PEMETAAN

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

PEMETAAN

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Ismail Cawidu Nurlaili 1. Rosmiati 2. Lukman Hakim 3. Marulak Simangunsong 4. Enung Dahliawati 5. Fera Setia Nurana 6. Yudi Syahrial Design / Layouter

7. Dewi Farida Simatupang 8. Aditya Ranadireksa 9. Wasi Andono 10. Triani Setyowati 11. Rokayah 12. Sri Mulyani Suprawoto Nursodik Gunarjo : M. T. Hidayat

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

SAMBUTAN

pabila buku ini sampai di tangan pembaca, setidak-tidaknya upaya kami untuk mendokumentasikan hasil diskusi para ahli di bidang seni tradisi sebagian sudah sampai pada tujuan. Kami selaku Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, sampai saat ini sudah berusaha memberikan ruang dengan cara mementaskan seni tradisi komunikatif di berbagai tempat di Indonesia, baik di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Dalam setiap pementasan, antusiasme masyarakat untuk menonton seni tradisi masih sangat tinggi. Terbukti setiap pementasan selalu dipenuhi penonton sampai pertunjukan selesai. Namun apakah antusiasme penonton tersebut akan tetap bertahan dan langgeng? Kumpulan hasil diskusi ahli di bidang seni tradisi ini sengaja kami bukukan agar bisa memberikan informasi, dan siapa tahu justru menumbuhkan gairah untuk memberikan perhatian lebih terhadap seni tradisi, sehingga bisa tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Buku ini tentunya tidak akan terwujud tanpa kontribusi bebe-rapa pihak. Untuk itu kami perlu menyampaikan terima kasih, utamanya kepada para narasumber Diskusi Pemetaan Media Tradisional yang Komunikatif di lima kota, yakni Solo (Jawa Tengah), Denpasar (Bali), Bukittinggi (Sumatera Barat), dan Mataram (Nusa Tenggara Barat).
i

A

Demikian juga kepada para seluruh peserta diskusi yang menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi selama diskusi berlangsung. Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada rekan-rekan di Monumen Pers Solo, kawan-kawan Dinas Infokom dan Humas serta Balai Monitoring yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Kerja keras kawan-kawan semua ikut menyukseskan pelaksanaan dikusi yang menjadi bahan penyusunan buku ini. Khusus rekan-rekan di Sekretariat dan Biro Umum Kementerian Komunikasi dan Informatika, terima kasih atas dukungan dalam pelaksanaan diskusi ahli. Tiada gading yang tak retak. Kritik dan saran demi perbaikan penerbitan buku selalu kami harapkan.

Jakarta, September 2011 Direktur Jenderal ender e al a Informasi dan Komunikasi Publik muni ni n ikasi s Pu

Freddy ddy y H. Tulung Tu

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

PENGANTAR

I

ndonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari 17.508 pulau, 485 suku bangsa dan 583 bahasa daerah. Kenyataan itu sungguh sangat fantastis. Dengan begitu beragamnya suku bangsa, bahasa, dan adat istiadat, setiap masyarakat memiliki keunikan tersendiri. Sebagaimana dinyatakan Louise Grenier (1998), setiap masyarakat memiliki kearifan lokal yang secara tradisional terus dipelihara dan dikembangkan untuk mempertahankan diri ketika menghadapi perubahan dan tantangan dari lingkungannya. Dalam kearifan lokal itu biasanya terdapat sistem informasi dasar yang memfasilitasi komunikasi dan pengambilan keputusan komunitas atau masyarakat. Sistem informasi tersebut umumnya bersifat dinamis karena dipengaruhi kreativitas internal maupun pembelajaran masyarakat terhadap pengetahuan eksternal yang disosialisasikan secara berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Flavier et al. 1995: 479). Sejalan dengan perkembangan teknologi, tantangan terbesar adalah bagaimana membangun sistem komunikasi yang berkualitas dengan memadukan tiga aspek yang disebut Giddens dalam The Constitution of Society (1980) menjadi bagian tak terpisahkan dalam masyarakat saat ini, yaitu globalisasi, detradisionalisasi, dan social reflexivity.
iii

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Globalisasi menghubungkan manusia di seluruh dunia pada setiap aspek kehidupan. Komunikasi dan transportasi telah meng-hubungkan manusia di mana pun ia berada. Telepon dan internet membuat orang “bertemu” tanpa susah payah bertatap muka. Detradisionalisasi bukan berarti hilangnya tradisi. Tradisi masih ada bahkan “diciptakan”, tetapi tradisi bukan lagi satu-satunya dasar pembuatan keputusan. Kalau orang menemukan bahwa konsultasi dengan tradisi tidak memuaskannya, ia dapat berpaling dan memakai pertimbangan dari sumber lain. Hal terakhir berkaitan dengan social reflexivity merupakan pro-ses pengambilan keputusan. Manusia modern menghadapi banyak informasi, akan tetapi juga bebas menyeleksi informasi mana yang dibutuhkan. Arus (tepatnya: banjir) informasi memang membuat bingung, namun individu dapat menolak sebuah informasi semata-mata karena ia tidak suka atau tidak cocok. Inilah sebagian kenyataan yang dihadapi semua seni dan media tradisional di Indonesia saat ini. Menjadi tugas kita bersama untuk senantiasa berupaya meningkatkan kualitas pemanfaatan seni dan media tradisional agar bisa berpadu dengan perkembangan teknologi serta dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Media tradisional komunikatif diharapkan dapat mengambil peran dalam posisi ini. Dalam perkembangan sebelumnya peran media tradisional komunikatif demikian besar. Bagaimana perkembangan saat ini dan ke depan perlu pembahasan yang mendalam. Oleh karena itu, kami mencoba menghadirkan para pakar di bidang seni pertunjukan tradisional dalam merumuskan sinergi dan pemanfaatan media tradisional yang komunikatif. Kepada para pakar yang telah berkenan memberikan sumbangan pemikiran dalam bentuk tulisan serta wacana dalam diskusi kami sampaikan terima kasih. Buku ini sengaja kami hadirkan untuk memantik pemikiran baru guna lebih memberikan sumbangan terhadap pengembangan media tradisional yang komunikatif. Jakarta, September 2011 Suprawoto Editor
iv

...................... Darsono..LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI DAFTAR ISI SAMBUTAN ......................................................................................................... Meningkatkan Peran Media Tradisional ..... PENDAHULUAN ... DAFTAR ISI ........ 71 v ................................................... v vii ix 1 3 9 11 Prof.. PENGANTAR EDITOR ...............Hum.......................... Prof......... Sri Hastanto........ SINERGI SENI TRADISI DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PENDIDIKAN PUBLIK ........ Pakar Bidang Akademis Seni Tari............ 43 F... Hari Mulyatno. MS. S............ Pakar Ilmu Estetika Ketua LPPM Dosen ISI Surakarta Peran Seni tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Tengah dan DI Jogjakarta ...................... M............................................ Dr.... anggota Dewan Pengawas TVRI Mencari Model Pertunjukan Seni Tradisi dengan Teknologi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik .......................... Dr....Sn... Musa Asy’arie............... M................... Dosen ISI Surakarta Peran Seni Budaya Tradisional Kalimantan dalam Dimensi Informasi/Komunikasi Pembangunan .................................Kar...................... Dr.. 17 Prof........... 55 Prof.... Pakar Pertunjukan dan Kajian Budaya STSI Bandung Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Barat ........... Endang Caturwati.... S........ Pakar Etnomusikologi ISI Surakarta Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Timur .........Kar.....

. Ahli Seni Pertunjukan... M.............PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF MENGGUBAH SENI TRADISI DAN PERTUNJUKAN YANG KOMUNIKATIF UNTUK PERCERDASAN RAKYAT ... I Nyoman Windha...................................... Ahli Seni Tari....... SST... Dr. M... Prof...... Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Penggunaan Seni Tradisi dalam Media Komunikasi Sosial di Sumatera Utara vi 91 93 107 123 135 145 159 161 181 .................... M Hum........ Dosen ISI Denpasar Seni Pertunjukan Populer sebagai Media Pencerdasan Rakyat: Potensi Tari Topeng dan Teater Bali .......... Drs. Pakar Sastra............ Daryusti...... Dosen ISI Denpasar Seni Musik Bali dan Gamelan Gong Kebyar sebagai Media Pencerdasan Rakyat ..................Sn.........Hum.............................. S Kar.......... Ketua STSI Padang Panjang Ragam Kemasan Seni Tradisi Sumatera Barat dalam Komunikasi Sosial Rakyat dan Pemerintah . I Nyoman Murtana......... MA......... Hajizar. Ahli Seni Karawitan.... Komposer..........Sn....... Dr Ni Made Wiratini. Dosen Sastra Universitas Udayana Aktivitas Pasantian dan Sastra Bali sebagai Media Pencerdasan Rakyat ............... SST...Sn............ Sulaiman Juned.... Dr I Nyoman Catra............. Dr I Nyoman Suarka M Hum. Dosen Kajian Budaya Universitas Udayana Pertunjukan Wayang Kulit Bali: Media Komunikasi Pencerdasan Rakyat ...... MA........... S...... Dosen ISI Denpasar Mencerdaskan Rakyat dengan Seni Tradisi dan Pertunjukan Komunikatif ............. MENGEMAS SENI TRADISI SUMATERA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL .......... M................. MA......... S Kar............. 197 .............. Dosen Jurusan Seni Teater STSI Padang Panjang Seni Tradisi Populer Aceh sebagai Media Komunikasi Sosial ........

..Pd............ Kadri M.... Ketua Dewan Kesenian Provinsi NTB Memfungsikan Teater Tradisi Amaq Abir sebagai Media Komunikasi Tradisional ............................ 305 Lestarikan Media Tradisi .. Mantan Kepala Taman Budaya NTB Seni Tradisi NTB dalam Proses Kreatif Menuju Media Komunikasi Sosial ....................... M.......... Kongso Sukoco.............................Kar............................. Asril............................Hum. Mustakim Biawan......................... M...........LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Nirwana Murni.................................. 307 Nasib Seni Tradisi Senjakala Sang Penenang Kalbu ........... 221 235 255 257 277 293 PENUTUP ............ 317 vii ............................. Pakar Komunikasi IAIN Mengemas Seni Tradisional Komunikatif NTB untuk Media Komunikasi Sosial .....................Si... Dr. Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Upacara Tabuik dan Tabot di Pesisir Barat Sumatra ............................... Dosen Jurusan Seni Tari STSI Padang Panjang Strategi Kemasan Seni Tradisi sebagai Media Komunikasi Sosial di Sumatera Barat .... Muchtar S.........Kar...... S............ MENGEMAS SENI TRADISI NUSA TENGGARA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL ..

.

PENDAHULUAN 1 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 2 .

seni tradisional tidak bisa dilihat hanya dari satu pendekatan atau hanya berdasar pada prinsip umum (universal) yang diberlakukan untuk semua. seperti petani. media kesenian. 2005). Kesenian tradisional pada dasarnya memiliki pola atau pakem yang 3 . meskipun fakta menunjukkan bahwa sebagian seni tradisional bisa digunakan dan seringkali dikembangkan menjadi media komunikasi. Padahal. Sementara seni tradisi jauh lebih luas dari media komunikasi. dan posisi seniman yang beragam. Seniman misalnya. nelayan. 2009). Oleh karena itu. ada yang profesional atau menjadikan seni sebagai profesi namun ada pula seniman yang memiliki profesi-profesi lain. pedagang. Konsep media tradisional seringkali dipertukarkan dengan seni tradisi atau bahkan seni pertunjukan tradisional. mereproduksi mendistribusikan atau menyebarkan dan menyampaikan informasi (Suranto. Keragaman itu juga mempengaruhi bentuk maupun isi. guru dan pemuka adat. Untuk melihat makna dan fungsi suatu kesenian. media komunikasi pada dasarnya merupakan sarana yang dipergunakan untuk memproduksi. harus dilakukan pendekatan sesuai dengan karakteristik masyarakat di mana kesenian dan tradisi itu hidup dan berkembang (Limbeng.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Meningkatkan Peran Media Tradisional I ndonesia memiliki keragaman budaya yang sangat luas. Dalam masing-masing sistem budaya tersebut terdapat pola kesenian.

(2) daya atau potensi untuk berubah. seni tradisi secara alami mampu mengakomodasi perubahan isi sesuai dengan kepentingan situasi. terdapat 118 jenis kesenian tradisional yang telah dibuat deskripsi singkatnya dan kurang lebih 292 jenis yang diketahui namanya tanpa diketahui deskripsinya (Siswojo. Melalui pertunjukkan ini terdapat pertemuan langsung antara komunikan dan komunikator. pemilihan media dan khalayak yang menjadi penikmat atau peminat seni tradisi tersebut. mungkin bisa memberikan dukungan moral dan finansial bagi para seniman. melainkan potensi yang dapat berkembang. Departemen Penerangan. Dalam tiga aspek itulah sesungguhnya terletak kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi keindahan. Menggali Potensi Dari inventarisasi yang telah disusun tahun 1978-1979 oleh Direktorat Penerangan Rakyat. atau pakem. berbeda dari kesenian jenis lainnya. Oleh karena pemanfaatan seni tradisi sebagai sebuah media komunikasi akan sangat berkaitan dengan aspek (1) bentuk. seni pertunjukkan rakyat mampu menciptakan hubungan antara komunikan dan komunikator. Hanya saja sejak Departemen Penerangan dibubarkan. Akibatnya. untuk memberikan bantuan sosial bagi maestro seni tradisi dengan kriteria tertentu. terutama bagi mereka yang tinggal di wilayahwilayah pedesaan. Inisiatif Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. pola. Realitas seperti itu sangat dirasakan oleh para kelompok seni pertunjukkan tradisional. kini tidak ada lagi instansi pemerintah yang secara bersungguhsungguh menangani media tradisional ini. spiritual. dimana komunikator dapat mengungkapkan ide dan gagasannya kepada komunikan melalui cerita-ceri4 . pakem tersebut bukanlah suatu aturan “mati”. Akan tetapi. yang pada gilirannya memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi tradisional.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF membuat kesenian itu menjadi khas. melainkan pada pesan moral atau nilai tradisi. Sebagai media komunikasi tradisional yang telah populer. Walhasil. berubah. Akan tetapi. dan (3) muatan-muatan atau pesan-pesan yang berisikan pendidikan kultural. 1984). berkesenian atau unjuk seni tradisi tidak hanya bergantung pada seniman semata. sejak tahun 2008. pemberdayaan dan pengembangan kesenian-kesenian tradisional menjadi terabaikan. dan bercampur satu sama lain. dan komentar sosial.

keberadaan media tradisional tidak ada artinya. Budaya tradisional pada hakekatnya berfungsi dalam memelihara solidaritas suatu masyarakat budaya. Melestarikan Media Tradisional Tantangan yang dihadapi dalam menghadirkan media tradisional adalah bagaimana menempatkannya di antara konstelasi proses mediasi masyarakat. Setiap masyarakat budaya memiliki mitos yang khas yang menjadi perekat kelompok/komunitas. melalui keterlibatan fisik atau psikis. seorang dalang dapat menyebarluaskan gagasan dan pesan informasi dari pemerintah melalui cerita-cerita yang telah ada. Tanpa adanya dukungan warga. kita mengakui bahwa tidak semua seni pertunjukkan rakyat dapat menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif. Hal ini penting. Begitu pula pemanfaatan media tradisional sebagai wahana bagi isu-isu kontemporer bagi 5 . Ciri dari setiap media tradisional adalah partisipasi warga. Media tradisional tidak hanya sebagai obyek hiburan (spectacle) dalam fungsi pragmatis untuk kepentingan sesaat. Dalam formatnya yang asli. karena keberadaan media tradisional tidak dapat dilepaskan dari masyarakat/komunitas budaya pendukungnya. Seperti pada beberapa pertunjukkan wayang. karenanya bersifat eksklusif. tetapi dimaksudkan untuk memelihara keberadaan dan identitas suatu masyarakat. Sementara untuk mengusung suatu media tradisional dalam dalam konteks lintas budaya. misalnya yang mengandalkan gerak atau nyanyian dalam batas tertentu sulit digunakan sebagai media penyampai informasi. Kendatii demikian. Mungkin hanya media tradisional yang verbal dan komunikatif-dialogis saja yang cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ta yang dibawakannya. media tradisional hanya relevan secara eksklusif bagi masyarakat budaya pendukungnya. adalah untuk fungsi konservasi. Seni tradisi yang lain. Oleh karena itu dibutuhkan pemetaan seni tradisi yang bisa digunakan sebagai media penyampaian pesan dan media informasi yang komunikatif. secara praktis hanya dapat dilakukan jika secara substansial budaya dan media dimaksud sudah mengalami transformasi sebagai spectacle. Perlunya mengangkat suatu budaya tradisional sekaligus dengan media yang mengampunya.

salah satu kendala dari media tradisional adalah sifatnya yang eksklusif dan lingkupnya yang lokal. jika porsi hiburan terlalu banyak. sudahkah kesenian tradisional di Indonesia saat ini benarbenar diposisikan sebagai “media”. karena salah satu ciri dari media yang baik adalah kemampuannya menjangkau massa dalam jumlah besar. bukan sekadar sebagai spectacle? Pertanyaan ini sangat penting. maka ia akan kehilangan karakteristik utamanya sebagai sumber mitos bagi masyarakat. Kegiatan pertama atau pengumpulan data awal mencakup penjajagan dan penelusuran dokumen untuk mengidentifikasi aspek dan unsur kebijakan komunikasi serta pemetaan potensi seni tradisional yang 6 . Tentang Buku Ini Pemetaan media tradisonal yang komunikatif ini dilakukkan dengan tiga tahapan. sudahkah media tradisional mentransformasikan diri sebagai spectacle yang bisa dinikmati masyarakat di luar komunitas pendukungnya? Seperti diketahui. Karakteristik eksklusif semacam ini tentu kurang menguntungkan apabila ditinjau dari teori media. sepanjang tidak mendekonstruksi wujud dan karakter asli dari kesenian tradisional dimaksud. ketiga tahapan penulisan laporan dan penyu-sunan buku. kedua tahapan diskusi ahli. sulit menempatkan dua fungsi (hiburan dan media penyebaran informasi) secara berimbang. Inovasi dalam hal ini bisa dilakukan. pertama tahapan pengumpulan data awal. tantangan ke depan adalah bagaimana mentrasformasikan media tradisional agar bisa menjadi general spectacle. Jika kesenian tradisional terlalu dipaksakan untuk berfungsi sebagai media penyebaran informasi aktual. Sebaliknya. Pertanyaan yang harus dijawab adalah. Oleh karena itu. tontonan yang bisa dinikmati dan diterima oleh masyarakat dalam jumlah lebih besar dan dalam wilayah teritorial yang lebih luas. sehingga cenderung hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu dalam jumlah yang terbatas. Pertanyaan lain yang tak kalah penting adalah. karena dalam banyak kasus. dalam konteks penyebaran informasi. maka fungsinya sebagai media penyebaran informasi dengan sendirinya akan menurun.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF suatu masyarakat budaya pendukungnya. Secara keseluruhan kegiatan akan berlangsung mulai bulan Maret hingga Juni 2010. akan relevan manakala media tersebut sudah tidak lagi sebagai sumber mitos budaya tertentu.

akan dibagi dalam tiga wilayah. serta unsur pemerintah daerah.* 7 . Untuk kebutuhan kegiatan ini. yakni Indonesia Barat. diskusi ahli adalah kegiatan yang dikemas dalam bentuk diskusi kelompok terbatas yang melibatkan para ahli. Kegiatan ini diarahkan untuk mendapatkan gambaran opini dan ekspektasi stakeholders seni tradisi tentang potensi seni dan media komunikasi tradisional. Tahapan ketiga penulisan laporan yang merupakan kompilasi dari hasil pemetaan. Hasil kompilasi juga akan dibukukan dengan kemasan ilmiah populer agar dapat dijadikan sebagai acuan pemanfaatan seni tradisional. pegiat seni tradisi. pada masa dulu. Indonesia Tengah dan Indonesia Timur. Kedua. serta rekomendasi kegiatan diskusi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ada di Indonesia. pemuka pendapat. pengamat seni tradisional. sekarang dan yang akan agar dapat digunakan untuk kepentingan pendidikan publik dan komunikasi sosial. diskusi terbatas (focus group discussion).

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 8 .

SINERGI SENI TRADISI DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PENDIDIKAN PUBLIK 2 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

Ayahnya memindahkan Musa ke pondok pesantren Tremas Pacitan Jawa timur. Ia adalah pencetus gagasan Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan. Kabinet Indonesia Bersatu. Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta ini pernah menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika. Musa Asy’arie menolak pandangan dualisme (jasmani dan rohani) manusia yang selama ini mempengaruhi cara berpikir mayoritas umat Islam. Musa Asy’arie dilahirkan tanggal 13 Desember 1951. sehingga tidak perlu ditakuti. Sebagai Guru Besar Filsafat Islam UIN Yogyakarta. Dalam disertasinya “Konsep Manusia Sebagai Pembentuk Kebudayaan dalam Alquran” yang dipertahankannya dalam ujian disertasi 26 Januari 1991. Ia besar dalam lingkungan masyarakat pengusaha. Saat ini menjadi anggota Dewan Pengawas Televisi Republik Indonesia. Ia melanjutkan ke SMPMuhammadiyah di Pekajangan. sekaligus birokrat dan pengusaha ikut mewarnai pemikirannya bahwa berpikir an sich adalah bebas sebebas-bebasnya. Musa menempuh pendidikan kesarjanaannya di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Filsafat. namun tidak sampai selesai. di desa Pekajangan Pekalongan. Setelah menyelesaikan pendidikan di lingkungan pondok pesantren. budayawan. sebuah desa yang kental dengan budaya santri yang entrepreneurship. H. sekaligus seorang pengusaha.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. Lingkungan pondok pesantren inilah mengubah sikap dan cara pandangnya dalam menapaki kehidupan. Guru Besar Filsafat Islam. cendikiawan. Musa Asy’arie adalah seorang filosof. Musa menikah dengan Muslihah teman kuliah satu fakultasnya di IAIN Sunan Kalijaga. Berpikir yang salah bukan suatu kejahatan. tidak kriminal. bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat. 10 . Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di SD Muhammadiyah Ambukembang.Dr.

Boleh melukis tapi jangan sampai seperti hidup. Di sini kita bisa melihat bahwa kemasan seni itu bisa melakukan kritik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Mencari Model Pertunjukan Seni Tradisi dengan Teknologi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik Prof. Dalam perspektif kebudayaan nilai-ni11 S . Jika tuhan diabaikan dalam keindahan maka akan ada fenomena radikalisme. politik. ada Abunawas yang bisa mengemas kritik dalam bentuk seni. misalnya cerita 1001 malam. Saya kira berkaitan dengan seni tradisi dan soal teknologi ini adalah persoalan membangun model. tari. Seni juga masuk ke seluruh kehidupan. Sayangnya ada stagnasi kalau kita bicara seni agama. Namun secara umum seni dan agama saling mendukung. Musa Asy’arie. Anggota Dewan Pengawas TVRI eni adalah karya keindahan. manusia juga merupakan bentuk keindahan karya agung Tuhan. Misalnya yang kita percayai bahwa dalam Islam melukis benda bernyawa itu tidak boleh. Ajaran agama seringkali mempengaruhi hal ini. Banyak hal seni punya besar dalam kehidupan agama terutama jika bersentuhan dengan nilai rasa keindahan karena Tuhan juga memiliki nilai keindahan. Di dekat kekuasan juga ada seni. arsitektur. Jika dilihat dari dalam pemikiran filsafat. Dr. Bicara tentang keindahan. dan bahkan seni agama. Kesenian berkaitan dengan semua aspek kehidupan masyarakat. baik itu seni suara. patung . seni adalah perwujudan kreatif nilai-nilai estetika.

Karya seni menyatu dengan etika dan logika. Kesenian tradisional juga menyampaikan etika dan nilai. tapi jika kemanfaatan lebih banyak dari hal yang buruk. juga masih relevan. Seni pada dasarnya berkaitan dengan perasaan atau rasa atau emosi. Misalnya bagaimana dialog tentang pembangunan dan kemiskinan? Di situ ada dampak buruk. dalam setiap karya seni tidak bisa dilepaskan dari aspek nilai logika dan etika. kota. Oleh karena itu kita bisa menemukan tradisi masyarakat agraris. Sehingga pesan kebenaran dan kebaikan akan terasa indah untuk diresapi dan dihayati oleh publiknya. Dalam Kisah Baratayudha misalnya. dialog antara Puntadewa dengan Arjuna itu adalah dialog yang menarik bagaimana bisa memisahkan pikiran dan rasa. Puncak pengalaman religius adalah estetis dalam dunia sufi. akademik. Artinya semua bentuk seni ini jadi dasar bagaimana mengemas sosialisasi melalui seni. Bahkan mendasarinya. Nanti kita bisa lihat bagai segmentasi masyarakat akan berkaitan dengan kemampuan untuk menerima seni ini. dan (3) berkaitan dengan perilaku atau nilai estika yaitu indah dan jelek. Misalkan masyarakat aga12 . moral dan agama. Sedangkan tradisi adalah kebiasaan atau adat istiadat yang dilestarikan secaraturun temurun dalam suatu kehidupan masyarakat tertentu. Pertautan itu membuat seni berperan dalam peradaban. Dimensi estetik merupakan dimensi tertinggi dalam pengalaman religius. aspek nilai seni tak boleh dipisahkan dari logika etika dan estetika. dalam pandangan saya. Jika bicara tradisi. Oleh karena itu. kelas bawah hingga tradisi masyarakat elit. pedalaman. maka diambil kemaslahatan yang banyak. lantas diekspresikan melalui karya keindahan. atau yang menyangkut benar dan salah. semua punya tradisi. Kebenaran dan kebaikan menyatu dalam karya estetika. Komunikasi seni dalam masyarakat pada dasarnya hendak menyampaikan nilai kebenaran yang berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan. Jika diterapkan dalam kehidupan masa kini. (2) berkaitan dengan pemikiran atau nilai etika yakni baik dan buruk. Kita ketahui bahwa logika berpikir orang itu punya tingkatan. industri. Di situ dapat dilihat bahwa seni punya publiknya sendiri.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF lai itu merupakan wujud kesatuan dari (1) nilai logika. Nilai kebaikan yang berkembang dalam adat istiadat. Jadi saya kira. seni tidak bisa dipisahkan dari logika dan etika. Oleh karena itu.

itu bisa jadi saingannya Mus Mulyadi. Setiap tradisi memiliki masing-masing karakter dan publiknya sendri dan tradisi pedalaman dan pesisiran misalnya untuk orang-orang pinggiran dan elit untuk kalangan keraton. Setiap seni dikemas dengan baik agar tak menyinggung orang. ya harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. karena kalau tidak pakai toga terasa hambar meski kita tak tahu apa di balik toga itu. Yang ingin saya katakan adalah bahwa perlu kreativitas untuk bisa mengemas agar sesuai dengan tradisi masyarakat. Permasalahan terjadi jika kesatuan nilai-nilai itu tidak tercermin lagi dalam karya estetika. seni tradisi mung13 . Tapi satu hal yang menarik adalah bahwa sms yang masuk dari masyarakat cukup banyak. Di kampus dipertahankan. Demikian pula dengan estetika. Tradisi ini hendak dipetakan dan sudah dipetakan bagaimana tradisi yang dipetakan oleh Kominfo harus punya nilai logika. Sehingga karya seni terlepas dari konteks nilai yang dianut oleh masyarakat. Dampaknya karya seni tidak bisa dimengerti secara utuh oleh masyarakatnya sendiri sehingga komunikasi karya estetika itu terputus dari masyarakatnya. etika dan estetika. desa dan akademik. Persoalannya sekarang adalah bagaimana tiga hal itu dan dikemas jadi satu kesatuan? Karena ketika masyarakat berubah. Saya kira perlu ada pembaruan sesuai dengan perkembangan masyarakat. Kalau pejabat dari Kominfo sedang menyanyi di tengah acara limbukan wayang. Jadi itu efektif sekali untuk menyampaikan informasi. Ada pertunjukan wayang yang disiarkan oleh RRI dan TVRI. Sementara etika diaktualisasikan sesuai dengan kebutuhan jaman.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI raris dan kota. Bagaimana tradisi kota? Bagaimana tradisi masyarakat industri? Ada pula masyarakat kota. Sehingga diketahui mana yang komunikatif bagi masyarakat dan mana yang tidak komunikatif terkait pesan yang disampaikan. Perlu kreativitas atau seni tradisi akan ditinggalkan dan hanya akan dikenang. itu misalnya bagian dari tradisi akademik. Oleh karena itu. Saya pernah ikut acaranya Kementerian Kominfo di Gunung Kidul. Tapi jika bisa dikemas dengan baik. Memakai toga. pembaharuan dalam karya seni tidak bisa dilepaskan dari pembaharuan nilai dalam kehidupan masyarakat. Saya kira semua masyarakat punya tradisi. maka logika itu yang harus diubah dan dinaikkan sesuai dengan perubahan masyarakat.

Melalui benda kotak yang menyatukan dunia yang sarat pluralitas. Hal penting kalau dilihat dalam sisi komunikasi adalah bicaralah pada masyarakat sesuai dengan kadar akalnya. Persoalan mengemasnya juga menjadi tidak sederhana. Ada yang cuma dua atau tiga jam. Saya kira dalang yang pentas di Mahkamah Konstitusi atau RRI. perubahan dan pembaharuan. peran seni akan luar biasa. Selama ini seni dipanggungkan di tengah lapangan bola. Dalam era konvergensi TIK. mau tidak mau. Ini saya kira pekerjaan yang harus dilakukan oleh Kominfo. Di media konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) faktor waktu juga penting. Itu tingkat etika dan logikanya jadi tinggi dan waktunya pun menyesuaikan dengan kondisi penontonnya. kemasan logikanya seperti apa? Dalam masyarakat pesisir itu logikanya seperti apa? Kreativitas juga termasuk bagaimana memasukkan etika dan logika dalam kemasan estetika? Tentu akan menyesuaikan dengan kondisi penontonnya. akan tetapi bergerak dalam ruang maya yang berlangsung cepat dan dinamis. maka ruangnya jadi beda. Ada kelas. juga akan mengemas dengan logika yang berbeda. Karena kalau gunakan TIK yang kini konvergen. Dalam masyarakat informasi. model pertunjukan seni tradisi. Kalau itu dikemas. maka bukan lagi menggunakan alun-alun tapi menggunakan ruang maya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kin juga bisa memacu perubahan sosial. Dalam masyarakat seperti ini. Bagaimana TIK jadi forum pengembangan kreatifitas resmi yang 14 . pasti berubah. TIK adalah produk ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis pada nilai logika. Namun ketika bergabung dengan TIK. TIK lahir dari proses perkembangan masyarakat agraris menuju masyarakat industri dan membentuk masyarakat informasi. ini yang perlu dilakukan secara kreatif. Dalam kaitan dengan karya estetika telah terjadi perkembangan pula estetika agraris berkembang dalam estetika industri menuju estetika informasi. pertunjukan seni tradisi tidak lagi berada dalam ruang fisik yang dibatasi dinding atap dan kaca. konflik. misalnya. ada tradisi yang ada. Logikanya harus bertahap. bukan lagi semalam suntuk. Persoalannya kembali pada bagaimana karya estetik diberi ruh dengan logika dan etika. Bahkan bisa disebarluaskan dari suatu wilayah ke wilayah yang lainnya. Di sinilah kemudian muncul problem. dinamis dan tidak simpel.

Kecende-rungan sekarang ini. wayang kulit semalam suntuk tidak bisa ditampilkan begitu saja. * 15 . Saya kira masyarakat perlu model yang tepat untuk pengemasan seni tradisi. Apalagi jamnya ketat dan menyesuaikan dengan layar dan waktu. Hal itu harus dilakukan terus-menerus agar seni tetap hidup. Tetapi di Indonesia ketiga kategori masyarakat itu masih ada. Misalkan Wayang Suket Slamet Gundono. bisa ditampilkan berapa jam? Kalau dengan TIK jadi kemasan yang perlu kreativitas tinggi. industri. Mungkin kemasan itu yang akan menyesuaikan. ketiga masyarakat itu tetap ada dan tidak saling menafikan. di Solo juga ada. Dalam masyarakat Indonesia. Jika ruangnya TIK. Di Wonogiri model masyarakat seperti itu masih ada. Namun pengemasannya pun tak boleh lepas dari etika dan logika. entah itu pada kategori masyarakat agraris. Karena kalau lepas dari itu maka tak bisa membentuk peradaban. Sehingga model pertunjukan seni tradisi seharusnya menyesuaikan dengan realitas masyarakatnya. Dan untuk mengemas itu adalah pekerjaan luar biasa yang harus tetap menjaga bahwa karya seni tak boleh dilepaskan dari etika logika dan estetika. Pertunjukan seni tradisi harus mencari model yang dinamis sesuai perkembangan masyarakat. dan informasi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI gabungkan etika dan estetika. maka harus menjadi dasar penyesuaian. Model itu menyesuaikan dengan kondisi masyarakat. Tentu waktunya akan berubah. semua memerlukan kemasan tersendiri. Di TVRI. sebagian seni tradisi mulai ditinggalkan dengan pertumbuhan masyarakat lantaran tak semua seni tradisi bisa menjawab perubahan.

penulis pernah menjadi pelaku pada grup-grup seni tradisi yang dipimpin para tokoh seni terkenal. masih disibukkan sebagai Pimpinan Redaksi Jurnal Ilmiah Seni dan Budaya ‘Panggung’ STSI Bandung (terakreditasi). dan Organisasi Sosial Masyarakat Sunda hingga masa kini. pemain pada drama suara atau sebagai penabuh Degung. maupun beberapa perguruan tinggi lainnya. Dadang Sulaeman (Mayang Binekas 1973-1978). Lulus S-3 Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. ed. Antara lain Gending Karesmen dengan lakon Si Kabayan. Protokoler dan Penerbitan. Tari Anak-anak dan Permasalahannya. dan Belanda. India. Jurna Ilmiahl dan buku. dan Sistriarji Seni Pertunjukan Indonesia di Sutradara Longser STSI Jawa Barat (2007). Beruntung. Itali. . UPI (Pariwisata). Kesibukan lainnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. Pengantar Seni Pertunjukan Indonesia.* 16 . ed. Kapita Selekta. Gugum Gumbira dari Jaipongan ke Cha Cha. Pimpinan Penerbitan Sunan Ambu Press. Kajian Gender. 25 Desember 1956. Kepala Pengabdian Masyarakat. dan beberapa seni pertunjukan tradisional lainnya. Gentra Madya. Pahlawan Samudra dan Gondang Samagaha pada Grup Ganda Mekar: Degung pada Grup Mayang Binekas. Endang Caturwati. dan Ka Humas. Program Studi Pengkajian Seni Rupa dan Seni Pertunjukan. Buku-buku karyanya antara lain berjudul: Tata Rias Busana Tari Sunda. UNPAD. juga aktif menulis artikel di beberapa mass media.. Pesona Perempuan dalam Sastra dan Seni Pertunjukan.S. Lokalitas. Thailand. ed. Kariaan: Tari Anak-anak di Daerah Subang Jawa Barat. Tari di Tatar Sunda. di STSI. Tjetje Somantri Tokoh Pembaru Tari Sunda. M. dan Tradisi Sebagai Tumpuan Kreativitas Seni. baik sebagai penari. tahun 2006. China. Australia. Sek Hubungan Kelembagaan. selain sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STSI Bandung. serta Organisasi Seni dan Budaya. Seni dalam Dilema Industri. baik. Gugum Gumbira pencita Jaipongan. Sejarah Tari. Sebagai Kepala Humas Endang mempromosikan Lembaganya tidak saja di tingkat regional. Literatur Tari. Longser Grup STSI Bandung (2005-2008). Sinden Penari di Atas dan Di Balik Panggung. Nano. Dr. Sosiologi Seni.. Gender dan Seni Pertunjukan di Jawa Barat. (Gentra Madya (1973-1978). dan Manajemen Objek Daya Tarik Wisata Daerah. Jepang. ed. merupakan doktor pertama di STSI Penulis (kedua dari kiri) bersama Tati Saleh penari JaiBandung dan Guru Besar bidang pongan. S. seperti Mang Koko (Ganda Mekar 1973-1978).ST. Jabatan yang pernah diemban antara lain. Aktivitasnya sebagai pengajar mata kuliah Seni Pertunjukan Indonesia. tetapi juga ke berbagai manca negara di antaranya Malaysia.S dilahirkan di Bandung. Dewan Redaksi di beberapa Penerbitan Jurnal Ilmiah dan Artikel Ilmiah di Jawa Barat dan Jakarta. ed.

hiburan. penyebaran agama. (2) sebagai ungka17 . Fungsi primer. Pakar Pertunjukan dan Kajian Budaya STSI Bandung J awa Barat dikenal dengan berbagai seni pertunjukan dengan berbagai bentuk serta fungsi. Seiring dengan berjalannya waktu. antara lain dengan munculnya berbagai seni pertunjukan yang didukung oleh para elite birokrat. Di berbagai daerah bermunculan proses reinterpretasi. maupun penyajian estetis. dalam arti. selain untuk kepentingan ritual. bahwa seni pertunjukan memiliki tiga fungsi. atau media politik. dan tontonan atau apresiasi estetis. serta melahirkan berbagai genre seni pertunjukan yang terbukti mampu bertahan terhadap kuatnya arus perubahan dinamika sosial dan budaya masyarakat. yaitu (1) sebagai sarana upacara. Kondisi ini bisa diamati dari kehadiran berbagai genre seni pertunjukan. bahkan kini telah banyak yang menjadikan sebagai ajang ekonomi sebagai seni industri. Bentuk seni tradisi yang banyak difungsikan masyarakat. baik di perkotaan maupun di perdesaan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Barat Endang Caturwati. ajang prestise. hiburan. Pada dasarnya seni pertunjukan memang mempunyai fungsi primer dan sekunder. penerangan. serta berbagai pertunjukan yang tidak saja berkembang di kalangan rakyat. ajang gensi. baik sebagai upacara ritual. seleksi. dan eksperimentasi seni. akan tetapi juga di kalangan masyarakat menak serta pengusaha dan petani kaya. berperan juga sebagai sarana pendidikan.

Artinya ‘format sajian’ disesuaikan dengan fungsi dan kondisi. 170. adalah tumbuh sebagai ekspresi masyarakat pendukungnya. 2001). 3. Arnold Hauser. Mereka melahirkan ‘karya-kaya kreatif’ yang bersumber dari lokal 4 . dan Globalisasi Seni. Memang. ajang bisnis dan mata pencaharian. dan (3) sebagai presentasi estetis1. reog. 2004. kemudian gending-gending kreasi baru atau wanda anyar karya Mang Koko. Progresivitas seni pertunjukan sebagai media komunikasi dapat diamati dengan ‘pelebaran’ wilayah pertunjukan. yang berkembang tidak saja di wilayah Priangan. pantun. beluk. Soedarsono. calung. dengan berbagai medium. seni pertunjukan memiliki progresivitas dalam berkembangnya ragam dan format sajian untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan masyarakat pendukungnya. Seni pertunjukan yang berkembang di Jawa Barat. wayang golek. ajang gengsi. menunjukkan kecenderungan dalam melakukan reinterpretasi. dan kemudian muncul para generasi penerus para koreografi muda dan komposer muda yang akhir-akhir ini semakin variatif coraknya. Transformasi. 18 . Adapun fungsi sekunder apabila seni pertunjukan bertujuan bukan untuk dinikmati. Dewan Kesenian Kabupaten Sleman Yogyakarta. pada kenyataannya banyak yang tumbuh sebagai ekspresi masyarakat. longser. interaksi. Metode Penelitian Seni Pertunjukan (Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. tetapi untuk kepentingan yang lain. seleksi dan eksperimentasi budaya berbasis pada tradisi seni pertunjukan lokal. yang bisa memenuhi sebuah fungsi sosial. 1980). berarti nilai kualitatifnya tidaklah lenyap di dalam fungsinya3. 57. Seminar Revitalisasi. The Sociology of Art (Chicago and London: The University Of Chicago Press. 308. “Dialektika Seni Pertunjukan Tradisi”. Bahkan muncul berbagai pertunjukan yang merupakan langkahlangkah baru dalam konsep penciptaan. 1 2 3 4 R. atau multifungsi. Sebagai media komunikasi. kemudian karya Nano dan garap tari dan Karawitan Jaipongan karya Gugum Gumbira.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pan pribadi. pada dasarnya setiap seni pertunjukan yang otentik. The Antropology of Dance (Bloomington and London: Indiana University Press.M. tapi menyebar ke wilayah Jawa Barat. Bambang Pudjasworo. atau fungsi sosial yang belum tentu abadi dari waktu ke waktu2. terutama pada kesenian rakyat seperti sandiwara. 1985). yang lebih komunikatif serta sarat dengan interaktif. media komunikasi. Anya Peter Royce. antara lain sebagai pengikat kebersamaan.

yang harus memperhitungkan nilai uang. adalah bagian dari totalitas kehidupan. serta seniman-seniman seni pertunjukan yang memikirkan seni bukan hanya sekadar ekspresi. baik antara etnik. melainkan sebagai ekspresi diri dan sumber inspirasi gerakan spriritual 19 . di Jawa Barat selama masa Orde Baru berkuasa hingga Orde Reformasi mengisyaratkan. jeung ngigeulan zaman” (kita harus bisa menari. di tempat sampah. merupakan sesuatu yang bukan hanya diartikan sebagai sekadar media hiburan atau alat komunikasi. di terminal. Sebagaimana yang sering diungkapkan oleh para sesepuh Sunda. dan merespon tarian zaman). yang lebih banyak menghabiskan dana daripada memperoleh dana. atau berupa helaran (arak-arakan). seniman-seniman yang menyajikan karyanya. di halaman. Dalam persaingan budaya dan kepentingan masyarakat semakin beragam. ngigelkeun. tetapi juga sebagai tuntutan ekonomi. dalam rangka sesaat untuk ‘ekspresi diri’. di sawah. hutan. yang lebih menuntut hal-hal yang komunikatif. dan karena itu sekaligus merupakan wilayah kegiatan yang bisa merasuk pada penggalian nilainilai manusia yang tidak akan pernah habis. Kondisi Masa Lalu Seni pertunjukan. sebagian dari sistem lama yang berlaku dalam masyarakat perlu mendapatkan penafsiran kembali untuk mendukung tumbuh dan berkembangnya budaya baru. Dalam hal ini dapat dibedakan. menarikan. Berdasarkan dari hasil-hasil penelitian yang ada. Akan tetapi dalam proses globalisasi. tanpa harus meninggalkan nilai-nilai etika dan estetika. atau negara lain yang disajikan tidak saja di gedung pertunjukan atau tempat pertunjukan seperti pendapa. diperlukan suatu sintesa agar kelangsungan hidup seni pertunjukan etnik bisa tetap survive. bahwa seni pertunjukan tradisional. candi. Terlebih dengan zaman yang sarat dengan informasi. bahwa “urang kudu bisa ngigel. tanpa memperhitungkan dana yang diperoleh. serta hanya dalam waktu temporer (tidak berlaku ulang atau dipertunjukkan kembali di tempat yang sama). Akan tetapi juga kini banyak pertunjukan yang tampil di tepi sungai. danau. dan tempat-tempat lain sesuai dengan konsep dari sang seniman. yang menjadi ciri manusia sebagai makhluk khusus.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI berbagai kolaborasi. amphyteater.

Babad. 151. antagonis dan tritagonis. gaya. Masingmasing wilayah memiliki ciri khas. serta suasana eros dan chaos. drama. baik busana. dengan tidak menggurui. tetapi sifatnya menghibur. antara lain sebagai berikut: 1) Sandiwara Sunda (Priangan) Sandiwara Sunda merupakan pertunjukan yang berkembang di kalangan rakyat dengan ceritera yang diambil dari ceritera Wayang. etika. baik verbal maupun non verbal secara etis dan estetis.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF sebuah komunitas lokal5. lagu. Pertunjukan yang memiliki unsur bertutur. nilai-nilai moral. informasi pemerintah berupa penanggulangan kesehatan dan pertanian. iringan musik. cengkok lagu. yang bisa dilihat dari bentuk. tetap masih mempertahankan nilai-nilai edukatif. memang unik dan spesifik. wilayah Cirebon dan Indramayu. 1. karawitan. Seni pertunjukan tersebut. pendidikan. Pada tahun 1960-an. dan Ceritera Desik (atau kisah-kisah dari ceritera seribu satu malam seperti Sang Kuntala. yaitu wilayah Priangan. dan wilayah Pantai Utara atau dikenal dengan sebutan Pantura. bahasa. Lampu Aladin). dan estetika. protagonis. serta busana yang dikenakan. 20 . spriritual. baik berupa seni tari. maupun stuktur pertunjukannya. dalam Biddragen. bahkan pencak dan lawak. sesuai dengan tradisi daerah para pendukungnya. 5 Jeninfer Linsay . “ Cultural Policy an Performing Arts in Soteasst Asia”. Adanya muatan pesan-pesan pendidikan sangat dominan dengan ditampilkannya tokoh. Wilayah Priangan Di wilayah Priangan dikenal dengan berbagai pertunjukan tradisional yang di dalamnya bermuatan media dialog. Masing-masing bentuk sajiannya memiliki kekhasan yang sangat unik. tetap saja dikemas melalui simbol-simbol. gerak tari. Jawa Barat dikenal dengan berbagai seni pertunjukan yang menjadi prestise para pejabat dan dapat berkembang di masyarakat. properti. gerak tari. maupun arak-arakan atau helaran. atau komentar sosial. Seni tradisi yang berkembang di Jawa Barat. Roman (kehidupan sehari-hari). Kendatipun di dalamnya bermuatan pesan-pesan agama. Bentuk seni pertunjukan tersebut dapat dibedakan menjadi tiga wilayah. baik dialog ataupun syair lagu.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Yang paling menarik. Grup yang paling dikenal pada tahun 1960-an di kota Bandung. Pertunjukan wayang golek sangat menarik. dan lain-lainnya. Bahasa yang digunakan dalah bahasa Sunda dan diringi gamelan Sunda berlaras Pelog dan Salendro. dan Upit Sarimanah yang bisa mengubah struktur pertunjukan menjadi dominan penampilan sinden dengan saweran uang. Media komunikasi antara pemain dengan penonton sangat dominan. Begitu pula pada cerita Babad sebagaimana tokoh dalam ceritera sejarah Sangkuriang. dialog. kemudian beralih menjadi pertunjukan yang mandiri tanpa dalang dan wayang. Pertunjukan Wayang bahkan menjadi pertunjukan prestise di daerah-daerah tertentu dengan dalang-dalang favorit setempat. adalah setting layar dan kostum disesuaikan dengan tema. Sebagai contoh. terutama dengan munculnya tokoh ‘si Cepot’ sebagai ikon dominan pada setiap pertunjukannya dengan dialog-dialog dan gerak yang lucu. kostum. antara lain. Adapun Wayang Golek mulai bangkit kembali setelah kehadiran Dalang Asep Sunandar Sunarya sekitar tahun 1980-an dengan kemasan baru. dari dialog-dialog para pemain dan lagu-lagu yang dilantukan penyayi. antara lain untuk daerah Cilangkap Sumedang Dalang Asep 21 . dengan vokal yang dibawakan oleh sinden. ketika menampilkan ceritera Wayang. tapi 10 hingga 20 orang sinden. Sri Murni dan Sri Mukti. yang kini masih berkembang di daerah Subang dan Karawang sebagai seni hiburan yang menjadi andalah daerahnya. sebagaimana tokoh dan adegan dalam pewayangan. Wayang Golek memiliki lakonlakon galur dan carangan yang bersumber dari ceritera besar Ramayana dan Mahabrata. serta gerak. atau sejarah Pajajaran. 2) Wayang Golek (Jawa Barat) Wayang Golek merupakan pertunjukan teater boneka yang sangat popular di Jawa Barat. karena pada tahun 1960-an pernah terjadi adanya peran dalang yang tergeser oleh sinden yang kemudian dikenal sebagai sinden legendaris Titim Fatimah. sebagai Kliningan Bajidoran yang dominan menampilkan sinden yang juga menyanyi dan menari. tidak hanya satu atau dua orang sinden. Perkembangan selanjutnya.

Galatik Manggut. antara lain lakon Pangeran Jayakarta.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Sunandar Sunarya. Nyai Dasimah. cinta ibu. akan tetapi yang berkembang di masyarakat terutama pada perayaan-perayan HUT Proklamasi Indonesia. pernah berjaya di tahun 1970-an. Manintin. cinta tanah air. Grup-grup yang terkenal pada tahun 1970-an adalah Parahiayangan pimpinan E Tjarmedi. berupa drama suara minimalis dengan diiringi kecapi. Gending Karesmen. Kinteul Buek. dan lain-lainnya. dengan sutradara seniman yang piawai dalam bidangnya. Gending karesmen yang terkenal di Jawa Barat. Gesan Ulun. Si Kabayan. kendatipun awalnya diiringi dengan gamelan pelog-salendro yang lengkap. 4) Degung (Priangan) Degung merupakan sajian karawitan (musik tradisi) dan vokal dengan diringi gamelan degung. Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya dari kisah sejarah atau legenda. dan lain-lain. kendang dan gong. yang terkadang diselingi dengan gerak tari. seperti Pajajaran. Pahlawan Samudra. daerah Buah Dua Sumedang Dalang Dede Amung. Ceritera yang dibawakan mengenai pesan moral dan sosial yang tentu saja bermuatan pendidikan. Pada awalnya lagu-lagu Degung berupa instrumental yang sangat khas yang tabuhannya sangat unik. menabung. Bima Mobos. dinamakan Lagu-lagu Ageng. Lutung Kasarung. 3) Gending Karesmen (Priangan) Gending Karesmen (Drama Suara) merupakan drama yang dialognya berupa syair yang dilagukan. Perkembangan selajutnya degung berkembang menjadi lagu-lagu sawilet seperti Catrik. Wayang Golek sering dijadikan sebagai media kampanye yang pesan-pesannya dititipkan melalui dialog tokoh Wayang. Raja Kecit. yaitu Koko Koswara. Kulu-kulu yang bias mengiringi berbagai lagu dengan syair yang sarat dengan pesan-pesan atau informasi mengenai pendidikan. Beber Layar. dan lain-lainnya. Samagaha. Degung sering ditanggap pada acaraacara resmi atau hajatan-hajatan pernikahan dan sunatan. Ganda Mekar pimpinan Mang 22 . Pada musim pemilihan umum dan pencalonan Presiden.

5) Longser (Bandung) Longser merupakan teater rakyat. 23 . pengembangan Degung dilakukan oleh perguruan tinggi Seni dan beberapa musisi. unsur yang disukai oleh penonton adalah hadirnya bodoran atau lawakan serta para penari Ketuk Tilu Ci-keruhan dan Pencak Silat. terutama karena setiap pertunjukannya. sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi. Bahkan pada tahun 1980-an di luar Indonesia. Konsep melodramatik mendasari ceriteta-ceritera tersebut karena selalu diakhiri dengan happy ending. gerak dan syair lagu yang diiringgi gamelan salendro. Paraguna (Jepang). musisi Lou Harrison (USA) beserta para mahasiswanya. adalah gerak ‘uyeg’ pada Ketuk Tilu dengan sebutan khas ‘keplok cendol’ yang dibawakan oleh para penari perempuan yang disebut ronggeng. Mayang Binekas pipmpinan Dadang Sulaeman.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Koko. Gerak tari yang sangat khas. S dengan grup Gentra Madyanya. oleh Nining Meida dan Barman Syahyana (1984 dan 1986). seperti lagu Kalangkang. tanah lapang atau tempat-tempat yang berhalaman luas dengan penerangan oncor (obor) berkaki lima yang diletakkan di tengah arena pertunjukan. antara lain Lingkung Seni Pusaka Sunda University of California (Santra Cruz-USA). masyarakat dari berbagai tempat bertemu di satu tempat untuk bersama-sama menyaksikan cerminan dari kehidupan mereka sendiri. Cinta Ketok Magic. serta grup-grup di tingkat daerah. adalah Nano. Selain media komunikasi berupa dialog. Yang sangat menarik adalah. S. Grup Ujang Suryana. Dewi Permanik pimpinan Euis Komariah. membuat banyak lagu Degung dengan introduksi dan arasement tersendiri yang dapat menaikkan omset rekaman kasetnya. Damas (Daya Mahasiswa Sunda). Rachel Swindell (London-Inggris). Gentra Madya pimpinan Nano. Sebagai pertunjukan rakyat Longser memiliki fungsi sosial. Yang tidak kalah penting. Kesenian ini sebagai perkembangan dari pertunjukan Doger dan Ketuk Tilu yang mulai tidak disukai oleh masyarakat yang muncul sebagai teater keliling dengan penyajian di arena terbuka. kebun bambu. selain menyajikan ceritera rakyat. Anjen. Evergreen dan John Sidal (Kanada).

Dalam hal ini untuk lebih menghidupkan suasana penonton diajak terlibat pada adegan-adegan tertentu. ‘Pancasila’ Jaya) Lagu Senggot: Lagu Es Lilin Es lilin mah ceuceu kalapa muda Dibantunmah ceceu ke Kota Bandung Jangan lupa ceceu dan anak muda Narkoba sangat merusak penerus bangsa Longser yang paling dikenal pada zamannya tahun 1960-an adalah Longser Bang Tilil dan Longser Ateng Japar. Lagu yang sangat komunikatif pada masyarakat Jawa Barat. maupun sosial. Bang Tilil menguasai pertunjukan di daerah kota Bandung ( Stasiun. Soreang. Selain dialog. Cililin. Alunalun. geuning Mikacinta-mikacinta ka sasama Hiji dasar kabangsaan Indonesia. karena syairnya sangat fleksibel dapat diisi dengan berbagai muatan pesan dan informasi. Bandung. sebagai berikut. Banjaran. adalah lagu Kulu-kulu Sadunya dan Es Lilin. berupa pesan spriritual. Bogor. ‘Pancasila’ Jaya (Dewi Sinta Dewa-dewa Rama Yang kesasar di hutan rimba Mencitai-mencintai kepada sesama Satu dasar kebangsaaan Indonesia. 6) Beluk (Cianjur. Cikawao. sindiran yang termuat pada syair sinden pun merupakan pesan yang handal untuk media komunikasi. ialah satu jenis Tembang Sunda yang mempergu24 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF adanya dialog interaktif dengan penonton. Sedangkan Longser Ateng Japar menguasai daerah Bandung Selatan. Contoh syair Lagu Kulu-Kulu Sadunya: Kulu-Kulu Sedunia Dewi Sinta Dewa-dewa Rama Kasasarmah di alas roban. Tegal Lega. Ciamis) Beluk. serta daerah sekitarnya). Cicadas dan wilayah kota Bandung). Pangalengan.

Perkembangan berikutnya dilakukan pula oleh para pemain Reog perempuan. maka naskah dibacakan oleh juru ilo. populasi Beluk kian hilang. yang dibawakan oleh lima orang.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI nakan nada-nada tinggi. 7) Gondang (Jawa Barat) Merupakan seni pertunjukan yang berkembang di masyarakat dengan tampilan ‘drama suara mini’. Penyajian pertunjukan 25 . merupakan pertunjukan yang dimainkan oleh para laki-laki dengan membawa alat tepuk berupa dogdog yang dilitkan di bagian perutnya. Adapun unsur pertunjukan yang mendukung. Setiap penyanyi berusaha melantunkan suaranya yang paling nyaring. Hal ini supaya penonton ketawa dan kantuknya hilang. atau sebagai pertunjukan. kocak. dan segar. mulai dari mulai ukuran besar hingga kecil. Tampilan para jajaka sangat kocak dan terjadi dialog yang terkadang romantis. kendang dan gong. Irama dentuman lesung para mojang yang membentuk irama atraktif. sebab itulah yang menjadi ukuran terbaik. antara lain menggunakan pupuh Asmarandana. Dangdanggula. Antara pembaca naskah dan penyayi terkadang tidak sama misalnya “ Ada raja mengembara” dinyanyikan menjadi “ Ada raja tidak bercelana”. Lagu yang dibawakan. kemudian dinyanyikan oleh penyayi Beluk. Namun demikian semenjak populernya radio dan adanya TV. menjadikan para jejaka (pemuda) datang memburu. dan Kinanti. terutama dengan adanya festifal-festifal Reog bermunculan grupgrup yang berada di wilayah Jawa Barat. melengking. adalah properti ‘lesung dan alu’ diiringi kacapi. Perkembangan berikutnya Beluk sering ditanggap pada acara-acara syukuran di perkawinan. dan biasa diselenggarakan pada waktu syukuran bayi berumur 40 hari. Sehubungan banyak para penyanyi Beluk yang tidak bisa membaca. Sinom. Beluk dibawakan oleh 4 orang dan dibantu seorang juru ilo dan diselenggarakan pada malam hari. Pada masa kini di Jawa Barat hanya tinggal beberapa kelompok grup yang masih hidup. tampilan para mojang (gadis) menumbuk padi dan para jajaka yang mencari cinta. 8) Reog (Jawa Barat) Pertunjukan Reog. tinggi. serta enak didengar.

akan tetapi dipukul dengan tabuh stik bambu. dan goong. maupun perguruan tinggi. Dialog yang dibahas seputar fenomena masyarakat. Perkembangan masa kini pertunjukan Angklung lebih dominan lagu-lagu vokalnya daripada dialognya. Unsur vokal menjadi sangat dominan. Perkembangan Calung di Jawa Barat begitu pesat dengan adanya festival-festival Calung. kacapi. Banyacatra. Pertunjukan Calung diilhami dari pertunjukan Reog yang memadukan unsur-unsur dialog. kenong. Mundinglayadikusumah. bas. Ciung Wanara. dan Siliwangi. vocal dan gerak tari. dan Siliwangi. seperti kosrek. 26 . 9) Calung (Jawa Barat) Calung merupakan pertunjukan Sunda dengan menyajikan alat waditra (instrumen) bambu yang dijinjing oleh lima orang pemain. disebutkan babwa Pantun telah digunakan sejak zaman Langgalarang. Sumur Bandung. Banyacatra. yang ditulis pada 1518 M. Ceritera Pantun pun berkisar pada kisah-kisah Anggalarang. antara lain ceritera Lutung Kasarung. Perkembangan selanjutnya pada penyajiannya. 10) Pantun (Ciamis.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Reog kolaborasi antara dialog. sebagai prototipe angklung. Perkembangan berkutnya lakon yang disajikan ditambah dengan naskah yang dianggap bernilai tinggi. baik di tingkat daerah. pengisi ritme. Bandung. Selain waditra Calung ada penambahan beberapa alat musik. sehingga bermunculan vokalis Calung terkenal seperti Adang Cengos dan Hendarsonya. Bedanya cara membunyikannya tidak digoyang seperti angklung. masing-masing mempunyai peran sebagai melodi. khususnya isu-isu penting di selingi dengan bodoran segar. gerak. Reog sering dijadikan sebagai media penerangan hal-hal yang penting oleh pemerintah. adalah seni yang berusia cukup tua. piul (biola) bahkan organ dan gitar. dengan nada pentatonis pelog atau salendro. Dalam naskah Siksa Kandang Karesian. terutama Universitas Padjadjaran (UNPAD) merupakan lembaga yang mensosialisasikan pertunjukan Calung sebagai seni pertunjukan yang sarat hiburan dan informasi (penyuluhan). Lima orang pemain. Bogor) Seni Pantun. (Darso). dan lagu. tabuh.

Tompel. Karawang dan Jakarta. Kicir-Kicir. Lagu-lagu yang dibawakannya adalah yang bernafaskan Islam. sedangkan untuk acara ruwatan. Acung. para karuhun. Balo-balo.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Ratu Bungsu Kamajaya. antara lain adalah Ronggeng Gunung (Ciamis). (tolak bala). dan lain-lain. antara lain Oncom Lele. dan Jali-jali. nama raja. dengan iringan rebana. antara lain lagu Al Fiah. Pertunjukan-petunjukan tersebut pada 27 . Para pelawak Topeng Blantek di Bogor yang dikenal masyarakat. dan Lagu Bogor. Salah Colek. sebagai sajian hiburan dan acara ritual (ruwatan). perkembangan selanjutnya banyak yang menggunakan laras salendro. Surak Ibra. Sebagai seni yang hidup di tatar Sunda sejak zaman Hindu sampai Islam dan menjadi anutan masyarakat. Reak. adalah merupakan pembauran kedua zaman tersebut. ceritera yang ditampilkan sama dengan pertunjukan Wayang. Angklung Bungko. Dalam sajian hiburan ceritera yang diambil dari salah satu ceritera pantun yang dikuasai Juru pantun atau atas permintaan penanggap. Kedung. di atas terdapat berbagai pertunjukan yang komunikatif. antara lain Bangket. ka pohaci. Lagu Karawangan. dan lain-lainnya. baik dialog dan lagu serta gerakan tari yang atraktif. tertangkap juga ucapan ka dewata. Ketiban Duren. dan Maulana. dan Topeng Cisalak. Dogdog Lojor. tahyan dan kecrek. Ceritera-ceritera yang dipertunjukkan antara lain: Bodoh pinter. 11) Blantek (Parung Bogor) Blantek adalah sebutan dari pertunjukan Sandiwara Rakyat Parung Bogor. sedangkan lagu-lagu. dan Sang Bango. para buyut. Koyok. Seni pantun disajikan oleh juru Pantun berupa ceritera tutur dengan diiringi oleh kacapi berlaras pelog. Aisyah. Beluk. Selain jenis pertunjukan-pertunjukan yang telah diuraikan. yang pernah mengalami kejayaan pada masanya. Blantek merupakan perpaduan seni daerah Bogor. seperti Batara Kala. Si Jampang Jago Betawi. Ada dua bentuk seni Pantun yang biasa disajikan oleh masyarakat Sunda. antara lain Paleredan. Rendeu. Selain terdapat kata isthigfar (islam). tak heran jiga ungkapan dan ajaran (petuah) ki juru Pantun. Ubrug. dalam arti menggunakan media komunikasi verbal. Kama Salah Murwakala.

sintren dan kurungan. suling.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF masa kini masih berkembang. seperti ruwatan. adalah grup Tarling Nada Budaya dan Putra Sangkala. serta mengenakan kacamata hitam. dan lain-lain. Baridin. Lahir Batin. Oleh karena instrumen yang mendominasi gitar dan suling. lodong bambu. Sintren pada awalnya digunakan sebagai media dalam upacara tertentu. seperti Marta Bakrun. hihid (sekarang diganti oleh karet bahan sandal). kendang dan gong. 28 . bersih desa. kecrek (dari sapu lidi). Di Wilayah Cirebon dan Indramayu 1) Tarling Tarling merupakan pertunjukan yang menggunakan paduan gitar. Pasrah Mati Njaluk Urip. tapi secara frekuensi pertunjukannya semakin jarang tampil karena jarang ditanggap atau difungsikan oleh masyarakat pendukungnya. Padang Wulan. 2) Sintren Sintren merupakan pertunjukan yang unik. juga lagu Banyu Mata. nebus weteng. Perkembangan Tarling pada tahun 1960-an cukup pesat dengan lagu andalan Kiser (lakon yang dinyanyikan). yang pemainnya (perempuan) dimasukkan pada kurungan ayam dengan mata ditutup kain. Beberapa makna yang mampu memberikan kekuatan. seperti Saida-Saeni. dengan adanya properti kurungan ayam. yang tercermin lewat lagu-lagu yang disajikannya dengan monoton dan sederhana. Mbrebes mili. ialah dengan tampilnya pawing. serta penyayi sinden (perempuan) atau penyayi laki-laki. dan lain-lain. Musik pengiring Sintren. Simbar Pati. ngunjung. terdapat pada kesenian Sintren antara lain. makna mistis karena memiliki hubungan dengan perolehan magi simpatetis. Pegat Balen. Grup Tarling yang paling terkenal di Cirebon pada tahun 1966. 2. adalah buyung. Saida Saini. jadi nama pertunjukan diambil dari kedua alat tersebut. naeken suhunan. Makna teatrikal Sintren yang digambarkan. dengan lagu Turun Sintren. Kembang Tarate. dengan ciptaan lakon drama. yang membuat adegan simultan.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI yang dilantunkan oleh Sinden. Sujana. lebih tepat apabila disebut grup keluarga. dimulai dengan menampilkan tari Panji. kemudian Klana. Ditengah-tengah pertunjukan sering ditampilkan bodoran/lawakan. Topeng terdapat beberapa gaya sesuai dengan nama daerah di antaranya. Dalam pertunjukannya. Pamindo. jingga. Salah satu fungsi pertunjukan Wayang di Indramayu 29 . berisi muatan pendidikan dan masalah sosial. Bermula dari Pak Krian seorang dalang Topeng. seperti Sutia. Nunung). dan Keni. serta Inu Kertapani anak Sujana. selain lengkap koreografinya. Para penarinya juga dapat menabuh waditra. 3) Topeng Cirebon Grup Penari Topeng dari desa Slangit Palimanan. gerakannya lebih indah dibanding daerah lain di Cirebon. Topeng Palimanan. (yang lainnya sudah almarhum) dan anakanak Keni (Yono. Panji. Pertunjukan Topeng Cirebon sarat dengan pendidikan dan budi pekerti. dilanjutkan dengan Pamindo. dan semua anak-anaknya bisa menari yang kemudian sebagai penerus generasi. Pada Arjalah Topeng Slangit mulai dikenal. yaitu Klana. Jingga Anom. Wayang sering dipakai sebagai media dakwah Wali Sunan Kalijaga atas perintah Sunan Gunung Jati.tengah pertunjukan biasanya diselingi dengan bodoran si Pentul atau Tembem dengan dialog yang segar dan lucu. 4) Wayang Kulit Cirebon dan Indramayu Wayang Kulit Cirebon dan Indramayu pada dasarnya tidak banyak bedanya dengan Wayang Kulit Jawa. gading. Kini yang masih melanjutkan Topeng Cirebon gaya Slangit tinggal Keni. Arja pernah mendapat surat pengangkatan sebagai penari Kraton Cirebon. Hanya saja di daerah Indramayu. Topeng Dermayon (Indramayu). dengan tingkatan karakter. Perbedaannya yang menonjol hanya pada bahasa yang digunakan. Topeng Losari. Tumenggung. dikabarkan sejarahnya. dengan dialog-dialog yang lucu tapi bermuatan sosial. menggambarkan sifat manusia (lima nafsu). Sujaya. Di tengah. Suparti. Penggunaan lima buah kedok (berwarna merah. Rumiang. Tumenggung. Suparta. kuning. diturunkan kepada anaknya Arja (1879-1954). Rumiang. putih).

adalah Grup Darma Saputra. Ki Gede Trusmi. Sang Putra Darma. yang kemudian berkembang dengan adanya tarian hiburan. dan Panca Tunggal. 3. tarian pembuka. yang selanjutnya dikenal dengan nama Kliningan 30 . Sandiwara Cirebon juga menyajikan kesenian yang lebih menonjolkan unsur dialog dengan bahasa Cirebon. Bedanya menggunakan bahasa Cirebon. Pada tahun 1970-an Sandiwara Cirebon mengalami masa kejayaannya. Pertunjukannya dilakukan pada malam hari. adegan gimmick (surprise dengan trik panggung kembang api). penutup dengan musik dan epilog pimpinan sandiwara. 6) Sandiwara Indramayu Perkembangan Sandiwara di Indramayu tidak terlepas dari perkembangan Ketoprak dan Sandiwara Cirebon. Adapun ceritera yang disajikan mengambil dari babad Cirebon. Di Wilayah Pantai Utara (Pantura) 1)Kliningan Bajidoran (Jaipongan Pantura) Kliningan Bajidoran. Walangsungsang. adalah sajian pertunjukan hiburan kalangenan dengan menampilkan sinden-penari dan sinden-penyanyi sebagai media pertunjukannya. Tandange Ki Bangus Rangin. Sebagaimana juga Sandiwara Sunda. Grup Sandiwara yang jadwal panggungnya penuh dan dikenal di masyarakat. serta banyak menggunakan spectacle-spectacle dan musik Dangdut Cerbon-Dermayon. pertunjukan lakon. maka tidak heran. Gema Nusantara. antara lain Nyi Mas Gandasari. sebagai berikut: musik pembuka (sebagai tatalu). yaitu membersihkan dari hal-hal yang dapat mencelakakan manusia.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan Cirebon. dengan strutur pertunjukan. jika pada masa itu bermunculan grup-grup Sandiwara di setiap desa dan kecamatan. dan Pusaka Golok Cabang. Aneka Tunggal. adalah sebagai sarana Ngaruat. 5) Sandiwara Cirebon Sandiwara Cirebon di kalangan masyarakat Jawa Barat dikenak dengan sebutan ‘Masres’. Pertunjukan model ini merupakan perkembangan dari pertunjukan yang menyajikan unsur karawitan (musik tradisi) dengan menggunakan gamelan Pelog-Salendro.

Namun demikian semenjak adanya musik Organ Tunggal dan Dangdut. Matres. Di Subang tercatat pada tahun 1999 terdapat 158 grup. bahkan. yang mengutamakan adanya interaksi sinden-penari atau penyanyi dengan para pengibing. Sandiwara Indramayu. Selain tariannya yang erotis. sunatan. Purwakarta. 31 . yaitu waktu musim turun nyambut (membajak sawah). Sandiwara Sunda. Subang. bahkan ajang ekonomi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bajidoran. atau upacara perputaran waktu. adalah Tetater khas Karawang dengan cirri yang paling dominan pada gerak tari yang cenderung erotis. juga lawakannya cenderung lugu. Banjet identik dengan dengan Doger. Banjet mempunyai sebaran yang cukup luas. nyambut cai (menjemput air dari irigasi). Banjet memiliki waktu pertunjukan yang hampir sama dengan tetaer lainnya (Longser. 2)Topeng Banjet Karawang Topeng Banjet . antara lain ke Bekasi. baik bagi seniman. Pertujukannya dimulai sekitar pukul 21. juga syukuran seperti hajat perkawinan. Topeng Banjet hingga sekarang masih dipertunjukan oleh masyarakat Karawang terutama di desa-desa sebagai sarana pelengkap upacara hajat Bumi. ajang komunikasi. dengan menggunakan iringan gamelan yang sederhana (mudah dibawa) serta bahasa Sunda yang dicampur dengan bahasa Indonesia dialog Betawi. ajang interaksi. terutama dengan munculnya grup-grup Kliningan Bajidoran yang dipimpin oleh para perempuan. sebagai ajang prestise. yang kemudian banyak dikenal dengan sebutan ‘Goyang Karawang ’ . Sebagaimana umumnya teater rakyat. apa adanya. dan para pedagang yang selalu hadir di manapun Bajidoran idolanya ditanggap. merupakan persoalan masyarakat Karawang.00 dini hari.00 hingga pukul 05. yang menunjuk pada sebuah tontonan yang menampilkan ronggeng dan diringi gamelan yang dinamis. Bogor Utara. dan difungsikan sebagai tanggapan yang wajib disajikan pada hajatan masyarakat Subang. yaitu goyang pinggul dan bokong yang aduhai. Ceritera yang dimainkanpun sangat akrab. dll. dll). populasi tersebut makin berkurang. Pertunjukan ini sangat digemari oleh masyarakat. Priangan. penanggap.

Tokoh Banjet. seni pertunjukan tradisional di Jawa Barat banyak mengalami perubahan. Bang Kacrit (Bekasi) serta Bang Ali Syaban dan Bang Awing (Karawang). Dasim menjadi Topeng Banjet Reman. Namun demikian beberapa seni pertunjukan yang hingga kini masih berkembang dan difungsikan oleh masyarakat pendukungnya. Sebagian di antaranya ada yang berubah fungsinya. masyarakat Jawa Barat dihadapkan pada banyak pilihan. Kondisi diakibatkan berbagai faktor. Dalam hal ini. status. Wayang Golek masih difungsikan di masyarakat. Walaupun kemudian terjadi pasang-surut. serta Dede Amung. bang Enjin (Subang). masih banyak seni pertunjukan lokal yang hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat yang menyebut dirinya sebagai masyarakat modern. antara lain Bang Seli (Tambun). terutama juga tarif yang tinggi atau terlalu mahal. adalah. prestise. di antaranya: selera. Tidak dapat dimungkiri. Faktor-faktor yang terjadi didasari pertimbangan. dan sebagainya. dalam menentukan pilihan. Sejalan dengan perkembangan zaman Kelompok yang bertahan dan cukup popular. atau bahkan orientasi nilai budaya. Topeng Banjet Sapar menjadi Topeng Banjet Alisyaban (sekarang menjadi dua. bahkan dijadikan ajang prestise. Ade Kosasih (alm). sementara yang lain mengalami perubahan bentuk.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Kelompok Banjet sebagaimana juga pertunjukan Longser. dari daerah-ke daerah. Topeng Banjet Tinggal menjadi Topeng Banjet Baskom. yakni Kelompok Ijem dan Askin) Kondisi Masa Sekarang Pada era komunikasi yang serba canggih. Bahkan banyak yang hilang seiring dengan bergulirnya zaman. kendatipun secara frekuensi pertunjukannya tidak sebanyak pada tahun 1960an dan tahun 1990-an pada masa Dalang Asep Sunandar Sunarya. dalam era globalisasi. antara lain Kelompok Topeng Banjet Asmu atau Pendul (sekarang Pendul Putra). Mang Dalih (Cimanggis Bogor). sebagai berikut: 1) Wayang Golek. Bang Nasmi Pagaden Subang. dalam perjalanan sejarahnya (sebelum tahun 1960-an) aktif mengalami tradisi ngamen. 32 . Bang Jiun dan Mak Kinang (Cijantung).

Wahyu Wibisana. Dadan Sunandar Sunarya (putra Asep Sunandar Sunarya). pada masa kini mulai kem33 . Argo. Stuktur pertunjukan sebagaimana pertunjukan Teater berbahasa Sunda lainnya. Ceritera yang ditampilkan naskah karya Saini KM. Asep Koswara Dede Amung. Yosep Iskandar yang diterjemahkan oleh Eti RS ke dalam bahasa Sunda. serta Deden Sunandar Kosasih (putra Ade Kosasih Sunandar Sunarya) yang tarifnya berkisar Rp 20 juta (dalam kota). 2) Longser (Bandung) Adapun Longser yang masih bertahan. Wawan Dede Amung Sutarsa. serta Longser Sasagon campuran Alumni STSI Bandung yang melahirkan artis-artis yang sering manggung di TV seperti Sule. dan Dede Amung (untuk dalang Asep Sunandar Sunarya berkisar Rp 50 juta rupiah. daripada Rp 50 juta hanya untuk sebuah pertunjukan Wayang Golek. Akan tetapi dengan munculnya para dalang muda seperti Hedi Riskonda. Hanya orang-orang yang berduit serta beberapa kelompok organisasi parpol (sebagai ajang kampanye). Wayang Golek dengan dalang-dalang muda ini masih bertahan digunakan untuk masyarakat-masyarakat tertentu. seperti Asep Sunandar Sunarya. 4) Calung dan Reog Adapun seni Calung dan Reog. 3)Teater Sunda Kiwari (Bandung) Kelompok Teater yang menggunakan bahasa Sunda. antara lain adalah. di daerah Bandung selatan pimpinan putra Ateng Japar.didirikan tahun 1975 dengan koordinator Hidayat Suryalaga. Longserlongser yang berkembang pada masa kini adalah. Longser Antar Pulau yang para pemainnya para alumni STSI Bandung. dll.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Untuk para dalang-dalang kahot. Ki Daus dll. lebih memilih untuk menambah membeli mobil atau ibadah Haji. Pada masa kini masyarakat perkotaan dan perdesaan sebagaian besar berpikir praktis dan ekonomis. Rina. dan Dede Amung berkisar Rp 40 juta rupiah). dan lembaga-lembaga tertentu yang masih mampu menanggap dalang-dalang kahot.

Jawa. Keunikan grup ini adalah pada vokal yang dijanyikan oleh Tarjo yang bernada tinggi. kendang dan gong. dengan memasang tarip lokal berkisar Rp 10 juta. Pada acara kampanye parpol. 34 . dan humor. mengelu-ngelu sebagai duplikasi kesenian ‘Beluk’ yang hampir punah (karena salah satu vokalisnya (mang Ukok) yang telah almarhum). gerak. diiringi tampilan lagu-lagu daerah Sunda. serta gerak dan mimik ekspresi muka yang lucu dari para pemainnya membuat para penonton terhibur. antara lain: 5) Glamor Glamor. biola. salendro dan pelog dengan pemain enam orang. Glamor sering diminta untuk manggung keliling daerah dengan tarif lokal berkisar Rp 10 . Selain seni-seni tradisi. yang dikolaborasikan dengan lagu pop Indonesia dan Barat. Keroncong. Batak. Minang. Glamor berdomisili di Kota Bandung dengan pimpinan Atang Warsita. sering mendapat tawaran manggung pada acara-acara pesta rakyat. merupakan kelompok seni pertunjukan yang bergerak di bidang seni komedi. dengan menitikberatkan pada garap vokal tradisi Sunda dan dilengkapi dengan dengan garap vokal kekinian. asal kata dari. Dangdut. bermunculan pula seni-seni baru. lagu. Tampilannya sungguh memukau karena dialognya yang kocak. pengembangan dari seni tradisi yang sifatnya menghibur.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF bali digalakkan dengan cara diselenggarakannya ajang festival antar daerah se Jawa Barat yang diikuti oleh Grup Reog laki-laki dan Grup Reog Perempuan Calung Remaja. serta geraknya tarinya yang membuat geli serta dialog plesetan yang membuat suasana segar. dll.15 juta. 6) Jenaka Sunda Grup Jenaka Sunda ‘Kanca Panglima’. kendang dan gong. Grup Jenaka Sunda Panglima beralamat di Bandung pimpinan Lili Suparli. di Jalan Buah Batu Bandung. bertangga nada diatonis. Grup Reog Gembol Perempuan dari Kota Bandung yang mendapat juara. di Komplek Panyileukan Bandung. Penyajiannya diringi kecapi elektrik. dan pemusik empat orang. Grup Jenaka Sunda dimainkan oleh lima orang pemain serta 3 orang pemain musik kacapi.

Begitu pula nilai-nilai etika yang masih sangat dijunjung tinggi. adalah makanan tradisional khas China. Grup Giler Kameumeut. adalah Kelompok Ijem dan Askin. selain industrinya terdepan dibandingkan dengan negaranegara lain. serta lembaga-lembaga seni dan budaya sebagai apresiasi Seni masyarakat. Selain Kabuki. Ati Grup. Untuk daerah Karawang Suwanda Grup. itupun hanya ditanggap pada hajatanhajatan perkawinan di kampung-kampung. baik berupa seni pertunjukan Opera. Dan yang paling dikenal dunia. seni sastra serta seni lukisnya pun maju. Cicih Cangkurileung. juga seni Pertunjukan Akrobatik dengan kolaborasi teknologi canggih. China dikenal memiliki berbagai Gedung Seni Pertunjukan yang representatif yang ditangani secara profesional dengan melibatkan 200 orang seniman. ternyata penghargaan masyarakat terhadap seni pertunjukan tradisionalnya (teater tradisional) Kabuki. 2) Topeng Banjet Topeng Banjet yang masih bertahan pada masa kini. Cineur Grup. dan Euis Oray. seni pertunjukan dan bangunan-bangunan bersejarah. Cabe Rawit. serta dapat di temui di belahan dunia manapun. Titin Dongkrak. di beberapa negara maju seperti Jepang.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Adapun di wilayah Pantura hingga saat ini seni pertunjukan yang masih eksis antara lain: 1) Kliningan Bajidoran atau Jaipongan Pantura Pertunjukan model ini di daerah Subang dan Karawang masih menjadi primadona. Bahkan dengan munculnya grup-grup yang dipimpin oleh perempuan. dan Euis Dongkrak. Selain Jepang. Linda Grup. Ipah Gebot. negara yang masih menjujung tinggi budayanya antara lain adalah China. Namin Grup. Selain dikenal dengan peninggalan budaya. Budaya Lokal dan Tantangan Masa Depan Barangkali bisa dijadikan referensi. memiliki gedung Seni Pertunjukan yang modern lengkap 35 . China pun dikenal dengan ramu-ramuan pengobatan tradisional. kini secara populasi lebih banyak grup yang dipimpin oleh perempuan yang banyak manggung daripada yang dipimpi laki-laki. antara lain Kliningan Bajidoran di daerah Subang. dapat diacungi jempol. Malaysia.

Padahal kesenian yang paling lokal. Bahkan di Malyasia. Masyarakat Indonesia. Wisuda perguruan tinggi yang wajib diiringi gamelan. selain digelar pertunjukan budaya Malaysia juga digelar pertunjukan Indonesia hampir di setiap antar Kota. 36 . dalam arena balap sepeda. atau menghabiskan dana proyek daripada hangus. serta pertunjukan Angklung. Bukan hanya bersifat kesementaraan dengan hanya berpedoman ‘SPJ’. yaitu : (1) Sumber Daya Manusia (SDM seniman yang kreatif). adalah milik negara Malaysia. Demikian pula dengan Jerman. dan cenderung mengedepankan teknologi dan ekonomi kemasan yang baru (yang sebelumnya tidak ada). yang dikunjungi masyarakat pewisata baik negara asal. karena di negara asalnya Indonesia jarang ditemui dalam event/event terbuka. pengembangan dan pembinaan seni perunjukan tradisional. Kebijakan pemerintah dalam menumbuhkembangkan seni pertunjukan tradisional sebagai kekuatan lokal. baik pada festival-festival. Tidak adanya ‘ruang’ 6 publik yang dapat digunakan sebagai ajang kreativitas para seniman. bahwa tantangan masa depan seni pertunjukan tradisional dapat dipilah menjadi dua. Lambat-laun dunia mengakui. dan produk kesenian rakyat lainnya. tetapi juga aktivitas-aktivitas seni pertunjukan. akhirya dapat disimpulkan. hendaknya ‘bersifat simbiotis’. Atas dasar uraian yang telah dipaparkan. haruslah bersifat komprehensif dan berkesinambungan. TV-TV Swasta dan Pemerintah. bahwa penyajian seni pertunjukan tersebut. dll). ternyata masyarakatnya sangat menghargai musik rakyat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dengan panggung sistem hidrolik (lighting. serta mensosialisasikan dengan dana yang murah . terutama Jawa Barat agaknya justru menjauhi seni tradisi. lomba-lomba balap mobil. akan memiliki daya tarik yang universal. musik. Begitu pula program-program konservasi. merupakan salah satu kendala untuk berkembangnya seni tradisi di Jawa Barat. seperti tari Kuda Lumping. selain mengedepankan teknologi juga tidak mengesampingkan seni pertunjukan milik negaranya. dan Perancis. Inggris. serta radio-radio yang menyiarkan musik tradisional (di antaranya juga Keroncong Indonesia). serta (2) Motivasi berbagai pihak terkait untuk memberdayakannya (memfungsikan). dan seniman lainnya. tidak berarti hanya sekadar ‘ tempat’. sekitar 250 orang. Pertunjukan pun disajikan secara periodik. tari Piring. jika benar-benar merupakan ekspresi artistik dan mengungkapkan kedalaman naluri manusia. sastra. dengan seniman tari. 6 Ruang. Amerika Serikat sebagai negara adikuasa. dll. artistik. sepeda. tari Rantak Minang. maupun mancanegara.

dan hotel berbintang. Kurikulum yang sinergis. supermaket. tanpa sekat-sekat ruang komunikasi. 1. pihak swasta. interior tradisional. Kita perlu memiliki kesadaran global. baik yang mewakili daerah khususnya. akan tetapi merupakan tanggungjawab kita semua. Program studi Pariwisata. 4. atau ruang-ruang yang terpisah. atau pihak-pihak terkait dengan dipertunjukkannya pada acara-acara penting di berbagai event. 9. STISI. Diadakannya berbagai Festival Seni Tradisi oleh lembaga-lembaga terkait. Kurikulum Muatan Lokal (Seni) di sekolah-sekolah yang disosialisasikan secara menyeluruh. Sekolah-sekolah Pariwisata. dari lembaga terkait. Indonesia pada umumnya. serta pembinaan seni dan budaya. Pembuatan film dokumenter sebagai arsip kekayaan daerah. serta masyarakat. yakni pemahamam (pengakuaan. Difungsikan oleh masyarakat. sesuai dengan kebutuhan di lapangan. UPI-Jurusan Sendratasik UPI. antara lain sebagai berikut. 8. serta adanya ‘Ruang bagi seniman dan karya seni pertunjukan lokal. 2. selain menyajikan makanan tradisional. 6. Kebijakan Pemerintah untuk menyusun Perda.’ Semua lokal merupakan bagian dari global. Semua tersebut di atas dapat terwujud apabila ada kerjasama ‘teks dan konteks’. 37 . khususnya dengan makin banyaknya mall. dan sebaliknya dunia yang berupa bola (globe) menuntut kepedulian lokal-lokal.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Terlepas dari itu semua kini diperlukan bukan hanya melihat satu persatu. Kerjasama yang dimaksud. khususnya program-program konservasi. diwajibkan adanya ‘ruang’. kepercayaan) terhadap kesalinghubungan semua pihak yang terkait. 5. kerajinan tradisional. khususnya ‘materi terapan’ untuk kepentingan konservasi budaya serta kepentingan pengembangan. 3. secara teks dan konteks. UNPAD program studi Pariwisata dan Budaya) . 7. Penulisan buku-buku serta penelitian seni tradisi yang didanai khusus oleh lembaga-lembaga terkait. juga pertunjukan tradisional. Adanya sinergi. Kerjasama semua pihak antara pemerintah. dan lembaga-lembaga terkait. dan pembinaan budaya /kepentingan masyarakat (STSI. pengembangan.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF terutama acara-acara penting. tidak ada dahulu tidak ada sekarang. 1987: 130).. untuk menghantarkan kembali masyarakat ke koridor sejarah masa lalu. 38 . Penutup Dengan demikian. aya ma beuheula. Cabridge. bila tidak ada masa lalu tidak ada masa kini. Bandung: Sunan Ambu STSI Press 2007. berarti masyarakat Jawa Barat atau lembaga-lembaga terkait telah memahami arti dari pelestarian dan pengembangan budaya dengan makna yang sesungguhnya. Ada dahulu ada sekarang. tan hana nguni tan hana mangke. hana ma tunggulna aya tu catangna”. maupun nasional. Sebagaimana yang tersurat dalam “Amanat Galunggung” yang berbunyi: “Hana nguni hana mangke. bila ada tunggulnya tentu ada cabangnya (Saleh Danasasmita. Endang Caturwati. tak ada pokok kayu tak akan ada batang. bahkan sepanjang zaman. hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna. bahwa kebudayaan nasional yang dibangun harus berfungsi sebagai instrumen yang mengakomodasi masa kini dan membuka pintu masa depan. Keyakinan historis. Dibuatnya undang-undang dan didanai khusus. tan hana tunggak tan hana watang. 1967. bahwa tradisi merupakan akar budaya serta kekuatan lokal. 10. Pertunjukan Indonesia. Sebagaimana julukan Indonesia yang dikenal di dunia sebagai bangsa yang sangat berbudaya. aya nu ayeuna. Itu berarti. Theatre in Southeast Asia. Massachusetts: Havard University Press. Daftar Pustaka Brandon. apabila semua itu telah terwujud. hana tunggak hana watang. dkk. serta Ekspresi Budaya Lokal tidak hanya sekadar memberikan kebanggaan. setiap lembaga pemerintah atau swasta untuk mempertunjukkan seni tradisi minimal 1 tahun 2 kali pertunjukan. James R. ada masa lalu ada masa kini. baik di daerah regiaonal. tetapi juga kesetiaan untuk memelihara dan merekayasa nilai-nilai luhur dan tradisi besar bangsanya. Pelestarian seni tradisi sebagai warisan budaya bangsa yang bukan hanya merupakan obsesi. ada pokok kayu ada batang.

The Sociology of Art ( Chicago and London: The University Of Chicago Press. Bambang. Seni dalam Tumpuan Tradisi. Dewan Kesenian Kabupaten Sleman Yogyakarta. Bandung: Sunan Ambu Press. http. 2008. ed. Seminar Revitalisasi. Transformasi.www. Ensiklopedi Sunda: Alam. 2000.com/ballroomcountry/wallz.copyright. Arnold.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI _______________. 1985). 7 Januari. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.htm . dan Globalisasi Seni. Manusia. 2001.1996-2004. “Dialektika Seni Pertunjukan Tradisi”. Soedarsono. Lori Waltz. dan Budaya Jakarta: Pustaka Jaya. Metode Penelitian Seni Pertunjukan . 2004. Hauser. 39 . 2009.M.centralhome. Harian Pikiran Rakyat. Pudjasworo. R. Heikkila.

Sandiwara Dr Cangkring ma Samudra Cirebon Kec.Desa Slangit Asmara bon Klangenan Cirebon Jati Suara Wayang Kulit Kalianyar Cirebon Arjawi-nangun Cirebon Langgeng Putra Topeng Cire. Lagu Jalan Buah Batu dan Humor Bandung Beluk Tembang & Ciapus Banjaran Tutur Bandung Longser Antar Teater Tradisi Jalan Buah Batu Pulau Bandung Topeng Aninin. Mohamad Hedi Putra Golek Sunda Toha Pimpinan Lili Suparli 2 3 4 5 Atang Warsita Oyib Herman Efendi Keni Arja 6 Inu Kertapati Amud 7 8 Sanija 9 Umar Karsiyan Hedi Riskonda 10 40 . Komplek Bumi Kanca Panglima dialog dan Panyileukan Blok humor FI No 11 RT 01 RW 05 Bandung Glamor Gerak .Topeng Cire.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ALAMAT KELOMPOK SENI TRADISI JAWA BARAT No 1 Nama Grup Jenis Seni Alamat Seni Jenaka Sunda Hiburan Lagu.Desa Slangit grum bon Klangenan Cirebon Topeng Panji Topeng Cire. Plered Cirebon Wayang Golek Wayang Jl.Desa Slangit bon Klangenan Cirebon Sandiwara Dhar.

Humor Reog Perempuan Wayang Golek Wayang Golek Areng Japar Putra Ijem Pimpinan Darso Euis Gembol Asep Koswara Wawan Dede Amung Sutarsa Dadan Sunandar Sunarya Deden Sunandar Kosasih 18 Dadan Asep Sunandar Muda Deden Ade Kosasih Muda Wayang Golek Wayang Golek Jelekong Bandung Jelekong Bandung 19 41 . S. dialog. lagu. 13 Banjet Ijem No Nama Grup Seni 14 Calung Darso 15 16 17 Reog Gembol Asep Dede Amung Muda Wawan Dede Amung Muda Teater Tradisi Jenis Seni Musik. Moh Toha dialog dan humor Teater Tradisi Banjaran Bandung Karawang Alamat Bandung Ujung Berung Bandung Bandung Bandung Nano. Ang-klung) Longser Pancawarna Hiburan Lagu. Suling.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 11 12 Prakpilinkung (Keprak. Jl. Kecapi.

Dr. Direktur Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI (2000–2006). Sri Hastanto. Jebres. Surakarta 57126. 0813-29954762.ac. Pria kelahiran Jombang. Jln.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. 638974 / 0271-638974. Lulusan S3 Etnomusikologi University of Durham Inggris (1985) ini pernah menjadi Direktur Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta (1986–1988). Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta (1988–1997). Direktur Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1998–2000). Sejak tahun 2009 aktivitasnya lebih banyak mengajar di Program Pendidikan Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta (sejak 2009).Kar. Telepon/Faks : 0271-647658. S. Alamat Kantor : Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Telepon/HP: 0271-664014 / 0813-88808037.id 42 . Chairman ASEAN bidang Culture and Information (COCI) pada tingkat nasional Indonesia (2003–2006) dan tingkat regional ASEAN (2005–2006). E-mail : tanto47@isi-ska. 22 Desember 1946 ini adalah Guru Besar Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta. Ki Hadjar Dewantara 19 Kentingan. Bimasakti III/1 Kaplingan RT 05 RW 20 Jebres Surakarta 57126. Alamat Rumah : Jln.

Pada saat itu. Substansi Informasi Kita sadar semua bahwa kini masyarakat rawan melakukan demon43 . Saya percaya dengan demikian masing-masing akan memetik manfaatnya sehingga kegiatan itu akan dilaksanakan secara ikhlas. di sisi lain teknologi informasi dan komunikasi digunakan sebagai wahana penyelamat kehidupan seni tradisi yang notabene sebagai perangkat pendidikan publik.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni Tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Timur Sri Hastanto Pakar Etnomusikologi ISI Surakarta M akalah dengan judul seperti tertera di atas (judul pemberian panitia) itu ditulis dalam rangka tema yang lebih besar yaitu: “Sinergi Seni Tradisi dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik” Tema sejenis pernah melandasi kegiatan yang diadakan oleh almarhum Departemen Penerangan pada masa itu. tetapi tidak pernah kekuatan penerangan itu digunakan untuk menyelamatkan kehidupan seni tradisi. Saya sangat mengharapkan kali ini tidak seperti yang sudah-sudah. dan berkali-kali dalam berbagai kesempatan saya melontarkan kritik bahwasanya “sinergi” itu hanya berjalan sepihak yaitu: Hanya seni tradisi yang terus-menerus dijadikan wahana penerangan. Satu sisi seni tradisi digunakan sebagai wahana penyampaian informasi untuk pendidikan publik.

Tetapi sering gerakan unjuk rasa ini lebih dipicu oleh emosi dibandingkan oleh pikiran kritis. atau verbal. atau penjelasan tentang caranya menyontreng. Juga masalah-masalh yang berhubungan dengan terorisme dan lain sebagainya. Ini juga diperlukan pendidikan publik. Kita sadar pula gejolak masyarakat yang kini mengendap tetapi dapat meletus sewaktu-waktu berhubungan dengan lumpur Lapindo. Permasalahan ini juga diperlukan informasi untuk pendidikan publik yang bersifat konseptual. Substansi itu masih banyak lagi. yang pertama adah matra yang bermuatan konsep. Seni Tradisi Komunikatif Sebenarnya semua seni bila senimannya cukup matang dan penikmatnya cukup mempunyai bekal. Sifat dan Matra Informasi Sifat informasi akan sangat menentukan matranya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF strasi yang menurut perkiraan mereka sebagai wujud dari warga negara yang kritis. dan kedua matra yang bermuatan informasi ringan. maka semua seni adalah komunikatif. Tetapi dalam konteks tema besar tertera di atas seni tradisi komunikatif ini tentu diartikan khusus. misalnya penjelasan tentang arti dan dampak “legawa” dan sebaliknya penjelasan tentang tidak legawa dan dampaknya. Misalnya menanamkan slogan-slogan jurdil. fisik. Mungkin kesenian tradisi dapat pula ambil bagian dalam pendidikan publik sehubungan dengan hal ini. di sana ada berbagai tingkatan Pilkada yang juga sering berujung pada gejolak masa. Masalah yang berkaitan dengan pilkada sampai dengan pemilihan presiden informasi pendidikan publiknya tidak cukup hanya dengan yang bersifat fisik atau verbal. Kita juga sadar bahwa ditengah-tengah terengah-engahnya rakyat mencari nafkah untuk hidup. Secara sederhana saya membagi matra ini ke dalam dua golongan. Hal ini perlu pendidikan publik. Kedua jenis matra tersebut dapat dibawakan oleh seni tradisi secara sabtun dan tidak vulgar tergantung seniman serta penikmatnya. atau pesan mengihindari serangan fajar dan lain sebagainya. Hal ini pemerintah harus benar-benar berpihak kepada rakyat dan keberpihakannya itu harus diinformasikan kepada rakyat dan sampai ke alamat yang dituju. yaitu seni tradisi yang dapat secara verbal menyampaikan informasi dengan substansi yang berkaitan dengan pen44 .

ketiga Ludruk dan keempat Ngremo Kentrung Setelah hampir 1 jam nyerocos menceritakan bagaimana kesaktian Patih Batik Madrim (ceritera Anglingdarmo) dengan diiringi kendang dan terbang mbah dalang kentrung yang umurnya merayap ke satu abad itu membuat selingan dengan masih diiringi kendang dan rebana trung . lalu dilanjutkan dengan masih tanpa dilagukan..LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI didikan publik. trung . “Kowe ki bakul apa buruh” (Kamu itu pedagang atau buruh) tanya dalang kentrung. dalang kentrung balik bertanya dengan bahasa dialog biasa tidak dilagukan walaupun masih dibingkai dengan iringan kendang dan rebana. Selingan itu masih menggunakan metrum yang sama seperti induk ceritanya: tontonen punggawa desa terampil ngopeni warga nggarap KTP gak tambah redana kabeh wis siap rampung sedina Lihatlah itu pamong desa terampil melayani warga Mengerjakan KTP tanpa tambah biaya Semua siap selesai dalam sehari Mendengar lantunan pujian terhadap punggawa desa itu ratusan penonton yang berkerumun di dekat panggung bergeredeng. dan banyak pula yang sudah tidak bekegiatan alias mati.. dan tiba-tiba seorang penonton berteriak: “ngapusi kuwi mbah” (bohong itu mbah).trung. Di Jawa Timur seni tradisi semacam itu sangat banyak tetapi ada yang bersifat sangat lokal sepertimisalnya Remo di Madura. padahal sudah bayar mbah) “O” kata dalang kentrung.. “Wis sesasi KTP-ku ra dadi. “Lho piye kok ngapusi” (Lho bagaimana kok bohong). mangka wis mbayar lho mbah” (sudah sebulan KTP-ku belum jadi.. ”Aku nelayan je mbah” (Aku seorang nelayan 45 . kedua Wayang Kulit. Untuk itu dalam rangka ini saya hanya akan mengutarakan empat jenis kesenian yang teba jangkauan penikmatnya cukup luas: Pertama Kentrung.

Ia juga dapat berfungsi sebagai wahana kontrol sosial 46 . Walaupun demikian karena jam terbang mbah dalang kentrung menghadapi publik telah sangat tinggi. Kentrung dapat berceritera mulai dengan jenis Suminten Edan. dongeng. lalu ujarnya (kini menggunakan lagu mengikuti irama kendang dan rebana: Lha dhuwitmu mambu amis Lha wong ambumu iya amis – wong nelayan – dhuwitmu digondhol kucing KTP-mu ya digondhol kucing (Uangmu berbau amis Karena kamu juga amis – maklum nelayan – Uangmu digondol kucing KTP-mu juga digondol kucing) Spontan penonton tepuk tangan dan bersorak sebab dalang kentrung dengan sigap menanggapi respon penonton tadi sambil menyentil kelakuan punggawa desa yang senang berjudi. atau hal-hal yang bersifat verbal lainnya. Selingan itu dapat berupa apa saja. maka dengan lancarnya ia menyusun teks spontan dan mengandung banyak muatan. artinya uang KTP itu telah ludes di meja judi. juga muatan kritik sosial. Langsung dalang kentrung tertawa terkekeh. Seni kentrung adalah seni tutur yang dilagukan dibingkai dengan iringan bermatra metrik oleh kendang dan rebada. Seni Kentrung kini dalam keadaan sekarat dalang kentrung hanya tinggal tidak lebih dari jari sebelah tangan kita. karena substansi yang dilantunkan adalah berbagai ceritera rakyat dan legenda yang sarat dengan nilai kehidupan manusia. Ia dapat berfungsi sebagai agen transfer nilai-nilai. yang hidup di masyarakat. sampai dengan Runtuhnya Majapahit. Dengan keluwesannya itu kentrung sangat efektif untuk menyampaikan informasi ringan. Dalam berceritera dalang kentrung sering melakukan selingan diantara babak satu dengan lainnya. Ceritera yang dibawakan adalah berbagai legenda. Itulah hebatnya kentrung.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF mbah). bahkan sering dalang kentrung membawakan current afair atau sekadar banyolan untuk meredakan ketegangan dan membuat refreshing perhatian penonton. Kata “kucing” itu salah satu nama kartu cina yang dipakai berjudi mereka. Padahal kentrung mempunyai muatan yang sangat positif bagi bangsa ini. muatan sastra. Dialog ini terjadi spontan dan tidak dirancang.

Tetapi juga bagaimana teknologi informasi dan komunikasi ini dapat menyelamatkan seni tradisi yang notabene sebagai wahana pendidikan publik. Sekali lagi hal ini dilandasi dengan semangat ‘Sinergi Seni Tradisi dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Publik” secara timbal balik jangan hanya berjalan satu arah yaitu: Seni tradisi digunakan sebagai wahana penyampai informasi saja. dalam hal ini menyelamatkan kentrung dari kepunahan. Para petugas dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten dan Kota juga telah berusaha mementaskan kentrung tetapi sekali lagi sepi penonton. Apa yang dapat kita perbuat. Dari berbagai berita bahwasanya beberapa radio swasta niaga telah berusaha mengadakan siaran kentrung walaupun terbatas pada setiap ulang tahunnya yang tentu saja tidak berbekas di hati masyarakat. Jadi juga tidak berbekas. Perguruan tinggi Seni seperti Institut Seni Indonesia dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia mestinya kapabel melangsungkan kehidupan kentrung dengan konsep yang matang. Jadi jika selera masyarakatnya rendah maka sajian wayang kulitnya juga menjadi dangkal. Wayang Kulit Wayang kulit gaya Jawa Timuran relatif masih lebih murni dibanding dengan wayang kulit yang kini laku di Jawa Tengah. Sinergi seni tradisi dengan teknologi informasi dan komunikasi kiranya jangan hanya berjalan satu arah yaitu: Seni tradisi digunakan sebagai wahana penyampai informasi saja.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI secara santun. Wayang Jawa Timuran belum tertular virus ini. Wayang kulit Jawa Tengah banyak yang kini telah menjadi tontonan yang meladeni selera masyarakat. Sebagian besar waktunya hanya untuk “banyolan” kalau tidak “cengengesan” saat adegan LimbukCangik dan Goro-goro. Tetapi hal ini belum berhasil mendapatkan tanggapan dari yang berwenang untuk mendapatkan dana yang pantas. 47 . seperti yang telah dicontohkan di atas. porsi alur cerita masih merupakan prioritas. Saya percaya Kementerian Koninfo dan Pendidikan Tinggi Seni dapat saling bersimbiose mutualistis menghadapi hal-hal semacam ini. Tetapi juga bagaimana teknologi informasi dan komunikasi ini dapat menyelamatkan seni tradisi yang nota bene sebagai wahana pendidikan publik seperti tema besar pertemuan ini.

Dalam “pakem” diceritakan bahwa Narasoma kemudian malu mempunyai mertua seorang Raksasa. . Ia nekat menculik Narasoma karena anaknya yang sangat cantik Dewi Pujawati. . aja malah dipek mantu. maka kadar kesantunan dan bobot informasinya akan dapat dipertanggungjawabkan Pesan semacam itu tentunya untuk konsumen masyarakat yang berpendidikan menengah ke bawah. Setelah melihat kejelitaan Pujawawati iapun jatuh hati. maka atas kehendak Bagaspati Aji Candhabirawa agar masuk ke dalam tubuh Nrasoma dan menjadi miliknya. Dalam adegan punakawan memang sering ada hiburan ringan seperti pilihan pendengar. maka ia membunuh sang mertua. Apa ra cilaka.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Pak Suleman dari Waru dan murid-muridnya seperti Mas Wardono dan kawan-kawan masih membatasi diri menyisipkan hiburan ringan. Tadinya Narasoma menolak bahkan sempat perang tanding dengan Sang Begawan tetapi kalah. E thole mula pada diwaspada.” Pesan pendidikan publik semacam ini mudah sekali disipkan pada waktu yang tepat. Untuk para petinggi daerah tentunya harus disajikan “masakan” lain yang lebih bergizi. ia diculik oleh pendeta raksasa bernama Bagaspati. dadi maratuwane teroris. apike enggal dilaporake marang sing berwajib. Pada adegan inilah pesan-pesan propaganda dangkal dan yang bersifat verbal dapat dilontarkan. Celakanya kalau sang petinggi itu malah tidak dapat menerima informasi yang lebih bersifat konseptual tetapi sudah merasa bahagia dapat mencerna informasi dangkal semacam itu. Ia kemudian memaksa ayahnya mencari Narasoma sampai ketemu. Kalau hal itu terjadi sebenarnya sang petinggi belum saatnya jadi petinggi. Dinikahkanlah mereka. . . Apa lagi bila teksnya disusun oleh seniman yang mempunyai wawasan luas. Durung nganti putune lair kowe ganti sebutan.. bermimpi bertemu dengan Narasoma dan jatuh cinta. Kebetulan sang mertua mempunyai Aji Candhabirawa yang luar biasa kekuatannya. “. Berikut ini sebuah contoh informasi yang lebih bermartabat: Ketika Raden Narasoma (kelak ia bergelar Prabu Salya) masih muda. yen ana wong anyar nyalawadi. Tetapi sebagai bagian dari kreatifas dalang berhak 48 .

Dalam ingar-bingar pilkada di mana penjabat lama dipandang sudah waktunya turun. Demikian wayang kulit dapat menjadi wahana pendidikan publik “agal-alus” jadi tidak hanya pesan verbal saja. aku minta engkau berkenan menerima warisan Aji Candhabirawa . Bagaspati juga berkata bahwa aji itu tidak lagi berguna bagi dirinya karena sudah tua dan sudah sepantasnya dimiliki oleh yang muda. . . . Garapan seperti ini juga merupakan informasi untuk pendidikan publik. mangkatlah Bagaspati. Hati Narasoma bersorak. dengan segala kemampuanku”. Inilah sanggit itu: Setelah malam pertama. . memang ia membutuhkan “sipat kandel” nanti setelah ia menjadi raja Mandaraka. maka jawabnya “. Narasoma menjawab “Sanggup” Seandainya Bagaspati mempunyai permintaan khusus apa Narasoma mau memenuhinya. . agar dapat diamalkan untuk kebaikan manusia selanjutnya. kiranya garapan ini relevan untuk disajikan. Karena telah sanggup. Ya Bapa saya dengan senang hati akan aku terima warisan Bapa . “Raden. . Kalau demikian Narasoma sanggup tidak menterlantarkan Pujawati di kemudian hari. Info itu bila dicerna cukup dalam akan mempermalukan mereka yang setelah merasakan enaknya duduk di kursi lalu tidak mau turun walaupun sebenarnya sudah waktunya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI melakukan sanggit cerita. bagi mereka yang mempunyai bekal pengetahuan lebih luas. Dengan bercucur air mata Narasoma menghunus kerisnya dan dengan serta merta Bagaspati menubruk keris itu dan menghunjamkannya di ulu hatinya. Norasoma dipanggil Bagaspati.” “Saya sanggup memenuhi syarat-syarat itu. dan Aji Candhabirawa pindah raga yaitu raga Narasoma. sebab aji itu telah menyatu dalam tubuhku. apakah dia mencintai Dewi Pujawati. hanya dengan kematianlah aku dapat mewariskannya kepada Raden. .” Lalu Bagaspati menceritakan bagaimana kekuatan aji tersebut.” “Tetapi ada syaratnya Raden . Bagaspati tetap mati tetapi kandungan nulai dari peristiwa itu sangat berbeda. . Informasi itu memberi pemahaman bagaimana seorang tua yang legawa kedudukannya dilengser oleh yang muda. “Syaratnya Raden harus membunuh aku. Di Jawa Timur sebe49 . . Narasoma menjawab “Ya. . . Narasoma menjawab: “Ya”.

Dalam tulisan ini akan dibahas “kidungan”nya yanmg merupakan wahana ampuh untuk melontarkan infrormasi pendidikan publik yang ringan-ringan. Misalnya: Pembangunan (dulur) kudu dipentingna Marga pembangunan kanggo kabeh kita Ayo kanca padha aja tidha-tidha Mbantu pemerintah urun tenaga Tetapi bila si penari mempunyai latar belakang mendidikan yang memadai. Kidungan Seperti telah saya singgung bahwa kidungan terdapat di dalam pertunjukan Tari Ngrema yang sering mengawali pertunjukan Wayang Kulit maupun Ludruk. Sayangnya belum bayak kaum intelektual yang mau menggarap Ludruk sehingga pesan ceritanya dapat digunakan sebagai pendidikan publik yang memadai. Hal ini akan dibahas setelah pembahasan Ludruk. Dalam pertunjukan Ldruk juga demikian. Bedanya Ludruk lebih leluasa menggarap sanggit-nya. Teks dalam kidungan sering sekali menggunakan bahasa klise yang menyanjung program pemerintah secara vulgar. Dalam Tari Ngremo selalu ada bagian yang disebut “Nggandhang” yaitu sang penari berhenti menari tetap dalam sikap tari dan melantunkan nyanyian yang disebut Kidungan. Ludruk Tidak banyak yang dapat saya utarakan perihal Ludruk ini. Penari ini biasanya wanita yang nanti akan bertindak sebagai pesinden dalam wayangan semalam suntuk. Apapun ceriteranya sutradara berhak membuat “sanggit” seperti dalam wayang kulit tadi. Peranan wanitanya selalu dimainkan oleh pria (waria) yang biasanya sangat cantik. Misalnya: Ketika kita sedang dipusingkan dengan adanya tawuran antar fakultas dan bahkan antar kampus di banyak kota 50 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF lum pergelaran wayang dilaksanakan biasanya didahului dengan Tari Ngremo oleh seorang penari tau lebih. Hal itulah salah satu penyebab mengapa banyak orang menyenangi Ludruk. kidungan ini dapat sangat efektif digunakan sebagai wahana pendidikan publik. Ludruk adalah teater daerah Jawa Timur dan yang terkenal adalah Ludruk Surabaya. Ceriteranya bisa apa saja kalau perlu cerita Romeo and Juliet.

Sekarang apa yang dapat dilakukan Koninfo untuk menghidupi partnernya itu. Si tukang kidung menempatkan martabat rekannya para tukang becak yang kala itu melihat pementasannya jauh lebih tinggi dibanding dengan martabat mahasiswa. demikian dana habis. Tapi saya berpikir lain. Seperti kita ketahui bersama bahwa di dalam dunia seni tradisional belum tumbuh budaya kritik. sebab konsumennya telah dipersiapkan oleh kritik. berilah ru51 . sebagai berikut: Manuk cocak (dulur). ngoceh neng tegalan Ocehe panjang kaya huruf palawa Dadi tukang becak (dulur) aja seneng dha tukaran Yen seneng tukaran. Peningkatan kualitas baik penghayat maupun seniman inilah yang akan mendorong seni tradisi hidup. sehingga baik penghayat maupun seniman akan meningkat kualitasnya. tetapi kritik mendudukkan karya seni pada proporsi yang semestinya. sehingga dapat membantu penghayat menghayatinya untuk mendapatkan keluasan pandangan dan kekayaan imajinasi hayatan. Saya akan berterus-terang sesuatu yang saya usulkan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI beberapa tahun yang lalu sempat disentil dalam kidungan oleh seorang penari ngrema pada sebuah hajatan di Mojokerto. Dalam kritik dijelaskan apa yang kuat dan apa yang lemah sehingga penikmat akhirnya mengerti kesenian itu. kocak dan konyol tetapi tepat dan sempat membuat kaum menengah keatas berfikir tentang ulah mahasiswa yang sudah keterlaluan. Sebab kalau diberi dana maka kehidupan seni tradisi bagaikan mayat hidup. Pertanyaan ini biasanya dijawab dengan mengucuran dana. ndhak kaya mahasiswa Sentilan ini luar biasa. Sinergitas Seni Tradisi dan Kominfo Bagaimana seni tradisi dapat dijadikan wahana pendidikan publik telah saya paparkan di depan. Kepada penghayat kritik memberikan penjelasan hal-hal yang kurang jelas dan kepada karya seni kritik menginformasikan bagian mana dari karya itu yang kuat dan yang lemah. Kritik bukannya mencela karya seni. matilah mereka dan menyodorkan tangan lagi untuk meminta. Padahal fungsi kritik itu menyambung karya seni dengan penikmatnya yang kurang bekal. Kritik seni adalah karya ilmiah yang berdiri di antara karya seni dan penghayat.

Ditambah gula rujake degan Manawi lepat (dulur) lha nggih kajengipun Wong dhasare kula niku dhagelan. Solo.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ang kepada intelektual seni untuk untuk menulis kritiknya dan dapat dibaca oleh banyak orang baik secara regional maupun nasional. Kidungan di pelosok Mojokerto juga akan dinikmati secara nasional. dan koran-koran daerah tentu saja dengan honornya yang memadai maka karya kritik seni tradisi akan bertumbuh dan itulah wujud sinergi yang sesungguhnya. Medan Surabaya. Pertunjukan Kentrung di sudut kota Tuban akan merambah Jakarta. Jogya dan sebagainya. Mangan kupat (dulur) lalape timun. Berilah sebuah sudut untuk kritik seni tradisi di koran nasional.* 52 .

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 53 .

Perintis Padepokan PANDAWA (kawasan wisata religius). Plesungan. Hari Mulyatno S. 54 . Hum. Lulusan S2 UGM Jurusan Pengkajian Seni Pertunjukkan Indonesia juga pernah pentas di luar negeri untuk Unjuk Budaya yang dilakukan oleh Pura Mangkunegaran (Surakarta). Gondangrejo. Pengging dan Pendiri/Pemilik padepokan LESUNG. semua di Surakarta. Karanganyar. Saat ini tinggal di Bonoroto. Jawa Timur. Pendiri/Anggota Lembaga SOLO KOBAR. Mahasiswa S3 Universitas Gadjah Mada Jurusan Kajian Budaya ini juga aktif dalam berbagai kegiatan penyadaran masyarakat melalui Seni Budaya Tradisional di Jawa Tengah. Bengkalis (Sumatera). STSI/ ISI Surakarta. dan Pemda Kutai Barat dan Pemprop Kaltim.Kar. M. Sardono Dance Company Jakarta. Dosen Seni Tari ISI – Surakarta ini akrab dipanggil Hari Genduk di kalangan komunitas seni. Anggota MOYO TIRTO. Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Aktif dalam berbagai organisasi antara lain Pendiri/Ketua Umum Lembaga MENTARI SEGARA ANAKAN.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF F.

bahwa pada hari ini saya diperkenankan menyampaikan pokok-pokok pikiran tentang Peran Seni Budaya Tradisional Kalimantan Sebagai Dimensi Informasi Publik. apa yang saya sampaikan adalah P 55 . khususnya yang berada di wilayah peradapan masyarakat Kalimantan. Pada kesempatan diskusi hari ini. merasa perlu dan mempunyai kepentingan tersendiri untuk menyampaikan pandangan pada forum diskusi pada hari ini dan pada Pemerintah Pusat. dalam dan beragam.Kar. dalam hal ini jajaran Kementerian Kominfo. Hari Mulyatno. Saya juga berterima kasih kepada panitia/penyelenggara yang memberikan kesempatan untuk memberi masukan tentang seni dan budaya masyarakat Kalimantan-Indonesia yang majemuk kepada peserta diskusi dan pemerintah pusat.Hum Dosen Seni Tari ISI Surakarta Pengantar uji syukur kepada Tuhan Allah Yang Maha Bijaksana. tentang peran seni budaya tradisional Indonesia khususnya dari belahan pulau Kalimantan untuk sama-sama mengkaji seni dalam Dimensi Informasi dan Komunikasi Pembangunan Indonesia. yaitu bagaimana seni dapat dipergunakan untuk menyampaikan informasi pembangunan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni Budaya Tradisional Kalimantan dalam Dimensi Informasi/ Komunikasi Pembangunan F. Saya menyadari bahwa sebagai salah satu pemerhati kebudayaan Kalimantan. Saya sadar bahwa sebenarnya kurang tepat bahwa saya yang duduk dan menyampaikan pandangan dan informasi tentang seni budaya Kalimantan yang begitu luas. S. M.

Yang dimaksud makhluk langit yaitu para leluhur dan makhluk Tuhan yang pernah dilahirkan di bumi dan telah meninggal dunia. manusia kepada alam semesta raya dan manusia kepada makhluk yang dipercaya ada di alam lain. ataupun yang tidak pernah dilahirkan di bumi yaitu makhluk alam gaib yang masih dapat dijangkau. seni dipandang mampu menjadi sarana komunikasi lintas batas kemampuan akal pikir (rasional) manusia. Sedangkan Kalbar dan Kalsel baru dalam proses awal penjajagan. 56 . khususnya di Kaltim dan di Kalteng. Saya juga mohon tanggapan dan masukan dari peserta diskusi tentang pandangan saya terhadap peran seni dalam Dimensi Informasi (non estetis). Pandangan Umum tentang Seni Pada dasarnya seni adalah sarana komunikasi/sarana pengungkapan pengalaman dan kebutuhan jiwa manusia kepada sesama manusia. Artinya bahwa menurut pandangan masyarakat Kalimantan (Dayak). Makhluk di atas langit adalah kekuatan luar biasa yang tidak dapat dijangkau oleh indra manusia pada umumnya secara langsung seperti para Dewa. dan komunikasi makhluk bumi dengan makhluk langit. mulai awal 2009. ketua Adat Besar Suku/ Etnik Bahau dan ketua Adat Besar Dayak-Borneo. menjelaskan bahwa seni budaya Kalimantan (Dayak) itu sarana komunikasi antara makhluk bumi dengan sesama makhluk bumi. Oleh sebab itu apabila pada kesempatan diskusi pada hari ini.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF suatu pandangan dari hasil pengamatan dan pengalaman pribadi sebagai insan pemerhati Kalimantan dalam bingkai penguatan sikap kebangsaan dan ketahanan masyarakat Indonesia melalui media seni dan budaya tradisional di Kalimantan sejak tahun 2006 sampai sekarang.serta komunikasi makhluk bumi dengan makhluk di atas langit. Malaikat dan Tuhan. Blawing Barek. maka mohon maaf apabila naskah dan presentasi saya ini kurang atau tidak mencapai sasaran yang dikehendaki. dan saya bersedia melengkapi informasi-informasi atau data-data tambahan yang diperlukan setelah forum diskusi ini. apa yang saya sampaikan kurang atau tidak mencapai sasaran dari tujuan panitia. untuk langkah kerja saya lebih lanjut di dalam mendarma baktikan kemampuan saya di bidang seni untuk penyadaran masyarakat yang bangga menjadi Warga Negara dan Bangsa Indonsia pada masyarakat Kalimantan khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Menurut saya lebih baik seni tidak untuk menyampaikan informasi yang bersifat verbal. agar isi informasi dapat terekam dengan baik. kemudian akan berlanjut pada pembentukan sikap dan perilaku yang bertanggung jawab bagi penghayat di kemudian hari. sehingga setelah mendapatkan informasi yang terekam di pikiran kemudian informasi tersebut ditancapkan di dalam lubuk hati sanubari yang paling dalam (rasa). Kalaupun toh ada seni yang menggunakan media bahasa verbal. jadi suatu media ungkap yang efektif untuk menancapkan pesan yang sudah terlebih dahulu terekam di dalam pikiran. Kalau kita ingin menyampaikan informasi tanpa memerlukan proses penghayatan atau perenungan yang lebih mendalam. Oleh sebab itu para seniman dan budayawan seyogyanya lebih bijaksana di dalam memaknai seni untuk dipergunakan sebagai media penyampaian pesan-pesan verbal.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Sifat ungkap atau komunikasi seni adalah sifat ungkap simbolik. tetapi informasi bersifat simbolik. Hal ini memang tugas berat bagi kreator dan para motivator dan atau pemilik gagasan utama yang akan disalurkan melalui media seni. maka dari itu sebaiknya penyampaian informasi cukup menggunakan media bahasa verbal yaitu dengan bahasa lisan ataupun bahasa tulis saja. Apabila kita tidak bijaksana dalam mempergunakan seni untuk media propaganda atau seni sebagai penyampai informasi. dan kemudian isi informasi tersebut akan diaplikasikannya dengan baik di 57 . Artinya isi informasi disampaikan terlebih dahulu melalui media-media verbal. bukan inti atau esensi komunikasi. jadi bukan komunikasi verbal. akan tetapi itu hanya materi ungkapan. dan bukan bahasa kesenian Bahasa Seni Bahasa seni itu bahasa simbolik. setelah mendapat sentuhan hati melalui media seni. kemudian ditancapkan lebih lanjut ke dalam lubuk hati yang paling dalam untuk menjadikan sebuah perenungan. bahkan masyarakat bias menjadi apriori terhadap pesan-pesan penting melalui jasa seni. sehingga penyampaian pesan tidak dapat efektif. bisa jadi sebaliknya dan masyarakat penonton tidak mengerti atau tidak paham inti pesan yang disampaikan. tidak efisien dan tidak tepat sasaran. kemudian akan tumbuh sikap dan perilaku lanjutan pasca penghayatan seni yaitu menindaklanjuti pesan-pesan pendidikan dan pembangunan yang telah diterimanya dengan tulus melalui media seni tersebut. kemudian baru didalami lebih lanjut melalui media seni.

dan ada yang melibatkan diri di luar pentas. Sumbing Jawa Tengah. Ada seni budaya yang cara menikmatinya dengan cara dilihat dan di dengar. ada pula yang dengan cara dilakukan sendiri. bangga) dan kebutuhan rohani/spiritual (nyes. Cara Menghayati Seni Ada beberapa cara masyarakat di dalam menghayati dan menikmati seni. Termasuk jenis-jenis seni religius cara penghayatannya dengan ikut serta menjadi pelaku seni secara aktif. dengan cara ikut serta mendatangi pergelaran pentas seni dari kelompok anggota/grup mereka. Pentas Musik. dan seni-seni pergaulan lainnya. paham. dan bukan pesan-pesan estetik. Oleh karena kebutuhan manusia itu beragam. Seni dapat dipergunakan sesuai konteks kebutuhan hidup manusia tersebut. Sindoro dan. plong. Mereka didalam menghayati seni di lingkungan komunitasnya. pada dasarnya kebutuhan hidup manusia itu meliputi kebutuhan jasmani (makan. ini berarti menempatkan seni sebagai sarana penyampaian pesan-pesan pendidikan dan pembangunan. Ada cara lain bagi masyarakat pangombyong atau anggota kesenian di wilayah kebudayaan lereng Merapi. kebutuhan psikologis (tahu. ada juga yang hanya mendengar atau melihat saja. lebih tepat dinikmati dengan cara mengikuti atau melibatkan diri dengan cara menari-menyanyi atau berjingkrakjingkrak. Seni Film. Menurut saya. minum. Fungsi Seni Saya lebih suka memaknai fungsi seni dari pengertian seni untuk hidup. Wayang. sesuai dengan situasi dan kondisi serta latar belakang kebudayaan masyarakat di daerah tersebut. sreg. sehat).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. mengerti. Jadi dengan demikian masyarakat penonton atau pelaku seni menjadi lebih paham dan apa yang dipesankan melalui media seni tersebut. manteb dll). Seni Tayub dan Musik Rock. mere58 . senang. Masyarakat pangombyong tersebut di dalam sebuah peristiwa pergelaran seni tanpa melihat kesenian tersebut secara langsung. lebih tepat seni-seni tersebut dinikmati dengan cara dilihat dan didengar karya seni tersebut. Seni budaya didalam konteks seni yang dipergunakan untuk sarana penyampaian informasi. Merbabu. maka fungsi seni juga beragam. sehingga pesan dapat diterimanya secara tulus lahir dan batin. Teater.

Hal ini sangat tergantung dari kemauan motivator (pemerintah-lembaga pemberi motivasi ) dan kepiawaian para kreator (penggarap). semua itu dapat dipergunakan untuk media informasi dan komunikasi secara efektif apabila tepat didalam memilih media. maka akan dapat melenceng dari sasaran dan menjadi lebih boros biaya penyelenggaraan. Jadi dengan demikian antara subjek motivator dan kreator seni. Semua seni termasuk tari (gerak). 59 . Ada pula seni audio berupa musik tradisional. seni teater. lukisan. Pada umumnya para pangombyong atau anggota tersebut terdiri dari kaum laki-laki yang sudah tua dan mantan pemain kesenian tersebut. maka para motivator dan kreator seni harus pandaipandai memilih materi dan cara penggarapan seni yang sesuai dengan lingkungan budaya masyarakat setempat. teater daerah (wayang dan sejenisnya). patung. untuk golongan masyarakat apresian tertentu. Bentuk Seni Bentuk seni-budaya tradisional di Indonesia pada umumnya dan di Kalimantan khususnya cukup beragam. Apabila subjek penyampai informasi salah dalam memilih media dan tidak memperhitungkan latar belakang kehidupan masyarakat sebagai objek. dan seni vokal lainnya. Di Kalimantan khususnya bagi masyarakat etnik Dayak dan Melayu. adat istiadat dan upacara-upacara tradisional.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ka seperti orang berkenduri di dalam rumah sambil menunggui pemain yang sedang berhias. melainkan semua seni dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan secara efektif. Keberadaan masyarakat sebagai obyek termotivasi. Ada seni visual seperti seni tari. seni tato dan tindik. kebiasaan berkesenian mereka berkaitan erat dengan tata upacara adat dari etnik-etnik tersebut. seni lukis. musik (suara). serta kekuatan ungkap aktor (daya pangaribawa pemain). Oleh sebab itu dalam menggarap kesenian pada konteks seni sebagai sarana informasi. seni pahat. dan pemilihan media seni yang akan digarap harus tepat sesuai dengan latar belakang budaya berkesenian masyarakat bagi tersebut. Seni yang dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan itu bukan hanya seni “komunikatif” sejenis teater daerah dan wayang saja. latar belakang budaya masyarakat dan keberadaan patron sebagai pengukuh/penguat. seni pantun. dan seni pertunjukan. yang dipilih untuk menjadi objek sasaran penyampaian informasi.

Pemilik ide (pemerintah. alat atau media penyampai pesan dan objek penerima pesan. Oleh sebab itu para penggarap harus memperhitungkan akar budaya masyarakat setempat untuk menentukan bentuk seni macam apa yang tepat dan sesuai dengan sasaran objek yang dituju. khususnya di Kalimantan merupakan bagian dari perilaku budaya masyarakat adat. misalnya lembaga kabupaten.efektif. semua itu dapat menjadi efektif dan efisien untuk dipergunakan menyampaikan pesan. menurut saya seni dan budaya dalam konteks pemanfaatan seni sebagai media informasi dan komunikasi itu harus melekat dengan adat istiadat setempat pula. Seni yang keluar dari rangkaian upacara adat biasanya seni tradisi yang sudah menjadi komersial. Sosok pribadi yang dapat dipergunakan sebagai patron atau panutan masyarakat diantaranya. propinsi. Kyai. Pengukuh tersebut sebaiknya berupa lembaga dan atau pribadi tokoh panutan yang sangat dikenal. Kepiawaian mereka tersebut adalah unsur utama dalam penggarapan seni untuk informasi pembangunan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dalam konteks seni budaya sebagai media informasi/komunikasi yang perlu dipehatikan adalah kecerdasan kreator sebagai pribadi ataupun kreator tangan panjang dari pemerintah. pemerintah pusat (Jakarta). oleh sebab itu seyogyanya berhati-hati di dalam memperlakukan seni dan memilih bentuk seni yang tepat sesuai dengan sasaran yang akan dituju agar dapat menjadi lebih efisien. apabila digarap dan diolah secara tepat. dan yang paling penting adalah keseimbangan antara subjek pemberi pesan. Oleh sebab itu. para pemikir) 60 . Seni budaya seperti yang telah di sebutkan di depan. Ketua Adat/Ketua Suku. dan tepat guna. Prasyarat penggunaan seni untuk sarana penyampaian pesan/informasi-informasi pembangunan adalah sebagai berikut : a. Seni Sebagai Media Informasi Seni budaya menempati salah satu fungsinya yaitu sebagai media informasi dan sebagai media pendidikan atau propaganda. jadi bukan bentuk keseniannya yang diutamakan sebagai media komunikasi. Seniman. negarawan. Kemudian diperlukan pengukuh. budayawan. Seni tradisional Indonesia. Raja dan orang-orang terpandang lainnya. dan biasanya seni terkait dengan upacara-upacara adat masyarakat setempat. Pejabat Kepala Daerah. baik itu dalam bentuk lembaga ataupun pribadi-pribadi yang kharismatik. Pendeta.

sebagai penerima pesan dan aplikasi lanjutan (penghayat seni) f. sebagai alat untuk mewadai pesan dan mengeluarkan daya pesan (seniman pelaku) e. Aktor/bahan kesenian. Selayang Pandang tentang Kalimantan Kalimantan secara garis besar terbagi dalam tiga kawasan yang berbeda kedaulatan yaitu di sebelah utara dibawah kedaulatan Kesultanan Brunai Darussalam dengan doktrin kedaulatan negara Islami. Masyarakat daerah ini di bawah doktrin Negara Islam Melayu. dan warga di Kalimantan Brunai Darussalam. sebagai pengukuh (penguat) g. Aplikasi Lanjutan sebagai bentuk tindakan nyata (dampak) Dengan demikian terjadilah proses penyampaian informasi yang efektif. Walaupun prosesnya tetap melalui penalaran tetapi penalaran bukanlah tujuan. Di bagian Kalimantan sebelah selatan sampai tengah.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI b. Gambaran secara garis besar 61 . Kreator Seni. Kalimantan Indonesia secara garis besar dihuni oleh masyarakat mayoritas etnik Dayak dan etnik Melayu. Di Negara Indonesia dengan doktrin Pancasila ini memberi warna tersendiri dan menjadi berbeda dengan warga Kalimantan di wilayah Malaysia Timur. namun demikian di wilayah Sabah dan Serawak ini eksistensi masyarakat Dayak mendapatkan kemerdekaan yang lebih longgar. yaitu di wilayah Malaysia Timur ialah sub Kerajaan Sabah dan Serawak. bahkan lebih menjulang ke utara dari garis tengah Pulau Kalimantan di bawah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan doktrin Negara Pancasila dan UUD ‘45 . dan yang tidak boleh dilupakan bahwa seni bukan untuk konsumsi penalaran atau akal pikir semata melainkan untuk konsumsi indra rasa/batin. Motivator. Adapun tujuannya adalah menghantarkan sebuah perenungan dan aplikasi atas isi dan inti pesan pasca menikmati seni budaya. Masyarakat/penonton kesenian. Di bagian utara membentang dari barat ke timur pulau Kalimantan di bawah kedaulatan Negara Kerajaan Malaysia. Patron. sebagai seniman penggarap seni untuk pesanan (seniman kreator) d. sebagai seniman yang menyalurkan pesan (aktivis) c.

Barongsai Kalimantan sama dengan Barongsai di Hongkong dan Cina. Zapin di Kalimantan sama dengan Zapin yang ada di Melayu Malaysia dan Sumatra. dan tidak kurang dari 500 anak sub kultur Dayak Kalimantan Indonesia. Misalnya Reog Ponorogo Kalimantan. masyarakat Jawa di kota-kota besar dan kota-kota kecil pedalaman dan daerah perkebunan (daerah transmigrasi). Seni dari akar masyarakat etnis Cina . tari Gantar berkaitan dengan upacara panen padi. Dan upacara-upacara hari besar etnik Cina. Cina 5%. Sedangkan seni-seni masyarakat etnik Jawa dan etnik Melayu lebih beragam fungsi dan waktu pergelarannya. Tari Ngerangkau (Tari upacara kematian) berkaitan dengan upacara Kwangkai (Ritual kematian). pergelaran Barongsai ditampilkan pada waktu upacara tahun baru Cina. arisan. Sebagai contoh Tari Hudoq berkaitan dengan upacara tanam padi. dan selebihnya adalah Bugis.Sunda. karena beda bingkai dasar kebudayaannya. Berbeda dengan seni dalam bingkai budaya Dayak. Jawa 10%. Dayak 30%. Banjar 10%. Masyarakat Dayak mayoritas hidup di daerah pedalaman. jauh dari keramaian kota dan jauh dari peradaban yang serba modern. Batak. Melayu 25%. Etnis Jawa. Jawa dan Melayu tidak terlalu beragam. Masyarakat Dayak menguasai daerah hutan dan perkebunan yang maha luas. Cina dan Melayu menguasai daerah perdagangan dan persawahan serta pemerintahan. Masyarakat Dayak tersebar di belantara Pulau Kalimantan dan terbagi dalam berbagai sub kultur Dayak. Masyarakat Melayu mayoritas hidup di daerah pesisir pulau Kalimantan. sama dengan Reog Ponorogo Jawa.Artinya masih dapat dipahami seperti seni dalam bingkai budaya asalnya. yang hidup berkelompok dalam ikatan kelompok-kelompok kecil dan kuat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF etnik penghuni Kalimantan Indonesia ialah. dan lain-lain sebanyak 20%. Beda suku beda bentuk dan beda makna. Kesenian dari etnik Dayak selalu berkaitan dengan upacara-upacara adat tradisi masyarakat setempat. Kesenian Barongsai di komunitas Cina khususnya masyarakat Kabupaten Singkawang Kalimantan Barat yang mayoritas di huni etnik Cina. terutama disajikan pada waktu-waktu jumpa komunitas seperti dalam acara pengajian. hajatan kemudian 62 . Seni Budaya Kalimantan Secara Garis Besar Secara garis besar kesenian Kalimantan tumbuh dan berkembang berdasarkan akar budaya asal dari masing-masing etnik. Madura.

serta tepat sesuai dengan bingkai kebudayaan mereka. memilih lembaga jaringan mana yang dipandang cocok untuk dipergunakan sebagai mitra jaringan agar sesuai dengan program penyampaian informasi yang telah ditetapkan oleh lembaga (pemerintah) tersebut. Maksudnya. Oleh sebab itu Kerajaan atau Kasultanan adalah lembaga jaringan informasi yang potensial untuk diperankan sebagai lembaga jaringan informasi 63 . Sedangkan seni dalam masyarakat adat Dayak hanya ada forum (adat/upacara) – ada penyelenggara (lembaga adat) dan ada peserta (pelaku adat). Lembaga-lembaga adat di Kalimantan meskipun kecilkecil akan tetapi mereka memiliki ikatan yang kuat dengan lembaga besarnya. Oleh sebab itu dalam konteks seni untuk sarana infomasi pembangunan harus diperlakukan lebih arif dan bijaksana. yaitu Lembaga Adat dan Kerajaan atau Kasultanan. yaitu garapan baru yang menggunakan perabot seni tradisi setempat untuk garapan kemasan seni propaganda untuk informasi publik. Di Kalimantan ada dua lembaga besar yang potensial sebagai lembaga jaringan penyampai pesan. penggunaan seni sebagai media komunikasi lebih baik disusun sebuah karya kemasan khusus. Lembaga-Lembaga Potensial untuk Jaringan Penyampaian Seni Sebagai Media Informasi Lembaga-lembaga yang potensial untuk menjadi agen mitra kerja dalam penyampian informasi pembangunan dari pemerintah kepada masyarakat ada beberapa pilihan. Dengan demikian. Kesenian masyarakat Cina-Melayu-Jawa dan etnik lainnya selain etnik Dayak memiliki pemain dan penonton. jadi dengan demikian penontonnya adalah para pemain / pelaku adat itu sendiri. Masyarakat etnik Melayu-Jawa dan Bugis lebih akrab dengan Instansi atau Lembaga Kerajaan bila dibandingkan dengan kedekatanya dengan masyarakat Adat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI di sajikan seni Rodad-Salawat-Zapin-Hapsi-Reog-Jathilan-Jaran Dor Sentherewe-Ledek dan lainnya. tinggal pemilik ide / isi informasi (pemerintah) sebagai pemilik informasi. dalam jumlah sub kultur yang sangat banyak. ada panitia penyelenggara. ada seniman pemain/peraga. dan ada masyarakat penonton. bagi masyarakat Kalimantan pada umumnya. Pemimpinnya biasa disebut Ketua Adat Besar dan Ketua Adat Besar ini memiliki kedudukan seperti seorang Raja di Jawa-Bali.

Mahasiswa. dari pihak Pemerintah Pusat kepada masyarakat di daerah khususnya di daerah pedalaman yang susah dijangkau dengan transportasi dan jaringan komunikasi apapun. Paguyuban Etnik pendatang dan Sanggar Seni. Lembaga jaringan pada peringkat ke-tiga adalah Gereja. Akademi Seni dan Sekolah Tinggi Seni baik Negri maupun Swasta. Lembagalembaga di peringkat ke-tiga ini meskipun kecil-kecil akan tetapi aktifitas. dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata ditingkat Kabupaten maupun tingkat Provinsi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF melalui Seni Budaya. Lembaga Perguruan Tinggi tersebut memiliki jaringan Dosen. Lembaga Adat dan Kerajaan tersebut menduduki peringkat utama dalam menentukan jaringan penyampai informasi melalui Seni Budaya. Lembaga Pendidikan Tinggi ini. Lembaga Pendidikan Tinggi memiliki potensi untuk menyambung jaringan dengan sesama Lembaga Pendidikan Tinggi di Indonesia. dan masyarakat daerah tempat penelitian-penelitiannya dilakukan di daerah-daerah pedalaman tersebut. Lembaga jaringan di peringkat kedua adalah Pemerintah Daerah. Dalam hal ini posisi Perguruan Tinggi dapat sejajar dengan Lembaga Adat dan Keraton / Kasultanan. dan lembaga-lembaga Adat di daerah pedalaman Kalimantan. untuk melaksanakan program-program pengabdian masyarakat di Indonesia. Alumni. Pondok Pesantren. Lembaga yang tidak kalah pentingnya untuk diperhitungkan adalah Lembaga Pendidikan Tinggi dan Pendidikan Tinggi Seni seperti Institut Seni. kreatifitas dan produktifitas tergolong sangat tinggi apabila dibandingkan dengan lembaga-lembaga di peringkat pertama maupun yang 64 . Dinas Pariwisata memiliki jaringan Sanggar-sanggar Seni/Padepokan Seni. Kantong-kantong Seni dan termasuk Lembaga-lembaga Adat di wilayah kerja Dinas Pariwisata tersebut khususnya di tingkat kabupaten-kabupaten. Dalam satu jaringan dinas ini telah terikat ribuan manusia yang terkait di dalam sistem kelembagaan tersebut secara formal. Dinas Pendidikan memiliki jaringan siswa dan guru serta tenaga administrasi di sekolah yang sangat banyak dan mudah dikendalikan secara sistematis. Adapun kegiatannya akan direalisasikan melalui gelar seni Budaya dan tata upacara-upacara adat/tradisi masyarakat setempat. pada konteks tertentu dapat menempatkan diri atau ditempatkan oleh pihak Pemerintah menjadi lembaga penyambung jaringan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah.

Apabila tidak ditetapkan pilihan strategi yang telah ditentukan. agar maksud dan tujuan yang telah digagas sebelumnya dapat tersampaikan secara baik. efektif dan tepat sasaran sesuai dengan yang hendak dituju. 5) Memilih dan menetapkan media seni. 3) Memilih dan menetapkan lembaga jaringan kerja sama. 2) Menetapkan sasaran. Tentu saja pilihan seniman kreator ini berkaitan erat dengan materi seni apa yang akan dipergunakan untuk media informasi publik tersebut. misalnya akan munculnya gejala atau kecenderungan dari golongan masyarakat dan seniman tertentu. Langkah-Langkah Strategis Pemanfaatan sebagai Media Informasi Pemerintah atau Lembaga yang memiliki gagasan untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan dan pembangunan melalui media seni budaya tradisional. yang dipandang sesuai 65 . Selain daripada itu. ada beberapa langkah yang perlu di tetapkan untuk landasan strategis yaitu : 1) Penetapan isi informasi. 4) Memilih dan menetapkan kreator seni sebagai agen penggarap media seni untuk penyampaian informasi publik melalui seni tradisi. yaitu suatu gagasan untuk menyampaikan informasi tertentu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI kedua. Dari beberapa kelompok kategori sasaran. mana yang lebih dahulu di prioritaskan. Menurut pendapat saya. yaitu pihak panitia penggagas melakukan pengelompokan-pengelompokan sasaran. Produktifitas kecil-kecil itulah yang dalam kurun waktu yang lama dan terus menerus berproduksi maka akan membentuk kristalkristal pemahaman. perlu menentukan langkah-langkah strategis. untuk melakukan tindakan teknis agar dapat efisien. dan diharapkan pekerjaan dapat tercapai lebih ringan dan mencapai target yang telah ditetapkan. tidak menutup kemungkinan nantinya justru mempersulit diri sendiri. menempatkan program Penyadaran Masyarakat ini menjadi sebuah proyek yang ditunggu. sekaligus memperhitungkan harapan atau target capaian selama program itu dilakukan. kegiatan kurang dapat bermanfaat dan pengelolaan dana / biaya akan menjadi lebih besar daripada capaian hasil yang hendak dituju. Sasaran-sasaran yang dituju nantinya akan menjawab ide/gagasan awal.

maka tinggal menindak lanjuti dan apabila salah akan segera dapat merevisi. Malaysia maupun Brunai Darussalam memiliki forum berupa kegiatan budaya seperti upacara-upacara akbar yang melibatkan banyak hadirin sebagai peserta maupun penonton dalam upacara tersebut. Upacara66 . baik Kalimantan Indonesia. 9) Membuat atau menyusun model bentuk media seni seperti apa yang cocok untuk suatu masyarakat tertentu. Misalnya musim ujian sekolah. dan lembaga ini seperti LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sejenis dengan programnya. 7) Memilih dan menetapkan lembaga kontrol sebagai tim pengamat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dengan konteks kebutuhannya. apakah langkah yang telah ditetapkan ini sudah sesuai atau tidak. Tentu saja pilihan ini berkaitan dengan keadaan masyarakat sebagai objek dan kekuatan media seni yang tepat untuk menyentuh objek tersebut. dan juga dapat dihayati masyarakat lain yang tidak di prioritaskan. Apabila pola kerja sudah dinilai betul. tidak tepat untuk melakukan kegiatan-kegiatan berkesenian yang berhubungan dengan siswa. 6) Memilih dan menetapkan materi seni dan seniman pelaku. Pemilihan materi seni dan pemilihan peraga seni harus juga tepat. untuk mewadahi isi pesan yang akan dituangkan melalui sebuah karya seni untuk menyentuh hati nurani masyarakat penonton (apresian). Lembaga kontrol ini bertugas untuk mengkritisi dan memberikan penilaian kepada langkah kerja pemilik gagasan (pemerintah). Forum Yang Paling Efektif untuk Penyampaian Informasi Melalui Seni Di Kalimantan pada umumnya. 10) Mengukur tingkat keberhasilan melalui kajian-kajian atau penelitian. agar pesan dapat dengan mudah diterima masyarakat. Model-model ini dapat digarap di Perguruan Tinggi Seni kemudian disosialisasikan pada seniman daerah untuk dikaryakan di daerahnya tersebut. 8) Memilih dan menetapkan waktu penyampaian informasi (gelar seni) agar masyarakat sasaran dapat terlibat lebih maksimal karena tidak terganggu kebutuhannya. apa betul program yang dulu dilakukan dapat mencapai sasaran atau tidak.

Lembaga dan Pribadi Sebagai Agen Penyampai Pesan Di Kalimantan yang begitu luas tidaklah mudah untuk memilih lembaga atau pribadi yang mampu mewadahi gagasan-gagasan atau informasi melalui media seni untuk publik. Upacara-upacara besar tersebut belakangan ini sudah mulai dikemas menjadi objek seni wisata dan kemasan wisata oleh Pemerintah Daerah setempat. Belakangan ini muncul forum sejenis STQ bagi masyarakat Kristiani yaitu Pusparawi / Pusparani yang juga mulai dibesarkan pada tiap tahunnya dengan disertai gelar seni budaya di acara pembukaan dan penutupan serta disela-sela acara kompetisi. demikian juga forum STQ bahwa gelar seni dilakukan untuk pembukaan dan penutupan serta disetiap hari menjelang gelar kompetisi. lebaran Haji dan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) di tiap-tiap kabupaten. dikenal istilah Grebeg).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI upacara besar pada masyarakat Dayak dikenal nama-nama upacara yaitu Gawai Dayak. dengan demikian Forum akbar ini dapat dibidik menjadi ajang penyaluran informasi publik melalui gelar seni. Gawai Dayak dan STQ tersebut dilakukan tiap tahun. untuk menjaring pribadi-pribadi sebagai agen penyampai pesan yaitu : 1. Dangai. kemudian seleksi ini akan dilanjutkan ditingkat propinsi dan akan dilanjutkan pada Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional. Blawing Barek adalah seorang tokoh adat yang kharismatik dan sebagai penari serta pemusik yang piawai. Ketua Adat Besar Suku Bahau dari alur keluarga Dayak Long Gelaat / Apo Kayan. Ditingkat Kabupaten dilakukan secara berpindah-pindah tempat pentasnya sesuai hasil rapat panitia tahun sebelumnya. Dahau yang artinya pesta dan upacara besar. dia juga diangkat oleh tokohtokoh adat Dayak Kalimantan (Dayak Borneo) untuk memimpin keutuhan suku-suku Dayak yang tersebar di Kalimantan besar. Erau. Blawing Barek. dalam hal ini Dinas Pariwisata tingkat Provinsi. keluar tampil bersama-sama etnik Dayak yang lain untuk melakukan upacara dalam bentuk gelar seni budaya (seperti di Jawa. Anak-anak dan cucu67 . Pada masyarakat etnik Melayu memiliki beberapa forum besar di antaranya lebaran Idul Fitri. namun demikian saya punya pandangan untuk langkah awal yang mungkin lebih efektif. Forum STQ-STQ tersebut mampu menghadirkan ribuan bahkan jutaan manusia yang hadir dalam forum akbar tersebut. Dalam acara ini berbagai etnik Dayak besar dan sub etnik Dayak.

dan lembaga tersebut memiliki para ahli dan kreator seni yang patut diperhitungkan dan diperankan. belakangan ini juga di daulat untuk menjadi penasehat Asosiasi Raja dan Sultan (Rasul). Dapat dibayangkan berapa orang yang terjaring dalam ikatan garis karisma pribadinya tersebut. Dia tinggal di Jalur hulu sungai sampai Hilir sungai Mahakam Kalimantan Timur. 68 . 4. Dia sangat dihormati dan disegani oleh Raja-raja komunitas Kalimantan kemudian diangkat menjadi penasehat Kerajaan dan Kesultanan Kalimantan. di bagian tengah di kampung Melak Sendawar. 3. 3. Pangeran dari Kasultanan Kotawaringin. 2.Lembaga ISI dapat menyentuh jalur Adat dan lembaga Kerajaan sekaligus menyentuh Sanggar-sanggar seni dan Komunitas seni di Kalimantan. Pangeran Muashidin Syah. Posisi rumah di hulu Mahakam di daerah Long Pahangai. Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Semua seni dapat diperankan sebagai media penyampai informasi publik. Pengaruhnya melampaui lintas batas propinsi bahkan lintas batas Negara. Motivator dan kreator seni adalah unsur utama dalam program penyadaran masyarakat melalui seni. Jaringan utama penyalur gagasan /informasi pada masyarakat Kalimantan adalah lembaga adat dan kerajaan. Bahasa seni adalah bahasa simbol. 2.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF cucunya juga seniman yang cukup disegani dilingkungan komunitasnya. Tokoh semacam ini potensial menjadi pribadi agen penyampai informasi publik melalui seni budaya. Insan akademis baik itu dosen ataupun mahasiswa dan alumni dapat menjadi Tim Ahli dalam bidang olah seni dan gelar seni untuk penyadaran masyarakat . Intisari 1. sedangkan di hilir Mahakam ada di Samarinda. lembaga ini memiliki jaringan dengan UNS-UMS-UNISRI dan lain-lain. adik Sultan Alidin Syah yang memiliki kharisma kepemimpinan yang luar biasa. Di wilayah Kalimantan dan Sumatra di Kalimantan membawahi lima belas (15) kerajaan dan di Asosiasi Raja dan Sultan membawahi enam belas(16) kerajaan Islam.

khususnya mengenai seni tradisional dan adat budaya masyarakat Kalimantan. 6. Airlangga Press. semoga dapat menjadi bahan diskusi dan dapat menjadi masukan untuk menyumbang kebutuhan informasi di jajaran Kementerian Kominfo. Daftar Pustaka Frans Jiu Luai 2002 HUDOQ SEBUAH LEGENDA (TARIAN) HUDOQ PADA ADAT DAYA MODANG/ LUNG GELAAT.S 2002 PAKAIAN ADAT (tradisional) KAYAAN MEKAAM (Bahau). Tata Cara Pengesahan Perkawinan Orang Dayak Benoak. Airlangga Press. Fungsi seni untuk kehidupan manusia. Pontianak Yohanes Bonoh 2003 ADAT PERKAWINAN SUKU DAYAK TUNJUNG. Surabaya Pamung 2003 PELULUKNG. 69 . Pemda Kutai Barat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 5. Ada tujuh prasarat ideal untuk memanfaatkan seni sebagai media informasi. Airlangga Press. Surabaya Frans Jiu Luay 2009 Adat Nemlaai-Lung Gelaat. Surabaya Sujarni Alloy 2008 MOZAIK DAYAK. Airlangga University.Serduwar Liah Luhat. Demikian sekelumit kata tentang seni sebagai media penyampaian informasi. Surabaya. KEBERAGAMAN SUB SUKU DAN BAHASA DAYAK DI KALBAR. Ford Foundation-Insitut Dayakologi.

Dosen Luar Biasa Pascasarjana Universitas Trisakti Jakarta Saat ini menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ISI Surakarta. Bandung: Rekayasa Sain 2007. Ketua Lembaga Pengkajian dan Konservasi Budaya Nusantara di Surakarta. MSn (Sony Kartika). e-mail: kartikasony@yahoo. Budaya Nusantara (Kajian Pohon Hayat pada Batik). Estetika Barat dan Timur. 14 Juli 1951. Kritik Seni. Bandung: Rekayasa Sain 2004. Bandung: Rekayasa Sain 2007. Beberapa buku yang pernah dipublikasikan antara lain: Pengantar Estetika. Guru besar Bidang Ilmu Estetika. mendapatkan gelar doktor pada Sekolah Pasca sarjana ITB 2005. Bandung: Rekayasa Sain 2004.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. 2008 Tinggal di Jl. Lahir di Klaten. Tinjauan estetika Nusantara. Dr. Dosen Pasca Sarjana ISI Surakarta. Ketua Litbang SNKI (Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia) Di Jakarta. Bandung: Rekayasa Sain 2006).co. 08122656566.Pembangunan I/13 Perum UNS Jaten Karanganyar 57731.id 70 . STSI Press. Sebagai ilmuwan menawarkan beberapa konsep estetika sebagai alternatif penulisan kajian dan pengamatan seni budaya sebagai salah satu model penelitian dan penulisan karya ilmiah. Seni Rupa Modern. Dharsono.

disebut tradisi karena “tradisi” itu. Adapun waktu tersebut adalah waktu yang telah menyelesaikan suatu putaran dialektika budaya. maka muncul kelompok-kelompok penggagas budaya tertentu (perekayasa budaya) yang memanfaatkan kesenian tradisi sebagai alat propaganda politik maupun propaganda sosial. Pendahuluan ondisi kesenian tradisi kita. baik yang “klasik” maupun yang”rakyat”. yang kemudian terkenal dengan media komunikasi dengan tujuan tertentu. Sedang kesenian tradisi “rakyat” kita terbingkai dalam dialektika budaya masa K 71 . Kesenian tradisi yang mampu mewadahi ungkapan gagasan dalam seni dan sekaligus cocok untuk digunakan sebagai media komunikasi untuk penyampaian pesan kepada khalayak sesuai dengan kebutuhan maisenas.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Peran Seni tradisi Komunikatif dalam Diseminasi Informasi di Wilayah Jawa Tengah dan DI Jogjakarta Dharsono (Sony Kartika) Pakar Ilmu Estetika Ketua LPPM Dosen ISI Surakarta Seni tradisi dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial tertentu. Pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenas. Seni tradisi yang layak untuk diangkat dan dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif adalah seni tradisi yang dapat dikemas sebagai bentuk tontonan yang komunikatif-dialogis. Musik dan tari Jawa terbingkai dalam sistem kekuatan monarki-absolut yang berdialektika dengan sistem-sistem lainnya di waktu itu. telah terbingkai dalam satu pigura waktu.

Namun demikian. Proses tersebut mencerminkan adanya 72 . dan atau lembaga pemesan tertentu). Yang menjadi sasaran topik dalam makalah ini adalah bagaimana kita mensiasati penonton. secara lebih luas dan efektif dan diharapkan dapat menemukan maknanya yang hakiki. kenyataan yang terjadi dalam sebuah pertunjukan/sajian seni. Penyajian karya seni merupakan rekayasa yang dirancang dan disajikan untuk pengamat seni . Untuk itu perlu memetakan seni pertunjukkan tradisi yang mampu menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif. Pemetakan seni tradisi seyogyanya dipilih terhadap kesenian tradisi yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi yang efektif dan informatif. Penyajian karya seni merupakan salah satu bentuk aktivitas yang memberi kemungkinan terjadinya interaksi dialog tiga komponen antara seniman. yang dirasakan baik oleh seniman maupun pengamatnya. dan kekaligus untuk diajak bersama-sama menangkap pesan yang disampaikan. sebagai emplementasi globalisasi ekonomi dalam trasformasi kapitalisme konsumen. yaitu komunitas pengamat dan penikmat (penonton). Kesenian tradisi sebagai eksprsi kebudayaan Kondisi budaya Indonesia telah mengalami proses transformasi budaya sejak jaman prasejarah. Pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi akan sangat berkaitan dengan rekayasa budaya yang dikemas lewat pesan-pesan tertentu. karya dan pengamatnya. sesuai kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi. Pengamatan atau apresiasi cenderung dimensi logis. akibatnya kesenian tersebut akan dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial yang berorientasi pada industri kreatif. Proses pengamatan tidak sama dengan penikmatan. dalam menembus keterbatasan. kita dihadapkan kepada dua komunitas. Namun demikian pelaku seni sebaiknya tetap diharapkan untuk menjaga kareakter. sesuai dengan kebutuhan maisenasnya (dalam halini Pemerintah. sedang penikmatan sebagai proses cenderung masuk pada demensi psikologis. Kini budaya kita terbingkai oleh pranata sosial yang bermuara pada industri kreatif.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF lampau kita di mana sistem ekonomi pertanian tradisi dan sistem sosial. maka muncullah kelompok-kelompok kesenian yang memanfaatkan kesenian rakyat sebagai alat propaganda sosial.

Ini mengisyaratkan terjadinya proses kesinambungan kesenian tradisi (terutama wayang ) dilihat dari aspek seni rupa maupun pertunjukannya (Wiyoso. terutama perkembangan sejarah kesenian Indonesia mempunyai ciri yang menonjol. Kebudayaan hasil ekspresi masarakat Jawa (sekarang Indonesia). perlu adanya kajian dan penggalian sebagai satu usaha pelestarian. menghasilkan wayang baru. sebagai salah satu identitas dan jati-diri bangsa Indonesia. Keempuan para Wali dan Raja dalam mengolah unsur–unsur wayang. Kesenian tradisi sebagai salah satu produk budaya sejak zaman dulu merupakan salah satu bentuk seni Jawa tradisional yang mengalami proses tranformasi. Kesinambungan tradisi seni memang pernah terputus sehingga perintisan untuk mencapai bentuk kesenian baru terhalang bahkan terhenti sama sekali. keris. dan wayang dan sebagainya. Adanya perkembangan budaya tersebut. 1993:41). Misalnya “wayang” sebagai produk perkembangan kesenian Indonesia Hindu-Budha. dari berbagai macam budaya-seni menurut daerahnya masing-masing merupakan modal dasar pembangunan. Kebudayaan Jawa ini melahirkan berbagai bentuk seni klasik dalam bentuk karawitan. Tiap daerah memiliki akar budaya prasejarah sebagai dasar dari tradisi kesenian Indonesia yang sampai sekarang ada yang masih dipertahankan (Wiyoso. arsitektur. Ciri-ciri tersebut mencerminkan keanekaragaman kebudayaan sesuatu bangsa yang mendiami daerah yang terpisah. ketika pamor budaya kerajaan Indone73 . merupakan proses perkembangan seni tradisi masa lalu. batik. Seni tradisi perlu dilestarikan keberadaannya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI perkembangan budaya etnik (walaupun tidak semua). Akibat dari kesenjangan proses perkembangan kesenian Indonesia hanya mengharapkan pelestarian tradisi seni semata-mata tanpa upaya pengembangan untuk mencapai tradisi baru. 1996:1). Ciri menonjol dari kesenian Indonesia ialah bentuk yang plu-ralistis yang tersebar hampir di kawasan Nusantara. terutama untuk memberikan satu aset budaya dalam pembangunan dewasa ini. Usaha untuk mengenal kesenian Jawa termasuk mencoba untuk menggali latar belakang budaya masyarakat Jawa. tari. yang kemudian merupakan cermin keragaman budaya. interior. Proses perkembangan yang berkesinambungan antara budaya tradisi masa lalu dengan tradisi selanjutnya terus berlangsung hingga kini. Kesenjangan itulah yang terjadi pada saat lesunya kebudayaan pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda.

yang mampu menterjemahkan beragam bahasa visual dalam ragam bentuk dan ragam makna yang terbentuk oleh pengalaman emosional. Makin menipisnya kesadaran tradisi berakibat pula surutnya daya apresiasi seni karya cipta bangsa sendiri. Apresiasi adalah proses untuk menafsirkan sebuah makna yang terkandung dalam karya seni. karya dan pengamat. Di saat itulah kesadaran tradisi bangsa yang terjajah terdesak yang berakibat kurangnya daya cipta untuk menemukan bentuk ekspresi baru yang mencerminkan kekuatan tradisi seni masa lampau. komunitas pengamat dan komunitas penikmat. dalam proses mencari format budaya Indonesia. Itulah sebabnya sangat dibutuhkan hadirnya pengamat seni dan atau kritisi seni. Salah satu bentuk kesenian lama yang sarat dengan nilai-nilai budaya yang masih sempat berkembang pada pemerintahan kolonial adalah wayang. Sajian seni merupakan rekayasa yang dirancang dan disajikan untuk penghayat seni secara lebih luas dan efektif dan diharapkan dapat menemukan maknanya yang hakiki. dan merupakan salah satu cermin adanya transformasi budaya. Sajian seni merupakan salah satu bentuk aktivitas yang memberi kemungkinan terjadinya interaksi dialog tiga komponen antara seniman. Proses pengamatan dalam pelaksanaannya adalah apresiasi. 1986:41). yang dirasakan baik oleh seniman maupun penghayatnya. Namun kini kesenian tradisi diminati kembali sebagai salah satu alternatif sebagai sumber inspirasi penciptaan dan rekayasa budaya dan dimanfaatkan sebagai propaganda sosial.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF sia-Islam mulai memudar. Hal ini dapat dikatakan sebagai bukti adanya proses kontinuitas dalam upaya pelestarian tradisi. Seorang pengamat yang sedang memahami karya sajian maka sebenarnya ia ha74 . Hanya di pusat-pusat kesenian lama kesadaran tradisi tersebut masih tersisa untuk sekadar melestarikan nilai seni yang diwariskan dari para pencipta pendahulunya. baik dilihat dari sudut pertunjukan maupun dari seni rupa (Wiyoso. Apresiasi seni merupakan proses sadar yang dilakukan pengamat dalam menghadapi dan memahami karya seni. Sedang penikmatan yang di dalamnya sarat dengan demensi psikologi yang sangat subyektif dan mengabaikan dimensi logis. dalam menembus keterbatasan. Kesenian sebagai media apresiasi Kegaiatan seni akan selalu dihadapkan oleh dua komunitas.

. Tingkatan tersebut menurut Steppen C... misalnya. Penikmatan berbeda dengan pengamatan (pemahaman). Tingkatan pertama disebut tingkat subyektif relativitas. Relativitas kajian tersebut tergantung dari tingkat relativitas seseorang dalam menghadapi sebuah karya sajian. Pengalaman estetik bukanlah sesuatu yang mudah muncul atau mudah diperoleh. tingkat relativitas ini merupakan ultimatum senang atau tidak senang atas keputusan sikap psikologis karena ika75 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI rus terlebih dahulu mengenal struktur organisasi atau dasar-dasar penyusunan dari karya yang sedang dihayati. merupakan hasil tafsir makna (arti) yang terkandung di dalamnya. sedang penikmatan merupakan proses dimensi psikologis. Apresiasi menuntut ketrampilan dan kepekaan estetik untuk memungkinkan seseorang mendapatkan pangalaman estetika dalam mengamati karya seni. karena untuk semua itu memerlukan pemusatan atau perhatian yang sungguh-sungguh. melainkan juga menelaah kualitas abstrak dari benda estetik. Pepper dalam bukunya berjudul The Principles of Appreciation memberikan empat tingkatan ultimatum kesenangan berdasarkan tingkat relativitas seseorang. Keputusan senang dan tidak senang lahir dari akibat pengaruh aspek psikologis secara instrinsik. lepas sebelum atau setelah menikmati karya tersebut. Apresiasi seni merupakan proses sadar yang dilakukan penghayat dalam menghadapi dan menghargai karya seni. Pengamatan atau pemahaman nerupakan proses dimensi logis. Hasil dari interaksi proses tersebut merupakan ultimatum senang atau tidak senang terhadap keberlangsungan terhadap karya seni. dimana seseorang dalam memberikan ultimatum senang dan tidak senang karena adanya keputusan subjektivitas. Tingkatan kedua disebut tingkat relativitas budaya. terutama usaha menguraikan dan menjelaskan secara cermat. proses interaksi antara aspek intrinsik seseorang terhadap sebuah karya estetik. “Saya senang karena film itu dimainkan oleh .”. Proses dalam pengenalan nilai karya seni. ultimatum tersebut berdasarkan keputusan yang berorientasi pada selera pribadi. dan lengkap dari semua gejala psikologis yang berhubungan dengan karya seni (Liang Gie 1978:51). Tingkatan relativitas tersebut juga tergantung dari tingkat intelektual seseorang dan latar budayanya. Pengalaman estetika dari seseorang dipersoalkan bagaimana seseorang pengamat menanggapi atau memahami suatu benda indah atau karya seni? Seseorang tidak lagi hanya membahas sifat-sifat yang merupakan kualitas dari benda estetik.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

tan latar belakang budaya. Tingkatan ini selalu berorientasi terhadap sikap budaya dimana mereka hidup. Misalnya: ”saya senang karena karya seni yang disajikan merupakan kebudayaan daerah ...”. Alasan yang menyangkut atas budaya kesukuan, kebangsaan, dan semua yang menyangkut tentang adanya orentasi budaya yang sepihak terhadap budayanya, akan mempengaruhi ultimatum senang dan tidak senang terhadap karya seni setelah ataupun sebelum karya seni tersebut dinikmati. Tingkatan ketiga disebut tingkat biological relativity, dimana ultimatum senang dan tidak senang didasari atas keputusan yang berdasarkan atas intrinsik yang muncul setelah menikmati karya tersebut. Ultimatum tersebut hampir mendekati proses apresiasi, namun masih banyak menggunakan aspek psikologis dibanding logika pemahaman estetik. Keputusan senang dan tidak merupakan proses penikmatan karya estetika yang sedang disajikan. Hal itu biasanya dilakukan pada penikmat yang tidak sepihak terhadap subyektivitas ataupun budaya simpatik. Tingkatan keempat merupakan tingkatan relativitas yang disebut absolut, artinya ultimatum senang atau tidak senang bukan dari intrinksik tetapi cenderung kepada sikap ekstrinsik. Ultimatum didasarkan atas pengaruh dari luar. Misal: Semua seni itu indah, tanpa berusaha menikmati dengan segala kekuatan aspek psikologis yang ia punyai. Semua tingkat relativitas tersebut menunjukkan adanya tingkat relativitas yang dipunyai oleh seorang penikmat. Tingkat tersebut merupakan proses interaksi psikologis seorang penikmat, sehingga untuk penyajian karya seni diperlukan penikmat atau penonton sesbagai audien pertunjukan. Ini yang oleh penggagas rekayasa seni budaya sebagai salah satu dasar untuk mampu membangun pertunjukan/kegiatan seni yang sarat akan pesan-pesan yang komunikatif tetapi tetap punya kapabilitas seni sebagai ekspresi dan berkarakter.

Seni tradisi sebagai rekayasa budaya Ketika seni tradisi dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial tertentu, maka muncul kelompok-kelompok kesenian yang memanfaatkan kesenian rakyat sebagai alat propaganda politik maupun propaganda sosial. Kesenian sebagai ajaran rokhani yang wigati (lihat seni sebagai tuntunan dan tontonan) terpinggirkan oleh kekuatan global secara vertikal horisantal. Ajaran kebudayaan yang telah berakar di bumi pertiwi yang kita cintai ini, telah tergadaikan dan tergantikan dengan kebuday76

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

aan asing akibat pendidikan populer. Kebudayaan populer yang menjadi ujung tombak menejemen kapitalisme konsumen mulai menggeser kearifan lokal yang menjadi ”ruh” dari kebudayaan, mulai terancam krisis demensi. Politik, ekonomi, hukum, dan bahkan kesenian, agama, mulai tercabut dari akar kebudayan dan berjalan sendiri-sendiri, seperi kereta tanpa masinis. Jadi janganlah heran apabila antara politik, hukum, ekonomi, agama dan seni saling bertabrakan.

Rekayasa sebagai media budaya populer Seni budaya masa yang sering disebut budaya populer atau seni populer, merupakan rekayasa budaya yang berorientasi dari perluasan kontinuitas pada seni rakyat atau seni yang berkembang dari masyarakat. Seni rakyat berkembang dari arus bawah, sedang populer art atau mass culture (budaya massa) berkembang sesuai dengan rekayasa klas atas. dikatakan demikian karena produk budaya massa dibuat oleh teknisi-teknisi yang disewa oleh para pengusaha; audiennya merupakan konsumen yang pasif, partisipasinya bukan karena adanya ikatan nilai sosio-cultural seperti pada seni rakyat tetapi partisipan dihadapkan pada alternatif membeli atau tidak... Kini, masyarakat di mana pertumbuhan gaya hidup semakin meningkat, memikat dan mengundang hasyrat, seperti perkembangan terakhir ini. Masyarakat konsumen Indonesia mutakhir tampaknya tumbuh dan beriringan dengan sejarah globalisasi ekonomi dan trasformasi kapitalisme konsumen yang ditandahi dengan menjamurnya pusat pembelajaan bergaya semacam Shopping Mall, industri waktu luang, industri mode atau fayen, industri kecantikan, industri koliner, industri nasehat, industri gosip, kawasan huni mewah, apartemen, real estate, gencarnya iklan barang-barang supermakket dan liburan wisata ke luar negeri, berdirinya sekolah-sekolah mahal (dengan label plus), kegandrungan terhadap merek asing, makanan serba instan (fast food), telepon seluler (HP), dan serbuan gaya hidup lewat industri iklan dan telivisi yang sudah masuk ke ruang-ruang pribadi dan bahkan mungkin sudah masuk ke relung-relung jiwa kita yang paling dalam... (Idi Subandi 2007). Tak disangsikan lagi, bahwa yang bertindak sebagai agen public relation dari kaum selibritis adalah media populer dan terutama televisi. Telivisi dengan kuatnya pada aspek hiburan ini bagi sebagaian kalangan bahkan dianggap mengkolonisasi waktu luang. Saluran musik te77

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

livisi non-stop 24 jam seperti MTV tidak hanya menghibur anak muda diberbagai penjuru Asia dengan video klip lagu-lagu dari grup-grup yang lagi in, tetapi juga menghibur mereka dengan pesan-pesan komersial, dan ini secara tidak lasung menanamkan nilai dan kesadaran akan betapa bahagianya kalau dapat mengisi luang dengan dengan bersenang dan bersantai bersama keluarga. Sementara pabrik gaya hidup yang sekian lama didominasi iklan kini dipercanggih dengan lewat rekayasa citra yang melahirkan para praktisi public relation dalam dunia bisnis, tontonan, dan juga politik. Dalam abad media, citra adalah segalanya, bahkan untuk menjadi bintang, orang tidak perlu sehebat Gandhi, Soekarno. Untuk menjadi hero, orang tidak perlu susah melakukan hal-hal yang luar biasa atau mesti menciptakan karya besar. Orang-orang yang dianggap besar kini adalah orang-orang biasa yang tenar dan ditenarkan oleh media; selibriti menurut media jurnalistik sekarang lebih asyik tokoh, bintang atau selibriti, untuk kemudian sewaktu-waktu mengenyahkannya dan menggantikannya dengan yang baru. Seperti siklus mode atau fashion dalam dunia bintang. Akhirnya kita hanya mampu menggaruk-garuk kepala, betapa hebatnya dunia ini.

Rekayasa sebagai media komunikasi Kesenian tradisi rakyat yang pernah berkembang di daerah, perlu kita pikirkan sebelum punah dimakan jaman. Seni rakyat dengan berbagai ragam bentuk dan ragam budaya daerah yang merupakan kekayaan bumi nusantara perlu ada rekayasa kultural sesuai dengan perkembangan teknologi dan informasi yang semakin global. Peningkatan sumber daya manusia yang menitik beratkan pada kekayaan daerah, mau tidak mau akan menoleh terhadap ragam seni tradisi rakyat yang berkembang di daerah sebagai alternatif garap yang mengarah pada seni komoditas, itu tak mungkin dapat dielakkan. Selanjutnya kita harus berfikir bahwa kesenian rakyat adalah merupakan aset budaya daerah, yang perlu dikembangkan dan dilestarikan dengan sebuah rekayasa budaya yang arif. Rekayasa yang punya kearifan, apabila sebuah pelestarian budaya merupakan upaya untuk mengangkat kembali warisan budaya lokal sebagai langkah nyata dari kelompok masyarakat dalam membangun kembali warisan budaya leluhurnya, serta menatap masa depan, dengan penuh keyakinan tentang kekuatan diri di tengah peradaban yang
78

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

kian mengglobal. Budaya tradisi lokal merupakan kesenian warisan yang menjadi unggulan daerah dan kemudian menjadi ikon daerahnya, maka perlu dilindungi dan dilestarikan keberadaannya, sebagai bentuk ketahanan budaya. Ketahanan budaya akan menjadi cermin atas ketahanan nasional. Maka sebaiknya pelestarian budaya sebaiknya dikonsentrasikan dengan mengambil ikon warisan budaya secara aktual. Aktualisasi terhadap karya-karya tersebut sebaiknya dibangun dengan basic warisan budaya yang disesuaikan dengan perkembangan kini tanpa meninggalkan nilai essensinya. Ketika seni tradisi dipakai dan dimanfaatkan oleh sistem sosial tertentu, maka muncul kelompok-kelompok penggagas budaya tertentu (perekayasa budaya) yang memanfaatkan kesenian tradisi sebagai alat propaganda politik maupun propaganda sosial, yang kemudian terkenal dengan media komunikasi dengan tujuan tertentu. Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat luas. Dalam masing-masing budaya tersebut terdapat pola kesenian, media kesenian, dan posisi seniman yang beragam. Keragaman itu juga mempengaruhi bentuk maupun isi. Oleh karena itu, seni tradisional tidak bisa dilihat hanya dari satu pendekatan atau hanya berdasar pada prinsip umum (universal) yang diberlakukan untuk semua. Untuk melihat makna dan fungsi suatu kesenian, harus dilakukan pendekatan sesuai dengan karakteristik masyarakat di mana kesenian dan tradisi itu hidup dan berkembang (Limbeng, 2009). Kesenian tradisi pada dasarnya memiliki pola atau pakem yang membuat kesenian itu menjadi khas, berbeda dari yang lainnya. Namun sebenarnya pakem tersebut bukanlah suatu aturan “mati”, melainkan punya potensi untuk dikembangkan, berubah, dan berkembang sesuai dengan kebutuhan, bahkan mampu mengakomodasi perubahan isi sesuai dengan kepentingan (misal: propaganda politik ataupun propaganda sosial), Ini yang kemudian dikatakan sebagai rekayasa budaya sebagai rekayasa kepentingan. Pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenas. Namun demikian tetap tergantung kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi namun tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi lewat seni tradisi .
79

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Seni tradisi sebagai media komunikasi, maka perlu dipilih bentukbentuk seni tradisi yang telah populer, seni pertunjukkan rakyat yang punya kemampuan untuk menciptakan hubungan antara seni dan masyarakatnya. Maka melalui seni tradisi sebagai media komunikasi yang komunikatif adalah (di Jawa-Tengah) melalui pertunjukkan seni tradisi: wayang, teater tradisi (ketoprak, wayang orang). Kesenian tersebut mampu membangun dialog langsung antara pelaku dan komunitasnya. Pelaku seni. Para dalang dan pelaku seni dapat mengungkapkan ide dan gagasannya kepada komunitasnya, maka akan terjadi dialog interaktif disela-sela cerita-cerita yang dibawakannya. Seorang dalang atau sutradara dapat mengungkapkan gagasan dan sekaligus menyampaikan pesan yang dikemas sebagai bentuk informasi yang diracik dalam satu rangkaian cerita, maka ungkapan seni dan pesan dari maisenasnya secara holistik.

Pemetakan seni tradisi sebagai media komunikasi Pemetaan kegiatan Seni tradisi yang layak untuk diangkat dan dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif adalah seni tradisi yang dapat dikemas sebagai tontonan yang komunikatif-dialogis. Kesenian tradisi yang mampu mewadahi ungkapan gagasan dalam seni dan sekaligus cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. Meski semua seni tradisi merupakan ajaran dan tontonan, namun tidak semua seni pertunjukkan tradisi dapat menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif. Mungkin hanya media seni tradisi yang verbal dan komunikatif-dialogis saja yang cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. Seni tradisi yang lain, misalnya yang mengandalkan gerak atau nyanyian dalam batas tertentu sulit digunakan sebagai media penyampai. Oleh karena itu dibutuhkan pemetaan seni tradisi yang bisa digunakan sebagai media penyampaian pesan dan media informasi yang komunikatif. Pemerintah dalam halini lewat Kementrian Komunikasi dan Informatika, Pemerintah daerah tingkat propinsi ataupun kabupaten/Kota diharapkan mampu mewadahi potensi kesenian tradisi tersebut sebagai satu daya untuk mendorong aktivitas budaya, dan sekaligus mampu dimanfaatkan sebagai media komunikasi.

80

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

1. Wayang Kesenian wayang, merupakan jenis kesenian yang pada dasarnya menggunakan sosok wayang sebagai tema, sumber dan gagasan. Penggunaan sosok tersebut dapat saja merupakan media ekspresi secara murni ataupun penggambaran tematik tertentu. Sehingga kesenian wayang ini juga dapat disebut sebagai pertunjukan dengan menggunakan wayang sebagai sosok utama. Sosok wayang tersebut dapat tidak terbatas pada wayang kulit, tetapi juga wayang beber, wayang golek, wayang reka (termasuk wayang suket (Pedepoan Wayang Suket), wayang kampung (Komunitas Wayang Kampung Sebelah) dan sebagainya dan sebagainya.
Wayang wahyu Wayang krucil wayang Wayang beber Wayang Reka Wayang golek Wayang purwa

1

2

Wayang kampung Wayang Suket Wayang bhuda Wayang suluh Wayang reka yang lain

81

Pengaruh kebudayaan dari luar tak menggoyahkan pandangan hidup itu. namun dilihat dari segi bentuknya maka nampak adanya kesinambungan bentuk wayang pada masa hindu dengan masa 82 . Kelanjutan pada kebudayaan Islam. 1. tetapi justru memperkaya kualitas yang tercermin lewat perlambangan pada setiap ujud rupa wayang. Kemudian wayang kulit Purwa yang non realistik tersebut merupakan wayang kulit klasik tradisionil yang mampu memberikan jatidiri bangsa Indonesia. Wayang Purwa Wayang Purwa. Perubahan bentuk realistis pada budaya Hindu kemudian menjadi bentuk non-realistik pada budaya Islam. sebagai wayang klasik tradisional tersebut di atas merupakan karya local-genius yang kaya akan perlambangan kehidupan. Hal ini karena adanya pandangan kosmis-magis yang mendasari penciptaan wayang. Wayang mulai meninggalkan kepengaruhan budaya India yang realistik ke bentuk non-realistik. Hal ini merupakan cerminan adanya kekuatan kosmologi yang mampu memberikan dasar dalam mengejawantahkan bentuk wayang sebagai perlambangan kehidupan manusia. Wayang purwa kemudian merupakan sarana dahwah agama islamiah . adalah wayang purwa.1. Kekentalan kosmis-magis kemudian merupakan satu kekuatan yang menjadi landasan munculnya local-genius. Wayang dalam bentuknya realistis akibat pengaruh budaya India melalui agama Hindu. wayan kampung dan wayang suket Pilihan ini sudah digarap oleh keompok seni maupun komunitas peduli wayang. kemudian teradaptasi dengan budaya Jawa yang kental dengan kekuatan kosmis-magis dalam kosmologi Jawa. kekuatan perlambangan justru lebih memperkaya kualitas. yang tercermin pada setiap unsur rupa wayang. Sekaligus merupakan bukti munculnya local-genius bangsa Indonesia. Pemilihan kesenian wayang yang efektif dan komunikatif untuk wilayah JawaTengah dan DIJ.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Wayang merupakan seni tradisi layak untuk diangkat dan dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang efektif adalah seni tradisi yang dapat dikemas sebagai tontonan yang komunikatif-dialogis. Hal tersebut membuktikan adanya kesinambungan bentuk wayang pada masa Indonesia Hindu dan Islam.

merupakan pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi. Wayang sebagai karya seni pertunjukan ini mengandung berbagai nilai karena sifatnya yang mixmedia Pertunjukan Wayang Purwa Pertunjukan Wayang Purwa di halaman balai Kota Surakarta (Dokumen Komunitas Ronggo Winter Wisma Seni TBS Surakarta 2010) Pertunjukan dengan menggunakan sosok wayang purwo di atas. sebagai sarana adaptasi seperti yang telah disinggung di depan. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi namun tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi 1. tetapi dikonsentrasikan ga83 . Hal ini merupakan pertimbangan para wali.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI agama Islam. Kesinambungan tradisi mendorong para empu wayang untuk melestarikan dan mengembangkan wayang dengan fungsi yang sama yaitu sebagai media pendidikan dan sebagai sarana seni pertunjukan yang bersifat lokal. Pertunjukan wayang tersebut akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenasnya.2. Wayang Reka Wayang Reka merupakan wayang alternatif garaf yang beorientasi pada konsepsi wayang purwo. hanya mengalami distorsi-stilasif pada wayang purwa.

wayang budha. Jliteng Suparman. Suharto. wayang suket. wayang kampung direka dengan sosok orang kampung dan dufungsikan sebagai penebaran nilainilai kearifan lokal. 1. bung Karno. Wayang Kampung Sebelah di Serambi Museum Radya Pustaka dan di halaman Kampung Baluwarti (Dokumen Komunitas Ronggo Winter Wisma Seni TBS Surakarta 2010) Pertunjukan dengan menggunakan sosok wayang reka (wayang kampung) di atas. bedanya wayang suluh figur-figur yang dibangun berorientasi pada tokoh-tokoh pejabat tnggi waktu itu. Wayang kampung ini secara figur garap menyerupai wayang suluh. Pertunjukan Wayang Kampung Pertunjukan wayang kampung dengan ki Dalang Drs. para Bupati dan sebagainya. dan lain sebagainya. Bung Hatta. merupakan pemanfaatan seni tradisi alter84 . para menteri. 1. Wayang Kampung Wayang kampung reka garapnya berorientasi terhadap wayang purwa. dan berfungsi sebagai penyuluhan departemen Penerangan saat itu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF rap tematik dan mengacu pada funsi gara tertentu. Apabila perjalanan wayang purwa kemudian merupakan sarana dahwah agama islamiah.2. Nasution. Wayang reka ini di diJawa Tengah dan DIJ telah lahir karya wayang alternatif antara lain: wayang kampung. wayang suluh.

Ketiga. Kedua. Pertama. Slamet Gundono selalu memasukan unsur humor namun tidak dengan maksud melawak. dengan tingkat penghayatan yang tepat. tentu saja sudah sangat menjauh dari pakem pertunjukan wayang kulit konvensional. Pertunjukan wayang seperti itu. Setidaknya ada empat unsur yang menjadi kekuatan dalam pertunjukan Slamet. kepandaiannya ini membuat narasi yang disampaikan. dengan pertunjukan teater wayang. Pertunjukan gado-gado seperti itu sudah merebak di Tanah Air.2. 1. ada satu kekuatan yang dimiliki Slamet dan kawan-kawannya sehingga pertunjukannya tetap memikat dan enak ditonton. Wayang Suket Wayang Suket Slamet Gundono komunitas Wayang Suket merupakan pertunjukan wayang alternatif. Slamet Gundono yang setiap kali pentas selalu ditemani ukulele. pandai menembang dengan suara yang merdu. Jika pertunjukan Slamet Gundono harus diberi istilah. Dikatakan teater. secara eksitensi memang seolah lepas dari pakem.2. Pertunjukan wayang tersebut akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenasnya. Namun. dan dalam beberapa adegan para aktor itu berinteraksi dengan wayang yang dimainkan. sebagaimana layaknya dalang konvensional yang pandai menembang. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas penyaji sebagai media ungkap atau ekspresi dan sekaligus tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi. sehingga penonton dapat mengikuti jalan ceri85 . sekalipun lakon yang dibawakan bernuansa surealis. di tangan Slamet Gundono bisa diubah dengan apa saja. Sesuai dengan fungsinya yaitu untuk penebaran nilai kearifan lokal. namun secara konsepsi masih berorientasi pada wayang konvensi pada wayang purwa Sosok wayang atau Boneka wayang yang dibuat dari kulit. Banyak yang melakukannya. namun alur cerita yang dibangun masih ada benang merahnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI natif sebagai media komunikasi. jadi lebih memikat. yang biasa digunakan untuk pertunjukan wayang kulit. karena pertunjukan ini juga melibatkan aktoraktor lain yang bermain di panggung.

Makyong. Pertunjukan wayang tersebut merupakan ekspresi seniman secara intuitif garap dan dikemas lewat-lewat pesan-pesan sesuai dengan kebutuhan maesenasnya. misalnya Lenong. 86 . dalang dan sutradara Slamet Gundono. Ketoprak.2009) Pertunjukan dengan menggunakan sosok wayang reka oleh Komunitas Wayang Suket (Slamet Gundono) dirakit seadanya Wayang suket merupakan teater tradisi alternatif sebagai media komunikasi antara aktor sekaligus dalang Slamet gundono. Ludruk. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas penyaji sebagai media ungkap atau ekspresi dan sekaligus tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi. Keempat. Slamet selalu mengusahakan pertunjukannya berlangsung secara komunikatif. Longser.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ta yang dibentangkan. (www. Ada interaksi antara pemain dengan penonton seperti yang terdapat dalam pertunjukkan teater tradisional. Komunitas Wayang Suket Mojosongo Surakarta (Dokumen Esha Kardus .com Garibaba’s Strange World 2009) Pertunjukan Wayang Suket Beberapa adegan dalam wayang suket.tamanismailmarzuki.

sandiworo). yang kemudian merupakan. wayang orang. Pertunjukan ketoprak terse87 . Taman Budaya Jawa-Tengah TBS Surakarta (Dokumen Esha Kardus. sandiworo radio). Parede ketoprak sse Jawa tengah dan DIJ. Ketoprak dan wayang orang kini menjadi budaya kelangenan. tidak hanya digemari tetapi sangat populer pada masyarakat. 2009) Pertunjukan Ketoprak (di atas) merupakan pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi. Kini ketoprak ataupun wayang orang (panggung) ditinggalkan penggemarnya dan beralih ke layar kaca. Teater tradisi sebagai salah satu produk budaya merupakan salah satu bentuk seni Jawa tradisional yang mengalami proses tranformasi budaya. telah mengalami proses transformasi budaya sejak jaman prasejarah. ketoprak. Seputar 1960-1970-an teater tradisi yang muncul sebagai budaya masa di tengah masyarakat (ketoprak. Adanya perkembangan teater tradisi. Teater Tradisi Teater tradisi di Jawa (seperti. Proses tersebut mencerminkan adanya perkembangan budaya etnik (kesenian rakyat). maka ketoprak dan wayang orang yang dulu mengalami kejayaan sebagai budaya populer.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 2. mempunyai ciri yang menonjol. sebagai salah satu seni punya identitas dan karakter jati diri bangsa. Pertunjukan ketoprak Beberapa adegan dalam ketoprak. wayang orang.

2. guyon maton. dan lain sebagainya. ataupun wayang panggung. Catatan terakhir muncul fragmen ketoprak/wayang orang. Harus mampu membangun rekayasa budaya yang dikemas secara tematik garap. Perlu diingat bahwa seni tradisi merupakan ajaran dan tontonan. Sehingga para pelaku seni. dapat mengungkapkan ide dan gagasannya sekaligus mampu membangun dialog interaktif disela-sela ceritacerita yang disajikan. Namun demikian pertunjukan tersebut tetap tergantung terhadap kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi. 3. maka maisenas dalam halini “pemerintah” (Kementrian Komunikasi dan Informatika. sebagai alternatif. fragmen wayang orang. Pemerintah daerah ataupun lembaga lain) perlu selektif memilih seni tradisi dapat menjadi media penyaluran pesan informasi secara efektif dan komunikatif-dialogis saja yang cocok dalam penyampaian pesan kepada khalayak. Pemakaian dan pemanfaatan seni tradisi sebagai media komunikasi. pendapa. yang dikemas sebagai. wayang orang garap. Penggagas ketoprak.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF but akan sangat berkaitan dengan rekayasa yang dikemas secara tematik garap. Ketoprak sepert di atas ada peluang untuk tetap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi media komunikasi. di halaman-halaman. namun tetap berpegang terhadap kapabilitas seni tradisi sebagai media ungkap atau ekspresi. Rekomendasi 1. ketoprak gremeng. Oleh karena itu dibutuhkan pemetaan seni tradisi yang bisa digunakan sebagai media penyampaian pesan dan media informasi yang komunikatif. 88 . kini kurang diminati. tetapi sebenarnya masih punya penggemar yang baik. Maka melalui seni tradisi sebagai media komunikasi tersebut mampu membangun dialog langsung antara pelaku dan komunitasnya. Kotoprak dan wayang orang kini mulai merambah ke gedung pertemuan.. Seyogyanya para penggagas/pemrakarsa perlu memilih bentukbentuk seni tradisi yang telah populer. sehingga kesenian tersebut masih punya karakter. ketoprak petilan. dan punya kemampuan untuk menciptakan hubungan antara seni dan masyarakatnya.

RM (1999). Makalah Pengantar. University (1967). Agama Asli Indonesia. Budaya Populer sebagai Komunikasi (Dinamika Popscape dan Mediascape di Indonesia Kontemporer). Bandung: Rekayasa Sain Geertz. Gadjah Mada University Press Simuh. Memahami Seni. Jogyakarta:Jalasutra Dharsono (Sony Kartika) (2007). Duta Wacana University Press. TTh. Mandala. (1981). Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Pameran Seni Rupa Kontemporer Pekan Wayang Indonesia VI. Irianto. Wiyoso Yodoseputro. 1976 Garis Besar Filsafat Keindahan. Yogyakarta: Penerbit Karya. Arjunawiwaha: Tranformasi Teks Jawa Kuna lewat Tanggapan dan Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa. Boelder and London: Shambala Koentjaraningrt (1985). New York: The Free Press. (1996).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Daftar Pustaka Claire Holt. Rupa Wayang dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Terjemahan Clare Holt dalam Art in Indonesian Continuities and Change. Yogyakarta. yayasan Bentang Budaya Subagyo. Makalah Seminar Nasional Seni Rupa Tradisi Nusantara Topik: Implementasi Konsep Kriya dalam Pendidikan Tinggi Surakarta:STSI Jose an Miriam Arguelles (1972). I. 1996 Seni Prasejarah di Indonesia. 1993 Wayang Purwa Gagrak Surakarta Ditinjau dari Aspek Rupanya. 1973 Art in Indonesia: Continuties and Change. Diktat Kuliah. Seni Indonesia (kontinuitas dan Perubahan. Makalah Pengantar. Diktat PascaSajana ITB (tidak diterbitkan) Wiryamartana. Asmujo J (1999). Yogyakarta:ISI Sumardjo. Rupa Wayang dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa. Niel (1984). Kria Dalam Pendidikan Tinggi.. Wiyoso Yodoseputro. Pameran Seni Rupa Kontemporer dalam Rangka Pekan Wayang Indonesia VI. Clifford (1960). Jakarta. 1993 Kesinambungan Tradisi dan Sumber Pengilhaman. New York Ithaca: Cornell University Press. Rahmat. Haryono Haryoguritno. Sinar Harapan dan Yayasan Cipta Loka Caraka Soedarsono. Kuntara. The Religion of Java. Jakob. 1990. 89 . Adi Subandi Ibrahim (2007). New York: Oxford University Press Mulder. Javanese Culture. Bandung. Yogyakarta. Corne. The Liang Gie. Yogyakarta. Bandung: Seni Rupa PPS-ITB. Estetika.

.

MENGGUBAH SENI TRADISI DAN PERTUNJUKAN YANG KOMUNIKATIF UNTUK PENCERDASAN RAKYAT 3 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

Catatan Beberapa Seni Pertunjukan Bali”(sebuah karya bersama ASTI Denpasar. Sebagai penari. 1977). kemudian. Bali. serta Singapura (1977). Baru-baru ini. serta dengan Keith Terry memproduksi tarian terkenal Tjak (1990). Lawatan pentasnya di luar negeri di lakukan antara lain di Iran (1969). 92 . Beberapa buku pernah ia tulis. 1977). juga mendapatkan gelar guru besar bidang koreografi dari STSI Denpasar pada tahun 1999. Perkembangan Seni Tari Bali” (Proyek Sasana Budaya Bali-Denpasar) dan Pengantar Karawitan Bali (ASTI Denpasar. Jerman (1975). lulus tahun 1975. New England. 1975). melanjutkan ke ASTI Yogyakarta. 1975). 1977). 1978). Dramatari Cak Subali Sugriwa”(Denpasar. Sering juga berkunjung ke berbagai lembaga pendidikan untuk bertukar pengetahuan tentang dunia seni khususnya seni tari. Mulai belajar menari pada usia 11 tahun dari ayahnya sendiri. Pemimpin sanggar tari Bali Waturenggong di Denpasar ini. salah satu tempat yang ia kunjungi adalah Holy Cross College in Worcester. diantaranya dengan I Made Bandem MA. Amerika Serikat pada tahun 1992. Dramatari Sunda Upasunda (Yogyakarta. antara lain. dengan Ikranagara menata drama Rimba Triwikrama (Jakarta. 12 April 1948. 1978). Dramatari Calonarang Katundung Ratnamanggali”(Yogyakarta. Hongkong (1977). bersama dengan beberapa seniman Bali. 1974). Sedangkan pentasnya di dalam negeri antara lain. menyusun Dramatari Topeng Puputan Badung”(Denpasar. pernah bekerja sama dengan beberapa seniman tari. Lulus Sarjana Muda dari ASTI Denpasar tahun 1973. ikut memprotes pemerintah Malaysia atas klaimnya terhadap tari Pendet. Dramatari Cak DewaRuci”(1982). Amerika Serikat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Lahir di Singapadu. Sendratari Abimanyu Gugur”(Denpasar. 1976) dan Dramatari Apa”(Denpasar. mendapatkan gelar PhD dari University of California. ia sering mengikuti pentas baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Lahir dari berbagai konsepsi yang dimiliki manusia tentang sesuatu yang ada di sekitar mereka. kesenian menjadi sarana komunikasi sekaligus edukasi bagi masyarakat. New York. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian. sajian kesenian di Bali. 93 . 1983. seperti yang dikatakan Bambang Sugiharto (Dosen Universitas Katolik Parahy- S 1 Clifford Geertz. seni merupakan suatu sistem budaya. Di Bali. h. cenderung lebih mengutamakan unsur hiburan dan mengabaikan unsur pendidikan. Indonesia adalah negara multi-etnis yang memiliki beraneka ragam warisan kesenian. Basic Books Inc. seperti yang juga terjadi di daerah lain. Setiap kelompok etnis. Dalam fungsinya sebagai persembahan kepada Tuhan (niskala) dan manusia (sekala).94-120. yang tersebar di seluruh tanah air. Dosen ISI Denpasar Pengantar eni. Further Essays in Interpretative Anthropopogy. menggunakan kesenian tersebut dengan cara dan maksud yang berbeda-beda sesuai kebiasaan yang berlaku setempat. Local Knowledge. Dengan ini dimaksudkan bahwa seni tidak berdiri sendiri melainkan selalu terkait dengan unsur-unsur budaya lainnya1. apapun media ungkapnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Mencerdaskan Rakyat dengan Seni Tradisi dan Pertunjukan Komunikatif I Wayan Dibia Ahli Seni Tari. masyarakat Hindu Bali memperlakukan kesenian bukan saja sebagai sarana upacara ritual melainkan juga sebagai hiburan masyarakat. Belakangan ini. adalah suatu perwujudan ekspresi artistik yang diikat oleh nilai-nilai budaya.

kiranya diperlukan adanya upaya-upaya revitalisasi terhadap unsur-unsur pendidikan di dalam kesenian tradisi yang ada. Topeng. 16 Desember 2006. menawarkan komunikasi artistik berkualitas bayu-sabda-idep. Wayang Kulit. Bandung. agar seimbang antara aspek tontonan dengan tuntutannya. serta informasi-informasi lainnya yang tidak benar ke dalam sajian kesenian mereka. “Seni. Seni Tradisi dan Pertunjukan Komunikatif di Bali Di tengah-tengah pergeseran nilai-nilai sosio-kultural masyarakat Pulau Dewata belakangan ini. dan Pesantian adalah beberapa kesenian tradisional Bali yang hingga kini masih memperoleh tempat cukup istimewa di dalam kehidupan masyarakat Hindu-Bali.”2 Untuk menyenangkan penonton dan membuat mereka tertawa. khususnya seni pertunjukan. sebagai akibat dari masuknya unsurunsur budaya global. Ilmu Pengetahuan dan Peradaban” (Pidato Pengukuhan Guru Besar). 5 94 . membantu kita untuk sejenak melarikan diri dari persoalan. terutama seni pertunjukan dramatik. sejumlah kesenian tradisional Bali masih tetap eksis dan bertahan di masyarakat. Wayang Kulit. Patut dipahami bahwa kesenian Bali. Gong Kebyar. para seniman seringkali memasukkan adegan-adegan lucu. tulisan ini bertu-juan untuk menjelaskan bahwa jika sajian kesenian sudah diseimbangkan muatan tontonan dan tuntunannya maka kesenian tersebut akan mampu memberikan pencerahan untuk mencerdaskan masyarakat.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF angan) diadakan hanya untuk membuat hati senang dan pikiran tenang. Secara singkat dapat dikatakan bahwa gerak dan 2 Ignatius Bambang Sugiarto. Gong Kebyar. Walaupun mungkin bisa menghibur. tulisan ini mencoba untuk membahas kondisi seni pertunjukan tradisional Bali dewasa ini serta mencari berbagai kemungkinan untuk mengembalikan keseimbangan muatannya. bunyi. hal. melalui sajian gerak dan dialog-dialog yang dapat memancing ketawa penonton. kesenian seperti ini tidak akan mampu mencerdaskan masyarakat. Topeng. dan Pesantian sebagai obyek material. Dengan menjadikan Arja. jorok dan porno. sebagai fokus. Dengan menjadikan kesenian tradisional Bali. yaitu sajian seni yang mampu secara holistik membangkitkan energi. dan daya pikir. Arja. Untuk menjadikan kesenian tradisi sebagai sistem budaya yang lebih strategis dalam kehidupan masyarakat kita. Tidak sedikit pelaku kesenian yang secara tidak sadar telah memasukan lelucon kasar dan vulgar.

dua aspek lainnya tetap memberikan dukungan. didukung oleh aspek sabda dan idep. termasuk aspek idep. untuk menunjukkan bagian seni pertunjukan Bali yang tengah didominasi oleh sajian gerak dan tari. yang mengikat seni pertunjukan. Pesan-pesan etika dan moral. Sajian bunyi-bunyian. termasuk aspek bayu. yang bisa dicerap lewat mata. Secara bergantian. termasuk unsur visual lainnya. masing-masing aspek bisa berada di atas untuk menunjukkan dominasinya terhadap kedua aspek yang lainnya. Ketika sajian gerak dan tari yang mendominasi suatu pertunjukan. serta unsur-unsur aural lainnya. yang dapat merangsang pikiran penonton. Keterkaitan yang dinamis dari ketiga aspek di atas dalam seni pertunjukan Bali dapat dituangkan ke dalam suatu bagan berupa lingkaran dalam segi tiga. bunyi. aspek bayu berada di atas. Pada bagan di bawah ini. Los Angeles (1992). bayu. maka bayu akan berada di atas. sabda. Lingkaran di tengah adalah seni pertunjukan sedangkan segi tiga menggambarkan ke tiga aspek. termasuk aspek sabda. “Arja : A Sung Dance-Drama of Bali. Aspek idep akan berada di posisi atas ketika bagian-bagian suatu pertunjukan didominasi oleh sajian lakon dengan berbagai pesannya. yang disajikan dalam bentuk lakon dengan berbagai narasinya. dan pesan) dalam suatu peristiwa pertunjukan Bali. Bayu Idep Sabda 3 Baca: I Wayan Dibia. yang dapat dicerap dengan telinga. musik (vokal dan instrumental). Ketika sajian musik yang mendominir maka aspek sabda akan berada di atas. A Study of Change and Transformation” (disertasi) Los Angeles : University of California. pandangan hidup maupun gagasan-gagasan lainnya. Interaksi dan totalitas dari ketiga unsur inilah menghasilkan kenikmatan artistik yang berkualitas bayu-sabda-idep3. dan idep. Ketika satu aspek berada di atas.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI tari. Hal ini menunjukkan adanya interaksi total antara ke tiga aspek (gerak. 95 .

Topeng. Gong Kebyar. dan Pesantian hingga kini masih digemari oleh masyarakat setempat. Lakon-lakon yang dibawakan pada umumnya bersumber pada cerita Panji (Malat) yang diajukan dalam seni drama yang tragic-komedi. Tiga fase penting yang mewarnai sejarah perkembangan Arja adalah munculnya Arja Doyong (tanpa iringan dan dimainkan oleh satu orang). Brandon memasukkan kedua kesenian ini ke dalam seni pertunjukan rakyat4.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Di Bali. 1967. manis dan buduh. Struktur pertunjukan Arja sangat diikat oleh prinsip rwa-bhineda. dan Arja Gede (yang dibawakan oleh antara 10 sampai 11 orang pelaku dengan struktur pertunjukan yang sudah baku seperti yang ada 4 James R. Dengan demikian. Telah dikemukakan di atas bahwa sejumlah kesenian tradisional Bali seperti Arja. alus dan keras. yaitu pada jaman pemerintahan raja Klungkung I Dewa Agung Sakti. Theatre in Southeast Asia. Cambridge-Massachusetts. Wayang Kulit. Namun demikian belum ada data-data tertulis yang mengungkap secara pasti kemunculan dan keberadaan Arja pada zaman itu. 96 .1 Arja dan Topeng Arja dan Topeng adalah dua dramatari tradisional Bali yang hingga kini masih digemari masyarakat Bali. Harvard University Press. Brandon. Keduanya merupakan seni pertunjukan dramatik yang sangat dekat dengan masyarakat.80. Arja adalah sebuah dramatari yang menggunakan dialog berbentuk bahasa bertembang (tembang macapat). Karena hidup dan mati kesenian ini sangat tergantung pada dukungan sosial dan financial masyarakat. kesenian bukan saja menjadi ekspresi artistik yang bersifat kolektif melainkan juga sebagai wadah interaksi dan komunikasi sosial di antara mereka yang ikut terlibat dan masyarakat penonton. Arja Gaguntangan (yang memakai gamelan Gaguntangan dengan jumlah pelaku lebih dari satu orang). 2. h. kesenian merupakan produk budaya komunal yang lahir melalui hasil kerja bersama dan atau yang melibatkan banyak orang. Dramatari ini diperkirakan muncul pada tahun 1825. Kesenian-kesenian ini dapat digolongkan sebagai kesenian komunikatif karena oleh masyarakat kesenian-kesenian tersebut bukan saja dijadikan sarana untuk menyebarkan atau menyampaikan informasi melainkan yang lebih penting lagi adalah sebagai media komunikasi.

dan keberhasilan pertunjukan Topeng sangat tergantung dari kemampuan para pemainnya memainkan topeng yang digunakan. Kaja and Kelod. h. Jenis-jenis Dramatari Topeng yang ada di Bali adalah: Topeng Pajegan yang ditarikan oleh seorang aktor dengan memborong semua tugas-tugas yang terdapat didalam lakon yang dibawakan. Tokoh-tokoh utama yang terdapat dalam dramatari Topeng terdiri dari Pangelembar (topeng Keras dan topeng Tua). galuh. Arja selalu menampilkan peran-peran utama (stock characters) yang meliputi inya. politik. Lakon apapun yang dibawakan. dan Bondres (rakyat). Dalam membawakan peran-peran yang dimainkan. dan Cenikan yang lebih kecil). limbur. Kuala. 97 . Dengan selipan pesan-pesan aktual seperti ini masyarakat merasa dekat dengan kejadian-kejadian yang digambarkan dalam lakon. Panasar (Kelihan—yang lebih tua. sudah menjadi kebiasaan para pemain untuk menyelipkan pesanpesan keagamaan. Balinese Dance In Transition.lumpur. Ratu (Dalem dan Patih). ke dalam lakon yang dibawakan. dan mantri (manis dan buduh). dan ekonomi. desak. Topeng (berwajah manusia) menjadi elemen utama dari dramatari ini. Topeng Prembon yang menampilkan tokoh-tokoh campuran yang di ambil dari Dramatari Topeng Panca dan beberapa dari 5 I Made Bandem and Frederik Eugene deBoer. 1981. Topeng Panca yang dimainkan oleh empat atau lima orang penari yang memainkan peranan yang berbeda-beda sesuai tuntutan lakon. Topeng adalah dramatari yang semua pelakunya mengenakan topeng dengan cerita yang bersumber pada cerita sejarah yang lebih dikenal dengan Babad. liku. Oxford University Press.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sekarang. atau mulut (topeng kepehan). sebagian muka--dari dahi hingga rahang atas (topeng sibakan). para penari memakai topeng yang menutup seluruh bagian muka penari (topeng bungkulan).49. Diperkirakan dramatari ini muncul sekitar abad XVIII5. panasar (manis dan buduh). hidung. Semua tokoh yang mengenakan topeng bungkulan atau penuh tidak berdialog langsung. sedangkan semua tokoh yang memakai topeng sibakan dan topeng kepehan sebagian memakai dialog berbahasa Kawi dan Bali. dan yang hanya bagian tertentu seperti dahi. sosial. Agar pertunjukan Arja bisa lebih komunikatif.

Dalam prasasti Bebetin yang berangka tahun caka 818 atau 896 Masehi. Delem. di kota maupun di desa. seni pewayangan Bali dapat dibedakan menjadi 2 (dua). secara umum dapat dikatakan bahwa ornamen ukiran Wayang Kulit Bali Utara lebih sederhana dari pada wayang-wayang Bali Selatan yang cenderung lebih rumit.2 Wayang Kulit Wayang Kulit adalah seni pertunjukan tradisional Bali yang hingga kini masih digemari oleh masyarakat setempat. selalu dibanjiri oleh penonton. prilaku dalang di Bali Utara berada pada pertemuan dunia spiritual dan dunia seni (teatrikal). sementara dalang Bali Selatan lebih banyak di wilayah teatrikal. Pertunjukan Wayang Kulit. Dengan busana seperti ini. seorang dalang berstatus mangku dalang sehingga harus berbusana putih-putih sebagaimana layaknya seorang rohaniawan. misalnya. dan Sangut. Malen Bali Selatan mengggunakan kuncir berbentuk tanduk. 2. (Denpasar: Proyek Pencetakan/Penerbitan NaskahNaskah Seni Budaya dan Pembelian Benda-benda Seni Budaya. Dalam tradisi budaya Bali. Dalam prasasti Gurun Pai Desa Pandak Bandung. dari zaman pemerintahan Raja Ugrasena. 98 . Denpasar. Berdasarkan wilayah geografi dan budayanya. salah satunya adalah aringgit yang berarti bermain wayang6. juga dikete-mukan beberapa istilah.. 5-6. yaitu Bali Utara (Buleleng) dan Bali Selatan (Badung.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dramatari Arja. diketemukan sejumlah istilah seni pertunjukan yang salah satunya adalah parbwayang yang diyakini berarti wayang atau pertunjukan wayang. Di lihat dari bentuknya. Tabanan. pertunjukan wayang kulit diperkirakan sudah ada sejak abad IX. bentuk wayangnya. dan Topeng Bondres. h. sedangkan 6 Lihat: Serba Neka Wayang Kulit Bali. jumlah pelakunya. Gianyar. di kedua wilayah budaya ini juga sangat berbeda. lebih dari seorang seniman. pada bagian kepalanya. Perbedaan cukup mendasar Wayang Kulit dari kedua wilayah ini terlihat dari status sosial dalangnya. Perbedaan ini bisa dilihat. Berbeda dengan dalang di Bali Selatan yang lebih diperlakukan sebagai seorang seniman. terutama oleh dalang-dalang ternama. seni pertunjukan topeng yang masih relatif muda yang lebih mengutamakan penampilan tokoh-tokoh lucu untuk menyajikan humor-humor yang segar. Di Bali Utara. 1975). Merdah. Bentuk empat punakawan inti: Malen. dan lain-lain).

Yale University Press. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini. New Haven. Pelaku pertunjukan Wayang Kulit di Bali Utara. 7 8 Colin McPhee. penabuh gender pada umumnya berjumlah 4 (empat) orang. pada umumnya terdiri atas 2 (dua) orang penabuh gender dengan seorang dalang. Baik rasa musikal maupun jalinan melodi serta tehnik pukulan Gong Kebyar ada kala. oleh Edward Herbst 2009. Music in Bali. musik Gong Kebyar adalah perpaduan antara Gender Wayang. Satu hal lagi. h. gamelan ini menghasilkan musik-musik keras yang dinamis.nya terasa Gender Wayang yang lincah.3 Gong Kebyar Gong Kebyar adalah sebuah ensambel yang diciptakan untuk memainkan musik-musik Kakebyaran. di Bali Utara suara ngelur diarahkan ke dalam. 1966. seperti yang terlihat pada Wayang Parwa. dalam tehnik olah vokal.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Malen Bali Utara biasanya dengan kepala gundul. yaitu Kebyar yang berarti suara keras dan menggelegar yang datang secara tiba-tiba. Dalam album Bali 1928. Jika di Bali Selatan suara ngelur diproyeksikan ke luar. Pangkung. Perkembangan Gong Kebyar mencapai salah satu puncvaknya pada tahun 1925 dengan datangnya seorang penari Jauk yang bernama I Ketut Marya (Mario) dari Tabanan ke Bali Utara yang kemudian menciptakan sebuah tarian yang lebih banyak dilakukan dalam posisi duduk atau jongkok sambil memainkan instrumen terompong. atau Palegongan yang melodis. Di Bali Seletan. 328. Gamelan Gong Kebyar Blaluan. Tarian ini kemudian disebut tari terompong (kebyar terompong). rasa tabuh-tabuh Palegongan terasa sangat dominan dalam tabuh-tabuh Gong 99 . Gong Gede yang kokoh dan agung. walaupun sama-sama menggunakan suara kerongkongan namun ada perbedaan dalam proyeksi suara. Pola gineman Gender Wayang atau pukulan Kakenyongan Gong Gede muncul dalam berbagai tabuh Gong Kebyar8. 2. Hasil-hasil penelitian selama ini menunjukkan Gong Kebyar muncul di Bali Utara sekitar tahun 19157. Busungbiu. Desa yang disebut-sebut sebagai tempat kelahiran Gong Kebyar adalah Bungkulan walaupun kemudian Gong Kebyar Jagaraga yang lebih berkembang di Bali Utara. dan Palegongan. Secara estetik. A Study in Form and Instrumental Organization in Balinese Orchestral Music. suara ngelur atau jeritan keras oleh dalang. Gong Gede.

Di sisi lain. dan hampir setiap Kecamatan. memiliki sedikitnya satu barungan Gong Kebyar. kidung. Selain untuk mengiringi untuk mengiringi tari-tarian dan memainkan tabuh-tabuh kebyar. jika tidak di semua desa pakraman. upacara hari kelahiran. 100 . 2. atau pupuh-pupuh yang selama ini hampir dilupakan masyarakat Bali modern. sangat jarang sebuah upacara seperti tiga bulan bayi. Menyanyikan lagu-lagu pemujaan Tuhan (makidung) memang tidak pernah lenyap dari kegiatan upacara dewa yadnya. melainkan juga di kalangan masyarakat bawah. dan kantor-kantor pemerintah memiliki gamelan ini. Untuk sekian lama. di Bali. semuanya itu bisa terdengar dalam pesantian. semaraknya aktivitas pesantian seperti sekarang menunjukkan adanya revitalisasi dari berbagai jenis wirama. menyanyikan tembang-tembang macapat di luar konteks seni drama. Kebyar.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dewasa ini Gong Kebyar merupakan kesenian yang paling populer di Bali.4 Pesantian Pesantian adalah pembacaan (pertunjukan) karya-karya sastra klasik bertembang yang ditulis dalam metrum sekar agung dan sekar madya. menjadi semakin bergairah terhadap aktivitas pesantian (dari kata santi yang berarti damai). merupakan suatu hal yang baru di Bali. Dewasa ini. perguruan tinggi. Fenomena seperti ini muncul bukan saja di kalangan masyarakat golongan menengah ke atas. gamelan ini juga bisa digunakan untuk memainkan tabuh-tabuh lelambatan untuk mengiringi upacara adat dan agama. Kini. hampir tidak ada upacara adat dan agama Hindu di Bali yang tanpa dimeriahkan oleh pesantian. Pada masa-masa sebelumnya. Munculnya fenomena pesantian ini sedikit banyak didorong oleh adanya kerinduan terhadap nilai-nilai budaya masa lalu. misalnya di tahun 1970an. atau membacakan karya-karya sastra bermetrum sekar agung (makakawin) untuk manusa yadnya dan pitra yadnya. atau peminangan yang dimeriahkan oleh pesantian seperti yang terjadi belakangan ini. persepsi masyarakat terhadap pesantian. Hampir setiap sekolah. di desa maupun di kota. Belakangan ini masyarakat Bali.

Oleh sebab itu. banyak orang yang melihatnya sebagai sebuah keg iatan yang hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang telah memiliki proses penyucian serta kesiapan batin. Hal ini men unjukkan bahwa keseniankesenian tradisional tersebut di atas tela h memiliki “jembatan komunikasi” dengan masyarakat penont on. ada lah kegiatan orang tua yang bermuka kriput. menjadi pilihan yang sangat tepat. Bagi warga masyaraka t yang ingin hiburan ringan yang sekaligus dapat memeriahka n suasana pelaksanaan dari upacara adat dan agama mereka laku kan. baik Gender Wayang mau pun Geguntangan. Masyarakat setempat cukup tahu dengan struktur per tunjukan. serta bahasa yang digunakan oleh para pemainnya (bahasa Bali). kehadirannya sangat mem perkaya aroma dan aural dari pesantian. Potensi seperti ini. Ken yataan yang ada sekarang sungguh sangat berbeda. Masyarakat Bali pada umumnya sud ah tidak asing lagi dengan kesenian yang telah disebutkan di atas. dengan tubuh yang sudah mulai bungkuk. Kini para pela ntun kakawin (juru baca) termasuk penerjemahnya (juru basa) adalah orang-orang dewasa setengah baya yang masih ganteng atau cantik dan bertubuh tegak. tata penyajian dari masing-masing kesenian. Walaupun penggunaan iringan musik dari barungan kecil ini lebi h banyak sebagai ilustrasi (background). Kar ena kegiatan ini melibatkan pembacaan pustaka-pustaka lontar yan g disucikan. sambil mengunyah sirih (nginang). bahkan sering kali juga dari golongan remaja. Akhir-akhir ini kegiatan pesantian sudah menjadi semakin meriah dan menarik untuk dinikm ati dengan digunakannya gamelan pengiring berupa ensambel kecil seperti Gender Wayang dan gamelan Geguntangan. para generasi muda cenderung menjauh dari aktivitas ini. yang selama ini dilakukan oleh pem erintah dan masyarakat telah memberikan dampak yang cukup bes ar terhadap munculnya kegairahan pesantian ini. Nampaknya kegiatan Utsava Dharma Gita. dari kesenian tradisional. pesantian yang diiringi gamelan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI terutama makakawin/mawirama. dan lomba-lomba makakawin. 101 . patut dimanfaatk an dengan sebaik-baiknya untuk mencerdaskan masyarakat.

baik pada masyarakat penonton maupun para pelakunya. kesadaran budaya (termasuk kepekaan rasa).9. jika perlu mengambil lakon-lakon Barat atau mengangkat karya-karya sastra modern. Hal ini menjadi sangat penting ketika berhadapan dengan penonton 9 Harold Taylor. 10 Robert Cohen. dari manapun sumbernya. 1994. Para seniman Arja misalnya harus berani menampilkan lakon-lakon di luar cerita Panji. 1960. apapun media ungkapnya. kontemplasi estetis. Robert Cohen. New York. memperkaya elemen pertunjukan. para seniman seni drama perlu terus berupaya untuk menampilkan lakon-lakon baru dalam sajian mereka. Mayfield Publishing Company. Menurut Harold Taylor.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Mencerdaskan Rakyat Dengan Kesenian Seni. pada dasarnya adalah hasil sebuah kreativitas yang mengandung sekumpulan pengetahuan. Oleh sebab itu. pernah mengatakan bahwa seni (teater) dapat mempertajam daya pikir dan menyatukan rasa10. Pengkemasan terhadap kesenian-kesenian tradisional dapat dilakukan dengan beberapa cara. Topeng) dan teater (Wayang Kulit) sering kali sangat bergantung kepada muatan dramatiknya yaitu lakon yang dibawakan. memadatkan durasi pentas. Mountain View-California. Apa yang dikatakan Cohen dan Taylor menunjukkan bahwa kesenian sangat potensial untuk mencer-daskan rakyat (masyarakat). serta yang mampu meningkatkan keluhuran budi. untuk memahami suatu produk karya seni dibutuhkan kemampuan otak untuk memikirkan konsep-konsep yang terkandung di dalamnya9. pakar pendidikan. Keberhasilan sebuah pertunjukan seni drama (Arja. para seniman harus senantiasa berpegang teguh kepada sumber literatur yang digunakan. Dalam membawakan suatu lakon. Masyarakat pada umumnya akan tertarik untuk menyaksikan sebuah pertunjukan jika mereka tahu adanya lakon baru yang akan dipentaskan. h. 16-17. Ahli teater Barat. Kesenian yang mencerdaskan bukan saja yang mengibur melainkan yang mampu membangkitkan interaksi intelektual. kesadaran identitas dan jati diri. pelaku seni harus senantiasa berupaya untuk melakukan penggarapan dan pengkemasan terhadap beberapa bagian dari kesenian mereka. 102 . Art and The Intellectual. Satu hal yang patut diingat bahwa upaya penggarapan dan pengkemasan ini harus dilaksanakan tanpa merusak identitas kesenian yang ada. h. seperti menyehatkan muatan dramatik (lakon). Untuk membuat kesenian mereka mampu mencerdaskan rakyat. Theatre (Third Edition). The Museum of Modern Art. dan memperbarui teknik penyajian.

Atau meniadakan bagian-bagian yang tidak penting. Topeng. tidak sampai ditinggalkan penonton. Dalam Gong Kebyar kita bisa melihat berbagai penambahan instrumen untuk melahirkan rasa musikal yang lebih menarik dan sesuai dengan selera zaman sekarang. para pelaku kesenian tradisional harus rela menyesuaikan waktu pertunjukan mereka dengan kondisi yang ada. Namun demikian. pemadatan durasi pentas hendaknya jangan sampai menghilangkan bagian-bagian penting dari suatu kesenian. Oleh sebab itu. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah meniadakan pengulangan bagian-bagian pertunjukan yang terlalu sering diulang-ulang. yang biasa disebut dengan pada misi. Ada kecenderungan bahwa dewasa ini penonton kurang tertarik dengan sajian seni drama yang terlalu serius. secara relatif berimbang. misalnya dalam rangka Pesta Kesenian Bali. Agar suatu pertunjukan kesenian tradisional seperti Arja. Oleh sebab itu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI yang sudah mulai melek baca seperti masyarakat Bali di zaman modern ini. Mereka menjadi cepat bosan mendengar adegan-adegan serius yang dijejali oleh dialog-dialog bermuatan filosofis berat. Bagian-bagian esensial dari suatu pertunjukan hendaknya tetap dipertahankan karena jika tidak akan bisa jadi pemadatan durasi akan justru merusak identitas kesenian yang bersangkutan. Gong Kebyar dan pesantian adalah dua kesenian tradisional Bali yang telah banyak melakukan pengayaan terhadap elemen-elemen pertunjukan. maka dibutuhkan adanya pemadatan durasi pentas. antara yang mendidik dan menghibur. Pementasan kesenian semalam suntuk kiranya sudah semakin jarang terjadi di zaman ini. kedua kesenian ini telah tampil dengan elemen-elemen pertunjukan yang baru. Masyarakat di zaman modern pada umumnya sudah ”sadar waktu” sehingga mereka tidak bisa menghabiskan waktu terlalu lama untuk menyaksikan pertunjukan. Durasi pentas merupakan salah satu unsur pertunjukan kesenian tradisional yang memerlukan penanganan yang serius. Masyarakat cenderung tidak bisa menghadari pertunjukan seni dengan durasi pentas melebihi dari 3 sampai 4 jam. muatan dramatik yang kiranya bisa diterima oleh penonton pada zaman ini adalah yang berisikan adegan-adegan serius dan lucu. atau Wayang Kulit. Dalam beberapa kali Festival Gong Kebyar se Bali. Hal yang sama juga terlihat pada pesantian yang kini sudah biasa meng103 .

yang selama ini hanya dipandang sebagai sumber hiburan. penggunaan teknologi modern ini hendaknya diupayakan sedemikian rupa agar jangan sampai merupak unsur-unsur esensial dari kesenian yang bersangkutan. kesenian tradisional memiliki teknik penyajian yang sudah baku. Temuan-temuan teknologi baru di bidang tata cahaya. 104 . Dalam kenyataannya. Sebagai contoh. hampir semua kesenian tradisional Bali mengalami perubahan tehnik pementasan. Dari yang menggunakan lampu petromak atau obor menjadi lampu elektrik yang modern. Seiring dengan kemajuan teknologi. atau penggunaan microphone agar jangan sampai merusak tembang penari Arja. bagaimana penggunaan tata lampu agar jangan sampai membunuh warna topeng yang digunakan penari Topeng. semenjak tahun 1960-an. kesenian tradisi. set dan dekorasi. Di mata masyarakat luas. dalam mencerdaskan rakyat. Agar upaya-upaya pencerdasan melalui kesenian ini bisa terwujud maka dibutuhkan upaya-upaya pengkemasan dari para pelaku dan pemilik kesenian itu sendiri. dapat digunakan sebagai sarana pencerdasan masyarakat. Jika diberdayakan dengan baik dan benar. Jika teknik pementasan itu dirubah maka akan menghilangkan jati diri dari kesenian yang bersangkutan. mereka harus senantiasa berupaya untuk menyeimbangkan segisegi tontonan dan tuntunan dan memperhatikan konsep bayu-sabdaidep dalam sajian mereka. Namun demikian. dari yang tidak menggunakan pengeras suara menjadi berpengeras suara. Hanya dengan cara seperti ini sajian kesenian mereka akan bermanfaat bagi upaya peningkatan kualitas kemanusiaan masyarakat kita. yang dimiliki oleh bangsa ini. Penutup Semua yang telah diurai di atas menunjukkan potensi besar dari kesenian tradisional dan pertunjukan komunikatif. dari kalangan tradisional yang berbentuk arena menjadi panggung tapal kuda atau semi proscenium. kiranya dapat digunakan dalam pertunjukan tradisional.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF gunakan gamelan pengiring (Gender Wayang atau Gaguntangan). Anggapan seperti ini sesungguhnya tidak sepenuhnya benar. jika tidak sebelumnya. teknik pementasan kesenian tradisional Bali sudah sepatutnya diperbaharui. Bagi masyarakat seniman pertunjukan di Bali.

Daftar Pustaka 105 . Oxford University Press. 1967. Robert . Herbst. 1992. Denpasar: Proyek Pen-cetakan/Penerbitan Naskah-Naskah Seni Budaya dan Pembelian Benda-benda Seni Budaya. Mountain View-California: Mayfield Publishing Company. Dibia. Busungbiu (CD). James R. A Study in Form and Instrumental Organization in Balinese Orchestral Music. Theatre (Third Edition). Music in Bali. Kuala Lumpur. Cohen. Ilmu Pengetahun. dan Peradaban.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bandem. New York: Basic Books Inc.1994 [1981]. Taylor. 2006. Arbiter. Art and the Intellect. I Wayan. Ignatius Bambang. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Harold. Theatre in Southeast Asia. 1960. Kaja and Kelod. 1981. Brandon. Further Essays in Interpretative Anthropology. Serba Neka Wayang Kulit Bali. New Haven: Yale University Press. “Arja : A Sung Dance-Drama of Bali. 1966. A Study of Change and Transformation” (disertasi) Los Angeles : University of California. 2009. Gamelan Gong Kebyar Blaluan. Colin. Proyek Pencetakan/Penerbitan Naskah-Naskah Seni Budaya dan Pembelian Benda-benda Seni Budaya. Universitas Katolik Parahyangan (Bandung). 1975. Edward. Geertz. I Made. deBoer. Pangkung. Balinese Dance In Transition. Frederik Eugene. Los Angeles. Seni. Publisher. Bali 1928. Cambridge: Harvard University Press. 1983. Sugiharto. Clifford.Local Knowledge. New York: The Museum of Modern Arts. McPhee.

6 Denpasar Bali Tlp. 081338265446 Alamat Kantor: Jalan Nusa Indah Denpasar Tlp. Institut Seni Indonesia Denpasarini lulus sarjana muda (BA) Seni Tari ASTI Denpasar Tahun 1987. Kapuslit Bidang Seni Tradisional LP2M ISI Denpasar. Sejak tahun 2004 mengelola Sanggar Seni Citta Usadhi Kabupaten Badung sebagai ketua dan hingga kini memegang posisi ketua Himpunan Seniman Kabupaten Badung (HSKB).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF I Nyoman Catra. 31 Desember 1954. Saat ini menjabat Sekretaris dan Ketua Jurusan Tari/Karawitan dan Pedalangan ASTI Denpasar. dan ikut dalam Litbang Yayasan Saba Budaya Hindu Bali. Gang Kenari VI No. (0361) 227316 106 . Lahir di Denpasar. (0361) 262193 HP. Sekretaris LP2M ISI Denpasar. Dosen Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan. Sebelumnya juga pernah menjadi Pembantu Ketua I Bidang Akademis STSI Denpasar. Sementara gelar master (MA) Teater diambil di Emerson Collega Boston USA (1996) dan memperoleh gelar Doktor Ethnomusicology dari Wesleyan University Middleton Connecticut USA (2005). Alamat Rumah: Jalan Nangka. Gelar S1 (SST) Seni Tari diselesaikan tahun 1983 di ASTI Yogyakarta.

Dari panca maha bhuta terlahirlah panca tan matra yakni lima unsur pendorong kehendak manusia yang terdiri dari sparsa.dalam memahami tujuan hakiki menjalani hidup dan kehidupan ini. air (apah). dan ether (akasa). M 107 .yang dikatakan sebagai mahluk tertinggi diantara mahluk hidup .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Seni Pertunjukan Populer sebagai Media Pencerdasan Rakyat: Potensi Tari Topeng dan Teater Bali I Nyoman Catra Ahli Seni Pertunjukan. rasa. angin (bayu). Menurut kepercayaan Hindu tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai “Moksartham Jagadhita ya ca Iti Dharma” yakni pendakian pencapaian kebahagiaan abadi manunggal dengan sifat asali. sebuah visi yang menjadi idaman bersama. dan sabda. ganda. Dalam kaitan berbangsa dan bernegara. sinar/panas (teja). di samping memperoleh kebahagiaan duniawi di dunia fana ini. belum pernah mendapatkan jawaban tuntas. sejahtera lahir batin dengan pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani secara berimbang. Dosen ISI Denpasar Pendahuluan isteri kehidupan yang sering memunculkan kebingungan menyelimuti insani manusia . pemerintah dalam meningkatkan kwalitas anggota masyarakatnya memiliki tujuan untuk membentuk Manusia Indonesia seutuhnya. rupa. Manusia sebagai perwujudan dunia kecil (mikrokosmos) beraviliasi dengan dunia besar/jagadraya (makrokosmos) berelemen dari panca maha bhuta yakni lima unsur yang terdiri dari. tanah (pertiwi). dengan senantiasa mengedepankan dharma.

Unsur panca maha bhuta dipadu dengan sifat unsur panca tan matra. Kecerdasan rasio dan rasa seyogyanya saling melengkapi dalam memahami hidup ini. membentang luas pada perputaran kosmik. Tarian kosmik Hyang Siwa disebut dengan Siwanataraja. Dua kekuatan sifat yang bertentangan ini yang dikenal dengan sebutan rua-bineda merupakan dialektik yang tak terpisahkan dalam alam raya ini termasuk pada diri manusia. Pendidikan formal lebih menekankan pada pembentukan kecerdasan intelektual. cetana–acetana. positif–negatif. Ta. senjata. kedua formulasi ini bergolak mempengaruhi perangai manusia. stiti. Sementara pencerdasan yang dilakukan melalui pengalaman agama dan seni. Sepuluh fomulasi aksara suci (dasa aksara) yang terpilah menjadi dua dikenal denga panca tirta dan panca geni (Sa. pengasahan akan rasio dari kerja otak. suka–duka. dan unsur lainnya (pangider bhuana). uttpeti. Disadari bahwa unsur-unsur tersebut sebagai elemen jasad dan jiwa perwujudannya dari bendawi yang kasatmata sampai pada yang bersifat maya termasuk jiwa dan sifat kehendak/ego manusia. Seni pertunjukan merupakan media ampuh untuk promosi penyampaian pesan. merupakan elemen pergolakan kreativitas dalam siklus. di bumi berputarnya seluruh penjuru mata angin dengan istana dewa dan dewinya. sastra. pendidikan formal. A. indah dalam keteraturan. Ya). Dunia dan alam semesta ciptaan Beliau bergerak secara ritmis. manusia tumbuh dan berkembang mendapat pendidikan dari orang tua. Ma Si. yang dipercayai terlahir telah membawa karma dari hasil perbuatan manusia pada kehidupan sebelumnya (punarbawa). Ba. sifat bhuta. berpengaruh pada dinamika kehidupan setiap insan sebagai mahluk individu maupun dalam kaitannya sebagai mahluk sosial. purusa–predana. Wa. sekala–niskala. senantiasa bergolak tarik-menarik.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Digambarkan dalam mitos peredaran bumi bahwa Hyang Siwa menciptakan dunia dan alam semesta ini dengan tarian sakralnya sebagai wujud proses kreatif berkesinambungan. atas–bawah. suara. gelap–terang. pralina (trikono) yang berproses secara alami terus menerus penuh intensitas dalam perjalanan peredaran waktu yang tak terhitung. pendidikan regulasi pemerintahan dan pendidikan masyarakat/alam lingkungannya. Na. timur–barat. Untuk memahami misteri kehidupan tersebut. neptu. dan sifat lain yang bertentangan. yakni adanya sifat: baik–buruk. warna. lebih ditekankan pada pencerdasan rasa. I. media 108 .

wayang dan berbagai dramatari lainnya. persembahan diperuntukkan menghormati leluhur. baik yang menyangkut rentang waktu. Penggambaran dunia dengan berbagai permasalahannya didalam arena pentas. tugas dan kewajiban profesi. konflik internal dan eksternal tokoh yang mengemuka tanpa batas. persembahan untuk memuliakan manusia itu sendiri. sistem kehidupan. Sebagai kesenian popular kebanyakan seni pertunjukan dramatari Bali. Dikatakan penting mengingat kehadirannya memiliki tugas dan fungsi sebagai legitimasi keberhasilan sebuah ritual keagamaan. lengkap walau tetap 1 Panca Yadnya: Lima domain peruntukan persembahan yadnya yang digelar oleh masyarakat Hindu yakni: Dewa Yadnya persembahan diperuntukkan kehadapan Tuhan dengan berbagai manifestasinya. adaptatif dengan situasi. pada berbagai jenjang usia. Persembahan pengagungan karunia Tuhan melalui karma sandyasin melibatkan tatacara dan elemen persembahan yang megah. Rsi Yadnya persembahan untuk menghormati para pendeta. persembahan diperuntukkan membangun keharmonisan dengan alam semesta. mengerti dsb. 109 . Pitra Yadnya. sebagai varian genre seni pertunjukan. bertautan dengan kehidupan masyarakat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI propaganda. sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam menjalani ritual keagamaan. sebagai cermin pembekalan masyarakat tentang pemaknaan hidup. Mencerdaskan masyarakat mengandung pengertian sebagai upaya ”mengusahakan supaya sempurna akal budinya. indah. status sosial. Bhuta Yadnya.” (Kamus Besar BI: 164) Topeng dan berbagai jenis dramatari lainnya. dimana dalam tingkatan tertentu seni pertunjukan topeng pajegan dan wayang lemah menjadikan bagian tak terpisahkan melengkapi kesempurnaan tatacara upacara yang digelar. Dengan kata lain pendidikan budi pekerti menjadi muatan isian dramatisasi seni pertunjukan. Peran Tari Topeng dan Teater Bali di tengah masyarakatnya Masyarakat menyadari arti penting dan memberikan ruang kepada seni pertunjukan seperti topeng. tidak saja sebagai pemberi hiburan juga sebagai pencerahan masyarakat penontonnya. kehadirannya memiliki peran yang sangat penting. Ritual keagamaan yang domainnya dikategorikan kedalam panca yadnya1. yang berkaitan dengan logika berdasar pada rasa. memiliki format sajian yang sangat fleksibel. wayang. merefleksikan dunia kehidupan maya secara luas.” Cerdas berarti ”sempurna perkembangan akal budinya (untuk berfikir. dan Manusa Yadnya. dan kondisi.

madya. Seniman mempunyai ruang terbuka untuk memberi pemaknaan terhadap apa yang sedang berlangsung dan untuk tujuan apa upacara tersebut diselenggarakan. Gambuh sebagai sebuah dramatari yang menekankan pada kemegahan/keagungan pemerintahan raja-raja. baik sebagai penyaji pada tarian murni maupun para actor dalam dramatari Bali. dan utama. tidak memiliki kuasa untuk memaparkan dan menerangkan kehadapan khalayak. dan sang sulingih yang bertugas menghaturkan upakara tersebut sesuai tujuan dan peruntukannya dengan mengelar sang catur weda (yogiswara). arja. membentang dari keterkaitannya dengan peristiwa sakral (wali). utamanya sebagai pencerahan masyarakat dalam kategori bebeali. dengan permaianan patet dari alunan ritmik aransemen instrumen perkusi. disamping melodis melankolis sapta nada dialunkan dengan sejumlah suling berukuran besar. Tujuan tontonan dan tuntunan. dan sejenisnya. memiliki seting penokohan yang besar dengan varian tingkatan hirarkinya. berkenaan dengan makna dan arti dari tata upacara dan upakara beserta filsafat yang melatarbelakangi-nya. dua dimensi tujuan pergelaran yang saling melengkapi dibutuhkan dalam pengalaman estetik masyarakat penontonnya. seniman seni pertunjukan (praregina/dalang2) yang ikut meligitimasi ritual tersebut memiliki peran yang sangat penting. Fungsi kesenian berlakon di Bali seperti topeng. dan secara luas memiliki rambahan peruntukannya sebagai seni hiburan sekuler (balih-balihan). Tata busana dan rias mencerminkan kemegahan regalia penampilan tokoh dari kalangan 2 Sebutan pragina diberikan kepada seseorang yang memiliki profesi sebagai seniman tari. drama gong. Koreografi tari yang komplek. Oleh karenanya sangat strategis dan memiliki peran yang sangat potensial sebagai pencerahan masyarakat pemirsanya lewat sentilan-sentilan yang menghibur dengan nilai-nilai kebijaksanaan sebagai kandungan isian dramanya. 110 . Seni pertunjukan dramatari Gambuh yang ditengarai sebagai sumber utama munculnya tari/dramatari lainnya di Bali. Sebutan dalang diperuntukkan pada seniman yang piawi dalam memainkan wayang. wayang. orang ahli pembuat upakara (niniwedya). merupakan upaya pembayaran hutang hidup (tri rnam). Orang yang bertanggungjawab pelaksanaan upacara (yajyamana). Ketika sebuah upacara keagamaan digelar yang melibatkan anggota masyarakat secara luas. tata struktur musik yang megah.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF memperhatikan pada tingkatan kemampuan nista. calonarang.

Disamping penguasaan secara cabangnya yang demikian banyak seniman juga ditutut dalam kreativitas kemasan tari. dan elemen lainnya. Pendidikan seni kepada generasi penerus pelaku kesenian menuntut penguasaan pada unsur-unsur seni sebagai preservasi kekayaan khasanah bangsa. Dalam seni pertunjukan dramatri seperti: topeng. busana. Dramatari gambuh masih didominasi dengan penggunaan bahasa Jawa Kuno (kawi) dan adanya pengulangan kata-kata sebagai korus kekuatan kebersamaan yang dewasa ini tidak banyak dimengerti kontent dan konteksnya. dimana tokoh Panji sebagai tokoh protagonis digambarkan sebagai pahlawan kebudayaan. Wayang Wong.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI bangsawan. gamelan. dan Baris Melampahan. pragina naduin. calon arang. arja. Seorang seniman setidaknya dituntut agar menguasai beberapa cabang ilmu seni untuk memperkuat identitas kesenimanannya. 111 . Gambuh yang mengambil kisah pengembaraan cinta dan kekuasaan. karakterisasi. Arja. Sebagai sebuah dramatari total teater (Bandem & deBoer 1995: 27) gambuh memiliki kontribusi penting di dalam tarian Bali karena pengaruhnya pada bentuk dramatari lainnya pada perkembangan berikutnya. Sementara seniman ngerangkep diperuntukkan bagi seseorang yang memiliki multi talenta sebagai seniman serba bisa. arti dari dramatisasinya. elemen komposisi. olah sastra. Wayan Dibia (2004: 119) memberikan identifikasi wilayah kiprah pragina menekuni profesi berkeseniannya ke dalam: pragina nugur. dikategorikan sebagai pragina nugur. tembang dan retorika antawacana sebagai preservasi keragaman seni tradisi memperkokoh budaya bangsa. sebagai sumber dan model pada berbagai jenis perunjukan dramatari seperti Topeng. Koreografer Bali moderen sangat kuat bertumpu pada Gambuh dalam pendekatan struktur. Tingkat penguasaan sebagai pemeran satu tokoh dengan baik/sempurna. Secara tematis dan sajian dramatari gambuh memberikan refleksi kemegahan sebuah negara dan keindahan alunan lebut gerak tari tokoh protagonis yang mampu menaklukkan gerakan kasar dari tokoh antagonis dalam balutan kisah cinta dan kekuasaan. dan pragina ngerangkep. Terbuka luas pengusaan berbagai cabang seni yang sudah tentu memperkuatan profesi kesenimannnya. Seniman naduin untuk mereka yang memiliki kemampuan penguasaan lebih pada satu jenis kesenian yang sering juga disebut ngiwa. repertoar musikalnya. Legong.

Secara pemaknaan hidup. Seniman praktisi menyadari bahwa penonton yang hadir dari kalangan anak-anak. status sosial dan profesinya. dimana peran penasar yakni adanya tokoh sisipan lokal genius yang selalu hadir sebagai panakawan. sejarah/ babad masa silam. pemberi wejangan. sehingga posisi wayang penasarpun dijadikan ikon sakral dalam pemaknaan hidup ini. sementara keempat penasar diposisikan pada empat penjuru mata angin selaras dengan sifat dan karakterisasi tokoh. Dengan demikian penasar adalah tokoh misteri yang penuh dengan pemaknaan dan memiliki aviliasi dengan kanda pat berkaitan dengan paralel posisi tata letak baik di buana alit. dimana hadirnya tokoh utama kebanyakan berbahasa kawi. remaja. Namun dengan hadirnya penasar yang bertugas sebagai penerjemah. 112 . perwujudan figur penasar dalam wayang yakni Tualen. yang sudah barang tentu memiliki kesenangan nutrisi kejiwaan yang berbeda. yang kurang dapat dipahami oleh kebanyakan masyarakat umum. Sambil melontar selingan lelucon yang mengundang gelak ketawa sebagai bukti perhatian penonton penuh terhadap dinamika dramatik adegan berlangsung. Panakawan menggunakan bahasa daerah/lokal dengan varian dialeknya. komentator. termasuk diantaranya menjadi pendamping tokoh tritagonis. legende. Dalam Dharma Pewayangan (lihat Hooykass 1973: 130) posisi penasar dalam stananya menurut arah mata angin dibahas secara komprehensif. berpihak pada tokoh protagonis. Delem dan Sangut.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF wayang wong. maupun di buana agung. dewasa dan orang tua. Kendati ceriteranya mengambil dari kisah-kisah epos. termasuk wayang kulit. antagonis. Sekala dan niskala cara pandang masyarakat Hindu pada kenyataan hidup ini. secara filosofis memiliki aviliasi dengan ista dewata nawasanga dalam kosmik buana agung. mengelaborasikan topik pembicaraan dan mengembangkannya dengan memasukkan petuah tentang nilai-nilai kebijaksanaan. menjadikan pertunjukan tersebut sebagai bagian dari kisah yang dialami masyarakat penikmatnya. Merdah. merupakan momen baik untuk menyisipkan pesan-pesan kebijaksanaan. menjadikan pertunjukan tersebut bisa dibuat bersentuhan langsung dengan persoalan masyarakat sekitar. Oleh karenanya seniman dituntut secara sadar mempertimbangkan keragaman dialog panakawan (kandan penasar) yang dapat menutrisi masyarakat pengapresiasi pada tingkatan perbedaan umur. Wayang Kayonan diposisikan di tengah.

prembon dan termasuk wayang. Dalam penempatan warna pangider buwana arah di timurlaut ditandai dengan warna biru. laut berwarna biru. dan terang merupakan busana dari penasar Tualen. menjadi konfigurasi menarik mengangkat ideologi partai lewat simnol-simbol. Lirik-lirik lagu janger membangkitkan semangat partisipan partai dan pengikutnya untuk mempersatukan masanya. beraviliasi dengan stana Dewa Iswara yang menempati posisi di Timur. Pada era pemerintahan Orde Baru. menjadikan kesenian populer ini seakan identik dengan kesenian partai politik. keduanya mencerminkan keluasan bidang yang ujungnya tak terjangkau oleh pandangan mata manusia. Timur-laut adalah arah ke hulu (luanan) berada diantara warna hitam dan putih. arah menuju sorga. Pada masa pergolakan partai politik di tahun 1965an pertunjukan dramatari janger menjadi komuditas politik. Format yang sama masih terasa pada perhelatan pemilihan. Langit berwarna biru. yang memiliki keterbatasan. formasi huruf. corong partai ajang kompanye dalam pengumpulan masa. Munculnya kesenian popular seperti Topeng Bondres mendominasi perhelatan politik di samping berbagai jenis kesenian tradisi lainnya seperti topeng. anggota legislatif. abu-abu. sungguh menggugah. Acintya dan Kayonan dijadikan ikon untuk proses dimaksud. Ketiga tone warna ini (hitam. Kesedehanaan tokoh Tualen memliki simbolik yang sangat dalam. Oleh karenanya dalam upacara ruwatan. arja. dan putih) adalah warna magis. Dominasi warna tertentu. Ada ke abu-abuan pemahaman kita dalam memandang arah manadala timur laut yang dikatakan sebagai arah hulu (luanan). Namun secara filsafati sebagai purusa sumber asali dia dikatakan memiliki darah putih. 113 . dikumandangkan oleh korus kecak dan janger. sebagai pencerminan gelap.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Tokoh Tualen yang secara kasat mata berwarna gelap/hitam beravilisasi dengan stana Wisnu berada di Utara. tokoh Tualen seorang abdi kebanyakan yang sesungguhnya memiliki sifat asali. pembuatan air suci (ngarga tirta) dalam pertunjukan wayang upacara. bersama tokoh Siwa. Yel-yel penggugah semangat masa dengan pekikan propaganda flatform partai. adalah tune warna untuk jangkauan luas tak terbatas. dan pembentukan lambang partai dengan gerak maknawi. kesenian tradisional terutamanya yang memakai lakon dijadikan corong penerangan sosialisasi program pemerintah. abu-abu. dijadikan wahana ampuh menyampaikan pesan-pesan pembangunan.

berbangsa dan bernegara. Penasar yang berfungsi sebagai penerjemah bahasa tokoh utama yang kurang dipahami oleh kebanyakan penonton. samping-menyamping. Pertunjukan yang mengambil kisah dari dunia kedewataan. dunia dari alam gaib. kisah raja-raja pada jaman feodal. maupun kisah kerakyatan dari bentangan spektrum waktu tanpa batas. epos. Agem. sangat ampuh sebagai wahana mengakomudir pesan-pesan kebijaksanaan sebagai pencerahan dan menjembatani kisah dari dunia kedewataan. menjadi tuntutan yang mesti di capai melalui pelatihan panjang. Tari Topeng dan Teater Bali sebagai Media Pencerdasan Rakyat. Secara figura desain tubuh penari di arena pentas. yang membutuhkan dukungan masa banyak. Transformasi tokoh dapat diwujudkan dengan estetika dan kaidah-kaidah gerak yang sesuai dengan karakterisasi. dan wirasa. Dengan menyerap pesan yang ingin disampaikan dari institusi. tandang. Ibarat bandul jarum metronum yang ayunmengayun. Dalam format pertunjukan dramatari Bali konvensional tokoh ”penasar” yang merupakan tokoh sisipan namun menjadi esensial figur selalu hadir pada setiap pertunjukan termasuk dalam pertunjukan wayang. terus menerus. yang seakan peristiwa tersebut berlangsung dewasa ini. menjadikan unsur-unsur yang akan mematangkan profesinya. Dengan posisi badan miring menjauh dari pusat grafitasi dalam kemiringan kesamping. kemudian secara penguasaan isian drama menuntut kecerdasan dan berbekal dengan kedalaman sastra. tangkis dan tangkep yang dibalut dengan olah wiraga. menjadi tuntutan wujud keindahan pakem tari. Posisi badan yang terbi114 . Transformasi diri menjadi tokoh yang diperankan. purana. Ini membuktikan betapa peran kesenian memiliki arti strategis sebagai pencerdasan masyarakat akan kesadaran berpolitik. kelompok ataupun perorangan yang bertindak sebagai tuan rumah (host) dicerna dan diformat ke dalam bahasa pentas oleh seniman penyaji.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pimpinan politis pemerintahan pada masa reformasi. membentuk desain-desain tubuh yang dinamis. wirama. Menjadi seorang pregina/dalang dituntut memiliki multi talenta untuk bisa mentranformasi diri tiga kali lebih besar dari dirinya. melalui peran penasar dapat diaktualisasikan menjadi kisah kekinian. ditambah lagi memiliki kekuatan karismatik penyatuan dengan kekuatan ekstasi magis sebagai tampilan yang memukau (mataksu). dunia mithos.

disamping masalah pemerintahan. menentukan bobot keindahan bentuk. Menari dan juga hidup adalah upaya yang tak berkesudahan ”mencari keseimbangan di dalam ketidakseimbangan. Para filsuf mengendapkan pikirannya lewat tulisan. baik satra tutur maupun sastra tulis kebijaksanaan. hieroglyphs yang bergerak. yang berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui. ajaran agama. dan realitas tersembunyi yang menurutnya di dunia Barat hal seperti itu sepenuhnya ditindas. sanghyang saraswati dan sanghyang kawiswara sebagai pu3 Hieroglyphs Gambar atau simbul digunakan dalam tulis-menulis khususnya dalam sistem penulisan dari jaman Mesir Kuno (Webster’s Contemporary American Dictionary: of English Language :335) 115 . Hieroglyphs3 tiga dimensional tersebut berubah menjadi brokat dengan sejumlah gesture. simbol yang mistirius. Pregina/dalang dituntut memiliki referensi yang cukup untuk dituang sebagai kandungan isian drama persembahannya. menakjubkan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI las dalam liukan postur tubuh. Terlebih lagi kedalaman sastra. Seorang yogi. filsuf. seniman. memiliki kesamaan bahwa kerja kreatif menjadikan jantung kerisauannya dalam mengungkap misteri jagadraya ini. dengan tahanan berat badan pada tumpuan satu kaki secara bergantian. Estetika ini memberikan pandangan bahwa kemiripan pergolakan pencaharian keseimbangan dalam tari seperti mengingatkan kita pada kenyataan hidup yang saling tarik menarik dari dua kepentingan yang berlawanan. sementara seniman membangun dunia panggung dengan konflik permasalahannya sebagai refleksi gejolak konflik dunia itu sendiri. para yogi mengembangkan sabda Tuhan dengan pencerahannya. menghadirkan secara komprehensif bahasa ungkap baru yang diciptakan para penari/ pregina memanipulasi pemanfaatan busana menyusunnya menjadi hidup melalui berbagai perubahan bentuk. merupakan pergolakan literatur hidup dengan mengusung hyang tiga jnyana yakni sanghyang guru reka. ditekuk pada bagian-bagian ruas angota badan. memberikan pandangannya bahwa spektakuler dramatari Bali dibangun dari kompleksitas image murni panggung. Alam semesta dan lingkungan hidup manusia sendiri sudah memberi materi isian drama yang tak pernah kering sebagai acuan pementasan. pendidikan dan sosial kemasyarakatan termasuk retorika politik merupakan teba luas dinamika perubahan dunia konflik kehidupan.” Seorang penulis essay dramawan Barat Antonin Arturd yang hanya menyaksikan pertunjukan lawatan grup Bali di Paris tahun 1931 (1958: 61).

menjadi hancur mendapat gempurna dari Ramadewa yang hanya berwadwakan pasukan kera. Terlebih lagi ketika manusia berkumpul sebagai komunitas kelompok sosial yang 116 . berucap dan bertindak menjalai swadarma. para Korawa tetap mengejek penderitaan para Pandawa yang terjerumus ke dalam kawah neraka sebagai pahala dari perbuatannya ketika masih hidup. ceritera Binatang. ceritera Panji. Pemenuhan tuntutan jasmani dan rohani manusia sebagai mahluk individu. Demikian juga halnya dengan ceritera-ceritera lainnya seperti Purana. akhirnya mengorbankan seluruh kerajaannya yang amat terkenal mewah. sementara para Korawa terjerumus ke dalam luapan panas kawah neraka. Epos Mahabharata memberikan gambaran penderitaan panjang Pandawa mesti dijalani untuk meperoleh kembali haknya yang dirampas secara kasar oleh saudara sepupunya sendiri yakni. Guru-rurunya. Sesungguhnya ceritera itu sendiri sudah memberikan gambaran pilihan yang mesti untuk disikapi dalam memahami diri. para Porohita kerajaan. Perang saudara tersebut mengorbankan seluruh keluarga Korawa. dengan mengedepankan ajaran dharma. Raja-raja sahabat (prakanti). Pada akhir perjalanan kisahnya di Sorgaloka pun. Duryodana dengan satus Korawanya. Secara tematik pergolakan dulisme baik buruk menjadi tema sentral kemasan pertunjukan dengan memberi peluang kepada penonton untuk memilih dan memilah yang mana baik dan yang mana buruk sebagai pedoman berfikir. Kisah Ramayana yang menggambarkan perebutan kekuasaan dan keserakahan Raja Rahwana. memaksakan kehendak dengan menculik Dewi Sita untuk dijadikan istrinya. yang berubah menjadi sorga. Keadaan baru menjadi terbalik. muasal internal konflik yang mesti diselaraskan. Secara episodik penggalan ceritera yang dijadikan lakon (bantang satwa) pada suatu pementasan juga mengakomudir pergolakan rua-bineda tersebut. ceritera Rakyat. ketika Yudistira menceburkan diri menemani saudara-saudaranya di dalam penderitaan luapan panas lahar neraka. Legenda. Secara keseluruhan alur ceritera mendidik kita bahwa kemenangan akhir dari perjalanan panjang mesti tetap diupayakan. termasuk anak-anak kecil yang tidak berdosa ikut menerima akibat dari peperangan tersebut.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF saran kreatif. pendikan moral menjadikan pilihan pencerahan akal budi sebagai cermin dalam menyikapi hidup ini yang penuh dengan persoalan.

dalang wayang kulit. Format seni pertunjukan konvensional Bali sangat fleksibel untuk dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan lakon. Sajian solo seperti topeng pajegan. lebih memilih pada media topeng/wayang sebagai media ungkapnya untuk di117 . sampai dewasa ini konflik antar bangsa yang dicarikan solusi pemecahannya tidak jarang harus berhadapan dengan pernyataan perang yang tidak sedikit menelan korban jiwa. Tidak demikian halnya dengan jenis pertunjukan bondres yang memang memiliki keterbukaan untuk dikisahkan secara kontemporer. Gejala alampun dapat memporak porandakan kehidupan manusia akibat dari ekploitasi alam secra berlebihan sehingga ekosistem tidak seimbang. kekuasaan. harta/ materialistis. Hal-hal yang berkaitan dengan masalah seperti inilah yang menjadikan isian drama (dramatic content) pencerahan masyarakat penontonnya. cinta. tempat pementasan dan keadaan yang mesti diatasi. Mereka sesungguhnya sadar bahwa hidup rukun berdampingan dengan sesama menjadi idaman menjalani kehidupan ini. casting penari. Pesan-pesan sisipan seperti itu pada umumnya diolah dengan bahasa simbol yang memiliki image ganda dan dapat dimengerti oleh penontonnya. sehingga konflik seperti itu selalu ada. Yoga sebagai seorang pregina terletak pada kecerdasannya mengimbangi pasangan mainnya dalam pergulatan dialog. Namun atas nama martabat. karena sering melenceng dengan babon ceritera. Cara ungkapnya yang spontan terkadang menjadi liar setelah menerima respond dari penonton. merupakan kelenturan sifat dan penampilannya dalam membentuk drama. tutur kebijaksanaan. tujuan peruntukan pergelarannya. yang kiranya tidak cocok dengan plot lakon. Pada kenyataannya. Dalam hal ini peran seniman yang dijuluki sebagai seorang ”guru loka” dengan mengusung sanghyang tiga jnyana sebagai kebebasan kreativitas. menjadikan hidup ini penuh dengan ketegangan. dan tuntutan lainnya tidak bisa cair dari kebekuan sikap kukuhnya. Ungkapan yang bersifat fulgar sebisanya dihindari. bila ada pesanan sisipan yang mesti diakomudasi dalam pementasannya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sering juga memiliki kepentingan berbeda dengan kelompok sosial lainnya. Oleh karenanya. bisa terealisasi dengan baik dengan tetap mempertimbangkan alur dramatiknya. durasi waktu. Kritik tajam tentang sosial kemasyarakatan. yang dibalut dengan humoris dapat mengingatkan masyarakatnya sebagai pendidikan moral dan budi pekerti.

rua-bineda. topeng. Secara vertikal membangun kesadaran hubungan manusia dengan berbagai manifestasi Tuhan dan keEsaanNya. Swastika simbol agama Hindu berdasar kepada tampakdara yang pada implementasinya membentang pada bhuwana sarira. bhuwana alit dan bhuwana agung. perlu diseimbangkan sebagai sifat alami yang sulit ditampik oleh setiap orang. Keseimbangan secara horizontal. menjadi landasan dasar kehidupan dalam mencapai keseimbangan. dan sarana dan prasarana laku estetika (upakara/upacara) terbangun 118 . manusia membutuhkan penguasaan dan pemahaman intelektual. membangun kedamaian hidup berdampingan dengan sesama. Sarana upakara merupakan media mendekatkan diri dan menyatakan terima kasih akan kelimpahan karunia Tuhan. dibarengi dengan pemahaman secara filosofis dengan kedalaman jnyana. disamping bercermin pada tuntunan kehidupan yang digambarkan melalui kisah-kisah kehidupan dikemas dalam dunia estetik dalam berbagai bentuk dan tatacara sajiannya. Pergolakan baik buruk perseteruan yang tak berkesudahan dari daya tarik menarik kepentingan sifat yang bertentangan. Secara tematik dunia seni pertunjukan selalu mengajarkan pergolakan dharma versus adharma yang pada kesimpulannya dimenangkan oleh dharma. Seni pertunjukan memiliki akses luas pada penjabaran semua itu untuk lebih mudah difahami melalui menyimak gambaran kompleksitas dinamika kehidupan lewat kemasan seni pertunjukan seperti: tari. Pengujian di atas pentas untuk dialog antar tokoh oleh sejumlah pemain dalam membangun struktur drama menuntut kepekaan dan reflek yang spontan dibingkai oleh estetika dan pakem-pakem yang tidak boleh dilanggar. saling menghormati. serta menjaga keharmonisan alam semesta sebagai ekosistem pemberi kehidupan dalam arti luas.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF sisipi pesan-pesan pencerdasan masyarakatnya. Penutup Pemahaman konsepsi simbol tampakdara (+) yang terbangun dari persilangan garis sederhana namun memiliki kedalaman makna sebagai filsafat kehidupan setiap individu dan kelompok masyarakat. etika dan tata cara (susila). wayang dan teater lainnya. Dalam memahami guliran perjalanan hidup. Tiga kerangka yang mengkemas ajaran agama dengan berelemenkan kandungan filsafat (tatwa). sehingga unsur sekala dan niskala tersebut menyatu dalam kerja karma.

Harvard University Press. tantra dan yantra tak terpisahkan dari konsepsi idep. New York: Grove Weidenfeld. wujud/bentuk sajian.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pada mantra. Theatre in Southeast Asia. The Theater and Its Double (translated from French by Mary Caroline Richards). Kewajiban seorang pragina. sabda dan bayu. dan greget penampilan yang memukau mataksu merupakan kekuatan yang dicari oleh para penyaji dan masyarakat pengapresiasi. internet. Bandem. Beberapa dekade belakangan ini ada kecendrungan pergeseran kecintaan masyarakat penonton pada jenis-jenis pertunjukan konvesnsional seperti arja. wayang. 1995 [1981]. dalang. kepemimpinan. Daftar Pustaka Artaud. Balinese Dance in Trasition: Kaja and Kelod. video. “Education for the Performing Arts: Contesting and Mediating Identity in Contemporary Bali” in Staying Local in the Global Village: Bali 119 . I Made dan Fredrick Eugene deBoer. belum banyak digarap sebagai media penyampaian pesanpesan kebijaksanaan yang dapat diakses ke rumah-rumah dengan jangkauan pemirsa yan sangat luas. Sebuah tantangan bagi seniman untuk menjawab masa depan tugas dan fungsi seni sebagai pencerdasan masyarakatnya. Cambridge Massachusetts. 1974 [1967]. Percepatan pergerakan dan konsumerisme masyarakat moderen seperti dewasa ini membuat setiap orang sibuk untuk mengejar materialistik pemenuhan kebutuhan hidupnya. James R. pendidikan moral. Nilai-nilai ajaran kebijaksanaan lebih menjadi kandungan dramatik dari sebuah pementasan. Kualalumpur: Oxford University Press. Pencerdasan masyarakat penikmat lebih ditekankan pada peningkatan olah rasa dalam memaknai kehidupan ini. Antonin. 1958. 1999. dibanding pada era sebelumnya. Brandon. yang memangku tugas sebagai guru loka. Terobosan kreatif bagi seniman penyaji dituntut untuk merevitalisasi jenis kesenian seperti itu agar tetap eksis dengan nafas dan kemasan yang lebih segar. keseimbangan ide/gagasan. Brett Hough. termasuk gejolak sosial sebagai bagian tak terpisahkan dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini. Kemajuan teknologi informasi seperti televisi. drama gong yang gelombang kehidupannya mengalami masa surut. lebih menuntun masyarakat pemirsanya dengan ajaran-ajaran pemahaman diri berkaitan dengan rasa syujud dengan Tuhan.

Amsterdam. I Wayan. Denpasar: International Translation Center ISI Denpasar. (ed. Connor). 1990 [1988]. Webster’s Contemporary American Dictionary: of the English Language. Subramania. 2005. Zurbuchen. 2008. Nyoman. Ramayana. “Penasar: A Central Mediator in Balinese Dance Drama” (unpublished dissertation). Middletown CT: Wesleyan University.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.2004. London: North Holland Publishing Company. Mary Sabina. Woodbury. Jenkins. Subversive Laughter: The Liberating Power of Comedy. Dance and Drama in Bali. New Jersey: Princeton University Press. 2004. The Invisible Mirror . Hooykass. New York: Free Press. Catra. Honolulu: University of Hawai’i Press.Siwalatrikalpa: Balinese Literature in Performance – Sastra Bali dalam Seni Pertunjukan. The American Heritage Dictionary (William Moris editor). by Raechelle Rubinstein & Linda H. Aktor dan Pelaku Seni Pertunjukan. Surabaya: Paramita. Walter and Beryl deZoete 2002 [1938]. New York: Bobley Publishing Corp. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pragina: Penari. Jenkins. Princeton. 1973.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF in the Twentieth Century. 1994. Spies. Dibia. Mahabharata. C. 2009. Hongkong – Singapore: Periplus Editions. Jakarta: Balai Pustaka. Nyoman S. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa . The Language of Balinese Shadow Theater. Kamala. Pendit. Malang: Sava Media. 1987. Ron. Kama and Kala: Materials for Study Shadow Theater in Bali. 120 . Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Ron & I Nyoman Catra.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 121 .

Gunung.com 122 . 224121 Alamat rumah: Jl. dan Sosiologi Sastra. Doktor lulusan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ( 2 0 0 7 ) bidang Ilmu Sastra dan Filologi juga menjadi pengajar di Fakulas Sastra Universitas Udayana. Stilistika. I Nyoman Suarka.Fakultas Bahasa dan Seni.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Dr. PNS yang juga sering menjadi juri berbagai lomba ini saat ini menjabat Ketua Pusat Pengkajian dan Pelayanan Lontar. Telp. Lumut V/2A Denpasar Barat 80117 Telp. Universitas Hindu Indonesia. Fakultas Sastra Unud dan Sekretaris I Yayasan Sabha Budaya Hindu Bali. 08123770885 e-mail: tuarik4@yahoo. Lulusan Program Pascasarjana UGM Yogyakarta (1997) ini juga aktig sebagai penatar bagi generasi muda Hindi dan calon Pinandita/Pemangku di Bali. 12 Pebruari 1961ini mengasuh berbagai mata kuliah yang berkaitan dengan Sastra. IKIP PGRI Bali dan STIKES “WIRA MEDIKA PPNI BALI”. pada Program Magister (S2) dan Program Doktor (S3) Linguistik Program Pascasarjana Universitas Udayana dan Program Magister (S2) Ilmu Agama dan Kebudayaan. Nias 13 Denpasar. aktif mentransliterasi lontar dari aksara Bali ke dalam tulisan latin Bahasa Kawi dan menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Estetika. Kesusastraan Hindu. Laki-laki kelahiran Cekik-Berembeng. serta Sekretaris Umum Widyasabha Dharmagita Provinsi Bali Alamat kantor: Jl. M. Banyak karya ilmiah Ketua Tim Penyusunan Tema Pesta Kesenian Bali yang dipublikasikan. (0361) 734363 HP.Hum. terutama yang berkaitan dengan sastra bali. Jurusan PGSD Universitas Terbuka.

berebut kekuasaan. Wyarthang śāpatha supraśāsti liněbur těkaping-adhama mūrka ring jagat. 10—11) Terjemahannya: Dampak masa krisis telah menyebabkan manusia kebingungan. bergulat sesama sanak saudara. Sumpah tak berguna. tempat ibadah leluhur dirusak. Sang rājā siwiteng sushena ta ya sang madum-amilih-ulah wiparya. Wwang dūrātmaka dīrghajīwita sirang sujana dumadak-alpakāmrěta. piagam perjanjian dilanggar oleh para penjahat di du- 123 . dan lawan dijadikan kawan. Dewādrěwya wināśa dharma rinurah kabuyutan-inilan padhāsěpi. Wwang duśśila suśila durnaya wiweka kujana sujanāwibhāgana. Manusia tidak lagi mengenal dunianya. (Kakawin Nitisastra. orang-orang dilarang ke tempat ibadah hingga sepi. IV. berkelahi. Wwang mahyun ri kawehaning dana darīdra krěpana dumadak dhaneśwara. Benda-benda suci dihancurkan. Tan wring rātnya makol lawan bhratara wandhawa ripu kinayuh pakāśrayan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Aktivitas Pasantian dan Sastra Bali Sebagai Media Pencerdasan Rakyat I Nyoman Suarka Pakar Sastra. Dosen Sastra Universitas Udayana Pengantar Pangdening kali mūrkaning jana wimoha matukar-arěbut kawiryawān.

kejaksaan. sedangkan orang saleh menjadi pendek usia. anarkis. Berbagai krisis politik. ekonomi. sewenangwenang. masyarakat kita sekan-akan telah kehilangan kendali dan cenderung bertindak biadab. tsunami. mulai dari gempa bumi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF nia. moral telah memberikan dampak negatif kepada perilaku masyarakat kita. Guna mengantisipasi berbagai fenomena tersebut di atas. ramah. hukum. pengadilan kini mencuat ke permukaan. orang miskin mendadak menjadi orang kaya. sopan. tanah longsor. yakni pasantian dan sastra Bali sebagai sumber pembangkitan budi. Orang-orang hanya ingin diberi uang. Bencana alam pun datang silih berganti. dan sebagainya. dan pencerahan nurani. bajingan berlagak saleh. orang bodoh berlagak pintar. Raja tunduk kepada panglima. seperti kepolisian. berbudi pekerti luhur. barangkali tidak jauh berbeda. pemegang keadilan cenderung berlaku tidak adil. Dulu bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang beradab. pencerdasan pikiran. dengan tanda-tanda zaman yang dialami masyarakat Indonesia saat ini. lebih suka memamerkan diri daripada memikirkan nasib rakyat yang semakin melarat. membuat pikiran dan hati gelap (awidya). B 124 . ada baiknya pada kesempatan ini kita mencoba memberdayakan potensi budaya. angin puting beliung. Penjahat menjadi panjang umur. Namun kini. sosial. mereka sulit dibedakan. banjir. Berbagai kasus ketidakadilan dan kasus suap yang dilakukan para markus di kalangan penegak hukum. Orang jahat berlagak arif. bukan hanya buta aksara tetapi juga buta hati. ilamana kita mencermati tanda-tanda zaman krisis yang dilukiskan seorang pujangga tak dikenal pada enam abad yang lampau. seperti tersebut di atas. kasar. destruktif. Era krisis atau zaman Kali yang konon dipenuhi oleh Bhutakala membuat masyarakat kita mengalami kebutaan. Para elite politik lebih banyak bertengkar bahkan saling adu jotos. Kerapkali sekelompok masyarakat cenderung bertindak arogan atas nama agama.

dan sekar ageng). dan kaidah metrum yang digunakan (sekar macapat. ketentraman. Pendengar (pamiarsa) yang dimaksud adalah pendengar yang baik. Kesulitan pembaca bukan hanya berpengaruh kepada pembaca sendiri tetapi juga berpengaruh terhadap penerjemah (paneges) yang juga akan merasa kesulitan dalam menerjemah-kan teks. dan diulas oleh peran-peran yang lain. penanya (pamitaken). pembaca (pangwacen). Tanpa kemampuan dan pengetahuan yang cukup bagi penerjemah. kedamaian pikiran’. Karena itu. penerjemah wajib memahami kode bahasa dan kode budaya teks yang sedang dibaca. penerjemah (paneges) juga dituntut kemampuan dan pengetahuan-nya seluas mungkin dalam penguasaan bahasa sumber dan bahasa sasaran. kedamaian pikiran’ (Zoetmulder. bahasa Bali dalam berbagai tingkatan). Sementara itu. Ada lima peran dalam aktivitas pasantian. ketentraman. Tanpa kemampuan dan pengetahuan yang cukup.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Hakikat Pasantian Secara etimologis. dan semua peran menunjukkan adanya sikap bhakti. Jika pembaca (pangwacen) salah membaca. sekar madya. yang berarti ’tempat atau wadah untuk mendapatkan ketenangan. dan kedamaian bagi para pelakunya. kata pasantian berasal dari kata dasar ”śānti” yang berarti ’ketenangan. ketentraman. yang mendengarkan dengan setia setiap teks yang dilagukan. yang dituntut memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup dalam penguasaan pasang aksara Bali (tata tulisan Bali). Dengan demikian. diterjemahkan. aktivitas pasantian dilakukan dan diarahkan dengan tujuan mendapatkan ketenangan. serta kualitas suara yang memadai. 1995:1017). seorang pembaca (pangwacen) akan merasa kesulitan membaca dan menembangkan teks yang dihadapi. penerjemah (paneges). peserta mabebasan secara keseluruhan pun pada akhirnya mengalami kesalahan dalam penafsiran teks. dan mendapat konfiks ka-an menjadi pasantian. ten125 . Masing-masing peran tersebut dituntut memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup sesuai bidang masing-masing. bahasa Jawa Tengahan. maka ada kemungkinan besar pula penerjemah mengalami kesalahan dalam menerjemahkan. yaitu pendengar (pamiarsa). Di samping memahami kode sastra. Pembaca yang baik adalah pembaca (pangwacen). bahasa teks (bahasa Jawa Kuna. dan nara sumber (narawakya). yang sering disebut panca siksaning angaji.

Apabila penanya (pamitaken) tidak memiliki kepekaan sastra. dan kode budaya sendiri. seorang peserta atau pendengar dalam pasantian setidaknya dituntut memiliki horison harapan. menjadi dinamisator dalam aktivitas pasantian. maka dapat dipastikan bahwa apa yang dibaca atau dilagukan oleh pembaca (pangwacen) dan apa yang diterjemahkan oleh penerjemah (paneges) akan menjadi sebuah dagelan. yaitu wirama. Peran nara sumber (narawakya) sangat memegang peranan penting. Di sinilah dituntut kepekaan seni. banyolan atau senda gurau belaka. terutama dalam menuntun peserta mabebasan untuk membaca. nara sumber harus mempunyai kepekaan sastra yang cukup. dan mengulas makna teks yang sedang diapresiasi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF tu akan merasa kesulitan dalam menerjemahkan dan menafsirkan teks sumber ke dalam bahasa sasaran. Tidak setiap kata dalam bahasa sumber dapat dicarikan padanannya secara tepat dalam bahasa sasaran. Teks yang dengan susah payah dibaca atau dilagukan oleh pembaca dan diterjemahkan oleh penerjemah akan hilang begitu saja tanpa meninggalkan bekas di dalam pikiran peserta pasantian. Aktivitas pasantian meliputi tiga bidang. maka semakin banyak hasil interpretasi yang muncul. Sebagaimana diketahui bahwa setiap bahasa memiliki kaidah bahasa. kosa kata. Oleh karena itu. memiliki penguasaan bahasa. tidak ada dialog yang berarti. menerjemahkan. dan wirasa. Oleh karena itu. Tercapai atau tidaknya horison harapan para peserta atau pendengar itu akan sangat mempengaruhi keberlangsungan aktivitas pasantian tersebut. Wirama adalah kegiatan membaca teks sambil melagukannya 126 . kemampuan yang memadai. dan keterampilan mengulas serta menguasai dengan baik materi yang sedang diapresiasi. Semakin kaya pendengar dengan horison harapan. Dengan demikian. Dengan berbagai horison harapan. maka semakin banyak penerjemah memiliki bekal pengalaman baca. Penanya (pamitaken) juga dituntut memiliki kemampuan dan pengetahuan serta kepekaan sastra yang cukup. dan pengetahuan yang luas bagi penerjemah. Pasantian pun akan menjadi pasif. pendengar akan dapat berperan aktif. wiraga. Nara sumber yang baik tentu dapat memberikan penjelasan-penjelasan yang memuaskan kepada setiap peran dalam aktivitas mabebasan. maka ia akan semakin mudah melaksanakan tugasnya dan tentu pula akan membuahkan hasil yang semakin memuaskan.

aksara. maka akan terjadi keharmonisan antara kecerdasan pikiran (hasil belajar). Dalam kegiatan pasantian. 127 . konsep-konsep budaya dan yang terpenting adalah belajar menghayati nilai-nilai yang dikandung dalam naskah lontar. Karena itu. dan kecerdasan sosial (hasil diskusi). Jawa Tengahan. Lebih jauh dapat dipahami bahwa ketiga aktivitas pasantian itu pada hakikatnya tindakan belajar sambil bernyanyi atau bernyanyi sambil belajar (malajah sambilang magending. Demikian pula penerjemah (paneges) akan mempelajari bahasa teks dan kaidah bahasa sasaran (sor singgih basa. Dalam pasantian. ideide. norma-norma. penafsiran selalu dimungkinkan dengan hasil yang beraneka ragam sesuai dengan bekal pengalaman dan horison harapan peserta. Pembaca (pangwacen) belajar aksara Bali (jenis dan pasang aksara Bali) karena teks ditulis dengan menggunakan aksara Bali. Dengan demikian. sekar agung. kecerdasan emosional (hasil bernyanyi). magending sambilang malajah). bahasa Bali) serta mempelajari kaidah metrum (uger-uger guru laghu. para anggota pasantian mendiskusikan teks yang dibaca.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI menurut kaidah metrum yang digunakan dalam teks. palawakya. para peserta akan belajar mengenai bahasa. Wiraga adalah aktivitas menerjemahkan teks dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. aturan metrum dan pupuh. Wirasa adalah aktivitas penghayatan dan apresiasi secara mendalam untuk mendapatkan makna teks yang dibaca melalui diskusi antar peserta. laras) dan memahami konsep-konsep yang terkandung dalam teks sambil bernyanyi atau melagukan teks. bernyanyi) dan menerjemahkan teks. pada lingsa. pembaca (pangwacen) juga mempelajari bahasa (bahasa Kawi. lelengutan basa) serta nilai-nilai yang tersurat dan tersirat di dalam teks. nilai-nilai lewat karya sastra yang tokoh dan lakuannya dimaksudkan sebagai pelambang peri kehidupan yang sebenarnya (tattwa). Di samping itu. Cerita yang dibaca bukan hanya dipahami sebagai sebuah cerita (satua). dan sloka. misalnya sekar alit. di samping membaca (menembangkan. Dalam diskusi itu dapat diciptakan kondisi yang memungkinkan berkembangnya penalaran dan logika interpretasi setiap peserta. sekar madya. yakni dari bahasa Kawi. tetapi lebih sebagai sebuah metode penyampaian gagasan moral. bahasa Tengahan ke dalam bahasa Bali ataupun membuat parafrase jika teks sumber menggunakan bahasa Bali.

sastra. 1990: 615). sastra Jepang menggunakan bahasa Jepang. Berbeda halnya dalam tradisi Bali.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Hakikat Sastra Bali Tradisi Bali memiliki keunikan dalam peristilahan sastra. maupun aksara yang digunakan dalam menuliskan karya sastra. kesusastraan Bali menggunakan bahasa Sanskerta. seperti parwa. Ditinjau dari aksara yang digunakan. Aksara memiliki fungsi sebagai bagian integral dalam tindakan magis dan keagamaan masyarakat Bali. bahasa Tengahan. sastra Sunda menggunakan bahasa Sunda. Umumnya. istilah aksara atau huruf dalam tradisi Bali bukan sekadar sebagai lambang bunyi tetapi merupakan simbol budaya. Teks lisan ditulis ke dalam naskah. Kata sastra dapat berarti sastra dan aksara atau huruf (Dinas Pendidikan Dasar Propinsi Dati I Bali. bahasa Sasak. kidung. penamaan sastra didasarkan pada bahasa yang digunakan dalam karya sastra. bahasa Melayu. babad sebagai teks tulisan dibacakan atau dipertunjukkan dalam kegiatan maběbasan. kakawin. Dalam tradisi Bali. dan aksara Bali. istilah kesusastraan Bali mempunyai ruang lingkup sangat luas. bahasa Jawa Kuna. seperti terlihat pada naskah-naskah satua. kesusastraan Bali ditulis dalam aksara Bali dan aksara Latin. dan sebaliknya teks tulisan dibacakan atau dipertunjukkan. istilah sastra tumpang tindih dengan aksara. misalnya sastra Jawa adalah sastra yang menggunakan bahasa Jawa. gěguritan. Dalam tradisi nyastra. dan lain-lain. seolah-olah tidak ada perbedaan antara tradisi lisan dengan tradisi tulisan. Karena itu. sastra Inggris menggunakan bahasa Inggris. Demikian pula. sastra Melayu menggunakan bahasa Melayu. baik dilihat dari segi bahasa yang digunakan. kita tidak bisa dengan mudah menyebutkan bahwa sastra Bali adalah sastra yang menggunakan medium bahasa Bali. sastra Sasak menggunakan bahasa Sasak. seperti penamaan sastra di atas. jenis sastra. Lagipula. Hal itu dapat dibuktikan dengan munculnya istilah nyastra yang mempunyai arti segala aktivitas manusia Bali yang berhubungan dengan bahasa. sastra Indonesia menggunakan bahasa Indonesia. Aktivitas Pasantian dan Sastra Bali sebagai Media Pencerdasan Aktivitas pasantian berfungsi membentuk dan menumbuhkan budi 128 . istilah nyastra melingkupi tradisi lisan dan tradisi tulisan secara sekaligus. dan bahasa Bali. Dari segi bahasa yang digunakan dalam karya-karya sastra.

emosi individual ditransformasikan menjadi rasa. ketentraman. yakni keseimbangan antara akal budi dan kepekaan hati nurani. baik sebagai individu maupun masyarakat sosial. Dalam Geguritan Purwasanghara dijelaskan bahwa untuk dapat mengarungi samudra zaman Kali (era keributan) yang penuh badai itu dapat ditempuh melalui kesusilaan budi. Jika demikian halnya. yakni pengalaman estetik non-individual. Di dalam rasa terjadi sublimasi emosi dari tataran psikologis ke tataran estetik. Karena itu. dan kedamaian dalam mengarungi masa krisis sebagaimana dijelaskan dalam kutipan Kakawin Ramayana berikut. Perbuatan yang berpegang pada kebenaran (dharma) akan menghasilkan pahala mulia berupa kehidupan bahagia lahir dan batin (anandam). maka dapat dikatakan bahwa aktivitas pasantian dan sastra Bali dapat dijadikan salah satu media pencerdasan dan sekaligus sarana untuk mencapai ketenangan. Dengan demikian. Pikiran (manah) yang kuat akan mengendalikan nafsu keinginan (indria). karya sastra yang dibaca dalam aktivitas pasantian merupakan perpaduan antara nilai seni (estetik) dan nilai moral. 129 . dan kemudian mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra karena karya sastra diciptakan berdasarkan rasa. Malādi yolanya magöng mahāwisa. Dalam proses sublimasi emosi itu. Guhā pětěng tang mada moha kasmala. pengalaman estetik menjadi identik dengan pengalaman religius. Wiśāta sang wruh rikanang jurang kali. Aspek estetis akan menyantuh budi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pekerti luhur (budi kaparamartan). penggunaan akal budi harus diimbangi dengan kepekaan hati nurani. menghayati. Di situ. Salah satu cara untuk mengasah kepekaan rasa dan hati nurani adalah dengan membaca. Budi nurani suci akan dapat menguasai pikiran atau manah. universal. mengatasi ruang dan waktu. maka akan dapat menggetarkan hati nurani yang paling suci (budi). Nafsu keinginan (indria) yang terkendali dengan baik akan dapat mengarahkan perbuatan kita untuk berpegang pada kebenaran (dharma). Kalinghaning śāstra suluh nikāprabha. apabila pembacaan karya sastra melalui pasantian dilakukan dengan baik dan benar. Dalam menyikapi berbagai situasi dan problema kehidupan.

baik di alam sakala. Pada kutipan di atas tampak jelas disebutkan bahwa fungsi sastra (kalinghaning śāstra) adalah sebagai lampu penerang yang terang benderang (suluh nikāprabha) dalam meraih perkembangan akal budi yang sempurna atau menjadi manusia cerdas yang dapat berpikir dan mengerti (sang wruh) arti hidup dan kehidupan. aktivitas pasantian juga dapat berfungsi atau berperan memberi vibrasi kesucian pada lingkungan. dan lain-lain sambil berlaku tapa. Zoetmulder (1985) menjelaskan bahwa kakawin diciptakan oleh penyair melalui beberapa tahapan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Artinya: Mabuk. menjelajah gunung. Sejalan dengan itu. sang kawi mengembara. Sang kawi berupaya mempersatukan diri dengan dewa tersebut. sehingga kita dapat melewati berbagai terpaan dan pahit getir kehidupan ini (jurang kali) dengan tenang (wiśāta). bingung. Di samping sebagai media pencerdasan. noda dan dosa ibarat ularnya yang besar dan berbisa. dan sekaligus tujuan. Dewa keindahan berkenan turun dan bersemayam di alam sakala-niskala. dan segala jenis najis bagaikan goa gelap gulita. sungai. yakni dengan persatuan itu sang kawi “bertunas keindahan” sehingga ia mampu menciptakan kakawin. maka kakawin merupakan yoga sastra dan yoga keindahan. menyusuri pantai. Guna menemukan dewa keindahan yang menjelma di alam sakala. orang cerdas akan dapat melewati jurang dan kali dengan tenang. sebagai candi tempat semayam dewa keindahan dan objek samadi bagi para pemuja dewa keindahan serta sebagai silunglung. berhasil ditemukan berkat laku tapa atau samadi sang kawi. kakawin merupakan yantra. Dalam rangka yoga itu. hutan. dengan menciptakan kakawin sang kawi berharap dapat mencapai kelepasan. maupun alam niskala. bekal kematian sang kawi. dan sastra adalah lampu penerangnya yang terang benderang. sakala-niskala. kecantikan wanita. mengamati pertempuran. Dewa keindahan yang berada di alam niskala. sebagai asal dan tujuan. Dewa itu dipandang menjelma dalam segala keindahan. yakni di atas padma hati atau jiwa sang kawi. Sang kawi memulai karyanya dengan menyembah dewa pilihannya sebagai dewa keindahan. 130 . Persatuan itu merupakan sarana.

dan hal-hal mulia lainnya yang pernah dialami dan dilakukan serta dijadikan pedoman dalam kehidupan masyarakat pada masa lampau. Lingkungan yang tervibrasi oleh kesucian akan dapat membawa masyarakat pada kehidupan yang harmonis dan dinamis dalam mewujudkan pembangunan manusia seutuhnya. pemahaman. aktivitas pasantian merupakan tempat menumbuhkan kepribadian dan jatidiri. Di sinilah pasantian berperanan memediasi masa lampau dengan masa kini. mempertebal rasa harga diri. Kecuali itu. penggalian. Dalam kegiatan pasantian dilakukan upaya pengenalan. dan kedamaian. mempertebal rasa harga diri dan 131 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Sebagaimana telah disebutkan di atas. Oleh karena itu. berlangsung pembacaan teks lama oleh pembaca masa kini. yang pada akhirnya dapat menumbuhkan kualitas hidup bangsa. Pengenalan dan pemahaman nilainilai luhur itu akan dapat meningkatkan kualitas hidup. rasa harga diri dan kebanggaan masyarakat. Dalam aktivitas pasantian pada prinsipnya dilakukan beberapa kegiatan. memperkuat kepribadian. penerjemahan. maka berbagai persoalan pada masa kini akan sulit dimengerti atau dipahami jika tidak diketahui latar belakang sejarahnya. nilai-nilai luhur. Kualitas hidup. aktivitas pasantian bergulat dengan upaya apresiasi semendalam mungkin terhadap karya sastra Bali trandisional tersebut. Masa kini diberi tempat justru dalam hubungannya dengan masa lampau dan masa lampau dihargai dalam konteks kekiniannya. ketentraman. Apabila demikian halnya. memperkuat kepribadian bangsa. dan penghayatan nilai-nilai luhur yang tersurat dan tersirat di dalam teks yang dibaca. baik secara nyata maupun hanya dalam imajinasi. di samping kegiatan pembacaan. gagasan. Sementara itu. Oleh karena itu. renungan. karya sastra Bali tradisional diciptakan melalui proses perpaduan antara estetika dan religiusitas. dalam aktivitas pasantian. ide. dan kebanggaan masyarakat. Perlu dikemukakan bahwa masa sekarang sesungguhnya merupakan kelanjutan atau perpanjangan masa lampau. Teks-teks itu merupakan perbendaharaan yang memuat berbagai persoalan. Sementara itu. buah pikiran. Tujuannya adalah untuk mendapatkan ketenangan pikiran. dalam aktivitas pasantian teks-teks yang dibaca adalah teks-teks sastra lama yang terekam dalam naskah. dan pendiskusian. pasantian sebagai wujud tradisi lisan atau pelisanan teks-teks suci apabila dilakukan secara meluas dan berkesinambungan akan dapat menimbulkan vibrasi kesucian pada lingkungan. kepribadian.

akan senantiasa memberikan kesempatan kepada peserta lain. Pembaca (pangwacen) akan menjalankan tugas dan peran semaksimal mungkin. Setelah pembaca selesai membaca. sastra dianggap sebagai milik bersama sehingga harus dibacakan. Anggota kelompok pasantian itu bisa saja berasal dari kalangan Brahmana. Dalam tataran inilah terlihat kenyataan bahwa pasantian merupakan wahana untuk menggalang persatuan dan kesatuan masyarakat. Ketika pembaca masih aktif membaca atau melagukan teks. aktivitas pasantian merupakan wahana persatuan dan kesatuan. saling menghormati. barulah penerjemah melaksanakan tugasnya. Setiap anggota pasantian secara demokratis menunjukkan rasa toleransi dan sikap saling menghormati kepada sesama anggota. pejabat. peserta pasantian lainnya. dan lain-lain. karyawan. ABRI. Ksatria. peran-peran dalam pasantian itu dapat diperankan oleh sekelompok orang yang berasal dari berbagai stratifikasi sosial maupun kelompok sosial yang ada dalam masyarakat. termasuk kepada pembaca dan penerjemah. Kebersamaan sangat penting artinya dalam menumbuhkan sikap kemitraan. penerjemah tidak akan menyela atau memotongnya begitu saja. dan gotong royong. Kemitraan akan dapat diwujudkan bila ada rasa toleransi. seniman. Wesia maupun Jaba atau juga berasal dari pedagang. Secara sosiologis. petani. Pasantian sebagai wujud tradisi lisan di Bali menunjukkan ciri kelisanannya yaitu pentingnya kebersamaan. menekankan aspek pendengaran yang mempersatukan. tetapi penerjemah mempersilakan pembaca sampai selesai membaca teks. Demikian pula. yang mengakrabkan sidang pendengar.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kebanggaan nasional. pasantian merupakan usaha terus-menerus yang dilakukan untuk mengapresiasi dan menawarkan berbagai penafsiran baru dengan tanpa meninggalkan akarnya. Dalam tradisi lisan. pemuka agama. buruh. Hal ini terlihat pada proses berlangsungnya pasantian itu. tokoh-tokoh masyarakat. Hal ini dapat dilihat berdasarkan ke-wangsa-an maupun ke-warna-an peserta dalam pasantian. Jalinan kemitraan dibina sedemikian rupa untuk menciptakan ke132 . dipertunjukkan di hadapan sejumlah orang untuk dapat dinikmati bersama. guru. Lebih jauh. yang mampu memperkaya jiwa dan semangat baru dalam menjawab tantangan zaman globalisasi. Dalam konteks ini. untuk melaksanakan tugas masingmasing.

Karya sastra itu dibaca. Karena itu.O. Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan. menjalin persatuan dan kesatuan para anggotanya dengan penuh dinamika melalui lantunan irama dan keluwesan bahasa.J. Denpasar. Daftar Pustaka Suarka. dihayati. 1994. dilagukan. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Dengan kata lain. dan S. Kemitraan dan keharmonisan itu. Penutup Aktivitas pasantian merupakan kegiatan bersastra yang pada prinsipnya merupakan kegiatan olah rasa dan sekaligus olah pikiran. 1985. keharmonisan. lewat pasantian sebagai wujud tradisi lisan dapat dibina atau dipertahankan solidaritas dan kebersamaan guna menumbuhkan semangat nasional. P. Kidung Tantri Piśācarana. Jakarta: Pustaka Jaya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI bersamaan dan keharmonisan. aktivitas pasantian dapat menyempurnakan perkembangan akal budi masyarakat sehingga masyarakat mampu berpikir dan mengerti makna kehidupan. P. pada akhirnya akan melahirkan persatuan dan kesatuan. Jilid I dan II. A. I Nyoman. 2007. Robson. Karya sastra diciptakan melalui akal budi pengarang yang dijiwai perasaan yang halus dan indah. Jakarta: Djambatan. Denpasar: Pustaka Larasan. Teeuw.J. dan diapresiasi secara mendalam dalam aktivitas pasantian. Zoetmulder. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Zoetmulder. 1998. Di sinilah pasantian menunjukkan cirinya sebagai wahana kemitraan. 133 . “MABEBASAN: Wahana Pembauran”. 1995. _______________.

Cakra Wisata – Jurnal Pariwisata Budaya. 0271-827708. Dasar kesenimanan bidang yang dikuasainya adalah pedalangan. untuk berbagai kepentingan. tetapi mengembangkan juga keterampilan menari. “LAKON” Jurnal Jurusan Pedalangan STSI Surakarta. Beberapa penelitian mandiri dan hibah yang dilakukan antara lain “Ideologi Lakon Cupak Ke Swargan oleh Dalang I Made Jangga”(2009). Durmo No. teater. 19 April 1958.Hum. Jawa Tengah. Dharmasmrti – Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan. “Lakon Gareng Dadi Dewa: Sebuah tinjauan Sosiologis” (2002) “Konsepsi Segara-Gunung dalam Cerita Cupak-Grantang” (2003) dan “Nilai Ajaran Inkarnasi dalam Lakon Purba Sejati” (2005). Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat UNS Surakarta. Sejak tahun 1982 sering menyusun karya-karya baru “wayang layar lebar berbahasa Indonesia” dengan mengaplikasikan konsep pewayangan baru yang berbeda dengan pertunjukan wayang kulit konvensional. Lulusan Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Jurusan Ilmu-ilmu Humaniora Pengkajian Seni Pertunjukan (1996) ini juga berpartisipasi dalam pentas wayang kulit. baik di dalam maupun di luar negeri. Telp.. teater. Ngringo.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF I Nyoman Murtana. “Konsepsi Kekuasaan Paku Buwana II Pada Kayon Gapuran (1998). Karanganyar.Kar. S. Skotlandia. 193 Perum. Australia. dan menabuh gamelan. 134 . seperti di London. Dosen STSI Surakarta ini tengah menyelesaikan pendidikan Doktor (S3) pada Program Studi Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar. Jepang. Banyak pula publikasi artikel ilmiah luluasan Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta Pedalangan (1986) ini antara lain di “Mudra”. Alamat : Jl. M. dan tari. dan Taiwan. RC. 57772 Jaten. HP: 081329088782. Lahir di Tabanan. Thailand. Beberapa kali pentas seni di luar negeri. Jurnal Seni Budaya.

Bahasa visual dapat dinikmati dari aneka bentuk rupa dan gerak seluruh figur wayang serta bayang-bayang yang ditimbulkan dari sorot lampu blencong yang bersuasana magis. Seluruh unsur budaya tersebut dipandang sebagai “bahasa” atau teks. pendeta. ksatria. dan Bahasa Indonesia. I Nyoman Murtana. Dosen Kajian Budaya Universitas Udayana Pengantar ertunjukan wayang kulit. Kelir. S. dan dewa. bahasa auditif dapat dinikmati dari berbagai suasana yang dibangun melalui suara gamelan yang mengiringi. raksasa. dan nyanyian dalang dalam berbagai suasana. bahasa Bali. Bahasa kawi digunakan oleh para raja. juga mentransmisi- P 135 . bahasa visual. layar putih sebagai arena memainkan seluruh figur wayang kulit diandaikan sebagai panggung kehidupan. bahasa auditif maupun tanda-tanda simbolik lainnya. Bahasa Bali dan bahasa Indonesia digunakan oleh para abdi. Ia digunakan sebagai sarana untuk membangun satu pertunjukan wayang kulit yang menimbulkan citra estetik tertentu. baik melalui bahasa verbal.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Pertunjukan Wayang Kulit Bali: Media Komunikasi Pencerdasan Rakyat Dr.Kar. Bahasa verbal dalam pedalangan Bali tampak pada bahasa kawi. irama antawacana. Selain hal tersebut. M.Hum. Dengan cara itu pertunjukan wayang kulit menjadi menarik dan menggairahkan apresiator. Selain itu.. cerita yang dimainkan oleh dalang dan seluruh anggota grup pendukung pertunjukan wayang kulit. baik abdi perempuan maupun lelaki. adalah media komunikasi audiovisual.

dan abdi atau rakyat. memandang ranah sebagai arena kekuatan yang di dalamnya terdapat upaya perjuangan untuk memperebutkan sumber-sumber daya (modal) demi memperoleh akses tertentu yang dekat dengan hierarki kekuasaan. pada tulisan ini akan dibicarakan aspek-aspek tertentu saja dari pertunjukan wayang kulit dalam fungsinya sebagai media pencerdasan rakyat. Berbicara tentang pertunjukan wayang kulit bagaikan membicarakan secara total kehidupan manusia. sehingga terbentuk sebuah lakon pertunjukan wayang kulit yang mampu menembus keterbatasan dunia lokal sehingga memancarkan sinar mulianya di dunia global. 136 . Bourdieu (dalam Fashri. atau perangkat gamelan yang lain. aspek religius sebagai ekspresi rasa sujud terhadap Tuhan. dapat dimaknai sebagai aktivitas politik kebudayaan. Wilayah atau Ranah itulah yang diperebutkannya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kan berbagai nilai kehidupan manusia. Struktur ranah membimbing dan memberikan strategi bagi penghuni posisi tertentu untuk melindungi atau meningkatkan posisi mereka dalam jenjang pencapaian sosial. lakon yang digelar dalam pertunjukan wayang kulit sering merupakan kasus-kasus kekuasaan. seperti aspek solidaritas sosial untuk mengeksresikan nilai tolerans dan kebersamaan. kesatria. semua unsur budaya Bali yang digunakan oleh dalang sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasan-gagasan dalam pertunjukan wayang kulit. Oleh karena itu. Bagi mereka yang menempatinya dapat mempertahankan atau mengubah konfigurasi kekuasaan yang ada. seperti bahasa. Dengan demikian. Ada peran raja. pendeta. Selain itu. gerak. Masing-masing peran memiliki wilayah atau ranah kekuasaan yang berbeda-beda pula. instrumen musik tradisional (gender wayang). peran. baik lokal maupun global. 2007:95). terutama jika dikaitkan dengan upaya pelestarian. dan fungsi yang berbeda-bedadalam masyarakat. rupa. Oleh karena itu. aspek ideologi politik untuk mengekspresikan kepentingan manusia dalam memperjuangkan atau mempertahankan kekuasaan. ranah menjadi arena pertarungan. Membangun Kecerdasan Struktur Sosial Pertunjukkan wayang kulit merupakan gambaran tentang kehidupan manusia yang terkait dengan kedudukan. Seluruh aspek tersebut diramu dengan berbagai problema sosial dan unsur-unsur budaya yang aktual.

Menurut Ratna (2004:179). atau mengalah dan mau membuka komunikasi agar segalanya bisa dibicarakan secara baik-baik. Membangun Kecerdasan Humanis Dalam konflik kehidupan selalu ada pihak-pihak yang kalah. bahwa dalam karya seni yang problematis. pandangan hidup. sangat dimungkinkan bisa saling bunuh di antara sanak saudara. tokoh-tokoh cerita justru berfungsi sebagai oposisi ideologis terhadap subjek. Misalnya pertempuran Pandawa dengan Kurawa di Padang Kurukasetra untuk berebut kekuasaan. teman atau kolega. bahwa konflik. Perang tersebut merupakan ekspresi simbolik mengenai konflik sosial dalam masyarakat. Konflik horizontal menyangkut interaksi manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. sehingga pertunjukan wayang kulit menampakkan kekerasan simbolik mengenai kehidupan. Apabila dilihat dari filsafat perubahan dari Hegel (dalam Aiken. dan perbedaan kepentingan yang tercermin dalam tindakan-tindakannya. Perbedaan sikap dan perilaku tokoh-tokoh cerita bisa sangat tajam. dikalahkan. pertunjukan wayang kulit merepresentasikan aneka konflik kemanusiaan. Dengan kata lain. baik konflik horizontal maupun vertikal merupakan kekuatan penggerak drama dan hati penonton.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Membangun Kecerdasan Atas Konflik Dalam pertunjukan wayang kulit selalu terdapat perang antara kelompok yang satu dengan yang lain. Dengan cara tersebut konflik-konflik dapat dilerai dan semua pihak bisa mengarungi kelangsungan hidup. 2009:85-86) bahwa kesadaran his137 . bahkan juga sebagai pemberontak yang radikal. Hal itu sesuai dengan pernyataan Constance Nash (Hamzah. Hal ini berarti pihak yang kalah dapat menerima kekalahan sebagai kemenangan dan pihak yang memberi ampun adalah orang yang memiliki kesadaran historis terhadap masa lalu. sedangkan konflik vertikal menyangkut hubungan sistem keyakinan. Ketiga bentuk konflik itulah yang diwacanakan dalam lakon pertunjukan wayang kulit melalui perbedaan-perbedaan karakteristik tokoh. Akibat dari itu. Cerita Dewaruci mengartikulasikan konflik vertikal yang terkait dengan sistem keyakinan hingga Bima bisa bertemu dengan Dewaruci. bahwa problema sosial yang terjadi dalam masyarakat mewarnai proses penciptaan karya pedalangan. kerabat. baik profane maupun dengan yang sakral. Lagi pula. sehingga menyebabkan pertentangan yang hebat. 1985:122).

Tat Twam Asi—Ajaran cinta kasih yang mengedepankan sikap hidup toleran dan berorientasi demi kebaikan orang lain tersebut. yaitu ajaran normatif (Wesnawa. tetapi sebagai perkembangan yang progresif bahwa setiap tahapan. tetapi untuk semua. Sikap mengalah itu menunjukkan implementasi ajaran Tat Twan Asi. dapat berkomunikasi dengan yang lain. Hukum perubahan historis mana pun bukan sebagai rangkaian daur perubahan yang berputar terus secara abadi. dan berharap pula memperoleh kesatuan dengan kekuatan yang mahadahsyat dari maha pengasih dan penyayang segala makhluk. Tiap individu berharap memperoleh kesatuan sosial dengan sesama anggota masyarakat yang lain. mengingatkan manusia agar berhati-hati mengelola kekuasaan—sumber kebahagiaan yang sangat potensial menjadi penyebab kesengsaraan. Tat Twam Asi dimaknai sebagai ajaran perilaku humanis yang menerima kehadiran orang lain bagaikan menerima dan mencintai dirinya sendiri. Aku terbuka untuk pikiran orang lain. Bagi Hegel. atau yang oleh Hegel disebut momea. Tiap-tiap individu berorientasi pada keselarasan. yaitu Tuhan. Hakikat Tat Twam Asi itu sesuai dengan yang dikatakan oleh Snijders (2008:106). Mereka menemukan identitas diri di posisi yang tepat dalam tatanan masyarakat (Suseno (1992:247). dan yang melebihi segala sesuatu yang ada di dunia. Dalam konteks inilah konsep “the others”—yang lain—memancarkan nilai humanisme sosialnya yang mau peduli terhadap dan untuk orang lain serta tidak hanya berlaku untuk kelompok sosial tertentu. sejarah berarti perkembangan. meskipun dengan dalih meningkatkan kemakmuran. dan untuk Tuhan. Hal tersebut merupakan pemberitahuan dan ajakan kepada rakyat atau masyarakat untuk saling menghormati. Dengan begitu. Tidak satu pun ada yang sama persis seperti keadaan sebelumnya. untuk dunia.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF toris mampu memahami realitas sebagaimana adanya. yakni sebagai sebuah proses menjadi. Aku terbuka untuk sesama. dengan dunia yang luas. Semua itu merupakan pelajaran yang bernilai katarsis yang dalam tradisi ritual pemurnian jiwa di 138 . bahwa aku dapat hadir pada diriku dengan refleksi. Setiap proses historis adalah sesuatu yang baru. 2004:60) yang memancarkan sinar energi Tuhan dari sikap tokoh-tokoh pemaaf. dan dapat merasakan pikiran orang lain. Hal ini berlaku bagi struktur masyarakat. dipandang sebagai konsekuensi niscaya yang sepenuhnya berbeda dari tahapan sebelumnya.

dan memiliki buah pikiran. yakni individu hanya dapat mencapai perkembangan diri yang menyeluruh melalui interaksinya dengan orang lain. tetapi juga bermula sebagai proses sosial. dan kepercayaan diawali dari sebuah karya seni. normatif (harkat moral norma-norma sosial). agar manusia dapat berpikir. Fisher (1990:231 dan 233) menambahkan bahwa manusia dalam dirinya memiliki esensi kebudayaan. Dalang memiliki popularitas dan kedudu139 . melestarikan kesadaran kultural dan kesatuan komunitas. Ritual. Kekuasaan adalah realitas itu sendiri yang dapat dilihat dari kekuatan-kekuatan yang mengalir dari pada-Nya. bahwa peradaban yang meliputi pandangan. moralitas. bermasyarakat. bahwa seni pada hakikatnya merangkum semua aspek kehidupan manusia. Eisseman. Menurutnya. Membangun Kecerdasan Religius Seorang dalang memformulasikan nilai-nilai keagamaan dalam pertunjukan wayang kulit. (1989: 322-32) dalam tulisannya yang berjudul Sekala & Niskala: Essays on Religion. Pertunjukan wayang kulit adalah salah satu wujud kebudayaan tradisi-onal.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bali disebut dengan istilah panglukatan. Seperti dikatakan oleh Bizawie (2002:66) bahwa kekuasaan adalah ungkapan energi illahi yang selalu kreatif meresapi seluruh kosmos. Dengan menghayati nilai-nilai itu masyarakat dapat memperbaharuai. setiap bentuk kekuasaan tidak lagi dimaksudkan untuk memaksakan kehendak terhadap pihak lain dalam mencapai tujuan. Berdasarkan prinsip ke-Tuhan-an seperti itu. melakukan revitalisasi. dan pertunjukan wayang kulit. tingkah laku. diuraikan tentang kehidupan agama. upacara. kesenian. dan bertindak dengan baik demi kebaikan dunia. berujar. Hakikat diri tidak hanya berfungsi sebagai proses sosial. Kekuasaan dibiarkan tersebar dan melekat secara otonomi pada semua yang hadir di alam semesta dengan pancaran energinya masing-masing. saling berhubungan. Berkaitan dengan hal tersebut Fananie (1994:127) mengatakan. Kekuasaan bukanlah suatu gejala khas sosial yang berbeda dari kekuatan-kekuatan alam. Menurut Suseno (1992:247) kebudayaan tradisional merupakan satu kesatu-an yang memiliki unsur-unsur kognitif (pengetahuan). and Art. melainkan kekuatan kosmis yang dapat memenuhi seluruh kosmos. Ketiga unsur tersebut didasarkan atas satu pandangan dunia yang hampir selalu ditentukan oleh agama. dan ekspresif (estetis).

Dengan demikian pandangan dunia yang diekspresikan dalam pertunjukan wayang kulit. Satuan sosial budaya 2. Nilai-nilai kultural 3. Menurut Berata (almarhum). bahwa pertunjukan wayang kulit dan sistem upacara keagamaan bagaikan pasangan suami istri yang dalam kehidupannya saling melengkapi satu sama lain. Masyarakat apresiator/simulasi 2 4 1 Kehadiran nilai-nilai keagamaan dalam pertunjukan wayang kulit merupakan kekuatan teatrikal bagi suatu daya pembangunan bangsa. seorang dalang wayang kulit Parwa dari Desa Tunjuk. Pernyataan Eisseman tersebut koheren karena hingga kini pertunjukan wayang kulit merupakan bagian yang sistemik dalam berbagai pelaksanaan upacara ritual keagamaan di Bali. bukan kerajaan-keraja140 . 1985:114). antara nilainilai keagamaan dan seni disinergikan dalam pertunjukan wayang kulit. Dalang/transformer 4. Artinya. unsur-unsur estetis hadir dalam sistem keagamaan dan sebaliknya unsur-unsur agama hadir dalam seni. Perjalanan hidup teater “wayang kulit” yang melewati sekian zaman telah membuktikan diri sebagai barometer kepribadian yang telah berakar (Hamzah. Pendeta mendoakan keselamatan dunia melalui sesaji dan doa-doa dan dalang menyelamatkan dunia dengan menjelaskannya perilaku baik-buruk tokoh-tokoh wayang dalam konsepsi “rwabhineda” dalam satu peristiwa lakon pertunjukan wayang kulit. 3 Keterangan gambar 1. Hal itu sesuai dengan pernyataan Kuntowijoyo (1987:51-52) yang me-ngatakan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kan di masyarakat. Tabanan menyatakan. menempatkan fungsi ritual dan edukasi pertunjukan wayang kulit bagi masyarakat Bali. Teater merupakan sarana yang efektif untuk menanamkan kepribadian. sehingga memancarkan aspek sosial dan kultural yang menarik sebagai wahana komunikasi. Apabila diskemakan proses interaksi situasi sosial dan nilai budaya yang dipersiapkan sepanjang masa oleh seorang dalang adalah sebagai berikut.

kode dan sibernetik atau dunia maya yang mensimulasi nilai-nilai kultural yang divisualisasikan dalam wujud-wujud prilaku tertentu tokohtokoh pelaku cerita wayang. Ditinjau dari proses itu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI an dan kekuasaan-kekuasaan dunia lahiriah semata yang tersaji dalam latar utama bagi tindakan manusia. 1992:60-61). maka dalang adalah orang yang terpelajar atau intelektual. bahwa realitas sosial yang diungkapkan lewat tokoh-tokoh imajiner dapat memberi gambaran yang hidup. Wayang jika ditafsirkan secara psikologis dimaksudkan untuk memelihara kecenderungan untuk menemukan realitas tertinggi (Geertz 1983:362). Oleh karena itu. yaitu argumen kosmologis megungkapkan bahwa Tuhan harus ada karena kalau tidak akan ada rangkaian kausalitas yang tidak terhingga untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa. media. medis. Argumen teologis mengungkapkan. Komunikasi manusia dengan Tuhan dilandasi tiga argumen. Kenyataan dicari bukan di luar diri. 2007:109). Pertunjukan wayang kulit adalah model. melainkan dunia batiniah dari sentimen-sentimen dan hasrat-hasrat. yaitu sebuah era informasi dan tanda-tanda yang diatur oleh pelbagai macam model. Simulasi wayang mempengaruhi sikap mental masyarakat. sekolah. Adapun argumen ontologis mengemukakan bahwa Tuhan ada karena kita memikirkan dan memprediksi eksistensi terhadapnya (Khuza’i. Perilaku tokoh-tokoh wayang kulit ditafsirkan sebagai referensi dalam kehidupan sosial. melainkan di dalamnya. posisi dan fungsi yang berbeda dan indepen141 . lembaga-lembaga agama. bahwa dari struktur final realitas dapat ditarik kesimpulan adanya Sang Pencipta yang menerapkan struktur tersebut. Mereka bisa datang dari latar seperti status. Dengan kata lain Kuntowijoyo (1987:135) menyatakan. penerbit. dan firma-firma hukum. termasuk universitas. literer. Setiap orang harus bersikap seperti kesatria yang terus-menerus memerangi raksasa dan raksasi yang diandaikan sebagai simbol nafsu-nafsu yang menguasai hidup manusia. 2002:98) tentang masyarakat sebagai simulasi yang terjadi di era postmodern. Cara kerja skema transmisi nilai-nilai itu sesuai dengan identifikasi yang dilakukan oleh Baudrillard (dalam Budiman. pertunjukan wayang kulit bukanlah pementasan sebuah politik filosofis semata melainkan suatu psikologi metafisis (Geertz. kode dan sibernetik. filosofis dan religius di masyarakat. Gramsci menganggap penting para intelektual tradisional yang menempati posisi ilmiah.

Mengingat nilai—nilai edukasi yang terkandung di dalam pertunjukan wayang kulit demikian penting bagi kehidupan. Selain itu. maka para intelektual dan peneliti perlu mengkaji secara berkesinambungan pertunjukan wayang kulit yang hasilnya dapat dijadikan sarana pembelajaran bagi generasi berikutnya dan dapat diacu untuk mengembangkan pertunjukan wayang kulit sesuai konteks jamannya. pertunjukan wayang kulit menyiratkan ajakan untuk meningkatkan kecerdasan mengenai realitas kehidupan sosial yang antara lain menyangkut kecerdasan manusia terhadap struktur sosial sebagai ajang untuk melakukan interaksi sosial. karena ia menjadi guru bagi semua golongan sosial. bahwa pertunjukan wayang kulit berfungsi sebagai ajang peningkatan kecerdasan rakyat. dilakukan peningkatan kualitas teknis dan nonteknis secara berkelanjutan. sehingga memperoleh daya hidup bersama masyarakat pendukungnya. Saran Berdasarkan uraan di atas diperoleh pemahaman. seyogyakan kesenian tersebut dijaga keberlangsungan hidupnya dengan cara memberi peluang tampil secara maksimal dalam berbagai kesempatan. Perlu pula dilakukan reaktualisasi isi garapan lakon dan memposisikan peran serta fungsinya pada struktur sosial budaya masyarakat. Simpulan Pertunjukan wayang kulit merupakan contoh dari salah satu unsur kebudayaan yang terjadi karena manusia hendak memuaskan kebutuhan nalurinya akan rasa keindahan dan menjadikan pengalaman estetik sebagai penyeimbang kondisi materiil. membangun kecerdasan humanis. Oleh karena itu. lepas dari komitmen kelas atau peran ideologis manapun (Barker. Di balik keindahan itu. Hal itu sesuai dengan sikap masyarakat Bali yang mendudukkan dalang wayang kulit sebagai “guru loka” yang bersikap independen. 142 . pertunjukan wayang kulit juga mencerdaskan rakyat dalam mengelola konflik kehidupan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF den. 2005:469). dan memiliki kecerdasan akal budi untuk menyadarkan manusia sebagai makhluk sosial dan individu yang berketuhanan.

Zainul Milal. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Comte. Hegel. Wesnawa. Penerjemah: Soejono Trimo. 2004. Marx. Essays on Religion. Chris. Kebudayaan & Agama: Refleksi Budaya. Bandung: CV Rosda. 1992. 2002. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 143 . Bizawie. Fred B. 1987. Antropologi Filsafat: Manusia Paradoks danSeruan. 2007. Kuntowijoyo. 1990. 1985. Berkeley-Singepore: Periplus Edition Fananie. Metode. MLS. Hikmat. Revitalisasi Kebudayaan Hindu untuk Ketahanan Masyarakat Bali:Pokok-pokok Pikiran Ketua DPRD Bali tentang Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Bali. Suseno. Clifford. 2008. Snijders. dan Kierkegaard. Ratna.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Daftar Pustaka Aiken. A. Henry D. Denpasar: Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Bali. Filsafat Kebudayaan Politik:Buti-Butir Pemikiran Kritis. Penyingkapan Kuasa Simbol. Yogyakarta: Kanisius. Surakarta: Muhammadiyah University Press. Hamzah. Yogyakarta: Kanisius. Schopenhouer. Adelbert. Pengantar Bermain Drama. Perlawanan Kultural Agama Rakyat: Pikiran dan Paham Keagamaan Syekh Ahmad al-Mutamakkin dalam Pergugmulan Islam dan Tradisi (1645-1740). 1989. Cultural Studies: Teori dan Prakktik. 2002. Franz Magnis. Fisher. 2004. Yogyakarta: Samha. Pandangan Dunia KGPAA Hamengkoenagoro I alam Babad Tutur: Sebuah Restruturisasi Budaya. Barker. and Art” . Aubrey. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. “Sekala & Niskala: volume I. Bandung: Bentang Budiman. Zainuddin. Teori-Teori Komunikasi:Perspektif Mekanistis. dan Teknik Penelitian Sastra Dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme: Perspektif Wacana Naratif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Pembunuhan yang Selalu Gagal: Modernisme dan Krisis Rasionlaitas Menurut Daniel Bell. 1994. Ritual. Adjib. Nyoman Kutha. Budaya dan Masyarakat. 1992. 2005. Fichte. Psikologis. Yogyakarta: Tiara Wacana. Interaksional.dan Pragmatis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. B. Fausi. 2009. Ida Bagus Putu. Yogyakarta: Juxtapose. Mill Spencer. Geertz. Eisman. Mach Nietzsche. Teori. Fashri. Abad Ideologi: Kant. Penerjemah: Prancisco Budi Hardiman.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF I Nyoman Windha merupakan salah satu musisi terkemuka dan komposer kontemporer musik gamelan Bali. tetapi terutama dalam gaya kebyar. Gianyar. Hongkong. Penata iringan tari kebesaran ISI Denpasar Ciwa Nataraja ini telah melakukan perjalanan melintas dunia untuk menunjukkan kebolehannya. seperti Puspanjali (1989). Bali. Windha terkenal dengan komposisi musik yang bermelodi indah. telah dimasukkan ke dalam repertoar standar kelompok pertunjukan Bali dan banyak yang telah memenangkan penghargaan di kompetisi tahunan gamelan Bali. antara lain ke Australia. Lahir di Banjar Kutri. penggabungan bentuk-bentuk dan gaya dari gamelan Jawa. Mengajar sejak tahun 1985. Komposisi-Nya. Bali. serta inovasi penggunaan 3/4 waktu. Lulusan ISI Denpasar. ini telah menyusun puluhan komposisi untuk gamelan Bali dalam berbagai genre. 144 . Jepang. Singapadu. Eropa dan Amerika.

Gamelan Angklung dengan karakter sedih dan biasanya dimainkan pada saat ada upacara kematian. 3. Sedangkan seni seuara instrumental adalah alat Gamelan. yang jika dilihat dari bahannya ada yang terbuat dari bahan bambu seperti gamelan Gambang. Sekar Rare (gending anak_anak). angklung. 2. gong gede. Dosen ISI Denpasar Pendahuluan usik Bali atau yang lazim disebut dengan Karawitan Bali adalah Seni Suara Vokal dan instrumental yang berlaras selendro dan pelog. Sekar Madia(jenis Kidung. Diantara jenis-jenis gamelan diatas. Rindik . Jegog dan gamelan gandrung dan gamelan yang terbuat dari bahan besi seperti gamelan selunding. gong kebyar dan gamelan semarandana. gamelan Gong Kebyar memiliki multi- M 145 . Ahli Seni Karawitan. SSKar. Sekar Alit ( jenis pupuh) dan yang ke 4. Masing-masing gamelan diatas memiliki fungsi. Sama halnya dengan di Jawa seni suara vokal di Bali desebut Tembang atau Sekar. yaitu: 1. Berbicara tentang gamelan. di Bali terdapat sekaitar 30 jenis barungan gamelan. semarpagulingan. Seperti misalnya gamelan Gong Gede yang memiliki karakter agung dan berwibawa yang dimainkan berkaitan dengan upacara dipura-pura. Sekar Ageng (jenis kekawin). MA Komposer. karakter dan bentuk gending yang berbeda-beda.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Seni Musik Bali dan Gamelan Gong Kebyar sebagai Media Pencerdasan Rakyat I Nyoman Windha. gender wayang. yang terakhir gamelan yang dibuat dari bahan perunggu seperti. yang dapat dikolompokan menjadi 4 kelompok.

Peranan gong kebyar tidak saja mampu mencetak bibit-bibi baru. Gamelan gong kebyar adalah alat musik perkusi yang instrumentasinya terdiri dari: gong. rumit dan tempo yang cepat. baik ansambel maupun tarinya menonjolkan pada pengungkapan emosi yang meluap-luap dan aksi dramatis yang menakjubkan. suling dan rebab. Namun dalam perkembangan selanjutnya berkembang menjadi musik iringan tari. keduanya merupakan ekspresi kesenian yang lahir pada awal abad 20. Gamelan gong kebyar dan tari kebyar ini tak bisa dipisahkan satu dengan dengan yang lain. yang lainnya semua alat-alat dari gong kebyar adalan alat perkusi. kendang. kajar. Asal Mula dan Perkembangan Kebyar Istilah kebyar berasal dari bentuk permainan gamelan yang dipukul secara bersamaan yang menghasilkan suara menggelagar “byar” yang kemudian dipergunakan untuk memberi nama kepada ansambel baru dan tari kreasi baru dalam kesenian Bali yang memiliki cirriciri keras. Kebyar di Masa Lampau Berdasarkan informasi yang ada bahwa untuk pertama kalinya gong kebyar muncul di Bali utara tepatnya didesa Bukulan Buleleng sekaitar 146 . Tari kebyar merupakan sebuah ekspresi individu atau kelompok yang memilki ciri-ciri yang sama dengan gong kebyar. dimana sebagian besar dari orang Bali mulai melajar megambel dari gamelan Gong Kebyar. dan tarinya pun disebut dengan tari kebyar. Ansambel yang baru ini desebut gamelan gong kebyar dan tari kreasi baru ini juga disebut tari kebyar.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF fungsi. jegogan. tapi juga mampu mengadopsi ide-ide kreatif didalam usaha mewujudkan garapan-garapan kreasi baru kakebyaran baik dalam bentuk tari kreasi maupun tabuh kreasi baru. reong . Gamelan gong kebyar yang dimainkan oleh kurang lebih 25 orang musisi (penabuh) ini diperkirakan muncul pada awal abad ke 20 dan gamelan ini awalnya diciptakan hanya untuk lagu instrumental ( gending petegak). dewasa dan kaum Ibu-ibu. penyacah. Dan dia bahkan menjadi media pembelajaran dalam mengawali belajar bermain gamelan. terompong. Kedua jenis kesenian ini. jublag.. Kecuali suling dan rebab yang masing-masing merupakan alat tiup dan gesek. Gamelan yang tergolong baru ini sangat digemari oleh masyarakat Bali mulai dari kalangan anak-anak. dinamis. gangsa.

Pada tahun 1928 ditemukanlan rekaman komersial mengenai gamelan Bali. menari dengan posisi jongkok yang kemudian menjadi cikal bakal tari Kebyar Duduk dan tari Kebyar Trompong. masyarakat Bali hampir mulupakan bahwa kebyar itu adalah musik instrumental. Tabanan oleh seka gamelan dari desa bantiran (Buleleng) pada tahun 1919. Disini belum nampak ada indikasi bahwa gong kebyar itu digunakan untuk mengiringi tari. Para penabuh gamelan mulai memainkan ritme-ritme unisono bersama. kebebasan mencipatakan lagu baru. Buleleng. Demikian juga halnya dengan tari Kebyar Legong yang diciptakan oleh Pan Wandres dan I Gde Manik dari Jagaraga . Tari Kebyar saat itu masih berkiblat pada tari Kebyar Duduk dengan gerak bebas yang penuh improvisasi mengikuti aksen-aksen lagu gong kebyar. sinkopasi-sinkopasi yang jarang ditemukan pada jenis-jenis gamelan gong kuna. dan baru diketahui bahwa telah tercipta lagu-lagu kebyar seperti Kebyar Ding Sempati. Bentuk awal dari permainan gong kebyar pada saat awal pemunculannya adalah didesa Bungkulan. dalam rangka upacara pelebon. Perjalanan gong kebyar selanjutnya diawali dari diperdengarkannya dipuri Subamya. gending Jerebu yang juga ditarikan oleh penari kebyar saat itu seperti I Maria dan murid-muridnya. Ketenaran I Maria sebagai penari Kebyar Duduk.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI tahun 1914. Bahkan hampir tak ada lagi ciptaan instrumental baru dalam lagu gong kebyar. seperti I Gusti Ngurah Raka dan I Nyong-nyong. membuat aransemen yang rumit sebagai ciri dari kreasi baru. Mereka memasukan “emosi dan aksi dramatis” dalam permainan gamelan yang menjadi bentuk awal dari gong kebyar. disana dia menarikan sebuah lagu gong kebyar secara bebas yang berinteraksi dengan tukang kendang. Selanjutnya pada era tahun 1930 an munculah Tari Kebyar yang 147 . Saat awal pemunculannya gamelan ini diciptakan untuk menyajikan gending-gending petegak atau lagu-lagu instrumental dan media bagi para pencipta lagu (komposer) untuk mengekspresikan diri. yang disertai dengan entakan-entakan yang tajam. Buleleng yang selanjutnya tari ini menjadi tari Taruna jaya. Awal munculnya tari kebyar adalah ketika I Maria diundang untuk mengajar tari di desa Busungbiu. yang konon tabuh pengiringnya diciptakan oleh I Wayan Sukra. Baru tahun 1920 terciptalah tari Kebyar Duduk dan tahun 1925 menjadi tari Kebyar Trompong seperti yang kita lihat sekarang.

Bentuk tari kelompok lebih diutamakan. Tokoh-tokoh seperti Ketut Merdana ( Buleleng) dan I Wayan Beratha (Denpasar) muncul sebagai generasi awal dalam katagori ini. yang merupakan tari duet dengan tema percintaan. kebebasan berkreativitaspun muncul sehingg pada tahun 1951 terciptalah sebuah tarian baru yang berjudul tari Oleg Tambulilinagn. Munculah sebuah wadah estetika baru. Raja148 . Kemudian berkumandanglah sebutan tari babancihan sebagai ciri khas tarian kebyar. Pada awal tahun 1960-an terjadi lagi sebuah pergeseran. Pada dekade 1960 –an lahirlah tari Tani dan tari Nelayan. Konsep tari kebyar telah berkembang dari konsep tari tunggal laki-laki dan wanita menjadi konsep tari duet laki-laki dan perempuan. Pada tahun 1960-an sudah tercipta 4 buah sendratari yaitu sendratari Ramayana. yang idenya datang dari I Gusti Bagus Nyoman Panji. Demang Miring. Penciptaan Sendratari ini distimulasi oleh munculnya sendratari Ramayana Prambanan pada tahun sebelumnya. Sehingga antara tari dan musik menjadi satu sebagai sebuah kesatuan. Puspa Warna. Selain mengalami perubahan struktur. Dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun yang pertama KOKAR Bali pada tqhun 1962 Bapak I Wayan Beratha menciptakan sebuah sendratari yang berjudul Jayaprana. kendatipun tariannya ditarikan oleh lebih dari seorang penari.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dibawakan oleh penari wanita. Ekspresi realirtas kehidupan mulai diperkenalkan. dimana penari cantik membawakan tokoh laki-laki sepeti yang terlihat pada tari-tarian ciptaan I Nyoman Kaler. yaitu perkembangan tari kebyar menjadi sendratari. kehadiran kebyar juga berdampak pada perubahan karakter. Sebagai dampaknya terjadilah perubahan estetika dari tarian yang bersifat improvisasi kebentuk tarian yang memiliki struktur yang ketat. Tarian ini diciptakan oleh I Maria. Candra Metu dan Bayan Nginte. dimana tema-tema kebyar yang semula berorientasi pada tari murni dan keindahan semata dan kini berubah menjadi tarian kebyar programatik. Mrgepati. Disini nampak terjadi perubahan yang sangat drastis. pimpinan KOKAR Bali saat itu. Memasuki zaman kemerdekan mulai ada rasa aman. I Nyoman Kaler berhasil mencipatakan beberapa jenis tari kebyar seperti Panji Semirang. yang masih mempergunakan konsep tari tunggal. Ja-yaprana. dimana orientasinya mengarah kepada wanita cantik. sebagai suatu respon perkembangan sosial politik di Indonesia. Ada nafas baru yang juga muncul pada periode ini.

Inggris. Di Bali. ketika Pemerintah Daerah Bali menyelenggarakan pentas Gong Kebyar kedalam sebuah wadah Merdangga Utsawa (Festival Gong Kebyar) pada tahun 1968 yang dimotori oleh Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibya) dalam usaha melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Bali.B. Pengiriman kesenian keluar negeri seperti ke Thailand. Tari kebyar menjadi salah satu primadona dalam misi-misi tersebut. PKB yang lahir pada tahun 1979 dijadikan strategi pembinaan dan pengembangan kebudayaan Bali. India. China. Dan sampai sekarang PKB sudah berjalan selama 31 tahun. Spanyol. sebagian besar terdiri dari alat perkusi. Australia. Kebyar Masa Kini Gong kebyar maupun tari kebyar sangat popular baik diluar maupun diluar negeri. Perkusi merupakan jenis instrumen yang sifatnya sangat universal. gong kebyar tidak saja dimiliki oleh banjarbanjar akan tetapi dimiliki oleh perorangan. sendratari ini juga diungkapkan lewat narasi dalang yang berfungsi sebagai komentator pergelaran itu. Thailand dan belum terhitung gong kebyar yang dibawa oleh penduduk Bali yang bertransmigrasi keseluruh nusantara. Suatu hal yang menjadi alasan kenapa gong kebyar bisa menyebar luas di seluruh dunia. Korea. Pakistan. I. Hal ini dikarenakan oleh adanya diplomasi kebudayaan oleh Presiden Republik Indonesia. dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling rumit. Kehidupan kebyar semakin semarak. Sebagai puncak dari keberhasilan pelestarian dan pengembangan kesenian Bali itu kemudian ditampung dalam sebuah festival seni yaitu Pesta Kesenian Bali (PKB). Era 1960 –an adalah masa semaraknya pertumbuhan gong kebyar di Bali. Filiphina. Mantra. Kanada. Jepang. Disamping mengutamakan ungkapan pantomim dan programatik. Soekarno. Oleh pencetusnya Prof. Dr.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pala dan sendratari Maya Danawa. Kecuali Rabab dan suling. sehingga keberadaannya sudah mencapai lebih dari 1500 barung. Eropa dan Word Fair di New York menjadi kebangaan bagi seniman Indonesia. Barangkali suatu hal yang perlu diteliti kedepan. Diluar negeri sekitar 100 barungan gong kebyar tersebar luas di Amerika Serikat. Dalam dunia musik barat juga memiliki perkusi sehingga secara psikologis 149 . Kalau kita lihat dari instrumentasinya. Camboja. Hampir diseluruh dunia memiliki alat musik perkusi.

akan tetapi setiap saat bisa membangun improvisasi. buku Gamelan gong Kebyar. yang merupakan gabungan dari gong kebyar dan gamelan semar pagulingan. Instrumen kendang sebagai alat vital walaupun sudah memiliki pola yang baku. Lagu-lagu gong kebyar yang sangat komplek dan kaya dengan ritme serta dinamis menjadi ketertarikan para pemusik kontemporer dunia dewasa ini. gamelan yang lahir tahun 1985 ini bentuk nya mirip dengan dengan gong kebyar. The Art of Twentieth –Century Balinese Music oleh Michael Tenzer (2000). urutan nada-nadanya terdiri dari 5 nada dibagian bawah memakai laras pelog 5 nada. Pemahaman masyarakat dunia terhadap gong kebyar lebih terbantu dengan terbitnya buku –buku berbahasa asing seperti DeToonkunst van Bali oleh Jaap Kunst (1925). dan 7 nada dibagian atas memakai laras pelog 7 nada. Gong kebyar memiliki tangga nada pentatonik atau laras pelog lima nada dengan saih yang berbeda-beda. Permainan trompong yang dapat dimainkan dengan tehnik ngempyung dan ngembat serta kekembangan yang selalu menjadi tantangan menarik bagi pemain gamelan. Para pemain Rock atau Jazz sangat menyenangi gamelan gong kebyar karena fleksibelitasnya dalam bentuk maupun bunyi. Dan tehnik pukulan gangsa yang disebut dengan kotekan dengan berbagai sistem seperti kotekan telu dan kotekan pat dengan berbagai variasinya selalu menjadi tantangan utama bagi setiap pemain dan hal sangat menarik perhatian mereka untuk mempelajari gong kebyar. Demikian juga buku_buku tari Bali yang sering memberi deskripsi tari kebyar. Sebuah tehnik paniti atau nyacah yang dapat dimainkan oleh semua instrumen melodi yang kemudian dapat dikembangkan menjadi kotekan yang sangat rumit. Disamping itu rekaman-rekaman audio maupun VCD. ada saih gede (tembung) dan ada saih cenik (selisir). namun jumlah bilahnya lebih banyak yaitu 12 bilah. Tehnik permainan gong kebyar terdiri dari tehnik yang paling sederhana sampai pada tingkat kerumitan yang tinggi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF para musisi barat merasa dekat dengan instrumen gong kebyar. Sejalan dengan tuntutan kreativitas kini muncul gamelah baru yang disebut dengan gamelan Semarandana. Gamelan yang baru ini mampu memainkan lagu-lagu kekebyaran dan lagu-lagu semarpagulingan serta garapan-garapan baru lainnya. DVD dari karya-karya maestro Bali kini mulai mudah diperoleh dan setidak ada 40 volume rekaman STSI Denpasar yang menjadi stimulasi tertariknya 150 . buku Music in Bali oleh Colin McPhee(1966).

Kebyar Masa Depan 1. Contohnya Gending merak ngelo. Bahkan dalam penyajian tabuh kreasi semua kelompok instrumen yang ada dalam gong 151 . cengceng dan reong terutama didalam mengolah ritme. kesederhanaan dan kerumitannya . Kapiraja . kini mulai mengadopsi lagu-lagu dari gamelan lainnya seperti gender wayang dan gambang. Dimasukannya pengawak Kuntir dalam tari Kebyar Legong untuk membuat perubahan dinamika. seperti kendang. Ujan Mas. yang dijadikan bagian pokok gegenderan pada salah satu bagian dari kreasi kekebyaran. Dari uraian diatas lelas menunjukan bahwa pakem gong kebyar berbeda dengan gamelan lainnya di Bali. Bentuk-kreasi kebyar sebagai sajian musik instrumental seperti gending Gambang Suling. keterkaitan antara klasik dan kebyar tetap terpelihara dengan baik dan masyarakatpun tidak dikejutkan dengan perubahan-perubahan yang asing baginya. Swabuana Paksa dan Kapiraja lebih menitikberatkan pada demonstrasi kelompok – kelompok instrumen tertentu. Kebyar Sebagai Wadah Kreativitas. dan tersedianya rekaman-rekaman diatas menjadi akses untuk mempelajari gong kebyar . mengambil bagian pengawak dari legong Kuntir menjadi bagian yang penting dari tarian tersebut. Dilihat dari tehnik permainan. Semula gong kebyar hanya memainkan lagu-lagu ostinato dengan aksen-aksen yang mengagetkan. menjadikan gong kebyar sebagai sebuah ansambel yang bisa menjadi jembatan dalam mempelajari gamelan lainnya di Bali. demikian juga gegambangan yang menjadi bagian akhir dari lagu kebyar. kedua motif lagu diatas juga dipergunakan dalam lagu semarpaguling dan pelegongan. Namun belakangan ini hampir semua kelompok instrumen diberikan kesempatan untuk mendemonstrasikan kelompoknya. Selain gong kebyar.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI masyarakat dengan kebyar. Dengan beberapa alasan diatas gong kebyar sudah menjadi milik bangsa yang sudah tersebar diseluruh penjuru dunia. Motif dan tehnik dari gamelan tersebut dijadikan bagian yang penting dalam permainan gong kebyar. Satu contoh lagi tari Kebyar Legong sebagai awal dari tari Taruna Jaya.

Dan sayang gamelan Genta Pinara Pitu yang satu-satunya di Bali saat itu. Gong Kebyar telah banyak memberi kontribusi terhadap perkembangan gamelan yang lain seperti. sehingga dia dianggap sebagai sumber yang kaya akan melodi. rime. selain menonjolkan angsel rumit yang berasal dari kebyar. Tari Janger yang biasanya menggunakan iringan Batel dan suling . Kebyar Menjadi Elemen Musik Dunia Kehadiran dari komposer-komposer barat yang pernah bela152 . harmoni dan aspek musikal lainnya. Kebetulan penulis sendiri sebagai komposernya dan I Nyoman Catra sebagai koreografernya. sehingga banyak lagu-lagu kebyar dimainkan dengan media gamelan lain. yang sudah barang tentu tehnik permaianannya disesuaikan dengan tehnik gamelan yang dipakai . kini digarap dengan iringan gamelan Genta Pinara Pitu dengan membuat lagu-lagu baru sesuai dengan mode yang dimiliki oleh gamelan tersebut. angklung. Adalah pengembangn dari gamelan Balaganjur yang dikolosalkan. drama gong. Hal ini menunjukan bahwa kebyar menjadi sumber yang kaya bagi gamelan-gamelan lain untuk dipinjamkan lagu-lagunya kedalam tehnik yang baru. Garapan Janger kreasi baru ini diciptakan pada tahun 1986. 2. Dan masih segar dalam ingatan kita. Dalam Adi Mrdangga ini. Dan ini sangat tergantung dari kepiawian dari seorang komposer dalam menykapi hal tersebut. sekarang ada di Monash University . Disitulah letak fleksibelitas gong kebyar yang bisa menerima dan mempengaruhi gamelan lain.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kebyar memiliki hak yang sama. Adi Mrdangga yang diciptakan tahun 1984 oleh ASTI Denpasar saat itu. gong suling.Australia. seperti lagu panyembrama. Gending Tari Belibis dimainkan pada gamelan Joged dan Jegog. Kebyar merupakan sebuah ansambel yang sangat kaya dengan motif dan hiasan-hiasan. dinamika. sendratari dan lain-lain. Mrgapati dan Cendrawasih dimainkan pada gemelan Angklung. beberapa motif ritme juga diambil dari Drum Band Barat. sebagai pengganti Drum Band Barat dalam pembukaan PKB tahun 1984.

saat mereka menempuh ujian akhir dikampus mereka. Dan hal ini banyak dilakukan oleh mahasiswa Jurusan Karawitan ISI Denpasar. Evan Ziporyn dan Andy Mc Graw. dia seorang komposer barat yang lama tinggal di Bali. Indonesia (Bali dan Jakarta) dan Singapura. 3. mereka memperdalam Gamelan Gong kebyar baik secara teori maupun praktek. Situbanda. Beberapa dari hasil karyanya yang pernah ditampilkan pada ajang PKB seperti. Banyuari.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI jar gamelan di Bali seperti. yang sudah barang tentu semua pengalaman yang mereka peroleh dapat memparkaya wawasan mereka dalam melakukan aktivitas musik. Talakalam dan Puser Belah. Garapan ini dipentaskan di tiga Negara. Penulis mendapat undangan kekota Basel. menorehkan sejarah baru bagi perkembangan gong Kebyar baik di Bali maupun di Luar Negeri. Evan Ziporyn dan Andy Mc Graw. Kolaborasi Dengan Musik Lain Dewasa ini. Swis untuk membuat iringan tari modern dengan gong kebyar yang dipadukan dengan alat musik biola. Michael Tenzer misalnya. Demikian juga halnya dengan Wayne Vitaly . ketika penulis mengajar grup gamelan Sekar Jaya padatahun 1989. Pengalamannya tinggal di Bali dan belajar gamelan kebyar pada seniman-seniman andal di Bali seperti: I Gde Manik. Wayne Vitaly. Penulis sendiri pernah berkolaborasi dengan Evan Ziporyn dalam kreasi Kekembangan . membuat dia tidak saja mampu memainkan gong kebyar dengan baik. Karya 153 . tapi sebagai komposer dia sangat lihai memadukan elemen musik Barat dan musik India kedalam tabuh kreasi kebyar. istilah kolaborasi menjadi istilah yang sangat ngetren. Banyak komposer yang mencoba membuat komposisi dengan memadukan beberapa alat musik dengan harapan dapat menghasil garapan yang bernafas baru. Dan pada tahun 1998. Michael Tenzer. . disini Penulis dan Evan menggabungkan gamelan gong kebyar dengan alat musik barat Saxophone . Basel. Dan komposisi yang paling besar yang penulis lakukan adalah ketika penulis berkola-borasi dengan seorang komposer dari Kanada yang bernama Hose Evangelista dalam sebuah garapan yang berjudul Bali Simponi. I Wayan Tembres dan I Wayan Suweca.

yang dimainkan oleh grup Gamelan Sekar Jaya yang bergabung dengan California Simponi. mengingatkan penulis pada peristiwa budaya terutama kegiatan upacara di puri Pemecutan Denpasar. pada tahun 2004. Pada pelaksanaan PKB tahun 2001 pernah terjadi sesuatu yang sedikit agak ekstrem khususnya dalam materi festival gong kebyar. Dan khusus pada materi tabuh kreasi seorang penabuh wanita harus memainkan instrumen kendang. Sebagai penggarap penu154 . Dalam konteks garapan “Lekesan” adalah sebuah karya yang beranjak dari kelisahan menyikapi suatu fenomena sosial dalam wadah Negara kesatuan yang terancam oleh riak-riak disintegrasi bangsa. dimana kretiria festival meharuskan mengguanakan instrumen tambahan khususnya pada materi tabuh kreasi baru dan penabuhnyapun harus campuran laki-laki dan perempuan dengan komposisi masing-masing grup diharuskan mempergunakan 10 orang penabuh wanita. Kebetulan pada saat itu penulis dipercaya oleh wakil Kota Denpasar untuk menggarap meteri tabuh kreasi baru. Situasi kerukunan hidup dengan sikap toleransi yang tinggi penting untuk dikemukakan. yang selalu melibatkan kesenian Rodat dari desa SuwungPemogan. Desa Sidakarya yang ditunjuk oleh kota Denpasar sebagai duta yang letakanya berdekatan dengan kawasan Suwung Batan Kendal sebagai kawasan etnik muslim dengan kesenian rodatnya yang khas. “Lekesan” adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebutkan benda yang berisikan bermacam-macam unsur dikemas dalam satu ikatan. Ditengan-tengah suasana disintegrasi bangsa dan pergolakan politik yang kian carut –marut. Karya ini pentaskan untuk pertama kalinya di San Fransisico State University. Dalam proses penggarapannya penulis mencoba mengusung teme persatuan dan semangat kebangsaan dengan memanfaatkan potensi lingkungan sekitar. Penulis ingin menyingkapi persoalan bangsa itu dengan mengusung tema persatuan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ini mencoba menggabungkan ansambel gong kebyar dengan alat musik orkestra lengkap. Hal ini disebabkan karena secara budaya masih ada kedekatan emosional dengan kerajaan Badung (Puri Pemecutan) sebagaimana juga terjadi di Karangasem antara keturunan muslim Sasak (Islam Waktu Telu) dengan Puri Karangasem.

Australia dan Eropa. Adapun dalam Tabuh Kreasi Lekesan penulis. sebagaimana kekuatan keragaman ekspresi musikal bersatu padu membentuk harmoni kedamaian dan keindahan rasa dalam bingkai struktur komposisi yang saling mengisi satu sama lainnya . agama. penulis menambahkan barungan gong kebyar dengan 5 buah rebana. Kebyar Dipelajari di Seluruh Dunia Dijalur pendidikan formal keberadan gamelan gong kebyar sudah merambah keberbagai Universitas yang ada diseluruh dunia seperti. 2 buah tamburin dan 10 buah suling. MIT. Esensinya penulis ingin menorehkan pesan keharmonisan hidup dalam wadah persatuan lewat karya sekaligus kritik terhadap fenomena faktual yang sedang berkembang. dan latar belakang budaya yang luhur mulai terkontaminasi oleh serakahnya kepentingan individu maupun golongan yang sarat dengan muatan politis. ras.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI lis melihat fenomena bahwa semboyan Bhineka Tunggal Ika sudah bergerak diluar relnya. Ujung-ujungnya rasa persaudaraan dan tali pengikat persatuan mulai tercabik. Dalam tabuh kreasi Lekesan ini penulis didalam mengekspresikan idenya tetap menggunakan barungan gong kebyar sebagai ansambel pokok yang diwajibkan. 4. dan banyak lagi gamelan gong kebyar diluar kampus seperti yang dimiliki oleh Kedutaan maupun Konsulat Indonesia yang ada di Amerika Serikat. 155 . Diangkatnya instrumen bernuansa muslim dalam pada tabuh kreasi baru Lekesan tak terlepas dari sebuah upaya untuk mengusung tema diatas. 4 buah kendang angklung . serta perjalanannya mulai tanpa arah terseret arus perubahan. namun disana-sini ditambahkan beberapa instrumen perkusi sesuai dengan kebutuhan garapan. Dal hal yang sama juga terjadi dinegara-negara lain seperti Jepang. CAL ART. keragaman suku. Beranjak dari situasi seperti itu Penulis melalui konsepsi musikalitasnya ingin menawarkan solusi betapa perbedaan itu akan membentuk suatu kekuatan dan menjadikan hidup ini lebih indah dan bermakna dalam kehidupan. Akibatnya. UCLA. benih yang tertanam mulai rapuh.

Adanya teknik pukulan “kebyar” yaitu memukul gamelan secara serentak dengan aksi dramatis tanpa seorang conductor atau dirigen.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Sebuah pertanyaan sering muncul kenapa orang-orang barat khususnya musisi-musisi dunia demikian tertarik dengan gamelan gong kebyar. Tantangan masa depan Untuk menjawab tantangan masa depan. maka secara tidak langsung kita sudah bermain dengan perasaan dan jika perasaan dibarengi dengan penghayatan disanalah letak jiwa dari lagu yang sedang dimainkan. Dari hasil pengamatan penulis yang pernah mengajar orang barat baik di Bali maupun diluar negeri. Memiliki colotomic structure dimana masing-masing instrumen yang terdapat dalam barungan gong kebyar masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. instrumen ugal dan trompong berfungsi sebagai pemangku melodi. sangat dibutuhkan pencip156 . instrumen jublag dan jegogan berfungsi untuk mempertegas ruas-ruas lagu. norot dan oncang-oncangan. ngotek. instrumen kajar berfungsi intuk memegang mat lagu. bahwasanya ada beberapa alasan yang menjadi pertimbangan mereka. aba-aba datang dari pemain ugal yang tidak ada pada musik dunia lainnya. instrumen reong dan gangsa berfungsi untuk mengelaborasi kalima lagu melalui teknik pukulan ngubit. yaitu gong kebyar memiliki karakter yang unik dan terbuka. Dengan menghafalkan semua elemen yang membentuk musik tersebut dan berusaha bernyanyi dalam hati sambil bermain. Seperti kendang misalnya yang berfungsi sebagai pemangku irama (conductor) dalam dalam musik klasik. Satu hal lain yang membuat para musisi barat kagum dengan gong kebyar adalah cara mengajarkan gamelan kepada penabuh yang memakai sistem meniru dan menghafal. dimana pelatih memberikan contoh dari depan dan penabuh mengikuti dan menghafalkan. cengceng untuk memperkaya hiasanhiasan lagu dan instrumen suling dan rebeb berfungsi untuk memaniskan lagu. Keunikan terletak pada tangga nadanya yang berlaras pelog lima nada dengan sistem pelarasan menggunakan sistem ngumbang-ngisep yang tidak dimiliki oleh alat-alat musik lainnya.

2000 Zoete. 157 . Drama and Music. Michael. New York : Thomas Yoselof. Miguel. Music in Bali. Chicago and London: The University of Chicago Press. Berani mengangkat kebyar menjadi musik kontemporer yang serius . Balinese Dance. Daftar Pustaka Bandem. Karena melodi merupakan kekuatan dasar dalam permainan gamelan Bali. 2005. Beryl and Walter Spies. Tenzer. I Made and Fredrik deBoer.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ta-pencipta yang unggul. New york: Alfred A. New Haven and London: Yale University Press. Kaja and kelod Balinese Dance in Transition. 1942 Dibia. Perlu adanya keberanian untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan musisimusisi dari dunia lain seperti dari Amerika. Covarrubias. 1981. mampu mencipta agar kebyar tidak menjadi musik yang ramai (baroque) tanpa melodi yang jelas. 1966. Colin. I Wayan and Rocina Ballinger. Islang of Bali. Mc Phee. India dan Jepang yang sudah barang tentu memiliki aliran musik yang berbeda. Kuala Lumpur : Oxford University Press. Knopf. 1958. Dance and Drama ini Bali. Gamelan Gong kebyar : The Art of Twentieth-Century Balinese Music. Singapore: Periplus Editions. Eropa.

.

MENGEMAS SENI TRADISI SUMATERA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL 4 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

Dr. Padangpanjang Timur Padangpanjang Sumatera Barat. Selain itu juga menjadi Pengajar Luar Biasa Akademi Bahasa Asing (AB) Bukittinggi. 35 Padangpanjang Sumatera Barat. Jurnal IDEA Seni Pertunjukan BP.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prof. Beberapa Perspektif dalam Tari (2000). Sejak tahun 1987 menjadi staf Pengajar Jurusan Tari STSI Padangpanjang. Daryusti juga banyak dipublikasikan di Majalah Berkala Penelitian Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Guguk Malintang Kec. Kajian Tari dalam Berbagai Segi (2001). Dr. Alamat Kantor: Jln. Estetika Tari (1996). Agam. 26 RT VIII Kel. Bundo Kanduang No. Abu Hanifah No. Penanggungjawab Pascasarjana STSI Padangpanjang ini telah cukup banyak melakukan penelitian dan membuat karya seni. Daryusti.Hum. Majalah Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. Alamat Rumah: Jln. 28 Desember 1960. Peraih Tanda Kehormatan Satyalencana Karya Satya X Tahun (2006) ini pernah merebut penghargaan sebagai Dosen Teladan III ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) (1993) dan Dosen Teladan I STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Padangpanjang (1997). Hegemoni Penghulu Dalam Perspektif Budaya (2006). M. Ketua STSI Padangpanjang ini menyelesaikan program Doktor pada Program Studi Kajian Budaya Universitas Udayana Denpasar (2006). 160 . Interdependensi Seni Tari dengan Seni Lainnya (1996). Fasper ISI Yogyakartadan Majalah Jurnal Penelitian STSI Padangpanjang. Etnologi Tari (2006) dan Analisis Tari (2007). Beberapa buku yang pernah diterbitkan antara lain Fleksibelitas Gerak Dalam Tari (1992).. Tulisan dan karya ilmiah Prof. Lahir di Lubuk Basung. Sistem Penganalisisan dalam Tari (2003).

M. Setiap nagari memiliki seni tradisi. karena setiap orang daya serapnya terhadap seni akan ber- S 1 Nagari adalah gabungan desa-desa yang mempunyai satu kesatuan sosial. Daryusti (2006) mengatakan bahwa setiap nagari di Sumatera Barat mempunyai seni tradisi. Perbedaan tersebut terlihat dalam masyarakat tradisional yang menempatkan kesenian sebagai sesuatu yang memiliki fungsi dan kedudukan yang penting terutama dalam upacara adat. Daerah Sumatera Barat secara keseluruhan terdiri atas 19 kabupaten dan 7 kota. karena seni mengandung nilai-nilai dan makna di dalamnya. Masing-masing kota paling sedikit memiliki 2 kecamatan dan masing-masing kabupaten memiliki paling sedikit 8 kecamatan. Setiap seni tradisi akan dapat berkomunikasi sosial yang sesuai dengan ukuran pendukungnya. setiap tradisi tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda. Warisan seni tradisi merupakan modal budaya masyarakat yang terus menerus dipertahankan untuk kepentingan sosial. Daryusti. 161 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Ragam Kemasan Seni Tradisi Sumatera Barat dalam Komunikasi Sosial Rakyat dan Pemerintah Prof. Setiap kecamatan terdiri atau kelurahan atau nagari1. Dalam hal ini yang menyebabkan perbedaan fungsi tersebut disebabkan adanya faktor agama dan adat setempat. Seni tradisi dikembangkan oleh masing-masing masyarakat pendukungnya. Ketua STSI Padang Panjang Pendahuluan umatera Barat merupakan daerah administrasi pemerintahan Republik Indonesia.Hum. Dr.

dan seni teater. dapat dikatakan bahwa seni hadir dalam kehidupan masyarakat sebagai pendukung merupakan bagian terpenting sesuai dengan kebutuhan hidup. Amir M.S (1997) mengatakan bahwa ajaran tentang “spiritismeanimisme” adalah ajaran yang berhubungan dengan pemujaan terhadap roh nenek moyang dan kepercayaan terhadap benda yang mempunyai roh. lahir di dalam masyarakat dan oleh masyarakat. yaitu seni pertunjukan dan seni rupa. Komunikasi masyarakat atau para pendukung dalam lingkungan seni tradisi yang ada individu dan kelompok akan dihadapkan kepada masalah-masalah yang dalam situasi untuk disepakati. yang mengandung unsur bukan Islam. maka upacara-upacara yang berhubungan dengan seni pertunjukan. seni musik. Kepercayaan tersebut memunculkan keanekaragaman bentuk tari di Sumatera Barat. Masyarakat sebagai pendukung seni tradisi dalam kehidupan seharihari selalu bertemu dengan berbagai gejala kehidupan dari segi keindahan untuk kepuasan batin. Sebagai contoh di Sumatera 162 . karena manusia turut serta menciptakan keberadaan seni tradisi di lingkungannya. maka dapat dikatakan bahwa sesungguhnya bentuk seni di Sumatera Barat. sering dipentaskan. Dengan demikian. khususnya pertunjukan tari. Maka dari itu.S. Dengan masuknya Islam. dalam hal ini seni tari. Kondisi Masa Lalu Secara umum ragam kemasan seni tradisi Sumatera Barat dalam komunikasi rakyat dan pemerintah dapat dibagi dua kelompok. Mansoer dkk.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF beda. Secara berkelompok masyarakat sebagai pendukung seni tradisi akan bekerjasama untuk melestarikan seni yang berada di lingkungannya. (1997) menjelaskan bahwa. Oleh karena itu. (1970) menjelaskan bahwa Islam masuk dan berkembang di daerah Sumatera Barat dibawa oleh pedagang-pedagang dari Aceh pada akhir abad ke-16. Seni yang termasuk kelompok seni pertunjukan adalah seni tari. Amir M. yakni yang berupa mitos. baik secara eksplisit maupun implisit orang Minangkabau percaya akan adanya kekuatan gaib. yang sebagian besar berkembang di kalangan masyarakat. Seni yang termasuk kelompok seni rupa adalah terdiri dari seni kriya dan seni artistik. Kerjasama tersebut dilakukan dengan komunikasi yang efektif melalui simbol dan kesepakatan antar individu dan kelompok.

Dengan demikian. Dalam hal ini diperkenankannya tari ini dipertunjukkan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Barat pada masyarakat Padang Laweh mitos didasarkan kepada kepercayaan yang lebih dari fakta. Hal ini dapat dilihat pada pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu dalam masyarakat Padang Laweh. atau dengan kata lain seluruh mekanisme kehidupan sosial bagi semua anggota dijiwai oleh adat. yakni ditentukan oleh berbagai aturan. Uraian di atas menunjukkan bahwa adat dan agama di Sumatera Barat merupakan satu kesatuan yang saling menunjang dan kait-mengait. Pertama. sesaji atau jamba tersebut dibacakan doanya menurut syariat agama Islam. maka manusia telah menerima adat secara total sebagai sistem kehidupan sosialnya serta percaya bahwa hanya dengan berpedoman pada adatlah ketenteraman 163 . Sementara itu. sebelum tari Alang Suntiang Pangulu dipertunjukkan salah seorang kemenakan dari penghulu yang akan dinobatkan harus menyediakan sesaji atau jamba yang berisikan siriah langkok (sirih lengkap) dalam carano. setiap manusia yang berada dalam lingkaran kehidupan adat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari unit sosial. Said (2004) menyatakan bahwa adat adalah aturan-aturan tentang kehidupan manusia yang disepakati penduduk dalam suatu daerah tertentu untuk mengatur tingkah laku anggota masyarakat sebagai kelompok sosial. (2002) bahwa pemikiran dalam mitos hanya dapat dibaca melalui pengkajian semiotik terhadap simbol-simbol yang digunakan. khususnya seni tari. maka mitos dapat dikatakan tidak untuk diukur dan dijelaskan dengan ukuran kebenaran rasional manusia. Kepercayaan terhadap mitos bercampur dengan agama Islam tertuang di dalam bentuk kesenian Sumatera Barat. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Imran dkk. Tari Alang Suntiang Pangulu menurut kepercayaan masyarakat Nagari Padang Laweh merupakan tari yang dipertunjukkan untuk ritual upacara penobatan penghulu oleh kaum atau suku. Oleh karena mitos merupakan kesadaran langsung masyarakat tentang realitas yang dipercaya untuk menangkap dunia realitas dengan kepercayaan yang diyakini. Oleh karena itu. dan diletakkan di depan penghulu yang akan dinobatkan. Syarat tersebut sudah merupakan keyakinan masyarakat Padang Laweh sampai saat ini. Hal ini dapat dilihat karena adanya sesaji atau jamba sebagai syarat untuk penyajian tari Alang Suntiang Pangulu. tetapi untuk dipahami dan dihayati maknanya serta dipercaya. Selanjutnya.

Pada masyarakat Padang Laweh dapat dilihat. di samping telah memegang dan menjunjung tinggi prinsip demokrasi yang disebut musyawarah dan mufakat. yakni untuk mengatur kehidupan manusia dari hal yang sekecil-kecilnya sampai kepada masalah yang lebih luas dan besar. 164 . Di samping itu. Penghulu yang dinobatkan diapit kiri kanan oleh penghulu lainnya. aturan adat untuk bertingkah laku dalam perbuatan yang sekecil-kecilnya dapat dilihat dari tempat duduknya penghulu yang dinobatkan di rumah gadang (rumah adat) pada saat pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu. Berdasarkan uraian adat dan agama yang terkait dalam pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu. Perihal untuk kepentingan hidup manusia. Kedua. hal ini merupakan pernyataan rasa menghormati dan mencintai penghulu yang dinobatkan. Dalam hal ini Al-Quranul Karim sebagai sumber hukum dalam Agama Islam yang diwahyukan Allah melalui Jibril kepada Nabi Muhammad SAW berisi ajaran dan perintah Allah tentang mempelajari alam semesta untuk kepentingan hidup manusia. Penghulu yang dinobatkan duduk diapit penghulu lain. Dalam kekuasaan penghulu terdapat adat yang mengatur pentingnya mewujudkan persatuan masyarakat Padang Laweh dan tentang dapat atau tidaknya tari Alang Suntiang Pangulu dipertunjukkan. seperti mengatur besarnya kekuasaan penghulu terhadap tari Alang Suntiang Pangulu dalam masyarakat Padang Laweh. Selain itu. baik secara peribadi maupun pada cara bermusyawarah saat tari Alang Suntiang Pangulu dipertunjukkan untuk penghulu yang dinobatkan dan didudukkan di antara penghulu lain. adat bagi masyarakat Padang Laweh. hal ini juga mengatur tentang prinsip persatuan dan kesatuan untuk mencapai tujuan bersama. Sementara itu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan kebahagiaan bagi setiap anggota masyarakat dapat terjamin. masyarakat Padang Laweh mengakui kekuasaan penghulu terhadap tari Alang Suntiang Pangulu. Koentjaraningrat (1984) mengatakan bahwa agama erat hubungannya dengan upacara-upacara religius dan menentukan tata alur unsur-unsur acara serta rangkaian alatalat yang dipakai dalam upacara itu. Dalam hal bermasyarakat pada umumnya. adat yang mengatur pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu tentang hal yang lebih besar dan lebih luas. maka adat dan agama dalam pertunjukan tari tersebut pada masyarakat Padang Laweh mengandung ajaran pokok sebagai berikut. baik secara peribadi maupun secara mufakat.

Ketiga. tari Alang 165 . Para penari tidak diperbolehkan keluar dari tikar selama menari dan tidak dibenarkan atau dilarang untuk melintasi arena pertunjukan. Perpaduan antara keduanya kemudian melahirkan suatu pepatah Minangkabau yang berbunyi. Tari ini biasanya dibawakan oleh dua orang.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 1) Aturan yang mengatur tentang hubungan manusia dengan Tuhan-Nya. syarak basandi kitabullah. agama bersendikan kitab (Al Quran)’. Di samping itu. Tidak lengkap dan sempurna suatu nagari apabila salah satu dari dua institusi yaitu balai adat dan masjid tidak ada. pemilihan penari laki-laki dilandasi oleh pandangan perihal tabu bagi wanita untuk menari di depan umum. atau pun enam orang laki-laki secara berpasangan. 4) Aturan tentang memegang teguh prinsip musyawarah dan mufakat antara sesama penghulu. adat basandi syarak. yaitu antara penghulu dengan kemenakannya. artinya ‘adat bersendikan agama. para penari tari Alang Suntiang Pangulu menari di atas tikar yang dibentangkan dalam rumah gadang (rumah adat). Dengan demikian. dikenakan denda seekor ayam singgang (daging ayam yang digulai dan dimasak hingga kental kuahnya). 2) Aturan yang mengatur tentang hubungan antarsesama manusia. 3) Aturan yang mengatur tentang membina persatuan dalam masyarakat Padang Laweh. hubungan adat dan agama lebih lanjut dalam masyarakat Padang Laweh digambarkan dengan simbol kelengkapan berdirinya sebuah nagari. 5) Selanjutnya. Penari yang berjumlah genap tersebut sudah mentradisi dalam masyarakat Padang Laweh. empat orang. Di samping itu. maka tari Alang Suntiang Pangulu di Padang Laweh Sumatera Barat memiliki hubungan yang erat dengan agama Islam. yaitu adanya agama. Masjid merupakan lembaga agama tempat sholat dan musyawarah penghulu dengan masyarakat Padang Laweh. Apabila ada yang melintasi penari atau melanggar ketentuan ini. Simbol nagari adalah balai adat dan masjid. Balai adat adalah lembaga kebudayaan tempat penghulu nagari mengadakan rapat atau musyawarah sesama penghulu dan masyarakat Padang Laweh.

yakni pengangkatan angku tersebut sama dengan pengangkatan penghulu yang baru diangkat). orang yang tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain akan terisolasi. Selanjutnya. Daryusti (2006) komunikasi akan berhubungan dengan manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia lainnya. faktor sejarah menunjukkan bahwa penghulu pernah mengusir atau mengeluarkan Inun Pakiah Bungsu. Hal ini tampak ketika orang perorang dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut. Keempat. dan talempong pacik. Pada umumnya setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang lain. maka pengajar tari tersebut diusir dan dikucilkan dari nagarinya. Bahkan. Dengan interaksi akan muncul proses sosial yang diartikan sebagai pengaruh timbal-balik antara pelbagai segi kehidupan bersama. dan Tara Jali Sutan Majo Kayo secara adat (pada 1970) karena mengajarkan tari Alang Suntiang Pangulu di ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) Padangpanjang dalam rangka pertunjukan di Jakarta Fair. gandang (gendang). tari ini dapat dibawakan oleh masyarakat dalam lingkungan Nagari Padang Laweh. Kebutuhan akan terpenuhi melalui pertukaran peran dan pikiran yang dapat berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia. 166 . Mengusir pengajar tari tersebut merupakan salah satu bentuk kekuasaan penghulu. komunikasi akan tercapai atau sukses apabila bentuk-bentuk hubungan komunikasi menggambarkan upaya yang sadar dari kelompok yang berkomunikasi dengan tujuan mencapai kebutuhan untuk bersatu. Interaksi yang efektif sangat tergantung dari komunikasi antarindividu. Alat musik yang dipergunakan untuk mengiringi tari Alang Suntiang Pangulu adalah adok. seandainya ada di antara penari yang mengajarkan tari ini pada penari di luar Nagari Padang Laweh. tidak dibolehkan oleh para penghulu dan angku atau rang mudo (gelar yang diberikan kepada seseorang untuk bertukar pikiran dengan para penghulu. Dengan kata lain. Selain itu. tanpa seizin para penghulu dan angku. tari ini diiringi dengan tepukan tangan dan dendang (vokal). Hal ini akan memperlihatkan keharmonisan sosial dalam masyarakat. Interaksi terlihat pada cara-cara berhubungan. Wih Sutan Maralauik. Dalam hal ini.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Suntiang Pangulu dibawakan dengan iringan musik. Seandainya ada penari di luar Nagari Padang Laweh yang berkeinginan untuk mempelajari tari Alang Suntiang Pangulu.

seperti uraian berikut ini. Orang dapat mengadakan hubungan dengan pihak lain tanpa menyentuhnya. Interaksi penghulu dengan kaum atau masyarakat mempunyai beberapa unsur pokok yang terkait dalam kehidupan masyarakatnya. Davis (1960) mengatakan bahwa hubungan badaniah tidak perlu menjadi syarat utama terjadinya kontak. dan pemusik. kontak tidak berarti hubungan badaniah. Soekanto (1993) mengatakan bahwa suatu interaksi tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat. dan masyarakat yang mengajarkan tari ini di luar Nagari Padang Laweh akan diusir secara adat. Dalam hal ini individu dan kelompok akan dihadapkan kepada masalah-masalah yang ada dalam suatu situasi karena suatu pesan harus disepakati dalam masyarakat. Hal ini berarti bahwa masing-masing pihak siap untuk mengadakan interaksi sosial. Hal 167 . penari. Secara harfiah. pemusik. Sebagai gejala sosial. Kontak sosial pada penghulu dengan masyarakat dan penari akan dapat berlangsung dalam dua bentuk. pemusik. Apabila ada penari. Kontak sosial antara penghulu dengan angku. telegrap. yaitu adanya kontak sosial dan komunikasi. surat. Sumatera Barat. dalam hal ini penghulu dan angku. dan masyarakat terkait dengan larangan mengajarkan tari Alang Suntiang Pangulu di luar Nagari Padang Laweh. integrasi dapat mempengaruhi orang yang berkomunikasi. Dengan kata lain. dan lain-lain yang tidak memerlukan sentuhan secara fisik. sedangkan secara fisik. b. seperti berbicara dengan pihak lain. Kontak sosial antara penghulu dengan penari. Angku adalah tempat penghulu berkonsultasi tentang kemajuan dan kejadiankejadian yang ditemui oleh penari. mereka telah mengetahui dan sadar akan kedudukannya masing-masing. kontak baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniah. kontak sosial adalah bersama-sama menyentuh. a. Dalam hal ini kontak diperlukan antara penghulu dengan angku atau rang mudo atau sesepuh tari Alang Suntiang Pangulu dengan penari dan masyarakat. radio. yakni di satu pihak. sesuai dengan perkembangan teknologi dewasa ini. pemusik. Di samping itu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Komunikasi terjadi jika ada unsur pesan dan penerima pesan. Di samping itu. orang-orang dapat berhubungan satu dengan yang lainnya melalui telepon. dan masyarakat. memberikan instruksi kepada masyarakat.

terlebih dahulu mereka berdoa yang dipimpin oleh seorang Ungku memohon kepada sang pencipta mengharapkan keridhaanNya. Pada mulanya Musik Dikie merupakan salah satu media untuk mengumpulkan segenap orang agar dapat mendengarkan syair-syair Arab yang bertemakan pemujaan kepada sang pencipta serta sanjungan terhadap nabi Muhammad SAW. puas. mereka bernyanyi dalam bentuk bersahut-sahutan dan pada bagian-bagian tertentu berbentuk koor. dan kekuasaan tradisional.. walaupun telah dinikmati berkali-kali. Dalam 2 Ungku adalah ulama dari kaum kuno atau ustaz 168 . rasa aman dan nyaman. Akibat dari perasaan itu sangat kuat. Mereka hanya meyakini bahwa yang didendangkan itu adalah hal yang baik dipandang secara ajaran Islam dan melodi yang dimainkan menyentuh jiwanya. Pertunjukan Musik Dikie umumnya ditampilkan pada malam hari sesudah shalat Isya sampai menjelang masuk waktu Subuh. bahagia. yang diyakini sebagai pembawa ajaran Islam dimuka bumi ini. serta keinginan untuk mengalami kembali perasaan itu. Teks-teks nyanyian bersumber dari kitab Maulud Sariful Anam berbahasa Arab.. rasa cinta. terpesona. pemujaan. sehingga menimbulkan rasa senang.. teks-teks tersebut bertemakan tentang pemujaan terhadap Allah SWT. Desmawardi (2007) Musik Dikie sangat populer dikalangan yang menamakan dirinya ”kaum kuno” di Sumatera Barat terutama dalam kabupaten Padang Pariaman. Syair-syair Dikie yang disajikan tersebut secara umum tidak dimengerti artinya (bahasa Indonesianya) baik sang si-seniman maupun si-pendengar. mereka terpaku. sehingga timbullah kesenian yang bernuansa Islam. Sebelum penyajian Musik Dikie. dan kisah-kisah para nabi Allah terutama nabi Muhammad SAW. dan setelah mereka terkumpul maka sang Ungku2 akan memberikan pelajaran-pelajaran tentang ajaran Islam. dan manyanjung nabi Muhammad SAW. kepercayaan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ini berkaitan dengan rasa takut. Dalam pengembangan Islam di Sumatera Barat sering dimulai dari seni musik dan pada akhirnya menjadi musik tradisional Sumatera Barat yang bernuansa Islam. Pergeseran nilai menjadi hiburan dan kontemplasi terhadap sang pencipta akan menambah perbendaharaan seni pertunjukan Sumatera Barat Musik Dikie yang berkembang pada yang berkembang pada masyarakat ”kaum kuno” ini disajikan dalam bahasa Arab tanpa memakai alat musik. terharu. Sehingga Musik Dikie merupakan nyanyian malam ”kaum kuno”.

membuat suasana semakin melankolis dan konsentrasi pemain semakin tinggi. Musik Dikie merupakan pencerminan dari suatu kultur yang berkembang dari masyarakat kecil yang saling mengenal secara akrab dan komunikatif. Dalam perjalanannya. Semakin larut malam penyajian Dikie. dan peringatan hari-hari besar 169 . Pertunjukan Musik Dikie di kalangan ”kaum kuno” biasa disajikan pada saat adanya peristiwa maulud nabi. mereka tidak diharuskan memakai pakaian tertentu. seperti orang menonton pertunjukan musik Jaz yang harus berpakaian rapi dan kapan perlu memakai dasi. berbagai jenis kue dan segala macam jenis buah yang musim saat itu. mau ngobrol atau memang benar-benar memperhatikan apa yang dibaca dan dinyanyikan tukang Dikie. dan keterlibatan kaum wanita hanya sebatas menyiapkan hidangan dengan berbagai bentuk dan jenis makanan sesuai dengan konteks penyajian waktu itu. Kue-kue tersebut dihiasi sangat indah sesuai dengan nilai seni yang dimiliki kaum ibu. Musik Dikie hanya dimainkan oleh para lelaki. karena saat itu seolah-olah mereka melihat segala kebesaran Ilahi. Bila diperhatikan pada waktu penyajian Dikie dalam Maulud nabi. Walau Musik Dikie dapat dimainkan secara individu dan dapat diiringi dengan alat musik. tetapi tercipta secara anonim bersama dengan sifat kreativitas masyarakat yang menunjangnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI penyajian Dikie mereka selalu menekankan keharmonisan dalam kebersamaan. maka mereka akan menangis atau intren. Penyajian Musik Dikie tidak menuntut banyak penonton atau tidak menentukan siapa penontonnya. namun para penyaji musik dikalangan ”kaum kuno” ini tidak membiasakan penampilannya secara individu. maka para ibu-ibu harus menyiapkan hidangan yang sangat mewah seperti nasi jamba. Seni tradisi bukan merupakan hasil kreativitas individu-individu. Para penonton akan datang dan pulang sesuai dengan kehendaknya sendiri-sendiri. bahkan tak jarang terjadi mereka menangis bahkan ada yang sampai intren tak sadarkan diri. bahkan tak pernah mereka lakukan hal ini menggambarkan sifat kegotong royongan yang sangat kental antara sesama pemusik (seniman Dikie). begitu juga halnya dengan buah-buahan ditata dengan rapi. Penonton Musik Dikie bebas saja mau duduk atau berdiri. Menurut pengakuan para tukang Dikie apabila mereka telah mencapai klimaks dalam pertunjukannya. semua terserah penonton. sehingga upacara maulud terkesan sangat mewah.

rumah 170 . Zulkifli (1993) randai sebagai teater rakyat. helat batagak penghulu. Apabila diperhatikan penggarapan randai yang berbentuk teater. dan manyaratuih). 2 x 7. dialog dan akting.pemainnya. (manujuah hari. Ia hadir atau ditampilkan dalam upacara-upacara tradisional. maka ada benarnya jika randai dikatakan berasal dari andai atau handai. Gerakan-gerakan galombang yang dilakukan oleh para pemain randai dalam formasi melingkar dapat diinterprestasikan berbentuk lingkaran seperti rantai. maampek puluah. Sebagai kesenian tradisional. Kehadiran randai dalam upacara-upacara itu hanya sebagai pelengkap dan penyemarak. randai hidup dalam kehidupan rakyat. 40 hari bahkan 100 hari seseorang setelah meninggal dunia yang biasa disebut mando’a. Akan tetapi sebagai kesenian tradisional rakyat. rantai. dan helat. randai hidup bersama tradisi-tradisi yang berlaku dalam masyarakatnya. penyampaian ajaran-ajaran tersebut dalam bentuk dialog dan akting pada penampilan randai dekat dengan pengertian dakwah dalam Islam. karena pada kesenian tersebut terdapat unsur-unsur penceritaan yang bersifat kiasan atau pengandaian yang disampaikan oleh para pemain dalam bentuk dialog dan akting. manduo kali tujuah. helat perkawinan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Islam lainnya kemudian peringatan 7 hari. Dengan arti kata. Cerita yang disajikan dalam randai pada awalnya mengutamakan cerita yang berisi tentang pejaran-pelajaran adat istiadat Sumatera Barat yang bermanfaat untuk publik. dendang yang disebut gurindam. Seni Arsitektur Pada Masa Lalu Rumah gadang (besar) Sumatera Barat dibangun di atas tiang. Seni Teater Pada Masa Lampau Randai suatu bentuk teater rakyat tradisional Sumatera Barat. randai jelas dapat mempertebal rasa ketradisian dan karakyatan terhadap upacara-upacara tradisional. tanpa randai upacara-upacara tersebut masih bisa tetap dilaksanakan. dimainkan oleh rakyat untuk rakyat itu sendiri.helat lainnya. padanya terdapat unsur-unsur pokok yaitu. cerita. waktu pesta penen. dan galombang atao gerakan-gerakan tari bersumber pada gerakan-gerakan pencak silat tradisional Sumatera Barat yang dilakukan dalam formasi melingkar oleh pemain. dan ravan-li-da’i.

Navis (1986) semua dinding rumah gadang dari papan. Papan dinding dipasang vertikal. Ada kalanya tiang yang tegak di tengah diberi juga sebaris ukiran pada pinggangnya. Pada dasarnya ukiran itu merupakan ragam hias pengisi bidang dalam bentuk garis melingkar atau persegi. Bentuk dasar rumah gadang berbentuk segi empat yang tidak simetris yang mengembang ke atas. kelarasan. Atapnya yang lancip merupakan arsitektur yang khas serta membedakannya dengan bangunan suku bangsa lain di edaran garis khatulistiwa. ber171 . yang disebut bakarano bakajadian (bersebab dan berakibat). sedangkan lengkung badan rumah landai seperti badan kapal. Garis melintangnya melengkung secara tajam dan juga landai dengan bagian tengahnya lebih rendah. yang menimbulkan berbagai pertentangan dan keseimbangan. Ajaran falsafah Sumatera Barat yang bersumber dari alam terkembang. Motifnya tumbuhan merambat yang disebut akar yang berdaun. semuanya membentuk suatu keseimbangan estetika yang sesuai dengan ajaran hidup. Pola akar itu berbentuk lingkaran. Jika dilihat dari sebelah sisi bangunan. menyelaraskan kehidupannya pada susunan alam yang harmonis tetapi juga dinamis.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI gadang mempunyai kolong yang tinggi. Pada pintu dan jendela serta pada setiap persambungan papan pada paran dan bendul terdapat papan bingkai yang lurus. Garis segi empat yang membesar ke atas dikombinasikan dengan garis yang melengkung rendah di bagian tengah secara estetika merupakan komposisi yang dinamis. maka segi empat yang membesar ke atas ditutup. arsitektur rumah gadang dibangun menurut syarat-syarat estetika dan fungsi yang sesuai dengan kodrat atau yang mengandung nilai-nilai kesatuan. sifat ukiran nonfiguratif. terkecuali dinding bagian belakang yang dari bambu. sehingga kehidupannya menganut teori dialektis. Jika dilihat secara keseluruhan. keseimbangan. tidak melukiskan lambang-lambang atau simbol-simbol. berbunga. berhimpitan. Semua papan yang menjadi dinding dan menjadi bingkai diberi ukiran. dan berbuah. Lengkung pada atapnya tajam seperti garis tanduk kerbau. Arsitektur Sumatera Barat sebagai suku bangsa menganut falsafah alam terkembang jadi guru. Akar berjajaran. dan kesetangkupan dalam keutuhannya yang merupakan satu kesatuan. sehingga seluruh dinding menjadi penuh ukiran.

Lingkaran yang berjalin dinamakan jalo (jala) atau tangguak (tangguk) atau jarek (jerat) karena mernyerupai jalinan benang pada alat penangkap hewan. Lingkaran bercabang atau beranting yang terputus dinamakan kaluak (keluk). 1. Cabang atau ranting akar itu berkeluk ke luar. bunga. Yuli (2008) Kelurahan Jalan Baru Pariaman memiliki masyarakat yang sangat kreatif dan inovatif memanfaatkan dan meningkatkan limbah lidi sebagai barang yang berfungsi serta bernilai tinggi. Lingkaran yang berkaitan dinamakan saluak (seluk) karena bentuknya yang berseluk atau berhubungan satu sama lain.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF jalinan. Lingkaran yang sambung-bersambung dinamakan aka (akar). 6. Lingkaran yang berjajar dinamakan ular gerang karena lingkaran itu menimbulkan asosiasi pada bentuk ular yang sedang melingkar. 3. karena bentuknya merambat. 5. Simbol potongan gelamai ini mengingatkan terhadap makanan khas dari Payakumbuh Sumatera Barat Seni Kriya Pada Masa Lampau. 4. ke dalam. Ukuran atau bentuk tingkatan lingkaran itu sama atau tidak sama. Ada keluk yang searah di samping ada yang berlawanan. dan juga sambung menyambung. Akar itu bervariasi banyak. salah satunya cara adalah dengan mengolah bahan lidi dengan menggunakan 172 . Nama ukiran geometri bersegi tiga pada umumnya disebut dengan pucuk rebung. 2. maka masing-masing diberi nama. dan buah. Lingkaran yang bertingkat dinamakan salompek (selompat). Akar ganda yang paralel dinamakan kambang (kembang = mekar). Nama pucuk rebung diambil karena pucuk rebung memang runcing seperti segitiga maknanya adalah ajaran tentang orang yang berguna. ke atas. Pada dasarnya nama yang diberikan ialah sebagai berikut. Pemeberian nama itu tergantung garis yang dominan pada ukiran. Seluruh bidang diisi dengan daun. Ukiran segi empat genjang dinamakan sayat gelamai karena bentuknya seperti potongan gelamai yang disayat genjang. dan ke bawah.

akan tetapi piring anyaman ini bentuknya miring layah menyerupai piring makan namun tidak bisa difungsikan seperti piring makan biasa. Piring Piring yang dimaksud disini bukanlah bentuk piring yang sebenarnya seperti piring porselen yang biasa di temukan dalam kehidupan sehari-hari di meja makan. ini dapat dilihat dalam beberapa jenis produk antara lain piring. dan carano. dimana benda tersebut digunakan sebagai wadah tempat buah pada meja tamu di setiap acara pesta. Karena anyaman berbentuk piring ini pernah dipesan oleh Yosa Katering dari Padang. tudung saji. kriya anyaman lidi milik Syafrudin sudah mendapat tempat di hati masyarakat. seperti yang pernah dilakukan oleh sebagian penjual nasi sek (nasi tanpa lauk pauk dibungkas dengan daun sebanyak satu kepal) dipinggir pantai Pariaman dan sebagian penjual pecel lele Wong Solo baik yang ada di kota Pariaman maupun Wong Solo yang ada di kota Padang dan sebagian daerah yang ada di pulau Jawa. Kemunculan anyaman lidi ini juga dilatar belakangi oleh tuntutan profesi dan tanggung jawab moril Syafruddin sebagai salah satu staf dinas perindustrian kota Pariaman. 173 . a. Benda anyaman lidi yang permukaannya berbentuk lingkaran. usaha ini berjalan dan berkembang dengan pesatnya. Lahirnya ide dalam membuat anyaman lidi merupakan satu anugrah yang sangat besar yang diilhamkan kepada Syafruddin oleh Allah SWT dan dibantu oleh doa dan restu anggota keluarga. terbukti baru beberapa bulan berjalan. baik di dalam maupun di luar wilayah Pariaman. dan 3 cm untuk tinggi badan. Dengan semangat dan dukungan dari teman-teman seprofesi. Ada juga piring ini difungsikan sebagai tempat buah tergantung bagaimana si konsumen menempatkannya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI teknik anyaman sehingga menghasilkan benda-benda bernilai guna dalam kehidupan sehari-hari denagn berbagai bentuk yang unik dan menarik. akan tetapi piring yang dimaksud digunakan sebagai alas (tadah) ketika kita akan makan nasi bungkus. sehingga usaha keluarga tersebut diberi nama “Usaha Anyaman Lidi Ilham”. Piring-piring ini memiliki ukuran diameter 11 cm untuk alas dan 20 cm untuk badan sedangkan tinggi piring 2 cm untuk kaki.

Carano ini biasanya dibuat dari bahan logam atau kuningan. karena carano dari anyaman lidi harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan carano dari bahan logam atau kuningan. Tapi kali ini tudung saji dibuat dari bahan lidi. Carano terbuat dari logam atau pun kuningan dengan permukaan sebelah atas (mulutnya) bulat seperti piring dengan diameter ± 33. Dengan adanya carano dari bahan lidi dapat membantu meringankan beban masyarakat untuk memiliki carano. Sumatera Barat dikenal sebagai tempat daun sirih. sadah. sadah. c. pinang. Dalam kehidupan sehari-hari carano di Minangkabau.5 cm.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF b. Tudung saji pada umumnya terbuat dari bahan plastik dan anyaman rotan. masyarakat Padang Magek Sumatera Barat menyebut tudung atau penutup bagian atas dengan tuduang aia. atau lebih kecil dari permukaan sebelah atas carano. yang digunakan sebagai tempat sirih dan perlengkapannya. dan tembakau. Carano Carano mepunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat. Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990) istilah tudung berarti sesuatu yang diapakai untuk menutup atau melingkupi bagian sebelah atas. yang disuguhkan pada setiap acara adat. hal itu sudah menjamur dipasaran. Penghubung antara permukaan dengan alas carano (leher cerana) 174 . berisikan sesaji daun sirih. Tudung saji dibuat dengan ukuran berdiameter 40 cm dan tinggi 25 cm. Dalam hal ini carano (cerana) yang digunakan untuk pertunjukan tari Alang Suntiang Pangulu dapat dikatakan sebagai penanda. Carano (cerana). gambir. memiliki leher agak panjang dan alasnya berbentuk bulat dengan diameter ± 30 cm. namun kali ini Syafrudin mencoba membuat carano dari anyaman lidi dengan pertimbangan karena keadaan krisis ekonomi semua bahan harganya sudah pasti naik. Tudung saji Tudung saji ini digunakan untuk menutup makanan di atas meja makan. pisang. dan tembakau yang ditutup dengan dalamak untuk pertunjukan tari Alang Sentiang Pangulu. hal ini berimbasan pada harga jual carano yang terbuat dari logam. Dalam pada itu. Tuduang aia berguna sebagai penutup makanan dalam talam atau dulang tinggi.

diundanglah unsur-unsur pemerintah untuk menyaksikan penampilan Musik Dikie tersebut. Pada malam penampilan Musik Dikie. pesta pernikahan. Diwaktu penampilan Musik Dikie ini disampaikanlah apa yang dimaksudkan oleh masyarakat kepada unsur pemerintah ini melalui pantun-pantun atau dendang Dikie tersebut. pesta perkawinan. Dalam hal ini untuk memproduksi tari Alang Suntiang Pangulu sebagai ritual khitanan. Dalam pada itu. yakni panitia pelaksananya diketuai oleh Jarmias Kasi Kebudayaan Kota Madya Bukittinggi. Sementara itu.pada acara-acara di nagari masyarakat Padang Laweh dan di sekolah-sekolah sekitar nagari tersebut.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dapat dipegang dengan tangan. Biasanya carano yang telah diisi lengkap ditutup dengan dalamak. dan khitanan. Pada umumnya ongkos produksi (production cost) dibebankan kepada panitia kegiatan. Sebagai contoh. Kehadiran Musik Dikie saat ini juga berfungsi sebagai alat komunikasi antara rakyat dan pemerintah. Dalam adat Jawa. bentuk carano hampir sama dengan kecohan (tempat meludah). Kondisi Masa Sekarang Komunikasi sosial seni tradisi dengan pemerintah dapat dilihat pada saat fungsi tari Alang Suntiang Pangulu adalah untuk menyambut tamu agung yang datang ke Nagari Padang Laweh. tari Alang Suntiang Pangulu pertama kali disajikan untuk ritual adat dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (1981) di Gedung Triarga Bukittinggi. di Bali carano hampir sama dengan istilah pengasapan yang digunakan untuk membakar dupa atau bubuk cendana oleh pedanda. Pantun itu seperti: Batang aua paantak sawah Pangkanyo sarang sipasin Pado bapak diadokan sambah Indak madok ka nan lain Ligundi di sawah landai Sariak indak babungo lado Karano jalan kami tabangkalai 175 . tari Alang Suntiang Pangulu pada saat sekarang telah dapat disajikan sebagai sajian estetis. dan penyambutan tamu agung diperlukan ongkos produksi (production cost).

Pada zaman dahulu yang dibuat dalam bentuk piring atau yang disebut senggan. Arsitektur tradisi Minangkabau khususnya bangunan rumah gadang. Seni anyaman lidi yang diproduksi dalam berbagai bentuk. Carano yang dikembangkan saat ini juga dikembangkan bentuk dan penggunaannya. Sekarang tudung saji dikembangkan dengan membuat hiasanhiasan dinding atau penutup makanan dengan berbagai variasi sehingga dapat berbentuk cendra mata yang cantik. pertanian. Jika ada tamu-tamu resmi yang datang disuguhi dengan sirih di carano yang dalam perjalanannya sirih dapat diganti dengan permen. pada masa sekarang makin dikembangkan dan makin dipromosikan untuk memajukan industri kecil rumah tangga. Salah satunya dapat lihat dari usaha Dt Bandaro Putiah salah seorang pemuka adat di Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam yang menggunakan randai Cindua Mato sebagaimedia penyuluhan pendidikan pada masyarakat sekitarnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Bantulah apo ala kadarnyo (Batang aur penahan sawah Pangkalnya sarang si pasin Kepada bapak terhadap sembah Tidak menghadap pada yang lain Ligundi di sawah landai Sariak tidak berbunga lada Karena jalan kami belum siap Bantulah kami ada adanya) Keikutsertaan pemerintah Sumatera Barat membina dan mengembangkan kesenian randai mengakibatkan munculnya cerita randai yang berisikan pesan-pesan pembangunan seperti masalah KB. Sedangkan anyaman dengan bentuk tudung saji yang biasa dipakai untuk penutup makanan. Hal ini akan menampakkan ciri khas bangunan adat Sumatera Barat itu sendiri. Carano juga sekarang sudah diproduksi dengan berbagai ben176 . sekarang dipakai dalam bangunan kantor-kantor dengan memakai ciri atapnya yang berbentuk tanduk kerbau serta ada dinding atau palang atapnya dipakai dengan ukiran khas tradisi. pada saat sekarang dikembangkan dalam bentuk wadah-wadah seperti keranjang bunga atau keranjang buah. K3. juga sudah makin dikembangkan. dan juga cerita yang mengandung nilai-nilai pendidikan Pancasila.

Kemungkinan Pengembangan di Masa Yang Akan Datang Seni tradisi di Sumatera Barat seperti seni pertunjukan dan seni rupa hendaknya menyebar dari satu tempat ke tempat lain seiring dengan persebaran masyarakat pendukungnya yang juga tidak selalu menetap di daerahnya. Namun demikian ada juga yang dipertunjukan sebagai penyemarak dalam upacara adat seperti randai. Dengan melihat pernyebaran masyarakat sebagai pendukung seni pertunjukan dan seni rupa sudah barang tentu kontak-kontak dengan masyarakat lain akan dialami. Seni pertunjukan pada umumnya di Sumatera Barat dapat dikatakan seni yang dipertunjukan untuk upacara ritual tertentu dalam kehidupan masyarakat. Sementara itu dalam seni rupa terutama dalam arsitektur dan seni kriya dapat dilihat dalam arsitek bangunan rumah gadang atau rumah adat Sumatera Barat yang saat ini digunakan pada bangunan-banguan kantor atau gedung-gedung pertemuan di Sumatera Barat. Pada seni rupa juga diperlukan peningkatan dan komitmen dalam aplikasi banguanan dan pengembangan industri-industri kecil dengan pemberian kredit-kredit untuk pengembangan industri tersebut sebagai modal. karena seni tradisi tersebut adanya di kantongkantong setiap nagari yang ada di Sumatera Barat. Penutup Ragam kemasan seni tradisi Sumatera Barat dalam komunikasi sosial rakyat dan pemerintah dapat dibagi dua kelompok yaitu seni pertunjukan dan seni rupa. serta selalu menggali seni tradisi tersebut. karena sudah banyak juga para pelaku seni tersebut yang merantau ke daerah lain untuk mencari kehidupan yang sesuai menurut mereka.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI tuk yang dapat dijadikan sebagai cendramata sebagai ciri khas daerah Sumatera Barat. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan frekwensi festival-festival atau keramaiankeramaian tentang seni. Upaya pembinaan seni dapat dilakukan dimana saja para pelaku seni tersebut berada. Di samping itu pemerintah daerah sangat diharapkan peran sertanya untuk pengembangan seni tradisi dimasa datang. Terutama dibidang pembinaan dan pendanaan pada seni pertunjukan. Sudah barang tentu penyebaran seni tersebut akan berkembang pemetaannya. Dalam pada 177 .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

itu seni kriya dapat ditemui dalam karajinan-krajinan rakyat yang pada saat sekarang banyak dikembang dalam industri-industri kecil dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat sehingga dapat menambah sumber penghasilan masyarakat pengrajin.
Daftar Pustaka Daryusti. 2006. Hegemoni Penghulu Dalam Perspektif Budaya. Yogyakarta : Pustaka. Davis, Kingsley. 1960. Human Society. New York: The macmillan Company. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Desmawardi. 2007. ”Musik Dikie : Antara Tradisi dan Nilai-Nilai Religius dalam Realitas Masyarakat ”Kaum Kuno di Nagari Ajo laweh Sumatera Barat”, Jurnal Ekepresi Seni STSI Padangpanjang, volume 9,No.2. Imran, Amran., Idris, Asmaniar., Johan, Bahder., Nan Sabatang, Dt. Perpati., Hodgson, Geoffrei A., Hamka., Sumatera Barat, LKAAM., Mansoer, M.D., Hatta, Mohammad., Gani, Rizanur., Soekmono., dan RPSDM, Tim. 2002. Menelusuri Sejarah Minangkabau. Padang: Yayasan Citra Budaya Indonesia dengan LKAAM Sumatera Barat. Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka. ______________. 1990. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: Universitas Indonesia Jakarta Press. M.S, Amir. 1977. Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang. Jakarta: Mutiara Sumber Widya. Mansoer , MD., Imran, Amrin, Sofwan, Mardanas, Idris, Asmaniar, Buchari, Sidi I. 1970. Sejarah Minangkabau. Jakarta: Bharata. Navis, A.A. 1986. Alam Terkembang jadi Guru, Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta : Pustaka Grafitipers. Said, A. A. 2004. Simbolisme Unsur Visual Rumah Tradisional Toraja dan Perubahan Aplikasinya pada Desain Modern. Yogyakarta: Ombak. Yuli Marni. 2008. “Deskripsi Kriya Anyaman Lidi di Kelurahan Jalan baru Pariaman Tengah”, dalam Daryusti, ed. Seni Budaya Berkelanjutan Dalam Kehidupan Masyarakat, STSI Padangpanjang Pers. Zulkifli. 1993. “Randai Sebagai Teater Rakyat Minangkabau di Sumatera Barat: Dalam Dimensi Sosial Budaya”. Tesis. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

178

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

179

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

SULAIMAN JUNED Lahir di Gampong (desa) kecil Usi Dayah Kecamatan Mutiara Kab. Pidie, Nangroe Aceh Darussalam, 12 Mei 1965. Kini memiliki istri dan seorang putra laki-laki. Menetap di Padangpanjang, menekuni pekerjaan sebagai Seniman, dosen tetap Jurusan Seni Teater di ISI Padangpanjang Sumatera Barat, Dosen Ahli di FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia Daerah di Univ. Muhammadiyah Sumatera Barat, Guru teater di SMA Negeri 1 Sawahlunto Sumatera Barat, Guru teater di SMA Negeri 1 Padangpanjang Sumatera Barat, Guru Kesenian serta Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Sore Padangpanjang. Mulai menulis sejak tahun 80-an, ketika masih belajar di SLTP. Karya puisi, cerpen, esai, drama, reportase budaya, artikel, kolom di muat di media seperti; Serambi Indonesia, Kiprah, Aceh Post, Aceh Ekspres, Srambi Mekkah Post (ACEH). Analisa, Dunia Wanita, Waspada (MEDAN). Singgalang, Haluan, Mimbar Minang, Padang Ekspres, Postmetro, Jurnal Palanta, (SUMATERA BARAT). Riau Post, Metroexpres (RIAU). Indefendent (JAMBI). Lampung Post (LAMPUNG). Kedaulatan Rakyat, Majalah Seni Gong (YOGYAKARTA). Solo Pos dan Jawa Pos (JAWA TENGAH). Bali Post (BALI). Suara Karya Minggu, Republika, Media Indonesia, Kompas, Koran Tempo, Majalah Sastra Horison (JAKARTA). Majalah Bahasa dan Sastera (MALASYIA dan BRUNEI DARUSSALAM). Jurnal Aswara (MALASYIA). Antologi puisi tunggal berjudul ‘Riwayat’ mendapat Juara III dalam Lomba Penulisan buku pengayaan sastra tingkat nasional pada Pusat Perbukuan Dinas Pendidikan Nasional (2007). Lelaki berkumis ini menyelesaikan studi S-1 di jurusan seni teater STSI Padangpanjang dengan yudisium Cumlaude, juga menyelesai Program Pascasarjana di Institut Seni Indonesia Surakarta dengan yudisium Cumlaude. Sering mengikuti seminar sastra, teater dan jurnalistik. Ia juga sering terlibat dalam dunia musik, sebagai pemusik dan pembaca puisi. Juga sebagai dramatug pertunjukan teater. Soel juga aktif dalam organisasi seni dan pers serta dipercayakan sebagai Dewan Penasehat Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Cabang Padangpanjang (2010-2015). Editor Novel “Cinta di Kota Serambi Karya Irzen Hawer diterbitkan Kuflet Publishing, Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, Sumatera barat (Maret 2010). Soel sangat aktif dalam dunia teater, baik ketika masih di Aceh maupun kini bermukim di Padangpanjang, ia sudah memainkan 250 judul naskah lakon baik naskah luar negeri maupun dalam negeri, ia berperan jadi aktor menjadi tokoh yang tanpa dialog sampai menjadi tokoh utama. Sudah menyutradarai 152 judul naskah lakon baik dari karya penulis dunia-nasional-daerah. Dewasa ini Soel hanya mau menyutradarai naskah lakon yang ditulisnya atau naskah lakon yang diproduksi oleh rekan-rekannya di komunitas Kuflet. Teater-Sastra-Jurnalistik telah membawanya mengelilingi Indonesia; dari Aceh hingga Irian Jaya. Kini menetap di Jl. Dr. A.Rivai No. 146 RT.11 Kampung Jambak, Kelurahan Guguk Malintang, Kecamatan Padangpanjang Timur, Padangpanjang Sumatera Barat. 180

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

Seni Tradisi Populer Aceh sebagai Media Komunikasi Sosial
Sulaiman Juned
Dosen Jurusan Seni Teater STSI Padang Panjang

Pendahuluan eni tradisi adalah gambaran kebudayaan suatu masyarakat pada sebuah daerah. Indonesia memiliki keberagaman seni lokalitas yang sangat kaya dengan kearifan lokal. Kekayaan kultur budaya bangsa dalam seni tradisi secara tidak langsung memiliki karakter etnis yang sangat beragam dan berbeda. Karya-karya yang dipertunjukan oleh seniman-seniman tradisional, merupakan suatu bukti betapa beragamnya kultur-seni dan budaya masyarakat Indonesia. Berdasarkan itulah, ini kali penulis ingin membahas tiga seni tradisi Aceh sebagai media komunikasi sosial. kesenian Aceh rata-rata memiliki transformasi moral dan sosial. Tiga seni tradisi tersebut; Teater Tutur PM TOH, Sandiwara Keliling Gelanggang Labu, dan Biola Aceh. Ketiga bidang seni yang penulis paparkan ini, berangkat dari realitas Sastra Aceh (hikayat) menuju realitas seni pertunjukan. Dewasa ini tanpa sengaja berangkat dari perkembangan jaman kesenian tradisi mulai bergeser fungsinya, awalnya menjadi alat komunikasi dalam ruang sosial bagi kehidupan bermasyarakat di Aceh. Seni tradisi ini memang masih tetap bertahan di Aceh, walau terasa sudah mulai langka. Hal ini disebabkan oleh terjadinya konflik bersenjata yang begitu panjang antara Gerakan Atjeh Merdeka dengan Negara Kesatuan Republik In-

S

181

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

donesia yang melahirkan kondisi psikologis terhadap masyarakat Aceh. Tindakan sosial yang terjadi di Aceh sebelum dilaksanakan perdamaian saling berinteraksi dan saling melahirkan kekejaman dari pihak-pihak yang bertikai, tentu melahirkan restrukturisasi terhadap tingkah laku masyarakat. Interaksi sosial melalui seni tradisi membuat prilaku masyarakat Aceh, terwujud dari keharusan normatif yang terlahir dari kesantunan, rasa persaudaraan, pemurah, peramah, dan setia terhadap siapapun. Namun kondisional ini menjadi lenyap karena terjadi tindakan sosial melalui kekerasan yang dilawan pula dengan kekerasan. Rakyat tersublima ketakutan dan kecemasan karena setiap detik menyaksikan pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, pembakaran. Muaranya kesenian tradisi Aceh pun terancam punah. Kondisi inilah yang membuat seni tradisi Aceh terkesan sulit untuk mencarinya. Syukurlah dewasa ini telah di bentuk Qanun (hukum/aturan) di bidang seni, untuk menghidupkan kembali seni tradisional Aceh yang kaya nilai-nilai agama, adat, moralitas, dan sosial.

Teater Tutur Aceh: Adnan PM TOH ‘Troubador yang Menulis di atas Angin’ Lima puluh tahun bersolo karier, (Almarhum) Teungku H. Adnan PM TOH berusaha mencari penggantinya agar kesenian Aceh yang disebut teater tutur ini memiliki penerusnya. Namun sayang sampai dengan Teungku Adnan menghadap sang khalik (meninggal dunia dalam usia 75 tahun, pada tanggal 4 Juli 2006), belum mampu menemukan penggantinya seperti beliau. Kesenian teater tutur berasal dari peugah haba yang berarti berbicara dengan bercerita semacam bakaba di Minangkabau. Sering juga disebut masyarakat Aceh poh tem berarti orang yang pekerjaannya bercerita. Ada juga yang menyebutnya dangderia seperti drama monolog atau berbicara sendiri. Teater Tutur ini menjadi menarik setelah dikembangkan Teungku Adnan dengan mempergunakan alat musik rapa’i, pedang, suling (flute), bansi (block flute) dan mempergunakan properti mainan anakanak serta kostum. Properti, alat musik serta kostum memperkaya teknik pemeranan seperti metode Brechtian yang memakai teknik multiple set (properti tangan yang banyak fungsinya), dan efek alinasi (memisahkan penonton dari peristiwa panggung, sehingga mereka dapat
182

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

melihat panggung dengan kritis). Teknik ini sekaligus memberi kekuatan dan dapat mengubah kejadian-kejadian peran menjadi seolah-olah, serta adanya intrupsi dari penonton. Teungku Adnan bermain sendiri, namun mampu menghadirkan beratus-ratus tokoh, dengan ekspresi dan karakter vokal yang berubahubah. Inilah kelebihan yang dimiliki Teungku Adnan, ia bermain sendiri di atas pentas, tetapi penonton laksana menyaksikan ratusan aktor sedang berada di pentas. Hal ini yang membuat Teungku Adnan dijuluki “traubador dunia” oleh Prof. Dr. John Smith seorang peneliti dari Amerika Serikat. Teungku Adnan dikenal juga sebagai seorang tokoh ulama oleh masyarakat pendukungnya, sedangkan pekerjaannya disamping sebagai seniman adalah penjual obat keliling Aceh. Kesenian (teater tutur) ini dinamakan PM TOH oleh Teungku Adnan. “Asal muasal nama itu berangkat dari peristiwa yang sangat berkesan bagi saya, saya sering menaiki bus PM TOH ketika berpergian ke seluruh Aceh untuk berdagang obat, lalu bunyi klakson bus tersebut membuat saya terkesan. Maka dalam pertunjukan saya untuk selingan jual obat saya tampilkan poh tem, peugah haba, dan dangderia. Sembari memamerkan kebolehannya berteater itu, saya memulainya dengan menirukan bunyi klakson bus PM TOH, masyarakat Aceh sangat senang dengan penampilan saya itu. Setiap saya jual obat, penonton pasti ramai, dagangan saya laris tapi saya harus menampilkan Hikayat Malem Dewa. Akhirnya masyarakat Aceh setiap ketemu saya sering memanggil nama saya dengan sebutan Teungku Adnan PM TOH setelah saya pikirkan sepertinya nama teater tutur saya ini adalah PM TOH”. (Wawancara dengan Teungku H. Adnan, 14 April 1999, di Blang Pidie-Aceh Selatan) Ternyata nama teater tutur PM TOH itu merupakan pemberian oleh masyarakat pendukungnya. Ini bukti bahwasannya sejak tahun 1970an nama itu telah dilekatkan kepada Teungku Adnan, dan ia diterima sebagai pembaharu teater tutur Dangderia yang pemanggungannya hanya ada satu bantal, pedang dari pelepah kelapa hanya mengandalkan kekuatan ekspresi dan kekayaan vokal dalam menyampaikan Hikayat. Sementara Teungku Adnan diterima oleh masyarakat pendukungnya, sehingga dimanapun masyarakat mendengar tentang kehadiran Teungku Adnan, mereka pasti ramai-ramai mendatanginya karena ingin menyaksikan pertunjukan PM TOH.
183

jika dalam cerita tersebut terjadi peperangan antar kerajaan. Raja Si Ujud. Ada pula hikayat yang disebut dengan hikayat undang-undang seperti. sarakata Poteumeureuhom Meukuta Alam. Sementara itu. Sama halnya dengan teater modern yang tidak terlepas dari teks naskah drama yang akan digarap sutradara menuju realita teater (pertunjukan).PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Andaikan membicarakan tentang teater tutur Aceh. Tentang adat istiadat. seperti benang dibentangkan tak pernah habis. lalu dituturkan kembali selengkapnya. Prang Sabi. kostum. Bukan saja roman-roman. Malem Dagang dan lain-lain. diantaranya. dan ini merupakan hasil sastra yang sangat luas dalam khazanah kesenian Aceh karena menjadi seni pertunjukan” (Budiman Sulaiman. Kalimat demi kalimat mengalir deras. pelajaran adat. Malem Budiman. 1983:78). buku bacaan serta cerita lainnya juga dinamakan hikayat jika bahan-bahannya telah dituliskan dalam bentuk sajak (puisi) di sebut hikayat. Indra Budiman. Raja Jeumpa” (Muhammad Nur. Nalam. 1988: 38). Hikayat keagamaan. Hikayat tentang dongeng. Sanggamara. sastra Aceh menyimpan peristiwa budaya. Ia sanggup menghafal 9 (sembilan) buah Hikayat-hikayat Aceh. Bahkan. Hal yang termaktub dalam teater tutur itu merupakan eksistensi kesusastraan Aceh ‘hikayat’ yang tidak dapat lepas dari subtansinya. teks sastra hikayat menjadi dasar penceritaannya. Dialog-dialog yang memperagakan cara-cara berperang. Teungku Adnan jika ada undangan lalu mempertunjukan PM TOH satu hikayat seperti Malem Dewa baru selesai dipertunjukan dalam durasi waktu 7 (tujuh) malam berturut-turut. Hikayat Malem Dewa. Tuhan memang Maha Kuasa. “Hikayat dalam bahasa Aceh tidak diartikan arti asli yaitu ‘kisah’ (cerita). Adnan PM TOH melakukan pengembangan menakjubkan lewat teater tutur yang awalnya peugah haba atau dangderia. Biasanya seorang ibu dari etnis Aceh pada masa lalu merasa berkewajiban untuk menceritakan hikayat-hikayat itu kepada anak-anaknya. “adapun hikayat yang menyimpan peristiwa sejarah. baik perubahan suara (vokal). yang tampak adalah seorang penutur cerita penuh dengan nuansa teaterikal. Hikayat ketika dipertunjukan oleh Teungku Adnan dengan menghadirkan berbagai karakter tokoh di atas pentas. hikayat Gumbak meueh. hampir setiap keluarga di Aceh mengetahui secara tradisional cerita-cerita dalam hikayat. Bahkan. dongeng keagamaan. Sipheut Dua Ploh. Teungku Adnan diberikan kekuatan pada ingatan. beliau mampu menyampaikan pertunjukan yang 184 . seperti.

ekspresi wajahnya berubah (tipikalnya). bermain musik sendiri. Suatu hari dalam Hikayat Malem Dewa ia berubah peran dengan sigap. andai membawakan Hikayat Malem Dewa yang menceritakan tentang anak raja yang mempersunting putri dari khayangan. Seorang juru bicara “penyihir” yang mampu memberikan pesona seni peran. putri yang jeli185 . ahli nujum. Namun pada masa itu. langsung memakai baju ala kerajaan yang telah tersusun di dalam kotak disesuaikan dengan alur cerita. sebuah wig. padahal ia bermain sendiri. Luar biasa. Meletakkan kotak (tong) dikiri dan disebalah kanan. Setiap peran yang berubah. cerita yang sama dengan kata-kata yang relatif sama pula. karena yang disajikan hanya membaca hikayat (peugah haba). di dalam tong ada pakaian (kostum) serta senjata mainan. Begitu pula ketika menjadi tentara (panglima). lalu dikembangkan menjadi sebuah seni pertunjukan yang sangat menarik dan unik dengan inprovisasi yang sangat-sangat kaya. Kemampuan Teungku Adnan tak pernah tergantikan oleh siapapun. puteri. vokalnya juga berubah sehingga penonton dengan mudah mengidentifikasi tokoh yang diperankan Teungku Adnan. penyajian hikayat secara bertutur tak dapat dikategorikan seni pertunjukan (teater tutur). Properti yang digunakan hanya sebilah pedang dan batal. sambil berinprovisasi dengan nyanyian Teungku Adnan menggantikan kostum. namun beliau melakukan pertunjukan persis sama dengan pertunjukan sebelumnya. Kemampuan ini yang tidak dimiliki oleh tukang cerita yang lain seperti. generasi kedua Teungku Ali Meukek. rakyat kampung. dan agak sulit mengikuti alur cerita karena tidak terjadi perubahan karakter tokoh. Menyaksikan teater tutur PM TOH. Teungku Adnan. Penampilan nyaris tanpa akting. Seketika pula Teungku Adnan menjadi raja dengan karakter watak dan karakter bahasa yang berbeda. Guru Teungku Adnan adalah Mak Lapee.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sama di tempat yang berbeda. Ketika menjadi raja. Lain halnya dengan Teungku Adnan. Mengenakan sepotong selendang. Tengku Adnan bermain dengan teknik duduk. berangkat dari ilmu yang diterima dari gurunya Mak Lapee (Seorang Ulama di Aceh Selatan yang lumpuh). matanya berkedip-kedip. sehingga penonton tidak bosan. Lima detik pertama ia mengekspresikan wajah genit. ia pun menjelma menjadi tokoh Puteri Bungsu. Muda Belia bahkan Agus Nuramal. Zulkifli. menyaksikan pentas yang dipenuhi aktor secara imajiner. yaitu Puteri Bungsu.

kita cetak buku tentang Hikayat-hikayat Aceh yang belum tersebar itu. Sepotong pedang terhunus di tangan. saya pernah tawarkan program regenerasi kepada Gubernur kita. Lalu 900 tahun kemudian 186 . 20 Januari 1989). Suatu waktu. teungku memang tidak rugi. Abad ke-12 di Perancis Selatan lahir seorang Traubadur. ia berganti peran menjadi pemuda gagah siap bertempur memperebut Puteri Bungsu. tanpa ada pengganti. tapi tidak ada respon sedikitpun. laskar Aceh. Teungku Adnan PM TOH. dan Kakanwil Depdikbud Aceh. Aceh khususnya dan Indonesia umumnya yang rugi sebab tak mau merawat penerus pencerita Aceh. “Soel. bukan hanya Aceh yang kehilangan “Traubadur Dunia” seluruh dunia juga merasa kehilangan Teungku Adnan. lalu setiap tahun kita adakan festival menulis hikayat dan PM TOH kalau ini dilakukan pasti akan muncul dan lahir penerus atau pengganti saya. Kekuatan yang paling mendasarkan dalam teater tutur PM TOH adalah daya improvisasi penyaji yang sangat tinggi. Lima detik kemudian. Beliau tak akan berdosa dan berduka sebab beliau semasa hidupnya sudah pernah menawarkan ini kepada pihak Pemerintah Daerah Istimewa Aceh (Sekarang NAD). Ia dapat menjadi hulubalang. Gaya komedikalnya membawakan hikayat masa lalu dikaitkan dengan peristiwa masa kini. setelah itu kita sebarkan ke sekolah dasar (SD). seniman ‘Traubador Dunia’ meninggal dunia dalam usia 75 tahun. Kemampuan Teungku Adnan menyiasati pertunjukan ternyata dapat menghadirkan sejumlah tokoh di atas pentas dengan vokal yang berubah-ubah. lalu kita tuliskan bagaimana persiapan menjadi aktor PM TOH. jadi nenek penjaga gubuk Buntul Kubu. Tapi apa jawab mereka. kita pertimbangankan. hanya jawaban basa-basi” (Wawancara. Di SD ada mata pelajaran Hikayat dan PM TOH. topi baja melekat di kepala. Berbagai karakter dengan cepat saling berganti di tubuh dan suara Teungku Adnan. Benar Teungku Adnan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ta dari khayangan. ketika penulis masih di Aceh sempat berdiskusi dengan beliau. pemuda yang mencuri baju sang puteri atau seorang anak yang merindukan sang ibu. Sementara mulutnya tak putus-putus ia derukan kisah pemuda bernama Malem Dewa yang harus berangkat ke negeri di atas awan untuk menemui kekasihnya. Kini Sang Maestro. Sekarang Teungku Adnan PM TOH telah meninggalkan kita tanpa mewariskan PM TOH kepada siapapun.

dan penyutradaraan secara formal. Hal ini dapat dilihat dari reportoar yang dipilih. dan diterima ditengah-tengah masyarakat. Mutiara Jeumpa. dan lebih banyak pemain yang melakukan improvisasi.Luar biasa. Kesenian Aceh mampu menjadi transformasi moral dan sosial bagi masyarakat Aceh. serta tari-tarian.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI di seluruh dunia hanya di Aceh muncul kembali seorang “traubadur dunia” yakni Teungku Adnan. Bawang Mirah Ngoen Bawang Puteh. Buloeh Peurindu. lawak. Gelanggang Labu merupakan sandiwara keliling tradisional Aceh. Ciri-ciri yang mendasar. Sinar Desa. Sandiwara ini mulai tumbuh dari sebuah desa Gelanggang Labu Kecamatan Peukusangan dahulu kabupaten aceh utara sekarang kabupaten Biureun. Seulanga Dara. Sinar Harapan. Ahmad Rhangmanyang. dan Geunta Aceh. NAD. Jeumpa Aceh. Sinar Jeumpa. sebelum permainan dimulai para aktornya memperkenalkan diri sekaligus dengan peran apa yang dia mainkan. berapa ratus ribu tahun lagi kita harus menunggu untuk kelahiran seorang “traubadur seni tradisi yang luar biasa itu. Sandiwara ini keliling sudah ada sejak tahun 1950an. Cerita-cerita yang akan dimainkan oleh pelakonnya hanya diceritakan secara garis besarnya saja kepada pemain (berbentuk wos). tapi sayang masyarakat dan pemerintah Aceh tidak mau peduli. Benteng Harapan. mereka memperoleh keahlian secara non-formal namun mampu mensugestif penonton. Putroe Ijoe. seperti. Sebagai aktor di187 . Ciri-ciri pertunjukan Gelanggang Labu memiliki kesamaan yang kontras dengan ‘Komedi Stamboel’ yang dilakukan August Mahieu (1860-1906). ilmu pemeranan. Sandiwawara Keliling Gelanggang Labu Pemain sandiwara keliling gelanggang labu tidak pernah belajar dramaturgi. Pembagian babak atau episode dilakukan sangat longgar dengan adanya selingan antara babak yang diisi dengan nyanyian (band). Sekarang sang “traubadur” benar-benar sudah tiada. dan lain-lain. Ketika teater ini mulai merakyat. Cakradonya. samasama mengangkat cerita 1001 malam dari hikayat-hikayat Aceh (haba). Adeganadengan gembira atau sedih dalam gelanggng labu memang dilakukan dengan dialog bukan dengan opera (nyanyian) seperti dalam komedi stamboel. diantaranya yang terkenal. dijulukilah dengan istilah Gelanggang Labu. Awal tahun 70-an mulai menjamur grup-grup sandiwara di seluruh Aceh.

Ahmad Harun. Umar Abdi. masalah ambisiusnya manusia. Sutradara 188 . bahkan ada yang menjadi buruh kasar di tempat itu. Maka tidak heran bila siang hari mereka bergaul dengan masyarakat dimana mereka melakukan pertunjukan. dipuja-puji oleh penonton. setiap dia muncul selalu saja mendapat applaus dari penonton. Sementara bentuk pemanggungannya. mereka melakukan keliling ke seluruh Aceh. di tengah areal sawah setelah usai panen padi. sebab mereka dekat dengan masyarakat sehingga tahu persis tentang peristiwa yang muncul ditengah masyarakat. Ide atau gagasan rata-rata bertemakan sosial dengan mudah diperoleh sutradara teater keliling. kain yang dilukis sebagai dekorasi sesuai tuntutan cerita dan lampu reflektor kecil untuk penerang dan pengubah suasana. Semuanya mengalir begitu saja dengan pengetahuan otodidak yang mereka miliki. Rata-rata latar belakang pendidikan mereka hanya sampai Sekolah Dasar.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pentas sandiwara keliling harus mampu menjadi penyanyi. Ibnu Arhas (sekarang mantan Anggota DPRD Kabupaten Pidie). Keterbatasan ilmu tentang bermain drama bukanlah suatu halangan bagi mereka untuk tetap terus bertahan. waktu siang hari ia berperan sebagai buruh pemetik kopi dengan pakaian kumal. sandiwara keliling Gelanggang Labu sangat sederhana dengan konstruksi panggung berukuran 9X6 meter didirikan menggunakan drum kosong yang diatasnya diletakkan papan. lalu melakukan pembaharuan agar masyarakat penonton tidak bosan. kemunafikan. Lokasi pertunjukan biasanya dilakukan di tanah lapang. Mereka menciptakan tema-tema cerita baru yang digemari masyarakat. Umumnya pemain sandiwara keliling Gelanggang Labu tidak pernah memiliki atau mempelajari dramaturgi secara formal. Grup sandiwara ini hidup dan beranakpinak di dalam panggung tersebut (berumah). dan berdiam (melakukan pertunjukan) di suatu daerah minimal dua bulan setelah melakukan perjalanan dan menetap di daerah lain. seperti tragedi rumah tangga. pengkhianatan. seorang aktor yang pernah melakukan pertunjukan di Takengon. Namun pada malam hari dia tampil sebagai mahabintang di atas panggung. batang kayu sebagai penyangga. triplek untuk dinding. serta Idawati merupakan tokoh-tokoh teater keliling yang sadar betul atas kekurangan mereka. Yusuf Syam. seng sebagai atap. pelawak dan penari sekaligus.

seperti. kondisi keamanan mulai kondusif. Awal dekade 1992. Seruan ini dikeluarkan PEMDA Aceh karena beberapa pertunjukan sebelumnya di daerah-daerah rawan konflik sering terjadi keributan. Umar Abdi. Keunggulan inilah yang membuat teater keliling ini mampu bertahan hidup dan memperoleh sambutan hangat dari penonton di seluruh Aceh. Sandiwara keliling Gelanggang Labu. dan pertunjukan di beberapa kota Aceh Utara. Kemandekan kehidupan panggung keliling sangat terasa karena sering di cekal oleh Pemda dengan cara tidak memberi izin pertunjukan. Juga karena adanya operasi militer malam. dan Biola Aceh. serta Didong mulai terusik untuk berproses. Situasi semakin membaik. Yusuf Syam. Aceh 189 . Aceh yang memiliki teater tradisional atau teater tutur. sangat terasa dampaknya bagi perkembangan insan seni untuk melakukan kreatifitas berkesenian. Misalnya. Namun gangguan keamanan di Daerah Istimewa Aceh (Sekarang NAD) yang mulai pecah pada tahun 1989. Bahkan dalam pergaulan sehari-hari Ahmad Harun sering dipanggil Cut Maruhoi. Mengigat hal itulah pertunjukan sandiwara keliling ‘Geunta Aceh’ pimpinan Umar Abdi pada pertengahan tahun 1991 di desa Blang Malu Kecamatan Mutiara Pidie. lalu diadopsi menjadi cerita yang menarik lewat kekuatan improvisasi para aktornya. Ahmad Harun. empat tokoh seniman teater keliling. PM TOH. dan Idawati mencoba kembali membangun panggung keliling.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengangkat realitas sosial yang tumbuh dan hidup dimana mereka melakukan pementasan. Pertunjukan sirkus di Lhoekseumawe pada tahun 1989 sempat menimbulkan kekacauan. batal melakukan pertunjukan karena izinnya dicabut. cerita Cut Maruhoi diperankan Ahmad Harun (lelaki yang menjadi wanita) mengisahkan tentang seorang ibu mertua yang cerewet. alasannya gangguan keamanan. banyak panggung sandiwara keliling pada dekade 90-an terpaksa tutup sehingga pemainnya banyak yang menganggur. Ahmad Harun benar-benar mampu masuk ke dalam penokohan Cut Maruhoi. Sebagian terpaksa pulang kampung menjadi petani atau buruh kasar. jahat dan sadis. Maka. dan panggung artis ibukota Dina Mariana pada tahun 1990 sempat dibakar oleh gerombolan tak di kenal. Cerita yang ditampilkan selalu aktual dan kontekstual dengan daerah dimana mereka melakukan pertunjukan. sehingga nama tersebut begitu melekat dan populer di tengah masyarakat Aceh.

Sementara disisi lain. menurut amatan penulis dari tahun 1998 hingga sekarang 2009. bila hal ini terjadi terus-menerus teater keliling Aceh hanya tinggal nama sebab tak ada lagi pewarisnya. Sengketa yang terjadi di tanah rencong tidak hanya menelan korban manusia. seperti hilang di telan bumi. Taman Budaya Aceh sejak tahun 1970-an sampai 1997 aktif melaksanakan pertunjukan teater modern Indonesia di Aceh tiap bulan. mahasiswa serta ulama dayah seAceh menuntut referendum. Teater Bola pimpinan Almarhum Junaidi Yacob. kru panggung dengan seluruh awaknya kehilangan pekerjaan tetap yang telah diyakininya berpuluh-puluh tahun pekerjaan itu mampu menghidupi keluarganya. seniman-seniman panggung terpaksa beralih profesi. Teater Gita Pimpinan Junaidi Bantasyam. Teater Mata pimpinan Almarhum Maskirbi. Kondisi Aceh kembali mencekam dan tak menentu. denyut nadi Taman Budaya Aceh juga ikut terkena imbasnya. namun yang lebih menyedihkan dapat menelan sisi kebudayaan dan kesenian. ternyata tidak bertahan lama. daerah Aceh secara tidak langsung telah memusnahkan kekayaan keseniannya. lagi-lagi dengan dalih keamanan. Betapa tidak. Tahun 1998 dengan berhasilnya gerakan reformasi yang dilakukan mahasiswa seluruh Indonesia untuk menumbangkan Orde Baru. dan GAM (Gerakan Atjeh Merdeka) kembali bergerak. Daerah Istimewa Aceh kembali bergolak. menjadi penjual ikan. Grup-Grup yang pernah jaya. Sekaligus mampu membangun realitas sosial bagi penontonnya. seperti. petani. kenyataannya menjadi lain. suasana yang tak menentukan itulah menyebabkan izin pertunjukan tidak dapat diberikan kepada sandiwara keliling Gelanggang labu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Besar. Aceh Tengah dan Sabang mulai diizinkan untuk melakukan aktivitasnya. Bila tak ada pemanggungannya secara otomatis para aktor panggung keliling semakin lanjut usia dan tak ada yang mampu mewarisinya untuk melanjutkan grup-grup sandiwara keliling. tidak pernah terdengar di Aceh ada pertunjukan Sandiwara keliling Gelanggang Labu dipentaskan.jangankan sandiwara keliling Gelanggang Labu. Nah. buruh kasar dan lain sebagainya demi menghidupi keluarganya. Teater Kuala Pimpinan Yun 190 . Kemandekan kehidupan panggung yang disebabkan oleh gangguan keamanan betul-betul membuat para pelakon. Suasana seperti itu. TNI dan POLRI kembali menjalankan operasi.

Biola Aceh Kesenian biola Aceh telah hidup di tengah masyarakat semenjak jaman colonial Belanda. orang-orang lebih banyak membicarakan politik. Teater Kosong Pimpinan T. kematian dan keadilan. Namun berkembang di Kabupaten Aceh Utara. Para pekerja teater banyak yang beralih profesi. pemimpin grup sekaligus sebagai sutradara yang menyusun dialog untuk menyanyi. penyanyi sekaligus pelawak bahkan mampu menari. Teater Peduli Pimpinan Almarhum Nurgani Asyik. Sampai kapan hal ini terus terjadi. Rindu Idawati Sri panggung sandiwara keliling yang mampu menjadi aktris. masing-masing satu orang bertindak sebagai violis (syech) yang merangkap vokalis. Kita rindu tokoh Cut Maruhoi muncul di atas panggung. Taman Budaya sepi pertunjukan. Penamaan terhadap kesenian ini karena penggunaan instrumen biola sebagai instrumen utamanya. Namun kini dimana mereka para punggawa sandiwara keliling Gelanggang Labu bermuara. Teater Alam Pimpinan Din Saja.Yanuarsyah. Biola yang digunakan adalah biola violin. Namun awal 1998 pertunjukan teater Modern Indonesia di Aceh mulai hilang denyutnya. penyanyi. dan dua orang lagi sebagai penari dan pelawak. Andaikan situasi Aceh dibiarkan larut tanpa penyelesaian akhir. dan cerpenis. Hal ini disebabkan karena gangguan keamanan. atawa mereka tergerus air raya (tsunami) beberapa tahun yang lalu pada 26 Desember 2004. Konfliks-Tsunamisengketa tak pernah reda mengancam seni budaya Aceh pada nadir kepunahan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Casalona. Hanya seniman sastra (penyair) dan pelukis yang masih terus melakukan prosesnya. Kesenian ini dimainkan paling banyak 5 (lima) orang pemain. Penabuh gendang. biola Aceh ini di sebut Genderang Kleng. Orang-orang tak lagi membicarakan kesenian. ada yang menjadi penyair. berperan sebagai Linto Baro dan Dara 191 . Di Kabupaten Aceh Utara kesenian ini diberi nama Mop-mop sedangkan di Aceh Besar dan Kaputen Pidie. Aceh Besar dan Pidie sejak tahun 50-an. Apakah mereka ikut terkena imbas konflik panjang di Aceh. Sanggar Cempala Karya Pimpinan Sulaiman Juned. rindu lawakan yang menggelitik dari si Ma’e (Ismail) yang mampu melahirkan derai tawa. Denyut nadi kesenian Aceh seperti terhenti. maka Aceh secara global akan kehilangan seni budayanya yang sangat kaya tersebut.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Baro (suami Istri atau marapulai kalau di Minangkabau) yang melakukan gerak tari dan banyolan sesuai irama Biola dan pukulan Rapa’i. terkadang mengenakan rok dan blus. Meskipun pola dasarnya paduan musik dengan nyanyian. nyanyian lewat berbalas pantun dengan ungkapan-ungkapan lucu. Biola Aceh komunikasi disampaikan lewat kekuatan humor. dan penuh humor. dan disahuti pantun yang jenaka. Artinya: Mendaki gunung memotong pohon sigeudum Di lobang kayu. dan secara tidak langsung terselip nilai kritik sosial melalui pantunnya yang kocak. Ini terbukti dari setiap kali pertunjukannya mendapat sambutan meriah dari penonton. Sebaliknya pria yang telah memiliki istri namun masih mencari wanita lain. menggelikan. dan rumah tangga yang sarat dengan masalah sosial. harimau mengaum Ku tutu telinga. ditingkahi suara gendang. tak jarang memakai kebaya dengan selendang berwarna hijau atau merah menutup kepala. serta para pemainnya memakai pakaian yang warnanya kontras. Ciri khasnya adalah adanya tarian. Sementara penari pria 192 . Tampil dengan dandanan menor dan mencolok. serta dialog dari penari berisi cerita lucu tentang perkawinan. rimueng di taum Loen dhoe geuliunyeueng. penyulut tawa adalah pantunnya yang jenaka. bangau bersarang Gakah menguak. Penonton turut terbahak-bahak menyaksikan bunyi biola yang terdengan sumbang. segar dan menggelitik terkadang terkesan porno. namun magnitumnya justru pada gerak tubuh dan tingkah pemainnya yang kocak membuat penonton bertahan sampai dini hari. ku datang padamu. loen jak bak gata. Kisah rumah tangga tentang wanita yang bersuami tetapi mencintai pria lain. Pertunjukannya membutuhkan panggung hanya 6 X 6 meter. Pantun dan nyanyian. Kesenian ini sampai sekarang masih mampu berinteraksi dengan masyarakarat. cerita (dialog). Juga diselingi cerita mertua atau isteri yang cerewet. Apalagi dihadiri penari joget yang adalah lelaki berperan sebagai wanita. Mari kita nikmati salah satu pantunnya: Ta ek u glee tajak koh sigeudum Lam kayee ruhung umpung ‘nggang dama Gajah di dumpek.

menari. Kesenian biola Aceh. menyaksikan pemain biola. Hal ini. Syech Maneh. Sudah selayaknyalah kesenian ini perlu dilestarikan. biola sebagai alat musik instrumen kesenian tradisi Aceh yang berasal dari Mesir. Bentuk perubahan tersebut adanya adaptasi. Di samping itu. perkembangan musik modern mengakibatkan minat generasi muda terhadap biola Aceh menurun. Perkembangan Biola Aceh selanjutnya memang jalan ditempat jika tidak mau dikatakan punah. bahkan banyak yang tidak mengenal tentang biola Aceh. terkadang juga memakai sepatu yang kebesaran. Aceh sepulang dari pertandingan tersebut. 193 . dan Syech Ma’e (Ismail). penabuh gendang yang dikombinasikan dengan berpantun. Sama persis seperti alat musik konvensional barat. asimilasi. satu nada ditahan sementara nada lainnya bergerak membentuk progesi melodi. dalam proses adaptasi menyerap nilai-nilai budaya islam. dan integrasi dengan kesenian ronggeng yang berasal dari Sumatera Timur. Perbedaannya terletak pada metode dalam memainkannya. Teknik memainkannya sangat mirip dengan rabab di Minangkabau. serta Syech Ali Basyah. Masyarakat Aceh yang menganut sistem feodal.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengenakan pakaian biasa. Menurut mereka. terjadi interaksi sosial yang memberikan dampak perubahan terhadap budaya. diberinama Biola Aceh” (Wawancara Syech Ma’e Pidie. akulturasi. yaitu Syech Abdul Gani Krueng Mane. dan kurangnya pengetahuan. dan melawak. disebabkan h terjadinya konflik bersenjata dan tsunami di Aceh. tampak pada tekhnik memainkannya yaitu mengiringi vokal dengan mengikuti melodi vokal yang ditambah dengan nada hias. namun baju atau jasnya di pakai terbalik. Secara tidak langsung generasi muda mengalami fase a-history. Jadi menyaksikan pertunjukan biola Aceh. 20 Januari 2005). Progresi melodi pada biola aceh membentuk harmoni vertikal dengan interval kwint. penggesek biola Aceh memainkan biolanya secara terbaik. namun dipengaruhi oleh unsur-unsur agama Islam. serta digarap secara bervariasi. walau biola pertama sekali diperkenalkan di Italia tahun 1719. Sumatera Timur kesenian yang ditampilkan ronggeng. Proses adaptasi terjadi ketika terjadi pertandingan kesenian antara Aceh dengan Sumatera Timur di jaman Belanda. Melodi dasar lagu sama dengan melodi dasar biola. Sampai saat ini masih hidup empat orang penggesek biola. menciptakan kesenian yang hampir mirip ronggeng.

biola Aceh sebagai salah satu seni tradisi yang populer dapat menjadi media komunikasi sosial antara sesama etnis di Aceh yang multi-etnis. dinas pariwisata dan budaya. Didong. Lokalitas seni sebagai fenomena budaya diletakkan dalam perspektif kehidupan global untuk melakukan kontruksi indentitas diri. Indonesia kehilangan seniman besar. Sebab seni tradisi Aceh selalu bersentuhan secara aktual dan universal lewat konsep kebersamaan. Seni pertunjukan seperti teater tutur PM TOH. seniman. Poh Tem. Peugah Haba. atau seni Aceh tersebut akan ikut terkubur bersama ratusan ribu rakyat Aceh yang entah dimana makamnya? Generasi muda Aceh sekarang ini pasti banyak yang tidak kenal lagi. Teungku Adnan PM TOH-Cut MaharuhoiIdawati-Syech Abdul Gani Krueng Mane-Syech Ma’e-dan Syech Ali Basyah. atau Kementerian Pendidikan Nasional berkenan menjadikan seni lokal menjadi kurikulum nasional agar seni tradisi populer dapat menjadi media komunikasi sosial. para intelektual seni. Dalupa. Penutup Kesenian memang mampu menjadi perekat antar sesama. tak usah mempertentangkan konsepsi pertunjukan antara tradisi dengan kontemporer. Pho. Pasca konflik dan tsunami. Aceh kehilangan juru bicara. Tugas lembaga pendidikan tinggi seni. Namun kesenian cenderung merekatkan keretakan manusia tersebut. dan menumbuhkan kebersamaan. Seni tradisi Aceh. Dangderia. Sebab pertunjukan seni tradisi Aceh sesungguhnya telah melaksanakan 194 . Teatermusik-tari dan kesenian lainnya membuat masyarakatnya luruh dalam ‘kearifan lokal’ menghilangkan perbedaan. Konsep kultural dalam nilai etnisitas keacehan untuk mengidentifikasikan masyarakat jadi ‘ahli waris’ dari seni tradisi sekaligus sebagai pelaku bagi transformasi identitas lokal yang independen. perlu duduk bersama bicarakan pentingnya menghidupkan kesenian tradisi. tetapi tetap berinteraksi dengan jamannya. dan Biola Aceh memang kesepian dalam peti. Guel. dan mampu mengikuti kemajuan jaman. pihak yang terkait. Biola Aceh. Sandiwara Gelanggang Labu. atau Sandiwara Gelanggang Labu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Padahal. Seniman. apakah seni-seni tradisional yang maha agung itu akan hidup. Manusia acap kali saling bersilang pendapat tentang idealisme yang mengakar dalam diri.

Peneliti Musik Aceh Pasca Tsunami. 1999. Serambi Indonesia Banda Aceh: 30 Agustus 2008 Budiman Sulaiman.. dalam Asvi Warman Adam. 1998 195 . 1999. Kesenian tradisi di Aceh tidak hanya dianggap sebagai media hiburan semata-mata. Jika ketiga seni ini hilang maka tanpa kita sadari budaya Aceh yang sarat dengan muatan penyadaran moral. Monolog. 2003. Produksi Jurusan Teater STSI Padangpanjang. 1996/1997... Jurnal Palanta Padangpanjang: STSI Padang Panjang ---------------------. Semoga! Daftar Pustaka A. Ekspresi dalam Seni Teater. Pengantar Drama Monolog Enam Tuan Arthur S. Permasalahan yang perlu diselesaikan. Interkulturalisme Teater. adat dan sosial terkikis dari kehidupan bermasyarakat.. Teater Tutur Aceh: Adnan P..M. Jurnal Palanta Padangpanjang: STSI Padangpanjang VCD Hikayat Malem Dewa... Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. Yogyakarta: Tarawang Pers Santosa. 2007. Unsyiah Press Banda Aceh Efeendy. event-event kesenian bertaraf nasional dan internasional seperti..H Trobadour yang Menulis di atas Angin. 2000. dan Diwana Cakradonya perlu dikembangkan. Pekan Kebudayaan Aceh. Teori dan Praktek..Nalan Etno Teater Bandung Sahid.Adjib Hamzah. Kajian Transformasi Budaya. Bandung: Angkasa Sulaiman Juned. Nur (ed). Kegiatan ini mampu menumbuhkan seni-seni tradisi yang mulai punah. Jurnal Ekspresi Seni Program Studi Pascasarjana UGM. 1993. Semoga seni tradisi Aceh ini tetap hidup dan berkembang. Festival Baiturrahman. tetapi mampu menjadi sebagai media komunikasi. Gelitik Biola Aceh Makin Langka. 2006. Kesusastraan Aceh.. Pengantar Bermain Drama..T. 2005. Aktor di Panggung Teater. agama. 1999.. Bandung: Penerbit Angkasa Rahman Sabur.O. CV Rosda Bandung Agus Noor. 1984. bagaimana seni tradisi Aceh dapat dihidupkan kembali. Harian Kompas Jakarta: 18 Desember 2005 Mursal Esten. Oleh karena itu.. Kartomi. Bandung: Rosda Karya Herwanfakhrizal.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI konsepi pertunjukan dalam tataran kontemporer. 1988. Konflik di Aceh: Sandiwara Keliling Gelanggang Labu Terancam Punah. Ilmu Komunikasi. 1996/1997 Margaret J. Harian Kompas Jakarta: 26 Maret 2006 Basri Daham. 2000.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 196 .

Outline dasar yang menjadi fokus berkisar tentang fungsionalnya suatu genre seni sebagai mediasi untuk pencapaian niat atau maksud diadakannya suatu upacara atau acara yang berhubungan dengan religius/keagamaan. materi seni yang banyak. ritual adat. karena propinsi Sumatra Utara didiami oleh banyak etnis yang memiliki konsep budaya. ketersediaan data pendukung yang penulis miliki. maupun aneka seni dari etnis-etnis Batak adalah cukup memberikan rasa optimis untuk merealisasikan sasaran minimal tema tulisan di atas.Sn Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Pendahuluan embicarakan masalah penggunaan seni tradisi dalam media komunikasi sosial di Sumatera Utara merupakan obyek diskusi yang sangat luas. M. Setiap etnis asli Sumatera Utara menghendaki keharmonisan dan M 197 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Penggunaan Seni Tradisi dalam Media Komunikasi Sosial di Sumatera Utara Drs. ditambah dengan pengalaman praktikal selama empat tahun menjadi pelaku seni di Sumatera Utara. Sungguh pun begitu. bahasa. Hajizar. baik seni Melayu. dan bervariasi konsep seni yang dimiliki mereka membawa penulis untuk memilih pendekatan “induktif” untuk mengidentifikasinya. Minang. atau hiburan oleh suatu etnis di daerah Sumatera Utara. Berlatar kompleksnya sistem kehidupan masyarakatnya. dan beratus konteks pertunjukannya. dan sistem komunikasi sosial yang spesifik sesuai dengan latar belakang keturunan nenek moyang mereka masing-masing.

Dengan demikian. antar kelompok. bahwa konteks upacara dan acara-acara seremoial merupakan suatu produk sosial dan salah satu komunikasi yang wujud di dalamnya adalah komunikasi sosial. Sudah sama dipahami. atau hiburan pada konteksnya adalah setelah terkoneknya maksud itu dengan resepsi obyek upacara tersebut. tetapi berdasarkan penggunaan dan berfungsinya suatu produk seni dalam suatu konteksnya berarti sudah menunjukkan keberhasilan suatu komunikasi. Sedangkan bagian ketiga merupakan informasi masa silam yang difungsikan sebagai landasan penting untuk melihat kondisi kehidupan kesenian masyarakat Sumatera Utara masa sekarang. Bagian keempat menfokuskan diskusi kepada dinamika kehidupan masyarakat dan kreativitas seni yang terjadi dalam konteks perubahan di masa sekarang dan prospek keberlanjutannya di masa depan. tulisan ini disajikan dalam empat bagian. Bagian pertama ini berposisi sebagai pembentukan frame pemikiran terhadap kelayakan tema ini menjadi sebuah informasi yang bermanfaat. Bagian kedua memperlihatkan sekilas demografi wilayah dan penduduk Sumatera Utara untuk menggambarkan keadaan hunian yang bersinerji dengan kompleksitas konsep sosial masyarakat yang menghuninya. dan komuniksi vertikal antara manusia dengan supranatural yang gaib. dengan Tuhan atau “Sesuatu” yang dianggap berperan sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa penentu jalannya kehidupan di dunia dan hidup sesudah mati. Mayoritas wahana yang dipilih oleh etnis-etnis Sumatera Utara dalam rangka tercapainya pengharapan di atas adalah kesenian. Sekilas Demografi dan Wilayah Penduduk 198 . atau diperolehnya kesenangan batin melalui hiburan. Kemudian bagian kelima sebagai konklusi dari temuan yang diperoleh dari hasil keseluruhan deskripsi tulisan. serta tercapainya kebahagiaan hidup sesudah mati melalui sistem kepercayaan yang dianut. maka wujudlah aneka upacara ritual adat. Tulisan ini tidak secara gamblang membicarakan masalah ‘komunikasi sosial’ secara konseptual.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kelanggengan sistem kemasyarakatan (kekerabatan) dan struktur sosial yang diwarisi mereka. Kesenian diapresiasi sebagai mediasi yang mujarab untuk menjembatani komunikasi horizontal antar individu. dan acara-acara sosial lainnya. upacara religi/keagamaan. karena keyakinan tercapainya maksud atau niat pelaksana upacara.

Tanah Bala. Langkat. Samosir. Tapanuli Tengah. coklat. PT. Batumakalele. Hamutaia. Jake. Bawa. kayu manis. penduduk Sumatera Utara berjumlah 11. Masa. di antara 4 pulau yang terbesar: Sibuasi. dan pulau Berhala di Selat Malaka. Tanah Masa. teh. Tanjung Balai. ialah pulau Simuk (kepulauan Nias). dan juga meliputi 419 pulau yang berada di luar pulau Sumatera. 199 . Sibolga. ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Inalum di Kuala Tanjung Kabupaten Asahan terdapat 1 Sumber Wikipedia Indonesia. Jawa Timur. Tapanuli Utara. Binjai. Dairi. Berlatar luas daerah dan jumlah penduduk Sumatera Utara pada dasawarsa terakhir ini. Simalungun. dan tembakau) dan pertambangan minyak bumi. batu bara.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Sumatera Utara sebuah provinsi yang keempat terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa Barat. Padang Lawas Utara. Deli Serdang. Kepulauan Nias. kelapa sawit. Selain itu terdapat beratus pulau lain di Samudera Hindia yang termasuk propinsi di Sumatera Utara. Padang Lawas. Potensi bumi Sumatera Utara yang luas dan subur telah mewujudkan perkebunan (karet. Nias Selatan. Bau. Wunga. dan Kepulauan Batu1. Tebing Tinggi. Serdang Bedagai. Labuhan Batu. Tapanuli Selatan. dan 7 kota): Kabupaten Angkola Sipirok. Nias. dan Jawa Tengah. Mandailing Natal. kondisi alam Sumatera Utara pada dasarnya dapat dibagi atas: Pesisir Timur. Menurut hasil Sensus Penduduk (SP) tahun 2002. Pakpak Bharat. Pegunungan Bukit Barisan. dan Kota Medan. Karo. Kepadatan penduduk Sumatera Utara pada tahun 2002 menjadi 165 jiwa per km². di antaranya pulau Imanna. maka Pemda Tingkat II di Sumatera Utara yang semula berjumlah sekitar 17 kabupaten/kota. serta diprovokasi oleh semangat otonomi daerah untuk memacu pertumbuhan pembangunan di segala bidang. Asahan. Simaleh. Dengan begitu. Kepulauan Nias yang terletak di lepas pantai pesisir Barat Samudera Hindia merupakan pulau utama dan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya. kopi. Makole. Lego. Toba Samosir. Pini. Humbang Hasundutan. Selain geografis Propinsi Sumatera Utara yang terbentang dari daerah pesisir Timur ke pesisir Barat. cengkeh. Pematang Siantar. Sedangkan pulau yang terluar dari sekian ratus pulau tersebut. kelapa. Pasu. gas alam. Padang Sidempuan. dan Sigata. telah dimekarkan menjadi 29 Kabupaten/kota (22 kabupaten. Pesisir Barat.85 juta jiwa. Kepulauan Batu yang terletak di Tenggara kepulauan Nias terdiri dari 51 pulau. Batubara.

dan lainnya. Namun. Buddha terutama dipeluk oleh suku Tionghoa di perkotaan. Suku asli ialah 1) suku Melayu (Pesisir Timur Sumatera Utara). sebagian Batak Karo.” Begitu juga masih terdapat sejenis aliran kepercayaan bernama “Parmalim” yang dianut oleh sebagian suku Batak Toba yang berpusat di Huta Tinggi. Batak Pakpak Dairi. PLTA Asahan yang merupakan terbesar di Sumatra terdapat di Kabupaten Toba Samosir. Konghucu terutama dipeluk oleh suku Tionghoa di perkotaan. India Keling. Di samping itu. Agama Islam menjadi agama mayoritas yang dianut oleh suku Melayu. Batak Simalungun. Minang. Kesemuanya ini telah mengundang pendatang dari etnis lain merantau. Aceh dan Jawa. dan Mandahiling). dan komunikasi dalam pergaulan umum selalu menggunakan Bahasa Indonesia dialek Melayu. Simalungun. 4) suku Nias. 2) Pesisir Sibolga (Pesisir Barat Sumatera Utara). Aceh. Suku pendatang ialah Jawa. Pakpak Dairi. Tionghoa. Setiap etnis (asli dan pendatang) di Sumatera Utara menggunakan Bahasa Ibu masing-masing. Pesisir Sibolga. Dengan demikian. 200 . Bahkan sebagian suku Batak Toba dan Nias masih menganut kepercayaan Animisme yang bernama “Pelebegu Parhabonaron. agama Kristen (Protestan dan Katolik) terutama dipeluk oleh suku Batak Toba. Agama Hindu terutama dipeluk oleh keturunan India yang minoritas di perkotaan. mengadu nasib masuk ke daerah Sumatera Utara dan berdomisili sesuai sentra-sentra aktivitasnya masing-masing. Karo. 3) suku Batak (Toba. dan suku Nias. lengkaplah identitas Sumatera Utara sebagai propinsi multi etnis di Sumatera. Mandahiling. persoalan kepercayaan memiliki fenomena yang menarik dalam kehidupan masyarakat Sumatera Utara yang heterogen tersebut. Minang. dan tentu beraneka pula corak seni tradisional yang berfungsi membentuk komunikasi sosial dalam kehidupan kotakota di Sumatera Utara. Realita di atas telah menjadikan Sumatera Utara didiami oleh multietnis yang terdiri dari suku asli dan suku pendatang. Angkola. Sentra aktivitas pada berbagai lokasi ini yang bersentuhan langsung dengan sosio-budaya lokal yang beragam pula sebagai lingkungan kerja dan kehidupan mereka. bermunculan lagi beraneka pabrik di berbagai kota sehingga kota Medan telah menjadi kota industri utama di Sumatera.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF yang bergerak di bidang penambangan bijih dan peleburan aluminium yang merupakan satu-satunya di Asia Tenggara.

Dengan demikian. Buku Buklet. hal 3. bahwa salah satu contoh dari repertoar tersebut adalah “Gondang Debata Sori” yang dalam hal ini adalah nama salah satu dari Tuhan menurut Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di dalam masyarakat Batak Toba. Melalui penyajian Gondang Sabangunan disampaikan permohonan peserta upacara kepada Tuhan-Nya. 1994.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Identifikasi Sosio-Seni Warisan Etnis-Etnis Asli Sumatera Utara Berdasarkan identifikasi terhadap tradisi sosial dan seni dari etnisetnis asli yang mendiami Sumatera Utara dijumpai beraneka ragam aktivitas. 201 . gondang dan tortor selalu hadir menjadi alat mengekspresikan perasaan dan maksud. Pertama. 1994. hal 2. Ungkapanungkapan itu dapat mengakrabkan pergaulan sehari-hari para peserta 2 3 Banggal Marpaung. baik berbentuk sistem kemasyarakatan yang diwarisinya. Begitu pun pada upacara adat. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. Banggal Marpaung. Berikut ini. dan tidak dapat sembarangan dimainkan2. Buku Buklet. maupun berbentuk upacara-upacara tradisional yang diadatkan dalam bentuk seremoni adat masing-masing sebagai konsekuensi dari sistem kemasyarakatan yang dianut mereka. kedudukan musik tradisional Gondang Sabangunan bagi masyarakat Batak Toba dipakai dalam kepentingan upacara religius untuk mengatur hubungan antara peserta upacara dengan Tuhan dan dunia gaib. Pada setiap upacara adat. Apabila dikaji secara seksama makna ungkapan-ungkapan tradisional tersebut sifatnya universal dan dapat bertahan sepanjang masa3. gondang-gondang yang dimainkan pada kegiatan religius itu bersifat sakral. Menurut Marpaung. Nomor-nomor gondang yang disajikan selalu didahului dengan ungkapan-ungkapan tradisional yang disampaikan oleh partisipan upacara melalui tonggo-tonggo. umumnya peranan Gondang Sabangunan berfungsi sebagai pengiring tarian (tortor) dari kelompok masyarakat yang mempunyai marga (clan) yang terkait sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu (Tungku Nan Tiga). Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. kita coba melihat sampel genre-genre seni utama dari etnis-etnis asli Sumatera Utara yang berhubungan dengan fungsinya sebagai pembangun komunikasi sosial tradisional dalam kelompok-kelompok etnis masyarakatnya masing-masing. serta lingkungannya. Ansambel Musik Gondang Sabangunan.

kilat. Kedua.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF upacara. Instrumentasi Gendang Lima Sendalemen terdiri dari sarune terbuat dari kayu selantam. Kumbang. 202 . dan batangnya dari gelondah berperan sebagai pembawa melodi. Gondang utamanya dimainkan dalam kaitannya dengan berbagai ritual maupun upacara keagamaan. tidak hanya dalam memenuhi berbagai kebutuhan sosialnya. badai. bahwa: “pada masa dahulu. Dalam masyarakat lokal-tradisional Batak Toba. disamping juga dipakai dalam konteks aktivitas seremonial adat. dan ada juga garantung sebagai pembawa ritme variabel. Katak. hal 3-4. Tersirat di sini. Tiruan bunyi itu akan mujarab untuk mencegah matinya segala manusia. 2002. Bandung: UPI. bahkan menjadi sarana penguat identitas dan pembangun rasa solidaritas sesama antar individu dan antar kelompok masyarakat yang seatap dalam suatu upacara adat. lobangnya 7. Secara tiba-tiba bermunculan bermacam suara sebagaimana karakter dan warna suara yang dimiliki oleh Tung-tung. Cacing. tetapi juga meliputi berbagai hal terkait dengan hal yang bersifat spiritual. Mitos tentang suara-suara inilah yang dipercayai masyarakat Karo untuk menemani kehidupan mereka yang diimitasikan melalui musikal instrumen Gendang Lima Sendalemen5. Menurut adat Karo. sementara Gung. Pada suatu kali terjadi angin topan. Gondang (“musik”) memiliki peranan yang penting dalam aktivitas kehidupan mereka. dan penganak berfungsi sebagai pembawa ritme konstan. dimana gondang dianggap menjadi alat utama untuk mencapai dan membangun hubungan antara manusia dan “Sang Pencipta” (Mulajadi Na Bolon)4. dan banjir.” Makalah. maka matilah anak sang putri tersebut. manusia itu tidak mati-mati.” Kehadiran ensambel musik ini berlatar belakang sebuah mitos yang hidup dalam masyarakat Karo. bahwa seorang pemusik Batak Toba berfungsi sebagai mediator utama dalam menjalin hubungan antar dunia manusia dengan dunia para dewa. gendang Anak Na. Gendang Indung Na. Kemudian anak yang mati itu disuruh oleh ibunya untuk menirukan segala bunyi tadi. Tentu pemusik gondang dituntut untuk memahami sepenuhnya tentang struktur dan materi sebuah ritual/upacara yang sedang dimediasinya. Amphok (burung). “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara. etnis Batak Karo memiliki ensambel musik tradisional utama disebut “Gendang Lima Sendalemen. bahwa seorang anak boru berkewajiban untuk 4 5 Rithaony Hutajulu. Pentingnya peranan ini dapat dilihat kaitannya dengan salah satu filosofi dasar masyarakat Batak Toba.

Gordang Lima7. Begitu juga halnya tentang masalah hubungan timbal-balik antara musik dengan tor-tor dalam kehidupan masyarakat Batak Mandahiling. yaitu mengundang rasa kemanusiaan dan rasa sedih bagi orang yang ikut upacara. sekaligus minta nasehat. Cabutan satu-satu buah dari 5 unit Gordang Sembilan. Doal sebagai ritem konstan. masyarakat Batak Mandahiling memiliki tiga jenis ensambel musik yang penting dalam tatanan kehidupan sosial mereka. 2 buah Patolu 1 pemain. Suling. dan Gondang dua8. Gordang Sembilan digunakan untuk menghormati Mayat Harimau. boruboru. Apabila roh telah menghinggapi diri Sibaso. Sordam. dan agar keresahan itu tidak berlanjut. karena binatang ini dianggap hewan yang beradat. untuk menghormati raja-raja. maka dia ditanyai tentang apa-apa yang perlu. 2 buah Udong-Kudong 1 pemain. untuk memanggil roh-roh melalui Sibaso/Sisaman (dukun).sebagai lagu tradisi untuk mengusung jenazah yang terdiri dari 48 lagu berturut-turut yang dikenal dengan istilah ‘50 . Sedangkan ensambel Gordang Lima memiliki dua fungsi: 1) berfungsi vertikal. yaitu Gordang Sembilan6.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mempersiapkan suatu upacara adat pada waktu kematian. remaja di desa merasa resah. gendang berguna sebagai ‘basis pengantar’ bagi suatu upacara kematian. Dia harus tahu susunan struktur famili dari orang yang meninggal sewaktu diadakan seremonial upacara kematian lengkap dengan ensambel gendangnya. maka diadakanlah upacara Guro-guro Aron sambil berhibur oleh muda-mudi. Gong. Guro-guro Aron bermakna suatu upacara syukuran panen bagi suatu desa.’ 203 .2’ yang semua teks lagunya berisi magis yang berkaitan dengan kepercayaan. Sarune. Ritem Variabel : Gondang. Momongan. 1 buah Enek-Kenek 1 pemain. sebagai ritme variabel. karena sewaktu padi berperut. sekaligus untuk memberi semangat terhadap para remaja di desa masing-masing. Salah satu konteks sosial yang paling memasyarakat lagi populer untuk penyajian ensambel Gendang Lima Sendalemen ialah Pesta Guro-guro Aron yang diadakan pada setiap desa di tanah Karo. Sebab gendang ini diiringi dengan nyanyian-nyanyian tradisi berjudul ’Lagu Pengangkat’ --mungkin jenazah ini diangkat ke sorga-. Tali Sasayap. Ketiga. Bagi orang Karo. 2 buah Padua 1 pemain. Salung sebagai pemegang melodi. 6 7 8 2 buah Jangat 1 pemain. 2) berfungsi horizontal. Penyanyinya diistilahkan dengan “Parkolong-kolong. atau Dalihan Na Tolu.

’ Begitu juga pada upacara kematian raja. Tortor Suhut Sihabolon. Somba Mulani Tortor (apa kata gendang. yaitu urusan pesta yang langsung berhubungan dengan famili isteri. yaitu urusan pesta yang berhubungan dengan pihak bapak. Jolo-jolo Turun. Tortor Anak Boru.” Secara fungsional tortor Mandahiling dibagi dua: 1. Figur yang berperan menghubungkan manusia dengan roh ini adalah melalui perantaraan ‘Bayo Dato (Sibaso). dan untuk upacara duka-cita. yaitu tor-tor dan musik langsung berhubungan dengan pihak yang berpesta. bahwa pada masa dahulu dalam masyarakat Batak Mandahiling terdapat upacara ‘Mahadongi Hamatian. Selain itu. seperti pesta kawin atau kelahiran (dimainkan repertoar ‘Horja Sirizon). Musik dan tortor dimainkan untuk urusan upacara suka-cita.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Terdapat suatu ungkapan masyarakat Mandahiling: “Terter Mulani Gondang. karena segala sesuatu di dunia ini berasal dari roh. bahwa segala aspek kehidupan masyarakat Batak Mandahiling selalu diling- 204 . Tortor Mora. diiringi dengan repertoar ‘gondang roto. seperti kematian dimainkan repertoar ‘Horja Silulutan.’ Horja dalam musik tradisional Batak Mandahiling dapat dibagi kepada: a. 2. Berhubungan dengan “kepercayaan” kepada roh.’ Repertoar yang biasa dimainkan berhubungan dengan kepercayaan ialah Alap-alap Tondi. d. Berdasarkan beberapa sampel di atas.’ yaitu orang-orang yang menangisi mayat secara bersama. c. b. itu kata tari). Penyajian tortor dan musik merupakan suatu kesatuan yang difungsikan untuk mengundang roh. dan di sini ditampilkan tortor. yaitu urusan pesta para muda-mudi. dan Sarama Datu. dipukul canang dan beduk yang terusmenerus dimainkan hingga seluruh famili datang ke rumah duka. dan waktu mayat berangkat ke kuburan. dapat disimpulkan. Naposo Bulung. Berhubungan dengan “adat-istiadat” tentang urusan kehidupan dan kematian.

Mase Sayur Matua dipakai Gendrang 5. Gendrang 7 (dengan 3 pemain). Mre Kemban yaitu suatu pesta yang diadakan untuk menyembah berhala. Gerantung. 205 . Gong. Untuk upacara ini dipakai Gendrang 7. dan waktu mati pakai gondang. adil dan makmur. sejahtera. Keempat. dan kerja njahat. agar seluruh masyarakat mendapat berkat dan taufik hidayat. Sewaktu lahir pakai gondang. sebelum mengenal agama. dapat dikatakan bahwa prinsip kehidupan sosial masyarakat Batak Pak Pak Dairi yang selalu dimediasi oleh ensambel gendrang Gorci cukup mirip dengan fungsi gordang dan gendang dari 9 Terdiri dari: Gendrang 9 (dengan 5 pemain). Dengan demikian. subyek upacara itu disebut dengan “kerja” yaitu kerja baik. Merkata Sipitu yaitu suatu pesta yang diadakan sewaktu padi belum ditanam. Terbagi kepada tiga macam upacara: a.’ Klasifikasi upacara adat-istiadat dipertimbangkan oleh Sulang Selima10 berdasarkan sumber penyebab wujudnya upacara tersebut. Kettuk. b. Terbagi kepada dua macam upacara: a. sebagaiman pengertian berikut: 1. Kerja Njahat. Kerja Baik. Cilat-cilat. kawin pakai gondang. 10 Sulang Selima yaitu unsur adat yang tertinggi sebagai adat yang menentukan paling akhir pada setiap pelaksanaan ‘kerja’ dalam masyarakat Pak-Pak Dairi. Mendeger Uruk yaitu suatu pesta atau kerja baik untuk meminta/memohon kepada Debata Guru (Tuhan) “Beras Pati Tana dan Mungkeni Kula. b. Mangokal Tulan dipakai Gendrang 5. agar mendapat hasil yang melimpah. yaitu pesta sewaktu terjadi keliahan/kemalangan yang tanpa perencanaan sebelumnya. hidup sentosa. Untuk upacara ini dipakai Gendrang 2. merupakan seperangkat alat musik yang pemakaiannya berhubungan dengan upacara ‘adat istiadat. c. Gendrang 2. 2. misalnya orang tua yang meninggal pada usia lanjut.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI kungi dengan tor-tor dan musik gondang atau gordang. serta memanggil roh dan menolaknya pun juga pakai gondang. etnis Batak Pakpak Dairi terkenal dengan ensambel Gorci9. Kalondang. yaitu pesta yang mempunyai perencanaan yang baik yang mempunyai makna dan cita-cita. Gendrang 5 (dengan 3 pemain). Untuk upacara ini dipakai Gendrang 9.

Terdapat dua bentuk penyajian Ho Ho. masyarakat Batak Simalungun memiliki Topeng Huda yang penting sekali artinya bagi rakyat Simalungun. Oleh sebab itu. yaitu 1) Ho Ho Ba Fetatoro (duduk). Selain itu. Kelima. tetapi sekarang sudah dipakai gondrang si pitu-pitu. dan hiburan. Tiga musisinya mengenakan kostum yang berbeda. sedangkan roh-roh jahat diusir (diiringi tari). dan biasanya lebih tua dari penabuh lainnya. dimana leader (disebut Sandroto) bernyanyi secara solo dengan melodi yang tidak banyak variasi. kemudian direspon oleh kelompok penyanyi ‘Sono Yohi’ untuk menghiasi melodi Sondrono. Keenam. Dahulu pada dual ini dipakai gondrang si dua-dua. sekaligus berfungsi untuk membedakan materi garapannya. tanpa musik. sedangkan pada upacara ritual keagamaan dinyanyikan “Fo’ Ere (nyanyian pendeta) yang langsung dipimpin oleh Ere (pen206 . Repertoar “Dual Parahot” yang khusus sebagai pembukaan upacara yang mempunyai hubungan dengan religi (roh jahat dan roh baik). artinya berguna untuk persembahan dan yang menari hanya roh-roh baik. seperti “Panarunai” lebih tinggi kedudukannya. sehingga musisi menempati strata yang terhormat dalam masyarakatnya. etnis Nias terkenal dengan musik vokal ‘Ho Ho” yaitu kesenian vokal yang teksnya berbentuk puisi. adat. Repertoar “Dual Rambing-rambing” yang diiringi dengan tari. Nyanyian ini disajikan dalam konsep responsorial. Topeng ini selalu dihadirkan pada setiap upacara kematian orang berumur tua yang diiringi dengan Gondrang Si Pitu-pitu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF masyarakat Batak Mandahiling. Repertoar musik Simalungun yang terkenal sebagai berikut: 1. dan beras” pada setiap penampilannya sebagai simbol spirit kemasyarakatan mereka. yaitu desain pakaian menyerupai kuda. musisi mendapat penghormatan yang tinggi dari masyarakat. Dalam upacara kematian. 2. kepentingankepentingan itu tidak dapat dilakukan. Secara adat. merupakan repertoar pendahuluan sesudah repertoar pembukaan. etnis Batak Simalungun menggunakan musik dan tari untuk kepentingan religi. kelapa. Selain dari penabuh dual ini adalah tidak boleh menabuhnya. panarunai yang menjadi pimpinan rombongan diberi “ayam. burung enggang. biasanya dinyanyikan Ho Ho yang menceritakan riwayat hidup orang tua yang meninggal. 2) Ho Ho Bame Sidi Ndo (berdiri).

dilanjutkan dengan irama Kapulo Pinang dan Tari Payung. Fadlin. Ketujuh. Ketiga kelas upacara pesta perkawinan ini tetap dilaksanakan selama 7 hari 7 malam. irama Lagu Duo serta Tari Salendang. Pesta Perkawinan masyarakat Pesisir Sibolga dibagi atas tiga kelas: 1) pesta keturunan raja dengan memotong kerbau yang berhak memakai kain sampe gala 12. dimana pengantin duduk di atas pelaminan untuk berinai. Menyampe. cs. dan telah memenuhi syarat-syaratnya antara lain sebagai berikut: 1. 2.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI deta) yang memegang Fondrahi. hal 7. Apabila seseorang anggota masyarakat Pesisir Sibolga ingin menggunakan musik Sikambang pada pesta perkawinan. pengantin laki-laki diarak masuk ke dalam ruangan tempat besanding yang langsung disandingkan dengan pengantin wanita yang sudah duduk menanti11. tetapi tidak berhak memakai kain sampe gala. 1985. dan 3) pesta keturunan rakyat biasa dengan memotong kambing. “Tata Cara Adat Perkawinan Pesisir Sibolga. dan upacara ini dibuka dengan irama Kapri dan Tari Sapu Tangan. 2) pesta keturunan bangsawan dengan memotong sapi yang berhak memakai kain sampe gala 9.” Laporan Penelitian. bahwa upacara basanding duo diadakan pada malam ketiga. yaitu sejenis gendang yang dipakai untuk menyampaikan sesuatu maksud dari pendeta. namun penggunaan musik Sikambang mesti mendapat persetujuan dari pengetua adat terlebih dahulu. Medan: USU. Kelompok per11 Fadlin. Kemudian dengan iringan lagu Dampeng. yaitu suatu tanda kelengkapan adat istiadat dalam bentuk selendang beraneka ragam warna yang dipasang pada langit-langit di atas pelaminan yang disangkutkan dengan bambu yang sudah ditata sesuai dengan perlengkapan pelaminan. Biasanya hiburan musik Sikambang diadakan pada malam ketiga ini. Walaupun pesta perkawinan dilaksanakan selama 7 hari dan 7 malam. maka pengetua adat akan mengatur pelaksanaannya sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan. 207 . Galombang 12 adalah suatu permainan pencak silat oleh 24 orang pesilat yang dibagi atas dua kelompok. Menurut Fadlin. tetapi puncak kemeriahannya terjadi pada malam ketiga. upacara “pesta perkawinan” dan kesenian yang melekat padanya menjadi seremoni adat yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat Pesisir Sibolga dan sekitarnya. cs.

maka pihak pengantin wanita/pria diharuskan menyembelih kerbau atau lembu sebagai persyaratan dalam peradatan. menjauhkan bencana. musik Sikambang dimainkan di bawah langitlangit dan pelaminan. di samping kepercayaan kepada Allah YME. 208 . seperti wayang kulit. mambang dan lain-lain. jin. jembalang laut. “Tata Cara Adat Perkawinan Pesisir Sibolga. Misalnya. Salah satu contoh teater tradisi di sini ialah teater Bangsawan. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan. Kedelapan. hal 45. Apabila pesta perkawinan akan disempurnakan dengan penyajian Galombang 12. jin. Lagu dampeng adalah lagu vokal yang dinyanyikan oleh laki-laki. 13 Muhammad Takari. Fadlin. Perubahan. cs. Akulturasi. Ketangkasan bermain silat sewaktu penyambutan pengantin lakilaki diiringi dengan lagu dampeng. hal 6. 2005. bahwa pada waktu berhubungan dengan adat. dan lain-lain. mengusir hantu atau setan13. terutama dipakaikan pada alat-alat musiknya. Teater 12 Fadlin. jikalau tidak sanggup menghadirkan langit-langit dan pelaminan. mendu. musik-musik sebelum Hindu/Islam digunakan untuk mengiringi teater-teater tradisional Melayu. makyong.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF tama mendampingi pengantin pria sebagai panglima atau raja sehari dan kelompok kedua berfungsi sebagai pengawal dari pengantin wanita. Medan: Etnomusikologi USU. sehingga aktivitas berkesenian memang banyak berhubungan dengan kuasa-kuasa gaib yang dimulai dengan jampi-jampi (mantera). 1985. Medan: USU. sebaiknya tidak menampilkan kesenian Sikambang. kesenian tradisional warisan etnis Melayu. Walaupun falsafah orang Melayu “adat bersendi syarak. seperti hantu jembalang tanah. syarak bersendi Kitabullah” tetapi cukup sarat produk sosial dan seninya dibarengi oleh unsurunsur kepercayaan kepada alam roh. puaka. yang dinyanyikan secara bersahutsahutan antara solo vokal yang teksnya berupa doa’-doa’ kepada Tuhan dan disambut oleh orang ramai yang pada dasarnya menguatkan doa’ yang dinyanyikan oleh solo vokal12. Makalah. lagu bertuah. bangsawan. “Musik Melayu: Akar Budaya. syetan. menhora. kalau dilanggar adalah dianggap melanggar adat dan bagi pelanggar ada sangsi sosial bagi kelompok yang melanggar. dan Kontinuitas. Ini merupakan arti tersirat yang tidak boleh dilanggar. dewa.” Laporan Penelitian. untuk rasa perdamaian dengan kuasa gaib.

tetapi tidak bisa bertahan lama karena pemain yang berkualitas akan disabet oleh rombongan lain yang lebih kaya. harus dipelajari dengan meniru tokoh dahulu secara oral tradisi. Kelompok Indra Ratu (Sultan Serdang) 2. Para pemain utama dengan ciri-cirinya sebagai berikut: 1. Tokoh Anak Muda yang berperan sebagai pahlawan. Ada Jin Jahat yang berperan untuk merong-rong ide-ide dari tokoh.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Bangsawan dikenal juga dengan istilah Opera Melayu. 2. di antaranya yang terkenal adalah: 1. Kelompok Dardanela Setelah jaman Jepang perkembangan teater Bangsawan menurun. dengan membawakan tema mengenai kesatriaan seorang tokoh. dan hilangnya lafal norma-norma bahasa Melayu. karena: 1. 3. Bangsawan merupakan cikal-bakal terjadinya jenis teater —peralihan— ke teater modern dengan dua dimensi. Baik Anak Muda. Teater bangsawan mahal biayanya. Pembukaan dan penutup dalam permainan teater Bangsawan juga dibarengi dengan mantera-mantera. tersingkirkan oleh sandiwara-sandiwara modern. Kelompok Stambul 3. Dialog tidak bisa dipelajari dengan naskah. Terdapat Sri Panggung yang menjadi primadona dalam cerita. Hal yang menarik dalam teater Bangsawan. Menjelang Perang Dunia II teater bangsawan sudah tidak bisa bersaing lagi dengan kemajuan teknologi (film. Terdapat Tukang Lawak yang selalu menghidupkan suasana panggung 4. TV). karena sarat sekali dengan perlengkapan-perlengkapan yang harus dipersiapkan. di mana Sri Panggung dan Anak Muda harus pandai bernyanyi dan menari. Pada daerah Melayu teater Bangsawan muncul secara berkelompok atau kumpulankumpulan. maupun Primadona yang mempunyai karakater permainan yang baik. Di dalam cerita Bangsawan sudah dipakai cerita-cerita kejadian yang bersumber dari peristiwa-peeristiwa di negeri Barat. 3. 209 . 2.

Rentak Senandung (Malaysia: Rentak Asli). d. Beberapa lagunya yang terkenal ialah Dua Singapura. Ragam Gila Kepayang yang artinya mabuk kepayang. dan lain-lain. Berbirama 2/4 dengan membawakan tempo agak cepat. bernada sedih tentang peruntungan yang malang. b. Beberapa lagunya yang terkenal. Irama ini diiringi dengan lagu yang memaki pantun nasib. sampel seni dari etnis Melayu Sumatera Utara yang dipilih ialah lagu-lagu Melayu Deli yang langsung berhubungan dengan tarian. 2. Tarian Serampang 12 mengisahkan percintaan yang diakhiri dengan perkawinan dengan struktur gerak meliputi sejumlah 12 ragam: a. Ragam Pusing Tari yang artinya memendam rasa. Makan Sireh. Tempo tercepat dari Rentak Lagu Dua ini diistilahkan dengan ‘Rentak Pulau Sari’ yang difungsikan untuk pengiring Tari ‘Serampang 12’ yang diciptakan almarhum Guru Sauti dari daerah Perbaungan. Pola ritem Rentak Lagu Dua sangat populer di tengah-tengah masyarakat Melayu. ragam Berjalan yang artinya 210 . seperti Kuala Deli. Rentak Lagu Dua (Malaysia: Rentak Joget). c. Bagi etnis Melayu Deli ‘Irama’ berhubungan dengan pola ritem gendang yang sekaligus tersangkut di dalamnya pemahaman terhadap “tempo” permainan suatu lagu. sering disebut juga dengan ‘Lagu Menari’ yang sangat digemari dalam tarian bebas. Beberapa Irama atau Rentak Musik Melayu Deli sebagai berikut: 1. Tanjung Katung. dan mengiringi lagu yang memakai pantun jenaka yang merupakan pantun anak muda. Dendang Sayang. e. Ragam Permulaan yang artinya pertemuan pertama. yaitu lagu yang menurut keterangan orang-orang Melayu di Sumatera Timur (kini Sumatera Utara) berfungsi untuk memanggil angin di laut sa’at mereka mengalami mati angin sewaktu menangkap ikan. maka lagu ini sering dilagukan oleh pelaut/nelayan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Kemudian. Rentak Senandung berasal daripada lagu-lagu Senandung. Rentak Senandung berbirama 4/4 dengan tempo lambat (andante) tetapi siklus pola ritemnya 8/4. Damak. sebagaimana tempo Samba. Ragam Berjalan yang artinya cinta meresap. dan Mambo. Pancang Jermal dan lainnya. adalah nyanyian hiburan yang umum dinyanyikan di daerah Asahan dan Labuhan Batu.

dan Deli. dan kemudian rentak ini diadopsi oleh penari dan pemusik seni pertunjukan ronggeng. f. Ragam Meloncat-loncat yang artinya jawaban sudah diterima. Ragam Langkah Melonjak yang artinya masih belum percaya. Rentak Gubang berasal dari lagu Gubang yang terdapat di daerah Asahan. Ragam Rupa-rupa yang artinya mengantar penganten. Pada abad ke 20 rentak Mak Inang ini lebih dicepatkan dan lahirlah lagu dan tari Cek Minah Sayang yang memakai sapu tangan atau selendang untuk penampilannya. Ragam Sebelah Kaki yang artinya menduga. Mak Inang Kayangan dan sebagainya. karena dalam lagu tradisi Batak Karo juga ada lagu patam-patam. j. Rentak Ghazal berasal dari perkembangan/pengaruh dari India Utara yang dibawa oleh orang-orang Islam pada awal abad 19 ke Pulau Pinang terus ke Medan. Ragam Datang Mendatangi yang artinya pinangan dilakukan. Ragam Gencat-gencat yang artinya balasan isyarat. Tarian Mak Inang biasa dibawakan oleh Mak Inang (dayang pengasuh keluarga kerajaan). Berbirama 4/4 dengan membawakan tempo cepat yang diiringi dengan lagu yang memakai pantun jenaka. Pada mulanya irama ini hanya berkembang pada daerah-daerah yang dipengaruhi oleh Batak Karo. Ragam Sapu Tangan yang artinya pertemuan kasih mereka. 5. k. i.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI bersifat isyarat tanda-tanda cinta. sehingga tidak diiringi dengan nyanyian/vokal manusia. l. seperti daerah Langkat. Tempo rentaknya sedang (sekitar 100 ketukan dasar per menit). h. yang kemudian dipergunakan pula oleh rakyat awam. Irama ghazal ini dipakai pada 211 . g. Irama ini mendapat pengaruh dari Arab yang bercampur dengan pengaruh suku Batak Perdambanan di hulu Sungai Asahan. Tempo tercepat dari Mak Inang ialah rentak Patam-patam dengan memakai birama 4/4 dengan tempo cepat sekali. serta Serdang. Beberapa di antaranya lagunya yaitu Mak Inang Pulau Kampai. 4. Rentak Mak Inang (Malaysia: Rentak Inang). 3. ialah nama yang diberikan kepada wanita pengasuh setengah baya yang mengepalai sejumlah dayang-dayang dan penari di Istana raja.

konsep musikal dan konsep pertunjukan masing-masing rentak di atas telah mengadopsi konsep harmoni musik Barat. atau ada yang mengatakan Laila Majnun yang merupakan pengaruh dari Arab. dan Melayu Nusantara umumnya. Biasanya irama Kelantan ini dipakai untuk kesenian dzikir yang berkembang di daerah Melayu Singapura. merupakan pengaruh dari India Selatan. seperti kisah Laila. Berasal dari Irama Chalti inilah berkembangnya pola ritme gendang pop dangdut.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF nyanyian yang mempunyai syair-syair cinta. berkembang merata di seluruh wilayah alam Melayu Nusantara yang merupakan suatu ritme atau rentak atau irama yang merupakan pengaruh dari irama-irama Timur Tengah. Sebetulnya. dan lainnya. Rentak zapin dimainkan dengan gendang Marwas. Rentak Zapin. Rentak Kelantan. tetapi ciri-ciri khas dalam pembawaan lagu dan melodi tetap didominasi oleh karakter Melayu. Dengan demikian. di antara kedelapan jenis rentak yang dimiliki etnis Melayu Deli ini telah menjadi master-piece pada tataran konteks hiburan dalam masyarakat Melayu Sumatera khususnya. Berbagai Rentak atau irama Melayu di atas dimainkan sesuai dengan ciri khas alat musik gendang yang dimiliki oleh masing-masing rentak di atas. 7. Kondisi Kehidupan Kesenian Tradisional di Sumatera Utara Dewasa Ini (Perubahan dan Keberlanjutan) Dahulu areal kabupaten lebih merujuk kepada geografis yang didi212 . seperti Rentak Senandung dilahirkan dengan gendang ronggeng. kedelapan jenis rentak Melayu Deli ini termasuk klasifikasi musik modal yang masuk kategori musik tradisional etnis Melayu di Sumatera Utara. bahkan karakter lagu dan melodi Melayu tersebut telah menuntut terjadinya pemodifikasian progresi akord-akord musik Melayu Deli yang tidak lagi sepenuhnya mengaplikasikan konsep harmoni musik Barat (musik tonal). Walaupun instrumentasi. 6. berasal dari daerah Malaysia Utara atau dari daerah Thailand Selatan yang berkembang sampai ke berbagai daerah Melayu. Rentak Chalti. 8.

Sehubungan dengan itu. Batak Pak Pak Dairi. Penilaian ini didasarkan atas eksistensi kesenian itu di dalam etnisnya masing-masing. sekarang terjadi pemekaran pemerintahan yang beroreantasi kepada luas wilayah dan jumlah penduduk. dijumpailah kondisi kehidupan kesenian pada masing-masing etnis secara homogen. Oleh karena itu. Batak Simalungun. dan pengaruhnya terhadap penikmatan seni masyarakat heterogen di kotakota Sumatera Utara. Sebetulnya. 4) karakter lagu dan melodinya mudah dicerna dan diterima oleh semua etnis. serta prospek keberlanjutannya di masa datang. sangat disayangkan bahwa potensi ini tidak dapat diraih oleh genre musik Melayu Deli ini. posisi musik dan tari Melayu Deli yang didasarkan kepada konsep rentak sebagaimana pembicaraan di atas sangat potensial sebagai musik tradisi etnis Melayu yang bisa membangun komukasi sosial pada tataran pergaulan semua etnis (asli dan pendatang) Sumatera Utara di masa sekarang dan akan datang. karena terjadi kemandekan kreativitas para senimannya. Nias. ternyata kondisi kesenian tradisional dalam sosio-kehidupan masyarakat dari etnis Batak Mandahiling. dan dalam perjalanan waktu. dan Melayu masih tetap dan belum mengalami perkembangan yang berarti. 2) Instrumentasi dan konsep musikalnya telah mengadopsi unsur-unsur musik Barat. Pesisir Sibolga. bahkan pengaruhnya terhadap etnis lain di luar Sumatera Utara. Dengan demikian.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ami suatu etnis. dan kondisi kehidupan kesenian pada masyarakat kota-kota di Sumatera Utara yang heterogen dalam membangun komunikasi sosial mereka. 3) konsep pertunjukannya telah meminjam cara-cara pertunjukan musik populer. Beberapa alasannya: 1) teks lagu-lagunya menggunakan bahasa Melayu yang beranalogi dengan bahasa Indonesia. secara garis besar pembicaraan bagian ini akan terfokus kepada tiga fokus utama terhadap penggunaan kesenian tradisional –yang tetap dan yang berubah-.dalam komunikasi sosial kehidupan masyarakat Sumatera Utara dewasa ini. di antara masyarakat dari delapan etnis asli Sumatera Utara juga pergi merantau ke kota-kota propinsi ini bergabung dengan para perantau yang berasal dari etnis di luar Sumatera Utara. sehingga repertoar lagunya 213 . Mengamati dinamika kehidupan delapan etnis asli Sumatera Utara dewasa ini. Analoginya. akan terdapat etnis tertentu yang berada pada daerah kabupaten yang dominan didiami oleh etnis lainnya.

Batak Karo. bahwa perubahan yang mendasar terjadi dalam dinamika keberlangsungan kehidupan tradisi seni gondang pada masyarakat Batak Toba dapat ditandai dengan masuknya agama kristen ke tanah Batak. dan etnis lainnya. baik di tengah kehidupan etnisnya sendiri. 214 . Pembatasan biasanya dilakukan dengan adanya sejumlah kompromi. mereka akan dikeluarkan (“ban”) dari gereja. musik gondang hanya boleh dimainkan pada acara-acara tertentu yang “hanya” berkaitan dengan aktivitas sosial. Konsekuensi yang diterima bagi anggota masyarakat Batak Kristen yang tetap melakukannya. Dalam hal ini. Sejak saat itu berbagai pertunjukan tradisi gondang secara praktis dibatasi (restricted) dan dalam beberapa kasus dilarang (prohibited). Sedangkan hal yang sama sekali dilarang adalah berbagai elemen ritual atau upacara terkait dengan kepercayaan lama (pra-Kristen). bahwa pertunjukan Musik Melayu Deli dewasa ini adalah dihidupkan oleh musisi-musisi yang sebagiannya berasal dari etnis Minang. Bahkan yang cukup mengiris perasaan. para misionaris Kristen memperkenalkan jenis ensambel musik tiup Barat (brass music) kepada masyarakat Batak Toba. khususnya dalam penyembahan roh (“sipelebegu”). perkawinan. Bandung: UPI. karena telah gagalnya semiman senior mewujudkan kaderisasi generasi mudanya. maupun pada taraf nasional.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF masih nomor-nomor sediakala yang telah usang. Rithaony Hutajulu menjelaskan proses perubahan eksistensi musik gondang dalam kehidupan etnis Batak Toba sebagaimana berikut. hal 11-12.” Makalah. Sebaliknya. misalnya. 2002. dan harus minta izin pada gereja. Alat musik Gondang Sabangunan sering ditambah dengan musik ringan. ataupun pada kehidupan kota-kota Sumatera Utara yang heterogen. Misionarisasi Kristen di tanah Batak dimulai sejak tahun 1860an. sehingga berdampak terhadap eksistensi kesenian etnis tersebut di tengah percaturan kesenian. repertoir Gondang Sabangunan yang semata-mata untuk tujuan hiburan mempunyai garapan melodis yang lebih luas. misalnya dalam upacara adat. Pembatasan dan larangan ini khususnya dikenakan pada masyarakat Batak Toba yang telah beralih (converted) ke agama Kristen. 14 Rithaony Hutajulu. terutama digunakan dalam aktivitas ritual keagamaannya14. Perubahan kondisi kehidupan kesenian yang cukup fenomenal terjadi pada etnis Batak Toba dan Batak Karo. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara. Pada sisi lain.

hal 3-4. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. sebagaimana contoh berikut: Tiga macam klasifikasi fungsi Gondang Batak Toba yang dahulu: 1. untuk mengiringi upacara yang bersifat keagamaan. 3. upacara adat di Batak Toba. masyarakat etnis Batak Toba telah menyikapi pergolakan sosio-seni yang terjadi dalam kehidupan beradat dan beragama mereka dari format lama ke dalam formulasi baru yang tidak menghilangkan konsep seni tradisinya yang asli. garantung lagu dan garantung bass. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. Margondang Sibarang.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI sarunai etek (sarunai kecil). 1994. untuk mencari dana pembangunan gedung. seorang pemusik/komposer Batak Toba. Sebaliknya. Margondang Hiburan. orang tidak kawin. untuk pesta keagamaan/kepercayaan suku Batak Toba. kematian. Dengan demikian. Tangga nada yang dipakai jauh lebih luas. hasapi lagu (kecapi lagu). bila berhubungan dengan selera populer. gereja dll. tetapi nilai-nilai estetika tradisional masih tetap dipertahankan. Margondang Religi. untuk mengiringi orang mati. Margondang Adat. 3. sebagaimana yang dinyatakan oleh Ritha Ony Hutajulu.” 15 Banggal Marpaung. Margondang Pesta. yang memiliki latar belakang musik Barat dengan karya eksperimentalnya. maka sesuatu modifikasi dalam bentuk kreativitas bisa terjadi. Gaya seperti ini lazim dipakai mengiringi lagu daerah Batak Toba dengan kombinasi garapan melodis dengan pendekatan ’modern’. untuk mengiringi pesta. sulim (suling). 2. Buku Buklet. 2. untuk mengiringi upacara pemberian nama. Contoh musik Gondang Sabangunan ditambah musik ringan mengiringi lagu-lagu disertai vokal dengan judul “Alai Badogem’15. bahwa fenomena lainnya bisa dilihat adalah kreativitas dari Nortir Simanungkalit. orang tidak punya anak. sebagai berikut: 1. yakni menggabungkan/ mengakumulasikan semua jenis alat musik tradisi Batak Toba dalam format “orkestra. perkawinan. 215 . Tiga macam klasifikasi fungsi Gondang Batak Toba yang sekarang. Margondang Mamele.

Pada sisi lain. maka seniman Kulcapi Karo yang terkenal bernama Jasa Tarigan membuat lompatan yang drastis dengan meninggalkan instrumen Kulcapi dan menukarnya dengan alat musik orgen yang mengadaptasikan karakter permainan melodi Kulcapi padanya. Seniman Gendang Lima Sendalemen etnis Batak Karo membuat sesuatu yang kontroversial dalam masalah penggunaan instrumen Kulcapi. bahkan kombinasi komposisi Kulcapi/Sarune Karo juga terjadi untuk musik Melayu Deli. tetapi konsumen etnis Karo. 2) meluaskan peran musikal tiap alat musik berdasarkan peniruan standar orkestrasi Barat. Selanjutnya. sehingga karakter bunyinya sudah terbias oleh rambatan bunyi spull-mic tersebut. 2002. dan 3) memainkan lagu-lagu Barat dan populer Batak.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Beberapa hal yang ia kerjakan antara lain: 1) menstandardisasi laras/ tuning semua alat musik berdasarkan konsepsi musik diatonis Barat. Bandung: UPI. senimanseniman pop Karo mengembangkan lagi sayapnya dengan memadukan karakter melodi Kulcapi/Sarune Karo dengan karakter melodi Saluang Minang sebagai aransemen musik pengiring lagu-lagu pop Minang. misalnya. permainan Gendang Lima Sendalemen plus Kulcapi Orgen mendapat sambutan baik oleh masyarakat Batak Karo. sarune etek dan sulim berdasarkan tingkatan soprano. membuat formulasi alat musik hasapi. tetapi dalam garapan harmoni Barat16. garantung. sehingga lahirlah paket musik pop yang bernama Pop Karmina (Pop Karo Minang). terinspirasi oleh permainan Kulcapi Orgen. Walaupun kreativitas ini masih berada pada tataran eksperimen. baik dalam konteks upacara Guro-guro Aron dan upacara adat lainnya. hal 16.” Ironisnya. alto. Sebetulnya penggunaan spull-mic inipun sudah bermasalah terhadap originalitas akustik dari Kulcapi itu sendiri. Minang dan 16 Rithaony Hutajulu. maupun dalam konteks musik populer Karo. perubahan yang cukup mencengangkan juga terjadi pada kesenian tradisional Batak Karo. tenor dan bass. tidak dalam kaidah tekstural heterofonis tradisional. 216 . Terdorong oleh kemajuan tekonologi elektronik. Permainan Kulcapi secara manual yang diperkeras suaranya dengan bantuan mic dikembangkan dengan penggunaan spull mic yang langsung dipasangkan pada badan Kulcapi tersebut. sehingga disebut dengan “Kulcapi Orgen. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara.” Makalah.

Kesimpulan Berdasarkan studi kasus seni tradisi dan poluler yang terjadi di Sumatera Utara dalam membangun media komunikasi sosial di Sumatera Utara. tari Serampang 12 dari Melayu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Melayu cukup mengapresiasi kehadiran kaset-kaset tersebut. Musik tradisional dari berbagai etnis asli Sumatera Utara yang tidak mengalami pergolakan kreativitas oleh seniman-senimannya ternyata eksistensinya masih tetap berada pada lingkaran kehidupan etnisnya sendiri sehingga tidak banyak diapresiasi oleh masyarakat urban kota-kota Sumatera Utara yang hetero217 . ternyata karya-karya musik populer Batak Toba yang masih memiliki sentuhan aransemen musiknya dengan instrumentasi Gondang Sabangunan. Sikambang dari Pesisir Sibolga. Dampak dari segala kreativitas seniman-seniman Batak Toba di atas. Gordang Sembilang dari Mandahiling. khususnya bagi heterogenitas kota Medan. dan misi kesenian atas nama pemerintahan Sumatera Utara. Begitu juga lagu-lagu populer Batak Karo yang aransemen musiknya mendapat sentuhan Kulcapi Orgen dan Sarune Orgen –walaupun kuantitasnya tidak sebanyak musik Batak Toba-. Gendrang Goci dari Pak Pak Dairi. Sordam dan Piso Surit dari Karo. Melalui model paket seperti ini. Gondang Hasapi dan Uning-uningan telah dikonsumsi oleh masyarakat urban kota-kota Sumatera Utara yang heterogen.juga telah mendapat sambutan dari masyarakat urban kota di Sumatera Utara tersebut. kesenian tradisional telah memberikan sumbangan yang cukup berarti terhadap bangunan komunikasi sosial. Paket ini cukup mendapat perhatian dari pihak pemerintahan. dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. dan Tari Rantak dari Minang. Paket pertunjukan ini menghadirkan Gondang Sabangunan dan tot-tor dari Toba. Ratoh dari Aceh. sehingga paket yang khas LK USU ini telah menjadi model bagi pihak pemerintah dalam mengadakan resepsi-resepsi kesenian. sebetulnya usaha membangun komunikasi sosial antar etnis yang mendiami kota-kota di Sumatera Utara melalui kesenian tradisional telah digagas oleh Lembaga Kesenian Universitas Sumatera Utara (LK USU) dalam bentuk paket seni pertunjukan yang terdiri dari kombinasi nomor-nomor seni tradisional dari semua etnis (asli dan pendatang) yang mendiami kota Medan. Sehubungan hal di atas. Tari Martonun dari Simalungun.

Paket-paket pertunjukan seni yang terdiri dari kombinasi materi seni dari etnis-etnis asli dan etnis pendatang di Sumatera Utara untuk mengisi berbagai jenis resepsi hiburan –terutama kota-kota-. Walaupun permasalahan agama (Kristen) telah mengintervensi eksistensi kesenian tradisional Batak Toba terhadap konteksnya yang religius.” Skripsi. 218 . Medan: Etnomusikologi USU. Malaysia. Hajizar. 1988. Makalah. Muhammad Takari. “Musik Melayu: Akar Budaya. Pada sisi lain. cs.” Laporan Penelitian. adalah memiliki potensi yang sangat ideal lagi strategis sebagai media pembangun komunikasi sosial bagi masyarakat Sumatera Utara yang heterogen. 2.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF gen. Etnis asli Sumatera Utara Batak Toba dan Batak Karotelah mengalami dinamika perubahan yang cukup fenomenal untuk era dewasa ini. “Fungsi Musik Gondang Sabangunan dalam Upacara Ritual Parmalim Sipaha Sada di Desa Lumban Gambiri. Akulturasi. Perubahan. Medan: USU. mereka masih tetap mempertahankan instrumentasi dan konsep musikal ensambel musiknya yang asli untuk keperluan yang berhubungan dengan upacara-upacara adat.” Skripsi. 2005. “Tata Cara Adat Perkawinan Pesisir Sibolga. penukaran instrumentasi dan konsep musikal ensambel musiknya terhadap konteks yang berhubungan dengan ibadah keagamaan sesuai dengan pengaruh visi dan misi tokoh-tokoh agama tersebut. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Depdikbud. Kecamatan Silaen. Daftar Pustaka Banggal Marpaung. namun masyarakat Batak Toba telah menyikapinya dengan bijaksana. Ansambel Musik Gondang Sabangunan. Fadlin. Shah Alam: UiTM Shah Alam. 1994. dan melakukan penginovasian kesenian tradisinya untuk kepeluan hiburan masyarakatnya. Fadlin. 3. 1985. Emmi Simangunsong. Medan: Etnomusikologi USU. 1988. “Studi Deskriptif Konstruksi dan Dasar-dasar Pola Ritem Gendang Melayu Sumaera Timur. Buku Buklet. kecuali oleh etnisnya masing-masing yang merantau ke kota tersebut.sebagaimana modelnya yang telah ditunjukkan oleh Lembaga Kesenian USU Medan. Etnis ini telah mengadakan peninovasian. 1996. “Musik Melayu Nusantara dalam Era Globalisasi (Pelestarian dan Pengembangan).

------------------------. ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. “Gondang: Kebudayaan Musik Batak Toba di Sumatera Utara. Rithaony Hutajulu. 1987. Makalah.” Makalah. 2002. Bandung: UPI.” Makalah. Medan: Etnomusikologi USU. 219 . Soegijo. Medan: Panitia Pesta Budaya Daerah Sumatera Utara. “Tari dalam Konteks Budaya Melayu. Medan: Etnomusikologi USU. Wikipedia Indonesia.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dan Kontinuitas. ”Budaya Sumatera Utara dan Upaya Pembinaan-Pelestariannya. 2004.” Makalah.

220 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Hj. Kar. Saat ini menjadi Dosen ISI Padang Panjang. Sumatera Barat dengan kepangkatan Lektor Kepala. Aktif dalam penelitian dan pendiiakan mengenai Tari Minangkabau.Pd. Pernah menjadi Pembantu Ketua II ISI Padang Panjang. M. S. Kelahiran Agam 17 Agustus 1952. Nirwana Murni..

khidmat.. Ada juga yang dilakukan secara khusuk.Pd. Ada yang dilakukna dengan arak-arakan mengelilingi desa. dan hal ini disebut dengan seni tradisional. Ia tampil sebagai ungkapan kepentingan yang berlainan. Seni tradisional dimaksud adalah tari. Tetapi diantara bentuk-bentuk upacara tersebut ada bentuk upacara yang tergolong “seni pertunjukan”. upacara-upacara yang bersifat ritual merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Palembang merupakan sebuah wilayah kota madya yang berada di S 221 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Strategi Kemasan Seni Tradisi Sebagai Media Komunikasi Sosial di Sumatera Barat Nirwana Murni. Sampai saat ini masyarakat Indonesia juga mengadakan upacara-upacara dalam berbagai bentuk dan dalam rangka tertentu. Ada juga duduk bersama semalam suntuk sambil mendengarkan pantun atau puisi yang dilagukan. Antara daerah satu dengan daerah yang lainnya memiliki cirri khas kedaerahan yang berbeda-beda. Dosen Jurusan Seni Tari STSI Padang Panjang Pendahuluan eni pertunjukan dengan beragam jenis dan bentuknya dapat terkait dan hadir di dalam bermacam-macam kesempatan. tenang tanpa ada suara bergaung. Seni pertunjukan yang diselenggarakan berkaitan dengan upacara masih dapat dijumpai di berbagai daerah. M. Mereka memiliki tradisi dan bentuk upacaranya sendiri sesuai dengan kebudayaan masing-masing. Tontonan. Ada yang didahulukan dengan potong tumpeng disertai tepuk tangan dan nyanyian.Kar. S.

1975: 3). Pada tari ini unsur agama tersebut terlihat suasana keagamaan yang dibangun oleh gerak-gerak tari yang menggambarkan sebagai Budha tengah bersemadi (Leoni Wagirah. seperti tari penganten. Selain sembilan orang penari putri tersebut. yaitu suatu tempat di sekitar sungai musi di sebelah utara kota Palembang. Dari sisi koreografi tari Gending Sriwijaya merupakan sebuah sajian tari yang dilakukan oleh 9 orang penari putri dengan rincian. Volume gerak tangan dan kaki terkontrol cenderung membangun sebuah ciri karakteristik dan gaya putri halus. Dengan lahirnya Kedatuan Sriwijaya lahir pula kesenian di kalangan bangsawan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Sumatera Selatan. dan tari gending sriwijaya. Hirarki penari yang ditentukan berdasarkan kedudukan orang tua di dalam pemerintahan semakin menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terdapat di dalam tari ini mempunyai makna tersendiri. Struktur dan pola penyajian ini sangat teratur dan hierarkis. Palembang sebagai sebuah wilayah budaya di kenal dengan kerajaan Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan maritim di Sumatera pada abad ke-7 dengan pusat kedatuannya terletak di Bukit Siguntang. Kedatuan ini dikenal dengan nama kedatuan bukit yang menjadi penguasa tunggal daerah sebelah barat Indonesia pada masa itu (Depdikbub. Gerak tari yang lembut mengalun perlahan ditunjang dengan tata rias dan busana penari seperti pengantin wanita Palembang memberikan sentuhan emosional tersendiri. termasuk di dalamnya adalah tari Gending Sriwijaya. tari sembah. dan seorang lagi bertugas sebagai penyanyi. Masyarakat di wilayah ini sebagian besar hidup dan mencari nafkah dalam pola budaya nelayan. tari sitabih. Tari Gending Sriwijaya yang dikenal sebagai tari adat oleh masyarakat Palembang merupakan peninggalan masa itu dengan Hindu Budha sebagai agama masyarakat. tari ini didukung pula oleh dua orang pria/ garis panjang dan tombak. Sebagaimana tari 222 . Lingkungan istana mulai memelihara dan mengembangkan seni yang mengagungkan kebesaran raja. 1984: 13). Oleh karena itu hampir setiap penyelenggaraan upacara adat selalu dijumpai seni pertunjukan yang menyertai. dua orang pembawa peridonan kembar (tempat tepak) dan enam orang sebagai pengiring. Keberadaan pada upacaraupacara adat yang bersifat komunal maupun individual dianggap penting. satu orang sebagai pembawa tepak (tempat berbentuk segi empat untuk sekapur sirih).

pusat kerajaan tidak begitu penting. pada Gending Sriwijaya juga ditemukan perbedaan penamaan itu. empat dan lima adalah penari tingkat Asean Gede. 1987: 13). Mungkin karena kerajaan maritim. untuk ulang tahun raja.. Mereka adalah putra putri dari raja. Penari pada barisan pertama. Pada masa lampau penentuan pakaian pengantin ini terjadi pula di masyarakat umum artinya. dan pesta perkawinan anak raja. sehingga tari bukan merupakan pusaka keratin yang tetap terjaga. Sedangkan oncer melambangkan kekayaan yang melimpah dari sungai musi yang membelah kota Palembang. mereka yang bukan keturunan raja umumnya tidak diperkenankan memakai pakaian pengantin Asean Gede (dadot Palembang).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI budaya yang memiliki penamaan pada setiap pelaku tarinya. kedua. Pada baris berikutnya yaitu nomor enam dan tujuh adalah penari tingkat Asean Selendang Mantri. manis. Hal ini menyebabkan tari Gending Sriwijaya turut hilang bersama runtuhnya kesultanan ini. Ibu jari tidak bertanggai. Lagu ini melodinya diciptakan oleh M. 1975: 32). dan ketiga yaitu penari nomor satu. Dahlan. Tari ini disebut Gending karena lagu pengiringnya berjudul Gending Sriwijaya. terdiri dari putri-putri menteri. Tanggai ini dipakai di jari kelingking. Hal ini dimungkinkan karena pada masyarakat maritim di muara sungai dan laut 223 . sedangkan liriknya digubah oleh Mungcek A. dua. tiga. menceritakan kejayaan Sriwijaya di masa lampau. Ciri lain yang terdapat pada tari Gending Sriwijaya adalah properti yang dipakai yaitu tanggai. Kuntowijoyo mengatakan bahwa pada masyarakat mungkin tipe-tipe kerajaan maritim dan komersial pusat kerajaan tidak begitu penting sehingga sulit dicari kesinambungan lembaga yang memproduksi kearifan simbolis (Kuntowijoyo. tengah dan telunjuk. Tanggai adalah kuku panjang yang memakai rumbai disebut oncer. Fungsi awal tari ini diyakini sebagai sajian pada waktu raja mengadakan pertemuan dengan seluruh kerabat sebelum melaksanakan pekerjaan berat. Bentuk tanggai yang melengkung ke atas melambangkan perahu. Pada baris terakhir yaitu nomor delapan dan sembilan adalah tingkat Asean Pak Sangkang yaitu putrid pejabat biasa dalam pemerintahan (Leoni Wagirah. Tinjauan Historis Sekitar tahun 1659 Palembang jatuh ke tangan Belanda.R.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF seperti umumnya kerajaan-kerajaan di semenanjung Malaysia. Bahkan kerajaan yang fungsi politiknya telah dihapuskan seperti pada Sultan Hamengkubuwono VIII. bernilai tinggi. pada tipe kerajaan maritim pusat kerajaan tidaklah begitu penting sehingga tari bukan merupakan pusaka keraton yang tetap terjaga. Sumatera. Golongan bangsawan. Sultan masih tetap memegang teguh konsep kekuasaan Ratu Gung Binantahara atau “raja yang di dewakan”. kerajaan masih ada. dan rakyat ikut serta dalam perniagaan. Dari uraian di atas maka tidak mengher224 . Perjalanan sejarah dan wujud yang indah dari tari Gending Sirwijaya semakin mengukuhkan tari ini dianggap merupakan hasil dari sebuah lembaga budaya kerajaan yang diyakini menghasilkan budaya yang halus. dengan hanya dalam bidang budaya. 1990: 467). Dengan singkat dapat dikatakan bahwa selama ada keraton. Pada masa itu tari Gending Sriwijaya muncul lagi kepermukaan dan setelah kemerdekaan tari ini disahkan menjadi tari adat oleh pemerintah daerah. dan Kalimantan mempunyai cirri demokratis. raja. karena perbedaan antara rakyat dengan penguasa pada dasarnya tidak besar. di kerajaan agrarian kesatuan politik tetap ada selama masih ada pusaka-pusaka dan siti hinggil (tahta) masih berada di tempat suci. Bila tidak diacara kenegaraan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara Kesultanan laut dengan Kerajaan agrarian yang melahirkan budaya keraton. Jepang membentuk sebuah organisasi musisi kesenian bernama Hodohang beranggotakan orang Jepang dan masyarakat Palembang. bersama sama raja dan bangsawan memiliki modal (kapal) yang kadang-kadang berniaga sendiri atau mempercayakan modalnya kepada ahli-ahli perniagaan yang disebut syahbandar dengan hulubalang yang bertugas menjaga keamanan disebut Hang (Ensiklopedi Nasional Indonesia. Dengan politik halus. Berbeda dengan kesultanan laut. maka pementasan tari ini harus mendapat izin khusus dari pemerintah. Dari uraian tersebut dimungkinkan bila tari Gending Sriwijaya sebagai hasil budaya kesultanan Palembang turut hidup bersama runtuhnya kesultanan ini. karena selain tidak ada lagi lembaga budaya yang mewadahinya. Tari ini muncul lagi pada masa penjajahan Jepang. Sejak saat itu tari Gending Sriwijaya sebagai sebuah pertunjukan tari dipentaskan hanya pada penyambutan tamu agung dalam upacara kenegaraan sebagai ucapan selamat datang.

Pada masyarakat Sumatera Utara kebanggaan mereka menerima tamu diwujudkan dalam bentuk tari Serampang Duabelas. disajikan dalam bentuk menyongsong tamu. Hal ini dikarenakan bila dilihat secara umum. Akan tetapi apakah usahan pensakralan yang dilakukan kaum birokrat telah pula menyentuh masyarakat Palembang sebagai penyangga budaya tersebut?.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ankan apabila tari Gending Sriwijaya terpilih oleh penguasa daerah sebagai identitas yang ditunjukkan guna kebanggaan daerah. Keduanya dipertunjukkan serentak dalam bentuk berlawanan. Di daerah Pariaman Sumatera Barat juga ditemui seni pertunukan yang mereka sebut galombang seabgai bagian upacara pengangkatan penghulu suku. merupakan aib apabila tidak dapat menjamu tamu sebaik mungkin. Pada sebuah perkampungan yang relatif sepi dalam rutinitas keseharian. Bagi mereka. sehingga ia terhormat karena ilmu yang dimilikinya atau karena kedudukannya yang menyebabkan tamu harus bertandang ke rumah tersebut. Orang asing akan selalu menarik perhatian dari sebuah lingkungan homogen yang cenderung saling mengenal satu sama lain sampai pada keturunan mereka. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa orang yang seringkali didatangi tamu adalah orang yang sering dijadikan tempat bertanya bagi orang lain. galombang tamu dan kedua galombang tuan rumah. Tradisi seni pertunjukan galombang khas orang Pariaman dapat ditemui hampir disetiap daerah dalam wilayah kebudayaan Pariaman. Tamu yang dimaksud adalah 225 . masyarakat Sumatera memiliki tradisi kuat untuk menghormati dan menjamu tamu sebagaimana seorang raja. bahkan Serampang Duabelas dijadikan “bomnya” tari Melayu pada peresmian hari kemerdekaan Republik Indonesia I tahun 1945 di Istana Negara Jakarta yang diresmikan oleh Presiden Pertama Indonesia Soekarno. pertama. kedatangan tamu merupakan suatu yang menjadi perhatian masyarakat sekitar. 1998: 24-25). Pertunjukan ini biasanya menjadi bagian atau menempati posisi sebagai bagian dari pesta yang berhubungan dengan pelantikan pemimpin (penghulu) (Mahdi Bahar. Galombang ini di bawah 6 – 12 orang penari lakilaki dewasa dengan gerakan tertentu dan diiringi musik tambua. sebagaimana yang selalu didengungkan pada masa lalu sebagai puncak budaya daerah yang pada akhirnya dianggap sebagai kebudayaan nasional. Kekhasan pertunjukan galombang dapat diamati dari dua sisi.

Inovasi dan kreativitas perlu didampingkan dalam proses sosialisasi tersebut. Kreativitas di dalam “tradisi” harus tetap diberi ruang gerak. yang mengambil manfaat kearifan aktual dan kearifan simbolis yang menyatu (Kuntowijoyo. yaitu pemertahan dan dinamika. yaitu 1) kelembagaan. Tampaknya kita secara umum memasuki masyarakat baru. Beberapa tari penyambutan tamu seringkali juga ditampilkan pada upacara perkawinan berkaitan dengan kenyataan bahwa kelompok besar adalah tamu yang datang dan masuk ke dalam lingkungan rumah dan keluarga besar. Strategi Kemasan Seni Tradisi Strategi pelestarian warisan budaya berkenaan dengan dua aspeknya. dan 2) sumber daya manusia. Ia memandang bahwa masyarakat teknokratis kita benar-benar sebagai sebuah masyarakat neo patrimonial. dan nilai-nilai harus dilakukan terus menerus dari generasi ke generasi agar itu semua dapat lestari. Disamping itu harus ditetapkan lebih dahulu apa tujuan dari pelestarian warisan budaya itu. sebagai seorang yang memiliki kedudukan tertinggi pada struktur lembaga pemerintahan tingka I sebuah propinsi. masyarakat teknoratis yang memerlukan sejumlah rekayasa simbolis yang dikerjakan oleh birokrasi. 1987: 14). sehingga merupakan kelompok orang yang sangat dihormati. 1997: 52). Pendekatan lain yang perlu diambil untuk melestarikan warisan budaya adalah sosialisasi konsep-konsep. kaidah-kaidah. Pelestarian mempunyai makna bahwa di dalamnya terdapat dua aspek sekaligus. pola-pola.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF setiap rombongan penghulu suku yang datang dari persukuan dalam kenagarian di daerah mana upacara diselenggarakan (Hartati. Hanya dengan membuka peluang untuk kreativitas dan inovasi itulah kebudayaan dapat tumbuh semakin kaya dan 226 . Dari sana terungkap kesan bahwa ada usaha dari pemerintah daerah untuk menempatkan diri pada posisi sebagai penguasa yang melegitimasi kedudukan mereka baik secara birokrat maupun simbolis. Kenyataan di dalam masyarakat yang mendudukkan seorang penerima tamu (tuan rumah) setara dengan tamu yang hadir di rumahnya barangkali yang menyebabkan tari Gending Sriwijaya mensyaratkan bahwa tamu yang datang harus pula setingkat Gubernur. Namun dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa pelestarian tidak harus berarti pembekuan. Dari tradisi ini tidak mengherankan bahwa tari-tari yang mengiringi penyambutan tamu tumbuh subur di daerah Sumatera.

Akibatnya. Disamping mereka yang berperan sebagai pelaku dalam penerusan warisan budaya. termasuk di dalamnya unsur pemerintah. gerak. antara keberlanjutan dan perubahan. Oleh pengaruh asing tertentu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI canggih dan sekaligus lestari oleh sebab daya hidupnya (Edi Sedyawati. tidak terkecuali dalam peristiwa seperti kedatangan pejabat pemerintah atau orang terkemuka lain ke desa mereka untuk maksud hiburan. terdapat pula mereka yang berkedudukan sebagai penerima. Latihan khusus dengan sentuhan professional dibutuhkan untuk menjamin pertunjukan dapat memenuhi standar artistic dan pada saat yang sama memberikan hiburan dan rekreasi. Warga masyarakat yang demikianlah yang pada gilirannya mampu menjadikan bangsanya yang kuat juga dalam segi budaya. rekreasi dan penilaian artistik. dan tempat pertunjukan harus disorot. prinsip artistik dari seni pertunjukan seperti properti. Sekadar latihan dasar pertunjukan tidak akan cukup. Tari Gending Sriwijaya sebagai kebudayaan suku bangsa selalu berada dalam proses. Ini berarti bahwa semakin banyak pelaku seni pertunjukan yang dibutuhkan. di dalam kancah hubungan antar budaya yang selalu terjadi. karena pemerintah bertujuan membangun sektor ini sebagai bagian dari kebijakan pembangunan regional dan nasional. pendidik formal dan non formal). pola lantai. siapa yang akan mulai yang mengkoordinasi semua tindakan yang diperlukan ini dan lewat mekanisme apa?. konstum. Kebutuhan yang sama juga muncul dari sektor turism. Untuk memenuhi kebutuhan ini adalah anggota masyarakat dalam berbagai perannya. iringan. adalah agar keseimbangan senantiasa dipertahankan. 2008: 208). Tetapi masih ada pertanyaan yang tertinggal. Untuk mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan tersebut sisi artistik dari tari Gending Sriwijaya harus dipertimbangkan. sedemikian rupa agar jati diri bangsa senantiasa tampil dengan jelas dan tidak ditenggelamkan. Melalui jalur pendidikan dan media massa pulalah masyarakat luas dapat dilayani untuk membuat dirinya menjadi masyarakat yang sadar budaya dan sadar sejarah. Mereka yang merupakan pelaku dan penerus nilai-nilai (pemimpin. Yang selalu harus dijaga oleh masyarakat pemilikinya. yaitu khalayak ramai. 227 . Berbagai upaya harus dilakukan yang memungkinkan berperannya tari Gending Sriwijaya adalah festival seni daerah pada perayaan 17 Agustus.

Kedua jenis kebutuhan ini harus dipenuhi dalam pengaturan paket turisme oleh masyarakat lokal di desa. bila tari Gending Sriwijaya akan dijadikan salah satu daya tari turis ke desa-desa dan akibatnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal serta kesejahteraan sosial ekonomi mereka. 3) penuh variasi. Sedangkan bagi tipe kedua. Dalam pandangan saya. elemen artistik tidaklah begitu penting. Menurut Hermien Kusmayati. untuk menarik lebih banyak lagi turis ke desa mereka. Langkah menuju pada. kita harus mempertimbangkan kebiasaan para turis dalam mengunjungi desa-desa. Dari sudut pandang fungsional. Proses transmisi atau penyampaian pola-pola seni pertunjukan dari satu generasi kepada generasi yang lain dapat terjadi dengan disengaja dan dapat pula berlangsung tanpa disadari. maka tari Gending Sriwijaya tersebut masih dapat berfungsi seperti masa lalu. serta 5) murah harganya (Soedarsono. Untuk memungkinkan masyarakat desa dapat mengatur paket turis. Dalam kaitannya dengan tari Gending Sriwijaya. tetapi juga momen-momen artistiknya. yang lain senang berpartisipasi dalam aktivitas kultural dan kehidupan sosial masyarakat lokal (Zeppel. 2003: 15 – 17) sudah menunjukkan tanda-tanda mulai dilakukan. Aspek yang dialihgenerasi228 . bila paket turis diatur dengan baik. rekreasi dan keterlibatan dalam pertunjukan yang lebih penting bagi mereka. 1992: 4 – 6). kontinuitas pelaksanaan seni pertunjukan ritual selain ditunjang oleh latar belakang yang berorientasi pada kebutuhan bersama juga dikuatkan oleh transmisi yang berlangsung. terutama yang berkaitan dengan warisan kultural penduduk lokal. 2) singkat atau padat. turisme akan menjadi mekanisme efektif untuk melestarikan dan mengembangkan seni pertunjukan tradisional. penanganan hal yang berkaitan dengan elemen artistic seni pertunjukan tentu saja diperlukan. Beberapa turis lebih senang menikmati tamasya kultural di pedesaan. aspek hiburan. 1) tiruan dari asliya. Sebagai bagian dari upacara penyambutan tamu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Prospek Masa Depan Dalam hubungannya dengan turisme. termasuk durasi pertunjukannya. tipe turis yang pertama biasanya tidak hanya menikmati aspek rekreasi dan hiburan dari tarian itu. 4) ditanggalkan dari nilai-nilai sacral atau magis dan simbolisme.

Disamping dampak yang nyata dan nilai tambah ekonomis tersebut. ditunjang dengan tata rias dan busana penari seperti pengantin wanita Palembang memberikan sentuhan emosional tersendiri.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI kan meliputi materi atau bentuk. Hal ini baik bagi upaya konservasi lingkungan. Perkembangan seperti ini. serta dengan didukung oleh sarana musik dan penyiapan properti yang memadai. Apalagi. adanya upaya pengemasan seni pertunjukan untuk tujuan-tujuan pariwisata sering dinilai menimbulkan ekses negative terhadap keberadaan dan kelangsungan seni pertunjukan itu sendiri. Melalui turisme perkembangan Gending Sriwijaya dapat meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat lokal. 1999: 10). Perkembangan turisme sangat menarik bila ia memperhatikan dimensi lingkungan dan sosial budaya. Ditinjau dari sisi karya seni pertunjukan. Diyakini ritual ini dapat dikembangkan menjadi objek turisme yang menarik di Sumatera Selatan. sehingga secara perlahan-lahan akan mengurangi ketergantungan masyarakat lokal terhadap penggunaan sumber alam mereka secara ekstensif. kualitas penampilan dan makna sacral yang terwujud tentu akan lebih baik pula. pelaku dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya (Hermien Kusmayati. Padahal bila ditampilkan secara utuh dengan durasi pementasan lebih panjang. susunan pemain dan pengiring yang lengkap. Karenanya ritual tradisional seperti Gending Sriwijaya sangat menarik. maka rasa bosan akan cepat menghinggapi pamain. Pariwisata dan Seni Pertunjukan Sebagai suatu perkembangan seni. Kalau keadaan ini tidak cepat diantisipasi. diciptakannya bentuk baru seni pertunjukan bagi para wisatawan ini merupakan suatu dampak yang 229 . misalnya pada saat penari berbaris dengan teratur dan hierarkis. Mutu penampilan seni pertunjukan yang sudah mengalami pengalan-penggalan pada bagian-bagian tertentu tentunya tidak bisa diharapkan optimal. juga akan meningkatkan penghargaan masyarakat lokal terhadap lingkungan alam serta warisan budaya mereka dan dapat meningkatkan kelestarian budaya dan konservasi lingkungan. setting dan lokasi pementasan yang sepatutnya. penampilan seadanya yang itu-itu juga menyebabkan kesan monoton merebak ke permukaan. kehadirannya yang terkemas dikhawatirkan bisa menimbulkan citra bahwa seni pertunjukan tersebut hanya “sedemikian saja kualitasnya”.

dapat dikaitkan dengan upaya rasionalisasi dalam rangka pemadatan yang bertujuan yakni melestarikan seni itu sendiri. Disamping itu upaya tersebut juga diarahkan kepada pengungkapan kekayaan khasanah budaya seni pertunjukan di panggung internasional (bagi para wisman) dan juga di panggung nasional (para wisnu). Hanya masalahnya apakah hal itu perlu dilanjutkan kepada penciptaan bentuk-bentuk baru dengan keberanian untuk mengeksplorasi jenis-jenis seni pertunjukan yang selama ini belum tersentuh jamahan pariwisata. Untuk itu.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF positif. Tantangan sekaligus juga harapan adalah bagaimana kita harus mempersiapkan alih generasi dalam rangka pewarisan semua yang telah kita miliki saat ini kepada anak cucu kita. asosiasi seniman seni pertunjukan dibentuk. dan menetapkan standar harga yang layak dan manusiawi bagi semua. jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah melalui jalur pendidikan. Untuk jalur pendidikan formal. dari manapun datangnya. unik dan asli. Hal ini mengisyaratkan adanya pertumbuhan yang menjawab tantangan untuk berkreasi bagi para seniman seni pertunjukan. Peningkatan martabat sumber daya manusia di sektor seni pertunjukan dalam kaitannya dengan iklim persaingan yang sehat perlu direnungkan dan ditindaklanjuti sebagai upaya untuk menghindari eksploitasi para seniman oleh para pengusaha industri wisata. perlu dilembagakan aturan-aturan main atau kode etik dalam mengantisipasi pesan. Hal ini perlu dipikirkan secara terpadu dengan sektor pariwisata terkait. sehingga dapat disusun program paket pariwisata yang tidak saja berdampak meningkatkan nilai ekonomis tetapi juga berorientasi kepada pengembangan dan revitalisasi kesenian rakyat dalam rangka pelestarian jenis-jenis seni tradisi yang ada. tari Gending Sriwijaya yang juga mempunyai potensi untuk digarap dan diperkenalkan kepada wisatawan yang datang dari jauh untuk menyaksikan sesuatu yang baru. Apalagi dasarnya dampak teknologi canggih dalam bidang home entertainment yang menawarkan alternative seni budaya asing yang cukup menggoda bagi generasi penerus kita tampaknya mendesak untuk diantisipasi dengan cepat. Kalau sudah ada. harus dimulai persiapan sejak Sekolah Dasar dengan memberikan masukan lebh kepada porsi pengetahuan 230 . baik formal maupun non formal. Misalnya. Bila perlu. Sedangkan bagi upaya pengemasan bentuk yang sudah ada.

Dalam kaitannya dengan pertunjukan rakyat. Kenyataan yang ada dan terjadi dalam lingkup seni pertunjukan Indonesia saat ini adalah hasil upaya antisipatif terhadap tuntutan yang ada dalam masyarakat yang terimplementasikan dalam bentuk-bentuk seni pertunjukan kemasan. tiada jalan lain yang mungkin dilakukan. Penyikapan masalah ini harus dilandasi pemikiran maju yang berorientasi kepada pendekatan-pendekatan pragmatis bagi pemenuhan kepentingan segala pihak. 231 . penikmat. pemilihan topik studi.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dan keterampilan kesenian yang ada. kursus keterampilan dan sistem sanggar perlu digalakkan. dan pengelola industri itu sendiri. Pada jalur non formal. baik yang bermakna positif. sehingga mendukung peningkatan apresiasi masyarakat. Meskipun hal ini merupakan masalah klasik dengan alternative solusi yang klasik dan terdengar klise. Apalagi. Dengan menyikapi adanya tuntutan tersebut. sejak Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah. Sekali waktu. baik bagi pelaku. sejauh menyangkut masalah pendidikan formal dan non formal. sedangkan ekses negatif yang timbul ternyata berpulang kepada diri kita sendiri sebagai orang-orang kreatif yang terlibat. yang dilakukan adalah menghimbau para eksekutif penentu kebijakan agar dapat menciptakan suasana “sadar kesenian rakyat” di kalangan eksekutif penentu kebijakan politik kebudayaan. Pada tingkat Sekolah Kejuruan dan Perguruan Tinggi. Kunjungan siswa sekolah non kesenian ke kampus-kampus kesenian yang lebih tinggi sebaiknya perlu dilakukan untuk memperluas wawasan kesenian itu sendiri. hal itu kait mengait dalam suatu lingkaran keadaan yang kurang kondusif bagi pengembangan kesenian yang layak. terutama pada pengisian mata pelajaran pilihan lokal di kurikulum pendidikan nasional. maupun negatif. penelitian dan tugas akhir studi haruslah diarahkan kepada bidang kesenian rakyat tradisi. Adanya dampak ekonomis dan tantangan untuk bersikap kreatif bagi pengembangan bentuk seni pertunjukan yang baru haruslah disyukuri dan ditingkatkan. Dampak yang timbul merupakan hasil proses sebab akibat. apresiasi siswa dapat ditingkatkan dengan mengadakan workshop dan pertunjukan di sekolah maupun di kampus-kampus. Suatu diskusi untuk mencari alternatif masalah tersebut perlu digalang agar tema-tema “eksploitasi”. kita harus dapat lebih arif dan berupaya mencoba menghilangkan ekses tersebut.

karena di dalamnya terjadi suatu pertemuan yang menguntungkan kedua belah pihak. Jajuk Dwi Sasanadjati. sehingga muncul ke permukaan adalah dampak positif saja. Nama-nama kesenian diambil tanpa rasa bersalah. Bahkan. Ekspresi Jurnal Institut Seni Indonesia Yogyakarta: Seni: Kearifan dan Keunggulan Vol232 . Kemiskinan kreatifitas ini tertutup oleh nama besar dan kesempatan yang telah didapat. Bahkan. 1984. 1990. ketika orientasi mereka berubah dari sebuah pertunjukan upacara adat ke format wisata seni. Rakyat pemiliki kesenian itu sendiri hanya bisa melihat dari kejauhan. mereka dilibatkan untuk mengambil keputusan untuk menjual atau mempertunjukkan keseniannya. Hermien Kusumayati. Banyak karya tari baru yang dihasilkan oleh seniman-seniman besar mengambil ide dari tradisi rakyat dan menjadi sebuah garapan tari yang merangkai berbagai unsur-unsur motif gerak tari daerah secara semena-semena. “derajat”. “kurang bergengsi”. Serial Seminar Seni Pertunjukan Indonesia di Gedung Teater Tertutup Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta tanggal 9 – 10 Mei 1999. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Cipta Adi Pustaka. kerja kreatif yang terjadi menjadi langka. Dalam kasus tari Gending Sriwijaya. dan semacamnya dapat dieliminasi dari lingkup seni pertunjukan yang kita cintai bersama ini.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF “Sapi Perahan”. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Konteks tradisi pun semakin pudar tanpa penghargaan. Kantor Wilayah Propinsi Sumatera Selatan: Proyek Pembinaan Kesenian Sumatera Selatan tahun 1990/ 1991. Melibatkan rakyat dalam ekspresi komunal mereka ternyata bisa dilakukan. mungkin dari televisi atau foto-foto di koran. ketika beberapa karya tradisional mulai laku dijual yang ada hanyalah tiruan dari kemasan. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. Deskripsi Tari Pangutan. Daftar Pustaka Adat Istiadat Upacara Perkawinan Daerah Sumatera Selatan. : ). “paling rendah”. tanpa izin dari pemilik asal atau niat kerja sama. Senja Ulang Pertunjukan yang Menghibur. (Soerapto Soedjono. kendati menepiskan makian. Ensiklopedi Nasional Indonesia jilid 4.

Seni Pertunjukan Indonesia dan Pariwisata. 2008. R. 1997. Jurnal Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia tahun VIII. Kecak Rina. Sardono W. 2005 Koentowijoyo. Soedarsono. Budaya dan Masyarakat Yogyakarta: Tesis Wacana. Soedarsono. Kenyataan dan Harapan: Dampak Industri Pariwisata Pada Seni Pertunjukan. Kusumo dan Arma (Kerja Kreatif Seniman Tradisional dan Modern). Ke Indonesiaan Dalam Budaya. Diyah Larasati. buku 2. Jurnal Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Seni Pertrunjukan dari Perspektif Politik Sosial. 233 . 2006. dan Ekonomi. Sedyawati Edi. Jakarta: Wedatama Widya Sastra. Lintasan Sejarah Budaya Sumatera Selatan Pusat Penelitian Lembaga Sosial Budaya Penelitian Univesitas Sriwijaya tahun 1997. Ekspresi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI ume 14. tahun 5. Soejono Soeprapto. 2003. 1987. 2003.

234 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Asril Muchtar adalah Sekretaris Program Pascasarjana dan dosen jurusan Karawitan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang.

sedangkan Upacara Tabot terdapat di kota Bengkulu. di Bengkulu Upacara Tabot masih tetap dilaksanakan dari tanggal 1-10 Muharram. Adam Saleh (Djakarta: PT Sinar Hudaya. Sumatra Barat. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharam tahun 680 (61 H)1. Dosen Jurusan Seni Karawitan STSI Padang Panjang Latar Belakang radisi ritual berskala besar dan kolosal yang dimiliki masyarakat pantai bagian Barat Sumatra adalah Upacara Tabuik dan Upacara Tabot. Kedua ritual ini sama-sama dilaksanakan pada awal hingga paroh pertama (1-10) Muharam dalam kalender tahun Hijriyah..Hum. kepentingan penyelenggara dan kepentingan masyarakat penikmat. 1974). Terj. Upacara Tabuik terdapat di kota Pariaman.a. Namun terjadi sedikit perbedaan. S.12. Periksa Asril. “Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di 235 . Periksa H. tetapi kedua ritual ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang sama.H Kamer (ed. dan 14 Muharam—dengan perhitungan hari puncak upacara jatuh pada hari minggu. Meskipun berada di tempat yang berbeda.w. Dalam peperangan ini Husein T 1 Fazl Ahmad.). Shorter Encyclopaedia of Islam (Leiden: EJ Brill.. Pergeseran ini agaknya ingin mengadopsi dua kepentingan yakni.A. 142.13. tetapi bisa menjadi dari tanggal 1-11. yakni peristiwa perang Karbala Irak antara pasukan Yazid dari Bani Umayyah dengan rombongan Husein Bin Ali cucu Nabi Muhammad s.R Gibb dan J. M.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Upacara Tabuik dan Tabot di Pesisir Barat Sumatra Asril Muchtar. 190191. Husein Sjahid Agung. sementara di Pariaman sudah terjadi pergeseran waktu pelaksanaan dengan tidak lagi berpatokan pada tanggal 1-10 Muharam. 1972).Kar.

Akan tetapi. Sementara di tempat lain ditafsir pula berdasarkan kekuatan budaya lokalnya. mereka melakukan “pemitosan” sejarah perang Karbala dengan menafsirkannya sendiri rasa simpati terhadap Husein sesuai dengan versi daerah masing-masing.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan pasukannya mati terbunuh kecuali beberapa perempuan dan anakanak. Kebesaran namanya dan penghormatan terhadapnya dilakukan oleh kalangan umat Islam dari penganut Syi’ah dari seluruh dunia. Tesis S2 UGM Yogyakarta. Di Bengkulu pelaksanaan Upacara Tabot juga terdiri atas dua kelompok tabot yaitu kelompok tabot berkas (tabot tuo) dan kelompok tabot bangsal. yaitu tabuik pasa dan tabuik subarang. bentuk upacara dan perayaannya di masing-masing daerah tidak semata-mata bertolak dari peristiwa perang Karbala. Misalnya. Sementara di Bengkulu tabot ditafsir dari mimpi seorang leluhur keturunan tabot saat bermimpi di Karbala. yaitu patung kuda bersayap berkepala wanita yang dianggap sebagai kendaraan yang membawa arwah Husein. yang memiliki unsur seperti piramid--kemudian disebut tabot. benda upacara (tabuik dan tabot). masing-masing kelompok tabot memiliki Pariaman Sumatra Barat”. di Pariaman tabuik diwujudkan dalam bentuk sebuah benda atau menara yang dibuat setinggi sekitar 10-12 meter dan pada bagian tengahnya dibuat seekor buraq. Mimpi itu kemudian diwujudkan dengan bentuk menara setinggi sekitar 5-6 meter. termasuk di berbagai tempat di Indonesia. dan Hasan Bin Ali (kakak Husein). Husein bagi kalangan penganut Syi’ah dianggap Imam ketiga setelah ayahnya Ali Bin Abi Thalib. Kematian Husein meninggalkan duka yang mendalam bagi penganut Syi’ah. Di Pariaman pelaksanaan Upacara Tabuik dilakukan oleh dua kelompok pendukung tabuik. Peristiwa Karbala bisa menjadi seperti legenda. seperti yang masih dapat kita jumpai di kawasan pantai barat Sumatra adalah Upacara Tabuik dan Upacara Tabot. 236 . Ia melihat bangunan istana raja berbentuk piramida. dan tak terkecuali juga dari Islam Sunni di berbagai kawasan Asia Tenggara. Benda ini kemudian disebut tabuik. Akan tetapi. Kedua kelompok ini seolah-olah menggambarkan dua kubu yang berperang. Masing-masing hanya menggunakan satu tabuik gadang (tabuik besar). Penafsiran ini berimbas pada bentuk upacara. spirit upacara. 51. dan pelaksanaan upacara. Uniknya. 2002. Bentuk penghormatan itu di kawasan Timur Tengah diwujudkan dalam pertunjukan drama bergaya sufi yang menyajikan kronologi penderitaan yang dialami oleh Husein.

Di Pariaman misalnya.. setiap perayaan upacara ini tidak kurang dihadiri oleh 200-an ribu orang dari berbagai daerah sekitarnya. sehingga menjadi kolosal. Upacara tabuik dan Upacara Tabot sudah menjadi identitas budaya bagi masing-masing daerah. tetapi bentuk upacara. perubahan kecenderungan selera dan perilaku masyarakat dan berbagai perkembangan politik. telah turut pula mewarnai “wajah” perkembangan upacara. Ibid. sehingga jumlah tabot yang digunakan dalam upacara bisa mencapai 12 buah atau lebih2. Seiring dengan perkembangan zaman. Perbedaan ini muncul karena adanya interpretasi masyarakat terutama para pendukung dan keluarga tabuik dan tabot. Kemudian seorang to2 3 Badrul Munir Hamidy (ed. kemudian diwariskan kepada keturunan mereka dan keturunan mereka hasil asimilasi dengan warga setempat3.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI pula anggota tabot pendukungnya. 61. Misalnya dari ritual ke sekuler. 13-14. dan spirit yang dimunculkannya terdapat perbedaan-perbedaan yang signifikan. Interpretasi Masyarakat dari Perang Karbala ke Upacara Kendatipun Upacara Tabuik dan Upacara Tabot sama-sama berasal dari peristiwa perang Karbala. struktur atau kronologi upacara. ataupun berubah secara parsial. Margaret Kartomi berdasarkan legenda yang berkembang di Bengkulu menceritakan. Menurut Hamidy. Mereka berasal dari Madras India. Versi lain menyebutkan. Dalam setiap penyelenggaraan upacara ini di masing-masing kota. upacara tabot pada awalnya merupakan upacara berkabung kaum Syi’ah yang dibawa ke Bengkulu orang Sipahi yang bekerja membangun benteng Marlborought.). pelaksanaannya. bahwa upacara tabut berasal dari India dibawa ke Bengkulu oleh Imam Senggolo--seorang pemuka Islam yang dikenal pula dengan nama Syeikh Burhanuddin. Kedua kelompok tabot di Bengkulu tidak secara tegas dan terbuka sebagai gambaran dua kubu yang sedang bertentangan. 237 . mampu memobilisasi masyarakat untuk menyaksikannya. Upacara Tradisional Daerah Bengkulu: Upacara Tabot di Kotamadya Bengkulu (Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Depdikbud. Bahkan masyarakat yang menyaksikan upacara itu secara tidak langsung terlibat sebagai bagian dari pendukung upacara. 1991/1992).

Periksa juga M. berkembang dan memiliki kesamaan dasar di India7.. Hamdan Basyar (ed. Berdasarkan keterangan Snouck Hurgronje di atas. en Volkenkunde (Batavia: Albrecht & Co. van Ronkel. 21. tabuik masuk ke Sumatra pada akhir abad XVII. Houtsma.. ketika Inggris membawa pasukan Sepoy India (orang Sipahi atau Cipai) yang berusaha menguasai pesisir pantai Barat Sumatra. Michael Barry. Color and Symbolism in Islamic Architecture: Eight Century of the Tile Maker’s Art (London: Thames and Hudson Ltd. 334-335.). “Nadere gegevens omtrent het Hasan¬Hoesain feest”.C. kuat dugaan tabuik diperkirakan masuk ke Pariaman pada akhir abad XVII.a Shiah Ritual Tranplanted from India to Sumatra”. Syiah dan Politik di Indonesia: Sebuah Penelitian (Bandung: Mizan dan PPW-LIPI. 1986). cit. (Clayton: Centre of Southeast Asia Studies. “Tabut . Land--. oleh karena baru pada abad XVI sampai XVIII. Kartomi. Cerita tentang buraq sering dikaitkan dengan peristiwa isra’ dan mi’raj Nabi Muhammad8. “Syiah di Indonesia: Antara Mitos dan Realitas” (pengantar) dalam A. Kecepatan terbangnya seperti kilat. et al. Rahman Zainuddin dan M. et al. dalam Tijdschri ft voor Indische Taal--. Perkiraan kedua. Ethnography of Muhammadan 238 . sekarang berkembang pula dengan memakai jilbab yang diidentikkan seperti burung raksasa. sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu pada masa itu. dulu berambut panjang. Bentuk yang seperti ini ditemui di India Selatan. l44.. Azyumardi Azra. op. Ricklefs (ed. Snouck Hurgronje memperkirakan bahwa tabuik berasal dari India dan masuk ke Sumatra diperkirakan pada abad XIV. Periksa Ph. Chandler dan M.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF koh Islam yang bernama Kadar Ali membawa tabut itu ke Pariaman4. The Encyclopaedia of Islam: Dictionary of the Geography. 284. dan untuk membantu menduduki bentengnya di Bengkulu5. Kartomi. 1914).. 1996).. Azyumardi Azra mencatat bahwa tabuik masuk ke pantai barat Sumatra antara tahun 1750-8256. Th. Melihat pada bentuk tabuik yang ada di Pariaman. S. diterjemahkan oleh Hartoyuwono. salah satu ciri terpentingnya yang sangat berbeda sekali dengan tabot Bengkulu adalah buraq.) Nineteenth and Twentieth Century Indonesia. diduga karena hikayat Ali Hanafiyah yang menceritakan tentang kematian Husein. 4 5 6 7 8 Margaret J. sedangkan tabot Bengkulu tidak memiliki buraq. Buraq itu bentuknya seperti kuda bersayap berkepala wanita. 142. dalam David P. Masa kontak budaya ini menjadikan ta’ziah atau tabut dari Iran. Monash University. 2000). Iran membuat ikatan budaya yang kuat dengan India melalui berbagai penguasa Syi’ah di India Utara dan India Selatan. Buraq termasuk binatang mitologi yang hanya ada dalam konsep pikiran saja.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI seperti di Dekkan. Mitos ini yang menjadi ilham dalam mewujudkan bentuk fisik tabuik dan tabot itu. para malaikat mencium adanya bau manusia dalam rombongan tersebut. “Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di Pariaman Sumatra Barat”. Adapun mitos tabuik Pariaman adalah sebagai berikut. dan arak-arakan itulah kini yang disebut dengan tabuik10.. antara tabuik Pariaman dengan tabot Bengkulu masing-masing memiliki mitos sendiri-sendiri. Setelah arak-arakan itu mendarat di lokasi Husein terbunuh. dan mereka memohon kepada malaikat ikut bersama jenazah Husein. Pesta Kolosal Anak Nagari Piaman”. 2002. Jadi kemungkinan besar tabuik Pariaman berasal dari India Selatan tidak melalui Bengkulu. dengan datangnya arak-arakan para malaikat beserta buraq membawa jenazah Husein terbang ke langit. tiba-tiba datanglah sebuah arak-arakan dari langit yang terdiri dari para malaikat dan seekor buraq. 239 . Dalam perjalanan menuju langit. Akan tetapi masyarakat Pariaman membuat rekayasa sendiri yang bersifat imajinatif. 793. dan Delhi yang disebut pula dengan tabut atau buraq9. Setelah Husein terbunuh dengan kondisi tubuh dicincang oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. pada hal itu adalah fakta sejarah yang terjadi di Karbala. 26 Juni 1994). tetapi malaikat tidak mengizinkannya. yang sangat berbeda. Sebagai pertimbangan lain. Lucknow. 9 Ibid. Kemudian malaikat itu memberikan nasehat agar orang Cipai itu dapat melaksanakan arak-arakan tersebut seperti yang dilihatnya. dan selanjutnya arak-arakan itu lepas landas menuju langit. 63. Tesis S2 UGM Yogyakarta. ketika Upacara tabuik masih dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten Padang Pariaman.. yang tidak bisa diPeoples (London: Luzac and Co. Setelah itu mayat Husein dan para pengikutnya dikuburkan di Karbala. 10 Parsi Tanjung. Atau mungkin saja masuknya tabuik ke Pariaman dan Bengkulu dalam kurun waktu yang bersamaan. 145-146. Singgalang Minggu. 1913). Rupanya mereka prajurit Husein yang selamat yang berasal dari Cipahi (Keling) bergantung pada arak-arakan itu. Ungkapan mitos ini juga dimuat dalam leaflet pariwisata Kabupaten Padang Pariaman. Mitos di atas dimulai dari kematian Husein oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. para malaikat memasukkan bagian tubuh Husein ke dalam peti yang ada di punggung buraq. “Tabuik. Periksa Asril.

Melihat kejadian itu Natsal berbaring di tanah. Nabi Ibrahim. Ketika Natsal membuka pakaian Husein untuk mengambil barang itu. Seseorang yang bernama Natsal. dari pada diambil atau dirampas oleh orang lain. Siti Fatimah. lalu Nabi menampar wajah Natsal dengan mengucapkan kata-kata. Dalam keadaan sadar Natsal melihat bagaikan dalam mimpi sebuah istana raja berbentuk piramida muncul di sepanjang tempat itu. Natsal menjelaskan semua kejadian yang ia alami. Natsal menyesali perbuatannya. kilat menyambar ke segala arah dengan suara yang menakutkan. Nabi Musa.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF hubungkan dengan fakta. tetapi keturunanmu akan dilahirkan dengan wajah hitam. Namun ketika mereka membuat tabuik. Natsal kemudian menebas tangan mayat Husein. akan tetapi pada saat yang sama ia mendengar guruh. Setelah kejadian itu. Pada saat ia berdoa Ja’far Ibnu Muhammad Siddik seorang ulama yang sedang mengelilingi Kabah. mitos tabot dilukiskan sebagai berikut. disertai lantunan iramairama yang harmonis. menemuinya dan menanyakan masalah apa yang dihadapi oleh Natsal. untuk memberi tanda perbuatan burukmu bukan hanya wajahmu yang tetap hitam. Mayat Husein yang tanpa kepala ditinggalkan di padang Karbala. mitosnya juga berawal dari tragedi Karbala. dan Nabi Muhammad datang memberikan penghormatan kepada Husein. mereka bisa mewujudkan arak-arakan malaikat dengan buraq dalam mitos itu seperti Upacara Tabuik yang ada sekarang. Natsal melihat wajah Nabi Muhammad. Kemudian ia mendengar kata-kata. Berbeda pula dengan tabot Bengkulu. ia pergi ke Mekkah memohon ampunan dari Allah di Ka’bah atas perbuatan buruknya itu. Menurut Natsal lebih baik ia mengambil barang itu. kedua tangan Husein bergerak-gerak menolak tangan Natsal. bahwa dosa Natsal bisa diampuni dengan syarat ia dan keturunannya setiap tahun harus mengenang dan memperingati kematian Husein melalui suatu 240 . lalu Ja’far memberikan jawaban kepadanya. Berdasarkan catatan yang dibuat oleh penguasa Belanda di Bengkulu pada akhir abad ke-19. Nabi Isa. berilah jalan Nabi Adam. pembantu Husein mengetahui bahwa di dalam ikat pinggang Husein tersimpan sebuah intan atau jimat yang berharga.

sebagaimana bentuk tabot yang ada di Bengkulu saat ini. “Perkembangan Musik Dol di Kota Bengkulu”. M. sebagai hasil penafsiran mereka terhadap mimpi Natsal di Karbala12. meskipun ada beberapa perbedaan. dalam Internationales Archiv fur Ethnographie (Leiden: Verlag von P. 2009). (2) Upacara maambiak batang pisang (mengambil batang pisang) merupakan prosesi ritual mengambil dan menebas batang pisang yang dilakukan di masing-masing tempat upacara. kemu11 O. Berdasarkan mitos itu. memberikan gambaran bahwa orang-orang Cipai yang datang ke Bengkulu dan ke Pariaman. Akan tetapi nama Natsal sangat dihormati oleh orang-orang Cipai Bengkulu termasuk para serdadu Cipai. untuk menebus dosa-dosa Natsal. 12 Ibid. Helfrich. sehingga menjadi kewajiban bagi mereka melaksanakan upacara tabot secara khidmat setiap tanggal 1-10 Muharram setiap tahun.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI upacara yang khidmat11. Mengenai bentuk tabot keturunan Natsal membuat seperti menara yang memiliki unsur piramida. namun dalam perkembangan sekarang sudah ada pula tabot yang memakai buraq13. Natsal yang disebut sebagai pembantu Husein hanyalah sebuah rekayasa saja. Ritus-ritus yang terdapat dalam Upacara Tabuik adalah sebagai berikut. “Het Hasan-Hosein of Taboet-Feest te Benkoelen”. L. 13 Zelly Marissa Haque. (1) Upacara maambiak tanah (mengambil tanah) merupakan prosesi ritual mengambil tanah ke sungai yang menggambarkan pengambilan mayat Husein yang masih tertinggal di Karbala.. 22. 1888). et al. W. tabot di Bengkulu tidak memiliki buraq. Upacara ini dilaksanakan pada tanggal 01 Muharam pada sore hari selesai salat ‘Ashar. 192-193. begitu juga mimpinya. Trap. 241 . Berpedoman pada dua mitos di atas. kemungkinan berasal dari daerah yang berbeda di India dan datang dalam kurun waktu yang sama atau berbeda. Bentuk Upacara Upacara Tabuik dan Upacara Tabot terdiri atas beberapa ritus atau rangkaian upacara yang pada dasar memiliki kesamaan. Mereka menganggap Natsal sebagai leluhurnya. Skripsi (Padangpanjang: STSI.

Upacara tabuik naiak pangkek adalah penggabungan pangkek 15 (bagian) bawah dengan pangkek atas badan tabuik yang sebelumnya dibuat secara terpisah. kemudian dibawa ke daraga. di sekitar daraga juga dibuat pondok tempat membuat tabuik yang disebut dengan kandang tabuik.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) dian dibawa ke daraga14. Upacara ini menggambarkan jari-jari Husein yang berserakan di Karbala.00-16. Upacara ini dilaksanakan dua hari menjelang upacara puncak. Upacara mahatam merupakan penurunan jari-jari dari rumah tabuik (keluarga tabuik). 15 Dalam pembuatan tabuik Pariaman dilakukan atas dua bagian. Upacara ini dilakukan pada tanggal 06 Muharam (dapat menyesuaikan dengan rentang waktu upacara) pada malam hari sekitar pukul 19. Setiap bagian disebut dengan pangkek. 242 .00-14. Upacara maradai merupakan prosesi yang bertujuan mengundang simpati masyarakat guna menyumbang dana atau apa saja yang bisa membantu biaya pembuatan tabuik. Upacara ini dilakukan pada malam hari setelah upacara mahatam. Pangkek bawah adalah kaki tabuik dan buraq.30. Upacara ini dilaksankan pada tanggal 05 Muharam mulai dari sore hingga sekitar pukul 21. puncak tabuik. Upacara maoyak tabuik merupakan upacara puncak dari seluruh rangkaian Upacara Tabuik. Upacara ini dimulai dari pukul 11. selanjutnya dikumpulkan di suatu tempat. pada malam hari (pukul 20.00). Upacara maarak sorban merupakan prosesi mengarak sorban (penutup kepala) sebagai gambaran setelah menemukan sorban Husein. Upacara ini menggambarkan saat-saat Husein dipancung oleh tentara Yazid. sedangkan pangkek ateh (atas) terdiri atas bungo salapan. yaitu bagian atas dan bagian bawah. Upacara ini dilaksanakan sekitar pukul 12.00-22. Upacara maarak jari-jari adalah upacara berupa prosesi mengarak jari-jari dengan melintasi berbagai kampung sebagai gambaran keganasan tentaraYazid. sebagai gambaran 14 Daraga adalah areal yang dimitoskan sebagai tempat makam Husein.00. Kandang tabuik dapat pula dibuat terpisah dari daraga. Upacara ini dilaksanakan pada pagi hari (subuh) pada hari puncak upacara.00. Upacara tabuik dibuang ke laut merupakan upacara terakhir berupa prosesi membuang tabuik ke laut. Jika lokasi memungkinkan.00. biliak-biliak. dan lain sebagainya.

Penja adalah benda berbentuk telapak tangan manusia lengkap dengan jari-jarinya.00-21. Acara dimulai di lapangan Merdeka Bengkulu (lapangan Tugu Propinsi) dan selesai kembali di lapangan Tugu Propinsi. (5) Arak penja: atau disebut juga arak jari-jari dilaksanakan pada tanggal 08 Muharam mulai pukul 19. Penja disebut juga dengan jari-jari..00. Tidak ada terjadi perkelahian. Masa jeda antara upacara maambiak tanah dengan upacara maambiak batang pisang. 16 Asril. Pelaku upacara adalah anakanak dan remaja. kemudian tanggal 06 Muharam kelompok tabot berkas mengunjungi kelompok tabot bangsal. (4) Meradai. Menjara dilakukan dua kali yaitu pada tanggal 05 Muharam oleh kelompok tabot bangsal ke kelompok tabot berkas. Op cit. di masing-masing rumah tabuik dan kandang tabuik dilakukan kegiatan pembuatan tabuik dan permainan gandang tasa (musik pendukung Upacara Tabuik).00 dengan menempuh rute yang telah ditentukan. (1) Mengambiak tanah (mengambil tanah). berjalan mengitari kampung dilakukan oleh anakanak usia 10-12 tahun dalam rangka pengumpulan dana untuk pembuatan tabot. 17 Gerga adalah pusat kegiatan tabot.00-23.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengantarkan jenazah Husein ke pemakaman. (3) Menjara artinya mengandun atau berkunjung mendatangi kelompok tabot lain untuk beruji dol (bertanding membunyikan dol). 243 . Penja menurut keluarga Sipai adalah benda keramat yang mengandung magis.00-18. Tanah yang diambil adalah tanah yang dianggap mengandung nilai magis. Peserta meradai disebut jola. 66-67. Menjara dilakukan pada malam hari dari pukul 20. Upacara ini dilaksanakan dari pukul 16. Setelah dicuci penja diletakkan di gerga17.3016. Pada masa lalu di Pariaman tanggal 2-4 Muharam disebut dengan hari gam. maka harus dicuci dengan air bunga dan air limau [jeruk] setiap tahunnya. namun sudah banyak yang tidak tahu lagi tersebut. (2) Duduk penja (jari-jari). Meradai dilaksanakan pada tanggal 06 Muharam dari pagi sampai sore. Adapun ritus-ritus yang terdapat dalam Upacara Tabot menurut Hamidy sebagai berikut.

minuman. Pasir. Selesai ritual tabto tebuang.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF (6) Arak serban: dilakukan pada tanggal 09 Muharam pada malam hari dari pukul 19.00-21. Arak serban berupa prosesi membawa serban (sorban) putih yang diletakkan pada tabot coki (tabot kecil). Karabela.00. (9) Tabot tebuang: upacara tabot tebuang dimulai dari Lapangan Merdeka. Sesampai di Lapangan Merdeka. sekitar pukul 11. Pelaku utama upacara itu terdiri dua tabuik. Cara ini menampakkan bahwa di Bengkulu nilai ritual dan sakral masih dipertahankan. Di makam ini dimakamkan Imam Senggolo.00-16. (8) Arak gedang: yaitu prosesi kelompok tabot yang dimulai dari markas masing-masing menuju Lapangan Merdeka. sehingga disebut pula dengan tabot besanding. tabot-tabot itu dibuang ke rawa-rawa di sekitar makam18. dan berbagai kembang dan limau (jeruk). Op cit. Upacara Tabuik termasuk upacara yang berdimensi keras dan bersifat kolosal. dan tabuik subarang dengan pusat aktivitasnya di Kampung Pondok.00 arak-arakan tabot menuju Padang Jati dan berakhir di kompleks pemakaman umum. pelopor upacara tabot. Upacara tabot tebuang dipimpin oleh dukun tabot dan dipandang bernilai magis. berupa makanan. dilengkapi dengan bendera atau panji-panji berwarna putih. tabot-tabot dibariskan seperti bershaf. Gam dimulai dari pukul 07. Selama acara tabot besanding berbagai hiburan dan kesenian rakyat ditampilkan untuk menghibur para pengunjung. 18 Hamidy. 244 . Upacara dimulai pada pukul 19.. 66-73.00. (7) Gam: yaitu masa tenang yang ditentukan tidak boleh ada kegiatan apapun yang berkaitan dengan tabot. meskipun gerusan perubahan ke arah mempertipis nilai tetap saja terjadi.00. Di Bengkulu. hampir semua ritus upacara yang dilakukan menggunakan sesajen. Menyatunya kelompok-kelompok tabot dalam satu arak-arakan ini disebut dengan arak gedang (pawai akbar). yaitu tabuik pasa dengan pusat aktivitasnya di Kampung Perak. hijau atau biru yang bertuliskan “Hasan dan Husen” dengan kaligrafi Arab. dan pasar Pariaman (bekas nagari Pasar Pariaman). Kampung Cina. Kampung Jawa.00-21.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

dan Jawi-Jawi (bekas nagari Lima Koto Air Pampan). Kedua tabuik ini menggambarkan dua kelompok yang sedang berseteru. Bisa dianalogikan dengan pasukan Husein dan pasukan Yazid yang sedang berperang di Karbala. Walaupun sesungguhnya masing-masing pendukung tabuik itu sama-sama “mengagungkan” dan merayakan peringatan kematian Husein, dan tidak satu pun yang berperan sebagai pasukan Yazid. Akan tetapi antara satu dengan lainnya saling tuding menjadi lawannya. Ini memang aktivitas budaya yang direkayasa untuk itu. Bentuk-bentuk kekerasan itu muncul, seperti mengadu tabuik, caci maki dalam bahasa kasar, sindiran dalam bentuk sarkasme, dan perkelahian massal di antara kedua belah pihak. Namun sekarang sindiran dan caci makian dalam bahasa kasar sudah mulai hilang. Bentuk kekerasan itu muncul pada upacara maambiak batang pisang, maarak jari-jari, maarak sorban, dan tabuik dioyak. Perkelahian itu dianggap sebagai bagian penting dari upacara. Perkelahian merupakan luapan dan puncak atau klimaks dari konflik-konflik yang ada selama upacara. Tanpa ada perkelahian maka upacara dianggap “dingin”, karena bagian ini merupakan salah satu daya tarik pengunjung dan para perantau Pariaman untuk menyaksikan Upacara Tabuik. Bagi para pengunjung jika tidak melihat bagian upacara yang menyajikan permainan keras, dianggap belum menyaksikan Upacara Tabuik. Bagi mereka yang mengerti dengan Upacara Tabuik, dalam kerangka fantasi fikirannya sudah terpola akan menyaksikan perkelahian dan bentuk permainan keras lainnya. Perkelahian massal itu setidaknya bisa terjadi dua kali, yaitu pada upacara maambiak batang pisang dan upacara maarak jari-jari atau maarak sorban. Meskipun dalam pelaksanaannya bisa saja tidak terjadi seperti itu, tetapi biasanya satu kali akan dilakukan, terutama pada upacara maambiak batang pisang, karena upacara maambiak batang pisang merupakan gambaran penebasan dengan pedang di peperangan. Pada masa lalu korban-korban perkelahian dalam Upacara Tabuik tidak merasa dendam dengan kejadian itu, walaupun mereka tahu orang mencedarainya. Mereka menerima dengan keikhlasan dan dianggap sebagai pengorbanan, yang belum seberapa nilainya jika dibandingkan dengan pengorbanan Husein. Mereka yang berjiwa seperti itu memiliki pemahaman dan penghayatan yang dalam terhadap upacara yang dilakukan. Selain itu, para ninik mamak dan tokoh masyarakat dapat meredam dan merangkul kedua belah pihak untuk berdamai, serta
245

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

memberikan pengertian tentang insiden yang terjadi merupakan bagian dari Upacara Tabuik. Bahkan setelah mereka berkelahi, lalu mereka berkumpul bersama, makan, dan minum bersama bagaikan tidak terjadi sesuatu. Upacara Tabuik yang bersifat kolosal terutama sekali dapat dilihat pada saat tabuik dihoyak dan tabuik dibuang ke laut. Kedua upacara itu dilaksanakan pada hari yang sama. Para pengunjung atau pelayat datang dari berbagai pelosok daerah menyaksikan upacara. Jumlah mereka diperkirakan sekitar 200-an ribu orang19, sehingga memadati areal wisata Pariaman seperti, Pantai Gandoriah, stasion kereta api, areal sekitar pasar Pariaman. Kartomi pada saat melakukan penelitian pada tahun 1982 pernah mencatat jumlah pengunjung atau pelayat yang menyaksikan Upacara Tabuik sekitar 200 ribu orang20. Merujuk pada mitos sebagai rujukan pembangun Upacara Tabot di Bengkulu, tampak pada tahap-tahap upacara tidak menyajikan upacara yang berdimensi keras yang mengarah ke perkelahian massal seperti yang terjadi pada Upacara Tabuik. Upacara yang dianggap keras dalam Upacara Tabot adalah upacara menjara (beruji dol). Inti dari upacara menjara adalah beruji dol, yaitu masing-masing kelompok tabot berusaha mengalahkan kelompok lain. Kelompok yang paling terampil memainkan dol 21 (dol dan tasa) dan paling sedikit dol pecah (robek membrannya) dianggap menang22. Kekerasan ditunjukkan dengan melampiaskan emosional pendukung upacara melalui pemain musik ke alat musik dol. Mereka secara pisik tidak melakukan persentuhan antar kelompok pendukung tabot, apalagi perkelahian. Beruji dol dilakukan di lapangan terbuka, sehingga dapat disaksikan oleh banyak orang. Bahkan beruji dol dianggap salah satu bagian upacara yang mampu menyedot banyak penonton. Dalam upacara beruji dol diadakan pula selingan pertunjukan tari-tarian dan musik tradisi sejenis gamat. Upacara menjadi meriah dengan hadirnya hiburan selingan ini. Beruji dol dilakukan di dua tempat yaitu, di kelompok tabot ber19 Asril, op cit., 69. 20 Ibid., 70 21 dol sejenis gendang bermuka satu berbentuk kettle drum, dengan ukuran diameter cukup besar antara 50-60 cm. Dol dimainkan sambil berdiri dengan cara diletakkan di lantai atau tanah. 22 Hamidy, Op cit., 89-90.

246

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

kas dan di kelompok tabot bangsal. Mereka saling mengunjungi secara bergantian selama dua malam. Lagu-lagu yang biasa dimainkan dalam beruji dol adalah Matam-matam, Suwena, dan Suweri. Ketiga lagu ini sama-sama mereka mainkan dalam waktu yang bersamaan. Lagu Suweri merupakan lagu andalan bagi masing-masing kelompok tabot dalam beruji dol. Masyarakat sangat mengetahui bahwa lagu tersebut amat disukai. Para pemusik biasanya memainkan lagu ini dengan penuh semangat hingga bermain dengan tenaga yang maksimal. Akibatnya sering terjadi kerusakan pada alat musik seperti pada kulit (membrane) robek, pemukul (stick) patah, resonator instrumen retak, dan lain-lain23. Akan tetapi ini muara yang ingin dicapai dari upacara beruji dol. Situasi ini sangat berbeda dengan Upacara Tabuik di Pariaman. Gandang tasa sebagai musik pendukung upacara justru digunakan untuk membangun semangat “heroik” dan “patriotik” di antara kedua kelompok tabuik. Lagu-lagu Oyak Tabuik dan Sosoh misalnya, dimanfaatkan untuk membangun emosional para pendukung tabuik, khususnya untuk membangun emosi ke arah perkelahian dan yang berdimensi keras.

Pelibatan Seni dalam Upacara Rentangan waktu yang cukup panjang dalam pelaksanaan Upacara Tabuik dan Upacara Tabot, dimanfaatkan dengan menampilkan berbagai kesenian tradisi setempat dan kesenian yang bernuansa Islami. Di Pariaman misalnya, pada malam hari yang tidak ada aktivitas upacara, panitia penyelenggara upacara menyajikan pertunjukan indang piaman, tari indang, gandang tasa, orkes gambus, dan jenis musik bernuansa Islami. Prinsip utamanya adalah memberikan hiburan kepada masyarakat atau pengunjung yang datang. Sementara di Bengkulu, hal yang sama juga dilakukan yaitu pertunjukan tari Ikan-ikan, kolintang, musik bernuansa Melayu seperti gamat, dan yang cukup menggembirakan sekarang adalah pertandingan atau festival dol kreasi. Para remaja Bengkulu mampu memainkan “musik baru” yang dikembangkan dari musik tradisi dol dengan atraktif24. Selain itu, juga ditampilkan berbagai tarian tradisi dan tari kreasi yang bersumber dari Upacara Tabot.
23 Hanefi, dkk., “Musik Tabot dalam Beruji Dol di Bengkulu: Tinjauan Musikologis” Laporan penelitian (Padangpanjang: ASKI, 1998), 45. 24 Haque, Op cit., 56-57.

247

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Perubahan dan Perkembangan Upacara Perubahan dan perkembangan yang terjadi pada Upacara Tabuik dan Upacara Tabot berbeda bentuk dan jenisnya. Ada yang berubah dari aspek nilai ritual dan sakralnya, dan ada yang berkembang secara parsial dari aspek musiknya saja. Di Bengkulu upacara berkembang secara parsial, yakni dari aspek musiknya. Pada masa lalu, dol adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Upacara Tabot. Dol hanya dapat dimainkan bersamaan dengan Upacara Tabot, sebagai musik pendukung upacara. Akan tetapi, pada tahun 1980-an dan 1990-an dol sudah dapat ditampilkan secara terpisah untuk penyambutan tamu pemerintah, meskipun masih dalam bentuk ansambel yang aslinya. Perkembangan yang cukup menggembirakan adalah ketika dol dijadikan sebagai sumber penataan musik kreasi untuk iringan tari “baru” (kreasi) dan untuk musik kreasi. Dalam penelitian Haque, ada tiga aspek perkembangan yang terjadi pada dol, yaitu: dol sebagai media seremonial di kota Bengkulu; dol dijadikan sebagai materi pembelajaran musik di sekolah dan di sanggar; dol sebagai sumber sebagai garapan komposisi baru. Dol sebagai media seremonial disajikan pada acara penyambutan tamu-tamu penting, acar ulang kota Bengkulu, acara yang bersifat umum lainnya, dan penggabungan dol dengan musik tradisi lainnya seperti gendang sarunai dan gamat yang digunakan untuk hiburan. Dol sebagai materi pembelajaran di sekolah, walaupun masih bersifat ekstrakurikuler, tetapi telah diajarkan di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di berbagai daerah khususnya di kota Bengkulu. Perkembangan yang cukup menarik adalah dol dijadikan sebagai sumber penciptaan karya baru. Dol telah digabung dengan berbagai alat musik di luar tradisinya. Misalnya dengan menghadirkan gitar bass eletrik, kolintang, set rebana, dan cara memainkan dol pun lebih atraktif. Misalnya, dol tidak saja diletakkan di lantai, tetapi telah disandang dan dimainkan sambil berbuai atau berayun, bahkan sambil tidur. Pertunjukan ini pun kemudian disebut dengan dol buai25. Yang tak kalah menarik juga perkembangan yang terjadi dari aspek alat musiknya, berbagai jenis ukuran dol pun dibuat untuk keperluan perbedaan atau variasi warna bunyi. Para remaja Bengkulu sangat antusias memainkan
25 Ibid., 46-47, 48-49, 50,57.

248

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

dol kreasi ini. Di Pariaman perubahan yang terjadi adalah pada nilai sakral upacara dan juga dalam bentuk parsial. Upacara Tabuik tidak lagi dilaksanakan dari tanggal 1-10 Muharam, melainkan berubah menjadi tanggal 1-11, 12, 13, dan 14 Muharam, yang diperlukan upacara puncak maoyak tabuik jatuh pada hari minggu. Perubahan ini dilatarbelakangi oleh embel-embel “pariwisata”. Artinya jika upacara puncak dilakukan pada hari minggu maka akan banyak orang yang menyaksikannya. Dari satu sisi ada benarnya, memang banyak orang menyaksikan upacara maoyak tabuik. Imbas dari itu, ekonomi masyarakat juga terdongkrak, mulai dari penjual makanan, transportasi, pengelola parkir, hingga penginapan. Namun demikian, cara praktis ini ternyata telah menguburkan nilai-nilai sakral kesejarahan peristiwa Karbala sebagai titik tolak upacara. Oleh karena pada tanggal 10 Muharam 680 (61 H) adalah hari kematian Husein di Karbala. Lambat laun generasi berikutnya tidak akan tahu lagi makna 10 Muharam dalam Upacara Tabuik. Bentuk lain dari pengembangan Upacara Tabuik adalah perayaan Oyak Tabuik yaitu cuplikan dari salah satu rangkaian Upacara Tabuik. Biasanya yang diambil adalah upacara puncak, maoyak tabuik. Pelaksanaannya terbilang meriah, kolosal karena melibatkan ratusan bahkan ribuan orang warga Pariaman khususnya dan ditambah dengan ‘warga partisipan’. Akan tetapi pelaksanaannya sudah terlepas dari semua aspek ritual dan sakral, yaitu: (1). Tidak diharuskan pada bulan Muharam (tergantung hajatan); (2). Dilaksanakan di luar kota Pariaman (Padang, Pekan Baru, Batam, Jakarta, Padangpanjang, Bukittinggi, Payakumbuh, Darmasraya, bahkan di luar negri seperi Washington, dsb); (3). Tidak diperlukan benda-benda sakral (jari-jari, benda-benda prosesi, dsb); (4). Tidak diharuskan pelaksananya masyarakat dari bekas nagari Pasar Pariaman dan V Koto Air Pampan; (5). Tabuik yang diusung tidak mesti dua buah, satu saja dibolehkan; (6). Ukuran tabuik yang diusung pun relatif, tidak harus sama tingginya dengan tabuik yang digunakan di kota Pariaman (dapat saja ukurannya tinggi sekitar enam meter); (7). Setelah perayaan selesai, tabuik tidak perlu dibuang.

249

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Waktu pelaksanaan perayaan Oyak Tabuik tidak terikat lagi dengan bulan Muharam. Hal ini disebabkan karena tujuan dan makna perayaan Oyak Tabuik juga tidak terkait lagi dengan peringatan kematian Husein. Perayaan ditujukan untuk memeriahkan suatu event, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah maupun yang dilakukan sendiri oleh masyarakat Pariaman. Misalnya, perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus, perayaan festival Muharam, hajatan keluarga besar Persatuan Keluarga daerah Pariaman (PKDP), peresmian pengurus baru PKDP, dan lain sebagainya. Jadi, waktu pelaksanaan tergantung dari masyarakat Pariaman di perantauan. Pelaksanaannya pun tidak harus setiap tahun atau berkala secara periodik. Dalam hal ini organisasi PKDP di masing-masing daerah atau kotalah yang menentukan kapan mereka akan melaksanakan perayaan Oyak Tabuik. Mengenai tempat penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik dilaksanakan di luar kota Pariaman, maksudnya adalah karena perayaan ini juga tidak ditujukan untuk memperingati kematian Husein. Perayaan dimaksudkan untuk memeriahkan berbagai hajatan atau event. Siapa dan dimana tempat penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik juga tidak ada kesepakatan antara masing-masing organisasi PKDP. Ini amat tergantung dari animo masing-masing masyarakat Pariaman di suatu tempat. Misalnya, pada bulan Januari 2008, PKDP Kota Padangpanjang melakukan perayaan Oyak Tabuik. Pada bulan April 2008, masyarakat kota Padang melakukan perayaan Oyak Tabuik. Pada bulan Juli 2008, masyarakat Pariaman di kabupaten Darmasraya melakukan perayaan Oyak Tabuik, sedangkan kota Bukittinggi dilakukan perayaan Oyak Tabuik pada pertengahan tahun 2007. Tahun 2007 masyarakat Pariaman di Duri dan Pekan Baru melakukan perayaan Oyak Tabuik. Tahun 2006 masyarakat Pariaman di Batam melakukan perayaan Oyak Tabuik. Jadi tempat penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik dapat dilaksanakan di daerah atau kota mana saja, tergantung dari keinginan masyarakat setempat. Dalam setiap penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik tidak diperlukan benda-benda sakral untuk kekhidmatan perayaan. Misalnya, panja atau jari-jari sebagai simbol jari-jari Husein yang terlepas akibat tebasan pedang lawan, tidak perlu diarak melintasi kota atau mengelilingi daraga. Begitu juga dengan benda-benda lainnya sebagai lambang kebesaran Husein yang diarak pada saat mengambil tanah, mengarak jari-jari,
250

Pelakunya tidak harus didatangkan dari kota Pariaman yang biasa menjadi pelaku perayaan Upacara Tabuik. tidak ada keharusan memiliki tinggi yang sama dengan yang digunakan di Pariaman. Begitu juga dengan ukuran tinggi tabuik yang digunakan. Gandang tasa dapat saja didatangkan dari Pariaman sendiri atau dari kota lain. di Padangpanjang hanya digunakan satu tabuik saja. tabuik dibawa kembali oleh pemiliknya. Misalnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI mengambil batang pisang. sangat sedikit sekali yang menggunakan warna kuning. tempat. dan warna yang dominan adalah putih. yang khusus digunakan untuk perayaan tabuik. Begitu juga dengan tahun-tahun sebelumnya. Setelah perayaan selesai. pada tahun 2008. Padangpanjang melakukan perayaan Oyak Tabuik pada tahun 1993 menggunakan dua tabuik. dan situasi perayaannya tidak sama dengan perayaan Upacara Tabuik pada bulan Muharam di Pariaman. hanya memiliki tinggi sekitar 6-6. tabuik tidak harus dibuang. Biasanya tabuik disimpan sebagai benda budaya asset pemerintah setempat. merah. dilakukan oleh masyarakat Pariaman dimana perayaan Oyak Tabuik itu dilaksanakan. Payakumbuh pada masa lalu juga pernah menggunakan dua tabuik dalam perayaan Oyak Tabuik di kota itu. Perayaan Oyak Tabuik di Bukittinggi tahun 2007 juga hanya menggunakan satu tabuik saja. Satu hal lagi yang tidak umum dilakukan pada perayaan Oyak Tabuik adalah selesai perayaan Oyak Tabuik pada sore hari. Apalagi dibuang ke laut. Baik dari jumlah dan ukuran tabuik. bahkan termasuk warna yang digunakan tampaknya tidak ada keharusan mengikuti cara yang digunakan di kota Pariaman pada bula Muharam. dan pada saat tertentu hanya menggunakan satu tabuik. Mengenai pelaku perayaan Oyak Tabuik. Padahal tinggi tabuik yang ideal adalah antara 10-12 meter. mereka adakalanya membuat dua tabuik untuk diusung dan dihoyak. Oleh karena waktu. Namun biasanya masyarakat tempat penyenggara perayaan Oyak Tabuik minta bantuan untuk pemain gandang tasa yang mengiringi perayaan. Bahkan saat sekarang sudah ada pula jasa penyewaan tabuik di Bukittinggi. Akan tetapi. 251 . dan mengarak sorban juga tidak dilakukan. dan biru. Kota-kota yang pernah melakukannya perayaan Oyak Tabuik.5 meter dengan warna dominasi kuning. Penulis menyaksikan ukuran tabuik yang digunakan di Padangpanjang tahun 2008.

pimpinan grup gandang tambua dan randai “Rabuang Kuniang” Bukittinggi (wawancara: Bukittingi. Jumlah nominal sewa yang dipungutnya relatif. Penutup Meskipun Upacara Tabuik dan Upacara Tabot berasal dari peristiwa yang sama (perang Karbala). “Upacara Tabuik dalam Dimensi Sosial Budaya Masyarakat Pariaman: Keberlangsungan dan Perubahannya” (Padangpanajng: STSI. kecuali spirit kebersamaan dalam semangat yang dibangun dalam Upacara Tabuik. bergantung pada jauh dekatnya tempat perayaan26. spirit. 27 Asril. Ia juga menyewakan satu grup gandang tasa lengkap dengan pemainnya untuk mengiringi perayaan Oyak Tabuik. Bagian yang tak terelakkan juga ada perubahan yang terjadi pada kedua upacara tersebut bisa terjadi secara parsial dan penggerusan nilai sakral. dan material. mental. Di luar megah dan meriahnya pelaksanaan Upacara Tabuik. dan pelaksanaannya. 26 Febrizal Sutan Sati (60 thn). Oleh karena waktu sakral. Unsur-unsur budaya lokal dan kebiasaan mayarakat juga turut mempengaruhi bentuk upacara. tetapi dalam pengimplementasian upacara sangat banyak dipengaruhi oleh interpretasi masyakarat dengan cara “pemitosan” sejarah yang kemudian seolah-olah seperti legenda. tempat sakral. pelaku upacara atau perayaan tidak lagi memiliki kaitan langsung dari aspek makna dengan Upacara Tabuik. Dari seluruh aspek penyelenggaraan perayaan Oyak Tabuik yang tidak lagi menggunakan cara-cara yang lazim pada perayaan Upacara Tabuik. Melalui Oyak Tabuik momentum identitas dimunculkan. ia telah menyewakan tabuik yang dibuatnya ke Pekan Baru. jika suatu daerah menginginkan. seperti beberapa aspek sakral yang telah ditanggalkan merupakan perubahan yang terjadi pada Upacara Tabuik. benda-benda sakral. yang tak kalah menarik juga diamati adalah semangat para masyarakat perantau Pariaman dalam mengekspresikan diri melaksanakan Oyak Tabuik. Desember 2007. 252 . 74-79. Begitu juga dengan tujuan dan maksud perayaan juga tidak lagi untuk memperingati kematian Husein27. Identitas sebagai warga yang berasal dari Pariaman benar-benar mengapung ke permukaan. dan Padangpanjang. Januari 2008). Mereka melakukannya secara totalitas dengan penuh pengorbanan pisik.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Menurut Febrizal Sutan Sati. Bukittinggi. 2008). Padangpanjang.

ed.a Shiah Ritual Tranplanted from India to Sumatra”. dalam David P. Skripsi. Ethnography of Muhammadan Peoples. Tesis S2 UGM Yogyakarta. Ronkel. Gibb. Helfrich. Bandung: Mizan dan PPW-LIPI. Shorter Encyclopaedia of Islam.. Azra. Kartomi. et al. Chandler dan M. Asril. diterjemahkan oleh Hartoyuwono. 2000. “Musik Tabot dalam Beruji Dol di Bengkulu: Tinjauan Musikologis” Laporan penelitian. 1972. 2009. 26 Juni 1994. “Upacara Tabuik dalam Dimensi Sosial Budaya Masyarakat Pariaman: Keberlangsungan dan Perubahannya” Padangpanajng: STSI. 1974. Husein Sjahid Agung. Ricklefs (ed. “Nadere gegevens omtrent het Hasan¬Hoesain feest”. Leiden: EJ Brill. Padangpanjang: ASKI. L. Badrul Munir. 2002. 1913. M. Syiah dan Politik di Indonesia: Sebuah Penelitian. W.) Nineteenth and Twentieth Century Indonesia. Hanefi. The Encyclopaedia of Islam: Dictionary of the Geography.. Pesta Kolosal Anak Nagari Piaman”. Monash University. Adam Saleh Djakarta: PT Sinar Hudaya. Margaret J. Padangpanjang: STSI. 1914. Michael.. 1996. 2008.. “Het Hasan-Hosein of Taboet-Feest te Benkoelen”. S.H Kamer ed. 1986. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Depdikbud. Upacara Tradisional Daerah Bengkulu: Upacara Tabot di Kotamadya Bengkulu.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Daftar Pustaka Ahmad. Land--.R dan J. Zelly Marissa. “Tabut . Azyumardi. “Perkembangan Musik Dol di Kota Bengkulu”. 1991/1992. Terj.. Tanjung. __________. “Syiah di Indonesia: Antara Mitos dan Realitas” (pengantar) dalam A. H. Color and Symbolism in Islamic Architecture: Eight Century of the Tile Maker’s Art. London: Luzac and Co. Haque. Trap. van. Leiden: Verlag von P. Ph. en Volkenkunde. 1888. Fazl.A. “Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di Pariaman Sumatra Barat”. Singgalang Minggu. dalam Internationales Archiv fur Ethnographie. Parsi “Tabuik. 1998.C. dkk. 253 . London: Thames and Hudson Ltd. Hamdan Basyar ed. O. Barry. dalam Tijdschri ft voor Indische Taal--.. Rahman Zainuddin dan M. Clayton: Centre of Southeast Asia Studies. Batavia: Albrecht & Co. Hamidy. et al.

.

MENGEMAS SENI TRADISI NUSA TENGGARA UNTUK MEDIA KOMUNIKASI SOSIAL 5 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

dikenal sebagai seniman dan penulis naskah \sandiwara. Dikenal pula sebagai sutradara senior lokal Mataram. cerpen dan puisi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Kongso Sukoco. 256 . Saat ini menjabat Ketua Dewan Kesenian Nusa Tenggara Barat.

Khalayak memahami idiom seninya. Pertunjukan teater berlangsung dalam lingkungan komunitas dengan warga penonton yang sharing terhadap idiom teater tradisi. tapi juga emosi dan bersifat situasional. Dan tidak melulu domain ketrampilan. Orang mulai memikirkan secara spesifik bila proses komunikasi itu menimbulkan masalah. alur bahkan durasi dan bagaimana pertunjukan diakhiri. tentu tidak sekadar urusan menyampaikan pesan agar dapat diterima publik atau khalayak. Memang bisa saja ada perubahan dalam pertunjukan seni tradisi namun 257 .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Memfungsikan Teater Tradisi Amaq Abir sebagai Media Komunikasi Tradisional Kongso Sukoco Ketua Dewan Kesenian Provinsi NTB M embicarakan teater tradisi sebagai media komunikasi. Bahwa dalam prosesnya harus dipahami. isi cerita. Komunikasi bersifat empiris. Bagaimana proses pertemuan organisme hidup itu berlangsung sangat mempengaruhi efektifitas penyampaian informasi. Tontonan teater mempertemukan organisme hidup. yakni pengolahan pesan dalam bingkai estetika teater dan di lain pihak berlangsung pencernaan makna yang dilakukan khalayak. meski keberhasilannya terkait dengan seni dan ketrampilan. peristiwa teater (berlangsungnya komunikasi pertunjukan teater dan penontonnya) adalah peristiwa kebudayaan. Dalam situasi ini komunikasi tidak melulu di tingkat isi pesan. antara seniman dan penonton. Dalam pertunjukan teater tradisi ada konvensi atau ”aturan main” yang menjadi landasan berlangsungnya komunikasi. Di dalamnya berlangsung reproduksi nilai.

pemberdayaan dan pengembangan teater tradisi – termasuk seni tradisi lainnya – yang dilakukan saat itu lebih memberatkan fungsinya sebagai ”alat” untuk mengantarkan pesan. Hal itu seperti mengesampingkan pentingnya meningkatkan kualitas ”bentuk seni” kelompok-kelompok seni tradisi yang sebenarnya justru menjadi faktor penting meningkatkan efektifitas penyampateraian pesan. Karena konvensi itu maka memfungsikan dan memanfaatkan teater tradisi sebagai sarana penyampai informasi pada khalayak primordialnya bisa sangat efektif. Banyak bentuk teater tradisi di Lombok yang bisa dikembangkan menjadi sarana atau media tradisional untuk penyampai informasi kebijakan pemerintah. Konvensi -.termasuk konvensi artistik -. penyampaian isi pesan sangat mekanis. Sebab komukasi yang terbangun dalam teater tradisi adalah penyelarasan pemahaman karena adanya konvensi yang dipahami bersama. Pili258 . bertolak dari motivasi ini mereka memiliki ekspektasi terhadap pesan yang akan diterimanya. Prioritasnya semata-mata penyampaian kebijakan pembangunan pemerintah. Salah satu teater tradisi di Lombok adalah Teater Amaq Abir.merupakan jaminan bahwa motivasi penonton primordial itu akan terpenuhi. Kalau kita menengok masa Departemen Penerangan dengan program ”Sosio-drama”-nya. Salah satu sebabnya. Di pelosok-pelosok desa sering kita jumpai mobil panggung pertunjukan rakyat milik Departemen Penerangan yang menggelar seni pertunjukan tradisi. dengan sedikit perhatian dalam mengintensifkan peristiwa komunikasi kultural. Meski ada catatan penting. Sebab telah terbangun kedekatan kultural kesenian itu dengan komunitas primordialnya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF perubahan itu selalu dikenali karena ada pertautan dengan konvensi sebelumnya (bandingkan dengan teater modern yang sering ”tidak komunikatif” dengan penontonnya karena tak pernah terjadi penyerasan konvensi tersebut). Ini faktor penting terjalinnya komunikasi yang efektif. Harus diakui. khususnya bentuk seni pertunjukan tradisi yang efektif sebagai media penyaluran pesan informasi. Hal itu berpengaruh positif pada eksistensi seni pertunjukan tradisi. sebelum era reformasi pemerintah menaruh perhatian besar dalam hal pemanfaatan seni tradisi. Kantor Wilayah Departemen Penerangan di tiap provinsi banyak menyelenggarakan pertunjukan rakyat.

Tumbuhnya seni pertunjukan yang verbal dan membangun komunikasi dialogis ini seiring kebutuhan masyarakatnya untuk lebih tersurat dan intens dalam mengkomunikasikan pesan moral dan paedagogik. bahkan berkembang di beberapa tempat di Lombok. dengan minimnya pembinaan (kalau tidak dikatakan tidak ada sama sekali) dari pemerintah setempat. nasib kepunahan itu akan terulang kembali. Teater ini telah membangun penonton primordialnya yang meluas di beberapa wilayah di Lombok. bahwa Teater Amaq Abir sangat populer pada jamannya. Lebih dari itu ada kebutuhan menjalin komunikasi dengan publik yang melintasi batas komunitasnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI han untuk mendeskripsikannya karena alasan. Namun tetap saja. sebaliknya Teater Amaq Abir nyaris punah. Asal-usul Teater tradisi Sasak bisa digolongkan sebagai bentuk baru dalam jajaran khasanah seni tradisi yang tumbuh di Lombok. dan kini Teater Amaq Abir sekali tempo masih dimainkan kalangan generasi muda di Desa Marong. Tumbuhnya teater tradisi Sasak cepat mendapat dukungan luas.seperti kita temui pada seni budaya Lombok (ma259 . Lombok Tengah. Teater Tradisi di Lombok a. maka seni teater mendapat tempat khusus. Namun tidak seperti Teater Cupak Gurantang dan Kemidi Rudat yang bertahan dan tetap populer hingga kini. Masyarakat Sasak memiliki perjalanan seni tradisi yang panjang dan kaya seperti tradisi sastra. Kalau kita temui jejak dan pengaruh dari ” Jawa-Bali” dalam teater tradisi -. Saat pertunjukan seni sastra. Lombok Timur dikenal jauh sebelum jaman Jepang). musik dan tari tak memenuhi kebutuhan masyarakat untuk menjalin komunikasi dialogis. Namun seni pertunjukan tradisi Sasak yang verbal dan dialogis – yang menjadi salah satu ciri teater tradisi – tumbuh belakangan. musik dan tari. Pembinaan yang dilakukan Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud (pertengahan tahun 80-an) berhasil menyelamatkannya. Ada yang menyebutnya setelah masa kemerdekaan atau sekitar tahun 5060an (meski Teater Amaq Abir dikenal di Desa Medana. Karena itu dipandang penting mendeskripsikannya untuk didiskusikan bersama dalam forum ini. Sampai tahun 70-an teater tradisi di Lombok mengalami masa keemasannya.

Kedatangan Kerajaan Gowa (Sulawesi Selatan) pada abad XVII. Di tangan Lalu Nasib. Wayang Sasak.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF syarakat Sasak) umumnya -. kemudian ekspedisi militer Majapahit yang dipimpin Mahapatih Gajah Mada pada abad XIV meninggalkan jejak budaya maupun kepercayaan yang jelas. Hal yang sama juga terjadi pada Kemidi Rudat. Teater Cupak Gurantang bukan hanya menjangkau wilayah penonton yang lebih luas. Tapi paling kuat meninggalkan jejak sejarah adalah Kerajaan Karang Asem pada abad XVII-XIX (1692-1839) yang diteruskan oleh Kerajaan Mataram yang merupakan metamorfose Karang Asem sampai tahun 1894. Perlu diungkapkan disini. Hanacaraka. juga meninggalkan pengaruhnya pada corak seni budaya Sasak. yang merupakan turunan dari Aksara Jawa.karena Lombok sempat menjadi ”persinggahan” kerajaan Jawa dan Bali. Hingga kini jumlah komunitas Bali termasuk besar di Lombok. tapi sekaligus mampu meluaskan sebaran bentuk teater tersebut di beberapa tempat. 260 . Teater Amaq Amir. Meski demikian. Semua sastra lontar itu digubah dengan menggunakan Aksara Jejawen. meninggalkan jejak seni budaya ”Rumpun Melayu”. Wayang Sasak bukan hanya sanggup bertahan namun juga sangat populer di seluruh penjuru Lombok. pengaruh sastra Jawa (Madya) yang dominan itu bukan satu-satunya. Memang hanya Cupak Gurantang dan Kemidi Rudat yang mampu bertahan lebih lama. Teater Amaq Darmi. Cupak Gurantang dan Kemidi Rudat sangat populer di komunitasnya masing-masing. Kerajaan Gowa yang lebih dekat dengan pengaruh Melayu. yang patut mendapat perhatian khusus adalah Wayang Gerung dengan dalang legendaris Lalu Nasib. Pada abad XI tercatat Anak Wungsu (Bali) datang ke Lombok. demikian pula budaya dan kepercayaan yang dianutnya terus tumbuh dan berkembang. teater maupun sastra lontar (Sastra Takepan). Teater Kayaq Sandongan. Dalam hal penguatan eksistensi perluasan publik seninya. Ini tak lepas dari kemampuan Lalu Nasib yang menjadi Wayang Sasak selalu kontekstual dengan publiknya. Namun kebudayaan Jawa baik seni musik. meninggalkan pengaruh paling kuat kuat pada masyarakat Sasak.

Dari narasi-narasi yang diungkapkan teater tradisi. hitamputih. perampok. yang dialog-dialognya seperti percakapan sehari-hari dan pemainnya juga menari. Teater Topeng. Pada Teater Amaq Abir yang semula dalam narasinya dibawakan dengan cara nembang (bekayaq) pada perkembangannya menggunakan menggunakan dialog verbal agar terbangun komunikasi intens dengan penonton. Teater Kemidi Rudat. 3.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI b. moral maupun komentar-komentar sosial. misalnya dalam konstum banyak yang memakai kostum sehari-hari. yakni persoalan etika. penolong dan menjunjung watak-watak ksatria. Struktur teater tradisi umumnya naratif. Teater Kayaq. permaisuri. Lombok Tengah kini memainkan Teater Amaq Abir dengan dialog yang dominan dari261 . anak muda dan lain-lain. karena kebutuhannya untuk menampilkan cerminan keadaan dan persoalan masyarakat. kutub moral yang tidak kabur antara yang baik dan buruk. penipu dan jauh dari nilai-nilai etis. raja (Dari Baghdad dan Yaman). Perwatakan dalam teater tradisi umumnya ”stereotip”. Penokohan dalam lakon teater yang terakhir ini didasarkan pada jenis mahluk dan kedudukan. semua pemainnya memakai topeng. khadam. Generasi muda di Desa marong. Tidak demikian dengan teater ”Rumpun Melayu” (Kemidi Rudat) yang kostumnya mencolok ala Arab/Turki. tidak pendendam. puteri. Pengelompokan Secara umum pengelompokan teater tradisi di Lombok bisa dikelompokkan: 1. sebab dalam masyarakat tradisi memerlukan pijakan yang jelas. Pada Teater Cupak-Gurantang kita temukan watak Cupak yang rakus. wasir. Kalau teater yang berasal dari ”Rumpun Jawa-Bali” (Teater Kayaq dan Terater Topeng) lebih sederhana. 2. menembang dengan iringan gamelan. Sebaliknya watak Gurantang mewakili watak mulia yaitu ihlas. Pada ”Rumpun Bali Jawa” tekanan diberikan pada pembawaan manusia. teater tradisi yang bentuk penyajiannya melalui tembang dan tari (dramatari). diharapkan masyarakatnya mampu memahami masalah yang dihadapi dan syukur kalau bisa menyelesaikannya.

Ini dimaksudkan agar teater itu bisa lebih kontekstual. dan menampilkannya pada Festival Teater Daerah NTB. Waktu ditemukan untuk pembinaan saat itu. pada tahun itu juga dipentaskan di Jakarta dalam Pekan Teater Tradisi Tingkat Nasional. lebih leluasa berimprovisasi dalam mengomentari persoalan-persoalan sosial dan lebih dekat dengan persoalanpersoalan kekinian. ibu kota Kabupaten Lombok Tengah. Sebagian perlengkapannya (terutama gamelan) telah dijual oleh 262 . Dalam uraian berikut akan dideskripsikan lebih jauh tentang Teater Amaq Abir yang sempat sangat populer pada jamannya. malah sudah punah. Teater Amaq Abir sudah 50 tahun tidak pernah mengadakan pementasan (jauh sebelum Jepang menduduki Lombok). Sedang di Kabupaten Lombok Tengah di Desa Marong masih sering tampil dalam acara-acara hajatan masyarakat. Saat itu pemainnya rata-rata berumur 75-80 tahun. Di Kabupaten Lombok Timur kita dapati di Desa Mendana bisa dikatakan ”hidup segan mati pun tak mau”. Tapi karena langkanya pertunjukan karena pelakunya mulai tak ada. seperti di Desa Tanjung dan Narmada. Khusus di Desa Marong. tapi dari sinilah para orang tua melepaskan anaknya untuk menonton sebab tahu dalam tontonan tersebut ada nilai-nilai yang perlu diapresiasi. bisa jadi sekarang sudah mati. teater tradisi dari Marong ini pertama kali mendapat pembinaan dari Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud (Sekarang Dinas Dikpora) melalui Proyek Pengembangan Kesenian pada tahun 1984. Tapi kenapa bukan Cupak Gurantang atau Kemidi Rudat yang lebih eksis dan masih memiliki publik yang lebih jelas? Justru karena kemerosotan Teater Amaq Abir itu lebih kontekstual dibicarakan dalam forum ini.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pada tembangnya. Tercatat pernah hidup di beberapa daerah di Lombok. Teater Topeng Amaq Abir yang mendapat predikat ”terbaik”. 41 km dari Mataram atau 13 km dari Praya. Teater Amaq Abir Teater Topeng Amaq Abir merupakan salah satu bentuk teater tradisi Sasak yang pernah sangat populer pada jamannya. tapi eksistensinya memprihatinkan. Sebab cerita-ceritanya umumnya sudah diketahui penontonnya. Di beberapa desa di Kabupaten Lombok Barat.

Pada tahun 2008. kelompok teater topeng dari Marong itu memboyong pemain-pemain yang masih muda. sedangkan Abir ada yang mengatakan dari bahasa Arab ”Akbar” yang berarti besar. pihak Taman Budaya NTB juga sempat mengundang untuk pentas melalui program pementasan rutinnya. maksudnya adalah tokoh yang mempunyai keunggulan ada keistimewaan. bahwa Abir dalam bahasa Sasak memang berarti Besar. sedikitnya kelompok teater asal Marong ini tampil sebanyak 20 kali di berbagai acara masyarakat desa. namun mereka bisa memvitalkan jiwa dan semangat di dalamnya. a. Amaq artinya Bapak. sedang yang pertama pada kebesaran moral dan ahlak. nilai-nilai paedagogis. nilai-nilai artistik. Tapi yang jelas. Perbedaannya. Sebenarnya sejak mendapat pembinaan itu gairah menghidupkan teater tradisi di Marong mulai tumbuh. Generasi muda di Marong memang belum mampu sepenuhnya memfungsikan teater tradisi itu. Sejarah Teater Topeng Amaq Abir tercatat pernah hidup di beberapa 263 . Apalagi dalam acara Pekan Teater Daerah. Penggeraknya yang sekaligus menjadi pimpinan teater itu adalah Lalu Sahibi. yang terakhir lebih ditekankan dalam arti besar fisik seseorang. yang dalam bahasa Sasak maksudnya. Sejak tahun 1996. Riwayat Pertumbuhan Arti Kata Beberapa informan yang ditemui di Desa Marong mengungkapkan. nama Amaq Abir yang terdiri dua kata Amaq dan Abir. baik di Mataram maupun di Jakarta. sosial dan nilai-nilai luhur lainnya yang menjelma dalam keseluruhan batang tubuh teater topeng tersebut. yang ditampilkan adalah pemain-pemain dari generasi muda. Teater Amaq Abir tetap jarang tampil. Banyak nilai-nilai yang terkandung dalam teater topeng ini. kedua pengertian itu maksudnya sama yaitu sebutan Bapak Abir. Tapi beberapa informan lain memberikan catatan. yang pernah mengikuti kursus pelatihan di Padepokan Tari Bagong Kussudiardjo di Jogja tahun 1990-an.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI yang menyimpannya karena saat itu kemiskinan menghimpit masyarakatnya.

Yang asli berwarna putih. Untuk menurunkan topeng-topeng itu harus ada mantra-mantra khusus sebagai syarat minta izin. Topeng Amaq Abir yang asli dimandikan dan airnya ditadah dan diminum oleh yang sakit. lumpuh dan penyakit lainnya yang berhubungan dengan guna-guna. Untuk melihat topengtopeng itu harus ada ”andang-andang”nya. biasanya untuk mengambil topeng selalu didahulu dengan persembahan ”andang-andang” seperti disebut 264 . misalnya di Desa Tanjung (Lombok Utara). Ada lima karakter topeng yang disakralkan. sedang duplikatnya berwarna merah jambu. Anaknya yang bernama Amaq Sitah kalau masih hidup berusia sekitar 75 tahun) menyimpan topeng-topeng itu dalam ”besek” yang diletakkan di tempat khusus.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF desa di Lombok. Topeng Amaq Abir yang asli jarang dikeluarkan untuk pementasan. ada seseorang yang berasal dari Sakra (sekitar 10 km dari Desa Mendana). meninggal tahun 1980 dalam usia 125 tahun. Konon. sirih. uang kepeng (Cina). ia membuat topeng dan memainkannya dengan pengikut-pengikutnya. Amaq Tempenges. pergi naik haji. kini di semua desa itu kehidupan teater tradisi itu nyaris punah (di beberapa desa lainnya benar-benar punah karena ditinggalkan para pelakunya. Untuk menyebarkan Islam di Lombok. Lombok Timur. Ida Bagus atau Datu. kelapa dan lain-lainnya. benang. Tiap hari Senin dan Jumat malam Amaq Sitah membakar kemenyan di bawah tempat topeng-topeng itu. semacam sesajen yang terdiri dari beras. kedua matanya normal. Di Desa Mendana teater topeng ini memang disakralkan.. Hinga kini Amaq Sitah dikenal sebagai dukun desa yang banyak didatangi masyarakat untuk minta obat orang yang kesurupan. Sebelum pertunjukan. Salah seorang pengikutnya adalah Amaq Nursalim. di Desa Mendana (Lombok Timur) dan Desa Marong (Lombok Tengah). sebelah matanya agak sipit. . Kembali dari Mekah ia dipanggil Haji Ali Batu.Di Desa Mendana Pada awal Lombok menerima ajaran Islam. Tentu saja. yang dipakai hanya duplikatnya. Amaq Sitah sering kedatangan orang yang sakit minta obat. Amaq Abir (yang duplikat dan asli) dan topeng Haji.

Pementasannya semata-mata merupakan acara kesenian yang membawa pesan moral. perputaran waktu dan sebagainya. merupakan generasi keempat (setelah Datul Somba) yang kembali membangkitkan Teater Amaq Abir. Datuk Somba punya anak bernama Mamiq Rumintang. tiap akan dimulai pertunjukan selalu dengan acara doa bersama yang dipimpin oleh seorang ustadz. lahir sekitar tahun 1936. Lalu 265 . sebab sumber-sumber lisan yang ditemui tidak pernah menyebut upaya-upaya yang dilakukan anaknya. teater itu mengalami kelesuan. Diperkirakan setelah usaha yang dilakukan Mamiq Rumintang. yaitu Lalu Darmaji. Amaq Abir adalah satu-satunya judul cerita yang pernah dipentaskan.Di Desa Marong Desa Marong sebagian besar penduduknya adalah petani. lebih tepatnya dua pertiga warganya adalah buruh tani. termasuk di Desa Marong. sekitar tahun 1980-an warga desa sering terancam bahaya kelaparan karena daerah ini dulu termasuk dalam lingkaran ”daerah kritis Lombok Selatan”. tapi sekarang semuanya sudah banyak yang punah. Di Desa Marong teater topeng ini sama sekali tak disakralkan. Sekitar tahun 1800. Pada masanya cerita Amaq Abir ini sangat populer di beberapa desa di Lombok. Sebenarnya di desa ini banyak tumbuh berbagai bentuk kesenian. Tapi versi lain menceritakan. Pengarang cerita Amaq Abir dipercayai sebagai waliullah Kerajaan Selaparang. berasal dari Sakra (dekat Desa Mendana. . Tapi cucu Mamiq Rumintang. generasi kedua yang meneruskan usaha kedua orang tuanya. Warga desa yang berusia lanjut di Marong mengungkapkan. yang pertama mengenalkan Amaq Abir adalah Datuk Somba. dan tidak dihubungkan dengan suatu upacara agama. Desa ini sering mengalami kemarau panjang. asal-usul cerita Amaq Abir berasal dari Kerajaan Selaparang. Datuk Somba diperkirakan keluarga atau pengikut Haji Ali Batu yang menyebarkan Islam ke Marong.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI di atas. hal-hal gaib atau sebagai pelengkap upacara sehubungan dengan hidup seseorang. Lotim) yang meninggal tahun 1800-an. Sedang di Marong. seorang yang bernama Mamiq Jiring yang lahir dan dibesarkan di Marong mencoba mengangkat cerita itu ke dalam bentuk teater topeng.

Teater Amaq Abir mulai dipentaskan sebagai hiburan di berbagai acara. Tapi setelah mendapat pembinaan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Darmaji menjadi ”juru lakon” (berfungsi semacam sutradara). Dalam pementasan di Taman Budaya NTB tahun 2008. Berbeda dengan di Desa Marong. termasuk untuk peran putri juga dimainkan laki-laki. Sasak). B. topengnya tidak sampai menutupi mulut (agar dialognya sampai ke penonton). Dalam organisasi Berkat Patuh yang terbentuk saat Kanwil Depdikbud NTB melakukan pembinaan tahun 1984. namun di Desa Mendana topeng yang dikenakan menutupi seluruh wajah. hanya namanya berbeda. Dalam teater ini kita dapati unsur tembang (kayaq. tari dengan diiringi alat musik seperangkat gamelan. Lalu Darmaji dipercaya sebagai pimpinan organisasi teater itu. Bentuk Teater Amaq Abir Bentuk Teater Amaq Abir adalah teater topeng. Sebelum pementasan selalu diawali. seperti: Topeng Haji Topeng Keliang Topeng Putri Topeng Papuk Dulahman 266 - . Selain diberi kesempatan pentas di Mataram dan Jakarta. di Desa Mendana selalu diawali dengan Tari Oncer sebagai pembukaan. Lalu Sahibi yang memahami seni pertujukan yang memfungsikan vokal pemainnya. Di Desa Mendana ada tokoh-tokohnya. seluruh pemainnya adalah laki-laki. Meskipun dalam teater itu terdapat dialog-dialog tokoh-tokoh cerita. Kalau di Desa Marong dibuka dengan Tari Satang lebih merupakan tari kreasi). Tokoh/karakter Baik di Desa Mendana atau di Marong. organisasi kesenian dari Marong itu sudah beralih pada generasi muda. Hingga kini. karakter atau tokoh ceritanya sama. sekarang untuk memainkan tokoh putri sudah dibawakan oleh pemain perempuan. Semua pemainnya mengenakan topeng. Sebelumnya. grup teater itu juga mendapat bantuan seperangkat alat gamelan. meski intensitasnya menurun.

tokoh-tokohnya adalah: Topeng Ida Bagus/Datu Topeng Putri Topeng Amaq Abri Topeng Amaq Tempenges Topeng Amaq Baris Topeng Amaq Beang Topeng Amaq Dante dan Inaq Danti Topeng Amaq Bangkol Topeng Inaq Randa Topeng Raksasa Di Desa Marong di bawah asuhan Lalu Sahibi memang lebih kratif. kuda ini sebagai simbol dari tokoh Jayengrana dengan kudanya yang bernama Sekardiu. tokoh Amaq Abir selalu digambarkan sebagai kstria berkuda. Baik di Mendana atau di Marong. terdiri: Gong Gamelan Rincik Terompong Kendang Suling Petuk Jalan Cerita Baik di Mendana maupun di Marong ada kemiripan jalan 267 - .LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI - Topeng Amaq Abir Topeng Amaq Ampes Topeng Raksasa Sedang di Desa Marong. Konon. Toloh-tokoh baru banyak diciptakan untuk mengungkapkan persoalan-persoalan masyarakatnya dan membuat pertunjukan lebih segar. Musik Pengiring Musik pengiri dalam Teater Amaq Abir adalah seperangkat gamelan.

perubahan status poleksosbud dari bangsa terjajah kemudian merdeka. Gegerlah seluruh wilayah kedatuan. Perubahan-perubahan sosial politik. ahli sejarah teoritikus film. Kesimpulan itu bisa berlaku saat kita mencoba memahami kesenian (teater) tradisi dan modern. Tokoh ini sering berjudi (sabung ayam). Ceritanya berkisar tentang penguasa atau orang kaya di desa yang perangai maupun tingkah lakunya kurang terpuji. Suatu hari. merupakan background sosial yang mempengaruhi dan membentuk ”pola psikologi aktual” masyarakat saat berekspresi dalam bentuk-bentuk keseniannya. mabuk-mabukan (minum tuak). Pelayannya yang dikenal berhati lurus ini juga sering membicarakan keburukan ini pada Putri atau anak penguasa atau orang kaya tersebut. isi cerita dan perkembangan bentuk-bentuk kesenian suatu komunitas (suatu bangsa) bisa dipahami secara utuh dalam hubungannya dengan ”pola psikologi aktual” masyarakat yang bersangkutan. Memahami Konvensi Tehnik. Amaq Abir pun berhasil mengalahkan raksasa dan membebaskan Putri. kemudian beranjak dari cengkraman penguasa otoriter menuju era reformasi tapi kemudian tergerus oleh selera global. nilai-nilai budaya. Tingkah laku ini sering mendapat kritikan dari pelayannya. mungkin dengan sedikit perbedaan dalam intensitasnya. Kesimpulan itu pernah diungkapkan Sigfried Cracauer.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF cerita. Karena itu. Akhirnya bertemulah pelayan tersebut dengan Amaq Abir yang sedang berdakwah. sang Putri ketika berjalan-jalan di taman sari diculik oleh raksasa. upaya memahami ma268 . dan disindir dengan cara menembang. serta tingkah laku lainnya yang bertentangan dengan kepatutan atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Penguasa atau orang kaya itu akhirnya menginsyafi kesalahannya setelah mendapat nasehat dari Amaq Abir. yang membedakan hanyalah nama-nama tokoh-tokohnya yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakatnya. Memfungsikan Teater Tradisi a. Pelayan pun mendapat tugas untuk mencari orang yang bisa menemukan dan membebaskan Putri dari cengkeraman raksasa.

Teater tradisi mengungkapkan nilai-nilai dengan cara tersirat dalam alur ceritanya serta pada penggambaran perwatakannya. dan teater itu menjadi media komunal yang (antara lain) berfungsi penyampai informasi untuk mencocokkan nilai bersama tersebut. dan konflik sebagai hakekat drama. lewat teknik pembuatan topeng dan musik pengiring. hakekat drama sebagai gerakan mempertahankan tradisi. 269 . Manusia dalam teater tradisi tidak dipisahkan dari gejala metafisik-kosmik. Sedang teater modern berusaha menggambarkan realitas obyektif dengan bahasanya yang analitik prosaik. Anggota masyarakat yang menjadi pendukung kesenian tersebut bisa menghayati dan mengungkapkan pengalamannya. Pertunjukan teater mengungkapkan nilai-nilai itu dan masyarakat mencocokkan dengan konvensi yang telah terbangun bersama. Ada baiknya kita merinci perbedaan antara teater tradisi dan teater modern. Misalnya. Nilai-nilai paedagogis maupun nilai-nilai lainnya hingga kini masih dihayati masyarakat pendukungnya. kita selama ini memahami terdapat dua jenis bentuk teater yakni yang digolongkan sebagai ”teater tradisi” dan ”teater modern”.berfungsi sebagai ”pranata” masyarakatnya. Teater tradisi Sasak di Lombok -. Dalam teater tradisi terdapat konvensi-konvensi yang mengikat penampilannya. Nilai-nilai artistik terungkapkan lewat tembang atau kidung.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI syarakat pelaku teater tradisi dan kemungkinan ”pengembangan” nilai-nilai pesan yang disampaikannya memang harus paralel dengan background sosial yang dimaksudkan itu.seperti halnya seni tradisi lainnya -. menonjolkan individu sebagai entitas psikososial. Teater tradisi menjadi sarana penting dalam sistem pewarisan nilai-nilai. Kesenian merupakan salah satu sarana menonjolkan komunalisme.

Musik dapat diabaikan dari watak tokoh dan adegan/suasana 7. puisi dan nyanyian .Penjabar dan penyampai nilai-nilai . secara kuantitatif b. Fungsi. . .bahasa tidak dominan .Tokoh. Semata-mata menghidangkan. Teater Modern 1. Tokoh dalam teater tradisi sadar akan ketergantungan tenaga kosmik dan spiritual 6. . Total secara kualitatif (tehnik dan naskah) 2.Satu gaya ekspresi . konflik sebagai hakekat drama 4. tapi lambang dari spiritual state (teater metafisik). Menontonnya butuh totalitas akal. merupakan bagian integral 7.bahasa lebih formal. Bahasa sebagai alat analisis.Linier. sirkuler (kosmologis masyarakat agraris) 4. rasa dan kemauan b. Realisme (teater ilusionis) 5.bukan kenyataan obyektif tapi realitas Transcendental 5.Semua arwah . sejajar dengan musik dan tari . Struktur. Struktur. . Salah satu kodrat manusia c.Manusia fisik 3. Total dalam tehnik.Pengayaan batin kolektif yang mengacu Kerangka pemikiran dan perasaan yang telah dibentuk secara kolektif 6. Bahasa dan sastra sangat penting tapi berbeda kedudukannya bila dibandingkan dengan teater modern. . prosa atau puisi atau nyanyian (opera) 2. a.Pengikat solidaritas . nilai alternatif diperhitungkan 270 . Penonton : .Manusia fisik . Sering disebut sebagai sebagai ”teater total” a. Teatrikalisme. rasa ingin tahu. Kesetiaan individual.Satu macam bahasa. terikat pada fungsi artistik dan teatrikalnya 8. Musik dan Tari. Tokoh sebagai entitas psikososial 8.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Teater Tradisi 1. Penonton. Perwatakan bukan entitas psikologis.Satu tema pokok .Mahluk dari dunia lain 3. Bahasa bisa prosa.

Dunia simbolik adalah dunia yang menjadi tempat diproduksi dan disimpan muatan mental dan muatan kognitif kebudayaan baik berupa pengetahuan dan kepercayaan. apa yang pantas dan sebaliknya. Sebab kesenian butuh “dukungan” masyarakatnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Perubahan dalam apa yang disebut “pola psikologi aktual” seperti disebut di atas. menyebabkan pergeseran. Suatu bentuk kesenian. atau hidup dalam harmoni. Sementara pandangan faustianistis ingin memahami realitas untuk mengendalikan atau menguasai dan memanfaatkannya (eksploitasi). makna maupun nilai dan norma dalam kebudayaan. Dan untuk memahami fungsi suatu konvensi perlu dipahami pandangan dunia masyarakat atau komunitas yang menopangnya. tiap perwujudan ekspresi seni anggota masyarakatnya dianggap menjadi bagian tak terpisahkan dari kesepakatan akan nilai-nilai bersama. Atau lebih khusus. Pandangan yang religius-magis berusaha memahami realitas untuk menyesuaikan diri. pandangan dunia menentukan bentuk konvensi. Perubahan-perubahan nilai estetik pada gilirannya mempengaruhi nilai-nilai sosial dan moral. perubahan atau pengembangan dalam kesenian. ada hubungan kuat antara “konvensi teater” dengan “pandangan dunia”. apa yang dikatakan nilai itu. Sebagai catatan. Nilai estetik yakni anggapan tentang indah atau sebaliknya. Ini berlaku bagi kesenian tradisi atau yang modern/baru. Uraian yang membedakan “yang tradisi” dan “yang modern/ baru” itu untuk memperjelas. karena itu (ada konvensi) harus menjaga harmoni dengan masyarakatnya. ada penjernih masalah. Di sana anggota masyarakat menghayati dan mengungkapkan pengalamannya. Dalam masyarakat tradisional. sebab dari sana pengungkapan nilai-nilai simbolik itu butuh pengakuan. Karena itu landasan “pengalaman bersama” harus ditemukan. pendalaman dan perluasan 271 . hanya dapat tetap mempertahankan eksistensinya bila memenuhi fungsinya sebagai pengungkap pengalaman suatu komunitas sosial. Dengan kata lain. adalah bagian dari dunia simbolik tersebut. dunia simbolik dalam kebudayaan. di kalangan ilmu sosial biasanya dianggap sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kebudayaan. Teater tradisi merupakan salah satu intitusi yang menjadi sarana pewarisan nilai-nilai dalam kebudayaan.

Dan kenyataannya. Pemahaman sebelum melakukan penggalian nilainilai dari teater tradisi. Namun harus juga dipahami. yang menimbulkan resiko keracunan dalam memandang nilainilai kebudayaan. dua pandangan dunia yang bertentangan. mereka menemukan dan mencocokkan nilai-nilai yang selama ini dihayati bersama. maksuknya agar tidak kehilangan akar (tetap ada “ruh” tradisi). jadi apa yang mereka tonton merupakan (idealisasi) pengalaman hidup sehari-hari. Media Komunikasi Tradisional Uraian tentang konvensi seni atau teater tradisi di atas untuk memberi gambaran tentang pentingnya memahami pandangan dunia tradisi yang melahirkan bentuk estetik dalam keseniannya.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pengalaman. seperti kita mencampuradukkan faustianisme atau religious-magis. bahwa segala konvensi untuk mengidentifikasi keindahan bentuk seni tradisi bukanlah aturan mati yang tak membuka diri dari kemungkinan berubah. Sebab bisa jadi ada nilai-nilai konvensi (dalam bentuk fisik estetika) yang tak terpisahkan dari pandangan dunia yang menopangnya. misalnya bagi seniman-seniman teater baru yang mencoba mengambil idiom teater tradisi. seni atau teater tradisi saat ini tentu tidak 272 . Pertama. Teater menawarkan keterlibatan secara psikis. Catatan yang terakhir ini juga penting kalau hendak memberdayakan teater tradisi sebagai Media Komunikasi Tradisional. Kalau itu terjadi maka sebenarnya telah terjadi perampokan. dan pentas teater itu menjadi milik bersama. Dalam teater tradisi penonton sekaligus menemukan dua hal. mereka akan melihat diri mereka dan kenyataan sosial. Kesenian selalu memiliki kebutuhan mengembangkan potensinya agar mampu mengakomodasi perubahan isi pesan seninya untuk menjangkau “pandangan dunia” yang lebih dari batas-batas komunitasnya. setidaknya untuk menjaga agar nilai-nilai itu tidak disalahtafsirkan. Pemahaman tentang “konvensi” ini penting. Kedua. Mengambil tanpa memahami esensi estetisnya. b. Idiom teater selayaknya tidak hanya dilihat dari daya tarik lahiriah saja.

seperti Teater Cupak Gurantang 273 . Teater Amaq Abir di Medana (Lombok Timur) yang terlanjur terikat dalam nilai religius-magis komunitasnya. teater topeng ini sama sekali tak disakralkan. Pertunjukan Wayang Gerung dengan dalang Lalu Nasib adalah contoh bagaimana seniman tradisi mampu menjelajah ruang nilai yang melintasi batas-batas komunitasnya. ketiga. Lombok Barat. pertama. kemungkinan perubahan dan pengembangan bentuk seni Teater Amaq Abir terbukti sangat terbuka masuknya unsur tehnik teater modern (pembinaan yang dilakukan menjelang tampil dalam festival teater tradisi di Jakarta tahun 1986). Lombok Tengah. yang sebenarnya menginginkan keseniannya bisa berkomunikasi dengan publik yang lebih luas. dengan potensi untuk “menyesuaikan diri” tersebut maka Teater Amaq Abir dengan mudah membawa “misi” penyampai muatan-muatan nilai dan moral baru. pengadeganan. Berbeda dengan yang ada di Desa Marong. tapi semata-mata dianggap sebagai acara kesenian yang membawa pesan moral. plot. kedua. setidaknya teater tradisi tersebut memiliki potensi. penyesuaian “bentuk seni”-nya sebagai pengungkapan nilai estetik yang mampu menyesuaikan diri dengan apresiasi estetis publiknya. cerita maupun penokohan bisa dikembangkan sesuai kebutuhan. Mempertahankan eksistensi serta mengembangkan Teater Amaq Abir di Marong lebih memungkinkan. Sejak awal pertumbuhannya Teater Amaq Abir bagi masyarakat buruh tani di Marong tidak dihubungkan yang berkaitan dengan upacara agama atau hal-hal gaib. Hal ini merupakan bagian untuk mempertahan eksistensi seni (sebagai konkritisasi nilai-nilai) yang mampu bertandang dan diapresiasi oleh nilai-nilai di luar masyarakatnya. Tanpa kehilangan identitas Wayang Sasak-nya. Struktur. dalang Lalu Nasib sangat memahami “pola psikologi aktual” masyarakat Kecamatan Gerung. akhirnya tak mampu mempertahankan eksistensinya. Pada dasarnya fungsi tersebut juga bisa dilakukan teater tradisi yang lain yang kini masih eksis di Lombok. atau lebih jauh lagi menjadi media komunikasi tradisional yang berfungsi sebagai penyampai pesan dan media informasi yang komunikatif pada komunitasnya atau pada publik yang lebih luas.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI semata-mata ditopang komunitasnya dimana kesenian itu mulai tumbuh.

bahkan bila mungkin dipertajam. 274 . tembang. Tentu saja. memfungsikan teater tradisi sebagai media komunikasi tradisional. Unsur musik. Demikian juga seharusnya dalam memfungsikan teater tradisi di Lombok sebagai media komunikasi tradisional. Bentuk-bentuk seni yang menjadi konvensi estetiknya tak harus luntur. Selebihnya Lalu Nasib masih memainkan wayangnya sesuai konvensi pewayangan Sasak. tentu tak harus mengurangi nilai estetiknya. Peningkatan nilai estetis itu justru menguatkan kemampuan dan efektivitasnya sebagai media komunikasi tradisional. moral atau komentas sosialnya melalu episode yang menampilkan tokoh-tokoh kocak seperti Amaq Amet.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dan Kemidi Rudat yang masih mendapat tempat masyarakat Sasak. topeng dalam Teater Amaq Abir perlu pembinaan teknis. Keberhasilan Wayang Gerung memang tak lepas dari kesenimanan Lalu Nasib yang hingga kini belum ada duanya. Amaq Kisiq dan kawannya-kawannya (tokoh-tokoh yang diciptakan dari personifikasi orang Jawa. termasuk teknis penggarapan pertunjukaan yang perlu sentuhan teater modern. Bima dan bisa muncul dari etnis lainnya). Amaq Locong. Wayang Gerung-nya Lalu Nasib menyampaikan pesan-pesan pendidikan.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 275 .

Regional. Yogya 1978/1979 Diklat Seni Tk. Kalimutu 1994. Termasuk naskah sandiwara radio dan musik iringan tari. Nasional : Kongres Kebudayaan V di Bukit Tinggi. Namun Musbiawan mengaku masih ada sekitar 200 puisi yang jarang dipublikasikan.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Mustakim Biawan alias Musbiawan. Lahir di Sumbawa. 1999. NTB 4 tahun (pensiun). 2002. Seminar Seni Pertunjukan Indonesia STSI Solo. Bali 1999. Karier : Guru Ilmu Pasti/ Kesenian 21 tahun di SMP/SPG Kepala Kebudayaan Sumbawa 7 tahun. Nasional. Sebagai pembicara Budaya di tingkat Lokal. Kesenian NTB 5 tahun. Kasi Bina Program Bid. Bogor 2000. Temu Teater Nasional Yogya. Seminar Seni Kawasan Timur Indonesia. Beberapa lagu pop Sumbawa dan Hymne/ Mars Universitas Samawa/ KSB (sudah jadi NSP) pernah dibuatnya. Ketua Umum Dewan Kesenian NTB 2 tahun. Pendidikan : (Formal/ Non Formal) : SGA 3 th – Kupang 1959 PGSLP 2 th jurusan Ilmu Pasti (BI) 1963 Cantrik angkatan I Padepokan Seni Bagong K. 26 Juli 1940. Jakarta 2007. Kepala Taman Budaya Prop. Skenario Indonesia Masa Depan Komnas Ham. Seminar Wawasan Kebangsaan. Direktur SKENARIO 1999-sekarang. Temu Ilmiah MSPI. 276 . 1998.

juga 277 . Mengapa? Karena – sejatinya konflik-konflik multi dimensional yang melanda negara saat ini salah satu penyebabnya adalah mulai tersumbatnya komunikasi antar komponen bangsa. Ketika kita belum menganggap pendekatan kultural penting sehingga melahirkan generasi bringas yang mengira bahwa anarkhisme adalah solusi ampuh segala kekacauan musibah bangsa. kehidupan seni tradisi di NTB pada masa lalu berkembang dengan baik dan sangat diminati oleh hampir seluruh anggota masyarakat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Seni Tradisi NTB dalam Proses Kreatif Menuju Media Komunikasi Sosial Mustakim Biawan Mantan Kepala Taman Budaya NTB etika orientasi pembangunan masih menjadikan dimensi ekonomi dan politik jadi panglima. Ketika teknologi membidani lahirnya media baru “diktator baru” yang mengubah hampir semua gaya hidup bangsa. K Kondisi Masa Lalu Seperti yang secara umum terjadi di daerah lain. Adanya kegiatan Pemetaan Seni Tradisi ini menjadi sangat penting dan harus diberi apresiasi. Hal ini dimungkinkan selain karena lembaga-lembaga adat sebagai pengawal keberadaan etnik masih berperan dan dihormati – termasuk tokoh-tokoh lainnya. Artinya keterlibatan rakyat sangat menentukan keberhasilan program. Tentu saja dengan selalu merujuk pada sikap bahwa geopolitik dan geokultural tidak ditentukan oleh satu pihak saja.

Pada umumnya – karena sikap paternalistik masyarakat – rakyat banyak meniru ketauladanan yang ditunjukkan oleh petinggi pemerintah dalam semua tingkat yang selalu “menanggap” seni tradisi dalam hampir setiap event. 278 . sebab isinya penuh dengan pedoman kehidupan. Dan seperti juga semua seni radisi yang lain di NTB kadar komunikatifnya tetap selalu dijaga agar pesan yang akan disampaikan mencapai target. Komedi Rudat. ketauladanan dan gampang dicernakan. Tentu saja unsur hiburannya tetap dijaga dengan baik. sebuah musik tradisi yang melantunkan sastra lisan yang memuat pesan-pesan kearifan lokal lewat irama dan jenis pesan yang variatif sungguh jadi idola saat itu. di Bima idola dan primadonanya adalah RAWA MBOJO (Nyanyian Bima). Lirik-lirik yang dipilih adalah lirik yang penuh dengan nasehat-nasehat yang bersumber dari PATU (Pantun) yang dipilih sesuai dengan konteks tempat dan waktu penyajian. serta jenis-jenis teater tradisional lainnya di lima kabupaten/ kota di Lombok termasuk Wayang masih sangat diminati dan menjadi sumber belajar masyarakat lewat pesanpesannya yang penuh kearifan. Cupak Gurantang. a. Kalau di Sumbawa sangat populer Seni Sakeco. yaitu lagu tunggal yang diiringi oleh biola tunggal yang biasanya penyanyi adalah wanita dan pemain biola laki-laki. Begitu juga yang terjadi di Sumbawa: Sakeco. Dongeng-dongeng tersebut membekas dalam kehidupan mereka hingga dewasa. Kita sepertinya sukar menentukan apakah rakyat sadar dalam mengikuti jejak bos-bos tersebut atau memang tanpa pengaruh merekapun rakyat memilih karena sudah mengakrabi kesenian tersebut cukup lama. Dongeng tersebut ada dalam kehidupan ketiga etnik di NTB walaupun dalam versi yang disesuaikan dengan idiom lokal. Yang terjadi di Bima.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF oleh belum adanya serbuan budaya instant yang tidak lagi bersahabat dengan nilai-nilai masa lampau tersebut. selalu ditunggu anak-anak sebelum berangkat ke dunia mimpi. Termasuk juga dongeng sebelum tidur yang dalam bahasa Sumbawa disebut “BATUTIR” (Bertutur). dimana hidup suku Mbojo yang meliputi 2 kabupaten yaitu kabupaten Bima dan Dompu hampir sama dengan Sumbawa.

Kepatuhan rakyat terhadap tokoh-tokoh (tomas) dan pemerintah yang masih terjaga dan dipelihara akibat adanya kearifan lokal yang mengemuka dalam kehidupan ketiga etnik : . Ada saatnya – terutama masa orde baru.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI b.Patut Patuh Pacu (Sasak) . cerita yang kadang-kadang jadi karya yang cukup artistik tapi tidak jarang pula terjadi karya yang disuguhkan lebih mengutamakan pesan daripada aspek struktur teatrikal dan estetikanya. pesan-pesan pembangunan disampaikan lewat semacam seni pertunjukan yang biasa disebut pertunjukan rakyat atau lebih dikenal dengan sosiodrama.Maja Labo Dahu (Mbojo) Secara tidak langsung membantu keberhasilan program tersebut. Salah satunya dengan pesan-pesan yang disampaikan lewat media tradisi yang diakrabi rakyat. Hal ini berlangsung cukup lama apalagi setelah program KB mewarnai aspek hidup masyarakat. Ledakan jumlah penduduk yang menghantui masa depan kesejahteraan Indonesia harus segara diredam dengan berbagai cara. Program-program tersebut dianggap berhasil disebabkan oleh beberapa hal antara lain : a.Sabalong Samalewa (Samawa) . Selain dari sukses-sukses tersebut. Ditambah lagi dari kalangan tokoh agama dan masyarakat pada waktu itu cukup banyak memberi fatwa atau petuah yang mendukung program tersebut. Dalam proses kreatifnya terjadi penentuan pesan-pesan dari kalangan birokrasi lalu lewat kreativitas para seniman dimasukkan ke dalam sekwen. ada hal yang perlu dicatat yaitu catatan lisan tentang pemasungan kreativitas seniman. b. Sifat pemerintah pada saat itu yang otoriter menyebabkan seniman-seniman tradisional yang 279 . Dua buah intitusi birokrasi yaitu Deppen dan Depdikbud sangat solid dan gencar bekerjasama dalam proses pembentukan karyakarya seni pertujukan yang ampuh dan mampu memukau rakyat sekaligus menimbulkan kesadaran akan pentingnya ber KB (Penilik Kebudayaan dan Jupen sangat pegang peranan). c.

Keadaan ini “dipelihara” dengan cerdas oleh penguasa lewat Deppen yang merupakan corong tunggal kebijakan pemerintah tanpa dialog seimbang dengan rakyat. Jangankan media tradisi. Televisi” menjadi pedoman sehari-hari sehingga 280 . Kondisi ini cukup lama dipertahankan. Moh. Hal-hal baru yang diajarkan oleh “sang diktator baru” yang berjuluk “Prof.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ingin mengembangkan gagasan-gagasan baru di luar pakem apalagi memasukkan gaya yang mengeritik kebijakan pemerintah adalah hal yang mustahil. Barangkali ada benarnya seperti yang dikatakan oleh George Orwell yang mengemukakan bahwa media yang dikuasai oleh seorang tiran akan sangat melipat gandakan kekuatan dan kekuasaan untuk menindas dari Sang Tiran kepada rakyatnya. Dr. Kondisi Masa Sekarang Tumbangnya Orde Baru diganti Orde Reformasi tahun 1998. tapi pertumbuhannya lebih disebabkan oleh ketiadaan pilihan lain selain berkreasi dan mempertahankan asap dapur. seni “modern” ataupun yang kontemporer yang dengan kemampuannya yang tinggi dalam aspek kreativitas tidak jarang berhadapan dengan penguasa sebab karyanya yang menurut mereka cukup menggugah diterjemahkan oleh penguasa cukup menggugat sehingga diberangus. termasuk di NTB. Program baru menggiatkan pariwisata membuat NTB bergegas membenahi diri – setelah ditetapkan sebagai salah satu DTW handal di Indonesia. memberi kebebasan kepada warga untuk berkarya. Walaupun media tradisi cukup subur tumbuh di hampir semua daerah. Budaya instan tanpa pandang bulu melanda seluruh wilayah nusantara. Kelahiran teknologi baru tehun 1962 yang bernama TVRI bukannya menambah wadah kreativitas sang seniman malahan cuma menambah alat penyampaian pesan pemerintah yang tanpa saingan apalagi ada seperti yang kelihatan sekarang dialog interaktif semacam “SUARA ANDA” di sebuah stasiun TV SWASTA. Sebelum itu sekitar 1989 mulai bebas tumbuhnya stasiun TV Swasta dan aroma kebebasan berbicara mewarnai hampir semua aspek kehidupan tidak lalu menyebabkan media tradisi tambah berkembang sesuai arus globalisasi.

Tapi dibandingkan dengan masa lalu – bila dilihat dari jumlah pertunjukan sudah berkurang intensitasnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI terjadi situasi yang tak terduga sebelumnya di saat mana masyarakat tidak peduli pada apapun yang tidak menghibur. kalah bersaing dengan gemerlap layar kaca dan seni modern lainnya yang berkiblat pada daya bius budaya instant. bukan mendorong pemberdayaan masyarakat. Hobby bermain mereka dalam seni tradisi secara perlahan ditukar dengan hobby baru yang tanpa pilihan : mencari penopang kehidupan lewat krya-karya baru di wilayah yang sangat asing dari aroma kesenian. Kondisi organisasi seni tradisi yang mengusung teater tradisional misalnya di Lombok “Komedi Rudat” sudah jarang ditanggap. Pesan-pesan pembangunan lebih banyak Cuma jadi porsi TVRI sedangkan TV Swasta lebih banyak mengadakan berita sensasional – iklan-iklan – gosip-gosip – sinetron yang lebih banyak jual mimpi dan mistik-mistik. Tapi keadaan itu belum mampu membalikkan “kejayaan” seni tradisi masa Orde Baru. Memang ada satu dua stasiun yang kelihatan peduli terhadap seni tradisi semisal Ketoprak Humor di RCTI – Wayang di Indosiar dan TV Lokal NTB : Lombok TV. 281 . Keadaan di NTB pun demikian. Sakeco di Sumbawa dan Rawa Mbojo di Bima dan Dompu. gaya hidup. Media tradisi nyaris tidak dapat tempat lagi. anggota-anggotanya ada yang jadi TKI ke negeri Jiran. Muatan-muatan atau pesan-pesan yang sebelumnya banyak mengandung unsur kearifan lokal (local wisdom) karena tuntutan zaman berubah menjadi pesan sebuah seni media yang cuma jadi aspirin yang tidak menyembuhkan permasalahan masyarakat tetapi mengarahkan manusia pada suatu mimpi. Wayang Sasak di Lombok. Memang ada yang masih tetap bertahan karena adanya event musiman pariwisata atau karena kepiawaian seniman pendukungnya membaca tanda-tanda zaman semisal Cupak Gurantang. Tentang honorarium tersebut sering terjadi ada calo yang nakal “menyunat” honor mereka dengan dalih macam-macam yang diamini begitu saja oleh anggota group yang memang lugu. Khusus di NTB masih terjadi sampai saat ini group-group seni tradisi menjadi korban para calo yang secara sepihak menentukan apa dan bagaimana group tersebut harus bermain dan berapa hak yang mereka dapat. Apalagi dengan wajah kehidupan ekonomi masa kini yang cukup memprihatinkan.

Semoga!! Prospek Pengembangan Masa Depan Pada dasarnya sebuah upaya pengembangan budaya adalah bagian dari pelestarian. Saat ini organisasi seni tradisi sudah mulai bergegas membenahi diri untuk menjadi salah satu “barang dagangan” pada ajang tersebut. yang mempunyai 3 aspek yaitu perlindungan. Kelihatannya – mudah-mudahan – senimanseniman tradisional akan banyak dapat peluang dalam berkarya akhirakhir ini. khas dan unik adalah potensi yang menjanjikan ke arah itu. Sumbatan-sumbatan komunikasi selama ini dirasakan antar komponen bangsa : antar pemerintah dan rakyat atau pemerintah dengan sesama pemerintah. pengembangan dan pemanfaatan. Sejatinya – oleh warga NTB terutama seniman – ajang VLS 2012 diharapkan dapat sedikit memberi harapan kepada bangkitnya seni tradisi – tentu saja yang komunikatif – di tengah budaya asal jadi saat ini. Alam yang indah. Dalam kaitannya dengan upaya pengembangan seni tradisi untuk 282 . Pesan-pesan pembangunan yang diharapkan lebih tersosialisasi lewat media seni tradisional yang komunikatif dan unik akan dengan mudah menyebar dan diserap masyarakat ketimbang pidato panjang dan rumit elit-elit politik. Di dalam potensi tersebut ada seni tradisional yang perlu “dipoles” sebagai seni turistik sudah tentu tanpa menghilangkan roh tradisinya. Sudah tentu harus memenuhi kriteria layak tampil – layak jual dan akhirnya layak dibayar. budaya yang aneka. atau bahkan antara rakyat dengan rakyat sehingga melahirkan konflik berkepanjangan. harusnya menjadi cair dan mudah-mudahan saling mengerti dan memaafkan. Adanya hajatan besar Pemda NTB mengadakan VISIT LOMBOK SUMBAWA 2012 yang tujuan utamanya menjadikan NTB destinasi jempolan di Indonesia barangkali bukan cuma mimpi.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Tetapi hal tersebut sudah mulai berkurang sejak adanya pembinaan organisasi seni yang diadakan oleh lembaga pemerintah maupun swasta. Dari kalangan pemerintah oleh Disbudpar dan Diskominfo dan kalangan swasta pada tahun 1999 oleh yayasan KELOLA yang dibiayai oleh Ford Fondation. Tetapi hajat kita lewat pemetaan saat ini bukan cuma sekadar menambah isi kocek sang seniman atau calo yang memperdaya mereka.

Untuk menumbuhkan kepekaan dan toleransi dalam pergaulan antar sesama. spiritual dan komentar sosial. ada beberapa faktor pendukung kearah tersebut : 1. Potensi seni-budaya NTB beragam dan khas. kita sebenarnya membicarakan pemanfaatan seni tersebut untuk tujuan pendidikan baik yang terstruktur maupun tidak terstruktur. Festival/ Lomba Seni 283 . 2. Merujuk kepada hal-hal tersebut dan TOR dari kegiatan ini. Sehubungan dengan hal tersebut. Jadi artinya dapat dapat dan mungkin diubah. formal maupun non formal atau pendidikan masyarakat. c. Mengadakan upaya pengembangan lewat usaha kolaborasi antara seniman akademis dengan bakat alam atau tradisional. 3.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI jadi media komunikasi sosial. Untuk tingkatkan dan tumbuhkan kesadaran sejarah. 3. demi berbagai tujuan yang lebih khusus. Untuk memacu internalisasi nilai-nilai budaya yang dapat memperkuat integritas sebagai bangsa yang mampu menjunjung moral yang tinggi. Contoh : BCB (Bulan Citra Budaya). Bentuk. Event-event yang mendukung kreativitas seniman cukup banyak. Potensi untuk berubah. b. Dalam kegiatan ini harus dapat disepakati bahwa pakem-pakem yang ada pola-pola ataupun bentuk seni tradisi adalah sebuah produk seni dan bukan syahadat kita yang baru. misalnya . Inventarisasi jenis-jenis seni tradisional yang komunikatif di seluruh wilayah NTB termasuk di dalamnya deskripsi lengkap tentang aspek-aspek : a. atau pakem. Masyarakat cukup terbuka terhadap pembaharuan. pola. Pemanfaatan seni tradisi untuk tujuan pendidikan adalah sebagai substansi untuk disosialisasikan. 2. 2. Jenis pesan atau muatan yang mengandung pendidikan kultural. 1. maka beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam upaya pengembangan menjadikan seni tradisi yang komunikatif di NTB sebagai media komunikasi sosial adalah sebagai berikut : 1.

Contoh upaya pengembangan : 1. Sebenarnya kalangan penonton yang kebanyakan sudah mulai bosan dengan pakem dan pesan yang sama dari tahun ke tahun datang menonton lebih disebabkan mau mendengar banyolan baru hadam karena pakem statis tak memberi nuansa segar. maka yang kita bicarakan dipersempit kepada jenis-jenis tersebut. harapan kita di NTB terhadap pengembangan seni tradisi cukup baik.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Tradisi dan saat ini sedang giat menyiapkan diri terhadap kegiatan skala besar bidang pariwisata yaitu VISIT LOMBOK SUMBAWA 2012. Misalnya : Komedi Rudat Dapat dikembangkan dengan memberikan nuansa humor yang “dipelajari” dari jenis humor masa kini (apakah lewat tv ataupun pentas terbuka) agar dapat lebih dihayati oleh audience tanpa menghilangkan roh cerita yang bernuansa Arab-Melayu. Di Pulau Lombok Rata-rata seni tradisi di Lombok adalah seni kerakyatan. Juga fungsi hadam yang dominan dapat lebih dimaksimalkan dengan tambahan pesan-pesan cerdas tentang hal-hal factual yang terjadi. Begitu pula pola dan bentuknya. Karena yang diharapkan dalam pemetaan ini adalah seni tradisional yang komunikatif. sudah tentu dengan tetap mengedepankan keutuhan cerita (unity) dan aspek artistik. Wayang sasak Dengan mulai munculnya Dalang muda. Kita dapat menyatakan bahwa kemungkinan pengembangan di masa yang akan datang tidak akan mengalami banyak hambatan. dipentaskan di arena terbuka dan mempunyai ciri khas dan unik serta komunikatif. Walaupun sebagian besar para Dalang masih asyik terjebak dalam pola-pola lama tanpa ingin menikmati “kebebasan” yang diberikan oleh reformasi tapi ada beberapa yang mencoba “melawan” tradisi den284 .

Jadilah dia tumpuan pesanan dari instansi pemerintah yang punya program yang harus disosialisasikan lewat media wayang. Ambil contoh misalnya Wayang Sasak Lalu Nasib (Panginang Robek). Balawas. 2. tetapi sejarah mencatat bahwa dia berani meretas penghalang kreativitas dalam berkesenian. Syukurlah NTB masih memiliki rakyat yang memberi apresiasi tinggi terhadap seni wayang walaupun tanpa malu-malu menganggap budaya instan adalah segala-galanya sebagai pedoman kehidupan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI gan upaya-upaya kreatif. Pesan285 . Tetapi Sumbawa dalam khasanah seni musik tradisional cukup kaya. Walaupun saat ini pamornya sudah mulai memudar akibat banyolan-banyolannya kadang-kadang nyerempet hal-hal sensitif. termasuk generasi muda. Sakeco adalah duet tradisional Sumbawa yang melantunkan LAWAS (Sastra Lisan Sumbawa) diiringi rebana dalam irama yang sangat variatif dan kelincahan duet yang rampak. Batutir. Bagesa. Ada juga teater tradisional yang lain semacam Cupak Gurantang dan Topeng Amaq Abir yang mengambil cerita dari Serat Menak yang masih digandrungi masyarakat walaupun dalam jumlah terbatas karena wilayah pertunjukannya juga terbatas. Yang paling populer saat ini ialah musik SAKECO. Di Sumbawa Etnik Samawa yang tersebar di dua Kabupaten yaitu Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat tidak memiliki teater tradisional dalam pengertian teater terstruktur seperti Komedi Rudat atau Wayang di Lombok. Dan upaya ini menambah asap dapur anggota groupnya. Lewat banyolan-banyolannya yang nyerempet wilayah pornografi yang khas sejak dekade 90an keatas cukup mendapat tempat di hati penonton. dll yang dalam takaran komunikatif agak kurang. Apalagi serbuan-serbuan seni kontemporer lewat panggung-panggung glamour layar-layar kaca seakan-akan meminta media tradisi untuk segera undur diri dari panggung seni Indonesia. Di Sumbawa Cuma ada (smpai saat ini) teater mula berupa Ngumang.

Selain Sakeco ada satu lagi seni tradisi Sumbawa yang layak dikembang jadi media komunikasi sosial yaitu NGUMANG : semacam penyampaian (ekspresi) seorang pria yang sambil memegang sebatang kayu berhias dengan suara giring-giring menggerak-gerakkan tubuhnya dalam gerak tari khas sambil menyampaikan lawas di hadapan gadis-gadis atau audience dalam event-event tertentu seperti Karapan Kerbau dan – saat ini – di dalam pawai. Dalam upaya pengembangan. Di Bima/ Dompu Etnik Mbojo yang mendiami Kab. yang perlu diperhatikan adalah : • Perubahan irama harus lebih terasa.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF pesan yang disampaikan berasal dari Lawas atau kejadian yang sedang IN yang dikemas dalam kadar komunikasi yang intens dengan audience. Saat ini (dalam kurun waktu 3 tahun terakhir) sudah dicoba kembangkan Sakeco wanita dan ternyata dapat sambutan yang lumayan baik dari masyarakat. dibuat komposisi yang lebih baik dan pesan-pesan yang dipilih lebih pas dengan situasi. Isi lawas sangat lentur dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi. yang segar dan sarat dengan variasi irama dan pesan. dll. Seperti juga yang 286 . (ingat pameo Sumbawa “Kurang racik kurang maras”) • Mengenai waktu penyajian yang biasanya semalam suntuk (sampai keluarnya Nasi Goreng) dapat dirancang agar lebih dipadatkan tanpa mengurangi daya pukaunya. Begitu juga RABALAS LAWAS atau sejenis BERBALAS PANTUN yang sudah sering dilombakan antar kecamatan. Untuk pengembangan dapat ditambah jumlah orang sehingga vokal jadi lebih menarik. Bima dan Dompu memiliki seni musik khas yang disebut RAWA MBOJO. 3. Artinya racik (irama yang mirip rap) harus lebih diperbanyak karena seperti dalam wayang racik adalah seolah-olah punakawan yang ditunggu banyolan segarnya. • Jenis-jenis pesan melalui lirik-lirik lawas atau cerita-cerita agar lebih diseleksi tanpa menghilangkan sifat khas Sakeco.

tetapi karena settingnya tidak lagi statis (panggungnya mulai dibenahi).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI terjadi di Sumbawa. seniman-seniman di kedua daerah tersebut telah mencoba mengangkat Rawa Mbojo lewat persentuhan dengan irama yang merajai wilayah musik tanah air saat ini yang disebut DANGDUT. Karena lirik-lirik lagu tersebut kebanyakan berasal dari sastra lisan tradisional maka peluang penyampaian pesan-pesan moral cukup baik. 2. Lomba cipta lagu pop sering diadakan terutama di Sumbawa. Ada juga Kapatu yang sama dengan Rabalas Lawas di Sumbawa. sneiman-seniman rawa Mbojo mengadakan perpaduan antara irama asli mbojo dengan gempitanya Dangdut yang lalu menghasilkan karya yang mulai digandrungi lagi oleh khalayak. kaidah-kaidah pentas sebagai sebuah seni pertunjukan mulai diakrabi. Prestasi nasional baru-baru ini sebagai penyanyi terbaik lagu pop daerah tingkat nasional di Jakarta memberi semangat kepada musisi pop daerah Sumbawa untuk berkarya. Kesimpulan • Media tradisional NTB masih punya potensi untuk menjadi media komunikasi sosial. Saran-saran • Dalam setiap usaha pengembangan agar selalu dijaga keseim287 . Penutup 1. Ada satu hal yang layak dikembangkan bagi ketiga etnik di NTB yaitu maraknya penciptaan lagu pop daerah yang sudah diproduksi secara besar-besaran dari tahun ketahun dan cukup diminati rakyat. Walaupun lirik-liriknya hampir sama dengan pesan-pesan yang sama. Daripada ditinggalkan pendukungnya. • Event-event pariwista dan festival atau lomba seni yang diadakan oleh pemerintah dan swasta cukup memberi peluang kepada para seniman atau pelaku seni untuk mengembangkan karya. maka upaya pengembangannya cukup berhasil walaupun belum berhasil menggaet anak muda untuk berpaling dari dunia mereka : musik modern yang serba canggih mengasyikkan.

Prof. barangkali salah satu sebabnya adalah karena pembuat kebijakan belum begitu mengerti yang diinginkan rakyat disebabkan adanya barikade protokuler yang sengaja dibuat untuk mengurangi keakraban penguasa dengan rakyatnya.Temu Teater Nasional Yogyakarta. Made Bandem Melacak Identitas di tengah Budaya Global. Otonomi daerah yang dihajatkan untuk memberi peluang maksimal bagi daerah dalam pengembangan segala kehidupan termasuk budaya jangan dijadikan ajang pemenuhan nafsu politik dan ekonomi semata. 1999 Mus Biawan Semangat Etnis Teater Kita. Mataram. Dialog Interaktif Bappeda NTB. Juxtapose. Kemajuan teknologi harus dimanfaatkan secara maximal untuk mengembangkan kreativitas seniman disertai peningkatan frekuensi festival/ lomba seni terutama seni tradisional. Kekuatan Itu Dimulai Ketika Cinta Bau Bensin. Dr. Fred Wibowo Seni Media dan Media Seni. Kerth Tester Media Cultural Morality. Tirtagangga. Peningkatan Pemanfaatan Tradisi Seni Budaya Sebagai Obyek Daya Tarik Pariwisata. 1998 288 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF • • • • bangan antara porsi pesan dan unsur artistik sehingga karya yang dihasilkan adalah karya unity yang dapat diterima secara “ikhlas” oleh pendukungnya. Bagaimanapun hambatan-hambatan komunikasi yang akhirakhir ini terasa menjadi penghambat kemajuan bangsa. 1999. Temu Teater Nasional Yogyakarta. Seminar Seni Pertunjukan Indonesia Seri I STSI Surakarta. Temu Ilmiah MSPI. 2002. ______. Daftar Pustaka Edi Sedyawati. 1999. 2003. Agar seniman yang berprestasi mendapat apresiasi sesuai dengan mutu karya-karya dan pengabdiannya.

Gema Karyawan : Depdikbud Kec. Lombok Timur : Sukiman : : Topeng amaq Abir 4. Pringgabaya. Suanda Putra Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan 3. Komedi Rudat Borok Alamat : Desa Buntiang. Desa Sapit Kec.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI LAMPIRAN DAFTAR KONTAK ORGANISASI SENI TRADISIONAL NTB LOMBOK 1. Pimpinan : Guru Bangka Kontak Person : Suhardi (Tlp : 0376 22454) Materi Garapan : Komedi Rudat 289 Alamat . Darma Kerti Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan : Dusun Batu Pandang. Kec. Gerung Lombok Barat Pimpinan : Nuradi Kontak Person : Materi Garapan : Wayang Sasak 5. Baluq Diarsa Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan : Dusun Karang Bliq. Desa Marong Kec. Sakra Lombok Timur. Yusuf Cupak Gurantang 2. Yusuf M. Paraya Timur Lombok Tengah NTB (didirkan tahun 1987) : Lalu Sahibi : Komang Restu (tlp : 0370 654706) : Teater Topeng Amaq Abir : : : : Dasan Agung Mataram M.

Purnama Ria Alamat : Gapuk Selatan Dasan Agung Mataram Pimpinan : Ramiun Kontak Person : Ramiun (tlp. 08123719063) Materi Garapan : semua jenis seni 2. Sumbawa. Hilir Ismail (Tlp. 0370 621209) Materi Garapan : Komedi Rudat 7. 0374 42408) Materi Garapan : Musik Tradisional 290 . 0371 22720) Materi Garapan : Sakeco 3. Kec. S. Kontak Person : Jemaan (tlp. S. Sumbawa Pimpinan : Hasanuddin. 0370 622068) Materi Garapan : Teater tradisional. Pimpinan : Maladi. Muhtar Kontak Person : Drs. SUMBAWA 1. Doro Kumbe Alamat : Kec.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 6. Kemang Satange Alamat : Pelat. Sumbawa. (Hp.Pd. dll. Sumbawa Alamat : Kantor Budpar Kab. Kab. Komedi Rudat Kembali Jaya Alamat : Penede Gandor Lombok Timur Pimpinan : Drs. Wayang Lalu Nasib Alamat : Gerung Lombok Barat Pimpinan : Lalu Nasib Materi Garapan : Wayang Sasak 8. PLK Kab.Pd. Rasange Bima Pimpinan : H. Sahiruddin Kontak Person : Sukardi (Tlp. S. Kontak Person : Hasanuddin.Pd.

Kec.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 4. Mada Duli Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan : : : : : : : : Desa Kempu. Darmiati/ Rukaiyah (perempuan) Alamat : Desa Seminar Kab. Editor dan penulis artikel Sapardi Djoko Damono. Alamat : Moyohilir Sumbawa 2. Abdul Horin Cs. Kahar/ Mustafa (Sambu) Alamat : Kec. Kec. Abd. Diterbitkan oleh Yayasan Kelola atas bantuan Ford Foundation. Sumbawa Barat 6. Usman Drs. 0373 22807) Musik Tradisional Taliwang. Utan 4. Harin Alamat : Kaiang Moyo Hilir Subawa 291 . 0374 42408) Musik Tradisi 84261 5. 2000. Utan 5. Syamsuddin/ Sukardi Alamat : Pamulung 3. SH (tlp. Hilir Ismail (tlp. Wera Bima H. Ompu Nae Alamat Pimpinan Kontak Person Materi Garapan Sumber : Direktori Seni dan Budaya Indonesia. Dompu Zulkifly Adidin Rifai. Tini Cs (perempuan) Alamat : Kec. Kempo. Kab. DUET SAKECO 1.

Dr.Si. Pemerhati Komunikasi dan Dosen Ilmu Komunikasi IAIN Mat- 292 . M. Kadri.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF aram.

Sehingga tidak heran bila anak-anak lebih banyak mengenal nilai dan budaya asing ketimbang seni dan budaya sendiri. Kadri. kini tidak banyak lagi dikenal oleh generasi muda. upaya pelestarian dan penanaman kencintaan public (terutama generasi muda) terhadap seni dan budaya tradisional menjadi tugas K 293 . Seni dan budaya tradisional yang selama ini menjadi kebanggaan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Mengemas Seni Tradisional Komunikatif NTB untuk Media Komunikasi Sosial Dr. Sungguh banyak nilai dan pelajaran yang dapat diambil dari setiap seni dan budaya tradisional untuk dijadikan sebagai referensi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keragaman ini sekaligus menjadi kekayaan bangsa yang tak ternilai. untuk dilestarikan dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. M. Oleh karena itu.Si Pakar Komunikasi IAIN Mataram Pengantar eragaman seni dan budaya merupakan salah satu karakter bangsa Indonesia yang membedakannya dengan negara lain. Pada saat bersamaan mereka (generasi muda) tidak bisa melepaskan diri dari ‘serangan’ budaya global yang terus menerpa. upaya pelestarian dan pewarisan senibudaya tradisional menjadi tugas yang tidak mudah di tengah semakin terbukannya akses masyarakat untuk mempelajari seni dan budaya asing lewat kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. Namun ekspektasi ideal tersebut di atas harus berhadapan dengan kecenderungan memudarnya seni dan budaya tradisional di setiap daerah. Memang.

di antaranya menjadikan seni tradisional sebagai media komunikasi sosial. Satu-satunya yang masih tertinggal adalah gaung penganten yang menggunakan adat Mbojo. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang didiami oleh tiga etnik mayoritas (Sasak. 294 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF awal yang mesti direalisasikan. sehingga belum banyak yang berpikir pemanfaatan hal tersebut sebagai sebagai media komunikasi untuk menyampaikan pesan social baik oleh pemerintah kepada publik secara vertical maupun secara horizontal di antara masyarakat. yang baru mendapat perhatian beberapa tahun terakhir. Permainan ini diiringi dengan alunan musik tradisional Mbojo. meskipun belakangan mulai terlihat adanya perhatian pemerintah daerah. Beberapa seni dan budaya tradisional yang selama ini menjadi produk dan pernah dihidupkan oleh rakyat Bumi Gora. Eksistensi Seni Tradisional di tengah Media Modern Tidak mudah untuk mempertahankan eksistensi seni tradisional di tengah membanjirnya seni dan budaya global. Generasi muda pun tidak lagi menjadikan seni tradisional ini sebagai karya dan seni yang disenangi. Prosesi pernikahan dengan adat Mbojo pun sudah mulai disederhanakan dan mengikuti prosesi budaya modern. bersamaan dengan giatnya kampanye pariwisata di provinsi dan kabupaten yang ada di NTB. Selama ini seni dan budaya tradisional masih dimaknai sebatas karya seni pemuas naluri estetika setiap orang. Rumah-rumah tradisional Bima seperti rumah panggung bukan lagi menjadi kebanggaan. memiliki seni dan budaya tradisional yang beragam. karakter geografis NTB yang kepulauan dan terdiri dari wilayah yang masih jauh dari pusat ibu kota provinsi dan kabupaten. dan Mbojo) serta etnik-etnik lainnya. Samawa. Belum lagi kita berbicara tentang cagar dan bangunan budaya. sebelum berbicara tentang pemanfaatan seni tradisional sebagai media komunikasi sosial. mengharuskan pemerintah daerah untuk menggunakan media komunikasi yang beragam. Kondisi ini diperparah lagi dengan minimnya perhatian pemerintah untuk melestarikan seni dan budaya tradisional setiap daerah. saat ini sangat susah ditemukan. Namun harus diakui bahwa eksistensi seni dan budaya tradisional di NTB mengalami ‘reduksi’. Di sisi lain. 1 Gantao adalah sejenis permainan bela diri pencak silat yang melibatkan dua orang lelaki Bima dengan memperagakan adegan saling serang menggunakan kaki dan tangan untuk saling banting. Budaya Gantao1 yang pernah semarak di Bima (suku Mbojo) misalnya kini sangat jarang lagi dipentaskan dalam setiap pesta budaya di Bima.

Pengaruh ini terutama melanda generasi muda. dan baliho sebagai sarana kampanye program atau kampanye publik (public campaign). Kota Mataram mungkin dapat dikecualikan dalam generalisasi ini. Dalam konteks seni tradisional juga mengalami reduksi peminat. Di samping itu. Selama ini sangat susat 295 . pemerintah juga belum bisa mengoptimalkan eksistensi seni dan budaya tradisional sebagai media komunikasi sosial. pemerintah belum optimal mengupayakan pelestarian dan pengembangan seni tradisional. rumah panggung masih menjadi kebanggaan. dan juga di komunitas Sasak. Pemerintah daerah lebih senang menggunakan media modern seperti televisi. Bahkan orang tua pun tengah melakukan upaya ’pemudaran’ rumah panggung untuk diganti dengan rumah modern. surat kabar. Pemanfaatan seni dan budaya tradisional yang minim tidak hanya dilakukan oleh rakyat atau media massa. radio. Rumah adat yang berjenis rumah panggung dan kayu bukan lagi menjadi rumah favorit. Sebagian besar acara dan isi tayangan media massa kita cenderung hedonis. Kecenderungan yang tidak terlalu beda juga terjadi di Sumbawa (suku Samawa). tetapi juga oleh pemerintah. Dalam beberapa kebijakannya. Kini keluarga baru sudah senang dengan rumah-rumah berarsitek modern. Banyak faktor yang menyebabkan fenomena pereduksian seni budaya tradisional terjadi. Kemudahan mengakses informasi berkontribusi bagi entengnya mereka (generasi muda) untuk mengkonsumsi seni budaya apa saja dengan dukungan visualisasi dan audio mutakhir. meskipun apa yang dilakukan pemerintah kota Mataram belum maksimal. Sangat susah ditemukan acara atau tayangan media massa tentang seni tradisional daerah tertentu. Belum lagi kita berbicara tentang wajah televisi dan media massa kita (Indonesia). belum banyak setiap pemerintah daerah yang ada di NTB mengadakan atraksi dan kompetisi seni dan budaya tradisional di tingkat pelajar. Sebagai contoh. Seni tradisional Sasak seperti Teater Cepung dan Teater Cupak Gerantang misalnya saat ini tidak lagi menjadi seni teater yang masif digandrungi. dan bahkan menjadi mahar favorit yang disediakan oleh penganten pria.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Pada puluhan tahun silam. dengan mempraktekkan dan mengajarkan gaya hidup bergelimang kemewahan dengan asesoris modern yang jauh dari identitas tradisional. Salah satunya adalah pengaruh kehidupan global yang dimotori oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

dan masyarakat pada umumnya) harus membangun tekad yang sama untuk menjadikan seni dan budaya tradisional sebagai media komunikasi sosial sekaligus sebagai perekat ikatan sosial di antara warga se-etnik dan se-bangsa. Ketika pemerintah menjadikan seni tradisional sebagai media komunikasi sosial tentu akan memberikan keuntungan ganda. yakni melestarikan seni budaya tradisional sekaligus membantu kesuksesan program yang dilaksanakan. Momentum ini dapat dimanfaatkan sebagai wadah yang baik untuk mengkampanyekan atau mensosialisasikan seni dan budaya tradisional setiap daerah. yang ti296 . Di samping itu. Ini berarti kita masih memiliki sisasisa ruang dan waktu untuk merevitalisasi seni tradisional di benak publik. pengusaha.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF terlihat (untuk mengatakan tidak pernah) seni tradisional dimanfaatkan sebagai sarana publikasi dan penyampai informasi pembangunan dan sosial lainnya dari pemerintah. sama dengan apa yang dipahami oleh penerima pesan. Ketika hal ini dapat diwujudkan maka sedahsat apapun serangan informasi dan media global. Komunikasi dalam konteks ini harus dimaknai secara luas. Di samping itu. Ketepatan memilih media komunikasi dan kelihaian mengemas tampilan media yang telah dipilih merupakan kunci keefektifan komunikasi yang dilakukan. yang antara lain menganjurkan untuk mengakomodir sepuluh porsen (10% porsen) siaran berkonten lokal bagi televisi berjaringan nasional. tidak akan mampu menggoyahkan kecintaan anak bangsa terhadap seni dan budayanya sendiri. sekaligus untuk mengimbangi serangan budaya global yang kian mengancam. Efektifitas Komunikasi Melalui Seni Tradisional Salah satu ukuran efektif dan tidaknya komunikasi adalah ketika apa yang dimaksudkan oleh pengirim pesan. faktor media yang digunakan juga turut berkontribusi menciptakan komunikasi yang efektif. Secara pelan tapi pasti setiap kalangan (pemerintah. Kita masih memiliki harapan karena proses reduksi seni budaya tradisional tidak berlangsung secara radikal (tidak menjadi gerakkan anti budaya tradisional secara massal). pemerintah juga harus memanfaatkan amanah Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran. dengan cara mendorong pegiat media dan penyiaran yang ada di NTB untuk menyiapkan paket seni buya tradisional untuk ditayangkan di media nasional.

Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. tetapi juga menyangkut seni dan budaya yang berdimensi nonverbal. Dengan pemaknaan yang luas seperti ini. Dalam asumsi dasar teori uses and gratifications 2 dikatakan bahwa penggunaan media yang dilakukan oleh seseorang bergantung kebutuhan dan ketertarikannya terhadap suatu pesan yang ditawarkan. maka prasyarat awal yang harus dilakukan dalam rangka menjadikan seni tradisional sebagai media komunikasi yang efektif (komunikatif) adalah bagaimana menjadikan atau mengemas seni tradisional sebagai suatu karya seni yang diperhatikan atau diminati oleh masyarakat agar mereka tertarik. maka dalam konteks seni dan budaya tradisional. tentu saja hal tersebut akan membuat seni tradisional dapat dengan mudah berperan sebagai media komunikasi sosial yang menjadi pilihan publik. dan (5) dilaksanakan (action) sesuai dengan isi pesan.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dak hanya sebatas komunikasi verbal tetapi juga yang nonverbal. Upaya ini penting ketika hendak menyelipkan pesan-pesan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan sosial dan pembangunan yang akan melibatkan partisipasi publik untuk mensukseskannya. Oleh beberapa pakar komunikasi. Suatu pesan akan diterima dengan baik antara lain ketika pesan tersebut memenuhi empat unsur. segala produk dan wujud seni mesti dimaknai sebagai bentuk pesan yang memiliki makna tersendiri. (2) menarik perhatian (interest) yang menerimanya. Bandung: Citra Aditya Bhakti 297 . Ketika hal ini dapat diwujudkan maka proses transfer pesan sosial lewat seni tradisional menjadi relatif mudah. Lihat Effendy. Ketika seni tradisional telah diminati masyarakat dan dikemas secara menarik. 2 Teori ini pada dasarnya merupakan teori yang berkaitan dengan penggunaan media massa oleh khalayak. (1) pesan tersebut mendapat perhatian (Attention) sasaran pesan. Suatu hal yang tidak kalah pentingnya adalah menjadikan seni tradisional sebagai suatu kebutuhan setiap individu. komunikasi tidak hanya dimaknai dalam konteks seni pertujukan dan nyayian serta musik yang berbasis verbal. 2000. (4) diambil keputusan (decide) untuk menerimannya. Oleh karena itu. Apabila mengikuti alur komunikasi atau proses transfer pesan seperti di atas. (3) berkeinginan (desire) untuk menerimannya. pada umumnya tradisi komunikasi orang Indonesia menggunakan jenis komunikasi konteks tinggi. yakni.

Teater-teater tradisional seperti teater Cepung. Kesamaan sosial dan budaya bukan hanya dalam konteks kesamaan nilai dan seni yang dimiliki tetapi juga kesamaan latarbelakang etnik dan suku dari setiap peserta (orang yang terlibat dalam) komunikasi. Tradisi komunikasi seperti ini lebih relevan dengan karakter seni tradisional yang ada (khususnya di NTB). Seni tradisional merupakan ikatan emosional yang dapat dijadikan sebagai perekat komunikasi sosial di antara masyarakat. Teater Cupak Gerantang (yang berasal dari suku Sasak). berputar-putar atau gaya komunikasi yang tidak simpel dan tidak langsung pada point dan sasaran utama. bahwa langkah awal yang harus dilakukan untuk menjadian seni tradisional NTB sebagai media komunikasi sosial yang efektif adalah dengan menjadikan hal tersebut sebagai hiburan atau karya seni yang digandrungi publik. dan akan menghasilkan sesuatu yang lebih kontributif.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF yakni cara berkomunikasi yang berbelit-belit. Bandung: Rosda 298 . 2002. 3 Lihat Deddy Mulyana. Seni tradisional merupakan salah satu ikon kesamaan yang bisa menyatukan setiap perbedaan personal. Kebanyakan orang Indonesia senang dengan gaya bertutur melalui proses panjang menuju sasaran. ketika orang yang ber-etnik sama membicarakan persoalan yang sama lewat media komunikasi yang sama. Artinya. Prinsip komunikasi ini semakin mempertegas bahwa komunikasi yang efektif tidak terlepas dari adanya kesamaan nilai sosial dan budaya. maka proses transfer pesan lewat seni tradisional menjadi lebih efektif. maka ada jaminan bahwa komunikasi tersebut akan berlangsung secara efektif. Ketika ikon ini dapat dikemas dengan sebaik-baiknya menjadi media komunikasi sosial. Esensi pesan yang terkandung di dalamnya pun tidak bisa diperoleh secara instan. Salah satu prinsip komunikasi disebutkan bahwa ”semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi”3. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Menjadikan Seni Tradisional NTB sebagai Media Komunikasi Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya. atau Teater Sakeco dan musik berpantun ”Bakelong” (yang berasal dari suku Samawa) merupakan bentuk seni tradisional yang berkarakter dialogis dengan durasi waktu yang relatif lama. Ikatan emosional atas persamaan sosial dan budaya menjadi faktor penting dalam kesuksesan komunikasi manusia.

nyanyian-nyanyian yang tidak terlalu mendidik dan minim muatan lokal. sambil mengambil upaya serius untuk mengemas seni tradisional yang ada agar menjadi produk atau karya yang diminati. Hal yang lebih penting lagi adalah bagaimana menanamkan kencintaan terhadap seni dan budaya tradisional sejak usia dini. Setiap momen apapun harus dimanfaatkan untuk mensosialisasikan seni tradisional. Ben299 . anak kita banyak disuguhi dengan permainan modern yang tidak jelas asal usulnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk merevitalisasi eksistensi seni tradisional di tengah tantangan global yang multi bentuk. Proses penanaman kecintaan ini harus terus berjalan (tanpa terikat dengan waktu dan ruang). Dua di antaranya adalah lewat pendidikan nonformal dan formal. diperlukan identifikasi menyeluruh terhadap karya dan jenis seni tradisional yang ada. Permainan-permainan anak di PAUD dan TK formal harus direkonstruksi. agar anak cinta produk lokal. Usia dini merupakan waktu yang tepat untuk penanaman nilai dan tradisi tertentu dengan harapan akan membekas dan turut mewarnai aktivitasnya di masa yang akan datang. Event-event seni budaya tradisional harus terus digalakkan di setiap jenjang pendidikan dasar dan menengah. Penanaman nilai dan kecintaan terhadap seni tradisional dapat dilakukan lewat berbagai cara. Proses identifikasi ini penting terutama untuk menentukan strategi pemanfaatan seni tradisional yang ada secara tepat dan efesien sehingga bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan yang diinginkan. dan seni serta budaya tradisional. Hal yang sama dapat dilakukan di pendidikan formal dengan cara mereformasi kebijakan dan kurikulum Pendidikan SD sampai SMA. Komitmen yang tinggi untuk menjadikan seni tradisional NTB sebagai media komunikasi sosial tidak cukup sampai penanaman kesadaran mencintainya. Saatnya alat permainan edukatif (APE) lebih banyak menyuguhkan permainan dari bahan lokal dan bermuatan nilai lokal. Dibutuhkan kemasan yang serius dengan dukungan maksimal dari semua kalangan untuk mengkampanyekan atau mensosialisasikan seni tradisional agar mendapat tempat di hati rakyat. karya sendiri. Untuk kebutuhan optimalisasi performance seperti inilah. Selama ini. Kurikulum tentang seni dan budaya tradisional harus mendapat perhatian maksimal sebagai langkah akademik untuk menanamkan nilai dan kearifan lokal pada diri setiap anak.

Kedua. ekonomi. Selama ini dalam penghamatan saya. Di samping itu. Seni tradisional berkarakter seperti ini sangat berpotensi untuk mengumpulkan massa yang lebih banyak. tanpa menghilangkan nilai historis dari setiap karya seni yang ada. Teater ini merupakan teater klasik yang berasal dari etnik Sasak. Pada umumnya yang termasuk dalam kategori ini adalah karya seni non drama/teater. Dalam seni tradisional Bima seperti ”Biola” misalnya dapat diselipkan irama lagu perpantun yang mengandung pesan-pesan sosial tertentu. dalam artian tidak hanya pesan nonverbal lewat gerakan anggota badan tetapi juga bisa dengan membuat improvisasi musik pengiring dengan lagu-lagu sarat pesan tertentu. Tentu saja untuk mewujudkan hal ini membutuhkan sentuhan ide dan tangan kreatif seniman di setiap daerah. sosial. Seni tradisional dalam kategori kedua ini adalah semua seni tradisional yang berbasis drama dan teater. yakni: Pertama. Peran teater cepung di tengah masyarakat Sasak menyangkut berbagai aspek seperti politik. dan berbagai tari tradisional di provinsi NTB. lirik lagu biola di Bima lebih banyak didominasi oleh lirik asmara dan percintaan. dalam pergelaran seni tari juga dapat dimodifikasi sehingga dapat lebih komunikatif. dan agama. Momen berkumpulnya massa itulah yang dapat dimanfaatkan oleh siapapun untuk menyelipkan agenda-agenda tambahan terutama dalam menyampaikan pesan tertentu sesuai kebutuhan. seperti: a. yakni sekitar tahun 1850an. apalagi bila dikemas dan dimodifikasi semenarik mungkin. seni tradisional yang dapat dimanfaatkan secara langsung sebagai media komunikasi sosial. seperti musik tradisional. yang muncul tidak lama setelah penulisan lontar ”Tutur Monyeh oleh Jero Mihran.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF dasarkan identifikasi sederhana terhadap seni tradisional di NTB. Teater Cepung. Yang dimaksud dengan kategori seni tradisional yang pertama ini adalah semua seni tradisional yang yang tidak berkarakter penyampai pesan secara langsung. pergelaran pertunjukan tradisional. seni tradisional yang dapat dijadikan sebagai media penghimpun massa. maka dapat dibagi dua jenis seni tradisional dalam konteks penggunaannya sebagai media komunikasi sosial. 300 .

teater dan drama memiliki posisi strategis dan dapat berperan sebagai forum penghilang ketegangan dan pencair perbedaan. Karakter wilayah NTB dengan tingkat konflik sosial yang relatif masih tinggi. Namun lagi-lagi. sangat tepat untuk menjadikan seni tradisional seperti teater dan drama sebagai media komunikasinya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI karena lontar Tutur Monyeh sebagai sumber teater Cepung yang berisi tentang nilai. Saya sangat tertarik dengan upaya yang dilakukan oleh sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Eropa yang merekrut beberapa pelajar di wilayah konflik di NTB untuk diajarkan atau dilatih drama bertema perdamaian/persamaan yang akan dipentaskan di depan saudara dan orang tua mereka. yaitu pendidikan moral. keberadaan keduanya tidak seperti saat awal keberadaannya. Bahkan menurut penelitian Alfarisi4 b. eksistensi kedua teater tersebut akan lebih bermakna sebagai media yang komunikatif ketika keduanya telah digandrungi oleh masyarakat. 2010. kritik sosial. berisi tentang dialog komedi berpantun yang diiringi dengan alat musik tradisional seperti gendang dan rebana Kedua jenis teater di atas merupaka dua karya seni berbasis drama/ teater yang dapat dimanfaatkan secara langsung sebagai media komunikasi sosial. Penutup Gambaran panjang lebar di atas semakin mempertegas betapa pentingnya seni tradisional daerah NTB sebagai media komunikasi sosial. Sebagai bentuk apresiasi seni. Alur cerita yang ada dalam teater tersebut sangat mungkin untuk dimodifikasi dan diselipi dengan pesan-pesan tertentu yang penuh makna. ritual. Teater ini adalah karya seni tradisional yang berasal dari suku Samawa. Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta 301 . apalagi aktor yang terlibat dalam teater itu adalah seluruh representasi masyarakat yang ada. Sayang hingga saat ini. Tesis. Teater Cepung Lombok (Kajian Tekstual Seni Pertunjukan). 4 Salman Alfarisi. dan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat Sasak. LSM ternama tersebut sadar benar bahwa karya seni seperti drama dan teater menjadi wadah yang efektif untuk menyampaikan pesan bermakna. Teater Sakeco.

302 .PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Atas dasar kesadaran itulah dibutuhkan upaya serius semua kalangan untuk mengidentifikasi dan memodifikasi kemasan seni tradisional agar dapat dimanfaatkan sebagai media yang komunikatif dalam menyampaikan pesan sosial tertentu. Sosialisasi dan penanaman kesadaran berbudaya dan mencintai seni tradisional sendiri merupakan langkah awal yang baik menuju efektifitasnya pemanfaatan seni tradisional NTB sebagai media komunikasi sosial. pemerintah daerah harus memberi apresiasi (dukungan) yang serius untuk menyediakan fasilitas seni dan budaya sebagai wadah dan ruang ekspresi publik sekaligus sebagai benteng pelestarian budaya lokal. Lebih dari itu.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 303 .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 304 .

PENUTUP 6 PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 306 .

dapat mudah kita temukan kantor perwakilan pemerintah kabupaten atau kota. ketika TIK akses komunikasi menjadi semakin mudah. demikian pula media massa berada dalam kontrol pemerintah. informasi tentang kebijakan pemerintah bisa diketahui pemerintah daerah dengan cepat. Pemerintah tinggal menghidupkan saklar on/off-nya saja lantas semua infomasi dari atas bisa tersebar luas dan relatif seragam. Di beberapa penjuru kota. Ketika reformasi bergulir. Memang ada ironi di kalangan pemerintah. Sebaliknya. di tengah TIK yang makin berkembang tapi informasi tentang program pemerintah oleh masyarakat luas relatif sulit tersebar dan dipahami masyarakat. utamanya kepada pemerintah kabupaten/kota. Sistem pemerintahan lebih memberikan otonomi yang luas. pasokan informasi dari pemerintah daerah pun relatif lambat dipahami oleh pemerintah pusat.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Lestarikan Media Tradisi Suprawoto ulu ketika penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) belum seperti saat sekarang. Bayangkan jika separuh kabupaten/ 307 D . tapi komunikasi antar lembaga justru terasa tidak lancar? Ketidaklancaran tercermin dari betapa banyaknya kantor perwakilan pemerintah daerah yang berada di Jakarta. Ibaratnya komunikasi bisa dibangun seperti kontak listrik. Memang sistem yang dibangun waktu itu sangat sentralistik. Kondisi ini memicu terjadi paradoks.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF kota punya perwakilan di Jakarta! Berapa ratus gedung harus dibangun? Berapa anggaran yang mesti dikeluarkan? Kalau perwakilan pemerintah provinsi mungkin masih sesuai dengan konteks pembagian kewenangan pemerintahan. Nuh) meminta mencoba untuk mencari masukan dari para ahli di bidangnya bagaimana ke depan dan sekaligus memetakan seni tradisi yang komunikatif dimaksud. Ada beberapa pengalaman menarik dalam menggunakan seni tradisi untuk diseminasi informasi kebijakan publik. Baik media mainstream (radio. ternyata media tradisional komunikatif seperti wayang kulit. wayang golek. sewaktu Menteri Komunikasi dan Informatika (semasa dijabat M. maka juga disiarkan RRI atau radio lokal setempat dan juga siaran langsung/tunda di TVRI setempat atau nasional. dan sebagainya masih sangat digemari masyarakat. Untuk itulah. adalah melakukan penyebaran informasi atau diseminasi informasi dan komunikasi kepada masyarakat. Di beberapa kawasan Indonesia. Penyebaran informasi saat ini betulbetul harus merupakan informasi untuk kepentingan masyarakat banyak. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Kantor perwakilan pemerintah provinsi dibutuhkan bisa menjembatani koordinasi kewenangan pengaturan pemerintah pusat dan daerah. dan cetak) hingga media baru bahkan media tradisonal yang komunikatif. Penanggulangan HIV/ AIDS. wayang Bali. maka pada tahun 2009. televisi. Bukan untuk kepentingan kelompok atau partai tertentu. pengalaman 308 . Dul Muluk. Agar yang menikmati pertunjukan bukan hanya yang hadir di tempat pertunjukan diselenggarakan. menghadapi Bencana dan lain sebagainya. ketoprak. mengingat seni tradisi komunikatif masih efektif untuk penyampaian pesan tentang kebijakan Pemerintah. Pertama. *** Perlunya kebijakan pemerintah untuk dapat segera dipahami masyarakat luas. Terbukti setiap pementasan selalu dipenuhi pengunjung. Peta Poang. Kementerian Komunikasi dan Informatika mencoba mengembangkan komunikasi dan penyebaran informasi melalui berbagai media. penanggulangan Flu Burung. Seperti kebijakan Pemerintah tentang kenaikan BBM. Hal ini tentunya sesuai dengan salah satu tugas Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Di Aceh kami gunakan seni tradisi semacam teater tutur “poh tem” . Pengalaman kedua ketika diminta untuk menjelaskan mengenai kenaikan BBM dan program BLT (Bantuan Langsung Tunai). Di Jawa digunakan wayang kulit. Malahan Ketoprak Siswo Budoyo dari Tulung Agung yang demikian legendaris bagi masyarakat Jawa khususnya Jawa Timur sudah lama gulung tikar. Malah dalam prakteknya. Di setiap pertunjukkannya kemudian disiarkan RRI atau radio setempat. Malahan kadang-kadang sebagian besar turis asing. Tentunya itu bukan satu-satunya cara untuk menjawab eksistensi seni tradisi komunikatif. kini hanya ada satu seni tradisi yang pentas secara rutin. Ternyata luar biasa penontonnya. Demikian juga di Sumsel dan Riau Kepulauan. Demikian kondisi pertunjuan seni tradisi saat ini.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI saat menjadi ketua tim sosialisasi MoU Helsinki di kalangan masyarakat Aceh juga menunjukkan betapa seni tradisi dapat berperan penting. sekarang bisa dihitung dengan jari. Salah satu media yang digunakan juga menggunakan seni tradisi. Karena dengan bahasa dan kesenian lokal masih lebih efektif untuk segera dipahami. ketoprak yang digelar di alun-alun kemudian disiarkan langsung oleh TVRI dan RRI. Ludruk tinggal satu yang pentas. melestarikan seni tradisi bukanlah hal mudah. Di Jakarta sendiri. Itupun penontonnya sangat sedikit dapat dihitung dengan jari. Selama ini Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menggelar ratusan kali pertunjukan seni tradisi komunikatif untuk menyampaikan kebijakan Pemerintah tersebut. Di kota Surabaya sendiri. Yang masih ada nasibnya kembang kempis. seni Dul Muluk tidak 309 . Saat ini saja sudah terbukti. yaitu yang di Wonokromo. Seperti Ketoprak Suryo Budoyo di Kediri nasibnya tak jauh berbeda. yakni Wayang Orang Sriwedari diSurakarta. yang kalau di Jawa seperti Kentrung. Seni itu efektif sekali untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang program Pemerintah khususnya mengenai infromasi tentang MoU Helsinki waktu itu. Demikian juga Ketoprak yang dulunya sangat banyak group keliling. di Jawa misalnya. Seni ludruk keliling yang dulunya begitu banyak di Jawa Timur saat ini nasibnya sangat menyedihkan. namun itupun pentasnya hanya sekali seminggu. Banyak tantangan yang dihadapi. Wayang Orang Bharata yang dulunya demikian mendapat tempat di hati warga kota Jakarta saat ini pentas secara rutin hanya sekali seminggu.

Kabupaten Kediri. “Bagi kami.000. uang bukan segala-galanya. Uang memang penting tapi yang terpenting bagi kami adalah jiwa seni.000 setiap pertunjukan. Namun.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF Seniman Ketoprak Mencoba Bertahan dalam Impitan (1) Tiket Rp 2. Diakuinya kelompoknya sudah sering jatuh bangun. Jika penonton yang membeli karcis hanya 20 orang. Bangunan tobong atau tonil tempat pemain ketoprak bermain juga sangat sederhana alias ala kadarnya. “Setiap bulan puasa jumlah penonton sangat sepi. Penonton Cuma 20 ”Hampir setahun ini Ketoprak Suryo Budoyo manggung di lapangan Desa Padangan. grup ini akhirnya tetap bertahan. “Beginilah kondisi kami serba sederhana. semua halangan itu tak mampu memupus jiwa seni para pemain ketoprak pimpinan Ki Anang Sukardi yang memiliki nama panggung Pak Koyek.000. karena para personel benar-benar memiliki jiwa seni. berarti uang yang diperoleh hanya Rp 40. pertunjukan tetap berlangsung sampai selesai dengan durasi permainan sekitar tiga jam lebih. Kami tetap bertahan karena ingin melestarikan kesenian ini agar jangan sampai punah. Mereka ini selain seniman pemain juga para wiyogo atau penabuh gamelan serta kru pendukung lainnya. Total kru ketoprak yang berdiri sejak 12 tahun silam 40 orang. Anang mengungkapkan. Namun. Diakui Anang Sukardi. Padahal total jumlah kru pemain dan wiyogo mencapai Rp 40 orang (Surya 7 September 2011). Bambu yang menjadi tiang penyangga terlihat sudah banyak yang lapuk. saat ini kesenian ketoprak semakin tersisih serta kalah dengan pertunjukan sinetron dan film yang banyak diputar di layar TV. Namun. tapi kami tetap bermain berapapun penontonnya. 310 .” tambahnya. Suka duka sudah dilalui para seniman ketoprak itu.” tuturnya. bahkan gulung tikar vakum kegiatan. Harga tiket masuk ketoprak Suryo Budoyo hanya dijual Rp 2. pertunjukan ketoprak harus tetap jalan. Sehingga baginya berapa pun jumlah penonton. Termasuk para senimannya banyak yang tinggal di belakang tonil dengan membuat kamar-kamar darurat yang seringkali bocor saat diguyur hujan deras. Kecamatan Kayen Kidul. Kesenian ketoprak juga termasuk kesenian padat karya yang melibatkan banyak pemain. mulai dari sepinya penonton sampai guyuran hujan deras yang membatalkan pentas. grup ketopraknya selalu nrima ing pandum atau menerima apa adanya rezeki yang diperoleh dari bermain ketoprak. Pernah suatu ketika jumlah penonton yang membeli tiket masuk hanya belasan orang.” ungkapnya. Malahan.

yang menjadi pertanyaan terkait seni tradisi komunikatif ini dimana posisinya? Apakah masih bisa berada di dunia realitas ataukah bisa juga bertahan di tengah perkembangan teknologi yang sedemikian dahsyat dalam dunia yang seolah makin tanpa batas ini? Dalam konsep materialisme Thorstein Veblen. Di Bali ada dalang wayang cengblong yang main pada saat bersamaan empat orang sekaligus. Semua itu memengaruhi cara kita melihat dan menikmati wayang. Sementara sekarang ini. Paradigma ini tentunya ada benarnya juga. Kurun waktu 37 tahun tentunya telah terjadi prubahan dan pergeseran. jelas bahwa pertunjukan seni tradisi semakin lama makin berkurang. Dari latar belakang itulah. Jika dulu pernah dilakukan oleh pemerintah Orde Baru dan berhasil. Tidak ada salahnya meniru yang baik. blencong atau lampu penerangan untuk layar digunakan petromak. saat nonton wayang kulit yang dipentaskan semalam suntuk. Televisi memang masih ada yang mementaskan seni tradisi. Dari fakta di atas. sayang tidak ditayangkan pada jam-jam prime time. tentunya ada beberapa catatan dan dokumen tentang hal tersebut. Bagaimana teknologi telah memengaruhi dalam pertunjukkan seni tradisi komunikatif. Utamanya di tengah perkembangan teknologi sekarang. Dengan catatan. salah satu pemicu perubahan peradaban terjadi karena teknologi. salah satu alasan Kemenkominfo tergerak menggunakan seni tradisi untuk mengkomunikasikan kebijakan pemerintah. sudah ada yang menggunakan lampu dan infokus (LCD Projector).LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dipentaskan secara rutin. Oleh sebab itu sekarang perlu di-up date lagi agar bisa menjadi salah satu referensi bagi kita semua. kalau dulu diseminasi melalui seni tradisi komunikatif untuk kepentingan penguasa saat ini lebih ditekankan pada penyampaian program Pemerintah yang perlu segera dipahami dan untuk kepentingan publik. terakhir pada tahun 1974 waktu itu Departemen Penerangan melakukan pemetaan dan dibukukan dalam peta seni tradisi yang komunikatif. apa salahnya sekarang dilakukan kembali. Kemudian di Jawa Barat ada Asep Sunarya yang bisa menampilkan efek tambahan yang menarik penon311 . Dulu kala ketika saya kecil. Menurut catatan yang dapat ditelusuri. Oleh karena sejak Pemerintahan terdahulu penggunaan seni tradisi komunikatif telah dilakukan untuk penyampaian program Pemerintah. Apalagi ini terkait dengan upaya pelestarian budaya bangsa.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF ton. Makalah-makalah yang disajikan dalam diskusi ini sangat menarik. tapi mengupayakan agar Kominfo akan mendukung hidup seni tradisi yang ada dengan cara menggandeng untuk kegiatan sosialisasi kebijakan pemerintah. Kominfo tidak hanya melaksanakan diskusi saja. rekaman pertunjukan seni tradisi begitu bisa kita upload dari Padang Panjang dan bisa dilihat di manapun juga. Selanjutnya Kominfo bisa mengunakan seni tradisi itu untuk diseminasi kebijakan Pemerintah di seluruh Indonesia. * 312 . Thomas L. ada peluang untuk itu. agar menjadi kegelisahan kita semua. Saya melihat ini juga bisa dianggap jadi peluang bagi seni tradisi yang kita cintai. ada leher salah satu kepala wayang tertebas senjata hingga terpotong. Friedman dalam buku The World of Flat bercerita tentang bagaimana dampak teknologi terhadap pergaulan dunia dan interaksi antar manusia. Dengan demikian Kementerian Kominfo mengharapkan masukan dari para ahli sekaligus setelah memetakan seni tradisi yang komunikatif. Misalnya dengan internet. Pak Asep bisa menampilkan cipratan darah karena bantuan teknologi. Kalau melihat sisi positip. Kalau adegan perang tanding. Banyak kegelisahan mengenai kelangsungan hidup seni tradisi yang menjadi perhatian berbagai pihak. sekaligus memprovokasi untuk ikut mencari jalan keluarnya. Oleh sebab itulah. kemudian kami share kepada pembaca. Dengan demikian untuk seni tradisi ini. setidak-tidaknya bisa menjadi dasar kebijakan.

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI 313 .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF KALIMANTAN SUAMTERA JAKARTA JAWA 314 .

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI SULAWESI MALUKU PAPUA NUSA TENGGARA 315 .

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF 316 .

tukang ojek yang mengantarkan penulis menjelajahi Desa Mireng. Kalau Wayang Kulit. Anehnya. “Kalau Pak Suryadi yang ini sih saya sudah kenal sejak lama. namun yang ia tahu profesi Suryadi adalah guru. mas. tapi Suryadi dalang Wayang Sadat saya tidak tahu. “Saya malah baru tahu dari njenengan (anda—red) kalau ada wayang yang namanya Wayang Sadat. bukan dalang Wayang Sadat. Suryadi hanya tersenyum kecut mendengar penuturan Bambang. Kec Trucuk. Kini. namun tak banyak warga Trucuk yang kenal. sang dalang yang dicari-cari. Tapi Wayang Sadat saya tidak pernah dengar.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI Catatan Akhir Senjakala Sang Penenang Kalbu Nursodik Gunarjo Butuh waktu satu jam lebih untuk menemukan rumah Suryadi di Desa Mireng. namanya saja banyak yang tidak tahu.” kata Bambang (19 th).” kilah Bambang. Zaman memang telah menyilapkan kata Wayang Sadat dari pemaha317 . jangankan wujud keseniannya. Wayang Wong (Orang— red). ketika penulis akhirnya bertemu dengan Suryadi Wanasukarja BA. Bambang mengaku sudah kenal dengan Suryadi. Kab Klaten. saya tahu. “Yang namanya Suryadi di sini banyak. Wayang Golek. kesenian tradisional yang namanya pernah berkibar pada zaman Orde Baru. Lelaki dua anak ini baru percaya Wayang Sadat benar-benar ada. Jateng. bukan dalang.” imbuh Bambang. tapi beliau seorang guru. B egitulah nasib Wayang Sadat. Kendati penulis sudah memberi keterangan tambahan bahwa nama yang dicari adalah ‘Suryadi dalang Wayang Sadat’.

” kata Suryadi. “Mungkin waktu saya masih sering di-tanggap (pentas—red) dulu. Ia lantas mengajak penulis ke salah satu ruang di rumahnya. sebelum latihan pentas di halaman rumah saya ini. Sunan Kalijaga dan lainnya yang jumlahnya sembilan orang (Wali Songo). peraga Wayang Sadat diambil dari tokoh-tokoh sejarah Kerajaan Demak dan Babad Tanah Jawa. Kresna atau Bima. saat kotak dibuka. Sunan Giri. tabuh gamelan berbagai jenis. wayangnya masih utuh. melainkan Para sunan/wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa seperti Sunan Bonang. Padahal pada era 80-an.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF man anak muda sepantaran Bambang. Sarana Dakwah dan Penyejuk Kalbu Berbeda dengan Wayang Kulit yang tokoh-tokohnya diambil dari cerita Ramayana dan Mahabharata. semua tokoh yang ada dalam wayang ini mengenakan alas kaki. “Filosofinya adalah para wali dan tokoh muslim lainnya dalam wayang ini selalu suci atau terjaga dari najis dan hadats. bahkan sudut bawah kotak wayang yang terbuat dari kayu tampak keropos. blangkon atau berpeci. Wajar jika sekarang ia tidak tahu apa itu Wayang Sadat. Penggiat seni ini lantas menjajarkan tokoh-tokoh Wayang Sadat di atas meja. Di sana masih ada seperangkat gamelan slendro-pelog lengkap. wayang yang sepintas modelnya mirip dengan Wayang Kulit itu. “Sudah setahun lebih kotak wayang ini tidak dibuka.” tutur bapak empat anak ini sambil menghapus debu yang melekat di kotak wayang dengan kemoceng. “Terakhir saya membersihkan wayang ini bulan Februari 2008. ditambah tokoh-tokoh lain dari zaman Kerajaan Demak Bintoro. sepatu maupun sandal. Uniknya.” tuturnya. blencong atau lampu pertunjukan dan satu kotak wayang. baik terompah. Syukurlah. Pakaiannya berciri khas Islam yakni berjubah dan bersorban—kecuali Sunan Kalijaga yang digambarkan mengenakan pakaian adat Jawa—sementara masyarakat umum digambarkan memakai ikat kepala. Moga-moga saja wayangnya tidak ikut dimakan rayap. Sunan Drajat. Dengan hati-hati. Suryadi adalah dalang Wayang Sadat terkemuka di Kabupaten Klaten.” urai lelaki 318 . Hanya catnya tampak kusam karena terbalut debu lumayan tebal. Semuanya tampak berdebu. Jangan heran kalau nama tokohnya bukan Gatotkaca. Mas Bambang belum lahir. kelir dari kain putih. ia dibersihkan dengan lap basah satu per satu.

” kata Suryadi. sedangkan waranggana (sinden/ pelantun tembang) mengenakan busana muslimah atau jilbab. Suryadi tidak bisa mengatakan den319 . Selama pergelaran Wayang Sadat. menggabarkan kehidupan nyata masyarakat waktu itu. secara umum Wayang Sadat sangat dipengaruhi oleh Wayang Kulit. suluk (candra—red). perangkat pentas. oleh karena itu pagelaran Wayang Sadat selain sebagai dakwah juga sebagai penyejuk kalbu penonton. Nama ini juga berasosiasi dengan kalimat “Syahadat” yang merupakan ikrar kesaksian keesaan Allah dan pengakuan Rasulullah Muhammad sebagai utusan Allah. Selain itu. semuanya mirip dengan Wayang Kulit. keris. Karena pakelirannya padat. dan kutipan ayat-ayat Al-Qur’an. yakni penyebaran agama Islam khususnya pada zaman Demak Bintoro. Hanya di dalam Wayang Sadat ditambah dengan shalawat nabi. Nama “Sadat” sendiri diambilkan dari akronim. semua mirip dengan Wayang Kulit. antawacana (dialog—red). Mulai gamelan. pentas wayang ini juga tidak semalam suntuk seperti Wayang Kulit. Jalannya pementasan juga tak beda jauh dengan Wayang Kulit. “Sifat wayang ini memang sangat religius Islami. Dalang Berjubah Berbeda dengan kebanyakan dalang yang mengenakan beskap. hadits.” ujarnya. “Sarana Dakwah dan Tabligh”. Bacaan shalawat juga sering mengalun ketika tokoh Sunan Bonang atau para wali lainnya tampil. Babon (sumber utama--red) cerita biasanya dari buku Babad Tanah Jawi. Ia mengakui. Wayang Sadat tidak memiliki pakem cerita baku seperti Wayang Kulit atau Wayang Golek yang berbabon kisah Ramayana dan Mahabarata.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI berusia 63 tahun ini. namun cerita carangan (kreasi--red)-nya bisa dibikin sendiri sesuai kebutuhan. dalang Wayang Sadat justru mengenakan jubah biasa (seperti surjan) dan surban di kepalanya. Niyaga (penabuh gamelan) mengenakan baju muslim (baju koko). “Ini memang termasuk wayang realis. jarit. dan sabet (gerakan wayang—red). imbuh Suryadi. bacaan lafal Al-Qur’an kerapkali terdengar. maka Wayang Sadar sering dipentaskan untuk mucuki (pentas pendahuluan) pagelaran Wayang Kulit. dan blangkon. namun cukup empat jam. hingga karakter sungging (tatahan) wayang. Kapan Wayang Sadat lahir. “Gending-gending (musik pengiring) yang digunakan.” ujarnya.

” kata Suryadi. order pentas turun drastis. Pasrah Menunggu Maut Kevakuman selama beberapa tahun tidak pentas membuat Suryadi kelimpungan. “Saya pentas di depan umum sejak tahun 1980-an. Pensiunan guru SD ini mengaku. “Kalah sama sinetron dan kesenian modern lainnya.. Tujuannya agar gairah kesenian bisa tersalurkan. Ia juga rutin pentas di TVRI. namun karena sering diajak pentas. Sang kakeklah yang menciptakan wayang itu. Tapi itu tak berlangsung lama. baru pentas tiga kali sudah dihentikan dengan alasan tidak ada dana. ia mengajukan proposal ke (saat itu) Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Klaten agar mau mementaskan Wayang Sadat secara periodik. Kantor Deppen Kab Klaten bersedia mementaskan Wayang Sadat sebulan sekali..” urainya 320 . Lelaki berkumis ini pun putar otak agar kesenian yang digelutinya tak tenggelam ditelan zaman. Bakat mendalang akhirnya menurun kepadanya. Berbeda dengan kakek dan ayah saya yang mengalami zaman keemasan. ayahnya menerima warisan wayang itu dari kakeknya. usaha saya. televisi satu-satunya milik pemerintah saat itu. Satu-dua kali gladhen.PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF gan pasti. untuk mucuki pentas Wayang Kulit yang rutin digelar di alun-alun. gagal total. Salah satu cara yang ia tempuh adalah menyelenggarakan gladhen (latihan) rutin sebulan sekali di halaman rumahnya. akhirnya ia bisa mendalang secara otodidak. pada saat awal-awal menjadi dalang tahun 80-an. Meskipun ia tak pernah secara khusus belajar mendalang Wayang Sadat. Kakek dan ayahnya adalah dalang Wayang Sadat tenar pada zamannya. bahkan ia pernah mendalang di lokasi transmigrasi di daerah Lampung dan Kalimantan Selatan. Wayang Sadat tak pernah lagi ditanggap orang. Maklum. mendalang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Bahkan mulai tahun 1995. saya menjadi dalang pada saat pamor Wayang Sadat sudah mulai mbleret (suram—red). Tapi memasuki tahun 90-an. dalam sebulan ia bisa mendalang dua sampai empat kali. Upayanya tak sia-sia. setelah itu macet karena para niyaga sibuk dengan urusannya masing-masing. Sekitar tahun 1990-an. Undangan bukan saja datang dari Klaten. “Alhamdulillah. Ia hanya ingat. selain itu juga untuk mencari bibit dalang baru dari kalangan pemuda.” ujar Suryadi pendek. namun juga dari luar provinsi.

Kendalanya apa lagi kalau bukan masalah dana. bahwa seni tradisi mengalami lesu darah karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. ia tak pernah memikirkan rugi-laba saat mementaskan Wayang Sadat. Bahkan menurut penuturannya. Bagi Suryadi. maka kesenian tradisional butuh kondisi semacam itu. saat pentas lebih banyak rugi ketimbang untungnya.LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI dengan wajah muram. “Wayang Sadat kini sudah berada pada masa senjakala. Sudah jamak diketahui. mereka berharap ada “tonikum” yang bisa membuat seni tradisi bangkit kembali. di mana-mana. Ironisnya. Ia pernah bercita-cita merevitalisasi Wayang Sadat menjadi Wayang Nusantara. Zaman keemasan dianggap telah lewat. petinju yang tiba-tiba segar dan kuat kembali setelah babak belur pada ronde-ronde sebelumnya. “Rugi secara material. namun secara moral tetap untung karena saya mendapatkan kepuasan batin yang tidak terkira.” imbuhnya. dengan tokoh-tokoh yang disesuaikan dengan konteks kehidupan kenegaraan saat ini. kesenian tradisional memang telah memasuki masa uzur. “Bahkan anak saya sendiri nggak mau meneruskan profesi bapaknya jadi dalang Wayang Sadat. Tak heran. mengeluhkan kondisi yang kian merapuh. Berubah atau Mati Ibarat manusia. menunggu saat kematian Wayang Sadat datang menjemput.” pungkasnya lirih. Karena itu.” ujar Suryadi terus terang. Penghasilannya nggak jelas katanya. lantaran tak seorang pemudapun berminat menjadi dalang Wayang Sadat. Kematian sepertinya sudah menjadi takdir yang tak terhindarkan. Seni tradisi butuh “tonikum” itu agar kembali segar. Namun cita-cita itu tampaknya sulit menjadi kenyataan. Jika dalam olahraga tinju dikenal istilah kemenangan kedua (second win). 321 . Ia percaya. Para penggiat seni tradisi. Kini ia mengaku pasrah. masa keemasan Wayang Sadat telah lewat. berbagai pihak yang ia sodori proposal bantuan dana hanya menggelengkan kepala alias menolak dengan halus. Niat untuk mencari bibit dalang dari generasi muda juga pupus. seni memang bukan untuk mencari uang. Hal semacam inilah yang cengkah (bertentangan—red) dengan pola pikir anak-anak muda zaman sekarang.

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

Para pelaku seni tradisi cenderung terpaku pada “teks” yang statis, sehingga kehilangan “konteks” saat kesenian yang digelutinya dipaksa hidup dalam situasi masa kini yang serba dinamis. Penjagaan tradisi memang kadang harus menafikan perubahan, karena perubahan bisa berarti hilangnya hakikat tradisi itu sendiri. Namun di sisi lain, menolak perubahan akan membuat seni tradisi kehilangan komunitas pendukungnya. Situasi dilematis semacam itu sering membuat para pelaku seni tradisi berhadapan pada pilihan yang serba sulit. Banyak seni tradisi mati, justru karena pelakunya bersikukuh memegang prinsip anti perubahan. Bagi mereka kematian lebih mulia, daripada harus mengingkari hakikat orisinalitas “pakem” seni tradisi yang sangat mereka junjung tinggi. Kematian adalah keniscayaan, karena zaman telah membuat seni tradisi berada di waktu dan tempat yang salah. Dan kita, bagaimanapun, harus menghormati mereka yang memilih jalan ini. Namun sebagian pelaku seni tradisi memilih jalan yang lebih moderat, mencoba berdamai dengan dinamika zaman agar bisa bertahan hidup lebih lama. Pakem atau “teks” asli tetap mereka pertahankan, namun “konteks” juga mereka perhatikan. Mereka tidak alergi pada perubahan, namun justru menempatkan perubahan itu sebagai motor penggerak revitalisasi. Kalau mau jujur, mayoritas seni tradisi yang mengalami second win adalah seni tradisi yang pelakunya rela mengisi “teks” seni dengan isuisu aktual yang ada di tengah masyarakat. Seni tak lagi terpaku pada pakem yang kaku, yang membuatnya berada jauh tinggi di awangawang, namun dikonstruksi sedemikian rupa agar dekat dengan aspek kehidupan masyarakat masa kini. Wayang Kulit adalah salah satu contoh terbaik, bagaimana kesenian tradisional bisa di-mutakhir-kan. Dengan mengadopsi isu-isu aktual dalam setiap pagelarannya, Wayang Kulit bisa bangkit dari keterpurukan, berdiri tegak, dan merangkul kembali audiensnya yang hilang. Semua seni tradisi memiliki peluang sama untuk bangkit kembali dan meraih kemenangan kedua. Kuncinya terletak pada sikap para pelaku seni terhadap dinamika perubahan zaman. Rumusnya memang hanya satu, change or die, berubah atau mati. Banyak yang memilih perubahan, namun ada juga yang memilih kematian... *

322

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

323

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

324

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

325

PEMETAAN MEDIA TRADISIONAL KOMUNIKATIF

326

LESTARIKAN TRADISI KELOLA KOMUNIKASI

327

Diterbitkan oleh DIrektorat Pengolahan dan Penyediaan Informasi Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Tahun 2011 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful