gerakan wayang—red). Ia mengakui.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI berusia 63 tahun ini.” kata Suryadi. secara umum Wayang Sadat sangat dipengaruhi oleh Wayang Kulit. suluk (candra—red).” ujarnya. Jalannya pementasan juga tak beda jauh dengan Wayang Kulit. Babon (sumber utama--red) cerita biasanya dari buku Babad Tanah Jawi. Suryadi tidak bisa mengatakan den319 . sedangkan waranggana (sinden/ pelantun tembang) mengenakan busana muslimah atau jilbab. “Sarana Dakwah dan Tabligh”. namun cerita carangan (kreasi--red)-nya bisa dibikin sendiri sesuai kebutuhan. Bacaan shalawat juga sering mengalun ketika tokoh Sunan Bonang atau para wali lainnya tampil. semuanya mirip dengan Wayang Kulit. bacaan lafal Al-Qur’an kerapkali terdengar. Nama ini juga berasosiasi dengan kalimat “Syahadat” yang merupakan ikrar kesaksian keesaan Allah dan pengakuan Rasulullah Muhammad sebagai utusan Allah. Wayang Sadat tidak memiliki pakem cerita baku seperti Wayang Kulit atau Wayang Golek yang berbabon kisah Ramayana dan Mahabarata. oleh karena itu pagelaran Wayang Sadat selain sebagai dakwah juga sebagai penyejuk kalbu penonton. menggabarkan kehidupan nyata masyarakat waktu itu. Dalang Berjubah Berbeda dengan kebanyakan dalang yang mengenakan beskap.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF gan pasti. “Alhamdulillah..” kata Suryadi. saya menjadi dalang pada saat pamor Wayang Sadat sudah mulai mbleret (suram—red). namun juga dari luar provinsi. baru pentas tiga kali sudah dihentikan dengan alasan tidak ada dana. “Saya pentas di depan umum sejak tahun 1980-an. order pentas turun drastis. akhirnya ia bisa mendalang secara otodidak. pada saat awal-awal menjadi dalang tahun 80-an. Lelaki berkumis ini pun putar otak agar kesenian yang digelutinya tak tenggelam ditelan zaman. Sekitar tahun 1990-an. gagal total.” ujar Suryadi pendek. Satu-dua kali gladhen. Upayanya tak sia-sia. mendalang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Pensiunan guru SD ini mengaku. Kakek dan ayahnya adalah dalang Wayang Sadat tenar pada zamannya. televisi satu-satunya milik pemerintah saat itu. Bahkan mulai tahun 1995. Wayang Sadat tak pernah lagi ditanggap orang. dalam sebulan ia bisa mendalang dua sampai empat kali.” urainya 320 . Salah satu cara yang ia tempuh adalah menyelenggarakan gladhen (latihan) rutin sebulan sekali di halaman rumahnya. ia mengajukan proposal ke (saat itu) Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Klaten agar mau mementaskan Wayang Sadat secara periodik. selain itu juga untuk mencari bibit dalang baru dari kalangan pemuda. Pasrah Menunggu Maut Kevakuman selama beberapa tahun tidak pentas membuat Suryadi kelimpungan. “Kalah sama sinetron dan kesenian modern lainnya. Ia hanya ingat. usaha saya. Ia juga rutin pentas di TVRI. Tapi memasuki tahun 90-an. untuk mucuki pentas Wayang Kulit yang rutin digelar di alun-alun. Berbeda dengan kakek dan ayah saya yang mengalami zaman keemasan. Tujuannya agar gairah kesenian bisa tersalurkan. Undangan bukan saja datang dari Klaten. Kantor Deppen Kab Klaten bersedia mementaskan Wayang Sadat sebulan sekali. Tapi itu tak berlangsung lama.. setelah itu macet karena para niyaga sibuk dengan urusannya masing-masing. ayahnya menerima warisan wayang itu dari kakeknya. Bakat mendalang akhirnya menurun kepadanya. Sang kakeklah yang menciptakan wayang itu. Meskipun ia tak pernah secara khusus belajar mendalang Wayang Sadat. Maklum. namun karena sering diajak pentas. bahkan ia pernah mendalang di lokasi transmigrasi di daerah Lampung dan Kalimantan Selatan.

saat pentas lebih banyak rugi ketimbang untungnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dengan wajah muram. petinju yang tiba-tiba segar dan kuat kembali setelah babak belur pada ronde-ronde sebelumnya. lantaran tak seorang pemudapun berminat menjadi dalang Wayang Sadat. Bahkan menurut penuturannya. namun secara moral tetap untung karena saya mendapatkan kepuasan batin yang tidak terkira. bahwa seni tradisi mengalami lesu darah karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Berubah atau Mati Ibarat manusia. Para penggiat seni tradisi. di mana-mana. mereka berharap ada “tonikum” yang bisa membuat seni tradisi bangkit kembali. Kematian sepertinya sudah menjadi takdir yang tak terhindarkan.” pungkasnya lirih. Namun cita-cita itu tampaknya sulit menjadi kenyataan. kesenian tradisional memang telah memasuki masa uzur. mengeluhkan kondisi yang kian merapuh. Niat untuk mencari bibit dalang dari generasi muda juga pupus. Zaman keemasan dianggap telah lewat. Tak heran. Ironisnya. maka kesenian tradisional butuh kondisi semacam itu. berbagai pihak yang ia sodori proposal bantuan dana hanya menggelengkan kepala alias menolak dengan halus. Hal semacam inilah yang cengkah (bertentangan—red) dengan pola pikir anak-anak muda zaman sekarang. Sudah jamak diketahui. Bagi Suryadi. menunggu saat kematian Wayang Sadat datang menjemput. “Rugi secara material. Penghasilannya nggak jelas katanya. Kini ia mengaku pasrah. Karena itu.” ujar Suryadi terus terang. dengan tokoh-tokoh yang disesuaikan dengan konteks kehidupan kenegaraan saat ini. 321 . Ia pernah bercita-cita merevitalisasi Wayang Sadat menjadi Wayang Nusantara. Jika dalam olahraga tinju dikenal istilah kemenangan kedua (second win). Seni tradisi butuh “tonikum” itu agar kembali segar. Ia percaya. ia tak pernah memikirkan rugi-laba saat mementaskan Wayang Sadat.” imbuhnya. masa keemasan Wayang Sadat telah lewat. “Bahkan anak saya sendiri nggak mau meneruskan profesi bapaknya jadi dalang Wayang Sadat. Kendalanya apa lagi kalau bukan masalah dana. “Wayang Sadat kini sudah berada pada masa senjakala. seni memang bukan untuk mencari uang.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Para pelaku seni tradisi cenderung terpaku pada “teks” yang statis, sehingga kehilangan “konteks” saat kesenian yang digelutinya dipaksa hidup dalam situasi masa kini yang serba dinamis. Penjagaan tradisi memang kadang harus menafikan perubahan, karena perubahan bisa berarti hilangnya hakikat tradisi itu sendiri. Namun di sisi lain, menolak perubahan akan membuat seni tradisi kehilangan komunitas pendukungnya. Situasi dilematis semacam itu sering membuat para pelaku seni tradisi berhadapan pada pilihan yang serba sulit. Banyak seni tradisi mati, justru karena pelakunya bersikukuh memegang prinsip anti perubahan. Bagi mereka kematian lebih mulia, daripada harus mengingkari hakikat orisinalitas “pakem” seni tradisi yang sangat mereka junjung tinggi. Kematian adalah keniscayaan, karena zaman telah membuat seni tradisi berada di waktu dan tempat yang salah. Dan kita, bagaimanapun, harus menghormati mereka yang memilih jalan ini. Namun sebagian pelaku seni tradisi memilih jalan yang lebih moderat, mencoba berdamai dengan dinamika zaman agar bisa bertahan hidup lebih lama. Pakem atau “teks” asli tetap mereka pertahankan, namun “konteks” juga mereka perhatikan. Mereka tidak alergi pada perubahan, namun justru menempatkan perubahan itu sebagai motor penggerak revitalisasi. Kalau mau jujur, mayoritas seni tradisi yang mengalami second win adalah seni tradisi yang pelakunya rela mengisi “teks” seni dengan isuisu aktual yang ada di tengah masyarakat. Seni tak lagi terpaku pada pakem yang kaku, yang membuatnya berada jauh tinggi di awangawang, namun dikonstruksi sedemikian rupa agar dekat dengan aspek kehidupan masyarakat masa kini. Wayang Kulit adalah salah satu contoh terbaik, bagaimana kesenian tradisional bisa di-mutakhir-kan. Dengan mengadopsi isu-isu aktual dalam setiap pagelarannya, Wayang Kulit bisa bangkit dari keterpurukan, berdiri tegak, dan merangkul kembali audiensnya yang hilang. Semua seni tradisi memiliki peluang sama untuk bangkit kembali dan meraih kemenangan kedua. Kuncinya terletak pada sikap para pelaku seni terhadap dinamika perubahan zaman. Rumusnya memang hanya satu, change or die, berubah atau mati. Banyak yang memilih perubahan, namun ada juga yang memilih kematian... *

322

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

323

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

324

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

325

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

326

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

327

Diterbitkan oleh DIrektorat Pengolahan dan Penyediaan Informasi Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Tahun 2011 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful