DIKLAT PEMBENTUKAN AUDITOR TERAMPIL

PPA I
KODE MA : 1.150

PEDOMAN PELAKSANAAN ANGGARAN I

2007
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGAWASAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN EDISI KELIMA

Judul Modul
Penyusun

: Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Perevisi I Perevisi II Perevisi III Perevisi IV Pereviu Editor

: Drs. Achmad Sadji, M.M. Drs. Abdul Kadir R. Bambang S.W., Ak., M.B.A. Drs. Bistok Manurung : Drs. Achmad Sadji, M.M. Drs. Abdul Kadir R. : Drs. Sunarto : Nurharyanto, Ak : Sigit Susilo Broto, Ak., M Comm Suhartanto, Ak., M.M. : Linda Ellen Theresia, SE., M.B.A. : Rini Septowati, Ak., M.M.

Dikeluarkan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP dalam rangka Diklat Sertifikasi JFA Tingkat Terampil
Edisi Pertama Edisi Kedua (Revisi Pertama) Edisi Ketiga (Revisi Kedua) Edisi Keempat (Revisi Ketiga) Edisi Kelima (Revisi Keempat) : : : : : Tahun 1998 Tahun 2000 Tahun 2004 Tahun 2006 Tahun 2007

ISBN 979-95661-1-8 (no. jilid lengkap) ISBN 979-95661-2-6 (jilid 1)

Dilarang keras mengutip, menjiplak, atau menggandakan sebagian atau seluruh isi modul ini, serta memperjualbelikan tanpa izin tertulis dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP

Pusdiklatwas BPKP
Jln. Beringin II Pandansari, Ciawi Bogor 16720

ISBN 979-95661-1-8 ISBN 979-95661-2-6

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pusdiklatwas BPKP .2007 i .

.................Pedoman Pelaksanaan Anggaran I DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ......... F............................................................... 6 A....... 1 A............... DAFTAR ISI ...................................................................... i BAB I PENDAHULUAN ............................................... E.................. B. 39 MEKANISME PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN PAJAK-PAJAK NEGARA OLEH BENDAHARA .............................. Penetapan Pejabat Pengelola Anggaran ............... C............................................... C........................ 42 Kewajiban Dan Sanksi Perpajakan Bendahara ............................................. 46 Bendahara Sebagai Pemotong Pph Pasal 22 ...... Error! Bookmark not defined............................................................................. E... 6 Penerbitan Dan Pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA) ............................. 2 Tujuan Pemelajaran Khusus (TPK) ..... 14 MEKANISME PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN NEGARA ................................................................ D......................................................... C......... 3 Metodologi Pemelajaran......... 52 Bendahara Sebagai Pemotong Pph Pasal 23/26.... 27 Penerimaan Perpajakan ..................... B.......................... D......... Latar Belakang ......... 42 Dasar Hukum ............ 27 Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)...... 1 Tujuan Pemelajaran Umum (TPU).. 2 Deskripsi Singkat Struktur Modul ......... 56 Pusdiklatwas BPKP ........2007 ii ....................................... BAB IV A... ......................... 43 Bendahara Sebagai Pemotong Pph Pasal 21 Dan Pasal 26............................... 4 BAB II PERSIAPAN PELAKSANAAN ANGGARAN .................... 29 Penerimaan Pengembalian Belanja .... B................ B......... 53 Bendahara Sebagai Pemotong Ppn Dan Ppnbm .............................................................................................. BAB III A.............................................

..............................2007 iii ................................................……............................... D. 60 Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran....Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB V A....... 91 POKOK-POKOK PENGADAAN BARANG DAN JASA INSTANSI PEMERINTAH . C..........................…………………………………........ B.. Dan Ruang Lingkup Pengadaan Barang Dan Jasa ........ 90 Bahan Diskusi Dan Soal Latihan.................. Kebijakan Umum.......................... 86 Pelaporan Realisasi Anggaran Belanja....................................... 95 Prinsip Dasar................ B........ BAB VI A.................................................................................................125 Bahan Diskusi Dan Soal Latihan.. 95 Pokok-Pokok Kebijakan Pengadaan Barang Dan Jasa Pemerintah .... E....................135 Pusdiklatwas BPKP ... 60 Pedoman Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara...........100 Prosedur Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.....................132 DAFTAR PUSTAKA….... Etika..................................…... 71 Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Oleh Bendahara Umum Negara (BUN)/Kuasa BUN .............................. C......…...................................... MEKANISME PELAKSANAAN BELANJA NEGARA .... D...........

Pada saat ini keppres yang berlaku adalah Keppres nomor 42 tahun 2002. Modul ini akan menguraikan pedoman pelaksanaan anggaraan APBN. sebagaimana ditetapkan dalam Pola Diklat Auditor Bagi Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah. LATAR BELAKANG Pelaksanaan anggaran merupakan salah satu tahapan dari siklus anggaran yang dimulai dari pengesahan pelaksanaan anggaran oleh anggaran. Modul Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (PPA I) ini telah mengalami beberapa kali revisi dan penyempurnaan sejalan dengan perubahan ketentuan pengelolaan keuangan negara yang telah berkembang dan berubah secara signifikan.2007 1 . penetapan dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Tahapan pelaksanaan anggaran ini dimulai ketika UU Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disahkan oleh DPR. Dalam rangka terjadinya kesatuan pemahaman serta kesatuan langkah dalam pelaksanaan. dan pengawasan anggaran pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran. pemerintah sebagai pelaksana dari UU APBN selanjutnya menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagai dasar hukum pelaksanaan APBN.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB I PENDAHULUAN A. perencanaan anggaran. Modul ini disusun untuk memenuhi materi pemelajaran pada Diklat Pembentukan Auditor Ahli di lingkungan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dengan jumlah jam pelatihan sebanyak 25 jam latihan. khususnya terkait dengan Undang-undang Pusdiklatwas BPKP .

B. mekanisme pembayaran melalui uang persediaan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I No. penerbitan Pusdiklatwas BPKP .17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. menjelaskan menjelaskan mekanisme pelaksanaan belanja negara. menjelaskan mekanisme pemotongan/pemungutan pajak-pajak negara oleh bendahara.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan Undang-undang No. proses pencairan dana APBN dan proses penerbitan SPM. penerimaan negara bukan 3. peserta diklat diharapkan akan mampu: 1. pajak (PNBP) dan penerimaan yang berasal dari penyelesaian kerugian keuangan negara. TUJUAN PEMELAJARAN UMUM (TPU) Tujuan pemelajaran umum modul ini adalah agar para auditor setelah mengikuti diklat ini diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara. serta anggaran pembiayaan khususnya pembiayaan yang bersumber dari pinjaman luar negeri. 2. Undang-undang No. menjelaskan persiapan pelaksanaan anggaran yang meliputi penetapan dan pengangkatan pejabat pengelola anggaran serta penerbitan DIPA sebagai dasar pelaksanaan anggaran. 4. menjelaskan mekanisme pelaksanaan penerimaan negara yang meliputi: penerimaan sektor perpajakan.2007 2 . TUJUAN PEMELAJARAN KHUSUS (TPK) Setelah mengikuti pelajaran ini.15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan Keputusan Presiden Nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN beserta ketentuan-ketentuan pelaksanaan anggaran yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN). C.

barang/jasa. menjelaskan mekanisme pembiayaan APBN dengan sumber pembiayaan dari pinjaman/hibah luar negeri. DESKRIPSI SINGKAT STRUKTUR MODUL Modul ini membahas pedoman pelaksanaan anggaran baik dari sisi administrasi sebagaimana pembahasan maupun telah akan teknis diawali substansi dalam dengan pelaksanaan 42 anggaran.2007 3 . menjelaskan mekanisme pengadaan barang dan jasa. 6.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I SP2D oleh KPPN serta memahami mekanisme pelaporan realisasi APBN. Pembahasan modul PPA I ini akan diakhiri dengan pembahasan tentang pokok-pokok pengadaan barang dan jasa instansi pemerintah. mekanisme ini akan secara khusus dibahas dalam Bab IV. dilanjutkan dengan pembahasan tentang mekanisme pelaksanaan anggaran pendapatan dan mekanisme pelaksanaan anggaran belanja yang diuraikan dalam Bab III dan Bab V. karena alokasi anggaran belanja yang paling dominan pada instansi pemerintah adalah anggaran yang dialokasikan untuk pengadaan barang/jasa. Mekanisme penting yang perlu ditekankan dalam pelaksanaan anggaran ini adalah mekanisme pemotongan/pemungutan pajak oleh bendahara. 5. Pusdiklatwas BPKP . 2002 persiapan dijelaskan Keppres tahun hingga penunjukkan dan penetapan penyedia langkah-langkah pelaksanaan anggaran yang diuraikan dalam Bab I. seorang auditor wajib memahami hal ini dan secara khusus mekanisme pengadaan barang/jasa ini dibahas dalam Bab VI. oleh karena itu. D. sesuai dengan Keppres 80 tahun 2003. oleh karena itu. Pembahasan mekanisme pengadaan barang dan jasa ini dianggap penting dan wajib diketahui bagi auditor. sejak proses persiapan.

METODOLOGI PEMELAJARAN Agar peserta mampu Anggaran memahami I (PPA I). maka terdapat beberapa batasan yang digunakan dalam revisi modul ini. peserta dipacu untuk berperan serta secara aktif melalui komunikasi dua arah. dan ketentuan lainnya merupakan pelengkap yang tidak terpisahkan dari materi modul ini.q Ditjen Perbendaharaan. substansi proses modul belajar Pedoman mengajar Pelaksanaan menggunakan pendekatan andragogi. Dengan metode ini. yaitu: 1.2007 4 . Bab I Bab II Bab III Bab IV : Pendahuluan : Persiapan Pelaksanaan Anggaran : Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Pendapatan : Mekanisme Pemotongan/Pemungutan Pajak Negara oleh Bendahara Bab V Bab VI : Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Belanja : Pokok-Pokok Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah Guna menghindari kesalahan interpretasi terhadap materi pemelajaran yang tercantum dalam modul ini.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Secara sistematis. urutan pembahasan dalam modul ini sebagai berikut. E. perkembangan perubahan peraturan pelaksanaan teknis di bidang pengelolaan anggaran yang dikeluarkan oleh instansi terkait seperti Menteri Keuangan c. 2. Ditjen Anggaran dan Perimbangan Keuangan Daerah. Metode pemelajaran ini menerapkan Pusdiklatwas BPKP . modul ini lebih menitikberatkan pada sisi anggaran pendapatan dan belanja pada instansi pemerintah pusat (APBN).

modul ini dilengkapi pula dengan soal-soal teori dan pertanyaan kasus/bahan diskusi. dilakukan pula diskusi kelompok sehingga peserta benar-benar dapat secara aktif terlibat dalam proses belajar mengajar.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I kombinasi proses belajar mengajar dengan cara ceramah. dan diskusi pemecahan kasus. Instruktur akan membantu peserta dalam memahami materi dengan metode ceramah dan pembahasan contoh kasus.2007 5 . tanya jawab. Untuk lebih membantu pemahaman peserta. Pusdiklatwas BPKP . Dalam proses ini peserta diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan pendapat. Agar proses pendalaman materi dapat berlangsung dengan lebih baik.

PENETAPAN PEJABAT PENGELOLA ANGGARAN Sistem Administrasi Keuangan Perbendaharaarn Negara. Pada awal tahun anggaran. Pada saat ini. Negara. langkah pertama yang dilakukan dalam tahap pelaksanaan anggaran meliputi penetapan pejabat pengelola anggaran serta penerbitan dan pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA) sebagai dasar hukum pelaksanaan anggaran bagi masing-masing kementerian/lembaga dan instansi pemerintah lainnya. peserta diklat diharap mampu menjelaskan persiapan pelaksanaan anggaran yang meliputi penetapan dan pengangkatan pejabat pengelola anggaran serta penerbitan DIPA sebagai dasar pelaksanaan anggaran. maka selesailah tahapan kedua dari siklus anggaran yaitu tahapan penetapan dan pengesahan UU APBN oleh DPR. Ketika Undang-Undang tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disetujui oleh DPR dan ditetapkan sebagai UndangUndang APBN.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB II PERSIAPAN PELAKSANAAN ANGGARAN Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. dimulailah tahap ketiga yaitu tahap pelaksanaan anggaran (APBN) merupakan tersebut.2007 6 . A. sesuai dengan UU 17 tahun pemisahan fungsi pejabat 2003 tentang Keuangan Negara dan UU 1 tahun 2004 tentang mengatur pengelola keuangan negara yang terdiri dari: Menteri Keuangan selaku kewenangan Presiden selaku kepala pemerintah yang untuk melaksanakan seluruh kebijakan yang telah tertuang dalam undang-undang Pusdiklatwas BPKP .

2007 7 . 1 Tahun 2004 Menteri Teknis Selaku Pengguna Anggaran Menteri Keuangan Selaku Bendahara Umum Negara PEMBUATAN PENGUJIAN & KOMITMEN PEMBEBANAN PERINTAH PEMBAYARAN PENGUJIAN & PEMBEBANAN PERINTAH PENCARIAN DANA Pengurusan Administrasi administrasi beheer Gambar 2. Struktur Organisasi dan pejabat yang berwenang dalam [pengelolaan keuangan negara dapar digambarkan sebagai berikut. 2. pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja negara. menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran menetapkan para pejabat di lingkungannya yang ditunjuk sebagai: 1. Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Manajer Keuangan Negara (Chief Financial Officer /CFO) dan Bendahara Umum Negara (BUN). KEWENANGAN FUNGSI ADMINISTRASI MENURUT UU No.1. Pada awal tahun anggaran. Pengurusan Komtabel comptabel beheer Pelaksanaan anggaran selanjutnya secara teknis dilakukan oleh kementerian dan lembaga terkait dengan menteri/pimpinan lembaga sebagai pengguna anggaran/pengguna barang. 3. kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang. pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara (PNBP). sementara Pimpinan Kementerian/Lembaga selaku Pengguna Anggaran (Chief Operational Officer /COO).

sebagaimana seorang pejabat eselon IV (kuasa BUN) di KPPN menandatangani SP2D atas nama Menteri Keuangan/Bendahara Umum Negara.606/2004 tentang Pedoman Pembayaran dalam pelaksanaan Pusdiklatwas BPKP . Perbandingan Kewenangan Pengguna Anggaran Menteri Teknis Menteri Keuangan Ditjen Setjen DJAPK Policy Formula DJPb Policy Implementation Set. tampak bahwa kewenangan pengguna anggaran dapat dikuasakan kepada eselon/pejabat yang lebih rendah yakni dari menteri teknis sampai dengan kepada eselon IV (kuasa pengguna anggaran). Selanjutnya merujuk pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 606/PMK. dan 6. Ditjen Roren Policy Formula Rokeu Policy Implementation SPP KPPN voucher SPP Gambar 2.2007 8 .2. Dari flow chart di atas. pejabat yang bertugas melakukan pengujian dan perintah pembayaran. Dengan ketentuan: pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja (butir 3) tidak boleh merangkap sebagai pejabat sebagaimana pada butir 4. 5.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4. bendahara penerimaan untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran penerimaan. bendahara pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran belanja. 5. 6.

4.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I APBN Tahun 2005 dan Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-050/PB/2004 bahwa menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran menerbitkan keputusan tentang penunjukan: 1. bendahara pengeluaran.2007 9 . Gambar 2. menjelaskan suatu struktur organisasi yang ideal menurut amanah UU No. 3. pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran.3. Keputusan tersebut bertujuan menyerahkan sepenuhnya kewenangan menteri teknis. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 2. pejabat yang diberi kewenangan untuk menerbitkan dan menandatangani SPM. STRUKTUR ORGANISASI PENGELOLA KEUANGAN NEGARA (IDEAL MENURUT UU) MENTERI PENGGUNA ANGGARAN SATKER KUASA PENGGUNA ANGGARAN PEMBUAT KOMITMEN BENDAHARA PENGUJI TAGIHAN PENERBIT SPM UNIT AKUNTANSI INSTANSI Pusdiklatwas BPKP . kuasa pengguna anggaran. dengan catatan tidak diperkenankan perangkapan jabatan pembuat komitmen dengan jabatan bendahara pengeluaran. Gambar di bawah ini.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Gambar 2.4.

SATUAN KERJA (Satker) - PUSAT DIPA Satker 1. eselon 2 Kegiatan a Kegiatan b 2. eselon 2 Kegiatan 3. eselon 2 .. Dst. 1 DIPA 1 ESELON 1 1 PROVINSI

SATUAN KERJA (Satker) - PUSAT
1 DIPA 1 ESELON 1 1 PROVINSI

DIPA Satker a Kegiatan a Kegiatan b Satker b Kegiatan a Kegiatan b …Dst

Pusdiklatwas BPKP - 2007

10

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Gambar 2.5.

KEMENTERIAN NEGARA
SATKER KUASA PENGGUNA ANGGARAN

SETJEN DITJEN
ESELON 2 KUASA PENGGUNA ANGGARAN

BADAN IRJEN
ESELON 3 KUASA PENGGUNA ANGGARAN

Gambar 2.6. TINGKAT SEKRETARIAT JENDERAL DEPARTEMEN/LEMBAGA SEKJEN
KUASA PENGGUNA ANGGARAN

KEPALA BIRO

KARO KEUANGAN

KEPALA BIRO

PEMBUAT KOMITMEN

BENDAHARA

PENGUJI TAGIHAN

PENERBIT SPM

UNIT AKUNTANSI

Pusdiklatwas BPKP - 2007

11

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Gambar 2.7 TINGKAT DIREKTORAT JENDERALKEMENTERIAN/ LEMBAGA DITJEN
KUASA PENGGUNA ANGGARAN

DIREKTUR

SEK.DITJEN

DIREKTUR

PEMBUAT KOMITMEN

BENDAHARA

PENGUJI TAGIHAN

PENERBIT SPM

UNIT AKUNTANSI INSTANSI

Gambar 2.8. TINGKAT INPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN / LEMBAGA

IRJEN KPA

INSPEKTUR

SEK. ITJEN

INSPEKTUR

PEMBUAT KOMITMEN

BENDAHARA

PENGUJI TAGIHAN

PENERBIT SPM

UNIT AKUNTANSI

Pusdiklatwas BPKP - 2007

12

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Gambar 2. UMUM KEPALA BIDANG PEMBUAT KOMITMEN BENDAHARA PENERBIT SPM PEMBUAT KOMITMEN PENGUJI TAGIHAN UNIT AKUNTANSI INSTANSI Pusdiklatwas BPKP . TINGKAT ESELON II PADA KEMENTERIAN / LEMBAGA: ESELON 2 KUASA PENGGUNA ANGGARAN KEPALA BIDANG KABAG.2007 13 .9. INSTANSI BADAN PADA KEMENTERIAN/ LEMBAGA BADAN KPA DEPUTI/KA PUSAT SEKBADAN DEPUT/KAPUS PEMBUAT KOMITMEN BENDAHARA PENGUJI TAGIHAN PENERBIT SPM UNIT AKUNTANSI Gambar 2.10.

fungsi. kelompok mata anggaran keluaran dan rencana penarikan dana serta perkiraan penerimaan kementerian negara/lembaga. Konsep DIPA Pelaksanaan anggaran pada setiap instansi pemerintah didasarkan pada sebuah dokumen yang disebut Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA). DIPA yang lengkap memuat uraian fungsi/sub fungsi. rencana penarikan dana tiap-tiap bulan dalam satu tahun serta pendapatan yang diperkirakan oleh kementerian/lembaga. PENERBITAN DAN PENGESAHAN DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA) 1. program dan rincian kegiatan. rincian kegiatan/sub kegiatan. jenis belanja.2007 14 . sasaran program. DIPA merupakan suatu daftar isian yang memuat uraian: sasaran yang hendak dicapai. program.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Gambar 2. Dengan demikian dokumen DIPA yang lengkap terdiri dari: Pusdiklatwas BPKP . 11 TINGKAT ESELON III PADA KEMENTERIAN/LEMBAGA ESELON 3 KUASA PENGGUNA ANGGARAN KEPALA SEKSI PEMBUAT KOMITMEN KASUBAG TU PENERBIT SPM KEPALA SEKSI BENDAHARA PENGUJI TAGIHAN PENGUJI TAGIHAN UNIT AKUNTANSI INSTANSI B.

volume keluaran yang hendak dicapai serta alokasi dana pada masing-masing belanja yang dicerminkan dalam mata anggaran keluaran. Memuat informasi tentang rencana penarikan dana dan penerimaan negara bukan pajak yang menjadi tanggung jawab setiap satuan kerja. 17/2003 menyatakan bahwa anggaran belanja negara dibagi atas unit organisasi. Pusdiklatwas BPKP . fungsi dan jenis belanja. Memuat informasi setiap satuan kerja tentang uraian kegiatan/sub kegiatan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Surat Pengesahan DIPA DIPA halaman I (Umum) DIPA halaman II DIPA halaman III DIPA halaman IV Pengesahan DIPA yang ditandatangani Dirjen Perbendaharaan atau Kepala Kanwil DJPB atas nama Menteri Keuangan. program. Memuat informasi yang bersifat umum dari setiap satuan kerja tentang rincian fungsi. Selanjutnya informasi yang terdapat dalam DIPA dapat dijelaskan sebagai berikut. dalam pasal 15 undang-undang yang sama menyatakan bahwa anggaran yang disetujui oleh DPR dirinci dalam unit organisasi. kegiatan dan jenis belanja. Dalam pasal 11 ayat 5 UU No. a. Memuat catatan tentang hal-hal yang perlu menjadi perhatian oleh pelaksana kegiatan. Lebih jauh. Struktur Penganggaran Masing-masing kementerian negara/lembaga dibagi dalam tingkat eselon I. fungsi.2007 15 . program dan sasarannya serta indikator keluaran untuk masing-masing kegiatan.

Fungsi adalah perwujudan tugas kepemerintahan di bidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional. Sub fungsi merupakan penjabaran fungsi yang dirinci ke dalam 79 (tujuh puluh sembilan) sub fungsi. Dengan demikian tanggung jawab dan kewenangan akan lebih jelas bagi para manajer. hal ini akan sangat membantu dalam penyusunan struktur program dan kegiatan. anggaran merupakan anggaran berdasarkan organisasi antara lain menurut kementerian negara/lembaga. unit eselon II dan unit eselon III yang bertanggung jawab terhadap suatu pelaksanaan kegiatan pendukung program.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 1) Organisasi dan Bagian Anggaran Klasifikasi organisasi yang digunakan dalam anggaran belanja negara adalah sesuai unit yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan suatu program. Pelaksanaan. dan pelaporan anggaran akan menjadi suatu sinergi yang positif apabila ada sinkronisasi antara struktur program dan kegiatan dengan struktur organisasinya. walaupun tetap ada sedikit kesulitan apabila program dimaksud dilaksanakan Bagian secara lintas unit organsasi klasifikasi dan lintas kementerian negara/lembaga.2007 16 . Pusdiklatwas BPKP . 2) Fungsi dan Sub Fungsi Klasifikasi anggaran dibagi menurut fungsi. Penggunaan fungsi dan sub fungsi disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing kementerian negara/lembaga. monitoring.

kegiatan luar negeri termasuk Menteri Luar Negeri. kegiatan politik dalam negeri. keuangan dan fiskal serta urusan luar negeri digunakan untuk: administrasi. manajemen kas negara. utang pemerintah. bupati/walikota dan lain-lain. administrasi. serta staf yang ditunjuk secara politis untuk membantu lembaga eksekutif dan legislatif. MPR. semua tingkatan lembaga DPR. penasehat.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Contoh sub fungsi 01. dokumentasi. komite antar departemen dan lain-lain yang terkait dengan fungsi tertentu (diklasifikasikan sesuai dengan fungsi masing-masing). pembayaran cicilan utang dan berbagai kewajiban pemerintah sehubungan dengan Pusdiklatwas BPKP . kegiatan diplomat. dan penyediaan dan penyebaran informasi dokumentasi. operasi atau dukungan untuk lembaga eksekutif. semua badan atau kegiatan yang bersifat tetap atau sementara yang ditujukan untuk membantu lembaga eksekutif dan legislatif. Presiden. keuangan dan fiskal. termasuk kegiatan kantor kepala eksekutif pada semua level: legislatif: Presiden. misi-misi internasional dll. sub fungsi ini (01. kegiatan keuangan dan fiskal dan pelayanan pada seluruh tingkatan pemerintah. penyediaan dan penyebaran informasi. operasional perpajakan. statistik keuangan dan fiskal. Wakil DPRD.01. lembaga eksekutif dan legislatif. kegiatan kementerian keuangan.2007 17 . lembaga gubernur. legislatif.01) tidak termasuk untuk kantorkantor kementerian baik di pusat maupun di daerah. statistik mengenai politik dalam negeri.

bantuan pemerintah RI kepada negara lain dalam rangka bantuan ekonomi. Sub kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian sasaran dan tujuan kegiatan tersebut. Contoh : Kegiatan pendidikan dan pelatihan aparatur negara dengan sub kegiatan: Pusdiklatwas BPKP . dana. 4) Kegiatan dan Sub Kegiatan Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program. atau kombinasi dari beberapa atau semua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. yang terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya. 3) Program Program adalah penjabaran kebijakan kementerian negara/lembaga dalam bentuk upaya yang berisi satu atau beberapa kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi kementerian negara/lembaga.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I utang pemerintah. baik yang berupa personil (sumber daya manusia).2007 18 . barang modal termasuk peralatan dan teknologi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sub kegiatan yang satu dipisahkan dengan sub kegiatan lainnya berdasarkan perbedaan keluaran. Timbulnya sub kegiatan adalah sebagai konsekuensi adanya perbedaan jenis dan satuan keluaran antar sub kegiatan dalam kegiatan dimaksud.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

penyelenggaraan jumlah peserta didik;

Diklat

Penjenjangan

Jabatan

Fungsional Auditor (JFA) dengan keluaran antara lain: • • penyelenggaraan Diklat Fungsional dengan keluaran antara lain: jumlah lulusan; pengembangan kurikulum diklat dengan keluaran antara lain: jumlah modul. 5) Jenis Belanja Klasifikasi anggaran menurut jenis belanja dibagi ke dalam delapan kategori sebagai berikut. a) Belanja pegawai yaitu kompensasi dalam bentuk uang maupun barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah yang bertugas di dalam maupun di luar negeri sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan. Dikecualikan untuk pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. Belanja ini antara lain digunakan untuk gaji dan tunjangan, honorarium, vakasi, lembur dan kontribusi sosial. b) Belanja barang yaitu pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memroduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan. Belanja ini antara lain digunakan untuk pengadaan barang dan jasa, pemeliharaan, dan perjalanan. c) Belanja Modal yaitu pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal. Dalam belanja ini termasuk untuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jaringan, maupun dalam bentuk fisik lainnya, seperti buku, binatang dan lain sebagainya.
Pusdiklatwas BPKP - 2007

19

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

d) Beban Bunga yaitu pembayaran yang dilakukan atas kewajiban penggunaan pokok utang (principal

outstanding), baik utang dalam negeri maupun utang
luar negeri yang dihitung berdasarkan posisi pinjaman. e) Subsidi yaitu alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi, menjual, mengekspor, atau mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak, sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat terjangkau oleh masyarakat. Belanja ini antara lain digunakan untuk penyaluran subsidi kepada perusahaan negara dan perusahaan swasta. f) Bantuan Sosial yaitu transfer uang atau barang yang diberikan kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya risiko sosial. Bantuan sosial dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atau lembaga kemasyarakatan. Bantuan ini antara lain untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. g) Hibah yaitu transfer dana yang sifatnya tidak wajib kepada negara lain atau kepada organisasi internasional. Belanja ini antara lain digunakan untuk hibah kepada pemerintah luar negeri dan organisasi internasional. h) Belanja lain-lain yaitu pengeluaran/belanja

pemerintah pusat yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam jenis belanja pada huruf a) sampai dengan huruf g) tersebut di atas.

Pusdiklatwas BPKP - 2007

20

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Dalam (non

pengalokasian

dana

oleh

kementerian

negara/lembaga harus memerhatikan pagu yang terikat

discretionary) dan pagu yang tidak terikat

(discretionary) yang telah disepakati oleh pemerintah bersama-sama DPR. Pagu terikat adalah jumlah dana yang tidak dapat diubah selain untuk belanja yang sudah ditentukan antara lain pagu pembayaran gaji dan tunjangan (belanja pegawai) serta biaya langganan daya dan jasa. Sesuai dengan ketentuan UU No. 17 Tahun 2003 bahwa belanja negara digunakan pemerintah klasifikasi pusat untuk dan keperluan pelaksanaan jenis belanja penyelenggaraan daerah, maka

perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan dan berdasarkan diupayakan untuk memenuhi ketentuan tersebut. b. Lokasi DIPA juga menginformasikan lokasi pelaksanaan kegiatan/sub kegiatan, yaitu dengan memberikan informasi alamat pelaksanaan kegiatan seperti provinsi, kabupaten, kota atau lokasi di luar negeri. 2. Prosedur Penyelesaian DIPA a. Prosedur Penyelesaian DIPA di Pusat Prosedur penelaahan dan penyusunan DIPA di pusat diatur sebagai berikut. 1) Setelah keputusan presiden tentang Rincian APBN diterbitkan, dan data Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) diterima dari Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan (DJAPK), Direktorat Pelaksanaan Anggaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan

Pusdiklatwas BPKP - 2007

21

ii) rencana kerja dan anggaran satuan kerja pada kementerian negara/lembaga. konsep surat pengesahan DIPA/konsep DIPA.2007 22 . PA DJPBN melakukan penelaahan DIPA yang diajukan kementerian negara/lembaga dengan mengacu kepada: i) alokasi anggaran yang ditetapkan Presiden. Rincian tersebut meliputi kegiatan yang akan dilaksanakan di kantor pusat dan di daerah termasuk kegiatan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. b. 3) Petugas penelaah Dit. dan dokumen pendukung untuk diteliti lebih lanjut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (Dit. Kanwil DJPBN segera menyampaikan copy SRAA kepada Kantor Daerah Kementerian Negara/Lembaga atau satker pelaksana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk menyusun Konsep DIPA dan segera melakukan koordinasi dengan semua satker di wilayah pembinaannya. 2) Petugas penelaah Dit. Pusdiklatwas BPKP . PA DJPBN) segera menghubungi membuat kegiatan kementerian perincian akan yang negara/lembaga pelaksanaan untuk segera untuk anggaran dilaksanakan. Setelah Surat Rincian Alokasi Anggaran (SRAA) diterima dari Kantor Pusat DJPBN. PA DKBN dan kementerian negara/lembaga melakukan penelaahan semua kegiatan yang tertuang dalam DIPA dan melampirkan: catatan pembahasan. Prosedur Penyelesaian DIPA di Daerah Prosedur penelaahan dan penyusunan DIPA di daerah diatur sebagai berikut. Kemudian memberitahukan kepada satker-satker untuk segera menyusun konsep DIPA yang selanjutnya disampaikan kepada Kanwil DJPBN beserta disketnya.

Tiga digit pertama merupakan kelompok pendapatan. DIPA Kantor Pusat DIPA Kantor Pusat adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanaannya dilakukan oleh kantor pusat kementerian negara/lembaga. Penetapan DIPA dan SP DIPA Dalam penetapan DIPA dan Surat Pengesahan DIPA (SP DIPA) dikategorikan sebagai berikut. a. Lima digit pertama merupakan sub kelompok pendapatan. Rencana Penarikan Dana Dalam hal pencantuman angka rencana penarikan dana pada halaman III DIPA berdasarkan rencana kerja satker perlu memerhatikan hal-hal sebagai berikut. Untuk belanja modal. c. Enam digit merupakan mata anggaran penerimaan (MAP) Contoh: − kelompok pendapatan 423 untuk PNBP lainnya. a. Untuk belanja pegawai. 5. Rencana Pendapatan Penatausahaan pendapatan dimulai dari satuan kerja dikoordinasikan oleh kementerian negara/lembaga dengan mengikuti kelompok pendapatan sebagai berikut. a. Untuk belanja barang. agar memerhatikan batas penarikan dana triwulan.2007 23 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. rencana penarikan dana per bulan adalah seperdua belas dari pagu gaji 1 tahun. agar memerhatikan kebutuhan berdasarkan rencana pelaksanaan kegiatan. 4. − subkelompok pendapatan 42315 untuk pendapatan jasa II. Penelahaan DIPA dilakukan secara bersamaan Pusdiklatwas BPKP . b. − MAP 423154 untuk pendapatan jasa catatan sipil. c. b.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

antara

Direktorat

Pelaksanaan

Anggaran

DJPBN

dengan

kementerian negara/lembaga terkait. Menteri/pimpinan lembaga atau pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA, dan Dirjen Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP DIPA. b. DIPA Kantor Daerah DIPA Kantor Daerah adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanaannya dilakukan oleh kantor daerah/instansi vertikal kementerian negara/lembaga. Penelahaan DIPA dilakukan secara bersama antara Kanwil DJPBN dengan kantor daerah/intansi vertikal kementerian negara/lembaga. Kepala kantor daerah/instansi vertikal kementerian negara/lembaga atau pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA, dan Kanwil DJPBN atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP DIPA. c. DIPA Dalam Rangka Pelaksanaan Dekonsentrasi DIPA dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanaannya dilimpahkan kepada gubernur. Penelahaan DIPA dilakukan secara bersama antara Kanwil DJPBN dengan dinas terkait atas nama gubernur. Gubernur atau kepala dinas atau pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA, dan Kanwil DJPBN atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP DIPA. d. DIPA Dalam Rangka Pelaksanaan Tugas Pembantuan DIPA dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan adalah dokumen ditugaskan Pelaksanaan pelaksanaan kepada anggaran yang pelaksanaannya daerah. gubernur/bupati/walikota/kepala DJPBN dengan

Penelaahan DIPA dilakukan secara bersama antara Direktorat Anggaran kementerian negara/lembaga terkait. Menteri/pimpinan lembaga atau pejabat

Pusdiklatwas BPKP - 2007

24

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

yang DIPA.

ditunjuk

menetapkan

DIPA,

dan

Direktur

Jenderal

Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP

6. Revisi DIPA DIPA yang sudah disahkan oleh DJPBN atau Kepala Kanwil DJPBN apabila diperlukan dapat dilakukan revisi oleh satker yang bersangkutan dan selanjutnya diajukan kepada DJPBN atau Kanwil DJPBN untuk ditelaah dan disahkan, dengan catatan sebagai berikut. a. Dapat dilakukan realokasi dana antar sub kegiatan dalam satu kegiatan. b. Dapat dilakukan perubahan volume keluaran pada sub kegiatan tanpa merubah alokasi dana kegiatan dan masih sesuai dengan sasaran kegiatan dan atau sasaran program. c. Dapat dilakukan realokasi dana antar MAK dalam satu jenis belanja sepanjang tidak mengurangi: 1) gaji dan berbagai tunjangan yang melekat dengan gaji: 2) belanja untuk langganan listrik, telepon, gas dan air; 3) pembayaran untuk berbagai tunggakan; 4) alokasi untuk dana pendamping PHLN; 5) belanja barang untuk pengadaan bahan makanan (MAK 52 1113). d. Dalam revisi DIPA tidak diperkenankan ada perubahan terhadap: 1) pagu untuk masing-masing unit organisasi; 2) pagu untuk masing-masing kegiatan dan masing-masing jenis belanja; 3) pagu untuk lokasi provinsi; 4) kegiatan dan program.

Pusdiklatwas BPKP - 2007

25

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Revisi DIPA yang menyebabkan realokasi dana antar satuan kerja dapat dilakukan oleh pimpinan unit organisasi (unit eselon I untuk tingkat pusat atau kanwil/koordinator satker untuk tingkat daerah) dan selanjutnya diajukan kepada DJPBN atau Kanwil DJPBN untuk diteliti dan disahkan. Terhadap revisi DIPA yang menyebabkan perubahan dalam butir 6.d.1 sampai dengan 4, harus mendapat persetujuan DPR melalui DJAPK. Keputusan atas perubahan tersebut disampaikan kepada instansi terkait. 7. Aktivitas Terkait Setelah DIPA disahkan, maka unit organisasi/satuan kerja dapat menerbitkan petunjuk pelaksanaan sebagai pedoman pelaksanaan lebih lanjut dari DIPA. Penyelesaian DIPA, mulai dari penyusunan konsep DIPA oleh kementerian negara/lembaga sampai dengan pengesahan DIPA oleh Dirjen Perbendaharaan atau Kepala Kanwil DJPBN agar memerhatikan waktu yang tersedia.

Pusdiklatwas BPKP - 2007

26

Sedangkan menurut UU nomor 18 tahun 2006 tentang APBN Tahun Anggaran 2007 manyatakan bahwa pendapatan negara dan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari perpajakan. Salah satu hak pemerintah pusat adalah menggali sumber-sumber penerimaan bagi negara untuk membiayai berbagai belanja/pengeluaran negara yang berkaitan dengan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan. serta penerimaan hibah dalam negeri dan luar negeri. PENERIMAAN PERPAJAKAN Penerimaan perpajakan adalah semua penerimaan negara yang terdiri dari penerimaan pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. pajak bumi dan bangunan. penerimaan negara bukan pajak.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB III MEKANISME PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN NEGARA Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pelaksanaan penerimaan negara yang meliputi: penerimaan sektor perpajakan. bea perolehan hak atas tanah dan Pusdiklatwas BPKP . pajak pertambahan nilai barang/jasa dan pajak penjualan atas barang mewah. penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan penerimaan yang berasal dari penyelesaian kerugian keuangan negara. UU nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan negara menyatakan bahwa pendapatan negara merupakan hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. A.2007 27 . Penerimaan perpajakan dalam negeri meliputi semua penerimaan negara yang berasal dari pajak penghasilan.

setiap bendahara instansi pemerintah baik pusat maupun daerah. Dalam mekanisme ini diterapkan Sistem Self-Assessment yaitu sistem penerimaan perpajakan yang mengatur wajib pajak untuk menghitung pajaknya sendiri. Oleh karena itu. penerimaan uang negara dari perpajakan wajib disetorkan oleh wajib pajak dan atau wajib pungut ke kas negara pada bank pemerintah atau lembaga lain yang ditetapkan oleh Menteri keuangan. kemudian menyetorkannya ke kas negara dan melaporkannya dalam laporan Surat Permberitahuan Pajak (SPT). Sedangkan. Penerimaan perpajakan yang berasal dari wajib pajak pribadi dan perusahaan. cukai dan pajak lainnya. Sedangkan pajak perdagangan internasional merupakan semua penerimaan negara yang berasal dari bea masuk dan pajak/pungutan ekspor. Pusdiklatwas BPKP . setiap instansi pemerintah. dalam rangka intensifikasi penerimaan pajak negara.2007 28 . wajib menyetorkan seluruh penerimaan pajak yang dipungutnya dalam waktu selambatlambatnya satu hari setelah uang pajak diterima. dilakukan sesuai dengan mekanisme perpajakan sesuai dengan UU Nomor 28 tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas UU Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Perpajakan. penerimaan perpajakan yang berkaitan dengan mekanisme pelaksanaan anggaran negara/daerah. BUMN/BUMD dan badan lainnya ditetapkan sebagai wajib pungut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I bangunan. dilakukan dengan mekanisme pemotongan/pemungutan pajak oleh setiap instansi pemerintah yang melakukan pembayaran atas beban negara/daerah. diuraikan dalam Bab IV) Selanjutnya dalam rangka meningkatkan intensifikasi penerimaan (Mekanisme pemotongan dan pemungutan pajak oleh bendahara selanjutnya akan pajak. Pada prinsipnya. BUMN/BUMD serta badan lainnya diwajibkan untuk memberikan informasi perpajakan kepada pemerintah.

BUMN/D. pemerintah daerah. B. dan BUMN/D. Keppres Nomor 72 tahun 2004 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran dan Belanja Negara mengatur ketentuan data dan informasi perpajakan sebagai berikut. 2. pemerintah daerah. PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP) Penerimaan negara bukan pajak memiliki arti dan peran yang sangat penting dalam pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan negara dan pembangunan nasional. sebagai Wajib Pungut Pajak. Untuk memadukan dan mensinerjikan data dan informasi perpajakan tersebut dibentuk Bank Data Nasional dan Nomor Identitas Tunggal yang dilaksanakan oleh Menteri Keuangan. 5.2007 29 . 3. oleh karenanya. Menteri Keuangan cq Dirjen Pajak mengadministrasikan data dan informasi perpajakan dalam Bank Data Nasional dengan membentuk Nomor Identitas Bersama sebagai embrio Nomor Identitas Tunggal.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Menetapkan Setiap instansi pemerintah. sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. 4. kantor dan satuan kerja. bendahara dan badan lain yang melakukan pembayaran atas beban APBN/APBD. Menteri Keuangan cq Dirjen Pajak wajib memberikan Nomor Identitas Tunggal kepada masing-masing kementerian/lembaga. proyek/bagian proyek. kantor dan satuan kerja. dan BUMN/D untuk menyampaikan bahan-bahan dan keterangan yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya guna keperluan perpajakan kepada Menteri Keuangan cq. Direktur Jenderal Pajak. 1. Mewajibkan setiap kementerian/lembaga. diperlukan langkah-langkah Pusdiklatwas BPKP . proyek/bagian proyek. pemerintah daerah.

Peraturan Pemerintah nomor 22 Tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak. Penerimaan negara bukan pajak adalah seluruh penerimaan Pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. penerimaan dari hasil-hasil pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan. Pengertian PNBP Dalam rangka pengelolaan penerimaan negara bukan pajak tersebut. Peraturan Pemerintah ini ditetapkan. dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Selain jenis tersebut di atas. PNPB lainnya ditetapkan dengan peraturan pemerintah. yang meliputi: • • • • • • • penerimaan yang bersumber dari pengelolaan dana pemerintah. penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pengadministrasian yang efisien agar penerimaan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. penerimaan lainnya yang diatur dalam undang-undang tersendiri. Pusdiklatwas BPKP . Pengelolaan PNBP dilaksanakan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku yaitu: • • Undang-undang nomor 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak.2007 30 . 1. penerimaan berupa hibah yang merupakan hak pemerintah. penerimaan berdasarkan putusan pengadilan dan yang berasal dari pengenaan denda administrasi. penerimaan Pemerintah.

Penerimaan hasil penjualan barang/kekayaan negara. Penerimaan ganti rugi atas kerugian negara (tuntutan ganti rugi dan tuntutan perbendaharaan). dampak usahanya. 2. Jenis dan Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Jenis PNBP secara rinci diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak. penerimaan negara bukan pajak yang bersangkutan. c. d.2007 31 . Penerimaan pemerintah. Secara rinci peraturan pemerintah tersebut juga menetapkan jenis PNBP pada masing-masing departemen. Penerimaan hasil penyewaan barang/kekayaan negara. g. biaya penyelenggaraan kegiatan pemerintah sehubungan dengan jenis. c. aspek keadilan dalam pengenaan beban kepada masyarakat. b. e. Penerimaan hasil penyimpanan uang negara (jasa giro). Penerimaan kembali anggaran (sisa anggaran rutin dan sisa anggaran pembangunan. jenis PNBP meliputi hal berikut. a. d. Penerimaan dari hasil penjualan dokumen lelang. b. pengenaan terhadap masyarakat dan kegiatan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I • Peraturan Pemerintah nomor 73 tahun 1999 tentang Tata Cara Penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Bersumber dari Kegiatan Tertentu. f. Penetapan tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak ditetapkan dengan memerhatikan: a. Sesuai dengan peraturan pemerintah tersebut.

menteri dapat menetapkan rencana PNBP instansi pemerintah yang bersangkutan. sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2004 tentang Tata Cara Penyampaian Rencana dan Laporan Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak. a. disampaikan paling lambat tanggal 5 Agustus Tahun Anggaran yang bersangkutan. pejabat instansi pemerintah wajib menyampaikan revisi rencana PNBP kepada menteri. Pusdiklatwas BPKP . Pejabat instansi pemerintah wajib menyampaikan rencana pnbp tahun anggaran yang akan datang secara tertulis di lingkungan instansi pemerintah yang bersangkutan kepada menteri paling lambat pada tanggal 15 Juli tahun anggaran berjalan. Mekanisme tentang pelaporan diatur sebagai berikut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Penetapan jumlah penerimaan negara bukan pajak yang terutang ditentukan dengan cara: a. ditetapkan oleh instansi pemerintah. dihitung sendiri oleh wajib bayar. atau b.2007 32 . c. 3. Ketentuan kedaluwarsa sebagaimana tertunda apabila Wajib Bayar melakukan tindak pidana di bidang penerimaan negara bukan pajak. b. dengan ketentuan sebagai berikut. PNBP terhutang menjadi kedaluwarsa setelah sepuluh tahun terhitung sejak saat terutangnya penerimaan negara bukan pajak yang bersangkutan. Dalam hal pejabat instansi pemerintah tidak atau terlambat menyampaikan rencana PNBP. 1) Revisi rencana PNBP tahun yang akan datang. Dalam hal terdapat revisi. Pelaporan Rencana dan Realisasi Penerimaan PNBP Instansi yang mengelola PNBP wajib menyampaikan laporan rencana dan realisasi penerimaan secara periodik.

Laporan realisasi PNBP triwulanan disampaikan secara tertulis oleh pejabat instansi pemerintah kepada menteri paling lambat satu bulan setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. melalui dokumen pelaksanaan anggaran (DIPA) masing-masing kementerian/lembaga. Pusdiklatwas BPKP . dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penerimaan dan Penyetoran PNBP Seluruh penerimaan negara bukan pajak dikelola dalam sistem anggaran pendapatan dan belanja negara. d. Laporan perkiraan realisasi PNBP triwulan IV disampaikan kepada menteri paling lambat tanggal 15 Agustus tahun anggaran berjalan. disampaikan paling lambat tanggal 15 Agustus tahun anggaran berjalan. f. Menteri dapat menunjuk instansi pemerintah untuk menagih dan atau memungut penerimaan negara bukan pajak yang terutang.2007 33 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Revisi rencana PNBP tahun anggaran berjalan. Setiap kementerian sumber negara/lembaga/satuan pendapatan wajib kerja yang mempunyai jawabnya. 4. a. Dalam hal pejabat instansi pemerintah tidak atau terlambat menyampaikan rencana dan laporan realisasi PNBP. e. Dalam hal pejabat instansi pemerintah belum menyampaikan revisi rencana PNBP menteri dapat menetapkan rencana PNBP untuk masing-masing instansi pemerintah. mengintensifkan perolehan pendapatan yang menjadi wewenang dan tanggung b. pengelolaan atas PNBP tersebut diatur dengan ketentuan sebagai berikut.

Instansi pemerintah yang ditunjuk wajib menyampaikan rencana dan laporan realisasi penerimaan negara bukan pajak secara tertulis dan berkala kepada menteri.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c. diatur dalam PP NOMOR 73 tahun 1999 tentang Tatacara Pusdiklatwas BPKP . Instansi pemerintah yang ditunjuk tersebut wajib menyetor langsung penerimaan negara bukan pajak yang diterima ke kas negara. sebagian dana dari suatu jenis penerimaan negara bukan pajak dapat digunakan untuk kegiatan tertentu yang berkaitan dengan jenis penerimaan negara bukan pajak tersebut oleh instansi yang bersangkutan.2007 34 . Proses permohonan untuk menggunakan sebagian dana PNBP. seluruh PNBP wajib disetor langsung secepatnya ke kas negara. untuk beberapa kegiatan tertentu. e. pelestarian sumber daya alam. Tidak dipenuhinya kewajiban instansi pemerintah untuk menagih dan atau memungut serta menyetor sebagaimana dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. penegakan hukum. Penggunaan sebagian dana PNBP tersebut dapat dilakukan setelah memperoleh persetujuan dari Menteri Keuangan. Kegiatan yang dapat menggunakan sebagian dana PNBP meliputi: • • • • • • penelitian dan pengembangan teknologi. 5. pendidikan dan pelatihan. pelayanan kesehatan. pelayanan yang melibatkan kemampuan intelektual tertentu. Namun demikian. Penggunaan Sebagian Dana PNBP Pada dasarnya. d.

Pimpinan instansi pemerintah mengajukan permohonan penggunaan penerimaan negara bukan pajak kepada Menteri Keuangan. e. a. Permohonan tersebut dilengkapi dengan: 1) tujuan penggunaan dana penerimaan negara bukan pajak. yaitu sebagai berikut. 4) laporan realisasi dan perkiraan tahun anggaran berjalan serta perkiraan untuk dua tahun anggaran mendatang. b. Setelah mendapatkan persetujuan dari Menteri Keuangan. 2) rincian kegiatan pokok instansi dan kegiatan yang akan dibiayai penerimaan negara bukan pajak.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersumber dari kegiatan tertentu. Sebagian dana penerimaan negara bukan pajak disediakan dalam suatu dokumen anggaran tahunan yang berlaku sebagai surat keputusan otorisasi.2007 35 . c. Rencana penggunaan penerimaan negara bukan pajak tersebut diteliti dan dibahas oleh Departemen Keuangan bersama-sama instansi pemerintah yang bersangkutan sebelum ditetapkan Menteri Keuangan. 3) jenis penerimaan negara bukan pajak beserta tarif yang berlaku. d. instansi pemerintah mengajukan pengajuan rencana penggunaan untuk setiap tahun anggaran selambat-lambatnya pada tanggal 15 November. Sebagian dana penerimaan negara bukan pajak tersebut dapat digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan tertentu pada instansi bersangkutan dalam rangka pembiayaan: Pusdiklatwas BPKP .

pada akhir tahun anggaran wajib disetor seluruhnya ke kas negara. Pimpinan instansi pemerintah yang bersangkutan setiap awal tahun anggaran menetapkan: 1) atasan langsung bendaharawan penerima/pengguna. melakukan Pusdiklatwas BPKP . Dalam hal bendaharawan dan Kas belum Negara ditunjuk. g. Pembayaran atas pelaksanaan kegiatan instansi yang bersangkutan dilakukan sebagai pembayaran langsung kepada yang berhak. termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. f. 2) bendaharawan penerima. Saldo lebih dari sebagian dana penerimaan negara bukan pajak. h. dan atau 2) investasi. Pembiayaan sebagian dana PNBP yang telah disediakan dalam suatu dokumen anggaran dan belum dilaksanakan atau belum diselesaikan dalam tahun anggaran yang bersangkutan dapat dicantumkan pada dokumen anggaran tahun berikutnya melalui revisi anggaran. 3) bendaharawan pengguna. dilarang Kantor Perbendaharaan pembayaran. Batas jumlah pembayaran ditetapkan oleh menteri.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 1) operasional dana pemeliharaan. j. atau melalui penyediaan Uang Yang Harus Dipertanggungjawabkan (UYHD). Kewajiban pembukuan diatur sebagai berikut. i. 1) Pimpinan instansi/bendaharawan penerima dan pengguna wajib menyelenggarakan pembukuan.2007 36 .

Pencatatan dan Pemeriksaan a. memungut dan menyetorkan PNBP wajib menyelenggarakan pembukuan yaitu mengadakan suatu pencatatan yang dapat menyajikan keterangan yang cukup untuk dijadikan dasar penghitungan penerimaan negara bukan pajak.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Bendaharawan penerima dan pengguna menyimpan secara lengkap dan teratur dokumen yang menyangkut penerimaan negara bukan pajak. Pusdiklatwas BPKP . 1) Instansi pemerintah yang ditunjuk untuk menagih. l. 1) Pemberian izin penggunaan dana penerimaan negara bukan pajak yang telah diberikan masih tetap berlaku sebelum dilakukan penyesuaian berdasarkan peraturan pemerintah ini. Pimpinan instansi pemerintah wajib menyampaikan laporan triwulan mengenai seluruh penerimaan dan penggunaan dana oleh Instansi yang bersangkutan kepada Menteri Keuangan. Kewajiban penyusunan laporan. k. Pencatatan dan Pembukuan Ketentuan terkait dengan pencatatan dan pembukuan antara lain adalah sebagai berikut. Ketentuan lainnya. 2) Penggunaan penerimaan negara bukan pajak yang berasal dari dana reboisasi karena karakteristik dan atau sifat khusus yang dimilikinya dapat diatur dengan peraturan pemerintah tersendiri.2007 37 . 3) Kegiatan dan penatausahaan tersebut dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 6.

2) Hasil pemeriksaan terhadap wajib bayar untuk PNBP disampaikan kepada instansi pemerintah untuk penetapan jumlah PNBP yang terutang wajib bayar yang bersangkutan. 1) Hasil pemeriksaan terhadap instansi pemerintah disampaikan kepada Menteri Keuangan. dan Menteri Keuangan memberitahukan hasil pemeriksaan tersebut kepada instansi pemerintah yang bersangkutan guna penyelesaian lebih lanjut. 3) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap wajib bayar terdapat kekurangan pembayaran jumlah PNBP yang terutang. wajib bayar yang bersangkutan wajib melunasi Pusdiklatwas BPKP . 4) Terhadap wajib bayar untuk jenis penerimaan negara bukan pajak.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Pencatatan wajib diselenggarakan di Indonesia dalam satuan mata uang rupiah dan disusun dalam Bahasa Indonesia atau mata uang asing dan bahasa asing yang diizinkan Menteri Keuangan. memungut dan menyetorkan PNBP juga dapat dilakukan pemeriksaan khusus oleh instansi yang berwenang. Pemeriksaan Ketentuan terkait dengan pemeriksaan antara lain adalah sebagai berikut. Selain itu. b. 3) Buku. catatan dan dokumen lainnya yang menjadi dasar perhitungan PNBP tersebut wajib disimpan selama sepuluh tahun. atas permintaan instansi pemerintah dapat dilakukan pemeriksaan oleh instansi yang berwenang.2007 38 . terhadap instansi pemerintah yang ditunjuk atas permintaan menteri untuk menagih.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I kekurangannya dan ditambah dengan sanksi berupa denda administrasi sebesar 2% sebulan untuk paling lama 24 bulan dari jumlah kekurangan tersebut.2007 39 . C. jumlah kelebihan tersebut diperhitungkan sebagai pembayaran dimuka atas jumlah PNBP yang terutang wajib bayar yang bersangkutan pada periode berikutnya. kelebihan pembayaran tersebut dikembalikan kepada wajib bayar dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% sebulan untuk paling lama 24 bulan. yang terjadi karena kelebihan pembayaran. pengeluaran dalam melakukan pembayaran yang dibebankan kepada negara. 4) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap wajib bayar untuk jenis PNBP terdapat kelebihan pembayaran jumlah PNBP yang terutang. maka jumlah kelebihan pembayaran PNBP dikembalikan kepada wajib bayar selambat-lambatnya satu bulan sejak dikeluarkan ketetapan kelebihan pembayaran. penerimaan pengembalian belanja barang. kesalahan atau kelalaian bendahara berupa: ƒ ƒ penerimaan pengembalian belanja pegawai. PENERIMAAN PENGEMBALIAN BELANJA Penerimaan pengembalian belanja adalah seluruh penerimaan negara yang berasal dari pengembalian belanja tahun anggaran tahun berjalan. Penerimaan pengembalian belanja ini dapat Pusdiklatwas BPKP . 6) Dalam hal pengembalian kelebihan pembayaran dilakukan melampaui batas waktu sebagaimana dimaksud dalam poin 5) di atas. 5) Dalam hal terjadi pengakhiran kegiatan usaha wajib bayar.

pegawai negeri bukan bendahara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ƒ ƒ penerimaan pengembalian belanja modal. Setiap pimpinan kementerian negara/lembaga/kepala satuan kerja dapat segera melakukan tuntutan ganti rugi. tidak termasuk bendahara dan pegawai negeri bukan bendahara. Kerugian negara dapat terjadi karena pelanggaran hukum atau kelalaian pejabat negara atau pegawai negeri bukan bendahara dalam rangka pelaksanaan kewenangan administratif atau oleh bendahara dalam rangka pelaksanaan kewenangan kebendaharaan. 4. 5. Beberapa ketentuan yang mengatur mekanisme penyelesaian kerugian keuangan negara diatur sebagai berikut.2007 40 . penerimaan pengembalian belanja tahun lalu. atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan negara wajib mengganti kerugian tersebut. pegawai pengelola keuangan pada khususnya. Penerimaan pengembalian belanja ini juga meliputi penerimaan yang berasal dari penyelesaian kerugian keuangan negara. Penyelesaian meningkatkan negeri/pejabat kerugian disiplin negara negara dan pada perlu segera jawab dan dilakukan para para untuk mengembalikan kekayaan negara yang hilang atau berkurang serta tanggung umumnya. setelah mengetahui Pusdiklatwas BPKP . Setiap kerugian negara yang disebabkan oleh tindakan melanggar hukum atau kelalaian seseorang harus segera diselesaikan sesuai dengan ketentuan perundangan-undangan yang berlaku. 2. Bendahara. 1. Pejabat lain dimaksud meliputi pejabat negara dan pejabat penyelenggara pemerintahan yang tidak berstatus pejabat negara. 3.

8. 6. Surat keputusan dimaksud mempunyai kekuatan hukum untuk pelaksanaan sita jaminan (conservatoir beslaag). Jika surat keterangan tanggung jawab mutlak tidak mungkin diperoleh atau tidak dapat menjamin pengembalian kerugian negara.2007 41 . Jawab Mutlak. Setiap kerugian negara wajib dilaporkan oleh atasan langsung atau kepala kantor kepada menteri/pimpinan lembaga dan diberitahukan kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selambat-lambatnya tujuh hari kerja setelah kerugian negara itu diketahui. atau pejabat lain yang nyata-nyata melanggar hukum atau melalaikan kewajibannya. kepada bendahara. Segera setelah kerugian negara tersebut diketahui.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I bahwa dalam kementerian negara/lembaga/satuan kerja yang bersangkutan terjadi kerugian akibat perbuatan dari pihak manapun. 7. segera dimintakan surat pernyataan kesanggupan dan atau Surat pengakuan bahwa kerugian tersebut menjadi tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian negara dimaksud. menteri/pimpinan lembaga yang bersangkutan segera mengeluarkan Surat Keputusan Pembebanan Penggantian Kerugian Sementara kepada yang bersangkutan. pegawai negeri bukan bendahara. pernyataan tersebut biasa disebut Surat Pernyataan Tanggung Pusdiklatwas BPKP .

Undang-undang perpajakan yang meliputi : a. Pusdiklatwas BPKP .2007 42 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB IV MEKANISME PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN PAJAKPAJAK NEGARA OLEH BENDAHARA Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. bendahara pada instansi pemerintah telah ditunjuk sebagai pemotong/pemungut atas penerimaan pajak-pajak negara khususnya pada transaksi belanja yang dilakukan oleh instansi pemerintah. UU nomor 8 tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa. UU nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Peraturan perundangan yang dijadikan sebagai dasar hukum penunjukkan bendahara ini antara lain sebagai berikut. b. c. sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU nomor 17 tahun 2000. sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU nomor 16 tahun 2000. A. sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU nomor 18 tahun 2000. peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pemotongan/pemungutan pajak-pajak negara oleh bendahara. dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. UU nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. 1. DASAR HUKUM Dalam pelaksanaan penerimaan pajak-pajak negara.

KEWAJIBAN DAN SANKSI PERPAJAKAN BENDAHARA Dalam perpajakan. Kewajiban mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) di kantor pelayanan pajak yang sesuai dengan lokasi kedudukannya. Peraturan Pemerintah nomor 45 tahun 1994 tentang Pajak Penghasilan Bagi Pejabat Negara. Penyetoran dan Pelaporannya. PPnBM Beserta Tata Cara Pemungutan.03/2003 tentang Penunjukkan Bendaharawan Pemerintah dan Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara untuk Memungut. 3. 1. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 5563/KMK. B. kedudukan bendahara pemerintah yang mengelola APBN/APBD sama dengan kedudukan wajib pajak (WP). Selama masih melaksanakan pengelolaan anggaran Pusdiklatwas BPKP . Keputusan Presiden RI 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Keputusan Presiden RI Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah. Anggota ABRI dan Para Pensiunan atas Penghasilan yang Dibebankan kepada Keuangan Negara atau Keuangan Daerah. Menyetor dan Melaporkan PPN. 4. serta mendapatkan sanksi perpajakan jika terjadi pelanggaran. Pegawai Negeri Sipil. wajib mendaftarkan diri ke kantor pelayanan pajak BUMN (KPP-BUMN). sehingga bendahara mempunyai kewajiban.2007 43 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. Kewajiban dan saksi perpajakan bagi bendahara yang mengelola anggran pendapatan dan belanja negara/daerah. sebagai berikut. Untuk bendahara BUMN. sebagaimana WP lainnya. Kewajiban Perpajakan a.

c.000. Sanksi Perpajakan Sanksi perpajakan meliputi sanksi administrasi dan sanksi pidana dengan uraian sebagai berikut. berupa denda yaitu: 1) denda sebesar Rp50.000. Pusdiklatwas BPKP . berupa pengenaan bunga sebesar 2% per bulan (selama-lamanya 24 bulan) atas jumlah pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar. Kewajiban untuk menyetorkan pada saat penerimaan tempat pajak sesuai yang dengan dipungut/dipotong dan ketentuan umum perpajakan yang berlaku. 2) denda sebesar Rp100. Sanksi administrasi. b.00 jika tidak menyampaikan SPT Tahunan PPh sesuai dengan waktu yang telah ditentukan yaitu dua puluh hari setelah masa pajak berakhir. Kewajiban untuk melaporkan pemungutan dan pemotongan pajak negara dengan menyerahkan surat permberitahuan pajak (SPT) sesuai dengan ketentuan umum perpajakan yang berlaku.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I negara/daerah.00 jika tidak menyampaikan SPT Masa PPh dan PPN sesuai dengan waktu yang telah ditentukan yaitu dua puluh hari setelah masa pajak berakhir. a. 2. b. NPWP bendahara ini tetap berlaku.2007 44 . 2) proyek/kegiatan telah berakhir (selesai). NPWP atas nama bendahara ini akan dilakukan penghapusan jika terjadi: 1) perubahan organisasi yang mengakibatkan nama unit instansinya berubah. Sanksi administrasi.

tidak/kurang dipungut. yang dapat menimbulkan kerugian keuangan negara. d. 2) Sebesar 100% dari PPH tidak/kurang dipotong. atau menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap. b) berdasarkan hasil pemeriksaan terdapat PPN dan PPnBM yang seharusnya tidak dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya dikenakan tarif 0%. Sanksi pidana. yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak terutang. adalah sebagai berikut. Sanksi Administrasi berupa kenaikan pajak terutang. dan dipotong/dipungut tetapi tidak/kurang disetorkan. tidak/kurang disetor. 3) Sebesar 100% dari kekurangan pajak dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKP-KBT) dalam hal ditemukan data baru dan/atau data semula yang belum terungkap. 1) Sebesar 50% dari PPh tidak/kurang bayar dalam satu tahun pajak. jika SPT tidak disampaikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan dan telah ditegur secara tertulis. Pusdiklatwas BPKP . berupa kurungan selama satu tahun dan denda setinggi-tingginya dua kali jumlah pajak terutang. atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar. 4) Sebesar 100% atas PPN dan PPnBM yang tidak atau kurang dibayar jika: a) SPT tidak disampaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan telah dikenakan teguran sescara tertulis.2007 45 . jika karena kealpaan tidak menyampaikan SPT. tidak disampaikan pada waktunya sesuai dengan surat teguran. juga tidak disampaikan sesuai dengan surat teguran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c.

Sanksi pidana berupa kurungan selama 6 tahun dan denda setinggi-tingginya empat kali jumlah pajak terutang.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I e. C. Pengertian PPh pasal 21 dan pasal 26 PPh pasal 21 adalah PPh sehubungan dengan pekerjaan. PPh pasal 26 adalah PPh atas deviden. royalty. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.2007 46 . hadiah dan penghargaan. premi swap dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian hutang. BENDAHARA PASAL 26 SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 21 DAN 1. pekerjaan dan kegiatan. 5) tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong/dipungut. 2) tidak menyampaikan SPT. jasa dan kegiatan dengan nama dan bentuk apapun yang diterima atau diperoleh wajib pajak orang pribadi dalam negeri. imbalan sehubungan dengan jasa. 3) menolak dilakukan pemeriksaan. 4) memperlihatkan pembukuan dan pencatatan yang palsu dan tidak melaksanakan pembukuan. diskonto. bunga termasuk premium. pensiun dan pembayaran berkala lainnya yang diterima oleh wajib pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap. jika dengan sengaja: 1) tidak mendaftarkan diri atau menyalahgunakan NPWP. Pusdiklatwas BPKP .

c.2007 47 . imbalan prestasi kerja dan imbalan lain dengan nama dan bentuk apapun yang dibebankan keuangan negara/daerah. uang sidang. berupa: 1) upah harian. bea siswa serta pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan jasa dan kegiatan. 2) gaji kehormatan dan tunjangan lain yang bersifat tetap diterima pejabat negara. berupa: 1) gaji dan tunjangan lainnya yang bersifat tetap yang diterima PNS/ABRI. 2) honorarium. PNS. kecuali jika pembayaran tersebut dibayarkan kepada PNS golongan II-d ke bawah dan anggota ABRI berpangkat PELTU ke bawah. dan pensiunan yang dibebankan kepada keuangan negara/daerah. uang saku harian dan upah borongan. 3) uang pensiun dan tunjangan lain yang bersifat tetap diterima pensiunan termasuk janda/duda dan/atau anak-anaknya. a. Penghasilan yang diterima oleh penerima penghasilan selain pejabat negara. hadiah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. Penghasilan berupa honorarium. penghargaan. PNS. uang saku. Pusdiklatwas BPKP . b. Penghasilan yang diterima oleh pejabat negara. ABRI. Penghasilan yang Dipotong Bendahara wajib memotong PPh pasal 21 atas penghasilan berikut. komisi. anggota ABRI dan pensiunan yang dibebankan kepada keuangan negara/daerah. uang hadir. uang lembur. upah satuan. upah mingguan.

000.000.00 setahun atau Rp36. penghasilan bruto boleh dikurangi dengan unsur berikut. Atas penghasilan yang dibayarkan kepada pejabat negara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3.00 dengan biaya sebulan.00 sebulan. PNS dan anggota ABRI dan pensiunan.2 juta 1. PNS dan ABRI. Pengurangan yang Diperbolehkan a.000. Atas penghasilan yang dibayarkan kepada selain pejabat negara. SETAHUN 12 juta 1. penghasilan bruto boleh dikurangi berikut. 1) Pengurangan atas penerimaan upah harian.2 juta b. 2) Iuran pensiun.296. Rp1. 3) Penghasilan tidak kena pajak (PTKP) dengan ketentuan berikut.00 penghasilan setahun atau Rp108. borongan dan uang saku harian. boleh dikurangi 1/10 dengan unsur Pusdiklatwas BPKP . PNS dan anggota ABRI dan pensiunan yang dibebankan pada APBN/APBD. Sedangkan untuk menentukan penghasilan neto bruto dikurangi pensiun sebesar 5% dari penghasilan bruto setinggi-tingginya Rp432.2007 48 . dan pensiunan. PTKP ƒ Untuk diri pegawai ƒ Tambahan untuk pegawai yang kawin ƒ Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya paling banyak 3 orang. 1) Biaya jabatan sebesar 5% dari penghasilan bruto setinggitingginya pensiunan.000. satuan. mingguan. Untuk menentukan penghasilan neto pejabat negara.

tidak ada pengurangan.2007 49 . tidak ada pengurangan. maka pengurangan yang diperbolehkan berupa PTKP sebenarnya sebesar: [PTKP harian = PTKP sebenarnya /360] 3) Pembayaran atas honorarium. Lapisan PKP 1) s/d Rp 25 jt 2) Di atas Rp 25 jt s/d/Rp 50 jt 3) Di atas Rp 50 jt s/d Rp 100 jt 4) Di atas Rp 100 jt s/d/Rp 200 jt 5) Di atas Rp 200 jt Tarif Pajak 5% 10% 15% 25% 35% Pusdiklatwas BPKP . bea siswa sebagai imbalan atas jasa yang jumlahnya dihitung tidak atas dasar banyaknya hari yang diperlukan untuk menyelesaikan jasa atau kegiatan yang diberikan. komisi. Tarif PPh berdasarkan pasal 17 UU nomor 7 tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan UU nomor 17 tahun 2000 sebagai berikut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I UMP/UMK (sepanjang jumlah yang diterimanya dalam satu bulan tidak melebihi UMP/UMK dan tidak dibayarkan secara bulanan). 4. hadiah dan penghargaan dengan nama dan bentuk apapun. 4) Untuk penghasilan WP luar negeri. Tarif dan Cara Penghitungan Pemotongan a. 2) Jika penghasilan bruto dalam satu bulan melebihi UMP/UMK atau dibayarkan secara bulanan. uang saku.

3) 15% final atas honorarium dan imbalan lain dengan nama apapun. tebusan pensiun. Tarif berdasarkan PP No. a) Atas pembayaran gaji kehormatan. Tarif efektif = 15% x 50% x Penghasilan Bruto. dipotong dengan PPh pasal 21 dan bersifat final dengan tarif berikut. gaji/pensiun dan tunjangan yang terkait dengan gaji: Pusdiklatwas BPKP . Cara Penghitungan 1) Penghitungan PPh pasal 21 bagi pejabat negara. ABRI dan pensiunan yang dibebankan kepada keuangan negara/daerah adalah sebagai berikut. 149 tahun 2000 atas pembayaran uang pesangon. c. 2) 5% atas upah dan uang saku harian yang jumlahnya melebihi 1/10 UMP/UMK sehari tapi tidak melebihi UMP/UMK sebulan dan/atau tidak dibayarkan secara bulanan. Tarif berdasarkan Keputusan Dirjen Pajak No KEP-545/PJ/2000 1) 15% atas prakiraan penghasilan netto yang dibayarkan kepada tenaga ahli (prakiraan penghasilan = 50). Lapisan PKP 1) Rp 25 juta ke bawah 2) Di atas Rp 25 juta s/d Rp 50 juta 3) Di atas Rp 30 juta s/d Rp 100 juta 4) Di atas Rp 100 juta s/d Rp 200 juta 5) Di atas Rp 200 juta Tarif Pajak 0% 5% 10 % 15 % 25 % d.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b. PNS.2007 50 . dan THT atau Jaminan Hari Tua yang dibayarkan sekaligus.

moderador. dll). bea siswa. pengajar.bagi pensiunan bulanan Æ PPh psl. hadiah/penghargaan. pemberi jasa teknik komputer. uang sidang. 21 = 15 % x penghasilan bruto (bersifat final) 2) Penghitungan PPh pasal 21 bagi selain pejabat negara. PPh pasal 21 = tarif pasal 17 x penghasilan bruto (tarif progresif) Pusdiklatwas BPKP . imbalan prestasi kerja dan imbalan lain dengan nama apapun. PPh psl. olahragawan. penceramah.bagi pejabat negara/PNS/ABRI Æ PPh psl. telekomunikasi. 21 = tarif psl. penasihat. 21 = tarif psl. uang lembur.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I . 17 x (penghasilan bruto – biaya jabatan – iuran pensiun – PTKP) . ABRI dan pensiunan yang dibebankan lepada keuangan negara/daerah adalah sebagai berikut.2007 51 . komisi. elektronika. 17 x (penghasilan bruto – biaya pensiun – PTKP) b) Atas penghasilan berupa honorarium. uang saku. PNS. pembayaran imbalan pekerjaan. uang hadir. fotografi. a) Atas pembayaran honorarium. jasa dan kegiatan yang dilakukan oleh WP dalam negeri (artis. pemasaran.

d) pembayaran pelaksanaan proyek yang dibiayai dengan hibah/pinjaman luar negeri. adalah pada setiap saat pelaksanaan pembayaran atas penyerahan barang oleh rekanan Pusdiklatwas BPKP . penilai. benda-benda pos.2007 52 . gas. arsitek. PPh pasal 21 = tarif 15 % x perkiraan penghasilan neto = tarif 15 % x 50 % x penghasilan bruto 3) Penghitungan pajak dari penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi dengan status WP luar negeri sebagai imbalan atas pekerjaan. listrik. Pengertian PPh Pasal 22 Pajak penghasilan dipungut/dipotong sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b) honorarium atau imbalan lain kepada tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas (pengacara. D. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 22 1. b) Jika WP luar negeri berubah status. akuntan. 2. jasa dan kegiatan. aktuaris). maka pemotongan PPh pasal 21 tidak bersifat final. b) pembelian BBM. a) PPh pasal 21 = 20 % penghasilan bruto (bersifat final). c) pencairan dana jaring pengaman sosial (JPS) oleh KPKN. adalah sebagai berikut. kecuali atas pembayaran: a) penyerahan barang paling banyak 1 juta (bukan jumlah yang dipecah-pecah). air minum/PDAM. Saat Pemotongan dan Tarif Saat pemungutan PPh pasal 22. konsultan. dokter.

000. jasa manajemen.00 PPh psl. dengan tarif 1. Contoh : Itjen Departemen A membeli komputer untuk keperluan kantor dengan harga Rp100. Deviden. c. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. penyerahan jasa atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21.00 = Rp 1.000.5 % x Harga/Nilai Pembelian Barang. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik.2007 53 . Pengertian PPh Pasal 23/26 PPh pasal 23/26 adalah pajak atas penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang berasal dari modal. royalty. consultan dan jasa lain selain yang telah dipotong PPh pasal 21. Penghasilan yang dikenakan pemotongan PPh pasal 23 adalah sebagai berikut. hadiah dan penghargaan sehubungan dengan pelaksanaan status kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21. selain sewa atas tanah dan atau bangunan. 22 yang harus dipungut oleh bendahara sebesar 1.00 E.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I yang dibiayai dari APBN/APBD. diskonto dan imbalan karena jaminan pengembalian utang.000.5% dari Rp100. b. jasa konstruksi. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 23/26 1.000. Pusdiklatwas BPKP . bunga termasuk premium.500.000. a.

Pensiun dan pembayaran berkala lainnya. Deviden. bunga termasuk premium.000. c. bagian laba yang yang diterima/diperoleh tidak anggota perseroan saham. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik. b. c. e. g.2007 54 . dividen atau bagian laba yang diperoleh/diterima PT sebagai WP dalam negeri (dengan syarat tertentu). Pusdiklatwas BPKP . sewa guna usaha dengan hak opsi. bunga simpanan yang tidak melebihi Rp240. komanditer modalnya terbagi dalam persekutuan. konsultan dan jasa lain selain yang telah dipotong PPh pasal 21. perkumpulan. e. f. a. b. jasa konstruksi. d.00 setiap bulan yang dibayarkan oleh koperasi. Penghasilan yang tidak dikenakan pemotongan PPh Pasal 23/26: a.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Penghasilan yang dikenakan pemotongan PPh pasal 26 adalah penghasilan berikut. royalty. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. hadiah dan penghargaan sehubungan dengan pelaksanaan suatu kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21. d. selain sewa atas tanah dan atau bangunan. diskonto dan imbalan karena jaminan pengembalian utang. SHU koperasi yang dibayarkan kepada anggotanya. dan kongsi. penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank. Pembayaran premi asuransi dan premi reasuransi lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung yang dibayarkan kepada wajib pajak luar negeri selain BUT. firma. bunga obligasi yang diperoleh/diterima perusahaan reksa dana selama lima tahun pertama. jasa manajemen.

2007 55 . penilai dan aktuaris. alat transportasi/kendaraan. 15% dari jumlah bruto atas deviden. telkom bukan umum. kendaraan. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta khususnya kend. Jasa profesi. dan imbalan karena jaminan pengembalian utang. dubbing/mixing film. jasa instalasi/pemasangan peralatan. 1 2 Jenis Jasa pembasmian hama. IT.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. No. pelaksanaan konstruksi. penunjang penerbangan. manajemen.67% 40% Tarif PPh 23 10% 13. 15% dari prakiraan penghasilan neto. software komputer termasuk perbaikan/perawatan. bangunan di luar konstruksi. hadiah. pengolahan/pembuangan limbah. Tarif dan Dasar Pemotongan PPh Pasal 23 a. jasa teknik. listrik/telepon/air/gas/TV kabel di luar konstruksi. katering. Besarnya prakiraan penghasilan neto antara lain sebagai berikut. 20% 26. alat kemasan). jasa perantara. Jasa perencanaan dan pengawasan konstruksi. bunga. jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan mesin. royalti. mesin/peralatan. iklan/logo. pembersihan. jasa kustodian selain sewa gudang. b. jasa pengeboran minyak/gas bumi. darat. konstruksi. mesin. peralatan. rekrut tenaga kerja.33% 6 50% Pusdiklatwas BPKP . angk. diskonto. pertamanan. 3 4 5 Sewa & penghasilan kendaraan angkutan darat. jasa desain (interior. dan penghargaan (selain yang telah dipotong PPh pasal 21). jasa instalasi/pemasangan mesin /listrik/telepon/air/gas/AC/TV kabel. konsultan selain akuntansi.

F. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi barang di dalam daerah pabean yang berdasarkan keputusan Menteri Keuangan tergolong barang mewah. Tarif Pemotongan PPh Pasal 26 Tarif dan dasar pemotongan PPh Pasal 26 adalah 20% dari jumlah bruto kecuali bila ada Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B). Objek Pemungutan PPN dan PPnBM Bendahara yang mengelola anggaran negara/daerah wajib memungut. pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean. d. Pengertian PPN dan PPnBM a. menyetorkan dan melaporkan PPN atas: a.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3.2007 56 . PPnBM hanya dipungut dalam hal PKP rekanan adalah pabrikan dari BKP yang tergolong mewah. maka tarif PPh pasal 26 disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku dalam P3B tersebut. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPN DAN PPnBM 1. c. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak di dalam daerah Pabean. b. Pusdiklatwas BPKP . 2. penyerahan BKP dan/atau JKP yang dilakukan oleh PKP rekanan. b. pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean.

000. Saat Pemungutan Pemungutan PPN dan atau PPnBM oleh bendahara dilakukan pada saat pembayaran kepada rekanan pemerintah. pembayaran sebagian. atau pembayaran seluruhnya yang dilakukan oleh pemungut PPN kepada PKP rekanan. dengan cara pemotongan secara langsung dari tagihan PKP rekanan pemerintah tersebut. pembayaran dibebaskan atas dari penyerahan pengenaan BKP PPN dan/atau berdasarkan JKP yang Peraturan Pemerintah nomor 38 tahun 2003 tentang Impor dan atau penyerahan BKP Tertentu dan atau Penyerahan JKP Tertentu yang Dibebaskan dari Pengenaan PPN. Pusdiklatwas BPKP . Sementara.000.000. Saat Pemungutan.000. Tarif PPN dan PPnBM Tarif PPN adalah tarif tunggal sebesar 10% (berdasarkan peraturan pemerintah dapat diubah serendah-rendahnya 5% dan setinggi-tingginya 15%). Tarif dan Dasar Pemungutan a.00 dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah. Batasan Rp1. b.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pembayaran yang tidak dipungut PPN dan/atau PPnBM antara lain: a. c.00 tersebut merupakan jumlah pembayaran yang sudah termasuk PPN dan PPnBM. Dasar Pemungutan Dasar pemungutan PPN dan PPnBM adalah jumlah pembayaran baik dalam bentuk uang muka. c. 3.2007 57 . pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp1. pembayaran untuk pembebasan tanah. b. tarif PPnBM yang berlaku sekarang ini paling rendah 10 % dan paling tinggi sebesar 75 %.

00 100.000.000. Harga Jual PPN PPnBM 10% x Rp900.00 Jumlah yang dibayarkan kepada PKP rekanan Contoh 3: Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp1. Contoh 1: Jumlah PPN yang dipungut 10/11/bagian dari jumlah pembayaran Jumlah Pembayaran PPN yang harus dipungut 10/110x Rp1.000.000.000.000.000.00 90.00 PPnBM yang dipungut 20/130xRp1.170.000.000.00 dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah.000.000. termasuk PPN dan PPnBM yang terutang tanpa memerhatikan apakah dalam kontrak menyebutkan ketentuan pemungutan PPN dan atau PPnBM maupun tidak.000. Jumlah Pembayaran PPN yang dipungut 10/130 x Rp 1.00 20% x Rp900.000.000.000.000.300.00.00 Contoh 2: Dalam hal BKP yang diserahkan oleh rekanan pemerintah termasuk golongan barang mewah (misal PPnBM 20 %). Pusdiklatwas BPKP .00 Rp Rp 1.300.00 100.000.000.00 Rp 1.00 Rp 200.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Dalam jumlah pembayaran yang dilakukan oleh pemungut PPn tersebut. tetapi karena pembayaran termasuk PPN dan PPnBM berjumlah Rp1.300.000.00 Rp 1.000.00 Harga jual termasuk PPN dan PPnBM Rp 1.170.000.000. maka PPN dan PPnBM yang terutang harus dipungut oleh bendahara sebesar Rp 270.000 Jumlah yang dibayarkan kepada PKP rekanan Rp Rp 1.00 (di atas Rp 1.000.100.2007 58 .000.00).00 Rp Rp Rp 900.100.00.00 Meskipun harga jual Rp900.00 180.

000.000.00 Rp Rp Rp Rp 800.000.000. maka PPN dan PPnBM yang terutang tidak dipungut oleh bendahara.000.00 80.00 80.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Contoh 4: Harga Jual PPN PPnBM 10% x Rp800.000.00).000.000.00 (di bawah Rp 1.00 Harga jual termasuk PPN dan PPnBM 960.00 Karena harga jual termasuk PPN dan PPnBM berjumlah Rp960.00 10% x Rp800. Pusdiklatwas BPKP . tetapi akan disetor sendiri oleh PKP rekanan.000.2007 59 .

penerbitan SP2D oleh KPPN serta memahami mekanisme pelaporan realisasi APBN A. • Peraturan Menteri Keuangan No.2007 60 . 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. UU No.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB V MEKANISME PELAKSANAAN BELANJA NEGARA Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. UU tentang APBN (penetapan setiap tahun sesuai tahun anggarannya). PEDOMAN PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA NEGARA 1. • Keppres No. 134/PMK. • Peraturan Dirjen Perbendaharaan No.06/2005 Tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Tahun 2005. peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pelaksanaan belanja negara. • • • UU No.42 Tahun 2002 jo Keppres No. Perubahan mendasar dalam ketentuan pengelolaan keuangan negara yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Pusdiklatwas BPKP . proses pencairan dana APBN dan proses penerbitan SPM.72 Tahun 2004 Tentang Pedoman Pelaksanaan APBN. Per-66/PB/2005 Tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran atas beban APBN. Dasar Hukum Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Pelaksanaan belanja negara didasarkan pada beberapa dasar hukum sebagai berikut. mekanisme pembayaran melalui uang persediaan. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Fungsi perbendaharaan tersebut meliputi perencanaan kas yang baik. Penerapan Kaidah Pengelolaan Keuangan yang sehat di lingkungan pemerintah sejalan dengan perkembangan kebutuhan pengelolaan keuangan negara. dan badan pengelola dana masyarakat. kedudukan Presiden sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara.2007 61 . pendekatan kekuasaan Presiden kepada Menteri Keuangan dan menteri/pimpinan lembaga susunan APBN. serta penetapan bentuk dan batas waktu penyampaian laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I tentang Keuangan Negara meliputi pengertian dan ruang lingkup keuangan negara. Upaya untuk menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan yang selama ini lebih banyak dilaksanakan di dunia usaha dalam pengelolaan keuangan pemerintah. tidaklah dimaksudkan untuk Pusdiklatwas BPKP . pencegahan agar jangan sampai terjadi kebocoran dan penyimpangan. pencarian sumber pembiayaan yang paling murah dan pemanfaatan dana yang menganggur (idle cash) untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya keuangan. Pemerintah daerah dan pemerintah/lembaga asing. pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah dengan perusahaan negara. asas-asas umum pengelolaan keuangan negara. dirasakan pula semakin pentingnya fungsi perbendaharaan dalam rangka pengelolaan sumber daya keuangan pemerintahan yang terbatas secara efisien. pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan bank sentral. Dalam undang-undang tersebut juga telah mengantisipasi perubahan standar akuntansi di lingkungan pemerintahan di Indonesia yang mengacu kepada perkembangan standar akuntansi di lingkungan pemerintahan secara internasional. perusahaan daerah dan perusahaan swasta. Ketentuan mengenai penyusunan dan penetapan APBN.

Melalui kegiatan berbagai lembaga pemerintah. Pada hakikatnya. Dalam rangka pengelolaan uang negara/daerah dalam undangundang perbendaharaan negara ditegaskan kewenangan Menteri Keuangan untuk mengatur dan meyelenggarakan rekening pemerintah. menyimpan uang negara dalam rekening kas umum negara pada bank sentral. Dalam undang-undang Perbendaharaan Negara juga diatur prinsipprinsip yang berkaitan dengan pelaksanaan utang piutang dan investasi serta barang milik negara/daerah yang selama ini belum mendapat perhatian yang memadai.2007 62 . negara berusaha memberikan jaminan kesejahteraan kepada rakyat (welfare state). dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas Pusdiklatwas BPKP . negara tunduk pada tatanan hukum publik.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I menyamakan pengelolaan keuangan sektor pemerintah dengan pengelolaan keuangan sektor swasta. Dalam kedudukannya yang demikian. pengelolaan keuangan sektor publik yang dilakukan selama ini dengan menggunakan pendekatan superioritas negara telah membuat aparatur pemerintahan yang bergerak dalam kegiatan pengelolaan keuangan sektor publik tidak lagi dianggap berada dalam kelompok profesi manajemen oleh para profesional. Demikian pula. negara adalah suatu lembaga politik. perlu dilakukan pelurusan kembali pengelolaan keuangan pemerintah dengan menerapkan prinsip-prinsip pemerintahan yang baik (good governance) yang sesuai dengan lingkungan pemerintahan. serta ketentuan yang meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. pengelolaan piutang negara/daerah diatur kewenangan penyelesaian piutang negara dan daerah. Sementara itu. Namun. dalam rangka pelaksanaan pembiayaan ditetapkan pejabat yang diberi kuasa untuk mengadakan utang negara/daerah. Oleh karena itu.

Kantor Pelayanan Perbendaharan Negara (KPPN) melaksanakan penerimaan dan pengeluaran negara secara giral.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pengelolaan investasi dan barang milik negara/daerah dalam undang-undang Perbendaharaan Negara diatur pula ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan investasi serta kewenangan mengelola dan menggunakan barang milik negara. 1) Dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN. 3) Pelaksanaan pengeluaran atas beban APBN oleh KPPN selaku kuasa bendahara umum negara. 2) Dalam rangka pelaksanaan APBN. a. Pusdiklatwas BPKP . Peraturan Menteri Keuangan tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Pelaksanaan pembayaran dalam pelaksanaan anggaran belanja negara didasarkan pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK. dengan penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) oleh KPPN berdasarkan Surat Perintah Membayar (SPM) yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Dalam peraturan tersebut diatur ketentuan Menteri/Pimpinan Lembaga adalah Dokumen Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) yang disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan serta dokumen pendukung kegiatan akuntansi pemerintah.2007 63 .06/2005 sebagai berikut.

2007 64 . f) bendahara belanja. tentang Pembayaran pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran penerimaan untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4) Pada awal tahun anggaran menteri/ketua lembaga menetapkan para pejabat yang ditunjuk sebagai: a) kuasa pengguna anggaran/pengguna barang.06/2005 Pelaksanaan APBN. e) bendahara belanja. harus dalam dilaksanakan sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK. 5) Pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja tidak boleh merangkap sebagai pejabat sebagaimana pada butir 4. b) pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara. 6) Penerbitan SPM oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran didasarkan pada alokasi dana yang tersedia dalam DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA. d) pejabat yang bertugas melakukan pengujian dan perintah pembayaran. 7) Pelaksanaan pembayaran tagihan atas beban belanja negara melalui SPM-LS yang disampaikan Pedoman ke KPPN. e dan f di atas. c) pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja.d.

11) Pengajuan tambahan uang persediaan sebagaimana dimaksud diatur oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan dan Pembayaran dengan menggunakan uang persediaan untuk keperluan sebagaimana selain keperluan diatas sehari-hari dapat perkantoran setelah tersebut dilakukan memperoleh persetujuan Direktur Jenderal Perbendaharaan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 8) Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dapat mengajukan permintaan uang persedian dengan menerbitkan surat perintah membayar uang persediaan (SPM-UP) untuk membiayai keperluan sehari-hari perkantoran. 13) Pembayaran yang dilakukan oleh bendahara pengeluaran tidak boleh melebihi Rp10. kecuali pembayaran honor. 10) Dalam hal uang persediaan tidak mencukupi kebutuhan. satuan kerja yang bersangkutan menerbitkan surat perintah membayar penggantian uang persediaan (SPMGUP).2007 65 . satuan kerja dapat mengajukan tambahan dengan menerbitkan surat perintah membayar tambahan uang persediaan (SPM-TUP).00 kepada satu pihak.000. 9) Untuk memperoleh penggantian uang persediaan yang telah digunakan.000. Pusdiklatwas BPKP . 12) Pelaksanaan pembayaran dengan uang persediaan dilakukan oleh bendahara pengeluaran sepanjang pembayaran dimaksud tidak dapat dilakukan melalui pembayaran langsung (SPM-LS). 14) Pembayaran kepada rekanan harus memerhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.

KPPN menerbitkan SP2D yang ditujukan kepada bank operasional mitra kerjanya. 20) Penerbitan SP2D sebagaimana butir 18. 18) Berdasarkan SPM yang disampaikan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Pusdiklatwas BPKP . 16) Pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan dengan surat bukti yang menjadi dasar pengeluaran atas beban APBN bertanggung jawab atas kebenaran material dan akibat yang timbul dari penggunaan surat bukti dimaksud. atau penolakan permintaan pembayaran sebagaimana dimaksud pada butir 19 wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai berikut. 17) Bukti asli pembayaran Pembayaran dalam yang dilampirkan dalam Surat bukti Permintaan dan (SPP)-GUP merupakan pengeluaran dalam pelaksanaan anggaran belanja negara disimpan arsip pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 15) Pengguna anggaran atau kuasa pengguna anggaran dapat mengajukan penggantian uang persediaan yang telah digunakan kepada KPPN dengan menyampaikan SPM-GUP yang dilampiri Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja (SPTB) dan Faktur Pajak serta Surat Setoran Pajak (SSP). 19) KPPN menolak permintaan pembayaran yang diajukan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dalam hal: a) pengeluaran untuk MAK yang melampaui pagu. dan/atau b) tidak didukung oleh dokumen yang sah sesuai ketentuan yang berlaku.2007 66 .

b) Untuk pembayaran gaji induk (gaji bulanan) PNS Pusat paling lambat lima hari kerja sebelum awal bulan pembayaran gaji. 5) lain-lain. c) Untuk pembayaran non gaji induk (non gaji bulanan) SP2D diterbitkan paling lambat lima hari sejak diterimanya SPM.2007 67 . 4) pelaporan realisasi APBN.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I a) Penerbitan SP2D uang persediaan/tambahan uang persediaan/penggantian uang persediaan (SPM-UP/SPMTUP/SPM-GUP) dan SPM pembayaran langsung (SPM-LS) paling lambat dalam waktu satu hari sejak diterimanya SPM secara lengkap. Secara garis besar peraturan tersebut berisi ketentuanketentuan mengenai: 1) prosedur penerbitan surat permintaan pembayaran (SPP). 2) prosedur penerbitan surat perintah pembayaran (SPM) oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Mekanisme Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Mekanisme pembayaran dalam pelaksanaan anggaran belanja didasarkan pada peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor Per66/PB/2005 tentang Mekanisme Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN. Pusdiklatwas BPKP . 3) prosedur penerbitan surat perintah pencairan dana (SP2D) oleh KPPN. d) Pengembalian SPM dilakukan paling lambat hari kerja berikutnya sejak diterimanya SPM berkenaan. b.

Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran juga tidak diperkenankan melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja negara untuk tujuan lain dari yang ditetapkan dalam anggaran belanja negara (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran/DIPA). a. Pembayaran atas beban negara pada dasarnya dilakukan setelah barang/jasa diterima oleh negara. e. d. Belanja atas beban anggaran belanja negara didasarkan pada DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA. terarah. Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran tidak diperkenankan melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja negara. b. Secara umum. tidak mewah. Jumlah pengeluaran dalam anggaran merupakan batas yang tertinggi untuk setiap jenis pengeluaran. Hemat. semaksimal mungkin menggunakan produksi/jasa dalam negeri. c. efisien.2007 68 . bila anggarannya tidak tersedia. Anggaran tidak mutlak harus dihabiskan. jumlah dana yang dimuat dalam anggaran belanja negara merupakan batas tertinggi untuk tiap-tiap pengeluaran. Prinsip Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Berdasarkan aturan perundangan tersebut. dan f. jika dana untuk membiayai tindakan tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam anggaran belanja negara. terkendali.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. pelaksanaan anggaran belanja negara harus mengikuti prinsip-prinsip berikut. Dilarang melakukan pengeluaran yang menyimpang dari tujuan yang ditetapkan. Persyaratan pengeluaran atas beban negara didasarkan pada bukti hak tagihan kepada negara. Dilarang melakukan tindakan yang membebani anggaran. Pusdiklatwas BPKP .

kegiatan.2007 69 . lokakarya. Komponen Anggaran Belanja Negara Sesuai UU No. Penyelenggaraan rapat. Belanja untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintahan pusat. Bagian anggaran yang tidak dikuasai oleh kementerian/lembaga negara dikuasai oleh Menteri Keuangan. pertemuan. perayaan atau peringatan hari besar. dan sebagainya untuk berbagai peristiwa. dan jenis belanja. a. Belanja untuk pemerintah daerah dirupakan dalam bentuk ”Dana Perimbangan”. a. Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada pemerintah daerah untuk mendanai kebutuhan pemerintah daerah dalam Pusdiklatwas BPKP . seminar. belanja negara meliputi hal berikut. b. hadiah/tanda mata. rapat dinas. b. 3. karangan bunga. pesta untuk berbagai peristiwa dan pekan olah raga pada departemen/lembaga/pemerintah daerah. pengeluaran lain-lain untuk kegiatan/keperluan yang sejenis serupa dengan yang tersebut di atas. Belanja pemerintah pusat tersebut dibagi menurut fungsi. d. pemberian ucapan selamat. Belanja untuk pelaksanaan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. c. hari raya dan hari ulang tahun departemen/lembaga/pemerintah daerah. peresmian kantor/proyek dan sejenisnya. organisasi/bagian anggaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pengeluaran atas beban anggaran belanja negara tidak diperkenankan untuk keperluan berikut. dibatasi pada hal-hal yang sangat penting dan dilakukan sesederhana mungkin. 17 Tahun 2003 tentang Perbendaharaan Negara.

Dalam kondisi tertentu. Dana Perimbangan mencakup: 1) Dana Bagi Hasil. Tidak seluruh hasil pajak pusat dibagihasilkan dengan daerah. Hasil pajak yang dibagihasilkan dengan daerah mencakup Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).Pedoman Pelaksanaan Anggaran I rangka pelaksanaan Desentralisasi. yakni dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan pemerintah daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Pusdiklatwas BPKP .2007 70 . 3) Dana Alokasi Khusus. Pemerintah daerah yang menerima dana alokasi khusus wajib menyediakan dana pendamping sedikitnya 10% dari seluruh biaya kegiatan. b) Bagi Hasil Pajak. dan sebagian Pajak Penghasilan (PPh) Wajib Pajak Orang Dalam Negeri. pemerintah daerah penerima dana alokasi khusus dapat tidak wajib menyediakan dana pendamping. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). yang meliputi: a) Bagi Hasil Sumber Daya Alam. yakni dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. 2) Dana Alokasi Umum.

daft gaji. Untuk keperluan tertentu yang tidak dapat dan/atau tidak memungkinkan dilakukannya pembayaran secara langsung (menggunakan prosedur SPM LS). Proses pembayaran pada satuan kerja dapat digambarkan seperti bagan alur dokumen di bawah ini. BA PK. SPK.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I B. BA Serah terima Draft SPM LS Pembebanan BENAR SPM LS Proses SAI Transfer UP/GU Bukti SK SK Bukti Dan tagihan Uji dan periksa Transfer Pihak ke tiga SP2D SALAH SPM Perbaiki KPKN Pusdiklatwas BPKP . BA PB.2007 71 . KONTRAK Draft SPM GU BAYAR SPM GU Bukti Laporan Keuangan Daft. Jenis dan Proses Pembayaran Anggaran Belanja Negara Pembayaran atas beban APBN pada dasarnya dilakukan secara langsung melalui penerbitan Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS) kepada pihak yang berhak (pembayaran langsung). sesuai ketentuan/batasan yang diatur secara khusus pembayaran persediaan. Lembur.1) dapat dilakukan dengan menggunakan uang BAGAN PROSES PEMBAYARAN PADA SATUAN KERJA PEMBUAT KOMITMEN PENGUJI TAGIHAN BENDAHARA PENGELUARAN PENERBIT SPM UNIT AKUNTANSI SATKER SK. (Gambar 5. PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA NEGARA OLEH PENGGUNA ANGGARAN/KUASA PENGGUNA ANGGARAN 1.

sedangkan jika pelaksanaan kegiatan tidak didukung bukti. bagan alur tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Secara ringkas. KPPN meenerbitkan SP2D kepada bank mitra. Pejabat pembuat komitmen (PPK) dan bendahara pengeluaran berdasarkan bukti pelaksanaan kegiatan. d.2007 72 . c. Berdasarkan SPM yang diajukan. Pembukuan KPPN dijadikan bahan sistem akuntansi instansi untuk penyusunan laporan keuangan pemerintah. Pejabat penerbit SPM menyerahkan SPM ke KPPN. Bank mentransfer uang ke rekening bendahara pengeluaran atau ke rekening pihak ketiga. Tahap Penetapan Pejabat Kuasa PA dan Penandatangan SPM Pada setiap awal tahun anggaran. Jika berdasarkan pengujian. 3) pejabat yang diberi kewenangan untuk menandatangani SPM. maka SPP dikembalikan. 2) pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja. Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara a. e. Asli surat keputusan dimaksud disampaikan kepada kepala KPPN selaku Kuasa BUN setelah dilengkapi dengan bukti identitas Pusdiklatwas BPKP . mengajukan SPP kepada pejabat penguji tagihan. pelaksanaan kegiatan benar. 4) bendahara pengeluaran. b. 2. menteri/pimpinan lembaga selaku PA menerbitkan keputusan tentang penunjukan: 1) pejabat kuasa PA untuk satuan kerja sementara di lingkungan instansi PA. maka pejabat penguji menetapkan pembebanan anggaran mengajukan SPM kepada pejabat penerbit SPM. a.

dan spesimen tanda tangan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pejabat yang bersangkutan yang meliputi: nama. surat perintah kerja. 3) keputusan/tindakan dalam rangka pengadaan barang/jasa (kontrak jual beli.). cap/stempel kantor/satuan kerja. kenaikan gaji berkala. namun masih harus mengikuti ketentuan berikut. surat perjalanan dinas. jabatan. Pusdiklatwas BPKP . membuat keputusan-keputusan dan atau mengambil tindakan-tindakan yang dapat mengakibatkan timbulnya pengeluaran uang dan/atau tagihan atas beban APBN. ruang. dll. NIP/NRP. 2) keputusan/tindakan dalam rangka pelaksanaan kegiatan yang terkait dengan substansi tugas pokok dan fungsi.). mutasi pegawai. dll. kepala satuan kerja selaku kuasa pengguna anggaran. Pelaksanaan Kegiatan Pada tahap ini.2007 73 . Pejabat yang menandatangani kontrak/keputusan bertanggung jawab atas kebenaran material dan akibat yang timbul dari kontrak/keputusan tersebut. Tahap Pembuatan Komitmen Sesuai tugas pokok dan fungsinya. cantor/satuan kerja. melaksanakan rencana kerja yang telah ditetapkan dalam DIPA. walaupun prosedur/tatacara kepada penyelesaian pengguna kegiatan diserahkan sepenuhnya kuasa anggaran. pengangkatan pegawai dalam jabatan. b. kenaikan pangkat. pangkat/gol. Keputusan-keputusan dan/atau tindakantindakan tersebut antara lain dapat berupa: 1) keputusan kepegawaian (seperti pengangkatan pertama pegawai. c.

d. Uang Persediaan dan Tambahan Uang Persediaan (UP dan TUP) 1) Pengelola Uang Persediaan a) Bendahara Pengeluaran Untuk mengelola uang persediaan bagi satuan kerja di lingkungan kewenangan kementerian dapat mengangkat negara/lembaga. dan rekomendasi pembayaran pekerjaan. 3) Pembuatan Berita Acara Berita Acara Hasil Pemeriksaan Penyelesaian Pekerjaan harus memuat sekurang-kurangnya identitas pekerjaan (yang meliputi kantor/satuan kerja pengelola pekerjaan. seorang bendahara menteri/pimpinan lembaga atau pejabat yang diberi hak/tagihan atas penyelesaian-penyelesaian Pusdiklatwas BPKP . pernyataan kesaksian atas prestasi kerja yang telah diselesaikan. nomor dan tanggal DIPA yang menjadi dasar pembuatan dan/atau ditunjuk dalam kontrak). tahap penyelesaian pekerjaan (termijn).2007 74 . tempat/lokasi pekerjaan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 1) Pelaksanaan Pekerjaan Pelaksanaan kegiatan harus dilakukan secara tertib dan memenuhi ketentuan yang diperjanjikan baik dalam spesifikasi teknis maupun dalam jadwal/waktu penyelesaian. besar nilai kontrak. pemeriksaan dituangkan dalam suatu dokumen Berita Acara Hasil Pemeriksaan Penyelesaian Pekerjaan. nomor dan tanggal kontrak kerja. 2) Pemeriksaan Penyelesaian Pekerjaan Pada setiap tahap penyelesaian pekerjaan perlu dilakukan pemeriksaan.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pengeluaran pada kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya. sesuai kebutuhan kepala satuan kerja mengusulkan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan untuk menunjuk pemegang uang uuka.2007 75 . b) Untuk membantu pengelolaan uang persediaan pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya. b) KKPPN. selanjutnya. Di dalam pelaksanaan tugasnya pemegang uang muka bertanggung jawab kepada bendahara pengeluaran. berdasarkan SPM-UP dimaksud pada angka 1 di atas menerbitkan uang SP2D untuk rekening selanjutnya bendahara menjadi pengeluaran yang ditunjuk dalam SPM-UP. f) Pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan sesuai buktibukti yang sah dibebankan pada mata annggaran (MAK) definitif sesuai pagu MAK yang tersedia. e) Pengisian kembali uang persediaan dilakukan dengan mengajukan SPM GU kepada KPPN. c) Penggunaan persediaan tanggung jawab bendahara pengeluaran. Pusdiklatwas BPKP . d) Bendahara pengeluaran melakukan pengisian kembali uang persediaan segera setelah uang persediaan dimaksud digunakan. 2) Prosedur Penggunaan Uang Persediaan a) PA/Kuasa PA menerbitkan SPM-UP berdasarkan alokasi dana dalam DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA atas permintaan dari bendahara pengeluaran yang dibebankan pada mata anggaran keluaran (MAK) untuk pengeluaran transito.

Pusdiklatwas BPKP . dan 5811–belanja barang lainnya. masih cukup tersedia. Setoran sisa uang persediaan dimaksud. 5241-belanja perjalanan. h) Penggunaan dan penggantian uang persediaan dapat dilakukan sepanjang pagu anggaran dalam DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA. a) UP dapat diberikan untuk pengeluaran-pengeluaran belanja barang pada klasifikasi belanja: 5211-belanja barang operasional. dapat diberikan pengecualian untuk DIPA Pusat oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan dan untuk DIPA Pusat yang kegiatannya berlokasi di daerah serta DIPA yang ditetapkan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan setempat. 5221-belanja langganan daya dan jasa. 3) Petunjuk Pelaksanaan Uang Persediaan Uang persediaan dapat diberikan dalam batasan ketentuan sebagai berikut. 5231-belanja biaya pemeliharaan. yang dapat dibayarkan melalui prosedur SPM-UP.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I g) Pembebanan dimaksud pada butir f) di atas mengurangi kredit/pagu anggaran dalam DIPA. oleh KPPN dibukukan sebagai pengembalian uang persediaan sesuai mata anggaran yang ditetapkan. 5212-belanja bahan.2007 76 . i) Sisa uang persediaan yang terdapat pada akhir tahun anggaran harus disetor ke Rekening Kas Umum Negara selambat-lambatnya tanggal 31 Desember tahun anggaran berkenaan. b) Di luar ketentuan pada butir a.

000.000. ≤ Rp2.400.00 Rp 100.000. f) Dalam hal penggunaan UP belum mencapai 75%.000.2007 77 . 2.000.00 untuk klasifikasi belanja yang diperbolehkan diberi UP harus mendapat dispensasi dari Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan. Kepala KPPN dapat memberikan TUP sampai dengan jumlah Rp200.000.000.000 Prosentase pagu DIPA menurut klasifikasi belanja yang diijinkan untuk diberikan UP 1/12 1/18 1/24 Maksimal UP Rp 50. ≤ Rp900. g) Pemberian TUP diatur sebagai berikut. Pusdiklatwas BPKP .000 . e) Pengisian kembali UP sebagaimana dimaksud pada butir c) dapat diberikan apabila dana UP telah dipergunakan sekurang-kurangnya 75% dari dana UP yang diterima.000.400.000 > Rp2.000. No Pagu (Rp juta) 1.000.00 untuk klasifikasi belanja yang diperbolehkan diberi UP bagi instansi dalam wilayah pembayaran KPPN bersangkutan.000 > Rp900.000. ii. sedangkan satker/SKS yang bersangkutan memerlukan pendanaan melebihi sisa dana yang tersedia. 3.000. i. satker/SKS dimaksud dapat mengajukan TUP.000. Permintaan TUP di atas Rp200.00 Rp 200.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c) Maksimal UP yang dapat diberikan adalah sebagai berikut.00 d) Perubahan besaran UP di luar ketentuan pada butir c) ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan.000.

menyatakan bahwa Uang Persediaan tersebut tidak untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang menurut ketentuan harus dengan LS. ƒ Pengajuan SPP-LS belanja lainnya diajukan oleh pejabat pembuat komitmen. sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.2007 78 . baik uang persediaan maupun pembayaran langsung. b. dibuat dengan kelengkapan persyaratan sebagai berikut. Pusdiklatwas BPKP . pengajuan SPP. Persyaratan Penerbitan SPP Pengajuan surat permintaan pembayaran (SPP) untuk penerbitan surat perintah membayar (SPM).Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. 1) SPP-UP (Surat Permintaan Pembayaran .Uang Persediaan) Surat pernyataan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk. untuk pelaksanaan anggaran belanja pemerintah daerah. Prosedur Penerbitan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) a. ƒ Pengajuan SPP-LS belanja pegawai dan belanja perjalanan dinas dilakukan oleh bendahara pengeluaran. Sebagai bahan perbandingan. diajukan oleh bendahara pengeluaran. Pengajuan SPP untuk pelaksanaan anggaran belanja negara dibedakan sebagai berikut. Pejabat yang Mengajukan SPP Pengajuan SPP dibedakan sesuai dengan jenis pembayaran yang dilakukan. ƒ Pengajuan SPP-UP/TUP/GUP dilakukan oleh bendahara pengeluaran.

c) Surat setoran pajak (SSP) yang telah dilegalisir oleh kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk.Penggantian Uang Persediaan) a) Kuitansi/tanda bukti pembayaran.2007 79 .Tambahan Uang Persediaan) a) Rincian rencana penggunaan dana Tambahan uang persediaan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk. (2) apabila terdapat sisa dana TUP. 3) SPP-GUP (Surat Permintaan Pembayaran . Pengaturan mekanisme pembayaran adalah sebagai berikut. Apabila tidak mungkin dilaksanakan melalui mekanisme LS. Pusdiklatwas BPKP . (3) tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) SPP-TUP (Surat Permintaan Pembayaran . harus disetorkan ke rekening kas negara. b) Surat pernyataan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk bahwa: (1) dana tambahan UP tersebut akan digunakan untuk keperluan mendesak dan akan habis digunakan dalam waktu satu bulan terhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D. 4) SPP Untuk Pengadaan Tanah Pembayaran pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilaksanakan melalui mekanisme pembayaran langsung (LS). b) Surat pernyataan tanggung jawab belanja (SPTB). c) Rekening koran yang menunjukkan saldo terakhir. dapat dilakukan melalui UP/TUP.

(9) Surat pelepasan hak adat (bila diperlukan). b) SPP-UP/TUP (1) Pengadaan tanah yang luasnya kurang dari satu hektar dilengkapi persyaratan daftar nominatif pemilik tanah yang ditandatangani oleh kuasa PA. (2) Pengadaan tanah yang luasnya lebih dari satu hektar dilakukan dengan bantuan panitia pengadaan tanah di kabupaten/kota setempat.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I a) SPP-LS (Surat Permintaan Pembayaran . (6) Pernyataan dari penjual bahwa tanah tersebut tidak dalam sengketa dan tidak sedang dalam agunan. (8) SSP PPh final atas pelepasan hak.Pembayaran Langsung) (1) Persetujuan Panitia Pengadaan Tanah untuk tanah yang luasnya lebih dari satu hektar di kabupaten/kota. (5) Surat persetujuan harga. (7) Pelepasan/penyerahan hak atas tanah/akta jual beli di hadapan PPAT. (4) SPPT PBB tahun transaksi. (3) Pengadaan tanah yang pembayarannya dilaksanakan melalui UP/TUP harus terlebih dahulu mendapat ijin dispensasi dari Kantor Pusat Ditjen PBN/Kanwil Ditjen PBN. dan dilengkapi dengan daftar nominatif pemilik tanah serta besaran harga tanah yang ditandatangani oleh Kuasa PA dan diketahui oleh Panitia Pengadaan Tanah (PPT).2007 80 . (2) foto copy bukti kepemilikan tanah. (3) kuitansi. Pusdiklatwas BPKP . sedangkan besaran uangnya harus mendapat dispensasi UP/TUP sesuai ketentuan yang berlaku.

Lembur dan Honor/Vakasi a) Pembayaran gaji induk/gaji susulan/kekurangan gaji/gaji terusan/uang PPh Pasal 21. (5) berita acara pembayaran. c) Pembayaran keputusan pembayaran honor/vakasi tentang perhitungan dilengkapi honor dengan vakasi. 6) SPP-LS Non Belanja Pegawai a) Pembayaran pengadaan barang dan jasa. dilengkapi dengan: (1) kontrak/SPK yang mencantumkan nomor rekening rekanan. (3) berita acara penyelesaian pekerjaan. (6) kuitansi yang disetujui oleh kuasa yang ditunjuk. surat perintah kerja lembur.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 5) SPP-LS Untuk Pembayaran Gaji. daftar hadir lembur dan SSP PPh Pasal 21. b) Pembayaran lembur dilengkapi dengan daftar pembayaran perhitungan lembur yang ditandatangani oleh kuasa PA/pejabat yang ditunjuk dan bendahara pengeluaran. dilengkapi dengan dokumen yang terkait dengan pembayarannya dan SSP honor/vakasi ditandatangani oleh kuasa PA/pejabat yang ditunjuk dan bendahara pengeluaran yang bersangkutan. PA atau pejabat Pusdiklatwas BPKP .2007 81 . (4) berita acara serah terima pekerjaan. dan SSP PPh Pasal 21. surat daftar yang pemberian duka wafat/tewas. (2) surat pernyataan kuasa PA mengenai penetapan rekanan. daftar hadir kerja.

(9) dokumen lain yang dipersyaratkan untuk kontrakkontrak yang dananya sebagian atau seluruhnya bersumber dari pinjaman/hibah luar negeri. c) Pembayaran belanja perjalanan dinas harus dilengkapi dengan daftar nominatif pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas. (2) nomor rekening pihak ketiga (PT PLN. PDAM dll. lama perjalanan dinas. dapat satuan kerja/SKS yang bersangkutan melakukan bank atau yang dipersamakan yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan non pembayaran dengan UP. (10) ringkasan kontrak. (8) jaminan bank. pangkat/golongan). Pusdiklatwas BPKP . tujuan. dan biaya yang diperlukan untuk masing-masing pejabat. PT Telkom. b) Pembayaran biaya langganan daya dan jasa (listrik.).Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (7) faktur pajak beserta SSP yang telah ditandatangani wajib pajak. Tunggakan langganan daya dan jasa tahun anggaran sebelumnya dapat dibayarkan oleh satker/SKS setelah mendapat dispensasi/persetujuan terlebih dahulu dari Kanwil Ditjen PBN sepanjang dananya tersedia dalam DIPA berkenaan. yang berisi antara lain: informasi mengenai data pejabat (nama. tanggal keberangkatan. telepon dan air) dilengkapi dengan: (1) bukti tagihan daya dan jasa.2007 82 . Dalam hal pembayaran Langganan Daya dan Jasa belum dapat dilakukan secara langsung.

Apabila UP tidak mencukupi dapat mengajukan TUP sebesar kebutuhan riil satu bulan dengan memerhatikan maksimum pencairan (MP). MP = (PPP x JS) – JPS MP = maksimum pencairan dana. dan disahkan oleh pejabat yang berwenang di KPPN.PNBP tahun anggaran sebelumnya. 7) SPP untuk PNBP a) UP/TUP untuk PNBP diajukan terpisah dari UP/TUP lainnya. JPS = jumlah pencairan dana sebelumnya sampai Pusdiklatwas BPKP . b) UP dapat diberikan kepada satker pengguna sebesar 20% dari pagu dana PNBP pada DIPA maksimal sebesar Rp500.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Daftar nominatif tersebut harus ditandatangani oleh pejabat yang berwenang memerintahkan perjalanan dinas. PPP = proporsi pagu pengeluaran terhadap pendapatan.00 dengan melampirkan Daftar Realisasi Pendapatan dan Penggunaan Dana DIPA . JS = jumlah setoran. satker pengguna harus melampirkan daftar perhitungan jumlah MP.000. d) Dalam pengajuan SPM-TUP/GUP/LS PNBP ke KPPN.000. c) Dana yang berasal dari PNBP dapat dicairkan maksimal sesuai formula sebagai berikut.2007 83 . dengan SPM terakhir yang diterbitkan. Pembayaran dilakukan oleh bendahara pengeluaran satker/SKS yang bersangkutan kepada para pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas.

pencairan dana diatur secara khusus dengan surat edaran Dirjen PBN tanpa melampirkan SSBP.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I e) Untuk satker pengguna yang setorannya dilakukan secara terpusat. pencairan dana harus melampirkan bukti setoran (SSBP) yang telah dikonfirmasi oleh KPPN. h) Besarnya pencairan dana PNBP secara keseluruhan tidak boleh melampaui pagu PNBP satker yang bersangkutan dalam DIPA. k) Sisa dana PNBP dari satker pengguna di luar butir i.2007 84 . j) Khusus perguruan tinggi negeri selaku pengguna PNBP (non BHMN). Pusdiklatwas BPKP . dilakukan dengan mengajukan SPM ke KPPN setempat cukup dengan melampirkan SPTB. g) Besaran PPP untuk masing-masing satker pengguna diatur berdasarkan surat keputusan Menteri Keuangan yang berlaku. yang disetorkan ke rekening kas negara pada akhir tahun anggaran merupakan bagian realisasi penerimaan PNBP tahun anggaran berikutnya dan dapat dipergunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan setelah diterimanya DIPA. i) Pertanggungjawaban penggunaan dana UP/TUP PNBP oleh kuasa PA. sisa dana PNBP yang disetorkan pada akhir tahun anggaran ke rekening kas negara dapat dicairkan kembali maksimal sebesar jumlah yang sama pada awal tahun anggaran berikutnya mendahului diterimanya DIPA dan merupakan bagian dari target PNBP yang tercantum dalam DIPA tahun anggaran berikutnya. f) Satker pengguna yang menyetorkan pada masing-masing unit (tidak terpusat).

1) Memeriksa secara rinci dokumen pendukung SPP sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Penerimaan dan pengujian SPP Petugas penerima SPP memeriksa kelengkapan berkas SPP. nomor rekening dan nama bank). 3) Memeriksa kesesuaian rencana kerja dan/atau kelayakan hasil kerja yang dicapai dengan indikator keluaran. mencatatnya dalam buku pengawasan penerimaan tanda terima SPP. mengisi check list kelengkapan berkas SPP. dan membuat/menandatangani pejabat penerbit SPM. 2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran. Selanjutnya petugas penerima SPP menyampaikan SPP dimaksud kepada Pusdiklatwas BPKP . Pejabat penerbit SPM melakukan pengujian atas SPP sebagai berikut. 4. akan diperhitungkan pada saat pengajuan pencairan dana UP tahun anggaran berikutnya. Prosedur Penerbitan SPM Setelah menerima SPP. 4) Memeriksa kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain: a) pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/perusahaan. alamat. b.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I l) Sisa UP/TUP dana PNBP sampai akhir tahun anggaran yang tidak disetorkan ke rekening kas negara. pejabat penerbit SPM menerbitkan SPM dengan mekanisme sebagai berikut. a.2007 85 . SPP.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b) nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan/atau kelayakannya dengan prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak). C. PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA NEGARA OLEH BENDAHARA UMUM NEGARA (BUN)/KUASA BUN 1. c. a. Pejabat Penguji SPP dan Penanda Tangan SPM menerbitkan SPM-UP/SPM-TUP/SPM-GUP/SPM-LS dalam rangkap tiga. c) jadwal waktu pembayaran. dengan rincian: 1) lembar kesatu dan kedua disampaikan kepada KPPN.2007 86 . Pengguna anggaran/kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk menyampaikan SPM beserta dokumen pendukung dilengkapi dengan Arsip Data Komputer (ADK) berupa soft copy melalui loket penerimaan SPM pada KPPN atau melalui kantor pos. 2) lembar ketiga sebagai pertinggal pada satker yang bersangkutan. Penyampaian SPM kepada KPPN Penyampaian SPM kepada KPPN dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut. 5) Memeriksa pencapaian tujuan dan/atau sasaran kegiatan sesuai dengan indikator keluaran yang tercantum dalam DIPA berkenaan dan/atau spesifikasi teknis yang sudah ditetapkan dalam kontrak. Setelah dilakukan pengujian terhadap SPP-UP/SPP-TUP/SPPGUP/SPP-LS. Pusdiklatwas BPKP . kecuali bagi satker yang masih menerbitkan SPM secara manual tidak perlu ADK.

b) SPTB. 3) untuk keperluan pembayaran TUP: a) rincian rencana penggunaan dana.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b. c) surat keputusan pemberian honor/vakasi dan SPK lembur. Pusdiklatwas BPKP . 2) untuk keperluan pembayaran langsung (LS) non belanja pegawai: a) resume kontrak/SPK atau daftar nominatif perjalanan dinas.00. b) surat dispensasi Kepala Kantor Wilayah Ditjen. Perbendaharaan untuk TUP diatas RP200. harus disetorkan ke rekening kas negara.000.000. (2) apabila terdapat sisa dana TUP. 1) untuk keperluan pembayaran langsung (LS) belanja pegawai: a) daftar gaji/gaji susulan/kekurangan gaji/lembur/honor dan vakasi yang ditandatangani oleh kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk dan bendahara pengeluaran. c) surat pernyataan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk yang menyatakan bahwa: (1) dana tambahan UP tersebut akan digunakan untuk keperluan mendesak dan akan habis digunakan dalam waktu satu bulan terhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D. b) surat-surat keputusan kepegawaian dalam hal terjadi perubahan pada daftar gaji. d) surat setoran pajak (SSP).2007 87 . SPM dimaksud dilampiri bukti pendukung pengeluaran sebagai berikut. c) faktur pajak dan SSP.

c. e. daftar nominatif perjalanan Pusdiklatwas BPKP . 4) untuk keperluan pembayaran GUP: a) SPTB. mengisi check list kelengkapan berkas SPM. SPM Gaji Induk harus sudah diterima KPPN paling lambat tanggal 15 sebelum bulan pembayaran. c) dokumen dinas). Pengujian SPM Berdasarkan berkas SPM yang diterima. 1) Pengujian substantif dilakukan untuk menguji: a) kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM. mencatat dalam Daftar Pengawasan Penyelesaian SPM. 2. b) Faktur Pajak dan SSP. sebagai dasar penagihan (ringkasan kontrak/SPK.2007 88 . KPPN melakukan pengujian yang bersifat substansif dan formal. d.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (3) tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung. Pengujian SPM dan Penerbitan SP2D a. Petugas KPPN pada loket penerimaan SPM memeriksa kelengkapan SPM. b) ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA yang ditunjuk dalam SPM tersebut. dan meneruskan check list serta kelengkapan SPM ke seksi perbendaharaan untuk diproses lebih lanjut. surat keputusan. Bukti asli lampiran SPP merupakan arsip yang disimpan oleh PA/KPA.

b) SPM UP/TUP/GUP dan LS dikembalikan paling lambat satu hari kerja setelah SPM diterima. a) SPM Belanja Pegawai Non Gaji Induk dikembalikan paling lambat tiga hari kerja setelah SPM diterima. c) memeriksa kebenaran dalam penulisan. 2) Pengujian formal dilakukan untuk: a) mencocokkan tanda tangan pejabat penanda tangan SPM dengan spesimen tanda tangan. e) faktur pajak beserta SSP-nya. Penerbitan SP2D Penerbitan SP2D wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai berikut. b) pengembalian SPM kepada penerbit SPM. 1) SP2D Gaji Induk diterbitkan paling lambat lima hari kerja sebelum awal bulan pembayaran gaji. b.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I d) surat pernyataan tanggung jawab (SPTB) dari kepala kantor/satker atau pejabat lain yang ditunjuk mengenai tanggung jawab terhadap kebenaran pelaksanaan pembayaran. termasuk tidak boleh terdapat cacat dalam penulisan. Pengembalian SPM sebagaimana dimaksud di atas diatur sebagai berikut. b) memeriksa cara penulisan/pengisian jumlah uang dalam angka dan huruf. apabila tidak memenuhi syarat untuk diterbitkan SP2D. Keputusan hasil pengujian ditindak lanjuti dengan: a) penerbitan SP2D bilamana SPM yang diajukan memenuhi syarat yang ditentukan. Pusdiklatwas BPKP .2007 89 .

p.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) SP2D Non Gaji Induk diterbitkan paling lambat lima hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap. arus kas dan neraca kepada Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Pusdiklatwas BPKP . PELAPORAN REALISASI ANGGARAN BELANJA Untuk keperluan penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN diperlukan antara lain data realisasi APBN. Direktur Pengelolaan Kas Negara dengan tembusan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan. kepala KPPN selaku kuasa bendahara umum negara wajib membuat laporan bulanan realisasi anggaran.p. anggaran (UAKPA) wajib membuat laporan realisasi anggaran dan neraca serta arsip data komputer (ADK) yang dikelolanya kepada menteri/pimpinan lembaga secara berjenjang melalui unit akuntansi pembantu pengguna anggaran tingkat wilayah (UAPPAW) dan kepada KPPN setempat. untuk diproses dan selanjutnya diteruskan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan u. kepala kantor/satker selaku unit akuntansi kuasa pengguna D. 3) SP2D UP/TUP/GUP dan LS paling lambat satu hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap. dan catatan atas laporan keuangan. neraca. arus kas. maka: 1. Laporan yang menyangkut dengan realisasi APBN lainnya sepanjang belum dicabut dan masih diperlukan tetap dilaksanakan. Direktur Informasi dan Akuntansi. 2. kepala KPPN selaku kuasa bendahara umum negara wajib membuat laporan kas posisi (LKP) harian dan mingguan yang disampaikan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan u. 3. Untuk keperluan pelaporan tersebut.2007 90 .

Baik dari segi ekonomi. Menko Perekonomian Boediono optimistis pertumbuhan Indonesia pada tahun ini tetap mencapai target 6. BI menyatakan perekonomian pada triwulan Pusdiklatwas BPKP ." ujarnya. Fiskal tidak ada yang baru. pemerintah menargetkan pertumbuhan 6. Pemerintah Mempercepat Penyerapan Anggaran Untuk Mendorong Target Pertumbuhan 6." kata dia di Gedung Departemen Keuangan Jln. Jumat (7/4). Sebelumnya. Sementara. Lapangan Banteng Jakarta. Ia mengakui. diskusikan artikel di bawah ini.2 persen.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I E. "Sementara. dari sisi fiskal tidak ada kebijakan baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketika ditanya mengapa pertumbuhan ekonomi hanya 4.58 persen. mungkin penyerapan anggaran masih perlu lebih diakselerasi. Sedangkan. setiap laporan menyangkut pertumbuhan ekonomi pasti menyebutkan faktor-faktor yang mendukung pertumbuhan itu.2 persen. masih adanya hambatan dalam pencairan daftar isian pelaksanaan Anggaran (DIPA) dari sisi teknis maupun pelaksanaan projek atau programnya. Kita jalankan saja apa yang ada di APBN.2% Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan. Sri Mulyani menyatakan tidak tahu.4 persen.2007 91 . sosial politik. dengan pendekatan dari sisi pengguna anggaran. enam persen tahun ini masih dalam jangkauan. "Faktor-faktornya biasanya konsumsi dan investasi. "Saya kira kalau pribadi dari segi saya enam persen tetap. BAHAN DISKUSI DAN SOAL LATIHAN BAHAN DISKUSI Berdasarkan materi pemelajaran di atas. pemerintah akan mempercepat penyerapan anggaran dalam tahun 2006 guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang menurut laporan Bank Indonesia (BI) pada triwulan pertama 2006 hanya mencapai 4. Saya kira kalau kita mempertahankan situasi yang baik ini. Namun." katanya. "Pemerintah akan memerhatikan itu.58 persen. Bank Pembangunan Asia (ADB) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2006 mencapai 5." kata Sri Mulyani.

Untuk keseluruhan tahun 2006. anggaran yang tersedia sudah mengikat dan harus direalisir 2.7 persen. a. b. efisien sesuai kebutuhan teknis yang disyaratkan Anggaran negara merupakan batas tertinggi (maksimum) untuk setiap jenis pengeluaran artinya …. kinerja neraca pembayaran yang lebih baik. semaksimal mungkin menggunakan produksi dalam negeri d.4 persen mendekati batas atas 5. dihabiskan sesuai dengan mata anggarannya c. kecuali .2007 92 . terarah dan terkendali sesuai dengan rencana b.. Untuk PDB secara keseluruhan 2006. "Perkembangan yang lebih positif ini terutama didukung oleh kestabilan ekonomi makro seperti menguatnya nilai tukar. dan surplus neraca pembayaran. Pusdiklatwas BPKP .35 persen. a. menurunnya tingkat inflasi. anggaran yang tersedia harus dihabiskan sampai akhir tahun anggaran b.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pertama 2006 diperkirakan tumbuh 4..0-5. c atau d yang saudara anggap paling benar. kemampuan stimulus fiskal yang lebih besar..58 persen. hemat. diperkirakan mengalami pertumbuhan sedikit lebih tinggi mendekati batas atas kisaran proyeksi BI yaitu 5. 1." katanya.7 persen. pengeluaran yang dilakukan tidak boleh melampaui batas anggaran yang tersedia pengeluaran negara dilakukan sehemat mungkin agar ada c. tidak mewah. (JAKARTA-(PR) A-75/A-78)*** SOAL LATIHAN Pilihlah salah satu jawaban a. "PDB 2006 diperkirakan melebihi nilai tengah (mid point) 5. sedikit lebih tinggi dari perkiraan awal tahun sebesar 4." kata Gubernur Bank Indonesia Burhanudin Abdulah. sisa anggaran d. dan intensifnya upaya pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi. BI memandang optimisme pada perekonomian nasional semakin menguat terutama didorong oleh ekonomi global yang lebih kondusif. Berikut adalah prinsip dari pengeluaran anggaran.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. 8.000.00 b.000.00 c. SPM yang diterbitkan oleh kuasa pengguna anggaran SP2D yang diterbitkan oleh kantor pelayanan perbendaharaan c.00 4. d. a. Rp 10. berdasarkan bukti atas hak b.000. d.000.. a.. didasarkan atas DIPA atau dokumen yang disamakan dilengkapi pernyataan tidak melakukan KKN c.00 Rp 15 . 6. Rp 5. MAK Transito MAK Belanja Lain-lain c. SPP yang dibuat dan diajukan oleh bendahara pengeluaran b. d.000. a. Pengeluaran atas beban belanja negara harus memenuhi persyaratan berikut. tiga bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan Dasar untuk mencairkan uang dari bendahara umum negara (BUN) adalah ….000.. satu bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan b. d. Rp 25. 5. (KPPN) d.000. kecuali …. 7. dua minggu sejak tanggal SP2D diterbitkan dua bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan c. a. MAK Belanja Non Pegawai b. sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan Penanggung jawab penggunaan uang persediaan (UP) adalah …. MAK Belanja Tidak Tersangka Pembayaran yang dapat dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran kepada satu rekanan paling tinggi .. a. d. Pusdiklatwas BPKP . pejabat penguji Tambahan Uang Persediaan (TUP) dapat digunakan paling lama.000. pejabat pembuat komitmen (PPK) kuasa pengguna anggaran (KPA) c..2007 93 . cek tunai dari KPPN SPM uang persediaan (SPM-UP) yang diterbitkan kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk dibebankan pada ….. bendahara pengeluaran b. a.

kuasa pengguna anggaran d. a. kuitansi/tanda bukti pembayaran b. a. Tentukan mana yang bukan menjadi persyaratan yang harus dilampirkan pada pengajuan SPP-GUP (penggantian uang persediaan) …. dan c) dapat melakukannya. semua (jawaban a. d. bendahara umum negara/kuasa bendahara umum negara c. menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran/ pengguna barang b. surat pernyataan tanggungjawab belanja (SPTB) surat pernyataan tidak melakukan KKN c.2007 94 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 9 Melakukan pembayaran tagihan pihak ketiga sebagai pengeluaran anggaran adalah tanggung jawab dari …. b. surat setoran pajak (SSP) yg telah dilegalisir oleh KPA/PPK 10 Pusdiklatwas BPKP .

2007 95 . sejak proses persiapan. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Prinsip-Prinsip Dasar Pengadaan barang/jasa pemerintah yang yang sebagian atau seluruhnya dibiayai APBN/APBD diwajibkan untuk prinsip-prinsip sebagai berikut. hingga penunjukkan dan penetapan penyedia barang/jasa. untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkatsingkatnya dan dapat dipertanggungjawabkan. a. Efektif. ETIKA. A. DAN RUANG LINGKUP PENGADAAN BARANG DAN JASA Pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah yang sebagian atau seluruhnya dibiayai APBN/APBD diatur dalam Keputusan Presiden No. peserta diklat diharapkan mampu mekanisme pengadaan barang dan jasa. dengan beberapa kali perubahannya.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB VI POKOK-POKOK PENGADAAN BARANG DAN JASA INSTANSI PEMERINTAH Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan. b. menerapkan Pusdiklatwas BPKP . berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang terbatas. KEBIJAKAN UMUM. PRINSIP DASAR. Efisien. 1.

tata cara evaluasi. Kebijakan Umum Kebijakan umum pemerintah dalam pengadaan barang/jasa meliputi antara lain hal-hal sebagai berikut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c. keuangan maupun manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsipprinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa. berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu berdasarkan transparan. 2. termasuk syarat teknis administrasi pengadaan. sifatnya terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya. d. Terbuka dan bersaing. a. berarti harus mencapai sasaran baik fisik. f. Meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri. Akuntabel. rancang bangun dan perekayasaan nasional. yang sasarannya adalah memperluas lapangan kerja dan mengembangkan industri dalam ketentuan dan prosedur yang jelas dan Pusdiklatwas BPKP . e. dengan cara dan atau alasan apapun. Transparan. Adil/tidak diskriminatif. berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa. hasil evaluasi.2007 96 . berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak tertentu. penetapan calon penyedia barang/jasa.

Etika Dalam Pengadaan Barang/Jasa Para pihak yang terkait dengan aktivitas pengadaan barang/jasa yaitu penyedia barang/jasa dan pihak pemberi kerja maupun pihak lainnya yang terkait dengan pengadaan instansi pemerintah. Meningkatkan peran serta usaha kecil termasuk koperasi kecil dan kelompok masyarakat dalam pengadaan barang/jasa. Etika yang harus dipegang teguh antara lain adalah sebagai berikut Pusdiklatwas BPKP . Mengumumkan kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah secara terbuka melalui surat kabar naslonal dan/atau surat kabar provinsi. d. f. h. kemandirian dan tanggung jawab pengguna barang/jasa. c. e. wajib mematuhi prinsip etika dalam pengadaan untuk menciptakan praktik yang sehat dan pemerintahan yang bersih.2007 97 . Menyederhanakan ketentuan dan tata cara untuk mempercepat proses pengambilan keputusan dalam pengadaan barang/jasa. panitia/pejabat pengadaan. 3. Meningkatkan profesionalisme. Menumbuh kembangkan peran serta usaha nasional. kecuali yang bersifat rahasia pada setiap awal pelaksanaan anggaran kepada masyarakat luas. g. dan penyedia barang/jasa. b. Mengharuskan pelaksanaan pemilihan penyedia barang/jasa dilakukan di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mengharuskan pengumuman rencana pengadaan barang/jasa secara terbuka.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I negeri dalam rangka meningkatkan daya saing barang/jasa produksi dalam negeri pada perdagangan internasional. i. Meningkatkan penerimaan negara melalui sektor perpajakan.

Bekerja secara profesional dan mandiri atas dasar kejujuran. serta menjaga kerahasiaan dokumen pengadaan barang dan jasa yang seharusnya dirahasiakan untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam pengadaan barang/jasa. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa. disertai rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran kelancaran dan ketepatan tercapainya tujuan pengadaan barang/jasa. h. tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima hadiah/imbalan berupa apa saja kepada siapapun yang diketahui atau patut dapat diduga berkaitan dengan pengadaan barang/jasa. golongan atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan barang/jasa (conflict of interest). Tidak menerima. Tidak saling memengaruhi baik langsung maupun tidak langsung untuk mencegah dan menghindari terjadinya persaingan tidak sehat. Pusdiklatwas BPKP . e.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I a. Menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak yang terkait. c. g. d. f. Melaksanakan tugas secara tertib. b.2007 98 . Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang ditetapkan sesuai dengan kesepakatan para pihak.

b. yaitu biaya untuk: pengguna barang/jasa. Ruang lingkup pengadaan barang/jasa mencakup: a.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4. Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibiayai dari dana APBN. harus tetap berpedoman serta tidak boleh bertentangan dengan ketentuan dalam Keputusan Presiden 80/2003. dan peraturan daerah/keputusan kepala daerah yang mengatur pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibiayai dari dana APBD. pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruhnya dibiayai dari pinjaman/hibah luar negeri (PHLN) yang sesuai atau tidak bertentangan dengan pedoman dan ketentuan pengadaan barang/jasa dari pemberi pinjaman/hibah bersangkutan. BUMN. pengadaan barang/jasa untuk investasi di lingkungan BI. pengadaan barang/jasa yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD. Pembiayaan Pengadaan. Departemen/kementerian/lembaga/ TNI/Polri/pemerintah pelaksanaan 1) honorarium daerah/BI/ BHMN/BUMN/BUMD yang dibiayai wajib dari menyediakan biaya administrasi proyek untuk mendukung pengadaan barang/jasa APBN/APBD. b.2007 99 . dan staf proyek. bendaharawan. apabila ditindaklanjuti dengan keputusan menteri/pemimpin lembaga/panglima TNI/Kapolri/Dewan Gubernur BI/pemimpin BHMN/direksi BUMN. BHMN. yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD. Ruang Lingkup dan Pembiayaan Pengadaan a. panitia/pejabat pengadaan. Pusdiklatwas BPKP . c. BUMD.

3) penggandaan dokumen pengadaan barang/jasa dan/atau dokumen prakualifikasi. 7. Uraian lebih lanjut dari pokok kebijakan pengadaan barang dan jasa adalah sebagai berikut. Pusdiklatwas BPKP . B. POKOK-POKOK KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMERINTAH Pada subbab ini akan dibahas mengenai pokok-pokok kebijakan pengadaan barang dan jasa pemerintah yang meliputi: 1. 1. 6. Metode evaluasi penawaran. 2. Organisasi dan Tugas Pokok Organ Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah a. 4. Harga perkiraan sendiri (HPS). pejabat pembuat komitmen. Organisasi Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Organisasi dalam pengadaan barang/jasa pemerintah meliputi: • • • pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) pengumuman pengadaan barang/jasa. Organisasi dan tugas pokok organ pengadaan barang dan jasa pemerintah. panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan. 5. Pelaksanaan dan metode pemilihan penyedia barang/jasa. 4) administrasi lainnya yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pengadaan barang/jasa. Prakualifikasi dan pascakualifikasi. Metode penyampaian dokumen penawaran.2007 100 . Penetapan penyedia barang/jasa dan jenis kontrak. 3.

Berkaitan dengan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan terdapat beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan yang mencakup hal-hal berikut.000. pejabat yang bertugas melakukan verifikasi surat permintaan pembayaran dan/atau pejabat yang bertugas menandatangani surat perintah membayar.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Organisasi dalam pengadaan barang/jasa bertugas dan bertanggung jawab dari segi administrasi.000.000. Pusdiklatwas BPKP . pejabat pembuat komitmen dan bendahara. dan fungsional atas pengadaan barang/jasa yang dilaksanakannya. keuangan. Pengadaan juga dapat dilaksanakan oleh unit layanan pengadaan (Procurement Unit). namun bukan (dilarang) pegawai yang menjadi: a. pengawasan BI/BHMN/BUMN/BUMD untuk pengadaan panitia/pejabat pengadaan/anggota dibutuhkan instansinya).000. baik dari instansi sendiri maupun instansi teknis lainnya. pegawai Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)/inspektorat utama internal pengadaan lembaga jenderal pemerintah departemen/inspektorat non departemen/badan (kecuali unit barang/jasa menjadi layanan yang pengawas daerah provinsi/kabupaten/kota. dapat Untuk pengadaan di atas Rp50.00 pejabat pengadaan. fisik.2007 101 . b. c. 2) Anggota panitia pengadaan/pejabat pengadaan/anggota unit layanan pengadaan berasal dari pegawai negeri. 1) Pengadaan dilaksanakan sampai oleh dengan seorang Rp50.00 wajib dibentuk panitia pengadaan.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3) Dalam hal pengadaan barang/jasa dilakukan oleh Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. dan memahami prosedur pengadaan berdasarkan Peraturan Presiden ini. dan dapat menyertakan pihak lain yang ditunjuk oleh kepala badan pelaksana. b. memahami keseluruhan pekerjaan yang akan diadakan. anggota panitia pengadaan berasal dari instansinya sendiri atau instansi teknis pemerintah. Pejabat Pembuat Komitmen dilarang mengadakan ikatan perjanjian dengan penyedia barang/jasa apabila belum tersedia anggaran atau tidak cukup tersedia anggarannya. Tugas Pokok Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pejabat Pembuat Komitmen diangkat dengan surat keputusan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. 4) Jumlah panitia harus berjumlah gasal dengan ketentuan sebagai berikut. Jumlah Pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya ≤ Rp500 juta > Rp500 juta Pengadaan jasa konsultansi ≤ Rp200juta > Rp200 juta Sedikitnya 3 orang Sedikitnya 5 orang 5) Panitia/pejabat pengadaan/anggota unit layanan pengadaan harus memiliki integritas moral.2007 102 . Pejabat Pembuat Komitmen dapat melaksanakan proses pengadaan barang/jasa sebelum dokumen anggaran disahkan sepanjang anggaran untuk kegiatan yang bersangkutan telah dialokasikan. dengan Pusdiklatwas BPKP .

tata cara pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun oleh panitia pengadaan/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan. serta kelompok masyarakat.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ketentuan penerbitan surat penunjukan penyedia barang/jasa (SPPBJ) dan penandatanganan kontrak pengadaan barang/jasa dilakukan setelah dokumen anggaran disahkan. Tugas pokok Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) meliputi: 1) menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa. 3) menetapkan dan mengesahkan harga perkiraan sendiri (HPS).2007 103 . Pusdiklatwas BPKP . 6) menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedia barang/jasa. 5) menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku. jadwal. 9) menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada menteri/Panglima TNI/Kepala Polri/pimpinan lembaga/pimpinan kesekretariatan lembaga tinggi negara/ pimpinan kesekretariatan komisi/gubernur/bupati /walikota/ Dewan Gubernur BI/pemimpin BHMN/direksi BUMN/BUMD dengan berita acara penyerahan. 8) mengendalikan pelaksanaan penjanjian/kontrak. 2) menetapkan paket-paket pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil. 4) menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan sesuai kewenangannya. 7) melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/ jasa kepada pimpinan instansinya.

9) menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai. 4) mengumumkan pengadaan barang/jasa di surat kabar nasional dan/atau provinsi dan/atau papan pengumuman resmi untuk penerangan umum. Tugas pokok pejabat/panitia pengadaan/Unit Layanan Pengadaan Tugas pokok pejabat/panitia pengadaan/unit layanan pengadaan (procurement unit) meliputi: 1) menyusun jadwal dan menetapkan cara pelaksanaan serta lokasi pengadaan. 5) menilai kualifikasi penyedia melalui pascakualifikasi atau prakualifikasi.2007 104 . 8) membuat laporan mengenai proses dan hasil pengadaan kepada Pejabat Pembuat Komitmen dan/atau pejabat yang mengangkatnya. 2) menyusun dan menyiapkan harga perkiraan sendiri (HPS). 2. 7) mengusulkan calon pemenang.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 10)menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai. 3) menyiapkan dokumen pengadaan. c. 6) melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk. Pelaksanaan dan Metode Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah dapat dilakukan dengan cara: Pusdiklatwas BPKP . dan diupayakan diumumkan di website pengadaan nasional.

o pengadaan jasa konsultansi. Pusdiklatwas BPKP . yang dikelompokkan menjadi: o pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya. PELELANGAN UMUM PENGADAAN BARANG/ JASA PEMBORONGAN PELELANGAN TERBATAS PEMILIHAN LANGSUNG PENYEDIA B/J PENUNJUKAN LANGSUNG SELEKSI UMUM PBJ PENGADAAN JASA KONSULTANSI SELEKSI TERBATAS SELEKSI LANGSUNG SWAKELOLA PENUNJUKAN LANGSUNG a. Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut. ƒ ƒ Pelelangan umum. Metode Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Pemborongan /Jasa Lainnya Metode pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya dapat dilakukan dengan salah satu dari metode berikut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ¾ menggunakan jasa penyedia barang dan jasa. ¾ swakelola. Pelelangan terbatas.2007 105 .

Penunjukkan langsung. sekurang-kurangnya tiga penawaran dari penyedia barang/jasa yang telah lulus prakualifikasi serta dilakukan negosiasi baik teknis maupun biaya serta harus diumumkan minimal melalui papan pengumuman resmi untuk penerangan umum dan bila memungkinkan melalui internet.000. yaitu metode pemilihan yang dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi untuk penerangan umum sehingga masyarakat luas dunia usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya. Dalam hal metode penyedia pelelangan umum atau pelelangan terbatas dapat dilakukan dengan metode dinilai tidak efisien dari segi biaya pelelangan. maka pemilihan barang/jasa pemilihan langsung. Pusdiklatwas BPKP . Dalam hal jumlah penyedia barang/jasa yang mampu melaksanakan diyakini terbatas yaitu untuk pekerjaan yang kompleks. guna pelelangan terbatas dan diumumkan secara penyedia memberi barang/jasa kesempatan yang telah diyakini penyedia luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi dengan kepada barang/jasa lainnya yang memenuhi kualifikasi. maka pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan metode mencantumkan mampu.00. yaitu pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan dengan membandingkan sebanyak-banyaknya penawaran.000. Pemilihan langsung dapat dilaksanakan untuk pengadaan yang bernilai sampai dengan Rp100.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ƒ ƒ Pemilihan langsung. prinsipnya pengadaan dilakukan melalui metode Pada pelelangan umum.2007 106 .

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus. pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan cara penunjukan langsung terhadap satu penyedia barang/jasa dengan cara melakukan negosiasi baik teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat dapat dipertanggungjawabkan.000.2007 107 . 2) Pengadaan barang/jasa khusus. dan/atau b) pekerjaan yang perlu dirahasiakan yang menyangkut pertahanan dan keamanan negara yang ditetapkan oleh Presiden. dan/atau ƒ dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa usaha orang perseorangan dan/atau badan usaha kecil termasuk koperasi kecil. termasuk penanganan darurat akibat bencana alam. dan/atau c) pekerjaan yang berskala kecil dengan nilai maksimum Rp50. yaitu : a) pekerjaan berdasarkan tarif resmi yang ditetapkan pemerintah. Penunjukan langsung dilaksanakan dalam hal memenuhi kriteria sebagai berikut. keamanan dan keselamatan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda. yaitu: a) penanganan darurat untuk pertahanan negara. 1) Keadaan tertentu. dan/atau ƒ risiko kecil. atau harus dilakukan segera. dan/atau ƒ teknologi sederhana.00 ketentuan: ƒ untuk keperluan sendiri.000. atau (lima puluh juta rupiah) dengan Pusdiklatwas BPKP .

seleksi langsung atau penunjukan langsung. b. Dalam keadaan tertentu pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan melalui seleksi terbatas. pabrikan. atau c) merupakan hasil produksi usaha kecil atau koperasi kecil atau pengrajin industri kecil yang telah mempunyai pasar dan harga yang relatif stabil. Pusdiklatwas BPKP . Pada prinsipnya. Metode Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi Pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan dengan salah satu dari metode: ƒ seleksi umum. Seleksi umum adalah metode pemilihan penyedia jasa konsultansi yang daftar pendek pesertanya dipilih melalui proses prakualifikasi secara terbuka yaitu diumumkan secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi untuk berminat dan memenuhi penerangan umum sehingga masyarakat luas mengetahui dan penyedia jasa konsultansi yang kualifikasi dapat mengikutinya. atau d) pekerjaan yang kompleks yang hanya dapat dilaksanakan dengan penggunaan teknologi khusus dan/atau hanya ada satu penyedia barang/jasa yang mampu mengaplikasikannya. pengadaan harus dilakukan melalui seleksi umum. ƒ seleksi terbatas.2007 108 . pemegang hak paten. ƒ seleksi langsung. ƒ penunjukan langsung.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b) pekerjaan/barang spesifik yang hanya dapat dilaksanakan oleh satu penyedia barang/jasa.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Seleksi terbatas adalah metode pemilihan penyedia jasa konsultansi untuk pekerjaan yang kompleks dan diyakini jumlah penyedia jasa yang mampu melaksanakan pekerjaan tersebut jumlahnya terbatas.2007 109 . Seleksi langsung dapat dilaksanakan untuk pengadaan yang bernilai sampai dengan Rp100. maka pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan dengan seleksi langsung yaitu metode pemilihan penyedia jasa konsultansi yang daftar pendek pesertanya ditentukan melalui proses prakualifikasi terhadap penyedia jasa konsultansi yang dipilih langsung dan diumumkan sekurang-kurangnya di papan pengumuman resmi untuk penerangan umum atau media elektronik (internet). Dalam hal metode seleksi umum atau seleksi terbatas dinilai tidak efisien dari segi biaya seleksi.00. Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus. keamanan dan keselamatan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda/harus dilakukan segera. dan/atau 2) penyedia jasa tunggal. dan/atau Pusdiklatwas BPKP . Penunjukan langsung dapat dilaksanakan dalam hal memenuhi kriteria: 1) penanganan darurat untuk pertahanan negara. dan/atau 3) pekerjaan yang perlu dirahasiakan yang menyangkut pertahanan dan keamanan negara yang ditetapkan oleh Presiden.000.000. pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan dengan penunjukan langsung satu penyedia jasa konsultansi yang memenuhi kualifikasi dan dilakukan negosiasi baik dari segi teknis maupun biaya sehingga diperoleh biaya yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan.

Swakelola dapat dilaksanakan oleh: o pengguna barang/jasa. dikerjakan. dan diawasi sendiri. c. Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa dengan Swakelola Swakelola adalah pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan. menggunakan teknologi sederhana. dan/atau instansi pemerintah yang bersangkutan dan sesuai dengan fungsi dan tugas pokok Pusdiklatwas BPKP . o instansi pemerintah lain.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4) pekerjaan yang berskala kecil dengan ketentuan: untuk keperluan sendiri. mempunyai risiko kecil.000. Pekerjaan yang dapat dilakukan dengan swakelola meliputi: 1) pekerjaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis sumber daya manusia pengguna barang/jasa.00 (lima puluh juta rupiah).2007 110 . o kelompok masyarakat/lembaga swadaya masyarakat penerima hibah.000. dan/atau bernilai sampai dengan Rp50. dan/atau 2) pekerjaan yang operasi dan pemeliharaannya memerlukan partisipasi masyarakat setempat. (Tambahan menurut Keppres 61 tahun 2004 tgl 5 Agustus 2004 tentang perubahan Keppres 80 tahun 2003). 6) pekerjaan yang memerlukan penyelesaian secara cepat dalam rangka pengembalian kekayaan negara yang penanganannya dilakukan secara khusus berdasarkan peraturan perundangundangan. dilaksanakan oleh penyedia jasa usaha orang perseorangan dan badan usaha kecil. dan/atau 5) pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh pemegang hak paten atau pihak yang telah mendapat ijin.

HPS disusun oleh panitia/pejabat pengadaan dan ditetapkan oleh pengguna barang/jasa. pengembangan sistem tertentu dan penelitian oleh perguruan tinggi/lembaga ilmiah pemerintah. 3. penataran. biaya umum dan keuntungan (overhead cost and profit) yang wajar bagi penyedia barang/jasa. kursus. seminar. 8) pekerjaan yang bersifat rahasia bagi instansi pengguna barang/jasa yang bersangkutan. dan/atau 6) pekerjaan untuk proyek percontohan (pilot project) yang bersifat khusus untuk pengembangan teknologi/metode dan/atau 7) pekerjaan khusus yang bersifat pemrosesan data. HPS telah memperhitungkan pajak pertambahan nilai (PPN). perumusan kebijakan pemerintah. sifat. atau penyuluhan. lokasi atau pembiayaannya tidak diminati oleh penyedia barang/jasa. HPS tidak boleh memperhitungkan biaya tak kerja yang belum dapat dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa. Pusdiklatwas BPKP .2007 111 . lokakarya. tidak sehingga dapat apabila dihitung/ditentukan dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa akan menanggung risiko yang besar. dan/atau 4) pekerjaan yang secara terlebih rinci/detail dahulu. dan/atau 5) penyelenggaraan diklat.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3) pekerjaan tersebut dilihat dari segi besaran. Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Pengguna barang/jasa wajib memiliki harga perkiraan sendiri (HPS) yang dikalkulasikan secara keahlian dan berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan. pengujian di laboratorium.

Penilaian Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa Kualifikasi kemampuan adalah usaha proses calon penilaian penyedia atas kompetensi dan barang/jasa. Tujuan kualifikasi adalah untuk menjamin bahwa pengadaan barang/jasa pemerintah dilaksanakan oleh pihak yang mampu. h. HPS merupakan alat untuk menilai kewajaran harga penawaran termasuk rinciannya dan untuk menetapkan besaran tambahan nilai jaminan pelaksanaan bagi penawaran yang dinilai terlalu rendah. harga pasar setempat pada waktu penyusunan HPS. HPS tidak dapat dijadikan dasar untuk menggugurkan penawaran. g. Dalam proses Pusdiklatwas BPKP . analisis harga satuan pekerjaan yang bersangkutan. biaya lain-lain dan Pajak Penghasilan (PPh) penyedia barang/jasa. Nilai total HPS terbuka dan tidak bersifat rahasia.2007 112 . informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan. daftar harga standar/tarif biaya yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. c. e. f. harga kontrak/surat perintah kerja (SPK) untuk barang/pekerjaan sejenis setempat yang pernah dilaksanakan. informasi harga satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Prakualifikasi dan Pascakualifikasi a. badan/instansi lainnya dan media cetak yang datanya dapat dipertanggungjawabkan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I terduga. 4. harga/tarif barang/jasa yang dikeluarkan oleh pabrikan/agen tunggal atau lembaga independen. b. Perhitungan HPS menggunakan data dasar dan mempertimbangkan: a. perkiraan perhitungan biaya oleh konsultan/engineer's estimate (EE). d.

Syarat Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa Persyaratan kualifikasi penyedia barang/jasa adalah sebagai berikut. panitia/pejabat pengadaan dilarang persyaratan prakualifikasi/pascakualifikasi di luar yang telah ditetapkan dalam ketentuan Keputusan Presiden ini atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Dalam proses prakualifikasi/pascakualifikasi panitia /pejabat pengadaan tidak boleh melarang. ƒ dimasukkan dalam daftar hitam sekurang-kurangnya dua tahun. menghambat. Pengguna barang/jasa wajib menyederhanakan proses prakualifikasi dengan tidak meminta seluruh dokumen yang disyaratkan melainkan cukup dengan formulir isian kualifikasi penyedia barang/jasa. dan membatasi keikutsertaan calon peserta pengadaan barang/jasa dari luar provinsi/kabupaten/kota lokasi pengadaan barang/jasa. dan apabila diketemukan penipuan/pemalsuan atas informasi yang disampaikan. Penyedia barang/jasa wajib menandatangani surat pernyataan di atas meterai bahwa semua informasi yang disampaikan dalam formulir isian kualifikasi adalah benar. 1) Memiliki surat izin usaha pada bidang usahanya yang dikeluarkan oleh instansi pemerintah yang berwenang yang Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I penilaian menambah kualifikasi. terhadap yang bersangkutan dikenakan sanksi: ƒ pembatalan sebagai calon pemenang. b.2007 113 . ƒ tidak boleh mengikuti pengadaan untuk dua tahun berikutnya. ƒ diancam dituntut secara perdata dan pidana.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I masih berlaku. kecuali penyedia barang/jasa yang baru berdiri kurang dari 3 (tiga) tahun. Pusdiklatwas BPKP . IUJK untuk jasa konstruksi.2007 114 . 8) Memiliki kemampuan pada bidang pekerjaan yang sesuai untuk usaha kecil termasuk koperasi kecil. 5) Telah melunasi kewajiban pajak tahun terakhir (SPT/PPh) serta memiliki laporan bulanan PPh Pasal 25 atau Pasal 21/Pasal 23 atau PPN sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan yang lalu. 7) Memiliki kinerja baik dan tidak masuk dalam daftar sanksi atau daftar hitam di suatu instansi. 3) Tidak dalam pengawasan pengadilan. dan sebagainya. kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan. dan/atau tidak sedang menjalani sanksi pidana. penyedia barang/jasa wajib mempunyai perjanjian kerjasama operasi/kemitraan yang memuat persentase kemitraan dan perusahaan yang mewakili kemitraan tersebut. 4) Dalam hal penyedia jasa akan melakukan kemitraan. tidak bangkrut. 2) Secara hukum mempunyai kapasitas menandatangani kontrak pengadaan. seperti SIUP untuk jasa perdagangan. 6) Selama 4 (empat) tahun terakhir pernah memiliki pengalaman menyediakan barang/jasa baik di lingkungan pemerintah atau swasta termasuk pengalaman subkontrak baik di lingkungan pemerintah atau swasta .

11) Untuk pekerjaan khusus/spesifik/teknologi tinggi dapat ditambahkan persyaratan lain seperti peralatan khusus. a) Untuk jasa pemborongan memenuhi: KD = 2 NPt (KD : Kemampuan Dasar. Pusdiklatwas BPKP . kecuali untuk penyedia barang/jasa usaha kecil termasuk koperasi kecil. c) Untuk pengadaan jasa konsultansi memenuhi: KD = 3 NPt pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil dalam kurun waktu 7 (tujuh) tahun terakhir.2007 115 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 9) Memiliki kemampuan pada bidang dan subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil. b) Untuk pengadaan barang/jasa lainnya memenuhi: KD = 5 NPt pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir. tenaga ahli spesialis yang diperlukan. 10) Dalam hal bermitra dasar dari yang diperhitungkan yang adalah mewakili kemampuan perusahaan kemitraan (lead firm). NPt : nilai pengalaman tertinggi) pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir. 12) Memiliki surat keterangan dukungan keuangan dari bank pemerintah/swasta untuk mengikuti pengadaan barang/jasa sekurang-kurangnya sepuluh persen dari nilai proyek untuk pekerjaan jasa pemborongan dan lima persen dari nilai proyek untuk pekerjaan pemasokan barang/jasa lainnya. atau pengalaman tertentu.

15) Menyampaikan daftar perolehan pekerjaan yang sedang dilaksanakan khusus untuk jasa pemborongan. dilakukan dengan pascakualifikasi. 14) Termasuk dalam penyedia barang/jasa yang sesuai dengan nilai paket pekerjaan.2007 116 . Prakualifikasi lainnya dari adalah penyedia proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu barang/jasa sebelum memasukkan penawaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 13) Memiliki kemampuan menyediakan fasilitas dan peralatan serta personil yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan. Khusus untuk pekerjaan yang kompleks dapat dilakukan dengan prakualifikasi. c. 17) Untuk pekerjaan jasa pemborongan (SKK) yang memiliki dan sisa sisa kemampuan keuangan cukup kemampuan paket (SKP). Prakualifikasi konsultansi wajib dan dilaksanakan untuk pengadaan jasa pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa Pusdiklatwas BPKP . Pascakualifikasi lainnya dari adalah penyedia proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu barang/jasa setelah memasukkan penawaran. 16) Tidak membuat pernyataan yang tidak benar tentang kompetensi dan kemampuan usaha yang dimilikinya. Pelaksanaan Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa Pada prinsipnya penilaian kualifikasi atas kompetensi dan kemampuan usaha peserta pelelangan umum.

metode dua sampul. penyampaian dokumen penawaran oleh calon penyedia barang/jasa pemerintah dapat menggunakan salah satu dari metode Pusdiklatwas BPKP . metode dua tahap. Panitia/pejabat pengadaan dapat melakukan prakualifikasi untuk pelelangan umum pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya yang bersifat kompleks.2007 117 . Metode Penyampaian Dokumen Penawaran Metode berikut ini. Pelaksanaan kualifikasi pengadaan barang/jasa pemerintah kompleks. metode satu sampul. b.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I lainnya yang menggunakan metode penunjukan langsung untuk pekerjaan langsung. a. pelelangan terbatas dan pemilihan secara ringkas dapat disajikan sebagai berikut. Metode pengadaan Tidak komplek Komplek Pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya Pelelangan umum Pelelangan terbatas Pemilihan langsung Penunjukan langsung Pascakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Pengadaan jasa konsultansi Seleksi umum Seleksi terbatas Seleksi langsung Penunjukan langsung Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Pasca atau prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi 5. c.

Metode Metode Evaluasi Penawaran Pada Pengadaan Barang/Jasa Pemborongan/Jasa Lainnya evaluasi penawaran. Dalam penyampaian dokumen penawaran dengan metode dua sampul. Metode Evaluasi Penawaran a. persyaratan administrasi dan teknis dimasukkan dalam sampul tertutup I. sesuai dengan jenis barang/jasa yang akan diadakan. yaitu: ƒ ƒ ƒ sistem gugur. dan penawaran harga yang dimasukan ke dalam satu sampul tertutup kepada panitia/pejabat pengadaan. Sistem gugur adalah evaluasi penilaian penawaran dengan cara memeriksa dan membandingkan dokumen penawaran terhadap pemenuhan persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen Pusdiklatwas BPKP . sedangkan harga penawaran dimasukkan dalam sampul tertutup II. Metode dua tahap adalah cara penyampaian dokumen penawaran yang persyaratan administrasi dan teknis dimasukkan dalam sampul tertutup I.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Metode satu sampul adalah cara penyampaian dokumen penawaran yang terdiri dari persyaratan administrasi. yang penyampaiannya dilakukan dalam dua tahap secara terpisah dan dalam waktu yang berbeda. teknis.2007 118 . sedangkan harga penawaran dimasukkan dalam sampul tertutup II. 6. selanjutnya sampul I dan sampul II dimasukkan ke dalam satu sampul (sampul penutup) dan disampaikan kepada panitia/pejabat pengadaan. sistem penilaian biaya selama umur ekonomis. dalam pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya dapat menggunakan salah satu dari tiga sistem yang ada. sistem nilai.

dan dibandingkan dengan jumlah nilai dari setiap penawaran peserta dengan penawaran peserta lainnya. yaitu: 1) metode evaluasi kualitas. sesuai dengan sifat jasa konsultansi yang akan diadakan. Pusdiklatwas BPKP . kemudian membandingkan jumlah nilai dari setiap penawaran peserta dengan penawaran peserta lainnya. dalam pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat menggunakan salah satu dari lima metode yang ada.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pemilihan penyedia barang/jasa dengan urutan proses evaluasi dimulai dari penilaian persyaratan administrasi. kemudian nilai unsur-unsur tersebut dikonversikan ke dalam satuan mata uang tertentu. Metode Evaluasi Penawaran Pada Pengadaan Jasa Konsultansi Metode evaluasi penawaran. Sistem penilaian biaya selama umur ekonomis adalah evaluasi penilaian penawaran dengan cara memberikan nilai pada unsur-unsur teknis dan harga yang dinilai menurut umur ekonomis barang dan yang ditawarkan berdasarkan kriteria nilai yang ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia tidak lulus penilaian pada setiap tahapan dinyatakan barang/jasa. terhadap penyedia barang/jasa yang gugur. persyaratan teknis dan kewajaran harga. b. Sistem nilai adalah evaluasi penilaian penawaran dengan cara memberikan nilai angka tertentu pada setiap unsur yang dinilai berdasarkan kriteria dan nilai yang telah ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa.2007 119 . 2) metode evaluasi kualitas dan biaya.

Metode evaluasi biaya terendah adalah evaluasi pengadaan jasa konsultansi berdasarkan penawaran biaya terkoreksinya terendah dari konsultan yang nilai penawaran teknisnya di atas ambang batas persyaratan teknis yang telah ditentukan.2007 120 . dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya. dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya. 4) metode evaluasi biaya terendah. Metode evaluasi pagu anggaran adalah evaluasi pengadaan jasa konsultansi berdasarkan kualitas penawaran teknis terbaik dari peserta yang penawaran biaya terkoreksinya lebih kecil atau sama dengan pagu anggaran. Sedangkan metode evaluasi penunjukan langsung adalah evaluasi terhadap hanya satu penawaran jasa konsultansi berdasarkan kualitas teknis yang dapat dipertanggungjawabkan dan biaya yang wajar setelah dilakukan klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3) metode evaluasi pagu anggaran. 5) metode evaluasi penunjukan langsung. Metode evaluasi kualitas dan biaya adalah evaluasi pengadaan jasa konsultansi berdasarkan nilai kombinasi terbaik penawaran teknis dan biaya terkoreksi dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya. Metode evaluasi kualitas adalah evaluasi penawaran jasa konsultansi berdasarkan kualitas penawaran teknis terbaik. Pusdiklatwas BPKP . dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya.

atau b) menetapkan keputusan yang disepakati bersama untuk melakukan evaluasi ulang atau lelang ulang atau menetapkan pemenang lelang.000. apabila PPK tidak sependapat dengan usulan panitia/pejabat pengadaan. dan dituangkan dalam berita acara yang memuat keberatan dan kesepakatan masing-masing pihak. maka PPK membahas hal tersebut dengan panitia/pejabat pengadaan untuk mengambil keputusan dari alternatif: a) menyetujui usulan panitia/pejabat pengadaan.00.000.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 7. melalui pengguna barang/jasa laporan tersebut disertai usulan calon pemenang dan penjelasan atau keterangan lain yang dianggap perlu sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan. atau c) bila akhirnya tidak tercapai kesepakatan. pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD dan bersifat Pusdiklatwas BPKP .000. Penetapan penyedia barang/jasa dan jenis kontrak a.2007 121 . 1) Untuk pengadaan barang/jasa yang bernilai sampai dengan Rp50. Ketentuan mengenai pejabat yang berwenang menetapkan penyedia barang/jasa pemerintah diatur sebagai berikut. Penetapan penyedia barang/jasa Panitia/pejabat pengadaan membuat dan menyampaikan laporan kepada pengguna barang/jasa atau kepada pejabat yang berwenang mengambil keputusan untuk menetapkan pemenang lelang. maka akan diputuskan oleh menteri/PanglimaTNI/Kapolri/Kepala Gubernur BI/ LPND/gubernur/bupati/walikota/Dewan final.

dengan catatan keberatan dari pengguna barang/jasa.000. atau b) menetapkan keputusan yang disepakati bersama untuk melakukan menteri/ evaluasi ulang atau lelang ulang.000.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Untuk pengadaan yang bernilai di atas Rp 50.000.000.2007 122 .00. untuk diputuskan dan bersifat final.000. apabila PPK tidak sependapat dengan usulan panitia/pejabat pengadaan.000. apabila pengguna barang/jasa dan/atau panitia/pejabat Bupati/ atau pengadaan pengadaan tidak sependapat dengan keputusan menteri/PanglimaTNI/Kapolri/KepalaLPND/gubernur/ BUMN/BUMD. LPND/ gubernur/bupati/walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/ direktur utama BUMN Pusdiklatwas BPKP . maka PPK membahas hal tersebut dengan panitia/pejabat pengadaan untuk mengambil keputusan: a) menyetujui usulan panitia/pejabat pengadaan untuk dimintakan persetujuan kepada menteri/PanglimaTNI/ Kapolri/Kepala /BUMD. dan dituangkan dalam berita acara serta dilaporkan kepada PanglimaTNI/Kapolri/Kepala LPND/gubernur/ bupati/ walikota/ Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/ direktur utama BUMN/BUMD. Kapolri/Kepala maka penetapan pemenang walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/direktur utama lelang keputusan lain diserahkan kepada menteri/PanglimaTNI/ LPND/gubernur/bupati/ walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD.00. atau 3) Apabila masih belum ada kesepakatan maka dilaporkan kepada menteri/PanglimaTNI/Kapolri/Kepala LPND/gubernur/ bupati/walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD. 4) Untuk pengadaan yang bernilai di atas Rp50.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I panitia/pejabat pengadaan pengadaan dan pengguna barang jasa tidak perlu melakukan perubahan berita acara evaluasi. sedangkan pembayarannya didasarkan pada hasil pengukuran bersama atas volume pekerjaan yang benar-benar telah dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa. Jenis kontrak Kontrak pengadaan barang/jasa berdasarkan bentuk imbalan dapat berupa: 1) kontrak lump sum. Kontrak lump sum adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu. dengan jumlah harga yang pasti dan tetap. Keputusan menteri/PanglimaTNI/Kapolri/Kepala Gubernur LPND/ gubernur/bupati/walikota/Dewan BI/pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD bersifat final. yang volume pekerjaannya masih bersifat perkiraan sementara. Kontrak gabungan lump sum dan harga satuan adalah kontrak yang merupakan gabungan lump sum dan harga satuan dalam satu pekerjaan yang diperjanjikan. 123 Pusdiklatwas BPKP . 4) kontrak terima jadi (turn key). 2) kontrak harga satuan. Kontrak harga satuan adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu. 5) kontrak persentase. berdasarkan harga satuan yang pasti dan tetap untuk setiap satuan/unsur pekerjaan dengan spesifikasi teknis tertentu. dan semua risiko yang mungkin terjadi dalam proses penyelesaian pekerjaan sepenuhnya ditanggung oleh penyedia barang/jasa. b.2007 . 3) kontrak gabungan lump sum dan harga satuan.

Kontrak tahun tunggal adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa satu tahun anggaran. Kontrak persentase adalah kontrak pelaksanaan jasa konsultansi di bidang konstruksi atau pekerjaan pemborongan tertentu. dimana konsultan yang bersangkutan menerima imbalan jasa berdasarkan persentase tertentu dari nilai pekerjaan fisik konstruksi/pemborongan tersebut. Kontrak tahun jamak adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa lebih dari satu tahun anggaran yang dilakukan atas persetujuan oleh Menteri Keuangan untuk pengadaan yang dibiayai APBN.2007 124 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Kontrak terima jadi adalah kontrak pengadaan barang/jasa pemborongan atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu dengan jumlah harga pasti dan tetap sampai seluruh bangunan/konstruksi. peralatan dan jaringan utama maupun penunjangnya dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan kriteria kinerja yang telah ditetapkan. Gubernur untuk pengadaan yang dibiayai APBD Propinsi. Pusdiklatwas BPKP . Kontrak pengadaan tunggal adalah kontrak antara satu unit kerja atau satu proyek dengan penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu. Bupati/Walikota untuk pengadaan yang dibiayai APBD Kabupaten/Kota. Kontrak pengadaan bersama adalah kontrak antara beberapa unit kerja atau beberapa proyek dengan penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu sesuai dengan kegiatan bersama yang jelas dari masing-masing unit kerja dan pendanaan bersama yang dituangkan dalam kesepakatan bersama.

Persiapan Pengadaan Barang dan Jasa Persiapan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah mencakup kegiatan berikut ini. persiapan pengadaan barang dana jasa pemerintah. PROSEDUR PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH Prosedur pengadaan barang dan jasa pemerintah meliputi kegiatan: 1. yaitu a. Beberapa hal dalam subbab ini akan dibahas dalam subab berikutnya. Penetapan sistem pengadaan barang/jasa pemerintah mencakup kegiatan penetapan metode metode pemilihan penyedia barang/jasa. b. 1. pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah. b.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I C. Penyusunan dokumen pengadaan. Pusdiklatwas BPKP . pelaksanaan dengan menggunakan penyedia barang/jasa. Perencanaan pengadaan barang/jasa pemerintah. pelaksanaan dengan swakelola. f.2007 125 . Secara rinci prosedur tersebut adalah sebagai berikut. penyampaian dokumen penawaran. Dokumen pengadaan mencakup dokumen pasca/prakualifikasi dan dokumen pemilihan penyedia barang/jasa. e. Penyusunan Harga Perkiraan Sendiri (HPS). 2. dan jenis kontrak yang sesuai dengan barang/jasa yang akan diadakan. Penetapan sistem pengadaan barang/jasa. Penyusunan jadwal pelaksanaan pengadaan. Pembentukan panitia pengadaan barang/jasa. d. a. Penyusunan jadwal pelaksanaan pengadaan harus memberikan waktu yang cukup untuk semua tahapan proses pengadaan. c.

pengumuman harus telah menyebutkan calon penyedia barang/jasa yang diyakini mampu. Dalam hal ini prosesnya akan meliputi: pengambilan dokumen prakualifikasi. hal tersebut tidak membatasi calon penyedia barang/jasa lain yang merasa mampu. penetapan dan pengumuman hasil prakualifikasi. Pengumuman dan Pendaftaran Peserta Pengumuman pengadaan barang dan jasa pemerintah harus dilakukan sesuai dengan metode metode pemilihan penyedia barang dan jasanya. Pusdiklatwas BPKP . seleksi umum. namun demikian.2007 126 . Urutan prosedur pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah dilakukan sesuai dengan metode menggunakan Penyedia Barang/Jasa pada pemilihan penyedia dasarnya akan barang/jasanya. Dalam pelelangan terbatas dan seleksi terbatas. Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah dapat dilaksanaan oleh penyedia barang/jasa atau dilaksanakan sendiri oleh pengguna anggaran (swakelola). penyerahan dokumen. Dalam hal sistem dan pengadaannya menggunakan dahulu metode sebelum prakualifikasi. b. Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa dengan dilaksanakan dengan urutan kegiatan sebagai berikut. evaluasi kualifikasi. a.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. masa sanggah kualifikasi. dan seleksi terbatas harus dimuat di surat kabar nasional. Pengumuman pengadaan barang/jasa dengan pelelangan umum. pelelangan terbatas. Penilaian Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa. maka atas calon penyedia barang/jasa dinilai kemampuan kompetensinya terlebih memasukkan penawaran.

menggunakan metode dokumen penawaran. Penjelasan Lelang (aanwwijziing) Pemberian penjelasan lelang dilakukan di tempat dan pada waktu yang ditentukan. Penyusunan Daftar Peserta dan Penyampaian Undangan Untuk pengadaan barang dan jasa selain jasa konsultansi. dan syarat-syarat lainnya. harus dijelaskan kepada peserta lelang mengenai: Metode penyelenggaraan pelelangan. maka semua calon penyedia barang/jasa yang merasa mampu dapat menyampaikan Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Sedangkan jika pengadaannya menggunakan metode pascakualifikasi maka penyerahan dokumen kualifikasi bersamsama dengan dokumen penawaran. e. pascakualifikasi. Dalam acara penjelasan lelang. Penyampaian dan Pembukaan Dokumen Penawaran Dalam metode peserta dokumen yang pengadaannya dengan prakualifikasi. peserta yang diundag adalah yang dimuat dalam daftar pendek (short list) peserta yang berisi sedikitnya 5 (lima) dan paling banyak 7 (tujuh) calon penyedia yang lulus prakualifikasi. dihadiri oleh para penyedia barang/jasa yang terdaftar dalam daftar peserta lelang. cara penyampaian penawaran.2007 127 . d. hanya lulus kualifikasi yang dapat jika menyampaikan pengadaannya Sedangakan penawaran. c. daftar peserta pengadaan sesuai dengan peserta prakualifikasi. sedangkan untuk seleksi umum. Pemberian penjelasan mengenai pasal-pasal dokumen pemilihan penyedia barang/jasa yang berupa pertanyaan dari peserta dan jawaban dari panitia /pejabat pengadaan serta keterangan lain termasuk perubahannya dan peninjauan lapangan. harus dituangkan dalam Berita Acara Penjelasan (BAP).

dan dokumen penawaran harga. dokumen teknis. pelelangan tidak dapat dilanjutkan dan harus diulang. Unsur dokumen penawaran yang dievaluasi meliputi: • • • kelengkapan data administrasi. Panitia/Pejabat pengadaan membuat simpulan dari hasil evaluasi administrasi. Urutan pembukaan dokumen dilakukan sesuai metode penyampaian dokumen yang ditetapkan. berdasarkan kriteria. teknis dan harga yang dituangkan dalam berita acara hasil pelelangan (BAHP).2007 128 . Bila penawaran yang masuk kurang dari tiga peserta. Hasil pembukaan dokumen penawaran dituangkan dalam Berita Acara yang ditandatangani oleh panitia/pejabat pengadaan dan dua orang wakil peserta lelang yang sah yang ditunjuk oleh para peserta lelang yang hadir. panitia/pejabat pengadaan dapat melakukan koreksi aritmatik terhadap semua penawaran yang masuk dan melakukan evaluasi sekurang-kurangnya tiga penawaran terendah setelah koreksi aritmatik.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pembukaan dokumen penawaran harus melibatkan sekurang- kurangnya dua wakil dari peserta pelelangan yang hadir sebagai saksi. BAHP memuat hasil pelaksanaan Pusdiklatwas BPKP . Pada tahap awal. metode. dan tatacara evaluasi yang telah ditetapkan dalam dokumen lelang. f. Evaluasi Penawaran Evaluasi dokumen penawaran adalah kegiatan panitia pengadaan dalam meneliti dan menilai semua dokumen penawaran yang disampaikan oleh calon penyedia barang/jasa. BAPP dibagikan kepada wakil peserta pelelangan yang hadir tanpa dilampiri dokumen penawaran. kemudian mengumumkan kembali dengan mengundang calon peserta lelang yang baru.

. Dalam hal terdapat dua calon pemenang lelang mengajukan harga penawaran yang sama. Penetapan Pemenang Apabila harga dalam penawaran telah dianggap wajar. serta telah sesuai dengan ketentuan maka panitia pengadaan menetapkan calon pemenang lelang yang paling menguntungkan dalam arti: 1) penawaran memenuhi syarat administratif dan teknis yang ditentukan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa. penawaran tersebut adalah yang terendah diantara penawaran yang memenuhi syarat administrasi. 2) perhitungan harga yang ditawarkan dapat dipertanggung jawabkan. dan hal ini dicatat dalam berita acara.2007 129 . BAHP ditandatangani oleh ketua dan semua anggota panitia/pejabat pengadaan atau sekurangkurangnya dua pertiga dari jumlah anggota panitia. teknis dan harga. Calon pemenang lelang harus sudah ditetapkan oleh panitia/pejabat pengadaan selambat-lambatnya tujuh hari kerja setelah pembukaan penawaran. termasuk cara penilaian. dan dalam batas ketentuan mengenai harga satuan yang telah ditetapkan. Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pelelangan. rumus-rumus yang digunakan. sampai dengan penetapan urutan pemenangnya berupa daftar peserta pelelangan yang dimulai dari harga penawaran yang terendah. 3) telah memerhatikan penggunaan semaksimal mungkin hasil produksi dalam negeri. g. maka panitia/pejabat pengadaan meneliti kembali data kualifikasi peserta yang bersangkutan. dan memilih peserta yang menurut pertimbangannya mempunyai kemampuan yang lebih besar.

cadangan urutan pertama dan cadangan urutan kedua. Pusdiklatwas BPKP . h.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Panitia/pejabat pengadaan membuat dan menyampaikan laporan kepada PPK untuk menetapkan pemenang lelang disertai usulan calon pemenang dan penjelasan atau keterangan lain yang dianggap perlu sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Segera setelah pejabat yang berwenang mengambil keputusan tentang penetapan pemenang lelang. panitia mengumumkannya kepada para peserta lelang.2007 130 . Sanggahan Peserta dan Pengaduan Masyarakat Peserta lelang yang keberatan atas penetapan calon pemenang lelang tersebut baik bertindak sendiri atau bersama-sama calon penyedia barang dapat mengajukan sanggahan secara tertulis secepat mungkin. Pengumuman Pemenang Pemenang lelang diumumkan dan diberitahukan oleh panitia/pejabat pengadaan kepada para peserta selambatlambatnya dua hari kerja setelah diterimanya Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) dari pejabat yang berwenang. Pemenang lelang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja untuk pengadaan sampai dengan Rp50 milyar dan 14 (empat belas) hari kerja untuk pengadaan di atas Rp50 milyar terhitung sejak surat usulan penetapan pemenang lelang tersebut diterima oleh pejabat yang berwenang menetapkan pemenang lelang. Sanggahan disampaikan kepada pimpinan instansi/pejabat pembuat komitmen/panitia secara tertulis disertai bukti-bukti terjadinya penyimpangan. i. Dalam pengumuman juga diberitahukan bahwa surat jaminan pelelangan dapat diambil kembali kecuali untuk peserta yang menang.

Penerbitan Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) Penunjukan pemenang lelang adalah keputusan definitif dari pengguna barang mengenai penunjukan pemenang lelang pengadaan barang dalam bentuk penerbitan SPPBJ.2007 131 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pejabat Pembuat Komitmen/Panitia/Pejabat Pengadaan wajib memberikan jawaban dan menyampaikan bahan-bahan yang berkaitan dengan sanggahan. baik secara tertulis maupun lisan kepada pejabat yang berwenang memberikan jawaban atas sanggahan tersebut. k. j. Penyedia barang yang ditunjuk menyiapkan jaminan pelaksanaan sesuai dengan ketentuan yang tercantum di dalam dokumen lelang. Penandatanganan Kontrak Tahap akhir dari rangkaian proses pelelangan adalah penandatanganan kontrak antara pengguna barang dengan penyedia barang/jasa yang ditunjuk. Apabila dalam waktu yang telah ditentukan tidak ada sanggahan dari peserta lelang. atau sanggahan yang disampaikan ternyata tidak benar maka pengguna menetapkan penunjukan pemenang lelang pengadaan barang dengan surat keputusan. Pusdiklatwas BPKP .

..... satu orang PNS di instansinya d. hal itu sangat keterlaluan.. Rabu 16 Agustus 2006) SOAL LATIHAN Pilihlah salah satu jawaban a.. a. Demikian halnya dengan adanya Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang atau Jasa Pemerintah juga harus bisa menjadi pedoman dalam pelaksanaan proyek pengadaan barang atau jasa pemerintah.. Jangan ada konspirasi dalam pengeluarannya... BAHAN DISKUSI DAN SOAL LATIHAN BAHAN DISKUSI Diskusikan artikel yang termuat pada salah satu harian berikut ini dari sisi pelaksanaan pedoman pengadaan barang/jasa instansi pemerintah..... menyederhanakan ketentuan dan tatacara dalam pelaksanaan pengadaan b..... Semua penting karena pemegang sertifikat bukan saja harus cakap dan menguasai aturan tentang proyek.. Oleh karena menjadi pimpro harus memiliki sertifikat khusus. 1. cakap dan sanggup melaksanakan proyek dengan baik serta penuh tanggung jawab. apalagi dengan unsur perjokian saat ujian untuk mendapatkannya.. satu orang PNS baik dari instansi sendiri atau dari instansi lain c.. kecuali …..... meningkatkan penerimaan negara melalui sektor perpajakan c. meningkatkan peran serta usaha kecil termasuk koperasi kecil Pejabat pengadaan terdiri dari... Pusdiklatwas BPKP ..... Bila di era sertifikasi sekarang ini masih ada pimpro dan aparat yang menyimpang dalam proyek.2007 132 .... b. satu orang pejabat struktural di instansinya 2.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I D. c atau d yang Saudara anggap paling benar. . pemberian sertifikatnya harus selektif... mengurangi impor barang jadi dari luar negeri d. a. tiga orang b.(Kompas. tetapi juga jujur terlebih dulu. . Berikut adalah kebijakan umum pengadaan barang/jasa...

a.000.. 7. pengguna barang/jasa d. memiliki integritas moral dan tanggungjawab b. Pengadaan barang/jasa pemborongan sampai nilai Rp50. di atas Rp100 juta b. tujuh penyedia barang/jasa d.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. wajib dilaksanakan oleh pejabat pengadaan c. a. prosedur dan metode pengadaan Yang tidak dilarang untuk diangkat menjadi panitia/pejabat pengadaan adalah …. sembilan penyedia barang/jasa 6. wajib dilaksanakan oleh panitia pengadaan b. 5.. tidak mempunyai hubungan keluarga dengan pejabat yang mengangkatnya d. pelelangan dan penunjukan langsung c. a. diserahkan kepada penyedia barang/jasa dan secara swakelola d. Pusdiklatwas BPKP . peneliti c. Bawasda Pengadaan barang/jasa pemerintah dilaksankan dengan dua cara yaitu…. pelelangan umum dan pelelangan terbatas b. tidak ada batasan nilai dibentuk untuk melaksanakan paket 4.000. a. Itjen. di atas RP50 juta c. a. sampai Rp50 juta d. dilaksanakan oleh panitia pengadaan bersama-sama dengan pejabat pengadaan d. dilakukan dengan cara.. tidak berstatus sebagai calon pejabat struktural c. melalui penunjukan langsung dan melalui swakelola Pelelangan umum diikuti sekurang-kurangnya …. a. 8. bendahara b.2007 133 . tiga penyedia barang/jasa b. lima penyedia barang/jasa c. dilaksanakan oleh panitia pengadaan atau oleh pejabat pengadaan Panitia pengadaan harus pengadaan yang bernilai…. Tidak termasuk persyaratan sebagai panitia/pejabat pengadaan adalah…. memahami isi dokumen. pegawai BPKP.

negosiasi awal d. memerlukan teknologi tinggi b. a.2007 134 . menggunakan peralatan yang didesain khusus berisiko tinggi d. pelelangan umum dilaksanakan dengan …. Tidak termasuk batasan pengertian pekerjaan bersifat komplek adalah…. tidak dapat diselesaikan dalam satu tahun anggaran Pusdiklatwas BPKP . bernilai di atas Rp 50 milyar c. negosiasi akhir 10. Untuk pekerjaan yang sifatnya tidak komplek. pasca kualifikasi c. prakualifikasi b.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 9. a.

Pusdiklat Anggaran BPLK Depkeu. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara Undang-Undang No. d. Sistem Tata Usaha Keuangan Indonesia. g. 1996. Komisi Penterjemah. f. Dr. Pusdiklatwas BPKP . Peraturan-peraturan: a. Goedhart C. Penerbit Jembatan. 3. 4. 2. Terjemahan oleh Ratmoko.2007 . e. 42 Tahun 2002 jo Keppres No. 72 tahun 2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Keputusan Presiden No.. b. i. 2 tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri Keputusan Presiden No. S. Komisi Penterjemah. Jakarta. h.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan Peraturan Pemerintah No. Depkeu. j. Bijloo J. keuangan dan Pengawasan Pembangunan. Anggaran Negara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I DAFTAR PUSTAKA 1. Garis-garis Besar Ilmu Keuangan Negara. Depkeu. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Undang-undang No. 1995. 1979. 1982. 1982. 5. 29 Tahun 2002 tentang APBN Tahun 2003 Undang-undang No. Jakarta. Modul 1: Kebijakan Umum Pengadaan Barang dan Jasa. Jakarta.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN 135 6. Kantor Menteri Negara Koordinator Bidang Ekonomi.. Perbendaharaan. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Undang-undang No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa instansi pemerintah beserta amandemen I s/d VII Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK. Wiemas AJGA. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 beserta Amandemennya Undang-undang nomor 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak Undang-undang No.H. c. Ali Tojib M. Drs. k.

7. Departemen Komunikasi dan Informatika. Republik Indonesia. Peraturan-peraturan tentang Pengelolaan Dana Pinjaman/Hibah Luar Negeri dari Bappenas dan Departemen Keuangan Panduan Bagi KPPN dan Bendahara Pemerintah sebagai Pemotong/Pemungut Pajak-Pajak Negara.2006 Pusdiklatwas BPKP . m.2007 136 . Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. o. Per-66/PB/2005 tentang Mekanisme Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Surat Edaran Direktur Jenderal Anggaran Nomor 136/A/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 42/2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN Surat Edaran Direktur Jenderal Anggaran Nomor 157/A/2002 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan APBN Peraturan-peraturan tentang Pengelolaan Setoran Penerimaan Negara Melalui Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi n. 8.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I l. Biro Keuangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful