PEMETAAN

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

PEMETAAN

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Ismail Cawidu Nurlaili 1. Rosmiati 2. Lukman Hakim 3. Marulak Simangunsong 4. Enung Dahliawati 5. Fera Setia Nurana 6. Yudi Syahrial Design / Layouter

7. Dewi Farida Simatupang 8. Aditya Ranadireksa 9. Wasi Andono 10. Triani Setyowati 11. Rokayah 12. Sri Mulyani Suprawoto Nursodik Gunarjo : M. T. Hidayat

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

SAMBUTAN

pabila buku ini sampai di tangan pembaca, setidak-tidaknya upaya kami untuk mendokumentasikan hasil diskusi para ahli di bidang seni tradisi sebagian sudah sampai pada tujuan. Kami selaku Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, sampai saat ini sudah berusaha memberikan ruang dengan cara mementaskan seni tradisi komunikatif di berbagai tempat di Indonesia, baik di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Dalam setiap pementasan, antusiasme masyarakat untuk menonton seni tradisi masih sangat tinggi. Terbukti setiap pementasan selalu dipenuhi penonton sampai pertunjukan selesai. Namun apakah antusiasme penonton tersebut akan tetap bertahan dan langgeng? Kumpulan hasil diskusi ahli di bidang seni tradisi ini sengaja kami bukukan agar bisa memberikan informasi, dan siapa tahu justru menumbuhkan gairah untuk memberikan perhatian lebih terhadap seni tradisi, sehingga bisa tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Buku ini tentunya tidak akan terwujud tanpa kontribusi bebe-rapa pihak. Untuk itu kami perlu menyampaikan terima kasih, utamanya kepada para narasumber Diskusi Pemetaan Media Tradisional yang Komunikatif di lima kota, yakni Solo (Jawa Tengah), Denpasar (Bali), Bukittinggi (Sumatera Barat), dan Mataram (Nusa Tenggara Barat).
i

A

Demikian juga kepada para seluruh peserta diskusi yang menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi selama diskusi berlangsung. Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada rekan-rekan di Monumen Pers Solo, kawan-kawan Dinas Infokom dan Humas serta Balai Monitoring yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Kerja keras kawan-kawan semua ikut menyukseskan pelaksanaan dikusi yang menjadi bahan penyusunan buku ini. Khusus rekan-rekan di Sekretariat dan Biro Umum Kementerian Komunikasi dan Informatika, terima kasih atas dukungan dalam pelaksanaan diskusi ahli. Tiada gading yang tak retak. Kritik dan saran demi perbaikan penerbitan buku selalu kami harapkan.

Jakarta, September 2011 Direktur Jenderal ender e al a Informasi dan Komunikasi Publik muni ni n ikasi s Pu

Freddy ddy y H. Tulung Tu

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

PENGANTAR

I

ndonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari 17.508 pulau, 485 suku bangsa dan 583 bahasa daerah. Kenyataan itu sungguh sangat fantastis. Dengan begitu beragamnya suku bangsa, bahasa, dan adat istiadat, setiap masyarakat memiliki keunikan tersendiri. Sebagaimana dinyatakan Louise Grenier (1998), setiap masyarakat memiliki kearifan lokal yang secara tradisional terus dipelihara dan dikembangkan untuk mempertahankan diri ketika menghadapi perubahan dan tantangan dari lingkungannya. Dalam kearifan lokal itu biasanya terdapat sistem informasi dasar yang memfasilitasi komunikasi dan pengambilan keputusan komunitas atau masyarakat. Sistem informasi tersebut umumnya bersifat dinamis karena dipengaruhi kreativitas internal maupun pembelajaran masyarakat terhadap pengetahuan eksternal yang disosialisasikan secara berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Flavier et al. 1995: 479). Sejalan dengan perkembangan teknologi, tantangan terbesar adalah bagaimana membangun sistem komunikasi yang berkualitas dengan memadukan tiga aspek yang disebut Giddens dalam The Constitution of Society (1980) menjadi bagian tak terpisahkan dalam masyarakat saat ini, yaitu globalisasi, detradisionalisasi, dan social reflexivity.
iii

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Globalisasi menghubungkan manusia di seluruh dunia pada setiap aspek kehidupan. Komunikasi dan transportasi telah meng-hubungkan manusia di mana pun ia berada. Telepon dan internet membuat orang “bertemu” tanpa susah payah bertatap muka. Detradisionalisasi bukan berarti hilangnya tradisi. Tradisi masih ada bahkan “diciptakan”, tetapi tradisi bukan lagi satu-satunya dasar pembuatan keputusan. Kalau orang menemukan bahwa konsultasi dengan tradisi tidak memuaskannya, ia dapat berpaling dan memakai pertimbangan dari sumber lain. Hal terakhir berkaitan dengan social reflexivity merupakan pro-ses pengambilan keputusan. Manusia modern menghadapi banyak informasi, akan tetapi juga bebas menyeleksi informasi mana yang dibutuhkan. Arus (tepatnya: banjir) informasi memang membuat bingung, namun individu dapat menolak sebuah informasi semata-mata karena ia tidak suka atau tidak cocok. Inilah sebagian kenyataan yang dihadapi semua seni dan media tradisional di Indonesia saat ini. Menjadi tugas kita bersama untuk senantiasa berupaya meningkatkan kualitas pemanfaatan seni dan media tradisional agar bisa berpadu dengan perkembangan teknologi serta dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Media tradisional komunikatif diharapkan dapat mengambil peran dalam posisi ini. Dalam perkembangan sebelumnya peran media tradisional komunikatif demikian besar. Bagaimana perkembangan saat ini dan ke depan perlu pembahasan yang mendalam. Oleh karena itu, kami mencoba menghadirkan para pakar di bidang seni pertunjukan tradisional dalam merumuskan sinergi dan pemanfaatan media tradisional yang komunikatif. Kepada para pakar yang telah berkenan memberikan sumbangan pemikiran dalam bentuk tulisan serta wacana dalam diskusi kami sampaikan terima kasih. Buku ini sengaja kami hadirkan untuk memantik pemikiran baru guna lebih memberikan sumbangan terhadap pengembangan media tradisional yang komunikatif. Jakarta, September 2011 Suprawoto Editor
iv

.............Hum. M.............. anggota Dewan Pengawas TVRI Mencari Model Pertunjukan Seni Tradisi dengan Teknologi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik ...... Pakar Bidang Akademis Seni Tari... Hari Mulyatno.............. 17 Prof......Kar... Dr....... Pakar Pertunjukan dan Kajian Budaya STSI Bandung Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Barat .... Sri Hastanto....................................................... Endang Caturwati.. v vii ix 1 3 9 11 Prof......... 71 v . Prof.......... Pakar Etnomusikologi ISI Surakarta Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Timur ................................................... PENDAHULUAN ................... S.. PENGANTAR EDITOR .....LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI DAFTAR ISI SAMBUTAN ....Kar..................................................................... Dr................................................................... SINERGI SENI TRADISI DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PENDIDIKAN PUBLIK ..... Darsono......... 55 Prof........................ DAFTAR ISI .............................. Meningkatkan Peran Media Tradisional ........... Dosen ISI Surakarta Peran Seni Budaya Tradisional Kalimantan dalam Dimensi Informasi/Komunikasi Pembangunan ..................... M........................... Dr.. Pakar Ilmu Estetika Ketua LPPM Dosen ISI Surakarta Peran Seni tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Tengah dan DI Jogjakarta .... MS. S.....Sn...................... 43 F.......... Musa Asy’arie...

.... Dosen Sastra Universitas Udayana Aktivitas Pasantian dan Sastra Bali sebagai Media Pencerdasan Rakyat ............ Ahli Seni Tari................ I Nyoman Windha...................................... MENGEMAS SENI TRADISI SUMATERA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL .......... Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Penggunaan Seni Tradisi dalam Media Komunikasi Sosial di Sumatera Utara vi 91 93 107 123 135 145 159 161 181 ..................... Dosen ISI Denpasar Mencerdaskan Rakyat dengan Seni Tradisi dan Pertunjukan Komunikatif ...... Ketua STSI Padang Panjang Ragam Kemasan Seni Tradisi Sumatera Barat dalam Komunikasi Sosial Rakyat dan Pemerintah ...... Dr. I Nyoman Murtana...... Daryusti........ MA............. Dosen Jurusan Seni Teater STSI Padang Panjang Seni Tradisi Populer Aceh sebagai Media Komunikasi Sosial .......... SST... M..... 197 ..... SST................ S Kar...... Ahli Seni Pertunjukan... Dosen ISI Denpasar Seni Musik Bali dan Gamelan Gong Kebyar sebagai Media Pencerdasan Rakyat ........ M Hum.................Hum..... Pakar Sastra........ MA....... Sulaiman Juned............... Dr Ni Made Wiratini.... Dosen ISI Denpasar Seni Pertunjukan Populer sebagai Media Pencerdasan Rakyat: Potensi Tari Topeng dan Teater Bali ...... Hajizar......... Drs................Sn.............. Dr I Nyoman Suarka M Hum....................PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF MENGGUBAH SENI TRADISI DAN PERTUNJUKAN YANG KOMUNIKATIF UNTUK PERCERDASAN RAKYAT . M....................Sn.... Komposer............. Prof...Sn........ MA.. Ahli Seni Karawitan...... S Kar..... Dosen Kajian Budaya Universitas Udayana Pertunjukan Wayang Kulit Bali: Media Komunikasi Pencerdasan Rakyat ....... S.... Dr I Nyoman Catra.. M......

......LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Nirwana Murni....Si...... Muchtar S............. 307 Nasib Seni Tradisi Senjakala Sang Penenang Kalbu .Hum.........Pd. M...........Kar......................... Kongso Sukoco.................... Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Upacara Tabuik dan Tabot di Pesisir Barat Sumatra ........ 305 Lestarikan Media Tradisi ........... S................................ Kadri M................................................. Dr................ Ketua Dewan Kesenian Provinsi NTB Memfungsikan Teater Tradisi Amaq Abir sebagai Media Komunikasi Tradisional .. Mantan Kepala Taman Budaya NTB Seni Tradisi NTB dalam Proses Kreatif Menuju Media Komunikasi Sosial ....... M.....................Kar...... Mustakim Biawan... Asril......................................................................... Pakar Komunikasi IAIN Mengemas Seni Tradisional Komunikatif NTB untuk Media Komunikasi Sosial ............... MENGEMAS SENI TRADISI NUSA TENGGARA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL ............ 221 235 255 257 277 293 PENUTUP ...... 317 vii ......... Dosen Jurusan Seni Tari STSI Padang Panjang Strategi Kemasan Seni Tradisi sebagai Media Komunikasi Sosial di Sumatera Barat .............

.

PENDAHULUAN 1 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 2 .

Sementara seni tradisi jauh lebih luas dari media komunikasi. mereproduksi mendistribusikan atau menyebarkan dan menyampaikan informasi (Suranto.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Meningkatkan Peran Media Tradisional I ndonesia memiliki keragaman budaya yang sangat luas. Oleh karena itu. media kesenian. Dalam masing-masing sistem budaya tersebut terdapat pola kesenian. media komunikasi pada dasarnya merupakan sarana yang dipergunakan untuk memproduksi. Seniman misalnya. Kesenian tradisional pada dasarnya memiliki pola atau pakem yang 3 . guru dan pemuka adat. harus dilakukan pendekatan sesuai dengan karakteristik masyarakat di mana kesenian dan tradisi itu hidup dan berkembang (Limbeng. Untuk melihat makna dan fungsi suatu kesenian. dan posisi seniman yang beragam. Keragaman itu juga mempengaruhi bentuk maupun isi. seperti petani. Padahal. 2009). seni tradisional tidak bisa dilihat hanya dari satu pendekatan atau hanya berdasar pada prinsip umum (universal) yang diberlakukan untuk semua. meskipun fakta menunjukkan bahwa sebagian seni tradisional bisa digunakan dan seringkali dikembangkan menjadi media komunikasi. ada yang profesional atau menjadikan seni sebagai profesi namun ada pula seniman yang memiliki profesi-profesi lain. 2005). Konsep media tradisional seringkali dipertukarkan dengan seni tradisi atau bahkan seni pertunjukan tradisional. pedagang. nelayan.

pemilihan media dan khalayak yang menjadi penikmat atau peminat seni tradisi tersebut. seni pertunjukkan rakyat mampu menciptakan hubungan antara komunikan dan komunikator. pola. berkesenian atau unjuk seni tradisi tidak hanya bergantung pada seniman semata. yang pada gilirannya memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi tradisional. Hanya saja sejak Departemen Penerangan dibubarkan. berubah. Walhasil. melainkan potensi yang dapat berkembang.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF membuat kesenian itu menjadi khas. (2) daya atau potensi untuk berubah. dan bercampur satu sama lain. berbeda dari kesenian jenis lainnya. Oleh karena pemanfaatan seni tradisi sebagai sebuah media komunikasi akan sangat berkaitan dengan aspek (1) bentuk. pemberdayaan dan pengembangan kesenian-kesenian tradisional menjadi terabaikan. pakem tersebut bukanlah suatu aturan “mati”. 1984). melainkan pada pesan moral atau nilai tradisi. dan komentar sosial. Akan tetapi. Realitas seperti itu sangat dirasakan oleh para kelompok seni pertunjukkan tradisional. Dalam tiga aspek itulah sesungguhnya terletak kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi keindahan. seni tradisi secara alami mampu mengakomodasi perubahan isi sesuai dengan kepentingan situasi. terdapat 118 jenis kesenian tradisional yang telah dibuat deskripsi singkatnya dan kurang lebih 292 jenis yang diketahui namanya tanpa diketahui deskripsinya (Siswojo. Departemen Penerangan. dimana komunikator dapat mengungkapkan ide dan gagasannya kepada komunikan melalui cerita-ceri4 . mungkin bisa memberikan dukungan moral dan finansial bagi para seniman. Akan tetapi. Melalui pertunjukkan ini terdapat pertemuan langsung antara komunikan dan komunikator. untuk memberikan bantuan sosial bagi maestro seni tradisi dengan kriteria tertentu. spiritual. kini tidak ada lagi instansi pemerintah yang secara bersungguhsungguh menangani media tradisional ini. Sebagai media komunikasi tradisional yang telah populer. dan (3) muatan-muatan atau pesan-pesan yang berisikan pendidikan kultural. terutama bagi mereka yang tinggal di wilayahwilayah pedesaan. Akibatnya. Inisiatif Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. sejak tahun 2008. Menggali Potensi Dari inventarisasi yang telah disusun tahun 1978-1979 oleh Direktorat Penerangan Rakyat. atau pakem.

karena keberadaan media tradisional tidak dapat dilepaskan dari masyarakat/komunitas budaya pendukungnya. Oleh karena itu dibutuhkan pemetaan seni tradisi yang bisa digunakan sebagai media penyampaian pesan dan media informasi yang komunikatif. misalnya yang mengandalkan gerak atau nyanyian dalam batas tertentu sulit digunakan sebagai media penyampai informasi. Melestarikan Media Tradisional Tantangan yang dihadapi dalam menghadirkan media tradisional adalah bagaimana menempatkannya di antara konstelasi proses mediasi masyarakat. tetapi dimaksudkan untuk memelihara keberadaan dan identitas suatu masyarakat. Setiap masyarakat budaya memiliki mitos yang khas yang menjadi perekat kelompok/komunitas. karenanya bersifat eksklusif. Seperti pada beberapa pertunjukkan wayang. Sementara untuk mengusung suatu media tradisional dalam dalam konteks lintas budaya. Mungkin hanya media tradisional yang verbal dan komunikatif-dialogis saja yang cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. Begitu pula pemanfaatan media tradisional sebagai wahana bagi isu-isu kontemporer bagi 5 . Perlunya mengangkat suatu budaya tradisional sekaligus dengan media yang mengampunya. melalui keterlibatan fisik atau psikis. Media tradisional tidak hanya sebagai obyek hiburan (spectacle) dalam fungsi pragmatis untuk kepentingan sesaat. Tanpa adanya dukungan warga. Kendatii demikian. Budaya tradisional pada hakekatnya berfungsi dalam memelihara solidaritas suatu masyarakat budaya. keberadaan media tradisional tidak ada artinya. Hal ini penting. Dalam formatnya yang asli. adalah untuk fungsi konservasi. Ciri dari setiap media tradisional adalah partisipasi warga. kita mengakui bahwa tidak semua seni pertunjukkan rakyat dapat menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif. secara praktis hanya dapat dilakukan jika secara substansial budaya dan media dimaksud sudah mengalami transformasi sebagai spectacle. Seni tradisi yang lain. seorang dalang dapat menyebarluaskan gagasan dan pesan informasi dari pemerintah melalui cerita-cerita yang telah ada. media tradisional hanya relevan secara eksklusif bagi masyarakat budaya pendukungnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ta yang dibawakannya.

pertama tahapan pengumpulan data awal.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF suatu masyarakat budaya pendukungnya. Kegiatan pertama atau pengumpulan data awal mencakup penjajagan dan penelusuran dokumen untuk mengidentifikasi aspek dan unsur kebijakan komunikasi serta pemetaan potensi seni tradisional yang 6 . Karakteristik eksklusif semacam ini tentu kurang menguntungkan apabila ditinjau dari teori media. Pertanyaan yang harus dijawab adalah. karena dalam banyak kasus. sulit menempatkan dua fungsi (hiburan dan media penyebaran informasi) secara berimbang. Tentang Buku Ini Pemetaan media tradisonal yang komunikatif ini dilakukkan dengan tiga tahapan. Inovasi dalam hal ini bisa dilakukan. sepanjang tidak mendekonstruksi wujud dan karakter asli dari kesenian tradisional dimaksud. salah satu kendala dari media tradisional adalah sifatnya yang eksklusif dan lingkupnya yang lokal. sudahkah media tradisional mentransformasikan diri sebagai spectacle yang bisa dinikmati masyarakat di luar komunitas pendukungnya? Seperti diketahui. sudahkah kesenian tradisional di Indonesia saat ini benarbenar diposisikan sebagai “media”. kedua tahapan diskusi ahli. Secara keseluruhan kegiatan akan berlangsung mulai bulan Maret hingga Juni 2010. tontonan yang bisa dinikmati dan diterima oleh masyarakat dalam jumlah lebih besar dan dalam wilayah teritorial yang lebih luas. akan relevan manakala media tersebut sudah tidak lagi sebagai sumber mitos budaya tertentu. Sebaliknya. Jika kesenian tradisional terlalu dipaksakan untuk berfungsi sebagai media penyebaran informasi aktual. karena salah satu ciri dari media yang baik adalah kemampuannya menjangkau massa dalam jumlah besar. tantangan ke depan adalah bagaimana mentrasformasikan media tradisional agar bisa menjadi general spectacle. sehingga cenderung hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu dalam jumlah yang terbatas. Oleh karena itu. Pertanyaan lain yang tak kalah penting adalah. bukan sekadar sebagai spectacle? Pertanyaan ini sangat penting. ketiga tahapan penulisan laporan dan penyu-sunan buku. jika porsi hiburan terlalu banyak. maka fungsinya sebagai media penyebaran informasi dengan sendirinya akan menurun. maka ia akan kehilangan karakteristik utamanya sebagai sumber mitos bagi masyarakat. dalam konteks penyebaran informasi.

pegiat seni tradisi. serta rekomendasi kegiatan diskusi. diskusi ahli adalah kegiatan yang dikemas dalam bentuk diskusi kelompok terbatas yang melibatkan para ahli. Hasil kompilasi juga akan dibukukan dengan kemasan ilmiah populer agar dapat dijadikan sebagai acuan pemanfaatan seni tradisional.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ada di Indonesia. pemuka pendapat. pengamat seni tradisional. Tahapan ketiga penulisan laporan yang merupakan kompilasi dari hasil pemetaan. akan dibagi dalam tiga wilayah.* 7 . Indonesia Tengah dan Indonesia Timur. serta unsur pemerintah daerah. Untuk kebutuhan kegiatan ini. yakni Indonesia Barat. Kegiatan ini diarahkan untuk mendapatkan gambaran opini dan ekspektasi stakeholders seni tradisi tentang potensi seni dan media komunikasi tradisional. sekarang dan yang akan agar dapat digunakan untuk kepentingan pendidikan publik dan komunikasi sosial. pada masa dulu. Kedua. diskusi terbatas (focus group discussion).

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 8 .

SINERGI SENI TRADISI DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PENDIDIKAN PUBLIK 2 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

sekaligus seorang pengusaha. Dalam disertasinya “Konsep Manusia Sebagai Pembentuk Kebudayaan dalam Alquran” yang dipertahankannya dalam ujian disertasi 26 Januari 1991. Musa Asy’arie menolak pandangan dualisme (jasmani dan rohani) manusia yang selama ini mempengaruhi cara berpikir mayoritas umat Islam. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di SD Muhammadiyah Ambukembang. Ia adalah pencetus gagasan Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan. H. namun tidak sampai selesai. 10 . budayawan. sebuah desa yang kental dengan budaya santri yang entrepreneurship. Berpikir yang salah bukan suatu kejahatan. Saat ini menjadi anggota Dewan Pengawas Televisi Republik Indonesia. Musa Asy’arie adalah seorang filosof. cendikiawan. Setelah menyelesaikan pendidikan di lingkungan pondok pesantren. Ayahnya memindahkan Musa ke pondok pesantren Tremas Pacitan Jawa timur. bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat. Guru Besar Filsafat Islam. di desa Pekajangan Pekalongan. Ia besar dalam lingkungan masyarakat pengusaha.Dr. Ia melanjutkan ke SMPMuhammadiyah di Pekajangan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. Sebagai Guru Besar Filsafat Islam UIN Yogyakarta. tidak kriminal. Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta ini pernah menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika. Lingkungan pondok pesantren inilah mengubah sikap dan cara pandangnya dalam menapaki kehidupan. Kabinet Indonesia Bersatu. sehingga tidak perlu ditakuti. Musa menikah dengan Muslihah teman kuliah satu fakultasnya di IAIN Sunan Kalijaga. Musa menempuh pendidikan kesarjanaannya di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Filsafat. sekaligus birokrat dan pengusaha ikut mewarnai pemikirannya bahwa berpikir an sich adalah bebas sebebas-bebasnya. Musa Asy’arie dilahirkan tanggal 13 Desember 1951.

Seni juga masuk ke seluruh kehidupan. Jika dilihat dari dalam pemikiran filsafat. Kesenian berkaitan dengan semua aspek kehidupan masyarakat. patung . manusia juga merupakan bentuk keindahan karya agung Tuhan. Boleh melukis tapi jangan sampai seperti hidup. seni adalah perwujudan kreatif nilai-nilai estetika. misalnya cerita 1001 malam. Banyak hal seni punya besar dalam kehidupan agama terutama jika bersentuhan dengan nilai rasa keindahan karena Tuhan juga memiliki nilai keindahan. baik itu seni suara. dan bahkan seni agama. Misalnya yang kita percayai bahwa dalam Islam melukis benda bernyawa itu tidak boleh. Anggota Dewan Pengawas TVRI eni adalah karya keindahan. arsitektur. Jika tuhan diabaikan dalam keindahan maka akan ada fenomena radikalisme. politik. Bicara tentang keindahan. Di sini kita bisa melihat bahwa kemasan seni itu bisa melakukan kritik. Sayangnya ada stagnasi kalau kita bicara seni agama. Ajaran agama seringkali mempengaruhi hal ini. tari. Namun secara umum seni dan agama saling mendukung. ada Abunawas yang bisa mengemas kritik dalam bentuk seni. Saya kira berkaitan dengan seni tradisi dan soal teknologi ini adalah persoalan membangun model. Di dekat kekuasan juga ada seni. Dr.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Mencari Model Pertunjukan Seni Tradisi dengan Teknologi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik Prof. Musa Asy’arie. Dalam perspektif kebudayaan nilai-ni11 S .

Oleh karena itu kita bisa menemukan tradisi masyarakat agraris. atau yang menyangkut benar dan salah. dan (3) berkaitan dengan perilaku atau nilai estika yaitu indah dan jelek. tapi jika kemanfaatan lebih banyak dari hal yang buruk. Kita ketahui bahwa logika berpikir orang itu punya tingkatan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF lai itu merupakan wujud kesatuan dari (1) nilai logika. Kesenian tradisional juga menyampaikan etika dan nilai. Misalnya bagaimana dialog tentang pembangunan dan kemiskinan? Di situ ada dampak buruk. kelas bawah hingga tradisi masyarakat elit. Jadi saya kira. aspek nilai seni tak boleh dipisahkan dari logika etika dan estetika. Oleh karena itu. Nanti kita bisa lihat bagai segmentasi masyarakat akan berkaitan dengan kemampuan untuk menerima seni ini. Oleh karena itu. Puncak pengalaman religius adalah estetis dalam dunia sufi. Nilai kebaikan yang berkembang dalam adat istiadat. Komunikasi seni dalam masyarakat pada dasarnya hendak menyampaikan nilai kebenaran yang berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan. Bahkan mendasarinya. Pertautan itu membuat seni berperan dalam peradaban. pedalaman. dalam pandangan saya. Karya seni menyatu dengan etika dan logika. Kebenaran dan kebaikan menyatu dalam karya estetika. Di situ dapat dilihat bahwa seni punya publiknya sendiri. kota. Seni pada dasarnya berkaitan dengan perasaan atau rasa atau emosi. semua punya tradisi. lantas diekspresikan melalui karya keindahan. seni tidak bisa dipisahkan dari logika dan etika. Artinya semua bentuk seni ini jadi dasar bagaimana mengemas sosialisasi melalui seni. Sedangkan tradisi adalah kebiasaan atau adat istiadat yang dilestarikan secaraturun temurun dalam suatu kehidupan masyarakat tertentu. maka diambil kemaslahatan yang banyak. Dalam Kisah Baratayudha misalnya. moral dan agama. dalam setiap karya seni tidak bisa dilepaskan dari aspek nilai logika dan etika. Jika diterapkan dalam kehidupan masa kini. industri. juga masih relevan. Sehingga pesan kebenaran dan kebaikan akan terasa indah untuk diresapi dan dihayati oleh publiknya. Jika bicara tradisi. dialog antara Puntadewa dengan Arjuna itu adalah dialog yang menarik bagaimana bisa memisahkan pikiran dan rasa. (2) berkaitan dengan pemikiran atau nilai etika yakni baik dan buruk. Dimensi estetik merupakan dimensi tertinggi dalam pengalaman religius. Misalkan masyarakat aga12 . akademik.

ya harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Sehingga diketahui mana yang komunikatif bagi masyarakat dan mana yang tidak komunikatif terkait pesan yang disampaikan. Permasalahan terjadi jika kesatuan nilai-nilai itu tidak tercermin lagi dalam karya estetika. itu misalnya bagian dari tradisi akademik. Saya pernah ikut acaranya Kementerian Kominfo di Gunung Kidul. desa dan akademik. Sehingga karya seni terlepas dari konteks nilai yang dianut oleh masyarakat. itu bisa jadi saingannya Mus Mulyadi. Perlu kreativitas atau seni tradisi akan ditinggalkan dan hanya akan dikenang. Tapi satu hal yang menarik adalah bahwa sms yang masuk dari masyarakat cukup banyak. karena kalau tidak pakai toga terasa hambar meski kita tak tahu apa di balik toga itu. Di kampus dipertahankan. Kalau pejabat dari Kominfo sedang menyanyi di tengah acara limbukan wayang. etika dan estetika. Bagaimana tradisi kota? Bagaimana tradisi masyarakat industri? Ada pula masyarakat kota. Tapi jika bisa dikemas dengan baik. Memakai toga. seni tradisi mung13 . Saya kira perlu ada pembaruan sesuai dengan perkembangan masyarakat. Setiap seni dikemas dengan baik agar tak menyinggung orang. Yang ingin saya katakan adalah bahwa perlu kreativitas untuk bisa mengemas agar sesuai dengan tradisi masyarakat. Saya kira semua masyarakat punya tradisi. Persoalannya sekarang adalah bagaimana tiga hal itu dan dikemas jadi satu kesatuan? Karena ketika masyarakat berubah. Sementara etika diaktualisasikan sesuai dengan kebutuhan jaman. Ada pertunjukan wayang yang disiarkan oleh RRI dan TVRI. Jadi itu efektif sekali untuk menyampaikan informasi. Oleh karena itu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI raris dan kota. Demikian pula dengan estetika. maka logika itu yang harus diubah dan dinaikkan sesuai dengan perubahan masyarakat. Setiap tradisi memiliki masing-masing karakter dan publiknya sendri dan tradisi pedalaman dan pesisiran misalnya untuk orang-orang pinggiran dan elit untuk kalangan keraton. pembaharuan dalam karya seni tidak bisa dilepaskan dari pembaharuan nilai dalam kehidupan masyarakat. Tradisi ini hendak dipetakan dan sudah dipetakan bagaimana tradisi yang dipetakan oleh Kominfo harus punya nilai logika. Dampaknya karya seni tidak bisa dimengerti secara utuh oleh masyarakatnya sendiri sehingga komunikasi karya estetika itu terputus dari masyarakatnya.

misalnya. Ini saya kira pekerjaan yang harus dilakukan oleh Kominfo. ini yang perlu dilakukan secara kreatif. Bahkan bisa disebarluaskan dari suatu wilayah ke wilayah yang lainnya. akan tetapi bergerak dalam ruang maya yang berlangsung cepat dan dinamis. perubahan dan pembaharuan. juga akan mengemas dengan logika yang berbeda. Dalam kaitan dengan karya estetika telah terjadi perkembangan pula estetika agraris berkembang dalam estetika industri menuju estetika informasi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kin juga bisa memacu perubahan sosial. Dalam masyarakat seperti ini. peran seni akan luar biasa. maka ruangnya jadi beda. konflik. Ada kelas. Logikanya harus bertahap. Hal penting kalau dilihat dalam sisi komunikasi adalah bicaralah pada masyarakat sesuai dengan kadar akalnya. Saya kira dalang yang pentas di Mahkamah Konstitusi atau RRI. dinamis dan tidak simpel. Bagaimana TIK jadi forum pengembangan kreatifitas resmi yang 14 . TIK adalah produk ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis pada nilai logika. model pertunjukan seni tradisi. maka bukan lagi menggunakan alun-alun tapi menggunakan ruang maya. Persoalan mengemasnya juga menjadi tidak sederhana. Melalui benda kotak yang menyatukan dunia yang sarat pluralitas. Dalam masyarakat informasi. pertunjukan seni tradisi tidak lagi berada dalam ruang fisik yang dibatasi dinding atap dan kaca. Persoalannya kembali pada bagaimana karya estetik diberi ruh dengan logika dan etika. Itu tingkat etika dan logikanya jadi tinggi dan waktunya pun menyesuaikan dengan kondisi penontonnya. pasti berubah. Di sinilah kemudian muncul problem. kemasan logikanya seperti apa? Dalam masyarakat pesisir itu logikanya seperti apa? Kreativitas juga termasuk bagaimana memasukkan etika dan logika dalam kemasan estetika? Tentu akan menyesuaikan dengan kondisi penontonnya. Selama ini seni dipanggungkan di tengah lapangan bola. bukan lagi semalam suntuk. TIK lahir dari proses perkembangan masyarakat agraris menuju masyarakat industri dan membentuk masyarakat informasi. Ada yang cuma dua atau tiga jam. Karena kalau gunakan TIK yang kini konvergen. Dalam era konvergensi TIK. mau tidak mau. ada tradisi yang ada. Di media konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) faktor waktu juga penting. Namun ketika bergabung dengan TIK. Kalau itu dikemas.

industri. maka harus menjadi dasar penyesuaian. entah itu pada kategori masyarakat agraris. Tetapi di Indonesia ketiga kategori masyarakat itu masih ada. semua memerlukan kemasan tersendiri. Di TVRI. Pertunjukan seni tradisi harus mencari model yang dinamis sesuai perkembangan masyarakat. Mungkin kemasan itu yang akan menyesuaikan. bisa ditampilkan berapa jam? Kalau dengan TIK jadi kemasan yang perlu kreativitas tinggi. wayang kulit semalam suntuk tidak bisa ditampilkan begitu saja. Dan untuk mengemas itu adalah pekerjaan luar biasa yang harus tetap menjaga bahwa karya seni tak boleh dilepaskan dari etika logika dan estetika. Di Wonogiri model masyarakat seperti itu masih ada. * 15 . ketiga masyarakat itu tetap ada dan tidak saling menafikan. Kecende-rungan sekarang ini. di Solo juga ada. Hal itu harus dilakukan terus-menerus agar seni tetap hidup.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI gabungkan etika dan estetika. Apalagi jamnya ketat dan menyesuaikan dengan layar dan waktu. Misalkan Wayang Suket Slamet Gundono. Model itu menyesuaikan dengan kondisi masyarakat. Tentu waktunya akan berubah. Karena kalau lepas dari itu maka tak bisa membentuk peradaban. Jika ruangnya TIK. Namun pengemasannya pun tak boleh lepas dari etika dan logika. Saya kira masyarakat perlu model yang tepat untuk pengemasan seni tradisi. dan informasi. sebagian seni tradisi mulai ditinggalkan dengan pertumbuhan masyarakat lantaran tak semua seni tradisi bisa menjawab perubahan. Dalam masyarakat Indonesia. Sehingga model pertunjukan seni tradisi seharusnya menyesuaikan dengan realitas masyarakatnya.

dan Tradisi Sebagai Tumpuan Kreativitas Seni. Australia. Sosiologi Seni. pemain pada drama suara atau sebagai penabuh Degung.. Sek Hubungan Kelembagaan. Gugum Gumbira dari Jaipongan ke Cha Cha. Nano. UNPAD. Itali.* 16 . Sinden Penari di Atas dan Di Balik Panggung. Endang Caturwati. baik sebagai penari. dan Ka Humas. Beruntung. Aktivitasnya sebagai pengajar mata kuliah Seni Pertunjukan Indonesia. Sejarah Tari. Pengantar Seni Pertunjukan Indonesia. masih disibukkan sebagai Pimpinan Redaksi Jurnal Ilmiah Seni dan Budaya ‘Panggung’ STSI Bandung (terakreditasi). ed. (Gentra Madya (1973-1978).S. Lulus S-3 Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Program Studi Pengkajian Seni Rupa dan Seni Pertunjukan. Dr. Kajian Gender. dan Organisasi Sosial Masyarakat Sunda hingga masa kini.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. di STSI. maupun beberapa perguruan tinggi lainnya. seperti Mang Koko (Ganda Mekar 1973-1978). dan Belanda. Protokoler dan Penerbitan. China. Buku-buku karyanya antara lain berjudul: Tata Rias Busana Tari Sunda. Dadang Sulaeman (Mayang Binekas 1973-1978). Gugum Gumbira pencita Jaipongan. Longser Grup STSI Bandung (2005-2008). tahun 2006. Kepala Pengabdian Masyarakat. Tari di Tatar Sunda. M.. Gender dan Seni Pertunjukan di Jawa Barat. Kapita Selekta. 25 Desember 1956. Lokalitas. Tjetje Somantri Tokoh Pembaru Tari Sunda. baik. serta Organisasi Seni dan Budaya. S. Seni dalam Dilema Industri. ed. Kariaan: Tari Anak-anak di Daerah Subang Jawa Barat. dan Manajemen Objek Daya Tarik Wisata Daerah. dan Sistriarji Seni Pertunjukan Indonesia di Sutradara Longser STSI Jawa Barat (2007). Jurna Ilmiahl dan buku. ed. merupakan doktor pertama di STSI Penulis (kedua dari kiri) bersama Tati Saleh penari JaiBandung dan Guru Besar bidang pongan. UPI (Pariwisata). dan beberapa seni pertunjukan tradisional lainnya. juga aktif menulis artikel di beberapa mass media. . Tari Anak-anak dan Permasalahannya. Antara lain Gending Karesmen dengan lakon Si Kabayan. Jepang. Gentra Madya. Dewan Redaksi di beberapa Penerbitan Jurnal Ilmiah dan Artikel Ilmiah di Jawa Barat dan Jakarta.ST. Pahlawan Samudra dan Gondang Samagaha pada Grup Ganda Mekar: Degung pada Grup Mayang Binekas. Pesona Perempuan dalam Sastra dan Seni Pertunjukan. India. selain sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STSI Bandung. Jabatan yang pernah diemban antara lain. tetapi juga ke berbagai manca negara di antaranya Malaysia. Kesibukan lainnya. ed. ed. Pimpinan Penerbitan Sunan Ambu Press. Literatur Tari. Thailand. Sebagai Kepala Humas Endang mempromosikan Lembaganya tidak saja di tingkat regional. penulis pernah menjadi pelaku pada grup-grup seni tradisi yang dipimpin para tokoh seni terkenal.S dilahirkan di Bandung.

maupun penyajian estetis. berperan juga sebagai sarana pendidikan. Seiring dengan berjalannya waktu. hiburan. dan tontonan atau apresiasi estetis. dalam arti. bahkan kini telah banyak yang menjadikan sebagai ajang ekonomi sebagai seni industri. penerangan. (2) sebagai ungka17 . Fungsi primer. Pada dasarnya seni pertunjukan memang mempunyai fungsi primer dan sekunder. Di berbagai daerah bermunculan proses reinterpretasi. Pakar Pertunjukan dan Kajian Budaya STSI Bandung J awa Barat dikenal dengan berbagai seni pertunjukan dengan berbagai bentuk serta fungsi. serta berbagai pertunjukan yang tidak saja berkembang di kalangan rakyat. Bentuk seni tradisi yang banyak difungsikan masyarakat. atau media politik. seleksi. penyebaran agama. antara lain dengan munculnya berbagai seni pertunjukan yang didukung oleh para elite birokrat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Barat Endang Caturwati. ajang gensi. hiburan. serta melahirkan berbagai genre seni pertunjukan yang terbukti mampu bertahan terhadap kuatnya arus perubahan dinamika sosial dan budaya masyarakat. baik di perkotaan maupun di perdesaan. selain untuk kepentingan ritual. baik sebagai upacara ritual. Kondisi ini bisa diamati dari kehadiran berbagai genre seni pertunjukan. yaitu (1) sebagai sarana upacara. akan tetapi juga di kalangan masyarakat menak serta pengusaha dan petani kaya. ajang prestise. dan eksperimentasi seni. bahwa seni pertunjukan memiliki tiga fungsi.

2001). antara lain sebagai pengikat kebersamaan. ajang bisnis dan mata pencaharian. atau fungsi sosial yang belum tentu abadi dari waktu ke waktu2. longser. wayang golek. kemudian karya Nano dan garap tari dan Karawitan Jaipongan karya Gugum Gumbira. Metode Penelitian Seni Pertunjukan (Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. 170. menunjukkan kecenderungan dalam melakukan reinterpretasi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pan pribadi. Dewan Kesenian Kabupaten Sleman Yogyakarta. Mereka melahirkan ‘karya-kaya kreatif’ yang bersumber dari lokal 4 . dan Globalisasi Seni. calung. Bahkan muncul berbagai pertunjukan yang merupakan langkahlangkah baru dalam konsep penciptaan. ajang gengsi. pada kenyataannya banyak yang tumbuh sebagai ekspresi masyarakat. dan kemudian muncul para generasi penerus para koreografi muda dan komposer muda yang akhir-akhir ini semakin variatif coraknya. Artinya ‘format sajian’ disesuaikan dengan fungsi dan kondisi. 18 . adalah tumbuh sebagai ekspresi masyarakat pendukungnya. Sebagai media komunikasi. yang lebih komunikatif serta sarat dengan interaktif. tapi menyebar ke wilayah Jawa Barat. reog. Seni pertunjukan yang berkembang di Jawa Barat. Memang. berarti nilai kualitatifnya tidaklah lenyap di dalam fungsinya3. 57. 3. terutama pada kesenian rakyat seperti sandiwara. Bambang Pudjasworo. Seminar Revitalisasi. Arnold Hauser. pada dasarnya setiap seni pertunjukan yang otentik. Adapun fungsi sekunder apabila seni pertunjukan bertujuan bukan untuk dinikmati. tetapi untuk kepentingan yang lain. dan (3) sebagai presentasi estetis1. yang berkembang tidak saja di wilayah Priangan. 1 2 3 4 R. pantun. seleksi dan eksperimentasi budaya berbasis pada tradisi seni pertunjukan lokal. seni pertunjukan memiliki progresivitas dalam berkembangnya ragam dan format sajian untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan masyarakat pendukungnya. Anya Peter Royce. “Dialektika Seni Pertunjukan Tradisi”. media komunikasi.M. The Antropology of Dance (Bloomington and London: Indiana University Press. atau multifungsi. beluk. dengan berbagai medium. Soedarsono. Transformasi. interaksi. kemudian gending-gending kreasi baru atau wanda anyar karya Mang Koko. Progresivitas seni pertunjukan sebagai media komunikasi dapat diamati dengan ‘pelebaran’ wilayah pertunjukan. The Sociology of Art (Chicago and London: The University Of Chicago Press. yang bisa memenuhi sebuah fungsi sosial. 2004. 1985). 308. 1980).

yang lebih banyak menghabiskan dana daripada memperoleh dana. di Jawa Barat selama masa Orde Baru berkuasa hingga Orde Reformasi mengisyaratkan. candi. dan tempat-tempat lain sesuai dengan konsep dari sang seniman. tanpa memperhitungkan dana yang diperoleh. melainkan sebagai ekspresi diri dan sumber inspirasi gerakan spriritual 19 . seniman-seniman yang menyajikan karyanya. dalam rangka sesaat untuk ‘ekspresi diri’. serta hanya dalam waktu temporer (tidak berlaku ulang atau dipertunjukkan kembali di tempat yang sama). bahwa “urang kudu bisa ngigel. dan merespon tarian zaman).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI berbagai kolaborasi. adalah bagian dari totalitas kehidupan. atau berupa helaran (arak-arakan). di tempat sampah. tetapi juga sebagai tuntutan ekonomi. Dalam hal ini dapat dibedakan. merupakan sesuatu yang bukan hanya diartikan sebagai sekadar media hiburan atau alat komunikasi. hutan. jeung ngigeulan zaman” (kita harus bisa menari. di halaman. Terlebih dengan zaman yang sarat dengan informasi. Berdasarkan dari hasil-hasil penelitian yang ada. diperlukan suatu sintesa agar kelangsungan hidup seni pertunjukan etnik bisa tetap survive. sebagian dari sistem lama yang berlaku dalam masyarakat perlu mendapatkan penafsiran kembali untuk mendukung tumbuh dan berkembangnya budaya baru. danau. bahwa seni pertunjukan tradisional. baik antara etnik. amphyteater. di terminal. ngigelkeun. yang harus memperhitungkan nilai uang. Kondisi Masa Lalu Seni pertunjukan. tanpa harus meninggalkan nilai-nilai etika dan estetika. Sebagaimana yang sering diungkapkan oleh para sesepuh Sunda. dan karena itu sekaligus merupakan wilayah kegiatan yang bisa merasuk pada penggalian nilainilai manusia yang tidak akan pernah habis. atau negara lain yang disajikan tidak saja di gedung pertunjukan atau tempat pertunjukan seperti pendapa. yang menjadi ciri manusia sebagai makhluk khusus. menarikan. Akan tetapi juga kini banyak pertunjukan yang tampil di tepi sungai. serta seniman-seniman seni pertunjukan yang memikirkan seni bukan hanya sekadar ekspresi. di sawah. yang lebih menuntut hal-hal yang komunikatif. Dalam persaingan budaya dan kepentingan masyarakat semakin beragam. Akan tetapi dalam proses globalisasi.

Wilayah Priangan Di wilayah Priangan dikenal dengan berbagai pertunjukan tradisional yang di dalamnya bermuatan media dialog. memang unik dan spesifik. 20 . Masingmasing wilayah memiliki ciri khas. wilayah Cirebon dan Indramayu. bahasa. dan Ceritera Desik (atau kisah-kisah dari ceritera seribu satu malam seperti Sang Kuntala. Seni pertunjukan tersebut.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF sebuah komunitas lokal5. Masing-masing bentuk sajiannya memiliki kekhasan yang sangat unik. pendidikan. spriritual. etika. protagonis. dan wilayah Pantai Utara atau dikenal dengan sebutan Pantura. Babad. dan estetika. karawitan. baik dialog ataupun syair lagu. serta busana yang dikenakan. baik verbal maupun non verbal secara etis dan estetis. iringan musik. bahkan pencak dan lawak. dengan tidak menggurui. properti. lagu. Seni tradisi yang berkembang di Jawa Barat. cengkok lagu. drama. antagonis dan tritagonis. baik busana. gaya. antara lain sebagai berikut: 1) Sandiwara Sunda (Priangan) Sandiwara Sunda merupakan pertunjukan yang berkembang di kalangan rakyat dengan ceritera yang diambil dari ceritera Wayang. Pertunjukan yang memiliki unsur bertutur. atau komentar sosial. yang bisa dilihat dari bentuk. maupun stuktur pertunjukannya. informasi pemerintah berupa penanggulangan kesehatan dan pertanian. “ Cultural Policy an Performing Arts in Soteasst Asia”. yaitu wilayah Priangan. baik berupa seni tari. Lampu Aladin). tetap saja dikemas melalui simbol-simbol. nilai-nilai moral. Pada tahun 1960-an. gerak tari. tetap masih mempertahankan nilai-nilai edukatif. Kendatipun di dalamnya bermuatan pesan-pesan agama. tetapi sifatnya menghibur. Adanya muatan pesan-pesan pendidikan sangat dominan dengan ditampilkannya tokoh. sesuai dengan tradisi daerah para pendukungnya. Jawa Barat dikenal dengan berbagai seni pertunjukan yang menjadi prestise para pejabat dan dapat berkembang di masyarakat. 151. Bentuk seni pertunjukan tersebut dapat dibedakan menjadi tiga wilayah. serta suasana eros dan chaos. 5 Jeninfer Linsay . 1. Roman (kehidupan sehari-hari). maupun arak-arakan atau helaran. gerak tari. dalam Biddragen.

tapi 10 hingga 20 orang sinden. dan lain-lainnya. dari dialog-dialog para pemain dan lagu-lagu yang dilantukan penyayi. adalah setting layar dan kostum disesuaikan dengan tema. atau sejarah Pajajaran. Media komunikasi antara pemain dengan penonton sangat dominan. Pertunjukan wayang golek sangat menarik. kostum. tidak hanya satu atau dua orang sinden. sebagaimana tokoh dan adegan dalam pewayangan. Grup yang paling dikenal pada tahun 1960-an di kota Bandung. 2) Wayang Golek (Jawa Barat) Wayang Golek merupakan pertunjukan teater boneka yang sangat popular di Jawa Barat. antara lain untuk daerah Cilangkap Sumedang Dalang Asep 21 . Sri Murni dan Sri Mukti. kemudian beralih menjadi pertunjukan yang mandiri tanpa dalang dan wayang. ketika menampilkan ceritera Wayang. Perkembangan selanjutnya. sebagai Kliningan Bajidoran yang dominan menampilkan sinden yang juga menyanyi dan menari. Begitu pula pada cerita Babad sebagaimana tokoh dalam ceritera sejarah Sangkuriang. Wayang Golek memiliki lakonlakon galur dan carangan yang bersumber dari ceritera besar Ramayana dan Mahabrata. Bahasa yang digunakan dalah bahasa Sunda dan diringi gamelan Sunda berlaras Pelog dan Salendro. Pertunjukan Wayang bahkan menjadi pertunjukan prestise di daerah-daerah tertentu dengan dalang-dalang favorit setempat. dengan vokal yang dibawakan oleh sinden. dialog.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Yang paling menarik. Adapun Wayang Golek mulai bangkit kembali setelah kehadiran Dalang Asep Sunandar Sunarya sekitar tahun 1980-an dengan kemasan baru. karena pada tahun 1960-an pernah terjadi adanya peran dalang yang tergeser oleh sinden yang kemudian dikenal sebagai sinden legendaris Titim Fatimah. yang kini masih berkembang di daerah Subang dan Karawang sebagai seni hiburan yang menjadi andalah daerahnya. Sebagai contoh. terutama dengan munculnya tokoh ‘si Cepot’ sebagai ikon dominan pada setiap pertunjukannya dengan dialog-dialog dan gerak yang lucu. serta gerak. antara lain. dan Upit Sarimanah yang bisa mengubah struktur pertunjukan menjadi dominan penampilan sinden dengan saweran uang.

dan lain-lainnya. Gending Karesmen. cinta tanah air. Ganda Mekar pimpinan Mang 22 . Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya dari kisah sejarah atau legenda. akan tetapi yang berkembang di masyarakat terutama pada perayaan-perayan HUT Proklamasi Indonesia. Pahlawan Samudra. dinamakan Lagu-lagu Ageng. berupa drama suara minimalis dengan diiringi kecapi. Si Kabayan. daerah Buah Dua Sumedang Dalang Dede Amung. Ceritera yang dibawakan mengenai pesan moral dan sosial yang tentu saja bermuatan pendidikan. seperti Pajajaran. Gesan Ulun. Pada musim pemilihan umum dan pencalonan Presiden. Degung sering ditanggap pada acaraacara resmi atau hajatan-hajatan pernikahan dan sunatan. Samagaha. dan lain-lainnya. Pada awalnya lagu-lagu Degung berupa instrumental yang sangat khas yang tabuhannya sangat unik. Manintin. Galatik Manggut. Nyai Dasimah. Grup-grup yang terkenal pada tahun 1970-an adalah Parahiayangan pimpinan E Tjarmedi. 3) Gending Karesmen (Priangan) Gending Karesmen (Drama Suara) merupakan drama yang dialognya berupa syair yang dilagukan. kendang dan gong. pernah berjaya di tahun 1970-an. Bima Mobos. dan lain-lain. kendatipun awalnya diiringi dengan gamelan pelog-salendro yang lengkap. Gending karesmen yang terkenal di Jawa Barat. 4) Degung (Priangan) Degung merupakan sajian karawitan (musik tradisi) dan vokal dengan diringi gamelan degung. Lutung Kasarung. menabung. Kulu-kulu yang bias mengiringi berbagai lagu dengan syair yang sarat dengan pesan-pesan atau informasi mengenai pendidikan. Wayang Golek sering dijadikan sebagai media kampanye yang pesan-pesannya dititipkan melalui dialog tokoh Wayang. Kinteul Buek. dengan sutradara seniman yang piawai dalam bidangnya. yaitu Koko Koswara. Perkembangan selajutnya degung berkembang menjadi lagu-lagu sawilet seperti Catrik. cinta ibu. Raja Kecit. antara lain lakon Pangeran Jayakarta.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Sunandar Sunarya. Beber Layar. yang terkadang diselingi dengan gerak tari.

23 . Anjen. Gerak tari yang sangat khas. oleh Nining Meida dan Barman Syahyana (1984 dan 1986). tanah lapang atau tempat-tempat yang berhalaman luas dengan penerangan oncor (obor) berkaki lima yang diletakkan di tengah arena pertunjukan. Rachel Swindell (London-Inggris). terutama karena setiap pertunjukannya. Yang tidak kalah penting. Grup Ujang Suryana. pengembangan Degung dilakukan oleh perguruan tinggi Seni dan beberapa musisi. Konsep melodramatik mendasari ceriteta-ceritera tersebut karena selalu diakhiri dengan happy ending. Dewi Permanik pimpinan Euis Komariah. S dengan grup Gentra Madyanya. Sebagai pertunjukan rakyat Longser memiliki fungsi sosial. masyarakat dari berbagai tempat bertemu di satu tempat untuk bersama-sama menyaksikan cerminan dari kehidupan mereka sendiri. Gentra Madya pimpinan Nano. adalah gerak ‘uyeg’ pada Ketuk Tilu dengan sebutan khas ‘keplok cendol’ yang dibawakan oleh para penari perempuan yang disebut ronggeng. gerak dan syair lagu yang diiringgi gamelan salendro. S. Kesenian ini sebagai perkembangan dari pertunjukan Doger dan Ketuk Tilu yang mulai tidak disukai oleh masyarakat yang muncul sebagai teater keliling dengan penyajian di arena terbuka. seperti lagu Kalangkang. Selain media komunikasi berupa dialog. sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi. kebun bambu. 5) Longser (Bandung) Longser merupakan teater rakyat. Paraguna (Jepang). Yang sangat menarik adalah. unsur yang disukai oleh penonton adalah hadirnya bodoran atau lawakan serta para penari Ketuk Tilu Ci-keruhan dan Pencak Silat. Damas (Daya Mahasiswa Sunda). Evergreen dan John Sidal (Kanada). adalah Nano. selain menyajikan ceritera rakyat. serta grup-grup di tingkat daerah.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Koko. Mayang Binekas pipmpinan Dadang Sulaeman. Cinta Ketok Magic. musisi Lou Harrison (USA) beserta para mahasiswanya. antara lain Lingkung Seni Pusaka Sunda University of California (Santra Cruz-USA). membuat banyak lagu Degung dengan introduksi dan arasement tersendiri yang dapat menaikkan omset rekaman kasetnya. Bahkan pada tahun 1980-an di luar Indonesia.

Ciamis) Beluk. Bogor. karena syairnya sangat fleksibel dapat diisi dengan berbagai muatan pesan dan informasi. Bandung. Alunalun. Pangalengan. geuning Mikacinta-mikacinta ka sasama Hiji dasar kabangsaan Indonesia. Cikawao. ‘Pancasila’ Jaya (Dewi Sinta Dewa-dewa Rama Yang kesasar di hutan rimba Mencitai-mencintai kepada sesama Satu dasar kebangsaaan Indonesia. 6) Beluk (Cianjur.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF adanya dialog interaktif dengan penonton. Tegal Lega. Sedangkan Longser Ateng Japar menguasai daerah Bandung Selatan. Selain dialog. Banjaran. Cicadas dan wilayah kota Bandung). sindiran yang termuat pada syair sinden pun merupakan pesan yang handal untuk media komunikasi. Dalam hal ini untuk lebih menghidupkan suasana penonton diajak terlibat pada adegan-adegan tertentu. adalah lagu Kulu-kulu Sadunya dan Es Lilin. maupun sosial. Bang Tilil menguasai pertunjukan di daerah kota Bandung ( Stasiun. serta daerah sekitarnya). Contoh syair Lagu Kulu-Kulu Sadunya: Kulu-Kulu Sedunia Dewi Sinta Dewa-dewa Rama Kasasarmah di alas roban. sebagai berikut. berupa pesan spriritual. Lagu yang sangat komunikatif pada masyarakat Jawa Barat. ‘Pancasila’ Jaya) Lagu Senggot: Lagu Es Lilin Es lilin mah ceuceu kalapa muda Dibantunmah ceceu ke Kota Bandung Jangan lupa ceceu dan anak muda Narkoba sangat merusak penerus bangsa Longser yang paling dikenal pada zamannya tahun 1960-an adalah Longser Bang Tilil dan Longser Ateng Japar. Soreang. Cililin. ialah satu jenis Tembang Sunda yang mempergu24 .

menjadikan para jejaka (pemuda) datang memburu. populasi Beluk kian hilang. Sinom. adalah properti ‘lesung dan alu’ diiringi kacapi. 7) Gondang (Jawa Barat) Merupakan seni pertunjukan yang berkembang di masyarakat dengan tampilan ‘drama suara mini’. maka naskah dibacakan oleh juru ilo. Tampilan para jajaka sangat kocak dan terjadi dialog yang terkadang romantis. kendang dan gong. Dangdanggula. 8) Reog (Jawa Barat) Pertunjukan Reog. melengking. Lagu yang dibawakan. serta enak didengar. dan Kinanti. Setiap penyanyi berusaha melantunkan suaranya yang paling nyaring. Hal ini supaya penonton ketawa dan kantuknya hilang. Irama dentuman lesung para mojang yang membentuk irama atraktif. mulai dari mulai ukuran besar hingga kecil. Namun demikian semenjak populernya radio dan adanya TV. Perkembangan berikutnya Beluk sering ditanggap pada acara-acara syukuran di perkawinan. dan biasa diselenggarakan pada waktu syukuran bayi berumur 40 hari. sebab itulah yang menjadi ukuran terbaik. Beluk dibawakan oleh 4 orang dan dibantu seorang juru ilo dan diselenggarakan pada malam hari. merupakan pertunjukan yang dimainkan oleh para laki-laki dengan membawa alat tepuk berupa dogdog yang dilitkan di bagian perutnya. atau sebagai pertunjukan. kocak. tampilan para mojang (gadis) menumbuk padi dan para jajaka yang mencari cinta. kemudian dinyanyikan oleh penyayi Beluk. antara lain menggunakan pupuh Asmarandana. terutama dengan adanya festifal-festifal Reog bermunculan grupgrup yang berada di wilayah Jawa Barat. Sehubungan banyak para penyanyi Beluk yang tidak bisa membaca. yang dibawakan oleh lima orang. Adapun unsur pertunjukan yang mendukung. Penyajian pertunjukan 25 . tinggi. Pada masa kini di Jawa Barat hanya tinggal beberapa kelompok grup yang masih hidup. Perkembangan berikutnya dilakukan pula oleh para pemain Reog perempuan. dan segar. Antara pembaca naskah dan penyayi terkadang tidak sama misalnya “ Ada raja mengembara” dinyanyikan menjadi “ Ada raja tidak bercelana”.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI nakan nada-nada tinggi.

Perkembangan berkutnya lakon yang disajikan ditambah dengan naskah yang dianggap bernilai tinggi. gerak. Bedanya cara membunyikannya tidak digoyang seperti angklung. antara lain ceritera Lutung Kasarung. 10) Pantun (Ciamis. (Darso). sehingga bermunculan vokalis Calung terkenal seperti Adang Cengos dan Hendarsonya. Perkembangan masa kini pertunjukan Angklung lebih dominan lagu-lagu vokalnya daripada dialognya. piul (biola) bahkan organ dan gitar. sebagai prototipe angklung. Sumur Bandung. Bandung. maupun perguruan tinggi. bas. Pertunjukan Calung diilhami dari pertunjukan Reog yang memadukan unsur-unsur dialog. kenong. pengisi ritme. Dalam naskah Siksa Kandang Karesian. Ciung Wanara. Banyacatra. akan tetapi dipukul dengan tabuh stik bambu. dengan nada pentatonis pelog atau salendro. yang ditulis pada 1518 M. dan lagu. masing-masing mempunyai peran sebagai melodi. Unsur vokal menjadi sangat dominan. 9) Calung (Jawa Barat) Calung merupakan pertunjukan Sunda dengan menyajikan alat waditra (instrumen) bambu yang dijinjing oleh lima orang pemain. seperti kosrek. Dialog yang dibahas seputar fenomena masyarakat. kacapi. Banyacatra. Selain waditra Calung ada penambahan beberapa alat musik. Ceritera Pantun pun berkisar pada kisah-kisah Anggalarang. tabuh. disebutkan babwa Pantun telah digunakan sejak zaman Langgalarang. Perkembangan Calung di Jawa Barat begitu pesat dengan adanya festival-festival Calung. terutama Universitas Padjadjaran (UNPAD) merupakan lembaga yang mensosialisasikan pertunjukan Calung sebagai seni pertunjukan yang sarat hiburan dan informasi (penyuluhan). Bogor) Seni Pantun. dan Siliwangi. dan Siliwangi. Mundinglayadikusumah. dan goong. baik di tingkat daerah.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Reog kolaborasi antara dialog. adalah seni yang berusia cukup tua. Perkembangan selanjutnya pada penyajiannya. Reog sering dijadikan sebagai media penerangan hal-hal yang penting oleh pemerintah. Lima orang pemain. 26 . khususnya isu-isu penting di selingi dengan bodoran segar. vocal dan gerak tari.

dan Sang Bango. ceritera yang ditampilkan sama dengan pertunjukan Wayang. dan Maulana. Ubrug. Rendeu. di atas terdapat berbagai pertunjukan yang komunikatif. Surak Ibra. sedangkan untuk acara ruwatan. para buyut. Beluk. yang pernah mengalami kejayaan pada masanya. Dalam sajian hiburan ceritera yang diambil dari salah satu ceritera pantun yang dikuasai Juru pantun atau atas permintaan penanggap. ka pohaci. dengan iringan rebana. Selain terdapat kata isthigfar (islam). Aisyah. tahyan dan kecrek. Blantek merupakan perpaduan seni daerah Bogor. nama raja. (tolak bala). Si Jampang Jago Betawi. Karawang dan Jakarta. Pertunjukan-petunjukan tersebut pada 27 . adalah merupakan pembauran kedua zaman tersebut. perkembangan selanjutnya banyak yang menggunakan laras salendro. antara lain Paleredan. antara lain Bangket. Lagu Karawangan. Reak. Dogdog Lojor. baik dialog dan lagu serta gerakan tari yang atraktif. Ceritera-ceritera yang dipertunjukkan antara lain: Bodoh pinter. Kama Salah Murwakala. Kicir-Kicir. Ketiban Duren. tak heran jiga ungkapan dan ajaran (petuah) ki juru Pantun. antara lain Oncom Lele. dan Lagu Bogor. 11) Blantek (Parung Bogor) Blantek adalah sebutan dari pertunjukan Sandiwara Rakyat Parung Bogor. dan Jali-jali. Angklung Bungko. Tompel. tertangkap juga ucapan ka dewata. Sebagai seni yang hidup di tatar Sunda sejak zaman Hindu sampai Islam dan menjadi anutan masyarakat. Selain jenis pertunjukan-pertunjukan yang telah diuraikan. sebagai sajian hiburan dan acara ritual (ruwatan). dan lain-lain.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Ratu Bungsu Kamajaya. dalam arti menggunakan media komunikasi verbal. Ada dua bentuk seni Pantun yang biasa disajikan oleh masyarakat Sunda. Acung. Para pelawak Topeng Blantek di Bogor yang dikenal masyarakat. Salah Colek. antara lain lagu Al Fiah. sedangkan lagu-lagu. Kedung. Balo-balo. antara lain adalah Ronggeng Gunung (Ciamis). seperti Batara Kala. Koyok. Lagu-lagu yang dibawakannya adalah yang bernafaskan Islam. para karuhun. Seni pantun disajikan oleh juru Pantun berupa ceritera tutur dengan diiringi oleh kacapi berlaras pelog. dan Topeng Cisalak. dan lain-lainnya.

dengan adanya properti kurungan ayam. Grup Tarling yang paling terkenal di Cirebon pada tahun 1966. lodong bambu. dengan lagu Turun Sintren. yang tercermin lewat lagu-lagu yang disajikannya dengan monoton dan sederhana. juga lagu Banyu Mata. Pegat Balen. terdapat pada kesenian Sintren antara lain. Padang Wulan. seperti ruwatan. Di Wilayah Cirebon dan Indramayu 1) Tarling Tarling merupakan pertunjukan yang menggunakan paduan gitar. Oleh karena instrumen yang mendominasi gitar dan suling. hihid (sekarang diganti oleh karet bahan sandal). dan lain-lain. Mbrebes mili. bersih desa. Simbar Pati. 2. Sintren pada awalnya digunakan sebagai media dalam upacara tertentu. Baridin. yang pemainnya (perempuan) dimasukkan pada kurungan ayam dengan mata ditutup kain. suling. Kembang Tarate. Musik pengiring Sintren. tapi secara frekuensi pertunjukannya semakin jarang tampil karena jarang ditanggap atau difungsikan oleh masyarakat pendukungnya. Makna teatrikal Sintren yang digambarkan. kendang dan gong. yang membuat adegan simultan. sintren dan kurungan. Lahir Batin. serta mengenakan kacamata hitam. nebus weteng. naeken suhunan. dengan ciptaan lakon drama. dan lain-lain. ialah dengan tampilnya pawing. 2) Sintren Sintren merupakan pertunjukan yang unik. Pasrah Mati Njaluk Urip. makna mistis karena memiliki hubungan dengan perolehan magi simpatetis. Saida Saini.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF masa kini masih berkembang. adalah buyung. adalah grup Tarling Nada Budaya dan Putra Sangkala. seperti Marta Bakrun. ngunjung. Beberapa makna yang mampu memberikan kekuatan. seperti Saida-Saeni. kecrek (dari sapu lidi). serta penyayi sinden (perempuan) atau penyayi laki-laki. Perkembangan Tarling pada tahun 1960-an cukup pesat dengan lagu andalan Kiser (lakon yang dinyanyikan). 28 . jadi nama pertunjukan diambil dari kedua alat tersebut.

serta Inu Kertapani anak Sujana. gading. seperti Sutia. Penggunaan lima buah kedok (berwarna merah. Topeng Losari. Suparti. Topeng terdapat beberapa gaya sesuai dengan nama daerah di antaranya. Rumiang. Panji. Pada Arjalah Topeng Slangit mulai dikenal. Di tengah. dikabarkan sejarahnya. yaitu Klana. Topeng Palimanan. Wayang sering dipakai sebagai media dakwah Wali Sunan Kalijaga atas perintah Sunan Gunung Jati. Sujana. jingga. lebih tepat apabila disebut grup keluarga. Pamindo. Pertunjukan Topeng Cirebon sarat dengan pendidikan dan budi pekerti. Tumenggung. putih). Arja pernah mendapat surat pengangkatan sebagai penari Kraton Cirebon. Salah satu fungsi pertunjukan Wayang di Indramayu 29 . (yang lainnya sudah almarhum) dan anakanak Keni (Yono. Nunung). 3) Topeng Cirebon Grup Penari Topeng dari desa Slangit Palimanan. Tumenggung. Sujaya. Para penarinya juga dapat menabuh waditra. kuning. menggambarkan sifat manusia (lima nafsu). 4) Wayang Kulit Cirebon dan Indramayu Wayang Kulit Cirebon dan Indramayu pada dasarnya tidak banyak bedanya dengan Wayang Kulit Jawa. Rumiang. Kini yang masih melanjutkan Topeng Cirebon gaya Slangit tinggal Keni. Perbedaannya yang menonjol hanya pada bahasa yang digunakan. Topeng Dermayon (Indramayu). Bermula dari Pak Krian seorang dalang Topeng. Jingga Anom. dilanjutkan dengan Pamindo. dan semua anak-anaknya bisa menari yang kemudian sebagai penerus generasi. Ditengah-tengah pertunjukan sering ditampilkan bodoran/lawakan. Hanya saja di daerah Indramayu. dengan tingkatan karakter. gerakannya lebih indah dibanding daerah lain di Cirebon. dimulai dengan menampilkan tari Panji.tengah pertunjukan biasanya diselingi dengan bodoran si Pentul atau Tembem dengan dialog yang segar dan lucu. kemudian Klana. dan Keni. selain lengkap koreografinya. Suparta. dengan dialog-dialog yang lucu tapi bermuatan sosial.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI yang dilantunkan oleh Sinden. diturunkan kepada anaknya Arja (1879-1954). Dalam pertunjukannya. berisi muatan pendidikan dan masalah sosial.

yang kemudian berkembang dengan adanya tarian hiburan. yang selanjutnya dikenal dengan nama Kliningan 30 . sebagai berikut: musik pembuka (sebagai tatalu). 6) Sandiwara Indramayu Perkembangan Sandiwara di Indramayu tidak terlepas dari perkembangan Ketoprak dan Sandiwara Cirebon. Di Wilayah Pantai Utara (Pantura) 1)Kliningan Bajidoran (Jaipongan Pantura) Kliningan Bajidoran. Grup Sandiwara yang jadwal panggungnya penuh dan dikenal di masyarakat. dengan strutur pertunjukan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan Cirebon. Ki Gede Trusmi. Walangsungsang. maka tidak heran. dan Pusaka Golok Cabang. 3. Pertunjukan model ini merupakan perkembangan dari pertunjukan yang menyajikan unsur karawitan (musik tradisi) dengan menggunakan gamelan Pelog-Salendro. dan Panca Tunggal. antara lain Nyi Mas Gandasari. adalah sajian pertunjukan hiburan kalangenan dengan menampilkan sinden-penari dan sinden-penyanyi sebagai media pertunjukannya. Bedanya menggunakan bahasa Cirebon. Pertunjukannya dilakukan pada malam hari. penutup dengan musik dan epilog pimpinan sandiwara. adalah sebagai sarana Ngaruat. yaitu membersihkan dari hal-hal yang dapat mencelakakan manusia. Sandiwara Cirebon juga menyajikan kesenian yang lebih menonjolkan unsur dialog dengan bahasa Cirebon. Aneka Tunggal. 5) Sandiwara Cirebon Sandiwara Cirebon di kalangan masyarakat Jawa Barat dikenak dengan sebutan ‘Masres’. Gema Nusantara. pertunjukan lakon. serta banyak menggunakan spectacle-spectacle dan musik Dangdut Cerbon-Dermayon. Pada tahun 1970-an Sandiwara Cirebon mengalami masa kejayaannya. adegan gimmick (surprise dengan trik panggung kembang api). Adapun ceritera yang disajikan mengambil dari babad Cirebon. tarian pembuka. Sang Putra Darma. jika pada masa itu bermunculan grup-grup Sandiwara di setiap desa dan kecamatan. Sebagaimana juga Sandiwara Sunda. adalah Grup Darma Saputra. Tandange Ki Bangus Rangin.

sebagai ajang prestise. dengan menggunakan iringan gamelan yang sederhana (mudah dibawa) serta bahasa Sunda yang dicampur dengan bahasa Indonesia dialog Betawi. sunatan. merupakan persoalan masyarakat Karawang. dan difungsikan sebagai tanggapan yang wajib disajikan pada hajatan masyarakat Subang. yang mengutamakan adanya interaksi sinden-penari atau penyanyi dengan para pengibing. dll. ajang komunikasi. Namun demikian semenjak adanya musik Organ Tunggal dan Dangdut. terutama dengan munculnya grup-grup Kliningan Bajidoran yang dipimpin oleh para perempuan. juga lawakannya cenderung lugu. baik bagi seniman. antara lain ke Bekasi. Subang. juga syukuran seperti hajat perkawinan. Ceritera yang dimainkanpun sangat akrab. Banjet memiliki waktu pertunjukan yang hampir sama dengan tetaer lainnya (Longser. bahkan ajang ekonomi. Banjet identik dengan dengan Doger. Banjet mempunyai sebaran yang cukup luas. yang kemudian banyak dikenal dengan sebutan ‘Goyang Karawang ’ . yaitu goyang pinggul dan bokong yang aduhai. nyambut cai (menjemput air dari irigasi). 2)Topeng Banjet Karawang Topeng Banjet . Topeng Banjet hingga sekarang masih dipertunjukan oleh masyarakat Karawang terutama di desa-desa sebagai sarana pelengkap upacara hajat Bumi. populasi tersebut makin berkurang. yang menunjuk pada sebuah tontonan yang menampilkan ronggeng dan diringi gamelan yang dinamis. ajang interaksi. Sandiwara Indramayu. Di Subang tercatat pada tahun 1999 terdapat 158 grup. Selain tariannya yang erotis. dll). Sandiwara Sunda. Pertunjukan ini sangat digemari oleh masyarakat. Pertujukannya dimulai sekitar pukul 21. Matres. Sebagaimana umumnya teater rakyat. Bogor Utara. bahkan. Priangan.00 dini hari. yaitu waktu musim turun nyambut (membajak sawah). 31 .00 hingga pukul 05. atau upacara perputaran waktu. dan para pedagang yang selalu hadir di manapun Bajidoran idolanya ditanggap. Purwakarta. penanggap. adalah Tetater khas Karawang dengan cirri yang paling dominan pada gerak tari yang cenderung erotis.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bajidoran. apa adanya.

bang Enjin (Subang). antara lain Kelompok Topeng Banjet Asmu atau Pendul (sekarang Pendul Putra). dalam menentukan pilihan. terutama juga tarif yang tinggi atau terlalu mahal. sebagai berikut: 1) Wayang Golek. Dalam hal ini. Topeng Banjet Tinggal menjadi Topeng Banjet Baskom. bahkan dijadikan ajang prestise. dalam era globalisasi. antara lain Bang Seli (Tambun). atau bahkan orientasi nilai budaya. dan sebagainya. Wayang Golek masih difungsikan di masyarakat. 32 . Sejalan dengan perkembangan zaman Kelompok yang bertahan dan cukup popular. dari daerah-ke daerah. Bang Nasmi Pagaden Subang. status. seni pertunjukan tradisional di Jawa Barat banyak mengalami perubahan. Mang Dalih (Cimanggis Bogor). masih banyak seni pertunjukan lokal yang hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat yang menyebut dirinya sebagai masyarakat modern. Ade Kosasih (alm). adalah. yakni Kelompok Ijem dan Askin) Kondisi Masa Sekarang Pada era komunikasi yang serba canggih. Faktor-faktor yang terjadi didasari pertimbangan. Dasim menjadi Topeng Banjet Reman. dalam perjalanan sejarahnya (sebelum tahun 1960-an) aktif mengalami tradisi ngamen. Sebagian di antaranya ada yang berubah fungsinya. Walaupun kemudian terjadi pasang-surut. Bahkan banyak yang hilang seiring dengan bergulirnya zaman.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Kelompok Banjet sebagaimana juga pertunjukan Longser. sementara yang lain mengalami perubahan bentuk. Bang Jiun dan Mak Kinang (Cijantung). Tidak dapat dimungkiri. masyarakat Jawa Barat dihadapkan pada banyak pilihan. prestise. kendatipun secara frekuensi pertunjukannya tidak sebanyak pada tahun 1960an dan tahun 1990-an pada masa Dalang Asep Sunandar Sunarya. Namun demikian beberapa seni pertunjukan yang hingga kini masih berkembang dan difungsikan oleh masyarakat pendukungnya. di antaranya: selera. Tokoh Banjet. Kondisi diakibatkan berbagai faktor. Bang Kacrit (Bekasi) serta Bang Ali Syaban dan Bang Awing (Karawang). Topeng Banjet Sapar menjadi Topeng Banjet Alisyaban (sekarang menjadi dua. serta Dede Amung.

Rina. seperti Asep Sunandar Sunarya. Ceritera yang ditampilkan naskah karya Saini KM. di daerah Bandung selatan pimpinan putra Ateng Japar. lebih memilih untuk menambah membeli mobil atau ibadah Haji.didirikan tahun 1975 dengan koordinator Hidayat Suryalaga. serta Longser Sasagon campuran Alumni STSI Bandung yang melahirkan artis-artis yang sering manggung di TV seperti Sule. Stuktur pertunjukan sebagaimana pertunjukan Teater berbahasa Sunda lainnya. Longser Antar Pulau yang para pemainnya para alumni STSI Bandung. Asep Koswara Dede Amung. 4) Calung dan Reog Adapun seni Calung dan Reog. serta Deden Sunandar Kosasih (putra Ade Kosasih Sunandar Sunarya) yang tarifnya berkisar Rp 20 juta (dalam kota). dan lembaga-lembaga tertentu yang masih mampu menanggap dalang-dalang kahot. Wayang Golek dengan dalang-dalang muda ini masih bertahan digunakan untuk masyarakat-masyarakat tertentu. dan Dede Amung (untuk dalang Asep Sunandar Sunarya berkisar Rp 50 juta rupiah. dan Dede Amung berkisar Rp 40 juta rupiah). Argo. Wawan Dede Amung Sutarsa. 2) Longser (Bandung) Adapun Longser yang masih bertahan. Ki Daus dll. pada masa kini mulai kem33 . daripada Rp 50 juta hanya untuk sebuah pertunjukan Wayang Golek. Dadan Sunandar Sunarya (putra Asep Sunandar Sunarya). dll.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Untuk para dalang-dalang kahot. Hanya orang-orang yang berduit serta beberapa kelompok organisasi parpol (sebagai ajang kampanye). Longserlongser yang berkembang pada masa kini adalah. Pada masa kini masyarakat perkotaan dan perdesaan sebagaian besar berpikir praktis dan ekonomis. 3)Teater Sunda Kiwari (Bandung) Kelompok Teater yang menggunakan bahasa Sunda. Wahyu Wibisana. Yosep Iskandar yang diterjemahkan oleh Eti RS ke dalam bahasa Sunda. Akan tetapi dengan munculnya para dalang muda seperti Hedi Riskonda. antara lain adalah.

lagu. asal kata dari. antara lain: 5) Glamor Glamor. Grup Reog Gembol Perempuan dari Kota Bandung yang mendapat juara. dengan memasang tarip lokal berkisar Rp 10 juta. Grup Jenaka Sunda dimainkan oleh lima orang pemain serta 3 orang pemain musik kacapi. Jawa. dll. yang dikolaborasikan dengan lagu pop Indonesia dan Barat. sering mendapat tawaran manggung pada acara-acara pesta rakyat. dan humor. Glamor sering diminta untuk manggung keliling daerah dengan tarif lokal berkisar Rp 10 . kendang dan gong. Batak. Penyajiannya diringi kecapi elektrik. serta geraknya tarinya yang membuat geli serta dialog plesetan yang membuat suasana segar. dan pemusik empat orang. dengan menitikberatkan pada garap vokal tradisi Sunda dan dilengkapi dengan dengan garap vokal kekinian. di Jalan Buah Batu Bandung. bertangga nada diatonis. kendang dan gong. bermunculan pula seni-seni baru. Glamor berdomisili di Kota Bandung dengan pimpinan Atang Warsita. Keunikan grup ini adalah pada vokal yang dijanyikan oleh Tarjo yang bernada tinggi. biola. Minang. 6) Jenaka Sunda Grup Jenaka Sunda ‘Kanca Panglima’. serta gerak dan mimik ekspresi muka yang lucu dari para pemainnya membuat para penonton terhibur. salendro dan pelog dengan pemain enam orang. gerak. Dangdut. Pada acara kampanye parpol. merupakan kelompok seni pertunjukan yang bergerak di bidang seni komedi. diiringi tampilan lagu-lagu daerah Sunda. Tampilannya sungguh memukau karena dialognya yang kocak. di Komplek Panyileukan Bandung.15 juta. Grup Jenaka Sunda Panglima beralamat di Bandung pimpinan Lili Suparli. mengelu-ngelu sebagai duplikasi kesenian ‘Beluk’ yang hampir punah (karena salah satu vokalisnya (mang Ukok) yang telah almarhum). 34 . Keroncong. pengembangan dari seni tradisi yang sifatnya menghibur. Selain seni-seni tradisi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF bali digalakkan dengan cara diselenggarakannya ajang festival antar daerah se Jawa Barat yang diikuti oleh Grup Reog laki-laki dan Grup Reog Perempuan Calung Remaja.

Cineur Grup. China pun dikenal dengan ramu-ramuan pengobatan tradisional. ternyata penghargaan masyarakat terhadap seni pertunjukan tradisionalnya (teater tradisional) Kabuki. baik berupa seni pertunjukan Opera. seni pertunjukan dan bangunan-bangunan bersejarah. dan Euis Oray. Begitu pula nilai-nilai etika yang masih sangat dijunjung tinggi. Grup Giler Kameumeut. negara yang masih menjujung tinggi budayanya antara lain adalah China. Titin Dongkrak. dapat diacungi jempol. antara lain Kliningan Bajidoran di daerah Subang. Untuk daerah Karawang Suwanda Grup. Ati Grup. Selain dikenal dengan peninggalan budaya. juga seni Pertunjukan Akrobatik dengan kolaborasi teknologi canggih. Cabe Rawit. Namin Grup. dan Euis Dongkrak. Linda Grup. 2) Topeng Banjet Topeng Banjet yang masih bertahan pada masa kini. Cicih Cangkurileung. Dan yang paling dikenal dunia. memiliki gedung Seni Pertunjukan yang modern lengkap 35 . serta dapat di temui di belahan dunia manapun.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Adapun di wilayah Pantura hingga saat ini seni pertunjukan yang masih eksis antara lain: 1) Kliningan Bajidoran atau Jaipongan Pantura Pertunjukan model ini di daerah Subang dan Karawang masih menjadi primadona. kini secara populasi lebih banyak grup yang dipimpin oleh perempuan yang banyak manggung daripada yang dipimpi laki-laki. Ipah Gebot. Selain Jepang. Budaya Lokal dan Tantangan Masa Depan Barangkali bisa dijadikan referensi. Malaysia. adalah Kelompok Ijem dan Askin. serta lembaga-lembaga seni dan budaya sebagai apresiasi Seni masyarakat. adalah makanan tradisional khas China. Selain Kabuki. di beberapa negara maju seperti Jepang. Bahkan dengan munculnya grup-grup yang dipimpin oleh perempuan. itupun hanya ditanggap pada hajatanhajatan perkawinan di kampung-kampung. selain industrinya terdepan dibandingkan dengan negaranegara lain. seni sastra serta seni lukisnya pun maju. China dikenal memiliki berbagai Gedung Seni Pertunjukan yang representatif yang ditangani secara profesional dengan melibatkan 200 orang seniman.

Bahkan di Malyasia. terutama Jawa Barat agaknya justru menjauhi seni tradisi. baik pada festival-festival. Demikian pula dengan Jerman. Wisuda perguruan tinggi yang wajib diiringi gamelan. Inggris. bahwa tantangan masa depan seni pertunjukan tradisional dapat dipilah menjadi dua. Masyarakat Indonesia. dalam arena balap sepeda. 6 Ruang. tari Piring. Amerika Serikat sebagai negara adikuasa. dan cenderung mengedepankan teknologi dan ekonomi kemasan yang baru (yang sebelumnya tidak ada). jika benar-benar merupakan ekspresi artistik dan mengungkapkan kedalaman naluri manusia. Begitu pula program-program konservasi. artistik. pengembangan dan pembinaan seni perunjukan tradisional. haruslah bersifat komprehensif dan berkesinambungan. ternyata masyarakatnya sangat menghargai musik rakyat. serta mensosialisasikan dengan dana yang murah . 36 . dll. Bukan hanya bersifat kesementaraan dengan hanya berpedoman ‘SPJ’. selain digelar pertunjukan budaya Malaysia juga digelar pertunjukan Indonesia hampir di setiap antar Kota. musik. tetapi juga aktivitas-aktivitas seni pertunjukan. atau menghabiskan dana proyek daripada hangus. serta (2) Motivasi berbagai pihak terkait untuk memberdayakannya (memfungsikan). yang dikunjungi masyarakat pewisata baik negara asal. dan seniman lainnya. Atas dasar uraian yang telah dipaparkan. merupakan salah satu kendala untuk berkembangnya seni tradisi di Jawa Barat. serta pertunjukan Angklung. tidak berarti hanya sekadar ‘ tempat’. lomba-lomba balap mobil. seperti tari Kuda Lumping. dan Perancis. sepeda. maupun mancanegara.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dengan panggung sistem hidrolik (lighting. bahwa penyajian seni pertunjukan tersebut. sastra. dll). Lambat-laun dunia mengakui. Pertunjukan pun disajikan secara periodik. tari Rantak Minang. akhirya dapat disimpulkan. yaitu : (1) Sumber Daya Manusia (SDM seniman yang kreatif). Padahal kesenian yang paling lokal. serta radio-radio yang menyiarkan musik tradisional (di antaranya juga Keroncong Indonesia). sekitar 250 orang. dan produk kesenian rakyat lainnya. adalah milik negara Malaysia. dengan seniman tari. hendaknya ‘bersifat simbiotis’. Kebijakan pemerintah dalam menumbuhkembangkan seni pertunjukan tradisional sebagai kekuatan lokal. selain mengedepankan teknologi juga tidak mengesampingkan seni pertunjukan milik negaranya. TV-TV Swasta dan Pemerintah. Tidak adanya ‘ruang’ 6 publik yang dapat digunakan sebagai ajang kreativitas para seniman. akan memiliki daya tarik yang universal. karena di negara asalnya Indonesia jarang ditemui dalam event/event terbuka.

9. dan sebaliknya dunia yang berupa bola (globe) menuntut kepedulian lokal-lokal. UNPAD program studi Pariwisata dan Budaya) . interior tradisional. Adanya sinergi. atau ruang-ruang yang terpisah. Semua tersebut di atas dapat terwujud apabila ada kerjasama ‘teks dan konteks’. khususnya program-program konservasi. pihak swasta. Kebijakan Pemerintah untuk menyusun Perda. supermaket. dari lembaga terkait. baik yang mewakili daerah khususnya. Program studi Pariwisata. diwajibkan adanya ‘ruang’. 4. Kurikulum yang sinergis. selain menyajikan makanan tradisional. kerajinan tradisional. sesuai dengan kebutuhan di lapangan. dan pembinaan budaya /kepentingan masyarakat (STSI. serta adanya ‘Ruang bagi seniman dan karya seni pertunjukan lokal. serta pembinaan seni dan budaya. dan hotel berbintang. secara teks dan konteks. Indonesia pada umumnya. Penulisan buku-buku serta penelitian seni tradisi yang didanai khusus oleh lembaga-lembaga terkait. khususnya dengan makin banyaknya mall. antara lain sebagai berikut. kepercayaan) terhadap kesalinghubungan semua pihak yang terkait. juga pertunjukan tradisional. khususnya ‘materi terapan’ untuk kepentingan konservasi budaya serta kepentingan pengembangan. UPI-Jurusan Sendratasik UPI. Kurikulum Muatan Lokal (Seni) di sekolah-sekolah yang disosialisasikan secara menyeluruh. Difungsikan oleh masyarakat. 1. pengembangan. Kerjasama yang dimaksud. 5.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Terlepas dari itu semua kini diperlukan bukan hanya melihat satu persatu. 7. Diadakannya berbagai Festival Seni Tradisi oleh lembaga-lembaga terkait. Sekolah-sekolah Pariwisata. 6. akan tetapi merupakan tanggungjawab kita semua. 8. Kita perlu memiliki kesadaran global. serta masyarakat. Kerjasama semua pihak antara pemerintah. tanpa sekat-sekat ruang komunikasi.’ Semua lokal merupakan bagian dari global. yakni pemahamam (pengakuaan. STISI. 2. dan lembaga-lembaga terkait. atau pihak-pihak terkait dengan dipertunjukkannya pada acara-acara penting di berbagai event. 3. Pembuatan film dokumenter sebagai arsip kekayaan daerah. 37 .

bahkan sepanjang zaman. bahwa tradisi merupakan akar budaya serta kekuatan lokal. tan hana nguni tan hana mangke. Endang Caturwati. tak ada pokok kayu tak akan ada batang. Theatre in Southeast Asia. hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna. baik di daerah regiaonal.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF terutama acara-acara penting. untuk menghantarkan kembali masyarakat ke koridor sejarah masa lalu. maupun nasional. James R. Itu berarti. aya nu ayeuna. Bandung: Sunan Ambu STSI Press 2007. hana ma tunggulna aya tu catangna”. 1987: 130). ada pokok kayu ada batang. berarti masyarakat Jawa Barat atau lembaga-lembaga terkait telah memahami arti dari pelestarian dan pengembangan budaya dengan makna yang sesungguhnya. Pelestarian seni tradisi sebagai warisan budaya bangsa yang bukan hanya merupakan obsesi. apabila semua itu telah terwujud. Massachusetts: Havard University Press. setiap lembaga pemerintah atau swasta untuk mempertunjukkan seni tradisi minimal 1 tahun 2 kali pertunjukan. ada masa lalu ada masa kini. Sebagaimana julukan Indonesia yang dikenal di dunia sebagai bangsa yang sangat berbudaya.. Keyakinan historis. 10. hana tunggak hana watang. serta Ekspresi Budaya Lokal tidak hanya sekadar memberikan kebanggaan. Cabridge. aya ma beuheula. Pertunjukan Indonesia. 1967. Daftar Pustaka Brandon. Dibuatnya undang-undang dan didanai khusus. Ada dahulu ada sekarang. bila tidak ada masa lalu tidak ada masa kini. Sebagaimana yang tersurat dalam “Amanat Galunggung” yang berbunyi: “Hana nguni hana mangke. tan hana tunggak tan hana watang. bahwa kebudayaan nasional yang dibangun harus berfungsi sebagai instrumen yang mengakomodasi masa kini dan membuka pintu masa depan. tetapi juga kesetiaan untuk memelihara dan merekayasa nilai-nilai luhur dan tradisi besar bangsanya. 38 . tidak ada dahulu tidak ada sekarang. bila ada tunggulnya tentu ada cabangnya (Saleh Danasasmita. dkk. Penutup Dengan demikian.

1985). Metode Penelitian Seni Pertunjukan . Lori Waltz. dan Globalisasi Seni. 2004. R. Bandung: Sunan Ambu Press.com/ballroomcountry/wallz. Heikkila.copyright. 2000. Seni dalam Tumpuan Tradisi.www. 2008.1996-2004. Seminar Revitalisasi. ed. 2009. 7 Januari. The Sociology of Art ( Chicago and London: The University Of Chicago Press. Pudjasworo.centralhome. Hauser. Dewan Kesenian Kabupaten Sleman Yogyakarta. “Dialektika Seni Pertunjukan Tradisi”. Bambang. Harian Pikiran Rakyat. 2001.htm . Transformasi. Manusia. dan Budaya Jakarta: Pustaka Jaya.M. Soedarsono. http. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI _______________. Ensiklopedi Sunda: Alam. 39 . Arnold.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ALAMAT KELOMPOK SENI TRADISI JAWA BARAT No 1 Nama Grup Jenis Seni Alamat Seni Jenaka Sunda Hiburan Lagu.Desa Slangit grum bon Klangenan Cirebon Topeng Panji Topeng Cire.Desa Slangit Asmara bon Klangenan Cirebon Jati Suara Wayang Kulit Kalianyar Cirebon Arjawi-nangun Cirebon Langgeng Putra Topeng Cire. Plered Cirebon Wayang Golek Wayang Jl.Desa Slangit bon Klangenan Cirebon Sandiwara Dhar. Komplek Bumi Kanca Panglima dialog dan Panyileukan Blok humor FI No 11 RT 01 RW 05 Bandung Glamor Gerak .Sandiwara Dr Cangkring ma Samudra Cirebon Kec.Topeng Cire. Mohamad Hedi Putra Golek Sunda Toha Pimpinan Lili Suparli 2 3 4 5 Atang Warsita Oyib Herman Efendi Keni Arja 6 Inu Kertapati Amud 7 8 Sanija 9 Umar Karsiyan Hedi Riskonda 10 40 . Lagu Jalan Buah Batu dan Humor Bandung Beluk Tembang & Ciapus Banjaran Tutur Bandung Longser Antar Teater Tradisi Jalan Buah Batu Pulau Bandung Topeng Aninin.

13 Banjet Ijem No Nama Grup Seni 14 Calung Darso 15 16 17 Reog Gembol Asep Dede Amung Muda Wawan Dede Amung Muda Teater Tradisi Jenis Seni Musik. Kecapi. dialog.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 11 12 Prakpilinkung (Keprak. Jl. Humor Reog Perempuan Wayang Golek Wayang Golek Areng Japar Putra Ijem Pimpinan Darso Euis Gembol Asep Koswara Wawan Dede Amung Sutarsa Dadan Sunandar Sunarya Deden Sunandar Kosasih 18 Dadan Asep Sunandar Muda Deden Ade Kosasih Muda Wayang Golek Wayang Golek Jelekong Bandung Jelekong Bandung 19 41 . lagu. Moh Toha dialog dan humor Teater Tradisi Banjaran Bandung Karawang Alamat Bandung Ujung Berung Bandung Bandung Bandung Nano. S. Ang-klung) Longser Pancawarna Hiburan Lagu. Suling.

Alamat Kantor : Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. E-mail : tanto47@isi-ska. 0813-29954762. Telepon/Faks : 0271-647658. Alamat Rumah : Jln. 22 Desember 1946 ini adalah Guru Besar Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta. S. Jln.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. Bimasakti III/1 Kaplingan RT 05 RW 20 Jebres Surakarta 57126. Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta (1988–1997). Jebres. Lulusan S3 Etnomusikologi University of Durham Inggris (1985) ini pernah menjadi Direktur Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta (1986–1988).Kar. Pria kelahiran Jombang. Chairman ASEAN bidang Culture and Information (COCI) pada tingkat nasional Indonesia (2003–2006) dan tingkat regional ASEAN (2005–2006).id 42 .ac. Ki Hadjar Dewantara 19 Kentingan. 638974 / 0271-638974. Sri Hastanto. Direktur Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1998–2000). Sejak tahun 2009 aktivitasnya lebih banyak mengajar di Program Pendidikan Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta (sejak 2009). Direktur Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI (2000–2006). Telepon/HP: 0271-664014 / 0813-88808037. Surakarta 57126. Dr.

tetapi tidak pernah kekuatan penerangan itu digunakan untuk menyelamatkan kehidupan seni tradisi. Pada saat itu. Saya percaya dengan demikian masing-masing akan memetik manfaatnya sehingga kegiatan itu akan dilaksanakan secara ikhlas. dan berkali-kali dalam berbagai kesempatan saya melontarkan kritik bahwasanya “sinergi” itu hanya berjalan sepihak yaitu: Hanya seni tradisi yang terus-menerus dijadikan wahana penerangan. Substansi Informasi Kita sadar semua bahwa kini masyarakat rawan melakukan demon43 . Satu sisi seni tradisi digunakan sebagai wahana penyampaian informasi untuk pendidikan publik. di sisi lain teknologi informasi dan komunikasi digunakan sebagai wahana penyelamat kehidupan seni tradisi yang notabene sebagai perangkat pendidikan publik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Timur Sri Hastanto Pakar Etnomusikologi ISI Surakarta M akalah dengan judul seperti tertera di atas (judul pemberian panitia) itu ditulis dalam rangka tema yang lebih besar yaitu: “Sinergi Seni Tradisi dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik” Tema sejenis pernah melandasi kegiatan yang diadakan oleh almarhum Departemen Penerangan pada masa itu. Saya sangat mengharapkan kali ini tidak seperti yang sudah-sudah.

Permasalahan ini juga diperlukan informasi untuk pendidikan publik yang bersifat konseptual. Tetapi sering gerakan unjuk rasa ini lebih dipicu oleh emosi dibandingkan oleh pikiran kritis. Hal ini perlu pendidikan publik. Sifat dan Matra Informasi Sifat informasi akan sangat menentukan matranya. Substansi itu masih banyak lagi. Mungkin kesenian tradisi dapat pula ambil bagian dalam pendidikan publik sehubungan dengan hal ini. yang pertama adah matra yang bermuatan konsep. Tetapi dalam konteks tema besar tertera di atas seni tradisi komunikatif ini tentu diartikan khusus.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF strasi yang menurut perkiraan mereka sebagai wujud dari warga negara yang kritis. atau penjelasan tentang caranya menyontreng. Secara sederhana saya membagi matra ini ke dalam dua golongan. atau pesan mengihindari serangan fajar dan lain sebagainya. Kita sadar pula gejolak masyarakat yang kini mengendap tetapi dapat meletus sewaktu-waktu berhubungan dengan lumpur Lapindo. di sana ada berbagai tingkatan Pilkada yang juga sering berujung pada gejolak masa. dan kedua matra yang bermuatan informasi ringan. maka semua seni adalah komunikatif. Hal ini pemerintah harus benar-benar berpihak kepada rakyat dan keberpihakannya itu harus diinformasikan kepada rakyat dan sampai ke alamat yang dituju. Kedua jenis matra tersebut dapat dibawakan oleh seni tradisi secara sabtun dan tidak vulgar tergantung seniman serta penikmatnya. Masalah yang berkaitan dengan pilkada sampai dengan pemilihan presiden informasi pendidikan publiknya tidak cukup hanya dengan yang bersifat fisik atau verbal. fisik. atau verbal. Ini juga diperlukan pendidikan publik. yaitu seni tradisi yang dapat secara verbal menyampaikan informasi dengan substansi yang berkaitan dengan pen44 . misalnya penjelasan tentang arti dan dampak “legawa” dan sebaliknya penjelasan tentang tidak legawa dan dampaknya. Seni Tradisi Komunikatif Sebenarnya semua seni bila senimannya cukup matang dan penikmatnya cukup mempunyai bekal. Kita juga sadar bahwa ditengah-tengah terengah-engahnya rakyat mencari nafkah untuk hidup. Misalnya menanamkan slogan-slogan jurdil. Juga masalah-masalh yang berhubungan dengan terorisme dan lain sebagainya.

“Wis sesasi KTP-ku ra dadi.. trung . padahal sudah bayar mbah) “O” kata dalang kentrung. dalang kentrung balik bertanya dengan bahasa dialog biasa tidak dilagukan walaupun masih dibingkai dengan iringan kendang dan rebana. dan tiba-tiba seorang penonton berteriak: “ngapusi kuwi mbah” (bohong itu mbah). Di Jawa Timur seni tradisi semacam itu sangat banyak tetapi ada yang bersifat sangat lokal sepertimisalnya Remo di Madura. mangka wis mbayar lho mbah” (sudah sebulan KTP-ku belum jadi. Selingan itu masih menggunakan metrum yang sama seperti induk ceritanya: tontonen punggawa desa terampil ngopeni warga nggarap KTP gak tambah redana kabeh wis siap rampung sedina Lihatlah itu pamong desa terampil melayani warga Mengerjakan KTP tanpa tambah biaya Semua siap selesai dalam sehari Mendengar lantunan pujian terhadap punggawa desa itu ratusan penonton yang berkerumun di dekat panggung bergeredeng. kedua Wayang Kulit. dan banyak pula yang sudah tidak bekegiatan alias mati. “Lho piye kok ngapusi” (Lho bagaimana kok bohong). ”Aku nelayan je mbah” (Aku seorang nelayan 45 . ketiga Ludruk dan keempat Ngremo Kentrung Setelah hampir 1 jam nyerocos menceritakan bagaimana kesaktian Patih Batik Madrim (ceritera Anglingdarmo) dengan diiringi kendang dan terbang mbah dalang kentrung yang umurnya merayap ke satu abad itu membuat selingan dengan masih diiringi kendang dan rebana trung ... Untuk itu dalam rangka ini saya hanya akan mengutarakan empat jenis kesenian yang teba jangkauan penikmatnya cukup luas: Pertama Kentrung.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI didikan publik. “Kowe ki bakul apa buruh” (Kamu itu pedagang atau buruh) tanya dalang kentrung. lalu dilanjutkan dengan masih tanpa dilagukan..trung.

Dalam berceritera dalang kentrung sering melakukan selingan diantara babak satu dengan lainnya. Dialog ini terjadi spontan dan tidak dirancang. sampai dengan Runtuhnya Majapahit. Itulah hebatnya kentrung. Kata “kucing” itu salah satu nama kartu cina yang dipakai berjudi mereka. bahkan sering dalang kentrung membawakan current afair atau sekadar banyolan untuk meredakan ketegangan dan membuat refreshing perhatian penonton. maka dengan lancarnya ia menyusun teks spontan dan mengandung banyak muatan. Langsung dalang kentrung tertawa terkekeh. Ceritera yang dibawakan adalah berbagai legenda. artinya uang KTP itu telah ludes di meja judi. dongeng. Walaupun demikian karena jam terbang mbah dalang kentrung menghadapi publik telah sangat tinggi. karena substansi yang dilantunkan adalah berbagai ceritera rakyat dan legenda yang sarat dengan nilai kehidupan manusia. Ia juga dapat berfungsi sebagai wahana kontrol sosial 46 . Padahal kentrung mempunyai muatan yang sangat positif bagi bangsa ini. Kentrung dapat berceritera mulai dengan jenis Suminten Edan. Seni Kentrung kini dalam keadaan sekarat dalang kentrung hanya tinggal tidak lebih dari jari sebelah tangan kita. juga muatan kritik sosial. atau hal-hal yang bersifat verbal lainnya. lalu ujarnya (kini menggunakan lagu mengikuti irama kendang dan rebana: Lha dhuwitmu mambu amis Lha wong ambumu iya amis – wong nelayan – dhuwitmu digondhol kucing KTP-mu ya digondhol kucing (Uangmu berbau amis Karena kamu juga amis – maklum nelayan – Uangmu digondol kucing KTP-mu juga digondol kucing) Spontan penonton tepuk tangan dan bersorak sebab dalang kentrung dengan sigap menanggapi respon penonton tadi sambil menyentil kelakuan punggawa desa yang senang berjudi. Ia dapat berfungsi sebagai agen transfer nilai-nilai. Seni kentrung adalah seni tutur yang dilagukan dibingkai dengan iringan bermatra metrik oleh kendang dan rebada. Selingan itu dapat berupa apa saja. yang hidup di masyarakat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF mbah). Dengan keluwesannya itu kentrung sangat efektif untuk menyampaikan informasi ringan. muatan sastra.

Wayang kulit Jawa Tengah banyak yang kini telah menjadi tontonan yang meladeni selera masyarakat. dalam hal ini menyelamatkan kentrung dari kepunahan. Saya percaya Kementerian Koninfo dan Pendidikan Tinggi Seni dapat saling bersimbiose mutualistis menghadapi hal-hal semacam ini. Sekali lagi hal ini dilandasi dengan semangat ‘Sinergi Seni Tradisi dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik” secara timbal balik jangan hanya berjalan satu arah yaitu: Seni tradisi digunakan sebagai wahana penyampai informasi saja. Wayang Jawa Timuran belum tertular virus ini.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI secara santun. Wayang Kulit Wayang kulit gaya Jawa Timuran relatif masih lebih murni dibanding dengan wayang kulit yang kini laku di Jawa Tengah. Sinergi seni tradisi dengan teknologi informasi dan komunikasi kiranya jangan hanya berjalan satu arah yaitu: Seni tradisi digunakan sebagai wahana penyampai informasi saja. Jadi juga tidak berbekas. 47 . Jadi jika selera masyarakatnya rendah maka sajian wayang kulitnya juga menjadi dangkal. porsi alur cerita masih merupakan prioritas. Tetapi juga bagaimana teknologi informasi dan komunikasi ini dapat menyelamatkan seni tradisi yang notabene sebagai wahana pendidikan publik. Dari berbagai berita bahwasanya beberapa radio swasta niaga telah berusaha mengadakan siaran kentrung walaupun terbatas pada setiap ulang tahunnya yang tentu saja tidak berbekas di hati masyarakat. Tetapi juga bagaimana teknologi informasi dan komunikasi ini dapat menyelamatkan seni tradisi yang nota bene sebagai wahana pendidikan publik seperti tema besar pertemuan ini. Para petugas dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten dan Kota juga telah berusaha mementaskan kentrung tetapi sekali lagi sepi penonton. Apa yang dapat kita perbuat. Sebagian besar waktunya hanya untuk “banyolan” kalau tidak “cengengesan” saat adegan LimbukCangik dan Goro-goro. Perguruan tinggi Seni seperti Institut Seni Indonesia dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia mestinya kapabel melangsungkan kehidupan kentrung dengan konsep yang matang. seperti yang telah dicontohkan di atas. Tetapi hal ini belum berhasil mendapatkan tanggapan dari yang berwenang untuk mendapatkan dana yang pantas.

Dinikahkanlah mereka. Celakanya kalau sang petinggi itu malah tidak dapat menerima informasi yang lebih bersifat konseptual tetapi sudah merasa bahagia dapat mencerna informasi dangkal semacam itu. Dalam “pakem” diceritakan bahwa Narasoma kemudian malu mempunyai mertua seorang Raksasa. Pada adegan inilah pesan-pesan propaganda dangkal dan yang bersifat verbal dapat dilontarkan. Apa lagi bila teksnya disusun oleh seniman yang mempunyai wawasan luas. Ia nekat menculik Narasoma karena anaknya yang sangat cantik Dewi Pujawati. Apa ra cilaka. apike enggal dilaporake marang sing berwajib. dadi maratuwane teroris. Kalau hal itu terjadi sebenarnya sang petinggi belum saatnya jadi petinggi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Pak Suleman dari Waru dan murid-muridnya seperti Mas Wardono dan kawan-kawan masih membatasi diri menyisipkan hiburan ringan. maka ia membunuh sang mertua. aja malah dipek mantu. . Setelah melihat kejelitaan Pujawawati iapun jatuh hati. Ia kemudian memaksa ayahnya mencari Narasoma sampai ketemu. yen ana wong anyar nyalawadi. . E thole mula pada diwaspada.” Pesan pendidikan publik semacam ini mudah sekali disipkan pada waktu yang tepat. ia diculik oleh pendeta raksasa bernama Bagaspati. Untuk para petinggi daerah tentunya harus disajikan “masakan” lain yang lebih bergizi. . Berikut ini sebuah contoh informasi yang lebih bermartabat: Ketika Raden Narasoma (kelak ia bergelar Prabu Salya) masih muda. maka kadar kesantunan dan bobot informasinya akan dapat dipertanggungjawabkan Pesan semacam itu tentunya untuk konsumen masyarakat yang berpendidikan menengah ke bawah. Tetapi sebagai bagian dari kreatifas dalang berhak 48 . maka atas kehendak Bagaspati Aji Candhabirawa agar masuk ke dalam tubuh Nrasoma dan menjadi miliknya. Tadinya Narasoma menolak bahkan sempat perang tanding dengan Sang Begawan tetapi kalah. Durung nganti putune lair kowe ganti sebutan. Dalam adegan punakawan memang sering ada hiburan ringan seperti pilihan pendengar. . “. Kebetulan sang mertua mempunyai Aji Candhabirawa yang luar biasa kekuatannya.. bermimpi bertemu dengan Narasoma dan jatuh cinta.

Karena telah sanggup.” “Saya sanggup memenuhi syarat-syarat itu. mangkatlah Bagaspati. Kalau demikian Narasoma sanggup tidak menterlantarkan Pujawati di kemudian hari.” Lalu Bagaspati menceritakan bagaimana kekuatan aji tersebut. maka jawabnya “. aku minta engkau berkenan menerima warisan Aji Candhabirawa . Norasoma dipanggil Bagaspati. Bagaspati tetap mati tetapi kandungan nulai dari peristiwa itu sangat berbeda. Narasoma menjawab “Ya. Garapan seperti ini juga merupakan informasi untuk pendidikan publik. bagi mereka yang mempunyai bekal pengetahuan lebih luas. dan Aji Candhabirawa pindah raga yaitu raga Narasoma. . . Informasi itu memberi pemahaman bagaimana seorang tua yang legawa kedudukannya dilengser oleh yang muda. “Raden. . Info itu bila dicerna cukup dalam akan mempermalukan mereka yang setelah merasakan enaknya duduk di kursi lalu tidak mau turun walaupun sebenarnya sudah waktunya. Demikian wayang kulit dapat menjadi wahana pendidikan publik “agal-alus” jadi tidak hanya pesan verbal saja. Hati Narasoma bersorak. . sebab aji itu telah menyatu dalam tubuhku. apakah dia mencintai Dewi Pujawati. Di Jawa Timur sebe49 . hanya dengan kematianlah aku dapat mewariskannya kepada Raden. Narasoma menjawab “Sanggup” Seandainya Bagaspati mempunyai permintaan khusus apa Narasoma mau memenuhinya. memang ia membutuhkan “sipat kandel” nanti setelah ia menjadi raja Mandaraka. Ya Bapa saya dengan senang hati akan aku terima warisan Bapa . . Dalam ingar-bingar pilkada di mana penjabat lama dipandang sudah waktunya turun. Narasoma menjawab: “Ya”. .” “Tetapi ada syaratnya Raden . dengan segala kemampuanku”. Bagaspati juga berkata bahwa aji itu tidak lagi berguna bagi dirinya karena sudah tua dan sudah sepantasnya dimiliki oleh yang muda. Dengan bercucur air mata Narasoma menghunus kerisnya dan dengan serta merta Bagaspati menubruk keris itu dan menghunjamkannya di ulu hatinya. . . Inilah sanggit itu: Setelah malam pertama. “Syaratnya Raden harus membunuh aku. .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI melakukan sanggit cerita. . . kiranya garapan ini relevan untuk disajikan. agar dapat diamalkan untuk kebaikan manusia selanjutnya.

Bedanya Ludruk lebih leluasa menggarap sanggit-nya. Ludruk adalah teater daerah Jawa Timur dan yang terkenal adalah Ludruk Surabaya. Dalam pertunjukan Ldruk juga demikian. Misalnya: Ketika kita sedang dipusingkan dengan adanya tawuran antar fakultas dan bahkan antar kampus di banyak kota 50 . Sayangnya belum bayak kaum intelektual yang mau menggarap Ludruk sehingga pesan ceritanya dapat digunakan sebagai pendidikan publik yang memadai. Hal ini akan dibahas setelah pembahasan Ludruk. Ludruk Tidak banyak yang dapat saya utarakan perihal Ludruk ini. Misalnya: Pembangunan (dulur) kudu dipentingna Marga pembangunan kanggo kabeh kita Ayo kanca padha aja tidha-tidha Mbantu pemerintah urun tenaga Tetapi bila si penari mempunyai latar belakang mendidikan yang memadai. Kidungan Seperti telah saya singgung bahwa kidungan terdapat di dalam pertunjukan Tari Ngrema yang sering mengawali pertunjukan Wayang Kulit maupun Ludruk. Dalam tulisan ini akan dibahas “kidungan”nya yanmg merupakan wahana ampuh untuk melontarkan infrormasi pendidikan publik yang ringan-ringan. Apapun ceriteranya sutradara berhak membuat “sanggit” seperti dalam wayang kulit tadi. kidungan ini dapat sangat efektif digunakan sebagai wahana pendidikan publik. Penari ini biasanya wanita yang nanti akan bertindak sebagai pesinden dalam wayangan semalam suntuk. Teks dalam kidungan sering sekali menggunakan bahasa klise yang menyanjung program pemerintah secara vulgar. Ceriteranya bisa apa saja kalau perlu cerita Romeo and Juliet. Hal itulah salah satu penyebab mengapa banyak orang menyenangi Ludruk. Dalam Tari Ngremo selalu ada bagian yang disebut “Nggandhang” yaitu sang penari berhenti menari tetap dalam sikap tari dan melantunkan nyanyian yang disebut Kidungan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF lum pergelaran wayang dilaksanakan biasanya didahului dengan Tari Ngremo oleh seorang penari tau lebih. Peranan wanitanya selalu dimainkan oleh pria (waria) yang biasanya sangat cantik.

sebab konsumennya telah dipersiapkan oleh kritik. Kritik seni adalah karya ilmiah yang berdiri di antara karya seni dan penghayat. Pertanyaan ini biasanya dijawab dengan mengucuran dana. sehingga dapat membantu penghayat menghayatinya untuk mendapatkan keluasan pandangan dan kekayaan imajinasi hayatan. Padahal fungsi kritik itu menyambung karya seni dengan penikmatnya yang kurang bekal. tetapi kritik mendudukkan karya seni pada proporsi yang semestinya. Sebab kalau diberi dana maka kehidupan seni tradisi bagaikan mayat hidup. demikian dana habis. Saya akan berterus-terang sesuatu yang saya usulkan. Sinergitas Seni Tradisi dan Kominfo Bagaimana seni tradisi dapat dijadikan wahana pendidikan publik telah saya paparkan di depan. matilah mereka dan menyodorkan tangan lagi untuk meminta. kocak dan konyol tetapi tepat dan sempat membuat kaum menengah keatas berfikir tentang ulah mahasiswa yang sudah keterlaluan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI beberapa tahun yang lalu sempat disentil dalam kidungan oleh seorang penari ngrema pada sebuah hajatan di Mojokerto. Sekarang apa yang dapat dilakukan Koninfo untuk menghidupi partnernya itu. berilah ru51 . Kritik bukannya mencela karya seni. sehingga baik penghayat maupun seniman akan meningkat kualitasnya. Peningkatan kualitas baik penghayat maupun seniman inilah yang akan mendorong seni tradisi hidup. ndhak kaya mahasiswa Sentilan ini luar biasa. ngoceh neng tegalan Ocehe panjang kaya huruf palawa Dadi tukang becak (dulur) aja seneng dha tukaran Yen seneng tukaran. Dalam kritik dijelaskan apa yang kuat dan apa yang lemah sehingga penikmat akhirnya mengerti kesenian itu. Tapi saya berpikir lain. Kepada penghayat kritik memberikan penjelasan hal-hal yang kurang jelas dan kepada karya seni kritik menginformasikan bagian mana dari karya itu yang kuat dan yang lemah. Si tukang kidung menempatkan martabat rekannya para tukang becak yang kala itu melihat pementasannya jauh lebih tinggi dibanding dengan martabat mahasiswa. Seperti kita ketahui bersama bahwa di dalam dunia seni tradisional belum tumbuh budaya kritik. sebagai berikut: Manuk cocak (dulur).

Pertunjukan Kentrung di sudut kota Tuban akan merambah Jakarta. Berilah sebuah sudut untuk kritik seni tradisi di koran nasional. Medan Surabaya. Ditambah gula rujake degan Manawi lepat (dulur) lha nggih kajengipun Wong dhasare kula niku dhagelan. Mangan kupat (dulur) lalape timun. Solo. dan koran-koran daerah tentu saja dengan honornya yang memadai maka karya kritik seni tradisi akan bertumbuh dan itulah wujud sinergi yang sesungguhnya.* 52 . Jogya dan sebagainya. Kidungan di pelosok Mojokerto juga akan dinikmati secara nasional.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ang kepada intelektual seni untuk untuk menulis kritiknya dan dapat dibaca oleh banyak orang baik secara regional maupun nasional.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 53 .

Pendiri/Anggota Lembaga SOLO KOBAR. Dosen Seni Tari ISI – Surakarta ini akrab dipanggil Hari Genduk di kalangan komunitas seni. Jawa Timur. Perintis Padepokan PANDAWA (kawasan wisata religius). Gondangrejo. Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Pengging dan Pendiri/Pemilik padepokan LESUNG.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF F.Kar. Hari Mulyatno S. 54 . Saat ini tinggal di Bonoroto. dan Pemda Kutai Barat dan Pemprop Kaltim. Anggota MOYO TIRTO. semua di Surakarta. Karanganyar. Sardono Dance Company Jakarta. Aktif dalam berbagai organisasi antara lain Pendiri/Ketua Umum Lembaga MENTARI SEGARA ANAKAN. M. STSI/ ISI Surakarta. Bengkalis (Sumatera). Mahasiswa S3 Universitas Gadjah Mada Jurusan Kajian Budaya ini juga aktif dalam berbagai kegiatan penyadaran masyarakat melalui Seni Budaya Tradisional di Jawa Tengah. Lulusan S2 UGM Jurusan Pengkajian Seni Pertunjukkan Indonesia juga pernah pentas di luar negeri untuk Unjuk Budaya yang dilakukan oleh Pura Mangkunegaran (Surakarta). Plesungan. Hum.

bahwa pada hari ini saya diperkenankan menyampaikan pokok-pokok pikiran tentang Peran Seni Budaya Tradisional Kalimantan Sebagai Dimensi Informasi Publik. Saya menyadari bahwa sebagai salah satu pemerhati kebudayaan Kalimantan. Saya sadar bahwa sebenarnya kurang tepat bahwa saya yang duduk dan menyampaikan pandangan dan informasi tentang seni budaya Kalimantan yang begitu luas.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni Budaya Tradisional Kalimantan dalam Dimensi Informasi/ Komunikasi Pembangunan F. yaitu bagaimana seni dapat dipergunakan untuk menyampaikan informasi pembangunan. khususnya yang berada di wilayah peradapan masyarakat Kalimantan. Pada kesempatan diskusi hari ini.Kar. apa yang saya sampaikan adalah P 55 . Hari Mulyatno. dalam dan beragam. tentang peran seni budaya tradisional Indonesia khususnya dari belahan pulau Kalimantan untuk sama-sama mengkaji seni dalam Dimensi Informasi dan Komunikasi Pembangunan Indonesia. S.Hum Dosen Seni Tari ISI Surakarta Pengantar uji syukur kepada Tuhan Allah Yang Maha Bijaksana. Saya juga berterima kasih kepada panitia/penyelenggara yang memberikan kesempatan untuk memberi masukan tentang seni dan budaya masyarakat Kalimantan-Indonesia yang majemuk kepada peserta diskusi dan pemerintah pusat. dalam hal ini jajaran Kementerian Kominfo. M. merasa perlu dan mempunyai kepentingan tersendiri untuk menyampaikan pandangan pada forum diskusi pada hari ini dan pada Pemerintah Pusat.

Malaikat dan Tuhan. ketua Adat Besar Suku/ Etnik Bahau dan ketua Adat Besar Dayak-Borneo. Oleh sebab itu apabila pada kesempatan diskusi pada hari ini. Blawing Barek. khususnya di Kaltim dan di Kalteng. apa yang saya sampaikan kurang atau tidak mencapai sasaran dari tujuan panitia. menjelaskan bahwa seni budaya Kalimantan (Dayak) itu sarana komunikasi antara makhluk bumi dengan sesama makhluk bumi. dan saya bersedia melengkapi informasi-informasi atau data-data tambahan yang diperlukan setelah forum diskusi ini. ataupun yang tidak pernah dilahirkan di bumi yaitu makhluk alam gaib yang masih dapat dijangkau.serta komunikasi makhluk bumi dengan makhluk di atas langit. 56 . seni dipandang mampu menjadi sarana komunikasi lintas batas kemampuan akal pikir (rasional) manusia. mulai awal 2009.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF suatu pandangan dari hasil pengamatan dan pengalaman pribadi sebagai insan pemerhati Kalimantan dalam bingkai penguatan sikap kebangsaan dan ketahanan masyarakat Indonesia melalui media seni dan budaya tradisional di Kalimantan sejak tahun 2006 sampai sekarang. Sedangkan Kalbar dan Kalsel baru dalam proses awal penjajagan. Yang dimaksud makhluk langit yaitu para leluhur dan makhluk Tuhan yang pernah dilahirkan di bumi dan telah meninggal dunia. Saya juga mohon tanggapan dan masukan dari peserta diskusi tentang pandangan saya terhadap peran seni dalam Dimensi Informasi (non estetis). dan komunikasi makhluk bumi dengan makhluk langit. Artinya bahwa menurut pandangan masyarakat Kalimantan (Dayak). Makhluk di atas langit adalah kekuatan luar biasa yang tidak dapat dijangkau oleh indra manusia pada umumnya secara langsung seperti para Dewa. untuk langkah kerja saya lebih lanjut di dalam mendarma baktikan kemampuan saya di bidang seni untuk penyadaran masyarakat yang bangga menjadi Warga Negara dan Bangsa Indonsia pada masyarakat Kalimantan khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. maka mohon maaf apabila naskah dan presentasi saya ini kurang atau tidak mencapai sasaran yang dikehendaki. Pandangan Umum tentang Seni Pada dasarnya seni adalah sarana komunikasi/sarana pengungkapan pengalaman dan kebutuhan jiwa manusia kepada sesama manusia. manusia kepada alam semesta raya dan manusia kepada makhluk yang dipercaya ada di alam lain.

Oleh sebab itu para seniman dan budayawan seyogyanya lebih bijaksana di dalam memaknai seni untuk dipergunakan sebagai media penyampaian pesan-pesan verbal. akan tetapi itu hanya materi ungkapan. agar isi informasi dapat terekam dengan baik. bisa jadi sebaliknya dan masyarakat penonton tidak mengerti atau tidak paham inti pesan yang disampaikan. kemudian akan berlanjut pada pembentukan sikap dan perilaku yang bertanggung jawab bagi penghayat di kemudian hari. Artinya isi informasi disampaikan terlebih dahulu melalui media-media verbal. Menurut saya lebih baik seni tidak untuk menyampaikan informasi yang bersifat verbal.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Sifat ungkap atau komunikasi seni adalah sifat ungkap simbolik. Kalaupun toh ada seni yang menggunakan media bahasa verbal. sehingga setelah mendapatkan informasi yang terekam di pikiran kemudian informasi tersebut ditancapkan di dalam lubuk hati sanubari yang paling dalam (rasa). jadi suatu media ungkap yang efektif untuk menancapkan pesan yang sudah terlebih dahulu terekam di dalam pikiran. setelah mendapat sentuhan hati melalui media seni. kemudian akan tumbuh sikap dan perilaku lanjutan pasca penghayatan seni yaitu menindaklanjuti pesan-pesan pendidikan dan pembangunan yang telah diterimanya dengan tulus melalui media seni tersebut. jadi bukan komunikasi verbal. Hal ini memang tugas berat bagi kreator dan para motivator dan atau pemilik gagasan utama yang akan disalurkan melalui media seni. Apabila kita tidak bijaksana dalam mempergunakan seni untuk media propaganda atau seni sebagai penyampai informasi. sehingga penyampaian pesan tidak dapat efektif. Kalau kita ingin menyampaikan informasi tanpa memerlukan proses penghayatan atau perenungan yang lebih mendalam. tidak efisien dan tidak tepat sasaran. tetapi informasi bersifat simbolik. maka dari itu sebaiknya penyampaian informasi cukup menggunakan media bahasa verbal yaitu dengan bahasa lisan ataupun bahasa tulis saja. kemudian baru didalami lebih lanjut melalui media seni. dan bukan bahasa kesenian Bahasa Seni Bahasa seni itu bahasa simbolik. bahkan masyarakat bias menjadi apriori terhadap pesan-pesan penting melalui jasa seni. dan kemudian isi informasi tersebut akan diaplikasikannya dengan baik di 57 . kemudian ditancapkan lebih lanjut ke dalam lubuk hati yang paling dalam untuk menjadikan sebuah perenungan. bukan inti atau esensi komunikasi.

lebih tepat dinikmati dengan cara mengikuti atau melibatkan diri dengan cara menari-menyanyi atau berjingkrakjingkrak. Termasuk jenis-jenis seni religius cara penghayatannya dengan ikut serta menjadi pelaku seni secara aktif. Wayang. sesuai dengan situasi dan kondisi serta latar belakang kebudayaan masyarakat di daerah tersebut. senang. ini berarti menempatkan seni sebagai sarana penyampaian pesan-pesan pendidikan dan pembangunan. sehingga pesan dapat diterimanya secara tulus lahir dan batin. bangga) dan kebutuhan rohani/spiritual (nyes. pada dasarnya kebutuhan hidup manusia itu meliputi kebutuhan jasmani (makan. Sindoro dan. Seni Film. ada pula yang dengan cara dilakukan sendiri. dengan cara ikut serta mendatangi pergelaran pentas seni dari kelompok anggota/grup mereka.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. paham. Ada cara lain bagi masyarakat pangombyong atau anggota kesenian di wilayah kebudayaan lereng Merapi. manteb dll). sreg. Seni Tayub dan Musik Rock. sehat). Oleh karena kebutuhan manusia itu beragam. dan bukan pesan-pesan estetik. kebutuhan psikologis (tahu. minum. Merbabu. Jadi dengan demikian masyarakat penonton atau pelaku seni menjadi lebih paham dan apa yang dipesankan melalui media seni tersebut. Fungsi Seni Saya lebih suka memaknai fungsi seni dari pengertian seni untuk hidup. Ada seni budaya yang cara menikmatinya dengan cara dilihat dan di dengar. Sumbing Jawa Tengah. ada juga yang hanya mendengar atau melihat saja. maka fungsi seni juga beragam. Seni dapat dipergunakan sesuai konteks kebutuhan hidup manusia tersebut. Seni budaya didalam konteks seni yang dipergunakan untuk sarana penyampaian informasi. Pentas Musik. dan ada yang melibatkan diri di luar pentas. Teater. mengerti. Mereka didalam menghayati seni di lingkungan komunitasnya. lebih tepat seni-seni tersebut dinikmati dengan cara dilihat dan didengar karya seni tersebut. dan seni-seni pergaulan lainnya. mere58 . Masyarakat pangombyong tersebut di dalam sebuah peristiwa pergelaran seni tanpa melihat kesenian tersebut secara langsung. Menurut saya. plong. Cara Menghayati Seni Ada beberapa cara masyarakat di dalam menghayati dan menikmati seni.

seni pantun. maka akan dapat melenceng dari sasaran dan menjadi lebih boros biaya penyelenggaraan. semua itu dapat dipergunakan untuk media informasi dan komunikasi secara efektif apabila tepat didalam memilih media. teater daerah (wayang dan sejenisnya). latar belakang budaya masyarakat dan keberadaan patron sebagai pengukuh/penguat. serta kekuatan ungkap aktor (daya pangaribawa pemain). Seni yang dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan itu bukan hanya seni “komunikatif” sejenis teater daerah dan wayang saja. Semua seni termasuk tari (gerak). dan seni pertunjukan. dan pemilihan media seni yang akan digarap harus tepat sesuai dengan latar belakang budaya berkesenian masyarakat bagi tersebut. kebiasaan berkesenian mereka berkaitan erat dengan tata upacara adat dari etnik-etnik tersebut. seni lukis. musik (suara). Jadi dengan demikian antara subjek motivator dan kreator seni. Pada umumnya para pangombyong atau anggota tersebut terdiri dari kaum laki-laki yang sudah tua dan mantan pemain kesenian tersebut. adat istiadat dan upacara-upacara tradisional. Keberadaan masyarakat sebagai obyek termotivasi. 59 . maka para motivator dan kreator seni harus pandaipandai memilih materi dan cara penggarapan seni yang sesuai dengan lingkungan budaya masyarakat setempat. Hal ini sangat tergantung dari kemauan motivator (pemerintah-lembaga pemberi motivasi ) dan kepiawaian para kreator (penggarap). seni tato dan tindik. dan seni vokal lainnya. untuk golongan masyarakat apresian tertentu. Apabila subjek penyampai informasi salah dalam memilih media dan tidak memperhitungkan latar belakang kehidupan masyarakat sebagai objek. Bentuk Seni Bentuk seni-budaya tradisional di Indonesia pada umumnya dan di Kalimantan khususnya cukup beragam. patung. seni teater. Ada pula seni audio berupa musik tradisional. Oleh sebab itu dalam menggarap kesenian pada konteks seni sebagai sarana informasi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ka seperti orang berkenduri di dalam rumah sambil menunggui pemain yang sedang berhias. Di Kalimantan khususnya bagi masyarakat etnik Dayak dan Melayu. yang dipilih untuk menjadi objek sasaran penyampaian informasi. melainkan semua seni dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan secara efektif. seni pahat. lukisan. Ada seni visual seperti seni tari.

baik itu dalam bentuk lembaga ataupun pribadi-pribadi yang kharismatik. jadi bukan bentuk keseniannya yang diutamakan sebagai media komunikasi. propinsi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dalam konteks seni budaya sebagai media informasi/komunikasi yang perlu dipehatikan adalah kecerdasan kreator sebagai pribadi ataupun kreator tangan panjang dari pemerintah. Kepiawaian mereka tersebut adalah unsur utama dalam penggarapan seni untuk informasi pembangunan. Pendeta. Oleh sebab itu. menurut saya seni dan budaya dalam konteks pemanfaatan seni sebagai media informasi dan komunikasi itu harus melekat dengan adat istiadat setempat pula. Pejabat Kepala Daerah. dan tepat guna. dan yang paling penting adalah keseimbangan antara subjek pemberi pesan. Sosok pribadi yang dapat dipergunakan sebagai patron atau panutan masyarakat diantaranya. Seniman. misalnya lembaga kabupaten. Seni Sebagai Media Informasi Seni budaya menempati salah satu fungsinya yaitu sebagai media informasi dan sebagai media pendidikan atau propaganda. apabila digarap dan diolah secara tepat. khususnya di Kalimantan merupakan bagian dari perilaku budaya masyarakat adat. para pemikir) 60 . Oleh sebab itu para penggarap harus memperhitungkan akar budaya masyarakat setempat untuk menentukan bentuk seni macam apa yang tepat dan sesuai dengan sasaran objek yang dituju. budayawan. alat atau media penyampai pesan dan objek penerima pesan. Pengukuh tersebut sebaiknya berupa lembaga dan atau pribadi tokoh panutan yang sangat dikenal. Seni tradisional Indonesia. Kemudian diperlukan pengukuh. Prasyarat penggunaan seni untuk sarana penyampaian pesan/informasi-informasi pembangunan adalah sebagai berikut : a. pemerintah pusat (Jakarta). dan biasanya seni terkait dengan upacara-upacara adat masyarakat setempat. oleh sebab itu seyogyanya berhati-hati di dalam memperlakukan seni dan memilih bentuk seni yang tepat sesuai dengan sasaran yang akan dituju agar dapat menjadi lebih efisien. semua itu dapat menjadi efektif dan efisien untuk dipergunakan menyampaikan pesan. Seni yang keluar dari rangkaian upacara adat biasanya seni tradisi yang sudah menjadi komersial. Seni budaya seperti yang telah di sebutkan di depan. Ketua Adat/Ketua Suku. Kyai.efektif. Raja dan orang-orang terpandang lainnya. Pemilik ide (pemerintah. negarawan.

Masyarakat/penonton kesenian. Kalimantan Indonesia secara garis besar dihuni oleh masyarakat mayoritas etnik Dayak dan etnik Melayu. Motivator. Adapun tujuannya adalah menghantarkan sebuah perenungan dan aplikasi atas isi dan inti pesan pasca menikmati seni budaya. dan yang tidak boleh dilupakan bahwa seni bukan untuk konsumsi penalaran atau akal pikir semata melainkan untuk konsumsi indra rasa/batin. Aktor/bahan kesenian. sebagai seniman yang menyalurkan pesan (aktivis) c. dan warga di Kalimantan Brunai Darussalam. sebagai penerima pesan dan aplikasi lanjutan (penghayat seni) f. Selayang Pandang tentang Kalimantan Kalimantan secara garis besar terbagi dalam tiga kawasan yang berbeda kedaulatan yaitu di sebelah utara dibawah kedaulatan Kesultanan Brunai Darussalam dengan doktrin kedaulatan negara Islami. Patron. Di bagian Kalimantan sebelah selatan sampai tengah. sebagai pengukuh (penguat) g. Kreator Seni. namun demikian di wilayah Sabah dan Serawak ini eksistensi masyarakat Dayak mendapatkan kemerdekaan yang lebih longgar. Walaupun prosesnya tetap melalui penalaran tetapi penalaran bukanlah tujuan. Di Negara Indonesia dengan doktrin Pancasila ini memberi warna tersendiri dan menjadi berbeda dengan warga Kalimantan di wilayah Malaysia Timur. bahkan lebih menjulang ke utara dari garis tengah Pulau Kalimantan di bawah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan doktrin Negara Pancasila dan UUD ‘45 . Masyarakat daerah ini di bawah doktrin Negara Islam Melayu. Di bagian utara membentang dari barat ke timur pulau Kalimantan di bawah kedaulatan Negara Kerajaan Malaysia. sebagai alat untuk mewadai pesan dan mengeluarkan daya pesan (seniman pelaku) e.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI b. Aplikasi Lanjutan sebagai bentuk tindakan nyata (dampak) Dengan demikian terjadilah proses penyampaian informasi yang efektif. sebagai seniman penggarap seni untuk pesanan (seniman kreator) d. Gambaran secara garis besar 61 . yaitu di wilayah Malaysia Timur ialah sub Kerajaan Sabah dan Serawak.

hajatan kemudian 62 . pergelaran Barongsai ditampilkan pada waktu upacara tahun baru Cina. Jawa 10%. Masyarakat Melayu mayoritas hidup di daerah pesisir pulau Kalimantan. Madura. Batak. Jawa dan Melayu tidak terlalu beragam. Masyarakat Dayak mayoritas hidup di daerah pedalaman.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF etnik penghuni Kalimantan Indonesia ialah. Kesenian dari etnik Dayak selalu berkaitan dengan upacara-upacara adat tradisi masyarakat setempat. dan selebihnya adalah Bugis. Sebagai contoh Tari Hudoq berkaitan dengan upacara tanam padi. Etnis Jawa. jauh dari keramaian kota dan jauh dari peradaban yang serba modern. Beda suku beda bentuk dan beda makna. Sedangkan seni-seni masyarakat etnik Jawa dan etnik Melayu lebih beragam fungsi dan waktu pergelarannya. dan lain-lain sebanyak 20%. Cina 5%. arisan. Seni dari akar masyarakat etnis Cina . Melayu 25%. dan tidak kurang dari 500 anak sub kultur Dayak Kalimantan Indonesia. Misalnya Reog Ponorogo Kalimantan. Dan upacara-upacara hari besar etnik Cina.Sunda. yang hidup berkelompok dalam ikatan kelompok-kelompok kecil dan kuat.Artinya masih dapat dipahami seperti seni dalam bingkai budaya asalnya. Masyarakat Dayak menguasai daerah hutan dan perkebunan yang maha luas. Kesenian Barongsai di komunitas Cina khususnya masyarakat Kabupaten Singkawang Kalimantan Barat yang mayoritas di huni etnik Cina. Berbeda dengan seni dalam bingkai budaya Dayak. karena beda bingkai dasar kebudayaannya. Cina dan Melayu menguasai daerah perdagangan dan persawahan serta pemerintahan. masyarakat Jawa di kota-kota besar dan kota-kota kecil pedalaman dan daerah perkebunan (daerah transmigrasi). Zapin di Kalimantan sama dengan Zapin yang ada di Melayu Malaysia dan Sumatra. terutama disajikan pada waktu-waktu jumpa komunitas seperti dalam acara pengajian. Tari Ngerangkau (Tari upacara kematian) berkaitan dengan upacara Kwangkai (Ritual kematian). Seni Budaya Kalimantan Secara Garis Besar Secara garis besar kesenian Kalimantan tumbuh dan berkembang berdasarkan akar budaya asal dari masing-masing etnik. tari Gantar berkaitan dengan upacara panen padi. Banjar 10%. Barongsai Kalimantan sama dengan Barongsai di Hongkong dan Cina. Masyarakat Dayak tersebar di belantara Pulau Kalimantan dan terbagi dalam berbagai sub kultur Dayak. sama dengan Reog Ponorogo Jawa. Dayak 30%.

Masyarakat etnik Melayu-Jawa dan Bugis lebih akrab dengan Instansi atau Lembaga Kerajaan bila dibandingkan dengan kedekatanya dengan masyarakat Adat. tinggal pemilik ide / isi informasi (pemerintah) sebagai pemilik informasi. jadi dengan demikian penontonnya adalah para pemain / pelaku adat itu sendiri. memilih lembaga jaringan mana yang dipandang cocok untuk dipergunakan sebagai mitra jaringan agar sesuai dengan program penyampaian informasi yang telah ditetapkan oleh lembaga (pemerintah) tersebut. serta tepat sesuai dengan bingkai kebudayaan mereka. Pemimpinnya biasa disebut Ketua Adat Besar dan Ketua Adat Besar ini memiliki kedudukan seperti seorang Raja di Jawa-Bali. ada seniman pemain/peraga. ada panitia penyelenggara.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI di sajikan seni Rodad-Salawat-Zapin-Hapsi-Reog-Jathilan-Jaran Dor Sentherewe-Ledek dan lainnya. Oleh sebab itu dalam konteks seni untuk sarana infomasi pembangunan harus diperlakukan lebih arif dan bijaksana. Maksudnya. Lembaga-Lembaga Potensial untuk Jaringan Penyampaian Seni Sebagai Media Informasi Lembaga-lembaga yang potensial untuk menjadi agen mitra kerja dalam penyampian informasi pembangunan dari pemerintah kepada masyarakat ada beberapa pilihan. Di Kalimantan ada dua lembaga besar yang potensial sebagai lembaga jaringan penyampai pesan. dalam jumlah sub kultur yang sangat banyak. Kesenian masyarakat Cina-Melayu-Jawa dan etnik lainnya selain etnik Dayak memiliki pemain dan penonton. yaitu garapan baru yang menggunakan perabot seni tradisi setempat untuk garapan kemasan seni propaganda untuk informasi publik. Oleh sebab itu Kerajaan atau Kasultanan adalah lembaga jaringan informasi yang potensial untuk diperankan sebagai lembaga jaringan informasi 63 . Sedangkan seni dalam masyarakat adat Dayak hanya ada forum (adat/upacara) – ada penyelenggara (lembaga adat) dan ada peserta (pelaku adat). Dengan demikian. penggunaan seni sebagai media komunikasi lebih baik disusun sebuah karya kemasan khusus. yaitu Lembaga Adat dan Kerajaan atau Kasultanan. bagi masyarakat Kalimantan pada umumnya. Lembaga-lembaga adat di Kalimantan meskipun kecilkecil akan tetapi mereka memiliki ikatan yang kuat dengan lembaga besarnya. dan ada masyarakat penonton.

Pondok Pesantren. pada konteks tertentu dapat menempatkan diri atau ditempatkan oleh pihak Pemerintah menjadi lembaga penyambung jaringan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah. Paguyuban Etnik pendatang dan Sanggar Seni. Lembaga jaringan di peringkat kedua adalah Pemerintah Daerah. dan lembaga-lembaga Adat di daerah pedalaman Kalimantan. Lembaga Pendidikan Tinggi ini. Lembaga jaringan pada peringkat ke-tiga adalah Gereja. Lembagalembaga di peringkat ke-tiga ini meskipun kecil-kecil akan tetapi aktifitas. Lembaga yang tidak kalah pentingnya untuk diperhitungkan adalah Lembaga Pendidikan Tinggi dan Pendidikan Tinggi Seni seperti Institut Seni. dari pihak Pemerintah Pusat kepada masyarakat di daerah khususnya di daerah pedalaman yang susah dijangkau dengan transportasi dan jaringan komunikasi apapun. Lembaga Perguruan Tinggi tersebut memiliki jaringan Dosen. Dalam hal ini posisi Perguruan Tinggi dapat sejajar dengan Lembaga Adat dan Keraton / Kasultanan. kreatifitas dan produktifitas tergolong sangat tinggi apabila dibandingkan dengan lembaga-lembaga di peringkat pertama maupun yang 64 . Adapun kegiatannya akan direalisasikan melalui gelar seni Budaya dan tata upacara-upacara adat/tradisi masyarakat setempat. Mahasiswa.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF melalui Seni Budaya. dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata ditingkat Kabupaten maupun tingkat Provinsi. dan masyarakat daerah tempat penelitian-penelitiannya dilakukan di daerah-daerah pedalaman tersebut. Lembaga Adat dan Kerajaan tersebut menduduki peringkat utama dalam menentukan jaringan penyampai informasi melalui Seni Budaya. Dinas Pendidikan memiliki jaringan siswa dan guru serta tenaga administrasi di sekolah yang sangat banyak dan mudah dikendalikan secara sistematis. Lembaga Pendidikan Tinggi memiliki potensi untuk menyambung jaringan dengan sesama Lembaga Pendidikan Tinggi di Indonesia. Dinas Pariwisata memiliki jaringan Sanggar-sanggar Seni/Padepokan Seni. Akademi Seni dan Sekolah Tinggi Seni baik Negri maupun Swasta. untuk melaksanakan program-program pengabdian masyarakat di Indonesia. Kantong-kantong Seni dan termasuk Lembaga-lembaga Adat di wilayah kerja Dinas Pariwisata tersebut khususnya di tingkat kabupaten-kabupaten. Dalam satu jaringan dinas ini telah terikat ribuan manusia yang terkait di dalam sistem kelembagaan tersebut secara formal. Alumni.

sekaligus memperhitungkan harapan atau target capaian selama program itu dilakukan. perlu menentukan langkah-langkah strategis. yaitu pihak panitia penggagas melakukan pengelompokan-pengelompokan sasaran. kegiatan kurang dapat bermanfaat dan pengelolaan dana / biaya akan menjadi lebih besar daripada capaian hasil yang hendak dituju. Dari beberapa kelompok kategori sasaran. tidak menutup kemungkinan nantinya justru mempersulit diri sendiri. Sasaran-sasaran yang dituju nantinya akan menjawab ide/gagasan awal.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI kedua. dan diharapkan pekerjaan dapat tercapai lebih ringan dan mencapai target yang telah ditetapkan. yaitu suatu gagasan untuk menyampaikan informasi tertentu. efektif dan tepat sasaran sesuai dengan yang hendak dituju. Menurut pendapat saya. yang dipandang sesuai 65 . misalnya akan munculnya gejala atau kecenderungan dari golongan masyarakat dan seniman tertentu. ada beberapa langkah yang perlu di tetapkan untuk landasan strategis yaitu : 1) Penetapan isi informasi. 4) Memilih dan menetapkan kreator seni sebagai agen penggarap media seni untuk penyampaian informasi publik melalui seni tradisi. Langkah-Langkah Strategis Pemanfaatan sebagai Media Informasi Pemerintah atau Lembaga yang memiliki gagasan untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan dan pembangunan melalui media seni budaya tradisional. untuk melakukan tindakan teknis agar dapat efisien. mana yang lebih dahulu di prioritaskan. Produktifitas kecil-kecil itulah yang dalam kurun waktu yang lama dan terus menerus berproduksi maka akan membentuk kristalkristal pemahaman. agar maksud dan tujuan yang telah digagas sebelumnya dapat tersampaikan secara baik. menempatkan program Penyadaran Masyarakat ini menjadi sebuah proyek yang ditunggu. 2) Menetapkan sasaran. Tentu saja pilihan seniman kreator ini berkaitan erat dengan materi seni apa yang akan dipergunakan untuk media informasi publik tersebut. 3) Memilih dan menetapkan lembaga jaringan kerja sama. 5) Memilih dan menetapkan media seni. Apabila tidak ditetapkan pilihan strategi yang telah ditentukan. Selain daripada itu.

9) Membuat atau menyusun model bentuk media seni seperti apa yang cocok untuk suatu masyarakat tertentu. Apabila pola kerja sudah dinilai betul. dan juga dapat dihayati masyarakat lain yang tidak di prioritaskan. 7) Memilih dan menetapkan lembaga kontrol sebagai tim pengamat. Tentu saja pilihan ini berkaitan dengan keadaan masyarakat sebagai objek dan kekuatan media seni yang tepat untuk menyentuh objek tersebut. untuk mewadahi isi pesan yang akan dituangkan melalui sebuah karya seni untuk menyentuh hati nurani masyarakat penonton (apresian). dan lembaga ini seperti LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sejenis dengan programnya. Pemilihan materi seni dan pemilihan peraga seni harus juga tepat. apa betul program yang dulu dilakukan dapat mencapai sasaran atau tidak. maka tinggal menindak lanjuti dan apabila salah akan segera dapat merevisi. tidak tepat untuk melakukan kegiatan-kegiatan berkesenian yang berhubungan dengan siswa. Malaysia maupun Brunai Darussalam memiliki forum berupa kegiatan budaya seperti upacara-upacara akbar yang melibatkan banyak hadirin sebagai peserta maupun penonton dalam upacara tersebut. 10) Mengukur tingkat keberhasilan melalui kajian-kajian atau penelitian.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dengan konteks kebutuhannya. baik Kalimantan Indonesia. Model-model ini dapat digarap di Perguruan Tinggi Seni kemudian disosialisasikan pada seniman daerah untuk dikaryakan di daerahnya tersebut. 8) Memilih dan menetapkan waktu penyampaian informasi (gelar seni) agar masyarakat sasaran dapat terlibat lebih maksimal karena tidak terganggu kebutuhannya. Forum Yang Paling Efektif untuk Penyampaian Informasi Melalui Seni Di Kalimantan pada umumnya. Upacara66 . 6) Memilih dan menetapkan materi seni dan seniman pelaku. Lembaga kontrol ini bertugas untuk mengkritisi dan memberikan penilaian kepada langkah kerja pemilik gagasan (pemerintah). agar pesan dapat dengan mudah diterima masyarakat. apakah langkah yang telah ditetapkan ini sudah sesuai atau tidak. Misalnya musim ujian sekolah.

dikenal istilah Grebeg). keluar tampil bersama-sama etnik Dayak yang lain untuk melakukan upacara dalam bentuk gelar seni budaya (seperti di Jawa. Ketua Adat Besar Suku Bahau dari alur keluarga Dayak Long Gelaat / Apo Kayan. Dangai. Dalam acara ini berbagai etnik Dayak besar dan sub etnik Dayak. Upacara-upacara besar tersebut belakangan ini sudah mulai dikemas menjadi objek seni wisata dan kemasan wisata oleh Pemerintah Daerah setempat. namun demikian saya punya pandangan untuk langkah awal yang mungkin lebih efektif. Erau. Pada masyarakat etnik Melayu memiliki beberapa forum besar di antaranya lebaran Idul Fitri. dengan demikian Forum akbar ini dapat dibidik menjadi ajang penyaluran informasi publik melalui gelar seni. lebaran Haji dan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) di tiap-tiap kabupaten. Ditingkat Kabupaten dilakukan secara berpindah-pindah tempat pentasnya sesuai hasil rapat panitia tahun sebelumnya. Dahau yang artinya pesta dan upacara besar. untuk menjaring pribadi-pribadi sebagai agen penyampai pesan yaitu : 1. dia juga diangkat oleh tokohtokoh adat Dayak Kalimantan (Dayak Borneo) untuk memimpin keutuhan suku-suku Dayak yang tersebar di Kalimantan besar. Belakangan ini muncul forum sejenis STQ bagi masyarakat Kristiani yaitu Pusparawi / Pusparani yang juga mulai dibesarkan pada tiap tahunnya dengan disertai gelar seni budaya di acara pembukaan dan penutupan serta disela-sela acara kompetisi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI upacara besar pada masyarakat Dayak dikenal nama-nama upacara yaitu Gawai Dayak. dalam hal ini Dinas Pariwisata tingkat Provinsi. Blawing Barek adalah seorang tokoh adat yang kharismatik dan sebagai penari serta pemusik yang piawai. demikian juga forum STQ bahwa gelar seni dilakukan untuk pembukaan dan penutupan serta disetiap hari menjelang gelar kompetisi. kemudian seleksi ini akan dilanjutkan ditingkat propinsi dan akan dilanjutkan pada Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional. Anak-anak dan cucu67 . Blawing Barek. Forum STQ-STQ tersebut mampu menghadirkan ribuan bahkan jutaan manusia yang hadir dalam forum akbar tersebut. Lembaga dan Pribadi Sebagai Agen Penyampai Pesan Di Kalimantan yang begitu luas tidaklah mudah untuk memilih lembaga atau pribadi yang mampu mewadahi gagasan-gagasan atau informasi melalui media seni untuk publik. Gawai Dayak dan STQ tersebut dilakukan tiap tahun.

Pangeran Muashidin Syah. 68 . lembaga ini memiliki jaringan dengan UNS-UMS-UNISRI dan lain-lain.Lembaga ISI dapat menyentuh jalur Adat dan lembaga Kerajaan sekaligus menyentuh Sanggar-sanggar seni dan Komunitas seni di Kalimantan. Bahasa seni adalah bahasa simbol. Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF cucunya juga seniman yang cukup disegani dilingkungan komunitasnya. Motivator dan kreator seni adalah unsur utama dalam program penyadaran masyarakat melalui seni. 2. dan lembaga tersebut memiliki para ahli dan kreator seni yang patut diperhitungkan dan diperankan. Dia sangat dihormati dan disegani oleh Raja-raja komunitas Kalimantan kemudian diangkat menjadi penasehat Kerajaan dan Kesultanan Kalimantan. sedangkan di hilir Mahakam ada di Samarinda. Pangeran dari Kasultanan Kotawaringin. Insan akademis baik itu dosen ataupun mahasiswa dan alumni dapat menjadi Tim Ahli dalam bidang olah seni dan gelar seni untuk penyadaran masyarakat . Semua seni dapat diperankan sebagai media penyampai informasi publik. Di wilayah Kalimantan dan Sumatra di Kalimantan membawahi lima belas (15) kerajaan dan di Asosiasi Raja dan Sultan membawahi enam belas(16) kerajaan Islam. Tokoh semacam ini potensial menjadi pribadi agen penyampai informasi publik melalui seni budaya. 3. 3. Dapat dibayangkan berapa orang yang terjaring dalam ikatan garis karisma pribadinya tersebut. Jaringan utama penyalur gagasan /informasi pada masyarakat Kalimantan adalah lembaga adat dan kerajaan. Dia tinggal di Jalur hulu sungai sampai Hilir sungai Mahakam Kalimantan Timur. adik Sultan Alidin Syah yang memiliki kharisma kepemimpinan yang luar biasa. 2. di bagian tengah di kampung Melak Sendawar. Pengaruhnya melampaui lintas batas propinsi bahkan lintas batas Negara. Posisi rumah di hulu Mahakam di daerah Long Pahangai. Intisari 1. 4. belakangan ini juga di daulat untuk menjadi penasehat Asosiasi Raja dan Sultan (Rasul).

Pontianak Yohanes Bonoh 2003 ADAT PERKAWINAN SUKU DAYAK TUNJUNG. Airlangga University.Serduwar Liah Luhat. 6.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 5.S 2002 PAKAIAN ADAT (tradisional) KAYAAN MEKAAM (Bahau). Ford Foundation-Insitut Dayakologi. Pemda Kutai Barat. Airlangga Press. khususnya mengenai seni tradisional dan adat budaya masyarakat Kalimantan. Surabaya Frans Jiu Luay 2009 Adat Nemlaai-Lung Gelaat. Demikian sekelumit kata tentang seni sebagai media penyampaian informasi. Surabaya. Airlangga Press. Airlangga Press. Daftar Pustaka Frans Jiu Luai 2002 HUDOQ SEBUAH LEGENDA (TARIAN) HUDOQ PADA ADAT DAYA MODANG/ LUNG GELAAT. Fungsi seni untuk kehidupan manusia. Tata Cara Pengesahan Perkawinan Orang Dayak Benoak. semoga dapat menjadi bahan diskusi dan dapat menjadi masukan untuk menyumbang kebutuhan informasi di jajaran Kementerian Kominfo. KEBERAGAMAN SUB SUKU DAN BAHASA DAYAK DI KALBAR. Surabaya Sujarni Alloy 2008 MOZAIK DAYAK. 69 . Surabaya Pamung 2003 PELULUKNG. Ada tujuh prasarat ideal untuk memanfaatkan seni sebagai media informasi.

Bandung: Rekayasa Sain 2006). Dosen Luar Biasa Pascasarjana Universitas Trisakti Jakarta Saat ini menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ISI Surakarta. Bandung: Rekayasa Sain 2007. Bandung: Rekayasa Sain 2007. mendapatkan gelar doktor pada Sekolah Pasca sarjana ITB 2005. Seni Rupa Modern. Ketua Lembaga Pengkajian dan Konservasi Budaya Nusantara di Surakarta. MSn (Sony Kartika). e-mail: kartikasony@yahoo. Kritik Seni. Ketua Litbang SNKI (Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia) Di Jakarta. 14 Juli 1951. Bandung: Rekayasa Sain 2004. STSI Press. Bandung: Rekayasa Sain 2004. Sebagai ilmuwan menawarkan beberapa konsep estetika sebagai alternatif penulisan kajian dan pengamatan seni budaya sebagai salah satu model penelitian dan penulisan karya ilmiah. Dr. Dharsono. Lahir di Klaten.id 70 . Tinjauan estetika Nusantara. Guru besar Bidang Ilmu Estetika. Estetika Barat dan Timur.Pembangunan I/13 Perum UNS Jaten Karanganyar 57731. Dosen Pasca Sarjana ISI Surakarta. Budaya Nusantara (Kajian Pohon Hayat pada Batik). 2008 Tinggal di Jl.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof.co. 08122656566. Beberapa buku yang pernah dipublikasikan antara lain: Pengantar Estetika.

Adapun waktu tersebut adalah waktu yang telah menyelesaikan suatu putaran dialektika budaya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Tengah dan DI Jogjakarta Dharsono (Sony Kartika) Pakar Ilmu Estetika Ketua LPPM Dosen ISI Surakarta Seni tradisi dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial tertentu. Seni tradisi yang layak untuk diangkat dan dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif adalah seni tradisi yang dapat dikemas sebagai bentuk tontonan yang komunikatif-dialogis. Musik dan tari Jawa terbingkai dalam sistem kekuatan monarki-absolut yang berdialektika dengan sistem-sistem lainnya di waktu itu. baik yang “klasik” maupun yang”rakyat”. Pendahuluan ondisi kesenian tradisi kita. maka muncul kelompok-kelompok penggagas budaya tertentu (perekayasa budaya) yang memanfaatkan kesenian tradisi sebagai alat propaganda politik maupun propaganda sosial. yang kemudian terkenal dengan media komunikasi dengan tujuan tertentu. Sedang kesenian tradisi “rakyat” kita terbingkai dalam dialektika budaya masa K 71 . Kesenian tradisi yang mampu mewadahi ungkapan gagasan dalam seni dan sekaligus cocok untuk digunakan sebagai media komunikasi untuk penyampaian pesan kepada khalayak sesuai dengan kebutuhan maisenas. disebut tradisi karena “tradisi” itu. telah terbingkai dalam satu pigura waktu. Pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenas.

sesuai dengan kebutuhan maisenasnya (dalam halini Pemerintah. Untuk itu perlu memetakan seni pertunjukkan tradisi yang mampu menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif. dan atau lembaga pemesan tertentu). yaitu komunitas pengamat dan penikmat (penonton).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF lampau kita di mana sistem ekonomi pertanian tradisi dan sistem sosial. Penyajian karya seni merupakan rekayasa yang dirancang dan disajikan untuk pengamat seni . Kesenian tradisi sebagai eksprsi kebudayaan Kondisi budaya Indonesia telah mengalami proses transformasi budaya sejak jaman prasejarah. yang dirasakan baik oleh seniman maupun pengamatnya. Proses tersebut mencerminkan adanya 72 . dan kekaligus untuk diajak bersama-sama menangkap pesan yang disampaikan. sedang penikmatan sebagai proses cenderung masuk pada demensi psikologis. Proses pengamatan tidak sama dengan penikmatan. Namun demikian pelaku seni sebaiknya tetap diharapkan untuk menjaga kareakter. kenyataan yang terjadi dalam sebuah pertunjukan/sajian seni. Kini budaya kita terbingkai oleh pranata sosial yang bermuara pada industri kreatif. Namun demikian. Pengamatan atau apresiasi cenderung dimensi logis. akibatnya kesenian tersebut akan dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial yang berorientasi pada industri kreatif. maka muncullah kelompok-kelompok kesenian yang memanfaatkan kesenian rakyat sebagai alat propaganda sosial. secara lebih luas dan efektif dan diharapkan dapat menemukan maknanya yang hakiki. kita dihadapkan kepada dua komunitas. Pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi akan sangat berkaitan dengan rekayasa budaya yang dikemas lewat pesan-pesan tertentu. dalam menembus keterbatasan. Penyajian karya seni merupakan salah satu bentuk aktivitas yang memberi kemungkinan terjadinya interaksi dialog tiga komponen antara seniman. karya dan pengamatnya. sebagai emplementasi globalisasi ekonomi dalam trasformasi kapitalisme konsumen. Yang menjadi sasaran topik dalam makalah ini adalah bagaimana kita mensiasati penonton. Pemetakan seni tradisi seyogyanya dipilih terhadap kesenian tradisi yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi yang efektif dan informatif. sesuai kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi.

merupakan proses perkembangan seni tradisi masa lalu. Proses perkembangan yang berkesinambungan antara budaya tradisi masa lalu dengan tradisi selanjutnya terus berlangsung hingga kini. Kesenjangan itulah yang terjadi pada saat lesunya kebudayaan pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Kesenian tradisi sebagai salah satu produk budaya sejak zaman dulu merupakan salah satu bentuk seni Jawa tradisional yang mengalami proses tranformasi. terutama untuk memberikan satu aset budaya dalam pembangunan dewasa ini. 1993:41). yang kemudian merupakan cermin keragaman budaya. Ciri menonjol dari kesenian Indonesia ialah bentuk yang plu-ralistis yang tersebar hampir di kawasan Nusantara. Keempuan para Wali dan Raja dalam mengolah unsur–unsur wayang. Kebudayaan hasil ekspresi masarakat Jawa (sekarang Indonesia). Tiap daerah memiliki akar budaya prasejarah sebagai dasar dari tradisi kesenian Indonesia yang sampai sekarang ada yang masih dipertahankan (Wiyoso. tari. Seni tradisi perlu dilestarikan keberadaannya. dari berbagai macam budaya-seni menurut daerahnya masing-masing merupakan modal dasar pembangunan. arsitektur. Ini mengisyaratkan terjadinya proses kesinambungan kesenian tradisi (terutama wayang ) dilihat dari aspek seni rupa maupun pertunjukannya (Wiyoso. terutama perkembangan sejarah kesenian Indonesia mempunyai ciri yang menonjol. sebagai salah satu identitas dan jati-diri bangsa Indonesia. interior. Usaha untuk mengenal kesenian Jawa termasuk mencoba untuk menggali latar belakang budaya masyarakat Jawa. dan wayang dan sebagainya. 1996:1). Akibat dari kesenjangan proses perkembangan kesenian Indonesia hanya mengharapkan pelestarian tradisi seni semata-mata tanpa upaya pengembangan untuk mencapai tradisi baru. ketika pamor budaya kerajaan Indone73 . Misalnya “wayang” sebagai produk perkembangan kesenian Indonesia Hindu-Budha.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI perkembangan budaya etnik (walaupun tidak semua). menghasilkan wayang baru. Kebudayaan Jawa ini melahirkan berbagai bentuk seni klasik dalam bentuk karawitan. Ciri-ciri tersebut mencerminkan keanekaragaman kebudayaan sesuatu bangsa yang mendiami daerah yang terpisah. perlu adanya kajian dan penggalian sebagai satu usaha pelestarian. keris. batik. Adanya perkembangan budaya tersebut. Kesinambungan tradisi seni memang pernah terputus sehingga perintisan untuk mencapai bentuk kesenian baru terhalang bahkan terhenti sama sekali.

Itulah sebabnya sangat dibutuhkan hadirnya pengamat seni dan atau kritisi seni. Seorang pengamat yang sedang memahami karya sajian maka sebenarnya ia ha74 . yang mampu menterjemahkan beragam bahasa visual dalam ragam bentuk dan ragam makna yang terbentuk oleh pengalaman emosional. Hanya di pusat-pusat kesenian lama kesadaran tradisi tersebut masih tersisa untuk sekadar melestarikan nilai seni yang diwariskan dari para pencipta pendahulunya. Makin menipisnya kesadaran tradisi berakibat pula surutnya daya apresiasi seni karya cipta bangsa sendiri. Di saat itulah kesadaran tradisi bangsa yang terjajah terdesak yang berakibat kurangnya daya cipta untuk menemukan bentuk ekspresi baru yang mencerminkan kekuatan tradisi seni masa lampau. komunitas pengamat dan komunitas penikmat. dan merupakan salah satu cermin adanya transformasi budaya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF sia-Islam mulai memudar. 1986:41). Sajian seni merupakan rekayasa yang dirancang dan disajikan untuk penghayat seni secara lebih luas dan efektif dan diharapkan dapat menemukan maknanya yang hakiki. yang dirasakan baik oleh seniman maupun penghayatnya. baik dilihat dari sudut pertunjukan maupun dari seni rupa (Wiyoso. Namun kini kesenian tradisi diminati kembali sebagai salah satu alternatif sebagai sumber inspirasi penciptaan dan rekayasa budaya dan dimanfaatkan sebagai propaganda sosial. Apresiasi adalah proses untuk menafsirkan sebuah makna yang terkandung dalam karya seni. Kesenian sebagai media apresiasi Kegaiatan seni akan selalu dihadapkan oleh dua komunitas. Apresiasi seni merupakan proses sadar yang dilakukan pengamat dalam menghadapi dan memahami karya seni. karya dan pengamat. Sedang penikmatan yang di dalamnya sarat dengan demensi psikologi yang sangat subyektif dan mengabaikan dimensi logis. Sajian seni merupakan salah satu bentuk aktivitas yang memberi kemungkinan terjadinya interaksi dialog tiga komponen antara seniman. Salah satu bentuk kesenian lama yang sarat dengan nilai-nilai budaya yang masih sempat berkembang pada pemerintahan kolonial adalah wayang. Hal ini dapat dikatakan sebagai bukti adanya proses kontinuitas dalam upaya pelestarian tradisi. Proses pengamatan dalam pelaksanaannya adalah apresiasi. dalam menembus keterbatasan. dalam proses mencari format budaya Indonesia.

“Saya senang karena film itu dimainkan oleh . proses interaksi antara aspek intrinsik seseorang terhadap sebuah karya estetik. Penikmatan berbeda dengan pengamatan (pemahaman). dan lengkap dari semua gejala psikologis yang berhubungan dengan karya seni (Liang Gie 1978:51). melainkan juga menelaah kualitas abstrak dari benda estetik. Apresiasi seni merupakan proses sadar yang dilakukan penghayat dalam menghadapi dan menghargai karya seni. karena untuk semua itu memerlukan pemusatan atau perhatian yang sungguh-sungguh. Pengamatan atau pemahaman nerupakan proses dimensi logis. Hasil dari interaksi proses tersebut merupakan ultimatum senang atau tidak senang terhadap keberlangsungan terhadap karya seni. Pepper dalam bukunya berjudul The Principles of Appreciation memberikan empat tingkatan ultimatum kesenangan berdasarkan tingkat relativitas seseorang. Apresiasi menuntut ketrampilan dan kepekaan estetik untuk memungkinkan seseorang mendapatkan pangalaman estetika dalam mengamati karya seni. sedang penikmatan merupakan proses dimensi psikologis. ultimatum tersebut berdasarkan keputusan yang berorientasi pada selera pribadi. Keputusan senang dan tidak senang lahir dari akibat pengaruh aspek psikologis secara instrinsik. merupakan hasil tafsir makna (arti) yang terkandung di dalamnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI rus terlebih dahulu mengenal struktur organisasi atau dasar-dasar penyusunan dari karya yang sedang dihayati. Proses dalam pengenalan nilai karya seni.”. Relativitas kajian tersebut tergantung dari tingkat relativitas seseorang dalam menghadapi sebuah karya sajian.. lepas sebelum atau setelah menikmati karya tersebut. Pengalaman estetik bukanlah sesuatu yang mudah muncul atau mudah diperoleh. dimana seseorang dalam memberikan ultimatum senang dan tidak senang karena adanya keputusan subjektivitas. Tingkatan tersebut menurut Steppen C. tingkat relativitas ini merupakan ultimatum senang atau tidak senang atas keputusan sikap psikologis karena ika75 . misalnya. Pengalaman estetika dari seseorang dipersoalkan bagaimana seseorang pengamat menanggapi atau memahami suatu benda indah atau karya seni? Seseorang tidak lagi hanya membahas sifat-sifat yang merupakan kualitas dari benda estetik. terutama usaha menguraikan dan menjelaskan secara cermat. Tingkatan relativitas tersebut juga tergantung dari tingkat intelektual seseorang dan latar budayanya.. Tingkatan pertama disebut tingkat subyektif relativitas. Tingkatan kedua disebut tingkat relativitas budaya..

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

tan latar belakang budaya. Tingkatan ini selalu berorientasi terhadap sikap budaya dimana mereka hidup. Misalnya: ”saya senang karena karya seni yang disajikan merupakan kebudayaan daerah ...”. Alasan yang menyangkut atas budaya kesukuan, kebangsaan, dan semua yang menyangkut tentang adanya orentasi budaya yang sepihak terhadap budayanya, akan mempengaruhi ultimatum senang dan tidak senang terhadap karya seni setelah ataupun sebelum karya seni tersebut dinikmati. Tingkatan ketiga disebut tingkat biological relativity, dimana ultimatum senang dan tidak senang didasari atas keputusan yang berdasarkan atas intrinsik yang muncul setelah menikmati karya tersebut. Ultimatum tersebut hampir mendekati proses apresiasi, namun masih banyak menggunakan aspek psikologis dibanding logika pemahaman estetik. Keputusan senang dan tidak merupakan proses penikmatan karya estetika yang sedang disajikan. Hal itu biasanya dilakukan pada penikmat yang tidak sepihak terhadap subyektivitas ataupun budaya simpatik. Tingkatan keempat merupakan tingkatan relativitas yang disebut absolut, artinya ultimatum senang atau tidak senang bukan dari intrinksik tetapi cenderung kepada sikap ekstrinsik. Ultimatum didasarkan atas pengaruh dari luar. Misal: Semua seni itu indah, tanpa berusaha menikmati dengan segala kekuatan aspek psikologis yang ia punyai. Semua tingkat relativitas tersebut menunjukkan adanya tingkat relativitas yang dipunyai oleh seorang penikmat. Tingkat tersebut merupakan proses interaksi psikologis seorang penikmat, sehingga untuk penyajian karya seni diperlukan penikmat atau penonton sesbagai audien pertunjukan. Ini yang oleh penggagas rekayasa seni budaya sebagai salah satu dasar untuk mampu membangun pertunjukan/kegiatan seni yang sarat akan pesan-pesan yang komunikatif tetapi tetap punya kapabilitas seni sebagai ekspresi dan berkarakter.

Seni tradisi sebagai rekayasa budaya Ketika seni tradisi dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial tertentu, maka muncul kelompok-kelompok kesenian yang memanfaatkan kesenian rakyat sebagai alat propaganda politik maupun propaganda sosial. Kesenian sebagai ajaran rokhani yang wigati (lihat seni sebagai tuntunan dan tontonan) terpinggirkan oleh kekuatan global secara vertikal horisantal. Ajaran kebudayaan yang telah berakar di bumi pertiwi yang kita cintai ini, telah tergadaikan dan tergantikan dengan kebuday76

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

aan asing akibat pendidikan populer. Kebudayaan populer yang menjadi ujung tombak menejemen kapitalisme konsumen mulai menggeser kearifan lokal yang menjadi ”ruh” dari kebudayaan, mulai terancam krisis demensi. Politik, ekonomi, hukum, dan bahkan kesenian, agama, mulai tercabut dari akar kebudayan dan berjalan sendiri-sendiri, seperi kereta tanpa masinis. Jadi janganlah heran apabila antara politik, hukum, ekonomi, agama dan seni saling bertabrakan.

Rekayasa sebagai media budaya populer Seni budaya masa yang sering disebut budaya populer atau seni populer, merupakan rekayasa budaya yang berorientasi dari perluasan kontinuitas pada seni rakyat atau seni yang berkembang dari masyarakat. Seni rakyat berkembang dari arus bawah, sedang populer art atau mass culture (budaya massa) berkembang sesuai dengan rekayasa klas atas. dikatakan demikian karena produk budaya massa dibuat oleh teknisi-teknisi yang disewa oleh para pengusaha; audiennya merupakan konsumen yang pasif, partisipasinya bukan karena adanya ikatan nilai sosio-cultural seperti pada seni rakyat tetapi partisipan dihadapkan pada alternatif membeli atau tidak... Kini, masyarakat di mana pertumbuhan gaya hidup semakin meningkat, memikat dan mengundang hasyrat, seperti perkembangan terakhir ini. Masyarakat konsumen Indonesia mutakhir tampaknya tumbuh dan beriringan dengan sejarah globalisasi ekonomi dan trasformasi kapitalisme konsumen yang ditandahi dengan menjamurnya pusat pembelajaan bergaya semacam Shopping Mall, industri waktu luang, industri mode atau fayen, industri kecantikan, industri koliner, industri nasehat, industri gosip, kawasan huni mewah, apartemen, real estate, gencarnya iklan barang-barang supermakket dan liburan wisata ke luar negeri, berdirinya sekolah-sekolah mahal (dengan label plus), kegandrungan terhadap merek asing, makanan serba instan (fast food), telepon seluler (HP), dan serbuan gaya hidup lewat industri iklan dan telivisi yang sudah masuk ke ruang-ruang pribadi dan bahkan mungkin sudah masuk ke relung-relung jiwa kita yang paling dalam... (Idi Subandi 2007). Tak disangsikan lagi, bahwa yang bertindak sebagai agen public relation dari kaum selibritis adalah media populer dan terutama televisi. Telivisi dengan kuatnya pada aspek hiburan ini bagi sebagaian kalangan bahkan dianggap mengkolonisasi waktu luang. Saluran musik te77

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

livisi non-stop 24 jam seperti MTV tidak hanya menghibur anak muda diberbagai penjuru Asia dengan video klip lagu-lagu dari grup-grup yang lagi in, tetapi juga menghibur mereka dengan pesan-pesan komersial, dan ini secara tidak lasung menanamkan nilai dan kesadaran akan betapa bahagianya kalau dapat mengisi luang dengan dengan bersenang dan bersantai bersama keluarga. Sementara pabrik gaya hidup yang sekian lama didominasi iklan kini dipercanggih dengan lewat rekayasa citra yang melahirkan para praktisi public relation dalam dunia bisnis, tontonan, dan juga politik. Dalam abad media, citra adalah segalanya, bahkan untuk menjadi bintang, orang tidak perlu sehebat Gandhi, Soekarno. Untuk menjadi hero, orang tidak perlu susah melakukan hal-hal yang luar biasa atau mesti menciptakan karya besar. Orang-orang yang dianggap besar kini adalah orang-orang biasa yang tenar dan ditenarkan oleh media; selibriti menurut media jurnalistik sekarang lebih asyik tokoh, bintang atau selibriti, untuk kemudian sewaktu-waktu mengenyahkannya dan menggantikannya dengan yang baru. Seperti siklus mode atau fashion dalam dunia bintang. Akhirnya kita hanya mampu menggaruk-garuk kepala, betapa hebatnya dunia ini.

Rekayasa sebagai media komunikasi Kesenian tradisi rakyat yang pernah berkembang di daerah, perlu kita pikirkan sebelum punah dimakan jaman. Seni rakyat dengan berbagai ragam bentuk dan ragam budaya daerah yang merupakan kekayaan bumi nusantara perlu ada rekayasa kultural sesuai dengan perkembangan teknologi dan informasi yang semakin global. Peningkatan sumber daya manusia yang menitik beratkan pada kekayaan daerah, mau tidak mau akan menoleh terhadap ragam seni tradisi rakyat yang berkembang di daerah sebagai alternatif garap yang mengarah pada seni komoditas, itu tak mungkin dapat dielakkan. Selanjutnya kita harus berfikir bahwa kesenian rakyat adalah merupakan aset budaya daerah, yang perlu dikembangkan dan dilestarikan dengan sebuah rekayasa budaya yang arif. Rekayasa yang punya kearifan, apabila sebuah pelestarian budaya merupakan upaya untuk mengangkat kembali warisan budaya lokal sebagai langkah nyata dari kelompok masyarakat dalam membangun kembali warisan budaya leluhurnya, serta menatap masa depan, dengan penuh keyakinan tentang kekuatan diri di tengah peradaban yang
78

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

kian mengglobal. Budaya tradisi lokal merupakan kesenian warisan yang menjadi unggulan daerah dan kemudian menjadi ikon daerahnya, maka perlu dilindungi dan dilestarikan keberadaannya, sebagai bentuk ketahanan budaya. Ketahanan budaya akan menjadi cermin atas ketahanan nasional. Maka sebaiknya pelestarian budaya sebaiknya dikonsentrasikan dengan mengambil ikon warisan budaya secara aktual. Aktualisasi terhadap karya-karya tersebut sebaiknya dibangun dengan basic warisan budaya yang disesuaikan dengan perkembangan kini tanpa meninggalkan nilai essensinya. Ketika seni tradisi dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial tertentu, maka muncul kelompok-kelompok penggagas budaya tertentu (perekayasa budaya) yang memanfaatkan kesenian tradisi sebagai alat propaganda politik maupun propaganda sosial, yang kemudian terkenal dengan media komunikasi dengan tujuan tertentu. Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat luas. Dalam masing-masing budaya tersebut terdapat pola kesenian, media kesenian, dan posisi seniman yang beragam. Keragaman itu juga mempengaruhi bentuk maupun isi. Oleh karena itu, seni tradisional tidak bisa dilihat hanya dari satu pendekatan atau hanya berdasar pada prinsip umum (universal) yang diberlakukan untuk semua. Untuk melihat makna dan fungsi suatu kesenian, harus dilakukan pendekatan sesuai dengan karakteristik masyarakat di mana kesenian dan tradisi itu hidup dan berkembang (Limbeng, 2009). Kesenian tradisi pada dasarnya memiliki pola atau pakem yang membuat kesenian itu menjadi khas, berbeda dari yang lainnya. Namun sebenarnya pakem tersebut bukanlah suatu aturan “mati”, melainkan punya potensi untuk dikembangkan, berubah, dan berkembang sesuai dengan kebutuhan, bahkan mampu mengakomodasi perubahan isi sesuai dengan kepentingan (misal: propaganda politik ataupun propaganda sosial), Ini yang kemudian dikatakan sebagai rekayasa budaya sebagai rekayasa kepentingan. Pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenas. Namun demikian tetap tergantung kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi namun tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi lewat seni tradisi .
79

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Seni tradisi sebagai media komunikasi, maka perlu dipilih bentukbentuk seni tradisi yang telah populer, seni pertunjukkan rakyat yang punya kemampuan untuk menciptakan hubungan antara seni dan masyarakatnya. Maka melalui seni tradisi sebagai media komunikasi yang komunikatif adalah (di Jawa-Tengah) melalui pertunjukkan seni tradisi: wayang, teater tradisi (ketoprak, wayang orang). Kesenian tersebut mampu membangun dialog langsung antara pelaku dan komunitasnya. Pelaku seni. Para dalang dan pelaku seni dapat mengungkapkan ide dan gagasannya kepada komunitasnya, maka akan terjadi dialog interaktif disela-sela cerita-cerita yang dibawakannya. Seorang dalang atau sutradara dapat mengungkapkan gagasan dan sekaligus menyampaikan pesan yang dikemas sebagai bentuk informasi yang diracik dalam satu rangkaian cerita, maka ungkapan seni dan pesan dari maisenasnya secara holistik.

Pemetakan seni tradisi sebagai media komunikasi Pemetaan kegiatan Seni tradisi yang layak untuk diangkat dan dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif adalah seni tradisi yang dapat dikemas sebagai tontonan yang komunikatif-dialogis. Kesenian tradisi yang mampu mewadahi ungkapan gagasan dalam seni dan sekaligus cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. Meski semua seni tradisi merupakan ajaran dan tontonan, namun tidak semua seni pertunjukkan tradisi dapat menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif. Mungkin hanya media seni tradisi yang verbal dan komunikatif-dialogis saja yang cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. Seni tradisi yang lain, misalnya yang mengandalkan gerak atau nyanyian dalam batas tertentu sulit digunakan sebagai media penyampai. Oleh karena itu dibutuhkan pemetaan seni tradisi yang bisa digunakan sebagai media penyampaian pesan dan media informasi yang komunikatif. Pemerintah dalam halini lewat Kementrian Komunikasi dan Informatika, Pemerintah daerah tingkat propinsi ataupun kabupaten/Kota diharapkan mampu mewadahi potensi kesenian tradisi tersebut sebagai satu daya untuk mendorong aktivitas budaya, dan sekaligus mampu dimanfaatkan sebagai media komunikasi.

80

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

1. Wayang Kesenian wayang, merupakan jenis kesenian yang pada dasarnya menggunakan sosok wayang sebagai tema, sumber dan gagasan. Penggunaan sosok tersebut dapat saja merupakan media ekspresi secara murni ataupun penggambaran tematik tertentu. Sehingga kesenian wayang ini juga dapat disebut sebagai pertunjukan dengan menggunakan wayang sebagai sosok utama. Sosok wayang tersebut dapat tidak terbatas pada wayang kulit, tetapi juga wayang beber, wayang golek, wayang reka (termasuk wayang suket (Pedepoan Wayang Suket), wayang kampung (Komunitas Wayang Kampung Sebelah) dan sebagainya dan sebagainya.
Wayang wahyu Wayang krucil wayang Wayang beber Wayang Reka Wayang golek Wayang purwa

1

2

Wayang kampung Wayang Suket Wayang bhuda Wayang suluh Wayang reka yang lain

81

Hal tersebut membuktikan adanya kesinambungan bentuk wayang pada masa Indonesia Hindu dan Islam. tetapi justru memperkaya kualitas yang tercermin lewat perlambangan pada setiap ujud rupa wayang. wayan kampung dan wayang suket Pilihan ini sudah digarap oleh keompok seni maupun komunitas peduli wayang. Pengaruh kebudayaan dari luar tak menggoyahkan pandangan hidup itu. kekuatan perlambangan justru lebih memperkaya kualitas. Wayang mulai meninggalkan kepengaruhan budaya India yang realistik ke bentuk non-realistik. Kemudian wayang kulit Purwa yang non realistik tersebut merupakan wayang kulit klasik tradisionil yang mampu memberikan jatidiri bangsa Indonesia. kemudian teradaptasi dengan budaya Jawa yang kental dengan kekuatan kosmis-magis dalam kosmologi Jawa. Pemilihan kesenian wayang yang efektif dan komunikatif untuk wilayah JawaTengah dan DIJ.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Wayang merupakan seni tradisi layak untuk diangkat dan dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif adalah seni tradisi yang dapat dikemas sebagai tontonan yang komunikatif-dialogis. sebagai wayang klasik tradisional tersebut di atas merupakan karya local-genius yang kaya akan perlambangan kehidupan. Hal ini merupakan cerminan adanya kekuatan kosmologi yang mampu memberikan dasar dalam mengejawantahkan bentuk wayang sebagai perlambangan kehidupan manusia. Wayang dalam bentuknya realistis akibat pengaruh budaya India melalui agama Hindu. Wayang Purwa Wayang Purwa. namun dilihat dari segi bentuknya maka nampak adanya kesinambungan bentuk wayang pada masa hindu dengan masa 82 . Perubahan bentuk realistis pada budaya Hindu kemudian menjadi bentuk non-realistik pada budaya Islam. 1. Kelanjutan pada kebudayaan Islam. Hal ini karena adanya pandangan kosmis-magis yang mendasari penciptaan wayang. Kekentalan kosmis-magis kemudian merupakan satu kekuatan yang menjadi landasan munculnya local-genius. adalah wayang purwa.1. yang tercermin pada setiap unsur rupa wayang. Wayang purwa kemudian merupakan sarana dahwah agama islamiah . Sekaligus merupakan bukti munculnya local-genius bangsa Indonesia.

hanya mengalami distorsi-stilasif pada wayang purwa. Pertunjukan wayang tersebut akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenasnya. merupakan pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI agama Islam. Wayang Reka Wayang Reka merupakan wayang alternatif garaf yang beorientasi pada konsepsi wayang purwo. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi namun tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi 1. tetapi dikonsentrasikan ga83 .2. sebagai sarana adaptasi seperti yang telah disinggung di depan. Kesinambungan tradisi mendorong para empu wayang untuk melestarikan dan mengembangkan wayang dengan fungsi yang sama yaitu sebagai media pendidikan dan sebagai sarana seni pertunjukan yang bersifat lokal. Hal ini merupakan pertimbangan para wali. Wayang sebagai karya seni pertunjukan ini mengandung berbagai nilai karena sifatnya yang mixmedia Pertunjukan Wayang Purwa Pertunjukan Wayang Purwa di halaman balai Kota Surakarta (Dokumen Komunitas Ronggo Winter Wisma Seni TBS Surakarta 2010) Pertunjukan dengan menggunakan sosok wayang purwo di atas.

dan berfungsi sebagai penyuluhan departemen Penerangan saat itu. Wayang reka ini di diJawa Tengah dan DIJ telah lahir karya wayang alternatif antara lain: wayang kampung. dan lain sebagainya. Wayang kampung ini secara figur garap menyerupai wayang suluh. Apabila perjalanan wayang purwa kemudian merupakan sarana dahwah agama islamiah. Nasution. wayang budha. Bung Hatta. Wayang Kampung Sebelah di Serambi Museum Radya Pustaka dan di halaman Kampung Baluwarti (Dokumen Komunitas Ronggo Winter Wisma Seni TBS Surakarta 2010) Pertunjukan dengan menggunakan sosok wayang reka (wayang kampung) di atas. bedanya wayang suluh figur-figur yang dibangun berorientasi pada tokoh-tokoh pejabat tnggi waktu itu. wayang suluh. para menteri. wayang kampung direka dengan sosok orang kampung dan dufungsikan sebagai penebaran nilainilai kearifan lokal. merupakan pemanfaatan seni tradisi alter84 . bung Karno.2. Wayang Kampung Wayang kampung reka garapnya berorientasi terhadap wayang purwa. Pertunjukan Wayang Kampung Pertunjukan wayang kampung dengan ki Dalang Drs. 1.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF rap tematik dan mengacu pada funsi gara tertentu. para Bupati dan sebagainya. 1. wayang suket. Jliteng Suparman. Suharto.

Namun. Setidaknya ada empat unsur yang menjadi kekuatan dalam pertunjukan Slamet. yang biasa digunakan untuk pertunjukan wayang kulit. Jika pertunjukan Slamet Gundono harus diberi istilah. Pertunjukan wayang tersebut akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenasnya. Wayang Suket Wayang Suket Slamet Gundono komunitas Wayang Suket merupakan pertunjukan wayang alternatif. namun secara konsepsi masih berorientasi pada wayang konvensi pada wayang purwa Sosok wayang atau Boneka wayang yang dibuat dari kulit. dengan pertunjukan teater wayang. sekalipun lakon yang dibawakan bernuansa surealis. dengan tingkat penghayatan yang tepat.2. 1. ada satu kekuatan yang dimiliki Slamet dan kawan-kawannya sehingga pertunjukannya tetap memikat dan enak ditonton. namun alur cerita yang dibangun masih ada benang merahnya.2. Slamet Gundono yang setiap kali pentas selalu ditemani ukulele. sebagaimana layaknya dalang konvensional yang pandai menembang. di tangan Slamet Gundono bisa diubah dengan apa saja. karena pertunjukan ini juga melibatkan aktoraktor lain yang bermain di panggung. kepandaiannya ini membuat narasi yang disampaikan. Kedua. Pertama. tentu saja sudah sangat menjauh dari pakem pertunjukan wayang kulit konvensional. jadi lebih memikat. pandai menembang dengan suara yang merdu. Ketiga. Slamet Gundono selalu memasukan unsur humor namun tidak dengan maksud melawak. Pertunjukan wayang seperti itu. Dikatakan teater. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas penyaji sebagai media ungkap atau ekspresi dan sekaligus tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi. Pertunjukan gado-gado seperti itu sudah merebak di Tanah Air. sehingga penonton dapat mengikuti jalan ceri85 . secara eksitensi memang seolah lepas dari pakem.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI natif sebagai media komunikasi. Banyak yang melakukannya. dan dalam beberapa adegan para aktor itu berinteraksi dengan wayang yang dimainkan. Sesuai dengan fungsinya yaitu untuk penebaran nilai kearifan lokal.

dalang dan sutradara Slamet Gundono.tamanismailmarzuki. (www. Makyong.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ta yang dibentangkan. 86 .com Garibaba’s Strange World 2009) Pertunjukan Wayang Suket Beberapa adegan dalam wayang suket. Slamet selalu mengusahakan pertunjukannya berlangsung secara komunikatif. Ludruk. Ada interaksi antara pemain dengan penonton seperti yang terdapat dalam pertunjukkan teater tradisional. misalnya Lenong.2009) Pertunjukan dengan menggunakan sosok wayang reka oleh Komunitas Wayang Suket (Slamet Gundono) dirakit seadanya Wayang suket merupakan teater tradisi alternatif sebagai media komunikasi antara aktor sekaligus dalang Slamet gundono. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas penyaji sebagai media ungkap atau ekspresi dan sekaligus tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi. Pertunjukan wayang tersebut merupakan ekspresi seniman secara intuitif garap dan dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenasnya. Longser. Keempat. Komunitas Wayang Suket Mojosongo Surakarta (Dokumen Esha Kardus . Ketoprak.

wayang orang. Ketoprak dan wayang orang kini menjadi budaya kelangenan. Proses tersebut mencerminkan adanya perkembangan budaya etnik (kesenian rakyat). Adanya perkembangan teater tradisi. Taman Budaya Jawa-Tengah TBS Surakarta (Dokumen Esha Kardus. Teater tradisi sebagai salah satu produk budaya merupakan salah satu bentuk seni Jawa tradisional yang mengalami proses tranformasi budaya. telah mengalami proses transformasi budaya sejak jaman prasejarah. sebagai salah satu seni punya identitas dan karakter jati diri bangsa. maka ketoprak dan wayang orang yang dulu mengalami kejayaan sebagai budaya populer. 2009) Pertunjukan Ketoprak (di atas) merupakan pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi. sandiworo). Pertunjukan ketoprak Beberapa adegan dalam ketoprak.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 2. Seputar 1960-1970-an teater tradisi yang muncul sebagai budaya masa di tengah masyarakat (ketoprak. sandiworo radio). yang kemudian merupakan. ketoprak. Teater Tradisi Teater tradisi di Jawa (seperti. mempunyai ciri yang menonjol. wayang orang. Pertunjukan ketoprak terse87 . tidak hanya digemari tetapi sangat populer pada masyarakat. Kini ketoprak ataupun wayang orang (panggung) ditinggalkan penggemarnya dan beralih ke layar kaca. Parede ketoprak sse Jawa tengah dan DIJ.

namun tetap berpegang terhadap kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi. Pemerintah daerah ataupun lembaga lain) perlu selektif memilih seni tradisi dapat menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif-dialogis saja yang cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. Kotoprak dan wayang orang kini mulai merambah ke gedung pertemuan. tetapi sebenarnya masih punya penggemar yang baik. 3. dapat mengungkapkan ide dan gagasannya sekaligus mampu membangun dialog interaktif disela-sela ceritacerita yang disajikan. fragmen wayang orang. Perlu diingat bahwa seni tradisi merupakan ajaran dan tontonan. 88 . yang dikemas sebagai. Maka melalui seni tradisi sebagai media komunikasi tersebut mampu membangun dialog langsung antara pelaku dan komunitasnya. ketoprak gremeng. Ketoprak sepert di atas ada peluang untuk tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi.. wayang orang garap. kini kurang diminati. pendapa. maka maisenas dalam halini “pemerintah” (Kementrian Komunikasi dan Informatika. guyon maton. dan lain sebagainya. Rekomendasi 1. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi. Harus mampu membangun rekayasa budaya yang dikemas secara tematik garap. Oleh karena itu dibutuhkan pemetaan seni tradisi yang bisa digunakan sebagai media penyampaian pesan dan media informasi yang komunikatif. Pemakaian dan pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi. di halaman-halaman. sehingga kesenian tersebut masih punya karakter. ketoprak petilan. sebagai alternatif.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF but akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas secara tematik garap. dan punya kemampuan untuk menciptakan hubungan antara seni dan masyarakatnya. Seyogyanya para penggagas/pemrakarsa perlu memilih bentukbentuk seni tradisi yang telah populer. ataupun wayang panggung. Penggagas ketoprak. Catatan terakhir muncul fragmen ketoprak/wayang orang. Sehingga para pelaku seni. 2.

Clifford (1960). Makalah Seminar Nasional Seni Rupa Tradisi Nusantara Topik: Implementasi Konsep Kriya dalam Pendidikan Tinggi Surakarta:STSI Jose an Miriam Arguelles (1972). RM (1999). Memahami Seni. Estetika. Pameran Seni Rupa Kontemporer Pekan Wayang Indonesia VI. Terjemahan Clare Holt dalam Art in Indonesian Continuities and Change. 1990. Jakob.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Daftar Pustaka Claire Holt. Yogyakarta. Sinar Harapan dan Yayasan Cipta Loka Caraka Soedarsono. New York Ithaca: Cornell University Press. New York: The Free Press. Yogyakarta:ISI Sumardjo. The Religion of Java. Adi Subandi Ibrahim (2007). Pameran Seni Rupa Kontemporer dalam Rangka Pekan Wayang Indonesia VI. 1996 Seni Prasejarah di Indonesia. Haryono Haryoguritno. yayasan Bentang Budaya Subagyo. Rupa Wayang dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Seni Indonesia (kontinuitas dan Perubahan. Bandung.. Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa. Kuntara. Jakarta. Niel (1984). Boelder and London: Shambala Koentjaraningrt (1985). Makalah Pengantar. Bandung: Seni Rupa PPS-ITB. Javanese Culture. Rahmat. Diktat PascaSajana ITB (tidak diterbitkan) Wiryamartana. 1973 Art in Indonesia: Continuties and Change. The Liang Gie. TTh. Diktat Kuliah. Bandung: Rekayasa Sain Geertz. Yogyakarta. Yogyakarta. Agama Asli Indonesia. Duta Wacana University Press. Gadjah Mada University Press Simuh. New York: Oxford University Press Mulder. 89 . Makalah Pengantar. 1993 Kesinambungan Tradisi dan Sumber Pengilhaman. Jogyakarta:Jalasutra Dharsono (Sony Kartika) (2007). Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. (1981). Arjunawiwaha: Tranformasi Teks Jawa Kuna lewat Tanggapan dan Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa. Budaya Populer sebagai Komunikasi (Dinamika Popscape dan Mediascape di Indonesia Kontemporer). 1993 Wayang Purwa Gagrak Surakarta Ditinjau dari Aspek Rupanya. I. Wiyoso Yodoseputro. Rupa Wayang dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Asmujo J (1999). 1976 Garis Besar Filsafat Keindahan. Irianto. Wiyoso Yodoseputro. University (1967). (1996). Mandala. Kria Dalam Pendidikan Tinggi. Corne. Yogyakarta: Penerbit Karya.

.

MENGGUBAH SENI TRADISI DAN PERTUNJUKAN YANG KOMUNIKATIF UNTUK PENCERDASAN RAKYAT 3 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

serta Singapura (1977). 1975). Amerika Serikat. 1976) dan Dramatari Apa”(Denpasar. kemudian. serta dengan Keith Terry memproduksi tarian terkenal Tjak (1990). Dramatari Cak Subali Sugriwa”(Denpasar. Dramatari Sunda Upasunda (Yogyakarta. Perkembangan Seni Tari Bali” (Proyek Sasana Budaya Bali-Denpasar) dan Pengantar Karawitan Bali (ASTI Denpasar. 1978). 1977). 1977). 1978). Amerika Serikat pada tahun 1992. salah satu tempat yang ia kunjungi adalah Holy Cross College in Worcester. New England. 1977). menyusun Dramatari Topeng Puputan Badung”(Denpasar. Sendratari Abimanyu Gugur”(Denpasar. 92 . Catatan Beberapa Seni Pertunjukan Bali”(sebuah karya bersama ASTI Denpasar. Dramatari Cak DewaRuci”(1982). dengan Ikranagara menata drama Rimba Triwikrama (Jakarta. Lawatan pentasnya di luar negeri di lakukan antara lain di Iran (1969). antara lain. Dramatari Calonarang Katundung Ratnamanggali”(Yogyakarta. ikut memprotes pemerintah Malaysia atas klaimnya terhadap tari Pendet. ia sering mengikuti pentas baik di dalam negeri maupun luar negeri. mendapatkan gelar PhD dari University of California. 12 April 1948. Baru-baru ini. Pemimpin sanggar tari Bali Waturenggong di Denpasar ini. 1975).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Lahir di Singapadu. melanjutkan ke ASTI Yogyakarta. Lulus Sarjana Muda dari ASTI Denpasar tahun 1973. diantaranya dengan I Made Bandem MA. pernah bekerja sama dengan beberapa seniman tari. Hongkong (1977). Mulai belajar menari pada usia 11 tahun dari ayahnya sendiri. Sering juga berkunjung ke berbagai lembaga pendidikan untuk bertukar pengetahuan tentang dunia seni khususnya seni tari. juga mendapatkan gelar guru besar bidang koreografi dari STSI Denpasar pada tahun 1999. 1974). bersama dengan beberapa seniman Bali. Beberapa buku pernah ia tulis. Jerman (1975). Sedangkan pentasnya di dalam negeri antara lain. lulus tahun 1975. Bali. Sebagai penari.

cenderung lebih mengutamakan unsur hiburan dan mengabaikan unsur pendidikan. h. Setiap kelompok etnis. seni merupakan suatu sistem budaya. 93 . Dengan ini dimaksudkan bahwa seni tidak berdiri sendiri melainkan selalu terkait dengan unsur-unsur budaya lainnya1. Indonesia adalah negara multi-etnis yang memiliki beraneka ragam warisan kesenian. masyarakat Hindu Bali memperlakukan kesenian bukan saja sebagai sarana upacara ritual melainkan juga sebagai hiburan masyarakat. kesenian menjadi sarana komunikasi sekaligus edukasi bagi masyarakat. Further Essays in Interpretative Anthropopogy. New York. apapun media ungkapnya.94-120. Local Knowledge. Belakangan ini.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Mencerdaskan Rakyat dengan Seni Tradisi dan Pertunjukan Komunikatif I Wayan Dibia Ahli Seni Tari. seperti yang juga terjadi di daerah lain. Lahir dari berbagai konsepsi yang dimiliki manusia tentang sesuatu yang ada di sekitar mereka. Di Bali. adalah suatu perwujudan ekspresi artistik yang diikat oleh nilai-nilai budaya. sajian kesenian di Bali. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian. yang tersebar di seluruh tanah air. Dosen ISI Denpasar Pengantar eni. Basic Books Inc. seperti yang dikatakan Bambang Sugiharto (Dosen Universitas Katolik Parahy- S 1 Clifford Geertz. Dalam fungsinya sebagai persembahan kepada Tuhan (niskala) dan manusia (sekala). 1983. menggunakan kesenian tersebut dengan cara dan maksud yang berbeda-beda sesuai kebiasaan yang berlaku setempat.

Bandung. Seni Tradisi dan Pertunjukan Komunikatif di Bali Di tengah-tengah pergeseran nilai-nilai sosio-kultural masyarakat Pulau Dewata belakangan ini. sebagai akibat dari masuknya unsurunsur budaya global. Dengan menjadikan kesenian tradisional Bali. Gong Kebyar. Walaupun mungkin bisa menghibur. Gong Kebyar. Dengan menjadikan Arja. serta informasi-informasi lainnya yang tidak benar ke dalam sajian kesenian mereka. Arja. Wayang Kulit.”2 Untuk menyenangkan penonton dan membuat mereka tertawa. 16 Desember 2006. Patut dipahami bahwa kesenian Bali. tulisan ini mencoba untuk membahas kondisi seni pertunjukan tradisional Bali dewasa ini serta mencari berbagai kemungkinan untuk mengembalikan keseimbangan muatannya. Untuk menjadikan kesenian tradisi sebagai sistem budaya yang lebih strategis dalam kehidupan masyarakat kita. kiranya diperlukan adanya upaya-upaya revitalisasi terhadap unsur-unsur pendidikan di dalam kesenian tradisi yang ada. dan Pesantian sebagai obyek material. melalui sajian gerak dan dialog-dialog yang dapat memancing ketawa penonton. jorok dan porno. Topeng. menawarkan komunikasi artistik berkualitas bayu-sabda-idep. Topeng. Ilmu Pengetahuan dan Peradaban” (Pidato Pengukuhan Guru Besar). para seniman seringkali memasukkan adegan-adegan lucu. dan daya pikir. Secara singkat dapat dikatakan bahwa gerak dan 2 Ignatius Bambang Sugiarto. bunyi. Wayang Kulit. Tidak sedikit pelaku kesenian yang secara tidak sadar telah memasukan lelucon kasar dan vulgar. kesenian seperti ini tidak akan mampu mencerdaskan masyarakat. agar seimbang antara aspek tontonan dengan tuntutannya. dan Pesantian adalah beberapa kesenian tradisional Bali yang hingga kini masih memperoleh tempat cukup istimewa di dalam kehidupan masyarakat Hindu-Bali. “Seni. membantu kita untuk sejenak melarikan diri dari persoalan. terutama seni pertunjukan dramatik. sebagai fokus. yaitu sajian seni yang mampu secara holistik membangkitkan energi. tulisan ini bertu-juan untuk menjelaskan bahwa jika sajian kesenian sudah diseimbangkan muatan tontonan dan tuntunannya maka kesenian tersebut akan mampu memberikan pencerahan untuk mencerdaskan masyarakat. hal. khususnya seni pertunjukan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF angan) diadakan hanya untuk membuat hati senang dan pikiran tenang. 5 94 . sejumlah kesenian tradisional Bali masih tetap eksis dan bertahan di masyarakat.

Sajian bunyi-bunyian. sabda. dan idep. bayu. yang mengikat seni pertunjukan. Pesan-pesan etika dan moral. untuk menunjukkan bagian seni pertunjukan Bali yang tengah didominasi oleh sajian gerak dan tari. dua aspek lainnya tetap memberikan dukungan. Bayu Idep Sabda 3 Baca: I Wayan Dibia. A Study of Change and Transformation” (disertasi) Los Angeles : University of California. Aspek idep akan berada di posisi atas ketika bagian-bagian suatu pertunjukan didominasi oleh sajian lakon dengan berbagai pesannya. 95 . Ketika sajian musik yang mendominir maka aspek sabda akan berada di atas. aspek bayu berada di atas. termasuk aspek sabda. musik (vokal dan instrumental). yang dapat dicerap dengan telinga. termasuk aspek bayu. yang dapat merangsang pikiran penonton.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI tari. didukung oleh aspek sabda dan idep. Secara bergantian. maka bayu akan berada di atas. pandangan hidup maupun gagasan-gagasan lainnya. Ketika sajian gerak dan tari yang mendominasi suatu pertunjukan. Los Angeles (1992). Pada bagan di bawah ini. dan pesan) dalam suatu peristiwa pertunjukan Bali. yang bisa dicerap lewat mata. “Arja : A Sung Dance-Drama of Bali. serta unsur-unsur aural lainnya. Lingkaran di tengah adalah seni pertunjukan sedangkan segi tiga menggambarkan ke tiga aspek. masing-masing aspek bisa berada di atas untuk menunjukkan dominasinya terhadap kedua aspek yang lainnya. termasuk aspek idep. bunyi. termasuk unsur visual lainnya. Keterkaitan yang dinamis dari ketiga aspek di atas dalam seni pertunjukan Bali dapat dituangkan ke dalam suatu bagan berupa lingkaran dalam segi tiga. Interaksi dan totalitas dari ketiga unsur inilah menghasilkan kenikmatan artistik yang berkualitas bayu-sabda-idep3. Hal ini menunjukkan adanya interaksi total antara ke tiga aspek (gerak. yang disajikan dalam bentuk lakon dengan berbagai narasinya. Ketika satu aspek berada di atas.

Karena hidup dan mati kesenian ini sangat tergantung pada dukungan sosial dan financial masyarakat. h. dan Pesantian hingga kini masih digemari oleh masyarakat setempat. alus dan keras. Struktur pertunjukan Arja sangat diikat oleh prinsip rwa-bhineda. yaitu pada jaman pemerintahan raja Klungkung I Dewa Agung Sakti. 2.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Di Bali. kesenian merupakan produk budaya komunal yang lahir melalui hasil kerja bersama dan atau yang melibatkan banyak orang. Cambridge-Massachusetts. Tiga fase penting yang mewarnai sejarah perkembangan Arja adalah munculnya Arja Doyong (tanpa iringan dan dimainkan oleh satu orang). manis dan buduh.1 Arja dan Topeng Arja dan Topeng adalah dua dramatari tradisional Bali yang hingga kini masih digemari masyarakat Bali. Harvard University Press. 1967.80. Lakon-lakon yang dibawakan pada umumnya bersumber pada cerita Panji (Malat) yang diajukan dalam seni drama yang tragic-komedi. Dengan demikian. Arja Gaguntangan (yang memakai gamelan Gaguntangan dengan jumlah pelaku lebih dari satu orang). Wayang Kulit. Dramatari ini diperkirakan muncul pada tahun 1825. Namun demikian belum ada data-data tertulis yang mengungkap secara pasti kemunculan dan keberadaan Arja pada zaman itu. Telah dikemukakan di atas bahwa sejumlah kesenian tradisional Bali seperti Arja. Gong Kebyar. Topeng. Theatre in Southeast Asia. Brandon. dan Arja Gede (yang dibawakan oleh antara 10 sampai 11 orang pelaku dengan struktur pertunjukan yang sudah baku seperti yang ada 4 James R. 96 . Arja adalah sebuah dramatari yang menggunakan dialog berbentuk bahasa bertembang (tembang macapat). kesenian bukan saja menjadi ekspresi artistik yang bersifat kolektif melainkan juga sebagai wadah interaksi dan komunikasi sosial di antara mereka yang ikut terlibat dan masyarakat penonton. Kesenian-kesenian ini dapat digolongkan sebagai kesenian komunikatif karena oleh masyarakat kesenian-kesenian tersebut bukan saja dijadikan sarana untuk menyebarkan atau menyampaikan informasi melainkan yang lebih penting lagi adalah sebagai media komunikasi. Keduanya merupakan seni pertunjukan dramatik yang sangat dekat dengan masyarakat. Brandon memasukkan kedua kesenian ini ke dalam seni pertunjukan rakyat4.

1981. sedangkan semua tokoh yang memakai topeng sibakan dan topeng kepehan sebagian memakai dialog berbahasa Kawi dan Bali. limbur. sebagian muka--dari dahi hingga rahang atas (topeng sibakan). Lakon apapun yang dibawakan. 97 . hidung. Balinese Dance In Transition.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sekarang. ke dalam lakon yang dibawakan. sudah menjadi kebiasaan para pemain untuk menyelipkan pesanpesan keagamaan. Oxford University Press. Jenis-jenis Dramatari Topeng yang ada di Bali adalah: Topeng Pajegan yang ditarikan oleh seorang aktor dengan memborong semua tugas-tugas yang terdapat didalam lakon yang dibawakan. Arja selalu menampilkan peran-peran utama (stock characters) yang meliputi inya. liku. sosial. dan keberhasilan pertunjukan Topeng sangat tergantung dari kemampuan para pemainnya memainkan topeng yang digunakan. desak. dan Cenikan yang lebih kecil). Tokoh-tokoh utama yang terdapat dalam dramatari Topeng terdiri dari Pangelembar (topeng Keras dan topeng Tua). para penari memakai topeng yang menutup seluruh bagian muka penari (topeng bungkulan). Topeng (berwajah manusia) menjadi elemen utama dari dramatari ini. dan mantri (manis dan buduh). Topeng Prembon yang menampilkan tokoh-tokoh campuran yang di ambil dari Dramatari Topeng Panca dan beberapa dari 5 I Made Bandem and Frederik Eugene deBoer. atau mulut (topeng kepehan). Ratu (Dalem dan Patih). h. Topeng Panca yang dimainkan oleh empat atau lima orang penari yang memainkan peranan yang berbeda-beda sesuai tuntutan lakon. Kuala. Panasar (Kelihan—yang lebih tua. Dengan selipan pesan-pesan aktual seperti ini masyarakat merasa dekat dengan kejadian-kejadian yang digambarkan dalam lakon. politik. Semua tokoh yang mengenakan topeng bungkulan atau penuh tidak berdialog langsung. Topeng adalah dramatari yang semua pelakunya mengenakan topeng dengan cerita yang bersumber pada cerita sejarah yang lebih dikenal dengan Babad. panasar (manis dan buduh). Agar pertunjukan Arja bisa lebih komunikatif. dan yang hanya bagian tertentu seperti dahi. Kaja and Kelod. Dalam membawakan peran-peran yang dimainkan. Diperkirakan dramatari ini muncul sekitar abad XVIII5. galuh. dan ekonomi.49.lumpur. dan Bondres (rakyat).

jumlah pelakunya. secara umum dapat dikatakan bahwa ornamen ukiran Wayang Kulit Bali Utara lebih sederhana dari pada wayang-wayang Bali Selatan yang cenderung lebih rumit.2 Wayang Kulit Wayang Kulit adalah seni pertunjukan tradisional Bali yang hingga kini masih digemari oleh masyarakat setempat. diketemukan sejumlah istilah seni pertunjukan yang salah satunya adalah parbwayang yang diyakini berarti wayang atau pertunjukan wayang. terutama oleh dalang-dalang ternama. lebih dari seorang seniman. 98 . Gianyar. 2. salah satunya adalah aringgit yang berarti bermain wayang6. sedangkan 6 Lihat: Serba Neka Wayang Kulit Bali. seorang dalang berstatus mangku dalang sehingga harus berbusana putih-putih sebagaimana layaknya seorang rohaniawan. dari zaman pemerintahan Raja Ugrasena. Dengan busana seperti ini. Merdah.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dramatari Arja. 5-6. Di lihat dari bentuknya.. Dalam prasasti Gurun Pai Desa Pandak Bandung. Di Bali Utara. yaitu Bali Utara (Buleleng) dan Bali Selatan (Badung. 1975). misalnya. Dalam tradisi budaya Bali. bentuk wayangnya. prilaku dalang di Bali Utara berada pada pertemuan dunia spiritual dan dunia seni (teatrikal). Pertunjukan Wayang Kulit. Perbedaan cukup mendasar Wayang Kulit dari kedua wilayah ini terlihat dari status sosial dalangnya. seni pertunjukan topeng yang masih relatif muda yang lebih mengutamakan penampilan tokoh-tokoh lucu untuk menyajikan humor-humor yang segar. juga dikete-mukan beberapa istilah. Perbedaan ini bisa dilihat. di kota maupun di desa. sementara dalang Bali Selatan lebih banyak di wilayah teatrikal. (Denpasar: Proyek Pencetakan/Penerbitan NaskahNaskah Seni Budaya dan Pembelian Benda-benda Seni Budaya. Berdasarkan wilayah geografi dan budayanya. Delem. pertunjukan wayang kulit diperkirakan sudah ada sejak abad IX. dan Topeng Bondres. dan Sangut. Dalam prasasti Bebetin yang berangka tahun caka 818 atau 896 Masehi. Berbeda dengan dalang di Bali Selatan yang lebih diperlakukan sebagai seorang seniman. selalu dibanjiri oleh penonton. h. pada bagian kepalanya. seni pewayangan Bali dapat dibedakan menjadi 2 (dua). Denpasar. di kedua wilayah budaya ini juga sangat berbeda. dan lain-lain). Bentuk empat punakawan inti: Malen. Tabanan. Malen Bali Selatan mengggunakan kuncir berbentuk tanduk.

walaupun sama-sama menggunakan suara kerongkongan namun ada perbedaan dalam proyeksi suara. Perkembangan Gong Kebyar mencapai salah satu puncvaknya pada tahun 1925 dengan datangnya seorang penari Jauk yang bernama I Ketut Marya (Mario) dari Tabanan ke Bali Utara yang kemudian menciptakan sebuah tarian yang lebih banyak dilakukan dalam posisi duduk atau jongkok sambil memainkan instrumen terompong. Busungbiu. h. Baik rasa musikal maupun jalinan melodi serta tehnik pukulan Gong Kebyar ada kala. pada umumnya terdiri atas 2 (dua) orang penabuh gender dengan seorang dalang. di Bali Utara suara ngelur diarahkan ke dalam. rasa tabuh-tabuh Palegongan terasa sangat dominan dalam tabuh-tabuh Gong 99 . musik Gong Kebyar adalah perpaduan antara Gender Wayang. Hasil-hasil penelitian selama ini menunjukkan Gong Kebyar muncul di Bali Utara sekitar tahun 19157. 2. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini. 1966. Gong Gede yang kokoh dan agung. Pelaku pertunjukan Wayang Kulit di Bali Utara. Di Bali Seletan. suara ngelur atau jeritan keras oleh dalang. Pangkung. Gamelan Gong Kebyar Blaluan. Gong Gede. dan Palegongan. 7 8 Colin McPhee. Satu hal lagi. Music in Bali. Yale University Press. oleh Edward Herbst 2009. 328. Secara estetik. Desa yang disebut-sebut sebagai tempat kelahiran Gong Kebyar adalah Bungkulan walaupun kemudian Gong Kebyar Jagaraga yang lebih berkembang di Bali Utara. penabuh gender pada umumnya berjumlah 4 (empat) orang.3 Gong Kebyar Gong Kebyar adalah sebuah ensambel yang diciptakan untuk memainkan musik-musik Kakebyaran. dalam tehnik olah vokal. atau Palegongan yang melodis. Jika di Bali Selatan suara ngelur diproyeksikan ke luar. Dalam album Bali 1928. A Study in Form and Instrumental Organization in Balinese Orchestral Music. yaitu Kebyar yang berarti suara keras dan menggelegar yang datang secara tiba-tiba. seperti yang terlihat pada Wayang Parwa. New Haven. Tarian ini kemudian disebut tari terompong (kebyar terompong). Pola gineman Gender Wayang atau pukulan Kakenyongan Gong Gede muncul dalam berbagai tabuh Gong Kebyar8.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Malen Bali Utara biasanya dengan kepala gundul.nya terasa Gender Wayang yang lincah. gamelan ini menghasilkan musik-musik keras yang dinamis.

Fenomena seperti ini muncul bukan saja di kalangan masyarakat golongan menengah ke atas. dan hampir setiap Kecamatan. menjadi semakin bergairah terhadap aktivitas pesantian (dari kata santi yang berarti damai). Pada masa-masa sebelumnya. atau membacakan karya-karya sastra bermetrum sekar agung (makakawin) untuk manusa yadnya dan pitra yadnya. Kini. gamelan ini juga bisa digunakan untuk memainkan tabuh-tabuh lelambatan untuk mengiringi upacara adat dan agama. misalnya di tahun 1970an. dan kantor-kantor pemerintah memiliki gamelan ini. memiliki sedikitnya satu barungan Gong Kebyar. Belakangan ini masyarakat Bali. 2. atau peminangan yang dimeriahkan oleh pesantian seperti yang terjadi belakangan ini.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dewasa ini Gong Kebyar merupakan kesenian yang paling populer di Bali. Menyanyikan lagu-lagu pemujaan Tuhan (makidung) memang tidak pernah lenyap dari kegiatan upacara dewa yadnya. Untuk sekian lama. persepsi masyarakat terhadap pesantian. Selain untuk mengiringi untuk mengiringi tari-tarian dan memainkan tabuh-tabuh kebyar. Hampir setiap sekolah. Kebyar. sangat jarang sebuah upacara seperti tiga bulan bayi. semaraknya aktivitas pesantian seperti sekarang menunjukkan adanya revitalisasi dari berbagai jenis wirama. melainkan juga di kalangan masyarakat bawah. hampir tidak ada upacara adat dan agama Hindu di Bali yang tanpa dimeriahkan oleh pesantian. di Bali. merupakan suatu hal yang baru di Bali. 100 . upacara hari kelahiran. semuanya itu bisa terdengar dalam pesantian. perguruan tinggi. di desa maupun di kota. menyanyikan tembang-tembang macapat di luar konteks seni drama. Dewasa ini. Di sisi lain. jika tidak di semua desa pakraman. Munculnya fenomena pesantian ini sedikit banyak didorong oleh adanya kerinduan terhadap nilai-nilai budaya masa lalu.4 Pesantian Pesantian adalah pembacaan (pertunjukan) karya-karya sastra klasik bertembang yang ditulis dalam metrum sekar agung dan sekar madya. kidung. atau pupuh-pupuh yang selama ini hampir dilupakan masyarakat Bali modern.

bahkan sering kali juga dari golongan remaja. Potensi seperti ini. kehadirannya sangat mem perkaya aroma dan aural dari pesantian. dengan tubuh yang sudah mulai bungkuk. menjadi pilihan yang sangat tepat. dari kesenian tradisional. serta bahasa yang digunakan oleh para pemainnya (bahasa Bali). Kini para pela ntun kakawin (juru baca) termasuk penerjemahnya (juru basa) adalah orang-orang dewasa setengah baya yang masih ganteng atau cantik dan bertubuh tegak. Oleh sebab itu. 101 . sambil mengunyah sirih (nginang). patut dimanfaatk an dengan sebaik-baiknya untuk mencerdaskan masyarakat. para generasi muda cenderung menjauh dari aktivitas ini. pesantian yang diiringi gamelan. dan lomba-lomba makakawin. banyak orang yang melihatnya sebagai sebuah keg iatan yang hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang telah memiliki proses penyucian serta kesiapan batin. tata penyajian dari masing-masing kesenian. baik Gender Wayang mau pun Geguntangan. ada lah kegiatan orang tua yang bermuka kriput.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI terutama makakawin/mawirama. yang selama ini dilakukan oleh pem erintah dan masyarakat telah memberikan dampak yang cukup bes ar terhadap munculnya kegairahan pesantian ini. Bagi warga masyaraka t yang ingin hiburan ringan yang sekaligus dapat memeriahka n suasana pelaksanaan dari upacara adat dan agama mereka laku kan. Kar ena kegiatan ini melibatkan pembacaan pustaka-pustaka lontar yan g disucikan. Masyarakat setempat cukup tahu dengan struktur per tunjukan. Walaupun penggunaan iringan musik dari barungan kecil ini lebi h banyak sebagai ilustrasi (background). Hal ini men unjukkan bahwa keseniankesenian tradisional tersebut di atas tela h memiliki “jembatan komunikasi” dengan masyarakat penont on. Nampaknya kegiatan Utsava Dharma Gita. Ken yataan yang ada sekarang sungguh sangat berbeda. Masyarakat Bali pada umumnya sud ah tidak asing lagi dengan kesenian yang telah disebutkan di atas. Akhir-akhir ini kegiatan pesantian sudah menjadi semakin meriah dan menarik untuk dinikm ati dengan digunakannya gamelan pengiring berupa ensambel kecil seperti Gender Wayang dan gamelan Geguntangan.

Para seniman Arja misalnya harus berani menampilkan lakon-lakon di luar cerita Panji. pelaku seni harus senantiasa berupaya untuk melakukan penggarapan dan pengkemasan terhadap beberapa bagian dari kesenian mereka. 102 . 10 Robert Cohen. Apa yang dikatakan Cohen dan Taylor menunjukkan bahwa kesenian sangat potensial untuk mencer-daskan rakyat (masyarakat). jika perlu mengambil lakon-lakon Barat atau mengangkat karya-karya sastra modern. memadatkan durasi pentas. para seniman harus senantiasa berpegang teguh kepada sumber literatur yang digunakan. dari manapun sumbernya. Kesenian yang mencerdaskan bukan saja yang mengibur melainkan yang mampu membangkitkan interaksi intelektual. Art and The Intellectual. 1960. seperti menyehatkan muatan dramatik (lakon). Mountain View-California. kesadaran identitas dan jati diri. The Museum of Modern Art.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Mencerdaskan Rakyat Dengan Kesenian Seni. kesadaran budaya (termasuk kepekaan rasa).9. serta yang mampu meningkatkan keluhuran budi. Hal ini menjadi sangat penting ketika berhadapan dengan penonton 9 Harold Taylor. pada dasarnya adalah hasil sebuah kreativitas yang mengandung sekumpulan pengetahuan. untuk memahami suatu produk karya seni dibutuhkan kemampuan otak untuk memikirkan konsep-konsep yang terkandung di dalamnya9. memperkaya elemen pertunjukan. Ahli teater Barat. Dalam membawakan suatu lakon. apapun media ungkapnya. h. Pengkemasan terhadap kesenian-kesenian tradisional dapat dilakukan dengan beberapa cara. New York. Masyarakat pada umumnya akan tertarik untuk menyaksikan sebuah pertunjukan jika mereka tahu adanya lakon baru yang akan dipentaskan. h. Oleh sebab itu. baik pada masyarakat penonton maupun para pelakunya. 16-17. Satu hal yang patut diingat bahwa upaya penggarapan dan pengkemasan ini harus dilaksanakan tanpa merusak identitas kesenian yang ada. kontemplasi estetis. Topeng) dan teater (Wayang Kulit) sering kali sangat bergantung kepada muatan dramatiknya yaitu lakon yang dibawakan. Robert Cohen. pakar pendidikan. Mayfield Publishing Company. 1994. Theatre (Third Edition). pernah mengatakan bahwa seni (teater) dapat mempertajam daya pikir dan menyatukan rasa10. Keberhasilan sebuah pertunjukan seni drama (Arja. dan memperbarui teknik penyajian. Menurut Harold Taylor. para seniman seni drama perlu terus berupaya untuk menampilkan lakon-lakon baru dalam sajian mereka. Untuk membuat kesenian mereka mampu mencerdaskan rakyat.

Masyarakat di zaman modern pada umumnya sudah ”sadar waktu” sehingga mereka tidak bisa menghabiskan waktu terlalu lama untuk menyaksikan pertunjukan. Durasi pentas merupakan salah satu unsur pertunjukan kesenian tradisional yang memerlukan penanganan yang serius. secara relatif berimbang. Bagian-bagian esensial dari suatu pertunjukan hendaknya tetap dipertahankan karena jika tidak akan bisa jadi pemadatan durasi akan justru merusak identitas kesenian yang bersangkutan. muatan dramatik yang kiranya bisa diterima oleh penonton pada zaman ini adalah yang berisikan adegan-adegan serius dan lucu. pemadatan durasi pentas hendaknya jangan sampai menghilangkan bagian-bagian penting dari suatu kesenian. maka dibutuhkan adanya pemadatan durasi pentas. Hal yang sama juga terlihat pada pesantian yang kini sudah biasa meng103 . kedua kesenian ini telah tampil dengan elemen-elemen pertunjukan yang baru. Topeng. Oleh sebab itu. antara yang mendidik dan menghibur. Oleh sebab itu. Dalam Gong Kebyar kita bisa melihat berbagai penambahan instrumen untuk melahirkan rasa musikal yang lebih menarik dan sesuai dengan selera zaman sekarang. Masyarakat cenderung tidak bisa menghadari pertunjukan seni dengan durasi pentas melebihi dari 3 sampai 4 jam. Atau meniadakan bagian-bagian yang tidak penting. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah meniadakan pengulangan bagian-bagian pertunjukan yang terlalu sering diulang-ulang. Dalam beberapa kali Festival Gong Kebyar se Bali.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI yang sudah mulai melek baca seperti masyarakat Bali di zaman modern ini. yang biasa disebut dengan pada misi. Pementasan kesenian semalam suntuk kiranya sudah semakin jarang terjadi di zaman ini. Ada kecenderungan bahwa dewasa ini penonton kurang tertarik dengan sajian seni drama yang terlalu serius. atau Wayang Kulit. Agar suatu pertunjukan kesenian tradisional seperti Arja. para pelaku kesenian tradisional harus rela menyesuaikan waktu pertunjukan mereka dengan kondisi yang ada. Gong Kebyar dan pesantian adalah dua kesenian tradisional Bali yang telah banyak melakukan pengayaan terhadap elemen-elemen pertunjukan. Namun demikian. Mereka menjadi cepat bosan mendengar adegan-adegan serius yang dijejali oleh dialog-dialog bermuatan filosofis berat. misalnya dalam rangka Pesta Kesenian Bali. tidak sampai ditinggalkan penonton.

Sebagai contoh. Seiring dengan kemajuan teknologi. dapat digunakan sebagai sarana pencerdasan masyarakat. Dalam kenyataannya. Penutup Semua yang telah diurai di atas menunjukkan potensi besar dari kesenian tradisional dan pertunjukan komunikatif. atau penggunaan microphone agar jangan sampai merusak tembang penari Arja. yang dimiliki oleh bangsa ini. Agar upaya-upaya pencerdasan melalui kesenian ini bisa terwujud maka dibutuhkan upaya-upaya pengkemasan dari para pelaku dan pemilik kesenian itu sendiri.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF gunakan gamelan pengiring (Gender Wayang atau Gaguntangan). Anggapan seperti ini sesungguhnya tidak sepenuhnya benar. Di mata masyarakat luas. Hanya dengan cara seperti ini sajian kesenian mereka akan bermanfaat bagi upaya peningkatan kualitas kemanusiaan masyarakat kita. kiranya dapat digunakan dalam pertunjukan tradisional. Dari yang menggunakan lampu petromak atau obor menjadi lampu elektrik yang modern. Jika diberdayakan dengan baik dan benar. penggunaan teknologi modern ini hendaknya diupayakan sedemikian rupa agar jangan sampai merupak unsur-unsur esensial dari kesenian yang bersangkutan. semenjak tahun 1960-an. kesenian tradisional memiliki teknik penyajian yang sudah baku. yang selama ini hanya dipandang sebagai sumber hiburan. kesenian tradisi. Jika teknik pementasan itu dirubah maka akan menghilangkan jati diri dari kesenian yang bersangkutan. hampir semua kesenian tradisional Bali mengalami perubahan tehnik pementasan. Namun demikian. dari yang tidak menggunakan pengeras suara menjadi berpengeras suara. Temuan-temuan teknologi baru di bidang tata cahaya. teknik pementasan kesenian tradisional Bali sudah sepatutnya diperbaharui. dari kalangan tradisional yang berbentuk arena menjadi panggung tapal kuda atau semi proscenium. jika tidak sebelumnya. dalam mencerdaskan rakyat. set dan dekorasi. Bagi masyarakat seniman pertunjukan di Bali. 104 . bagaimana penggunaan tata lampu agar jangan sampai membunuh warna topeng yang digunakan penari Topeng. mereka harus senantiasa berupaya untuk menyeimbangkan segisegi tontonan dan tuntunan dan memperhatikan konsep bayu-sabdaidep dalam sajian mereka.

Further Essays in Interpretative Anthropology. Harold. Cohen. Music in Bali. Kuala Lumpur. I Made. New York: The Museum of Modern Arts. 1966.1994 [1981]. Edward.Local Knowledge. Colin. Taylor. Publisher. 2006. A Study of Change and Transformation” (disertasi) Los Angeles : University of California. Art and the Intellect.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bandem. 1992. Universitas Katolik Parahyangan (Bandung). 1981. McPhee. New York: Basic Books Inc. Theatre (Third Edition). 1967. A Study in Form and Instrumental Organization in Balinese Orchestral Music. Serba Neka Wayang Kulit Bali. Balinese Dance In Transition. Busungbiu (CD). Denpasar: Proyek Pen-cetakan/Penerbitan Naskah-Naskah Seni Budaya dan Pembelian Benda-benda Seni Budaya. “Arja : A Sung Dance-Drama of Bali. Arbiter. James R. 2009. Ilmu Pengetahun. Seni. Mountain View-California: Mayfield Publishing Company. Dibia. Sugiharto. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Robert . 1975. I Wayan. Ignatius Bambang. 1960. Gamelan Gong Kebyar Blaluan. Brandon. Pangkung. Frederik Eugene. Herbst. Bali 1928. dan Peradaban. Cambridge: Harvard University Press. Oxford University Press. Daftar Pustaka 105 . Los Angeles. Kaja and Kelod. 1983. deBoer. Clifford. Theatre in Southeast Asia. Geertz. New Haven: Yale University Press. Proyek Pencetakan/Penerbitan Naskah-Naskah Seni Budaya dan Pembelian Benda-benda Seni Budaya.

Sejak tahun 2004 mengelola Sanggar Seni Citta Usadhi Kabupaten Badung sebagai ketua dan hingga kini memegang posisi ketua Himpunan Seniman Kabupaten Badung (HSKB). Dosen Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF I Nyoman Catra. Lahir di Denpasar. dan ikut dalam Litbang Yayasan Saba Budaya Hindu Bali. 6 Denpasar Bali Tlp. Gang Kenari VI No. Saat ini menjabat Sekretaris dan Ketua Jurusan Tari/Karawitan dan Pedalangan ASTI Denpasar. 31 Desember 1954. Alamat Rumah: Jalan Nangka. (0361) 227316 106 . Sementara gelar master (MA) Teater diambil di Emerson Collega Boston USA (1996) dan memperoleh gelar Doktor Ethnomusicology dari Wesleyan University Middleton Connecticut USA (2005). Sebelumnya juga pernah menjadi Pembantu Ketua I Bidang Akademis STSI Denpasar. Institut Seni Indonesia Denpasarini lulus sarjana muda (BA) Seni Tari ASTI Denpasar Tahun 1987. 081338265446 Alamat Kantor: Jalan Nusa Indah Denpasar Tlp. Gelar S1 (SST) Seni Tari diselesaikan tahun 1983 di ASTI Yogyakarta. (0361) 262193 HP. Kapuslit Bidang Seni Tradisional LP2M ISI Denpasar. Sekretaris LP2M ISI Denpasar.

Dalam kaitan berbangsa dan bernegara. Dosen ISI Denpasar Pendahuluan isteri kehidupan yang sering memunculkan kebingungan menyelimuti insani manusia . dan sabda. ganda. dengan senantiasa mengedepankan dharma. dan ether (akasa).yang dikatakan sebagai mahluk tertinggi diantara mahluk hidup . tanah (pertiwi). di samping memperoleh kebahagiaan duniawi di dunia fana ini. pemerintah dalam meningkatkan kwalitas anggota masyarakatnya memiliki tujuan untuk membentuk Manusia Indonesia seutuhnya. Menurut kepercayaan Hindu tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai “Moksartham Jagadhita ya ca Iti Dharma” yakni pendakian pencapaian kebahagiaan abadi manunggal dengan sifat asali.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Seni Pertunjukan Populer sebagai Media Pencerdasan Rakyat: Potensi Tari Topeng dan Teater Bali I Nyoman Catra Ahli Seni Pertunjukan. rupa. sinar/panas (teja). sejahtera lahir batin dengan pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani secara berimbang. sebuah visi yang menjadi idaman bersama. angin (bayu). air (apah). Manusia sebagai perwujudan dunia kecil (mikrokosmos) beraviliasi dengan dunia besar/jagadraya (makrokosmos) berelemen dari panca maha bhuta yakni lima unsur yang terdiri dari. belum pernah mendapatkan jawaban tuntas. rasa. M 107 .dalam memahami tujuan hakiki menjalani hidup dan kehidupan ini. Dari panca maha bhuta terlahirlah panca tan matra yakni lima unsur pendorong kehendak manusia yang terdiri dari sparsa.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Digambarkan dalam mitos peredaran bumi bahwa Hyang Siwa menciptakan dunia dan alam semesta ini dengan tarian sakralnya sebagai wujud proses kreatif berkesinambungan. suara. Disadari bahwa unsur-unsur tersebut sebagai elemen jasad dan jiwa perwujudannya dari bendawi yang kasatmata sampai pada yang bersifat maya termasuk jiwa dan sifat kehendak/ego manusia. sifat bhuta. gelap–terang. Sementara pencerdasan yang dilakukan melalui pengalaman agama dan seni. stiti. A. pralina (trikono) yang berproses secara alami terus menerus penuh intensitas dalam perjalanan peredaran waktu yang tak terhitung. Sepuluh fomulasi aksara suci (dasa aksara) yang terpilah menjadi dua dikenal denga panca tirta dan panca geni (Sa. media 108 . senantiasa bergolak tarik-menarik. Na. positif–negatif. suka–duka. Seni pertunjukan merupakan media ampuh untuk promosi penyampaian pesan. pendidikan regulasi pemerintahan dan pendidikan masyarakat/alam lingkungannya. pengasahan akan rasio dari kerja otak. timur–barat. atas–bawah. uttpeti. yang dipercayai terlahir telah membawa karma dari hasil perbuatan manusia pada kehidupan sebelumnya (punarbawa). Unsur panca maha bhuta dipadu dengan sifat unsur panca tan matra. indah dalam keteraturan. dan unsur lainnya (pangider bhuana). neptu. sastra. yakni adanya sifat: baik–buruk. cetana–acetana. Ta. I. Pendidikan formal lebih menekankan pada pembentukan kecerdasan intelektual. di bumi berputarnya seluruh penjuru mata angin dengan istana dewa dan dewinya. merupakan elemen pergolakan kreativitas dalam siklus. Untuk memahami misteri kehidupan tersebut. manusia tumbuh dan berkembang mendapat pendidikan dari orang tua. dan sifat lain yang bertentangan. warna. Dua kekuatan sifat yang bertentangan ini yang dikenal dengan sebutan rua-bineda merupakan dialektik yang tak terpisahkan dalam alam raya ini termasuk pada diri manusia. Tarian kosmik Hyang Siwa disebut dengan Siwanataraja. lebih ditekankan pada pencerdasan rasa. Dunia dan alam semesta ciptaan Beliau bergerak secara ritmis. sekala–niskala. berpengaruh pada dinamika kehidupan setiap insan sebagai mahluk individu maupun dalam kaitannya sebagai mahluk sosial. kedua formulasi ini bergolak mempengaruhi perangai manusia. Ba. senjata. Wa. purusa–predana. Ya). Ma Si. Kecerdasan rasio dan rasa seyogyanya saling melengkapi dalam memahami hidup ini. pendidikan formal. membentang luas pada perputaran kosmik.

dan kondisi. status sosial. persembahan diperuntukkan membangun keharmonisan dengan alam semesta. pada berbagai jenjang usia. Penggambaran dunia dengan berbagai permasalahannya didalam arena pentas. sebagai varian genre seni pertunjukan. Sebagai kesenian popular kebanyakan seni pertunjukan dramatari Bali. persembahan diperuntukkan menghormati leluhur.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI propaganda. Dengan kata lain pendidikan budi pekerti menjadi muatan isian dramatisasi seni pertunjukan. Persembahan pengagungan karunia Tuhan melalui karma sandyasin melibatkan tatacara dan elemen persembahan yang megah. sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam menjalani ritual keagamaan. wayang dan berbagai dramatari lainnya. indah. sebagai cermin pembekalan masyarakat tentang pemaknaan hidup. Mencerdaskan masyarakat mengandung pengertian sebagai upaya ”mengusahakan supaya sempurna akal budinya.” (Kamus Besar BI: 164) Topeng dan berbagai jenis dramatari lainnya. merefleksikan dunia kehidupan maya secara luas. Ritual keagamaan yang domainnya dikategorikan kedalam panca yadnya1. Dikatakan penting mengingat kehadirannya memiliki tugas dan fungsi sebagai legitimasi keberhasilan sebuah ritual keagamaan. konflik internal dan eksternal tokoh yang mengemuka tanpa batas. Rsi Yadnya persembahan untuk menghormati para pendeta. memiliki format sajian yang sangat fleksibel. Pitra Yadnya. sistem kehidupan. 109 . kehadirannya memiliki peran yang sangat penting. persembahan untuk memuliakan manusia itu sendiri. dan Manusa Yadnya. lengkap walau tetap 1 Panca Yadnya: Lima domain peruntukan persembahan yadnya yang digelar oleh masyarakat Hindu yakni: Dewa Yadnya persembahan diperuntukkan kehadapan Tuhan dengan berbagai manifestasinya. wayang. dimana dalam tingkatan tertentu seni pertunjukan topeng pajegan dan wayang lemah menjadikan bagian tak terpisahkan melengkapi kesempurnaan tatacara upacara yang digelar. yang berkaitan dengan logika berdasar pada rasa. tugas dan kewajiban profesi.” Cerdas berarti ”sempurna perkembangan akal budinya (untuk berfikir. Peran Tari Topeng dan Teater Bali di tengah masyarakatnya Masyarakat menyadari arti penting dan memberikan ruang kepada seni pertunjukan seperti topeng. adaptatif dengan situasi. Bhuta Yadnya. baik yang menyangkut rentang waktu. mengerti dsb. bertautan dengan kehidupan masyarakat. tidak saja sebagai pemberi hiburan juga sebagai pencerahan masyarakat penontonnya.

Sebutan dalang diperuntukkan pada seniman yang piawi dalam memainkan wayang. dan sang sulingih yang bertugas menghaturkan upakara tersebut sesuai tujuan dan peruntukannya dengan mengelar sang catur weda (yogiswara). Fungsi kesenian berlakon di Bali seperti topeng. disamping melodis melankolis sapta nada dialunkan dengan sejumlah suling berukuran besar. Koreografi tari yang komplek. baik sebagai penyaji pada tarian murni maupun para actor dalam dramatari Bali. 110 . Gambuh sebagai sebuah dramatari yang menekankan pada kemegahan/keagungan pemerintahan raja-raja. Seniman mempunyai ruang terbuka untuk memberi pemaknaan terhadap apa yang sedang berlangsung dan untuk tujuan apa upacara tersebut diselenggarakan. madya. dan secara luas memiliki rambahan peruntukannya sebagai seni hiburan sekuler (balih-balihan). dan utama. seniman seni pertunjukan (praregina/dalang2) yang ikut meligitimasi ritual tersebut memiliki peran yang sangat penting. orang ahli pembuat upakara (niniwedya). Tujuan tontonan dan tuntunan. merupakan upaya pembayaran hutang hidup (tri rnam). dua dimensi tujuan pergelaran yang saling melengkapi dibutuhkan dalam pengalaman estetik masyarakat penontonnya. berkenaan dengan makna dan arti dari tata upacara dan upakara beserta filsafat yang melatarbelakangi-nya. dengan permaianan patet dari alunan ritmik aransemen instrumen perkusi. dan sejenisnya. tidak memiliki kuasa untuk memaparkan dan menerangkan kehadapan khalayak. wayang. memiliki seting penokohan yang besar dengan varian tingkatan hirarkinya. tata struktur musik yang megah. membentang dari keterkaitannya dengan peristiwa sakral (wali).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF memperhatikan pada tingkatan kemampuan nista. utamanya sebagai pencerahan masyarakat dalam kategori bebeali. Tata busana dan rias mencerminkan kemegahan regalia penampilan tokoh dari kalangan 2 Sebutan pragina diberikan kepada seseorang yang memiliki profesi sebagai seniman tari. arja. calonarang. Oleh karenanya sangat strategis dan memiliki peran yang sangat potensial sebagai pencerahan masyarakat pemirsanya lewat sentilan-sentilan yang menghibur dengan nilai-nilai kebijaksanaan sebagai kandungan isian dramanya. Seni pertunjukan dramatari Gambuh yang ditengarai sebagai sumber utama munculnya tari/dramatari lainnya di Bali. Orang yang bertanggungjawab pelaksanaan upacara (yajyamana). drama gong. Ketika sebuah upacara keagamaan digelar yang melibatkan anggota masyarakat secara luas.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI bangsawan. tembang dan retorika antawacana sebagai preservasi keragaman seni tradisi memperkokoh budaya bangsa. Wayan Dibia (2004: 119) memberikan identifikasi wilayah kiprah pragina menekuni profesi berkeseniannya ke dalam: pragina nugur. dan Baris Melampahan. Dramatari gambuh masih didominasi dengan penggunaan bahasa Jawa Kuno (kawi) dan adanya pengulangan kata-kata sebagai korus kekuatan kebersamaan yang dewasa ini tidak banyak dimengerti kontent dan konteksnya. arja. Pendidikan seni kepada generasi penerus pelaku kesenian menuntut penguasaan pada unsur-unsur seni sebagai preservasi kekayaan khasanah bangsa. olah sastra. Wayang Wong. 111 . Terbuka luas pengusaan berbagai cabang seni yang sudah tentu memperkuatan profesi kesenimannnya. Tingkat penguasaan sebagai pemeran satu tokoh dengan baik/sempurna. Dalam seni pertunjukan dramatri seperti: topeng. Arja. dan elemen lainnya. dan pragina ngerangkep. Seniman naduin untuk mereka yang memiliki kemampuan penguasaan lebih pada satu jenis kesenian yang sering juga disebut ngiwa. busana. Gambuh yang mengambil kisah pengembaraan cinta dan kekuasaan. karakterisasi. arti dari dramatisasinya. Sementara seniman ngerangkep diperuntukkan bagi seseorang yang memiliki multi talenta sebagai seniman serba bisa. Disamping penguasaan secara cabangnya yang demikian banyak seniman juga ditutut dalam kreativitas kemasan tari. calon arang. gamelan. Koreografer Bali moderen sangat kuat bertumpu pada Gambuh dalam pendekatan struktur. sebagai sumber dan model pada berbagai jenis perunjukan dramatari seperti Topeng. dikategorikan sebagai pragina nugur. Seorang seniman setidaknya dituntut agar menguasai beberapa cabang ilmu seni untuk memperkuat identitas kesenimanannya. Legong. repertoar musikalnya. dimana tokoh Panji sebagai tokoh protagonis digambarkan sebagai pahlawan kebudayaan. Sebagai sebuah dramatari total teater (Bandem & deBoer 1995: 27) gambuh memiliki kontribusi penting di dalam tarian Bali karena pengaruhnya pada bentuk dramatari lainnya pada perkembangan berikutnya. elemen komposisi. Secara tematis dan sajian dramatari gambuh memberikan refleksi kemegahan sebuah negara dan keindahan alunan lebut gerak tari tokoh protagonis yang mampu menaklukkan gerakan kasar dari tokoh antagonis dalam balutan kisah cinta dan kekuasaan. pragina naduin.

dewasa dan orang tua. remaja. mengelaborasikan topik pembicaraan dan mengembangkannya dengan memasukkan petuah tentang nilai-nilai kebijaksanaan. sejarah/ babad masa silam. Secara pemaknaan hidup. berpihak pada tokoh protagonis. menjadikan pertunjukan tersebut bisa dibuat bersentuhan langsung dengan persoalan masyarakat sekitar. dimana hadirnya tokoh utama kebanyakan berbahasa kawi. termasuk diantaranya menjadi pendamping tokoh tritagonis.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF wayang wong. yang kurang dapat dipahami oleh kebanyakan masyarakat umum. Wayang Kayonan diposisikan di tengah. Merdah. Seniman praktisi menyadari bahwa penonton yang hadir dari kalangan anak-anak. komentator. status sosial dan profesinya. dimana peran penasar yakni adanya tokoh sisipan lokal genius yang selalu hadir sebagai panakawan. yang sudah barang tentu memiliki kesenangan nutrisi kejiwaan yang berbeda. Dengan demikian penasar adalah tokoh misteri yang penuh dengan pemaknaan dan memiliki aviliasi dengan kanda pat berkaitan dengan paralel posisi tata letak baik di buana alit. merupakan momen baik untuk menyisipkan pesan-pesan kebijaksanaan. Kendati ceriteranya mengambil dari kisah-kisah epos. sementara keempat penasar diposisikan pada empat penjuru mata angin selaras dengan sifat dan karakterisasi tokoh. secara filosofis memiliki aviliasi dengan ista dewata nawasanga dalam kosmik buana agung. pemberi wejangan. Sekala dan niskala cara pandang masyarakat Hindu pada kenyataan hidup ini. legende. Namun dengan hadirnya penasar yang bertugas sebagai penerjemah. antagonis. menjadikan pertunjukan tersebut sebagai bagian dari kisah yang dialami masyarakat penikmatnya. termasuk wayang kulit. Oleh karenanya seniman dituntut secara sadar mempertimbangkan keragaman dialog panakawan (kandan penasar) yang dapat menutrisi masyarakat pengapresiasi pada tingkatan perbedaan umur. Sambil melontar selingan lelucon yang mengundang gelak ketawa sebagai bukti perhatian penonton penuh terhadap dinamika dramatik adegan berlangsung. sehingga posisi wayang penasarpun dijadikan ikon sakral dalam pemaknaan hidup ini. perwujudan figur penasar dalam wayang yakni Tualen. 112 . Delem dan Sangut. maupun di buana agung. Panakawan menggunakan bahasa daerah/lokal dengan varian dialeknya. Dalam Dharma Pewayangan (lihat Hooykass 1973: 130) posisi penasar dalam stananya menurut arah mata angin dibahas secara komprehensif.

113 . Kesedehanaan tokoh Tualen memliki simbolik yang sangat dalam. Pada masa pergolakan partai politik di tahun 1965an pertunjukan dramatari janger menjadi komuditas politik. arja. Namun secara filsafati sebagai purusa sumber asali dia dikatakan memiliki darah putih. tokoh Tualen seorang abdi kebanyakan yang sesungguhnya memiliki sifat asali. laut berwarna biru.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Tokoh Tualen yang secara kasat mata berwarna gelap/hitam beravilisasi dengan stana Wisnu berada di Utara. sebagai pencerminan gelap. Dominasi warna tertentu. dan putih) adalah warna magis. abu-abu. Lirik-lirik lagu janger membangkitkan semangat partisipan partai dan pengikutnya untuk mempersatukan masanya. dijadikan wahana ampuh menyampaikan pesan-pesan pembangunan. dan pembentukan lambang partai dengan gerak maknawi. menjadikan kesenian populer ini seakan identik dengan kesenian partai politik. Ketiga tone warna ini (hitam. dan terang merupakan busana dari penasar Tualen. bersama tokoh Siwa. prembon dan termasuk wayang. keduanya mencerminkan keluasan bidang yang ujungnya tak terjangkau oleh pandangan mata manusia. corong partai ajang kompanye dalam pengumpulan masa. Dalam penempatan warna pangider buwana arah di timurlaut ditandai dengan warna biru. Ada ke abu-abuan pemahaman kita dalam memandang arah manadala timur laut yang dikatakan sebagai arah hulu (luanan). Pada era pemerintahan Orde Baru. Munculnya kesenian popular seperti Topeng Bondres mendominasi perhelatan politik di samping berbagai jenis kesenian tradisi lainnya seperti topeng. Acintya dan Kayonan dijadikan ikon untuk proses dimaksud. pembuatan air suci (ngarga tirta) dalam pertunjukan wayang upacara. anggota legislatif. yang memiliki keterbatasan. adalah tune warna untuk jangkauan luas tak terbatas. Yel-yel penggugah semangat masa dengan pekikan propaganda flatform partai. formasi huruf. Langit berwarna biru. Oleh karenanya dalam upacara ruwatan. Format yang sama masih terasa pada perhelatan pemilihan. arah menuju sorga. menjadi konfigurasi menarik mengangkat ideologi partai lewat simnol-simbol. dikumandangkan oleh korus kecak dan janger. kesenian tradisional terutamanya yang memakai lakon dijadikan corong penerangan sosialisasi program pemerintah. sungguh menggugah. beraviliasi dengan stana Dewa Iswara yang menempati posisi di Timur. Timur-laut adalah arah ke hulu (luanan) berada diantara warna hitam dan putih. abu-abu.

epos. dunia dari alam gaib. Posisi badan yang terbi114 . Dengan menyerap pesan yang ingin disampaikan dari institusi. terus menerus. yang membutuhkan dukungan masa banyak. Dalam format pertunjukan dramatari Bali konvensional tokoh ”penasar” yang merupakan tokoh sisipan namun menjadi esensial figur selalu hadir pada setiap pertunjukan termasuk dalam pertunjukan wayang.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pimpinan politis pemerintahan pada masa reformasi. Agem. Ini membuktikan betapa peran kesenian memiliki arti strategis sebagai pencerdasan masyarakat akan kesadaran berpolitik. tangkis dan tangkep yang dibalut dengan olah wiraga. Transformasi diri menjadi tokoh yang diperankan. menjadi tuntutan wujud keindahan pakem tari. sangat ampuh sebagai wahana mengakomudir pesan-pesan kebijaksanaan sebagai pencerahan dan menjembatani kisah dari dunia kedewataan. samping-menyamping. Penasar yang berfungsi sebagai penerjemah bahasa tokoh utama yang kurang dipahami oleh kebanyakan penonton. Pertunjukan yang mengambil kisah dari dunia kedewataan. kemudian secara penguasaan isian drama menuntut kecerdasan dan berbekal dengan kedalaman sastra. dan wirasa. Dengan posisi badan miring menjauh dari pusat grafitasi dalam kemiringan kesamping. menjadi tuntutan yang mesti di capai melalui pelatihan panjang. berbangsa dan bernegara. Tari Topeng dan Teater Bali sebagai Media Pencerdasan Rakyat. purana. membentuk desain-desain tubuh yang dinamis. menjadikan unsur-unsur yang akan mematangkan profesinya. melalui peran penasar dapat diaktualisasikan menjadi kisah kekinian. maupun kisah kerakyatan dari bentangan spektrum waktu tanpa batas. tandang. Menjadi seorang pregina/dalang dituntut memiliki multi talenta untuk bisa mentranformasi diri tiga kali lebih besar dari dirinya. Transformasi tokoh dapat diwujudkan dengan estetika dan kaidah-kaidah gerak yang sesuai dengan karakterisasi. Ibarat bandul jarum metronum yang ayunmengayun. dunia mithos. Secara figura desain tubuh penari di arena pentas. kelompok ataupun perorangan yang bertindak sebagai tuan rumah (host) dicerna dan diformat ke dalam bahasa pentas oleh seniman penyaji. kisah raja-raja pada jaman feodal. wirama. ditambah lagi memiliki kekuatan karismatik penyatuan dengan kekuatan ekstasi magis sebagai tampilan yang memukau (mataksu). yang seakan peristiwa tersebut berlangsung dewasa ini.

menentukan bobot keindahan bentuk. yang berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui. menghadirkan secara komprehensif bahasa ungkap baru yang diciptakan para penari/ pregina memanipulasi pemanfaatan busana menyusunnya menjadi hidup melalui berbagai perubahan bentuk. simbol yang mistirius. Hieroglyphs3 tiga dimensional tersebut berubah menjadi brokat dengan sejumlah gesture. ditekuk pada bagian-bagian ruas angota badan. baik satra tutur maupun sastra tulis kebijaksanaan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI las dalam liukan postur tubuh. Alam semesta dan lingkungan hidup manusia sendiri sudah memberi materi isian drama yang tak pernah kering sebagai acuan pementasan. merupakan pergolakan literatur hidup dengan mengusung hyang tiga jnyana yakni sanghyang guru reka. menakjubkan. dengan tahanan berat badan pada tumpuan satu kaki secara bergantian. memiliki kesamaan bahwa kerja kreatif menjadikan jantung kerisauannya dalam mengungkap misteri jagadraya ini. Pregina/dalang dituntut memiliki referensi yang cukup untuk dituang sebagai kandungan isian drama persembahannya. Terlebih lagi kedalaman sastra.” Seorang penulis essay dramawan Barat Antonin Arturd yang hanya menyaksikan pertunjukan lawatan grup Bali di Paris tahun 1931 (1958: 61). ajaran agama. memberikan pandangannya bahwa spektakuler dramatari Bali dibangun dari kompleksitas image murni panggung. Para filsuf mengendapkan pikirannya lewat tulisan. disamping masalah pemerintahan. sanghyang saraswati dan sanghyang kawiswara sebagai pu3 Hieroglyphs Gambar atau simbul digunakan dalam tulis-menulis khususnya dalam sistem penulisan dari jaman Mesir Kuno (Webster’s Contemporary American Dictionary: of English Language :335) 115 . Menari dan juga hidup adalah upaya yang tak berkesudahan ”mencari keseimbangan di dalam ketidakseimbangan. dan realitas tersembunyi yang menurutnya di dunia Barat hal seperti itu sepenuhnya ditindas. sementara seniman membangun dunia panggung dengan konflik permasalahannya sebagai refleksi gejolak konflik dunia itu sendiri. hieroglyphs yang bergerak. seniman. para yogi mengembangkan sabda Tuhan dengan pencerahannya. filsuf. Seorang yogi. pendidikan dan sosial kemasyarakatan termasuk retorika politik merupakan teba luas dinamika perubahan dunia konflik kehidupan. Estetika ini memberikan pandangan bahwa kemiripan pergolakan pencaharian keseimbangan dalam tari seperti mengingatkan kita pada kenyataan hidup yang saling tarik menarik dari dua kepentingan yang berlawanan.

para Korawa tetap mengejek penderitaan para Pandawa yang terjerumus ke dalam kawah neraka sebagai pahala dari perbuatannya ketika masih hidup. Sesungguhnya ceritera itu sendiri sudah memberikan gambaran pilihan yang mesti untuk disikapi dalam memahami diri. Pemenuhan tuntutan jasmani dan rohani manusia sebagai mahluk individu. Demikian juga halnya dengan ceritera-ceritera lainnya seperti Purana. Kisah Ramayana yang menggambarkan perebutan kekuasaan dan keserakahan Raja Rahwana. Guru-rurunya. Legenda. para Porohita kerajaan. sementara para Korawa terjerumus ke dalam luapan panas kawah neraka. akhirnya mengorbankan seluruh kerajaannya yang amat terkenal mewah. yang berubah menjadi sorga. Duryodana dengan satus Korawanya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF saran kreatif. ceritera Rakyat. Secara tematik pergolakan dulisme baik buruk menjadi tema sentral kemasan pertunjukan dengan memberi peluang kepada penonton untuk memilih dan memilah yang mana baik dan yang mana buruk sebagai pedoman berfikir. muasal internal konflik yang mesti diselaraskan. Terlebih lagi ketika manusia berkumpul sebagai komunitas kelompok sosial yang 116 . ceritera Binatang. Perang saudara tersebut mengorbankan seluruh keluarga Korawa. Raja-raja sahabat (prakanti). termasuk anak-anak kecil yang tidak berdosa ikut menerima akibat dari peperangan tersebut. ceritera Panji. Secara keseluruhan alur ceritera mendidik kita bahwa kemenangan akhir dari perjalanan panjang mesti tetap diupayakan. Pada akhir perjalanan kisahnya di Sorgaloka pun. dengan mengedepankan ajaran dharma. Secara episodik penggalan ceritera yang dijadikan lakon (bantang satwa) pada suatu pementasan juga mengakomudir pergolakan rua-bineda tersebut. berucap dan bertindak menjalai swadarma. Epos Mahabharata memberikan gambaran penderitaan panjang Pandawa mesti dijalani untuk meperoleh kembali haknya yang dirampas secara kasar oleh saudara sepupunya sendiri yakni. ketika Yudistira menceburkan diri menemani saudara-saudaranya di dalam penderitaan luapan panas lahar neraka. menjadi hancur mendapat gempurna dari Ramadewa yang hanya berwadwakan pasukan kera. Keadaan baru menjadi terbalik. pendikan moral menjadikan pilihan pencerahan akal budi sebagai cermin dalam menyikapi hidup ini yang penuh dengan persoalan. memaksakan kehendak dengan menculik Dewi Sita untuk dijadikan istrinya.

Format seni pertunjukan konvensional Bali sangat fleksibel untuk dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan lakon. Pada kenyataannya. sampai dewasa ini konflik antar bangsa yang dicarikan solusi pemecahannya tidak jarang harus berhadapan dengan pernyataan perang yang tidak sedikit menelan korban jiwa. Cara ungkapnya yang spontan terkadang menjadi liar setelah menerima respond dari penonton. casting penari. lebih memilih pada media topeng/wayang sebagai media ungkapnya untuk di117 . Dalam hal ini peran seniman yang dijuluki sebagai seorang ”guru loka” dengan mengusung sanghyang tiga jnyana sebagai kebebasan kreativitas. bila ada pesanan sisipan yang mesti diakomudasi dalam pementasannya. yang kiranya tidak cocok dengan plot lakon. tempat pementasan dan keadaan yang mesti diatasi. Tidak demikian halnya dengan jenis pertunjukan bondres yang memang memiliki keterbukaan untuk dikisahkan secara kontemporer. Pesan-pesan sisipan seperti itu pada umumnya diolah dengan bahasa simbol yang memiliki image ganda dan dapat dimengerti oleh penontonnya. cinta. Gejala alampun dapat memporak porandakan kehidupan manusia akibat dari ekploitasi alam secra berlebihan sehingga ekosistem tidak seimbang. tujuan peruntukan pergelarannya. Mereka sesungguhnya sadar bahwa hidup rukun berdampingan dengan sesama menjadi idaman menjalani kehidupan ini. tutur kebijaksanaan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sering juga memiliki kepentingan berbeda dengan kelompok sosial lainnya. durasi waktu. Hal-hal yang berkaitan dengan masalah seperti inilah yang menjadikan isian drama (dramatic content) pencerahan masyarakat penontonnya. sehingga konflik seperti itu selalu ada. menjadikan hidup ini penuh dengan ketegangan. kekuasaan. dan tuntutan lainnya tidak bisa cair dari kebekuan sikap kukuhnya. Sajian solo seperti topeng pajegan. Oleh karenanya. bisa terealisasi dengan baik dengan tetap mempertimbangkan alur dramatiknya. yang dibalut dengan humoris dapat mengingatkan masyarakatnya sebagai pendidikan moral dan budi pekerti. dalang wayang kulit. Kritik tajam tentang sosial kemasyarakatan. karena sering melenceng dengan babon ceritera. Yoga sebagai seorang pregina terletak pada kecerdasannya mengimbangi pasangan mainnya dalam pergulatan dialog. Namun atas nama martabat. harta/ materialistis. Ungkapan yang bersifat fulgar sebisanya dihindari. merupakan kelenturan sifat dan penampilannya dalam membentuk drama.

Pergolakan baik buruk perseteruan yang tak berkesudahan dari daya tarik menarik kepentingan sifat yang bertentangan. Dalam memahami guliran perjalanan hidup. serta menjaga keharmonisan alam semesta sebagai ekosistem pemberi kehidupan dalam arti luas. disamping bercermin pada tuntunan kehidupan yang digambarkan melalui kisah-kisah kehidupan dikemas dalam dunia estetik dalam berbagai bentuk dan tatacara sajiannya. Keseimbangan secara horizontal. rua-bineda. Seni pertunjukan memiliki akses luas pada penjabaran semua itu untuk lebih mudah difahami melalui menyimak gambaran kompleksitas dinamika kehidupan lewat kemasan seni pertunjukan seperti: tari. Swastika simbol agama Hindu berdasar kepada tampakdara yang pada implementasinya membentang pada bhuwana sarira. Secara vertikal membangun kesadaran hubungan manusia dengan berbagai manifestasi Tuhan dan keEsaanNya. bhuwana alit dan bhuwana agung. dan sarana dan prasarana laku estetika (upakara/upacara) terbangun 118 . perlu diseimbangkan sebagai sifat alami yang sulit ditampik oleh setiap orang. Sarana upakara merupakan media mendekatkan diri dan menyatakan terima kasih akan kelimpahan karunia Tuhan. saling menghormati. Secara tematik dunia seni pertunjukan selalu mengajarkan pergolakan dharma versus adharma yang pada kesimpulannya dimenangkan oleh dharma. wayang dan teater lainnya. Tiga kerangka yang mengkemas ajaran agama dengan berelemenkan kandungan filsafat (tatwa). Penutup Pemahaman konsepsi simbol tampakdara (+) yang terbangun dari persilangan garis sederhana namun memiliki kedalaman makna sebagai filsafat kehidupan setiap individu dan kelompok masyarakat. topeng. membangun kedamaian hidup berdampingan dengan sesama. manusia membutuhkan penguasaan dan pemahaman intelektual. dibarengi dengan pemahaman secara filosofis dengan kedalaman jnyana. sehingga unsur sekala dan niskala tersebut menyatu dalam kerja karma.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF sisipi pesan-pesan pencerdasan masyarakatnya. etika dan tata cara (susila). Pengujian di atas pentas untuk dialog antar tokoh oleh sejumlah pemain dalam membangun struktur drama menuntut kepekaan dan reflek yang spontan dibingkai oleh estetika dan pakem-pakem yang tidak boleh dilanggar. menjadi landasan dasar kehidupan dalam mencapai keseimbangan.

dan greget penampilan yang memukau mataksu merupakan kekuatan yang dicari oleh para penyaji dan masyarakat pengapresiasi. keseimbangan ide/gagasan. Sebuah tantangan bagi seniman untuk menjawab masa depan tugas dan fungsi seni sebagai pencerdasan masyarakatnya. Brett Hough. 1995 [1981]. Pencerdasan masyarakat penikmat lebih ditekankan pada peningkatan olah rasa dalam memaknai kehidupan ini. “Education for the Performing Arts: Contesting and Mediating Identity in Contemporary Bali” in Staying Local in the Global Village: Bali 119 . wayang. I Made dan Fredrick Eugene deBoer. kepemimpinan. Nilai-nilai ajaran kebijaksanaan lebih menjadi kandungan dramatik dari sebuah pementasan. dalang. Kemajuan teknologi informasi seperti televisi. internet. Percepatan pergerakan dan konsumerisme masyarakat moderen seperti dewasa ini membuat setiap orang sibuk untuk mengejar materialistik pemenuhan kebutuhan hidupnya. Kualalumpur: Oxford University Press. Bandem. Harvard University Press. Balinese Dance in Trasition: Kaja and Kelod. Theatre in Southeast Asia. drama gong yang gelombang kehidupannya mengalami masa surut. Cambridge Massachusetts. 1999. Kewajiban seorang pragina. tantra dan yantra tak terpisahkan dari konsepsi idep. Beberapa dekade belakangan ini ada kecendrungan pergeseran kecintaan masyarakat penonton pada jenis-jenis pertunjukan konvesnsional seperti arja. sabda dan bayu. 1974 [1967]. James R. dibanding pada era sebelumnya. The Theater and Its Double (translated from French by Mary Caroline Richards). New York: Grove Weidenfeld. termasuk gejolak sosial sebagai bagian tak terpisahkan dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pada mantra. wujud/bentuk sajian. Daftar Pustaka Artaud. Brandon. lebih menuntun masyarakat pemirsanya dengan ajaran-ajaran pemahaman diri berkaitan dengan rasa syujud dengan Tuhan. video. Antonin. belum banyak digarap sebagai media penyampaian pesanpesan kebijaksanaan yang dapat diakses ke rumah-rumah dengan jangkauan pemirsa yan sangat luas. pendidikan moral. Terobosan kreatif bagi seniman penyaji dituntut untuk merevitalisasi jenis kesenian seperti itu agar tetap eksis dengan nafas dan kemasan yang lebih segar. 1958. yang memangku tugas sebagai guru loka.

Kamala. Subversive Laughter: The Liberating Power of Comedy. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa . Jakarta: Balai Pustaka. Middletown CT: Wesleyan University. Denpasar: International Translation Center ISI Denpasar. Kama and Kala: Materials for Study Shadow Theater in Bali. Walter and Beryl deZoete 2002 [1938]. The Language of Balinese Shadow Theater. I Wayan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Jenkins. Connor). Woodbury. “Penasar: A Central Mediator in Balinese Dance Drama” (unpublished dissertation). New Jersey: Princeton University Press.Siwalatrikalpa: Balinese Literature in Performance – Sastra Bali dalam Seni Pertunjukan. Aktor dan Pelaku Seni Pertunjukan. Malang: Sava Media. Ramayana. Mary Sabina. Mahabharata. New York: Bobley Publishing Corp. Dance and Drama in Bali. Pragina: Penari. Hongkong – Singapore: Periplus Editions. Spies. Zurbuchen. Hooykass. Princeton. Honolulu: University of Hawai’i Press. 120 . by Raechelle Rubinstein & Linda H.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. New York: Free Press. Nyoman.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF in the Twentieth Century. Dibia. 2009. The American Heritage Dictionary (William Moris editor). Nyoman S. London: North Holland Publishing Company. Ron. Subramania. Jenkins. Amsterdam. Pendit. 2005. 1973. 2008. 1994. 2004. Catra. (ed. Webster’s Contemporary American Dictionary: of the English Language. Ron & I Nyoman Catra. 1987. Surabaya: Paramita. Kamus Besar Bahasa Indonesia. C. The Invisible Mirror . 1990 [1988].2004.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 121 .

Estetika. M. Kesusastraan Hindu.Hum. Doktor lulusan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ( 2 0 0 7 ) bidang Ilmu Sastra dan Filologi juga menjadi pengajar di Fakulas Sastra Universitas Udayana. Telp. Stilistika. Fakultas Sastra Unud dan Sekretaris I Yayasan Sabha Budaya Hindu Bali.com 122 . dan Sosiologi Sastra. PNS yang juga sering menjadi juri berbagai lomba ini saat ini menjabat Ketua Pusat Pengkajian dan Pelayanan Lontar. Jurusan PGSD Universitas Terbuka. serta Sekretaris Umum Widyasabha Dharmagita Provinsi Bali Alamat kantor: Jl. Lulusan Program Pascasarjana UGM Yogyakarta (1997) ini juga aktig sebagai penatar bagi generasi muda Hindi dan calon Pinandita/Pemangku di Bali. 12 Pebruari 1961ini mengasuh berbagai mata kuliah yang berkaitan dengan Sastra. Gunung. I Nyoman Suarka. (0361) 734363 HP.Fakultas Bahasa dan Seni. Banyak karya ilmiah Ketua Tim Penyusunan Tema Pesta Kesenian Bali yang dipublikasikan. IKIP PGRI Bali dan STIKES “WIRA MEDIKA PPNI BALI”. terutama yang berkaitan dengan sastra bali. aktif mentransliterasi lontar dari aksara Bali ke dalam tulisan latin Bahasa Kawi dan menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Laki-laki kelahiran Cekik-Berembeng. Universitas Hindu Indonesia.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dr. Nias 13 Denpasar. pada Program Magister (S2) dan Program Doktor (S3) Linguistik Program Pascasarjana Universitas Udayana dan Program Magister (S2) Ilmu Agama dan Kebudayaan. Lumut V/2A Denpasar Barat 80117 Telp. 224121 Alamat rumah: Jl. 08123770885 e-mail: tuarik4@yahoo.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Aktivitas Pasantian dan Sastra Bali Sebagai Media Pencerdasan Rakyat I Nyoman Suarka Pakar Sastra. dan lawan dijadikan kawan. Wyarthang śāpatha supraśāsti liněbur těkaping-adhama mūrka ring jagat. piagam perjanjian dilanggar oleh para penjahat di du- 123 . berebut kekuasaan. Benda-benda suci dihancurkan. bergulat sesama sanak saudara. berkelahi. Wwang duśśila suśila durnaya wiweka kujana sujanāwibhāgana. Wwang mahyun ri kawehaning dana darīdra krěpana dumadak dhaneśwara. Tan wring rātnya makol lawan bhratara wandhawa ripu kinayuh pakāśrayan. Dosen Sastra Universitas Udayana Pengantar Pangdening kali mūrkaning jana wimoha matukar-arěbut kawiryawān. Sang rājā siwiteng sushena ta ya sang madum-amilih-ulah wiparya. (Kakawin Nitisastra. Dewādrěwya wināśa dharma rinurah kabuyutan-inilan padhāsěpi. 10—11) Terjemahannya: Dampak masa krisis telah menyebabkan manusia kebingungan. Wwang dūrātmaka dīrghajīwita sirang sujana dumadak-alpakāmrěta. IV. orang-orang dilarang ke tempat ibadah hingga sepi. tempat ibadah leluhur dirusak. Sumpah tak berguna. Manusia tidak lagi mengenal dunianya.

Para elite politik lebih banyak bertengkar bahkan saling adu jotos. Berbagai krisis politik. Namun kini. hukum.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF nia. Orang-orang hanya ingin diberi uang. yakni pasantian dan sastra Bali sebagai sumber pembangkitan budi. tsunami. bajingan berlagak saleh. Orang jahat berlagak arif. seperti tersebut di atas. lebih suka memamerkan diri daripada memikirkan nasib rakyat yang semakin melarat. sopan. banjir. destruktif. Penjahat menjadi panjang umur. ilamana kita mencermati tanda-tanda zaman krisis yang dilukiskan seorang pujangga tak dikenal pada enam abad yang lampau. sosial. ekonomi. angin puting beliung. sedangkan orang saleh menjadi pendek usia. ramah. membuat pikiran dan hati gelap (awidya). seperti kepolisian. kasar. Berbagai kasus ketidakadilan dan kasus suap yang dilakukan para markus di kalangan penegak hukum. orang miskin mendadak menjadi orang kaya. anarkis. B 124 . sewenangwenang. Kerapkali sekelompok masyarakat cenderung bertindak arogan atas nama agama. dan pencerahan nurani. berbudi pekerti luhur. masyarakat kita sekan-akan telah kehilangan kendali dan cenderung bertindak biadab. moral telah memberikan dampak negatif kepada perilaku masyarakat kita. mulai dari gempa bumi. pengadilan kini mencuat ke permukaan. ada baiknya pada kesempatan ini kita mencoba memberdayakan potensi budaya. dengan tanda-tanda zaman yang dialami masyarakat Indonesia saat ini. Bencana alam pun datang silih berganti. Era krisis atau zaman Kali yang konon dipenuhi oleh Bhutakala membuat masyarakat kita mengalami kebutaan. mereka sulit dibedakan. kejaksaan. pemegang keadilan cenderung berlaku tidak adil. Dulu bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang beradab. Raja tunduk kepada panglima. barangkali tidak jauh berbeda. pencerdasan pikiran. orang bodoh berlagak pintar. dan sebagainya. Guna mengantisipasi berbagai fenomena tersebut di atas. bukan hanya buta aksara tetapi juga buta hati. tanah longsor.

penerjemah (paneges). penerjemah (paneges) juga dituntut kemampuan dan pengetahuan-nya seluas mungkin dalam penguasaan bahasa sumber dan bahasa sasaran. ketentraman. maka ada kemungkinan besar pula penerjemah mengalami kesalahan dalam menerjemahkan. dan sekar ageng). bahasa Bali dalam berbagai tingkatan). serta kualitas suara yang memadai. yang berarti ’tempat atau wadah untuk mendapatkan ketenangan. Masing-masing peran tersebut dituntut memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup sesuai bidang masing-masing. Pembaca yang baik adalah pembaca (pangwacen). Kesulitan pembaca bukan hanya berpengaruh kepada pembaca sendiri tetapi juga berpengaruh terhadap penerjemah (paneges) yang juga akan merasa kesulitan dalam menerjemah-kan teks. yang sering disebut panca siksaning angaji. kata pasantian berasal dari kata dasar ”śānti” yang berarti ’ketenangan. penanya (pamitaken). Dengan demikian. Ada lima peran dalam aktivitas pasantian. bahasa Jawa Tengahan. Sementara itu. dan diulas oleh peran-peran yang lain. penerjemah wajib memahami kode bahasa dan kode budaya teks yang sedang dibaca. bahasa teks (bahasa Jawa Kuna. peserta mabebasan secara keseluruhan pun pada akhirnya mengalami kesalahan dalam penafsiran teks. Pendengar (pamiarsa) yang dimaksud adalah pendengar yang baik. Tanpa kemampuan dan pengetahuan yang cukup. ketentraman.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Hakikat Pasantian Secara etimologis. dan mendapat konfiks ka-an menjadi pasantian. 1995:1017). ketentraman. dan kaidah metrum yang digunakan (sekar macapat. dan nara sumber (narawakya). yaitu pendengar (pamiarsa). ten125 . dan semua peran menunjukkan adanya sikap bhakti. pembaca (pangwacen). sekar madya. yang dituntut memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup dalam penguasaan pasang aksara Bali (tata tulisan Bali). Tanpa kemampuan dan pengetahuan yang cukup bagi penerjemah. seorang pembaca (pangwacen) akan merasa kesulitan membaca dan menembangkan teks yang dihadapi. dan kedamaian bagi para pelakunya. kedamaian pikiran’. Jika pembaca (pangwacen) salah membaca. diterjemahkan. yang mendengarkan dengan setia setiap teks yang dilagukan. aktivitas pasantian dilakukan dan diarahkan dengan tujuan mendapatkan ketenangan. Di samping memahami kode sastra. kedamaian pikiran’ (Zoetmulder. Karena itu.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF tu akan merasa kesulitan dalam menerjemahkan dan menafsirkan teks sumber ke dalam bahasa sasaran. Penanya (pamitaken) juga dituntut memiliki kemampuan dan pengetahuan serta kepekaan sastra yang cukup. pendengar akan dapat berperan aktif. menerjemahkan. maka ia akan semakin mudah melaksanakan tugasnya dan tentu pula akan membuahkan hasil yang semakin memuaskan. dan keterampilan mengulas serta menguasai dengan baik materi yang sedang diapresiasi. Dengan demikian. Aktivitas pasantian meliputi tiga bidang. maka semakin banyak hasil interpretasi yang muncul. Oleh karena itu. banyolan atau senda gurau belaka. memiliki penguasaan bahasa. Oleh karena itu. maka dapat dipastikan bahwa apa yang dibaca atau dilagukan oleh pembaca (pangwacen) dan apa yang diterjemahkan oleh penerjemah (paneges) akan menjadi sebuah dagelan. nara sumber harus mempunyai kepekaan sastra yang cukup. Tidak setiap kata dalam bahasa sumber dapat dicarikan padanannya secara tepat dalam bahasa sasaran. Apabila penanya (pamitaken) tidak memiliki kepekaan sastra. Pasantian pun akan menjadi pasif. Dengan berbagai horison harapan. dan kode budaya sendiri. terutama dalam menuntun peserta mabebasan untuk membaca. Teks yang dengan susah payah dibaca atau dilagukan oleh pembaca dan diterjemahkan oleh penerjemah akan hilang begitu saja tanpa meninggalkan bekas di dalam pikiran peserta pasantian. kosa kata. dan mengulas makna teks yang sedang diapresiasi. tidak ada dialog yang berarti. Peran nara sumber (narawakya) sangat memegang peranan penting. wiraga. seorang peserta atau pendengar dalam pasantian setidaknya dituntut memiliki horison harapan. Wirama adalah kegiatan membaca teks sambil melagukannya 126 . dan pengetahuan yang luas bagi penerjemah. yaitu wirama. Tercapai atau tidaknya horison harapan para peserta atau pendengar itu akan sangat mempengaruhi keberlangsungan aktivitas pasantian tersebut. dan wirasa. maka semakin banyak penerjemah memiliki bekal pengalaman baca. kemampuan yang memadai. Di sinilah dituntut kepekaan seni. Nara sumber yang baik tentu dapat memberikan penjelasan-penjelasan yang memuaskan kepada setiap peran dalam aktivitas mabebasan. Sebagaimana diketahui bahwa setiap bahasa memiliki kaidah bahasa. menjadi dinamisator dalam aktivitas pasantian. Semakin kaya pendengar dengan horison harapan.

Di samping itu. nilai-nilai lewat karya sastra yang tokoh dan lakuannya dimaksudkan sebagai pelambang peri kehidupan yang sebenarnya (tattwa). Dalam pasantian. Pembaca (pangwacen) belajar aksara Bali (jenis dan pasang aksara Bali) karena teks ditulis dengan menggunakan aksara Bali. yakni dari bahasa Kawi. pembaca (pangwacen) juga mempelajari bahasa (bahasa Kawi. sekar madya. laras) dan memahami konsep-konsep yang terkandung dalam teks sambil bernyanyi atau melagukan teks. Jawa Tengahan. Wirasa adalah aktivitas penghayatan dan apresiasi secara mendalam untuk mendapatkan makna teks yang dibaca melalui diskusi antar peserta. penafsiran selalu dimungkinkan dengan hasil yang beraneka ragam sesuai dengan bekal pengalaman dan horison harapan peserta. aksara. 127 . dan kecerdasan sosial (hasil diskusi). para peserta akan belajar mengenai bahasa. palawakya. Demikian pula penerjemah (paneges) akan mempelajari bahasa teks dan kaidah bahasa sasaran (sor singgih basa.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI menurut kaidah metrum yang digunakan dalam teks. magending sambilang malajah). pada lingsa. Wiraga adalah aktivitas menerjemahkan teks dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Cerita yang dibaca bukan hanya dipahami sebagai sebuah cerita (satua). bernyanyi) dan menerjemahkan teks. bahasa Bali) serta mempelajari kaidah metrum (uger-uger guru laghu. lelengutan basa) serta nilai-nilai yang tersurat dan tersirat di dalam teks. Dengan demikian. kecerdasan emosional (hasil bernyanyi). konsep-konsep budaya dan yang terpenting adalah belajar menghayati nilai-nilai yang dikandung dalam naskah lontar. tetapi lebih sebagai sebuah metode penyampaian gagasan moral. Karena itu. ideide. aturan metrum dan pupuh. Dalam kegiatan pasantian. bahasa Tengahan ke dalam bahasa Bali ataupun membuat parafrase jika teks sumber menggunakan bahasa Bali. maka akan terjadi keharmonisan antara kecerdasan pikiran (hasil belajar). misalnya sekar alit. para anggota pasantian mendiskusikan teks yang dibaca. sekar agung. norma-norma. Lebih jauh dapat dipahami bahwa ketiga aktivitas pasantian itu pada hakikatnya tindakan belajar sambil bernyanyi atau bernyanyi sambil belajar (malajah sambilang magending. Dalam diskusi itu dapat diciptakan kondisi yang memungkinkan berkembangnya penalaran dan logika interpretasi setiap peserta. dan sloka. di samping membaca (menembangkan.

sastra Sasak menggunakan bahasa Sasak. Dalam tradisi Bali. baik dilihat dari segi bahasa yang digunakan. bahasa Tengahan. kita tidak bisa dengan mudah menyebutkan bahwa sastra Bali adalah sastra yang menggunakan medium bahasa Bali. Demikian pula. sastra Indonesia menggunakan bahasa Indonesia. 1990: 615). sastra Sunda menggunakan bahasa Sunda. Hal itu dapat dibuktikan dengan munculnya istilah nyastra yang mempunyai arti segala aktivitas manusia Bali yang berhubungan dengan bahasa. sastra Jepang menggunakan bahasa Jepang. dan bahasa Bali. istilah sastra tumpang tindih dengan aksara.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Hakikat Sastra Bali Tradisi Bali memiliki keunikan dalam peristilahan sastra. dan aksara Bali. bahasa Melayu. sastra Inggris menggunakan bahasa Inggris. Berbeda halnya dalam tradisi Bali. dan lain-lain. Aktivitas Pasantian dan Sastra Bali sebagai Media Pencerdasan Aktivitas pasantian berfungsi membentuk dan menumbuhkan budi 128 . kesusastraan Bali menggunakan bahasa Sanskerta. kesusastraan Bali ditulis dalam aksara Bali dan aksara Latin. misalnya sastra Jawa adalah sastra yang menggunakan bahasa Jawa. kakawin. Umumnya. Dalam tradisi nyastra. seolah-olah tidak ada perbedaan antara tradisi lisan dengan tradisi tulisan. jenis sastra. gěguritan. kidung. babad sebagai teks tulisan dibacakan atau dipertunjukkan dalam kegiatan maběbasan. istilah nyastra melingkupi tradisi lisan dan tradisi tulisan secara sekaligus. seperti penamaan sastra di atas. maupun aksara yang digunakan dalam menuliskan karya sastra. seperti parwa. Lagipula. sastra. Kata sastra dapat berarti sastra dan aksara atau huruf (Dinas Pendidikan Dasar Propinsi Dati I Bali. bahasa Jawa Kuna. Dari segi bahasa yang digunakan dalam karya-karya sastra. bahasa Sasak. Ditinjau dari aksara yang digunakan. seperti terlihat pada naskah-naskah satua. Aksara memiliki fungsi sebagai bagian integral dalam tindakan magis dan keagamaan masyarakat Bali. Teks lisan ditulis ke dalam naskah. istilah kesusastraan Bali mempunyai ruang lingkup sangat luas. istilah aksara atau huruf dalam tradisi Bali bukan sekadar sebagai lambang bunyi tetapi merupakan simbol budaya. Karena itu. penamaan sastra didasarkan pada bahasa yang digunakan dalam karya sastra. sastra Melayu menggunakan bahasa Melayu. dan sebaliknya teks tulisan dibacakan atau dipertunjukkan.

karya sastra yang dibaca dalam aktivitas pasantian merupakan perpaduan antara nilai seni (estetik) dan nilai moral. Karena itu. Salah satu cara untuk mengasah kepekaan rasa dan hati nurani adalah dengan membaca. Di dalam rasa terjadi sublimasi emosi dari tataran psikologis ke tataran estetik. menghayati. baik sebagai individu maupun masyarakat sosial. Malādi yolanya magöng mahāwisa. yakni pengalaman estetik non-individual.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pekerti luhur (budi kaparamartan). Dengan demikian. maka dapat dikatakan bahwa aktivitas pasantian dan sastra Bali dapat dijadikan salah satu media pencerdasan dan sekaligus sarana untuk mencapai ketenangan. emosi individual ditransformasikan menjadi rasa. Nafsu keinginan (indria) yang terkendali dengan baik akan dapat mengarahkan perbuatan kita untuk berpegang pada kebenaran (dharma). Aspek estetis akan menyantuh budi. apabila pembacaan karya sastra melalui pasantian dilakukan dengan baik dan benar. Dalam proses sublimasi emosi itu. Perbuatan yang berpegang pada kebenaran (dharma) akan menghasilkan pahala mulia berupa kehidupan bahagia lahir dan batin (anandam). dan kedamaian dalam mengarungi masa krisis sebagaimana dijelaskan dalam kutipan Kakawin Ramayana berikut. Jika demikian halnya. 129 . mengatasi ruang dan waktu. penggunaan akal budi harus diimbangi dengan kepekaan hati nurani. Dalam Geguritan Purwasanghara dijelaskan bahwa untuk dapat mengarungi samudra zaman Kali (era keributan) yang penuh badai itu dapat ditempuh melalui kesusilaan budi. Pikiran (manah) yang kuat akan mengendalikan nafsu keinginan (indria). Kalinghaning śāstra suluh nikāprabha. maka akan dapat menggetarkan hati nurani yang paling suci (budi). universal. Di situ. Guhā pětěng tang mada moha kasmala. dan kemudian mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra karena karya sastra diciptakan berdasarkan rasa. Wiśāta sang wruh rikanang jurang kali. Dalam menyikapi berbagai situasi dan problema kehidupan. ketentraman. pengalaman estetik menjadi identik dengan pengalaman religius. yakni keseimbangan antara akal budi dan kepekaan hati nurani. Budi nurani suci akan dapat menguasai pikiran atau manah.

dan sastra adalah lampu penerangnya yang terang benderang. mengamati pertempuran. dengan menciptakan kakawin sang kawi berharap dapat mencapai kelepasan. baik di alam sakala. sakala-niskala. aktivitas pasantian juga dapat berfungsi atau berperan memberi vibrasi kesucian pada lingkungan. hutan. Di samping sebagai media pencerdasan. maka kakawin merupakan yoga sastra dan yoga keindahan. Guna menemukan dewa keindahan yang menjelma di alam sakala. dan lain-lain sambil berlaku tapa. yakni dengan persatuan itu sang kawi “bertunas keindahan” sehingga ia mampu menciptakan kakawin. menyusuri pantai. orang cerdas akan dapat melewati jurang dan kali dengan tenang. dan sekaligus tujuan. sehingga kita dapat melewati berbagai terpaan dan pahit getir kehidupan ini (jurang kali) dengan tenang (wiśāta). dan segala jenis najis bagaikan goa gelap gulita. Dewa itu dipandang menjelma dalam segala keindahan. Dewa keindahan yang berada di alam niskala. Sang kawi memulai karyanya dengan menyembah dewa pilihannya sebagai dewa keindahan. 130 . kakawin merupakan yantra. yakni di atas padma hati atau jiwa sang kawi. Persatuan itu merupakan sarana. sebagai asal dan tujuan. kecantikan wanita.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Artinya: Mabuk. sungai. Zoetmulder (1985) menjelaskan bahwa kakawin diciptakan oleh penyair melalui beberapa tahapan. Pada kutipan di atas tampak jelas disebutkan bahwa fungsi sastra (kalinghaning śāstra) adalah sebagai lampu penerang yang terang benderang (suluh nikāprabha) dalam meraih perkembangan akal budi yang sempurna atau menjadi manusia cerdas yang dapat berpikir dan mengerti (sang wruh) arti hidup dan kehidupan. Sang kawi berupaya mempersatukan diri dengan dewa tersebut. bingung. sebagai candi tempat semayam dewa keindahan dan objek samadi bagi para pemuja dewa keindahan serta sebagai silunglung. maupun alam niskala. noda dan dosa ibarat ularnya yang besar dan berbisa. Sejalan dengan itu. Dalam rangka yoga itu. Dewa keindahan berkenan turun dan bersemayam di alam sakala-niskala. sang kawi mengembara. bekal kematian sang kawi. menjelajah gunung. berhasil ditemukan berkat laku tapa atau samadi sang kawi.

gagasan. mempertebal rasa harga diri. pemahaman. penerjemahan. Di sinilah pasantian berperanan memediasi masa lampau dengan masa kini. aktivitas pasantian bergulat dengan upaya apresiasi semendalam mungkin terhadap karya sastra Bali trandisional tersebut. dan penghayatan nilai-nilai luhur yang tersurat dan tersirat di dalam teks yang dibaca. kepribadian. dan kebanggaan masyarakat. ide. dan pendiskusian. dan hal-hal mulia lainnya yang pernah dialami dan dilakukan serta dijadikan pedoman dalam kehidupan masyarakat pada masa lampau. Kualitas hidup. Oleh karena itu. mempertebal rasa harga diri dan 131 . baik secara nyata maupun hanya dalam imajinasi. Masa kini diberi tempat justru dalam hubungannya dengan masa lampau dan masa lampau dihargai dalam konteks kekiniannya. berlangsung pembacaan teks lama oleh pembaca masa kini.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Sebagaimana telah disebutkan di atas. dan kedamaian. memperkuat kepribadian. aktivitas pasantian merupakan tempat menumbuhkan kepribadian dan jatidiri. Teks-teks itu merupakan perbendaharaan yang memuat berbagai persoalan. Sementara itu. dalam aktivitas pasantian. Lingkungan yang tervibrasi oleh kesucian akan dapat membawa masyarakat pada kehidupan yang harmonis dan dinamis dalam mewujudkan pembangunan manusia seutuhnya. di samping kegiatan pembacaan. rasa harga diri dan kebanggaan masyarakat. Pengenalan dan pemahaman nilainilai luhur itu akan dapat meningkatkan kualitas hidup. Apabila demikian halnya. Dalam aktivitas pasantian pada prinsipnya dilakukan beberapa kegiatan. ketentraman. karya sastra Bali tradisional diciptakan melalui proses perpaduan antara estetika dan religiusitas. yang pada akhirnya dapat menumbuhkan kualitas hidup bangsa. Sementara itu. pasantian sebagai wujud tradisi lisan atau pelisanan teks-teks suci apabila dilakukan secara meluas dan berkesinambungan akan dapat menimbulkan vibrasi kesucian pada lingkungan. dalam aktivitas pasantian teks-teks yang dibaca adalah teks-teks sastra lama yang terekam dalam naskah. renungan. penggalian. Oleh karena itu. Perlu dikemukakan bahwa masa sekarang sesungguhnya merupakan kelanjutan atau perpanjangan masa lampau. Dalam kegiatan pasantian dilakukan upaya pengenalan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan ketenangan pikiran. buah pikiran. memperkuat kepribadian bangsa. maka berbagai persoalan pada masa kini akan sulit dimengerti atau dipahami jika tidak diketahui latar belakang sejarahnya. nilai-nilai luhur. Kecuali itu.

untuk melaksanakan tugas masingmasing. sastra dianggap sebagai milik bersama sehingga harus dibacakan. Pasantian sebagai wujud tradisi lisan di Bali menunjukkan ciri kelisanannya yaitu pentingnya kebersamaan. Ketika pembaca masih aktif membaca atau melagukan teks. menekankan aspek pendengaran yang mempersatukan. penerjemah tidak akan menyela atau memotongnya begitu saja. Dalam tataran inilah terlihat kenyataan bahwa pasantian merupakan wahana untuk menggalang persatuan dan kesatuan masyarakat. aktivitas pasantian merupakan wahana persatuan dan kesatuan. Secara sosiologis. dipertunjukkan di hadapan sejumlah orang untuk dapat dinikmati bersama. Setelah pembaca selesai membaca. saling menghormati. Dalam konteks ini. seniman. Wesia maupun Jaba atau juga berasal dari pedagang. karyawan. dan lain-lain. Setiap anggota pasantian secara demokratis menunjukkan rasa toleransi dan sikap saling menghormati kepada sesama anggota. pemuka agama. peserta pasantian lainnya. buruh. Anggota kelompok pasantian itu bisa saja berasal dari kalangan Brahmana. peran-peran dalam pasantian itu dapat diperankan oleh sekelompok orang yang berasal dari berbagai stratifikasi sosial maupun kelompok sosial yang ada dalam masyarakat. termasuk kepada pembaca dan penerjemah. akan senantiasa memberikan kesempatan kepada peserta lain. ABRI. tetapi penerjemah mempersilakan pembaca sampai selesai membaca teks. pasantian merupakan usaha terus-menerus yang dilakukan untuk mengapresiasi dan menawarkan berbagai penafsiran baru dengan tanpa meninggalkan akarnya. Kebersamaan sangat penting artinya dalam menumbuhkan sikap kemitraan. guru. tokoh-tokoh masyarakat. Dalam tradisi lisan. Jalinan kemitraan dibina sedemikian rupa untuk menciptakan ke132 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kebanggaan nasional. Hal ini terlihat pada proses berlangsungnya pasantian itu. Ksatria. yang mampu memperkaya jiwa dan semangat baru dalam menjawab tantangan zaman globalisasi. Hal ini dapat dilihat berdasarkan ke-wangsa-an maupun ke-warna-an peserta dalam pasantian. Kemitraan akan dapat diwujudkan bila ada rasa toleransi. barulah penerjemah melaksanakan tugasnya. petani. yang mengakrabkan sidang pendengar. Demikian pula. Pembaca (pangwacen) akan menjalankan tugas dan peran semaksimal mungkin. pejabat. Lebih jauh. dan gotong royong.

Jilid I dan II.O. P. A. Karya sastra itu dibaca.J. Karena itu. Di sinilah pasantian menunjukkan cirinya sebagai wahana kemitraan.J. Jakarta: Pustaka Jaya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI bersamaan dan keharmonisan. Denpasar: Pustaka Larasan. Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Denpasar. 1994. _______________. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Daftar Pustaka Suarka. I Nyoman. “MABEBASAN: Wahana Pembauran”. Penutup Aktivitas pasantian merupakan kegiatan bersastra yang pada prinsipnya merupakan kegiatan olah rasa dan sekaligus olah pikiran. lewat pasantian sebagai wujud tradisi lisan dapat dibina atau dipertahankan solidaritas dan kebersamaan guna menumbuhkan semangat nasional. Zoetmulder. Kemitraan dan keharmonisan itu. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Zoetmulder. 1985. dan S. 133 . Jakarta: Djambatan. P. keharmonisan. dilagukan. Dengan kata lain. 1995. pada akhirnya akan melahirkan persatuan dan kesatuan. Karya sastra diciptakan melalui akal budi pengarang yang dijiwai perasaan yang halus dan indah. 2007. dan diapresiasi secara mendalam dalam aktivitas pasantian. menjalin persatuan dan kesatuan para anggotanya dengan penuh dinamika melalui lantunan irama dan keluwesan bahasa. Robson. 1998. Kidung Tantri Piśācarana. Teeuw. aktivitas pasantian dapat menyempurnakan perkembangan akal budi masyarakat sehingga masyarakat mampu berpikir dan mengerti makna kehidupan. dihayati.

19 April 1958. Skotlandia. Beberapa penelitian mandiri dan hibah yang dilakukan antara lain “Ideologi Lakon Cupak Ke Swargan oleh Dalang I Made Jangga”(2009). Australia. “Lakon Gareng Dadi Dewa: Sebuah tinjauan Sosiologis” (2002) “Konsepsi Segara-Gunung dalam Cerita Cupak-Grantang” (2003) dan “Nilai Ajaran Inkarnasi dalam Lakon Purba Sejati” (2005). baik di dalam maupun di luar negeri. S. Thailand. teater. 0271-827708. seperti di London. “LAKON” Jurnal Jurusan Pedalangan STSI Surakarta. M. Dosen STSI Surakarta ini tengah menyelesaikan pendidikan Doktor (S3) pada Program Studi Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar. Lahir di Tabanan. Karanganyar. Jurnal Seni Budaya. RC. Ngringo. dan tari. Dasar kesenimanan bidang yang dikuasainya adalah pedalangan. Banyak pula publikasi artikel ilmiah luluasan Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta Pedalangan (1986) ini antara lain di “Mudra”. 193 Perum. untuk berbagai kepentingan. 57772 Jaten. Beberapa kali pentas seni di luar negeri. dan menabuh gamelan. Durmo No. Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat UNS Surakarta.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF I Nyoman Murtana. Alamat : Jl. Telp. Lulusan Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Jurusan Ilmu-ilmu Humaniora Pengkajian Seni Pertunjukan (1996) ini juga berpartisipasi dalam pentas wayang kulit. “Konsepsi Kekuasaan Paku Buwana II Pada Kayon Gapuran (1998). Cakra Wisata – Jurnal Pariwisata Budaya.. Jepang.Kar. 134 .Hum. tetapi mengembangkan juga keterampilan menari. teater. dan Taiwan. Jawa Tengah. HP: 081329088782. Sejak tahun 1982 sering menyusun karya-karya baru “wayang layar lebar berbahasa Indonesia” dengan mengaplikasikan konsep pewayangan baru yang berbeda dengan pertunjukan wayang kulit konvensional. Dharmasmrti – Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan.

dan nyanyian dalang dalam berbagai suasana.. juga mentransmisi- P 135 . cerita yang dimainkan oleh dalang dan seluruh anggota grup pendukung pertunjukan wayang kulit.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Pertunjukan Wayang Kulit Bali: Media Komunikasi Pencerdasan Rakyat Dr.Kar.Hum. Bahasa kawi digunakan oleh para raja. Dosen Kajian Budaya Universitas Udayana Pengantar ertunjukan wayang kulit. Selain hal tersebut. Bahasa verbal dalam pedalangan Bali tampak pada bahasa kawi. M. I Nyoman Murtana. Dengan cara itu pertunjukan wayang kulit menjadi menarik dan menggairahkan apresiator. irama antawacana. Seluruh unsur budaya tersebut dipandang sebagai “bahasa” atau teks. dan Bahasa Indonesia. bahasa auditif maupun tanda-tanda simbolik lainnya. pendeta. dan dewa. Bahasa visual dapat dinikmati dari aneka bentuk rupa dan gerak seluruh figur wayang serta bayang-bayang yang ditimbulkan dari sorot lampu blencong yang bersuasana magis. ksatria. bahasa auditif dapat dinikmati dari berbagai suasana yang dibangun melalui suara gamelan yang mengiringi. bahasa Bali. S. raksasa. baik abdi perempuan maupun lelaki. Bahasa Bali dan bahasa Indonesia digunakan oleh para abdi. adalah media komunikasi audiovisual. bahasa visual. Ia digunakan sebagai sarana untuk membangun satu pertunjukan wayang kulit yang menimbulkan citra estetik tertentu. Kelir. layar putih sebagai arena memainkan seluruh figur wayang kulit diandaikan sebagai panggung kehidupan. Selain itu. baik melalui bahasa verbal.

ranah menjadi arena pertarungan. instrumen musik tradisional (gender wayang). baik lokal maupun global. Seluruh aspek tersebut diramu dengan berbagai problema sosial dan unsur-unsur budaya yang aktual. Oleh karena itu. Membangun Kecerdasan Struktur Sosial Pertunjukkan wayang kulit merupakan gambaran tentang kehidupan manusia yang terkait dengan kedudukan. Masing-masing peran memiliki wilayah atau ranah kekuasaan yang berbeda-beda pula. Berbicara tentang pertunjukan wayang kulit bagaikan membicarakan secara total kehidupan manusia. dan abdi atau rakyat. Dengan demikian. kesatria. dan fungsi yang berbeda-bedadalam masyarakat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kan berbagai nilai kehidupan manusia. Wilayah atau Ranah itulah yang diperebutkannya. aspek ideologi politik untuk mengekspresikan kepentingan manusia dalam memperjuangkan atau mempertahankan kekuasaan. atau perangkat gamelan yang lain. Bourdieu (dalam Fashri. Selain itu. pendeta. rupa. Oleh karena itu. sehingga terbentuk sebuah lakon pertunjukan wayang kulit yang mampu menembus keterbatasan dunia lokal sehingga memancarkan sinar mulianya di dunia global. semua unsur budaya Bali yang digunakan oleh dalang sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasan-gagasan dalam pertunjukan wayang kulit. dapat dimaknai sebagai aktivitas politik kebudayaan. 2007:95). Bagi mereka yang menempatinya dapat mempertahankan atau mengubah konfigurasi kekuasaan yang ada. 136 . terutama jika dikaitkan dengan upaya pelestarian. pada tulisan ini akan dibicarakan aspek-aspek tertentu saja dari pertunjukan wayang kulit dalam fungsinya sebagai media pencerdasan rakyat. gerak. Ada peran raja. peran. seperti bahasa. memandang ranah sebagai arena kekuatan yang di dalamnya terdapat upaya perjuangan untuk memperebutkan sumber-sumber daya (modal) demi memperoleh akses tertentu yang dekat dengan hierarki kekuasaan. seperti aspek solidaritas sosial untuk mengeksresikan nilai tolerans dan kebersamaan. Struktur ranah membimbing dan memberikan strategi bagi penghuni posisi tertentu untuk melindungi atau meningkatkan posisi mereka dalam jenjang pencapaian sosial. lakon yang digelar dalam pertunjukan wayang kulit sering merupakan kasus-kasus kekuasaan. aspek religius sebagai ekspresi rasa sujud terhadap Tuhan.

kerabat. Ketiga bentuk konflik itulah yang diwacanakan dalam lakon pertunjukan wayang kulit melalui perbedaan-perbedaan karakteristik tokoh. bahwa dalam karya seni yang problematis. sedangkan konflik vertikal menyangkut hubungan sistem keyakinan. Membangun Kecerdasan Humanis Dalam konflik kehidupan selalu ada pihak-pihak yang kalah. pandangan hidup. tokoh-tokoh cerita justru berfungsi sebagai oposisi ideologis terhadap subjek. 2009:85-86) bahwa kesadaran his137 . teman atau kolega. bahwa konflik. dikalahkan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Membangun Kecerdasan Atas Konflik Dalam pertunjukan wayang kulit selalu terdapat perang antara kelompok yang satu dengan yang lain. Perbedaan sikap dan perilaku tokoh-tokoh cerita bisa sangat tajam. sangat dimungkinkan bisa saling bunuh di antara sanak saudara. 1985:122). Cerita Dewaruci mengartikulasikan konflik vertikal yang terkait dengan sistem keyakinan hingga Bima bisa bertemu dengan Dewaruci. Dengan cara tersebut konflik-konflik dapat dilerai dan semua pihak bisa mengarungi kelangsungan hidup. atau mengalah dan mau membuka komunikasi agar segalanya bisa dibicarakan secara baik-baik. Perang tersebut merupakan ekspresi simbolik mengenai konflik sosial dalam masyarakat. Apabila dilihat dari filsafat perubahan dari Hegel (dalam Aiken. pertunjukan wayang kulit merepresentasikan aneka konflik kemanusiaan. Dengan kata lain. bahkan juga sebagai pemberontak yang radikal. bahwa problema sosial yang terjadi dalam masyarakat mewarnai proses penciptaan karya pedalangan. dan perbedaan kepentingan yang tercermin dalam tindakan-tindakannya. baik konflik horizontal maupun vertikal merupakan kekuatan penggerak drama dan hati penonton. sehingga menyebabkan pertentangan yang hebat. Lagi pula. baik profane maupun dengan yang sakral. Misalnya pertempuran Pandawa dengan Kurawa di Padang Kurukasetra untuk berebut kekuasaan. Menurut Ratna (2004:179). sehingga pertunjukan wayang kulit menampakkan kekerasan simbolik mengenai kehidupan. Hal ini berarti pihak yang kalah dapat menerima kekalahan sebagai kemenangan dan pihak yang memberi ampun adalah orang yang memiliki kesadaran historis terhadap masa lalu. Konflik horizontal menyangkut interaksi manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Hal itu sesuai dengan pernyataan Constance Nash (Hamzah. Akibat dari itu.

sejarah berarti perkembangan. Dengan begitu. meskipun dengan dalih meningkatkan kemakmuran. Tat Twam Asi—Ajaran cinta kasih yang mengedepankan sikap hidup toleran dan berorientasi demi kebaikan orang lain tersebut. bahwa aku dapat hadir pada diriku dengan refleksi. Mereka menemukan identitas diri di posisi yang tepat dalam tatanan masyarakat (Suseno (1992:247). Tiap individu berharap memperoleh kesatuan sosial dengan sesama anggota masyarakat yang lain. dengan dunia yang luas. Aku terbuka untuk pikiran orang lain. tetapi untuk semua. Tat Twam Asi dimaknai sebagai ajaran perilaku humanis yang menerima kehadiran orang lain bagaikan menerima dan mencintai dirinya sendiri. atau yang oleh Hegel disebut momea. untuk dunia. dan untuk Tuhan. Tiap-tiap individu berorientasi pada keselarasan. dan yang melebihi segala sesuatu yang ada di dunia. yaitu ajaran normatif (Wesnawa. tetapi sebagai perkembangan yang progresif bahwa setiap tahapan. Hal tersebut merupakan pemberitahuan dan ajakan kepada rakyat atau masyarakat untuk saling menghormati. Dalam konteks inilah konsep “the others”—yang lain—memancarkan nilai humanisme sosialnya yang mau peduli terhadap dan untuk orang lain serta tidak hanya berlaku untuk kelompok sosial tertentu. Sikap mengalah itu menunjukkan implementasi ajaran Tat Twan Asi. dan dapat merasakan pikiran orang lain. 2004:60) yang memancarkan sinar energi Tuhan dari sikap tokoh-tokoh pemaaf. yakni sebagai sebuah proses menjadi. dan berharap pula memperoleh kesatuan dengan kekuatan yang mahadahsyat dari maha pengasih dan penyayang segala makhluk. Aku terbuka untuk sesama. dipandang sebagai konsekuensi niscaya yang sepenuhnya berbeda dari tahapan sebelumnya. Hakikat Tat Twam Asi itu sesuai dengan yang dikatakan oleh Snijders (2008:106). Tidak satu pun ada yang sama persis seperti keadaan sebelumnya. Setiap proses historis adalah sesuatu yang baru. Bagi Hegel. yaitu Tuhan. mengingatkan manusia agar berhati-hati mengelola kekuasaan—sumber kebahagiaan yang sangat potensial menjadi penyebab kesengsaraan. Hukum perubahan historis mana pun bukan sebagai rangkaian daur perubahan yang berputar terus secara abadi. Semua itu merupakan pelajaran yang bernilai katarsis yang dalam tradisi ritual pemurnian jiwa di 138 . Hal ini berlaku bagi struktur masyarakat. dapat berkomunikasi dengan yang lain.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF toris mampu memahami realitas sebagaimana adanya.

upacara. melestarikan kesadaran kultural dan kesatuan komunitas. Ritual. kesenian. bahwa peradaban yang meliputi pandangan. setiap bentuk kekuasaan tidak lagi dimaksudkan untuk memaksakan kehendak terhadap pihak lain dalam mencapai tujuan. Fisher (1990:231 dan 233) menambahkan bahwa manusia dalam dirinya memiliki esensi kebudayaan. Kekuasaan dibiarkan tersebar dan melekat secara otonomi pada semua yang hadir di alam semesta dengan pancaran energinya masing-masing. dan ekspresif (estetis). tingkah laku. (1989: 322-32) dalam tulisannya yang berjudul Sekala & Niskala: Essays on Religion. bahwa seni pada hakikatnya merangkum semua aspek kehidupan manusia. saling berhubungan. berujar. diuraikan tentang kehidupan agama. Menurut Suseno (1992:247) kebudayaan tradisional merupakan satu kesatu-an yang memiliki unsur-unsur kognitif (pengetahuan). bermasyarakat. dan memiliki buah pikiran. Dengan menghayati nilai-nilai itu masyarakat dapat memperbaharuai. yakni individu hanya dapat mencapai perkembangan diri yang menyeluruh melalui interaksinya dengan orang lain. Kekuasaan adalah realitas itu sendiri yang dapat dilihat dari kekuatan-kekuatan yang mengalir dari pada-Nya. Berkaitan dengan hal tersebut Fananie (1994:127) mengatakan. melakukan revitalisasi. Membangun Kecerdasan Religius Seorang dalang memformulasikan nilai-nilai keagamaan dalam pertunjukan wayang kulit. agar manusia dapat berpikir. melainkan kekuatan kosmis yang dapat memenuhi seluruh kosmos. Hakikat diri tidak hanya berfungsi sebagai proses sosial. Kekuasaan bukanlah suatu gejala khas sosial yang berbeda dari kekuatan-kekuatan alam.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bali disebut dengan istilah panglukatan. normatif (harkat moral norma-norma sosial). Eisseman. moralitas. Seperti dikatakan oleh Bizawie (2002:66) bahwa kekuasaan adalah ungkapan energi illahi yang selalu kreatif meresapi seluruh kosmos. dan pertunjukan wayang kulit. Dalang memiliki popularitas dan kedudu139 . dan bertindak dengan baik demi kebaikan dunia. Berdasarkan prinsip ke-Tuhan-an seperti itu. and Art. Ketiga unsur tersebut didasarkan atas satu pandangan dunia yang hampir selalu ditentukan oleh agama. Pertunjukan wayang kulit adalah salah satu wujud kebudayaan tradisi-onal. Menurutnya. tetapi juga bermula sebagai proses sosial. dan kepercayaan diawali dari sebuah karya seni.

Menurut Berata (almarhum). unsur-unsur estetis hadir dalam sistem keagamaan dan sebaliknya unsur-unsur agama hadir dalam seni. bukan kerajaan-keraja140 . Dalang/transformer 4. Dengan demikian pandangan dunia yang diekspresikan dalam pertunjukan wayang kulit. Pernyataan Eisseman tersebut koheren karena hingga kini pertunjukan wayang kulit merupakan bagian yang sistemik dalam berbagai pelaksanaan upacara ritual keagamaan di Bali. Apabila diskemakan proses interaksi situasi sosial dan nilai budaya yang dipersiapkan sepanjang masa oleh seorang dalang adalah sebagai berikut. 1985:114). Tabanan menyatakan. Nilai-nilai kultural 3. Hal itu sesuai dengan pernyataan Kuntowijoyo (1987:51-52) yang me-ngatakan. Teater merupakan sarana yang efektif untuk menanamkan kepribadian. Masyarakat apresiator/simulasi 2 4 1 Kehadiran nilai-nilai keagamaan dalam pertunjukan wayang kulit merupakan kekuatan teatrikal bagi suatu daya pembangunan bangsa.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kan di masyarakat. seorang dalang wayang kulit Parwa dari Desa Tunjuk. Artinya. 3 Keterangan gambar 1. bahwa pertunjukan wayang kulit dan sistem upacara keagamaan bagaikan pasangan suami istri yang dalam kehidupannya saling melengkapi satu sama lain. Pendeta mendoakan keselamatan dunia melalui sesaji dan doa-doa dan dalang menyelamatkan dunia dengan menjelaskannya perilaku baik-buruk tokoh-tokoh wayang dalam konsepsi “rwabhineda” dalam satu peristiwa lakon pertunjukan wayang kulit. Satuan sosial budaya 2. menempatkan fungsi ritual dan edukasi pertunjukan wayang kulit bagi masyarakat Bali. sehingga memancarkan aspek sosial dan kultural yang menarik sebagai wahana komunikasi. antara nilainilai keagamaan dan seni disinergikan dalam pertunjukan wayang kulit. Perjalanan hidup teater “wayang kulit” yang melewati sekian zaman telah membuktikan diri sebagai barometer kepribadian yang telah berakar (Hamzah.

penerbit. filosofis dan religius di masyarakat. media. maka dalang adalah orang yang terpelajar atau intelektual.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI an dan kekuasaan-kekuasaan dunia lahiriah semata yang tersaji dalam latar utama bagi tindakan manusia. literer. Gramsci menganggap penting para intelektual tradisional yang menempati posisi ilmiah. 2002:98) tentang masyarakat sebagai simulasi yang terjadi di era postmodern. Mereka bisa datang dari latar seperti status. pertunjukan wayang kulit bukanlah pementasan sebuah politik filosofis semata melainkan suatu psikologi metafisis (Geertz. posisi dan fungsi yang berbeda dan indepen141 . Setiap orang harus bersikap seperti kesatria yang terus-menerus memerangi raksasa dan raksasi yang diandaikan sebagai simbol nafsu-nafsu yang menguasai hidup manusia. Ditinjau dari proses itu. medis. Simulasi wayang mempengaruhi sikap mental masyarakat. kode dan sibernetik atau dunia maya yang mensimulasi nilai-nilai kultural yang divisualisasikan dalam wujud-wujud prilaku tertentu tokohtokoh pelaku cerita wayang. bahwa dari struktur final realitas dapat ditarik kesimpulan adanya Sang Pencipta yang menerapkan struktur tersebut. Wayang jika ditafsirkan secara psikologis dimaksudkan untuk memelihara kecenderungan untuk menemukan realitas tertinggi (Geertz 1983:362). 2007:109). Argumen teologis mengungkapkan. yaitu argumen kosmologis megungkapkan bahwa Tuhan harus ada karena kalau tidak akan ada rangkaian kausalitas yang tidak terhingga untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa. sekolah. yaitu sebuah era informasi dan tanda-tanda yang diatur oleh pelbagai macam model. Adapun argumen ontologis mengemukakan bahwa Tuhan ada karena kita memikirkan dan memprediksi eksistensi terhadapnya (Khuza’i. Pertunjukan wayang kulit adalah model. kode dan sibernetik. melainkan di dalamnya. bahwa realitas sosial yang diungkapkan lewat tokoh-tokoh imajiner dapat memberi gambaran yang hidup. melainkan dunia batiniah dari sentimen-sentimen dan hasrat-hasrat. termasuk universitas. Oleh karena itu. lembaga-lembaga agama. Komunikasi manusia dengan Tuhan dilandasi tiga argumen. Dengan kata lain Kuntowijoyo (1987:135) menyatakan. 1992:60-61). Cara kerja skema transmisi nilai-nilai itu sesuai dengan identifikasi yang dilakukan oleh Baudrillard (dalam Budiman. Perilaku tokoh-tokoh wayang kulit ditafsirkan sebagai referensi dalam kehidupan sosial. Kenyataan dicari bukan di luar diri. dan firma-firma hukum.

karena ia menjadi guru bagi semua golongan sosial. Selain itu. Di balik keindahan itu. pertunjukan wayang kulit juga mencerdaskan rakyat dalam mengelola konflik kehidupan. seyogyakan kesenian tersebut dijaga keberlangsungan hidupnya dengan cara memberi peluang tampil secara maksimal dalam berbagai kesempatan. Mengingat nilai—nilai edukasi yang terkandung di dalam pertunjukan wayang kulit demikian penting bagi kehidupan. membangun kecerdasan humanis. bahwa pertunjukan wayang kulit berfungsi sebagai ajang peningkatan kecerdasan rakyat. 2005:469). sehingga memperoleh daya hidup bersama masyarakat pendukungnya. 142 . Hal itu sesuai dengan sikap masyarakat Bali yang mendudukkan dalang wayang kulit sebagai “guru loka” yang bersikap independen. Oleh karena itu. dilakukan peningkatan kualitas teknis dan nonteknis secara berkelanjutan. Saran Berdasarkan uraan di atas diperoleh pemahaman. dan memiliki kecerdasan akal budi untuk menyadarkan manusia sebagai makhluk sosial dan individu yang berketuhanan. Simpulan Pertunjukan wayang kulit merupakan contoh dari salah satu unsur kebudayaan yang terjadi karena manusia hendak memuaskan kebutuhan nalurinya akan rasa keindahan dan menjadikan pengalaman estetik sebagai penyeimbang kondisi materiil.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF den. lepas dari komitmen kelas atau peran ideologis manapun (Barker. Perlu pula dilakukan reaktualisasi isi garapan lakon dan memposisikan peran serta fungsinya pada struktur sosial budaya masyarakat. pertunjukan wayang kulit menyiratkan ajakan untuk meningkatkan kecerdasan mengenai realitas kehidupan sosial yang antara lain menyangkut kecerdasan manusia terhadap struktur sosial sebagai ajang untuk melakukan interaksi sosial. maka para intelektual dan peneliti perlu mengkaji secara berkesinambungan pertunjukan wayang kulit yang hasilnya dapat dijadikan sarana pembelajaran bagi generasi berikutnya dan dapat diacu untuk mengembangkan pertunjukan wayang kulit sesuai konteks jamannya.

Barker. Fisher. Fausi. Berkeley-Singepore: Periplus Edition Fananie. A. 2005. Hegel. Bandung: CV Rosda. Filsafat Kebudayaan Politik:Buti-Butir Pemikiran Kritis. Antropologi Filsafat: Manusia Paradoks danSeruan. Aubrey. Ritual. Penerjemah: Prancisco Budi Hardiman. Pembunuhan yang Selalu Gagal: Modernisme dan Krisis Rasionlaitas Menurut Daniel Bell. Zainuddin. 2007. Chris. Geertz. Yogyakarta: Kanisius. 2002. Penyingkapan Kuasa Simbol. 1992. 2002. Surakarta: Muhammadiyah University Press. 2009. Mach Nietzsche. Adelbert. Pandangan Dunia KGPAA Hamengkoenagoro I alam Babad Tutur: Sebuah Restruturisasi Budaya. Hamzah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Penerjemah: Soejono Trimo. Suseno. Schopenhouer. Adjib. and Art” . Bizawie. Hikmat. Revitalisasi Kebudayaan Hindu untuk Ketahanan Masyarakat Bali:Pokok-pokok Pikiran Ketua DPRD Bali tentang Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Bali.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Daftar Pustaka Aiken. Yogyakarta: Samha. Yogyakarta: Tiara Wacana. Ratna. Essays on Religion. Budaya dan Masyarakat. Nyoman Kutha. Marx. Teori-Teori Komunikasi:Perspektif Mekanistis. Henry D. Perlawanan Kultural Agama Rakyat: Pikiran dan Paham Keagamaan Syekh Ahmad al-Mutamakkin dalam Pergugmulan Islam dan Tradisi (1645-1740). Snijders. Clifford. 1994. 143 . 1985. 1990. Bandung: Bentang Budiman. Denpasar: Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Bali. Kebudayaan & Agama: Refleksi Budaya. Abad Ideologi: Kant. Yogyakarta: Kanisius. Interaksional. Pengantar Bermain Drama. 2004. Cultural Studies: Teori dan Prakktik. Fred B. dan Kierkegaard. 2008. Fichte. B. “Sekala & Niskala: volume I. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Franz Magnis. Bandung: Remaja Rosdakarya. Eisman. Wesnawa. Fashri. 1989. Mill Spencer. Metode. Ida Bagus Putu. Psikologis. MLS.dan Pragmatis. 1987. Comte. dan Teknik Penelitian Sastra Dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme: Perspektif Wacana Naratif. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Kuntowijoyo. Yogyakarta: Juxtapose. 1992. Zainul Milal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Teori. 2004.

tetapi terutama dalam gaya kebyar. Lahir di Banjar Kutri. Penata iringan tari kebesaran ISI Denpasar Ciwa Nataraja ini telah melakukan perjalanan melintas dunia untuk menunjukkan kebolehannya. antara lain ke Australia. Bali. Lulusan ISI Denpasar.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF I Nyoman Windha merupakan salah satu musisi terkemuka dan komposer kontemporer musik gamelan Bali. Eropa dan Amerika. ini telah menyusun puluhan komposisi untuk gamelan Bali dalam berbagai genre. Singapadu. Bali. telah dimasukkan ke dalam repertoar standar kelompok pertunjukan Bali dan banyak yang telah memenangkan penghargaan di kompetisi tahunan gamelan Bali. Jepang. Komposisi-Nya. Mengajar sejak tahun 1985. 144 . serta inovasi penggunaan 3/4 waktu. penggabungan bentuk-bentuk dan gaya dari gamelan Jawa. seperti Puspanjali (1989). Hongkong. Windha terkenal dengan komposisi musik yang bermelodi indah. Gianyar.

MA Komposer. Dosen ISI Denpasar Pendahuluan usik Bali atau yang lazim disebut dengan Karawitan Bali adalah Seni Suara Vokal dan instrumental yang berlaras selendro dan pelog. yang dapat dikolompokan menjadi 4 kelompok. Sama halnya dengan di Jawa seni suara vokal di Bali desebut Tembang atau Sekar. karakter dan bentuk gending yang berbeda-beda. yang jika dilihat dari bahannya ada yang terbuat dari bahan bambu seperti gamelan Gambang. SSKar. yang terakhir gamelan yang dibuat dari bahan perunggu seperti. Berbicara tentang gamelan. Sekar Madia(jenis Kidung. 2. yaitu: 1. Gamelan Angklung dengan karakter sedih dan biasanya dimainkan pada saat ada upacara kematian. Jegog dan gamelan gandrung dan gamelan yang terbuat dari bahan besi seperti gamelan selunding.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Seni Musik Bali dan Gamelan Gong Kebyar sebagai Media Pencerdasan Rakyat I Nyoman Windha. Seperti misalnya gamelan Gong Gede yang memiliki karakter agung dan berwibawa yang dimainkan berkaitan dengan upacara dipura-pura. Sekar Rare (gending anak_anak). Rindik . gender wayang. Ahli Seni Karawitan. 3. gong kebyar dan gamelan semarandana. di Bali terdapat sekaitar 30 jenis barungan gamelan. Sekar Ageng (jenis kekawin). semarpagulingan. Diantara jenis-jenis gamelan diatas. Masing-masing gamelan diatas memiliki fungsi. gamelan Gong Kebyar memiliki multi- M 145 . gong gede. angklung. Sedangkan seni seuara instrumental adalah alat Gamelan. Sekar Alit ( jenis pupuh) dan yang ke 4.

Peranan gong kebyar tidak saja mampu mencetak bibit-bibi baru. Dan dia bahkan menjadi media pembelajaran dalam mengawali belajar bermain gamelan. suling dan rebab. rumit dan tempo yang cepat. kajar. tapi juga mampu mengadopsi ide-ide kreatif didalam usaha mewujudkan garapan-garapan kreasi baru kakebyaran baik dalam bentuk tari kreasi maupun tabuh kreasi baru. dewasa dan kaum Ibu-ibu. Kebyar di Masa Lampau Berdasarkan informasi yang ada bahwa untuk pertama kalinya gong kebyar muncul di Bali utara tepatnya didesa Bukulan Buleleng sekaitar 146 . Gamelan gong kebyar dan tari kebyar ini tak bisa dipisahkan satu dengan dengan yang lain. terompong. penyacah. Asal Mula dan Perkembangan Kebyar Istilah kebyar berasal dari bentuk permainan gamelan yang dipukul secara bersamaan yang menghasilkan suara menggelagar “byar” yang kemudian dipergunakan untuk memberi nama kepada ansambel baru dan tari kreasi baru dalam kesenian Bali yang memiliki cirriciri keras. reong . Kedua jenis kesenian ini. Tari kebyar merupakan sebuah ekspresi individu atau kelompok yang memilki ciri-ciri yang sama dengan gong kebyar. dinamis. jegogan. yang lainnya semua alat-alat dari gong kebyar adalan alat perkusi. dimana sebagian besar dari orang Bali mulai melajar megambel dari gamelan Gong Kebyar.. gangsa. Gamelan gong kebyar yang dimainkan oleh kurang lebih 25 orang musisi (penabuh) ini diperkirakan muncul pada awal abad ke 20 dan gamelan ini awalnya diciptakan hanya untuk lagu instrumental ( gending petegak). kendang.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF fungsi. Gamelan yang tergolong baru ini sangat digemari oleh masyarakat Bali mulai dari kalangan anak-anak. Kecuali suling dan rebab yang masing-masing merupakan alat tiup dan gesek. baik ansambel maupun tarinya menonjolkan pada pengungkapan emosi yang meluap-luap dan aksi dramatis yang menakjubkan. keduanya merupakan ekspresi kesenian yang lahir pada awal abad 20. Namun dalam perkembangan selanjutnya berkembang menjadi musik iringan tari. Gamelan gong kebyar adalah alat musik perkusi yang instrumentasinya terdiri dari: gong. Ansambel yang baru ini desebut gamelan gong kebyar dan tari kreasi baru ini juga disebut tari kebyar. jublag. dan tarinya pun disebut dengan tari kebyar.

seperti I Gusti Ngurah Raka dan I Nyong-nyong. sinkopasi-sinkopasi yang jarang ditemukan pada jenis-jenis gamelan gong kuna. Mereka memasukan “emosi dan aksi dramatis” dalam permainan gamelan yang menjadi bentuk awal dari gong kebyar. Demikian juga halnya dengan tari Kebyar Legong yang diciptakan oleh Pan Wandres dan I Gde Manik dari Jagaraga . Tari Kebyar saat itu masih berkiblat pada tari Kebyar Duduk dengan gerak bebas yang penuh improvisasi mengikuti aksen-aksen lagu gong kebyar. Selanjutnya pada era tahun 1930 an munculah Tari Kebyar yang 147 . menari dengan posisi jongkok yang kemudian menjadi cikal bakal tari Kebyar Duduk dan tari Kebyar Trompong. Tabanan oleh seka gamelan dari desa bantiran (Buleleng) pada tahun 1919. membuat aransemen yang rumit sebagai ciri dari kreasi baru. Bentuk awal dari permainan gong kebyar pada saat awal pemunculannya adalah didesa Bungkulan. Pada tahun 1928 ditemukanlan rekaman komersial mengenai gamelan Bali. Buleleng. Baru tahun 1920 terciptalah tari Kebyar Duduk dan tahun 1925 menjadi tari Kebyar Trompong seperti yang kita lihat sekarang. dalam rangka upacara pelebon.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI tahun 1914. masyarakat Bali hampir mulupakan bahwa kebyar itu adalah musik instrumental. yang disertai dengan entakan-entakan yang tajam. Saat awal pemunculannya gamelan ini diciptakan untuk menyajikan gending-gending petegak atau lagu-lagu instrumental dan media bagi para pencipta lagu (komposer) untuk mengekspresikan diri. gending Jerebu yang juga ditarikan oleh penari kebyar saat itu seperti I Maria dan murid-muridnya. dan baru diketahui bahwa telah tercipta lagu-lagu kebyar seperti Kebyar Ding Sempati. Bahkan hampir tak ada lagi ciptaan instrumental baru dalam lagu gong kebyar. Awal munculnya tari kebyar adalah ketika I Maria diundang untuk mengajar tari di desa Busungbiu. Perjalanan gong kebyar selanjutnya diawali dari diperdengarkannya dipuri Subamya. Disini belum nampak ada indikasi bahwa gong kebyar itu digunakan untuk mengiringi tari. Ketenaran I Maria sebagai penari Kebyar Duduk. disana dia menarikan sebuah lagu gong kebyar secara bebas yang berinteraksi dengan tukang kendang. yang konon tabuh pengiringnya diciptakan oleh I Wayan Sukra. Buleleng yang selanjutnya tari ini menjadi tari Taruna jaya. kebebasan mencipatakan lagu baru. Para penabuh gamelan mulai memainkan ritme-ritme unisono bersama.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dibawakan oleh penari wanita. Mrgepati. sebagai suatu respon perkembangan sosial politik di Indonesia. Puspa Warna. Demang Miring. kehadiran kebyar juga berdampak pada perubahan karakter. dimana orientasinya mengarah kepada wanita cantik. Kemudian berkumandanglah sebutan tari babancihan sebagai ciri khas tarian kebyar. Sehingga antara tari dan musik menjadi satu sebagai sebuah kesatuan. Selain mengalami perubahan struktur. dimana penari cantik membawakan tokoh laki-laki sepeti yang terlihat pada tari-tarian ciptaan I Nyoman Kaler. yang idenya datang dari I Gusti Bagus Nyoman Panji. Ekspresi realirtas kehidupan mulai diperkenalkan. I Nyoman Kaler berhasil mencipatakan beberapa jenis tari kebyar seperti Panji Semirang. Penciptaan Sendratari ini distimulasi oleh munculnya sendratari Ramayana Prambanan pada tahun sebelumnya. Sebagai dampaknya terjadilah perubahan estetika dari tarian yang bersifat improvisasi kebentuk tarian yang memiliki struktur yang ketat. Ada nafas baru yang juga muncul pada periode ini. dimana tema-tema kebyar yang semula berorientasi pada tari murni dan keindahan semata dan kini berubah menjadi tarian kebyar programatik. kebebasan berkreativitaspun muncul sehingg pada tahun 1951 terciptalah sebuah tarian baru yang berjudul tari Oleg Tambulilinagn. Pada awal tahun 1960-an terjadi lagi sebuah pergeseran. Disini nampak terjadi perubahan yang sangat drastis. Memasuki zaman kemerdekan mulai ada rasa aman. pimpinan KOKAR Bali saat itu. Tarian ini diciptakan oleh I Maria. Ja-yaprana. yang masih mempergunakan konsep tari tunggal. Bentuk tari kelompok lebih diutamakan. Dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun yang pertama KOKAR Bali pada tqhun 1962 Bapak I Wayan Beratha menciptakan sebuah sendratari yang berjudul Jayaprana. Pada dekade 1960 –an lahirlah tari Tani dan tari Nelayan. kendatipun tariannya ditarikan oleh lebih dari seorang penari. Raja148 . Konsep tari kebyar telah berkembang dari konsep tari tunggal laki-laki dan wanita menjadi konsep tari duet laki-laki dan perempuan. yaitu perkembangan tari kebyar menjadi sendratari. Munculah sebuah wadah estetika baru. Tokoh-tokoh seperti Ketut Merdana ( Buleleng) dan I Wayan Beratha (Denpasar) muncul sebagai generasi awal dalam katagori ini. yang merupakan tari duet dengan tema percintaan. Candra Metu dan Bayan Nginte. Pada tahun 1960-an sudah tercipta 4 buah sendratari yaitu sendratari Ramayana.

Kalau kita lihat dari instrumentasinya. Australia. Tari kebyar menjadi salah satu primadona dalam misi-misi tersebut. Disamping mengutamakan ungkapan pantomim dan programatik. Korea. Era 1960 –an adalah masa semaraknya pertumbuhan gong kebyar di Bali. Kecuali Rabab dan suling. ketika Pemerintah Daerah Bali menyelenggarakan pentas Gong Kebyar kedalam sebuah wadah Merdangga Utsawa (Festival Gong Kebyar) pada tahun 1968 yang dimotori oleh Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibya) dalam usaha melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Bali. Diluar negeri sekitar 100 barungan gong kebyar tersebar luas di Amerika Serikat. sendratari ini juga diungkapkan lewat narasi dalang yang berfungsi sebagai komentator pergelaran itu. Barangkali suatu hal yang perlu diteliti kedepan. Spanyol. Sebagai puncak dari keberhasilan pelestarian dan pengembangan kesenian Bali itu kemudian ditampung dalam sebuah festival seni yaitu Pesta Kesenian Bali (PKB). Oleh pencetusnya Prof. Perkusi merupakan jenis instrumen yang sifatnya sangat universal. Kanada. Dr. Filiphina. Hal ini dikarenakan oleh adanya diplomasi kebudayaan oleh Presiden Republik Indonesia. Kehidupan kebyar semakin semarak. Dalam dunia musik barat juga memiliki perkusi sehingga secara psikologis 149 . Di Bali. Jepang. Eropa dan Word Fair di New York menjadi kebangaan bagi seniman Indonesia. Pakistan. Soekarno. Pengiriman kesenian keluar negeri seperti ke Thailand. sebagian besar terdiri dari alat perkusi. dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling rumit.B. China.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pala dan sendratari Maya Danawa. Hampir diseluruh dunia memiliki alat musik perkusi. PKB yang lahir pada tahun 1979 dijadikan strategi pembinaan dan pengembangan kebudayaan Bali. Camboja. Suatu hal yang menjadi alasan kenapa gong kebyar bisa menyebar luas di seluruh dunia. sehingga keberadaannya sudah mencapai lebih dari 1500 barung. Inggris. India. I. gong kebyar tidak saja dimiliki oleh banjarbanjar akan tetapi dimiliki oleh perorangan. Thailand dan belum terhitung gong kebyar yang dibawa oleh penduduk Bali yang bertransmigrasi keseluruh nusantara. Dan sampai sekarang PKB sudah berjalan selama 31 tahun. Mantra. Kebyar Masa Kini Gong kebyar maupun tari kebyar sangat popular baik diluar maupun diluar negeri.

yang merupakan gabungan dari gong kebyar dan gamelan semar pagulingan. Instrumen kendang sebagai alat vital walaupun sudah memiliki pola yang baku. DVD dari karya-karya maestro Bali kini mulai mudah diperoleh dan setidak ada 40 volume rekaman STSI Denpasar yang menjadi stimulasi tertariknya 150 . The Art of Twentieth –Century Balinese Music oleh Michael Tenzer (2000). Pemahaman masyarakat dunia terhadap gong kebyar lebih terbantu dengan terbitnya buku –buku berbahasa asing seperti DeToonkunst van Bali oleh Jaap Kunst (1925). gamelan yang lahir tahun 1985 ini bentuk nya mirip dengan dengan gong kebyar. Gong kebyar memiliki tangga nada pentatonik atau laras pelog lima nada dengan saih yang berbeda-beda. buku Gamelan gong Kebyar. Tehnik permainan gong kebyar terdiri dari tehnik yang paling sederhana sampai pada tingkat kerumitan yang tinggi. Para pemain Rock atau Jazz sangat menyenangi gamelan gong kebyar karena fleksibelitasnya dalam bentuk maupun bunyi. akan tetapi setiap saat bisa membangun improvisasi. namun jumlah bilahnya lebih banyak yaitu 12 bilah. buku Music in Bali oleh Colin McPhee(1966). Sejalan dengan tuntutan kreativitas kini muncul gamelah baru yang disebut dengan gamelan Semarandana. Permainan trompong yang dapat dimainkan dengan tehnik ngempyung dan ngembat serta kekembangan yang selalu menjadi tantangan menarik bagi pemain gamelan. Dan tehnik pukulan gangsa yang disebut dengan kotekan dengan berbagai sistem seperti kotekan telu dan kotekan pat dengan berbagai variasinya selalu menjadi tantangan utama bagi setiap pemain dan hal sangat menarik perhatian mereka untuk mempelajari gong kebyar. dan 7 nada dibagian atas memakai laras pelog 7 nada. ada saih gede (tembung) dan ada saih cenik (selisir). Gamelan yang baru ini mampu memainkan lagu-lagu kekebyaran dan lagu-lagu semarpagulingan serta garapan-garapan baru lainnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF para musisi barat merasa dekat dengan instrumen gong kebyar. Sebuah tehnik paniti atau nyacah yang dapat dimainkan oleh semua instrumen melodi yang kemudian dapat dikembangkan menjadi kotekan yang sangat rumit. Lagu-lagu gong kebyar yang sangat komplek dan kaya dengan ritme serta dinamis menjadi ketertarikan para pemusik kontemporer dunia dewasa ini. urutan nada-nadanya terdiri dari 5 nada dibagian bawah memakai laras pelog 5 nada. Disamping itu rekaman-rekaman audio maupun VCD. Demikian juga buku_buku tari Bali yang sering memberi deskripsi tari kebyar.

seperti kendang. Swabuana Paksa dan Kapiraja lebih menitikberatkan pada demonstrasi kelompok – kelompok instrumen tertentu. Satu contoh lagi tari Kebyar Legong sebagai awal dari tari Taruna Jaya. Ujan Mas. mengambil bagian pengawak dari legong Kuntir menjadi bagian yang penting dari tarian tersebut. demikian juga gegambangan yang menjadi bagian akhir dari lagu kebyar. kini mulai mengadopsi lagu-lagu dari gamelan lainnya seperti gender wayang dan gambang. Kebyar Sebagai Wadah Kreativitas. kesederhanaan dan kerumitannya . Dari uraian diatas lelas menunjukan bahwa pakem gong kebyar berbeda dengan gamelan lainnya di Bali. Namun belakangan ini hampir semua kelompok instrumen diberikan kesempatan untuk mendemonstrasikan kelompoknya. Dimasukannya pengawak Kuntir dalam tari Kebyar Legong untuk membuat perubahan dinamika. menjadikan gong kebyar sebagai sebuah ansambel yang bisa menjadi jembatan dalam mempelajari gamelan lainnya di Bali.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI masyarakat dengan kebyar. Kebyar Masa Depan 1. Contohnya Gending merak ngelo. cengceng dan reong terutama didalam mengolah ritme. Dengan beberapa alasan diatas gong kebyar sudah menjadi milik bangsa yang sudah tersebar diseluruh penjuru dunia. Bahkan dalam penyajian tabuh kreasi semua kelompok instrumen yang ada dalam gong 151 . Semula gong kebyar hanya memainkan lagu-lagu ostinato dengan aksen-aksen yang mengagetkan. Selain gong kebyar. Motif dan tehnik dari gamelan tersebut dijadikan bagian yang penting dalam permainan gong kebyar. Dilihat dari tehnik permainan. Kapiraja . kedua motif lagu diatas juga dipergunakan dalam lagu semarpaguling dan pelegongan. keterkaitan antara klasik dan kebyar tetap terpelihara dengan baik dan masyarakatpun tidak dikejutkan dengan perubahan-perubahan yang asing baginya. yang dijadikan bagian pokok gegenderan pada salah satu bagian dari kreasi kekebyaran. dan tersedianya rekaman-rekaman diatas menjadi akses untuk mempelajari gong kebyar . Bentuk-kreasi kebyar sebagai sajian musik instrumental seperti gending Gambang Suling.

Tari Janger yang biasanya menggunakan iringan Batel dan suling . Kebyar merupakan sebuah ansambel yang sangat kaya dengan motif dan hiasan-hiasan. 2. Dan ini sangat tergantung dari kepiawian dari seorang komposer dalam menykapi hal tersebut. dinamika. angklung. selain menonjolkan angsel rumit yang berasal dari kebyar. Adalah pengembangn dari gamelan Balaganjur yang dikolosalkan. Adi Mrdangga yang diciptakan tahun 1984 oleh ASTI Denpasar saat itu. Mrgapati dan Cendrawasih dimainkan pada gemelan Angklung. Kebyar Menjadi Elemen Musik Dunia Kehadiran dari komposer-komposer barat yang pernah bela152 . Hal ini menunjukan bahwa kebyar menjadi sumber yang kaya bagi gamelan-gamelan lain untuk dipinjamkan lagu-lagunya kedalam tehnik yang baru. harmoni dan aspek musikal lainnya.Australia. Kebetulan penulis sendiri sebagai komposernya dan I Nyoman Catra sebagai koreografernya. sebagai pengganti Drum Band Barat dalam pembukaan PKB tahun 1984. rime. sehingga dia dianggap sebagai sumber yang kaya akan melodi. Gending Tari Belibis dimainkan pada gamelan Joged dan Jegog. sendratari dan lain-lain. kini digarap dengan iringan gamelan Genta Pinara Pitu dengan membuat lagu-lagu baru sesuai dengan mode yang dimiliki oleh gamelan tersebut. drama gong. gong suling. seperti lagu panyembrama. Garapan Janger kreasi baru ini diciptakan pada tahun 1986. Dan sayang gamelan Genta Pinara Pitu yang satu-satunya di Bali saat itu. Dalam Adi Mrdangga ini. yang sudah barang tentu tehnik permaianannya disesuaikan dengan tehnik gamelan yang dipakai . sehingga banyak lagu-lagu kebyar dimainkan dengan media gamelan lain. sekarang ada di Monash University . beberapa motif ritme juga diambil dari Drum Band Barat. Dan masih segar dalam ingatan kita. Disitulah letak fleksibelitas gong kebyar yang bisa menerima dan mempengaruhi gamelan lain.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kebyar memiliki hak yang sama. Gong Kebyar telah banyak memberi kontribusi terhadap perkembangan gamelan yang lain seperti.

Wayne Vitaly. Situbanda. yang sudah barang tentu semua pengalaman yang mereka peroleh dapat memparkaya wawasan mereka dalam melakukan aktivitas musik. I Wayan Tembres dan I Wayan Suweca. Basel. Talakalam dan Puser Belah. 3. Demikian juga halnya dengan Wayne Vitaly . mereka memperdalam Gamelan Gong kebyar baik secara teori maupun praktek. tapi sebagai komposer dia sangat lihai memadukan elemen musik Barat dan musik India kedalam tabuh kreasi kebyar. ketika penulis mengajar grup gamelan Sekar Jaya padatahun 1989. Indonesia (Bali dan Jakarta) dan Singapura. saat mereka menempuh ujian akhir dikampus mereka. dia seorang komposer barat yang lama tinggal di Bali. Michael Tenzer. disini Penulis dan Evan menggabungkan gamelan gong kebyar dengan alat musik barat Saxophone . Banyuari. Karya 153 . Swis untuk membuat iringan tari modern dengan gong kebyar yang dipadukan dengan alat musik biola. Dan hal ini banyak dilakukan oleh mahasiswa Jurusan Karawitan ISI Denpasar. Banyak komposer yang mencoba membuat komposisi dengan memadukan beberapa alat musik dengan harapan dapat menghasil garapan yang bernafas baru. Dan komposisi yang paling besar yang penulis lakukan adalah ketika penulis berkola-borasi dengan seorang komposer dari Kanada yang bernama Hose Evangelista dalam sebuah garapan yang berjudul Bali Simponi. Michael Tenzer misalnya. istilah kolaborasi menjadi istilah yang sangat ngetren. Evan Ziporyn dan Andy Mc Graw. Beberapa dari hasil karyanya yang pernah ditampilkan pada ajang PKB seperti. Evan Ziporyn dan Andy Mc Graw. . Kolaborasi Dengan Musik Lain Dewasa ini. Pengalamannya tinggal di Bali dan belajar gamelan kebyar pada seniman-seniman andal di Bali seperti: I Gde Manik. menorehkan sejarah baru bagi perkembangan gong Kebyar baik di Bali maupun di Luar Negeri. Penulis mendapat undangan kekota Basel. Garapan ini dipentaskan di tiga Negara. Dan pada tahun 1998.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI jar gamelan di Bali seperti. membuat dia tidak saja mampu memainkan gong kebyar dengan baik. Penulis sendiri pernah berkolaborasi dengan Evan Ziporyn dalam kreasi Kekembangan .

Sebagai penggarap penu154 . mengingatkan penulis pada peristiwa budaya terutama kegiatan upacara di puri Pemecutan Denpasar. Pada pelaksanaan PKB tahun 2001 pernah terjadi sesuatu yang sedikit agak ekstrem khususnya dalam materi festival gong kebyar. yang selalu melibatkan kesenian Rodat dari desa SuwungPemogan. dimana kretiria festival meharuskan mengguanakan instrumen tambahan khususnya pada materi tabuh kreasi baru dan penabuhnyapun harus campuran laki-laki dan perempuan dengan komposisi masing-masing grup diharuskan mempergunakan 10 orang penabuh wanita. Ditengan-tengah suasana disintegrasi bangsa dan pergolakan politik yang kian carut –marut. “Lekesan” adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebutkan benda yang berisikan bermacam-macam unsur dikemas dalam satu ikatan. Karya ini pentaskan untuk pertama kalinya di San Fransisico State University. Desa Sidakarya yang ditunjuk oleh kota Denpasar sebagai duta yang letakanya berdekatan dengan kawasan Suwung Batan Kendal sebagai kawasan etnik muslim dengan kesenian rodatnya yang khas. Penulis ingin menyingkapi persoalan bangsa itu dengan mengusung tema persatuan. yang dimainkan oleh grup Gamelan Sekar Jaya yang bergabung dengan California Simponi. Dalam konteks garapan “Lekesan” adalah sebuah karya yang beranjak dari kelisahan menyikapi suatu fenomena sosial dalam wadah Negara kesatuan yang terancam oleh riak-riak disintegrasi bangsa. Situasi kerukunan hidup dengan sikap toleransi yang tinggi penting untuk dikemukakan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ini mencoba menggabungkan ansambel gong kebyar dengan alat musik orkestra lengkap. Dan khusus pada materi tabuh kreasi seorang penabuh wanita harus memainkan instrumen kendang. Hal ini disebabkan karena secara budaya masih ada kedekatan emosional dengan kerajaan Badung (Puri Pemecutan) sebagaimana juga terjadi di Karangasem antara keturunan muslim Sasak (Islam Waktu Telu) dengan Puri Karangasem. Dalam proses penggarapannya penulis mencoba mengusung teme persatuan dan semangat kebangsaan dengan memanfaatkan potensi lingkungan sekitar. pada tahun 2004. Kebetulan pada saat itu penulis dipercaya oleh wakil Kota Denpasar untuk menggarap meteri tabuh kreasi baru.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI lis melihat fenomena bahwa semboyan Bhineka Tunggal Ika sudah bergerak diluar relnya. 2 buah tamburin dan 10 buah suling. Australia dan Eropa. 155 . MIT. CAL ART. Akibatnya. 4 buah kendang angklung . sebagaimana kekuatan keragaman ekspresi musikal bersatu padu membentuk harmoni kedamaian dan keindahan rasa dalam bingkai struktur komposisi yang saling mengisi satu sama lainnya . Dal hal yang sama juga terjadi dinegara-negara lain seperti Jepang. dan banyak lagi gamelan gong kebyar diluar kampus seperti yang dimiliki oleh Kedutaan maupun Konsulat Indonesia yang ada di Amerika Serikat. Dalam tabuh kreasi Lekesan ini penulis didalam mengekspresikan idenya tetap menggunakan barungan gong kebyar sebagai ansambel pokok yang diwajibkan. Adapun dalam Tabuh Kreasi Lekesan penulis. Beranjak dari situasi seperti itu Penulis melalui konsepsi musikalitasnya ingin menawarkan solusi betapa perbedaan itu akan membentuk suatu kekuatan dan menjadikan hidup ini lebih indah dan bermakna dalam kehidupan. penulis menambahkan barungan gong kebyar dengan 5 buah rebana. dan latar belakang budaya yang luhur mulai terkontaminasi oleh serakahnya kepentingan individu maupun golongan yang sarat dengan muatan politis. Kebyar Dipelajari di Seluruh Dunia Dijalur pendidikan formal keberadan gamelan gong kebyar sudah merambah keberbagai Universitas yang ada diseluruh dunia seperti. agama. Ujung-ujungnya rasa persaudaraan dan tali pengikat persatuan mulai tercabik. ras. namun disana-sini ditambahkan beberapa instrumen perkusi sesuai dengan kebutuhan garapan. Esensinya penulis ingin menorehkan pesan keharmonisan hidup dalam wadah persatuan lewat karya sekaligus kritik terhadap fenomena faktual yang sedang berkembang. serta perjalanannya mulai tanpa arah terseret arus perubahan. Diangkatnya instrumen bernuansa muslim dalam pada tabuh kreasi baru Lekesan tak terlepas dari sebuah upaya untuk mengusung tema diatas. benih yang tertanam mulai rapuh. keragaman suku. 4. UCLA.

yaitu gong kebyar memiliki karakter yang unik dan terbuka. aba-aba datang dari pemain ugal yang tidak ada pada musik dunia lainnya. maka secara tidak langsung kita sudah bermain dengan perasaan dan jika perasaan dibarengi dengan penghayatan disanalah letak jiwa dari lagu yang sedang dimainkan. instrumen ugal dan trompong berfungsi sebagai pemangku melodi. ngotek. instrumen reong dan gangsa berfungsi untuk mengelaborasi kalima lagu melalui teknik pukulan ngubit. dimana pelatih memberikan contoh dari depan dan penabuh mengikuti dan menghafalkan. Satu hal lain yang membuat para musisi barat kagum dengan gong kebyar adalah cara mengajarkan gamelan kepada penabuh yang memakai sistem meniru dan menghafal. Dari hasil pengamatan penulis yang pernah mengajar orang barat baik di Bali maupun diluar negeri. bahwasanya ada beberapa alasan yang menjadi pertimbangan mereka. Keunikan terletak pada tangga nadanya yang berlaras pelog lima nada dengan sistem pelarasan menggunakan sistem ngumbang-ngisep yang tidak dimiliki oleh alat-alat musik lainnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Sebuah pertanyaan sering muncul kenapa orang-orang barat khususnya musisi-musisi dunia demikian tertarik dengan gamelan gong kebyar. Seperti kendang misalnya yang berfungsi sebagai pemangku irama (conductor) dalam dalam musik klasik. sangat dibutuhkan pencip156 . Dengan menghafalkan semua elemen yang membentuk musik tersebut dan berusaha bernyanyi dalam hati sambil bermain. cengceng untuk memperkaya hiasanhiasan lagu dan instrumen suling dan rebeb berfungsi untuk memaniskan lagu. Memiliki colotomic structure dimana masing-masing instrumen yang terdapat dalam barungan gong kebyar masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Adanya teknik pukulan “kebyar” yaitu memukul gamelan secara serentak dengan aksi dramatis tanpa seorang conductor atau dirigen. Tantangan masa depan Untuk menjawab tantangan masa depan. instrumen jublag dan jegogan berfungsi untuk mempertegas ruas-ruas lagu. norot dan oncang-oncangan. instrumen kajar berfungsi intuk memegang mat lagu.

Dance and Drama ini Bali. 2005. Music in Bali. Michael. Kaja and kelod Balinese Dance in Transition. Balinese Dance. Eropa. Miguel. Daftar Pustaka Bandem. I Made and Fredrik deBoer. 1942 Dibia.2000 Zoete. New york: Alfred A. New York : Thomas Yoselof. Berani mengangkat kebyar menjadi musik kontemporer yang serius . Tenzer. 1966. Covarrubias. India dan Jepang yang sudah barang tentu memiliki aliran musik yang berbeda. Karena melodi merupakan kekuatan dasar dalam permainan gamelan Bali. Singapore: Periplus Editions. Chicago and London: The University of Chicago Press. Colin. 1981. I Wayan and Rocina Ballinger.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ta-pencipta yang unggul. 157 . Kuala Lumpur : Oxford University Press. mampu mencipta agar kebyar tidak menjadi musik yang ramai (baroque) tanpa melodi yang jelas. Knopf. Islang of Bali. New Haven and London: Yale University Press. Beryl and Walter Spies. Mc Phee. Perlu adanya keberanian untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan musisimusisi dari dunia lain seperti dari Amerika. Drama and Music. Gamelan Gong kebyar : The Art of Twentieth-Century Balinese Music. 1958.

.

MENGEMAS SENI TRADISI SUMATERA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL 4 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

Lahir di Lubuk Basung. 35 Padangpanjang Sumatera Barat. Etnologi Tari (2006) dan Analisis Tari (2007). M. 160 . Tulisan dan karya ilmiah Prof. Sejak tahun 1987 menjadi staf Pengajar Jurusan Tari STSI Padangpanjang.Hum. Dr. Majalah Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. Kajian Tari dalam Berbagai Segi (2001). Daryusti. 26 RT VIII Kel. Interdependensi Seni Tari dengan Seni Lainnya (1996). Padangpanjang Timur Padangpanjang Sumatera Barat. Fasper ISI Yogyakartadan Majalah Jurnal Penelitian STSI Padangpanjang. Bundo Kanduang No. Estetika Tari (1996). Sistem Penganalisisan dalam Tari (2003). Guguk Malintang Kec. Daryusti juga banyak dipublikasikan di Majalah Berkala Penelitian Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Hegemoni Penghulu Dalam Perspektif Budaya (2006).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. Agam. Abu Hanifah No. 28 Desember 1960. Dr. Ketua STSI Padangpanjang ini menyelesaikan program Doktor pada Program Studi Kajian Budaya Universitas Udayana Denpasar (2006).. Penanggungjawab Pascasarjana STSI Padangpanjang ini telah cukup banyak melakukan penelitian dan membuat karya seni. Peraih Tanda Kehormatan Satyalencana Karya Satya X Tahun (2006) ini pernah merebut penghargaan sebagai Dosen Teladan III ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) (1993) dan Dosen Teladan I STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Padangpanjang (1997). Beberapa Perspektif dalam Tari (2000). Alamat Rumah: Jln. Beberapa buku yang pernah diterbitkan antara lain Fleksibelitas Gerak Dalam Tari (1992). Jurnal IDEA Seni Pertunjukan BP. Alamat Kantor: Jln. Selain itu juga menjadi Pengajar Luar Biasa Akademi Bahasa Asing (AB) Bukittinggi.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Ragam Kemasan Seni Tradisi Sumatera Barat dalam Komunikasi Sosial Rakyat dan Pemerintah Prof. Warisan seni tradisi merupakan modal budaya masyarakat yang terus menerus dipertahankan untuk kepentingan sosial. karena seni mengandung nilai-nilai dan makna di dalamnya. 161 . Dr. Masing-masing kota paling sedikit memiliki 2 kecamatan dan masing-masing kabupaten memiliki paling sedikit 8 kecamatan. Setiap seni tradisi akan dapat berkomunikasi sosial yang sesuai dengan ukuran pendukungnya. M. Daerah Sumatera Barat secara keseluruhan terdiri atas 19 kabupaten dan 7 kota. Dalam hal ini yang menyebabkan perbedaan fungsi tersebut disebabkan adanya faktor agama dan adat setempat.Hum. Ketua STSI Padang Panjang Pendahuluan umatera Barat merupakan daerah administrasi pemerintahan Republik Indonesia. karena setiap orang daya serapnya terhadap seni akan ber- S 1 Nagari adalah gabungan desa-desa yang mempunyai satu kesatuan sosial. Seni tradisi dikembangkan oleh masing-masing masyarakat pendukungnya. Setiap kecamatan terdiri atau kelurahan atau nagari1. Perbedaan tersebut terlihat dalam masyarakat tradisional yang menempatkan kesenian sebagai sesuatu yang memiliki fungsi dan kedudukan yang penting terutama dalam upacara adat. Setiap nagari memiliki seni tradisi. Daryusti. setiap tradisi tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda. Daryusti (2006) mengatakan bahwa setiap nagari di Sumatera Barat mempunyai seni tradisi.

yang sebagian besar berkembang di kalangan masyarakat. lahir di dalam masyarakat dan oleh masyarakat. Dengan masuknya Islam. Kondisi Masa Lalu Secara umum ragam kemasan seni tradisi Sumatera Barat dalam komunikasi rakyat dan pemerintah dapat dibagi dua kelompok. Sebagai contoh di Sumatera 162 . yang mengandung unsur bukan Islam. khususnya pertunjukan tari. Seni yang termasuk kelompok seni rupa adalah terdiri dari seni kriya dan seni artistik. dan seni teater. Masyarakat sebagai pendukung seni tradisi dalam kehidupan seharihari selalu bertemu dengan berbagai gejala kehidupan dari segi keindahan untuk kepuasan batin. seni musik. maka dapat dikatakan bahwa sesungguhnya bentuk seni di Sumatera Barat. Amir M. Maka dari itu. dapat dikatakan bahwa seni hadir dalam kehidupan masyarakat sebagai pendukung merupakan bagian terpenting sesuai dengan kebutuhan hidup. Oleh karena itu. Mansoer dkk. Seni yang termasuk kelompok seni pertunjukan adalah seni tari. Kerjasama tersebut dilakukan dengan komunikasi yang efektif melalui simbol dan kesepakatan antar individu dan kelompok. maka upacara-upacara yang berhubungan dengan seni pertunjukan. baik secara eksplisit maupun implisit orang Minangkabau percaya akan adanya kekuatan gaib. Kepercayaan tersebut memunculkan keanekaragaman bentuk tari di Sumatera Barat. Secara berkelompok masyarakat sebagai pendukung seni tradisi akan bekerjasama untuk melestarikan seni yang berada di lingkungannya. sering dipentaskan. Komunikasi masyarakat atau para pendukung dalam lingkungan seni tradisi yang ada individu dan kelompok akan dihadapkan kepada masalah-masalah yang dalam situasi untuk disepakati. Dengan demikian.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF beda.S (1997) mengatakan bahwa ajaran tentang “spiritismeanimisme” adalah ajaran yang berhubungan dengan pemujaan terhadap roh nenek moyang dan kepercayaan terhadap benda yang mempunyai roh. (1997) menjelaskan bahwa. yaitu seni pertunjukan dan seni rupa. yakni yang berupa mitos. Amir M. karena manusia turut serta menciptakan keberadaan seni tradisi di lingkungannya.S. dalam hal ini seni tari. (1970) menjelaskan bahwa Islam masuk dan berkembang di daerah Sumatera Barat dibawa oleh pedagang-pedagang dari Aceh pada akhir abad ke-16.

maka mitos dapat dikatakan tidak untuk diukur dan dijelaskan dengan ukuran kebenaran rasional manusia. Said (2004) menyatakan bahwa adat adalah aturan-aturan tentang kehidupan manusia yang disepakati penduduk dalam suatu daerah tertentu untuk mengatur tingkah laku anggota masyarakat sebagai kelompok sosial. maka manusia telah menerima adat secara total sebagai sistem kehidupan sosialnya serta percaya bahwa hanya dengan berpedoman pada adatlah ketenteraman 163 . khususnya seni tari. Dalam hal ini diperkenankannya tari ini dipertunjukkan. Oleh karena mitos merupakan kesadaran langsung masyarakat tentang realitas yang dipercaya untuk menangkap dunia realitas dengan kepercayaan yang diyakini. Tari Alang Suntiang Pangulu menurut kepercayaan masyarakat Nagari Padang Laweh merupakan tari yang dipertunjukkan untuk ritual upacara penobatan penghulu oleh kaum atau suku. dan diletakkan di depan penghulu yang akan dinobatkan. Oleh karena itu. Hal ini dapat dilihat pada pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu dalam masyarakat Padang Laweh. atau dengan kata lain seluruh mekanisme kehidupan sosial bagi semua anggota dijiwai oleh adat. Sementara itu. yakni ditentukan oleh berbagai aturan. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Imran dkk. Hal ini dapat dilihat karena adanya sesaji atau jamba sebagai syarat untuk penyajian tari Alang Suntiang Pangulu. tetapi untuk dipahami dan dihayati maknanya serta dipercaya. Kepercayaan terhadap mitos bercampur dengan agama Islam tertuang di dalam bentuk kesenian Sumatera Barat. setiap manusia yang berada dalam lingkaran kehidupan adat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari unit sosial. Dengan demikian. sesaji atau jamba tersebut dibacakan doanya menurut syariat agama Islam. Pertama. Selanjutnya. Syarat tersebut sudah merupakan keyakinan masyarakat Padang Laweh sampai saat ini. Uraian di atas menunjukkan bahwa adat dan agama di Sumatera Barat merupakan satu kesatuan yang saling menunjang dan kait-mengait. sebelum tari Alang Suntiang Pangulu dipertunjukkan salah seorang kemenakan dari penghulu yang akan dinobatkan harus menyediakan sesaji atau jamba yang berisikan siriah langkok (sirih lengkap) dalam carano.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Barat pada masyarakat Padang Laweh mitos didasarkan kepada kepercayaan yang lebih dari fakta. (2002) bahwa pemikiran dalam mitos hanya dapat dibaca melalui pengkajian semiotik terhadap simbol-simbol yang digunakan.

masyarakat Padang Laweh mengakui kekuasaan penghulu terhadap tari Alang Suntiang Pangulu. Sementara itu. adat bagi masyarakat Padang Laweh. Berdasarkan uraian adat dan agama yang terkait dalam pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu. hal ini merupakan pernyataan rasa menghormati dan mencintai penghulu yang dinobatkan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan kebahagiaan bagi setiap anggota masyarakat dapat terjamin. maka adat dan agama dalam pertunjukan tari tersebut pada masyarakat Padang Laweh mengandung ajaran pokok sebagai berikut. Kedua. aturan adat untuk bertingkah laku dalam perbuatan yang sekecil-kecilnya dapat dilihat dari tempat duduknya penghulu yang dinobatkan di rumah gadang (rumah adat) pada saat pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu. Di samping itu. Dalam kekuasaan penghulu terdapat adat yang mengatur pentingnya mewujudkan persatuan masyarakat Padang Laweh dan tentang dapat atau tidaknya tari Alang Suntiang Pangulu dipertunjukkan. Selain itu. di samping telah memegang dan menjunjung tinggi prinsip demokrasi yang disebut musyawarah dan mufakat. Dalam hal bermasyarakat pada umumnya. hal ini juga mengatur tentang prinsip persatuan dan kesatuan untuk mencapai tujuan bersama. Dalam hal ini Al-Quranul Karim sebagai sumber hukum dalam Agama Islam yang diwahyukan Allah melalui Jibril kepada Nabi Muhammad SAW berisi ajaran dan perintah Allah tentang mempelajari alam semesta untuk kepentingan hidup manusia. Pada masyarakat Padang Laweh dapat dilihat. baik secara peribadi maupun secara mufakat. Koentjaraningrat (1984) mengatakan bahwa agama erat hubungannya dengan upacara-upacara religius dan menentukan tata alur unsur-unsur acara serta rangkaian alatalat yang dipakai dalam upacara itu. 164 . Perihal untuk kepentingan hidup manusia. baik secara peribadi maupun pada cara bermusyawarah saat tari Alang Suntiang Pangulu dipertunjukkan untuk penghulu yang dinobatkan dan didudukkan di antara penghulu lain. Penghulu yang dinobatkan duduk diapit penghulu lain. Penghulu yang dinobatkan diapit kiri kanan oleh penghulu lainnya. seperti mengatur besarnya kekuasaan penghulu terhadap tari Alang Suntiang Pangulu dalam masyarakat Padang Laweh. yakni untuk mengatur kehidupan manusia dari hal yang sekecil-kecilnya sampai kepada masalah yang lebih luas dan besar. adat yang mengatur pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu tentang hal yang lebih besar dan lebih luas.

yaitu antara penghulu dengan kemenakannya. Penari yang berjumlah genap tersebut sudah mentradisi dalam masyarakat Padang Laweh. Tari ini biasanya dibawakan oleh dua orang. Ketiga. dikenakan denda seekor ayam singgang (daging ayam yang digulai dan dimasak hingga kental kuahnya). hubungan adat dan agama lebih lanjut dalam masyarakat Padang Laweh digambarkan dengan simbol kelengkapan berdirinya sebuah nagari. 5) Selanjutnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 1) Aturan yang mengatur tentang hubungan manusia dengan Tuhan-Nya. maka tari Alang Suntiang Pangulu di Padang Laweh Sumatera Barat memiliki hubungan yang erat dengan agama Islam. pemilihan penari laki-laki dilandasi oleh pandangan perihal tabu bagi wanita untuk menari di depan umum. Apabila ada yang melintasi penari atau melanggar ketentuan ini. para penari tari Alang Suntiang Pangulu menari di atas tikar yang dibentangkan dalam rumah gadang (rumah adat). adat basandi syarak. yaitu adanya agama. syarak basandi kitabullah. Balai adat adalah lembaga kebudayaan tempat penghulu nagari mengadakan rapat atau musyawarah sesama penghulu dan masyarakat Padang Laweh. Para penari tidak diperbolehkan keluar dari tikar selama menari dan tidak dibenarkan atau dilarang untuk melintasi arena pertunjukan. 3) Aturan yang mengatur tentang membina persatuan dalam masyarakat Padang Laweh. Di samping itu. agama bersendikan kitab (Al Quran)’. artinya ‘adat bersendikan agama. 2) Aturan yang mengatur tentang hubungan antarsesama manusia. 4) Aturan tentang memegang teguh prinsip musyawarah dan mufakat antara sesama penghulu. Tidak lengkap dan sempurna suatu nagari apabila salah satu dari dua institusi yaitu balai adat dan masjid tidak ada. Perpaduan antara keduanya kemudian melahirkan suatu pepatah Minangkabau yang berbunyi. Dengan demikian. tari Alang 165 . Masjid merupakan lembaga agama tempat sholat dan musyawarah penghulu dengan masyarakat Padang Laweh. empat orang. atau pun enam orang laki-laki secara berpasangan. Simbol nagari adalah balai adat dan masjid. Di samping itu.

gandang (gendang). seandainya ada di antara penari yang mengajarkan tari ini pada penari di luar Nagari Padang Laweh. dan Tara Jali Sutan Majo Kayo secara adat (pada 1970) karena mengajarkan tari Alang Suntiang Pangulu di ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) Padangpanjang dalam rangka pertunjukan di Jakarta Fair. Daryusti (2006) komunikasi akan berhubungan dengan manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia lainnya. Selanjutnya. yakni pengangkatan angku tersebut sama dengan pengangkatan penghulu yang baru diangkat). Alat musik yang dipergunakan untuk mengiringi tari Alang Suntiang Pangulu adalah adok. tari ini diiringi dengan tepukan tangan dan dendang (vokal). Interaksi terlihat pada cara-cara berhubungan. Dengan interaksi akan muncul proses sosial yang diartikan sebagai pengaruh timbal-balik antara pelbagai segi kehidupan bersama. tari ini dapat dibawakan oleh masyarakat dalam lingkungan Nagari Padang Laweh. Kebutuhan akan terpenuhi melalui pertukaran peran dan pikiran yang dapat berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia. Interaksi yang efektif sangat tergantung dari komunikasi antarindividu. Pada umumnya setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang lain. Wih Sutan Maralauik. komunikasi akan tercapai atau sukses apabila bentuk-bentuk hubungan komunikasi menggambarkan upaya yang sadar dari kelompok yang berkomunikasi dengan tujuan mencapai kebutuhan untuk bersatu. tanpa seizin para penghulu dan angku.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Suntiang Pangulu dibawakan dengan iringan musik. Hal ini tampak ketika orang perorang dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut. maka pengajar tari tersebut diusir dan dikucilkan dari nagarinya. Selain itu. Hal ini akan memperlihatkan keharmonisan sosial dalam masyarakat. Seandainya ada penari di luar Nagari Padang Laweh yang berkeinginan untuk mempelajari tari Alang Suntiang Pangulu. Dengan kata lain. Bahkan. 166 . orang yang tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain akan terisolasi. faktor sejarah menunjukkan bahwa penghulu pernah mengusir atau mengeluarkan Inun Pakiah Bungsu. Dalam hal ini. tidak dibolehkan oleh para penghulu dan angku atau rang mudo (gelar yang diberikan kepada seseorang untuk bertukar pikiran dengan para penghulu. Mengusir pengajar tari tersebut merupakan salah satu bentuk kekuasaan penghulu. Keempat. dan talempong pacik.

Dengan kata lain. dan lain-lain yang tidak memerlukan sentuhan secara fisik. Hal 167 . dan masyarakat. kontak tidak berarti hubungan badaniah. sedangkan secara fisik. yaitu adanya kontak sosial dan komunikasi. pemusik. yakni di satu pihak. Di samping itu. Dalam hal ini individu dan kelompok akan dihadapkan kepada masalah-masalah yang ada dalam suatu situasi karena suatu pesan harus disepakati dalam masyarakat. Davis (1960) mengatakan bahwa hubungan badaniah tidak perlu menjadi syarat utama terjadinya kontak. seperti berbicara dengan pihak lain. surat. a.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Komunikasi terjadi jika ada unsur pesan dan penerima pesan. dan masyarakat terkait dengan larangan mengajarkan tari Alang Suntiang Pangulu di luar Nagari Padang Laweh. dan masyarakat yang mengajarkan tari ini di luar Nagari Padang Laweh akan diusir secara adat. Kontak sosial pada penghulu dengan masyarakat dan penari akan dapat berlangsung dalam dua bentuk. memberikan instruksi kepada masyarakat. Orang dapat mengadakan hubungan dengan pihak lain tanpa menyentuhnya. orang-orang dapat berhubungan satu dengan yang lainnya melalui telepon. mereka telah mengetahui dan sadar akan kedudukannya masing-masing. b. Angku adalah tempat penghulu berkonsultasi tentang kemajuan dan kejadiankejadian yang ditemui oleh penari. pemusik. dan pemusik. integrasi dapat mempengaruhi orang yang berkomunikasi. penari. Secara harfiah. Interaksi penghulu dengan kaum atau masyarakat mempunyai beberapa unsur pokok yang terkait dalam kehidupan masyarakatnya. dalam hal ini penghulu dan angku. sesuai dengan perkembangan teknologi dewasa ini. Kontak sosial antara penghulu dengan penari. Apabila ada penari. telegrap. kontak baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniah. pemusik. seperti uraian berikut ini. Sebagai gejala sosial. kontak sosial adalah bersama-sama menyentuh. Hal ini berarti bahwa masing-masing pihak siap untuk mengadakan interaksi sosial. radio. Dalam hal ini kontak diperlukan antara penghulu dengan angku atau rang mudo atau sesepuh tari Alang Suntiang Pangulu dengan penari dan masyarakat. Di samping itu. Sumatera Barat. Kontak sosial antara penghulu dengan angku. Soekanto (1993) mengatakan bahwa suatu interaksi tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat.

Desmawardi (2007) Musik Dikie sangat populer dikalangan yang menamakan dirinya ”kaum kuno” di Sumatera Barat terutama dalam kabupaten Padang Pariaman. sehingga timbullah kesenian yang bernuansa Islam. pemujaan.. mereka bernyanyi dalam bentuk bersahut-sahutan dan pada bagian-bagian tertentu berbentuk koor. walaupun telah dinikmati berkali-kali. kepercayaan. puas. Teks-teks nyanyian bersumber dari kitab Maulud Sariful Anam berbahasa Arab. yang diyakini sebagai pembawa ajaran Islam dimuka bumi ini. mereka terpaku. Sehingga Musik Dikie merupakan nyanyian malam ”kaum kuno”. Akibat dari perasaan itu sangat kuat. Dalam pengembangan Islam di Sumatera Barat sering dimulai dari seni musik dan pada akhirnya menjadi musik tradisional Sumatera Barat yang bernuansa Islam. dan manyanjung nabi Muhammad SAW. Syair-syair Dikie yang disajikan tersebut secara umum tidak dimengerti artinya (bahasa Indonesianya) baik sang si-seniman maupun si-pendengar.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ini berkaitan dengan rasa takut. teks-teks tersebut bertemakan tentang pemujaan terhadap Allah SWT. terlebih dahulu mereka berdoa yang dipimpin oleh seorang Ungku memohon kepada sang pencipta mengharapkan keridhaanNya. serta keinginan untuk mengalami kembali perasaan itu. Mereka hanya meyakini bahwa yang didendangkan itu adalah hal yang baik dipandang secara ajaran Islam dan melodi yang dimainkan menyentuh jiwanya. Pergeseran nilai menjadi hiburan dan kontemplasi terhadap sang pencipta akan menambah perbendaharaan seni pertunjukan Sumatera Barat Musik Dikie yang berkembang pada yang berkembang pada masyarakat ”kaum kuno” ini disajikan dalam bahasa Arab tanpa memakai alat musik. terharu. rasa cinta. rasa aman dan nyaman. Dalam 2 Ungku adalah ulama dari kaum kuno atau ustaz 168 . dan kekuasaan tradisional. Pada mulanya Musik Dikie merupakan salah satu media untuk mengumpulkan segenap orang agar dapat mendengarkan syair-syair Arab yang bertemakan pemujaan kepada sang pencipta serta sanjungan terhadap nabi Muhammad SAW. sehingga menimbulkan rasa senang.. Pertunjukan Musik Dikie umumnya ditampilkan pada malam hari sesudah shalat Isya sampai menjelang masuk waktu Subuh. bahagia. Sebelum penyajian Musik Dikie. dan kisah-kisah para nabi Allah terutama nabi Muhammad SAW. dan setelah mereka terkumpul maka sang Ungku2 akan memberikan pelajaran-pelajaran tentang ajaran Islam.. terpesona.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI penyajian Dikie mereka selalu menekankan keharmonisan dalam kebersamaan. Para penonton akan datang dan pulang sesuai dengan kehendaknya sendiri-sendiri. Menurut pengakuan para tukang Dikie apabila mereka telah mencapai klimaks dalam pertunjukannya. maka mereka akan menangis atau intren. Kue-kue tersebut dihiasi sangat indah sesuai dengan nilai seni yang dimiliki kaum ibu. Musik Dikie hanya dimainkan oleh para lelaki. membuat suasana semakin melankolis dan konsentrasi pemain semakin tinggi. Semakin larut malam penyajian Dikie. Penyajian Musik Dikie tidak menuntut banyak penonton atau tidak menentukan siapa penontonnya. mereka tidak diharuskan memakai pakaian tertentu. Seni tradisi bukan merupakan hasil kreativitas individu-individu. sehingga upacara maulud terkesan sangat mewah. Pertunjukan Musik Dikie di kalangan ”kaum kuno” biasa disajikan pada saat adanya peristiwa maulud nabi. Walau Musik Dikie dapat dimainkan secara individu dan dapat diiringi dengan alat musik. seperti orang menonton pertunjukan musik Jaz yang harus berpakaian rapi dan kapan perlu memakai dasi. bahkan tak jarang terjadi mereka menangis bahkan ada yang sampai intren tak sadarkan diri. berbagai jenis kue dan segala macam jenis buah yang musim saat itu. Bila diperhatikan pada waktu penyajian Dikie dalam Maulud nabi. dan peringatan hari-hari besar 169 . begitu juga halnya dengan buah-buahan ditata dengan rapi. Penonton Musik Dikie bebas saja mau duduk atau berdiri. maka para ibu-ibu harus menyiapkan hidangan yang sangat mewah seperti nasi jamba. semua terserah penonton. karena saat itu seolah-olah mereka melihat segala kebesaran Ilahi. Dalam perjalanannya. tetapi tercipta secara anonim bersama dengan sifat kreativitas masyarakat yang menunjangnya. Musik Dikie merupakan pencerminan dari suatu kultur yang berkembang dari masyarakat kecil yang saling mengenal secara akrab dan komunikatif. namun para penyaji musik dikalangan ”kaum kuno” ini tidak membiasakan penampilannya secara individu. bahkan tak pernah mereka lakukan hal ini menggambarkan sifat kegotong royongan yang sangat kental antara sesama pemusik (seniman Dikie). mau ngobrol atau memang benar-benar memperhatikan apa yang dibaca dan dinyanyikan tukang Dikie. dan keterlibatan kaum wanita hanya sebatas menyiapkan hidangan dengan berbagai bentuk dan jenis makanan sesuai dengan konteks penyajian waktu itu.

penyampaian ajaran-ajaran tersebut dalam bentuk dialog dan akting pada penampilan randai dekat dengan pengertian dakwah dalam Islam.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Islam lainnya kemudian peringatan 7 hari. dan ravan-li-da’i. helat perkawinan. Apabila diperhatikan penggarapan randai yang berbentuk teater. Cerita yang disajikan dalam randai pada awalnya mengutamakan cerita yang berisi tentang pejaran-pelajaran adat istiadat Sumatera Barat yang bermanfaat untuk publik. helat batagak penghulu. Akan tetapi sebagai kesenian tradisional rakyat. Kehadiran randai dalam upacara-upacara itu hanya sebagai pelengkap dan penyemarak. dan galombang atao gerakan-gerakan tari bersumber pada gerakan-gerakan pencak silat tradisional Sumatera Barat yang dilakukan dalam formasi melingkar oleh pemain. randai jelas dapat mempertebal rasa ketradisian dan karakyatan terhadap upacara-upacara tradisional. Sebagai kesenian tradisional. dialog dan akting. dan helat. maampek puluah. dan manyaratuih). waktu pesta penen. Seni Arsitektur Pada Masa Lalu Rumah gadang (besar) Sumatera Barat dibangun di atas tiang. cerita. randai hidup dalam kehidupan rakyat. rantai. rumah 170 . maka ada benarnya jika randai dikatakan berasal dari andai atau handai. dimainkan oleh rakyat untuk rakyat itu sendiri. 40 hari bahkan 100 hari seseorang setelah meninggal dunia yang biasa disebut mando’a. Gerakan-gerakan galombang yang dilakukan oleh para pemain randai dalam formasi melingkar dapat diinterprestasikan berbentuk lingkaran seperti rantai. Dengan arti kata.pemainnya. dendang yang disebut gurindam.helat lainnya. randai hidup bersama tradisi-tradisi yang berlaku dalam masyarakatnya. (manujuah hari. Zulkifli (1993) randai sebagai teater rakyat. tanpa randai upacara-upacara tersebut masih bisa tetap dilaksanakan. karena pada kesenian tersebut terdapat unsur-unsur penceritaan yang bersifat kiasan atau pengandaian yang disampaikan oleh para pemain dalam bentuk dialog dan akting. manduo kali tujuah. Ia hadir atau ditampilkan dalam upacara-upacara tradisional. padanya terdapat unsur-unsur pokok yaitu. Seni Teater Pada Masa Lampau Randai suatu bentuk teater rakyat tradisional Sumatera Barat. 2 x 7.

Pada dasarnya ukiran itu merupakan ragam hias pengisi bidang dalam bentuk garis melingkar atau persegi. Jika dilihat dari sebelah sisi bangunan. maka segi empat yang membesar ke atas ditutup. arsitektur rumah gadang dibangun menurut syarat-syarat estetika dan fungsi yang sesuai dengan kodrat atau yang mengandung nilai-nilai kesatuan. sifat ukiran nonfiguratif. Motifnya tumbuhan merambat yang disebut akar yang berdaun. Atapnya yang lancip merupakan arsitektur yang khas serta membedakannya dengan bangunan suku bangsa lain di edaran garis khatulistiwa. menyelaraskan kehidupannya pada susunan alam yang harmonis tetapi juga dinamis. yang disebut bakarano bakajadian (bersebab dan berakibat). Ajaran falsafah Sumatera Barat yang bersumber dari alam terkembang. tidak melukiskan lambang-lambang atau simbol-simbol. Bentuk dasar rumah gadang berbentuk segi empat yang tidak simetris yang mengembang ke atas. kelarasan. berbunga. Papan dinding dipasang vertikal. sehingga seluruh dinding menjadi penuh ukiran. keseimbangan. berhimpitan. Akar berjajaran. Lengkung pada atapnya tajam seperti garis tanduk kerbau. Pada pintu dan jendela serta pada setiap persambungan papan pada paran dan bendul terdapat papan bingkai yang lurus. Garis segi empat yang membesar ke atas dikombinasikan dengan garis yang melengkung rendah di bagian tengah secara estetika merupakan komposisi yang dinamis.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI gadang mempunyai kolong yang tinggi. Ada kalanya tiang yang tegak di tengah diberi juga sebaris ukiran pada pinggangnya. sehingga kehidupannya menganut teori dialektis. yang menimbulkan berbagai pertentangan dan keseimbangan. Navis (1986) semua dinding rumah gadang dari papan. terkecuali dinding bagian belakang yang dari bambu. Arsitektur Sumatera Barat sebagai suku bangsa menganut falsafah alam terkembang jadi guru. Garis melintangnya melengkung secara tajam dan juga landai dengan bagian tengahnya lebih rendah. semuanya membentuk suatu keseimbangan estetika yang sesuai dengan ajaran hidup. sedangkan lengkung badan rumah landai seperti badan kapal. dan berbuah. Semua papan yang menjadi dinding dan menjadi bingkai diberi ukiran. ber171 . Jika dilihat secara keseluruhan. Pola akar itu berbentuk lingkaran. dan kesetangkupan dalam keutuhannya yang merupakan satu kesatuan.

Simbol potongan gelamai ini mengingatkan terhadap makanan khas dari Payakumbuh Sumatera Barat Seni Kriya Pada Masa Lampau. Lingkaran yang bertingkat dinamakan salompek (selompat). 6. Nama pucuk rebung diambil karena pucuk rebung memang runcing seperti segitiga maknanya adalah ajaran tentang orang yang berguna. Cabang atau ranting akar itu berkeluk ke luar. dan buah.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF jalinan. karena bentuknya merambat. 1. maka masing-masing diberi nama. Nama ukiran geometri bersegi tiga pada umumnya disebut dengan pucuk rebung. Lingkaran yang berkaitan dinamakan saluak (seluk) karena bentuknya yang berseluk atau berhubungan satu sama lain. Lingkaran yang sambung-bersambung dinamakan aka (akar). salah satunya cara adalah dengan mengolah bahan lidi dengan menggunakan 172 . Seluruh bidang diisi dengan daun. Akar itu bervariasi banyak. Lingkaran yang berjajar dinamakan ular gerang karena lingkaran itu menimbulkan asosiasi pada bentuk ular yang sedang melingkar. Yuli (2008) Kelurahan Jalan Baru Pariaman memiliki masyarakat yang sangat kreatif dan inovatif memanfaatkan dan meningkatkan limbah lidi sebagai barang yang berfungsi serta bernilai tinggi. 3. 2. 4. Lingkaran bercabang atau beranting yang terputus dinamakan kaluak (keluk). Ukuran atau bentuk tingkatan lingkaran itu sama atau tidak sama. Lingkaran yang berjalin dinamakan jalo (jala) atau tangguak (tangguk) atau jarek (jerat) karena mernyerupai jalinan benang pada alat penangkap hewan. dan juga sambung menyambung. Pada dasarnya nama yang diberikan ialah sebagai berikut. ke atas. Ukiran segi empat genjang dinamakan sayat gelamai karena bentuknya seperti potongan gelamai yang disayat genjang. Pemeberian nama itu tergantung garis yang dominan pada ukiran. Akar ganda yang paralel dinamakan kambang (kembang = mekar). 5. bunga. Ada keluk yang searah di samping ada yang berlawanan. ke dalam. dan ke bawah.

terbukti baru beberapa bulan berjalan. Lahirnya ide dalam membuat anyaman lidi merupakan satu anugrah yang sangat besar yang diilhamkan kepada Syafruddin oleh Allah SWT dan dibantu oleh doa dan restu anggota keluarga. baik di dalam maupun di luar wilayah Pariaman. 173 . usaha ini berjalan dan berkembang dengan pesatnya. Piring Piring yang dimaksud disini bukanlah bentuk piring yang sebenarnya seperti piring porselen yang biasa di temukan dalam kehidupan sehari-hari di meja makan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI teknik anyaman sehingga menghasilkan benda-benda bernilai guna dalam kehidupan sehari-hari denagn berbagai bentuk yang unik dan menarik. kriya anyaman lidi milik Syafrudin sudah mendapat tempat di hati masyarakat. Dengan semangat dan dukungan dari teman-teman seprofesi. akan tetapi piring anyaman ini bentuknya miring layah menyerupai piring makan namun tidak bisa difungsikan seperti piring makan biasa. sehingga usaha keluarga tersebut diberi nama “Usaha Anyaman Lidi Ilham”. dimana benda tersebut digunakan sebagai wadah tempat buah pada meja tamu di setiap acara pesta. a. seperti yang pernah dilakukan oleh sebagian penjual nasi sek (nasi tanpa lauk pauk dibungkas dengan daun sebanyak satu kepal) dipinggir pantai Pariaman dan sebagian penjual pecel lele Wong Solo baik yang ada di kota Pariaman maupun Wong Solo yang ada di kota Padang dan sebagian daerah yang ada di pulau Jawa. Benda anyaman lidi yang permukaannya berbentuk lingkaran. akan tetapi piring yang dimaksud digunakan sebagai alas (tadah) ketika kita akan makan nasi bungkus. dan carano. tudung saji. Karena anyaman berbentuk piring ini pernah dipesan oleh Yosa Katering dari Padang. ini dapat dilihat dalam beberapa jenis produk antara lain piring. dan 3 cm untuk tinggi badan. Piring-piring ini memiliki ukuran diameter 11 cm untuk alas dan 20 cm untuk badan sedangkan tinggi piring 2 cm untuk kaki. Ada juga piring ini difungsikan sebagai tempat buah tergantung bagaimana si konsumen menempatkannya. Kemunculan anyaman lidi ini juga dilatar belakangi oleh tuntutan profesi dan tanggung jawab moril Syafruddin sebagai salah satu staf dinas perindustrian kota Pariaman.

sadah.5 cm. Carano terbuat dari logam atau pun kuningan dengan permukaan sebelah atas (mulutnya) bulat seperti piring dengan diameter ± 33. dan tembakau. Dalam hal ini carano (cerana) yang digunakan untuk pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu dapat dikatakan sebagai penanda. Tuduang aia berguna sebagai penutup makanan dalam talam atau dulang tinggi. namun kali ini Syafrudin mencoba membuat carano dari anyaman lidi dengan pertimbangan karena keadaan krisis ekonomi semua bahan harganya sudah pasti naik. pisang. Tudung saji Tudung saji ini digunakan untuk menutup makanan di atas meja makan. Dalam pada itu. Dalam kehidupan sehari-hari carano di Minangkabau. yang disuguhkan pada setiap acara adat. Tudung saji dibuat dengan ukuran berdiameter 40 cm dan tinggi 25 cm. Penghubung antara permukaan dengan alas carano (leher cerana) 174 . c.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF b. memiliki leher agak panjang dan alasnya berbentuk bulat dengan diameter ± 30 cm. karena carano dari anyaman lidi harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan carano dari bahan logam atau kuningan. pinang. Carano (cerana). Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990) istilah tudung berarti sesuatu yang diapakai untuk menutup atau melingkupi bagian sebelah atas. gambir. yang digunakan sebagai tempat sirih dan perlengkapannya. masyarakat Padang Magek Sumatera Barat menyebut tudung atau penutup bagian atas dengan tuduang aia. sadah. dan tembakau yang ditutup dengan dalamak untuk pertunjukan tari Alang Sentiang Pangulu. Sumatera Barat dikenal sebagai tempat daun sirih. hal ini berimbasan pada harga jual carano yang terbuat dari logam. Carano Carano mepunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat. atau lebih kecil dari permukaan sebelah atas carano. Tudung saji pada umumnya terbuat dari bahan plastik dan anyaman rotan. Dengan adanya carano dari bahan lidi dapat membantu meringankan beban masyarakat untuk memiliki carano. Carano ini biasanya dibuat dari bahan logam atau kuningan. hal itu sudah menjamur dipasaran. Tapi kali ini tudung saji dibuat dari bahan lidi. berisikan sesaji daun sirih.

di Bali carano hampir sama dengan istilah pengasapan yang digunakan untuk membakar dupa atau bubuk cendana oleh pedanda. bentuk carano hampir sama dengan kecohan (tempat meludah).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dapat dipegang dengan tangan. Kondisi Masa Sekarang Komunikasi sosial seni tradisi dengan pemerintah dapat dilihat pada saat fungsi tari Alang Suntiang Pangulu adalah untuk menyambut tamu agung yang datang ke Nagari Padang Laweh. tari Alang Suntiang Pangulu pertama kali disajikan untuk ritual adat dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (1981) di Gedung Triarga Bukittinggi. pesta pernikahan. Sementara itu. Kehadiran Musik Dikie saat ini juga berfungsi sebagai alat komunikasi antara rakyat dan pemerintah. yakni panitia pelaksananya diketuai oleh Jarmias Kasi Kebudayaan Kota Madya Bukittinggi. Dalam hal ini untuk memproduksi tari Alang Suntiang Pangulu sebagai ritual khitanan. Pada malam penampilan Musik Dikie. dan khitanan. Pantun itu seperti: Batang aua paantak sawah Pangkanyo sarang sipasin Pado bapak diadokan sambah Indak madok ka nan lain Ligundi di sawah landai Sariak indak babungo lado Karano jalan kami tabangkalai 175 . Pada umumnya ongkos produksi (production cost) dibebankan kepada panitia kegiatan. Biasanya carano yang telah diisi lengkap ditutup dengan dalamak. pesta perkawinan.pada acara-acara di nagari masyarakat Padang Laweh dan di sekolah-sekolah sekitar nagari tersebut. Sebagai contoh. dan penyambutan tamu agung diperlukan ongkos produksi (production cost). Dalam pada itu. diundanglah unsur-unsur pemerintah untuk menyaksikan penampilan Musik Dikie tersebut. Diwaktu penampilan Musik Dikie ini disampaikanlah apa yang dimaksudkan oleh masyarakat kepada unsur pemerintah ini melalui pantun-pantun atau dendang Dikie tersebut. tari Alang Suntiang Pangulu pada saat sekarang telah dapat disajikan sebagai sajian estetis. Dalam adat Jawa.

Seni anyaman lidi yang diproduksi dalam berbagai bentuk. Salah satunya dapat lihat dari usaha Dt Bandaro Putiah salah seorang pemuka adat di Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam yang menggunakan randai Cindua Mato sebagaimedia penyuluhan pendidikan pada masyarakat sekitarnya. juga sudah makin dikembangkan. K3. Pada zaman dahulu yang dibuat dalam bentuk piring atau yang disebut senggan. sekarang dipakai dalam bangunan kantor-kantor dengan memakai ciri atapnya yang berbentuk tanduk kerbau serta ada dinding atau palang atapnya dipakai dengan ukiran khas tradisi. pertanian. Carano juga sekarang sudah diproduksi dengan berbagai ben176 . Carano yang dikembangkan saat ini juga dikembangkan bentuk dan penggunaannya. Hal ini akan menampakkan ciri khas bangunan adat Sumatera Barat itu sendiri. pada masa sekarang makin dikembangkan dan makin dipromosikan untuk memajukan industri kecil rumah tangga. Jika ada tamu-tamu resmi yang datang disuguhi dengan sirih di carano yang dalam perjalanannya sirih dapat diganti dengan permen. pada saat sekarang dikembangkan dalam bentuk wadah-wadah seperti keranjang bunga atau keranjang buah. Arsitektur tradisi Minangkabau khususnya bangunan rumah gadang. Sekarang tudung saji dikembangkan dengan membuat hiasanhiasan dinding atau penutup makanan dengan berbagai variasi sehingga dapat berbentuk cendra mata yang cantik. Sedangkan anyaman dengan bentuk tudung saji yang biasa dipakai untuk penutup makanan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Bantulah apo ala kadarnyo (Batang aur penahan sawah Pangkalnya sarang si pasin Kepada bapak terhadap sembah Tidak menghadap pada yang lain Ligundi di sawah landai Sariak tidak berbunga lada Karena jalan kami belum siap Bantulah kami ada adanya) Keikutsertaan pemerintah Sumatera Barat membina dan mengembangkan kesenian randai mengakibatkan munculnya cerita randai yang berisikan pesan-pesan pembangunan seperti masalah KB. dan juga cerita yang mengandung nilai-nilai pendidikan Pancasila.

Di samping itu pemerintah daerah sangat diharapkan peran sertanya untuk pengembangan seni tradisi dimasa datang. Sementara itu dalam seni rupa terutama dalam arsitektur dan seni kriya dapat dilihat dalam arsitek bangunan rumah gadang atau rumah adat Sumatera Barat yang saat ini digunakan pada bangunan-banguan kantor atau gedung-gedung pertemuan di Sumatera Barat. Kemungkinan Pengembangan di Masa Yang Akan Datang Seni tradisi di Sumatera Barat seperti seni pertunjukan dan seni rupa hendaknya menyebar dari satu tempat ke tempat lain seiring dengan persebaran masyarakat pendukungnya yang juga tidak selalu menetap di daerahnya. Namun demikian ada juga yang dipertunjukan sebagai penyemarak dalam upacara adat seperti randai. Penutup Ragam kemasan seni tradisi Sumatera Barat dalam komunikasi sosial rakyat dan pemerintah dapat dibagi dua kelompok yaitu seni pertunjukan dan seni rupa.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI tuk yang dapat dijadikan sebagai cendramata sebagai ciri khas daerah Sumatera Barat. serta selalu menggali seni tradisi tersebut. karena sudah banyak juga para pelaku seni tersebut yang merantau ke daerah lain untuk mencari kehidupan yang sesuai menurut mereka. Sudah barang tentu penyebaran seni tersebut akan berkembang pemetaannya. Upaya pembinaan seni dapat dilakukan dimana saja para pelaku seni tersebut berada. karena seni tradisi tersebut adanya di kantongkantong setiap nagari yang ada di Sumatera Barat. Terutama dibidang pembinaan dan pendanaan pada seni pertunjukan. Dalam pada 177 . Seni pertunjukan pada umumnya di Sumatera Barat dapat dikatakan seni yang dipertunjukan untuk upacara ritual tertentu dalam kehidupan masyarakat. Pada seni rupa juga diperlukan peningkatan dan komitmen dalam aplikasi banguanan dan pengembangan industri-industri kecil dengan pemberian kredit-kredit untuk pengembangan industri tersebut sebagai modal. Dengan melihat pernyebaran masyarakat sebagai pendukung seni pertunjukan dan seni rupa sudah barang tentu kontak-kontak dengan masyarakat lain akan dialami. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan frekwensi festival-festival atau keramaiankeramaian tentang seni.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

itu seni kriya dapat ditemui dalam karajinan-krajinan rakyat yang pada saat sekarang banyak dikembang dalam industri-industri kecil dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat sehingga dapat menambah sumber penghasilan masyarakat pengrajin.
Daftar Pustaka Daryusti. 2006. Hegemoni Penghulu Dalam Perspektif Budaya. Yogyakarta : Pustaka. Davis, Kingsley. 1960. Human Society. New York: The macmillan Company. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Desmawardi. 2007. ”Musik Dikie : Antara Tradisi dan Nilai-Nilai Religius dalam Realitas Masyarakat ”Kaum Kuno di Nagari Ajo laweh Sumatera Barat”, Jurnal Ekepresi Seni STSI Padangpanjang, volume 9,No.2. Imran, Amran., Idris, Asmaniar., Johan, Bahder., Nan Sabatang, Dt. Perpati., Hodgson, Geoffrei A., Hamka., Sumatera Barat, LKAAM., Mansoer, M.D., Hatta, Mohammad., Gani, Rizanur., Soekmono., dan RPSDM, Tim. 2002. Menelusuri Sejarah Minangkabau. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia dengan LKAAM Sumatera Barat. Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka. ______________. 1990. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: Universitas Indonesia Jakarta Press. M.S, Amir. 1977. Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang. Jakarta: Mutiara Sumber Widya. Mansoer , MD., Imran, Amrin, Sofwan, Mardanas, Idris, Asmaniar, Buchari, Sidi I. 1970. Sejarah Minangkabau. Jakarta: Bharata. Navis, A.A. 1986. Alam Terkembang jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta : Pustaka Grafitipers. Said, A. A. 2004. Simbolisme Unsur Visual Rumah Tradisional Toraja dan Perubahan Aplikasinya pada Desain Modern. Yogyakarta: Ombak. Yuli Marni. 2008. “Deskripsi Kriya Anyaman Lidi di Kelurahan Jalan baru Pariaman Tengah”, dalam Daryusti, ed. Seni Budaya Berkelanjutan Dalam Kehidupan Masyarakat, STSI Padangpanjang Pers. Zulkifli. 1993. “Randai Sebagai Teater Rakyat Minangkabau di Sumatera Barat: Dalam Dimensi Sosial Budaya”. Tesis. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

178

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

179

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

SULAIMAN JUNED Lahir di Gampong (desa) kecil Usi Dayah Kecamatan Mutiara Kab. Pidie, Nangroe Aceh Darussalam, 12 Mei 1965. Kini memiliki istri dan seorang putra laki-laki. Menetap di Padangpanjang, menekuni pekerjaan sebagai Seniman, dosen tetap Jurusan Seni Teater di ISI Padangpanjang Sumatera Barat, Dosen Ahli di FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia Daerah di Univ. Muhammadiyah Sumatera Barat, Guru teater di SMA Negeri 1 Sawahlunto Sumatera Barat, Guru teater di SMA Negeri 1 Padangpanjang Sumatera Barat, Guru Kesenian serta Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Sore Padangpanjang. Mulai menulis sejak tahun 80-an, ketika masih belajar di SLTP. Karya puisi, cerpen, esai, drama, reportase budaya, artikel, kolom di muat di media seperti; Serambi Indonesia, Kiprah, Aceh Post, Aceh Ekspres, Srambi Mekkah Post (ACEH). Analisa, Dunia Wanita, Waspada (MEDAN). Singgalang, Haluan, Mimbar Minang, Padang Ekspres, Postmetro, Jurnal Palanta, (SUMATERA BARAT). Riau Post, Metroexpres (RIAU). Indefendent (JAMBI). Lampung Post (LAMPUNG). Kedaulatan Rakyat, Majalah Seni Gong (YOGYAKARTA). Solo Pos dan Jawa Pos (JAWA TENGAH). Bali Post (BALI). Suara Karya Minggu, Republika, Media Indonesia, Kompas, Koran Tempo, Majalah Sastra Horison (JAKARTA). Majalah Bahasa dan Sastera (MALASYIA dan BRUNEI DARUSSALAM). Jurnal Aswara (MALASYIA). Antologi puisi tunggal berjudul ‘Riwayat’ mendapat Juara III dalam Lomba Penulisan buku pengayaan sastra tingkat nasional pada Pusat Perbukuan Dinas Pendidikan Nasional (2007). Lelaki berkumis ini menyelesaikan studi S-1 di jurusan seni teater STSI Padangpanjang dengan yudisium Cumlaude, juga menyelesai Program Pascasarjana di Institut Seni Indonesia Surakarta dengan yudisium Cumlaude. Sering mengikuti seminar sastra, teater dan jurnalistik. Ia juga sering terlibat dalam dunia musik, sebagai pemusik dan pembaca puisi. Juga sebagai dramatug pertunjukan teater. Soel juga aktif dalam organisasi seni dan pers serta dipercayakan sebagai Dewan Penasehat Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Cabang Padangpanjang (2010-2015). Editor Novel “Cinta di Kota Serambi Karya Irzen Hawer diterbitkan Kuflet Publishing, Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, Sumatera barat (Maret 2010). Soel sangat aktif dalam dunia teater, baik ketika masih di Aceh maupun kini bermukim di Padangpanjang, ia sudah memainkan 250 judul naskah lakon baik naskah luar negeri maupun dalam negeri, ia berperan jadi aktor menjadi tokoh yang tanpa dialog sampai menjadi tokoh utama. Sudah menyutradarai 152 judul naskah lakon baik dari karya penulis dunia-nasional-daerah. Dewasa ini Soel hanya mau menyutradarai naskah lakon yang ditulisnya atau naskah lakon yang diproduksi oleh rekan-rekannya di komunitas Kuflet. Teater-Sastra-Jurnalistik telah membawanya mengelilingi Indonesia; dari Aceh hingga Irian Jaya. Kini menetap di Jl. Dr. A.Rivai No. 146 RT.11 Kampung Jambak, Kelurahan Guguk Malintang, Kecamatan Padangpanjang Timur, Padangpanjang Sumatera Barat. 180

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

Seni Tradisi Populer Aceh sebagai Media Komunikasi Sosial
Sulaiman Juned
Dosen Jurusan Seni Teater STSI Padang Panjang

Pendahuluan eni tradisi adalah gambaran kebudayaan suatu masyarakat pada sebuah daerah. Indonesia memiliki keberagaman seni lokalitas yang sangat kaya dengan kearifan lokal. Kekayaan kultur budaya bangsa dalam seni tradisi secara tidak langsung memiliki karakter etnis yang sangat beragam dan berbeda. Karya-karya yang dipertunjukan oleh seniman-seniman tradisional, merupakan suatu bukti betapa beragamnya kultur-seni dan budaya masyarakat Indonesia. Berdasarkan itulah, ini kali penulis ingin membahas tiga seni tradisi Aceh sebagai media komunikasi sosial. kesenian Aceh rata-rata memiliki transformasi moral dan sosial. Tiga seni tradisi tersebut; Teater Tutur PM TOH, Sandiwara Keliling Gelanggang Labu, dan Biola Aceh. Ketiga bidang seni yang penulis paparkan ini, berangkat dari realitas Sastra Aceh (hikayat) menuju realitas seni pertunjukan. Dewasa ini tanpa sengaja berangkat dari perkembangan jaman kesenian tradisi mulai bergeser fungsinya, awalnya menjadi alat komunikasi dalam ruang sosial bagi kehidupan bermasyarakat di Aceh. Seni tradisi ini memang masih tetap bertahan di Aceh, walau terasa sudah mulai langka. Hal ini disebabkan oleh terjadinya konflik bersenjata yang begitu panjang antara Gerakan Atjeh Merdeka dengan Negara Kesatuan Republik In-

S

181

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

donesia yang melahirkan kondisi psikologis terhadap masyarakat Aceh. Tindakan sosial yang terjadi di Aceh sebelum dilaksanakan perdamaian saling berinteraksi dan saling melahirkan kekejaman dari pihak-pihak yang bertikai, tentu melahirkan restrukturisasi terhadap tingkah laku masyarakat. Interaksi sosial melalui seni tradisi membuat prilaku masyarakat Aceh, terwujud dari keharusan normatif yang terlahir dari kesantunan, rasa persaudaraan, pemurah, peramah, dan setia terhadap siapapun. Namun kondisional ini menjadi lenyap karena terjadi tindakan sosial melalui kekerasan yang dilawan pula dengan kekerasan. Rakyat tersublima ketakutan dan kecemasan karena setiap detik menyaksikan pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, pembakaran. Muaranya kesenian tradisi Aceh pun terancam punah. Kondisi inilah yang membuat seni tradisi Aceh terkesan sulit untuk mencarinya. Syukurlah dewasa ini telah di bentuk Qanun (hukum/aturan) di bidang seni, untuk menghidupkan kembali seni tradisional Aceh yang kaya nilai-nilai agama, adat, moralitas, dan sosial.

Teater Tutur Aceh: Adnan PM TOH ‘Troubador yang Menulis di atas Angin’ Lima puluh tahun bersolo karier, (Almarhum) Teungku H. Adnan PM TOH berusaha mencari penggantinya agar kesenian Aceh yang disebut teater tutur ini memiliki penerusnya. Namun sayang sampai dengan Teungku Adnan menghadap sang khalik (meninggal dunia dalam usia 75 tahun, pada tanggal 4 Juli 2006), belum mampu menemukan penggantinya seperti beliau. Kesenian teater tutur berasal dari peugah haba yang berarti berbicara dengan bercerita semacam bakaba di Minangkabau. Sering juga disebut masyarakat Aceh poh tem berarti orang yang pekerjaannya bercerita. Ada juga yang menyebutnya dangderia seperti drama monolog atau berbicara sendiri. Teater Tutur ini menjadi menarik setelah dikembangkan Teungku Adnan dengan mempergunakan alat musik rapa’i, pedang, suling (flute), bansi (block flute) dan mempergunakan properti mainan anakanak serta kostum. Properti, alat musik serta kostum memperkaya teknik pemeranan seperti metode Brechtian yang memakai teknik multiple set (properti tangan yang banyak fungsinya), dan efek alinasi (memisahkan penonton dari peristiwa panggung, sehingga mereka dapat
182

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

melihat panggung dengan kritis). Teknik ini sekaligus memberi kekuatan dan dapat mengubah kejadian-kejadian peran menjadi seolah-olah, serta adanya intrupsi dari penonton. Teungku Adnan bermain sendiri, namun mampu menghadirkan beratus-ratus tokoh, dengan ekspresi dan karakter vokal yang berubahubah. Inilah kelebihan yang dimiliki Teungku Adnan, ia bermain sendiri di atas pentas, tetapi penonton laksana menyaksikan ratusan aktor sedang berada di pentas. Hal ini yang membuat Teungku Adnan dijuluki “traubador dunia” oleh Prof. Dr. John Smith seorang peneliti dari Amerika Serikat. Teungku Adnan dikenal juga sebagai seorang tokoh ulama oleh masyarakat pendukungnya, sedangkan pekerjaannya disamping sebagai seniman adalah penjual obat keliling Aceh. Kesenian (teater tutur) ini dinamakan PM TOH oleh Teungku Adnan. “Asal muasal nama itu berangkat dari peristiwa yang sangat berkesan bagi saya, saya sering menaiki bus PM TOH ketika berpergian ke seluruh Aceh untuk berdagang obat, lalu bunyi klakson bus tersebut membuat saya terkesan. Maka dalam pertunjukan saya untuk selingan jual obat saya tampilkan poh tem, peugah haba, dan dangderia. Sembari memamerkan kebolehannya berteater itu, saya memulainya dengan menirukan bunyi klakson bus PM TOH, masyarakat Aceh sangat senang dengan penampilan saya itu. Setiap saya jual obat, penonton pasti ramai, dagangan saya laris tapi saya harus menampilkan Hikayat Malem Dewa. Akhirnya masyarakat Aceh setiap ketemu saya sering memanggil nama saya dengan sebutan Teungku Adnan PM TOH setelah saya pikirkan sepertinya nama teater tutur saya ini adalah PM TOH”. (Wawancara dengan Teungku H. Adnan, 14 April 1999, di Blang Pidie-Aceh Selatan) Ternyata nama teater tutur PM TOH itu merupakan pemberian oleh masyarakat pendukungnya. Ini bukti bahwasannya sejak tahun 1970an nama itu telah dilekatkan kepada Teungku Adnan, dan ia diterima sebagai pembaharu teater tutur Dangderia yang pemanggungannya hanya ada satu bantal, pedang dari pelepah kelapa hanya mengandalkan kekuatan ekspresi dan kekayaan vokal dalam menyampaikan Hikayat. Sementara Teungku Adnan diterima oleh masyarakat pendukungnya, sehingga dimanapun masyarakat mendengar tentang kehadiran Teungku Adnan, mereka pasti ramai-ramai mendatanginya karena ingin menyaksikan pertunjukan PM TOH.
183

Ada pula hikayat yang disebut dengan hikayat undang-undang seperti. Biasanya seorang ibu dari etnis Aceh pada masa lalu merasa berkewajiban untuk menceritakan hikayat-hikayat itu kepada anak-anaknya. jika dalam cerita tersebut terjadi peperangan antar kerajaan. Hikayat ketika dipertunjukan oleh Teungku Adnan dengan menghadirkan berbagai karakter tokoh di atas pentas. Tuhan memang Maha Kuasa. Tentang adat istiadat. Hikayat tentang dongeng. buku bacaan serta cerita lainnya juga dinamakan hikayat jika bahan-bahannya telah dituliskan dalam bentuk sajak (puisi) di sebut hikayat. Sanggamara. seperti benang dibentangkan tak pernah habis. lalu dituturkan kembali selengkapnya. 1988: 38). Indra Budiman. Malem Budiman. Teungku Adnan jika ada undangan lalu mempertunjukan PM TOH satu hikayat seperti Malem Dewa baru selesai dipertunjukan dalam durasi waktu 7 (tujuh) malam berturut-turut. Nalam. Raja Jeumpa” (Muhammad Nur. Adnan PM TOH melakukan pengembangan menakjubkan lewat teater tutur yang awalnya peugah haba atau dangderia. Sementara itu. Bahkan. seperti. sarakata Poteumeureuhom Meukuta Alam. Bahkan. baik perubahan suara (vokal). Hikayat keagamaan. kostum. Teungku Adnan diberikan kekuatan pada ingatan. dongeng keagamaan. teks sastra hikayat menjadi dasar penceritaannya. Prang Sabi. 1983:78). “adapun hikayat yang menyimpan peristiwa sejarah. sastra Aceh menyimpan peristiwa budaya. Bukan saja roman-roman.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Andaikan membicarakan tentang teater tutur Aceh. Hikayat Malem Dewa. diantaranya. Ia sanggup menghafal 9 (sembilan) buah Hikayat-hikayat Aceh. Hal yang termaktub dalam teater tutur itu merupakan eksistensi kesusastraan Aceh ‘hikayat’ yang tidak dapat lepas dari subtansinya. Sama halnya dengan teater modern yang tidak terlepas dari teks naskah drama yang akan digarap sutradara menuju realita teater (pertunjukan). Malem Dagang dan lain-lain. dan ini merupakan hasil sastra yang sangat luas dalam khazanah kesenian Aceh karena menjadi seni pertunjukan” (Budiman Sulaiman. Sipheut Dua Ploh. pelajaran adat. hikayat Gumbak meueh. Dialog-dialog yang memperagakan cara-cara berperang. Raja Si Ujud. Kalimat demi kalimat mengalir deras. yang tampak adalah seorang penutur cerita penuh dengan nuansa teaterikal. beliau mampu menyampaikan pertunjukan yang 184 . “Hikayat dalam bahasa Aceh tidak diartikan arti asli yaitu ‘kisah’ (cerita). hampir setiap keluarga di Aceh mengetahui secara tradisional cerita-cerita dalam hikayat.

Penampilan nyaris tanpa akting. ahli nujum. Mengenakan sepotong selendang. sambil berinprovisasi dengan nyanyian Teungku Adnan menggantikan kostum. sebuah wig. Muda Belia bahkan Agus Nuramal. Lain halnya dengan Teungku Adnan. Tengku Adnan bermain dengan teknik duduk. vokalnya juga berubah sehingga penonton dengan mudah mengidentifikasi tokoh yang diperankan Teungku Adnan. menyaksikan pentas yang dipenuhi aktor secara imajiner. namun beliau melakukan pertunjukan persis sama dengan pertunjukan sebelumnya. generasi kedua Teungku Ali Meukek. karena yang disajikan hanya membaca hikayat (peugah haba). yaitu Puteri Bungsu. andai membawakan Hikayat Malem Dewa yang menceritakan tentang anak raja yang mempersunting putri dari khayangan. Lima detik pertama ia mengekspresikan wajah genit. Properti yang digunakan hanya sebilah pedang dan batal. Teungku Adnan. penyajian hikayat secara bertutur tak dapat dikategorikan seni pertunjukan (teater tutur). Zulkifli. dan agak sulit mengikuti alur cerita karena tidak terjadi perubahan karakter tokoh. Kemampuan ini yang tidak dimiliki oleh tukang cerita yang lain seperti. bermain musik sendiri. di dalam tong ada pakaian (kostum) serta senjata mainan. Guru Teungku Adnan adalah Mak Lapee. Begitu pula ketika menjadi tentara (panglima). padahal ia bermain sendiri. matanya berkedip-kedip. Meletakkan kotak (tong) dikiri dan disebalah kanan. langsung memakai baju ala kerajaan yang telah tersusun di dalam kotak disesuaikan dengan alur cerita.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sama di tempat yang berbeda. Menyaksikan teater tutur PM TOH. cerita yang sama dengan kata-kata yang relatif sama pula. lalu dikembangkan menjadi sebuah seni pertunjukan yang sangat menarik dan unik dengan inprovisasi yang sangat-sangat kaya. Setiap peran yang berubah. puteri. putri yang jeli185 . Luar biasa. Suatu hari dalam Hikayat Malem Dewa ia berubah peran dengan sigap. Ketika menjadi raja. Kemampuan Teungku Adnan tak pernah tergantikan oleh siapapun. Seketika pula Teungku Adnan menjadi raja dengan karakter watak dan karakter bahasa yang berbeda. ekspresi wajahnya berubah (tipikalnya). ia pun menjelma menjadi tokoh Puteri Bungsu. Namun pada masa itu. sehingga penonton tidak bosan. rakyat kampung. Seorang juru bicara “penyihir” yang mampu memberikan pesona seni peran. berangkat dari ilmu yang diterima dari gurunya Mak Lapee (Seorang Ulama di Aceh Selatan yang lumpuh).

Ia dapat menjadi hulubalang.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ta dari khayangan. dan Kakanwil Depdikbud Aceh. Kekuatan yang paling mendasarkan dalam teater tutur PM TOH adalah daya improvisasi penyaji yang sangat tinggi. Sekarang Teungku Adnan PM TOH telah meninggalkan kita tanpa mewariskan PM TOH kepada siapapun. ia berganti peran menjadi pemuda gagah siap bertempur memperebut Puteri Bungsu. Teungku Adnan PM TOH. “Soel. Tapi apa jawab mereka. lalu setiap tahun kita adakan festival menulis hikayat dan PM TOH kalau ini dilakukan pasti akan muncul dan lahir penerus atau pengganti saya. Di SD ada mata pelajaran Hikayat dan PM TOH. ketika penulis masih di Aceh sempat berdiskusi dengan beliau. Beliau tak akan berdosa dan berduka sebab beliau semasa hidupnya sudah pernah menawarkan ini kepada pihak Pemerintah Daerah Istimewa Aceh (Sekarang NAD). pemuda yang mencuri baju sang puteri atau seorang anak yang merindukan sang ibu. Benar Teungku Adnan. tapi tidak ada respon sedikitpun. saya pernah tawarkan program regenerasi kepada Gubernur kita. Abad ke-12 di Perancis Selatan lahir seorang Traubadur. Lalu 900 tahun kemudian 186 . setelah itu kita sebarkan ke sekolah dasar (SD). Berbagai karakter dengan cepat saling berganti di tubuh dan suara Teungku Adnan. Kemampuan Teungku Adnan menyiasati pertunjukan ternyata dapat menghadirkan sejumlah tokoh di atas pentas dengan vokal yang berubah-ubah. seniman ‘Traubador Dunia’ meninggal dunia dalam usia 75 tahun. Sepotong pedang terhunus di tangan. topi baja melekat di kepala. kita pertimbangankan. bukan hanya Aceh yang kehilangan “Traubadur Dunia” seluruh dunia juga merasa kehilangan Teungku Adnan. teungku memang tidak rugi. Suatu waktu. hanya jawaban basa-basi” (Wawancara. Gaya komedikalnya membawakan hikayat masa lalu dikaitkan dengan peristiwa masa kini. lalu kita tuliskan bagaimana persiapan menjadi aktor PM TOH. laskar Aceh. 20 Januari 1989). tanpa ada pengganti. Aceh khususnya dan Indonesia umumnya yang rugi sebab tak mau merawat penerus pencerita Aceh. jadi nenek penjaga gubuk Buntul Kubu. Kini Sang Maestro. Sementara mulutnya tak putus-putus ia derukan kisah pemuda bernama Malem Dewa yang harus berangkat ke negeri di atas awan untuk menemui kekasihnya. kita cetak buku tentang Hikayat-hikayat Aceh yang belum tersebar itu. Lima detik kemudian.

Bawang Mirah Ngoen Bawang Puteh. Jeumpa Aceh.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI di seluruh dunia hanya di Aceh muncul kembali seorang “traubadur dunia” yakni Teungku Adnan. dan penyutradaraan secara formal. Benteng Harapan. Cakradonya. Kesenian Aceh mampu menjadi transformasi moral dan sosial bagi masyarakat Aceh. Hal ini dapat dilihat dari reportoar yang dipilih. Seulanga Dara. Gelanggang Labu merupakan sandiwara keliling tradisional Aceh. mereka memperoleh keahlian secara non-formal namun mampu mensugestif penonton.Luar biasa. seperti. Putroe Ijoe. Ahmad Rhangmanyang. Ciri-ciri pertunjukan Gelanggang Labu memiliki kesamaan yang kontras dengan ‘Komedi Stamboel’ yang dilakukan August Mahieu (1860-1906). Buloeh Peurindu. Ciri-ciri yang mendasar. dijulukilah dengan istilah Gelanggang Labu. Adeganadengan gembira atau sedih dalam gelanggng labu memang dilakukan dengan dialog bukan dengan opera (nyanyian) seperti dalam komedi stamboel. Sandiwara ini mulai tumbuh dari sebuah desa Gelanggang Labu Kecamatan Peukusangan dahulu kabupaten aceh utara sekarang kabupaten Biureun. Sekarang sang “traubadur” benar-benar sudah tiada. Sinar Harapan. dan diterima ditengah-tengah masyarakat. Awal tahun 70-an mulai menjamur grup-grup sandiwara di seluruh Aceh. dan Geunta Aceh. Pembagian babak atau episode dilakukan sangat longgar dengan adanya selingan antara babak yang diisi dengan nyanyian (band). Cerita-cerita yang akan dimainkan oleh pelakonnya hanya diceritakan secara garis besarnya saja kepada pemain (berbentuk wos). Sinar Jeumpa. lawak. berapa ratus ribu tahun lagi kita harus menunggu untuk kelahiran seorang “traubadur seni tradisi yang luar biasa itu. Sandiwara ini keliling sudah ada sejak tahun 1950an. NAD. Sandiwawara Keliling Gelanggang Labu Pemain sandiwara keliling gelanggang labu tidak pernah belajar dramaturgi. dan lain-lain. samasama mengangkat cerita 1001 malam dari hikayat-hikayat Aceh (haba). Sinar Desa. Mutiara Jeumpa. ilmu pemeranan. serta tari-tarian. dan lebih banyak pemain yang melakukan improvisasi. Ketika teater ini mulai merakyat. Sebagai aktor di187 . sebelum permainan dimulai para aktornya memperkenalkan diri sekaligus dengan peran apa yang dia mainkan. tapi sayang masyarakat dan pemerintah Aceh tidak mau peduli. diantaranya yang terkenal.

dipuja-puji oleh penonton. pelawak dan penari sekaligus. masalah ambisiusnya manusia. batang kayu sebagai penyangga. Rata-rata latar belakang pendidikan mereka hanya sampai Sekolah Dasar. triplek untuk dinding. waktu siang hari ia berperan sebagai buruh pemetik kopi dengan pakaian kumal. setiap dia muncul selalu saja mendapat applaus dari penonton. Ahmad Harun. Mereka menciptakan tema-tema cerita baru yang digemari masyarakat. serta Idawati merupakan tokoh-tokoh teater keliling yang sadar betul atas kekurangan mereka. Grup sandiwara ini hidup dan beranakpinak di dalam panggung tersebut (berumah). Lokasi pertunjukan biasanya dilakukan di tanah lapang. Sutradara 188 . seng sebagai atap. Namun pada malam hari dia tampil sebagai mahabintang di atas panggung. mereka melakukan keliling ke seluruh Aceh. lalu melakukan pembaharuan agar masyarakat penonton tidak bosan. Umar Abdi. Keterbatasan ilmu tentang bermain drama bukanlah suatu halangan bagi mereka untuk tetap terus bertahan. kemunafikan. seorang aktor yang pernah melakukan pertunjukan di Takengon. Ibnu Arhas (sekarang mantan Anggota DPRD Kabupaten Pidie). Ide atau gagasan rata-rata bertemakan sosial dengan mudah diperoleh sutradara teater keliling. sebab mereka dekat dengan masyarakat sehingga tahu persis tentang peristiwa yang muncul ditengah masyarakat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pentas sandiwara keliling harus mampu menjadi penyanyi. bahkan ada yang menjadi buruh kasar di tempat itu. Umumnya pemain sandiwara keliling Gelanggang Labu tidak pernah memiliki atau mempelajari dramaturgi secara formal. di tengah areal sawah setelah usai panen padi. Semuanya mengalir begitu saja dengan pengetahuan otodidak yang mereka miliki. Sementara bentuk pemanggungannya. Maka tidak heran bila siang hari mereka bergaul dengan masyarakat dimana mereka melakukan pertunjukan. sandiwara keliling Gelanggang Labu sangat sederhana dengan konstruksi panggung berukuran 9X6 meter didirikan menggunakan drum kosong yang diatasnya diletakkan papan. kain yang dilukis sebagai dekorasi sesuai tuntutan cerita dan lampu reflektor kecil untuk penerang dan pengubah suasana. dan berdiam (melakukan pertunjukan) di suatu daerah minimal dua bulan setelah melakukan perjalanan dan menetap di daerah lain. Yusuf Syam. seperti tragedi rumah tangga. pengkhianatan.

Awal dekade 1992. Yusuf Syam. Mengigat hal itulah pertunjukan sandiwara keliling ‘Geunta Aceh’ pimpinan Umar Abdi pada pertengahan tahun 1991 di desa Blang Malu Kecamatan Mutiara Pidie. sangat terasa dampaknya bagi perkembangan insan seni untuk melakukan kreatifitas berkesenian. batal melakukan pertunjukan karena izinnya dicabut. empat tokoh seniman teater keliling. Cerita yang ditampilkan selalu aktual dan kontekstual dengan daerah dimana mereka melakukan pertunjukan. sehingga nama tersebut begitu melekat dan populer di tengah masyarakat Aceh. alasannya gangguan keamanan. Situasi semakin membaik. seperti. banyak panggung sandiwara keliling pada dekade 90-an terpaksa tutup sehingga pemainnya banyak yang menganggur. dan panggung artis ibukota Dina Mariana pada tahun 1990 sempat dibakar oleh gerombolan tak di kenal. dan Idawati mencoba kembali membangun panggung keliling. Bahkan dalam pergaulan sehari-hari Ahmad Harun sering dipanggil Cut Maruhoi. cerita Cut Maruhoi diperankan Ahmad Harun (lelaki yang menjadi wanita) mengisahkan tentang seorang ibu mertua yang cerewet. serta Didong mulai terusik untuk berproses. jahat dan sadis. Ahmad Harun. kondisi keamanan mulai kondusif. Sebagian terpaksa pulang kampung menjadi petani atau buruh kasar. Namun gangguan keamanan di Daerah Istimewa Aceh (Sekarang NAD) yang mulai pecah pada tahun 1989. PM TOH. Umar Abdi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengangkat realitas sosial yang tumbuh dan hidup dimana mereka melakukan pementasan. Juga karena adanya operasi militer malam. lalu diadopsi menjadi cerita yang menarik lewat kekuatan improvisasi para aktornya. Aceh 189 . Seruan ini dikeluarkan PEMDA Aceh karena beberapa pertunjukan sebelumnya di daerah-daerah rawan konflik sering terjadi keributan. Pertunjukan sirkus di Lhoekseumawe pada tahun 1989 sempat menimbulkan kekacauan. Aceh yang memiliki teater tradisional atau teater tutur. dan Biola Aceh. Kemandekan kehidupan panggung keliling sangat terasa karena sering di cekal oleh Pemda dengan cara tidak memberi izin pertunjukan. Keunggulan inilah yang membuat teater keliling ini mampu bertahan hidup dan memperoleh sambutan hangat dari penonton di seluruh Aceh. Misalnya. dan pertunjukan di beberapa kota Aceh Utara. Ahmad Harun benar-benar mampu masuk ke dalam penokohan Cut Maruhoi. Sandiwara keliling Gelanggang Labu. Maka.

petani. Nah. suasana yang tak menentukan itulah menyebabkan izin pertunjukan tidak dapat diberikan kepada sandiwara keliling Gelanggang labu. seperti. tidak pernah terdengar di Aceh ada pertunjukan Sandiwara keliling Gelanggang Labu dipentaskan. Bila tak ada pemanggungannya secara otomatis para aktor panggung keliling semakin lanjut usia dan tak ada yang mampu mewarisinya untuk melanjutkan grup-grup sandiwara keliling. dan GAM (Gerakan Atjeh Merdeka) kembali bergerak. Aceh Tengah dan Sabang mulai diizinkan untuk melakukan aktivitasnya. kru panggung dengan seluruh awaknya kehilangan pekerjaan tetap yang telah diyakininya berpuluh-puluh tahun pekerjaan itu mampu menghidupi keluarganya. Daerah Istimewa Aceh kembali bergolak. seniman-seniman panggung terpaksa beralih profesi. buruh kasar dan lain sebagainya demi menghidupi keluarganya. lagi-lagi dengan dalih keamanan. namun yang lebih menyedihkan dapat menelan sisi kebudayaan dan kesenian. denyut nadi Taman Budaya Aceh juga ikut terkena imbasnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Besar. ternyata tidak bertahan lama. seperti hilang di telan bumi. Betapa tidak. Tahun 1998 dengan berhasilnya gerakan reformasi yang dilakukan mahasiswa seluruh Indonesia untuk menumbangkan Orde Baru.jangankan sandiwara keliling Gelanggang Labu. Suasana seperti itu. Kemandekan kehidupan panggung yang disebabkan oleh gangguan keamanan betul-betul membuat para pelakon. menjadi penjual ikan. Teater Kuala Pimpinan Yun 190 . Sementara disisi lain. Sengketa yang terjadi di tanah rencong tidak hanya menelan korban manusia. Teater Gita Pimpinan Junaidi Bantasyam. kenyataannya menjadi lain. Grup-Grup yang pernah jaya. bila hal ini terjadi terus-menerus teater keliling Aceh hanya tinggal nama sebab tak ada lagi pewarisnya. menurut amatan penulis dari tahun 1998 hingga sekarang 2009. Teater Bola pimpinan Almarhum Junaidi Yacob. Teater Mata pimpinan Almarhum Maskirbi. Sekaligus mampu membangun realitas sosial bagi penontonnya. TNI dan POLRI kembali menjalankan operasi. Taman Budaya Aceh sejak tahun 1970-an sampai 1997 aktif melaksanakan pertunjukan teater modern Indonesia di Aceh tiap bulan. daerah Aceh secara tidak langsung telah memusnahkan kekayaan keseniannya. Kondisi Aceh kembali mencekam dan tak menentu. mahasiswa serta ulama dayah seAceh menuntut referendum.

Sanggar Cempala Karya Pimpinan Sulaiman Juned. maka Aceh secara global akan kehilangan seni budayanya yang sangat kaya tersebut. Teater Alam Pimpinan Din Saja. penyanyi sekaligus pelawak bahkan mampu menari. Teater Kosong Pimpinan T. Penabuh gendang. Namun awal 1998 pertunjukan teater Modern Indonesia di Aceh mulai hilang denyutnya. Konfliks-Tsunamisengketa tak pernah reda mengancam seni budaya Aceh pada nadir kepunahan. kematian dan keadilan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Casalona. Rindu Idawati Sri panggung sandiwara keliling yang mampu menjadi aktris. Apakah mereka ikut terkena imbas konflik panjang di Aceh. Biola Aceh Kesenian biola Aceh telah hidup di tengah masyarakat semenjak jaman colonial Belanda. Sampai kapan hal ini terus terjadi. Namun berkembang di Kabupaten Aceh Utara. biola Aceh ini di sebut Genderang Kleng. Kesenian ini dimainkan paling banyak 5 (lima) orang pemain. Biola yang digunakan adalah biola violin. Di Kabupaten Aceh Utara kesenian ini diberi nama Mop-mop sedangkan di Aceh Besar dan Kaputen Pidie. masing-masing satu orang bertindak sebagai violis (syech) yang merangkap vokalis. Penamaan terhadap kesenian ini karena penggunaan instrumen biola sebagai instrumen utamanya. Taman Budaya sepi pertunjukan. Hanya seniman sastra (penyair) dan pelukis yang masih terus melakukan prosesnya. penyanyi. atawa mereka tergerus air raya (tsunami) beberapa tahun yang lalu pada 26 Desember 2004. Aceh Besar dan Pidie sejak tahun 50-an. berperan sebagai Linto Baro dan Dara 191 . pemimpin grup sekaligus sebagai sutradara yang menyusun dialog untuk menyanyi. Orang-orang tak lagi membicarakan kesenian. Kita rindu tokoh Cut Maruhoi muncul di atas panggung. Para pekerja teater banyak yang beralih profesi. dan dua orang lagi sebagai penari dan pelawak. Namun kini dimana mereka para punggawa sandiwara keliling Gelanggang Labu bermuara. ada yang menjadi penyair. orang-orang lebih banyak membicarakan politik.Yanuarsyah. Teater Peduli Pimpinan Almarhum Nurgani Asyik. rindu lawakan yang menggelitik dari si Ma’e (Ismail) yang mampu melahirkan derai tawa. Denyut nadi kesenian Aceh seperti terhenti. dan cerpenis. Hal ini disebabkan karena gangguan keamanan. Andaikan situasi Aceh dibiarkan larut tanpa penyelesaian akhir.

Ini terbukti dari setiap kali pertunjukannya mendapat sambutan meriah dari penonton. tak jarang memakai kebaya dengan selendang berwarna hijau atau merah menutup kepala.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Baro (suami Istri atau marapulai kalau di Minangkabau) yang melakukan gerak tari dan banyolan sesuai irama Biola dan pukulan Rapa’i. terkadang mengenakan rok dan blus. penyulut tawa adalah pantunnya yang jenaka. rimueng di taum Loen dhoe geuliunyeueng. harimau mengaum Ku tutu telinga. ditingkahi suara gendang. bangau bersarang Gakah menguak. Biola Aceh komunikasi disampaikan lewat kekuatan humor. dan secara tidak langsung terselip nilai kritik sosial melalui pantunnya yang kocak. Apalagi dihadiri penari joget yang adalah lelaki berperan sebagai wanita. serta dialog dari penari berisi cerita lucu tentang perkawinan. Pertunjukannya membutuhkan panggung hanya 6 X 6 meter. Tampil dengan dandanan menor dan mencolok. Mari kita nikmati salah satu pantunnya: Ta ek u glee tajak koh sigeudum Lam kayee ruhung umpung ‘nggang dama Gajah di dumpek. loen jak bak gata. nyanyian lewat berbalas pantun dengan ungkapan-ungkapan lucu. dan disahuti pantun yang jenaka. Kesenian ini sampai sekarang masih mampu berinteraksi dengan masyarakarat. dan penuh humor. Artinya: Mendaki gunung memotong pohon sigeudum Di lobang kayu. Pantun dan nyanyian. Ciri khasnya adalah adanya tarian. serta para pemainnya memakai pakaian yang warnanya kontras. menggelikan. Meskipun pola dasarnya paduan musik dengan nyanyian. segar dan menggelitik terkadang terkesan porno. namun magnitumnya justru pada gerak tubuh dan tingkah pemainnya yang kocak membuat penonton bertahan sampai dini hari. Penonton turut terbahak-bahak menyaksikan bunyi biola yang terdengan sumbang. Juga diselingi cerita mertua atau isteri yang cerewet. Kisah rumah tangga tentang wanita yang bersuami tetapi mencintai pria lain. dan rumah tangga yang sarat dengan masalah sosial. cerita (dialog). Sementara penari pria 192 . Sebaliknya pria yang telah memiliki istri namun masih mencari wanita lain. ku datang padamu.

Kesenian biola Aceh. diberinama Biola Aceh” (Wawancara Syech Ma’e Pidie. Teknik memainkannya sangat mirip dengan rabab di Minangkabau.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengenakan pakaian biasa. Di samping itu. Masyarakat Aceh yang menganut sistem feodal. Sampai saat ini masih hidup empat orang penggesek biola. Melodi dasar lagu sama dengan melodi dasar biola. dan Syech Ma’e (Ismail). 20 Januari 2005). serta digarap secara bervariasi. bahkan banyak yang tidak mengenal tentang biola Aceh. Perkembangan Biola Aceh selanjutnya memang jalan ditempat jika tidak mau dikatakan punah. Proses adaptasi terjadi ketika terjadi pertandingan kesenian antara Aceh dengan Sumatera Timur di jaman Belanda. Hal ini. walau biola pertama sekali diperkenalkan di Italia tahun 1719. Menurut mereka. asimilasi. dan kurangnya pengetahuan. Syech Maneh. Perbedaannya terletak pada metode dalam memainkannya. menciptakan kesenian yang hampir mirip ronggeng. Sumatera Timur kesenian yang ditampilkan ronggeng. 193 . penabuh gendang yang dikombinasikan dengan berpantun. biola sebagai alat musik instrumen kesenian tradisi Aceh yang berasal dari Mesir. Sudah selayaknyalah kesenian ini perlu dilestarikan. menyaksikan pemain biola. Progresi melodi pada biola aceh membentuk harmoni vertikal dengan interval kwint. Bentuk perubahan tersebut adanya adaptasi. terjadi interaksi sosial yang memberikan dampak perubahan terhadap budaya. dan melawak. namun dipengaruhi oleh unsur-unsur agama Islam. dalam proses adaptasi menyerap nilai-nilai budaya islam. akulturasi. terkadang juga memakai sepatu yang kebesaran. dan integrasi dengan kesenian ronggeng yang berasal dari Sumatera Timur. namun baju atau jasnya di pakai terbalik. Secara tidak langsung generasi muda mengalami fase a-history. Aceh sepulang dari pertandingan tersebut. menari. tampak pada tekhnik memainkannya yaitu mengiringi vokal dengan mengikuti melodi vokal yang ditambah dengan nada hias. Jadi menyaksikan pertunjukan biola Aceh. penggesek biola Aceh memainkan biolanya secara terbaik. Sama persis seperti alat musik konvensional barat. disebabkan h terjadinya konflik bersenjata dan tsunami di Aceh. satu nada ditahan sementara nada lainnya bergerak membentuk progesi melodi. perkembangan musik modern mengakibatkan minat generasi muda terhadap biola Aceh menurun. yaitu Syech Abdul Gani Krueng Mane. serta Syech Ali Basyah.

Sandiwara Gelanggang Labu. Sebab seni tradisi Aceh selalu bersentuhan secara aktual dan universal lewat konsep kebersamaan. Poh Tem. Peugah Haba. dan mampu mengikuti kemajuan jaman. Konsep kultural dalam nilai etnisitas keacehan untuk mengidentifikasikan masyarakat jadi ‘ahli waris’ dari seni tradisi sekaligus sebagai pelaku bagi transformasi identitas lokal yang independen. Teungku Adnan PM TOH-Cut MaharuhoiIdawati-Syech Abdul Gani Krueng Mane-Syech Ma’e-dan Syech Ali Basyah. dinas pariwisata dan budaya. Seni pertunjukan seperti teater tutur PM TOH. perlu duduk bersama bicarakan pentingnya menghidupkan kesenian tradisi. tetapi tetap berinteraksi dengan jamannya. Dangderia. biola Aceh sebagai salah satu seni tradisi yang populer dapat menjadi media komunikasi sosial antara sesama etnis di Aceh yang multi-etnis. Teatermusik-tari dan kesenian lainnya membuat masyarakatnya luruh dalam ‘kearifan lokal’ menghilangkan perbedaan. Dalupa. Aceh kehilangan juru bicara.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Padahal. atau Sandiwara Gelanggang Labu. Seni tradisi Aceh. apakah seni-seni tradisional yang maha agung itu akan hidup. seniman. atau seni Aceh tersebut akan ikut terkubur bersama ratusan ribu rakyat Aceh yang entah dimana makamnya? Generasi muda Aceh sekarang ini pasti banyak yang tidak kenal lagi. pihak yang terkait. para intelektual seni. dan Biola Aceh memang kesepian dalam peti. Pasca konflik dan tsunami. Pho. Indonesia kehilangan seniman besar. Tugas lembaga pendidikan tinggi seni. tak usah mempertentangkan konsepsi pertunjukan antara tradisi dengan kontemporer. Lokalitas seni sebagai fenomena budaya diletakkan dalam perspektif kehidupan global untuk melakukan kontruksi indentitas diri. Penutup Kesenian memang mampu menjadi perekat antar sesama. Namun kesenian cenderung merekatkan keretakan manusia tersebut. Seniman. Manusia acap kali saling bersilang pendapat tentang idealisme yang mengakar dalam diri. Sebab pertunjukan seni tradisi Aceh sesungguhnya telah melaksanakan 194 . Guel. dan menumbuhkan kebersamaan. Biola Aceh. atau Kementerian Pendidikan Nasional berkenan menjadikan seni lokal menjadi kurikulum nasional agar seni tradisi populer dapat menjadi media komunikasi sosial. Didong.

1996/1997. Harian Kompas Jakarta: 18 Desember 2005 Mursal Esten. 2007. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra.Nalan Etno Teater Bandung Sahid. Serambi Indonesia Banda Aceh: 30 Agustus 2008 Budiman Sulaiman. bagaimana seni tradisi Aceh dapat dihidupkan kembali... Teater Tutur Aceh: Adnan P. 2000. Unsyiah Press Banda Aceh Efeendy. dan Diwana Cakradonya perlu dikembangkan. Pengantar Drama Monolog Enam Tuan Arthur S.. Semoga seni tradisi Aceh ini tetap hidup dan berkembang. Kegiatan ini mampu menumbuhkan seni-seni tradisi yang mulai punah. 1999.T. Jika ketiga seni ini hilang maka tanpa kita sadari budaya Aceh yang sarat dengan muatan penyadaran moral. 2000. Interkulturalisme Teater.. Jurnal Palanta Padangpanjang: STSI Padangpanjang VCD Hikayat Malem Dewa. 1998 195 .. 2005. Ekspresi dalam Seni Teater.. Produksi Jurusan Teater STSI Padangpanjang. CV Rosda Bandung Agus Noor. Jurnal Palanta Padangpanjang: STSI Padang Panjang ---------------------. Pengantar Bermain Drama.O.. agama. 1996/1997 Margaret J. 1988. Kesusastraan Aceh.H Trobadour yang Menulis di atas Angin. Bandung: Rosda Karya Herwanfakhrizal. dalam Asvi Warman Adam. Peneliti Musik Aceh Pasca Tsunami. Nur (ed). Kajian Transformasi Budaya. Harian Kompas Jakarta: 26 Maret 2006 Basri Daham.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI konsepi pertunjukan dalam tataran kontemporer. Kartomi. Semoga! Daftar Pustaka A. Monolog.. Ilmu Komunikasi. Oleh karena itu. Bandung: Angkasa Sulaiman Juned. 1999.. Kesenian tradisi di Aceh tidak hanya dianggap sebagai media hiburan semata-mata.. Yogyakarta: Tarawang Pers Santosa. tetapi mampu menjadi sebagai media komunikasi. adat dan sosial terkikis dari kehidupan bermasyarakat. Jurnal Ekspresi Seni Program Studi Pascasarjana UGM. Pekan Kebudayaan Aceh.M. 1984... Permasalahan yang perlu diselesaikan. 1993. Teori dan Praktek.Adjib Hamzah. event-event kesenian bertaraf nasional dan internasional seperti. 2006. Festival Baiturrahman. Aktor di Panggung Teater. Konflik di Aceh: Sandiwara Keliling Gelanggang Labu Terancam Punah. 1999. Bandung: Penerbit Angkasa Rahman Sabur.. 2003. Gelitik Biola Aceh Makin Langka.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 196 .

Hajizar. dan bervariasi konsep seni yang dimiliki mereka membawa penulis untuk memilih pendekatan “induktif” untuk mengidentifikasinya. karena propinsi Sumatra Utara didiami oleh banyak etnis yang memiliki konsep budaya. Minang. Sungguh pun begitu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Penggunaan Seni Tradisi dalam Media Komunikasi Sosial di Sumatera Utara Drs. bahasa. M. ritual adat. dan sistem komunikasi sosial yang spesifik sesuai dengan latar belakang keturunan nenek moyang mereka masing-masing. dan beratus konteks pertunjukannya. maupun aneka seni dari etnis-etnis Batak adalah cukup memberikan rasa optimis untuk merealisasikan sasaran minimal tema tulisan di atas. atau hiburan oleh suatu etnis di daerah Sumatera Utara. ditambah dengan pengalaman praktikal selama empat tahun menjadi pelaku seni di Sumatera Utara. Setiap etnis asli Sumatera Utara menghendaki keharmonisan dan M 197 .Sn Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Pendahuluan embicarakan masalah penggunaan seni tradisi dalam media komunikasi sosial di Sumatera Utara merupakan obyek diskusi yang sangat luas. Outline dasar yang menjadi fokus berkisar tentang fungsionalnya suatu genre seni sebagai mediasi untuk pencapaian niat atau maksud diadakannya suatu upacara atau acara yang berhubungan dengan religius/keagamaan. materi seni yang banyak. Berlatar kompleksnya sistem kehidupan masyarakatnya. ketersediaan data pendukung yang penulis miliki. baik seni Melayu.

karena keyakinan tercapainya maksud atau niat pelaksana upacara. Sedangkan bagian ketiga merupakan informasi masa silam yang difungsikan sebagai landasan penting untuk melihat kondisi kehidupan kesenian masyarakat Sumatera Utara masa sekarang. maka wujudlah aneka upacara ritual adat. Bagian pertama ini berposisi sebagai pembentukan frame pemikiran terhadap kelayakan tema ini menjadi sebuah informasi yang bermanfaat. Dengan demikian. upacara religi/keagamaan. bahwa konteks upacara dan acara-acara seremoial merupakan suatu produk sosial dan salah satu komunikasi yang wujud di dalamnya adalah komunikasi sosial. serta tercapainya kebahagiaan hidup sesudah mati melalui sistem kepercayaan yang dianut. atau diperolehnya kesenangan batin melalui hiburan. Tulisan ini tidak secara gamblang membicarakan masalah ‘komunikasi sosial’ secara konseptual. dan komuniksi vertikal antara manusia dengan supranatural yang gaib. dengan Tuhan atau “Sesuatu” yang dianggap berperan sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa penentu jalannya kehidupan di dunia dan hidup sesudah mati. tetapi berdasarkan penggunaan dan berfungsinya suatu produk seni dalam suatu konteksnya berarti sudah menunjukkan keberhasilan suatu komunikasi. dan acara-acara sosial lainnya. Bagian kedua memperlihatkan sekilas demografi wilayah dan penduduk Sumatera Utara untuk menggambarkan keadaan hunian yang bersinerji dengan kompleksitas konsep sosial masyarakat yang menghuninya. atau hiburan pada konteksnya adalah setelah terkoneknya maksud itu dengan resepsi obyek upacara tersebut.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kelanggengan sistem kemasyarakatan (kekerabatan) dan struktur sosial yang diwarisi mereka. Sekilas Demografi dan Wilayah Penduduk 198 . Sudah sama dipahami. tulisan ini disajikan dalam empat bagian. antar kelompok. Bagian keempat menfokuskan diskusi kepada dinamika kehidupan masyarakat dan kreativitas seni yang terjadi dalam konteks perubahan di masa sekarang dan prospek keberlanjutannya di masa depan. Mayoritas wahana yang dipilih oleh etnis-etnis Sumatera Utara dalam rangka tercapainya pengharapan di atas adalah kesenian. Kesenian diapresiasi sebagai mediasi yang mujarab untuk menjembatani komunikasi horizontal antar individu. Kemudian bagian kelima sebagai konklusi dari temuan yang diperoleh dari hasil keseluruhan deskripsi tulisan.

Kepulauan Batu yang terletak di Tenggara kepulauan Nias terdiri dari 51 pulau. Padang Sidempuan. Padang Lawas Utara. Tapanuli Selatan. kelapa sawit. Tanjung Balai. Wunga. Masa. Inalum di Kuala Tanjung Kabupaten Asahan terdapat 1 Sumber Wikipedia Indonesia. Serdang Bedagai. Selain geografis Propinsi Sumatera Utara yang terbentang dari daerah pesisir Timur ke pesisir Barat. gas alam. Toba Samosir. Pesisir Barat. Nias. telah dimekarkan menjadi 29 Kabupaten/kota (22 kabupaten. Batubara. Pematang Siantar. Karo. Batumakalele. Lego. di antaranya pulau Imanna. Menurut hasil Sensus Penduduk (SP) tahun 2002. Simaleh. ialah pulau Simuk (kepulauan Nias). Tebing Tinggi. Pini. kelapa. cengkeh. Pegunungan Bukit Barisan. kayu manis. dan Kota Medan. Kepulauan Nias yang terletak di lepas pantai pesisir Barat Samudera Hindia merupakan pulau utama dan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya. dan juga meliputi 419 pulau yang berada di luar pulau Sumatera. serta diprovokasi oleh semangat otonomi daerah untuk memacu pertumbuhan pembangunan di segala bidang. Deli Serdang. coklat. Bawa. Tapanuli Tengah. Potensi bumi Sumatera Utara yang luas dan subur telah mewujudkan perkebunan (karet. 199 . Pakpak Bharat. Nias Selatan. Tanah Masa. teh. dan Kepulauan Batu1. dan tembakau) dan pertambangan minyak bumi. penduduk Sumatera Utara berjumlah 11. Langkat. dan 7 kota): Kabupaten Angkola Sipirok. Simalungun. dan Sigata. Selain itu terdapat beratus pulau lain di Samudera Hindia yang termasuk propinsi di Sumatera Utara. kondisi alam Sumatera Utara pada dasarnya dapat dibagi atas: Pesisir Timur. Labuhan Batu. Mandailing Natal. Pasu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Sumatera Utara sebuah provinsi yang keempat terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa Barat. Binjai. Jawa Timur. maka Pemda Tingkat II di Sumatera Utara yang semula berjumlah sekitar 17 kabupaten/kota. PT. kopi. Tanah Bala. Humbang Hasundutan. Dengan begitu. dan pulau Berhala di Selat Malaka. Sedangkan pulau yang terluar dari sekian ratus pulau tersebut. di antara 4 pulau yang terbesar: Sibuasi. ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Jake. Padang Lawas. Asahan. Bau. Sibolga. Kepulauan Nias. Samosir.85 juta jiwa. Dairi. batu bara. dan Jawa Tengah. Berlatar luas daerah dan jumlah penduduk Sumatera Utara pada dasawarsa terakhir ini. Tapanuli Utara. Hamutaia. Makole. Kepadatan penduduk Sumatera Utara pada tahun 2002 menjadi 165 jiwa per km².

Agama Islam menjadi agama mayoritas yang dianut oleh suku Melayu. Sentra aktivitas pada berbagai lokasi ini yang bersentuhan langsung dengan sosio-budaya lokal yang beragam pula sebagai lingkungan kerja dan kehidupan mereka. Angkola. dan komunikasi dalam pergaulan umum selalu menggunakan Bahasa Indonesia dialek Melayu. Dengan demikian. Buddha terutama dipeluk oleh suku Tionghoa di perkotaan. Pesisir Sibolga. Di samping itu. Aceh. Bahkan sebagian suku Batak Toba dan Nias masih menganut kepercayaan Animisme yang bernama “Pelebegu Parhabonaron. 3) suku Batak (Toba. 2) Pesisir Sibolga (Pesisir Barat Sumatera Utara). sebagian Batak Karo. Mandahiling. Suku pendatang ialah Jawa. PLTA Asahan yang merupakan terbesar di Sumatra terdapat di Kabupaten Toba Samosir. Simalungun. 200 . India Keling. dan Mandahiling). Tionghoa. agama Kristen (Protestan dan Katolik) terutama dipeluk oleh suku Batak Toba. Minang. bermunculan lagi beraneka pabrik di berbagai kota sehingga kota Medan telah menjadi kota industri utama di Sumatera. Agama Hindu terutama dipeluk oleh keturunan India yang minoritas di perkotaan. Realita di atas telah menjadikan Sumatera Utara didiami oleh multietnis yang terdiri dari suku asli dan suku pendatang. Suku asli ialah 1) suku Melayu (Pesisir Timur Sumatera Utara). persoalan kepercayaan memiliki fenomena yang menarik dalam kehidupan masyarakat Sumatera Utara yang heterogen tersebut. lengkaplah identitas Sumatera Utara sebagai propinsi multi etnis di Sumatera. Aceh dan Jawa.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF yang bergerak di bidang penambangan bijih dan peleburan aluminium yang merupakan satu-satunya di Asia Tenggara. dan suku Nias. mengadu nasib masuk ke daerah Sumatera Utara dan berdomisili sesuai sentra-sentra aktivitasnya masing-masing. Kesemuanya ini telah mengundang pendatang dari etnis lain merantau. Batak Simalungun. Konghucu terutama dipeluk oleh suku Tionghoa di perkotaan. Namun. Minang. dan tentu beraneka pula corak seni tradisional yang berfungsi membentuk komunikasi sosial dalam kehidupan kotakota di Sumatera Utara. dan lainnya.” Begitu juga masih terdapat sejenis aliran kepercayaan bernama “Parmalim” yang dianut oleh sebagian suku Batak Toba yang berpusat di Huta Tinggi. 4) suku Nias. Setiap etnis (asli dan pendatang) di Sumatera Utara menggunakan Bahasa Ibu masing-masing. Karo. Pakpak Dairi. Batak Pakpak Dairi.

Buku Buklet. kedudukan musik tradisional Gondang Sabangunan bagi masyarakat Batak Toba dipakai dalam kepentingan upacara religius untuk mengatur hubungan antara peserta upacara dengan Tuhan dan dunia gaib. serta lingkungannya. hal 3. umumnya peranan Gondang Sabangunan berfungsi sebagai pengiring tarian (tortor) dari kelompok masyarakat yang mempunyai marga (clan) yang terkait sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu (Tungku Nan Tiga). Buku Buklet. maupun berbentuk upacara-upacara tradisional yang diadatkan dalam bentuk seremoni adat masing-masing sebagai konsekuensi dari sistem kemasyarakatan yang dianut mereka. 1994. 201 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Identifikasi Sosio-Seni Warisan Etnis-Etnis Asli Sumatera Utara Berdasarkan identifikasi terhadap tradisi sosial dan seni dari etnisetnis asli yang mendiami Sumatera Utara dijumpai beraneka ragam aktivitas. Melalui penyajian Gondang Sabangunan disampaikan permohonan peserta upacara kepada Tuhan-Nya. Pertama. Ungkapanungkapan itu dapat mengakrabkan pergaulan sehari-hari para peserta 2 3 Banggal Marpaung. hal 2. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. dan tidak dapat sembarangan dimainkan2. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. baik berbentuk sistem kemasyarakatan yang diwarisinya. Dengan demikian. Apabila dikaji secara seksama makna ungkapan-ungkapan tradisional tersebut sifatnya universal dan dapat bertahan sepanjang masa3. Banggal Marpaung. Menurut Marpaung. Pada setiap upacara adat. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. gondang-gondang yang dimainkan pada kegiatan religius itu bersifat sakral. kita coba melihat sampel genre-genre seni utama dari etnis-etnis asli Sumatera Utara yang berhubungan dengan fungsinya sebagai pembangun komunikasi sosial tradisional dalam kelompok-kelompok etnis masyarakatnya masing-masing. gondang dan tortor selalu hadir menjadi alat mengekspresikan perasaan dan maksud. Nomor-nomor gondang yang disajikan selalu didahului dengan ungkapan-ungkapan tradisional yang disampaikan oleh partisipan upacara melalui tonggo-tonggo. 1994. bahwa salah satu contoh dari repertoar tersebut adalah “Gondang Debata Sori” yang dalam hal ini adalah nama salah satu dari Tuhan menurut Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di dalam masyarakat Batak Toba. Berikut ini. Begitu pun pada upacara adat.

Tiruan bunyi itu akan mujarab untuk mencegah matinya segala manusia. tidak hanya dalam memenuhi berbagai kebutuhan sosialnya. gendang Anak Na. manusia itu tidak mati-mati. Kemudian anak yang mati itu disuruh oleh ibunya untuk menirukan segala bunyi tadi.” Makalah. Pentingnya peranan ini dapat dilihat kaitannya dengan salah satu filosofi dasar masyarakat Batak Toba. 2002. dan banjir. dimana gondang dianggap menjadi alat utama untuk mencapai dan membangun hubungan antara manusia dan “Sang Pencipta” (Mulajadi Na Bolon)4. Kumbang. bahwa seorang anak boru berkewajiban untuk 4 5 Rithaony Hutajulu. Tersirat di sini.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF upacara. Menurut adat Karo. kilat. maka matilah anak sang putri tersebut. bahwa: “pada masa dahulu. Gondang utamanya dimainkan dalam kaitannya dengan berbagai ritual maupun upacara keagamaan. Secara tiba-tiba bermunculan bermacam suara sebagaimana karakter dan warna suara yang dimiliki oleh Tung-tung. Cacing. sementara Gung. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara. lobangnya 7. dan batangnya dari gelondah berperan sebagai pembawa melodi. Katak. badai. Amphok (burung). Kedua. Pada suatu kali terjadi angin topan. hal 3-4.” Kehadiran ensambel musik ini berlatar belakang sebuah mitos yang hidup dalam masyarakat Karo. Bandung: UPI. disamping juga dipakai dalam konteks aktivitas seremonial adat. etnis Batak Karo memiliki ensambel musik tradisional utama disebut “Gendang Lima Sendalemen. Instrumentasi Gendang Lima Sendalemen terdiri dari sarune terbuat dari kayu selantam. bahwa seorang pemusik Batak Toba berfungsi sebagai mediator utama dalam menjalin hubungan antar dunia manusia dengan dunia para dewa. dan penganak berfungsi sebagai pembawa ritme konstan. bahkan menjadi sarana penguat identitas dan pembangun rasa solidaritas sesama antar individu dan antar kelompok masyarakat yang seatap dalam suatu upacara adat. 202 . tetapi juga meliputi berbagai hal terkait dengan hal yang bersifat spiritual. Gondang (“musik”) memiliki peranan yang penting dalam aktivitas kehidupan mereka. Tentu pemusik gondang dituntut untuk memahami sepenuhnya tentang struktur dan materi sebuah ritual/upacara yang sedang dimediasinya. Mitos tentang suara-suara inilah yang dipercayai masyarakat Karo untuk menemani kehidupan mereka yang diimitasikan melalui musikal instrumen Gendang Lima Sendalemen5. Dalam masyarakat lokal-tradisional Batak Toba. Gendang Indung Na. dan ada juga garantung sebagai pembawa ritme variabel.

Tali Sasayap. Salung sebagai pemegang melodi. yaitu Gordang Sembilan6.sebagai lagu tradisi untuk mengusung jenazah yang terdiri dari 48 lagu berturut-turut yang dikenal dengan istilah ‘50 . Bagi orang Karo. Gordang Sembilan digunakan untuk menghormati Mayat Harimau. 6 7 8 2 buah Jangat 1 pemain. 1 buah Enek-Kenek 1 pemain.’ 203 . Doal sebagai ritem konstan. sebagai ritme variabel. Guro-guro Aron bermakna suatu upacara syukuran panen bagi suatu desa. Begitu juga halnya tentang masalah hubungan timbal-balik antara musik dengan tor-tor dalam kehidupan masyarakat Batak Mandahiling. Sarune. dan agar keresahan itu tidak berlanjut. untuk memanggil roh-roh melalui Sibaso/Sisaman (dukun). dan Gondang dua8. Ketiga. Apabila roh telah menghinggapi diri Sibaso. masyarakat Batak Mandahiling memiliki tiga jenis ensambel musik yang penting dalam tatanan kehidupan sosial mereka. remaja di desa merasa resah.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mempersiapkan suatu upacara adat pada waktu kematian. atau Dalihan Na Tolu. untuk menghormati raja-raja. karena binatang ini dianggap hewan yang beradat. Cabutan satu-satu buah dari 5 unit Gordang Sembilan. Sedangkan ensambel Gordang Lima memiliki dua fungsi: 1) berfungsi vertikal. 2 buah Patolu 1 pemain. 2 buah Udong-Kudong 1 pemain. Penyanyinya diistilahkan dengan “Parkolong-kolong. Ritem Variabel : Gondang. sekaligus untuk memberi semangat terhadap para remaja di desa masing-masing. Sebab gendang ini diiringi dengan nyanyian-nyanyian tradisi berjudul ’Lagu Pengangkat’ --mungkin jenazah ini diangkat ke sorga-. boruboru. Suling. Gordang Lima7. gendang berguna sebagai ‘basis pengantar’ bagi suatu upacara kematian. yaitu mengundang rasa kemanusiaan dan rasa sedih bagi orang yang ikut upacara. Gong. karena sewaktu padi berperut. sekaligus minta nasehat. maka dia ditanyai tentang apa-apa yang perlu. Dia harus tahu susunan struktur famili dari orang yang meninggal sewaktu diadakan seremonial upacara kematian lengkap dengan ensambel gendangnya. Salah satu konteks sosial yang paling memasyarakat lagi populer untuk penyajian ensambel Gendang Lima Sendalemen ialah Pesta Guro-guro Aron yang diadakan pada setiap desa di tanah Karo. Sordam. 2) berfungsi horizontal. maka diadakanlah upacara Guro-guro Aron sambil berhibur oleh muda-mudi. 2 buah Padua 1 pemain. Momongan.2’ yang semua teks lagunya berisi magis yang berkaitan dengan kepercayaan.

dan di sini ditampilkan tortor. bahwa segala aspek kehidupan masyarakat Batak Mandahiling selalu diling- 204 . Selain itu.” Secara fungsional tortor Mandahiling dibagi dua: 1. Berdasarkan beberapa sampel di atas. Jolo-jolo Turun. seperti pesta kawin atau kelahiran (dimainkan repertoar ‘Horja Sirizon). seperti kematian dimainkan repertoar ‘Horja Silulutan. yaitu tor-tor dan musik langsung berhubungan dengan pihak yang berpesta.’ Horja dalam musik tradisional Batak Mandahiling dapat dibagi kepada: a. 2. Somba Mulani Tortor (apa kata gendang. dan untuk upacara duka-cita. dan waktu mayat berangkat ke kuburan. Tortor Suhut Sihabolon. dapat disimpulkan. dan Sarama Datu. bahwa pada masa dahulu dalam masyarakat Batak Mandahiling terdapat upacara ‘Mahadongi Hamatian. Berhubungan dengan “adat-istiadat” tentang urusan kehidupan dan kematian. itu kata tari). Musik dan tortor dimainkan untuk urusan upacara suka-cita. Tortor Anak Boru. dipukul canang dan beduk yang terusmenerus dimainkan hingga seluruh famili datang ke rumah duka. d. Figur yang berperan menghubungkan manusia dengan roh ini adalah melalui perantaraan ‘Bayo Dato (Sibaso).’ yaitu orang-orang yang menangisi mayat secara bersama. yaitu urusan pesta yang langsung berhubungan dengan famili isteri.’ Begitu juga pada upacara kematian raja. Penyajian tortor dan musik merupakan suatu kesatuan yang difungsikan untuk mengundang roh.’ Repertoar yang biasa dimainkan berhubungan dengan kepercayaan ialah Alap-alap Tondi. Tortor Mora.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Terdapat suatu ungkapan masyarakat Mandahiling: “Terter Mulani Gondang. Naposo Bulung. yaitu urusan pesta para muda-mudi. diiringi dengan repertoar ‘gondang roto. b. c. Berhubungan dengan “kepercayaan” kepada roh. yaitu urusan pesta yang berhubungan dengan pihak bapak. karena segala sesuatu di dunia ini berasal dari roh.

Gendrang 7 (dengan 3 pemain). Kettuk. yaitu pesta sewaktu terjadi keliahan/kemalangan yang tanpa perencanaan sebelumnya. b. Kalondang. 205 . yaitu pesta yang mempunyai perencanaan yang baik yang mempunyai makna dan cita-cita. Mangokal Tulan dipakai Gendrang 5. Keempat. b. sebagaiman pengertian berikut: 1. dapat dikatakan bahwa prinsip kehidupan sosial masyarakat Batak Pak Pak Dairi yang selalu dimediasi oleh ensambel gendrang Gorci cukup mirip dengan fungsi gordang dan gendang dari 9 Terdiri dari: Gendrang 9 (dengan 5 pemain). Terbagi kepada dua macam upacara: a. Kerja Njahat. Untuk upacara ini dipakai Gendrang 2. 2. sebelum mengenal agama. Mendeger Uruk yaitu suatu pesta atau kerja baik untuk meminta/memohon kepada Debata Guru (Tuhan) “Beras Pati Tana dan Mungkeni Kula. Gendrang 2. sejahtera. Gerantung. misalnya orang tua yang meninggal pada usia lanjut. merupakan seperangkat alat musik yang pemakaiannya berhubungan dengan upacara ‘adat istiadat. Gong.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI kungi dengan tor-tor dan musik gondang atau gordang. Mre Kemban yaitu suatu pesta yang diadakan untuk menyembah berhala. adil dan makmur. Mase Sayur Matua dipakai Gendrang 5. kawin pakai gondang. subyek upacara itu disebut dengan “kerja” yaitu kerja baik. Untuk upacara ini dipakai Gendrang 9. agar seluruh masyarakat mendapat berkat dan taufik hidayat. Merkata Sipitu yaitu suatu pesta yang diadakan sewaktu padi belum ditanam. Kerja Baik. agar mendapat hasil yang melimpah. c. Dengan demikian. dan kerja njahat. Cilat-cilat. Untuk upacara ini dipakai Gendrang 7.’ Klasifikasi upacara adat-istiadat dipertimbangkan oleh Sulang Selima10 berdasarkan sumber penyebab wujudnya upacara tersebut. etnis Batak Pakpak Dairi terkenal dengan ensambel Gorci9. Gendrang 5 (dengan 3 pemain). Terbagi kepada tiga macam upacara: a. hidup sentosa. serta memanggil roh dan menolaknya pun juga pakai gondang. dan waktu mati pakai gondang. Sewaktu lahir pakai gondang. 10 Sulang Selima yaitu unsur adat yang tertinggi sebagai adat yang menentukan paling akhir pada setiap pelaksanaan ‘kerja’ dalam masyarakat Pak-Pak Dairi.

tanpa musik. tetapi sekarang sudah dipakai gondrang si pitu-pitu. adat. kepentingankepentingan itu tidak dapat dilakukan. Repertoar “Dual Rambing-rambing” yang diiringi dengan tari. Nyanyian ini disajikan dalam konsep responsorial. Tiga musisinya mengenakan kostum yang berbeda. artinya berguna untuk persembahan dan yang menari hanya roh-roh baik. 2) Ho Ho Bame Sidi Ndo (berdiri). dimana leader (disebut Sandroto) bernyanyi secara solo dengan melodi yang tidak banyak variasi. Dahulu pada dual ini dipakai gondrang si dua-dua. 2. Dalam upacara kematian. kelapa. Selain itu. kemudian direspon oleh kelompok penyanyi ‘Sono Yohi’ untuk menghiasi melodi Sondrono. sehingga musisi menempati strata yang terhormat dalam masyarakatnya. sedangkan pada upacara ritual keagamaan dinyanyikan “Fo’ Ere (nyanyian pendeta) yang langsung dipimpin oleh Ere (pen206 . Keenam. masyarakat Batak Simalungun memiliki Topeng Huda yang penting sekali artinya bagi rakyat Simalungun. musisi mendapat penghormatan yang tinggi dari masyarakat. Secara adat. sekaligus berfungsi untuk membedakan materi garapannya. etnis Batak Simalungun menggunakan musik dan tari untuk kepentingan religi. Terdapat dua bentuk penyajian Ho Ho. panarunai yang menjadi pimpinan rombongan diberi “ayam. dan beras” pada setiap penampilannya sebagai simbol spirit kemasyarakatan mereka. Topeng ini selalu dihadirkan pada setiap upacara kematian orang berumur tua yang diiringi dengan Gondrang Si Pitu-pitu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF masyarakat Batak Mandahiling. dan biasanya lebih tua dari penabuh lainnya. Selain dari penabuh dual ini adalah tidak boleh menabuhnya. biasanya dinyanyikan Ho Ho yang menceritakan riwayat hidup orang tua yang meninggal. Repertoar “Dual Parahot” yang khusus sebagai pembukaan upacara yang mempunyai hubungan dengan religi (roh jahat dan roh baik). merupakan repertoar pendahuluan sesudah repertoar pembukaan. Oleh sebab itu. yaitu desain pakaian menyerupai kuda. sedangkan roh-roh jahat diusir (diiringi tari). seperti “Panarunai” lebih tinggi kedudukannya. Kelima. etnis Nias terkenal dengan musik vokal ‘Ho Ho” yaitu kesenian vokal yang teksnya berbentuk puisi. yaitu 1) Ho Ho Ba Fetatoro (duduk). dan hiburan. Repertoar musik Simalungun yang terkenal sebagai berikut: 1. burung enggang.

Biasanya hiburan musik Sikambang diadakan pada malam ketiga ini. irama Lagu Duo serta Tari Salendang. dilanjutkan dengan irama Kapulo Pinang dan Tari Payung. Ketiga kelas upacara pesta perkawinan ini tetap dilaksanakan selama 7 hari 7 malam. yaitu suatu tanda kelengkapan adat istiadat dalam bentuk selendang beraneka ragam warna yang dipasang pada langit-langit di atas pelaminan yang disangkutkan dengan bambu yang sudah ditata sesuai dengan perlengkapan pelaminan. Pesta Perkawinan masyarakat Pesisir Sibolga dibagi atas tiga kelas: 1) pesta keturunan raja dengan memotong kerbau yang berhak memakai kain sampe gala 12. maka pengetua adat akan mengatur pelaksanaannya sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan. cs. Apabila seseorang anggota masyarakat Pesisir Sibolga ingin menggunakan musik Sikambang pada pesta perkawinan. Walaupun pesta perkawinan dilaksanakan selama 7 hari dan 7 malam. 2. dan telah memenuhi syarat-syaratnya antara lain sebagai berikut: 1. dimana pengantin duduk di atas pelaminan untuk berinai. 207 . Menyampe. Kelompok per11 Fadlin. Medan: USU. “Tata Cara Adat Perkawinan Pesisir Sibolga. 1985. Kemudian dengan iringan lagu Dampeng. dan upacara ini dibuka dengan irama Kapri dan Tari Sapu Tangan. 2) pesta keturunan bangsawan dengan memotong sapi yang berhak memakai kain sampe gala 9. hal 7. pengantin laki-laki diarak masuk ke dalam ruangan tempat besanding yang langsung disandingkan dengan pengantin wanita yang sudah duduk menanti11.” Laporan Penelitian. upacara “pesta perkawinan” dan kesenian yang melekat padanya menjadi seremoni adat yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat Pesisir Sibolga dan sekitarnya. tetapi puncak kemeriahannya terjadi pada malam ketiga. cs. bahwa upacara basanding duo diadakan pada malam ketiga. Fadlin.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI deta) yang memegang Fondrahi. yaitu sejenis gendang yang dipakai untuk menyampaikan sesuatu maksud dari pendeta. dan 3) pesta keturunan rakyat biasa dengan memotong kambing. namun penggunaan musik Sikambang mesti mendapat persetujuan dari pengetua adat terlebih dahulu. Menurut Fadlin. tetapi tidak berhak memakai kain sampe gala. Galombang 12 adalah suatu permainan pencak silat oleh 24 orang pesilat yang dibagi atas dua kelompok. Ketujuh.

mendu. Fadlin. Akulturasi. 13 Muhammad Takari. hal 6. bangsawan. dan lain-lain. bahwa pada waktu berhubungan dengan adat. jin. Salah satu contoh teater tradisi di sini ialah teater Bangsawan. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan. Apabila pesta perkawinan akan disempurnakan dengan penyajian Galombang 12. sehingga aktivitas berkesenian memang banyak berhubungan dengan kuasa-kuasa gaib yang dimulai dengan jampi-jampi (mantera).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF tama mendampingi pengantin pria sebagai panglima atau raja sehari dan kelompok kedua berfungsi sebagai pengawal dari pengantin wanita. 208 . menjauhkan bencana. musik-musik sebelum Hindu/Islam digunakan untuk mengiringi teater-teater tradisional Melayu. jembalang laut. Ini merupakan arti tersirat yang tidak boleh dilanggar. Teater 12 Fadlin. Lagu dampeng adalah lagu vokal yang dinyanyikan oleh laki-laki. jin. puaka. 1985. lagu bertuah. terutama dipakaikan pada alat-alat musiknya. maka pihak pengantin wanita/pria diharuskan menyembelih kerbau atau lembu sebagai persyaratan dalam peradatan. cs. syarak bersendi Kitabullah” tetapi cukup sarat produk sosial dan seninya dibarengi oleh unsurunsur kepercayaan kepada alam roh. Medan: USU. Kedelapan. jikalau tidak sanggup menghadirkan langit-langit dan pelaminan. seperti hantu jembalang tanah. dewa. Walaupun falsafah orang Melayu “adat bersendi syarak. sebaiknya tidak menampilkan kesenian Sikambang. Misalnya. untuk rasa perdamaian dengan kuasa gaib. Makalah. di samping kepercayaan kepada Allah YME. Medan: Etnomusikologi USU. seperti wayang kulit. “Musik Melayu: Akar Budaya. makyong. musik Sikambang dimainkan di bawah langitlangit dan pelaminan. syetan. hal 45. Ketangkasan bermain silat sewaktu penyambutan pengantin lakilaki diiringi dengan lagu dampeng. menhora. Perubahan. mambang dan lain-lain. kalau dilanggar adalah dianggap melanggar adat dan bagi pelanggar ada sangsi sosial bagi kelompok yang melanggar. 2005. “Tata Cara Adat Perkawinan Pesisir Sibolga. yang dinyanyikan secara bersahutsahutan antara solo vokal yang teksnya berupa doa’-doa’ kepada Tuhan dan disambut oleh orang ramai yang pada dasarnya menguatkan doa’ yang dinyanyikan oleh solo vokal12.” Laporan Penelitian. kesenian tradisional warisan etnis Melayu. mengusir hantu atau setan13. dan Kontinuitas.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bangsawan dikenal juga dengan istilah Opera Melayu. karena: 1. Baik Anak Muda. Para pemain utama dengan ciri-cirinya sebagai berikut: 1. 3. dengan membawakan tema mengenai kesatriaan seorang tokoh. Tokoh Anak Muda yang berperan sebagai pahlawan. Kelompok Indra Ratu (Sultan Serdang) 2. di mana Sri Panggung dan Anak Muda harus pandai bernyanyi dan menari. Pembukaan dan penutup dalam permainan teater Bangsawan juga dibarengi dengan mantera-mantera. tersingkirkan oleh sandiwara-sandiwara modern. Menjelang Perang Dunia II teater bangsawan sudah tidak bisa bersaing lagi dengan kemajuan teknologi (film. 3. Bangsawan merupakan cikal-bakal terjadinya jenis teater —peralihan— ke teater modern dengan dua dimensi. Dialog tidak bisa dipelajari dengan naskah. maupun Primadona yang mempunyai karakater permainan yang baik. 2. 209 . Pada daerah Melayu teater Bangsawan muncul secara berkelompok atau kumpulankumpulan. di antaranya yang terkenal adalah: 1. tetapi tidak bisa bertahan lama karena pemain yang berkualitas akan disabet oleh rombongan lain yang lebih kaya. Terdapat Tukang Lawak yang selalu menghidupkan suasana panggung 4. Kelompok Dardanela Setelah jaman Jepang perkembangan teater Bangsawan menurun. Teater bangsawan mahal biayanya. dan hilangnya lafal norma-norma bahasa Melayu. Hal yang menarik dalam teater Bangsawan. karena sarat sekali dengan perlengkapan-perlengkapan yang harus dipersiapkan. harus dipelajari dengan meniru tokoh dahulu secara oral tradisi. Di dalam cerita Bangsawan sudah dipakai cerita-cerita kejadian yang bersumber dari peristiwa-peeristiwa di negeri Barat. Kelompok Stambul 3. Ada Jin Jahat yang berperan untuk merong-rong ide-ide dari tokoh. Terdapat Sri Panggung yang menjadi primadona dalam cerita. TV). 2.

Makan Sireh. e. adalah nyanyian hiburan yang umum dinyanyikan di daerah Asahan dan Labuhan Batu. Rentak Senandung (Malaysia: Rentak Asli). yaitu lagu yang menurut keterangan orang-orang Melayu di Sumatera Timur (kini Sumatera Utara) berfungsi untuk memanggil angin di laut sa’at mereka mengalami mati angin sewaktu menangkap ikan. Pancang Jermal dan lainnya. Rentak Senandung berbirama 4/4 dengan tempo lambat (andante) tetapi siklus pola ritemnya 8/4. seperti Kuala Deli. sebagaimana tempo Samba. Rentak Lagu Dua (Malaysia: Rentak Joget). maka lagu ini sering dilagukan oleh pelaut/nelayan. Berbirama 2/4 dengan membawakan tempo agak cepat. c. dan lain-lain. Tempo tercepat dari Rentak Lagu Dua ini diistilahkan dengan ‘Rentak Pulau Sari’ yang difungsikan untuk pengiring Tari ‘Serampang 12’ yang diciptakan almarhum Guru Sauti dari daerah Perbaungan. Bagi etnis Melayu Deli ‘Irama’ berhubungan dengan pola ritem gendang yang sekaligus tersangkut di dalamnya pemahaman terhadap “tempo” permainan suatu lagu. Ragam Berjalan yang artinya cinta meresap. Beberapa Irama atau Rentak Musik Melayu Deli sebagai berikut: 1. dan Mambo. Tarian Serampang 12 mengisahkan percintaan yang diakhiri dengan perkawinan dengan struktur gerak meliputi sejumlah 12 ragam: a. Beberapa lagunya yang terkenal ialah Dua Singapura. bernada sedih tentang peruntungan yang malang. ragam Berjalan yang artinya 210 . Ragam Gila Kepayang yang artinya mabuk kepayang. dan mengiringi lagu yang memakai pantun jenaka yang merupakan pantun anak muda. Irama ini diiringi dengan lagu yang memaki pantun nasib.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Kemudian. b. Ragam Permulaan yang artinya pertemuan pertama. Beberapa lagunya yang terkenal. 2. sering disebut juga dengan ‘Lagu Menari’ yang sangat digemari dalam tarian bebas. Pola ritem Rentak Lagu Dua sangat populer di tengah-tengah masyarakat Melayu. Ragam Pusing Tari yang artinya memendam rasa. Rentak Senandung berasal daripada lagu-lagu Senandung. Damak. Tanjung Katung. d. Dendang Sayang. sampel seni dari etnis Melayu Sumatera Utara yang dipilih ialah lagu-lagu Melayu Deli yang langsung berhubungan dengan tarian.

sehingga tidak diiringi dengan nyanyian/vokal manusia. f. dan kemudian rentak ini diadopsi oleh penari dan pemusik seni pertunjukan ronggeng. h. ialah nama yang diberikan kepada wanita pengasuh setengah baya yang mengepalai sejumlah dayang-dayang dan penari di Istana raja. Irama ini mendapat pengaruh dari Arab yang bercampur dengan pengaruh suku Batak Perdambanan di hulu Sungai Asahan. l. k. 4. Ragam Sapu Tangan yang artinya pertemuan kasih mereka. Ragam Datang Mendatangi yang artinya pinangan dilakukan. karena dalam lagu tradisi Batak Karo juga ada lagu patam-patam. Rentak Gubang berasal dari lagu Gubang yang terdapat di daerah Asahan. j. i. Ragam Langkah Melonjak yang artinya masih belum percaya. Ragam Meloncat-loncat yang artinya jawaban sudah diterima. g. Rentak Ghazal berasal dari perkembangan/pengaruh dari India Utara yang dibawa oleh orang-orang Islam pada awal abad 19 ke Pulau Pinang terus ke Medan. Rentak Mak Inang (Malaysia: Rentak Inang). Beberapa di antaranya lagunya yaitu Mak Inang Pulau Kampai. 3. seperti daerah Langkat. Pada mulanya irama ini hanya berkembang pada daerah-daerah yang dipengaruhi oleh Batak Karo. serta Serdang. dan Deli. Tempo rentaknya sedang (sekitar 100 ketukan dasar per menit). Ragam Sebelah Kaki yang artinya menduga. Irama ghazal ini dipakai pada 211 . Ragam Gencat-gencat yang artinya balasan isyarat. Ragam Rupa-rupa yang artinya mengantar penganten. Tarian Mak Inang biasa dibawakan oleh Mak Inang (dayang pengasuh keluarga kerajaan).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI bersifat isyarat tanda-tanda cinta. 5. yang kemudian dipergunakan pula oleh rakyat awam. Pada abad ke 20 rentak Mak Inang ini lebih dicepatkan dan lahirlah lagu dan tari Cek Minah Sayang yang memakai sapu tangan atau selendang untuk penampilannya. Berbirama 4/4 dengan membawakan tempo cepat yang diiringi dengan lagu yang memakai pantun jenaka. Tempo tercepat dari Mak Inang ialah rentak Patam-patam dengan memakai birama 4/4 dengan tempo cepat sekali. Mak Inang Kayangan dan sebagainya.

konsep musikal dan konsep pertunjukan masing-masing rentak di atas telah mengadopsi konsep harmoni musik Barat. dan lainnya. Berbagai Rentak atau irama Melayu di atas dimainkan sesuai dengan ciri khas alat musik gendang yang dimiliki oleh masing-masing rentak di atas. Rentak Zapin. 6. Rentak Kelantan. di antara kedelapan jenis rentak yang dimiliki etnis Melayu Deli ini telah menjadi master-piece pada tataran konteks hiburan dalam masyarakat Melayu Sumatera khususnya. 7. Sebetulnya. atau ada yang mengatakan Laila Majnun yang merupakan pengaruh dari Arab. Rentak zapin dimainkan dengan gendang Marwas. 8. berkembang merata di seluruh wilayah alam Melayu Nusantara yang merupakan suatu ritme atau rentak atau irama yang merupakan pengaruh dari irama-irama Timur Tengah. kedelapan jenis rentak Melayu Deli ini termasuk klasifikasi musik modal yang masuk kategori musik tradisional etnis Melayu di Sumatera Utara. dan Melayu Nusantara umumnya. Biasanya irama Kelantan ini dipakai untuk kesenian dzikir yang berkembang di daerah Melayu Singapura. tetapi ciri-ciri khas dalam pembawaan lagu dan melodi tetap didominasi oleh karakter Melayu. berasal dari daerah Malaysia Utara atau dari daerah Thailand Selatan yang berkembang sampai ke berbagai daerah Melayu. seperti Rentak Senandung dilahirkan dengan gendang ronggeng. Kondisi Kehidupan Kesenian Tradisional di Sumatera Utara Dewasa Ini (Perubahan dan Keberlanjutan) Dahulu areal kabupaten lebih merujuk kepada geografis yang didi212 . seperti kisah Laila. Rentak Chalti. bahkan karakter lagu dan melodi Melayu tersebut telah menuntut terjadinya pemodifikasian progresi akord-akord musik Melayu Deli yang tidak lagi sepenuhnya mengaplikasikan konsep harmoni musik Barat (musik tonal). Berasal dari Irama Chalti inilah berkembangnya pola ritme gendang pop dangdut. Dengan demikian. merupakan pengaruh dari India Selatan. Walaupun instrumentasi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF nyanyian yang mempunyai syair-syair cinta.

Beberapa alasannya: 1) teks lagu-lagunya menggunakan bahasa Melayu yang beranalogi dengan bahasa Indonesia. sangat disayangkan bahwa potensi ini tidak dapat diraih oleh genre musik Melayu Deli ini. 2) Instrumentasi dan konsep musikalnya telah mengadopsi unsur-unsur musik Barat. dan dalam perjalanan waktu. Dengan demikian. Batak Simalungun. dan kondisi kehidupan kesenian pada masyarakat kota-kota di Sumatera Utara yang heterogen dalam membangun komunikasi sosial mereka. Nias.dalam komunikasi sosial kehidupan masyarakat Sumatera Utara dewasa ini. dan Melayu masih tetap dan belum mengalami perkembangan yang berarti.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ami suatu etnis. akan terdapat etnis tertentu yang berada pada daerah kabupaten yang dominan didiami oleh etnis lainnya. Batak Pak Pak Dairi. 3) konsep pertunjukannya telah meminjam cara-cara pertunjukan musik populer. dijumpailah kondisi kehidupan kesenian pada masing-masing etnis secara homogen. Analoginya. sehingga repertoar lagunya 213 . Sebetulnya. serta prospek keberlanjutannya di masa datang. ternyata kondisi kesenian tradisional dalam sosio-kehidupan masyarakat dari etnis Batak Mandahiling. dan pengaruhnya terhadap penikmatan seni masyarakat heterogen di kotakota Sumatera Utara. bahkan pengaruhnya terhadap etnis lain di luar Sumatera Utara. Pesisir Sibolga. sekarang terjadi pemekaran pemerintahan yang beroreantasi kepada luas wilayah dan jumlah penduduk. secara garis besar pembicaraan bagian ini akan terfokus kepada tiga fokus utama terhadap penggunaan kesenian tradisional –yang tetap dan yang berubah-. 4) karakter lagu dan melodinya mudah dicerna dan diterima oleh semua etnis. posisi musik dan tari Melayu Deli yang didasarkan kepada konsep rentak sebagaimana pembicaraan di atas sangat potensial sebagai musik tradisi etnis Melayu yang bisa membangun komukasi sosial pada tataran pergaulan semua etnis (asli dan pendatang) Sumatera Utara di masa sekarang dan akan datang. Mengamati dinamika kehidupan delapan etnis asli Sumatera Utara dewasa ini. Sehubungan dengan itu. Oleh karena itu. di antara masyarakat dari delapan etnis asli Sumatera Utara juga pergi merantau ke kota-kota propinsi ini bergabung dengan para perantau yang berasal dari etnis di luar Sumatera Utara. karena terjadi kemandekan kreativitas para senimannya. Penilaian ini didasarkan atas eksistensi kesenian itu di dalam etnisnya masing-masing.

Sebaliknya. hal 11-12. Sejak saat itu berbagai pertunjukan tradisi gondang secara praktis dibatasi (restricted) dan dalam beberapa kasus dilarang (prohibited). Rithaony Hutajulu menjelaskan proses perubahan eksistensi musik gondang dalam kehidupan etnis Batak Toba sebagaimana berikut. baik di tengah kehidupan etnisnya sendiri. sehingga berdampak terhadap eksistensi kesenian etnis tersebut di tengah percaturan kesenian. Pada sisi lain. Bahkan yang cukup mengiris perasaan. 2002. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara. karena telah gagalnya semiman senior mewujudkan kaderisasi generasi mudanya. Misionarisasi Kristen di tanah Batak dimulai sejak tahun 1860an. 14 Rithaony Hutajulu. misalnya. repertoir Gondang Sabangunan yang semata-mata untuk tujuan hiburan mempunyai garapan melodis yang lebih luas. Bandung: UPI. Batak Karo. ataupun pada kehidupan kota-kota Sumatera Utara yang heterogen. misalnya dalam upacara adat. khususnya dalam penyembahan roh (“sipelebegu”). para misionaris Kristen memperkenalkan jenis ensambel musik tiup Barat (brass music) kepada masyarakat Batak Toba.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF masih nomor-nomor sediakala yang telah usang. musik gondang hanya boleh dimainkan pada acara-acara tertentu yang “hanya” berkaitan dengan aktivitas sosial. Konsekuensi yang diterima bagi anggota masyarakat Batak Kristen yang tetap melakukannya. bahwa perubahan yang mendasar terjadi dalam dinamika keberlangsungan kehidupan tradisi seni gondang pada masyarakat Batak Toba dapat ditandai dengan masuknya agama kristen ke tanah Batak. Alat musik Gondang Sabangunan sering ditambah dengan musik ringan. mereka akan dikeluarkan (“ban”) dari gereja. Dalam hal ini. 214 . perkawinan. dan etnis lainnya.” Makalah. Perubahan kondisi kehidupan kesenian yang cukup fenomenal terjadi pada etnis Batak Toba dan Batak Karo. dan harus minta izin pada gereja. Pembatasan biasanya dilakukan dengan adanya sejumlah kompromi. terutama digunakan dalam aktivitas ritual keagamaannya14. bahwa pertunjukan Musik Melayu Deli dewasa ini adalah dihidupkan oleh musisi-musisi yang sebagiannya berasal dari etnis Minang. maupun pada taraf nasional. Pembatasan dan larangan ini khususnya dikenakan pada masyarakat Batak Toba yang telah beralih (converted) ke agama Kristen. Sedangkan hal yang sama sekali dilarang adalah berbagai elemen ritual atau upacara terkait dengan kepercayaan lama (pra-Kristen).

2. Margondang Pesta. 1994. yang memiliki latar belakang musik Barat dengan karya eksperimentalnya. perkawinan. hasapi lagu (kecapi lagu). Margondang Religi. Margondang Mamele. 215 . upacara adat di Batak Toba. Dengan demikian. untuk mencari dana pembangunan gedung. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. Buku Buklet. Tiga macam klasifikasi fungsi Gondang Batak Toba yang sekarang. bahwa fenomena lainnya bisa dilihat adalah kreativitas dari Nortir Simanungkalit. sulim (suling). Sebaliknya. orang tidak kawin.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sarunai etek (sarunai kecil).” 15 Banggal Marpaung. tetapi nilai-nilai estetika tradisional masih tetap dipertahankan. Contoh musik Gondang Sabangunan ditambah musik ringan mengiringi lagu-lagu disertai vokal dengan judul “Alai Badogem’15. Gaya seperti ini lazim dipakai mengiringi lagu daerah Batak Toba dengan kombinasi garapan melodis dengan pendekatan ’modern’. maka sesuatu modifikasi dalam bentuk kreativitas bisa terjadi. Margondang Adat. yakni menggabungkan/ mengakumulasikan semua jenis alat musik tradisi Batak Toba dalam format “orkestra. Margondang Sibarang. Margondang Hiburan. sebagaimana contoh berikut: Tiga macam klasifikasi fungsi Gondang Batak Toba yang dahulu: 1. untuk pesta keagamaan/kepercayaan suku Batak Toba. gereja dll. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. hal 3-4. orang tidak punya anak. untuk mengiringi upacara pemberian nama. bila berhubungan dengan selera populer. 2. 3. untuk mengiringi upacara yang bersifat keagamaan. seorang pemusik/komposer Batak Toba. kematian. sebagaimana yang dinyatakan oleh Ritha Ony Hutajulu. Tangga nada yang dipakai jauh lebih luas. 3. garantung lagu dan garantung bass. untuk mengiringi orang mati. masyarakat etnis Batak Toba telah menyikapi pergolakan sosio-seni yang terjadi dalam kehidupan beradat dan beragama mereka dari format lama ke dalam formulasi baru yang tidak menghilangkan konsep seni tradisinya yang asli. untuk mengiringi pesta. sebagai berikut: 1.

Bandung: UPI. baik dalam konteks upacara Guro-guro Aron dan upacara adat lainnya. sehingga disebut dengan “Kulcapi Orgen. bahkan kombinasi komposisi Kulcapi/Sarune Karo juga terjadi untuk musik Melayu Deli. Walaupun kreativitas ini masih berada pada tataran eksperimen. Selanjutnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Beberapa hal yang ia kerjakan antara lain: 1) menstandardisasi laras/ tuning semua alat musik berdasarkan konsepsi musik diatonis Barat. alto.” Makalah. Terdorong oleh kemajuan tekonologi elektronik. maupun dalam konteks musik populer Karo. terinspirasi oleh permainan Kulcapi Orgen. Pada sisi lain. tetapi konsumen etnis Karo. tetapi dalam garapan harmoni Barat16. hal 16. perubahan yang cukup mencengangkan juga terjadi pada kesenian tradisional Batak Karo. Minang dan 16 Rithaony Hutajulu. 216 . maka seniman Kulcapi Karo yang terkenal bernama Jasa Tarigan membuat lompatan yang drastis dengan meninggalkan instrumen Kulcapi dan menukarnya dengan alat musik orgen yang mengadaptasikan karakter permainan melodi Kulcapi padanya. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara. dan 3) memainkan lagu-lagu Barat dan populer Batak. permainan Gendang Lima Sendalemen plus Kulcapi Orgen mendapat sambutan baik oleh masyarakat Batak Karo. membuat formulasi alat musik hasapi. Seniman Gendang Lima Sendalemen etnis Batak Karo membuat sesuatu yang kontroversial dalam masalah penggunaan instrumen Kulcapi. sehingga karakter bunyinya sudah terbias oleh rambatan bunyi spull-mic tersebut. 2) meluaskan peran musikal tiap alat musik berdasarkan peniruan standar orkestrasi Barat.” Ironisnya. Sebetulnya penggunaan spull-mic inipun sudah bermasalah terhadap originalitas akustik dari Kulcapi itu sendiri. misalnya. 2002. Permainan Kulcapi secara manual yang diperkeras suaranya dengan bantuan mic dikembangkan dengan penggunaan spull mic yang langsung dipasangkan pada badan Kulcapi tersebut. sarune etek dan sulim berdasarkan tingkatan soprano. senimanseniman pop Karo mengembangkan lagi sayapnya dengan memadukan karakter melodi Kulcapi/Sarune Karo dengan karakter melodi Saluang Minang sebagai aransemen musik pengiring lagu-lagu pop Minang. garantung. sehingga lahirlah paket musik pop yang bernama Pop Karmina (Pop Karo Minang). tenor dan bass. tidak dalam kaidah tekstural heterofonis tradisional.

Sehubungan hal di atas. Musik tradisional dari berbagai etnis asli Sumatera Utara yang tidak mengalami pergolakan kreativitas oleh seniman-senimannya ternyata eksistensinya masih tetap berada pada lingkaran kehidupan etnisnya sendiri sehingga tidak banyak diapresiasi oleh masyarakat urban kota-kota Sumatera Utara yang hetero217 . Sordam dan Piso Surit dari Karo. kesenian tradisional telah memberikan sumbangan yang cukup berarti terhadap bangunan komunikasi sosial. Kesimpulan Berdasarkan studi kasus seni tradisi dan poluler yang terjadi di Sumatera Utara dalam membangun media komunikasi sosial di Sumatera Utara. Tari Martonun dari Simalungun. Begitu juga lagu-lagu populer Batak Karo yang aransemen musiknya mendapat sentuhan Kulcapi Orgen dan Sarune Orgen –walaupun kuantitasnya tidak sebanyak musik Batak Toba-. dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. ternyata karya-karya musik populer Batak Toba yang masih memiliki sentuhan aransemen musiknya dengan instrumentasi Gondang Sabangunan. Gordang Sembilang dari Mandahiling. Dampak dari segala kreativitas seniman-seniman Batak Toba di atas. sehingga paket yang khas LK USU ini telah menjadi model bagi pihak pemerintah dalam mengadakan resepsi-resepsi kesenian. Ratoh dari Aceh. Gondang Hasapi dan Uning-uningan telah dikonsumsi oleh masyarakat urban kota-kota Sumatera Utara yang heterogen. sebetulnya usaha membangun komunikasi sosial antar etnis yang mendiami kota-kota di Sumatera Utara melalui kesenian tradisional telah digagas oleh Lembaga Kesenian Universitas Sumatera Utara (LK USU) dalam bentuk paket seni pertunjukan yang terdiri dari kombinasi nomor-nomor seni tradisional dari semua etnis (asli dan pendatang) yang mendiami kota Medan. Paket pertunjukan ini menghadirkan Gondang Sabangunan dan tot-tor dari Toba.juga telah mendapat sambutan dari masyarakat urban kota di Sumatera Utara tersebut. Sikambang dari Pesisir Sibolga. dan Tari Rantak dari Minang. dan misi kesenian atas nama pemerintahan Sumatera Utara. Gendrang Goci dari Pak Pak Dairi. khususnya bagi heterogenitas kota Medan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Melayu cukup mengapresiasi kehadiran kaset-kaset tersebut. Paket ini cukup mendapat perhatian dari pihak pemerintahan. Melalui model paket seperti ini. tari Serampang 12 dari Melayu.

Buku Buklet.sebagaimana modelnya yang telah ditunjukkan oleh Lembaga Kesenian USU Medan.” Skripsi. adalah memiliki potensi yang sangat ideal lagi strategis sebagai media pembangun komunikasi sosial bagi masyarakat Sumatera Utara yang heterogen. penukaran instrumentasi dan konsep musikal ensambel musiknya terhadap konteks yang berhubungan dengan ibadah keagamaan sesuai dengan pengaruh visi dan misi tokoh-tokoh agama tersebut. Etnis asli Sumatera Utara Batak Toba dan Batak Karotelah mengalami dinamika perubahan yang cukup fenomenal untuk era dewasa ini. Muhammad Takari. “Tata Cara Adat Perkawinan Pesisir Sibolga. Medan: Etnomusikologi USU. cs. 1988. Kecamatan Silaen. “Musik Melayu Nusantara dalam Era Globalisasi (Pelestarian dan Pengembangan). 1988. “Studi Deskriptif Konstruksi dan Dasar-dasar Pola Ritem Gendang Melayu Sumaera Timur. 2005. Medan: USU. Fadlin. Etnis ini telah mengadakan peninovasian. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. kecuali oleh etnisnya masing-masing yang merantau ke kota tersebut. Medan: Etnomusikologi USU.” Skripsi.” Laporan Penelitian. Malaysia.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF gen. mereka masih tetap mempertahankan instrumentasi dan konsep musikal ensambel musiknya yang asli untuk keperluan yang berhubungan dengan upacara-upacara adat. Shah Alam: UiTM Shah Alam. Pada sisi lain. 1994. namun masyarakat Batak Toba telah menyikapinya dengan bijaksana. Walaupun permasalahan agama (Kristen) telah mengintervensi eksistensi kesenian tradisional Batak Toba terhadap konteksnya yang religius. dan melakukan penginovasian kesenian tradisinya untuk kepeluan hiburan masyarakatnya. 1996. “Musik Melayu: Akar Budaya. Emmi Simangunsong. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. “Fungsi Musik Gondang Sabangunan dalam Upacara Ritual Parmalim Sipaha Sada di Desa Lumban Gambiri. 218 . Hajizar. Daftar Pustaka Banggal Marpaung. Perubahan. 2. 1985. Paket-paket pertunjukan seni yang terdiri dari kombinasi materi seni dari etnis-etnis asli dan etnis pendatang di Sumatera Utara untuk mengisi berbagai jenis resepsi hiburan –terutama kota-kota-. Makalah. Fadlin. 3. Akulturasi.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dan Kontinuitas. 219 . 2004.” Makalah. ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Bandung: UPI. Rithaony Hutajulu. Makalah. Medan: Panitia Pesta Budaya Daerah Sumatera Utara. “Tari dalam Konteks Budaya Melayu. ------------------------. Medan: Etnomusikologi USU. Medan: Etnomusikologi USU. 2002. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara.” Makalah. ”Budaya Sumatera Utara dan Upaya Pembinaan-Pelestariannya.” Makalah. Wikipedia Indonesia. 1987. Soegijo.

Kar.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Hj. Sumatera Barat dengan kepangkatan Lektor Kepala.. S. Kelahiran Agam 17 Agustus 1952.Pd. Pernah menjadi Pembantu Ketua II ISI Padang Panjang. Aktif dalam penelitian dan pendiiakan mengenai Tari Minangkabau. M. Nirwana Murni. Saat ini menjadi Dosen ISI Padang Panjang. 220 .

Ada yang didahulukan dengan potong tumpeng disertai tepuk tangan dan nyanyian. S. tenang tanpa ada suara bergaung. Ada juga duduk bersama semalam suntuk sambil mendengarkan pantun atau puisi yang dilagukan. M. Seni pertunjukan yang diselenggarakan berkaitan dengan upacara masih dapat dijumpai di berbagai daerah. Ada yang dilakukna dengan arak-arakan mengelilingi desa. Seni tradisional dimaksud adalah tari. dan hal ini disebut dengan seni tradisional. upacara-upacara yang bersifat ritual merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia.Kar. Dosen Jurusan Seni Tari STSI Padang Panjang Pendahuluan eni pertunjukan dengan beragam jenis dan bentuknya dapat terkait dan hadir di dalam bermacam-macam kesempatan. Palembang merupakan sebuah wilayah kota madya yang berada di S 221 . Tontonan.. khidmat. Ia tampil sebagai ungkapan kepentingan yang berlainan. Tetapi diantara bentuk-bentuk upacara tersebut ada bentuk upacara yang tergolong “seni pertunjukan”. Sampai saat ini masyarakat Indonesia juga mengadakan upacara-upacara dalam berbagai bentuk dan dalam rangka tertentu.Pd. Mereka memiliki tradisi dan bentuk upacaranya sendiri sesuai dengan kebudayaan masing-masing. Ada juga yang dilakukan secara khusuk.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Strategi Kemasan Seni Tradisi Sebagai Media Komunikasi Sosial di Sumatera Barat Nirwana Murni. Antara daerah satu dengan daerah yang lainnya memiliki cirri khas kedaerahan yang berbeda-beda.

dua orang pembawa peridonan kembar (tempat tepak) dan enam orang sebagai pengiring. Volume gerak tangan dan kaki terkontrol cenderung membangun sebuah ciri karakteristik dan gaya putri halus. seperti tari penganten. Oleh karena itu hampir setiap penyelenggaraan upacara adat selalu dijumpai seni pertunjukan yang menyertai. satu orang sebagai pembawa tepak (tempat berbentuk segi empat untuk sekapur sirih). dan tari gending sriwijaya. 1975: 3). Dari sisi koreografi tari Gending Sriwijaya merupakan sebuah sajian tari yang dilakukan oleh 9 orang penari putri dengan rincian. tari ini didukung pula oleh dua orang pria/ garis panjang dan tombak. Lingkungan istana mulai memelihara dan mengembangkan seni yang mengagungkan kebesaran raja. 1984: 13). Masyarakat di wilayah ini sebagian besar hidup dan mencari nafkah dalam pola budaya nelayan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Sumatera Selatan. Hirarki penari yang ditentukan berdasarkan kedudukan orang tua di dalam pemerintahan semakin menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terdapat di dalam tari ini mempunyai makna tersendiri. tari sitabih. Keberadaan pada upacaraupacara adat yang bersifat komunal maupun individual dianggap penting. Pada tari ini unsur agama tersebut terlihat suasana keagamaan yang dibangun oleh gerak-gerak tari yang menggambarkan sebagai Budha tengah bersemadi (Leoni Wagirah. Palembang sebagai sebuah wilayah budaya di kenal dengan kerajaan Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan maritim di Sumatera pada abad ke-7 dengan pusat kedatuannya terletak di Bukit Siguntang. termasuk di dalamnya adalah tari Gending Sriwijaya. Kedatuan ini dikenal dengan nama kedatuan bukit yang menjadi penguasa tunggal daerah sebelah barat Indonesia pada masa itu (Depdikbub. Tari Gending Sriwijaya yang dikenal sebagai tari adat oleh masyarakat Palembang merupakan peninggalan masa itu dengan Hindu Budha sebagai agama masyarakat. yaitu suatu tempat di sekitar sungai musi di sebelah utara kota Palembang. tari sembah. Gerak tari yang lembut mengalun perlahan ditunjang dengan tata rias dan busana penari seperti pengantin wanita Palembang memberikan sentuhan emosional tersendiri. Dengan lahirnya Kedatuan Sriwijaya lahir pula kesenian di kalangan bangsawan. Selain sembilan orang penari putri tersebut. Sebagaimana tari 222 . Struktur dan pola penyajian ini sangat teratur dan hierarkis. dan seorang lagi bertugas sebagai penyanyi.

Hal ini menyebabkan tari Gending Sriwijaya turut hilang bersama runtuhnya kesultanan ini. tiga. Dahlan. dan pesta perkawinan anak raja. 1975: 32). sehingga tari bukan merupakan pusaka keratin yang tetap terjaga. Fungsi awal tari ini diyakini sebagai sajian pada waktu raja mengadakan pertemuan dengan seluruh kerabat sebelum melaksanakan pekerjaan berat. Tinjauan Historis Sekitar tahun 1659 Palembang jatuh ke tangan Belanda. Bentuk tanggai yang melengkung ke atas melambangkan perahu. Ciri lain yang terdapat pada tari Gending Sriwijaya adalah properti yang dipakai yaitu tanggai. Kuntowijoyo mengatakan bahwa pada masyarakat mungkin tipe-tipe kerajaan maritim dan komersial pusat kerajaan tidak begitu penting sehingga sulit dicari kesinambungan lembaga yang memproduksi kearifan simbolis (Kuntowijoyo. Sedangkan oncer melambangkan kekayaan yang melimpah dari sungai musi yang membelah kota Palembang. 1987: 13).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI budaya yang memiliki penamaan pada setiap pelaku tarinya. dan ketiga yaitu penari nomor satu.. pusat kerajaan tidak begitu penting. Pada baris terakhir yaitu nomor delapan dan sembilan adalah tingkat Asean Pak Sangkang yaitu putrid pejabat biasa dalam pemerintahan (Leoni Wagirah. pada Gending Sriwijaya juga ditemukan perbedaan penamaan itu. Tanggai adalah kuku panjang yang memakai rumbai disebut oncer. Mungkin karena kerajaan maritim. manis. menceritakan kejayaan Sriwijaya di masa lampau. Tanggai ini dipakai di jari kelingking. Pada baris berikutnya yaitu nomor enam dan tujuh adalah penari tingkat Asean Selendang Mantri. dua. untuk ulang tahun raja. terdiri dari putri-putri menteri. mereka yang bukan keturunan raja umumnya tidak diperkenankan memakai pakaian pengantin Asean Gede (dadot Palembang). Ibu jari tidak bertanggai. Pada masa lampau penentuan pakaian pengantin ini terjadi pula di masyarakat umum artinya. sedangkan liriknya digubah oleh Mungcek A. tengah dan telunjuk. Penari pada barisan pertama. kedua.R. Hal ini dimungkinkan karena pada masyarakat maritim di muara sungai dan laut 223 . empat dan lima adalah penari tingkat Asean Gede. Mereka adalah putra putri dari raja. Tari ini disebut Gending karena lagu pengiringnya berjudul Gending Sriwijaya. Lagu ini melodinya diciptakan oleh M.

Dari uraian tersebut dimungkinkan bila tari Gending Sriwijaya sebagai hasil budaya kesultanan Palembang turut hidup bersama runtuhnya kesultanan ini. karena selain tidak ada lagi lembaga budaya yang mewadahinya. dengan hanya dalam bidang budaya. bernilai tinggi. kerajaan masih ada. Golongan bangsawan. Pada masa itu tari Gending Sriwijaya muncul lagi kepermukaan dan setelah kemerdekaan tari ini disahkan menjadi tari adat oleh pemerintah daerah. Perjalanan sejarah dan wujud yang indah dari tari Gending Sirwijaya semakin mengukuhkan tari ini dianggap merupakan hasil dari sebuah lembaga budaya kerajaan yang diyakini menghasilkan budaya yang halus. Bila tidak diacara kenegaraan. dan Kalimantan mempunyai cirri demokratis. Tari ini muncul lagi pada masa penjajahan Jepang. Dari sini dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara Kesultanan laut dengan Kerajaan agrarian yang melahirkan budaya keraton. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa selama ada keraton. bersama sama raja dan bangsawan memiliki modal (kapal) yang kadang-kadang berniaga sendiri atau mempercayakan modalnya kepada ahli-ahli perniagaan yang disebut syahbandar dengan hulubalang yang bertugas menjaga keamanan disebut Hang (Ensiklopedi Nasional Indonesia. Sumatera. Dengan politik halus. 1990: 467). maka pementasan tari ini harus mendapat izin khusus dari pemerintah. Sejak saat itu tari Gending Sriwijaya sebagai sebuah pertunjukan tari dipentaskan hanya pada penyambutan tamu agung dalam upacara kenegaraan sebagai ucapan selamat datang. karena perbedaan antara rakyat dengan penguasa pada dasarnya tidak besar. Bahkan kerajaan yang fungsi politiknya telah dihapuskan seperti pada Sultan Hamengkubuwono VIII. Sultan masih tetap memegang teguh konsep kekuasaan Ratu Gung Binantahara atau “raja yang di dewakan”.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF seperti umumnya kerajaan-kerajaan di semenanjung Malaysia. pada tipe kerajaan maritim pusat kerajaan tidaklah begitu penting sehingga tari bukan merupakan pusaka keraton yang tetap terjaga. raja. Dari uraian di atas maka tidak mengher224 . di kerajaan agrarian kesatuan politik tetap ada selama masih ada pusaka-pusaka dan siti hinggil (tahta) masih berada di tempat suci. Jepang membentuk sebuah organisasi musisi kesenian bernama Hodohang beranggotakan orang Jepang dan masyarakat Palembang. dan rakyat ikut serta dalam perniagaan. Berbeda dengan kesultanan laut.

Tradisi seni pertunjukan galombang khas orang Pariaman dapat ditemui hampir disetiap daerah dalam wilayah kebudayaan Pariaman. Tamu yang dimaksud adalah 225 . Pertunjukan ini biasanya menjadi bagian atau menempati posisi sebagai bagian dari pesta yang berhubungan dengan pelantikan pemimpin (penghulu) (Mahdi Bahar. Pada sebuah perkampungan yang relatif sepi dalam rutinitas keseharian. Di daerah Pariaman Sumatera Barat juga ditemui seni pertunukan yang mereka sebut galombang seabgai bagian upacara pengangkatan penghulu suku. 1998: 24-25). masyarakat Sumatera memiliki tradisi kuat untuk menghormati dan menjamu tamu sebagaimana seorang raja. Galombang ini di bawah 6 – 12 orang penari lakilaki dewasa dengan gerakan tertentu dan diiringi musik tambua. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa orang yang seringkali didatangi tamu adalah orang yang sering dijadikan tempat bertanya bagi orang lain. Pada masyarakat Sumatera Utara kebanggaan mereka menerima tamu diwujudkan dalam bentuk tari Serampang Duabelas. Keduanya dipertunjukkan serentak dalam bentuk berlawanan. bahkan Serampang Duabelas dijadikan “bomnya” tari Melayu pada peresmian hari kemerdekaan Republik Indonesia I tahun 1945 di Istana Negara Jakarta yang diresmikan oleh Presiden Pertama Indonesia Soekarno. sehingga ia terhormat karena ilmu yang dimilikinya atau karena kedudukannya yang menyebabkan tamu harus bertandang ke rumah tersebut. Hal ini dikarenakan bila dilihat secara umum. Akan tetapi apakah usahan pensakralan yang dilakukan kaum birokrat telah pula menyentuh masyarakat Palembang sebagai penyangga budaya tersebut?. kedatangan tamu merupakan suatu yang menjadi perhatian masyarakat sekitar. Orang asing akan selalu menarik perhatian dari sebuah lingkungan homogen yang cenderung saling mengenal satu sama lain sampai pada keturunan mereka.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ankan apabila tari Gending Sriwijaya terpilih oleh penguasa daerah sebagai identitas yang ditunjukkan guna kebanggaan daerah. Bagi mereka. Kekhasan pertunjukan galombang dapat diamati dari dua sisi. merupakan aib apabila tidak dapat menjamu tamu sebaik mungkin. galombang tamu dan kedua galombang tuan rumah. pertama. sebagaimana yang selalu didengungkan pada masa lalu sebagai puncak budaya daerah yang pada akhirnya dianggap sebagai kebudayaan nasional. disajikan dalam bentuk menyongsong tamu.

1997: 52). Pendekatan lain yang perlu diambil untuk melestarikan warisan budaya adalah sosialisasi konsep-konsep. yaitu pemertahan dan dinamika. pola-pola. Hanya dengan membuka peluang untuk kreativitas dan inovasi itulah kebudayaan dapat tumbuh semakin kaya dan 226 . yaitu 1) kelembagaan. 1987: 14). Ia memandang bahwa masyarakat teknokratis kita benar-benar sebagai sebuah masyarakat neo patrimonial. Dari sana terungkap kesan bahwa ada usaha dari pemerintah daerah untuk menempatkan diri pada posisi sebagai penguasa yang melegitimasi kedudukan mereka baik secara birokrat maupun simbolis.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF setiap rombongan penghulu suku yang datang dari persukuan dalam kenagarian di daerah mana upacara diselenggarakan (Hartati. masyarakat teknoratis yang memerlukan sejumlah rekayasa simbolis yang dikerjakan oleh birokrasi. sehingga merupakan kelompok orang yang sangat dihormati. Inovasi dan kreativitas perlu didampingkan dalam proses sosialisasi tersebut. kaidah-kaidah. Beberapa tari penyambutan tamu seringkali juga ditampilkan pada upacara perkawinan berkaitan dengan kenyataan bahwa kelompok besar adalah tamu yang datang dan masuk ke dalam lingkungan rumah dan keluarga besar. dan 2) sumber daya manusia. dan nilai-nilai harus dilakukan terus menerus dari generasi ke generasi agar itu semua dapat lestari. Disamping itu harus ditetapkan lebih dahulu apa tujuan dari pelestarian warisan budaya itu. Kenyataan di dalam masyarakat yang mendudukkan seorang penerima tamu (tuan rumah) setara dengan tamu yang hadir di rumahnya barangkali yang menyebabkan tari Gending Sriwijaya mensyaratkan bahwa tamu yang datang harus pula setingkat Gubernur. yang mengambil manfaat kearifan aktual dan kearifan simbolis yang menyatu (Kuntowijoyo. Strategi Kemasan Seni Tradisi Strategi pelestarian warisan budaya berkenaan dengan dua aspeknya. Namun dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa pelestarian tidak harus berarti pembekuan. Pelestarian mempunyai makna bahwa di dalamnya terdapat dua aspek sekaligus. Dari tradisi ini tidak mengherankan bahwa tari-tari yang mengiringi penyambutan tamu tumbuh subur di daerah Sumatera. Tampaknya kita secara umum memasuki masyarakat baru. Kreativitas di dalam “tradisi” harus tetap diberi ruang gerak. sebagai seorang yang memiliki kedudukan tertinggi pada struktur lembaga pemerintahan tingka I sebuah propinsi.

Sekadar latihan dasar pertunjukan tidak akan cukup. tidak terkecuali dalam peristiwa seperti kedatangan pejabat pemerintah atau orang terkemuka lain ke desa mereka untuk maksud hiburan. iringan. yaitu khalayak ramai. konstum. sedemikian rupa agar jati diri bangsa senantiasa tampil dengan jelas dan tidak ditenggelamkan. di dalam kancah hubungan antar budaya yang selalu terjadi. Untuk mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan tersebut sisi artistik dari tari Gending Sriwijaya harus dipertimbangkan. termasuk di dalamnya unsur pemerintah. Kebutuhan yang sama juga muncul dari sektor turism. pola lantai. 227 . Untuk memenuhi kebutuhan ini adalah anggota masyarakat dalam berbagai perannya. antara keberlanjutan dan perubahan. Akibatnya. Melalui jalur pendidikan dan media massa pulalah masyarakat luas dapat dilayani untuk membuat dirinya menjadi masyarakat yang sadar budaya dan sadar sejarah. Latihan khusus dengan sentuhan professional dibutuhkan untuk menjamin pertunjukan dapat memenuhi standar artistic dan pada saat yang sama memberikan hiburan dan rekreasi. Mereka yang merupakan pelaku dan penerus nilai-nilai (pemimpin. prinsip artistik dari seni pertunjukan seperti properti. rekreasi dan penilaian artistik. dan tempat pertunjukan harus disorot. 2008: 208). Ini berarti bahwa semakin banyak pelaku seni pertunjukan yang dibutuhkan. karena pemerintah bertujuan membangun sektor ini sebagai bagian dari kebijakan pembangunan regional dan nasional. Berbagai upaya harus dilakukan yang memungkinkan berperannya tari Gending Sriwijaya adalah festival seni daerah pada perayaan 17 Agustus. adalah agar keseimbangan senantiasa dipertahankan. Yang selalu harus dijaga oleh masyarakat pemilikinya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI canggih dan sekaligus lestari oleh sebab daya hidupnya (Edi Sedyawati. Tari Gending Sriwijaya sebagai kebudayaan suku bangsa selalu berada dalam proses. terdapat pula mereka yang berkedudukan sebagai penerima. gerak. Tetapi masih ada pertanyaan yang tertinggal. siapa yang akan mulai yang mengkoordinasi semua tindakan yang diperlukan ini dan lewat mekanisme apa?. Oleh pengaruh asing tertentu. Warga masyarakat yang demikianlah yang pada gilirannya mampu menjadikan bangsanya yang kuat juga dalam segi budaya. Disamping mereka yang berperan sebagai pelaku dalam penerusan warisan budaya. pendidik formal dan non formal).

yang lain senang berpartisipasi dalam aktivitas kultural dan kehidupan sosial masyarakat lokal (Zeppel. 1) tiruan dari asliya. rekreasi dan keterlibatan dalam pertunjukan yang lebih penting bagi mereka. Dalam kaitannya dengan tari Gending Sriwijaya. untuk menarik lebih banyak lagi turis ke desa mereka. 1992: 4 – 6). 3) penuh variasi. kita harus mempertimbangkan kebiasaan para turis dalam mengunjungi desa-desa. Proses transmisi atau penyampaian pola-pola seni pertunjukan dari satu generasi kepada generasi yang lain dapat terjadi dengan disengaja dan dapat pula berlangsung tanpa disadari. Sebagai bagian dari upacara penyambutan tamu. 2003: 15 – 17) sudah menunjukkan tanda-tanda mulai dilakukan. Langkah menuju pada. Aspek yang dialihgenerasi228 . Untuk memungkinkan masyarakat desa dapat mengatur paket turis. turisme akan menjadi mekanisme efektif untuk melestarikan dan mengembangkan seni pertunjukan tradisional. Dalam pandangan saya. tetapi juga momen-momen artistiknya. maka tari Gending Sriwijaya tersebut masih dapat berfungsi seperti masa lalu. bila tari Gending Sriwijaya akan dijadikan salah satu daya tari turis ke desa-desa dan akibatnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal serta kesejahteraan sosial ekonomi mereka. Menurut Hermien Kusmayati. termasuk durasi pertunjukannya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prospek Masa Depan Dalam hubungannya dengan turisme. kontinuitas pelaksanaan seni pertunjukan ritual selain ditunjang oleh latar belakang yang berorientasi pada kebutuhan bersama juga dikuatkan oleh transmisi yang berlangsung. Beberapa turis lebih senang menikmati tamasya kultural di pedesaan. Dari sudut pandang fungsional. serta 5) murah harganya (Soedarsono. Kedua jenis kebutuhan ini harus dipenuhi dalam pengaturan paket turisme oleh masyarakat lokal di desa. elemen artistik tidaklah begitu penting. terutama yang berkaitan dengan warisan kultural penduduk lokal. Sedangkan bagi tipe kedua. tipe turis yang pertama biasanya tidak hanya menikmati aspek rekreasi dan hiburan dari tarian itu. 4) ditanggalkan dari nilai-nilai sacral atau magis dan simbolisme. 2) singkat atau padat. bila paket turis diatur dengan baik. penanganan hal yang berkaitan dengan elemen artistic seni pertunjukan tentu saja diperlukan. aspek hiburan.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI kan meliputi materi atau bentuk. Diyakini ritual ini dapat dikembangkan menjadi objek turisme yang menarik di Sumatera Selatan. sehingga secara perlahan-lahan akan mengurangi ketergantungan masyarakat lokal terhadap penggunaan sumber alam mereka secara ekstensif. susunan pemain dan pengiring yang lengkap. Padahal bila ditampilkan secara utuh dengan durasi pementasan lebih panjang. Ditinjau dari sisi karya seni pertunjukan. Karenanya ritual tradisional seperti Gending Sriwijaya sangat menarik. Apalagi. pelaku dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya (Hermien Kusmayati. kehadirannya yang terkemas dikhawatirkan bisa menimbulkan citra bahwa seni pertunjukan tersebut hanya “sedemikian saja kualitasnya”. maka rasa bosan akan cepat menghinggapi pamain. kualitas penampilan dan makna sacral yang terwujud tentu akan lebih baik pula. diciptakannya bentuk baru seni pertunjukan bagi para wisatawan ini merupakan suatu dampak yang 229 . 1999: 10). Disamping dampak yang nyata dan nilai tambah ekonomis tersebut. adanya upaya pengemasan seni pertunjukan untuk tujuan-tujuan pariwisata sering dinilai menimbulkan ekses negative terhadap keberadaan dan kelangsungan seni pertunjukan itu sendiri. Melalui turisme perkembangan Gending Sriwijaya dapat meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat lokal. setting dan lokasi pementasan yang sepatutnya. ditunjang dengan tata rias dan busana penari seperti pengantin wanita Palembang memberikan sentuhan emosional tersendiri. Pariwisata dan Seni Pertunjukan Sebagai suatu perkembangan seni. Hal ini baik bagi upaya konservasi lingkungan. Perkembangan seperti ini. juga akan meningkatkan penghargaan masyarakat lokal terhadap lingkungan alam serta warisan budaya mereka dan dapat meningkatkan kelestarian budaya dan konservasi lingkungan. serta dengan didukung oleh sarana musik dan penyiapan properti yang memadai. Perkembangan turisme sangat menarik bila ia memperhatikan dimensi lingkungan dan sosial budaya. Kalau keadaan ini tidak cepat diantisipasi. Mutu penampilan seni pertunjukan yang sudah mengalami pengalan-penggalan pada bagian-bagian tertentu tentunya tidak bisa diharapkan optimal. misalnya pada saat penari berbaris dengan teratur dan hierarkis. penampilan seadanya yang itu-itu juga menyebabkan kesan monoton merebak ke permukaan.

Hal ini mengisyaratkan adanya pertumbuhan yang menjawab tantangan untuk berkreasi bagi para seniman seni pertunjukan. Peningkatan martabat sumber daya manusia di sektor seni pertunjukan dalam kaitannya dengan iklim persaingan yang sehat perlu direnungkan dan ditindaklanjuti sebagai upaya untuk menghindari eksploitasi para seniman oleh para pengusaha industri wisata. jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah melalui jalur pendidikan. Untuk itu. tari Gending Sriwijaya yang juga mempunyai potensi untuk digarap dan diperkenalkan kepada wisatawan yang datang dari jauh untuk menyaksikan sesuatu yang baru. Misalnya. perlu dilembagakan aturan-aturan main atau kode etik dalam mengantisipasi pesan. Tantangan sekaligus juga harapan adalah bagaimana kita harus mempersiapkan alih generasi dalam rangka pewarisan semua yang telah kita miliki saat ini kepada anak cucu kita. Disamping itu upaya tersebut juga diarahkan kepada pengungkapan kekayaan khasanah budaya seni pertunjukan di panggung internasional (bagi para wisman) dan juga di panggung nasional (para wisnu). dari manapun datangnya. Untuk jalur pendidikan formal. baik formal maupun non formal. dapat dikaitkan dengan upaya rasionalisasi dalam rangka pemadatan yang bertujuan yakni melestarikan seni itu sendiri.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF positif. Kalau sudah ada. Hanya masalahnya apakah hal itu perlu dilanjutkan kepada penciptaan bentuk-bentuk baru dengan keberanian untuk mengeksplorasi jenis-jenis seni pertunjukan yang selama ini belum tersentuh jamahan pariwisata. asosiasi seniman seni pertunjukan dibentuk. Hal ini perlu dipikirkan secara terpadu dengan sektor pariwisata terkait. Bila perlu. Sedangkan bagi upaya pengemasan bentuk yang sudah ada. sehingga dapat disusun program paket pariwisata yang tidak saja berdampak meningkatkan nilai ekonomis tetapi juga berorientasi kepada pengembangan dan revitalisasi kesenian rakyat dalam rangka pelestarian jenis-jenis seni tradisi yang ada. dan menetapkan standar harga yang layak dan manusiawi bagi semua. Apalagi dasarnya dampak teknologi canggih dalam bidang home entertainment yang menawarkan alternative seni budaya asing yang cukup menggoda bagi generasi penerus kita tampaknya mendesak untuk diantisipasi dengan cepat. unik dan asli. harus dimulai persiapan sejak Sekolah Dasar dengan memberikan masukan lebh kepada porsi pengetahuan 230 .

Dengan menyikapi adanya tuntutan tersebut. 231 . sedangkan ekses negatif yang timbul ternyata berpulang kepada diri kita sendiri sebagai orang-orang kreatif yang terlibat. Pada tingkat Sekolah Kejuruan dan Perguruan Tinggi. baik bagi pelaku. maupun negatif. tiada jalan lain yang mungkin dilakukan. dan pengelola industri itu sendiri.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dan keterampilan kesenian yang ada. Dampak yang timbul merupakan hasil proses sebab akibat. baik yang bermakna positif. sehingga mendukung peningkatan apresiasi masyarakat. Dalam kaitannya dengan pertunjukan rakyat. penelitian dan tugas akhir studi haruslah diarahkan kepada bidang kesenian rakyat tradisi. Kenyataan yang ada dan terjadi dalam lingkup seni pertunjukan Indonesia saat ini adalah hasil upaya antisipatif terhadap tuntutan yang ada dalam masyarakat yang terimplementasikan dalam bentuk-bentuk seni pertunjukan kemasan. Pada jalur non formal. Kunjungan siswa sekolah non kesenian ke kampus-kampus kesenian yang lebih tinggi sebaiknya perlu dilakukan untuk memperluas wawasan kesenian itu sendiri. terutama pada pengisian mata pelajaran pilihan lokal di kurikulum pendidikan nasional. sejak Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah. Meskipun hal ini merupakan masalah klasik dengan alternative solusi yang klasik dan terdengar klise. kita harus dapat lebih arif dan berupaya mencoba menghilangkan ekses tersebut. Suatu diskusi untuk mencari alternatif masalah tersebut perlu digalang agar tema-tema “eksploitasi”. penikmat. Adanya dampak ekonomis dan tantangan untuk bersikap kreatif bagi pengembangan bentuk seni pertunjukan yang baru haruslah disyukuri dan ditingkatkan. kursus keterampilan dan sistem sanggar perlu digalakkan. Apalagi. hal itu kait mengait dalam suatu lingkaran keadaan yang kurang kondusif bagi pengembangan kesenian yang layak. Penyikapan masalah ini harus dilandasi pemikiran maju yang berorientasi kepada pendekatan-pendekatan pragmatis bagi pemenuhan kepentingan segala pihak. apresiasi siswa dapat ditingkatkan dengan mengadakan workshop dan pertunjukan di sekolah maupun di kampus-kampus. sejauh menyangkut masalah pendidikan formal dan non formal. yang dilakukan adalah menghimbau para eksekutif penentu kebijakan agar dapat menciptakan suasana “sadar kesenian rakyat” di kalangan eksekutif penentu kebijakan politik kebudayaan. pemilihan topik studi. Sekali waktu.

Konteks tradisi pun semakin pudar tanpa penghargaan. Banyak karya tari baru yang dihasilkan oleh seniman-seniman besar mengambil ide dari tradisi rakyat dan menjadi sebuah garapan tari yang merangkai berbagai unsur-unsur motif gerak tari daerah secara semena-semena. Dalam kasus tari Gending Sriwijaya. Kantor Wilayah Propinsi Sumatera Selatan: Proyek Pembinaan Kesenian Sumatera Selatan tahun 1990/ 1991. (Soerapto Soedjono. Ekspresi Jurnal Institut Seni Indonesia Yogyakarta: Seni: Kearifan dan Keunggulan Vol232 . Jajuk Dwi Sasanadjati. dan semacamnya dapat dieliminasi dari lingkup seni pertunjukan yang kita cintai bersama ini. kendati menepiskan makian.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF “Sapi Perahan”. Deskripsi Tari Pangutan. Serial Seminar Seni Pertunjukan Indonesia di Gedung Teater Tertutup Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta tanggal 9 – 10 Mei 1999. Senja Ulang Pertunjukan yang Menghibur. “derajat”. Bahkan. ketika beberapa karya tradisional mulai laku dijual yang ada hanyalah tiruan dari kemasan. Daftar Pustaka Adat Istiadat Upacara Perkawinan Daerah Sumatera Selatan. Melibatkan rakyat dalam ekspresi komunal mereka ternyata bisa dilakukan. Rakyat pemiliki kesenian itu sendiri hanya bisa melihat dari kejauhan. “kurang bergengsi”. Bahkan. ketika orientasi mereka berubah dari sebuah pertunjukan upacara adat ke format wisata seni. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. : ). 1984. Hermien Kusumayati. “paling rendah”. kerja kreatif yang terjadi menjadi langka. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. karena di dalamnya terjadi suatu pertemuan yang menguntungkan kedua belah pihak. mereka dilibatkan untuk mengambil keputusan untuk menjual atau mempertunjukkan keseniannya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Nama-nama kesenian diambil tanpa rasa bersalah. Ensiklopedi Nasional Indonesia jilid 4. 1990. tanpa izin dari pemilik asal atau niat kerja sama. sehingga muncul ke permukaan adalah dampak positif saja. Kemiskinan kreatifitas ini tertutup oleh nama besar dan kesempatan yang telah didapat. Jakarta: Cipta Adi Pustaka. mungkin dari televisi atau foto-foto di koran.

Jurnal Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia tahun VIII. Lintasan Sejarah Budaya Sumatera Selatan Pusat Penelitian Lembaga Sosial Budaya Penelitian Univesitas Sriwijaya tahun 1997. tahun 5. Soedarsono. buku 2. Soejono Soeprapto. Kenyataan dan Harapan: Dampak Industri Pariwisata Pada Seni Pertunjukan. 1997. R. Jakarta: Wedatama Widya Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Jurnal Institut Seni Indonesia Yogyakarta. 2005 Koentowijoyo. Kecak Rina. 2006. Diyah Larasati. Sardono W. Sedyawati Edi. 2003. Ekspresi. Seni Pertunjukan Indonesia dan Pariwisata. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2008.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ume 14. dan Ekonomi. 2003. Seni Pertrunjukan dari Perspektif Politik Sosial. Soedarsono. Kusumo dan Arma (Kerja Kreatif Seniman Tradisional dan Modern). 233 . Budaya dan Masyarakat Yogyakarta: Tesis Wacana. Ke Indonesiaan Dalam Budaya. 1987.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Asril Muchtar adalah Sekretaris Program Pascasarjana dan dosen jurusan Karawitan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang. 234 .

a. Sumatra Barat. Pergeseran ini agaknya ingin mengadopsi dua kepentingan yakni. Namun terjadi sedikit perbedaan. Shorter Encyclopaedia of Islam (Leiden: EJ Brill. 142. tetapi kedua ritual ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang sama. Periksa H.13. Periksa Asril. Husein Sjahid Agung. “Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di 235 .). M.12.Kar. S. dan 14 Muharam—dengan perhitungan hari puncak upacara jatuh pada hari minggu. 190191.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Upacara Tabuik dan Tabot di Pesisir Barat Sumatra Asril Muchtar. 1974). sementara di Pariaman sudah terjadi pergeseran waktu pelaksanaan dengan tidak lagi berpatokan pada tanggal 1-10 Muharam.. Upacara Tabuik terdapat di kota Pariaman. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharam tahun 680 (61 H)1. Adam Saleh (Djakarta: PT Sinar Hudaya. 1972).Hum.. Meskipun berada di tempat yang berbeda.H Kamer (ed. di Bengkulu Upacara Tabot masih tetap dilaksanakan dari tanggal 1-10 Muharram. Dalam peperangan ini Husein T 1 Fazl Ahmad.w.A. Terj. yakni peristiwa perang Karbala Irak antara pasukan Yazid dari Bani Umayyah dengan rombongan Husein Bin Ali cucu Nabi Muhammad s. Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Latar Belakang radisi ritual berskala besar dan kolosal yang dimiliki masyarakat pantai bagian Barat Sumatra adalah Upacara Tabuik dan Upacara Tabot. kepentingan penyelenggara dan kepentingan masyarakat penikmat.R Gibb dan J. Kedua ritual ini sama-sama dilaksanakan pada awal hingga paroh pertama (1-10) Muharam dalam kalender tahun Hijriyah. sedangkan Upacara Tabot terdapat di kota Bengkulu. tetapi bisa menjadi dari tanggal 1-11.

dan Hasan Bin Ali (kakak Husein). Masing-masing hanya menggunakan satu tabuik gadang (tabuik besar). Kematian Husein meninggalkan duka yang mendalam bagi penganut Syi’ah. yang memiliki unsur seperti piramid--kemudian disebut tabot. Akan tetapi. Sementara di Bengkulu tabot ditafsir dari mimpi seorang leluhur keturunan tabot saat bermimpi di Karbala. Bentuk penghormatan itu di kawasan Timur Tengah diwujudkan dalam pertunjukan drama bergaya sufi yang menyajikan kronologi penderitaan yang dialami oleh Husein. spirit upacara. Husein bagi kalangan penganut Syi’ah dianggap Imam ketiga setelah ayahnya Ali Bin Abi Thalib. di Pariaman tabuik diwujudkan dalam bentuk sebuah benda atau menara yang dibuat setinggi sekitar 10-12 meter dan pada bagian tengahnya dibuat seekor buraq. 51. Ia melihat bangunan istana raja berbentuk piramida. masing-masing kelompok tabot memiliki Pariaman Sumatra Barat”. seperti yang masih dapat kita jumpai di kawasan pantai barat Sumatra adalah Upacara Tabuik dan Upacara Tabot. Sementara di tempat lain ditafsir pula berdasarkan kekuatan budaya lokalnya. Kebesaran namanya dan penghormatan terhadapnya dilakukan oleh kalangan umat Islam dari penganut Syi’ah dari seluruh dunia. Di Bengkulu pelaksanaan Upacara Tabot juga terdiri atas dua kelompok tabot yaitu kelompok tabot berkas (tabot tuo) dan kelompok tabot bangsal. termasuk di berbagai tempat di Indonesia. benda upacara (tabuik dan tabot). Benda ini kemudian disebut tabuik. Uniknya. dan tak terkecuali juga dari Islam Sunni di berbagai kawasan Asia Tenggara. dan pelaksanaan upacara. Kedua kelompok ini seolah-olah menggambarkan dua kubu yang berperang. Misalnya. Mimpi itu kemudian diwujudkan dengan bentuk menara setinggi sekitar 5-6 meter. Peristiwa Karbala bisa menjadi seperti legenda. yaitu tabuik pasa dan tabuik subarang. Akan tetapi. yaitu patung kuda bersayap berkepala wanita yang dianggap sebagai kendaraan yang membawa arwah Husein. Di Pariaman pelaksanaan Upacara Tabuik dilakukan oleh dua kelompok pendukung tabuik. Penafsiran ini berimbas pada bentuk upacara. bentuk upacara dan perayaannya di masing-masing daerah tidak semata-mata bertolak dari peristiwa perang Karbala. Tesis S2 UGM Yogyakarta. 2002.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan pasukannya mati terbunuh kecuali beberapa perempuan dan anakanak. 236 . mereka melakukan “pemitosan” sejarah perang Karbala dengan menafsirkannya sendiri rasa simpati terhadap Husein sesuai dengan versi daerah masing-masing.

upacara tabot pada awalnya merupakan upacara berkabung kaum Syi’ah yang dibawa ke Bengkulu orang Sipahi yang bekerja membangun benteng Marlborought. Mereka berasal dari Madras India. Upacara Tradisional Daerah Bengkulu: Upacara Tabot di Kotamadya Bengkulu (Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Depdikbud. 13-14. Perbedaan ini muncul karena adanya interpretasi masyarakat terutama para pendukung dan keluarga tabuik dan tabot. sehingga menjadi kolosal. ataupun berubah secara parsial. Ibid. Versi lain menyebutkan. 1991/1992). 61. Dalam setiap penyelenggaraan upacara ini di masing-masing kota. perubahan kecenderungan selera dan perilaku masyarakat dan berbagai perkembangan politik.). bahwa upacara tabut berasal dari India dibawa ke Bengkulu oleh Imam Senggolo--seorang pemuka Islam yang dikenal pula dengan nama Syeikh Burhanuddin. sehingga jumlah tabot yang digunakan dalam upacara bisa mencapai 12 buah atau lebih2. Kemudian seorang to2 3 Badrul Munir Hamidy (ed. Seiring dengan perkembangan zaman. telah turut pula mewarnai “wajah” perkembangan upacara. setiap perayaan upacara ini tidak kurang dihadiri oleh 200-an ribu orang dari berbagai daerah sekitarnya. Di Pariaman misalnya. Bahkan masyarakat yang menyaksikan upacara itu secara tidak langsung terlibat sebagai bagian dari pendukung upacara. Margaret Kartomi berdasarkan legenda yang berkembang di Bengkulu menceritakan. tetapi bentuk upacara. pelaksanaannya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pula anggota tabot pendukungnya. mampu memobilisasi masyarakat untuk menyaksikannya. Kedua kelompok tabot di Bengkulu tidak secara tegas dan terbuka sebagai gambaran dua kubu yang sedang bertentangan. 237 . Misalnya dari ritual ke sekuler. Interpretasi Masyarakat dari Perang Karbala ke Upacara Kendatipun Upacara Tabuik dan Upacara Tabot sama-sama berasal dari peristiwa perang Karbala. struktur atau kronologi upacara. kemudian diwariskan kepada keturunan mereka dan keturunan mereka hasil asimilasi dengan warga setempat3.. dan spirit yang dimunculkannya terdapat perbedaan-perbedaan yang signifikan. Upacara tabuik dan Upacara Tabot sudah menjadi identitas budaya bagi masing-masing daerah. Menurut Hamidy.

dulu berambut panjang.). Bentuk yang seperti ini ditemui di India Selatan. 1914). Azyumardi Azra.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF koh Islam yang bernama Kadar Ali membawa tabut itu ke Pariaman4. Buraq termasuk binatang mitologi yang hanya ada dalam konsep pikiran saja. 2000). 21. Syiah dan Politik di Indonesia: Sebuah Penelitian (Bandung: Mizan dan PPW-LIPI. dalam Tijdschri ft voor Indische Taal--. “Syiah di Indonesia: Antara Mitos dan Realitas” (pengantar) dalam A. kuat dugaan tabuik diperkirakan masuk ke Pariaman pada akhir abad XVII. “Tabut . 1986). Berdasarkan keterangan Snouck Hurgronje di atas. salah satu ciri terpentingnya yang sangat berbeda sekali dengan tabot Bengkulu adalah buraq. Iran membuat ikatan budaya yang kuat dengan India melalui berbagai penguasa Syi’ah di India Utara dan India Selatan.. Kartomi.. Hamdan Basyar (ed. l44. Color and Symbolism in Islamic Architecture: Eight Century of the Tile Maker’s Art (London: Thames and Hudson Ltd. Buraq itu bentuknya seperti kuda bersayap berkepala wanita. 334-335. sekarang berkembang pula dengan memakai jilbab yang diidentikkan seperti burung raksasa. Houtsma. 142. Masa kontak budaya ini menjadikan ta’ziah atau tabut dari Iran. diterjemahkan oleh Hartoyuwono. cit.a Shiah Ritual Tranplanted from India to Sumatra”.. dalam David P. 4 5 6 7 8 Margaret J. van Ronkel. “Nadere gegevens omtrent het Hasan¬Hoesain feest”. et al. Snouck Hurgronje memperkirakan bahwa tabuik berasal dari India dan masuk ke Sumatra diperkirakan pada abad XIV. dan untuk membantu menduduki bentengnya di Bengkulu5. Ricklefs (ed. 1996)..C. Periksa juga M. Kecepatan terbangnya seperti kilat.. S. oleh karena baru pada abad XVI sampai XVIII. The Encyclopaedia of Islam: Dictionary of the Geography.) Nineteenth and Twentieth Century Indonesia. Kartomi. Melihat pada bentuk tabuik yang ada di Pariaman. Monash University. tabuik masuk ke Sumatra pada akhir abad XVII. Michael Barry. sedangkan tabot Bengkulu tidak memiliki buraq. (Clayton: Centre of Southeast Asia Studies. en Volkenkunde (Batavia: Albrecht & Co. Land--. et al. Azyumardi Azra mencatat bahwa tabuik masuk ke pantai barat Sumatra antara tahun 1750-8256. berkembang dan memiliki kesamaan dasar di India7. Periksa Ph. Chandler dan M. Perkiraan kedua. op. diduga karena hikayat Ali Hanafiyah yang menceritakan tentang kematian Husein. sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu pada masa itu. Ethnography of Muhammadan 238 . Th. 284. Rahman Zainuddin dan M. Cerita tentang buraq sering dikaitkan dengan peristiwa isra’ dan mi’raj Nabi Muhammad8. ketika Inggris membawa pasukan Sepoy India (orang Sipahi atau Cipai) yang berusaha menguasai pesisir pantai Barat Sumatra.

dan arak-arakan itulah kini yang disebut dengan tabuik10.. Sebagai pertimbangan lain. dan mereka memohon kepada malaikat ikut bersama jenazah Husein. dan Delhi yang disebut pula dengan tabut atau buraq9. 239 . Atau mungkin saja masuknya tabuik ke Pariaman dan Bengkulu dalam kurun waktu yang bersamaan. Pesta Kolosal Anak Nagari Piaman”. dan selanjutnya arak-arakan itu lepas landas menuju langit. 145-146. Adapun mitos tabuik Pariaman adalah sebagai berikut. Lucknow. Setelah arak-arakan itu mendarat di lokasi Husein terbunuh. yang tidak bisa diPeoples (London: Luzac and Co. yang sangat berbeda. 2002. 63. “Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di Pariaman Sumatra Barat”. “Tabuik. dengan datangnya arak-arakan para malaikat beserta buraq membawa jenazah Husein terbang ke langit. para malaikat memasukkan bagian tubuh Husein ke dalam peti yang ada di punggung buraq.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI seperti di Dekkan. 9 Ibid.. 26 Juni 1994). Rupanya mereka prajurit Husein yang selamat yang berasal dari Cipahi (Keling) bergantung pada arak-arakan itu. Jadi kemungkinan besar tabuik Pariaman berasal dari India Selatan tidak melalui Bengkulu. Setelah itu mayat Husein dan para pengikutnya dikuburkan di Karbala. 793. tiba-tiba datanglah sebuah arak-arakan dari langit yang terdiri dari para malaikat dan seekor buraq. tetapi malaikat tidak mengizinkannya. Akan tetapi masyarakat Pariaman membuat rekayasa sendiri yang bersifat imajinatif. Ungkapan mitos ini juga dimuat dalam leaflet pariwisata Kabupaten Padang Pariaman. Kemudian malaikat itu memberikan nasehat agar orang Cipai itu dapat melaksanakan arak-arakan tersebut seperti yang dilihatnya. Mitos di atas dimulai dari kematian Husein oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. antara tabuik Pariaman dengan tabot Bengkulu masing-masing memiliki mitos sendiri-sendiri. Mitos ini yang menjadi ilham dalam mewujudkan bentuk fisik tabuik dan tabot itu. Tesis S2 UGM Yogyakarta. Setelah Husein terbunuh dengan kondisi tubuh dicincang oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. pada hal itu adalah fakta sejarah yang terjadi di Karbala. 10 Parsi Tanjung. Dalam perjalanan menuju langit. Singgalang Minggu. Periksa Asril. 1913). ketika Upacara tabuik masih dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten Padang Pariaman. para malaikat mencium adanya bau manusia dalam rombongan tersebut.

mereka bisa mewujudkan arak-arakan malaikat dengan buraq dalam mitos itu seperti Upacara Tabuik yang ada sekarang. Berbeda pula dengan tabot Bengkulu. Namun ketika mereka membuat tabuik. mitos tabot dilukiskan sebagai berikut. Menurut Natsal lebih baik ia mengambil barang itu. Setelah kejadian itu. Nabi Isa. Nabi Musa. untuk memberi tanda perbuatan burukmu bukan hanya wajahmu yang tetap hitam. Natsal menyesali perbuatannya. Ketika Natsal membuka pakaian Husein untuk mengambil barang itu. Dalam keadaan sadar Natsal melihat bagaikan dalam mimpi sebuah istana raja berbentuk piramida muncul di sepanjang tempat itu. Pada saat ia berdoa Ja’far Ibnu Muhammad Siddik seorang ulama yang sedang mengelilingi Kabah.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF hubungkan dengan fakta. Natsal menjelaskan semua kejadian yang ia alami. lalu Nabi menampar wajah Natsal dengan mengucapkan kata-kata. berilah jalan Nabi Adam. tetapi keturunanmu akan dilahirkan dengan wajah hitam. lalu Ja’far memberikan jawaban kepadanya. mitosnya juga berawal dari tragedi Karbala. disertai lantunan iramairama yang harmonis. Melihat kejadian itu Natsal berbaring di tanah. kilat menyambar ke segala arah dengan suara yang menakutkan. Nabi Ibrahim. Siti Fatimah. akan tetapi pada saat yang sama ia mendengar guruh. Mayat Husein yang tanpa kepala ditinggalkan di padang Karbala. dan Nabi Muhammad datang memberikan penghormatan kepada Husein. Natsal melihat wajah Nabi Muhammad. dari pada diambil atau dirampas oleh orang lain. bahwa dosa Natsal bisa diampuni dengan syarat ia dan keturunannya setiap tahun harus mengenang dan memperingati kematian Husein melalui suatu 240 . pembantu Husein mengetahui bahwa di dalam ikat pinggang Husein tersimpan sebuah intan atau jimat yang berharga. menemuinya dan menanyakan masalah apa yang dihadapi oleh Natsal. Natsal kemudian menebas tangan mayat Husein. Berdasarkan catatan yang dibuat oleh penguasa Belanda di Bengkulu pada akhir abad ke-19. kedua tangan Husein bergerak-gerak menolak tangan Natsal. Kemudian ia mendengar kata-kata. ia pergi ke Mekkah memohon ampunan dari Allah di Ka’bah atas perbuatan buruknya itu. Seseorang yang bernama Natsal.

241 . L. Berdasarkan mitos itu. 2009). W. et al. Berpedoman pada dua mitos di atas. namun dalam perkembangan sekarang sudah ada pula tabot yang memakai buraq13. sebagai hasil penafsiran mereka terhadap mimpi Natsal di Karbala12. (1) Upacara maambiak tanah (mengambil tanah) merupakan prosesi ritual mengambil tanah ke sungai yang menggambarkan pengambilan mayat Husein yang masih tertinggal di Karbala. 1888). Natsal yang disebut sebagai pembantu Husein hanyalah sebuah rekayasa saja. kemungkinan berasal dari daerah yang berbeda di India dan datang dalam kurun waktu yang sama atau berbeda. Mereka menganggap Natsal sebagai leluhurnya. Ritus-ritus yang terdapat dalam Upacara Tabuik adalah sebagai berikut. Skripsi (Padangpanjang: STSI. Mengenai bentuk tabot keturunan Natsal membuat seperti menara yang memiliki unsur piramida. Helfrich. meskipun ada beberapa perbedaan. kemu11 O. 192-193. memberikan gambaran bahwa orang-orang Cipai yang datang ke Bengkulu dan ke Pariaman. Bentuk Upacara Upacara Tabuik dan Upacara Tabot terdiri atas beberapa ritus atau rangkaian upacara yang pada dasar memiliki kesamaan. Trap. 22.. dalam Internationales Archiv fur Ethnographie (Leiden: Verlag von P. Upacara ini dilaksanakan pada tanggal 01 Muharam pada sore hari selesai salat ‘Ashar. “Het Hasan-Hosein of Taboet-Feest te Benkoelen”. tabot di Bengkulu tidak memiliki buraq. “Perkembangan Musik Dol di Kota Bengkulu”. sehingga menjadi kewajiban bagi mereka melaksanakan upacara tabot secara khidmat setiap tanggal 1-10 Muharram setiap tahun. sebagaimana bentuk tabot yang ada di Bengkulu saat ini. begitu juga mimpinya. Akan tetapi nama Natsal sangat dihormati oleh orang-orang Cipai Bengkulu termasuk para serdadu Cipai. (2) Upacara maambiak batang pisang (mengambil batang pisang) merupakan prosesi ritual mengambil dan menebas batang pisang yang dilakukan di masing-masing tempat upacara. 12 Ibid. 13 Zelly Marissa Haque. untuk menebus dosa-dosa Natsal. M.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI upacara yang khidmat11.

pada malam hari (pukul 20. kemudian dibawa ke daraga.00-22. Kandang tabuik dapat pula dibuat terpisah dari daraga.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) dian dibawa ke daraga14. dan lain sebagainya. Upacara ini menggambarkan saat-saat Husein dipancung oleh tentara Yazid.00. Jika lokasi memungkinkan. Upacara mahatam merupakan penurunan jari-jari dari rumah tabuik (keluarga tabuik).00. Upacara tabuik dibuang ke laut merupakan upacara terakhir berupa prosesi membuang tabuik ke laut. Upacara maarak jari-jari adalah upacara berupa prosesi mengarak jari-jari dengan melintasi berbagai kampung sebagai gambaran keganasan tentaraYazid. sedangkan pangkek ateh (atas) terdiri atas bungo salapan. Upacara ini dilakukan pada malam hari setelah upacara mahatam. puncak tabuik. Upacara tabuik naiak pangkek adalah penggabungan pangkek 15 (bagian) bawah dengan pangkek atas badan tabuik yang sebelumnya dibuat secara terpisah.00-14. 15 Dalam pembuatan tabuik Pariaman dilakukan atas dua bagian. Upacara ini menggambarkan jari-jari Husein yang berserakan di Karbala. biliak-biliak. Upacara maoyak tabuik merupakan upacara puncak dari seluruh rangkaian Upacara Tabuik. di sekitar daraga juga dibuat pondok tempat membuat tabuik yang disebut dengan kandang tabuik. Upacara ini dilaksankan pada tanggal 05 Muharam mulai dari sore hingga sekitar pukul 21.00-16. sebagai gambaran 14 Daraga adalah areal yang dimitoskan sebagai tempat makam Husein. Pangkek bawah adalah kaki tabuik dan buraq. Upacara ini dilakukan pada tanggal 06 Muharam (dapat menyesuaikan dengan rentang waktu upacara) pada malam hari sekitar pukul 19.30. Upacara ini dilaksanakan pada pagi hari (subuh) pada hari puncak upacara.00). selanjutnya dikumpulkan di suatu tempat. Setiap bagian disebut dengan pangkek.00. yaitu bagian atas dan bagian bawah. Upacara maradai merupakan prosesi yang bertujuan mengundang simpati masyarakat guna menyumbang dana atau apa saja yang bisa membantu biaya pembuatan tabuik. Upacara ini dilaksanakan dua hari menjelang upacara puncak. Upacara ini dimulai dari pukul 11. Upacara maarak sorban merupakan prosesi mengarak sorban (penutup kepala) sebagai gambaran setelah menemukan sorban Husein. Upacara ini dilaksanakan sekitar pukul 12. 242 .

(5) Arak penja: atau disebut juga arak jari-jari dilaksanakan pada tanggal 08 Muharam mulai pukul 19. Menjara dilakukan dua kali yaitu pada tanggal 05 Muharam oleh kelompok tabot bangsal ke kelompok tabot berkas.00. Tidak ada terjadi perkelahian. Upacara ini dilaksanakan dari pukul 16. Penja adalah benda berbentuk telapak tangan manusia lengkap dengan jari-jarinya. Penja disebut juga dengan jari-jari. Masa jeda antara upacara maambiak tanah dengan upacara maambiak batang pisang. (1) Mengambiak tanah (mengambil tanah). (4) Meradai. Adapun ritus-ritus yang terdapat dalam Upacara Tabot menurut Hamidy sebagai berikut.00-18. 16 Asril.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengantarkan jenazah Husein ke pemakaman. Pelaku upacara adalah anakanak dan remaja. Pada masa lalu di Pariaman tanggal 2-4 Muharam disebut dengan hari gam.00-21. berjalan mengitari kampung dilakukan oleh anakanak usia 10-12 tahun dalam rangka pengumpulan dana untuk pembuatan tabot. di masing-masing rumah tabuik dan kandang tabuik dilakukan kegiatan pembuatan tabuik dan permainan gandang tasa (musik pendukung Upacara Tabuik). Peserta meradai disebut jola. kemudian tanggal 06 Muharam kelompok tabot berkas mengunjungi kelompok tabot bangsal. Acara dimulai di lapangan Merdeka Bengkulu (lapangan Tugu Propinsi) dan selesai kembali di lapangan Tugu Propinsi. (3) Menjara artinya mengandun atau berkunjung mendatangi kelompok tabot lain untuk beruji dol (bertanding membunyikan dol). (2) Duduk penja (jari-jari). Tanah yang diambil adalah tanah yang dianggap mengandung nilai magis. Penja menurut keluarga Sipai adalah benda keramat yang mengandung magis. 17 Gerga adalah pusat kegiatan tabot.00 dengan menempuh rute yang telah ditentukan.00-23.3016. namun sudah banyak yang tidak tahu lagi tersebut. Setelah dicuci penja diletakkan di gerga17. Op cit. 66-67. Meradai dilaksanakan pada tanggal 06 Muharam dari pagi sampai sore. Menjara dilakukan pada malam hari dari pukul 20. 243 . maka harus dicuci dengan air bunga dan air limau [jeruk] setiap tahunnya..

Pelaku utama upacara itu terdiri dua tabuik. sekitar pukul 11. 66-73. sehingga disebut pula dengan tabot besanding. Karabela. pelopor upacara tabot.00-16. Selesai ritual tabto tebuang. Di makam ini dimakamkan Imam Senggolo. (8) Arak gedang: yaitu prosesi kelompok tabot yang dimulai dari markas masing-masing menuju Lapangan Merdeka. tabot-tabot dibariskan seperti bershaf. minuman. Arak serban berupa prosesi membawa serban (sorban) putih yang diletakkan pada tabot coki (tabot kecil). Gam dimulai dari pukul 07. Selama acara tabot besanding berbagai hiburan dan kesenian rakyat ditampilkan untuk menghibur para pengunjung.00. yaitu tabuik pasa dengan pusat aktivitasnya di Kampung Perak. hampir semua ritus upacara yang dilakukan menggunakan sesajen.00 arak-arakan tabot menuju Padang Jati dan berakhir di kompleks pemakaman umum.00-21. meskipun gerusan perubahan ke arah mempertipis nilai tetap saja terjadi. berupa makanan. dan berbagai kembang dan limau (jeruk). (9) Tabot tebuang: upacara tabot tebuang dimulai dari Lapangan Merdeka. Upacara dimulai pada pukul 19. dan tabuik subarang dengan pusat aktivitasnya di Kampung Pondok.. Upacara tabot tebuang dipimpin oleh dukun tabot dan dipandang bernilai magis. Di Bengkulu. dilengkapi dengan bendera atau panji-panji berwarna putih.00. 18 Hamidy. 244 . Op cit. Pasir. Menyatunya kelompok-kelompok tabot dalam satu arak-arakan ini disebut dengan arak gedang (pawai akbar). dan pasar Pariaman (bekas nagari Pasar Pariaman). Sesampai di Lapangan Merdeka. Kampung Jawa.00-21. Cara ini menampakkan bahwa di Bengkulu nilai ritual dan sakral masih dipertahankan. tabot-tabot itu dibuang ke rawa-rawa di sekitar makam18. Upacara Tabuik termasuk upacara yang berdimensi keras dan bersifat kolosal.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF (6) Arak serban: dilakukan pada tanggal 09 Muharam pada malam hari dari pukul 19.00. hijau atau biru yang bertuliskan “Hasan dan Husen” dengan kaligrafi Arab. (7) Gam: yaitu masa tenang yang ditentukan tidak boleh ada kegiatan apapun yang berkaitan dengan tabot. Kampung Cina.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

dan Jawi-Jawi (bekas nagari Lima Koto Air Pampan). Kedua tabuik ini menggambarkan dua kelompok yang sedang berseteru. Bisa dianalogikan dengan pasukan Husein dan pasukan Yazid yang sedang berperang di Karbala. Walaupun sesungguhnya masing-masing pendukung tabuik itu sama-sama “mengagungkan” dan merayakan peringatan kematian Husein, dan tidak satu pun yang berperan sebagai pasukan Yazid. Akan tetapi antara satu dengan lainnya saling tuding menjadi lawannya. Ini memang aktivitas budaya yang direkayasa untuk itu. Bentuk-bentuk kekerasan itu muncul, seperti mengadu tabuik, caci maki dalam bahasa kasar, sindiran dalam bentuk sarkasme, dan perkelahian massal di antara kedua belah pihak. Namun sekarang sindiran dan caci makian dalam bahasa kasar sudah mulai hilang. Bentuk kekerasan itu muncul pada upacara maambiak batang pisang, maarak jari-jari, maarak sorban, dan tabuik dioyak. Perkelahian itu dianggap sebagai bagian penting dari upacara. Perkelahian merupakan luapan dan puncak atau klimaks dari konflik-konflik yang ada selama upacara. Tanpa ada perkelahian maka upacara dianggap “dingin”, karena bagian ini merupakan salah satu daya tarik pengunjung dan para perantau Pariaman untuk menyaksikan Upacara Tabuik. Bagi para pengunjung jika tidak melihat bagian upacara yang menyajikan permainan keras, dianggap belum menyaksikan Upacara Tabuik. Bagi mereka yang mengerti dengan Upacara Tabuik, dalam kerangka fantasi fikirannya sudah terpola akan menyaksikan perkelahian dan bentuk permainan keras lainnya. Perkelahian massal itu setidaknya bisa terjadi dua kali, yaitu pada upacara maambiak batang pisang dan upacara maarak jari-jari atau maarak sorban. Meskipun dalam pelaksanaannya bisa saja tidak terjadi seperti itu, tetapi biasanya satu kali akan dilakukan, terutama pada upacara maambiak batang pisang, karena upacara maambiak batang pisang merupakan gambaran penebasan dengan pedang di peperangan. Pada masa lalu korban-korban perkelahian dalam Upacara Tabuik tidak merasa dendam dengan kejadian itu, walaupun mereka tahu orang mencedarainya. Mereka menerima dengan keikhlasan dan dianggap sebagai pengorbanan, yang belum seberapa nilainya jika dibandingkan dengan pengorbanan Husein. Mereka yang berjiwa seperti itu memiliki pemahaman dan penghayatan yang dalam terhadap upacara yang dilakukan. Selain itu, para ninik mamak dan tokoh masyarakat dapat meredam dan merangkul kedua belah pihak untuk berdamai, serta
245

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

memberikan pengertian tentang insiden yang terjadi merupakan bagian dari Upacara Tabuik. Bahkan setelah mereka berkelahi, lalu mereka berkumpul bersama, makan, dan minum bersama bagaikan tidak terjadi sesuatu. Upacara Tabuik yang bersifat kolosal terutama sekali dapat dilihat pada saat tabuik dihoyak dan tabuik dibuang ke laut. Kedua upacara itu dilaksanakan pada hari yang sama. Para pengunjung atau pelayat datang dari berbagai pelosok daerah menyaksikan upacara. Jumlah mereka diperkirakan sekitar 200-an ribu orang19, sehingga memadati areal wisata Pariaman seperti, Pantai Gandoriah, stasion kereta api, areal sekitar pasar Pariaman. Kartomi pada saat melakukan penelitian pada tahun 1982 pernah mencatat jumlah pengunjung atau pelayat yang menyaksikan Upacara Tabuik sekitar 200 ribu orang20. Merujuk pada mitos sebagai rujukan pembangun Upacara Tabot di Bengkulu, tampak pada tahap-tahap upacara tidak menyajikan upacara yang berdimensi keras yang mengarah ke perkelahian massal seperti yang terjadi pada Upacara Tabuik. Upacara yang dianggap keras dalam Upacara Tabot adalah upacara menjara (beruji dol). Inti dari upacara menjara adalah beruji dol, yaitu masing-masing kelompok tabot berusaha mengalahkan kelompok lain. Kelompok yang paling terampil memainkan dol 21 (dol dan tasa) dan paling sedikit dol pecah (robek membrannya) dianggap menang22. Kekerasan ditunjukkan dengan melampiaskan emosional pendukung upacara melalui pemain musik ke alat musik dol. Mereka secara pisik tidak melakukan persentuhan antar kelompok pendukung tabot, apalagi perkelahian. Beruji dol dilakukan di lapangan terbuka, sehingga dapat disaksikan oleh banyak orang. Bahkan beruji dol dianggap salah satu bagian upacara yang mampu menyedot banyak penonton. Dalam upacara beruji dol diadakan pula selingan pertunjukan tari-tarian dan musik tradisi sejenis gamat. Upacara menjadi meriah dengan hadirnya hiburan selingan ini. Beruji dol dilakukan di dua tempat yaitu, di kelompok tabot ber19 Asril, op cit., 69. 20 Ibid., 70 21 dol sejenis gendang bermuka satu berbentuk kettle drum, dengan ukuran diameter cukup besar antara 50-60 cm. Dol dimainkan sambil berdiri dengan cara diletakkan di lantai atau tanah. 22 Hamidy, Op cit., 89-90.

246

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

kas dan di kelompok tabot bangsal. Mereka saling mengunjungi secara bergantian selama dua malam. Lagu-lagu yang biasa dimainkan dalam beruji dol adalah Matam-matam, Suwena, dan Suweri. Ketiga lagu ini sama-sama mereka mainkan dalam waktu yang bersamaan. Lagu Suweri merupakan lagu andalan bagi masing-masing kelompok tabot dalam beruji dol. Masyarakat sangat mengetahui bahwa lagu tersebut amat disukai. Para pemusik biasanya memainkan lagu ini dengan penuh semangat hingga bermain dengan tenaga yang maksimal. Akibatnya sering terjadi kerusakan pada alat musik seperti pada kulit (membrane) robek, pemukul (stick) patah, resonator instrumen retak, dan lain-lain23. Akan tetapi ini muara yang ingin dicapai dari upacara beruji dol. Situasi ini sangat berbeda dengan Upacara Tabuik di Pariaman. Gandang tasa sebagai musik pendukung upacara justru digunakan untuk membangun semangat “heroik” dan “patriotik” di antara kedua kelompok tabuik. Lagu-lagu Oyak Tabuik dan Sosoh misalnya, dimanfaatkan untuk membangun emosional para pendukung tabuik, khususnya untuk membangun emosi ke arah perkelahian dan yang berdimensi keras.

Pelibatan Seni dalam Upacara Rentangan waktu yang cukup panjang dalam pelaksanaan Upacara Tabuik dan Upacara Tabot, dimanfaatkan dengan menampilkan berbagai kesenian tradisi setempat dan kesenian yang bernuansa Islami. Di Pariaman misalnya, pada malam hari yang tidak ada aktivitas upacara, panitia penyelenggara upacara menyajikan pertunjukan indang piaman, tari indang, gandang tasa, orkes gambus, dan jenis musik bernuansa Islami. Prinsip utamanya adalah memberikan hiburan kepada masyarakat atau pengunjung yang datang. Sementara di Bengkulu, hal yang sama juga dilakukan yaitu pertunjukan tari Ikan-ikan, kolintang, musik bernuansa Melayu seperti gamat, dan yang cukup menggembirakan sekarang adalah pertandingan atau festival dol kreasi. Para remaja Bengkulu mampu memainkan “musik baru” yang dikembangkan dari musik tradisi dol dengan atraktif24. Selain itu, juga ditampilkan berbagai tarian tradisi dan tari kreasi yang bersumber dari Upacara Tabot.
23 Hanefi, dkk., “Musik Tabot dalam Beruji Dol di Bengkulu: Tinjauan Musikologis” Laporan penelitian (Padangpanjang: ASKI, 1998), 45. 24 Haque, Op cit., 56-57.

247

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Perubahan dan Perkembangan Upacara Perubahan dan perkembangan yang terjadi pada Upacara Tabuik dan Upacara Tabot berbeda bentuk dan jenisnya. Ada yang berubah dari aspek nilai ritual dan sakralnya, dan ada yang berkembang secara parsial dari aspek musiknya saja. Di Bengkulu upacara berkembang secara parsial, yakni dari aspek musiknya. Pada masa lalu, dol adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Upacara Tabot. Dol hanya dapat dimainkan bersamaan dengan Upacara Tabot, sebagai musik pendukung upacara. Akan tetapi, pada tahun 1980-an dan 1990-an dol sudah dapat ditampilkan secara terpisah untuk penyambutan tamu pemerintah, meskipun masih dalam bentuk ansambel yang aslinya. Perkembangan yang cukup menggembirakan adalah ketika dol dijadikan sebagai sumber penataan musik kreasi untuk iringan tari “baru” (kreasi) dan untuk musik kreasi. Dalam penelitian Haque, ada tiga aspek perkembangan yang terjadi pada dol, yaitu: dol sebagai media seremonial di kota Bengkulu; dol dijadikan sebagai materi pembelajaran musik di sekolah dan di sanggar; dol sebagai sumber sebagai garapan komposisi baru. Dol sebagai media seremonial disajikan pada acara penyambutan tamu-tamu penting, acar ulang kota Bengkulu, acara yang bersifat umum lainnya, dan penggabungan dol dengan musik tradisi lainnya seperti gendang sarunai dan gamat yang digunakan untuk hiburan. Dol sebagai materi pembelajaran di sekolah, walaupun masih bersifat ekstrakurikuler, tetapi telah diajarkan di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di berbagai daerah khususnya di kota Bengkulu. Perkembangan yang cukup menarik adalah dol dijadikan sebagai sumber penciptaan karya baru. Dol telah digabung dengan berbagai alat musik di luar tradisinya. Misalnya dengan menghadirkan gitar bass eletrik, kolintang, set rebana, dan cara memainkan dol pun lebih atraktif. Misalnya, dol tidak saja diletakkan di lantai, tetapi telah disandang dan dimainkan sambil berbuai atau berayun, bahkan sambil tidur. Pertunjukan ini pun kemudian disebut dengan dol buai25. Yang tak kalah menarik juga perkembangan yang terjadi dari aspek alat musiknya, berbagai jenis ukuran dol pun dibuat untuk keperluan perbedaan atau variasi warna bunyi. Para remaja Bengkulu sangat antusias memainkan
25 Ibid., 46-47, 48-49, 50,57.

248

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

dol kreasi ini. Di Pariaman perubahan yang terjadi adalah pada nilai sakral upacara dan juga dalam bentuk parsial. Upacara Tabuik tidak lagi dilaksanakan dari tanggal 1-10 Muharam, melainkan berubah menjadi tanggal 1-11, 12, 13, dan 14 Muharam, yang diperlukan upacara puncak maoyak tabuik jatuh pada hari minggu. Perubahan ini dilatarbelakangi oleh embel-embel “pariwisata”. Artinya jika upacara puncak dilakukan pada hari minggu maka akan banyak orang yang menyaksikannya. Dari satu sisi ada benarnya, memang banyak orang menyaksikan upacara maoyak tabuik. Imbas dari itu, ekonomi masyarakat juga terdongkrak, mulai dari penjual makanan, transportasi, pengelola parkir, hingga penginapan. Namun demikian, cara praktis ini ternyata telah menguburkan nilai-nilai sakral kesejarahan peristiwa Karbala sebagai titik tolak upacara. Oleh karena pada tanggal 10 Muharam 680 (61 H) adalah hari kematian Husein di Karbala. Lambat laun generasi berikutnya tidak akan tahu lagi makna 10 Muharam dalam Upacara Tabuik. Bentuk lain dari pengembangan Upacara Tabuik adalah perayaan Oyak Tabuik yaitu cuplikan dari salah satu rangkaian Upacara Tabuik. Biasanya yang diambil adalah upacara puncak, maoyak tabuik. Pelaksanaannya terbilang meriah, kolosal karena melibatkan ratusan bahkan ribuan orang warga Pariaman khususnya dan ditambah dengan ‘warga partisipan’. Akan tetapi pelaksanaannya sudah terlepas dari semua aspek ritual dan sakral, yaitu: (1). Tidak diharuskan pada bulan Muharam (tergantung hajatan); (2). Dilaksanakan di luar kota Pariaman (Padang, Pekan Baru, Batam, Jakarta, Padangpanjang, Bukittinggi, Payakumbuh, Darmasraya, bahkan di luar negri seperi Washington, dsb); (3). Tidak diperlukan benda-benda sakral (jari-jari, benda-benda prosesi, dsb); (4). Tidak diharuskan pelaksananya masyarakat dari bekas nagari Pasar Pariaman dan V Koto Air Pampan; (5). Tabuik yang diusung tidak mesti dua buah, satu saja dibolehkan; (6). Ukuran tabuik yang diusung pun relatif, tidak harus sama tingginya dengan tabuik yang digunakan di kota Pariaman (dapat saja ukurannya tinggi sekitar enam meter); (7). Setelah perayaan selesai, tabuik tidak perlu dibuang.

249

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Waktu pelaksanaan perayaan Oyak Tabuik tidak terikat lagi dengan bulan Muharam. Hal ini disebabkan karena tujuan dan makna perayaan Oyak Tabuik juga tidak terkait lagi dengan peringatan kematian Husein. Perayaan ditujukan untuk memeriahkan suatu event, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah maupun yang dilakukan sendiri oleh masyarakat Pariaman. Misalnya, perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus, perayaan festival Muharam, hajatan keluarga besar Persatuan Keluarga daerah Pariaman (PKDP), peresmian pengurus baru PKDP, dan lain sebagainya. Jadi, waktu pelaksanaan tergantung dari masyarakat Pariaman di perantauan. Pelaksanaannya pun tidak harus setiap tahun atau berkala secara periodik. Dalam hal ini organisasi PKDP di masing-masing daerah atau kotalah yang menentukan kapan mereka akan melaksanakan perayaan Oyak Tabuik. Mengenai tempat penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik dilaksanakan di luar kota Pariaman, maksudnya adalah karena perayaan ini juga tidak ditujukan untuk memperingati kematian Husein. Perayaan dimaksudkan untuk memeriahkan berbagai hajatan atau event. Siapa dan dimana tempat penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik juga tidak ada kesepakatan antara masing-masing organisasi PKDP. Ini amat tergantung dari animo masing-masing masyarakat Pariaman di suatu tempat. Misalnya, pada bulan Januari 2008, PKDP Kota Padangpanjang melakukan perayaan Oyak Tabuik. Pada bulan April 2008, masyarakat kota Padang melakukan perayaan Oyak Tabuik. Pada bulan Juli 2008, masyarakat Pariaman di kabupaten Darmasraya melakukan perayaan Oyak Tabuik, sedangkan kota Bukittinggi dilakukan perayaan Oyak Tabuik pada pertengahan tahun 2007. Tahun 2007 masyarakat Pariaman di Duri dan Pekan Baru melakukan perayaan Oyak Tabuik. Tahun 2006 masyarakat Pariaman di Batam melakukan perayaan Oyak Tabuik. Jadi tempat penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik dapat dilaksanakan di daerah atau kota mana saja, tergantung dari keinginan masyarakat setempat. Dalam setiap penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik tidak diperlukan benda-benda sakral untuk kekhidmatan perayaan. Misalnya, panja atau jari-jari sebagai simbol jari-jari Husein yang terlepas akibat tebasan pedang lawan, tidak perlu diarak melintasi kota atau mengelilingi daraga. Begitu juga dengan benda-benda lainnya sebagai lambang kebesaran Husein yang diarak pada saat mengambil tanah, mengarak jari-jari,
250

pada tahun 2008. bahkan termasuk warna yang digunakan tampaknya tidak ada keharusan mengikuti cara yang digunakan di kota Pariaman pada bula Muharam. Padahal tinggi tabuik yang ideal adalah antara 10-12 meter. tidak ada keharusan memiliki tinggi yang sama dengan yang digunakan di Pariaman. Mengenai pelaku perayaan Oyak Tabuik. tabuik dibawa kembali oleh pemiliknya. hanya memiliki tinggi sekitar 6-6. di Padangpanjang hanya digunakan satu tabuik saja. mereka adakalanya membuat dua tabuik untuk diusung dan dihoyak. Namun biasanya masyarakat tempat penyenggara perayaan Oyak Tabuik minta bantuan untuk pemain gandang tasa yang mengiringi perayaan. Begitu juga dengan ukuran tinggi tabuik yang digunakan. Oleh karena waktu. Setelah perayaan selesai. Bahkan saat sekarang sudah ada pula jasa penyewaan tabuik di Bukittinggi. sangat sedikit sekali yang menggunakan warna kuning. dan pada saat tertentu hanya menggunakan satu tabuik. dilakukan oleh masyarakat Pariaman dimana perayaan Oyak Tabuik itu dilaksanakan. dan mengarak sorban juga tidak dilakukan. Misalnya. Begitu juga dengan tahun-tahun sebelumnya. dan biru. Biasanya tabuik disimpan sebagai benda budaya asset pemerintah setempat. merah. 251 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengambil batang pisang. Gandang tasa dapat saja didatangkan dari Pariaman sendiri atau dari kota lain. Baik dari jumlah dan ukuran tabuik. Pelakunya tidak harus didatangkan dari kota Pariaman yang biasa menjadi pelaku perayaan Upacara Tabuik. Payakumbuh pada masa lalu juga pernah menggunakan dua tabuik dalam perayaan Oyak Tabuik di kota itu. Satu hal lagi yang tidak umum dilakukan pada perayaan Oyak Tabuik adalah selesai perayaan Oyak Tabuik pada sore hari. dan situasi perayaannya tidak sama dengan perayaan Upacara Tabuik pada bulan Muharam di Pariaman. Perayaan Oyak Tabuik di Bukittinggi tahun 2007 juga hanya menggunakan satu tabuik saja. Penulis menyaksikan ukuran tabuik yang digunakan di Padangpanjang tahun 2008. tabuik tidak harus dibuang. Padangpanjang melakukan perayaan Oyak Tabuik pada tahun 1993 menggunakan dua tabuik. Apalagi dibuang ke laut.5 meter dengan warna dominasi kuning. Akan tetapi. dan warna yang dominan adalah putih. yang khusus digunakan untuk perayaan tabuik. tempat. Kota-kota yang pernah melakukannya perayaan Oyak Tabuik.

Desember 2007. Januari 2008). dan material. 2008). 27 Asril. Padangpanjang. tempat sakral. 74-79. bergantung pada jauh dekatnya tempat perayaan26. Begitu juga dengan tujuan dan maksud perayaan juga tidak lagi untuk memperingati kematian Husein27. Mereka melakukannya secara totalitas dengan penuh pengorbanan pisik.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Menurut Febrizal Sutan Sati. pelaku upacara atau perayaan tidak lagi memiliki kaitan langsung dari aspek makna dengan Upacara Tabuik. jika suatu daerah menginginkan. 26 Febrizal Sutan Sati (60 thn). dan pelaksanaannya. Penutup Meskipun Upacara Tabuik dan Upacara Tabot berasal dari peristiwa yang sama (perang Karbala). benda-benda sakral. Oleh karena waktu sakral. spirit. 252 . “Upacara Tabuik dalam Dimensi Sosial Budaya Masyarakat Pariaman: Keberlangsungan dan Perubahannya” (Padangpanajng: STSI. dan Padangpanjang. Dari seluruh aspek penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik yang tidak lagi menggunakan cara-cara yang lazim pada perayaan Upacara Tabuik. yang tak kalah menarik juga diamati adalah semangat para masyarakat perantau Pariaman dalam mengekspresikan diri melaksanakan Oyak Tabuik. Di luar megah dan meriahnya pelaksanaan Upacara Tabuik. tetapi dalam pengimplementasian upacara sangat banyak dipengaruhi oleh interpretasi masyakarat dengan cara “pemitosan” sejarah yang kemudian seolah-olah seperti legenda. Unsur-unsur budaya lokal dan kebiasaan mayarakat juga turut mempengaruhi bentuk upacara. kecuali spirit kebersamaan dalam semangat yang dibangun dalam Upacara Tabuik. mental. Bukittinggi. Jumlah nominal sewa yang dipungutnya relatif. Melalui Oyak Tabuik momentum identitas dimunculkan. pimpinan grup gandang tambua dan randai “Rabuang Kuniang” Bukittinggi (wawancara: Bukittingi. Bagian yang tak terelakkan juga ada perubahan yang terjadi pada kedua upacara tersebut bisa terjadi secara parsial dan penggerusan nilai sakral. Identitas sebagai warga yang berasal dari Pariaman benar-benar mengapung ke permukaan. ia telah menyewakan tabuik yang dibuatnya ke Pekan Baru. seperti beberapa aspek sakral yang telah ditanggalkan merupakan perubahan yang terjadi pada Upacara Tabuik. Ia juga menyewakan satu grup gandang tasa lengkap dengan pemainnya untuk mengiringi perayaan Oyak Tabuik.

diterjemahkan oleh Hartoyuwono. van. Gibb. “Tabut . Chandler dan M. 253 . Leiden: EJ Brill. Batavia: Albrecht & Co. Padangpanjang: ASKI. Upacara Tradisional Daerah Bengkulu: Upacara Tabot di Kotamadya Bengkulu.. Helfrich. 1991/1992.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Daftar Pustaka Ahmad. Tesis S2 UGM Yogyakarta. Hanefi. et al. W. Hamdan Basyar ed. Parsi “Tabuik. 2000. 1996. __________.A. 26 Juni 1994. 1974. Ricklefs (ed. Land--. M. dkk. 1914. “Upacara Tabuik dalam Dimensi Sosial Budaya Masyarakat Pariaman: Keberlangsungan dan Perubahannya” Padangpanajng: STSI. 2008. Terj. H. Michael. Skripsi. 1998. 1913. Adam Saleh Djakarta: PT Sinar Hudaya. “Syiah di Indonesia: Antara Mitos dan Realitas” (pengantar) dalam A. Ethnography of Muhammadan Peoples. L. 1972..H Kamer ed. Asril. S. London: Luzac and Co.. Clayton: Centre of Southeast Asia Studies. Color and Symbolism in Islamic Architecture: Eight Century of the Tile Maker’s Art. 1888. “Perkembangan Musik Dol di Kota Bengkulu”. “Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di Pariaman Sumatra Barat”. Shorter Encyclopaedia of Islam. ed. Ronkel. et al. dalam David P. Barry. Rahman Zainuddin dan M. Zelly Marissa. Margaret J. 1986. Trap.. Pesta Kolosal Anak Nagari Piaman”.) Nineteenth and Twentieth Century Indonesia.C. Monash University. 2009. The Encyclopaedia of Islam: Dictionary of the Geography.a Shiah Ritual Tranplanted from India to Sumatra”. “Het Hasan-Hosein of Taboet-Feest te Benkoelen”. Bandung: Mizan dan PPW-LIPI. Leiden: Verlag von P. Azra. en Volkenkunde. “Musik Tabot dalam Beruji Dol di Bengkulu: Tinjauan Musikologis” Laporan penelitian. Badrul Munir. Fazl. London: Thames and Hudson Ltd. dalam Internationales Archiv fur Ethnographie. dalam Tijdschri ft voor Indische Taal--. Ph. O.. Padangpanjang: STSI. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Depdikbud. Syiah dan Politik di Indonesia: Sebuah Penelitian. Tanjung. Kartomi.R dan J. 2002. Hamidy. “Nadere gegevens omtrent het Hasan¬Hoesain feest”. Singgalang Minggu. Haque.. Azyumardi. Husein Sjahid Agung.

.

MENGEMAS SENI TRADISI NUSA TENGGARA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL 5 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

Dikenal pula sebagai sutradara senior lokal Mataram. dikenal sebagai seniman dan penulis naskah \sandiwara. cerpen dan puisi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Kongso Sukoco. Saat ini menjabat Ketua Dewan Kesenian Nusa Tenggara Barat. 256 .

Memang bisa saja ada perubahan dalam pertunjukan seni tradisi namun 257 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Memfungsikan Teater Tradisi Amaq Abir sebagai Media Komunikasi Tradisional Kongso Sukoco Ketua Dewan Kesenian Provinsi NTB M embicarakan teater tradisi sebagai media komunikasi. peristiwa teater (berlangsungnya komunikasi pertunjukan teater dan penontonnya) adalah peristiwa kebudayaan. Di dalamnya berlangsung reproduksi nilai. meski keberhasilannya terkait dengan seni dan ketrampilan. antara seniman dan penonton. alur bahkan durasi dan bagaimana pertunjukan diakhiri. Pertunjukan teater berlangsung dalam lingkungan komunitas dengan warga penonton yang sharing terhadap idiom teater tradisi. yakni pengolahan pesan dalam bingkai estetika teater dan di lain pihak berlangsung pencernaan makna yang dilakukan khalayak. isi cerita. Khalayak memahami idiom seninya. tapi juga emosi dan bersifat situasional. Dalam situasi ini komunikasi tidak melulu di tingkat isi pesan. Dalam pertunjukan teater tradisi ada konvensi atau ”aturan main” yang menjadi landasan berlangsungnya komunikasi. Orang mulai memikirkan secara spesifik bila proses komunikasi itu menimbulkan masalah. Dan tidak melulu domain ketrampilan. Tontonan teater mempertemukan organisme hidup. Bahwa dalam prosesnya harus dipahami. Komunikasi bersifat empiris. tentu tidak sekadar urusan menyampaikan pesan agar dapat diterima publik atau khalayak. Bagaimana proses pertemuan organisme hidup itu berlangsung sangat mempengaruhi efektifitas penyampaian informasi.

Salah satu sebabnya. Pili258 . Hal itu seperti mengesampingkan pentingnya meningkatkan kualitas ”bentuk seni” kelompok-kelompok seni tradisi yang sebenarnya justru menjadi faktor penting meningkatkan efektifitas penyampateraian pesan. Kantor Wilayah Departemen Penerangan di tiap provinsi banyak menyelenggarakan pertunjukan rakyat. Sebab telah terbangun kedekatan kultural kesenian itu dengan komunitas primordialnya. Hal itu berpengaruh positif pada eksistensi seni pertunjukan tradisi. pemberdayaan dan pengembangan teater tradisi – termasuk seni tradisi lainnya – yang dilakukan saat itu lebih memberatkan fungsinya sebagai ”alat” untuk mengantarkan pesan. Prioritasnya semata-mata penyampaian kebijakan pembangunan pemerintah. sebelum era reformasi pemerintah menaruh perhatian besar dalam hal pemanfaatan seni tradisi. penyampaian isi pesan sangat mekanis.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF perubahan itu selalu dikenali karena ada pertautan dengan konvensi sebelumnya (bandingkan dengan teater modern yang sering ”tidak komunikatif” dengan penontonnya karena tak pernah terjadi penyerasan konvensi tersebut). Karena konvensi itu maka memfungsikan dan memanfaatkan teater tradisi sebagai sarana penyampai informasi pada khalayak primordialnya bisa sangat efektif. Ini faktor penting terjalinnya komunikasi yang efektif.merupakan jaminan bahwa motivasi penonton primordial itu akan terpenuhi. Di pelosok-pelosok desa sering kita jumpai mobil panggung pertunjukan rakyat milik Departemen Penerangan yang menggelar seni pertunjukan tradisi. Konvensi -. Harus diakui. Kalau kita menengok masa Departemen Penerangan dengan program ”Sosio-drama”-nya. Banyak bentuk teater tradisi di Lombok yang bisa dikembangkan menjadi sarana atau media tradisional untuk penyampai informasi kebijakan pemerintah. Sebab komukasi yang terbangun dalam teater tradisi adalah penyelarasan pemahaman karena adanya konvensi yang dipahami bersama. khususnya bentuk seni pertunjukan tradisi yang efektif sebagai media penyaluran pesan informasi.termasuk konvensi artistik -. Salah satu teater tradisi di Lombok adalah Teater Amaq Abir. dengan sedikit perhatian dalam mengintensifkan peristiwa komunikasi kultural. bertolak dari motivasi ini mereka memiliki ekspektasi terhadap pesan yang akan diterimanya. Meski ada catatan penting.

Lombok Timur dikenal jauh sebelum jaman Jepang).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI han untuk mendeskripsikannya karena alasan. musik dan tari. musik dan tari tak memenuhi kebutuhan masyarakat untuk menjalin komunikasi dialogis. Teater Tradisi di Lombok a. Sampai tahun 70-an teater tradisi di Lombok mengalami masa keemasannya.seperti kita temui pada seni budaya Lombok (ma259 . Teater ini telah membangun penonton primordialnya yang meluas di beberapa wilayah di Lombok. Pembinaan yang dilakukan Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud (pertengahan tahun 80-an) berhasil menyelamatkannya. Ada yang menyebutnya setelah masa kemerdekaan atau sekitar tahun 5060an (meski Teater Amaq Abir dikenal di Desa Medana. Masyarakat Sasak memiliki perjalanan seni tradisi yang panjang dan kaya seperti tradisi sastra. bahwa Teater Amaq Abir sangat populer pada jamannya. Namun tetap saja. Namun seni pertunjukan tradisi Sasak yang verbal dan dialogis – yang menjadi salah satu ciri teater tradisi – tumbuh belakangan. bahkan berkembang di beberapa tempat di Lombok. Kalau kita temui jejak dan pengaruh dari ” Jawa-Bali” dalam teater tradisi -. Lombok Tengah. dan kini Teater Amaq Abir sekali tempo masih dimainkan kalangan generasi muda di Desa Marong. Karena itu dipandang penting mendeskripsikannya untuk didiskusikan bersama dalam forum ini. dengan minimnya pembinaan (kalau tidak dikatakan tidak ada sama sekali) dari pemerintah setempat. maka seni teater mendapat tempat khusus. nasib kepunahan itu akan terulang kembali. Asal-usul Teater tradisi Sasak bisa digolongkan sebagai bentuk baru dalam jajaran khasanah seni tradisi yang tumbuh di Lombok. Namun tidak seperti Teater Cupak Gurantang dan Kemidi Rudat yang bertahan dan tetap populer hingga kini. Tumbuhnya teater tradisi Sasak cepat mendapat dukungan luas. sebaliknya Teater Amaq Abir nyaris punah. Tumbuhnya seni pertunjukan yang verbal dan membangun komunikasi dialogis ini seiring kebutuhan masyarakatnya untuk lebih tersurat dan intens dalam mengkomunikasikan pesan moral dan paedagogik. Lebih dari itu ada kebutuhan menjalin komunikasi dengan publik yang melintasi batas komunitasnya. Saat pertunjukan seni sastra.

Kedatangan Kerajaan Gowa (Sulawesi Selatan) pada abad XVII. Ini tak lepas dari kemampuan Lalu Nasib yang menjadi Wayang Sasak selalu kontekstual dengan publiknya. Semua sastra lontar itu digubah dengan menggunakan Aksara Jejawen. Memang hanya Cupak Gurantang dan Kemidi Rudat yang mampu bertahan lebih lama. juga meninggalkan pengaruhnya pada corak seni budaya Sasak. Dalam hal penguatan eksistensi perluasan publik seninya. Wayang Sasak bukan hanya sanggup bertahan namun juga sangat populer di seluruh penjuru Lombok. Tapi paling kuat meninggalkan jejak sejarah adalah Kerajaan Karang Asem pada abad XVII-XIX (1692-1839) yang diteruskan oleh Kerajaan Mataram yang merupakan metamorfose Karang Asem sampai tahun 1894. 260 . teater maupun sastra lontar (Sastra Takepan). Kerajaan Gowa yang lebih dekat dengan pengaruh Melayu. Teater Amaq Darmi. Teater Cupak Gurantang bukan hanya menjangkau wilayah penonton yang lebih luas. Hingga kini jumlah komunitas Bali termasuk besar di Lombok. yang merupakan turunan dari Aksara Jawa. demikian pula budaya dan kepercayaan yang dianutnya terus tumbuh dan berkembang. meninggalkan pengaruh paling kuat kuat pada masyarakat Sasak. Hanacaraka. kemudian ekspedisi militer Majapahit yang dipimpin Mahapatih Gajah Mada pada abad XIV meninggalkan jejak budaya maupun kepercayaan yang jelas. Teater Amaq Amir. Namun kebudayaan Jawa baik seni musik. Di tangan Lalu Nasib. Hal yang sama juga terjadi pada Kemidi Rudat. Pada abad XI tercatat Anak Wungsu (Bali) datang ke Lombok. tapi sekaligus mampu meluaskan sebaran bentuk teater tersebut di beberapa tempat.karena Lombok sempat menjadi ”persinggahan” kerajaan Jawa dan Bali.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF syarakat Sasak) umumnya -. Wayang Sasak. Cupak Gurantang dan Kemidi Rudat sangat populer di komunitasnya masing-masing. yang patut mendapat perhatian khusus adalah Wayang Gerung dengan dalang legendaris Lalu Nasib. Teater Kayaq Sandongan. Meski demikian. meninggalkan jejak seni budaya ”Rumpun Melayu”. Perlu diungkapkan disini. pengaruh sastra Jawa (Madya) yang dominan itu bukan satu-satunya.

sebab dalam masyarakat tradisi memerlukan pijakan yang jelas. perampok. yakni persoalan etika. 2. 3. Perwatakan dalam teater tradisi umumnya ”stereotip”. raja (Dari Baghdad dan Yaman).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI b. penolong dan menjunjung watak-watak ksatria. menembang dengan iringan gamelan. teater tradisi yang bentuk penyajiannya melalui tembang dan tari (dramatari). Penokohan dalam lakon teater yang terakhir ini didasarkan pada jenis mahluk dan kedudukan. moral maupun komentar-komentar sosial. Struktur teater tradisi umumnya naratif. Dari narasi-narasi yang diungkapkan teater tradisi. diharapkan masyarakatnya mampu memahami masalah yang dihadapi dan syukur kalau bisa menyelesaikannya. Kalau teater yang berasal dari ”Rumpun Jawa-Bali” (Teater Kayaq dan Terater Topeng) lebih sederhana. karena kebutuhannya untuk menampilkan cerminan keadaan dan persoalan masyarakat. Pengelompokan Secara umum pengelompokan teater tradisi di Lombok bisa dikelompokkan: 1. hitamputih. Teater Topeng. Teater Kemidi Rudat. penipu dan jauh dari nilai-nilai etis. Sebaliknya watak Gurantang mewakili watak mulia yaitu ihlas. semua pemainnya memakai topeng. Pada Teater Amaq Abir yang semula dalam narasinya dibawakan dengan cara nembang (bekayaq) pada perkembangannya menggunakan menggunakan dialog verbal agar terbangun komunikasi intens dengan penonton. anak muda dan lain-lain. Tidak demikian dengan teater ”Rumpun Melayu” (Kemidi Rudat) yang kostumnya mencolok ala Arab/Turki. yang dialog-dialognya seperti percakapan sehari-hari dan pemainnya juga menari. wasir. Pada ”Rumpun Bali Jawa” tekanan diberikan pada pembawaan manusia. khadam. Lombok Tengah kini memainkan Teater Amaq Abir dengan dialog yang dominan dari261 . kutub moral yang tidak kabur antara yang baik dan buruk. Generasi muda di Desa marong. puteri. Pada Teater Cupak-Gurantang kita temukan watak Cupak yang rakus. Teater Kayaq. tidak pendendam. misalnya dalam konstum banyak yang memakai kostum sehari-hari. permaisuri.

Di Kabupaten Lombok Timur kita dapati di Desa Mendana bisa dikatakan ”hidup segan mati pun tak mau”. Sebab cerita-ceritanya umumnya sudah diketahui penontonnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pada tembangnya. Tapi karena langkanya pertunjukan karena pelakunya mulai tak ada. pada tahun itu juga dipentaskan di Jakarta dalam Pekan Teater Tradisi Tingkat Nasional. bisa jadi sekarang sudah mati. Tapi kenapa bukan Cupak Gurantang atau Kemidi Rudat yang lebih eksis dan masih memiliki publik yang lebih jelas? Justru karena kemerosotan Teater Amaq Abir itu lebih kontekstual dibicarakan dalam forum ini. malah sudah punah. lebih leluasa berimprovisasi dalam mengomentari persoalan-persoalan sosial dan lebih dekat dengan persoalanpersoalan kekinian. Waktu ditemukan untuk pembinaan saat itu. Saat itu pemainnya rata-rata berumur 75-80 tahun. Sedang di Kabupaten Lombok Tengah di Desa Marong masih sering tampil dalam acara-acara hajatan masyarakat. dan menampilkannya pada Festival Teater Daerah NTB. Ini dimaksudkan agar teater itu bisa lebih kontekstual. tapi dari sinilah para orang tua melepaskan anaknya untuk menonton sebab tahu dalam tontonan tersebut ada nilai-nilai yang perlu diapresiasi. Dalam uraian berikut akan dideskripsikan lebih jauh tentang Teater Amaq Abir yang sempat sangat populer pada jamannya. Teater Topeng Amaq Abir yang mendapat predikat ”terbaik”. Tercatat pernah hidup di beberapa daerah di Lombok. Di beberapa desa di Kabupaten Lombok Barat. seperti di Desa Tanjung dan Narmada. Khusus di Desa Marong. ibu kota Kabupaten Lombok Tengah. Teater Amaq Abir Teater Topeng Amaq Abir merupakan salah satu bentuk teater tradisi Sasak yang pernah sangat populer pada jamannya. tapi eksistensinya memprihatinkan. teater tradisi dari Marong ini pertama kali mendapat pembinaan dari Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud (Sekarang Dinas Dikpora) melalui Proyek Pengembangan Kesenian pada tahun 1984. Sebagian perlengkapannya (terutama gamelan) telah dijual oleh 262 . 41 km dari Mataram atau 13 km dari Praya. Teater Amaq Abir sudah 50 tahun tidak pernah mengadakan pementasan (jauh sebelum Jepang menduduki Lombok).

yang pernah mengikuti kursus pelatihan di Padepokan Tari Bagong Kussudiardjo di Jogja tahun 1990-an. Pada tahun 2008. Riwayat Pertumbuhan Arti Kata Beberapa informan yang ditemui di Desa Marong mengungkapkan. Sebenarnya sejak mendapat pembinaan itu gairah menghidupkan teater tradisi di Marong mulai tumbuh. baik di Mataram maupun di Jakarta. sedangkan Abir ada yang mengatakan dari bahasa Arab ”Akbar” yang berarti besar. bahwa Abir dalam bahasa Sasak memang berarti Besar. Tapi beberapa informan lain memberikan catatan. Perbedaannya. a. Amaq artinya Bapak. maksudnya adalah tokoh yang mempunyai keunggulan ada keistimewaan. yang dalam bahasa Sasak maksudnya. kelompok teater topeng dari Marong itu memboyong pemain-pemain yang masih muda. Generasi muda di Marong memang belum mampu sepenuhnya memfungsikan teater tradisi itu. kedua pengertian itu maksudnya sama yaitu sebutan Bapak Abir. Tapi yang jelas. yang ditampilkan adalah pemain-pemain dari generasi muda. nama Amaq Abir yang terdiri dua kata Amaq dan Abir. sedang yang pertama pada kebesaran moral dan ahlak. sedikitnya kelompok teater asal Marong ini tampil sebanyak 20 kali di berbagai acara masyarakat desa. Apalagi dalam acara Pekan Teater Daerah. nilai-nilai paedagogis. Sejarah Teater Topeng Amaq Abir tercatat pernah hidup di beberapa 263 . yang terakhir lebih ditekankan dalam arti besar fisik seseorang. Teater Amaq Abir tetap jarang tampil. Banyak nilai-nilai yang terkandung dalam teater topeng ini. Penggeraknya yang sekaligus menjadi pimpinan teater itu adalah Lalu Sahibi. namun mereka bisa memvitalkan jiwa dan semangat di dalamnya. nilai-nilai artistik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI yang menyimpannya karena saat itu kemiskinan menghimpit masyarakatnya. sosial dan nilai-nilai luhur lainnya yang menjelma dalam keseluruhan batang tubuh teater topeng tersebut. pihak Taman Budaya NTB juga sempat mengundang untuk pentas melalui program pementasan rutinnya. Sejak tahun 1996.

sedang duplikatnya berwarna merah jambu. Untuk menyebarkan Islam di Lombok. misalnya di Desa Tanjung (Lombok Utara). Di Desa Mendana teater topeng ini memang disakralkan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF desa di Lombok. Topeng Amaq Abir yang asli dimandikan dan airnya ditadah dan diminum oleh yang sakit. Untuk melihat topengtopeng itu harus ada ”andang-andang”nya.. meninggal tahun 1980 dalam usia 125 tahun. lumpuh dan penyakit lainnya yang berhubungan dengan guna-guna. Konon. Kembali dari Mekah ia dipanggil Haji Ali Batu. Yang asli berwarna putih. ia membuat topeng dan memainkannya dengan pengikut-pengikutnya. Sebelum pertunjukan. Amaq Sitah sering kedatangan orang yang sakit minta obat. Lombok Timur.Di Desa Mendana Pada awal Lombok menerima ajaran Islam. sirih. . uang kepeng (Cina). pergi naik haji. Topeng Amaq Abir yang asli jarang dikeluarkan untuk pementasan. di Desa Mendana (Lombok Timur) dan Desa Marong (Lombok Tengah). Ida Bagus atau Datu. Amaq Abir (yang duplikat dan asli) dan topeng Haji. Tiap hari Senin dan Jumat malam Amaq Sitah membakar kemenyan di bawah tempat topeng-topeng itu. kini di semua desa itu kehidupan teater tradisi itu nyaris punah (di beberapa desa lainnya benar-benar punah karena ditinggalkan para pelakunya. Hinga kini Amaq Sitah dikenal sebagai dukun desa yang banyak didatangi masyarakat untuk minta obat orang yang kesurupan. Salah seorang pengikutnya adalah Amaq Nursalim. kelapa dan lain-lainnya. kedua matanya normal. yang dipakai hanya duplikatnya. Tentu saja. Ada lima karakter topeng yang disakralkan. semacam sesajen yang terdiri dari beras. biasanya untuk mengambil topeng selalu didahulu dengan persembahan ”andang-andang” seperti disebut 264 . Amaq Tempenges. ada seseorang yang berasal dari Sakra (sekitar 10 km dari Desa Mendana). sebelah matanya agak sipit. Anaknya yang bernama Amaq Sitah kalau masih hidup berusia sekitar 75 tahun) menyimpan topeng-topeng itu dalam ”besek” yang diletakkan di tempat khusus. benang. Untuk menurunkan topeng-topeng itu harus ada mantra-mantra khusus sebagai syarat minta izin.

Pengarang cerita Amaq Abir dipercayai sebagai waliullah Kerajaan Selaparang. asal-usul cerita Amaq Abir berasal dari Kerajaan Selaparang. yaitu Lalu Darmaji. sebab sumber-sumber lisan yang ditemui tidak pernah menyebut upaya-upaya yang dilakukan anaknya. perputaran waktu dan sebagainya. Sekitar tahun 1800. Amaq Abir adalah satu-satunya judul cerita yang pernah dipentaskan. hal-hal gaib atau sebagai pelengkap upacara sehubungan dengan hidup seseorang.Di Desa Marong Desa Marong sebagian besar penduduknya adalah petani. berasal dari Sakra (dekat Desa Mendana. Tapi versi lain menceritakan. Sedang di Marong. . Sebenarnya di desa ini banyak tumbuh berbagai bentuk kesenian. tiap akan dimulai pertunjukan selalu dengan acara doa bersama yang dipimpin oleh seorang ustadz. Datuk Somba punya anak bernama Mamiq Rumintang. Lotim) yang meninggal tahun 1800-an. lebih tepatnya dua pertiga warganya adalah buruh tani. seorang yang bernama Mamiq Jiring yang lahir dan dibesarkan di Marong mencoba mengangkat cerita itu ke dalam bentuk teater topeng. teater itu mengalami kelesuan. Datuk Somba diperkirakan keluarga atau pengikut Haji Ali Batu yang menyebarkan Islam ke Marong. Diperkirakan setelah usaha yang dilakukan Mamiq Rumintang. generasi kedua yang meneruskan usaha kedua orang tuanya. Desa ini sering mengalami kemarau panjang. lahir sekitar tahun 1936. Pada masanya cerita Amaq Abir ini sangat populer di beberapa desa di Lombok. Di Desa Marong teater topeng ini sama sekali tak disakralkan. sekitar tahun 1980-an warga desa sering terancam bahaya kelaparan karena daerah ini dulu termasuk dalam lingkaran ”daerah kritis Lombok Selatan”. termasuk di Desa Marong. Pementasannya semata-mata merupakan acara kesenian yang membawa pesan moral. merupakan generasi keempat (setelah Datul Somba) yang kembali membangkitkan Teater Amaq Abir. Lalu 265 . yang pertama mengenalkan Amaq Abir adalah Datuk Somba. tapi sekarang semuanya sudah banyak yang punah. Tapi cucu Mamiq Rumintang. dan tidak dihubungkan dengan suatu upacara agama. Warga desa yang berusia lanjut di Marong mengungkapkan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI di atas.

Dalam organisasi Berkat Patuh yang terbentuk saat Kanwil Depdikbud NTB melakukan pembinaan tahun 1984. Bentuk Teater Amaq Abir Bentuk Teater Amaq Abir adalah teater topeng. Lalu Sahibi yang memahami seni pertujukan yang memfungsikan vokal pemainnya. organisasi kesenian dari Marong itu sudah beralih pada generasi muda. grup teater itu juga mendapat bantuan seperangkat alat gamelan. Selain diberi kesempatan pentas di Mataram dan Jakarta. Di Desa Mendana ada tokoh-tokohnya. Dalam pementasan di Taman Budaya NTB tahun 2008. karakter atau tokoh ceritanya sama. Sasak). Kalau di Desa Marong dibuka dengan Tari Satang lebih merupakan tari kreasi). Hingga kini. Berbeda dengan di Desa Marong. Sebelum pementasan selalu diawali. Dalam teater ini kita dapati unsur tembang (kayaq.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Darmaji menjadi ”juru lakon” (berfungsi semacam sutradara). Semua pemainnya mengenakan topeng. tari dengan diiringi alat musik seperangkat gamelan. Tapi setelah mendapat pembinaan. meski intensitasnya menurun. Tokoh/karakter Baik di Desa Mendana atau di Marong. namun di Desa Mendana topeng yang dikenakan menutupi seluruh wajah. di Desa Mendana selalu diawali dengan Tari Oncer sebagai pembukaan. topengnya tidak sampai menutupi mulut (agar dialognya sampai ke penonton). termasuk untuk peran putri juga dimainkan laki-laki. sekarang untuk memainkan tokoh putri sudah dibawakan oleh pemain perempuan. hanya namanya berbeda. seperti: Topeng Haji Topeng Keliang Topeng Putri Topeng Papuk Dulahman 266 - . B. Lalu Darmaji dipercaya sebagai pimpinan organisasi teater itu. Meskipun dalam teater itu terdapat dialog-dialog tokoh-tokoh cerita. Teater Amaq Abir mulai dipentaskan sebagai hiburan di berbagai acara. Sebelumnya. seluruh pemainnya adalah laki-laki.

kuda ini sebagai simbol dari tokoh Jayengrana dengan kudanya yang bernama Sekardiu. Konon. terdiri: Gong Gamelan Rincik Terompong Kendang Suling Petuk Jalan Cerita Baik di Mendana maupun di Marong ada kemiripan jalan 267 - . Baik di Mendana atau di Marong. tokoh-tokohnya adalah: Topeng Ida Bagus/Datu Topeng Putri Topeng Amaq Abri Topeng Amaq Tempenges Topeng Amaq Baris Topeng Amaq Beang Topeng Amaq Dante dan Inaq Danti Topeng Amaq Bangkol Topeng Inaq Randa Topeng Raksasa Di Desa Marong di bawah asuhan Lalu Sahibi memang lebih kratif.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI - Topeng Amaq Abir Topeng Amaq Ampes Topeng Raksasa Sedang di Desa Marong. Musik Pengiring Musik pengiri dalam Teater Amaq Abir adalah seperangkat gamelan. Toloh-tokoh baru banyak diciptakan untuk mengungkapkan persoalan-persoalan masyarakatnya dan membuat pertunjukan lebih segar. tokoh Amaq Abir selalu digambarkan sebagai kstria berkuda.

Pelayan pun mendapat tugas untuk mencari orang yang bisa menemukan dan membebaskan Putri dari cengkeraman raksasa. mungkin dengan sedikit perbedaan dalam intensitasnya. Tokoh ini sering berjudi (sabung ayam). Tingkah laku ini sering mendapat kritikan dari pelayannya. upaya memahami ma268 . Ceritanya berkisar tentang penguasa atau orang kaya di desa yang perangai maupun tingkah lakunya kurang terpuji. merupakan background sosial yang mempengaruhi dan membentuk ”pola psikologi aktual” masyarakat saat berekspresi dalam bentuk-bentuk keseniannya. Memahami Konvensi Tehnik. Akhirnya bertemulah pelayan tersebut dengan Amaq Abir yang sedang berdakwah. Suatu hari. yang membedakan hanyalah nama-nama tokoh-tokohnya yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakatnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF cerita. sang Putri ketika berjalan-jalan di taman sari diculik oleh raksasa. kemudian beranjak dari cengkraman penguasa otoriter menuju era reformasi tapi kemudian tergerus oleh selera global. dan disindir dengan cara menembang. Karena itu. serta tingkah laku lainnya yang bertentangan dengan kepatutan atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Penguasa atau orang kaya itu akhirnya menginsyafi kesalahannya setelah mendapat nasehat dari Amaq Abir. Perubahan-perubahan sosial politik. ahli sejarah teoritikus film. perubahan status poleksosbud dari bangsa terjajah kemudian merdeka. Kesimpulan itu bisa berlaku saat kita mencoba memahami kesenian (teater) tradisi dan modern. Gegerlah seluruh wilayah kedatuan. Kesimpulan itu pernah diungkapkan Sigfried Cracauer. isi cerita dan perkembangan bentuk-bentuk kesenian suatu komunitas (suatu bangsa) bisa dipahami secara utuh dalam hubungannya dengan ”pola psikologi aktual” masyarakat yang bersangkutan. nilai-nilai budaya. Amaq Abir pun berhasil mengalahkan raksasa dan membebaskan Putri. mabuk-mabukan (minum tuak). Pelayannya yang dikenal berhati lurus ini juga sering membicarakan keburukan ini pada Putri atau anak penguasa atau orang kaya tersebut. Memfungsikan Teater Tradisi a.

Misalnya. 269 . Nilai-nilai artistik terungkapkan lewat tembang atau kidung. dan konflik sebagai hakekat drama. Sedang teater modern berusaha menggambarkan realitas obyektif dengan bahasanya yang analitik prosaik.seperti halnya seni tradisi lainnya -.berfungsi sebagai ”pranata” masyarakatnya. Teater tradisi mengungkapkan nilai-nilai dengan cara tersirat dalam alur ceritanya serta pada penggambaran perwatakannya. Pertunjukan teater mengungkapkan nilai-nilai itu dan masyarakat mencocokkan dengan konvensi yang telah terbangun bersama. Teater tradisi Sasak di Lombok -. lewat teknik pembuatan topeng dan musik pengiring. Manusia dalam teater tradisi tidak dipisahkan dari gejala metafisik-kosmik. dan teater itu menjadi media komunal yang (antara lain) berfungsi penyampai informasi untuk mencocokkan nilai bersama tersebut. menonjolkan individu sebagai entitas psikososial. hakekat drama sebagai gerakan mempertahankan tradisi. Nilai-nilai paedagogis maupun nilai-nilai lainnya hingga kini masih dihayati masyarakat pendukungnya. Ada baiknya kita merinci perbedaan antara teater tradisi dan teater modern. Anggota masyarakat yang menjadi pendukung kesenian tersebut bisa menghayati dan mengungkapkan pengalamannya. Teater tradisi menjadi sarana penting dalam sistem pewarisan nilai-nilai. Kesenian merupakan salah satu sarana menonjolkan komunalisme.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI syarakat pelaku teater tradisi dan kemungkinan ”pengembangan” nilai-nilai pesan yang disampaikannya memang harus paralel dengan background sosial yang dimaksudkan itu. kita selama ini memahami terdapat dua jenis bentuk teater yakni yang digolongkan sebagai ”teater tradisi” dan ”teater modern”. Dalam teater tradisi terdapat konvensi-konvensi yang mengikat penampilannya.

sirkuler (kosmologis masyarakat agraris) 4. rasa ingin tahu. Bahasa sebagai alat analisis.Linier.bahasa lebih formal. secara kuantitatif b.Penjabar dan penyampai nilai-nilai . Tokoh dalam teater tradisi sadar akan ketergantungan tenaga kosmik dan spiritual 6. merupakan bagian integral 7. Total secara kualitatif (tehnik dan naskah) 2. Menontonnya butuh totalitas akal. Salah satu kodrat manusia c. terikat pada fungsi artistik dan teatrikalnya 8.Semua arwah . Kesetiaan individual. Sering disebut sebagai sebagai ”teater total” a. Semata-mata menghidangkan. Struktur. Total dalam tehnik.Manusia fisik . Tokoh sebagai entitas psikososial 8.Satu gaya ekspresi . Perwatakan bukan entitas psikologis.Pengikat solidaritas .Tokoh.Satu macam bahasa. Penonton : . konflik sebagai hakekat drama 4. Musik dan Tari. sejajar dengan musik dan tari . Fungsi.bukan kenyataan obyektif tapi realitas Transcendental 5. Realisme (teater ilusionis) 5. puisi dan nyanyian . tapi lambang dari spiritual state (teater metafisik).Satu tema pokok . prosa atau puisi atau nyanyian (opera) 2. Bahasa dan sastra sangat penting tapi berbeda kedudukannya bila dibandingkan dengan teater modern. Struktur.Pengayaan batin kolektif yang mengacu Kerangka pemikiran dan perasaan yang telah dibentuk secara kolektif 6.bahasa tidak dominan . .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Teater Tradisi 1.Manusia fisik 3. . nilai alternatif diperhitungkan 270 . Musik dapat diabaikan dari watak tokoh dan adegan/suasana 7. . rasa dan kemauan b. a.Mahluk dari dunia lain 3. Teater Modern 1. Bahasa bisa prosa. . Teatrikalisme. . Penonton.

Dan untuk memahami fungsi suatu konvensi perlu dipahami pandangan dunia masyarakat atau komunitas yang menopangnya. Sebagai catatan. Sebab kesenian butuh “dukungan” masyarakatnya. karena itu (ada konvensi) harus menjaga harmoni dengan masyarakatnya. Sementara pandangan faustianistis ingin memahami realitas untuk mengendalikan atau menguasai dan memanfaatkannya (eksploitasi). Karena itu landasan “pengalaman bersama” harus ditemukan. adalah bagian dari dunia simbolik tersebut. Dunia simbolik adalah dunia yang menjadi tempat diproduksi dan disimpan muatan mental dan muatan kognitif kebudayaan baik berupa pengetahuan dan kepercayaan. Teater tradisi merupakan salah satu intitusi yang menjadi sarana pewarisan nilai-nilai dalam kebudayaan. atau hidup dalam harmoni. Dalam masyarakat tradisional. Uraian yang membedakan “yang tradisi” dan “yang modern/ baru” itu untuk memperjelas. dunia simbolik dalam kebudayaan. apa yang dikatakan nilai itu. tiap perwujudan ekspresi seni anggota masyarakatnya dianggap menjadi bagian tak terpisahkan dari kesepakatan akan nilai-nilai bersama.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Perubahan dalam apa yang disebut “pola psikologi aktual” seperti disebut di atas. menyebabkan pergeseran. perubahan atau pengembangan dalam kesenian. ada hubungan kuat antara “konvensi teater” dengan “pandangan dunia”. sebab dari sana pengungkapan nilai-nilai simbolik itu butuh pengakuan. Pandangan yang religius-magis berusaha memahami realitas untuk menyesuaikan diri. Suatu bentuk kesenian. Dengan kata lain. Atau lebih khusus. ada penjernih masalah. pandangan dunia menentukan bentuk konvensi. Perubahan-perubahan nilai estetik pada gilirannya mempengaruhi nilai-nilai sosial dan moral. makna maupun nilai dan norma dalam kebudayaan. pendalaman dan perluasan 271 . Di sana anggota masyarakat menghayati dan mengungkapkan pengalamannya. apa yang pantas dan sebaliknya. Ini berlaku bagi kesenian tradisi atau yang modern/baru. di kalangan ilmu sosial biasanya dianggap sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kebudayaan. hanya dapat tetap mempertahankan eksistensinya bila memenuhi fungsinya sebagai pengungkap pengalaman suatu komunitas sosial. Nilai estetik yakni anggapan tentang indah atau sebaliknya.

Kesenian selalu memiliki kebutuhan mengembangkan potensinya agar mampu mengakomodasi perubahan isi pesan seninya untuk menjangkau “pandangan dunia” yang lebih dari batas-batas komunitasnya. Idiom teater selayaknya tidak hanya dilihat dari daya tarik lahiriah saja. Teater menawarkan keterlibatan secara psikis. Media Komunikasi Tradisional Uraian tentang konvensi seni atau teater tradisi di atas untuk memberi gambaran tentang pentingnya memahami pandangan dunia tradisi yang melahirkan bentuk estetik dalam keseniannya. seni atau teater tradisi saat ini tentu tidak 272 . seperti kita mencampuradukkan faustianisme atau religious-magis. dan pentas teater itu menjadi milik bersama.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pengalaman. Dan kenyataannya. Dalam teater tradisi penonton sekaligus menemukan dua hal. mereka menemukan dan mencocokkan nilai-nilai yang selama ini dihayati bersama. yang menimbulkan resiko keracunan dalam memandang nilainilai kebudayaan. Pemahaman tentang “konvensi” ini penting. Sebab bisa jadi ada nilai-nilai konvensi (dalam bentuk fisik estetika) yang tak terpisahkan dari pandangan dunia yang menopangnya. Pertama. jadi apa yang mereka tonton merupakan (idealisasi) pengalaman hidup sehari-hari. Kedua. Kalau itu terjadi maka sebenarnya telah terjadi perampokan. setidaknya untuk menjaga agar nilai-nilai itu tidak disalahtafsirkan. mereka akan melihat diri mereka dan kenyataan sosial. Mengambil tanpa memahami esensi estetisnya. Namun harus juga dipahami. maksuknya agar tidak kehilangan akar (tetap ada “ruh” tradisi). misalnya bagi seniman-seniman teater baru yang mencoba mengambil idiom teater tradisi. bahwa segala konvensi untuk mengidentifikasi keindahan bentuk seni tradisi bukanlah aturan mati yang tak membuka diri dari kemungkinan berubah. Catatan yang terakhir ini juga penting kalau hendak memberdayakan teater tradisi sebagai Media Komunikasi Tradisional. Pemahaman sebelum melakukan penggalian nilainilai dari teater tradisi. b. dua pandangan dunia yang bertentangan.

Hal ini merupakan bagian untuk mempertahan eksistensi seni (sebagai konkritisasi nilai-nilai) yang mampu bertandang dan diapresiasi oleh nilai-nilai di luar masyarakatnya. pengadeganan. seperti Teater Cupak Gurantang 273 . ketiga. dalang Lalu Nasib sangat memahami “pola psikologi aktual” masyarakat Kecamatan Gerung. Lombok Tengah. Pertunjukan Wayang Gerung dengan dalang Lalu Nasib adalah contoh bagaimana seniman tradisi mampu menjelajah ruang nilai yang melintasi batas-batas komunitasnya. Lombok Barat. plot. kedua.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI semata-mata ditopang komunitasnya dimana kesenian itu mulai tumbuh. Mempertahankan eksistensi serta mengembangkan Teater Amaq Abir di Marong lebih memungkinkan. cerita maupun penokohan bisa dikembangkan sesuai kebutuhan. penyesuaian “bentuk seni”-nya sebagai pengungkapan nilai estetik yang mampu menyesuaikan diri dengan apresiasi estetis publiknya. teater topeng ini sama sekali tak disakralkan. Berbeda dengan yang ada di Desa Marong. Teater Amaq Abir di Medana (Lombok Timur) yang terlanjur terikat dalam nilai religius-magis komunitasnya. tapi semata-mata dianggap sebagai acara kesenian yang membawa pesan moral. kemungkinan perubahan dan pengembangan bentuk seni Teater Amaq Abir terbukti sangat terbuka masuknya unsur tehnik teater modern (pembinaan yang dilakukan menjelang tampil dalam festival teater tradisi di Jakarta tahun 1986). Sejak awal pertumbuhannya Teater Amaq Abir bagi masyarakat buruh tani di Marong tidak dihubungkan yang berkaitan dengan upacara agama atau hal-hal gaib. Tanpa kehilangan identitas Wayang Sasak-nya. Pada dasarnya fungsi tersebut juga bisa dilakukan teater tradisi yang lain yang kini masih eksis di Lombok. atau lebih jauh lagi menjadi media komunikasi tradisional yang berfungsi sebagai penyampai pesan dan media informasi yang komunikatif pada komunitasnya atau pada publik yang lebih luas. akhirnya tak mampu mempertahankan eksistensinya. setidaknya teater tradisi tersebut memiliki potensi. dengan potensi untuk “menyesuaikan diri” tersebut maka Teater Amaq Abir dengan mudah membawa “misi” penyampai muatan-muatan nilai dan moral baru. Struktur. pertama. yang sebenarnya menginginkan keseniannya bisa berkomunikasi dengan publik yang lebih luas.

termasuk teknis penggarapan pertunjukaan yang perlu sentuhan teater modern. memfungsikan teater tradisi sebagai media komunikasi tradisional. bahkan bila mungkin dipertajam. Unsur musik. tentu tak harus mengurangi nilai estetiknya. Amaq Kisiq dan kawannya-kawannya (tokoh-tokoh yang diciptakan dari personifikasi orang Jawa. Wayang Gerung-nya Lalu Nasib menyampaikan pesan-pesan pendidikan. Bima dan bisa muncul dari etnis lainnya). moral atau komentas sosialnya melalu episode yang menampilkan tokoh-tokoh kocak seperti Amaq Amet. Selebihnya Lalu Nasib masih memainkan wayangnya sesuai konvensi pewayangan Sasak. 274 . Demikian juga seharusnya dalam memfungsikan teater tradisi di Lombok sebagai media komunikasi tradisional. Amaq Locong. Peningkatan nilai estetis itu justru menguatkan kemampuan dan efektivitasnya sebagai media komunikasi tradisional. Bentuk-bentuk seni yang menjadi konvensi estetiknya tak harus luntur. Keberhasilan Wayang Gerung memang tak lepas dari kesenimanan Lalu Nasib yang hingga kini belum ada duanya. Tentu saja. tembang.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan Kemidi Rudat yang masih mendapat tempat masyarakat Sasak. topeng dalam Teater Amaq Abir perlu pembinaan teknis.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 275 .

Lahir di Sumbawa. Temu Ilmiah MSPI. Skenario Indonesia Masa Depan Komnas Ham. Seminar Seni Pertunjukan Indonesia STSI Solo. Yogya 1978/1979 Diklat Seni Tk. 2002. Termasuk naskah sandiwara radio dan musik iringan tari. Kasi Bina Program Bid. Kalimutu 1994. Beberapa lagu pop Sumbawa dan Hymne/ Mars Universitas Samawa/ KSB (sudah jadi NSP) pernah dibuatnya. 276 . Pendidikan : (Formal/ Non Formal) : SGA 3 th – Kupang 1959 PGSLP 2 th jurusan Ilmu Pasti (BI) 1963 Cantrik angkatan I Padepokan Seni Bagong K. Regional. Bali 1999. Temu Teater Nasional Yogya. Jakarta 2007. Karier : Guru Ilmu Pasti/ Kesenian 21 tahun di SMP/SPG Kepala Kebudayaan Sumbawa 7 tahun. Seminar Wawasan Kebangsaan. Bogor 2000. Namun Musbiawan mengaku masih ada sekitar 200 puisi yang jarang dipublikasikan. Sebagai pembicara Budaya di tingkat Lokal. Kesenian NTB 5 tahun. Kepala Taman Budaya Prop. 1999. Direktur SKENARIO 1999-sekarang. Nasional : Kongres Kebudayaan V di Bukit Tinggi. NTB 4 tahun (pensiun). 26 Juli 1940. 1998. Seminar Seni Kawasan Timur Indonesia. Ketua Umum Dewan Kesenian NTB 2 tahun.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Mustakim Biawan alias Musbiawan. Nasional.

Ketika kita belum menganggap pendekatan kultural penting sehingga melahirkan generasi bringas yang mengira bahwa anarkhisme adalah solusi ampuh segala kekacauan musibah bangsa. Tentu saja dengan selalu merujuk pada sikap bahwa geopolitik dan geokultural tidak ditentukan oleh satu pihak saja. Ketika teknologi membidani lahirnya media baru “diktator baru” yang mengubah hampir semua gaya hidup bangsa. kehidupan seni tradisi di NTB pada masa lalu berkembang dengan baik dan sangat diminati oleh hampir seluruh anggota masyarakat. juga 277 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Seni Tradisi NTB dalam Proses Kreatif Menuju Media Komunikasi Sosial Mustakim Biawan Mantan Kepala Taman Budaya NTB etika orientasi pembangunan masih menjadikan dimensi ekonomi dan politik jadi panglima. Mengapa? Karena – sejatinya konflik-konflik multi dimensional yang melanda negara saat ini salah satu penyebabnya adalah mulai tersumbatnya komunikasi antar komponen bangsa. Adanya kegiatan Pemetaan Seni Tradisi ini menjadi sangat penting dan harus diberi apresiasi. Artinya keterlibatan rakyat sangat menentukan keberhasilan program. Hal ini dimungkinkan selain karena lembaga-lembaga adat sebagai pengawal keberadaan etnik masih berperan dan dihormati – termasuk tokoh-tokoh lainnya. K Kondisi Masa Lalu Seperti yang secara umum terjadi di daerah lain.

Komedi Rudat. Yang terjadi di Bima. Lirik-lirik yang dipilih adalah lirik yang penuh dengan nasehat-nasehat yang bersumber dari PATU (Pantun) yang dipilih sesuai dengan konteks tempat dan waktu penyajian. Dongeng-dongeng tersebut membekas dalam kehidupan mereka hingga dewasa. selalu ditunggu anak-anak sebelum berangkat ke dunia mimpi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF oleh belum adanya serbuan budaya instant yang tidak lagi bersahabat dengan nilai-nilai masa lampau tersebut. sebuah musik tradisi yang melantunkan sastra lisan yang memuat pesan-pesan kearifan lokal lewat irama dan jenis pesan yang variatif sungguh jadi idola saat itu. Tentu saja unsur hiburannya tetap dijaga dengan baik. Dan seperti juga semua seni radisi yang lain di NTB kadar komunikatifnya tetap selalu dijaga agar pesan yang akan disampaikan mencapai target. Termasuk juga dongeng sebelum tidur yang dalam bahasa Sumbawa disebut “BATUTIR” (Bertutur). Pada umumnya – karena sikap paternalistik masyarakat – rakyat banyak meniru ketauladanan yang ditunjukkan oleh petinggi pemerintah dalam semua tingkat yang selalu “menanggap” seni tradisi dalam hampir setiap event. dimana hidup suku Mbojo yang meliputi 2 kabupaten yaitu kabupaten Bima dan Dompu hampir sama dengan Sumbawa. Kita sepertinya sukar menentukan apakah rakyat sadar dalam mengikuti jejak bos-bos tersebut atau memang tanpa pengaruh merekapun rakyat memilih karena sudah mengakrabi kesenian tersebut cukup lama. sebab isinya penuh dengan pedoman kehidupan. Cupak Gurantang. serta jenis-jenis teater tradisional lainnya di lima kabupaten/ kota di Lombok termasuk Wayang masih sangat diminati dan menjadi sumber belajar masyarakat lewat pesanpesannya yang penuh kearifan. Kalau di Sumbawa sangat populer Seni Sakeco. di Bima idola dan primadonanya adalah RAWA MBOJO (Nyanyian Bima). Dongeng tersebut ada dalam kehidupan ketiga etnik di NTB walaupun dalam versi yang disesuaikan dengan idiom lokal. ketauladanan dan gampang dicernakan. a. Begitu juga yang terjadi di Sumbawa: Sakeco. 278 . yaitu lagu tunggal yang diiringi oleh biola tunggal yang biasanya penyanyi adalah wanita dan pemain biola laki-laki.

Ditambah lagi dari kalangan tokoh agama dan masyarakat pada waktu itu cukup banyak memberi fatwa atau petuah yang mendukung program tersebut. ada hal yang perlu dicatat yaitu catatan lisan tentang pemasungan kreativitas seniman. Dua buah intitusi birokrasi yaitu Deppen dan Depdikbud sangat solid dan gencar bekerjasama dalam proses pembentukan karyakarya seni pertujukan yang ampuh dan mampu memukau rakyat sekaligus menimbulkan kesadaran akan pentingnya ber KB (Penilik Kebudayaan dan Jupen sangat pegang peranan).Sabalong Samalewa (Samawa) . Ada saatnya – terutama masa orde baru. Hal ini berlangsung cukup lama apalagi setelah program KB mewarnai aspek hidup masyarakat.Maja Labo Dahu (Mbojo) Secara tidak langsung membantu keberhasilan program tersebut. b. Sifat pemerintah pada saat itu yang otoriter menyebabkan seniman-seniman tradisional yang 279 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI b. Kepatuhan rakyat terhadap tokoh-tokoh (tomas) dan pemerintah yang masih terjaga dan dipelihara akibat adanya kearifan lokal yang mengemuka dalam kehidupan ketiga etnik : . Dalam proses kreatifnya terjadi penentuan pesan-pesan dari kalangan birokrasi lalu lewat kreativitas para seniman dimasukkan ke dalam sekwen. pesan-pesan pembangunan disampaikan lewat semacam seni pertunjukan yang biasa disebut pertunjukan rakyat atau lebih dikenal dengan sosiodrama. Salah satunya dengan pesan-pesan yang disampaikan lewat media tradisi yang diakrabi rakyat. Selain dari sukses-sukses tersebut. Ledakan jumlah penduduk yang menghantui masa depan kesejahteraan Indonesia harus segara diredam dengan berbagai cara. c.Patut Patuh Pacu (Sasak) . Program-program tersebut dianggap berhasil disebabkan oleh beberapa hal antara lain : a. cerita yang kadang-kadang jadi karya yang cukup artistik tapi tidak jarang pula terjadi karya yang disuguhkan lebih mengutamakan pesan daripada aspek struktur teatrikal dan estetikanya.

Kelahiran teknologi baru tehun 1962 yang bernama TVRI bukannya menambah wadah kreativitas sang seniman malahan cuma menambah alat penyampaian pesan pemerintah yang tanpa saingan apalagi ada seperti yang kelihatan sekarang dialog interaktif semacam “SUARA ANDA” di sebuah stasiun TV SWASTA. Walaupun media tradisi cukup subur tumbuh di hampir semua daerah. Program baru menggiatkan pariwisata membuat NTB bergegas membenahi diri – setelah ditetapkan sebagai salah satu DTW handal di Indonesia. Moh. Jangankan media tradisi. Kondisi Masa Sekarang Tumbangnya Orde Baru diganti Orde Reformasi tahun 1998. termasuk di NTB. Televisi” menjadi pedoman sehari-hari sehingga 280 . tapi pertumbuhannya lebih disebabkan oleh ketiadaan pilihan lain selain berkreasi dan mempertahankan asap dapur. Barangkali ada benarnya seperti yang dikatakan oleh George Orwell yang mengemukakan bahwa media yang dikuasai oleh seorang tiran akan sangat melipat gandakan kekuatan dan kekuasaan untuk menindas dari Sang Tiran kepada rakyatnya. Kondisi ini cukup lama dipertahankan. seni “modern” ataupun yang kontemporer yang dengan kemampuannya yang tinggi dalam aspek kreativitas tidak jarang berhadapan dengan penguasa sebab karyanya yang menurut mereka cukup menggugah diterjemahkan oleh penguasa cukup menggugat sehingga diberangus. Sebelum itu sekitar 1989 mulai bebas tumbuhnya stasiun TV Swasta dan aroma kebebasan berbicara mewarnai hampir semua aspek kehidupan tidak lalu menyebabkan media tradisi tambah berkembang sesuai arus globalisasi. Hal-hal baru yang diajarkan oleh “sang diktator baru” yang berjuluk “Prof. Budaya instan tanpa pandang bulu melanda seluruh wilayah nusantara. memberi kebebasan kepada warga untuk berkarya. Dr.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ingin mengembangkan gagasan-gagasan baru di luar pakem apalagi memasukkan gaya yang mengeritik kebijakan pemerintah adalah hal yang mustahil. Keadaan ini “dipelihara” dengan cerdas oleh penguasa lewat Deppen yang merupakan corong tunggal kebijakan pemerintah tanpa dialog seimbang dengan rakyat.

Tentang honorarium tersebut sering terjadi ada calo yang nakal “menyunat” honor mereka dengan dalih macam-macam yang diamini begitu saja oleh anggota group yang memang lugu. Memang ada yang masih tetap bertahan karena adanya event musiman pariwisata atau karena kepiawaian seniman pendukungnya membaca tanda-tanda zaman semisal Cupak Gurantang. Memang ada satu dua stasiun yang kelihatan peduli terhadap seni tradisi semisal Ketoprak Humor di RCTI – Wayang di Indosiar dan TV Lokal NTB : Lombok TV. kalah bersaing dengan gemerlap layar kaca dan seni modern lainnya yang berkiblat pada daya bius budaya instant. Muatan-muatan atau pesan-pesan yang sebelumnya banyak mengandung unsur kearifan lokal (local wisdom) karena tuntutan zaman berubah menjadi pesan sebuah seni media yang cuma jadi aspirin yang tidak menyembuhkan permasalahan masyarakat tetapi mengarahkan manusia pada suatu mimpi. Hobby bermain mereka dalam seni tradisi secara perlahan ditukar dengan hobby baru yang tanpa pilihan : mencari penopang kehidupan lewat krya-karya baru di wilayah yang sangat asing dari aroma kesenian. gaya hidup. Keadaan di NTB pun demikian. Khusus di NTB masih terjadi sampai saat ini group-group seni tradisi menjadi korban para calo yang secara sepihak menentukan apa dan bagaimana group tersebut harus bermain dan berapa hak yang mereka dapat. Tapi keadaan itu belum mampu membalikkan “kejayaan” seni tradisi masa Orde Baru. Sakeco di Sumbawa dan Rawa Mbojo di Bima dan Dompu. anggota-anggotanya ada yang jadi TKI ke negeri Jiran. Tapi dibandingkan dengan masa lalu – bila dilihat dari jumlah pertunjukan sudah berkurang intensitasnya. Media tradisi nyaris tidak dapat tempat lagi. Kondisi organisasi seni tradisi yang mengusung teater tradisional misalnya di Lombok “Komedi Rudat” sudah jarang ditanggap.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI terjadi situasi yang tak terduga sebelumnya di saat mana masyarakat tidak peduli pada apapun yang tidak menghibur. Apalagi dengan wajah kehidupan ekonomi masa kini yang cukup memprihatinkan. Pesan-pesan pembangunan lebih banyak Cuma jadi porsi TVRI sedangkan TV Swasta lebih banyak mengadakan berita sensasional – iklan-iklan – gosip-gosip – sinetron yang lebih banyak jual mimpi dan mistik-mistik. Wayang Sasak di Lombok. bukan mendorong pemberdayaan masyarakat. 281 .

Sumbatan-sumbatan komunikasi selama ini dirasakan antar komponen bangsa : antar pemerintah dan rakyat atau pemerintah dengan sesama pemerintah. khas dan unik adalah potensi yang menjanjikan ke arah itu. Sudah tentu harus memenuhi kriteria layak tampil – layak jual dan akhirnya layak dibayar. Pesan-pesan pembangunan yang diharapkan lebih tersosialisasi lewat media seni tradisional yang komunikatif dan unik akan dengan mudah menyebar dan diserap masyarakat ketimbang pidato panjang dan rumit elit-elit politik. Di dalam potensi tersebut ada seni tradisional yang perlu “dipoles” sebagai seni turistik sudah tentu tanpa menghilangkan roh tradisinya. Alam yang indah. Sejatinya – oleh warga NTB terutama seniman – ajang VLS 2012 diharapkan dapat sedikit memberi harapan kepada bangkitnya seni tradisi – tentu saja yang komunikatif – di tengah budaya asal jadi saat ini. Dalam kaitannya dengan upaya pengembangan seni tradisi untuk 282 . Semoga!! Prospek Pengembangan Masa Depan Pada dasarnya sebuah upaya pengembangan budaya adalah bagian dari pelestarian. Dari kalangan pemerintah oleh Disbudpar dan Diskominfo dan kalangan swasta pada tahun 1999 oleh yayasan KELOLA yang dibiayai oleh Ford Fondation.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Tetapi hal tersebut sudah mulai berkurang sejak adanya pembinaan organisasi seni yang diadakan oleh lembaga pemerintah maupun swasta. budaya yang aneka. pengembangan dan pemanfaatan. atau bahkan antara rakyat dengan rakyat sehingga melahirkan konflik berkepanjangan. harusnya menjadi cair dan mudah-mudahan saling mengerti dan memaafkan. Saat ini organisasi seni tradisi sudah mulai bergegas membenahi diri untuk menjadi salah satu “barang dagangan” pada ajang tersebut. Adanya hajatan besar Pemda NTB mengadakan VISIT LOMBOK SUMBAWA 2012 yang tujuan utamanya menjadikan NTB destinasi jempolan di Indonesia barangkali bukan cuma mimpi. Tetapi hajat kita lewat pemetaan saat ini bukan cuma sekadar menambah isi kocek sang seniman atau calo yang memperdaya mereka. yang mempunyai 3 aspek yaitu perlindungan. Kelihatannya – mudah-mudahan – senimanseniman tradisional akan banyak dapat peluang dalam berkarya akhirakhir ini.

Untuk tingkatkan dan tumbuhkan kesadaran sejarah. Untuk menumbuhkan kepekaan dan toleransi dalam pergaulan antar sesama. Pemanfaatan seni tradisi untuk tujuan pendidikan adalah sebagai substansi untuk disosialisasikan. demi berbagai tujuan yang lebih khusus. Jadi artinya dapat dapat dan mungkin diubah. 1. atau pakem. 2. Potensi seni-budaya NTB beragam dan khas. Bentuk. b. spiritual dan komentar sosial. Sehubungan dengan hal tersebut. 3. Mengadakan upaya pengembangan lewat usaha kolaborasi antara seniman akademis dengan bakat alam atau tradisional. Merujuk kepada hal-hal tersebut dan TOR dari kegiatan ini. c. maka beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam upaya pengembangan menjadikan seni tradisi yang komunikatif di NTB sebagai media komunikasi sosial adalah sebagai berikut : 1. Masyarakat cukup terbuka terhadap pembaharuan. Event-event yang mendukung kreativitas seniman cukup banyak. 2. Contoh : BCB (Bulan Citra Budaya). 2. formal maupun non formal atau pendidikan masyarakat. kita sebenarnya membicarakan pemanfaatan seni tersebut untuk tujuan pendidikan baik yang terstruktur maupun tidak terstruktur. Untuk memacu internalisasi nilai-nilai budaya yang dapat memperkuat integritas sebagai bangsa yang mampu menjunjung moral yang tinggi. 3. pola. Potensi untuk berubah. misalnya . Dalam kegiatan ini harus dapat disepakati bahwa pakem-pakem yang ada pola-pola ataupun bentuk seni tradisi adalah sebuah produk seni dan bukan syahadat kita yang baru. Festival/ Lomba Seni 283 . ada beberapa faktor pendukung kearah tersebut : 1. Jenis pesan atau muatan yang mengandung pendidikan kultural.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI jadi media komunikasi sosial. Inventarisasi jenis-jenis seni tradisional yang komunikatif di seluruh wilayah NTB termasuk di dalamnya deskripsi lengkap tentang aspek-aspek : a.

Wayang sasak Dengan mulai munculnya Dalang muda. Juga fungsi hadam yang dominan dapat lebih dimaksimalkan dengan tambahan pesan-pesan cerdas tentang hal-hal factual yang terjadi. harapan kita di NTB terhadap pengembangan seni tradisi cukup baik. maka yang kita bicarakan dipersempit kepada jenis-jenis tersebut. dipentaskan di arena terbuka dan mempunyai ciri khas dan unik serta komunikatif. Karena yang diharapkan dalam pemetaan ini adalah seni tradisional yang komunikatif. sudah tentu dengan tetap mengedepankan keutuhan cerita (unity) dan aspek artistik. Di Pulau Lombok Rata-rata seni tradisi di Lombok adalah seni kerakyatan. Contoh upaya pengembangan : 1. Begitu pula pola dan bentuknya. Sebenarnya kalangan penonton yang kebanyakan sudah mulai bosan dengan pakem dan pesan yang sama dari tahun ke tahun datang menonton lebih disebabkan mau mendengar banyolan baru hadam karena pakem statis tak memberi nuansa segar. Kita dapat menyatakan bahwa kemungkinan pengembangan di masa yang akan datang tidak akan mengalami banyak hambatan. Walaupun sebagian besar para Dalang masih asyik terjebak dalam pola-pola lama tanpa ingin menikmati “kebebasan” yang diberikan oleh reformasi tapi ada beberapa yang mencoba “melawan” tradisi den284 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Tradisi dan saat ini sedang giat menyiapkan diri terhadap kegiatan skala besar bidang pariwisata yaitu VISIT LOMBOK SUMBAWA 2012. Misalnya : Komedi Rudat Dapat dikembangkan dengan memberikan nuansa humor yang “dipelajari” dari jenis humor masa kini (apakah lewat tv ataupun pentas terbuka) agar dapat lebih dihayati oleh audience tanpa menghilangkan roh cerita yang bernuansa Arab-Melayu.

Ambil contoh misalnya Wayang Sasak Lalu Nasib (Panginang Robek). Dan upaya ini menambah asap dapur anggota groupnya. termasuk generasi muda. Tetapi Sumbawa dalam khasanah seni musik tradisional cukup kaya. Walaupun saat ini pamornya sudah mulai memudar akibat banyolan-banyolannya kadang-kadang nyerempet hal-hal sensitif. Bagesa. Yang paling populer saat ini ialah musik SAKECO. Pesan285 . 2. tetapi sejarah mencatat bahwa dia berani meretas penghalang kreativitas dalam berkesenian. Di Sumbawa Etnik Samawa yang tersebar di dua Kabupaten yaitu Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat tidak memiliki teater tradisional dalam pengertian teater terstruktur seperti Komedi Rudat atau Wayang di Lombok.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI gan upaya-upaya kreatif. Batutir. Ada juga teater tradisional yang lain semacam Cupak Gurantang dan Topeng Amaq Abir yang mengambil cerita dari Serat Menak yang masih digandrungi masyarakat walaupun dalam jumlah terbatas karena wilayah pertunjukannya juga terbatas. Jadilah dia tumpuan pesanan dari instansi pemerintah yang punya program yang harus disosialisasikan lewat media wayang. dll yang dalam takaran komunikatif agak kurang. Apalagi serbuan-serbuan seni kontemporer lewat panggung-panggung glamour layar-layar kaca seakan-akan meminta media tradisi untuk segera undur diri dari panggung seni Indonesia. Lewat banyolan-banyolannya yang nyerempet wilayah pornografi yang khas sejak dekade 90an keatas cukup mendapat tempat di hati penonton. Sakeco adalah duet tradisional Sumbawa yang melantunkan LAWAS (Sastra Lisan Sumbawa) diiringi rebana dalam irama yang sangat variatif dan kelincahan duet yang rampak. Di Sumbawa Cuma ada (smpai saat ini) teater mula berupa Ngumang. Balawas. Syukurlah NTB masih memiliki rakyat yang memberi apresiasi tinggi terhadap seni wayang walaupun tanpa malu-malu menganggap budaya instan adalah segala-galanya sebagai pedoman kehidupan.

dibuat komposisi yang lebih baik dan pesan-pesan yang dipilih lebih pas dengan situasi. Seperti juga yang 286 . (ingat pameo Sumbawa “Kurang racik kurang maras”) • Mengenai waktu penyajian yang biasanya semalam suntuk (sampai keluarnya Nasi Goreng) dapat dirancang agar lebih dipadatkan tanpa mengurangi daya pukaunya. Artinya racik (irama yang mirip rap) harus lebih diperbanyak karena seperti dalam wayang racik adalah seolah-olah punakawan yang ditunggu banyolan segarnya. dll. Bima dan Dompu memiliki seni musik khas yang disebut RAWA MBOJO. Di Bima/ Dompu Etnik Mbojo yang mendiami Kab. yang perlu diperhatikan adalah : • Perubahan irama harus lebih terasa. yang segar dan sarat dengan variasi irama dan pesan. Dalam upaya pengembangan. Isi lawas sangat lentur dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Untuk pengembangan dapat ditambah jumlah orang sehingga vokal jadi lebih menarik.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pesan yang disampaikan berasal dari Lawas atau kejadian yang sedang IN yang dikemas dalam kadar komunikasi yang intens dengan audience. 3. Begitu juga RABALAS LAWAS atau sejenis BERBALAS PANTUN yang sudah sering dilombakan antar kecamatan. Selain Sakeco ada satu lagi seni tradisi Sumbawa yang layak dikembang jadi media komunikasi sosial yaitu NGUMANG : semacam penyampaian (ekspresi) seorang pria yang sambil memegang sebatang kayu berhias dengan suara giring-giring menggerak-gerakkan tubuhnya dalam gerak tari khas sambil menyampaikan lawas di hadapan gadis-gadis atau audience dalam event-event tertentu seperti Karapan Kerbau dan – saat ini – di dalam pawai. • Jenis-jenis pesan melalui lirik-lirik lawas atau cerita-cerita agar lebih diseleksi tanpa menghilangkan sifat khas Sakeco. Saat ini (dalam kurun waktu 3 tahun terakhir) sudah dicoba kembangkan Sakeco wanita dan ternyata dapat sambutan yang lumayan baik dari masyarakat.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI terjadi di Sumbawa. maka upaya pengembangannya cukup berhasil walaupun belum berhasil menggaet anak muda untuk berpaling dari dunia mereka : musik modern yang serba canggih mengasyikkan. • Event-event pariwista dan festival atau lomba seni yang diadakan oleh pemerintah dan swasta cukup memberi peluang kepada para seniman atau pelaku seni untuk mengembangkan karya. Prestasi nasional baru-baru ini sebagai penyanyi terbaik lagu pop daerah tingkat nasional di Jakarta memberi semangat kepada musisi pop daerah Sumbawa untuk berkarya. Lomba cipta lagu pop sering diadakan terutama di Sumbawa. Ada juga Kapatu yang sama dengan Rabalas Lawas di Sumbawa. Saran-saran • Dalam setiap usaha pengembangan agar selalu dijaga keseim287 . Daripada ditinggalkan pendukungnya. Karena lirik-lirik lagu tersebut kebanyakan berasal dari sastra lisan tradisional maka peluang penyampaian pesan-pesan moral cukup baik. Ada satu hal yang layak dikembangkan bagi ketiga etnik di NTB yaitu maraknya penciptaan lagu pop daerah yang sudah diproduksi secara besar-besaran dari tahun ketahun dan cukup diminati rakyat. tetapi karena settingnya tidak lagi statis (panggungnya mulai dibenahi). sneiman-seniman rawa Mbojo mengadakan perpaduan antara irama asli mbojo dengan gempitanya Dangdut yang lalu menghasilkan karya yang mulai digandrungi lagi oleh khalayak. kaidah-kaidah pentas sebagai sebuah seni pertunjukan mulai diakrabi. Walaupun lirik-liriknya hampir sama dengan pesan-pesan yang sama. 2. Penutup 1. Kesimpulan • Media tradisional NTB masih punya potensi untuk menjadi media komunikasi sosial. seniman-seniman di kedua daerah tersebut telah mencoba mengangkat Rawa Mbojo lewat persentuhan dengan irama yang merajai wilayah musik tanah air saat ini yang disebut DANGDUT.

Prof. 1999 Mus Biawan Semangat Etnis Teater Kita. Juxtapose. ______. Temu Teater Nasional Yogyakarta. Made Bandem Melacak Identitas di tengah Budaya Global. Seminar Seni Pertunjukan Indonesia Seri I STSI Surakarta. Kemajuan teknologi harus dimanfaatkan secara maximal untuk mengembangkan kreativitas seniman disertai peningkatan frekuensi festival/ lomba seni terutama seni tradisional. Dialog Interaktif Bappeda NTB. Daftar Pustaka Edi Sedyawati.Temu Teater Nasional Yogyakarta. 2003. Temu Ilmiah MSPI. Kerth Tester Media Cultural Morality. Otonomi daerah yang dihajatkan untuk memberi peluang maksimal bagi daerah dalam pengembangan segala kehidupan termasuk budaya jangan dijadikan ajang pemenuhan nafsu politik dan ekonomi semata.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF • • • • bangan antara porsi pesan dan unsur artistik sehingga karya yang dihasilkan adalah karya unity yang dapat diterima secara “ikhlas” oleh pendukungnya. 2002. Tirtagangga. Dr. Peningkatan Pemanfaatan Tradisi Seni Budaya Sebagai Obyek Daya Tarik Pariwisata. Kekuatan Itu Dimulai Ketika Cinta Bau Bensin. 1998 288 . 1999. Mataram. Agar seniman yang berprestasi mendapat apresiasi sesuai dengan mutu karya-karya dan pengabdiannya. Fred Wibowo Seni Media dan Media Seni. Bagaimanapun hambatan-hambatan komunikasi yang akhirakhir ini terasa menjadi penghambat kemajuan bangsa. barangkali salah satu sebabnya adalah karena pembuat kebijakan belum begitu mengerti yang diinginkan rakyat disebabkan adanya barikade protokuler yang sengaja dibuat untuk mengurangi keakraban penguasa dengan rakyatnya. 1999.

Komedi Rudat Borok Alamat : Desa Buntiang. Paraya Timur Lombok Tengah NTB (didirkan tahun 1987) : Lalu Sahibi : Komang Restu (tlp : 0370 654706) : Teater Topeng Amaq Abir : : : : Dasan Agung Mataram M. Desa Marong Kec. Gerung Lombok Barat Pimpinan : Nuradi Kontak Person : Materi Garapan : Wayang Sasak 5. Desa Sapit Kec. Gema Karyawan : Depdikbud Kec. Kec. Baluq Diarsa Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan : Dusun Karang Bliq. Pimpinan : Guru Bangka Kontak Person : Suhardi (Tlp : 0376 22454) Materi Garapan : Komedi Rudat 289 Alamat . Lombok Timur : Sukiman : : Topeng amaq Abir 4. Yusuf M. Pringgabaya. Darma Kerti Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan : Dusun Batu Pandang. Sakra Lombok Timur.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI LAMPIRAN DAFTAR KONTAK ORGANISASI SENI TRADISIONAL NTB LOMBOK 1. Yusuf Cupak Gurantang 2. Suanda Putra Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan 3.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 6. dll. Kemang Satange Alamat : Pelat. 0370 621209) Materi Garapan : Komedi Rudat 7.Pd. Sumbawa Pimpinan : Hasanuddin. Doro Kumbe Alamat : Kec. Kontak Person : Jemaan (tlp. Kontak Person : Hasanuddin. Rasange Bima Pimpinan : H. 0370 622068) Materi Garapan : Teater tradisional. Komedi Rudat Kembali Jaya Alamat : Penede Gandor Lombok Timur Pimpinan : Drs. Sahiruddin Kontak Person : Sukardi (Tlp. Pimpinan : Maladi. Hilir Ismail (Tlp. Sumbawa Alamat : Kantor Budpar Kab. Wayang Lalu Nasib Alamat : Gerung Lombok Barat Pimpinan : Lalu Nasib Materi Garapan : Wayang Sasak 8. Kab. S. 0374 42408) Materi Garapan : Musik Tradisional 290 . PLK Kab. (Hp. 0371 22720) Materi Garapan : Sakeco 3.Pd. Muhtar Kontak Person : Drs. 08123719063) Materi Garapan : semua jenis seni 2. Kec.Pd. SUMBAWA 1. Sumbawa. Sumbawa. S. Purnama Ria Alamat : Gapuk Selatan Dasan Agung Mataram Pimpinan : Ramiun Kontak Person : Ramiun (tlp. S.

Usman Drs. Syamsuddin/ Sukardi Alamat : Pamulung 3. Darmiati/ Rukaiyah (perempuan) Alamat : Desa Seminar Kab. Utan 5. Kec. Abd. Abdul Horin Cs. 0373 22807) Musik Tradisional Taliwang. Editor dan penulis artikel Sapardi Djoko Damono. Sumbawa Barat 6. SH (tlp. Hilir Ismail (tlp. Ompu Nae Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan Sumber : Direktori Seni dan Budaya Indonesia. 2000.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 4. Tini Cs (perempuan) Alamat : Kec. Diterbitkan oleh Yayasan Kelola atas bantuan Ford Foundation. Kempo. Alamat : Moyohilir Sumbawa 2. Utan 4. Mada Duli Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan : : : : : : : : Desa Kempu. Dompu Zulkifly Adidin Rifai. Kab. Wera Bima H. 0374 42408) Musik Tradisi 84261 5. Kahar/ Mustafa (Sambu) Alamat : Kec. Harin Alamat : Kaiang Moyo Hilir Subawa 291 . Kec. DUET SAKECO 1.

Pemerhati Komunikasi dan Dosen Ilmu Komunikasi IAIN Mat- 292 .Si. M. Dr. Kadri.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF aram.

Oleh karena itu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Mengemas Seni Tradisional Komunikatif NTB untuk Media Komunikasi Sosial Dr. Seni dan budaya tradisional yang selama ini menjadi kebanggaan. Sungguh banyak nilai dan pelajaran yang dapat diambil dari setiap seni dan budaya tradisional untuk dijadikan sebagai referensi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. untuk dilestarikan dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. M. Keragaman ini sekaligus menjadi kekayaan bangsa yang tak ternilai. Sehingga tidak heran bila anak-anak lebih banyak mengenal nilai dan budaya asing ketimbang seni dan budaya sendiri. Namun ekspektasi ideal tersebut di atas harus berhadapan dengan kecenderungan memudarnya seni dan budaya tradisional di setiap daerah. upaya pelestarian dan penanaman kencintaan public (terutama generasi muda) terhadap seni dan budaya tradisional menjadi tugas K 293 . kini tidak banyak lagi dikenal oleh generasi muda.Si Pakar Komunikasi IAIN Mataram Pengantar eragaman seni dan budaya merupakan salah satu karakter bangsa Indonesia yang membedakannya dengan negara lain. Memang. Pada saat bersamaan mereka (generasi muda) tidak bisa melepaskan diri dari ‘serangan’ budaya global yang terus menerpa. upaya pelestarian dan pewarisan senibudaya tradisional menjadi tugas yang tidak mudah di tengah semakin terbukannya akses masyarakat untuk mempelajari seni dan budaya asing lewat kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. Kadri.

Budaya Gantao1 yang pernah semarak di Bima (suku Mbojo) misalnya kini sangat jarang lagi dipentaskan dalam setiap pesta budaya di Bima. meskipun belakangan mulai terlihat adanya perhatian pemerintah daerah. Kondisi ini diperparah lagi dengan minimnya perhatian pemerintah untuk melestarikan seni dan budaya tradisional setiap daerah.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF awal yang mesti direalisasikan. karakter geografis NTB yang kepulauan dan terdiri dari wilayah yang masih jauh dari pusat ibu kota provinsi dan kabupaten. di antaranya menjadikan seni tradisional sebagai media komunikasi sosial. Di sisi lain. Selama ini seni dan budaya tradisional masih dimaknai sebatas karya seni pemuas naluri estetika setiap orang. sehingga belum banyak yang berpikir pemanfaatan hal tersebut sebagai sebagai media komunikasi untuk menyampaikan pesan social baik oleh pemerintah kepada publik secara vertical maupun secara horizontal di antara masyarakat. Samawa. Belum lagi kita berbicara tentang cagar dan bangunan budaya. 1 Gantao adalah sejenis permainan bela diri pencak silat yang melibatkan dua orang lelaki Bima dengan memperagakan adegan saling serang menggunakan kaki dan tangan untuk saling banting. Satu-satunya yang masih tertinggal adalah gaung penganten yang menggunakan adat Mbojo. 294 . saat ini sangat susah ditemukan. Permainan ini diiringi dengan alunan musik tradisional Mbojo. Beberapa seni dan budaya tradisional yang selama ini menjadi produk dan pernah dihidupkan oleh rakyat Bumi Gora. dan Mbojo) serta etnik-etnik lainnya. Eksistensi Seni Tradisional di tengah Media Modern Tidak mudah untuk mempertahankan eksistensi seni tradisional di tengah membanjirnya seni dan budaya global. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang didiami oleh tiga etnik mayoritas (Sasak. Prosesi pernikahan dengan adat Mbojo pun sudah mulai disederhanakan dan mengikuti prosesi budaya modern. sebelum berbicara tentang pemanfaatan seni tradisional sebagai media komunikasi sosial. bersamaan dengan giatnya kampanye pariwisata di provinsi dan kabupaten yang ada di NTB. mengharuskan pemerintah daerah untuk menggunakan media komunikasi yang beragam. yang baru mendapat perhatian beberapa tahun terakhir. Generasi muda pun tidak lagi menjadikan seni tradisional ini sebagai karya dan seni yang disenangi. Namun harus diakui bahwa eksistensi seni dan budaya tradisional di NTB mengalami ‘reduksi’. Rumah-rumah tradisional Bima seperti rumah panggung bukan lagi menjadi kebanggaan. memiliki seni dan budaya tradisional yang beragam.

tetapi juga oleh pemerintah. Dalam beberapa kebijakannya. Kemudahan mengakses informasi berkontribusi bagi entengnya mereka (generasi muda) untuk mengkonsumsi seni budaya apa saja dengan dukungan visualisasi dan audio mutakhir. surat kabar. belum banyak setiap pemerintah daerah yang ada di NTB mengadakan atraksi dan kompetisi seni dan budaya tradisional di tingkat pelajar. pemerintah juga belum bisa mengoptimalkan eksistensi seni dan budaya tradisional sebagai media komunikasi sosial. Bahkan orang tua pun tengah melakukan upaya ’pemudaran’ rumah panggung untuk diganti dengan rumah modern. Dalam konteks seni tradisional juga mengalami reduksi peminat. Belum lagi kita berbicara tentang wajah televisi dan media massa kita (Indonesia). Pemerintah daerah lebih senang menggunakan media modern seperti televisi. dan juga di komunitas Sasak.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Pada puluhan tahun silam. dan bahkan menjadi mahar favorit yang disediakan oleh penganten pria. Pemanfaatan seni dan budaya tradisional yang minim tidak hanya dilakukan oleh rakyat atau media massa. Sebagai contoh. Kecenderungan yang tidak terlalu beda juga terjadi di Sumbawa (suku Samawa). Seni tradisional Sasak seperti Teater Cepung dan Teater Cupak Gerantang misalnya saat ini tidak lagi menjadi seni teater yang masif digandrungi. dengan mempraktekkan dan mengajarkan gaya hidup bergelimang kemewahan dengan asesoris modern yang jauh dari identitas tradisional. radio. Banyak faktor yang menyebabkan fenomena pereduksian seni budaya tradisional terjadi. Pengaruh ini terutama melanda generasi muda. Sangat susah ditemukan acara atau tayangan media massa tentang seni tradisional daerah tertentu. Sebagian besar acara dan isi tayangan media massa kita cenderung hedonis. Selama ini sangat susat 295 . dan baliho sebagai sarana kampanye program atau kampanye publik (public campaign). rumah panggung masih menjadi kebanggaan. Salah satunya adalah pengaruh kehidupan global yang dimotori oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. meskipun apa yang dilakukan pemerintah kota Mataram belum maksimal. pemerintah belum optimal mengupayakan pelestarian dan pengembangan seni tradisional. Kini keluarga baru sudah senang dengan rumah-rumah berarsitek modern. Rumah adat yang berjenis rumah panggung dan kayu bukan lagi menjadi rumah favorit. Di samping itu. Kota Mataram mungkin dapat dikecualikan dalam generalisasi ini.

sekaligus untuk mengimbangi serangan budaya global yang kian mengancam. Ketepatan memilih media komunikasi dan kelihaian mengemas tampilan media yang telah dipilih merupakan kunci keefektifan komunikasi yang dilakukan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF terlihat (untuk mengatakan tidak pernah) seni tradisional dimanfaatkan sebagai sarana publikasi dan penyampai informasi pembangunan dan sosial lainnya dari pemerintah. tidak akan mampu menggoyahkan kecintaan anak bangsa terhadap seni dan budayanya sendiri. dengan cara mendorong pegiat media dan penyiaran yang ada di NTB untuk menyiapkan paket seni buya tradisional untuk ditayangkan di media nasional. pengusaha. yang ti296 . Komunikasi dalam konteks ini harus dimaknai secara luas. yang antara lain menganjurkan untuk mengakomodir sepuluh porsen (10% porsen) siaran berkonten lokal bagi televisi berjaringan nasional. Kita masih memiliki harapan karena proses reduksi seni budaya tradisional tidak berlangsung secara radikal (tidak menjadi gerakkan anti budaya tradisional secara massal). Di samping itu. sama dengan apa yang dipahami oleh penerima pesan. pemerintah juga harus memanfaatkan amanah Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Ketika hal ini dapat diwujudkan maka sedahsat apapun serangan informasi dan media global. faktor media yang digunakan juga turut berkontribusi menciptakan komunikasi yang efektif. Momentum ini dapat dimanfaatkan sebagai wadah yang baik untuk mengkampanyekan atau mensosialisasikan seni dan budaya tradisional setiap daerah. Di samping itu. Ketika pemerintah menjadikan seni tradisional sebagai media komunikasi sosial tentu akan memberikan keuntungan ganda. dan masyarakat pada umumnya) harus membangun tekad yang sama untuk menjadikan seni dan budaya tradisional sebagai media komunikasi sosial sekaligus sebagai perekat ikatan sosial di antara warga se-etnik dan se-bangsa. Ini berarti kita masih memiliki sisasisa ruang dan waktu untuk merevitalisasi seni tradisional di benak publik. Efektifitas Komunikasi Melalui Seni Tradisional Salah satu ukuran efektif dan tidaknya komunikasi adalah ketika apa yang dimaksudkan oleh pengirim pesan. Secara pelan tapi pasti setiap kalangan (pemerintah. yakni melestarikan seni budaya tradisional sekaligus membantu kesuksesan program yang dilaksanakan.

maka dalam konteks seni dan budaya tradisional. (3) berkeinginan (desire) untuk menerimannya. Lihat Effendy. Apabila mengikuti alur komunikasi atau proses transfer pesan seperti di atas. Bandung: Citra Aditya Bhakti 297 . dan (5) dilaksanakan (action) sesuai dengan isi pesan. segala produk dan wujud seni mesti dimaknai sebagai bentuk pesan yang memiliki makna tersendiri. Suatu hal yang tidak kalah pentingnya adalah menjadikan seni tradisional sebagai suatu kebutuhan setiap individu. (1) pesan tersebut mendapat perhatian (Attention) sasaran pesan. Ketika hal ini dapat diwujudkan maka proses transfer pesan sosial lewat seni tradisional menjadi relatif mudah. komunikasi tidak hanya dimaknai dalam konteks seni pertujukan dan nyayian serta musik yang berbasis verbal. maka prasyarat awal yang harus dilakukan dalam rangka menjadikan seni tradisional sebagai media komunikasi yang efektif (komunikatif) adalah bagaimana menjadikan atau mengemas seni tradisional sebagai suatu karya seni yang diperhatikan atau diminati oleh masyarakat agar mereka tertarik. tentu saja hal tersebut akan membuat seni tradisional dapat dengan mudah berperan sebagai media komunikasi sosial yang menjadi pilihan publik. (2) menarik perhatian (interest) yang menerimanya. Upaya ini penting ketika hendak menyelipkan pesan-pesan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan sosial dan pembangunan yang akan melibatkan partisipasi publik untuk mensukseskannya. Oleh karena itu. tetapi juga menyangkut seni dan budaya yang berdimensi nonverbal. (4) diambil keputusan (decide) untuk menerimannya. 2000. Oleh beberapa pakar komunikasi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dak hanya sebatas komunikasi verbal tetapi juga yang nonverbal. Dengan pemaknaan yang luas seperti ini. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. Ketika seni tradisional telah diminati masyarakat dan dikemas secara menarik. Suatu pesan akan diterima dengan baik antara lain ketika pesan tersebut memenuhi empat unsur. Dalam asumsi dasar teori uses and gratifications 2 dikatakan bahwa penggunaan media yang dilakukan oleh seseorang bergantung kebutuhan dan ketertarikannya terhadap suatu pesan yang ditawarkan. pada umumnya tradisi komunikasi orang Indonesia menggunakan jenis komunikasi konteks tinggi. 2 Teori ini pada dasarnya merupakan teori yang berkaitan dengan penggunaan media massa oleh khalayak. yakni.

Prinsip komunikasi ini semakin mempertegas bahwa komunikasi yang efektif tidak terlepas dari adanya kesamaan nilai sosial dan budaya. berputar-putar atau gaya komunikasi yang tidak simpel dan tidak langsung pada point dan sasaran utama. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF yakni cara berkomunikasi yang berbelit-belit. Kesamaan sosial dan budaya bukan hanya dalam konteks kesamaan nilai dan seni yang dimiliki tetapi juga kesamaan latarbelakang etnik dan suku dari setiap peserta (orang yang terlibat dalam) komunikasi. Seni tradisional merupakan ikatan emosional yang dapat dijadikan sebagai perekat komunikasi sosial di antara masyarakat. Seni tradisional merupakan salah satu ikon kesamaan yang bisa menyatukan setiap perbedaan personal. 2002. Artinya. maka proses transfer pesan lewat seni tradisional menjadi lebih efektif. Teater Cupak Gerantang (yang berasal dari suku Sasak). Bandung: Rosda 298 . dan akan menghasilkan sesuatu yang lebih kontributif. Ketika ikon ini dapat dikemas dengan sebaik-baiknya menjadi media komunikasi sosial. Teater-teater tradisional seperti teater Cepung. ketika orang yang ber-etnik sama membicarakan persoalan yang sama lewat media komunikasi yang sama. bahwa langkah awal yang harus dilakukan untuk menjadian seni tradisional NTB sebagai media komunikasi sosial yang efektif adalah dengan menjadikan hal tersebut sebagai hiburan atau karya seni yang digandrungi publik. 3 Lihat Deddy Mulyana. Esensi pesan yang terkandung di dalamnya pun tidak bisa diperoleh secara instan. atau Teater Sakeco dan musik berpantun ”Bakelong” (yang berasal dari suku Samawa) merupakan bentuk seni tradisional yang berkarakter dialogis dengan durasi waktu yang relatif lama. Salah satu prinsip komunikasi disebutkan bahwa ”semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi”3. Kebanyakan orang Indonesia senang dengan gaya bertutur melalui proses panjang menuju sasaran. Menjadikan Seni Tradisional NTB sebagai Media Komunikasi Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya. maka ada jaminan bahwa komunikasi tersebut akan berlangsung secara efektif. Ikatan emosional atas persamaan sosial dan budaya menjadi faktor penting dalam kesuksesan komunikasi manusia. Tradisi komunikasi seperti ini lebih relevan dengan karakter seni tradisional yang ada (khususnya di NTB).

Usia dini merupakan waktu yang tepat untuk penanaman nilai dan tradisi tertentu dengan harapan akan membekas dan turut mewarnai aktivitasnya di masa yang akan datang. Dibutuhkan kemasan yang serius dengan dukungan maksimal dari semua kalangan untuk mengkampanyekan atau mensosialisasikan seni tradisional agar mendapat tempat di hati rakyat. Kurikulum tentang seni dan budaya tradisional harus mendapat perhatian maksimal sebagai langkah akademik untuk menanamkan nilai dan kearifan lokal pada diri setiap anak. Proses penanaman kecintaan ini harus terus berjalan (tanpa terikat dengan waktu dan ruang). Untuk kebutuhan optimalisasi performance seperti inilah. sambil mengambil upaya serius untuk mengemas seni tradisional yang ada agar menjadi produk atau karya yang diminati. nyanyian-nyanyian yang tidak terlalu mendidik dan minim muatan lokal. Ben299 . Permainan-permainan anak di PAUD dan TK formal harus direkonstruksi. agar anak cinta produk lokal. Komitmen yang tinggi untuk menjadikan seni tradisional NTB sebagai media komunikasi sosial tidak cukup sampai penanaman kesadaran mencintainya. Hal yang lebih penting lagi adalah bagaimana menanamkan kencintaan terhadap seni dan budaya tradisional sejak usia dini. Setiap momen apapun harus dimanfaatkan untuk mensosialisasikan seni tradisional. karya sendiri. Dua di antaranya adalah lewat pendidikan nonformal dan formal. Selama ini. Event-event seni budaya tradisional harus terus digalakkan di setiap jenjang pendidikan dasar dan menengah. anak kita banyak disuguhi dengan permainan modern yang tidak jelas asal usulnya. Penanaman nilai dan kecintaan terhadap seni tradisional dapat dilakukan lewat berbagai cara. Proses identifikasi ini penting terutama untuk menentukan strategi pemanfaatan seni tradisional yang ada secara tepat dan efesien sehingga bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan yang diinginkan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk merevitalisasi eksistensi seni tradisional di tengah tantangan global yang multi bentuk. diperlukan identifikasi menyeluruh terhadap karya dan jenis seni tradisional yang ada. dan seni serta budaya tradisional. Saatnya alat permainan edukatif (APE) lebih banyak menyuguhkan permainan dari bahan lokal dan bermuatan nilai lokal. Hal yang sama dapat dilakukan di pendidikan formal dengan cara mereformasi kebijakan dan kurikulum Pendidikan SD sampai SMA.

pergelaran pertunjukan tradisional. ekonomi. Peran teater cepung di tengah masyarakat Sasak menyangkut berbagai aspek seperti politik. Kedua. yakni sekitar tahun 1850an. sosial. dalam artian tidak hanya pesan nonverbal lewat gerakan anggota badan tetapi juga bisa dengan membuat improvisasi musik pengiring dengan lagu-lagu sarat pesan tertentu. yang muncul tidak lama setelah penulisan lontar ”Tutur Monyeh oleh Jero Mihran. Tentu saja untuk mewujudkan hal ini membutuhkan sentuhan ide dan tangan kreatif seniman di setiap daerah. Di samping itu. Seni tradisional berkarakter seperti ini sangat berpotensi untuk mengumpulkan massa yang lebih banyak. tanpa menghilangkan nilai historis dari setiap karya seni yang ada. seni tradisional yang dapat dijadikan sebagai media penghimpun massa. maka dapat dibagi dua jenis seni tradisional dalam konteks penggunaannya sebagai media komunikasi sosial. Teater Cepung. Dalam seni tradisional Bima seperti ”Biola” misalnya dapat diselipkan irama lagu perpantun yang mengandung pesan-pesan sosial tertentu. dan agama. 300 . Seni tradisional dalam kategori kedua ini adalah semua seni tradisional yang berbasis drama dan teater. dalam pergelaran seni tari juga dapat dimodifikasi sehingga dapat lebih komunikatif. seni tradisional yang dapat dimanfaatkan secara langsung sebagai media komunikasi sosial. yakni: Pertama. apalagi bila dikemas dan dimodifikasi semenarik mungkin. seperti: a. Teater ini merupakan teater klasik yang berasal dari etnik Sasak. Pada umumnya yang termasuk dalam kategori ini adalah karya seni non drama/teater. Momen berkumpulnya massa itulah yang dapat dimanfaatkan oleh siapapun untuk menyelipkan agenda-agenda tambahan terutama dalam menyampaikan pesan tertentu sesuai kebutuhan. dan berbagai tari tradisional di provinsi NTB. seperti musik tradisional. Selama ini dalam penghamatan saya. Yang dimaksud dengan kategori seni tradisional yang pertama ini adalah semua seni tradisional yang yang tidak berkarakter penyampai pesan secara langsung. lirik lagu biola di Bima lebih banyak didominasi oleh lirik asmara dan percintaan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dasarkan identifikasi sederhana terhadap seni tradisional di NTB.

Teater Sakeco. Sayang hingga saat ini. Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta 301 . Saya sangat tertarik dengan upaya yang dilakukan oleh sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Eropa yang merekrut beberapa pelajar di wilayah konflik di NTB untuk diajarkan atau dilatih drama bertema perdamaian/persamaan yang akan dipentaskan di depan saudara dan orang tua mereka. Alur cerita yang ada dalam teater tersebut sangat mungkin untuk dimodifikasi dan diselipi dengan pesan-pesan tertentu yang penuh makna. 2010. dan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat Sasak. yaitu pendidikan moral. berisi tentang dialog komedi berpantun yang diiringi dengan alat musik tradisional seperti gendang dan rebana Kedua jenis teater di atas merupaka dua karya seni berbasis drama/ teater yang dapat dimanfaatkan secara langsung sebagai media komunikasi sosial. Tesis. eksistensi kedua teater tersebut akan lebih bermakna sebagai media yang komunikatif ketika keduanya telah digandrungi oleh masyarakat. ritual. teater dan drama memiliki posisi strategis dan dapat berperan sebagai forum penghilang ketegangan dan pencair perbedaan. Teater Cepung Lombok (Kajian Tekstual Seni Pertunjukan). Karakter wilayah NTB dengan tingkat konflik sosial yang relatif masih tinggi. Sebagai bentuk apresiasi seni. LSM ternama tersebut sadar benar bahwa karya seni seperti drama dan teater menjadi wadah yang efektif untuk menyampaikan pesan bermakna.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI karena lontar Tutur Monyeh sebagai sumber teater Cepung yang berisi tentang nilai. Namun lagi-lagi. sangat tepat untuk menjadikan seni tradisional seperti teater dan drama sebagai media komunikasinya. keberadaan keduanya tidak seperti saat awal keberadaannya. 4 Salman Alfarisi. Teater ini adalah karya seni tradisional yang berasal dari suku Samawa. Penutup Gambaran panjang lebar di atas semakin mempertegas betapa pentingnya seni tradisional daerah NTB sebagai media komunikasi sosial. Bahkan menurut penelitian Alfarisi4 b. kritik sosial. apalagi aktor yang terlibat dalam teater itu adalah seluruh representasi masyarakat yang ada.

pemerintah daerah harus memberi apresiasi (dukungan) yang serius untuk menyediakan fasilitas seni dan budaya sebagai wadah dan ruang ekspresi publik sekaligus sebagai benteng pelestarian budaya lokal.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Atas dasar kesadaran itulah dibutuhkan upaya serius semua kalangan untuk mengidentifikasi dan memodifikasi kemasan seni tradisional agar dapat dimanfaatkan sebagai media yang komunikatif dalam menyampaikan pesan sosial tertentu. Lebih dari itu. Sosialisasi dan penanaman kesadaran berbudaya dan mencintai seni tradisional sendiri merupakan langkah awal yang baik menuju efektifitasnya pemanfaatan seni tradisional NTB sebagai media komunikasi sosial. 302 .

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 303 .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 304 .

PENUTUP 6 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 306 .

Sebaliknya. Ibaratnya komunikasi bisa dibangun seperti kontak listrik. Pemerintah tinggal menghidupkan saklar on/off-nya saja lantas semua infomasi dari atas bisa tersebar luas dan relatif seragam. demikian pula media massa berada dalam kontrol pemerintah. pasokan informasi dari pemerintah daerah pun relatif lambat dipahami oleh pemerintah pusat. dapat mudah kita temukan kantor perwakilan pemerintah kabupaten atau kota. di tengah TIK yang makin berkembang tapi informasi tentang program pemerintah oleh masyarakat luas relatif sulit tersebar dan dipahami masyarakat. utamanya kepada pemerintah kabupaten/kota. Di beberapa penjuru kota. Kondisi ini memicu terjadi paradoks.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Lestarikan Media Tradisi Suprawoto ulu ketika penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) belum seperti saat sekarang. Sistem pemerintahan lebih memberikan otonomi yang luas. Memang sistem yang dibangun waktu itu sangat sentralistik. Memang ada ironi di kalangan pemerintah. Bayangkan jika separuh kabupaten/ 307 D . informasi tentang kebijakan pemerintah bisa diketahui pemerintah daerah dengan cepat. tapi komunikasi antar lembaga justru terasa tidak lancar? Ketidaklancaran tercermin dari betapa banyaknya kantor perwakilan pemerintah daerah yang berada di Jakarta. ketika TIK akses komunikasi menjadi semakin mudah. Ketika reformasi bergulir.

mengingat seni tradisi komunikatif masih efektif untuk penyampaian pesan tentang kebijakan Pemerintah. Peta Poang. Ada beberapa pengalaman menarik dalam menggunakan seni tradisi untuk diseminasi informasi kebijakan publik. Seperti kebijakan Pemerintah tentang kenaikan BBM. pengalaman 308 . adalah melakukan penyebaran informasi atau diseminasi informasi dan komunikasi kepada masyarakat. maka pada tahun 2009. ketoprak. dan cetak) hingga media baru bahkan media tradisonal yang komunikatif. Penanggulangan HIV/ AIDS. Baik media mainstream (radio.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kota punya perwakilan di Jakarta! Berapa ratus gedung harus dibangun? Berapa anggaran yang mesti dikeluarkan? Kalau perwakilan pemerintah provinsi mungkin masih sesuai dengan konteks pembagian kewenangan pemerintahan. televisi. Pertama. Terbukti setiap pementasan selalu dipenuhi pengunjung. dan sebagainya masih sangat digemari masyarakat. Nuh) meminta mencoba untuk mencari masukan dari para ahli di bidangnya bagaimana ke depan dan sekaligus memetakan seni tradisi yang komunikatif dimaksud. sewaktu Menteri Komunikasi dan Informatika (semasa dijabat M. Hal ini tentunya sesuai dengan salah satu tugas Kementerian Komunikasi dan Informatika. Kementerian Komunikasi dan Informatika mencoba mengembangkan komunikasi dan penyebaran informasi melalui berbagai media. menghadapi Bencana dan lain sebagainya. maka juga disiarkan RRI atau radio lokal setempat dan juga siaran langsung/tunda di TVRI setempat atau nasional. *** Perlunya kebijakan pemerintah untuk dapat segera dipahami masyarakat luas. ternyata media tradisional komunikatif seperti wayang kulit. Di beberapa kawasan Indonesia. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Dul Muluk. Bukan untuk kepentingan kelompok atau partai tertentu. wayang Bali. Penyebaran informasi saat ini betulbetul harus merupakan informasi untuk kepentingan masyarakat banyak. Agar yang menikmati pertunjukan bukan hanya yang hadir di tempat pertunjukan diselenggarakan. Untuk itulah. wayang golek. penanggulangan Flu Burung. Kantor perwakilan pemerintah provinsi dibutuhkan bisa menjembatani koordinasi kewenangan pengaturan pemerintah pusat dan daerah.

Pengalaman kedua ketika diminta untuk menjelaskan mengenai kenaikan BBM dan program BLT (Bantuan Langsung Tunai). Ternyata luar biasa penontonnya. Selama ini Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menggelar ratusan kali pertunjukan seni tradisi komunikatif untuk menyampaikan kebijakan Pemerintah tersebut. namun itupun pentasnya hanya sekali seminggu. Demikian juga di Sumsel dan Riau Kepulauan. Saat ini saja sudah terbukti. Itupun penontonnya sangat sedikit dapat dihitung dengan jari. Ludruk tinggal satu yang pentas.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI saat menjadi ketua tim sosialisasi MoU Helsinki di kalangan masyarakat Aceh juga menunjukkan betapa seni tradisi dapat berperan penting. yang kalau di Jawa seperti Kentrung. Seni ludruk keliling yang dulunya begitu banyak di Jawa Timur saat ini nasibnya sangat menyedihkan. yakni Wayang Orang Sriwedari diSurakarta. Yang masih ada nasibnya kembang kempis. di Jawa misalnya. yaitu yang di Wonokromo. Malah dalam prakteknya. Tentunya itu bukan satu-satunya cara untuk menjawab eksistensi seni tradisi komunikatif. Seni itu efektif sekali untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang program Pemerintah khususnya mengenai infromasi tentang MoU Helsinki waktu itu. kini hanya ada satu seni tradisi yang pentas secara rutin. ketoprak yang digelar di alun-alun kemudian disiarkan langsung oleh TVRI dan RRI. Demikian kondisi pertunjuan seni tradisi saat ini. seni Dul Muluk tidak 309 . Salah satu media yang digunakan juga menggunakan seni tradisi. Di kota Surabaya sendiri. melestarikan seni tradisi bukanlah hal mudah. Banyak tantangan yang dihadapi. Wayang Orang Bharata yang dulunya demikian mendapat tempat di hati warga kota Jakarta saat ini pentas secara rutin hanya sekali seminggu. Malahan kadang-kadang sebagian besar turis asing. Di setiap pertunjukkannya kemudian disiarkan RRI atau radio setempat. Di Aceh kami gunakan seni tradisi semacam teater tutur “poh tem” . Di Jakarta sendiri. Demikian juga Ketoprak yang dulunya sangat banyak group keliling. Di Jawa digunakan wayang kulit. Malahan Ketoprak Siswo Budoyo dari Tulung Agung yang demikian legendaris bagi masyarakat Jawa khususnya Jawa Timur sudah lama gulung tikar. Seperti Ketoprak Suryo Budoyo di Kediri nasibnya tak jauh berbeda. Karena dengan bahasa dan kesenian lokal masih lebih efektif untuk segera dipahami. sekarang bisa dihitung dengan jari.

Namun. pertunjukan ketoprak harus tetap jalan. Kesenian ketoprak juga termasuk kesenian padat karya yang melibatkan banyak pemain.000. semua halangan itu tak mampu memupus jiwa seni para pemain ketoprak pimpinan Ki Anang Sukardi yang memiliki nama panggung Pak Koyek.” tuturnya. Kecamatan Kayen Kidul.000. bahkan gulung tikar vakum kegiatan. Kabupaten Kediri. Malahan.” ungkapnya. Diakui Anang Sukardi. saat ini kesenian ketoprak semakin tersisih serta kalah dengan pertunjukan sinetron dan film yang banyak diputar di layar TV. Penonton Cuma 20 ”Hampir setahun ini Ketoprak Suryo Budoyo manggung di lapangan Desa Padangan. Anang mengungkapkan. Bangunan tobong atau tonil tempat pemain ketoprak bermain juga sangat sederhana alias ala kadarnya. Sehingga baginya berapa pun jumlah penonton. pertunjukan tetap berlangsung sampai selesai dengan durasi permainan sekitar tiga jam lebih. Suka duka sudah dilalui para seniman ketoprak itu. “Bagi kami.” tambahnya. 310 . uang bukan segala-galanya. “Beginilah kondisi kami serba sederhana.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Seniman Ketoprak Mencoba Bertahan dalam Impitan (1) Tiket Rp 2. berarti uang yang diperoleh hanya Rp 40.000 setiap pertunjukan. Bambu yang menjadi tiang penyangga terlihat sudah banyak yang lapuk. Kami tetap bertahan karena ingin melestarikan kesenian ini agar jangan sampai punah. tapi kami tetap bermain berapapun penontonnya. Termasuk para senimannya banyak yang tinggal di belakang tonil dengan membuat kamar-kamar darurat yang seringkali bocor saat diguyur hujan deras. Namun. Jika penonton yang membeli karcis hanya 20 orang. Diakuinya kelompoknya sudah sering jatuh bangun. Namun. Mereka ini selain seniman pemain juga para wiyogo atau penabuh gamelan serta kru pendukung lainnya. Uang memang penting tapi yang terpenting bagi kami adalah jiwa seni. Total kru ketoprak yang berdiri sejak 12 tahun silam 40 orang. Padahal total jumlah kru pemain dan wiyogo mencapai Rp 40 orang (Surya 7 September 2011). karena para personel benar-benar memiliki jiwa seni. Pernah suatu ketika jumlah penonton yang membeli tiket masuk hanya belasan orang. “Setiap bulan puasa jumlah penonton sangat sepi. mulai dari sepinya penonton sampai guyuran hujan deras yang membatalkan pentas. Harga tiket masuk ketoprak Suryo Budoyo hanya dijual Rp 2. grup ketopraknya selalu nrima ing pandum atau menerima apa adanya rezeki yang diperoleh dari bermain ketoprak. grup ini akhirnya tetap bertahan.

Jika dulu pernah dilakukan oleh pemerintah Orde Baru dan berhasil. Kemudian di Jawa Barat ada Asep Sunarya yang bisa menampilkan efek tambahan yang menarik penon311 . jelas bahwa pertunjukan seni tradisi semakin lama makin berkurang. sudah ada yang menggunakan lampu dan infokus (LCD Projector). Dengan catatan. Utamanya di tengah perkembangan teknologi sekarang. Televisi memang masih ada yang mementaskan seni tradisi. apa salahnya sekarang dilakukan kembali. Di Bali ada dalang wayang cengblong yang main pada saat bersamaan empat orang sekaligus. Bagaimana teknologi telah memengaruhi dalam pertunjukkan seni tradisi komunikatif. Dari latar belakang itulah. kalau dulu diseminasi melalui seni tradisi komunikatif untuk kepentingan penguasa saat ini lebih ditekankan pada penyampaian program Pemerintah yang perlu segera dipahami dan untuk kepentingan publik. Kurun waktu 37 tahun tentunya telah terjadi prubahan dan pergeseran.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dipentaskan secara rutin. Menurut catatan yang dapat ditelusuri. Dari fakta di atas. blencong atau lampu penerangan untuk layar digunakan petromak. tentunya ada beberapa catatan dan dokumen tentang hal tersebut. yang menjadi pertanyaan terkait seni tradisi komunikatif ini dimana posisinya? Apakah masih bisa berada di dunia realitas ataukah bisa juga bertahan di tengah perkembangan teknologi yang sedemikian dahsyat dalam dunia yang seolah makin tanpa batas ini? Dalam konsep materialisme Thorstein Veblen. Sementara sekarang ini. Oleh sebab itu sekarang perlu di-up date lagi agar bisa menjadi salah satu referensi bagi kita semua. Oleh karena sejak Pemerintahan terdahulu penggunaan seni tradisi komunikatif telah dilakukan untuk penyampaian program Pemerintah. salah satu alasan Kemenkominfo tergerak menggunakan seni tradisi untuk mengkomunikasikan kebijakan pemerintah. Paradigma ini tentunya ada benarnya juga. Apalagi ini terkait dengan upaya pelestarian budaya bangsa. terakhir pada tahun 1974 waktu itu Departemen Penerangan melakukan pemetaan dan dibukukan dalam peta seni tradisi yang komunikatif. saat nonton wayang kulit yang dipentaskan semalam suntuk. salah satu pemicu perubahan peradaban terjadi karena teknologi. Dulu kala ketika saya kecil. sayang tidak ditayangkan pada jam-jam prime time. Tidak ada salahnya meniru yang baik. Semua itu memengaruhi cara kita melihat dan menikmati wayang.

Misalnya dengan internet. rekaman pertunjukan seni tradisi begitu bisa kita upload dari Padang Panjang dan bisa dilihat di manapun juga. Saya melihat ini juga bisa dianggap jadi peluang bagi seni tradisi yang kita cintai. * 312 . Pak Asep bisa menampilkan cipratan darah karena bantuan teknologi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ton. Oleh sebab itulah. agar menjadi kegelisahan kita semua. setidak-tidaknya bisa menjadi dasar kebijakan. tapi mengupayakan agar Kominfo akan mendukung hidup seni tradisi yang ada dengan cara menggandeng untuk kegiatan sosialisasi kebijakan pemerintah. Thomas L. Dengan demikian Kementerian Kominfo mengharapkan masukan dari para ahli sekaligus setelah memetakan seni tradisi yang komunikatif. Kominfo tidak hanya melaksanakan diskusi saja. Makalah-makalah yang disajikan dalam diskusi ini sangat menarik. ada peluang untuk itu. Kalau adegan perang tanding. Dengan demikian untuk seni tradisi ini. Selanjutnya Kominfo bisa mengunakan seni tradisi itu untuk diseminasi kebijakan Pemerintah di seluruh Indonesia. Banyak kegelisahan mengenai kelangsungan hidup seni tradisi yang menjadi perhatian berbagai pihak. ada leher salah satu kepala wayang tertebas senjata hingga terpotong. Friedman dalam buku The World of Flat bercerita tentang bagaimana dampak teknologi terhadap pergaulan dunia dan interaksi antar manusia. Kalau melihat sisi positip. kemudian kami share kepada pembaca. sekaligus memprovokasi untuk ikut mencari jalan keluarnya.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 313 .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF KALIMANTAN SUAMTERA JAKARTA JAWA 314 .

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI SULAWESI MALUKU PAPUA NUSA TENGGARA 315 .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 316 .

Kendati penulis sudah memberi keterangan tambahan bahwa nama yang dicari adalah ‘Suryadi dalang Wayang Sadat’. bukan dalang. tapi beliau seorang guru. Anehnya. bukan dalang Wayang Sadat.” kata Bambang (19 th). jangankan wujud keseniannya. namun yang ia tahu profesi Suryadi adalah guru. “Kalau Pak Suryadi yang ini sih saya sudah kenal sejak lama. tukang ojek yang mengantarkan penulis menjelajahi Desa Mireng.” kilah Bambang. namun tak banyak warga Trucuk yang kenal. Lelaki dua anak ini baru percaya Wayang Sadat benar-benar ada. Kec Trucuk. B egitulah nasib Wayang Sadat. saya tahu. Zaman memang telah menyilapkan kata Wayang Sadat dari pemaha317 .” imbuh Bambang. kesenian tradisional yang namanya pernah berkibar pada zaman Orde Baru. mas. Wayang Golek. ketika penulis akhirnya bertemu dengan Suryadi Wanasukarja BA. Kalau Wayang Kulit. “Yang namanya Suryadi di sini banyak. “Saya malah baru tahu dari njenengan (anda—red) kalau ada wayang yang namanya Wayang Sadat. Jateng.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Catatan Akhir Senjakala Sang Penenang Kalbu Nursodik Gunarjo Butuh waktu satu jam lebih untuk menemukan rumah Suryadi di Desa Mireng. namanya saja banyak yang tidak tahu. Kini. Kab Klaten. Suryadi hanya tersenyum kecut mendengar penuturan Bambang. Tapi Wayang Sadat saya tidak pernah dengar. Wayang Wong (Orang— red). tapi Suryadi dalang Wayang Sadat saya tidak tahu. Bambang mengaku sudah kenal dengan Suryadi. sang dalang yang dicari-cari.

Moga-moga saja wayangnya tidak ikut dimakan rayap.” urai lelaki 318 . baik terompah. Sunan Kalijaga dan lainnya yang jumlahnya sembilan orang (Wali Songo). Suryadi adalah dalang Wayang Sadat terkemuka di Kabupaten Klaten. Di sana masih ada seperangkat gamelan slendro-pelog lengkap. Uniknya. Dengan hati-hati. ditambah tokoh-tokoh lain dari zaman Kerajaan Demak Bintoro. saat kotak dibuka. Jangan heran kalau nama tokohnya bukan Gatotkaca.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF man anak muda sepantaran Bambang. Penggiat seni ini lantas menjajarkan tokoh-tokoh Wayang Sadat di atas meja. semua tokoh yang ada dalam wayang ini mengenakan alas kaki. kelir dari kain putih. “Filosofinya adalah para wali dan tokoh muslim lainnya dalam wayang ini selalu suci atau terjaga dari najis dan hadats. Ia lantas mengajak penulis ke salah satu ruang di rumahnya. melainkan Para sunan/wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa seperti Sunan Bonang. Sarana Dakwah dan Penyejuk Kalbu Berbeda dengan Wayang Kulit yang tokoh-tokohnya diambil dari cerita Ramayana dan Mahabharata. bahkan sudut bawah kotak wayang yang terbuat dari kayu tampak keropos. Wajar jika sekarang ia tidak tahu apa itu Wayang Sadat. Syukurlah. Hanya catnya tampak kusam karena terbalut debu lumayan tebal. Sunan Giri.” tutur bapak empat anak ini sambil menghapus debu yang melekat di kotak wayang dengan kemoceng.” kata Suryadi. tabuh gamelan berbagai jenis. Pakaiannya berciri khas Islam yakni berjubah dan bersorban—kecuali Sunan Kalijaga yang digambarkan mengenakan pakaian adat Jawa—sementara masyarakat umum digambarkan memakai ikat kepala. wayang yang sepintas modelnya mirip dengan Wayang Kulit itu. sepatu maupun sandal. blangkon atau berpeci. “Mungkin waktu saya masih sering di-tanggap (pentas—red) dulu. blencong atau lampu pertunjukan dan satu kotak wayang. Semuanya tampak berdebu. Kresna atau Bima. wayangnya masih utuh. Mas Bambang belum lahir. Sunan Drajat. sebelum latihan pentas di halaman rumah saya ini. “Sudah setahun lebih kotak wayang ini tidak dibuka. “Terakhir saya membersihkan wayang ini bulan Februari 2008. Padahal pada era 80-an.” tuturnya. peraga Wayang Sadat diambil dari tokoh-tokoh sejarah Kerajaan Demak dan Babad Tanah Jawa. ia dibersihkan dengan lap basah satu per satu.

” ujarnya. hadits. semuanya mirip dengan Wayang Kulit. Selama pergelaran Wayang Sadat. Wayang Sadat tidak memiliki pakem cerita baku seperti Wayang Kulit atau Wayang Golek yang berbabon kisah Ramayana dan Mahabarata. “Gending-gending (musik pengiring) yang digunakan. Jalannya pementasan juga tak beda jauh dengan Wayang Kulit. Babon (sumber utama--red) cerita biasanya dari buku Babad Tanah Jawi. menggabarkan kehidupan nyata masyarakat waktu itu. jarit. perangkat pentas. hingga karakter sungging (tatahan) wayang. Suryadi tidak bisa mengatakan den319 . imbuh Suryadi. bacaan lafal Al-Qur’an kerapkali terdengar. yakni penyebaran agama Islam khususnya pada zaman Demak Bintoro. dalang Wayang Sadat justru mengenakan jubah biasa (seperti surjan) dan surban di kepalanya. Nama “Sadat” sendiri diambilkan dari akronim.” kata Suryadi.” ujarnya. namun cerita carangan (kreasi--red)-nya bisa dibikin sendiri sesuai kebutuhan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI berusia 63 tahun ini. Selain itu. namun cukup empat jam. sedangkan waranggana (sinden/ pelantun tembang) mengenakan busana muslimah atau jilbab. Niyaga (penabuh gamelan) mengenakan baju muslim (baju koko). secara umum Wayang Sadat sangat dipengaruhi oleh Wayang Kulit. Hanya di dalam Wayang Sadat ditambah dengan shalawat nabi. Dalang Berjubah Berbeda dengan kebanyakan dalang yang mengenakan beskap. Karena pakelirannya padat. dan sabet (gerakan wayang—red). Kapan Wayang Sadat lahir. antawacana (dialog—red). semua mirip dengan Wayang Kulit. keris. “Ini memang termasuk wayang realis. Mulai gamelan. maka Wayang Sadar sering dipentaskan untuk mucuki (pentas pendahuluan) pagelaran Wayang Kulit. dan kutipan ayat-ayat Al-Qur’an. dan blangkon. oleh karena itu pagelaran Wayang Sadat selain sebagai dakwah juga sebagai penyejuk kalbu penonton. “Sifat wayang ini memang sangat religius Islami. “Sarana Dakwah dan Tabligh”. Bacaan shalawat juga sering mengalun ketika tokoh Sunan Bonang atau para wali lainnya tampil. Ia mengakui. suluk (candra—red). Nama ini juga berasosiasi dengan kalimat “Syahadat” yang merupakan ikrar kesaksian keesaan Allah dan pengakuan Rasulullah Muhammad sebagai utusan Allah. pentas wayang ini juga tidak semalam suntuk seperti Wayang Kulit.

namun karena sering diajak pentas. Wayang Sadat tak pernah lagi ditanggap orang.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF gan pasti. Bakat mendalang akhirnya menurun kepadanya. ayahnya menerima warisan wayang itu dari kakeknya. Kantor Deppen Kab Klaten bersedia mementaskan Wayang Sadat sebulan sekali. Kakek dan ayahnya adalah dalang Wayang Sadat tenar pada zamannya. Pasrah Menunggu Maut Kevakuman selama beberapa tahun tidak pentas membuat Suryadi kelimpungan. televisi satu-satunya milik pemerintah saat itu. Tujuannya agar gairah kesenian bisa tersalurkan. Berbeda dengan kakek dan ayah saya yang mengalami zaman keemasan. pada saat awal-awal menjadi dalang tahun 80-an.. Upayanya tak sia-sia. Ia juga rutin pentas di TVRI. Satu-dua kali gladhen. ia mengajukan proposal ke (saat itu) Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Klaten agar mau mementaskan Wayang Sadat secara periodik. Lelaki berkumis ini pun putar otak agar kesenian yang digelutinya tak tenggelam ditelan zaman. gagal total. Maklum. Undangan bukan saja datang dari Klaten. usaha saya. akhirnya ia bisa mendalang secara otodidak. Sekitar tahun 1990-an. untuk mucuki pentas Wayang Kulit yang rutin digelar di alun-alun.” urainya 320 . mendalang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Tapi itu tak berlangsung lama.” kata Suryadi. “Kalah sama sinetron dan kesenian modern lainnya. Salah satu cara yang ia tempuh adalah menyelenggarakan gladhen (latihan) rutin sebulan sekali di halaman rumahnya. “Alhamdulillah. order pentas turun drastis. Ia hanya ingat. Bahkan mulai tahun 1995. Sang kakeklah yang menciptakan wayang itu. setelah itu macet karena para niyaga sibuk dengan urusannya masing-masing. selain itu juga untuk mencari bibit dalang baru dari kalangan pemuda.” ujar Suryadi pendek. namun juga dari luar provinsi. Tapi memasuki tahun 90-an. dalam sebulan ia bisa mendalang dua sampai empat kali. baru pentas tiga kali sudah dihentikan dengan alasan tidak ada dana. “Saya pentas di depan umum sejak tahun 1980-an. saya menjadi dalang pada saat pamor Wayang Sadat sudah mulai mbleret (suram—red). Meskipun ia tak pernah secara khusus belajar mendalang Wayang Sadat. bahkan ia pernah mendalang di lokasi transmigrasi di daerah Lampung dan Kalimantan Selatan. Pensiunan guru SD ini mengaku..

Bahkan menurut penuturannya. Sudah jamak diketahui. berbagai pihak yang ia sodori proposal bantuan dana hanya menggelengkan kepala alias menolak dengan halus. maka kesenian tradisional butuh kondisi semacam itu. namun secara moral tetap untung karena saya mendapatkan kepuasan batin yang tidak terkira. bahwa seni tradisi mengalami lesu darah karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. saat pentas lebih banyak rugi ketimbang untungnya.” imbuhnya. dengan tokoh-tokoh yang disesuaikan dengan konteks kehidupan kenegaraan saat ini. ia tak pernah memikirkan rugi-laba saat mementaskan Wayang Sadat. Kendalanya apa lagi kalau bukan masalah dana. “Wayang Sadat kini sudah berada pada masa senjakala. Ia percaya. kesenian tradisional memang telah memasuki masa uzur. Namun cita-cita itu tampaknya sulit menjadi kenyataan.” pungkasnya lirih. mereka berharap ada “tonikum” yang bisa membuat seni tradisi bangkit kembali. menunggu saat kematian Wayang Sadat datang menjemput. lantaran tak seorang pemudapun berminat menjadi dalang Wayang Sadat. “Rugi secara material. 321 . Tak heran. Kematian sepertinya sudah menjadi takdir yang tak terhindarkan. Seni tradisi butuh “tonikum” itu agar kembali segar. masa keemasan Wayang Sadat telah lewat. Hal semacam inilah yang cengkah (bertentangan—red) dengan pola pikir anak-anak muda zaman sekarang. “Bahkan anak saya sendiri nggak mau meneruskan profesi bapaknya jadi dalang Wayang Sadat. Penghasilannya nggak jelas katanya. di mana-mana. Niat untuk mencari bibit dalang dari generasi muda juga pupus. Karena itu. petinju yang tiba-tiba segar dan kuat kembali setelah babak belur pada ronde-ronde sebelumnya. Jika dalam olahraga tinju dikenal istilah kemenangan kedua (second win). Ironisnya. Ia pernah bercita-cita merevitalisasi Wayang Sadat menjadi Wayang Nusantara. mengeluhkan kondisi yang kian merapuh. seni memang bukan untuk mencari uang.” ujar Suryadi terus terang. Berubah atau Mati Ibarat manusia. Zaman keemasan dianggap telah lewat. Bagi Suryadi. Para penggiat seni tradisi. Kini ia mengaku pasrah.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dengan wajah muram.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Para pelaku seni tradisi cenderung terpaku pada “teks” yang statis, sehingga kehilangan “konteks” saat kesenian yang digelutinya dipaksa hidup dalam situasi masa kini yang serba dinamis. Penjagaan tradisi memang kadang harus menafikan perubahan, karena perubahan bisa berarti hilangnya hakikat tradisi itu sendiri. Namun di sisi lain, menolak perubahan akan membuat seni tradisi kehilangan komunitas pendukungnya. Situasi dilematis semacam itu sering membuat para pelaku seni tradisi berhadapan pada pilihan yang serba sulit. Banyak seni tradisi mati, justru karena pelakunya bersikukuh memegang prinsip anti perubahan. Bagi mereka kematian lebih mulia, daripada harus mengingkari hakikat orisinalitas “pakem” seni tradisi yang sangat mereka junjung tinggi. Kematian adalah keniscayaan, karena zaman telah membuat seni tradisi berada di waktu dan tempat yang salah. Dan kita, bagaimanapun, harus menghormati mereka yang memilih jalan ini. Namun sebagian pelaku seni tradisi memilih jalan yang lebih moderat, mencoba berdamai dengan dinamika zaman agar bisa bertahan hidup lebih lama. Pakem atau “teks” asli tetap mereka pertahankan, namun “konteks” juga mereka perhatikan. Mereka tidak alergi pada perubahan, namun justru menempatkan perubahan itu sebagai motor penggerak revitalisasi. Kalau mau jujur, mayoritas seni tradisi yang mengalami second win adalah seni tradisi yang pelakunya rela mengisi “teks” seni dengan isuisu aktual yang ada di tengah masyarakat. Seni tak lagi terpaku pada pakem yang kaku, yang membuatnya berada jauh tinggi di awangawang, namun dikonstruksi sedemikian rupa agar dekat dengan aspek kehidupan masyarakat masa kini. Wayang Kulit adalah salah satu contoh terbaik, bagaimana kesenian tradisional bisa di-mutakhir-kan. Dengan mengadopsi isu-isu aktual dalam setiap pagelarannya, Wayang Kulit bisa bangkit dari keterpurukan, berdiri tegak, dan merangkul kembali audiensnya yang hilang. Semua seni tradisi memiliki peluang sama untuk bangkit kembali dan meraih kemenangan kedua. Kuncinya terletak pada sikap para pelaku seni terhadap dinamika perubahan zaman. Rumusnya memang hanya satu, change or die, berubah atau mati. Banyak yang memilih perubahan, namun ada juga yang memilih kematian... *

322

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

323

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

324

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

325

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

326

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

327

Diterbitkan oleh DIrektorat Pengolahan dan Penyediaan Informasi Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Tahun 2011 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful