P. 1
Lestarikan Tradisi Kelola Komunikasi

Lestarikan Tradisi Kelola Komunikasi

|Views: 1,221|Likes:

More info:

Published by: dishubkominfo_bartim on Jul 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/04/2014

pdf

text

original

PEMETAAN

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

PEMETAAN

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Ismail Cawidu Nurlaili 1. Rosmiati 2. Lukman Hakim 3. Marulak Simangunsong 4. Enung Dahliawati 5. Fera Setia Nurana 6. Yudi Syahrial Design / Layouter

7. Dewi Farida Simatupang 8. Aditya Ranadireksa 9. Wasi Andono 10. Triani Setyowati 11. Rokayah 12. Sri Mulyani Suprawoto Nursodik Gunarjo : M. T. Hidayat

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

SAMBUTAN

pabila buku ini sampai di tangan pembaca, setidak-tidaknya upaya kami untuk mendokumentasikan hasil diskusi para ahli di bidang seni tradisi sebagian sudah sampai pada tujuan. Kami selaku Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, sampai saat ini sudah berusaha memberikan ruang dengan cara mementaskan seni tradisi komunikatif di berbagai tempat di Indonesia, baik di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Dalam setiap pementasan, antusiasme masyarakat untuk menonton seni tradisi masih sangat tinggi. Terbukti setiap pementasan selalu dipenuhi penonton sampai pertunjukan selesai. Namun apakah antusiasme penonton tersebut akan tetap bertahan dan langgeng? Kumpulan hasil diskusi ahli di bidang seni tradisi ini sengaja kami bukukan agar bisa memberikan informasi, dan siapa tahu justru menumbuhkan gairah untuk memberikan perhatian lebih terhadap seni tradisi, sehingga bisa tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Buku ini tentunya tidak akan terwujud tanpa kontribusi bebe-rapa pihak. Untuk itu kami perlu menyampaikan terima kasih, utamanya kepada para narasumber Diskusi Pemetaan Media Tradisional yang Komunikatif di lima kota, yakni Solo (Jawa Tengah), Denpasar (Bali), Bukittinggi (Sumatera Barat), dan Mataram (Nusa Tenggara Barat).
i

A

Demikian juga kepada para seluruh peserta diskusi yang menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi selama diskusi berlangsung. Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada rekan-rekan di Monumen Pers Solo, kawan-kawan Dinas Infokom dan Humas serta Balai Monitoring yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Kerja keras kawan-kawan semua ikut menyukseskan pelaksanaan dikusi yang menjadi bahan penyusunan buku ini. Khusus rekan-rekan di Sekretariat dan Biro Umum Kementerian Komunikasi dan Informatika, terima kasih atas dukungan dalam pelaksanaan diskusi ahli. Tiada gading yang tak retak. Kritik dan saran demi perbaikan penerbitan buku selalu kami harapkan.

Jakarta, September 2011 Direktur Jenderal ender e al a Informasi dan Komunikasi Publik muni ni n ikasi s Pu

Freddy ddy y H. Tulung Tu

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

PENGANTAR

I

ndonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari 17.508 pulau, 485 suku bangsa dan 583 bahasa daerah. Kenyataan itu sungguh sangat fantastis. Dengan begitu beragamnya suku bangsa, bahasa, dan adat istiadat, setiap masyarakat memiliki keunikan tersendiri. Sebagaimana dinyatakan Louise Grenier (1998), setiap masyarakat memiliki kearifan lokal yang secara tradisional terus dipelihara dan dikembangkan untuk mempertahankan diri ketika menghadapi perubahan dan tantangan dari lingkungannya. Dalam kearifan lokal itu biasanya terdapat sistem informasi dasar yang memfasilitasi komunikasi dan pengambilan keputusan komunitas atau masyarakat. Sistem informasi tersebut umumnya bersifat dinamis karena dipengaruhi kreativitas internal maupun pembelajaran masyarakat terhadap pengetahuan eksternal yang disosialisasikan secara berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Flavier et al. 1995: 479). Sejalan dengan perkembangan teknologi, tantangan terbesar adalah bagaimana membangun sistem komunikasi yang berkualitas dengan memadukan tiga aspek yang disebut Giddens dalam The Constitution of Society (1980) menjadi bagian tak terpisahkan dalam masyarakat saat ini, yaitu globalisasi, detradisionalisasi, dan social reflexivity.
iii

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Globalisasi menghubungkan manusia di seluruh dunia pada setiap aspek kehidupan. Komunikasi dan transportasi telah meng-hubungkan manusia di mana pun ia berada. Telepon dan internet membuat orang “bertemu” tanpa susah payah bertatap muka. Detradisionalisasi bukan berarti hilangnya tradisi. Tradisi masih ada bahkan “diciptakan”, tetapi tradisi bukan lagi satu-satunya dasar pembuatan keputusan. Kalau orang menemukan bahwa konsultasi dengan tradisi tidak memuaskannya, ia dapat berpaling dan memakai pertimbangan dari sumber lain. Hal terakhir berkaitan dengan social reflexivity merupakan pro-ses pengambilan keputusan. Manusia modern menghadapi banyak informasi, akan tetapi juga bebas menyeleksi informasi mana yang dibutuhkan. Arus (tepatnya: banjir) informasi memang membuat bingung, namun individu dapat menolak sebuah informasi semata-mata karena ia tidak suka atau tidak cocok. Inilah sebagian kenyataan yang dihadapi semua seni dan media tradisional di Indonesia saat ini. Menjadi tugas kita bersama untuk senantiasa berupaya meningkatkan kualitas pemanfaatan seni dan media tradisional agar bisa berpadu dengan perkembangan teknologi serta dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Media tradisional komunikatif diharapkan dapat mengambil peran dalam posisi ini. Dalam perkembangan sebelumnya peran media tradisional komunikatif demikian besar. Bagaimana perkembangan saat ini dan ke depan perlu pembahasan yang mendalam. Oleh karena itu, kami mencoba menghadirkan para pakar di bidang seni pertunjukan tradisional dalam merumuskan sinergi dan pemanfaatan media tradisional yang komunikatif. Kepada para pakar yang telah berkenan memberikan sumbangan pemikiran dalam bentuk tulisan serta wacana dalam diskusi kami sampaikan terima kasih. Buku ini sengaja kami hadirkan untuk memantik pemikiran baru guna lebih memberikan sumbangan terhadap pengembangan media tradisional yang komunikatif. Jakarta, September 2011 Suprawoto Editor
iv

.................Hum.. 55 Prof...... SINERGI SENI TRADISI DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PENDIDIKAN PUBLIK ............. Endang Caturwati.................... DAFTAR ISI ...... PENGANTAR EDITOR ................. Dr.. 17 Prof. M. Musa Asy’arie...............Kar............ Dosen ISI Surakarta Peran Seni Budaya Tradisional Kalimantan dalam Dimensi Informasi/Komunikasi Pembangunan .Sn......... Pakar Bidang Akademis Seni Tari............... MS..................................................... v vii ix 1 3 9 11 Prof.. S.. anggota Dewan Pengawas TVRI Mencari Model Pertunjukan Seni Tradisi dengan Teknologi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik ... Hari Mulyatno.......... Pakar Etnomusikologi ISI Surakarta Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Timur ........ 43 F.......... PENDAHULUAN ........ M....................... Dr...... Darsono............................................... 71 v .......... Dr....... Meningkatkan Peran Media Tradisional ............................... Pakar Pertunjukan dan Kajian Budaya STSI Bandung Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Barat .......................................................................... Sri Hastanto.............. S.........................................Kar.................. Pakar Ilmu Estetika Ketua LPPM Dosen ISI Surakarta Peran Seni tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Tengah dan DI Jogjakarta .................... Prof.........LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI DAFTAR ISI SAMBUTAN ......

.. Dr.................. 197 ........Hum........ M........ M.................Sn......................... Dr I Nyoman Suarka M Hum.......... Prof... Dosen ISI Denpasar Seni Pertunjukan Populer sebagai Media Pencerdasan Rakyat: Potensi Tari Topeng dan Teater Bali ........... Dosen ISI Denpasar Seni Musik Bali dan Gamelan Gong Kebyar sebagai Media Pencerdasan Rakyat ....................... Sulaiman Juned....... Dr I Nyoman Catra....... Ahli Seni Tari............ Daryusti... Komposer........ Ketua STSI Padang Panjang Ragam Kemasan Seni Tradisi Sumatera Barat dalam Komunikasi Sosial Rakyat dan Pemerintah ..................... S Kar.. Pakar Sastra....... Ahli Seni Karawitan...... MA...PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF MENGGUBAH SENI TRADISI DAN PERTUNJUKAN YANG KOMUNIKATIF UNTUK PERCERDASAN RAKYAT . MA.............................. Dosen Sastra Universitas Udayana Aktivitas Pasantian dan Sastra Bali sebagai Media Pencerdasan Rakyat ... I Nyoman Windha.... Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Penggunaan Seni Tradisi dalam Media Komunikasi Sosial di Sumatera Utara vi 91 93 107 123 135 145 159 161 181 ....... M........... S Kar. Drs..... MENGEMAS SENI TRADISI SUMATERA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL ....... SST....... Dosen Jurusan Seni Teater STSI Padang Panjang Seni Tradisi Populer Aceh sebagai Media Komunikasi Sosial .... S....... Ahli Seni Pertunjukan.. Dr Ni Made Wiratini..............Sn.... SST...... MA........... Dosen ISI Denpasar Mencerdaskan Rakyat dengan Seni Tradisi dan Pertunjukan Komunikatif ............. I Nyoman Murtana........................... Dosen Kajian Budaya Universitas Udayana Pertunjukan Wayang Kulit Bali: Media Komunikasi Pencerdasan Rakyat .. M Hum............ Hajizar...Sn.........

... 317 vii ..... Dr..Si................. Mustakim Biawan............. Kongso Sukoco.... 305 Lestarikan Media Tradisi .......................Hum................ Ketua Dewan Kesenian Provinsi NTB Memfungsikan Teater Tradisi Amaq Abir sebagai Media Komunikasi Tradisional ........ Mantan Kepala Taman Budaya NTB Seni Tradisi NTB dalam Proses Kreatif Menuju Media Komunikasi Sosial ......... Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Upacara Tabuik dan Tabot di Pesisir Barat Sumatra ..... M................LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Nirwana Murni.......... 307 Nasib Seni Tradisi Senjakala Sang Penenang Kalbu ..... M....... Asril.................... Dosen Jurusan Seni Tari STSI Padang Panjang Strategi Kemasan Seni Tradisi sebagai Media Komunikasi Sosial di Sumatera Barat ................ Muchtar S................. 221 235 255 257 277 293 PENUTUP ..................................Kar.................. Pakar Komunikasi IAIN Mengemas Seni Tradisional Komunikatif NTB untuk Media Komunikasi Sosial ....................................Kar..................................................... S.......Pd............. MENGEMAS SENI TRADISI NUSA TENGGARA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL .................... Kadri M..

.

PENDAHULUAN 1 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 2 .

ada yang profesional atau menjadikan seni sebagai profesi namun ada pula seniman yang memiliki profesi-profesi lain. 2009). Padahal. Sementara seni tradisi jauh lebih luas dari media komunikasi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Meningkatkan Peran Media Tradisional I ndonesia memiliki keragaman budaya yang sangat luas. pedagang. harus dilakukan pendekatan sesuai dengan karakteristik masyarakat di mana kesenian dan tradisi itu hidup dan berkembang (Limbeng. Dalam masing-masing sistem budaya tersebut terdapat pola kesenian. nelayan. media kesenian. seni tradisional tidak bisa dilihat hanya dari satu pendekatan atau hanya berdasar pada prinsip umum (universal) yang diberlakukan untuk semua. 2005). Seniman misalnya. mereproduksi mendistribusikan atau menyebarkan dan menyampaikan informasi (Suranto. meskipun fakta menunjukkan bahwa sebagian seni tradisional bisa digunakan dan seringkali dikembangkan menjadi media komunikasi. Konsep media tradisional seringkali dipertukarkan dengan seni tradisi atau bahkan seni pertunjukan tradisional. dan posisi seniman yang beragam. Keragaman itu juga mempengaruhi bentuk maupun isi. media komunikasi pada dasarnya merupakan sarana yang dipergunakan untuk memproduksi. Kesenian tradisional pada dasarnya memiliki pola atau pakem yang 3 . guru dan pemuka adat. Untuk melihat makna dan fungsi suatu kesenian. seperti petani. Oleh karena itu.

dan bercampur satu sama lain. seni tradisi secara alami mampu mengakomodasi perubahan isi sesuai dengan kepentingan situasi. Departemen Penerangan. yang pada gilirannya memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi tradisional. melainkan potensi yang dapat berkembang. pola. Inisiatif Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. sejak tahun 2008. atau pakem.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF membuat kesenian itu menjadi khas. pemberdayaan dan pengembangan kesenian-kesenian tradisional menjadi terabaikan. Menggali Potensi Dari inventarisasi yang telah disusun tahun 1978-1979 oleh Direktorat Penerangan Rakyat. seni pertunjukkan rakyat mampu menciptakan hubungan antara komunikan dan komunikator. Akan tetapi. Akan tetapi. pakem tersebut bukanlah suatu aturan “mati”. pemilihan media dan khalayak yang menjadi penikmat atau peminat seni tradisi tersebut. terdapat 118 jenis kesenian tradisional yang telah dibuat deskripsi singkatnya dan kurang lebih 292 jenis yang diketahui namanya tanpa diketahui deskripsinya (Siswojo. berkesenian atau unjuk seni tradisi tidak hanya bergantung pada seniman semata. berubah. dan (3) muatan-muatan atau pesan-pesan yang berisikan pendidikan kultural. Sebagai media komunikasi tradisional yang telah populer. spiritual. (2) daya atau potensi untuk berubah. Realitas seperti itu sangat dirasakan oleh para kelompok seni pertunjukkan tradisional. kini tidak ada lagi instansi pemerintah yang secara bersungguhsungguh menangani media tradisional ini. Hanya saja sejak Departemen Penerangan dibubarkan. Dalam tiga aspek itulah sesungguhnya terletak kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi keindahan. Melalui pertunjukkan ini terdapat pertemuan langsung antara komunikan dan komunikator. melainkan pada pesan moral atau nilai tradisi. untuk memberikan bantuan sosial bagi maestro seni tradisi dengan kriteria tertentu. Akibatnya. mungkin bisa memberikan dukungan moral dan finansial bagi para seniman. berbeda dari kesenian jenis lainnya. terutama bagi mereka yang tinggal di wilayahwilayah pedesaan. Walhasil. 1984). dan komentar sosial. Oleh karena pemanfaatan seni tradisi sebagai sebuah media komunikasi akan sangat berkaitan dengan aspek (1) bentuk. dimana komunikator dapat mengungkapkan ide dan gagasannya kepada komunikan melalui cerita-ceri4 .

Melestarikan Media Tradisional Tantangan yang dihadapi dalam menghadirkan media tradisional adalah bagaimana menempatkannya di antara konstelasi proses mediasi masyarakat. seorang dalang dapat menyebarluaskan gagasan dan pesan informasi dari pemerintah melalui cerita-cerita yang telah ada. Perlunya mengangkat suatu budaya tradisional sekaligus dengan media yang mengampunya. Hal ini penting. keberadaan media tradisional tidak ada artinya. karena keberadaan media tradisional tidak dapat dilepaskan dari masyarakat/komunitas budaya pendukungnya. Oleh karena itu dibutuhkan pemetaan seni tradisi yang bisa digunakan sebagai media penyampaian pesan dan media informasi yang komunikatif.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ta yang dibawakannya. Mungkin hanya media tradisional yang verbal dan komunikatif-dialogis saja yang cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. kita mengakui bahwa tidak semua seni pertunjukkan rakyat dapat menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif. misalnya yang mengandalkan gerak atau nyanyian dalam batas tertentu sulit digunakan sebagai media penyampai informasi. karenanya bersifat eksklusif. adalah untuk fungsi konservasi. melalui keterlibatan fisik atau psikis. Tanpa adanya dukungan warga. secara praktis hanya dapat dilakukan jika secara substansial budaya dan media dimaksud sudah mengalami transformasi sebagai spectacle. Seperti pada beberapa pertunjukkan wayang. Dalam formatnya yang asli. Sementara untuk mengusung suatu media tradisional dalam dalam konteks lintas budaya. Media tradisional tidak hanya sebagai obyek hiburan (spectacle) dalam fungsi pragmatis untuk kepentingan sesaat. Kendatii demikian. Ciri dari setiap media tradisional adalah partisipasi warga. Budaya tradisional pada hakekatnya berfungsi dalam memelihara solidaritas suatu masyarakat budaya. Begitu pula pemanfaatan media tradisional sebagai wahana bagi isu-isu kontemporer bagi 5 . tetapi dimaksudkan untuk memelihara keberadaan dan identitas suatu masyarakat. Seni tradisi yang lain. Setiap masyarakat budaya memiliki mitos yang khas yang menjadi perekat kelompok/komunitas. media tradisional hanya relevan secara eksklusif bagi masyarakat budaya pendukungnya.

sudahkah media tradisional mentransformasikan diri sebagai spectacle yang bisa dinikmati masyarakat di luar komunitas pendukungnya? Seperti diketahui. Sebaliknya. karena dalam banyak kasus. tontonan yang bisa dinikmati dan diterima oleh masyarakat dalam jumlah lebih besar dan dalam wilayah teritorial yang lebih luas. Oleh karena itu. Inovasi dalam hal ini bisa dilakukan. Karakteristik eksklusif semacam ini tentu kurang menguntungkan apabila ditinjau dari teori media. Secara keseluruhan kegiatan akan berlangsung mulai bulan Maret hingga Juni 2010. sehingga cenderung hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu dalam jumlah yang terbatas. sudahkah kesenian tradisional di Indonesia saat ini benarbenar diposisikan sebagai “media”. pertama tahapan pengumpulan data awal. maka fungsinya sebagai media penyebaran informasi dengan sendirinya akan menurun. Pertanyaan yang harus dijawab adalah. kedua tahapan diskusi ahli. sepanjang tidak mendekonstruksi wujud dan karakter asli dari kesenian tradisional dimaksud. Pertanyaan lain yang tak kalah penting adalah.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF suatu masyarakat budaya pendukungnya. karena salah satu ciri dari media yang baik adalah kemampuannya menjangkau massa dalam jumlah besar. dalam konteks penyebaran informasi. Jika kesenian tradisional terlalu dipaksakan untuk berfungsi sebagai media penyebaran informasi aktual. Tentang Buku Ini Pemetaan media tradisonal yang komunikatif ini dilakukkan dengan tiga tahapan. sulit menempatkan dua fungsi (hiburan dan media penyebaran informasi) secara berimbang. ketiga tahapan penulisan laporan dan penyu-sunan buku. Kegiatan pertama atau pengumpulan data awal mencakup penjajagan dan penelusuran dokumen untuk mengidentifikasi aspek dan unsur kebijakan komunikasi serta pemetaan potensi seni tradisional yang 6 . tantangan ke depan adalah bagaimana mentrasformasikan media tradisional agar bisa menjadi general spectacle. akan relevan manakala media tersebut sudah tidak lagi sebagai sumber mitos budaya tertentu. jika porsi hiburan terlalu banyak. maka ia akan kehilangan karakteristik utamanya sebagai sumber mitos bagi masyarakat. salah satu kendala dari media tradisional adalah sifatnya yang eksklusif dan lingkupnya yang lokal. bukan sekadar sebagai spectacle? Pertanyaan ini sangat penting.

Tahapan ketiga penulisan laporan yang merupakan kompilasi dari hasil pemetaan. pada masa dulu. Hasil kompilasi juga akan dibukukan dengan kemasan ilmiah populer agar dapat dijadikan sebagai acuan pemanfaatan seni tradisional. Kegiatan ini diarahkan untuk mendapatkan gambaran opini dan ekspektasi stakeholders seni tradisi tentang potensi seni dan media komunikasi tradisional. pengamat seni tradisional. pegiat seni tradisi. pemuka pendapat. yakni Indonesia Barat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ada di Indonesia. Untuk kebutuhan kegiatan ini. diskusi terbatas (focus group discussion). diskusi ahli adalah kegiatan yang dikemas dalam bentuk diskusi kelompok terbatas yang melibatkan para ahli. Indonesia Tengah dan Indonesia Timur.* 7 . akan dibagi dalam tiga wilayah. Kedua. sekarang dan yang akan agar dapat digunakan untuk kepentingan pendidikan publik dan komunikasi sosial. serta rekomendasi kegiatan diskusi. serta unsur pemerintah daerah.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 8 .

SINERGI SENI TRADISI DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PENDIDIKAN PUBLIK 2 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

Ayahnya memindahkan Musa ke pondok pesantren Tremas Pacitan Jawa timur. Musa menikah dengan Muslihah teman kuliah satu fakultasnya di IAIN Sunan Kalijaga. sekaligus birokrat dan pengusaha ikut mewarnai pemikirannya bahwa berpikir an sich adalah bebas sebebas-bebasnya. Dalam disertasinya “Konsep Manusia Sebagai Pembentuk Kebudayaan dalam Alquran” yang dipertahankannya dalam ujian disertasi 26 Januari 1991. cendikiawan. Sebagai Guru Besar Filsafat Islam UIN Yogyakarta. namun tidak sampai selesai.Dr. Musa Asy’arie adalah seorang filosof. Lingkungan pondok pesantren inilah mengubah sikap dan cara pandangnya dalam menapaki kehidupan. di desa Pekajangan Pekalongan. 10 . Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di SD Muhammadiyah Ambukembang. H. bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat. sekaligus seorang pengusaha. Kabinet Indonesia Bersatu. Musa Asy’arie dilahirkan tanggal 13 Desember 1951. tidak kriminal. Berpikir yang salah bukan suatu kejahatan. Guru Besar Filsafat Islam. Musa Asy’arie menolak pandangan dualisme (jasmani dan rohani) manusia yang selama ini mempengaruhi cara berpikir mayoritas umat Islam. sebuah desa yang kental dengan budaya santri yang entrepreneurship.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. Saat ini menjadi anggota Dewan Pengawas Televisi Republik Indonesia. Ia melanjutkan ke SMPMuhammadiyah di Pekajangan. budayawan. sehingga tidak perlu ditakuti. Musa menempuh pendidikan kesarjanaannya di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Filsafat. Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta ini pernah menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika. Setelah menyelesaikan pendidikan di lingkungan pondok pesantren. Ia adalah pencetus gagasan Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan. Ia besar dalam lingkungan masyarakat pengusaha.

ada Abunawas yang bisa mengemas kritik dalam bentuk seni. Dalam perspektif kebudayaan nilai-ni11 S . Sayangnya ada stagnasi kalau kita bicara seni agama. Anggota Dewan Pengawas TVRI eni adalah karya keindahan. Dr. Jika dilihat dari dalam pemikiran filsafat. Kesenian berkaitan dengan semua aspek kehidupan masyarakat. arsitektur. Banyak hal seni punya besar dalam kehidupan agama terutama jika bersentuhan dengan nilai rasa keindahan karena Tuhan juga memiliki nilai keindahan. misalnya cerita 1001 malam. Di sini kita bisa melihat bahwa kemasan seni itu bisa melakukan kritik. dan bahkan seni agama. Ajaran agama seringkali mempengaruhi hal ini. Boleh melukis tapi jangan sampai seperti hidup. Bicara tentang keindahan. Seni juga masuk ke seluruh kehidupan. Jika tuhan diabaikan dalam keindahan maka akan ada fenomena radikalisme. Di dekat kekuasan juga ada seni. Musa Asy’arie. politik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Mencari Model Pertunjukan Seni Tradisi dengan Teknologi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik Prof. Saya kira berkaitan dengan seni tradisi dan soal teknologi ini adalah persoalan membangun model. patung . seni adalah perwujudan kreatif nilai-nilai estetika. tari. baik itu seni suara. Misalnya yang kita percayai bahwa dalam Islam melukis benda bernyawa itu tidak boleh. manusia juga merupakan bentuk keindahan karya agung Tuhan. Namun secara umum seni dan agama saling mendukung.

Oleh karena itu kita bisa menemukan tradisi masyarakat agraris. industri. Jika diterapkan dalam kehidupan masa kini. Seni pada dasarnya berkaitan dengan perasaan atau rasa atau emosi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF lai itu merupakan wujud kesatuan dari (1) nilai logika. Sedangkan tradisi adalah kebiasaan atau adat istiadat yang dilestarikan secaraturun temurun dalam suatu kehidupan masyarakat tertentu. Bahkan mendasarinya. Oleh karena itu. seni tidak bisa dipisahkan dari logika dan etika. Karya seni menyatu dengan etika dan logika. akademik. Kesenian tradisional juga menyampaikan etika dan nilai. atau yang menyangkut benar dan salah. Misalnya bagaimana dialog tentang pembangunan dan kemiskinan? Di situ ada dampak buruk. Di situ dapat dilihat bahwa seni punya publiknya sendiri. Jika bicara tradisi. maka diambil kemaslahatan yang banyak. dialog antara Puntadewa dengan Arjuna itu adalah dialog yang menarik bagaimana bisa memisahkan pikiran dan rasa. Pertautan itu membuat seni berperan dalam peradaban. semua punya tradisi. juga masih relevan. dalam setiap karya seni tidak bisa dilepaskan dari aspek nilai logika dan etika. Dimensi estetik merupakan dimensi tertinggi dalam pengalaman religius. Puncak pengalaman religius adalah estetis dalam dunia sufi. kelas bawah hingga tradisi masyarakat elit. Artinya semua bentuk seni ini jadi dasar bagaimana mengemas sosialisasi melalui seni. Komunikasi seni dalam masyarakat pada dasarnya hendak menyampaikan nilai kebenaran yang berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan. dan (3) berkaitan dengan perilaku atau nilai estika yaitu indah dan jelek. Sehingga pesan kebenaran dan kebaikan akan terasa indah untuk diresapi dan dihayati oleh publiknya. dalam pandangan saya. Nilai kebaikan yang berkembang dalam adat istiadat. aspek nilai seni tak boleh dipisahkan dari logika etika dan estetika. moral dan agama. tapi jika kemanfaatan lebih banyak dari hal yang buruk. Kebenaran dan kebaikan menyatu dalam karya estetika. (2) berkaitan dengan pemikiran atau nilai etika yakni baik dan buruk. Kita ketahui bahwa logika berpikir orang itu punya tingkatan. kota. Nanti kita bisa lihat bagai segmentasi masyarakat akan berkaitan dengan kemampuan untuk menerima seni ini. Jadi saya kira. lantas diekspresikan melalui karya keindahan. Oleh karena itu. Dalam Kisah Baratayudha misalnya. pedalaman. Misalkan masyarakat aga12 .

Dampaknya karya seni tidak bisa dimengerti secara utuh oleh masyarakatnya sendiri sehingga komunikasi karya estetika itu terputus dari masyarakatnya. Tapi jika bisa dikemas dengan baik. karena kalau tidak pakai toga terasa hambar meski kita tak tahu apa di balik toga itu. Kalau pejabat dari Kominfo sedang menyanyi di tengah acara limbukan wayang. Sementara etika diaktualisasikan sesuai dengan kebutuhan jaman.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI raris dan kota. etika dan estetika. Sehingga diketahui mana yang komunikatif bagi masyarakat dan mana yang tidak komunikatif terkait pesan yang disampaikan. Setiap tradisi memiliki masing-masing karakter dan publiknya sendri dan tradisi pedalaman dan pesisiran misalnya untuk orang-orang pinggiran dan elit untuk kalangan keraton. Yang ingin saya katakan adalah bahwa perlu kreativitas untuk bisa mengemas agar sesuai dengan tradisi masyarakat. Saya pernah ikut acaranya Kementerian Kominfo di Gunung Kidul. Tapi satu hal yang menarik adalah bahwa sms yang masuk dari masyarakat cukup banyak. Bagaimana tradisi kota? Bagaimana tradisi masyarakat industri? Ada pula masyarakat kota. Perlu kreativitas atau seni tradisi akan ditinggalkan dan hanya akan dikenang. Oleh karena itu. Memakai toga. Tradisi ini hendak dipetakan dan sudah dipetakan bagaimana tradisi yang dipetakan oleh Kominfo harus punya nilai logika. Saya kira perlu ada pembaruan sesuai dengan perkembangan masyarakat. Sehingga karya seni terlepas dari konteks nilai yang dianut oleh masyarakat. Permasalahan terjadi jika kesatuan nilai-nilai itu tidak tercermin lagi dalam karya estetika. maka logika itu yang harus diubah dan dinaikkan sesuai dengan perubahan masyarakat. ya harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. itu misalnya bagian dari tradisi akademik. Di kampus dipertahankan. Ada pertunjukan wayang yang disiarkan oleh RRI dan TVRI. Saya kira semua masyarakat punya tradisi. Jadi itu efektif sekali untuk menyampaikan informasi. pembaharuan dalam karya seni tidak bisa dilepaskan dari pembaharuan nilai dalam kehidupan masyarakat. itu bisa jadi saingannya Mus Mulyadi. seni tradisi mung13 . Persoalannya sekarang adalah bagaimana tiga hal itu dan dikemas jadi satu kesatuan? Karena ketika masyarakat berubah. desa dan akademik. Setiap seni dikemas dengan baik agar tak menyinggung orang. Demikian pula dengan estetika.

Melalui benda kotak yang menyatukan dunia yang sarat pluralitas. juga akan mengemas dengan logika yang berbeda. Di sinilah kemudian muncul problem. Selama ini seni dipanggungkan di tengah lapangan bola. Persoalan mengemasnya juga menjadi tidak sederhana. Itu tingkat etika dan logikanya jadi tinggi dan waktunya pun menyesuaikan dengan kondisi penontonnya. mau tidak mau. Ini saya kira pekerjaan yang harus dilakukan oleh Kominfo. Dalam masyarakat seperti ini. akan tetapi bergerak dalam ruang maya yang berlangsung cepat dan dinamis. Kalau itu dikemas. Bahkan bisa disebarluaskan dari suatu wilayah ke wilayah yang lainnya. perubahan dan pembaharuan. pasti berubah.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kin juga bisa memacu perubahan sosial. Di media konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) faktor waktu juga penting. TIK lahir dari proses perkembangan masyarakat agraris menuju masyarakat industri dan membentuk masyarakat informasi. maka ruangnya jadi beda. ada tradisi yang ada. peran seni akan luar biasa. Bagaimana TIK jadi forum pengembangan kreatifitas resmi yang 14 . Ada yang cuma dua atau tiga jam. Namun ketika bergabung dengan TIK. bukan lagi semalam suntuk. misalnya. Hal penting kalau dilihat dalam sisi komunikasi adalah bicaralah pada masyarakat sesuai dengan kadar akalnya. TIK adalah produk ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis pada nilai logika. ini yang perlu dilakukan secara kreatif. pertunjukan seni tradisi tidak lagi berada dalam ruang fisik yang dibatasi dinding atap dan kaca. Saya kira dalang yang pentas di Mahkamah Konstitusi atau RRI. Dalam kaitan dengan karya estetika telah terjadi perkembangan pula estetika agraris berkembang dalam estetika industri menuju estetika informasi. Persoalannya kembali pada bagaimana karya estetik diberi ruh dengan logika dan etika. Dalam era konvergensi TIK. Karena kalau gunakan TIK yang kini konvergen. Logikanya harus bertahap. model pertunjukan seni tradisi. dinamis dan tidak simpel. konflik. maka bukan lagi menggunakan alun-alun tapi menggunakan ruang maya. Ada kelas. Dalam masyarakat informasi. kemasan logikanya seperti apa? Dalam masyarakat pesisir itu logikanya seperti apa? Kreativitas juga termasuk bagaimana memasukkan etika dan logika dalam kemasan estetika? Tentu akan menyesuaikan dengan kondisi penontonnya.

Model itu menyesuaikan dengan kondisi masyarakat. di Solo juga ada. Karena kalau lepas dari itu maka tak bisa membentuk peradaban. bisa ditampilkan berapa jam? Kalau dengan TIK jadi kemasan yang perlu kreativitas tinggi. ketiga masyarakat itu tetap ada dan tidak saling menafikan. Dalam masyarakat Indonesia. Di Wonogiri model masyarakat seperti itu masih ada. * 15 . industri. Dan untuk mengemas itu adalah pekerjaan luar biasa yang harus tetap menjaga bahwa karya seni tak boleh dilepaskan dari etika logika dan estetika. Jika ruangnya TIK. Tetapi di Indonesia ketiga kategori masyarakat itu masih ada. entah itu pada kategori masyarakat agraris. Kecende-rungan sekarang ini. dan informasi. Mungkin kemasan itu yang akan menyesuaikan. wayang kulit semalam suntuk tidak bisa ditampilkan begitu saja.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI gabungkan etika dan estetika. Namun pengemasannya pun tak boleh lepas dari etika dan logika. maka harus menjadi dasar penyesuaian. Hal itu harus dilakukan terus-menerus agar seni tetap hidup. Di TVRI. Tentu waktunya akan berubah. Sehingga model pertunjukan seni tradisi seharusnya menyesuaikan dengan realitas masyarakatnya. semua memerlukan kemasan tersendiri. sebagian seni tradisi mulai ditinggalkan dengan pertumbuhan masyarakat lantaran tak semua seni tradisi bisa menjawab perubahan. Saya kira masyarakat perlu model yang tepat untuk pengemasan seni tradisi. Misalkan Wayang Suket Slamet Gundono. Pertunjukan seni tradisi harus mencari model yang dinamis sesuai perkembangan masyarakat. Apalagi jamnya ketat dan menyesuaikan dengan layar dan waktu.

seperti Mang Koko (Ganda Mekar 1973-1978). maupun beberapa perguruan tinggi lainnya. UNPAD. UPI (Pariwisata).S. dan beberapa seni pertunjukan tradisional lainnya. Nano. Antara lain Gending Karesmen dengan lakon Si Kabayan. baik. Dewan Redaksi di beberapa Penerbitan Jurnal Ilmiah dan Artikel Ilmiah di Jawa Barat dan Jakarta. juga aktif menulis artikel di beberapa mass media. Thailand. Lokalitas.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. masih disibukkan sebagai Pimpinan Redaksi Jurnal Ilmiah Seni dan Budaya ‘Panggung’ STSI Bandung (terakreditasi). Lulus S-3 Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sinden Penari di Atas dan Di Balik Panggung. Endang Caturwati. ed. Dr. Longser Grup STSI Bandung (2005-2008). M. tahun 2006. Gugum Gumbira pencita Jaipongan. merupakan doktor pertama di STSI Penulis (kedua dari kiri) bersama Tati Saleh penari JaiBandung dan Guru Besar bidang pongan. Kapita Selekta. dan Sistriarji Seni Pertunjukan Indonesia di Sutradara Longser STSI Jawa Barat (2007). Pahlawan Samudra dan Gondang Samagaha pada Grup Ganda Mekar: Degung pada Grup Mayang Binekas. Gugum Gumbira dari Jaipongan ke Cha Cha. Pesona Perempuan dalam Sastra dan Seni Pertunjukan. Tjetje Somantri Tokoh Pembaru Tari Sunda. Kepala Pengabdian Masyarakat.S dilahirkan di Bandung. China. Tari Anak-anak dan Permasalahannya. Literatur Tari. dan Tradisi Sebagai Tumpuan Kreativitas Seni. S. di STSI. Protokoler dan Penerbitan. ed. 25 Desember 1956. dan Ka Humas. Jurna Ilmiahl dan buku. Dadang Sulaeman (Mayang Binekas 1973-1978). Gender dan Seni Pertunjukan di Jawa Barat. Itali. Beruntung. Tari di Tatar Sunda.. Kariaan: Tari Anak-anak di Daerah Subang Jawa Barat. Aktivitasnya sebagai pengajar mata kuliah Seni Pertunjukan Indonesia. selain sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STSI Bandung.ST. dan Belanda. Kajian Gender. Seni dalam Dilema Industri. dan Organisasi Sosial Masyarakat Sunda hingga masa kini. ed. Australia. Buku-buku karyanya antara lain berjudul: Tata Rias Busana Tari Sunda. India. Program Studi Pengkajian Seni Rupa dan Seni Pertunjukan. . Jepang. pemain pada drama suara atau sebagai penabuh Degung. Kesibukan lainnya. Pengantar Seni Pertunjukan Indonesia. serta Organisasi Seni dan Budaya. Pimpinan Penerbitan Sunan Ambu Press. penulis pernah menjadi pelaku pada grup-grup seni tradisi yang dipimpin para tokoh seni terkenal. Sosiologi Seni. tetapi juga ke berbagai manca negara di antaranya Malaysia. Sek Hubungan Kelembagaan. ed.* 16 . Sebagai Kepala Humas Endang mempromosikan Lembaganya tidak saja di tingkat regional. (Gentra Madya (1973-1978). dan Manajemen Objek Daya Tarik Wisata Daerah. Jabatan yang pernah diemban antara lain. baik sebagai penari. ed.. Sejarah Tari. Gentra Madya.

Di berbagai daerah bermunculan proses reinterpretasi. dan tontonan atau apresiasi estetis. (2) sebagai ungka17 . penyebaran agama. yaitu (1) sebagai sarana upacara. maupun penyajian estetis. baik di perkotaan maupun di perdesaan. Kondisi ini bisa diamati dari kehadiran berbagai genre seni pertunjukan. ajang gensi. antara lain dengan munculnya berbagai seni pertunjukan yang didukung oleh para elite birokrat. ajang prestise. Pada dasarnya seni pertunjukan memang mempunyai fungsi primer dan sekunder. Pakar Pertunjukan dan Kajian Budaya STSI Bandung J awa Barat dikenal dengan berbagai seni pertunjukan dengan berbagai bentuk serta fungsi. Fungsi primer. bahwa seni pertunjukan memiliki tiga fungsi. selain untuk kepentingan ritual. dalam arti. atau media politik. Seiring dengan berjalannya waktu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Barat Endang Caturwati. berperan juga sebagai sarana pendidikan. serta berbagai pertunjukan yang tidak saja berkembang di kalangan rakyat. baik sebagai upacara ritual. Bentuk seni tradisi yang banyak difungsikan masyarakat. serta melahirkan berbagai genre seni pertunjukan yang terbukti mampu bertahan terhadap kuatnya arus perubahan dinamika sosial dan budaya masyarakat. hiburan. seleksi. dan eksperimentasi seni. akan tetapi juga di kalangan masyarakat menak serta pengusaha dan petani kaya. bahkan kini telah banyak yang menjadikan sebagai ajang ekonomi sebagai seni industri. hiburan. penerangan.

berarti nilai kualitatifnya tidaklah lenyap di dalam fungsinya3. pantun. ajang gengsi. terutama pada kesenian rakyat seperti sandiwara. interaksi. tetapi untuk kepentingan yang lain. Sebagai media komunikasi. atau fungsi sosial yang belum tentu abadi dari waktu ke waktu2. yang berkembang tidak saja di wilayah Priangan. antara lain sebagai pengikat kebersamaan. ajang bisnis dan mata pencaharian. dan Globalisasi Seni. media komunikasi. pada dasarnya setiap seni pertunjukan yang otentik. kemudian karya Nano dan garap tari dan Karawitan Jaipongan karya Gugum Gumbira. dan (3) sebagai presentasi estetis1. Artinya ‘format sajian’ disesuaikan dengan fungsi dan kondisi. Seni pertunjukan yang berkembang di Jawa Barat. seni pertunjukan memiliki progresivitas dalam berkembangnya ragam dan format sajian untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan masyarakat pendukungnya. beluk. Anya Peter Royce. 1 2 3 4 R. Bambang Pudjasworo. Soedarsono. reog. “Dialektika Seni Pertunjukan Tradisi”. dengan berbagai medium. seleksi dan eksperimentasi budaya berbasis pada tradisi seni pertunjukan lokal. The Sociology of Art (Chicago and London: The University Of Chicago Press.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pan pribadi. Transformasi. Seminar Revitalisasi. yang bisa memenuhi sebuah fungsi sosial. longser. Mereka melahirkan ‘karya-kaya kreatif’ yang bersumber dari lokal 4 . Bahkan muncul berbagai pertunjukan yang merupakan langkahlangkah baru dalam konsep penciptaan. tapi menyebar ke wilayah Jawa Barat. 1985). Metode Penelitian Seni Pertunjukan (Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. 18 . The Antropology of Dance (Bloomington and London: Indiana University Press. kemudian gending-gending kreasi baru atau wanda anyar karya Mang Koko. 2001). wayang golek. Progresivitas seni pertunjukan sebagai media komunikasi dapat diamati dengan ‘pelebaran’ wilayah pertunjukan. 308. Adapun fungsi sekunder apabila seni pertunjukan bertujuan bukan untuk dinikmati. Dewan Kesenian Kabupaten Sleman Yogyakarta. pada kenyataannya banyak yang tumbuh sebagai ekspresi masyarakat. dan kemudian muncul para generasi penerus para koreografi muda dan komposer muda yang akhir-akhir ini semakin variatif coraknya. menunjukkan kecenderungan dalam melakukan reinterpretasi.M. 1980). Memang. 2004. 3. yang lebih komunikatif serta sarat dengan interaktif. 170. 57. atau multifungsi. Arnold Hauser. adalah tumbuh sebagai ekspresi masyarakat pendukungnya. calung.

Terlebih dengan zaman yang sarat dengan informasi. bahwa seni pertunjukan tradisional. Sebagaimana yang sering diungkapkan oleh para sesepuh Sunda. bahwa “urang kudu bisa ngigel. danau. Kondisi Masa Lalu Seni pertunjukan. dan karena itu sekaligus merupakan wilayah kegiatan yang bisa merasuk pada penggalian nilainilai manusia yang tidak akan pernah habis. dan merespon tarian zaman). yang lebih menuntut hal-hal yang komunikatif. seniman-seniman yang menyajikan karyanya. di tempat sampah. dan tempat-tempat lain sesuai dengan konsep dari sang seniman. ngigelkeun. hutan. Dalam persaingan budaya dan kepentingan masyarakat semakin beragam. Akan tetapi dalam proses globalisasi. di sawah. melainkan sebagai ekspresi diri dan sumber inspirasi gerakan spriritual 19 . sebagian dari sistem lama yang berlaku dalam masyarakat perlu mendapatkan penafsiran kembali untuk mendukung tumbuh dan berkembangnya budaya baru. tetapi juga sebagai tuntutan ekonomi. candi. menarikan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI berbagai kolaborasi. jeung ngigeulan zaman” (kita harus bisa menari. Akan tetapi juga kini banyak pertunjukan yang tampil di tepi sungai. atau negara lain yang disajikan tidak saja di gedung pertunjukan atau tempat pertunjukan seperti pendapa. yang lebih banyak menghabiskan dana daripada memperoleh dana. adalah bagian dari totalitas kehidupan. di Jawa Barat selama masa Orde Baru berkuasa hingga Orde Reformasi mengisyaratkan. amphyteater. tanpa memperhitungkan dana yang diperoleh. atau berupa helaran (arak-arakan). baik antara etnik. diperlukan suatu sintesa agar kelangsungan hidup seni pertunjukan etnik bisa tetap survive. di halaman. yang menjadi ciri manusia sebagai makhluk khusus. Berdasarkan dari hasil-hasil penelitian yang ada. yang harus memperhitungkan nilai uang. tanpa harus meninggalkan nilai-nilai etika dan estetika. merupakan sesuatu yang bukan hanya diartikan sebagai sekadar media hiburan atau alat komunikasi. serta hanya dalam waktu temporer (tidak berlaku ulang atau dipertunjukkan kembali di tempat yang sama). di terminal. Dalam hal ini dapat dibedakan. dalam rangka sesaat untuk ‘ekspresi diri’. serta seniman-seniman seni pertunjukan yang memikirkan seni bukan hanya sekadar ekspresi.

dalam Biddragen. maupun arak-arakan atau helaran. Kendatipun di dalamnya bermuatan pesan-pesan agama. lagu. antara lain sebagai berikut: 1) Sandiwara Sunda (Priangan) Sandiwara Sunda merupakan pertunjukan yang berkembang di kalangan rakyat dengan ceritera yang diambil dari ceritera Wayang. gerak tari. bahkan pencak dan lawak. tetap saja dikemas melalui simbol-simbol. dengan tidak menggurui. baik dialog ataupun syair lagu. pendidikan. “ Cultural Policy an Performing Arts in Soteasst Asia”. Lampu Aladin). Wilayah Priangan Di wilayah Priangan dikenal dengan berbagai pertunjukan tradisional yang di dalamnya bermuatan media dialog. dan estetika. 1. 151. gerak tari. serta suasana eros dan chaos. drama. memang unik dan spesifik. informasi pemerintah berupa penanggulangan kesehatan dan pertanian. Masing-masing bentuk sajiannya memiliki kekhasan yang sangat unik. 20 . maupun stuktur pertunjukannya. Seni pertunjukan tersebut. Adanya muatan pesan-pesan pendidikan sangat dominan dengan ditampilkannya tokoh. dan Ceritera Desik (atau kisah-kisah dari ceritera seribu satu malam seperti Sang Kuntala. Jawa Barat dikenal dengan berbagai seni pertunjukan yang menjadi prestise para pejabat dan dapat berkembang di masyarakat. properti. tetapi sifatnya menghibur. Roman (kehidupan sehari-hari). Babad. spriritual. bahasa. Masingmasing wilayah memiliki ciri khas. karawitan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF sebuah komunitas lokal5. antagonis dan tritagonis. nilai-nilai moral. cengkok lagu. serta busana yang dikenakan. baik berupa seni tari. Seni tradisi yang berkembang di Jawa Barat. wilayah Cirebon dan Indramayu. 5 Jeninfer Linsay . gaya. dan wilayah Pantai Utara atau dikenal dengan sebutan Pantura. baik verbal maupun non verbal secara etis dan estetis. yaitu wilayah Priangan. Bentuk seni pertunjukan tersebut dapat dibedakan menjadi tiga wilayah. yang bisa dilihat dari bentuk. atau komentar sosial. baik busana. tetap masih mempertahankan nilai-nilai edukatif. Pertunjukan yang memiliki unsur bertutur. etika. protagonis. Pada tahun 1960-an. iringan musik. sesuai dengan tradisi daerah para pendukungnya.

Pertunjukan wayang golek sangat menarik. dan Upit Sarimanah yang bisa mengubah struktur pertunjukan menjadi dominan penampilan sinden dengan saweran uang. sebagai Kliningan Bajidoran yang dominan menampilkan sinden yang juga menyanyi dan menari. tapi 10 hingga 20 orang sinden. Sebagai contoh. atau sejarah Pajajaran. ketika menampilkan ceritera Wayang. yang kini masih berkembang di daerah Subang dan Karawang sebagai seni hiburan yang menjadi andalah daerahnya. Begitu pula pada cerita Babad sebagaimana tokoh dalam ceritera sejarah Sangkuriang. adalah setting layar dan kostum disesuaikan dengan tema. tidak hanya satu atau dua orang sinden. Perkembangan selanjutnya. dan lain-lainnya. dengan vokal yang dibawakan oleh sinden. Wayang Golek memiliki lakonlakon galur dan carangan yang bersumber dari ceritera besar Ramayana dan Mahabrata. Pertunjukan Wayang bahkan menjadi pertunjukan prestise di daerah-daerah tertentu dengan dalang-dalang favorit setempat. Media komunikasi antara pemain dengan penonton sangat dominan. dialog. sebagaimana tokoh dan adegan dalam pewayangan. karena pada tahun 1960-an pernah terjadi adanya peran dalang yang tergeser oleh sinden yang kemudian dikenal sebagai sinden legendaris Titim Fatimah.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Yang paling menarik. Grup yang paling dikenal pada tahun 1960-an di kota Bandung. antara lain. 2) Wayang Golek (Jawa Barat) Wayang Golek merupakan pertunjukan teater boneka yang sangat popular di Jawa Barat. antara lain untuk daerah Cilangkap Sumedang Dalang Asep 21 . terutama dengan munculnya tokoh ‘si Cepot’ sebagai ikon dominan pada setiap pertunjukannya dengan dialog-dialog dan gerak yang lucu. kemudian beralih menjadi pertunjukan yang mandiri tanpa dalang dan wayang. serta gerak. Adapun Wayang Golek mulai bangkit kembali setelah kehadiran Dalang Asep Sunandar Sunarya sekitar tahun 1980-an dengan kemasan baru. kostum. dari dialog-dialog para pemain dan lagu-lagu yang dilantukan penyayi. Bahasa yang digunakan dalah bahasa Sunda dan diringi gamelan Sunda berlaras Pelog dan Salendro. Sri Murni dan Sri Mukti.

Bima Mobos. Wayang Golek sering dijadikan sebagai media kampanye yang pesan-pesannya dititipkan melalui dialog tokoh Wayang. Degung sering ditanggap pada acaraacara resmi atau hajatan-hajatan pernikahan dan sunatan. dinamakan Lagu-lagu Ageng. Kinteul Buek. menabung. cinta tanah air. akan tetapi yang berkembang di masyarakat terutama pada perayaan-perayan HUT Proklamasi Indonesia. Beber Layar. Nyai Dasimah. 3) Gending Karesmen (Priangan) Gending Karesmen (Drama Suara) merupakan drama yang dialognya berupa syair yang dilagukan. Si Kabayan. Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya dari kisah sejarah atau legenda. yang terkadang diselingi dengan gerak tari. seperti Pajajaran. kendatipun awalnya diiringi dengan gamelan pelog-salendro yang lengkap. Kulu-kulu yang bias mengiringi berbagai lagu dengan syair yang sarat dengan pesan-pesan atau informasi mengenai pendidikan. Pada musim pemilihan umum dan pencalonan Presiden. Ceritera yang dibawakan mengenai pesan moral dan sosial yang tentu saja bermuatan pendidikan. dan lain-lainnya. pernah berjaya di tahun 1970-an. Samagaha. berupa drama suara minimalis dengan diiringi kecapi. Lutung Kasarung. Manintin. 4) Degung (Priangan) Degung merupakan sajian karawitan (musik tradisi) dan vokal dengan diringi gamelan degung. yaitu Koko Koswara. Raja Kecit. Pahlawan Samudra. dengan sutradara seniman yang piawai dalam bidangnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Sunandar Sunarya. Ganda Mekar pimpinan Mang 22 . kendang dan gong. antara lain lakon Pangeran Jayakarta. Gending karesmen yang terkenal di Jawa Barat. Galatik Manggut. Grup-grup yang terkenal pada tahun 1970-an adalah Parahiayangan pimpinan E Tjarmedi. cinta ibu. dan lain-lain. dan lain-lainnya. Pada awalnya lagu-lagu Degung berupa instrumental yang sangat khas yang tabuhannya sangat unik. Perkembangan selajutnya degung berkembang menjadi lagu-lagu sawilet seperti Catrik. Gending Karesmen. daerah Buah Dua Sumedang Dalang Dede Amung. Gesan Ulun.

sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi. tanah lapang atau tempat-tempat yang berhalaman luas dengan penerangan oncor (obor) berkaki lima yang diletakkan di tengah arena pertunjukan. adalah gerak ‘uyeg’ pada Ketuk Tilu dengan sebutan khas ‘keplok cendol’ yang dibawakan oleh para penari perempuan yang disebut ronggeng.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Koko. seperti lagu Kalangkang. 23 . Damas (Daya Mahasiswa Sunda). Anjen. musisi Lou Harrison (USA) beserta para mahasiswanya. adalah Nano. Cinta Ketok Magic. serta grup-grup di tingkat daerah. selain menyajikan ceritera rakyat. Yang sangat menarik adalah. Kesenian ini sebagai perkembangan dari pertunjukan Doger dan Ketuk Tilu yang mulai tidak disukai oleh masyarakat yang muncul sebagai teater keliling dengan penyajian di arena terbuka. Yang tidak kalah penting. Mayang Binekas pipmpinan Dadang Sulaeman. Paraguna (Jepang). gerak dan syair lagu yang diiringgi gamelan salendro. Konsep melodramatik mendasari ceriteta-ceritera tersebut karena selalu diakhiri dengan happy ending. Dewi Permanik pimpinan Euis Komariah. S. masyarakat dari berbagai tempat bertemu di satu tempat untuk bersama-sama menyaksikan cerminan dari kehidupan mereka sendiri. Gentra Madya pimpinan Nano. Rachel Swindell (London-Inggris). Bahkan pada tahun 1980-an di luar Indonesia. kebun bambu. pengembangan Degung dilakukan oleh perguruan tinggi Seni dan beberapa musisi. unsur yang disukai oleh penonton adalah hadirnya bodoran atau lawakan serta para penari Ketuk Tilu Ci-keruhan dan Pencak Silat. Selain media komunikasi berupa dialog. Sebagai pertunjukan rakyat Longser memiliki fungsi sosial. Gerak tari yang sangat khas. antara lain Lingkung Seni Pusaka Sunda University of California (Santra Cruz-USA). terutama karena setiap pertunjukannya. 5) Longser (Bandung) Longser merupakan teater rakyat. Evergreen dan John Sidal (Kanada). Grup Ujang Suryana. membuat banyak lagu Degung dengan introduksi dan arasement tersendiri yang dapat menaikkan omset rekaman kasetnya. oleh Nining Meida dan Barman Syahyana (1984 dan 1986). S dengan grup Gentra Madyanya.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF adanya dialog interaktif dengan penonton. ialah satu jenis Tembang Sunda yang mempergu24 . Pangalengan. Soreang. Cililin. Contoh syair Lagu Kulu-Kulu Sadunya: Kulu-Kulu Sedunia Dewi Sinta Dewa-dewa Rama Kasasarmah di alas roban. Banjaran. serta daerah sekitarnya). sindiran yang termuat pada syair sinden pun merupakan pesan yang handal untuk media komunikasi. Selain dialog. Lagu yang sangat komunikatif pada masyarakat Jawa Barat. Alunalun. Ciamis) Beluk. adalah lagu Kulu-kulu Sadunya dan Es Lilin. geuning Mikacinta-mikacinta ka sasama Hiji dasar kabangsaan Indonesia. Tegal Lega. 6) Beluk (Cianjur. berupa pesan spriritual. Bogor. Cikawao. karena syairnya sangat fleksibel dapat diisi dengan berbagai muatan pesan dan informasi. maupun sosial. sebagai berikut. Dalam hal ini untuk lebih menghidupkan suasana penonton diajak terlibat pada adegan-adegan tertentu. Cicadas dan wilayah kota Bandung). Bandung. Sedangkan Longser Ateng Japar menguasai daerah Bandung Selatan. Bang Tilil menguasai pertunjukan di daerah kota Bandung ( Stasiun. ‘Pancasila’ Jaya) Lagu Senggot: Lagu Es Lilin Es lilin mah ceuceu kalapa muda Dibantunmah ceceu ke Kota Bandung Jangan lupa ceceu dan anak muda Narkoba sangat merusak penerus bangsa Longser yang paling dikenal pada zamannya tahun 1960-an adalah Longser Bang Tilil dan Longser Ateng Japar. ‘Pancasila’ Jaya (Dewi Sinta Dewa-dewa Rama Yang kesasar di hutan rimba Mencitai-mencintai kepada sesama Satu dasar kebangsaaan Indonesia.

dan biasa diselenggarakan pada waktu syukuran bayi berumur 40 hari. menjadikan para jejaka (pemuda) datang memburu. Perkembangan berikutnya dilakukan pula oleh para pemain Reog perempuan. Perkembangan berikutnya Beluk sering ditanggap pada acara-acara syukuran di perkawinan. Pada masa kini di Jawa Barat hanya tinggal beberapa kelompok grup yang masih hidup. Tampilan para jajaka sangat kocak dan terjadi dialog yang terkadang romantis. kemudian dinyanyikan oleh penyayi Beluk. dan segar. tinggi. antara lain menggunakan pupuh Asmarandana. melengking. tampilan para mojang (gadis) menumbuk padi dan para jajaka yang mencari cinta. Penyajian pertunjukan 25 . adalah properti ‘lesung dan alu’ diiringi kacapi. Adapun unsur pertunjukan yang mendukung. serta enak didengar. kendang dan gong. 8) Reog (Jawa Barat) Pertunjukan Reog. kocak. Hal ini supaya penonton ketawa dan kantuknya hilang. atau sebagai pertunjukan. Namun demikian semenjak populernya radio dan adanya TV. Setiap penyanyi berusaha melantunkan suaranya yang paling nyaring. mulai dari mulai ukuran besar hingga kecil. Dangdanggula. terutama dengan adanya festifal-festifal Reog bermunculan grupgrup yang berada di wilayah Jawa Barat. Irama dentuman lesung para mojang yang membentuk irama atraktif. dan Kinanti. sebab itulah yang menjadi ukuran terbaik. merupakan pertunjukan yang dimainkan oleh para laki-laki dengan membawa alat tepuk berupa dogdog yang dilitkan di bagian perutnya. Sinom. Antara pembaca naskah dan penyayi terkadang tidak sama misalnya “ Ada raja mengembara” dinyanyikan menjadi “ Ada raja tidak bercelana”. Lagu yang dibawakan. Sehubungan banyak para penyanyi Beluk yang tidak bisa membaca. 7) Gondang (Jawa Barat) Merupakan seni pertunjukan yang berkembang di masyarakat dengan tampilan ‘drama suara mini’.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI nakan nada-nada tinggi. Beluk dibawakan oleh 4 orang dan dibantu seorang juru ilo dan diselenggarakan pada malam hari. maka naskah dibacakan oleh juru ilo. populasi Beluk kian hilang. yang dibawakan oleh lima orang.

Bogor) Seni Pantun. Reog sering dijadikan sebagai media penerangan hal-hal yang penting oleh pemerintah. Bedanya cara membunyikannya tidak digoyang seperti angklung. Ceritera Pantun pun berkisar pada kisah-kisah Anggalarang. 9) Calung (Jawa Barat) Calung merupakan pertunjukan Sunda dengan menyajikan alat waditra (instrumen) bambu yang dijinjing oleh lima orang pemain. 26 . Selain waditra Calung ada penambahan beberapa alat musik. adalah seni yang berusia cukup tua. Unsur vokal menjadi sangat dominan. Perkembangan masa kini pertunjukan Angklung lebih dominan lagu-lagu vokalnya daripada dialognya. sehingga bermunculan vokalis Calung terkenal seperti Adang Cengos dan Hendarsonya. khususnya isu-isu penting di selingi dengan bodoran segar. pengisi ritme. Mundinglayadikusumah. dan Siliwangi. piul (biola) bahkan organ dan gitar. Perkembangan selanjutnya pada penyajiannya. tabuh. vocal dan gerak tari. yang ditulis pada 1518 M. Perkembangan Calung di Jawa Barat begitu pesat dengan adanya festival-festival Calung. antara lain ceritera Lutung Kasarung.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Reog kolaborasi antara dialog. disebutkan babwa Pantun telah digunakan sejak zaman Langgalarang. Banyacatra. masing-masing mempunyai peran sebagai melodi. Perkembangan berkutnya lakon yang disajikan ditambah dengan naskah yang dianggap bernilai tinggi. dan Siliwangi. Banyacatra. maupun perguruan tinggi. terutama Universitas Padjadjaran (UNPAD) merupakan lembaga yang mensosialisasikan pertunjukan Calung sebagai seni pertunjukan yang sarat hiburan dan informasi (penyuluhan). Sumur Bandung. akan tetapi dipukul dengan tabuh stik bambu. 10) Pantun (Ciamis. Dalam naskah Siksa Kandang Karesian. Pertunjukan Calung diilhami dari pertunjukan Reog yang memadukan unsur-unsur dialog. dan goong. Bandung. Ciung Wanara. gerak. baik di tingkat daerah. Lima orang pemain. sebagai prototipe angklung. kenong. (Darso). dengan nada pentatonis pelog atau salendro. dan lagu. kacapi. bas. seperti kosrek. Dialog yang dibahas seputar fenomena masyarakat.

yang pernah mengalami kejayaan pada masanya. nama raja. adalah merupakan pembauran kedua zaman tersebut. dengan iringan rebana. seperti Batara Kala. Lagu Karawangan. Kama Salah Murwakala. Salah Colek. sedangkan lagu-lagu. Ada dua bentuk seni Pantun yang biasa disajikan oleh masyarakat Sunda. antara lain adalah Ronggeng Gunung (Ciamis). Aisyah. Blantek merupakan perpaduan seni daerah Bogor. antara lain lagu Al Fiah. Tompel. (tolak bala). para buyut. perkembangan selanjutnya banyak yang menggunakan laras salendro. Sebagai seni yang hidup di tatar Sunda sejak zaman Hindu sampai Islam dan menjadi anutan masyarakat. Dalam sajian hiburan ceritera yang diambil dari salah satu ceritera pantun yang dikuasai Juru pantun atau atas permintaan penanggap. tertangkap juga ucapan ka dewata. dan Sang Bango. Ubrug. Ceritera-ceritera yang dipertunjukkan antara lain: Bodoh pinter. sebagai sajian hiburan dan acara ritual (ruwatan). ka pohaci. Selain jenis pertunjukan-pertunjukan yang telah diuraikan. baik dialog dan lagu serta gerakan tari yang atraktif. Kedung. Kicir-Kicir. antara lain Oncom Lele. Beluk. dan Jali-jali. Karawang dan Jakarta.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Ratu Bungsu Kamajaya. antara lain Paleredan. Koyok. 11) Blantek (Parung Bogor) Blantek adalah sebutan dari pertunjukan Sandiwara Rakyat Parung Bogor. sedangkan untuk acara ruwatan. Lagu-lagu yang dibawakannya adalah yang bernafaskan Islam. dan Topeng Cisalak. Rendeu. dan lain-lainnya. Ketiban Duren. antara lain Bangket. Dogdog Lojor. dalam arti menggunakan media komunikasi verbal. Si Jampang Jago Betawi. dan Lagu Bogor. Seni pantun disajikan oleh juru Pantun berupa ceritera tutur dengan diiringi oleh kacapi berlaras pelog. Selain terdapat kata isthigfar (islam). Pertunjukan-petunjukan tersebut pada 27 . para karuhun. Acung. di atas terdapat berbagai pertunjukan yang komunikatif. Surak Ibra. Para pelawak Topeng Blantek di Bogor yang dikenal masyarakat. tak heran jiga ungkapan dan ajaran (petuah) ki juru Pantun. Reak. tahyan dan kecrek. Balo-balo. dan Maulana. Angklung Bungko. dan lain-lain. ceritera yang ditampilkan sama dengan pertunjukan Wayang.

jadi nama pertunjukan diambil dari kedua alat tersebut. dan lain-lain. Padang Wulan. adalah buyung. hihid (sekarang diganti oleh karet bahan sandal). naeken suhunan. Di Wilayah Cirebon dan Indramayu 1) Tarling Tarling merupakan pertunjukan yang menggunakan paduan gitar. makna mistis karena memiliki hubungan dengan perolehan magi simpatetis. yang tercermin lewat lagu-lagu yang disajikannya dengan monoton dan sederhana.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF masa kini masih berkembang. serta penyayi sinden (perempuan) atau penyayi laki-laki. Saida Saini. Sintren pada awalnya digunakan sebagai media dalam upacara tertentu. adalah grup Tarling Nada Budaya dan Putra Sangkala. 28 . bersih desa. ngunjung. Grup Tarling yang paling terkenal di Cirebon pada tahun 1966. yang pemainnya (perempuan) dimasukkan pada kurungan ayam dengan mata ditutup kain. Beberapa makna yang mampu memberikan kekuatan. Baridin. Kembang Tarate. juga lagu Banyu Mata. seperti Saida-Saeni. tapi secara frekuensi pertunjukannya semakin jarang tampil karena jarang ditanggap atau difungsikan oleh masyarakat pendukungnya. Lahir Batin. terdapat pada kesenian Sintren antara lain. lodong bambu. ialah dengan tampilnya pawing. Mbrebes mili. serta mengenakan kacamata hitam. seperti ruwatan. dengan lagu Turun Sintren. Simbar Pati. kecrek (dari sapu lidi). Musik pengiring Sintren. Makna teatrikal Sintren yang digambarkan. sintren dan kurungan. kendang dan gong. 2) Sintren Sintren merupakan pertunjukan yang unik. dan lain-lain. nebus weteng. yang membuat adegan simultan. 2. Pegat Balen. Pasrah Mati Njaluk Urip. seperti Marta Bakrun. Perkembangan Tarling pada tahun 1960-an cukup pesat dengan lagu andalan Kiser (lakon yang dinyanyikan). dengan adanya properti kurungan ayam. Oleh karena instrumen yang mendominasi gitar dan suling. dengan ciptaan lakon drama. suling.

dengan dialog-dialog yang lucu tapi bermuatan sosial. Panji. gerakannya lebih indah dibanding daerah lain di Cirebon. Arja pernah mendapat surat pengangkatan sebagai penari Kraton Cirebon. Kini yang masih melanjutkan Topeng Cirebon gaya Slangit tinggal Keni. Nunung). Bermula dari Pak Krian seorang dalang Topeng. Perbedaannya yang menonjol hanya pada bahasa yang digunakan. Sujana. Penggunaan lima buah kedok (berwarna merah. putih). Topeng Palimanan. 4) Wayang Kulit Cirebon dan Indramayu Wayang Kulit Cirebon dan Indramayu pada dasarnya tidak banyak bedanya dengan Wayang Kulit Jawa. diturunkan kepada anaknya Arja (1879-1954). lebih tepat apabila disebut grup keluarga. seperti Sutia. Suparta. menggambarkan sifat manusia (lima nafsu). Pertunjukan Topeng Cirebon sarat dengan pendidikan dan budi pekerti. Rumiang. Topeng Losari.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI yang dilantunkan oleh Sinden. dimulai dengan menampilkan tari Panji. Topeng Dermayon (Indramayu). Jingga Anom. dilanjutkan dengan Pamindo. Pamindo. kuning. Rumiang. Para penarinya juga dapat menabuh waditra. (yang lainnya sudah almarhum) dan anakanak Keni (Yono. Wayang sering dipakai sebagai media dakwah Wali Sunan Kalijaga atas perintah Sunan Gunung Jati. yaitu Klana. Tumenggung. Pada Arjalah Topeng Slangit mulai dikenal. Dalam pertunjukannya. Tumenggung. Hanya saja di daerah Indramayu. selain lengkap koreografinya.tengah pertunjukan biasanya diselingi dengan bodoran si Pentul atau Tembem dengan dialog yang segar dan lucu. Di tengah. kemudian Klana. serta Inu Kertapani anak Sujana. gading. Sujaya. Salah satu fungsi pertunjukan Wayang di Indramayu 29 . berisi muatan pendidikan dan masalah sosial. dan semua anak-anaknya bisa menari yang kemudian sebagai penerus generasi. dan Keni. Suparti. Topeng terdapat beberapa gaya sesuai dengan nama daerah di antaranya. Ditengah-tengah pertunjukan sering ditampilkan bodoran/lawakan. 3) Topeng Cirebon Grup Penari Topeng dari desa Slangit Palimanan. jingga. dikabarkan sejarahnya. dengan tingkatan karakter.

Bedanya menggunakan bahasa Cirebon. dengan strutur pertunjukan. penutup dengan musik dan epilog pimpinan sandiwara. yang kemudian berkembang dengan adanya tarian hiburan. adalah sebagai sarana Ngaruat. Di Wilayah Pantai Utara (Pantura) 1)Kliningan Bajidoran (Jaipongan Pantura) Kliningan Bajidoran. yang selanjutnya dikenal dengan nama Kliningan 30 . Sandiwara Cirebon juga menyajikan kesenian yang lebih menonjolkan unsur dialog dengan bahasa Cirebon. Sebagaimana juga Sandiwara Sunda. Gema Nusantara. jika pada masa itu bermunculan grup-grup Sandiwara di setiap desa dan kecamatan. 5) Sandiwara Cirebon Sandiwara Cirebon di kalangan masyarakat Jawa Barat dikenak dengan sebutan ‘Masres’. Tandange Ki Bangus Rangin. adalah Grup Darma Saputra. serta banyak menggunakan spectacle-spectacle dan musik Dangdut Cerbon-Dermayon. Grup Sandiwara yang jadwal panggungnya penuh dan dikenal di masyarakat. 6) Sandiwara Indramayu Perkembangan Sandiwara di Indramayu tidak terlepas dari perkembangan Ketoprak dan Sandiwara Cirebon. dan Panca Tunggal. pertunjukan lakon. Sang Putra Darma. adalah sajian pertunjukan hiburan kalangenan dengan menampilkan sinden-penari dan sinden-penyanyi sebagai media pertunjukannya. tarian pembuka. Ki Gede Trusmi. 3. Adapun ceritera yang disajikan mengambil dari babad Cirebon. antara lain Nyi Mas Gandasari.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan Cirebon. yaitu membersihkan dari hal-hal yang dapat mencelakakan manusia. Pada tahun 1970-an Sandiwara Cirebon mengalami masa kejayaannya. Walangsungsang. Pertunjukan model ini merupakan perkembangan dari pertunjukan yang menyajikan unsur karawitan (musik tradisi) dengan menggunakan gamelan Pelog-Salendro. maka tidak heran. dan Pusaka Golok Cabang. sebagai berikut: musik pembuka (sebagai tatalu). adegan gimmick (surprise dengan trik panggung kembang api). Aneka Tunggal. Pertunjukannya dilakukan pada malam hari.

dll). sunatan. Topeng Banjet hingga sekarang masih dipertunjukan oleh masyarakat Karawang terutama di desa-desa sebagai sarana pelengkap upacara hajat Bumi. 31 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bajidoran. Namun demikian semenjak adanya musik Organ Tunggal dan Dangdut. populasi tersebut makin berkurang. juga lawakannya cenderung lugu. Banjet mempunyai sebaran yang cukup luas. Banjet identik dengan dengan Doger. dan para pedagang yang selalu hadir di manapun Bajidoran idolanya ditanggap. Banjet memiliki waktu pertunjukan yang hampir sama dengan tetaer lainnya (Longser. Di Subang tercatat pada tahun 1999 terdapat 158 grup. baik bagi seniman. penanggap.00 hingga pukul 05. 2)Topeng Banjet Karawang Topeng Banjet . bahkan. Selain tariannya yang erotis. ajang komunikasi. antara lain ke Bekasi. yaitu goyang pinggul dan bokong yang aduhai. Sebagaimana umumnya teater rakyat. Priangan. terutama dengan munculnya grup-grup Kliningan Bajidoran yang dipimpin oleh para perempuan. dan difungsikan sebagai tanggapan yang wajib disajikan pada hajatan masyarakat Subang. Pertunjukan ini sangat digemari oleh masyarakat. bahkan ajang ekonomi. dll. apa adanya. Sandiwara Sunda. sebagai ajang prestise. Ceritera yang dimainkanpun sangat akrab. Purwakarta. ajang interaksi. nyambut cai (menjemput air dari irigasi).00 dini hari. yang menunjuk pada sebuah tontonan yang menampilkan ronggeng dan diringi gamelan yang dinamis. adalah Tetater khas Karawang dengan cirri yang paling dominan pada gerak tari yang cenderung erotis. yang kemudian banyak dikenal dengan sebutan ‘Goyang Karawang ’ . Subang. Sandiwara Indramayu. dengan menggunakan iringan gamelan yang sederhana (mudah dibawa) serta bahasa Sunda yang dicampur dengan bahasa Indonesia dialog Betawi. Pertujukannya dimulai sekitar pukul 21. Bogor Utara. Matres. juga syukuran seperti hajat perkawinan. atau upacara perputaran waktu. merupakan persoalan masyarakat Karawang. yang mengutamakan adanya interaksi sinden-penari atau penyanyi dengan para pengibing. yaitu waktu musim turun nyambut (membajak sawah).

Faktor-faktor yang terjadi didasari pertimbangan. prestise. bang Enjin (Subang). dan sebagainya. status. antara lain Bang Seli (Tambun). 32 . Wayang Golek masih difungsikan di masyarakat. sementara yang lain mengalami perubahan bentuk. Tidak dapat dimungkiri. yakni Kelompok Ijem dan Askin) Kondisi Masa Sekarang Pada era komunikasi yang serba canggih. Bahkan banyak yang hilang seiring dengan bergulirnya zaman. masih banyak seni pertunjukan lokal yang hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat yang menyebut dirinya sebagai masyarakat modern. Sebagian di antaranya ada yang berubah fungsinya. dalam era globalisasi. Walaupun kemudian terjadi pasang-surut. bahkan dijadikan ajang prestise. atau bahkan orientasi nilai budaya. Bang Nasmi Pagaden Subang.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Kelompok Banjet sebagaimana juga pertunjukan Longser. Topeng Banjet Sapar menjadi Topeng Banjet Alisyaban (sekarang menjadi dua. Dasim menjadi Topeng Banjet Reman. Bang Kacrit (Bekasi) serta Bang Ali Syaban dan Bang Awing (Karawang). serta Dede Amung. di antaranya: selera. terutama juga tarif yang tinggi atau terlalu mahal. kendatipun secara frekuensi pertunjukannya tidak sebanyak pada tahun 1960an dan tahun 1990-an pada masa Dalang Asep Sunandar Sunarya. Kondisi diakibatkan berbagai faktor. Topeng Banjet Tinggal menjadi Topeng Banjet Baskom. antara lain Kelompok Topeng Banjet Asmu atau Pendul (sekarang Pendul Putra). Namun demikian beberapa seni pertunjukan yang hingga kini masih berkembang dan difungsikan oleh masyarakat pendukungnya. dari daerah-ke daerah. Ade Kosasih (alm). Dalam hal ini. Bang Jiun dan Mak Kinang (Cijantung). masyarakat Jawa Barat dihadapkan pada banyak pilihan. Sejalan dengan perkembangan zaman Kelompok yang bertahan dan cukup popular. Tokoh Banjet. dalam perjalanan sejarahnya (sebelum tahun 1960-an) aktif mengalami tradisi ngamen. Mang Dalih (Cimanggis Bogor). dalam menentukan pilihan. adalah. seni pertunjukan tradisional di Jawa Barat banyak mengalami perubahan. sebagai berikut: 1) Wayang Golek.

dan lembaga-lembaga tertentu yang masih mampu menanggap dalang-dalang kahot. Ceritera yang ditampilkan naskah karya Saini KM. Argo.didirikan tahun 1975 dengan koordinator Hidayat Suryalaga.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Untuk para dalang-dalang kahot. Pada masa kini masyarakat perkotaan dan perdesaan sebagaian besar berpikir praktis dan ekonomis. seperti Asep Sunandar Sunarya. Hanya orang-orang yang berduit serta beberapa kelompok organisasi parpol (sebagai ajang kampanye). Longser Antar Pulau yang para pemainnya para alumni STSI Bandung. dan Dede Amung (untuk dalang Asep Sunandar Sunarya berkisar Rp 50 juta rupiah. Ki Daus dll. Asep Koswara Dede Amung. dan Dede Amung berkisar Rp 40 juta rupiah). Dadan Sunandar Sunarya (putra Asep Sunandar Sunarya). Stuktur pertunjukan sebagaimana pertunjukan Teater berbahasa Sunda lainnya. dll. Longserlongser yang berkembang pada masa kini adalah. Wahyu Wibisana. Rina. pada masa kini mulai kem33 . Yosep Iskandar yang diterjemahkan oleh Eti RS ke dalam bahasa Sunda. lebih memilih untuk menambah membeli mobil atau ibadah Haji. Wayang Golek dengan dalang-dalang muda ini masih bertahan digunakan untuk masyarakat-masyarakat tertentu. serta Longser Sasagon campuran Alumni STSI Bandung yang melahirkan artis-artis yang sering manggung di TV seperti Sule. daripada Rp 50 juta hanya untuk sebuah pertunjukan Wayang Golek. antara lain adalah. di daerah Bandung selatan pimpinan putra Ateng Japar. serta Deden Sunandar Kosasih (putra Ade Kosasih Sunandar Sunarya) yang tarifnya berkisar Rp 20 juta (dalam kota). 3)Teater Sunda Kiwari (Bandung) Kelompok Teater yang menggunakan bahasa Sunda. Akan tetapi dengan munculnya para dalang muda seperti Hedi Riskonda. 4) Calung dan Reog Adapun seni Calung dan Reog. 2) Longser (Bandung) Adapun Longser yang masih bertahan. Wawan Dede Amung Sutarsa.

15 juta. Pada acara kampanye parpol. Glamor berdomisili di Kota Bandung dengan pimpinan Atang Warsita. serta gerak dan mimik ekspresi muka yang lucu dari para pemainnya membuat para penonton terhibur. Tampilannya sungguh memukau karena dialognya yang kocak. merupakan kelompok seni pertunjukan yang bergerak di bidang seni komedi. 34 . mengelu-ngelu sebagai duplikasi kesenian ‘Beluk’ yang hampir punah (karena salah satu vokalisnya (mang Ukok) yang telah almarhum). Jawa. Penyajiannya diringi kecapi elektrik. dengan memasang tarip lokal berkisar Rp 10 juta. kendang dan gong. dengan menitikberatkan pada garap vokal tradisi Sunda dan dilengkapi dengan dengan garap vokal kekinian. gerak. dan humor. salendro dan pelog dengan pemain enam orang. kendang dan gong. bertangga nada diatonis. Minang. asal kata dari. Selain seni-seni tradisi. pengembangan dari seni tradisi yang sifatnya menghibur.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF bali digalakkan dengan cara diselenggarakannya ajang festival antar daerah se Jawa Barat yang diikuti oleh Grup Reog laki-laki dan Grup Reog Perempuan Calung Remaja. Dangdut. Keunikan grup ini adalah pada vokal yang dijanyikan oleh Tarjo yang bernada tinggi. serta geraknya tarinya yang membuat geli serta dialog plesetan yang membuat suasana segar. dll. diiringi tampilan lagu-lagu daerah Sunda. dan pemusik empat orang. Batak. di Jalan Buah Batu Bandung. di Komplek Panyileukan Bandung. Grup Reog Gembol Perempuan dari Kota Bandung yang mendapat juara. bermunculan pula seni-seni baru. Glamor sering diminta untuk manggung keliling daerah dengan tarif lokal berkisar Rp 10 . Grup Jenaka Sunda dimainkan oleh lima orang pemain serta 3 orang pemain musik kacapi. 6) Jenaka Sunda Grup Jenaka Sunda ‘Kanca Panglima’. Keroncong. antara lain: 5) Glamor Glamor. biola. lagu. sering mendapat tawaran manggung pada acara-acara pesta rakyat. Grup Jenaka Sunda Panglima beralamat di Bandung pimpinan Lili Suparli. yang dikolaborasikan dengan lagu pop Indonesia dan Barat.

Namin Grup. selain industrinya terdepan dibandingkan dengan negaranegara lain.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Adapun di wilayah Pantura hingga saat ini seni pertunjukan yang masih eksis antara lain: 1) Kliningan Bajidoran atau Jaipongan Pantura Pertunjukan model ini di daerah Subang dan Karawang masih menjadi primadona. Linda Grup. Cineur Grup. Ati Grup. negara yang masih menjujung tinggi budayanya antara lain adalah China. serta lembaga-lembaga seni dan budaya sebagai apresiasi Seni masyarakat. adalah makanan tradisional khas China. kini secara populasi lebih banyak grup yang dipimpin oleh perempuan yang banyak manggung daripada yang dipimpi laki-laki. Ipah Gebot. baik berupa seni pertunjukan Opera. Selain Jepang. dapat diacungi jempol. Cabe Rawit. antara lain Kliningan Bajidoran di daerah Subang. China dikenal memiliki berbagai Gedung Seni Pertunjukan yang representatif yang ditangani secara profesional dengan melibatkan 200 orang seniman. seni sastra serta seni lukisnya pun maju. Untuk daerah Karawang Suwanda Grup. Bahkan dengan munculnya grup-grup yang dipimpin oleh perempuan. Malaysia. dan Euis Dongkrak. 2) Topeng Banjet Topeng Banjet yang masih bertahan pada masa kini. Dan yang paling dikenal dunia. seni pertunjukan dan bangunan-bangunan bersejarah. Begitu pula nilai-nilai etika yang masih sangat dijunjung tinggi. Selain dikenal dengan peninggalan budaya. Cicih Cangkurileung. dan Euis Oray. China pun dikenal dengan ramu-ramuan pengobatan tradisional. di beberapa negara maju seperti Jepang. itupun hanya ditanggap pada hajatanhajatan perkawinan di kampung-kampung. Titin Dongkrak. Selain Kabuki. Grup Giler Kameumeut. adalah Kelompok Ijem dan Askin. memiliki gedung Seni Pertunjukan yang modern lengkap 35 . ternyata penghargaan masyarakat terhadap seni pertunjukan tradisionalnya (teater tradisional) Kabuki. juga seni Pertunjukan Akrobatik dengan kolaborasi teknologi canggih. Budaya Lokal dan Tantangan Masa Depan Barangkali bisa dijadikan referensi. serta dapat di temui di belahan dunia manapun.

serta pertunjukan Angklung. terutama Jawa Barat agaknya justru menjauhi seni tradisi. serta mensosialisasikan dengan dana yang murah . Inggris. Demikian pula dengan Jerman. tari Piring. seperti tari Kuda Lumping. lomba-lomba balap mobil. bahwa penyajian seni pertunjukan tersebut. Bahkan di Malyasia. Pertunjukan pun disajikan secara periodik. serta radio-radio yang menyiarkan musik tradisional (di antaranya juga Keroncong Indonesia). musik. artistik. dan cenderung mengedepankan teknologi dan ekonomi kemasan yang baru (yang sebelumnya tidak ada). hendaknya ‘bersifat simbiotis’. baik pada festival-festival. dengan seniman tari. sekitar 250 orang. dll). Bukan hanya bersifat kesementaraan dengan hanya berpedoman ‘SPJ’. yang dikunjungi masyarakat pewisata baik negara asal. ternyata masyarakatnya sangat menghargai musik rakyat. tari Rantak Minang. sastra. bahwa tantangan masa depan seni pertunjukan tradisional dapat dipilah menjadi dua. dalam arena balap sepeda. maupun mancanegara. dan Perancis.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dengan panggung sistem hidrolik (lighting. sepeda. serta (2) Motivasi berbagai pihak terkait untuk memberdayakannya (memfungsikan). Padahal kesenian yang paling lokal. Lambat-laun dunia mengakui. akan memiliki daya tarik yang universal. merupakan salah satu kendala untuk berkembangnya seni tradisi di Jawa Barat. Amerika Serikat sebagai negara adikuasa. Tidak adanya ‘ruang’ 6 publik yang dapat digunakan sebagai ajang kreativitas para seniman. pengembangan dan pembinaan seni perunjukan tradisional. karena di negara asalnya Indonesia jarang ditemui dalam event/event terbuka. jika benar-benar merupakan ekspresi artistik dan mengungkapkan kedalaman naluri manusia. dan seniman lainnya. 6 Ruang. Wisuda perguruan tinggi yang wajib diiringi gamelan. atau menghabiskan dana proyek daripada hangus. haruslah bersifat komprehensif dan berkesinambungan. dan produk kesenian rakyat lainnya. dll. selain digelar pertunjukan budaya Malaysia juga digelar pertunjukan Indonesia hampir di setiap antar Kota. akhirya dapat disimpulkan. 36 . Atas dasar uraian yang telah dipaparkan. Kebijakan pemerintah dalam menumbuhkembangkan seni pertunjukan tradisional sebagai kekuatan lokal. Masyarakat Indonesia. adalah milik negara Malaysia. selain mengedepankan teknologi juga tidak mengesampingkan seni pertunjukan milik negaranya. Begitu pula program-program konservasi. tidak berarti hanya sekadar ‘ tempat’. TV-TV Swasta dan Pemerintah. yaitu : (1) Sumber Daya Manusia (SDM seniman yang kreatif). tetapi juga aktivitas-aktivitas seni pertunjukan.

Kerjasama yang dimaksud. Sekolah-sekolah Pariwisata. Kurikulum yang sinergis. pihak swasta. UNPAD program studi Pariwisata dan Budaya) . dan hotel berbintang. secara teks dan konteks. Diadakannya berbagai Festival Seni Tradisi oleh lembaga-lembaga terkait. dan lembaga-lembaga terkait. Pembuatan film dokumenter sebagai arsip kekayaan daerah. 4. dan pembinaan budaya /kepentingan masyarakat (STSI. 9. 8. akan tetapi merupakan tanggungjawab kita semua. 5. Program studi Pariwisata. pengembangan. Difungsikan oleh masyarakat. kerajinan tradisional. serta adanya ‘Ruang bagi seniman dan karya seni pertunjukan lokal. supermaket. sesuai dengan kebutuhan di lapangan. khususnya dengan makin banyaknya mall. antara lain sebagai berikut. dan sebaliknya dunia yang berupa bola (globe) menuntut kepedulian lokal-lokal. yakni pemahamam (pengakuaan. tanpa sekat-sekat ruang komunikasi. Penulisan buku-buku serta penelitian seni tradisi yang didanai khusus oleh lembaga-lembaga terkait. juga pertunjukan tradisional. baik yang mewakili daerah khususnya. Adanya sinergi. 2.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Terlepas dari itu semua kini diperlukan bukan hanya melihat satu persatu. selain menyajikan makanan tradisional. Semua tersebut di atas dapat terwujud apabila ada kerjasama ‘teks dan konteks’.’ Semua lokal merupakan bagian dari global. serta pembinaan seni dan budaya. 37 . Kebijakan Pemerintah untuk menyusun Perda. Kita perlu memiliki kesadaran global. 6. interior tradisional. diwajibkan adanya ‘ruang’. 1. 3. Kurikulum Muatan Lokal (Seni) di sekolah-sekolah yang disosialisasikan secara menyeluruh. UPI-Jurusan Sendratasik UPI. khususnya program-program konservasi. atau pihak-pihak terkait dengan dipertunjukkannya pada acara-acara penting di berbagai event. atau ruang-ruang yang terpisah. serta masyarakat. kepercayaan) terhadap kesalinghubungan semua pihak yang terkait. 7. khususnya ‘materi terapan’ untuk kepentingan konservasi budaya serta kepentingan pengembangan. Kerjasama semua pihak antara pemerintah. Indonesia pada umumnya. STISI. dari lembaga terkait.

hana tunggak hana watang. untuk menghantarkan kembali masyarakat ke koridor sejarah masa lalu. bila tidak ada masa lalu tidak ada masa kini. 38 . Bandung: Sunan Ambu STSI Press 2007. dkk. Itu berarti. serta Ekspresi Budaya Lokal tidak hanya sekadar memberikan kebanggaan. Massachusetts: Havard University Press.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF terutama acara-acara penting. aya ma beuheula. Penutup Dengan demikian. Ada dahulu ada sekarang. tan hana tunggak tan hana watang. maupun nasional. Cabridge. setiap lembaga pemerintah atau swasta untuk mempertunjukkan seni tradisi minimal 1 tahun 2 kali pertunjukan. hana ma tunggulna aya tu catangna”. Pertunjukan Indonesia. 10. James R. baik di daerah regiaonal. ada masa lalu ada masa kini. bila ada tunggulnya tentu ada cabangnya (Saleh Danasasmita. Theatre in Southeast Asia. bahwa tradisi merupakan akar budaya serta kekuatan lokal. tidak ada dahulu tidak ada sekarang. tetapi juga kesetiaan untuk memelihara dan merekayasa nilai-nilai luhur dan tradisi besar bangsanya. tan hana nguni tan hana mangke. hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna. Endang Caturwati. Sebagaimana yang tersurat dalam “Amanat Galunggung” yang berbunyi: “Hana nguni hana mangke. aya nu ayeuna. Pelestarian seni tradisi sebagai warisan budaya bangsa yang bukan hanya merupakan obsesi. 1987: 130). bahkan sepanjang zaman. Sebagaimana julukan Indonesia yang dikenal di dunia sebagai bangsa yang sangat berbudaya.. berarti masyarakat Jawa Barat atau lembaga-lembaga terkait telah memahami arti dari pelestarian dan pengembangan budaya dengan makna yang sesungguhnya. tak ada pokok kayu tak akan ada batang. 1967. ada pokok kayu ada batang. bahwa kebudayaan nasional yang dibangun harus berfungsi sebagai instrumen yang mengakomodasi masa kini dan membuka pintu masa depan. Keyakinan historis. apabila semua itu telah terwujud. Daftar Pustaka Brandon. Dibuatnya undang-undang dan didanai khusus.

ed. 7 Januari.htm . Ensiklopedi Sunda: Alam. R.com/ballroomcountry/wallz. 2004. The Sociology of Art ( Chicago and London: The University Of Chicago Press. Bambang. 1985). Hauser. http. Transformasi.M. Manusia.centralhome. Lori Waltz. Seni dalam Tumpuan Tradisi. dan Globalisasi Seni. Arnold. 39 . 2008. “Dialektika Seni Pertunjukan Tradisi”. Dewan Kesenian Kabupaten Sleman Yogyakarta.1996-2004. Metode Penelitian Seni Pertunjukan . Soedarsono. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. 2000.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI _______________. Bandung: Sunan Ambu Press. Harian Pikiran Rakyat. 2009. 2001.www. Heikkila.copyright. Seminar Revitalisasi. dan Budaya Jakarta: Pustaka Jaya. Pudjasworo.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ALAMAT KELOMPOK SENI TRADISI JAWA BARAT No 1 Nama Grup Jenis Seni Alamat Seni Jenaka Sunda Hiburan Lagu.Desa Slangit bon Klangenan Cirebon Sandiwara Dhar. Mohamad Hedi Putra Golek Sunda Toha Pimpinan Lili Suparli 2 3 4 5 Atang Warsita Oyib Herman Efendi Keni Arja 6 Inu Kertapati Amud 7 8 Sanija 9 Umar Karsiyan Hedi Riskonda 10 40 . Lagu Jalan Buah Batu dan Humor Bandung Beluk Tembang & Ciapus Banjaran Tutur Bandung Longser Antar Teater Tradisi Jalan Buah Batu Pulau Bandung Topeng Aninin. Komplek Bumi Kanca Panglima dialog dan Panyileukan Blok humor FI No 11 RT 01 RW 05 Bandung Glamor Gerak .Topeng Cire.Desa Slangit Asmara bon Klangenan Cirebon Jati Suara Wayang Kulit Kalianyar Cirebon Arjawi-nangun Cirebon Langgeng Putra Topeng Cire.Sandiwara Dr Cangkring ma Samudra Cirebon Kec.Desa Slangit grum bon Klangenan Cirebon Topeng Panji Topeng Cire. Plered Cirebon Wayang Golek Wayang Jl.

Jl. lagu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 11 12 Prakpilinkung (Keprak. Ang-klung) Longser Pancawarna Hiburan Lagu. 13 Banjet Ijem No Nama Grup Seni 14 Calung Darso 15 16 17 Reog Gembol Asep Dede Amung Muda Wawan Dede Amung Muda Teater Tradisi Jenis Seni Musik. S. dialog. Suling. Kecapi. Moh Toha dialog dan humor Teater Tradisi Banjaran Bandung Karawang Alamat Bandung Ujung Berung Bandung Bandung Bandung Nano. Humor Reog Perempuan Wayang Golek Wayang Golek Areng Japar Putra Ijem Pimpinan Darso Euis Gembol Asep Koswara Wawan Dede Amung Sutarsa Dadan Sunandar Sunarya Deden Sunandar Kosasih 18 Dadan Asep Sunandar Muda Deden Ade Kosasih Muda Wayang Golek Wayang Golek Jelekong Bandung Jelekong Bandung 19 41 .

Jebres. Jln. 0813-29954762. Sejak tahun 2009 aktivitasnya lebih banyak mengajar di Program Pendidikan Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta (sejak 2009). Lulusan S3 Etnomusikologi University of Durham Inggris (1985) ini pernah menjadi Direktur Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta (1986–1988).id 42 . Surakarta 57126.Kar.ac. Chairman ASEAN bidang Culture and Information (COCI) pada tingkat nasional Indonesia (2003–2006) dan tingkat regional ASEAN (2005–2006). Pria kelahiran Jombang. S. 638974 / 0271-638974. E-mail : tanto47@isi-ska. Dr. Alamat Kantor : Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Alamat Rumah : Jln. Bimasakti III/1 Kaplingan RT 05 RW 20 Jebres Surakarta 57126. 22 Desember 1946 ini adalah Guru Besar Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta. Telepon/HP: 0271-664014 / 0813-88808037. Ki Hadjar Dewantara 19 Kentingan. Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta (1988–1997).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. Sri Hastanto. Direktur Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1998–2000). Direktur Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI (2000–2006). Telepon/Faks : 0271-647658.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Timur Sri Hastanto Pakar Etnomusikologi ISI Surakarta M akalah dengan judul seperti tertera di atas (judul pemberian panitia) itu ditulis dalam rangka tema yang lebih besar yaitu: “Sinergi Seni Tradisi dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik” Tema sejenis pernah melandasi kegiatan yang diadakan oleh almarhum Departemen Penerangan pada masa itu. dan berkali-kali dalam berbagai kesempatan saya melontarkan kritik bahwasanya “sinergi” itu hanya berjalan sepihak yaitu: Hanya seni tradisi yang terus-menerus dijadikan wahana penerangan. Saya sangat mengharapkan kali ini tidak seperti yang sudah-sudah. di sisi lain teknologi informasi dan komunikasi digunakan sebagai wahana penyelamat kehidupan seni tradisi yang notabene sebagai perangkat pendidikan publik. Saya percaya dengan demikian masing-masing akan memetik manfaatnya sehingga kegiatan itu akan dilaksanakan secara ikhlas. Pada saat itu. Satu sisi seni tradisi digunakan sebagai wahana penyampaian informasi untuk pendidikan publik. Substansi Informasi Kita sadar semua bahwa kini masyarakat rawan melakukan demon43 . tetapi tidak pernah kekuatan penerangan itu digunakan untuk menyelamatkan kehidupan seni tradisi.

dan kedua matra yang bermuatan informasi ringan. Masalah yang berkaitan dengan pilkada sampai dengan pemilihan presiden informasi pendidikan publiknya tidak cukup hanya dengan yang bersifat fisik atau verbal. yang pertama adah matra yang bermuatan konsep. Misalnya menanamkan slogan-slogan jurdil. Sifat dan Matra Informasi Sifat informasi akan sangat menentukan matranya. Secara sederhana saya membagi matra ini ke dalam dua golongan. maka semua seni adalah komunikatif. Tetapi sering gerakan unjuk rasa ini lebih dipicu oleh emosi dibandingkan oleh pikiran kritis. Tetapi dalam konteks tema besar tertera di atas seni tradisi komunikatif ini tentu diartikan khusus. fisik. atau verbal. yaitu seni tradisi yang dapat secara verbal menyampaikan informasi dengan substansi yang berkaitan dengan pen44 . Hal ini pemerintah harus benar-benar berpihak kepada rakyat dan keberpihakannya itu harus diinformasikan kepada rakyat dan sampai ke alamat yang dituju. Permasalahan ini juga diperlukan informasi untuk pendidikan publik yang bersifat konseptual. Kita sadar pula gejolak masyarakat yang kini mengendap tetapi dapat meletus sewaktu-waktu berhubungan dengan lumpur Lapindo. Seni Tradisi Komunikatif Sebenarnya semua seni bila senimannya cukup matang dan penikmatnya cukup mempunyai bekal. di sana ada berbagai tingkatan Pilkada yang juga sering berujung pada gejolak masa. Juga masalah-masalh yang berhubungan dengan terorisme dan lain sebagainya. Hal ini perlu pendidikan publik. Mungkin kesenian tradisi dapat pula ambil bagian dalam pendidikan publik sehubungan dengan hal ini.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF strasi yang menurut perkiraan mereka sebagai wujud dari warga negara yang kritis. misalnya penjelasan tentang arti dan dampak “legawa” dan sebaliknya penjelasan tentang tidak legawa dan dampaknya. Ini juga diperlukan pendidikan publik. atau pesan mengihindari serangan fajar dan lain sebagainya. atau penjelasan tentang caranya menyontreng. Substansi itu masih banyak lagi. Kita juga sadar bahwa ditengah-tengah terengah-engahnya rakyat mencari nafkah untuk hidup. Kedua jenis matra tersebut dapat dibawakan oleh seni tradisi secara sabtun dan tidak vulgar tergantung seniman serta penikmatnya.

Selingan itu masih menggunakan metrum yang sama seperti induk ceritanya: tontonen punggawa desa terampil ngopeni warga nggarap KTP gak tambah redana kabeh wis siap rampung sedina Lihatlah itu pamong desa terampil melayani warga Mengerjakan KTP tanpa tambah biaya Semua siap selesai dalam sehari Mendengar lantunan pujian terhadap punggawa desa itu ratusan penonton yang berkerumun di dekat panggung bergeredeng. trung . lalu dilanjutkan dengan masih tanpa dilagukan.. ”Aku nelayan je mbah” (Aku seorang nelayan 45 . “Lho piye kok ngapusi” (Lho bagaimana kok bohong). kedua Wayang Kulit. dan tiba-tiba seorang penonton berteriak: “ngapusi kuwi mbah” (bohong itu mbah).. ketiga Ludruk dan keempat Ngremo Kentrung Setelah hampir 1 jam nyerocos menceritakan bagaimana kesaktian Patih Batik Madrim (ceritera Anglingdarmo) dengan diiringi kendang dan terbang mbah dalang kentrung yang umurnya merayap ke satu abad itu membuat selingan dengan masih diiringi kendang dan rebana trung . mangka wis mbayar lho mbah” (sudah sebulan KTP-ku belum jadi. dan banyak pula yang sudah tidak bekegiatan alias mati. Di Jawa Timur seni tradisi semacam itu sangat banyak tetapi ada yang bersifat sangat lokal sepertimisalnya Remo di Madura. “Kowe ki bakul apa buruh” (Kamu itu pedagang atau buruh) tanya dalang kentrung..LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI didikan publik. “Wis sesasi KTP-ku ra dadi. padahal sudah bayar mbah) “O” kata dalang kentrung. Untuk itu dalam rangka ini saya hanya akan mengutarakan empat jenis kesenian yang teba jangkauan penikmatnya cukup luas: Pertama Kentrung.. dalang kentrung balik bertanya dengan bahasa dialog biasa tidak dilagukan walaupun masih dibingkai dengan iringan kendang dan rebana.trung.

Padahal kentrung mempunyai muatan yang sangat positif bagi bangsa ini. artinya uang KTP itu telah ludes di meja judi. Langsung dalang kentrung tertawa terkekeh. yang hidup di masyarakat. Walaupun demikian karena jam terbang mbah dalang kentrung menghadapi publik telah sangat tinggi. muatan sastra. Dalam berceritera dalang kentrung sering melakukan selingan diantara babak satu dengan lainnya. Dialog ini terjadi spontan dan tidak dirancang. Itulah hebatnya kentrung. Seni kentrung adalah seni tutur yang dilagukan dibingkai dengan iringan bermatra metrik oleh kendang dan rebada. dongeng. lalu ujarnya (kini menggunakan lagu mengikuti irama kendang dan rebana: Lha dhuwitmu mambu amis Lha wong ambumu iya amis – wong nelayan – dhuwitmu digondhol kucing KTP-mu ya digondhol kucing (Uangmu berbau amis Karena kamu juga amis – maklum nelayan – Uangmu digondol kucing KTP-mu juga digondol kucing) Spontan penonton tepuk tangan dan bersorak sebab dalang kentrung dengan sigap menanggapi respon penonton tadi sambil menyentil kelakuan punggawa desa yang senang berjudi. bahkan sering dalang kentrung membawakan current afair atau sekadar banyolan untuk meredakan ketegangan dan membuat refreshing perhatian penonton. Ia juga dapat berfungsi sebagai wahana kontrol sosial 46 . Ia dapat berfungsi sebagai agen transfer nilai-nilai.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF mbah). sampai dengan Runtuhnya Majapahit. juga muatan kritik sosial. karena substansi yang dilantunkan adalah berbagai ceritera rakyat dan legenda yang sarat dengan nilai kehidupan manusia. Selingan itu dapat berupa apa saja. atau hal-hal yang bersifat verbal lainnya. Dengan keluwesannya itu kentrung sangat efektif untuk menyampaikan informasi ringan. Ceritera yang dibawakan adalah berbagai legenda. Kata “kucing” itu salah satu nama kartu cina yang dipakai berjudi mereka. Kentrung dapat berceritera mulai dengan jenis Suminten Edan. maka dengan lancarnya ia menyusun teks spontan dan mengandung banyak muatan. Seni Kentrung kini dalam keadaan sekarat dalang kentrung hanya tinggal tidak lebih dari jari sebelah tangan kita.

Jadi jika selera masyarakatnya rendah maka sajian wayang kulitnya juga menjadi dangkal. Para petugas dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten dan Kota juga telah berusaha mementaskan kentrung tetapi sekali lagi sepi penonton. seperti yang telah dicontohkan di atas. Sekali lagi hal ini dilandasi dengan semangat ‘Sinergi Seni Tradisi dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik” secara timbal balik jangan hanya berjalan satu arah yaitu: Seni tradisi digunakan sebagai wahana penyampai informasi saja. Jadi juga tidak berbekas. Sebagian besar waktunya hanya untuk “banyolan” kalau tidak “cengengesan” saat adegan LimbukCangik dan Goro-goro. dalam hal ini menyelamatkan kentrung dari kepunahan. Tetapi juga bagaimana teknologi informasi dan komunikasi ini dapat menyelamatkan seni tradisi yang nota bene sebagai wahana pendidikan publik seperti tema besar pertemuan ini. Wayang Kulit Wayang kulit gaya Jawa Timuran relatif masih lebih murni dibanding dengan wayang kulit yang kini laku di Jawa Tengah. 47 . Apa yang dapat kita perbuat. Sinergi seni tradisi dengan teknologi informasi dan komunikasi kiranya jangan hanya berjalan satu arah yaitu: Seni tradisi digunakan sebagai wahana penyampai informasi saja. Tetapi hal ini belum berhasil mendapatkan tanggapan dari yang berwenang untuk mendapatkan dana yang pantas. Wayang Jawa Timuran belum tertular virus ini. Wayang kulit Jawa Tengah banyak yang kini telah menjadi tontonan yang meladeni selera masyarakat. Perguruan tinggi Seni seperti Institut Seni Indonesia dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia mestinya kapabel melangsungkan kehidupan kentrung dengan konsep yang matang.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI secara santun. Saya percaya Kementerian Koninfo dan Pendidikan Tinggi Seni dapat saling bersimbiose mutualistis menghadapi hal-hal semacam ini. Tetapi juga bagaimana teknologi informasi dan komunikasi ini dapat menyelamatkan seni tradisi yang notabene sebagai wahana pendidikan publik. Dari berbagai berita bahwasanya beberapa radio swasta niaga telah berusaha mengadakan siaran kentrung walaupun terbatas pada setiap ulang tahunnya yang tentu saja tidak berbekas di hati masyarakat. porsi alur cerita masih merupakan prioritas.

. “. Ia kemudian memaksa ayahnya mencari Narasoma sampai ketemu. maka ia membunuh sang mertua. apike enggal dilaporake marang sing berwajib. yen ana wong anyar nyalawadi. . Ia nekat menculik Narasoma karena anaknya yang sangat cantik Dewi Pujawati. Celakanya kalau sang petinggi itu malah tidak dapat menerima informasi yang lebih bersifat konseptual tetapi sudah merasa bahagia dapat mencerna informasi dangkal semacam itu. Kalau hal itu terjadi sebenarnya sang petinggi belum saatnya jadi petinggi. dadi maratuwane teroris. E thole mula pada diwaspada. Dalam “pakem” diceritakan bahwa Narasoma kemudian malu mempunyai mertua seorang Raksasa. aja malah dipek mantu. Dalam adegan punakawan memang sering ada hiburan ringan seperti pilihan pendengar. maka kadar kesantunan dan bobot informasinya akan dapat dipertanggungjawabkan Pesan semacam itu tentunya untuk konsumen masyarakat yang berpendidikan menengah ke bawah. bermimpi bertemu dengan Narasoma dan jatuh cinta. maka atas kehendak Bagaspati Aji Candhabirawa agar masuk ke dalam tubuh Nrasoma dan menjadi miliknya. Untuk para petinggi daerah tentunya harus disajikan “masakan” lain yang lebih bergizi. .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Pak Suleman dari Waru dan murid-muridnya seperti Mas Wardono dan kawan-kawan masih membatasi diri menyisipkan hiburan ringan.. Tetapi sebagai bagian dari kreatifas dalang berhak 48 . Apa lagi bila teksnya disusun oleh seniman yang mempunyai wawasan luas. Berikut ini sebuah contoh informasi yang lebih bermartabat: Ketika Raden Narasoma (kelak ia bergelar Prabu Salya) masih muda. Durung nganti putune lair kowe ganti sebutan. Dinikahkanlah mereka.” Pesan pendidikan publik semacam ini mudah sekali disipkan pada waktu yang tepat. Kebetulan sang mertua mempunyai Aji Candhabirawa yang luar biasa kekuatannya. Tadinya Narasoma menolak bahkan sempat perang tanding dengan Sang Begawan tetapi kalah. Pada adegan inilah pesan-pesan propaganda dangkal dan yang bersifat verbal dapat dilontarkan. . Apa ra cilaka. Setelah melihat kejelitaan Pujawawati iapun jatuh hati. ia diculik oleh pendeta raksasa bernama Bagaspati.

Info itu bila dicerna cukup dalam akan mempermalukan mereka yang setelah merasakan enaknya duduk di kursi lalu tidak mau turun walaupun sebenarnya sudah waktunya. mangkatlah Bagaspati. Bagaspati juga berkata bahwa aji itu tidak lagi berguna bagi dirinya karena sudah tua dan sudah sepantasnya dimiliki oleh yang muda. Informasi itu memberi pemahaman bagaimana seorang tua yang legawa kedudukannya dilengser oleh yang muda. agar dapat diamalkan untuk kebaikan manusia selanjutnya.” “Saya sanggup memenuhi syarat-syarat itu. Narasoma menjawab: “Ya”. Demikian wayang kulit dapat menjadi wahana pendidikan publik “agal-alus” jadi tidak hanya pesan verbal saja. . . . . kiranya garapan ini relevan untuk disajikan. bagi mereka yang mempunyai bekal pengetahuan lebih luas. Garapan seperti ini juga merupakan informasi untuk pendidikan publik. Norasoma dipanggil Bagaspati. aku minta engkau berkenan menerima warisan Aji Candhabirawa . hanya dengan kematianlah aku dapat mewariskannya kepada Raden. “Raden. Narasoma menjawab “Ya. Kalau demikian Narasoma sanggup tidak menterlantarkan Pujawati di kemudian hari. Karena telah sanggup. Ya Bapa saya dengan senang hati akan aku terima warisan Bapa . . Di Jawa Timur sebe49 . . sebab aji itu telah menyatu dalam tubuhku. dengan segala kemampuanku”. Inilah sanggit itu: Setelah malam pertama. . maka jawabnya “. Hati Narasoma bersorak. Dalam ingar-bingar pilkada di mana penjabat lama dipandang sudah waktunya turun.” Lalu Bagaspati menceritakan bagaimana kekuatan aji tersebut. Narasoma menjawab “Sanggup” Seandainya Bagaspati mempunyai permintaan khusus apa Narasoma mau memenuhinya. Dengan bercucur air mata Narasoma menghunus kerisnya dan dengan serta merta Bagaspati menubruk keris itu dan menghunjamkannya di ulu hatinya. dan Aji Candhabirawa pindah raga yaitu raga Narasoma. . Bagaspati tetap mati tetapi kandungan nulai dari peristiwa itu sangat berbeda. “Syaratnya Raden harus membunuh aku. .” “Tetapi ada syaratnya Raden . . . memang ia membutuhkan “sipat kandel” nanti setelah ia menjadi raja Mandaraka.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI melakukan sanggit cerita. apakah dia mencintai Dewi Pujawati.

Misalnya: Pembangunan (dulur) kudu dipentingna Marga pembangunan kanggo kabeh kita Ayo kanca padha aja tidha-tidha Mbantu pemerintah urun tenaga Tetapi bila si penari mempunyai latar belakang mendidikan yang memadai. Peranan wanitanya selalu dimainkan oleh pria (waria) yang biasanya sangat cantik. Dalam pertunjukan Ldruk juga demikian. Hal ini akan dibahas setelah pembahasan Ludruk. Teks dalam kidungan sering sekali menggunakan bahasa klise yang menyanjung program pemerintah secara vulgar.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF lum pergelaran wayang dilaksanakan biasanya didahului dengan Tari Ngremo oleh seorang penari tau lebih. Dalam tulisan ini akan dibahas “kidungan”nya yanmg merupakan wahana ampuh untuk melontarkan infrormasi pendidikan publik yang ringan-ringan. Apapun ceriteranya sutradara berhak membuat “sanggit” seperti dalam wayang kulit tadi. Bedanya Ludruk lebih leluasa menggarap sanggit-nya. kidungan ini dapat sangat efektif digunakan sebagai wahana pendidikan publik. Hal itulah salah satu penyebab mengapa banyak orang menyenangi Ludruk. Ceriteranya bisa apa saja kalau perlu cerita Romeo and Juliet. Penari ini biasanya wanita yang nanti akan bertindak sebagai pesinden dalam wayangan semalam suntuk. Ludruk adalah teater daerah Jawa Timur dan yang terkenal adalah Ludruk Surabaya. Dalam Tari Ngremo selalu ada bagian yang disebut “Nggandhang” yaitu sang penari berhenti menari tetap dalam sikap tari dan melantunkan nyanyian yang disebut Kidungan. Sayangnya belum bayak kaum intelektual yang mau menggarap Ludruk sehingga pesan ceritanya dapat digunakan sebagai pendidikan publik yang memadai. Ludruk Tidak banyak yang dapat saya utarakan perihal Ludruk ini. Kidungan Seperti telah saya singgung bahwa kidungan terdapat di dalam pertunjukan Tari Ngrema yang sering mengawali pertunjukan Wayang Kulit maupun Ludruk. Misalnya: Ketika kita sedang dipusingkan dengan adanya tawuran antar fakultas dan bahkan antar kampus di banyak kota 50 .

matilah mereka dan menyodorkan tangan lagi untuk meminta. demikian dana habis. sehingga dapat membantu penghayat menghayatinya untuk mendapatkan keluasan pandangan dan kekayaan imajinasi hayatan. tetapi kritik mendudukkan karya seni pada proporsi yang semestinya. sebagai berikut: Manuk cocak (dulur). Saya akan berterus-terang sesuatu yang saya usulkan. Pertanyaan ini biasanya dijawab dengan mengucuran dana. ngoceh neng tegalan Ocehe panjang kaya huruf palawa Dadi tukang becak (dulur) aja seneng dha tukaran Yen seneng tukaran. Dalam kritik dijelaskan apa yang kuat dan apa yang lemah sehingga penikmat akhirnya mengerti kesenian itu. kocak dan konyol tetapi tepat dan sempat membuat kaum menengah keatas berfikir tentang ulah mahasiswa yang sudah keterlaluan. Tapi saya berpikir lain. Kritik seni adalah karya ilmiah yang berdiri di antara karya seni dan penghayat. Sekarang apa yang dapat dilakukan Koninfo untuk menghidupi partnernya itu. Sinergitas Seni Tradisi dan Kominfo Bagaimana seni tradisi dapat dijadikan wahana pendidikan publik telah saya paparkan di depan. Kritik bukannya mencela karya seni. Si tukang kidung menempatkan martabat rekannya para tukang becak yang kala itu melihat pementasannya jauh lebih tinggi dibanding dengan martabat mahasiswa. berilah ru51 . Seperti kita ketahui bersama bahwa di dalam dunia seni tradisional belum tumbuh budaya kritik. Padahal fungsi kritik itu menyambung karya seni dengan penikmatnya yang kurang bekal. Peningkatan kualitas baik penghayat maupun seniman inilah yang akan mendorong seni tradisi hidup. sehingga baik penghayat maupun seniman akan meningkat kualitasnya. Kepada penghayat kritik memberikan penjelasan hal-hal yang kurang jelas dan kepada karya seni kritik menginformasikan bagian mana dari karya itu yang kuat dan yang lemah.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI beberapa tahun yang lalu sempat disentil dalam kidungan oleh seorang penari ngrema pada sebuah hajatan di Mojokerto. ndhak kaya mahasiswa Sentilan ini luar biasa. Sebab kalau diberi dana maka kehidupan seni tradisi bagaikan mayat hidup. sebab konsumennya telah dipersiapkan oleh kritik.

Solo.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ang kepada intelektual seni untuk untuk menulis kritiknya dan dapat dibaca oleh banyak orang baik secara regional maupun nasional. Berilah sebuah sudut untuk kritik seni tradisi di koran nasional.* 52 . dan koran-koran daerah tentu saja dengan honornya yang memadai maka karya kritik seni tradisi akan bertumbuh dan itulah wujud sinergi yang sesungguhnya. Pertunjukan Kentrung di sudut kota Tuban akan merambah Jakarta. Ditambah gula rujake degan Manawi lepat (dulur) lha nggih kajengipun Wong dhasare kula niku dhagelan. Mangan kupat (dulur) lalape timun. Kidungan di pelosok Mojokerto juga akan dinikmati secara nasional. Jogya dan sebagainya. Medan Surabaya.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 53 .

Karanganyar. Perintis Padepokan PANDAWA (kawasan wisata religius). Lulusan S2 UGM Jurusan Pengkajian Seni Pertunjukkan Indonesia juga pernah pentas di luar negeri untuk Unjuk Budaya yang dilakukan oleh Pura Mangkunegaran (Surakarta). Pengging dan Pendiri/Pemilik padepokan LESUNG. Dosen Seni Tari ISI – Surakarta ini akrab dipanggil Hari Genduk di kalangan komunitas seni. Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Anggota MOYO TIRTO. Bengkalis (Sumatera). Gondangrejo. semua di Surakarta.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF F. Pendiri/Anggota Lembaga SOLO KOBAR. STSI/ ISI Surakarta. Sardono Dance Company Jakarta. Saat ini tinggal di Bonoroto. 54 . M. Mahasiswa S3 Universitas Gadjah Mada Jurusan Kajian Budaya ini juga aktif dalam berbagai kegiatan penyadaran masyarakat melalui Seni Budaya Tradisional di Jawa Tengah. Aktif dalam berbagai organisasi antara lain Pendiri/Ketua Umum Lembaga MENTARI SEGARA ANAKAN. Hari Mulyatno S.Kar. Jawa Timur. Hum. dan Pemda Kutai Barat dan Pemprop Kaltim. Plesungan.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni Budaya Tradisional Kalimantan dalam Dimensi Informasi/ Komunikasi Pembangunan F. merasa perlu dan mempunyai kepentingan tersendiri untuk menyampaikan pandangan pada forum diskusi pada hari ini dan pada Pemerintah Pusat. M. yaitu bagaimana seni dapat dipergunakan untuk menyampaikan informasi pembangunan. tentang peran seni budaya tradisional Indonesia khususnya dari belahan pulau Kalimantan untuk sama-sama mengkaji seni dalam Dimensi Informasi dan Komunikasi Pembangunan Indonesia. khususnya yang berada di wilayah peradapan masyarakat Kalimantan. Saya menyadari bahwa sebagai salah satu pemerhati kebudayaan Kalimantan. dalam hal ini jajaran Kementerian Kominfo. apa yang saya sampaikan adalah P 55 . S. dalam dan beragam.Kar. Hari Mulyatno. bahwa pada hari ini saya diperkenankan menyampaikan pokok-pokok pikiran tentang Peran Seni Budaya Tradisional Kalimantan Sebagai Dimensi Informasi Publik.Hum Dosen Seni Tari ISI Surakarta Pengantar uji syukur kepada Tuhan Allah Yang Maha Bijaksana. Saya juga berterima kasih kepada panitia/penyelenggara yang memberikan kesempatan untuk memberi masukan tentang seni dan budaya masyarakat Kalimantan-Indonesia yang majemuk kepada peserta diskusi dan pemerintah pusat. Pada kesempatan diskusi hari ini. Saya sadar bahwa sebenarnya kurang tepat bahwa saya yang duduk dan menyampaikan pandangan dan informasi tentang seni budaya Kalimantan yang begitu luas.

Oleh sebab itu apabila pada kesempatan diskusi pada hari ini. dan komunikasi makhluk bumi dengan makhluk langit. Sedangkan Kalbar dan Kalsel baru dalam proses awal penjajagan. manusia kepada alam semesta raya dan manusia kepada makhluk yang dipercaya ada di alam lain. 56 . Pandangan Umum tentang Seni Pada dasarnya seni adalah sarana komunikasi/sarana pengungkapan pengalaman dan kebutuhan jiwa manusia kepada sesama manusia. maka mohon maaf apabila naskah dan presentasi saya ini kurang atau tidak mencapai sasaran yang dikehendaki. mulai awal 2009. ataupun yang tidak pernah dilahirkan di bumi yaitu makhluk alam gaib yang masih dapat dijangkau. Blawing Barek. ketua Adat Besar Suku/ Etnik Bahau dan ketua Adat Besar Dayak-Borneo. dan saya bersedia melengkapi informasi-informasi atau data-data tambahan yang diperlukan setelah forum diskusi ini.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF suatu pandangan dari hasil pengamatan dan pengalaman pribadi sebagai insan pemerhati Kalimantan dalam bingkai penguatan sikap kebangsaan dan ketahanan masyarakat Indonesia melalui media seni dan budaya tradisional di Kalimantan sejak tahun 2006 sampai sekarang. Malaikat dan Tuhan. menjelaskan bahwa seni budaya Kalimantan (Dayak) itu sarana komunikasi antara makhluk bumi dengan sesama makhluk bumi. apa yang saya sampaikan kurang atau tidak mencapai sasaran dari tujuan panitia. Artinya bahwa menurut pandangan masyarakat Kalimantan (Dayak). khususnya di Kaltim dan di Kalteng. Saya juga mohon tanggapan dan masukan dari peserta diskusi tentang pandangan saya terhadap peran seni dalam Dimensi Informasi (non estetis). Yang dimaksud makhluk langit yaitu para leluhur dan makhluk Tuhan yang pernah dilahirkan di bumi dan telah meninggal dunia. untuk langkah kerja saya lebih lanjut di dalam mendarma baktikan kemampuan saya di bidang seni untuk penyadaran masyarakat yang bangga menjadi Warga Negara dan Bangsa Indonsia pada masyarakat Kalimantan khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Makhluk di atas langit adalah kekuatan luar biasa yang tidak dapat dijangkau oleh indra manusia pada umumnya secara langsung seperti para Dewa. seni dipandang mampu menjadi sarana komunikasi lintas batas kemampuan akal pikir (rasional) manusia.serta komunikasi makhluk bumi dengan makhluk di atas langit.

kemudian akan berlanjut pada pembentukan sikap dan perilaku yang bertanggung jawab bagi penghayat di kemudian hari. dan bukan bahasa kesenian Bahasa Seni Bahasa seni itu bahasa simbolik. kemudian baru didalami lebih lanjut melalui media seni. maka dari itu sebaiknya penyampaian informasi cukup menggunakan media bahasa verbal yaitu dengan bahasa lisan ataupun bahasa tulis saja. dan kemudian isi informasi tersebut akan diaplikasikannya dengan baik di 57 . bahkan masyarakat bias menjadi apriori terhadap pesan-pesan penting melalui jasa seni. kemudian akan tumbuh sikap dan perilaku lanjutan pasca penghayatan seni yaitu menindaklanjuti pesan-pesan pendidikan dan pembangunan yang telah diterimanya dengan tulus melalui media seni tersebut. jadi suatu media ungkap yang efektif untuk menancapkan pesan yang sudah terlebih dahulu terekam di dalam pikiran. kemudian ditancapkan lebih lanjut ke dalam lubuk hati yang paling dalam untuk menjadikan sebuah perenungan. Artinya isi informasi disampaikan terlebih dahulu melalui media-media verbal.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Sifat ungkap atau komunikasi seni adalah sifat ungkap simbolik. Kalaupun toh ada seni yang menggunakan media bahasa verbal. Hal ini memang tugas berat bagi kreator dan para motivator dan atau pemilik gagasan utama yang akan disalurkan melalui media seni. sehingga penyampaian pesan tidak dapat efektif. setelah mendapat sentuhan hati melalui media seni. Apabila kita tidak bijaksana dalam mempergunakan seni untuk media propaganda atau seni sebagai penyampai informasi. agar isi informasi dapat terekam dengan baik. sehingga setelah mendapatkan informasi yang terekam di pikiran kemudian informasi tersebut ditancapkan di dalam lubuk hati sanubari yang paling dalam (rasa). jadi bukan komunikasi verbal. Kalau kita ingin menyampaikan informasi tanpa memerlukan proses penghayatan atau perenungan yang lebih mendalam. Menurut saya lebih baik seni tidak untuk menyampaikan informasi yang bersifat verbal. tetapi informasi bersifat simbolik. tidak efisien dan tidak tepat sasaran. Oleh sebab itu para seniman dan budayawan seyogyanya lebih bijaksana di dalam memaknai seni untuk dipergunakan sebagai media penyampaian pesan-pesan verbal. akan tetapi itu hanya materi ungkapan. bisa jadi sebaliknya dan masyarakat penonton tidak mengerti atau tidak paham inti pesan yang disampaikan. bukan inti atau esensi komunikasi.

Seni budaya didalam konteks seni yang dipergunakan untuk sarana penyampaian informasi. Seni dapat dipergunakan sesuai konteks kebutuhan hidup manusia tersebut. sesuai dengan situasi dan kondisi serta latar belakang kebudayaan masyarakat di daerah tersebut. Mereka didalam menghayati seni di lingkungan komunitasnya. mere58 . Pentas Musik. Fungsi Seni Saya lebih suka memaknai fungsi seni dari pengertian seni untuk hidup. dengan cara ikut serta mendatangi pergelaran pentas seni dari kelompok anggota/grup mereka. ini berarti menempatkan seni sebagai sarana penyampaian pesan-pesan pendidikan dan pembangunan. Wayang. Cara Menghayati Seni Ada beberapa cara masyarakat di dalam menghayati dan menikmati seni. Seni Tayub dan Musik Rock. plong. kebutuhan psikologis (tahu. Ada cara lain bagi masyarakat pangombyong atau anggota kesenian di wilayah kebudayaan lereng Merapi. senang. Seni Film. Oleh karena kebutuhan manusia itu beragam. ada juga yang hanya mendengar atau melihat saja. Ada seni budaya yang cara menikmatinya dengan cara dilihat dan di dengar. minum. ada pula yang dengan cara dilakukan sendiri. lebih tepat seni-seni tersebut dinikmati dengan cara dilihat dan didengar karya seni tersebut. sreg. manteb dll). Teater. Termasuk jenis-jenis seni religius cara penghayatannya dengan ikut serta menjadi pelaku seni secara aktif. paham. Masyarakat pangombyong tersebut di dalam sebuah peristiwa pergelaran seni tanpa melihat kesenian tersebut secara langsung. sehingga pesan dapat diterimanya secara tulus lahir dan batin. lebih tepat dinikmati dengan cara mengikuti atau melibatkan diri dengan cara menari-menyanyi atau berjingkrakjingkrak. dan bukan pesan-pesan estetik. Sindoro dan. sehat). dan seni-seni pergaulan lainnya. mengerti. pada dasarnya kebutuhan hidup manusia itu meliputi kebutuhan jasmani (makan. maka fungsi seni juga beragam. dan ada yang melibatkan diri di luar pentas. Sumbing Jawa Tengah. bangga) dan kebutuhan rohani/spiritual (nyes. Jadi dengan demikian masyarakat penonton atau pelaku seni menjadi lebih paham dan apa yang dipesankan melalui media seni tersebut.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Menurut saya. Merbabu.

maka akan dapat melenceng dari sasaran dan menjadi lebih boros biaya penyelenggaraan. Ada pula seni audio berupa musik tradisional. dan pemilihan media seni yang akan digarap harus tepat sesuai dengan latar belakang budaya berkesenian masyarakat bagi tersebut. kebiasaan berkesenian mereka berkaitan erat dengan tata upacara adat dari etnik-etnik tersebut. Pada umumnya para pangombyong atau anggota tersebut terdiri dari kaum laki-laki yang sudah tua dan mantan pemain kesenian tersebut. dan seni pertunjukan. maka para motivator dan kreator seni harus pandaipandai memilih materi dan cara penggarapan seni yang sesuai dengan lingkungan budaya masyarakat setempat. 59 . musik (suara). seni teater. Semua seni termasuk tari (gerak). lukisan. semua itu dapat dipergunakan untuk media informasi dan komunikasi secara efektif apabila tepat didalam memilih media. melainkan semua seni dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan secara efektif. teater daerah (wayang dan sejenisnya). latar belakang budaya masyarakat dan keberadaan patron sebagai pengukuh/penguat. yang dipilih untuk menjadi objek sasaran penyampaian informasi. serta kekuatan ungkap aktor (daya pangaribawa pemain). patung. dan seni vokal lainnya. Keberadaan masyarakat sebagai obyek termotivasi. Bentuk Seni Bentuk seni-budaya tradisional di Indonesia pada umumnya dan di Kalimantan khususnya cukup beragam. Jadi dengan demikian antara subjek motivator dan kreator seni. Di Kalimantan khususnya bagi masyarakat etnik Dayak dan Melayu. Oleh sebab itu dalam menggarap kesenian pada konteks seni sebagai sarana informasi. seni tato dan tindik. Seni yang dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan itu bukan hanya seni “komunikatif” sejenis teater daerah dan wayang saja. seni pahat. Ada seni visual seperti seni tari. Apabila subjek penyampai informasi salah dalam memilih media dan tidak memperhitungkan latar belakang kehidupan masyarakat sebagai objek.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ka seperti orang berkenduri di dalam rumah sambil menunggui pemain yang sedang berhias. untuk golongan masyarakat apresian tertentu. Hal ini sangat tergantung dari kemauan motivator (pemerintah-lembaga pemberi motivasi ) dan kepiawaian para kreator (penggarap). seni lukis. seni pantun. adat istiadat dan upacara-upacara tradisional.

apabila digarap dan diolah secara tepat. oleh sebab itu seyogyanya berhati-hati di dalam memperlakukan seni dan memilih bentuk seni yang tepat sesuai dengan sasaran yang akan dituju agar dapat menjadi lebih efisien. misalnya lembaga kabupaten. Pemilik ide (pemerintah. alat atau media penyampai pesan dan objek penerima pesan. Oleh sebab itu para penggarap harus memperhitungkan akar budaya masyarakat setempat untuk menentukan bentuk seni macam apa yang tepat dan sesuai dengan sasaran objek yang dituju. dan tepat guna. Pendeta.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dalam konteks seni budaya sebagai media informasi/komunikasi yang perlu dipehatikan adalah kecerdasan kreator sebagai pribadi ataupun kreator tangan panjang dari pemerintah. Sosok pribadi yang dapat dipergunakan sebagai patron atau panutan masyarakat diantaranya. Seni yang keluar dari rangkaian upacara adat biasanya seni tradisi yang sudah menjadi komersial. Raja dan orang-orang terpandang lainnya. propinsi. Kepiawaian mereka tersebut adalah unsur utama dalam penggarapan seni untuk informasi pembangunan. negarawan. para pemikir) 60 . Kyai. Seni tradisional Indonesia. khususnya di Kalimantan merupakan bagian dari perilaku budaya masyarakat adat. jadi bukan bentuk keseniannya yang diutamakan sebagai media komunikasi. dan biasanya seni terkait dengan upacara-upacara adat masyarakat setempat. Seni Sebagai Media Informasi Seni budaya menempati salah satu fungsinya yaitu sebagai media informasi dan sebagai media pendidikan atau propaganda. dan yang paling penting adalah keseimbangan antara subjek pemberi pesan. Pengukuh tersebut sebaiknya berupa lembaga dan atau pribadi tokoh panutan yang sangat dikenal. Seni budaya seperti yang telah di sebutkan di depan. menurut saya seni dan budaya dalam konteks pemanfaatan seni sebagai media informasi dan komunikasi itu harus melekat dengan adat istiadat setempat pula. Pejabat Kepala Daerah. Ketua Adat/Ketua Suku. baik itu dalam bentuk lembaga ataupun pribadi-pribadi yang kharismatik. pemerintah pusat (Jakarta). Kemudian diperlukan pengukuh. semua itu dapat menjadi efektif dan efisien untuk dipergunakan menyampaikan pesan.efektif. budayawan. Oleh sebab itu. Prasyarat penggunaan seni untuk sarana penyampaian pesan/informasi-informasi pembangunan adalah sebagai berikut : a. Seniman.

Di bagian Kalimantan sebelah selatan sampai tengah. Di Negara Indonesia dengan doktrin Pancasila ini memberi warna tersendiri dan menjadi berbeda dengan warga Kalimantan di wilayah Malaysia Timur. sebagai pengukuh (penguat) g. yaitu di wilayah Malaysia Timur ialah sub Kerajaan Sabah dan Serawak. Aplikasi Lanjutan sebagai bentuk tindakan nyata (dampak) Dengan demikian terjadilah proses penyampaian informasi yang efektif. dan warga di Kalimantan Brunai Darussalam. Kalimantan Indonesia secara garis besar dihuni oleh masyarakat mayoritas etnik Dayak dan etnik Melayu. Aktor/bahan kesenian. sebagai seniman penggarap seni untuk pesanan (seniman kreator) d. Kreator Seni. sebagai penerima pesan dan aplikasi lanjutan (penghayat seni) f. bahkan lebih menjulang ke utara dari garis tengah Pulau Kalimantan di bawah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan doktrin Negara Pancasila dan UUD ‘45 . sebagai alat untuk mewadai pesan dan mengeluarkan daya pesan (seniman pelaku) e. sebagai seniman yang menyalurkan pesan (aktivis) c. Gambaran secara garis besar 61 . Selayang Pandang tentang Kalimantan Kalimantan secara garis besar terbagi dalam tiga kawasan yang berbeda kedaulatan yaitu di sebelah utara dibawah kedaulatan Kesultanan Brunai Darussalam dengan doktrin kedaulatan negara Islami. Patron. Walaupun prosesnya tetap melalui penalaran tetapi penalaran bukanlah tujuan. Masyarakat daerah ini di bawah doktrin Negara Islam Melayu. Motivator. dan yang tidak boleh dilupakan bahwa seni bukan untuk konsumsi penalaran atau akal pikir semata melainkan untuk konsumsi indra rasa/batin. Di bagian utara membentang dari barat ke timur pulau Kalimantan di bawah kedaulatan Negara Kerajaan Malaysia. namun demikian di wilayah Sabah dan Serawak ini eksistensi masyarakat Dayak mendapatkan kemerdekaan yang lebih longgar. Adapun tujuannya adalah menghantarkan sebuah perenungan dan aplikasi atas isi dan inti pesan pasca menikmati seni budaya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI b. Masyarakat/penonton kesenian.

Seni Budaya Kalimantan Secara Garis Besar Secara garis besar kesenian Kalimantan tumbuh dan berkembang berdasarkan akar budaya asal dari masing-masing etnik. Cina dan Melayu menguasai daerah perdagangan dan persawahan serta pemerintahan. masyarakat Jawa di kota-kota besar dan kota-kota kecil pedalaman dan daerah perkebunan (daerah transmigrasi). Dan upacara-upacara hari besar etnik Cina. yang hidup berkelompok dalam ikatan kelompok-kelompok kecil dan kuat. pergelaran Barongsai ditampilkan pada waktu upacara tahun baru Cina. Barongsai Kalimantan sama dengan Barongsai di Hongkong dan Cina. Cina 5%. arisan. Kesenian Barongsai di komunitas Cina khususnya masyarakat Kabupaten Singkawang Kalimantan Barat yang mayoritas di huni etnik Cina. Madura. Tari Ngerangkau (Tari upacara kematian) berkaitan dengan upacara Kwangkai (Ritual kematian). Seni dari akar masyarakat etnis Cina . Masyarakat Dayak tersebar di belantara Pulau Kalimantan dan terbagi dalam berbagai sub kultur Dayak. Batak. dan tidak kurang dari 500 anak sub kultur Dayak Kalimantan Indonesia. Zapin di Kalimantan sama dengan Zapin yang ada di Melayu Malaysia dan Sumatra. Sebagai contoh Tari Hudoq berkaitan dengan upacara tanam padi. Masyarakat Dayak mayoritas hidup di daerah pedalaman.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF etnik penghuni Kalimantan Indonesia ialah. Beda suku beda bentuk dan beda makna. dan lain-lain sebanyak 20%. hajatan kemudian 62 . sama dengan Reog Ponorogo Jawa. dan selebihnya adalah Bugis. Sedangkan seni-seni masyarakat etnik Jawa dan etnik Melayu lebih beragam fungsi dan waktu pergelarannya. Etnis Jawa.Sunda. Melayu 25%. Masyarakat Dayak menguasai daerah hutan dan perkebunan yang maha luas. jauh dari keramaian kota dan jauh dari peradaban yang serba modern. Kesenian dari etnik Dayak selalu berkaitan dengan upacara-upacara adat tradisi masyarakat setempat. Banjar 10%.Artinya masih dapat dipahami seperti seni dalam bingkai budaya asalnya. terutama disajikan pada waktu-waktu jumpa komunitas seperti dalam acara pengajian. tari Gantar berkaitan dengan upacara panen padi. Misalnya Reog Ponorogo Kalimantan. Jawa dan Melayu tidak terlalu beragam. karena beda bingkai dasar kebudayaannya. Jawa 10%. Masyarakat Melayu mayoritas hidup di daerah pesisir pulau Kalimantan. Dayak 30%. Berbeda dengan seni dalam bingkai budaya Dayak.

Pemimpinnya biasa disebut Ketua Adat Besar dan Ketua Adat Besar ini memiliki kedudukan seperti seorang Raja di Jawa-Bali. memilih lembaga jaringan mana yang dipandang cocok untuk dipergunakan sebagai mitra jaringan agar sesuai dengan program penyampaian informasi yang telah ditetapkan oleh lembaga (pemerintah) tersebut. Oleh sebab itu dalam konteks seni untuk sarana infomasi pembangunan harus diperlakukan lebih arif dan bijaksana. Masyarakat etnik Melayu-Jawa dan Bugis lebih akrab dengan Instansi atau Lembaga Kerajaan bila dibandingkan dengan kedekatanya dengan masyarakat Adat. bagi masyarakat Kalimantan pada umumnya. ada panitia penyelenggara. dan ada masyarakat penonton. Maksudnya. penggunaan seni sebagai media komunikasi lebih baik disusun sebuah karya kemasan khusus. Sedangkan seni dalam masyarakat adat Dayak hanya ada forum (adat/upacara) – ada penyelenggara (lembaga adat) dan ada peserta (pelaku adat). Dengan demikian.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI di sajikan seni Rodad-Salawat-Zapin-Hapsi-Reog-Jathilan-Jaran Dor Sentherewe-Ledek dan lainnya. yaitu Lembaga Adat dan Kerajaan atau Kasultanan. serta tepat sesuai dengan bingkai kebudayaan mereka. dalam jumlah sub kultur yang sangat banyak. Lembaga-Lembaga Potensial untuk Jaringan Penyampaian Seni Sebagai Media Informasi Lembaga-lembaga yang potensial untuk menjadi agen mitra kerja dalam penyampian informasi pembangunan dari pemerintah kepada masyarakat ada beberapa pilihan. Lembaga-lembaga adat di Kalimantan meskipun kecilkecil akan tetapi mereka memiliki ikatan yang kuat dengan lembaga besarnya. yaitu garapan baru yang menggunakan perabot seni tradisi setempat untuk garapan kemasan seni propaganda untuk informasi publik. tinggal pemilik ide / isi informasi (pemerintah) sebagai pemilik informasi. Di Kalimantan ada dua lembaga besar yang potensial sebagai lembaga jaringan penyampai pesan. ada seniman pemain/peraga. Oleh sebab itu Kerajaan atau Kasultanan adalah lembaga jaringan informasi yang potensial untuk diperankan sebagai lembaga jaringan informasi 63 . jadi dengan demikian penontonnya adalah para pemain / pelaku adat itu sendiri. Kesenian masyarakat Cina-Melayu-Jawa dan etnik lainnya selain etnik Dayak memiliki pemain dan penonton.

Dinas Pendidikan memiliki jaringan siswa dan guru serta tenaga administrasi di sekolah yang sangat banyak dan mudah dikendalikan secara sistematis. Paguyuban Etnik pendatang dan Sanggar Seni. Dalam satu jaringan dinas ini telah terikat ribuan manusia yang terkait di dalam sistem kelembagaan tersebut secara formal. kreatifitas dan produktifitas tergolong sangat tinggi apabila dibandingkan dengan lembaga-lembaga di peringkat pertama maupun yang 64 . pada konteks tertentu dapat menempatkan diri atau ditempatkan oleh pihak Pemerintah menjadi lembaga penyambung jaringan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah. Pondok Pesantren. dan masyarakat daerah tempat penelitian-penelitiannya dilakukan di daerah-daerah pedalaman tersebut. Dinas Pariwisata memiliki jaringan Sanggar-sanggar Seni/Padepokan Seni.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF melalui Seni Budaya. Kantong-kantong Seni dan termasuk Lembaga-lembaga Adat di wilayah kerja Dinas Pariwisata tersebut khususnya di tingkat kabupaten-kabupaten. Alumni. dari pihak Pemerintah Pusat kepada masyarakat di daerah khususnya di daerah pedalaman yang susah dijangkau dengan transportasi dan jaringan komunikasi apapun. dan lembaga-lembaga Adat di daerah pedalaman Kalimantan. Lembaga Pendidikan Tinggi memiliki potensi untuk menyambung jaringan dengan sesama Lembaga Pendidikan Tinggi di Indonesia. Lembaga Perguruan Tinggi tersebut memiliki jaringan Dosen. untuk melaksanakan program-program pengabdian masyarakat di Indonesia. Akademi Seni dan Sekolah Tinggi Seni baik Negri maupun Swasta. Mahasiswa. dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata ditingkat Kabupaten maupun tingkat Provinsi. Lembagalembaga di peringkat ke-tiga ini meskipun kecil-kecil akan tetapi aktifitas. Lembaga jaringan pada peringkat ke-tiga adalah Gereja. Lembaga Adat dan Kerajaan tersebut menduduki peringkat utama dalam menentukan jaringan penyampai informasi melalui Seni Budaya. Adapun kegiatannya akan direalisasikan melalui gelar seni Budaya dan tata upacara-upacara adat/tradisi masyarakat setempat. Lembaga Pendidikan Tinggi ini. Lembaga yang tidak kalah pentingnya untuk diperhitungkan adalah Lembaga Pendidikan Tinggi dan Pendidikan Tinggi Seni seperti Institut Seni. Dalam hal ini posisi Perguruan Tinggi dapat sejajar dengan Lembaga Adat dan Keraton / Kasultanan. Lembaga jaringan di peringkat kedua adalah Pemerintah Daerah.

Produktifitas kecil-kecil itulah yang dalam kurun waktu yang lama dan terus menerus berproduksi maka akan membentuk kristalkristal pemahaman. Langkah-Langkah Strategis Pemanfaatan sebagai Media Informasi Pemerintah atau Lembaga yang memiliki gagasan untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan dan pembangunan melalui media seni budaya tradisional. yaitu suatu gagasan untuk menyampaikan informasi tertentu. agar maksud dan tujuan yang telah digagas sebelumnya dapat tersampaikan secara baik. dan diharapkan pekerjaan dapat tercapai lebih ringan dan mencapai target yang telah ditetapkan. menempatkan program Penyadaran Masyarakat ini menjadi sebuah proyek yang ditunggu. 5) Memilih dan menetapkan media seni. 2) Menetapkan sasaran. perlu menentukan langkah-langkah strategis. Menurut pendapat saya. tidak menutup kemungkinan nantinya justru mempersulit diri sendiri. Tentu saja pilihan seniman kreator ini berkaitan erat dengan materi seni apa yang akan dipergunakan untuk media informasi publik tersebut. yang dipandang sesuai 65 . Apabila tidak ditetapkan pilihan strategi yang telah ditentukan. yaitu pihak panitia penggagas melakukan pengelompokan-pengelompokan sasaran. misalnya akan munculnya gejala atau kecenderungan dari golongan masyarakat dan seniman tertentu. untuk melakukan tindakan teknis agar dapat efisien. 3) Memilih dan menetapkan lembaga jaringan kerja sama. Sasaran-sasaran yang dituju nantinya akan menjawab ide/gagasan awal. mana yang lebih dahulu di prioritaskan. Selain daripada itu. sekaligus memperhitungkan harapan atau target capaian selama program itu dilakukan. Dari beberapa kelompok kategori sasaran. ada beberapa langkah yang perlu di tetapkan untuk landasan strategis yaitu : 1) Penetapan isi informasi. efektif dan tepat sasaran sesuai dengan yang hendak dituju. 4) Memilih dan menetapkan kreator seni sebagai agen penggarap media seni untuk penyampaian informasi publik melalui seni tradisi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI kedua. kegiatan kurang dapat bermanfaat dan pengelolaan dana / biaya akan menjadi lebih besar daripada capaian hasil yang hendak dituju.

8) Memilih dan menetapkan waktu penyampaian informasi (gelar seni) agar masyarakat sasaran dapat terlibat lebih maksimal karena tidak terganggu kebutuhannya. Upacara66 . apa betul program yang dulu dilakukan dapat mencapai sasaran atau tidak. Model-model ini dapat digarap di Perguruan Tinggi Seni kemudian disosialisasikan pada seniman daerah untuk dikaryakan di daerahnya tersebut. 7) Memilih dan menetapkan lembaga kontrol sebagai tim pengamat. dan lembaga ini seperti LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sejenis dengan programnya. Lembaga kontrol ini bertugas untuk mengkritisi dan memberikan penilaian kepada langkah kerja pemilik gagasan (pemerintah). untuk mewadahi isi pesan yang akan dituangkan melalui sebuah karya seni untuk menyentuh hati nurani masyarakat penonton (apresian).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dengan konteks kebutuhannya. 6) Memilih dan menetapkan materi seni dan seniman pelaku. 10) Mengukur tingkat keberhasilan melalui kajian-kajian atau penelitian. 9) Membuat atau menyusun model bentuk media seni seperti apa yang cocok untuk suatu masyarakat tertentu. agar pesan dapat dengan mudah diterima masyarakat. Malaysia maupun Brunai Darussalam memiliki forum berupa kegiatan budaya seperti upacara-upacara akbar yang melibatkan banyak hadirin sebagai peserta maupun penonton dalam upacara tersebut. Misalnya musim ujian sekolah. Tentu saja pilihan ini berkaitan dengan keadaan masyarakat sebagai objek dan kekuatan media seni yang tepat untuk menyentuh objek tersebut. apakah langkah yang telah ditetapkan ini sudah sesuai atau tidak. Forum Yang Paling Efektif untuk Penyampaian Informasi Melalui Seni Di Kalimantan pada umumnya. baik Kalimantan Indonesia. maka tinggal menindak lanjuti dan apabila salah akan segera dapat merevisi. Pemilihan materi seni dan pemilihan peraga seni harus juga tepat. Apabila pola kerja sudah dinilai betul. dan juga dapat dihayati masyarakat lain yang tidak di prioritaskan. tidak tepat untuk melakukan kegiatan-kegiatan berkesenian yang berhubungan dengan siswa.

Forum STQ-STQ tersebut mampu menghadirkan ribuan bahkan jutaan manusia yang hadir dalam forum akbar tersebut. Upacara-upacara besar tersebut belakangan ini sudah mulai dikemas menjadi objek seni wisata dan kemasan wisata oleh Pemerintah Daerah setempat. Blawing Barek adalah seorang tokoh adat yang kharismatik dan sebagai penari serta pemusik yang piawai. kemudian seleksi ini akan dilanjutkan ditingkat propinsi dan akan dilanjutkan pada Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional. Blawing Barek. demikian juga forum STQ bahwa gelar seni dilakukan untuk pembukaan dan penutupan serta disetiap hari menjelang gelar kompetisi. untuk menjaring pribadi-pribadi sebagai agen penyampai pesan yaitu : 1.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI upacara besar pada masyarakat Dayak dikenal nama-nama upacara yaitu Gawai Dayak. dikenal istilah Grebeg). keluar tampil bersama-sama etnik Dayak yang lain untuk melakukan upacara dalam bentuk gelar seni budaya (seperti di Jawa. Anak-anak dan cucu67 . dia juga diangkat oleh tokohtokoh adat Dayak Kalimantan (Dayak Borneo) untuk memimpin keutuhan suku-suku Dayak yang tersebar di Kalimantan besar. Pada masyarakat etnik Melayu memiliki beberapa forum besar di antaranya lebaran Idul Fitri. dengan demikian Forum akbar ini dapat dibidik menjadi ajang penyaluran informasi publik melalui gelar seni. Dangai. Dalam acara ini berbagai etnik Dayak besar dan sub etnik Dayak. Belakangan ini muncul forum sejenis STQ bagi masyarakat Kristiani yaitu Pusparawi / Pusparani yang juga mulai dibesarkan pada tiap tahunnya dengan disertai gelar seni budaya di acara pembukaan dan penutupan serta disela-sela acara kompetisi. lebaran Haji dan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) di tiap-tiap kabupaten. Dahau yang artinya pesta dan upacara besar. Ditingkat Kabupaten dilakukan secara berpindah-pindah tempat pentasnya sesuai hasil rapat panitia tahun sebelumnya. Ketua Adat Besar Suku Bahau dari alur keluarga Dayak Long Gelaat / Apo Kayan. Erau. dalam hal ini Dinas Pariwisata tingkat Provinsi. Gawai Dayak dan STQ tersebut dilakukan tiap tahun. Lembaga dan Pribadi Sebagai Agen Penyampai Pesan Di Kalimantan yang begitu luas tidaklah mudah untuk memilih lembaga atau pribadi yang mampu mewadahi gagasan-gagasan atau informasi melalui media seni untuk publik. namun demikian saya punya pandangan untuk langkah awal yang mungkin lebih efektif.

Jaringan utama penyalur gagasan /informasi pada masyarakat Kalimantan adalah lembaga adat dan kerajaan. Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. lembaga ini memiliki jaringan dengan UNS-UMS-UNISRI dan lain-lain. Pengaruhnya melampaui lintas batas propinsi bahkan lintas batas Negara. 3. Intisari 1. 2. 68 . 3. adik Sultan Alidin Syah yang memiliki kharisma kepemimpinan yang luar biasa. Pangeran dari Kasultanan Kotawaringin. Bahasa seni adalah bahasa simbol. Posisi rumah di hulu Mahakam di daerah Long Pahangai. Tokoh semacam ini potensial menjadi pribadi agen penyampai informasi publik melalui seni budaya.Lembaga ISI dapat menyentuh jalur Adat dan lembaga Kerajaan sekaligus menyentuh Sanggar-sanggar seni dan Komunitas seni di Kalimantan. dan lembaga tersebut memiliki para ahli dan kreator seni yang patut diperhitungkan dan diperankan. Motivator dan kreator seni adalah unsur utama dalam program penyadaran masyarakat melalui seni. Pangeran Muashidin Syah. Dia tinggal di Jalur hulu sungai sampai Hilir sungai Mahakam Kalimantan Timur. belakangan ini juga di daulat untuk menjadi penasehat Asosiasi Raja dan Sultan (Rasul).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF cucunya juga seniman yang cukup disegani dilingkungan komunitasnya. Insan akademis baik itu dosen ataupun mahasiswa dan alumni dapat menjadi Tim Ahli dalam bidang olah seni dan gelar seni untuk penyadaran masyarakat . Di wilayah Kalimantan dan Sumatra di Kalimantan membawahi lima belas (15) kerajaan dan di Asosiasi Raja dan Sultan membawahi enam belas(16) kerajaan Islam. 4. 2. Dapat dibayangkan berapa orang yang terjaring dalam ikatan garis karisma pribadinya tersebut. di bagian tengah di kampung Melak Sendawar. sedangkan di hilir Mahakam ada di Samarinda. Dia sangat dihormati dan disegani oleh Raja-raja komunitas Kalimantan kemudian diangkat menjadi penasehat Kerajaan dan Kesultanan Kalimantan. Semua seni dapat diperankan sebagai media penyampai informasi publik.

69 . Ada tujuh prasarat ideal untuk memanfaatkan seni sebagai media informasi. Fungsi seni untuk kehidupan manusia. Airlangga Press. 6. Surabaya Sujarni Alloy 2008 MOZAIK DAYAK. Pontianak Yohanes Bonoh 2003 ADAT PERKAWINAN SUKU DAYAK TUNJUNG. Daftar Pustaka Frans Jiu Luai 2002 HUDOQ SEBUAH LEGENDA (TARIAN) HUDOQ PADA ADAT DAYA MODANG/ LUNG GELAAT. Ford Foundation-Insitut Dayakologi. Pemda Kutai Barat. KEBERAGAMAN SUB SUKU DAN BAHASA DAYAK DI KALBAR.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 5. Airlangga University.S 2002 PAKAIAN ADAT (tradisional) KAYAAN MEKAAM (Bahau). Demikian sekelumit kata tentang seni sebagai media penyampaian informasi. Tata Cara Pengesahan Perkawinan Orang Dayak Benoak. Surabaya. Airlangga Press. Surabaya Frans Jiu Luay 2009 Adat Nemlaai-Lung Gelaat. khususnya mengenai seni tradisional dan adat budaya masyarakat Kalimantan. Surabaya Pamung 2003 PELULUKNG. semoga dapat menjadi bahan diskusi dan dapat menjadi masukan untuk menyumbang kebutuhan informasi di jajaran Kementerian Kominfo. Airlangga Press.Serduwar Liah Luhat.

Dharsono. 08122656566. Dosen Pasca Sarjana ISI Surakarta.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof.co. Bandung: Rekayasa Sain 2007. Tinjauan estetika Nusantara. mendapatkan gelar doktor pada Sekolah Pasca sarjana ITB 2005. Beberapa buku yang pernah dipublikasikan antara lain: Pengantar Estetika. 2008 Tinggal di Jl. e-mail: kartikasony@yahoo. Lahir di Klaten. STSI Press.id 70 . Ketua Lembaga Pengkajian dan Konservasi Budaya Nusantara di Surakarta. 14 Juli 1951. Kritik Seni. Seni Rupa Modern. Bandung: Rekayasa Sain 2004. Sebagai ilmuwan menawarkan beberapa konsep estetika sebagai alternatif penulisan kajian dan pengamatan seni budaya sebagai salah satu model penelitian dan penulisan karya ilmiah. Dosen Luar Biasa Pascasarjana Universitas Trisakti Jakarta Saat ini menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ISI Surakarta. Bandung: Rekayasa Sain 2004. Guru besar Bidang Ilmu Estetika. Ketua Litbang SNKI (Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia) Di Jakarta.Pembangunan I/13 Perum UNS Jaten Karanganyar 57731. Estetika Barat dan Timur. Dr. Budaya Nusantara (Kajian Pohon Hayat pada Batik). Bandung: Rekayasa Sain 2006). MSn (Sony Kartika). Bandung: Rekayasa Sain 2007.

baik yang “klasik” maupun yang”rakyat”. Kesenian tradisi yang mampu mewadahi ungkapan gagasan dalam seni dan sekaligus cocok untuk digunakan sebagai media komunikasi untuk penyampaian pesan kepada khalayak sesuai dengan kebutuhan maisenas. Seni tradisi yang layak untuk diangkat dan dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif adalah seni tradisi yang dapat dikemas sebagai bentuk tontonan yang komunikatif-dialogis. Sedang kesenian tradisi “rakyat” kita terbingkai dalam dialektika budaya masa K 71 . maka muncul kelompok-kelompok penggagas budaya tertentu (perekayasa budaya) yang memanfaatkan kesenian tradisi sebagai alat propaganda politik maupun propaganda sosial. yang kemudian terkenal dengan media komunikasi dengan tujuan tertentu. Musik dan tari Jawa terbingkai dalam sistem kekuatan monarki-absolut yang berdialektika dengan sistem-sistem lainnya di waktu itu. telah terbingkai dalam satu pigura waktu. Pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenas.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Tengah dan DI Jogjakarta Dharsono (Sony Kartika) Pakar Ilmu Estetika Ketua LPPM Dosen ISI Surakarta Seni tradisi dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial tertentu. Adapun waktu tersebut adalah waktu yang telah menyelesaikan suatu putaran dialektika budaya. Pendahuluan ondisi kesenian tradisi kita. disebut tradisi karena “tradisi” itu.

sebagai emplementasi globalisasi ekonomi dalam trasformasi kapitalisme konsumen. Proses tersebut mencerminkan adanya 72 . Kesenian tradisi sebagai eksprsi kebudayaan Kondisi budaya Indonesia telah mengalami proses transformasi budaya sejak jaman prasejarah. kita dihadapkan kepada dua komunitas. dan atau lembaga pemesan tertentu). Pemetakan seni tradisi seyogyanya dipilih terhadap kesenian tradisi yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi yang efektif dan informatif. akibatnya kesenian tersebut akan dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial yang berorientasi pada industri kreatif. kenyataan yang terjadi dalam sebuah pertunjukan/sajian seni. Penyajian karya seni merupakan rekayasa yang dirancang dan disajikan untuk pengamat seni . sesuai dengan kebutuhan maisenasnya (dalam halini Pemerintah. sedang penikmatan sebagai proses cenderung masuk pada demensi psikologis. sesuai kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi. Namun demikian. dalam menembus keterbatasan. Penyajian karya seni merupakan salah satu bentuk aktivitas yang memberi kemungkinan terjadinya interaksi dialog tiga komponen antara seniman. secara lebih luas dan efektif dan diharapkan dapat menemukan maknanya yang hakiki. Namun demikian pelaku seni sebaiknya tetap diharapkan untuk menjaga kareakter. Untuk itu perlu memetakan seni pertunjukkan tradisi yang mampu menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif. Kini budaya kita terbingkai oleh pranata sosial yang bermuara pada industri kreatif. Pengamatan atau apresiasi cenderung dimensi logis. dan kekaligus untuk diajak bersama-sama menangkap pesan yang disampaikan. maka muncullah kelompok-kelompok kesenian yang memanfaatkan kesenian rakyat sebagai alat propaganda sosial. Pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi akan sangat berkaitan dengan rekayasa budaya yang dikemas lewat pesan-pesan tertentu. yang dirasakan baik oleh seniman maupun pengamatnya. yaitu komunitas pengamat dan penikmat (penonton). karya dan pengamatnya. Proses pengamatan tidak sama dengan penikmatan. Yang menjadi sasaran topik dalam makalah ini adalah bagaimana kita mensiasati penonton.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF lampau kita di mana sistem ekonomi pertanian tradisi dan sistem sosial.

Seni tradisi perlu dilestarikan keberadaannya. Ini mengisyaratkan terjadinya proses kesinambungan kesenian tradisi (terutama wayang ) dilihat dari aspek seni rupa maupun pertunjukannya (Wiyoso. 1996:1). terutama perkembangan sejarah kesenian Indonesia mempunyai ciri yang menonjol. Keempuan para Wali dan Raja dalam mengolah unsur–unsur wayang. Tiap daerah memiliki akar budaya prasejarah sebagai dasar dari tradisi kesenian Indonesia yang sampai sekarang ada yang masih dipertahankan (Wiyoso. perlu adanya kajian dan penggalian sebagai satu usaha pelestarian. dan wayang dan sebagainya. Ciri menonjol dari kesenian Indonesia ialah bentuk yang plu-ralistis yang tersebar hampir di kawasan Nusantara. Kesenjangan itulah yang terjadi pada saat lesunya kebudayaan pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Kesinambungan tradisi seni memang pernah terputus sehingga perintisan untuk mencapai bentuk kesenian baru terhalang bahkan terhenti sama sekali. Adanya perkembangan budaya tersebut. merupakan proses perkembangan seni tradisi masa lalu. Kesenian tradisi sebagai salah satu produk budaya sejak zaman dulu merupakan salah satu bentuk seni Jawa tradisional yang mengalami proses tranformasi. Usaha untuk mengenal kesenian Jawa termasuk mencoba untuk menggali latar belakang budaya masyarakat Jawa. yang kemudian merupakan cermin keragaman budaya. Misalnya “wayang” sebagai produk perkembangan kesenian Indonesia Hindu-Budha. 1993:41). ketika pamor budaya kerajaan Indone73 . tari. menghasilkan wayang baru. sebagai salah satu identitas dan jati-diri bangsa Indonesia. Akibat dari kesenjangan proses perkembangan kesenian Indonesia hanya mengharapkan pelestarian tradisi seni semata-mata tanpa upaya pengembangan untuk mencapai tradisi baru. Ciri-ciri tersebut mencerminkan keanekaragaman kebudayaan sesuatu bangsa yang mendiami daerah yang terpisah. arsitektur.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI perkembangan budaya etnik (walaupun tidak semua). keris. Proses perkembangan yang berkesinambungan antara budaya tradisi masa lalu dengan tradisi selanjutnya terus berlangsung hingga kini. Kebudayaan hasil ekspresi masarakat Jawa (sekarang Indonesia). batik. dari berbagai macam budaya-seni menurut daerahnya masing-masing merupakan modal dasar pembangunan. terutama untuk memberikan satu aset budaya dalam pembangunan dewasa ini. Kebudayaan Jawa ini melahirkan berbagai bentuk seni klasik dalam bentuk karawitan. interior.

Sajian seni merupakan rekayasa yang dirancang dan disajikan untuk penghayat seni secara lebih luas dan efektif dan diharapkan dapat menemukan maknanya yang hakiki. Salah satu bentuk kesenian lama yang sarat dengan nilai-nilai budaya yang masih sempat berkembang pada pemerintahan kolonial adalah wayang. Di saat itulah kesadaran tradisi bangsa yang terjajah terdesak yang berakibat kurangnya daya cipta untuk menemukan bentuk ekspresi baru yang mencerminkan kekuatan tradisi seni masa lampau. dalam proses mencari format budaya Indonesia. komunitas pengamat dan komunitas penikmat. Namun kini kesenian tradisi diminati kembali sebagai salah satu alternatif sebagai sumber inspirasi penciptaan dan rekayasa budaya dan dimanfaatkan sebagai propaganda sosial. dalam menembus keterbatasan. Apresiasi seni merupakan proses sadar yang dilakukan pengamat dalam menghadapi dan memahami karya seni. Kesenian sebagai media apresiasi Kegaiatan seni akan selalu dihadapkan oleh dua komunitas. Hal ini dapat dikatakan sebagai bukti adanya proses kontinuitas dalam upaya pelestarian tradisi. Itulah sebabnya sangat dibutuhkan hadirnya pengamat seni dan atau kritisi seni. Makin menipisnya kesadaran tradisi berakibat pula surutnya daya apresiasi seni karya cipta bangsa sendiri. Sedang penikmatan yang di dalamnya sarat dengan demensi psikologi yang sangat subyektif dan mengabaikan dimensi logis. Seorang pengamat yang sedang memahami karya sajian maka sebenarnya ia ha74 . 1986:41). dan merupakan salah satu cermin adanya transformasi budaya. Hanya di pusat-pusat kesenian lama kesadaran tradisi tersebut masih tersisa untuk sekadar melestarikan nilai seni yang diwariskan dari para pencipta pendahulunya. Sajian seni merupakan salah satu bentuk aktivitas yang memberi kemungkinan terjadinya interaksi dialog tiga komponen antara seniman. Apresiasi adalah proses untuk menafsirkan sebuah makna yang terkandung dalam karya seni. karya dan pengamat. yang dirasakan baik oleh seniman maupun penghayatnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF sia-Islam mulai memudar. Proses pengamatan dalam pelaksanaannya adalah apresiasi. yang mampu menterjemahkan beragam bahasa visual dalam ragam bentuk dan ragam makna yang terbentuk oleh pengalaman emosional. baik dilihat dari sudut pertunjukan maupun dari seni rupa (Wiyoso.

Penikmatan berbeda dengan pengamatan (pemahaman). terutama usaha menguraikan dan menjelaskan secara cermat.. misalnya. “Saya senang karena film itu dimainkan oleh . Pengamatan atau pemahaman nerupakan proses dimensi logis. Apresiasi seni merupakan proses sadar yang dilakukan penghayat dalam menghadapi dan menghargai karya seni.”. Apresiasi menuntut ketrampilan dan kepekaan estetik untuk memungkinkan seseorang mendapatkan pangalaman estetika dalam mengamati karya seni. Tingkatan kedua disebut tingkat relativitas budaya. Pengalaman estetika dari seseorang dipersoalkan bagaimana seseorang pengamat menanggapi atau memahami suatu benda indah atau karya seni? Seseorang tidak lagi hanya membahas sifat-sifat yang merupakan kualitas dari benda estetik. tingkat relativitas ini merupakan ultimatum senang atau tidak senang atas keputusan sikap psikologis karena ika75 . dan lengkap dari semua gejala psikologis yang berhubungan dengan karya seni (Liang Gie 1978:51). merupakan hasil tafsir makna (arti) yang terkandung di dalamnya. dimana seseorang dalam memberikan ultimatum senang dan tidak senang karena adanya keputusan subjektivitas. proses interaksi antara aspek intrinsik seseorang terhadap sebuah karya estetik. karena untuk semua itu memerlukan pemusatan atau perhatian yang sungguh-sungguh. Tingkatan relativitas tersebut juga tergantung dari tingkat intelektual seseorang dan latar budayanya. melainkan juga menelaah kualitas abstrak dari benda estetik. ultimatum tersebut berdasarkan keputusan yang berorientasi pada selera pribadi.. Tingkatan pertama disebut tingkat subyektif relativitas. Tingkatan tersebut menurut Steppen C.. sedang penikmatan merupakan proses dimensi psikologis. Keputusan senang dan tidak senang lahir dari akibat pengaruh aspek psikologis secara instrinsik. Relativitas kajian tersebut tergantung dari tingkat relativitas seseorang dalam menghadapi sebuah karya sajian. Hasil dari interaksi proses tersebut merupakan ultimatum senang atau tidak senang terhadap keberlangsungan terhadap karya seni. Proses dalam pengenalan nilai karya seni. Pengalaman estetik bukanlah sesuatu yang mudah muncul atau mudah diperoleh.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI rus terlebih dahulu mengenal struktur organisasi atau dasar-dasar penyusunan dari karya yang sedang dihayati. Pepper dalam bukunya berjudul The Principles of Appreciation memberikan empat tingkatan ultimatum kesenangan berdasarkan tingkat relativitas seseorang. lepas sebelum atau setelah menikmati karya tersebut.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

tan latar belakang budaya. Tingkatan ini selalu berorientasi terhadap sikap budaya dimana mereka hidup. Misalnya: ”saya senang karena karya seni yang disajikan merupakan kebudayaan daerah ...”. Alasan yang menyangkut atas budaya kesukuan, kebangsaan, dan semua yang menyangkut tentang adanya orentasi budaya yang sepihak terhadap budayanya, akan mempengaruhi ultimatum senang dan tidak senang terhadap karya seni setelah ataupun sebelum karya seni tersebut dinikmati. Tingkatan ketiga disebut tingkat biological relativity, dimana ultimatum senang dan tidak senang didasari atas keputusan yang berdasarkan atas intrinsik yang muncul setelah menikmati karya tersebut. Ultimatum tersebut hampir mendekati proses apresiasi, namun masih banyak menggunakan aspek psikologis dibanding logika pemahaman estetik. Keputusan senang dan tidak merupakan proses penikmatan karya estetika yang sedang disajikan. Hal itu biasanya dilakukan pada penikmat yang tidak sepihak terhadap subyektivitas ataupun budaya simpatik. Tingkatan keempat merupakan tingkatan relativitas yang disebut absolut, artinya ultimatum senang atau tidak senang bukan dari intrinksik tetapi cenderung kepada sikap ekstrinsik. Ultimatum didasarkan atas pengaruh dari luar. Misal: Semua seni itu indah, tanpa berusaha menikmati dengan segala kekuatan aspek psikologis yang ia punyai. Semua tingkat relativitas tersebut menunjukkan adanya tingkat relativitas yang dipunyai oleh seorang penikmat. Tingkat tersebut merupakan proses interaksi psikologis seorang penikmat, sehingga untuk penyajian karya seni diperlukan penikmat atau penonton sesbagai audien pertunjukan. Ini yang oleh penggagas rekayasa seni budaya sebagai salah satu dasar untuk mampu membangun pertunjukan/kegiatan seni yang sarat akan pesan-pesan yang komunikatif tetapi tetap punya kapabilitas seni sebagai ekspresi dan berkarakter.

Seni tradisi sebagai rekayasa budaya Ketika seni tradisi dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial tertentu, maka muncul kelompok-kelompok kesenian yang memanfaatkan kesenian rakyat sebagai alat propaganda politik maupun propaganda sosial. Kesenian sebagai ajaran rokhani yang wigati (lihat seni sebagai tuntunan dan tontonan) terpinggirkan oleh kekuatan global secara vertikal horisantal. Ajaran kebudayaan yang telah berakar di bumi pertiwi yang kita cintai ini, telah tergadaikan dan tergantikan dengan kebuday76

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

aan asing akibat pendidikan populer. Kebudayaan populer yang menjadi ujung tombak menejemen kapitalisme konsumen mulai menggeser kearifan lokal yang menjadi ”ruh” dari kebudayaan, mulai terancam krisis demensi. Politik, ekonomi, hukum, dan bahkan kesenian, agama, mulai tercabut dari akar kebudayan dan berjalan sendiri-sendiri, seperi kereta tanpa masinis. Jadi janganlah heran apabila antara politik, hukum, ekonomi, agama dan seni saling bertabrakan.

Rekayasa sebagai media budaya populer Seni budaya masa yang sering disebut budaya populer atau seni populer, merupakan rekayasa budaya yang berorientasi dari perluasan kontinuitas pada seni rakyat atau seni yang berkembang dari masyarakat. Seni rakyat berkembang dari arus bawah, sedang populer art atau mass culture (budaya massa) berkembang sesuai dengan rekayasa klas atas. dikatakan demikian karena produk budaya massa dibuat oleh teknisi-teknisi yang disewa oleh para pengusaha; audiennya merupakan konsumen yang pasif, partisipasinya bukan karena adanya ikatan nilai sosio-cultural seperti pada seni rakyat tetapi partisipan dihadapkan pada alternatif membeli atau tidak... Kini, masyarakat di mana pertumbuhan gaya hidup semakin meningkat, memikat dan mengundang hasyrat, seperti perkembangan terakhir ini. Masyarakat konsumen Indonesia mutakhir tampaknya tumbuh dan beriringan dengan sejarah globalisasi ekonomi dan trasformasi kapitalisme konsumen yang ditandahi dengan menjamurnya pusat pembelajaan bergaya semacam Shopping Mall, industri waktu luang, industri mode atau fayen, industri kecantikan, industri koliner, industri nasehat, industri gosip, kawasan huni mewah, apartemen, real estate, gencarnya iklan barang-barang supermakket dan liburan wisata ke luar negeri, berdirinya sekolah-sekolah mahal (dengan label plus), kegandrungan terhadap merek asing, makanan serba instan (fast food), telepon seluler (HP), dan serbuan gaya hidup lewat industri iklan dan telivisi yang sudah masuk ke ruang-ruang pribadi dan bahkan mungkin sudah masuk ke relung-relung jiwa kita yang paling dalam... (Idi Subandi 2007). Tak disangsikan lagi, bahwa yang bertindak sebagai agen public relation dari kaum selibritis adalah media populer dan terutama televisi. Telivisi dengan kuatnya pada aspek hiburan ini bagi sebagaian kalangan bahkan dianggap mengkolonisasi waktu luang. Saluran musik te77

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

livisi non-stop 24 jam seperti MTV tidak hanya menghibur anak muda diberbagai penjuru Asia dengan video klip lagu-lagu dari grup-grup yang lagi in, tetapi juga menghibur mereka dengan pesan-pesan komersial, dan ini secara tidak lasung menanamkan nilai dan kesadaran akan betapa bahagianya kalau dapat mengisi luang dengan dengan bersenang dan bersantai bersama keluarga. Sementara pabrik gaya hidup yang sekian lama didominasi iklan kini dipercanggih dengan lewat rekayasa citra yang melahirkan para praktisi public relation dalam dunia bisnis, tontonan, dan juga politik. Dalam abad media, citra adalah segalanya, bahkan untuk menjadi bintang, orang tidak perlu sehebat Gandhi, Soekarno. Untuk menjadi hero, orang tidak perlu susah melakukan hal-hal yang luar biasa atau mesti menciptakan karya besar. Orang-orang yang dianggap besar kini adalah orang-orang biasa yang tenar dan ditenarkan oleh media; selibriti menurut media jurnalistik sekarang lebih asyik tokoh, bintang atau selibriti, untuk kemudian sewaktu-waktu mengenyahkannya dan menggantikannya dengan yang baru. Seperti siklus mode atau fashion dalam dunia bintang. Akhirnya kita hanya mampu menggaruk-garuk kepala, betapa hebatnya dunia ini.

Rekayasa sebagai media komunikasi Kesenian tradisi rakyat yang pernah berkembang di daerah, perlu kita pikirkan sebelum punah dimakan jaman. Seni rakyat dengan berbagai ragam bentuk dan ragam budaya daerah yang merupakan kekayaan bumi nusantara perlu ada rekayasa kultural sesuai dengan perkembangan teknologi dan informasi yang semakin global. Peningkatan sumber daya manusia yang menitik beratkan pada kekayaan daerah, mau tidak mau akan menoleh terhadap ragam seni tradisi rakyat yang berkembang di daerah sebagai alternatif garap yang mengarah pada seni komoditas, itu tak mungkin dapat dielakkan. Selanjutnya kita harus berfikir bahwa kesenian rakyat adalah merupakan aset budaya daerah, yang perlu dikembangkan dan dilestarikan dengan sebuah rekayasa budaya yang arif. Rekayasa yang punya kearifan, apabila sebuah pelestarian budaya merupakan upaya untuk mengangkat kembali warisan budaya lokal sebagai langkah nyata dari kelompok masyarakat dalam membangun kembali warisan budaya leluhurnya, serta menatap masa depan, dengan penuh keyakinan tentang kekuatan diri di tengah peradaban yang
78

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

kian mengglobal. Budaya tradisi lokal merupakan kesenian warisan yang menjadi unggulan daerah dan kemudian menjadi ikon daerahnya, maka perlu dilindungi dan dilestarikan keberadaannya, sebagai bentuk ketahanan budaya. Ketahanan budaya akan menjadi cermin atas ketahanan nasional. Maka sebaiknya pelestarian budaya sebaiknya dikonsentrasikan dengan mengambil ikon warisan budaya secara aktual. Aktualisasi terhadap karya-karya tersebut sebaiknya dibangun dengan basic warisan budaya yang disesuaikan dengan perkembangan kini tanpa meninggalkan nilai essensinya. Ketika seni tradisi dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial tertentu, maka muncul kelompok-kelompok penggagas budaya tertentu (perekayasa budaya) yang memanfaatkan kesenian tradisi sebagai alat propaganda politik maupun propaganda sosial, yang kemudian terkenal dengan media komunikasi dengan tujuan tertentu. Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat luas. Dalam masing-masing budaya tersebut terdapat pola kesenian, media kesenian, dan posisi seniman yang beragam. Keragaman itu juga mempengaruhi bentuk maupun isi. Oleh karena itu, seni tradisional tidak bisa dilihat hanya dari satu pendekatan atau hanya berdasar pada prinsip umum (universal) yang diberlakukan untuk semua. Untuk melihat makna dan fungsi suatu kesenian, harus dilakukan pendekatan sesuai dengan karakteristik masyarakat di mana kesenian dan tradisi itu hidup dan berkembang (Limbeng, 2009). Kesenian tradisi pada dasarnya memiliki pola atau pakem yang membuat kesenian itu menjadi khas, berbeda dari yang lainnya. Namun sebenarnya pakem tersebut bukanlah suatu aturan “mati”, melainkan punya potensi untuk dikembangkan, berubah, dan berkembang sesuai dengan kebutuhan, bahkan mampu mengakomodasi perubahan isi sesuai dengan kepentingan (misal: propaganda politik ataupun propaganda sosial), Ini yang kemudian dikatakan sebagai rekayasa budaya sebagai rekayasa kepentingan. Pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenas. Namun demikian tetap tergantung kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi namun tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi lewat seni tradisi .
79

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Seni tradisi sebagai media komunikasi, maka perlu dipilih bentukbentuk seni tradisi yang telah populer, seni pertunjukkan rakyat yang punya kemampuan untuk menciptakan hubungan antara seni dan masyarakatnya. Maka melalui seni tradisi sebagai media komunikasi yang komunikatif adalah (di Jawa-Tengah) melalui pertunjukkan seni tradisi: wayang, teater tradisi (ketoprak, wayang orang). Kesenian tersebut mampu membangun dialog langsung antara pelaku dan komunitasnya. Pelaku seni. Para dalang dan pelaku seni dapat mengungkapkan ide dan gagasannya kepada komunitasnya, maka akan terjadi dialog interaktif disela-sela cerita-cerita yang dibawakannya. Seorang dalang atau sutradara dapat mengungkapkan gagasan dan sekaligus menyampaikan pesan yang dikemas sebagai bentuk informasi yang diracik dalam satu rangkaian cerita, maka ungkapan seni dan pesan dari maisenasnya secara holistik.

Pemetakan seni tradisi sebagai media komunikasi Pemetaan kegiatan Seni tradisi yang layak untuk diangkat dan dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif adalah seni tradisi yang dapat dikemas sebagai tontonan yang komunikatif-dialogis. Kesenian tradisi yang mampu mewadahi ungkapan gagasan dalam seni dan sekaligus cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. Meski semua seni tradisi merupakan ajaran dan tontonan, namun tidak semua seni pertunjukkan tradisi dapat menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif. Mungkin hanya media seni tradisi yang verbal dan komunikatif-dialogis saja yang cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. Seni tradisi yang lain, misalnya yang mengandalkan gerak atau nyanyian dalam batas tertentu sulit digunakan sebagai media penyampai. Oleh karena itu dibutuhkan pemetaan seni tradisi yang bisa digunakan sebagai media penyampaian pesan dan media informasi yang komunikatif. Pemerintah dalam halini lewat Kementrian Komunikasi dan Informatika, Pemerintah daerah tingkat propinsi ataupun kabupaten/Kota diharapkan mampu mewadahi potensi kesenian tradisi tersebut sebagai satu daya untuk mendorong aktivitas budaya, dan sekaligus mampu dimanfaatkan sebagai media komunikasi.

80

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

1. Wayang Kesenian wayang, merupakan jenis kesenian yang pada dasarnya menggunakan sosok wayang sebagai tema, sumber dan gagasan. Penggunaan sosok tersebut dapat saja merupakan media ekspresi secara murni ataupun penggambaran tematik tertentu. Sehingga kesenian wayang ini juga dapat disebut sebagai pertunjukan dengan menggunakan wayang sebagai sosok utama. Sosok wayang tersebut dapat tidak terbatas pada wayang kulit, tetapi juga wayang beber, wayang golek, wayang reka (termasuk wayang suket (Pedepoan Wayang Suket), wayang kampung (Komunitas Wayang Kampung Sebelah) dan sebagainya dan sebagainya.
Wayang wahyu Wayang krucil wayang Wayang beber Wayang Reka Wayang golek Wayang purwa

1

2

Wayang kampung Wayang Suket Wayang bhuda Wayang suluh Wayang reka yang lain

81

1. 1. namun dilihat dari segi bentuknya maka nampak adanya kesinambungan bentuk wayang pada masa hindu dengan masa 82 . Hal ini karena adanya pandangan kosmis-magis yang mendasari penciptaan wayang. Perubahan bentuk realistis pada budaya Hindu kemudian menjadi bentuk non-realistik pada budaya Islam. tetapi justru memperkaya kualitas yang tercermin lewat perlambangan pada setiap ujud rupa wayang. Pengaruh kebudayaan dari luar tak menggoyahkan pandangan hidup itu. sebagai wayang klasik tradisional tersebut di atas merupakan karya local-genius yang kaya akan perlambangan kehidupan. Wayang Purwa Wayang Purwa. kekuatan perlambangan justru lebih memperkaya kualitas. adalah wayang purwa.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Wayang merupakan seni tradisi layak untuk diangkat dan dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif adalah seni tradisi yang dapat dikemas sebagai tontonan yang komunikatif-dialogis. Wayang purwa kemudian merupakan sarana dahwah agama islamiah . Kekentalan kosmis-magis kemudian merupakan satu kekuatan yang menjadi landasan munculnya local-genius. yang tercermin pada setiap unsur rupa wayang. Pemilihan kesenian wayang yang efektif dan komunikatif untuk wilayah JawaTengah dan DIJ. Kemudian wayang kulit Purwa yang non realistik tersebut merupakan wayang kulit klasik tradisionil yang mampu memberikan jatidiri bangsa Indonesia. Sekaligus merupakan bukti munculnya local-genius bangsa Indonesia. kemudian teradaptasi dengan budaya Jawa yang kental dengan kekuatan kosmis-magis dalam kosmologi Jawa. wayan kampung dan wayang suket Pilihan ini sudah digarap oleh keompok seni maupun komunitas peduli wayang. Wayang dalam bentuknya realistis akibat pengaruh budaya India melalui agama Hindu. Hal ini merupakan cerminan adanya kekuatan kosmologi yang mampu memberikan dasar dalam mengejawantahkan bentuk wayang sebagai perlambangan kehidupan manusia. Wayang mulai meninggalkan kepengaruhan budaya India yang realistik ke bentuk non-realistik. Hal tersebut membuktikan adanya kesinambungan bentuk wayang pada masa Indonesia Hindu dan Islam. Kelanjutan pada kebudayaan Islam.

sebagai sarana adaptasi seperti yang telah disinggung di depan. hanya mengalami distorsi-stilasif pada wayang purwa. Kesinambungan tradisi mendorong para empu wayang untuk melestarikan dan mengembangkan wayang dengan fungsi yang sama yaitu sebagai media pendidikan dan sebagai sarana seni pertunjukan yang bersifat lokal. merupakan pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi namun tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi 1. tetapi dikonsentrasikan ga83 . Wayang sebagai karya seni pertunjukan ini mengandung berbagai nilai karena sifatnya yang mixmedia Pertunjukan Wayang Purwa Pertunjukan Wayang Purwa di halaman balai Kota Surakarta (Dokumen Komunitas Ronggo Winter Wisma Seni TBS Surakarta 2010) Pertunjukan dengan menggunakan sosok wayang purwo di atas. Hal ini merupakan pertimbangan para wali. Pertunjukan wayang tersebut akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenasnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI agama Islam. Wayang Reka Wayang Reka merupakan wayang alternatif garaf yang beorientasi pada konsepsi wayang purwo.2.

wayang budha.2. Nasution. Bung Hatta. bedanya wayang suluh figur-figur yang dibangun berorientasi pada tokoh-tokoh pejabat tnggi waktu itu. bung Karno. para Bupati dan sebagainya. Wayang kampung ini secara figur garap menyerupai wayang suluh. dan berfungsi sebagai penyuluhan departemen Penerangan saat itu. Wayang reka ini di diJawa Tengah dan DIJ telah lahir karya wayang alternatif antara lain: wayang kampung. Suharto. dan lain sebagainya. Apabila perjalanan wayang purwa kemudian merupakan sarana dahwah agama islamiah. merupakan pemanfaatan seni tradisi alter84 . Jliteng Suparman. 1. para menteri. 1. wayang kampung direka dengan sosok orang kampung dan dufungsikan sebagai penebaran nilainilai kearifan lokal. Wayang Kampung Wayang kampung reka garapnya berorientasi terhadap wayang purwa.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF rap tematik dan mengacu pada funsi gara tertentu. wayang suluh. Wayang Kampung Sebelah di Serambi Museum Radya Pustaka dan di halaman Kampung Baluwarti (Dokumen Komunitas Ronggo Winter Wisma Seni TBS Surakarta 2010) Pertunjukan dengan menggunakan sosok wayang reka (wayang kampung) di atas. wayang suket. Pertunjukan Wayang Kampung Pertunjukan wayang kampung dengan ki Dalang Drs.

Dikatakan teater. Setidaknya ada empat unsur yang menjadi kekuatan dalam pertunjukan Slamet. di tangan Slamet Gundono bisa diubah dengan apa saja. Pertunjukan wayang seperti itu. tentu saja sudah sangat menjauh dari pakem pertunjukan wayang kulit konvensional. Sesuai dengan fungsinya yaitu untuk penebaran nilai kearifan lokal. Pertunjukan wayang tersebut akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenasnya.2. kepandaiannya ini membuat narasi yang disampaikan. Ketiga. sehingga penonton dapat mengikuti jalan ceri85 . dengan tingkat penghayatan yang tepat. dan dalam beberapa adegan para aktor itu berinteraksi dengan wayang yang dimainkan. sebagaimana layaknya dalang konvensional yang pandai menembang. namun secara konsepsi masih berorientasi pada wayang konvensi pada wayang purwa Sosok wayang atau Boneka wayang yang dibuat dari kulit. Pertama. yang biasa digunakan untuk pertunjukan wayang kulit.2. Slamet Gundono selalu memasukan unsur humor namun tidak dengan maksud melawak. Slamet Gundono yang setiap kali pentas selalu ditemani ukulele. secara eksitensi memang seolah lepas dari pakem. Banyak yang melakukannya. Pertunjukan gado-gado seperti itu sudah merebak di Tanah Air. pandai menembang dengan suara yang merdu. dengan pertunjukan teater wayang. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas penyaji sebagai media ungkap atau ekspresi dan sekaligus tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi. 1. ada satu kekuatan yang dimiliki Slamet dan kawan-kawannya sehingga pertunjukannya tetap memikat dan enak ditonton. karena pertunjukan ini juga melibatkan aktoraktor lain yang bermain di panggung. Kedua.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI natif sebagai media komunikasi. jadi lebih memikat. Namun. Jika pertunjukan Slamet Gundono harus diberi istilah. namun alur cerita yang dibangun masih ada benang merahnya. Wayang Suket Wayang Suket Slamet Gundono komunitas Wayang Suket merupakan pertunjukan wayang alternatif. sekalipun lakon yang dibawakan bernuansa surealis.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ta yang dibentangkan. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas penyaji sebagai media ungkap atau ekspresi dan sekaligus tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi. dalang dan sutradara Slamet Gundono. (www. Keempat. Ludruk. Ketoprak. Pertunjukan wayang tersebut merupakan ekspresi seniman secara intuitif garap dan dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenasnya. Komunitas Wayang Suket Mojosongo Surakarta (Dokumen Esha Kardus . Makyong. Slamet selalu mengusahakan pertunjukannya berlangsung secara komunikatif. Longser. 86 . misalnya Lenong.2009) Pertunjukan dengan menggunakan sosok wayang reka oleh Komunitas Wayang Suket (Slamet Gundono) dirakit seadanya Wayang suket merupakan teater tradisi alternatif sebagai media komunikasi antara aktor sekaligus dalang Slamet gundono.tamanismailmarzuki. Ada interaksi antara pemain dengan penonton seperti yang terdapat dalam pertunjukkan teater tradisional.com Garibaba’s Strange World 2009) Pertunjukan Wayang Suket Beberapa adegan dalam wayang suket.

Taman Budaya Jawa-Tengah TBS Surakarta (Dokumen Esha Kardus. Adanya perkembangan teater tradisi. Pertunjukan ketoprak Beberapa adegan dalam ketoprak. Teater Tradisi Teater tradisi di Jawa (seperti. Kini ketoprak ataupun wayang orang (panggung) ditinggalkan penggemarnya dan beralih ke layar kaca. 2009) Pertunjukan Ketoprak (di atas) merupakan pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi. sebagai salah satu seni punya identitas dan karakter jati diri bangsa. ketoprak. sandiworo). Seputar 1960-1970-an teater tradisi yang muncul sebagai budaya masa di tengah masyarakat (ketoprak. Parede ketoprak sse Jawa tengah dan DIJ.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 2. Teater tradisi sebagai salah satu produk budaya merupakan salah satu bentuk seni Jawa tradisional yang mengalami proses tranformasi budaya. wayang orang. tidak hanya digemari tetapi sangat populer pada masyarakat. wayang orang. Proses tersebut mencerminkan adanya perkembangan budaya etnik (kesenian rakyat). maka ketoprak dan wayang orang yang dulu mengalami kejayaan sebagai budaya populer. telah mengalami proses transformasi budaya sejak jaman prasejarah. mempunyai ciri yang menonjol. Pertunjukan ketoprak terse87 . yang kemudian merupakan. sandiworo radio). Ketoprak dan wayang orang kini menjadi budaya kelangenan.

namun tetap berpegang terhadap kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi. yang dikemas sebagai. Penggagas ketoprak. ketoprak petilan. sehingga kesenian tersebut masih punya karakter. maka maisenas dalam halini “pemerintah” (Kementrian Komunikasi dan Informatika. sebagai alternatif. dan lain sebagainya. Perlu diingat bahwa seni tradisi merupakan ajaran dan tontonan. Oleh karena itu dibutuhkan pemetaan seni tradisi yang bisa digunakan sebagai media penyampaian pesan dan media informasi yang komunikatif. tetapi sebenarnya masih punya penggemar yang baik. dan punya kemampuan untuk menciptakan hubungan antara seni dan masyarakatnya. Kotoprak dan wayang orang kini mulai merambah ke gedung pertemuan. 3. di halaman-halaman. Seyogyanya para penggagas/pemrakarsa perlu memilih bentukbentuk seni tradisi yang telah populer. ataupun wayang panggung. ketoprak gremeng. wayang orang garap. Ketoprak sepert di atas ada peluang untuk tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi. Harus mampu membangun rekayasa budaya yang dikemas secara tematik garap. Rekomendasi 1. 88 . kini kurang diminati. Catatan terakhir muncul fragmen ketoprak/wayang orang. pendapa. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi. Sehingga para pelaku seni. guyon maton. Pemakaian dan pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi. Pemerintah daerah ataupun lembaga lain) perlu selektif memilih seni tradisi dapat menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif-dialogis saja yang cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak.. Maka melalui seni tradisi sebagai media komunikasi tersebut mampu membangun dialog langsung antara pelaku dan komunitasnya. 2. dapat mengungkapkan ide dan gagasannya sekaligus mampu membangun dialog interaktif disela-sela ceritacerita yang disajikan. fragmen wayang orang.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF but akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas secara tematik garap.

Yogyakarta. Agama Asli Indonesia. New York: The Free Press. Pameran Seni Rupa Kontemporer dalam Rangka Pekan Wayang Indonesia VI. Bandung: Rekayasa Sain Geertz. Gadjah Mada University Press Simuh. Yogyakarta. Arjunawiwaha: Tranformasi Teks Jawa Kuna lewat Tanggapan dan Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa. Haryono Haryoguritno. Makalah Pengantar.. The Religion of Java. I. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Bandung: Seni Rupa PPS-ITB. Budaya Populer sebagai Komunikasi (Dinamika Popscape dan Mediascape di Indonesia Kontemporer). Makalah Seminar Nasional Seni Rupa Tradisi Nusantara Topik: Implementasi Konsep Kriya dalam Pendidikan Tinggi Surakarta:STSI Jose an Miriam Arguelles (1972). Adi Subandi Ibrahim (2007). Pameran Seni Rupa Kontemporer Pekan Wayang Indonesia VI. Jakarta. Rupa Wayang dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Wiyoso Yodoseputro. Jogyakarta:Jalasutra Dharsono (Sony Kartika) (2007). 1996 Seni Prasejarah di Indonesia. Yogyakarta:ISI Sumardjo. Javanese Culture. RM (1999). Asmujo J (1999). yayasan Bentang Budaya Subagyo. New York Ithaca: Cornell University Press. Bandung. (1981). Estetika. Jakob. Corne. 89 . Duta Wacana University Press. New York: Oxford University Press Mulder. Rahmat. The Liang Gie. Yogyakarta: Penerbit Karya. 1976 Garis Besar Filsafat Keindahan. Memahami Seni. Makalah Pengantar. Terjemahan Clare Holt dalam Art in Indonesian Continuities and Change. Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa. 1973 Art in Indonesia: Continuties and Change. Irianto. Mandala.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Daftar Pustaka Claire Holt. 1993 Wayang Purwa Gagrak Surakarta Ditinjau dari Aspek Rupanya. Rupa Wayang dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Diktat PascaSajana ITB (tidak diterbitkan) Wiryamartana. Kria Dalam Pendidikan Tinggi. 1990. Wiyoso Yodoseputro. Diktat Kuliah. Boelder and London: Shambala Koentjaraningrt (1985). Niel (1984). TTh. Clifford (1960). Kuntara. (1996). Sinar Harapan dan Yayasan Cipta Loka Caraka Soedarsono. 1993 Kesinambungan Tradisi dan Sumber Pengilhaman. Seni Indonesia (kontinuitas dan Perubahan. Yogyakarta. University (1967).

.

MENGGUBAH SENI TRADISI DAN PERTUNJUKAN YANG KOMUNIKATIF UNTUK PENCERDASAN RAKYAT 3 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

diantaranya dengan I Made Bandem MA. Lulus Sarjana Muda dari ASTI Denpasar tahun 1973. Sering juga berkunjung ke berbagai lembaga pendidikan untuk bertukar pengetahuan tentang dunia seni khususnya seni tari. 1974). serta dengan Keith Terry memproduksi tarian terkenal Tjak (1990). Sedangkan pentasnya di dalam negeri antara lain. 1977). Catatan Beberapa Seni Pertunjukan Bali”(sebuah karya bersama ASTI Denpasar. 1977). Mulai belajar menari pada usia 11 tahun dari ayahnya sendiri. melanjutkan ke ASTI Yogyakarta. ikut memprotes pemerintah Malaysia atas klaimnya terhadap tari Pendet. 92 . 1975). Baru-baru ini. Dramatari Sunda Upasunda (Yogyakarta. Beberapa buku pernah ia tulis. pernah bekerja sama dengan beberapa seniman tari. bersama dengan beberapa seniman Bali. Amerika Serikat pada tahun 1992. 1976) dan Dramatari Apa”(Denpasar. 12 April 1948.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Lahir di Singapadu. lulus tahun 1975. Amerika Serikat. 1978). salah satu tempat yang ia kunjungi adalah Holy Cross College in Worcester. ia sering mengikuti pentas baik di dalam negeri maupun luar negeri. Dramatari Cak Subali Sugriwa”(Denpasar. 1977). Lawatan pentasnya di luar negeri di lakukan antara lain di Iran (1969). 1975). juga mendapatkan gelar guru besar bidang koreografi dari STSI Denpasar pada tahun 1999. Sendratari Abimanyu Gugur”(Denpasar. Dramatari Cak DewaRuci”(1982). New England. Bali. antara lain. serta Singapura (1977). Perkembangan Seni Tari Bali” (Proyek Sasana Budaya Bali-Denpasar) dan Pengantar Karawitan Bali (ASTI Denpasar. menyusun Dramatari Topeng Puputan Badung”(Denpasar. Jerman (1975). kemudian. Dramatari Calonarang Katundung Ratnamanggali”(Yogyakarta. mendapatkan gelar PhD dari University of California. dengan Ikranagara menata drama Rimba Triwikrama (Jakarta. Hongkong (1977). Pemimpin sanggar tari Bali Waturenggong di Denpasar ini. Sebagai penari. 1978).

Indonesia adalah negara multi-etnis yang memiliki beraneka ragam warisan kesenian. sajian kesenian di Bali. seperti yang juga terjadi di daerah lain. Further Essays in Interpretative Anthropopogy. 93 . h. menggunakan kesenian tersebut dengan cara dan maksud yang berbeda-beda sesuai kebiasaan yang berlaku setempat. Belakangan ini. Dengan ini dimaksudkan bahwa seni tidak berdiri sendiri melainkan selalu terkait dengan unsur-unsur budaya lainnya1. seperti yang dikatakan Bambang Sugiharto (Dosen Universitas Katolik Parahy- S 1 Clifford Geertz. Lahir dari berbagai konsepsi yang dimiliki manusia tentang sesuatu yang ada di sekitar mereka. Setiap kelompok etnis. yang tersebar di seluruh tanah air. New York. cenderung lebih mengutamakan unsur hiburan dan mengabaikan unsur pendidikan. Di Bali. masyarakat Hindu Bali memperlakukan kesenian bukan saja sebagai sarana upacara ritual melainkan juga sebagai hiburan masyarakat. Dosen ISI Denpasar Pengantar eni. seni merupakan suatu sistem budaya. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian. Local Knowledge. Dalam fungsinya sebagai persembahan kepada Tuhan (niskala) dan manusia (sekala).94-120. Basic Books Inc. apapun media ungkapnya. kesenian menjadi sarana komunikasi sekaligus edukasi bagi masyarakat. adalah suatu perwujudan ekspresi artistik yang diikat oleh nilai-nilai budaya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Mencerdaskan Rakyat dengan Seni Tradisi dan Pertunjukan Komunikatif I Wayan Dibia Ahli Seni Tari. 1983.

para seniman seringkali memasukkan adegan-adegan lucu. tulisan ini mencoba untuk membahas kondisi seni pertunjukan tradisional Bali dewasa ini serta mencari berbagai kemungkinan untuk mengembalikan keseimbangan muatannya. Dengan menjadikan kesenian tradisional Bali. bunyi. Wayang Kulit. Wayang Kulit. membantu kita untuk sejenak melarikan diri dari persoalan. Untuk menjadikan kesenian tradisi sebagai sistem budaya yang lebih strategis dalam kehidupan masyarakat kita. kiranya diperlukan adanya upaya-upaya revitalisasi terhadap unsur-unsur pendidikan di dalam kesenian tradisi yang ada. Bandung. Arja. sebagai akibat dari masuknya unsurunsur budaya global.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF angan) diadakan hanya untuk membuat hati senang dan pikiran tenang. Walaupun mungkin bisa menghibur. dan Pesantian sebagai obyek material. Ilmu Pengetahuan dan Peradaban” (Pidato Pengukuhan Guru Besar). kesenian seperti ini tidak akan mampu mencerdaskan masyarakat. Topeng. 16 Desember 2006. “Seni. dan daya pikir. Tidak sedikit pelaku kesenian yang secara tidak sadar telah memasukan lelucon kasar dan vulgar. Secara singkat dapat dikatakan bahwa gerak dan 2 Ignatius Bambang Sugiarto. menawarkan komunikasi artistik berkualitas bayu-sabda-idep. sebagai fokus. Gong Kebyar. 5 94 . tulisan ini bertu-juan untuk menjelaskan bahwa jika sajian kesenian sudah diseimbangkan muatan tontonan dan tuntunannya maka kesenian tersebut akan mampu memberikan pencerahan untuk mencerdaskan masyarakat.”2 Untuk menyenangkan penonton dan membuat mereka tertawa. yaitu sajian seni yang mampu secara holistik membangkitkan energi. Seni Tradisi dan Pertunjukan Komunikatif di Bali Di tengah-tengah pergeseran nilai-nilai sosio-kultural masyarakat Pulau Dewata belakangan ini. dan Pesantian adalah beberapa kesenian tradisional Bali yang hingga kini masih memperoleh tempat cukup istimewa di dalam kehidupan masyarakat Hindu-Bali. khususnya seni pertunjukan. sejumlah kesenian tradisional Bali masih tetap eksis dan bertahan di masyarakat. jorok dan porno. melalui sajian gerak dan dialog-dialog yang dapat memancing ketawa penonton. Gong Kebyar. agar seimbang antara aspek tontonan dengan tuntutannya. terutama seni pertunjukan dramatik. Patut dipahami bahwa kesenian Bali. serta informasi-informasi lainnya yang tidak benar ke dalam sajian kesenian mereka. Topeng. Dengan menjadikan Arja. hal.

Lingkaran di tengah adalah seni pertunjukan sedangkan segi tiga menggambarkan ke tiga aspek. 95 . Interaksi dan totalitas dari ketiga unsur inilah menghasilkan kenikmatan artistik yang berkualitas bayu-sabda-idep3. Pesan-pesan etika dan moral. musik (vokal dan instrumental). bayu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI tari. Secara bergantian. dua aspek lainnya tetap memberikan dukungan. yang dapat merangsang pikiran penonton. yang dapat dicerap dengan telinga. maka bayu akan berada di atas. Sajian bunyi-bunyian. yang bisa dicerap lewat mata. bunyi. yang mengikat seni pertunjukan. Ketika sajian gerak dan tari yang mendominasi suatu pertunjukan. Ketika sajian musik yang mendominir maka aspek sabda akan berada di atas. termasuk unsur visual lainnya. Los Angeles (1992). aspek bayu berada di atas. termasuk aspek bayu. didukung oleh aspek sabda dan idep. masing-masing aspek bisa berada di atas untuk menunjukkan dominasinya terhadap kedua aspek yang lainnya. sabda. dan pesan) dalam suatu peristiwa pertunjukan Bali. termasuk aspek sabda. pandangan hidup maupun gagasan-gagasan lainnya. serta unsur-unsur aural lainnya. Bayu Idep Sabda 3 Baca: I Wayan Dibia. untuk menunjukkan bagian seni pertunjukan Bali yang tengah didominasi oleh sajian gerak dan tari. A Study of Change and Transformation” (disertasi) Los Angeles : University of California. dan idep. yang disajikan dalam bentuk lakon dengan berbagai narasinya. Keterkaitan yang dinamis dari ketiga aspek di atas dalam seni pertunjukan Bali dapat dituangkan ke dalam suatu bagan berupa lingkaran dalam segi tiga. Aspek idep akan berada di posisi atas ketika bagian-bagian suatu pertunjukan didominasi oleh sajian lakon dengan berbagai pesannya. Hal ini menunjukkan adanya interaksi total antara ke tiga aspek (gerak. “Arja : A Sung Dance-Drama of Bali. Pada bagan di bawah ini. Ketika satu aspek berada di atas. termasuk aspek idep.

Brandon. Theatre in Southeast Asia. Keduanya merupakan seni pertunjukan dramatik yang sangat dekat dengan masyarakat. Telah dikemukakan di atas bahwa sejumlah kesenian tradisional Bali seperti Arja.80. Harvard University Press. Brandon memasukkan kedua kesenian ini ke dalam seni pertunjukan rakyat4. Namun demikian belum ada data-data tertulis yang mengungkap secara pasti kemunculan dan keberadaan Arja pada zaman itu. Cambridge-Massachusetts. kesenian merupakan produk budaya komunal yang lahir melalui hasil kerja bersama dan atau yang melibatkan banyak orang. Kesenian-kesenian ini dapat digolongkan sebagai kesenian komunikatif karena oleh masyarakat kesenian-kesenian tersebut bukan saja dijadikan sarana untuk menyebarkan atau menyampaikan informasi melainkan yang lebih penting lagi adalah sebagai media komunikasi. Wayang Kulit. alus dan keras. Tiga fase penting yang mewarnai sejarah perkembangan Arja adalah munculnya Arja Doyong (tanpa iringan dan dimainkan oleh satu orang). Dengan demikian. Lakon-lakon yang dibawakan pada umumnya bersumber pada cerita Panji (Malat) yang diajukan dalam seni drama yang tragic-komedi. kesenian bukan saja menjadi ekspresi artistik yang bersifat kolektif melainkan juga sebagai wadah interaksi dan komunikasi sosial di antara mereka yang ikut terlibat dan masyarakat penonton. 1967. Arja adalah sebuah dramatari yang menggunakan dialog berbentuk bahasa bertembang (tembang macapat). Topeng. dan Pesantian hingga kini masih digemari oleh masyarakat setempat. h. manis dan buduh. Karena hidup dan mati kesenian ini sangat tergantung pada dukungan sosial dan financial masyarakat. 96 . Struktur pertunjukan Arja sangat diikat oleh prinsip rwa-bhineda.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Di Bali. Arja Gaguntangan (yang memakai gamelan Gaguntangan dengan jumlah pelaku lebih dari satu orang). dan Arja Gede (yang dibawakan oleh antara 10 sampai 11 orang pelaku dengan struktur pertunjukan yang sudah baku seperti yang ada 4 James R. Dramatari ini diperkirakan muncul pada tahun 1825. Gong Kebyar.1 Arja dan Topeng Arja dan Topeng adalah dua dramatari tradisional Bali yang hingga kini masih digemari masyarakat Bali. yaitu pada jaman pemerintahan raja Klungkung I Dewa Agung Sakti. 2.

Topeng adalah dramatari yang semua pelakunya mengenakan topeng dengan cerita yang bersumber pada cerita sejarah yang lebih dikenal dengan Babad. dan mantri (manis dan buduh). sosial. hidung. para penari memakai topeng yang menutup seluruh bagian muka penari (topeng bungkulan). Dalam membawakan peran-peran yang dimainkan. limbur. ke dalam lakon yang dibawakan. galuh. politik. Dengan selipan pesan-pesan aktual seperti ini masyarakat merasa dekat dengan kejadian-kejadian yang digambarkan dalam lakon. dan yang hanya bagian tertentu seperti dahi. h.lumpur. desak. Topeng (berwajah manusia) menjadi elemen utama dari dramatari ini. Arja selalu menampilkan peran-peran utama (stock characters) yang meliputi inya. Kaja and Kelod. sedangkan semua tokoh yang memakai topeng sibakan dan topeng kepehan sebagian memakai dialog berbahasa Kawi dan Bali. Panasar (Kelihan—yang lebih tua. 97 . atau mulut (topeng kepehan). Topeng Prembon yang menampilkan tokoh-tokoh campuran yang di ambil dari Dramatari Topeng Panca dan beberapa dari 5 I Made Bandem and Frederik Eugene deBoer.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sekarang. Oxford University Press. Semua tokoh yang mengenakan topeng bungkulan atau penuh tidak berdialog langsung. Balinese Dance In Transition. Diperkirakan dramatari ini muncul sekitar abad XVIII5. panasar (manis dan buduh). Tokoh-tokoh utama yang terdapat dalam dramatari Topeng terdiri dari Pangelembar (topeng Keras dan topeng Tua). 1981. Kuala. sudah menjadi kebiasaan para pemain untuk menyelipkan pesanpesan keagamaan. dan Cenikan yang lebih kecil). sebagian muka--dari dahi hingga rahang atas (topeng sibakan). Topeng Panca yang dimainkan oleh empat atau lima orang penari yang memainkan peranan yang berbeda-beda sesuai tuntutan lakon. dan keberhasilan pertunjukan Topeng sangat tergantung dari kemampuan para pemainnya memainkan topeng yang digunakan. dan ekonomi. Lakon apapun yang dibawakan. Ratu (Dalem dan Patih). Agar pertunjukan Arja bisa lebih komunikatif. dan Bondres (rakyat). Jenis-jenis Dramatari Topeng yang ada di Bali adalah: Topeng Pajegan yang ditarikan oleh seorang aktor dengan memborong semua tugas-tugas yang terdapat didalam lakon yang dibawakan.49. liku.

jumlah pelakunya. diketemukan sejumlah istilah seni pertunjukan yang salah satunya adalah parbwayang yang diyakini berarti wayang atau pertunjukan wayang. Delem. Dalam prasasti Bebetin yang berangka tahun caka 818 atau 896 Masehi. Malen Bali Selatan mengggunakan kuncir berbentuk tanduk. h. Tabanan. dan Topeng Bondres. selalu dibanjiri oleh penonton. seorang dalang berstatus mangku dalang sehingga harus berbusana putih-putih sebagaimana layaknya seorang rohaniawan. pertunjukan wayang kulit diperkirakan sudah ada sejak abad IX. seni pertunjukan topeng yang masih relatif muda yang lebih mengutamakan penampilan tokoh-tokoh lucu untuk menyajikan humor-humor yang segar. 1975). Pertunjukan Wayang Kulit.. Denpasar. dan lain-lain). yaitu Bali Utara (Buleleng) dan Bali Selatan (Badung. dan Sangut. prilaku dalang di Bali Utara berada pada pertemuan dunia spiritual dan dunia seni (teatrikal). salah satunya adalah aringgit yang berarti bermain wayang6. terutama oleh dalang-dalang ternama. 98 . lebih dari seorang seniman. bentuk wayangnya. Dengan busana seperti ini. Berbeda dengan dalang di Bali Selatan yang lebih diperlakukan sebagai seorang seniman. dari zaman pemerintahan Raja Ugrasena. di kota maupun di desa.2 Wayang Kulit Wayang Kulit adalah seni pertunjukan tradisional Bali yang hingga kini masih digemari oleh masyarakat setempat. sedangkan 6 Lihat: Serba Neka Wayang Kulit Bali. Dalam tradisi budaya Bali. di kedua wilayah budaya ini juga sangat berbeda.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dramatari Arja. (Denpasar: Proyek Pencetakan/Penerbitan NaskahNaskah Seni Budaya dan Pembelian Benda-benda Seni Budaya. 5-6. Gianyar. secara umum dapat dikatakan bahwa ornamen ukiran Wayang Kulit Bali Utara lebih sederhana dari pada wayang-wayang Bali Selatan yang cenderung lebih rumit. Merdah. 2. seni pewayangan Bali dapat dibedakan menjadi 2 (dua). sementara dalang Bali Selatan lebih banyak di wilayah teatrikal. Bentuk empat punakawan inti: Malen. Di Bali Utara. Dalam prasasti Gurun Pai Desa Pandak Bandung. Perbedaan cukup mendasar Wayang Kulit dari kedua wilayah ini terlihat dari status sosial dalangnya. Berdasarkan wilayah geografi dan budayanya. Perbedaan ini bisa dilihat. misalnya. juga dikete-mukan beberapa istilah. Di lihat dari bentuknya. pada bagian kepalanya.

Baik rasa musikal maupun jalinan melodi serta tehnik pukulan Gong Kebyar ada kala. dalam tehnik olah vokal. 1966. Secara estetik. dan Palegongan. Desa yang disebut-sebut sebagai tempat kelahiran Gong Kebyar adalah Bungkulan walaupun kemudian Gong Kebyar Jagaraga yang lebih berkembang di Bali Utara. Gong Gede yang kokoh dan agung. suara ngelur atau jeritan keras oleh dalang. walaupun sama-sama menggunakan suara kerongkongan namun ada perbedaan dalam proyeksi suara. Gamelan Gong Kebyar Blaluan. 2. Yale University Press. Hasil-hasil penelitian selama ini menunjukkan Gong Kebyar muncul di Bali Utara sekitar tahun 19157. Busungbiu. atau Palegongan yang melodis. 328. Pelaku pertunjukan Wayang Kulit di Bali Utara. Jika di Bali Selatan suara ngelur diproyeksikan ke luar. A Study in Form and Instrumental Organization in Balinese Orchestral Music.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Malen Bali Utara biasanya dengan kepala gundul. Perkembangan Gong Kebyar mencapai salah satu puncvaknya pada tahun 1925 dengan datangnya seorang penari Jauk yang bernama I Ketut Marya (Mario) dari Tabanan ke Bali Utara yang kemudian menciptakan sebuah tarian yang lebih banyak dilakukan dalam posisi duduk atau jongkok sambil memainkan instrumen terompong.nya terasa Gender Wayang yang lincah. seperti yang terlihat pada Wayang Parwa.3 Gong Kebyar Gong Kebyar adalah sebuah ensambel yang diciptakan untuk memainkan musik-musik Kakebyaran. musik Gong Kebyar adalah perpaduan antara Gender Wayang. Gong Gede. Satu hal lagi. yaitu Kebyar yang berarti suara keras dan menggelegar yang datang secara tiba-tiba. oleh Edward Herbst 2009. h. Pangkung. Dalam album Bali 1928. pada umumnya terdiri atas 2 (dua) orang penabuh gender dengan seorang dalang. di Bali Utara suara ngelur diarahkan ke dalam. Pola gineman Gender Wayang atau pukulan Kakenyongan Gong Gede muncul dalam berbagai tabuh Gong Kebyar8. gamelan ini menghasilkan musik-musik keras yang dinamis. Music in Bali. Tarian ini kemudian disebut tari terompong (kebyar terompong). New Haven. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini. Di Bali Seletan. rasa tabuh-tabuh Palegongan terasa sangat dominan dalam tabuh-tabuh Gong 99 . 7 8 Colin McPhee. penabuh gender pada umumnya berjumlah 4 (empat) orang.

upacara hari kelahiran. jika tidak di semua desa pakraman. 100 . Kini. Pada masa-masa sebelumnya. semaraknya aktivitas pesantian seperti sekarang menunjukkan adanya revitalisasi dari berbagai jenis wirama. atau pupuh-pupuh yang selama ini hampir dilupakan masyarakat Bali modern. dan kantor-kantor pemerintah memiliki gamelan ini. di desa maupun di kota. memiliki sedikitnya satu barungan Gong Kebyar. melainkan juga di kalangan masyarakat bawah. dan hampir setiap Kecamatan. atau membacakan karya-karya sastra bermetrum sekar agung (makakawin) untuk manusa yadnya dan pitra yadnya. Di sisi lain. perguruan tinggi. merupakan suatu hal yang baru di Bali. sangat jarang sebuah upacara seperti tiga bulan bayi. Selain untuk mengiringi untuk mengiringi tari-tarian dan memainkan tabuh-tabuh kebyar. Munculnya fenomena pesantian ini sedikit banyak didorong oleh adanya kerinduan terhadap nilai-nilai budaya masa lalu. Menyanyikan lagu-lagu pemujaan Tuhan (makidung) memang tidak pernah lenyap dari kegiatan upacara dewa yadnya. hampir tidak ada upacara adat dan agama Hindu di Bali yang tanpa dimeriahkan oleh pesantian. menjadi semakin bergairah terhadap aktivitas pesantian (dari kata santi yang berarti damai). 2. Hampir setiap sekolah. Kebyar. di Bali. gamelan ini juga bisa digunakan untuk memainkan tabuh-tabuh lelambatan untuk mengiringi upacara adat dan agama.4 Pesantian Pesantian adalah pembacaan (pertunjukan) karya-karya sastra klasik bertembang yang ditulis dalam metrum sekar agung dan sekar madya. persepsi masyarakat terhadap pesantian. kidung. atau peminangan yang dimeriahkan oleh pesantian seperti yang terjadi belakangan ini. Untuk sekian lama. Belakangan ini masyarakat Bali. menyanyikan tembang-tembang macapat di luar konteks seni drama. misalnya di tahun 1970an. semuanya itu bisa terdengar dalam pesantian. Fenomena seperti ini muncul bukan saja di kalangan masyarakat golongan menengah ke atas. Dewasa ini.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dewasa ini Gong Kebyar merupakan kesenian yang paling populer di Bali.

baik Gender Wayang mau pun Geguntangan. serta bahasa yang digunakan oleh para pemainnya (bahasa Bali). menjadi pilihan yang sangat tepat. Walaupun penggunaan iringan musik dari barungan kecil ini lebi h banyak sebagai ilustrasi (background). dengan tubuh yang sudah mulai bungkuk. yang selama ini dilakukan oleh pem erintah dan masyarakat telah memberikan dampak yang cukup bes ar terhadap munculnya kegairahan pesantian ini. Kini para pela ntun kakawin (juru baca) termasuk penerjemahnya (juru basa) adalah orang-orang dewasa setengah baya yang masih ganteng atau cantik dan bertubuh tegak. 101 . Masyarakat setempat cukup tahu dengan struktur per tunjukan. Masyarakat Bali pada umumnya sud ah tidak asing lagi dengan kesenian yang telah disebutkan di atas. Potensi seperti ini. Ken yataan yang ada sekarang sungguh sangat berbeda. tata penyajian dari masing-masing kesenian. Hal ini men unjukkan bahwa keseniankesenian tradisional tersebut di atas tela h memiliki “jembatan komunikasi” dengan masyarakat penont on. patut dimanfaatk an dengan sebaik-baiknya untuk mencerdaskan masyarakat. bahkan sering kali juga dari golongan remaja. Bagi warga masyaraka t yang ingin hiburan ringan yang sekaligus dapat memeriahka n suasana pelaksanaan dari upacara adat dan agama mereka laku kan. Kar ena kegiatan ini melibatkan pembacaan pustaka-pustaka lontar yan g disucikan. dan lomba-lomba makakawin. Oleh sebab itu. ada lah kegiatan orang tua yang bermuka kriput. pesantian yang diiringi gamelan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI terutama makakawin/mawirama. dari kesenian tradisional. banyak orang yang melihatnya sebagai sebuah keg iatan yang hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang telah memiliki proses penyucian serta kesiapan batin. Nampaknya kegiatan Utsava Dharma Gita. para generasi muda cenderung menjauh dari aktivitas ini. kehadirannya sangat mem perkaya aroma dan aural dari pesantian. Akhir-akhir ini kegiatan pesantian sudah menjadi semakin meriah dan menarik untuk dinikm ati dengan digunakannya gamelan pengiring berupa ensambel kecil seperti Gender Wayang dan gamelan Geguntangan. sambil mengunyah sirih (nginang).

kesadaran budaya (termasuk kepekaan rasa). h. Keberhasilan sebuah pertunjukan seni drama (Arja. kesadaran identitas dan jati diri. 16-17. 102 . Theatre (Third Edition). Mountain View-California. Masyarakat pada umumnya akan tertarik untuk menyaksikan sebuah pertunjukan jika mereka tahu adanya lakon baru yang akan dipentaskan. memperkaya elemen pertunjukan. para seniman harus senantiasa berpegang teguh kepada sumber literatur yang digunakan. Kesenian yang mencerdaskan bukan saja yang mengibur melainkan yang mampu membangkitkan interaksi intelektual. pelaku seni harus senantiasa berupaya untuk melakukan penggarapan dan pengkemasan terhadap beberapa bagian dari kesenian mereka. New York. dan memperbarui teknik penyajian. memadatkan durasi pentas. Menurut Harold Taylor. 1994. Apa yang dikatakan Cohen dan Taylor menunjukkan bahwa kesenian sangat potensial untuk mencer-daskan rakyat (masyarakat). Art and The Intellectual. apapun media ungkapnya. dari manapun sumbernya. para seniman seni drama perlu terus berupaya untuk menampilkan lakon-lakon baru dalam sajian mereka. Ahli teater Barat.9. Satu hal yang patut diingat bahwa upaya penggarapan dan pengkemasan ini harus dilaksanakan tanpa merusak identitas kesenian yang ada. pernah mengatakan bahwa seni (teater) dapat mempertajam daya pikir dan menyatukan rasa10. Topeng) dan teater (Wayang Kulit) sering kali sangat bergantung kepada muatan dramatiknya yaitu lakon yang dibawakan. The Museum of Modern Art. Robert Cohen. Para seniman Arja misalnya harus berani menampilkan lakon-lakon di luar cerita Panji. jika perlu mengambil lakon-lakon Barat atau mengangkat karya-karya sastra modern. Oleh sebab itu. pada dasarnya adalah hasil sebuah kreativitas yang mengandung sekumpulan pengetahuan. 1960. 10 Robert Cohen. Mayfield Publishing Company. Dalam membawakan suatu lakon.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Mencerdaskan Rakyat Dengan Kesenian Seni. pakar pendidikan. seperti menyehatkan muatan dramatik (lakon). h. kontemplasi estetis. serta yang mampu meningkatkan keluhuran budi. Hal ini menjadi sangat penting ketika berhadapan dengan penonton 9 Harold Taylor. untuk memahami suatu produk karya seni dibutuhkan kemampuan otak untuk memikirkan konsep-konsep yang terkandung di dalamnya9. Untuk membuat kesenian mereka mampu mencerdaskan rakyat. baik pada masyarakat penonton maupun para pelakunya. Pengkemasan terhadap kesenian-kesenian tradisional dapat dilakukan dengan beberapa cara.

antara yang mendidik dan menghibur. Topeng. yang biasa disebut dengan pada misi. Oleh sebab itu. pemadatan durasi pentas hendaknya jangan sampai menghilangkan bagian-bagian penting dari suatu kesenian. Masyarakat cenderung tidak bisa menghadari pertunjukan seni dengan durasi pentas melebihi dari 3 sampai 4 jam. Masyarakat di zaman modern pada umumnya sudah ”sadar waktu” sehingga mereka tidak bisa menghabiskan waktu terlalu lama untuk menyaksikan pertunjukan. misalnya dalam rangka Pesta Kesenian Bali. Mereka menjadi cepat bosan mendengar adegan-adegan serius yang dijejali oleh dialog-dialog bermuatan filosofis berat. Dalam beberapa kali Festival Gong Kebyar se Bali. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah meniadakan pengulangan bagian-bagian pertunjukan yang terlalu sering diulang-ulang. Ada kecenderungan bahwa dewasa ini penonton kurang tertarik dengan sajian seni drama yang terlalu serius. Durasi pentas merupakan salah satu unsur pertunjukan kesenian tradisional yang memerlukan penanganan yang serius. muatan dramatik yang kiranya bisa diterima oleh penonton pada zaman ini adalah yang berisikan adegan-adegan serius dan lucu. Namun demikian. Oleh sebab itu. secara relatif berimbang. maka dibutuhkan adanya pemadatan durasi pentas. Agar suatu pertunjukan kesenian tradisional seperti Arja. para pelaku kesenian tradisional harus rela menyesuaikan waktu pertunjukan mereka dengan kondisi yang ada. Dalam Gong Kebyar kita bisa melihat berbagai penambahan instrumen untuk melahirkan rasa musikal yang lebih menarik dan sesuai dengan selera zaman sekarang. Gong Kebyar dan pesantian adalah dua kesenian tradisional Bali yang telah banyak melakukan pengayaan terhadap elemen-elemen pertunjukan. Pementasan kesenian semalam suntuk kiranya sudah semakin jarang terjadi di zaman ini.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI yang sudah mulai melek baca seperti masyarakat Bali di zaman modern ini. Hal yang sama juga terlihat pada pesantian yang kini sudah biasa meng103 . atau Wayang Kulit. Atau meniadakan bagian-bagian yang tidak penting. Bagian-bagian esensial dari suatu pertunjukan hendaknya tetap dipertahankan karena jika tidak akan bisa jadi pemadatan durasi akan justru merusak identitas kesenian yang bersangkutan. kedua kesenian ini telah tampil dengan elemen-elemen pertunjukan yang baru. tidak sampai ditinggalkan penonton.

kiranya dapat digunakan dalam pertunjukan tradisional. dalam mencerdaskan rakyat. yang selama ini hanya dipandang sebagai sumber hiburan. dari yang tidak menggunakan pengeras suara menjadi berpengeras suara. Anggapan seperti ini sesungguhnya tidak sepenuhnya benar. 104 . Seiring dengan kemajuan teknologi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF gunakan gamelan pengiring (Gender Wayang atau Gaguntangan). Dari yang menggunakan lampu petromak atau obor menjadi lampu elektrik yang modern. penggunaan teknologi modern ini hendaknya diupayakan sedemikian rupa agar jangan sampai merupak unsur-unsur esensial dari kesenian yang bersangkutan. Hanya dengan cara seperti ini sajian kesenian mereka akan bermanfaat bagi upaya peningkatan kualitas kemanusiaan masyarakat kita. teknik pementasan kesenian tradisional Bali sudah sepatutnya diperbaharui. atau penggunaan microphone agar jangan sampai merusak tembang penari Arja. semenjak tahun 1960-an. hampir semua kesenian tradisional Bali mengalami perubahan tehnik pementasan. Sebagai contoh. dapat digunakan sebagai sarana pencerdasan masyarakat. Dalam kenyataannya. Di mata masyarakat luas. bagaimana penggunaan tata lampu agar jangan sampai membunuh warna topeng yang digunakan penari Topeng. Jika diberdayakan dengan baik dan benar. Temuan-temuan teknologi baru di bidang tata cahaya. set dan dekorasi. yang dimiliki oleh bangsa ini. dari kalangan tradisional yang berbentuk arena menjadi panggung tapal kuda atau semi proscenium. mereka harus senantiasa berupaya untuk menyeimbangkan segisegi tontonan dan tuntunan dan memperhatikan konsep bayu-sabdaidep dalam sajian mereka. kesenian tradisional memiliki teknik penyajian yang sudah baku. Namun demikian. Bagi masyarakat seniman pertunjukan di Bali. jika tidak sebelumnya. Penutup Semua yang telah diurai di atas menunjukkan potensi besar dari kesenian tradisional dan pertunjukan komunikatif. kesenian tradisi. Agar upaya-upaya pencerdasan melalui kesenian ini bisa terwujud maka dibutuhkan upaya-upaya pengkemasan dari para pelaku dan pemilik kesenian itu sendiri. Jika teknik pementasan itu dirubah maka akan menghilangkan jati diri dari kesenian yang bersangkutan.

Brandon.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bandem. 1981. Sugiharto. Gamelan Gong Kebyar Blaluan. Further Essays in Interpretative Anthropology. 2006.Local Knowledge. Robert . 1992. 2009. Pangkung. Kaja and Kelod. 1983. Seni. 1975. Los Angeles. Dibia. Universitas Katolik Parahyangan (Bandung). Harold. Herbst. Arbiter. Pidato Pengukuhan Guru Besar. New Haven: Yale University Press. Taylor. Denpasar: Proyek Pen-cetakan/Penerbitan Naskah-Naskah Seni Budaya dan Pembelian Benda-benda Seni Budaya. New York: Basic Books Inc. deBoer. A Study of Change and Transformation” (disertasi) Los Angeles : University of California. Mountain View-California: Mayfield Publishing Company. Art and the Intellect. Balinese Dance In Transition. Theatre (Third Edition). Cohen. 1966.1994 [1981]. Edward. Kuala Lumpur. I Wayan. Music in Bali. A Study in Form and Instrumental Organization in Balinese Orchestral Music. “Arja : A Sung Dance-Drama of Bali. Publisher. 1967. dan Peradaban. 1960. Daftar Pustaka 105 . Geertz. I Made. Proyek Pencetakan/Penerbitan Naskah-Naskah Seni Budaya dan Pembelian Benda-benda Seni Budaya. Ignatius Bambang. James R. Serba Neka Wayang Kulit Bali. Theatre in Southeast Asia. New York: The Museum of Modern Arts. Colin. Cambridge: Harvard University Press. Clifford. Oxford University Press. Ilmu Pengetahun. Busungbiu (CD). Bali 1928. McPhee. Frederik Eugene.

Sejak tahun 2004 mengelola Sanggar Seni Citta Usadhi Kabupaten Badung sebagai ketua dan hingga kini memegang posisi ketua Himpunan Seniman Kabupaten Badung (HSKB). Gelar S1 (SST) Seni Tari diselesaikan tahun 1983 di ASTI Yogyakarta. Lahir di Denpasar. Institut Seni Indonesia Denpasarini lulus sarjana muda (BA) Seni Tari ASTI Denpasar Tahun 1987. 081338265446 Alamat Kantor: Jalan Nusa Indah Denpasar Tlp. dan ikut dalam Litbang Yayasan Saba Budaya Hindu Bali. Kapuslit Bidang Seni Tradisional LP2M ISI Denpasar. Sementara gelar master (MA) Teater diambil di Emerson Collega Boston USA (1996) dan memperoleh gelar Doktor Ethnomusicology dari Wesleyan University Middleton Connecticut USA (2005). (0361) 262193 HP. (0361) 227316 106 . Sebelumnya juga pernah menjadi Pembantu Ketua I Bidang Akademis STSI Denpasar.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF I Nyoman Catra. Gang Kenari VI No. Dosen Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan. Sekretaris LP2M ISI Denpasar. 6 Denpasar Bali Tlp. 31 Desember 1954. Saat ini menjabat Sekretaris dan Ketua Jurusan Tari/Karawitan dan Pedalangan ASTI Denpasar. Alamat Rumah: Jalan Nangka.

yang dikatakan sebagai mahluk tertinggi diantara mahluk hidup .dalam memahami tujuan hakiki menjalani hidup dan kehidupan ini. rupa. M 107 . dan sabda. Dosen ISI Denpasar Pendahuluan isteri kehidupan yang sering memunculkan kebingungan menyelimuti insani manusia . pemerintah dalam meningkatkan kwalitas anggota masyarakatnya memiliki tujuan untuk membentuk Manusia Indonesia seutuhnya. Dalam kaitan berbangsa dan bernegara. air (apah). belum pernah mendapatkan jawaban tuntas. Menurut kepercayaan Hindu tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai “Moksartham Jagadhita ya ca Iti Dharma” yakni pendakian pencapaian kebahagiaan abadi manunggal dengan sifat asali. sebuah visi yang menjadi idaman bersama. rasa. dengan senantiasa mengedepankan dharma. sejahtera lahir batin dengan pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani secara berimbang. dan ether (akasa). Manusia sebagai perwujudan dunia kecil (mikrokosmos) beraviliasi dengan dunia besar/jagadraya (makrokosmos) berelemen dari panca maha bhuta yakni lima unsur yang terdiri dari. tanah (pertiwi). di samping memperoleh kebahagiaan duniawi di dunia fana ini. angin (bayu). ganda.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Seni Pertunjukan Populer sebagai Media Pencerdasan Rakyat: Potensi Tari Topeng dan Teater Bali I Nyoman Catra Ahli Seni Pertunjukan. sinar/panas (teja). Dari panca maha bhuta terlahirlah panca tan matra yakni lima unsur pendorong kehendak manusia yang terdiri dari sparsa.

Seni pertunjukan merupakan media ampuh untuk promosi penyampaian pesan. Ta. yang dipercayai terlahir telah membawa karma dari hasil perbuatan manusia pada kehidupan sebelumnya (punarbawa). Kecerdasan rasio dan rasa seyogyanya saling melengkapi dalam memahami hidup ini. A. merupakan elemen pergolakan kreativitas dalam siklus. suara. cetana–acetana. I. Dua kekuatan sifat yang bertentangan ini yang dikenal dengan sebutan rua-bineda merupakan dialektik yang tak terpisahkan dalam alam raya ini termasuk pada diri manusia. yakni adanya sifat: baik–buruk. Na. pengasahan akan rasio dari kerja otak. Ya). Ma Si. pendidikan formal. lebih ditekankan pada pencerdasan rasa. warna. suka–duka. di bumi berputarnya seluruh penjuru mata angin dengan istana dewa dan dewinya. atas–bawah. kedua formulasi ini bergolak mempengaruhi perangai manusia. sastra. Disadari bahwa unsur-unsur tersebut sebagai elemen jasad dan jiwa perwujudannya dari bendawi yang kasatmata sampai pada yang bersifat maya termasuk jiwa dan sifat kehendak/ego manusia. Wa. Ba. purusa–predana. indah dalam keteraturan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Digambarkan dalam mitos peredaran bumi bahwa Hyang Siwa menciptakan dunia dan alam semesta ini dengan tarian sakralnya sebagai wujud proses kreatif berkesinambungan. Dunia dan alam semesta ciptaan Beliau bergerak secara ritmis. sifat bhuta. neptu. berpengaruh pada dinamika kehidupan setiap insan sebagai mahluk individu maupun dalam kaitannya sebagai mahluk sosial. uttpeti. gelap–terang. Unsur panca maha bhuta dipadu dengan sifat unsur panca tan matra. pralina (trikono) yang berproses secara alami terus menerus penuh intensitas dalam perjalanan peredaran waktu yang tak terhitung. pendidikan regulasi pemerintahan dan pendidikan masyarakat/alam lingkungannya. Sepuluh fomulasi aksara suci (dasa aksara) yang terpilah menjadi dua dikenal denga panca tirta dan panca geni (Sa. sekala–niskala. senantiasa bergolak tarik-menarik. timur–barat. senjata. positif–negatif. dan unsur lainnya (pangider bhuana). media 108 . manusia tumbuh dan berkembang mendapat pendidikan dari orang tua. dan sifat lain yang bertentangan. Pendidikan formal lebih menekankan pada pembentukan kecerdasan intelektual. stiti. Tarian kosmik Hyang Siwa disebut dengan Siwanataraja. Untuk memahami misteri kehidupan tersebut. Sementara pencerdasan yang dilakukan melalui pengalaman agama dan seni. membentang luas pada perputaran kosmik.

tidak saja sebagai pemberi hiburan juga sebagai pencerahan masyarakat penontonnya.” Cerdas berarti ”sempurna perkembangan akal budinya (untuk berfikir. Peran Tari Topeng dan Teater Bali di tengah masyarakatnya Masyarakat menyadari arti penting dan memberikan ruang kepada seni pertunjukan seperti topeng. Penggambaran dunia dengan berbagai permasalahannya didalam arena pentas. Rsi Yadnya persembahan untuk menghormati para pendeta. wayang dan berbagai dramatari lainnya. tugas dan kewajiban profesi. wayang. persembahan untuk memuliakan manusia itu sendiri. dan Manusa Yadnya. Dikatakan penting mengingat kehadirannya memiliki tugas dan fungsi sebagai legitimasi keberhasilan sebuah ritual keagamaan. Ritual keagamaan yang domainnya dikategorikan kedalam panca yadnya1. konflik internal dan eksternal tokoh yang mengemuka tanpa batas. dimana dalam tingkatan tertentu seni pertunjukan topeng pajegan dan wayang lemah menjadikan bagian tak terpisahkan melengkapi kesempurnaan tatacara upacara yang digelar. kehadirannya memiliki peran yang sangat penting.” (Kamus Besar BI: 164) Topeng dan berbagai jenis dramatari lainnya. persembahan diperuntukkan menghormati leluhur. merefleksikan dunia kehidupan maya secara luas. Bhuta Yadnya. sistem kehidupan. indah. yang berkaitan dengan logika berdasar pada rasa. Sebagai kesenian popular kebanyakan seni pertunjukan dramatari Bali. status sosial. baik yang menyangkut rentang waktu. adaptatif dengan situasi. mengerti dsb. memiliki format sajian yang sangat fleksibel. 109 . bertautan dengan kehidupan masyarakat. sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam menjalani ritual keagamaan. Mencerdaskan masyarakat mengandung pengertian sebagai upaya ”mengusahakan supaya sempurna akal budinya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI propaganda. pada berbagai jenjang usia. Pitra Yadnya. Persembahan pengagungan karunia Tuhan melalui karma sandyasin melibatkan tatacara dan elemen persembahan yang megah. sebagai cermin pembekalan masyarakat tentang pemaknaan hidup. lengkap walau tetap 1 Panca Yadnya: Lima domain peruntukan persembahan yadnya yang digelar oleh masyarakat Hindu yakni: Dewa Yadnya persembahan diperuntukkan kehadapan Tuhan dengan berbagai manifestasinya. sebagai varian genre seni pertunjukan. persembahan diperuntukkan membangun keharmonisan dengan alam semesta. Dengan kata lain pendidikan budi pekerti menjadi muatan isian dramatisasi seni pertunjukan. dan kondisi.

drama gong. utamanya sebagai pencerahan masyarakat dalam kategori bebeali. orang ahli pembuat upakara (niniwedya). wayang. Sebutan dalang diperuntukkan pada seniman yang piawi dalam memainkan wayang. Seni pertunjukan dramatari Gambuh yang ditengarai sebagai sumber utama munculnya tari/dramatari lainnya di Bali. merupakan upaya pembayaran hutang hidup (tri rnam). tata struktur musik yang megah. Koreografi tari yang komplek. Ketika sebuah upacara keagamaan digelar yang melibatkan anggota masyarakat secara luas. Tata busana dan rias mencerminkan kemegahan regalia penampilan tokoh dari kalangan 2 Sebutan pragina diberikan kepada seseorang yang memiliki profesi sebagai seniman tari. dengan permaianan patet dari alunan ritmik aransemen instrumen perkusi. dan secara luas memiliki rambahan peruntukannya sebagai seni hiburan sekuler (balih-balihan). dan sang sulingih yang bertugas menghaturkan upakara tersebut sesuai tujuan dan peruntukannya dengan mengelar sang catur weda (yogiswara).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF memperhatikan pada tingkatan kemampuan nista. berkenaan dengan makna dan arti dari tata upacara dan upakara beserta filsafat yang melatarbelakangi-nya. Oleh karenanya sangat strategis dan memiliki peran yang sangat potensial sebagai pencerahan masyarakat pemirsanya lewat sentilan-sentilan yang menghibur dengan nilai-nilai kebijaksanaan sebagai kandungan isian dramanya. calonarang. Fungsi kesenian berlakon di Bali seperti topeng. Seniman mempunyai ruang terbuka untuk memberi pemaknaan terhadap apa yang sedang berlangsung dan untuk tujuan apa upacara tersebut diselenggarakan. disamping melodis melankolis sapta nada dialunkan dengan sejumlah suling berukuran besar. dua dimensi tujuan pergelaran yang saling melengkapi dibutuhkan dalam pengalaman estetik masyarakat penontonnya. dan sejenisnya. arja. memiliki seting penokohan yang besar dengan varian tingkatan hirarkinya. Tujuan tontonan dan tuntunan. Gambuh sebagai sebuah dramatari yang menekankan pada kemegahan/keagungan pemerintahan raja-raja. madya. baik sebagai penyaji pada tarian murni maupun para actor dalam dramatari Bali. Orang yang bertanggungjawab pelaksanaan upacara (yajyamana). 110 . seniman seni pertunjukan (praregina/dalang2) yang ikut meligitimasi ritual tersebut memiliki peran yang sangat penting. membentang dari keterkaitannya dengan peristiwa sakral (wali). dan utama. tidak memiliki kuasa untuk memaparkan dan menerangkan kehadapan khalayak.

dan pragina ngerangkep. arja. sebagai sumber dan model pada berbagai jenis perunjukan dramatari seperti Topeng. olah sastra. repertoar musikalnya. dan elemen lainnya. Dramatari gambuh masih didominasi dengan penggunaan bahasa Jawa Kuno (kawi) dan adanya pengulangan kata-kata sebagai korus kekuatan kebersamaan yang dewasa ini tidak banyak dimengerti kontent dan konteksnya. tembang dan retorika antawacana sebagai preservasi keragaman seni tradisi memperkokoh budaya bangsa. busana. Disamping penguasaan secara cabangnya yang demikian banyak seniman juga ditutut dalam kreativitas kemasan tari. Gambuh yang mengambil kisah pengembaraan cinta dan kekuasaan. dikategorikan sebagai pragina nugur. gamelan. karakterisasi. Tingkat penguasaan sebagai pemeran satu tokoh dengan baik/sempurna. Secara tematis dan sajian dramatari gambuh memberikan refleksi kemegahan sebuah negara dan keindahan alunan lebut gerak tari tokoh protagonis yang mampu menaklukkan gerakan kasar dari tokoh antagonis dalam balutan kisah cinta dan kekuasaan. elemen komposisi. dimana tokoh Panji sebagai tokoh protagonis digambarkan sebagai pahlawan kebudayaan. Seorang seniman setidaknya dituntut agar menguasai beberapa cabang ilmu seni untuk memperkuat identitas kesenimanannya. calon arang. Terbuka luas pengusaan berbagai cabang seni yang sudah tentu memperkuatan profesi kesenimannnya. dan Baris Melampahan. arti dari dramatisasinya. Wayan Dibia (2004: 119) memberikan identifikasi wilayah kiprah pragina menekuni profesi berkeseniannya ke dalam: pragina nugur. Dalam seni pertunjukan dramatri seperti: topeng. Seniman naduin untuk mereka yang memiliki kemampuan penguasaan lebih pada satu jenis kesenian yang sering juga disebut ngiwa. Arja. pragina naduin. Wayang Wong. Sementara seniman ngerangkep diperuntukkan bagi seseorang yang memiliki multi talenta sebagai seniman serba bisa. Legong. Sebagai sebuah dramatari total teater (Bandem & deBoer 1995: 27) gambuh memiliki kontribusi penting di dalam tarian Bali karena pengaruhnya pada bentuk dramatari lainnya pada perkembangan berikutnya. Pendidikan seni kepada generasi penerus pelaku kesenian menuntut penguasaan pada unsur-unsur seni sebagai preservasi kekayaan khasanah bangsa. 111 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI bangsawan. Koreografer Bali moderen sangat kuat bertumpu pada Gambuh dalam pendekatan struktur.

dimana peran penasar yakni adanya tokoh sisipan lokal genius yang selalu hadir sebagai panakawan. mengelaborasikan topik pembicaraan dan mengembangkannya dengan memasukkan petuah tentang nilai-nilai kebijaksanaan. Namun dengan hadirnya penasar yang bertugas sebagai penerjemah. legende. yang sudah barang tentu memiliki kesenangan nutrisi kejiwaan yang berbeda. menjadikan pertunjukan tersebut sebagai bagian dari kisah yang dialami masyarakat penikmatnya. yang kurang dapat dipahami oleh kebanyakan masyarakat umum. komentator. antagonis. sementara keempat penasar diposisikan pada empat penjuru mata angin selaras dengan sifat dan karakterisasi tokoh. dewasa dan orang tua. Sekala dan niskala cara pandang masyarakat Hindu pada kenyataan hidup ini. Oleh karenanya seniman dituntut secara sadar mempertimbangkan keragaman dialog panakawan (kandan penasar) yang dapat menutrisi masyarakat pengapresiasi pada tingkatan perbedaan umur. pemberi wejangan. Merdah. status sosial dan profesinya. perwujudan figur penasar dalam wayang yakni Tualen. Wayang Kayonan diposisikan di tengah. Secara pemaknaan hidup. Seniman praktisi menyadari bahwa penonton yang hadir dari kalangan anak-anak. sejarah/ babad masa silam. Sambil melontar selingan lelucon yang mengundang gelak ketawa sebagai bukti perhatian penonton penuh terhadap dinamika dramatik adegan berlangsung. maupun di buana agung. 112 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF wayang wong. Kendati ceriteranya mengambil dari kisah-kisah epos. Dalam Dharma Pewayangan (lihat Hooykass 1973: 130) posisi penasar dalam stananya menurut arah mata angin dibahas secara komprehensif. menjadikan pertunjukan tersebut bisa dibuat bersentuhan langsung dengan persoalan masyarakat sekitar. Delem dan Sangut. berpihak pada tokoh protagonis. dimana hadirnya tokoh utama kebanyakan berbahasa kawi. termasuk diantaranya menjadi pendamping tokoh tritagonis. merupakan momen baik untuk menyisipkan pesan-pesan kebijaksanaan. secara filosofis memiliki aviliasi dengan ista dewata nawasanga dalam kosmik buana agung. Panakawan menggunakan bahasa daerah/lokal dengan varian dialeknya. Dengan demikian penasar adalah tokoh misteri yang penuh dengan pemaknaan dan memiliki aviliasi dengan kanda pat berkaitan dengan paralel posisi tata letak baik di buana alit. sehingga posisi wayang penasarpun dijadikan ikon sakral dalam pemaknaan hidup ini. termasuk wayang kulit. remaja.

sebagai pencerminan gelap. Ada ke abu-abuan pemahaman kita dalam memandang arah manadala timur laut yang dikatakan sebagai arah hulu (luanan). Format yang sama masih terasa pada perhelatan pemilihan. 113 . beraviliasi dengan stana Dewa Iswara yang menempati posisi di Timur. Timur-laut adalah arah ke hulu (luanan) berada diantara warna hitam dan putih. dan terang merupakan busana dari penasar Tualen. Kesedehanaan tokoh Tualen memliki simbolik yang sangat dalam. kesenian tradisional terutamanya yang memakai lakon dijadikan corong penerangan sosialisasi program pemerintah. laut berwarna biru. Lirik-lirik lagu janger membangkitkan semangat partisipan partai dan pengikutnya untuk mempersatukan masanya. Oleh karenanya dalam upacara ruwatan. dan putih) adalah warna magis. sungguh menggugah. Dominasi warna tertentu. prembon dan termasuk wayang. tokoh Tualen seorang abdi kebanyakan yang sesungguhnya memiliki sifat asali. Namun secara filsafati sebagai purusa sumber asali dia dikatakan memiliki darah putih. arja. yang memiliki keterbatasan. Dalam penempatan warna pangider buwana arah di timurlaut ditandai dengan warna biru. Pada era pemerintahan Orde Baru. bersama tokoh Siwa. adalah tune warna untuk jangkauan luas tak terbatas. abu-abu. Langit berwarna biru. Munculnya kesenian popular seperti Topeng Bondres mendominasi perhelatan politik di samping berbagai jenis kesenian tradisi lainnya seperti topeng. pembuatan air suci (ngarga tirta) dalam pertunjukan wayang upacara. abu-abu. corong partai ajang kompanye dalam pengumpulan masa. anggota legislatif. dijadikan wahana ampuh menyampaikan pesan-pesan pembangunan. keduanya mencerminkan keluasan bidang yang ujungnya tak terjangkau oleh pandangan mata manusia. Ketiga tone warna ini (hitam.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Tokoh Tualen yang secara kasat mata berwarna gelap/hitam beravilisasi dengan stana Wisnu berada di Utara. Yel-yel penggugah semangat masa dengan pekikan propaganda flatform partai. dan pembentukan lambang partai dengan gerak maknawi. Acintya dan Kayonan dijadikan ikon untuk proses dimaksud. menjadikan kesenian populer ini seakan identik dengan kesenian partai politik. Pada masa pergolakan partai politik di tahun 1965an pertunjukan dramatari janger menjadi komuditas politik. formasi huruf. dikumandangkan oleh korus kecak dan janger. menjadi konfigurasi menarik mengangkat ideologi partai lewat simnol-simbol. arah menuju sorga.

kelompok ataupun perorangan yang bertindak sebagai tuan rumah (host) dicerna dan diformat ke dalam bahasa pentas oleh seniman penyaji. melalui peran penasar dapat diaktualisasikan menjadi kisah kekinian. Penasar yang berfungsi sebagai penerjemah bahasa tokoh utama yang kurang dipahami oleh kebanyakan penonton. purana. Secara figura desain tubuh penari di arena pentas. yang membutuhkan dukungan masa banyak. maupun kisah kerakyatan dari bentangan spektrum waktu tanpa batas. menjadi tuntutan yang mesti di capai melalui pelatihan panjang. tandang. menjadi tuntutan wujud keindahan pakem tari. dunia dari alam gaib. Menjadi seorang pregina/dalang dituntut memiliki multi talenta untuk bisa mentranformasi diri tiga kali lebih besar dari dirinya. Dengan posisi badan miring menjauh dari pusat grafitasi dalam kemiringan kesamping. dunia mithos. Transformasi diri menjadi tokoh yang diperankan. ditambah lagi memiliki kekuatan karismatik penyatuan dengan kekuatan ekstasi magis sebagai tampilan yang memukau (mataksu). Dalam format pertunjukan dramatari Bali konvensional tokoh ”penasar” yang merupakan tokoh sisipan namun menjadi esensial figur selalu hadir pada setiap pertunjukan termasuk dalam pertunjukan wayang. kisah raja-raja pada jaman feodal. Dengan menyerap pesan yang ingin disampaikan dari institusi. dan wirasa. kemudian secara penguasaan isian drama menuntut kecerdasan dan berbekal dengan kedalaman sastra. tangkis dan tangkep yang dibalut dengan olah wiraga.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pimpinan politis pemerintahan pada masa reformasi. Tari Topeng dan Teater Bali sebagai Media Pencerdasan Rakyat. samping-menyamping. epos. terus menerus. Posisi badan yang terbi114 . sangat ampuh sebagai wahana mengakomudir pesan-pesan kebijaksanaan sebagai pencerahan dan menjembatani kisah dari dunia kedewataan. membentuk desain-desain tubuh yang dinamis. menjadikan unsur-unsur yang akan mematangkan profesinya. Ibarat bandul jarum metronum yang ayunmengayun. wirama. Transformasi tokoh dapat diwujudkan dengan estetika dan kaidah-kaidah gerak yang sesuai dengan karakterisasi. Pertunjukan yang mengambil kisah dari dunia kedewataan. berbangsa dan bernegara. yang seakan peristiwa tersebut berlangsung dewasa ini. Ini membuktikan betapa peran kesenian memiliki arti strategis sebagai pencerdasan masyarakat akan kesadaran berpolitik. Agem.

hieroglyphs yang bergerak. disamping masalah pemerintahan.” Seorang penulis essay dramawan Barat Antonin Arturd yang hanya menyaksikan pertunjukan lawatan grup Bali di Paris tahun 1931 (1958: 61).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI las dalam liukan postur tubuh. para yogi mengembangkan sabda Tuhan dengan pencerahannya. baik satra tutur maupun sastra tulis kebijaksanaan. pendidikan dan sosial kemasyarakatan termasuk retorika politik merupakan teba luas dinamika perubahan dunia konflik kehidupan. Alam semesta dan lingkungan hidup manusia sendiri sudah memberi materi isian drama yang tak pernah kering sebagai acuan pementasan. Para filsuf mengendapkan pikirannya lewat tulisan. simbol yang mistirius. Estetika ini memberikan pandangan bahwa kemiripan pergolakan pencaharian keseimbangan dalam tari seperti mengingatkan kita pada kenyataan hidup yang saling tarik menarik dari dua kepentingan yang berlawanan. merupakan pergolakan literatur hidup dengan mengusung hyang tiga jnyana yakni sanghyang guru reka. menghadirkan secara komprehensif bahasa ungkap baru yang diciptakan para penari/ pregina memanipulasi pemanfaatan busana menyusunnya menjadi hidup melalui berbagai perubahan bentuk. menakjubkan. memiliki kesamaan bahwa kerja kreatif menjadikan jantung kerisauannya dalam mengungkap misteri jagadraya ini. sementara seniman membangun dunia panggung dengan konflik permasalahannya sebagai refleksi gejolak konflik dunia itu sendiri. ditekuk pada bagian-bagian ruas angota badan. Seorang yogi. Hieroglyphs3 tiga dimensional tersebut berubah menjadi brokat dengan sejumlah gesture. memberikan pandangannya bahwa spektakuler dramatari Bali dibangun dari kompleksitas image murni panggung. seniman. dan realitas tersembunyi yang menurutnya di dunia Barat hal seperti itu sepenuhnya ditindas. yang berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui. Pregina/dalang dituntut memiliki referensi yang cukup untuk dituang sebagai kandungan isian drama persembahannya. dengan tahanan berat badan pada tumpuan satu kaki secara bergantian. sanghyang saraswati dan sanghyang kawiswara sebagai pu3 Hieroglyphs Gambar atau simbul digunakan dalam tulis-menulis khususnya dalam sistem penulisan dari jaman Mesir Kuno (Webster’s Contemporary American Dictionary: of English Language :335) 115 . Terlebih lagi kedalaman sastra. filsuf. menentukan bobot keindahan bentuk. ajaran agama. Menari dan juga hidup adalah upaya yang tak berkesudahan ”mencari keseimbangan di dalam ketidakseimbangan.

ceritera Panji. Terlebih lagi ketika manusia berkumpul sebagai komunitas kelompok sosial yang 116 . Sesungguhnya ceritera itu sendiri sudah memberikan gambaran pilihan yang mesti untuk disikapi dalam memahami diri. yang berubah menjadi sorga. Legenda. Demikian juga halnya dengan ceritera-ceritera lainnya seperti Purana. ceritera Binatang. muasal internal konflik yang mesti diselaraskan. ketika Yudistira menceburkan diri menemani saudara-saudaranya di dalam penderitaan luapan panas lahar neraka. para Korawa tetap mengejek penderitaan para Pandawa yang terjerumus ke dalam kawah neraka sebagai pahala dari perbuatannya ketika masih hidup. sementara para Korawa terjerumus ke dalam luapan panas kawah neraka. Secara episodik penggalan ceritera yang dijadikan lakon (bantang satwa) pada suatu pementasan juga mengakomudir pergolakan rua-bineda tersebut. dengan mengedepankan ajaran dharma. menjadi hancur mendapat gempurna dari Ramadewa yang hanya berwadwakan pasukan kera. termasuk anak-anak kecil yang tidak berdosa ikut menerima akibat dari peperangan tersebut. Pemenuhan tuntutan jasmani dan rohani manusia sebagai mahluk individu. Kisah Ramayana yang menggambarkan perebutan kekuasaan dan keserakahan Raja Rahwana. Perang saudara tersebut mengorbankan seluruh keluarga Korawa. Secara keseluruhan alur ceritera mendidik kita bahwa kemenangan akhir dari perjalanan panjang mesti tetap diupayakan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF saran kreatif. Keadaan baru menjadi terbalik. Guru-rurunya. Secara tematik pergolakan dulisme baik buruk menjadi tema sentral kemasan pertunjukan dengan memberi peluang kepada penonton untuk memilih dan memilah yang mana baik dan yang mana buruk sebagai pedoman berfikir. berucap dan bertindak menjalai swadarma. ceritera Rakyat. Epos Mahabharata memberikan gambaran penderitaan panjang Pandawa mesti dijalani untuk meperoleh kembali haknya yang dirampas secara kasar oleh saudara sepupunya sendiri yakni. pendikan moral menjadikan pilihan pencerahan akal budi sebagai cermin dalam menyikapi hidup ini yang penuh dengan persoalan. akhirnya mengorbankan seluruh kerajaannya yang amat terkenal mewah. Duryodana dengan satus Korawanya. para Porohita kerajaan. Raja-raja sahabat (prakanti). Pada akhir perjalanan kisahnya di Sorgaloka pun. memaksakan kehendak dengan menculik Dewi Sita untuk dijadikan istrinya.

Format seni pertunjukan konvensional Bali sangat fleksibel untuk dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan lakon. yang dibalut dengan humoris dapat mengingatkan masyarakatnya sebagai pendidikan moral dan budi pekerti. tempat pementasan dan keadaan yang mesti diatasi. cinta. bila ada pesanan sisipan yang mesti diakomudasi dalam pementasannya. Kritik tajam tentang sosial kemasyarakatan. Sajian solo seperti topeng pajegan. tutur kebijaksanaan. Oleh karenanya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sering juga memiliki kepentingan berbeda dengan kelompok sosial lainnya. Hal-hal yang berkaitan dengan masalah seperti inilah yang menjadikan isian drama (dramatic content) pencerahan masyarakat penontonnya. kekuasaan. casting penari. Tidak demikian halnya dengan jenis pertunjukan bondres yang memang memiliki keterbukaan untuk dikisahkan secara kontemporer. harta/ materialistis. menjadikan hidup ini penuh dengan ketegangan. Namun atas nama martabat. yang kiranya tidak cocok dengan plot lakon. bisa terealisasi dengan baik dengan tetap mempertimbangkan alur dramatiknya. dalang wayang kulit. tujuan peruntukan pergelarannya. lebih memilih pada media topeng/wayang sebagai media ungkapnya untuk di117 . merupakan kelenturan sifat dan penampilannya dalam membentuk drama. Yoga sebagai seorang pregina terletak pada kecerdasannya mengimbangi pasangan mainnya dalam pergulatan dialog. Ungkapan yang bersifat fulgar sebisanya dihindari. sampai dewasa ini konflik antar bangsa yang dicarikan solusi pemecahannya tidak jarang harus berhadapan dengan pernyataan perang yang tidak sedikit menelan korban jiwa. karena sering melenceng dengan babon ceritera. Gejala alampun dapat memporak porandakan kehidupan manusia akibat dari ekploitasi alam secra berlebihan sehingga ekosistem tidak seimbang. Cara ungkapnya yang spontan terkadang menjadi liar setelah menerima respond dari penonton. Pada kenyataannya. dan tuntutan lainnya tidak bisa cair dari kebekuan sikap kukuhnya. Pesan-pesan sisipan seperti itu pada umumnya diolah dengan bahasa simbol yang memiliki image ganda dan dapat dimengerti oleh penontonnya. Mereka sesungguhnya sadar bahwa hidup rukun berdampingan dengan sesama menjadi idaman menjalani kehidupan ini. sehingga konflik seperti itu selalu ada. Dalam hal ini peran seniman yang dijuluki sebagai seorang ”guru loka” dengan mengusung sanghyang tiga jnyana sebagai kebebasan kreativitas. durasi waktu.

serta menjaga keharmonisan alam semesta sebagai ekosistem pemberi kehidupan dalam arti luas. membangun kedamaian hidup berdampingan dengan sesama. Penutup Pemahaman konsepsi simbol tampakdara (+) yang terbangun dari persilangan garis sederhana namun memiliki kedalaman makna sebagai filsafat kehidupan setiap individu dan kelompok masyarakat. Pengujian di atas pentas untuk dialog antar tokoh oleh sejumlah pemain dalam membangun struktur drama menuntut kepekaan dan reflek yang spontan dibingkai oleh estetika dan pakem-pakem yang tidak boleh dilanggar. Keseimbangan secara horizontal. Pergolakan baik buruk perseteruan yang tak berkesudahan dari daya tarik menarik kepentingan sifat yang bertentangan. dibarengi dengan pemahaman secara filosofis dengan kedalaman jnyana. saling menghormati. sehingga unsur sekala dan niskala tersebut menyatu dalam kerja karma. Seni pertunjukan memiliki akses luas pada penjabaran semua itu untuk lebih mudah difahami melalui menyimak gambaran kompleksitas dinamika kehidupan lewat kemasan seni pertunjukan seperti: tari. Secara vertikal membangun kesadaran hubungan manusia dengan berbagai manifestasi Tuhan dan keEsaanNya. topeng. Tiga kerangka yang mengkemas ajaran agama dengan berelemenkan kandungan filsafat (tatwa). Dalam memahami guliran perjalanan hidup. bhuwana alit dan bhuwana agung. manusia membutuhkan penguasaan dan pemahaman intelektual. etika dan tata cara (susila). disamping bercermin pada tuntunan kehidupan yang digambarkan melalui kisah-kisah kehidupan dikemas dalam dunia estetik dalam berbagai bentuk dan tatacara sajiannya. Swastika simbol agama Hindu berdasar kepada tampakdara yang pada implementasinya membentang pada bhuwana sarira. rua-bineda. perlu diseimbangkan sebagai sifat alami yang sulit ditampik oleh setiap orang. Secara tematik dunia seni pertunjukan selalu mengajarkan pergolakan dharma versus adharma yang pada kesimpulannya dimenangkan oleh dharma. dan sarana dan prasarana laku estetika (upakara/upacara) terbangun 118 . Sarana upakara merupakan media mendekatkan diri dan menyatakan terima kasih akan kelimpahan karunia Tuhan. wayang dan teater lainnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF sisipi pesan-pesan pencerdasan masyarakatnya. menjadi landasan dasar kehidupan dalam mencapai keseimbangan.

Kemajuan teknologi informasi seperti televisi. Cambridge Massachusetts. Brandon. wujud/bentuk sajian. Kualalumpur: Oxford University Press. 1958. kepemimpinan. Harvard University Press. Theatre in Southeast Asia. “Education for the Performing Arts: Contesting and Mediating Identity in Contemporary Bali” in Staying Local in the Global Village: Bali 119 . yang memangku tugas sebagai guru loka. internet. dibanding pada era sebelumnya. 1995 [1981]. Nilai-nilai ajaran kebijaksanaan lebih menjadi kandungan dramatik dari sebuah pementasan. The Theater and Its Double (translated from French by Mary Caroline Richards). lebih menuntun masyarakat pemirsanya dengan ajaran-ajaran pemahaman diri berkaitan dengan rasa syujud dengan Tuhan. 1974 [1967]. dan greget penampilan yang memukau mataksu merupakan kekuatan yang dicari oleh para penyaji dan masyarakat pengapresiasi. termasuk gejolak sosial sebagai bagian tak terpisahkan dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini. keseimbangan ide/gagasan. Kewajiban seorang pragina. Balinese Dance in Trasition: Kaja and Kelod. Pencerdasan masyarakat penikmat lebih ditekankan pada peningkatan olah rasa dalam memaknai kehidupan ini.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pada mantra. Daftar Pustaka Artaud. 1999. dalang. Beberapa dekade belakangan ini ada kecendrungan pergeseran kecintaan masyarakat penonton pada jenis-jenis pertunjukan konvesnsional seperti arja. tantra dan yantra tak terpisahkan dari konsepsi idep. drama gong yang gelombang kehidupannya mengalami masa surut. wayang. video. pendidikan moral. Sebuah tantangan bagi seniman untuk menjawab masa depan tugas dan fungsi seni sebagai pencerdasan masyarakatnya. James R. sabda dan bayu. I Made dan Fredrick Eugene deBoer. Percepatan pergerakan dan konsumerisme masyarakat moderen seperti dewasa ini membuat setiap orang sibuk untuk mengejar materialistik pemenuhan kebutuhan hidupnya. Bandem. New York: Grove Weidenfeld. belum banyak digarap sebagai media penyampaian pesanpesan kebijaksanaan yang dapat diakses ke rumah-rumah dengan jangkauan pemirsa yan sangat luas. Antonin. Terobosan kreatif bagi seniman penyaji dituntut untuk merevitalisasi jenis kesenian seperti itu agar tetap eksis dengan nafas dan kemasan yang lebih segar. Brett Hough.

Connor). Aktor dan Pelaku Seni Pertunjukan. Middletown CT: Wesleyan University. Ron & I Nyoman Catra. Pendit. Zurbuchen. (ed. by Raechelle Rubinstein & Linda H. Pragina: Penari. 1994.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hongkong – Singapore: Periplus Editions. 1987. Jakarta: Balai Pustaka. New York: Free Press. London: North Holland Publishing Company.Siwalatrikalpa: Balinese Literature in Performance – Sastra Bali dalam Seni Pertunjukan. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa . Amsterdam. Spies. Catra. Surabaya: Paramita. New York: Bobley Publishing Corp. Webster’s Contemporary American Dictionary: of the English Language. Subramania. Ron. The American Heritage Dictionary (William Moris editor). 2004. Malang: Sava Media. Hooykass. I Wayan. Denpasar: International Translation Center ISI Denpasar. 120 . Ramayana. 2005. C. 2009. The Language of Balinese Shadow Theater. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. “Penasar: A Central Mediator in Balinese Dance Drama” (unpublished dissertation). Mahabharata. Woodbury. 1990 [1988]. Nyoman. The Invisible Mirror . Dibia. Subversive Laughter: The Liberating Power of Comedy. Mary Sabina. Jenkins. Walter and Beryl deZoete 2002 [1938]. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Honolulu: University of Hawai’i Press. Kama and Kala: Materials for Study Shadow Theater in Bali. Princeton. Nyoman S.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF in the Twentieth Century. 2008. New Jersey: Princeton University Press. Jenkins. Kamala. Dance and Drama in Bali.2004. 1973.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 121 .

224121 Alamat rumah: Jl. serta Sekretaris Umum Widyasabha Dharmagita Provinsi Bali Alamat kantor: Jl. Lulusan Program Pascasarjana UGM Yogyakarta (1997) ini juga aktig sebagai penatar bagi generasi muda Hindi dan calon Pinandita/Pemangku di Bali.Fakultas Bahasa dan Seni. Gunung. Doktor lulusan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ( 2 0 0 7 ) bidang Ilmu Sastra dan Filologi juga menjadi pengajar di Fakulas Sastra Universitas Udayana. Laki-laki kelahiran Cekik-Berembeng. 12 Pebruari 1961ini mengasuh berbagai mata kuliah yang berkaitan dengan Sastra. (0361) 734363 HP. Telp. Banyak karya ilmiah Ketua Tim Penyusunan Tema Pesta Kesenian Bali yang dipublikasikan. Universitas Hindu Indonesia. Kesusastraan Hindu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dr. Lumut V/2A Denpasar Barat 80117 Telp. pada Program Magister (S2) dan Program Doktor (S3) Linguistik Program Pascasarjana Universitas Udayana dan Program Magister (S2) Ilmu Agama dan Kebudayaan. dan Sosiologi Sastra. terutama yang berkaitan dengan sastra bali. Estetika.com 122 .Hum. M. 08123770885 e-mail: tuarik4@yahoo. Nias 13 Denpasar. I Nyoman Suarka. IKIP PGRI Bali dan STIKES “WIRA MEDIKA PPNI BALI”. Stilistika. Jurusan PGSD Universitas Terbuka. aktif mentransliterasi lontar dari aksara Bali ke dalam tulisan latin Bahasa Kawi dan menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Fakultas Sastra Unud dan Sekretaris I Yayasan Sabha Budaya Hindu Bali. PNS yang juga sering menjadi juri berbagai lomba ini saat ini menjabat Ketua Pusat Pengkajian dan Pelayanan Lontar.

IV. 10—11) Terjemahannya: Dampak masa krisis telah menyebabkan manusia kebingungan. Manusia tidak lagi mengenal dunianya. bergulat sesama sanak saudara. Tan wring rātnya makol lawan bhratara wandhawa ripu kinayuh pakāśrayan. piagam perjanjian dilanggar oleh para penjahat di du- 123 . tempat ibadah leluhur dirusak. berkelahi. (Kakawin Nitisastra. Dosen Sastra Universitas Udayana Pengantar Pangdening kali mūrkaning jana wimoha matukar-arěbut kawiryawān. Sumpah tak berguna. Sang rājā siwiteng sushena ta ya sang madum-amilih-ulah wiparya. dan lawan dijadikan kawan. Wwang dūrātmaka dīrghajīwita sirang sujana dumadak-alpakāmrěta. orang-orang dilarang ke tempat ibadah hingga sepi. Benda-benda suci dihancurkan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Aktivitas Pasantian dan Sastra Bali Sebagai Media Pencerdasan Rakyat I Nyoman Suarka Pakar Sastra. Wyarthang śāpatha supraśāsti liněbur těkaping-adhama mūrka ring jagat. berebut kekuasaan. Wwang duśśila suśila durnaya wiweka kujana sujanāwibhāgana. Wwang mahyun ri kawehaning dana darīdra krěpana dumadak dhaneśwara. Dewādrěwya wināśa dharma rinurah kabuyutan-inilan padhāsěpi.

sewenangwenang. bukan hanya buta aksara tetapi juga buta hati. ekonomi. pemegang keadilan cenderung berlaku tidak adil. Berbagai krisis politik. ada baiknya pada kesempatan ini kita mencoba memberdayakan potensi budaya. tsunami. mereka sulit dibedakan. tanah longsor. Raja tunduk kepada panglima. lebih suka memamerkan diri daripada memikirkan nasib rakyat yang semakin melarat. mulai dari gempa bumi. dengan tanda-tanda zaman yang dialami masyarakat Indonesia saat ini. Berbagai kasus ketidakadilan dan kasus suap yang dilakukan para markus di kalangan penegak hukum.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF nia. sedangkan orang saleh menjadi pendek usia. pengadilan kini mencuat ke permukaan. Bencana alam pun datang silih berganti. Kerapkali sekelompok masyarakat cenderung bertindak arogan atas nama agama. Guna mengantisipasi berbagai fenomena tersebut di atas. banjir. Era krisis atau zaman Kali yang konon dipenuhi oleh Bhutakala membuat masyarakat kita mengalami kebutaan. Orang jahat berlagak arif. membuat pikiran dan hati gelap (awidya). Para elite politik lebih banyak bertengkar bahkan saling adu jotos. barangkali tidak jauh berbeda. kasar. ramah. orang miskin mendadak menjadi orang kaya. ilamana kita mencermati tanda-tanda zaman krisis yang dilukiskan seorang pujangga tak dikenal pada enam abad yang lampau. kejaksaan. Orang-orang hanya ingin diberi uang. sopan. hukum. yakni pasantian dan sastra Bali sebagai sumber pembangkitan budi. angin puting beliung. pencerdasan pikiran. dan sebagainya. dan pencerahan nurani. bajingan berlagak saleh. anarkis. masyarakat kita sekan-akan telah kehilangan kendali dan cenderung bertindak biadab. B 124 . seperti tersebut di atas. orang bodoh berlagak pintar. Namun kini. moral telah memberikan dampak negatif kepada perilaku masyarakat kita. sosial. berbudi pekerti luhur. Penjahat menjadi panjang umur. seperti kepolisian. destruktif. Dulu bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang beradab.

dan mendapat konfiks ka-an menjadi pasantian. bahasa teks (bahasa Jawa Kuna. Dengan demikian. kedamaian pikiran’ (Zoetmulder. aktivitas pasantian dilakukan dan diarahkan dengan tujuan mendapatkan ketenangan. Pembaca yang baik adalah pembaca (pangwacen). Di samping memahami kode sastra. bahasa Jawa Tengahan. ketentraman. yang sering disebut panca siksaning angaji. penanya (pamitaken). Masing-masing peran tersebut dituntut memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup sesuai bidang masing-masing. Sementara itu. kedamaian pikiran’. yang mendengarkan dengan setia setiap teks yang dilagukan. penerjemah (paneges) juga dituntut kemampuan dan pengetahuan-nya seluas mungkin dalam penguasaan bahasa sumber dan bahasa sasaran. Karena itu. Ada lima peran dalam aktivitas pasantian. dan sekar ageng). penerjemah wajib memahami kode bahasa dan kode budaya teks yang sedang dibaca. ketentraman. maka ada kemungkinan besar pula penerjemah mengalami kesalahan dalam menerjemahkan. 1995:1017). peserta mabebasan secara keseluruhan pun pada akhirnya mengalami kesalahan dalam penafsiran teks. ten125 . dan diulas oleh peran-peran yang lain. seorang pembaca (pangwacen) akan merasa kesulitan membaca dan menembangkan teks yang dihadapi. dan semua peran menunjukkan adanya sikap bhakti. dan kaidah metrum yang digunakan (sekar macapat. yaitu pendengar (pamiarsa). dan nara sumber (narawakya). Kesulitan pembaca bukan hanya berpengaruh kepada pembaca sendiri tetapi juga berpengaruh terhadap penerjemah (paneges) yang juga akan merasa kesulitan dalam menerjemah-kan teks. serta kualitas suara yang memadai. ketentraman. Jika pembaca (pangwacen) salah membaca. yang berarti ’tempat atau wadah untuk mendapatkan ketenangan. sekar madya. bahasa Bali dalam berbagai tingkatan).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Hakikat Pasantian Secara etimologis. yang dituntut memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup dalam penguasaan pasang aksara Bali (tata tulisan Bali). Tanpa kemampuan dan pengetahuan yang cukup bagi penerjemah. diterjemahkan. penerjemah (paneges). Pendengar (pamiarsa) yang dimaksud adalah pendengar yang baik. pembaca (pangwacen). kata pasantian berasal dari kata dasar ”śānti” yang berarti ’ketenangan. Tanpa kemampuan dan pengetahuan yang cukup. dan kedamaian bagi para pelakunya.

maka ia akan semakin mudah melaksanakan tugasnya dan tentu pula akan membuahkan hasil yang semakin memuaskan. Nara sumber yang baik tentu dapat memberikan penjelasan-penjelasan yang memuaskan kepada setiap peran dalam aktivitas mabebasan. Teks yang dengan susah payah dibaca atau dilagukan oleh pembaca dan diterjemahkan oleh penerjemah akan hilang begitu saja tanpa meninggalkan bekas di dalam pikiran peserta pasantian. Oleh karena itu. kosa kata. Dengan berbagai horison harapan. yaitu wirama. tidak ada dialog yang berarti. Semakin kaya pendengar dengan horison harapan. pendengar akan dapat berperan aktif. dan mengulas makna teks yang sedang diapresiasi. dan keterampilan mengulas serta menguasai dengan baik materi yang sedang diapresiasi. maka dapat dipastikan bahwa apa yang dibaca atau dilagukan oleh pembaca (pangwacen) dan apa yang diterjemahkan oleh penerjemah (paneges) akan menjadi sebuah dagelan. maka semakin banyak penerjemah memiliki bekal pengalaman baca. menerjemahkan. menjadi dinamisator dalam aktivitas pasantian. Penanya (pamitaken) juga dituntut memiliki kemampuan dan pengetahuan serta kepekaan sastra yang cukup. memiliki penguasaan bahasa. dan kode budaya sendiri. Sebagaimana diketahui bahwa setiap bahasa memiliki kaidah bahasa. Dengan demikian. Di sinilah dituntut kepekaan seni. Oleh karena itu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF tu akan merasa kesulitan dalam menerjemahkan dan menafsirkan teks sumber ke dalam bahasa sasaran. wiraga. dan pengetahuan yang luas bagi penerjemah. Tercapai atau tidaknya horison harapan para peserta atau pendengar itu akan sangat mempengaruhi keberlangsungan aktivitas pasantian tersebut. nara sumber harus mempunyai kepekaan sastra yang cukup. Wirama adalah kegiatan membaca teks sambil melagukannya 126 . Tidak setiap kata dalam bahasa sumber dapat dicarikan padanannya secara tepat dalam bahasa sasaran. banyolan atau senda gurau belaka. kemampuan yang memadai. dan wirasa. Pasantian pun akan menjadi pasif. maka semakin banyak hasil interpretasi yang muncul. Peran nara sumber (narawakya) sangat memegang peranan penting. Aktivitas pasantian meliputi tiga bidang. terutama dalam menuntun peserta mabebasan untuk membaca. Apabila penanya (pamitaken) tidak memiliki kepekaan sastra. seorang peserta atau pendengar dalam pasantian setidaknya dituntut memiliki horison harapan.

laras) dan memahami konsep-konsep yang terkandung dalam teks sambil bernyanyi atau melagukan teks. Pembaca (pangwacen) belajar aksara Bali (jenis dan pasang aksara Bali) karena teks ditulis dengan menggunakan aksara Bali. Karena itu. dan kecerdasan sosial (hasil diskusi). tetapi lebih sebagai sebuah metode penyampaian gagasan moral. bahasa Bali) serta mempelajari kaidah metrum (uger-uger guru laghu. maka akan terjadi keharmonisan antara kecerdasan pikiran (hasil belajar). Dalam pasantian. yakni dari bahasa Kawi. para peserta akan belajar mengenai bahasa. Cerita yang dibaca bukan hanya dipahami sebagai sebuah cerita (satua). ideide. Demikian pula penerjemah (paneges) akan mempelajari bahasa teks dan kaidah bahasa sasaran (sor singgih basa. bahasa Tengahan ke dalam bahasa Bali ataupun membuat parafrase jika teks sumber menggunakan bahasa Bali. lelengutan basa) serta nilai-nilai yang tersurat dan tersirat di dalam teks. dan sloka. aturan metrum dan pupuh. Wirasa adalah aktivitas penghayatan dan apresiasi secara mendalam untuk mendapatkan makna teks yang dibaca melalui diskusi antar peserta.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI menurut kaidah metrum yang digunakan dalam teks. norma-norma. para anggota pasantian mendiskusikan teks yang dibaca. Di samping itu. Dalam diskusi itu dapat diciptakan kondisi yang memungkinkan berkembangnya penalaran dan logika interpretasi setiap peserta. palawakya. Dengan demikian. penafsiran selalu dimungkinkan dengan hasil yang beraneka ragam sesuai dengan bekal pengalaman dan horison harapan peserta. aksara. Wiraga adalah aktivitas menerjemahkan teks dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. misalnya sekar alit. sekar agung. sekar madya. Lebih jauh dapat dipahami bahwa ketiga aktivitas pasantian itu pada hakikatnya tindakan belajar sambil bernyanyi atau bernyanyi sambil belajar (malajah sambilang magending. magending sambilang malajah). nilai-nilai lewat karya sastra yang tokoh dan lakuannya dimaksudkan sebagai pelambang peri kehidupan yang sebenarnya (tattwa). Dalam kegiatan pasantian. 127 . konsep-konsep budaya dan yang terpenting adalah belajar menghayati nilai-nilai yang dikandung dalam naskah lontar. kecerdasan emosional (hasil bernyanyi). pembaca (pangwacen) juga mempelajari bahasa (bahasa Kawi. pada lingsa. bernyanyi) dan menerjemahkan teks. di samping membaca (menembangkan. Jawa Tengahan.

seperti terlihat pada naskah-naskah satua. Hal itu dapat dibuktikan dengan munculnya istilah nyastra yang mempunyai arti segala aktivitas manusia Bali yang berhubungan dengan bahasa. Umumnya. kesusastraan Bali ditulis dalam aksara Bali dan aksara Latin. bahasa Tengahan. sastra. Dalam tradisi Bali. istilah aksara atau huruf dalam tradisi Bali bukan sekadar sebagai lambang bunyi tetapi merupakan simbol budaya. sastra Jepang menggunakan bahasa Jepang. sastra Sasak menggunakan bahasa Sasak. Dari segi bahasa yang digunakan dalam karya-karya sastra. Lagipula.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Hakikat Sastra Bali Tradisi Bali memiliki keunikan dalam peristilahan sastra. Teks lisan ditulis ke dalam naskah. bahasa Melayu. sastra Inggris menggunakan bahasa Inggris. sastra Melayu menggunakan bahasa Melayu. dan lain-lain. bahasa Sasak. kidung. dan aksara Bali. Ditinjau dari aksara yang digunakan. penamaan sastra didasarkan pada bahasa yang digunakan dalam karya sastra. Dalam tradisi nyastra. Aksara memiliki fungsi sebagai bagian integral dalam tindakan magis dan keagamaan masyarakat Bali. misalnya sastra Jawa adalah sastra yang menggunakan bahasa Jawa. seperti penamaan sastra di atas. sastra Indonesia menggunakan bahasa Indonesia. Demikian pula. istilah nyastra melingkupi tradisi lisan dan tradisi tulisan secara sekaligus. kakawin. istilah kesusastraan Bali mempunyai ruang lingkup sangat luas. jenis sastra. sastra Sunda menggunakan bahasa Sunda. istilah sastra tumpang tindih dengan aksara. Berbeda halnya dalam tradisi Bali. Kata sastra dapat berarti sastra dan aksara atau huruf (Dinas Pendidikan Dasar Propinsi Dati I Bali. dan sebaliknya teks tulisan dibacakan atau dipertunjukkan. baik dilihat dari segi bahasa yang digunakan. dan bahasa Bali. kesusastraan Bali menggunakan bahasa Sanskerta. bahasa Jawa Kuna. maupun aksara yang digunakan dalam menuliskan karya sastra. 1990: 615). gěguritan. Karena itu. kita tidak bisa dengan mudah menyebutkan bahwa sastra Bali adalah sastra yang menggunakan medium bahasa Bali. seperti parwa. seolah-olah tidak ada perbedaan antara tradisi lisan dengan tradisi tulisan. Aktivitas Pasantian dan Sastra Bali sebagai Media Pencerdasan Aktivitas pasantian berfungsi membentuk dan menumbuhkan budi 128 . babad sebagai teks tulisan dibacakan atau dipertunjukkan dalam kegiatan maběbasan.

Malādi yolanya magöng mahāwisa. yakni pengalaman estetik non-individual. Di situ. Dalam Geguritan Purwasanghara dijelaskan bahwa untuk dapat mengarungi samudra zaman Kali (era keributan) yang penuh badai itu dapat ditempuh melalui kesusilaan budi. maka dapat dikatakan bahwa aktivitas pasantian dan sastra Bali dapat dijadikan salah satu media pencerdasan dan sekaligus sarana untuk mencapai ketenangan. mengatasi ruang dan waktu. maka akan dapat menggetarkan hati nurani yang paling suci (budi). Nafsu keinginan (indria) yang terkendali dengan baik akan dapat mengarahkan perbuatan kita untuk berpegang pada kebenaran (dharma). Guhā pětěng tang mada moha kasmala. baik sebagai individu maupun masyarakat sosial. Salah satu cara untuk mengasah kepekaan rasa dan hati nurani adalah dengan membaca. Di dalam rasa terjadi sublimasi emosi dari tataran psikologis ke tataran estetik. karya sastra yang dibaca dalam aktivitas pasantian merupakan perpaduan antara nilai seni (estetik) dan nilai moral. dan kedamaian dalam mengarungi masa krisis sebagaimana dijelaskan dalam kutipan Kakawin Ramayana berikut. apabila pembacaan karya sastra melalui pasantian dilakukan dengan baik dan benar. Budi nurani suci akan dapat menguasai pikiran atau manah. Aspek estetis akan menyantuh budi. yakni keseimbangan antara akal budi dan kepekaan hati nurani. Karena itu. Dalam menyikapi berbagai situasi dan problema kehidupan. 129 . Wiśāta sang wruh rikanang jurang kali. emosi individual ditransformasikan menjadi rasa. Perbuatan yang berpegang pada kebenaran (dharma) akan menghasilkan pahala mulia berupa kehidupan bahagia lahir dan batin (anandam). penggunaan akal budi harus diimbangi dengan kepekaan hati nurani. Jika demikian halnya. Dalam proses sublimasi emosi itu. menghayati. Dengan demikian.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pekerti luhur (budi kaparamartan). Pikiran (manah) yang kuat akan mengendalikan nafsu keinginan (indria). Kalinghaning śāstra suluh nikāprabha. dan kemudian mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra karena karya sastra diciptakan berdasarkan rasa. ketentraman. universal. pengalaman estetik menjadi identik dengan pengalaman religius.

hutan. dengan menciptakan kakawin sang kawi berharap dapat mencapai kelepasan. Di samping sebagai media pencerdasan. sungai. dan lain-lain sambil berlaku tapa. Sang kawi berupaya mempersatukan diri dengan dewa tersebut. 130 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Artinya: Mabuk. Dewa keindahan berkenan turun dan bersemayam di alam sakala-niskala. Zoetmulder (1985) menjelaskan bahwa kakawin diciptakan oleh penyair melalui beberapa tahapan. Pada kutipan di atas tampak jelas disebutkan bahwa fungsi sastra (kalinghaning śāstra) adalah sebagai lampu penerang yang terang benderang (suluh nikāprabha) dalam meraih perkembangan akal budi yang sempurna atau menjadi manusia cerdas yang dapat berpikir dan mengerti (sang wruh) arti hidup dan kehidupan. yakni di atas padma hati atau jiwa sang kawi. Dalam rangka yoga itu. bekal kematian sang kawi. kecantikan wanita. berhasil ditemukan berkat laku tapa atau samadi sang kawi. sebagai candi tempat semayam dewa keindahan dan objek samadi bagi para pemuja dewa keindahan serta sebagai silunglung. menjelajah gunung. Sang kawi memulai karyanya dengan menyembah dewa pilihannya sebagai dewa keindahan. noda dan dosa ibarat ularnya yang besar dan berbisa. sang kawi mengembara. dan segala jenis najis bagaikan goa gelap gulita. yakni dengan persatuan itu sang kawi “bertunas keindahan” sehingga ia mampu menciptakan kakawin. sakala-niskala. Sejalan dengan itu. sebagai asal dan tujuan. maka kakawin merupakan yoga sastra dan yoga keindahan. kakawin merupakan yantra. dan sastra adalah lampu penerangnya yang terang benderang. Persatuan itu merupakan sarana. Guna menemukan dewa keindahan yang menjelma di alam sakala. orang cerdas akan dapat melewati jurang dan kali dengan tenang. aktivitas pasantian juga dapat berfungsi atau berperan memberi vibrasi kesucian pada lingkungan. menyusuri pantai. maupun alam niskala. baik di alam sakala. sehingga kita dapat melewati berbagai terpaan dan pahit getir kehidupan ini (jurang kali) dengan tenang (wiśāta). Dewa itu dipandang menjelma dalam segala keindahan. bingung. dan sekaligus tujuan. Dewa keindahan yang berada di alam niskala. mengamati pertempuran.

di samping kegiatan pembacaan. Sementara itu. Sementara itu. Lingkungan yang tervibrasi oleh kesucian akan dapat membawa masyarakat pada kehidupan yang harmonis dan dinamis dalam mewujudkan pembangunan manusia seutuhnya. rasa harga diri dan kebanggaan masyarakat. ide. aktivitas pasantian bergulat dengan upaya apresiasi semendalam mungkin terhadap karya sastra Bali trandisional tersebut. dan kedamaian. memperkuat kepribadian bangsa. mempertebal rasa harga diri. mempertebal rasa harga diri dan 131 . dan pendiskusian. Pengenalan dan pemahaman nilainilai luhur itu akan dapat meningkatkan kualitas hidup. aktivitas pasantian merupakan tempat menumbuhkan kepribadian dan jatidiri. Dalam kegiatan pasantian dilakukan upaya pengenalan. pemahaman. ketentraman. dalam aktivitas pasantian teks-teks yang dibaca adalah teks-teks sastra lama yang terekam dalam naskah. Masa kini diberi tempat justru dalam hubungannya dengan masa lampau dan masa lampau dihargai dalam konteks kekiniannya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Sebagaimana telah disebutkan di atas. baik secara nyata maupun hanya dalam imajinasi. Dalam aktivitas pasantian pada prinsipnya dilakukan beberapa kegiatan. Oleh karena itu. dan hal-hal mulia lainnya yang pernah dialami dan dilakukan serta dijadikan pedoman dalam kehidupan masyarakat pada masa lampau. maka berbagai persoalan pada masa kini akan sulit dimengerti atau dipahami jika tidak diketahui latar belakang sejarahnya. Kualitas hidup. memperkuat kepribadian. kepribadian. penerjemahan. karya sastra Bali tradisional diciptakan melalui proses perpaduan antara estetika dan religiusitas. Tujuannya adalah untuk mendapatkan ketenangan pikiran. Perlu dikemukakan bahwa masa sekarang sesungguhnya merupakan kelanjutan atau perpanjangan masa lampau. Kecuali itu. Teks-teks itu merupakan perbendaharaan yang memuat berbagai persoalan. Apabila demikian halnya. pasantian sebagai wujud tradisi lisan atau pelisanan teks-teks suci apabila dilakukan secara meluas dan berkesinambungan akan dapat menimbulkan vibrasi kesucian pada lingkungan. penggalian. nilai-nilai luhur. gagasan. buah pikiran. yang pada akhirnya dapat menumbuhkan kualitas hidup bangsa. dalam aktivitas pasantian. berlangsung pembacaan teks lama oleh pembaca masa kini. dan kebanggaan masyarakat. Oleh karena itu. renungan. dan penghayatan nilai-nilai luhur yang tersurat dan tersirat di dalam teks yang dibaca. Di sinilah pasantian berperanan memediasi masa lampau dengan masa kini.

Jalinan kemitraan dibina sedemikian rupa untuk menciptakan ke132 . akan senantiasa memberikan kesempatan kepada peserta lain. seniman. yang mampu memperkaya jiwa dan semangat baru dalam menjawab tantangan zaman globalisasi. Setelah pembaca selesai membaca. Ketika pembaca masih aktif membaca atau melagukan teks. yang mengakrabkan sidang pendengar. peran-peran dalam pasantian itu dapat diperankan oleh sekelompok orang yang berasal dari berbagai stratifikasi sosial maupun kelompok sosial yang ada dalam masyarakat. pejabat. petani. termasuk kepada pembaca dan penerjemah. Lebih jauh. dan gotong royong.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kebanggaan nasional. dipertunjukkan di hadapan sejumlah orang untuk dapat dinikmati bersama. Anggota kelompok pasantian itu bisa saja berasal dari kalangan Brahmana. Setiap anggota pasantian secara demokratis menunjukkan rasa toleransi dan sikap saling menghormati kepada sesama anggota. Dalam konteks ini. karyawan. penerjemah tidak akan menyela atau memotongnya begitu saja. Hal ini dapat dilihat berdasarkan ke-wangsa-an maupun ke-warna-an peserta dalam pasantian. Dalam tradisi lisan. Pasantian sebagai wujud tradisi lisan di Bali menunjukkan ciri kelisanannya yaitu pentingnya kebersamaan. buruh. pasantian merupakan usaha terus-menerus yang dilakukan untuk mengapresiasi dan menawarkan berbagai penafsiran baru dengan tanpa meninggalkan akarnya. Secara sosiologis. sastra dianggap sebagai milik bersama sehingga harus dibacakan. guru. Kemitraan akan dapat diwujudkan bila ada rasa toleransi. barulah penerjemah melaksanakan tugasnya. Wesia maupun Jaba atau juga berasal dari pedagang. menekankan aspek pendengaran yang mempersatukan. Kebersamaan sangat penting artinya dalam menumbuhkan sikap kemitraan. ABRI. saling menghormati. Hal ini terlihat pada proses berlangsungnya pasantian itu. peserta pasantian lainnya. pemuka agama. untuk melaksanakan tugas masingmasing. dan lain-lain. aktivitas pasantian merupakan wahana persatuan dan kesatuan. tokoh-tokoh masyarakat. Pembaca (pangwacen) akan menjalankan tugas dan peran semaksimal mungkin. Dalam tataran inilah terlihat kenyataan bahwa pasantian merupakan wahana untuk menggalang persatuan dan kesatuan masyarakat. tetapi penerjemah mempersilakan pembaca sampai selesai membaca teks. Demikian pula. Ksatria.

Kamus Jawa Kuna Indonesia.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI bersamaan dan keharmonisan. lewat pasantian sebagai wujud tradisi lisan dapat dibina atau dipertahankan solidaritas dan kebersamaan guna menumbuhkan semangat nasional.O. Kidung Tantri Piśācarana. Penutup Aktivitas pasantian merupakan kegiatan bersastra yang pada prinsipnya merupakan kegiatan olah rasa dan sekaligus olah pikiran. dan S. Dengan kata lain. P. dilagukan.J. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Robson. Kemitraan dan keharmonisan itu. pada akhirnya akan melahirkan persatuan dan kesatuan. Di sinilah pasantian menunjukkan cirinya sebagai wahana kemitraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Zoetmulder. dan diapresiasi secara mendalam dalam aktivitas pasantian. _______________. 2007. keharmonisan. aktivitas pasantian dapat menyempurnakan perkembangan akal budi masyarakat sehingga masyarakat mampu berpikir dan mengerti makna kehidupan. menjalin persatuan dan kesatuan para anggotanya dengan penuh dinamika melalui lantunan irama dan keluwesan bahasa. I Nyoman. Denpasar: Pustaka Larasan. Zoetmulder. “MABEBASAN: Wahana Pembauran”. A. Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Teeuw. 1998. 133 . P.J. Jakarta: Pustaka Jaya. 1985. Karya sastra diciptakan melalui akal budi pengarang yang dijiwai perasaan yang halus dan indah. 1995. dihayati. Jilid I dan II. Karya sastra itu dibaca. Denpasar. Karena itu. 1994. Daftar Pustaka Suarka. Jakarta: Djambatan.

Jurnal Seni Budaya. baik di dalam maupun di luar negeri. untuk berbagai kepentingan. Banyak pula publikasi artikel ilmiah luluasan Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta Pedalangan (1986) ini antara lain di “Mudra”.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF I Nyoman Murtana. teater. dan tari. “Lakon Gareng Dadi Dewa: Sebuah tinjauan Sosiologis” (2002) “Konsepsi Segara-Gunung dalam Cerita Cupak-Grantang” (2003) dan “Nilai Ajaran Inkarnasi dalam Lakon Purba Sejati” (2005). M.Hum. Cakra Wisata – Jurnal Pariwisata Budaya. Dosen STSI Surakarta ini tengah menyelesaikan pendidikan Doktor (S3) pada Program Studi Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar. “Konsepsi Kekuasaan Paku Buwana II Pada Kayon Gapuran (1998). Beberapa penelitian mandiri dan hibah yang dilakukan antara lain “Ideologi Lakon Cupak Ke Swargan oleh Dalang I Made Jangga”(2009). Durmo No.. Ngringo. Lulusan Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Jurusan Ilmu-ilmu Humaniora Pengkajian Seni Pertunjukan (1996) ini juga berpartisipasi dalam pentas wayang kulit. Thailand. tetapi mengembangkan juga keterampilan menari. S. Australia. seperti di London. 57772 Jaten. Dharmasmrti – Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan. Lahir di Tabanan. Sejak tahun 1982 sering menyusun karya-karya baru “wayang layar lebar berbahasa Indonesia” dengan mengaplikasikan konsep pewayangan baru yang berbeda dengan pertunjukan wayang kulit konvensional. Telp. Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat UNS Surakarta. Karanganyar. Alamat : Jl. Dasar kesenimanan bidang yang dikuasainya adalah pedalangan. dan menabuh gamelan. dan Taiwan. 19 April 1958. 134 . 0271-827708. RC. HP: 081329088782. Jepang. teater. “LAKON” Jurnal Jurusan Pedalangan STSI Surakarta. Skotlandia.Kar. Beberapa kali pentas seni di luar negeri. 193 Perum. Jawa Tengah.

bahasa visual. dan Bahasa Indonesia. raksasa. ksatria. baik melalui bahasa verbal.. adalah media komunikasi audiovisual. Ia digunakan sebagai sarana untuk membangun satu pertunjukan wayang kulit yang menimbulkan citra estetik tertentu. bahasa auditif maupun tanda-tanda simbolik lainnya. Selain hal tersebut. bahasa auditif dapat dinikmati dari berbagai suasana yang dibangun melalui suara gamelan yang mengiringi. bahasa Bali. dan dewa. dan nyanyian dalang dalam berbagai suasana.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Pertunjukan Wayang Kulit Bali: Media Komunikasi Pencerdasan Rakyat Dr. S.Hum. M. Kelir. juga mentransmisi- P 135 . baik abdi perempuan maupun lelaki. Selain itu. Dosen Kajian Budaya Universitas Udayana Pengantar ertunjukan wayang kulit. Bahasa kawi digunakan oleh para raja. Bahasa visual dapat dinikmati dari aneka bentuk rupa dan gerak seluruh figur wayang serta bayang-bayang yang ditimbulkan dari sorot lampu blencong yang bersuasana magis. I Nyoman Murtana.Kar. pendeta. Seluruh unsur budaya tersebut dipandang sebagai “bahasa” atau teks. irama antawacana. Dengan cara itu pertunjukan wayang kulit menjadi menarik dan menggairahkan apresiator. Bahasa Bali dan bahasa Indonesia digunakan oleh para abdi. cerita yang dimainkan oleh dalang dan seluruh anggota grup pendukung pertunjukan wayang kulit. layar putih sebagai arena memainkan seluruh figur wayang kulit diandaikan sebagai panggung kehidupan. Bahasa verbal dalam pedalangan Bali tampak pada bahasa kawi.

memandang ranah sebagai arena kekuatan yang di dalamnya terdapat upaya perjuangan untuk memperebutkan sumber-sumber daya (modal) demi memperoleh akses tertentu yang dekat dengan hierarki kekuasaan. Membangun Kecerdasan Struktur Sosial Pertunjukkan wayang kulit merupakan gambaran tentang kehidupan manusia yang terkait dengan kedudukan. Selain itu. aspek ideologi politik untuk mengekspresikan kepentingan manusia dalam memperjuangkan atau mempertahankan kekuasaan. lakon yang digelar dalam pertunjukan wayang kulit sering merupakan kasus-kasus kekuasaan. Seluruh aspek tersebut diramu dengan berbagai problema sosial dan unsur-unsur budaya yang aktual. Bourdieu (dalam Fashri. sehingga terbentuk sebuah lakon pertunjukan wayang kulit yang mampu menembus keterbatasan dunia lokal sehingga memancarkan sinar mulianya di dunia global. 136 . semua unsur budaya Bali yang digunakan oleh dalang sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasan-gagasan dalam pertunjukan wayang kulit. baik lokal maupun global. gerak. rupa. seperti bahasa. instrumen musik tradisional (gender wayang). dan fungsi yang berbeda-bedadalam masyarakat. Berbicara tentang pertunjukan wayang kulit bagaikan membicarakan secara total kehidupan manusia. Wilayah atau Ranah itulah yang diperebutkannya. pada tulisan ini akan dibicarakan aspek-aspek tertentu saja dari pertunjukan wayang kulit dalam fungsinya sebagai media pencerdasan rakyat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kan berbagai nilai kehidupan manusia. dapat dimaknai sebagai aktivitas politik kebudayaan. Bagi mereka yang menempatinya dapat mempertahankan atau mengubah konfigurasi kekuasaan yang ada. 2007:95). seperti aspek solidaritas sosial untuk mengeksresikan nilai tolerans dan kebersamaan. Masing-masing peran memiliki wilayah atau ranah kekuasaan yang berbeda-beda pula. aspek religius sebagai ekspresi rasa sujud terhadap Tuhan. Struktur ranah membimbing dan memberikan strategi bagi penghuni posisi tertentu untuk melindungi atau meningkatkan posisi mereka dalam jenjang pencapaian sosial. Dengan demikian. ranah menjadi arena pertarungan. terutama jika dikaitkan dengan upaya pelestarian. Oleh karena itu. kesatria. pendeta. Oleh karena itu. Ada peran raja. peran. dan abdi atau rakyat. atau perangkat gamelan yang lain.

Menurut Ratna (2004:179). sehingga pertunjukan wayang kulit menampakkan kekerasan simbolik mengenai kehidupan. baik konflik horizontal maupun vertikal merupakan kekuatan penggerak drama dan hati penonton. Ketiga bentuk konflik itulah yang diwacanakan dalam lakon pertunjukan wayang kulit melalui perbedaan-perbedaan karakteristik tokoh. tokoh-tokoh cerita justru berfungsi sebagai oposisi ideologis terhadap subjek. Misalnya pertempuran Pandawa dengan Kurawa di Padang Kurukasetra untuk berebut kekuasaan. kerabat. baik profane maupun dengan yang sakral. Dengan kata lain. bahkan juga sebagai pemberontak yang radikal. atau mengalah dan mau membuka komunikasi agar segalanya bisa dibicarakan secara baik-baik. Lagi pula. Perbedaan sikap dan perilaku tokoh-tokoh cerita bisa sangat tajam. Akibat dari itu. dikalahkan. Apabila dilihat dari filsafat perubahan dari Hegel (dalam Aiken. bahwa problema sosial yang terjadi dalam masyarakat mewarnai proses penciptaan karya pedalangan. Perang tersebut merupakan ekspresi simbolik mengenai konflik sosial dalam masyarakat. sehingga menyebabkan pertentangan yang hebat. Dengan cara tersebut konflik-konflik dapat dilerai dan semua pihak bisa mengarungi kelangsungan hidup. Hal itu sesuai dengan pernyataan Constance Nash (Hamzah. Hal ini berarti pihak yang kalah dapat menerima kekalahan sebagai kemenangan dan pihak yang memberi ampun adalah orang yang memiliki kesadaran historis terhadap masa lalu. Konflik horizontal menyangkut interaksi manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. sedangkan konflik vertikal menyangkut hubungan sistem keyakinan. 2009:85-86) bahwa kesadaran his137 . teman atau kolega. bahwa konflik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Membangun Kecerdasan Atas Konflik Dalam pertunjukan wayang kulit selalu terdapat perang antara kelompok yang satu dengan yang lain. bahwa dalam karya seni yang problematis. pandangan hidup. Cerita Dewaruci mengartikulasikan konflik vertikal yang terkait dengan sistem keyakinan hingga Bima bisa bertemu dengan Dewaruci. dan perbedaan kepentingan yang tercermin dalam tindakan-tindakannya. sangat dimungkinkan bisa saling bunuh di antara sanak saudara. pertunjukan wayang kulit merepresentasikan aneka konflik kemanusiaan. Membangun Kecerdasan Humanis Dalam konflik kehidupan selalu ada pihak-pihak yang kalah. 1985:122).

Tat Twam Asi dimaknai sebagai ajaran perilaku humanis yang menerima kehadiran orang lain bagaikan menerima dan mencintai dirinya sendiri. Dengan begitu. dan untuk Tuhan. Tat Twam Asi—Ajaran cinta kasih yang mengedepankan sikap hidup toleran dan berorientasi demi kebaikan orang lain tersebut. 2004:60) yang memancarkan sinar energi Tuhan dari sikap tokoh-tokoh pemaaf. untuk dunia. Tiap individu berharap memperoleh kesatuan sosial dengan sesama anggota masyarakat yang lain. Sikap mengalah itu menunjukkan implementasi ajaran Tat Twan Asi. dan berharap pula memperoleh kesatuan dengan kekuatan yang mahadahsyat dari maha pengasih dan penyayang segala makhluk. Hal tersebut merupakan pemberitahuan dan ajakan kepada rakyat atau masyarakat untuk saling menghormati. Aku terbuka untuk sesama. bahwa aku dapat hadir pada diriku dengan refleksi. mengingatkan manusia agar berhati-hati mengelola kekuasaan—sumber kebahagiaan yang sangat potensial menjadi penyebab kesengsaraan. dengan dunia yang luas. yaitu ajaran normatif (Wesnawa. dapat berkomunikasi dengan yang lain. Hukum perubahan historis mana pun bukan sebagai rangkaian daur perubahan yang berputar terus secara abadi. Hal ini berlaku bagi struktur masyarakat. Dalam konteks inilah konsep “the others”—yang lain—memancarkan nilai humanisme sosialnya yang mau peduli terhadap dan untuk orang lain serta tidak hanya berlaku untuk kelompok sosial tertentu. dan dapat merasakan pikiran orang lain. Semua itu merupakan pelajaran yang bernilai katarsis yang dalam tradisi ritual pemurnian jiwa di 138 . Aku terbuka untuk pikiran orang lain. meskipun dengan dalih meningkatkan kemakmuran. tetapi sebagai perkembangan yang progresif bahwa setiap tahapan. Setiap proses historis adalah sesuatu yang baru.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF toris mampu memahami realitas sebagaimana adanya. dipandang sebagai konsekuensi niscaya yang sepenuhnya berbeda dari tahapan sebelumnya. Bagi Hegel. Hakikat Tat Twam Asi itu sesuai dengan yang dikatakan oleh Snijders (2008:106). Tidak satu pun ada yang sama persis seperti keadaan sebelumnya. dan yang melebihi segala sesuatu yang ada di dunia. tetapi untuk semua. atau yang oleh Hegel disebut momea. Tiap-tiap individu berorientasi pada keselarasan. yakni sebagai sebuah proses menjadi. Mereka menemukan identitas diri di posisi yang tepat dalam tatanan masyarakat (Suseno (1992:247). yaitu Tuhan. sejarah berarti perkembangan.

agar manusia dapat berpikir. Pertunjukan wayang kulit adalah salah satu wujud kebudayaan tradisi-onal. upacara. Fisher (1990:231 dan 233) menambahkan bahwa manusia dalam dirinya memiliki esensi kebudayaan. (1989: 322-32) dalam tulisannya yang berjudul Sekala & Niskala: Essays on Religion. tetapi juga bermula sebagai proses sosial. Berdasarkan prinsip ke-Tuhan-an seperti itu. melainkan kekuatan kosmis yang dapat memenuhi seluruh kosmos. bahwa seni pada hakikatnya merangkum semua aspek kehidupan manusia. Dalang memiliki popularitas dan kedudu139 . dan bertindak dengan baik demi kebaikan dunia. setiap bentuk kekuasaan tidak lagi dimaksudkan untuk memaksakan kehendak terhadap pihak lain dalam mencapai tujuan. Ritual. dan memiliki buah pikiran. normatif (harkat moral norma-norma sosial). Kekuasaan bukanlah suatu gejala khas sosial yang berbeda dari kekuatan-kekuatan alam. melakukan revitalisasi. bermasyarakat. dan ekspresif (estetis). Kekuasaan dibiarkan tersebar dan melekat secara otonomi pada semua yang hadir di alam semesta dengan pancaran energinya masing-masing. diuraikan tentang kehidupan agama. Hakikat diri tidak hanya berfungsi sebagai proses sosial. Membangun Kecerdasan Religius Seorang dalang memformulasikan nilai-nilai keagamaan dalam pertunjukan wayang kulit. Ketiga unsur tersebut didasarkan atas satu pandangan dunia yang hampir selalu ditentukan oleh agama. dan kepercayaan diawali dari sebuah karya seni. and Art. Dengan menghayati nilai-nilai itu masyarakat dapat memperbaharuai. Seperti dikatakan oleh Bizawie (2002:66) bahwa kekuasaan adalah ungkapan energi illahi yang selalu kreatif meresapi seluruh kosmos. berujar. Kekuasaan adalah realitas itu sendiri yang dapat dilihat dari kekuatan-kekuatan yang mengalir dari pada-Nya. Menurutnya. bahwa peradaban yang meliputi pandangan. saling berhubungan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bali disebut dengan istilah panglukatan. melestarikan kesadaran kultural dan kesatuan komunitas. Berkaitan dengan hal tersebut Fananie (1994:127) mengatakan. moralitas. Menurut Suseno (1992:247) kebudayaan tradisional merupakan satu kesatu-an yang memiliki unsur-unsur kognitif (pengetahuan). kesenian. Eisseman. dan pertunjukan wayang kulit. tingkah laku. yakni individu hanya dapat mencapai perkembangan diri yang menyeluruh melalui interaksinya dengan orang lain.

Satuan sosial budaya 2.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kan di masyarakat. Perjalanan hidup teater “wayang kulit” yang melewati sekian zaman telah membuktikan diri sebagai barometer kepribadian yang telah berakar (Hamzah. Tabanan menyatakan. Nilai-nilai kultural 3. Pernyataan Eisseman tersebut koheren karena hingga kini pertunjukan wayang kulit merupakan bagian yang sistemik dalam berbagai pelaksanaan upacara ritual keagamaan di Bali. sehingga memancarkan aspek sosial dan kultural yang menarik sebagai wahana komunikasi. Pendeta mendoakan keselamatan dunia melalui sesaji dan doa-doa dan dalang menyelamatkan dunia dengan menjelaskannya perilaku baik-buruk tokoh-tokoh wayang dalam konsepsi “rwabhineda” dalam satu peristiwa lakon pertunjukan wayang kulit. 1985:114). menempatkan fungsi ritual dan edukasi pertunjukan wayang kulit bagi masyarakat Bali. Artinya. Dengan demikian pandangan dunia yang diekspresikan dalam pertunjukan wayang kulit. Dalang/transformer 4. Masyarakat apresiator/simulasi 2 4 1 Kehadiran nilai-nilai keagamaan dalam pertunjukan wayang kulit merupakan kekuatan teatrikal bagi suatu daya pembangunan bangsa. Menurut Berata (almarhum). Apabila diskemakan proses interaksi situasi sosial dan nilai budaya yang dipersiapkan sepanjang masa oleh seorang dalang adalah sebagai berikut. Teater merupakan sarana yang efektif untuk menanamkan kepribadian. antara nilainilai keagamaan dan seni disinergikan dalam pertunjukan wayang kulit. bahwa pertunjukan wayang kulit dan sistem upacara keagamaan bagaikan pasangan suami istri yang dalam kehidupannya saling melengkapi satu sama lain. unsur-unsur estetis hadir dalam sistem keagamaan dan sebaliknya unsur-unsur agama hadir dalam seni. seorang dalang wayang kulit Parwa dari Desa Tunjuk. bukan kerajaan-keraja140 . Hal itu sesuai dengan pernyataan Kuntowijoyo (1987:51-52) yang me-ngatakan. 3 Keterangan gambar 1.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI an dan kekuasaan-kekuasaan dunia lahiriah semata yang tersaji dalam latar utama bagi tindakan manusia. Ditinjau dari proses itu. Wayang jika ditafsirkan secara psikologis dimaksudkan untuk memelihara kecenderungan untuk menemukan realitas tertinggi (Geertz 1983:362). melainkan di dalamnya. pertunjukan wayang kulit bukanlah pementasan sebuah politik filosofis semata melainkan suatu psikologi metafisis (Geertz. maka dalang adalah orang yang terpelajar atau intelektual. filosofis dan religius di masyarakat. lembaga-lembaga agama. sekolah. kode dan sibernetik. Perilaku tokoh-tokoh wayang kulit ditafsirkan sebagai referensi dalam kehidupan sosial. penerbit. Argumen teologis mengungkapkan. 2002:98) tentang masyarakat sebagai simulasi yang terjadi di era postmodern. 2007:109). Komunikasi manusia dengan Tuhan dilandasi tiga argumen. media. Adapun argumen ontologis mengemukakan bahwa Tuhan ada karena kita memikirkan dan memprediksi eksistensi terhadapnya (Khuza’i. Dengan kata lain Kuntowijoyo (1987:135) menyatakan. Mereka bisa datang dari latar seperti status. melainkan dunia batiniah dari sentimen-sentimen dan hasrat-hasrat. Gramsci menganggap penting para intelektual tradisional yang menempati posisi ilmiah. bahwa dari struktur final realitas dapat ditarik kesimpulan adanya Sang Pencipta yang menerapkan struktur tersebut. Oleh karena itu. yaitu sebuah era informasi dan tanda-tanda yang diatur oleh pelbagai macam model. yaitu argumen kosmologis megungkapkan bahwa Tuhan harus ada karena kalau tidak akan ada rangkaian kausalitas yang tidak terhingga untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa. medis. Simulasi wayang mempengaruhi sikap mental masyarakat. kode dan sibernetik atau dunia maya yang mensimulasi nilai-nilai kultural yang divisualisasikan dalam wujud-wujud prilaku tertentu tokohtokoh pelaku cerita wayang. Kenyataan dicari bukan di luar diri. bahwa realitas sosial yang diungkapkan lewat tokoh-tokoh imajiner dapat memberi gambaran yang hidup. Pertunjukan wayang kulit adalah model. Cara kerja skema transmisi nilai-nilai itu sesuai dengan identifikasi yang dilakukan oleh Baudrillard (dalam Budiman. termasuk universitas. Setiap orang harus bersikap seperti kesatria yang terus-menerus memerangi raksasa dan raksasi yang diandaikan sebagai simbol nafsu-nafsu yang menguasai hidup manusia. dan firma-firma hukum. literer. 1992:60-61). posisi dan fungsi yang berbeda dan indepen141 .

142 . seyogyakan kesenian tersebut dijaga keberlangsungan hidupnya dengan cara memberi peluang tampil secara maksimal dalam berbagai kesempatan. Mengingat nilai—nilai edukasi yang terkandung di dalam pertunjukan wayang kulit demikian penting bagi kehidupan. dan memiliki kecerdasan akal budi untuk menyadarkan manusia sebagai makhluk sosial dan individu yang berketuhanan. bahwa pertunjukan wayang kulit berfungsi sebagai ajang peningkatan kecerdasan rakyat. maka para intelektual dan peneliti perlu mengkaji secara berkesinambungan pertunjukan wayang kulit yang hasilnya dapat dijadikan sarana pembelajaran bagi generasi berikutnya dan dapat diacu untuk mengembangkan pertunjukan wayang kulit sesuai konteks jamannya. Hal itu sesuai dengan sikap masyarakat Bali yang mendudukkan dalang wayang kulit sebagai “guru loka” yang bersikap independen. pertunjukan wayang kulit juga mencerdaskan rakyat dalam mengelola konflik kehidupan. Saran Berdasarkan uraan di atas diperoleh pemahaman. Di balik keindahan itu. Oleh karena itu. Perlu pula dilakukan reaktualisasi isi garapan lakon dan memposisikan peran serta fungsinya pada struktur sosial budaya masyarakat. lepas dari komitmen kelas atau peran ideologis manapun (Barker. membangun kecerdasan humanis. sehingga memperoleh daya hidup bersama masyarakat pendukungnya. Simpulan Pertunjukan wayang kulit merupakan contoh dari salah satu unsur kebudayaan yang terjadi karena manusia hendak memuaskan kebutuhan nalurinya akan rasa keindahan dan menjadikan pengalaman estetik sebagai penyeimbang kondisi materiil. karena ia menjadi guru bagi semua golongan sosial. Selain itu. dilakukan peningkatan kualitas teknis dan nonteknis secara berkelanjutan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF den. pertunjukan wayang kulit menyiratkan ajakan untuk meningkatkan kecerdasan mengenai realitas kehidupan sosial yang antara lain menyangkut kecerdasan manusia terhadap struktur sosial sebagai ajang untuk melakukan interaksi sosial. 2005:469).

Pengantar Bermain Drama. Revitalisasi Kebudayaan Hindu untuk Ketahanan Masyarakat Bali:Pokok-pokok Pikiran Ketua DPRD Bali tentang Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Bali. Adjib. Pandangan Dunia KGPAA Hamengkoenagoro I alam Babad Tutur: Sebuah Restruturisasi Budaya. Filsafat Kebudayaan Politik:Buti-Butir Pemikiran Kritis. Abad Ideologi: Kant. Berkeley-Singepore: Periplus Edition Fananie. Fichte. MLS. Yogyakarta: Tiara Wacana. Barker. Yogyakarta: Samha. Fisher. Nyoman Kutha. 1992. Yogyakarta: Kanisius. “Sekala & Niskala: volume I. Cultural Studies: Teori dan Prakktik. Fred B. Yogyakarta: Juxtapose. Penerjemah: Prancisco Budi Hardiman. Kebudayaan & Agama: Refleksi Budaya. 1985.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Daftar Pustaka Aiken. B. 1992. Suseno. Essays on Religion. Geertz. Zainul Milal. Henry D. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2002. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2009. dan Teknik Penelitian Sastra Dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme: Perspektif Wacana Naratif. Denpasar: Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Bali. dan Kierkegaard. Teori-Teori Komunikasi:Perspektif Mekanistis. 143 . Psikologis. Hikmat. Bandung: Remaja Rosdakarya. Bizawie. Franz Magnis. 2005. Mill Spencer. 1994. Surakarta: Muhammadiyah University Press. 1989. Fausi. Pembunuhan yang Selalu Gagal: Modernisme dan Krisis Rasionlaitas Menurut Daniel Bell. Marx. Zainuddin. Bandung: CV Rosda. Yogyakarta: Kanisius. 2004. and Art” . 1990. Metode. Mach Nietzsche. Chris. Wesnawa. Fashri. Ratna. Snijders.dan Pragmatis. Ida Bagus Putu. 2008. Aubrey. Comte. Teori. Adelbert. Ritual. Clifford. Interaksional. Kuntowijoyo. Antropologi Filsafat: Manusia Paradoks danSeruan. A. Hegel. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Eisman. 1987. Hamzah. 2002. 2007. Penyingkapan Kuasa Simbol. Perlawanan Kultural Agama Rakyat: Pikiran dan Paham Keagamaan Syekh Ahmad al-Mutamakkin dalam Pergugmulan Islam dan Tradisi (1645-1740). 2004. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Budaya dan Masyarakat. Penerjemah: Soejono Trimo. Bandung: Bentang Budiman. Schopenhouer.

seperti Puspanjali (1989). serta inovasi penggunaan 3/4 waktu. Lahir di Banjar Kutri. Jepang. 144 . Windha terkenal dengan komposisi musik yang bermelodi indah. Bali. Eropa dan Amerika.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF I Nyoman Windha merupakan salah satu musisi terkemuka dan komposer kontemporer musik gamelan Bali. Komposisi-Nya. antara lain ke Australia. telah dimasukkan ke dalam repertoar standar kelompok pertunjukan Bali dan banyak yang telah memenangkan penghargaan di kompetisi tahunan gamelan Bali. Gianyar. Lulusan ISI Denpasar. ini telah menyusun puluhan komposisi untuk gamelan Bali dalam berbagai genre. Bali. penggabungan bentuk-bentuk dan gaya dari gamelan Jawa. Hongkong. Singapadu. tetapi terutama dalam gaya kebyar. Mengajar sejak tahun 1985. Penata iringan tari kebesaran ISI Denpasar Ciwa Nataraja ini telah melakukan perjalanan melintas dunia untuk menunjukkan kebolehannya.

Dosen ISI Denpasar Pendahuluan usik Bali atau yang lazim disebut dengan Karawitan Bali adalah Seni Suara Vokal dan instrumental yang berlaras selendro dan pelog. semarpagulingan. gender wayang. angklung. Sekar Alit ( jenis pupuh) dan yang ke 4. gamelan Gong Kebyar memiliki multi- M 145 . yang dapat dikolompokan menjadi 4 kelompok. 2. MA Komposer. Sekar Rare (gending anak_anak). di Bali terdapat sekaitar 30 jenis barungan gamelan. Jegog dan gamelan gandrung dan gamelan yang terbuat dari bahan besi seperti gamelan selunding. gong gede. yaitu: 1. Seperti misalnya gamelan Gong Gede yang memiliki karakter agung dan berwibawa yang dimainkan berkaitan dengan upacara dipura-pura. Sama halnya dengan di Jawa seni suara vokal di Bali desebut Tembang atau Sekar. yang terakhir gamelan yang dibuat dari bahan perunggu seperti. Ahli Seni Karawitan. Gamelan Angklung dengan karakter sedih dan biasanya dimainkan pada saat ada upacara kematian. Masing-masing gamelan diatas memiliki fungsi. Berbicara tentang gamelan. karakter dan bentuk gending yang berbeda-beda. yang jika dilihat dari bahannya ada yang terbuat dari bahan bambu seperti gamelan Gambang. SSKar. gong kebyar dan gamelan semarandana. Rindik .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Seni Musik Bali dan Gamelan Gong Kebyar sebagai Media Pencerdasan Rakyat I Nyoman Windha. Sekar Ageng (jenis kekawin). Sedangkan seni seuara instrumental adalah alat Gamelan. Diantara jenis-jenis gamelan diatas. Sekar Madia(jenis Kidung. 3.

Peranan gong kebyar tidak saja mampu mencetak bibit-bibi baru. Dan dia bahkan menjadi media pembelajaran dalam mengawali belajar bermain gamelan. Gamelan gong kebyar dan tari kebyar ini tak bisa dipisahkan satu dengan dengan yang lain. jublag. dinamis. penyacah.. Tari kebyar merupakan sebuah ekspresi individu atau kelompok yang memilki ciri-ciri yang sama dengan gong kebyar. Kebyar di Masa Lampau Berdasarkan informasi yang ada bahwa untuk pertama kalinya gong kebyar muncul di Bali utara tepatnya didesa Bukulan Buleleng sekaitar 146 . reong . Kedua jenis kesenian ini. Gamelan yang tergolong baru ini sangat digemari oleh masyarakat Bali mulai dari kalangan anak-anak. kendang. baik ansambel maupun tarinya menonjolkan pada pengungkapan emosi yang meluap-luap dan aksi dramatis yang menakjubkan. tapi juga mampu mengadopsi ide-ide kreatif didalam usaha mewujudkan garapan-garapan kreasi baru kakebyaran baik dalam bentuk tari kreasi maupun tabuh kreasi baru. Gamelan gong kebyar yang dimainkan oleh kurang lebih 25 orang musisi (penabuh) ini diperkirakan muncul pada awal abad ke 20 dan gamelan ini awalnya diciptakan hanya untuk lagu instrumental ( gending petegak). Ansambel yang baru ini desebut gamelan gong kebyar dan tari kreasi baru ini juga disebut tari kebyar. jegogan. dimana sebagian besar dari orang Bali mulai melajar megambel dari gamelan Gong Kebyar. Gamelan gong kebyar adalah alat musik perkusi yang instrumentasinya terdiri dari: gong. keduanya merupakan ekspresi kesenian yang lahir pada awal abad 20. gangsa.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF fungsi. Namun dalam perkembangan selanjutnya berkembang menjadi musik iringan tari. Kecuali suling dan rebab yang masing-masing merupakan alat tiup dan gesek. dewasa dan kaum Ibu-ibu. rumit dan tempo yang cepat. terompong. kajar. suling dan rebab. Asal Mula dan Perkembangan Kebyar Istilah kebyar berasal dari bentuk permainan gamelan yang dipukul secara bersamaan yang menghasilkan suara menggelagar “byar” yang kemudian dipergunakan untuk memberi nama kepada ansambel baru dan tari kreasi baru dalam kesenian Bali yang memiliki cirriciri keras. yang lainnya semua alat-alat dari gong kebyar adalan alat perkusi. dan tarinya pun disebut dengan tari kebyar.

Saat awal pemunculannya gamelan ini diciptakan untuk menyajikan gending-gending petegak atau lagu-lagu instrumental dan media bagi para pencipta lagu (komposer) untuk mengekspresikan diri. dan baru diketahui bahwa telah tercipta lagu-lagu kebyar seperti Kebyar Ding Sempati. gending Jerebu yang juga ditarikan oleh penari kebyar saat itu seperti I Maria dan murid-muridnya. menari dengan posisi jongkok yang kemudian menjadi cikal bakal tari Kebyar Duduk dan tari Kebyar Trompong. Para penabuh gamelan mulai memainkan ritme-ritme unisono bersama. Buleleng yang selanjutnya tari ini menjadi tari Taruna jaya. seperti I Gusti Ngurah Raka dan I Nyong-nyong. yang konon tabuh pengiringnya diciptakan oleh I Wayan Sukra. sinkopasi-sinkopasi yang jarang ditemukan pada jenis-jenis gamelan gong kuna. disana dia menarikan sebuah lagu gong kebyar secara bebas yang berinteraksi dengan tukang kendang. Perjalanan gong kebyar selanjutnya diawali dari diperdengarkannya dipuri Subamya. Baru tahun 1920 terciptalah tari Kebyar Duduk dan tahun 1925 menjadi tari Kebyar Trompong seperti yang kita lihat sekarang. Mereka memasukan “emosi dan aksi dramatis” dalam permainan gamelan yang menjadi bentuk awal dari gong kebyar. Tari Kebyar saat itu masih berkiblat pada tari Kebyar Duduk dengan gerak bebas yang penuh improvisasi mengikuti aksen-aksen lagu gong kebyar.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI tahun 1914. Pada tahun 1928 ditemukanlan rekaman komersial mengenai gamelan Bali. membuat aransemen yang rumit sebagai ciri dari kreasi baru. Buleleng. Bahkan hampir tak ada lagi ciptaan instrumental baru dalam lagu gong kebyar. Ketenaran I Maria sebagai penari Kebyar Duduk. Selanjutnya pada era tahun 1930 an munculah Tari Kebyar yang 147 . Tabanan oleh seka gamelan dari desa bantiran (Buleleng) pada tahun 1919. masyarakat Bali hampir mulupakan bahwa kebyar itu adalah musik instrumental. dalam rangka upacara pelebon. Demikian juga halnya dengan tari Kebyar Legong yang diciptakan oleh Pan Wandres dan I Gde Manik dari Jagaraga . Bentuk awal dari permainan gong kebyar pada saat awal pemunculannya adalah didesa Bungkulan. Awal munculnya tari kebyar adalah ketika I Maria diundang untuk mengajar tari di desa Busungbiu. Disini belum nampak ada indikasi bahwa gong kebyar itu digunakan untuk mengiringi tari. yang disertai dengan entakan-entakan yang tajam. kebebasan mencipatakan lagu baru.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dibawakan oleh penari wanita. Ada nafas baru yang juga muncul pada periode ini. Raja148 . yang idenya datang dari I Gusti Bagus Nyoman Panji. Selain mengalami perubahan struktur. Puspa Warna. dimana penari cantik membawakan tokoh laki-laki sepeti yang terlihat pada tari-tarian ciptaan I Nyoman Kaler. Candra Metu dan Bayan Nginte. kehadiran kebyar juga berdampak pada perubahan karakter. kebebasan berkreativitaspun muncul sehingg pada tahun 1951 terciptalah sebuah tarian baru yang berjudul tari Oleg Tambulilinagn. Pada dekade 1960 –an lahirlah tari Tani dan tari Nelayan. Mrgepati. Memasuki zaman kemerdekan mulai ada rasa aman. sebagai suatu respon perkembangan sosial politik di Indonesia. I Nyoman Kaler berhasil mencipatakan beberapa jenis tari kebyar seperti Panji Semirang. Sehingga antara tari dan musik menjadi satu sebagai sebuah kesatuan. Pada awal tahun 1960-an terjadi lagi sebuah pergeseran. Penciptaan Sendratari ini distimulasi oleh munculnya sendratari Ramayana Prambanan pada tahun sebelumnya. yang merupakan tari duet dengan tema percintaan. Tokoh-tokoh seperti Ketut Merdana ( Buleleng) dan I Wayan Beratha (Denpasar) muncul sebagai generasi awal dalam katagori ini. Demang Miring. dimana tema-tema kebyar yang semula berorientasi pada tari murni dan keindahan semata dan kini berubah menjadi tarian kebyar programatik. Bentuk tari kelompok lebih diutamakan. kendatipun tariannya ditarikan oleh lebih dari seorang penari. pimpinan KOKAR Bali saat itu. dimana orientasinya mengarah kepada wanita cantik. Ekspresi realirtas kehidupan mulai diperkenalkan. Munculah sebuah wadah estetika baru. Sebagai dampaknya terjadilah perubahan estetika dari tarian yang bersifat improvisasi kebentuk tarian yang memiliki struktur yang ketat. yang masih mempergunakan konsep tari tunggal. Ja-yaprana. Kemudian berkumandanglah sebutan tari babancihan sebagai ciri khas tarian kebyar. Dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun yang pertama KOKAR Bali pada tqhun 1962 Bapak I Wayan Beratha menciptakan sebuah sendratari yang berjudul Jayaprana. Pada tahun 1960-an sudah tercipta 4 buah sendratari yaitu sendratari Ramayana. yaitu perkembangan tari kebyar menjadi sendratari. Konsep tari kebyar telah berkembang dari konsep tari tunggal laki-laki dan wanita menjadi konsep tari duet laki-laki dan perempuan. Disini nampak terjadi perubahan yang sangat drastis. Tarian ini diciptakan oleh I Maria.

Kanada. Di Bali. PKB yang lahir pada tahun 1979 dijadikan strategi pembinaan dan pengembangan kebudayaan Bali. Perkusi merupakan jenis instrumen yang sifatnya sangat universal. Inggris. Dalam dunia musik barat juga memiliki perkusi sehingga secara psikologis 149 . Kalau kita lihat dari instrumentasinya. Suatu hal yang menjadi alasan kenapa gong kebyar bisa menyebar luas di seluruh dunia. Pakistan. Oleh pencetusnya Prof. dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling rumit.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pala dan sendratari Maya Danawa. gong kebyar tidak saja dimiliki oleh banjarbanjar akan tetapi dimiliki oleh perorangan. India. Sebagai puncak dari keberhasilan pelestarian dan pengembangan kesenian Bali itu kemudian ditampung dalam sebuah festival seni yaitu Pesta Kesenian Bali (PKB). Filiphina. Korea. Pengiriman kesenian keluar negeri seperti ke Thailand. sendratari ini juga diungkapkan lewat narasi dalang yang berfungsi sebagai komentator pergelaran itu. ketika Pemerintah Daerah Bali menyelenggarakan pentas Gong Kebyar kedalam sebuah wadah Merdangga Utsawa (Festival Gong Kebyar) pada tahun 1968 yang dimotori oleh Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibya) dalam usaha melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Bali. sebagian besar terdiri dari alat perkusi. Barangkali suatu hal yang perlu diteliti kedepan. Kecuali Rabab dan suling. I. Eropa dan Word Fair di New York menjadi kebangaan bagi seniman Indonesia. Hal ini dikarenakan oleh adanya diplomasi kebudayaan oleh Presiden Republik Indonesia. Thailand dan belum terhitung gong kebyar yang dibawa oleh penduduk Bali yang bertransmigrasi keseluruh nusantara. Kebyar Masa Kini Gong kebyar maupun tari kebyar sangat popular baik diluar maupun diluar negeri. Jepang. China. Diluar negeri sekitar 100 barungan gong kebyar tersebar luas di Amerika Serikat. Kehidupan kebyar semakin semarak. Disamping mengutamakan ungkapan pantomim dan programatik. Hampir diseluruh dunia memiliki alat musik perkusi. Dr. Spanyol. Mantra. Soekarno. Australia. Camboja. sehingga keberadaannya sudah mencapai lebih dari 1500 barung.B. Dan sampai sekarang PKB sudah berjalan selama 31 tahun. Tari kebyar menjadi salah satu primadona dalam misi-misi tersebut. Era 1960 –an adalah masa semaraknya pertumbuhan gong kebyar di Bali.

Sejalan dengan tuntutan kreativitas kini muncul gamelah baru yang disebut dengan gamelan Semarandana. Instrumen kendang sebagai alat vital walaupun sudah memiliki pola yang baku. Lagu-lagu gong kebyar yang sangat komplek dan kaya dengan ritme serta dinamis menjadi ketertarikan para pemusik kontemporer dunia dewasa ini. Gamelan yang baru ini mampu memainkan lagu-lagu kekebyaran dan lagu-lagu semarpagulingan serta garapan-garapan baru lainnya. dan 7 nada dibagian atas memakai laras pelog 7 nada. Sebuah tehnik paniti atau nyacah yang dapat dimainkan oleh semua instrumen melodi yang kemudian dapat dikembangkan menjadi kotekan yang sangat rumit. akan tetapi setiap saat bisa membangun improvisasi. Tehnik permainan gong kebyar terdiri dari tehnik yang paling sederhana sampai pada tingkat kerumitan yang tinggi. gamelan yang lahir tahun 1985 ini bentuk nya mirip dengan dengan gong kebyar. Permainan trompong yang dapat dimainkan dengan tehnik ngempyung dan ngembat serta kekembangan yang selalu menjadi tantangan menarik bagi pemain gamelan. ada saih gede (tembung) dan ada saih cenik (selisir). namun jumlah bilahnya lebih banyak yaitu 12 bilah. buku Music in Bali oleh Colin McPhee(1966).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF para musisi barat merasa dekat dengan instrumen gong kebyar. Demikian juga buku_buku tari Bali yang sering memberi deskripsi tari kebyar. Gong kebyar memiliki tangga nada pentatonik atau laras pelog lima nada dengan saih yang berbeda-beda. Pemahaman masyarakat dunia terhadap gong kebyar lebih terbantu dengan terbitnya buku –buku berbahasa asing seperti DeToonkunst van Bali oleh Jaap Kunst (1925). Para pemain Rock atau Jazz sangat menyenangi gamelan gong kebyar karena fleksibelitasnya dalam bentuk maupun bunyi. yang merupakan gabungan dari gong kebyar dan gamelan semar pagulingan. urutan nada-nadanya terdiri dari 5 nada dibagian bawah memakai laras pelog 5 nada. The Art of Twentieth –Century Balinese Music oleh Michael Tenzer (2000). Dan tehnik pukulan gangsa yang disebut dengan kotekan dengan berbagai sistem seperti kotekan telu dan kotekan pat dengan berbagai variasinya selalu menjadi tantangan utama bagi setiap pemain dan hal sangat menarik perhatian mereka untuk mempelajari gong kebyar. DVD dari karya-karya maestro Bali kini mulai mudah diperoleh dan setidak ada 40 volume rekaman STSI Denpasar yang menjadi stimulasi tertariknya 150 . Disamping itu rekaman-rekaman audio maupun VCD. buku Gamelan gong Kebyar.

keterkaitan antara klasik dan kebyar tetap terpelihara dengan baik dan masyarakatpun tidak dikejutkan dengan perubahan-perubahan yang asing baginya. yang dijadikan bagian pokok gegenderan pada salah satu bagian dari kreasi kekebyaran. Kapiraja . Bentuk-kreasi kebyar sebagai sajian musik instrumental seperti gending Gambang Suling. kini mulai mengadopsi lagu-lagu dari gamelan lainnya seperti gender wayang dan gambang. Ujan Mas. kedua motif lagu diatas juga dipergunakan dalam lagu semarpaguling dan pelegongan. Swabuana Paksa dan Kapiraja lebih menitikberatkan pada demonstrasi kelompok – kelompok instrumen tertentu. cengceng dan reong terutama didalam mengolah ritme. Motif dan tehnik dari gamelan tersebut dijadikan bagian yang penting dalam permainan gong kebyar. Selain gong kebyar.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI masyarakat dengan kebyar. Kebyar Masa Depan 1. Dari uraian diatas lelas menunjukan bahwa pakem gong kebyar berbeda dengan gamelan lainnya di Bali. kesederhanaan dan kerumitannya . Namun belakangan ini hampir semua kelompok instrumen diberikan kesempatan untuk mendemonstrasikan kelompoknya. mengambil bagian pengawak dari legong Kuntir menjadi bagian yang penting dari tarian tersebut. demikian juga gegambangan yang menjadi bagian akhir dari lagu kebyar. Dengan beberapa alasan diatas gong kebyar sudah menjadi milik bangsa yang sudah tersebar diseluruh penjuru dunia. Satu contoh lagi tari Kebyar Legong sebagai awal dari tari Taruna Jaya. Dimasukannya pengawak Kuntir dalam tari Kebyar Legong untuk membuat perubahan dinamika. Bahkan dalam penyajian tabuh kreasi semua kelompok instrumen yang ada dalam gong 151 . dan tersedianya rekaman-rekaman diatas menjadi akses untuk mempelajari gong kebyar . menjadikan gong kebyar sebagai sebuah ansambel yang bisa menjadi jembatan dalam mempelajari gamelan lainnya di Bali. Contohnya Gending merak ngelo. seperti kendang. Dilihat dari tehnik permainan. Kebyar Sebagai Wadah Kreativitas. Semula gong kebyar hanya memainkan lagu-lagu ostinato dengan aksen-aksen yang mengagetkan.

seperti lagu panyembrama. sehingga banyak lagu-lagu kebyar dimainkan dengan media gamelan lain. Disitulah letak fleksibelitas gong kebyar yang bisa menerima dan mempengaruhi gamelan lain. sendratari dan lain-lain. Gong Kebyar telah banyak memberi kontribusi terhadap perkembangan gamelan yang lain seperti. kini digarap dengan iringan gamelan Genta Pinara Pitu dengan membuat lagu-lagu baru sesuai dengan mode yang dimiliki oleh gamelan tersebut. rime. angklung. gong suling. harmoni dan aspek musikal lainnya. sebagai pengganti Drum Band Barat dalam pembukaan PKB tahun 1984. Dan sayang gamelan Genta Pinara Pitu yang satu-satunya di Bali saat itu. Tari Janger yang biasanya menggunakan iringan Batel dan suling . sehingga dia dianggap sebagai sumber yang kaya akan melodi. beberapa motif ritme juga diambil dari Drum Band Barat. Adalah pengembangn dari gamelan Balaganjur yang dikolosalkan. Adi Mrdangga yang diciptakan tahun 1984 oleh ASTI Denpasar saat itu. Hal ini menunjukan bahwa kebyar menjadi sumber yang kaya bagi gamelan-gamelan lain untuk dipinjamkan lagu-lagunya kedalam tehnik yang baru. Kebyar Menjadi Elemen Musik Dunia Kehadiran dari komposer-komposer barat yang pernah bela152 . Garapan Janger kreasi baru ini diciptakan pada tahun 1986. 2. Kebetulan penulis sendiri sebagai komposernya dan I Nyoman Catra sebagai koreografernya. sekarang ada di Monash University . Dalam Adi Mrdangga ini. Dan masih segar dalam ingatan kita. dinamika. drama gong. Mrgapati dan Cendrawasih dimainkan pada gemelan Angklung. Dan ini sangat tergantung dari kepiawian dari seorang komposer dalam menykapi hal tersebut. Gending Tari Belibis dimainkan pada gamelan Joged dan Jegog.Australia. Kebyar merupakan sebuah ansambel yang sangat kaya dengan motif dan hiasan-hiasan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kebyar memiliki hak yang sama. selain menonjolkan angsel rumit yang berasal dari kebyar. yang sudah barang tentu tehnik permaianannya disesuaikan dengan tehnik gamelan yang dipakai .

menorehkan sejarah baru bagi perkembangan gong Kebyar baik di Bali maupun di Luar Negeri. Beberapa dari hasil karyanya yang pernah ditampilkan pada ajang PKB seperti. 3. I Wayan Tembres dan I Wayan Suweca. Michael Tenzer. Situbanda. yang sudah barang tentu semua pengalaman yang mereka peroleh dapat memparkaya wawasan mereka dalam melakukan aktivitas musik. Dan hal ini banyak dilakukan oleh mahasiswa Jurusan Karawitan ISI Denpasar. ketika penulis mengajar grup gamelan Sekar Jaya padatahun 1989. Indonesia (Bali dan Jakarta) dan Singapura. tapi sebagai komposer dia sangat lihai memadukan elemen musik Barat dan musik India kedalam tabuh kreasi kebyar. Dan pada tahun 1998. Evan Ziporyn dan Andy Mc Graw. Banyuari. Karya 153 . Garapan ini dipentaskan di tiga Negara. Basel. Penulis sendiri pernah berkolaborasi dengan Evan Ziporyn dalam kreasi Kekembangan . istilah kolaborasi menjadi istilah yang sangat ngetren. Wayne Vitaly. Evan Ziporyn dan Andy Mc Graw. .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI jar gamelan di Bali seperti. Pengalamannya tinggal di Bali dan belajar gamelan kebyar pada seniman-seniman andal di Bali seperti: I Gde Manik. mereka memperdalam Gamelan Gong kebyar baik secara teori maupun praktek. Swis untuk membuat iringan tari modern dengan gong kebyar yang dipadukan dengan alat musik biola. Kolaborasi Dengan Musik Lain Dewasa ini. membuat dia tidak saja mampu memainkan gong kebyar dengan baik. Talakalam dan Puser Belah. saat mereka menempuh ujian akhir dikampus mereka. disini Penulis dan Evan menggabungkan gamelan gong kebyar dengan alat musik barat Saxophone . Michael Tenzer misalnya. dia seorang komposer barat yang lama tinggal di Bali. Banyak komposer yang mencoba membuat komposisi dengan memadukan beberapa alat musik dengan harapan dapat menghasil garapan yang bernafas baru. Dan komposisi yang paling besar yang penulis lakukan adalah ketika penulis berkola-borasi dengan seorang komposer dari Kanada yang bernama Hose Evangelista dalam sebuah garapan yang berjudul Bali Simponi. Penulis mendapat undangan kekota Basel. Demikian juga halnya dengan Wayne Vitaly .

Dalam proses penggarapannya penulis mencoba mengusung teme persatuan dan semangat kebangsaan dengan memanfaatkan potensi lingkungan sekitar. dimana kretiria festival meharuskan mengguanakan instrumen tambahan khususnya pada materi tabuh kreasi baru dan penabuhnyapun harus campuran laki-laki dan perempuan dengan komposisi masing-masing grup diharuskan mempergunakan 10 orang penabuh wanita. Hal ini disebabkan karena secara budaya masih ada kedekatan emosional dengan kerajaan Badung (Puri Pemecutan) sebagaimana juga terjadi di Karangasem antara keturunan muslim Sasak (Islam Waktu Telu) dengan Puri Karangasem. Sebagai penggarap penu154 . mengingatkan penulis pada peristiwa budaya terutama kegiatan upacara di puri Pemecutan Denpasar.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ini mencoba menggabungkan ansambel gong kebyar dengan alat musik orkestra lengkap. Karya ini pentaskan untuk pertama kalinya di San Fransisico State University. pada tahun 2004. Desa Sidakarya yang ditunjuk oleh kota Denpasar sebagai duta yang letakanya berdekatan dengan kawasan Suwung Batan Kendal sebagai kawasan etnik muslim dengan kesenian rodatnya yang khas. Penulis ingin menyingkapi persoalan bangsa itu dengan mengusung tema persatuan. Ditengan-tengah suasana disintegrasi bangsa dan pergolakan politik yang kian carut –marut. Dan khusus pada materi tabuh kreasi seorang penabuh wanita harus memainkan instrumen kendang. Kebetulan pada saat itu penulis dipercaya oleh wakil Kota Denpasar untuk menggarap meteri tabuh kreasi baru. yang selalu melibatkan kesenian Rodat dari desa SuwungPemogan. yang dimainkan oleh grup Gamelan Sekar Jaya yang bergabung dengan California Simponi. Situasi kerukunan hidup dengan sikap toleransi yang tinggi penting untuk dikemukakan. “Lekesan” adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebutkan benda yang berisikan bermacam-macam unsur dikemas dalam satu ikatan. Dalam konteks garapan “Lekesan” adalah sebuah karya yang beranjak dari kelisahan menyikapi suatu fenomena sosial dalam wadah Negara kesatuan yang terancam oleh riak-riak disintegrasi bangsa. Pada pelaksanaan PKB tahun 2001 pernah terjadi sesuatu yang sedikit agak ekstrem khususnya dalam materi festival gong kebyar.

Beranjak dari situasi seperti itu Penulis melalui konsepsi musikalitasnya ingin menawarkan solusi betapa perbedaan itu akan membentuk suatu kekuatan dan menjadikan hidup ini lebih indah dan bermakna dalam kehidupan. Adapun dalam Tabuh Kreasi Lekesan penulis. Kebyar Dipelajari di Seluruh Dunia Dijalur pendidikan formal keberadan gamelan gong kebyar sudah merambah keberbagai Universitas yang ada diseluruh dunia seperti. MIT. Ujung-ujungnya rasa persaudaraan dan tali pengikat persatuan mulai tercabik. dan latar belakang budaya yang luhur mulai terkontaminasi oleh serakahnya kepentingan individu maupun golongan yang sarat dengan muatan politis. 4. Dalam tabuh kreasi Lekesan ini penulis didalam mengekspresikan idenya tetap menggunakan barungan gong kebyar sebagai ansambel pokok yang diwajibkan. 155 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI lis melihat fenomena bahwa semboyan Bhineka Tunggal Ika sudah bergerak diluar relnya. dan banyak lagi gamelan gong kebyar diluar kampus seperti yang dimiliki oleh Kedutaan maupun Konsulat Indonesia yang ada di Amerika Serikat. keragaman suku. CAL ART. UCLA. Dal hal yang sama juga terjadi dinegara-negara lain seperti Jepang. Esensinya penulis ingin menorehkan pesan keharmonisan hidup dalam wadah persatuan lewat karya sekaligus kritik terhadap fenomena faktual yang sedang berkembang. 4 buah kendang angklung . agama. benih yang tertanam mulai rapuh. ras. 2 buah tamburin dan 10 buah suling. serta perjalanannya mulai tanpa arah terseret arus perubahan. namun disana-sini ditambahkan beberapa instrumen perkusi sesuai dengan kebutuhan garapan. penulis menambahkan barungan gong kebyar dengan 5 buah rebana. sebagaimana kekuatan keragaman ekspresi musikal bersatu padu membentuk harmoni kedamaian dan keindahan rasa dalam bingkai struktur komposisi yang saling mengisi satu sama lainnya . Akibatnya. Australia dan Eropa. Diangkatnya instrumen bernuansa muslim dalam pada tabuh kreasi baru Lekesan tak terlepas dari sebuah upaya untuk mengusung tema diatas.

instrumen ugal dan trompong berfungsi sebagai pemangku melodi. instrumen kajar berfungsi intuk memegang mat lagu. Seperti kendang misalnya yang berfungsi sebagai pemangku irama (conductor) dalam dalam musik klasik. aba-aba datang dari pemain ugal yang tidak ada pada musik dunia lainnya. Tantangan masa depan Untuk menjawab tantangan masa depan. Dengan menghafalkan semua elemen yang membentuk musik tersebut dan berusaha bernyanyi dalam hati sambil bermain. yaitu gong kebyar memiliki karakter yang unik dan terbuka. cengceng untuk memperkaya hiasanhiasan lagu dan instrumen suling dan rebeb berfungsi untuk memaniskan lagu. dimana pelatih memberikan contoh dari depan dan penabuh mengikuti dan menghafalkan. Keunikan terletak pada tangga nadanya yang berlaras pelog lima nada dengan sistem pelarasan menggunakan sistem ngumbang-ngisep yang tidak dimiliki oleh alat-alat musik lainnya. Dari hasil pengamatan penulis yang pernah mengajar orang barat baik di Bali maupun diluar negeri. Memiliki colotomic structure dimana masing-masing instrumen yang terdapat dalam barungan gong kebyar masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Adanya teknik pukulan “kebyar” yaitu memukul gamelan secara serentak dengan aksi dramatis tanpa seorang conductor atau dirigen. sangat dibutuhkan pencip156 . instrumen jublag dan jegogan berfungsi untuk mempertegas ruas-ruas lagu. maka secara tidak langsung kita sudah bermain dengan perasaan dan jika perasaan dibarengi dengan penghayatan disanalah letak jiwa dari lagu yang sedang dimainkan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Sebuah pertanyaan sering muncul kenapa orang-orang barat khususnya musisi-musisi dunia demikian tertarik dengan gamelan gong kebyar. bahwasanya ada beberapa alasan yang menjadi pertimbangan mereka. instrumen reong dan gangsa berfungsi untuk mengelaborasi kalima lagu melalui teknik pukulan ngubit. ngotek. norot dan oncang-oncangan. Satu hal lain yang membuat para musisi barat kagum dengan gong kebyar adalah cara mengajarkan gamelan kepada penabuh yang memakai sistem meniru dan menghafal.

Karena melodi merupakan kekuatan dasar dalam permainan gamelan Bali. Chicago and London: The University of Chicago Press. Music in Bali. New Haven and London: Yale University Press. Daftar Pustaka Bandem. 1966. Knopf. Beryl and Walter Spies. mampu mencipta agar kebyar tidak menjadi musik yang ramai (baroque) tanpa melodi yang jelas. Dance and Drama ini Bali. Kuala Lumpur : Oxford University Press. Singapore: Periplus Editions. Drama and Music. Perlu adanya keberanian untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan musisimusisi dari dunia lain seperti dari Amerika. Eropa. 1958. Berani mengangkat kebyar menjadi musik kontemporer yang serius . I Wayan and Rocina Ballinger. Miguel. Covarrubias. Mc Phee. Balinese Dance. New york: Alfred A.2000 Zoete.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ta-pencipta yang unggul. Islang of Bali. 157 . 1942 Dibia. Kaja and kelod Balinese Dance in Transition. 2005. I Made and Fredrik deBoer. Michael. New York : Thomas Yoselof. 1981. Gamelan Gong kebyar : The Art of Twentieth-Century Balinese Music. India dan Jepang yang sudah barang tentu memiliki aliran musik yang berbeda. Tenzer. Colin.

.

MENGEMAS SENI TRADISI SUMATERA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL 4 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

Beberapa Perspektif dalam Tari (2000). Etnologi Tari (2006) dan Analisis Tari (2007). Alamat Kantor: Jln. Dr. Guguk Malintang Kec. Majalah Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. Hegemoni Penghulu Dalam Perspektif Budaya (2006). Selain itu juga menjadi Pengajar Luar Biasa Akademi Bahasa Asing (AB) Bukittinggi. Bundo Kanduang No. Dr. Lahir di Lubuk Basung. M. Fasper ISI Yogyakartadan Majalah Jurnal Penelitian STSI Padangpanjang. 160 . Agam. Alamat Rumah: Jln.Hum. Tulisan dan karya ilmiah Prof. Padangpanjang Timur Padangpanjang Sumatera Barat. Beberapa buku yang pernah diterbitkan antara lain Fleksibelitas Gerak Dalam Tari (1992). 26 RT VIII Kel. 35 Padangpanjang Sumatera Barat. Peraih Tanda Kehormatan Satyalencana Karya Satya X Tahun (2006) ini pernah merebut penghargaan sebagai Dosen Teladan III ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) (1993) dan Dosen Teladan I STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Padangpanjang (1997). Daryusti. Ketua STSI Padangpanjang ini menyelesaikan program Doktor pada Program Studi Kajian Budaya Universitas Udayana Denpasar (2006).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof.. Jurnal IDEA Seni Pertunjukan BP. Sistem Penganalisisan dalam Tari (2003). Interdependensi Seni Tari dengan Seni Lainnya (1996). Daryusti juga banyak dipublikasikan di Majalah Berkala Penelitian Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Penanggungjawab Pascasarjana STSI Padangpanjang ini telah cukup banyak melakukan penelitian dan membuat karya seni. 28 Desember 1960. Estetika Tari (1996). Sejak tahun 1987 menjadi staf Pengajar Jurusan Tari STSI Padangpanjang. Abu Hanifah No. Kajian Tari dalam Berbagai Segi (2001).

setiap tradisi tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda. M.Hum. Perbedaan tersebut terlihat dalam masyarakat tradisional yang menempatkan kesenian sebagai sesuatu yang memiliki fungsi dan kedudukan yang penting terutama dalam upacara adat. Warisan seni tradisi merupakan modal budaya masyarakat yang terus menerus dipertahankan untuk kepentingan sosial. Daerah Sumatera Barat secara keseluruhan terdiri atas 19 kabupaten dan 7 kota. Masing-masing kota paling sedikit memiliki 2 kecamatan dan masing-masing kabupaten memiliki paling sedikit 8 kecamatan. 161 . Daryusti. karena setiap orang daya serapnya terhadap seni akan ber- S 1 Nagari adalah gabungan desa-desa yang mempunyai satu kesatuan sosial. karena seni mengandung nilai-nilai dan makna di dalamnya. Dalam hal ini yang menyebabkan perbedaan fungsi tersebut disebabkan adanya faktor agama dan adat setempat. Daryusti (2006) mengatakan bahwa setiap nagari di Sumatera Barat mempunyai seni tradisi. Setiap kecamatan terdiri atau kelurahan atau nagari1.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Ragam Kemasan Seni Tradisi Sumatera Barat dalam Komunikasi Sosial Rakyat dan Pemerintah Prof. Seni tradisi dikembangkan oleh masing-masing masyarakat pendukungnya. Ketua STSI Padang Panjang Pendahuluan umatera Barat merupakan daerah administrasi pemerintahan Republik Indonesia. Dr. Setiap seni tradisi akan dapat berkomunikasi sosial yang sesuai dengan ukuran pendukungnya. Setiap nagari memiliki seni tradisi.

baik secara eksplisit maupun implisit orang Minangkabau percaya akan adanya kekuatan gaib. Dengan demikian. karena manusia turut serta menciptakan keberadaan seni tradisi di lingkungannya. dan seni teater. Seni yang termasuk kelompok seni rupa adalah terdiri dari seni kriya dan seni artistik.S. yang sebagian besar berkembang di kalangan masyarakat. Mansoer dkk. (1997) menjelaskan bahwa. Seni yang termasuk kelompok seni pertunjukan adalah seni tari. yang mengandung unsur bukan Islam. Amir M. Amir M. Masyarakat sebagai pendukung seni tradisi dalam kehidupan seharihari selalu bertemu dengan berbagai gejala kehidupan dari segi keindahan untuk kepuasan batin. dalam hal ini seni tari. seni musik. khususnya pertunjukan tari. Kondisi Masa Lalu Secara umum ragam kemasan seni tradisi Sumatera Barat dalam komunikasi rakyat dan pemerintah dapat dibagi dua kelompok. maka upacara-upacara yang berhubungan dengan seni pertunjukan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF beda. Kepercayaan tersebut memunculkan keanekaragaman bentuk tari di Sumatera Barat. Oleh karena itu. dapat dikatakan bahwa seni hadir dalam kehidupan masyarakat sebagai pendukung merupakan bagian terpenting sesuai dengan kebutuhan hidup.S (1997) mengatakan bahwa ajaran tentang “spiritismeanimisme” adalah ajaran yang berhubungan dengan pemujaan terhadap roh nenek moyang dan kepercayaan terhadap benda yang mempunyai roh. yaitu seni pertunjukan dan seni rupa. Sebagai contoh di Sumatera 162 . maka dapat dikatakan bahwa sesungguhnya bentuk seni di Sumatera Barat. Secara berkelompok masyarakat sebagai pendukung seni tradisi akan bekerjasama untuk melestarikan seni yang berada di lingkungannya. Kerjasama tersebut dilakukan dengan komunikasi yang efektif melalui simbol dan kesepakatan antar individu dan kelompok. Dengan masuknya Islam. sering dipentaskan. (1970) menjelaskan bahwa Islam masuk dan berkembang di daerah Sumatera Barat dibawa oleh pedagang-pedagang dari Aceh pada akhir abad ke-16. Komunikasi masyarakat atau para pendukung dalam lingkungan seni tradisi yang ada individu dan kelompok akan dihadapkan kepada masalah-masalah yang dalam situasi untuk disepakati. lahir di dalam masyarakat dan oleh masyarakat. Maka dari itu. yakni yang berupa mitos.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Barat pada masyarakat Padang Laweh mitos didasarkan kepada kepercayaan yang lebih dari fakta. Dalam hal ini diperkenankannya tari ini dipertunjukkan. Dengan demikian. maka mitos dapat dikatakan tidak untuk diukur dan dijelaskan dengan ukuran kebenaran rasional manusia. Uraian di atas menunjukkan bahwa adat dan agama di Sumatera Barat merupakan satu kesatuan yang saling menunjang dan kait-mengait. Tari Alang Suntiang Pangulu menurut kepercayaan masyarakat Nagari Padang Laweh merupakan tari yang dipertunjukkan untuk ritual upacara penobatan penghulu oleh kaum atau suku. sebelum tari Alang Suntiang Pangulu dipertunjukkan salah seorang kemenakan dari penghulu yang akan dinobatkan harus menyediakan sesaji atau jamba yang berisikan siriah langkok (sirih lengkap) dalam carano. Syarat tersebut sudah merupakan keyakinan masyarakat Padang Laweh sampai saat ini. Oleh karena mitos merupakan kesadaran langsung masyarakat tentang realitas yang dipercaya untuk menangkap dunia realitas dengan kepercayaan yang diyakini. dan diletakkan di depan penghulu yang akan dinobatkan. Oleh karena itu. Pertama. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Imran dkk. Kepercayaan terhadap mitos bercampur dengan agama Islam tertuang di dalam bentuk kesenian Sumatera Barat. Hal ini dapat dilihat pada pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu dalam masyarakat Padang Laweh. Selanjutnya. yakni ditentukan oleh berbagai aturan. (2002) bahwa pemikiran dalam mitos hanya dapat dibaca melalui pengkajian semiotik terhadap simbol-simbol yang digunakan. atau dengan kata lain seluruh mekanisme kehidupan sosial bagi semua anggota dijiwai oleh adat. sesaji atau jamba tersebut dibacakan doanya menurut syariat agama Islam. maka manusia telah menerima adat secara total sebagai sistem kehidupan sosialnya serta percaya bahwa hanya dengan berpedoman pada adatlah ketenteraman 163 . tetapi untuk dipahami dan dihayati maknanya serta dipercaya. khususnya seni tari. Hal ini dapat dilihat karena adanya sesaji atau jamba sebagai syarat untuk penyajian tari Alang Suntiang Pangulu. Sementara itu. setiap manusia yang berada dalam lingkaran kehidupan adat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari unit sosial. Said (2004) menyatakan bahwa adat adalah aturan-aturan tentang kehidupan manusia yang disepakati penduduk dalam suatu daerah tertentu untuk mengatur tingkah laku anggota masyarakat sebagai kelompok sosial.

yakni untuk mengatur kehidupan manusia dari hal yang sekecil-kecilnya sampai kepada masalah yang lebih luas dan besar. seperti mengatur besarnya kekuasaan penghulu terhadap tari Alang Suntiang Pangulu dalam masyarakat Padang Laweh. maka adat dan agama dalam pertunjukan tari tersebut pada masyarakat Padang Laweh mengandung ajaran pokok sebagai berikut. baik secara peribadi maupun pada cara bermusyawarah saat tari Alang Suntiang Pangulu dipertunjukkan untuk penghulu yang dinobatkan dan didudukkan di antara penghulu lain. Kedua. Dalam hal bermasyarakat pada umumnya. Sementara itu. Penghulu yang dinobatkan diapit kiri kanan oleh penghulu lainnya. Berdasarkan uraian adat dan agama yang terkait dalam pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu. baik secara peribadi maupun secara mufakat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan kebahagiaan bagi setiap anggota masyarakat dapat terjamin. 164 . Selain itu. Di samping itu. hal ini juga mengatur tentang prinsip persatuan dan kesatuan untuk mencapai tujuan bersama. Koentjaraningrat (1984) mengatakan bahwa agama erat hubungannya dengan upacara-upacara religius dan menentukan tata alur unsur-unsur acara serta rangkaian alatalat yang dipakai dalam upacara itu. Pada masyarakat Padang Laweh dapat dilihat. adat yang mengatur pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu tentang hal yang lebih besar dan lebih luas. Perihal untuk kepentingan hidup manusia. di samping telah memegang dan menjunjung tinggi prinsip demokrasi yang disebut musyawarah dan mufakat. aturan adat untuk bertingkah laku dalam perbuatan yang sekecil-kecilnya dapat dilihat dari tempat duduknya penghulu yang dinobatkan di rumah gadang (rumah adat) pada saat pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu. Penghulu yang dinobatkan duduk diapit penghulu lain. Dalam kekuasaan penghulu terdapat adat yang mengatur pentingnya mewujudkan persatuan masyarakat Padang Laweh dan tentang dapat atau tidaknya tari Alang Suntiang Pangulu dipertunjukkan. masyarakat Padang Laweh mengakui kekuasaan penghulu terhadap tari Alang Suntiang Pangulu. adat bagi masyarakat Padang Laweh. hal ini merupakan pernyataan rasa menghormati dan mencintai penghulu yang dinobatkan. Dalam hal ini Al-Quranul Karim sebagai sumber hukum dalam Agama Islam yang diwahyukan Allah melalui Jibril kepada Nabi Muhammad SAW berisi ajaran dan perintah Allah tentang mempelajari alam semesta untuk kepentingan hidup manusia.

empat orang. Tari ini biasanya dibawakan oleh dua orang. adat basandi syarak. 3) Aturan yang mengatur tentang membina persatuan dalam masyarakat Padang Laweh. tari Alang 165 . hubungan adat dan agama lebih lanjut dalam masyarakat Padang Laweh digambarkan dengan simbol kelengkapan berdirinya sebuah nagari. dikenakan denda seekor ayam singgang (daging ayam yang digulai dan dimasak hingga kental kuahnya). Penari yang berjumlah genap tersebut sudah mentradisi dalam masyarakat Padang Laweh. artinya ‘adat bersendikan agama. Simbol nagari adalah balai adat dan masjid. 2) Aturan yang mengatur tentang hubungan antarsesama manusia. yaitu antara penghulu dengan kemenakannya. Apabila ada yang melintasi penari atau melanggar ketentuan ini. Masjid merupakan lembaga agama tempat sholat dan musyawarah penghulu dengan masyarakat Padang Laweh. 5) Selanjutnya. Para penari tidak diperbolehkan keluar dari tikar selama menari dan tidak dibenarkan atau dilarang untuk melintasi arena pertunjukan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 1) Aturan yang mengatur tentang hubungan manusia dengan Tuhan-Nya. Balai adat adalah lembaga kebudayaan tempat penghulu nagari mengadakan rapat atau musyawarah sesama penghulu dan masyarakat Padang Laweh. Perpaduan antara keduanya kemudian melahirkan suatu pepatah Minangkabau yang berbunyi. pemilihan penari laki-laki dilandasi oleh pandangan perihal tabu bagi wanita untuk menari di depan umum. syarak basandi kitabullah. Di samping itu. Tidak lengkap dan sempurna suatu nagari apabila salah satu dari dua institusi yaitu balai adat dan masjid tidak ada. atau pun enam orang laki-laki secara berpasangan. 4) Aturan tentang memegang teguh prinsip musyawarah dan mufakat antara sesama penghulu. Dengan demikian. agama bersendikan kitab (Al Quran)’. Ketiga. yaitu adanya agama. para penari tari Alang Suntiang Pangulu menari di atas tikar yang dibentangkan dalam rumah gadang (rumah adat). maka tari Alang Suntiang Pangulu di Padang Laweh Sumatera Barat memiliki hubungan yang erat dengan agama Islam. Di samping itu.

orang yang tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain akan terisolasi. tanpa seizin para penghulu dan angku. tidak dibolehkan oleh para penghulu dan angku atau rang mudo (gelar yang diberikan kepada seseorang untuk bertukar pikiran dengan para penghulu. Wih Sutan Maralauik. Alat musik yang dipergunakan untuk mengiringi tari Alang Suntiang Pangulu adalah adok. tari ini diiringi dengan tepukan tangan dan dendang (vokal). Interaksi terlihat pada cara-cara berhubungan. Hal ini akan memperlihatkan keharmonisan sosial dalam masyarakat. Selanjutnya. Dalam hal ini. Keempat. maka pengajar tari tersebut diusir dan dikucilkan dari nagarinya. Pada umumnya setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang lain. faktor sejarah menunjukkan bahwa penghulu pernah mengusir atau mengeluarkan Inun Pakiah Bungsu. Mengusir pengajar tari tersebut merupakan salah satu bentuk kekuasaan penghulu. Selain itu. Interaksi yang efektif sangat tergantung dari komunikasi antarindividu. Bahkan. tari ini dapat dibawakan oleh masyarakat dalam lingkungan Nagari Padang Laweh. komunikasi akan tercapai atau sukses apabila bentuk-bentuk hubungan komunikasi menggambarkan upaya yang sadar dari kelompok yang berkomunikasi dengan tujuan mencapai kebutuhan untuk bersatu. Dengan interaksi akan muncul proses sosial yang diartikan sebagai pengaruh timbal-balik antara pelbagai segi kehidupan bersama. Dengan kata lain. Seandainya ada penari di luar Nagari Padang Laweh yang berkeinginan untuk mempelajari tari Alang Suntiang Pangulu. Daryusti (2006) komunikasi akan berhubungan dengan manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia lainnya. yakni pengangkatan angku tersebut sama dengan pengangkatan penghulu yang baru diangkat). Kebutuhan akan terpenuhi melalui pertukaran peran dan pikiran yang dapat berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia. seandainya ada di antara penari yang mengajarkan tari ini pada penari di luar Nagari Padang Laweh. gandang (gendang).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Suntiang Pangulu dibawakan dengan iringan musik. Hal ini tampak ketika orang perorang dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut. 166 . dan talempong pacik. dan Tara Jali Sutan Majo Kayo secara adat (pada 1970) karena mengajarkan tari Alang Suntiang Pangulu di ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) Padangpanjang dalam rangka pertunjukan di Jakarta Fair.

Dalam hal ini individu dan kelompok akan dihadapkan kepada masalah-masalah yang ada dalam suatu situasi karena suatu pesan harus disepakati dalam masyarakat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Komunikasi terjadi jika ada unsur pesan dan penerima pesan. sesuai dengan perkembangan teknologi dewasa ini. telegrap. dan pemusik. Sebagai gejala sosial. kontak tidak berarti hubungan badaniah. Dengan kata lain. Kontak sosial antara penghulu dengan angku. yakni di satu pihak. dalam hal ini penghulu dan angku. Soekanto (1993) mengatakan bahwa suatu interaksi tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat. seperti uraian berikut ini. dan masyarakat terkait dengan larangan mengajarkan tari Alang Suntiang Pangulu di luar Nagari Padang Laweh. dan masyarakat yang mengajarkan tari ini di luar Nagari Padang Laweh akan diusir secara adat. memberikan instruksi kepada masyarakat. Kontak sosial antara penghulu dengan penari. b. Di samping itu. radio. dan masyarakat. surat. penari. orang-orang dapat berhubungan satu dengan yang lainnya melalui telepon. Hal ini berarti bahwa masing-masing pihak siap untuk mengadakan interaksi sosial. dan lain-lain yang tidak memerlukan sentuhan secara fisik. sedangkan secara fisik. Apabila ada penari. Hal 167 . Dalam hal ini kontak diperlukan antara penghulu dengan angku atau rang mudo atau sesepuh tari Alang Suntiang Pangulu dengan penari dan masyarakat. kontak baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniah. mereka telah mengetahui dan sadar akan kedudukannya masing-masing. Orang dapat mengadakan hubungan dengan pihak lain tanpa menyentuhnya. integrasi dapat mempengaruhi orang yang berkomunikasi. Davis (1960) mengatakan bahwa hubungan badaniah tidak perlu menjadi syarat utama terjadinya kontak. pemusik. seperti berbicara dengan pihak lain. Angku adalah tempat penghulu berkonsultasi tentang kemajuan dan kejadiankejadian yang ditemui oleh penari. Di samping itu. Interaksi penghulu dengan kaum atau masyarakat mempunyai beberapa unsur pokok yang terkait dalam kehidupan masyarakatnya. yaitu adanya kontak sosial dan komunikasi. Sumatera Barat. Kontak sosial pada penghulu dengan masyarakat dan penari akan dapat berlangsung dalam dua bentuk. a. pemusik. pemusik. kontak sosial adalah bersama-sama menyentuh. Secara harfiah.

yang diyakini sebagai pembawa ajaran Islam dimuka bumi ini.. walaupun telah dinikmati berkali-kali. terlebih dahulu mereka berdoa yang dipimpin oleh seorang Ungku memohon kepada sang pencipta mengharapkan keridhaanNya. rasa cinta. terpesona. sehingga menimbulkan rasa senang.. puas.. Pergeseran nilai menjadi hiburan dan kontemplasi terhadap sang pencipta akan menambah perbendaharaan seni pertunjukan Sumatera Barat Musik Dikie yang berkembang pada yang berkembang pada masyarakat ”kaum kuno” ini disajikan dalam bahasa Arab tanpa memakai alat musik. Pada mulanya Musik Dikie merupakan salah satu media untuk mengumpulkan segenap orang agar dapat mendengarkan syair-syair Arab yang bertemakan pemujaan kepada sang pencipta serta sanjungan terhadap nabi Muhammad SAW. terharu. Mereka hanya meyakini bahwa yang didendangkan itu adalah hal yang baik dipandang secara ajaran Islam dan melodi yang dimainkan menyentuh jiwanya. mereka bernyanyi dalam bentuk bersahut-sahutan dan pada bagian-bagian tertentu berbentuk koor. teks-teks tersebut bertemakan tentang pemujaan terhadap Allah SWT. pemujaan. Pertunjukan Musik Dikie umumnya ditampilkan pada malam hari sesudah shalat Isya sampai menjelang masuk waktu Subuh. Dalam pengembangan Islam di Sumatera Barat sering dimulai dari seni musik dan pada akhirnya menjadi musik tradisional Sumatera Barat yang bernuansa Islam.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ini berkaitan dengan rasa takut. sehingga timbullah kesenian yang bernuansa Islam. Teks-teks nyanyian bersumber dari kitab Maulud Sariful Anam berbahasa Arab. Sehingga Musik Dikie merupakan nyanyian malam ”kaum kuno”. rasa aman dan nyaman. Akibat dari perasaan itu sangat kuat. kepercayaan. dan manyanjung nabi Muhammad SAW. dan kekuasaan tradisional. Sebelum penyajian Musik Dikie. bahagia. Desmawardi (2007) Musik Dikie sangat populer dikalangan yang menamakan dirinya ”kaum kuno” di Sumatera Barat terutama dalam kabupaten Padang Pariaman. Syair-syair Dikie yang disajikan tersebut secara umum tidak dimengerti artinya (bahasa Indonesianya) baik sang si-seniman maupun si-pendengar. Dalam 2 Ungku adalah ulama dari kaum kuno atau ustaz 168 . dan setelah mereka terkumpul maka sang Ungku2 akan memberikan pelajaran-pelajaran tentang ajaran Islam. serta keinginan untuk mengalami kembali perasaan itu. dan kisah-kisah para nabi Allah terutama nabi Muhammad SAW. mereka terpaku.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI penyajian Dikie mereka selalu menekankan keharmonisan dalam kebersamaan. Penyajian Musik Dikie tidak menuntut banyak penonton atau tidak menentukan siapa penontonnya. tetapi tercipta secara anonim bersama dengan sifat kreativitas masyarakat yang menunjangnya. Kue-kue tersebut dihiasi sangat indah sesuai dengan nilai seni yang dimiliki kaum ibu. seperti orang menonton pertunjukan musik Jaz yang harus berpakaian rapi dan kapan perlu memakai dasi. namun para penyaji musik dikalangan ”kaum kuno” ini tidak membiasakan penampilannya secara individu. begitu juga halnya dengan buah-buahan ditata dengan rapi. Walau Musik Dikie dapat dimainkan secara individu dan dapat diiringi dengan alat musik. Menurut pengakuan para tukang Dikie apabila mereka telah mencapai klimaks dalam pertunjukannya. mereka tidak diharuskan memakai pakaian tertentu. Para penonton akan datang dan pulang sesuai dengan kehendaknya sendiri-sendiri. Musik Dikie merupakan pencerminan dari suatu kultur yang berkembang dari masyarakat kecil yang saling mengenal secara akrab dan komunikatif. Musik Dikie hanya dimainkan oleh para lelaki. dan keterlibatan kaum wanita hanya sebatas menyiapkan hidangan dengan berbagai bentuk dan jenis makanan sesuai dengan konteks penyajian waktu itu. semua terserah penonton. berbagai jenis kue dan segala macam jenis buah yang musim saat itu. maka para ibu-ibu harus menyiapkan hidangan yang sangat mewah seperti nasi jamba. maka mereka akan menangis atau intren. Bila diperhatikan pada waktu penyajian Dikie dalam Maulud nabi. dan peringatan hari-hari besar 169 . Semakin larut malam penyajian Dikie. bahkan tak pernah mereka lakukan hal ini menggambarkan sifat kegotong royongan yang sangat kental antara sesama pemusik (seniman Dikie). mau ngobrol atau memang benar-benar memperhatikan apa yang dibaca dan dinyanyikan tukang Dikie. sehingga upacara maulud terkesan sangat mewah. Penonton Musik Dikie bebas saja mau duduk atau berdiri. Pertunjukan Musik Dikie di kalangan ”kaum kuno” biasa disajikan pada saat adanya peristiwa maulud nabi. membuat suasana semakin melankolis dan konsentrasi pemain semakin tinggi. karena saat itu seolah-olah mereka melihat segala kebesaran Ilahi. bahkan tak jarang terjadi mereka menangis bahkan ada yang sampai intren tak sadarkan diri. Dalam perjalanannya. Seni tradisi bukan merupakan hasil kreativitas individu-individu.

randai jelas dapat mempertebal rasa ketradisian dan karakyatan terhadap upacara-upacara tradisional. maampek puluah. tanpa randai upacara-upacara tersebut masih bisa tetap dilaksanakan. helat batagak penghulu. rumah 170 . Ia hadir atau ditampilkan dalam upacara-upacara tradisional. dan galombang atao gerakan-gerakan tari bersumber pada gerakan-gerakan pencak silat tradisional Sumatera Barat yang dilakukan dalam formasi melingkar oleh pemain.helat lainnya. padanya terdapat unsur-unsur pokok yaitu. Zulkifli (1993) randai sebagai teater rakyat. penyampaian ajaran-ajaran tersebut dalam bentuk dialog dan akting pada penampilan randai dekat dengan pengertian dakwah dalam Islam. rantai. Dengan arti kata. Seni Arsitektur Pada Masa Lalu Rumah gadang (besar) Sumatera Barat dibangun di atas tiang. karena pada kesenian tersebut terdapat unsur-unsur penceritaan yang bersifat kiasan atau pengandaian yang disampaikan oleh para pemain dalam bentuk dialog dan akting. Cerita yang disajikan dalam randai pada awalnya mengutamakan cerita yang berisi tentang pejaran-pelajaran adat istiadat Sumatera Barat yang bermanfaat untuk publik. dan manyaratuih). Kehadiran randai dalam upacara-upacara itu hanya sebagai pelengkap dan penyemarak. dan helat. Gerakan-gerakan galombang yang dilakukan oleh para pemain randai dalam formasi melingkar dapat diinterprestasikan berbentuk lingkaran seperti rantai. Akan tetapi sebagai kesenian tradisional rakyat.pemainnya. dimainkan oleh rakyat untuk rakyat itu sendiri. manduo kali tujuah.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Islam lainnya kemudian peringatan 7 hari. 40 hari bahkan 100 hari seseorang setelah meninggal dunia yang biasa disebut mando’a. dan ravan-li-da’i. dialog dan akting. (manujuah hari. dendang yang disebut gurindam. 2 x 7. randai hidup bersama tradisi-tradisi yang berlaku dalam masyarakatnya. waktu pesta penen. helat perkawinan. Apabila diperhatikan penggarapan randai yang berbentuk teater. Sebagai kesenian tradisional. maka ada benarnya jika randai dikatakan berasal dari andai atau handai. randai hidup dalam kehidupan rakyat. Seni Teater Pada Masa Lampau Randai suatu bentuk teater rakyat tradisional Sumatera Barat. cerita.

sehingga kehidupannya menganut teori dialektis. Pada dasarnya ukiran itu merupakan ragam hias pengisi bidang dalam bentuk garis melingkar atau persegi. sifat ukiran nonfiguratif. Jika dilihat dari sebelah sisi bangunan. semuanya membentuk suatu keseimbangan estetika yang sesuai dengan ajaran hidup. Atapnya yang lancip merupakan arsitektur yang khas serta membedakannya dengan bangunan suku bangsa lain di edaran garis khatulistiwa. arsitektur rumah gadang dibangun menurut syarat-syarat estetika dan fungsi yang sesuai dengan kodrat atau yang mengandung nilai-nilai kesatuan. Navis (1986) semua dinding rumah gadang dari papan. berhimpitan. Pola akar itu berbentuk lingkaran. ber171 . yang disebut bakarano bakajadian (bersebab dan berakibat). Arsitektur Sumatera Barat sebagai suku bangsa menganut falsafah alam terkembang jadi guru. Semua papan yang menjadi dinding dan menjadi bingkai diberi ukiran.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI gadang mempunyai kolong yang tinggi. Pada pintu dan jendela serta pada setiap persambungan papan pada paran dan bendul terdapat papan bingkai yang lurus. sehingga seluruh dinding menjadi penuh ukiran. Garis segi empat yang membesar ke atas dikombinasikan dengan garis yang melengkung rendah di bagian tengah secara estetika merupakan komposisi yang dinamis. Jika dilihat secara keseluruhan. Ada kalanya tiang yang tegak di tengah diberi juga sebaris ukiran pada pinggangnya. Bentuk dasar rumah gadang berbentuk segi empat yang tidak simetris yang mengembang ke atas. Lengkung pada atapnya tajam seperti garis tanduk kerbau. sedangkan lengkung badan rumah landai seperti badan kapal. Garis melintangnya melengkung secara tajam dan juga landai dengan bagian tengahnya lebih rendah. Motifnya tumbuhan merambat yang disebut akar yang berdaun. dan berbuah. Ajaran falsafah Sumatera Barat yang bersumber dari alam terkembang. menyelaraskan kehidupannya pada susunan alam yang harmonis tetapi juga dinamis. terkecuali dinding bagian belakang yang dari bambu. berbunga. maka segi empat yang membesar ke atas ditutup. yang menimbulkan berbagai pertentangan dan keseimbangan. keseimbangan. Papan dinding dipasang vertikal. Akar berjajaran. kelarasan. tidak melukiskan lambang-lambang atau simbol-simbol. dan kesetangkupan dalam keutuhannya yang merupakan satu kesatuan.

1. bunga. dan ke bawah. Lingkaran bercabang atau beranting yang terputus dinamakan kaluak (keluk). Lingkaran yang sambung-bersambung dinamakan aka (akar). Lingkaran yang berjalin dinamakan jalo (jala) atau tangguak (tangguk) atau jarek (jerat) karena mernyerupai jalinan benang pada alat penangkap hewan. Seluruh bidang diisi dengan daun. Lingkaran yang berkaitan dinamakan saluak (seluk) karena bentuknya yang berseluk atau berhubungan satu sama lain. karena bentuknya merambat. Akar ganda yang paralel dinamakan kambang (kembang = mekar).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF jalinan. 3. 5. Pada dasarnya nama yang diberikan ialah sebagai berikut. 2. Yuli (2008) Kelurahan Jalan Baru Pariaman memiliki masyarakat yang sangat kreatif dan inovatif memanfaatkan dan meningkatkan limbah lidi sebagai barang yang berfungsi serta bernilai tinggi. dan juga sambung menyambung. Nama pucuk rebung diambil karena pucuk rebung memang runcing seperti segitiga maknanya adalah ajaran tentang orang yang berguna. Lingkaran yang berjajar dinamakan ular gerang karena lingkaran itu menimbulkan asosiasi pada bentuk ular yang sedang melingkar. Ukuran atau bentuk tingkatan lingkaran itu sama atau tidak sama. dan buah. Ada keluk yang searah di samping ada yang berlawanan. Nama ukiran geometri bersegi tiga pada umumnya disebut dengan pucuk rebung. maka masing-masing diberi nama. Pemeberian nama itu tergantung garis yang dominan pada ukiran. ke dalam. 6. Akar itu bervariasi banyak. 4. Simbol potongan gelamai ini mengingatkan terhadap makanan khas dari Payakumbuh Sumatera Barat Seni Kriya Pada Masa Lampau. salah satunya cara adalah dengan mengolah bahan lidi dengan menggunakan 172 . Cabang atau ranting akar itu berkeluk ke luar. ke atas. Ukiran segi empat genjang dinamakan sayat gelamai karena bentuknya seperti potongan gelamai yang disayat genjang. Lingkaran yang bertingkat dinamakan salompek (selompat).

dan 3 cm untuk tinggi badan. Piring-piring ini memiliki ukuran diameter 11 cm untuk alas dan 20 cm untuk badan sedangkan tinggi piring 2 cm untuk kaki. Piring Piring yang dimaksud disini bukanlah bentuk piring yang sebenarnya seperti piring porselen yang biasa di temukan dalam kehidupan sehari-hari di meja makan. Lahirnya ide dalam membuat anyaman lidi merupakan satu anugrah yang sangat besar yang diilhamkan kepada Syafruddin oleh Allah SWT dan dibantu oleh doa dan restu anggota keluarga.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI teknik anyaman sehingga menghasilkan benda-benda bernilai guna dalam kehidupan sehari-hari denagn berbagai bentuk yang unik dan menarik. akan tetapi piring yang dimaksud digunakan sebagai alas (tadah) ketika kita akan makan nasi bungkus. a. terbukti baru beberapa bulan berjalan. dan carano. Kemunculan anyaman lidi ini juga dilatar belakangi oleh tuntutan profesi dan tanggung jawab moril Syafruddin sebagai salah satu staf dinas perindustrian kota Pariaman. 173 . usaha ini berjalan dan berkembang dengan pesatnya. tudung saji. kriya anyaman lidi milik Syafrudin sudah mendapat tempat di hati masyarakat. dimana benda tersebut digunakan sebagai wadah tempat buah pada meja tamu di setiap acara pesta. Dengan semangat dan dukungan dari teman-teman seprofesi. seperti yang pernah dilakukan oleh sebagian penjual nasi sek (nasi tanpa lauk pauk dibungkas dengan daun sebanyak satu kepal) dipinggir pantai Pariaman dan sebagian penjual pecel lele Wong Solo baik yang ada di kota Pariaman maupun Wong Solo yang ada di kota Padang dan sebagian daerah yang ada di pulau Jawa. Karena anyaman berbentuk piring ini pernah dipesan oleh Yosa Katering dari Padang. akan tetapi piring anyaman ini bentuknya miring layah menyerupai piring makan namun tidak bisa difungsikan seperti piring makan biasa. sehingga usaha keluarga tersebut diberi nama “Usaha Anyaman Lidi Ilham”. Benda anyaman lidi yang permukaannya berbentuk lingkaran. Ada juga piring ini difungsikan sebagai tempat buah tergantung bagaimana si konsumen menempatkannya. baik di dalam maupun di luar wilayah Pariaman. ini dapat dilihat dalam beberapa jenis produk antara lain piring.

c. atau lebih kecil dari permukaan sebelah atas carano. Carano Carano mepunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat. Penghubung antara permukaan dengan alas carano (leher cerana) 174 .5 cm. Dalam pada itu. Dengan adanya carano dari bahan lidi dapat membantu meringankan beban masyarakat untuk memiliki carano.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF b. Tapi kali ini tudung saji dibuat dari bahan lidi. memiliki leher agak panjang dan alasnya berbentuk bulat dengan diameter ± 30 cm. hal ini berimbasan pada harga jual carano yang terbuat dari logam. sadah. namun kali ini Syafrudin mencoba membuat carano dari anyaman lidi dengan pertimbangan karena keadaan krisis ekonomi semua bahan harganya sudah pasti naik. Tudung saji Tudung saji ini digunakan untuk menutup makanan di atas meja makan. Carano ini biasanya dibuat dari bahan logam atau kuningan. dan tembakau yang ditutup dengan dalamak untuk pertunjukan tari Alang Sentiang Pangulu. Tudung saji dibuat dengan ukuran berdiameter 40 cm dan tinggi 25 cm. sadah. hal itu sudah menjamur dipasaran. berisikan sesaji daun sirih. pisang. yang digunakan sebagai tempat sirih dan perlengkapannya. Tuduang aia berguna sebagai penutup makanan dalam talam atau dulang tinggi. Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990) istilah tudung berarti sesuatu yang diapakai untuk menutup atau melingkupi bagian sebelah atas. Dalam hal ini carano (cerana) yang digunakan untuk pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu dapat dikatakan sebagai penanda. Sumatera Barat dikenal sebagai tempat daun sirih. Tudung saji pada umumnya terbuat dari bahan plastik dan anyaman rotan. Dalam kehidupan sehari-hari carano di Minangkabau. yang disuguhkan pada setiap acara adat. masyarakat Padang Magek Sumatera Barat menyebut tudung atau penutup bagian atas dengan tuduang aia. pinang. Carano terbuat dari logam atau pun kuningan dengan permukaan sebelah atas (mulutnya) bulat seperti piring dengan diameter ± 33. gambir. karena carano dari anyaman lidi harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan carano dari bahan logam atau kuningan. Carano (cerana). dan tembakau.

tari Alang Suntiang Pangulu pada saat sekarang telah dapat disajikan sebagai sajian estetis. Diwaktu penampilan Musik Dikie ini disampaikanlah apa yang dimaksudkan oleh masyarakat kepada unsur pemerintah ini melalui pantun-pantun atau dendang Dikie tersebut. Dalam hal ini untuk memproduksi tari Alang Suntiang Pangulu sebagai ritual khitanan. Dalam pada itu. Sementara itu. Pantun itu seperti: Batang aua paantak sawah Pangkanyo sarang sipasin Pado bapak diadokan sambah Indak madok ka nan lain Ligundi di sawah landai Sariak indak babungo lado Karano jalan kami tabangkalai 175 . pesta perkawinan.pada acara-acara di nagari masyarakat Padang Laweh dan di sekolah-sekolah sekitar nagari tersebut. Pada malam penampilan Musik Dikie. dan khitanan. Pada umumnya ongkos produksi (production cost) dibebankan kepada panitia kegiatan. pesta pernikahan. Sebagai contoh. diundanglah unsur-unsur pemerintah untuk menyaksikan penampilan Musik Dikie tersebut. yakni panitia pelaksananya diketuai oleh Jarmias Kasi Kebudayaan Kota Madya Bukittinggi. Dalam adat Jawa. Kehadiran Musik Dikie saat ini juga berfungsi sebagai alat komunikasi antara rakyat dan pemerintah.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dapat dipegang dengan tangan. di Bali carano hampir sama dengan istilah pengasapan yang digunakan untuk membakar dupa atau bubuk cendana oleh pedanda. dan penyambutan tamu agung diperlukan ongkos produksi (production cost). Kondisi Masa Sekarang Komunikasi sosial seni tradisi dengan pemerintah dapat dilihat pada saat fungsi tari Alang Suntiang Pangulu adalah untuk menyambut tamu agung yang datang ke Nagari Padang Laweh. Biasanya carano yang telah diisi lengkap ditutup dengan dalamak. tari Alang Suntiang Pangulu pertama kali disajikan untuk ritual adat dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (1981) di Gedung Triarga Bukittinggi. bentuk carano hampir sama dengan kecohan (tempat meludah).

sekarang dipakai dalam bangunan kantor-kantor dengan memakai ciri atapnya yang berbentuk tanduk kerbau serta ada dinding atau palang atapnya dipakai dengan ukiran khas tradisi. Carano juga sekarang sudah diproduksi dengan berbagai ben176 . pertanian. Seni anyaman lidi yang diproduksi dalam berbagai bentuk. Hal ini akan menampakkan ciri khas bangunan adat Sumatera Barat itu sendiri. K3. Pada zaman dahulu yang dibuat dalam bentuk piring atau yang disebut senggan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Bantulah apo ala kadarnyo (Batang aur penahan sawah Pangkalnya sarang si pasin Kepada bapak terhadap sembah Tidak menghadap pada yang lain Ligundi di sawah landai Sariak tidak berbunga lada Karena jalan kami belum siap Bantulah kami ada adanya) Keikutsertaan pemerintah Sumatera Barat membina dan mengembangkan kesenian randai mengakibatkan munculnya cerita randai yang berisikan pesan-pesan pembangunan seperti masalah KB. pada saat sekarang dikembangkan dalam bentuk wadah-wadah seperti keranjang bunga atau keranjang buah. juga sudah makin dikembangkan. Jika ada tamu-tamu resmi yang datang disuguhi dengan sirih di carano yang dalam perjalanannya sirih dapat diganti dengan permen. Carano yang dikembangkan saat ini juga dikembangkan bentuk dan penggunaannya. Sekarang tudung saji dikembangkan dengan membuat hiasanhiasan dinding atau penutup makanan dengan berbagai variasi sehingga dapat berbentuk cendra mata yang cantik. Salah satunya dapat lihat dari usaha Dt Bandaro Putiah salah seorang pemuka adat di Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam yang menggunakan randai Cindua Mato sebagaimedia penyuluhan pendidikan pada masyarakat sekitarnya. Arsitektur tradisi Minangkabau khususnya bangunan rumah gadang. dan juga cerita yang mengandung nilai-nilai pendidikan Pancasila. Sedangkan anyaman dengan bentuk tudung saji yang biasa dipakai untuk penutup makanan. pada masa sekarang makin dikembangkan dan makin dipromosikan untuk memajukan industri kecil rumah tangga.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI tuk yang dapat dijadikan sebagai cendramata sebagai ciri khas daerah Sumatera Barat. Pada seni rupa juga diperlukan peningkatan dan komitmen dalam aplikasi banguanan dan pengembangan industri-industri kecil dengan pemberian kredit-kredit untuk pengembangan industri tersebut sebagai modal. Sementara itu dalam seni rupa terutama dalam arsitektur dan seni kriya dapat dilihat dalam arsitek bangunan rumah gadang atau rumah adat Sumatera Barat yang saat ini digunakan pada bangunan-banguan kantor atau gedung-gedung pertemuan di Sumatera Barat. karena seni tradisi tersebut adanya di kantongkantong setiap nagari yang ada di Sumatera Barat. Di samping itu pemerintah daerah sangat diharapkan peran sertanya untuk pengembangan seni tradisi dimasa datang. Namun demikian ada juga yang dipertunjukan sebagai penyemarak dalam upacara adat seperti randai. serta selalu menggali seni tradisi tersebut. Upaya pembinaan seni dapat dilakukan dimana saja para pelaku seni tersebut berada. Seni pertunjukan pada umumnya di Sumatera Barat dapat dikatakan seni yang dipertunjukan untuk upacara ritual tertentu dalam kehidupan masyarakat. Dalam pada 177 . Dengan melihat pernyebaran masyarakat sebagai pendukung seni pertunjukan dan seni rupa sudah barang tentu kontak-kontak dengan masyarakat lain akan dialami. Terutama dibidang pembinaan dan pendanaan pada seni pertunjukan. Sudah barang tentu penyebaran seni tersebut akan berkembang pemetaannya. karena sudah banyak juga para pelaku seni tersebut yang merantau ke daerah lain untuk mencari kehidupan yang sesuai menurut mereka. Kemungkinan Pengembangan di Masa Yang Akan Datang Seni tradisi di Sumatera Barat seperti seni pertunjukan dan seni rupa hendaknya menyebar dari satu tempat ke tempat lain seiring dengan persebaran masyarakat pendukungnya yang juga tidak selalu menetap di daerahnya. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan frekwensi festival-festival atau keramaiankeramaian tentang seni. Penutup Ragam kemasan seni tradisi Sumatera Barat dalam komunikasi sosial rakyat dan pemerintah dapat dibagi dua kelompok yaitu seni pertunjukan dan seni rupa.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

itu seni kriya dapat ditemui dalam karajinan-krajinan rakyat yang pada saat sekarang banyak dikembang dalam industri-industri kecil dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat sehingga dapat menambah sumber penghasilan masyarakat pengrajin.
Daftar Pustaka Daryusti. 2006. Hegemoni Penghulu Dalam Perspektif Budaya. Yogyakarta : Pustaka. Davis, Kingsley. 1960. Human Society. New York: The macmillan Company. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Desmawardi. 2007. ”Musik Dikie : Antara Tradisi dan Nilai-Nilai Religius dalam Realitas Masyarakat ”Kaum Kuno di Nagari Ajo laweh Sumatera Barat”, Jurnal Ekepresi Seni STSI Padangpanjang, volume 9,No.2. Imran, Amran., Idris, Asmaniar., Johan, Bahder., Nan Sabatang, Dt. Perpati., Hodgson, Geoffrei A., Hamka., Sumatera Barat, LKAAM., Mansoer, M.D., Hatta, Mohammad., Gani, Rizanur., Soekmono., dan RPSDM, Tim. 2002. Menelusuri Sejarah Minangkabau. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia dengan LKAAM Sumatera Barat. Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka. ______________. 1990. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: Universitas Indonesia Jakarta Press. M.S, Amir. 1977. Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang. Jakarta: Mutiara Sumber Widya. Mansoer , MD., Imran, Amrin, Sofwan, Mardanas, Idris, Asmaniar, Buchari, Sidi I. 1970. Sejarah Minangkabau. Jakarta: Bharata. Navis, A.A. 1986. Alam Terkembang jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta : Pustaka Grafitipers. Said, A. A. 2004. Simbolisme Unsur Visual Rumah Tradisional Toraja dan Perubahan Aplikasinya pada Desain Modern. Yogyakarta: Ombak. Yuli Marni. 2008. “Deskripsi Kriya Anyaman Lidi di Kelurahan Jalan baru Pariaman Tengah”, dalam Daryusti, ed. Seni Budaya Berkelanjutan Dalam Kehidupan Masyarakat, STSI Padangpanjang Pers. Zulkifli. 1993. “Randai Sebagai Teater Rakyat Minangkabau di Sumatera Barat: Dalam Dimensi Sosial Budaya”. Tesis. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

178

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

179

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

SULAIMAN JUNED Lahir di Gampong (desa) kecil Usi Dayah Kecamatan Mutiara Kab. Pidie, Nangroe Aceh Darussalam, 12 Mei 1965. Kini memiliki istri dan seorang putra laki-laki. Menetap di Padangpanjang, menekuni pekerjaan sebagai Seniman, dosen tetap Jurusan Seni Teater di ISI Padangpanjang Sumatera Barat, Dosen Ahli di FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia Daerah di Univ. Muhammadiyah Sumatera Barat, Guru teater di SMA Negeri 1 Sawahlunto Sumatera Barat, Guru teater di SMA Negeri 1 Padangpanjang Sumatera Barat, Guru Kesenian serta Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Sore Padangpanjang. Mulai menulis sejak tahun 80-an, ketika masih belajar di SLTP. Karya puisi, cerpen, esai, drama, reportase budaya, artikel, kolom di muat di media seperti; Serambi Indonesia, Kiprah, Aceh Post, Aceh Ekspres, Srambi Mekkah Post (ACEH). Analisa, Dunia Wanita, Waspada (MEDAN). Singgalang, Haluan, Mimbar Minang, Padang Ekspres, Postmetro, Jurnal Palanta, (SUMATERA BARAT). Riau Post, Metroexpres (RIAU). Indefendent (JAMBI). Lampung Post (LAMPUNG). Kedaulatan Rakyat, Majalah Seni Gong (YOGYAKARTA). Solo Pos dan Jawa Pos (JAWA TENGAH). Bali Post (BALI). Suara Karya Minggu, Republika, Media Indonesia, Kompas, Koran Tempo, Majalah Sastra Horison (JAKARTA). Majalah Bahasa dan Sastera (MALASYIA dan BRUNEI DARUSSALAM). Jurnal Aswara (MALASYIA). Antologi puisi tunggal berjudul ‘Riwayat’ mendapat Juara III dalam Lomba Penulisan buku pengayaan sastra tingkat nasional pada Pusat Perbukuan Dinas Pendidikan Nasional (2007). Lelaki berkumis ini menyelesaikan studi S-1 di jurusan seni teater STSI Padangpanjang dengan yudisium Cumlaude, juga menyelesai Program Pascasarjana di Institut Seni Indonesia Surakarta dengan yudisium Cumlaude. Sering mengikuti seminar sastra, teater dan jurnalistik. Ia juga sering terlibat dalam dunia musik, sebagai pemusik dan pembaca puisi. Juga sebagai dramatug pertunjukan teater. Soel juga aktif dalam organisasi seni dan pers serta dipercayakan sebagai Dewan Penasehat Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Cabang Padangpanjang (2010-2015). Editor Novel “Cinta di Kota Serambi Karya Irzen Hawer diterbitkan Kuflet Publishing, Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, Sumatera barat (Maret 2010). Soel sangat aktif dalam dunia teater, baik ketika masih di Aceh maupun kini bermukim di Padangpanjang, ia sudah memainkan 250 judul naskah lakon baik naskah luar negeri maupun dalam negeri, ia berperan jadi aktor menjadi tokoh yang tanpa dialog sampai menjadi tokoh utama. Sudah menyutradarai 152 judul naskah lakon baik dari karya penulis dunia-nasional-daerah. Dewasa ini Soel hanya mau menyutradarai naskah lakon yang ditulisnya atau naskah lakon yang diproduksi oleh rekan-rekannya di komunitas Kuflet. Teater-Sastra-Jurnalistik telah membawanya mengelilingi Indonesia; dari Aceh hingga Irian Jaya. Kini menetap di Jl. Dr. A.Rivai No. 146 RT.11 Kampung Jambak, Kelurahan Guguk Malintang, Kecamatan Padangpanjang Timur, Padangpanjang Sumatera Barat. 180

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

Seni Tradisi Populer Aceh sebagai Media Komunikasi Sosial
Sulaiman Juned
Dosen Jurusan Seni Teater STSI Padang Panjang

Pendahuluan eni tradisi adalah gambaran kebudayaan suatu masyarakat pada sebuah daerah. Indonesia memiliki keberagaman seni lokalitas yang sangat kaya dengan kearifan lokal. Kekayaan kultur budaya bangsa dalam seni tradisi secara tidak langsung memiliki karakter etnis yang sangat beragam dan berbeda. Karya-karya yang dipertunjukan oleh seniman-seniman tradisional, merupakan suatu bukti betapa beragamnya kultur-seni dan budaya masyarakat Indonesia. Berdasarkan itulah, ini kali penulis ingin membahas tiga seni tradisi Aceh sebagai media komunikasi sosial. kesenian Aceh rata-rata memiliki transformasi moral dan sosial. Tiga seni tradisi tersebut; Teater Tutur PM TOH, Sandiwara Keliling Gelanggang Labu, dan Biola Aceh. Ketiga bidang seni yang penulis paparkan ini, berangkat dari realitas Sastra Aceh (hikayat) menuju realitas seni pertunjukan. Dewasa ini tanpa sengaja berangkat dari perkembangan jaman kesenian tradisi mulai bergeser fungsinya, awalnya menjadi alat komunikasi dalam ruang sosial bagi kehidupan bermasyarakat di Aceh. Seni tradisi ini memang masih tetap bertahan di Aceh, walau terasa sudah mulai langka. Hal ini disebabkan oleh terjadinya konflik bersenjata yang begitu panjang antara Gerakan Atjeh Merdeka dengan Negara Kesatuan Republik In-

S

181

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

donesia yang melahirkan kondisi psikologis terhadap masyarakat Aceh. Tindakan sosial yang terjadi di Aceh sebelum dilaksanakan perdamaian saling berinteraksi dan saling melahirkan kekejaman dari pihak-pihak yang bertikai, tentu melahirkan restrukturisasi terhadap tingkah laku masyarakat. Interaksi sosial melalui seni tradisi membuat prilaku masyarakat Aceh, terwujud dari keharusan normatif yang terlahir dari kesantunan, rasa persaudaraan, pemurah, peramah, dan setia terhadap siapapun. Namun kondisional ini menjadi lenyap karena terjadi tindakan sosial melalui kekerasan yang dilawan pula dengan kekerasan. Rakyat tersublima ketakutan dan kecemasan karena setiap detik menyaksikan pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, pembakaran. Muaranya kesenian tradisi Aceh pun terancam punah. Kondisi inilah yang membuat seni tradisi Aceh terkesan sulit untuk mencarinya. Syukurlah dewasa ini telah di bentuk Qanun (hukum/aturan) di bidang seni, untuk menghidupkan kembali seni tradisional Aceh yang kaya nilai-nilai agama, adat, moralitas, dan sosial.

Teater Tutur Aceh: Adnan PM TOH ‘Troubador yang Menulis di atas Angin’ Lima puluh tahun bersolo karier, (Almarhum) Teungku H. Adnan PM TOH berusaha mencari penggantinya agar kesenian Aceh yang disebut teater tutur ini memiliki penerusnya. Namun sayang sampai dengan Teungku Adnan menghadap sang khalik (meninggal dunia dalam usia 75 tahun, pada tanggal 4 Juli 2006), belum mampu menemukan penggantinya seperti beliau. Kesenian teater tutur berasal dari peugah haba yang berarti berbicara dengan bercerita semacam bakaba di Minangkabau. Sering juga disebut masyarakat Aceh poh tem berarti orang yang pekerjaannya bercerita. Ada juga yang menyebutnya dangderia seperti drama monolog atau berbicara sendiri. Teater Tutur ini menjadi menarik setelah dikembangkan Teungku Adnan dengan mempergunakan alat musik rapa’i, pedang, suling (flute), bansi (block flute) dan mempergunakan properti mainan anakanak serta kostum. Properti, alat musik serta kostum memperkaya teknik pemeranan seperti metode Brechtian yang memakai teknik multiple set (properti tangan yang banyak fungsinya), dan efek alinasi (memisahkan penonton dari peristiwa panggung, sehingga mereka dapat
182

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

melihat panggung dengan kritis). Teknik ini sekaligus memberi kekuatan dan dapat mengubah kejadian-kejadian peran menjadi seolah-olah, serta adanya intrupsi dari penonton. Teungku Adnan bermain sendiri, namun mampu menghadirkan beratus-ratus tokoh, dengan ekspresi dan karakter vokal yang berubahubah. Inilah kelebihan yang dimiliki Teungku Adnan, ia bermain sendiri di atas pentas, tetapi penonton laksana menyaksikan ratusan aktor sedang berada di pentas. Hal ini yang membuat Teungku Adnan dijuluki “traubador dunia” oleh Prof. Dr. John Smith seorang peneliti dari Amerika Serikat. Teungku Adnan dikenal juga sebagai seorang tokoh ulama oleh masyarakat pendukungnya, sedangkan pekerjaannya disamping sebagai seniman adalah penjual obat keliling Aceh. Kesenian (teater tutur) ini dinamakan PM TOH oleh Teungku Adnan. “Asal muasal nama itu berangkat dari peristiwa yang sangat berkesan bagi saya, saya sering menaiki bus PM TOH ketika berpergian ke seluruh Aceh untuk berdagang obat, lalu bunyi klakson bus tersebut membuat saya terkesan. Maka dalam pertunjukan saya untuk selingan jual obat saya tampilkan poh tem, peugah haba, dan dangderia. Sembari memamerkan kebolehannya berteater itu, saya memulainya dengan menirukan bunyi klakson bus PM TOH, masyarakat Aceh sangat senang dengan penampilan saya itu. Setiap saya jual obat, penonton pasti ramai, dagangan saya laris tapi saya harus menampilkan Hikayat Malem Dewa. Akhirnya masyarakat Aceh setiap ketemu saya sering memanggil nama saya dengan sebutan Teungku Adnan PM TOH setelah saya pikirkan sepertinya nama teater tutur saya ini adalah PM TOH”. (Wawancara dengan Teungku H. Adnan, 14 April 1999, di Blang Pidie-Aceh Selatan) Ternyata nama teater tutur PM TOH itu merupakan pemberian oleh masyarakat pendukungnya. Ini bukti bahwasannya sejak tahun 1970an nama itu telah dilekatkan kepada Teungku Adnan, dan ia diterima sebagai pembaharu teater tutur Dangderia yang pemanggungannya hanya ada satu bantal, pedang dari pelepah kelapa hanya mengandalkan kekuatan ekspresi dan kekayaan vokal dalam menyampaikan Hikayat. Sementara Teungku Adnan diterima oleh masyarakat pendukungnya, sehingga dimanapun masyarakat mendengar tentang kehadiran Teungku Adnan, mereka pasti ramai-ramai mendatanginya karena ingin menyaksikan pertunjukan PM TOH.
183

Ada pula hikayat yang disebut dengan hikayat undang-undang seperti. Sama halnya dengan teater modern yang tidak terlepas dari teks naskah drama yang akan digarap sutradara menuju realita teater (pertunjukan). 1988: 38). seperti. yang tampak adalah seorang penutur cerita penuh dengan nuansa teaterikal. pelajaran adat. Bahkan. diantaranya. hikayat Gumbak meueh. Ia sanggup menghafal 9 (sembilan) buah Hikayat-hikayat Aceh. Hikayat tentang dongeng. Bahkan. Adnan PM TOH melakukan pengembangan menakjubkan lewat teater tutur yang awalnya peugah haba atau dangderia. 1983:78). Hikayat keagamaan. dan ini merupakan hasil sastra yang sangat luas dalam khazanah kesenian Aceh karena menjadi seni pertunjukan” (Budiman Sulaiman. Indra Budiman. Bukan saja roman-roman. Teungku Adnan diberikan kekuatan pada ingatan. Raja Si Ujud. sarakata Poteumeureuhom Meukuta Alam. sastra Aceh menyimpan peristiwa budaya. buku bacaan serta cerita lainnya juga dinamakan hikayat jika bahan-bahannya telah dituliskan dalam bentuk sajak (puisi) di sebut hikayat. Raja Jeumpa” (Muhammad Nur. Sanggamara. kostum. Kalimat demi kalimat mengalir deras. Dialog-dialog yang memperagakan cara-cara berperang. Sipheut Dua Ploh.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Andaikan membicarakan tentang teater tutur Aceh. dongeng keagamaan. Hikayat ketika dipertunjukan oleh Teungku Adnan dengan menghadirkan berbagai karakter tokoh di atas pentas. hampir setiap keluarga di Aceh mengetahui secara tradisional cerita-cerita dalam hikayat. Teungku Adnan jika ada undangan lalu mempertunjukan PM TOH satu hikayat seperti Malem Dewa baru selesai dipertunjukan dalam durasi waktu 7 (tujuh) malam berturut-turut. baik perubahan suara (vokal). “Hikayat dalam bahasa Aceh tidak diartikan arti asli yaitu ‘kisah’ (cerita). Nalam. Malem Budiman. Sementara itu. Hal yang termaktub dalam teater tutur itu merupakan eksistensi kesusastraan Aceh ‘hikayat’ yang tidak dapat lepas dari subtansinya. seperti benang dibentangkan tak pernah habis. Hikayat Malem Dewa. Tuhan memang Maha Kuasa. “adapun hikayat yang menyimpan peristiwa sejarah. Tentang adat istiadat. beliau mampu menyampaikan pertunjukan yang 184 . jika dalam cerita tersebut terjadi peperangan antar kerajaan. Biasanya seorang ibu dari etnis Aceh pada masa lalu merasa berkewajiban untuk menceritakan hikayat-hikayat itu kepada anak-anaknya. lalu dituturkan kembali selengkapnya. teks sastra hikayat menjadi dasar penceritaannya. Malem Dagang dan lain-lain. Prang Sabi.

Properti yang digunakan hanya sebilah pedang dan batal. puteri. sebuah wig. yaitu Puteri Bungsu. Meletakkan kotak (tong) dikiri dan disebalah kanan. Luar biasa. andai membawakan Hikayat Malem Dewa yang menceritakan tentang anak raja yang mempersunting putri dari khayangan. di dalam tong ada pakaian (kostum) serta senjata mainan. Muda Belia bahkan Agus Nuramal. menyaksikan pentas yang dipenuhi aktor secara imajiner.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sama di tempat yang berbeda. Guru Teungku Adnan adalah Mak Lapee. penyajian hikayat secara bertutur tak dapat dikategorikan seni pertunjukan (teater tutur). dan agak sulit mengikuti alur cerita karena tidak terjadi perubahan karakter tokoh. ekspresi wajahnya berubah (tipikalnya). sambil berinprovisasi dengan nyanyian Teungku Adnan menggantikan kostum. Mengenakan sepotong selendang. Ketika menjadi raja. Seorang juru bicara “penyihir” yang mampu memberikan pesona seni peran. lalu dikembangkan menjadi sebuah seni pertunjukan yang sangat menarik dan unik dengan inprovisasi yang sangat-sangat kaya. Penampilan nyaris tanpa akting. sehingga penonton tidak bosan. Zulkifli. Namun pada masa itu. Suatu hari dalam Hikayat Malem Dewa ia berubah peran dengan sigap. Begitu pula ketika menjadi tentara (panglima). cerita yang sama dengan kata-kata yang relatif sama pula. Kemampuan ini yang tidak dimiliki oleh tukang cerita yang lain seperti. generasi kedua Teungku Ali Meukek. Kemampuan Teungku Adnan tak pernah tergantikan oleh siapapun. Menyaksikan teater tutur PM TOH. namun beliau melakukan pertunjukan persis sama dengan pertunjukan sebelumnya. Lima detik pertama ia mengekspresikan wajah genit. rakyat kampung. ahli nujum. Seketika pula Teungku Adnan menjadi raja dengan karakter watak dan karakter bahasa yang berbeda. berangkat dari ilmu yang diterima dari gurunya Mak Lapee (Seorang Ulama di Aceh Selatan yang lumpuh). putri yang jeli185 . Setiap peran yang berubah. langsung memakai baju ala kerajaan yang telah tersusun di dalam kotak disesuaikan dengan alur cerita. Tengku Adnan bermain dengan teknik duduk. karena yang disajikan hanya membaca hikayat (peugah haba). bermain musik sendiri. ia pun menjelma menjadi tokoh Puteri Bungsu. Teungku Adnan. Lain halnya dengan Teungku Adnan. vokalnya juga berubah sehingga penonton dengan mudah mengidentifikasi tokoh yang diperankan Teungku Adnan. matanya berkedip-kedip. padahal ia bermain sendiri.

kita cetak buku tentang Hikayat-hikayat Aceh yang belum tersebar itu. Beliau tak akan berdosa dan berduka sebab beliau semasa hidupnya sudah pernah menawarkan ini kepada pihak Pemerintah Daerah Istimewa Aceh (Sekarang NAD). Di SD ada mata pelajaran Hikayat dan PM TOH. tapi tidak ada respon sedikitpun. Berbagai karakter dengan cepat saling berganti di tubuh dan suara Teungku Adnan. tanpa ada pengganti. topi baja melekat di kepala. Ia dapat menjadi hulubalang. dan Kakanwil Depdikbud Aceh. lalu kita tuliskan bagaimana persiapan menjadi aktor PM TOH. 20 Januari 1989). lalu setiap tahun kita adakan festival menulis hikayat dan PM TOH kalau ini dilakukan pasti akan muncul dan lahir penerus atau pengganti saya. Gaya komedikalnya membawakan hikayat masa lalu dikaitkan dengan peristiwa masa kini. kita pertimbangankan. Teungku Adnan PM TOH. Kemampuan Teungku Adnan menyiasati pertunjukan ternyata dapat menghadirkan sejumlah tokoh di atas pentas dengan vokal yang berubah-ubah. “Soel. Abad ke-12 di Perancis Selatan lahir seorang Traubadur. seniman ‘Traubador Dunia’ meninggal dunia dalam usia 75 tahun. pemuda yang mencuri baju sang puteri atau seorang anak yang merindukan sang ibu. Kekuatan yang paling mendasarkan dalam teater tutur PM TOH adalah daya improvisasi penyaji yang sangat tinggi. Lima detik kemudian. laskar Aceh. ketika penulis masih di Aceh sempat berdiskusi dengan beliau. Sepotong pedang terhunus di tangan. Benar Teungku Adnan. bukan hanya Aceh yang kehilangan “Traubadur Dunia” seluruh dunia juga merasa kehilangan Teungku Adnan. Kini Sang Maestro. Aceh khususnya dan Indonesia umumnya yang rugi sebab tak mau merawat penerus pencerita Aceh. jadi nenek penjaga gubuk Buntul Kubu. hanya jawaban basa-basi” (Wawancara.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ta dari khayangan. Sementara mulutnya tak putus-putus ia derukan kisah pemuda bernama Malem Dewa yang harus berangkat ke negeri di atas awan untuk menemui kekasihnya. Lalu 900 tahun kemudian 186 . setelah itu kita sebarkan ke sekolah dasar (SD). Suatu waktu. saya pernah tawarkan program regenerasi kepada Gubernur kita. Sekarang Teungku Adnan PM TOH telah meninggalkan kita tanpa mewariskan PM TOH kepada siapapun. ia berganti peran menjadi pemuda gagah siap bertempur memperebut Puteri Bungsu. teungku memang tidak rugi. Tapi apa jawab mereka.

Buloeh Peurindu. Ketika teater ini mulai merakyat. dijulukilah dengan istilah Gelanggang Labu. berapa ratus ribu tahun lagi kita harus menunggu untuk kelahiran seorang “traubadur seni tradisi yang luar biasa itu. dan lebih banyak pemain yang melakukan improvisasi. Sinar Jeumpa. Kesenian Aceh mampu menjadi transformasi moral dan sosial bagi masyarakat Aceh. dan diterima ditengah-tengah masyarakat. Benteng Harapan. sebelum permainan dimulai para aktornya memperkenalkan diri sekaligus dengan peran apa yang dia mainkan. Awal tahun 70-an mulai menjamur grup-grup sandiwara di seluruh Aceh. Jeumpa Aceh. seperti. serta tari-tarian. Mutiara Jeumpa.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI di seluruh dunia hanya di Aceh muncul kembali seorang “traubadur dunia” yakni Teungku Adnan. Putroe Ijoe. Sandiwara ini mulai tumbuh dari sebuah desa Gelanggang Labu Kecamatan Peukusangan dahulu kabupaten aceh utara sekarang kabupaten Biureun. Hal ini dapat dilihat dari reportoar yang dipilih. Sandiwara ini keliling sudah ada sejak tahun 1950an. Sandiwawara Keliling Gelanggang Labu Pemain sandiwara keliling gelanggang labu tidak pernah belajar dramaturgi. Cakradonya. dan Geunta Aceh. dan lain-lain. Cerita-cerita yang akan dimainkan oleh pelakonnya hanya diceritakan secara garis besarnya saja kepada pemain (berbentuk wos). Sebagai aktor di187 . mereka memperoleh keahlian secara non-formal namun mampu mensugestif penonton. samasama mengangkat cerita 1001 malam dari hikayat-hikayat Aceh (haba). Sinar Desa. Ciri-ciri pertunjukan Gelanggang Labu memiliki kesamaan yang kontras dengan ‘Komedi Stamboel’ yang dilakukan August Mahieu (1860-1906). Adeganadengan gembira atau sedih dalam gelanggng labu memang dilakukan dengan dialog bukan dengan opera (nyanyian) seperti dalam komedi stamboel. diantaranya yang terkenal. Ahmad Rhangmanyang. NAD. Sekarang sang “traubadur” benar-benar sudah tiada. Pembagian babak atau episode dilakukan sangat longgar dengan adanya selingan antara babak yang diisi dengan nyanyian (band). ilmu pemeranan. lawak. Sinar Harapan. Bawang Mirah Ngoen Bawang Puteh. Ciri-ciri yang mendasar.Luar biasa. tapi sayang masyarakat dan pemerintah Aceh tidak mau peduli. Gelanggang Labu merupakan sandiwara keliling tradisional Aceh. Seulanga Dara. dan penyutradaraan secara formal.

Namun pada malam hari dia tampil sebagai mahabintang di atas panggung. triplek untuk dinding. Umar Abdi. kain yang dilukis sebagai dekorasi sesuai tuntutan cerita dan lampu reflektor kecil untuk penerang dan pengubah suasana. Ibnu Arhas (sekarang mantan Anggota DPRD Kabupaten Pidie). seperti tragedi rumah tangga. Keterbatasan ilmu tentang bermain drama bukanlah suatu halangan bagi mereka untuk tetap terus bertahan. sandiwara keliling Gelanggang Labu sangat sederhana dengan konstruksi panggung berukuran 9X6 meter didirikan menggunakan drum kosong yang diatasnya diletakkan papan. Yusuf Syam. seorang aktor yang pernah melakukan pertunjukan di Takengon. masalah ambisiusnya manusia. waktu siang hari ia berperan sebagai buruh pemetik kopi dengan pakaian kumal. batang kayu sebagai penyangga. di tengah areal sawah setelah usai panen padi. Umumnya pemain sandiwara keliling Gelanggang Labu tidak pernah memiliki atau mempelajari dramaturgi secara formal. pengkhianatan. kemunafikan. pelawak dan penari sekaligus. mereka melakukan keliling ke seluruh Aceh. dan berdiam (melakukan pertunjukan) di suatu daerah minimal dua bulan setelah melakukan perjalanan dan menetap di daerah lain. serta Idawati merupakan tokoh-tokoh teater keliling yang sadar betul atas kekurangan mereka. Lokasi pertunjukan biasanya dilakukan di tanah lapang. Sementara bentuk pemanggungannya. sebab mereka dekat dengan masyarakat sehingga tahu persis tentang peristiwa yang muncul ditengah masyarakat. bahkan ada yang menjadi buruh kasar di tempat itu. Ahmad Harun. setiap dia muncul selalu saja mendapat applaus dari penonton. Semuanya mengalir begitu saja dengan pengetahuan otodidak yang mereka miliki. dipuja-puji oleh penonton. lalu melakukan pembaharuan agar masyarakat penonton tidak bosan. Sutradara 188 . seng sebagai atap. Maka tidak heran bila siang hari mereka bergaul dengan masyarakat dimana mereka melakukan pertunjukan. Rata-rata latar belakang pendidikan mereka hanya sampai Sekolah Dasar. Ide atau gagasan rata-rata bertemakan sosial dengan mudah diperoleh sutradara teater keliling. Grup sandiwara ini hidup dan beranakpinak di dalam panggung tersebut (berumah). Mereka menciptakan tema-tema cerita baru yang digemari masyarakat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pentas sandiwara keliling harus mampu menjadi penyanyi.

dan panggung artis ibukota Dina Mariana pada tahun 1990 sempat dibakar oleh gerombolan tak di kenal. batal melakukan pertunjukan karena izinnya dicabut. dan pertunjukan di beberapa kota Aceh Utara. Juga karena adanya operasi militer malam. Aceh 189 . kondisi keamanan mulai kondusif. banyak panggung sandiwara keliling pada dekade 90-an terpaksa tutup sehingga pemainnya banyak yang menganggur. cerita Cut Maruhoi diperankan Ahmad Harun (lelaki yang menjadi wanita) mengisahkan tentang seorang ibu mertua yang cerewet. Kemandekan kehidupan panggung keliling sangat terasa karena sering di cekal oleh Pemda dengan cara tidak memberi izin pertunjukan. Awal dekade 1992. dan Idawati mencoba kembali membangun panggung keliling. Yusuf Syam. Ahmad Harun. sangat terasa dampaknya bagi perkembangan insan seni untuk melakukan kreatifitas berkesenian. Sandiwara keliling Gelanggang Labu. Umar Abdi. dan Biola Aceh. sehingga nama tersebut begitu melekat dan populer di tengah masyarakat Aceh. empat tokoh seniman teater keliling. Keunggulan inilah yang membuat teater keliling ini mampu bertahan hidup dan memperoleh sambutan hangat dari penonton di seluruh Aceh. Seruan ini dikeluarkan PEMDA Aceh karena beberapa pertunjukan sebelumnya di daerah-daerah rawan konflik sering terjadi keributan. Sebagian terpaksa pulang kampung menjadi petani atau buruh kasar. Maka. alasannya gangguan keamanan. Misalnya. Aceh yang memiliki teater tradisional atau teater tutur. Namun gangguan keamanan di Daerah Istimewa Aceh (Sekarang NAD) yang mulai pecah pada tahun 1989. lalu diadopsi menjadi cerita yang menarik lewat kekuatan improvisasi para aktornya. PM TOH. Mengigat hal itulah pertunjukan sandiwara keliling ‘Geunta Aceh’ pimpinan Umar Abdi pada pertengahan tahun 1991 di desa Blang Malu Kecamatan Mutiara Pidie. jahat dan sadis. Ahmad Harun benar-benar mampu masuk ke dalam penokohan Cut Maruhoi. Cerita yang ditampilkan selalu aktual dan kontekstual dengan daerah dimana mereka melakukan pertunjukan. seperti. Bahkan dalam pergaulan sehari-hari Ahmad Harun sering dipanggil Cut Maruhoi. Pertunjukan sirkus di Lhoekseumawe pada tahun 1989 sempat menimbulkan kekacauan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengangkat realitas sosial yang tumbuh dan hidup dimana mereka melakukan pementasan. Situasi semakin membaik. serta Didong mulai terusik untuk berproses.

bila hal ini terjadi terus-menerus teater keliling Aceh hanya tinggal nama sebab tak ada lagi pewarisnya. Daerah Istimewa Aceh kembali bergolak. suasana yang tak menentukan itulah menyebabkan izin pertunjukan tidak dapat diberikan kepada sandiwara keliling Gelanggang labu. seperti. Sekaligus mampu membangun realitas sosial bagi penontonnya. menjadi penjual ikan. denyut nadi Taman Budaya Aceh juga ikut terkena imbasnya. tidak pernah terdengar di Aceh ada pertunjukan Sandiwara keliling Gelanggang Labu dipentaskan. Teater Gita Pimpinan Junaidi Bantasyam. TNI dan POLRI kembali menjalankan operasi. daerah Aceh secara tidak langsung telah memusnahkan kekayaan keseniannya. Kemandekan kehidupan panggung yang disebabkan oleh gangguan keamanan betul-betul membuat para pelakon. kenyataannya menjadi lain. menurut amatan penulis dari tahun 1998 hingga sekarang 2009.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Besar. mahasiswa serta ulama dayah seAceh menuntut referendum. Grup-Grup yang pernah jaya. kru panggung dengan seluruh awaknya kehilangan pekerjaan tetap yang telah diyakininya berpuluh-puluh tahun pekerjaan itu mampu menghidupi keluarganya. Aceh Tengah dan Sabang mulai diizinkan untuk melakukan aktivitasnya. Teater Mata pimpinan Almarhum Maskirbi. Teater Bola pimpinan Almarhum Junaidi Yacob. Bila tak ada pemanggungannya secara otomatis para aktor panggung keliling semakin lanjut usia dan tak ada yang mampu mewarisinya untuk melanjutkan grup-grup sandiwara keliling. Teater Kuala Pimpinan Yun 190 . Tahun 1998 dengan berhasilnya gerakan reformasi yang dilakukan mahasiswa seluruh Indonesia untuk menumbangkan Orde Baru. Kondisi Aceh kembali mencekam dan tak menentu. Sementara disisi lain. seniman-seniman panggung terpaksa beralih profesi.jangankan sandiwara keliling Gelanggang Labu. ternyata tidak bertahan lama. dan GAM (Gerakan Atjeh Merdeka) kembali bergerak. lagi-lagi dengan dalih keamanan. Suasana seperti itu. Nah. Betapa tidak. buruh kasar dan lain sebagainya demi menghidupi keluarganya. Sengketa yang terjadi di tanah rencong tidak hanya menelan korban manusia. Taman Budaya Aceh sejak tahun 1970-an sampai 1997 aktif melaksanakan pertunjukan teater modern Indonesia di Aceh tiap bulan. namun yang lebih menyedihkan dapat menelan sisi kebudayaan dan kesenian. petani. seperti hilang di telan bumi.

Biola Aceh Kesenian biola Aceh telah hidup di tengah masyarakat semenjak jaman colonial Belanda. rindu lawakan yang menggelitik dari si Ma’e (Ismail) yang mampu melahirkan derai tawa. Di Kabupaten Aceh Utara kesenian ini diberi nama Mop-mop sedangkan di Aceh Besar dan Kaputen Pidie. Taman Budaya sepi pertunjukan. Namun kini dimana mereka para punggawa sandiwara keliling Gelanggang Labu bermuara. Sanggar Cempala Karya Pimpinan Sulaiman Juned. ada yang menjadi penyair. Apakah mereka ikut terkena imbas konflik panjang di Aceh. Namun awal 1998 pertunjukan teater Modern Indonesia di Aceh mulai hilang denyutnya. Penamaan terhadap kesenian ini karena penggunaan instrumen biola sebagai instrumen utamanya. Para pekerja teater banyak yang beralih profesi. Biola yang digunakan adalah biola violin. Penabuh gendang. penyanyi. biola Aceh ini di sebut Genderang Kleng. Hal ini disebabkan karena gangguan keamanan. Teater Kosong Pimpinan T. Andaikan situasi Aceh dibiarkan larut tanpa penyelesaian akhir. Konfliks-Tsunamisengketa tak pernah reda mengancam seni budaya Aceh pada nadir kepunahan. berperan sebagai Linto Baro dan Dara 191 . Aceh Besar dan Pidie sejak tahun 50-an. dan cerpenis. dan dua orang lagi sebagai penari dan pelawak. Sampai kapan hal ini terus terjadi. penyanyi sekaligus pelawak bahkan mampu menari. orang-orang lebih banyak membicarakan politik. Kesenian ini dimainkan paling banyak 5 (lima) orang pemain. Kita rindu tokoh Cut Maruhoi muncul di atas panggung. kematian dan keadilan. Teater Alam Pimpinan Din Saja. atawa mereka tergerus air raya (tsunami) beberapa tahun yang lalu pada 26 Desember 2004. Denyut nadi kesenian Aceh seperti terhenti.Yanuarsyah. Orang-orang tak lagi membicarakan kesenian. Teater Peduli Pimpinan Almarhum Nurgani Asyik. masing-masing satu orang bertindak sebagai violis (syech) yang merangkap vokalis. Hanya seniman sastra (penyair) dan pelukis yang masih terus melakukan prosesnya. pemimpin grup sekaligus sebagai sutradara yang menyusun dialog untuk menyanyi. Namun berkembang di Kabupaten Aceh Utara. maka Aceh secara global akan kehilangan seni budayanya yang sangat kaya tersebut. Rindu Idawati Sri panggung sandiwara keliling yang mampu menjadi aktris.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Casalona.

Pertunjukannya membutuhkan panggung hanya 6 X 6 meter. Meskipun pola dasarnya paduan musik dengan nyanyian. harimau mengaum Ku tutu telinga. Mari kita nikmati salah satu pantunnya: Ta ek u glee tajak koh sigeudum Lam kayee ruhung umpung ‘nggang dama Gajah di dumpek. ditingkahi suara gendang. Ini terbukti dari setiap kali pertunjukannya mendapat sambutan meriah dari penonton. Ciri khasnya adalah adanya tarian. dan rumah tangga yang sarat dengan masalah sosial.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Baro (suami Istri atau marapulai kalau di Minangkabau) yang melakukan gerak tari dan banyolan sesuai irama Biola dan pukulan Rapa’i. serta dialog dari penari berisi cerita lucu tentang perkawinan. Artinya: Mendaki gunung memotong pohon sigeudum Di lobang kayu. Tampil dengan dandanan menor dan mencolok. Pantun dan nyanyian. Kisah rumah tangga tentang wanita yang bersuami tetapi mencintai pria lain. nyanyian lewat berbalas pantun dengan ungkapan-ungkapan lucu. dan penuh humor. menggelikan. loen jak bak gata. ku datang padamu. terkadang mengenakan rok dan blus. dan secara tidak langsung terselip nilai kritik sosial melalui pantunnya yang kocak. Penonton turut terbahak-bahak menyaksikan bunyi biola yang terdengan sumbang. namun magnitumnya justru pada gerak tubuh dan tingkah pemainnya yang kocak membuat penonton bertahan sampai dini hari. penyulut tawa adalah pantunnya yang jenaka. cerita (dialog). segar dan menggelitik terkadang terkesan porno. Sementara penari pria 192 . bangau bersarang Gakah menguak. dan disahuti pantun yang jenaka. Kesenian ini sampai sekarang masih mampu berinteraksi dengan masyarakarat. serta para pemainnya memakai pakaian yang warnanya kontras. Sebaliknya pria yang telah memiliki istri namun masih mencari wanita lain. Juga diselingi cerita mertua atau isteri yang cerewet. Biola Aceh komunikasi disampaikan lewat kekuatan humor. Apalagi dihadiri penari joget yang adalah lelaki berperan sebagai wanita. tak jarang memakai kebaya dengan selendang berwarna hijau atau merah menutup kepala. rimueng di taum Loen dhoe geuliunyeueng.

dan Syech Ma’e (Ismail). namun dipengaruhi oleh unsur-unsur agama Islam. Sumatera Timur kesenian yang ditampilkan ronggeng. diberinama Biola Aceh” (Wawancara Syech Ma’e Pidie. Menurut mereka. Hal ini.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengenakan pakaian biasa. dan melawak. akulturasi. Progresi melodi pada biola aceh membentuk harmoni vertikal dengan interval kwint. Secara tidak langsung generasi muda mengalami fase a-history. penggesek biola Aceh memainkan biolanya secara terbaik. walau biola pertama sekali diperkenalkan di Italia tahun 1719. disebabkan h terjadinya konflik bersenjata dan tsunami di Aceh. asimilasi. serta digarap secara bervariasi. satu nada ditahan sementara nada lainnya bergerak membentuk progesi melodi. Perbedaannya terletak pada metode dalam memainkannya. Perkembangan Biola Aceh selanjutnya memang jalan ditempat jika tidak mau dikatakan punah. terjadi interaksi sosial yang memberikan dampak perubahan terhadap budaya. dalam proses adaptasi menyerap nilai-nilai budaya islam. menciptakan kesenian yang hampir mirip ronggeng. bahkan banyak yang tidak mengenal tentang biola Aceh. Sampai saat ini masih hidup empat orang penggesek biola. Proses adaptasi terjadi ketika terjadi pertandingan kesenian antara Aceh dengan Sumatera Timur di jaman Belanda. dan integrasi dengan kesenian ronggeng yang berasal dari Sumatera Timur. menari. 20 Januari 2005). Melodi dasar lagu sama dengan melodi dasar biola. Sama persis seperti alat musik konvensional barat. menyaksikan pemain biola. Sudah selayaknyalah kesenian ini perlu dilestarikan. biola sebagai alat musik instrumen kesenian tradisi Aceh yang berasal dari Mesir. 193 . Aceh sepulang dari pertandingan tersebut. namun baju atau jasnya di pakai terbalik. perkembangan musik modern mengakibatkan minat generasi muda terhadap biola Aceh menurun. tampak pada tekhnik memainkannya yaitu mengiringi vokal dengan mengikuti melodi vokal yang ditambah dengan nada hias. Jadi menyaksikan pertunjukan biola Aceh. serta Syech Ali Basyah. Di samping itu. yaitu Syech Abdul Gani Krueng Mane. Masyarakat Aceh yang menganut sistem feodal. Bentuk perubahan tersebut adanya adaptasi. dan kurangnya pengetahuan. terkadang juga memakai sepatu yang kebesaran. Syech Maneh. penabuh gendang yang dikombinasikan dengan berpantun. Kesenian biola Aceh. Teknik memainkannya sangat mirip dengan rabab di Minangkabau.

dan mampu mengikuti kemajuan jaman. Penutup Kesenian memang mampu menjadi perekat antar sesama. Dalupa. Seniman. Didong. Dangderia. Sebab seni tradisi Aceh selalu bersentuhan secara aktual dan universal lewat konsep kebersamaan. Konsep kultural dalam nilai etnisitas keacehan untuk mengidentifikasikan masyarakat jadi ‘ahli waris’ dari seni tradisi sekaligus sebagai pelaku bagi transformasi identitas lokal yang independen. Pasca konflik dan tsunami. dinas pariwisata dan budaya. Seni pertunjukan seperti teater tutur PM TOH. seniman. Poh Tem. Sebab pertunjukan seni tradisi Aceh sesungguhnya telah melaksanakan 194 . Manusia acap kali saling bersilang pendapat tentang idealisme yang mengakar dalam diri. atau Kementerian Pendidikan Nasional berkenan menjadikan seni lokal menjadi kurikulum nasional agar seni tradisi populer dapat menjadi media komunikasi sosial. Seni tradisi Aceh. Peugah Haba. Tugas lembaga pendidikan tinggi seni. Indonesia kehilangan seniman besar. biola Aceh sebagai salah satu seni tradisi yang populer dapat menjadi media komunikasi sosial antara sesama etnis di Aceh yang multi-etnis. dan Biola Aceh memang kesepian dalam peti. dan menumbuhkan kebersamaan. Pho. tak usah mempertentangkan konsepsi pertunjukan antara tradisi dengan kontemporer. pihak yang terkait. Teungku Adnan PM TOH-Cut MaharuhoiIdawati-Syech Abdul Gani Krueng Mane-Syech Ma’e-dan Syech Ali Basyah. atau Sandiwara Gelanggang Labu. Teatermusik-tari dan kesenian lainnya membuat masyarakatnya luruh dalam ‘kearifan lokal’ menghilangkan perbedaan. tetapi tetap berinteraksi dengan jamannya. apakah seni-seni tradisional yang maha agung itu akan hidup. Sandiwara Gelanggang Labu. para intelektual seni. perlu duduk bersama bicarakan pentingnya menghidupkan kesenian tradisi. Aceh kehilangan juru bicara. Lokalitas seni sebagai fenomena budaya diletakkan dalam perspektif kehidupan global untuk melakukan kontruksi indentitas diri.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Padahal. Biola Aceh. Namun kesenian cenderung merekatkan keretakan manusia tersebut. Guel. atau seni Aceh tersebut akan ikut terkubur bersama ratusan ribu rakyat Aceh yang entah dimana makamnya? Generasi muda Aceh sekarang ini pasti banyak yang tidak kenal lagi.

Festival Baiturrahman..Adjib Hamzah. CV Rosda Bandung Agus Noor.. 1996/1997. dan Diwana Cakradonya perlu dikembangkan. tetapi mampu menjadi sebagai media komunikasi.. 1998 195 . Monolog.. Ekspresi dalam Seni Teater. Jurnal Palanta Padangpanjang: STSI Padangpanjang VCD Hikayat Malem Dewa.O. Ilmu Komunikasi. Konflik di Aceh: Sandiwara Keliling Gelanggang Labu Terancam Punah. 1993. Semoga! Daftar Pustaka A. Pengantar Drama Monolog Enam Tuan Arthur S. Harian Kompas Jakarta: 26 Maret 2006 Basri Daham. Pengantar Bermain Drama. 1999. Kesusastraan Aceh. bagaimana seni tradisi Aceh dapat dihidupkan kembali. Pekan Kebudayaan Aceh... 1988. Jurnal Palanta Padangpanjang: STSI Padang Panjang ---------------------. Kesenian tradisi di Aceh tidak hanya dianggap sebagai media hiburan semata-mata. Interkulturalisme Teater. 2000. Nur (ed). agama. Unsyiah Press Banda Aceh Efeendy. 1984. Yogyakarta: Tarawang Pers Santosa.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI konsepi pertunjukan dalam tataran kontemporer... Bandung: Angkasa Sulaiman Juned. 1996/1997 Margaret J. Jurnal Ekspresi Seni Program Studi Pascasarjana UGM. Jika ketiga seni ini hilang maka tanpa kita sadari budaya Aceh yang sarat dengan muatan penyadaran moral. Gelitik Biola Aceh Makin Langka. dalam Asvi Warman Adam. 1999. 2000. Bandung: Rosda Karya Herwanfakhrizal. Bandung: Penerbit Angkasa Rahman Sabur. Oleh karena itu..M.Nalan Etno Teater Bandung Sahid. Produksi Jurusan Teater STSI Padangpanjang. Kartomi. 2003. Teori dan Praktek.. 1999. event-event kesenian bertaraf nasional dan internasional seperti. adat dan sosial terkikis dari kehidupan bermasyarakat. Serambi Indonesia Banda Aceh: 30 Agustus 2008 Budiman Sulaiman. 2006. Kegiatan ini mampu menumbuhkan seni-seni tradisi yang mulai punah.. Peneliti Musik Aceh Pasca Tsunami. 2007.. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. Permasalahan yang perlu diselesaikan.. Harian Kompas Jakarta: 18 Desember 2005 Mursal Esten.H Trobadour yang Menulis di atas Angin. 2005. Teater Tutur Aceh: Adnan P. Kajian Transformasi Budaya. Semoga seni tradisi Aceh ini tetap hidup dan berkembang.T. Aktor di Panggung Teater.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 196 .

dan sistem komunikasi sosial yang spesifik sesuai dengan latar belakang keturunan nenek moyang mereka masing-masing.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Penggunaan Seni Tradisi dalam Media Komunikasi Sosial di Sumatera Utara Drs. bahasa. Hajizar. Minang. maupun aneka seni dari etnis-etnis Batak adalah cukup memberikan rasa optimis untuk merealisasikan sasaran minimal tema tulisan di atas. dan bervariasi konsep seni yang dimiliki mereka membawa penulis untuk memilih pendekatan “induktif” untuk mengidentifikasinya. ritual adat. baik seni Melayu. Outline dasar yang menjadi fokus berkisar tentang fungsionalnya suatu genre seni sebagai mediasi untuk pencapaian niat atau maksud diadakannya suatu upacara atau acara yang berhubungan dengan religius/keagamaan.Sn Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Pendahuluan embicarakan masalah penggunaan seni tradisi dalam media komunikasi sosial di Sumatera Utara merupakan obyek diskusi yang sangat luas. ketersediaan data pendukung yang penulis miliki. karena propinsi Sumatra Utara didiami oleh banyak etnis yang memiliki konsep budaya. materi seni yang banyak. atau hiburan oleh suatu etnis di daerah Sumatera Utara. Sungguh pun begitu. ditambah dengan pengalaman praktikal selama empat tahun menjadi pelaku seni di Sumatera Utara. dan beratus konteks pertunjukannya. Setiap etnis asli Sumatera Utara menghendaki keharmonisan dan M 197 . Berlatar kompleksnya sistem kehidupan masyarakatnya. M.

atau hiburan pada konteksnya adalah setelah terkoneknya maksud itu dengan resepsi obyek upacara tersebut. maka wujudlah aneka upacara ritual adat. Bagian pertama ini berposisi sebagai pembentukan frame pemikiran terhadap kelayakan tema ini menjadi sebuah informasi yang bermanfaat. Bagian kedua memperlihatkan sekilas demografi wilayah dan penduduk Sumatera Utara untuk menggambarkan keadaan hunian yang bersinerji dengan kompleksitas konsep sosial masyarakat yang menghuninya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kelanggengan sistem kemasyarakatan (kekerabatan) dan struktur sosial yang diwarisi mereka. karena keyakinan tercapainya maksud atau niat pelaksana upacara. dan komuniksi vertikal antara manusia dengan supranatural yang gaib. Mayoritas wahana yang dipilih oleh etnis-etnis Sumatera Utara dalam rangka tercapainya pengharapan di atas adalah kesenian. upacara religi/keagamaan. tulisan ini disajikan dalam empat bagian. Bagian keempat menfokuskan diskusi kepada dinamika kehidupan masyarakat dan kreativitas seni yang terjadi dalam konteks perubahan di masa sekarang dan prospek keberlanjutannya di masa depan. Tulisan ini tidak secara gamblang membicarakan masalah ‘komunikasi sosial’ secara konseptual. Sudah sama dipahami. serta tercapainya kebahagiaan hidup sesudah mati melalui sistem kepercayaan yang dianut. Kesenian diapresiasi sebagai mediasi yang mujarab untuk menjembatani komunikasi horizontal antar individu. Dengan demikian. dengan Tuhan atau “Sesuatu” yang dianggap berperan sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa penentu jalannya kehidupan di dunia dan hidup sesudah mati. Kemudian bagian kelima sebagai konklusi dari temuan yang diperoleh dari hasil keseluruhan deskripsi tulisan. tetapi berdasarkan penggunaan dan berfungsinya suatu produk seni dalam suatu konteksnya berarti sudah menunjukkan keberhasilan suatu komunikasi. Sedangkan bagian ketiga merupakan informasi masa silam yang difungsikan sebagai landasan penting untuk melihat kondisi kehidupan kesenian masyarakat Sumatera Utara masa sekarang. Sekilas Demografi dan Wilayah Penduduk 198 . bahwa konteks upacara dan acara-acara seremoial merupakan suatu produk sosial dan salah satu komunikasi yang wujud di dalamnya adalah komunikasi sosial. dan acara-acara sosial lainnya. antar kelompok. atau diperolehnya kesenangan batin melalui hiburan.

Kepulauan Nias. Pesisir Barat. Masa. PT. Deli Serdang. Samosir. Kepadatan penduduk Sumatera Utara pada tahun 2002 menjadi 165 jiwa per km². Menurut hasil Sensus Penduduk (SP) tahun 2002. ialah pulau Simuk (kepulauan Nias). kopi. Langkat. telah dimekarkan menjadi 29 Kabupaten/kota (22 kabupaten. coklat. Tapanuli Selatan. Binjai. dan juga meliputi 419 pulau yang berada di luar pulau Sumatera. serta diprovokasi oleh semangat otonomi daerah untuk memacu pertumbuhan pembangunan di segala bidang.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Sumatera Utara sebuah provinsi yang keempat terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa Barat. Berlatar luas daerah dan jumlah penduduk Sumatera Utara pada dasawarsa terakhir ini. Asahan. Mandailing Natal. Padang Lawas. Simaleh. kondisi alam Sumatera Utara pada dasarnya dapat dibagi atas: Pesisir Timur. gas alam. Selain geografis Propinsi Sumatera Utara yang terbentang dari daerah pesisir Timur ke pesisir Barat. batu bara. Jawa Timur. Nias Selatan. Nias. cengkeh.85 juta jiwa. Serdang Bedagai. Pini. Padang Sidempuan. Hamutaia. Tapanuli Tengah. kayu manis. Inalum di Kuala Tanjung Kabupaten Asahan terdapat 1 Sumber Wikipedia Indonesia. Toba Samosir. Karo. penduduk Sumatera Utara berjumlah 11. 199 . Sedangkan pulau yang terluar dari sekian ratus pulau tersebut. Padang Lawas Utara. di antaranya pulau Imanna. Pakpak Bharat. ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Batubara. teh. Selain itu terdapat beratus pulau lain di Samudera Hindia yang termasuk propinsi di Sumatera Utara. kelapa sawit. Jake. Dengan begitu. Sibolga. Potensi bumi Sumatera Utara yang luas dan subur telah mewujudkan perkebunan (karet. Batumakalele. Bau. dan pulau Berhala di Selat Malaka. Kepulauan Batu yang terletak di Tenggara kepulauan Nias terdiri dari 51 pulau. Pegunungan Bukit Barisan. Kepulauan Nias yang terletak di lepas pantai pesisir Barat Samudera Hindia merupakan pulau utama dan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya. Simalungun. Tanah Bala. Labuhan Batu. dan Kepulauan Batu1. Bawa. dan Jawa Tengah. Tebing Tinggi. maka Pemda Tingkat II di Sumatera Utara yang semula berjumlah sekitar 17 kabupaten/kota. Tanah Masa. Tanjung Balai. dan Kota Medan. dan Sigata. di antara 4 pulau yang terbesar: Sibuasi. dan tembakau) dan pertambangan minyak bumi. Makole. Tapanuli Utara. Pematang Siantar. Wunga. Humbang Hasundutan. kelapa. Lego. dan 7 kota): Kabupaten Angkola Sipirok. Pasu. Dairi.

2) Pesisir Sibolga (Pesisir Barat Sumatera Utara). 200 . Kesemuanya ini telah mengundang pendatang dari etnis lain merantau. PLTA Asahan yang merupakan terbesar di Sumatra terdapat di Kabupaten Toba Samosir. Aceh dan Jawa. dan tentu beraneka pula corak seni tradisional yang berfungsi membentuk komunikasi sosial dalam kehidupan kotakota di Sumatera Utara. Pakpak Dairi. Di samping itu. Bahkan sebagian suku Batak Toba dan Nias masih menganut kepercayaan Animisme yang bernama “Pelebegu Parhabonaron. Realita di atas telah menjadikan Sumatera Utara didiami oleh multietnis yang terdiri dari suku asli dan suku pendatang. Sentra aktivitas pada berbagai lokasi ini yang bersentuhan langsung dengan sosio-budaya lokal yang beragam pula sebagai lingkungan kerja dan kehidupan mereka. Buddha terutama dipeluk oleh suku Tionghoa di perkotaan. dan lainnya. 3) suku Batak (Toba. Karo. sebagian Batak Karo. Suku pendatang ialah Jawa. Konghucu terutama dipeluk oleh suku Tionghoa di perkotaan. dan Mandahiling). Batak Simalungun. 4) suku Nias. Minang. Tionghoa.” Begitu juga masih terdapat sejenis aliran kepercayaan bernama “Parmalim” yang dianut oleh sebagian suku Batak Toba yang berpusat di Huta Tinggi. Aceh. Batak Pakpak Dairi. Simalungun.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF yang bergerak di bidang penambangan bijih dan peleburan aluminium yang merupakan satu-satunya di Asia Tenggara. agama Kristen (Protestan dan Katolik) terutama dipeluk oleh suku Batak Toba. Setiap etnis (asli dan pendatang) di Sumatera Utara menggunakan Bahasa Ibu masing-masing. Minang. Agama Hindu terutama dipeluk oleh keturunan India yang minoritas di perkotaan. Mandahiling. mengadu nasib masuk ke daerah Sumatera Utara dan berdomisili sesuai sentra-sentra aktivitasnya masing-masing. Suku asli ialah 1) suku Melayu (Pesisir Timur Sumatera Utara). dan komunikasi dalam pergaulan umum selalu menggunakan Bahasa Indonesia dialek Melayu. Pesisir Sibolga. India Keling. persoalan kepercayaan memiliki fenomena yang menarik dalam kehidupan masyarakat Sumatera Utara yang heterogen tersebut. Dengan demikian. bermunculan lagi beraneka pabrik di berbagai kota sehingga kota Medan telah menjadi kota industri utama di Sumatera. Namun. Angkola. dan suku Nias. Agama Islam menjadi agama mayoritas yang dianut oleh suku Melayu. lengkaplah identitas Sumatera Utara sebagai propinsi multi etnis di Sumatera.

kita coba melihat sampel genre-genre seni utama dari etnis-etnis asli Sumatera Utara yang berhubungan dengan fungsinya sebagai pembangun komunikasi sosial tradisional dalam kelompok-kelompok etnis masyarakatnya masing-masing. baik berbentuk sistem kemasyarakatan yang diwarisinya. hal 2. gondang-gondang yang dimainkan pada kegiatan religius itu bersifat sakral. Nomor-nomor gondang yang disajikan selalu didahului dengan ungkapan-ungkapan tradisional yang disampaikan oleh partisipan upacara melalui tonggo-tonggo. Dengan demikian.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Identifikasi Sosio-Seni Warisan Etnis-Etnis Asli Sumatera Utara Berdasarkan identifikasi terhadap tradisi sosial dan seni dari etnisetnis asli yang mendiami Sumatera Utara dijumpai beraneka ragam aktivitas. maupun berbentuk upacara-upacara tradisional yang diadatkan dalam bentuk seremoni adat masing-masing sebagai konsekuensi dari sistem kemasyarakatan yang dianut mereka. Buku Buklet. umumnya peranan Gondang Sabangunan berfungsi sebagai pengiring tarian (tortor) dari kelompok masyarakat yang mempunyai marga (clan) yang terkait sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu (Tungku Nan Tiga). serta lingkungannya. Melalui penyajian Gondang Sabangunan disampaikan permohonan peserta upacara kepada Tuhan-Nya. 1994. Apabila dikaji secara seksama makna ungkapan-ungkapan tradisional tersebut sifatnya universal dan dapat bertahan sepanjang masa3. hal 3. Menurut Marpaung. Begitu pun pada upacara adat. Pada setiap upacara adat. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. dan tidak dapat sembarangan dimainkan2. Banggal Marpaung. Pertama. bahwa salah satu contoh dari repertoar tersebut adalah “Gondang Debata Sori” yang dalam hal ini adalah nama salah satu dari Tuhan menurut Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di dalam masyarakat Batak Toba. Ungkapanungkapan itu dapat mengakrabkan pergaulan sehari-hari para peserta 2 3 Banggal Marpaung. 201 . gondang dan tortor selalu hadir menjadi alat mengekspresikan perasaan dan maksud. Berikut ini. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. Buku Buklet. 1994. kedudukan musik tradisional Gondang Sabangunan bagi masyarakat Batak Toba dipakai dalam kepentingan upacara religius untuk mengatur hubungan antara peserta upacara dengan Tuhan dan dunia gaib. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud.

maka matilah anak sang putri tersebut. 2002. bahkan menjadi sarana penguat identitas dan pembangun rasa solidaritas sesama antar individu dan antar kelompok masyarakat yang seatap dalam suatu upacara adat.” Makalah. tetapi juga meliputi berbagai hal terkait dengan hal yang bersifat spiritual. Dalam masyarakat lokal-tradisional Batak Toba. bahwa seorang anak boru berkewajiban untuk 4 5 Rithaony Hutajulu. Kemudian anak yang mati itu disuruh oleh ibunya untuk menirukan segala bunyi tadi. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara. bahwa seorang pemusik Batak Toba berfungsi sebagai mediator utama dalam menjalin hubungan antar dunia manusia dengan dunia para dewa. gendang Anak Na. dan banjir. Secara tiba-tiba bermunculan bermacam suara sebagaimana karakter dan warna suara yang dimiliki oleh Tung-tung. etnis Batak Karo memiliki ensambel musik tradisional utama disebut “Gendang Lima Sendalemen. Bandung: UPI. Kumbang. Amphok (burung). badai. bahwa: “pada masa dahulu.” Kehadiran ensambel musik ini berlatar belakang sebuah mitos yang hidup dalam masyarakat Karo. Instrumentasi Gendang Lima Sendalemen terdiri dari sarune terbuat dari kayu selantam. Katak. hal 3-4. dan batangnya dari gelondah berperan sebagai pembawa melodi. Mitos tentang suara-suara inilah yang dipercayai masyarakat Karo untuk menemani kehidupan mereka yang diimitasikan melalui musikal instrumen Gendang Lima Sendalemen5.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF upacara. Gendang Indung Na. manusia itu tidak mati-mati. Menurut adat Karo. Kedua. Tiruan bunyi itu akan mujarab untuk mencegah matinya segala manusia. Tersirat di sini. Gondang (“musik”) memiliki peranan yang penting dalam aktivitas kehidupan mereka. tidak hanya dalam memenuhi berbagai kebutuhan sosialnya. Pentingnya peranan ini dapat dilihat kaitannya dengan salah satu filosofi dasar masyarakat Batak Toba. dan ada juga garantung sebagai pembawa ritme variabel. sementara Gung. lobangnya 7. dan penganak berfungsi sebagai pembawa ritme konstan. Tentu pemusik gondang dituntut untuk memahami sepenuhnya tentang struktur dan materi sebuah ritual/upacara yang sedang dimediasinya. dimana gondang dianggap menjadi alat utama untuk mencapai dan membangun hubungan antara manusia dan “Sang Pencipta” (Mulajadi Na Bolon)4. 202 . disamping juga dipakai dalam konteks aktivitas seremonial adat. Pada suatu kali terjadi angin topan. kilat. Gondang utamanya dimainkan dalam kaitannya dengan berbagai ritual maupun upacara keagamaan. Cacing.

Begitu juga halnya tentang masalah hubungan timbal-balik antara musik dengan tor-tor dalam kehidupan masyarakat Batak Mandahiling. Suling. yaitu Gordang Sembilan6. Apabila roh telah menghinggapi diri Sibaso.sebagai lagu tradisi untuk mengusung jenazah yang terdiri dari 48 lagu berturut-turut yang dikenal dengan istilah ‘50 . untuk memanggil roh-roh melalui Sibaso/Sisaman (dukun). Gordang Lima7. yaitu mengundang rasa kemanusiaan dan rasa sedih bagi orang yang ikut upacara. atau Dalihan Na Tolu. Guro-guro Aron bermakna suatu upacara syukuran panen bagi suatu desa. karena sewaktu padi berperut. Tali Sasayap.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mempersiapkan suatu upacara adat pada waktu kematian. Bagi orang Karo. masyarakat Batak Mandahiling memiliki tiga jenis ensambel musik yang penting dalam tatanan kehidupan sosial mereka. dan Gondang dua8. sekaligus minta nasehat.’ 203 . Doal sebagai ritem konstan. Ritem Variabel : Gondang. Sebab gendang ini diiringi dengan nyanyian-nyanyian tradisi berjudul ’Lagu Pengangkat’ --mungkin jenazah ini diangkat ke sorga-. dan agar keresahan itu tidak berlanjut. Ketiga. maka diadakanlah upacara Guro-guro Aron sambil berhibur oleh muda-mudi. 1 buah Enek-Kenek 1 pemain. 6 7 8 2 buah Jangat 1 pemain. maka dia ditanyai tentang apa-apa yang perlu. Sordam. boruboru. Gordang Sembilan digunakan untuk menghormati Mayat Harimau. karena binatang ini dianggap hewan yang beradat. untuk menghormati raja-raja. 2 buah Udong-Kudong 1 pemain. Sedangkan ensambel Gordang Lima memiliki dua fungsi: 1) berfungsi vertikal. Sarune. sebagai ritme variabel. 2) berfungsi horizontal. Salah satu konteks sosial yang paling memasyarakat lagi populer untuk penyajian ensambel Gendang Lima Sendalemen ialah Pesta Guro-guro Aron yang diadakan pada setiap desa di tanah Karo. Penyanyinya diistilahkan dengan “Parkolong-kolong. 2 buah Padua 1 pemain.2’ yang semua teks lagunya berisi magis yang berkaitan dengan kepercayaan. 2 buah Patolu 1 pemain. sekaligus untuk memberi semangat terhadap para remaja di desa masing-masing. Gong. Momongan. gendang berguna sebagai ‘basis pengantar’ bagi suatu upacara kematian. Cabutan satu-satu buah dari 5 unit Gordang Sembilan. remaja di desa merasa resah. Salung sebagai pemegang melodi. Dia harus tahu susunan struktur famili dari orang yang meninggal sewaktu diadakan seremonial upacara kematian lengkap dengan ensambel gendangnya.

dapat disimpulkan. Berdasarkan beberapa sampel di atas. yaitu tor-tor dan musik langsung berhubungan dengan pihak yang berpesta. b. itu kata tari). karena segala sesuatu di dunia ini berasal dari roh. dipukul canang dan beduk yang terusmenerus dimainkan hingga seluruh famili datang ke rumah duka. dan Sarama Datu. dan untuk upacara duka-cita. yaitu urusan pesta yang berhubungan dengan pihak bapak.’ yaitu orang-orang yang menangisi mayat secara bersama. Tortor Suhut Sihabolon. Tortor Mora. bahwa segala aspek kehidupan masyarakat Batak Mandahiling selalu diling- 204 . dan waktu mayat berangkat ke kuburan. Musik dan tortor dimainkan untuk urusan upacara suka-cita.’ Horja dalam musik tradisional Batak Mandahiling dapat dibagi kepada: a. yaitu urusan pesta para muda-mudi. Naposo Bulung. yaitu urusan pesta yang langsung berhubungan dengan famili isteri. diiringi dengan repertoar ‘gondang roto. Berhubungan dengan “adat-istiadat” tentang urusan kehidupan dan kematian. Berhubungan dengan “kepercayaan” kepada roh. 2. seperti pesta kawin atau kelahiran (dimainkan repertoar ‘Horja Sirizon). Jolo-jolo Turun. Penyajian tortor dan musik merupakan suatu kesatuan yang difungsikan untuk mengundang roh. bahwa pada masa dahulu dalam masyarakat Batak Mandahiling terdapat upacara ‘Mahadongi Hamatian.” Secara fungsional tortor Mandahiling dibagi dua: 1. c. dan di sini ditampilkan tortor. d. Tortor Anak Boru. seperti kematian dimainkan repertoar ‘Horja Silulutan. Somba Mulani Tortor (apa kata gendang. Selain itu.’ Repertoar yang biasa dimainkan berhubungan dengan kepercayaan ialah Alap-alap Tondi.’ Begitu juga pada upacara kematian raja. Figur yang berperan menghubungkan manusia dengan roh ini adalah melalui perantaraan ‘Bayo Dato (Sibaso).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Terdapat suatu ungkapan masyarakat Mandahiling: “Terter Mulani Gondang.

Gendrang 7 (dengan 3 pemain). Gerantung. kawin pakai gondang. adil dan makmur. Kettuk. sejahtera. misalnya orang tua yang meninggal pada usia lanjut. agar seluruh masyarakat mendapat berkat dan taufik hidayat. Gendrang 2. sebagaiman pengertian berikut: 1. c. Dengan demikian. b. Merkata Sipitu yaitu suatu pesta yang diadakan sewaktu padi belum ditanam. Keempat. Untuk upacara ini dipakai Gendrang 9. subyek upacara itu disebut dengan “kerja” yaitu kerja baik. Mase Sayur Matua dipakai Gendrang 5. Gendrang 5 (dengan 3 pemain). hidup sentosa. yaitu pesta yang mempunyai perencanaan yang baik yang mempunyai makna dan cita-cita. Kerja Baik. 10 Sulang Selima yaitu unsur adat yang tertinggi sebagai adat yang menentukan paling akhir pada setiap pelaksanaan ‘kerja’ dalam masyarakat Pak-Pak Dairi. etnis Batak Pakpak Dairi terkenal dengan ensambel Gorci9. dapat dikatakan bahwa prinsip kehidupan sosial masyarakat Batak Pak Pak Dairi yang selalu dimediasi oleh ensambel gendrang Gorci cukup mirip dengan fungsi gordang dan gendang dari 9 Terdiri dari: Gendrang 9 (dengan 5 pemain). Mre Kemban yaitu suatu pesta yang diadakan untuk menyembah berhala. b. dan waktu mati pakai gondang. Untuk upacara ini dipakai Gendrang 2. dan kerja njahat. Untuk upacara ini dipakai Gendrang 7. serta memanggil roh dan menolaknya pun juga pakai gondang. sebelum mengenal agama. Terbagi kepada tiga macam upacara: a. Sewaktu lahir pakai gondang. agar mendapat hasil yang melimpah. yaitu pesta sewaktu terjadi keliahan/kemalangan yang tanpa perencanaan sebelumnya.’ Klasifikasi upacara adat-istiadat dipertimbangkan oleh Sulang Selima10 berdasarkan sumber penyebab wujudnya upacara tersebut. Cilat-cilat. Kalondang. Gong. 205 . Mangokal Tulan dipakai Gendrang 5. 2. Mendeger Uruk yaitu suatu pesta atau kerja baik untuk meminta/memohon kepada Debata Guru (Tuhan) “Beras Pati Tana dan Mungkeni Kula. Kerja Njahat. Terbagi kepada dua macam upacara: a. merupakan seperangkat alat musik yang pemakaiannya berhubungan dengan upacara ‘adat istiadat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI kungi dengan tor-tor dan musik gondang atau gordang.

musisi mendapat penghormatan yang tinggi dari masyarakat. Oleh sebab itu. Dalam upacara kematian. Repertoar musik Simalungun yang terkenal sebagai berikut: 1. Tiga musisinya mengenakan kostum yang berbeda. Kelima. yaitu desain pakaian menyerupai kuda. 2) Ho Ho Bame Sidi Ndo (berdiri). Repertoar “Dual Rambing-rambing” yang diiringi dengan tari. seperti “Panarunai” lebih tinggi kedudukannya. Keenam. Selain dari penabuh dual ini adalah tidak boleh menabuhnya. sekaligus berfungsi untuk membedakan materi garapannya. tetapi sekarang sudah dipakai gondrang si pitu-pitu. kepentingankepentingan itu tidak dapat dilakukan. panarunai yang menjadi pimpinan rombongan diberi “ayam. adat. etnis Nias terkenal dengan musik vokal ‘Ho Ho” yaitu kesenian vokal yang teksnya berbentuk puisi. yaitu 1) Ho Ho Ba Fetatoro (duduk). dimana leader (disebut Sandroto) bernyanyi secara solo dengan melodi yang tidak banyak variasi. dan hiburan. merupakan repertoar pendahuluan sesudah repertoar pembukaan. sehingga musisi menempati strata yang terhormat dalam masyarakatnya. sedangkan pada upacara ritual keagamaan dinyanyikan “Fo’ Ere (nyanyian pendeta) yang langsung dipimpin oleh Ere (pen206 . tanpa musik. Dahulu pada dual ini dipakai gondrang si dua-dua. etnis Batak Simalungun menggunakan musik dan tari untuk kepentingan religi. 2.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF masyarakat Batak Mandahiling. biasanya dinyanyikan Ho Ho yang menceritakan riwayat hidup orang tua yang meninggal. Terdapat dua bentuk penyajian Ho Ho. Repertoar “Dual Parahot” yang khusus sebagai pembukaan upacara yang mempunyai hubungan dengan religi (roh jahat dan roh baik). kemudian direspon oleh kelompok penyanyi ‘Sono Yohi’ untuk menghiasi melodi Sondrono. Nyanyian ini disajikan dalam konsep responsorial. sedangkan roh-roh jahat diusir (diiringi tari). artinya berguna untuk persembahan dan yang menari hanya roh-roh baik. dan beras” pada setiap penampilannya sebagai simbol spirit kemasyarakatan mereka. kelapa. masyarakat Batak Simalungun memiliki Topeng Huda yang penting sekali artinya bagi rakyat Simalungun. Topeng ini selalu dihadirkan pada setiap upacara kematian orang berumur tua yang diiringi dengan Gondrang Si Pitu-pitu. Secara adat. dan biasanya lebih tua dari penabuh lainnya. Selain itu. burung enggang.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI deta) yang memegang Fondrahi. Medan: USU. Galombang 12 adalah suatu permainan pencak silat oleh 24 orang pesilat yang dibagi atas dua kelompok. irama Lagu Duo serta Tari Salendang. Menyampe. dilanjutkan dengan irama Kapulo Pinang dan Tari Payung. tetapi tidak berhak memakai kain sampe gala. 1985. cs. upacara “pesta perkawinan” dan kesenian yang melekat padanya menjadi seremoni adat yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat Pesisir Sibolga dan sekitarnya. cs. Fadlin. Pesta Perkawinan masyarakat Pesisir Sibolga dibagi atas tiga kelas: 1) pesta keturunan raja dengan memotong kerbau yang berhak memakai kain sampe gala 12. dan 3) pesta keturunan rakyat biasa dengan memotong kambing. “Tata Cara Adat Perkawinan Pesisir Sibolga. Biasanya hiburan musik Sikambang diadakan pada malam ketiga ini. Walaupun pesta perkawinan dilaksanakan selama 7 hari dan 7 malam. dimana pengantin duduk di atas pelaminan untuk berinai. maka pengetua adat akan mengatur pelaksanaannya sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan. Menurut Fadlin. bahwa upacara basanding duo diadakan pada malam ketiga. dan telah memenuhi syarat-syaratnya antara lain sebagai berikut: 1. Kelompok per11 Fadlin. tetapi puncak kemeriahannya terjadi pada malam ketiga. Kemudian dengan iringan lagu Dampeng. 207 . Apabila seseorang anggota masyarakat Pesisir Sibolga ingin menggunakan musik Sikambang pada pesta perkawinan. dan upacara ini dibuka dengan irama Kapri dan Tari Sapu Tangan. 2) pesta keturunan bangsawan dengan memotong sapi yang berhak memakai kain sampe gala 9. yaitu sejenis gendang yang dipakai untuk menyampaikan sesuatu maksud dari pendeta.” Laporan Penelitian. Ketiga kelas upacara pesta perkawinan ini tetap dilaksanakan selama 7 hari 7 malam. yaitu suatu tanda kelengkapan adat istiadat dalam bentuk selendang beraneka ragam warna yang dipasang pada langit-langit di atas pelaminan yang disangkutkan dengan bambu yang sudah ditata sesuai dengan perlengkapan pelaminan. namun penggunaan musik Sikambang mesti mendapat persetujuan dari pengetua adat terlebih dahulu. pengantin laki-laki diarak masuk ke dalam ruangan tempat besanding yang langsung disandingkan dengan pengantin wanita yang sudah duduk menanti11. hal 7. Ketujuh. 2.

Fadlin. Makalah.” Laporan Penelitian. Apabila pesta perkawinan akan disempurnakan dengan penyajian Galombang 12. musik-musik sebelum Hindu/Islam digunakan untuk mengiringi teater-teater tradisional Melayu. Medan: USU. di samping kepercayaan kepada Allah YME. hal 6. bahwa pada waktu berhubungan dengan adat. sehingga aktivitas berkesenian memang banyak berhubungan dengan kuasa-kuasa gaib yang dimulai dengan jampi-jampi (mantera). dewa. mengusir hantu atau setan13. Kedelapan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF tama mendampingi pengantin pria sebagai panglima atau raja sehari dan kelompok kedua berfungsi sebagai pengawal dari pengantin wanita. Teater 12 Fadlin. syetan. puaka. Akulturasi. seperti wayang kulit. sebaiknya tidak menampilkan kesenian Sikambang. jin. seperti hantu jembalang tanah. Walaupun falsafah orang Melayu “adat bersendi syarak. makyong. musik Sikambang dimainkan di bawah langitlangit dan pelaminan. lagu bertuah. 1985. hal 45. kesenian tradisional warisan etnis Melayu. maka pihak pengantin wanita/pria diharuskan menyembelih kerbau atau lembu sebagai persyaratan dalam peradatan. jikalau tidak sanggup menghadirkan langit-langit dan pelaminan. “Musik Melayu: Akar Budaya. jin. syarak bersendi Kitabullah” tetapi cukup sarat produk sosial dan seninya dibarengi oleh unsurunsur kepercayaan kepada alam roh. mambang dan lain-lain. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan. yang dinyanyikan secara bersahutsahutan antara solo vokal yang teksnya berupa doa’-doa’ kepada Tuhan dan disambut oleh orang ramai yang pada dasarnya menguatkan doa’ yang dinyanyikan oleh solo vokal12. kalau dilanggar adalah dianggap melanggar adat dan bagi pelanggar ada sangsi sosial bagi kelompok yang melanggar. bangsawan. “Tata Cara Adat Perkawinan Pesisir Sibolga. Medan: Etnomusikologi USU. Ini merupakan arti tersirat yang tidak boleh dilanggar. terutama dipakaikan pada alat-alat musiknya. menhora. Lagu dampeng adalah lagu vokal yang dinyanyikan oleh laki-laki. dan lain-lain. Perubahan. Ketangkasan bermain silat sewaktu penyambutan pengantin lakilaki diiringi dengan lagu dampeng. untuk rasa perdamaian dengan kuasa gaib. dan Kontinuitas. 2005. mendu. 208 . Misalnya. jembalang laut. menjauhkan bencana. cs. 13 Muhammad Takari. Salah satu contoh teater tradisi di sini ialah teater Bangsawan.

Baik Anak Muda. 3. tersingkirkan oleh sandiwara-sandiwara modern. Kelompok Dardanela Setelah jaman Jepang perkembangan teater Bangsawan menurun. tetapi tidak bisa bertahan lama karena pemain yang berkualitas akan disabet oleh rombongan lain yang lebih kaya. Hal yang menarik dalam teater Bangsawan. Tokoh Anak Muda yang berperan sebagai pahlawan. 209 . 2. Di dalam cerita Bangsawan sudah dipakai cerita-cerita kejadian yang bersumber dari peristiwa-peeristiwa di negeri Barat. karena sarat sekali dengan perlengkapan-perlengkapan yang harus dipersiapkan. Bangsawan merupakan cikal-bakal terjadinya jenis teater —peralihan— ke teater modern dengan dua dimensi. harus dipelajari dengan meniru tokoh dahulu secara oral tradisi. karena: 1. Terdapat Sri Panggung yang menjadi primadona dalam cerita. Para pemain utama dengan ciri-cirinya sebagai berikut: 1. Terdapat Tukang Lawak yang selalu menghidupkan suasana panggung 4.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bangsawan dikenal juga dengan istilah Opera Melayu. TV). maupun Primadona yang mempunyai karakater permainan yang baik. Pembukaan dan penutup dalam permainan teater Bangsawan juga dibarengi dengan mantera-mantera. Kelompok Indra Ratu (Sultan Serdang) 2. di mana Sri Panggung dan Anak Muda harus pandai bernyanyi dan menari. Kelompok Stambul 3. 3. Teater bangsawan mahal biayanya. dengan membawakan tema mengenai kesatriaan seorang tokoh. Dialog tidak bisa dipelajari dengan naskah. Ada Jin Jahat yang berperan untuk merong-rong ide-ide dari tokoh. Pada daerah Melayu teater Bangsawan muncul secara berkelompok atau kumpulankumpulan. dan hilangnya lafal norma-norma bahasa Melayu. 2. Menjelang Perang Dunia II teater bangsawan sudah tidak bisa bersaing lagi dengan kemajuan teknologi (film. di antaranya yang terkenal adalah: 1.

2. Tanjung Katung. yaitu lagu yang menurut keterangan orang-orang Melayu di Sumatera Timur (kini Sumatera Utara) berfungsi untuk memanggil angin di laut sa’at mereka mengalami mati angin sewaktu menangkap ikan. Rentak Senandung (Malaysia: Rentak Asli). e. d. Beberapa lagunya yang terkenal ialah Dua Singapura. c. Ragam Berjalan yang artinya cinta meresap. Pancang Jermal dan lainnya. Irama ini diiringi dengan lagu yang memaki pantun nasib. Bagi etnis Melayu Deli ‘Irama’ berhubungan dengan pola ritem gendang yang sekaligus tersangkut di dalamnya pemahaman terhadap “tempo” permainan suatu lagu. Beberapa lagunya yang terkenal.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Kemudian. Beberapa Irama atau Rentak Musik Melayu Deli sebagai berikut: 1. Tempo tercepat dari Rentak Lagu Dua ini diistilahkan dengan ‘Rentak Pulau Sari’ yang difungsikan untuk pengiring Tari ‘Serampang 12’ yang diciptakan almarhum Guru Sauti dari daerah Perbaungan. Makan Sireh. sering disebut juga dengan ‘Lagu Menari’ yang sangat digemari dalam tarian bebas. adalah nyanyian hiburan yang umum dinyanyikan di daerah Asahan dan Labuhan Batu. Rentak Senandung berbirama 4/4 dengan tempo lambat (andante) tetapi siklus pola ritemnya 8/4. dan Mambo. bernada sedih tentang peruntungan yang malang. maka lagu ini sering dilagukan oleh pelaut/nelayan. Ragam Permulaan yang artinya pertemuan pertama. sampel seni dari etnis Melayu Sumatera Utara yang dipilih ialah lagu-lagu Melayu Deli yang langsung berhubungan dengan tarian. b. seperti Kuala Deli. Dendang Sayang. dan mengiringi lagu yang memakai pantun jenaka yang merupakan pantun anak muda. Ragam Gila Kepayang yang artinya mabuk kepayang. Rentak Senandung berasal daripada lagu-lagu Senandung. Ragam Pusing Tari yang artinya memendam rasa. ragam Berjalan yang artinya 210 . Tarian Serampang 12 mengisahkan percintaan yang diakhiri dengan perkawinan dengan struktur gerak meliputi sejumlah 12 ragam: a. Pola ritem Rentak Lagu Dua sangat populer di tengah-tengah masyarakat Melayu. Berbirama 2/4 dengan membawakan tempo agak cepat. Damak. sebagaimana tempo Samba. Rentak Lagu Dua (Malaysia: Rentak Joget). dan lain-lain.

Ragam Langkah Melonjak yang artinya masih belum percaya. 4. seperti daerah Langkat. Beberapa di antaranya lagunya yaitu Mak Inang Pulau Kampai. ialah nama yang diberikan kepada wanita pengasuh setengah baya yang mengepalai sejumlah dayang-dayang dan penari di Istana raja. i. Rentak Mak Inang (Malaysia: Rentak Inang). 3. Ragam Sapu Tangan yang artinya pertemuan kasih mereka. Pada mulanya irama ini hanya berkembang pada daerah-daerah yang dipengaruhi oleh Batak Karo. f. yang kemudian dipergunakan pula oleh rakyat awam. Tempo rentaknya sedang (sekitar 100 ketukan dasar per menit). Berbirama 4/4 dengan membawakan tempo cepat yang diiringi dengan lagu yang memakai pantun jenaka. Irama ghazal ini dipakai pada 211 . Ragam Rupa-rupa yang artinya mengantar penganten. Tempo tercepat dari Mak Inang ialah rentak Patam-patam dengan memakai birama 4/4 dengan tempo cepat sekali. Ragam Meloncat-loncat yang artinya jawaban sudah diterima.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI bersifat isyarat tanda-tanda cinta. dan kemudian rentak ini diadopsi oleh penari dan pemusik seni pertunjukan ronggeng. dan Deli. Ragam Gencat-gencat yang artinya balasan isyarat. sehingga tidak diiringi dengan nyanyian/vokal manusia. Ragam Sebelah Kaki yang artinya menduga. h. j. Rentak Ghazal berasal dari perkembangan/pengaruh dari India Utara yang dibawa oleh orang-orang Islam pada awal abad 19 ke Pulau Pinang terus ke Medan. g. Mak Inang Kayangan dan sebagainya. Tarian Mak Inang biasa dibawakan oleh Mak Inang (dayang pengasuh keluarga kerajaan). 5. Irama ini mendapat pengaruh dari Arab yang bercampur dengan pengaruh suku Batak Perdambanan di hulu Sungai Asahan. l. Rentak Gubang berasal dari lagu Gubang yang terdapat di daerah Asahan. serta Serdang. k. Pada abad ke 20 rentak Mak Inang ini lebih dicepatkan dan lahirlah lagu dan tari Cek Minah Sayang yang memakai sapu tangan atau selendang untuk penampilannya. Ragam Datang Mendatangi yang artinya pinangan dilakukan. karena dalam lagu tradisi Batak Karo juga ada lagu patam-patam.

seperti kisah Laila. 7. dan Melayu Nusantara umumnya. konsep musikal dan konsep pertunjukan masing-masing rentak di atas telah mengadopsi konsep harmoni musik Barat. Walaupun instrumentasi. berkembang merata di seluruh wilayah alam Melayu Nusantara yang merupakan suatu ritme atau rentak atau irama yang merupakan pengaruh dari irama-irama Timur Tengah. 8. Rentak Chalti. Berasal dari Irama Chalti inilah berkembangnya pola ritme gendang pop dangdut. Kondisi Kehidupan Kesenian Tradisional di Sumatera Utara Dewasa Ini (Perubahan dan Keberlanjutan) Dahulu areal kabupaten lebih merujuk kepada geografis yang didi212 . tetapi ciri-ciri khas dalam pembawaan lagu dan melodi tetap didominasi oleh karakter Melayu. dan lainnya. Dengan demikian. Rentak zapin dimainkan dengan gendang Marwas. Sebetulnya. Rentak Zapin. kedelapan jenis rentak Melayu Deli ini termasuk klasifikasi musik modal yang masuk kategori musik tradisional etnis Melayu di Sumatera Utara.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF nyanyian yang mempunyai syair-syair cinta. 6. seperti Rentak Senandung dilahirkan dengan gendang ronggeng. Rentak Kelantan. Biasanya irama Kelantan ini dipakai untuk kesenian dzikir yang berkembang di daerah Melayu Singapura. berasal dari daerah Malaysia Utara atau dari daerah Thailand Selatan yang berkembang sampai ke berbagai daerah Melayu. merupakan pengaruh dari India Selatan. Berbagai Rentak atau irama Melayu di atas dimainkan sesuai dengan ciri khas alat musik gendang yang dimiliki oleh masing-masing rentak di atas. di antara kedelapan jenis rentak yang dimiliki etnis Melayu Deli ini telah menjadi master-piece pada tataran konteks hiburan dalam masyarakat Melayu Sumatera khususnya. bahkan karakter lagu dan melodi Melayu tersebut telah menuntut terjadinya pemodifikasian progresi akord-akord musik Melayu Deli yang tidak lagi sepenuhnya mengaplikasikan konsep harmoni musik Barat (musik tonal). atau ada yang mengatakan Laila Majnun yang merupakan pengaruh dari Arab.

dan pengaruhnya terhadap penikmatan seni masyarakat heterogen di kotakota Sumatera Utara. ternyata kondisi kesenian tradisional dalam sosio-kehidupan masyarakat dari etnis Batak Mandahiling. Analoginya. dan kondisi kehidupan kesenian pada masyarakat kota-kota di Sumatera Utara yang heterogen dalam membangun komunikasi sosial mereka.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ami suatu etnis. Sehubungan dengan itu. Sebetulnya. bahkan pengaruhnya terhadap etnis lain di luar Sumatera Utara. sangat disayangkan bahwa potensi ini tidak dapat diraih oleh genre musik Melayu Deli ini. Penilaian ini didasarkan atas eksistensi kesenian itu di dalam etnisnya masing-masing. 2) Instrumentasi dan konsep musikalnya telah mengadopsi unsur-unsur musik Barat. dan Melayu masih tetap dan belum mengalami perkembangan yang berarti. 4) karakter lagu dan melodinya mudah dicerna dan diterima oleh semua etnis. sekarang terjadi pemekaran pemerintahan yang beroreantasi kepada luas wilayah dan jumlah penduduk. posisi musik dan tari Melayu Deli yang didasarkan kepada konsep rentak sebagaimana pembicaraan di atas sangat potensial sebagai musik tradisi etnis Melayu yang bisa membangun komukasi sosial pada tataran pergaulan semua etnis (asli dan pendatang) Sumatera Utara di masa sekarang dan akan datang. Pesisir Sibolga. serta prospek keberlanjutannya di masa datang. Nias. Batak Simalungun. sehingga repertoar lagunya 213 . Oleh karena itu. akan terdapat etnis tertentu yang berada pada daerah kabupaten yang dominan didiami oleh etnis lainnya. 3) konsep pertunjukannya telah meminjam cara-cara pertunjukan musik populer. Beberapa alasannya: 1) teks lagu-lagunya menggunakan bahasa Melayu yang beranalogi dengan bahasa Indonesia. secara garis besar pembicaraan bagian ini akan terfokus kepada tiga fokus utama terhadap penggunaan kesenian tradisional –yang tetap dan yang berubah-. di antara masyarakat dari delapan etnis asli Sumatera Utara juga pergi merantau ke kota-kota propinsi ini bergabung dengan para perantau yang berasal dari etnis di luar Sumatera Utara.dalam komunikasi sosial kehidupan masyarakat Sumatera Utara dewasa ini. Batak Pak Pak Dairi. dijumpailah kondisi kehidupan kesenian pada masing-masing etnis secara homogen. karena terjadi kemandekan kreativitas para senimannya. Mengamati dinamika kehidupan delapan etnis asli Sumatera Utara dewasa ini. dan dalam perjalanan waktu. Dengan demikian.

mereka akan dikeluarkan (“ban”) dari gereja. maupun pada taraf nasional. Perubahan kondisi kehidupan kesenian yang cukup fenomenal terjadi pada etnis Batak Toba dan Batak Karo. Bandung: UPI. Dalam hal ini. Pembatasan dan larangan ini khususnya dikenakan pada masyarakat Batak Toba yang telah beralih (converted) ke agama Kristen. dan etnis lainnya. repertoir Gondang Sabangunan yang semata-mata untuk tujuan hiburan mempunyai garapan melodis yang lebih luas. 14 Rithaony Hutajulu. misalnya. musik gondang hanya boleh dimainkan pada acara-acara tertentu yang “hanya” berkaitan dengan aktivitas sosial. baik di tengah kehidupan etnisnya sendiri. Pembatasan biasanya dilakukan dengan adanya sejumlah kompromi. sehingga berdampak terhadap eksistensi kesenian etnis tersebut di tengah percaturan kesenian. Bahkan yang cukup mengiris perasaan. Konsekuensi yang diterima bagi anggota masyarakat Batak Kristen yang tetap melakukannya. Batak Karo. dan harus minta izin pada gereja.” Makalah. Alat musik Gondang Sabangunan sering ditambah dengan musik ringan. hal 11-12. perkawinan. Sejak saat itu berbagai pertunjukan tradisi gondang secara praktis dibatasi (restricted) dan dalam beberapa kasus dilarang (prohibited). 2002. bahwa pertunjukan Musik Melayu Deli dewasa ini adalah dihidupkan oleh musisi-musisi yang sebagiannya berasal dari etnis Minang. 214 . Sebaliknya. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara. ataupun pada kehidupan kota-kota Sumatera Utara yang heterogen. Sedangkan hal yang sama sekali dilarang adalah berbagai elemen ritual atau upacara terkait dengan kepercayaan lama (pra-Kristen). Misionarisasi Kristen di tanah Batak dimulai sejak tahun 1860an. terutama digunakan dalam aktivitas ritual keagamaannya14. misalnya dalam upacara adat. khususnya dalam penyembahan roh (“sipelebegu”).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF masih nomor-nomor sediakala yang telah usang. Rithaony Hutajulu menjelaskan proses perubahan eksistensi musik gondang dalam kehidupan etnis Batak Toba sebagaimana berikut. para misionaris Kristen memperkenalkan jenis ensambel musik tiup Barat (brass music) kepada masyarakat Batak Toba. Pada sisi lain. karena telah gagalnya semiman senior mewujudkan kaderisasi generasi mudanya. bahwa perubahan yang mendasar terjadi dalam dinamika keberlangsungan kehidupan tradisi seni gondang pada masyarakat Batak Toba dapat ditandai dengan masuknya agama kristen ke tanah Batak.

tetapi nilai-nilai estetika tradisional masih tetap dipertahankan. upacara adat di Batak Toba. 2. kematian. Margondang Adat. 215 . bila berhubungan dengan selera populer. untuk mencari dana pembangunan gedung. garantung lagu dan garantung bass. yang memiliki latar belakang musik Barat dengan karya eksperimentalnya. gereja dll. sebagaimana yang dinyatakan oleh Ritha Ony Hutajulu. 1994. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. masyarakat etnis Batak Toba telah menyikapi pergolakan sosio-seni yang terjadi dalam kehidupan beradat dan beragama mereka dari format lama ke dalam formulasi baru yang tidak menghilangkan konsep seni tradisinya yang asli. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. Margondang Hiburan. yakni menggabungkan/ mengakumulasikan semua jenis alat musik tradisi Batak Toba dalam format “orkestra. bahwa fenomena lainnya bisa dilihat adalah kreativitas dari Nortir Simanungkalit. Gaya seperti ini lazim dipakai mengiringi lagu daerah Batak Toba dengan kombinasi garapan melodis dengan pendekatan ’modern’. hasapi lagu (kecapi lagu). sebagai berikut: 1.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sarunai etek (sarunai kecil). Dengan demikian. untuk mengiringi pesta. hal 3-4. maka sesuatu modifikasi dalam bentuk kreativitas bisa terjadi. untuk mengiringi upacara pemberian nama. orang tidak punya anak. Margondang Pesta.” 15 Banggal Marpaung. Margondang Sibarang. untuk mengiringi upacara yang bersifat keagamaan. Contoh musik Gondang Sabangunan ditambah musik ringan mengiringi lagu-lagu disertai vokal dengan judul “Alai Badogem’15. Sebaliknya. 2. Margondang Religi. untuk pesta keagamaan/kepercayaan suku Batak Toba. sulim (suling). seorang pemusik/komposer Batak Toba. Buku Buklet. Tiga macam klasifikasi fungsi Gondang Batak Toba yang sekarang. orang tidak kawin. 3. Margondang Mamele. sebagaimana contoh berikut: Tiga macam klasifikasi fungsi Gondang Batak Toba yang dahulu: 1. Tangga nada yang dipakai jauh lebih luas. untuk mengiringi orang mati. 3. perkawinan.

sehingga disebut dengan “Kulcapi Orgen. Terdorong oleh kemajuan tekonologi elektronik. dan 3) memainkan lagu-lagu Barat dan populer Batak. tenor dan bass.” Ironisnya. tetapi dalam garapan harmoni Barat16. misalnya. 2) meluaskan peran musikal tiap alat musik berdasarkan peniruan standar orkestrasi Barat. Bandung: UPI. sehingga lahirlah paket musik pop yang bernama Pop Karmina (Pop Karo Minang). tetapi konsumen etnis Karo. maka seniman Kulcapi Karo yang terkenal bernama Jasa Tarigan membuat lompatan yang drastis dengan meninggalkan instrumen Kulcapi dan menukarnya dengan alat musik orgen yang mengadaptasikan karakter permainan melodi Kulcapi padanya. terinspirasi oleh permainan Kulcapi Orgen. 2002. perubahan yang cukup mencengangkan juga terjadi pada kesenian tradisional Batak Karo. bahkan kombinasi komposisi Kulcapi/Sarune Karo juga terjadi untuk musik Melayu Deli. Sebetulnya penggunaan spull-mic inipun sudah bermasalah terhadap originalitas akustik dari Kulcapi itu sendiri.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Beberapa hal yang ia kerjakan antara lain: 1) menstandardisasi laras/ tuning semua alat musik berdasarkan konsepsi musik diatonis Barat. Seniman Gendang Lima Sendalemen etnis Batak Karo membuat sesuatu yang kontroversial dalam masalah penggunaan instrumen Kulcapi. sehingga karakter bunyinya sudah terbias oleh rambatan bunyi spull-mic tersebut. membuat formulasi alat musik hasapi. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara. Walaupun kreativitas ini masih berada pada tataran eksperimen. Pada sisi lain. maupun dalam konteks musik populer Karo. Minang dan 16 Rithaony Hutajulu. baik dalam konteks upacara Guro-guro Aron dan upacara adat lainnya. senimanseniman pop Karo mengembangkan lagi sayapnya dengan memadukan karakter melodi Kulcapi/Sarune Karo dengan karakter melodi Saluang Minang sebagai aransemen musik pengiring lagu-lagu pop Minang. hal 16. sarune etek dan sulim berdasarkan tingkatan soprano. alto.” Makalah. permainan Gendang Lima Sendalemen plus Kulcapi Orgen mendapat sambutan baik oleh masyarakat Batak Karo. 216 . tidak dalam kaidah tekstural heterofonis tradisional. Permainan Kulcapi secara manual yang diperkeras suaranya dengan bantuan mic dikembangkan dengan penggunaan spull mic yang langsung dipasangkan pada badan Kulcapi tersebut. Selanjutnya. garantung.

Musik tradisional dari berbagai etnis asli Sumatera Utara yang tidak mengalami pergolakan kreativitas oleh seniman-senimannya ternyata eksistensinya masih tetap berada pada lingkaran kehidupan etnisnya sendiri sehingga tidak banyak diapresiasi oleh masyarakat urban kota-kota Sumatera Utara yang hetero217 .juga telah mendapat sambutan dari masyarakat urban kota di Sumatera Utara tersebut. tari Serampang 12 dari Melayu. Gendrang Goci dari Pak Pak Dairi. dan misi kesenian atas nama pemerintahan Sumatera Utara.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Melayu cukup mengapresiasi kehadiran kaset-kaset tersebut. Kesimpulan Berdasarkan studi kasus seni tradisi dan poluler yang terjadi di Sumatera Utara dalam membangun media komunikasi sosial di Sumatera Utara. ternyata karya-karya musik populer Batak Toba yang masih memiliki sentuhan aransemen musiknya dengan instrumentasi Gondang Sabangunan. Sehubungan hal di atas. Paket pertunjukan ini menghadirkan Gondang Sabangunan dan tot-tor dari Toba. khususnya bagi heterogenitas kota Medan. dan Tari Rantak dari Minang. Paket ini cukup mendapat perhatian dari pihak pemerintahan. Sordam dan Piso Surit dari Karo. sebetulnya usaha membangun komunikasi sosial antar etnis yang mendiami kota-kota di Sumatera Utara melalui kesenian tradisional telah digagas oleh Lembaga Kesenian Universitas Sumatera Utara (LK USU) dalam bentuk paket seni pertunjukan yang terdiri dari kombinasi nomor-nomor seni tradisional dari semua etnis (asli dan pendatang) yang mendiami kota Medan. Tari Martonun dari Simalungun. Melalui model paket seperti ini. sehingga paket yang khas LK USU ini telah menjadi model bagi pihak pemerintah dalam mengadakan resepsi-resepsi kesenian. Begitu juga lagu-lagu populer Batak Karo yang aransemen musiknya mendapat sentuhan Kulcapi Orgen dan Sarune Orgen –walaupun kuantitasnya tidak sebanyak musik Batak Toba-. Gondang Hasapi dan Uning-uningan telah dikonsumsi oleh masyarakat urban kota-kota Sumatera Utara yang heterogen. Ratoh dari Aceh. kesenian tradisional telah memberikan sumbangan yang cukup berarti terhadap bangunan komunikasi sosial. Dampak dari segala kreativitas seniman-seniman Batak Toba di atas. Sikambang dari Pesisir Sibolga. Gordang Sembilang dari Mandahiling. dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF gen. Paket-paket pertunjukan seni yang terdiri dari kombinasi materi seni dari etnis-etnis asli dan etnis pendatang di Sumatera Utara untuk mengisi berbagai jenis resepsi hiburan –terutama kota-kota-. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. cs. “Musik Melayu Nusantara dalam Era Globalisasi (Pelestarian dan Pengembangan). Fadlin. 2005.” Skripsi. Perubahan. 3. Buku Buklet. Shah Alam: UiTM Shah Alam. Kecamatan Silaen. Medan: USU. Medan: Etnomusikologi USU. penukaran instrumentasi dan konsep musikal ensambel musiknya terhadap konteks yang berhubungan dengan ibadah keagamaan sesuai dengan pengaruh visi dan misi tokoh-tokoh agama tersebut. Medan: Etnomusikologi USU. Malaysia. “Musik Melayu: Akar Budaya. 218 . dan melakukan penginovasian kesenian tradisinya untuk kepeluan hiburan masyarakatnya. Emmi Simangunsong. “Fungsi Musik Gondang Sabangunan dalam Upacara Ritual Parmalim Sipaha Sada di Desa Lumban Gambiri. “Studi Deskriptif Konstruksi dan Dasar-dasar Pola Ritem Gendang Melayu Sumaera Timur. kecuali oleh etnisnya masing-masing yang merantau ke kota tersebut. namun masyarakat Batak Toba telah menyikapinya dengan bijaksana. 2. 1988. Pada sisi lain. 1994. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. Daftar Pustaka Banggal Marpaung. “Tata Cara Adat Perkawinan Pesisir Sibolga. Fadlin.sebagaimana modelnya yang telah ditunjukkan oleh Lembaga Kesenian USU Medan. Walaupun permasalahan agama (Kristen) telah mengintervensi eksistensi kesenian tradisional Batak Toba terhadap konteksnya yang religius. 1996. adalah memiliki potensi yang sangat ideal lagi strategis sebagai media pembangun komunikasi sosial bagi masyarakat Sumatera Utara yang heterogen. Muhammad Takari. Etnis asli Sumatera Utara Batak Toba dan Batak Karotelah mengalami dinamika perubahan yang cukup fenomenal untuk era dewasa ini.” Skripsi. Hajizar. 1985. Etnis ini telah mengadakan peninovasian.” Laporan Penelitian. Akulturasi. Makalah. 1988. mereka masih tetap mempertahankan instrumentasi dan konsep musikal ensambel musiknya yang asli untuk keperluan yang berhubungan dengan upacara-upacara adat.

ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Medan: Etnomusikologi USU. Wikipedia Indonesia. Soegijo. 2004. Makalah. Medan: Etnomusikologi USU. Rithaony Hutajulu.” Makalah. ------------------------. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara.” Makalah. Medan: Panitia Pesta Budaya Daerah Sumatera Utara. Bandung: UPI. 1987.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dan Kontinuitas. 2002.” Makalah. “Tari dalam Konteks Budaya Melayu. 219 . ”Budaya Sumatera Utara dan Upaya Pembinaan-Pelestariannya.

M.. Aktif dalam penelitian dan pendiiakan mengenai Tari Minangkabau. Kelahiran Agam 17 Agustus 1952. 220 . Saat ini menjadi Dosen ISI Padang Panjang. Kar. Sumatera Barat dengan kepangkatan Lektor Kepala. S. Pernah menjadi Pembantu Ketua II ISI Padang Panjang. Nirwana Murni.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Hj.Pd.

. khidmat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Strategi Kemasan Seni Tradisi Sebagai Media Komunikasi Sosial di Sumatera Barat Nirwana Murni. Antara daerah satu dengan daerah yang lainnya memiliki cirri khas kedaerahan yang berbeda-beda. Sampai saat ini masyarakat Indonesia juga mengadakan upacara-upacara dalam berbagai bentuk dan dalam rangka tertentu.Kar. Seni pertunjukan yang diselenggarakan berkaitan dengan upacara masih dapat dijumpai di berbagai daerah. Ia tampil sebagai ungkapan kepentingan yang berlainan. upacara-upacara yang bersifat ritual merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Palembang merupakan sebuah wilayah kota madya yang berada di S 221 . Ada yang dilakukna dengan arak-arakan mengelilingi desa.Pd. S. Seni tradisional dimaksud adalah tari. Tetapi diantara bentuk-bentuk upacara tersebut ada bentuk upacara yang tergolong “seni pertunjukan”. M. Ada yang didahulukan dengan potong tumpeng disertai tepuk tangan dan nyanyian. Ada juga yang dilakukan secara khusuk. tenang tanpa ada suara bergaung. dan hal ini disebut dengan seni tradisional. Dosen Jurusan Seni Tari STSI Padang Panjang Pendahuluan eni pertunjukan dengan beragam jenis dan bentuknya dapat terkait dan hadir di dalam bermacam-macam kesempatan. Ada juga duduk bersama semalam suntuk sambil mendengarkan pantun atau puisi yang dilagukan. Tontonan. Mereka memiliki tradisi dan bentuk upacaranya sendiri sesuai dengan kebudayaan masing-masing.

tari sembah. Masyarakat di wilayah ini sebagian besar hidup dan mencari nafkah dalam pola budaya nelayan. Selain sembilan orang penari putri tersebut. Oleh karena itu hampir setiap penyelenggaraan upacara adat selalu dijumpai seni pertunjukan yang menyertai. dan seorang lagi bertugas sebagai penyanyi. Dari sisi koreografi tari Gending Sriwijaya merupakan sebuah sajian tari yang dilakukan oleh 9 orang penari putri dengan rincian. dan tari gending sriwijaya. termasuk di dalamnya adalah tari Gending Sriwijaya. yaitu suatu tempat di sekitar sungai musi di sebelah utara kota Palembang. Gerak tari yang lembut mengalun perlahan ditunjang dengan tata rias dan busana penari seperti pengantin wanita Palembang memberikan sentuhan emosional tersendiri. satu orang sebagai pembawa tepak (tempat berbentuk segi empat untuk sekapur sirih). Lingkungan istana mulai memelihara dan mengembangkan seni yang mengagungkan kebesaran raja. Dengan lahirnya Kedatuan Sriwijaya lahir pula kesenian di kalangan bangsawan. tari sitabih. Tari Gending Sriwijaya yang dikenal sebagai tari adat oleh masyarakat Palembang merupakan peninggalan masa itu dengan Hindu Budha sebagai agama masyarakat. 1975: 3). Pada tari ini unsur agama tersebut terlihat suasana keagamaan yang dibangun oleh gerak-gerak tari yang menggambarkan sebagai Budha tengah bersemadi (Leoni Wagirah.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Sumatera Selatan. tari ini didukung pula oleh dua orang pria/ garis panjang dan tombak. Struktur dan pola penyajian ini sangat teratur dan hierarkis. Volume gerak tangan dan kaki terkontrol cenderung membangun sebuah ciri karakteristik dan gaya putri halus. Palembang sebagai sebuah wilayah budaya di kenal dengan kerajaan Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan maritim di Sumatera pada abad ke-7 dengan pusat kedatuannya terletak di Bukit Siguntang. Keberadaan pada upacaraupacara adat yang bersifat komunal maupun individual dianggap penting. 1984: 13). Hirarki penari yang ditentukan berdasarkan kedudukan orang tua di dalam pemerintahan semakin menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terdapat di dalam tari ini mempunyai makna tersendiri. Kedatuan ini dikenal dengan nama kedatuan bukit yang menjadi penguasa tunggal daerah sebelah barat Indonesia pada masa itu (Depdikbub. Sebagaimana tari 222 . seperti tari penganten. dua orang pembawa peridonan kembar (tempat tepak) dan enam orang sebagai pengiring.

dua. Tanggai ini dipakai di jari kelingking. tengah dan telunjuk. Hal ini menyebabkan tari Gending Sriwijaya turut hilang bersama runtuhnya kesultanan ini.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI budaya yang memiliki penamaan pada setiap pelaku tarinya. Mereka adalah putra putri dari raja. Lagu ini melodinya diciptakan oleh M. terdiri dari putri-putri menteri. menceritakan kejayaan Sriwijaya di masa lampau. Pada baris terakhir yaitu nomor delapan dan sembilan adalah tingkat Asean Pak Sangkang yaitu putrid pejabat biasa dalam pemerintahan (Leoni Wagirah.R. Sedangkan oncer melambangkan kekayaan yang melimpah dari sungai musi yang membelah kota Palembang. tiga. sehingga tari bukan merupakan pusaka keratin yang tetap terjaga. pada Gending Sriwijaya juga ditemukan perbedaan penamaan itu. untuk ulang tahun raja. sedangkan liriknya digubah oleh Mungcek A. kedua. Tanggai adalah kuku panjang yang memakai rumbai disebut oncer.. Bentuk tanggai yang melengkung ke atas melambangkan perahu. Hal ini dimungkinkan karena pada masyarakat maritim di muara sungai dan laut 223 . mereka yang bukan keturunan raja umumnya tidak diperkenankan memakai pakaian pengantin Asean Gede (dadot Palembang). Pada masa lampau penentuan pakaian pengantin ini terjadi pula di masyarakat umum artinya. Ibu jari tidak bertanggai. dan pesta perkawinan anak raja. Pada baris berikutnya yaitu nomor enam dan tujuh adalah penari tingkat Asean Selendang Mantri. manis. Penari pada barisan pertama. Mungkin karena kerajaan maritim. Kuntowijoyo mengatakan bahwa pada masyarakat mungkin tipe-tipe kerajaan maritim dan komersial pusat kerajaan tidak begitu penting sehingga sulit dicari kesinambungan lembaga yang memproduksi kearifan simbolis (Kuntowijoyo. 1987: 13). Dahlan. Tari ini disebut Gending karena lagu pengiringnya berjudul Gending Sriwijaya. 1975: 32). Ciri lain yang terdapat pada tari Gending Sriwijaya adalah properti yang dipakai yaitu tanggai. empat dan lima adalah penari tingkat Asean Gede. Tinjauan Historis Sekitar tahun 1659 Palembang jatuh ke tangan Belanda. pusat kerajaan tidak begitu penting. dan ketiga yaitu penari nomor satu. Fungsi awal tari ini diyakini sebagai sajian pada waktu raja mengadakan pertemuan dengan seluruh kerabat sebelum melaksanakan pekerjaan berat.

Jepang membentuk sebuah organisasi musisi kesenian bernama Hodohang beranggotakan orang Jepang dan masyarakat Palembang. Dari uraian di atas maka tidak mengher224 . Berbeda dengan kesultanan laut. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa selama ada keraton. Sultan masih tetap memegang teguh konsep kekuasaan Ratu Gung Binantahara atau “raja yang di dewakan”. dan Kalimantan mempunyai cirri demokratis. bernilai tinggi. Dari uraian tersebut dimungkinkan bila tari Gending Sriwijaya sebagai hasil budaya kesultanan Palembang turut hidup bersama runtuhnya kesultanan ini. raja. Perjalanan sejarah dan wujud yang indah dari tari Gending Sirwijaya semakin mengukuhkan tari ini dianggap merupakan hasil dari sebuah lembaga budaya kerajaan yang diyakini menghasilkan budaya yang halus. bersama sama raja dan bangsawan memiliki modal (kapal) yang kadang-kadang berniaga sendiri atau mempercayakan modalnya kepada ahli-ahli perniagaan yang disebut syahbandar dengan hulubalang yang bertugas menjaga keamanan disebut Hang (Ensiklopedi Nasional Indonesia. Sumatera. kerajaan masih ada. di kerajaan agrarian kesatuan politik tetap ada selama masih ada pusaka-pusaka dan siti hinggil (tahta) masih berada di tempat suci. Dengan politik halus.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF seperti umumnya kerajaan-kerajaan di semenanjung Malaysia. maka pementasan tari ini harus mendapat izin khusus dari pemerintah. Sejak saat itu tari Gending Sriwijaya sebagai sebuah pertunjukan tari dipentaskan hanya pada penyambutan tamu agung dalam upacara kenegaraan sebagai ucapan selamat datang. Pada masa itu tari Gending Sriwijaya muncul lagi kepermukaan dan setelah kemerdekaan tari ini disahkan menjadi tari adat oleh pemerintah daerah. karena selain tidak ada lagi lembaga budaya yang mewadahinya. Golongan bangsawan. dan rakyat ikut serta dalam perniagaan. pada tipe kerajaan maritim pusat kerajaan tidaklah begitu penting sehingga tari bukan merupakan pusaka keraton yang tetap terjaga. Bahkan kerajaan yang fungsi politiknya telah dihapuskan seperti pada Sultan Hamengkubuwono VIII. 1990: 467). Dari sini dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara Kesultanan laut dengan Kerajaan agrarian yang melahirkan budaya keraton. karena perbedaan antara rakyat dengan penguasa pada dasarnya tidak besar. dengan hanya dalam bidang budaya. Bila tidak diacara kenegaraan. Tari ini muncul lagi pada masa penjajahan Jepang.

merupakan aib apabila tidak dapat menjamu tamu sebaik mungkin. 1998: 24-25).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ankan apabila tari Gending Sriwijaya terpilih oleh penguasa daerah sebagai identitas yang ditunjukkan guna kebanggaan daerah. Di daerah Pariaman Sumatera Barat juga ditemui seni pertunukan yang mereka sebut galombang seabgai bagian upacara pengangkatan penghulu suku. masyarakat Sumatera memiliki tradisi kuat untuk menghormati dan menjamu tamu sebagaimana seorang raja. Hal ini dikarenakan bila dilihat secara umum. pertama. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa orang yang seringkali didatangi tamu adalah orang yang sering dijadikan tempat bertanya bagi orang lain. bahkan Serampang Duabelas dijadikan “bomnya” tari Melayu pada peresmian hari kemerdekaan Republik Indonesia I tahun 1945 di Istana Negara Jakarta yang diresmikan oleh Presiden Pertama Indonesia Soekarno. Pada masyarakat Sumatera Utara kebanggaan mereka menerima tamu diwujudkan dalam bentuk tari Serampang Duabelas. Galombang ini di bawah 6 – 12 orang penari lakilaki dewasa dengan gerakan tertentu dan diiringi musik tambua. Tradisi seni pertunjukan galombang khas orang Pariaman dapat ditemui hampir disetiap daerah dalam wilayah kebudayaan Pariaman. Keduanya dipertunjukkan serentak dalam bentuk berlawanan. galombang tamu dan kedua galombang tuan rumah. sehingga ia terhormat karena ilmu yang dimilikinya atau karena kedudukannya yang menyebabkan tamu harus bertandang ke rumah tersebut. Kekhasan pertunjukan galombang dapat diamati dari dua sisi. sebagaimana yang selalu didengungkan pada masa lalu sebagai puncak budaya daerah yang pada akhirnya dianggap sebagai kebudayaan nasional. Bagi mereka. Pertunjukan ini biasanya menjadi bagian atau menempati posisi sebagai bagian dari pesta yang berhubungan dengan pelantikan pemimpin (penghulu) (Mahdi Bahar. disajikan dalam bentuk menyongsong tamu. Tamu yang dimaksud adalah 225 . Orang asing akan selalu menarik perhatian dari sebuah lingkungan homogen yang cenderung saling mengenal satu sama lain sampai pada keturunan mereka. kedatangan tamu merupakan suatu yang menjadi perhatian masyarakat sekitar. Pada sebuah perkampungan yang relatif sepi dalam rutinitas keseharian. Akan tetapi apakah usahan pensakralan yang dilakukan kaum birokrat telah pula menyentuh masyarakat Palembang sebagai penyangga budaya tersebut?.

Strategi Kemasan Seni Tradisi Strategi pelestarian warisan budaya berkenaan dengan dua aspeknya. Kenyataan di dalam masyarakat yang mendudukkan seorang penerima tamu (tuan rumah) setara dengan tamu yang hadir di rumahnya barangkali yang menyebabkan tari Gending Sriwijaya mensyaratkan bahwa tamu yang datang harus pula setingkat Gubernur.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF setiap rombongan penghulu suku yang datang dari persukuan dalam kenagarian di daerah mana upacara diselenggarakan (Hartati. Beberapa tari penyambutan tamu seringkali juga ditampilkan pada upacara perkawinan berkaitan dengan kenyataan bahwa kelompok besar adalah tamu yang datang dan masuk ke dalam lingkungan rumah dan keluarga besar. yang mengambil manfaat kearifan aktual dan kearifan simbolis yang menyatu (Kuntowijoyo. Ia memandang bahwa masyarakat teknokratis kita benar-benar sebagai sebuah masyarakat neo patrimonial. 1987: 14). dan 2) sumber daya manusia. Hanya dengan membuka peluang untuk kreativitas dan inovasi itulah kebudayaan dapat tumbuh semakin kaya dan 226 . kaidah-kaidah. Pendekatan lain yang perlu diambil untuk melestarikan warisan budaya adalah sosialisasi konsep-konsep. Pelestarian mempunyai makna bahwa di dalamnya terdapat dua aspek sekaligus. Dari sana terungkap kesan bahwa ada usaha dari pemerintah daerah untuk menempatkan diri pada posisi sebagai penguasa yang melegitimasi kedudukan mereka baik secara birokrat maupun simbolis. yaitu pemertahan dan dinamika. Dari tradisi ini tidak mengherankan bahwa tari-tari yang mengiringi penyambutan tamu tumbuh subur di daerah Sumatera. pola-pola. Kreativitas di dalam “tradisi” harus tetap diberi ruang gerak. Inovasi dan kreativitas perlu didampingkan dalam proses sosialisasi tersebut. Tampaknya kita secara umum memasuki masyarakat baru. sehingga merupakan kelompok orang yang sangat dihormati. dan nilai-nilai harus dilakukan terus menerus dari generasi ke generasi agar itu semua dapat lestari. yaitu 1) kelembagaan. 1997: 52). sebagai seorang yang memiliki kedudukan tertinggi pada struktur lembaga pemerintahan tingka I sebuah propinsi. masyarakat teknoratis yang memerlukan sejumlah rekayasa simbolis yang dikerjakan oleh birokrasi. Namun dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa pelestarian tidak harus berarti pembekuan. Disamping itu harus ditetapkan lebih dahulu apa tujuan dari pelestarian warisan budaya itu.

Mereka yang merupakan pelaku dan penerus nilai-nilai (pemimpin. karena pemerintah bertujuan membangun sektor ini sebagai bagian dari kebijakan pembangunan regional dan nasional. antara keberlanjutan dan perubahan. 227 . dan tempat pertunjukan harus disorot. sedemikian rupa agar jati diri bangsa senantiasa tampil dengan jelas dan tidak ditenggelamkan. siapa yang akan mulai yang mengkoordinasi semua tindakan yang diperlukan ini dan lewat mekanisme apa?. tidak terkecuali dalam peristiwa seperti kedatangan pejabat pemerintah atau orang terkemuka lain ke desa mereka untuk maksud hiburan. Kebutuhan yang sama juga muncul dari sektor turism. Berbagai upaya harus dilakukan yang memungkinkan berperannya tari Gending Sriwijaya adalah festival seni daerah pada perayaan 17 Agustus. Warga masyarakat yang demikianlah yang pada gilirannya mampu menjadikan bangsanya yang kuat juga dalam segi budaya. rekreasi dan penilaian artistik. Tetapi masih ada pertanyaan yang tertinggal. termasuk di dalamnya unsur pemerintah. di dalam kancah hubungan antar budaya yang selalu terjadi. Akibatnya. Melalui jalur pendidikan dan media massa pulalah masyarakat luas dapat dilayani untuk membuat dirinya menjadi masyarakat yang sadar budaya dan sadar sejarah. Untuk memenuhi kebutuhan ini adalah anggota masyarakat dalam berbagai perannya. iringan. Oleh pengaruh asing tertentu. Disamping mereka yang berperan sebagai pelaku dalam penerusan warisan budaya. yaitu khalayak ramai. Untuk mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan tersebut sisi artistik dari tari Gending Sriwijaya harus dipertimbangkan. Ini berarti bahwa semakin banyak pelaku seni pertunjukan yang dibutuhkan. Sekadar latihan dasar pertunjukan tidak akan cukup. konstum. adalah agar keseimbangan senantiasa dipertahankan. terdapat pula mereka yang berkedudukan sebagai penerima. Tari Gending Sriwijaya sebagai kebudayaan suku bangsa selalu berada dalam proses. gerak. 2008: 208). pola lantai.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI canggih dan sekaligus lestari oleh sebab daya hidupnya (Edi Sedyawati. pendidik formal dan non formal). Yang selalu harus dijaga oleh masyarakat pemilikinya. Latihan khusus dengan sentuhan professional dibutuhkan untuk menjamin pertunjukan dapat memenuhi standar artistic dan pada saat yang sama memberikan hiburan dan rekreasi. prinsip artistik dari seni pertunjukan seperti properti.

bila tari Gending Sriwijaya akan dijadikan salah satu daya tari turis ke desa-desa dan akibatnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal serta kesejahteraan sosial ekonomi mereka. yang lain senang berpartisipasi dalam aktivitas kultural dan kehidupan sosial masyarakat lokal (Zeppel. Untuk memungkinkan masyarakat desa dapat mengatur paket turis. Proses transmisi atau penyampaian pola-pola seni pertunjukan dari satu generasi kepada generasi yang lain dapat terjadi dengan disengaja dan dapat pula berlangsung tanpa disadari. untuk menarik lebih banyak lagi turis ke desa mereka. 1) tiruan dari asliya. Sedangkan bagi tipe kedua. elemen artistik tidaklah begitu penting. tetapi juga momen-momen artistiknya. termasuk durasi pertunjukannya. Kedua jenis kebutuhan ini harus dipenuhi dalam pengaturan paket turisme oleh masyarakat lokal di desa. rekreasi dan keterlibatan dalam pertunjukan yang lebih penting bagi mereka. aspek hiburan. Dalam kaitannya dengan tari Gending Sriwijaya. tipe turis yang pertama biasanya tidak hanya menikmati aspek rekreasi dan hiburan dari tarian itu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prospek Masa Depan Dalam hubungannya dengan turisme. Beberapa turis lebih senang menikmati tamasya kultural di pedesaan. bila paket turis diatur dengan baik. terutama yang berkaitan dengan warisan kultural penduduk lokal. penanganan hal yang berkaitan dengan elemen artistic seni pertunjukan tentu saja diperlukan. 1992: 4 – 6). Sebagai bagian dari upacara penyambutan tamu. kita harus mempertimbangkan kebiasaan para turis dalam mengunjungi desa-desa. maka tari Gending Sriwijaya tersebut masih dapat berfungsi seperti masa lalu. Langkah menuju pada. Dari sudut pandang fungsional. Dalam pandangan saya. 3) penuh variasi. 2) singkat atau padat. 4) ditanggalkan dari nilai-nilai sacral atau magis dan simbolisme. Aspek yang dialihgenerasi228 . serta 5) murah harganya (Soedarsono. Menurut Hermien Kusmayati. kontinuitas pelaksanaan seni pertunjukan ritual selain ditunjang oleh latar belakang yang berorientasi pada kebutuhan bersama juga dikuatkan oleh transmisi yang berlangsung. 2003: 15 – 17) sudah menunjukkan tanda-tanda mulai dilakukan. turisme akan menjadi mekanisme efektif untuk melestarikan dan mengembangkan seni pertunjukan tradisional.

Perkembangan turisme sangat menarik bila ia memperhatikan dimensi lingkungan dan sosial budaya. pelaku dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya (Hermien Kusmayati. kualitas penampilan dan makna sacral yang terwujud tentu akan lebih baik pula. sehingga secara perlahan-lahan akan mengurangi ketergantungan masyarakat lokal terhadap penggunaan sumber alam mereka secara ekstensif. diciptakannya bentuk baru seni pertunjukan bagi para wisatawan ini merupakan suatu dampak yang 229 . Diyakini ritual ini dapat dikembangkan menjadi objek turisme yang menarik di Sumatera Selatan. Hal ini baik bagi upaya konservasi lingkungan. susunan pemain dan pengiring yang lengkap. Karenanya ritual tradisional seperti Gending Sriwijaya sangat menarik. Mutu penampilan seni pertunjukan yang sudah mengalami pengalan-penggalan pada bagian-bagian tertentu tentunya tidak bisa diharapkan optimal. Disamping dampak yang nyata dan nilai tambah ekonomis tersebut. Ditinjau dari sisi karya seni pertunjukan. 1999: 10). serta dengan didukung oleh sarana musik dan penyiapan properti yang memadai. adanya upaya pengemasan seni pertunjukan untuk tujuan-tujuan pariwisata sering dinilai menimbulkan ekses negative terhadap keberadaan dan kelangsungan seni pertunjukan itu sendiri. Perkembangan seperti ini. maka rasa bosan akan cepat menghinggapi pamain. Kalau keadaan ini tidak cepat diantisipasi. Melalui turisme perkembangan Gending Sriwijaya dapat meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat lokal. Apalagi. misalnya pada saat penari berbaris dengan teratur dan hierarkis. penampilan seadanya yang itu-itu juga menyebabkan kesan monoton merebak ke permukaan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI kan meliputi materi atau bentuk. setting dan lokasi pementasan yang sepatutnya. Padahal bila ditampilkan secara utuh dengan durasi pementasan lebih panjang. kehadirannya yang terkemas dikhawatirkan bisa menimbulkan citra bahwa seni pertunjukan tersebut hanya “sedemikian saja kualitasnya”. ditunjang dengan tata rias dan busana penari seperti pengantin wanita Palembang memberikan sentuhan emosional tersendiri. juga akan meningkatkan penghargaan masyarakat lokal terhadap lingkungan alam serta warisan budaya mereka dan dapat meningkatkan kelestarian budaya dan konservasi lingkungan. Pariwisata dan Seni Pertunjukan Sebagai suatu perkembangan seni.

unik dan asli. baik formal maupun non formal. Apalagi dasarnya dampak teknologi canggih dalam bidang home entertainment yang menawarkan alternative seni budaya asing yang cukup menggoda bagi generasi penerus kita tampaknya mendesak untuk diantisipasi dengan cepat. Misalnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF positif. jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah melalui jalur pendidikan. dan menetapkan standar harga yang layak dan manusiawi bagi semua. perlu dilembagakan aturan-aturan main atau kode etik dalam mengantisipasi pesan. sehingga dapat disusun program paket pariwisata yang tidak saja berdampak meningkatkan nilai ekonomis tetapi juga berorientasi kepada pengembangan dan revitalisasi kesenian rakyat dalam rangka pelestarian jenis-jenis seni tradisi yang ada. Tantangan sekaligus juga harapan adalah bagaimana kita harus mempersiapkan alih generasi dalam rangka pewarisan semua yang telah kita miliki saat ini kepada anak cucu kita. Hal ini mengisyaratkan adanya pertumbuhan yang menjawab tantangan untuk berkreasi bagi para seniman seni pertunjukan. dari manapun datangnya. dapat dikaitkan dengan upaya rasionalisasi dalam rangka pemadatan yang bertujuan yakni melestarikan seni itu sendiri. Hanya masalahnya apakah hal itu perlu dilanjutkan kepada penciptaan bentuk-bentuk baru dengan keberanian untuk mengeksplorasi jenis-jenis seni pertunjukan yang selama ini belum tersentuh jamahan pariwisata. Peningkatan martabat sumber daya manusia di sektor seni pertunjukan dalam kaitannya dengan iklim persaingan yang sehat perlu direnungkan dan ditindaklanjuti sebagai upaya untuk menghindari eksploitasi para seniman oleh para pengusaha industri wisata. tari Gending Sriwijaya yang juga mempunyai potensi untuk digarap dan diperkenalkan kepada wisatawan yang datang dari jauh untuk menyaksikan sesuatu yang baru. Kalau sudah ada. Untuk jalur pendidikan formal. Bila perlu. Untuk itu. asosiasi seniman seni pertunjukan dibentuk. Sedangkan bagi upaya pengemasan bentuk yang sudah ada. Disamping itu upaya tersebut juga diarahkan kepada pengungkapan kekayaan khasanah budaya seni pertunjukan di panggung internasional (bagi para wisman) dan juga di panggung nasional (para wisnu). Hal ini perlu dipikirkan secara terpadu dengan sektor pariwisata terkait. harus dimulai persiapan sejak Sekolah Dasar dengan memberikan masukan lebh kepada porsi pengetahuan 230 .

baik bagi pelaku. sehingga mendukung peningkatan apresiasi masyarakat. Dengan menyikapi adanya tuntutan tersebut. kursus keterampilan dan sistem sanggar perlu digalakkan. Suatu diskusi untuk mencari alternatif masalah tersebut perlu digalang agar tema-tema “eksploitasi”. Kenyataan yang ada dan terjadi dalam lingkup seni pertunjukan Indonesia saat ini adalah hasil upaya antisipatif terhadap tuntutan yang ada dalam masyarakat yang terimplementasikan dalam bentuk-bentuk seni pertunjukan kemasan. Adanya dampak ekonomis dan tantangan untuk bersikap kreatif bagi pengembangan bentuk seni pertunjukan yang baru haruslah disyukuri dan ditingkatkan. yang dilakukan adalah menghimbau para eksekutif penentu kebijakan agar dapat menciptakan suasana “sadar kesenian rakyat” di kalangan eksekutif penentu kebijakan politik kebudayaan. 231 . dan pengelola industri itu sendiri. Apalagi. pemilihan topik studi. Dalam kaitannya dengan pertunjukan rakyat. hal itu kait mengait dalam suatu lingkaran keadaan yang kurang kondusif bagi pengembangan kesenian yang layak. baik yang bermakna positif. Penyikapan masalah ini harus dilandasi pemikiran maju yang berorientasi kepada pendekatan-pendekatan pragmatis bagi pemenuhan kepentingan segala pihak. sedangkan ekses negatif yang timbul ternyata berpulang kepada diri kita sendiri sebagai orang-orang kreatif yang terlibat. Pada tingkat Sekolah Kejuruan dan Perguruan Tinggi. Dampak yang timbul merupakan hasil proses sebab akibat. terutama pada pengisian mata pelajaran pilihan lokal di kurikulum pendidikan nasional. Pada jalur non formal. tiada jalan lain yang mungkin dilakukan. apresiasi siswa dapat ditingkatkan dengan mengadakan workshop dan pertunjukan di sekolah maupun di kampus-kampus. penikmat. Kunjungan siswa sekolah non kesenian ke kampus-kampus kesenian yang lebih tinggi sebaiknya perlu dilakukan untuk memperluas wawasan kesenian itu sendiri. Sekali waktu. sejauh menyangkut masalah pendidikan formal dan non formal. penelitian dan tugas akhir studi haruslah diarahkan kepada bidang kesenian rakyat tradisi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dan keterampilan kesenian yang ada. kita harus dapat lebih arif dan berupaya mencoba menghilangkan ekses tersebut. sejak Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah. maupun negatif. Meskipun hal ini merupakan masalah klasik dengan alternative solusi yang klasik dan terdengar klise.

kerja kreatif yang terjadi menjadi langka. kendati menepiskan makian. “derajat”. Kemiskinan kreatifitas ini tertutup oleh nama besar dan kesempatan yang telah didapat. “paling rendah”. Hermien Kusumayati. Serial Seminar Seni Pertunjukan Indonesia di Gedung Teater Tertutup Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta tanggal 9 – 10 Mei 1999. Daftar Pustaka Adat Istiadat Upacara Perkawinan Daerah Sumatera Selatan. tanpa izin dari pemilik asal atau niat kerja sama. “kurang bergengsi”. (Soerapto Soedjono. mungkin dari televisi atau foto-foto di koran. Konteks tradisi pun semakin pudar tanpa penghargaan. ketika orientasi mereka berubah dari sebuah pertunjukan upacara adat ke format wisata seni. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. Jajuk Dwi Sasanadjati. mereka dilibatkan untuk mengambil keputusan untuk menjual atau mempertunjukkan keseniannya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF “Sapi Perahan”. Bahkan. Kantor Wilayah Propinsi Sumatera Selatan: Proyek Pembinaan Kesenian Sumatera Selatan tahun 1990/ 1991. Deskripsi Tari Pangutan. Rakyat pemiliki kesenian itu sendiri hanya bisa melihat dari kejauhan. Bahkan. Ensiklopedi Nasional Indonesia jilid 4. Senja Ulang Pertunjukan yang Menghibur. 1990. sehingga muncul ke permukaan adalah dampak positif saja. Melibatkan rakyat dalam ekspresi komunal mereka ternyata bisa dilakukan. Jakarta: Cipta Adi Pustaka. : ). Dalam kasus tari Gending Sriwijaya. 1984. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Banyak karya tari baru yang dihasilkan oleh seniman-seniman besar mengambil ide dari tradisi rakyat dan menjadi sebuah garapan tari yang merangkai berbagai unsur-unsur motif gerak tari daerah secara semena-semena. ketika beberapa karya tradisional mulai laku dijual yang ada hanyalah tiruan dari kemasan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. karena di dalamnya terjadi suatu pertemuan yang menguntungkan kedua belah pihak. Ekspresi Jurnal Institut Seni Indonesia Yogyakarta: Seni: Kearifan dan Keunggulan Vol232 . dan semacamnya dapat dieliminasi dari lingkup seni pertunjukan yang kita cintai bersama ini. Nama-nama kesenian diambil tanpa rasa bersalah.

Jurnal Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia tahun VIII. 2008. Seni Pertunjukan Indonesia dan Pariwisata. tahun 5. Jurnal Institut Seni Indonesia Yogyakarta. 2006. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Lintasan Sejarah Budaya Sumatera Selatan Pusat Penelitian Lembaga Sosial Budaya Penelitian Univesitas Sriwijaya tahun 1997. Kusumo dan Arma (Kerja Kreatif Seniman Tradisional dan Modern). dan Ekonomi. 1997. 1987. Soedarsono. Soejono Soeprapto. Ekspresi. Sardono W. 2005 Koentowijoyo. Soedarsono. Ke Indonesiaan Dalam Budaya. Sedyawati Edi. Diyah Larasati. Jakarta: Wedatama Widya Sastra. Kecak Rina. R. buku 2. Kenyataan dan Harapan: Dampak Industri Pariwisata Pada Seni Pertunjukan. Seni Pertrunjukan dari Perspektif Politik Sosial. 2003. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2003. 233 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ume 14. Budaya dan Masyarakat Yogyakarta: Tesis Wacana.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Asril Muchtar adalah Sekretaris Program Pascasarjana dan dosen jurusan Karawitan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang. 234 .

190191. kepentingan penyelenggara dan kepentingan masyarakat penikmat. Namun terjadi sedikit perbedaan. Dalam peperangan ini Husein T 1 Fazl Ahmad. M.). yakni peristiwa perang Karbala Irak antara pasukan Yazid dari Bani Umayyah dengan rombongan Husein Bin Ali cucu Nabi Muhammad s. sementara di Pariaman sudah terjadi pergeseran waktu pelaksanaan dengan tidak lagi berpatokan pada tanggal 1-10 Muharam. 142. S. Meskipun berada di tempat yang berbeda.12.R Gibb dan J.A.. Adam Saleh (Djakarta: PT Sinar Hudaya.13. tetapi bisa menjadi dari tanggal 1-11. Upacara Tabuik terdapat di kota Pariaman. “Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di 235 . sedangkan Upacara Tabot terdapat di kota Bengkulu. Shorter Encyclopaedia of Islam (Leiden: EJ Brill. Periksa H. Husein Sjahid Agung.H Kamer (ed. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharam tahun 680 (61 H)1. Kedua ritual ini sama-sama dilaksanakan pada awal hingga paroh pertama (1-10) Muharam dalam kalender tahun Hijriyah. Periksa Asril.w.a.Hum. tetapi kedua ritual ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang sama. dan 14 Muharam—dengan perhitungan hari puncak upacara jatuh pada hari minggu. 1972). Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Latar Belakang radisi ritual berskala besar dan kolosal yang dimiliki masyarakat pantai bagian Barat Sumatra adalah Upacara Tabuik dan Upacara Tabot. 1974).Kar.. Sumatra Barat. Pergeseran ini agaknya ingin mengadopsi dua kepentingan yakni.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Upacara Tabuik dan Tabot di Pesisir Barat Sumatra Asril Muchtar. di Bengkulu Upacara Tabot masih tetap dilaksanakan dari tanggal 1-10 Muharram. Terj.

Kedua kelompok ini seolah-olah menggambarkan dua kubu yang berperang. 51. Penafsiran ini berimbas pada bentuk upacara. Akan tetapi. Uniknya. seperti yang masih dapat kita jumpai di kawasan pantai barat Sumatra adalah Upacara Tabuik dan Upacara Tabot. Akan tetapi. dan pelaksanaan upacara. dan Hasan Bin Ali (kakak Husein). Kebesaran namanya dan penghormatan terhadapnya dilakukan oleh kalangan umat Islam dari penganut Syi’ah dari seluruh dunia. Sementara di Bengkulu tabot ditafsir dari mimpi seorang leluhur keturunan tabot saat bermimpi di Karbala. Bentuk penghormatan itu di kawasan Timur Tengah diwujudkan dalam pertunjukan drama bergaya sufi yang menyajikan kronologi penderitaan yang dialami oleh Husein. Peristiwa Karbala bisa menjadi seperti legenda. spirit upacara. Kematian Husein meninggalkan duka yang mendalam bagi penganut Syi’ah. Di Pariaman pelaksanaan Upacara Tabuik dilakukan oleh dua kelompok pendukung tabuik. Misalnya. Husein bagi kalangan penganut Syi’ah dianggap Imam ketiga setelah ayahnya Ali Bin Abi Thalib. Tesis S2 UGM Yogyakarta. yang memiliki unsur seperti piramid--kemudian disebut tabot. Mimpi itu kemudian diwujudkan dengan bentuk menara setinggi sekitar 5-6 meter. Di Bengkulu pelaksanaan Upacara Tabot juga terdiri atas dua kelompok tabot yaitu kelompok tabot berkas (tabot tuo) dan kelompok tabot bangsal. di Pariaman tabuik diwujudkan dalam bentuk sebuah benda atau menara yang dibuat setinggi sekitar 10-12 meter dan pada bagian tengahnya dibuat seekor buraq. yaitu patung kuda bersayap berkepala wanita yang dianggap sebagai kendaraan yang membawa arwah Husein. 2002. 236 . bentuk upacara dan perayaannya di masing-masing daerah tidak semata-mata bertolak dari peristiwa perang Karbala. mereka melakukan “pemitosan” sejarah perang Karbala dengan menafsirkannya sendiri rasa simpati terhadap Husein sesuai dengan versi daerah masing-masing. dan tak terkecuali juga dari Islam Sunni di berbagai kawasan Asia Tenggara. Benda ini kemudian disebut tabuik. Sementara di tempat lain ditafsir pula berdasarkan kekuatan budaya lokalnya. masing-masing kelompok tabot memiliki Pariaman Sumatra Barat”.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan pasukannya mati terbunuh kecuali beberapa perempuan dan anakanak. termasuk di berbagai tempat di Indonesia. benda upacara (tabuik dan tabot). Ia melihat bangunan istana raja berbentuk piramida. yaitu tabuik pasa dan tabuik subarang. Masing-masing hanya menggunakan satu tabuik gadang (tabuik besar).

struktur atau kronologi upacara. Upacara tabuik dan Upacara Tabot sudah menjadi identitas budaya bagi masing-masing daerah. Seiring dengan perkembangan zaman. Di Pariaman misalnya. setiap perayaan upacara ini tidak kurang dihadiri oleh 200-an ribu orang dari berbagai daerah sekitarnya. ataupun berubah secara parsial.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pula anggota tabot pendukungnya. sehingga jumlah tabot yang digunakan dalam upacara bisa mencapai 12 buah atau lebih2. mampu memobilisasi masyarakat untuk menyaksikannya. 61. sehingga menjadi kolosal. Versi lain menyebutkan. bahwa upacara tabut berasal dari India dibawa ke Bengkulu oleh Imam Senggolo--seorang pemuka Islam yang dikenal pula dengan nama Syeikh Burhanuddin. Kemudian seorang to2 3 Badrul Munir Hamidy (ed. upacara tabot pada awalnya merupakan upacara berkabung kaum Syi’ah yang dibawa ke Bengkulu orang Sipahi yang bekerja membangun benteng Marlborought. 1991/1992). Menurut Hamidy. telah turut pula mewarnai “wajah” perkembangan upacara. kemudian diwariskan kepada keturunan mereka dan keturunan mereka hasil asimilasi dengan warga setempat3.. dan spirit yang dimunculkannya terdapat perbedaan-perbedaan yang signifikan. Misalnya dari ritual ke sekuler. Margaret Kartomi berdasarkan legenda yang berkembang di Bengkulu menceritakan. Kedua kelompok tabot di Bengkulu tidak secara tegas dan terbuka sebagai gambaran dua kubu yang sedang bertentangan. 13-14. Upacara Tradisional Daerah Bengkulu: Upacara Tabot di Kotamadya Bengkulu (Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Depdikbud. pelaksanaannya. tetapi bentuk upacara. Dalam setiap penyelenggaraan upacara ini di masing-masing kota.). Interpretasi Masyarakat dari Perang Karbala ke Upacara Kendatipun Upacara Tabuik dan Upacara Tabot sama-sama berasal dari peristiwa perang Karbala. Bahkan masyarakat yang menyaksikan upacara itu secara tidak langsung terlibat sebagai bagian dari pendukung upacara. perubahan kecenderungan selera dan perilaku masyarakat dan berbagai perkembangan politik. Ibid. Mereka berasal dari Madras India. Perbedaan ini muncul karena adanya interpretasi masyarakat terutama para pendukung dan keluarga tabuik dan tabot. 237 .

Azyumardi Azra mencatat bahwa tabuik masuk ke pantai barat Sumatra antara tahun 1750-8256. 4 5 6 7 8 Margaret J.. Snouck Hurgronje memperkirakan bahwa tabuik berasal dari India dan masuk ke Sumatra diperkirakan pada abad XIV. Iran membuat ikatan budaya yang kuat dengan India melalui berbagai penguasa Syi’ah di India Utara dan India Selatan. 1914).. Periksa juga M. 1986). 142.a Shiah Ritual Tranplanted from India to Sumatra”. Melihat pada bentuk tabuik yang ada di Pariaman. Bentuk yang seperti ini ditemui di India Selatan. Color and Symbolism in Islamic Architecture: Eight Century of the Tile Maker’s Art (London: Thames and Hudson Ltd.. sedangkan tabot Bengkulu tidak memiliki buraq. “Nadere gegevens omtrent het Hasan¬Hoesain feest”. Masa kontak budaya ini menjadikan ta’ziah atau tabut dari Iran.. Berdasarkan keterangan Snouck Hurgronje di atas. Houtsma. dan untuk membantu menduduki bentengnya di Bengkulu5. Azyumardi Azra. “Syiah di Indonesia: Antara Mitos dan Realitas” (pengantar) dalam A. S.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF koh Islam yang bernama Kadar Ali membawa tabut itu ke Pariaman4. Chandler dan M. Monash University. diduga karena hikayat Ali Hanafiyah yang menceritakan tentang kematian Husein. Syiah dan Politik di Indonesia: Sebuah Penelitian (Bandung: Mizan dan PPW-LIPI.) Nineteenth and Twentieth Century Indonesia. kuat dugaan tabuik diperkirakan masuk ke Pariaman pada akhir abad XVII. tabuik masuk ke Sumatra pada akhir abad XVII. 334-335. salah satu ciri terpentingnya yang sangat berbeda sekali dengan tabot Bengkulu adalah buraq. Kartomi.. cit. ketika Inggris membawa pasukan Sepoy India (orang Sipahi atau Cipai) yang berusaha menguasai pesisir pantai Barat Sumatra. sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu pada masa itu. 2000). l44. Ethnography of Muhammadan 238 . sekarang berkembang pula dengan memakai jilbab yang diidentikkan seperti burung raksasa. Kartomi. diterjemahkan oleh Hartoyuwono. Periksa Ph. 21.). Buraq termasuk binatang mitologi yang hanya ada dalam konsep pikiran saja. Land--. et al. Perkiraan kedua. en Volkenkunde (Batavia: Albrecht & Co. Michael Barry. oleh karena baru pada abad XVI sampai XVIII. et al. op. van Ronkel. dulu berambut panjang. Kecepatan terbangnya seperti kilat. dalam David P. 1996). dalam Tijdschri ft voor Indische Taal--. “Tabut . Th. Ricklefs (ed. Rahman Zainuddin dan M.C. (Clayton: Centre of Southeast Asia Studies. The Encyclopaedia of Islam: Dictionary of the Geography. Hamdan Basyar (ed. 284. Cerita tentang buraq sering dikaitkan dengan peristiwa isra’ dan mi’raj Nabi Muhammad8. Buraq itu bentuknya seperti kuda bersayap berkepala wanita. berkembang dan memiliki kesamaan dasar di India7.

. tiba-tiba datanglah sebuah arak-arakan dari langit yang terdiri dari para malaikat dan seekor buraq. Setelah arak-arakan itu mendarat di lokasi Husein terbunuh. 793. 1913). 10 Parsi Tanjung. ketika Upacara tabuik masih dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten Padang Pariaman. dan mereka memohon kepada malaikat ikut bersama jenazah Husein. yang tidak bisa diPeoples (London: Luzac and Co. Dalam perjalanan menuju langit. Sebagai pertimbangan lain. Setelah Husein terbunuh dengan kondisi tubuh dicincang oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. 63. 145-146.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI seperti di Dekkan.. Jadi kemungkinan besar tabuik Pariaman berasal dari India Selatan tidak melalui Bengkulu. Ungkapan mitos ini juga dimuat dalam leaflet pariwisata Kabupaten Padang Pariaman. para malaikat memasukkan bagian tubuh Husein ke dalam peti yang ada di punggung buraq. Setelah itu mayat Husein dan para pengikutnya dikuburkan di Karbala. para malaikat mencium adanya bau manusia dalam rombongan tersebut. dan selanjutnya arak-arakan itu lepas landas menuju langit. Rupanya mereka prajurit Husein yang selamat yang berasal dari Cipahi (Keling) bergantung pada arak-arakan itu. dan arak-arakan itulah kini yang disebut dengan tabuik10. Tesis S2 UGM Yogyakarta. Periksa Asril. yang sangat berbeda. “Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di Pariaman Sumatra Barat”. 26 Juni 1994). antara tabuik Pariaman dengan tabot Bengkulu masing-masing memiliki mitos sendiri-sendiri. Pesta Kolosal Anak Nagari Piaman”. Kemudian malaikat itu memberikan nasehat agar orang Cipai itu dapat melaksanakan arak-arakan tersebut seperti yang dilihatnya. pada hal itu adalah fakta sejarah yang terjadi di Karbala. 9 Ibid. dan Delhi yang disebut pula dengan tabut atau buraq9. tetapi malaikat tidak mengizinkannya. Lucknow. Akan tetapi masyarakat Pariaman membuat rekayasa sendiri yang bersifat imajinatif. “Tabuik. Atau mungkin saja masuknya tabuik ke Pariaman dan Bengkulu dalam kurun waktu yang bersamaan. dengan datangnya arak-arakan para malaikat beserta buraq membawa jenazah Husein terbang ke langit. 239 . Singgalang Minggu. 2002. Mitos di atas dimulai dari kematian Husein oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Mitos ini yang menjadi ilham dalam mewujudkan bentuk fisik tabuik dan tabot itu. Adapun mitos tabuik Pariaman adalah sebagai berikut.

Seseorang yang bernama Natsal. Setelah kejadian itu. menemuinya dan menanyakan masalah apa yang dihadapi oleh Natsal. Namun ketika mereka membuat tabuik. ia pergi ke Mekkah memohon ampunan dari Allah di Ka’bah atas perbuatan buruknya itu. kilat menyambar ke segala arah dengan suara yang menakutkan. akan tetapi pada saat yang sama ia mendengar guruh. Natsal menyesali perbuatannya. Dalam keadaan sadar Natsal melihat bagaikan dalam mimpi sebuah istana raja berbentuk piramida muncul di sepanjang tempat itu. lalu Ja’far memberikan jawaban kepadanya. Natsal melihat wajah Nabi Muhammad. untuk memberi tanda perbuatan burukmu bukan hanya wajahmu yang tetap hitam. pembantu Husein mengetahui bahwa di dalam ikat pinggang Husein tersimpan sebuah intan atau jimat yang berharga. mereka bisa mewujudkan arak-arakan malaikat dengan buraq dalam mitos itu seperti Upacara Tabuik yang ada sekarang. bahwa dosa Natsal bisa diampuni dengan syarat ia dan keturunannya setiap tahun harus mengenang dan memperingati kematian Husein melalui suatu 240 . Berbeda pula dengan tabot Bengkulu. berilah jalan Nabi Adam. kedua tangan Husein bergerak-gerak menolak tangan Natsal. Nabi Ibrahim. Ketika Natsal membuka pakaian Husein untuk mengambil barang itu. Siti Fatimah. mitos tabot dilukiskan sebagai berikut. mitosnya juga berawal dari tragedi Karbala. Melihat kejadian itu Natsal berbaring di tanah. tetapi keturunanmu akan dilahirkan dengan wajah hitam. Mayat Husein yang tanpa kepala ditinggalkan di padang Karbala. Kemudian ia mendengar kata-kata. disertai lantunan iramairama yang harmonis. lalu Nabi menampar wajah Natsal dengan mengucapkan kata-kata. dan Nabi Muhammad datang memberikan penghormatan kepada Husein. Nabi Musa. Natsal kemudian menebas tangan mayat Husein. Berdasarkan catatan yang dibuat oleh penguasa Belanda di Bengkulu pada akhir abad ke-19. Nabi Isa.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF hubungkan dengan fakta. Menurut Natsal lebih baik ia mengambil barang itu. dari pada diambil atau dirampas oleh orang lain. Natsal menjelaskan semua kejadian yang ia alami. Pada saat ia berdoa Ja’far Ibnu Muhammad Siddik seorang ulama yang sedang mengelilingi Kabah.

kemu11 O. 12 Ibid. sebagaimana bentuk tabot yang ada di Bengkulu saat ini.. memberikan gambaran bahwa orang-orang Cipai yang datang ke Bengkulu dan ke Pariaman. Bentuk Upacara Upacara Tabuik dan Upacara Tabot terdiri atas beberapa ritus atau rangkaian upacara yang pada dasar memiliki kesamaan. L. kemungkinan berasal dari daerah yang berbeda di India dan datang dalam kurun waktu yang sama atau berbeda. M. namun dalam perkembangan sekarang sudah ada pula tabot yang memakai buraq13. Mereka menganggap Natsal sebagai leluhurnya. dalam Internationales Archiv fur Ethnographie (Leiden: Verlag von P. Berdasarkan mitos itu. “Het Hasan-Hosein of Taboet-Feest te Benkoelen”. 192-193. 13 Zelly Marissa Haque. Upacara ini dilaksanakan pada tanggal 01 Muharam pada sore hari selesai salat ‘Ashar. Natsal yang disebut sebagai pembantu Husein hanyalah sebuah rekayasa saja. Mengenai bentuk tabot keturunan Natsal membuat seperti menara yang memiliki unsur piramida. sehingga menjadi kewajiban bagi mereka melaksanakan upacara tabot secara khidmat setiap tanggal 1-10 Muharram setiap tahun. et al. Skripsi (Padangpanjang: STSI. 1888). meskipun ada beberapa perbedaan. tabot di Bengkulu tidak memiliki buraq. W. (2) Upacara maambiak batang pisang (mengambil batang pisang) merupakan prosesi ritual mengambil dan menebas batang pisang yang dilakukan di masing-masing tempat upacara. untuk menebus dosa-dosa Natsal. Ritus-ritus yang terdapat dalam Upacara Tabuik adalah sebagai berikut. 2009). 22. 241 . begitu juga mimpinya. (1) Upacara maambiak tanah (mengambil tanah) merupakan prosesi ritual mengambil tanah ke sungai yang menggambarkan pengambilan mayat Husein yang masih tertinggal di Karbala. Helfrich. sebagai hasil penafsiran mereka terhadap mimpi Natsal di Karbala12. “Perkembangan Musik Dol di Kota Bengkulu”. Akan tetapi nama Natsal sangat dihormati oleh orang-orang Cipai Bengkulu termasuk para serdadu Cipai. Trap.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI upacara yang khidmat11. Berpedoman pada dua mitos di atas.

15 Dalam pembuatan tabuik Pariaman dilakukan atas dua bagian. sebagai gambaran 14 Daraga adalah areal yang dimitoskan sebagai tempat makam Husein. sedangkan pangkek ateh (atas) terdiri atas bungo salapan. Upacara ini dilaksanakan dua hari menjelang upacara puncak. Upacara tabuik dibuang ke laut merupakan upacara terakhir berupa prosesi membuang tabuik ke laut.30. Upacara maarak sorban merupakan prosesi mengarak sorban (penutup kepala) sebagai gambaran setelah menemukan sorban Husein. Upacara ini menggambarkan saat-saat Husein dipancung oleh tentara Yazid. pada malam hari (pukul 20.00). Pangkek bawah adalah kaki tabuik dan buraq. Kandang tabuik dapat pula dibuat terpisah dari daraga. Upacara ini dilakukan pada malam hari setelah upacara mahatam.00-16. Upacara maoyak tabuik merupakan upacara puncak dari seluruh rangkaian Upacara Tabuik. selanjutnya dikumpulkan di suatu tempat. Setiap bagian disebut dengan pangkek. Upacara ini dilaksanakan sekitar pukul 12. kemudian dibawa ke daraga.00. Upacara ini dilaksankan pada tanggal 05 Muharam mulai dari sore hingga sekitar pukul 21.00-22. Jika lokasi memungkinkan. 242 . Upacara ini menggambarkan jari-jari Husein yang berserakan di Karbala. Upacara tabuik naiak pangkek adalah penggabungan pangkek 15 (bagian) bawah dengan pangkek atas badan tabuik yang sebelumnya dibuat secara terpisah. Upacara ini dilakukan pada tanggal 06 Muharam (dapat menyesuaikan dengan rentang waktu upacara) pada malam hari sekitar pukul 19. Upacara mahatam merupakan penurunan jari-jari dari rumah tabuik (keluarga tabuik). Upacara ini dilaksanakan pada pagi hari (subuh) pada hari puncak upacara. biliak-biliak. Upacara maradai merupakan prosesi yang bertujuan mengundang simpati masyarakat guna menyumbang dana atau apa saja yang bisa membantu biaya pembuatan tabuik. Upacara ini dimulai dari pukul 11. dan lain sebagainya. di sekitar daraga juga dibuat pondok tempat membuat tabuik yang disebut dengan kandang tabuik.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) dian dibawa ke daraga14.00.00-14. puncak tabuik. yaitu bagian atas dan bagian bawah.00. Upacara maarak jari-jari adalah upacara berupa prosesi mengarak jari-jari dengan melintasi berbagai kampung sebagai gambaran keganasan tentaraYazid.

Pada masa lalu di Pariaman tanggal 2-4 Muharam disebut dengan hari gam. Penja adalah benda berbentuk telapak tangan manusia lengkap dengan jari-jarinya. Peserta meradai disebut jola. namun sudah banyak yang tidak tahu lagi tersebut.00 dengan menempuh rute yang telah ditentukan. berjalan mengitari kampung dilakukan oleh anakanak usia 10-12 tahun dalam rangka pengumpulan dana untuk pembuatan tabot. kemudian tanggal 06 Muharam kelompok tabot berkas mengunjungi kelompok tabot bangsal.00-23.. Adapun ritus-ritus yang terdapat dalam Upacara Tabot menurut Hamidy sebagai berikut. (3) Menjara artinya mengandun atau berkunjung mendatangi kelompok tabot lain untuk beruji dol (bertanding membunyikan dol). Meradai dilaksanakan pada tanggal 06 Muharam dari pagi sampai sore. Masa jeda antara upacara maambiak tanah dengan upacara maambiak batang pisang. maka harus dicuci dengan air bunga dan air limau [jeruk] setiap tahunnya. 16 Asril. (5) Arak penja: atau disebut juga arak jari-jari dilaksanakan pada tanggal 08 Muharam mulai pukul 19. Upacara ini dilaksanakan dari pukul 16. Penja menurut keluarga Sipai adalah benda keramat yang mengandung magis. Pelaku upacara adalah anakanak dan remaja. Setelah dicuci penja diletakkan di gerga17.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengantarkan jenazah Husein ke pemakaman.00.00-21. Tanah yang diambil adalah tanah yang dianggap mengandung nilai magis. Op cit.3016. (2) Duduk penja (jari-jari). 66-67. (1) Mengambiak tanah (mengambil tanah). di masing-masing rumah tabuik dan kandang tabuik dilakukan kegiatan pembuatan tabuik dan permainan gandang tasa (musik pendukung Upacara Tabuik). Tidak ada terjadi perkelahian.00-18. 17 Gerga adalah pusat kegiatan tabot. Acara dimulai di lapangan Merdeka Bengkulu (lapangan Tugu Propinsi) dan selesai kembali di lapangan Tugu Propinsi. Menjara dilakukan pada malam hari dari pukul 20. 243 . (4) Meradai. Penja disebut juga dengan jari-jari. Menjara dilakukan dua kali yaitu pada tanggal 05 Muharam oleh kelompok tabot bangsal ke kelompok tabot berkas.

tabot-tabot dibariskan seperti bershaf.00. Gam dimulai dari pukul 07. pelopor upacara tabot.00. (7) Gam: yaitu masa tenang yang ditentukan tidak boleh ada kegiatan apapun yang berkaitan dengan tabot. Selesai ritual tabto tebuang. yaitu tabuik pasa dengan pusat aktivitasnya di Kampung Perak. meskipun gerusan perubahan ke arah mempertipis nilai tetap saja terjadi. Op cit.00-21.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF (6) Arak serban: dilakukan pada tanggal 09 Muharam pada malam hari dari pukul 19. berupa makanan. Pasir. Pelaku utama upacara itu terdiri dua tabuik.00-16. Arak serban berupa prosesi membawa serban (sorban) putih yang diletakkan pada tabot coki (tabot kecil). dan tabuik subarang dengan pusat aktivitasnya di Kampung Pondok. Selama acara tabot besanding berbagai hiburan dan kesenian rakyat ditampilkan untuk menghibur para pengunjung. sehingga disebut pula dengan tabot besanding. 244 . Upacara tabot tebuang dipimpin oleh dukun tabot dan dipandang bernilai magis. Di makam ini dimakamkan Imam Senggolo. Menyatunya kelompok-kelompok tabot dalam satu arak-arakan ini disebut dengan arak gedang (pawai akbar). minuman.. dan pasar Pariaman (bekas nagari Pasar Pariaman).00 arak-arakan tabot menuju Padang Jati dan berakhir di kompleks pemakaman umum. hijau atau biru yang bertuliskan “Hasan dan Husen” dengan kaligrafi Arab. Cara ini menampakkan bahwa di Bengkulu nilai ritual dan sakral masih dipertahankan. Kampung Jawa. 66-73. dilengkapi dengan bendera atau panji-panji berwarna putih. Karabela. hampir semua ritus upacara yang dilakukan menggunakan sesajen.00-21. dan berbagai kembang dan limau (jeruk). Di Bengkulu. Kampung Cina. 18 Hamidy. sekitar pukul 11. tabot-tabot itu dibuang ke rawa-rawa di sekitar makam18. Sesampai di Lapangan Merdeka. (8) Arak gedang: yaitu prosesi kelompok tabot yang dimulai dari markas masing-masing menuju Lapangan Merdeka. Upacara Tabuik termasuk upacara yang berdimensi keras dan bersifat kolosal. (9) Tabot tebuang: upacara tabot tebuang dimulai dari Lapangan Merdeka.00. Upacara dimulai pada pukul 19.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

dan Jawi-Jawi (bekas nagari Lima Koto Air Pampan). Kedua tabuik ini menggambarkan dua kelompok yang sedang berseteru. Bisa dianalogikan dengan pasukan Husein dan pasukan Yazid yang sedang berperang di Karbala. Walaupun sesungguhnya masing-masing pendukung tabuik itu sama-sama “mengagungkan” dan merayakan peringatan kematian Husein, dan tidak satu pun yang berperan sebagai pasukan Yazid. Akan tetapi antara satu dengan lainnya saling tuding menjadi lawannya. Ini memang aktivitas budaya yang direkayasa untuk itu. Bentuk-bentuk kekerasan itu muncul, seperti mengadu tabuik, caci maki dalam bahasa kasar, sindiran dalam bentuk sarkasme, dan perkelahian massal di antara kedua belah pihak. Namun sekarang sindiran dan caci makian dalam bahasa kasar sudah mulai hilang. Bentuk kekerasan itu muncul pada upacara maambiak batang pisang, maarak jari-jari, maarak sorban, dan tabuik dioyak. Perkelahian itu dianggap sebagai bagian penting dari upacara. Perkelahian merupakan luapan dan puncak atau klimaks dari konflik-konflik yang ada selama upacara. Tanpa ada perkelahian maka upacara dianggap “dingin”, karena bagian ini merupakan salah satu daya tarik pengunjung dan para perantau Pariaman untuk menyaksikan Upacara Tabuik. Bagi para pengunjung jika tidak melihat bagian upacara yang menyajikan permainan keras, dianggap belum menyaksikan Upacara Tabuik. Bagi mereka yang mengerti dengan Upacara Tabuik, dalam kerangka fantasi fikirannya sudah terpola akan menyaksikan perkelahian dan bentuk permainan keras lainnya. Perkelahian massal itu setidaknya bisa terjadi dua kali, yaitu pada upacara maambiak batang pisang dan upacara maarak jari-jari atau maarak sorban. Meskipun dalam pelaksanaannya bisa saja tidak terjadi seperti itu, tetapi biasanya satu kali akan dilakukan, terutama pada upacara maambiak batang pisang, karena upacara maambiak batang pisang merupakan gambaran penebasan dengan pedang di peperangan. Pada masa lalu korban-korban perkelahian dalam Upacara Tabuik tidak merasa dendam dengan kejadian itu, walaupun mereka tahu orang mencedarainya. Mereka menerima dengan keikhlasan dan dianggap sebagai pengorbanan, yang belum seberapa nilainya jika dibandingkan dengan pengorbanan Husein. Mereka yang berjiwa seperti itu memiliki pemahaman dan penghayatan yang dalam terhadap upacara yang dilakukan. Selain itu, para ninik mamak dan tokoh masyarakat dapat meredam dan merangkul kedua belah pihak untuk berdamai, serta
245

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

memberikan pengertian tentang insiden yang terjadi merupakan bagian dari Upacara Tabuik. Bahkan setelah mereka berkelahi, lalu mereka berkumpul bersama, makan, dan minum bersama bagaikan tidak terjadi sesuatu. Upacara Tabuik yang bersifat kolosal terutama sekali dapat dilihat pada saat tabuik dihoyak dan tabuik dibuang ke laut. Kedua upacara itu dilaksanakan pada hari yang sama. Para pengunjung atau pelayat datang dari berbagai pelosok daerah menyaksikan upacara. Jumlah mereka diperkirakan sekitar 200-an ribu orang19, sehingga memadati areal wisata Pariaman seperti, Pantai Gandoriah, stasion kereta api, areal sekitar pasar Pariaman. Kartomi pada saat melakukan penelitian pada tahun 1982 pernah mencatat jumlah pengunjung atau pelayat yang menyaksikan Upacara Tabuik sekitar 200 ribu orang20. Merujuk pada mitos sebagai rujukan pembangun Upacara Tabot di Bengkulu, tampak pada tahap-tahap upacara tidak menyajikan upacara yang berdimensi keras yang mengarah ke perkelahian massal seperti yang terjadi pada Upacara Tabuik. Upacara yang dianggap keras dalam Upacara Tabot adalah upacara menjara (beruji dol). Inti dari upacara menjara adalah beruji dol, yaitu masing-masing kelompok tabot berusaha mengalahkan kelompok lain. Kelompok yang paling terampil memainkan dol 21 (dol dan tasa) dan paling sedikit dol pecah (robek membrannya) dianggap menang22. Kekerasan ditunjukkan dengan melampiaskan emosional pendukung upacara melalui pemain musik ke alat musik dol. Mereka secara pisik tidak melakukan persentuhan antar kelompok pendukung tabot, apalagi perkelahian. Beruji dol dilakukan di lapangan terbuka, sehingga dapat disaksikan oleh banyak orang. Bahkan beruji dol dianggap salah satu bagian upacara yang mampu menyedot banyak penonton. Dalam upacara beruji dol diadakan pula selingan pertunjukan tari-tarian dan musik tradisi sejenis gamat. Upacara menjadi meriah dengan hadirnya hiburan selingan ini. Beruji dol dilakukan di dua tempat yaitu, di kelompok tabot ber19 Asril, op cit., 69. 20 Ibid., 70 21 dol sejenis gendang bermuka satu berbentuk kettle drum, dengan ukuran diameter cukup besar antara 50-60 cm. Dol dimainkan sambil berdiri dengan cara diletakkan di lantai atau tanah. 22 Hamidy, Op cit., 89-90.

246

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

kas dan di kelompok tabot bangsal. Mereka saling mengunjungi secara bergantian selama dua malam. Lagu-lagu yang biasa dimainkan dalam beruji dol adalah Matam-matam, Suwena, dan Suweri. Ketiga lagu ini sama-sama mereka mainkan dalam waktu yang bersamaan. Lagu Suweri merupakan lagu andalan bagi masing-masing kelompok tabot dalam beruji dol. Masyarakat sangat mengetahui bahwa lagu tersebut amat disukai. Para pemusik biasanya memainkan lagu ini dengan penuh semangat hingga bermain dengan tenaga yang maksimal. Akibatnya sering terjadi kerusakan pada alat musik seperti pada kulit (membrane) robek, pemukul (stick) patah, resonator instrumen retak, dan lain-lain23. Akan tetapi ini muara yang ingin dicapai dari upacara beruji dol. Situasi ini sangat berbeda dengan Upacara Tabuik di Pariaman. Gandang tasa sebagai musik pendukung upacara justru digunakan untuk membangun semangat “heroik” dan “patriotik” di antara kedua kelompok tabuik. Lagu-lagu Oyak Tabuik dan Sosoh misalnya, dimanfaatkan untuk membangun emosional para pendukung tabuik, khususnya untuk membangun emosi ke arah perkelahian dan yang berdimensi keras.

Pelibatan Seni dalam Upacara Rentangan waktu yang cukup panjang dalam pelaksanaan Upacara Tabuik dan Upacara Tabot, dimanfaatkan dengan menampilkan berbagai kesenian tradisi setempat dan kesenian yang bernuansa Islami. Di Pariaman misalnya, pada malam hari yang tidak ada aktivitas upacara, panitia penyelenggara upacara menyajikan pertunjukan indang piaman, tari indang, gandang tasa, orkes gambus, dan jenis musik bernuansa Islami. Prinsip utamanya adalah memberikan hiburan kepada masyarakat atau pengunjung yang datang. Sementara di Bengkulu, hal yang sama juga dilakukan yaitu pertunjukan tari Ikan-ikan, kolintang, musik bernuansa Melayu seperti gamat, dan yang cukup menggembirakan sekarang adalah pertandingan atau festival dol kreasi. Para remaja Bengkulu mampu memainkan “musik baru” yang dikembangkan dari musik tradisi dol dengan atraktif24. Selain itu, juga ditampilkan berbagai tarian tradisi dan tari kreasi yang bersumber dari Upacara Tabot.
23 Hanefi, dkk., “Musik Tabot dalam Beruji Dol di Bengkulu: Tinjauan Musikologis” Laporan penelitian (Padangpanjang: ASKI, 1998), 45. 24 Haque, Op cit., 56-57.

247

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Perubahan dan Perkembangan Upacara Perubahan dan perkembangan yang terjadi pada Upacara Tabuik dan Upacara Tabot berbeda bentuk dan jenisnya. Ada yang berubah dari aspek nilai ritual dan sakralnya, dan ada yang berkembang secara parsial dari aspek musiknya saja. Di Bengkulu upacara berkembang secara parsial, yakni dari aspek musiknya. Pada masa lalu, dol adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Upacara Tabot. Dol hanya dapat dimainkan bersamaan dengan Upacara Tabot, sebagai musik pendukung upacara. Akan tetapi, pada tahun 1980-an dan 1990-an dol sudah dapat ditampilkan secara terpisah untuk penyambutan tamu pemerintah, meskipun masih dalam bentuk ansambel yang aslinya. Perkembangan yang cukup menggembirakan adalah ketika dol dijadikan sebagai sumber penataan musik kreasi untuk iringan tari “baru” (kreasi) dan untuk musik kreasi. Dalam penelitian Haque, ada tiga aspek perkembangan yang terjadi pada dol, yaitu: dol sebagai media seremonial di kota Bengkulu; dol dijadikan sebagai materi pembelajaran musik di sekolah dan di sanggar; dol sebagai sumber sebagai garapan komposisi baru. Dol sebagai media seremonial disajikan pada acara penyambutan tamu-tamu penting, acar ulang kota Bengkulu, acara yang bersifat umum lainnya, dan penggabungan dol dengan musik tradisi lainnya seperti gendang sarunai dan gamat yang digunakan untuk hiburan. Dol sebagai materi pembelajaran di sekolah, walaupun masih bersifat ekstrakurikuler, tetapi telah diajarkan di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di berbagai daerah khususnya di kota Bengkulu. Perkembangan yang cukup menarik adalah dol dijadikan sebagai sumber penciptaan karya baru. Dol telah digabung dengan berbagai alat musik di luar tradisinya. Misalnya dengan menghadirkan gitar bass eletrik, kolintang, set rebana, dan cara memainkan dol pun lebih atraktif. Misalnya, dol tidak saja diletakkan di lantai, tetapi telah disandang dan dimainkan sambil berbuai atau berayun, bahkan sambil tidur. Pertunjukan ini pun kemudian disebut dengan dol buai25. Yang tak kalah menarik juga perkembangan yang terjadi dari aspek alat musiknya, berbagai jenis ukuran dol pun dibuat untuk keperluan perbedaan atau variasi warna bunyi. Para remaja Bengkulu sangat antusias memainkan
25 Ibid., 46-47, 48-49, 50,57.

248

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

dol kreasi ini. Di Pariaman perubahan yang terjadi adalah pada nilai sakral upacara dan juga dalam bentuk parsial. Upacara Tabuik tidak lagi dilaksanakan dari tanggal 1-10 Muharam, melainkan berubah menjadi tanggal 1-11, 12, 13, dan 14 Muharam, yang diperlukan upacara puncak maoyak tabuik jatuh pada hari minggu. Perubahan ini dilatarbelakangi oleh embel-embel “pariwisata”. Artinya jika upacara puncak dilakukan pada hari minggu maka akan banyak orang yang menyaksikannya. Dari satu sisi ada benarnya, memang banyak orang menyaksikan upacara maoyak tabuik. Imbas dari itu, ekonomi masyarakat juga terdongkrak, mulai dari penjual makanan, transportasi, pengelola parkir, hingga penginapan. Namun demikian, cara praktis ini ternyata telah menguburkan nilai-nilai sakral kesejarahan peristiwa Karbala sebagai titik tolak upacara. Oleh karena pada tanggal 10 Muharam 680 (61 H) adalah hari kematian Husein di Karbala. Lambat laun generasi berikutnya tidak akan tahu lagi makna 10 Muharam dalam Upacara Tabuik. Bentuk lain dari pengembangan Upacara Tabuik adalah perayaan Oyak Tabuik yaitu cuplikan dari salah satu rangkaian Upacara Tabuik. Biasanya yang diambil adalah upacara puncak, maoyak tabuik. Pelaksanaannya terbilang meriah, kolosal karena melibatkan ratusan bahkan ribuan orang warga Pariaman khususnya dan ditambah dengan ‘warga partisipan’. Akan tetapi pelaksanaannya sudah terlepas dari semua aspek ritual dan sakral, yaitu: (1). Tidak diharuskan pada bulan Muharam (tergantung hajatan); (2). Dilaksanakan di luar kota Pariaman (Padang, Pekan Baru, Batam, Jakarta, Padangpanjang, Bukittinggi, Payakumbuh, Darmasraya, bahkan di luar negri seperi Washington, dsb); (3). Tidak diperlukan benda-benda sakral (jari-jari, benda-benda prosesi, dsb); (4). Tidak diharuskan pelaksananya masyarakat dari bekas nagari Pasar Pariaman dan V Koto Air Pampan; (5). Tabuik yang diusung tidak mesti dua buah, satu saja dibolehkan; (6). Ukuran tabuik yang diusung pun relatif, tidak harus sama tingginya dengan tabuik yang digunakan di kota Pariaman (dapat saja ukurannya tinggi sekitar enam meter); (7). Setelah perayaan selesai, tabuik tidak perlu dibuang.

249

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Waktu pelaksanaan perayaan Oyak Tabuik tidak terikat lagi dengan bulan Muharam. Hal ini disebabkan karena tujuan dan makna perayaan Oyak Tabuik juga tidak terkait lagi dengan peringatan kematian Husein. Perayaan ditujukan untuk memeriahkan suatu event, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah maupun yang dilakukan sendiri oleh masyarakat Pariaman. Misalnya, perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus, perayaan festival Muharam, hajatan keluarga besar Persatuan Keluarga daerah Pariaman (PKDP), peresmian pengurus baru PKDP, dan lain sebagainya. Jadi, waktu pelaksanaan tergantung dari masyarakat Pariaman di perantauan. Pelaksanaannya pun tidak harus setiap tahun atau berkala secara periodik. Dalam hal ini organisasi PKDP di masing-masing daerah atau kotalah yang menentukan kapan mereka akan melaksanakan perayaan Oyak Tabuik. Mengenai tempat penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik dilaksanakan di luar kota Pariaman, maksudnya adalah karena perayaan ini juga tidak ditujukan untuk memperingati kematian Husein. Perayaan dimaksudkan untuk memeriahkan berbagai hajatan atau event. Siapa dan dimana tempat penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik juga tidak ada kesepakatan antara masing-masing organisasi PKDP. Ini amat tergantung dari animo masing-masing masyarakat Pariaman di suatu tempat. Misalnya, pada bulan Januari 2008, PKDP Kota Padangpanjang melakukan perayaan Oyak Tabuik. Pada bulan April 2008, masyarakat kota Padang melakukan perayaan Oyak Tabuik. Pada bulan Juli 2008, masyarakat Pariaman di kabupaten Darmasraya melakukan perayaan Oyak Tabuik, sedangkan kota Bukittinggi dilakukan perayaan Oyak Tabuik pada pertengahan tahun 2007. Tahun 2007 masyarakat Pariaman di Duri dan Pekan Baru melakukan perayaan Oyak Tabuik. Tahun 2006 masyarakat Pariaman di Batam melakukan perayaan Oyak Tabuik. Jadi tempat penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik dapat dilaksanakan di daerah atau kota mana saja, tergantung dari keinginan masyarakat setempat. Dalam setiap penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik tidak diperlukan benda-benda sakral untuk kekhidmatan perayaan. Misalnya, panja atau jari-jari sebagai simbol jari-jari Husein yang terlepas akibat tebasan pedang lawan, tidak perlu diarak melintasi kota atau mengelilingi daraga. Begitu juga dengan benda-benda lainnya sebagai lambang kebesaran Husein yang diarak pada saat mengambil tanah, mengarak jari-jari,
250

dan warna yang dominan adalah putih. dan biru. pada tahun 2008. Mengenai pelaku perayaan Oyak Tabuik. dan situasi perayaannya tidak sama dengan perayaan Upacara Tabuik pada bulan Muharam di Pariaman. Penulis menyaksikan ukuran tabuik yang digunakan di Padangpanjang tahun 2008. Begitu juga dengan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan saat sekarang sudah ada pula jasa penyewaan tabuik di Bukittinggi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengambil batang pisang. tidak ada keharusan memiliki tinggi yang sama dengan yang digunakan di Pariaman. Perayaan Oyak Tabuik di Bukittinggi tahun 2007 juga hanya menggunakan satu tabuik saja. Gandang tasa dapat saja didatangkan dari Pariaman sendiri atau dari kota lain. Apalagi dibuang ke laut. Kota-kota yang pernah melakukannya perayaan Oyak Tabuik. Payakumbuh pada masa lalu juga pernah menggunakan dua tabuik dalam perayaan Oyak Tabuik di kota itu. yang khusus digunakan untuk perayaan tabuik. tabuik dibawa kembali oleh pemiliknya. dan pada saat tertentu hanya menggunakan satu tabuik. bahkan termasuk warna yang digunakan tampaknya tidak ada keharusan mengikuti cara yang digunakan di kota Pariaman pada bula Muharam. di Padangpanjang hanya digunakan satu tabuik saja. merah. Misalnya. dilakukan oleh masyarakat Pariaman dimana perayaan Oyak Tabuik itu dilaksanakan. Biasanya tabuik disimpan sebagai benda budaya asset pemerintah setempat. Namun biasanya masyarakat tempat penyenggara perayaan Oyak Tabuik minta bantuan untuk pemain gandang tasa yang mengiringi perayaan. Padangpanjang melakukan perayaan Oyak Tabuik pada tahun 1993 menggunakan dua tabuik. mereka adakalanya membuat dua tabuik untuk diusung dan dihoyak. Satu hal lagi yang tidak umum dilakukan pada perayaan Oyak Tabuik adalah selesai perayaan Oyak Tabuik pada sore hari. Setelah perayaan selesai.5 meter dengan warna dominasi kuning. tempat. Begitu juga dengan ukuran tinggi tabuik yang digunakan. Oleh karena waktu. Akan tetapi. hanya memiliki tinggi sekitar 6-6. tabuik tidak harus dibuang. dan mengarak sorban juga tidak dilakukan. Padahal tinggi tabuik yang ideal adalah antara 10-12 meter. Baik dari jumlah dan ukuran tabuik. 251 . Pelakunya tidak harus didatangkan dari kota Pariaman yang biasa menjadi pelaku perayaan Upacara Tabuik. sangat sedikit sekali yang menggunakan warna kuning.

Oleh karena waktu sakral. Januari 2008). bergantung pada jauh dekatnya tempat perayaan26. Unsur-unsur budaya lokal dan kebiasaan mayarakat juga turut mempengaruhi bentuk upacara. Jumlah nominal sewa yang dipungutnya relatif. pelaku upacara atau perayaan tidak lagi memiliki kaitan langsung dari aspek makna dengan Upacara Tabuik. tempat sakral. dan Padangpanjang. Bagian yang tak terelakkan juga ada perubahan yang terjadi pada kedua upacara tersebut bisa terjadi secara parsial dan penggerusan nilai sakral. dan pelaksanaannya. dan material. Padangpanjang. Dari seluruh aspek penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik yang tidak lagi menggunakan cara-cara yang lazim pada perayaan Upacara Tabuik. Mereka melakukannya secara totalitas dengan penuh pengorbanan pisik. jika suatu daerah menginginkan. spirit. pimpinan grup gandang tambua dan randai “Rabuang Kuniang” Bukittinggi (wawancara: Bukittingi. Melalui Oyak Tabuik momentum identitas dimunculkan. 252 . 26 Febrizal Sutan Sati (60 thn).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Menurut Febrizal Sutan Sati. Identitas sebagai warga yang berasal dari Pariaman benar-benar mengapung ke permukaan. Bukittinggi. Begitu juga dengan tujuan dan maksud perayaan juga tidak lagi untuk memperingati kematian Husein27. 74-79. Di luar megah dan meriahnya pelaksanaan Upacara Tabuik. Desember 2007. kecuali spirit kebersamaan dalam semangat yang dibangun dalam Upacara Tabuik. yang tak kalah menarik juga diamati adalah semangat para masyarakat perantau Pariaman dalam mengekspresikan diri melaksanakan Oyak Tabuik. ia telah menyewakan tabuik yang dibuatnya ke Pekan Baru. “Upacara Tabuik dalam Dimensi Sosial Budaya Masyarakat Pariaman: Keberlangsungan dan Perubahannya” (Padangpanajng: STSI. Ia juga menyewakan satu grup gandang tasa lengkap dengan pemainnya untuk mengiringi perayaan Oyak Tabuik. benda-benda sakral. tetapi dalam pengimplementasian upacara sangat banyak dipengaruhi oleh interpretasi masyakarat dengan cara “pemitosan” sejarah yang kemudian seolah-olah seperti legenda. Penutup Meskipun Upacara Tabuik dan Upacara Tabot berasal dari peristiwa yang sama (perang Karbala). 27 Asril. mental. seperti beberapa aspek sakral yang telah ditanggalkan merupakan perubahan yang terjadi pada Upacara Tabuik. 2008).

1914. dalam Internationales Archiv fur Ethnographie. London: Thames and Hudson Ltd. Hamdan Basyar ed. et al. Land--. Chandler dan M.C. 1991/1992.. Azyumardi. “Upacara Tabuik dalam Dimensi Sosial Budaya Masyarakat Pariaman: Keberlangsungan dan Perubahannya” Padangpanajng: STSI. 2002. Hamidy. dalam David P. 1972. ed. Padangpanjang: ASKI. 1998.. Margaret J. Pesta Kolosal Anak Nagari Piaman”. 1996. Singgalang Minggu. Upacara Tradisional Daerah Bengkulu: Upacara Tabot di Kotamadya Bengkulu. 2000. M. 26 Juni 1994. dalam Tijdschri ft voor Indische Taal--. Barry. Ethnography of Muhammadan Peoples.. Fazl. van. W. Azra. Asril. Shorter Encyclopaedia of Islam. “Syiah di Indonesia: Antara Mitos dan Realitas” (pengantar) dalam A. Color and Symbolism in Islamic Architecture: Eight Century of the Tile Maker’s Art. Zelly Marissa. Helfrich.R dan J. Terj. 2009. Tesis S2 UGM Yogyakarta. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Depdikbud. Husein Sjahid Agung. Badrul Munir. Adam Saleh Djakarta: PT Sinar Hudaya. “Tabut . S. en Volkenkunde. Leiden: Verlag von P. Monash University. Kartomi. __________.. Skripsi. Parsi “Tabuik. 1888. 2008. “Het Hasan-Hosein of Taboet-Feest te Benkoelen”. Rahman Zainuddin dan M. Clayton: Centre of Southeast Asia Studies.H Kamer ed. Syiah dan Politik di Indonesia: Sebuah Penelitian.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Daftar Pustaka Ahmad. Ph. “Perkembangan Musik Dol di Kota Bengkulu”. et al..a Shiah Ritual Tranplanted from India to Sumatra”. The Encyclopaedia of Islam: Dictionary of the Geography. H. 1913. L. Bandung: Mizan dan PPW-LIPI. diterjemahkan oleh Hartoyuwono. “Nadere gegevens omtrent het Hasan¬Hoesain feest”. Michael. 1986. London: Luzac and Co.) Nineteenth and Twentieth Century Indonesia. Gibb. Tanjung. Ricklefs (ed. Batavia: Albrecht & Co. Haque.A. Leiden: EJ Brill. “Musik Tabot dalam Beruji Dol di Bengkulu: Tinjauan Musikologis” Laporan penelitian. 1974. Hanefi. “Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di Pariaman Sumatra Barat”.. Trap. Padangpanjang: STSI. Ronkel. 253 . O. dkk.

.

MENGEMAS SENI TRADISI NUSA TENGGARA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL 5 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

256 . dikenal sebagai seniman dan penulis naskah \sandiwara. cerpen dan puisi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Kongso Sukoco. Dikenal pula sebagai sutradara senior lokal Mataram. Saat ini menjabat Ketua Dewan Kesenian Nusa Tenggara Barat.

yakni pengolahan pesan dalam bingkai estetika teater dan di lain pihak berlangsung pencernaan makna yang dilakukan khalayak. Dalam situasi ini komunikasi tidak melulu di tingkat isi pesan. Pertunjukan teater berlangsung dalam lingkungan komunitas dengan warga penonton yang sharing terhadap idiom teater tradisi. tapi juga emosi dan bersifat situasional. antara seniman dan penonton.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Memfungsikan Teater Tradisi Amaq Abir sebagai Media Komunikasi Tradisional Kongso Sukoco Ketua Dewan Kesenian Provinsi NTB M embicarakan teater tradisi sebagai media komunikasi. Dan tidak melulu domain ketrampilan. Komunikasi bersifat empiris. meski keberhasilannya terkait dengan seni dan ketrampilan. Bagaimana proses pertemuan organisme hidup itu berlangsung sangat mempengaruhi efektifitas penyampaian informasi. peristiwa teater (berlangsungnya komunikasi pertunjukan teater dan penontonnya) adalah peristiwa kebudayaan. Bahwa dalam prosesnya harus dipahami. tentu tidak sekadar urusan menyampaikan pesan agar dapat diterima publik atau khalayak. Orang mulai memikirkan secara spesifik bila proses komunikasi itu menimbulkan masalah. Dalam pertunjukan teater tradisi ada konvensi atau ”aturan main” yang menjadi landasan berlangsungnya komunikasi. Khalayak memahami idiom seninya. Memang bisa saja ada perubahan dalam pertunjukan seni tradisi namun 257 . Di dalamnya berlangsung reproduksi nilai. Tontonan teater mempertemukan organisme hidup. isi cerita. alur bahkan durasi dan bagaimana pertunjukan diakhiri.

Meski ada catatan penting. Sebab telah terbangun kedekatan kultural kesenian itu dengan komunitas primordialnya. Prioritasnya semata-mata penyampaian kebijakan pembangunan pemerintah. Ini faktor penting terjalinnya komunikasi yang efektif.termasuk konvensi artistik -. Banyak bentuk teater tradisi di Lombok yang bisa dikembangkan menjadi sarana atau media tradisional untuk penyampai informasi kebijakan pemerintah. Konvensi -. Pili258 . Kalau kita menengok masa Departemen Penerangan dengan program ”Sosio-drama”-nya. Salah satu sebabnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF perubahan itu selalu dikenali karena ada pertautan dengan konvensi sebelumnya (bandingkan dengan teater modern yang sering ”tidak komunikatif” dengan penontonnya karena tak pernah terjadi penyerasan konvensi tersebut).merupakan jaminan bahwa motivasi penonton primordial itu akan terpenuhi. khususnya bentuk seni pertunjukan tradisi yang efektif sebagai media penyaluran pesan informasi. Sebab komukasi yang terbangun dalam teater tradisi adalah penyelarasan pemahaman karena adanya konvensi yang dipahami bersama. Di pelosok-pelosok desa sering kita jumpai mobil panggung pertunjukan rakyat milik Departemen Penerangan yang menggelar seni pertunjukan tradisi. pemberdayaan dan pengembangan teater tradisi – termasuk seni tradisi lainnya – yang dilakukan saat itu lebih memberatkan fungsinya sebagai ”alat” untuk mengantarkan pesan. Salah satu teater tradisi di Lombok adalah Teater Amaq Abir. Hal itu seperti mengesampingkan pentingnya meningkatkan kualitas ”bentuk seni” kelompok-kelompok seni tradisi yang sebenarnya justru menjadi faktor penting meningkatkan efektifitas penyampateraian pesan. dengan sedikit perhatian dalam mengintensifkan peristiwa komunikasi kultural. Karena konvensi itu maka memfungsikan dan memanfaatkan teater tradisi sebagai sarana penyampai informasi pada khalayak primordialnya bisa sangat efektif. sebelum era reformasi pemerintah menaruh perhatian besar dalam hal pemanfaatan seni tradisi. Kantor Wilayah Departemen Penerangan di tiap provinsi banyak menyelenggarakan pertunjukan rakyat. Harus diakui. penyampaian isi pesan sangat mekanis. bertolak dari motivasi ini mereka memiliki ekspektasi terhadap pesan yang akan diterimanya. Hal itu berpengaruh positif pada eksistensi seni pertunjukan tradisi.

Kalau kita temui jejak dan pengaruh dari ” Jawa-Bali” dalam teater tradisi -. Asal-usul Teater tradisi Sasak bisa digolongkan sebagai bentuk baru dalam jajaran khasanah seni tradisi yang tumbuh di Lombok. Pembinaan yang dilakukan Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud (pertengahan tahun 80-an) berhasil menyelamatkannya. Namun tidak seperti Teater Cupak Gurantang dan Kemidi Rudat yang bertahan dan tetap populer hingga kini. musik dan tari tak memenuhi kebutuhan masyarakat untuk menjalin komunikasi dialogis.seperti kita temui pada seni budaya Lombok (ma259 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI han untuk mendeskripsikannya karena alasan. Saat pertunjukan seni sastra. Sampai tahun 70-an teater tradisi di Lombok mengalami masa keemasannya. Tumbuhnya teater tradisi Sasak cepat mendapat dukungan luas. Masyarakat Sasak memiliki perjalanan seni tradisi yang panjang dan kaya seperti tradisi sastra. Ada yang menyebutnya setelah masa kemerdekaan atau sekitar tahun 5060an (meski Teater Amaq Abir dikenal di Desa Medana. sebaliknya Teater Amaq Abir nyaris punah. dan kini Teater Amaq Abir sekali tempo masih dimainkan kalangan generasi muda di Desa Marong. Teater ini telah membangun penonton primordialnya yang meluas di beberapa wilayah di Lombok. dengan minimnya pembinaan (kalau tidak dikatakan tidak ada sama sekali) dari pemerintah setempat. bahkan berkembang di beberapa tempat di Lombok. Lebih dari itu ada kebutuhan menjalin komunikasi dengan publik yang melintasi batas komunitasnya. Lombok Tengah. Karena itu dipandang penting mendeskripsikannya untuk didiskusikan bersama dalam forum ini. Tumbuhnya seni pertunjukan yang verbal dan membangun komunikasi dialogis ini seiring kebutuhan masyarakatnya untuk lebih tersurat dan intens dalam mengkomunikasikan pesan moral dan paedagogik. Namun tetap saja. Lombok Timur dikenal jauh sebelum jaman Jepang). Teater Tradisi di Lombok a. nasib kepunahan itu akan terulang kembali. bahwa Teater Amaq Abir sangat populer pada jamannya. Namun seni pertunjukan tradisi Sasak yang verbal dan dialogis – yang menjadi salah satu ciri teater tradisi – tumbuh belakangan. musik dan tari. maka seni teater mendapat tempat khusus.

karena Lombok sempat menjadi ”persinggahan” kerajaan Jawa dan Bali. Meski demikian. yang merupakan turunan dari Aksara Jawa. Hal yang sama juga terjadi pada Kemidi Rudat. Cupak Gurantang dan Kemidi Rudat sangat populer di komunitasnya masing-masing. Teater Cupak Gurantang bukan hanya menjangkau wilayah penonton yang lebih luas. Hingga kini jumlah komunitas Bali termasuk besar di Lombok. Namun kebudayaan Jawa baik seni musik. Tapi paling kuat meninggalkan jejak sejarah adalah Kerajaan Karang Asem pada abad XVII-XIX (1692-1839) yang diteruskan oleh Kerajaan Mataram yang merupakan metamorfose Karang Asem sampai tahun 1894. Di tangan Lalu Nasib.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF syarakat Sasak) umumnya -. Ini tak lepas dari kemampuan Lalu Nasib yang menjadi Wayang Sasak selalu kontekstual dengan publiknya. teater maupun sastra lontar (Sastra Takepan). Kerajaan Gowa yang lebih dekat dengan pengaruh Melayu. meninggalkan pengaruh paling kuat kuat pada masyarakat Sasak. Perlu diungkapkan disini. Wayang Sasak bukan hanya sanggup bertahan namun juga sangat populer di seluruh penjuru Lombok. 260 . Wayang Sasak. tapi sekaligus mampu meluaskan sebaran bentuk teater tersebut di beberapa tempat. demikian pula budaya dan kepercayaan yang dianutnya terus tumbuh dan berkembang. pengaruh sastra Jawa (Madya) yang dominan itu bukan satu-satunya. Kedatangan Kerajaan Gowa (Sulawesi Selatan) pada abad XVII. Semua sastra lontar itu digubah dengan menggunakan Aksara Jejawen. Dalam hal penguatan eksistensi perluasan publik seninya. Teater Amaq Amir. Memang hanya Cupak Gurantang dan Kemidi Rudat yang mampu bertahan lebih lama. yang patut mendapat perhatian khusus adalah Wayang Gerung dengan dalang legendaris Lalu Nasib. Pada abad XI tercatat Anak Wungsu (Bali) datang ke Lombok. Teater Kayaq Sandongan. Hanacaraka. meninggalkan jejak seni budaya ”Rumpun Melayu”. Teater Amaq Darmi. juga meninggalkan pengaruhnya pada corak seni budaya Sasak. kemudian ekspedisi militer Majapahit yang dipimpin Mahapatih Gajah Mada pada abad XIV meninggalkan jejak budaya maupun kepercayaan yang jelas.

3. Teater Kayaq. Pada ”Rumpun Bali Jawa” tekanan diberikan pada pembawaan manusia. Pada Teater Cupak-Gurantang kita temukan watak Cupak yang rakus. Dari narasi-narasi yang diungkapkan teater tradisi. Penokohan dalam lakon teater yang terakhir ini didasarkan pada jenis mahluk dan kedudukan. penipu dan jauh dari nilai-nilai etis. Perwatakan dalam teater tradisi umumnya ”stereotip”. Teater Topeng. Pada Teater Amaq Abir yang semula dalam narasinya dibawakan dengan cara nembang (bekayaq) pada perkembangannya menggunakan menggunakan dialog verbal agar terbangun komunikasi intens dengan penonton. penolong dan menjunjung watak-watak ksatria. Lombok Tengah kini memainkan Teater Amaq Abir dengan dialog yang dominan dari261 . hitamputih. Teater Kemidi Rudat. yakni persoalan etika. wasir. misalnya dalam konstum banyak yang memakai kostum sehari-hari. semua pemainnya memakai topeng. Kalau teater yang berasal dari ”Rumpun Jawa-Bali” (Teater Kayaq dan Terater Topeng) lebih sederhana. raja (Dari Baghdad dan Yaman). karena kebutuhannya untuk menampilkan cerminan keadaan dan persoalan masyarakat. anak muda dan lain-lain. yang dialog-dialognya seperti percakapan sehari-hari dan pemainnya juga menari. Pengelompokan Secara umum pengelompokan teater tradisi di Lombok bisa dikelompokkan: 1. puteri. Sebaliknya watak Gurantang mewakili watak mulia yaitu ihlas. permaisuri. Generasi muda di Desa marong. teater tradisi yang bentuk penyajiannya melalui tembang dan tari (dramatari).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI b. diharapkan masyarakatnya mampu memahami masalah yang dihadapi dan syukur kalau bisa menyelesaikannya. moral maupun komentar-komentar sosial. Tidak demikian dengan teater ”Rumpun Melayu” (Kemidi Rudat) yang kostumnya mencolok ala Arab/Turki. perampok. Struktur teater tradisi umumnya naratif. tidak pendendam. sebab dalam masyarakat tradisi memerlukan pijakan yang jelas. kutub moral yang tidak kabur antara yang baik dan buruk. khadam. menembang dengan iringan gamelan. 2.

Sebab cerita-ceritanya umumnya sudah diketahui penontonnya. Di Kabupaten Lombok Timur kita dapati di Desa Mendana bisa dikatakan ”hidup segan mati pun tak mau”. Ini dimaksudkan agar teater itu bisa lebih kontekstual. Sedang di Kabupaten Lombok Tengah di Desa Marong masih sering tampil dalam acara-acara hajatan masyarakat. Saat itu pemainnya rata-rata berumur 75-80 tahun. 41 km dari Mataram atau 13 km dari Praya. Khusus di Desa Marong. Sebagian perlengkapannya (terutama gamelan) telah dijual oleh 262 . pada tahun itu juga dipentaskan di Jakarta dalam Pekan Teater Tradisi Tingkat Nasional. Teater Topeng Amaq Abir yang mendapat predikat ”terbaik”. teater tradisi dari Marong ini pertama kali mendapat pembinaan dari Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud (Sekarang Dinas Dikpora) melalui Proyek Pengembangan Kesenian pada tahun 1984. dan menampilkannya pada Festival Teater Daerah NTB. bisa jadi sekarang sudah mati. Tapi kenapa bukan Cupak Gurantang atau Kemidi Rudat yang lebih eksis dan masih memiliki publik yang lebih jelas? Justru karena kemerosotan Teater Amaq Abir itu lebih kontekstual dibicarakan dalam forum ini. malah sudah punah.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pada tembangnya. lebih leluasa berimprovisasi dalam mengomentari persoalan-persoalan sosial dan lebih dekat dengan persoalanpersoalan kekinian. Di beberapa desa di Kabupaten Lombok Barat. Teater Amaq Abir Teater Topeng Amaq Abir merupakan salah satu bentuk teater tradisi Sasak yang pernah sangat populer pada jamannya. Waktu ditemukan untuk pembinaan saat itu. Tercatat pernah hidup di beberapa daerah di Lombok. Tapi karena langkanya pertunjukan karena pelakunya mulai tak ada. tapi dari sinilah para orang tua melepaskan anaknya untuk menonton sebab tahu dalam tontonan tersebut ada nilai-nilai yang perlu diapresiasi. Teater Amaq Abir sudah 50 tahun tidak pernah mengadakan pementasan (jauh sebelum Jepang menduduki Lombok). ibu kota Kabupaten Lombok Tengah. tapi eksistensinya memprihatinkan. seperti di Desa Tanjung dan Narmada. Dalam uraian berikut akan dideskripsikan lebih jauh tentang Teater Amaq Abir yang sempat sangat populer pada jamannya.

Teater Amaq Abir tetap jarang tampil. Penggeraknya yang sekaligus menjadi pimpinan teater itu adalah Lalu Sahibi. a. Generasi muda di Marong memang belum mampu sepenuhnya memfungsikan teater tradisi itu. yang pernah mengikuti kursus pelatihan di Padepokan Tari Bagong Kussudiardjo di Jogja tahun 1990-an. Amaq artinya Bapak. yang ditampilkan adalah pemain-pemain dari generasi muda. yang dalam bahasa Sasak maksudnya. nama Amaq Abir yang terdiri dua kata Amaq dan Abir. Perbedaannya. maksudnya adalah tokoh yang mempunyai keunggulan ada keistimewaan. Banyak nilai-nilai yang terkandung dalam teater topeng ini. nilai-nilai artistik. Riwayat Pertumbuhan Arti Kata Beberapa informan yang ditemui di Desa Marong mengungkapkan. Tapi beberapa informan lain memberikan catatan. Pada tahun 2008. kedua pengertian itu maksudnya sama yaitu sebutan Bapak Abir. bahwa Abir dalam bahasa Sasak memang berarti Besar. Apalagi dalam acara Pekan Teater Daerah. yang terakhir lebih ditekankan dalam arti besar fisik seseorang. namun mereka bisa memvitalkan jiwa dan semangat di dalamnya. nilai-nilai paedagogis. Sejak tahun 1996. baik di Mataram maupun di Jakarta.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI yang menyimpannya karena saat itu kemiskinan menghimpit masyarakatnya. Tapi yang jelas. sedikitnya kelompok teater asal Marong ini tampil sebanyak 20 kali di berbagai acara masyarakat desa. kelompok teater topeng dari Marong itu memboyong pemain-pemain yang masih muda. sosial dan nilai-nilai luhur lainnya yang menjelma dalam keseluruhan batang tubuh teater topeng tersebut. sedang yang pertama pada kebesaran moral dan ahlak. Sebenarnya sejak mendapat pembinaan itu gairah menghidupkan teater tradisi di Marong mulai tumbuh. sedangkan Abir ada yang mengatakan dari bahasa Arab ”Akbar” yang berarti besar. Sejarah Teater Topeng Amaq Abir tercatat pernah hidup di beberapa 263 . pihak Taman Budaya NTB juga sempat mengundang untuk pentas melalui program pementasan rutinnya.

Untuk melihat topengtopeng itu harus ada ”andang-andang”nya. Yang asli berwarna putih. semacam sesajen yang terdiri dari beras. di Desa Mendana (Lombok Timur) dan Desa Marong (Lombok Tengah). benang. ada seseorang yang berasal dari Sakra (sekitar 10 km dari Desa Mendana). uang kepeng (Cina). sebelah matanya agak sipit. Tiap hari Senin dan Jumat malam Amaq Sitah membakar kemenyan di bawah tempat topeng-topeng itu. misalnya di Desa Tanjung (Lombok Utara). Anaknya yang bernama Amaq Sitah kalau masih hidup berusia sekitar 75 tahun) menyimpan topeng-topeng itu dalam ”besek” yang diletakkan di tempat khusus. Kembali dari Mekah ia dipanggil Haji Ali Batu. kedua matanya normal. sirih. Untuk menurunkan topeng-topeng itu harus ada mantra-mantra khusus sebagai syarat minta izin. Di Desa Mendana teater topeng ini memang disakralkan. meninggal tahun 1980 dalam usia 125 tahun. Sebelum pertunjukan. Hinga kini Amaq Sitah dikenal sebagai dukun desa yang banyak didatangi masyarakat untuk minta obat orang yang kesurupan. Amaq Tempenges. lumpuh dan penyakit lainnya yang berhubungan dengan guna-guna. biasanya untuk mengambil topeng selalu didahulu dengan persembahan ”andang-andang” seperti disebut 264 . sedang duplikatnya berwarna merah jambu. Ida Bagus atau Datu. Topeng Amaq Abir yang asli dimandikan dan airnya ditadah dan diminum oleh yang sakit. Lombok Timur. ia membuat topeng dan memainkannya dengan pengikut-pengikutnya. kini di semua desa itu kehidupan teater tradisi itu nyaris punah (di beberapa desa lainnya benar-benar punah karena ditinggalkan para pelakunya.Di Desa Mendana Pada awal Lombok menerima ajaran Islam. Topeng Amaq Abir yang asli jarang dikeluarkan untuk pementasan. Konon. Untuk menyebarkan Islam di Lombok.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF desa di Lombok. Tentu saja. yang dipakai hanya duplikatnya. pergi naik haji. . Ada lima karakter topeng yang disakralkan. Amaq Abir (yang duplikat dan asli) dan topeng Haji. Amaq Sitah sering kedatangan orang yang sakit minta obat. Salah seorang pengikutnya adalah Amaq Nursalim.. kelapa dan lain-lainnya.

termasuk di Desa Marong. Datuk Somba punya anak bernama Mamiq Rumintang. Tapi versi lain menceritakan. Tapi cucu Mamiq Rumintang. berasal dari Sakra (dekat Desa Mendana. Pementasannya semata-mata merupakan acara kesenian yang membawa pesan moral. sekitar tahun 1980-an warga desa sering terancam bahaya kelaparan karena daerah ini dulu termasuk dalam lingkaran ”daerah kritis Lombok Selatan”.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI di atas. generasi kedua yang meneruskan usaha kedua orang tuanya. Sebenarnya di desa ini banyak tumbuh berbagai bentuk kesenian. seorang yang bernama Mamiq Jiring yang lahir dan dibesarkan di Marong mencoba mengangkat cerita itu ke dalam bentuk teater topeng. perputaran waktu dan sebagainya. Pengarang cerita Amaq Abir dipercayai sebagai waliullah Kerajaan Selaparang. Warga desa yang berusia lanjut di Marong mengungkapkan. yaitu Lalu Darmaji. tapi sekarang semuanya sudah banyak yang punah. lebih tepatnya dua pertiga warganya adalah buruh tani. . Lotim) yang meninggal tahun 1800-an. dan tidak dihubungkan dengan suatu upacara agama. tiap akan dimulai pertunjukan selalu dengan acara doa bersama yang dipimpin oleh seorang ustadz. hal-hal gaib atau sebagai pelengkap upacara sehubungan dengan hidup seseorang. Amaq Abir adalah satu-satunya judul cerita yang pernah dipentaskan. Sedang di Marong. Sekitar tahun 1800. yang pertama mengenalkan Amaq Abir adalah Datuk Somba. Lalu 265 . Datuk Somba diperkirakan keluarga atau pengikut Haji Ali Batu yang menyebarkan Islam ke Marong. merupakan generasi keempat (setelah Datul Somba) yang kembali membangkitkan Teater Amaq Abir. Pada masanya cerita Amaq Abir ini sangat populer di beberapa desa di Lombok. sebab sumber-sumber lisan yang ditemui tidak pernah menyebut upaya-upaya yang dilakukan anaknya. Di Desa Marong teater topeng ini sama sekali tak disakralkan. lahir sekitar tahun 1936.Di Desa Marong Desa Marong sebagian besar penduduknya adalah petani. teater itu mengalami kelesuan. Diperkirakan setelah usaha yang dilakukan Mamiq Rumintang. Desa ini sering mengalami kemarau panjang. asal-usul cerita Amaq Abir berasal dari Kerajaan Selaparang.

Tokoh/karakter Baik di Desa Mendana atau di Marong. hanya namanya berbeda. Hingga kini. Lalu Darmaji dipercaya sebagai pimpinan organisasi teater itu. Dalam teater ini kita dapati unsur tembang (kayaq. Teater Amaq Abir mulai dipentaskan sebagai hiburan di berbagai acara. Bentuk Teater Amaq Abir Bentuk Teater Amaq Abir adalah teater topeng. Berbeda dengan di Desa Marong. Sebelumnya. Sasak). B. Dalam pementasan di Taman Budaya NTB tahun 2008. Meskipun dalam teater itu terdapat dialog-dialog tokoh-tokoh cerita. grup teater itu juga mendapat bantuan seperangkat alat gamelan. termasuk untuk peran putri juga dimainkan laki-laki. namun di Desa Mendana topeng yang dikenakan menutupi seluruh wajah. seperti: Topeng Haji Topeng Keliang Topeng Putri Topeng Papuk Dulahman 266 - . seluruh pemainnya adalah laki-laki. Semua pemainnya mengenakan topeng. tari dengan diiringi alat musik seperangkat gamelan. Kalau di Desa Marong dibuka dengan Tari Satang lebih merupakan tari kreasi). organisasi kesenian dari Marong itu sudah beralih pada generasi muda. di Desa Mendana selalu diawali dengan Tari Oncer sebagai pembukaan. Selain diberi kesempatan pentas di Mataram dan Jakarta. Dalam organisasi Berkat Patuh yang terbentuk saat Kanwil Depdikbud NTB melakukan pembinaan tahun 1984. topengnya tidak sampai menutupi mulut (agar dialognya sampai ke penonton). meski intensitasnya menurun. Di Desa Mendana ada tokoh-tokohnya. Tapi setelah mendapat pembinaan. karakter atau tokoh ceritanya sama. sekarang untuk memainkan tokoh putri sudah dibawakan oleh pemain perempuan. Sebelum pementasan selalu diawali. Lalu Sahibi yang memahami seni pertujukan yang memfungsikan vokal pemainnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Darmaji menjadi ”juru lakon” (berfungsi semacam sutradara).

terdiri: Gong Gamelan Rincik Terompong Kendang Suling Petuk Jalan Cerita Baik di Mendana maupun di Marong ada kemiripan jalan 267 - . Baik di Mendana atau di Marong. Musik Pengiring Musik pengiri dalam Teater Amaq Abir adalah seperangkat gamelan. Toloh-tokoh baru banyak diciptakan untuk mengungkapkan persoalan-persoalan masyarakatnya dan membuat pertunjukan lebih segar. Konon. tokoh Amaq Abir selalu digambarkan sebagai kstria berkuda.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI - Topeng Amaq Abir Topeng Amaq Ampes Topeng Raksasa Sedang di Desa Marong. tokoh-tokohnya adalah: Topeng Ida Bagus/Datu Topeng Putri Topeng Amaq Abri Topeng Amaq Tempenges Topeng Amaq Baris Topeng Amaq Beang Topeng Amaq Dante dan Inaq Danti Topeng Amaq Bangkol Topeng Inaq Randa Topeng Raksasa Di Desa Marong di bawah asuhan Lalu Sahibi memang lebih kratif. kuda ini sebagai simbol dari tokoh Jayengrana dengan kudanya yang bernama Sekardiu.

Karena itu. isi cerita dan perkembangan bentuk-bentuk kesenian suatu komunitas (suatu bangsa) bisa dipahami secara utuh dalam hubungannya dengan ”pola psikologi aktual” masyarakat yang bersangkutan. Pelayan pun mendapat tugas untuk mencari orang yang bisa menemukan dan membebaskan Putri dari cengkeraman raksasa. Amaq Abir pun berhasil mengalahkan raksasa dan membebaskan Putri. Penguasa atau orang kaya itu akhirnya menginsyafi kesalahannya setelah mendapat nasehat dari Amaq Abir. perubahan status poleksosbud dari bangsa terjajah kemudian merdeka. Kesimpulan itu bisa berlaku saat kita mencoba memahami kesenian (teater) tradisi dan modern. serta tingkah laku lainnya yang bertentangan dengan kepatutan atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. merupakan background sosial yang mempengaruhi dan membentuk ”pola psikologi aktual” masyarakat saat berekspresi dalam bentuk-bentuk keseniannya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF cerita. mungkin dengan sedikit perbedaan dalam intensitasnya. Gegerlah seluruh wilayah kedatuan. sang Putri ketika berjalan-jalan di taman sari diculik oleh raksasa. Suatu hari. Akhirnya bertemulah pelayan tersebut dengan Amaq Abir yang sedang berdakwah. Tokoh ini sering berjudi (sabung ayam). yang membedakan hanyalah nama-nama tokoh-tokohnya yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakatnya. kemudian beranjak dari cengkraman penguasa otoriter menuju era reformasi tapi kemudian tergerus oleh selera global. nilai-nilai budaya. Tingkah laku ini sering mendapat kritikan dari pelayannya. Pelayannya yang dikenal berhati lurus ini juga sering membicarakan keburukan ini pada Putri atau anak penguasa atau orang kaya tersebut. ahli sejarah teoritikus film. Memahami Konvensi Tehnik. dan disindir dengan cara menembang. mabuk-mabukan (minum tuak). Kesimpulan itu pernah diungkapkan Sigfried Cracauer. Ceritanya berkisar tentang penguasa atau orang kaya di desa yang perangai maupun tingkah lakunya kurang terpuji. Memfungsikan Teater Tradisi a. Perubahan-perubahan sosial politik. upaya memahami ma268 .

Pertunjukan teater mengungkapkan nilai-nilai itu dan masyarakat mencocokkan dengan konvensi yang telah terbangun bersama. Teater tradisi Sasak di Lombok -. Anggota masyarakat yang menjadi pendukung kesenian tersebut bisa menghayati dan mengungkapkan pengalamannya. 269 .seperti halnya seni tradisi lainnya -.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI syarakat pelaku teater tradisi dan kemungkinan ”pengembangan” nilai-nilai pesan yang disampaikannya memang harus paralel dengan background sosial yang dimaksudkan itu. Misalnya. dan teater itu menjadi media komunal yang (antara lain) berfungsi penyampai informasi untuk mencocokkan nilai bersama tersebut. Kesenian merupakan salah satu sarana menonjolkan komunalisme. hakekat drama sebagai gerakan mempertahankan tradisi. Ada baiknya kita merinci perbedaan antara teater tradisi dan teater modern. Teater tradisi menjadi sarana penting dalam sistem pewarisan nilai-nilai. menonjolkan individu sebagai entitas psikososial. Teater tradisi mengungkapkan nilai-nilai dengan cara tersirat dalam alur ceritanya serta pada penggambaran perwatakannya. Sedang teater modern berusaha menggambarkan realitas obyektif dengan bahasanya yang analitik prosaik. Nilai-nilai paedagogis maupun nilai-nilai lainnya hingga kini masih dihayati masyarakat pendukungnya. dan konflik sebagai hakekat drama. Nilai-nilai artistik terungkapkan lewat tembang atau kidung. lewat teknik pembuatan topeng dan musik pengiring. kita selama ini memahami terdapat dua jenis bentuk teater yakni yang digolongkan sebagai ”teater tradisi” dan ”teater modern”. Manusia dalam teater tradisi tidak dipisahkan dari gejala metafisik-kosmik.berfungsi sebagai ”pranata” masyarakatnya. Dalam teater tradisi terdapat konvensi-konvensi yang mengikat penampilannya.

rasa ingin tahu. a. Teatrikalisme. Sering disebut sebagai sebagai ”teater total” a. Bahasa dan sastra sangat penting tapi berbeda kedudukannya bila dibandingkan dengan teater modern. .bahasa tidak dominan . Kesetiaan individual. Penonton. Fungsi.Satu gaya ekspresi . prosa atau puisi atau nyanyian (opera) 2.Manusia fisik 3. Realisme (teater ilusionis) 5.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Teater Tradisi 1.Mahluk dari dunia lain 3. Teater Modern 1. Total secara kualitatif (tehnik dan naskah) 2.Satu tema pokok .Penjabar dan penyampai nilai-nilai .Semua arwah . Salah satu kodrat manusia c. .Tokoh. Menontonnya butuh totalitas akal. Tokoh sebagai entitas psikososial 8. Total dalam tehnik. . Struktur. Bahasa bisa prosa. Penonton : . Struktur. rasa dan kemauan b. Semata-mata menghidangkan.Satu macam bahasa. .bahasa lebih formal. secara kuantitatif b. terikat pada fungsi artistik dan teatrikalnya 8. merupakan bagian integral 7. konflik sebagai hakekat drama 4. Musik dan Tari. Perwatakan bukan entitas psikologis. tapi lambang dari spiritual state (teater metafisik). Tokoh dalam teater tradisi sadar akan ketergantungan tenaga kosmik dan spiritual 6.Pengikat solidaritas .Manusia fisik . puisi dan nyanyian . nilai alternatif diperhitungkan 270 . sejajar dengan musik dan tari .bukan kenyataan obyektif tapi realitas Transcendental 5.Pengayaan batin kolektif yang mengacu Kerangka pemikiran dan perasaan yang telah dibentuk secara kolektif 6. . Musik dapat diabaikan dari watak tokoh dan adegan/suasana 7. sirkuler (kosmologis masyarakat agraris) 4.Linier. Bahasa sebagai alat analisis.

adalah bagian dari dunia simbolik tersebut. Dengan kata lain. Dan untuk memahami fungsi suatu konvensi perlu dipahami pandangan dunia masyarakat atau komunitas yang menopangnya. Teater tradisi merupakan salah satu intitusi yang menjadi sarana pewarisan nilai-nilai dalam kebudayaan. apa yang pantas dan sebaliknya. Sebagai catatan. ada penjernih masalah. hanya dapat tetap mempertahankan eksistensinya bila memenuhi fungsinya sebagai pengungkap pengalaman suatu komunitas sosial. Nilai estetik yakni anggapan tentang indah atau sebaliknya. Di sana anggota masyarakat menghayati dan mengungkapkan pengalamannya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Perubahan dalam apa yang disebut “pola psikologi aktual” seperti disebut di atas. makna maupun nilai dan norma dalam kebudayaan. Dunia simbolik adalah dunia yang menjadi tempat diproduksi dan disimpan muatan mental dan muatan kognitif kebudayaan baik berupa pengetahuan dan kepercayaan. Pandangan yang religius-magis berusaha memahami realitas untuk menyesuaikan diri. apa yang dikatakan nilai itu. Ini berlaku bagi kesenian tradisi atau yang modern/baru. Atau lebih khusus. di kalangan ilmu sosial biasanya dianggap sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kebudayaan. ada hubungan kuat antara “konvensi teater” dengan “pandangan dunia”. pandangan dunia menentukan bentuk konvensi. perubahan atau pengembangan dalam kesenian. Perubahan-perubahan nilai estetik pada gilirannya mempengaruhi nilai-nilai sosial dan moral. sebab dari sana pengungkapan nilai-nilai simbolik itu butuh pengakuan. Uraian yang membedakan “yang tradisi” dan “yang modern/ baru” itu untuk memperjelas. Sebab kesenian butuh “dukungan” masyarakatnya. Karena itu landasan “pengalaman bersama” harus ditemukan. menyebabkan pergeseran. atau hidup dalam harmoni. dunia simbolik dalam kebudayaan. Sementara pandangan faustianistis ingin memahami realitas untuk mengendalikan atau menguasai dan memanfaatkannya (eksploitasi). Dalam masyarakat tradisional. tiap perwujudan ekspresi seni anggota masyarakatnya dianggap menjadi bagian tak terpisahkan dari kesepakatan akan nilai-nilai bersama. karena itu (ada konvensi) harus menjaga harmoni dengan masyarakatnya. Suatu bentuk kesenian. pendalaman dan perluasan 271 .

mereka akan melihat diri mereka dan kenyataan sosial. Dan kenyataannya. Mengambil tanpa memahami esensi estetisnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pengalaman. Kedua. Sebab bisa jadi ada nilai-nilai konvensi (dalam bentuk fisik estetika) yang tak terpisahkan dari pandangan dunia yang menopangnya. Namun harus juga dipahami. jadi apa yang mereka tonton merupakan (idealisasi) pengalaman hidup sehari-hari. dua pandangan dunia yang bertentangan. Catatan yang terakhir ini juga penting kalau hendak memberdayakan teater tradisi sebagai Media Komunikasi Tradisional. Media Komunikasi Tradisional Uraian tentang konvensi seni atau teater tradisi di atas untuk memberi gambaran tentang pentingnya memahami pandangan dunia tradisi yang melahirkan bentuk estetik dalam keseniannya. Idiom teater selayaknya tidak hanya dilihat dari daya tarik lahiriah saja. Pemahaman sebelum melakukan penggalian nilainilai dari teater tradisi. maksuknya agar tidak kehilangan akar (tetap ada “ruh” tradisi). seperti kita mencampuradukkan faustianisme atau religious-magis. Teater menawarkan keterlibatan secara psikis. setidaknya untuk menjaga agar nilai-nilai itu tidak disalahtafsirkan. misalnya bagi seniman-seniman teater baru yang mencoba mengambil idiom teater tradisi. mereka menemukan dan mencocokkan nilai-nilai yang selama ini dihayati bersama. b. dan pentas teater itu menjadi milik bersama. bahwa segala konvensi untuk mengidentifikasi keindahan bentuk seni tradisi bukanlah aturan mati yang tak membuka diri dari kemungkinan berubah. Pemahaman tentang “konvensi” ini penting. Pertama. seni atau teater tradisi saat ini tentu tidak 272 . yang menimbulkan resiko keracunan dalam memandang nilainilai kebudayaan. Kalau itu terjadi maka sebenarnya telah terjadi perampokan. Kesenian selalu memiliki kebutuhan mengembangkan potensinya agar mampu mengakomodasi perubahan isi pesan seninya untuk menjangkau “pandangan dunia” yang lebih dari batas-batas komunitasnya. Dalam teater tradisi penonton sekaligus menemukan dua hal.

Tanpa kehilangan identitas Wayang Sasak-nya. Sejak awal pertumbuhannya Teater Amaq Abir bagi masyarakat buruh tani di Marong tidak dihubungkan yang berkaitan dengan upacara agama atau hal-hal gaib. Struktur. penyesuaian “bentuk seni”-nya sebagai pengungkapan nilai estetik yang mampu menyesuaikan diri dengan apresiasi estetis publiknya. cerita maupun penokohan bisa dikembangkan sesuai kebutuhan. teater topeng ini sama sekali tak disakralkan. pengadeganan. akhirnya tak mampu mempertahankan eksistensinya. ketiga.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI semata-mata ditopang komunitasnya dimana kesenian itu mulai tumbuh. plot. Berbeda dengan yang ada di Desa Marong. setidaknya teater tradisi tersebut memiliki potensi. seperti Teater Cupak Gurantang 273 . dalang Lalu Nasib sangat memahami “pola psikologi aktual” masyarakat Kecamatan Gerung. yang sebenarnya menginginkan keseniannya bisa berkomunikasi dengan publik yang lebih luas. Teater Amaq Abir di Medana (Lombok Timur) yang terlanjur terikat dalam nilai religius-magis komunitasnya. Hal ini merupakan bagian untuk mempertahan eksistensi seni (sebagai konkritisasi nilai-nilai) yang mampu bertandang dan diapresiasi oleh nilai-nilai di luar masyarakatnya. pertama. kedua. Mempertahankan eksistensi serta mengembangkan Teater Amaq Abir di Marong lebih memungkinkan. dengan potensi untuk “menyesuaikan diri” tersebut maka Teater Amaq Abir dengan mudah membawa “misi” penyampai muatan-muatan nilai dan moral baru. atau lebih jauh lagi menjadi media komunikasi tradisional yang berfungsi sebagai penyampai pesan dan media informasi yang komunikatif pada komunitasnya atau pada publik yang lebih luas. Lombok Barat. kemungkinan perubahan dan pengembangan bentuk seni Teater Amaq Abir terbukti sangat terbuka masuknya unsur tehnik teater modern (pembinaan yang dilakukan menjelang tampil dalam festival teater tradisi di Jakarta tahun 1986). Pada dasarnya fungsi tersebut juga bisa dilakukan teater tradisi yang lain yang kini masih eksis di Lombok. tapi semata-mata dianggap sebagai acara kesenian yang membawa pesan moral. Pertunjukan Wayang Gerung dengan dalang Lalu Nasib adalah contoh bagaimana seniman tradisi mampu menjelajah ruang nilai yang melintasi batas-batas komunitasnya. Lombok Tengah.

Bentuk-bentuk seni yang menjadi konvensi estetiknya tak harus luntur. Unsur musik. 274 . tentu tak harus mengurangi nilai estetiknya. Peningkatan nilai estetis itu justru menguatkan kemampuan dan efektivitasnya sebagai media komunikasi tradisional. Bima dan bisa muncul dari etnis lainnya). Wayang Gerung-nya Lalu Nasib menyampaikan pesan-pesan pendidikan. Keberhasilan Wayang Gerung memang tak lepas dari kesenimanan Lalu Nasib yang hingga kini belum ada duanya. tembang. Amaq Kisiq dan kawannya-kawannya (tokoh-tokoh yang diciptakan dari personifikasi orang Jawa. Tentu saja. topeng dalam Teater Amaq Abir perlu pembinaan teknis. Amaq Locong. bahkan bila mungkin dipertajam. moral atau komentas sosialnya melalu episode yang menampilkan tokoh-tokoh kocak seperti Amaq Amet. Demikian juga seharusnya dalam memfungsikan teater tradisi di Lombok sebagai media komunikasi tradisional. termasuk teknis penggarapan pertunjukaan yang perlu sentuhan teater modern. Selebihnya Lalu Nasib masih memainkan wayangnya sesuai konvensi pewayangan Sasak. memfungsikan teater tradisi sebagai media komunikasi tradisional.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan Kemidi Rudat yang masih mendapat tempat masyarakat Sasak.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 275 .

1999. 2002. Beberapa lagu pop Sumbawa dan Hymne/ Mars Universitas Samawa/ KSB (sudah jadi NSP) pernah dibuatnya. Seminar Wawasan Kebangsaan. Nasional : Kongres Kebudayaan V di Bukit Tinggi. Termasuk naskah sandiwara radio dan musik iringan tari.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Mustakim Biawan alias Musbiawan. Kasi Bina Program Bid. Namun Musbiawan mengaku masih ada sekitar 200 puisi yang jarang dipublikasikan. Kalimutu 1994. Seminar Seni Kawasan Timur Indonesia. Direktur SKENARIO 1999-sekarang. Ketua Umum Dewan Kesenian NTB 2 tahun. Temu Ilmiah MSPI. Sebagai pembicara Budaya di tingkat Lokal. Bogor 2000. 276 . NTB 4 tahun (pensiun). Kepala Taman Budaya Prop. Seminar Seni Pertunjukan Indonesia STSI Solo. Regional. Karier : Guru Ilmu Pasti/ Kesenian 21 tahun di SMP/SPG Kepala Kebudayaan Sumbawa 7 tahun. Bali 1999. Yogya 1978/1979 Diklat Seni Tk. Kesenian NTB 5 tahun. Lahir di Sumbawa. 26 Juli 1940. Jakarta 2007. 1998. Skenario Indonesia Masa Depan Komnas Ham. Nasional. Temu Teater Nasional Yogya. Pendidikan : (Formal/ Non Formal) : SGA 3 th – Kupang 1959 PGSLP 2 th jurusan Ilmu Pasti (BI) 1963 Cantrik angkatan I Padepokan Seni Bagong K.

Hal ini dimungkinkan selain karena lembaga-lembaga adat sebagai pengawal keberadaan etnik masih berperan dan dihormati – termasuk tokoh-tokoh lainnya. Tentu saja dengan selalu merujuk pada sikap bahwa geopolitik dan geokultural tidak ditentukan oleh satu pihak saja.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Seni Tradisi NTB dalam Proses Kreatif Menuju Media Komunikasi Sosial Mustakim Biawan Mantan Kepala Taman Budaya NTB etika orientasi pembangunan masih menjadikan dimensi ekonomi dan politik jadi panglima. Artinya keterlibatan rakyat sangat menentukan keberhasilan program. Mengapa? Karena – sejatinya konflik-konflik multi dimensional yang melanda negara saat ini salah satu penyebabnya adalah mulai tersumbatnya komunikasi antar komponen bangsa. Ketika kita belum menganggap pendekatan kultural penting sehingga melahirkan generasi bringas yang mengira bahwa anarkhisme adalah solusi ampuh segala kekacauan musibah bangsa. K Kondisi Masa Lalu Seperti yang secara umum terjadi di daerah lain. kehidupan seni tradisi di NTB pada masa lalu berkembang dengan baik dan sangat diminati oleh hampir seluruh anggota masyarakat. Adanya kegiatan Pemetaan Seni Tradisi ini menjadi sangat penting dan harus diberi apresiasi. juga 277 . Ketika teknologi membidani lahirnya media baru “diktator baru” yang mengubah hampir semua gaya hidup bangsa.

sebuah musik tradisi yang melantunkan sastra lisan yang memuat pesan-pesan kearifan lokal lewat irama dan jenis pesan yang variatif sungguh jadi idola saat itu. ketauladanan dan gampang dicernakan. yaitu lagu tunggal yang diiringi oleh biola tunggal yang biasanya penyanyi adalah wanita dan pemain biola laki-laki. Yang terjadi di Bima. Dan seperti juga semua seni radisi yang lain di NTB kadar komunikatifnya tetap selalu dijaga agar pesan yang akan disampaikan mencapai target. Termasuk juga dongeng sebelum tidur yang dalam bahasa Sumbawa disebut “BATUTIR” (Bertutur). Dongeng tersebut ada dalam kehidupan ketiga etnik di NTB walaupun dalam versi yang disesuaikan dengan idiom lokal. Kita sepertinya sukar menentukan apakah rakyat sadar dalam mengikuti jejak bos-bos tersebut atau memang tanpa pengaruh merekapun rakyat memilih karena sudah mengakrabi kesenian tersebut cukup lama. Begitu juga yang terjadi di Sumbawa: Sakeco. 278 . Komedi Rudat. serta jenis-jenis teater tradisional lainnya di lima kabupaten/ kota di Lombok termasuk Wayang masih sangat diminati dan menjadi sumber belajar masyarakat lewat pesanpesannya yang penuh kearifan. dimana hidup suku Mbojo yang meliputi 2 kabupaten yaitu kabupaten Bima dan Dompu hampir sama dengan Sumbawa. di Bima idola dan primadonanya adalah RAWA MBOJO (Nyanyian Bima). Lirik-lirik yang dipilih adalah lirik yang penuh dengan nasehat-nasehat yang bersumber dari PATU (Pantun) yang dipilih sesuai dengan konteks tempat dan waktu penyajian. Cupak Gurantang. Kalau di Sumbawa sangat populer Seni Sakeco. Dongeng-dongeng tersebut membekas dalam kehidupan mereka hingga dewasa. Tentu saja unsur hiburannya tetap dijaga dengan baik. sebab isinya penuh dengan pedoman kehidupan. a.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF oleh belum adanya serbuan budaya instant yang tidak lagi bersahabat dengan nilai-nilai masa lampau tersebut. selalu ditunggu anak-anak sebelum berangkat ke dunia mimpi. Pada umumnya – karena sikap paternalistik masyarakat – rakyat banyak meniru ketauladanan yang ditunjukkan oleh petinggi pemerintah dalam semua tingkat yang selalu “menanggap” seni tradisi dalam hampir setiap event.

Selain dari sukses-sukses tersebut. ada hal yang perlu dicatat yaitu catatan lisan tentang pemasungan kreativitas seniman. Program-program tersebut dianggap berhasil disebabkan oleh beberapa hal antara lain : a.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI b. Salah satunya dengan pesan-pesan yang disampaikan lewat media tradisi yang diakrabi rakyat.Sabalong Samalewa (Samawa) . pesan-pesan pembangunan disampaikan lewat semacam seni pertunjukan yang biasa disebut pertunjukan rakyat atau lebih dikenal dengan sosiodrama. Ledakan jumlah penduduk yang menghantui masa depan kesejahteraan Indonesia harus segara diredam dengan berbagai cara. Hal ini berlangsung cukup lama apalagi setelah program KB mewarnai aspek hidup masyarakat. Dua buah intitusi birokrasi yaitu Deppen dan Depdikbud sangat solid dan gencar bekerjasama dalam proses pembentukan karyakarya seni pertujukan yang ampuh dan mampu memukau rakyat sekaligus menimbulkan kesadaran akan pentingnya ber KB (Penilik Kebudayaan dan Jupen sangat pegang peranan). Ditambah lagi dari kalangan tokoh agama dan masyarakat pada waktu itu cukup banyak memberi fatwa atau petuah yang mendukung program tersebut. Sifat pemerintah pada saat itu yang otoriter menyebabkan seniman-seniman tradisional yang 279 . Ada saatnya – terutama masa orde baru. Dalam proses kreatifnya terjadi penentuan pesan-pesan dari kalangan birokrasi lalu lewat kreativitas para seniman dimasukkan ke dalam sekwen. cerita yang kadang-kadang jadi karya yang cukup artistik tapi tidak jarang pula terjadi karya yang disuguhkan lebih mengutamakan pesan daripada aspek struktur teatrikal dan estetikanya.Patut Patuh Pacu (Sasak) . c. b.Maja Labo Dahu (Mbojo) Secara tidak langsung membantu keberhasilan program tersebut. Kepatuhan rakyat terhadap tokoh-tokoh (tomas) dan pemerintah yang masih terjaga dan dipelihara akibat adanya kearifan lokal yang mengemuka dalam kehidupan ketiga etnik : .

Jangankan media tradisi. Sebelum itu sekitar 1989 mulai bebas tumbuhnya stasiun TV Swasta dan aroma kebebasan berbicara mewarnai hampir semua aspek kehidupan tidak lalu menyebabkan media tradisi tambah berkembang sesuai arus globalisasi. tapi pertumbuhannya lebih disebabkan oleh ketiadaan pilihan lain selain berkreasi dan mempertahankan asap dapur. Moh. Kondisi ini cukup lama dipertahankan. Kelahiran teknologi baru tehun 1962 yang bernama TVRI bukannya menambah wadah kreativitas sang seniman malahan cuma menambah alat penyampaian pesan pemerintah yang tanpa saingan apalagi ada seperti yang kelihatan sekarang dialog interaktif semacam “SUARA ANDA” di sebuah stasiun TV SWASTA. Budaya instan tanpa pandang bulu melanda seluruh wilayah nusantara. Walaupun media tradisi cukup subur tumbuh di hampir semua daerah. Kondisi Masa Sekarang Tumbangnya Orde Baru diganti Orde Reformasi tahun 1998. Hal-hal baru yang diajarkan oleh “sang diktator baru” yang berjuluk “Prof. Barangkali ada benarnya seperti yang dikatakan oleh George Orwell yang mengemukakan bahwa media yang dikuasai oleh seorang tiran akan sangat melipat gandakan kekuatan dan kekuasaan untuk menindas dari Sang Tiran kepada rakyatnya. Dr. termasuk di NTB.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ingin mengembangkan gagasan-gagasan baru di luar pakem apalagi memasukkan gaya yang mengeritik kebijakan pemerintah adalah hal yang mustahil. seni “modern” ataupun yang kontemporer yang dengan kemampuannya yang tinggi dalam aspek kreativitas tidak jarang berhadapan dengan penguasa sebab karyanya yang menurut mereka cukup menggugah diterjemahkan oleh penguasa cukup menggugat sehingga diberangus. Keadaan ini “dipelihara” dengan cerdas oleh penguasa lewat Deppen yang merupakan corong tunggal kebijakan pemerintah tanpa dialog seimbang dengan rakyat. Televisi” menjadi pedoman sehari-hari sehingga 280 . Program baru menggiatkan pariwisata membuat NTB bergegas membenahi diri – setelah ditetapkan sebagai salah satu DTW handal di Indonesia. memberi kebebasan kepada warga untuk berkarya.

anggota-anggotanya ada yang jadi TKI ke negeri Jiran. gaya hidup. 281 . Apalagi dengan wajah kehidupan ekonomi masa kini yang cukup memprihatinkan. kalah bersaing dengan gemerlap layar kaca dan seni modern lainnya yang berkiblat pada daya bius budaya instant. Kondisi organisasi seni tradisi yang mengusung teater tradisional misalnya di Lombok “Komedi Rudat” sudah jarang ditanggap. Tapi dibandingkan dengan masa lalu – bila dilihat dari jumlah pertunjukan sudah berkurang intensitasnya. Khusus di NTB masih terjadi sampai saat ini group-group seni tradisi menjadi korban para calo yang secara sepihak menentukan apa dan bagaimana group tersebut harus bermain dan berapa hak yang mereka dapat. Memang ada yang masih tetap bertahan karena adanya event musiman pariwisata atau karena kepiawaian seniman pendukungnya membaca tanda-tanda zaman semisal Cupak Gurantang. Muatan-muatan atau pesan-pesan yang sebelumnya banyak mengandung unsur kearifan lokal (local wisdom) karena tuntutan zaman berubah menjadi pesan sebuah seni media yang cuma jadi aspirin yang tidak menyembuhkan permasalahan masyarakat tetapi mengarahkan manusia pada suatu mimpi. Tentang honorarium tersebut sering terjadi ada calo yang nakal “menyunat” honor mereka dengan dalih macam-macam yang diamini begitu saja oleh anggota group yang memang lugu. Wayang Sasak di Lombok. Memang ada satu dua stasiun yang kelihatan peduli terhadap seni tradisi semisal Ketoprak Humor di RCTI – Wayang di Indosiar dan TV Lokal NTB : Lombok TV.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI terjadi situasi yang tak terduga sebelumnya di saat mana masyarakat tidak peduli pada apapun yang tidak menghibur. Media tradisi nyaris tidak dapat tempat lagi. Keadaan di NTB pun demikian. Sakeco di Sumbawa dan Rawa Mbojo di Bima dan Dompu. Tapi keadaan itu belum mampu membalikkan “kejayaan” seni tradisi masa Orde Baru. bukan mendorong pemberdayaan masyarakat. Hobby bermain mereka dalam seni tradisi secara perlahan ditukar dengan hobby baru yang tanpa pilihan : mencari penopang kehidupan lewat krya-karya baru di wilayah yang sangat asing dari aroma kesenian. Pesan-pesan pembangunan lebih banyak Cuma jadi porsi TVRI sedangkan TV Swasta lebih banyak mengadakan berita sensasional – iklan-iklan – gosip-gosip – sinetron yang lebih banyak jual mimpi dan mistik-mistik.

Sudah tentu harus memenuhi kriteria layak tampil – layak jual dan akhirnya layak dibayar. Alam yang indah. Di dalam potensi tersebut ada seni tradisional yang perlu “dipoles” sebagai seni turistik sudah tentu tanpa menghilangkan roh tradisinya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Tetapi hal tersebut sudah mulai berkurang sejak adanya pembinaan organisasi seni yang diadakan oleh lembaga pemerintah maupun swasta. Saat ini organisasi seni tradisi sudah mulai bergegas membenahi diri untuk menjadi salah satu “barang dagangan” pada ajang tersebut. Kelihatannya – mudah-mudahan – senimanseniman tradisional akan banyak dapat peluang dalam berkarya akhirakhir ini. budaya yang aneka. Semoga!! Prospek Pengembangan Masa Depan Pada dasarnya sebuah upaya pengembangan budaya adalah bagian dari pelestarian. Pesan-pesan pembangunan yang diharapkan lebih tersosialisasi lewat media seni tradisional yang komunikatif dan unik akan dengan mudah menyebar dan diserap masyarakat ketimbang pidato panjang dan rumit elit-elit politik. Dalam kaitannya dengan upaya pengembangan seni tradisi untuk 282 . yang mempunyai 3 aspek yaitu perlindungan. harusnya menjadi cair dan mudah-mudahan saling mengerti dan memaafkan. Adanya hajatan besar Pemda NTB mengadakan VISIT LOMBOK SUMBAWA 2012 yang tujuan utamanya menjadikan NTB destinasi jempolan di Indonesia barangkali bukan cuma mimpi. Dari kalangan pemerintah oleh Disbudpar dan Diskominfo dan kalangan swasta pada tahun 1999 oleh yayasan KELOLA yang dibiayai oleh Ford Fondation. Tetapi hajat kita lewat pemetaan saat ini bukan cuma sekadar menambah isi kocek sang seniman atau calo yang memperdaya mereka. Sejatinya – oleh warga NTB terutama seniman – ajang VLS 2012 diharapkan dapat sedikit memberi harapan kepada bangkitnya seni tradisi – tentu saja yang komunikatif – di tengah budaya asal jadi saat ini. khas dan unik adalah potensi yang menjanjikan ke arah itu. atau bahkan antara rakyat dengan rakyat sehingga melahirkan konflik berkepanjangan. Sumbatan-sumbatan komunikasi selama ini dirasakan antar komponen bangsa : antar pemerintah dan rakyat atau pemerintah dengan sesama pemerintah. pengembangan dan pemanfaatan.

Untuk tingkatkan dan tumbuhkan kesadaran sejarah. 3. pola. formal maupun non formal atau pendidikan masyarakat. Jadi artinya dapat dapat dan mungkin diubah. Bentuk. 1. Untuk menumbuhkan kepekaan dan toleransi dalam pergaulan antar sesama. Jenis pesan atau muatan yang mengandung pendidikan kultural. Sehubungan dengan hal tersebut. Event-event yang mendukung kreativitas seniman cukup banyak. Pemanfaatan seni tradisi untuk tujuan pendidikan adalah sebagai substansi untuk disosialisasikan. 2. 2. ada beberapa faktor pendukung kearah tersebut : 1. demi berbagai tujuan yang lebih khusus. atau pakem.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI jadi media komunikasi sosial. spiritual dan komentar sosial. 2. misalnya . c. Inventarisasi jenis-jenis seni tradisional yang komunikatif di seluruh wilayah NTB termasuk di dalamnya deskripsi lengkap tentang aspek-aspek : a. maka beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam upaya pengembangan menjadikan seni tradisi yang komunikatif di NTB sebagai media komunikasi sosial adalah sebagai berikut : 1. Dalam kegiatan ini harus dapat disepakati bahwa pakem-pakem yang ada pola-pola ataupun bentuk seni tradisi adalah sebuah produk seni dan bukan syahadat kita yang baru. Potensi seni-budaya NTB beragam dan khas. Masyarakat cukup terbuka terhadap pembaharuan. Contoh : BCB (Bulan Citra Budaya). Mengadakan upaya pengembangan lewat usaha kolaborasi antara seniman akademis dengan bakat alam atau tradisional. b. Untuk memacu internalisasi nilai-nilai budaya yang dapat memperkuat integritas sebagai bangsa yang mampu menjunjung moral yang tinggi. Festival/ Lomba Seni 283 . kita sebenarnya membicarakan pemanfaatan seni tersebut untuk tujuan pendidikan baik yang terstruktur maupun tidak terstruktur. Potensi untuk berubah. 3. Merujuk kepada hal-hal tersebut dan TOR dari kegiatan ini.

Misalnya : Komedi Rudat Dapat dikembangkan dengan memberikan nuansa humor yang “dipelajari” dari jenis humor masa kini (apakah lewat tv ataupun pentas terbuka) agar dapat lebih dihayati oleh audience tanpa menghilangkan roh cerita yang bernuansa Arab-Melayu. Wayang sasak Dengan mulai munculnya Dalang muda. Kita dapat menyatakan bahwa kemungkinan pengembangan di masa yang akan datang tidak akan mengalami banyak hambatan. Di Pulau Lombok Rata-rata seni tradisi di Lombok adalah seni kerakyatan. maka yang kita bicarakan dipersempit kepada jenis-jenis tersebut. Contoh upaya pengembangan : 1.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Tradisi dan saat ini sedang giat menyiapkan diri terhadap kegiatan skala besar bidang pariwisata yaitu VISIT LOMBOK SUMBAWA 2012. sudah tentu dengan tetap mengedepankan keutuhan cerita (unity) dan aspek artistik. Juga fungsi hadam yang dominan dapat lebih dimaksimalkan dengan tambahan pesan-pesan cerdas tentang hal-hal factual yang terjadi. dipentaskan di arena terbuka dan mempunyai ciri khas dan unik serta komunikatif. Karena yang diharapkan dalam pemetaan ini adalah seni tradisional yang komunikatif. harapan kita di NTB terhadap pengembangan seni tradisi cukup baik. Walaupun sebagian besar para Dalang masih asyik terjebak dalam pola-pola lama tanpa ingin menikmati “kebebasan” yang diberikan oleh reformasi tapi ada beberapa yang mencoba “melawan” tradisi den284 . Sebenarnya kalangan penonton yang kebanyakan sudah mulai bosan dengan pakem dan pesan yang sama dari tahun ke tahun datang menonton lebih disebabkan mau mendengar banyolan baru hadam karena pakem statis tak memberi nuansa segar. Begitu pula pola dan bentuknya.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI gan upaya-upaya kreatif. Walaupun saat ini pamornya sudah mulai memudar akibat banyolan-banyolannya kadang-kadang nyerempet hal-hal sensitif. Apalagi serbuan-serbuan seni kontemporer lewat panggung-panggung glamour layar-layar kaca seakan-akan meminta media tradisi untuk segera undur diri dari panggung seni Indonesia. Batutir. dll yang dalam takaran komunikatif agak kurang. Yang paling populer saat ini ialah musik SAKECO. Ambil contoh misalnya Wayang Sasak Lalu Nasib (Panginang Robek). Pesan285 . Dan upaya ini menambah asap dapur anggota groupnya. Lewat banyolan-banyolannya yang nyerempet wilayah pornografi yang khas sejak dekade 90an keatas cukup mendapat tempat di hati penonton. Jadilah dia tumpuan pesanan dari instansi pemerintah yang punya program yang harus disosialisasikan lewat media wayang. Tetapi Sumbawa dalam khasanah seni musik tradisional cukup kaya. Di Sumbawa Cuma ada (smpai saat ini) teater mula berupa Ngumang. termasuk generasi muda. 2. Sakeco adalah duet tradisional Sumbawa yang melantunkan LAWAS (Sastra Lisan Sumbawa) diiringi rebana dalam irama yang sangat variatif dan kelincahan duet yang rampak. Bagesa. Di Sumbawa Etnik Samawa yang tersebar di dua Kabupaten yaitu Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat tidak memiliki teater tradisional dalam pengertian teater terstruktur seperti Komedi Rudat atau Wayang di Lombok. Syukurlah NTB masih memiliki rakyat yang memberi apresiasi tinggi terhadap seni wayang walaupun tanpa malu-malu menganggap budaya instan adalah segala-galanya sebagai pedoman kehidupan. tetapi sejarah mencatat bahwa dia berani meretas penghalang kreativitas dalam berkesenian. Ada juga teater tradisional yang lain semacam Cupak Gurantang dan Topeng Amaq Abir yang mengambil cerita dari Serat Menak yang masih digandrungi masyarakat walaupun dalam jumlah terbatas karena wilayah pertunjukannya juga terbatas. Balawas.

Selain Sakeco ada satu lagi seni tradisi Sumbawa yang layak dikembang jadi media komunikasi sosial yaitu NGUMANG : semacam penyampaian (ekspresi) seorang pria yang sambil memegang sebatang kayu berhias dengan suara giring-giring menggerak-gerakkan tubuhnya dalam gerak tari khas sambil menyampaikan lawas di hadapan gadis-gadis atau audience dalam event-event tertentu seperti Karapan Kerbau dan – saat ini – di dalam pawai. (ingat pameo Sumbawa “Kurang racik kurang maras”) • Mengenai waktu penyajian yang biasanya semalam suntuk (sampai keluarnya Nasi Goreng) dapat dirancang agar lebih dipadatkan tanpa mengurangi daya pukaunya. Bima dan Dompu memiliki seni musik khas yang disebut RAWA MBOJO. • Jenis-jenis pesan melalui lirik-lirik lawas atau cerita-cerita agar lebih diseleksi tanpa menghilangkan sifat khas Sakeco. dll. Saat ini (dalam kurun waktu 3 tahun terakhir) sudah dicoba kembangkan Sakeco wanita dan ternyata dapat sambutan yang lumayan baik dari masyarakat. yang perlu diperhatikan adalah : • Perubahan irama harus lebih terasa. 3.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pesan yang disampaikan berasal dari Lawas atau kejadian yang sedang IN yang dikemas dalam kadar komunikasi yang intens dengan audience. Dalam upaya pengembangan. Begitu juga RABALAS LAWAS atau sejenis BERBALAS PANTUN yang sudah sering dilombakan antar kecamatan. yang segar dan sarat dengan variasi irama dan pesan. Artinya racik (irama yang mirip rap) harus lebih diperbanyak karena seperti dalam wayang racik adalah seolah-olah punakawan yang ditunggu banyolan segarnya. Isi lawas sangat lentur dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi. dibuat komposisi yang lebih baik dan pesan-pesan yang dipilih lebih pas dengan situasi. Seperti juga yang 286 . Di Bima/ Dompu Etnik Mbojo yang mendiami Kab. Untuk pengembangan dapat ditambah jumlah orang sehingga vokal jadi lebih menarik.

Walaupun lirik-liriknya hampir sama dengan pesan-pesan yang sama. Saran-saran • Dalam setiap usaha pengembangan agar selalu dijaga keseim287 . Ada juga Kapatu yang sama dengan Rabalas Lawas di Sumbawa. Lomba cipta lagu pop sering diadakan terutama di Sumbawa. maka upaya pengembangannya cukup berhasil walaupun belum berhasil menggaet anak muda untuk berpaling dari dunia mereka : musik modern yang serba canggih mengasyikkan. Ada satu hal yang layak dikembangkan bagi ketiga etnik di NTB yaitu maraknya penciptaan lagu pop daerah yang sudah diproduksi secara besar-besaran dari tahun ketahun dan cukup diminati rakyat. • Event-event pariwista dan festival atau lomba seni yang diadakan oleh pemerintah dan swasta cukup memberi peluang kepada para seniman atau pelaku seni untuk mengembangkan karya. Daripada ditinggalkan pendukungnya. sneiman-seniman rawa Mbojo mengadakan perpaduan antara irama asli mbojo dengan gempitanya Dangdut yang lalu menghasilkan karya yang mulai digandrungi lagi oleh khalayak. Penutup 1. seniman-seniman di kedua daerah tersebut telah mencoba mengangkat Rawa Mbojo lewat persentuhan dengan irama yang merajai wilayah musik tanah air saat ini yang disebut DANGDUT. Prestasi nasional baru-baru ini sebagai penyanyi terbaik lagu pop daerah tingkat nasional di Jakarta memberi semangat kepada musisi pop daerah Sumbawa untuk berkarya. 2. tetapi karena settingnya tidak lagi statis (panggungnya mulai dibenahi). Kesimpulan • Media tradisional NTB masih punya potensi untuk menjadi media komunikasi sosial. kaidah-kaidah pentas sebagai sebuah seni pertunjukan mulai diakrabi. Karena lirik-lirik lagu tersebut kebanyakan berasal dari sastra lisan tradisional maka peluang penyampaian pesan-pesan moral cukup baik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI terjadi di Sumbawa.

2003. Agar seniman yang berprestasi mendapat apresiasi sesuai dengan mutu karya-karya dan pengabdiannya. Prof. Kerth Tester Media Cultural Morality. Kekuatan Itu Dimulai Ketika Cinta Bau Bensin. Tirtagangga. Made Bandem Melacak Identitas di tengah Budaya Global. Kemajuan teknologi harus dimanfaatkan secara maximal untuk mengembangkan kreativitas seniman disertai peningkatan frekuensi festival/ lomba seni terutama seni tradisional. 1999 Mus Biawan Semangat Etnis Teater Kita. ______. 1999. 2002. Dialog Interaktif Bappeda NTB. Daftar Pustaka Edi Sedyawati. Mataram. Bagaimanapun hambatan-hambatan komunikasi yang akhirakhir ini terasa menjadi penghambat kemajuan bangsa. Temu Ilmiah MSPI. 1998 288 . Seminar Seni Pertunjukan Indonesia Seri I STSI Surakarta. Temu Teater Nasional Yogyakarta. Fred Wibowo Seni Media dan Media Seni. Otonomi daerah yang dihajatkan untuk memberi peluang maksimal bagi daerah dalam pengembangan segala kehidupan termasuk budaya jangan dijadikan ajang pemenuhan nafsu politik dan ekonomi semata.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF • • • • bangan antara porsi pesan dan unsur artistik sehingga karya yang dihasilkan adalah karya unity yang dapat diterima secara “ikhlas” oleh pendukungnya. Dr. 1999. Peningkatan Pemanfaatan Tradisi Seni Budaya Sebagai Obyek Daya Tarik Pariwisata.Temu Teater Nasional Yogyakarta. Juxtapose. barangkali salah satu sebabnya adalah karena pembuat kebijakan belum begitu mengerti yang diinginkan rakyat disebabkan adanya barikade protokuler yang sengaja dibuat untuk mengurangi keakraban penguasa dengan rakyatnya.

Desa Sapit Kec. Lombok Timur : Sukiman : : Topeng amaq Abir 4. Baluq Diarsa Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan : Dusun Karang Bliq. Gema Karyawan : Depdikbud Kec. Komedi Rudat Borok Alamat : Desa Buntiang. Kec. Sakra Lombok Timur. Desa Marong Kec. Pringgabaya. Yusuf M. Yusuf Cupak Gurantang 2. Darma Kerti Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan : Dusun Batu Pandang. Pimpinan : Guru Bangka Kontak Person : Suhardi (Tlp : 0376 22454) Materi Garapan : Komedi Rudat 289 Alamat .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI LAMPIRAN DAFTAR KONTAK ORGANISASI SENI TRADISIONAL NTB LOMBOK 1. Paraya Timur Lombok Tengah NTB (didirkan tahun 1987) : Lalu Sahibi : Komang Restu (tlp : 0370 654706) : Teater Topeng Amaq Abir : : : : Dasan Agung Mataram M. Gerung Lombok Barat Pimpinan : Nuradi Kontak Person : Materi Garapan : Wayang Sasak 5. Suanda Putra Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan 3.

Sumbawa. dll. Sumbawa. Kemang Satange Alamat : Pelat. Pimpinan : Maladi. PLK Kab.Pd. Rasange Bima Pimpinan : H. Sahiruddin Kontak Person : Sukardi (Tlp. Purnama Ria Alamat : Gapuk Selatan Dasan Agung Mataram Pimpinan : Ramiun Kontak Person : Ramiun (tlp.Pd. Muhtar Kontak Person : Drs.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 6. Kab. SUMBAWA 1. Wayang Lalu Nasib Alamat : Gerung Lombok Barat Pimpinan : Lalu Nasib Materi Garapan : Wayang Sasak 8. Kec. S. 0370 622068) Materi Garapan : Teater tradisional. Kontak Person : Hasanuddin. Kontak Person : Jemaan (tlp. Doro Kumbe Alamat : Kec. S. Hilir Ismail (Tlp. 0374 42408) Materi Garapan : Musik Tradisional 290 . 0371 22720) Materi Garapan : Sakeco 3. (Hp. 0370 621209) Materi Garapan : Komedi Rudat 7. Sumbawa Pimpinan : Hasanuddin. Sumbawa Alamat : Kantor Budpar Kab. Komedi Rudat Kembali Jaya Alamat : Penede Gandor Lombok Timur Pimpinan : Drs.Pd. 08123719063) Materi Garapan : semua jenis seni 2. S.

Utan 4. Hilir Ismail (tlp. Harin Alamat : Kaiang Moyo Hilir Subawa 291 . Darmiati/ Rukaiyah (perempuan) Alamat : Desa Seminar Kab. Mada Duli Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan : : : : : : : : Desa Kempu. Diterbitkan oleh Yayasan Kelola atas bantuan Ford Foundation. Editor dan penulis artikel Sapardi Djoko Damono. SH (tlp. DUET SAKECO 1. Tini Cs (perempuan) Alamat : Kec. Kahar/ Mustafa (Sambu) Alamat : Kec. Kempo. Alamat : Moyohilir Sumbawa 2. 2000. Kab. Ompu Nae Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan Sumber : Direktori Seni dan Budaya Indonesia. Wera Bima H. 0374 42408) Musik Tradisi 84261 5. Abd. Dompu Zulkifly Adidin Rifai. Syamsuddin/ Sukardi Alamat : Pamulung 3. Kec. Kec.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 4. 0373 22807) Musik Tradisional Taliwang. Sumbawa Barat 6. Utan 5. Usman Drs. Abdul Horin Cs.

Kadri. M.Si.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF aram. Pemerhati Komunikasi dan Dosen Ilmu Komunikasi IAIN Mat- 292 . Dr.

Pada saat bersamaan mereka (generasi muda) tidak bisa melepaskan diri dari ‘serangan’ budaya global yang terus menerpa. Seni dan budaya tradisional yang selama ini menjadi kebanggaan. Oleh karena itu. upaya pelestarian dan penanaman kencintaan public (terutama generasi muda) terhadap seni dan budaya tradisional menjadi tugas K 293 . Namun ekspektasi ideal tersebut di atas harus berhadapan dengan kecenderungan memudarnya seni dan budaya tradisional di setiap daerah. untuk dilestarikan dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Mengemas Seni Tradisional Komunikatif NTB untuk Media Komunikasi Sosial Dr. Kadri. kini tidak banyak lagi dikenal oleh generasi muda. M. Sungguh banyak nilai dan pelajaran yang dapat diambil dari setiap seni dan budaya tradisional untuk dijadikan sebagai referensi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keragaman ini sekaligus menjadi kekayaan bangsa yang tak ternilai. upaya pelestarian dan pewarisan senibudaya tradisional menjadi tugas yang tidak mudah di tengah semakin terbukannya akses masyarakat untuk mempelajari seni dan budaya asing lewat kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. Sehingga tidak heran bila anak-anak lebih banyak mengenal nilai dan budaya asing ketimbang seni dan budaya sendiri. Memang.Si Pakar Komunikasi IAIN Mataram Pengantar eragaman seni dan budaya merupakan salah satu karakter bangsa Indonesia yang membedakannya dengan negara lain.

1 Gantao adalah sejenis permainan bela diri pencak silat yang melibatkan dua orang lelaki Bima dengan memperagakan adegan saling serang menggunakan kaki dan tangan untuk saling banting. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang didiami oleh tiga etnik mayoritas (Sasak. saat ini sangat susah ditemukan. meskipun belakangan mulai terlihat adanya perhatian pemerintah daerah. di antaranya menjadikan seni tradisional sebagai media komunikasi sosial. Kondisi ini diperparah lagi dengan minimnya perhatian pemerintah untuk melestarikan seni dan budaya tradisional setiap daerah. sebelum berbicara tentang pemanfaatan seni tradisional sebagai media komunikasi sosial. Samawa. 294 . Generasi muda pun tidak lagi menjadikan seni tradisional ini sebagai karya dan seni yang disenangi. Belum lagi kita berbicara tentang cagar dan bangunan budaya. Permainan ini diiringi dengan alunan musik tradisional Mbojo. Di sisi lain. Satu-satunya yang masih tertinggal adalah gaung penganten yang menggunakan adat Mbojo. sehingga belum banyak yang berpikir pemanfaatan hal tersebut sebagai sebagai media komunikasi untuk menyampaikan pesan social baik oleh pemerintah kepada publik secara vertical maupun secara horizontal di antara masyarakat. mengharuskan pemerintah daerah untuk menggunakan media komunikasi yang beragam. bersamaan dengan giatnya kampanye pariwisata di provinsi dan kabupaten yang ada di NTB. karakter geografis NTB yang kepulauan dan terdiri dari wilayah yang masih jauh dari pusat ibu kota provinsi dan kabupaten. Eksistensi Seni Tradisional di tengah Media Modern Tidak mudah untuk mempertahankan eksistensi seni tradisional di tengah membanjirnya seni dan budaya global. Namun harus diakui bahwa eksistensi seni dan budaya tradisional di NTB mengalami ‘reduksi’. memiliki seni dan budaya tradisional yang beragam. Selama ini seni dan budaya tradisional masih dimaknai sebatas karya seni pemuas naluri estetika setiap orang. Beberapa seni dan budaya tradisional yang selama ini menjadi produk dan pernah dihidupkan oleh rakyat Bumi Gora. Rumah-rumah tradisional Bima seperti rumah panggung bukan lagi menjadi kebanggaan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF awal yang mesti direalisasikan. Prosesi pernikahan dengan adat Mbojo pun sudah mulai disederhanakan dan mengikuti prosesi budaya modern. dan Mbojo) serta etnik-etnik lainnya. Budaya Gantao1 yang pernah semarak di Bima (suku Mbojo) misalnya kini sangat jarang lagi dipentaskan dalam setiap pesta budaya di Bima. yang baru mendapat perhatian beberapa tahun terakhir.

Salah satunya adalah pengaruh kehidupan global yang dimotori oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. dan juga di komunitas Sasak. Sangat susah ditemukan acara atau tayangan media massa tentang seni tradisional daerah tertentu. Pemerintah daerah lebih senang menggunakan media modern seperti televisi. Kecenderungan yang tidak terlalu beda juga terjadi di Sumbawa (suku Samawa). rumah panggung masih menjadi kebanggaan. Belum lagi kita berbicara tentang wajah televisi dan media massa kita (Indonesia). dengan mempraktekkan dan mengajarkan gaya hidup bergelimang kemewahan dengan asesoris modern yang jauh dari identitas tradisional. meskipun apa yang dilakukan pemerintah kota Mataram belum maksimal. Bahkan orang tua pun tengah melakukan upaya ’pemudaran’ rumah panggung untuk diganti dengan rumah modern. Dalam beberapa kebijakannya. pemerintah juga belum bisa mengoptimalkan eksistensi seni dan budaya tradisional sebagai media komunikasi sosial. dan baliho sebagai sarana kampanye program atau kampanye publik (public campaign). Dalam konteks seni tradisional juga mengalami reduksi peminat. Pengaruh ini terutama melanda generasi muda. Sebagai contoh. Seni tradisional Sasak seperti Teater Cepung dan Teater Cupak Gerantang misalnya saat ini tidak lagi menjadi seni teater yang masif digandrungi. pemerintah belum optimal mengupayakan pelestarian dan pengembangan seni tradisional. Pemanfaatan seni dan budaya tradisional yang minim tidak hanya dilakukan oleh rakyat atau media massa. surat kabar. tetapi juga oleh pemerintah. Banyak faktor yang menyebabkan fenomena pereduksian seni budaya tradisional terjadi. belum banyak setiap pemerintah daerah yang ada di NTB mengadakan atraksi dan kompetisi seni dan budaya tradisional di tingkat pelajar. dan bahkan menjadi mahar favorit yang disediakan oleh penganten pria. Di samping itu. Kini keluarga baru sudah senang dengan rumah-rumah berarsitek modern.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Pada puluhan tahun silam. Selama ini sangat susat 295 . radio. Sebagian besar acara dan isi tayangan media massa kita cenderung hedonis. Kemudahan mengakses informasi berkontribusi bagi entengnya mereka (generasi muda) untuk mengkonsumsi seni budaya apa saja dengan dukungan visualisasi dan audio mutakhir. Rumah adat yang berjenis rumah panggung dan kayu bukan lagi menjadi rumah favorit. Kota Mataram mungkin dapat dikecualikan dalam generalisasi ini.

Ketika hal ini dapat diwujudkan maka sedahsat apapun serangan informasi dan media global. pemerintah juga harus memanfaatkan amanah Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran. yang antara lain menganjurkan untuk mengakomodir sepuluh porsen (10% porsen) siaran berkonten lokal bagi televisi berjaringan nasional. faktor media yang digunakan juga turut berkontribusi menciptakan komunikasi yang efektif. Di samping itu. yang ti296 . Efektifitas Komunikasi Melalui Seni Tradisional Salah satu ukuran efektif dan tidaknya komunikasi adalah ketika apa yang dimaksudkan oleh pengirim pesan. pengusaha.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF terlihat (untuk mengatakan tidak pernah) seni tradisional dimanfaatkan sebagai sarana publikasi dan penyampai informasi pembangunan dan sosial lainnya dari pemerintah. yakni melestarikan seni budaya tradisional sekaligus membantu kesuksesan program yang dilaksanakan. Di samping itu. Momentum ini dapat dimanfaatkan sebagai wadah yang baik untuk mengkampanyekan atau mensosialisasikan seni dan budaya tradisional setiap daerah. Ketepatan memilih media komunikasi dan kelihaian mengemas tampilan media yang telah dipilih merupakan kunci keefektifan komunikasi yang dilakukan. Secara pelan tapi pasti setiap kalangan (pemerintah. dengan cara mendorong pegiat media dan penyiaran yang ada di NTB untuk menyiapkan paket seni buya tradisional untuk ditayangkan di media nasional. Kita masih memiliki harapan karena proses reduksi seni budaya tradisional tidak berlangsung secara radikal (tidak menjadi gerakkan anti budaya tradisional secara massal). sama dengan apa yang dipahami oleh penerima pesan. Komunikasi dalam konteks ini harus dimaknai secara luas. tidak akan mampu menggoyahkan kecintaan anak bangsa terhadap seni dan budayanya sendiri. Ini berarti kita masih memiliki sisasisa ruang dan waktu untuk merevitalisasi seni tradisional di benak publik. dan masyarakat pada umumnya) harus membangun tekad yang sama untuk menjadikan seni dan budaya tradisional sebagai media komunikasi sosial sekaligus sebagai perekat ikatan sosial di antara warga se-etnik dan se-bangsa. sekaligus untuk mengimbangi serangan budaya global yang kian mengancam. Ketika pemerintah menjadikan seni tradisional sebagai media komunikasi sosial tentu akan memberikan keuntungan ganda.

segala produk dan wujud seni mesti dimaknai sebagai bentuk pesan yang memiliki makna tersendiri. Dalam asumsi dasar teori uses and gratifications 2 dikatakan bahwa penggunaan media yang dilakukan oleh seseorang bergantung kebutuhan dan ketertarikannya terhadap suatu pesan yang ditawarkan. tetapi juga menyangkut seni dan budaya yang berdimensi nonverbal. Ketika seni tradisional telah diminati masyarakat dan dikemas secara menarik. (4) diambil keputusan (decide) untuk menerimannya. Dengan pemaknaan yang luas seperti ini. dan (5) dilaksanakan (action) sesuai dengan isi pesan. Oleh karena itu. Suatu hal yang tidak kalah pentingnya adalah menjadikan seni tradisional sebagai suatu kebutuhan setiap individu. Oleh beberapa pakar komunikasi. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. yakni. maka prasyarat awal yang harus dilakukan dalam rangka menjadikan seni tradisional sebagai media komunikasi yang efektif (komunikatif) adalah bagaimana menjadikan atau mengemas seni tradisional sebagai suatu karya seni yang diperhatikan atau diminati oleh masyarakat agar mereka tertarik. Upaya ini penting ketika hendak menyelipkan pesan-pesan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan sosial dan pembangunan yang akan melibatkan partisipasi publik untuk mensukseskannya. tentu saja hal tersebut akan membuat seni tradisional dapat dengan mudah berperan sebagai media komunikasi sosial yang menjadi pilihan publik. komunikasi tidak hanya dimaknai dalam konteks seni pertujukan dan nyayian serta musik yang berbasis verbal. Lihat Effendy. (1) pesan tersebut mendapat perhatian (Attention) sasaran pesan. pada umumnya tradisi komunikasi orang Indonesia menggunakan jenis komunikasi konteks tinggi. Apabila mengikuti alur komunikasi atau proses transfer pesan seperti di atas. Suatu pesan akan diterima dengan baik antara lain ketika pesan tersebut memenuhi empat unsur. (2) menarik perhatian (interest) yang menerimanya. (3) berkeinginan (desire) untuk menerimannya. Bandung: Citra Aditya Bhakti 297 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dak hanya sebatas komunikasi verbal tetapi juga yang nonverbal. maka dalam konteks seni dan budaya tradisional. 2 Teori ini pada dasarnya merupakan teori yang berkaitan dengan penggunaan media massa oleh khalayak. Ketika hal ini dapat diwujudkan maka proses transfer pesan sosial lewat seni tradisional menjadi relatif mudah. 2000.

ketika orang yang ber-etnik sama membicarakan persoalan yang sama lewat media komunikasi yang sama. Artinya. Teater Cupak Gerantang (yang berasal dari suku Sasak). berputar-putar atau gaya komunikasi yang tidak simpel dan tidak langsung pada point dan sasaran utama. Seni tradisional merupakan ikatan emosional yang dapat dijadikan sebagai perekat komunikasi sosial di antara masyarakat. Bandung: Rosda 298 . Salah satu prinsip komunikasi disebutkan bahwa ”semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi”3. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF yakni cara berkomunikasi yang berbelit-belit. Tradisi komunikasi seperti ini lebih relevan dengan karakter seni tradisional yang ada (khususnya di NTB). Esensi pesan yang terkandung di dalamnya pun tidak bisa diperoleh secara instan. 2002. atau Teater Sakeco dan musik berpantun ”Bakelong” (yang berasal dari suku Samawa) merupakan bentuk seni tradisional yang berkarakter dialogis dengan durasi waktu yang relatif lama. maka proses transfer pesan lewat seni tradisional menjadi lebih efektif. dan akan menghasilkan sesuatu yang lebih kontributif. Ketika ikon ini dapat dikemas dengan sebaik-baiknya menjadi media komunikasi sosial. Teater-teater tradisional seperti teater Cepung. Seni tradisional merupakan salah satu ikon kesamaan yang bisa menyatukan setiap perbedaan personal. bahwa langkah awal yang harus dilakukan untuk menjadian seni tradisional NTB sebagai media komunikasi sosial yang efektif adalah dengan menjadikan hal tersebut sebagai hiburan atau karya seni yang digandrungi publik. Prinsip komunikasi ini semakin mempertegas bahwa komunikasi yang efektif tidak terlepas dari adanya kesamaan nilai sosial dan budaya. maka ada jaminan bahwa komunikasi tersebut akan berlangsung secara efektif. Ikatan emosional atas persamaan sosial dan budaya menjadi faktor penting dalam kesuksesan komunikasi manusia. 3 Lihat Deddy Mulyana. Kebanyakan orang Indonesia senang dengan gaya bertutur melalui proses panjang menuju sasaran. Menjadikan Seni Tradisional NTB sebagai Media Komunikasi Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya. Kesamaan sosial dan budaya bukan hanya dalam konteks kesamaan nilai dan seni yang dimiliki tetapi juga kesamaan latarbelakang etnik dan suku dari setiap peserta (orang yang terlibat dalam) komunikasi.

Kurikulum tentang seni dan budaya tradisional harus mendapat perhatian maksimal sebagai langkah akademik untuk menanamkan nilai dan kearifan lokal pada diri setiap anak. anak kita banyak disuguhi dengan permainan modern yang tidak jelas asal usulnya. Untuk kebutuhan optimalisasi performance seperti inilah. Event-event seni budaya tradisional harus terus digalakkan di setiap jenjang pendidikan dasar dan menengah. agar anak cinta produk lokal. Proses penanaman kecintaan ini harus terus berjalan (tanpa terikat dengan waktu dan ruang). Komitmen yang tinggi untuk menjadikan seni tradisional NTB sebagai media komunikasi sosial tidak cukup sampai penanaman kesadaran mencintainya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk merevitalisasi eksistensi seni tradisional di tengah tantangan global yang multi bentuk. Penanaman nilai dan kecintaan terhadap seni tradisional dapat dilakukan lewat berbagai cara. diperlukan identifikasi menyeluruh terhadap karya dan jenis seni tradisional yang ada. Hal yang lebih penting lagi adalah bagaimana menanamkan kencintaan terhadap seni dan budaya tradisional sejak usia dini. Saatnya alat permainan edukatif (APE) lebih banyak menyuguhkan permainan dari bahan lokal dan bermuatan nilai lokal. sambil mengambil upaya serius untuk mengemas seni tradisional yang ada agar menjadi produk atau karya yang diminati. nyanyian-nyanyian yang tidak terlalu mendidik dan minim muatan lokal. Usia dini merupakan waktu yang tepat untuk penanaman nilai dan tradisi tertentu dengan harapan akan membekas dan turut mewarnai aktivitasnya di masa yang akan datang. Selama ini. Dibutuhkan kemasan yang serius dengan dukungan maksimal dari semua kalangan untuk mengkampanyekan atau mensosialisasikan seni tradisional agar mendapat tempat di hati rakyat. Hal yang sama dapat dilakukan di pendidikan formal dengan cara mereformasi kebijakan dan kurikulum Pendidikan SD sampai SMA. Dua di antaranya adalah lewat pendidikan nonformal dan formal. dan seni serta budaya tradisional. Permainan-permainan anak di PAUD dan TK formal harus direkonstruksi. Ben299 . Proses identifikasi ini penting terutama untuk menentukan strategi pemanfaatan seni tradisional yang ada secara tepat dan efesien sehingga bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan yang diinginkan. Setiap momen apapun harus dimanfaatkan untuk mensosialisasikan seni tradisional. karya sendiri.

dalam pergelaran seni tari juga dapat dimodifikasi sehingga dapat lebih komunikatif. seni tradisional yang dapat dijadikan sebagai media penghimpun massa. seni tradisional yang dapat dimanfaatkan secara langsung sebagai media komunikasi sosial. seperti musik tradisional. Seni tradisional berkarakter seperti ini sangat berpotensi untuk mengumpulkan massa yang lebih banyak. tanpa menghilangkan nilai historis dari setiap karya seni yang ada. Kedua. Teater ini merupakan teater klasik yang berasal dari etnik Sasak. dan berbagai tari tradisional di provinsi NTB. Seni tradisional dalam kategori kedua ini adalah semua seni tradisional yang berbasis drama dan teater. lirik lagu biola di Bima lebih banyak didominasi oleh lirik asmara dan percintaan. yakni sekitar tahun 1850an. ekonomi. Peran teater cepung di tengah masyarakat Sasak menyangkut berbagai aspek seperti politik. yang muncul tidak lama setelah penulisan lontar ”Tutur Monyeh oleh Jero Mihran. sosial. Selama ini dalam penghamatan saya. Pada umumnya yang termasuk dalam kategori ini adalah karya seni non drama/teater. Teater Cepung. Di samping itu. maka dapat dibagi dua jenis seni tradisional dalam konteks penggunaannya sebagai media komunikasi sosial. dalam artian tidak hanya pesan nonverbal lewat gerakan anggota badan tetapi juga bisa dengan membuat improvisasi musik pengiring dengan lagu-lagu sarat pesan tertentu. dan agama. 300 . Tentu saja untuk mewujudkan hal ini membutuhkan sentuhan ide dan tangan kreatif seniman di setiap daerah. apalagi bila dikemas dan dimodifikasi semenarik mungkin. Dalam seni tradisional Bima seperti ”Biola” misalnya dapat diselipkan irama lagu perpantun yang mengandung pesan-pesan sosial tertentu. pergelaran pertunjukan tradisional. seperti: a.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dasarkan identifikasi sederhana terhadap seni tradisional di NTB. yakni: Pertama. Yang dimaksud dengan kategori seni tradisional yang pertama ini adalah semua seni tradisional yang yang tidak berkarakter penyampai pesan secara langsung. Momen berkumpulnya massa itulah yang dapat dimanfaatkan oleh siapapun untuk menyelipkan agenda-agenda tambahan terutama dalam menyampaikan pesan tertentu sesuai kebutuhan.

4 Salman Alfarisi. Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta 301 . Sayang hingga saat ini. berisi tentang dialog komedi berpantun yang diiringi dengan alat musik tradisional seperti gendang dan rebana Kedua jenis teater di atas merupaka dua karya seni berbasis drama/ teater yang dapat dimanfaatkan secara langsung sebagai media komunikasi sosial. ritual. Tesis. 2010. Karakter wilayah NTB dengan tingkat konflik sosial yang relatif masih tinggi. kritik sosial. Teater Sakeco. sangat tepat untuk menjadikan seni tradisional seperti teater dan drama sebagai media komunikasinya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI karena lontar Tutur Monyeh sebagai sumber teater Cepung yang berisi tentang nilai. teater dan drama memiliki posisi strategis dan dapat berperan sebagai forum penghilang ketegangan dan pencair perbedaan. LSM ternama tersebut sadar benar bahwa karya seni seperti drama dan teater menjadi wadah yang efektif untuk menyampaikan pesan bermakna. Penutup Gambaran panjang lebar di atas semakin mempertegas betapa pentingnya seni tradisional daerah NTB sebagai media komunikasi sosial. Bahkan menurut penelitian Alfarisi4 b. yaitu pendidikan moral. Teater ini adalah karya seni tradisional yang berasal dari suku Samawa. apalagi aktor yang terlibat dalam teater itu adalah seluruh representasi masyarakat yang ada. Namun lagi-lagi. Sebagai bentuk apresiasi seni. keberadaan keduanya tidak seperti saat awal keberadaannya. eksistensi kedua teater tersebut akan lebih bermakna sebagai media yang komunikatif ketika keduanya telah digandrungi oleh masyarakat. Alur cerita yang ada dalam teater tersebut sangat mungkin untuk dimodifikasi dan diselipi dengan pesan-pesan tertentu yang penuh makna. dan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat Sasak. Teater Cepung Lombok (Kajian Tekstual Seni Pertunjukan). Saya sangat tertarik dengan upaya yang dilakukan oleh sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Eropa yang merekrut beberapa pelajar di wilayah konflik di NTB untuk diajarkan atau dilatih drama bertema perdamaian/persamaan yang akan dipentaskan di depan saudara dan orang tua mereka.

Sosialisasi dan penanaman kesadaran berbudaya dan mencintai seni tradisional sendiri merupakan langkah awal yang baik menuju efektifitasnya pemanfaatan seni tradisional NTB sebagai media komunikasi sosial. 302 . pemerintah daerah harus memberi apresiasi (dukungan) yang serius untuk menyediakan fasilitas seni dan budaya sebagai wadah dan ruang ekspresi publik sekaligus sebagai benteng pelestarian budaya lokal.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Atas dasar kesadaran itulah dibutuhkan upaya serius semua kalangan untuk mengidentifikasi dan memodifikasi kemasan seni tradisional agar dapat dimanfaatkan sebagai media yang komunikatif dalam menyampaikan pesan sosial tertentu. Lebih dari itu.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 303 .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 304 .

PENUTUP 6 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 306 .

dapat mudah kita temukan kantor perwakilan pemerintah kabupaten atau kota. Memang sistem yang dibangun waktu itu sangat sentralistik. Ibaratnya komunikasi bisa dibangun seperti kontak listrik. Pemerintah tinggal menghidupkan saklar on/off-nya saja lantas semua infomasi dari atas bisa tersebar luas dan relatif seragam. Bayangkan jika separuh kabupaten/ 307 D . Sistem pemerintahan lebih memberikan otonomi yang luas. informasi tentang kebijakan pemerintah bisa diketahui pemerintah daerah dengan cepat. Di beberapa penjuru kota. tapi komunikasi antar lembaga justru terasa tidak lancar? Ketidaklancaran tercermin dari betapa banyaknya kantor perwakilan pemerintah daerah yang berada di Jakarta. Kondisi ini memicu terjadi paradoks. pasokan informasi dari pemerintah daerah pun relatif lambat dipahami oleh pemerintah pusat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Lestarikan Media Tradisi Suprawoto ulu ketika penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) belum seperti saat sekarang. demikian pula media massa berada dalam kontrol pemerintah. ketika TIK akses komunikasi menjadi semakin mudah. Ketika reformasi bergulir. utamanya kepada pemerintah kabupaten/kota. di tengah TIK yang makin berkembang tapi informasi tentang program pemerintah oleh masyarakat luas relatif sulit tersebar dan dipahami masyarakat. Sebaliknya. Memang ada ironi di kalangan pemerintah.

wayang Bali. Penanggulangan HIV/ AIDS. Agar yang menikmati pertunjukan bukan hanya yang hadir di tempat pertunjukan diselenggarakan. Pertama. adalah melakukan penyebaran informasi atau diseminasi informasi dan komunikasi kepada masyarakat. Untuk itulah. mengingat seni tradisi komunikatif masih efektif untuk penyampaian pesan tentang kebijakan Pemerintah. penanggulangan Flu Burung. pengalaman 308 . Penyebaran informasi saat ini betulbetul harus merupakan informasi untuk kepentingan masyarakat banyak. Bukan untuk kepentingan kelompok atau partai tertentu. Nuh) meminta mencoba untuk mencari masukan dari para ahli di bidangnya bagaimana ke depan dan sekaligus memetakan seni tradisi yang komunikatif dimaksud.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kota punya perwakilan di Jakarta! Berapa ratus gedung harus dibangun? Berapa anggaran yang mesti dikeluarkan? Kalau perwakilan pemerintah provinsi mungkin masih sesuai dengan konteks pembagian kewenangan pemerintahan. wayang golek. Peta Poang. Baik media mainstream (radio. dan cetak) hingga media baru bahkan media tradisonal yang komunikatif. menghadapi Bencana dan lain sebagainya. sewaktu Menteri Komunikasi dan Informatika (semasa dijabat M. Kantor perwakilan pemerintah provinsi dibutuhkan bisa menjembatani koordinasi kewenangan pengaturan pemerintah pusat dan daerah. Di beberapa kawasan Indonesia. ternyata media tradisional komunikatif seperti wayang kulit. televisi. Seperti kebijakan Pemerintah tentang kenaikan BBM. Ada beberapa pengalaman menarik dalam menggunakan seni tradisi untuk diseminasi informasi kebijakan publik. Kementerian Komunikasi dan Informatika mencoba mengembangkan komunikasi dan penyebaran informasi melalui berbagai media. maka pada tahun 2009. dan sebagainya masih sangat digemari masyarakat. maka juga disiarkan RRI atau radio lokal setempat dan juga siaran langsung/tunda di TVRI setempat atau nasional. Hal ini tentunya sesuai dengan salah satu tugas Kementerian Komunikasi dan Informatika. Terbukti setiap pementasan selalu dipenuhi pengunjung. Dul Muluk. ketoprak. *** Perlunya kebijakan pemerintah untuk dapat segera dipahami masyarakat luas. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya.

Ludruk tinggal satu yang pentas. Di Jakarta sendiri. Selama ini Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menggelar ratusan kali pertunjukan seni tradisi komunikatif untuk menyampaikan kebijakan Pemerintah tersebut. Di Aceh kami gunakan seni tradisi semacam teater tutur “poh tem” . Seni ludruk keliling yang dulunya begitu banyak di Jawa Timur saat ini nasibnya sangat menyedihkan. yakni Wayang Orang Sriwedari diSurakarta. Karena dengan bahasa dan kesenian lokal masih lebih efektif untuk segera dipahami. Seperti Ketoprak Suryo Budoyo di Kediri nasibnya tak jauh berbeda. Di kota Surabaya sendiri. Demikian juga di Sumsel dan Riau Kepulauan. Seni itu efektif sekali untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang program Pemerintah khususnya mengenai infromasi tentang MoU Helsinki waktu itu. di Jawa misalnya. Itupun penontonnya sangat sedikit dapat dihitung dengan jari. ketoprak yang digelar di alun-alun kemudian disiarkan langsung oleh TVRI dan RRI. namun itupun pentasnya hanya sekali seminggu. kini hanya ada satu seni tradisi yang pentas secara rutin. Tentunya itu bukan satu-satunya cara untuk menjawab eksistensi seni tradisi komunikatif. Malahan kadang-kadang sebagian besar turis asing. Pengalaman kedua ketika diminta untuk menjelaskan mengenai kenaikan BBM dan program BLT (Bantuan Langsung Tunai). Di Jawa digunakan wayang kulit.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI saat menjadi ketua tim sosialisasi MoU Helsinki di kalangan masyarakat Aceh juga menunjukkan betapa seni tradisi dapat berperan penting. yang kalau di Jawa seperti Kentrung. sekarang bisa dihitung dengan jari. Wayang Orang Bharata yang dulunya demikian mendapat tempat di hati warga kota Jakarta saat ini pentas secara rutin hanya sekali seminggu. Salah satu media yang digunakan juga menggunakan seni tradisi. seni Dul Muluk tidak 309 . Saat ini saja sudah terbukti. Di setiap pertunjukkannya kemudian disiarkan RRI atau radio setempat. Ternyata luar biasa penontonnya. melestarikan seni tradisi bukanlah hal mudah. yaitu yang di Wonokromo. Demikian kondisi pertunjuan seni tradisi saat ini. Banyak tantangan yang dihadapi. Malah dalam prakteknya. Yang masih ada nasibnya kembang kempis. Malahan Ketoprak Siswo Budoyo dari Tulung Agung yang demikian legendaris bagi masyarakat Jawa khususnya Jawa Timur sudah lama gulung tikar. Demikian juga Ketoprak yang dulunya sangat banyak group keliling.

Diakui Anang Sukardi. Mereka ini selain seniman pemain juga para wiyogo atau penabuh gamelan serta kru pendukung lainnya. grup ini akhirnya tetap bertahan. Harga tiket masuk ketoprak Suryo Budoyo hanya dijual Rp 2. pertunjukan ketoprak harus tetap jalan. 310 . saat ini kesenian ketoprak semakin tersisih serta kalah dengan pertunjukan sinetron dan film yang banyak diputar di layar TV. Padahal total jumlah kru pemain dan wiyogo mencapai Rp 40 orang (Surya 7 September 2011).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Seniman Ketoprak Mencoba Bertahan dalam Impitan (1) Tiket Rp 2. Bangunan tobong atau tonil tempat pemain ketoprak bermain juga sangat sederhana alias ala kadarnya. Bambu yang menjadi tiang penyangga terlihat sudah banyak yang lapuk. Namun. Kesenian ketoprak juga termasuk kesenian padat karya yang melibatkan banyak pemain.000 setiap pertunjukan. Anang mengungkapkan. Pernah suatu ketika jumlah penonton yang membeli tiket masuk hanya belasan orang. Suka duka sudah dilalui para seniman ketoprak itu. Uang memang penting tapi yang terpenting bagi kami adalah jiwa seni. Malahan. Kecamatan Kayen Kidul. uang bukan segala-galanya. Kabupaten Kediri. mulai dari sepinya penonton sampai guyuran hujan deras yang membatalkan pentas. Namun. tapi kami tetap bermain berapapun penontonnya. Kami tetap bertahan karena ingin melestarikan kesenian ini agar jangan sampai punah. bahkan gulung tikar vakum kegiatan.” tuturnya. Termasuk para senimannya banyak yang tinggal di belakang tonil dengan membuat kamar-kamar darurat yang seringkali bocor saat diguyur hujan deras. karena para personel benar-benar memiliki jiwa seni. Jika penonton yang membeli karcis hanya 20 orang. “Bagi kami. Namun.000.” tambahnya. “Setiap bulan puasa jumlah penonton sangat sepi. grup ketopraknya selalu nrima ing pandum atau menerima apa adanya rezeki yang diperoleh dari bermain ketoprak. “Beginilah kondisi kami serba sederhana. semua halangan itu tak mampu memupus jiwa seni para pemain ketoprak pimpinan Ki Anang Sukardi yang memiliki nama panggung Pak Koyek. berarti uang yang diperoleh hanya Rp 40. pertunjukan tetap berlangsung sampai selesai dengan durasi permainan sekitar tiga jam lebih.” ungkapnya. Total kru ketoprak yang berdiri sejak 12 tahun silam 40 orang.000. Sehingga baginya berapa pun jumlah penonton. Penonton Cuma 20 ”Hampir setahun ini Ketoprak Suryo Budoyo manggung di lapangan Desa Padangan. Diakuinya kelompoknya sudah sering jatuh bangun.

saat nonton wayang kulit yang dipentaskan semalam suntuk. Di Bali ada dalang wayang cengblong yang main pada saat bersamaan empat orang sekaligus. terakhir pada tahun 1974 waktu itu Departemen Penerangan melakukan pemetaan dan dibukukan dalam peta seni tradisi yang komunikatif. apa salahnya sekarang dilakukan kembali. tentunya ada beberapa catatan dan dokumen tentang hal tersebut. salah satu alasan Kemenkominfo tergerak menggunakan seni tradisi untuk mengkomunikasikan kebijakan pemerintah. Jika dulu pernah dilakukan oleh pemerintah Orde Baru dan berhasil. Semua itu memengaruhi cara kita melihat dan menikmati wayang. Paradigma ini tentunya ada benarnya juga. kalau dulu diseminasi melalui seni tradisi komunikatif untuk kepentingan penguasa saat ini lebih ditekankan pada penyampaian program Pemerintah yang perlu segera dipahami dan untuk kepentingan publik. Menurut catatan yang dapat ditelusuri. Televisi memang masih ada yang mementaskan seni tradisi. Dengan catatan. Dari fakta di atas. blencong atau lampu penerangan untuk layar digunakan petromak. Oleh karena sejak Pemerintahan terdahulu penggunaan seni tradisi komunikatif telah dilakukan untuk penyampaian program Pemerintah.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dipentaskan secara rutin. Sementara sekarang ini. Tidak ada salahnya meniru yang baik. Dulu kala ketika saya kecil. Utamanya di tengah perkembangan teknologi sekarang. Dari latar belakang itulah. Oleh sebab itu sekarang perlu di-up date lagi agar bisa menjadi salah satu referensi bagi kita semua. Kurun waktu 37 tahun tentunya telah terjadi prubahan dan pergeseran. yang menjadi pertanyaan terkait seni tradisi komunikatif ini dimana posisinya? Apakah masih bisa berada di dunia realitas ataukah bisa juga bertahan di tengah perkembangan teknologi yang sedemikian dahsyat dalam dunia yang seolah makin tanpa batas ini? Dalam konsep materialisme Thorstein Veblen. Kemudian di Jawa Barat ada Asep Sunarya yang bisa menampilkan efek tambahan yang menarik penon311 . jelas bahwa pertunjukan seni tradisi semakin lama makin berkurang. salah satu pemicu perubahan peradaban terjadi karena teknologi. sayang tidak ditayangkan pada jam-jam prime time. Apalagi ini terkait dengan upaya pelestarian budaya bangsa. sudah ada yang menggunakan lampu dan infokus (LCD Projector). Bagaimana teknologi telah memengaruhi dalam pertunjukkan seni tradisi komunikatif.

Thomas L. agar menjadi kegelisahan kita semua. Misalnya dengan internet. sekaligus memprovokasi untuk ikut mencari jalan keluarnya. Dengan demikian Kementerian Kominfo mengharapkan masukan dari para ahli sekaligus setelah memetakan seni tradisi yang komunikatif. Dengan demikian untuk seni tradisi ini. * 312 . Friedman dalam buku The World of Flat bercerita tentang bagaimana dampak teknologi terhadap pergaulan dunia dan interaksi antar manusia. Kalau melihat sisi positip. Kominfo tidak hanya melaksanakan diskusi saja. Kalau adegan perang tanding.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ton. rekaman pertunjukan seni tradisi begitu bisa kita upload dari Padang Panjang dan bisa dilihat di manapun juga. Saya melihat ini juga bisa dianggap jadi peluang bagi seni tradisi yang kita cintai. Banyak kegelisahan mengenai kelangsungan hidup seni tradisi yang menjadi perhatian berbagai pihak. Selanjutnya Kominfo bisa mengunakan seni tradisi itu untuk diseminasi kebijakan Pemerintah di seluruh Indonesia. Makalah-makalah yang disajikan dalam diskusi ini sangat menarik. Oleh sebab itulah. setidak-tidaknya bisa menjadi dasar kebijakan. Pak Asep bisa menampilkan cipratan darah karena bantuan teknologi. ada peluang untuk itu. tapi mengupayakan agar Kominfo akan mendukung hidup seni tradisi yang ada dengan cara menggandeng untuk kegiatan sosialisasi kebijakan pemerintah. ada leher salah satu kepala wayang tertebas senjata hingga terpotong. kemudian kami share kepada pembaca.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 313 .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF KALIMANTAN SUAMTERA JAKARTA JAWA 314 .

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI SULAWESI MALUKU PAPUA NUSA TENGGARA 315 .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 316 .

” kilah Bambang. jangankan wujud keseniannya. Kab Klaten. Kalau Wayang Kulit. B egitulah nasib Wayang Sadat. kesenian tradisional yang namanya pernah berkibar pada zaman Orde Baru. mas. Anehnya.” kata Bambang (19 th). tapi beliau seorang guru.” imbuh Bambang. Wayang Wong (Orang— red). Kendati penulis sudah memberi keterangan tambahan bahwa nama yang dicari adalah ‘Suryadi dalang Wayang Sadat’. sang dalang yang dicari-cari. namanya saja banyak yang tidak tahu. Suryadi hanya tersenyum kecut mendengar penuturan Bambang. Lelaki dua anak ini baru percaya Wayang Sadat benar-benar ada. ketika penulis akhirnya bertemu dengan Suryadi Wanasukarja BA. Kec Trucuk. bukan dalang Wayang Sadat. bukan dalang. Jateng. saya tahu. tapi Suryadi dalang Wayang Sadat saya tidak tahu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Catatan Akhir Senjakala Sang Penenang Kalbu Nursodik Gunarjo Butuh waktu satu jam lebih untuk menemukan rumah Suryadi di Desa Mireng. Bambang mengaku sudah kenal dengan Suryadi. Tapi Wayang Sadat saya tidak pernah dengar. Kini. “Kalau Pak Suryadi yang ini sih saya sudah kenal sejak lama. Wayang Golek. “Saya malah baru tahu dari njenengan (anda—red) kalau ada wayang yang namanya Wayang Sadat. “Yang namanya Suryadi di sini banyak. tukang ojek yang mengantarkan penulis menjelajahi Desa Mireng. namun yang ia tahu profesi Suryadi adalah guru. Zaman memang telah menyilapkan kata Wayang Sadat dari pemaha317 . namun tak banyak warga Trucuk yang kenal.

Uniknya. “Filosofinya adalah para wali dan tokoh muslim lainnya dalam wayang ini selalu suci atau terjaga dari najis dan hadats.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF man anak muda sepantaran Bambang. “Terakhir saya membersihkan wayang ini bulan Februari 2008. Penggiat seni ini lantas menjajarkan tokoh-tokoh Wayang Sadat di atas meja. Dengan hati-hati.” urai lelaki 318 . Sunan Giri. saat kotak dibuka.” tuturnya. ditambah tokoh-tokoh lain dari zaman Kerajaan Demak Bintoro. wayang yang sepintas modelnya mirip dengan Wayang Kulit itu. bahkan sudut bawah kotak wayang yang terbuat dari kayu tampak keropos. Mas Bambang belum lahir. Wajar jika sekarang ia tidak tahu apa itu Wayang Sadat. tabuh gamelan berbagai jenis. Pakaiannya berciri khas Islam yakni berjubah dan bersorban—kecuali Sunan Kalijaga yang digambarkan mengenakan pakaian adat Jawa—sementara masyarakat umum digambarkan memakai ikat kepala. Syukurlah. Semuanya tampak berdebu. Sunan Kalijaga dan lainnya yang jumlahnya sembilan orang (Wali Songo). baik terompah. Di sana masih ada seperangkat gamelan slendro-pelog lengkap. blencong atau lampu pertunjukan dan satu kotak wayang. kelir dari kain putih. ia dibersihkan dengan lap basah satu per satu. peraga Wayang Sadat diambil dari tokoh-tokoh sejarah Kerajaan Demak dan Babad Tanah Jawa. Jangan heran kalau nama tokohnya bukan Gatotkaca. Sunan Drajat. Ia lantas mengajak penulis ke salah satu ruang di rumahnya. sebelum latihan pentas di halaman rumah saya ini.” tutur bapak empat anak ini sambil menghapus debu yang melekat di kotak wayang dengan kemoceng. sepatu maupun sandal. Moga-moga saja wayangnya tidak ikut dimakan rayap. Hanya catnya tampak kusam karena terbalut debu lumayan tebal. melainkan Para sunan/wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa seperti Sunan Bonang. Padahal pada era 80-an. wayangnya masih utuh. “Mungkin waktu saya masih sering di-tanggap (pentas—red) dulu. “Sudah setahun lebih kotak wayang ini tidak dibuka.” kata Suryadi. Sarana Dakwah dan Penyejuk Kalbu Berbeda dengan Wayang Kulit yang tokoh-tokohnya diambil dari cerita Ramayana dan Mahabharata. Suryadi adalah dalang Wayang Sadat terkemuka di Kabupaten Klaten. semua tokoh yang ada dalam wayang ini mengenakan alas kaki. Kresna atau Bima. blangkon atau berpeci.

bacaan lafal Al-Qur’an kerapkali terdengar. Ia mengakui. Selain itu. “Ini memang termasuk wayang realis. jarit. yakni penyebaran agama Islam khususnya pada zaman Demak Bintoro. “Gending-gending (musik pengiring) yang digunakan. Dalang Berjubah Berbeda dengan kebanyakan dalang yang mengenakan beskap.” ujarnya. semuanya mirip dengan Wayang Kulit. Jalannya pementasan juga tak beda jauh dengan Wayang Kulit. semua mirip dengan Wayang Kulit.” ujarnya. Suryadi tidak bisa mengatakan den319 . perangkat pentas. maka Wayang Sadar sering dipentaskan untuk mucuki (pentas pendahuluan) pagelaran Wayang Kulit. Babon (sumber utama--red) cerita biasanya dari buku Babad Tanah Jawi. menggabarkan kehidupan nyata masyarakat waktu itu. imbuh Suryadi. suluk (candra—red).” kata Suryadi. secara umum Wayang Sadat sangat dipengaruhi oleh Wayang Kulit. Niyaga (penabuh gamelan) mengenakan baju muslim (baju koko). pentas wayang ini juga tidak semalam suntuk seperti Wayang Kulit. hadits. keris. hingga karakter sungging (tatahan) wayang. Nama ini juga berasosiasi dengan kalimat “Syahadat” yang merupakan ikrar kesaksian keesaan Allah dan pengakuan Rasulullah Muhammad sebagai utusan Allah. Mulai gamelan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI berusia 63 tahun ini. Nama “Sadat” sendiri diambilkan dari akronim. “Sarana Dakwah dan Tabligh”. Selama pergelaran Wayang Sadat. namun cerita carangan (kreasi--red)-nya bisa dibikin sendiri sesuai kebutuhan. “Sifat wayang ini memang sangat religius Islami. sedangkan waranggana (sinden/ pelantun tembang) mengenakan busana muslimah atau jilbab. oleh karena itu pagelaran Wayang Sadat selain sebagai dakwah juga sebagai penyejuk kalbu penonton. namun cukup empat jam. Wayang Sadat tidak memiliki pakem cerita baku seperti Wayang Kulit atau Wayang Golek yang berbabon kisah Ramayana dan Mahabarata. Kapan Wayang Sadat lahir. dalang Wayang Sadat justru mengenakan jubah biasa (seperti surjan) dan surban di kepalanya. dan blangkon. dan kutipan ayat-ayat Al-Qur’an. Hanya di dalam Wayang Sadat ditambah dengan shalawat nabi. Karena pakelirannya padat. Bacaan shalawat juga sering mengalun ketika tokoh Sunan Bonang atau para wali lainnya tampil. antawacana (dialog—red). dan sabet (gerakan wayang—red).

Tujuannya agar gairah kesenian bisa tersalurkan. saya menjadi dalang pada saat pamor Wayang Sadat sudah mulai mbleret (suram—red). Upayanya tak sia-sia. Salah satu cara yang ia tempuh adalah menyelenggarakan gladhen (latihan) rutin sebulan sekali di halaman rumahnya. Bahkan mulai tahun 1995. “Saya pentas di depan umum sejak tahun 1980-an. Pensiunan guru SD ini mengaku. Maklum. Pasrah Menunggu Maut Kevakuman selama beberapa tahun tidak pentas membuat Suryadi kelimpungan. Sekitar tahun 1990-an.” kata Suryadi. order pentas turun drastis. namun karena sering diajak pentas.. Sang kakeklah yang menciptakan wayang itu. bahkan ia pernah mendalang di lokasi transmigrasi di daerah Lampung dan Kalimantan Selatan. Satu-dua kali gladhen. Ia hanya ingat. untuk mucuki pentas Wayang Kulit yang rutin digelar di alun-alun. Undangan bukan saja datang dari Klaten. baru pentas tiga kali sudah dihentikan dengan alasan tidak ada dana. Ia juga rutin pentas di TVRI. selain itu juga untuk mencari bibit dalang baru dari kalangan pemuda. “Alhamdulillah. Tapi memasuki tahun 90-an. ia mengajukan proposal ke (saat itu) Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Klaten agar mau mementaskan Wayang Sadat secara periodik. Tapi itu tak berlangsung lama. Berbeda dengan kakek dan ayah saya yang mengalami zaman keemasan. “Kalah sama sinetron dan kesenian modern lainnya. setelah itu macet karena para niyaga sibuk dengan urusannya masing-masing. mendalang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Bakat mendalang akhirnya menurun kepadanya.” urainya 320 .” ujar Suryadi pendek. Wayang Sadat tak pernah lagi ditanggap orang. ayahnya menerima warisan wayang itu dari kakeknya. namun juga dari luar provinsi. televisi satu-satunya milik pemerintah saat itu. gagal total. akhirnya ia bisa mendalang secara otodidak. Meskipun ia tak pernah secara khusus belajar mendalang Wayang Sadat. Kantor Deppen Kab Klaten bersedia mementaskan Wayang Sadat sebulan sekali. dalam sebulan ia bisa mendalang dua sampai empat kali. Kakek dan ayahnya adalah dalang Wayang Sadat tenar pada zamannya.. Lelaki berkumis ini pun putar otak agar kesenian yang digelutinya tak tenggelam ditelan zaman. pada saat awal-awal menjadi dalang tahun 80-an. usaha saya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF gan pasti.

dengan tokoh-tokoh yang disesuaikan dengan konteks kehidupan kenegaraan saat ini. Ia pernah bercita-cita merevitalisasi Wayang Sadat menjadi Wayang Nusantara. Bahkan menurut penuturannya. Ironisnya. Karena itu. Hal semacam inilah yang cengkah (bertentangan—red) dengan pola pikir anak-anak muda zaman sekarang. Kematian sepertinya sudah menjadi takdir yang tak terhindarkan. petinju yang tiba-tiba segar dan kuat kembali setelah babak belur pada ronde-ronde sebelumnya. namun secara moral tetap untung karena saya mendapatkan kepuasan batin yang tidak terkira. Jika dalam olahraga tinju dikenal istilah kemenangan kedua (second win). saat pentas lebih banyak rugi ketimbang untungnya. Berubah atau Mati Ibarat manusia. “Wayang Sadat kini sudah berada pada masa senjakala. Zaman keemasan dianggap telah lewat.” ujar Suryadi terus terang.” pungkasnya lirih. “Bahkan anak saya sendiri nggak mau meneruskan profesi bapaknya jadi dalang Wayang Sadat. Bagi Suryadi. Niat untuk mencari bibit dalang dari generasi muda juga pupus. lantaran tak seorang pemudapun berminat menjadi dalang Wayang Sadat. seni memang bukan untuk mencari uang. ia tak pernah memikirkan rugi-laba saat mementaskan Wayang Sadat. “Rugi secara material. mereka berharap ada “tonikum” yang bisa membuat seni tradisi bangkit kembali.” imbuhnya. Kendalanya apa lagi kalau bukan masalah dana. bahwa seni tradisi mengalami lesu darah karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Kini ia mengaku pasrah. Sudah jamak diketahui. di mana-mana. Penghasilannya nggak jelas katanya. 321 . masa keemasan Wayang Sadat telah lewat. kesenian tradisional memang telah memasuki masa uzur. Seni tradisi butuh “tonikum” itu agar kembali segar. Tak heran. Para penggiat seni tradisi. berbagai pihak yang ia sodori proposal bantuan dana hanya menggelengkan kepala alias menolak dengan halus. Ia percaya. mengeluhkan kondisi yang kian merapuh. maka kesenian tradisional butuh kondisi semacam itu. menunggu saat kematian Wayang Sadat datang menjemput.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dengan wajah muram. Namun cita-cita itu tampaknya sulit menjadi kenyataan.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Para pelaku seni tradisi cenderung terpaku pada “teks” yang statis, sehingga kehilangan “konteks” saat kesenian yang digelutinya dipaksa hidup dalam situasi masa kini yang serba dinamis. Penjagaan tradisi memang kadang harus menafikan perubahan, karena perubahan bisa berarti hilangnya hakikat tradisi itu sendiri. Namun di sisi lain, menolak perubahan akan membuat seni tradisi kehilangan komunitas pendukungnya. Situasi dilematis semacam itu sering membuat para pelaku seni tradisi berhadapan pada pilihan yang serba sulit. Banyak seni tradisi mati, justru karena pelakunya bersikukuh memegang prinsip anti perubahan. Bagi mereka kematian lebih mulia, daripada harus mengingkari hakikat orisinalitas “pakem” seni tradisi yang sangat mereka junjung tinggi. Kematian adalah keniscayaan, karena zaman telah membuat seni tradisi berada di waktu dan tempat yang salah. Dan kita, bagaimanapun, harus menghormati mereka yang memilih jalan ini. Namun sebagian pelaku seni tradisi memilih jalan yang lebih moderat, mencoba berdamai dengan dinamika zaman agar bisa bertahan hidup lebih lama. Pakem atau “teks” asli tetap mereka pertahankan, namun “konteks” juga mereka perhatikan. Mereka tidak alergi pada perubahan, namun justru menempatkan perubahan itu sebagai motor penggerak revitalisasi. Kalau mau jujur, mayoritas seni tradisi yang mengalami second win adalah seni tradisi yang pelakunya rela mengisi “teks” seni dengan isuisu aktual yang ada di tengah masyarakat. Seni tak lagi terpaku pada pakem yang kaku, yang membuatnya berada jauh tinggi di awangawang, namun dikonstruksi sedemikian rupa agar dekat dengan aspek kehidupan masyarakat masa kini. Wayang Kulit adalah salah satu contoh terbaik, bagaimana kesenian tradisional bisa di-mutakhir-kan. Dengan mengadopsi isu-isu aktual dalam setiap pagelarannya, Wayang Kulit bisa bangkit dari keterpurukan, berdiri tegak, dan merangkul kembali audiensnya yang hilang. Semua seni tradisi memiliki peluang sama untuk bangkit kembali dan meraih kemenangan kedua. Kuncinya terletak pada sikap para pelaku seni terhadap dinamika perubahan zaman. Rumusnya memang hanya satu, change or die, berubah atau mati. Banyak yang memilih perubahan, namun ada juga yang memilih kematian... *

322

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

323

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

324

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

325

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

326

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

327

Diterbitkan oleh DIrektorat Pengolahan dan Penyediaan Informasi Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Tahun 2011 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->