PEMETAAN

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

PEMETAAN

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Ismail Cawidu Nurlaili 1. Rosmiati 2. Lukman Hakim 3. Marulak Simangunsong 4. Enung Dahliawati 5. Fera Setia Nurana 6. Yudi Syahrial Design / Layouter

7. Dewi Farida Simatupang 8. Aditya Ranadireksa 9. Wasi Andono 10. Triani Setyowati 11. Rokayah 12. Sri Mulyani Suprawoto Nursodik Gunarjo : M. T. Hidayat

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

SAMBUTAN

pabila buku ini sampai di tangan pembaca, setidak-tidaknya upaya kami untuk mendokumentasikan hasil diskusi para ahli di bidang seni tradisi sebagian sudah sampai pada tujuan. Kami selaku Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, sampai saat ini sudah berusaha memberikan ruang dengan cara mementaskan seni tradisi komunikatif di berbagai tempat di Indonesia, baik di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Dalam setiap pementasan, antusiasme masyarakat untuk menonton seni tradisi masih sangat tinggi. Terbukti setiap pementasan selalu dipenuhi penonton sampai pertunjukan selesai. Namun apakah antusiasme penonton tersebut akan tetap bertahan dan langgeng? Kumpulan hasil diskusi ahli di bidang seni tradisi ini sengaja kami bukukan agar bisa memberikan informasi, dan siapa tahu justru menumbuhkan gairah untuk memberikan perhatian lebih terhadap seni tradisi, sehingga bisa tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Buku ini tentunya tidak akan terwujud tanpa kontribusi bebe-rapa pihak. Untuk itu kami perlu menyampaikan terima kasih, utamanya kepada para narasumber Diskusi Pemetaan Media Tradisional yang Komunikatif di lima kota, yakni Solo (Jawa Tengah), Denpasar (Bali), Bukittinggi (Sumatera Barat), dan Mataram (Nusa Tenggara Barat).
i

A

Demikian juga kepada para seluruh peserta diskusi yang menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi selama diskusi berlangsung. Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada rekan-rekan di Monumen Pers Solo, kawan-kawan Dinas Infokom dan Humas serta Balai Monitoring yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Kerja keras kawan-kawan semua ikut menyukseskan pelaksanaan dikusi yang menjadi bahan penyusunan buku ini. Khusus rekan-rekan di Sekretariat dan Biro Umum Kementerian Komunikasi dan Informatika, terima kasih atas dukungan dalam pelaksanaan diskusi ahli. Tiada gading yang tak retak. Kritik dan saran demi perbaikan penerbitan buku selalu kami harapkan.

Jakarta, September 2011 Direktur Jenderal ender e al a Informasi dan Komunikasi Publik muni ni n ikasi s Pu

Freddy ddy y H. Tulung Tu

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

PENGANTAR

I

ndonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari 17.508 pulau, 485 suku bangsa dan 583 bahasa daerah. Kenyataan itu sungguh sangat fantastis. Dengan begitu beragamnya suku bangsa, bahasa, dan adat istiadat, setiap masyarakat memiliki keunikan tersendiri. Sebagaimana dinyatakan Louise Grenier (1998), setiap masyarakat memiliki kearifan lokal yang secara tradisional terus dipelihara dan dikembangkan untuk mempertahankan diri ketika menghadapi perubahan dan tantangan dari lingkungannya. Dalam kearifan lokal itu biasanya terdapat sistem informasi dasar yang memfasilitasi komunikasi dan pengambilan keputusan komunitas atau masyarakat. Sistem informasi tersebut umumnya bersifat dinamis karena dipengaruhi kreativitas internal maupun pembelajaran masyarakat terhadap pengetahuan eksternal yang disosialisasikan secara berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Flavier et al. 1995: 479). Sejalan dengan perkembangan teknologi, tantangan terbesar adalah bagaimana membangun sistem komunikasi yang berkualitas dengan memadukan tiga aspek yang disebut Giddens dalam The Constitution of Society (1980) menjadi bagian tak terpisahkan dalam masyarakat saat ini, yaitu globalisasi, detradisionalisasi, dan social reflexivity.
iii

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Globalisasi menghubungkan manusia di seluruh dunia pada setiap aspek kehidupan. Komunikasi dan transportasi telah meng-hubungkan manusia di mana pun ia berada. Telepon dan internet membuat orang “bertemu” tanpa susah payah bertatap muka. Detradisionalisasi bukan berarti hilangnya tradisi. Tradisi masih ada bahkan “diciptakan”, tetapi tradisi bukan lagi satu-satunya dasar pembuatan keputusan. Kalau orang menemukan bahwa konsultasi dengan tradisi tidak memuaskannya, ia dapat berpaling dan memakai pertimbangan dari sumber lain. Hal terakhir berkaitan dengan social reflexivity merupakan pro-ses pengambilan keputusan. Manusia modern menghadapi banyak informasi, akan tetapi juga bebas menyeleksi informasi mana yang dibutuhkan. Arus (tepatnya: banjir) informasi memang membuat bingung, namun individu dapat menolak sebuah informasi semata-mata karena ia tidak suka atau tidak cocok. Inilah sebagian kenyataan yang dihadapi semua seni dan media tradisional di Indonesia saat ini. Menjadi tugas kita bersama untuk senantiasa berupaya meningkatkan kualitas pemanfaatan seni dan media tradisional agar bisa berpadu dengan perkembangan teknologi serta dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Media tradisional komunikatif diharapkan dapat mengambil peran dalam posisi ini. Dalam perkembangan sebelumnya peran media tradisional komunikatif demikian besar. Bagaimana perkembangan saat ini dan ke depan perlu pembahasan yang mendalam. Oleh karena itu, kami mencoba menghadirkan para pakar di bidang seni pertunjukan tradisional dalam merumuskan sinergi dan pemanfaatan media tradisional yang komunikatif. Kepada para pakar yang telah berkenan memberikan sumbangan pemikiran dalam bentuk tulisan serta wacana dalam diskusi kami sampaikan terima kasih. Buku ini sengaja kami hadirkan untuk memantik pemikiran baru guna lebih memberikan sumbangan terhadap pengembangan media tradisional yang komunikatif. Jakarta, September 2011 Suprawoto Editor
iv

...................... 43 F. Pakar Bidang Akademis Seni Tari.......... Pakar Etnomusikologi ISI Surakarta Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Timur ..Hum.....Sn....... S........................... SINERGI SENI TRADISI DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PENDIDIKAN PUBLIK ..................... Dr........................................................... 17 Prof............................... 71 v . S.......... Meningkatkan Peran Media Tradisional . Dr............................................... Darsono... v vii ix 1 3 9 11 Prof..... Endang Caturwati...... Sri Hastanto.................... 55 Prof..........Kar............... M................................. M............... Musa Asy’arie....... Hari Mulyatno......... Prof..................... Pakar Pertunjukan dan Kajian Budaya STSI Bandung Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Barat .Kar.............................. MS.... Dosen ISI Surakarta Peran Seni Budaya Tradisional Kalimantan dalam Dimensi Informasi/Komunikasi Pembangunan ....... PENGANTAR EDITOR ............. anggota Dewan Pengawas TVRI Mencari Model Pertunjukan Seni Tradisi dengan Teknologi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik ................ Dr..... PENDAHULUAN ........... Pakar Ilmu Estetika Ketua LPPM Dosen ISI Surakarta Peran Seni tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Tengah dan DI Jogjakarta ........................LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI DAFTAR ISI SAMBUTAN ....................................... DAFTAR ISI .

.... Dosen Sastra Universitas Udayana Aktivitas Pasantian dan Sastra Bali sebagai Media Pencerdasan Rakyat ... I Nyoman Windha...Sn...................................................... Daryusti...... Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Penggunaan Seni Tradisi dalam Media Komunikasi Sosial di Sumatera Utara vi 91 93 107 123 135 145 159 161 181 .. S Kar................Hum.... MENGEMAS SENI TRADISI SUMATERA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL .... Dr.....PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF MENGGUBAH SENI TRADISI DAN PERTUNJUKAN YANG KOMUNIKATIF UNTUK PERCERDASAN RAKYAT . Ahli Seni Karawitan..................Sn... I Nyoman Murtana........... MA. Ahli Seni Tari... Dr Ni Made Wiratini..................... Pakar Sastra......................... Dosen ISI Denpasar Mencerdaskan Rakyat dengan Seni Tradisi dan Pertunjukan Komunikatif ................. Prof.. S Kar. MA. Drs.........Sn............... M... Dosen Kajian Budaya Universitas Udayana Pertunjukan Wayang Kulit Bali: Media Komunikasi Pencerdasan Rakyat .. Ahli Seni Pertunjukan...................................... Ketua STSI Padang Panjang Ragam Kemasan Seni Tradisi Sumatera Barat dalam Komunikasi Sosial Rakyat dan Pemerintah ................... Dosen ISI Denpasar Seni Musik Bali dan Gamelan Gong Kebyar sebagai Media Pencerdasan Rakyat . S.. MA.... SST....... M... M............. Hajizar........... Komposer... Dr I Nyoman Catra.......... M Hum...... SST..................... Sulaiman Juned..... 197 ... Dosen ISI Denpasar Seni Pertunjukan Populer sebagai Media Pencerdasan Rakyat: Potensi Tari Topeng dan Teater Bali .. Dr I Nyoman Suarka M Hum..... Dosen Jurusan Seni Teater STSI Padang Panjang Seni Tradisi Populer Aceh sebagai Media Komunikasi Sosial ............

..........................................Kar......................... Mustakim Biawan........ Asril....... Dosen Jurusan Seni Tari STSI Padang Panjang Strategi Kemasan Seni Tradisi sebagai Media Komunikasi Sosial di Sumatera Barat .......................... S..Kar.............................................. Kadri M...... Ketua Dewan Kesenian Provinsi NTB Memfungsikan Teater Tradisi Amaq Abir sebagai Media Komunikasi Tradisional ..... 305 Lestarikan Media Tradisi .................... 307 Nasib Seni Tradisi Senjakala Sang Penenang Kalbu ...... Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Upacara Tabuik dan Tabot di Pesisir Barat Sumatra .. Pakar Komunikasi IAIN Mengemas Seni Tradisional Komunikatif NTB untuk Media Komunikasi Sosial ... M......................... M.................... MENGEMAS SENI TRADISI NUSA TENGGARA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL .Si..................LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Nirwana Murni....... 221 235 255 257 277 293 PENUTUP .... Mantan Kepala Taman Budaya NTB Seni Tradisi NTB dalam Proses Kreatif Menuju Media Komunikasi Sosial ............ Dr....................................... Muchtar S..Hum..Pd......... 317 vii .............................. Kongso Sukoco............

.

PENDAHULUAN 1 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 2 .

seni tradisional tidak bisa dilihat hanya dari satu pendekatan atau hanya berdasar pada prinsip umum (universal) yang diberlakukan untuk semua. 2009). dan posisi seniman yang beragam. media kesenian. meskipun fakta menunjukkan bahwa sebagian seni tradisional bisa digunakan dan seringkali dikembangkan menjadi media komunikasi. Sementara seni tradisi jauh lebih luas dari media komunikasi. Padahal. media komunikasi pada dasarnya merupakan sarana yang dipergunakan untuk memproduksi. nelayan. ada yang profesional atau menjadikan seni sebagai profesi namun ada pula seniman yang memiliki profesi-profesi lain. 2005). Keragaman itu juga mempengaruhi bentuk maupun isi. harus dilakukan pendekatan sesuai dengan karakteristik masyarakat di mana kesenian dan tradisi itu hidup dan berkembang (Limbeng. Dalam masing-masing sistem budaya tersebut terdapat pola kesenian. pedagang. mereproduksi mendistribusikan atau menyebarkan dan menyampaikan informasi (Suranto. guru dan pemuka adat. Seniman misalnya. Untuk melihat makna dan fungsi suatu kesenian.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Meningkatkan Peran Media Tradisional I ndonesia memiliki keragaman budaya yang sangat luas. Kesenian tradisional pada dasarnya memiliki pola atau pakem yang 3 . Konsep media tradisional seringkali dipertukarkan dengan seni tradisi atau bahkan seni pertunjukan tradisional. seperti petani. Oleh karena itu.

seni pertunjukkan rakyat mampu menciptakan hubungan antara komunikan dan komunikator. pakem tersebut bukanlah suatu aturan “mati”. berubah. Melalui pertunjukkan ini terdapat pertemuan langsung antara komunikan dan komunikator. pemberdayaan dan pengembangan kesenian-kesenian tradisional menjadi terabaikan. Realitas seperti itu sangat dirasakan oleh para kelompok seni pertunjukkan tradisional. yang pada gilirannya memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi tradisional.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF membuat kesenian itu menjadi khas. melainkan potensi yang dapat berkembang. dan bercampur satu sama lain. 1984). Menggali Potensi Dari inventarisasi yang telah disusun tahun 1978-1979 oleh Direktorat Penerangan Rakyat. mungkin bisa memberikan dukungan moral dan finansial bagi para seniman. terutama bagi mereka yang tinggal di wilayahwilayah pedesaan. Akibatnya. dan (3) muatan-muatan atau pesan-pesan yang berisikan pendidikan kultural. terdapat 118 jenis kesenian tradisional yang telah dibuat deskripsi singkatnya dan kurang lebih 292 jenis yang diketahui namanya tanpa diketahui deskripsinya (Siswojo. berkesenian atau unjuk seni tradisi tidak hanya bergantung pada seniman semata. sejak tahun 2008. spiritual. untuk memberikan bantuan sosial bagi maestro seni tradisi dengan kriteria tertentu. Oleh karena pemanfaatan seni tradisi sebagai sebuah media komunikasi akan sangat berkaitan dengan aspek (1) bentuk. Sebagai media komunikasi tradisional yang telah populer. Akan tetapi. dimana komunikator dapat mengungkapkan ide dan gagasannya kepada komunikan melalui cerita-ceri4 . kini tidak ada lagi instansi pemerintah yang secara bersungguhsungguh menangani media tradisional ini. Inisiatif Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Dalam tiga aspek itulah sesungguhnya terletak kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi keindahan. atau pakem. melainkan pada pesan moral atau nilai tradisi. (2) daya atau potensi untuk berubah. Hanya saja sejak Departemen Penerangan dibubarkan. Walhasil. pola. seni tradisi secara alami mampu mengakomodasi perubahan isi sesuai dengan kepentingan situasi. berbeda dari kesenian jenis lainnya. Akan tetapi. dan komentar sosial. pemilihan media dan khalayak yang menjadi penikmat atau peminat seni tradisi tersebut. Departemen Penerangan.

tetapi dimaksudkan untuk memelihara keberadaan dan identitas suatu masyarakat. Setiap masyarakat budaya memiliki mitos yang khas yang menjadi perekat kelompok/komunitas. Dalam formatnya yang asli. Seni tradisi yang lain. Sementara untuk mengusung suatu media tradisional dalam dalam konteks lintas budaya. kita mengakui bahwa tidak semua seni pertunjukkan rakyat dapat menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif. Tanpa adanya dukungan warga. Perlunya mengangkat suatu budaya tradisional sekaligus dengan media yang mengampunya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ta yang dibawakannya. adalah untuk fungsi konservasi. media tradisional hanya relevan secara eksklusif bagi masyarakat budaya pendukungnya. Hal ini penting. misalnya yang mengandalkan gerak atau nyanyian dalam batas tertentu sulit digunakan sebagai media penyampai informasi. Melestarikan Media Tradisional Tantangan yang dihadapi dalam menghadirkan media tradisional adalah bagaimana menempatkannya di antara konstelasi proses mediasi masyarakat. Ciri dari setiap media tradisional adalah partisipasi warga. Kendatii demikian. seorang dalang dapat menyebarluaskan gagasan dan pesan informasi dari pemerintah melalui cerita-cerita yang telah ada. Budaya tradisional pada hakekatnya berfungsi dalam memelihara solidaritas suatu masyarakat budaya. Oleh karena itu dibutuhkan pemetaan seni tradisi yang bisa digunakan sebagai media penyampaian pesan dan media informasi yang komunikatif. keberadaan media tradisional tidak ada artinya. karenanya bersifat eksklusif. Media tradisional tidak hanya sebagai obyek hiburan (spectacle) dalam fungsi pragmatis untuk kepentingan sesaat. karena keberadaan media tradisional tidak dapat dilepaskan dari masyarakat/komunitas budaya pendukungnya. melalui keterlibatan fisik atau psikis. secara praktis hanya dapat dilakukan jika secara substansial budaya dan media dimaksud sudah mengalami transformasi sebagai spectacle. Begitu pula pemanfaatan media tradisional sebagai wahana bagi isu-isu kontemporer bagi 5 . Mungkin hanya media tradisional yang verbal dan komunikatif-dialogis saja yang cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. Seperti pada beberapa pertunjukkan wayang.

karena salah satu ciri dari media yang baik adalah kemampuannya menjangkau massa dalam jumlah besar. sudahkah media tradisional mentransformasikan diri sebagai spectacle yang bisa dinikmati masyarakat di luar komunitas pendukungnya? Seperti diketahui. Karakteristik eksklusif semacam ini tentu kurang menguntungkan apabila ditinjau dari teori media. karena dalam banyak kasus. Jika kesenian tradisional terlalu dipaksakan untuk berfungsi sebagai media penyebaran informasi aktual. akan relevan manakala media tersebut sudah tidak lagi sebagai sumber mitos budaya tertentu. Kegiatan pertama atau pengumpulan data awal mencakup penjajagan dan penelusuran dokumen untuk mengidentifikasi aspek dan unsur kebijakan komunikasi serta pemetaan potensi seni tradisional yang 6 . sepanjang tidak mendekonstruksi wujud dan karakter asli dari kesenian tradisional dimaksud. sehingga cenderung hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu dalam jumlah yang terbatas. jika porsi hiburan terlalu banyak. sudahkah kesenian tradisional di Indonesia saat ini benarbenar diposisikan sebagai “media”. bukan sekadar sebagai spectacle? Pertanyaan ini sangat penting. sulit menempatkan dua fungsi (hiburan dan media penyebaran informasi) secara berimbang. salah satu kendala dari media tradisional adalah sifatnya yang eksklusif dan lingkupnya yang lokal. tantangan ke depan adalah bagaimana mentrasformasikan media tradisional agar bisa menjadi general spectacle.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF suatu masyarakat budaya pendukungnya. Tentang Buku Ini Pemetaan media tradisonal yang komunikatif ini dilakukkan dengan tiga tahapan. maka ia akan kehilangan karakteristik utamanya sebagai sumber mitos bagi masyarakat. Pertanyaan lain yang tak kalah penting adalah. Pertanyaan yang harus dijawab adalah. Oleh karena itu. maka fungsinya sebagai media penyebaran informasi dengan sendirinya akan menurun. pertama tahapan pengumpulan data awal. Inovasi dalam hal ini bisa dilakukan. dalam konteks penyebaran informasi. kedua tahapan diskusi ahli. tontonan yang bisa dinikmati dan diterima oleh masyarakat dalam jumlah lebih besar dan dalam wilayah teritorial yang lebih luas. Secara keseluruhan kegiatan akan berlangsung mulai bulan Maret hingga Juni 2010. Sebaliknya. ketiga tahapan penulisan laporan dan penyu-sunan buku.

Tahapan ketiga penulisan laporan yang merupakan kompilasi dari hasil pemetaan.* 7 . pegiat seni tradisi. pemuka pendapat. diskusi ahli adalah kegiatan yang dikemas dalam bentuk diskusi kelompok terbatas yang melibatkan para ahli. serta rekomendasi kegiatan diskusi. pengamat seni tradisional. sekarang dan yang akan agar dapat digunakan untuk kepentingan pendidikan publik dan komunikasi sosial. Indonesia Tengah dan Indonesia Timur. akan dibagi dalam tiga wilayah. Kegiatan ini diarahkan untuk mendapatkan gambaran opini dan ekspektasi stakeholders seni tradisi tentang potensi seni dan media komunikasi tradisional. Untuk kebutuhan kegiatan ini. pada masa dulu. serta unsur pemerintah daerah. yakni Indonesia Barat. Kedua. diskusi terbatas (focus group discussion). Hasil kompilasi juga akan dibukukan dengan kemasan ilmiah populer agar dapat dijadikan sebagai acuan pemanfaatan seni tradisional.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ada di Indonesia.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 8 .

SINERGI SENI TRADISI DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PENDIDIKAN PUBLIK 2 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

Dalam disertasinya “Konsep Manusia Sebagai Pembentuk Kebudayaan dalam Alquran” yang dipertahankannya dalam ujian disertasi 26 Januari 1991. budayawan. Musa menikah dengan Muslihah teman kuliah satu fakultasnya di IAIN Sunan Kalijaga. Musa Asy’arie dilahirkan tanggal 13 Desember 1951. Berpikir yang salah bukan suatu kejahatan. Kabinet Indonesia Bersatu. Ia besar dalam lingkungan masyarakat pengusaha. Setelah menyelesaikan pendidikan di lingkungan pondok pesantren. tidak kriminal.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. di desa Pekajangan Pekalongan. Ayahnya memindahkan Musa ke pondok pesantren Tremas Pacitan Jawa timur. Ia adalah pencetus gagasan Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan. Ia melanjutkan ke SMPMuhammadiyah di Pekajangan. Saat ini menjadi anggota Dewan Pengawas Televisi Republik Indonesia. bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat. namun tidak sampai selesai. Sebagai Guru Besar Filsafat Islam UIN Yogyakarta. sehingga tidak perlu ditakuti. Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta ini pernah menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika. sekaligus seorang pengusaha. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di SD Muhammadiyah Ambukembang. sebuah desa yang kental dengan budaya santri yang entrepreneurship. Guru Besar Filsafat Islam. Lingkungan pondok pesantren inilah mengubah sikap dan cara pandangnya dalam menapaki kehidupan. 10 .Dr. Musa menempuh pendidikan kesarjanaannya di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Filsafat. Musa Asy’arie adalah seorang filosof. cendikiawan. Musa Asy’arie menolak pandangan dualisme (jasmani dan rohani) manusia yang selama ini mempengaruhi cara berpikir mayoritas umat Islam. H. sekaligus birokrat dan pengusaha ikut mewarnai pemikirannya bahwa berpikir an sich adalah bebas sebebas-bebasnya.

Dalam perspektif kebudayaan nilai-ni11 S . Banyak hal seni punya besar dalam kehidupan agama terutama jika bersentuhan dengan nilai rasa keindahan karena Tuhan juga memiliki nilai keindahan. baik itu seni suara. Ajaran agama seringkali mempengaruhi hal ini. Boleh melukis tapi jangan sampai seperti hidup. seni adalah perwujudan kreatif nilai-nilai estetika. Saya kira berkaitan dengan seni tradisi dan soal teknologi ini adalah persoalan membangun model. Jika tuhan diabaikan dalam keindahan maka akan ada fenomena radikalisme. Sayangnya ada stagnasi kalau kita bicara seni agama. manusia juga merupakan bentuk keindahan karya agung Tuhan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Mencari Model Pertunjukan Seni Tradisi dengan Teknologi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik Prof. patung . politik. ada Abunawas yang bisa mengemas kritik dalam bentuk seni. Jika dilihat dari dalam pemikiran filsafat. arsitektur. Seni juga masuk ke seluruh kehidupan. Kesenian berkaitan dengan semua aspek kehidupan masyarakat. Bicara tentang keindahan. Musa Asy’arie. Anggota Dewan Pengawas TVRI eni adalah karya keindahan. Misalnya yang kita percayai bahwa dalam Islam melukis benda bernyawa itu tidak boleh. Namun secara umum seni dan agama saling mendukung. Dr. tari. Di sini kita bisa melihat bahwa kemasan seni itu bisa melakukan kritik. dan bahkan seni agama. misalnya cerita 1001 malam. Di dekat kekuasan juga ada seni.

maka diambil kemaslahatan yang banyak. Sehingga pesan kebenaran dan kebaikan akan terasa indah untuk diresapi dan dihayati oleh publiknya. Dimensi estetik merupakan dimensi tertinggi dalam pengalaman religius. lantas diekspresikan melalui karya keindahan. Oleh karena itu. Artinya semua bentuk seni ini jadi dasar bagaimana mengemas sosialisasi melalui seni. Oleh karena itu. dalam setiap karya seni tidak bisa dilepaskan dari aspek nilai logika dan etika. Seni pada dasarnya berkaitan dengan perasaan atau rasa atau emosi. Puncak pengalaman religius adalah estetis dalam dunia sufi. Misalnya bagaimana dialog tentang pembangunan dan kemiskinan? Di situ ada dampak buruk. pedalaman. Di situ dapat dilihat bahwa seni punya publiknya sendiri. Dalam Kisah Baratayudha misalnya. dalam pandangan saya. Jadi saya kira. Misalkan masyarakat aga12 . Jika bicara tradisi. Nilai kebaikan yang berkembang dalam adat istiadat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF lai itu merupakan wujud kesatuan dari (1) nilai logika. atau yang menyangkut benar dan salah. Komunikasi seni dalam masyarakat pada dasarnya hendak menyampaikan nilai kebenaran yang berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan. semua punya tradisi. seni tidak bisa dipisahkan dari logika dan etika. industri. Sedangkan tradisi adalah kebiasaan atau adat istiadat yang dilestarikan secaraturun temurun dalam suatu kehidupan masyarakat tertentu. Nanti kita bisa lihat bagai segmentasi masyarakat akan berkaitan dengan kemampuan untuk menerima seni ini. kota. aspek nilai seni tak boleh dipisahkan dari logika etika dan estetika. Kesenian tradisional juga menyampaikan etika dan nilai. Jika diterapkan dalam kehidupan masa kini. moral dan agama. dan (3) berkaitan dengan perilaku atau nilai estika yaitu indah dan jelek. Oleh karena itu kita bisa menemukan tradisi masyarakat agraris. Bahkan mendasarinya. Kebenaran dan kebaikan menyatu dalam karya estetika. (2) berkaitan dengan pemikiran atau nilai etika yakni baik dan buruk. juga masih relevan. Karya seni menyatu dengan etika dan logika. tapi jika kemanfaatan lebih banyak dari hal yang buruk. akademik. dialog antara Puntadewa dengan Arjuna itu adalah dialog yang menarik bagaimana bisa memisahkan pikiran dan rasa. Pertautan itu membuat seni berperan dalam peradaban. Kita ketahui bahwa logika berpikir orang itu punya tingkatan. kelas bawah hingga tradisi masyarakat elit.

Demikian pula dengan estetika. itu misalnya bagian dari tradisi akademik. Persoalannya sekarang adalah bagaimana tiga hal itu dan dikemas jadi satu kesatuan? Karena ketika masyarakat berubah. Ada pertunjukan wayang yang disiarkan oleh RRI dan TVRI. ya harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. karena kalau tidak pakai toga terasa hambar meski kita tak tahu apa di balik toga itu. itu bisa jadi saingannya Mus Mulyadi. Yang ingin saya katakan adalah bahwa perlu kreativitas untuk bisa mengemas agar sesuai dengan tradisi masyarakat. Tapi satu hal yang menarik adalah bahwa sms yang masuk dari masyarakat cukup banyak. Setiap tradisi memiliki masing-masing karakter dan publiknya sendri dan tradisi pedalaman dan pesisiran misalnya untuk orang-orang pinggiran dan elit untuk kalangan keraton. Saya kira perlu ada pembaruan sesuai dengan perkembangan masyarakat. seni tradisi mung13 . Oleh karena itu. Sehingga karya seni terlepas dari konteks nilai yang dianut oleh masyarakat. maka logika itu yang harus diubah dan dinaikkan sesuai dengan perubahan masyarakat. Memakai toga. Permasalahan terjadi jika kesatuan nilai-nilai itu tidak tercermin lagi dalam karya estetika. Setiap seni dikemas dengan baik agar tak menyinggung orang. desa dan akademik. Saya kira semua masyarakat punya tradisi. etika dan estetika. Dampaknya karya seni tidak bisa dimengerti secara utuh oleh masyarakatnya sendiri sehingga komunikasi karya estetika itu terputus dari masyarakatnya. Saya pernah ikut acaranya Kementerian Kominfo di Gunung Kidul. Sementara etika diaktualisasikan sesuai dengan kebutuhan jaman. Tradisi ini hendak dipetakan dan sudah dipetakan bagaimana tradisi yang dipetakan oleh Kominfo harus punya nilai logika. Tapi jika bisa dikemas dengan baik. Perlu kreativitas atau seni tradisi akan ditinggalkan dan hanya akan dikenang.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI raris dan kota. pembaharuan dalam karya seni tidak bisa dilepaskan dari pembaharuan nilai dalam kehidupan masyarakat. Kalau pejabat dari Kominfo sedang menyanyi di tengah acara limbukan wayang. Di kampus dipertahankan. Bagaimana tradisi kota? Bagaimana tradisi masyarakat industri? Ada pula masyarakat kota. Jadi itu efektif sekali untuk menyampaikan informasi. Sehingga diketahui mana yang komunikatif bagi masyarakat dan mana yang tidak komunikatif terkait pesan yang disampaikan.

Persoalannya kembali pada bagaimana karya estetik diberi ruh dengan logika dan etika. Bagaimana TIK jadi forum pengembangan kreatifitas resmi yang 14 . mau tidak mau. maka ruangnya jadi beda. Dalam kaitan dengan karya estetika telah terjadi perkembangan pula estetika agraris berkembang dalam estetika industri menuju estetika informasi. ada tradisi yang ada. dinamis dan tidak simpel. TIK adalah produk ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis pada nilai logika. Kalau itu dikemas. Di sinilah kemudian muncul problem. akan tetapi bergerak dalam ruang maya yang berlangsung cepat dan dinamis. Saya kira dalang yang pentas di Mahkamah Konstitusi atau RRI. Logikanya harus bertahap. Ada yang cuma dua atau tiga jam. maka bukan lagi menggunakan alun-alun tapi menggunakan ruang maya. Dalam era konvergensi TIK. Persoalan mengemasnya juga menjadi tidak sederhana. Selama ini seni dipanggungkan di tengah lapangan bola. Dalam masyarakat informasi. bukan lagi semalam suntuk. Dalam masyarakat seperti ini. perubahan dan pembaharuan. peran seni akan luar biasa. kemasan logikanya seperti apa? Dalam masyarakat pesisir itu logikanya seperti apa? Kreativitas juga termasuk bagaimana memasukkan etika dan logika dalam kemasan estetika? Tentu akan menyesuaikan dengan kondisi penontonnya. Namun ketika bergabung dengan TIK. misalnya. model pertunjukan seni tradisi. TIK lahir dari proses perkembangan masyarakat agraris menuju masyarakat industri dan membentuk masyarakat informasi. Hal penting kalau dilihat dalam sisi komunikasi adalah bicaralah pada masyarakat sesuai dengan kadar akalnya. Ada kelas. Ini saya kira pekerjaan yang harus dilakukan oleh Kominfo. Melalui benda kotak yang menyatukan dunia yang sarat pluralitas.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kin juga bisa memacu perubahan sosial. konflik. juga akan mengemas dengan logika yang berbeda. ini yang perlu dilakukan secara kreatif. Karena kalau gunakan TIK yang kini konvergen. pertunjukan seni tradisi tidak lagi berada dalam ruang fisik yang dibatasi dinding atap dan kaca. Bahkan bisa disebarluaskan dari suatu wilayah ke wilayah yang lainnya. Di media konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) faktor waktu juga penting. pasti berubah. Itu tingkat etika dan logikanya jadi tinggi dan waktunya pun menyesuaikan dengan kondisi penontonnya.

Apalagi jamnya ketat dan menyesuaikan dengan layar dan waktu. di Solo juga ada. Namun pengemasannya pun tak boleh lepas dari etika dan logika. Di TVRI. Karena kalau lepas dari itu maka tak bisa membentuk peradaban. sebagian seni tradisi mulai ditinggalkan dengan pertumbuhan masyarakat lantaran tak semua seni tradisi bisa menjawab perubahan. industri. Model itu menyesuaikan dengan kondisi masyarakat. Dan untuk mengemas itu adalah pekerjaan luar biasa yang harus tetap menjaga bahwa karya seni tak boleh dilepaskan dari etika logika dan estetika. Sehingga model pertunjukan seni tradisi seharusnya menyesuaikan dengan realitas masyarakatnya. wayang kulit semalam suntuk tidak bisa ditampilkan begitu saja. Di Wonogiri model masyarakat seperti itu masih ada. semua memerlukan kemasan tersendiri. bisa ditampilkan berapa jam? Kalau dengan TIK jadi kemasan yang perlu kreativitas tinggi. ketiga masyarakat itu tetap ada dan tidak saling menafikan. Jika ruangnya TIK. Saya kira masyarakat perlu model yang tepat untuk pengemasan seni tradisi. * 15 . Kecende-rungan sekarang ini. maka harus menjadi dasar penyesuaian.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI gabungkan etika dan estetika. Tentu waktunya akan berubah. Mungkin kemasan itu yang akan menyesuaikan. Misalkan Wayang Suket Slamet Gundono. Tetapi di Indonesia ketiga kategori masyarakat itu masih ada. dan informasi. Dalam masyarakat Indonesia. Pertunjukan seni tradisi harus mencari model yang dinamis sesuai perkembangan masyarakat. entah itu pada kategori masyarakat agraris. Hal itu harus dilakukan terus-menerus agar seni tetap hidup.

penulis pernah menjadi pelaku pada grup-grup seni tradisi yang dipimpin para tokoh seni terkenal. Gentra Madya. ed. Program Studi Pengkajian Seni Rupa dan Seni Pertunjukan. maupun beberapa perguruan tinggi lainnya. Sebagai Kepala Humas Endang mempromosikan Lembaganya tidak saja di tingkat regional. Lulus S-3 Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sejarah Tari. Sinden Penari di Atas dan Di Balik Panggung.S dilahirkan di Bandung.ST. ed. Lokalitas. Protokoler dan Penerbitan. 25 Desember 1956. ed. tahun 2006. Australia. UNPAD. baik. Pesona Perempuan dalam Sastra dan Seni Pertunjukan. dan Sistriarji Seni Pertunjukan Indonesia di Sutradara Longser STSI Jawa Barat (2007). Dr. ed. Sosiologi Seni. Aktivitasnya sebagai pengajar mata kuliah Seni Pertunjukan Indonesia. Gender dan Seni Pertunjukan di Jawa Barat. (Gentra Madya (1973-1978). baik sebagai penari. Kajian Gender. dan Tradisi Sebagai Tumpuan Kreativitas Seni. S. M. di STSI. Endang Caturwati. Antara lain Gending Karesmen dengan lakon Si Kabayan. Seni dalam Dilema Industri. Kapita Selekta. Tjetje Somantri Tokoh Pembaru Tari Sunda. seperti Mang Koko (Ganda Mekar 1973-1978). Tari di Tatar Sunda. dan beberapa seni pertunjukan tradisional lainnya. tetapi juga ke berbagai manca negara di antaranya Malaysia. pemain pada drama suara atau sebagai penabuh Degung. Literatur Tari. Beruntung.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. China. Kariaan: Tari Anak-anak di Daerah Subang Jawa Barat... serta Organisasi Seni dan Budaya. Sek Hubungan Kelembagaan. selain sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STSI Bandung. Buku-buku karyanya antara lain berjudul: Tata Rias Busana Tari Sunda. Itali.* 16 . ed. India. Dadang Sulaeman (Mayang Binekas 1973-1978). Gugum Gumbira pencita Jaipongan. Nano. Kepala Pengabdian Masyarakat. masih disibukkan sebagai Pimpinan Redaksi Jurnal Ilmiah Seni dan Budaya ‘Panggung’ STSI Bandung (terakreditasi). Longser Grup STSI Bandung (2005-2008). Jabatan yang pernah diemban antara lain. dan Organisasi Sosial Masyarakat Sunda hingga masa kini. juga aktif menulis artikel di beberapa mass media. Thailand. merupakan doktor pertama di STSI Penulis (kedua dari kiri) bersama Tati Saleh penari JaiBandung dan Guru Besar bidang pongan. Tari Anak-anak dan Permasalahannya. dan Ka Humas. Gugum Gumbira dari Jaipongan ke Cha Cha. dan Manajemen Objek Daya Tarik Wisata Daerah. Pengantar Seni Pertunjukan Indonesia. . UPI (Pariwisata). Pimpinan Penerbitan Sunan Ambu Press.S. Pahlawan Samudra dan Gondang Samagaha pada Grup Ganda Mekar: Degung pada Grup Mayang Binekas. Kesibukan lainnya. Jurna Ilmiahl dan buku. dan Belanda. Jepang. Dewan Redaksi di beberapa Penerbitan Jurnal Ilmiah dan Artikel Ilmiah di Jawa Barat dan Jakarta.

hiburan. baik sebagai upacara ritual. Pakar Pertunjukan dan Kajian Budaya STSI Bandung J awa Barat dikenal dengan berbagai seni pertunjukan dengan berbagai bentuk serta fungsi. Seiring dengan berjalannya waktu. penerangan. bahkan kini telah banyak yang menjadikan sebagai ajang ekonomi sebagai seni industri. yaitu (1) sebagai sarana upacara. Di berbagai daerah bermunculan proses reinterpretasi. selain untuk kepentingan ritual. penyebaran agama. Kondisi ini bisa diamati dari kehadiran berbagai genre seni pertunjukan. baik di perkotaan maupun di perdesaan. berperan juga sebagai sarana pendidikan. ajang prestise. bahwa seni pertunjukan memiliki tiga fungsi. ajang gensi. dan eksperimentasi seni. seleksi. (2) sebagai ungka17 . atau media politik. Fungsi primer. dalam arti. serta melahirkan berbagai genre seni pertunjukan yang terbukti mampu bertahan terhadap kuatnya arus perubahan dinamika sosial dan budaya masyarakat. antara lain dengan munculnya berbagai seni pertunjukan yang didukung oleh para elite birokrat. Pada dasarnya seni pertunjukan memang mempunyai fungsi primer dan sekunder. Bentuk seni tradisi yang banyak difungsikan masyarakat. dan tontonan atau apresiasi estetis. maupun penyajian estetis. akan tetapi juga di kalangan masyarakat menak serta pengusaha dan petani kaya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Barat Endang Caturwati. serta berbagai pertunjukan yang tidak saja berkembang di kalangan rakyat. hiburan.

yang bisa memenuhi sebuah fungsi sosial. calung. kemudian gending-gending kreasi baru atau wanda anyar karya Mang Koko. Bahkan muncul berbagai pertunjukan yang merupakan langkahlangkah baru dalam konsep penciptaan. yang berkembang tidak saja di wilayah Priangan. Seminar Revitalisasi. wayang golek. 1 2 3 4 R. “Dialektika Seni Pertunjukan Tradisi”. adalah tumbuh sebagai ekspresi masyarakat pendukungnya. berarti nilai kualitatifnya tidaklah lenyap di dalam fungsinya3. 1980). atau fungsi sosial yang belum tentu abadi dari waktu ke waktu2. Adapun fungsi sekunder apabila seni pertunjukan bertujuan bukan untuk dinikmati. pada dasarnya setiap seni pertunjukan yang otentik. Sebagai media komunikasi. 1985). dengan berbagai medium. interaksi. tapi menyebar ke wilayah Jawa Barat. 308. pada kenyataannya banyak yang tumbuh sebagai ekspresi masyarakat. atau multifungsi. dan kemudian muncul para generasi penerus para koreografi muda dan komposer muda yang akhir-akhir ini semakin variatif coraknya. antara lain sebagai pengikat kebersamaan. 3. menunjukkan kecenderungan dalam melakukan reinterpretasi. ajang gengsi. Seni pertunjukan yang berkembang di Jawa Barat.M. The Antropology of Dance (Bloomington and London: Indiana University Press. Anya Peter Royce. Metode Penelitian Seni Pertunjukan (Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Arnold Hauser. Transformasi. The Sociology of Art (Chicago and London: The University Of Chicago Press. ajang bisnis dan mata pencaharian. reog. pantun. seni pertunjukan memiliki progresivitas dalam berkembangnya ragam dan format sajian untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan masyarakat pendukungnya. kemudian karya Nano dan garap tari dan Karawitan Jaipongan karya Gugum Gumbira. dan Globalisasi Seni. Bambang Pudjasworo. 170. terutama pada kesenian rakyat seperti sandiwara. Mereka melahirkan ‘karya-kaya kreatif’ yang bersumber dari lokal 4 . 2001).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pan pribadi. seleksi dan eksperimentasi budaya berbasis pada tradisi seni pertunjukan lokal. Dewan Kesenian Kabupaten Sleman Yogyakarta. Soedarsono. longser. Artinya ‘format sajian’ disesuaikan dengan fungsi dan kondisi. tetapi untuk kepentingan yang lain. Memang. 57. dan (3) sebagai presentasi estetis1. 18 . Progresivitas seni pertunjukan sebagai media komunikasi dapat diamati dengan ‘pelebaran’ wilayah pertunjukan. beluk. media komunikasi. yang lebih komunikatif serta sarat dengan interaktif. 2004.

Dalam persaingan budaya dan kepentingan masyarakat semakin beragam. serta seniman-seniman seni pertunjukan yang memikirkan seni bukan hanya sekadar ekspresi. dan tempat-tempat lain sesuai dengan konsep dari sang seniman. di halaman. candi. sebagian dari sistem lama yang berlaku dalam masyarakat perlu mendapatkan penafsiran kembali untuk mendukung tumbuh dan berkembangnya budaya baru. Akan tetapi juga kini banyak pertunjukan yang tampil di tepi sungai. bahwa seni pertunjukan tradisional. baik antara etnik. yang lebih banyak menghabiskan dana daripada memperoleh dana. atau berupa helaran (arak-arakan). merupakan sesuatu yang bukan hanya diartikan sebagai sekadar media hiburan atau alat komunikasi. Berdasarkan dari hasil-hasil penelitian yang ada. dan merespon tarian zaman). danau. yang harus memperhitungkan nilai uang. jeung ngigeulan zaman” (kita harus bisa menari. di tempat sampah. bahwa “urang kudu bisa ngigel. tanpa memperhitungkan dana yang diperoleh. di sawah. tetapi juga sebagai tuntutan ekonomi. amphyteater. dan karena itu sekaligus merupakan wilayah kegiatan yang bisa merasuk pada penggalian nilainilai manusia yang tidak akan pernah habis. serta hanya dalam waktu temporer (tidak berlaku ulang atau dipertunjukkan kembali di tempat yang sama). yang menjadi ciri manusia sebagai makhluk khusus. di Jawa Barat selama masa Orde Baru berkuasa hingga Orde Reformasi mengisyaratkan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI berbagai kolaborasi. diperlukan suatu sintesa agar kelangsungan hidup seni pertunjukan etnik bisa tetap survive. Akan tetapi dalam proses globalisasi. Sebagaimana yang sering diungkapkan oleh para sesepuh Sunda. menarikan. yang lebih menuntut hal-hal yang komunikatif. Dalam hal ini dapat dibedakan. dalam rangka sesaat untuk ‘ekspresi diri’. di terminal. hutan. melainkan sebagai ekspresi diri dan sumber inspirasi gerakan spriritual 19 . Terlebih dengan zaman yang sarat dengan informasi. atau negara lain yang disajikan tidak saja di gedung pertunjukan atau tempat pertunjukan seperti pendapa. ngigelkeun. adalah bagian dari totalitas kehidupan. Kondisi Masa Lalu Seni pertunjukan. tanpa harus meninggalkan nilai-nilai etika dan estetika. seniman-seniman yang menyajikan karyanya.

Adanya muatan pesan-pesan pendidikan sangat dominan dengan ditampilkannya tokoh. spriritual. Masingmasing wilayah memiliki ciri khas. cengkok lagu. dan wilayah Pantai Utara atau dikenal dengan sebutan Pantura. protagonis. pendidikan. Pertunjukan yang memiliki unsur bertutur. dengan tidak menggurui.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF sebuah komunitas lokal5. Roman (kehidupan sehari-hari). maupun arak-arakan atau helaran. serta suasana eros dan chaos. karawitan. yang bisa dilihat dari bentuk. Kendatipun di dalamnya bermuatan pesan-pesan agama. bahasa. sesuai dengan tradisi daerah para pendukungnya. serta busana yang dikenakan. 5 Jeninfer Linsay . atau komentar sosial. informasi pemerintah berupa penanggulangan kesehatan dan pertanian. 20 . antagonis dan tritagonis. Seni pertunjukan tersebut. iringan musik. lagu. yaitu wilayah Priangan. Wilayah Priangan Di wilayah Priangan dikenal dengan berbagai pertunjukan tradisional yang di dalamnya bermuatan media dialog. gerak tari. dan Ceritera Desik (atau kisah-kisah dari ceritera seribu satu malam seperti Sang Kuntala. Bentuk seni pertunjukan tersebut dapat dibedakan menjadi tiga wilayah. tetapi sifatnya menghibur. “ Cultural Policy an Performing Arts in Soteasst Asia”. Masing-masing bentuk sajiannya memiliki kekhasan yang sangat unik. Lampu Aladin). tetap saja dikemas melalui simbol-simbol. Jawa Barat dikenal dengan berbagai seni pertunjukan yang menjadi prestise para pejabat dan dapat berkembang di masyarakat. etika. 151. bahkan pencak dan lawak. wilayah Cirebon dan Indramayu. drama. gaya. baik busana. tetap masih mempertahankan nilai-nilai edukatif. 1. nilai-nilai moral. baik dialog ataupun syair lagu. Babad. baik verbal maupun non verbal secara etis dan estetis. memang unik dan spesifik. maupun stuktur pertunjukannya. baik berupa seni tari. gerak tari. Seni tradisi yang berkembang di Jawa Barat. dan estetika. Pada tahun 1960-an. properti. dalam Biddragen. antara lain sebagai berikut: 1) Sandiwara Sunda (Priangan) Sandiwara Sunda merupakan pertunjukan yang berkembang di kalangan rakyat dengan ceritera yang diambil dari ceritera Wayang.

Media komunikasi antara pemain dengan penonton sangat dominan. tidak hanya satu atau dua orang sinden. dialog. antara lain untuk daerah Cilangkap Sumedang Dalang Asep 21 . Begitu pula pada cerita Babad sebagaimana tokoh dalam ceritera sejarah Sangkuriang. Pertunjukan wayang golek sangat menarik. 2) Wayang Golek (Jawa Barat) Wayang Golek merupakan pertunjukan teater boneka yang sangat popular di Jawa Barat. adalah setting layar dan kostum disesuaikan dengan tema. Sri Murni dan Sri Mukti. kemudian beralih menjadi pertunjukan yang mandiri tanpa dalang dan wayang. dan Upit Sarimanah yang bisa mengubah struktur pertunjukan menjadi dominan penampilan sinden dengan saweran uang. dari dialog-dialog para pemain dan lagu-lagu yang dilantukan penyayi. atau sejarah Pajajaran. Wayang Golek memiliki lakonlakon galur dan carangan yang bersumber dari ceritera besar Ramayana dan Mahabrata. sebagaimana tokoh dan adegan dalam pewayangan. dan lain-lainnya. ketika menampilkan ceritera Wayang. kostum. Adapun Wayang Golek mulai bangkit kembali setelah kehadiran Dalang Asep Sunandar Sunarya sekitar tahun 1980-an dengan kemasan baru. dengan vokal yang dibawakan oleh sinden. sebagai Kliningan Bajidoran yang dominan menampilkan sinden yang juga menyanyi dan menari. terutama dengan munculnya tokoh ‘si Cepot’ sebagai ikon dominan pada setiap pertunjukannya dengan dialog-dialog dan gerak yang lucu. Grup yang paling dikenal pada tahun 1960-an di kota Bandung. serta gerak. Perkembangan selanjutnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Yang paling menarik. karena pada tahun 1960-an pernah terjadi adanya peran dalang yang tergeser oleh sinden yang kemudian dikenal sebagai sinden legendaris Titim Fatimah. tapi 10 hingga 20 orang sinden. yang kini masih berkembang di daerah Subang dan Karawang sebagai seni hiburan yang menjadi andalah daerahnya. Pertunjukan Wayang bahkan menjadi pertunjukan prestise di daerah-daerah tertentu dengan dalang-dalang favorit setempat. Bahasa yang digunakan dalah bahasa Sunda dan diringi gamelan Sunda berlaras Pelog dan Salendro. Sebagai contoh. antara lain.

Gesan Ulun. akan tetapi yang berkembang di masyarakat terutama pada perayaan-perayan HUT Proklamasi Indonesia. Degung sering ditanggap pada acaraacara resmi atau hajatan-hajatan pernikahan dan sunatan. Ceritera yang dibawakan mengenai pesan moral dan sosial yang tentu saja bermuatan pendidikan. Kulu-kulu yang bias mengiringi berbagai lagu dengan syair yang sarat dengan pesan-pesan atau informasi mengenai pendidikan. dan lain-lain. Raja Kecit. Grup-grup yang terkenal pada tahun 1970-an adalah Parahiayangan pimpinan E Tjarmedi. Beber Layar. Manintin. dengan sutradara seniman yang piawai dalam bidangnya. Samagaha. kendang dan gong. antara lain lakon Pangeran Jayakarta. Kinteul Buek. yaitu Koko Koswara. kendatipun awalnya diiringi dengan gamelan pelog-salendro yang lengkap. cinta ibu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Sunandar Sunarya. daerah Buah Dua Sumedang Dalang Dede Amung. yang terkadang diselingi dengan gerak tari. Pada awalnya lagu-lagu Degung berupa instrumental yang sangat khas yang tabuhannya sangat unik. pernah berjaya di tahun 1970-an. Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya dari kisah sejarah atau legenda. Bima Mobos. berupa drama suara minimalis dengan diiringi kecapi. Galatik Manggut. seperti Pajajaran. cinta tanah air. Ganda Mekar pimpinan Mang 22 . Gending karesmen yang terkenal di Jawa Barat. Pahlawan Samudra. dinamakan Lagu-lagu Ageng. Pada musim pemilihan umum dan pencalonan Presiden. 4) Degung (Priangan) Degung merupakan sajian karawitan (musik tradisi) dan vokal dengan diringi gamelan degung. dan lain-lainnya. dan lain-lainnya. Lutung Kasarung. Perkembangan selajutnya degung berkembang menjadi lagu-lagu sawilet seperti Catrik. Gending Karesmen. 3) Gending Karesmen (Priangan) Gending Karesmen (Drama Suara) merupakan drama yang dialognya berupa syair yang dilagukan. Nyai Dasimah. Si Kabayan. menabung. Wayang Golek sering dijadikan sebagai media kampanye yang pesan-pesannya dititipkan melalui dialog tokoh Wayang.

terutama karena setiap pertunjukannya. adalah Nano. kebun bambu. selain menyajikan ceritera rakyat. masyarakat dari berbagai tempat bertemu di satu tempat untuk bersama-sama menyaksikan cerminan dari kehidupan mereka sendiri. Yang sangat menarik adalah.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Koko. Evergreen dan John Sidal (Kanada). seperti lagu Kalangkang. Selain media komunikasi berupa dialog. 23 . Gerak tari yang sangat khas. Bahkan pada tahun 1980-an di luar Indonesia. Yang tidak kalah penting. serta grup-grup di tingkat daerah. Cinta Ketok Magic. 5) Longser (Bandung) Longser merupakan teater rakyat. antara lain Lingkung Seni Pusaka Sunda University of California (Santra Cruz-USA). Damas (Daya Mahasiswa Sunda). Sebagai pertunjukan rakyat Longser memiliki fungsi sosial. S dengan grup Gentra Madyanya. musisi Lou Harrison (USA) beserta para mahasiswanya. membuat banyak lagu Degung dengan introduksi dan arasement tersendiri yang dapat menaikkan omset rekaman kasetnya. Rachel Swindell (London-Inggris). Dewi Permanik pimpinan Euis Komariah. S. Grup Ujang Suryana. adalah gerak ‘uyeg’ pada Ketuk Tilu dengan sebutan khas ‘keplok cendol’ yang dibawakan oleh para penari perempuan yang disebut ronggeng. unsur yang disukai oleh penonton adalah hadirnya bodoran atau lawakan serta para penari Ketuk Tilu Ci-keruhan dan Pencak Silat. pengembangan Degung dilakukan oleh perguruan tinggi Seni dan beberapa musisi. tanah lapang atau tempat-tempat yang berhalaman luas dengan penerangan oncor (obor) berkaki lima yang diletakkan di tengah arena pertunjukan. gerak dan syair lagu yang diiringgi gamelan salendro. Konsep melodramatik mendasari ceriteta-ceritera tersebut karena selalu diakhiri dengan happy ending. Mayang Binekas pipmpinan Dadang Sulaeman. Paraguna (Jepang). Kesenian ini sebagai perkembangan dari pertunjukan Doger dan Ketuk Tilu yang mulai tidak disukai oleh masyarakat yang muncul sebagai teater keliling dengan penyajian di arena terbuka. sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi. Anjen. oleh Nining Meida dan Barman Syahyana (1984 dan 1986). Gentra Madya pimpinan Nano.

Banjaran. adalah lagu Kulu-kulu Sadunya dan Es Lilin. 6) Beluk (Cianjur. sindiran yang termuat pada syair sinden pun merupakan pesan yang handal untuk media komunikasi. maupun sosial. sebagai berikut. Sedangkan Longser Ateng Japar menguasai daerah Bandung Selatan. Selain dialog. Bogor. Ciamis) Beluk. Tegal Lega. Bandung. Alunalun. geuning Mikacinta-mikacinta ka sasama Hiji dasar kabangsaan Indonesia. serta daerah sekitarnya). Pangalengan. berupa pesan spriritual. Dalam hal ini untuk lebih menghidupkan suasana penonton diajak terlibat pada adegan-adegan tertentu. Cililin.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF adanya dialog interaktif dengan penonton. Lagu yang sangat komunikatif pada masyarakat Jawa Barat. ‘Pancasila’ Jaya (Dewi Sinta Dewa-dewa Rama Yang kesasar di hutan rimba Mencitai-mencintai kepada sesama Satu dasar kebangsaaan Indonesia. Cikawao. Bang Tilil menguasai pertunjukan di daerah kota Bandung ( Stasiun. Soreang. ialah satu jenis Tembang Sunda yang mempergu24 . Contoh syair Lagu Kulu-Kulu Sadunya: Kulu-Kulu Sedunia Dewi Sinta Dewa-dewa Rama Kasasarmah di alas roban. ‘Pancasila’ Jaya) Lagu Senggot: Lagu Es Lilin Es lilin mah ceuceu kalapa muda Dibantunmah ceceu ke Kota Bandung Jangan lupa ceceu dan anak muda Narkoba sangat merusak penerus bangsa Longser yang paling dikenal pada zamannya tahun 1960-an adalah Longser Bang Tilil dan Longser Ateng Japar. karena syairnya sangat fleksibel dapat diisi dengan berbagai muatan pesan dan informasi. Cicadas dan wilayah kota Bandung).

Lagu yang dibawakan. Hal ini supaya penonton ketawa dan kantuknya hilang. populasi Beluk kian hilang. adalah properti ‘lesung dan alu’ diiringi kacapi. serta enak didengar. 7) Gondang (Jawa Barat) Merupakan seni pertunjukan yang berkembang di masyarakat dengan tampilan ‘drama suara mini’. Irama dentuman lesung para mojang yang membentuk irama atraktif. menjadikan para jejaka (pemuda) datang memburu. Adapun unsur pertunjukan yang mendukung. yang dibawakan oleh lima orang. Tampilan para jajaka sangat kocak dan terjadi dialog yang terkadang romantis. kemudian dinyanyikan oleh penyayi Beluk. merupakan pertunjukan yang dimainkan oleh para laki-laki dengan membawa alat tepuk berupa dogdog yang dilitkan di bagian perutnya. sebab itulah yang menjadi ukuran terbaik. dan biasa diselenggarakan pada waktu syukuran bayi berumur 40 hari. Perkembangan berikutnya dilakukan pula oleh para pemain Reog perempuan. antara lain menggunakan pupuh Asmarandana. Perkembangan berikutnya Beluk sering ditanggap pada acara-acara syukuran di perkawinan. tampilan para mojang (gadis) menumbuk padi dan para jajaka yang mencari cinta. Namun demikian semenjak populernya radio dan adanya TV. maka naskah dibacakan oleh juru ilo. Penyajian pertunjukan 25 . kocak. 8) Reog (Jawa Barat) Pertunjukan Reog. terutama dengan adanya festifal-festifal Reog bermunculan grupgrup yang berada di wilayah Jawa Barat. tinggi. Setiap penyanyi berusaha melantunkan suaranya yang paling nyaring. Dangdanggula. Antara pembaca naskah dan penyayi terkadang tidak sama misalnya “ Ada raja mengembara” dinyanyikan menjadi “ Ada raja tidak bercelana”. melengking. dan Kinanti. Sehubungan banyak para penyanyi Beluk yang tidak bisa membaca. Pada masa kini di Jawa Barat hanya tinggal beberapa kelompok grup yang masih hidup. atau sebagai pertunjukan. kendang dan gong. Sinom. Beluk dibawakan oleh 4 orang dan dibantu seorang juru ilo dan diselenggarakan pada malam hari. dan segar. mulai dari mulai ukuran besar hingga kecil.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI nakan nada-nada tinggi.

Bandung. Bogor) Seni Pantun. khususnya isu-isu penting di selingi dengan bodoran segar. antara lain ceritera Lutung Kasarung. tabuh. 9) Calung (Jawa Barat) Calung merupakan pertunjukan Sunda dengan menyajikan alat waditra (instrumen) bambu yang dijinjing oleh lima orang pemain. Perkembangan Calung di Jawa Barat begitu pesat dengan adanya festival-festival Calung. Lima orang pemain. Dialog yang dibahas seputar fenomena masyarakat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Reog kolaborasi antara dialog. Perkembangan masa kini pertunjukan Angklung lebih dominan lagu-lagu vokalnya daripada dialognya. pengisi ritme. (Darso). yang ditulis pada 1518 M. Reog sering dijadikan sebagai media penerangan hal-hal yang penting oleh pemerintah. maupun perguruan tinggi. disebutkan babwa Pantun telah digunakan sejak zaman Langgalarang. dan Siliwangi. piul (biola) bahkan organ dan gitar. Bedanya cara membunyikannya tidak digoyang seperti angklung. Banyacatra. akan tetapi dipukul dengan tabuh stik bambu. Banyacatra. kenong. gerak. dan lagu. adalah seni yang berusia cukup tua. Dalam naskah Siksa Kandang Karesian. vocal dan gerak tari. dan goong. dengan nada pentatonis pelog atau salendro. bas. kacapi. Perkembangan selanjutnya pada penyajiannya. 26 . Ceritera Pantun pun berkisar pada kisah-kisah Anggalarang. seperti kosrek. terutama Universitas Padjadjaran (UNPAD) merupakan lembaga yang mensosialisasikan pertunjukan Calung sebagai seni pertunjukan yang sarat hiburan dan informasi (penyuluhan). sehingga bermunculan vokalis Calung terkenal seperti Adang Cengos dan Hendarsonya. Selain waditra Calung ada penambahan beberapa alat musik. Ciung Wanara. Unsur vokal menjadi sangat dominan. sebagai prototipe angklung. Mundinglayadikusumah. Sumur Bandung. Pertunjukan Calung diilhami dari pertunjukan Reog yang memadukan unsur-unsur dialog. baik di tingkat daerah. Perkembangan berkutnya lakon yang disajikan ditambah dengan naskah yang dianggap bernilai tinggi. dan Siliwangi. masing-masing mempunyai peran sebagai melodi. 10) Pantun (Ciamis.

dengan iringan rebana. antara lain Paleredan. Ada dua bentuk seni Pantun yang biasa disajikan oleh masyarakat Sunda. dan Maulana. Angklung Bungko. ceritera yang ditampilkan sama dengan pertunjukan Wayang. dan lain-lainnya. Selain jenis pertunjukan-pertunjukan yang telah diuraikan. Sebagai seni yang hidup di tatar Sunda sejak zaman Hindu sampai Islam dan menjadi anutan masyarakat. dan Sang Bango. baik dialog dan lagu serta gerakan tari yang atraktif. Karawang dan Jakarta. Acung. Lagu Karawangan. Blantek merupakan perpaduan seni daerah Bogor. dan Lagu Bogor. Tompel. Si Jampang Jago Betawi. Balo-balo. Salah Colek. Ubrug. yang pernah mengalami kejayaan pada masanya. dan Jali-jali. Beluk. di atas terdapat berbagai pertunjukan yang komunikatif. dan lain-lain. Kama Salah Murwakala. Ceritera-ceritera yang dipertunjukkan antara lain: Bodoh pinter. Kicir-Kicir. antara lain lagu Al Fiah. perkembangan selanjutnya banyak yang menggunakan laras salendro. Seni pantun disajikan oleh juru Pantun berupa ceritera tutur dengan diiringi oleh kacapi berlaras pelog. Dalam sajian hiburan ceritera yang diambil dari salah satu ceritera pantun yang dikuasai Juru pantun atau atas permintaan penanggap. para karuhun. Dogdog Lojor. antara lain adalah Ronggeng Gunung (Ciamis). antara lain Oncom Lele. 11) Blantek (Parung Bogor) Blantek adalah sebutan dari pertunjukan Sandiwara Rakyat Parung Bogor. Para pelawak Topeng Blantek di Bogor yang dikenal masyarakat. seperti Batara Kala. Rendeu. Selain terdapat kata isthigfar (islam). dalam arti menggunakan media komunikasi verbal. sedangkan untuk acara ruwatan. sedangkan lagu-lagu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Ratu Bungsu Kamajaya. Koyok. ka pohaci. Lagu-lagu yang dibawakannya adalah yang bernafaskan Islam. Ketiban Duren. Kedung. antara lain Bangket. Reak. dan Topeng Cisalak. (tolak bala). tahyan dan kecrek. adalah merupakan pembauran kedua zaman tersebut. tak heran jiga ungkapan dan ajaran (petuah) ki juru Pantun. Surak Ibra. para buyut. nama raja. tertangkap juga ucapan ka dewata. sebagai sajian hiburan dan acara ritual (ruwatan). Pertunjukan-petunjukan tersebut pada 27 . Aisyah.

kendang dan gong. ialah dengan tampilnya pawing. kecrek (dari sapu lidi). jadi nama pertunjukan diambil dari kedua alat tersebut. Grup Tarling yang paling terkenal di Cirebon pada tahun 1966. naeken suhunan. Beberapa makna yang mampu memberikan kekuatan. Pasrah Mati Njaluk Urip. Mbrebes mili. sintren dan kurungan. seperti Saida-Saeni. Pegat Balen. yang pemainnya (perempuan) dimasukkan pada kurungan ayam dengan mata ditutup kain. Simbar Pati. Kembang Tarate. hihid (sekarang diganti oleh karet bahan sandal). lodong bambu. Oleh karena instrumen yang mendominasi gitar dan suling. Sintren pada awalnya digunakan sebagai media dalam upacara tertentu. Baridin. dengan ciptaan lakon drama. tapi secara frekuensi pertunjukannya semakin jarang tampil karena jarang ditanggap atau difungsikan oleh masyarakat pendukungnya. Padang Wulan. Lahir Batin. dengan lagu Turun Sintren. nebus weteng. dan lain-lain. yang membuat adegan simultan. seperti Marta Bakrun. dan lain-lain. 28 . makna mistis karena memiliki hubungan dengan perolehan magi simpatetis. terdapat pada kesenian Sintren antara lain. suling. dengan adanya properti kurungan ayam. Makna teatrikal Sintren yang digambarkan. adalah buyung. Musik pengiring Sintren. bersih desa. adalah grup Tarling Nada Budaya dan Putra Sangkala. 2) Sintren Sintren merupakan pertunjukan yang unik. seperti ruwatan. 2. serta penyayi sinden (perempuan) atau penyayi laki-laki. yang tercermin lewat lagu-lagu yang disajikannya dengan monoton dan sederhana. juga lagu Banyu Mata. Perkembangan Tarling pada tahun 1960-an cukup pesat dengan lagu andalan Kiser (lakon yang dinyanyikan). Di Wilayah Cirebon dan Indramayu 1) Tarling Tarling merupakan pertunjukan yang menggunakan paduan gitar. ngunjung.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF masa kini masih berkembang. serta mengenakan kacamata hitam. Saida Saini.

seperti Sutia. Ditengah-tengah pertunjukan sering ditampilkan bodoran/lawakan. Nunung). Jingga Anom. Topeng terdapat beberapa gaya sesuai dengan nama daerah di antaranya. Hanya saja di daerah Indramayu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI yang dilantunkan oleh Sinden. Dalam pertunjukannya. Panji. berisi muatan pendidikan dan masalah sosial. Sujaya. Para penarinya juga dapat menabuh waditra. Bermula dari Pak Krian seorang dalang Topeng. Suparta. Perbedaannya yang menonjol hanya pada bahasa yang digunakan.tengah pertunjukan biasanya diselingi dengan bodoran si Pentul atau Tembem dengan dialog yang segar dan lucu. Topeng Palimanan. selain lengkap koreografinya. (yang lainnya sudah almarhum) dan anakanak Keni (Yono. 3) Topeng Cirebon Grup Penari Topeng dari desa Slangit Palimanan. 4) Wayang Kulit Cirebon dan Indramayu Wayang Kulit Cirebon dan Indramayu pada dasarnya tidak banyak bedanya dengan Wayang Kulit Jawa. diturunkan kepada anaknya Arja (1879-1954). yaitu Klana. Topeng Dermayon (Indramayu). dengan dialog-dialog yang lucu tapi bermuatan sosial. Sujana. dan semua anak-anaknya bisa menari yang kemudian sebagai penerus generasi. Tumenggung. Rumiang. Kini yang masih melanjutkan Topeng Cirebon gaya Slangit tinggal Keni. Penggunaan lima buah kedok (berwarna merah. putih). Di tengah. gerakannya lebih indah dibanding daerah lain di Cirebon. Pamindo. kemudian Klana. gading. menggambarkan sifat manusia (lima nafsu). Topeng Losari. dikabarkan sejarahnya. dengan tingkatan karakter. Wayang sering dipakai sebagai media dakwah Wali Sunan Kalijaga atas perintah Sunan Gunung Jati. Rumiang. dimulai dengan menampilkan tari Panji. Arja pernah mendapat surat pengangkatan sebagai penari Kraton Cirebon. dan Keni. Pada Arjalah Topeng Slangit mulai dikenal. Salah satu fungsi pertunjukan Wayang di Indramayu 29 . jingga. Tumenggung. lebih tepat apabila disebut grup keluarga. kuning. serta Inu Kertapani anak Sujana. Suparti. Pertunjukan Topeng Cirebon sarat dengan pendidikan dan budi pekerti. dilanjutkan dengan Pamindo.

adalah sajian pertunjukan hiburan kalangenan dengan menampilkan sinden-penari dan sinden-penyanyi sebagai media pertunjukannya. adalah sebagai sarana Ngaruat. adegan gimmick (surprise dengan trik panggung kembang api). 5) Sandiwara Cirebon Sandiwara Cirebon di kalangan masyarakat Jawa Barat dikenak dengan sebutan ‘Masres’. dan Pusaka Golok Cabang. Sang Putra Darma. pertunjukan lakon. Grup Sandiwara yang jadwal panggungnya penuh dan dikenal di masyarakat. 3. Adapun ceritera yang disajikan mengambil dari babad Cirebon. Ki Gede Trusmi. sebagai berikut: musik pembuka (sebagai tatalu). yang kemudian berkembang dengan adanya tarian hiburan. penutup dengan musik dan epilog pimpinan sandiwara. tarian pembuka. Sandiwara Cirebon juga menyajikan kesenian yang lebih menonjolkan unsur dialog dengan bahasa Cirebon. Gema Nusantara. Sebagaimana juga Sandiwara Sunda. Walangsungsang. Di Wilayah Pantai Utara (Pantura) 1)Kliningan Bajidoran (Jaipongan Pantura) Kliningan Bajidoran.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan Cirebon. 6) Sandiwara Indramayu Perkembangan Sandiwara di Indramayu tidak terlepas dari perkembangan Ketoprak dan Sandiwara Cirebon. dengan strutur pertunjukan. Aneka Tunggal. dan Panca Tunggal. serta banyak menggunakan spectacle-spectacle dan musik Dangdut Cerbon-Dermayon. Tandange Ki Bangus Rangin. maka tidak heran. yaitu membersihkan dari hal-hal yang dapat mencelakakan manusia. adalah Grup Darma Saputra. jika pada masa itu bermunculan grup-grup Sandiwara di setiap desa dan kecamatan. Pertunjukan model ini merupakan perkembangan dari pertunjukan yang menyajikan unsur karawitan (musik tradisi) dengan menggunakan gamelan Pelog-Salendro. Pertunjukannya dilakukan pada malam hari. Pada tahun 1970-an Sandiwara Cirebon mengalami masa kejayaannya. Bedanya menggunakan bahasa Cirebon. antara lain Nyi Mas Gandasari. yang selanjutnya dikenal dengan nama Kliningan 30 .

Pertunjukan ini sangat digemari oleh masyarakat. yaitu waktu musim turun nyambut (membajak sawah). yang menunjuk pada sebuah tontonan yang menampilkan ronggeng dan diringi gamelan yang dinamis. bahkan. dll). Ceritera yang dimainkanpun sangat akrab. Pertujukannya dimulai sekitar pukul 21. dll. Sebagaimana umumnya teater rakyat. Topeng Banjet hingga sekarang masih dipertunjukan oleh masyarakat Karawang terutama di desa-desa sebagai sarana pelengkap upacara hajat Bumi. Purwakarta. bahkan ajang ekonomi. Sandiwara Sunda. sunatan. Banjet mempunyai sebaran yang cukup luas. Namun demikian semenjak adanya musik Organ Tunggal dan Dangdut. dan para pedagang yang selalu hadir di manapun Bajidoran idolanya ditanggap. dengan menggunakan iringan gamelan yang sederhana (mudah dibawa) serta bahasa Sunda yang dicampur dengan bahasa Indonesia dialog Betawi. Matres. yang kemudian banyak dikenal dengan sebutan ‘Goyang Karawang ’ . Banjet memiliki waktu pertunjukan yang hampir sama dengan tetaer lainnya (Longser. merupakan persoalan masyarakat Karawang. antara lain ke Bekasi. nyambut cai (menjemput air dari irigasi). populasi tersebut makin berkurang. juga lawakannya cenderung lugu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bajidoran. dan difungsikan sebagai tanggapan yang wajib disajikan pada hajatan masyarakat Subang. 31 . atau upacara perputaran waktu. Bogor Utara. penanggap. adalah Tetater khas Karawang dengan cirri yang paling dominan pada gerak tari yang cenderung erotis. apa adanya. baik bagi seniman. terutama dengan munculnya grup-grup Kliningan Bajidoran yang dipimpin oleh para perempuan. ajang interaksi. juga syukuran seperti hajat perkawinan. Banjet identik dengan dengan Doger. Selain tariannya yang erotis. sebagai ajang prestise. ajang komunikasi. 2)Topeng Banjet Karawang Topeng Banjet . Di Subang tercatat pada tahun 1999 terdapat 158 grup.00 dini hari. yaitu goyang pinggul dan bokong yang aduhai. Subang. Priangan.00 hingga pukul 05. Sandiwara Indramayu. yang mengutamakan adanya interaksi sinden-penari atau penyanyi dengan para pengibing.

terutama juga tarif yang tinggi atau terlalu mahal. status. antara lain Bang Seli (Tambun). Dasim menjadi Topeng Banjet Reman. Tokoh Banjet. di antaranya: selera. bahkan dijadikan ajang prestise. Faktor-faktor yang terjadi didasari pertimbangan. masih banyak seni pertunjukan lokal yang hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat yang menyebut dirinya sebagai masyarakat modern. Wayang Golek masih difungsikan di masyarakat. dan sebagainya. adalah. prestise. Kondisi diakibatkan berbagai faktor. Namun demikian beberapa seni pertunjukan yang hingga kini masih berkembang dan difungsikan oleh masyarakat pendukungnya. Bang Jiun dan Mak Kinang (Cijantung). Ade Kosasih (alm). Bahkan banyak yang hilang seiring dengan bergulirnya zaman. kendatipun secara frekuensi pertunjukannya tidak sebanyak pada tahun 1960an dan tahun 1990-an pada masa Dalang Asep Sunandar Sunarya. sebagai berikut: 1) Wayang Golek. Bang Kacrit (Bekasi) serta Bang Ali Syaban dan Bang Awing (Karawang).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Kelompok Banjet sebagaimana juga pertunjukan Longser. yakni Kelompok Ijem dan Askin) Kondisi Masa Sekarang Pada era komunikasi yang serba canggih. dalam era globalisasi. dalam menentukan pilihan. Mang Dalih (Cimanggis Bogor). atau bahkan orientasi nilai budaya. serta Dede Amung. Sejalan dengan perkembangan zaman Kelompok yang bertahan dan cukup popular. seni pertunjukan tradisional di Jawa Barat banyak mengalami perubahan. Topeng Banjet Sapar menjadi Topeng Banjet Alisyaban (sekarang menjadi dua. dalam perjalanan sejarahnya (sebelum tahun 1960-an) aktif mengalami tradisi ngamen. Walaupun kemudian terjadi pasang-surut. dari daerah-ke daerah. bang Enjin (Subang). 32 . Dalam hal ini. antara lain Kelompok Topeng Banjet Asmu atau Pendul (sekarang Pendul Putra). Topeng Banjet Tinggal menjadi Topeng Banjet Baskom. Sebagian di antaranya ada yang berubah fungsinya. Bang Nasmi Pagaden Subang. masyarakat Jawa Barat dihadapkan pada banyak pilihan. sementara yang lain mengalami perubahan bentuk. Tidak dapat dimungkiri.

Longserlongser yang berkembang pada masa kini adalah. antara lain adalah. Wawan Dede Amung Sutarsa. di daerah Bandung selatan pimpinan putra Ateng Japar. seperti Asep Sunandar Sunarya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Untuk para dalang-dalang kahot. Hanya orang-orang yang berduit serta beberapa kelompok organisasi parpol (sebagai ajang kampanye). dll. dan Dede Amung (untuk dalang Asep Sunandar Sunarya berkisar Rp 50 juta rupiah. serta Longser Sasagon campuran Alumni STSI Bandung yang melahirkan artis-artis yang sering manggung di TV seperti Sule. dan lembaga-lembaga tertentu yang masih mampu menanggap dalang-dalang kahot. Yosep Iskandar yang diterjemahkan oleh Eti RS ke dalam bahasa Sunda. Argo. Ki Daus dll. Dadan Sunandar Sunarya (putra Asep Sunandar Sunarya). serta Deden Sunandar Kosasih (putra Ade Kosasih Sunandar Sunarya) yang tarifnya berkisar Rp 20 juta (dalam kota). 3)Teater Sunda Kiwari (Bandung) Kelompok Teater yang menggunakan bahasa Sunda. Wahyu Wibisana. Rina. dan Dede Amung berkisar Rp 40 juta rupiah). 2) Longser (Bandung) Adapun Longser yang masih bertahan. pada masa kini mulai kem33 . Asep Koswara Dede Amung. Longser Antar Pulau yang para pemainnya para alumni STSI Bandung. Wayang Golek dengan dalang-dalang muda ini masih bertahan digunakan untuk masyarakat-masyarakat tertentu. Ceritera yang ditampilkan naskah karya Saini KM. daripada Rp 50 juta hanya untuk sebuah pertunjukan Wayang Golek. Akan tetapi dengan munculnya para dalang muda seperti Hedi Riskonda. Pada masa kini masyarakat perkotaan dan perdesaan sebagaian besar berpikir praktis dan ekonomis. 4) Calung dan Reog Adapun seni Calung dan Reog. Stuktur pertunjukan sebagaimana pertunjukan Teater berbahasa Sunda lainnya.didirikan tahun 1975 dengan koordinator Hidayat Suryalaga. lebih memilih untuk menambah membeli mobil atau ibadah Haji.

salendro dan pelog dengan pemain enam orang. Glamor sering diminta untuk manggung keliling daerah dengan tarif lokal berkisar Rp 10 .15 juta. biola. bermunculan pula seni-seni baru. dengan menitikberatkan pada garap vokal tradisi Sunda dan dilengkapi dengan dengan garap vokal kekinian. Tampilannya sungguh memukau karena dialognya yang kocak. Dangdut. serta geraknya tarinya yang membuat geli serta dialog plesetan yang membuat suasana segar. kendang dan gong. mengelu-ngelu sebagai duplikasi kesenian ‘Beluk’ yang hampir punah (karena salah satu vokalisnya (mang Ukok) yang telah almarhum).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF bali digalakkan dengan cara diselenggarakannya ajang festival antar daerah se Jawa Barat yang diikuti oleh Grup Reog laki-laki dan Grup Reog Perempuan Calung Remaja. dan humor. lagu. Grup Jenaka Sunda Panglima beralamat di Bandung pimpinan Lili Suparli. diiringi tampilan lagu-lagu daerah Sunda. di Komplek Panyileukan Bandung. 34 . Grup Reog Gembol Perempuan dari Kota Bandung yang mendapat juara. dan pemusik empat orang. Grup Jenaka Sunda dimainkan oleh lima orang pemain serta 3 orang pemain musik kacapi. bertangga nada diatonis. dengan memasang tarip lokal berkisar Rp 10 juta. Penyajiannya diringi kecapi elektrik. Jawa. kendang dan gong. sering mendapat tawaran manggung pada acara-acara pesta rakyat. Pada acara kampanye parpol. antara lain: 5) Glamor Glamor. asal kata dari. 6) Jenaka Sunda Grup Jenaka Sunda ‘Kanca Panglima’. yang dikolaborasikan dengan lagu pop Indonesia dan Barat. Batak. Selain seni-seni tradisi. merupakan kelompok seni pertunjukan yang bergerak di bidang seni komedi. di Jalan Buah Batu Bandung. pengembangan dari seni tradisi yang sifatnya menghibur. dll. gerak. serta gerak dan mimik ekspresi muka yang lucu dari para pemainnya membuat para penonton terhibur. Keunikan grup ini adalah pada vokal yang dijanyikan oleh Tarjo yang bernada tinggi. Minang. Keroncong. Glamor berdomisili di Kota Bandung dengan pimpinan Atang Warsita.

kini secara populasi lebih banyak grup yang dipimpin oleh perempuan yang banyak manggung daripada yang dipimpi laki-laki. Untuk daerah Karawang Suwanda Grup. China dikenal memiliki berbagai Gedung Seni Pertunjukan yang representatif yang ditangani secara profesional dengan melibatkan 200 orang seniman. itupun hanya ditanggap pada hajatanhajatan perkawinan di kampung-kampung. adalah makanan tradisional khas China. Selain Jepang. serta dapat di temui di belahan dunia manapun. Cabe Rawit. Titin Dongkrak. Dan yang paling dikenal dunia. 2) Topeng Banjet Topeng Banjet yang masih bertahan pada masa kini. Linda Grup. Grup Giler Kameumeut. Bahkan dengan munculnya grup-grup yang dipimpin oleh perempuan. adalah Kelompok Ijem dan Askin. Budaya Lokal dan Tantangan Masa Depan Barangkali bisa dijadikan referensi. di beberapa negara maju seperti Jepang. Ipah Gebot. juga seni Pertunjukan Akrobatik dengan kolaborasi teknologi canggih. serta lembaga-lembaga seni dan budaya sebagai apresiasi Seni masyarakat. Selain Kabuki. negara yang masih menjujung tinggi budayanya antara lain adalah China. Cicih Cangkurileung. China pun dikenal dengan ramu-ramuan pengobatan tradisional. Malaysia. ternyata penghargaan masyarakat terhadap seni pertunjukan tradisionalnya (teater tradisional) Kabuki. Selain dikenal dengan peninggalan budaya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Adapun di wilayah Pantura hingga saat ini seni pertunjukan yang masih eksis antara lain: 1) Kliningan Bajidoran atau Jaipongan Pantura Pertunjukan model ini di daerah Subang dan Karawang masih menjadi primadona. seni pertunjukan dan bangunan-bangunan bersejarah. selain industrinya terdepan dibandingkan dengan negaranegara lain. dan Euis Dongkrak. Begitu pula nilai-nilai etika yang masih sangat dijunjung tinggi. baik berupa seni pertunjukan Opera. seni sastra serta seni lukisnya pun maju. dan Euis Oray. antara lain Kliningan Bajidoran di daerah Subang. Ati Grup. memiliki gedung Seni Pertunjukan yang modern lengkap 35 . Namin Grup. dapat diacungi jempol. Cineur Grup.

serta mensosialisasikan dengan dana yang murah . lomba-lomba balap mobil. dan Perancis. yang dikunjungi masyarakat pewisata baik negara asal. dan produk kesenian rakyat lainnya. Begitu pula program-program konservasi. Demikian pula dengan Jerman. pengembangan dan pembinaan seni perunjukan tradisional. adalah milik negara Malaysia. tetapi juga aktivitas-aktivitas seni pertunjukan. seperti tari Kuda Lumping. Inggris. akhirya dapat disimpulkan. Tidak adanya ‘ruang’ 6 publik yang dapat digunakan sebagai ajang kreativitas para seniman. tidak berarti hanya sekadar ‘ tempat’. atau menghabiskan dana proyek daripada hangus. haruslah bersifat komprehensif dan berkesinambungan. dengan seniman tari. sepeda. selain digelar pertunjukan budaya Malaysia juga digelar pertunjukan Indonesia hampir di setiap antar Kota.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dengan panggung sistem hidrolik (lighting. Masyarakat Indonesia. Bukan hanya bersifat kesementaraan dengan hanya berpedoman ‘SPJ’. bahwa tantangan masa depan seni pertunjukan tradisional dapat dipilah menjadi dua. artistik. Bahkan di Malyasia. Pertunjukan pun disajikan secara periodik. tari Piring. Lambat-laun dunia mengakui. serta pertunjukan Angklung. bahwa penyajian seni pertunjukan tersebut. yaitu : (1) Sumber Daya Manusia (SDM seniman yang kreatif). serta radio-radio yang menyiarkan musik tradisional (di antaranya juga Keroncong Indonesia). merupakan salah satu kendala untuk berkembangnya seni tradisi di Jawa Barat. karena di negara asalnya Indonesia jarang ditemui dalam event/event terbuka. terutama Jawa Barat agaknya justru menjauhi seni tradisi. hendaknya ‘bersifat simbiotis’. Kebijakan pemerintah dalam menumbuhkembangkan seni pertunjukan tradisional sebagai kekuatan lokal. selain mengedepankan teknologi juga tidak mengesampingkan seni pertunjukan milik negaranya. TV-TV Swasta dan Pemerintah. Wisuda perguruan tinggi yang wajib diiringi gamelan. baik pada festival-festival. Amerika Serikat sebagai negara adikuasa. dll. jika benar-benar merupakan ekspresi artistik dan mengungkapkan kedalaman naluri manusia. maupun mancanegara. serta (2) Motivasi berbagai pihak terkait untuk memberdayakannya (memfungsikan). 6 Ruang. dll). sekitar 250 orang. sastra. tari Rantak Minang. 36 . dalam arena balap sepeda. Atas dasar uraian yang telah dipaparkan. Padahal kesenian yang paling lokal. dan seniman lainnya. akan memiliki daya tarik yang universal. musik. dan cenderung mengedepankan teknologi dan ekonomi kemasan yang baru (yang sebelumnya tidak ada). ternyata masyarakatnya sangat menghargai musik rakyat.

kerajinan tradisional. diwajibkan adanya ‘ruang’. sesuai dengan kebutuhan di lapangan. antara lain sebagai berikut. 7. 5. Penulisan buku-buku serta penelitian seni tradisi yang didanai khusus oleh lembaga-lembaga terkait. Diadakannya berbagai Festival Seni Tradisi oleh lembaga-lembaga terkait. serta adanya ‘Ruang bagi seniman dan karya seni pertunjukan lokal. Adanya sinergi. baik yang mewakili daerah khususnya. 2. kepercayaan) terhadap kesalinghubungan semua pihak yang terkait. dan hotel berbintang. Pembuatan film dokumenter sebagai arsip kekayaan daerah. Sekolah-sekolah Pariwisata. akan tetapi merupakan tanggungjawab kita semua. atau pihak-pihak terkait dengan dipertunjukkannya pada acara-acara penting di berbagai event. secara teks dan konteks. dan lembaga-lembaga terkait. khususnya ‘materi terapan’ untuk kepentingan konservasi budaya serta kepentingan pengembangan. serta pembinaan seni dan budaya. yakni pemahamam (pengakuaan. interior tradisional. UPI-Jurusan Sendratasik UPI. Semua tersebut di atas dapat terwujud apabila ada kerjasama ‘teks dan konteks’. Kurikulum yang sinergis. juga pertunjukan tradisional.’ Semua lokal merupakan bagian dari global. Indonesia pada umumnya. Kerjasama semua pihak antara pemerintah. UNPAD program studi Pariwisata dan Budaya) . pengembangan. 37 . STISI. dan sebaliknya dunia yang berupa bola (globe) menuntut kepedulian lokal-lokal. atau ruang-ruang yang terpisah. Difungsikan oleh masyarakat. pihak swasta. 4. 3. 8. supermaket. 6. khususnya program-program konservasi. Kebijakan Pemerintah untuk menyusun Perda. tanpa sekat-sekat ruang komunikasi. khususnya dengan makin banyaknya mall. dan pembinaan budaya /kepentingan masyarakat (STSI. Kerjasama yang dimaksud. dari lembaga terkait.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Terlepas dari itu semua kini diperlukan bukan hanya melihat satu persatu. selain menyajikan makanan tradisional. 1. Kurikulum Muatan Lokal (Seni) di sekolah-sekolah yang disosialisasikan secara menyeluruh. Kita perlu memiliki kesadaran global. serta masyarakat. 9. Program studi Pariwisata.

Cabridge. 1987: 130). tan hana tunggak tan hana watang. James R. Penutup Dengan demikian. Dibuatnya undang-undang dan didanai khusus. setiap lembaga pemerintah atau swasta untuk mempertunjukkan seni tradisi minimal 1 tahun 2 kali pertunjukan. Pertunjukan Indonesia. Endang Caturwati. Sebagaimana julukan Indonesia yang dikenal di dunia sebagai bangsa yang sangat berbudaya. hana tunggak hana watang. 10. tetapi juga kesetiaan untuk memelihara dan merekayasa nilai-nilai luhur dan tradisi besar bangsanya. Sebagaimana yang tersurat dalam “Amanat Galunggung” yang berbunyi: “Hana nguni hana mangke. bila tidak ada masa lalu tidak ada masa kini.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF terutama acara-acara penting. dkk. hana ma tunggulna aya tu catangna”. tidak ada dahulu tidak ada sekarang. aya ma beuheula. apabila semua itu telah terwujud. bahwa tradisi merupakan akar budaya serta kekuatan lokal. Pelestarian seni tradisi sebagai warisan budaya bangsa yang bukan hanya merupakan obsesi. Ada dahulu ada sekarang. tan hana nguni tan hana mangke. 1967. tak ada pokok kayu tak akan ada batang. serta Ekspresi Budaya Lokal tidak hanya sekadar memberikan kebanggaan. Theatre in Southeast Asia. ada masa lalu ada masa kini. ada pokok kayu ada batang. baik di daerah regiaonal. hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna. Massachusetts: Havard University Press. berarti masyarakat Jawa Barat atau lembaga-lembaga terkait telah memahami arti dari pelestarian dan pengembangan budaya dengan makna yang sesungguhnya. bila ada tunggulnya tentu ada cabangnya (Saleh Danasasmita. untuk menghantarkan kembali masyarakat ke koridor sejarah masa lalu. Bandung: Sunan Ambu STSI Press 2007. Keyakinan historis. bahkan sepanjang zaman. bahwa kebudayaan nasional yang dibangun harus berfungsi sebagai instrumen yang mengakomodasi masa kini dan membuka pintu masa depan.. Daftar Pustaka Brandon. maupun nasional. Itu berarti. 38 . aya nu ayeuna.

Pudjasworo. 2009. dan Budaya Jakarta: Pustaka Jaya. Transformasi. 7 Januari. Lori Waltz. 2000.www. Manusia. Hauser. Bandung: Sunan Ambu Press. http.1996-2004. Soedarsono. Seni dalam Tumpuan Tradisi. Heikkila.centralhome.htm . Harian Pikiran Rakyat. 2008. Seminar Revitalisasi. 2001.com/ballroomcountry/wallz. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. 39 . 1985). Bambang. R.copyright. “Dialektika Seni Pertunjukan Tradisi”. Dewan Kesenian Kabupaten Sleman Yogyakarta. Ensiklopedi Sunda: Alam. dan Globalisasi Seni. ed.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI _______________. Metode Penelitian Seni Pertunjukan .M. Arnold. 2004. The Sociology of Art ( Chicago and London: The University Of Chicago Press.

Desa Slangit grum bon Klangenan Cirebon Topeng Panji Topeng Cire.Desa Slangit Asmara bon Klangenan Cirebon Jati Suara Wayang Kulit Kalianyar Cirebon Arjawi-nangun Cirebon Langgeng Putra Topeng Cire.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ALAMAT KELOMPOK SENI TRADISI JAWA BARAT No 1 Nama Grup Jenis Seni Alamat Seni Jenaka Sunda Hiburan Lagu.Topeng Cire. Lagu Jalan Buah Batu dan Humor Bandung Beluk Tembang & Ciapus Banjaran Tutur Bandung Longser Antar Teater Tradisi Jalan Buah Batu Pulau Bandung Topeng Aninin.Desa Slangit bon Klangenan Cirebon Sandiwara Dhar. Plered Cirebon Wayang Golek Wayang Jl. Mohamad Hedi Putra Golek Sunda Toha Pimpinan Lili Suparli 2 3 4 5 Atang Warsita Oyib Herman Efendi Keni Arja 6 Inu Kertapati Amud 7 8 Sanija 9 Umar Karsiyan Hedi Riskonda 10 40 .Sandiwara Dr Cangkring ma Samudra Cirebon Kec. Komplek Bumi Kanca Panglima dialog dan Panyileukan Blok humor FI No 11 RT 01 RW 05 Bandung Glamor Gerak .

13 Banjet Ijem No Nama Grup Seni 14 Calung Darso 15 16 17 Reog Gembol Asep Dede Amung Muda Wawan Dede Amung Muda Teater Tradisi Jenis Seni Musik. Ang-klung) Longser Pancawarna Hiburan Lagu. Suling.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 11 12 Prakpilinkung (Keprak. Kecapi. Humor Reog Perempuan Wayang Golek Wayang Golek Areng Japar Putra Ijem Pimpinan Darso Euis Gembol Asep Koswara Wawan Dede Amung Sutarsa Dadan Sunandar Sunarya Deden Sunandar Kosasih 18 Dadan Asep Sunandar Muda Deden Ade Kosasih Muda Wayang Golek Wayang Golek Jelekong Bandung Jelekong Bandung 19 41 . Jl. dialog. lagu. S. Moh Toha dialog dan humor Teater Tradisi Banjaran Bandung Karawang Alamat Bandung Ujung Berung Bandung Bandung Bandung Nano.

Bimasakti III/1 Kaplingan RT 05 RW 20 Jebres Surakarta 57126. Surakarta 57126. Ki Hadjar Dewantara 19 Kentingan. Lulusan S3 Etnomusikologi University of Durham Inggris (1985) ini pernah menjadi Direktur Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta (1986–1988). S. Direktur Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI (2000–2006). Direktur Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1998–2000). Telepon/HP: 0271-664014 / 0813-88808037. Jln. Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta (1988–1997).ac. Jebres. Sri Hastanto. Telepon/Faks : 0271-647658. 22 Desember 1946 ini adalah Guru Besar Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta. Alamat Kantor : Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Pria kelahiran Jombang. Chairman ASEAN bidang Culture and Information (COCI) pada tingkat nasional Indonesia (2003–2006) dan tingkat regional ASEAN (2005–2006). 0813-29954762.id 42 . 638974 / 0271-638974. Sejak tahun 2009 aktivitasnya lebih banyak mengajar di Program Pendidikan Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta (sejak 2009).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. Dr. E-mail : tanto47@isi-ska. Alamat Rumah : Jln.Kar.

di sisi lain teknologi informasi dan komunikasi digunakan sebagai wahana penyelamat kehidupan seni tradisi yang notabene sebagai perangkat pendidikan publik. Saya sangat mengharapkan kali ini tidak seperti yang sudah-sudah. tetapi tidak pernah kekuatan penerangan itu digunakan untuk menyelamatkan kehidupan seni tradisi. Pada saat itu. Saya percaya dengan demikian masing-masing akan memetik manfaatnya sehingga kegiatan itu akan dilaksanakan secara ikhlas. Substansi Informasi Kita sadar semua bahwa kini masyarakat rawan melakukan demon43 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Timur Sri Hastanto Pakar Etnomusikologi ISI Surakarta M akalah dengan judul seperti tertera di atas (judul pemberian panitia) itu ditulis dalam rangka tema yang lebih besar yaitu: “Sinergi Seni Tradisi dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik” Tema sejenis pernah melandasi kegiatan yang diadakan oleh almarhum Departemen Penerangan pada masa itu. Satu sisi seni tradisi digunakan sebagai wahana penyampaian informasi untuk pendidikan publik. dan berkali-kali dalam berbagai kesempatan saya melontarkan kritik bahwasanya “sinergi” itu hanya berjalan sepihak yaitu: Hanya seni tradisi yang terus-menerus dijadikan wahana penerangan.

yaitu seni tradisi yang dapat secara verbal menyampaikan informasi dengan substansi yang berkaitan dengan pen44 . Mungkin kesenian tradisi dapat pula ambil bagian dalam pendidikan publik sehubungan dengan hal ini. di sana ada berbagai tingkatan Pilkada yang juga sering berujung pada gejolak masa. dan kedua matra yang bermuatan informasi ringan. Secara sederhana saya membagi matra ini ke dalam dua golongan. Hal ini perlu pendidikan publik. fisik.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF strasi yang menurut perkiraan mereka sebagai wujud dari warga negara yang kritis. atau penjelasan tentang caranya menyontreng. Kedua jenis matra tersebut dapat dibawakan oleh seni tradisi secara sabtun dan tidak vulgar tergantung seniman serta penikmatnya. Permasalahan ini juga diperlukan informasi untuk pendidikan publik yang bersifat konseptual. Juga masalah-masalh yang berhubungan dengan terorisme dan lain sebagainya. Tetapi sering gerakan unjuk rasa ini lebih dipicu oleh emosi dibandingkan oleh pikiran kritis. Tetapi dalam konteks tema besar tertera di atas seni tradisi komunikatif ini tentu diartikan khusus. Sifat dan Matra Informasi Sifat informasi akan sangat menentukan matranya. Seni Tradisi Komunikatif Sebenarnya semua seni bila senimannya cukup matang dan penikmatnya cukup mempunyai bekal. Hal ini pemerintah harus benar-benar berpihak kepada rakyat dan keberpihakannya itu harus diinformasikan kepada rakyat dan sampai ke alamat yang dituju. Kita juga sadar bahwa ditengah-tengah terengah-engahnya rakyat mencari nafkah untuk hidup. Ini juga diperlukan pendidikan publik. atau pesan mengihindari serangan fajar dan lain sebagainya. maka semua seni adalah komunikatif. Misalnya menanamkan slogan-slogan jurdil. Masalah yang berkaitan dengan pilkada sampai dengan pemilihan presiden informasi pendidikan publiknya tidak cukup hanya dengan yang bersifat fisik atau verbal. misalnya penjelasan tentang arti dan dampak “legawa” dan sebaliknya penjelasan tentang tidak legawa dan dampaknya. Kita sadar pula gejolak masyarakat yang kini mengendap tetapi dapat meletus sewaktu-waktu berhubungan dengan lumpur Lapindo. Substansi itu masih banyak lagi. atau verbal. yang pertama adah matra yang bermuatan konsep.

. dan tiba-tiba seorang penonton berteriak: “ngapusi kuwi mbah” (bohong itu mbah). kedua Wayang Kulit.. trung . “Lho piye kok ngapusi” (Lho bagaimana kok bohong). padahal sudah bayar mbah) “O” kata dalang kentrung. “Kowe ki bakul apa buruh” (Kamu itu pedagang atau buruh) tanya dalang kentrung. dan banyak pula yang sudah tidak bekegiatan alias mati. ”Aku nelayan je mbah” (Aku seorang nelayan 45 . dalang kentrung balik bertanya dengan bahasa dialog biasa tidak dilagukan walaupun masih dibingkai dengan iringan kendang dan rebana. lalu dilanjutkan dengan masih tanpa dilagukan. “Wis sesasi KTP-ku ra dadi.trung. Untuk itu dalam rangka ini saya hanya akan mengutarakan empat jenis kesenian yang teba jangkauan penikmatnya cukup luas: Pertama Kentrung.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI didikan publik. ketiga Ludruk dan keempat Ngremo Kentrung Setelah hampir 1 jam nyerocos menceritakan bagaimana kesaktian Patih Batik Madrim (ceritera Anglingdarmo) dengan diiringi kendang dan terbang mbah dalang kentrung yang umurnya merayap ke satu abad itu membuat selingan dengan masih diiringi kendang dan rebana trung . Selingan itu masih menggunakan metrum yang sama seperti induk ceritanya: tontonen punggawa desa terampil ngopeni warga nggarap KTP gak tambah redana kabeh wis siap rampung sedina Lihatlah itu pamong desa terampil melayani warga Mengerjakan KTP tanpa tambah biaya Semua siap selesai dalam sehari Mendengar lantunan pujian terhadap punggawa desa itu ratusan penonton yang berkerumun di dekat panggung bergeredeng. Di Jawa Timur seni tradisi semacam itu sangat banyak tetapi ada yang bersifat sangat lokal sepertimisalnya Remo di Madura. mangka wis mbayar lho mbah” (sudah sebulan KTP-ku belum jadi...

Seni Kentrung kini dalam keadaan sekarat dalang kentrung hanya tinggal tidak lebih dari jari sebelah tangan kita. sampai dengan Runtuhnya Majapahit. Ia juga dapat berfungsi sebagai wahana kontrol sosial 46 . Dialog ini terjadi spontan dan tidak dirancang. Kata “kucing” itu salah satu nama kartu cina yang dipakai berjudi mereka. atau hal-hal yang bersifat verbal lainnya. karena substansi yang dilantunkan adalah berbagai ceritera rakyat dan legenda yang sarat dengan nilai kehidupan manusia. Kentrung dapat berceritera mulai dengan jenis Suminten Edan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF mbah). Dalam berceritera dalang kentrung sering melakukan selingan diantara babak satu dengan lainnya. Itulah hebatnya kentrung. dongeng. Selingan itu dapat berupa apa saja. lalu ujarnya (kini menggunakan lagu mengikuti irama kendang dan rebana: Lha dhuwitmu mambu amis Lha wong ambumu iya amis – wong nelayan – dhuwitmu digondhol kucing KTP-mu ya digondhol kucing (Uangmu berbau amis Karena kamu juga amis – maklum nelayan – Uangmu digondol kucing KTP-mu juga digondol kucing) Spontan penonton tepuk tangan dan bersorak sebab dalang kentrung dengan sigap menanggapi respon penonton tadi sambil menyentil kelakuan punggawa desa yang senang berjudi. Langsung dalang kentrung tertawa terkekeh. Seni kentrung adalah seni tutur yang dilagukan dibingkai dengan iringan bermatra metrik oleh kendang dan rebada. Ia dapat berfungsi sebagai agen transfer nilai-nilai. artinya uang KTP itu telah ludes di meja judi. Padahal kentrung mempunyai muatan yang sangat positif bagi bangsa ini. juga muatan kritik sosial. Walaupun demikian karena jam terbang mbah dalang kentrung menghadapi publik telah sangat tinggi. Dengan keluwesannya itu kentrung sangat efektif untuk menyampaikan informasi ringan. bahkan sering dalang kentrung membawakan current afair atau sekadar banyolan untuk meredakan ketegangan dan membuat refreshing perhatian penonton. muatan sastra. maka dengan lancarnya ia menyusun teks spontan dan mengandung banyak muatan. yang hidup di masyarakat. Ceritera yang dibawakan adalah berbagai legenda.

Tetapi juga bagaimana teknologi informasi dan komunikasi ini dapat menyelamatkan seni tradisi yang nota bene sebagai wahana pendidikan publik seperti tema besar pertemuan ini. Tetapi hal ini belum berhasil mendapatkan tanggapan dari yang berwenang untuk mendapatkan dana yang pantas. Dari berbagai berita bahwasanya beberapa radio swasta niaga telah berusaha mengadakan siaran kentrung walaupun terbatas pada setiap ulang tahunnya yang tentu saja tidak berbekas di hati masyarakat. Perguruan tinggi Seni seperti Institut Seni Indonesia dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia mestinya kapabel melangsungkan kehidupan kentrung dengan konsep yang matang.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI secara santun. Sekali lagi hal ini dilandasi dengan semangat ‘Sinergi Seni Tradisi dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik” secara timbal balik jangan hanya berjalan satu arah yaitu: Seni tradisi digunakan sebagai wahana penyampai informasi saja. Sinergi seni tradisi dengan teknologi informasi dan komunikasi kiranya jangan hanya berjalan satu arah yaitu: Seni tradisi digunakan sebagai wahana penyampai informasi saja. porsi alur cerita masih merupakan prioritas. dalam hal ini menyelamatkan kentrung dari kepunahan. Sebagian besar waktunya hanya untuk “banyolan” kalau tidak “cengengesan” saat adegan LimbukCangik dan Goro-goro. Jadi jika selera masyarakatnya rendah maka sajian wayang kulitnya juga menjadi dangkal. Wayang Jawa Timuran belum tertular virus ini. Jadi juga tidak berbekas. 47 . Wayang kulit Jawa Tengah banyak yang kini telah menjadi tontonan yang meladeni selera masyarakat. Saya percaya Kementerian Koninfo dan Pendidikan Tinggi Seni dapat saling bersimbiose mutualistis menghadapi hal-hal semacam ini. seperti yang telah dicontohkan di atas. Para petugas dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten dan Kota juga telah berusaha mementaskan kentrung tetapi sekali lagi sepi penonton. Apa yang dapat kita perbuat. Wayang Kulit Wayang kulit gaya Jawa Timuran relatif masih lebih murni dibanding dengan wayang kulit yang kini laku di Jawa Tengah. Tetapi juga bagaimana teknologi informasi dan komunikasi ini dapat menyelamatkan seni tradisi yang notabene sebagai wahana pendidikan publik.

maka ia membunuh sang mertua. Durung nganti putune lair kowe ganti sebutan. maka kadar kesantunan dan bobot informasinya akan dapat dipertanggungjawabkan Pesan semacam itu tentunya untuk konsumen masyarakat yang berpendidikan menengah ke bawah. Dalam adegan punakawan memang sering ada hiburan ringan seperti pilihan pendengar. Tetapi sebagai bagian dari kreatifas dalang berhak 48 . apike enggal dilaporake marang sing berwajib. Dalam “pakem” diceritakan bahwa Narasoma kemudian malu mempunyai mertua seorang Raksasa. yen ana wong anyar nyalawadi. Ia nekat menculik Narasoma karena anaknya yang sangat cantik Dewi Pujawati. E thole mula pada diwaspada. Kalau hal itu terjadi sebenarnya sang petinggi belum saatnya jadi petinggi..” Pesan pendidikan publik semacam ini mudah sekali disipkan pada waktu yang tepat. dadi maratuwane teroris. “. Dinikahkanlah mereka.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Pak Suleman dari Waru dan murid-muridnya seperti Mas Wardono dan kawan-kawan masih membatasi diri menyisipkan hiburan ringan. Ia kemudian memaksa ayahnya mencari Narasoma sampai ketemu. maka atas kehendak Bagaspati Aji Candhabirawa agar masuk ke dalam tubuh Nrasoma dan menjadi miliknya. . Untuk para petinggi daerah tentunya harus disajikan “masakan” lain yang lebih bergizi. Celakanya kalau sang petinggi itu malah tidak dapat menerima informasi yang lebih bersifat konseptual tetapi sudah merasa bahagia dapat mencerna informasi dangkal semacam itu. Pada adegan inilah pesan-pesan propaganda dangkal dan yang bersifat verbal dapat dilontarkan. bermimpi bertemu dengan Narasoma dan jatuh cinta. Kebetulan sang mertua mempunyai Aji Candhabirawa yang luar biasa kekuatannya. Apa lagi bila teksnya disusun oleh seniman yang mempunyai wawasan luas. Setelah melihat kejelitaan Pujawawati iapun jatuh hati. ia diculik oleh pendeta raksasa bernama Bagaspati. Tadinya Narasoma menolak bahkan sempat perang tanding dengan Sang Begawan tetapi kalah. . Berikut ini sebuah contoh informasi yang lebih bermartabat: Ketika Raden Narasoma (kelak ia bergelar Prabu Salya) masih muda. aja malah dipek mantu. . Apa ra cilaka. .

” Lalu Bagaspati menceritakan bagaimana kekuatan aji tersebut. “Raden. Karena telah sanggup. . .” “Saya sanggup memenuhi syarat-syarat itu. Ya Bapa saya dengan senang hati akan aku terima warisan Bapa . . . “Syaratnya Raden harus membunuh aku. Hati Narasoma bersorak. Narasoma menjawab “Sanggup” Seandainya Bagaspati mempunyai permintaan khusus apa Narasoma mau memenuhinya. kiranya garapan ini relevan untuk disajikan. mangkatlah Bagaspati. Garapan seperti ini juga merupakan informasi untuk pendidikan publik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI melakukan sanggit cerita. bagi mereka yang mempunyai bekal pengetahuan lebih luas. Kalau demikian Narasoma sanggup tidak menterlantarkan Pujawati di kemudian hari. . apakah dia mencintai Dewi Pujawati. Inilah sanggit itu: Setelah malam pertama. sebab aji itu telah menyatu dalam tubuhku. Informasi itu memberi pemahaman bagaimana seorang tua yang legawa kedudukannya dilengser oleh yang muda. Info itu bila dicerna cukup dalam akan mempermalukan mereka yang setelah merasakan enaknya duduk di kursi lalu tidak mau turun walaupun sebenarnya sudah waktunya. agar dapat diamalkan untuk kebaikan manusia selanjutnya. . . . Dengan bercucur air mata Narasoma menghunus kerisnya dan dengan serta merta Bagaspati menubruk keris itu dan menghunjamkannya di ulu hatinya. Bagaspati tetap mati tetapi kandungan nulai dari peristiwa itu sangat berbeda. Dalam ingar-bingar pilkada di mana penjabat lama dipandang sudah waktunya turun. dengan segala kemampuanku”. dan Aji Candhabirawa pindah raga yaitu raga Narasoma. aku minta engkau berkenan menerima warisan Aji Candhabirawa . . Bagaspati juga berkata bahwa aji itu tidak lagi berguna bagi dirinya karena sudah tua dan sudah sepantasnya dimiliki oleh yang muda. Norasoma dipanggil Bagaspati. Demikian wayang kulit dapat menjadi wahana pendidikan publik “agal-alus” jadi tidak hanya pesan verbal saja. memang ia membutuhkan “sipat kandel” nanti setelah ia menjadi raja Mandaraka. maka jawabnya “. Di Jawa Timur sebe49 . Narasoma menjawab “Ya.” “Tetapi ada syaratnya Raden . Narasoma menjawab: “Ya”. . . hanya dengan kematianlah aku dapat mewariskannya kepada Raden.

Ludruk Tidak banyak yang dapat saya utarakan perihal Ludruk ini. Ceriteranya bisa apa saja kalau perlu cerita Romeo and Juliet. Dalam tulisan ini akan dibahas “kidungan”nya yanmg merupakan wahana ampuh untuk melontarkan infrormasi pendidikan publik yang ringan-ringan. Dalam pertunjukan Ldruk juga demikian. Sayangnya belum bayak kaum intelektual yang mau menggarap Ludruk sehingga pesan ceritanya dapat digunakan sebagai pendidikan publik yang memadai. Peranan wanitanya selalu dimainkan oleh pria (waria) yang biasanya sangat cantik. Hal itulah salah satu penyebab mengapa banyak orang menyenangi Ludruk. Misalnya: Pembangunan (dulur) kudu dipentingna Marga pembangunan kanggo kabeh kita Ayo kanca padha aja tidha-tidha Mbantu pemerintah urun tenaga Tetapi bila si penari mempunyai latar belakang mendidikan yang memadai. Dalam Tari Ngremo selalu ada bagian yang disebut “Nggandhang” yaitu sang penari berhenti menari tetap dalam sikap tari dan melantunkan nyanyian yang disebut Kidungan. Ludruk adalah teater daerah Jawa Timur dan yang terkenal adalah Ludruk Surabaya. Kidungan Seperti telah saya singgung bahwa kidungan terdapat di dalam pertunjukan Tari Ngrema yang sering mengawali pertunjukan Wayang Kulit maupun Ludruk.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF lum pergelaran wayang dilaksanakan biasanya didahului dengan Tari Ngremo oleh seorang penari tau lebih. Teks dalam kidungan sering sekali menggunakan bahasa klise yang menyanjung program pemerintah secara vulgar. Penari ini biasanya wanita yang nanti akan bertindak sebagai pesinden dalam wayangan semalam suntuk. Hal ini akan dibahas setelah pembahasan Ludruk. Apapun ceriteranya sutradara berhak membuat “sanggit” seperti dalam wayang kulit tadi. Bedanya Ludruk lebih leluasa menggarap sanggit-nya. kidungan ini dapat sangat efektif digunakan sebagai wahana pendidikan publik. Misalnya: Ketika kita sedang dipusingkan dengan adanya tawuran antar fakultas dan bahkan antar kampus di banyak kota 50 .

matilah mereka dan menyodorkan tangan lagi untuk meminta. Kritik seni adalah karya ilmiah yang berdiri di antara karya seni dan penghayat. tetapi kritik mendudukkan karya seni pada proporsi yang semestinya. Kepada penghayat kritik memberikan penjelasan hal-hal yang kurang jelas dan kepada karya seni kritik menginformasikan bagian mana dari karya itu yang kuat dan yang lemah. Sekarang apa yang dapat dilakukan Koninfo untuk menghidupi partnernya itu. sebagai berikut: Manuk cocak (dulur). Seperti kita ketahui bersama bahwa di dalam dunia seni tradisional belum tumbuh budaya kritik. sebab konsumennya telah dipersiapkan oleh kritik. Sinergitas Seni Tradisi dan Kominfo Bagaimana seni tradisi dapat dijadikan wahana pendidikan publik telah saya paparkan di depan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI beberapa tahun yang lalu sempat disentil dalam kidungan oleh seorang penari ngrema pada sebuah hajatan di Mojokerto. Saya akan berterus-terang sesuatu yang saya usulkan. ngoceh neng tegalan Ocehe panjang kaya huruf palawa Dadi tukang becak (dulur) aja seneng dha tukaran Yen seneng tukaran. berilah ru51 . demikian dana habis. Sebab kalau diberi dana maka kehidupan seni tradisi bagaikan mayat hidup. Dalam kritik dijelaskan apa yang kuat dan apa yang lemah sehingga penikmat akhirnya mengerti kesenian itu. Tapi saya berpikir lain. sehingga dapat membantu penghayat menghayatinya untuk mendapatkan keluasan pandangan dan kekayaan imajinasi hayatan. kocak dan konyol tetapi tepat dan sempat membuat kaum menengah keatas berfikir tentang ulah mahasiswa yang sudah keterlaluan. Kritik bukannya mencela karya seni. sehingga baik penghayat maupun seniman akan meningkat kualitasnya. Pertanyaan ini biasanya dijawab dengan mengucuran dana. ndhak kaya mahasiswa Sentilan ini luar biasa. Padahal fungsi kritik itu menyambung karya seni dengan penikmatnya yang kurang bekal. Peningkatan kualitas baik penghayat maupun seniman inilah yang akan mendorong seni tradisi hidup. Si tukang kidung menempatkan martabat rekannya para tukang becak yang kala itu melihat pementasannya jauh lebih tinggi dibanding dengan martabat mahasiswa.

Kidungan di pelosok Mojokerto juga akan dinikmati secara nasional. Mangan kupat (dulur) lalape timun.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ang kepada intelektual seni untuk untuk menulis kritiknya dan dapat dibaca oleh banyak orang baik secara regional maupun nasional. Jogya dan sebagainya. Solo. Ditambah gula rujake degan Manawi lepat (dulur) lha nggih kajengipun Wong dhasare kula niku dhagelan. Berilah sebuah sudut untuk kritik seni tradisi di koran nasional.* 52 . dan koran-koran daerah tentu saja dengan honornya yang memadai maka karya kritik seni tradisi akan bertumbuh dan itulah wujud sinergi yang sesungguhnya. Pertunjukan Kentrung di sudut kota Tuban akan merambah Jakarta. Medan Surabaya.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 53 .

Gondangrejo.Kar. Perintis Padepokan PANDAWA (kawasan wisata religius). M. 54 . semua di Surakarta. Plesungan. Sardono Dance Company Jakarta. Mahasiswa S3 Universitas Gadjah Mada Jurusan Kajian Budaya ini juga aktif dalam berbagai kegiatan penyadaran masyarakat melalui Seni Budaya Tradisional di Jawa Tengah.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF F. Saat ini tinggal di Bonoroto. Karanganyar. Anggota MOYO TIRTO. dan Pemda Kutai Barat dan Pemprop Kaltim. Dosen Seni Tari ISI – Surakarta ini akrab dipanggil Hari Genduk di kalangan komunitas seni. Bengkalis (Sumatera). STSI/ ISI Surakarta. Hum. Lulusan S2 UGM Jurusan Pengkajian Seni Pertunjukkan Indonesia juga pernah pentas di luar negeri untuk Unjuk Budaya yang dilakukan oleh Pura Mangkunegaran (Surakarta). Aktif dalam berbagai organisasi antara lain Pendiri/Ketua Umum Lembaga MENTARI SEGARA ANAKAN. Hari Mulyatno S. Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Pengging dan Pendiri/Pemilik padepokan LESUNG. Pendiri/Anggota Lembaga SOLO KOBAR. Jawa Timur.

bahwa pada hari ini saya diperkenankan menyampaikan pokok-pokok pikiran tentang Peran Seni Budaya Tradisional Kalimantan Sebagai Dimensi Informasi Publik. tentang peran seni budaya tradisional Indonesia khususnya dari belahan pulau Kalimantan untuk sama-sama mengkaji seni dalam Dimensi Informasi dan Komunikasi Pembangunan Indonesia. dalam dan beragam. Saya sadar bahwa sebenarnya kurang tepat bahwa saya yang duduk dan menyampaikan pandangan dan informasi tentang seni budaya Kalimantan yang begitu luas. dalam hal ini jajaran Kementerian Kominfo. Hari Mulyatno. S. khususnya yang berada di wilayah peradapan masyarakat Kalimantan. Saya juga berterima kasih kepada panitia/penyelenggara yang memberikan kesempatan untuk memberi masukan tentang seni dan budaya masyarakat Kalimantan-Indonesia yang majemuk kepada peserta diskusi dan pemerintah pusat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni Budaya Tradisional Kalimantan dalam Dimensi Informasi/ Komunikasi Pembangunan F.Hum Dosen Seni Tari ISI Surakarta Pengantar uji syukur kepada Tuhan Allah Yang Maha Bijaksana. M. yaitu bagaimana seni dapat dipergunakan untuk menyampaikan informasi pembangunan.Kar. Saya menyadari bahwa sebagai salah satu pemerhati kebudayaan Kalimantan. apa yang saya sampaikan adalah P 55 . Pada kesempatan diskusi hari ini. merasa perlu dan mempunyai kepentingan tersendiri untuk menyampaikan pandangan pada forum diskusi pada hari ini dan pada Pemerintah Pusat.

Makhluk di atas langit adalah kekuatan luar biasa yang tidak dapat dijangkau oleh indra manusia pada umumnya secara langsung seperti para Dewa. ketua Adat Besar Suku/ Etnik Bahau dan ketua Adat Besar Dayak-Borneo. Pandangan Umum tentang Seni Pada dasarnya seni adalah sarana komunikasi/sarana pengungkapan pengalaman dan kebutuhan jiwa manusia kepada sesama manusia. Malaikat dan Tuhan. seni dipandang mampu menjadi sarana komunikasi lintas batas kemampuan akal pikir (rasional) manusia. Blawing Barek. manusia kepada alam semesta raya dan manusia kepada makhluk yang dipercaya ada di alam lain. Sedangkan Kalbar dan Kalsel baru dalam proses awal penjajagan. Oleh sebab itu apabila pada kesempatan diskusi pada hari ini. untuk langkah kerja saya lebih lanjut di dalam mendarma baktikan kemampuan saya di bidang seni untuk penyadaran masyarakat yang bangga menjadi Warga Negara dan Bangsa Indonsia pada masyarakat Kalimantan khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Yang dimaksud makhluk langit yaitu para leluhur dan makhluk Tuhan yang pernah dilahirkan di bumi dan telah meninggal dunia. mulai awal 2009. dan komunikasi makhluk bumi dengan makhluk langit. Saya juga mohon tanggapan dan masukan dari peserta diskusi tentang pandangan saya terhadap peran seni dalam Dimensi Informasi (non estetis). khususnya di Kaltim dan di Kalteng. ataupun yang tidak pernah dilahirkan di bumi yaitu makhluk alam gaib yang masih dapat dijangkau. 56 . menjelaskan bahwa seni budaya Kalimantan (Dayak) itu sarana komunikasi antara makhluk bumi dengan sesama makhluk bumi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF suatu pandangan dari hasil pengamatan dan pengalaman pribadi sebagai insan pemerhati Kalimantan dalam bingkai penguatan sikap kebangsaan dan ketahanan masyarakat Indonesia melalui media seni dan budaya tradisional di Kalimantan sejak tahun 2006 sampai sekarang. Artinya bahwa menurut pandangan masyarakat Kalimantan (Dayak). maka mohon maaf apabila naskah dan presentasi saya ini kurang atau tidak mencapai sasaran yang dikehendaki. apa yang saya sampaikan kurang atau tidak mencapai sasaran dari tujuan panitia.serta komunikasi makhluk bumi dengan makhluk di atas langit. dan saya bersedia melengkapi informasi-informasi atau data-data tambahan yang diperlukan setelah forum diskusi ini.

bisa jadi sebaliknya dan masyarakat penonton tidak mengerti atau tidak paham inti pesan yang disampaikan. dan kemudian isi informasi tersebut akan diaplikasikannya dengan baik di 57 . kemudian ditancapkan lebih lanjut ke dalam lubuk hati yang paling dalam untuk menjadikan sebuah perenungan. dan bukan bahasa kesenian Bahasa Seni Bahasa seni itu bahasa simbolik. kemudian akan berlanjut pada pembentukan sikap dan perilaku yang bertanggung jawab bagi penghayat di kemudian hari. Oleh sebab itu para seniman dan budayawan seyogyanya lebih bijaksana di dalam memaknai seni untuk dipergunakan sebagai media penyampaian pesan-pesan verbal. jadi bukan komunikasi verbal. sehingga penyampaian pesan tidak dapat efektif. tetapi informasi bersifat simbolik. sehingga setelah mendapatkan informasi yang terekam di pikiran kemudian informasi tersebut ditancapkan di dalam lubuk hati sanubari yang paling dalam (rasa). Kalaupun toh ada seni yang menggunakan media bahasa verbal. Hal ini memang tugas berat bagi kreator dan para motivator dan atau pemilik gagasan utama yang akan disalurkan melalui media seni. Artinya isi informasi disampaikan terlebih dahulu melalui media-media verbal. kemudian akan tumbuh sikap dan perilaku lanjutan pasca penghayatan seni yaitu menindaklanjuti pesan-pesan pendidikan dan pembangunan yang telah diterimanya dengan tulus melalui media seni tersebut. tidak efisien dan tidak tepat sasaran. akan tetapi itu hanya materi ungkapan. agar isi informasi dapat terekam dengan baik. Menurut saya lebih baik seni tidak untuk menyampaikan informasi yang bersifat verbal. Kalau kita ingin menyampaikan informasi tanpa memerlukan proses penghayatan atau perenungan yang lebih mendalam. maka dari itu sebaiknya penyampaian informasi cukup menggunakan media bahasa verbal yaitu dengan bahasa lisan ataupun bahasa tulis saja.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Sifat ungkap atau komunikasi seni adalah sifat ungkap simbolik. kemudian baru didalami lebih lanjut melalui media seni. bukan inti atau esensi komunikasi. Apabila kita tidak bijaksana dalam mempergunakan seni untuk media propaganda atau seni sebagai penyampai informasi. setelah mendapat sentuhan hati melalui media seni. bahkan masyarakat bias menjadi apriori terhadap pesan-pesan penting melalui jasa seni. jadi suatu media ungkap yang efektif untuk menancapkan pesan yang sudah terlebih dahulu terekam di dalam pikiran.

Wayang. Termasuk jenis-jenis seni religius cara penghayatannya dengan ikut serta menjadi pelaku seni secara aktif. Sindoro dan. Sumbing Jawa Tengah. Mereka didalam menghayati seni di lingkungan komunitasnya. ini berarti menempatkan seni sebagai sarana penyampaian pesan-pesan pendidikan dan pembangunan. senang. dengan cara ikut serta mendatangi pergelaran pentas seni dari kelompok anggota/grup mereka. ada pula yang dengan cara dilakukan sendiri. Merbabu. Jadi dengan demikian masyarakat penonton atau pelaku seni menjadi lebih paham dan apa yang dipesankan melalui media seni tersebut. Oleh karena kebutuhan manusia itu beragam. dan seni-seni pergaulan lainnya. Ada seni budaya yang cara menikmatinya dengan cara dilihat dan di dengar. Seni dapat dipergunakan sesuai konteks kebutuhan hidup manusia tersebut. Menurut saya. kebutuhan psikologis (tahu. Seni Tayub dan Musik Rock. sreg. pada dasarnya kebutuhan hidup manusia itu meliputi kebutuhan jasmani (makan. mengerti. Masyarakat pangombyong tersebut di dalam sebuah peristiwa pergelaran seni tanpa melihat kesenian tersebut secara langsung. Ada cara lain bagi masyarakat pangombyong atau anggota kesenian di wilayah kebudayaan lereng Merapi. sehingga pesan dapat diterimanya secara tulus lahir dan batin. ada juga yang hanya mendengar atau melihat saja.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. manteb dll). maka fungsi seni juga beragam. minum. Cara Menghayati Seni Ada beberapa cara masyarakat di dalam menghayati dan menikmati seni. Teater. Seni Film. sehat). lebih tepat dinikmati dengan cara mengikuti atau melibatkan diri dengan cara menari-menyanyi atau berjingkrakjingkrak. bangga) dan kebutuhan rohani/spiritual (nyes. Seni budaya didalam konteks seni yang dipergunakan untuk sarana penyampaian informasi. dan bukan pesan-pesan estetik. lebih tepat seni-seni tersebut dinikmati dengan cara dilihat dan didengar karya seni tersebut. Pentas Musik. mere58 . Fungsi Seni Saya lebih suka memaknai fungsi seni dari pengertian seni untuk hidup. paham. sesuai dengan situasi dan kondisi serta latar belakang kebudayaan masyarakat di daerah tersebut. plong. dan ada yang melibatkan diri di luar pentas.

dan seni pertunjukan. teater daerah (wayang dan sejenisnya). semua itu dapat dipergunakan untuk media informasi dan komunikasi secara efektif apabila tepat didalam memilih media. seni teater. adat istiadat dan upacara-upacara tradisional. Seni yang dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan itu bukan hanya seni “komunikatif” sejenis teater daerah dan wayang saja. Hal ini sangat tergantung dari kemauan motivator (pemerintah-lembaga pemberi motivasi ) dan kepiawaian para kreator (penggarap). Ada pula seni audio berupa musik tradisional. maka para motivator dan kreator seni harus pandaipandai memilih materi dan cara penggarapan seni yang sesuai dengan lingkungan budaya masyarakat setempat. 59 . Bentuk Seni Bentuk seni-budaya tradisional di Indonesia pada umumnya dan di Kalimantan khususnya cukup beragam. latar belakang budaya masyarakat dan keberadaan patron sebagai pengukuh/penguat. Semua seni termasuk tari (gerak).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ka seperti orang berkenduri di dalam rumah sambil menunggui pemain yang sedang berhias. Apabila subjek penyampai informasi salah dalam memilih media dan tidak memperhitungkan latar belakang kehidupan masyarakat sebagai objek. patung. Keberadaan masyarakat sebagai obyek termotivasi. seni tato dan tindik. seni pahat. dan pemilihan media seni yang akan digarap harus tepat sesuai dengan latar belakang budaya berkesenian masyarakat bagi tersebut. seni pantun. maka akan dapat melenceng dari sasaran dan menjadi lebih boros biaya penyelenggaraan. Oleh sebab itu dalam menggarap kesenian pada konteks seni sebagai sarana informasi. melainkan semua seni dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan secara efektif. yang dipilih untuk menjadi objek sasaran penyampaian informasi. Ada seni visual seperti seni tari. kebiasaan berkesenian mereka berkaitan erat dengan tata upacara adat dari etnik-etnik tersebut. musik (suara). serta kekuatan ungkap aktor (daya pangaribawa pemain). untuk golongan masyarakat apresian tertentu. Pada umumnya para pangombyong atau anggota tersebut terdiri dari kaum laki-laki yang sudah tua dan mantan pemain kesenian tersebut. Jadi dengan demikian antara subjek motivator dan kreator seni. dan seni vokal lainnya. seni lukis. lukisan. Di Kalimantan khususnya bagi masyarakat etnik Dayak dan Melayu.

semua itu dapat menjadi efektif dan efisien untuk dipergunakan menyampaikan pesan. pemerintah pusat (Jakarta). Seni tradisional Indonesia. khususnya di Kalimantan merupakan bagian dari perilaku budaya masyarakat adat. Raja dan orang-orang terpandang lainnya. Oleh sebab itu para penggarap harus memperhitungkan akar budaya masyarakat setempat untuk menentukan bentuk seni macam apa yang tepat dan sesuai dengan sasaran objek yang dituju. baik itu dalam bentuk lembaga ataupun pribadi-pribadi yang kharismatik. Seni budaya seperti yang telah di sebutkan di depan. budayawan. oleh sebab itu seyogyanya berhati-hati di dalam memperlakukan seni dan memilih bentuk seni yang tepat sesuai dengan sasaran yang akan dituju agar dapat menjadi lebih efisien. Sosok pribadi yang dapat dipergunakan sebagai patron atau panutan masyarakat diantaranya. dan yang paling penting adalah keseimbangan antara subjek pemberi pesan. Seni yang keluar dari rangkaian upacara adat biasanya seni tradisi yang sudah menjadi komersial. negarawan. Seni Sebagai Media Informasi Seni budaya menempati salah satu fungsinya yaitu sebagai media informasi dan sebagai media pendidikan atau propaganda. Kyai. misalnya lembaga kabupaten. Pendeta. Kemudian diperlukan pengukuh. apabila digarap dan diolah secara tepat.efektif. menurut saya seni dan budaya dalam konteks pemanfaatan seni sebagai media informasi dan komunikasi itu harus melekat dengan adat istiadat setempat pula.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dalam konteks seni budaya sebagai media informasi/komunikasi yang perlu dipehatikan adalah kecerdasan kreator sebagai pribadi ataupun kreator tangan panjang dari pemerintah. Pejabat Kepala Daerah. propinsi. Prasyarat penggunaan seni untuk sarana penyampaian pesan/informasi-informasi pembangunan adalah sebagai berikut : a. para pemikir) 60 . jadi bukan bentuk keseniannya yang diutamakan sebagai media komunikasi. dan biasanya seni terkait dengan upacara-upacara adat masyarakat setempat. Seniman. Pemilik ide (pemerintah. Oleh sebab itu. alat atau media penyampai pesan dan objek penerima pesan. Kepiawaian mereka tersebut adalah unsur utama dalam penggarapan seni untuk informasi pembangunan. dan tepat guna. Ketua Adat/Ketua Suku. Pengukuh tersebut sebaiknya berupa lembaga dan atau pribadi tokoh panutan yang sangat dikenal.

sebagai seniman penggarap seni untuk pesanan (seniman kreator) d. Aplikasi Lanjutan sebagai bentuk tindakan nyata (dampak) Dengan demikian terjadilah proses penyampaian informasi yang efektif. sebagai pengukuh (penguat) g. Walaupun prosesnya tetap melalui penalaran tetapi penalaran bukanlah tujuan. Gambaran secara garis besar 61 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI b. sebagai penerima pesan dan aplikasi lanjutan (penghayat seni) f. yaitu di wilayah Malaysia Timur ialah sub Kerajaan Sabah dan Serawak. Motivator. namun demikian di wilayah Sabah dan Serawak ini eksistensi masyarakat Dayak mendapatkan kemerdekaan yang lebih longgar. bahkan lebih menjulang ke utara dari garis tengah Pulau Kalimantan di bawah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan doktrin Negara Pancasila dan UUD ‘45 . Di Negara Indonesia dengan doktrin Pancasila ini memberi warna tersendiri dan menjadi berbeda dengan warga Kalimantan di wilayah Malaysia Timur. dan warga di Kalimantan Brunai Darussalam. Di bagian Kalimantan sebelah selatan sampai tengah. Kalimantan Indonesia secara garis besar dihuni oleh masyarakat mayoritas etnik Dayak dan etnik Melayu. Patron. Selayang Pandang tentang Kalimantan Kalimantan secara garis besar terbagi dalam tiga kawasan yang berbeda kedaulatan yaitu di sebelah utara dibawah kedaulatan Kesultanan Brunai Darussalam dengan doktrin kedaulatan negara Islami. Kreator Seni. Aktor/bahan kesenian. Masyarakat daerah ini di bawah doktrin Negara Islam Melayu. Di bagian utara membentang dari barat ke timur pulau Kalimantan di bawah kedaulatan Negara Kerajaan Malaysia. dan yang tidak boleh dilupakan bahwa seni bukan untuk konsumsi penalaran atau akal pikir semata melainkan untuk konsumsi indra rasa/batin. sebagai alat untuk mewadai pesan dan mengeluarkan daya pesan (seniman pelaku) e. Adapun tujuannya adalah menghantarkan sebuah perenungan dan aplikasi atas isi dan inti pesan pasca menikmati seni budaya. sebagai seniman yang menyalurkan pesan (aktivis) c. Masyarakat/penonton kesenian.

dan lain-lain sebanyak 20%. Seni dari akar masyarakat etnis Cina . hajatan kemudian 62 . Sebagai contoh Tari Hudoq berkaitan dengan upacara tanam padi.Artinya masih dapat dipahami seperti seni dalam bingkai budaya asalnya. Masyarakat Dayak tersebar di belantara Pulau Kalimantan dan terbagi dalam berbagai sub kultur Dayak. Tari Ngerangkau (Tari upacara kematian) berkaitan dengan upacara Kwangkai (Ritual kematian). Jawa 10%. Cina 5%. masyarakat Jawa di kota-kota besar dan kota-kota kecil pedalaman dan daerah perkebunan (daerah transmigrasi). dan selebihnya adalah Bugis. Cina dan Melayu menguasai daerah perdagangan dan persawahan serta pemerintahan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF etnik penghuni Kalimantan Indonesia ialah. tari Gantar berkaitan dengan upacara panen padi. Madura. pergelaran Barongsai ditampilkan pada waktu upacara tahun baru Cina.Sunda. Sedangkan seni-seni masyarakat etnik Jawa dan etnik Melayu lebih beragam fungsi dan waktu pergelarannya. Seni Budaya Kalimantan Secara Garis Besar Secara garis besar kesenian Kalimantan tumbuh dan berkembang berdasarkan akar budaya asal dari masing-masing etnik. Zapin di Kalimantan sama dengan Zapin yang ada di Melayu Malaysia dan Sumatra. arisan. Barongsai Kalimantan sama dengan Barongsai di Hongkong dan Cina. Etnis Jawa. Kesenian Barongsai di komunitas Cina khususnya masyarakat Kabupaten Singkawang Kalimantan Barat yang mayoritas di huni etnik Cina. terutama disajikan pada waktu-waktu jumpa komunitas seperti dalam acara pengajian. Misalnya Reog Ponorogo Kalimantan. karena beda bingkai dasar kebudayaannya. Masyarakat Melayu mayoritas hidup di daerah pesisir pulau Kalimantan. sama dengan Reog Ponorogo Jawa. Dan upacara-upacara hari besar etnik Cina. Masyarakat Dayak mayoritas hidup di daerah pedalaman. Berbeda dengan seni dalam bingkai budaya Dayak. Melayu 25%. yang hidup berkelompok dalam ikatan kelompok-kelompok kecil dan kuat. Kesenian dari etnik Dayak selalu berkaitan dengan upacara-upacara adat tradisi masyarakat setempat. Beda suku beda bentuk dan beda makna. Banjar 10%. jauh dari keramaian kota dan jauh dari peradaban yang serba modern. Jawa dan Melayu tidak terlalu beragam. Masyarakat Dayak menguasai daerah hutan dan perkebunan yang maha luas. Dayak 30%. dan tidak kurang dari 500 anak sub kultur Dayak Kalimantan Indonesia. Batak.

Oleh sebab itu dalam konteks seni untuk sarana infomasi pembangunan harus diperlakukan lebih arif dan bijaksana. Maksudnya. ada panitia penyelenggara. bagi masyarakat Kalimantan pada umumnya. serta tepat sesuai dengan bingkai kebudayaan mereka. yaitu garapan baru yang menggunakan perabot seni tradisi setempat untuk garapan kemasan seni propaganda untuk informasi publik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI di sajikan seni Rodad-Salawat-Zapin-Hapsi-Reog-Jathilan-Jaran Dor Sentherewe-Ledek dan lainnya. ada seniman pemain/peraga. dalam jumlah sub kultur yang sangat banyak. penggunaan seni sebagai media komunikasi lebih baik disusun sebuah karya kemasan khusus. Lembaga-lembaga adat di Kalimantan meskipun kecilkecil akan tetapi mereka memiliki ikatan yang kuat dengan lembaga besarnya. memilih lembaga jaringan mana yang dipandang cocok untuk dipergunakan sebagai mitra jaringan agar sesuai dengan program penyampaian informasi yang telah ditetapkan oleh lembaga (pemerintah) tersebut. Di Kalimantan ada dua lembaga besar yang potensial sebagai lembaga jaringan penyampai pesan. Dengan demikian. Sedangkan seni dalam masyarakat adat Dayak hanya ada forum (adat/upacara) – ada penyelenggara (lembaga adat) dan ada peserta (pelaku adat). Kesenian masyarakat Cina-Melayu-Jawa dan etnik lainnya selain etnik Dayak memiliki pemain dan penonton. jadi dengan demikian penontonnya adalah para pemain / pelaku adat itu sendiri. Masyarakat etnik Melayu-Jawa dan Bugis lebih akrab dengan Instansi atau Lembaga Kerajaan bila dibandingkan dengan kedekatanya dengan masyarakat Adat. Pemimpinnya biasa disebut Ketua Adat Besar dan Ketua Adat Besar ini memiliki kedudukan seperti seorang Raja di Jawa-Bali. dan ada masyarakat penonton. tinggal pemilik ide / isi informasi (pemerintah) sebagai pemilik informasi. Lembaga-Lembaga Potensial untuk Jaringan Penyampaian Seni Sebagai Media Informasi Lembaga-lembaga yang potensial untuk menjadi agen mitra kerja dalam penyampian informasi pembangunan dari pemerintah kepada masyarakat ada beberapa pilihan. yaitu Lembaga Adat dan Kerajaan atau Kasultanan. Oleh sebab itu Kerajaan atau Kasultanan adalah lembaga jaringan informasi yang potensial untuk diperankan sebagai lembaga jaringan informasi 63 .

kreatifitas dan produktifitas tergolong sangat tinggi apabila dibandingkan dengan lembaga-lembaga di peringkat pertama maupun yang 64 . Lembaga Pendidikan Tinggi memiliki potensi untuk menyambung jaringan dengan sesama Lembaga Pendidikan Tinggi di Indonesia. dari pihak Pemerintah Pusat kepada masyarakat di daerah khususnya di daerah pedalaman yang susah dijangkau dengan transportasi dan jaringan komunikasi apapun. dan masyarakat daerah tempat penelitian-penelitiannya dilakukan di daerah-daerah pedalaman tersebut. Dinas Pariwisata memiliki jaringan Sanggar-sanggar Seni/Padepokan Seni. Adapun kegiatannya akan direalisasikan melalui gelar seni Budaya dan tata upacara-upacara adat/tradisi masyarakat setempat. untuk melaksanakan program-program pengabdian masyarakat di Indonesia. Dalam satu jaringan dinas ini telah terikat ribuan manusia yang terkait di dalam sistem kelembagaan tersebut secara formal. Alumni. pada konteks tertentu dapat menempatkan diri atau ditempatkan oleh pihak Pemerintah menjadi lembaga penyambung jaringan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah. Dinas Pendidikan memiliki jaringan siswa dan guru serta tenaga administrasi di sekolah yang sangat banyak dan mudah dikendalikan secara sistematis. Lembagalembaga di peringkat ke-tiga ini meskipun kecil-kecil akan tetapi aktifitas. Dalam hal ini posisi Perguruan Tinggi dapat sejajar dengan Lembaga Adat dan Keraton / Kasultanan. Kantong-kantong Seni dan termasuk Lembaga-lembaga Adat di wilayah kerja Dinas Pariwisata tersebut khususnya di tingkat kabupaten-kabupaten. Lembaga jaringan di peringkat kedua adalah Pemerintah Daerah.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF melalui Seni Budaya. Lembaga Adat dan Kerajaan tersebut menduduki peringkat utama dalam menentukan jaringan penyampai informasi melalui Seni Budaya. Pondok Pesantren. Mahasiswa. Paguyuban Etnik pendatang dan Sanggar Seni. Akademi Seni dan Sekolah Tinggi Seni baik Negri maupun Swasta. dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata ditingkat Kabupaten maupun tingkat Provinsi. dan lembaga-lembaga Adat di daerah pedalaman Kalimantan. Lembaga Perguruan Tinggi tersebut memiliki jaringan Dosen. Lembaga jaringan pada peringkat ke-tiga adalah Gereja. Lembaga yang tidak kalah pentingnya untuk diperhitungkan adalah Lembaga Pendidikan Tinggi dan Pendidikan Tinggi Seni seperti Institut Seni. Lembaga Pendidikan Tinggi ini.

untuk melakukan tindakan teknis agar dapat efisien. perlu menentukan langkah-langkah strategis. tidak menutup kemungkinan nantinya justru mempersulit diri sendiri. sekaligus memperhitungkan harapan atau target capaian selama program itu dilakukan. 5) Memilih dan menetapkan media seni. kegiatan kurang dapat bermanfaat dan pengelolaan dana / biaya akan menjadi lebih besar daripada capaian hasil yang hendak dituju. Tentu saja pilihan seniman kreator ini berkaitan erat dengan materi seni apa yang akan dipergunakan untuk media informasi publik tersebut. efektif dan tepat sasaran sesuai dengan yang hendak dituju. Dari beberapa kelompok kategori sasaran. Produktifitas kecil-kecil itulah yang dalam kurun waktu yang lama dan terus menerus berproduksi maka akan membentuk kristalkristal pemahaman. agar maksud dan tujuan yang telah digagas sebelumnya dapat tersampaikan secara baik. dan diharapkan pekerjaan dapat tercapai lebih ringan dan mencapai target yang telah ditetapkan. yang dipandang sesuai 65 . 4) Memilih dan menetapkan kreator seni sebagai agen penggarap media seni untuk penyampaian informasi publik melalui seni tradisi. 3) Memilih dan menetapkan lembaga jaringan kerja sama. ada beberapa langkah yang perlu di tetapkan untuk landasan strategis yaitu : 1) Penetapan isi informasi. Apabila tidak ditetapkan pilihan strategi yang telah ditentukan. 2) Menetapkan sasaran. Menurut pendapat saya. misalnya akan munculnya gejala atau kecenderungan dari golongan masyarakat dan seniman tertentu. Langkah-Langkah Strategis Pemanfaatan sebagai Media Informasi Pemerintah atau Lembaga yang memiliki gagasan untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan dan pembangunan melalui media seni budaya tradisional.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI kedua. Selain daripada itu. yaitu suatu gagasan untuk menyampaikan informasi tertentu. yaitu pihak panitia penggagas melakukan pengelompokan-pengelompokan sasaran. menempatkan program Penyadaran Masyarakat ini menjadi sebuah proyek yang ditunggu. Sasaran-sasaran yang dituju nantinya akan menjawab ide/gagasan awal. mana yang lebih dahulu di prioritaskan.

untuk mewadahi isi pesan yang akan dituangkan melalui sebuah karya seni untuk menyentuh hati nurani masyarakat penonton (apresian). 9) Membuat atau menyusun model bentuk media seni seperti apa yang cocok untuk suatu masyarakat tertentu. maka tinggal menindak lanjuti dan apabila salah akan segera dapat merevisi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dengan konteks kebutuhannya. dan juga dapat dihayati masyarakat lain yang tidak di prioritaskan. Forum Yang Paling Efektif untuk Penyampaian Informasi Melalui Seni Di Kalimantan pada umumnya. 7) Memilih dan menetapkan lembaga kontrol sebagai tim pengamat. 10) Mengukur tingkat keberhasilan melalui kajian-kajian atau penelitian. 8) Memilih dan menetapkan waktu penyampaian informasi (gelar seni) agar masyarakat sasaran dapat terlibat lebih maksimal karena tidak terganggu kebutuhannya. apakah langkah yang telah ditetapkan ini sudah sesuai atau tidak. Tentu saja pilihan ini berkaitan dengan keadaan masyarakat sebagai objek dan kekuatan media seni yang tepat untuk menyentuh objek tersebut. Apabila pola kerja sudah dinilai betul. apa betul program yang dulu dilakukan dapat mencapai sasaran atau tidak. dan lembaga ini seperti LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sejenis dengan programnya. tidak tepat untuk melakukan kegiatan-kegiatan berkesenian yang berhubungan dengan siswa. Malaysia maupun Brunai Darussalam memiliki forum berupa kegiatan budaya seperti upacara-upacara akbar yang melibatkan banyak hadirin sebagai peserta maupun penonton dalam upacara tersebut. Pemilihan materi seni dan pemilihan peraga seni harus juga tepat. Lembaga kontrol ini bertugas untuk mengkritisi dan memberikan penilaian kepada langkah kerja pemilik gagasan (pemerintah). baik Kalimantan Indonesia. 6) Memilih dan menetapkan materi seni dan seniman pelaku. agar pesan dapat dengan mudah diterima masyarakat. Misalnya musim ujian sekolah. Upacara66 . Model-model ini dapat digarap di Perguruan Tinggi Seni kemudian disosialisasikan pada seniman daerah untuk dikaryakan di daerahnya tersebut.

Ketua Adat Besar Suku Bahau dari alur keluarga Dayak Long Gelaat / Apo Kayan. Dahau yang artinya pesta dan upacara besar. Blawing Barek. Dalam acara ini berbagai etnik Dayak besar dan sub etnik Dayak. lebaran Haji dan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) di tiap-tiap kabupaten. Anak-anak dan cucu67 . Dangai. Blawing Barek adalah seorang tokoh adat yang kharismatik dan sebagai penari serta pemusik yang piawai. dalam hal ini Dinas Pariwisata tingkat Provinsi. dia juga diangkat oleh tokohtokoh adat Dayak Kalimantan (Dayak Borneo) untuk memimpin keutuhan suku-suku Dayak yang tersebar di Kalimantan besar. Pada masyarakat etnik Melayu memiliki beberapa forum besar di antaranya lebaran Idul Fitri. Lembaga dan Pribadi Sebagai Agen Penyampai Pesan Di Kalimantan yang begitu luas tidaklah mudah untuk memilih lembaga atau pribadi yang mampu mewadahi gagasan-gagasan atau informasi melalui media seni untuk publik. Ditingkat Kabupaten dilakukan secara berpindah-pindah tempat pentasnya sesuai hasil rapat panitia tahun sebelumnya. Forum STQ-STQ tersebut mampu menghadirkan ribuan bahkan jutaan manusia yang hadir dalam forum akbar tersebut. Erau. namun demikian saya punya pandangan untuk langkah awal yang mungkin lebih efektif. Gawai Dayak dan STQ tersebut dilakukan tiap tahun. untuk menjaring pribadi-pribadi sebagai agen penyampai pesan yaitu : 1. kemudian seleksi ini akan dilanjutkan ditingkat propinsi dan akan dilanjutkan pada Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional. keluar tampil bersama-sama etnik Dayak yang lain untuk melakukan upacara dalam bentuk gelar seni budaya (seperti di Jawa. dengan demikian Forum akbar ini dapat dibidik menjadi ajang penyaluran informasi publik melalui gelar seni. Upacara-upacara besar tersebut belakangan ini sudah mulai dikemas menjadi objek seni wisata dan kemasan wisata oleh Pemerintah Daerah setempat. Belakangan ini muncul forum sejenis STQ bagi masyarakat Kristiani yaitu Pusparawi / Pusparani yang juga mulai dibesarkan pada tiap tahunnya dengan disertai gelar seni budaya di acara pembukaan dan penutupan serta disela-sela acara kompetisi. demikian juga forum STQ bahwa gelar seni dilakukan untuk pembukaan dan penutupan serta disetiap hari menjelang gelar kompetisi. dikenal istilah Grebeg).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI upacara besar pada masyarakat Dayak dikenal nama-nama upacara yaitu Gawai Dayak.

Semua seni dapat diperankan sebagai media penyampai informasi publik. Intisari 1. dan lembaga tersebut memiliki para ahli dan kreator seni yang patut diperhitungkan dan diperankan. sedangkan di hilir Mahakam ada di Samarinda. 2. Jaringan utama penyalur gagasan /informasi pada masyarakat Kalimantan adalah lembaga adat dan kerajaan.Lembaga ISI dapat menyentuh jalur Adat dan lembaga Kerajaan sekaligus menyentuh Sanggar-sanggar seni dan Komunitas seni di Kalimantan. 3. 68 . di bagian tengah di kampung Melak Sendawar. Dia tinggal di Jalur hulu sungai sampai Hilir sungai Mahakam Kalimantan Timur. Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF cucunya juga seniman yang cukup disegani dilingkungan komunitasnya. adik Sultan Alidin Syah yang memiliki kharisma kepemimpinan yang luar biasa. Di wilayah Kalimantan dan Sumatra di Kalimantan membawahi lima belas (15) kerajaan dan di Asosiasi Raja dan Sultan membawahi enam belas(16) kerajaan Islam. Pangeran dari Kasultanan Kotawaringin. Bahasa seni adalah bahasa simbol. Dia sangat dihormati dan disegani oleh Raja-raja komunitas Kalimantan kemudian diangkat menjadi penasehat Kerajaan dan Kesultanan Kalimantan. Posisi rumah di hulu Mahakam di daerah Long Pahangai. belakangan ini juga di daulat untuk menjadi penasehat Asosiasi Raja dan Sultan (Rasul). Tokoh semacam ini potensial menjadi pribadi agen penyampai informasi publik melalui seni budaya. 3. Pangeran Muashidin Syah. Motivator dan kreator seni adalah unsur utama dalam program penyadaran masyarakat melalui seni. Dapat dibayangkan berapa orang yang terjaring dalam ikatan garis karisma pribadinya tersebut. lembaga ini memiliki jaringan dengan UNS-UMS-UNISRI dan lain-lain. 4. Pengaruhnya melampaui lintas batas propinsi bahkan lintas batas Negara. Insan akademis baik itu dosen ataupun mahasiswa dan alumni dapat menjadi Tim Ahli dalam bidang olah seni dan gelar seni untuk penyadaran masyarakat . 2.

Daftar Pustaka Frans Jiu Luai 2002 HUDOQ SEBUAH LEGENDA (TARIAN) HUDOQ PADA ADAT DAYA MODANG/ LUNG GELAAT.Serduwar Liah Luhat. Tata Cara Pengesahan Perkawinan Orang Dayak Benoak. KEBERAGAMAN SUB SUKU DAN BAHASA DAYAK DI KALBAR. Airlangga University. semoga dapat menjadi bahan diskusi dan dapat menjadi masukan untuk menyumbang kebutuhan informasi di jajaran Kementerian Kominfo. Ford Foundation-Insitut Dayakologi. Airlangga Press.S 2002 PAKAIAN ADAT (tradisional) KAYAAN MEKAAM (Bahau). Ada tujuh prasarat ideal untuk memanfaatkan seni sebagai media informasi. Surabaya. Pontianak Yohanes Bonoh 2003 ADAT PERKAWINAN SUKU DAYAK TUNJUNG. Surabaya Frans Jiu Luay 2009 Adat Nemlaai-Lung Gelaat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 5. Airlangga Press. 6. Airlangga Press. Surabaya Sujarni Alloy 2008 MOZAIK DAYAK. Pemda Kutai Barat. Demikian sekelumit kata tentang seni sebagai media penyampaian informasi. Fungsi seni untuk kehidupan manusia. 69 . khususnya mengenai seni tradisional dan adat budaya masyarakat Kalimantan. Surabaya Pamung 2003 PELULUKNG.

Bandung: Rekayasa Sain 2004. Sebagai ilmuwan menawarkan beberapa konsep estetika sebagai alternatif penulisan kajian dan pengamatan seni budaya sebagai salah satu model penelitian dan penulisan karya ilmiah. STSI Press. Tinjauan estetika Nusantara. Dharsono. 08122656566. Estetika Barat dan Timur. Bandung: Rekayasa Sain 2004. e-mail: kartikasony@yahoo. Ketua Litbang SNKI (Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia) Di Jakarta.co. Budaya Nusantara (Kajian Pohon Hayat pada Batik). mendapatkan gelar doktor pada Sekolah Pasca sarjana ITB 2005. Dosen Luar Biasa Pascasarjana Universitas Trisakti Jakarta Saat ini menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ISI Surakarta. Seni Rupa Modern.id 70 . Bandung: Rekayasa Sain 2007. 2008 Tinggal di Jl.Pembangunan I/13 Perum UNS Jaten Karanganyar 57731. Guru besar Bidang Ilmu Estetika. Dr. Ketua Lembaga Pengkajian dan Konservasi Budaya Nusantara di Surakarta. 14 Juli 1951. Bandung: Rekayasa Sain 2007. Kritik Seni.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. Beberapa buku yang pernah dipublikasikan antara lain: Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sain 2006). Dosen Pasca Sarjana ISI Surakarta. Lahir di Klaten. MSn (Sony Kartika).

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Tengah dan DI Jogjakarta Dharsono (Sony Kartika) Pakar Ilmu Estetika Ketua LPPM Dosen ISI Surakarta Seni tradisi dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial tertentu. baik yang “klasik” maupun yang”rakyat”. Seni tradisi yang layak untuk diangkat dan dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif adalah seni tradisi yang dapat dikemas sebagai bentuk tontonan yang komunikatif-dialogis. maka muncul kelompok-kelompok penggagas budaya tertentu (perekayasa budaya) yang memanfaatkan kesenian tradisi sebagai alat propaganda politik maupun propaganda sosial. disebut tradisi karena “tradisi” itu. Pendahuluan ondisi kesenian tradisi kita. Musik dan tari Jawa terbingkai dalam sistem kekuatan monarki-absolut yang berdialektika dengan sistem-sistem lainnya di waktu itu. Sedang kesenian tradisi “rakyat” kita terbingkai dalam dialektika budaya masa K 71 . Kesenian tradisi yang mampu mewadahi ungkapan gagasan dalam seni dan sekaligus cocok untuk digunakan sebagai media komunikasi untuk penyampaian pesan kepada khalayak sesuai dengan kebutuhan maisenas. yang kemudian terkenal dengan media komunikasi dengan tujuan tertentu. Pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenas. telah terbingkai dalam satu pigura waktu. Adapun waktu tersebut adalah waktu yang telah menyelesaikan suatu putaran dialektika budaya.

sesuai kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi. Penyajian karya seni merupakan salah satu bentuk aktivitas yang memberi kemungkinan terjadinya interaksi dialog tiga komponen antara seniman. Pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi akan sangat berkaitan dengan rekayasa budaya yang dikemas lewat pesan-pesan tertentu. yang dirasakan baik oleh seniman maupun pengamatnya. Kesenian tradisi sebagai eksprsi kebudayaan Kondisi budaya Indonesia telah mengalami proses transformasi budaya sejak jaman prasejarah. dalam menembus keterbatasan. Namun demikian. sebagai emplementasi globalisasi ekonomi dalam trasformasi kapitalisme konsumen. kenyataan yang terjadi dalam sebuah pertunjukan/sajian seni. dan kekaligus untuk diajak bersama-sama menangkap pesan yang disampaikan. Namun demikian pelaku seni sebaiknya tetap diharapkan untuk menjaga kareakter. kita dihadapkan kepada dua komunitas. yaitu komunitas pengamat dan penikmat (penonton). secara lebih luas dan efektif dan diharapkan dapat menemukan maknanya yang hakiki. maka muncullah kelompok-kelompok kesenian yang memanfaatkan kesenian rakyat sebagai alat propaganda sosial. Untuk itu perlu memetakan seni pertunjukkan tradisi yang mampu menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif. Proses pengamatan tidak sama dengan penikmatan. Penyajian karya seni merupakan rekayasa yang dirancang dan disajikan untuk pengamat seni . dan atau lembaga pemesan tertentu).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF lampau kita di mana sistem ekonomi pertanian tradisi dan sistem sosial. Pemetakan seni tradisi seyogyanya dipilih terhadap kesenian tradisi yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi yang efektif dan informatif. sesuai dengan kebutuhan maisenasnya (dalam halini Pemerintah. Yang menjadi sasaran topik dalam makalah ini adalah bagaimana kita mensiasati penonton. Pengamatan atau apresiasi cenderung dimensi logis. karya dan pengamatnya. akibatnya kesenian tersebut akan dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial yang berorientasi pada industri kreatif. Proses tersebut mencerminkan adanya 72 . sedang penikmatan sebagai proses cenderung masuk pada demensi psikologis. Kini budaya kita terbingkai oleh pranata sosial yang bermuara pada industri kreatif.

1996:1). Ciri menonjol dari kesenian Indonesia ialah bentuk yang plu-ralistis yang tersebar hampir di kawasan Nusantara. Keempuan para Wali dan Raja dalam mengolah unsur–unsur wayang. Tiap daerah memiliki akar budaya prasejarah sebagai dasar dari tradisi kesenian Indonesia yang sampai sekarang ada yang masih dipertahankan (Wiyoso. Misalnya “wayang” sebagai produk perkembangan kesenian Indonesia Hindu-Budha. dari berbagai macam budaya-seni menurut daerahnya masing-masing merupakan modal dasar pembangunan. terutama perkembangan sejarah kesenian Indonesia mempunyai ciri yang menonjol. Kesenian tradisi sebagai salah satu produk budaya sejak zaman dulu merupakan salah satu bentuk seni Jawa tradisional yang mengalami proses tranformasi. Ciri-ciri tersebut mencerminkan keanekaragaman kebudayaan sesuatu bangsa yang mendiami daerah yang terpisah. interior.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI perkembangan budaya etnik (walaupun tidak semua). perlu adanya kajian dan penggalian sebagai satu usaha pelestarian. Kebudayaan hasil ekspresi masarakat Jawa (sekarang Indonesia). Kesenjangan itulah yang terjadi pada saat lesunya kebudayaan pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Adanya perkembangan budaya tersebut. tari. Ini mengisyaratkan terjadinya proses kesinambungan kesenian tradisi (terutama wayang ) dilihat dari aspek seni rupa maupun pertunjukannya (Wiyoso. Akibat dari kesenjangan proses perkembangan kesenian Indonesia hanya mengharapkan pelestarian tradisi seni semata-mata tanpa upaya pengembangan untuk mencapai tradisi baru. dan wayang dan sebagainya. menghasilkan wayang baru. yang kemudian merupakan cermin keragaman budaya. ketika pamor budaya kerajaan Indone73 . terutama untuk memberikan satu aset budaya dalam pembangunan dewasa ini. keris. arsitektur. Kebudayaan Jawa ini melahirkan berbagai bentuk seni klasik dalam bentuk karawitan. Usaha untuk mengenal kesenian Jawa termasuk mencoba untuk menggali latar belakang budaya masyarakat Jawa. merupakan proses perkembangan seni tradisi masa lalu. Kesinambungan tradisi seni memang pernah terputus sehingga perintisan untuk mencapai bentuk kesenian baru terhalang bahkan terhenti sama sekali. sebagai salah satu identitas dan jati-diri bangsa Indonesia. 1993:41). Proses perkembangan yang berkesinambungan antara budaya tradisi masa lalu dengan tradisi selanjutnya terus berlangsung hingga kini. Seni tradisi perlu dilestarikan keberadaannya. batik.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF sia-Islam mulai memudar. Apresiasi seni merupakan proses sadar yang dilakukan pengamat dalam menghadapi dan memahami karya seni. 1986:41). Seorang pengamat yang sedang memahami karya sajian maka sebenarnya ia ha74 . Salah satu bentuk kesenian lama yang sarat dengan nilai-nilai budaya yang masih sempat berkembang pada pemerintahan kolonial adalah wayang. karya dan pengamat. dan merupakan salah satu cermin adanya transformasi budaya. Hanya di pusat-pusat kesenian lama kesadaran tradisi tersebut masih tersisa untuk sekadar melestarikan nilai seni yang diwariskan dari para pencipta pendahulunya. Namun kini kesenian tradisi diminati kembali sebagai salah satu alternatif sebagai sumber inspirasi penciptaan dan rekayasa budaya dan dimanfaatkan sebagai propaganda sosial. dalam proses mencari format budaya Indonesia. yang mampu menterjemahkan beragam bahasa visual dalam ragam bentuk dan ragam makna yang terbentuk oleh pengalaman emosional. Sajian seni merupakan salah satu bentuk aktivitas yang memberi kemungkinan terjadinya interaksi dialog tiga komponen antara seniman. baik dilihat dari sudut pertunjukan maupun dari seni rupa (Wiyoso. Kesenian sebagai media apresiasi Kegaiatan seni akan selalu dihadapkan oleh dua komunitas. Proses pengamatan dalam pelaksanaannya adalah apresiasi. yang dirasakan baik oleh seniman maupun penghayatnya. Makin menipisnya kesadaran tradisi berakibat pula surutnya daya apresiasi seni karya cipta bangsa sendiri. dalam menembus keterbatasan. Sedang penikmatan yang di dalamnya sarat dengan demensi psikologi yang sangat subyektif dan mengabaikan dimensi logis. komunitas pengamat dan komunitas penikmat. Apresiasi adalah proses untuk menafsirkan sebuah makna yang terkandung dalam karya seni. Di saat itulah kesadaran tradisi bangsa yang terjajah terdesak yang berakibat kurangnya daya cipta untuk menemukan bentuk ekspresi baru yang mencerminkan kekuatan tradisi seni masa lampau. Itulah sebabnya sangat dibutuhkan hadirnya pengamat seni dan atau kritisi seni. Sajian seni merupakan rekayasa yang dirancang dan disajikan untuk penghayat seni secara lebih luas dan efektif dan diharapkan dapat menemukan maknanya yang hakiki. Hal ini dapat dikatakan sebagai bukti adanya proses kontinuitas dalam upaya pelestarian tradisi.

Pepper dalam bukunya berjudul The Principles of Appreciation memberikan empat tingkatan ultimatum kesenangan berdasarkan tingkat relativitas seseorang. Tingkatan tersebut menurut Steppen C. Proses dalam pengenalan nilai karya seni. Tingkatan kedua disebut tingkat relativitas budaya. lepas sebelum atau setelah menikmati karya tersebut.”. misalnya. Pengalaman estetika dari seseorang dipersoalkan bagaimana seseorang pengamat menanggapi atau memahami suatu benda indah atau karya seni? Seseorang tidak lagi hanya membahas sifat-sifat yang merupakan kualitas dari benda estetik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI rus terlebih dahulu mengenal struktur organisasi atau dasar-dasar penyusunan dari karya yang sedang dihayati. dimana seseorang dalam memberikan ultimatum senang dan tidak senang karena adanya keputusan subjektivitas. Pengamatan atau pemahaman nerupakan proses dimensi logis. Hasil dari interaksi proses tersebut merupakan ultimatum senang atau tidak senang terhadap keberlangsungan terhadap karya seni. Apresiasi seni merupakan proses sadar yang dilakukan penghayat dalam menghadapi dan menghargai karya seni. tingkat relativitas ini merupakan ultimatum senang atau tidak senang atas keputusan sikap psikologis karena ika75 . Relativitas kajian tersebut tergantung dari tingkat relativitas seseorang dalam menghadapi sebuah karya sajian. ultimatum tersebut berdasarkan keputusan yang berorientasi pada selera pribadi. proses interaksi antara aspek intrinsik seseorang terhadap sebuah karya estetik.. Keputusan senang dan tidak senang lahir dari akibat pengaruh aspek psikologis secara instrinsik. karena untuk semua itu memerlukan pemusatan atau perhatian yang sungguh-sungguh.. Tingkatan relativitas tersebut juga tergantung dari tingkat intelektual seseorang dan latar budayanya. “Saya senang karena film itu dimainkan oleh . Tingkatan pertama disebut tingkat subyektif relativitas. sedang penikmatan merupakan proses dimensi psikologis. terutama usaha menguraikan dan menjelaskan secara cermat.. Pengalaman estetik bukanlah sesuatu yang mudah muncul atau mudah diperoleh. Apresiasi menuntut ketrampilan dan kepekaan estetik untuk memungkinkan seseorang mendapatkan pangalaman estetika dalam mengamati karya seni. Penikmatan berbeda dengan pengamatan (pemahaman). merupakan hasil tafsir makna (arti) yang terkandung di dalamnya. dan lengkap dari semua gejala psikologis yang berhubungan dengan karya seni (Liang Gie 1978:51). melainkan juga menelaah kualitas abstrak dari benda estetik.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

tan latar belakang budaya. Tingkatan ini selalu berorientasi terhadap sikap budaya dimana mereka hidup. Misalnya: ”saya senang karena karya seni yang disajikan merupakan kebudayaan daerah ...”. Alasan yang menyangkut atas budaya kesukuan, kebangsaan, dan semua yang menyangkut tentang adanya orentasi budaya yang sepihak terhadap budayanya, akan mempengaruhi ultimatum senang dan tidak senang terhadap karya seni setelah ataupun sebelum karya seni tersebut dinikmati. Tingkatan ketiga disebut tingkat biological relativity, dimana ultimatum senang dan tidak senang didasari atas keputusan yang berdasarkan atas intrinsik yang muncul setelah menikmati karya tersebut. Ultimatum tersebut hampir mendekati proses apresiasi, namun masih banyak menggunakan aspek psikologis dibanding logika pemahaman estetik. Keputusan senang dan tidak merupakan proses penikmatan karya estetika yang sedang disajikan. Hal itu biasanya dilakukan pada penikmat yang tidak sepihak terhadap subyektivitas ataupun budaya simpatik. Tingkatan keempat merupakan tingkatan relativitas yang disebut absolut, artinya ultimatum senang atau tidak senang bukan dari intrinksik tetapi cenderung kepada sikap ekstrinsik. Ultimatum didasarkan atas pengaruh dari luar. Misal: Semua seni itu indah, tanpa berusaha menikmati dengan segala kekuatan aspek psikologis yang ia punyai. Semua tingkat relativitas tersebut menunjukkan adanya tingkat relativitas yang dipunyai oleh seorang penikmat. Tingkat tersebut merupakan proses interaksi psikologis seorang penikmat, sehingga untuk penyajian karya seni diperlukan penikmat atau penonton sesbagai audien pertunjukan. Ini yang oleh penggagas rekayasa seni budaya sebagai salah satu dasar untuk mampu membangun pertunjukan/kegiatan seni yang sarat akan pesan-pesan yang komunikatif tetapi tetap punya kapabilitas seni sebagai ekspresi dan berkarakter.

Seni tradisi sebagai rekayasa budaya Ketika seni tradisi dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial tertentu, maka muncul kelompok-kelompok kesenian yang memanfaatkan kesenian rakyat sebagai alat propaganda politik maupun propaganda sosial. Kesenian sebagai ajaran rokhani yang wigati (lihat seni sebagai tuntunan dan tontonan) terpinggirkan oleh kekuatan global secara vertikal horisantal. Ajaran kebudayaan yang telah berakar di bumi pertiwi yang kita cintai ini, telah tergadaikan dan tergantikan dengan kebuday76

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

aan asing akibat pendidikan populer. Kebudayaan populer yang menjadi ujung tombak menejemen kapitalisme konsumen mulai menggeser kearifan lokal yang menjadi ”ruh” dari kebudayaan, mulai terancam krisis demensi. Politik, ekonomi, hukum, dan bahkan kesenian, agama, mulai tercabut dari akar kebudayan dan berjalan sendiri-sendiri, seperi kereta tanpa masinis. Jadi janganlah heran apabila antara politik, hukum, ekonomi, agama dan seni saling bertabrakan.

Rekayasa sebagai media budaya populer Seni budaya masa yang sering disebut budaya populer atau seni populer, merupakan rekayasa budaya yang berorientasi dari perluasan kontinuitas pada seni rakyat atau seni yang berkembang dari masyarakat. Seni rakyat berkembang dari arus bawah, sedang populer art atau mass culture (budaya massa) berkembang sesuai dengan rekayasa klas atas. dikatakan demikian karena produk budaya massa dibuat oleh teknisi-teknisi yang disewa oleh para pengusaha; audiennya merupakan konsumen yang pasif, partisipasinya bukan karena adanya ikatan nilai sosio-cultural seperti pada seni rakyat tetapi partisipan dihadapkan pada alternatif membeli atau tidak... Kini, masyarakat di mana pertumbuhan gaya hidup semakin meningkat, memikat dan mengundang hasyrat, seperti perkembangan terakhir ini. Masyarakat konsumen Indonesia mutakhir tampaknya tumbuh dan beriringan dengan sejarah globalisasi ekonomi dan trasformasi kapitalisme konsumen yang ditandahi dengan menjamurnya pusat pembelajaan bergaya semacam Shopping Mall, industri waktu luang, industri mode atau fayen, industri kecantikan, industri koliner, industri nasehat, industri gosip, kawasan huni mewah, apartemen, real estate, gencarnya iklan barang-barang supermakket dan liburan wisata ke luar negeri, berdirinya sekolah-sekolah mahal (dengan label plus), kegandrungan terhadap merek asing, makanan serba instan (fast food), telepon seluler (HP), dan serbuan gaya hidup lewat industri iklan dan telivisi yang sudah masuk ke ruang-ruang pribadi dan bahkan mungkin sudah masuk ke relung-relung jiwa kita yang paling dalam... (Idi Subandi 2007). Tak disangsikan lagi, bahwa yang bertindak sebagai agen public relation dari kaum selibritis adalah media populer dan terutama televisi. Telivisi dengan kuatnya pada aspek hiburan ini bagi sebagaian kalangan bahkan dianggap mengkolonisasi waktu luang. Saluran musik te77

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

livisi non-stop 24 jam seperti MTV tidak hanya menghibur anak muda diberbagai penjuru Asia dengan video klip lagu-lagu dari grup-grup yang lagi in, tetapi juga menghibur mereka dengan pesan-pesan komersial, dan ini secara tidak lasung menanamkan nilai dan kesadaran akan betapa bahagianya kalau dapat mengisi luang dengan dengan bersenang dan bersantai bersama keluarga. Sementara pabrik gaya hidup yang sekian lama didominasi iklan kini dipercanggih dengan lewat rekayasa citra yang melahirkan para praktisi public relation dalam dunia bisnis, tontonan, dan juga politik. Dalam abad media, citra adalah segalanya, bahkan untuk menjadi bintang, orang tidak perlu sehebat Gandhi, Soekarno. Untuk menjadi hero, orang tidak perlu susah melakukan hal-hal yang luar biasa atau mesti menciptakan karya besar. Orang-orang yang dianggap besar kini adalah orang-orang biasa yang tenar dan ditenarkan oleh media; selibriti menurut media jurnalistik sekarang lebih asyik tokoh, bintang atau selibriti, untuk kemudian sewaktu-waktu mengenyahkannya dan menggantikannya dengan yang baru. Seperti siklus mode atau fashion dalam dunia bintang. Akhirnya kita hanya mampu menggaruk-garuk kepala, betapa hebatnya dunia ini.

Rekayasa sebagai media komunikasi Kesenian tradisi rakyat yang pernah berkembang di daerah, perlu kita pikirkan sebelum punah dimakan jaman. Seni rakyat dengan berbagai ragam bentuk dan ragam budaya daerah yang merupakan kekayaan bumi nusantara perlu ada rekayasa kultural sesuai dengan perkembangan teknologi dan informasi yang semakin global. Peningkatan sumber daya manusia yang menitik beratkan pada kekayaan daerah, mau tidak mau akan menoleh terhadap ragam seni tradisi rakyat yang berkembang di daerah sebagai alternatif garap yang mengarah pada seni komoditas, itu tak mungkin dapat dielakkan. Selanjutnya kita harus berfikir bahwa kesenian rakyat adalah merupakan aset budaya daerah, yang perlu dikembangkan dan dilestarikan dengan sebuah rekayasa budaya yang arif. Rekayasa yang punya kearifan, apabila sebuah pelestarian budaya merupakan upaya untuk mengangkat kembali warisan budaya lokal sebagai langkah nyata dari kelompok masyarakat dalam membangun kembali warisan budaya leluhurnya, serta menatap masa depan, dengan penuh keyakinan tentang kekuatan diri di tengah peradaban yang
78

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

kian mengglobal. Budaya tradisi lokal merupakan kesenian warisan yang menjadi unggulan daerah dan kemudian menjadi ikon daerahnya, maka perlu dilindungi dan dilestarikan keberadaannya, sebagai bentuk ketahanan budaya. Ketahanan budaya akan menjadi cermin atas ketahanan nasional. Maka sebaiknya pelestarian budaya sebaiknya dikonsentrasikan dengan mengambil ikon warisan budaya secara aktual. Aktualisasi terhadap karya-karya tersebut sebaiknya dibangun dengan basic warisan budaya yang disesuaikan dengan perkembangan kini tanpa meninggalkan nilai essensinya. Ketika seni tradisi dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial tertentu, maka muncul kelompok-kelompok penggagas budaya tertentu (perekayasa budaya) yang memanfaatkan kesenian tradisi sebagai alat propaganda politik maupun propaganda sosial, yang kemudian terkenal dengan media komunikasi dengan tujuan tertentu. Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat luas. Dalam masing-masing budaya tersebut terdapat pola kesenian, media kesenian, dan posisi seniman yang beragam. Keragaman itu juga mempengaruhi bentuk maupun isi. Oleh karena itu, seni tradisional tidak bisa dilihat hanya dari satu pendekatan atau hanya berdasar pada prinsip umum (universal) yang diberlakukan untuk semua. Untuk melihat makna dan fungsi suatu kesenian, harus dilakukan pendekatan sesuai dengan karakteristik masyarakat di mana kesenian dan tradisi itu hidup dan berkembang (Limbeng, 2009). Kesenian tradisi pada dasarnya memiliki pola atau pakem yang membuat kesenian itu menjadi khas, berbeda dari yang lainnya. Namun sebenarnya pakem tersebut bukanlah suatu aturan “mati”, melainkan punya potensi untuk dikembangkan, berubah, dan berkembang sesuai dengan kebutuhan, bahkan mampu mengakomodasi perubahan isi sesuai dengan kepentingan (misal: propaganda politik ataupun propaganda sosial), Ini yang kemudian dikatakan sebagai rekayasa budaya sebagai rekayasa kepentingan. Pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenas. Namun demikian tetap tergantung kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi namun tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi lewat seni tradisi .
79

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Seni tradisi sebagai media komunikasi, maka perlu dipilih bentukbentuk seni tradisi yang telah populer, seni pertunjukkan rakyat yang punya kemampuan untuk menciptakan hubungan antara seni dan masyarakatnya. Maka melalui seni tradisi sebagai media komunikasi yang komunikatif adalah (di Jawa-Tengah) melalui pertunjukkan seni tradisi: wayang, teater tradisi (ketoprak, wayang orang). Kesenian tersebut mampu membangun dialog langsung antara pelaku dan komunitasnya. Pelaku seni. Para dalang dan pelaku seni dapat mengungkapkan ide dan gagasannya kepada komunitasnya, maka akan terjadi dialog interaktif disela-sela cerita-cerita yang dibawakannya. Seorang dalang atau sutradara dapat mengungkapkan gagasan dan sekaligus menyampaikan pesan yang dikemas sebagai bentuk informasi yang diracik dalam satu rangkaian cerita, maka ungkapan seni dan pesan dari maisenasnya secara holistik.

Pemetakan seni tradisi sebagai media komunikasi Pemetaan kegiatan Seni tradisi yang layak untuk diangkat dan dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif adalah seni tradisi yang dapat dikemas sebagai tontonan yang komunikatif-dialogis. Kesenian tradisi yang mampu mewadahi ungkapan gagasan dalam seni dan sekaligus cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. Meski semua seni tradisi merupakan ajaran dan tontonan, namun tidak semua seni pertunjukkan tradisi dapat menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif. Mungkin hanya media seni tradisi yang verbal dan komunikatif-dialogis saja yang cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. Seni tradisi yang lain, misalnya yang mengandalkan gerak atau nyanyian dalam batas tertentu sulit digunakan sebagai media penyampai. Oleh karena itu dibutuhkan pemetaan seni tradisi yang bisa digunakan sebagai media penyampaian pesan dan media informasi yang komunikatif. Pemerintah dalam halini lewat Kementrian Komunikasi dan Informatika, Pemerintah daerah tingkat propinsi ataupun kabupaten/Kota diharapkan mampu mewadahi potensi kesenian tradisi tersebut sebagai satu daya untuk mendorong aktivitas budaya, dan sekaligus mampu dimanfaatkan sebagai media komunikasi.

80

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

1. Wayang Kesenian wayang, merupakan jenis kesenian yang pada dasarnya menggunakan sosok wayang sebagai tema, sumber dan gagasan. Penggunaan sosok tersebut dapat saja merupakan media ekspresi secara murni ataupun penggambaran tematik tertentu. Sehingga kesenian wayang ini juga dapat disebut sebagai pertunjukan dengan menggunakan wayang sebagai sosok utama. Sosok wayang tersebut dapat tidak terbatas pada wayang kulit, tetapi juga wayang beber, wayang golek, wayang reka (termasuk wayang suket (Pedepoan Wayang Suket), wayang kampung (Komunitas Wayang Kampung Sebelah) dan sebagainya dan sebagainya.
Wayang wahyu Wayang krucil wayang Wayang beber Wayang Reka Wayang golek Wayang purwa

1

2

Wayang kampung Wayang Suket Wayang bhuda Wayang suluh Wayang reka yang lain

81

tetapi justru memperkaya kualitas yang tercermin lewat perlambangan pada setiap ujud rupa wayang. yang tercermin pada setiap unsur rupa wayang. Pengaruh kebudayaan dari luar tak menggoyahkan pandangan hidup itu. Perubahan bentuk realistis pada budaya Hindu kemudian menjadi bentuk non-realistik pada budaya Islam. Wayang dalam bentuknya realistis akibat pengaruh budaya India melalui agama Hindu. Hal ini karena adanya pandangan kosmis-magis yang mendasari penciptaan wayang. sebagai wayang klasik tradisional tersebut di atas merupakan karya local-genius yang kaya akan perlambangan kehidupan. wayan kampung dan wayang suket Pilihan ini sudah digarap oleh keompok seni maupun komunitas peduli wayang. 1. Kekentalan kosmis-magis kemudian merupakan satu kekuatan yang menjadi landasan munculnya local-genius. Wayang purwa kemudian merupakan sarana dahwah agama islamiah .1. Pemilihan kesenian wayang yang efektif dan komunikatif untuk wilayah JawaTengah dan DIJ. Wayang Purwa Wayang Purwa. adalah wayang purwa. kekuatan perlambangan justru lebih memperkaya kualitas. Sekaligus merupakan bukti munculnya local-genius bangsa Indonesia. Wayang mulai meninggalkan kepengaruhan budaya India yang realistik ke bentuk non-realistik. kemudian teradaptasi dengan budaya Jawa yang kental dengan kekuatan kosmis-magis dalam kosmologi Jawa. Kemudian wayang kulit Purwa yang non realistik tersebut merupakan wayang kulit klasik tradisionil yang mampu memberikan jatidiri bangsa Indonesia.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Wayang merupakan seni tradisi layak untuk diangkat dan dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif adalah seni tradisi yang dapat dikemas sebagai tontonan yang komunikatif-dialogis. Hal tersebut membuktikan adanya kesinambungan bentuk wayang pada masa Indonesia Hindu dan Islam. Hal ini merupakan cerminan adanya kekuatan kosmologi yang mampu memberikan dasar dalam mengejawantahkan bentuk wayang sebagai perlambangan kehidupan manusia. Kelanjutan pada kebudayaan Islam. namun dilihat dari segi bentuknya maka nampak adanya kesinambungan bentuk wayang pada masa hindu dengan masa 82 .

2. merupakan pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi. tetapi dikonsentrasikan ga83 . Hal ini merupakan pertimbangan para wali. Wayang sebagai karya seni pertunjukan ini mengandung berbagai nilai karena sifatnya yang mixmedia Pertunjukan Wayang Purwa Pertunjukan Wayang Purwa di halaman balai Kota Surakarta (Dokumen Komunitas Ronggo Winter Wisma Seni TBS Surakarta 2010) Pertunjukan dengan menggunakan sosok wayang purwo di atas. hanya mengalami distorsi-stilasif pada wayang purwa. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi namun tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi 1.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI agama Islam. Kesinambungan tradisi mendorong para empu wayang untuk melestarikan dan mengembangkan wayang dengan fungsi yang sama yaitu sebagai media pendidikan dan sebagai sarana seni pertunjukan yang bersifat lokal. sebagai sarana adaptasi seperti yang telah disinggung di depan. Pertunjukan wayang tersebut akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenasnya. Wayang Reka Wayang Reka merupakan wayang alternatif garaf yang beorientasi pada konsepsi wayang purwo.

dan berfungsi sebagai penyuluhan departemen Penerangan saat itu. bedanya wayang suluh figur-figur yang dibangun berorientasi pada tokoh-tokoh pejabat tnggi waktu itu. Nasution. wayang budha. merupakan pemanfaatan seni tradisi alter84 . Jliteng Suparman. Apabila perjalanan wayang purwa kemudian merupakan sarana dahwah agama islamiah. Bung Hatta.2. Wayang Kampung Wayang kampung reka garapnya berorientasi terhadap wayang purwa. Pertunjukan Wayang Kampung Pertunjukan wayang kampung dengan ki Dalang Drs. wayang suluh. para Bupati dan sebagainya. wayang suket. Wayang reka ini di diJawa Tengah dan DIJ telah lahir karya wayang alternatif antara lain: wayang kampung. 1. Wayang Kampung Sebelah di Serambi Museum Radya Pustaka dan di halaman Kampung Baluwarti (Dokumen Komunitas Ronggo Winter Wisma Seni TBS Surakarta 2010) Pertunjukan dengan menggunakan sosok wayang reka (wayang kampung) di atas. bung Karno. 1. para menteri. wayang kampung direka dengan sosok orang kampung dan dufungsikan sebagai penebaran nilainilai kearifan lokal. dan lain sebagainya. Wayang kampung ini secara figur garap menyerupai wayang suluh. Suharto.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF rap tematik dan mengacu pada funsi gara tertentu.

Pertama. sebagaimana layaknya dalang konvensional yang pandai menembang. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas penyaji sebagai media ungkap atau ekspresi dan sekaligus tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi. Slamet Gundono yang setiap kali pentas selalu ditemani ukulele. Wayang Suket Wayang Suket Slamet Gundono komunitas Wayang Suket merupakan pertunjukan wayang alternatif. dan dalam beberapa adegan para aktor itu berinteraksi dengan wayang yang dimainkan. sekalipun lakon yang dibawakan bernuansa surealis. jadi lebih memikat. kepandaiannya ini membuat narasi yang disampaikan.2. Kedua. Ketiga. dengan tingkat penghayatan yang tepat. secara eksitensi memang seolah lepas dari pakem. Sesuai dengan fungsinya yaitu untuk penebaran nilai kearifan lokal. 1. yang biasa digunakan untuk pertunjukan wayang kulit.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI natif sebagai media komunikasi. karena pertunjukan ini juga melibatkan aktoraktor lain yang bermain di panggung. di tangan Slamet Gundono bisa diubah dengan apa saja.2. Slamet Gundono selalu memasukan unsur humor namun tidak dengan maksud melawak. tentu saja sudah sangat menjauh dari pakem pertunjukan wayang kulit konvensional. Pertunjukan wayang seperti itu. namun secara konsepsi masih berorientasi pada wayang konvensi pada wayang purwa Sosok wayang atau Boneka wayang yang dibuat dari kulit. Pertunjukan gado-gado seperti itu sudah merebak di Tanah Air. Pertunjukan wayang tersebut akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenasnya. namun alur cerita yang dibangun masih ada benang merahnya. Jika pertunjukan Slamet Gundono harus diberi istilah. ada satu kekuatan yang dimiliki Slamet dan kawan-kawannya sehingga pertunjukannya tetap memikat dan enak ditonton. sehingga penonton dapat mengikuti jalan ceri85 . Dikatakan teater. dengan pertunjukan teater wayang. Setidaknya ada empat unsur yang menjadi kekuatan dalam pertunjukan Slamet. pandai menembang dengan suara yang merdu. Namun. Banyak yang melakukannya.

(www. Keempat. Komunitas Wayang Suket Mojosongo Surakarta (Dokumen Esha Kardus .tamanismailmarzuki. Ada interaksi antara pemain dengan penonton seperti yang terdapat dalam pertunjukkan teater tradisional. misalnya Lenong.2009) Pertunjukan dengan menggunakan sosok wayang reka oleh Komunitas Wayang Suket (Slamet Gundono) dirakit seadanya Wayang suket merupakan teater tradisi alternatif sebagai media komunikasi antara aktor sekaligus dalang Slamet gundono. Ludruk. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas penyaji sebagai media ungkap atau ekspresi dan sekaligus tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi. Slamet selalu mengusahakan pertunjukannya berlangsung secara komunikatif. Pertunjukan wayang tersebut merupakan ekspresi seniman secara intuitif garap dan dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenasnya. Makyong. 86 . Ketoprak.com Garibaba’s Strange World 2009) Pertunjukan Wayang Suket Beberapa adegan dalam wayang suket.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ta yang dibentangkan. Longser. dalang dan sutradara Slamet Gundono.

sebagai salah satu seni punya identitas dan karakter jati diri bangsa. Teater Tradisi Teater tradisi di Jawa (seperti. mempunyai ciri yang menonjol. sandiworo). tidak hanya digemari tetapi sangat populer pada masyarakat. Pertunjukan ketoprak terse87 . Teater tradisi sebagai salah satu produk budaya merupakan salah satu bentuk seni Jawa tradisional yang mengalami proses tranformasi budaya. telah mengalami proses transformasi budaya sejak jaman prasejarah. Adanya perkembangan teater tradisi. wayang orang. Pertunjukan ketoprak Beberapa adegan dalam ketoprak. Taman Budaya Jawa-Tengah TBS Surakarta (Dokumen Esha Kardus. maka ketoprak dan wayang orang yang dulu mengalami kejayaan sebagai budaya populer. Seputar 1960-1970-an teater tradisi yang muncul sebagai budaya masa di tengah masyarakat (ketoprak. Ketoprak dan wayang orang kini menjadi budaya kelangenan. ketoprak. yang kemudian merupakan. 2009) Pertunjukan Ketoprak (di atas) merupakan pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi. Kini ketoprak ataupun wayang orang (panggung) ditinggalkan penggemarnya dan beralih ke layar kaca. sandiworo radio). Proses tersebut mencerminkan adanya perkembangan budaya etnik (kesenian rakyat). Parede ketoprak sse Jawa tengah dan DIJ.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 2. wayang orang.

namun tetap berpegang terhadap kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi. dan lain sebagainya. ketoprak petilan. dan punya kemampuan untuk menciptakan hubungan antara seni dan masyarakatnya. ataupun wayang panggung. tetapi sebenarnya masih punya penggemar yang baik. sebagai alternatif. dapat mengungkapkan ide dan gagasannya sekaligus mampu membangun dialog interaktif disela-sela ceritacerita yang disajikan. Seyogyanya para penggagas/pemrakarsa perlu memilih bentukbentuk seni tradisi yang telah populer. Pemerintah daerah ataupun lembaga lain) perlu selektif memilih seni tradisi dapat menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif-dialogis saja yang cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. guyon maton. 2. Oleh karena itu dibutuhkan pemetaan seni tradisi yang bisa digunakan sebagai media penyampaian pesan dan media informasi yang komunikatif. pendapa. Sehingga para pelaku seni. di halaman-halaman. Pemakaian dan pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi. fragmen wayang orang. kini kurang diminati. Catatan terakhir muncul fragmen ketoprak/wayang orang. 88 . Harus mampu membangun rekayasa budaya yang dikemas secara tematik garap. Rekomendasi 1. Kotoprak dan wayang orang kini mulai merambah ke gedung pertemuan. Perlu diingat bahwa seni tradisi merupakan ajaran dan tontonan. ketoprak gremeng. maka maisenas dalam halini “pemerintah” (Kementrian Komunikasi dan Informatika.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF but akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas secara tematik garap.. Ketoprak sepert di atas ada peluang untuk tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi. 3. sehingga kesenian tersebut masih punya karakter. Penggagas ketoprak. Maka melalui seni tradisi sebagai media komunikasi tersebut mampu membangun dialog langsung antara pelaku dan komunitasnya. yang dikemas sebagai. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi. wayang orang garap.

Jakob. Bandung: Seni Rupa PPS-ITB. New York: Oxford University Press Mulder. The Liang Gie. Yogyakarta:ISI Sumardjo. Diktat Kuliah. Makalah Pengantar. Corne. (1996). The Religion of Java. Haryono Haryoguritno. Pameran Seni Rupa Kontemporer dalam Rangka Pekan Wayang Indonesia VI.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Daftar Pustaka Claire Holt. Mandala. I. Makalah Seminar Nasional Seni Rupa Tradisi Nusantara Topik: Implementasi Konsep Kriya dalam Pendidikan Tinggi Surakarta:STSI Jose an Miriam Arguelles (1972). Makalah Pengantar. yayasan Bentang Budaya Subagyo. Jogyakarta:Jalasutra Dharsono (Sony Kartika) (2007). Estetika. Pameran Seni Rupa Kontemporer Pekan Wayang Indonesia VI. Asmujo J (1999). Agama Asli Indonesia. Memahami Seni. Yogyakarta. Bandung. Wiyoso Yodoseputro. 1976 Garis Besar Filsafat Keindahan. Adi Subandi Ibrahim (2007). Duta Wacana University Press. Boelder and London: Shambala Koentjaraningrt (1985). 1990. Rupa Wayang dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Jakarta. Arjunawiwaha: Tranformasi Teks Jawa Kuna lewat Tanggapan dan Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa. 1993 Kesinambungan Tradisi dan Sumber Pengilhaman. 89 . Seni Indonesia (kontinuitas dan Perubahan. Javanese Culture. Diktat PascaSajana ITB (tidak diterbitkan) Wiryamartana. New York: The Free Press. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Sinar Harapan dan Yayasan Cipta Loka Caraka Soedarsono. Kuntara.. Wiyoso Yodoseputro. 1973 Art in Indonesia: Continuties and Change. Rahmat. 1996 Seni Prasejarah di Indonesia. 1993 Wayang Purwa Gagrak Surakarta Ditinjau dari Aspek Rupanya. New York Ithaca: Cornell University Press. Kria Dalam Pendidikan Tinggi. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press Simuh. RM (1999). Rupa Wayang dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. University (1967). Bandung: Rekayasa Sain Geertz. Yogyakarta. Clifford (1960). Irianto. Niel (1984). TTh. (1981). Budaya Populer sebagai Komunikasi (Dinamika Popscape dan Mediascape di Indonesia Kontemporer). Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa. Yogyakarta: Penerbit Karya. Terjemahan Clare Holt dalam Art in Indonesian Continuities and Change.

.

MENGGUBAH SENI TRADISI DAN PERTUNJUKAN YANG KOMUNIKATIF UNTUK PENCERDASAN RAKYAT 3 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

kemudian. Baru-baru ini. Sebagai penari. Amerika Serikat pada tahun 1992. Dramatari Cak DewaRuci”(1982). Mulai belajar menari pada usia 11 tahun dari ayahnya sendiri. 1978). New England. salah satu tempat yang ia kunjungi adalah Holy Cross College in Worcester. diantaranya dengan I Made Bandem MA. Perkembangan Seni Tari Bali” (Proyek Sasana Budaya Bali-Denpasar) dan Pengantar Karawitan Bali (ASTI Denpasar. melanjutkan ke ASTI Yogyakarta. bersama dengan beberapa seniman Bali. serta Singapura (1977). 1976) dan Dramatari Apa”(Denpasar. 1977). Sering juga berkunjung ke berbagai lembaga pendidikan untuk bertukar pengetahuan tentang dunia seni khususnya seni tari. ikut memprotes pemerintah Malaysia atas klaimnya terhadap tari Pendet. antara lain. Dramatari Calonarang Katundung Ratnamanggali”(Yogyakarta. Hongkong (1977). Sedangkan pentasnya di dalam negeri antara lain. Jerman (1975). pernah bekerja sama dengan beberapa seniman tari. juga mendapatkan gelar guru besar bidang koreografi dari STSI Denpasar pada tahun 1999. Dramatari Sunda Upasunda (Yogyakarta. mendapatkan gelar PhD dari University of California. 1974). 92 . 1978). ia sering mengikuti pentas baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sendratari Abimanyu Gugur”(Denpasar. Pemimpin sanggar tari Bali Waturenggong di Denpasar ini. 1975). 1975). Beberapa buku pernah ia tulis. lulus tahun 1975. 1977). Dramatari Cak Subali Sugriwa”(Denpasar. Amerika Serikat. Lulus Sarjana Muda dari ASTI Denpasar tahun 1973. menyusun Dramatari Topeng Puputan Badung”(Denpasar. Lawatan pentasnya di luar negeri di lakukan antara lain di Iran (1969). serta dengan Keith Terry memproduksi tarian terkenal Tjak (1990).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Lahir di Singapadu. 1977). dengan Ikranagara menata drama Rimba Triwikrama (Jakarta. Catatan Beberapa Seni Pertunjukan Bali”(sebuah karya bersama ASTI Denpasar. Bali. 12 April 1948.

yang tersebar di seluruh tanah air.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Mencerdaskan Rakyat dengan Seni Tradisi dan Pertunjukan Komunikatif I Wayan Dibia Ahli Seni Tari. cenderung lebih mengutamakan unsur hiburan dan mengabaikan unsur pendidikan. seperti yang juga terjadi di daerah lain. Indonesia adalah negara multi-etnis yang memiliki beraneka ragam warisan kesenian. Lahir dari berbagai konsepsi yang dimiliki manusia tentang sesuatu yang ada di sekitar mereka. New York. apapun media ungkapnya.94-120. Local Knowledge. adalah suatu perwujudan ekspresi artistik yang diikat oleh nilai-nilai budaya. Dalam fungsinya sebagai persembahan kepada Tuhan (niskala) dan manusia (sekala). Di Bali. Belakangan ini. Basic Books Inc. sajian kesenian di Bali. seperti yang dikatakan Bambang Sugiharto (Dosen Universitas Katolik Parahy- S 1 Clifford Geertz. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian. Dengan ini dimaksudkan bahwa seni tidak berdiri sendiri melainkan selalu terkait dengan unsur-unsur budaya lainnya1. Further Essays in Interpretative Anthropopogy. h. Dosen ISI Denpasar Pengantar eni. 1983. menggunakan kesenian tersebut dengan cara dan maksud yang berbeda-beda sesuai kebiasaan yang berlaku setempat. Setiap kelompok etnis. 93 . seni merupakan suatu sistem budaya. kesenian menjadi sarana komunikasi sekaligus edukasi bagi masyarakat. masyarakat Hindu Bali memperlakukan kesenian bukan saja sebagai sarana upacara ritual melainkan juga sebagai hiburan masyarakat.

terutama seni pertunjukan dramatik. kesenian seperti ini tidak akan mampu mencerdaskan masyarakat. 5 94 . Gong Kebyar. Topeng. dan Pesantian sebagai obyek material. Patut dipahami bahwa kesenian Bali. jorok dan porno. Dengan menjadikan kesenian tradisional Bali. Untuk menjadikan kesenian tradisi sebagai sistem budaya yang lebih strategis dalam kehidupan masyarakat kita. melalui sajian gerak dan dialog-dialog yang dapat memancing ketawa penonton. dan Pesantian adalah beberapa kesenian tradisional Bali yang hingga kini masih memperoleh tempat cukup istimewa di dalam kehidupan masyarakat Hindu-Bali. hal. Topeng. Seni Tradisi dan Pertunjukan Komunikatif di Bali Di tengah-tengah pergeseran nilai-nilai sosio-kultural masyarakat Pulau Dewata belakangan ini. sebagai fokus. Arja.”2 Untuk menyenangkan penonton dan membuat mereka tertawa. serta informasi-informasi lainnya yang tidak benar ke dalam sajian kesenian mereka. Bandung. dan daya pikir. yaitu sajian seni yang mampu secara holistik membangkitkan energi. Dengan menjadikan Arja. Wayang Kulit. agar seimbang antara aspek tontonan dengan tuntutannya. para seniman seringkali memasukkan adegan-adegan lucu. sebagai akibat dari masuknya unsurunsur budaya global.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF angan) diadakan hanya untuk membuat hati senang dan pikiran tenang. “Seni. membantu kita untuk sejenak melarikan diri dari persoalan. Gong Kebyar. sejumlah kesenian tradisional Bali masih tetap eksis dan bertahan di masyarakat. khususnya seni pertunjukan. bunyi. Ilmu Pengetahuan dan Peradaban” (Pidato Pengukuhan Guru Besar). menawarkan komunikasi artistik berkualitas bayu-sabda-idep. Secara singkat dapat dikatakan bahwa gerak dan 2 Ignatius Bambang Sugiarto. tulisan ini mencoba untuk membahas kondisi seni pertunjukan tradisional Bali dewasa ini serta mencari berbagai kemungkinan untuk mengembalikan keseimbangan muatannya. Walaupun mungkin bisa menghibur. 16 Desember 2006. tulisan ini bertu-juan untuk menjelaskan bahwa jika sajian kesenian sudah diseimbangkan muatan tontonan dan tuntunannya maka kesenian tersebut akan mampu memberikan pencerahan untuk mencerdaskan masyarakat. Wayang Kulit. kiranya diperlukan adanya upaya-upaya revitalisasi terhadap unsur-unsur pendidikan di dalam kesenian tradisi yang ada. Tidak sedikit pelaku kesenian yang secara tidak sadar telah memasukan lelucon kasar dan vulgar.

maka bayu akan berada di atas. termasuk aspek bayu. termasuk aspek sabda. termasuk aspek idep. pandangan hidup maupun gagasan-gagasan lainnya. Lingkaran di tengah adalah seni pertunjukan sedangkan segi tiga menggambarkan ke tiga aspek. dan pesan) dalam suatu peristiwa pertunjukan Bali. dua aspek lainnya tetap memberikan dukungan. didukung oleh aspek sabda dan idep. Hal ini menunjukkan adanya interaksi total antara ke tiga aspek (gerak. bayu. yang dapat dicerap dengan telinga. masing-masing aspek bisa berada di atas untuk menunjukkan dominasinya terhadap kedua aspek yang lainnya. yang dapat merangsang pikiran penonton. Pada bagan di bawah ini. Los Angeles (1992). Ketika sajian gerak dan tari yang mendominasi suatu pertunjukan. yang disajikan dalam bentuk lakon dengan berbagai narasinya. yang bisa dicerap lewat mata. Ketika satu aspek berada di atas. aspek bayu berada di atas. Bayu Idep Sabda 3 Baca: I Wayan Dibia. 95 . Aspek idep akan berada di posisi atas ketika bagian-bagian suatu pertunjukan didominasi oleh sajian lakon dengan berbagai pesannya. “Arja : A Sung Dance-Drama of Bali. Pesan-pesan etika dan moral. Interaksi dan totalitas dari ketiga unsur inilah menghasilkan kenikmatan artistik yang berkualitas bayu-sabda-idep3. Sajian bunyi-bunyian. Ketika sajian musik yang mendominir maka aspek sabda akan berada di atas. termasuk unsur visual lainnya. dan idep. untuk menunjukkan bagian seni pertunjukan Bali yang tengah didominasi oleh sajian gerak dan tari. A Study of Change and Transformation” (disertasi) Los Angeles : University of California. Keterkaitan yang dinamis dari ketiga aspek di atas dalam seni pertunjukan Bali dapat dituangkan ke dalam suatu bagan berupa lingkaran dalam segi tiga. sabda. bunyi. Secara bergantian. musik (vokal dan instrumental). yang mengikat seni pertunjukan. serta unsur-unsur aural lainnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI tari.

Keduanya merupakan seni pertunjukan dramatik yang sangat dekat dengan masyarakat. Dramatari ini diperkirakan muncul pada tahun 1825. 96 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Di Bali. Tiga fase penting yang mewarnai sejarah perkembangan Arja adalah munculnya Arja Doyong (tanpa iringan dan dimainkan oleh satu orang). Telah dikemukakan di atas bahwa sejumlah kesenian tradisional Bali seperti Arja. 2. dan Pesantian hingga kini masih digemari oleh masyarakat setempat. Lakon-lakon yang dibawakan pada umumnya bersumber pada cerita Panji (Malat) yang diajukan dalam seni drama yang tragic-komedi. Topeng. Brandon memasukkan kedua kesenian ini ke dalam seni pertunjukan rakyat4. manis dan buduh. Brandon.80. Cambridge-Massachusetts. Wayang Kulit. Theatre in Southeast Asia. Namun demikian belum ada data-data tertulis yang mengungkap secara pasti kemunculan dan keberadaan Arja pada zaman itu. Harvard University Press. Dengan demikian. Struktur pertunjukan Arja sangat diikat oleh prinsip rwa-bhineda. kesenian merupakan produk budaya komunal yang lahir melalui hasil kerja bersama dan atau yang melibatkan banyak orang. Karena hidup dan mati kesenian ini sangat tergantung pada dukungan sosial dan financial masyarakat. yaitu pada jaman pemerintahan raja Klungkung I Dewa Agung Sakti. kesenian bukan saja menjadi ekspresi artistik yang bersifat kolektif melainkan juga sebagai wadah interaksi dan komunikasi sosial di antara mereka yang ikut terlibat dan masyarakat penonton. Gong Kebyar. Arja Gaguntangan (yang memakai gamelan Gaguntangan dengan jumlah pelaku lebih dari satu orang). dan Arja Gede (yang dibawakan oleh antara 10 sampai 11 orang pelaku dengan struktur pertunjukan yang sudah baku seperti yang ada 4 James R.1 Arja dan Topeng Arja dan Topeng adalah dua dramatari tradisional Bali yang hingga kini masih digemari masyarakat Bali. Kesenian-kesenian ini dapat digolongkan sebagai kesenian komunikatif karena oleh masyarakat kesenian-kesenian tersebut bukan saja dijadikan sarana untuk menyebarkan atau menyampaikan informasi melainkan yang lebih penting lagi adalah sebagai media komunikasi. Arja adalah sebuah dramatari yang menggunakan dialog berbentuk bahasa bertembang (tembang macapat). alus dan keras. h. 1967.

97 . Oxford University Press. Lakon apapun yang dibawakan. Topeng Prembon yang menampilkan tokoh-tokoh campuran yang di ambil dari Dramatari Topeng Panca dan beberapa dari 5 I Made Bandem and Frederik Eugene deBoer. Kaja and Kelod. dan keberhasilan pertunjukan Topeng sangat tergantung dari kemampuan para pemainnya memainkan topeng yang digunakan. sosial. Panasar (Kelihan—yang lebih tua. Balinese Dance In Transition. Diperkirakan dramatari ini muncul sekitar abad XVIII5. politik.49. Topeng adalah dramatari yang semua pelakunya mengenakan topeng dengan cerita yang bersumber pada cerita sejarah yang lebih dikenal dengan Babad. liku. dan mantri (manis dan buduh). galuh. Jenis-jenis Dramatari Topeng yang ada di Bali adalah: Topeng Pajegan yang ditarikan oleh seorang aktor dengan memborong semua tugas-tugas yang terdapat didalam lakon yang dibawakan. Topeng (berwajah manusia) menjadi elemen utama dari dramatari ini.lumpur. dan yang hanya bagian tertentu seperti dahi. ke dalam lakon yang dibawakan. h. dan Cenikan yang lebih kecil). desak. dan ekonomi. sebagian muka--dari dahi hingga rahang atas (topeng sibakan). Dalam membawakan peran-peran yang dimainkan. Semua tokoh yang mengenakan topeng bungkulan atau penuh tidak berdialog langsung. hidung. Tokoh-tokoh utama yang terdapat dalam dramatari Topeng terdiri dari Pangelembar (topeng Keras dan topeng Tua). Kuala. limbur. atau mulut (topeng kepehan). 1981.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sekarang. Arja selalu menampilkan peran-peran utama (stock characters) yang meliputi inya. dan Bondres (rakyat). para penari memakai topeng yang menutup seluruh bagian muka penari (topeng bungkulan). sedangkan semua tokoh yang memakai topeng sibakan dan topeng kepehan sebagian memakai dialog berbahasa Kawi dan Bali. panasar (manis dan buduh). Topeng Panca yang dimainkan oleh empat atau lima orang penari yang memainkan peranan yang berbeda-beda sesuai tuntutan lakon. Ratu (Dalem dan Patih). Agar pertunjukan Arja bisa lebih komunikatif. sudah menjadi kebiasaan para pemain untuk menyelipkan pesanpesan keagamaan. Dengan selipan pesan-pesan aktual seperti ini masyarakat merasa dekat dengan kejadian-kejadian yang digambarkan dalam lakon.

Merdah. 5-6. seorang dalang berstatus mangku dalang sehingga harus berbusana putih-putih sebagaimana layaknya seorang rohaniawan. dan Sangut. Di lihat dari bentuknya. 2. Dalam tradisi budaya Bali. Denpasar. juga dikete-mukan beberapa istilah. secara umum dapat dikatakan bahwa ornamen ukiran Wayang Kulit Bali Utara lebih sederhana dari pada wayang-wayang Bali Selatan yang cenderung lebih rumit. di kedua wilayah budaya ini juga sangat berbeda. (Denpasar: Proyek Pencetakan/Penerbitan NaskahNaskah Seni Budaya dan Pembelian Benda-benda Seni Budaya. seni pertunjukan topeng yang masih relatif muda yang lebih mengutamakan penampilan tokoh-tokoh lucu untuk menyajikan humor-humor yang segar. yaitu Bali Utara (Buleleng) dan Bali Selatan (Badung. bentuk wayangnya. Perbedaan cukup mendasar Wayang Kulit dari kedua wilayah ini terlihat dari status sosial dalangnya. di kota maupun di desa. sedangkan 6 Lihat: Serba Neka Wayang Kulit Bali. jumlah pelakunya. sementara dalang Bali Selatan lebih banyak di wilayah teatrikal. dari zaman pemerintahan Raja Ugrasena. dan lain-lain).2 Wayang Kulit Wayang Kulit adalah seni pertunjukan tradisional Bali yang hingga kini masih digemari oleh masyarakat setempat. Bentuk empat punakawan inti: Malen. Berdasarkan wilayah geografi dan budayanya. Di Bali Utara. dan Topeng Bondres. Berbeda dengan dalang di Bali Selatan yang lebih diperlakukan sebagai seorang seniman. Dengan busana seperti ini. lebih dari seorang seniman. Malen Bali Selatan mengggunakan kuncir berbentuk tanduk. prilaku dalang di Bali Utara berada pada pertemuan dunia spiritual dan dunia seni (teatrikal). Perbedaan ini bisa dilihat. diketemukan sejumlah istilah seni pertunjukan yang salah satunya adalah parbwayang yang diyakini berarti wayang atau pertunjukan wayang. h. Tabanan. 98 . misalnya. Gianyar. pertunjukan wayang kulit diperkirakan sudah ada sejak abad IX. selalu dibanjiri oleh penonton. Dalam prasasti Gurun Pai Desa Pandak Bandung. salah satunya adalah aringgit yang berarti bermain wayang6.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dramatari Arja. terutama oleh dalang-dalang ternama. Delem. 1975). Dalam prasasti Bebetin yang berangka tahun caka 818 atau 896 Masehi. Pertunjukan Wayang Kulit.. seni pewayangan Bali dapat dibedakan menjadi 2 (dua). pada bagian kepalanya.

Di Bali Seletan. Pangkung. Tarian ini kemudian disebut tari terompong (kebyar terompong). Dalam album Bali 1928. Baik rasa musikal maupun jalinan melodi serta tehnik pukulan Gong Kebyar ada kala. gamelan ini menghasilkan musik-musik keras yang dinamis. musik Gong Kebyar adalah perpaduan antara Gender Wayang. 328. Pola gineman Gender Wayang atau pukulan Kakenyongan Gong Gede muncul dalam berbagai tabuh Gong Kebyar8. walaupun sama-sama menggunakan suara kerongkongan namun ada perbedaan dalam proyeksi suara. h.nya terasa Gender Wayang yang lincah. Secara estetik. Pelaku pertunjukan Wayang Kulit di Bali Utara. seperti yang terlihat pada Wayang Parwa. oleh Edward Herbst 2009. di Bali Utara suara ngelur diarahkan ke dalam. pada umumnya terdiri atas 2 (dua) orang penabuh gender dengan seorang dalang. Busungbiu. Satu hal lagi. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini. rasa tabuh-tabuh Palegongan terasa sangat dominan dalam tabuh-tabuh Gong 99 . 1966. Hasil-hasil penelitian selama ini menunjukkan Gong Kebyar muncul di Bali Utara sekitar tahun 19157. penabuh gender pada umumnya berjumlah 4 (empat) orang. Gong Gede.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Malen Bali Utara biasanya dengan kepala gundul. suara ngelur atau jeritan keras oleh dalang. Desa yang disebut-sebut sebagai tempat kelahiran Gong Kebyar adalah Bungkulan walaupun kemudian Gong Kebyar Jagaraga yang lebih berkembang di Bali Utara. A Study in Form and Instrumental Organization in Balinese Orchestral Music. yaitu Kebyar yang berarti suara keras dan menggelegar yang datang secara tiba-tiba. 2. dalam tehnik olah vokal.3 Gong Kebyar Gong Kebyar adalah sebuah ensambel yang diciptakan untuk memainkan musik-musik Kakebyaran. Yale University Press. Perkembangan Gong Kebyar mencapai salah satu puncvaknya pada tahun 1925 dengan datangnya seorang penari Jauk yang bernama I Ketut Marya (Mario) dari Tabanan ke Bali Utara yang kemudian menciptakan sebuah tarian yang lebih banyak dilakukan dalam posisi duduk atau jongkok sambil memainkan instrumen terompong. Gong Gede yang kokoh dan agung. Music in Bali. Gamelan Gong Kebyar Blaluan. New Haven. dan Palegongan. atau Palegongan yang melodis. 7 8 Colin McPhee. Jika di Bali Selatan suara ngelur diproyeksikan ke luar.

semaraknya aktivitas pesantian seperti sekarang menunjukkan adanya revitalisasi dari berbagai jenis wirama. atau membacakan karya-karya sastra bermetrum sekar agung (makakawin) untuk manusa yadnya dan pitra yadnya. menyanyikan tembang-tembang macapat di luar konteks seni drama. jika tidak di semua desa pakraman. sangat jarang sebuah upacara seperti tiga bulan bayi. Kebyar. atau pupuh-pupuh yang selama ini hampir dilupakan masyarakat Bali modern. menjadi semakin bergairah terhadap aktivitas pesantian (dari kata santi yang berarti damai). Hampir setiap sekolah. misalnya di tahun 1970an. Fenomena seperti ini muncul bukan saja di kalangan masyarakat golongan menengah ke atas. Untuk sekian lama. semuanya itu bisa terdengar dalam pesantian. persepsi masyarakat terhadap pesantian. di Bali. memiliki sedikitnya satu barungan Gong Kebyar. Kini. atau peminangan yang dimeriahkan oleh pesantian seperti yang terjadi belakangan ini. upacara hari kelahiran. melainkan juga di kalangan masyarakat bawah. Pada masa-masa sebelumnya. gamelan ini juga bisa digunakan untuk memainkan tabuh-tabuh lelambatan untuk mengiringi upacara adat dan agama. Selain untuk mengiringi untuk mengiringi tari-tarian dan memainkan tabuh-tabuh kebyar. kidung. 100 . Dewasa ini.4 Pesantian Pesantian adalah pembacaan (pertunjukan) karya-karya sastra klasik bertembang yang ditulis dalam metrum sekar agung dan sekar madya. merupakan suatu hal yang baru di Bali. Belakangan ini masyarakat Bali. hampir tidak ada upacara adat dan agama Hindu di Bali yang tanpa dimeriahkan oleh pesantian. 2.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dewasa ini Gong Kebyar merupakan kesenian yang paling populer di Bali. Menyanyikan lagu-lagu pemujaan Tuhan (makidung) memang tidak pernah lenyap dari kegiatan upacara dewa yadnya. Munculnya fenomena pesantian ini sedikit banyak didorong oleh adanya kerinduan terhadap nilai-nilai budaya masa lalu. dan hampir setiap Kecamatan. di desa maupun di kota. perguruan tinggi. Di sisi lain. dan kantor-kantor pemerintah memiliki gamelan ini.

tata penyajian dari masing-masing kesenian. Nampaknya kegiatan Utsava Dharma Gita. sambil mengunyah sirih (nginang). Oleh sebab itu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI terutama makakawin/mawirama. patut dimanfaatk an dengan sebaik-baiknya untuk mencerdaskan masyarakat. Hal ini men unjukkan bahwa keseniankesenian tradisional tersebut di atas tela h memiliki “jembatan komunikasi” dengan masyarakat penont on. ada lah kegiatan orang tua yang bermuka kriput. Ken yataan yang ada sekarang sungguh sangat berbeda. dari kesenian tradisional. dengan tubuh yang sudah mulai bungkuk. Kar ena kegiatan ini melibatkan pembacaan pustaka-pustaka lontar yan g disucikan. para generasi muda cenderung menjauh dari aktivitas ini. kehadirannya sangat mem perkaya aroma dan aural dari pesantian. serta bahasa yang digunakan oleh para pemainnya (bahasa Bali). baik Gender Wayang mau pun Geguntangan. Kini para pela ntun kakawin (juru baca) termasuk penerjemahnya (juru basa) adalah orang-orang dewasa setengah baya yang masih ganteng atau cantik dan bertubuh tegak. banyak orang yang melihatnya sebagai sebuah keg iatan yang hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang telah memiliki proses penyucian serta kesiapan batin. Walaupun penggunaan iringan musik dari barungan kecil ini lebi h banyak sebagai ilustrasi (background). Masyarakat Bali pada umumnya sud ah tidak asing lagi dengan kesenian yang telah disebutkan di atas. Potensi seperti ini. dan lomba-lomba makakawin. Bagi warga masyaraka t yang ingin hiburan ringan yang sekaligus dapat memeriahka n suasana pelaksanaan dari upacara adat dan agama mereka laku kan. bahkan sering kali juga dari golongan remaja. menjadi pilihan yang sangat tepat. Masyarakat setempat cukup tahu dengan struktur per tunjukan. Akhir-akhir ini kegiatan pesantian sudah menjadi semakin meriah dan menarik untuk dinikm ati dengan digunakannya gamelan pengiring berupa ensambel kecil seperti Gender Wayang dan gamelan Geguntangan. pesantian yang diiringi gamelan. 101 . yang selama ini dilakukan oleh pem erintah dan masyarakat telah memberikan dampak yang cukup bes ar terhadap munculnya kegairahan pesantian ini.

Mountain View-California. Oleh sebab itu. para seniman seni drama perlu terus berupaya untuk menampilkan lakon-lakon baru dalam sajian mereka. Topeng) dan teater (Wayang Kulit) sering kali sangat bergantung kepada muatan dramatiknya yaitu lakon yang dibawakan. 1994. memadatkan durasi pentas. baik pada masyarakat penonton maupun para pelakunya. 16-17. jika perlu mengambil lakon-lakon Barat atau mengangkat karya-karya sastra modern. seperti menyehatkan muatan dramatik (lakon). Ahli teater Barat. Dalam membawakan suatu lakon. kesadaran identitas dan jati diri. 1960.9. untuk memahami suatu produk karya seni dibutuhkan kemampuan otak untuk memikirkan konsep-konsep yang terkandung di dalamnya9. Robert Cohen. memperkaya elemen pertunjukan. Art and The Intellectual. pakar pendidikan. h. apapun media ungkapnya. Apa yang dikatakan Cohen dan Taylor menunjukkan bahwa kesenian sangat potensial untuk mencer-daskan rakyat (masyarakat).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Mencerdaskan Rakyat Dengan Kesenian Seni. Mayfield Publishing Company. kesadaran budaya (termasuk kepekaan rasa). Para seniman Arja misalnya harus berani menampilkan lakon-lakon di luar cerita Panji. Pengkemasan terhadap kesenian-kesenian tradisional dapat dilakukan dengan beberapa cara. 102 . Menurut Harold Taylor. serta yang mampu meningkatkan keluhuran budi. New York. dari manapun sumbernya. dan memperbarui teknik penyajian. Untuk membuat kesenian mereka mampu mencerdaskan rakyat. para seniman harus senantiasa berpegang teguh kepada sumber literatur yang digunakan. Masyarakat pada umumnya akan tertarik untuk menyaksikan sebuah pertunjukan jika mereka tahu adanya lakon baru yang akan dipentaskan. Theatre (Third Edition). h. pernah mengatakan bahwa seni (teater) dapat mempertajam daya pikir dan menyatukan rasa10. kontemplasi estetis. Keberhasilan sebuah pertunjukan seni drama (Arja. pada dasarnya adalah hasil sebuah kreativitas yang mengandung sekumpulan pengetahuan. The Museum of Modern Art. pelaku seni harus senantiasa berupaya untuk melakukan penggarapan dan pengkemasan terhadap beberapa bagian dari kesenian mereka. Satu hal yang patut diingat bahwa upaya penggarapan dan pengkemasan ini harus dilaksanakan tanpa merusak identitas kesenian yang ada. 10 Robert Cohen. Kesenian yang mencerdaskan bukan saja yang mengibur melainkan yang mampu membangkitkan interaksi intelektual. Hal ini menjadi sangat penting ketika berhadapan dengan penonton 9 Harold Taylor.

pemadatan durasi pentas hendaknya jangan sampai menghilangkan bagian-bagian penting dari suatu kesenian. kedua kesenian ini telah tampil dengan elemen-elemen pertunjukan yang baru. Bagian-bagian esensial dari suatu pertunjukan hendaknya tetap dipertahankan karena jika tidak akan bisa jadi pemadatan durasi akan justru merusak identitas kesenian yang bersangkutan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah meniadakan pengulangan bagian-bagian pertunjukan yang terlalu sering diulang-ulang. misalnya dalam rangka Pesta Kesenian Bali. Oleh sebab itu. Namun demikian. yang biasa disebut dengan pada misi. Durasi pentas merupakan salah satu unsur pertunjukan kesenian tradisional yang memerlukan penanganan yang serius. secara relatif berimbang. muatan dramatik yang kiranya bisa diterima oleh penonton pada zaman ini adalah yang berisikan adegan-adegan serius dan lucu. Mereka menjadi cepat bosan mendengar adegan-adegan serius yang dijejali oleh dialog-dialog bermuatan filosofis berat. para pelaku kesenian tradisional harus rela menyesuaikan waktu pertunjukan mereka dengan kondisi yang ada. Masyarakat di zaman modern pada umumnya sudah ”sadar waktu” sehingga mereka tidak bisa menghabiskan waktu terlalu lama untuk menyaksikan pertunjukan. maka dibutuhkan adanya pemadatan durasi pentas. Atau meniadakan bagian-bagian yang tidak penting. Dalam Gong Kebyar kita bisa melihat berbagai penambahan instrumen untuk melahirkan rasa musikal yang lebih menarik dan sesuai dengan selera zaman sekarang. Masyarakat cenderung tidak bisa menghadari pertunjukan seni dengan durasi pentas melebihi dari 3 sampai 4 jam. Ada kecenderungan bahwa dewasa ini penonton kurang tertarik dengan sajian seni drama yang terlalu serius. Agar suatu pertunjukan kesenian tradisional seperti Arja. atau Wayang Kulit. Pementasan kesenian semalam suntuk kiranya sudah semakin jarang terjadi di zaman ini.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI yang sudah mulai melek baca seperti masyarakat Bali di zaman modern ini. antara yang mendidik dan menghibur. tidak sampai ditinggalkan penonton. Hal yang sama juga terlihat pada pesantian yang kini sudah biasa meng103 . Dalam beberapa kali Festival Gong Kebyar se Bali. Topeng. Oleh sebab itu. Gong Kebyar dan pesantian adalah dua kesenian tradisional Bali yang telah banyak melakukan pengayaan terhadap elemen-elemen pertunjukan.

Jika diberdayakan dengan baik dan benar. dari kalangan tradisional yang berbentuk arena menjadi panggung tapal kuda atau semi proscenium. Agar upaya-upaya pencerdasan melalui kesenian ini bisa terwujud maka dibutuhkan upaya-upaya pengkemasan dari para pelaku dan pemilik kesenian itu sendiri. kiranya dapat digunakan dalam pertunjukan tradisional. 104 . Namun demikian. Temuan-temuan teknologi baru di bidang tata cahaya. teknik pementasan kesenian tradisional Bali sudah sepatutnya diperbaharui. Anggapan seperti ini sesungguhnya tidak sepenuhnya benar. Dari yang menggunakan lampu petromak atau obor menjadi lampu elektrik yang modern. Jika teknik pementasan itu dirubah maka akan menghilangkan jati diri dari kesenian yang bersangkutan. yang dimiliki oleh bangsa ini. kesenian tradisional memiliki teknik penyajian yang sudah baku. hampir semua kesenian tradisional Bali mengalami perubahan tehnik pementasan. bagaimana penggunaan tata lampu agar jangan sampai membunuh warna topeng yang digunakan penari Topeng. set dan dekorasi. Dalam kenyataannya. dari yang tidak menggunakan pengeras suara menjadi berpengeras suara. yang selama ini hanya dipandang sebagai sumber hiburan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF gunakan gamelan pengiring (Gender Wayang atau Gaguntangan). dapat digunakan sebagai sarana pencerdasan masyarakat. atau penggunaan microphone agar jangan sampai merusak tembang penari Arja. penggunaan teknologi modern ini hendaknya diupayakan sedemikian rupa agar jangan sampai merupak unsur-unsur esensial dari kesenian yang bersangkutan. jika tidak sebelumnya. Seiring dengan kemajuan teknologi. Di mata masyarakat luas. Penutup Semua yang telah diurai di atas menunjukkan potensi besar dari kesenian tradisional dan pertunjukan komunikatif. Hanya dengan cara seperti ini sajian kesenian mereka akan bermanfaat bagi upaya peningkatan kualitas kemanusiaan masyarakat kita. Bagi masyarakat seniman pertunjukan di Bali. semenjak tahun 1960-an. Sebagai contoh. dalam mencerdaskan rakyat. kesenian tradisi. mereka harus senantiasa berupaya untuk menyeimbangkan segisegi tontonan dan tuntunan dan memperhatikan konsep bayu-sabdaidep dalam sajian mereka.

1967. dan Peradaban. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Kuala Lumpur. Denpasar: Proyek Pen-cetakan/Penerbitan Naskah-Naskah Seni Budaya dan Pembelian Benda-benda Seni Budaya. Further Essays in Interpretative Anthropology. Ilmu Pengetahun. Theatre in Southeast Asia. Publisher. New Haven: Yale University Press. Mountain View-California: Mayfield Publishing Company.1994 [1981]. Geertz. Edward. 1960. Kaja and Kelod. Ignatius Bambang. Cambridge: Harvard University Press. Arbiter. I Wayan. Seni. A Study in Form and Instrumental Organization in Balinese Orchestral Music. Daftar Pustaka 105 . Serba Neka Wayang Kulit Bali. Brandon. Herbst. Clifford. deBoer. 1992. Harold. 2009. Gamelan Gong Kebyar Blaluan. Proyek Pencetakan/Penerbitan Naskah-Naskah Seni Budaya dan Pembelian Benda-benda Seni Budaya. Robert . Cohen. 1983. Busungbiu (CD). Oxford University Press. 1966. Theatre (Third Edition). New York: Basic Books Inc.Local Knowledge. Balinese Dance In Transition. Dibia. I Made. Taylor. “Arja : A Sung Dance-Drama of Bali. 1981. Bali 1928. James R. Colin. Frederik Eugene. Sugiharto.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bandem. 1975. 2006. McPhee. A Study of Change and Transformation” (disertasi) Los Angeles : University of California. Los Angeles. Universitas Katolik Parahyangan (Bandung). Pangkung. New York: The Museum of Modern Arts. Music in Bali. Art and the Intellect.

dan ikut dalam Litbang Yayasan Saba Budaya Hindu Bali. Sekretaris LP2M ISI Denpasar. Institut Seni Indonesia Denpasarini lulus sarjana muda (BA) Seni Tari ASTI Denpasar Tahun 1987. Sejak tahun 2004 mengelola Sanggar Seni Citta Usadhi Kabupaten Badung sebagai ketua dan hingga kini memegang posisi ketua Himpunan Seniman Kabupaten Badung (HSKB). Gang Kenari VI No. 081338265446 Alamat Kantor: Jalan Nusa Indah Denpasar Tlp. Sebelumnya juga pernah menjadi Pembantu Ketua I Bidang Akademis STSI Denpasar. Lahir di Denpasar. 6 Denpasar Bali Tlp. (0361) 262193 HP. Sementara gelar master (MA) Teater diambil di Emerson Collega Boston USA (1996) dan memperoleh gelar Doktor Ethnomusicology dari Wesleyan University Middleton Connecticut USA (2005).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF I Nyoman Catra. Alamat Rumah: Jalan Nangka. Kapuslit Bidang Seni Tradisional LP2M ISI Denpasar. Dosen Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan. Saat ini menjabat Sekretaris dan Ketua Jurusan Tari/Karawitan dan Pedalangan ASTI Denpasar. (0361) 227316 106 . Gelar S1 (SST) Seni Tari diselesaikan tahun 1983 di ASTI Yogyakarta. 31 Desember 1954.

ganda.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Seni Pertunjukan Populer sebagai Media Pencerdasan Rakyat: Potensi Tari Topeng dan Teater Bali I Nyoman Catra Ahli Seni Pertunjukan. air (apah). sebuah visi yang menjadi idaman bersama. rasa. dan sabda. Menurut kepercayaan Hindu tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai “Moksartham Jagadhita ya ca Iti Dharma” yakni pendakian pencapaian kebahagiaan abadi manunggal dengan sifat asali. tanah (pertiwi). Dosen ISI Denpasar Pendahuluan isteri kehidupan yang sering memunculkan kebingungan menyelimuti insani manusia . M 107 . pemerintah dalam meningkatkan kwalitas anggota masyarakatnya memiliki tujuan untuk membentuk Manusia Indonesia seutuhnya. Manusia sebagai perwujudan dunia kecil (mikrokosmos) beraviliasi dengan dunia besar/jagadraya (makrokosmos) berelemen dari panca maha bhuta yakni lima unsur yang terdiri dari. dan ether (akasa). Dalam kaitan berbangsa dan bernegara. Dari panca maha bhuta terlahirlah panca tan matra yakni lima unsur pendorong kehendak manusia yang terdiri dari sparsa.yang dikatakan sebagai mahluk tertinggi diantara mahluk hidup . dengan senantiasa mengedepankan dharma. rupa. di samping memperoleh kebahagiaan duniawi di dunia fana ini. belum pernah mendapatkan jawaban tuntas. angin (bayu). sejahtera lahir batin dengan pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani secara berimbang. sinar/panas (teja).dalam memahami tujuan hakiki menjalani hidup dan kehidupan ini.

A. manusia tumbuh dan berkembang mendapat pendidikan dari orang tua. warna. yakni adanya sifat: baik–buruk. cetana–acetana. Tarian kosmik Hyang Siwa disebut dengan Siwanataraja. yang dipercayai terlahir telah membawa karma dari hasil perbuatan manusia pada kehidupan sebelumnya (punarbawa). di bumi berputarnya seluruh penjuru mata angin dengan istana dewa dan dewinya. gelap–terang. sastra. Disadari bahwa unsur-unsur tersebut sebagai elemen jasad dan jiwa perwujudannya dari bendawi yang kasatmata sampai pada yang bersifat maya termasuk jiwa dan sifat kehendak/ego manusia. Wa. neptu. Pendidikan formal lebih menekankan pada pembentukan kecerdasan intelektual. atas–bawah. media 108 . dan unsur lainnya (pangider bhuana). Dua kekuatan sifat yang bertentangan ini yang dikenal dengan sebutan rua-bineda merupakan dialektik yang tak terpisahkan dalam alam raya ini termasuk pada diri manusia. Ya). suka–duka. senantiasa bergolak tarik-menarik. purusa–predana. Ma Si. senjata. kedua formulasi ini bergolak mempengaruhi perangai manusia. Ba. suara. Na. sekala–niskala. pralina (trikono) yang berproses secara alami terus menerus penuh intensitas dalam perjalanan peredaran waktu yang tak terhitung. merupakan elemen pergolakan kreativitas dalam siklus. sifat bhuta. pendidikan formal. Seni pertunjukan merupakan media ampuh untuk promosi penyampaian pesan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Digambarkan dalam mitos peredaran bumi bahwa Hyang Siwa menciptakan dunia dan alam semesta ini dengan tarian sakralnya sebagai wujud proses kreatif berkesinambungan. dan sifat lain yang bertentangan. berpengaruh pada dinamika kehidupan setiap insan sebagai mahluk individu maupun dalam kaitannya sebagai mahluk sosial. membentang luas pada perputaran kosmik. timur–barat. Ta. Sementara pencerdasan yang dilakukan melalui pengalaman agama dan seni. lebih ditekankan pada pencerdasan rasa. Unsur panca maha bhuta dipadu dengan sifat unsur panca tan matra. uttpeti. pendidikan regulasi pemerintahan dan pendidikan masyarakat/alam lingkungannya. stiti. Sepuluh fomulasi aksara suci (dasa aksara) yang terpilah menjadi dua dikenal denga panca tirta dan panca geni (Sa. Untuk memahami misteri kehidupan tersebut. Dunia dan alam semesta ciptaan Beliau bergerak secara ritmis. Kecerdasan rasio dan rasa seyogyanya saling melengkapi dalam memahami hidup ini. I. positif–negatif. indah dalam keteraturan. pengasahan akan rasio dari kerja otak.

persembahan diperuntukkan membangun keharmonisan dengan alam semesta. sistem kehidupan. Mencerdaskan masyarakat mengandung pengertian sebagai upaya ”mengusahakan supaya sempurna akal budinya. lengkap walau tetap 1 Panca Yadnya: Lima domain peruntukan persembahan yadnya yang digelar oleh masyarakat Hindu yakni: Dewa Yadnya persembahan diperuntukkan kehadapan Tuhan dengan berbagai manifestasinya. tugas dan kewajiban profesi. Pitra Yadnya. persembahan untuk memuliakan manusia itu sendiri. Rsi Yadnya persembahan untuk menghormati para pendeta. yang berkaitan dengan logika berdasar pada rasa. dan Manusa Yadnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI propaganda. wayang. konflik internal dan eksternal tokoh yang mengemuka tanpa batas. pada berbagai jenjang usia. tidak saja sebagai pemberi hiburan juga sebagai pencerahan masyarakat penontonnya. Sebagai kesenian popular kebanyakan seni pertunjukan dramatari Bali. kehadirannya memiliki peran yang sangat penting. Persembahan pengagungan karunia Tuhan melalui karma sandyasin melibatkan tatacara dan elemen persembahan yang megah. dan kondisi. indah.” (Kamus Besar BI: 164) Topeng dan berbagai jenis dramatari lainnya. Penggambaran dunia dengan berbagai permasalahannya didalam arena pentas. sebagai varian genre seni pertunjukan. Bhuta Yadnya. persembahan diperuntukkan menghormati leluhur. memiliki format sajian yang sangat fleksibel. wayang dan berbagai dramatari lainnya. sebagai cermin pembekalan masyarakat tentang pemaknaan hidup. dimana dalam tingkatan tertentu seni pertunjukan topeng pajegan dan wayang lemah menjadikan bagian tak terpisahkan melengkapi kesempurnaan tatacara upacara yang digelar. baik yang menyangkut rentang waktu. mengerti dsb. bertautan dengan kehidupan masyarakat. Dengan kata lain pendidikan budi pekerti menjadi muatan isian dramatisasi seni pertunjukan. Dikatakan penting mengingat kehadirannya memiliki tugas dan fungsi sebagai legitimasi keberhasilan sebuah ritual keagamaan. Ritual keagamaan yang domainnya dikategorikan kedalam panca yadnya1. sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam menjalani ritual keagamaan. merefleksikan dunia kehidupan maya secara luas. status sosial. Peran Tari Topeng dan Teater Bali di tengah masyarakatnya Masyarakat menyadari arti penting dan memberikan ruang kepada seni pertunjukan seperti topeng. adaptatif dengan situasi.” Cerdas berarti ”sempurna perkembangan akal budinya (untuk berfikir. 109 .

Seni pertunjukan dramatari Gambuh yang ditengarai sebagai sumber utama munculnya tari/dramatari lainnya di Bali. Orang yang bertanggungjawab pelaksanaan upacara (yajyamana). orang ahli pembuat upakara (niniwedya). dan sang sulingih yang bertugas menghaturkan upakara tersebut sesuai tujuan dan peruntukannya dengan mengelar sang catur weda (yogiswara). disamping melodis melankolis sapta nada dialunkan dengan sejumlah suling berukuran besar. dan secara luas memiliki rambahan peruntukannya sebagai seni hiburan sekuler (balih-balihan). 110 . merupakan upaya pembayaran hutang hidup (tri rnam). Koreografi tari yang komplek. dua dimensi tujuan pergelaran yang saling melengkapi dibutuhkan dalam pengalaman estetik masyarakat penontonnya. berkenaan dengan makna dan arti dari tata upacara dan upakara beserta filsafat yang melatarbelakangi-nya. baik sebagai penyaji pada tarian murni maupun para actor dalam dramatari Bali. utamanya sebagai pencerahan masyarakat dalam kategori bebeali. madya. dan sejenisnya. Oleh karenanya sangat strategis dan memiliki peran yang sangat potensial sebagai pencerahan masyarakat pemirsanya lewat sentilan-sentilan yang menghibur dengan nilai-nilai kebijaksanaan sebagai kandungan isian dramanya. dengan permaianan patet dari alunan ritmik aransemen instrumen perkusi. arja. membentang dari keterkaitannya dengan peristiwa sakral (wali). drama gong. seniman seni pertunjukan (praregina/dalang2) yang ikut meligitimasi ritual tersebut memiliki peran yang sangat penting. dan utama. Fungsi kesenian berlakon di Bali seperti topeng. Seniman mempunyai ruang terbuka untuk memberi pemaknaan terhadap apa yang sedang berlangsung dan untuk tujuan apa upacara tersebut diselenggarakan. Gambuh sebagai sebuah dramatari yang menekankan pada kemegahan/keagungan pemerintahan raja-raja. calonarang.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF memperhatikan pada tingkatan kemampuan nista. memiliki seting penokohan yang besar dengan varian tingkatan hirarkinya. Sebutan dalang diperuntukkan pada seniman yang piawi dalam memainkan wayang. Tujuan tontonan dan tuntunan. tidak memiliki kuasa untuk memaparkan dan menerangkan kehadapan khalayak. wayang. tata struktur musik yang megah. Ketika sebuah upacara keagamaan digelar yang melibatkan anggota masyarakat secara luas. Tata busana dan rias mencerminkan kemegahan regalia penampilan tokoh dari kalangan 2 Sebutan pragina diberikan kepada seseorang yang memiliki profesi sebagai seniman tari.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI bangsawan. Tingkat penguasaan sebagai pemeran satu tokoh dengan baik/sempurna. Disamping penguasaan secara cabangnya yang demikian banyak seniman juga ditutut dalam kreativitas kemasan tari. tembang dan retorika antawacana sebagai preservasi keragaman seni tradisi memperkokoh budaya bangsa. karakterisasi. Legong. sebagai sumber dan model pada berbagai jenis perunjukan dramatari seperti Topeng. dimana tokoh Panji sebagai tokoh protagonis digambarkan sebagai pahlawan kebudayaan. busana. repertoar musikalnya. dan elemen lainnya. Koreografer Bali moderen sangat kuat bertumpu pada Gambuh dalam pendekatan struktur. Pendidikan seni kepada generasi penerus pelaku kesenian menuntut penguasaan pada unsur-unsur seni sebagai preservasi kekayaan khasanah bangsa. olah sastra. Sebagai sebuah dramatari total teater (Bandem & deBoer 1995: 27) gambuh memiliki kontribusi penting di dalam tarian Bali karena pengaruhnya pada bentuk dramatari lainnya pada perkembangan berikutnya. Sementara seniman ngerangkep diperuntukkan bagi seseorang yang memiliki multi talenta sebagai seniman serba bisa. Wayang Wong. dikategorikan sebagai pragina nugur. calon arang. dan pragina ngerangkep. Seniman naduin untuk mereka yang memiliki kemampuan penguasaan lebih pada satu jenis kesenian yang sering juga disebut ngiwa. arja. Seorang seniman setidaknya dituntut agar menguasai beberapa cabang ilmu seni untuk memperkuat identitas kesenimanannya. Dalam seni pertunjukan dramatri seperti: topeng. elemen komposisi. pragina naduin. 111 . Terbuka luas pengusaan berbagai cabang seni yang sudah tentu memperkuatan profesi kesenimannnya. Wayan Dibia (2004: 119) memberikan identifikasi wilayah kiprah pragina menekuni profesi berkeseniannya ke dalam: pragina nugur. Secara tematis dan sajian dramatari gambuh memberikan refleksi kemegahan sebuah negara dan keindahan alunan lebut gerak tari tokoh protagonis yang mampu menaklukkan gerakan kasar dari tokoh antagonis dalam balutan kisah cinta dan kekuasaan. Arja. Dramatari gambuh masih didominasi dengan penggunaan bahasa Jawa Kuno (kawi) dan adanya pengulangan kata-kata sebagai korus kekuatan kebersamaan yang dewasa ini tidak banyak dimengerti kontent dan konteksnya. dan Baris Melampahan. gamelan. Gambuh yang mengambil kisah pengembaraan cinta dan kekuasaan. arti dari dramatisasinya.

dewasa dan orang tua. remaja. komentator. Wayang Kayonan diposisikan di tengah. berpihak pada tokoh protagonis. dimana peran penasar yakni adanya tokoh sisipan lokal genius yang selalu hadir sebagai panakawan. Kendati ceriteranya mengambil dari kisah-kisah epos. merupakan momen baik untuk menyisipkan pesan-pesan kebijaksanaan. Sambil melontar selingan lelucon yang mengundang gelak ketawa sebagai bukti perhatian penonton penuh terhadap dinamika dramatik adegan berlangsung. status sosial dan profesinya. Namun dengan hadirnya penasar yang bertugas sebagai penerjemah. Oleh karenanya seniman dituntut secara sadar mempertimbangkan keragaman dialog panakawan (kandan penasar) yang dapat menutrisi masyarakat pengapresiasi pada tingkatan perbedaan umur. termasuk wayang kulit. antagonis. 112 . Seniman praktisi menyadari bahwa penonton yang hadir dari kalangan anak-anak. Merdah. pemberi wejangan. Sekala dan niskala cara pandang masyarakat Hindu pada kenyataan hidup ini. perwujudan figur penasar dalam wayang yakni Tualen. maupun di buana agung. dimana hadirnya tokoh utama kebanyakan berbahasa kawi. menjadikan pertunjukan tersebut sebagai bagian dari kisah yang dialami masyarakat penikmatnya. termasuk diantaranya menjadi pendamping tokoh tritagonis. menjadikan pertunjukan tersebut bisa dibuat bersentuhan langsung dengan persoalan masyarakat sekitar. Delem dan Sangut. sehingga posisi wayang penasarpun dijadikan ikon sakral dalam pemaknaan hidup ini. yang sudah barang tentu memiliki kesenangan nutrisi kejiwaan yang berbeda.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF wayang wong. secara filosofis memiliki aviliasi dengan ista dewata nawasanga dalam kosmik buana agung. Panakawan menggunakan bahasa daerah/lokal dengan varian dialeknya. Secara pemaknaan hidup. sementara keempat penasar diposisikan pada empat penjuru mata angin selaras dengan sifat dan karakterisasi tokoh. sejarah/ babad masa silam. legende. yang kurang dapat dipahami oleh kebanyakan masyarakat umum. Dalam Dharma Pewayangan (lihat Hooykass 1973: 130) posisi penasar dalam stananya menurut arah mata angin dibahas secara komprehensif. mengelaborasikan topik pembicaraan dan mengembangkannya dengan memasukkan petuah tentang nilai-nilai kebijaksanaan. Dengan demikian penasar adalah tokoh misteri yang penuh dengan pemaknaan dan memiliki aviliasi dengan kanda pat berkaitan dengan paralel posisi tata letak baik di buana alit.

dan terang merupakan busana dari penasar Tualen. Ketiga tone warna ini (hitam. Dominasi warna tertentu. arah menuju sorga. Acintya dan Kayonan dijadikan ikon untuk proses dimaksud. yang memiliki keterbatasan. keduanya mencerminkan keluasan bidang yang ujungnya tak terjangkau oleh pandangan mata manusia. tokoh Tualen seorang abdi kebanyakan yang sesungguhnya memiliki sifat asali. Format yang sama masih terasa pada perhelatan pemilihan. menjadikan kesenian populer ini seakan identik dengan kesenian partai politik. Timur-laut adalah arah ke hulu (luanan) berada diantara warna hitam dan putih. bersama tokoh Siwa. Lirik-lirik lagu janger membangkitkan semangat partisipan partai dan pengikutnya untuk mempersatukan masanya. abu-abu. sebagai pencerminan gelap. laut berwarna biru. menjadi konfigurasi menarik mengangkat ideologi partai lewat simnol-simbol. Namun secara filsafati sebagai purusa sumber asali dia dikatakan memiliki darah putih. Munculnya kesenian popular seperti Topeng Bondres mendominasi perhelatan politik di samping berbagai jenis kesenian tradisi lainnya seperti topeng. Langit berwarna biru. abu-abu. beraviliasi dengan stana Dewa Iswara yang menempati posisi di Timur. Pada era pemerintahan Orde Baru. Yel-yel penggugah semangat masa dengan pekikan propaganda flatform partai. Pada masa pergolakan partai politik di tahun 1965an pertunjukan dramatari janger menjadi komuditas politik. dan putih) adalah warna magis. Oleh karenanya dalam upacara ruwatan. adalah tune warna untuk jangkauan luas tak terbatas. corong partai ajang kompanye dalam pengumpulan masa. dan pembentukan lambang partai dengan gerak maknawi. arja. dijadikan wahana ampuh menyampaikan pesan-pesan pembangunan. formasi huruf. anggota legislatif.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Tokoh Tualen yang secara kasat mata berwarna gelap/hitam beravilisasi dengan stana Wisnu berada di Utara. sungguh menggugah. Ada ke abu-abuan pemahaman kita dalam memandang arah manadala timur laut yang dikatakan sebagai arah hulu (luanan). pembuatan air suci (ngarga tirta) dalam pertunjukan wayang upacara. kesenian tradisional terutamanya yang memakai lakon dijadikan corong penerangan sosialisasi program pemerintah. Kesedehanaan tokoh Tualen memliki simbolik yang sangat dalam. dikumandangkan oleh korus kecak dan janger. 113 . Dalam penempatan warna pangider buwana arah di timurlaut ditandai dengan warna biru. prembon dan termasuk wayang.

samping-menyamping. Menjadi seorang pregina/dalang dituntut memiliki multi talenta untuk bisa mentranformasi diri tiga kali lebih besar dari dirinya. kisah raja-raja pada jaman feodal. epos. Dalam format pertunjukan dramatari Bali konvensional tokoh ”penasar” yang merupakan tokoh sisipan namun menjadi esensial figur selalu hadir pada setiap pertunjukan termasuk dalam pertunjukan wayang. menjadikan unsur-unsur yang akan mematangkan profesinya. Ini membuktikan betapa peran kesenian memiliki arti strategis sebagai pencerdasan masyarakat akan kesadaran berpolitik. kemudian secara penguasaan isian drama menuntut kecerdasan dan berbekal dengan kedalaman sastra. purana. sangat ampuh sebagai wahana mengakomudir pesan-pesan kebijaksanaan sebagai pencerahan dan menjembatani kisah dari dunia kedewataan. dunia mithos. Dengan menyerap pesan yang ingin disampaikan dari institusi. ditambah lagi memiliki kekuatan karismatik penyatuan dengan kekuatan ekstasi magis sebagai tampilan yang memukau (mataksu). Agem. maupun kisah kerakyatan dari bentangan spektrum waktu tanpa batas. dan wirasa. tangkis dan tangkep yang dibalut dengan olah wiraga. menjadi tuntutan yang mesti di capai melalui pelatihan panjang. kelompok ataupun perorangan yang bertindak sebagai tuan rumah (host) dicerna dan diformat ke dalam bahasa pentas oleh seniman penyaji. berbangsa dan bernegara. melalui peran penasar dapat diaktualisasikan menjadi kisah kekinian. yang membutuhkan dukungan masa banyak. terus menerus. Dengan posisi badan miring menjauh dari pusat grafitasi dalam kemiringan kesamping. membentuk desain-desain tubuh yang dinamis. Transformasi diri menjadi tokoh yang diperankan. tandang. Penasar yang berfungsi sebagai penerjemah bahasa tokoh utama yang kurang dipahami oleh kebanyakan penonton. Transformasi tokoh dapat diwujudkan dengan estetika dan kaidah-kaidah gerak yang sesuai dengan karakterisasi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pimpinan politis pemerintahan pada masa reformasi. Posisi badan yang terbi114 . Secara figura desain tubuh penari di arena pentas. Ibarat bandul jarum metronum yang ayunmengayun. yang seakan peristiwa tersebut berlangsung dewasa ini. dunia dari alam gaib. menjadi tuntutan wujud keindahan pakem tari. wirama. Pertunjukan yang mengambil kisah dari dunia kedewataan. Tari Topeng dan Teater Bali sebagai Media Pencerdasan Rakyat.

ditekuk pada bagian-bagian ruas angota badan. seniman. Estetika ini memberikan pandangan bahwa kemiripan pergolakan pencaharian keseimbangan dalam tari seperti mengingatkan kita pada kenyataan hidup yang saling tarik menarik dari dua kepentingan yang berlawanan. Terlebih lagi kedalaman sastra. memberikan pandangannya bahwa spektakuler dramatari Bali dibangun dari kompleksitas image murni panggung. menentukan bobot keindahan bentuk. menakjubkan. filsuf. Para filsuf mengendapkan pikirannya lewat tulisan. disamping masalah pemerintahan. yang berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui. menghadirkan secara komprehensif bahasa ungkap baru yang diciptakan para penari/ pregina memanipulasi pemanfaatan busana menyusunnya menjadi hidup melalui berbagai perubahan bentuk. simbol yang mistirius. Seorang yogi. sementara seniman membangun dunia panggung dengan konflik permasalahannya sebagai refleksi gejolak konflik dunia itu sendiri. para yogi mengembangkan sabda Tuhan dengan pencerahannya. Menari dan juga hidup adalah upaya yang tak berkesudahan ”mencari keseimbangan di dalam ketidakseimbangan. dan realitas tersembunyi yang menurutnya di dunia Barat hal seperti itu sepenuhnya ditindas. pendidikan dan sosial kemasyarakatan termasuk retorika politik merupakan teba luas dinamika perubahan dunia konflik kehidupan. sanghyang saraswati dan sanghyang kawiswara sebagai pu3 Hieroglyphs Gambar atau simbul digunakan dalam tulis-menulis khususnya dalam sistem penulisan dari jaman Mesir Kuno (Webster’s Contemporary American Dictionary: of English Language :335) 115 . Alam semesta dan lingkungan hidup manusia sendiri sudah memberi materi isian drama yang tak pernah kering sebagai acuan pementasan. baik satra tutur maupun sastra tulis kebijaksanaan. ajaran agama. hieroglyphs yang bergerak. Hieroglyphs3 tiga dimensional tersebut berubah menjadi brokat dengan sejumlah gesture. merupakan pergolakan literatur hidup dengan mengusung hyang tiga jnyana yakni sanghyang guru reka.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI las dalam liukan postur tubuh.” Seorang penulis essay dramawan Barat Antonin Arturd yang hanya menyaksikan pertunjukan lawatan grup Bali di Paris tahun 1931 (1958: 61). dengan tahanan berat badan pada tumpuan satu kaki secara bergantian. memiliki kesamaan bahwa kerja kreatif menjadikan jantung kerisauannya dalam mengungkap misteri jagadraya ini. Pregina/dalang dituntut memiliki referensi yang cukup untuk dituang sebagai kandungan isian drama persembahannya.

Kisah Ramayana yang menggambarkan perebutan kekuasaan dan keserakahan Raja Rahwana. menjadi hancur mendapat gempurna dari Ramadewa yang hanya berwadwakan pasukan kera. yang berubah menjadi sorga. Duryodana dengan satus Korawanya. Sesungguhnya ceritera itu sendiri sudah memberikan gambaran pilihan yang mesti untuk disikapi dalam memahami diri. Epos Mahabharata memberikan gambaran penderitaan panjang Pandawa mesti dijalani untuk meperoleh kembali haknya yang dirampas secara kasar oleh saudara sepupunya sendiri yakni. Secara keseluruhan alur ceritera mendidik kita bahwa kemenangan akhir dari perjalanan panjang mesti tetap diupayakan. ceritera Binatang. ketika Yudistira menceburkan diri menemani saudara-saudaranya di dalam penderitaan luapan panas lahar neraka. ceritera Rakyat. Legenda. para Porohita kerajaan. Pada akhir perjalanan kisahnya di Sorgaloka pun. memaksakan kehendak dengan menculik Dewi Sita untuk dijadikan istrinya. Secara episodik penggalan ceritera yang dijadikan lakon (bantang satwa) pada suatu pementasan juga mengakomudir pergolakan rua-bineda tersebut. Guru-rurunya. berucap dan bertindak menjalai swadarma.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF saran kreatif. termasuk anak-anak kecil yang tidak berdosa ikut menerima akibat dari peperangan tersebut. Demikian juga halnya dengan ceritera-ceritera lainnya seperti Purana. Secara tematik pergolakan dulisme baik buruk menjadi tema sentral kemasan pertunjukan dengan memberi peluang kepada penonton untuk memilih dan memilah yang mana baik dan yang mana buruk sebagai pedoman berfikir. Raja-raja sahabat (prakanti). muasal internal konflik yang mesti diselaraskan. Terlebih lagi ketika manusia berkumpul sebagai komunitas kelompok sosial yang 116 . Keadaan baru menjadi terbalik. ceritera Panji. akhirnya mengorbankan seluruh kerajaannya yang amat terkenal mewah. sementara para Korawa terjerumus ke dalam luapan panas kawah neraka. dengan mengedepankan ajaran dharma. Perang saudara tersebut mengorbankan seluruh keluarga Korawa. pendikan moral menjadikan pilihan pencerahan akal budi sebagai cermin dalam menyikapi hidup ini yang penuh dengan persoalan. Pemenuhan tuntutan jasmani dan rohani manusia sebagai mahluk individu. para Korawa tetap mengejek penderitaan para Pandawa yang terjerumus ke dalam kawah neraka sebagai pahala dari perbuatannya ketika masih hidup.

Mereka sesungguhnya sadar bahwa hidup rukun berdampingan dengan sesama menjadi idaman menjalani kehidupan ini. yang kiranya tidak cocok dengan plot lakon.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sering juga memiliki kepentingan berbeda dengan kelompok sosial lainnya. dan tuntutan lainnya tidak bisa cair dari kebekuan sikap kukuhnya. Hal-hal yang berkaitan dengan masalah seperti inilah yang menjadikan isian drama (dramatic content) pencerahan masyarakat penontonnya. sehingga konflik seperti itu selalu ada. merupakan kelenturan sifat dan penampilannya dalam membentuk drama. casting penari. Dalam hal ini peran seniman yang dijuluki sebagai seorang ”guru loka” dengan mengusung sanghyang tiga jnyana sebagai kebebasan kreativitas. Gejala alampun dapat memporak porandakan kehidupan manusia akibat dari ekploitasi alam secra berlebihan sehingga ekosistem tidak seimbang. tutur kebijaksanaan. Yoga sebagai seorang pregina terletak pada kecerdasannya mengimbangi pasangan mainnya dalam pergulatan dialog. karena sering melenceng dengan babon ceritera. tujuan peruntukan pergelarannya. kekuasaan. Sajian solo seperti topeng pajegan. Namun atas nama martabat. Kritik tajam tentang sosial kemasyarakatan. harta/ materialistis. Pesan-pesan sisipan seperti itu pada umumnya diolah dengan bahasa simbol yang memiliki image ganda dan dapat dimengerti oleh penontonnya. sampai dewasa ini konflik antar bangsa yang dicarikan solusi pemecahannya tidak jarang harus berhadapan dengan pernyataan perang yang tidak sedikit menelan korban jiwa. Format seni pertunjukan konvensional Bali sangat fleksibel untuk dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan lakon. durasi waktu. Tidak demikian halnya dengan jenis pertunjukan bondres yang memang memiliki keterbukaan untuk dikisahkan secara kontemporer. dalang wayang kulit. cinta. tempat pementasan dan keadaan yang mesti diatasi. lebih memilih pada media topeng/wayang sebagai media ungkapnya untuk di117 . Cara ungkapnya yang spontan terkadang menjadi liar setelah menerima respond dari penonton. Oleh karenanya. yang dibalut dengan humoris dapat mengingatkan masyarakatnya sebagai pendidikan moral dan budi pekerti. bila ada pesanan sisipan yang mesti diakomudasi dalam pementasannya. Pada kenyataannya. bisa terealisasi dengan baik dengan tetap mempertimbangkan alur dramatiknya. Ungkapan yang bersifat fulgar sebisanya dihindari. menjadikan hidup ini penuh dengan ketegangan.

dibarengi dengan pemahaman secara filosofis dengan kedalaman jnyana. Secara vertikal membangun kesadaran hubungan manusia dengan berbagai manifestasi Tuhan dan keEsaanNya. sehingga unsur sekala dan niskala tersebut menyatu dalam kerja karma. Secara tematik dunia seni pertunjukan selalu mengajarkan pergolakan dharma versus adharma yang pada kesimpulannya dimenangkan oleh dharma. disamping bercermin pada tuntunan kehidupan yang digambarkan melalui kisah-kisah kehidupan dikemas dalam dunia estetik dalam berbagai bentuk dan tatacara sajiannya. topeng. Dalam memahami guliran perjalanan hidup. etika dan tata cara (susila). bhuwana alit dan bhuwana agung. Seni pertunjukan memiliki akses luas pada penjabaran semua itu untuk lebih mudah difahami melalui menyimak gambaran kompleksitas dinamika kehidupan lewat kemasan seni pertunjukan seperti: tari. Penutup Pemahaman konsepsi simbol tampakdara (+) yang terbangun dari persilangan garis sederhana namun memiliki kedalaman makna sebagai filsafat kehidupan setiap individu dan kelompok masyarakat. Pergolakan baik buruk perseteruan yang tak berkesudahan dari daya tarik menarik kepentingan sifat yang bertentangan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF sisipi pesan-pesan pencerdasan masyarakatnya. menjadi landasan dasar kehidupan dalam mencapai keseimbangan. dan sarana dan prasarana laku estetika (upakara/upacara) terbangun 118 . perlu diseimbangkan sebagai sifat alami yang sulit ditampik oleh setiap orang. Sarana upakara merupakan media mendekatkan diri dan menyatakan terima kasih akan kelimpahan karunia Tuhan. Pengujian di atas pentas untuk dialog antar tokoh oleh sejumlah pemain dalam membangun struktur drama menuntut kepekaan dan reflek yang spontan dibingkai oleh estetika dan pakem-pakem yang tidak boleh dilanggar. saling menghormati. membangun kedamaian hidup berdampingan dengan sesama. serta menjaga keharmonisan alam semesta sebagai ekosistem pemberi kehidupan dalam arti luas. wayang dan teater lainnya. Tiga kerangka yang mengkemas ajaran agama dengan berelemenkan kandungan filsafat (tatwa). rua-bineda. Keseimbangan secara horizontal. Swastika simbol agama Hindu berdasar kepada tampakdara yang pada implementasinya membentang pada bhuwana sarira. manusia membutuhkan penguasaan dan pemahaman intelektual.

internet. dan greget penampilan yang memukau mataksu merupakan kekuatan yang dicari oleh para penyaji dan masyarakat pengapresiasi. Harvard University Press. pendidikan moral. I Made dan Fredrick Eugene deBoer. wujud/bentuk sajian. Brandon. The Theater and Its Double (translated from French by Mary Caroline Richards). kepemimpinan. Balinese Dance in Trasition: Kaja and Kelod. Nilai-nilai ajaran kebijaksanaan lebih menjadi kandungan dramatik dari sebuah pementasan. “Education for the Performing Arts: Contesting and Mediating Identity in Contemporary Bali” in Staying Local in the Global Village: Bali 119 . Brett Hough. Kewajiban seorang pragina. belum banyak digarap sebagai media penyampaian pesanpesan kebijaksanaan yang dapat diakses ke rumah-rumah dengan jangkauan pemirsa yan sangat luas. termasuk gejolak sosial sebagai bagian tak terpisahkan dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini. Pencerdasan masyarakat penikmat lebih ditekankan pada peningkatan olah rasa dalam memaknai kehidupan ini. yang memangku tugas sebagai guru loka. video. Theatre in Southeast Asia. dibanding pada era sebelumnya. Percepatan pergerakan dan konsumerisme masyarakat moderen seperti dewasa ini membuat setiap orang sibuk untuk mengejar materialistik pemenuhan kebutuhan hidupnya. Kualalumpur: Oxford University Press. lebih menuntun masyarakat pemirsanya dengan ajaran-ajaran pemahaman diri berkaitan dengan rasa syujud dengan Tuhan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pada mantra. Daftar Pustaka Artaud. New York: Grove Weidenfeld. tantra dan yantra tak terpisahkan dari konsepsi idep. Cambridge Massachusetts. James R. Terobosan kreatif bagi seniman penyaji dituntut untuk merevitalisasi jenis kesenian seperti itu agar tetap eksis dengan nafas dan kemasan yang lebih segar. sabda dan bayu. 1995 [1981]. Bandem. Antonin. keseimbangan ide/gagasan. Beberapa dekade belakangan ini ada kecendrungan pergeseran kecintaan masyarakat penonton pada jenis-jenis pertunjukan konvesnsional seperti arja. dalang. drama gong yang gelombang kehidupannya mengalami masa surut. 1974 [1967]. Sebuah tantangan bagi seniman untuk menjawab masa depan tugas dan fungsi seni sebagai pencerdasan masyarakatnya. 1958. Kemajuan teknologi informasi seperti televisi. wayang. 1999.

Nyoman S. Connor).Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2004. Mahabharata. by Raechelle Rubinstein & Linda H. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa .2004. Princeton. 2009. New York: Bobley Publishing Corp. Ron & I Nyoman Catra. Pendit.Siwalatrikalpa: Balinese Literature in Performance – Sastra Bali dalam Seni Pertunjukan. Jakarta: Balai Pustaka. Kamala. Amsterdam. London: North Holland Publishing Company. Jenkins. 1987. Jenkins. I Wayan. Spies. 1994. Walter and Beryl deZoete 2002 [1938]. Malang: Sava Media. Dance and Drama in Bali. 2005. The American Heritage Dictionary (William Moris editor). Hongkong – Singapore: Periplus Editions. Webster’s Contemporary American Dictionary: of the English Language. “Penasar: A Central Mediator in Balinese Dance Drama” (unpublished dissertation). Hooykass. Mary Sabina. New York: Free Press. 2008. Surabaya: Paramita. Woodbury. 1990 [1988]. Subramania. Dibia. The Invisible Mirror . Honolulu: University of Hawai’i Press. 120 . Middletown CT: Wesleyan University. 1973. C. Ron. New Jersey: Princeton University Press. Aktor dan Pelaku Seni Pertunjukan. (ed.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF in the Twentieth Century. Ramayana. Denpasar: International Translation Center ISI Denpasar. Subversive Laughter: The Liberating Power of Comedy. Catra. Kama and Kala: Materials for Study Shadow Theater in Bali. Nyoman. Pragina: Penari. The Language of Balinese Shadow Theater. Zurbuchen. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 121 .

Hum. PNS yang juga sering menjadi juri berbagai lomba ini saat ini menjabat Ketua Pusat Pengkajian dan Pelayanan Lontar. 224121 Alamat rumah: Jl. Gunung. Lumut V/2A Denpasar Barat 80117 Telp.com 122 .Fakultas Bahasa dan Seni. I Nyoman Suarka. 08123770885 e-mail: tuarik4@yahoo. Jurusan PGSD Universitas Terbuka. Universitas Hindu Indonesia. 12 Pebruari 1961ini mengasuh berbagai mata kuliah yang berkaitan dengan Sastra. Nias 13 Denpasar. (0361) 734363 HP. Fakultas Sastra Unud dan Sekretaris I Yayasan Sabha Budaya Hindu Bali. dan Sosiologi Sastra. Doktor lulusan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ( 2 0 0 7 ) bidang Ilmu Sastra dan Filologi juga menjadi pengajar di Fakulas Sastra Universitas Udayana. Telp.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dr. Kesusastraan Hindu. Lulusan Program Pascasarjana UGM Yogyakarta (1997) ini juga aktig sebagai penatar bagi generasi muda Hindi dan calon Pinandita/Pemangku di Bali. Stilistika. Estetika. IKIP PGRI Bali dan STIKES “WIRA MEDIKA PPNI BALI”. M. pada Program Magister (S2) dan Program Doktor (S3) Linguistik Program Pascasarjana Universitas Udayana dan Program Magister (S2) Ilmu Agama dan Kebudayaan. aktif mentransliterasi lontar dari aksara Bali ke dalam tulisan latin Bahasa Kawi dan menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. terutama yang berkaitan dengan sastra bali. Banyak karya ilmiah Ketua Tim Penyusunan Tema Pesta Kesenian Bali yang dipublikasikan. serta Sekretaris Umum Widyasabha Dharmagita Provinsi Bali Alamat kantor: Jl. Laki-laki kelahiran Cekik-Berembeng.

Manusia tidak lagi mengenal dunianya. orang-orang dilarang ke tempat ibadah hingga sepi. Tan wring rātnya makol lawan bhratara wandhawa ripu kinayuh pakāśrayan. (Kakawin Nitisastra. 10—11) Terjemahannya: Dampak masa krisis telah menyebabkan manusia kebingungan. Wwang mahyun ri kawehaning dana darīdra krěpana dumadak dhaneśwara. berebut kekuasaan. dan lawan dijadikan kawan. Dewādrěwya wināśa dharma rinurah kabuyutan-inilan padhāsěpi. bergulat sesama sanak saudara. tempat ibadah leluhur dirusak. Sumpah tak berguna. piagam perjanjian dilanggar oleh para penjahat di du- 123 . Wwang duśśila suśila durnaya wiweka kujana sujanāwibhāgana. Dosen Sastra Universitas Udayana Pengantar Pangdening kali mūrkaning jana wimoha matukar-arěbut kawiryawān.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Aktivitas Pasantian dan Sastra Bali Sebagai Media Pencerdasan Rakyat I Nyoman Suarka Pakar Sastra. Sang rājā siwiteng sushena ta ya sang madum-amilih-ulah wiparya. Wwang dūrātmaka dīrghajīwita sirang sujana dumadak-alpakāmrěta. Benda-benda suci dihancurkan. berkelahi. Wyarthang śāpatha supraśāsti liněbur těkaping-adhama mūrka ring jagat. IV.

ekonomi. B 124 . barangkali tidak jauh berbeda. tsunami. sewenangwenang. sedangkan orang saleh menjadi pendek usia. destruktif. ilamana kita mencermati tanda-tanda zaman krisis yang dilukiskan seorang pujangga tak dikenal pada enam abad yang lampau. Orang-orang hanya ingin diberi uang. seperti kepolisian. Para elite politik lebih banyak bertengkar bahkan saling adu jotos. anarkis. dan sebagainya. Guna mengantisipasi berbagai fenomena tersebut di atas. angin puting beliung. masyarakat kita sekan-akan telah kehilangan kendali dan cenderung bertindak biadab. membuat pikiran dan hati gelap (awidya). kejaksaan. Penjahat menjadi panjang umur. bukan hanya buta aksara tetapi juga buta hati. pengadilan kini mencuat ke permukaan. Bencana alam pun datang silih berganti. pencerdasan pikiran. bajingan berlagak saleh. Namun kini. yakni pasantian dan sastra Bali sebagai sumber pembangkitan budi. dan pencerahan nurani. kasar. tanah longsor.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF nia. sosial. Era krisis atau zaman Kali yang konon dipenuhi oleh Bhutakala membuat masyarakat kita mengalami kebutaan. Orang jahat berlagak arif. moral telah memberikan dampak negatif kepada perilaku masyarakat kita. mereka sulit dibedakan. ada baiknya pada kesempatan ini kita mencoba memberdayakan potensi budaya. Kerapkali sekelompok masyarakat cenderung bertindak arogan atas nama agama. dengan tanda-tanda zaman yang dialami masyarakat Indonesia saat ini. sopan. seperti tersebut di atas. Berbagai kasus ketidakadilan dan kasus suap yang dilakukan para markus di kalangan penegak hukum. orang miskin mendadak menjadi orang kaya. pemegang keadilan cenderung berlaku tidak adil. lebih suka memamerkan diri daripada memikirkan nasib rakyat yang semakin melarat. hukum. orang bodoh berlagak pintar. Dulu bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang beradab. banjir. mulai dari gempa bumi. Berbagai krisis politik. ramah. Raja tunduk kepada panglima. berbudi pekerti luhur.

sekar madya. yang dituntut memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup dalam penguasaan pasang aksara Bali (tata tulisan Bali). Tanpa kemampuan dan pengetahuan yang cukup. ketentraman. yaitu pendengar (pamiarsa). penanya (pamitaken). dan kaidah metrum yang digunakan (sekar macapat. dan kedamaian bagi para pelakunya. ketentraman. ketentraman. Pendengar (pamiarsa) yang dimaksud adalah pendengar yang baik. Kesulitan pembaca bukan hanya berpengaruh kepada pembaca sendiri tetapi juga berpengaruh terhadap penerjemah (paneges) yang juga akan merasa kesulitan dalam menerjemah-kan teks. maka ada kemungkinan besar pula penerjemah mengalami kesalahan dalam menerjemahkan. Masing-masing peran tersebut dituntut memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup sesuai bidang masing-masing. penerjemah (paneges). pembaca (pangwacen).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Hakikat Pasantian Secara etimologis. penerjemah wajib memahami kode bahasa dan kode budaya teks yang sedang dibaca. dan sekar ageng). aktivitas pasantian dilakukan dan diarahkan dengan tujuan mendapatkan ketenangan. Sementara itu. bahasa teks (bahasa Jawa Kuna. Jika pembaca (pangwacen) salah membaca. dan diulas oleh peran-peran yang lain. kata pasantian berasal dari kata dasar ”śānti” yang berarti ’ketenangan. dan nara sumber (narawakya). yang berarti ’tempat atau wadah untuk mendapatkan ketenangan. bahasa Bali dalam berbagai tingkatan). Karena itu. dan mendapat konfiks ka-an menjadi pasantian. kedamaian pikiran’. Di samping memahami kode sastra. diterjemahkan. kedamaian pikiran’ (Zoetmulder. peserta mabebasan secara keseluruhan pun pada akhirnya mengalami kesalahan dalam penafsiran teks. penerjemah (paneges) juga dituntut kemampuan dan pengetahuan-nya seluas mungkin dalam penguasaan bahasa sumber dan bahasa sasaran. Tanpa kemampuan dan pengetahuan yang cukup bagi penerjemah. yang sering disebut panca siksaning angaji. ten125 . yang mendengarkan dengan setia setiap teks yang dilagukan. seorang pembaca (pangwacen) akan merasa kesulitan membaca dan menembangkan teks yang dihadapi. 1995:1017). Ada lima peran dalam aktivitas pasantian. Pembaca yang baik adalah pembaca (pangwacen). bahasa Jawa Tengahan. Dengan demikian. dan semua peran menunjukkan adanya sikap bhakti. serta kualitas suara yang memadai.

dan wirasa. menerjemahkan. kosa kata. menjadi dinamisator dalam aktivitas pasantian. Oleh karena itu. Peran nara sumber (narawakya) sangat memegang peranan penting. dan pengetahuan yang luas bagi penerjemah. Dengan berbagai horison harapan. dan mengulas makna teks yang sedang diapresiasi. Apabila penanya (pamitaken) tidak memiliki kepekaan sastra. Tidak setiap kata dalam bahasa sumber dapat dicarikan padanannya secara tepat dalam bahasa sasaran. Semakin kaya pendengar dengan horison harapan. Oleh karena itu. banyolan atau senda gurau belaka. maka semakin banyak penerjemah memiliki bekal pengalaman baca. memiliki penguasaan bahasa. Pasantian pun akan menjadi pasif. nara sumber harus mempunyai kepekaan sastra yang cukup. dan keterampilan mengulas serta menguasai dengan baik materi yang sedang diapresiasi. Dengan demikian. Tercapai atau tidaknya horison harapan para peserta atau pendengar itu akan sangat mempengaruhi keberlangsungan aktivitas pasantian tersebut. dan kode budaya sendiri. terutama dalam menuntun peserta mabebasan untuk membaca. maka ia akan semakin mudah melaksanakan tugasnya dan tentu pula akan membuahkan hasil yang semakin memuaskan. maka semakin banyak hasil interpretasi yang muncul. Teks yang dengan susah payah dibaca atau dilagukan oleh pembaca dan diterjemahkan oleh penerjemah akan hilang begitu saja tanpa meninggalkan bekas di dalam pikiran peserta pasantian. yaitu wirama. Penanya (pamitaken) juga dituntut memiliki kemampuan dan pengetahuan serta kepekaan sastra yang cukup. Nara sumber yang baik tentu dapat memberikan penjelasan-penjelasan yang memuaskan kepada setiap peran dalam aktivitas mabebasan. seorang peserta atau pendengar dalam pasantian setidaknya dituntut memiliki horison harapan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF tu akan merasa kesulitan dalam menerjemahkan dan menafsirkan teks sumber ke dalam bahasa sasaran. Aktivitas pasantian meliputi tiga bidang. tidak ada dialog yang berarti. Wirama adalah kegiatan membaca teks sambil melagukannya 126 . Sebagaimana diketahui bahwa setiap bahasa memiliki kaidah bahasa. Di sinilah dituntut kepekaan seni. kemampuan yang memadai. maka dapat dipastikan bahwa apa yang dibaca atau dilagukan oleh pembaca (pangwacen) dan apa yang diterjemahkan oleh penerjemah (paneges) akan menjadi sebuah dagelan. wiraga. pendengar akan dapat berperan aktif.

tetapi lebih sebagai sebuah metode penyampaian gagasan moral. penafsiran selalu dimungkinkan dengan hasil yang beraneka ragam sesuai dengan bekal pengalaman dan horison harapan peserta. bahasa Bali) serta mempelajari kaidah metrum (uger-uger guru laghu. Wirasa adalah aktivitas penghayatan dan apresiasi secara mendalam untuk mendapatkan makna teks yang dibaca melalui diskusi antar peserta. sekar madya. 127 . Dengan demikian. di samping membaca (menembangkan. Demikian pula penerjemah (paneges) akan mempelajari bahasa teks dan kaidah bahasa sasaran (sor singgih basa. nilai-nilai lewat karya sastra yang tokoh dan lakuannya dimaksudkan sebagai pelambang peri kehidupan yang sebenarnya (tattwa). ideide. para peserta akan belajar mengenai bahasa. aturan metrum dan pupuh. Karena itu. maka akan terjadi keharmonisan antara kecerdasan pikiran (hasil belajar). dan kecerdasan sosial (hasil diskusi). Dalam pasantian. kecerdasan emosional (hasil bernyanyi). lelengutan basa) serta nilai-nilai yang tersurat dan tersirat di dalam teks. bahasa Tengahan ke dalam bahasa Bali ataupun membuat parafrase jika teks sumber menggunakan bahasa Bali. palawakya. Lebih jauh dapat dipahami bahwa ketiga aktivitas pasantian itu pada hakikatnya tindakan belajar sambil bernyanyi atau bernyanyi sambil belajar (malajah sambilang magending. Wiraga adalah aktivitas menerjemahkan teks dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. norma-norma. misalnya sekar alit. magending sambilang malajah). Dalam diskusi itu dapat diciptakan kondisi yang memungkinkan berkembangnya penalaran dan logika interpretasi setiap peserta. konsep-konsep budaya dan yang terpenting adalah belajar menghayati nilai-nilai yang dikandung dalam naskah lontar. para anggota pasantian mendiskusikan teks yang dibaca. dan sloka. laras) dan memahami konsep-konsep yang terkandung dalam teks sambil bernyanyi atau melagukan teks.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI menurut kaidah metrum yang digunakan dalam teks. aksara. Dalam kegiatan pasantian. pembaca (pangwacen) juga mempelajari bahasa (bahasa Kawi. Jawa Tengahan. Pembaca (pangwacen) belajar aksara Bali (jenis dan pasang aksara Bali) karena teks ditulis dengan menggunakan aksara Bali. Cerita yang dibaca bukan hanya dipahami sebagai sebuah cerita (satua). Di samping itu. bernyanyi) dan menerjemahkan teks. yakni dari bahasa Kawi. sekar agung. pada lingsa.

dan sebaliknya teks tulisan dibacakan atau dipertunjukkan. seperti parwa. sastra Inggris menggunakan bahasa Inggris. bahasa Sasak. Dari segi bahasa yang digunakan dalam karya-karya sastra. Dalam tradisi Bali. gěguritan. 1990: 615). Aksara memiliki fungsi sebagai bagian integral dalam tindakan magis dan keagamaan masyarakat Bali. Berbeda halnya dalam tradisi Bali. istilah kesusastraan Bali mempunyai ruang lingkup sangat luas. dan lain-lain. sastra. Teks lisan ditulis ke dalam naskah. sastra Indonesia menggunakan bahasa Indonesia. kita tidak bisa dengan mudah menyebutkan bahwa sastra Bali adalah sastra yang menggunakan medium bahasa Bali.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Hakikat Sastra Bali Tradisi Bali memiliki keunikan dalam peristilahan sastra. Demikian pula. kesusastraan Bali menggunakan bahasa Sanskerta. dan bahasa Bali. sastra Jepang menggunakan bahasa Jepang. kakawin. kidung. maupun aksara yang digunakan dalam menuliskan karya sastra. istilah sastra tumpang tindih dengan aksara. sastra Sasak menggunakan bahasa Sasak. bahasa Melayu. baik dilihat dari segi bahasa yang digunakan. istilah nyastra melingkupi tradisi lisan dan tradisi tulisan secara sekaligus. babad sebagai teks tulisan dibacakan atau dipertunjukkan dalam kegiatan maběbasan. seperti terlihat pada naskah-naskah satua. dan aksara Bali. Umumnya. jenis sastra. penamaan sastra didasarkan pada bahasa yang digunakan dalam karya sastra. kesusastraan Bali ditulis dalam aksara Bali dan aksara Latin. istilah aksara atau huruf dalam tradisi Bali bukan sekadar sebagai lambang bunyi tetapi merupakan simbol budaya. Aktivitas Pasantian dan Sastra Bali sebagai Media Pencerdasan Aktivitas pasantian berfungsi membentuk dan menumbuhkan budi 128 . seolah-olah tidak ada perbedaan antara tradisi lisan dengan tradisi tulisan. sastra Sunda menggunakan bahasa Sunda. sastra Melayu menggunakan bahasa Melayu. seperti penamaan sastra di atas. Lagipula. bahasa Jawa Kuna. Dalam tradisi nyastra. Hal itu dapat dibuktikan dengan munculnya istilah nyastra yang mempunyai arti segala aktivitas manusia Bali yang berhubungan dengan bahasa. Kata sastra dapat berarti sastra dan aksara atau huruf (Dinas Pendidikan Dasar Propinsi Dati I Bali. bahasa Tengahan. Ditinjau dari aksara yang digunakan. Karena itu. misalnya sastra Jawa adalah sastra yang menggunakan bahasa Jawa.

Guhā pětěng tang mada moha kasmala. Budi nurani suci akan dapat menguasai pikiran atau manah. Malādi yolanya magöng mahāwisa. Di situ. menghayati. Salah satu cara untuk mengasah kepekaan rasa dan hati nurani adalah dengan membaca. yakni pengalaman estetik non-individual. penggunaan akal budi harus diimbangi dengan kepekaan hati nurani.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pekerti luhur (budi kaparamartan). universal. Dengan demikian. Dalam proses sublimasi emosi itu. ketentraman. Wiśāta sang wruh rikanang jurang kali. karya sastra yang dibaca dalam aktivitas pasantian merupakan perpaduan antara nilai seni (estetik) dan nilai moral. dan kemudian mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra karena karya sastra diciptakan berdasarkan rasa. Aspek estetis akan menyantuh budi. Jika demikian halnya. Perbuatan yang berpegang pada kebenaran (dharma) akan menghasilkan pahala mulia berupa kehidupan bahagia lahir dan batin (anandam). pengalaman estetik menjadi identik dengan pengalaman religius. emosi individual ditransformasikan menjadi rasa. Dalam menyikapi berbagai situasi dan problema kehidupan. maka akan dapat menggetarkan hati nurani yang paling suci (budi). yakni keseimbangan antara akal budi dan kepekaan hati nurani. Karena itu. mengatasi ruang dan waktu. Dalam Geguritan Purwasanghara dijelaskan bahwa untuk dapat mengarungi samudra zaman Kali (era keributan) yang penuh badai itu dapat ditempuh melalui kesusilaan budi. baik sebagai individu maupun masyarakat sosial. Di dalam rasa terjadi sublimasi emosi dari tataran psikologis ke tataran estetik. maka dapat dikatakan bahwa aktivitas pasantian dan sastra Bali dapat dijadikan salah satu media pencerdasan dan sekaligus sarana untuk mencapai ketenangan. Nafsu keinginan (indria) yang terkendali dengan baik akan dapat mengarahkan perbuatan kita untuk berpegang pada kebenaran (dharma). Kalinghaning śāstra suluh nikāprabha. dan kedamaian dalam mengarungi masa krisis sebagaimana dijelaskan dalam kutipan Kakawin Ramayana berikut. apabila pembacaan karya sastra melalui pasantian dilakukan dengan baik dan benar. Pikiran (manah) yang kuat akan mengendalikan nafsu keinginan (indria). 129 .

130 . dan sastra adalah lampu penerangnya yang terang benderang. mengamati pertempuran. hutan. yakni dengan persatuan itu sang kawi “bertunas keindahan” sehingga ia mampu menciptakan kakawin. kecantikan wanita. kakawin merupakan yantra. maupun alam niskala. yakni di atas padma hati atau jiwa sang kawi. dan sekaligus tujuan. Sang kawi berupaya mempersatukan diri dengan dewa tersebut. bekal kematian sang kawi. maka kakawin merupakan yoga sastra dan yoga keindahan. bingung. dengan menciptakan kakawin sang kawi berharap dapat mencapai kelepasan. sebagai asal dan tujuan. Di samping sebagai media pencerdasan. noda dan dosa ibarat ularnya yang besar dan berbisa. Dewa itu dipandang menjelma dalam segala keindahan. Pada kutipan di atas tampak jelas disebutkan bahwa fungsi sastra (kalinghaning śāstra) adalah sebagai lampu penerang yang terang benderang (suluh nikāprabha) dalam meraih perkembangan akal budi yang sempurna atau menjadi manusia cerdas yang dapat berpikir dan mengerti (sang wruh) arti hidup dan kehidupan. Dewa keindahan berkenan turun dan bersemayam di alam sakala-niskala.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Artinya: Mabuk. Persatuan itu merupakan sarana. dan lain-lain sambil berlaku tapa. Zoetmulder (1985) menjelaskan bahwa kakawin diciptakan oleh penyair melalui beberapa tahapan. Guna menemukan dewa keindahan yang menjelma di alam sakala. sebagai candi tempat semayam dewa keindahan dan objek samadi bagi para pemuja dewa keindahan serta sebagai silunglung. aktivitas pasantian juga dapat berfungsi atau berperan memberi vibrasi kesucian pada lingkungan. sang kawi mengembara. Dalam rangka yoga itu. Sejalan dengan itu. berhasil ditemukan berkat laku tapa atau samadi sang kawi. Sang kawi memulai karyanya dengan menyembah dewa pilihannya sebagai dewa keindahan. sungai. menyusuri pantai. dan segala jenis najis bagaikan goa gelap gulita. Dewa keindahan yang berada di alam niskala. menjelajah gunung. sakala-niskala. sehingga kita dapat melewati berbagai terpaan dan pahit getir kehidupan ini (jurang kali) dengan tenang (wiśāta). orang cerdas akan dapat melewati jurang dan kali dengan tenang. baik di alam sakala.

dan hal-hal mulia lainnya yang pernah dialami dan dilakukan serta dijadikan pedoman dalam kehidupan masyarakat pada masa lampau. memperkuat kepribadian bangsa. Dalam kegiatan pasantian dilakukan upaya pengenalan. dan pendiskusian. dalam aktivitas pasantian. Oleh karena itu. dalam aktivitas pasantian teks-teks yang dibaca adalah teks-teks sastra lama yang terekam dalam naskah. Pengenalan dan pemahaman nilainilai luhur itu akan dapat meningkatkan kualitas hidup. aktivitas pasantian merupakan tempat menumbuhkan kepribadian dan jatidiri. yang pada akhirnya dapat menumbuhkan kualitas hidup bangsa. kepribadian. Sementara itu. di samping kegiatan pembacaan. memperkuat kepribadian. pasantian sebagai wujud tradisi lisan atau pelisanan teks-teks suci apabila dilakukan secara meluas dan berkesinambungan akan dapat menimbulkan vibrasi kesucian pada lingkungan. Dalam aktivitas pasantian pada prinsipnya dilakukan beberapa kegiatan. Di sinilah pasantian berperanan memediasi masa lampau dengan masa kini. pemahaman. karya sastra Bali tradisional diciptakan melalui proses perpaduan antara estetika dan religiusitas. rasa harga diri dan kebanggaan masyarakat. gagasan. Teks-teks itu merupakan perbendaharaan yang memuat berbagai persoalan. penerjemahan. dan kebanggaan masyarakat. Kualitas hidup. buah pikiran. Perlu dikemukakan bahwa masa sekarang sesungguhnya merupakan kelanjutan atau perpanjangan masa lampau. maka berbagai persoalan pada masa kini akan sulit dimengerti atau dipahami jika tidak diketahui latar belakang sejarahnya. Apabila demikian halnya. Lingkungan yang tervibrasi oleh kesucian akan dapat membawa masyarakat pada kehidupan yang harmonis dan dinamis dalam mewujudkan pembangunan manusia seutuhnya. mempertebal rasa harga diri. renungan. Kecuali itu. nilai-nilai luhur. ketentraman. aktivitas pasantian bergulat dengan upaya apresiasi semendalam mungkin terhadap karya sastra Bali trandisional tersebut. Tujuannya adalah untuk mendapatkan ketenangan pikiran. mempertebal rasa harga diri dan 131 . dan penghayatan nilai-nilai luhur yang tersurat dan tersirat di dalam teks yang dibaca. baik secara nyata maupun hanya dalam imajinasi. ide. Oleh karena itu. Masa kini diberi tempat justru dalam hubungannya dengan masa lampau dan masa lampau dihargai dalam konteks kekiniannya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Sebagaimana telah disebutkan di atas. dan kedamaian. penggalian. berlangsung pembacaan teks lama oleh pembaca masa kini. Sementara itu.

Pasantian sebagai wujud tradisi lisan di Bali menunjukkan ciri kelisanannya yaitu pentingnya kebersamaan. guru. aktivitas pasantian merupakan wahana persatuan dan kesatuan. Demikian pula. dan gotong royong. barulah penerjemah melaksanakan tugasnya. yang mampu memperkaya jiwa dan semangat baru dalam menjawab tantangan zaman globalisasi. Jalinan kemitraan dibina sedemikian rupa untuk menciptakan ke132 . tokoh-tokoh masyarakat. Kemitraan akan dapat diwujudkan bila ada rasa toleransi. Hal ini dapat dilihat berdasarkan ke-wangsa-an maupun ke-warna-an peserta dalam pasantian. Hal ini terlihat pada proses berlangsungnya pasantian itu. menekankan aspek pendengaran yang mempersatukan. buruh. dipertunjukkan di hadapan sejumlah orang untuk dapat dinikmati bersama. sastra dianggap sebagai milik bersama sehingga harus dibacakan. Dalam tradisi lisan. yang mengakrabkan sidang pendengar. dan lain-lain. Setelah pembaca selesai membaca. saling menghormati. akan senantiasa memberikan kesempatan kepada peserta lain. Pembaca (pangwacen) akan menjalankan tugas dan peran semaksimal mungkin. tetapi penerjemah mempersilakan pembaca sampai selesai membaca teks. Wesia maupun Jaba atau juga berasal dari pedagang.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kebanggaan nasional. Anggota kelompok pasantian itu bisa saja berasal dari kalangan Brahmana. termasuk kepada pembaca dan penerjemah. Dalam konteks ini. Ketika pembaca masih aktif membaca atau melagukan teks. peserta pasantian lainnya. petani. karyawan. penerjemah tidak akan menyela atau memotongnya begitu saja. pemuka agama. Kebersamaan sangat penting artinya dalam menumbuhkan sikap kemitraan. Secara sosiologis. Ksatria. pasantian merupakan usaha terus-menerus yang dilakukan untuk mengapresiasi dan menawarkan berbagai penafsiran baru dengan tanpa meninggalkan akarnya. peran-peran dalam pasantian itu dapat diperankan oleh sekelompok orang yang berasal dari berbagai stratifikasi sosial maupun kelompok sosial yang ada dalam masyarakat. seniman. pejabat. untuk melaksanakan tugas masingmasing. Lebih jauh. ABRI. Setiap anggota pasantian secara demokratis menunjukkan rasa toleransi dan sikap saling menghormati kepada sesama anggota. Dalam tataran inilah terlihat kenyataan bahwa pasantian merupakan wahana untuk menggalang persatuan dan kesatuan masyarakat.

J. Karya sastra diciptakan melalui akal budi pengarang yang dijiwai perasaan yang halus dan indah. 133 . Zoetmulder. P. Jilid I dan II. 1995. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Kemitraan dan keharmonisan itu. lewat pasantian sebagai wujud tradisi lisan dapat dibina atau dipertahankan solidaritas dan kebersamaan guna menumbuhkan semangat nasional. P.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI bersamaan dan keharmonisan. Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan. pada akhirnya akan melahirkan persatuan dan kesatuan. _______________. Karya sastra itu dibaca. 1985. dihayati. “MABEBASAN: Wahana Pembauran”. Di sinilah pasantian menunjukkan cirinya sebagai wahana kemitraan. Dengan kata lain. keharmonisan.J. Teeuw. Penutup Aktivitas pasantian merupakan kegiatan bersastra yang pada prinsipnya merupakan kegiatan olah rasa dan sekaligus olah pikiran. dilagukan. I Nyoman. Karena itu. Zoetmulder. 2007. Denpasar: Pustaka Larasan. A. 1998. Daftar Pustaka Suarka. dan diapresiasi secara mendalam dalam aktivitas pasantian. Kidung Tantri Piśācarana. aktivitas pasantian dapat menyempurnakan perkembangan akal budi masyarakat sehingga masyarakat mampu berpikir dan mengerti makna kehidupan. Robson. 1994. menjalin persatuan dan kesatuan para anggotanya dengan penuh dinamika melalui lantunan irama dan keluwesan bahasa. Jakarta: Djambatan. dan S. Denpasar. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Jakarta: Pustaka Jaya.O.

Thailand. Cakra Wisata – Jurnal Pariwisata Budaya. Durmo No. dan Taiwan. S. dan menabuh gamelan.. Australia. Jepang. tetapi mengembangkan juga keterampilan menari. “LAKON” Jurnal Jurusan Pedalangan STSI Surakarta. Banyak pula publikasi artikel ilmiah luluasan Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta Pedalangan (1986) ini antara lain di “Mudra”. 57772 Jaten. 193 Perum. dan tari. Beberapa kali pentas seni di luar negeri. Alamat : Jl. Beberapa penelitian mandiri dan hibah yang dilakukan antara lain “Ideologi Lakon Cupak Ke Swargan oleh Dalang I Made Jangga”(2009). Jurnal Seni Budaya. Skotlandia. Telp. untuk berbagai kepentingan. 19 April 1958.Kar. Lulusan Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Jurusan Ilmu-ilmu Humaniora Pengkajian Seni Pertunjukan (1996) ini juga berpartisipasi dalam pentas wayang kulit. Karanganyar. Dharmasmrti – Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan.Hum. Lahir di Tabanan. 0271-827708. Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat UNS Surakarta. Jawa Tengah. teater.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF I Nyoman Murtana. Ngringo. Sejak tahun 1982 sering menyusun karya-karya baru “wayang layar lebar berbahasa Indonesia” dengan mengaplikasikan konsep pewayangan baru yang berbeda dengan pertunjukan wayang kulit konvensional. baik di dalam maupun di luar negeri. HP: 081329088782. “Lakon Gareng Dadi Dewa: Sebuah tinjauan Sosiologis” (2002) “Konsepsi Segara-Gunung dalam Cerita Cupak-Grantang” (2003) dan “Nilai Ajaran Inkarnasi dalam Lakon Purba Sejati” (2005). Dosen STSI Surakarta ini tengah menyelesaikan pendidikan Doktor (S3) pada Program Studi Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar. seperti di London. RC. 134 . Dasar kesenimanan bidang yang dikuasainya adalah pedalangan. teater. M. “Konsepsi Kekuasaan Paku Buwana II Pada Kayon Gapuran (1998).

baik melalui bahasa verbal. dan dewa. dan nyanyian dalang dalam berbagai suasana.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Pertunjukan Wayang Kulit Bali: Media Komunikasi Pencerdasan Rakyat Dr. dan Bahasa Indonesia.Kar. bahasa auditif dapat dinikmati dari berbagai suasana yang dibangun melalui suara gamelan yang mengiringi. Bahasa verbal dalam pedalangan Bali tampak pada bahasa kawi. Bahasa visual dapat dinikmati dari aneka bentuk rupa dan gerak seluruh figur wayang serta bayang-bayang yang ditimbulkan dari sorot lampu blencong yang bersuasana magis. layar putih sebagai arena memainkan seluruh figur wayang kulit diandaikan sebagai panggung kehidupan. Dengan cara itu pertunjukan wayang kulit menjadi menarik dan menggairahkan apresiator. juga mentransmisi- P 135 . Selain hal tersebut. adalah media komunikasi audiovisual. Dosen Kajian Budaya Universitas Udayana Pengantar ertunjukan wayang kulit. I Nyoman Murtana. M. baik abdi perempuan maupun lelaki. pendeta.. Bahasa Bali dan bahasa Indonesia digunakan oleh para abdi. Selain itu. Bahasa kawi digunakan oleh para raja. bahasa auditif maupun tanda-tanda simbolik lainnya. S. Kelir. Seluruh unsur budaya tersebut dipandang sebagai “bahasa” atau teks. Ia digunakan sebagai sarana untuk membangun satu pertunjukan wayang kulit yang menimbulkan citra estetik tertentu. bahasa visual. irama antawacana. bahasa Bali.Hum. cerita yang dimainkan oleh dalang dan seluruh anggota grup pendukung pertunjukan wayang kulit. ksatria. raksasa.

pada tulisan ini akan dibicarakan aspek-aspek tertentu saja dari pertunjukan wayang kulit dalam fungsinya sebagai media pencerdasan rakyat. peran. Struktur ranah membimbing dan memberikan strategi bagi penghuni posisi tertentu untuk melindungi atau meningkatkan posisi mereka dalam jenjang pencapaian sosial. atau perangkat gamelan yang lain. aspek ideologi politik untuk mengekspresikan kepentingan manusia dalam memperjuangkan atau mempertahankan kekuasaan. aspek religius sebagai ekspresi rasa sujud terhadap Tuhan. Seluruh aspek tersebut diramu dengan berbagai problema sosial dan unsur-unsur budaya yang aktual. dan fungsi yang berbeda-bedadalam masyarakat. semua unsur budaya Bali yang digunakan oleh dalang sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasan-gagasan dalam pertunjukan wayang kulit. Dengan demikian. seperti aspek solidaritas sosial untuk mengeksresikan nilai tolerans dan kebersamaan. sehingga terbentuk sebuah lakon pertunjukan wayang kulit yang mampu menembus keterbatasan dunia lokal sehingga memancarkan sinar mulianya di dunia global. dan abdi atau rakyat. Selain itu. pendeta. Bagi mereka yang menempatinya dapat mempertahankan atau mengubah konfigurasi kekuasaan yang ada. instrumen musik tradisional (gender wayang). 2007:95). rupa. Bourdieu (dalam Fashri. memandang ranah sebagai arena kekuatan yang di dalamnya terdapat upaya perjuangan untuk memperebutkan sumber-sumber daya (modal) demi memperoleh akses tertentu yang dekat dengan hierarki kekuasaan. baik lokal maupun global. 136 . dapat dimaknai sebagai aktivitas politik kebudayaan. terutama jika dikaitkan dengan upaya pelestarian. ranah menjadi arena pertarungan. Masing-masing peran memiliki wilayah atau ranah kekuasaan yang berbeda-beda pula. lakon yang digelar dalam pertunjukan wayang kulit sering merupakan kasus-kasus kekuasaan. Berbicara tentang pertunjukan wayang kulit bagaikan membicarakan secara total kehidupan manusia. seperti bahasa. Oleh karena itu. Ada peran raja. Membangun Kecerdasan Struktur Sosial Pertunjukkan wayang kulit merupakan gambaran tentang kehidupan manusia yang terkait dengan kedudukan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kan berbagai nilai kehidupan manusia. gerak. Oleh karena itu. kesatria. Wilayah atau Ranah itulah yang diperebutkannya.

Apabila dilihat dari filsafat perubahan dari Hegel (dalam Aiken. Cerita Dewaruci mengartikulasikan konflik vertikal yang terkait dengan sistem keyakinan hingga Bima bisa bertemu dengan Dewaruci. Menurut Ratna (2004:179). Perang tersebut merupakan ekspresi simbolik mengenai konflik sosial dalam masyarakat. bahkan juga sebagai pemberontak yang radikal. pandangan hidup. pertunjukan wayang kulit merepresentasikan aneka konflik kemanusiaan. baik profane maupun dengan yang sakral. 2009:85-86) bahwa kesadaran his137 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Membangun Kecerdasan Atas Konflik Dalam pertunjukan wayang kulit selalu terdapat perang antara kelompok yang satu dengan yang lain. baik konflik horizontal maupun vertikal merupakan kekuatan penggerak drama dan hati penonton. teman atau kolega. bahwa dalam karya seni yang problematis. tokoh-tokoh cerita justru berfungsi sebagai oposisi ideologis terhadap subjek. Perbedaan sikap dan perilaku tokoh-tokoh cerita bisa sangat tajam. sedangkan konflik vertikal menyangkut hubungan sistem keyakinan. sehingga pertunjukan wayang kulit menampakkan kekerasan simbolik mengenai kehidupan. 1985:122). bahwa konflik. Hal itu sesuai dengan pernyataan Constance Nash (Hamzah. bahwa problema sosial yang terjadi dalam masyarakat mewarnai proses penciptaan karya pedalangan. Hal ini berarti pihak yang kalah dapat menerima kekalahan sebagai kemenangan dan pihak yang memberi ampun adalah orang yang memiliki kesadaran historis terhadap masa lalu. kerabat. Dengan kata lain. sangat dimungkinkan bisa saling bunuh di antara sanak saudara. Konflik horizontal menyangkut interaksi manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. dikalahkan. Membangun Kecerdasan Humanis Dalam konflik kehidupan selalu ada pihak-pihak yang kalah. Ketiga bentuk konflik itulah yang diwacanakan dalam lakon pertunjukan wayang kulit melalui perbedaan-perbedaan karakteristik tokoh. sehingga menyebabkan pertentangan yang hebat. dan perbedaan kepentingan yang tercermin dalam tindakan-tindakannya. Lagi pula. Misalnya pertempuran Pandawa dengan Kurawa di Padang Kurukasetra untuk berebut kekuasaan. Akibat dari itu. Dengan cara tersebut konflik-konflik dapat dilerai dan semua pihak bisa mengarungi kelangsungan hidup. atau mengalah dan mau membuka komunikasi agar segalanya bisa dibicarakan secara baik-baik.

dipandang sebagai konsekuensi niscaya yang sepenuhnya berbeda dari tahapan sebelumnya. Tat Twam Asi dimaknai sebagai ajaran perilaku humanis yang menerima kehadiran orang lain bagaikan menerima dan mencintai dirinya sendiri. dan dapat merasakan pikiran orang lain. Dalam konteks inilah konsep “the others”—yang lain—memancarkan nilai humanisme sosialnya yang mau peduli terhadap dan untuk orang lain serta tidak hanya berlaku untuk kelompok sosial tertentu. meskipun dengan dalih meningkatkan kemakmuran. Semua itu merupakan pelajaran yang bernilai katarsis yang dalam tradisi ritual pemurnian jiwa di 138 . dapat berkomunikasi dengan yang lain. 2004:60) yang memancarkan sinar energi Tuhan dari sikap tokoh-tokoh pemaaf. yaitu Tuhan. Bagi Hegel. dan berharap pula memperoleh kesatuan dengan kekuatan yang mahadahsyat dari maha pengasih dan penyayang segala makhluk. bahwa aku dapat hadir pada diriku dengan refleksi. Hukum perubahan historis mana pun bukan sebagai rangkaian daur perubahan yang berputar terus secara abadi. dengan dunia yang luas. dan untuk Tuhan. Setiap proses historis adalah sesuatu yang baru. Aku terbuka untuk pikiran orang lain. dan yang melebihi segala sesuatu yang ada di dunia. tetapi sebagai perkembangan yang progresif bahwa setiap tahapan. Sikap mengalah itu menunjukkan implementasi ajaran Tat Twan Asi. Tat Twam Asi—Ajaran cinta kasih yang mengedepankan sikap hidup toleran dan berorientasi demi kebaikan orang lain tersebut. untuk dunia. yaitu ajaran normatif (Wesnawa. Tidak satu pun ada yang sama persis seperti keadaan sebelumnya. sejarah berarti perkembangan. Mereka menemukan identitas diri di posisi yang tepat dalam tatanan masyarakat (Suseno (1992:247). Aku terbuka untuk sesama. Tiap individu berharap memperoleh kesatuan sosial dengan sesama anggota masyarakat yang lain. yakni sebagai sebuah proses menjadi. Dengan begitu. atau yang oleh Hegel disebut momea. Hakikat Tat Twam Asi itu sesuai dengan yang dikatakan oleh Snijders (2008:106). Hal ini berlaku bagi struktur masyarakat. mengingatkan manusia agar berhati-hati mengelola kekuasaan—sumber kebahagiaan yang sangat potensial menjadi penyebab kesengsaraan. tetapi untuk semua. Tiap-tiap individu berorientasi pada keselarasan. Hal tersebut merupakan pemberitahuan dan ajakan kepada rakyat atau masyarakat untuk saling menghormati.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF toris mampu memahami realitas sebagaimana adanya.

Dengan menghayati nilai-nilai itu masyarakat dapat memperbaharuai. bahwa peradaban yang meliputi pandangan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bali disebut dengan istilah panglukatan. Berkaitan dengan hal tersebut Fananie (1994:127) mengatakan. bermasyarakat. Kekuasaan adalah realitas itu sendiri yang dapat dilihat dari kekuatan-kekuatan yang mengalir dari pada-Nya. Hakikat diri tidak hanya berfungsi sebagai proses sosial. Dalang memiliki popularitas dan kedudu139 . upacara. bahwa seni pada hakikatnya merangkum semua aspek kehidupan manusia. tingkah laku. dan ekspresif (estetis). Berdasarkan prinsip ke-Tuhan-an seperti itu. melakukan revitalisasi. kesenian. diuraikan tentang kehidupan agama. yakni individu hanya dapat mencapai perkembangan diri yang menyeluruh melalui interaksinya dengan orang lain. Ritual. saling berhubungan. tetapi juga bermula sebagai proses sosial. Membangun Kecerdasan Religius Seorang dalang memformulasikan nilai-nilai keagamaan dalam pertunjukan wayang kulit. Kekuasaan bukanlah suatu gejala khas sosial yang berbeda dari kekuatan-kekuatan alam. (1989: 322-32) dalam tulisannya yang berjudul Sekala & Niskala: Essays on Religion. melestarikan kesadaran kultural dan kesatuan komunitas. Seperti dikatakan oleh Bizawie (2002:66) bahwa kekuasaan adalah ungkapan energi illahi yang selalu kreatif meresapi seluruh kosmos. Ketiga unsur tersebut didasarkan atas satu pandangan dunia yang hampir selalu ditentukan oleh agama. dan memiliki buah pikiran. dan kepercayaan diawali dari sebuah karya seni. Eisseman. dan bertindak dengan baik demi kebaikan dunia. Fisher (1990:231 dan 233) menambahkan bahwa manusia dalam dirinya memiliki esensi kebudayaan. Kekuasaan dibiarkan tersebar dan melekat secara otonomi pada semua yang hadir di alam semesta dengan pancaran energinya masing-masing. Menurutnya. normatif (harkat moral norma-norma sosial). and Art. Pertunjukan wayang kulit adalah salah satu wujud kebudayaan tradisi-onal. agar manusia dapat berpikir. berujar. melainkan kekuatan kosmis yang dapat memenuhi seluruh kosmos. dan pertunjukan wayang kulit. Menurut Suseno (1992:247) kebudayaan tradisional merupakan satu kesatu-an yang memiliki unsur-unsur kognitif (pengetahuan). moralitas. setiap bentuk kekuasaan tidak lagi dimaksudkan untuk memaksakan kehendak terhadap pihak lain dalam mencapai tujuan.

Pernyataan Eisseman tersebut koheren karena hingga kini pertunjukan wayang kulit merupakan bagian yang sistemik dalam berbagai pelaksanaan upacara ritual keagamaan di Bali. Dalang/transformer 4. Perjalanan hidup teater “wayang kulit” yang melewati sekian zaman telah membuktikan diri sebagai barometer kepribadian yang telah berakar (Hamzah. Hal itu sesuai dengan pernyataan Kuntowijoyo (1987:51-52) yang me-ngatakan. Artinya. Menurut Berata (almarhum).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kan di masyarakat. menempatkan fungsi ritual dan edukasi pertunjukan wayang kulit bagi masyarakat Bali. unsur-unsur estetis hadir dalam sistem keagamaan dan sebaliknya unsur-unsur agama hadir dalam seni. Nilai-nilai kultural 3. Masyarakat apresiator/simulasi 2 4 1 Kehadiran nilai-nilai keagamaan dalam pertunjukan wayang kulit merupakan kekuatan teatrikal bagi suatu daya pembangunan bangsa. antara nilainilai keagamaan dan seni disinergikan dalam pertunjukan wayang kulit. Pendeta mendoakan keselamatan dunia melalui sesaji dan doa-doa dan dalang menyelamatkan dunia dengan menjelaskannya perilaku baik-buruk tokoh-tokoh wayang dalam konsepsi “rwabhineda” dalam satu peristiwa lakon pertunjukan wayang kulit. Apabila diskemakan proses interaksi situasi sosial dan nilai budaya yang dipersiapkan sepanjang masa oleh seorang dalang adalah sebagai berikut. Dengan demikian pandangan dunia yang diekspresikan dalam pertunjukan wayang kulit. 1985:114). Teater merupakan sarana yang efektif untuk menanamkan kepribadian. bahwa pertunjukan wayang kulit dan sistem upacara keagamaan bagaikan pasangan suami istri yang dalam kehidupannya saling melengkapi satu sama lain. bukan kerajaan-keraja140 . 3 Keterangan gambar 1. seorang dalang wayang kulit Parwa dari Desa Tunjuk. Tabanan menyatakan. sehingga memancarkan aspek sosial dan kultural yang menarik sebagai wahana komunikasi. Satuan sosial budaya 2.

Setiap orang harus bersikap seperti kesatria yang terus-menerus memerangi raksasa dan raksasi yang diandaikan sebagai simbol nafsu-nafsu yang menguasai hidup manusia. bahwa dari struktur final realitas dapat ditarik kesimpulan adanya Sang Pencipta yang menerapkan struktur tersebut. medis. Wayang jika ditafsirkan secara psikologis dimaksudkan untuk memelihara kecenderungan untuk menemukan realitas tertinggi (Geertz 1983:362). posisi dan fungsi yang berbeda dan indepen141 . Adapun argumen ontologis mengemukakan bahwa Tuhan ada karena kita memikirkan dan memprediksi eksistensi terhadapnya (Khuza’i. penerbit. 2007:109). kode dan sibernetik. Cara kerja skema transmisi nilai-nilai itu sesuai dengan identifikasi yang dilakukan oleh Baudrillard (dalam Budiman. dan firma-firma hukum. pertunjukan wayang kulit bukanlah pementasan sebuah politik filosofis semata melainkan suatu psikologi metafisis (Geertz. maka dalang adalah orang yang terpelajar atau intelektual. melainkan di dalamnya. melainkan dunia batiniah dari sentimen-sentimen dan hasrat-hasrat. 1992:60-61). Dengan kata lain Kuntowijoyo (1987:135) menyatakan. Mereka bisa datang dari latar seperti status. Gramsci menganggap penting para intelektual tradisional yang menempati posisi ilmiah. yaitu sebuah era informasi dan tanda-tanda yang diatur oleh pelbagai macam model. Ditinjau dari proses itu. Perilaku tokoh-tokoh wayang kulit ditafsirkan sebagai referensi dalam kehidupan sosial. media. Simulasi wayang mempengaruhi sikap mental masyarakat. Argumen teologis mengungkapkan. Komunikasi manusia dengan Tuhan dilandasi tiga argumen. bahwa realitas sosial yang diungkapkan lewat tokoh-tokoh imajiner dapat memberi gambaran yang hidup. sekolah. kode dan sibernetik atau dunia maya yang mensimulasi nilai-nilai kultural yang divisualisasikan dalam wujud-wujud prilaku tertentu tokohtokoh pelaku cerita wayang. Kenyataan dicari bukan di luar diri. Pertunjukan wayang kulit adalah model. lembaga-lembaga agama. Oleh karena itu. 2002:98) tentang masyarakat sebagai simulasi yang terjadi di era postmodern. filosofis dan religius di masyarakat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI an dan kekuasaan-kekuasaan dunia lahiriah semata yang tersaji dalam latar utama bagi tindakan manusia. termasuk universitas. yaitu argumen kosmologis megungkapkan bahwa Tuhan harus ada karena kalau tidak akan ada rangkaian kausalitas yang tidak terhingga untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa. literer.

2005:469). Selain itu. Oleh karena itu. maka para intelektual dan peneliti perlu mengkaji secara berkesinambungan pertunjukan wayang kulit yang hasilnya dapat dijadikan sarana pembelajaran bagi generasi berikutnya dan dapat diacu untuk mengembangkan pertunjukan wayang kulit sesuai konteks jamannya. Mengingat nilai—nilai edukasi yang terkandung di dalam pertunjukan wayang kulit demikian penting bagi kehidupan. dan memiliki kecerdasan akal budi untuk menyadarkan manusia sebagai makhluk sosial dan individu yang berketuhanan. Saran Berdasarkan uraan di atas diperoleh pemahaman. Simpulan Pertunjukan wayang kulit merupakan contoh dari salah satu unsur kebudayaan yang terjadi karena manusia hendak memuaskan kebutuhan nalurinya akan rasa keindahan dan menjadikan pengalaman estetik sebagai penyeimbang kondisi materiil. bahwa pertunjukan wayang kulit berfungsi sebagai ajang peningkatan kecerdasan rakyat. pertunjukan wayang kulit juga mencerdaskan rakyat dalam mengelola konflik kehidupan. Di balik keindahan itu. Hal itu sesuai dengan sikap masyarakat Bali yang mendudukkan dalang wayang kulit sebagai “guru loka” yang bersikap independen. pertunjukan wayang kulit menyiratkan ajakan untuk meningkatkan kecerdasan mengenai realitas kehidupan sosial yang antara lain menyangkut kecerdasan manusia terhadap struktur sosial sebagai ajang untuk melakukan interaksi sosial. karena ia menjadi guru bagi semua golongan sosial. 142 . sehingga memperoleh daya hidup bersama masyarakat pendukungnya. membangun kecerdasan humanis.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF den. seyogyakan kesenian tersebut dijaga keberlangsungan hidupnya dengan cara memberi peluang tampil secara maksimal dalam berbagai kesempatan. Perlu pula dilakukan reaktualisasi isi garapan lakon dan memposisikan peran serta fungsinya pada struktur sosial budaya masyarakat. lepas dari komitmen kelas atau peran ideologis manapun (Barker. dilakukan peningkatan kualitas teknis dan nonteknis secara berkelanjutan.

Fred B. MLS. Penerjemah: Soejono Trimo. Zainul Milal. Ritual. 1992. 2007. 143 . Penyingkapan Kuasa Simbol. Berkeley-Singepore: Periplus Edition Fananie. Revitalisasi Kebudayaan Hindu untuk Ketahanan Masyarakat Bali:Pokok-pokok Pikiran Ketua DPRD Bali tentang Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Bali. dan Kierkegaard. dan Teknik Penelitian Sastra Dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme: Perspektif Wacana Naratif. Wesnawa. Hegel. Yogyakarta: Tiara Wacana. Yogyakarta: Kanisius. Abad Ideologi: Kant. Metode. 1992. Ratna. Ida Bagus Putu. Fisher. Henry D. Teori-Teori Komunikasi:Perspektif Mekanistis. Bizawie. “Sekala & Niskala: volume I. Yogyakarta: Samha. Essays on Religion. Hikmat. 2009. Budaya dan Masyarakat. Fausi. Pandangan Dunia KGPAA Hamengkoenagoro I alam Babad Tutur: Sebuah Restruturisasi Budaya. Denpasar: Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Bali. Marx. Mach Nietzsche. Cultural Studies: Teori dan Prakktik. Surakarta: Muhammadiyah University Press. Penerjemah: Prancisco Budi Hardiman. Barker.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Daftar Pustaka Aiken. Nyoman Kutha. Interaksional. Zainuddin. Bandung: CV Rosda. Franz Magnis. 1987. and Art” . Fashri. A. Bandung: Remaja Rosdakarya. Suseno. Eisman. Adjib. 2005. Psikologis. 1990. 1989. Teori. Yogyakarta: Kanisius. 2004. B. Chris. Schopenhouer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Adelbert. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Filsafat Kebudayaan Politik:Buti-Butir Pemikiran Kritis. 1994. Antropologi Filsafat: Manusia Paradoks danSeruan. Clifford. Kebudayaan & Agama: Refleksi Budaya. Snijders. 2002. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2002. Bandung: Bentang Budiman. Yogyakarta: Juxtapose. Comte.dan Pragmatis. Fichte. Geertz. Pembunuhan yang Selalu Gagal: Modernisme dan Krisis Rasionlaitas Menurut Daniel Bell. 2008. Mill Spencer. Aubrey. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Perlawanan Kultural Agama Rakyat: Pikiran dan Paham Keagamaan Syekh Ahmad al-Mutamakkin dalam Pergugmulan Islam dan Tradisi (1645-1740). 2004. 1985. Pengantar Bermain Drama. Kuntowijoyo. Hamzah.

serta inovasi penggunaan 3/4 waktu. Lahir di Banjar Kutri. seperti Puspanjali (1989). Komposisi-Nya. Lulusan ISI Denpasar. Hongkong. Windha terkenal dengan komposisi musik yang bermelodi indah. penggabungan bentuk-bentuk dan gaya dari gamelan Jawa. Eropa dan Amerika. Jepang. Mengajar sejak tahun 1985.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF I Nyoman Windha merupakan salah satu musisi terkemuka dan komposer kontemporer musik gamelan Bali. Penata iringan tari kebesaran ISI Denpasar Ciwa Nataraja ini telah melakukan perjalanan melintas dunia untuk menunjukkan kebolehannya. antara lain ke Australia. Bali. 144 . Singapadu. ini telah menyusun puluhan komposisi untuk gamelan Bali dalam berbagai genre. telah dimasukkan ke dalam repertoar standar kelompok pertunjukan Bali dan banyak yang telah memenangkan penghargaan di kompetisi tahunan gamelan Bali. tetapi terutama dalam gaya kebyar. Bali. Gianyar.

Diantara jenis-jenis gamelan diatas. Masing-masing gamelan diatas memiliki fungsi. gender wayang. karakter dan bentuk gending yang berbeda-beda. Sekar Madia(jenis Kidung. Sekar Rare (gending anak_anak). Gamelan Angklung dengan karakter sedih dan biasanya dimainkan pada saat ada upacara kematian. di Bali terdapat sekaitar 30 jenis barungan gamelan. Berbicara tentang gamelan. Ahli Seni Karawitan. Sedangkan seni seuara instrumental adalah alat Gamelan. SSKar. Jegog dan gamelan gandrung dan gamelan yang terbuat dari bahan besi seperti gamelan selunding. gong kebyar dan gamelan semarandana. 2. semarpagulingan. MA Komposer. yang jika dilihat dari bahannya ada yang terbuat dari bahan bambu seperti gamelan Gambang. Sekar Ageng (jenis kekawin). Dosen ISI Denpasar Pendahuluan usik Bali atau yang lazim disebut dengan Karawitan Bali adalah Seni Suara Vokal dan instrumental yang berlaras selendro dan pelog. yang terakhir gamelan yang dibuat dari bahan perunggu seperti. Sama halnya dengan di Jawa seni suara vokal di Bali desebut Tembang atau Sekar. angklung. yaitu: 1. gong gede. Rindik . yang dapat dikolompokan menjadi 4 kelompok. Seperti misalnya gamelan Gong Gede yang memiliki karakter agung dan berwibawa yang dimainkan berkaitan dengan upacara dipura-pura. 3. Sekar Alit ( jenis pupuh) dan yang ke 4.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Seni Musik Bali dan Gamelan Gong Kebyar sebagai Media Pencerdasan Rakyat I Nyoman Windha. gamelan Gong Kebyar memiliki multi- M 145 .

dan tarinya pun disebut dengan tari kebyar. Gamelan gong kebyar adalah alat musik perkusi yang instrumentasinya terdiri dari: gong. reong . gangsa. dimana sebagian besar dari orang Bali mulai melajar megambel dari gamelan Gong Kebyar.. dewasa dan kaum Ibu-ibu. kajar. Namun dalam perkembangan selanjutnya berkembang menjadi musik iringan tari. Kebyar di Masa Lampau Berdasarkan informasi yang ada bahwa untuk pertama kalinya gong kebyar muncul di Bali utara tepatnya didesa Bukulan Buleleng sekaitar 146 . Ansambel yang baru ini desebut gamelan gong kebyar dan tari kreasi baru ini juga disebut tari kebyar. terompong. Kecuali suling dan rebab yang masing-masing merupakan alat tiup dan gesek. Tari kebyar merupakan sebuah ekspresi individu atau kelompok yang memilki ciri-ciri yang sama dengan gong kebyar. jegogan. dinamis. baik ansambel maupun tarinya menonjolkan pada pengungkapan emosi yang meluap-luap dan aksi dramatis yang menakjubkan. keduanya merupakan ekspresi kesenian yang lahir pada awal abad 20. Gamelan yang tergolong baru ini sangat digemari oleh masyarakat Bali mulai dari kalangan anak-anak. Peranan gong kebyar tidak saja mampu mencetak bibit-bibi baru. suling dan rebab. penyacah. Gamelan gong kebyar dan tari kebyar ini tak bisa dipisahkan satu dengan dengan yang lain. yang lainnya semua alat-alat dari gong kebyar adalan alat perkusi. Gamelan gong kebyar yang dimainkan oleh kurang lebih 25 orang musisi (penabuh) ini diperkirakan muncul pada awal abad ke 20 dan gamelan ini awalnya diciptakan hanya untuk lagu instrumental ( gending petegak). jublag. tapi juga mampu mengadopsi ide-ide kreatif didalam usaha mewujudkan garapan-garapan kreasi baru kakebyaran baik dalam bentuk tari kreasi maupun tabuh kreasi baru. kendang. Asal Mula dan Perkembangan Kebyar Istilah kebyar berasal dari bentuk permainan gamelan yang dipukul secara bersamaan yang menghasilkan suara menggelagar “byar” yang kemudian dipergunakan untuk memberi nama kepada ansambel baru dan tari kreasi baru dalam kesenian Bali yang memiliki cirriciri keras. rumit dan tempo yang cepat. Kedua jenis kesenian ini.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF fungsi. Dan dia bahkan menjadi media pembelajaran dalam mengawali belajar bermain gamelan.

Demikian juga halnya dengan tari Kebyar Legong yang diciptakan oleh Pan Wandres dan I Gde Manik dari Jagaraga . Tari Kebyar saat itu masih berkiblat pada tari Kebyar Duduk dengan gerak bebas yang penuh improvisasi mengikuti aksen-aksen lagu gong kebyar. Mereka memasukan “emosi dan aksi dramatis” dalam permainan gamelan yang menjadi bentuk awal dari gong kebyar. Selanjutnya pada era tahun 1930 an munculah Tari Kebyar yang 147 . Para penabuh gamelan mulai memainkan ritme-ritme unisono bersama. Disini belum nampak ada indikasi bahwa gong kebyar itu digunakan untuk mengiringi tari. Buleleng yang selanjutnya tari ini menjadi tari Taruna jaya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI tahun 1914. dan baru diketahui bahwa telah tercipta lagu-lagu kebyar seperti Kebyar Ding Sempati. Buleleng. yang disertai dengan entakan-entakan yang tajam. kebebasan mencipatakan lagu baru. menari dengan posisi jongkok yang kemudian menjadi cikal bakal tari Kebyar Duduk dan tari Kebyar Trompong. Bahkan hampir tak ada lagi ciptaan instrumental baru dalam lagu gong kebyar. sinkopasi-sinkopasi yang jarang ditemukan pada jenis-jenis gamelan gong kuna. Baru tahun 1920 terciptalah tari Kebyar Duduk dan tahun 1925 menjadi tari Kebyar Trompong seperti yang kita lihat sekarang. seperti I Gusti Ngurah Raka dan I Nyong-nyong. Perjalanan gong kebyar selanjutnya diawali dari diperdengarkannya dipuri Subamya. Pada tahun 1928 ditemukanlan rekaman komersial mengenai gamelan Bali. membuat aransemen yang rumit sebagai ciri dari kreasi baru. Bentuk awal dari permainan gong kebyar pada saat awal pemunculannya adalah didesa Bungkulan. Tabanan oleh seka gamelan dari desa bantiran (Buleleng) pada tahun 1919. gending Jerebu yang juga ditarikan oleh penari kebyar saat itu seperti I Maria dan murid-muridnya. yang konon tabuh pengiringnya diciptakan oleh I Wayan Sukra. Awal munculnya tari kebyar adalah ketika I Maria diundang untuk mengajar tari di desa Busungbiu. Ketenaran I Maria sebagai penari Kebyar Duduk. masyarakat Bali hampir mulupakan bahwa kebyar itu adalah musik instrumental. dalam rangka upacara pelebon. disana dia menarikan sebuah lagu gong kebyar secara bebas yang berinteraksi dengan tukang kendang. Saat awal pemunculannya gamelan ini diciptakan untuk menyajikan gending-gending petegak atau lagu-lagu instrumental dan media bagi para pencipta lagu (komposer) untuk mengekspresikan diri.

Bentuk tari kelompok lebih diutamakan. kehadiran kebyar juga berdampak pada perubahan karakter. dimana tema-tema kebyar yang semula berorientasi pada tari murni dan keindahan semata dan kini berubah menjadi tarian kebyar programatik. yang idenya datang dari I Gusti Bagus Nyoman Panji. Kemudian berkumandanglah sebutan tari babancihan sebagai ciri khas tarian kebyar. Munculah sebuah wadah estetika baru. Demang Miring.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dibawakan oleh penari wanita. Disini nampak terjadi perubahan yang sangat drastis. Sebagai dampaknya terjadilah perubahan estetika dari tarian yang bersifat improvisasi kebentuk tarian yang memiliki struktur yang ketat. Ekspresi realirtas kehidupan mulai diperkenalkan. Raja148 . Candra Metu dan Bayan Nginte. yaitu perkembangan tari kebyar menjadi sendratari. dimana penari cantik membawakan tokoh laki-laki sepeti yang terlihat pada tari-tarian ciptaan I Nyoman Kaler. Pada dekade 1960 –an lahirlah tari Tani dan tari Nelayan. kebebasan berkreativitaspun muncul sehingg pada tahun 1951 terciptalah sebuah tarian baru yang berjudul tari Oleg Tambulilinagn. Sehingga antara tari dan musik menjadi satu sebagai sebuah kesatuan. yang masih mempergunakan konsep tari tunggal. Pada tahun 1960-an sudah tercipta 4 buah sendratari yaitu sendratari Ramayana. Ja-yaprana. Ada nafas baru yang juga muncul pada periode ini. pimpinan KOKAR Bali saat itu. Tokoh-tokoh seperti Ketut Merdana ( Buleleng) dan I Wayan Beratha (Denpasar) muncul sebagai generasi awal dalam katagori ini. Selain mengalami perubahan struktur. Dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun yang pertama KOKAR Bali pada tqhun 1962 Bapak I Wayan Beratha menciptakan sebuah sendratari yang berjudul Jayaprana. dimana orientasinya mengarah kepada wanita cantik. Memasuki zaman kemerdekan mulai ada rasa aman. Konsep tari kebyar telah berkembang dari konsep tari tunggal laki-laki dan wanita menjadi konsep tari duet laki-laki dan perempuan. kendatipun tariannya ditarikan oleh lebih dari seorang penari. I Nyoman Kaler berhasil mencipatakan beberapa jenis tari kebyar seperti Panji Semirang. Tarian ini diciptakan oleh I Maria. sebagai suatu respon perkembangan sosial politik di Indonesia. Pada awal tahun 1960-an terjadi lagi sebuah pergeseran. Puspa Warna. yang merupakan tari duet dengan tema percintaan. Penciptaan Sendratari ini distimulasi oleh munculnya sendratari Ramayana Prambanan pada tahun sebelumnya. Mrgepati.

Hampir diseluruh dunia memiliki alat musik perkusi. Kebyar Masa Kini Gong kebyar maupun tari kebyar sangat popular baik diluar maupun diluar negeri. Suatu hal yang menjadi alasan kenapa gong kebyar bisa menyebar luas di seluruh dunia. Mantra. Dalam dunia musik barat juga memiliki perkusi sehingga secara psikologis 149 . Filiphina. Inggris. Kehidupan kebyar semakin semarak. Perkusi merupakan jenis instrumen yang sifatnya sangat universal. Jepang. Pengiriman kesenian keluar negeri seperti ke Thailand.B. Dan sampai sekarang PKB sudah berjalan selama 31 tahun. Tari kebyar menjadi salah satu primadona dalam misi-misi tersebut. sendratari ini juga diungkapkan lewat narasi dalang yang berfungsi sebagai komentator pergelaran itu. China. ketika Pemerintah Daerah Bali menyelenggarakan pentas Gong Kebyar kedalam sebuah wadah Merdangga Utsawa (Festival Gong Kebyar) pada tahun 1968 yang dimotori oleh Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibya) dalam usaha melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Bali. gong kebyar tidak saja dimiliki oleh banjarbanjar akan tetapi dimiliki oleh perorangan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pala dan sendratari Maya Danawa. Sebagai puncak dari keberhasilan pelestarian dan pengembangan kesenian Bali itu kemudian ditampung dalam sebuah festival seni yaitu Pesta Kesenian Bali (PKB). dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling rumit. Australia. Pakistan. India. Eropa dan Word Fair di New York menjadi kebangaan bagi seniman Indonesia. Era 1960 –an adalah masa semaraknya pertumbuhan gong kebyar di Bali. Oleh pencetusnya Prof. Spanyol. Diluar negeri sekitar 100 barungan gong kebyar tersebar luas di Amerika Serikat. Barangkali suatu hal yang perlu diteliti kedepan. Disamping mengutamakan ungkapan pantomim dan programatik. Kalau kita lihat dari instrumentasinya. Hal ini dikarenakan oleh adanya diplomasi kebudayaan oleh Presiden Republik Indonesia. Di Bali. PKB yang lahir pada tahun 1979 dijadikan strategi pembinaan dan pengembangan kebudayaan Bali. Dr. Korea. Thailand dan belum terhitung gong kebyar yang dibawa oleh penduduk Bali yang bertransmigrasi keseluruh nusantara. Kanada. Soekarno. Camboja. Kecuali Rabab dan suling. I. sehingga keberadaannya sudah mencapai lebih dari 1500 barung. sebagian besar terdiri dari alat perkusi.

buku Music in Bali oleh Colin McPhee(1966). Pemahaman masyarakat dunia terhadap gong kebyar lebih terbantu dengan terbitnya buku –buku berbahasa asing seperti DeToonkunst van Bali oleh Jaap Kunst (1925). buku Gamelan gong Kebyar. Sejalan dengan tuntutan kreativitas kini muncul gamelah baru yang disebut dengan gamelan Semarandana.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF para musisi barat merasa dekat dengan instrumen gong kebyar. akan tetapi setiap saat bisa membangun improvisasi. ada saih gede (tembung) dan ada saih cenik (selisir). DVD dari karya-karya maestro Bali kini mulai mudah diperoleh dan setidak ada 40 volume rekaman STSI Denpasar yang menjadi stimulasi tertariknya 150 . gamelan yang lahir tahun 1985 ini bentuk nya mirip dengan dengan gong kebyar. The Art of Twentieth –Century Balinese Music oleh Michael Tenzer (2000). Dan tehnik pukulan gangsa yang disebut dengan kotekan dengan berbagai sistem seperti kotekan telu dan kotekan pat dengan berbagai variasinya selalu menjadi tantangan utama bagi setiap pemain dan hal sangat menarik perhatian mereka untuk mempelajari gong kebyar. urutan nada-nadanya terdiri dari 5 nada dibagian bawah memakai laras pelog 5 nada. namun jumlah bilahnya lebih banyak yaitu 12 bilah. Gamelan yang baru ini mampu memainkan lagu-lagu kekebyaran dan lagu-lagu semarpagulingan serta garapan-garapan baru lainnya. dan 7 nada dibagian atas memakai laras pelog 7 nada. Gong kebyar memiliki tangga nada pentatonik atau laras pelog lima nada dengan saih yang berbeda-beda. Disamping itu rekaman-rekaman audio maupun VCD. Para pemain Rock atau Jazz sangat menyenangi gamelan gong kebyar karena fleksibelitasnya dalam bentuk maupun bunyi. yang merupakan gabungan dari gong kebyar dan gamelan semar pagulingan. Sebuah tehnik paniti atau nyacah yang dapat dimainkan oleh semua instrumen melodi yang kemudian dapat dikembangkan menjadi kotekan yang sangat rumit. Lagu-lagu gong kebyar yang sangat komplek dan kaya dengan ritme serta dinamis menjadi ketertarikan para pemusik kontemporer dunia dewasa ini. Tehnik permainan gong kebyar terdiri dari tehnik yang paling sederhana sampai pada tingkat kerumitan yang tinggi. Permainan trompong yang dapat dimainkan dengan tehnik ngempyung dan ngembat serta kekembangan yang selalu menjadi tantangan menarik bagi pemain gamelan. Demikian juga buku_buku tari Bali yang sering memberi deskripsi tari kebyar. Instrumen kendang sebagai alat vital walaupun sudah memiliki pola yang baku.

dan tersedianya rekaman-rekaman diatas menjadi akses untuk mempelajari gong kebyar . Dengan beberapa alasan diatas gong kebyar sudah menjadi milik bangsa yang sudah tersebar diseluruh penjuru dunia. Namun belakangan ini hampir semua kelompok instrumen diberikan kesempatan untuk mendemonstrasikan kelompoknya. Semula gong kebyar hanya memainkan lagu-lagu ostinato dengan aksen-aksen yang mengagetkan. Bentuk-kreasi kebyar sebagai sajian musik instrumental seperti gending Gambang Suling. Kapiraja . keterkaitan antara klasik dan kebyar tetap terpelihara dengan baik dan masyarakatpun tidak dikejutkan dengan perubahan-perubahan yang asing baginya. Swabuana Paksa dan Kapiraja lebih menitikberatkan pada demonstrasi kelompok – kelompok instrumen tertentu. Kebyar Masa Depan 1.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI masyarakat dengan kebyar. demikian juga gegambangan yang menjadi bagian akhir dari lagu kebyar. cengceng dan reong terutama didalam mengolah ritme. kini mulai mengadopsi lagu-lagu dari gamelan lainnya seperti gender wayang dan gambang. Satu contoh lagi tari Kebyar Legong sebagai awal dari tari Taruna Jaya. kedua motif lagu diatas juga dipergunakan dalam lagu semarpaguling dan pelegongan. kesederhanaan dan kerumitannya . seperti kendang. Dimasukannya pengawak Kuntir dalam tari Kebyar Legong untuk membuat perubahan dinamika. Dilihat dari tehnik permainan. Bahkan dalam penyajian tabuh kreasi semua kelompok instrumen yang ada dalam gong 151 . Selain gong kebyar. Kebyar Sebagai Wadah Kreativitas. Ujan Mas. yang dijadikan bagian pokok gegenderan pada salah satu bagian dari kreasi kekebyaran. menjadikan gong kebyar sebagai sebuah ansambel yang bisa menjadi jembatan dalam mempelajari gamelan lainnya di Bali. Contohnya Gending merak ngelo. Motif dan tehnik dari gamelan tersebut dijadikan bagian yang penting dalam permainan gong kebyar. mengambil bagian pengawak dari legong Kuntir menjadi bagian yang penting dari tarian tersebut. Dari uraian diatas lelas menunjukan bahwa pakem gong kebyar berbeda dengan gamelan lainnya di Bali.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kebyar memiliki hak yang sama. Tari Janger yang biasanya menggunakan iringan Batel dan suling . 2. sendratari dan lain-lain. drama gong. sebagai pengganti Drum Band Barat dalam pembukaan PKB tahun 1984. Disitulah letak fleksibelitas gong kebyar yang bisa menerima dan mempengaruhi gamelan lain. yang sudah barang tentu tehnik permaianannya disesuaikan dengan tehnik gamelan yang dipakai . Adi Mrdangga yang diciptakan tahun 1984 oleh ASTI Denpasar saat itu. kini digarap dengan iringan gamelan Genta Pinara Pitu dengan membuat lagu-lagu baru sesuai dengan mode yang dimiliki oleh gamelan tersebut. angklung. Mrgapati dan Cendrawasih dimainkan pada gemelan Angklung. Garapan Janger kreasi baru ini diciptakan pada tahun 1986. Dan ini sangat tergantung dari kepiawian dari seorang komposer dalam menykapi hal tersebut. seperti lagu panyembrama. gong suling. sehingga dia dianggap sebagai sumber yang kaya akan melodi. Kebetulan penulis sendiri sebagai komposernya dan I Nyoman Catra sebagai koreografernya. Dalam Adi Mrdangga ini. Hal ini menunjukan bahwa kebyar menjadi sumber yang kaya bagi gamelan-gamelan lain untuk dipinjamkan lagu-lagunya kedalam tehnik yang baru. selain menonjolkan angsel rumit yang berasal dari kebyar. Adalah pengembangn dari gamelan Balaganjur yang dikolosalkan. sekarang ada di Monash University . Kebyar Menjadi Elemen Musik Dunia Kehadiran dari komposer-komposer barat yang pernah bela152 . Kebyar merupakan sebuah ansambel yang sangat kaya dengan motif dan hiasan-hiasan. dinamika. Dan masih segar dalam ingatan kita.Australia. Dan sayang gamelan Genta Pinara Pitu yang satu-satunya di Bali saat itu. rime. Gong Kebyar telah banyak memberi kontribusi terhadap perkembangan gamelan yang lain seperti. sehingga banyak lagu-lagu kebyar dimainkan dengan media gamelan lain. harmoni dan aspek musikal lainnya. Gending Tari Belibis dimainkan pada gamelan Joged dan Jegog. beberapa motif ritme juga diambil dari Drum Band Barat.

Dan hal ini banyak dilakukan oleh mahasiswa Jurusan Karawitan ISI Denpasar. yang sudah barang tentu semua pengalaman yang mereka peroleh dapat memparkaya wawasan mereka dalam melakukan aktivitas musik. disini Penulis dan Evan menggabungkan gamelan gong kebyar dengan alat musik barat Saxophone . 3.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI jar gamelan di Bali seperti. Dan komposisi yang paling besar yang penulis lakukan adalah ketika penulis berkola-borasi dengan seorang komposer dari Kanada yang bernama Hose Evangelista dalam sebuah garapan yang berjudul Bali Simponi. Penulis mendapat undangan kekota Basel. Demikian juga halnya dengan Wayne Vitaly . Banyak komposer yang mencoba membuat komposisi dengan memadukan beberapa alat musik dengan harapan dapat menghasil garapan yang bernafas baru. Penulis sendiri pernah berkolaborasi dengan Evan Ziporyn dalam kreasi Kekembangan . I Wayan Tembres dan I Wayan Suweca. Dan pada tahun 1998. istilah kolaborasi menjadi istilah yang sangat ngetren. saat mereka menempuh ujian akhir dikampus mereka. Michael Tenzer. Swis untuk membuat iringan tari modern dengan gong kebyar yang dipadukan dengan alat musik biola. Beberapa dari hasil karyanya yang pernah ditampilkan pada ajang PKB seperti. menorehkan sejarah baru bagi perkembangan gong Kebyar baik di Bali maupun di Luar Negeri. Indonesia (Bali dan Jakarta) dan Singapura. Michael Tenzer misalnya. ketika penulis mengajar grup gamelan Sekar Jaya padatahun 1989. mereka memperdalam Gamelan Gong kebyar baik secara teori maupun praktek. Wayne Vitaly. Garapan ini dipentaskan di tiga Negara. Pengalamannya tinggal di Bali dan belajar gamelan kebyar pada seniman-seniman andal di Bali seperti: I Gde Manik. dia seorang komposer barat yang lama tinggal di Bali. tapi sebagai komposer dia sangat lihai memadukan elemen musik Barat dan musik India kedalam tabuh kreasi kebyar. Basel. Karya 153 . Banyuari. Evan Ziporyn dan Andy Mc Graw. Situbanda. Talakalam dan Puser Belah. Evan Ziporyn dan Andy Mc Graw. Kolaborasi Dengan Musik Lain Dewasa ini. membuat dia tidak saja mampu memainkan gong kebyar dengan baik. .

Dalam proses penggarapannya penulis mencoba mengusung teme persatuan dan semangat kebangsaan dengan memanfaatkan potensi lingkungan sekitar.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ini mencoba menggabungkan ansambel gong kebyar dengan alat musik orkestra lengkap. Pada pelaksanaan PKB tahun 2001 pernah terjadi sesuatu yang sedikit agak ekstrem khususnya dalam materi festival gong kebyar. Ditengan-tengah suasana disintegrasi bangsa dan pergolakan politik yang kian carut –marut. yang selalu melibatkan kesenian Rodat dari desa SuwungPemogan. Karya ini pentaskan untuk pertama kalinya di San Fransisico State University. “Lekesan” adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebutkan benda yang berisikan bermacam-macam unsur dikemas dalam satu ikatan. yang dimainkan oleh grup Gamelan Sekar Jaya yang bergabung dengan California Simponi. Desa Sidakarya yang ditunjuk oleh kota Denpasar sebagai duta yang letakanya berdekatan dengan kawasan Suwung Batan Kendal sebagai kawasan etnik muslim dengan kesenian rodatnya yang khas. Sebagai penggarap penu154 . Dan khusus pada materi tabuh kreasi seorang penabuh wanita harus memainkan instrumen kendang. Hal ini disebabkan karena secara budaya masih ada kedekatan emosional dengan kerajaan Badung (Puri Pemecutan) sebagaimana juga terjadi di Karangasem antara keturunan muslim Sasak (Islam Waktu Telu) dengan Puri Karangasem. dimana kretiria festival meharuskan mengguanakan instrumen tambahan khususnya pada materi tabuh kreasi baru dan penabuhnyapun harus campuran laki-laki dan perempuan dengan komposisi masing-masing grup diharuskan mempergunakan 10 orang penabuh wanita. Kebetulan pada saat itu penulis dipercaya oleh wakil Kota Denpasar untuk menggarap meteri tabuh kreasi baru. Penulis ingin menyingkapi persoalan bangsa itu dengan mengusung tema persatuan. Dalam konteks garapan “Lekesan” adalah sebuah karya yang beranjak dari kelisahan menyikapi suatu fenomena sosial dalam wadah Negara kesatuan yang terancam oleh riak-riak disintegrasi bangsa. pada tahun 2004. Situasi kerukunan hidup dengan sikap toleransi yang tinggi penting untuk dikemukakan. mengingatkan penulis pada peristiwa budaya terutama kegiatan upacara di puri Pemecutan Denpasar.

Akibatnya. dan banyak lagi gamelan gong kebyar diluar kampus seperti yang dimiliki oleh Kedutaan maupun Konsulat Indonesia yang ada di Amerika Serikat. Dalam tabuh kreasi Lekesan ini penulis didalam mengekspresikan idenya tetap menggunakan barungan gong kebyar sebagai ansambel pokok yang diwajibkan. Adapun dalam Tabuh Kreasi Lekesan penulis. Esensinya penulis ingin menorehkan pesan keharmonisan hidup dalam wadah persatuan lewat karya sekaligus kritik terhadap fenomena faktual yang sedang berkembang. 4. UCLA. 155 . serta perjalanannya mulai tanpa arah terseret arus perubahan. CAL ART. namun disana-sini ditambahkan beberapa instrumen perkusi sesuai dengan kebutuhan garapan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI lis melihat fenomena bahwa semboyan Bhineka Tunggal Ika sudah bergerak diluar relnya. dan latar belakang budaya yang luhur mulai terkontaminasi oleh serakahnya kepentingan individu maupun golongan yang sarat dengan muatan politis. Diangkatnya instrumen bernuansa muslim dalam pada tabuh kreasi baru Lekesan tak terlepas dari sebuah upaya untuk mengusung tema diatas. benih yang tertanam mulai rapuh. keragaman suku. agama. Dal hal yang sama juga terjadi dinegara-negara lain seperti Jepang. Beranjak dari situasi seperti itu Penulis melalui konsepsi musikalitasnya ingin menawarkan solusi betapa perbedaan itu akan membentuk suatu kekuatan dan menjadikan hidup ini lebih indah dan bermakna dalam kehidupan. penulis menambahkan barungan gong kebyar dengan 5 buah rebana. Ujung-ujungnya rasa persaudaraan dan tali pengikat persatuan mulai tercabik. ras. 4 buah kendang angklung . Kebyar Dipelajari di Seluruh Dunia Dijalur pendidikan formal keberadan gamelan gong kebyar sudah merambah keberbagai Universitas yang ada diseluruh dunia seperti. Australia dan Eropa. MIT. sebagaimana kekuatan keragaman ekspresi musikal bersatu padu membentuk harmoni kedamaian dan keindahan rasa dalam bingkai struktur komposisi yang saling mengisi satu sama lainnya . 2 buah tamburin dan 10 buah suling.

Adanya teknik pukulan “kebyar” yaitu memukul gamelan secara serentak dengan aksi dramatis tanpa seorang conductor atau dirigen. bahwasanya ada beberapa alasan yang menjadi pertimbangan mereka. Satu hal lain yang membuat para musisi barat kagum dengan gong kebyar adalah cara mengajarkan gamelan kepada penabuh yang memakai sistem meniru dan menghafal. Keunikan terletak pada tangga nadanya yang berlaras pelog lima nada dengan sistem pelarasan menggunakan sistem ngumbang-ngisep yang tidak dimiliki oleh alat-alat musik lainnya. yaitu gong kebyar memiliki karakter yang unik dan terbuka. aba-aba datang dari pemain ugal yang tidak ada pada musik dunia lainnya. Tantangan masa depan Untuk menjawab tantangan masa depan. Memiliki colotomic structure dimana masing-masing instrumen yang terdapat dalam barungan gong kebyar masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. instrumen jublag dan jegogan berfungsi untuk mempertegas ruas-ruas lagu. norot dan oncang-oncangan. instrumen ugal dan trompong berfungsi sebagai pemangku melodi. Dengan menghafalkan semua elemen yang membentuk musik tersebut dan berusaha bernyanyi dalam hati sambil bermain.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Sebuah pertanyaan sering muncul kenapa orang-orang barat khususnya musisi-musisi dunia demikian tertarik dengan gamelan gong kebyar. maka secara tidak langsung kita sudah bermain dengan perasaan dan jika perasaan dibarengi dengan penghayatan disanalah letak jiwa dari lagu yang sedang dimainkan. Dari hasil pengamatan penulis yang pernah mengajar orang barat baik di Bali maupun diluar negeri. sangat dibutuhkan pencip156 . Seperti kendang misalnya yang berfungsi sebagai pemangku irama (conductor) dalam dalam musik klasik. dimana pelatih memberikan contoh dari depan dan penabuh mengikuti dan menghafalkan. instrumen kajar berfungsi intuk memegang mat lagu. instrumen reong dan gangsa berfungsi untuk mengelaborasi kalima lagu melalui teknik pukulan ngubit. cengceng untuk memperkaya hiasanhiasan lagu dan instrumen suling dan rebeb berfungsi untuk memaniskan lagu. ngotek.

1966. Karena melodi merupakan kekuatan dasar dalam permainan gamelan Bali. 1942 Dibia. Daftar Pustaka Bandem.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ta-pencipta yang unggul. Drama and Music. 1981. Knopf. 2005. New York : Thomas Yoselof. Eropa. Covarrubias. Perlu adanya keberanian untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan musisimusisi dari dunia lain seperti dari Amerika. Kaja and kelod Balinese Dance in Transition. mampu mencipta agar kebyar tidak menjadi musik yang ramai (baroque) tanpa melodi yang jelas. Music in Bali. Gamelan Gong kebyar : The Art of Twentieth-Century Balinese Music. I Made and Fredrik deBoer. Islang of Bali. 157 . Chicago and London: The University of Chicago Press. Miguel. 1958. Berani mengangkat kebyar menjadi musik kontemporer yang serius . India dan Jepang yang sudah barang tentu memiliki aliran musik yang berbeda. I Wayan and Rocina Ballinger. New york: Alfred A. Colin. Beryl and Walter Spies. Singapore: Periplus Editions. Dance and Drama ini Bali. Tenzer.2000 Zoete. Balinese Dance. New Haven and London: Yale University Press. Mc Phee. Michael. Kuala Lumpur : Oxford University Press.

.

MENGEMAS SENI TRADISI SUMATERA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL 4 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

Hegemoni Penghulu Dalam Perspektif Budaya (2006). Tulisan dan karya ilmiah Prof. Jurnal IDEA Seni Pertunjukan BP. Agam. Lahir di Lubuk Basung. Beberapa Perspektif dalam Tari (2000). Ketua STSI Padangpanjang ini menyelesaikan program Doktor pada Program Studi Kajian Budaya Universitas Udayana Denpasar (2006). M. Peraih Tanda Kehormatan Satyalencana Karya Satya X Tahun (2006) ini pernah merebut penghargaan sebagai Dosen Teladan III ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) (1993) dan Dosen Teladan I STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Padangpanjang (1997). Etnologi Tari (2006) dan Analisis Tari (2007). Sistem Penganalisisan dalam Tari (2003). Abu Hanifah No. 160 . Fasper ISI Yogyakartadan Majalah Jurnal Penelitian STSI Padangpanjang. Alamat Rumah: Jln. Dr. 26 RT VIII Kel. Kajian Tari dalam Berbagai Segi (2001). Penanggungjawab Pascasarjana STSI Padangpanjang ini telah cukup banyak melakukan penelitian dan membuat karya seni. Sejak tahun 1987 menjadi staf Pengajar Jurusan Tari STSI Padangpanjang. Alamat Kantor: Jln. Daryusti juga banyak dipublikasikan di Majalah Berkala Penelitian Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Padangpanjang Timur Padangpanjang Sumatera Barat.. Estetika Tari (1996). Guguk Malintang Kec. Beberapa buku yang pernah diterbitkan antara lain Fleksibelitas Gerak Dalam Tari (1992). Daryusti.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. Majalah Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. 28 Desember 1960. Dr. 35 Padangpanjang Sumatera Barat. Interdependensi Seni Tari dengan Seni Lainnya (1996). Selain itu juga menjadi Pengajar Luar Biasa Akademi Bahasa Asing (AB) Bukittinggi.Hum. Bundo Kanduang No.

Daryusti. Daerah Sumatera Barat secara keseluruhan terdiri atas 19 kabupaten dan 7 kota.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Ragam Kemasan Seni Tradisi Sumatera Barat dalam Komunikasi Sosial Rakyat dan Pemerintah Prof. Perbedaan tersebut terlihat dalam masyarakat tradisional yang menempatkan kesenian sebagai sesuatu yang memiliki fungsi dan kedudukan yang penting terutama dalam upacara adat. setiap tradisi tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seni tradisi dikembangkan oleh masing-masing masyarakat pendukungnya. Ketua STSI Padang Panjang Pendahuluan umatera Barat merupakan daerah administrasi pemerintahan Republik Indonesia. M. Masing-masing kota paling sedikit memiliki 2 kecamatan dan masing-masing kabupaten memiliki paling sedikit 8 kecamatan. Setiap kecamatan terdiri atau kelurahan atau nagari1. karena setiap orang daya serapnya terhadap seni akan ber- S 1 Nagari adalah gabungan desa-desa yang mempunyai satu kesatuan sosial.Hum. karena seni mengandung nilai-nilai dan makna di dalamnya. Setiap seni tradisi akan dapat berkomunikasi sosial yang sesuai dengan ukuran pendukungnya. Daryusti (2006) mengatakan bahwa setiap nagari di Sumatera Barat mempunyai seni tradisi. Warisan seni tradisi merupakan modal budaya masyarakat yang terus menerus dipertahankan untuk kepentingan sosial. Setiap nagari memiliki seni tradisi. Dr. Dalam hal ini yang menyebabkan perbedaan fungsi tersebut disebabkan adanya faktor agama dan adat setempat. 161 .

sering dipentaskan. dapat dikatakan bahwa seni hadir dalam kehidupan masyarakat sebagai pendukung merupakan bagian terpenting sesuai dengan kebutuhan hidup. khususnya pertunjukan tari. Amir M.S. yaitu seni pertunjukan dan seni rupa. (1997) menjelaskan bahwa.S (1997) mengatakan bahwa ajaran tentang “spiritismeanimisme” adalah ajaran yang berhubungan dengan pemujaan terhadap roh nenek moyang dan kepercayaan terhadap benda yang mempunyai roh. Secara berkelompok masyarakat sebagai pendukung seni tradisi akan bekerjasama untuk melestarikan seni yang berada di lingkungannya. Dengan demikian. Maka dari itu. Kepercayaan tersebut memunculkan keanekaragaman bentuk tari di Sumatera Barat. Sebagai contoh di Sumatera 162 . yang sebagian besar berkembang di kalangan masyarakat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF beda. dalam hal ini seni tari. Seni yang termasuk kelompok seni rupa adalah terdiri dari seni kriya dan seni artistik. Kerjasama tersebut dilakukan dengan komunikasi yang efektif melalui simbol dan kesepakatan antar individu dan kelompok. Amir M. seni musik. baik secara eksplisit maupun implisit orang Minangkabau percaya akan adanya kekuatan gaib. maka upacara-upacara yang berhubungan dengan seni pertunjukan. (1970) menjelaskan bahwa Islam masuk dan berkembang di daerah Sumatera Barat dibawa oleh pedagang-pedagang dari Aceh pada akhir abad ke-16. Dengan masuknya Islam. Seni yang termasuk kelompok seni pertunjukan adalah seni tari. yang mengandung unsur bukan Islam. Komunikasi masyarakat atau para pendukung dalam lingkungan seni tradisi yang ada individu dan kelompok akan dihadapkan kepada masalah-masalah yang dalam situasi untuk disepakati. maka dapat dikatakan bahwa sesungguhnya bentuk seni di Sumatera Barat. Masyarakat sebagai pendukung seni tradisi dalam kehidupan seharihari selalu bertemu dengan berbagai gejala kehidupan dari segi keindahan untuk kepuasan batin. Mansoer dkk. Oleh karena itu. Kondisi Masa Lalu Secara umum ragam kemasan seni tradisi Sumatera Barat dalam komunikasi rakyat dan pemerintah dapat dibagi dua kelompok. dan seni teater. lahir di dalam masyarakat dan oleh masyarakat. karena manusia turut serta menciptakan keberadaan seni tradisi di lingkungannya. yakni yang berupa mitos.

Oleh karena mitos merupakan kesadaran langsung masyarakat tentang realitas yang dipercaya untuk menangkap dunia realitas dengan kepercayaan yang diyakini. sesaji atau jamba tersebut dibacakan doanya menurut syariat agama Islam. (2002) bahwa pemikiran dalam mitos hanya dapat dibaca melalui pengkajian semiotik terhadap simbol-simbol yang digunakan. atau dengan kata lain seluruh mekanisme kehidupan sosial bagi semua anggota dijiwai oleh adat. Tari Alang Suntiang Pangulu menurut kepercayaan masyarakat Nagari Padang Laweh merupakan tari yang dipertunjukkan untuk ritual upacara penobatan penghulu oleh kaum atau suku. sebelum tari Alang Suntiang Pangulu dipertunjukkan salah seorang kemenakan dari penghulu yang akan dinobatkan harus menyediakan sesaji atau jamba yang berisikan siriah langkok (sirih lengkap) dalam carano. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Imran dkk. Pertama. setiap manusia yang berada dalam lingkaran kehidupan adat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari unit sosial. Dengan demikian. Hal ini dapat dilihat pada pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu dalam masyarakat Padang Laweh. Said (2004) menyatakan bahwa adat adalah aturan-aturan tentang kehidupan manusia yang disepakati penduduk dalam suatu daerah tertentu untuk mengatur tingkah laku anggota masyarakat sebagai kelompok sosial. Sementara itu. maka manusia telah menerima adat secara total sebagai sistem kehidupan sosialnya serta percaya bahwa hanya dengan berpedoman pada adatlah ketenteraman 163 . Oleh karena itu. yakni ditentukan oleh berbagai aturan. Kepercayaan terhadap mitos bercampur dengan agama Islam tertuang di dalam bentuk kesenian Sumatera Barat. tetapi untuk dipahami dan dihayati maknanya serta dipercaya. dan diletakkan di depan penghulu yang akan dinobatkan. maka mitos dapat dikatakan tidak untuk diukur dan dijelaskan dengan ukuran kebenaran rasional manusia. Uraian di atas menunjukkan bahwa adat dan agama di Sumatera Barat merupakan satu kesatuan yang saling menunjang dan kait-mengait. Dalam hal ini diperkenankannya tari ini dipertunjukkan. Syarat tersebut sudah merupakan keyakinan masyarakat Padang Laweh sampai saat ini.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Barat pada masyarakat Padang Laweh mitos didasarkan kepada kepercayaan yang lebih dari fakta. khususnya seni tari. Selanjutnya. Hal ini dapat dilihat karena adanya sesaji atau jamba sebagai syarat untuk penyajian tari Alang Suntiang Pangulu.

adat bagi masyarakat Padang Laweh. aturan adat untuk bertingkah laku dalam perbuatan yang sekecil-kecilnya dapat dilihat dari tempat duduknya penghulu yang dinobatkan di rumah gadang (rumah adat) pada saat pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu. baik secara peribadi maupun secara mufakat. masyarakat Padang Laweh mengakui kekuasaan penghulu terhadap tari Alang Suntiang Pangulu. Berdasarkan uraian adat dan agama yang terkait dalam pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu. adat yang mengatur pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu tentang hal yang lebih besar dan lebih luas. Di samping itu. Koentjaraningrat (1984) mengatakan bahwa agama erat hubungannya dengan upacara-upacara religius dan menentukan tata alur unsur-unsur acara serta rangkaian alatalat yang dipakai dalam upacara itu. Penghulu yang dinobatkan duduk diapit penghulu lain. di samping telah memegang dan menjunjung tinggi prinsip demokrasi yang disebut musyawarah dan mufakat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan kebahagiaan bagi setiap anggota masyarakat dapat terjamin. Selain itu. Dalam hal ini Al-Quranul Karim sebagai sumber hukum dalam Agama Islam yang diwahyukan Allah melalui Jibril kepada Nabi Muhammad SAW berisi ajaran dan perintah Allah tentang mempelajari alam semesta untuk kepentingan hidup manusia. Pada masyarakat Padang Laweh dapat dilihat. Dalam kekuasaan penghulu terdapat adat yang mengatur pentingnya mewujudkan persatuan masyarakat Padang Laweh dan tentang dapat atau tidaknya tari Alang Suntiang Pangulu dipertunjukkan. baik secara peribadi maupun pada cara bermusyawarah saat tari Alang Suntiang Pangulu dipertunjukkan untuk penghulu yang dinobatkan dan didudukkan di antara penghulu lain. 164 . Dalam hal bermasyarakat pada umumnya. Sementara itu. hal ini merupakan pernyataan rasa menghormati dan mencintai penghulu yang dinobatkan. seperti mengatur besarnya kekuasaan penghulu terhadap tari Alang Suntiang Pangulu dalam masyarakat Padang Laweh. yakni untuk mengatur kehidupan manusia dari hal yang sekecil-kecilnya sampai kepada masalah yang lebih luas dan besar. maka adat dan agama dalam pertunjukan tari tersebut pada masyarakat Padang Laweh mengandung ajaran pokok sebagai berikut. Penghulu yang dinobatkan diapit kiri kanan oleh penghulu lainnya. Kedua. Perihal untuk kepentingan hidup manusia. hal ini juga mengatur tentang prinsip persatuan dan kesatuan untuk mencapai tujuan bersama.

Di samping itu. pemilihan penari laki-laki dilandasi oleh pandangan perihal tabu bagi wanita untuk menari di depan umum. adat basandi syarak. 5) Selanjutnya. atau pun enam orang laki-laki secara berpasangan. dikenakan denda seekor ayam singgang (daging ayam yang digulai dan dimasak hingga kental kuahnya).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 1) Aturan yang mengatur tentang hubungan manusia dengan Tuhan-Nya. Penari yang berjumlah genap tersebut sudah mentradisi dalam masyarakat Padang Laweh. Para penari tidak diperbolehkan keluar dari tikar selama menari dan tidak dibenarkan atau dilarang untuk melintasi arena pertunjukan. Tidak lengkap dan sempurna suatu nagari apabila salah satu dari dua institusi yaitu balai adat dan masjid tidak ada. 4) Aturan tentang memegang teguh prinsip musyawarah dan mufakat antara sesama penghulu. Masjid merupakan lembaga agama tempat sholat dan musyawarah penghulu dengan masyarakat Padang Laweh. tari Alang 165 . empat orang. yaitu antara penghulu dengan kemenakannya. Balai adat adalah lembaga kebudayaan tempat penghulu nagari mengadakan rapat atau musyawarah sesama penghulu dan masyarakat Padang Laweh. 2) Aturan yang mengatur tentang hubungan antarsesama manusia. agama bersendikan kitab (Al Quran)’. para penari tari Alang Suntiang Pangulu menari di atas tikar yang dibentangkan dalam rumah gadang (rumah adat). maka tari Alang Suntiang Pangulu di Padang Laweh Sumatera Barat memiliki hubungan yang erat dengan agama Islam. yaitu adanya agama. Ketiga. syarak basandi kitabullah. Di samping itu. 3) Aturan yang mengatur tentang membina persatuan dalam masyarakat Padang Laweh. hubungan adat dan agama lebih lanjut dalam masyarakat Padang Laweh digambarkan dengan simbol kelengkapan berdirinya sebuah nagari. artinya ‘adat bersendikan agama. Apabila ada yang melintasi penari atau melanggar ketentuan ini. Dengan demikian. Simbol nagari adalah balai adat dan masjid. Tari ini biasanya dibawakan oleh dua orang. Perpaduan antara keduanya kemudian melahirkan suatu pepatah Minangkabau yang berbunyi.

Mengusir pengajar tari tersebut merupakan salah satu bentuk kekuasaan penghulu. maka pengajar tari tersebut diusir dan dikucilkan dari nagarinya. faktor sejarah menunjukkan bahwa penghulu pernah mengusir atau mengeluarkan Inun Pakiah Bungsu. Selain itu. Dengan interaksi akan muncul proses sosial yang diartikan sebagai pengaruh timbal-balik antara pelbagai segi kehidupan bersama. Wih Sutan Maralauik. Alat musik yang dipergunakan untuk mengiringi tari Alang Suntiang Pangulu adalah adok. tari ini dapat dibawakan oleh masyarakat dalam lingkungan Nagari Padang Laweh. komunikasi akan tercapai atau sukses apabila bentuk-bentuk hubungan komunikasi menggambarkan upaya yang sadar dari kelompok yang berkomunikasi dengan tujuan mencapai kebutuhan untuk bersatu. Keempat. Interaksi yang efektif sangat tergantung dari komunikasi antarindividu. gandang (gendang). Bahkan. tanpa seizin para penghulu dan angku. Pada umumnya setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang lain.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Suntiang Pangulu dibawakan dengan iringan musik. dan talempong pacik. Selanjutnya. orang yang tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain akan terisolasi. seandainya ada di antara penari yang mengajarkan tari ini pada penari di luar Nagari Padang Laweh. Interaksi terlihat pada cara-cara berhubungan. dan Tara Jali Sutan Majo Kayo secara adat (pada 1970) karena mengajarkan tari Alang Suntiang Pangulu di ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) Padangpanjang dalam rangka pertunjukan di Jakarta Fair. Hal ini tampak ketika orang perorang dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut. Dengan kata lain. yakni pengangkatan angku tersebut sama dengan pengangkatan penghulu yang baru diangkat). Seandainya ada penari di luar Nagari Padang Laweh yang berkeinginan untuk mempelajari tari Alang Suntiang Pangulu. tari ini diiringi dengan tepukan tangan dan dendang (vokal). Hal ini akan memperlihatkan keharmonisan sosial dalam masyarakat. 166 . Daryusti (2006) komunikasi akan berhubungan dengan manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia lainnya. Kebutuhan akan terpenuhi melalui pertukaran peran dan pikiran yang dapat berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia. Dalam hal ini. tidak dibolehkan oleh para penghulu dan angku atau rang mudo (gelar yang diberikan kepada seseorang untuk bertukar pikiran dengan para penghulu.

radio. Sebagai gejala sosial. surat. Hal 167 . Di samping itu. kontak tidak berarti hubungan badaniah. pemusik. pemusik. Kontak sosial pada penghulu dengan masyarakat dan penari akan dapat berlangsung dalam dua bentuk. integrasi dapat mempengaruhi orang yang berkomunikasi. seperti berbicara dengan pihak lain. Di samping itu. Dengan kata lain. Sumatera Barat. dan masyarakat. Interaksi penghulu dengan kaum atau masyarakat mempunyai beberapa unsur pokok yang terkait dalam kehidupan masyarakatnya. orang-orang dapat berhubungan satu dengan yang lainnya melalui telepon. dan pemusik. Kontak sosial antara penghulu dengan penari. penari. Apabila ada penari. kontak sosial adalah bersama-sama menyentuh. mereka telah mengetahui dan sadar akan kedudukannya masing-masing. Dalam hal ini individu dan kelompok akan dihadapkan kepada masalah-masalah yang ada dalam suatu situasi karena suatu pesan harus disepakati dalam masyarakat. Soekanto (1993) mengatakan bahwa suatu interaksi tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat. pemusik. dan masyarakat yang mengajarkan tari ini di luar Nagari Padang Laweh akan diusir secara adat. Dalam hal ini kontak diperlukan antara penghulu dengan angku atau rang mudo atau sesepuh tari Alang Suntiang Pangulu dengan penari dan masyarakat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Komunikasi terjadi jika ada unsur pesan dan penerima pesan. a. yakni di satu pihak. telegrap. Davis (1960) mengatakan bahwa hubungan badaniah tidak perlu menjadi syarat utama terjadinya kontak. Hal ini berarti bahwa masing-masing pihak siap untuk mengadakan interaksi sosial. Angku adalah tempat penghulu berkonsultasi tentang kemajuan dan kejadiankejadian yang ditemui oleh penari. Secara harfiah. sedangkan secara fisik. memberikan instruksi kepada masyarakat. sesuai dengan perkembangan teknologi dewasa ini. seperti uraian berikut ini. b. dan lain-lain yang tidak memerlukan sentuhan secara fisik. Kontak sosial antara penghulu dengan angku. dan masyarakat terkait dengan larangan mengajarkan tari Alang Suntiang Pangulu di luar Nagari Padang Laweh. Orang dapat mengadakan hubungan dengan pihak lain tanpa menyentuhnya. kontak baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniah. dalam hal ini penghulu dan angku. yaitu adanya kontak sosial dan komunikasi.

sehingga menimbulkan rasa senang. Desmawardi (2007) Musik Dikie sangat populer dikalangan yang menamakan dirinya ”kaum kuno” di Sumatera Barat terutama dalam kabupaten Padang Pariaman. Pergeseran nilai menjadi hiburan dan kontemplasi terhadap sang pencipta akan menambah perbendaharaan seni pertunjukan Sumatera Barat Musik Dikie yang berkembang pada yang berkembang pada masyarakat ”kaum kuno” ini disajikan dalam bahasa Arab tanpa memakai alat musik. dan kisah-kisah para nabi Allah terutama nabi Muhammad SAW. dan manyanjung nabi Muhammad SAW. rasa cinta. mereka bernyanyi dalam bentuk bersahut-sahutan dan pada bagian-bagian tertentu berbentuk koor. pemujaan. Dalam pengembangan Islam di Sumatera Barat sering dimulai dari seni musik dan pada akhirnya menjadi musik tradisional Sumatera Barat yang bernuansa Islam. terpesona. Pertunjukan Musik Dikie umumnya ditampilkan pada malam hari sesudah shalat Isya sampai menjelang masuk waktu Subuh. dan kekuasaan tradisional.. Mereka hanya meyakini bahwa yang didendangkan itu adalah hal yang baik dipandang secara ajaran Islam dan melodi yang dimainkan menyentuh jiwanya. Pada mulanya Musik Dikie merupakan salah satu media untuk mengumpulkan segenap orang agar dapat mendengarkan syair-syair Arab yang bertemakan pemujaan kepada sang pencipta serta sanjungan terhadap nabi Muhammad SAW. terlebih dahulu mereka berdoa yang dipimpin oleh seorang Ungku memohon kepada sang pencipta mengharapkan keridhaanNya. sehingga timbullah kesenian yang bernuansa Islam. Sehingga Musik Dikie merupakan nyanyian malam ”kaum kuno”. mereka terpaku.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ini berkaitan dengan rasa takut. kepercayaan. Dalam 2 Ungku adalah ulama dari kaum kuno atau ustaz 168 . terharu. bahagia.. Sebelum penyajian Musik Dikie. puas. Teks-teks nyanyian bersumber dari kitab Maulud Sariful Anam berbahasa Arab. serta keinginan untuk mengalami kembali perasaan itu. Akibat dari perasaan itu sangat kuat. walaupun telah dinikmati berkali-kali. Syair-syair Dikie yang disajikan tersebut secara umum tidak dimengerti artinya (bahasa Indonesianya) baik sang si-seniman maupun si-pendengar. teks-teks tersebut bertemakan tentang pemujaan terhadap Allah SWT. yang diyakini sebagai pembawa ajaran Islam dimuka bumi ini. dan setelah mereka terkumpul maka sang Ungku2 akan memberikan pelajaran-pelajaran tentang ajaran Islam. rasa aman dan nyaman..

Musik Dikie merupakan pencerminan dari suatu kultur yang berkembang dari masyarakat kecil yang saling mengenal secara akrab dan komunikatif. Musik Dikie hanya dimainkan oleh para lelaki. namun para penyaji musik dikalangan ”kaum kuno” ini tidak membiasakan penampilannya secara individu. Bila diperhatikan pada waktu penyajian Dikie dalam Maulud nabi. Dalam perjalanannya. mau ngobrol atau memang benar-benar memperhatikan apa yang dibaca dan dinyanyikan tukang Dikie. mereka tidak diharuskan memakai pakaian tertentu. semua terserah penonton. karena saat itu seolah-olah mereka melihat segala kebesaran Ilahi. begitu juga halnya dengan buah-buahan ditata dengan rapi. Penyajian Musik Dikie tidak menuntut banyak penonton atau tidak menentukan siapa penontonnya. Semakin larut malam penyajian Dikie. membuat suasana semakin melankolis dan konsentrasi pemain semakin tinggi. Penonton Musik Dikie bebas saja mau duduk atau berdiri. berbagai jenis kue dan segala macam jenis buah yang musim saat itu. seperti orang menonton pertunjukan musik Jaz yang harus berpakaian rapi dan kapan perlu memakai dasi. Para penonton akan datang dan pulang sesuai dengan kehendaknya sendiri-sendiri. tetapi tercipta secara anonim bersama dengan sifat kreativitas masyarakat yang menunjangnya. dan peringatan hari-hari besar 169 . bahkan tak jarang terjadi mereka menangis bahkan ada yang sampai intren tak sadarkan diri. maka para ibu-ibu harus menyiapkan hidangan yang sangat mewah seperti nasi jamba. Pertunjukan Musik Dikie di kalangan ”kaum kuno” biasa disajikan pada saat adanya peristiwa maulud nabi. maka mereka akan menangis atau intren. dan keterlibatan kaum wanita hanya sebatas menyiapkan hidangan dengan berbagai bentuk dan jenis makanan sesuai dengan konteks penyajian waktu itu. Menurut pengakuan para tukang Dikie apabila mereka telah mencapai klimaks dalam pertunjukannya. bahkan tak pernah mereka lakukan hal ini menggambarkan sifat kegotong royongan yang sangat kental antara sesama pemusik (seniman Dikie). Kue-kue tersebut dihiasi sangat indah sesuai dengan nilai seni yang dimiliki kaum ibu. sehingga upacara maulud terkesan sangat mewah. Seni tradisi bukan merupakan hasil kreativitas individu-individu. Walau Musik Dikie dapat dimainkan secara individu dan dapat diiringi dengan alat musik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI penyajian Dikie mereka selalu menekankan keharmonisan dalam kebersamaan.

dan manyaratuih). Apabila diperhatikan penggarapan randai yang berbentuk teater. 2 x 7.helat lainnya. Kehadiran randai dalam upacara-upacara itu hanya sebagai pelengkap dan penyemarak. rantai. penyampaian ajaran-ajaran tersebut dalam bentuk dialog dan akting pada penampilan randai dekat dengan pengertian dakwah dalam Islam. Seni Teater Pada Masa Lampau Randai suatu bentuk teater rakyat tradisional Sumatera Barat. manduo kali tujuah. padanya terdapat unsur-unsur pokok yaitu. dan helat. Dengan arti kata. karena pada kesenian tersebut terdapat unsur-unsur penceritaan yang bersifat kiasan atau pengandaian yang disampaikan oleh para pemain dalam bentuk dialog dan akting. dan galombang atao gerakan-gerakan tari bersumber pada gerakan-gerakan pencak silat tradisional Sumatera Barat yang dilakukan dalam formasi melingkar oleh pemain. dendang yang disebut gurindam. 40 hari bahkan 100 hari seseorang setelah meninggal dunia yang biasa disebut mando’a. (manujuah hari. randai jelas dapat mempertebal rasa ketradisian dan karakyatan terhadap upacara-upacara tradisional. rumah 170 . tanpa randai upacara-upacara tersebut masih bisa tetap dilaksanakan. dialog dan akting. Sebagai kesenian tradisional. Seni Arsitektur Pada Masa Lalu Rumah gadang (besar) Sumatera Barat dibangun di atas tiang. dan ravan-li-da’i. Ia hadir atau ditampilkan dalam upacara-upacara tradisional. cerita. maka ada benarnya jika randai dikatakan berasal dari andai atau handai. Zulkifli (1993) randai sebagai teater rakyat. Akan tetapi sebagai kesenian tradisional rakyat. randai hidup dalam kehidupan rakyat. Cerita yang disajikan dalam randai pada awalnya mengutamakan cerita yang berisi tentang pejaran-pelajaran adat istiadat Sumatera Barat yang bermanfaat untuk publik. helat perkawinan. dimainkan oleh rakyat untuk rakyat itu sendiri. waktu pesta penen.pemainnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Islam lainnya kemudian peringatan 7 hari. Gerakan-gerakan galombang yang dilakukan oleh para pemain randai dalam formasi melingkar dapat diinterprestasikan berbentuk lingkaran seperti rantai. maampek puluah. helat batagak penghulu. randai hidup bersama tradisi-tradisi yang berlaku dalam masyarakatnya.

Garis melintangnya melengkung secara tajam dan juga landai dengan bagian tengahnya lebih rendah. Akar berjajaran. Jika dilihat secara keseluruhan. berbunga. Atapnya yang lancip merupakan arsitektur yang khas serta membedakannya dengan bangunan suku bangsa lain di edaran garis khatulistiwa. Pada dasarnya ukiran itu merupakan ragam hias pengisi bidang dalam bentuk garis melingkar atau persegi. sedangkan lengkung badan rumah landai seperti badan kapal. kelarasan. Pada pintu dan jendela serta pada setiap persambungan papan pada paran dan bendul terdapat papan bingkai yang lurus. Papan dinding dipasang vertikal. sifat ukiran nonfiguratif. sehingga kehidupannya menganut teori dialektis. semuanya membentuk suatu keseimbangan estetika yang sesuai dengan ajaran hidup. Arsitektur Sumatera Barat sebagai suku bangsa menganut falsafah alam terkembang jadi guru. ber171 . Garis segi empat yang membesar ke atas dikombinasikan dengan garis yang melengkung rendah di bagian tengah secara estetika merupakan komposisi yang dinamis.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI gadang mempunyai kolong yang tinggi. arsitektur rumah gadang dibangun menurut syarat-syarat estetika dan fungsi yang sesuai dengan kodrat atau yang mengandung nilai-nilai kesatuan. yang disebut bakarano bakajadian (bersebab dan berakibat). Pola akar itu berbentuk lingkaran. menyelaraskan kehidupannya pada susunan alam yang harmonis tetapi juga dinamis. terkecuali dinding bagian belakang yang dari bambu. Jika dilihat dari sebelah sisi bangunan. sehingga seluruh dinding menjadi penuh ukiran. berhimpitan. keseimbangan. dan kesetangkupan dalam keutuhannya yang merupakan satu kesatuan. dan berbuah. Navis (1986) semua dinding rumah gadang dari papan. Ada kalanya tiang yang tegak di tengah diberi juga sebaris ukiran pada pinggangnya. Lengkung pada atapnya tajam seperti garis tanduk kerbau. maka segi empat yang membesar ke atas ditutup. Ajaran falsafah Sumatera Barat yang bersumber dari alam terkembang. Motifnya tumbuhan merambat yang disebut akar yang berdaun. yang menimbulkan berbagai pertentangan dan keseimbangan. tidak melukiskan lambang-lambang atau simbol-simbol. Bentuk dasar rumah gadang berbentuk segi empat yang tidak simetris yang mengembang ke atas. Semua papan yang menjadi dinding dan menjadi bingkai diberi ukiran.

Nama pucuk rebung diambil karena pucuk rebung memang runcing seperti segitiga maknanya adalah ajaran tentang orang yang berguna. Nama ukiran geometri bersegi tiga pada umumnya disebut dengan pucuk rebung. maka masing-masing diberi nama. ke dalam. Lingkaran yang bertingkat dinamakan salompek (selompat). Simbol potongan gelamai ini mengingatkan terhadap makanan khas dari Payakumbuh Sumatera Barat Seni Kriya Pada Masa Lampau. salah satunya cara adalah dengan mengolah bahan lidi dengan menggunakan 172 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF jalinan. 3. Yuli (2008) Kelurahan Jalan Baru Pariaman memiliki masyarakat yang sangat kreatif dan inovatif memanfaatkan dan meningkatkan limbah lidi sebagai barang yang berfungsi serta bernilai tinggi. Pemeberian nama itu tergantung garis yang dominan pada ukiran. dan juga sambung menyambung. Lingkaran yang sambung-bersambung dinamakan aka (akar). Ukuran atau bentuk tingkatan lingkaran itu sama atau tidak sama. 5. karena bentuknya merambat. ke atas. Lingkaran yang berkaitan dinamakan saluak (seluk) karena bentuknya yang berseluk atau berhubungan satu sama lain. 2. 6. 1. Lingkaran yang berjajar dinamakan ular gerang karena lingkaran itu menimbulkan asosiasi pada bentuk ular yang sedang melingkar. Akar ganda yang paralel dinamakan kambang (kembang = mekar). Lingkaran bercabang atau beranting yang terputus dinamakan kaluak (keluk). Lingkaran yang berjalin dinamakan jalo (jala) atau tangguak (tangguk) atau jarek (jerat) karena mernyerupai jalinan benang pada alat penangkap hewan. Ukiran segi empat genjang dinamakan sayat gelamai karena bentuknya seperti potongan gelamai yang disayat genjang. Cabang atau ranting akar itu berkeluk ke luar. 4. Seluruh bidang diisi dengan daun. Ada keluk yang searah di samping ada yang berlawanan. dan ke bawah. dan buah. Akar itu bervariasi banyak. bunga. Pada dasarnya nama yang diberikan ialah sebagai berikut.

Piring Piring yang dimaksud disini bukanlah bentuk piring yang sebenarnya seperti piring porselen yang biasa di temukan dalam kehidupan sehari-hari di meja makan. akan tetapi piring yang dimaksud digunakan sebagai alas (tadah) ketika kita akan makan nasi bungkus. Piring-piring ini memiliki ukuran diameter 11 cm untuk alas dan 20 cm untuk badan sedangkan tinggi piring 2 cm untuk kaki. 173 . sehingga usaha keluarga tersebut diberi nama “Usaha Anyaman Lidi Ilham”. akan tetapi piring anyaman ini bentuknya miring layah menyerupai piring makan namun tidak bisa difungsikan seperti piring makan biasa. Benda anyaman lidi yang permukaannya berbentuk lingkaran. tudung saji. kriya anyaman lidi milik Syafrudin sudah mendapat tempat di hati masyarakat. Lahirnya ide dalam membuat anyaman lidi merupakan satu anugrah yang sangat besar yang diilhamkan kepada Syafruddin oleh Allah SWT dan dibantu oleh doa dan restu anggota keluarga. usaha ini berjalan dan berkembang dengan pesatnya. Kemunculan anyaman lidi ini juga dilatar belakangi oleh tuntutan profesi dan tanggung jawab moril Syafruddin sebagai salah satu staf dinas perindustrian kota Pariaman. dan 3 cm untuk tinggi badan. Ada juga piring ini difungsikan sebagai tempat buah tergantung bagaimana si konsumen menempatkannya. dimana benda tersebut digunakan sebagai wadah tempat buah pada meja tamu di setiap acara pesta. dan carano. baik di dalam maupun di luar wilayah Pariaman. terbukti baru beberapa bulan berjalan. ini dapat dilihat dalam beberapa jenis produk antara lain piring. seperti yang pernah dilakukan oleh sebagian penjual nasi sek (nasi tanpa lauk pauk dibungkas dengan daun sebanyak satu kepal) dipinggir pantai Pariaman dan sebagian penjual pecel lele Wong Solo baik yang ada di kota Pariaman maupun Wong Solo yang ada di kota Padang dan sebagian daerah yang ada di pulau Jawa. a. Karena anyaman berbentuk piring ini pernah dipesan oleh Yosa Katering dari Padang.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI teknik anyaman sehingga menghasilkan benda-benda bernilai guna dalam kehidupan sehari-hari denagn berbagai bentuk yang unik dan menarik. Dengan semangat dan dukungan dari teman-teman seprofesi.

sadah. Tudung saji dibuat dengan ukuran berdiameter 40 cm dan tinggi 25 cm. pinang. Carano Carano mepunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat. Tapi kali ini tudung saji dibuat dari bahan lidi.5 cm. Carano terbuat dari logam atau pun kuningan dengan permukaan sebelah atas (mulutnya) bulat seperti piring dengan diameter ± 33. masyarakat Padang Magek Sumatera Barat menyebut tudung atau penutup bagian atas dengan tuduang aia. gambir. sadah. Sumatera Barat dikenal sebagai tempat daun sirih. Dalam pada itu. dan tembakau yang ditutup dengan dalamak untuk pertunjukan tari Alang Sentiang Pangulu. yang disuguhkan pada setiap acara adat. memiliki leher agak panjang dan alasnya berbentuk bulat dengan diameter ± 30 cm. Dalam hal ini carano (cerana) yang digunakan untuk pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu dapat dikatakan sebagai penanda. dan tembakau. Carano ini biasanya dibuat dari bahan logam atau kuningan. Dalam kehidupan sehari-hari carano di Minangkabau. Penghubung antara permukaan dengan alas carano (leher cerana) 174 . yang digunakan sebagai tempat sirih dan perlengkapannya. berisikan sesaji daun sirih. Tuduang aia berguna sebagai penutup makanan dalam talam atau dulang tinggi. hal itu sudah menjamur dipasaran. Dengan adanya carano dari bahan lidi dapat membantu meringankan beban masyarakat untuk memiliki carano. Tudung saji Tudung saji ini digunakan untuk menutup makanan di atas meja makan. atau lebih kecil dari permukaan sebelah atas carano. hal ini berimbasan pada harga jual carano yang terbuat dari logam.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF b. pisang. Tudung saji pada umumnya terbuat dari bahan plastik dan anyaman rotan. karena carano dari anyaman lidi harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan carano dari bahan logam atau kuningan. c. Carano (cerana). Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990) istilah tudung berarti sesuatu yang diapakai untuk menutup atau melingkupi bagian sebelah atas. namun kali ini Syafrudin mencoba membuat carano dari anyaman lidi dengan pertimbangan karena keadaan krisis ekonomi semua bahan harganya sudah pasti naik.

Dalam adat Jawa. Pada malam penampilan Musik Dikie. dan khitanan. bentuk carano hampir sama dengan kecohan (tempat meludah). di Bali carano hampir sama dengan istilah pengasapan yang digunakan untuk membakar dupa atau bubuk cendana oleh pedanda. tari Alang Suntiang Pangulu pertama kali disajikan untuk ritual adat dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (1981) di Gedung Triarga Bukittinggi. tari Alang Suntiang Pangulu pada saat sekarang telah dapat disajikan sebagai sajian estetis. pesta perkawinan. pesta pernikahan. dan penyambutan tamu agung diperlukan ongkos produksi (production cost).pada acara-acara di nagari masyarakat Padang Laweh dan di sekolah-sekolah sekitar nagari tersebut. Pada umumnya ongkos produksi (production cost) dibebankan kepada panitia kegiatan. Biasanya carano yang telah diisi lengkap ditutup dengan dalamak. Sementara itu. Dalam hal ini untuk memproduksi tari Alang Suntiang Pangulu sebagai ritual khitanan. Diwaktu penampilan Musik Dikie ini disampaikanlah apa yang dimaksudkan oleh masyarakat kepada unsur pemerintah ini melalui pantun-pantun atau dendang Dikie tersebut. Kondisi Masa Sekarang Komunikasi sosial seni tradisi dengan pemerintah dapat dilihat pada saat fungsi tari Alang Suntiang Pangulu adalah untuk menyambut tamu agung yang datang ke Nagari Padang Laweh. Dalam pada itu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dapat dipegang dengan tangan. Kehadiran Musik Dikie saat ini juga berfungsi sebagai alat komunikasi antara rakyat dan pemerintah. yakni panitia pelaksananya diketuai oleh Jarmias Kasi Kebudayaan Kota Madya Bukittinggi. Pantun itu seperti: Batang aua paantak sawah Pangkanyo sarang sipasin Pado bapak diadokan sambah Indak madok ka nan lain Ligundi di sawah landai Sariak indak babungo lado Karano jalan kami tabangkalai 175 . diundanglah unsur-unsur pemerintah untuk menyaksikan penampilan Musik Dikie tersebut. Sebagai contoh.

pertanian. pada saat sekarang dikembangkan dalam bentuk wadah-wadah seperti keranjang bunga atau keranjang buah. Jika ada tamu-tamu resmi yang datang disuguhi dengan sirih di carano yang dalam perjalanannya sirih dapat diganti dengan permen. Sekarang tudung saji dikembangkan dengan membuat hiasanhiasan dinding atau penutup makanan dengan berbagai variasi sehingga dapat berbentuk cendra mata yang cantik. dan juga cerita yang mengandung nilai-nilai pendidikan Pancasila. Carano yang dikembangkan saat ini juga dikembangkan bentuk dan penggunaannya. Arsitektur tradisi Minangkabau khususnya bangunan rumah gadang. Carano juga sekarang sudah diproduksi dengan berbagai ben176 . Salah satunya dapat lihat dari usaha Dt Bandaro Putiah salah seorang pemuka adat di Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam yang menggunakan randai Cindua Mato sebagaimedia penyuluhan pendidikan pada masyarakat sekitarnya. Pada zaman dahulu yang dibuat dalam bentuk piring atau yang disebut senggan. K3. pada masa sekarang makin dikembangkan dan makin dipromosikan untuk memajukan industri kecil rumah tangga. Sedangkan anyaman dengan bentuk tudung saji yang biasa dipakai untuk penutup makanan. Hal ini akan menampakkan ciri khas bangunan adat Sumatera Barat itu sendiri. sekarang dipakai dalam bangunan kantor-kantor dengan memakai ciri atapnya yang berbentuk tanduk kerbau serta ada dinding atau palang atapnya dipakai dengan ukiran khas tradisi. juga sudah makin dikembangkan. Seni anyaman lidi yang diproduksi dalam berbagai bentuk.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Bantulah apo ala kadarnyo (Batang aur penahan sawah Pangkalnya sarang si pasin Kepada bapak terhadap sembah Tidak menghadap pada yang lain Ligundi di sawah landai Sariak tidak berbunga lada Karena jalan kami belum siap Bantulah kami ada adanya) Keikutsertaan pemerintah Sumatera Barat membina dan mengembangkan kesenian randai mengakibatkan munculnya cerita randai yang berisikan pesan-pesan pembangunan seperti masalah KB.

Kemungkinan Pengembangan di Masa Yang Akan Datang Seni tradisi di Sumatera Barat seperti seni pertunjukan dan seni rupa hendaknya menyebar dari satu tempat ke tempat lain seiring dengan persebaran masyarakat pendukungnya yang juga tidak selalu menetap di daerahnya. Sementara itu dalam seni rupa terutama dalam arsitektur dan seni kriya dapat dilihat dalam arsitek bangunan rumah gadang atau rumah adat Sumatera Barat yang saat ini digunakan pada bangunan-banguan kantor atau gedung-gedung pertemuan di Sumatera Barat. Di samping itu pemerintah daerah sangat diharapkan peran sertanya untuk pengembangan seni tradisi dimasa datang. karena sudah banyak juga para pelaku seni tersebut yang merantau ke daerah lain untuk mencari kehidupan yang sesuai menurut mereka. Upaya pembinaan seni dapat dilakukan dimana saja para pelaku seni tersebut berada. Pada seni rupa juga diperlukan peningkatan dan komitmen dalam aplikasi banguanan dan pengembangan industri-industri kecil dengan pemberian kredit-kredit untuk pengembangan industri tersebut sebagai modal. Namun demikian ada juga yang dipertunjukan sebagai penyemarak dalam upacara adat seperti randai. Penutup Ragam kemasan seni tradisi Sumatera Barat dalam komunikasi sosial rakyat dan pemerintah dapat dibagi dua kelompok yaitu seni pertunjukan dan seni rupa. Dalam pada 177 . Sudah barang tentu penyebaran seni tersebut akan berkembang pemetaannya. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan frekwensi festival-festival atau keramaiankeramaian tentang seni. Seni pertunjukan pada umumnya di Sumatera Barat dapat dikatakan seni yang dipertunjukan untuk upacara ritual tertentu dalam kehidupan masyarakat. karena seni tradisi tersebut adanya di kantongkantong setiap nagari yang ada di Sumatera Barat. Terutama dibidang pembinaan dan pendanaan pada seni pertunjukan. Dengan melihat pernyebaran masyarakat sebagai pendukung seni pertunjukan dan seni rupa sudah barang tentu kontak-kontak dengan masyarakat lain akan dialami. serta selalu menggali seni tradisi tersebut.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI tuk yang dapat dijadikan sebagai cendramata sebagai ciri khas daerah Sumatera Barat.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

itu seni kriya dapat ditemui dalam karajinan-krajinan rakyat yang pada saat sekarang banyak dikembang dalam industri-industri kecil dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat sehingga dapat menambah sumber penghasilan masyarakat pengrajin.
Daftar Pustaka Daryusti. 2006. Hegemoni Penghulu Dalam Perspektif Budaya. Yogyakarta : Pustaka. Davis, Kingsley. 1960. Human Society. New York: The macmillan Company. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Desmawardi. 2007. ”Musik Dikie : Antara Tradisi dan Nilai-Nilai Religius dalam Realitas Masyarakat ”Kaum Kuno di Nagari Ajo laweh Sumatera Barat”, Jurnal Ekepresi Seni STSI Padangpanjang, volume 9,No.2. Imran, Amran., Idris, Asmaniar., Johan, Bahder., Nan Sabatang, Dt. Perpati., Hodgson, Geoffrei A., Hamka., Sumatera Barat, LKAAM., Mansoer, M.D., Hatta, Mohammad., Gani, Rizanur., Soekmono., dan RPSDM, Tim. 2002. Menelusuri Sejarah Minangkabau. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia dengan LKAAM Sumatera Barat. Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka. ______________. 1990. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: Universitas Indonesia Jakarta Press. M.S, Amir. 1977. Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang. Jakarta: Mutiara Sumber Widya. Mansoer , MD., Imran, Amrin, Sofwan, Mardanas, Idris, Asmaniar, Buchari, Sidi I. 1970. Sejarah Minangkabau. Jakarta: Bharata. Navis, A.A. 1986. Alam Terkembang jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta : Pustaka Grafitipers. Said, A. A. 2004. Simbolisme Unsur Visual Rumah Tradisional Toraja dan Perubahan Aplikasinya pada Desain Modern. Yogyakarta: Ombak. Yuli Marni. 2008. “Deskripsi Kriya Anyaman Lidi di Kelurahan Jalan baru Pariaman Tengah”, dalam Daryusti, ed. Seni Budaya Berkelanjutan Dalam Kehidupan Masyarakat, STSI Padangpanjang Pers. Zulkifli. 1993. “Randai Sebagai Teater Rakyat Minangkabau di Sumatera Barat: Dalam Dimensi Sosial Budaya”. Tesis. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

178

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

179

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

SULAIMAN JUNED Lahir di Gampong (desa) kecil Usi Dayah Kecamatan Mutiara Kab. Pidie, Nangroe Aceh Darussalam, 12 Mei 1965. Kini memiliki istri dan seorang putra laki-laki. Menetap di Padangpanjang, menekuni pekerjaan sebagai Seniman, dosen tetap Jurusan Seni Teater di ISI Padangpanjang Sumatera Barat, Dosen Ahli di FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia Daerah di Univ. Muhammadiyah Sumatera Barat, Guru teater di SMA Negeri 1 Sawahlunto Sumatera Barat, Guru teater di SMA Negeri 1 Padangpanjang Sumatera Barat, Guru Kesenian serta Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Sore Padangpanjang. Mulai menulis sejak tahun 80-an, ketika masih belajar di SLTP. Karya puisi, cerpen, esai, drama, reportase budaya, artikel, kolom di muat di media seperti; Serambi Indonesia, Kiprah, Aceh Post, Aceh Ekspres, Srambi Mekkah Post (ACEH). Analisa, Dunia Wanita, Waspada (MEDAN). Singgalang, Haluan, Mimbar Minang, Padang Ekspres, Postmetro, Jurnal Palanta, (SUMATERA BARAT). Riau Post, Metroexpres (RIAU). Indefendent (JAMBI). Lampung Post (LAMPUNG). Kedaulatan Rakyat, Majalah Seni Gong (YOGYAKARTA). Solo Pos dan Jawa Pos (JAWA TENGAH). Bali Post (BALI). Suara Karya Minggu, Republika, Media Indonesia, Kompas, Koran Tempo, Majalah Sastra Horison (JAKARTA). Majalah Bahasa dan Sastera (MALASYIA dan BRUNEI DARUSSALAM). Jurnal Aswara (MALASYIA). Antologi puisi tunggal berjudul ‘Riwayat’ mendapat Juara III dalam Lomba Penulisan buku pengayaan sastra tingkat nasional pada Pusat Perbukuan Dinas Pendidikan Nasional (2007). Lelaki berkumis ini menyelesaikan studi S-1 di jurusan seni teater STSI Padangpanjang dengan yudisium Cumlaude, juga menyelesai Program Pascasarjana di Institut Seni Indonesia Surakarta dengan yudisium Cumlaude. Sering mengikuti seminar sastra, teater dan jurnalistik. Ia juga sering terlibat dalam dunia musik, sebagai pemusik dan pembaca puisi. Juga sebagai dramatug pertunjukan teater. Soel juga aktif dalam organisasi seni dan pers serta dipercayakan sebagai Dewan Penasehat Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Cabang Padangpanjang (2010-2015). Editor Novel “Cinta di Kota Serambi Karya Irzen Hawer diterbitkan Kuflet Publishing, Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, Sumatera barat (Maret 2010). Soel sangat aktif dalam dunia teater, baik ketika masih di Aceh maupun kini bermukim di Padangpanjang, ia sudah memainkan 250 judul naskah lakon baik naskah luar negeri maupun dalam negeri, ia berperan jadi aktor menjadi tokoh yang tanpa dialog sampai menjadi tokoh utama. Sudah menyutradarai 152 judul naskah lakon baik dari karya penulis dunia-nasional-daerah. Dewasa ini Soel hanya mau menyutradarai naskah lakon yang ditulisnya atau naskah lakon yang diproduksi oleh rekan-rekannya di komunitas Kuflet. Teater-Sastra-Jurnalistik telah membawanya mengelilingi Indonesia; dari Aceh hingga Irian Jaya. Kini menetap di Jl. Dr. A.Rivai No. 146 RT.11 Kampung Jambak, Kelurahan Guguk Malintang, Kecamatan Padangpanjang Timur, Padangpanjang Sumatera Barat. 180

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

Seni Tradisi Populer Aceh sebagai Media Komunikasi Sosial
Sulaiman Juned
Dosen Jurusan Seni Teater STSI Padang Panjang

Pendahuluan eni tradisi adalah gambaran kebudayaan suatu masyarakat pada sebuah daerah. Indonesia memiliki keberagaman seni lokalitas yang sangat kaya dengan kearifan lokal. Kekayaan kultur budaya bangsa dalam seni tradisi secara tidak langsung memiliki karakter etnis yang sangat beragam dan berbeda. Karya-karya yang dipertunjukan oleh seniman-seniman tradisional, merupakan suatu bukti betapa beragamnya kultur-seni dan budaya masyarakat Indonesia. Berdasarkan itulah, ini kali penulis ingin membahas tiga seni tradisi Aceh sebagai media komunikasi sosial. kesenian Aceh rata-rata memiliki transformasi moral dan sosial. Tiga seni tradisi tersebut; Teater Tutur PM TOH, Sandiwara Keliling Gelanggang Labu, dan Biola Aceh. Ketiga bidang seni yang penulis paparkan ini, berangkat dari realitas Sastra Aceh (hikayat) menuju realitas seni pertunjukan. Dewasa ini tanpa sengaja berangkat dari perkembangan jaman kesenian tradisi mulai bergeser fungsinya, awalnya menjadi alat komunikasi dalam ruang sosial bagi kehidupan bermasyarakat di Aceh. Seni tradisi ini memang masih tetap bertahan di Aceh, walau terasa sudah mulai langka. Hal ini disebabkan oleh terjadinya konflik bersenjata yang begitu panjang antara Gerakan Atjeh Merdeka dengan Negara Kesatuan Republik In-

S

181

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

donesia yang melahirkan kondisi psikologis terhadap masyarakat Aceh. Tindakan sosial yang terjadi di Aceh sebelum dilaksanakan perdamaian saling berinteraksi dan saling melahirkan kekejaman dari pihak-pihak yang bertikai, tentu melahirkan restrukturisasi terhadap tingkah laku masyarakat. Interaksi sosial melalui seni tradisi membuat prilaku masyarakat Aceh, terwujud dari keharusan normatif yang terlahir dari kesantunan, rasa persaudaraan, pemurah, peramah, dan setia terhadap siapapun. Namun kondisional ini menjadi lenyap karena terjadi tindakan sosial melalui kekerasan yang dilawan pula dengan kekerasan. Rakyat tersublima ketakutan dan kecemasan karena setiap detik menyaksikan pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, pembakaran. Muaranya kesenian tradisi Aceh pun terancam punah. Kondisi inilah yang membuat seni tradisi Aceh terkesan sulit untuk mencarinya. Syukurlah dewasa ini telah di bentuk Qanun (hukum/aturan) di bidang seni, untuk menghidupkan kembali seni tradisional Aceh yang kaya nilai-nilai agama, adat, moralitas, dan sosial.

Teater Tutur Aceh: Adnan PM TOH ‘Troubador yang Menulis di atas Angin’ Lima puluh tahun bersolo karier, (Almarhum) Teungku H. Adnan PM TOH berusaha mencari penggantinya agar kesenian Aceh yang disebut teater tutur ini memiliki penerusnya. Namun sayang sampai dengan Teungku Adnan menghadap sang khalik (meninggal dunia dalam usia 75 tahun, pada tanggal 4 Juli 2006), belum mampu menemukan penggantinya seperti beliau. Kesenian teater tutur berasal dari peugah haba yang berarti berbicara dengan bercerita semacam bakaba di Minangkabau. Sering juga disebut masyarakat Aceh poh tem berarti orang yang pekerjaannya bercerita. Ada juga yang menyebutnya dangderia seperti drama monolog atau berbicara sendiri. Teater Tutur ini menjadi menarik setelah dikembangkan Teungku Adnan dengan mempergunakan alat musik rapa’i, pedang, suling (flute), bansi (block flute) dan mempergunakan properti mainan anakanak serta kostum. Properti, alat musik serta kostum memperkaya teknik pemeranan seperti metode Brechtian yang memakai teknik multiple set (properti tangan yang banyak fungsinya), dan efek alinasi (memisahkan penonton dari peristiwa panggung, sehingga mereka dapat
182

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

melihat panggung dengan kritis). Teknik ini sekaligus memberi kekuatan dan dapat mengubah kejadian-kejadian peran menjadi seolah-olah, serta adanya intrupsi dari penonton. Teungku Adnan bermain sendiri, namun mampu menghadirkan beratus-ratus tokoh, dengan ekspresi dan karakter vokal yang berubahubah. Inilah kelebihan yang dimiliki Teungku Adnan, ia bermain sendiri di atas pentas, tetapi penonton laksana menyaksikan ratusan aktor sedang berada di pentas. Hal ini yang membuat Teungku Adnan dijuluki “traubador dunia” oleh Prof. Dr. John Smith seorang peneliti dari Amerika Serikat. Teungku Adnan dikenal juga sebagai seorang tokoh ulama oleh masyarakat pendukungnya, sedangkan pekerjaannya disamping sebagai seniman adalah penjual obat keliling Aceh. Kesenian (teater tutur) ini dinamakan PM TOH oleh Teungku Adnan. “Asal muasal nama itu berangkat dari peristiwa yang sangat berkesan bagi saya, saya sering menaiki bus PM TOH ketika berpergian ke seluruh Aceh untuk berdagang obat, lalu bunyi klakson bus tersebut membuat saya terkesan. Maka dalam pertunjukan saya untuk selingan jual obat saya tampilkan poh tem, peugah haba, dan dangderia. Sembari memamerkan kebolehannya berteater itu, saya memulainya dengan menirukan bunyi klakson bus PM TOH, masyarakat Aceh sangat senang dengan penampilan saya itu. Setiap saya jual obat, penonton pasti ramai, dagangan saya laris tapi saya harus menampilkan Hikayat Malem Dewa. Akhirnya masyarakat Aceh setiap ketemu saya sering memanggil nama saya dengan sebutan Teungku Adnan PM TOH setelah saya pikirkan sepertinya nama teater tutur saya ini adalah PM TOH”. (Wawancara dengan Teungku H. Adnan, 14 April 1999, di Blang Pidie-Aceh Selatan) Ternyata nama teater tutur PM TOH itu merupakan pemberian oleh masyarakat pendukungnya. Ini bukti bahwasannya sejak tahun 1970an nama itu telah dilekatkan kepada Teungku Adnan, dan ia diterima sebagai pembaharu teater tutur Dangderia yang pemanggungannya hanya ada satu bantal, pedang dari pelepah kelapa hanya mengandalkan kekuatan ekspresi dan kekayaan vokal dalam menyampaikan Hikayat. Sementara Teungku Adnan diterima oleh masyarakat pendukungnya, sehingga dimanapun masyarakat mendengar tentang kehadiran Teungku Adnan, mereka pasti ramai-ramai mendatanginya karena ingin menyaksikan pertunjukan PM TOH.
183

kostum. Hikayat tentang dongeng. 1988: 38). Malem Budiman. seperti. hampir setiap keluarga di Aceh mengetahui secara tradisional cerita-cerita dalam hikayat. dan ini merupakan hasil sastra yang sangat luas dalam khazanah kesenian Aceh karena menjadi seni pertunjukan” (Budiman Sulaiman. Dialog-dialog yang memperagakan cara-cara berperang. dongeng keagamaan. teks sastra hikayat menjadi dasar penceritaannya. jika dalam cerita tersebut terjadi peperangan antar kerajaan. Ada pula hikayat yang disebut dengan hikayat undang-undang seperti. Sipheut Dua Ploh. buku bacaan serta cerita lainnya juga dinamakan hikayat jika bahan-bahannya telah dituliskan dalam bentuk sajak (puisi) di sebut hikayat. Teungku Adnan jika ada undangan lalu mempertunjukan PM TOH satu hikayat seperti Malem Dewa baru selesai dipertunjukan dalam durasi waktu 7 (tujuh) malam berturut-turut. 1983:78). “adapun hikayat yang menyimpan peristiwa sejarah. Indra Budiman. Malem Dagang dan lain-lain. Biasanya seorang ibu dari etnis Aceh pada masa lalu merasa berkewajiban untuk menceritakan hikayat-hikayat itu kepada anak-anaknya. seperti benang dibentangkan tak pernah habis. Hal yang termaktub dalam teater tutur itu merupakan eksistensi kesusastraan Aceh ‘hikayat’ yang tidak dapat lepas dari subtansinya. “Hikayat dalam bahasa Aceh tidak diartikan arti asli yaitu ‘kisah’ (cerita). Hikayat Malem Dewa. Kalimat demi kalimat mengalir deras. Teungku Adnan diberikan kekuatan pada ingatan. Ia sanggup menghafal 9 (sembilan) buah Hikayat-hikayat Aceh. pelajaran adat. Hikayat ketika dipertunjukan oleh Teungku Adnan dengan menghadirkan berbagai karakter tokoh di atas pentas. Raja Jeumpa” (Muhammad Nur. baik perubahan suara (vokal). Sama halnya dengan teater modern yang tidak terlepas dari teks naskah drama yang akan digarap sutradara menuju realita teater (pertunjukan). Prang Sabi. Tentang adat istiadat. yang tampak adalah seorang penutur cerita penuh dengan nuansa teaterikal. Bukan saja roman-roman. Bahkan. beliau mampu menyampaikan pertunjukan yang 184 . Sementara itu. Sanggamara. Hikayat keagamaan. Raja Si Ujud. sarakata Poteumeureuhom Meukuta Alam. lalu dituturkan kembali selengkapnya. Tuhan memang Maha Kuasa.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Andaikan membicarakan tentang teater tutur Aceh. sastra Aceh menyimpan peristiwa budaya. Bahkan. diantaranya. Nalam. hikayat Gumbak meueh. Adnan PM TOH melakukan pengembangan menakjubkan lewat teater tutur yang awalnya peugah haba atau dangderia.

Tengku Adnan bermain dengan teknik duduk. ia pun menjelma menjadi tokoh Puteri Bungsu. Guru Teungku Adnan adalah Mak Lapee. ekspresi wajahnya berubah (tipikalnya). bermain musik sendiri. Kemampuan ini yang tidak dimiliki oleh tukang cerita yang lain seperti. Penampilan nyaris tanpa akting. generasi kedua Teungku Ali Meukek. padahal ia bermain sendiri. menyaksikan pentas yang dipenuhi aktor secara imajiner. berangkat dari ilmu yang diterima dari gurunya Mak Lapee (Seorang Ulama di Aceh Selatan yang lumpuh). andai membawakan Hikayat Malem Dewa yang menceritakan tentang anak raja yang mempersunting putri dari khayangan. yaitu Puteri Bungsu. karena yang disajikan hanya membaca hikayat (peugah haba). penyajian hikayat secara bertutur tak dapat dikategorikan seni pertunjukan (teater tutur). ahli nujum. Muda Belia bahkan Agus Nuramal. rakyat kampung. matanya berkedip-kedip. lalu dikembangkan menjadi sebuah seni pertunjukan yang sangat menarik dan unik dengan inprovisasi yang sangat-sangat kaya. putri yang jeli185 . Mengenakan sepotong selendang.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sama di tempat yang berbeda. Lima detik pertama ia mengekspresikan wajah genit. Suatu hari dalam Hikayat Malem Dewa ia berubah peran dengan sigap. Meletakkan kotak (tong) dikiri dan disebalah kanan. Menyaksikan teater tutur PM TOH. Seorang juru bicara “penyihir” yang mampu memberikan pesona seni peran. namun beliau melakukan pertunjukan persis sama dengan pertunjukan sebelumnya. langsung memakai baju ala kerajaan yang telah tersusun di dalam kotak disesuaikan dengan alur cerita. sambil berinprovisasi dengan nyanyian Teungku Adnan menggantikan kostum. Seketika pula Teungku Adnan menjadi raja dengan karakter watak dan karakter bahasa yang berbeda. dan agak sulit mengikuti alur cerita karena tidak terjadi perubahan karakter tokoh. Setiap peran yang berubah. cerita yang sama dengan kata-kata yang relatif sama pula. di dalam tong ada pakaian (kostum) serta senjata mainan. vokalnya juga berubah sehingga penonton dengan mudah mengidentifikasi tokoh yang diperankan Teungku Adnan. Lain halnya dengan Teungku Adnan. Luar biasa. sehingga penonton tidak bosan. Kemampuan Teungku Adnan tak pernah tergantikan oleh siapapun. Teungku Adnan. Zulkifli. Ketika menjadi raja. Namun pada masa itu. puteri. sebuah wig. Properti yang digunakan hanya sebilah pedang dan batal. Begitu pula ketika menjadi tentara (panglima).

Lima detik kemudian. Kini Sang Maestro. Beliau tak akan berdosa dan berduka sebab beliau semasa hidupnya sudah pernah menawarkan ini kepada pihak Pemerintah Daerah Istimewa Aceh (Sekarang NAD). Ia dapat menjadi hulubalang. Gaya komedikalnya membawakan hikayat masa lalu dikaitkan dengan peristiwa masa kini. kita pertimbangankan. hanya jawaban basa-basi” (Wawancara. saya pernah tawarkan program regenerasi kepada Gubernur kita. ia berganti peran menjadi pemuda gagah siap bertempur memperebut Puteri Bungsu. 20 Januari 1989). Suatu waktu. laskar Aceh. Tapi apa jawab mereka. teungku memang tidak rugi. seniman ‘Traubador Dunia’ meninggal dunia dalam usia 75 tahun. tapi tidak ada respon sedikitpun. Teungku Adnan PM TOH. lalu setiap tahun kita adakan festival menulis hikayat dan PM TOH kalau ini dilakukan pasti akan muncul dan lahir penerus atau pengganti saya. Di SD ada mata pelajaran Hikayat dan PM TOH. Aceh khususnya dan Indonesia umumnya yang rugi sebab tak mau merawat penerus pencerita Aceh. tanpa ada pengganti. Sepotong pedang terhunus di tangan. kita cetak buku tentang Hikayat-hikayat Aceh yang belum tersebar itu. lalu kita tuliskan bagaimana persiapan menjadi aktor PM TOH. setelah itu kita sebarkan ke sekolah dasar (SD). Sementara mulutnya tak putus-putus ia derukan kisah pemuda bernama Malem Dewa yang harus berangkat ke negeri di atas awan untuk menemui kekasihnya. “Soel. Kekuatan yang paling mendasarkan dalam teater tutur PM TOH adalah daya improvisasi penyaji yang sangat tinggi. Lalu 900 tahun kemudian 186 . Kemampuan Teungku Adnan menyiasati pertunjukan ternyata dapat menghadirkan sejumlah tokoh di atas pentas dengan vokal yang berubah-ubah.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ta dari khayangan. topi baja melekat di kepala. Berbagai karakter dengan cepat saling berganti di tubuh dan suara Teungku Adnan. ketika penulis masih di Aceh sempat berdiskusi dengan beliau. dan Kakanwil Depdikbud Aceh. Sekarang Teungku Adnan PM TOH telah meninggalkan kita tanpa mewariskan PM TOH kepada siapapun. jadi nenek penjaga gubuk Buntul Kubu. pemuda yang mencuri baju sang puteri atau seorang anak yang merindukan sang ibu. Benar Teungku Adnan. bukan hanya Aceh yang kehilangan “Traubadur Dunia” seluruh dunia juga merasa kehilangan Teungku Adnan. Abad ke-12 di Perancis Selatan lahir seorang Traubadur.

Sandiwara ini keliling sudah ada sejak tahun 1950an. mereka memperoleh keahlian secara non-formal namun mampu mensugestif penonton. NAD. diantaranya yang terkenal. Sekarang sang “traubadur” benar-benar sudah tiada. Sandiwawara Keliling Gelanggang Labu Pemain sandiwara keliling gelanggang labu tidak pernah belajar dramaturgi. Kesenian Aceh mampu menjadi transformasi moral dan sosial bagi masyarakat Aceh. seperti. Gelanggang Labu merupakan sandiwara keliling tradisional Aceh. Cerita-cerita yang akan dimainkan oleh pelakonnya hanya diceritakan secara garis besarnya saja kepada pemain (berbentuk wos). tapi sayang masyarakat dan pemerintah Aceh tidak mau peduli. dan diterima ditengah-tengah masyarakat. samasama mengangkat cerita 1001 malam dari hikayat-hikayat Aceh (haba). Mutiara Jeumpa. dan lain-lain.Luar biasa. Ketika teater ini mulai merakyat. Ciri-ciri pertunjukan Gelanggang Labu memiliki kesamaan yang kontras dengan ‘Komedi Stamboel’ yang dilakukan August Mahieu (1860-1906). Sinar Desa. Sebagai aktor di187 . dan penyutradaraan secara formal. Sinar Harapan. Jeumpa Aceh. Awal tahun 70-an mulai menjamur grup-grup sandiwara di seluruh Aceh. Adeganadengan gembira atau sedih dalam gelanggng labu memang dilakukan dengan dialog bukan dengan opera (nyanyian) seperti dalam komedi stamboel. dan Geunta Aceh. Sandiwara ini mulai tumbuh dari sebuah desa Gelanggang Labu Kecamatan Peukusangan dahulu kabupaten aceh utara sekarang kabupaten Biureun. Pembagian babak atau episode dilakukan sangat longgar dengan adanya selingan antara babak yang diisi dengan nyanyian (band). sebelum permainan dimulai para aktornya memperkenalkan diri sekaligus dengan peran apa yang dia mainkan. Bawang Mirah Ngoen Bawang Puteh. Ciri-ciri yang mendasar. Sinar Jeumpa. Putroe Ijoe. lawak. Seulanga Dara. Hal ini dapat dilihat dari reportoar yang dipilih. Cakradonya. berapa ratus ribu tahun lagi kita harus menunggu untuk kelahiran seorang “traubadur seni tradisi yang luar biasa itu. dan lebih banyak pemain yang melakukan improvisasi. serta tari-tarian. Benteng Harapan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI di seluruh dunia hanya di Aceh muncul kembali seorang “traubadur dunia” yakni Teungku Adnan. Ahmad Rhangmanyang. Buloeh Peurindu. dijulukilah dengan istilah Gelanggang Labu. ilmu pemeranan.

lalu melakukan pembaharuan agar masyarakat penonton tidak bosan. Umar Abdi. dipuja-puji oleh penonton. Yusuf Syam. seng sebagai atap. masalah ambisiusnya manusia. Rata-rata latar belakang pendidikan mereka hanya sampai Sekolah Dasar. dan berdiam (melakukan pertunjukan) di suatu daerah minimal dua bulan setelah melakukan perjalanan dan menetap di daerah lain.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pentas sandiwara keliling harus mampu menjadi penyanyi. sebab mereka dekat dengan masyarakat sehingga tahu persis tentang peristiwa yang muncul ditengah masyarakat. Ide atau gagasan rata-rata bertemakan sosial dengan mudah diperoleh sutradara teater keliling. Lokasi pertunjukan biasanya dilakukan di tanah lapang. Grup sandiwara ini hidup dan beranakpinak di dalam panggung tersebut (berumah). Sutradara 188 . seorang aktor yang pernah melakukan pertunjukan di Takengon. seperti tragedi rumah tangga. Namun pada malam hari dia tampil sebagai mahabintang di atas panggung. batang kayu sebagai penyangga. triplek untuk dinding. setiap dia muncul selalu saja mendapat applaus dari penonton. Umumnya pemain sandiwara keliling Gelanggang Labu tidak pernah memiliki atau mempelajari dramaturgi secara formal. waktu siang hari ia berperan sebagai buruh pemetik kopi dengan pakaian kumal. pengkhianatan. kemunafikan. Ahmad Harun. Semuanya mengalir begitu saja dengan pengetahuan otodidak yang mereka miliki. Ibnu Arhas (sekarang mantan Anggota DPRD Kabupaten Pidie). pelawak dan penari sekaligus. Sementara bentuk pemanggungannya. di tengah areal sawah setelah usai panen padi. kain yang dilukis sebagai dekorasi sesuai tuntutan cerita dan lampu reflektor kecil untuk penerang dan pengubah suasana. Keterbatasan ilmu tentang bermain drama bukanlah suatu halangan bagi mereka untuk tetap terus bertahan. Maka tidak heran bila siang hari mereka bergaul dengan masyarakat dimana mereka melakukan pertunjukan. sandiwara keliling Gelanggang Labu sangat sederhana dengan konstruksi panggung berukuran 9X6 meter didirikan menggunakan drum kosong yang diatasnya diletakkan papan. serta Idawati merupakan tokoh-tokoh teater keliling yang sadar betul atas kekurangan mereka. bahkan ada yang menjadi buruh kasar di tempat itu. mereka melakukan keliling ke seluruh Aceh. Mereka menciptakan tema-tema cerita baru yang digemari masyarakat.

banyak panggung sandiwara keliling pada dekade 90-an terpaksa tutup sehingga pemainnya banyak yang menganggur. seperti. lalu diadopsi menjadi cerita yang menarik lewat kekuatan improvisasi para aktornya. Cerita yang ditampilkan selalu aktual dan kontekstual dengan daerah dimana mereka melakukan pertunjukan. Keunggulan inilah yang membuat teater keliling ini mampu bertahan hidup dan memperoleh sambutan hangat dari penonton di seluruh Aceh. Bahkan dalam pergaulan sehari-hari Ahmad Harun sering dipanggil Cut Maruhoi. Maka.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengangkat realitas sosial yang tumbuh dan hidup dimana mereka melakukan pementasan. cerita Cut Maruhoi diperankan Ahmad Harun (lelaki yang menjadi wanita) mengisahkan tentang seorang ibu mertua yang cerewet. Ahmad Harun benar-benar mampu masuk ke dalam penokohan Cut Maruhoi. dan Idawati mencoba kembali membangun panggung keliling. Situasi semakin membaik. Kemandekan kehidupan panggung keliling sangat terasa karena sering di cekal oleh Pemda dengan cara tidak memberi izin pertunjukan. Ahmad Harun. empat tokoh seniman teater keliling. Seruan ini dikeluarkan PEMDA Aceh karena beberapa pertunjukan sebelumnya di daerah-daerah rawan konflik sering terjadi keributan. Umar Abdi. dan panggung artis ibukota Dina Mariana pada tahun 1990 sempat dibakar oleh gerombolan tak di kenal. Mengigat hal itulah pertunjukan sandiwara keliling ‘Geunta Aceh’ pimpinan Umar Abdi pada pertengahan tahun 1991 di desa Blang Malu Kecamatan Mutiara Pidie. jahat dan sadis. serta Didong mulai terusik untuk berproses. sehingga nama tersebut begitu melekat dan populer di tengah masyarakat Aceh. dan pertunjukan di beberapa kota Aceh Utara. alasannya gangguan keamanan. Aceh 189 . Juga karena adanya operasi militer malam. dan Biola Aceh. Sandiwara keliling Gelanggang Labu. Sebagian terpaksa pulang kampung menjadi petani atau buruh kasar. Misalnya. Namun gangguan keamanan di Daerah Istimewa Aceh (Sekarang NAD) yang mulai pecah pada tahun 1989. Awal dekade 1992. kondisi keamanan mulai kondusif. Pertunjukan sirkus di Lhoekseumawe pada tahun 1989 sempat menimbulkan kekacauan. batal melakukan pertunjukan karena izinnya dicabut. Aceh yang memiliki teater tradisional atau teater tutur. Yusuf Syam. sangat terasa dampaknya bagi perkembangan insan seni untuk melakukan kreatifitas berkesenian. PM TOH.

tidak pernah terdengar di Aceh ada pertunjukan Sandiwara keliling Gelanggang Labu dipentaskan. denyut nadi Taman Budaya Aceh juga ikut terkena imbasnya. dan GAM (Gerakan Atjeh Merdeka) kembali bergerak. Sekaligus mampu membangun realitas sosial bagi penontonnya. petani. Grup-Grup yang pernah jaya. Betapa tidak. menjadi penjual ikan.jangankan sandiwara keliling Gelanggang Labu. Taman Budaya Aceh sejak tahun 1970-an sampai 1997 aktif melaksanakan pertunjukan teater modern Indonesia di Aceh tiap bulan. buruh kasar dan lain sebagainya demi menghidupi keluarganya. suasana yang tak menentukan itulah menyebabkan izin pertunjukan tidak dapat diberikan kepada sandiwara keliling Gelanggang labu. Daerah Istimewa Aceh kembali bergolak. lagi-lagi dengan dalih keamanan. bila hal ini terjadi terus-menerus teater keliling Aceh hanya tinggal nama sebab tak ada lagi pewarisnya. Teater Mata pimpinan Almarhum Maskirbi. menurut amatan penulis dari tahun 1998 hingga sekarang 2009. Teater Gita Pimpinan Junaidi Bantasyam. Kondisi Aceh kembali mencekam dan tak menentu. Aceh Tengah dan Sabang mulai diizinkan untuk melakukan aktivitasnya. mahasiswa serta ulama dayah seAceh menuntut referendum. Tahun 1998 dengan berhasilnya gerakan reformasi yang dilakukan mahasiswa seluruh Indonesia untuk menumbangkan Orde Baru. namun yang lebih menyedihkan dapat menelan sisi kebudayaan dan kesenian. kenyataannya menjadi lain. TNI dan POLRI kembali menjalankan operasi. Teater Bola pimpinan Almarhum Junaidi Yacob. Teater Kuala Pimpinan Yun 190 . Bila tak ada pemanggungannya secara otomatis para aktor panggung keliling semakin lanjut usia dan tak ada yang mampu mewarisinya untuk melanjutkan grup-grup sandiwara keliling. ternyata tidak bertahan lama. Sementara disisi lain. Sengketa yang terjadi di tanah rencong tidak hanya menelan korban manusia. kru panggung dengan seluruh awaknya kehilangan pekerjaan tetap yang telah diyakininya berpuluh-puluh tahun pekerjaan itu mampu menghidupi keluarganya. seperti hilang di telan bumi. Suasana seperti itu. seniman-seniman panggung terpaksa beralih profesi. seperti. Nah. Kemandekan kehidupan panggung yang disebabkan oleh gangguan keamanan betul-betul membuat para pelakon.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Besar. daerah Aceh secara tidak langsung telah memusnahkan kekayaan keseniannya.

Para pekerja teater banyak yang beralih profesi. Penabuh gendang. biola Aceh ini di sebut Genderang Kleng. dan cerpenis. dan dua orang lagi sebagai penari dan pelawak. atawa mereka tergerus air raya (tsunami) beberapa tahun yang lalu pada 26 Desember 2004. penyanyi sekaligus pelawak bahkan mampu menari. orang-orang lebih banyak membicarakan politik. rindu lawakan yang menggelitik dari si Ma’e (Ismail) yang mampu melahirkan derai tawa. Hal ini disebabkan karena gangguan keamanan. Biola yang digunakan adalah biola violin. Sanggar Cempala Karya Pimpinan Sulaiman Juned. Aceh Besar dan Pidie sejak tahun 50-an. Penamaan terhadap kesenian ini karena penggunaan instrumen biola sebagai instrumen utamanya. Hanya seniman sastra (penyair) dan pelukis yang masih terus melakukan prosesnya. masing-masing satu orang bertindak sebagai violis (syech) yang merangkap vokalis. kematian dan keadilan. Rindu Idawati Sri panggung sandiwara keliling yang mampu menjadi aktris. pemimpin grup sekaligus sebagai sutradara yang menyusun dialog untuk menyanyi. Biola Aceh Kesenian biola Aceh telah hidup di tengah masyarakat semenjak jaman colonial Belanda. ada yang menjadi penyair. penyanyi. Di Kabupaten Aceh Utara kesenian ini diberi nama Mop-mop sedangkan di Aceh Besar dan Kaputen Pidie. berperan sebagai Linto Baro dan Dara 191 . Namun awal 1998 pertunjukan teater Modern Indonesia di Aceh mulai hilang denyutnya. Apakah mereka ikut terkena imbas konflik panjang di Aceh. Kesenian ini dimainkan paling banyak 5 (lima) orang pemain. Sampai kapan hal ini terus terjadi. Teater Peduli Pimpinan Almarhum Nurgani Asyik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Casalona. Kita rindu tokoh Cut Maruhoi muncul di atas panggung. Konfliks-Tsunamisengketa tak pernah reda mengancam seni budaya Aceh pada nadir kepunahan. Namun kini dimana mereka para punggawa sandiwara keliling Gelanggang Labu bermuara. Denyut nadi kesenian Aceh seperti terhenti.Yanuarsyah. maka Aceh secara global akan kehilangan seni budayanya yang sangat kaya tersebut. Taman Budaya sepi pertunjukan. Andaikan situasi Aceh dibiarkan larut tanpa penyelesaian akhir. Teater Alam Pimpinan Din Saja. Orang-orang tak lagi membicarakan kesenian. Namun berkembang di Kabupaten Aceh Utara. Teater Kosong Pimpinan T.

Pertunjukannya membutuhkan panggung hanya 6 X 6 meter. terkadang mengenakan rok dan blus. namun magnitumnya justru pada gerak tubuh dan tingkah pemainnya yang kocak membuat penonton bertahan sampai dini hari. Kisah rumah tangga tentang wanita yang bersuami tetapi mencintai pria lain. nyanyian lewat berbalas pantun dengan ungkapan-ungkapan lucu. Sebaliknya pria yang telah memiliki istri namun masih mencari wanita lain. Penonton turut terbahak-bahak menyaksikan bunyi biola yang terdengan sumbang. ditingkahi suara gendang. dan disahuti pantun yang jenaka. Apalagi dihadiri penari joget yang adalah lelaki berperan sebagai wanita. Pantun dan nyanyian. harimau mengaum Ku tutu telinga. rimueng di taum Loen dhoe geuliunyeueng. serta dialog dari penari berisi cerita lucu tentang perkawinan. serta para pemainnya memakai pakaian yang warnanya kontras. loen jak bak gata. Ciri khasnya adalah adanya tarian.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Baro (suami Istri atau marapulai kalau di Minangkabau) yang melakukan gerak tari dan banyolan sesuai irama Biola dan pukulan Rapa’i. Sementara penari pria 192 . dan penuh humor. Kesenian ini sampai sekarang masih mampu berinteraksi dengan masyarakarat. dan rumah tangga yang sarat dengan masalah sosial. Biola Aceh komunikasi disampaikan lewat kekuatan humor. penyulut tawa adalah pantunnya yang jenaka. Tampil dengan dandanan menor dan mencolok. menggelikan. cerita (dialog). Mari kita nikmati salah satu pantunnya: Ta ek u glee tajak koh sigeudum Lam kayee ruhung umpung ‘nggang dama Gajah di dumpek. Artinya: Mendaki gunung memotong pohon sigeudum Di lobang kayu. Juga diselingi cerita mertua atau isteri yang cerewet. Meskipun pola dasarnya paduan musik dengan nyanyian. segar dan menggelitik terkadang terkesan porno. Ini terbukti dari setiap kali pertunjukannya mendapat sambutan meriah dari penonton. bangau bersarang Gakah menguak. tak jarang memakai kebaya dengan selendang berwarna hijau atau merah menutup kepala. ku datang padamu. dan secara tidak langsung terselip nilai kritik sosial melalui pantunnya yang kocak.

Secara tidak langsung generasi muda mengalami fase a-history. dan melawak. penggesek biola Aceh memainkan biolanya secara terbaik. Jadi menyaksikan pertunjukan biola Aceh. Melodi dasar lagu sama dengan melodi dasar biola. 193 . akulturasi. biola sebagai alat musik instrumen kesenian tradisi Aceh yang berasal dari Mesir. serta Syech Ali Basyah. terjadi interaksi sosial yang memberikan dampak perubahan terhadap budaya. dan integrasi dengan kesenian ronggeng yang berasal dari Sumatera Timur. Sampai saat ini masih hidup empat orang penggesek biola. 20 Januari 2005). namun dipengaruhi oleh unsur-unsur agama Islam. satu nada ditahan sementara nada lainnya bergerak membentuk progesi melodi. dan kurangnya pengetahuan. Teknik memainkannya sangat mirip dengan rabab di Minangkabau. Syech Maneh. Masyarakat Aceh yang menganut sistem feodal. menciptakan kesenian yang hampir mirip ronggeng. Aceh sepulang dari pertandingan tersebut. Di samping itu. bahkan banyak yang tidak mengenal tentang biola Aceh. terkadang juga memakai sepatu yang kebesaran. Kesenian biola Aceh. Sudah selayaknyalah kesenian ini perlu dilestarikan. dalam proses adaptasi menyerap nilai-nilai budaya islam. serta digarap secara bervariasi. namun baju atau jasnya di pakai terbalik. yaitu Syech Abdul Gani Krueng Mane. disebabkan h terjadinya konflik bersenjata dan tsunami di Aceh. Progresi melodi pada biola aceh membentuk harmoni vertikal dengan interval kwint. dan Syech Ma’e (Ismail). asimilasi. menyaksikan pemain biola. penabuh gendang yang dikombinasikan dengan berpantun. Perkembangan Biola Aceh selanjutnya memang jalan ditempat jika tidak mau dikatakan punah. Sumatera Timur kesenian yang ditampilkan ronggeng. Menurut mereka. Hal ini. menari. Proses adaptasi terjadi ketika terjadi pertandingan kesenian antara Aceh dengan Sumatera Timur di jaman Belanda. Perbedaannya terletak pada metode dalam memainkannya. tampak pada tekhnik memainkannya yaitu mengiringi vokal dengan mengikuti melodi vokal yang ditambah dengan nada hias. Bentuk perubahan tersebut adanya adaptasi. diberinama Biola Aceh” (Wawancara Syech Ma’e Pidie. walau biola pertama sekali diperkenalkan di Italia tahun 1719. Sama persis seperti alat musik konvensional barat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengenakan pakaian biasa. perkembangan musik modern mengakibatkan minat generasi muda terhadap biola Aceh menurun.

atau Kementerian Pendidikan Nasional berkenan menjadikan seni lokal menjadi kurikulum nasional agar seni tradisi populer dapat menjadi media komunikasi sosial. Seni pertunjukan seperti teater tutur PM TOH. Pasca konflik dan tsunami. Didong. atau seni Aceh tersebut akan ikut terkubur bersama ratusan ribu rakyat Aceh yang entah dimana makamnya? Generasi muda Aceh sekarang ini pasti banyak yang tidak kenal lagi. Dangderia. tetapi tetap berinteraksi dengan jamannya. pihak yang terkait.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Padahal. Guel. biola Aceh sebagai salah satu seni tradisi yang populer dapat menjadi media komunikasi sosial antara sesama etnis di Aceh yang multi-etnis. Pho. Seniman. Poh Tem. dan mampu mengikuti kemajuan jaman. Indonesia kehilangan seniman besar. Penutup Kesenian memang mampu menjadi perekat antar sesama. apakah seni-seni tradisional yang maha agung itu akan hidup. Lokalitas seni sebagai fenomena budaya diletakkan dalam perspektif kehidupan global untuk melakukan kontruksi indentitas diri. Tugas lembaga pendidikan tinggi seni. dan menumbuhkan kebersamaan. Dalupa. dinas pariwisata dan budaya. Peugah Haba. Manusia acap kali saling bersilang pendapat tentang idealisme yang mengakar dalam diri. atau Sandiwara Gelanggang Labu. Teatermusik-tari dan kesenian lainnya membuat masyarakatnya luruh dalam ‘kearifan lokal’ menghilangkan perbedaan. dan Biola Aceh memang kesepian dalam peti. Sebab seni tradisi Aceh selalu bersentuhan secara aktual dan universal lewat konsep kebersamaan. Namun kesenian cenderung merekatkan keretakan manusia tersebut. Sandiwara Gelanggang Labu. Biola Aceh. Teungku Adnan PM TOH-Cut MaharuhoiIdawati-Syech Abdul Gani Krueng Mane-Syech Ma’e-dan Syech Ali Basyah. Aceh kehilangan juru bicara. perlu duduk bersama bicarakan pentingnya menghidupkan kesenian tradisi. Sebab pertunjukan seni tradisi Aceh sesungguhnya telah melaksanakan 194 . tak usah mempertentangkan konsepsi pertunjukan antara tradisi dengan kontemporer. Seni tradisi Aceh. para intelektual seni. seniman. Konsep kultural dalam nilai etnisitas keacehan untuk mengidentifikasikan masyarakat jadi ‘ahli waris’ dari seni tradisi sekaligus sebagai pelaku bagi transformasi identitas lokal yang independen.

1999. 2000. Kesenian tradisi di Aceh tidak hanya dianggap sebagai media hiburan semata-mata.O. Gelitik Biola Aceh Makin Langka.. 1999.Adjib Hamzah.T. Permasalahan yang perlu diselesaikan.. 1999. 2005. Harian Kompas Jakarta: 26 Maret 2006 Basri Daham. bagaimana seni tradisi Aceh dapat dihidupkan kembali. Harian Kompas Jakarta: 18 Desember 2005 Mursal Esten. Festival Baiturrahman. Jurnal Palanta Padangpanjang: STSI Padangpanjang VCD Hikayat Malem Dewa. Jika ketiga seni ini hilang maka tanpa kita sadari budaya Aceh yang sarat dengan muatan penyadaran moral. 2003. event-event kesenian bertaraf nasional dan internasional seperti. dalam Asvi Warman Adam. Yogyakarta: Tarawang Pers Santosa. Teori dan Praktek. Ilmu Komunikasi. Kegiatan ini mampu menumbuhkan seni-seni tradisi yang mulai punah.. Peneliti Musik Aceh Pasca Tsunami. 1998 195 . Ekspresi dalam Seni Teater. Kartomi. Bandung: Rosda Karya Herwanfakhrizal. 2007.M. 1996/1997. Bandung: Angkasa Sulaiman Juned. Aktor di Panggung Teater. Unsyiah Press Banda Aceh Efeendy.H Trobadour yang Menulis di atas Angin. Pekan Kebudayaan Aceh. Produksi Jurusan Teater STSI Padangpanjang.. Interkulturalisme Teater. Serambi Indonesia Banda Aceh: 30 Agustus 2008 Budiman Sulaiman. agama. Semoga seni tradisi Aceh ini tetap hidup dan berkembang. 2006. dan Diwana Cakradonya perlu dikembangkan. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra.. Monolog. 1988..... Kajian Transformasi Budaya. Jurnal Ekspresi Seni Program Studi Pascasarjana UGM. 2000. Bandung: Penerbit Angkasa Rahman Sabur.. Konflik di Aceh: Sandiwara Keliling Gelanggang Labu Terancam Punah. Kesusastraan Aceh.Nalan Etno Teater Bandung Sahid.. 1996/1997 Margaret J.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI konsepi pertunjukan dalam tataran kontemporer. tetapi mampu menjadi sebagai media komunikasi. Semoga! Daftar Pustaka A. Pengantar Drama Monolog Enam Tuan Arthur S. Jurnal Palanta Padangpanjang: STSI Padang Panjang ---------------------. adat dan sosial terkikis dari kehidupan bermasyarakat.. 1984. Pengantar Bermain Drama. CV Rosda Bandung Agus Noor.. Nur (ed). Oleh karena itu. Teater Tutur Aceh: Adnan P. 1993.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 196 .

baik seni Melayu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Penggunaan Seni Tradisi dalam Media Komunikasi Sosial di Sumatera Utara Drs. atau hiburan oleh suatu etnis di daerah Sumatera Utara. Setiap etnis asli Sumatera Utara menghendaki keharmonisan dan M 197 . ketersediaan data pendukung yang penulis miliki. maupun aneka seni dari etnis-etnis Batak adalah cukup memberikan rasa optimis untuk merealisasikan sasaran minimal tema tulisan di atas. dan beratus konteks pertunjukannya. Sungguh pun begitu. ritual adat.Sn Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Pendahuluan embicarakan masalah penggunaan seni tradisi dalam media komunikasi sosial di Sumatera Utara merupakan obyek diskusi yang sangat luas. Hajizar. Outline dasar yang menjadi fokus berkisar tentang fungsionalnya suatu genre seni sebagai mediasi untuk pencapaian niat atau maksud diadakannya suatu upacara atau acara yang berhubungan dengan religius/keagamaan. dan bervariasi konsep seni yang dimiliki mereka membawa penulis untuk memilih pendekatan “induktif” untuk mengidentifikasinya. materi seni yang banyak. M. karena propinsi Sumatra Utara didiami oleh banyak etnis yang memiliki konsep budaya. bahasa. Minang. ditambah dengan pengalaman praktikal selama empat tahun menjadi pelaku seni di Sumatera Utara. Berlatar kompleksnya sistem kehidupan masyarakatnya. dan sistem komunikasi sosial yang spesifik sesuai dengan latar belakang keturunan nenek moyang mereka masing-masing.

Bagian keempat menfokuskan diskusi kepada dinamika kehidupan masyarakat dan kreativitas seni yang terjadi dalam konteks perubahan di masa sekarang dan prospek keberlanjutannya di masa depan. antar kelompok. Dengan demikian. tetapi berdasarkan penggunaan dan berfungsinya suatu produk seni dalam suatu konteksnya berarti sudah menunjukkan keberhasilan suatu komunikasi. Kesenian diapresiasi sebagai mediasi yang mujarab untuk menjembatani komunikasi horizontal antar individu. tulisan ini disajikan dalam empat bagian.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kelanggengan sistem kemasyarakatan (kekerabatan) dan struktur sosial yang diwarisi mereka. upacara religi/keagamaan. atau diperolehnya kesenangan batin melalui hiburan. dan komuniksi vertikal antara manusia dengan supranatural yang gaib. karena keyakinan tercapainya maksud atau niat pelaksana upacara. Bagian kedua memperlihatkan sekilas demografi wilayah dan penduduk Sumatera Utara untuk menggambarkan keadaan hunian yang bersinerji dengan kompleksitas konsep sosial masyarakat yang menghuninya. bahwa konteks upacara dan acara-acara seremoial merupakan suatu produk sosial dan salah satu komunikasi yang wujud di dalamnya adalah komunikasi sosial. dengan Tuhan atau “Sesuatu” yang dianggap berperan sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa penentu jalannya kehidupan di dunia dan hidup sesudah mati. maka wujudlah aneka upacara ritual adat. Mayoritas wahana yang dipilih oleh etnis-etnis Sumatera Utara dalam rangka tercapainya pengharapan di atas adalah kesenian. Bagian pertama ini berposisi sebagai pembentukan frame pemikiran terhadap kelayakan tema ini menjadi sebuah informasi yang bermanfaat. Tulisan ini tidak secara gamblang membicarakan masalah ‘komunikasi sosial’ secara konseptual. Sudah sama dipahami. dan acara-acara sosial lainnya. atau hiburan pada konteksnya adalah setelah terkoneknya maksud itu dengan resepsi obyek upacara tersebut. Sekilas Demografi dan Wilayah Penduduk 198 . serta tercapainya kebahagiaan hidup sesudah mati melalui sistem kepercayaan yang dianut. Kemudian bagian kelima sebagai konklusi dari temuan yang diperoleh dari hasil keseluruhan deskripsi tulisan. Sedangkan bagian ketiga merupakan informasi masa silam yang difungsikan sebagai landasan penting untuk melihat kondisi kehidupan kesenian masyarakat Sumatera Utara masa sekarang.

Kepulauan Nias. Asahan. Pini. penduduk Sumatera Utara berjumlah 11. Kepulauan Batu yang terletak di Tenggara kepulauan Nias terdiri dari 51 pulau. Pasu.85 juta jiwa. Tapanuli Utara. Masa.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Sumatera Utara sebuah provinsi yang keempat terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa Barat. 199 . kondisi alam Sumatera Utara pada dasarnya dapat dibagi atas: Pesisir Timur. Langkat. Tanah Bala. kayu manis. Serdang Bedagai. Bawa. Lego. kopi. Kepulauan Nias yang terletak di lepas pantai pesisir Barat Samudera Hindia merupakan pulau utama dan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya. Pegunungan Bukit Barisan. Batubara. Menurut hasil Sensus Penduduk (SP) tahun 2002. kelapa. dan Kepulauan Batu1. Mandailing Natal. Sedangkan pulau yang terluar dari sekian ratus pulau tersebut. Kepadatan penduduk Sumatera Utara pada tahun 2002 menjadi 165 jiwa per km². Berlatar luas daerah dan jumlah penduduk Sumatera Utara pada dasawarsa terakhir ini. Padang Lawas. Dengan begitu. Selain geografis Propinsi Sumatera Utara yang terbentang dari daerah pesisir Timur ke pesisir Barat. Padang Sidempuan. ialah pulau Simuk (kepulauan Nias). dan 7 kota): Kabupaten Angkola Sipirok. Jawa Timur. Samosir. dan Sigata. Humbang Hasundutan. di antara 4 pulau yang terbesar: Sibuasi. PT. di antaranya pulau Imanna. Padang Lawas Utara. Toba Samosir. Deli Serdang. Tanah Masa. Tapanuli Tengah. Sibolga. Tebing Tinggi. Bau. maka Pemda Tingkat II di Sumatera Utara yang semula berjumlah sekitar 17 kabupaten/kota. dan Jawa Tengah. cengkeh. Simalungun. Dairi. dan tembakau) dan pertambangan minyak bumi. Pematang Siantar. Tapanuli Selatan. dan pulau Berhala di Selat Malaka. Pakpak Bharat. teh. coklat. serta diprovokasi oleh semangat otonomi daerah untuk memacu pertumbuhan pembangunan di segala bidang. Wunga. batu bara. Simaleh. Potensi bumi Sumatera Utara yang luas dan subur telah mewujudkan perkebunan (karet. telah dimekarkan menjadi 29 Kabupaten/kota (22 kabupaten. Selain itu terdapat beratus pulau lain di Samudera Hindia yang termasuk propinsi di Sumatera Utara. Inalum di Kuala Tanjung Kabupaten Asahan terdapat 1 Sumber Wikipedia Indonesia. kelapa sawit. Binjai. Hamutaia. ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Pesisir Barat. Nias. Karo. Tanjung Balai. Batumakalele. Makole. Labuhan Batu. dan Kota Medan. dan juga meliputi 419 pulau yang berada di luar pulau Sumatera. gas alam. Nias Selatan. Jake.

4) suku Nias. Minang. Agama Islam menjadi agama mayoritas yang dianut oleh suku Melayu. Namun. 2) Pesisir Sibolga (Pesisir Barat Sumatera Utara). Setiap etnis (asli dan pendatang) di Sumatera Utara menggunakan Bahasa Ibu masing-masing. Simalungun. Pesisir Sibolga. Mandahiling. Agama Hindu terutama dipeluk oleh keturunan India yang minoritas di perkotaan. bermunculan lagi beraneka pabrik di berbagai kota sehingga kota Medan telah menjadi kota industri utama di Sumatera. agama Kristen (Protestan dan Katolik) terutama dipeluk oleh suku Batak Toba. Realita di atas telah menjadikan Sumatera Utara didiami oleh multietnis yang terdiri dari suku asli dan suku pendatang. Minang. India Keling. mengadu nasib masuk ke daerah Sumatera Utara dan berdomisili sesuai sentra-sentra aktivitasnya masing-masing. Kesemuanya ini telah mengundang pendatang dari etnis lain merantau. sebagian Batak Karo. Aceh dan Jawa. Pakpak Dairi. Aceh. Suku pendatang ialah Jawa. Batak Simalungun. Karo.” Begitu juga masih terdapat sejenis aliran kepercayaan bernama “Parmalim” yang dianut oleh sebagian suku Batak Toba yang berpusat di Huta Tinggi. Dengan demikian. PLTA Asahan yang merupakan terbesar di Sumatra terdapat di Kabupaten Toba Samosir. Sentra aktivitas pada berbagai lokasi ini yang bersentuhan langsung dengan sosio-budaya lokal yang beragam pula sebagai lingkungan kerja dan kehidupan mereka. dan komunikasi dalam pergaulan umum selalu menggunakan Bahasa Indonesia dialek Melayu. dan tentu beraneka pula corak seni tradisional yang berfungsi membentuk komunikasi sosial dalam kehidupan kotakota di Sumatera Utara. lengkaplah identitas Sumatera Utara sebagai propinsi multi etnis di Sumatera. dan lainnya. Bahkan sebagian suku Batak Toba dan Nias masih menganut kepercayaan Animisme yang bernama “Pelebegu Parhabonaron. Suku asli ialah 1) suku Melayu (Pesisir Timur Sumatera Utara). Batak Pakpak Dairi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF yang bergerak di bidang penambangan bijih dan peleburan aluminium yang merupakan satu-satunya di Asia Tenggara. Tionghoa. Di samping itu. 200 . Konghucu terutama dipeluk oleh suku Tionghoa di perkotaan. 3) suku Batak (Toba. dan suku Nias. Buddha terutama dipeluk oleh suku Tionghoa di perkotaan. dan Mandahiling). Angkola. persoalan kepercayaan memiliki fenomena yang menarik dalam kehidupan masyarakat Sumatera Utara yang heterogen tersebut.

Menurut Marpaung. baik berbentuk sistem kemasyarakatan yang diwarisinya. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. 201 . hal 3. kita coba melihat sampel genre-genre seni utama dari etnis-etnis asli Sumatera Utara yang berhubungan dengan fungsinya sebagai pembangun komunikasi sosial tradisional dalam kelompok-kelompok etnis masyarakatnya masing-masing. Banggal Marpaung. bahwa salah satu contoh dari repertoar tersebut adalah “Gondang Debata Sori” yang dalam hal ini adalah nama salah satu dari Tuhan menurut Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di dalam masyarakat Batak Toba. kedudukan musik tradisional Gondang Sabangunan bagi masyarakat Batak Toba dipakai dalam kepentingan upacara religius untuk mengatur hubungan antara peserta upacara dengan Tuhan dan dunia gaib. Ungkapanungkapan itu dapat mengakrabkan pergaulan sehari-hari para peserta 2 3 Banggal Marpaung. Pada setiap upacara adat. hal 2. serta lingkungannya. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Identifikasi Sosio-Seni Warisan Etnis-Etnis Asli Sumatera Utara Berdasarkan identifikasi terhadap tradisi sosial dan seni dari etnisetnis asli yang mendiami Sumatera Utara dijumpai beraneka ragam aktivitas. 1994. Apabila dikaji secara seksama makna ungkapan-ungkapan tradisional tersebut sifatnya universal dan dapat bertahan sepanjang masa3. gondang-gondang yang dimainkan pada kegiatan religius itu bersifat sakral. Buku Buklet. 1994. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. maupun berbentuk upacara-upacara tradisional yang diadatkan dalam bentuk seremoni adat masing-masing sebagai konsekuensi dari sistem kemasyarakatan yang dianut mereka. Dengan demikian. dan tidak dapat sembarangan dimainkan2. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. Begitu pun pada upacara adat. umumnya peranan Gondang Sabangunan berfungsi sebagai pengiring tarian (tortor) dari kelompok masyarakat yang mempunyai marga (clan) yang terkait sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu (Tungku Nan Tiga). Buku Buklet. Nomor-nomor gondang yang disajikan selalu didahului dengan ungkapan-ungkapan tradisional yang disampaikan oleh partisipan upacara melalui tonggo-tonggo. Pertama. Berikut ini. Melalui penyajian Gondang Sabangunan disampaikan permohonan peserta upacara kepada Tuhan-Nya. gondang dan tortor selalu hadir menjadi alat mengekspresikan perasaan dan maksud.

tidak hanya dalam memenuhi berbagai kebutuhan sosialnya. bahwa seorang pemusik Batak Toba berfungsi sebagai mediator utama dalam menjalin hubungan antar dunia manusia dengan dunia para dewa. Gondang (“musik”) memiliki peranan yang penting dalam aktivitas kehidupan mereka. dimana gondang dianggap menjadi alat utama untuk mencapai dan membangun hubungan antara manusia dan “Sang Pencipta” (Mulajadi Na Bolon)4. dan banjir. etnis Batak Karo memiliki ensambel musik tradisional utama disebut “Gendang Lima Sendalemen.” Makalah. Tersirat di sini. Tentu pemusik gondang dituntut untuk memahami sepenuhnya tentang struktur dan materi sebuah ritual/upacara yang sedang dimediasinya. Kumbang. kilat. Secara tiba-tiba bermunculan bermacam suara sebagaimana karakter dan warna suara yang dimiliki oleh Tung-tung. disamping juga dipakai dalam konteks aktivitas seremonial adat. bahwa: “pada masa dahulu. sementara Gung. bahwa seorang anak boru berkewajiban untuk 4 5 Rithaony Hutajulu. Gondang utamanya dimainkan dalam kaitannya dengan berbagai ritual maupun upacara keagamaan. Cacing. dan ada juga garantung sebagai pembawa ritme variabel. Katak. Amphok (burung). Gendang Indung Na. maka matilah anak sang putri tersebut. Tiruan bunyi itu akan mujarab untuk mencegah matinya segala manusia. Pentingnya peranan ini dapat dilihat kaitannya dengan salah satu filosofi dasar masyarakat Batak Toba. 202 .” Kehadiran ensambel musik ini berlatar belakang sebuah mitos yang hidup dalam masyarakat Karo. bahkan menjadi sarana penguat identitas dan pembangun rasa solidaritas sesama antar individu dan antar kelompok masyarakat yang seatap dalam suatu upacara adat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF upacara. Dalam masyarakat lokal-tradisional Batak Toba. 2002. Menurut adat Karo. Kedua. lobangnya 7. gendang Anak Na. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara. manusia itu tidak mati-mati. dan penganak berfungsi sebagai pembawa ritme konstan. badai. Instrumentasi Gendang Lima Sendalemen terdiri dari sarune terbuat dari kayu selantam. Pada suatu kali terjadi angin topan. Bandung: UPI. hal 3-4. tetapi juga meliputi berbagai hal terkait dengan hal yang bersifat spiritual. Mitos tentang suara-suara inilah yang dipercayai masyarakat Karo untuk menemani kehidupan mereka yang diimitasikan melalui musikal instrumen Gendang Lima Sendalemen5. dan batangnya dari gelondah berperan sebagai pembawa melodi. Kemudian anak yang mati itu disuruh oleh ibunya untuk menirukan segala bunyi tadi.

Penyanyinya diistilahkan dengan “Parkolong-kolong. Bagi orang Karo. Sarune. Begitu juga halnya tentang masalah hubungan timbal-balik antara musik dengan tor-tor dalam kehidupan masyarakat Batak Mandahiling. sekaligus minta nasehat. maka dia ditanyai tentang apa-apa yang perlu. Sordam. maka diadakanlah upacara Guro-guro Aron sambil berhibur oleh muda-mudi. untuk menghormati raja-raja. sebagai ritme variabel. Ketiga. sekaligus untuk memberi semangat terhadap para remaja di desa masing-masing. atau Dalihan Na Tolu. Salah satu konteks sosial yang paling memasyarakat lagi populer untuk penyajian ensambel Gendang Lima Sendalemen ialah Pesta Guro-guro Aron yang diadakan pada setiap desa di tanah Karo. Tali Sasayap. 2) berfungsi horizontal.sebagai lagu tradisi untuk mengusung jenazah yang terdiri dari 48 lagu berturut-turut yang dikenal dengan istilah ‘50 . dan Gondang dua8. karena binatang ini dianggap hewan yang beradat. yaitu Gordang Sembilan6. yaitu mengundang rasa kemanusiaan dan rasa sedih bagi orang yang ikut upacara. Ritem Variabel : Gondang. Gong.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mempersiapkan suatu upacara adat pada waktu kematian. boruboru. 1 buah Enek-Kenek 1 pemain. Apabila roh telah menghinggapi diri Sibaso. Momongan. Suling. Dia harus tahu susunan struktur famili dari orang yang meninggal sewaktu diadakan seremonial upacara kematian lengkap dengan ensambel gendangnya. 2 buah Patolu 1 pemain. karena sewaktu padi berperut. remaja di desa merasa resah. masyarakat Batak Mandahiling memiliki tiga jenis ensambel musik yang penting dalam tatanan kehidupan sosial mereka. Cabutan satu-satu buah dari 5 unit Gordang Sembilan. Guro-guro Aron bermakna suatu upacara syukuran panen bagi suatu desa. Doal sebagai ritem konstan. 2 buah Udong-Kudong 1 pemain. dan agar keresahan itu tidak berlanjut. Gordang Lima7. Sebab gendang ini diiringi dengan nyanyian-nyanyian tradisi berjudul ’Lagu Pengangkat’ --mungkin jenazah ini diangkat ke sorga-. Gordang Sembilan digunakan untuk menghormati Mayat Harimau. gendang berguna sebagai ‘basis pengantar’ bagi suatu upacara kematian. 6 7 8 2 buah Jangat 1 pemain.’ 203 . untuk memanggil roh-roh melalui Sibaso/Sisaman (dukun). 2 buah Padua 1 pemain.2’ yang semua teks lagunya berisi magis yang berkaitan dengan kepercayaan. Salung sebagai pemegang melodi. Sedangkan ensambel Gordang Lima memiliki dua fungsi: 1) berfungsi vertikal.

Berdasarkan beberapa sampel di atas.’ Horja dalam musik tradisional Batak Mandahiling dapat dibagi kepada: a. dan waktu mayat berangkat ke kuburan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Terdapat suatu ungkapan masyarakat Mandahiling: “Terter Mulani Gondang. seperti kematian dimainkan repertoar ‘Horja Silulutan.’ Repertoar yang biasa dimainkan berhubungan dengan kepercayaan ialah Alap-alap Tondi. yaitu urusan pesta yang langsung berhubungan dengan famili isteri. dan di sini ditampilkan tortor. Selain itu. b. yaitu urusan pesta para muda-mudi.” Secara fungsional tortor Mandahiling dibagi dua: 1. bahwa pada masa dahulu dalam masyarakat Batak Mandahiling terdapat upacara ‘Mahadongi Hamatian. Naposo Bulung. diiringi dengan repertoar ‘gondang roto. dipukul canang dan beduk yang terusmenerus dimainkan hingga seluruh famili datang ke rumah duka. Somba Mulani Tortor (apa kata gendang. karena segala sesuatu di dunia ini berasal dari roh.’ Begitu juga pada upacara kematian raja. 2. dapat disimpulkan.’ yaitu orang-orang yang menangisi mayat secara bersama. Tortor Mora. Berhubungan dengan “adat-istiadat” tentang urusan kehidupan dan kematian. yaitu tor-tor dan musik langsung berhubungan dengan pihak yang berpesta. Penyajian tortor dan musik merupakan suatu kesatuan yang difungsikan untuk mengundang roh. bahwa segala aspek kehidupan masyarakat Batak Mandahiling selalu diling- 204 . seperti pesta kawin atau kelahiran (dimainkan repertoar ‘Horja Sirizon). d. Figur yang berperan menghubungkan manusia dengan roh ini adalah melalui perantaraan ‘Bayo Dato (Sibaso). Berhubungan dengan “kepercayaan” kepada roh. Tortor Anak Boru. c. itu kata tari). Musik dan tortor dimainkan untuk urusan upacara suka-cita. Jolo-jolo Turun. Tortor Suhut Sihabolon. dan untuk upacara duka-cita. dan Sarama Datu. yaitu urusan pesta yang berhubungan dengan pihak bapak.

Untuk upacara ini dipakai Gendrang 7. dan waktu mati pakai gondang. etnis Batak Pakpak Dairi terkenal dengan ensambel Gorci9. b. 205 . Kerja Baik. sejahtera. kawin pakai gondang. Dengan demikian. Keempat. agar seluruh masyarakat mendapat berkat dan taufik hidayat. Terbagi kepada tiga macam upacara: a. Mre Kemban yaitu suatu pesta yang diadakan untuk menyembah berhala.’ Klasifikasi upacara adat-istiadat dipertimbangkan oleh Sulang Selima10 berdasarkan sumber penyebab wujudnya upacara tersebut. misalnya orang tua yang meninggal pada usia lanjut. Merkata Sipitu yaitu suatu pesta yang diadakan sewaktu padi belum ditanam. merupakan seperangkat alat musik yang pemakaiannya berhubungan dengan upacara ‘adat istiadat. Gendrang 7 (dengan 3 pemain). Untuk upacara ini dipakai Gendrang 2. Terbagi kepada dua macam upacara: a. Kettuk. Mase Sayur Matua dipakai Gendrang 5. 2. Gong. Mendeger Uruk yaitu suatu pesta atau kerja baik untuk meminta/memohon kepada Debata Guru (Tuhan) “Beras Pati Tana dan Mungkeni Kula. b. 10 Sulang Selima yaitu unsur adat yang tertinggi sebagai adat yang menentukan paling akhir pada setiap pelaksanaan ‘kerja’ dalam masyarakat Pak-Pak Dairi. Gendrang 2. c. Kerja Njahat. sebagaiman pengertian berikut: 1.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI kungi dengan tor-tor dan musik gondang atau gordang. agar mendapat hasil yang melimpah. serta memanggil roh dan menolaknya pun juga pakai gondang. Mangokal Tulan dipakai Gendrang 5. hidup sentosa. dapat dikatakan bahwa prinsip kehidupan sosial masyarakat Batak Pak Pak Dairi yang selalu dimediasi oleh ensambel gendrang Gorci cukup mirip dengan fungsi gordang dan gendang dari 9 Terdiri dari: Gendrang 9 (dengan 5 pemain). adil dan makmur. Sewaktu lahir pakai gondang. dan kerja njahat. Kalondang. sebelum mengenal agama. Gendrang 5 (dengan 3 pemain). Cilat-cilat. yaitu pesta sewaktu terjadi keliahan/kemalangan yang tanpa perencanaan sebelumnya. subyek upacara itu disebut dengan “kerja” yaitu kerja baik. Untuk upacara ini dipakai Gendrang 9. Gerantung. yaitu pesta yang mempunyai perencanaan yang baik yang mempunyai makna dan cita-cita.

tanpa musik. Repertoar “Dual Rambing-rambing” yang diiringi dengan tari. sedangkan roh-roh jahat diusir (diiringi tari). yaitu 1) Ho Ho Ba Fetatoro (duduk). dimana leader (disebut Sandroto) bernyanyi secara solo dengan melodi yang tidak banyak variasi. etnis Batak Simalungun menggunakan musik dan tari untuk kepentingan religi. burung enggang. dan biasanya lebih tua dari penabuh lainnya. Dahulu pada dual ini dipakai gondrang si dua-dua. merupakan repertoar pendahuluan sesudah repertoar pembukaan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF masyarakat Batak Mandahiling. Terdapat dua bentuk penyajian Ho Ho. Topeng ini selalu dihadirkan pada setiap upacara kematian orang berumur tua yang diiringi dengan Gondrang Si Pitu-pitu. 2. Dalam upacara kematian. Tiga musisinya mengenakan kostum yang berbeda. Selain itu. dan hiburan. kepentingankepentingan itu tidak dapat dilakukan. panarunai yang menjadi pimpinan rombongan diberi “ayam. tetapi sekarang sudah dipakai gondrang si pitu-pitu. seperti “Panarunai” lebih tinggi kedudukannya. dan beras” pada setiap penampilannya sebagai simbol spirit kemasyarakatan mereka. Selain dari penabuh dual ini adalah tidak boleh menabuhnya. Secara adat. kelapa. Keenam. Oleh sebab itu. 2) Ho Ho Bame Sidi Ndo (berdiri). masyarakat Batak Simalungun memiliki Topeng Huda yang penting sekali artinya bagi rakyat Simalungun. biasanya dinyanyikan Ho Ho yang menceritakan riwayat hidup orang tua yang meninggal. Repertoar “Dual Parahot” yang khusus sebagai pembukaan upacara yang mempunyai hubungan dengan religi (roh jahat dan roh baik). Repertoar musik Simalungun yang terkenal sebagai berikut: 1. adat. yaitu desain pakaian menyerupai kuda. sedangkan pada upacara ritual keagamaan dinyanyikan “Fo’ Ere (nyanyian pendeta) yang langsung dipimpin oleh Ere (pen206 . Nyanyian ini disajikan dalam konsep responsorial. kemudian direspon oleh kelompok penyanyi ‘Sono Yohi’ untuk menghiasi melodi Sondrono. etnis Nias terkenal dengan musik vokal ‘Ho Ho” yaitu kesenian vokal yang teksnya berbentuk puisi. sehingga musisi menempati strata yang terhormat dalam masyarakatnya. sekaligus berfungsi untuk membedakan materi garapannya. artinya berguna untuk persembahan dan yang menari hanya roh-roh baik. musisi mendapat penghormatan yang tinggi dari masyarakat. Kelima.

Apabila seseorang anggota masyarakat Pesisir Sibolga ingin menggunakan musik Sikambang pada pesta perkawinan. tetapi tidak berhak memakai kain sampe gala. 2) pesta keturunan bangsawan dengan memotong sapi yang berhak memakai kain sampe gala 9. pengantin laki-laki diarak masuk ke dalam ruangan tempat besanding yang langsung disandingkan dengan pengantin wanita yang sudah duduk menanti11. yaitu sejenis gendang yang dipakai untuk menyampaikan sesuatu maksud dari pendeta. tetapi puncak kemeriahannya terjadi pada malam ketiga. dimana pengantin duduk di atas pelaminan untuk berinai. dilanjutkan dengan irama Kapulo Pinang dan Tari Payung. Menurut Fadlin. dan telah memenuhi syarat-syaratnya antara lain sebagai berikut: 1. Ketujuh. Fadlin. cs. yaitu suatu tanda kelengkapan adat istiadat dalam bentuk selendang beraneka ragam warna yang dipasang pada langit-langit di atas pelaminan yang disangkutkan dengan bambu yang sudah ditata sesuai dengan perlengkapan pelaminan. dan upacara ini dibuka dengan irama Kapri dan Tari Sapu Tangan. Biasanya hiburan musik Sikambang diadakan pada malam ketiga ini. cs. namun penggunaan musik Sikambang mesti mendapat persetujuan dari pengetua adat terlebih dahulu. 207 . Pesta Perkawinan masyarakat Pesisir Sibolga dibagi atas tiga kelas: 1) pesta keturunan raja dengan memotong kerbau yang berhak memakai kain sampe gala 12. “Tata Cara Adat Perkawinan Pesisir Sibolga.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI deta) yang memegang Fondrahi. hal 7. Kelompok per11 Fadlin. 1985. Kemudian dengan iringan lagu Dampeng. Menyampe. upacara “pesta perkawinan” dan kesenian yang melekat padanya menjadi seremoni adat yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat Pesisir Sibolga dan sekitarnya. 2. Medan: USU. Ketiga kelas upacara pesta perkawinan ini tetap dilaksanakan selama 7 hari 7 malam. irama Lagu Duo serta Tari Salendang. bahwa upacara basanding duo diadakan pada malam ketiga. Galombang 12 adalah suatu permainan pencak silat oleh 24 orang pesilat yang dibagi atas dua kelompok. maka pengetua adat akan mengatur pelaksanaannya sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan. Walaupun pesta perkawinan dilaksanakan selama 7 hari dan 7 malam.” Laporan Penelitian. dan 3) pesta keturunan rakyat biasa dengan memotong kambing.

untuk rasa perdamaian dengan kuasa gaib. menjauhkan bencana. sehingga aktivitas berkesenian memang banyak berhubungan dengan kuasa-kuasa gaib yang dimulai dengan jampi-jampi (mantera). Ini merupakan arti tersirat yang tidak boleh dilanggar. jin. 2005. kalau dilanggar adalah dianggap melanggar adat dan bagi pelanggar ada sangsi sosial bagi kelompok yang melanggar. Kedelapan. Apabila pesta perkawinan akan disempurnakan dengan penyajian Galombang 12. mambang dan lain-lain. di samping kepercayaan kepada Allah YME. “Musik Melayu: Akar Budaya. musik Sikambang dimainkan di bawah langitlangit dan pelaminan. Makalah. bangsawan. lagu bertuah. sebaiknya tidak menampilkan kesenian Sikambang. 208 . jikalau tidak sanggup menghadirkan langit-langit dan pelaminan. 1985. dan Kontinuitas. yang dinyanyikan secara bersahutsahutan antara solo vokal yang teksnya berupa doa’-doa’ kepada Tuhan dan disambut oleh orang ramai yang pada dasarnya menguatkan doa’ yang dinyanyikan oleh solo vokal12. Medan: USU. Akulturasi. Walaupun falsafah orang Melayu “adat bersendi syarak. puaka. “Tata Cara Adat Perkawinan Pesisir Sibolga. terutama dipakaikan pada alat-alat musiknya. dan lain-lain. hal 45. jin. mendu. maka pihak pengantin wanita/pria diharuskan menyembelih kerbau atau lembu sebagai persyaratan dalam peradatan. Salah satu contoh teater tradisi di sini ialah teater Bangsawan. menhora.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF tama mendampingi pengantin pria sebagai panglima atau raja sehari dan kelompok kedua berfungsi sebagai pengawal dari pengantin wanita.” Laporan Penelitian. Perubahan. musik-musik sebelum Hindu/Islam digunakan untuk mengiringi teater-teater tradisional Melayu. Medan: Etnomusikologi USU. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan. seperti wayang kulit. jembalang laut. Fadlin. dewa. Lagu dampeng adalah lagu vokal yang dinyanyikan oleh laki-laki. seperti hantu jembalang tanah. syetan. 13 Muhammad Takari. Ketangkasan bermain silat sewaktu penyambutan pengantin lakilaki diiringi dengan lagu dampeng. Misalnya. cs. kesenian tradisional warisan etnis Melayu. mengusir hantu atau setan13. bahwa pada waktu berhubungan dengan adat. hal 6. Teater 12 Fadlin. syarak bersendi Kitabullah” tetapi cukup sarat produk sosial dan seninya dibarengi oleh unsurunsur kepercayaan kepada alam roh. makyong.

maupun Primadona yang mempunyai karakater permainan yang baik. Baik Anak Muda. 2. 209 . 2. tetapi tidak bisa bertahan lama karena pemain yang berkualitas akan disabet oleh rombongan lain yang lebih kaya. Di dalam cerita Bangsawan sudah dipakai cerita-cerita kejadian yang bersumber dari peristiwa-peeristiwa di negeri Barat. Teater bangsawan mahal biayanya. Para pemain utama dengan ciri-cirinya sebagai berikut: 1. 3.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bangsawan dikenal juga dengan istilah Opera Melayu. harus dipelajari dengan meniru tokoh dahulu secara oral tradisi. di antaranya yang terkenal adalah: 1. tersingkirkan oleh sandiwara-sandiwara modern. 3. karena: 1. TV). Hal yang menarik dalam teater Bangsawan. Pada daerah Melayu teater Bangsawan muncul secara berkelompok atau kumpulankumpulan. dengan membawakan tema mengenai kesatriaan seorang tokoh. Bangsawan merupakan cikal-bakal terjadinya jenis teater —peralihan— ke teater modern dengan dua dimensi. Terdapat Sri Panggung yang menjadi primadona dalam cerita. Menjelang Perang Dunia II teater bangsawan sudah tidak bisa bersaing lagi dengan kemajuan teknologi (film. di mana Sri Panggung dan Anak Muda harus pandai bernyanyi dan menari. Ada Jin Jahat yang berperan untuk merong-rong ide-ide dari tokoh. Tokoh Anak Muda yang berperan sebagai pahlawan. Dialog tidak bisa dipelajari dengan naskah. Kelompok Indra Ratu (Sultan Serdang) 2. Terdapat Tukang Lawak yang selalu menghidupkan suasana panggung 4. karena sarat sekali dengan perlengkapan-perlengkapan yang harus dipersiapkan. Kelompok Stambul 3. Kelompok Dardanela Setelah jaman Jepang perkembangan teater Bangsawan menurun. dan hilangnya lafal norma-norma bahasa Melayu. Pembukaan dan penutup dalam permainan teater Bangsawan juga dibarengi dengan mantera-mantera.

seperti Kuala Deli. Pancang Jermal dan lainnya. Beberapa lagunya yang terkenal ialah Dua Singapura. Makan Sireh. Irama ini diiringi dengan lagu yang memaki pantun nasib. Bagi etnis Melayu Deli ‘Irama’ berhubungan dengan pola ritem gendang yang sekaligus tersangkut di dalamnya pemahaman terhadap “tempo” permainan suatu lagu. dan lain-lain. sampel seni dari etnis Melayu Sumatera Utara yang dipilih ialah lagu-lagu Melayu Deli yang langsung berhubungan dengan tarian. Ragam Berjalan yang artinya cinta meresap. maka lagu ini sering dilagukan oleh pelaut/nelayan. dan mengiringi lagu yang memakai pantun jenaka yang merupakan pantun anak muda. Ragam Gila Kepayang yang artinya mabuk kepayang. 2. Rentak Senandung berasal daripada lagu-lagu Senandung. Rentak Senandung (Malaysia: Rentak Asli). Tempo tercepat dari Rentak Lagu Dua ini diistilahkan dengan ‘Rentak Pulau Sari’ yang difungsikan untuk pengiring Tari ‘Serampang 12’ yang diciptakan almarhum Guru Sauti dari daerah Perbaungan. b.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Kemudian. e. Ragam Permulaan yang artinya pertemuan pertama. Rentak Senandung berbirama 4/4 dengan tempo lambat (andante) tetapi siklus pola ritemnya 8/4. Tarian Serampang 12 mengisahkan percintaan yang diakhiri dengan perkawinan dengan struktur gerak meliputi sejumlah 12 ragam: a. Beberapa Irama atau Rentak Musik Melayu Deli sebagai berikut: 1. c. Berbirama 2/4 dengan membawakan tempo agak cepat. sebagaimana tempo Samba. ragam Berjalan yang artinya 210 . bernada sedih tentang peruntungan yang malang. yaitu lagu yang menurut keterangan orang-orang Melayu di Sumatera Timur (kini Sumatera Utara) berfungsi untuk memanggil angin di laut sa’at mereka mengalami mati angin sewaktu menangkap ikan. Rentak Lagu Dua (Malaysia: Rentak Joget). adalah nyanyian hiburan yang umum dinyanyikan di daerah Asahan dan Labuhan Batu. Pola ritem Rentak Lagu Dua sangat populer di tengah-tengah masyarakat Melayu. d. dan Mambo. sering disebut juga dengan ‘Lagu Menari’ yang sangat digemari dalam tarian bebas. Tanjung Katung. Beberapa lagunya yang terkenal. Dendang Sayang. Ragam Pusing Tari yang artinya memendam rasa. Damak.

l. Rentak Mak Inang (Malaysia: Rentak Inang). serta Serdang. Ragam Gencat-gencat yang artinya balasan isyarat. Irama ini mendapat pengaruh dari Arab yang bercampur dengan pengaruh suku Batak Perdambanan di hulu Sungai Asahan. ialah nama yang diberikan kepada wanita pengasuh setengah baya yang mengepalai sejumlah dayang-dayang dan penari di Istana raja. 5. Ragam Rupa-rupa yang artinya mengantar penganten. 3. Ragam Sapu Tangan yang artinya pertemuan kasih mereka. karena dalam lagu tradisi Batak Karo juga ada lagu patam-patam. Beberapa di antaranya lagunya yaitu Mak Inang Pulau Kampai. sehingga tidak diiringi dengan nyanyian/vokal manusia. Tarian Mak Inang biasa dibawakan oleh Mak Inang (dayang pengasuh keluarga kerajaan). g. Rentak Ghazal berasal dari perkembangan/pengaruh dari India Utara yang dibawa oleh orang-orang Islam pada awal abad 19 ke Pulau Pinang terus ke Medan. Tempo tercepat dari Mak Inang ialah rentak Patam-patam dengan memakai birama 4/4 dengan tempo cepat sekali. h. k. i. Ragam Langkah Melonjak yang artinya masih belum percaya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI bersifat isyarat tanda-tanda cinta. Irama ghazal ini dipakai pada 211 . dan kemudian rentak ini diadopsi oleh penari dan pemusik seni pertunjukan ronggeng. Pada abad ke 20 rentak Mak Inang ini lebih dicepatkan dan lahirlah lagu dan tari Cek Minah Sayang yang memakai sapu tangan atau selendang untuk penampilannya. Rentak Gubang berasal dari lagu Gubang yang terdapat di daerah Asahan. Ragam Sebelah Kaki yang artinya menduga. Ragam Meloncat-loncat yang artinya jawaban sudah diterima. 4. j. Ragam Datang Mendatangi yang artinya pinangan dilakukan. Pada mulanya irama ini hanya berkembang pada daerah-daerah yang dipengaruhi oleh Batak Karo. yang kemudian dipergunakan pula oleh rakyat awam. Mak Inang Kayangan dan sebagainya. Tempo rentaknya sedang (sekitar 100 ketukan dasar per menit). f. Berbirama 4/4 dengan membawakan tempo cepat yang diiringi dengan lagu yang memakai pantun jenaka. dan Deli. seperti daerah Langkat.

berkembang merata di seluruh wilayah alam Melayu Nusantara yang merupakan suatu ritme atau rentak atau irama yang merupakan pengaruh dari irama-irama Timur Tengah. tetapi ciri-ciri khas dalam pembawaan lagu dan melodi tetap didominasi oleh karakter Melayu. Biasanya irama Kelantan ini dipakai untuk kesenian dzikir yang berkembang di daerah Melayu Singapura. Rentak zapin dimainkan dengan gendang Marwas. dan lainnya. merupakan pengaruh dari India Selatan. bahkan karakter lagu dan melodi Melayu tersebut telah menuntut terjadinya pemodifikasian progresi akord-akord musik Melayu Deli yang tidak lagi sepenuhnya mengaplikasikan konsep harmoni musik Barat (musik tonal). 7. dan Melayu Nusantara umumnya. Berasal dari Irama Chalti inilah berkembangnya pola ritme gendang pop dangdut. Berbagai Rentak atau irama Melayu di atas dimainkan sesuai dengan ciri khas alat musik gendang yang dimiliki oleh masing-masing rentak di atas. seperti Rentak Senandung dilahirkan dengan gendang ronggeng. 8. konsep musikal dan konsep pertunjukan masing-masing rentak di atas telah mengadopsi konsep harmoni musik Barat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF nyanyian yang mempunyai syair-syair cinta. Rentak Zapin. Rentak Chalti. atau ada yang mengatakan Laila Majnun yang merupakan pengaruh dari Arab. Sebetulnya. Kondisi Kehidupan Kesenian Tradisional di Sumatera Utara Dewasa Ini (Perubahan dan Keberlanjutan) Dahulu areal kabupaten lebih merujuk kepada geografis yang didi212 . berasal dari daerah Malaysia Utara atau dari daerah Thailand Selatan yang berkembang sampai ke berbagai daerah Melayu. Rentak Kelantan. seperti kisah Laila. kedelapan jenis rentak Melayu Deli ini termasuk klasifikasi musik modal yang masuk kategori musik tradisional etnis Melayu di Sumatera Utara. 6. Walaupun instrumentasi. di antara kedelapan jenis rentak yang dimiliki etnis Melayu Deli ini telah menjadi master-piece pada tataran konteks hiburan dalam masyarakat Melayu Sumatera khususnya. Dengan demikian.

dijumpailah kondisi kehidupan kesenian pada masing-masing etnis secara homogen. sekarang terjadi pemekaran pemerintahan yang beroreantasi kepada luas wilayah dan jumlah penduduk. karena terjadi kemandekan kreativitas para senimannya.dalam komunikasi sosial kehidupan masyarakat Sumatera Utara dewasa ini. Beberapa alasannya: 1) teks lagu-lagunya menggunakan bahasa Melayu yang beranalogi dengan bahasa Indonesia. Nias. 3) konsep pertunjukannya telah meminjam cara-cara pertunjukan musik populer.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ami suatu etnis. Sehubungan dengan itu. sehingga repertoar lagunya 213 . dan dalam perjalanan waktu. ternyata kondisi kesenian tradisional dalam sosio-kehidupan masyarakat dari etnis Batak Mandahiling. Sebetulnya. Batak Simalungun. secara garis besar pembicaraan bagian ini akan terfokus kepada tiga fokus utama terhadap penggunaan kesenian tradisional –yang tetap dan yang berubah-. akan terdapat etnis tertentu yang berada pada daerah kabupaten yang dominan didiami oleh etnis lainnya. di antara masyarakat dari delapan etnis asli Sumatera Utara juga pergi merantau ke kota-kota propinsi ini bergabung dengan para perantau yang berasal dari etnis di luar Sumatera Utara. dan pengaruhnya terhadap penikmatan seni masyarakat heterogen di kotakota Sumatera Utara. Batak Pak Pak Dairi. Pesisir Sibolga. dan Melayu masih tetap dan belum mengalami perkembangan yang berarti. 2) Instrumentasi dan konsep musikalnya telah mengadopsi unsur-unsur musik Barat. bahkan pengaruhnya terhadap etnis lain di luar Sumatera Utara. Dengan demikian. Penilaian ini didasarkan atas eksistensi kesenian itu di dalam etnisnya masing-masing. Analoginya. Oleh karena itu. Mengamati dinamika kehidupan delapan etnis asli Sumatera Utara dewasa ini. serta prospek keberlanjutannya di masa datang. 4) karakter lagu dan melodinya mudah dicerna dan diterima oleh semua etnis. posisi musik dan tari Melayu Deli yang didasarkan kepada konsep rentak sebagaimana pembicaraan di atas sangat potensial sebagai musik tradisi etnis Melayu yang bisa membangun komukasi sosial pada tataran pergaulan semua etnis (asli dan pendatang) Sumatera Utara di masa sekarang dan akan datang. dan kondisi kehidupan kesenian pada masyarakat kota-kota di Sumatera Utara yang heterogen dalam membangun komunikasi sosial mereka. sangat disayangkan bahwa potensi ini tidak dapat diraih oleh genre musik Melayu Deli ini.

Sebaliknya. perkawinan. 14 Rithaony Hutajulu.” Makalah. hal 11-12. mereka akan dikeluarkan (“ban”) dari gereja. Bahkan yang cukup mengiris perasaan. misalnya dalam upacara adat. Pembatasan biasanya dilakukan dengan adanya sejumlah kompromi. Perubahan kondisi kehidupan kesenian yang cukup fenomenal terjadi pada etnis Batak Toba dan Batak Karo. misalnya. ataupun pada kehidupan kota-kota Sumatera Utara yang heterogen. para misionaris Kristen memperkenalkan jenis ensambel musik tiup Barat (brass music) kepada masyarakat Batak Toba. 214 . bahwa perubahan yang mendasar terjadi dalam dinamika keberlangsungan kehidupan tradisi seni gondang pada masyarakat Batak Toba dapat ditandai dengan masuknya agama kristen ke tanah Batak. Konsekuensi yang diterima bagi anggota masyarakat Batak Kristen yang tetap melakukannya. Sejak saat itu berbagai pertunjukan tradisi gondang secara praktis dibatasi (restricted) dan dalam beberapa kasus dilarang (prohibited).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF masih nomor-nomor sediakala yang telah usang. baik di tengah kehidupan etnisnya sendiri. Dalam hal ini. Sedangkan hal yang sama sekali dilarang adalah berbagai elemen ritual atau upacara terkait dengan kepercayaan lama (pra-Kristen). Pada sisi lain. 2002. khususnya dalam penyembahan roh (“sipelebegu”). dan etnis lainnya. sehingga berdampak terhadap eksistensi kesenian etnis tersebut di tengah percaturan kesenian. Bandung: UPI. Alat musik Gondang Sabangunan sering ditambah dengan musik ringan. Misionarisasi Kristen di tanah Batak dimulai sejak tahun 1860an. dan harus minta izin pada gereja. Batak Karo. Rithaony Hutajulu menjelaskan proses perubahan eksistensi musik gondang dalam kehidupan etnis Batak Toba sebagaimana berikut. musik gondang hanya boleh dimainkan pada acara-acara tertentu yang “hanya” berkaitan dengan aktivitas sosial. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara. maupun pada taraf nasional. terutama digunakan dalam aktivitas ritual keagamaannya14. karena telah gagalnya semiman senior mewujudkan kaderisasi generasi mudanya. Pembatasan dan larangan ini khususnya dikenakan pada masyarakat Batak Toba yang telah beralih (converted) ke agama Kristen. bahwa pertunjukan Musik Melayu Deli dewasa ini adalah dihidupkan oleh musisi-musisi yang sebagiannya berasal dari etnis Minang. repertoir Gondang Sabangunan yang semata-mata untuk tujuan hiburan mempunyai garapan melodis yang lebih luas.

untuk mengiringi pesta. orang tidak punya anak. untuk mengiringi upacara yang bersifat keagamaan. masyarakat etnis Batak Toba telah menyikapi pergolakan sosio-seni yang terjadi dalam kehidupan beradat dan beragama mereka dari format lama ke dalam formulasi baru yang tidak menghilangkan konsep seni tradisinya yang asli.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sarunai etek (sarunai kecil). 2. yakni menggabungkan/ mengakumulasikan semua jenis alat musik tradisi Batak Toba dalam format “orkestra. orang tidak kawin. 3. Tangga nada yang dipakai jauh lebih luas. untuk mengiringi orang mati. gereja dll. Dengan demikian. hasapi lagu (kecapi lagu). maka sesuatu modifikasi dalam bentuk kreativitas bisa terjadi. untuk mencari dana pembangunan gedung. Buku Buklet.” 15 Banggal Marpaung. 3. kematian. Margondang Mamele. Margondang Hiburan. Contoh musik Gondang Sabangunan ditambah musik ringan mengiringi lagu-lagu disertai vokal dengan judul “Alai Badogem’15. bahwa fenomena lainnya bisa dilihat adalah kreativitas dari Nortir Simanungkalit. 1994. Tiga macam klasifikasi fungsi Gondang Batak Toba yang sekarang. 215 . sebagaimana contoh berikut: Tiga macam klasifikasi fungsi Gondang Batak Toba yang dahulu: 1. bila berhubungan dengan selera populer. sulim (suling). Gaya seperti ini lazim dipakai mengiringi lagu daerah Batak Toba dengan kombinasi garapan melodis dengan pendekatan ’modern’. 2. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. hal 3-4. seorang pemusik/komposer Batak Toba. Margondang Adat. tetapi nilai-nilai estetika tradisional masih tetap dipertahankan. Margondang Religi. Sebaliknya. sebagaimana yang dinyatakan oleh Ritha Ony Hutajulu. yang memiliki latar belakang musik Barat dengan karya eksperimentalnya. upacara adat di Batak Toba. sebagai berikut: 1. untuk mengiringi upacara pemberian nama. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. untuk pesta keagamaan/kepercayaan suku Batak Toba. Margondang Pesta. garantung lagu dan garantung bass. Margondang Sibarang. perkawinan.

216 . membuat formulasi alat musik hasapi. Terdorong oleh kemajuan tekonologi elektronik. alto. Walaupun kreativitas ini masih berada pada tataran eksperimen.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Beberapa hal yang ia kerjakan antara lain: 1) menstandardisasi laras/ tuning semua alat musik berdasarkan konsepsi musik diatonis Barat. terinspirasi oleh permainan Kulcapi Orgen. tetapi dalam garapan harmoni Barat16. hal 16. dan 3) memainkan lagu-lagu Barat dan populer Batak. maka seniman Kulcapi Karo yang terkenal bernama Jasa Tarigan membuat lompatan yang drastis dengan meninggalkan instrumen Kulcapi dan menukarnya dengan alat musik orgen yang mengadaptasikan karakter permainan melodi Kulcapi padanya. Pada sisi lain. baik dalam konteks upacara Guro-guro Aron dan upacara adat lainnya. tidak dalam kaidah tekstural heterofonis tradisional. sarune etek dan sulim berdasarkan tingkatan soprano. Sebetulnya penggunaan spull-mic inipun sudah bermasalah terhadap originalitas akustik dari Kulcapi itu sendiri. Minang dan 16 Rithaony Hutajulu. tenor dan bass. sehingga disebut dengan “Kulcapi Orgen. tetapi konsumen etnis Karo. 2) meluaskan peran musikal tiap alat musik berdasarkan peniruan standar orkestrasi Barat. bahkan kombinasi komposisi Kulcapi/Sarune Karo juga terjadi untuk musik Melayu Deli. senimanseniman pop Karo mengembangkan lagi sayapnya dengan memadukan karakter melodi Kulcapi/Sarune Karo dengan karakter melodi Saluang Minang sebagai aransemen musik pengiring lagu-lagu pop Minang. permainan Gendang Lima Sendalemen plus Kulcapi Orgen mendapat sambutan baik oleh masyarakat Batak Karo. perubahan yang cukup mencengangkan juga terjadi pada kesenian tradisional Batak Karo. sehingga lahirlah paket musik pop yang bernama Pop Karmina (Pop Karo Minang).” Ironisnya. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara. 2002. maupun dalam konteks musik populer Karo. sehingga karakter bunyinya sudah terbias oleh rambatan bunyi spull-mic tersebut.” Makalah. Bandung: UPI. Permainan Kulcapi secara manual yang diperkeras suaranya dengan bantuan mic dikembangkan dengan penggunaan spull mic yang langsung dipasangkan pada badan Kulcapi tersebut. Selanjutnya. misalnya. Seniman Gendang Lima Sendalemen etnis Batak Karo membuat sesuatu yang kontroversial dalam masalah penggunaan instrumen Kulcapi. garantung.

Sordam dan Piso Surit dari Karo. Gondang Hasapi dan Uning-uningan telah dikonsumsi oleh masyarakat urban kota-kota Sumatera Utara yang heterogen.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Melayu cukup mengapresiasi kehadiran kaset-kaset tersebut. Ratoh dari Aceh. Gendrang Goci dari Pak Pak Dairi.juga telah mendapat sambutan dari masyarakat urban kota di Sumatera Utara tersebut. Tari Martonun dari Simalungun. Gordang Sembilang dari Mandahiling. Dampak dari segala kreativitas seniman-seniman Batak Toba di atas. dan misi kesenian atas nama pemerintahan Sumatera Utara. Paket ini cukup mendapat perhatian dari pihak pemerintahan. Musik tradisional dari berbagai etnis asli Sumatera Utara yang tidak mengalami pergolakan kreativitas oleh seniman-senimannya ternyata eksistensinya masih tetap berada pada lingkaran kehidupan etnisnya sendiri sehingga tidak banyak diapresiasi oleh masyarakat urban kota-kota Sumatera Utara yang hetero217 . khususnya bagi heterogenitas kota Medan. Begitu juga lagu-lagu populer Batak Karo yang aransemen musiknya mendapat sentuhan Kulcapi Orgen dan Sarune Orgen –walaupun kuantitasnya tidak sebanyak musik Batak Toba-. Sehubungan hal di atas. Kesimpulan Berdasarkan studi kasus seni tradisi dan poluler yang terjadi di Sumatera Utara dalam membangun media komunikasi sosial di Sumatera Utara. dan Tari Rantak dari Minang. sehingga paket yang khas LK USU ini telah menjadi model bagi pihak pemerintah dalam mengadakan resepsi-resepsi kesenian. sebetulnya usaha membangun komunikasi sosial antar etnis yang mendiami kota-kota di Sumatera Utara melalui kesenian tradisional telah digagas oleh Lembaga Kesenian Universitas Sumatera Utara (LK USU) dalam bentuk paket seni pertunjukan yang terdiri dari kombinasi nomor-nomor seni tradisional dari semua etnis (asli dan pendatang) yang mendiami kota Medan. Sikambang dari Pesisir Sibolga. kesenian tradisional telah memberikan sumbangan yang cukup berarti terhadap bangunan komunikasi sosial. Melalui model paket seperti ini. ternyata karya-karya musik populer Batak Toba yang masih memiliki sentuhan aransemen musiknya dengan instrumentasi Gondang Sabangunan. tari Serampang 12 dari Melayu. dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Paket pertunjukan ini menghadirkan Gondang Sabangunan dan tot-tor dari Toba.

Etnis ini telah mengadakan peninovasian. “Musik Melayu: Akar Budaya. Hajizar. Makalah. Paket-paket pertunjukan seni yang terdiri dari kombinasi materi seni dari etnis-etnis asli dan etnis pendatang di Sumatera Utara untuk mengisi berbagai jenis resepsi hiburan –terutama kota-kota-. 1996. Walaupun permasalahan agama (Kristen) telah mengintervensi eksistensi kesenian tradisional Batak Toba terhadap konteksnya yang religius.sebagaimana modelnya yang telah ditunjukkan oleh Lembaga Kesenian USU Medan. 1988. 2. 1985. Pada sisi lain. “Tata Cara Adat Perkawinan Pesisir Sibolga. Medan: Etnomusikologi USU. “Studi Deskriptif Konstruksi dan Dasar-dasar Pola Ritem Gendang Melayu Sumaera Timur. 2005. Kecamatan Silaen.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF gen. Buku Buklet.” Skripsi. Muhammad Takari. 218 . penukaran instrumentasi dan konsep musikal ensambel musiknya terhadap konteks yang berhubungan dengan ibadah keagamaan sesuai dengan pengaruh visi dan misi tokoh-tokoh agama tersebut. mereka masih tetap mempertahankan instrumentasi dan konsep musikal ensambel musiknya yang asli untuk keperluan yang berhubungan dengan upacara-upacara adat.” Skripsi. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. Daftar Pustaka Banggal Marpaung. 1994. Akulturasi. Medan: Etnomusikologi USU. Shah Alam: UiTM Shah Alam. Malaysia. Etnis asli Sumatera Utara Batak Toba dan Batak Karotelah mengalami dinamika perubahan yang cukup fenomenal untuk era dewasa ini. namun masyarakat Batak Toba telah menyikapinya dengan bijaksana. cs. “Fungsi Musik Gondang Sabangunan dalam Upacara Ritual Parmalim Sipaha Sada di Desa Lumban Gambiri. Emmi Simangunsong. Perubahan. kecuali oleh etnisnya masing-masing yang merantau ke kota tersebut. 3.” Laporan Penelitian. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. adalah memiliki potensi yang sangat ideal lagi strategis sebagai media pembangun komunikasi sosial bagi masyarakat Sumatera Utara yang heterogen. 1988. Medan: USU. Fadlin. “Musik Melayu Nusantara dalam Era Globalisasi (Pelestarian dan Pengembangan). Fadlin. dan melakukan penginovasian kesenian tradisinya untuk kepeluan hiburan masyarakatnya.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dan Kontinuitas. Rithaony Hutajulu. Makalah.” Makalah. Medan: Etnomusikologi USU. Medan: Panitia Pesta Budaya Daerah Sumatera Utara. 1987.” Makalah. 2002. ------------------------. ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. 219 . 2004. Wikipedia Indonesia.” Makalah. ”Budaya Sumatera Utara dan Upaya Pembinaan-Pelestariannya. Soegijo. Bandung: UPI. Medan: Etnomusikologi USU. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara. “Tari dalam Konteks Budaya Melayu.

S. Kelahiran Agam 17 Agustus 1952.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Hj. 220 .Pd. Nirwana Murni. Aktif dalam penelitian dan pendiiakan mengenai Tari Minangkabau. Pernah menjadi Pembantu Ketua II ISI Padang Panjang. M. Saat ini menjadi Dosen ISI Padang Panjang.. Kar. Sumatera Barat dengan kepangkatan Lektor Kepala.

Seni pertunjukan yang diselenggarakan berkaitan dengan upacara masih dapat dijumpai di berbagai daerah. Palembang merupakan sebuah wilayah kota madya yang berada di S 221 . Sampai saat ini masyarakat Indonesia juga mengadakan upacara-upacara dalam berbagai bentuk dan dalam rangka tertentu. Tontonan. Ada juga duduk bersama semalam suntuk sambil mendengarkan pantun atau puisi yang dilagukan. Ia tampil sebagai ungkapan kepentingan yang berlainan. tenang tanpa ada suara bergaung. upacara-upacara yang bersifat ritual merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia.. Seni tradisional dimaksud adalah tari.Pd. khidmat. Dosen Jurusan Seni Tari STSI Padang Panjang Pendahuluan eni pertunjukan dengan beragam jenis dan bentuknya dapat terkait dan hadir di dalam bermacam-macam kesempatan. Ada yang dilakukna dengan arak-arakan mengelilingi desa. Tetapi diantara bentuk-bentuk upacara tersebut ada bentuk upacara yang tergolong “seni pertunjukan”. dan hal ini disebut dengan seni tradisional. Mereka memiliki tradisi dan bentuk upacaranya sendiri sesuai dengan kebudayaan masing-masing. S.Kar. M. Antara daerah satu dengan daerah yang lainnya memiliki cirri khas kedaerahan yang berbeda-beda. Ada juga yang dilakukan secara khusuk. Ada yang didahulukan dengan potong tumpeng disertai tepuk tangan dan nyanyian.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Strategi Kemasan Seni Tradisi Sebagai Media Komunikasi Sosial di Sumatera Barat Nirwana Murni.

Oleh karena itu hampir setiap penyelenggaraan upacara adat selalu dijumpai seni pertunjukan yang menyertai.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Sumatera Selatan. Kedatuan ini dikenal dengan nama kedatuan bukit yang menjadi penguasa tunggal daerah sebelah barat Indonesia pada masa itu (Depdikbub. Pada tari ini unsur agama tersebut terlihat suasana keagamaan yang dibangun oleh gerak-gerak tari yang menggambarkan sebagai Budha tengah bersemadi (Leoni Wagirah. Hirarki penari yang ditentukan berdasarkan kedudukan orang tua di dalam pemerintahan semakin menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terdapat di dalam tari ini mempunyai makna tersendiri. Struktur dan pola penyajian ini sangat teratur dan hierarkis. Masyarakat di wilayah ini sebagian besar hidup dan mencari nafkah dalam pola budaya nelayan. Tari Gending Sriwijaya yang dikenal sebagai tari adat oleh masyarakat Palembang merupakan peninggalan masa itu dengan Hindu Budha sebagai agama masyarakat. tari sembah. dan seorang lagi bertugas sebagai penyanyi. tari ini didukung pula oleh dua orang pria/ garis panjang dan tombak. Keberadaan pada upacaraupacara adat yang bersifat komunal maupun individual dianggap penting. Sebagaimana tari 222 . seperti tari penganten. yaitu suatu tempat di sekitar sungai musi di sebelah utara kota Palembang. Palembang sebagai sebuah wilayah budaya di kenal dengan kerajaan Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan maritim di Sumatera pada abad ke-7 dengan pusat kedatuannya terletak di Bukit Siguntang. Dengan lahirnya Kedatuan Sriwijaya lahir pula kesenian di kalangan bangsawan. Selain sembilan orang penari putri tersebut. 1984: 13). Volume gerak tangan dan kaki terkontrol cenderung membangun sebuah ciri karakteristik dan gaya putri halus. tari sitabih. Gerak tari yang lembut mengalun perlahan ditunjang dengan tata rias dan busana penari seperti pengantin wanita Palembang memberikan sentuhan emosional tersendiri. dan tari gending sriwijaya. dua orang pembawa peridonan kembar (tempat tepak) dan enam orang sebagai pengiring. Dari sisi koreografi tari Gending Sriwijaya merupakan sebuah sajian tari yang dilakukan oleh 9 orang penari putri dengan rincian. termasuk di dalamnya adalah tari Gending Sriwijaya. satu orang sebagai pembawa tepak (tempat berbentuk segi empat untuk sekapur sirih). 1975: 3). Lingkungan istana mulai memelihara dan mengembangkan seni yang mengagungkan kebesaran raja.

menceritakan kejayaan Sriwijaya di masa lampau. Penari pada barisan pertama. Lagu ini melodinya diciptakan oleh M. Hal ini menyebabkan tari Gending Sriwijaya turut hilang bersama runtuhnya kesultanan ini. Ciri lain yang terdapat pada tari Gending Sriwijaya adalah properti yang dipakai yaitu tanggai. Fungsi awal tari ini diyakini sebagai sajian pada waktu raja mengadakan pertemuan dengan seluruh kerabat sebelum melaksanakan pekerjaan berat. tiga. empat dan lima adalah penari tingkat Asean Gede. tengah dan telunjuk. untuk ulang tahun raja. Hal ini dimungkinkan karena pada masyarakat maritim di muara sungai dan laut 223 . dan pesta perkawinan anak raja. mereka yang bukan keturunan raja umumnya tidak diperkenankan memakai pakaian pengantin Asean Gede (dadot Palembang). sedangkan liriknya digubah oleh Mungcek A. Ibu jari tidak bertanggai. Tanggai adalah kuku panjang yang memakai rumbai disebut oncer. sehingga tari bukan merupakan pusaka keratin yang tetap terjaga. Mungkin karena kerajaan maritim. Tari ini disebut Gending karena lagu pengiringnya berjudul Gending Sriwijaya. Bentuk tanggai yang melengkung ke atas melambangkan perahu.. Pada baris berikutnya yaitu nomor enam dan tujuh adalah penari tingkat Asean Selendang Mantri. 1975: 32). Tanggai ini dipakai di jari kelingking. pada Gending Sriwijaya juga ditemukan perbedaan penamaan itu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI budaya yang memiliki penamaan pada setiap pelaku tarinya. Tinjauan Historis Sekitar tahun 1659 Palembang jatuh ke tangan Belanda. dan ketiga yaitu penari nomor satu. pusat kerajaan tidak begitu penting. Kuntowijoyo mengatakan bahwa pada masyarakat mungkin tipe-tipe kerajaan maritim dan komersial pusat kerajaan tidak begitu penting sehingga sulit dicari kesinambungan lembaga yang memproduksi kearifan simbolis (Kuntowijoyo. 1987: 13). Mereka adalah putra putri dari raja. kedua. terdiri dari putri-putri menteri. dua.R. Pada baris terakhir yaitu nomor delapan dan sembilan adalah tingkat Asean Pak Sangkang yaitu putrid pejabat biasa dalam pemerintahan (Leoni Wagirah. Dahlan. Pada masa lampau penentuan pakaian pengantin ini terjadi pula di masyarakat umum artinya. Sedangkan oncer melambangkan kekayaan yang melimpah dari sungai musi yang membelah kota Palembang. manis.

Bahkan kerajaan yang fungsi politiknya telah dihapuskan seperti pada Sultan Hamengkubuwono VIII. Golongan bangsawan. dengan hanya dalam bidang budaya. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa selama ada keraton. raja. di kerajaan agrarian kesatuan politik tetap ada selama masih ada pusaka-pusaka dan siti hinggil (tahta) masih berada di tempat suci. kerajaan masih ada. Dari uraian tersebut dimungkinkan bila tari Gending Sriwijaya sebagai hasil budaya kesultanan Palembang turut hidup bersama runtuhnya kesultanan ini. Bila tidak diacara kenegaraan. Dari uraian di atas maka tidak mengher224 . maka pementasan tari ini harus mendapat izin khusus dari pemerintah. bernilai tinggi. dan Kalimantan mempunyai cirri demokratis.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF seperti umumnya kerajaan-kerajaan di semenanjung Malaysia. Jepang membentuk sebuah organisasi musisi kesenian bernama Hodohang beranggotakan orang Jepang dan masyarakat Palembang. Sultan masih tetap memegang teguh konsep kekuasaan Ratu Gung Binantahara atau “raja yang di dewakan”. dan rakyat ikut serta dalam perniagaan. 1990: 467). pada tipe kerajaan maritim pusat kerajaan tidaklah begitu penting sehingga tari bukan merupakan pusaka keraton yang tetap terjaga. Sumatera. Dengan politik halus. Dari sini dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara Kesultanan laut dengan Kerajaan agrarian yang melahirkan budaya keraton. Tari ini muncul lagi pada masa penjajahan Jepang. bersama sama raja dan bangsawan memiliki modal (kapal) yang kadang-kadang berniaga sendiri atau mempercayakan modalnya kepada ahli-ahli perniagaan yang disebut syahbandar dengan hulubalang yang bertugas menjaga keamanan disebut Hang (Ensiklopedi Nasional Indonesia. Sejak saat itu tari Gending Sriwijaya sebagai sebuah pertunjukan tari dipentaskan hanya pada penyambutan tamu agung dalam upacara kenegaraan sebagai ucapan selamat datang. karena selain tidak ada lagi lembaga budaya yang mewadahinya. Berbeda dengan kesultanan laut. karena perbedaan antara rakyat dengan penguasa pada dasarnya tidak besar. Perjalanan sejarah dan wujud yang indah dari tari Gending Sirwijaya semakin mengukuhkan tari ini dianggap merupakan hasil dari sebuah lembaga budaya kerajaan yang diyakini menghasilkan budaya yang halus. Pada masa itu tari Gending Sriwijaya muncul lagi kepermukaan dan setelah kemerdekaan tari ini disahkan menjadi tari adat oleh pemerintah daerah.

Bagi mereka. Kekhasan pertunjukan galombang dapat diamati dari dua sisi. pertama. Tradisi seni pertunjukan galombang khas orang Pariaman dapat ditemui hampir disetiap daerah dalam wilayah kebudayaan Pariaman.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ankan apabila tari Gending Sriwijaya terpilih oleh penguasa daerah sebagai identitas yang ditunjukkan guna kebanggaan daerah. bahkan Serampang Duabelas dijadikan “bomnya” tari Melayu pada peresmian hari kemerdekaan Republik Indonesia I tahun 1945 di Istana Negara Jakarta yang diresmikan oleh Presiden Pertama Indonesia Soekarno. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa orang yang seringkali didatangi tamu adalah orang yang sering dijadikan tempat bertanya bagi orang lain. kedatangan tamu merupakan suatu yang menjadi perhatian masyarakat sekitar. Galombang ini di bawah 6 – 12 orang penari lakilaki dewasa dengan gerakan tertentu dan diiringi musik tambua. Hal ini dikarenakan bila dilihat secara umum. Keduanya dipertunjukkan serentak dalam bentuk berlawanan. 1998: 24-25). sebagaimana yang selalu didengungkan pada masa lalu sebagai puncak budaya daerah yang pada akhirnya dianggap sebagai kebudayaan nasional. Pada sebuah perkampungan yang relatif sepi dalam rutinitas keseharian. Pada masyarakat Sumatera Utara kebanggaan mereka menerima tamu diwujudkan dalam bentuk tari Serampang Duabelas. sehingga ia terhormat karena ilmu yang dimilikinya atau karena kedudukannya yang menyebabkan tamu harus bertandang ke rumah tersebut. disajikan dalam bentuk menyongsong tamu. masyarakat Sumatera memiliki tradisi kuat untuk menghormati dan menjamu tamu sebagaimana seorang raja. Tamu yang dimaksud adalah 225 . Akan tetapi apakah usahan pensakralan yang dilakukan kaum birokrat telah pula menyentuh masyarakat Palembang sebagai penyangga budaya tersebut?. merupakan aib apabila tidak dapat menjamu tamu sebaik mungkin. galombang tamu dan kedua galombang tuan rumah. Orang asing akan selalu menarik perhatian dari sebuah lingkungan homogen yang cenderung saling mengenal satu sama lain sampai pada keturunan mereka. Di daerah Pariaman Sumatera Barat juga ditemui seni pertunukan yang mereka sebut galombang seabgai bagian upacara pengangkatan penghulu suku. Pertunjukan ini biasanya menjadi bagian atau menempati posisi sebagai bagian dari pesta yang berhubungan dengan pelantikan pemimpin (penghulu) (Mahdi Bahar.

masyarakat teknoratis yang memerlukan sejumlah rekayasa simbolis yang dikerjakan oleh birokrasi. Inovasi dan kreativitas perlu didampingkan dalam proses sosialisasi tersebut. Namun dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa pelestarian tidak harus berarti pembekuan. kaidah-kaidah. Tampaknya kita secara umum memasuki masyarakat baru. Dari tradisi ini tidak mengherankan bahwa tari-tari yang mengiringi penyambutan tamu tumbuh subur di daerah Sumatera. sebagai seorang yang memiliki kedudukan tertinggi pada struktur lembaga pemerintahan tingka I sebuah propinsi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF setiap rombongan penghulu suku yang datang dari persukuan dalam kenagarian di daerah mana upacara diselenggarakan (Hartati. 1987: 14). dan nilai-nilai harus dilakukan terus menerus dari generasi ke generasi agar itu semua dapat lestari. Strategi Kemasan Seni Tradisi Strategi pelestarian warisan budaya berkenaan dengan dua aspeknya. Pelestarian mempunyai makna bahwa di dalamnya terdapat dua aspek sekaligus. Hanya dengan membuka peluang untuk kreativitas dan inovasi itulah kebudayaan dapat tumbuh semakin kaya dan 226 . Beberapa tari penyambutan tamu seringkali juga ditampilkan pada upacara perkawinan berkaitan dengan kenyataan bahwa kelompok besar adalah tamu yang datang dan masuk ke dalam lingkungan rumah dan keluarga besar. Dari sana terungkap kesan bahwa ada usaha dari pemerintah daerah untuk menempatkan diri pada posisi sebagai penguasa yang melegitimasi kedudukan mereka baik secara birokrat maupun simbolis. Ia memandang bahwa masyarakat teknokratis kita benar-benar sebagai sebuah masyarakat neo patrimonial. pola-pola. sehingga merupakan kelompok orang yang sangat dihormati. yaitu 1) kelembagaan. dan 2) sumber daya manusia. Kreativitas di dalam “tradisi” harus tetap diberi ruang gerak. yang mengambil manfaat kearifan aktual dan kearifan simbolis yang menyatu (Kuntowijoyo. Disamping itu harus ditetapkan lebih dahulu apa tujuan dari pelestarian warisan budaya itu. Kenyataan di dalam masyarakat yang mendudukkan seorang penerima tamu (tuan rumah) setara dengan tamu yang hadir di rumahnya barangkali yang menyebabkan tari Gending Sriwijaya mensyaratkan bahwa tamu yang datang harus pula setingkat Gubernur. 1997: 52). yaitu pemertahan dan dinamika. Pendekatan lain yang perlu diambil untuk melestarikan warisan budaya adalah sosialisasi konsep-konsep.

Akibatnya. adalah agar keseimbangan senantiasa dipertahankan. Yang selalu harus dijaga oleh masyarakat pemilikinya. sedemikian rupa agar jati diri bangsa senantiasa tampil dengan jelas dan tidak ditenggelamkan. dan tempat pertunjukan harus disorot. Mereka yang merupakan pelaku dan penerus nilai-nilai (pemimpin. karena pemerintah bertujuan membangun sektor ini sebagai bagian dari kebijakan pembangunan regional dan nasional. Tetapi masih ada pertanyaan yang tertinggal. Disamping mereka yang berperan sebagai pelaku dalam penerusan warisan budaya. yaitu khalayak ramai. di dalam kancah hubungan antar budaya yang selalu terjadi. Kebutuhan yang sama juga muncul dari sektor turism. Tari Gending Sriwijaya sebagai kebudayaan suku bangsa selalu berada dalam proses. 2008: 208). gerak. rekreasi dan penilaian artistik. pola lantai. terdapat pula mereka yang berkedudukan sebagai penerima. Melalui jalur pendidikan dan media massa pulalah masyarakat luas dapat dilayani untuk membuat dirinya menjadi masyarakat yang sadar budaya dan sadar sejarah. Untuk mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan tersebut sisi artistik dari tari Gending Sriwijaya harus dipertimbangkan. antara keberlanjutan dan perubahan. Ini berarti bahwa semakin banyak pelaku seni pertunjukan yang dibutuhkan. prinsip artistik dari seni pertunjukan seperti properti. Untuk memenuhi kebutuhan ini adalah anggota masyarakat dalam berbagai perannya. Berbagai upaya harus dilakukan yang memungkinkan berperannya tari Gending Sriwijaya adalah festival seni daerah pada perayaan 17 Agustus. termasuk di dalamnya unsur pemerintah. Warga masyarakat yang demikianlah yang pada gilirannya mampu menjadikan bangsanya yang kuat juga dalam segi budaya. Latihan khusus dengan sentuhan professional dibutuhkan untuk menjamin pertunjukan dapat memenuhi standar artistic dan pada saat yang sama memberikan hiburan dan rekreasi. siapa yang akan mulai yang mengkoordinasi semua tindakan yang diperlukan ini dan lewat mekanisme apa?. tidak terkecuali dalam peristiwa seperti kedatangan pejabat pemerintah atau orang terkemuka lain ke desa mereka untuk maksud hiburan. konstum. iringan. 227 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI canggih dan sekaligus lestari oleh sebab daya hidupnya (Edi Sedyawati. Oleh pengaruh asing tertentu. Sekadar latihan dasar pertunjukan tidak akan cukup. pendidik formal dan non formal).

Langkah menuju pada. bila paket turis diatur dengan baik. Menurut Hermien Kusmayati. 2) singkat atau padat. rekreasi dan keterlibatan dalam pertunjukan yang lebih penting bagi mereka. kita harus mempertimbangkan kebiasaan para turis dalam mengunjungi desa-desa. kontinuitas pelaksanaan seni pertunjukan ritual selain ditunjang oleh latar belakang yang berorientasi pada kebutuhan bersama juga dikuatkan oleh transmisi yang berlangsung. serta 5) murah harganya (Soedarsono. tetapi juga momen-momen artistiknya. maka tari Gending Sriwijaya tersebut masih dapat berfungsi seperti masa lalu. Proses transmisi atau penyampaian pola-pola seni pertunjukan dari satu generasi kepada generasi yang lain dapat terjadi dengan disengaja dan dapat pula berlangsung tanpa disadari. Untuk memungkinkan masyarakat desa dapat mengatur paket turis. 1) tiruan dari asliya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prospek Masa Depan Dalam hubungannya dengan turisme. terutama yang berkaitan dengan warisan kultural penduduk lokal. bila tari Gending Sriwijaya akan dijadikan salah satu daya tari turis ke desa-desa dan akibatnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal serta kesejahteraan sosial ekonomi mereka. Dalam kaitannya dengan tari Gending Sriwijaya. 1992: 4 – 6). Kedua jenis kebutuhan ini harus dipenuhi dalam pengaturan paket turisme oleh masyarakat lokal di desa. Beberapa turis lebih senang menikmati tamasya kultural di pedesaan. yang lain senang berpartisipasi dalam aktivitas kultural dan kehidupan sosial masyarakat lokal (Zeppel. Dalam pandangan saya. 2003: 15 – 17) sudah menunjukkan tanda-tanda mulai dilakukan. untuk menarik lebih banyak lagi turis ke desa mereka. 3) penuh variasi. 4) ditanggalkan dari nilai-nilai sacral atau magis dan simbolisme. penanganan hal yang berkaitan dengan elemen artistic seni pertunjukan tentu saja diperlukan. Sebagai bagian dari upacara penyambutan tamu. tipe turis yang pertama biasanya tidak hanya menikmati aspek rekreasi dan hiburan dari tarian itu. elemen artistik tidaklah begitu penting. termasuk durasi pertunjukannya. turisme akan menjadi mekanisme efektif untuk melestarikan dan mengembangkan seni pertunjukan tradisional. aspek hiburan. Sedangkan bagi tipe kedua. Aspek yang dialihgenerasi228 . Dari sudut pandang fungsional.

serta dengan didukung oleh sarana musik dan penyiapan properti yang memadai. diciptakannya bentuk baru seni pertunjukan bagi para wisatawan ini merupakan suatu dampak yang 229 . misalnya pada saat penari berbaris dengan teratur dan hierarkis. adanya upaya pengemasan seni pertunjukan untuk tujuan-tujuan pariwisata sering dinilai menimbulkan ekses negative terhadap keberadaan dan kelangsungan seni pertunjukan itu sendiri. Karenanya ritual tradisional seperti Gending Sriwijaya sangat menarik. kehadirannya yang terkemas dikhawatirkan bisa menimbulkan citra bahwa seni pertunjukan tersebut hanya “sedemikian saja kualitasnya”. susunan pemain dan pengiring yang lengkap. ditunjang dengan tata rias dan busana penari seperti pengantin wanita Palembang memberikan sentuhan emosional tersendiri. Hal ini baik bagi upaya konservasi lingkungan. setting dan lokasi pementasan yang sepatutnya. Ditinjau dari sisi karya seni pertunjukan. maka rasa bosan akan cepat menghinggapi pamain. Padahal bila ditampilkan secara utuh dengan durasi pementasan lebih panjang. pelaku dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya (Hermien Kusmayati. Melalui turisme perkembangan Gending Sriwijaya dapat meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat lokal. Mutu penampilan seni pertunjukan yang sudah mengalami pengalan-penggalan pada bagian-bagian tertentu tentunya tidak bisa diharapkan optimal. Apalagi. kualitas penampilan dan makna sacral yang terwujud tentu akan lebih baik pula.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI kan meliputi materi atau bentuk. Perkembangan seperti ini. juga akan meningkatkan penghargaan masyarakat lokal terhadap lingkungan alam serta warisan budaya mereka dan dapat meningkatkan kelestarian budaya dan konservasi lingkungan. 1999: 10). Diyakini ritual ini dapat dikembangkan menjadi objek turisme yang menarik di Sumatera Selatan. sehingga secara perlahan-lahan akan mengurangi ketergantungan masyarakat lokal terhadap penggunaan sumber alam mereka secara ekstensif. Disamping dampak yang nyata dan nilai tambah ekonomis tersebut. Perkembangan turisme sangat menarik bila ia memperhatikan dimensi lingkungan dan sosial budaya. Kalau keadaan ini tidak cepat diantisipasi. penampilan seadanya yang itu-itu juga menyebabkan kesan monoton merebak ke permukaan. Pariwisata dan Seni Pertunjukan Sebagai suatu perkembangan seni.

Tantangan sekaligus juga harapan adalah bagaimana kita harus mempersiapkan alih generasi dalam rangka pewarisan semua yang telah kita miliki saat ini kepada anak cucu kita. asosiasi seniman seni pertunjukan dibentuk. Hal ini mengisyaratkan adanya pertumbuhan yang menjawab tantangan untuk berkreasi bagi para seniman seni pertunjukan. harus dimulai persiapan sejak Sekolah Dasar dengan memberikan masukan lebh kepada porsi pengetahuan 230 . Untuk itu. Untuk jalur pendidikan formal. unik dan asli. Peningkatan martabat sumber daya manusia di sektor seni pertunjukan dalam kaitannya dengan iklim persaingan yang sehat perlu direnungkan dan ditindaklanjuti sebagai upaya untuk menghindari eksploitasi para seniman oleh para pengusaha industri wisata. Kalau sudah ada. Hanya masalahnya apakah hal itu perlu dilanjutkan kepada penciptaan bentuk-bentuk baru dengan keberanian untuk mengeksplorasi jenis-jenis seni pertunjukan yang selama ini belum tersentuh jamahan pariwisata. sehingga dapat disusun program paket pariwisata yang tidak saja berdampak meningkatkan nilai ekonomis tetapi juga berorientasi kepada pengembangan dan revitalisasi kesenian rakyat dalam rangka pelestarian jenis-jenis seni tradisi yang ada. Disamping itu upaya tersebut juga diarahkan kepada pengungkapan kekayaan khasanah budaya seni pertunjukan di panggung internasional (bagi para wisman) dan juga di panggung nasional (para wisnu). Apalagi dasarnya dampak teknologi canggih dalam bidang home entertainment yang menawarkan alternative seni budaya asing yang cukup menggoda bagi generasi penerus kita tampaknya mendesak untuk diantisipasi dengan cepat. Hal ini perlu dipikirkan secara terpadu dengan sektor pariwisata terkait. jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah melalui jalur pendidikan. perlu dilembagakan aturan-aturan main atau kode etik dalam mengantisipasi pesan. dan menetapkan standar harga yang layak dan manusiawi bagi semua. Sedangkan bagi upaya pengemasan bentuk yang sudah ada.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF positif. Bila perlu. Misalnya. dari manapun datangnya. baik formal maupun non formal. dapat dikaitkan dengan upaya rasionalisasi dalam rangka pemadatan yang bertujuan yakni melestarikan seni itu sendiri. tari Gending Sriwijaya yang juga mempunyai potensi untuk digarap dan diperkenalkan kepada wisatawan yang datang dari jauh untuk menyaksikan sesuatu yang baru.

yang dilakukan adalah menghimbau para eksekutif penentu kebijakan agar dapat menciptakan suasana “sadar kesenian rakyat” di kalangan eksekutif penentu kebijakan politik kebudayaan. Dalam kaitannya dengan pertunjukan rakyat. kita harus dapat lebih arif dan berupaya mencoba menghilangkan ekses tersebut. sehingga mendukung peningkatan apresiasi masyarakat. baik bagi pelaku. sedangkan ekses negatif yang timbul ternyata berpulang kepada diri kita sendiri sebagai orang-orang kreatif yang terlibat. Adanya dampak ekonomis dan tantangan untuk bersikap kreatif bagi pengembangan bentuk seni pertunjukan yang baru haruslah disyukuri dan ditingkatkan. Sekali waktu. kursus keterampilan dan sistem sanggar perlu digalakkan. Meskipun hal ini merupakan masalah klasik dengan alternative solusi yang klasik dan terdengar klise. Dengan menyikapi adanya tuntutan tersebut. Pada jalur non formal. Suatu diskusi untuk mencari alternatif masalah tersebut perlu digalang agar tema-tema “eksploitasi”. terutama pada pengisian mata pelajaran pilihan lokal di kurikulum pendidikan nasional. dan pengelola industri itu sendiri. Kunjungan siswa sekolah non kesenian ke kampus-kampus kesenian yang lebih tinggi sebaiknya perlu dilakukan untuk memperluas wawasan kesenian itu sendiri. sejauh menyangkut masalah pendidikan formal dan non formal. pemilihan topik studi. penikmat. penelitian dan tugas akhir studi haruslah diarahkan kepada bidang kesenian rakyat tradisi. apresiasi siswa dapat ditingkatkan dengan mengadakan workshop dan pertunjukan di sekolah maupun di kampus-kampus. hal itu kait mengait dalam suatu lingkaran keadaan yang kurang kondusif bagi pengembangan kesenian yang layak. 231 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dan keterampilan kesenian yang ada. sejak Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah. baik yang bermakna positif. Pada tingkat Sekolah Kejuruan dan Perguruan Tinggi. Apalagi. Penyikapan masalah ini harus dilandasi pemikiran maju yang berorientasi kepada pendekatan-pendekatan pragmatis bagi pemenuhan kepentingan segala pihak. Kenyataan yang ada dan terjadi dalam lingkup seni pertunjukan Indonesia saat ini adalah hasil upaya antisipatif terhadap tuntutan yang ada dalam masyarakat yang terimplementasikan dalam bentuk-bentuk seni pertunjukan kemasan. tiada jalan lain yang mungkin dilakukan. Dampak yang timbul merupakan hasil proses sebab akibat. maupun negatif.

Deskripsi Tari Pangutan. Serial Seminar Seni Pertunjukan Indonesia di Gedung Teater Tertutup Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta tanggal 9 – 10 Mei 1999. 1990. Bahkan. sehingga muncul ke permukaan adalah dampak positif saja. Dalam kasus tari Gending Sriwijaya. Daftar Pustaka Adat Istiadat Upacara Perkawinan Daerah Sumatera Selatan. ketika orientasi mereka berubah dari sebuah pertunjukan upacara adat ke format wisata seni. “kurang bergengsi”. Konteks tradisi pun semakin pudar tanpa penghargaan. dan semacamnya dapat dieliminasi dari lingkup seni pertunjukan yang kita cintai bersama ini. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. mungkin dari televisi atau foto-foto di koran. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF “Sapi Perahan”. kendati menepiskan makian. Melibatkan rakyat dalam ekspresi komunal mereka ternyata bisa dilakukan. Rakyat pemiliki kesenian itu sendiri hanya bisa melihat dari kejauhan. Jakarta: Cipta Adi Pustaka. Hermien Kusumayati. kerja kreatif yang terjadi menjadi langka. mereka dilibatkan untuk mengambil keputusan untuk menjual atau mempertunjukkan keseniannya. Ensiklopedi Nasional Indonesia jilid 4. Senja Ulang Pertunjukan yang Menghibur. Bahkan. Kantor Wilayah Propinsi Sumatera Selatan: Proyek Pembinaan Kesenian Sumatera Selatan tahun 1990/ 1991. (Soerapto Soedjono. Banyak karya tari baru yang dihasilkan oleh seniman-seniman besar mengambil ide dari tradisi rakyat dan menjadi sebuah garapan tari yang merangkai berbagai unsur-unsur motif gerak tari daerah secara semena-semena. Kemiskinan kreatifitas ini tertutup oleh nama besar dan kesempatan yang telah didapat. ketika beberapa karya tradisional mulai laku dijual yang ada hanyalah tiruan dari kemasan. 1984. “paling rendah”. Nama-nama kesenian diambil tanpa rasa bersalah. tanpa izin dari pemilik asal atau niat kerja sama. Ekspresi Jurnal Institut Seni Indonesia Yogyakarta: Seni: Kearifan dan Keunggulan Vol232 . Jajuk Dwi Sasanadjati. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. karena di dalamnya terjadi suatu pertemuan yang menguntungkan kedua belah pihak. : ). “derajat”.

Diyah Larasati. R. Seni Pertunjukan Indonesia dan Pariwisata. Sardono W.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ume 14. Ekspresi. 2006. Jurnal Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia tahun VIII. Soedarsono. 2005 Koentowijoyo. buku 2. Jakarta: Wedatama Widya Sastra. Sedyawati Edi. Soejono Soeprapto. Kenyataan dan Harapan: Dampak Industri Pariwisata Pada Seni Pertunjukan. 2008. Budaya dan Masyarakat Yogyakarta: Tesis Wacana. tahun 5. 1987. dan Ekonomi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Kusumo dan Arma (Kerja Kreatif Seniman Tradisional dan Modern). Kecak Rina. Lintasan Sejarah Budaya Sumatera Selatan Pusat Penelitian Lembaga Sosial Budaya Penelitian Univesitas Sriwijaya tahun 1997. Jurnal Institut Seni Indonesia Yogyakarta. 2003. Seni Pertrunjukan dari Perspektif Politik Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 233 . 2003. Ke Indonesiaan Dalam Budaya. Soedarsono. 1997.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Asril Muchtar adalah Sekretaris Program Pascasarjana dan dosen jurusan Karawitan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang. 234 .

Periksa H. Upacara Tabuik terdapat di kota Pariaman. Meskipun berada di tempat yang berbeda. M. 142. tetapi bisa menjadi dari tanggal 1-11.). Shorter Encyclopaedia of Islam (Leiden: EJ Brill.w. kepentingan penyelenggara dan kepentingan masyarakat penikmat.Kar. 190191.. Terj.H Kamer (ed. 1974). Dalam peperangan ini Husein T 1 Fazl Ahmad. Husein Sjahid Agung. Adam Saleh (Djakarta: PT Sinar Hudaya. di Bengkulu Upacara Tabot masih tetap dilaksanakan dari tanggal 1-10 Muharram. yakni peristiwa perang Karbala Irak antara pasukan Yazid dari Bani Umayyah dengan rombongan Husein Bin Ali cucu Nabi Muhammad s. S.Hum.R Gibb dan J.. Namun terjadi sedikit perbedaan. Periksa Asril. sementara di Pariaman sudah terjadi pergeseran waktu pelaksanaan dengan tidak lagi berpatokan pada tanggal 1-10 Muharam. “Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di 235 . Pergeseran ini agaknya ingin mengadopsi dua kepentingan yakni. Sumatra Barat.a. 1972). Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharam tahun 680 (61 H)1. tetapi kedua ritual ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang sama.12. Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Latar Belakang radisi ritual berskala besar dan kolosal yang dimiliki masyarakat pantai bagian Barat Sumatra adalah Upacara Tabuik dan Upacara Tabot.13. dan 14 Muharam—dengan perhitungan hari puncak upacara jatuh pada hari minggu. sedangkan Upacara Tabot terdapat di kota Bengkulu.A.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Upacara Tabuik dan Tabot di Pesisir Barat Sumatra Asril Muchtar. Kedua ritual ini sama-sama dilaksanakan pada awal hingga paroh pertama (1-10) Muharam dalam kalender tahun Hijriyah.

yang memiliki unsur seperti piramid--kemudian disebut tabot. dan Hasan Bin Ali (kakak Husein). Benda ini kemudian disebut tabuik. Peristiwa Karbala bisa menjadi seperti legenda. Akan tetapi. yaitu tabuik pasa dan tabuik subarang. bentuk upacara dan perayaannya di masing-masing daerah tidak semata-mata bertolak dari peristiwa perang Karbala. 51. Sementara di tempat lain ditafsir pula berdasarkan kekuatan budaya lokalnya. 236 . mereka melakukan “pemitosan” sejarah perang Karbala dengan menafsirkannya sendiri rasa simpati terhadap Husein sesuai dengan versi daerah masing-masing. Masing-masing hanya menggunakan satu tabuik gadang (tabuik besar). Kematian Husein meninggalkan duka yang mendalam bagi penganut Syi’ah. Sementara di Bengkulu tabot ditafsir dari mimpi seorang leluhur keturunan tabot saat bermimpi di Karbala. yaitu patung kuda bersayap berkepala wanita yang dianggap sebagai kendaraan yang membawa arwah Husein. dan pelaksanaan upacara. di Pariaman tabuik diwujudkan dalam bentuk sebuah benda atau menara yang dibuat setinggi sekitar 10-12 meter dan pada bagian tengahnya dibuat seekor buraq. 2002. Husein bagi kalangan penganut Syi’ah dianggap Imam ketiga setelah ayahnya Ali Bin Abi Thalib. Bentuk penghormatan itu di kawasan Timur Tengah diwujudkan dalam pertunjukan drama bergaya sufi yang menyajikan kronologi penderitaan yang dialami oleh Husein. Ia melihat bangunan istana raja berbentuk piramida. Kedua kelompok ini seolah-olah menggambarkan dua kubu yang berperang. termasuk di berbagai tempat di Indonesia.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan pasukannya mati terbunuh kecuali beberapa perempuan dan anakanak. seperti yang masih dapat kita jumpai di kawasan pantai barat Sumatra adalah Upacara Tabuik dan Upacara Tabot. benda upacara (tabuik dan tabot). Uniknya. Penafsiran ini berimbas pada bentuk upacara. Misalnya. masing-masing kelompok tabot memiliki Pariaman Sumatra Barat”. dan tak terkecuali juga dari Islam Sunni di berbagai kawasan Asia Tenggara. Kebesaran namanya dan penghormatan terhadapnya dilakukan oleh kalangan umat Islam dari penganut Syi’ah dari seluruh dunia. Mimpi itu kemudian diwujudkan dengan bentuk menara setinggi sekitar 5-6 meter. Tesis S2 UGM Yogyakarta. Di Bengkulu pelaksanaan Upacara Tabot juga terdiri atas dua kelompok tabot yaitu kelompok tabot berkas (tabot tuo) dan kelompok tabot bangsal. Akan tetapi. spirit upacara. Di Pariaman pelaksanaan Upacara Tabuik dilakukan oleh dua kelompok pendukung tabuik.

13-14. Versi lain menyebutkan. Seiring dengan perkembangan zaman. Ibid. setiap perayaan upacara ini tidak kurang dihadiri oleh 200-an ribu orang dari berbagai daerah sekitarnya. Kemudian seorang to2 3 Badrul Munir Hamidy (ed. Kedua kelompok tabot di Bengkulu tidak secara tegas dan terbuka sebagai gambaran dua kubu yang sedang bertentangan. Bahkan masyarakat yang menyaksikan upacara itu secara tidak langsung terlibat sebagai bagian dari pendukung upacara. 61. Misalnya dari ritual ke sekuler. Mereka berasal dari Madras India. upacara tabot pada awalnya merupakan upacara berkabung kaum Syi’ah yang dibawa ke Bengkulu orang Sipahi yang bekerja membangun benteng Marlborought. sehingga menjadi kolosal. tetapi bentuk upacara. Di Pariaman misalnya. Interpretasi Masyarakat dari Perang Karbala ke Upacara Kendatipun Upacara Tabuik dan Upacara Tabot sama-sama berasal dari peristiwa perang Karbala. Upacara tabuik dan Upacara Tabot sudah menjadi identitas budaya bagi masing-masing daerah. 237 . struktur atau kronologi upacara. 1991/1992). dan spirit yang dimunculkannya terdapat perbedaan-perbedaan yang signifikan. sehingga jumlah tabot yang digunakan dalam upacara bisa mencapai 12 buah atau lebih2. Dalam setiap penyelenggaraan upacara ini di masing-masing kota. telah turut pula mewarnai “wajah” perkembangan upacara.).. perubahan kecenderungan selera dan perilaku masyarakat dan berbagai perkembangan politik. Upacara Tradisional Daerah Bengkulu: Upacara Tabot di Kotamadya Bengkulu (Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Depdikbud. bahwa upacara tabut berasal dari India dibawa ke Bengkulu oleh Imam Senggolo--seorang pemuka Islam yang dikenal pula dengan nama Syeikh Burhanuddin. kemudian diwariskan kepada keturunan mereka dan keturunan mereka hasil asimilasi dengan warga setempat3. mampu memobilisasi masyarakat untuk menyaksikannya. Margaret Kartomi berdasarkan legenda yang berkembang di Bengkulu menceritakan. ataupun berubah secara parsial. pelaksanaannya. Menurut Hamidy.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pula anggota tabot pendukungnya. Perbedaan ini muncul karena adanya interpretasi masyarakat terutama para pendukung dan keluarga tabuik dan tabot.

dalam Tijdschri ft voor Indische Taal--. sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu pada masa itu. sekarang berkembang pula dengan memakai jilbab yang diidentikkan seperti burung raksasa. “Nadere gegevens omtrent het Hasan¬Hoesain feest”. Perkiraan kedua. Hamdan Basyar (ed. Snouck Hurgronje memperkirakan bahwa tabuik berasal dari India dan masuk ke Sumatra diperkirakan pada abad XIV. Rahman Zainuddin dan M. 334-335. salah satu ciri terpentingnya yang sangat berbeda sekali dengan tabot Bengkulu adalah buraq.. 1986). l44. “Syiah di Indonesia: Antara Mitos dan Realitas” (pengantar) dalam A. Houtsma. kuat dugaan tabuik diperkirakan masuk ke Pariaman pada akhir abad XVII. Azyumardi Azra. dan untuk membantu menduduki bentengnya di Bengkulu5. Michael Barry. dalam David P. van Ronkel. 284. Bentuk yang seperti ini ditemui di India Selatan. op. Buraq itu bentuknya seperti kuda bersayap berkepala wanita. Color and Symbolism in Islamic Architecture: Eight Century of the Tile Maker’s Art (London: Thames and Hudson Ltd. 1914). Th. Cerita tentang buraq sering dikaitkan dengan peristiwa isra’ dan mi’raj Nabi Muhammad8. ketika Inggris membawa pasukan Sepoy India (orang Sipahi atau Cipai) yang berusaha menguasai pesisir pantai Barat Sumatra. diterjemahkan oleh Hartoyuwono. et al. Syiah dan Politik di Indonesia: Sebuah Penelitian (Bandung: Mizan dan PPW-LIPI. Ethnography of Muhammadan 238 . Kecepatan terbangnya seperti kilat. 2000)..C. Melihat pada bentuk tabuik yang ada di Pariaman. tabuik masuk ke Sumatra pada akhir abad XVII. berkembang dan memiliki kesamaan dasar di India7.a Shiah Ritual Tranplanted from India to Sumatra”. Kartomi.. Kartomi. 1996). cit. oleh karena baru pada abad XVI sampai XVIII. 21. Periksa Ph.). sedangkan tabot Bengkulu tidak memiliki buraq. en Volkenkunde (Batavia: Albrecht & Co. dulu berambut panjang. S. Ricklefs (ed. Masa kontak budaya ini menjadikan ta’ziah atau tabut dari Iran.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF koh Islam yang bernama Kadar Ali membawa tabut itu ke Pariaman4. (Clayton: Centre of Southeast Asia Studies. Periksa juga M. 4 5 6 7 8 Margaret J. Iran membuat ikatan budaya yang kuat dengan India melalui berbagai penguasa Syi’ah di India Utara dan India Selatan.. diduga karena hikayat Ali Hanafiyah yang menceritakan tentang kematian Husein. et al. Monash University.) Nineteenth and Twentieth Century Indonesia. “Tabut .. Azyumardi Azra mencatat bahwa tabuik masuk ke pantai barat Sumatra antara tahun 1750-8256. Buraq termasuk binatang mitologi yang hanya ada dalam konsep pikiran saja. Berdasarkan keterangan Snouck Hurgronje di atas. Chandler dan M. Land--. The Encyclopaedia of Islam: Dictionary of the Geography. 142.

Akan tetapi masyarakat Pariaman membuat rekayasa sendiri yang bersifat imajinatif. 1913). pada hal itu adalah fakta sejarah yang terjadi di Karbala. dengan datangnya arak-arakan para malaikat beserta buraq membawa jenazah Husein terbang ke langit. tetapi malaikat tidak mengizinkannya. Adapun mitos tabuik Pariaman adalah sebagai berikut. 63. 26 Juni 1994). dan Delhi yang disebut pula dengan tabut atau buraq9. Setelah itu mayat Husein dan para pengikutnya dikuburkan di Karbala. Setelah Husein terbunuh dengan kondisi tubuh dicincang oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Mitos ini yang menjadi ilham dalam mewujudkan bentuk fisik tabuik dan tabot itu. Atau mungkin saja masuknya tabuik ke Pariaman dan Bengkulu dalam kurun waktu yang bersamaan. “Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di Pariaman Sumatra Barat”. para malaikat mencium adanya bau manusia dalam rombongan tersebut. para malaikat memasukkan bagian tubuh Husein ke dalam peti yang ada di punggung buraq. Tesis S2 UGM Yogyakarta. Ungkapan mitos ini juga dimuat dalam leaflet pariwisata Kabupaten Padang Pariaman. yang sangat berbeda. Kemudian malaikat itu memberikan nasehat agar orang Cipai itu dapat melaksanakan arak-arakan tersebut seperti yang dilihatnya. 9 Ibid. Setelah arak-arakan itu mendarat di lokasi Husein terbunuh. Pesta Kolosal Anak Nagari Piaman”. Rupanya mereka prajurit Husein yang selamat yang berasal dari Cipahi (Keling) bergantung pada arak-arakan itu. ketika Upacara tabuik masih dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten Padang Pariaman.. tiba-tiba datanglah sebuah arak-arakan dari langit yang terdiri dari para malaikat dan seekor buraq. antara tabuik Pariaman dengan tabot Bengkulu masing-masing memiliki mitos sendiri-sendiri.. 10 Parsi Tanjung. Jadi kemungkinan besar tabuik Pariaman berasal dari India Selatan tidak melalui Bengkulu. Periksa Asril. Mitos di atas dimulai dari kematian Husein oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Singgalang Minggu. Dalam perjalanan menuju langit. 239 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI seperti di Dekkan. 145-146. dan mereka memohon kepada malaikat ikut bersama jenazah Husein. dan arak-arakan itulah kini yang disebut dengan tabuik10. dan selanjutnya arak-arakan itu lepas landas menuju langit. 793. Sebagai pertimbangan lain. yang tidak bisa diPeoples (London: Luzac and Co. 2002. Lucknow. “Tabuik.

mereka bisa mewujudkan arak-arakan malaikat dengan buraq dalam mitos itu seperti Upacara Tabuik yang ada sekarang. berilah jalan Nabi Adam. Nabi Musa. Menurut Natsal lebih baik ia mengambil barang itu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF hubungkan dengan fakta. Natsal menyesali perbuatannya. Nabi Ibrahim. Natsal menjelaskan semua kejadian yang ia alami. mitos tabot dilukiskan sebagai berikut. untuk memberi tanda perbuatan burukmu bukan hanya wajahmu yang tetap hitam. Dalam keadaan sadar Natsal melihat bagaikan dalam mimpi sebuah istana raja berbentuk piramida muncul di sepanjang tempat itu. dan Nabi Muhammad datang memberikan penghormatan kepada Husein. Berdasarkan catatan yang dibuat oleh penguasa Belanda di Bengkulu pada akhir abad ke-19. Kemudian ia mendengar kata-kata. Mayat Husein yang tanpa kepala ditinggalkan di padang Karbala. lalu Ja’far memberikan jawaban kepadanya. tetapi keturunanmu akan dilahirkan dengan wajah hitam. Berbeda pula dengan tabot Bengkulu. Namun ketika mereka membuat tabuik. kilat menyambar ke segala arah dengan suara yang menakutkan. Pada saat ia berdoa Ja’far Ibnu Muhammad Siddik seorang ulama yang sedang mengelilingi Kabah. Melihat kejadian itu Natsal berbaring di tanah. ia pergi ke Mekkah memohon ampunan dari Allah di Ka’bah atas perbuatan buruknya itu. Natsal kemudian menebas tangan mayat Husein. Nabi Isa. Natsal melihat wajah Nabi Muhammad. Seseorang yang bernama Natsal. bahwa dosa Natsal bisa diampuni dengan syarat ia dan keturunannya setiap tahun harus mengenang dan memperingati kematian Husein melalui suatu 240 . Setelah kejadian itu. Ketika Natsal membuka pakaian Husein untuk mengambil barang itu. disertai lantunan iramairama yang harmonis. pembantu Husein mengetahui bahwa di dalam ikat pinggang Husein tersimpan sebuah intan atau jimat yang berharga. menemuinya dan menanyakan masalah apa yang dihadapi oleh Natsal. mitosnya juga berawal dari tragedi Karbala. dari pada diambil atau dirampas oleh orang lain. kedua tangan Husein bergerak-gerak menolak tangan Natsal. Siti Fatimah. lalu Nabi menampar wajah Natsal dengan mengucapkan kata-kata. akan tetapi pada saat yang sama ia mendengar guruh.

Natsal yang disebut sebagai pembantu Husein hanyalah sebuah rekayasa saja. Mengenai bentuk tabot keturunan Natsal membuat seperti menara yang memiliki unsur piramida. (2) Upacara maambiak batang pisang (mengambil batang pisang) merupakan prosesi ritual mengambil dan menebas batang pisang yang dilakukan di masing-masing tempat upacara. sebagai hasil penafsiran mereka terhadap mimpi Natsal di Karbala12. Bentuk Upacara Upacara Tabuik dan Upacara Tabot terdiri atas beberapa ritus atau rangkaian upacara yang pada dasar memiliki kesamaan. Helfrich. “Perkembangan Musik Dol di Kota Bengkulu”. begitu juga mimpinya. Akan tetapi nama Natsal sangat dihormati oleh orang-orang Cipai Bengkulu termasuk para serdadu Cipai. sehingga menjadi kewajiban bagi mereka melaksanakan upacara tabot secara khidmat setiap tanggal 1-10 Muharram setiap tahun. 22. memberikan gambaran bahwa orang-orang Cipai yang datang ke Bengkulu dan ke Pariaman. Ritus-ritus yang terdapat dalam Upacara Tabuik adalah sebagai berikut. 1888). Mereka menganggap Natsal sebagai leluhurnya. Berdasarkan mitos itu. “Het Hasan-Hosein of Taboet-Feest te Benkoelen”. Berpedoman pada dua mitos di atas. W. (1) Upacara maambiak tanah (mengambil tanah) merupakan prosesi ritual mengambil tanah ke sungai yang menggambarkan pengambilan mayat Husein yang masih tertinggal di Karbala.. et al. namun dalam perkembangan sekarang sudah ada pula tabot yang memakai buraq13. 12 Ibid. Upacara ini dilaksanakan pada tanggal 01 Muharam pada sore hari selesai salat ‘Ashar. 2009). meskipun ada beberapa perbedaan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI upacara yang khidmat11. tabot di Bengkulu tidak memiliki buraq. dalam Internationales Archiv fur Ethnographie (Leiden: Verlag von P. L. Trap. kemu11 O. M. Skripsi (Padangpanjang: STSI. 192-193. 13 Zelly Marissa Haque. sebagaimana bentuk tabot yang ada di Bengkulu saat ini. 241 . kemungkinan berasal dari daerah yang berbeda di India dan datang dalam kurun waktu yang sama atau berbeda. untuk menebus dosa-dosa Natsal.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) dian dibawa ke daraga14.00. yaitu bagian atas dan bagian bawah. Jika lokasi memungkinkan. Upacara ini dilaksanakan pada pagi hari (subuh) pada hari puncak upacara.00. 242 . Setiap bagian disebut dengan pangkek.00). Upacara maoyak tabuik merupakan upacara puncak dari seluruh rangkaian Upacara Tabuik. selanjutnya dikumpulkan di suatu tempat. Upacara tabuik dibuang ke laut merupakan upacara terakhir berupa prosesi membuang tabuik ke laut. Upacara maradai merupakan prosesi yang bertujuan mengundang simpati masyarakat guna menyumbang dana atau apa saja yang bisa membantu biaya pembuatan tabuik. dan lain sebagainya. Upacara ini dilaksankan pada tanggal 05 Muharam mulai dari sore hingga sekitar pukul 21. Upacara ini menggambarkan saat-saat Husein dipancung oleh tentara Yazid. Upacara maarak jari-jari adalah upacara berupa prosesi mengarak jari-jari dengan melintasi berbagai kampung sebagai gambaran keganasan tentaraYazid.00-22.00-16. Upacara ini dilakukan pada malam hari setelah upacara mahatam.30. Upacara ini dimulai dari pukul 11. sedangkan pangkek ateh (atas) terdiri atas bungo salapan. Upacara ini dilaksanakan sekitar pukul 12. Upacara ini dilaksanakan dua hari menjelang upacara puncak. Upacara tabuik naiak pangkek adalah penggabungan pangkek 15 (bagian) bawah dengan pangkek atas badan tabuik yang sebelumnya dibuat secara terpisah. Kandang tabuik dapat pula dibuat terpisah dari daraga. puncak tabuik. di sekitar daraga juga dibuat pondok tempat membuat tabuik yang disebut dengan kandang tabuik. Upacara ini menggambarkan jari-jari Husein yang berserakan di Karbala. Upacara mahatam merupakan penurunan jari-jari dari rumah tabuik (keluarga tabuik). Pangkek bawah adalah kaki tabuik dan buraq. Upacara ini dilakukan pada tanggal 06 Muharam (dapat menyesuaikan dengan rentang waktu upacara) pada malam hari sekitar pukul 19.00-14. pada malam hari (pukul 20.00. 15 Dalam pembuatan tabuik Pariaman dilakukan atas dua bagian. kemudian dibawa ke daraga. biliak-biliak. sebagai gambaran 14 Daraga adalah areal yang dimitoskan sebagai tempat makam Husein. Upacara maarak sorban merupakan prosesi mengarak sorban (penutup kepala) sebagai gambaran setelah menemukan sorban Husein.

17 Gerga adalah pusat kegiatan tabot. 243 .00-23. (5) Arak penja: atau disebut juga arak jari-jari dilaksanakan pada tanggal 08 Muharam mulai pukul 19. 66-67.00-21. di masing-masing rumah tabuik dan kandang tabuik dilakukan kegiatan pembuatan tabuik dan permainan gandang tasa (musik pendukung Upacara Tabuik). Menjara dilakukan pada malam hari dari pukul 20. (2) Duduk penja (jari-jari). (1) Mengambiak tanah (mengambil tanah).3016. (3) Menjara artinya mengandun atau berkunjung mendatangi kelompok tabot lain untuk beruji dol (bertanding membunyikan dol). (4) Meradai. Meradai dilaksanakan pada tanggal 06 Muharam dari pagi sampai sore. berjalan mengitari kampung dilakukan oleh anakanak usia 10-12 tahun dalam rangka pengumpulan dana untuk pembuatan tabot. kemudian tanggal 06 Muharam kelompok tabot berkas mengunjungi kelompok tabot bangsal. Penja adalah benda berbentuk telapak tangan manusia lengkap dengan jari-jarinya. Peserta meradai disebut jola.00 dengan menempuh rute yang telah ditentukan. Menjara dilakukan dua kali yaitu pada tanggal 05 Muharam oleh kelompok tabot bangsal ke kelompok tabot berkas. Acara dimulai di lapangan Merdeka Bengkulu (lapangan Tugu Propinsi) dan selesai kembali di lapangan Tugu Propinsi.. Penja disebut juga dengan jari-jari. Tidak ada terjadi perkelahian.00.00-18. namun sudah banyak yang tidak tahu lagi tersebut. Pelaku upacara adalah anakanak dan remaja.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengantarkan jenazah Husein ke pemakaman. Setelah dicuci penja diletakkan di gerga17. 16 Asril. Op cit. Pada masa lalu di Pariaman tanggal 2-4 Muharam disebut dengan hari gam. Masa jeda antara upacara maambiak tanah dengan upacara maambiak batang pisang. Tanah yang diambil adalah tanah yang dianggap mengandung nilai magis. Penja menurut keluarga Sipai adalah benda keramat yang mengandung magis. maka harus dicuci dengan air bunga dan air limau [jeruk] setiap tahunnya. Adapun ritus-ritus yang terdapat dalam Upacara Tabot menurut Hamidy sebagai berikut. Upacara ini dilaksanakan dari pukul 16.

(7) Gam: yaitu masa tenang yang ditentukan tidak boleh ada kegiatan apapun yang berkaitan dengan tabot. pelopor upacara tabot.00. Karabela. Kampung Cina. Gam dimulai dari pukul 07. meskipun gerusan perubahan ke arah mempertipis nilai tetap saja terjadi. Arak serban berupa prosesi membawa serban (sorban) putih yang diletakkan pada tabot coki (tabot kecil). dilengkapi dengan bendera atau panji-panji berwarna putih. Menyatunya kelompok-kelompok tabot dalam satu arak-arakan ini disebut dengan arak gedang (pawai akbar).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF (6) Arak serban: dilakukan pada tanggal 09 Muharam pada malam hari dari pukul 19. Upacara dimulai pada pukul 19.00-16. Selama acara tabot besanding berbagai hiburan dan kesenian rakyat ditampilkan untuk menghibur para pengunjung. berupa makanan. sekitar pukul 11. tabot-tabot itu dibuang ke rawa-rawa di sekitar makam18. Op cit. hampir semua ritus upacara yang dilakukan menggunakan sesajen. Upacara tabot tebuang dipimpin oleh dukun tabot dan dipandang bernilai magis. Cara ini menampakkan bahwa di Bengkulu nilai ritual dan sakral masih dipertahankan. (9) Tabot tebuang: upacara tabot tebuang dimulai dari Lapangan Merdeka. Kampung Jawa. Upacara Tabuik termasuk upacara yang berdimensi keras dan bersifat kolosal. dan tabuik subarang dengan pusat aktivitasnya di Kampung Pondok. sehingga disebut pula dengan tabot besanding.00-21.00. hijau atau biru yang bertuliskan “Hasan dan Husen” dengan kaligrafi Arab. dan berbagai kembang dan limau (jeruk). Pasir. Di Bengkulu. Pelaku utama upacara itu terdiri dua tabuik. tabot-tabot dibariskan seperti bershaf. dan pasar Pariaman (bekas nagari Pasar Pariaman). minuman. 66-73.00-21. Sesampai di Lapangan Merdeka. 244 .00 arak-arakan tabot menuju Padang Jati dan berakhir di kompleks pemakaman umum. (8) Arak gedang: yaitu prosesi kelompok tabot yang dimulai dari markas masing-masing menuju Lapangan Merdeka..00. Di makam ini dimakamkan Imam Senggolo. Selesai ritual tabto tebuang. 18 Hamidy. yaitu tabuik pasa dengan pusat aktivitasnya di Kampung Perak.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

dan Jawi-Jawi (bekas nagari Lima Koto Air Pampan). Kedua tabuik ini menggambarkan dua kelompok yang sedang berseteru. Bisa dianalogikan dengan pasukan Husein dan pasukan Yazid yang sedang berperang di Karbala. Walaupun sesungguhnya masing-masing pendukung tabuik itu sama-sama “mengagungkan” dan merayakan peringatan kematian Husein, dan tidak satu pun yang berperan sebagai pasukan Yazid. Akan tetapi antara satu dengan lainnya saling tuding menjadi lawannya. Ini memang aktivitas budaya yang direkayasa untuk itu. Bentuk-bentuk kekerasan itu muncul, seperti mengadu tabuik, caci maki dalam bahasa kasar, sindiran dalam bentuk sarkasme, dan perkelahian massal di antara kedua belah pihak. Namun sekarang sindiran dan caci makian dalam bahasa kasar sudah mulai hilang. Bentuk kekerasan itu muncul pada upacara maambiak batang pisang, maarak jari-jari, maarak sorban, dan tabuik dioyak. Perkelahian itu dianggap sebagai bagian penting dari upacara. Perkelahian merupakan luapan dan puncak atau klimaks dari konflik-konflik yang ada selama upacara. Tanpa ada perkelahian maka upacara dianggap “dingin”, karena bagian ini merupakan salah satu daya tarik pengunjung dan para perantau Pariaman untuk menyaksikan Upacara Tabuik. Bagi para pengunjung jika tidak melihat bagian upacara yang menyajikan permainan keras, dianggap belum menyaksikan Upacara Tabuik. Bagi mereka yang mengerti dengan Upacara Tabuik, dalam kerangka fantasi fikirannya sudah terpola akan menyaksikan perkelahian dan bentuk permainan keras lainnya. Perkelahian massal itu setidaknya bisa terjadi dua kali, yaitu pada upacara maambiak batang pisang dan upacara maarak jari-jari atau maarak sorban. Meskipun dalam pelaksanaannya bisa saja tidak terjadi seperti itu, tetapi biasanya satu kali akan dilakukan, terutama pada upacara maambiak batang pisang, karena upacara maambiak batang pisang merupakan gambaran penebasan dengan pedang di peperangan. Pada masa lalu korban-korban perkelahian dalam Upacara Tabuik tidak merasa dendam dengan kejadian itu, walaupun mereka tahu orang mencedarainya. Mereka menerima dengan keikhlasan dan dianggap sebagai pengorbanan, yang belum seberapa nilainya jika dibandingkan dengan pengorbanan Husein. Mereka yang berjiwa seperti itu memiliki pemahaman dan penghayatan yang dalam terhadap upacara yang dilakukan. Selain itu, para ninik mamak dan tokoh masyarakat dapat meredam dan merangkul kedua belah pihak untuk berdamai, serta
245

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

memberikan pengertian tentang insiden yang terjadi merupakan bagian dari Upacara Tabuik. Bahkan setelah mereka berkelahi, lalu mereka berkumpul bersama, makan, dan minum bersama bagaikan tidak terjadi sesuatu. Upacara Tabuik yang bersifat kolosal terutama sekali dapat dilihat pada saat tabuik dihoyak dan tabuik dibuang ke laut. Kedua upacara itu dilaksanakan pada hari yang sama. Para pengunjung atau pelayat datang dari berbagai pelosok daerah menyaksikan upacara. Jumlah mereka diperkirakan sekitar 200-an ribu orang19, sehingga memadati areal wisata Pariaman seperti, Pantai Gandoriah, stasion kereta api, areal sekitar pasar Pariaman. Kartomi pada saat melakukan penelitian pada tahun 1982 pernah mencatat jumlah pengunjung atau pelayat yang menyaksikan Upacara Tabuik sekitar 200 ribu orang20. Merujuk pada mitos sebagai rujukan pembangun Upacara Tabot di Bengkulu, tampak pada tahap-tahap upacara tidak menyajikan upacara yang berdimensi keras yang mengarah ke perkelahian massal seperti yang terjadi pada Upacara Tabuik. Upacara yang dianggap keras dalam Upacara Tabot adalah upacara menjara (beruji dol). Inti dari upacara menjara adalah beruji dol, yaitu masing-masing kelompok tabot berusaha mengalahkan kelompok lain. Kelompok yang paling terampil memainkan dol 21 (dol dan tasa) dan paling sedikit dol pecah (robek membrannya) dianggap menang22. Kekerasan ditunjukkan dengan melampiaskan emosional pendukung upacara melalui pemain musik ke alat musik dol. Mereka secara pisik tidak melakukan persentuhan antar kelompok pendukung tabot, apalagi perkelahian. Beruji dol dilakukan di lapangan terbuka, sehingga dapat disaksikan oleh banyak orang. Bahkan beruji dol dianggap salah satu bagian upacara yang mampu menyedot banyak penonton. Dalam upacara beruji dol diadakan pula selingan pertunjukan tari-tarian dan musik tradisi sejenis gamat. Upacara menjadi meriah dengan hadirnya hiburan selingan ini. Beruji dol dilakukan di dua tempat yaitu, di kelompok tabot ber19 Asril, op cit., 69. 20 Ibid., 70 21 dol sejenis gendang bermuka satu berbentuk kettle drum, dengan ukuran diameter cukup besar antara 50-60 cm. Dol dimainkan sambil berdiri dengan cara diletakkan di lantai atau tanah. 22 Hamidy, Op cit., 89-90.

246

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

kas dan di kelompok tabot bangsal. Mereka saling mengunjungi secara bergantian selama dua malam. Lagu-lagu yang biasa dimainkan dalam beruji dol adalah Matam-matam, Suwena, dan Suweri. Ketiga lagu ini sama-sama mereka mainkan dalam waktu yang bersamaan. Lagu Suweri merupakan lagu andalan bagi masing-masing kelompok tabot dalam beruji dol. Masyarakat sangat mengetahui bahwa lagu tersebut amat disukai. Para pemusik biasanya memainkan lagu ini dengan penuh semangat hingga bermain dengan tenaga yang maksimal. Akibatnya sering terjadi kerusakan pada alat musik seperti pada kulit (membrane) robek, pemukul (stick) patah, resonator instrumen retak, dan lain-lain23. Akan tetapi ini muara yang ingin dicapai dari upacara beruji dol. Situasi ini sangat berbeda dengan Upacara Tabuik di Pariaman. Gandang tasa sebagai musik pendukung upacara justru digunakan untuk membangun semangat “heroik” dan “patriotik” di antara kedua kelompok tabuik. Lagu-lagu Oyak Tabuik dan Sosoh misalnya, dimanfaatkan untuk membangun emosional para pendukung tabuik, khususnya untuk membangun emosi ke arah perkelahian dan yang berdimensi keras.

Pelibatan Seni dalam Upacara Rentangan waktu yang cukup panjang dalam pelaksanaan Upacara Tabuik dan Upacara Tabot, dimanfaatkan dengan menampilkan berbagai kesenian tradisi setempat dan kesenian yang bernuansa Islami. Di Pariaman misalnya, pada malam hari yang tidak ada aktivitas upacara, panitia penyelenggara upacara menyajikan pertunjukan indang piaman, tari indang, gandang tasa, orkes gambus, dan jenis musik bernuansa Islami. Prinsip utamanya adalah memberikan hiburan kepada masyarakat atau pengunjung yang datang. Sementara di Bengkulu, hal yang sama juga dilakukan yaitu pertunjukan tari Ikan-ikan, kolintang, musik bernuansa Melayu seperti gamat, dan yang cukup menggembirakan sekarang adalah pertandingan atau festival dol kreasi. Para remaja Bengkulu mampu memainkan “musik baru” yang dikembangkan dari musik tradisi dol dengan atraktif24. Selain itu, juga ditampilkan berbagai tarian tradisi dan tari kreasi yang bersumber dari Upacara Tabot.
23 Hanefi, dkk., “Musik Tabot dalam Beruji Dol di Bengkulu: Tinjauan Musikologis” Laporan penelitian (Padangpanjang: ASKI, 1998), 45. 24 Haque, Op cit., 56-57.

247

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Perubahan dan Perkembangan Upacara Perubahan dan perkembangan yang terjadi pada Upacara Tabuik dan Upacara Tabot berbeda bentuk dan jenisnya. Ada yang berubah dari aspek nilai ritual dan sakralnya, dan ada yang berkembang secara parsial dari aspek musiknya saja. Di Bengkulu upacara berkembang secara parsial, yakni dari aspek musiknya. Pada masa lalu, dol adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Upacara Tabot. Dol hanya dapat dimainkan bersamaan dengan Upacara Tabot, sebagai musik pendukung upacara. Akan tetapi, pada tahun 1980-an dan 1990-an dol sudah dapat ditampilkan secara terpisah untuk penyambutan tamu pemerintah, meskipun masih dalam bentuk ansambel yang aslinya. Perkembangan yang cukup menggembirakan adalah ketika dol dijadikan sebagai sumber penataan musik kreasi untuk iringan tari “baru” (kreasi) dan untuk musik kreasi. Dalam penelitian Haque, ada tiga aspek perkembangan yang terjadi pada dol, yaitu: dol sebagai media seremonial di kota Bengkulu; dol dijadikan sebagai materi pembelajaran musik di sekolah dan di sanggar; dol sebagai sumber sebagai garapan komposisi baru. Dol sebagai media seremonial disajikan pada acara penyambutan tamu-tamu penting, acar ulang kota Bengkulu, acara yang bersifat umum lainnya, dan penggabungan dol dengan musik tradisi lainnya seperti gendang sarunai dan gamat yang digunakan untuk hiburan. Dol sebagai materi pembelajaran di sekolah, walaupun masih bersifat ekstrakurikuler, tetapi telah diajarkan di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di berbagai daerah khususnya di kota Bengkulu. Perkembangan yang cukup menarik adalah dol dijadikan sebagai sumber penciptaan karya baru. Dol telah digabung dengan berbagai alat musik di luar tradisinya. Misalnya dengan menghadirkan gitar bass eletrik, kolintang, set rebana, dan cara memainkan dol pun lebih atraktif. Misalnya, dol tidak saja diletakkan di lantai, tetapi telah disandang dan dimainkan sambil berbuai atau berayun, bahkan sambil tidur. Pertunjukan ini pun kemudian disebut dengan dol buai25. Yang tak kalah menarik juga perkembangan yang terjadi dari aspek alat musiknya, berbagai jenis ukuran dol pun dibuat untuk keperluan perbedaan atau variasi warna bunyi. Para remaja Bengkulu sangat antusias memainkan
25 Ibid., 46-47, 48-49, 50,57.

248

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

dol kreasi ini. Di Pariaman perubahan yang terjadi adalah pada nilai sakral upacara dan juga dalam bentuk parsial. Upacara Tabuik tidak lagi dilaksanakan dari tanggal 1-10 Muharam, melainkan berubah menjadi tanggal 1-11, 12, 13, dan 14 Muharam, yang diperlukan upacara puncak maoyak tabuik jatuh pada hari minggu. Perubahan ini dilatarbelakangi oleh embel-embel “pariwisata”. Artinya jika upacara puncak dilakukan pada hari minggu maka akan banyak orang yang menyaksikannya. Dari satu sisi ada benarnya, memang banyak orang menyaksikan upacara maoyak tabuik. Imbas dari itu, ekonomi masyarakat juga terdongkrak, mulai dari penjual makanan, transportasi, pengelola parkir, hingga penginapan. Namun demikian, cara praktis ini ternyata telah menguburkan nilai-nilai sakral kesejarahan peristiwa Karbala sebagai titik tolak upacara. Oleh karena pada tanggal 10 Muharam 680 (61 H) adalah hari kematian Husein di Karbala. Lambat laun generasi berikutnya tidak akan tahu lagi makna 10 Muharam dalam Upacara Tabuik. Bentuk lain dari pengembangan Upacara Tabuik adalah perayaan Oyak Tabuik yaitu cuplikan dari salah satu rangkaian Upacara Tabuik. Biasanya yang diambil adalah upacara puncak, maoyak tabuik. Pelaksanaannya terbilang meriah, kolosal karena melibatkan ratusan bahkan ribuan orang warga Pariaman khususnya dan ditambah dengan ‘warga partisipan’. Akan tetapi pelaksanaannya sudah terlepas dari semua aspek ritual dan sakral, yaitu: (1). Tidak diharuskan pada bulan Muharam (tergantung hajatan); (2). Dilaksanakan di luar kota Pariaman (Padang, Pekan Baru, Batam, Jakarta, Padangpanjang, Bukittinggi, Payakumbuh, Darmasraya, bahkan di luar negri seperi Washington, dsb); (3). Tidak diperlukan benda-benda sakral (jari-jari, benda-benda prosesi, dsb); (4). Tidak diharuskan pelaksananya masyarakat dari bekas nagari Pasar Pariaman dan V Koto Air Pampan; (5). Tabuik yang diusung tidak mesti dua buah, satu saja dibolehkan; (6). Ukuran tabuik yang diusung pun relatif, tidak harus sama tingginya dengan tabuik yang digunakan di kota Pariaman (dapat saja ukurannya tinggi sekitar enam meter); (7). Setelah perayaan selesai, tabuik tidak perlu dibuang.

249

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Waktu pelaksanaan perayaan Oyak Tabuik tidak terikat lagi dengan bulan Muharam. Hal ini disebabkan karena tujuan dan makna perayaan Oyak Tabuik juga tidak terkait lagi dengan peringatan kematian Husein. Perayaan ditujukan untuk memeriahkan suatu event, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah maupun yang dilakukan sendiri oleh masyarakat Pariaman. Misalnya, perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus, perayaan festival Muharam, hajatan keluarga besar Persatuan Keluarga daerah Pariaman (PKDP), peresmian pengurus baru PKDP, dan lain sebagainya. Jadi, waktu pelaksanaan tergantung dari masyarakat Pariaman di perantauan. Pelaksanaannya pun tidak harus setiap tahun atau berkala secara periodik. Dalam hal ini organisasi PKDP di masing-masing daerah atau kotalah yang menentukan kapan mereka akan melaksanakan perayaan Oyak Tabuik. Mengenai tempat penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik dilaksanakan di luar kota Pariaman, maksudnya adalah karena perayaan ini juga tidak ditujukan untuk memperingati kematian Husein. Perayaan dimaksudkan untuk memeriahkan berbagai hajatan atau event. Siapa dan dimana tempat penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik juga tidak ada kesepakatan antara masing-masing organisasi PKDP. Ini amat tergantung dari animo masing-masing masyarakat Pariaman di suatu tempat. Misalnya, pada bulan Januari 2008, PKDP Kota Padangpanjang melakukan perayaan Oyak Tabuik. Pada bulan April 2008, masyarakat kota Padang melakukan perayaan Oyak Tabuik. Pada bulan Juli 2008, masyarakat Pariaman di kabupaten Darmasraya melakukan perayaan Oyak Tabuik, sedangkan kota Bukittinggi dilakukan perayaan Oyak Tabuik pada pertengahan tahun 2007. Tahun 2007 masyarakat Pariaman di Duri dan Pekan Baru melakukan perayaan Oyak Tabuik. Tahun 2006 masyarakat Pariaman di Batam melakukan perayaan Oyak Tabuik. Jadi tempat penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik dapat dilaksanakan di daerah atau kota mana saja, tergantung dari keinginan masyarakat setempat. Dalam setiap penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik tidak diperlukan benda-benda sakral untuk kekhidmatan perayaan. Misalnya, panja atau jari-jari sebagai simbol jari-jari Husein yang terlepas akibat tebasan pedang lawan, tidak perlu diarak melintasi kota atau mengelilingi daraga. Begitu juga dengan benda-benda lainnya sebagai lambang kebesaran Husein yang diarak pada saat mengambil tanah, mengarak jari-jari,
250

dan situasi perayaannya tidak sama dengan perayaan Upacara Tabuik pada bulan Muharam di Pariaman. 251 . dan mengarak sorban juga tidak dilakukan. Namun biasanya masyarakat tempat penyenggara perayaan Oyak Tabuik minta bantuan untuk pemain gandang tasa yang mengiringi perayaan. Perayaan Oyak Tabuik di Bukittinggi tahun 2007 juga hanya menggunakan satu tabuik saja. Begitu juga dengan tahun-tahun sebelumnya. Satu hal lagi yang tidak umum dilakukan pada perayaan Oyak Tabuik adalah selesai perayaan Oyak Tabuik pada sore hari. Oleh karena waktu. Setelah perayaan selesai. Padangpanjang melakukan perayaan Oyak Tabuik pada tahun 1993 menggunakan dua tabuik. Biasanya tabuik disimpan sebagai benda budaya asset pemerintah setempat. di Padangpanjang hanya digunakan satu tabuik saja. tempat. Kota-kota yang pernah melakukannya perayaan Oyak Tabuik. merah. Bahkan saat sekarang sudah ada pula jasa penyewaan tabuik di Bukittinggi. Mengenai pelaku perayaan Oyak Tabuik. pada tahun 2008. yang khusus digunakan untuk perayaan tabuik. hanya memiliki tinggi sekitar 6-6. bahkan termasuk warna yang digunakan tampaknya tidak ada keharusan mengikuti cara yang digunakan di kota Pariaman pada bula Muharam. Padahal tinggi tabuik yang ideal adalah antara 10-12 meter. dan pada saat tertentu hanya menggunakan satu tabuik. Apalagi dibuang ke laut. tidak ada keharusan memiliki tinggi yang sama dengan yang digunakan di Pariaman. sangat sedikit sekali yang menggunakan warna kuning. Pelakunya tidak harus didatangkan dari kota Pariaman yang biasa menjadi pelaku perayaan Upacara Tabuik. Baik dari jumlah dan ukuran tabuik. tabuik dibawa kembali oleh pemiliknya. dan warna yang dominan adalah putih. dan biru. Akan tetapi. Misalnya.5 meter dengan warna dominasi kuning. Begitu juga dengan ukuran tinggi tabuik yang digunakan. Penulis menyaksikan ukuran tabuik yang digunakan di Padangpanjang tahun 2008. Payakumbuh pada masa lalu juga pernah menggunakan dua tabuik dalam perayaan Oyak Tabuik di kota itu. Gandang tasa dapat saja didatangkan dari Pariaman sendiri atau dari kota lain.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengambil batang pisang. mereka adakalanya membuat dua tabuik untuk diusung dan dihoyak. tabuik tidak harus dibuang. dilakukan oleh masyarakat Pariaman dimana perayaan Oyak Tabuik itu dilaksanakan.

ia telah menyewakan tabuik yang dibuatnya ke Pekan Baru. “Upacara Tabuik dalam Dimensi Sosial Budaya Masyarakat Pariaman: Keberlangsungan dan Perubahannya” (Padangpanajng: STSI. Mereka melakukannya secara totalitas dengan penuh pengorbanan pisik. 26 Febrizal Sutan Sati (60 thn). 27 Asril. kecuali spirit kebersamaan dalam semangat yang dibangun dalam Upacara Tabuik. Di luar megah dan meriahnya pelaksanaan Upacara Tabuik. dan pelaksanaannya. mental. Januari 2008). tempat sakral. pelaku upacara atau perayaan tidak lagi memiliki kaitan langsung dari aspek makna dengan Upacara Tabuik. jika suatu daerah menginginkan. Bagian yang tak terelakkan juga ada perubahan yang terjadi pada kedua upacara tersebut bisa terjadi secara parsial dan penggerusan nilai sakral. Penutup Meskipun Upacara Tabuik dan Upacara Tabot berasal dari peristiwa yang sama (perang Karbala). Padangpanjang. Identitas sebagai warga yang berasal dari Pariaman benar-benar mengapung ke permukaan. 252 . pimpinan grup gandang tambua dan randai “Rabuang Kuniang” Bukittinggi (wawancara: Bukittingi. Unsur-unsur budaya lokal dan kebiasaan mayarakat juga turut mempengaruhi bentuk upacara. Bukittinggi. seperti beberapa aspek sakral yang telah ditanggalkan merupakan perubahan yang terjadi pada Upacara Tabuik.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Menurut Febrizal Sutan Sati. Ia juga menyewakan satu grup gandang tasa lengkap dengan pemainnya untuk mengiringi perayaan Oyak Tabuik. spirit. dan Padangpanjang. Begitu juga dengan tujuan dan maksud perayaan juga tidak lagi untuk memperingati kematian Husein27. Desember 2007. 2008). Jumlah nominal sewa yang dipungutnya relatif. Dari seluruh aspek penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik yang tidak lagi menggunakan cara-cara yang lazim pada perayaan Upacara Tabuik. bergantung pada jauh dekatnya tempat perayaan26. yang tak kalah menarik juga diamati adalah semangat para masyarakat perantau Pariaman dalam mengekspresikan diri melaksanakan Oyak Tabuik. tetapi dalam pengimplementasian upacara sangat banyak dipengaruhi oleh interpretasi masyakarat dengan cara “pemitosan” sejarah yang kemudian seolah-olah seperti legenda. Oleh karena waktu sakral. Melalui Oyak Tabuik momentum identitas dimunculkan. dan material. 74-79. benda-benda sakral.

H. “Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di Pariaman Sumatra Barat”. Kartomi. “Het Hasan-Hosein of Taboet-Feest te Benkoelen”. 1974. 1888. L.. 1972. dalam Internationales Archiv fur Ethnographie. Fazl. M.C. van. Badrul Munir. ed. et al. Clayton: Centre of Southeast Asia Studies. Monash University. Rahman Zainuddin dan M. Michael. dalam David P. “Perkembangan Musik Dol di Kota Bengkulu”. Helfrich. Leiden: EJ Brill.) Nineteenth and Twentieth Century Indonesia. 1991/1992.A. “Musik Tabot dalam Beruji Dol di Bengkulu: Tinjauan Musikologis” Laporan penelitian. Ricklefs (ed. “Syiah di Indonesia: Antara Mitos dan Realitas” (pengantar) dalam A.. “Upacara Tabuik dalam Dimensi Sosial Budaya Masyarakat Pariaman: Keberlangsungan dan Perubahannya” Padangpanajng: STSI. Zelly Marissa. Bandung: Mizan dan PPW-LIPI. Hamdan Basyar ed. 2008.. 26 Juni 1994.a Shiah Ritual Tranplanted from India to Sumatra”. Leiden: Verlag von P. Land--.H Kamer ed. Tanjung. W. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Depdikbud. Ph. Haque. 1986. 1996. 2002.. The Encyclopaedia of Islam: Dictionary of the Geography. Margaret J. Syiah dan Politik di Indonesia: Sebuah Penelitian. Color and Symbolism in Islamic Architecture: Eight Century of the Tile Maker’s Art. London: Thames and Hudson Ltd. “Tabut . 1913. diterjemahkan oleh Hartoyuwono. Ethnography of Muhammadan Peoples. dalam Tijdschri ft voor Indische Taal--.. Chandler dan M. 2009. Tesis S2 UGM Yogyakarta. en Volkenkunde. Pesta Kolosal Anak Nagari Piaman”. Ronkel. 253 . Terj.R dan J.. Asril. O. Adam Saleh Djakarta: PT Sinar Hudaya. London: Luzac and Co. Hamidy.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Daftar Pustaka Ahmad. Padangpanjang: STSI. Padangpanjang: ASKI. Batavia: Albrecht & Co. et al. __________. Barry. Trap. S. Parsi “Tabuik. Gibb. Shorter Encyclopaedia of Islam. “Nadere gegevens omtrent het Hasan¬Hoesain feest”. dkk. Azra. 1998. Skripsi. Azyumardi. Upacara Tradisional Daerah Bengkulu: Upacara Tabot di Kotamadya Bengkulu. 1914. Husein Sjahid Agung. Hanefi. 2000. Singgalang Minggu.

.

MENGEMAS SENI TRADISI NUSA TENGGARA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL 5 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

Dikenal pula sebagai sutradara senior lokal Mataram.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Kongso Sukoco. dikenal sebagai seniman dan penulis naskah \sandiwara. cerpen dan puisi. 256 . Saat ini menjabat Ketua Dewan Kesenian Nusa Tenggara Barat.

Dan tidak melulu domain ketrampilan. Komunikasi bersifat empiris. Bahwa dalam prosesnya harus dipahami. Tontonan teater mempertemukan organisme hidup. yakni pengolahan pesan dalam bingkai estetika teater dan di lain pihak berlangsung pencernaan makna yang dilakukan khalayak. peristiwa teater (berlangsungnya komunikasi pertunjukan teater dan penontonnya) adalah peristiwa kebudayaan. tentu tidak sekadar urusan menyampaikan pesan agar dapat diterima publik atau khalayak. isi cerita. tapi juga emosi dan bersifat situasional. Bagaimana proses pertemuan organisme hidup itu berlangsung sangat mempengaruhi efektifitas penyampaian informasi. Memang bisa saja ada perubahan dalam pertunjukan seni tradisi namun 257 . Dalam situasi ini komunikasi tidak melulu di tingkat isi pesan. Di dalamnya berlangsung reproduksi nilai. antara seniman dan penonton. Khalayak memahami idiom seninya. Dalam pertunjukan teater tradisi ada konvensi atau ”aturan main” yang menjadi landasan berlangsungnya komunikasi. alur bahkan durasi dan bagaimana pertunjukan diakhiri.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Memfungsikan Teater Tradisi Amaq Abir sebagai Media Komunikasi Tradisional Kongso Sukoco Ketua Dewan Kesenian Provinsi NTB M embicarakan teater tradisi sebagai media komunikasi. Pertunjukan teater berlangsung dalam lingkungan komunitas dengan warga penonton yang sharing terhadap idiom teater tradisi. Orang mulai memikirkan secara spesifik bila proses komunikasi itu menimbulkan masalah. meski keberhasilannya terkait dengan seni dan ketrampilan.

Prioritasnya semata-mata penyampaian kebijakan pembangunan pemerintah. Hal itu seperti mengesampingkan pentingnya meningkatkan kualitas ”bentuk seni” kelompok-kelompok seni tradisi yang sebenarnya justru menjadi faktor penting meningkatkan efektifitas penyampateraian pesan. Meski ada catatan penting. Sebab komukasi yang terbangun dalam teater tradisi adalah penyelarasan pemahaman karena adanya konvensi yang dipahami bersama. Salah satu sebabnya. Ini faktor penting terjalinnya komunikasi yang efektif. sebelum era reformasi pemerintah menaruh perhatian besar dalam hal pemanfaatan seni tradisi. Konvensi -.merupakan jaminan bahwa motivasi penonton primordial itu akan terpenuhi. pemberdayaan dan pengembangan teater tradisi – termasuk seni tradisi lainnya – yang dilakukan saat itu lebih memberatkan fungsinya sebagai ”alat” untuk mengantarkan pesan. Salah satu teater tradisi di Lombok adalah Teater Amaq Abir. Hal itu berpengaruh positif pada eksistensi seni pertunjukan tradisi.termasuk konvensi artistik -. Di pelosok-pelosok desa sering kita jumpai mobil panggung pertunjukan rakyat milik Departemen Penerangan yang menggelar seni pertunjukan tradisi. Kantor Wilayah Departemen Penerangan di tiap provinsi banyak menyelenggarakan pertunjukan rakyat. Karena konvensi itu maka memfungsikan dan memanfaatkan teater tradisi sebagai sarana penyampai informasi pada khalayak primordialnya bisa sangat efektif. khususnya bentuk seni pertunjukan tradisi yang efektif sebagai media penyaluran pesan informasi. Harus diakui. Kalau kita menengok masa Departemen Penerangan dengan program ”Sosio-drama”-nya. Pili258 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF perubahan itu selalu dikenali karena ada pertautan dengan konvensi sebelumnya (bandingkan dengan teater modern yang sering ”tidak komunikatif” dengan penontonnya karena tak pernah terjadi penyerasan konvensi tersebut). dengan sedikit perhatian dalam mengintensifkan peristiwa komunikasi kultural. penyampaian isi pesan sangat mekanis. Banyak bentuk teater tradisi di Lombok yang bisa dikembangkan menjadi sarana atau media tradisional untuk penyampai informasi kebijakan pemerintah. bertolak dari motivasi ini mereka memiliki ekspektasi terhadap pesan yang akan diterimanya. Sebab telah terbangun kedekatan kultural kesenian itu dengan komunitas primordialnya.

Saat pertunjukan seni sastra. Karena itu dipandang penting mendeskripsikannya untuk didiskusikan bersama dalam forum ini. musik dan tari. Namun tetap saja. Teater Tradisi di Lombok a. Lebih dari itu ada kebutuhan menjalin komunikasi dengan publik yang melintasi batas komunitasnya. Masyarakat Sasak memiliki perjalanan seni tradisi yang panjang dan kaya seperti tradisi sastra. dengan minimnya pembinaan (kalau tidak dikatakan tidak ada sama sekali) dari pemerintah setempat. bahwa Teater Amaq Abir sangat populer pada jamannya. Lombok Tengah. Namun tidak seperti Teater Cupak Gurantang dan Kemidi Rudat yang bertahan dan tetap populer hingga kini. Pembinaan yang dilakukan Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud (pertengahan tahun 80-an) berhasil menyelamatkannya. Tumbuhnya teater tradisi Sasak cepat mendapat dukungan luas. Tumbuhnya seni pertunjukan yang verbal dan membangun komunikasi dialogis ini seiring kebutuhan masyarakatnya untuk lebih tersurat dan intens dalam mengkomunikasikan pesan moral dan paedagogik. Asal-usul Teater tradisi Sasak bisa digolongkan sebagai bentuk baru dalam jajaran khasanah seni tradisi yang tumbuh di Lombok. nasib kepunahan itu akan terulang kembali. Kalau kita temui jejak dan pengaruh dari ” Jawa-Bali” dalam teater tradisi -. bahkan berkembang di beberapa tempat di Lombok. maka seni teater mendapat tempat khusus. Namun seni pertunjukan tradisi Sasak yang verbal dan dialogis – yang menjadi salah satu ciri teater tradisi – tumbuh belakangan. Sampai tahun 70-an teater tradisi di Lombok mengalami masa keemasannya. musik dan tari tak memenuhi kebutuhan masyarakat untuk menjalin komunikasi dialogis. dan kini Teater Amaq Abir sekali tempo masih dimainkan kalangan generasi muda di Desa Marong.seperti kita temui pada seni budaya Lombok (ma259 . sebaliknya Teater Amaq Abir nyaris punah. Ada yang menyebutnya setelah masa kemerdekaan atau sekitar tahun 5060an (meski Teater Amaq Abir dikenal di Desa Medana. Lombok Timur dikenal jauh sebelum jaman Jepang).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI han untuk mendeskripsikannya karena alasan. Teater ini telah membangun penonton primordialnya yang meluas di beberapa wilayah di Lombok.

teater maupun sastra lontar (Sastra Takepan). Namun kebudayaan Jawa baik seni musik. Cupak Gurantang dan Kemidi Rudat sangat populer di komunitasnya masing-masing. juga meninggalkan pengaruhnya pada corak seni budaya Sasak. yang patut mendapat perhatian khusus adalah Wayang Gerung dengan dalang legendaris Lalu Nasib. Semua sastra lontar itu digubah dengan menggunakan Aksara Jejawen. demikian pula budaya dan kepercayaan yang dianutnya terus tumbuh dan berkembang. Teater Amaq Amir. Hal yang sama juga terjadi pada Kemidi Rudat. pengaruh sastra Jawa (Madya) yang dominan itu bukan satu-satunya. Wayang Sasak. Teater Kayaq Sandongan. Pada abad XI tercatat Anak Wungsu (Bali) datang ke Lombok. Kedatangan Kerajaan Gowa (Sulawesi Selatan) pada abad XVII. meninggalkan pengaruh paling kuat kuat pada masyarakat Sasak. Dalam hal penguatan eksistensi perluasan publik seninya. Perlu diungkapkan disini. Hanacaraka. 260 . Wayang Sasak bukan hanya sanggup bertahan namun juga sangat populer di seluruh penjuru Lombok. Teater Cupak Gurantang bukan hanya menjangkau wilayah penonton yang lebih luas. Teater Amaq Darmi. Tapi paling kuat meninggalkan jejak sejarah adalah Kerajaan Karang Asem pada abad XVII-XIX (1692-1839) yang diteruskan oleh Kerajaan Mataram yang merupakan metamorfose Karang Asem sampai tahun 1894. Ini tak lepas dari kemampuan Lalu Nasib yang menjadi Wayang Sasak selalu kontekstual dengan publiknya. yang merupakan turunan dari Aksara Jawa. Kerajaan Gowa yang lebih dekat dengan pengaruh Melayu. Di tangan Lalu Nasib. Meski demikian. kemudian ekspedisi militer Majapahit yang dipimpin Mahapatih Gajah Mada pada abad XIV meninggalkan jejak budaya maupun kepercayaan yang jelas. Memang hanya Cupak Gurantang dan Kemidi Rudat yang mampu bertahan lebih lama. meninggalkan jejak seni budaya ”Rumpun Melayu”.karena Lombok sempat menjadi ”persinggahan” kerajaan Jawa dan Bali. Hingga kini jumlah komunitas Bali termasuk besar di Lombok. tapi sekaligus mampu meluaskan sebaran bentuk teater tersebut di beberapa tempat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF syarakat Sasak) umumnya -.

Lombok Tengah kini memainkan Teater Amaq Abir dengan dialog yang dominan dari261 . misalnya dalam konstum banyak yang memakai kostum sehari-hari. tidak pendendam. teater tradisi yang bentuk penyajiannya melalui tembang dan tari (dramatari). anak muda dan lain-lain. Struktur teater tradisi umumnya naratif. wasir. Pada ”Rumpun Bali Jawa” tekanan diberikan pada pembawaan manusia. sebab dalam masyarakat tradisi memerlukan pijakan yang jelas. perampok. kutub moral yang tidak kabur antara yang baik dan buruk. Penokohan dalam lakon teater yang terakhir ini didasarkan pada jenis mahluk dan kedudukan. Pada Teater Amaq Abir yang semula dalam narasinya dibawakan dengan cara nembang (bekayaq) pada perkembangannya menggunakan menggunakan dialog verbal agar terbangun komunikasi intens dengan penonton. yang dialog-dialognya seperti percakapan sehari-hari dan pemainnya juga menari. Teater Kemidi Rudat. hitamputih. penipu dan jauh dari nilai-nilai etis. Teater Topeng. khadam. 2. 3. penolong dan menjunjung watak-watak ksatria. Pada Teater Cupak-Gurantang kita temukan watak Cupak yang rakus. Generasi muda di Desa marong. Tidak demikian dengan teater ”Rumpun Melayu” (Kemidi Rudat) yang kostumnya mencolok ala Arab/Turki. raja (Dari Baghdad dan Yaman). Kalau teater yang berasal dari ”Rumpun Jawa-Bali” (Teater Kayaq dan Terater Topeng) lebih sederhana. yakni persoalan etika. Teater Kayaq. Perwatakan dalam teater tradisi umumnya ”stereotip”. Sebaliknya watak Gurantang mewakili watak mulia yaitu ihlas. permaisuri. semua pemainnya memakai topeng. moral maupun komentar-komentar sosial. Dari narasi-narasi yang diungkapkan teater tradisi. Pengelompokan Secara umum pengelompokan teater tradisi di Lombok bisa dikelompokkan: 1. puteri.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI b. menembang dengan iringan gamelan. diharapkan masyarakatnya mampu memahami masalah yang dihadapi dan syukur kalau bisa menyelesaikannya. karena kebutuhannya untuk menampilkan cerminan keadaan dan persoalan masyarakat.

Di Kabupaten Lombok Timur kita dapati di Desa Mendana bisa dikatakan ”hidup segan mati pun tak mau”. bisa jadi sekarang sudah mati. seperti di Desa Tanjung dan Narmada. Saat itu pemainnya rata-rata berumur 75-80 tahun. tapi eksistensinya memprihatinkan. pada tahun itu juga dipentaskan di Jakarta dalam Pekan Teater Tradisi Tingkat Nasional. malah sudah punah. ibu kota Kabupaten Lombok Tengah. Sebab cerita-ceritanya umumnya sudah diketahui penontonnya. Teater Amaq Abir sudah 50 tahun tidak pernah mengadakan pementasan (jauh sebelum Jepang menduduki Lombok). dan menampilkannya pada Festival Teater Daerah NTB. Ini dimaksudkan agar teater itu bisa lebih kontekstual. Tapi kenapa bukan Cupak Gurantang atau Kemidi Rudat yang lebih eksis dan masih memiliki publik yang lebih jelas? Justru karena kemerosotan Teater Amaq Abir itu lebih kontekstual dibicarakan dalam forum ini. 41 km dari Mataram atau 13 km dari Praya. Sebagian perlengkapannya (terutama gamelan) telah dijual oleh 262 . teater tradisi dari Marong ini pertama kali mendapat pembinaan dari Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud (Sekarang Dinas Dikpora) melalui Proyek Pengembangan Kesenian pada tahun 1984. Sedang di Kabupaten Lombok Tengah di Desa Marong masih sering tampil dalam acara-acara hajatan masyarakat. Tercatat pernah hidup di beberapa daerah di Lombok. Teater Amaq Abir Teater Topeng Amaq Abir merupakan salah satu bentuk teater tradisi Sasak yang pernah sangat populer pada jamannya. Di beberapa desa di Kabupaten Lombok Barat. Teater Topeng Amaq Abir yang mendapat predikat ”terbaik”. Waktu ditemukan untuk pembinaan saat itu. tapi dari sinilah para orang tua melepaskan anaknya untuk menonton sebab tahu dalam tontonan tersebut ada nilai-nilai yang perlu diapresiasi. lebih leluasa berimprovisasi dalam mengomentari persoalan-persoalan sosial dan lebih dekat dengan persoalanpersoalan kekinian. Khusus di Desa Marong.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pada tembangnya. Tapi karena langkanya pertunjukan karena pelakunya mulai tak ada. Dalam uraian berikut akan dideskripsikan lebih jauh tentang Teater Amaq Abir yang sempat sangat populer pada jamannya.

a. kedua pengertian itu maksudnya sama yaitu sebutan Bapak Abir. Apalagi dalam acara Pekan Teater Daerah. yang pernah mengikuti kursus pelatihan di Padepokan Tari Bagong Kussudiardjo di Jogja tahun 1990-an. Tapi yang jelas. yang dalam bahasa Sasak maksudnya. namun mereka bisa memvitalkan jiwa dan semangat di dalamnya. Sejarah Teater Topeng Amaq Abir tercatat pernah hidup di beberapa 263 . Sebenarnya sejak mendapat pembinaan itu gairah menghidupkan teater tradisi di Marong mulai tumbuh. Sejak tahun 1996. Penggeraknya yang sekaligus menjadi pimpinan teater itu adalah Lalu Sahibi. sosial dan nilai-nilai luhur lainnya yang menjelma dalam keseluruhan batang tubuh teater topeng tersebut. maksudnya adalah tokoh yang mempunyai keunggulan ada keistimewaan. yang ditampilkan adalah pemain-pemain dari generasi muda. kelompok teater topeng dari Marong itu memboyong pemain-pemain yang masih muda. sedikitnya kelompok teater asal Marong ini tampil sebanyak 20 kali di berbagai acara masyarakat desa. Teater Amaq Abir tetap jarang tampil. Amaq artinya Bapak. Tapi beberapa informan lain memberikan catatan. baik di Mataram maupun di Jakarta. Banyak nilai-nilai yang terkandung dalam teater topeng ini. sedangkan Abir ada yang mengatakan dari bahasa Arab ”Akbar” yang berarti besar. nilai-nilai artistik. nama Amaq Abir yang terdiri dua kata Amaq dan Abir. Pada tahun 2008. pihak Taman Budaya NTB juga sempat mengundang untuk pentas melalui program pementasan rutinnya. Perbedaannya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI yang menyimpannya karena saat itu kemiskinan menghimpit masyarakatnya. Generasi muda di Marong memang belum mampu sepenuhnya memfungsikan teater tradisi itu. Riwayat Pertumbuhan Arti Kata Beberapa informan yang ditemui di Desa Marong mengungkapkan. nilai-nilai paedagogis. yang terakhir lebih ditekankan dalam arti besar fisik seseorang. bahwa Abir dalam bahasa Sasak memang berarti Besar. sedang yang pertama pada kebesaran moral dan ahlak.

Di Desa Mendana Pada awal Lombok menerima ajaran Islam. uang kepeng (Cina). biasanya untuk mengambil topeng selalu didahulu dengan persembahan ”andang-andang” seperti disebut 264 . Amaq Sitah sering kedatangan orang yang sakit minta obat. Tiap hari Senin dan Jumat malam Amaq Sitah membakar kemenyan di bawah tempat topeng-topeng itu. meninggal tahun 1980 dalam usia 125 tahun. ia membuat topeng dan memainkannya dengan pengikut-pengikutnya. misalnya di Desa Tanjung (Lombok Utara). Konon. kini di semua desa itu kehidupan teater tradisi itu nyaris punah (di beberapa desa lainnya benar-benar punah karena ditinggalkan para pelakunya. Hinga kini Amaq Sitah dikenal sebagai dukun desa yang banyak didatangi masyarakat untuk minta obat orang yang kesurupan. Ida Bagus atau Datu. lumpuh dan penyakit lainnya yang berhubungan dengan guna-guna. . benang. sirih. Untuk menyebarkan Islam di Lombok. Topeng Amaq Abir yang asli jarang dikeluarkan untuk pementasan. Amaq Tempenges. Untuk menurunkan topeng-topeng itu harus ada mantra-mantra khusus sebagai syarat minta izin. Lombok Timur. Amaq Abir (yang duplikat dan asli) dan topeng Haji. kedua matanya normal. Kembali dari Mekah ia dipanggil Haji Ali Batu. kelapa dan lain-lainnya. Anaknya yang bernama Amaq Sitah kalau masih hidup berusia sekitar 75 tahun) menyimpan topeng-topeng itu dalam ”besek” yang diletakkan di tempat khusus.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF desa di Lombok. ada seseorang yang berasal dari Sakra (sekitar 10 km dari Desa Mendana). Ada lima karakter topeng yang disakralkan. pergi naik haji. Sebelum pertunjukan. semacam sesajen yang terdiri dari beras. sedang duplikatnya berwarna merah jambu. di Desa Mendana (Lombok Timur) dan Desa Marong (Lombok Tengah). Di Desa Mendana teater topeng ini memang disakralkan. sebelah matanya agak sipit. Yang asli berwarna putih. Salah seorang pengikutnya adalah Amaq Nursalim. yang dipakai hanya duplikatnya. Untuk melihat topengtopeng itu harus ada ”andang-andang”nya.. Tentu saja. Topeng Amaq Abir yang asli dimandikan dan airnya ditadah dan diminum oleh yang sakit.

berasal dari Sakra (dekat Desa Mendana. sebab sumber-sumber lisan yang ditemui tidak pernah menyebut upaya-upaya yang dilakukan anaknya. Sebenarnya di desa ini banyak tumbuh berbagai bentuk kesenian. lahir sekitar tahun 1936. Pengarang cerita Amaq Abir dipercayai sebagai waliullah Kerajaan Selaparang. Warga desa yang berusia lanjut di Marong mengungkapkan. . generasi kedua yang meneruskan usaha kedua orang tuanya. asal-usul cerita Amaq Abir berasal dari Kerajaan Selaparang.Di Desa Marong Desa Marong sebagian besar penduduknya adalah petani. Sekitar tahun 1800. sekitar tahun 1980-an warga desa sering terancam bahaya kelaparan karena daerah ini dulu termasuk dalam lingkaran ”daerah kritis Lombok Selatan”. Pada masanya cerita Amaq Abir ini sangat populer di beberapa desa di Lombok. Di Desa Marong teater topeng ini sama sekali tak disakralkan. Diperkirakan setelah usaha yang dilakukan Mamiq Rumintang.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI di atas. tapi sekarang semuanya sudah banyak yang punah. Datuk Somba diperkirakan keluarga atau pengikut Haji Ali Batu yang menyebarkan Islam ke Marong. Tapi cucu Mamiq Rumintang. seorang yang bernama Mamiq Jiring yang lahir dan dibesarkan di Marong mencoba mengangkat cerita itu ke dalam bentuk teater topeng. merupakan generasi keempat (setelah Datul Somba) yang kembali membangkitkan Teater Amaq Abir. teater itu mengalami kelesuan. Amaq Abir adalah satu-satunya judul cerita yang pernah dipentaskan. Datuk Somba punya anak bernama Mamiq Rumintang. Tapi versi lain menceritakan. yaitu Lalu Darmaji. dan tidak dihubungkan dengan suatu upacara agama. perputaran waktu dan sebagainya. Sedang di Marong. termasuk di Desa Marong. hal-hal gaib atau sebagai pelengkap upacara sehubungan dengan hidup seseorang. Desa ini sering mengalami kemarau panjang. Lotim) yang meninggal tahun 1800-an. Lalu 265 . Pementasannya semata-mata merupakan acara kesenian yang membawa pesan moral. tiap akan dimulai pertunjukan selalu dengan acara doa bersama yang dipimpin oleh seorang ustadz. lebih tepatnya dua pertiga warganya adalah buruh tani. yang pertama mengenalkan Amaq Abir adalah Datuk Somba.

organisasi kesenian dari Marong itu sudah beralih pada generasi muda. karakter atau tokoh ceritanya sama. Lalu Darmaji dipercaya sebagai pimpinan organisasi teater itu. Sebelum pementasan selalu diawali. namun di Desa Mendana topeng yang dikenakan menutupi seluruh wajah. Tokoh/karakter Baik di Desa Mendana atau di Marong. Berbeda dengan di Desa Marong. di Desa Mendana selalu diawali dengan Tari Oncer sebagai pembukaan. sekarang untuk memainkan tokoh putri sudah dibawakan oleh pemain perempuan. Tapi setelah mendapat pembinaan. Semua pemainnya mengenakan topeng. grup teater itu juga mendapat bantuan seperangkat alat gamelan. Selain diberi kesempatan pentas di Mataram dan Jakarta. Bentuk Teater Amaq Abir Bentuk Teater Amaq Abir adalah teater topeng. Sebelumnya. Meskipun dalam teater itu terdapat dialog-dialog tokoh-tokoh cerita. Hingga kini. meski intensitasnya menurun.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Darmaji menjadi ”juru lakon” (berfungsi semacam sutradara). Teater Amaq Abir mulai dipentaskan sebagai hiburan di berbagai acara. Dalam teater ini kita dapati unsur tembang (kayaq. termasuk untuk peran putri juga dimainkan laki-laki. Dalam organisasi Berkat Patuh yang terbentuk saat Kanwil Depdikbud NTB melakukan pembinaan tahun 1984. B. topengnya tidak sampai menutupi mulut (agar dialognya sampai ke penonton). seluruh pemainnya adalah laki-laki. hanya namanya berbeda. Kalau di Desa Marong dibuka dengan Tari Satang lebih merupakan tari kreasi). Dalam pementasan di Taman Budaya NTB tahun 2008. Lalu Sahibi yang memahami seni pertujukan yang memfungsikan vokal pemainnya. Di Desa Mendana ada tokoh-tokohnya. Sasak). seperti: Topeng Haji Topeng Keliang Topeng Putri Topeng Papuk Dulahman 266 - . tari dengan diiringi alat musik seperangkat gamelan.

Konon. terdiri: Gong Gamelan Rincik Terompong Kendang Suling Petuk Jalan Cerita Baik di Mendana maupun di Marong ada kemiripan jalan 267 - . tokoh Amaq Abir selalu digambarkan sebagai kstria berkuda.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI - Topeng Amaq Abir Topeng Amaq Ampes Topeng Raksasa Sedang di Desa Marong. Toloh-tokoh baru banyak diciptakan untuk mengungkapkan persoalan-persoalan masyarakatnya dan membuat pertunjukan lebih segar. Baik di Mendana atau di Marong. Musik Pengiring Musik pengiri dalam Teater Amaq Abir adalah seperangkat gamelan. tokoh-tokohnya adalah: Topeng Ida Bagus/Datu Topeng Putri Topeng Amaq Abri Topeng Amaq Tempenges Topeng Amaq Baris Topeng Amaq Beang Topeng Amaq Dante dan Inaq Danti Topeng Amaq Bangkol Topeng Inaq Randa Topeng Raksasa Di Desa Marong di bawah asuhan Lalu Sahibi memang lebih kratif. kuda ini sebagai simbol dari tokoh Jayengrana dengan kudanya yang bernama Sekardiu.

dan disindir dengan cara menembang. nilai-nilai budaya. Memahami Konvensi Tehnik. mungkin dengan sedikit perbedaan dalam intensitasnya. merupakan background sosial yang mempengaruhi dan membentuk ”pola psikologi aktual” masyarakat saat berekspresi dalam bentuk-bentuk keseniannya. isi cerita dan perkembangan bentuk-bentuk kesenian suatu komunitas (suatu bangsa) bisa dipahami secara utuh dalam hubungannya dengan ”pola psikologi aktual” masyarakat yang bersangkutan. Kesimpulan itu bisa berlaku saat kita mencoba memahami kesenian (teater) tradisi dan modern. mabuk-mabukan (minum tuak). Tingkah laku ini sering mendapat kritikan dari pelayannya. Pelayannya yang dikenal berhati lurus ini juga sering membicarakan keburukan ini pada Putri atau anak penguasa atau orang kaya tersebut. ahli sejarah teoritikus film. Memfungsikan Teater Tradisi a. upaya memahami ma268 . Gegerlah seluruh wilayah kedatuan. yang membedakan hanyalah nama-nama tokoh-tokohnya yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakatnya. Penguasa atau orang kaya itu akhirnya menginsyafi kesalahannya setelah mendapat nasehat dari Amaq Abir. kemudian beranjak dari cengkraman penguasa otoriter menuju era reformasi tapi kemudian tergerus oleh selera global. Pelayan pun mendapat tugas untuk mencari orang yang bisa menemukan dan membebaskan Putri dari cengkeraman raksasa. Kesimpulan itu pernah diungkapkan Sigfried Cracauer. Karena itu. Perubahan-perubahan sosial politik. Suatu hari. Ceritanya berkisar tentang penguasa atau orang kaya di desa yang perangai maupun tingkah lakunya kurang terpuji. perubahan status poleksosbud dari bangsa terjajah kemudian merdeka. Amaq Abir pun berhasil mengalahkan raksasa dan membebaskan Putri. sang Putri ketika berjalan-jalan di taman sari diculik oleh raksasa. Akhirnya bertemulah pelayan tersebut dengan Amaq Abir yang sedang berdakwah.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF cerita. serta tingkah laku lainnya yang bertentangan dengan kepatutan atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Tokoh ini sering berjudi (sabung ayam).

Sedang teater modern berusaha menggambarkan realitas obyektif dengan bahasanya yang analitik prosaik. Teater tradisi Sasak di Lombok -. Teater tradisi menjadi sarana penting dalam sistem pewarisan nilai-nilai. kita selama ini memahami terdapat dua jenis bentuk teater yakni yang digolongkan sebagai ”teater tradisi” dan ”teater modern”. Anggota masyarakat yang menjadi pendukung kesenian tersebut bisa menghayati dan mengungkapkan pengalamannya. Kesenian merupakan salah satu sarana menonjolkan komunalisme. dan konflik sebagai hakekat drama. Manusia dalam teater tradisi tidak dipisahkan dari gejala metafisik-kosmik. Nilai-nilai paedagogis maupun nilai-nilai lainnya hingga kini masih dihayati masyarakat pendukungnya. Misalnya.seperti halnya seni tradisi lainnya -. dan teater itu menjadi media komunal yang (antara lain) berfungsi penyampai informasi untuk mencocokkan nilai bersama tersebut. hakekat drama sebagai gerakan mempertahankan tradisi. Teater tradisi mengungkapkan nilai-nilai dengan cara tersirat dalam alur ceritanya serta pada penggambaran perwatakannya. Ada baiknya kita merinci perbedaan antara teater tradisi dan teater modern.berfungsi sebagai ”pranata” masyarakatnya. 269 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI syarakat pelaku teater tradisi dan kemungkinan ”pengembangan” nilai-nilai pesan yang disampaikannya memang harus paralel dengan background sosial yang dimaksudkan itu. menonjolkan individu sebagai entitas psikososial. lewat teknik pembuatan topeng dan musik pengiring. Pertunjukan teater mengungkapkan nilai-nilai itu dan masyarakat mencocokkan dengan konvensi yang telah terbangun bersama. Nilai-nilai artistik terungkapkan lewat tembang atau kidung. Dalam teater tradisi terdapat konvensi-konvensi yang mengikat penampilannya.

Musik dapat diabaikan dari watak tokoh dan adegan/suasana 7. Total dalam tehnik.Pengayaan batin kolektif yang mengacu Kerangka pemikiran dan perasaan yang telah dibentuk secara kolektif 6. Salah satu kodrat manusia c. Tokoh dalam teater tradisi sadar akan ketergantungan tenaga kosmik dan spiritual 6.bukan kenyataan obyektif tapi realitas Transcendental 5. Bahasa dan sastra sangat penting tapi berbeda kedudukannya bila dibandingkan dengan teater modern. Realisme (teater ilusionis) 5. Penonton : . tapi lambang dari spiritual state (teater metafisik).bahasa tidak dominan . konflik sebagai hakekat drama 4.Manusia fisik .Pengikat solidaritas . Bahasa bisa prosa. prosa atau puisi atau nyanyian (opera) 2. Teater Modern 1. Musik dan Tari. a.Satu gaya ekspresi . Fungsi. terikat pada fungsi artistik dan teatrikalnya 8. Penonton. . Tokoh sebagai entitas psikososial 8.Semua arwah . Semata-mata menghidangkan. rasa ingin tahu. Bahasa sebagai alat analisis. secara kuantitatif b. nilai alternatif diperhitungkan 270 . .Penjabar dan penyampai nilai-nilai .bahasa lebih formal. Teatrikalisme. Kesetiaan individual. .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Teater Tradisi 1. Perwatakan bukan entitas psikologis. rasa dan kemauan b. sejajar dengan musik dan tari .Linier.Satu macam bahasa. puisi dan nyanyian . Struktur. sirkuler (kosmologis masyarakat agraris) 4.Satu tema pokok .Manusia fisik 3. Menontonnya butuh totalitas akal. . . Total secara kualitatif (tehnik dan naskah) 2. merupakan bagian integral 7. Struktur.Mahluk dari dunia lain 3.Tokoh. Sering disebut sebagai sebagai ”teater total” a.

Suatu bentuk kesenian. perubahan atau pengembangan dalam kesenian. karena itu (ada konvensi) harus menjaga harmoni dengan masyarakatnya. Sebagai catatan. Di sana anggota masyarakat menghayati dan mengungkapkan pengalamannya. atau hidup dalam harmoni. Ini berlaku bagi kesenian tradisi atau yang modern/baru. apa yang pantas dan sebaliknya. ada hubungan kuat antara “konvensi teater” dengan “pandangan dunia”. apa yang dikatakan nilai itu. tiap perwujudan ekspresi seni anggota masyarakatnya dianggap menjadi bagian tak terpisahkan dari kesepakatan akan nilai-nilai bersama. dunia simbolik dalam kebudayaan. adalah bagian dari dunia simbolik tersebut. pandangan dunia menentukan bentuk konvensi. Uraian yang membedakan “yang tradisi” dan “yang modern/ baru” itu untuk memperjelas. makna maupun nilai dan norma dalam kebudayaan. menyebabkan pergeseran. Sementara pandangan faustianistis ingin memahami realitas untuk mengendalikan atau menguasai dan memanfaatkannya (eksploitasi). ada penjernih masalah. Nilai estetik yakni anggapan tentang indah atau sebaliknya. Dunia simbolik adalah dunia yang menjadi tempat diproduksi dan disimpan muatan mental dan muatan kognitif kebudayaan baik berupa pengetahuan dan kepercayaan. Perubahan-perubahan nilai estetik pada gilirannya mempengaruhi nilai-nilai sosial dan moral.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Perubahan dalam apa yang disebut “pola psikologi aktual” seperti disebut di atas. Atau lebih khusus. Karena itu landasan “pengalaman bersama” harus ditemukan. hanya dapat tetap mempertahankan eksistensinya bila memenuhi fungsinya sebagai pengungkap pengalaman suatu komunitas sosial. Dalam masyarakat tradisional. di kalangan ilmu sosial biasanya dianggap sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kebudayaan. sebab dari sana pengungkapan nilai-nilai simbolik itu butuh pengakuan. pendalaman dan perluasan 271 . Sebab kesenian butuh “dukungan” masyarakatnya. Teater tradisi merupakan salah satu intitusi yang menjadi sarana pewarisan nilai-nilai dalam kebudayaan. Pandangan yang religius-magis berusaha memahami realitas untuk menyesuaikan diri. Dan untuk memahami fungsi suatu konvensi perlu dipahami pandangan dunia masyarakat atau komunitas yang menopangnya. Dengan kata lain.

yang menimbulkan resiko keracunan dalam memandang nilainilai kebudayaan. Catatan yang terakhir ini juga penting kalau hendak memberdayakan teater tradisi sebagai Media Komunikasi Tradisional. Mengambil tanpa memahami esensi estetisnya. Kedua. bahwa segala konvensi untuk mengidentifikasi keindahan bentuk seni tradisi bukanlah aturan mati yang tak membuka diri dari kemungkinan berubah. Kalau itu terjadi maka sebenarnya telah terjadi perampokan. seperti kita mencampuradukkan faustianisme atau religious-magis. Namun harus juga dipahami. b. seni atau teater tradisi saat ini tentu tidak 272 . Teater menawarkan keterlibatan secara psikis. dua pandangan dunia yang bertentangan. maksuknya agar tidak kehilangan akar (tetap ada “ruh” tradisi). Dan kenyataannya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pengalaman. Media Komunikasi Tradisional Uraian tentang konvensi seni atau teater tradisi di atas untuk memberi gambaran tentang pentingnya memahami pandangan dunia tradisi yang melahirkan bentuk estetik dalam keseniannya. jadi apa yang mereka tonton merupakan (idealisasi) pengalaman hidup sehari-hari. Pemahaman sebelum melakukan penggalian nilainilai dari teater tradisi. setidaknya untuk menjaga agar nilai-nilai itu tidak disalahtafsirkan. Kesenian selalu memiliki kebutuhan mengembangkan potensinya agar mampu mengakomodasi perubahan isi pesan seninya untuk menjangkau “pandangan dunia” yang lebih dari batas-batas komunitasnya. Dalam teater tradisi penonton sekaligus menemukan dua hal. Sebab bisa jadi ada nilai-nilai konvensi (dalam bentuk fisik estetika) yang tak terpisahkan dari pandangan dunia yang menopangnya. mereka menemukan dan mencocokkan nilai-nilai yang selama ini dihayati bersama. Pertama. Pemahaman tentang “konvensi” ini penting. Idiom teater selayaknya tidak hanya dilihat dari daya tarik lahiriah saja. dan pentas teater itu menjadi milik bersama. misalnya bagi seniman-seniman teater baru yang mencoba mengambil idiom teater tradisi. mereka akan melihat diri mereka dan kenyataan sosial.

atau lebih jauh lagi menjadi media komunikasi tradisional yang berfungsi sebagai penyampai pesan dan media informasi yang komunikatif pada komunitasnya atau pada publik yang lebih luas. Pertunjukan Wayang Gerung dengan dalang Lalu Nasib adalah contoh bagaimana seniman tradisi mampu menjelajah ruang nilai yang melintasi batas-batas komunitasnya. penyesuaian “bentuk seni”-nya sebagai pengungkapan nilai estetik yang mampu menyesuaikan diri dengan apresiasi estetis publiknya. dengan potensi untuk “menyesuaikan diri” tersebut maka Teater Amaq Abir dengan mudah membawa “misi” penyampai muatan-muatan nilai dan moral baru. Struktur. akhirnya tak mampu mempertahankan eksistensinya. Mempertahankan eksistensi serta mengembangkan Teater Amaq Abir di Marong lebih memungkinkan. yang sebenarnya menginginkan keseniannya bisa berkomunikasi dengan publik yang lebih luas. setidaknya teater tradisi tersebut memiliki potensi. teater topeng ini sama sekali tak disakralkan. Hal ini merupakan bagian untuk mempertahan eksistensi seni (sebagai konkritisasi nilai-nilai) yang mampu bertandang dan diapresiasi oleh nilai-nilai di luar masyarakatnya. Pada dasarnya fungsi tersebut juga bisa dilakukan teater tradisi yang lain yang kini masih eksis di Lombok. pengadeganan. Lombok Barat. plot. pertama. seperti Teater Cupak Gurantang 273 . tapi semata-mata dianggap sebagai acara kesenian yang membawa pesan moral. cerita maupun penokohan bisa dikembangkan sesuai kebutuhan. kedua.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI semata-mata ditopang komunitasnya dimana kesenian itu mulai tumbuh. Teater Amaq Abir di Medana (Lombok Timur) yang terlanjur terikat dalam nilai religius-magis komunitasnya. ketiga. Sejak awal pertumbuhannya Teater Amaq Abir bagi masyarakat buruh tani di Marong tidak dihubungkan yang berkaitan dengan upacara agama atau hal-hal gaib. Tanpa kehilangan identitas Wayang Sasak-nya. kemungkinan perubahan dan pengembangan bentuk seni Teater Amaq Abir terbukti sangat terbuka masuknya unsur tehnik teater modern (pembinaan yang dilakukan menjelang tampil dalam festival teater tradisi di Jakarta tahun 1986). Berbeda dengan yang ada di Desa Marong. Lombok Tengah. dalang Lalu Nasib sangat memahami “pola psikologi aktual” masyarakat Kecamatan Gerung.

Wayang Gerung-nya Lalu Nasib menyampaikan pesan-pesan pendidikan. termasuk teknis penggarapan pertunjukaan yang perlu sentuhan teater modern. Bima dan bisa muncul dari etnis lainnya). Unsur musik. Keberhasilan Wayang Gerung memang tak lepas dari kesenimanan Lalu Nasib yang hingga kini belum ada duanya. Amaq Locong. moral atau komentas sosialnya melalu episode yang menampilkan tokoh-tokoh kocak seperti Amaq Amet.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan Kemidi Rudat yang masih mendapat tempat masyarakat Sasak. Demikian juga seharusnya dalam memfungsikan teater tradisi di Lombok sebagai media komunikasi tradisional. Tentu saja. topeng dalam Teater Amaq Abir perlu pembinaan teknis. bahkan bila mungkin dipertajam. tembang. Bentuk-bentuk seni yang menjadi konvensi estetiknya tak harus luntur. memfungsikan teater tradisi sebagai media komunikasi tradisional. Amaq Kisiq dan kawannya-kawannya (tokoh-tokoh yang diciptakan dari personifikasi orang Jawa. 274 . Selebihnya Lalu Nasib masih memainkan wayangnya sesuai konvensi pewayangan Sasak. tentu tak harus mengurangi nilai estetiknya. Peningkatan nilai estetis itu justru menguatkan kemampuan dan efektivitasnya sebagai media komunikasi tradisional.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 275 .

Termasuk naskah sandiwara radio dan musik iringan tari. Temu Teater Nasional Yogya. 26 Juli 1940. Direktur SKENARIO 1999-sekarang. Beberapa lagu pop Sumbawa dan Hymne/ Mars Universitas Samawa/ KSB (sudah jadi NSP) pernah dibuatnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Mustakim Biawan alias Musbiawan. Nasional : Kongres Kebudayaan V di Bukit Tinggi. Seminar Seni Pertunjukan Indonesia STSI Solo. Nasional. 1998. Bali 1999. Temu Ilmiah MSPI. NTB 4 tahun (pensiun). Bogor 2000. Seminar Seni Kawasan Timur Indonesia. Kalimutu 1994. Ketua Umum Dewan Kesenian NTB 2 tahun. Karier : Guru Ilmu Pasti/ Kesenian 21 tahun di SMP/SPG Kepala Kebudayaan Sumbawa 7 tahun. 1999. Kesenian NTB 5 tahun. Lahir di Sumbawa. Kasi Bina Program Bid. Kepala Taman Budaya Prop. Jakarta 2007. Yogya 1978/1979 Diklat Seni Tk. 2002. Skenario Indonesia Masa Depan Komnas Ham. 276 . Pendidikan : (Formal/ Non Formal) : SGA 3 th – Kupang 1959 PGSLP 2 th jurusan Ilmu Pasti (BI) 1963 Cantrik angkatan I Padepokan Seni Bagong K. Regional. Seminar Wawasan Kebangsaan. Sebagai pembicara Budaya di tingkat Lokal. Namun Musbiawan mengaku masih ada sekitar 200 puisi yang jarang dipublikasikan.

Adanya kegiatan Pemetaan Seni Tradisi ini menjadi sangat penting dan harus diberi apresiasi. Tentu saja dengan selalu merujuk pada sikap bahwa geopolitik dan geokultural tidak ditentukan oleh satu pihak saja.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Seni Tradisi NTB dalam Proses Kreatif Menuju Media Komunikasi Sosial Mustakim Biawan Mantan Kepala Taman Budaya NTB etika orientasi pembangunan masih menjadikan dimensi ekonomi dan politik jadi panglima. Artinya keterlibatan rakyat sangat menentukan keberhasilan program. kehidupan seni tradisi di NTB pada masa lalu berkembang dengan baik dan sangat diminati oleh hampir seluruh anggota masyarakat. Ketika kita belum menganggap pendekatan kultural penting sehingga melahirkan generasi bringas yang mengira bahwa anarkhisme adalah solusi ampuh segala kekacauan musibah bangsa. Ketika teknologi membidani lahirnya media baru “diktator baru” yang mengubah hampir semua gaya hidup bangsa. juga 277 . Mengapa? Karena – sejatinya konflik-konflik multi dimensional yang melanda negara saat ini salah satu penyebabnya adalah mulai tersumbatnya komunikasi antar komponen bangsa. K Kondisi Masa Lalu Seperti yang secara umum terjadi di daerah lain. Hal ini dimungkinkan selain karena lembaga-lembaga adat sebagai pengawal keberadaan etnik masih berperan dan dihormati – termasuk tokoh-tokoh lainnya.

Termasuk juga dongeng sebelum tidur yang dalam bahasa Sumbawa disebut “BATUTIR” (Bertutur). Komedi Rudat. sebuah musik tradisi yang melantunkan sastra lisan yang memuat pesan-pesan kearifan lokal lewat irama dan jenis pesan yang variatif sungguh jadi idola saat itu. yaitu lagu tunggal yang diiringi oleh biola tunggal yang biasanya penyanyi adalah wanita dan pemain biola laki-laki. Dongeng tersebut ada dalam kehidupan ketiga etnik di NTB walaupun dalam versi yang disesuaikan dengan idiom lokal. Begitu juga yang terjadi di Sumbawa: Sakeco. Tentu saja unsur hiburannya tetap dijaga dengan baik. Pada umumnya – karena sikap paternalistik masyarakat – rakyat banyak meniru ketauladanan yang ditunjukkan oleh petinggi pemerintah dalam semua tingkat yang selalu “menanggap” seni tradisi dalam hampir setiap event. di Bima idola dan primadonanya adalah RAWA MBOJO (Nyanyian Bima). selalu ditunggu anak-anak sebelum berangkat ke dunia mimpi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF oleh belum adanya serbuan budaya instant yang tidak lagi bersahabat dengan nilai-nilai masa lampau tersebut. ketauladanan dan gampang dicernakan. Kita sepertinya sukar menentukan apakah rakyat sadar dalam mengikuti jejak bos-bos tersebut atau memang tanpa pengaruh merekapun rakyat memilih karena sudah mengakrabi kesenian tersebut cukup lama. Dongeng-dongeng tersebut membekas dalam kehidupan mereka hingga dewasa. sebab isinya penuh dengan pedoman kehidupan. Kalau di Sumbawa sangat populer Seni Sakeco. Lirik-lirik yang dipilih adalah lirik yang penuh dengan nasehat-nasehat yang bersumber dari PATU (Pantun) yang dipilih sesuai dengan konteks tempat dan waktu penyajian. Dan seperti juga semua seni radisi yang lain di NTB kadar komunikatifnya tetap selalu dijaga agar pesan yang akan disampaikan mencapai target. dimana hidup suku Mbojo yang meliputi 2 kabupaten yaitu kabupaten Bima dan Dompu hampir sama dengan Sumbawa. 278 . Cupak Gurantang. a. Yang terjadi di Bima. serta jenis-jenis teater tradisional lainnya di lima kabupaten/ kota di Lombok termasuk Wayang masih sangat diminati dan menjadi sumber belajar masyarakat lewat pesanpesannya yang penuh kearifan.

Maja Labo Dahu (Mbojo) Secara tidak langsung membantu keberhasilan program tersebut. Dua buah intitusi birokrasi yaitu Deppen dan Depdikbud sangat solid dan gencar bekerjasama dalam proses pembentukan karyakarya seni pertujukan yang ampuh dan mampu memukau rakyat sekaligus menimbulkan kesadaran akan pentingnya ber KB (Penilik Kebudayaan dan Jupen sangat pegang peranan). Ditambah lagi dari kalangan tokoh agama dan masyarakat pada waktu itu cukup banyak memberi fatwa atau petuah yang mendukung program tersebut. Ledakan jumlah penduduk yang menghantui masa depan kesejahteraan Indonesia harus segara diredam dengan berbagai cara. c.Patut Patuh Pacu (Sasak) . Hal ini berlangsung cukup lama apalagi setelah program KB mewarnai aspek hidup masyarakat. Sifat pemerintah pada saat itu yang otoriter menyebabkan seniman-seniman tradisional yang 279 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI b. cerita yang kadang-kadang jadi karya yang cukup artistik tapi tidak jarang pula terjadi karya yang disuguhkan lebih mengutamakan pesan daripada aspek struktur teatrikal dan estetikanya. ada hal yang perlu dicatat yaitu catatan lisan tentang pemasungan kreativitas seniman.Sabalong Samalewa (Samawa) . Program-program tersebut dianggap berhasil disebabkan oleh beberapa hal antara lain : a. Kepatuhan rakyat terhadap tokoh-tokoh (tomas) dan pemerintah yang masih terjaga dan dipelihara akibat adanya kearifan lokal yang mengemuka dalam kehidupan ketiga etnik : . b. Selain dari sukses-sukses tersebut. Ada saatnya – terutama masa orde baru. Salah satunya dengan pesan-pesan yang disampaikan lewat media tradisi yang diakrabi rakyat. pesan-pesan pembangunan disampaikan lewat semacam seni pertunjukan yang biasa disebut pertunjukan rakyat atau lebih dikenal dengan sosiodrama. Dalam proses kreatifnya terjadi penentuan pesan-pesan dari kalangan birokrasi lalu lewat kreativitas para seniman dimasukkan ke dalam sekwen.

Budaya instan tanpa pandang bulu melanda seluruh wilayah nusantara. Jangankan media tradisi. seni “modern” ataupun yang kontemporer yang dengan kemampuannya yang tinggi dalam aspek kreativitas tidak jarang berhadapan dengan penguasa sebab karyanya yang menurut mereka cukup menggugah diterjemahkan oleh penguasa cukup menggugat sehingga diberangus. Moh. memberi kebebasan kepada warga untuk berkarya. Kelahiran teknologi baru tehun 1962 yang bernama TVRI bukannya menambah wadah kreativitas sang seniman malahan cuma menambah alat penyampaian pesan pemerintah yang tanpa saingan apalagi ada seperti yang kelihatan sekarang dialog interaktif semacam “SUARA ANDA” di sebuah stasiun TV SWASTA. Barangkali ada benarnya seperti yang dikatakan oleh George Orwell yang mengemukakan bahwa media yang dikuasai oleh seorang tiran akan sangat melipat gandakan kekuatan dan kekuasaan untuk menindas dari Sang Tiran kepada rakyatnya. Keadaan ini “dipelihara” dengan cerdas oleh penguasa lewat Deppen yang merupakan corong tunggal kebijakan pemerintah tanpa dialog seimbang dengan rakyat. tapi pertumbuhannya lebih disebabkan oleh ketiadaan pilihan lain selain berkreasi dan mempertahankan asap dapur. Kondisi Masa Sekarang Tumbangnya Orde Baru diganti Orde Reformasi tahun 1998. Hal-hal baru yang diajarkan oleh “sang diktator baru” yang berjuluk “Prof. Kondisi ini cukup lama dipertahankan. Walaupun media tradisi cukup subur tumbuh di hampir semua daerah. termasuk di NTB. Sebelum itu sekitar 1989 mulai bebas tumbuhnya stasiun TV Swasta dan aroma kebebasan berbicara mewarnai hampir semua aspek kehidupan tidak lalu menyebabkan media tradisi tambah berkembang sesuai arus globalisasi. Program baru menggiatkan pariwisata membuat NTB bergegas membenahi diri – setelah ditetapkan sebagai salah satu DTW handal di Indonesia. Dr. Televisi” menjadi pedoman sehari-hari sehingga 280 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ingin mengembangkan gagasan-gagasan baru di luar pakem apalagi memasukkan gaya yang mengeritik kebijakan pemerintah adalah hal yang mustahil.

Wayang Sasak di Lombok. Kondisi organisasi seni tradisi yang mengusung teater tradisional misalnya di Lombok “Komedi Rudat” sudah jarang ditanggap. gaya hidup. Apalagi dengan wajah kehidupan ekonomi masa kini yang cukup memprihatinkan. Pesan-pesan pembangunan lebih banyak Cuma jadi porsi TVRI sedangkan TV Swasta lebih banyak mengadakan berita sensasional – iklan-iklan – gosip-gosip – sinetron yang lebih banyak jual mimpi dan mistik-mistik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI terjadi situasi yang tak terduga sebelumnya di saat mana masyarakat tidak peduli pada apapun yang tidak menghibur. Media tradisi nyaris tidak dapat tempat lagi. Memang ada yang masih tetap bertahan karena adanya event musiman pariwisata atau karena kepiawaian seniman pendukungnya membaca tanda-tanda zaman semisal Cupak Gurantang. Tentang honorarium tersebut sering terjadi ada calo yang nakal “menyunat” honor mereka dengan dalih macam-macam yang diamini begitu saja oleh anggota group yang memang lugu. Tapi dibandingkan dengan masa lalu – bila dilihat dari jumlah pertunjukan sudah berkurang intensitasnya. anggota-anggotanya ada yang jadi TKI ke negeri Jiran. bukan mendorong pemberdayaan masyarakat. Tapi keadaan itu belum mampu membalikkan “kejayaan” seni tradisi masa Orde Baru. Hobby bermain mereka dalam seni tradisi secara perlahan ditukar dengan hobby baru yang tanpa pilihan : mencari penopang kehidupan lewat krya-karya baru di wilayah yang sangat asing dari aroma kesenian. Keadaan di NTB pun demikian. Muatan-muatan atau pesan-pesan yang sebelumnya banyak mengandung unsur kearifan lokal (local wisdom) karena tuntutan zaman berubah menjadi pesan sebuah seni media yang cuma jadi aspirin yang tidak menyembuhkan permasalahan masyarakat tetapi mengarahkan manusia pada suatu mimpi. 281 . Sakeco di Sumbawa dan Rawa Mbojo di Bima dan Dompu. Khusus di NTB masih terjadi sampai saat ini group-group seni tradisi menjadi korban para calo yang secara sepihak menentukan apa dan bagaimana group tersebut harus bermain dan berapa hak yang mereka dapat. Memang ada satu dua stasiun yang kelihatan peduli terhadap seni tradisi semisal Ketoprak Humor di RCTI – Wayang di Indosiar dan TV Lokal NTB : Lombok TV. kalah bersaing dengan gemerlap layar kaca dan seni modern lainnya yang berkiblat pada daya bius budaya instant.

Adanya hajatan besar Pemda NTB mengadakan VISIT LOMBOK SUMBAWA 2012 yang tujuan utamanya menjadikan NTB destinasi jempolan di Indonesia barangkali bukan cuma mimpi. budaya yang aneka. Alam yang indah. atau bahkan antara rakyat dengan rakyat sehingga melahirkan konflik berkepanjangan. Kelihatannya – mudah-mudahan – senimanseniman tradisional akan banyak dapat peluang dalam berkarya akhirakhir ini. pengembangan dan pemanfaatan. Dari kalangan pemerintah oleh Disbudpar dan Diskominfo dan kalangan swasta pada tahun 1999 oleh yayasan KELOLA yang dibiayai oleh Ford Fondation. Semoga!! Prospek Pengembangan Masa Depan Pada dasarnya sebuah upaya pengembangan budaya adalah bagian dari pelestarian. Saat ini organisasi seni tradisi sudah mulai bergegas membenahi diri untuk menjadi salah satu “barang dagangan” pada ajang tersebut. Dalam kaitannya dengan upaya pengembangan seni tradisi untuk 282 . khas dan unik adalah potensi yang menjanjikan ke arah itu. harusnya menjadi cair dan mudah-mudahan saling mengerti dan memaafkan. Di dalam potensi tersebut ada seni tradisional yang perlu “dipoles” sebagai seni turistik sudah tentu tanpa menghilangkan roh tradisinya. Tetapi hajat kita lewat pemetaan saat ini bukan cuma sekadar menambah isi kocek sang seniman atau calo yang memperdaya mereka. yang mempunyai 3 aspek yaitu perlindungan. Sudah tentu harus memenuhi kriteria layak tampil – layak jual dan akhirnya layak dibayar. Sejatinya – oleh warga NTB terutama seniman – ajang VLS 2012 diharapkan dapat sedikit memberi harapan kepada bangkitnya seni tradisi – tentu saja yang komunikatif – di tengah budaya asal jadi saat ini. Pesan-pesan pembangunan yang diharapkan lebih tersosialisasi lewat media seni tradisional yang komunikatif dan unik akan dengan mudah menyebar dan diserap masyarakat ketimbang pidato panjang dan rumit elit-elit politik.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Tetapi hal tersebut sudah mulai berkurang sejak adanya pembinaan organisasi seni yang diadakan oleh lembaga pemerintah maupun swasta. Sumbatan-sumbatan komunikasi selama ini dirasakan antar komponen bangsa : antar pemerintah dan rakyat atau pemerintah dengan sesama pemerintah.

3. demi berbagai tujuan yang lebih khusus. Mengadakan upaya pengembangan lewat usaha kolaborasi antara seniman akademis dengan bakat alam atau tradisional. Inventarisasi jenis-jenis seni tradisional yang komunikatif di seluruh wilayah NTB termasuk di dalamnya deskripsi lengkap tentang aspek-aspek : a. 2. 1. Merujuk kepada hal-hal tersebut dan TOR dari kegiatan ini. pola. 2. Event-event yang mendukung kreativitas seniman cukup banyak. kita sebenarnya membicarakan pemanfaatan seni tersebut untuk tujuan pendidikan baik yang terstruktur maupun tidak terstruktur. Pemanfaatan seni tradisi untuk tujuan pendidikan adalah sebagai substansi untuk disosialisasikan. spiritual dan komentar sosial. c. formal maupun non formal atau pendidikan masyarakat. 2.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI jadi media komunikasi sosial. Jenis pesan atau muatan yang mengandung pendidikan kultural. Dalam kegiatan ini harus dapat disepakati bahwa pakem-pakem yang ada pola-pola ataupun bentuk seni tradisi adalah sebuah produk seni dan bukan syahadat kita yang baru. Potensi untuk berubah. atau pakem. misalnya . Potensi seni-budaya NTB beragam dan khas. b. Bentuk. Sehubungan dengan hal tersebut. ada beberapa faktor pendukung kearah tersebut : 1. maka beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam upaya pengembangan menjadikan seni tradisi yang komunikatif di NTB sebagai media komunikasi sosial adalah sebagai berikut : 1. Contoh : BCB (Bulan Citra Budaya). 3. Jadi artinya dapat dapat dan mungkin diubah. Untuk memacu internalisasi nilai-nilai budaya yang dapat memperkuat integritas sebagai bangsa yang mampu menjunjung moral yang tinggi. Festival/ Lomba Seni 283 . Untuk menumbuhkan kepekaan dan toleransi dalam pergaulan antar sesama. Untuk tingkatkan dan tumbuhkan kesadaran sejarah. Masyarakat cukup terbuka terhadap pembaharuan.

dipentaskan di arena terbuka dan mempunyai ciri khas dan unik serta komunikatif. sudah tentu dengan tetap mengedepankan keutuhan cerita (unity) dan aspek artistik. Juga fungsi hadam yang dominan dapat lebih dimaksimalkan dengan tambahan pesan-pesan cerdas tentang hal-hal factual yang terjadi. Karena yang diharapkan dalam pemetaan ini adalah seni tradisional yang komunikatif.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Tradisi dan saat ini sedang giat menyiapkan diri terhadap kegiatan skala besar bidang pariwisata yaitu VISIT LOMBOK SUMBAWA 2012. Contoh upaya pengembangan : 1. Begitu pula pola dan bentuknya. Kita dapat menyatakan bahwa kemungkinan pengembangan di masa yang akan datang tidak akan mengalami banyak hambatan. Wayang sasak Dengan mulai munculnya Dalang muda. Sebenarnya kalangan penonton yang kebanyakan sudah mulai bosan dengan pakem dan pesan yang sama dari tahun ke tahun datang menonton lebih disebabkan mau mendengar banyolan baru hadam karena pakem statis tak memberi nuansa segar. Misalnya : Komedi Rudat Dapat dikembangkan dengan memberikan nuansa humor yang “dipelajari” dari jenis humor masa kini (apakah lewat tv ataupun pentas terbuka) agar dapat lebih dihayati oleh audience tanpa menghilangkan roh cerita yang bernuansa Arab-Melayu. maka yang kita bicarakan dipersempit kepada jenis-jenis tersebut. Di Pulau Lombok Rata-rata seni tradisi di Lombok adalah seni kerakyatan. Walaupun sebagian besar para Dalang masih asyik terjebak dalam pola-pola lama tanpa ingin menikmati “kebebasan” yang diberikan oleh reformasi tapi ada beberapa yang mencoba “melawan” tradisi den284 . harapan kita di NTB terhadap pengembangan seni tradisi cukup baik.

Jadilah dia tumpuan pesanan dari instansi pemerintah yang punya program yang harus disosialisasikan lewat media wayang. Lewat banyolan-banyolannya yang nyerempet wilayah pornografi yang khas sejak dekade 90an keatas cukup mendapat tempat di hati penonton.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI gan upaya-upaya kreatif. Balawas. Sakeco adalah duet tradisional Sumbawa yang melantunkan LAWAS (Sastra Lisan Sumbawa) diiringi rebana dalam irama yang sangat variatif dan kelincahan duet yang rampak. Walaupun saat ini pamornya sudah mulai memudar akibat banyolan-banyolannya kadang-kadang nyerempet hal-hal sensitif. dll yang dalam takaran komunikatif agak kurang. Dan upaya ini menambah asap dapur anggota groupnya. Syukurlah NTB masih memiliki rakyat yang memberi apresiasi tinggi terhadap seni wayang walaupun tanpa malu-malu menganggap budaya instan adalah segala-galanya sebagai pedoman kehidupan. 2. Tetapi Sumbawa dalam khasanah seni musik tradisional cukup kaya. tetapi sejarah mencatat bahwa dia berani meretas penghalang kreativitas dalam berkesenian. Apalagi serbuan-serbuan seni kontemporer lewat panggung-panggung glamour layar-layar kaca seakan-akan meminta media tradisi untuk segera undur diri dari panggung seni Indonesia. Pesan285 . Bagesa. Di Sumbawa Cuma ada (smpai saat ini) teater mula berupa Ngumang. Batutir. termasuk generasi muda. Ada juga teater tradisional yang lain semacam Cupak Gurantang dan Topeng Amaq Abir yang mengambil cerita dari Serat Menak yang masih digandrungi masyarakat walaupun dalam jumlah terbatas karena wilayah pertunjukannya juga terbatas. Ambil contoh misalnya Wayang Sasak Lalu Nasib (Panginang Robek). Di Sumbawa Etnik Samawa yang tersebar di dua Kabupaten yaitu Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat tidak memiliki teater tradisional dalam pengertian teater terstruktur seperti Komedi Rudat atau Wayang di Lombok. Yang paling populer saat ini ialah musik SAKECO.

dll. Untuk pengembangan dapat ditambah jumlah orang sehingga vokal jadi lebih menarik. Dalam upaya pengembangan. Di Bima/ Dompu Etnik Mbojo yang mendiami Kab. (ingat pameo Sumbawa “Kurang racik kurang maras”) • Mengenai waktu penyajian yang biasanya semalam suntuk (sampai keluarnya Nasi Goreng) dapat dirancang agar lebih dipadatkan tanpa mengurangi daya pukaunya. Isi lawas sangat lentur dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Bima dan Dompu memiliki seni musik khas yang disebut RAWA MBOJO. Selain Sakeco ada satu lagi seni tradisi Sumbawa yang layak dikembang jadi media komunikasi sosial yaitu NGUMANG : semacam penyampaian (ekspresi) seorang pria yang sambil memegang sebatang kayu berhias dengan suara giring-giring menggerak-gerakkan tubuhnya dalam gerak tari khas sambil menyampaikan lawas di hadapan gadis-gadis atau audience dalam event-event tertentu seperti Karapan Kerbau dan – saat ini – di dalam pawai. yang perlu diperhatikan adalah : • Perubahan irama harus lebih terasa.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pesan yang disampaikan berasal dari Lawas atau kejadian yang sedang IN yang dikemas dalam kadar komunikasi yang intens dengan audience. dibuat komposisi yang lebih baik dan pesan-pesan yang dipilih lebih pas dengan situasi. yang segar dan sarat dengan variasi irama dan pesan. Begitu juga RABALAS LAWAS atau sejenis BERBALAS PANTUN yang sudah sering dilombakan antar kecamatan. Seperti juga yang 286 . Artinya racik (irama yang mirip rap) harus lebih diperbanyak karena seperti dalam wayang racik adalah seolah-olah punakawan yang ditunggu banyolan segarnya. 3. Saat ini (dalam kurun waktu 3 tahun terakhir) sudah dicoba kembangkan Sakeco wanita dan ternyata dapat sambutan yang lumayan baik dari masyarakat. • Jenis-jenis pesan melalui lirik-lirik lawas atau cerita-cerita agar lebih diseleksi tanpa menghilangkan sifat khas Sakeco.

seniman-seniman di kedua daerah tersebut telah mencoba mengangkat Rawa Mbojo lewat persentuhan dengan irama yang merajai wilayah musik tanah air saat ini yang disebut DANGDUT. sneiman-seniman rawa Mbojo mengadakan perpaduan antara irama asli mbojo dengan gempitanya Dangdut yang lalu menghasilkan karya yang mulai digandrungi lagi oleh khalayak. Daripada ditinggalkan pendukungnya. Kesimpulan • Media tradisional NTB masih punya potensi untuk menjadi media komunikasi sosial. Walaupun lirik-liriknya hampir sama dengan pesan-pesan yang sama. Prestasi nasional baru-baru ini sebagai penyanyi terbaik lagu pop daerah tingkat nasional di Jakarta memberi semangat kepada musisi pop daerah Sumbawa untuk berkarya. 2. Saran-saran • Dalam setiap usaha pengembangan agar selalu dijaga keseim287 . kaidah-kaidah pentas sebagai sebuah seni pertunjukan mulai diakrabi. Penutup 1. Ada satu hal yang layak dikembangkan bagi ketiga etnik di NTB yaitu maraknya penciptaan lagu pop daerah yang sudah diproduksi secara besar-besaran dari tahun ketahun dan cukup diminati rakyat. tetapi karena settingnya tidak lagi statis (panggungnya mulai dibenahi). maka upaya pengembangannya cukup berhasil walaupun belum berhasil menggaet anak muda untuk berpaling dari dunia mereka : musik modern yang serba canggih mengasyikkan. Karena lirik-lirik lagu tersebut kebanyakan berasal dari sastra lisan tradisional maka peluang penyampaian pesan-pesan moral cukup baik. Ada juga Kapatu yang sama dengan Rabalas Lawas di Sumbawa.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI terjadi di Sumbawa. Lomba cipta lagu pop sering diadakan terutama di Sumbawa. • Event-event pariwista dan festival atau lomba seni yang diadakan oleh pemerintah dan swasta cukup memberi peluang kepada para seniman atau pelaku seni untuk mengembangkan karya.

Kemajuan teknologi harus dimanfaatkan secara maximal untuk mengembangkan kreativitas seniman disertai peningkatan frekuensi festival/ lomba seni terutama seni tradisional. 2002. 1999. Kerth Tester Media Cultural Morality. Temu Ilmiah MSPI. Dialog Interaktif Bappeda NTB. Prof. 1999 Mus Biawan Semangat Etnis Teater Kita. Daftar Pustaka Edi Sedyawati. Mataram. Temu Teater Nasional Yogyakarta. 1999. Otonomi daerah yang dihajatkan untuk memberi peluang maksimal bagi daerah dalam pengembangan segala kehidupan termasuk budaya jangan dijadikan ajang pemenuhan nafsu politik dan ekonomi semata. ______. Seminar Seni Pertunjukan Indonesia Seri I STSI Surakarta. Dr. Kekuatan Itu Dimulai Ketika Cinta Bau Bensin. Tirtagangga. Agar seniman yang berprestasi mendapat apresiasi sesuai dengan mutu karya-karya dan pengabdiannya. Bagaimanapun hambatan-hambatan komunikasi yang akhirakhir ini terasa menjadi penghambat kemajuan bangsa. Peningkatan Pemanfaatan Tradisi Seni Budaya Sebagai Obyek Daya Tarik Pariwisata.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF • • • • bangan antara porsi pesan dan unsur artistik sehingga karya yang dihasilkan adalah karya unity yang dapat diterima secara “ikhlas” oleh pendukungnya. barangkali salah satu sebabnya adalah karena pembuat kebijakan belum begitu mengerti yang diinginkan rakyat disebabkan adanya barikade protokuler yang sengaja dibuat untuk mengurangi keakraban penguasa dengan rakyatnya. 1998 288 . 2003. Juxtapose. Made Bandem Melacak Identitas di tengah Budaya Global. Fred Wibowo Seni Media dan Media Seni.Temu Teater Nasional Yogyakarta.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI LAMPIRAN DAFTAR KONTAK ORGANISASI SENI TRADISIONAL NTB LOMBOK 1. Gerung Lombok Barat Pimpinan : Nuradi Kontak Person : Materi Garapan : Wayang Sasak 5. Desa Marong Kec. Suanda Putra Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan 3. Sakra Lombok Timur. Desa Sapit Kec. Yusuf Cupak Gurantang 2. Komedi Rudat Borok Alamat : Desa Buntiang. Baluq Diarsa Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan : Dusun Karang Bliq. Darma Kerti Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan : Dusun Batu Pandang. Lombok Timur : Sukiman : : Topeng amaq Abir 4. Yusuf M. Paraya Timur Lombok Tengah NTB (didirkan tahun 1987) : Lalu Sahibi : Komang Restu (tlp : 0370 654706) : Teater Topeng Amaq Abir : : : : Dasan Agung Mataram M. Gema Karyawan : Depdikbud Kec. Kec. Pimpinan : Guru Bangka Kontak Person : Suhardi (Tlp : 0376 22454) Materi Garapan : Komedi Rudat 289 Alamat . Pringgabaya.

Pd. Kemang Satange Alamat : Pelat. Hilir Ismail (Tlp.Pd. Purnama Ria Alamat : Gapuk Selatan Dasan Agung Mataram Pimpinan : Ramiun Kontak Person : Ramiun (tlp.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 6. Kab. (Hp. SUMBAWA 1. Wayang Lalu Nasib Alamat : Gerung Lombok Barat Pimpinan : Lalu Nasib Materi Garapan : Wayang Sasak 8.Pd. Komedi Rudat Kembali Jaya Alamat : Penede Gandor Lombok Timur Pimpinan : Drs. 08123719063) Materi Garapan : semua jenis seni 2. Kec. Muhtar Kontak Person : Drs. 0370 622068) Materi Garapan : Teater tradisional. 0370 621209) Materi Garapan : Komedi Rudat 7. Rasange Bima Pimpinan : H. S. 0371 22720) Materi Garapan : Sakeco 3. S. Sahiruddin Kontak Person : Sukardi (Tlp. S. Sumbawa. Sumbawa Alamat : Kantor Budpar Kab. dll. Sumbawa. Pimpinan : Maladi. Kontak Person : Jemaan (tlp. Doro Kumbe Alamat : Kec. Sumbawa Pimpinan : Hasanuddin. PLK Kab. 0374 42408) Materi Garapan : Musik Tradisional 290 . Kontak Person : Hasanuddin.

Tini Cs (perempuan) Alamat : Kec. Editor dan penulis artikel Sapardi Djoko Damono. DUET SAKECO 1. Abdul Horin Cs. Mada Duli Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan : : : : : : : : Desa Kempu. Usman Drs. 0374 42408) Musik Tradisi 84261 5. Darmiati/ Rukaiyah (perempuan) Alamat : Desa Seminar Kab. SH (tlp. Diterbitkan oleh Yayasan Kelola atas bantuan Ford Foundation. Kempo.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 4. Utan 4. Kec. Dompu Zulkifly Adidin Rifai. Harin Alamat : Kaiang Moyo Hilir Subawa 291 . Abd. Wera Bima H. Kec. Kab. Alamat : Moyohilir Sumbawa 2. 0373 22807) Musik Tradisional Taliwang. Hilir Ismail (tlp. Sumbawa Barat 6. 2000. Ompu Nae Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan Sumber : Direktori Seni dan Budaya Indonesia. Syamsuddin/ Sukardi Alamat : Pamulung 3. Utan 5. Kahar/ Mustafa (Sambu) Alamat : Kec.

Kadri. M. Pemerhati Komunikasi dan Dosen Ilmu Komunikasi IAIN Mat- 292 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF aram.Si. Dr.

Kadri. Sungguh banyak nilai dan pelajaran yang dapat diambil dari setiap seni dan budaya tradisional untuk dijadikan sebagai referensi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Mengemas Seni Tradisional Komunikatif NTB untuk Media Komunikasi Sosial Dr. M.Si Pakar Komunikasi IAIN Mataram Pengantar eragaman seni dan budaya merupakan salah satu karakter bangsa Indonesia yang membedakannya dengan negara lain. Sehingga tidak heran bila anak-anak lebih banyak mengenal nilai dan budaya asing ketimbang seni dan budaya sendiri. upaya pelestarian dan pewarisan senibudaya tradisional menjadi tugas yang tidak mudah di tengah semakin terbukannya akses masyarakat untuk mempelajari seni dan budaya asing lewat kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. untuk dilestarikan dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Keragaman ini sekaligus menjadi kekayaan bangsa yang tak ternilai. Namun ekspektasi ideal tersebut di atas harus berhadapan dengan kecenderungan memudarnya seni dan budaya tradisional di setiap daerah. kini tidak banyak lagi dikenal oleh generasi muda. Seni dan budaya tradisional yang selama ini menjadi kebanggaan. Oleh karena itu. Memang. upaya pelestarian dan penanaman kencintaan public (terutama generasi muda) terhadap seni dan budaya tradisional menjadi tugas K 293 . Pada saat bersamaan mereka (generasi muda) tidak bisa melepaskan diri dari ‘serangan’ budaya global yang terus menerpa.

sehingga belum banyak yang berpikir pemanfaatan hal tersebut sebagai sebagai media komunikasi untuk menyampaikan pesan social baik oleh pemerintah kepada publik secara vertical maupun secara horizontal di antara masyarakat. bersamaan dengan giatnya kampanye pariwisata di provinsi dan kabupaten yang ada di NTB. Budaya Gantao1 yang pernah semarak di Bima (suku Mbojo) misalnya kini sangat jarang lagi dipentaskan dalam setiap pesta budaya di Bima. Kondisi ini diperparah lagi dengan minimnya perhatian pemerintah untuk melestarikan seni dan budaya tradisional setiap daerah. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang didiami oleh tiga etnik mayoritas (Sasak. Samawa. 1 Gantao adalah sejenis permainan bela diri pencak silat yang melibatkan dua orang lelaki Bima dengan memperagakan adegan saling serang menggunakan kaki dan tangan untuk saling banting. mengharuskan pemerintah daerah untuk menggunakan media komunikasi yang beragam. meskipun belakangan mulai terlihat adanya perhatian pemerintah daerah. sebelum berbicara tentang pemanfaatan seni tradisional sebagai media komunikasi sosial. Belum lagi kita berbicara tentang cagar dan bangunan budaya. Generasi muda pun tidak lagi menjadikan seni tradisional ini sebagai karya dan seni yang disenangi. 294 . Permainan ini diiringi dengan alunan musik tradisional Mbojo. memiliki seni dan budaya tradisional yang beragam. Prosesi pernikahan dengan adat Mbojo pun sudah mulai disederhanakan dan mengikuti prosesi budaya modern. Di sisi lain. Satu-satunya yang masih tertinggal adalah gaung penganten yang menggunakan adat Mbojo. Selama ini seni dan budaya tradisional masih dimaknai sebatas karya seni pemuas naluri estetika setiap orang. Beberapa seni dan budaya tradisional yang selama ini menjadi produk dan pernah dihidupkan oleh rakyat Bumi Gora. karakter geografis NTB yang kepulauan dan terdiri dari wilayah yang masih jauh dari pusat ibu kota provinsi dan kabupaten. Namun harus diakui bahwa eksistensi seni dan budaya tradisional di NTB mengalami ‘reduksi’. dan Mbojo) serta etnik-etnik lainnya. saat ini sangat susah ditemukan. yang baru mendapat perhatian beberapa tahun terakhir. Eksistensi Seni Tradisional di tengah Media Modern Tidak mudah untuk mempertahankan eksistensi seni tradisional di tengah membanjirnya seni dan budaya global. di antaranya menjadikan seni tradisional sebagai media komunikasi sosial. Rumah-rumah tradisional Bima seperti rumah panggung bukan lagi menjadi kebanggaan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF awal yang mesti direalisasikan.

radio. pemerintah juga belum bisa mengoptimalkan eksistensi seni dan budaya tradisional sebagai media komunikasi sosial. Pemerintah daerah lebih senang menggunakan media modern seperti televisi. rumah panggung masih menjadi kebanggaan. Di samping itu. dengan mempraktekkan dan mengajarkan gaya hidup bergelimang kemewahan dengan asesoris modern yang jauh dari identitas tradisional. Belum lagi kita berbicara tentang wajah televisi dan media massa kita (Indonesia). Kemudahan mengakses informasi berkontribusi bagi entengnya mereka (generasi muda) untuk mengkonsumsi seni budaya apa saja dengan dukungan visualisasi dan audio mutakhir. belum banyak setiap pemerintah daerah yang ada di NTB mengadakan atraksi dan kompetisi seni dan budaya tradisional di tingkat pelajar.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Pada puluhan tahun silam. Kecenderungan yang tidak terlalu beda juga terjadi di Sumbawa (suku Samawa). Sebagai contoh. Rumah adat yang berjenis rumah panggung dan kayu bukan lagi menjadi rumah favorit. Sangat susah ditemukan acara atau tayangan media massa tentang seni tradisional daerah tertentu. Salah satunya adalah pengaruh kehidupan global yang dimotori oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. dan juga di komunitas Sasak. Sebagian besar acara dan isi tayangan media massa kita cenderung hedonis. dan baliho sebagai sarana kampanye program atau kampanye publik (public campaign). Selama ini sangat susat 295 . Dalam konteks seni tradisional juga mengalami reduksi peminat. Bahkan orang tua pun tengah melakukan upaya ’pemudaran’ rumah panggung untuk diganti dengan rumah modern. Seni tradisional Sasak seperti Teater Cepung dan Teater Cupak Gerantang misalnya saat ini tidak lagi menjadi seni teater yang masif digandrungi. surat kabar. Pemanfaatan seni dan budaya tradisional yang minim tidak hanya dilakukan oleh rakyat atau media massa. pemerintah belum optimal mengupayakan pelestarian dan pengembangan seni tradisional. Pengaruh ini terutama melanda generasi muda. Dalam beberapa kebijakannya. tetapi juga oleh pemerintah. Banyak faktor yang menyebabkan fenomena pereduksian seni budaya tradisional terjadi. meskipun apa yang dilakukan pemerintah kota Mataram belum maksimal. Kota Mataram mungkin dapat dikecualikan dalam generalisasi ini. Kini keluarga baru sudah senang dengan rumah-rumah berarsitek modern. dan bahkan menjadi mahar favorit yang disediakan oleh penganten pria.

dan masyarakat pada umumnya) harus membangun tekad yang sama untuk menjadikan seni dan budaya tradisional sebagai media komunikasi sosial sekaligus sebagai perekat ikatan sosial di antara warga se-etnik dan se-bangsa. Secara pelan tapi pasti setiap kalangan (pemerintah. pemerintah juga harus memanfaatkan amanah Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Kita masih memiliki harapan karena proses reduksi seni budaya tradisional tidak berlangsung secara radikal (tidak menjadi gerakkan anti budaya tradisional secara massal). yakni melestarikan seni budaya tradisional sekaligus membantu kesuksesan program yang dilaksanakan. Di samping itu. pengusaha. Ketika pemerintah menjadikan seni tradisional sebagai media komunikasi sosial tentu akan memberikan keuntungan ganda.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF terlihat (untuk mengatakan tidak pernah) seni tradisional dimanfaatkan sebagai sarana publikasi dan penyampai informasi pembangunan dan sosial lainnya dari pemerintah. dengan cara mendorong pegiat media dan penyiaran yang ada di NTB untuk menyiapkan paket seni buya tradisional untuk ditayangkan di media nasional. Ketika hal ini dapat diwujudkan maka sedahsat apapun serangan informasi dan media global. Ini berarti kita masih memiliki sisasisa ruang dan waktu untuk merevitalisasi seni tradisional di benak publik. yang ti296 . tidak akan mampu menggoyahkan kecintaan anak bangsa terhadap seni dan budayanya sendiri. Di samping itu. Komunikasi dalam konteks ini harus dimaknai secara luas. faktor media yang digunakan juga turut berkontribusi menciptakan komunikasi yang efektif. Momentum ini dapat dimanfaatkan sebagai wadah yang baik untuk mengkampanyekan atau mensosialisasikan seni dan budaya tradisional setiap daerah. Efektifitas Komunikasi Melalui Seni Tradisional Salah satu ukuran efektif dan tidaknya komunikasi adalah ketika apa yang dimaksudkan oleh pengirim pesan. sekaligus untuk mengimbangi serangan budaya global yang kian mengancam. sama dengan apa yang dipahami oleh penerima pesan. Ketepatan memilih media komunikasi dan kelihaian mengemas tampilan media yang telah dipilih merupakan kunci keefektifan komunikasi yang dilakukan. yang antara lain menganjurkan untuk mengakomodir sepuluh porsen (10% porsen) siaran berkonten lokal bagi televisi berjaringan nasional.

Oleh beberapa pakar komunikasi. yakni. Ketika seni tradisional telah diminati masyarakat dan dikemas secara menarik. (3) berkeinginan (desire) untuk menerimannya. Dengan pemaknaan yang luas seperti ini. pada umumnya tradisi komunikasi orang Indonesia menggunakan jenis komunikasi konteks tinggi. Lihat Effendy. (4) diambil keputusan (decide) untuk menerimannya. segala produk dan wujud seni mesti dimaknai sebagai bentuk pesan yang memiliki makna tersendiri. komunikasi tidak hanya dimaknai dalam konteks seni pertujukan dan nyayian serta musik yang berbasis verbal. (2) menarik perhatian (interest) yang menerimanya. tentu saja hal tersebut akan membuat seni tradisional dapat dengan mudah berperan sebagai media komunikasi sosial yang menjadi pilihan publik. 2000. tetapi juga menyangkut seni dan budaya yang berdimensi nonverbal. (1) pesan tersebut mendapat perhatian (Attention) sasaran pesan. maka prasyarat awal yang harus dilakukan dalam rangka menjadikan seni tradisional sebagai media komunikasi yang efektif (komunikatif) adalah bagaimana menjadikan atau mengemas seni tradisional sebagai suatu karya seni yang diperhatikan atau diminati oleh masyarakat agar mereka tertarik. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. Ketika hal ini dapat diwujudkan maka proses transfer pesan sosial lewat seni tradisional menjadi relatif mudah.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dak hanya sebatas komunikasi verbal tetapi juga yang nonverbal. Dalam asumsi dasar teori uses and gratifications 2 dikatakan bahwa penggunaan media yang dilakukan oleh seseorang bergantung kebutuhan dan ketertarikannya terhadap suatu pesan yang ditawarkan. Suatu pesan akan diterima dengan baik antara lain ketika pesan tersebut memenuhi empat unsur. Upaya ini penting ketika hendak menyelipkan pesan-pesan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan sosial dan pembangunan yang akan melibatkan partisipasi publik untuk mensukseskannya. Suatu hal yang tidak kalah pentingnya adalah menjadikan seni tradisional sebagai suatu kebutuhan setiap individu. 2 Teori ini pada dasarnya merupakan teori yang berkaitan dengan penggunaan media massa oleh khalayak. Bandung: Citra Aditya Bhakti 297 . Oleh karena itu. dan (5) dilaksanakan (action) sesuai dengan isi pesan. maka dalam konteks seni dan budaya tradisional. Apabila mengikuti alur komunikasi atau proses transfer pesan seperti di atas.

maka ada jaminan bahwa komunikasi tersebut akan berlangsung secara efektif. Seni tradisional merupakan ikatan emosional yang dapat dijadikan sebagai perekat komunikasi sosial di antara masyarakat. Tradisi komunikasi seperti ini lebih relevan dengan karakter seni tradisional yang ada (khususnya di NTB). Bandung: Rosda 298 . Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF yakni cara berkomunikasi yang berbelit-belit. atau Teater Sakeco dan musik berpantun ”Bakelong” (yang berasal dari suku Samawa) merupakan bentuk seni tradisional yang berkarakter dialogis dengan durasi waktu yang relatif lama. Ketika ikon ini dapat dikemas dengan sebaik-baiknya menjadi media komunikasi sosial. dan akan menghasilkan sesuatu yang lebih kontributif. Kesamaan sosial dan budaya bukan hanya dalam konteks kesamaan nilai dan seni yang dimiliki tetapi juga kesamaan latarbelakang etnik dan suku dari setiap peserta (orang yang terlibat dalam) komunikasi. Prinsip komunikasi ini semakin mempertegas bahwa komunikasi yang efektif tidak terlepas dari adanya kesamaan nilai sosial dan budaya. ketika orang yang ber-etnik sama membicarakan persoalan yang sama lewat media komunikasi yang sama. maka proses transfer pesan lewat seni tradisional menjadi lebih efektif. bahwa langkah awal yang harus dilakukan untuk menjadian seni tradisional NTB sebagai media komunikasi sosial yang efektif adalah dengan menjadikan hal tersebut sebagai hiburan atau karya seni yang digandrungi publik. Teater-teater tradisional seperti teater Cepung. Menjadikan Seni Tradisional NTB sebagai Media Komunikasi Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya. Teater Cupak Gerantang (yang berasal dari suku Sasak). Seni tradisional merupakan salah satu ikon kesamaan yang bisa menyatukan setiap perbedaan personal. Kebanyakan orang Indonesia senang dengan gaya bertutur melalui proses panjang menuju sasaran. Esensi pesan yang terkandung di dalamnya pun tidak bisa diperoleh secara instan. Salah satu prinsip komunikasi disebutkan bahwa ”semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi”3. 3 Lihat Deddy Mulyana. berputar-putar atau gaya komunikasi yang tidak simpel dan tidak langsung pada point dan sasaran utama. Artinya. Ikatan emosional atas persamaan sosial dan budaya menjadi faktor penting dalam kesuksesan komunikasi manusia. 2002.

dan seni serta budaya tradisional. Dua di antaranya adalah lewat pendidikan nonformal dan formal. Proses penanaman kecintaan ini harus terus berjalan (tanpa terikat dengan waktu dan ruang). Saatnya alat permainan edukatif (APE) lebih banyak menyuguhkan permainan dari bahan lokal dan bermuatan nilai lokal. diperlukan identifikasi menyeluruh terhadap karya dan jenis seni tradisional yang ada. Penanaman nilai dan kecintaan terhadap seni tradisional dapat dilakukan lewat berbagai cara. Setiap momen apapun harus dimanfaatkan untuk mensosialisasikan seni tradisional. Proses identifikasi ini penting terutama untuk menentukan strategi pemanfaatan seni tradisional yang ada secara tepat dan efesien sehingga bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan yang diinginkan. Selama ini. Event-event seni budaya tradisional harus terus digalakkan di setiap jenjang pendidikan dasar dan menengah. Dibutuhkan kemasan yang serius dengan dukungan maksimal dari semua kalangan untuk mengkampanyekan atau mensosialisasikan seni tradisional agar mendapat tempat di hati rakyat. Ben299 . Hal yang sama dapat dilakukan di pendidikan formal dengan cara mereformasi kebijakan dan kurikulum Pendidikan SD sampai SMA.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk merevitalisasi eksistensi seni tradisional di tengah tantangan global yang multi bentuk. Untuk kebutuhan optimalisasi performance seperti inilah. agar anak cinta produk lokal. Usia dini merupakan waktu yang tepat untuk penanaman nilai dan tradisi tertentu dengan harapan akan membekas dan turut mewarnai aktivitasnya di masa yang akan datang. Kurikulum tentang seni dan budaya tradisional harus mendapat perhatian maksimal sebagai langkah akademik untuk menanamkan nilai dan kearifan lokal pada diri setiap anak. Permainan-permainan anak di PAUD dan TK formal harus direkonstruksi. karya sendiri. anak kita banyak disuguhi dengan permainan modern yang tidak jelas asal usulnya. sambil mengambil upaya serius untuk mengemas seni tradisional yang ada agar menjadi produk atau karya yang diminati. Hal yang lebih penting lagi adalah bagaimana menanamkan kencintaan terhadap seni dan budaya tradisional sejak usia dini. Komitmen yang tinggi untuk menjadikan seni tradisional NTB sebagai media komunikasi sosial tidak cukup sampai penanaman kesadaran mencintainya. nyanyian-nyanyian yang tidak terlalu mendidik dan minim muatan lokal.

pergelaran pertunjukan tradisional. seni tradisional yang dapat dimanfaatkan secara langsung sebagai media komunikasi sosial. dan berbagai tari tradisional di provinsi NTB. Pada umumnya yang termasuk dalam kategori ini adalah karya seni non drama/teater. yang muncul tidak lama setelah penulisan lontar ”Tutur Monyeh oleh Jero Mihran. Teater Cepung. lirik lagu biola di Bima lebih banyak didominasi oleh lirik asmara dan percintaan. apalagi bila dikemas dan dimodifikasi semenarik mungkin. Seni tradisional dalam kategori kedua ini adalah semua seni tradisional yang berbasis drama dan teater. seperti: a. seni tradisional yang dapat dijadikan sebagai media penghimpun massa. dan agama. Di samping itu. tanpa menghilangkan nilai historis dari setiap karya seni yang ada. yakni sekitar tahun 1850an. maka dapat dibagi dua jenis seni tradisional dalam konteks penggunaannya sebagai media komunikasi sosial. Selama ini dalam penghamatan saya. Momen berkumpulnya massa itulah yang dapat dimanfaatkan oleh siapapun untuk menyelipkan agenda-agenda tambahan terutama dalam menyampaikan pesan tertentu sesuai kebutuhan. 300 . sosial. Teater ini merupakan teater klasik yang berasal dari etnik Sasak. dalam artian tidak hanya pesan nonverbal lewat gerakan anggota badan tetapi juga bisa dengan membuat improvisasi musik pengiring dengan lagu-lagu sarat pesan tertentu. dalam pergelaran seni tari juga dapat dimodifikasi sehingga dapat lebih komunikatif. Peran teater cepung di tengah masyarakat Sasak menyangkut berbagai aspek seperti politik. Dalam seni tradisional Bima seperti ”Biola” misalnya dapat diselipkan irama lagu perpantun yang mengandung pesan-pesan sosial tertentu. Kedua. seperti musik tradisional. yakni: Pertama.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dasarkan identifikasi sederhana terhadap seni tradisional di NTB. Yang dimaksud dengan kategori seni tradisional yang pertama ini adalah semua seni tradisional yang yang tidak berkarakter penyampai pesan secara langsung. ekonomi. Seni tradisional berkarakter seperti ini sangat berpotensi untuk mengumpulkan massa yang lebih banyak. Tentu saja untuk mewujudkan hal ini membutuhkan sentuhan ide dan tangan kreatif seniman di setiap daerah.

Teater Sakeco. Karakter wilayah NTB dengan tingkat konflik sosial yang relatif masih tinggi. Sayang hingga saat ini. Saya sangat tertarik dengan upaya yang dilakukan oleh sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Eropa yang merekrut beberapa pelajar di wilayah konflik di NTB untuk diajarkan atau dilatih drama bertema perdamaian/persamaan yang akan dipentaskan di depan saudara dan orang tua mereka. Bahkan menurut penelitian Alfarisi4 b. apalagi aktor yang terlibat dalam teater itu adalah seluruh representasi masyarakat yang ada. 2010. 4 Salman Alfarisi. ritual. Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta 301 . dan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat Sasak. keberadaan keduanya tidak seperti saat awal keberadaannya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI karena lontar Tutur Monyeh sebagai sumber teater Cepung yang berisi tentang nilai. Namun lagi-lagi. Alur cerita yang ada dalam teater tersebut sangat mungkin untuk dimodifikasi dan diselipi dengan pesan-pesan tertentu yang penuh makna. eksistensi kedua teater tersebut akan lebih bermakna sebagai media yang komunikatif ketika keduanya telah digandrungi oleh masyarakat. berisi tentang dialog komedi berpantun yang diiringi dengan alat musik tradisional seperti gendang dan rebana Kedua jenis teater di atas merupaka dua karya seni berbasis drama/ teater yang dapat dimanfaatkan secara langsung sebagai media komunikasi sosial. yaitu pendidikan moral. kritik sosial. Penutup Gambaran panjang lebar di atas semakin mempertegas betapa pentingnya seni tradisional daerah NTB sebagai media komunikasi sosial. Tesis. Sebagai bentuk apresiasi seni. LSM ternama tersebut sadar benar bahwa karya seni seperti drama dan teater menjadi wadah yang efektif untuk menyampaikan pesan bermakna. Teater Cepung Lombok (Kajian Tekstual Seni Pertunjukan). sangat tepat untuk menjadikan seni tradisional seperti teater dan drama sebagai media komunikasinya. teater dan drama memiliki posisi strategis dan dapat berperan sebagai forum penghilang ketegangan dan pencair perbedaan. Teater ini adalah karya seni tradisional yang berasal dari suku Samawa.

pemerintah daerah harus memberi apresiasi (dukungan) yang serius untuk menyediakan fasilitas seni dan budaya sebagai wadah dan ruang ekspresi publik sekaligus sebagai benteng pelestarian budaya lokal. Lebih dari itu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Atas dasar kesadaran itulah dibutuhkan upaya serius semua kalangan untuk mengidentifikasi dan memodifikasi kemasan seni tradisional agar dapat dimanfaatkan sebagai media yang komunikatif dalam menyampaikan pesan sosial tertentu. 302 . Sosialisasi dan penanaman kesadaran berbudaya dan mencintai seni tradisional sendiri merupakan langkah awal yang baik menuju efektifitasnya pemanfaatan seni tradisional NTB sebagai media komunikasi sosial.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 303 .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 304 .

PENUTUP 6 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 306 .

Di beberapa penjuru kota. Kondisi ini memicu terjadi paradoks. Ibaratnya komunikasi bisa dibangun seperti kontak listrik. demikian pula media massa berada dalam kontrol pemerintah. Memang sistem yang dibangun waktu itu sangat sentralistik. Memang ada ironi di kalangan pemerintah. Sebaliknya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Lestarikan Media Tradisi Suprawoto ulu ketika penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) belum seperti saat sekarang. Ketika reformasi bergulir. Bayangkan jika separuh kabupaten/ 307 D . dapat mudah kita temukan kantor perwakilan pemerintah kabupaten atau kota. ketika TIK akses komunikasi menjadi semakin mudah. utamanya kepada pemerintah kabupaten/kota. Sistem pemerintahan lebih memberikan otonomi yang luas. informasi tentang kebijakan pemerintah bisa diketahui pemerintah daerah dengan cepat. pasokan informasi dari pemerintah daerah pun relatif lambat dipahami oleh pemerintah pusat. di tengah TIK yang makin berkembang tapi informasi tentang program pemerintah oleh masyarakat luas relatif sulit tersebar dan dipahami masyarakat. tapi komunikasi antar lembaga justru terasa tidak lancar? Ketidaklancaran tercermin dari betapa banyaknya kantor perwakilan pemerintah daerah yang berada di Jakarta. Pemerintah tinggal menghidupkan saklar on/off-nya saja lantas semua infomasi dari atas bisa tersebar luas dan relatif seragam.

Terbukti setiap pementasan selalu dipenuhi pengunjung. televisi. mengingat seni tradisi komunikatif masih efektif untuk penyampaian pesan tentang kebijakan Pemerintah. pengalaman 308 . Baik media mainstream (radio. adalah melakukan penyebaran informasi atau diseminasi informasi dan komunikasi kepada masyarakat. Pertama. sewaktu Menteri Komunikasi dan Informatika (semasa dijabat M. ternyata media tradisional komunikatif seperti wayang kulit. Penanggulangan HIV/ AIDS. Kantor perwakilan pemerintah provinsi dibutuhkan bisa menjembatani koordinasi kewenangan pengaturan pemerintah pusat dan daerah. *** Perlunya kebijakan pemerintah untuk dapat segera dipahami masyarakat luas. Peta Poang. penanggulangan Flu Burung. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Nuh) meminta mencoba untuk mencari masukan dari para ahli di bidangnya bagaimana ke depan dan sekaligus memetakan seni tradisi yang komunikatif dimaksud. Untuk itulah. Bukan untuk kepentingan kelompok atau partai tertentu. dan sebagainya masih sangat digemari masyarakat. Seperti kebijakan Pemerintah tentang kenaikan BBM. menghadapi Bencana dan lain sebagainya. Agar yang menikmati pertunjukan bukan hanya yang hadir di tempat pertunjukan diselenggarakan. Di beberapa kawasan Indonesia. Ada beberapa pengalaman menarik dalam menggunakan seni tradisi untuk diseminasi informasi kebijakan publik.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kota punya perwakilan di Jakarta! Berapa ratus gedung harus dibangun? Berapa anggaran yang mesti dikeluarkan? Kalau perwakilan pemerintah provinsi mungkin masih sesuai dengan konteks pembagian kewenangan pemerintahan. Dul Muluk. dan cetak) hingga media baru bahkan media tradisonal yang komunikatif. Penyebaran informasi saat ini betulbetul harus merupakan informasi untuk kepentingan masyarakat banyak. wayang Bali. Hal ini tentunya sesuai dengan salah satu tugas Kementerian Komunikasi dan Informatika. wayang golek. ketoprak. maka juga disiarkan RRI atau radio lokal setempat dan juga siaran langsung/tunda di TVRI setempat atau nasional. maka pada tahun 2009. Kementerian Komunikasi dan Informatika mencoba mengembangkan komunikasi dan penyebaran informasi melalui berbagai media.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI saat menjadi ketua tim sosialisasi MoU Helsinki di kalangan masyarakat Aceh juga menunjukkan betapa seni tradisi dapat berperan penting. Seni ludruk keliling yang dulunya begitu banyak di Jawa Timur saat ini nasibnya sangat menyedihkan. Wayang Orang Bharata yang dulunya demikian mendapat tempat di hati warga kota Jakarta saat ini pentas secara rutin hanya sekali seminggu. Saat ini saja sudah terbukti. Malahan kadang-kadang sebagian besar turis asing. Itupun penontonnya sangat sedikit dapat dihitung dengan jari. Demikian juga di Sumsel dan Riau Kepulauan. seni Dul Muluk tidak 309 . Demikian juga Ketoprak yang dulunya sangat banyak group keliling. ketoprak yang digelar di alun-alun kemudian disiarkan langsung oleh TVRI dan RRI. melestarikan seni tradisi bukanlah hal mudah. Seni itu efektif sekali untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang program Pemerintah khususnya mengenai infromasi tentang MoU Helsinki waktu itu. Di setiap pertunjukkannya kemudian disiarkan RRI atau radio setempat. Pengalaman kedua ketika diminta untuk menjelaskan mengenai kenaikan BBM dan program BLT (Bantuan Langsung Tunai). Salah satu media yang digunakan juga menggunakan seni tradisi. Demikian kondisi pertunjuan seni tradisi saat ini. Malahan Ketoprak Siswo Budoyo dari Tulung Agung yang demikian legendaris bagi masyarakat Jawa khususnya Jawa Timur sudah lama gulung tikar. sekarang bisa dihitung dengan jari. yaitu yang di Wonokromo. Seperti Ketoprak Suryo Budoyo di Kediri nasibnya tak jauh berbeda. Yang masih ada nasibnya kembang kempis. Di Jawa digunakan wayang kulit. Di Aceh kami gunakan seni tradisi semacam teater tutur “poh tem” . Banyak tantangan yang dihadapi. Malah dalam prakteknya. Selama ini Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menggelar ratusan kali pertunjukan seni tradisi komunikatif untuk menyampaikan kebijakan Pemerintah tersebut. namun itupun pentasnya hanya sekali seminggu. yang kalau di Jawa seperti Kentrung. Tentunya itu bukan satu-satunya cara untuk menjawab eksistensi seni tradisi komunikatif. kini hanya ada satu seni tradisi yang pentas secara rutin. Karena dengan bahasa dan kesenian lokal masih lebih efektif untuk segera dipahami. Ternyata luar biasa penontonnya. Ludruk tinggal satu yang pentas. di Jawa misalnya. Di kota Surabaya sendiri. yakni Wayang Orang Sriwedari diSurakarta. Di Jakarta sendiri.

Kami tetap bertahan karena ingin melestarikan kesenian ini agar jangan sampai punah. Suka duka sudah dilalui para seniman ketoprak itu. Total kru ketoprak yang berdiri sejak 12 tahun silam 40 orang. Kecamatan Kayen Kidul. Harga tiket masuk ketoprak Suryo Budoyo hanya dijual Rp 2. berarti uang yang diperoleh hanya Rp 40. bahkan gulung tikar vakum kegiatan. Pernah suatu ketika jumlah penonton yang membeli tiket masuk hanya belasan orang. Mereka ini selain seniman pemain juga para wiyogo atau penabuh gamelan serta kru pendukung lainnya. Kabupaten Kediri. Namun. uang bukan segala-galanya. grup ini akhirnya tetap bertahan. “Setiap bulan puasa jumlah penonton sangat sepi.” ungkapnya. Padahal total jumlah kru pemain dan wiyogo mencapai Rp 40 orang (Surya 7 September 2011). Diakui Anang Sukardi.” tuturnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Seniman Ketoprak Mencoba Bertahan dalam Impitan (1) Tiket Rp 2. Uang memang penting tapi yang terpenting bagi kami adalah jiwa seni. Termasuk para senimannya banyak yang tinggal di belakang tonil dengan membuat kamar-kamar darurat yang seringkali bocor saat diguyur hujan deras. Diakuinya kelompoknya sudah sering jatuh bangun. Bambu yang menjadi tiang penyangga terlihat sudah banyak yang lapuk. Namun.000. Kesenian ketoprak juga termasuk kesenian padat karya yang melibatkan banyak pemain. grup ketopraknya selalu nrima ing pandum atau menerima apa adanya rezeki yang diperoleh dari bermain ketoprak. “Bagi kami. tapi kami tetap bermain berapapun penontonnya. Penonton Cuma 20 ”Hampir setahun ini Ketoprak Suryo Budoyo manggung di lapangan Desa Padangan. Sehingga baginya berapa pun jumlah penonton. Anang mengungkapkan. karena para personel benar-benar memiliki jiwa seni. Namun. saat ini kesenian ketoprak semakin tersisih serta kalah dengan pertunjukan sinetron dan film yang banyak diputar di layar TV.000. 310 . pertunjukan tetap berlangsung sampai selesai dengan durasi permainan sekitar tiga jam lebih. “Beginilah kondisi kami serba sederhana. pertunjukan ketoprak harus tetap jalan. mulai dari sepinya penonton sampai guyuran hujan deras yang membatalkan pentas.000 setiap pertunjukan. Malahan.” tambahnya. semua halangan itu tak mampu memupus jiwa seni para pemain ketoprak pimpinan Ki Anang Sukardi yang memiliki nama panggung Pak Koyek. Jika penonton yang membeli karcis hanya 20 orang. Bangunan tobong atau tonil tempat pemain ketoprak bermain juga sangat sederhana alias ala kadarnya.

Jika dulu pernah dilakukan oleh pemerintah Orde Baru dan berhasil. Utamanya di tengah perkembangan teknologi sekarang. Paradigma ini tentunya ada benarnya juga. Dengan catatan. saat nonton wayang kulit yang dipentaskan semalam suntuk. jelas bahwa pertunjukan seni tradisi semakin lama makin berkurang. terakhir pada tahun 1974 waktu itu Departemen Penerangan melakukan pemetaan dan dibukukan dalam peta seni tradisi yang komunikatif. Dari latar belakang itulah. kalau dulu diseminasi melalui seni tradisi komunikatif untuk kepentingan penguasa saat ini lebih ditekankan pada penyampaian program Pemerintah yang perlu segera dipahami dan untuk kepentingan publik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dipentaskan secara rutin. blencong atau lampu penerangan untuk layar digunakan petromak. Di Bali ada dalang wayang cengblong yang main pada saat bersamaan empat orang sekaligus. Menurut catatan yang dapat ditelusuri. Dari fakta di atas. Oleh sebab itu sekarang perlu di-up date lagi agar bisa menjadi salah satu referensi bagi kita semua. tentunya ada beberapa catatan dan dokumen tentang hal tersebut. Televisi memang masih ada yang mementaskan seni tradisi. sayang tidak ditayangkan pada jam-jam prime time. Kurun waktu 37 tahun tentunya telah terjadi prubahan dan pergeseran. yang menjadi pertanyaan terkait seni tradisi komunikatif ini dimana posisinya? Apakah masih bisa berada di dunia realitas ataukah bisa juga bertahan di tengah perkembangan teknologi yang sedemikian dahsyat dalam dunia yang seolah makin tanpa batas ini? Dalam konsep materialisme Thorstein Veblen. Bagaimana teknologi telah memengaruhi dalam pertunjukkan seni tradisi komunikatif. salah satu pemicu perubahan peradaban terjadi karena teknologi. Sementara sekarang ini. apa salahnya sekarang dilakukan kembali. Dulu kala ketika saya kecil. Oleh karena sejak Pemerintahan terdahulu penggunaan seni tradisi komunikatif telah dilakukan untuk penyampaian program Pemerintah. sudah ada yang menggunakan lampu dan infokus (LCD Projector). Kemudian di Jawa Barat ada Asep Sunarya yang bisa menampilkan efek tambahan yang menarik penon311 . Apalagi ini terkait dengan upaya pelestarian budaya bangsa. Tidak ada salahnya meniru yang baik. Semua itu memengaruhi cara kita melihat dan menikmati wayang. salah satu alasan Kemenkominfo tergerak menggunakan seni tradisi untuk mengkomunikasikan kebijakan pemerintah.

Dengan demikian Kementerian Kominfo mengharapkan masukan dari para ahli sekaligus setelah memetakan seni tradisi yang komunikatif. Kominfo tidak hanya melaksanakan diskusi saja. tapi mengupayakan agar Kominfo akan mendukung hidup seni tradisi yang ada dengan cara menggandeng untuk kegiatan sosialisasi kebijakan pemerintah. ada peluang untuk itu. kemudian kami share kepada pembaca. Kalau adegan perang tanding. Selanjutnya Kominfo bisa mengunakan seni tradisi itu untuk diseminasi kebijakan Pemerintah di seluruh Indonesia. Pak Asep bisa menampilkan cipratan darah karena bantuan teknologi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ton. * 312 . Friedman dalam buku The World of Flat bercerita tentang bagaimana dampak teknologi terhadap pergaulan dunia dan interaksi antar manusia. Makalah-makalah yang disajikan dalam diskusi ini sangat menarik. agar menjadi kegelisahan kita semua. Misalnya dengan internet. Saya melihat ini juga bisa dianggap jadi peluang bagi seni tradisi yang kita cintai. rekaman pertunjukan seni tradisi begitu bisa kita upload dari Padang Panjang dan bisa dilihat di manapun juga. Dengan demikian untuk seni tradisi ini. Kalau melihat sisi positip. Banyak kegelisahan mengenai kelangsungan hidup seni tradisi yang menjadi perhatian berbagai pihak. setidak-tidaknya bisa menjadi dasar kebijakan. ada leher salah satu kepala wayang tertebas senjata hingga terpotong. Oleh sebab itulah. Thomas L. sekaligus memprovokasi untuk ikut mencari jalan keluarnya.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 313 .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF KALIMANTAN SUAMTERA JAKARTA JAWA 314 .

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI SULAWESI MALUKU PAPUA NUSA TENGGARA 315 .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 316 .

mas. Lelaki dua anak ini baru percaya Wayang Sadat benar-benar ada. “Saya malah baru tahu dari njenengan (anda—red) kalau ada wayang yang namanya Wayang Sadat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Catatan Akhir Senjakala Sang Penenang Kalbu Nursodik Gunarjo Butuh waktu satu jam lebih untuk menemukan rumah Suryadi di Desa Mireng. Tapi Wayang Sadat saya tidak pernah dengar. “Yang namanya Suryadi di sini banyak. Wayang Golek. namun tak banyak warga Trucuk yang kenal. Bambang mengaku sudah kenal dengan Suryadi. Jateng. Kab Klaten. jangankan wujud keseniannya. namanya saja banyak yang tidak tahu.” imbuh Bambang. B egitulah nasib Wayang Sadat. Kini.” kata Bambang (19 th). Anehnya. saya tahu. sang dalang yang dicari-cari. bukan dalang. ketika penulis akhirnya bertemu dengan Suryadi Wanasukarja BA. bukan dalang Wayang Sadat. kesenian tradisional yang namanya pernah berkibar pada zaman Orde Baru. Wayang Wong (Orang— red).” kilah Bambang. Zaman memang telah menyilapkan kata Wayang Sadat dari pemaha317 . Kalau Wayang Kulit. tapi beliau seorang guru. “Kalau Pak Suryadi yang ini sih saya sudah kenal sejak lama. Suryadi hanya tersenyum kecut mendengar penuturan Bambang. Kec Trucuk. tukang ojek yang mengantarkan penulis menjelajahi Desa Mireng. tapi Suryadi dalang Wayang Sadat saya tidak tahu. Kendati penulis sudah memberi keterangan tambahan bahwa nama yang dicari adalah ‘Suryadi dalang Wayang Sadat’. namun yang ia tahu profesi Suryadi adalah guru.

ia dibersihkan dengan lap basah satu per satu. Sarana Dakwah dan Penyejuk Kalbu Berbeda dengan Wayang Kulit yang tokoh-tokohnya diambil dari cerita Ramayana dan Mahabharata.” urai lelaki 318 . blangkon atau berpeci. Jangan heran kalau nama tokohnya bukan Gatotkaca.” tuturnya. Kresna atau Bima. Uniknya. Wajar jika sekarang ia tidak tahu apa itu Wayang Sadat. bahkan sudut bawah kotak wayang yang terbuat dari kayu tampak keropos. “Mungkin waktu saya masih sering di-tanggap (pentas—red) dulu. saat kotak dibuka. baik terompah. Moga-moga saja wayangnya tidak ikut dimakan rayap. Dengan hati-hati.” kata Suryadi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF man anak muda sepantaran Bambang. “Terakhir saya membersihkan wayang ini bulan Februari 2008. Sunan Kalijaga dan lainnya yang jumlahnya sembilan orang (Wali Songo). semua tokoh yang ada dalam wayang ini mengenakan alas kaki. Padahal pada era 80-an. Di sana masih ada seperangkat gamelan slendro-pelog lengkap. Hanya catnya tampak kusam karena terbalut debu lumayan tebal. Sunan Giri. ditambah tokoh-tokoh lain dari zaman Kerajaan Demak Bintoro. Syukurlah. Mas Bambang belum lahir. kelir dari kain putih. Suryadi adalah dalang Wayang Sadat terkemuka di Kabupaten Klaten. Penggiat seni ini lantas menjajarkan tokoh-tokoh Wayang Sadat di atas meja. Semuanya tampak berdebu. peraga Wayang Sadat diambil dari tokoh-tokoh sejarah Kerajaan Demak dan Babad Tanah Jawa. blencong atau lampu pertunjukan dan satu kotak wayang. tabuh gamelan berbagai jenis. sebelum latihan pentas di halaman rumah saya ini.” tutur bapak empat anak ini sambil menghapus debu yang melekat di kotak wayang dengan kemoceng. “Filosofinya adalah para wali dan tokoh muslim lainnya dalam wayang ini selalu suci atau terjaga dari najis dan hadats. wayang yang sepintas modelnya mirip dengan Wayang Kulit itu. sepatu maupun sandal. “Sudah setahun lebih kotak wayang ini tidak dibuka. melainkan Para sunan/wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa seperti Sunan Bonang. Sunan Drajat. wayangnya masih utuh. Ia lantas mengajak penulis ke salah satu ruang di rumahnya. Pakaiannya berciri khas Islam yakni berjubah dan bersorban—kecuali Sunan Kalijaga yang digambarkan mengenakan pakaian adat Jawa—sementara masyarakat umum digambarkan memakai ikat kepala.

maka Wayang Sadar sering dipentaskan untuk mucuki (pentas pendahuluan) pagelaran Wayang Kulit. Selama pergelaran Wayang Sadat. Dalang Berjubah Berbeda dengan kebanyakan dalang yang mengenakan beskap. Babon (sumber utama--red) cerita biasanya dari buku Babad Tanah Jawi. yakni penyebaran agama Islam khususnya pada zaman Demak Bintoro. pentas wayang ini juga tidak semalam suntuk seperti Wayang Kulit. bacaan lafal Al-Qur’an kerapkali terdengar. Ia mengakui. Nama “Sadat” sendiri diambilkan dari akronim. imbuh Suryadi. keris. semuanya mirip dengan Wayang Kulit. Kapan Wayang Sadat lahir. Bacaan shalawat juga sering mengalun ketika tokoh Sunan Bonang atau para wali lainnya tampil. menggabarkan kehidupan nyata masyarakat waktu itu. namun cerita carangan (kreasi--red)-nya bisa dibikin sendiri sesuai kebutuhan. “Sarana Dakwah dan Tabligh”. Hanya di dalam Wayang Sadat ditambah dengan shalawat nabi. dan kutipan ayat-ayat Al-Qur’an. secara umum Wayang Sadat sangat dipengaruhi oleh Wayang Kulit. semua mirip dengan Wayang Kulit. dan sabet (gerakan wayang—red). “Ini memang termasuk wayang realis. namun cukup empat jam. Mulai gamelan. “Gending-gending (musik pengiring) yang digunakan. perangkat pentas. dalang Wayang Sadat justru mengenakan jubah biasa (seperti surjan) dan surban di kepalanya. Jalannya pementasan juga tak beda jauh dengan Wayang Kulit. Nama ini juga berasosiasi dengan kalimat “Syahadat” yang merupakan ikrar kesaksian keesaan Allah dan pengakuan Rasulullah Muhammad sebagai utusan Allah. suluk (candra—red). hadits. jarit. Selain itu. hingga karakter sungging (tatahan) wayang.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI berusia 63 tahun ini. Wayang Sadat tidak memiliki pakem cerita baku seperti Wayang Kulit atau Wayang Golek yang berbabon kisah Ramayana dan Mahabarata.” ujarnya. oleh karena itu pagelaran Wayang Sadat selain sebagai dakwah juga sebagai penyejuk kalbu penonton. dan blangkon. “Sifat wayang ini memang sangat religius Islami.” ujarnya. Niyaga (penabuh gamelan) mengenakan baju muslim (baju koko). Karena pakelirannya padat. antawacana (dialog—red). sedangkan waranggana (sinden/ pelantun tembang) mengenakan busana muslimah atau jilbab. Suryadi tidak bisa mengatakan den319 .” kata Suryadi.

untuk mucuki pentas Wayang Kulit yang rutin digelar di alun-alun. Bahkan mulai tahun 1995. Tujuannya agar gairah kesenian bisa tersalurkan. saya menjadi dalang pada saat pamor Wayang Sadat sudah mulai mbleret (suram—red). Salah satu cara yang ia tempuh adalah menyelenggarakan gladhen (latihan) rutin sebulan sekali di halaman rumahnya. Tapi itu tak berlangsung lama. Undangan bukan saja datang dari Klaten. Kantor Deppen Kab Klaten bersedia mementaskan Wayang Sadat sebulan sekali.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF gan pasti. akhirnya ia bisa mendalang secara otodidak. Maklum. Ia juga rutin pentas di TVRI. Bakat mendalang akhirnya menurun kepadanya. baru pentas tiga kali sudah dihentikan dengan alasan tidak ada dana. Berbeda dengan kakek dan ayah saya yang mengalami zaman keemasan.” ujar Suryadi pendek. Pensiunan guru SD ini mengaku. namun karena sering diajak pentas. Kakek dan ayahnya adalah dalang Wayang Sadat tenar pada zamannya. “Kalah sama sinetron dan kesenian modern lainnya. order pentas turun drastis. Tapi memasuki tahun 90-an. Upayanya tak sia-sia. Sang kakeklah yang menciptakan wayang itu. pada saat awal-awal menjadi dalang tahun 80-an. Lelaki berkumis ini pun putar otak agar kesenian yang digelutinya tak tenggelam ditelan zaman.. “Alhamdulillah. Sekitar tahun 1990-an.” urainya 320 . ayahnya menerima warisan wayang itu dari kakeknya. selain itu juga untuk mencari bibit dalang baru dari kalangan pemuda. namun juga dari luar provinsi. Ia hanya ingat. setelah itu macet karena para niyaga sibuk dengan urusannya masing-masing. mendalang sudah menjadi bagian dari hidupnya. gagal total. Wayang Sadat tak pernah lagi ditanggap orang.. televisi satu-satunya milik pemerintah saat itu. usaha saya. Meskipun ia tak pernah secara khusus belajar mendalang Wayang Sadat.” kata Suryadi. ia mengajukan proposal ke (saat itu) Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Klaten agar mau mementaskan Wayang Sadat secara periodik. dalam sebulan ia bisa mendalang dua sampai empat kali. Satu-dua kali gladhen. Pasrah Menunggu Maut Kevakuman selama beberapa tahun tidak pentas membuat Suryadi kelimpungan. “Saya pentas di depan umum sejak tahun 1980-an. bahkan ia pernah mendalang di lokasi transmigrasi di daerah Lampung dan Kalimantan Selatan.

Zaman keemasan dianggap telah lewat. dengan tokoh-tokoh yang disesuaikan dengan konteks kehidupan kenegaraan saat ini. seni memang bukan untuk mencari uang. Penghasilannya nggak jelas katanya. saat pentas lebih banyak rugi ketimbang untungnya. di mana-mana. Namun cita-cita itu tampaknya sulit menjadi kenyataan. Karena itu. Kendalanya apa lagi kalau bukan masalah dana. Kematian sepertinya sudah menjadi takdir yang tak terhindarkan. ia tak pernah memikirkan rugi-laba saat mementaskan Wayang Sadat. Berubah atau Mati Ibarat manusia.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dengan wajah muram.” pungkasnya lirih. “Bahkan anak saya sendiri nggak mau meneruskan profesi bapaknya jadi dalang Wayang Sadat. mereka berharap ada “tonikum” yang bisa membuat seni tradisi bangkit kembali. menunggu saat kematian Wayang Sadat datang menjemput.” imbuhnya. Bagi Suryadi. namun secara moral tetap untung karena saya mendapatkan kepuasan batin yang tidak terkira. Ironisnya. Sudah jamak diketahui. Jika dalam olahraga tinju dikenal istilah kemenangan kedua (second win). petinju yang tiba-tiba segar dan kuat kembali setelah babak belur pada ronde-ronde sebelumnya. bahwa seni tradisi mengalami lesu darah karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Para penggiat seni tradisi. Tak heran. mengeluhkan kondisi yang kian merapuh.” ujar Suryadi terus terang. Kini ia mengaku pasrah. Ia percaya. Ia pernah bercita-cita merevitalisasi Wayang Sadat menjadi Wayang Nusantara. Bahkan menurut penuturannya. lantaran tak seorang pemudapun berminat menjadi dalang Wayang Sadat. Niat untuk mencari bibit dalang dari generasi muda juga pupus. Hal semacam inilah yang cengkah (bertentangan—red) dengan pola pikir anak-anak muda zaman sekarang. kesenian tradisional memang telah memasuki masa uzur. 321 . “Rugi secara material. berbagai pihak yang ia sodori proposal bantuan dana hanya menggelengkan kepala alias menolak dengan halus. masa keemasan Wayang Sadat telah lewat. maka kesenian tradisional butuh kondisi semacam itu. Seni tradisi butuh “tonikum” itu agar kembali segar. “Wayang Sadat kini sudah berada pada masa senjakala.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Para pelaku seni tradisi cenderung terpaku pada “teks” yang statis, sehingga kehilangan “konteks” saat kesenian yang digelutinya dipaksa hidup dalam situasi masa kini yang serba dinamis. Penjagaan tradisi memang kadang harus menafikan perubahan, karena perubahan bisa berarti hilangnya hakikat tradisi itu sendiri. Namun di sisi lain, menolak perubahan akan membuat seni tradisi kehilangan komunitas pendukungnya. Situasi dilematis semacam itu sering membuat para pelaku seni tradisi berhadapan pada pilihan yang serba sulit. Banyak seni tradisi mati, justru karena pelakunya bersikukuh memegang prinsip anti perubahan. Bagi mereka kematian lebih mulia, daripada harus mengingkari hakikat orisinalitas “pakem” seni tradisi yang sangat mereka junjung tinggi. Kematian adalah keniscayaan, karena zaman telah membuat seni tradisi berada di waktu dan tempat yang salah. Dan kita, bagaimanapun, harus menghormati mereka yang memilih jalan ini. Namun sebagian pelaku seni tradisi memilih jalan yang lebih moderat, mencoba berdamai dengan dinamika zaman agar bisa bertahan hidup lebih lama. Pakem atau “teks” asli tetap mereka pertahankan, namun “konteks” juga mereka perhatikan. Mereka tidak alergi pada perubahan, namun justru menempatkan perubahan itu sebagai motor penggerak revitalisasi. Kalau mau jujur, mayoritas seni tradisi yang mengalami second win adalah seni tradisi yang pelakunya rela mengisi “teks” seni dengan isuisu aktual yang ada di tengah masyarakat. Seni tak lagi terpaku pada pakem yang kaku, yang membuatnya berada jauh tinggi di awangawang, namun dikonstruksi sedemikian rupa agar dekat dengan aspek kehidupan masyarakat masa kini. Wayang Kulit adalah salah satu contoh terbaik, bagaimana kesenian tradisional bisa di-mutakhir-kan. Dengan mengadopsi isu-isu aktual dalam setiap pagelarannya, Wayang Kulit bisa bangkit dari keterpurukan, berdiri tegak, dan merangkul kembali audiensnya yang hilang. Semua seni tradisi memiliki peluang sama untuk bangkit kembali dan meraih kemenangan kedua. Kuncinya terletak pada sikap para pelaku seni terhadap dinamika perubahan zaman. Rumusnya memang hanya satu, change or die, berubah atau mati. Banyak yang memilih perubahan, namun ada juga yang memilih kematian... *

322

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

323

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

324

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

325

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

326

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

327

Diterbitkan oleh DIrektorat Pengolahan dan Penyediaan Informasi Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Tahun 2011 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful