DIKLAT PEMBENTUKAN AUDITOR TERAMPIL

PPA I
KODE MA : 1.150

PEDOMAN PELAKSANAAN ANGGARAN I

2007
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGAWASAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN EDISI KELIMA

Judul Modul
Penyusun

: Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Perevisi I Perevisi II Perevisi III Perevisi IV Pereviu Editor

: Drs. Achmad Sadji, M.M. Drs. Abdul Kadir R. Bambang S.W., Ak., M.B.A. Drs. Bistok Manurung : Drs. Achmad Sadji, M.M. Drs. Abdul Kadir R. : Drs. Sunarto : Nurharyanto, Ak : Sigit Susilo Broto, Ak., M Comm Suhartanto, Ak., M.M. : Linda Ellen Theresia, SE., M.B.A. : Rini Septowati, Ak., M.M.

Dikeluarkan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP dalam rangka Diklat Sertifikasi JFA Tingkat Terampil
Edisi Pertama Edisi Kedua (Revisi Pertama) Edisi Ketiga (Revisi Kedua) Edisi Keempat (Revisi Ketiga) Edisi Kelima (Revisi Keempat) : : : : : Tahun 1998 Tahun 2000 Tahun 2004 Tahun 2006 Tahun 2007

ISBN 979-95661-1-8 (no. jilid lengkap) ISBN 979-95661-2-6 (jilid 1)

Dilarang keras mengutip, menjiplak, atau menggandakan sebagian atau seluruh isi modul ini, serta memperjualbelikan tanpa izin tertulis dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP

Pusdiklatwas BPKP
Jln. Beringin II Pandansari, Ciawi Bogor 16720

ISBN 979-95661-1-8 ISBN 979-95661-2-6

2007 i .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pusdiklatwas BPKP .

..... 27 Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)...... 42 Dasar Hukum .... D............. C............. BAB IV A.......... 3 Metodologi Pemelajaran........................................................ E.................... DAFTAR ISI ................................... i BAB I PENDAHULUAN ................................ 56 Pusdiklatwas BPKP ......... B................................... F............... B... Latar Belakang ................... 14 MEKANISME PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN NEGARA ...................... 39 MEKANISME PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN PAJAK-PAJAK NEGARA OLEH BENDAHARA .......................... BAB III A....... 46 Bendahara Sebagai Pemotong Pph Pasal 22 ......................................... 4 BAB II PERSIAPAN PELAKSANAAN ANGGARAN ..................... 52 Bendahara Sebagai Pemotong Pph Pasal 23/26...... C. B.......... 1 A............................................ Penetapan Pejabat Pengelola Anggaran ...............................Pedoman Pelaksanaan Anggaran I DAFTAR ISI KATA PENGANTAR . 2 Tujuan Pemelajaran Khusus (TPK) ........................................................................................................................ 27 Penerimaan Perpajakan ............2007 ii ......... 53 Bendahara Sebagai Pemotong Ppn Dan Ppnbm ........ C.... 42 Kewajiban Dan Sanksi Perpajakan Bendahara ...... Error! Bookmark not defined..................................................................... 1 Tujuan Pemelajaran Umum (TPU)..... .................................................... D....... E................................................................................................... 6 A................. B................. 6 Penerbitan Dan Pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA) .......................................... 2 Deskripsi Singkat Struktur Modul .... 43 Bendahara Sebagai Pemotong Pph Pasal 21 Dan Pasal 26................................. 29 Penerimaan Pengembalian Belanja ......................................................................

.................................. E... BAB VI A............................................... C......125 Bahan Diskusi Dan Soal Latihan....... 91 POKOK-POKOK PENGADAAN BARANG DAN JASA INSTANSI PEMERINTAH ......................Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB V A... 95 Prinsip Dasar....100 Prosedur Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah................ 95 Pokok-Pokok Kebijakan Pengadaan Barang Dan Jasa Pemerintah ...........…........................................ Etika.. MEKANISME PELAKSANAAN BELANJA NEGARA ............. 71 Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Oleh Bendahara Umum Negara (BUN)/Kuasa BUN ................... D...... B..............................2007 iii ....................... D............................ Dan Ruang Lingkup Pengadaan Barang Dan Jasa ......... 90 Bahan Diskusi Dan Soal Latihan................…...................................... Kebijakan Umum........... C...................135 Pusdiklatwas BPKP .........……... 86 Pelaporan Realisasi Anggaran Belanja................. 60 Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran....... B.............. 60 Pedoman Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara.........................132 DAFTAR PUSTAKA…...........................................................…………………………………....................

Modul ini disusun untuk memenuhi materi pemelajaran pada Diklat Pembentukan Auditor Ahli di lingkungan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dengan jumlah jam pelatihan sebanyak 25 jam latihan. Dalam rangka terjadinya kesatuan pemahaman serta kesatuan langkah dalam pelaksanaan. Tahapan pelaksanaan anggaran ini dimulai ketika UU Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disahkan oleh DPR. pemerintah sebagai pelaksana dari UU APBN selanjutnya menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagai dasar hukum pelaksanaan APBN. khususnya terkait dengan Undang-undang Pusdiklatwas BPKP . Modul Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (PPA I) ini telah mengalami beberapa kali revisi dan penyempurnaan sejalan dengan perubahan ketentuan pengelolaan keuangan negara yang telah berkembang dan berubah secara signifikan. Pada saat ini keppres yang berlaku adalah Keppres nomor 42 tahun 2002. LATAR BELAKANG Pelaksanaan anggaran merupakan salah satu tahapan dari siklus anggaran yang dimulai dari pengesahan pelaksanaan anggaran oleh anggaran. Modul ini akan menguraikan pedoman pelaksanaan anggaraan APBN. sebagaimana ditetapkan dalam Pola Diklat Auditor Bagi Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah. penetapan dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). dan pengawasan anggaran pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB I PENDAHULUAN A. perencanaan anggaran.2007 1 .

1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan Undang-undang No. serta anggaran pembiayaan khususnya pembiayaan yang bersumber dari pinjaman luar negeri. menjelaskan persiapan pelaksanaan anggaran yang meliputi penetapan dan pengangkatan pejabat pengelola anggaran serta penerbitan DIPA sebagai dasar pelaksanaan anggaran. mekanisme pembayaran melalui uang persediaan. Undang-undang No. penerbitan Pusdiklatwas BPKP . 2. B.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I No. TUJUAN PEMELAJARAN UMUM (TPU) Tujuan pemelajaran umum modul ini adalah agar para auditor setelah mengikuti diklat ini diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara. menjelaskan mekanisme pemotongan/pemungutan pajak-pajak negara oleh bendahara. proses pencairan dana APBN dan proses penerbitan SPM. C.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.2007 2 .15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan Keputusan Presiden Nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN beserta ketentuan-ketentuan pelaksanaan anggaran yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN). TUJUAN PEMELAJARAN KHUSUS (TPK) Setelah mengikuti pelajaran ini. pajak (PNBP) dan penerimaan yang berasal dari penyelesaian kerugian keuangan negara. menjelaskan mekanisme pelaksanaan penerimaan negara yang meliputi: penerimaan sektor perpajakan. peserta diklat diharapkan akan mampu: 1. menjelaskan menjelaskan mekanisme pelaksanaan belanja negara. penerimaan negara bukan 3. 4.

oleh karena itu. sesuai dengan Keppres 80 tahun 2003.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I SP2D oleh KPPN serta memahami mekanisme pelaporan realisasi APBN. dilanjutkan dengan pembahasan tentang mekanisme pelaksanaan anggaran pendapatan dan mekanisme pelaksanaan anggaran belanja yang diuraikan dalam Bab III dan Bab V. Mekanisme penting yang perlu ditekankan dalam pelaksanaan anggaran ini adalah mekanisme pemotongan/pemungutan pajak oleh bendahara. 5. 6. karena alokasi anggaran belanja yang paling dominan pada instansi pemerintah adalah anggaran yang dialokasikan untuk pengadaan barang/jasa. Pembahasan mekanisme pengadaan barang dan jasa ini dianggap penting dan wajib diketahui bagi auditor. menjelaskan mekanisme pembiayaan APBN dengan sumber pembiayaan dari pinjaman/hibah luar negeri. 2002 persiapan dijelaskan Keppres tahun hingga penunjukkan dan penetapan penyedia langkah-langkah pelaksanaan anggaran yang diuraikan dalam Bab I.2007 3 . seorang auditor wajib memahami hal ini dan secara khusus mekanisme pengadaan barang/jasa ini dibahas dalam Bab VI. menjelaskan mekanisme pengadaan barang dan jasa. barang/jasa. Pembahasan modul PPA I ini akan diakhiri dengan pembahasan tentang pokok-pokok pengadaan barang dan jasa instansi pemerintah. DESKRIPSI SINGKAT STRUKTUR MODUL Modul ini membahas pedoman pelaksanaan anggaran baik dari sisi administrasi sebagaimana pembahasan maupun telah akan teknis diawali substansi dalam dengan pelaksanaan 42 anggaran. mekanisme ini akan secara khusus dibahas dalam Bab IV. sejak proses persiapan. oleh karena itu. Pusdiklatwas BPKP . D.

Bab I Bab II Bab III Bab IV : Pendahuluan : Persiapan Pelaksanaan Anggaran : Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Pendapatan : Mekanisme Pemotongan/Pemungutan Pajak Negara oleh Bendahara Bab V Bab VI : Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Belanja : Pokok-Pokok Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah Guna menghindari kesalahan interpretasi terhadap materi pemelajaran yang tercantum dalam modul ini. perkembangan perubahan peraturan pelaksanaan teknis di bidang pengelolaan anggaran yang dikeluarkan oleh instansi terkait seperti Menteri Keuangan c. dan ketentuan lainnya merupakan pelengkap yang tidak terpisahkan dari materi modul ini. Metode pemelajaran ini menerapkan Pusdiklatwas BPKP . maka terdapat beberapa batasan yang digunakan dalam revisi modul ini.2007 4 . Dengan metode ini. E. substansi proses modul belajar Pedoman mengajar Pelaksanaan menggunakan pendekatan andragogi. yaitu: 1. Ditjen Anggaran dan Perimbangan Keuangan Daerah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Secara sistematis. peserta dipacu untuk berperan serta secara aktif melalui komunikasi dua arah. METODOLOGI PEMELAJARAN Agar peserta mampu Anggaran memahami I (PPA I). 2.q Ditjen Perbendaharaan. modul ini lebih menitikberatkan pada sisi anggaran pendapatan dan belanja pada instansi pemerintah pusat (APBN). urutan pembahasan dalam modul ini sebagai berikut.

modul ini dilengkapi pula dengan soal-soal teori dan pertanyaan kasus/bahan diskusi. Untuk lebih membantu pemahaman peserta. dan diskusi pemecahan kasus. Dalam proses ini peserta diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan pendapat. tanya jawab.2007 5 . Agar proses pendalaman materi dapat berlangsung dengan lebih baik. Pusdiklatwas BPKP . Instruktur akan membantu peserta dalam memahami materi dengan metode ceramah dan pembahasan contoh kasus.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I kombinasi proses belajar mengajar dengan cara ceramah. dilakukan pula diskusi kelompok sehingga peserta benar-benar dapat secara aktif terlibat dalam proses belajar mengajar.

langkah pertama yang dilakukan dalam tahap pelaksanaan anggaran meliputi penetapan pejabat pengelola anggaran serta penerbitan dan pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA) sebagai dasar hukum pelaksanaan anggaran bagi masing-masing kementerian/lembaga dan instansi pemerintah lainnya. PENETAPAN PEJABAT PENGELOLA ANGGARAN Sistem Administrasi Keuangan Perbendaharaarn Negara. Ketika Undang-Undang tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disetujui oleh DPR dan ditetapkan sebagai UndangUndang APBN. Pada saat ini. peserta diklat diharap mampu menjelaskan persiapan pelaksanaan anggaran yang meliputi penetapan dan pengangkatan pejabat pengelola anggaran serta penerbitan DIPA sebagai dasar pelaksanaan anggaran. maka selesailah tahapan kedua dari siklus anggaran yaitu tahapan penetapan dan pengesahan UU APBN oleh DPR. sesuai dengan UU 17 tahun pemisahan fungsi pejabat 2003 tentang Keuangan Negara dan UU 1 tahun 2004 tentang mengatur pengelola keuangan negara yang terdiri dari: Menteri Keuangan selaku kewenangan Presiden selaku kepala pemerintah yang untuk melaksanakan seluruh kebijakan yang telah tertuang dalam undang-undang Pusdiklatwas BPKP . dimulailah tahap ketiga yaitu tahap pelaksanaan anggaran (APBN) merupakan tersebut. Pada awal tahun anggaran. A.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB II PERSIAPAN PELAKSANAAN ANGGARAN Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. Negara.2007 6 .

1.2007 7 . Pengurusan Komtabel comptabel beheer Pelaksanaan anggaran selanjutnya secara teknis dilakukan oleh kementerian dan lembaga terkait dengan menteri/pimpinan lembaga sebagai pengguna anggaran/pengguna barang. Struktur Organisasi dan pejabat yang berwenang dalam [pengelolaan keuangan negara dapar digambarkan sebagai berikut. sementara Pimpinan Kementerian/Lembaga selaku Pengguna Anggaran (Chief Operational Officer /COO). 3. Pada awal tahun anggaran. menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran menetapkan para pejabat di lingkungannya yang ditunjuk sebagai: 1. KEWENANGAN FUNGSI ADMINISTRASI MENURUT UU No. pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja negara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Manajer Keuangan Negara (Chief Financial Officer /CFO) dan Bendahara Umum Negara (BUN). Pusdiklatwas BPKP . 1 Tahun 2004 Menteri Teknis Selaku Pengguna Anggaran Menteri Keuangan Selaku Bendahara Umum Negara PEMBUATAN PENGUJIAN & KOMITMEN PEMBEBANAN PERINTAH PEMBAYARAN PENGUJIAN & PEMBEBANAN PERINTAH PENCARIAN DANA Pengurusan Administrasi administrasi beheer Gambar 2. kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang. 2. pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara (PNBP).

sebagaimana seorang pejabat eselon IV (kuasa BUN) di KPPN menandatangani SP2D atas nama Menteri Keuangan/Bendahara Umum Negara.2007 8 . 5. bendahara penerimaan untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran penerimaan. Selanjutnya merujuk pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 606/PMK. Dari flow chart di atas. Ditjen Roren Policy Formula Rokeu Policy Implementation SPP KPPN voucher SPP Gambar 2. pejabat yang bertugas melakukan pengujian dan perintah pembayaran. 5. 6.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4. tampak bahwa kewenangan pengguna anggaran dapat dikuasakan kepada eselon/pejabat yang lebih rendah yakni dari menteri teknis sampai dengan kepada eselon IV (kuasa pengguna anggaran).606/2004 tentang Pedoman Pembayaran dalam pelaksanaan Pusdiklatwas BPKP .2. bendahara pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran belanja. Dengan ketentuan: pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja (butir 3) tidak boleh merangkap sebagai pejabat sebagaimana pada butir 4. dan 6. Perbandingan Kewenangan Pengguna Anggaran Menteri Teknis Menteri Keuangan Ditjen Setjen DJAPK Policy Formula DJPb Policy Implementation Set.

3.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I APBN Tahun 2005 dan Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-050/PB/2004 bahwa menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran menerbitkan keputusan tentang penunjukan: 1. Gambar di bawah ini. bendahara pengeluaran. STRUKTUR ORGANISASI PENGELOLA KEUANGAN NEGARA (IDEAL MENURUT UU) MENTERI PENGGUNA ANGGARAN SATKER KUASA PENGGUNA ANGGARAN PEMBUAT KOMITMEN BENDAHARA PENGUJI TAGIHAN PENERBIT SPM UNIT AKUNTANSI INSTANSI Pusdiklatwas BPKP . pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran. kuasa pengguna anggaran. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.2007 9 . dengan catatan tidak diperkenankan perangkapan jabatan pembuat komitmen dengan jabatan bendahara pengeluaran. Gambar 2. menjelaskan suatu struktur organisasi yang ideal menurut amanah UU No. 2. pejabat yang diberi kewenangan untuk menerbitkan dan menandatangani SPM. 4. 3. Keputusan tersebut bertujuan menyerahkan sepenuhnya kewenangan menteri teknis.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Gambar 2.4.

SATUAN KERJA (Satker) - PUSAT DIPA Satker 1. eselon 2 Kegiatan a Kegiatan b 2. eselon 2 Kegiatan 3. eselon 2 .. Dst. 1 DIPA 1 ESELON 1 1 PROVINSI

SATUAN KERJA (Satker) - PUSAT
1 DIPA 1 ESELON 1 1 PROVINSI

DIPA Satker a Kegiatan a Kegiatan b Satker b Kegiatan a Kegiatan b …Dst

Pusdiklatwas BPKP - 2007

10

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Gambar 2.5.

KEMENTERIAN NEGARA
SATKER KUASA PENGGUNA ANGGARAN

SETJEN DITJEN
ESELON 2 KUASA PENGGUNA ANGGARAN

BADAN IRJEN
ESELON 3 KUASA PENGGUNA ANGGARAN

Gambar 2.6. TINGKAT SEKRETARIAT JENDERAL DEPARTEMEN/LEMBAGA SEKJEN
KUASA PENGGUNA ANGGARAN

KEPALA BIRO

KARO KEUANGAN

KEPALA BIRO

PEMBUAT KOMITMEN

BENDAHARA

PENGUJI TAGIHAN

PENERBIT SPM

UNIT AKUNTANSI

Pusdiklatwas BPKP - 2007

11

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Gambar 2.7 TINGKAT DIREKTORAT JENDERALKEMENTERIAN/ LEMBAGA DITJEN
KUASA PENGGUNA ANGGARAN

DIREKTUR

SEK.DITJEN

DIREKTUR

PEMBUAT KOMITMEN

BENDAHARA

PENGUJI TAGIHAN

PENERBIT SPM

UNIT AKUNTANSI INSTANSI

Gambar 2.8. TINGKAT INPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN / LEMBAGA

IRJEN KPA

INSPEKTUR

SEK. ITJEN

INSPEKTUR

PEMBUAT KOMITMEN

BENDAHARA

PENGUJI TAGIHAN

PENERBIT SPM

UNIT AKUNTANSI

Pusdiklatwas BPKP - 2007

12

10.9. INSTANSI BADAN PADA KEMENTERIAN/ LEMBAGA BADAN KPA DEPUTI/KA PUSAT SEKBADAN DEPUT/KAPUS PEMBUAT KOMITMEN BENDAHARA PENGUJI TAGIHAN PENERBIT SPM UNIT AKUNTANSI Gambar 2.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Gambar 2. TINGKAT ESELON II PADA KEMENTERIAN / LEMBAGA: ESELON 2 KUASA PENGGUNA ANGGARAN KEPALA BIDANG KABAG. UMUM KEPALA BIDANG PEMBUAT KOMITMEN BENDAHARA PENERBIT SPM PEMBUAT KOMITMEN PENGUJI TAGIHAN UNIT AKUNTANSI INSTANSI Pusdiklatwas BPKP .2007 13 .

fungsi. sasaran program.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Gambar 2. rincian kegiatan/sub kegiatan. jenis belanja. PENERBITAN DAN PENGESAHAN DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA) 1. Konsep DIPA Pelaksanaan anggaran pada setiap instansi pemerintah didasarkan pada sebuah dokumen yang disebut Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Dengan demikian dokumen DIPA yang lengkap terdiri dari: Pusdiklatwas BPKP . DIPA merupakan suatu daftar isian yang memuat uraian: sasaran yang hendak dicapai.2007 14 . rencana penarikan dana tiap-tiap bulan dalam satu tahun serta pendapatan yang diperkirakan oleh kementerian/lembaga. kelompok mata anggaran keluaran dan rencana penarikan dana serta perkiraan penerimaan kementerian negara/lembaga. DIPA yang lengkap memuat uraian fungsi/sub fungsi. program. program dan rincian kegiatan. 11 TINGKAT ESELON III PADA KEMENTERIAN/LEMBAGA ESELON 3 KUASA PENGGUNA ANGGARAN KEPALA SEKSI PEMBUAT KOMITMEN KASUBAG TU PENERBIT SPM KEPALA SEKSI BENDAHARA PENGUJI TAGIHAN PENGUJI TAGIHAN UNIT AKUNTANSI INSTANSI B.

Lebih jauh. Memuat informasi tentang rencana penarikan dana dan penerimaan negara bukan pajak yang menjadi tanggung jawab setiap satuan kerja. program dan sasarannya serta indikator keluaran untuk masing-masing kegiatan. 17/2003 menyatakan bahwa anggaran belanja negara dibagi atas unit organisasi. kegiatan dan jenis belanja. fungsi. fungsi dan jenis belanja. Struktur Penganggaran Masing-masing kementerian negara/lembaga dibagi dalam tingkat eselon I. Selanjutnya informasi yang terdapat dalam DIPA dapat dijelaskan sebagai berikut.2007 15 . dalam pasal 15 undang-undang yang sama menyatakan bahwa anggaran yang disetujui oleh DPR dirinci dalam unit organisasi. Dalam pasal 11 ayat 5 UU No. Memuat informasi yang bersifat umum dari setiap satuan kerja tentang rincian fungsi. Memuat informasi setiap satuan kerja tentang uraian kegiatan/sub kegiatan. program. Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Surat Pengesahan DIPA DIPA halaman I (Umum) DIPA halaman II DIPA halaman III DIPA halaman IV Pengesahan DIPA yang ditandatangani Dirjen Perbendaharaan atau Kepala Kanwil DJPB atas nama Menteri Keuangan. volume keluaran yang hendak dicapai serta alokasi dana pada masing-masing belanja yang dicerminkan dalam mata anggaran keluaran. Memuat catatan tentang hal-hal yang perlu menjadi perhatian oleh pelaksana kegiatan. a.

2) Fungsi dan Sub Fungsi Klasifikasi anggaran dibagi menurut fungsi. Pelaksanaan. hal ini akan sangat membantu dalam penyusunan struktur program dan kegiatan. monitoring. dan pelaporan anggaran akan menjadi suatu sinergi yang positif apabila ada sinkronisasi antara struktur program dan kegiatan dengan struktur organisasinya. anggaran merupakan anggaran berdasarkan organisasi antara lain menurut kementerian negara/lembaga.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 1) Organisasi dan Bagian Anggaran Klasifikasi organisasi yang digunakan dalam anggaran belanja negara adalah sesuai unit yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan suatu program.2007 16 . walaupun tetap ada sedikit kesulitan apabila program dimaksud dilaksanakan Bagian secara lintas unit organsasi klasifikasi dan lintas kementerian negara/lembaga. Sub fungsi merupakan penjabaran fungsi yang dirinci ke dalam 79 (tujuh puluh sembilan) sub fungsi. Fungsi adalah perwujudan tugas kepemerintahan di bidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional. Dengan demikian tanggung jawab dan kewenangan akan lebih jelas bagi para manajer. unit eselon II dan unit eselon III yang bertanggung jawab terhadap suatu pelaksanaan kegiatan pendukung program. Pusdiklatwas BPKP . Penggunaan fungsi dan sub fungsi disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing kementerian negara/lembaga.

kegiatan kementerian keuangan. MPR. statistik mengenai politik dalam negeri. dan penyediaan dan penyebaran informasi dokumentasi. bupati/walikota dan lain-lain. utang pemerintah. semua tingkatan lembaga DPR. penasehat. misi-misi internasional dll. operasi atau dukungan untuk lembaga eksekutif. dokumentasi.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Contoh sub fungsi 01. termasuk kegiatan kantor kepala eksekutif pada semua level: legislatif: Presiden. lembaga gubernur. legislatif. administrasi. penyediaan dan penyebaran informasi.01. kegiatan politik dalam negeri.2007 17 . komite antar departemen dan lain-lain yang terkait dengan fungsi tertentu (diklasifikasikan sesuai dengan fungsi masing-masing). pembayaran cicilan utang dan berbagai kewajiban pemerintah sehubungan dengan Pusdiklatwas BPKP . semua badan atau kegiatan yang bersifat tetap atau sementara yang ditujukan untuk membantu lembaga eksekutif dan legislatif. serta staf yang ditunjuk secara politis untuk membantu lembaga eksekutif dan legislatif. Presiden. Wakil DPRD. lembaga eksekutif dan legislatif. manajemen kas negara. kegiatan luar negeri termasuk Menteri Luar Negeri. kegiatan keuangan dan fiskal dan pelayanan pada seluruh tingkatan pemerintah. keuangan dan fiskal serta urusan luar negeri digunakan untuk: administrasi. kegiatan diplomat. sub fungsi ini (01. keuangan dan fiskal. operasional perpajakan.01) tidak termasuk untuk kantorkantor kementerian baik di pusat maupun di daerah. statistik keuangan dan fiskal.

Sub kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian sasaran dan tujuan kegiatan tersebut. 3) Program Program adalah penjabaran kebijakan kementerian negara/lembaga dalam bentuk upaya yang berisi satu atau beberapa kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi kementerian negara/lembaga.2007 18 . baik yang berupa personil (sumber daya manusia). atau kombinasi dari beberapa atau semua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I utang pemerintah. barang modal termasuk peralatan dan teknologi. Timbulnya sub kegiatan adalah sebagai konsekuensi adanya perbedaan jenis dan satuan keluaran antar sub kegiatan dalam kegiatan dimaksud. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sub kegiatan yang satu dipisahkan dengan sub kegiatan lainnya berdasarkan perbedaan keluaran. Contoh : Kegiatan pendidikan dan pelatihan aparatur negara dengan sub kegiatan: Pusdiklatwas BPKP . dana. yang terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya. bantuan pemerintah RI kepada negara lain dalam rangka bantuan ekonomi. 4) Kegiatan dan Sub Kegiatan Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

penyelenggaraan jumlah peserta didik;

Diklat

Penjenjangan

Jabatan

Fungsional Auditor (JFA) dengan keluaran antara lain: • • penyelenggaraan Diklat Fungsional dengan keluaran antara lain: jumlah lulusan; pengembangan kurikulum diklat dengan keluaran antara lain: jumlah modul. 5) Jenis Belanja Klasifikasi anggaran menurut jenis belanja dibagi ke dalam delapan kategori sebagai berikut. a) Belanja pegawai yaitu kompensasi dalam bentuk uang maupun barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah yang bertugas di dalam maupun di luar negeri sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan. Dikecualikan untuk pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. Belanja ini antara lain digunakan untuk gaji dan tunjangan, honorarium, vakasi, lembur dan kontribusi sosial. b) Belanja barang yaitu pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memroduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan. Belanja ini antara lain digunakan untuk pengadaan barang dan jasa, pemeliharaan, dan perjalanan. c) Belanja Modal yaitu pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal. Dalam belanja ini termasuk untuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jaringan, maupun dalam bentuk fisik lainnya, seperti buku, binatang dan lain sebagainya.
Pusdiklatwas BPKP - 2007

19

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

d) Beban Bunga yaitu pembayaran yang dilakukan atas kewajiban penggunaan pokok utang (principal

outstanding), baik utang dalam negeri maupun utang
luar negeri yang dihitung berdasarkan posisi pinjaman. e) Subsidi yaitu alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi, menjual, mengekspor, atau mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak, sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat terjangkau oleh masyarakat. Belanja ini antara lain digunakan untuk penyaluran subsidi kepada perusahaan negara dan perusahaan swasta. f) Bantuan Sosial yaitu transfer uang atau barang yang diberikan kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya risiko sosial. Bantuan sosial dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atau lembaga kemasyarakatan. Bantuan ini antara lain untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. g) Hibah yaitu transfer dana yang sifatnya tidak wajib kepada negara lain atau kepada organisasi internasional. Belanja ini antara lain digunakan untuk hibah kepada pemerintah luar negeri dan organisasi internasional. h) Belanja lain-lain yaitu pengeluaran/belanja

pemerintah pusat yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam jenis belanja pada huruf a) sampai dengan huruf g) tersebut di atas.

Pusdiklatwas BPKP - 2007

20

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Dalam (non

pengalokasian

dana

oleh

kementerian

negara/lembaga harus memerhatikan pagu yang terikat

discretionary) dan pagu yang tidak terikat

(discretionary) yang telah disepakati oleh pemerintah bersama-sama DPR. Pagu terikat adalah jumlah dana yang tidak dapat diubah selain untuk belanja yang sudah ditentukan antara lain pagu pembayaran gaji dan tunjangan (belanja pegawai) serta biaya langganan daya dan jasa. Sesuai dengan ketentuan UU No. 17 Tahun 2003 bahwa belanja negara digunakan pemerintah klasifikasi pusat untuk dan keperluan pelaksanaan jenis belanja penyelenggaraan daerah, maka

perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan dan berdasarkan diupayakan untuk memenuhi ketentuan tersebut. b. Lokasi DIPA juga menginformasikan lokasi pelaksanaan kegiatan/sub kegiatan, yaitu dengan memberikan informasi alamat pelaksanaan kegiatan seperti provinsi, kabupaten, kota atau lokasi di luar negeri. 2. Prosedur Penyelesaian DIPA a. Prosedur Penyelesaian DIPA di Pusat Prosedur penelaahan dan penyusunan DIPA di pusat diatur sebagai berikut. 1) Setelah keputusan presiden tentang Rincian APBN diterbitkan, dan data Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) diterima dari Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan (DJAPK), Direktorat Pelaksanaan Anggaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan

Pusdiklatwas BPKP - 2007

21

Rincian tersebut meliputi kegiatan yang akan dilaksanakan di kantor pusat dan di daerah termasuk kegiatan dekonsentrasi dan tugas pembantuan.2007 22 . ii) rencana kerja dan anggaran satuan kerja pada kementerian negara/lembaga. konsep surat pengesahan DIPA/konsep DIPA. Kanwil DJPBN segera menyampaikan copy SRAA kepada Kantor Daerah Kementerian Negara/Lembaga atau satker pelaksana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk menyusun Konsep DIPA dan segera melakukan koordinasi dengan semua satker di wilayah pembinaannya. Pusdiklatwas BPKP . PA DJPBN melakukan penelaahan DIPA yang diajukan kementerian negara/lembaga dengan mengacu kepada: i) alokasi anggaran yang ditetapkan Presiden. b. Prosedur Penyelesaian DIPA di Daerah Prosedur penelaahan dan penyusunan DIPA di daerah diatur sebagai berikut. dan dokumen pendukung untuk diteliti lebih lanjut. 2) Petugas penelaah Dit. PA DJPBN) segera menghubungi membuat kegiatan kementerian perincian akan yang negara/lembaga pelaksanaan untuk segera untuk anggaran dilaksanakan. Setelah Surat Rincian Alokasi Anggaran (SRAA) diterima dari Kantor Pusat DJPBN. Kemudian memberitahukan kepada satker-satker untuk segera menyusun konsep DIPA yang selanjutnya disampaikan kepada Kanwil DJPBN beserta disketnya.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (Dit. PA DKBN dan kementerian negara/lembaga melakukan penelaahan semua kegiatan yang tertuang dalam DIPA dan melampirkan: catatan pembahasan. 3) Petugas penelaah Dit.

Untuk belanja pegawai. agar memerhatikan kebutuhan berdasarkan rencana pelaksanaan kegiatan.2007 23 . Untuk belanja modal. 4. c. Penelahaan DIPA dilakukan secara bersamaan Pusdiklatwas BPKP . Rencana Penarikan Dana Dalam hal pencantuman angka rencana penarikan dana pada halaman III DIPA berdasarkan rencana kerja satker perlu memerhatikan hal-hal sebagai berikut. agar memerhatikan batas penarikan dana triwulan. Lima digit pertama merupakan sub kelompok pendapatan. Penetapan DIPA dan SP DIPA Dalam penetapan DIPA dan Surat Pengesahan DIPA (SP DIPA) dikategorikan sebagai berikut. c. Enam digit merupakan mata anggaran penerimaan (MAP) Contoh: − kelompok pendapatan 423 untuk PNBP lainnya. b. Tiga digit pertama merupakan kelompok pendapatan. 5. a. − subkelompok pendapatan 42315 untuk pendapatan jasa II. rencana penarikan dana per bulan adalah seperdua belas dari pagu gaji 1 tahun. a. Untuk belanja barang. b. DIPA Kantor Pusat DIPA Kantor Pusat adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanaannya dilakukan oleh kantor pusat kementerian negara/lembaga. Rencana Pendapatan Penatausahaan pendapatan dimulai dari satuan kerja dikoordinasikan oleh kementerian negara/lembaga dengan mengikuti kelompok pendapatan sebagai berikut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. − MAP 423154 untuk pendapatan jasa catatan sipil. a.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

antara

Direktorat

Pelaksanaan

Anggaran

DJPBN

dengan

kementerian negara/lembaga terkait. Menteri/pimpinan lembaga atau pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA, dan Dirjen Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP DIPA. b. DIPA Kantor Daerah DIPA Kantor Daerah adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanaannya dilakukan oleh kantor daerah/instansi vertikal kementerian negara/lembaga. Penelahaan DIPA dilakukan secara bersama antara Kanwil DJPBN dengan kantor daerah/intansi vertikal kementerian negara/lembaga. Kepala kantor daerah/instansi vertikal kementerian negara/lembaga atau pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA, dan Kanwil DJPBN atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP DIPA. c. DIPA Dalam Rangka Pelaksanaan Dekonsentrasi DIPA dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanaannya dilimpahkan kepada gubernur. Penelahaan DIPA dilakukan secara bersama antara Kanwil DJPBN dengan dinas terkait atas nama gubernur. Gubernur atau kepala dinas atau pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA, dan Kanwil DJPBN atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP DIPA. d. DIPA Dalam Rangka Pelaksanaan Tugas Pembantuan DIPA dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan adalah dokumen ditugaskan Pelaksanaan pelaksanaan kepada anggaran yang pelaksanaannya daerah. gubernur/bupati/walikota/kepala DJPBN dengan

Penelaahan DIPA dilakukan secara bersama antara Direktorat Anggaran kementerian negara/lembaga terkait. Menteri/pimpinan lembaga atau pejabat

Pusdiklatwas BPKP - 2007

24

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

yang DIPA.

ditunjuk

menetapkan

DIPA,

dan

Direktur

Jenderal

Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP

6. Revisi DIPA DIPA yang sudah disahkan oleh DJPBN atau Kepala Kanwil DJPBN apabila diperlukan dapat dilakukan revisi oleh satker yang bersangkutan dan selanjutnya diajukan kepada DJPBN atau Kanwil DJPBN untuk ditelaah dan disahkan, dengan catatan sebagai berikut. a. Dapat dilakukan realokasi dana antar sub kegiatan dalam satu kegiatan. b. Dapat dilakukan perubahan volume keluaran pada sub kegiatan tanpa merubah alokasi dana kegiatan dan masih sesuai dengan sasaran kegiatan dan atau sasaran program. c. Dapat dilakukan realokasi dana antar MAK dalam satu jenis belanja sepanjang tidak mengurangi: 1) gaji dan berbagai tunjangan yang melekat dengan gaji: 2) belanja untuk langganan listrik, telepon, gas dan air; 3) pembayaran untuk berbagai tunggakan; 4) alokasi untuk dana pendamping PHLN; 5) belanja barang untuk pengadaan bahan makanan (MAK 52 1113). d. Dalam revisi DIPA tidak diperkenankan ada perubahan terhadap: 1) pagu untuk masing-masing unit organisasi; 2) pagu untuk masing-masing kegiatan dan masing-masing jenis belanja; 3) pagu untuk lokasi provinsi; 4) kegiatan dan program.

Pusdiklatwas BPKP - 2007

25

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Revisi DIPA yang menyebabkan realokasi dana antar satuan kerja dapat dilakukan oleh pimpinan unit organisasi (unit eselon I untuk tingkat pusat atau kanwil/koordinator satker untuk tingkat daerah) dan selanjutnya diajukan kepada DJPBN atau Kanwil DJPBN untuk diteliti dan disahkan. Terhadap revisi DIPA yang menyebabkan perubahan dalam butir 6.d.1 sampai dengan 4, harus mendapat persetujuan DPR melalui DJAPK. Keputusan atas perubahan tersebut disampaikan kepada instansi terkait. 7. Aktivitas Terkait Setelah DIPA disahkan, maka unit organisasi/satuan kerja dapat menerbitkan petunjuk pelaksanaan sebagai pedoman pelaksanaan lebih lanjut dari DIPA. Penyelesaian DIPA, mulai dari penyusunan konsep DIPA oleh kementerian negara/lembaga sampai dengan pengesahan DIPA oleh Dirjen Perbendaharaan atau Kepala Kanwil DJPBN agar memerhatikan waktu yang tersedia.

Pusdiklatwas BPKP - 2007

26

penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan penerimaan yang berasal dari penyelesaian kerugian keuangan negara.2007 27 . PENERIMAAN PERPAJAKAN Penerimaan perpajakan adalah semua penerimaan negara yang terdiri dari penerimaan pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. penerimaan negara bukan pajak. Salah satu hak pemerintah pusat adalah menggali sumber-sumber penerimaan bagi negara untuk membiayai berbagai belanja/pengeluaran negara yang berkaitan dengan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan. pajak pertambahan nilai barang/jasa dan pajak penjualan atas barang mewah. Sedangkan menurut UU nomor 18 tahun 2006 tentang APBN Tahun Anggaran 2007 manyatakan bahwa pendapatan negara dan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari perpajakan. pajak bumi dan bangunan. peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pelaksanaan penerimaan negara yang meliputi: penerimaan sektor perpajakan. bea perolehan hak atas tanah dan Pusdiklatwas BPKP . serta penerimaan hibah dalam negeri dan luar negeri. Penerimaan perpajakan dalam negeri meliputi semua penerimaan negara yang berasal dari pajak penghasilan. A.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB III MEKANISME PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN NEGARA Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. UU nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan negara menyatakan bahwa pendapatan negara merupakan hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih.

Pada prinsipnya. Dalam mekanisme ini diterapkan Sistem Self-Assessment yaitu sistem penerimaan perpajakan yang mengatur wajib pajak untuk menghitung pajaknya sendiri. diuraikan dalam Bab IV) Selanjutnya dalam rangka meningkatkan intensifikasi penerimaan (Mekanisme pemotongan dan pemungutan pajak oleh bendahara selanjutnya akan pajak. Sedangkan. cukai dan pajak lainnya. dilakukan sesuai dengan mekanisme perpajakan sesuai dengan UU Nomor 28 tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas UU Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Perpajakan. Pusdiklatwas BPKP . BUMN/BUMD dan badan lainnya ditetapkan sebagai wajib pungut. penerimaan uang negara dari perpajakan wajib disetorkan oleh wajib pajak dan atau wajib pungut ke kas negara pada bank pemerintah atau lembaga lain yang ditetapkan oleh Menteri keuangan. BUMN/BUMD serta badan lainnya diwajibkan untuk memberikan informasi perpajakan kepada pemerintah. dalam rangka intensifikasi penerimaan pajak negara. penerimaan perpajakan yang berkaitan dengan mekanisme pelaksanaan anggaran negara/daerah. setiap instansi pemerintah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I bangunan.2007 28 . Sedangkan pajak perdagangan internasional merupakan semua penerimaan negara yang berasal dari bea masuk dan pajak/pungutan ekspor. wajib menyetorkan seluruh penerimaan pajak yang dipungutnya dalam waktu selambatlambatnya satu hari setelah uang pajak diterima. dilakukan dengan mekanisme pemotongan/pemungutan pajak oleh setiap instansi pemerintah yang melakukan pembayaran atas beban negara/daerah. Penerimaan perpajakan yang berasal dari wajib pajak pribadi dan perusahaan. setiap bendahara instansi pemerintah baik pusat maupun daerah. kemudian menyetorkannya ke kas negara dan melaporkannya dalam laporan Surat Permberitahuan Pajak (SPT). Oleh karena itu.

3.2007 29 . Mewajibkan setiap kementerian/lembaga. pemerintah daerah. Menteri Keuangan cq Dirjen Pajak mengadministrasikan data dan informasi perpajakan dalam Bank Data Nasional dengan membentuk Nomor Identitas Bersama sebagai embrio Nomor Identitas Tunggal. Menetapkan Setiap instansi pemerintah. PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP) Penerimaan negara bukan pajak memiliki arti dan peran yang sangat penting dalam pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan negara dan pembangunan nasional. pemerintah daerah. pemerintah daerah. sebagai Wajib Pungut Pajak. 2. Keppres Nomor 72 tahun 2004 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran dan Belanja Negara mengatur ketentuan data dan informasi perpajakan sebagai berikut. 4. BUMN/D. 1. bendahara dan badan lain yang melakukan pembayaran atas beban APBN/APBD. proyek/bagian proyek. proyek/bagian proyek. dan BUMN/D. B. Menteri Keuangan cq Dirjen Pajak wajib memberikan Nomor Identitas Tunggal kepada masing-masing kementerian/lembaga. sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. 5. Direktur Jenderal Pajak. oleh karenanya. diperlukan langkah-langkah Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. dan BUMN/D untuk menyampaikan bahan-bahan dan keterangan yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya guna keperluan perpajakan kepada Menteri Keuangan cq. Untuk memadukan dan mensinerjikan data dan informasi perpajakan tersebut dibentuk Bank Data Nasional dan Nomor Identitas Tunggal yang dilaksanakan oleh Menteri Keuangan. kantor dan satuan kerja. kantor dan satuan kerja.

penerimaan dari hasil-hasil pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan. penerimaan berdasarkan putusan pengadilan dan yang berasal dari pengenaan denda administrasi. Peraturan Pemerintah nomor 22 Tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak. Pengelolaan PNBP dilaksanakan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku yaitu: • • Undang-undang nomor 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. Penerimaan negara bukan pajak adalah seluruh penerimaan Pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. Pengertian PNBP Dalam rangka pengelolaan penerimaan negara bukan pajak tersebut. PNPB lainnya ditetapkan dengan peraturan pemerintah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pengadministrasian yang efisien agar penerimaan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. penerimaan Pemerintah. Pusdiklatwas BPKP . dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Selain jenis tersebut di atas. Peraturan Pemerintah ini ditetapkan. yang meliputi: • • • • • • • penerimaan yang bersumber dari pengelolaan dana pemerintah. 1. penerimaan berupa hibah yang merupakan hak pemerintah. penerimaan lainnya yang diatur dalam undang-undang tersendiri. penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam.2007 30 .

b. Jenis dan Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Jenis PNBP secara rinci diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak. Penerimaan hasil penyewaan barang/kekayaan negara. Penerimaan kembali anggaran (sisa anggaran rutin dan sisa anggaran pembangunan. e. 2. jenis PNBP meliputi hal berikut. pengenaan terhadap masyarakat dan kegiatan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan Pusdiklatwas BPKP . c. a.2007 31 . Penerimaan hasil penjualan barang/kekayaan negara. d. Penerimaan ganti rugi atas kerugian negara (tuntutan ganti rugi dan tuntutan perbendaharaan). Penerimaan dari hasil penjualan dokumen lelang. dampak usahanya. Penetapan tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak ditetapkan dengan memerhatikan: a. d. Sesuai dengan peraturan pemerintah tersebut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I • Peraturan Pemerintah nomor 73 tahun 1999 tentang Tata Cara Penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Bersumber dari Kegiatan Tertentu. Penerimaan pemerintah. Penerimaan hasil penyimpanan uang negara (jasa giro). b. g. biaya penyelenggaraan kegiatan pemerintah sehubungan dengan jenis. aspek keadilan dalam pengenaan beban kepada masyarakat. penerimaan negara bukan pajak yang bersangkutan. f. c. Secara rinci peraturan pemerintah tersebut juga menetapkan jenis PNBP pada masing-masing departemen.

atau b. menteri dapat menetapkan rencana PNBP instansi pemerintah yang bersangkutan. dihitung sendiri oleh wajib bayar. disampaikan paling lambat tanggal 5 Agustus Tahun Anggaran yang bersangkutan. Pejabat instansi pemerintah wajib menyampaikan rencana pnbp tahun anggaran yang akan datang secara tertulis di lingkungan instansi pemerintah yang bersangkutan kepada menteri paling lambat pada tanggal 15 Juli tahun anggaran berjalan. Dalam hal terdapat revisi.2007 32 . c. Pusdiklatwas BPKP . ditetapkan oleh instansi pemerintah. Dalam hal pejabat instansi pemerintah tidak atau terlambat menyampaikan rencana PNBP. pejabat instansi pemerintah wajib menyampaikan revisi rencana PNBP kepada menteri. dengan ketentuan sebagai berikut. b.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Penetapan jumlah penerimaan negara bukan pajak yang terutang ditentukan dengan cara: a. 1) Revisi rencana PNBP tahun yang akan datang. Mekanisme tentang pelaporan diatur sebagai berikut. PNBP terhutang menjadi kedaluwarsa setelah sepuluh tahun terhitung sejak saat terutangnya penerimaan negara bukan pajak yang bersangkutan. Ketentuan kedaluwarsa sebagaimana tertunda apabila Wajib Bayar melakukan tindak pidana di bidang penerimaan negara bukan pajak. sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2004 tentang Tata Cara Penyampaian Rencana dan Laporan Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak. a. Pelaporan Rencana dan Realisasi Penerimaan PNBP Instansi yang mengelola PNBP wajib menyampaikan laporan rencana dan realisasi penerimaan secara periodik. 3.

Penerimaan dan Penyetoran PNBP Seluruh penerimaan negara bukan pajak dikelola dalam sistem anggaran pendapatan dan belanja negara. Laporan perkiraan realisasi PNBP triwulan IV disampaikan kepada menteri paling lambat tanggal 15 Agustus tahun anggaran berjalan. e. d. disampaikan paling lambat tanggal 15 Agustus tahun anggaran berjalan. Menteri dapat menunjuk instansi pemerintah untuk menagih dan atau memungut penerimaan negara bukan pajak yang terutang.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Revisi rencana PNBP tahun anggaran berjalan. mengintensifkan perolehan pendapatan yang menjadi wewenang dan tanggung b. Laporan realisasi PNBP triwulanan disampaikan secara tertulis oleh pejabat instansi pemerintah kepada menteri paling lambat satu bulan setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal pejabat instansi pemerintah tidak atau terlambat menyampaikan rencana dan laporan realisasi PNBP. 4. Setiap kementerian sumber negara/lembaga/satuan pendapatan wajib kerja yang mempunyai jawabnya. a. pengelolaan atas PNBP tersebut diatur dengan ketentuan sebagai berikut. melalui dokumen pelaksanaan anggaran (DIPA) masing-masing kementerian/lembaga. Pusdiklatwas BPKP . Dalam hal pejabat instansi pemerintah belum menyampaikan revisi rencana PNBP menteri dapat menetapkan rencana PNBP untuk masing-masing instansi pemerintah. f.2007 33 .

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c. Namun demikian. pelayanan yang melibatkan kemampuan intelektual tertentu. 5. penegakan hukum. diatur dalam PP NOMOR 73 tahun 1999 tentang Tatacara Pusdiklatwas BPKP . Penggunaan sebagian dana PNBP tersebut dapat dilakukan setelah memperoleh persetujuan dari Menteri Keuangan. pelayanan kesehatan. pelestarian sumber daya alam. Instansi pemerintah yang ditunjuk wajib menyampaikan rencana dan laporan realisasi penerimaan negara bukan pajak secara tertulis dan berkala kepada menteri. untuk beberapa kegiatan tertentu.2007 34 . d. sebagian dana dari suatu jenis penerimaan negara bukan pajak dapat digunakan untuk kegiatan tertentu yang berkaitan dengan jenis penerimaan negara bukan pajak tersebut oleh instansi yang bersangkutan. Kegiatan yang dapat menggunakan sebagian dana PNBP meliputi: • • • • • • penelitian dan pengembangan teknologi. Instansi pemerintah yang ditunjuk tersebut wajib menyetor langsung penerimaan negara bukan pajak yang diterima ke kas negara. Penggunaan Sebagian Dana PNBP Pada dasarnya. pendidikan dan pelatihan. e. seluruh PNBP wajib disetor langsung secepatnya ke kas negara. Proses permohonan untuk menggunakan sebagian dana PNBP. Tidak dipenuhinya kewajiban instansi pemerintah untuk menagih dan atau memungut serta menyetor sebagaimana dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

c. instansi pemerintah mengajukan pengajuan rencana penggunaan untuk setiap tahun anggaran selambat-lambatnya pada tanggal 15 November. Setelah mendapatkan persetujuan dari Menteri Keuangan. yaitu sebagai berikut. e.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersumber dari kegiatan tertentu. a. Pimpinan instansi pemerintah mengajukan permohonan penggunaan penerimaan negara bukan pajak kepada Menteri Keuangan. Sebagian dana penerimaan negara bukan pajak disediakan dalam suatu dokumen anggaran tahunan yang berlaku sebagai surat keputusan otorisasi. b. d. Rencana penggunaan penerimaan negara bukan pajak tersebut diteliti dan dibahas oleh Departemen Keuangan bersama-sama instansi pemerintah yang bersangkutan sebelum ditetapkan Menteri Keuangan.2007 35 . Permohonan tersebut dilengkapi dengan: 1) tujuan penggunaan dana penerimaan negara bukan pajak. 4) laporan realisasi dan perkiraan tahun anggaran berjalan serta perkiraan untuk dua tahun anggaran mendatang. 2) rincian kegiatan pokok instansi dan kegiatan yang akan dibiayai penerimaan negara bukan pajak. Sebagian dana penerimaan negara bukan pajak tersebut dapat digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan tertentu pada instansi bersangkutan dalam rangka pembiayaan: Pusdiklatwas BPKP . 3) jenis penerimaan negara bukan pajak beserta tarif yang berlaku.

atau melalui penyediaan Uang Yang Harus Dipertanggungjawabkan (UYHD). Pembiayaan sebagian dana PNBP yang telah disediakan dalam suatu dokumen anggaran dan belum dilaksanakan atau belum diselesaikan dalam tahun anggaran yang bersangkutan dapat dicantumkan pada dokumen anggaran tahun berikutnya melalui revisi anggaran. i.2007 36 . termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. dilarang Kantor Perbendaharaan pembayaran. Pembayaran atas pelaksanaan kegiatan instansi yang bersangkutan dilakukan sebagai pembayaran langsung kepada yang berhak. Batas jumlah pembayaran ditetapkan oleh menteri. Kewajiban pembukuan diatur sebagai berikut. 1) Pimpinan instansi/bendaharawan penerima dan pengguna wajib menyelenggarakan pembukuan. 2) bendaharawan penerima. h. Pimpinan instansi pemerintah yang bersangkutan setiap awal tahun anggaran menetapkan: 1) atasan langsung bendaharawan penerima/pengguna. Dalam hal bendaharawan dan Kas belum Negara ditunjuk. Saldo lebih dari sebagian dana penerimaan negara bukan pajak. pada akhir tahun anggaran wajib disetor seluruhnya ke kas negara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 1) operasional dana pemeliharaan. dan atau 2) investasi. g. j. melakukan Pusdiklatwas BPKP . 3) bendaharawan pengguna. f.

l. 2) Penggunaan penerimaan negara bukan pajak yang berasal dari dana reboisasi karena karakteristik dan atau sifat khusus yang dimilikinya dapat diatur dengan peraturan pemerintah tersendiri. Pusdiklatwas BPKP . Kewajiban penyusunan laporan. 6. Ketentuan lainnya.2007 37 . k. 1) Instansi pemerintah yang ditunjuk untuk menagih. 1) Pemberian izin penggunaan dana penerimaan negara bukan pajak yang telah diberikan masih tetap berlaku sebelum dilakukan penyesuaian berdasarkan peraturan pemerintah ini.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Bendaharawan penerima dan pengguna menyimpan secara lengkap dan teratur dokumen yang menyangkut penerimaan negara bukan pajak. Pencatatan dan Pemeriksaan a. memungut dan menyetorkan PNBP wajib menyelenggarakan pembukuan yaitu mengadakan suatu pencatatan yang dapat menyajikan keterangan yang cukup untuk dijadikan dasar penghitungan penerimaan negara bukan pajak. Pencatatan dan Pembukuan Ketentuan terkait dengan pencatatan dan pembukuan antara lain adalah sebagai berikut. 3) Kegiatan dan penatausahaan tersebut dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Pimpinan instansi pemerintah wajib menyampaikan laporan triwulan mengenai seluruh penerimaan dan penggunaan dana oleh Instansi yang bersangkutan kepada Menteri Keuangan.

b. dan Menteri Keuangan memberitahukan hasil pemeriksaan tersebut kepada instansi pemerintah yang bersangkutan guna penyelesaian lebih lanjut. atas permintaan instansi pemerintah dapat dilakukan pemeriksaan oleh instansi yang berwenang.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Pencatatan wajib diselenggarakan di Indonesia dalam satuan mata uang rupiah dan disusun dalam Bahasa Indonesia atau mata uang asing dan bahasa asing yang diizinkan Menteri Keuangan. 3) Buku. 2) Hasil pemeriksaan terhadap wajib bayar untuk PNBP disampaikan kepada instansi pemerintah untuk penetapan jumlah PNBP yang terutang wajib bayar yang bersangkutan. memungut dan menyetorkan PNBP juga dapat dilakukan pemeriksaan khusus oleh instansi yang berwenang. 1) Hasil pemeriksaan terhadap instansi pemerintah disampaikan kepada Menteri Keuangan. Pemeriksaan Ketentuan terkait dengan pemeriksaan antara lain adalah sebagai berikut. 3) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap wajib bayar terdapat kekurangan pembayaran jumlah PNBP yang terutang. 4) Terhadap wajib bayar untuk jenis penerimaan negara bukan pajak. wajib bayar yang bersangkutan wajib melunasi Pusdiklatwas BPKP . catatan dan dokumen lainnya yang menjadi dasar perhitungan PNBP tersebut wajib disimpan selama sepuluh tahun. Selain itu. terhadap instansi pemerintah yang ditunjuk atas permintaan menteri untuk menagih.2007 38 .

C. 5) Dalam hal terjadi pengakhiran kegiatan usaha wajib bayar. kelebihan pembayaran tersebut dikembalikan kepada wajib bayar dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% sebulan untuk paling lama 24 bulan. 6) Dalam hal pengembalian kelebihan pembayaran dilakukan melampaui batas waktu sebagaimana dimaksud dalam poin 5) di atas. jumlah kelebihan tersebut diperhitungkan sebagai pembayaran dimuka atas jumlah PNBP yang terutang wajib bayar yang bersangkutan pada periode berikutnya. kesalahan atau kelalaian bendahara berupa: ƒ ƒ penerimaan pengembalian belanja pegawai. maka jumlah kelebihan pembayaran PNBP dikembalikan kepada wajib bayar selambat-lambatnya satu bulan sejak dikeluarkan ketetapan kelebihan pembayaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I kekurangannya dan ditambah dengan sanksi berupa denda administrasi sebesar 2% sebulan untuk paling lama 24 bulan dari jumlah kekurangan tersebut.2007 39 . pengeluaran dalam melakukan pembayaran yang dibebankan kepada negara. 4) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap wajib bayar untuk jenis PNBP terdapat kelebihan pembayaran jumlah PNBP yang terutang. Penerimaan pengembalian belanja ini dapat Pusdiklatwas BPKP . PENERIMAAN PENGEMBALIAN BELANJA Penerimaan pengembalian belanja adalah seluruh penerimaan negara yang berasal dari pengembalian belanja tahun anggaran tahun berjalan. penerimaan pengembalian belanja barang. yang terjadi karena kelebihan pembayaran.

tidak termasuk bendahara dan pegawai negeri bukan bendahara. Setiap pimpinan kementerian negara/lembaga/kepala satuan kerja dapat segera melakukan tuntutan ganti rugi. Pejabat lain dimaksud meliputi pejabat negara dan pejabat penyelenggara pemerintahan yang tidak berstatus pejabat negara. pegawai pengelola keuangan pada khususnya. atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan negara wajib mengganti kerugian tersebut. Kerugian negara dapat terjadi karena pelanggaran hukum atau kelalaian pejabat negara atau pegawai negeri bukan bendahara dalam rangka pelaksanaan kewenangan administratif atau oleh bendahara dalam rangka pelaksanaan kewenangan kebendaharaan. setelah mengetahui Pusdiklatwas BPKP . Penerimaan pengembalian belanja ini juga meliputi penerimaan yang berasal dari penyelesaian kerugian keuangan negara. Setiap kerugian negara yang disebabkan oleh tindakan melanggar hukum atau kelalaian seseorang harus segera diselesaikan sesuai dengan ketentuan perundangan-undangan yang berlaku. Beberapa ketentuan yang mengatur mekanisme penyelesaian kerugian keuangan negara diatur sebagai berikut. 3. Bendahara. 4. 2. Penyelesaian meningkatkan negeri/pejabat kerugian disiplin negara negara dan pada perlu segera jawab dan dilakukan para para untuk mengembalikan kekayaan negara yang hilang atau berkurang serta tanggung umumnya.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ƒ ƒ penerimaan pengembalian belanja modal. penerimaan pengembalian belanja tahun lalu. pegawai negeri bukan bendahara. 1.2007 40 . 5.

6. pernyataan tersebut biasa disebut Surat Pernyataan Tanggung Pusdiklatwas BPKP . Surat keputusan dimaksud mempunyai kekuatan hukum untuk pelaksanaan sita jaminan (conservatoir beslaag).2007 41 . atau pejabat lain yang nyata-nyata melanggar hukum atau melalaikan kewajibannya. Setiap kerugian negara wajib dilaporkan oleh atasan langsung atau kepala kantor kepada menteri/pimpinan lembaga dan diberitahukan kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selambat-lambatnya tujuh hari kerja setelah kerugian negara itu diketahui. Jika surat keterangan tanggung jawab mutlak tidak mungkin diperoleh atau tidak dapat menjamin pengembalian kerugian negara. kepada bendahara. 7. Jawab Mutlak. segera dimintakan surat pernyataan kesanggupan dan atau Surat pengakuan bahwa kerugian tersebut menjadi tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian negara dimaksud.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I bahwa dalam kementerian negara/lembaga/satuan kerja yang bersangkutan terjadi kerugian akibat perbuatan dari pihak manapun. 8. pegawai negeri bukan bendahara. menteri/pimpinan lembaga yang bersangkutan segera mengeluarkan Surat Keputusan Pembebanan Penggantian Kerugian Sementara kepada yang bersangkutan. Segera setelah kerugian negara tersebut diketahui.

peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pemotongan/pemungutan pajak-pajak negara oleh bendahara. sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU nomor 18 tahun 2000. UU nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. c. b. A. UU nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. bendahara pada instansi pemerintah telah ditunjuk sebagai pemotong/pemungut atas penerimaan pajak-pajak negara khususnya pada transaksi belanja yang dilakukan oleh instansi pemerintah. Peraturan perundangan yang dijadikan sebagai dasar hukum penunjukkan bendahara ini antara lain sebagai berikut. sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU nomor 16 tahun 2000. UU nomor 8 tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa. Pusdiklatwas BPKP . dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. 1. DASAR HUKUM Dalam pelaksanaan penerimaan pajak-pajak negara. sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU nomor 17 tahun 2000.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB IV MEKANISME PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN PAJAKPAJAK NEGARA OLEH BENDAHARA Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. Undang-undang perpajakan yang meliputi : a.2007 42 .

Untuk bendahara BUMN. sehingga bendahara mempunyai kewajiban. Kewajiban Perpajakan a. kedudukan bendahara pemerintah yang mengelola APBN/APBD sama dengan kedudukan wajib pajak (WP). 3. wajib mendaftarkan diri ke kantor pelayanan pajak BUMN (KPP-BUMN). Selama masih melaksanakan pengelolaan anggaran Pusdiklatwas BPKP . serta mendapatkan sanksi perpajakan jika terjadi pelanggaran. Anggota ABRI dan Para Pensiunan atas Penghasilan yang Dibebankan kepada Keuangan Negara atau Keuangan Daerah. B. 1. KEWAJIBAN DAN SANKSI PERPAJAKAN BENDAHARA Dalam perpajakan. Pegawai Negeri Sipil.03/2003 tentang Penunjukkan Bendaharawan Pemerintah dan Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara untuk Memungut. 4. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 5563/KMK. PPnBM Beserta Tata Cara Pemungutan. Penyetoran dan Pelaporannya. Peraturan Pemerintah nomor 45 tahun 1994 tentang Pajak Penghasilan Bagi Pejabat Negara. Menyetor dan Melaporkan PPN. sebagaimana WP lainnya. sebagai berikut. Kewajiban mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) di kantor pelayanan pajak yang sesuai dengan lokasi kedudukannya.2007 43 . Keputusan Presiden RI 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Keputusan Presiden RI Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah. Kewajiban dan saksi perpajakan bagi bendahara yang mengelola anggran pendapatan dan belanja negara/daerah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2.

000.2007 44 .000. Sanksi administrasi. 2) denda sebesar Rp100. NPWP atas nama bendahara ini akan dilakukan penghapusan jika terjadi: 1) perubahan organisasi yang mengakibatkan nama unit instansinya berubah. 2) proyek/kegiatan telah berakhir (selesai). berupa pengenaan bunga sebesar 2% per bulan (selama-lamanya 24 bulan) atas jumlah pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar. Sanksi administrasi. c. NPWP bendahara ini tetap berlaku. Pusdiklatwas BPKP . Kewajiban untuk melaporkan pemungutan dan pemotongan pajak negara dengan menyerahkan surat permberitahuan pajak (SPT) sesuai dengan ketentuan umum perpajakan yang berlaku.00 jika tidak menyampaikan SPT Tahunan PPh sesuai dengan waktu yang telah ditentukan yaitu dua puluh hari setelah masa pajak berakhir.00 jika tidak menyampaikan SPT Masa PPh dan PPN sesuai dengan waktu yang telah ditentukan yaitu dua puluh hari setelah masa pajak berakhir.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I negara/daerah. Sanksi Perpajakan Sanksi perpajakan meliputi sanksi administrasi dan sanksi pidana dengan uraian sebagai berikut. berupa denda yaitu: 1) denda sebesar Rp50. Kewajiban untuk menyetorkan pada saat penerimaan tempat pajak sesuai yang dengan dipungut/dipotong dan ketentuan umum perpajakan yang berlaku. b. a. b. 2.

1) Sebesar 50% dari PPh tidak/kurang bayar dalam satu tahun pajak. juga tidak disampaikan sesuai dengan surat teguran.2007 45 . Sanksi pidana. yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak terutang. dan dipotong/dipungut tetapi tidak/kurang disetorkan. adalah sebagai berikut. Sanksi Administrasi berupa kenaikan pajak terutang. yang dapat menimbulkan kerugian keuangan negara. jika karena kealpaan tidak menyampaikan SPT. berupa kurungan selama satu tahun dan denda setinggi-tingginya dua kali jumlah pajak terutang. tidak/kurang dipungut. 4) Sebesar 100% atas PPN dan PPnBM yang tidak atau kurang dibayar jika: a) SPT tidak disampaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan telah dikenakan teguran sescara tertulis. 2) Sebesar 100% dari PPH tidak/kurang dipotong. tidak/kurang disetor.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c. atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar. 3) Sebesar 100% dari kekurangan pajak dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKP-KBT) dalam hal ditemukan data baru dan/atau data semula yang belum terungkap. d. b) berdasarkan hasil pemeriksaan terdapat PPN dan PPnBM yang seharusnya tidak dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya dikenakan tarif 0%. Pusdiklatwas BPKP . jika SPT tidak disampaikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan dan telah ditegur secara tertulis. tidak disampaikan pada waktunya sesuai dengan surat teguran. atau menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap.

4) memperlihatkan pembukuan dan pencatatan yang palsu dan tidak melaksanakan pembukuan. pekerjaan dan kegiatan. PPh pasal 26 adalah PPh atas deviden. C. pensiun dan pembayaran berkala lainnya yang diterima oleh wajib pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap. Pusdiklatwas BPKP . bunga termasuk premium. diskonto.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I e. BENDAHARA PASAL 26 SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 21 DAN 1. jika dengan sengaja: 1) tidak mendaftarkan diri atau menyalahgunakan NPWP. Pengertian PPh pasal 21 dan pasal 26 PPh pasal 21 adalah PPh sehubungan dengan pekerjaan. imbalan sehubungan dengan jasa. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. 2) tidak menyampaikan SPT. hadiah dan penghargaan. 3) menolak dilakukan pemeriksaan. 5) tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong/dipungut. Sanksi pidana berupa kurungan selama 6 tahun dan denda setinggi-tingginya empat kali jumlah pajak terutang.2007 46 . premi swap dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian hutang. jasa dan kegiatan dengan nama dan bentuk apapun yang diterima atau diperoleh wajib pajak orang pribadi dalam negeri. royalty.

berupa: 1) upah harian. anggota ABRI dan pensiunan yang dibebankan kepada keuangan negara/daerah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. b. uang hadir. hadiah. 2) honorarium. a. PNS. kecuali jika pembayaran tersebut dibayarkan kepada PNS golongan II-d ke bawah dan anggota ABRI berpangkat PELTU ke bawah. uang lembur. PNS. upah satuan. imbalan prestasi kerja dan imbalan lain dengan nama dan bentuk apapun yang dibebankan keuangan negara/daerah. penghargaan. 3) uang pensiun dan tunjangan lain yang bersifat tetap diterima pensiunan termasuk janda/duda dan/atau anak-anaknya. Penghasilan yang diterima oleh penerima penghasilan selain pejabat negara. Penghasilan yang Dipotong Bendahara wajib memotong PPh pasal 21 atas penghasilan berikut. uang saku harian dan upah borongan. Pusdiklatwas BPKP . komisi. uang saku.2007 47 . c. Penghasilan yang diterima oleh pejabat negara. uang sidang. bea siswa serta pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan jasa dan kegiatan. Penghasilan berupa honorarium. ABRI. berupa: 1) gaji dan tunjangan lainnya yang bersifat tetap yang diterima PNS/ABRI. dan pensiunan yang dibebankan kepada keuangan negara/daerah. 2) gaji kehormatan dan tunjangan lain yang bersifat tetap diterima pejabat negara. upah mingguan.

Pengurangan yang Diperbolehkan a.296. dan pensiunan. boleh dikurangi 1/10 dengan unsur Pusdiklatwas BPKP .2 juta 1. mingguan.00 dengan biaya sebulan.2 juta b. Untuk menentukan penghasilan neto pejabat negara.00 penghasilan setahun atau Rp108. Rp1.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. PNS dan anggota ABRI dan pensiunan.00 sebulan.000. SETAHUN 12 juta 1. 1) Pengurangan atas penerimaan upah harian.000. penghasilan bruto boleh dikurangi dengan unsur berikut. Atas penghasilan yang dibayarkan kepada selain pejabat negara.000. PTKP ƒ Untuk diri pegawai ƒ Tambahan untuk pegawai yang kawin ƒ Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya paling banyak 3 orang.000. 3) Penghasilan tidak kena pajak (PTKP) dengan ketentuan berikut. penghasilan bruto boleh dikurangi berikut. PNS dan anggota ABRI dan pensiunan yang dibebankan pada APBN/APBD.00 setahun atau Rp36. borongan dan uang saku harian.2007 48 . satuan. 2) Iuran pensiun. 1) Biaya jabatan sebesar 5% dari penghasilan bruto setinggitingginya pensiunan. Sedangkan untuk menentukan penghasilan neto bruto dikurangi pensiun sebesar 5% dari penghasilan bruto setinggi-tingginya Rp432. PNS dan ABRI. Atas penghasilan yang dibayarkan kepada pejabat negara.

maka pengurangan yang diperbolehkan berupa PTKP sebenarnya sebesar: [PTKP harian = PTKP sebenarnya /360] 3) Pembayaran atas honorarium.2007 49 . hadiah dan penghargaan dengan nama dan bentuk apapun. 4. 4) Untuk penghasilan WP luar negeri. bea siswa sebagai imbalan atas jasa yang jumlahnya dihitung tidak atas dasar banyaknya hari yang diperlukan untuk menyelesaikan jasa atau kegiatan yang diberikan. tidak ada pengurangan. uang saku. 2) Jika penghasilan bruto dalam satu bulan melebihi UMP/UMK atau dibayarkan secara bulanan. tidak ada pengurangan. komisi.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I UMP/UMK (sepanjang jumlah yang diterimanya dalam satu bulan tidak melebihi UMP/UMK dan tidak dibayarkan secara bulanan). Tarif dan Cara Penghitungan Pemotongan a. Lapisan PKP 1) s/d Rp 25 jt 2) Di atas Rp 25 jt s/d/Rp 50 jt 3) Di atas Rp 50 jt s/d Rp 100 jt 4) Di atas Rp 100 jt s/d/Rp 200 jt 5) Di atas Rp 200 jt Tarif Pajak 5% 10% 15% 25% 35% Pusdiklatwas BPKP . Tarif PPh berdasarkan pasal 17 UU nomor 7 tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan UU nomor 17 tahun 2000 sebagai berikut.

Cara Penghitungan 1) Penghitungan PPh pasal 21 bagi pejabat negara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b. tebusan pensiun. 3) 15% final atas honorarium dan imbalan lain dengan nama apapun. dipotong dengan PPh pasal 21 dan bersifat final dengan tarif berikut. dan THT atau Jaminan Hari Tua yang dibayarkan sekaligus.2007 50 . gaji/pensiun dan tunjangan yang terkait dengan gaji: Pusdiklatwas BPKP . Tarif efektif = 15% x 50% x Penghasilan Bruto. PNS. Tarif berdasarkan Keputusan Dirjen Pajak No KEP-545/PJ/2000 1) 15% atas prakiraan penghasilan netto yang dibayarkan kepada tenaga ahli (prakiraan penghasilan = 50). a) Atas pembayaran gaji kehormatan. 2) 5% atas upah dan uang saku harian yang jumlahnya melebihi 1/10 UMP/UMK sehari tapi tidak melebihi UMP/UMK sebulan dan/atau tidak dibayarkan secara bulanan. Tarif berdasarkan PP No. Lapisan PKP 1) Rp 25 juta ke bawah 2) Di atas Rp 25 juta s/d Rp 50 juta 3) Di atas Rp 30 juta s/d Rp 100 juta 4) Di atas Rp 100 juta s/d Rp 200 juta 5) Di atas Rp 200 juta Tarif Pajak 0% 5% 10 % 15 % 25 % d. ABRI dan pensiunan yang dibebankan kepada keuangan negara/daerah adalah sebagai berikut. 149 tahun 2000 atas pembayaran uang pesangon. c.

PNS. hadiah/penghargaan. fotografi. pembayaran imbalan pekerjaan. bea siswa. 21 = tarif psl. pemberi jasa teknik komputer. imbalan prestasi kerja dan imbalan lain dengan nama apapun. jasa dan kegiatan yang dilakukan oleh WP dalam negeri (artis.bagi pejabat negara/PNS/ABRI Æ PPh psl. penceramah. uang hadir. ABRI dan pensiunan yang dibebankan lepada keuangan negara/daerah adalah sebagai berikut. uang saku.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I . penasihat. olahragawan. pemasaran. a) Atas pembayaran honorarium. komisi. moderador. uang sidang. telekomunikasi. pengajar. PPh pasal 21 = tarif pasal 17 x penghasilan bruto (tarif progresif) Pusdiklatwas BPKP .2007 51 . 21 = 15 % x penghasilan bruto (bersifat final) 2) Penghitungan PPh pasal 21 bagi selain pejabat negara. 17 x (penghasilan bruto – biaya jabatan – iuran pensiun – PTKP) . uang lembur. 21 = tarif psl. 17 x (penghasilan bruto – biaya pensiun – PTKP) b) Atas penghasilan berupa honorarium.bagi pensiunan bulanan Æ PPh psl. elektronika. PPh psl. dll).

b) Jika WP luar negeri berubah status. Pengertian PPh Pasal 22 Pajak penghasilan dipungut/dipotong sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang. maka pemotongan PPh pasal 21 tidak bersifat final.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b) honorarium atau imbalan lain kepada tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas (pengacara. adalah pada setiap saat pelaksanaan pembayaran atas penyerahan barang oleh rekanan Pusdiklatwas BPKP . a) PPh pasal 21 = 20 % penghasilan bruto (bersifat final). d) pembayaran pelaksanaan proyek yang dibiayai dengan hibah/pinjaman luar negeri. Saat Pemotongan dan Tarif Saat pemungutan PPh pasal 22. 2. konsultan. adalah sebagai berikut.2007 52 . b) pembelian BBM. D. kecuali atas pembayaran: a) penyerahan barang paling banyak 1 juta (bukan jumlah yang dipecah-pecah). gas. aktuaris). listrik. PPh pasal 21 = tarif 15 % x perkiraan penghasilan neto = tarif 15 % x 50 % x penghasilan bruto 3) Penghitungan pajak dari penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi dengan status WP luar negeri sebagai imbalan atas pekerjaan. arsitek. c) pencairan dana jaring pengaman sosial (JPS) oleh KPKN. penilai. akuntan. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 22 1. air minum/PDAM. dokter. jasa dan kegiatan. benda-benda pos.

c. jasa konstruksi.2007 53 . dengan tarif 1.00 E. selain sewa atas tanah dan atau bangunan. 22 yang harus dipungut oleh bendahara sebesar 1.00 = Rp 1. hadiah dan penghargaan sehubungan dengan pelaksanaan status kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21.000.5 % x Harga/Nilai Pembelian Barang.000.000. Penghasilan yang dikenakan pemotongan PPh pasal 23 adalah sebagai berikut. Deviden. bunga termasuk premium. jasa manajemen. Pusdiklatwas BPKP .500. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. diskonto dan imbalan karena jaminan pengembalian utang.5% dari Rp100. Contoh : Itjen Departemen A membeli komputer untuk keperluan kantor dengan harga Rp100. a.00 PPh psl. royalty.000.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I yang dibiayai dari APBN/APBD. Pengertian PPh Pasal 23/26 PPh pasal 23/26 adalah pajak atas penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang berasal dari modal. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 23/26 1. consultan dan jasa lain selain yang telah dipotong PPh pasal 21. penyerahan jasa atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik. b.000.

d. selain sewa atas tanah dan atau bangunan. c. dan kongsi. Pusdiklatwas BPKP . f. d. dividen atau bagian laba yang diperoleh/diterima PT sebagai WP dalam negeri (dengan syarat tertentu). g. konsultan dan jasa lain selain yang telah dipotong PPh pasal 21. b. bunga simpanan yang tidak melebihi Rp240.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Penghasilan yang dikenakan pemotongan PPh pasal 26 adalah penghasilan berikut.00 setiap bulan yang dibayarkan oleh koperasi. e. Deviden. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. hadiah dan penghargaan sehubungan dengan pelaksanaan suatu kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21. royalty. firma. jasa konstruksi. SHU koperasi yang dibayarkan kepada anggotanya. b. perkumpulan. e. Pembayaran premi asuransi dan premi reasuransi lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung yang dibayarkan kepada wajib pajak luar negeri selain BUT. bunga termasuk premium. c.000. sewa guna usaha dengan hak opsi. diskonto dan imbalan karena jaminan pengembalian utang. Penghasilan yang tidak dikenakan pemotongan PPh Pasal 23/26: a. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik. jasa manajemen. bagian laba yang yang diterima/diperoleh tidak anggota perseroan saham. komanditer modalnya terbagi dalam persekutuan.2007 54 . penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank. Pensiun dan pembayaran berkala lainnya. bunga obligasi yang diperoleh/diterima perusahaan reksa dana selama lima tahun pertama. a.

bangunan di luar konstruksi. software komputer termasuk perbaikan/perawatan. 20% 26.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. pengolahan/pembuangan limbah. rekrut tenaga kerja. royalti. bunga. mesin/peralatan. 15% dari prakiraan penghasilan neto. hadiah. 15% dari jumlah bruto atas deviden. mesin. 1 2 Jenis Jasa pembasmian hama. jasa kustodian selain sewa gudang. peralatan. dan penghargaan (selain yang telah dipotong PPh pasal 21). listrik/telepon/air/gas/TV kabel di luar konstruksi. Jasa profesi. pertamanan. jasa desain (interior. alat transportasi/kendaraan. Jasa perencanaan dan pengawasan konstruksi. jasa teknik. 3 4 5 Sewa & penghasilan kendaraan angkutan darat. iklan/logo. pelaksanaan konstruksi. konsultan selain akuntansi. diskonto. konstruksi. penilai dan aktuaris. jasa instalasi/pemasangan mesin /listrik/telepon/air/gas/AC/TV kabel. darat. pembersihan. dubbing/mixing film. Tarif dan Dasar Pemotongan PPh Pasal 23 a.33% 6 50% Pusdiklatwas BPKP . jasa pengeboran minyak/gas bumi. kendaraan. telkom bukan umum. jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan mesin. katering. IT. jasa instalasi/pemasangan peralatan.67% 40% Tarif PPh 23 10% 13. manajemen. No. Besarnya prakiraan penghasilan neto antara lain sebagai berikut.2007 55 . angk. penunjang penerbangan. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta khususnya kend. jasa perantara. b. dan imbalan karena jaminan pengembalian utang. alat kemasan).

maka tarif PPh pasal 26 disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku dalam P3B tersebut. Pengertian PPN dan PPnBM a. c. b. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPN DAN PPnBM 1. penyerahan BKP dan/atau JKP yang dilakukan oleh PKP rekanan. b. menyetorkan dan melaporkan PPN atas: a. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak di dalam daerah Pabean. Tarif Pemotongan PPh Pasal 26 Tarif dan dasar pemotongan PPh Pasal 26 adalah 20% dari jumlah bruto kecuali bila ada Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B). Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi barang di dalam daerah pabean yang berdasarkan keputusan Menteri Keuangan tergolong barang mewah. Objek Pemungutan PPN dan PPnBM Bendahara yang mengelola anggaran negara/daerah wajib memungut. F. 2. PPnBM hanya dipungut dalam hal PKP rekanan adalah pabrikan dari BKP yang tergolong mewah. Pusdiklatwas BPKP . pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3.2007 56 . pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean. d.

00 tersebut merupakan jumlah pembayaran yang sudah termasuk PPN dan PPnBM. pembayaran sebagian. Pusdiklatwas BPKP .000. b.000. c.000. c. Sementara. b. Batasan Rp1.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pembayaran yang tidak dipungut PPN dan/atau PPnBM antara lain: a. dengan cara pemotongan secara langsung dari tagihan PKP rekanan pemerintah tersebut. Tarif dan Dasar Pemungutan a. Dasar Pemungutan Dasar pemungutan PPN dan PPnBM adalah jumlah pembayaran baik dalam bentuk uang muka. pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp1.000.2007 57 . Saat Pemungutan. Saat Pemungutan Pemungutan PPN dan atau PPnBM oleh bendahara dilakukan pada saat pembayaran kepada rekanan pemerintah. 3. pembayaran untuk pembebasan tanah.00 dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah. tarif PPnBM yang berlaku sekarang ini paling rendah 10 % dan paling tinggi sebesar 75 %. Tarif PPN dan PPnBM Tarif PPN adalah tarif tunggal sebesar 10% (berdasarkan peraturan pemerintah dapat diubah serendah-rendahnya 5% dan setinggi-tingginya 15%). pembayaran dibebaskan atas dari penyerahan pengenaan BKP PPN dan/atau berdasarkan JKP yang Peraturan Pemerintah nomor 38 tahun 2003 tentang Impor dan atau penyerahan BKP Tertentu dan atau Penyerahan JKP Tertentu yang Dibebaskan dari Pengenaan PPN. atau pembayaran seluruhnya yang dilakukan oleh pemungut PPN kepada PKP rekanan.

00 Rp Rp 1.000.000 Jumlah yang dibayarkan kepada PKP rekanan Rp Rp 1.000.00 Harga jual termasuk PPN dan PPnBM Rp 1.000.000.00 Rp 1. maka PPN dan PPnBM yang terutang harus dipungut oleh bendahara sebesar Rp 270.000.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Dalam jumlah pembayaran yang dilakukan oleh pemungut PPn tersebut.000.000. termasuk PPN dan PPnBM yang terutang tanpa memerhatikan apakah dalam kontrak menyebutkan ketentuan pemungutan PPN dan atau PPnBM maupun tidak.000.00 20% x Rp900.00 Contoh 2: Dalam hal BKP yang diserahkan oleh rekanan pemerintah termasuk golongan barang mewah (misal PPnBM 20 %).000.000.000.00 100.000.300.00 dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah.000.00 100.100.00.300.000.100.000.000.000. Jumlah Pembayaran PPN yang dipungut 10/130 x Rp 1.00 90.00.170.00 Meskipun harga jual Rp900.300.00 Rp 200.000.00 180.000.00 (di atas Rp 1.00 Jumlah yang dibayarkan kepada PKP rekanan Contoh 3: Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp1.000.170.00 PPnBM yang dipungut 20/130xRp1. tetapi karena pembayaran termasuk PPN dan PPnBM berjumlah Rp1.000.000.00 Rp 1.000. Contoh 1: Jumlah PPN yang dipungut 10/11/bagian dari jumlah pembayaran Jumlah Pembayaran PPN yang harus dipungut 10/110x Rp1.00 Rp Rp Rp 900.000.2007 58 .00). Harga Jual PPN PPnBM 10% x Rp900. Pusdiklatwas BPKP .

000.00 Rp Rp Rp Rp 800.000.00 10% x Rp800.00 Karena harga jual termasuk PPN dan PPnBM berjumlah Rp960.00 80.000.000.00).00 Harga jual termasuk PPN dan PPnBM 960.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Contoh 4: Harga Jual PPN PPnBM 10% x Rp800.000. tetapi akan disetor sendiri oleh PKP rekanan.000.00 80.000.2007 59 .000. maka PPN dan PPnBM yang terutang tidak dipungut oleh bendahara.00 (di bawah Rp 1. Pusdiklatwas BPKP .000.

17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.06/2005 Tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Tahun 2005. Perubahan mendasar dalam ketentuan pengelolaan keuangan negara yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Pusdiklatwas BPKP . 134/PMK. peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pelaksanaan belanja negara.72 Tahun 2004 Tentang Pedoman Pelaksanaan APBN. • • • UU No. PEDOMAN PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA NEGARA 1.2007 60 . UU No. • Peraturan Menteri Keuangan No.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB V MEKANISME PELAKSANAAN BELANJA NEGARA Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. • Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. UU tentang APBN (penetapan setiap tahun sesuai tahun anggarannya). proses pencairan dana APBN dan proses penerbitan SPM. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. mekanisme pembayaran melalui uang persediaan. Dasar Hukum Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Pelaksanaan belanja negara didasarkan pada beberapa dasar hukum sebagai berikut.42 Tahun 2002 jo Keppres No. • Keppres No. penerbitan SP2D oleh KPPN serta memahami mekanisme pelaporan realisasi APBN A. Per-66/PB/2005 Tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran atas beban APBN.

2007 61 . Upaya untuk menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan yang selama ini lebih banyak dilaksanakan di dunia usaha dalam pengelolaan keuangan pemerintah. pencarian sumber pembiayaan yang paling murah dan pemanfaatan dana yang menganggur (idle cash) untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya keuangan. Penerapan Kaidah Pengelolaan Keuangan yang sehat di lingkungan pemerintah sejalan dengan perkembangan kebutuhan pengelolaan keuangan negara. Fungsi perbendaharaan tersebut meliputi perencanaan kas yang baik. asas-asas umum pengelolaan keuangan negara. perusahaan daerah dan perusahaan swasta. serta penetapan bentuk dan batas waktu penyampaian laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. dan badan pengelola dana masyarakat. kedudukan Presiden sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara. Pemerintah daerah dan pemerintah/lembaga asing.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I tentang Keuangan Negara meliputi pengertian dan ruang lingkup keuangan negara. dirasakan pula semakin pentingnya fungsi perbendaharaan dalam rangka pengelolaan sumber daya keuangan pemerintahan yang terbatas secara efisien. Dalam undang-undang tersebut juga telah mengantisipasi perubahan standar akuntansi di lingkungan pemerintahan di Indonesia yang mengacu kepada perkembangan standar akuntansi di lingkungan pemerintahan secara internasional. pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah dengan perusahaan negara. pendekatan kekuasaan Presiden kepada Menteri Keuangan dan menteri/pimpinan lembaga susunan APBN. pencegahan agar jangan sampai terjadi kebocoran dan penyimpangan. pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan bank sentral. Ketentuan mengenai penyusunan dan penetapan APBN. tidaklah dimaksudkan untuk Pusdiklatwas BPKP .

Dalam kedudukannya yang demikian. menyimpan uang negara dalam rekening kas umum negara pada bank sentral. serta ketentuan yang meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Dalam rangka pengelolaan uang negara/daerah dalam undangundang perbendaharaan negara ditegaskan kewenangan Menteri Keuangan untuk mengatur dan meyelenggarakan rekening pemerintah. perlu dilakukan pelurusan kembali pengelolaan keuangan pemerintah dengan menerapkan prinsip-prinsip pemerintahan yang baik (good governance) yang sesuai dengan lingkungan pemerintahan. Melalui kegiatan berbagai lembaga pemerintah. negara tunduk pada tatanan hukum publik. Dalam undang-undang Perbendaharaan Negara juga diatur prinsipprinsip yang berkaitan dengan pelaksanaan utang piutang dan investasi serta barang milik negara/daerah yang selama ini belum mendapat perhatian yang memadai. Pada hakikatnya. Oleh karena itu. pengelolaan keuangan sektor publik yang dilakukan selama ini dengan menggunakan pendekatan superioritas negara telah membuat aparatur pemerintahan yang bergerak dalam kegiatan pengelolaan keuangan sektor publik tidak lagi dianggap berada dalam kelompok profesi manajemen oleh para profesional. pengelolaan piutang negara/daerah diatur kewenangan penyelesaian piutang negara dan daerah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I menyamakan pengelolaan keuangan sektor pemerintah dengan pengelolaan keuangan sektor swasta. dalam rangka pelaksanaan pembiayaan ditetapkan pejabat yang diberi kuasa untuk mengadakan utang negara/daerah. negara berusaha memberikan jaminan kesejahteraan kepada rakyat (welfare state). dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas Pusdiklatwas BPKP .2007 62 . Namun. Sementara itu. Demikian pula. negara adalah suatu lembaga politik.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pengelolaan investasi dan barang milik negara/daerah dalam undang-undang Perbendaharaan Negara diatur pula ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan investasi serta kewenangan mengelola dan menggunakan barang milik negara. dengan penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) oleh KPPN berdasarkan Surat Perintah Membayar (SPM) yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran.2007 63 . Pusdiklatwas BPKP . a. Dalam peraturan tersebut diatur ketentuan Menteri/Pimpinan Lembaga adalah Dokumen Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) yang disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan serta dokumen pendukung kegiatan akuntansi pemerintah. 1) Dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN.06/2005 sebagai berikut. 2) Dalam rangka pelaksanaan APBN. Peraturan Menteri Keuangan tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Pelaksanaan pembayaran dalam pelaksanaan anggaran belanja negara didasarkan pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK. Kantor Pelayanan Perbendaharan Negara (KPPN) melaksanakan penerimaan dan pengeluaran negara secara giral. 3) Pelaksanaan pengeluaran atas beban APBN oleh KPPN selaku kuasa bendahara umum negara.

e dan f di atas. b) pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara. d) pejabat yang bertugas melakukan pengujian dan perintah pembayaran.06/2005 Pelaksanaan APBN.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4) Pada awal tahun anggaran menteri/ketua lembaga menetapkan para pejabat yang ditunjuk sebagai: a) kuasa pengguna anggaran/pengguna barang. 5) Pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja tidak boleh merangkap sebagai pejabat sebagaimana pada butir 4. e) bendahara belanja. harus dalam dilaksanakan sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.2007 64 .d. f) bendahara belanja. 6) Penerbitan SPM oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran didasarkan pada alokasi dana yang tersedia dalam DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA. tentang Pembayaran pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran penerimaan untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran Pusdiklatwas BPKP . 7) Pelaksanaan pembayaran tagihan atas beban belanja negara melalui SPM-LS yang disampaikan Pedoman ke KPPN. c) pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 8) Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dapat mengajukan permintaan uang persedian dengan menerbitkan surat perintah membayar uang persediaan (SPM-UP) untuk membiayai keperluan sehari-hari perkantoran. satuan kerja dapat mengajukan tambahan dengan menerbitkan surat perintah membayar tambahan uang persediaan (SPM-TUP). kecuali pembayaran honor. 13) Pembayaran yang dilakukan oleh bendahara pengeluaran tidak boleh melebihi Rp10. Pusdiklatwas BPKP . satuan kerja yang bersangkutan menerbitkan surat perintah membayar penggantian uang persediaan (SPMGUP). 14) Pembayaran kepada rekanan harus memerhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.000. 9) Untuk memperoleh penggantian uang persediaan yang telah digunakan.2007 65 . 11) Pengajuan tambahan uang persediaan sebagaimana dimaksud diatur oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan dan Pembayaran dengan menggunakan uang persediaan untuk keperluan sebagaimana selain keperluan diatas sehari-hari dapat perkantoran setelah tersebut dilakukan memperoleh persetujuan Direktur Jenderal Perbendaharaan.00 kepada satu pihak. 12) Pelaksanaan pembayaran dengan uang persediaan dilakukan oleh bendahara pengeluaran sepanjang pembayaran dimaksud tidak dapat dilakukan melalui pembayaran langsung (SPM-LS). 10) Dalam hal uang persediaan tidak mencukupi kebutuhan.000.

atau penolakan permintaan pembayaran sebagaimana dimaksud pada butir 19 wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai berikut.2007 66 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 15) Pengguna anggaran atau kuasa pengguna anggaran dapat mengajukan penggantian uang persediaan yang telah digunakan kepada KPPN dengan menyampaikan SPM-GUP yang dilampiri Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja (SPTB) dan Faktur Pajak serta Surat Setoran Pajak (SSP). 19) KPPN menolak permintaan pembayaran yang diajukan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dalam hal: a) pengeluaran untuk MAK yang melampaui pagu. dan/atau b) tidak didukung oleh dokumen yang sah sesuai ketentuan yang berlaku. KPPN menerbitkan SP2D yang ditujukan kepada bank operasional mitra kerjanya. 16) Pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan dengan surat bukti yang menjadi dasar pengeluaran atas beban APBN bertanggung jawab atas kebenaran material dan akibat yang timbul dari penggunaan surat bukti dimaksud. 20) Penerbitan SP2D sebagaimana butir 18. 17) Bukti asli pembayaran Pembayaran dalam yang dilampirkan dalam Surat bukti Permintaan dan (SPP)-GUP merupakan pengeluaran dalam pelaksanaan anggaran belanja negara disimpan arsip pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. 18) Berdasarkan SPM yang disampaikan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Pusdiklatwas BPKP .

Mekanisme Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Mekanisme pembayaran dalam pelaksanaan anggaran belanja didasarkan pada peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor Per66/PB/2005 tentang Mekanisme Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN. 4) pelaporan realisasi APBN. 3) prosedur penerbitan surat perintah pencairan dana (SP2D) oleh KPPN. 2) prosedur penerbitan surat perintah pembayaran (SPM) oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran.2007 67 . Secara garis besar peraturan tersebut berisi ketentuanketentuan mengenai: 1) prosedur penerbitan surat permintaan pembayaran (SPP).Pedoman Pelaksanaan Anggaran I a) Penerbitan SP2D uang persediaan/tambahan uang persediaan/penggantian uang persediaan (SPM-UP/SPMTUP/SPM-GUP) dan SPM pembayaran langsung (SPM-LS) paling lambat dalam waktu satu hari sejak diterimanya SPM secara lengkap. b) Untuk pembayaran gaji induk (gaji bulanan) PNS Pusat paling lambat lima hari kerja sebelum awal bulan pembayaran gaji. b. Pusdiklatwas BPKP . 5) lain-lain. d) Pengembalian SPM dilakukan paling lambat hari kerja berikutnya sejak diterimanya SPM berkenaan. c) Untuk pembayaran non gaji induk (non gaji bulanan) SP2D diterbitkan paling lambat lima hari sejak diterimanya SPM.

jumlah dana yang dimuat dalam anggaran belanja negara merupakan batas tertinggi untuk tiap-tiap pengeluaran. semaksimal mungkin menggunakan produksi/jasa dalam negeri. Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran tidak diperkenankan melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja negara. Dilarang melakukan tindakan yang membebani anggaran. b. Persyaratan pengeluaran atas beban negara didasarkan pada bukti hak tagihan kepada negara. d. Belanja atas beban anggaran belanja negara didasarkan pada DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA. efisien. Pembayaran atas beban negara pada dasarnya dilakukan setelah barang/jasa diterima oleh negara. Dilarang melakukan pengeluaran yang menyimpang dari tujuan yang ditetapkan. Prinsip Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Berdasarkan aturan perundangan tersebut. Hemat. pelaksanaan anggaran belanja negara harus mengikuti prinsip-prinsip berikut. c. terkendali.2007 68 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran juga tidak diperkenankan melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja negara untuk tujuan lain dari yang ditetapkan dalam anggaran belanja negara (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran/DIPA). terarah. e. tidak mewah. Pusdiklatwas BPKP . bila anggarannya tidak tersedia. a. Secara umum. dan f. Anggaran tidak mutlak harus dihabiskan. Jumlah pengeluaran dalam anggaran merupakan batas yang tertinggi untuk setiap jenis pengeluaran. jika dana untuk membiayai tindakan tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam anggaran belanja negara.

pemberian ucapan selamat. dibatasi pada hal-hal yang sangat penting dan dilakukan sesederhana mungkin. Belanja pemerintah pusat tersebut dibagi menurut fungsi. a. rapat dinas. Bagian anggaran yang tidak dikuasai oleh kementerian/lembaga negara dikuasai oleh Menteri Keuangan. a. Belanja untuk pemerintah daerah dirupakan dalam bentuk ”Dana Perimbangan”. perayaan atau peringatan hari besar. lokakarya. dan sebagainya untuk berbagai peristiwa. dan jenis belanja. seminar. peresmian kantor/proyek dan sejenisnya. Penyelenggaraan rapat. pesta untuk berbagai peristiwa dan pekan olah raga pada departemen/lembaga/pemerintah daerah. Komponen Anggaran Belanja Negara Sesuai UU No.2007 69 . pertemuan. d. hadiah/tanda mata. belanja negara meliputi hal berikut. organisasi/bagian anggaran. Belanja untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintahan pusat. c. Belanja untuk pelaksanaan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. 17 Tahun 2003 tentang Perbendaharaan Negara. pengeluaran lain-lain untuk kegiatan/keperluan yang sejenis serupa dengan yang tersebut di atas. hari raya dan hari ulang tahun departemen/lembaga/pemerintah daerah. b. Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada pemerintah daerah untuk mendanai kebutuhan pemerintah daerah dalam Pusdiklatwas BPKP . karangan bunga. kegiatan. 3. b.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pengeluaran atas beban anggaran belanja negara tidak diperkenankan untuk keperluan berikut.

3) Dana Alokasi Khusus.2007 70 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I rangka pelaksanaan Desentralisasi. Pemerintah daerah yang menerima dana alokasi khusus wajib menyediakan dana pendamping sedikitnya 10% dari seluruh biaya kegiatan. yakni dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan pemerintah daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. pemerintah daerah penerima dana alokasi khusus dapat tidak wajib menyediakan dana pendamping. dan sebagian Pajak Penghasilan (PPh) Wajib Pajak Orang Dalam Negeri. yakni dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. yang meliputi: a) Bagi Hasil Sumber Daya Alam. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Hasil pajak yang dibagihasilkan dengan daerah mencakup Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Tidak seluruh hasil pajak pusat dibagihasilkan dengan daerah. Dana Perimbangan mencakup: 1) Dana Bagi Hasil. 2) Dana Alokasi Umum. Dalam kondisi tertentu. Pusdiklatwas BPKP . b) Bagi Hasil Pajak.

Untuk keperluan tertentu yang tidak dapat dan/atau tidak memungkinkan dilakukannya pembayaran secara langsung (menggunakan prosedur SPM LS).2007 71 . KONTRAK Draft SPM GU BAYAR SPM GU Bukti Laporan Keuangan Daft. Jenis dan Proses Pembayaran Anggaran Belanja Negara Pembayaran atas beban APBN pada dasarnya dilakukan secara langsung melalui penerbitan Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS) kepada pihak yang berhak (pembayaran langsung). BA PK. Proses pembayaran pada satuan kerja dapat digambarkan seperti bagan alur dokumen di bawah ini. PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA NEGARA OLEH PENGGUNA ANGGARAN/KUASA PENGGUNA ANGGARAN 1.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I B. daft gaji.1) dapat dilakukan dengan menggunakan uang BAGAN PROSES PEMBAYARAN PADA SATUAN KERJA PEMBUAT KOMITMEN PENGUJI TAGIHAN BENDAHARA PENGELUARAN PENERBIT SPM UNIT AKUNTANSI SATKER SK. BA PB. (Gambar 5. BA Serah terima Draft SPM LS Pembebanan BENAR SPM LS Proses SAI Transfer UP/GU Bukti SK SK Bukti Dan tagihan Uji dan periksa Transfer Pihak ke tiga SP2D SALAH SPM Perbaiki KPKN Pusdiklatwas BPKP . SPK. Lembur. sesuai ketentuan/batasan yang diatur secara khusus pembayaran persediaan.

Pejabat penerbit SPM menyerahkan SPM ke KPPN.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Secara ringkas. maka pejabat penguji menetapkan pembebanan anggaran mengajukan SPM kepada pejabat penerbit SPM. Asli surat keputusan dimaksud disampaikan kepada kepala KPPN selaku Kuasa BUN setelah dilengkapi dengan bukti identitas Pusdiklatwas BPKP . Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara a. Berdasarkan SPM yang diajukan. e. maka SPP dikembalikan. Tahap Penetapan Pejabat Kuasa PA dan Penandatangan SPM Pada setiap awal tahun anggaran. mengajukan SPP kepada pejabat penguji tagihan. d. 4) bendahara pengeluaran. KPPN meenerbitkan SP2D kepada bank mitra. 2) pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja. pelaksanaan kegiatan benar. 2. Pejabat pembuat komitmen (PPK) dan bendahara pengeluaran berdasarkan bukti pelaksanaan kegiatan. a. c.2007 72 . b. menteri/pimpinan lembaga selaku PA menerbitkan keputusan tentang penunjukan: 1) pejabat kuasa PA untuk satuan kerja sementara di lingkungan instansi PA. Jika berdasarkan pengujian. Pembukuan KPPN dijadikan bahan sistem akuntansi instansi untuk penyusunan laporan keuangan pemerintah. sedangkan jika pelaksanaan kegiatan tidak didukung bukti. bagan alur tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. 3) pejabat yang diberi kewenangan untuk menandatangani SPM. Bank mentransfer uang ke rekening bendahara pengeluaran atau ke rekening pihak ketiga.

walaupun prosedur/tatacara kepada penyelesaian pengguna kegiatan diserahkan sepenuhnya kuasa anggaran. ruang. kenaikan gaji berkala. pangkat/gol.). jabatan. cantor/satuan kerja. Tahap Pembuatan Komitmen Sesuai tugas pokok dan fungsinya. kepala satuan kerja selaku kuasa pengguna anggaran. dll. dan spesimen tanda tangan. Pusdiklatwas BPKP . b.2007 73 . Pelaksanaan Kegiatan Pada tahap ini. surat perjalanan dinas. Pejabat yang menandatangani kontrak/keputusan bertanggung jawab atas kebenaran material dan akibat yang timbul dari kontrak/keputusan tersebut. pengangkatan pegawai dalam jabatan. kenaikan pangkat. melaksanakan rencana kerja yang telah ditetapkan dalam DIPA. cap/stempel kantor/satuan kerja.). Keputusan-keputusan dan/atau tindakantindakan tersebut antara lain dapat berupa: 1) keputusan kepegawaian (seperti pengangkatan pertama pegawai. 3) keputusan/tindakan dalam rangka pengadaan barang/jasa (kontrak jual beli. NIP/NRP. c. 2) keputusan/tindakan dalam rangka pelaksanaan kegiatan yang terkait dengan substansi tugas pokok dan fungsi. dll. surat perintah kerja. mutasi pegawai. membuat keputusan-keputusan dan atau mengambil tindakan-tindakan yang dapat mengakibatkan timbulnya pengeluaran uang dan/atau tagihan atas beban APBN.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pejabat yang bersangkutan yang meliputi: nama. namun masih harus mengikuti ketentuan berikut.

nomor dan tanggal kontrak kerja.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 1) Pelaksanaan Pekerjaan Pelaksanaan kegiatan harus dilakukan secara tertib dan memenuhi ketentuan yang diperjanjikan baik dalam spesifikasi teknis maupun dalam jadwal/waktu penyelesaian. dan rekomendasi pembayaran pekerjaan. pemeriksaan dituangkan dalam suatu dokumen Berita Acara Hasil Pemeriksaan Penyelesaian Pekerjaan. d. pernyataan kesaksian atas prestasi kerja yang telah diselesaikan. nomor dan tanggal DIPA yang menjadi dasar pembuatan dan/atau ditunjuk dalam kontrak).2007 74 . seorang bendahara menteri/pimpinan lembaga atau pejabat yang diberi hak/tagihan atas penyelesaian-penyelesaian Pusdiklatwas BPKP . 3) Pembuatan Berita Acara Berita Acara Hasil Pemeriksaan Penyelesaian Pekerjaan harus memuat sekurang-kurangnya identitas pekerjaan (yang meliputi kantor/satuan kerja pengelola pekerjaan. tahap penyelesaian pekerjaan (termijn). Uang Persediaan dan Tambahan Uang Persediaan (UP dan TUP) 1) Pengelola Uang Persediaan a) Bendahara Pengeluaran Untuk mengelola uang persediaan bagi satuan kerja di lingkungan kewenangan kementerian dapat mengangkat negara/lembaga. besar nilai kontrak. tempat/lokasi pekerjaan. 2) Pemeriksaan Penyelesaian Pekerjaan Pada setiap tahap penyelesaian pekerjaan perlu dilakukan pemeriksaan.

b) KKPPN. Pusdiklatwas BPKP . b) Untuk membantu pengelolaan uang persediaan pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya. selanjutnya. Di dalam pelaksanaan tugasnya pemegang uang muka bertanggung jawab kepada bendahara pengeluaran. f) Pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan sesuai buktibukti yang sah dibebankan pada mata annggaran (MAK) definitif sesuai pagu MAK yang tersedia. 2) Prosedur Penggunaan Uang Persediaan a) PA/Kuasa PA menerbitkan SPM-UP berdasarkan alokasi dana dalam DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA atas permintaan dari bendahara pengeluaran yang dibebankan pada mata anggaran keluaran (MAK) untuk pengeluaran transito. e) Pengisian kembali uang persediaan dilakukan dengan mengajukan SPM GU kepada KPPN. berdasarkan SPM-UP dimaksud pada angka 1 di atas menerbitkan uang SP2D untuk rekening selanjutnya bendahara menjadi pengeluaran yang ditunjuk dalam SPM-UP.2007 75 . d) Bendahara pengeluaran melakukan pengisian kembali uang persediaan segera setelah uang persediaan dimaksud digunakan. c) Penggunaan persediaan tanggung jawab bendahara pengeluaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pengeluaran pada kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya. sesuai kebutuhan kepala satuan kerja mengusulkan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan untuk menunjuk pemegang uang uuka.

Setoran sisa uang persediaan dimaksud. b) Di luar ketentuan pada butir a. 5231-belanja biaya pemeliharaan. 5221-belanja langganan daya dan jasa. 3) Petunjuk Pelaksanaan Uang Persediaan Uang persediaan dapat diberikan dalam batasan ketentuan sebagai berikut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I g) Pembebanan dimaksud pada butir f) di atas mengurangi kredit/pagu anggaran dalam DIPA. Pusdiklatwas BPKP . oleh KPPN dibukukan sebagai pengembalian uang persediaan sesuai mata anggaran yang ditetapkan.2007 76 . i) Sisa uang persediaan yang terdapat pada akhir tahun anggaran harus disetor ke Rekening Kas Umum Negara selambat-lambatnya tanggal 31 Desember tahun anggaran berkenaan. dan 5811–belanja barang lainnya. 5241-belanja perjalanan. masih cukup tersedia. h) Penggunaan dan penggantian uang persediaan dapat dilakukan sepanjang pagu anggaran dalam DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA. 5212-belanja bahan. yang dapat dibayarkan melalui prosedur SPM-UP. a) UP dapat diberikan untuk pengeluaran-pengeluaran belanja barang pada klasifikasi belanja: 5211-belanja barang operasional. dapat diberikan pengecualian untuk DIPA Pusat oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan dan untuk DIPA Pusat yang kegiatannya berlokasi di daerah serta DIPA yang ditetapkan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan setempat.

Permintaan TUP di atas Rp200. ≤ Rp2.000.400.000.00 d) Perubahan besaran UP di luar ketentuan pada butir c) ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan. ii.000.000 . No Pagu (Rp juta) 1. g) Pemberian TUP diatur sebagai berikut.000.000 Prosentase pagu DIPA menurut klasifikasi belanja yang diijinkan untuk diberikan UP 1/12 1/18 1/24 Maksimal UP Rp 50.00 Rp 100.000. Pusdiklatwas BPKP .000 > Rp900.000. Kepala KPPN dapat memberikan TUP sampai dengan jumlah Rp200. f) Dalam hal penggunaan UP belum mencapai 75%. ≤ Rp900. satker/SKS dimaksud dapat mengajukan TUP.000.00 untuk klasifikasi belanja yang diperbolehkan diberi UP bagi instansi dalam wilayah pembayaran KPPN bersangkutan.400.000.00 Rp 200.000.000 > Rp2.000. e) Pengisian kembali UP sebagaimana dimaksud pada butir c) dapat diberikan apabila dana UP telah dipergunakan sekurang-kurangnya 75% dari dana UP yang diterima.000.000.00 untuk klasifikasi belanja yang diperbolehkan diberi UP harus mendapat dispensasi dari Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan.000. i. 3.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c) Maksimal UP yang dapat diberikan adalah sebagai berikut.2007 77 .000. 2. sedangkan satker/SKS yang bersangkutan memerlukan pendanaan melebihi sisa dana yang tersedia.

pengajuan SPP. Prosedur Penerbitan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) a. ƒ Pengajuan SPP-UP/TUP/GUP dilakukan oleh bendahara pengeluaran. Sebagai bahan perbandingan. baik uang persediaan maupun pembayaran langsung. dibuat dengan kelengkapan persyaratan sebagai berikut.2007 78 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. 1) SPP-UP (Surat Permintaan Pembayaran .Uang Persediaan) Surat pernyataan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk. Pejabat yang Mengajukan SPP Pengajuan SPP dibedakan sesuai dengan jenis pembayaran yang dilakukan. sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Persyaratan Penerbitan SPP Pengajuan surat permintaan pembayaran (SPP) untuk penerbitan surat perintah membayar (SPM). untuk pelaksanaan anggaran belanja pemerintah daerah. b. Pengajuan SPP untuk pelaksanaan anggaran belanja negara dibedakan sebagai berikut. diajukan oleh bendahara pengeluaran. 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. ƒ Pengajuan SPP-LS belanja pegawai dan belanja perjalanan dinas dilakukan oleh bendahara pengeluaran. menyatakan bahwa Uang Persediaan tersebut tidak untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang menurut ketentuan harus dengan LS. ƒ Pengajuan SPP-LS belanja lainnya diajukan oleh pejabat pembuat komitmen. Pusdiklatwas BPKP .

harus disetorkan ke rekening kas negara. b) Surat pernyataan tanggung jawab belanja (SPTB).Penggantian Uang Persediaan) a) Kuitansi/tanda bukti pembayaran.2007 79 . Apabila tidak mungkin dilaksanakan melalui mekanisme LS. (3) tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung. (2) apabila terdapat sisa dana TUP. 3) SPP-GUP (Surat Permintaan Pembayaran .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) SPP-TUP (Surat Permintaan Pembayaran .Tambahan Uang Persediaan) a) Rincian rencana penggunaan dana Tambahan uang persediaan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk. dapat dilakukan melalui UP/TUP. c) Surat setoran pajak (SSP) yang telah dilegalisir oleh kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk. Pusdiklatwas BPKP . b) Surat pernyataan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk bahwa: (1) dana tambahan UP tersebut akan digunakan untuk keperluan mendesak dan akan habis digunakan dalam waktu satu bulan terhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D. 4) SPP Untuk Pengadaan Tanah Pembayaran pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilaksanakan melalui mekanisme pembayaran langsung (LS). c) Rekening koran yang menunjukkan saldo terakhir. Pengaturan mekanisme pembayaran adalah sebagai berikut.

(2) Pengadaan tanah yang luasnya lebih dari satu hektar dilakukan dengan bantuan panitia pengadaan tanah di kabupaten/kota setempat. (6) Pernyataan dari penjual bahwa tanah tersebut tidak dalam sengketa dan tidak sedang dalam agunan.2007 80 . (2) foto copy bukti kepemilikan tanah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I a) SPP-LS (Surat Permintaan Pembayaran .Pembayaran Langsung) (1) Persetujuan Panitia Pengadaan Tanah untuk tanah yang luasnya lebih dari satu hektar di kabupaten/kota. sedangkan besaran uangnya harus mendapat dispensasi UP/TUP sesuai ketentuan yang berlaku. b) SPP-UP/TUP (1) Pengadaan tanah yang luasnya kurang dari satu hektar dilengkapi persyaratan daftar nominatif pemilik tanah yang ditandatangani oleh kuasa PA. (9) Surat pelepasan hak adat (bila diperlukan). (3) Pengadaan tanah yang pembayarannya dilaksanakan melalui UP/TUP harus terlebih dahulu mendapat ijin dispensasi dari Kantor Pusat Ditjen PBN/Kanwil Ditjen PBN. (7) Pelepasan/penyerahan hak atas tanah/akta jual beli di hadapan PPAT. (3) kuitansi. (5) Surat persetujuan harga. (8) SSP PPh final atas pelepasan hak. (4) SPPT PBB tahun transaksi. dan dilengkapi dengan daftar nominatif pemilik tanah serta besaran harga tanah yang ditandatangani oleh Kuasa PA dan diketahui oleh Panitia Pengadaan Tanah (PPT). Pusdiklatwas BPKP .

dilengkapi dengan dokumen yang terkait dengan pembayarannya dan SSP honor/vakasi ditandatangani oleh kuasa PA/pejabat yang ditunjuk dan bendahara pengeluaran yang bersangkutan. PA atau pejabat Pusdiklatwas BPKP . (6) kuitansi yang disetujui oleh kuasa yang ditunjuk. daftar hadir kerja. (3) berita acara penyelesaian pekerjaan. surat daftar yang pemberian duka wafat/tewas. surat perintah kerja lembur.2007 81 . (5) berita acara pembayaran. b) Pembayaran lembur dilengkapi dengan daftar pembayaran perhitungan lembur yang ditandatangani oleh kuasa PA/pejabat yang ditunjuk dan bendahara pengeluaran. dilengkapi dengan: (1) kontrak/SPK yang mencantumkan nomor rekening rekanan. (4) berita acara serah terima pekerjaan. (2) surat pernyataan kuasa PA mengenai penetapan rekanan. c) Pembayaran keputusan pembayaran honor/vakasi tentang perhitungan dilengkapi honor dengan vakasi. dan SSP PPh Pasal 21. daftar hadir lembur dan SSP PPh Pasal 21. Lembur dan Honor/Vakasi a) Pembayaran gaji induk/gaji susulan/kekurangan gaji/gaji terusan/uang PPh Pasal 21. 6) SPP-LS Non Belanja Pegawai a) Pembayaran pengadaan barang dan jasa.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 5) SPP-LS Untuk Pembayaran Gaji.

b) Pembayaran biaya langganan daya dan jasa (listrik. dan biaya yang diperlukan untuk masing-masing pejabat. lama perjalanan dinas. PT Telkom. telepon dan air) dilengkapi dengan: (1) bukti tagihan daya dan jasa. Pusdiklatwas BPKP . (10) ringkasan kontrak. (8) jaminan bank. Dalam hal pembayaran Langganan Daya dan Jasa belum dapat dilakukan secara langsung. Tunggakan langganan daya dan jasa tahun anggaran sebelumnya dapat dibayarkan oleh satker/SKS setelah mendapat dispensasi/persetujuan terlebih dahulu dari Kanwil Ditjen PBN sepanjang dananya tersedia dalam DIPA berkenaan. tanggal keberangkatan. PDAM dll. tujuan. pangkat/golongan).).Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (7) faktur pajak beserta SSP yang telah ditandatangani wajib pajak.2007 82 . (2) nomor rekening pihak ketiga (PT PLN. c) Pembayaran belanja perjalanan dinas harus dilengkapi dengan daftar nominatif pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas. dapat satuan kerja/SKS yang bersangkutan melakukan bank atau yang dipersamakan yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan non pembayaran dengan UP. yang berisi antara lain: informasi mengenai data pejabat (nama. (9) dokumen lain yang dipersyaratkan untuk kontrakkontrak yang dananya sebagian atau seluruhnya bersumber dari pinjaman/hibah luar negeri.

MP = (PPP x JS) – JPS MP = maksimum pencairan dana. Pembayaran dilakukan oleh bendahara pengeluaran satker/SKS yang bersangkutan kepada para pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas. Apabila UP tidak mencukupi dapat mengajukan TUP sebesar kebutuhan riil satu bulan dengan memerhatikan maksimum pencairan (MP). dengan SPM terakhir yang diterbitkan. JS = jumlah setoran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Daftar nominatif tersebut harus ditandatangani oleh pejabat yang berwenang memerintahkan perjalanan dinas.000.000.PNBP tahun anggaran sebelumnya. JPS = jumlah pencairan dana sebelumnya sampai Pusdiklatwas BPKP . d) Dalam pengajuan SPM-TUP/GUP/LS PNBP ke KPPN. 7) SPP untuk PNBP a) UP/TUP untuk PNBP diajukan terpisah dari UP/TUP lainnya. satker pengguna harus melampirkan daftar perhitungan jumlah MP. PPP = proporsi pagu pengeluaran terhadap pendapatan. b) UP dapat diberikan kepada satker pengguna sebesar 20% dari pagu dana PNBP pada DIPA maksimal sebesar Rp500. c) Dana yang berasal dari PNBP dapat dicairkan maksimal sesuai formula sebagai berikut. dan disahkan oleh pejabat yang berwenang di KPPN.2007 83 .00 dengan melampirkan Daftar Realisasi Pendapatan dan Penggunaan Dana DIPA .

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I e) Untuk satker pengguna yang setorannya dilakukan secara terpusat. i) Pertanggungjawaban penggunaan dana UP/TUP PNBP oleh kuasa PA. Pusdiklatwas BPKP . k) Sisa dana PNBP dari satker pengguna di luar butir i. j) Khusus perguruan tinggi negeri selaku pengguna PNBP (non BHMN). sisa dana PNBP yang disetorkan pada akhir tahun anggaran ke rekening kas negara dapat dicairkan kembali maksimal sebesar jumlah yang sama pada awal tahun anggaran berikutnya mendahului diterimanya DIPA dan merupakan bagian dari target PNBP yang tercantum dalam DIPA tahun anggaran berikutnya. f) Satker pengguna yang menyetorkan pada masing-masing unit (tidak terpusat). yang disetorkan ke rekening kas negara pada akhir tahun anggaran merupakan bagian realisasi penerimaan PNBP tahun anggaran berikutnya dan dapat dipergunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan setelah diterimanya DIPA. pencairan dana diatur secara khusus dengan surat edaran Dirjen PBN tanpa melampirkan SSBP. h) Besarnya pencairan dana PNBP secara keseluruhan tidak boleh melampaui pagu PNBP satker yang bersangkutan dalam DIPA. g) Besaran PPP untuk masing-masing satker pengguna diatur berdasarkan surat keputusan Menteri Keuangan yang berlaku. pencairan dana harus melampirkan bukti setoran (SSBP) yang telah dikonfirmasi oleh KPPN. dilakukan dengan mengajukan SPM ke KPPN setempat cukup dengan melampirkan SPTB.2007 84 .

Penerimaan dan pengujian SPP Petugas penerima SPP memeriksa kelengkapan berkas SPP. 1) Memeriksa secara rinci dokumen pendukung SPP sesuai dengan ketentuan yang berlaku.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I l) Sisa UP/TUP dana PNBP sampai akhir tahun anggaran yang tidak disetorkan ke rekening kas negara. nomor rekening dan nama bank). SPP. b. alamat.2007 85 . 4) Memeriksa kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain: a) pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/perusahaan. mencatatnya dalam buku pengawasan penerimaan tanda terima SPP. 3) Memeriksa kesesuaian rencana kerja dan/atau kelayakan hasil kerja yang dicapai dengan indikator keluaran. Pejabat penerbit SPM melakukan pengujian atas SPP sebagai berikut. dan membuat/menandatangani pejabat penerbit SPM. akan diperhitungkan pada saat pengajuan pencairan dana UP tahun anggaran berikutnya. mengisi check list kelengkapan berkas SPP. Prosedur Penerbitan SPM Setelah menerima SPP. 4. 2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran. a. pejabat penerbit SPM menerbitkan SPM dengan mekanisme sebagai berikut. Selanjutnya petugas penerima SPP menyampaikan SPP dimaksud kepada Pusdiklatwas BPKP .

Setelah dilakukan pengujian terhadap SPP-UP/SPP-TUP/SPPGUP/SPP-LS. c) jadwal waktu pembayaran. c. Pejabat Penguji SPP dan Penanda Tangan SPM menerbitkan SPM-UP/SPM-TUP/SPM-GUP/SPM-LS dalam rangkap tiga. 2) lembar ketiga sebagai pertinggal pada satker yang bersangkutan. Pengguna anggaran/kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk menyampaikan SPM beserta dokumen pendukung dilengkapi dengan Arsip Data Komputer (ADK) berupa soft copy melalui loket penerimaan SPM pada KPPN atau melalui kantor pos. Penyampaian SPM kepada KPPN Penyampaian SPM kepada KPPN dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut. Pusdiklatwas BPKP .2007 86 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b) nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan/atau kelayakannya dengan prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak). dengan rincian: 1) lembar kesatu dan kedua disampaikan kepada KPPN. a. 5) Memeriksa pencapaian tujuan dan/atau sasaran kegiatan sesuai dengan indikator keluaran yang tercantum dalam DIPA berkenaan dan/atau spesifikasi teknis yang sudah ditetapkan dalam kontrak. C. kecuali bagi satker yang masih menerbitkan SPM secara manual tidak perlu ADK. PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA NEGARA OLEH BENDAHARA UMUM NEGARA (BUN)/KUASA BUN 1.

c) faktur pajak dan SSP. harus disetorkan ke rekening kas negara. 2) untuk keperluan pembayaran langsung (LS) non belanja pegawai: a) resume kontrak/SPK atau daftar nominatif perjalanan dinas. b) surat-surat keputusan kepegawaian dalam hal terjadi perubahan pada daftar gaji.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b. c) surat keputusan pemberian honor/vakasi dan SPK lembur. b) SPTB. 3) untuk keperluan pembayaran TUP: a) rincian rencana penggunaan dana. 1) untuk keperluan pembayaran langsung (LS) belanja pegawai: a) daftar gaji/gaji susulan/kekurangan gaji/lembur/honor dan vakasi yang ditandatangani oleh kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk dan bendahara pengeluaran. (2) apabila terdapat sisa dana TUP.00. SPM dimaksud dilampiri bukti pendukung pengeluaran sebagai berikut.2007 87 . b) surat dispensasi Kepala Kantor Wilayah Ditjen.000. Perbendaharaan untuk TUP diatas RP200. d) surat setoran pajak (SSP).000. Pusdiklatwas BPKP . c) surat pernyataan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk yang menyatakan bahwa: (1) dana tambahan UP tersebut akan digunakan untuk keperluan mendesak dan akan habis digunakan dalam waktu satu bulan terhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D.

dan meneruskan check list serta kelengkapan SPM ke seksi perbendaharaan untuk diproses lebih lanjut.2007 88 . mengisi check list kelengkapan berkas SPM. Bukti asli lampiran SPP merupakan arsip yang disimpan oleh PA/KPA. c. Pengujian SPM Berdasarkan berkas SPM yang diterima. daftar nominatif perjalanan Pusdiklatwas BPKP . 1) Pengujian substantif dilakukan untuk menguji: a) kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM. 2. e. d. 4) untuk keperluan pembayaran GUP: a) SPTB. c) dokumen dinas). Pengujian SPM dan Penerbitan SP2D a. sebagai dasar penagihan (ringkasan kontrak/SPK. mencatat dalam Daftar Pengawasan Penyelesaian SPM. surat keputusan. b) ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA yang ditunjuk dalam SPM tersebut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (3) tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung. Petugas KPPN pada loket penerimaan SPM memeriksa kelengkapan SPM. b) Faktur Pajak dan SSP. KPPN melakukan pengujian yang bersifat substansif dan formal. SPM Gaji Induk harus sudah diterima KPPN paling lambat tanggal 15 sebelum bulan pembayaran.

apabila tidak memenuhi syarat untuk diterbitkan SP2D. termasuk tidak boleh terdapat cacat dalam penulisan. Pengembalian SPM sebagaimana dimaksud di atas diatur sebagai berikut. 1) SP2D Gaji Induk diterbitkan paling lambat lima hari kerja sebelum awal bulan pembayaran gaji. b) memeriksa cara penulisan/pengisian jumlah uang dalam angka dan huruf. Penerbitan SP2D Penerbitan SP2D wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai berikut. c) memeriksa kebenaran dalam penulisan. b) pengembalian SPM kepada penerbit SPM. Keputusan hasil pengujian ditindak lanjuti dengan: a) penerbitan SP2D bilamana SPM yang diajukan memenuhi syarat yang ditentukan. 2) Pengujian formal dilakukan untuk: a) mencocokkan tanda tangan pejabat penanda tangan SPM dengan spesimen tanda tangan. b.2007 89 . Pusdiklatwas BPKP . b) SPM UP/TUP/GUP dan LS dikembalikan paling lambat satu hari kerja setelah SPM diterima.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I d) surat pernyataan tanggung jawab (SPTB) dari kepala kantor/satker atau pejabat lain yang ditunjuk mengenai tanggung jawab terhadap kebenaran pelaksanaan pembayaran. e) faktur pajak beserta SSP-nya. a) SPM Belanja Pegawai Non Gaji Induk dikembalikan paling lambat tiga hari kerja setelah SPM diterima.

neraca. untuk diproses dan selanjutnya diteruskan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan u. anggaran (UAKPA) wajib membuat laporan realisasi anggaran dan neraca serta arsip data komputer (ADK) yang dikelolanya kepada menteri/pimpinan lembaga secara berjenjang melalui unit akuntansi pembantu pengguna anggaran tingkat wilayah (UAPPAW) dan kepada KPPN setempat. kepala KPPN selaku kuasa bendahara umum negara wajib membuat laporan kas posisi (LKP) harian dan mingguan yang disampaikan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan u. arus kas dan neraca kepada Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan.p. 3) SP2D UP/TUP/GUP dan LS paling lambat satu hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap. arus kas. Untuk keperluan pelaporan tersebut. 3.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) SP2D Non Gaji Induk diterbitkan paling lambat lima hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap.2007 90 . kepala kantor/satker selaku unit akuntansi kuasa pengguna D. Pusdiklatwas BPKP . 2.p. maka: 1. Direktur Pengelolaan Kas Negara dengan tembusan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan. kepala KPPN selaku kuasa bendahara umum negara wajib membuat laporan bulanan realisasi anggaran. Laporan yang menyangkut dengan realisasi APBN lainnya sepanjang belum dicabut dan masih diperlukan tetap dilaksanakan. Direktur Informasi dan Akuntansi. PELAPORAN REALISASI ANGGARAN BELANJA Untuk keperluan penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN diperlukan antara lain data realisasi APBN. dan catatan atas laporan keuangan.

2007 91 .2% Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan. Sri Mulyani menyatakan tidak tahu. Baik dari segi ekonomi. setiap laporan menyangkut pertumbuhan ekonomi pasti menyebutkan faktor-faktor yang mendukung pertumbuhan itu. Namun. Sedangkan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I E.2 persen. masih adanya hambatan dalam pencairan daftar isian pelaksanaan Anggaran (DIPA) dari sisi teknis maupun pelaksanaan projek atau programnya. dari sisi fiskal tidak ada kebijakan baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. dengan pendekatan dari sisi pengguna anggaran.58 persen.2 persen. Kita jalankan saja apa yang ada di APBN. Saya kira kalau kita mempertahankan situasi yang baik ini. BI menyatakan perekonomian pada triwulan Pusdiklatwas BPKP ." katanya. Ia mengakui. Bank Pembangunan Asia (ADB) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2006 mencapai 5. enam persen tahun ini masih dalam jangkauan. diskusikan artikel di bawah ini. "Pemerintah akan memerhatikan itu." kata dia di Gedung Departemen Keuangan Jln. "Saya kira kalau pribadi dari segi saya enam persen tetap. Menko Perekonomian Boediono optimistis pertumbuhan Indonesia pada tahun ini tetap mencapai target 6. BAHAN DISKUSI DAN SOAL LATIHAN BAHAN DISKUSI Berdasarkan materi pemelajaran di atas.4 persen. "Faktor-faktornya biasanya konsumsi dan investasi. sosial politik. Lapangan Banteng Jakarta." kata Sri Mulyani. mungkin penyerapan anggaran masih perlu lebih diakselerasi. Sebelumnya. Ketika ditanya mengapa pertumbuhan ekonomi hanya 4. "Sementara." ujarnya. Pemerintah Mempercepat Penyerapan Anggaran Untuk Mendorong Target Pertumbuhan 6. pemerintah akan mempercepat penyerapan anggaran dalam tahun 2006 guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang menurut laporan Bank Indonesia (BI) pada triwulan pertama 2006 hanya mencapai 4. pemerintah menargetkan pertumbuhan 6.58 persen. Sementara. Jumat (7/4). Fiskal tidak ada yang baru.

c atau d yang saudara anggap paling benar.7 persen. "PDB 2006 diperkirakan melebihi nilai tengah (mid point) 5.35 persen.2007 92 . dihabiskan sesuai dengan mata anggarannya c. dan intensifnya upaya pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi.. tidak mewah. (JAKARTA-(PR) A-75/A-78)*** SOAL LATIHAN Pilihlah salah satu jawaban a.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pertama 2006 diperkirakan tumbuh 4. pengeluaran yang dilakukan tidak boleh melampaui batas anggaran yang tersedia pengeluaran negara dilakukan sehemat mungkin agar ada c. efisien sesuai kebutuhan teknis yang disyaratkan Anggaran negara merupakan batas tertinggi (maksimum) untuk setiap jenis pengeluaran artinya …. Untuk PDB secara keseluruhan 2006. sisa anggaran d.7 persen." katanya. dan surplus neraca pembayaran. kinerja neraca pembayaran yang lebih baik. kemampuan stimulus fiskal yang lebih besar.4 persen mendekati batas atas 5. terarah dan terkendali sesuai dengan rencana b. diperkirakan mengalami pertumbuhan sedikit lebih tinggi mendekati batas atas kisaran proyeksi BI yaitu 5. Untuk keseluruhan tahun 2006. a.0-5. semaksimal mungkin menggunakan produksi dalam negeri d. 1.58 persen." kata Gubernur Bank Indonesia Burhanudin Abdulah... anggaran yang tersedia sudah mengikat dan harus direalisir 2. Pusdiklatwas BPKP . BI memandang optimisme pada perekonomian nasional semakin menguat terutama didorong oleh ekonomi global yang lebih kondusif. menurunnya tingkat inflasi. anggaran yang tersedia harus dihabiskan sampai akhir tahun anggaran b. sedikit lebih tinggi dari perkiraan awal tahun sebesar 4. hemat. kecuali . Berikut adalah prinsip dari pengeluaran anggaran. b. "Perkembangan yang lebih positif ini terutama didukung oleh kestabilan ekonomi makro seperti menguatnya nilai tukar. a.

d. pejabat pembuat komitmen (PPK) kuasa pengguna anggaran (KPA) c..000.000. MAK Transito MAK Belanja Lain-lain c. Pengeluaran atas beban belanja negara harus memenuhi persyaratan berikut. satu bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan b.000. Pusdiklatwas BPKP .2007 93 .00 Rp 15 .. 6.00 c.000. d..00 b. Rp 10. a.. a.00 4. Rp 25. MAK Belanja Tidak Tersangka Pembayaran yang dapat dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran kepada satu rekanan paling tinggi . 8. 7. pejabat penguji Tambahan Uang Persediaan (TUP) dapat digunakan paling lama. 5. cek tunai dari KPPN SPM uang persediaan (SPM-UP) yang diterbitkan kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk dibebankan pada ….. SPP yang dibuat dan diajukan oleh bendahara pengeluaran b. (KPPN) d. d. dua minggu sejak tanggal SP2D diterbitkan dua bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan c.. a. bendahara pengeluaran b. sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan Penanggung jawab penggunaan uang persediaan (UP) adalah …. tiga bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan Dasar untuk mencairkan uang dari bendahara umum negara (BUN) adalah ….000. a. MAK Belanja Non Pegawai b. a. didasarkan atas DIPA atau dokumen yang disamakan dilengkapi pernyataan tidak melakukan KKN c. kecuali ….Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. d. Rp 5. SPM yang diterbitkan oleh kuasa pengguna anggaran SP2D yang diterbitkan oleh kantor pelayanan perbendaharaan c.000. a.000. d. berdasarkan bukti atas hak b.000.

surat setoran pajak (SSP) yg telah dilegalisir oleh KPA/PPK 10 Pusdiklatwas BPKP . b.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 9 Melakukan pembayaran tagihan pihak ketiga sebagai pengeluaran anggaran adalah tanggung jawab dari …. a. menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran/ pengguna barang b. kuasa pengguna anggaran d. semua (jawaban a. kuitansi/tanda bukti pembayaran b. bendahara umum negara/kuasa bendahara umum negara c. dan c) dapat melakukannya. Tentukan mana yang bukan menjadi persyaratan yang harus dilampirkan pada pengajuan SPP-GUP (penggantian uang persediaan) ….2007 94 . d. a. surat pernyataan tanggungjawab belanja (SPTB) surat pernyataan tidak melakukan KKN c.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB VI POKOK-POKOK PENGADAAN BARANG DAN JASA INSTANSI PEMERINTAH Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. Prinsip-Prinsip Dasar Pengadaan barang/jasa pemerintah yang yang sebagian atau seluruhnya dibiayai APBN/APBD diwajibkan untuk prinsip-prinsip sebagai berikut. Efektif. a. untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkatsingkatnya dan dapat dipertanggungjawabkan. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.2007 95 . dengan beberapa kali perubahannya. b. 1. sejak proses persiapan. KEBIJAKAN UMUM. peserta diklat diharapkan mampu mekanisme pengadaan barang dan jasa. A. berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang terbatas. DAN RUANG LINGKUP PENGADAAN BARANG DAN JASA Pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah yang sebagian atau seluruhnya dibiayai APBN/APBD diatur dalam Keputusan Presiden No. ETIKA. menerapkan Pusdiklatwas BPKP . hingga penunjukkan dan penetapan penyedia barang/jasa. Efisien. berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan. PRINSIP DASAR.

Kebijakan Umum Kebijakan umum pemerintah dalam pengadaan barang/jasa meliputi antara lain hal-hal sebagai berikut. tata cara evaluasi. berarti harus mencapai sasaran baik fisik.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c. penetapan calon penyedia barang/jasa.2007 96 . berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu berdasarkan transparan. dengan cara dan atau alasan apapun. d. rancang bangun dan perekayasaan nasional. Meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri. Adil/tidak diskriminatif. 2. Transparan. e. Terbuka dan bersaing. Akuntabel. termasuk syarat teknis administrasi pengadaan. a. berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa. yang sasarannya adalah memperluas lapangan kerja dan mengembangkan industri dalam ketentuan dan prosedur yang jelas dan Pusdiklatwas BPKP . berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak tertentu. sifatnya terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya. hasil evaluasi. keuangan maupun manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsipprinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa. f.

2007 97 . g. Etika yang harus dipegang teguh antara lain adalah sebagai berikut Pusdiklatwas BPKP . f. e. Menumbuh kembangkan peran serta usaha nasional. d. Meningkatkan peran serta usaha kecil termasuk koperasi kecil dan kelompok masyarakat dalam pengadaan barang/jasa. dan penyedia barang/jasa. Mengumumkan kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah secara terbuka melalui surat kabar naslonal dan/atau surat kabar provinsi. wajib mematuhi prinsip etika dalam pengadaan untuk menciptakan praktik yang sehat dan pemerintahan yang bersih. panitia/pejabat pengadaan. 3. Meningkatkan profesionalisme. Etika Dalam Pengadaan Barang/Jasa Para pihak yang terkait dengan aktivitas pengadaan barang/jasa yaitu penyedia barang/jasa dan pihak pemberi kerja maupun pihak lainnya yang terkait dengan pengadaan instansi pemerintah. Mengharuskan pelaksanaan pemilihan penyedia barang/jasa dilakukan di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I negeri dalam rangka meningkatkan daya saing barang/jasa produksi dalam negeri pada perdagangan internasional. c. kecuali yang bersifat rahasia pada setiap awal pelaksanaan anggaran kepada masyarakat luas. Meningkatkan penerimaan negara melalui sektor perpajakan. kemandirian dan tanggung jawab pengguna barang/jasa. Mengharuskan pengumuman rencana pengadaan barang/jasa secara terbuka. h. Menyederhanakan ketentuan dan tata cara untuk mempercepat proses pengambilan keputusan dalam pengadaan barang/jasa. b. i.

Pusdiklatwas BPKP . d. Tidak saling memengaruhi baik langsung maupun tidak langsung untuk mencegah dan menghindari terjadinya persaingan tidak sehat. disertai rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran kelancaran dan ketepatan tercapainya tujuan pengadaan barang/jasa. golongan atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. c.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I a. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa. langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan barang/jasa (conflict of interest). h. e. Bekerja secara profesional dan mandiri atas dasar kejujuran. Menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak yang terkait.2007 98 . Melaksanakan tugas secara tertib. Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang ditetapkan sesuai dengan kesepakatan para pihak. Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. f. b. Tidak menerima. tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima hadiah/imbalan berupa apa saja kepada siapapun yang diketahui atau patut dapat diduga berkaitan dengan pengadaan barang/jasa. g. serta menjaga kerahasiaan dokumen pengadaan barang dan jasa yang seharusnya dirahasiakan untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam pengadaan barang/jasa.

Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibiayai dari dana APBN. BUMN. b. Ruang Lingkup dan Pembiayaan Pengadaan a. Pembiayaan Pengadaan. pengadaan barang/jasa yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD. apabila ditindaklanjuti dengan keputusan menteri/pemimpin lembaga/panglima TNI/Kapolri/Dewan Gubernur BI/pemimpin BHMN/direksi BUMN. BUMD. harus tetap berpedoman serta tidak boleh bertentangan dengan ketentuan dalam Keputusan Presiden 80/2003. b. Pusdiklatwas BPKP . c. Ruang lingkup pengadaan barang/jasa mencakup: a. pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruhnya dibiayai dari pinjaman/hibah luar negeri (PHLN) yang sesuai atau tidak bertentangan dengan pedoman dan ketentuan pengadaan barang/jasa dari pemberi pinjaman/hibah bersangkutan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4. Departemen/kementerian/lembaga/ TNI/Polri/pemerintah pelaksanaan 1) honorarium daerah/BI/ BHMN/BUMN/BUMD yang dibiayai wajib dari menyediakan biaya administrasi proyek untuk mendukung pengadaan barang/jasa APBN/APBD. yaitu biaya untuk: pengguna barang/jasa. bendaharawan.2007 99 . yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD. dan staf proyek. pengadaan barang/jasa untuk investasi di lingkungan BI. BHMN. dan peraturan daerah/keputusan kepala daerah yang mengatur pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibiayai dari dana APBD. panitia/pejabat pengadaan.

Pusdiklatwas BPKP . 3) penggandaan dokumen pengadaan barang/jasa dan/atau dokumen prakualifikasi. Metode evaluasi penawaran. Penetapan penyedia barang/jasa dan jenis kontrak. 4. Organisasi Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Organisasi dalam pengadaan barang/jasa pemerintah meliputi: • • • pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. 3. 7. Harga perkiraan sendiri (HPS). 6. POKOK-POKOK KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMERINTAH Pada subbab ini akan dibahas mengenai pokok-pokok kebijakan pengadaan barang dan jasa pemerintah yang meliputi: 1. Organisasi dan tugas pokok organ pengadaan barang dan jasa pemerintah. 1. Pelaksanaan dan metode pemilihan penyedia barang/jasa. 4) administrasi lainnya yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pengadaan barang/jasa. B. panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan. pejabat pembuat komitmen. Organisasi dan Tugas Pokok Organ Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah a. Prakualifikasi dan pascakualifikasi.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) pengumuman pengadaan barang/jasa. Uraian lebih lanjut dari pokok kebijakan pengadaan barang dan jasa adalah sebagai berikut. Metode penyampaian dokumen penawaran. 5.2007 100 . 2.

c.000. keuangan.000. dan fungsional atas pengadaan barang/jasa yang dilaksanakannya. 1) Pengadaan dilaksanakan sampai oleh dengan seorang Rp50.00 pejabat pengadaan.000.000. namun bukan (dilarang) pegawai yang menjadi: a. Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Organisasi dalam pengadaan barang/jasa bertugas dan bertanggung jawab dari segi administrasi. dapat Untuk pengadaan di atas Rp50. baik dari instansi sendiri maupun instansi teknis lainnya. Berkaitan dengan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan terdapat beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan yang mencakup hal-hal berikut. 2) Anggota panitia pengadaan/pejabat pengadaan/anggota unit layanan pengadaan berasal dari pegawai negeri. pejabat pembuat komitmen dan bendahara.2007 101 .00 wajib dibentuk panitia pengadaan. pengawasan BI/BHMN/BUMN/BUMD untuk pengadaan panitia/pejabat pengadaan/anggota dibutuhkan instansinya). b. pegawai Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)/inspektorat utama internal pengadaan lembaga jenderal pemerintah departemen/inspektorat non departemen/badan (kecuali unit barang/jasa menjadi layanan yang pengawas daerah provinsi/kabupaten/kota. pejabat yang bertugas melakukan verifikasi surat permintaan pembayaran dan/atau pejabat yang bertugas menandatangani surat perintah membayar. fisik. Pengadaan juga dapat dilaksanakan oleh unit layanan pengadaan (Procurement Unit).

Pejabat Pembuat Komitmen dilarang mengadakan ikatan perjanjian dengan penyedia barang/jasa apabila belum tersedia anggaran atau tidak cukup tersedia anggarannya. b. anggota panitia pengadaan berasal dari instansinya sendiri atau instansi teknis pemerintah. dan memahami prosedur pengadaan berdasarkan Peraturan Presiden ini. memahami keseluruhan pekerjaan yang akan diadakan. 4) Jumlah panitia harus berjumlah gasal dengan ketentuan sebagai berikut. Tugas Pokok Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pejabat Pembuat Komitmen diangkat dengan surat keputusan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran.2007 102 . Jumlah Pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya ≤ Rp500 juta > Rp500 juta Pengadaan jasa konsultansi ≤ Rp200juta > Rp200 juta Sedikitnya 3 orang Sedikitnya 5 orang 5) Panitia/pejabat pengadaan/anggota unit layanan pengadaan harus memiliki integritas moral. dengan Pusdiklatwas BPKP . Pejabat Pembuat Komitmen dapat melaksanakan proses pengadaan barang/jasa sebelum dokumen anggaran disahkan sepanjang anggaran untuk kegiatan yang bersangkutan telah dialokasikan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3) Dalam hal pengadaan barang/jasa dilakukan oleh Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. dan dapat menyertakan pihak lain yang ditunjuk oleh kepala badan pelaksana.

Pusdiklatwas BPKP .2007 103 . 2) menetapkan paket-paket pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil. serta kelompok masyarakat. 5) menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku. 4) menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan sesuai kewenangannya. 6) menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedia barang/jasa. 7) melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/ jasa kepada pimpinan instansinya. 8) mengendalikan pelaksanaan penjanjian/kontrak.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ketentuan penerbitan surat penunjukan penyedia barang/jasa (SPPBJ) dan penandatanganan kontrak pengadaan barang/jasa dilakukan setelah dokumen anggaran disahkan. 9) menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada menteri/Panglima TNI/Kepala Polri/pimpinan lembaga/pimpinan kesekretariatan lembaga tinggi negara/ pimpinan kesekretariatan komisi/gubernur/bupati /walikota/ Dewan Gubernur BI/pemimpin BHMN/direksi BUMN/BUMD dengan berita acara penyerahan. Tugas pokok Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) meliputi: 1) menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa. tata cara pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun oleh panitia pengadaan/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan. 3) menetapkan dan mengesahkan harga perkiraan sendiri (HPS). jadwal.

5) menilai kualifikasi penyedia melalui pascakualifikasi atau prakualifikasi. Pelaksanaan dan Metode Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah dapat dilakukan dengan cara: Pusdiklatwas BPKP . Tugas pokok pejabat/panitia pengadaan/Unit Layanan Pengadaan Tugas pokok pejabat/panitia pengadaan/unit layanan pengadaan (procurement unit) meliputi: 1) menyusun jadwal dan menetapkan cara pelaksanaan serta lokasi pengadaan. 8) membuat laporan mengenai proses dan hasil pengadaan kepada Pejabat Pembuat Komitmen dan/atau pejabat yang mengangkatnya. c. 2) menyusun dan menyiapkan harga perkiraan sendiri (HPS). 7) mengusulkan calon pemenang. 3) menyiapkan dokumen pengadaan. 4) mengumumkan pengadaan barang/jasa di surat kabar nasional dan/atau provinsi dan/atau papan pengumuman resmi untuk penerangan umum. 6) melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk.2007 104 . dan diupayakan diumumkan di website pengadaan nasional. 2. 9) menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 10)menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai.

yang dikelompokkan menjadi: o pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya. Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut. Metode Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Pemborongan /Jasa Lainnya Metode pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya dapat dilakukan dengan salah satu dari metode berikut. Pelelangan terbatas.2007 105 . ƒ ƒ Pelelangan umum. ¾ swakelola.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ¾ menggunakan jasa penyedia barang dan jasa. Pusdiklatwas BPKP . o pengadaan jasa konsultansi. PELELANGAN UMUM PENGADAAN BARANG/ JASA PEMBORONGAN PELELANGAN TERBATAS PEMILIHAN LANGSUNG PENYEDIA B/J PENUNJUKAN LANGSUNG SELEKSI UMUM PBJ PENGADAAN JASA KONSULTANSI SELEKSI TERBATAS SELEKSI LANGSUNG SWAKELOLA PENUNJUKAN LANGSUNG a.

00.2007 106 . Dalam hal metode penyedia pelelangan umum atau pelelangan terbatas dapat dilakukan dengan metode dinilai tidak efisien dari segi biaya pelelangan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ƒ ƒ Pemilihan langsung. guna pelelangan terbatas dan diumumkan secara penyedia memberi barang/jasa kesempatan yang telah diyakini penyedia luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi dengan kepada barang/jasa lainnya yang memenuhi kualifikasi. Pemilihan langsung dapat dilaksanakan untuk pengadaan yang bernilai sampai dengan Rp100.000. maka pemilihan barang/jasa pemilihan langsung. Penunjukkan langsung. Dalam hal jumlah penyedia barang/jasa yang mampu melaksanakan diyakini terbatas yaitu untuk pekerjaan yang kompleks. Pusdiklatwas BPKP . yaitu pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan dengan membandingkan sebanyak-banyaknya penawaran. yaitu metode pemilihan yang dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi untuk penerangan umum sehingga masyarakat luas dunia usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya. maka pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan metode mencantumkan mampu.000. prinsipnya pengadaan dilakukan melalui metode Pada pelelangan umum. sekurang-kurangnya tiga penawaran dari penyedia barang/jasa yang telah lulus prakualifikasi serta dilakukan negosiasi baik teknis maupun biaya serta harus diumumkan minimal melalui papan pengumuman resmi untuk penerangan umum dan bila memungkinkan melalui internet.

dan/atau b) pekerjaan yang perlu dirahasiakan yang menyangkut pertahanan dan keamanan negara yang ditetapkan oleh Presiden. keamanan dan keselamatan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda.2007 107 . dan/atau ƒ dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa usaha orang perseorangan dan/atau badan usaha kecil termasuk koperasi kecil. 2) Pengadaan barang/jasa khusus. termasuk penanganan darurat akibat bencana alam. 1) Keadaan tertentu.000. yaitu : a) pekerjaan berdasarkan tarif resmi yang ditetapkan pemerintah.00 ketentuan: ƒ untuk keperluan sendiri. pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan cara penunjukan langsung terhadap satu penyedia barang/jasa dengan cara melakukan negosiasi baik teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat dapat dipertanggungjawabkan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus. dan/atau ƒ risiko kecil. Penunjukan langsung dilaksanakan dalam hal memenuhi kriteria sebagai berikut.000. dan/atau ƒ teknologi sederhana. yaitu: a) penanganan darurat untuk pertahanan negara. atau (lima puluh juta rupiah) dengan Pusdiklatwas BPKP . dan/atau c) pekerjaan yang berskala kecil dengan nilai maksimum Rp50. atau harus dilakukan segera.

atau c) merupakan hasil produksi usaha kecil atau koperasi kecil atau pengrajin industri kecil yang telah mempunyai pasar dan harga yang relatif stabil. ƒ seleksi langsung. Metode Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi Pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan dengan salah satu dari metode: ƒ seleksi umum. b.2007 108 . atau d) pekerjaan yang kompleks yang hanya dapat dilaksanakan dengan penggunaan teknologi khusus dan/atau hanya ada satu penyedia barang/jasa yang mampu mengaplikasikannya. ƒ seleksi terbatas. pengadaan harus dilakukan melalui seleksi umum. Pusdiklatwas BPKP . seleksi langsung atau penunjukan langsung. Seleksi umum adalah metode pemilihan penyedia jasa konsultansi yang daftar pendek pesertanya dipilih melalui proses prakualifikasi secara terbuka yaitu diumumkan secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi untuk berminat dan memenuhi penerangan umum sehingga masyarakat luas mengetahui dan penyedia jasa konsultansi yang kualifikasi dapat mengikutinya. Pada prinsipnya. ƒ penunjukan langsung. Dalam keadaan tertentu pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan melalui seleksi terbatas. pemegang hak paten.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b) pekerjaan/barang spesifik yang hanya dapat dilaksanakan oleh satu penyedia barang/jasa. pabrikan.

dan/atau Pusdiklatwas BPKP .00.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Seleksi terbatas adalah metode pemilihan penyedia jasa konsultansi untuk pekerjaan yang kompleks dan diyakini jumlah penyedia jasa yang mampu melaksanakan pekerjaan tersebut jumlahnya terbatas. Penunjukan langsung dapat dilaksanakan dalam hal memenuhi kriteria: 1) penanganan darurat untuk pertahanan negara.000. dan/atau 3) pekerjaan yang perlu dirahasiakan yang menyangkut pertahanan dan keamanan negara yang ditetapkan oleh Presiden. maka pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan dengan seleksi langsung yaitu metode pemilihan penyedia jasa konsultansi yang daftar pendek pesertanya ditentukan melalui proses prakualifikasi terhadap penyedia jasa konsultansi yang dipilih langsung dan diumumkan sekurang-kurangnya di papan pengumuman resmi untuk penerangan umum atau media elektronik (internet).2007 109 . pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan dengan penunjukan langsung satu penyedia jasa konsultansi yang memenuhi kualifikasi dan dilakukan negosiasi baik dari segi teknis maupun biaya sehingga diperoleh biaya yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan. Dalam hal metode seleksi umum atau seleksi terbatas dinilai tidak efisien dari segi biaya seleksi. Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus. keamanan dan keselamatan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda/harus dilakukan segera.000. Seleksi langsung dapat dilaksanakan untuk pengadaan yang bernilai sampai dengan Rp100. dan/atau 2) penyedia jasa tunggal.

Swakelola dapat dilaksanakan oleh: o pengguna barang/jasa. dan/atau 2) pekerjaan yang operasi dan pemeliharaannya memerlukan partisipasi masyarakat setempat. dan/atau 5) pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh pemegang hak paten atau pihak yang telah mendapat ijin. c. dan/atau bernilai sampai dengan Rp50. o instansi pemerintah lain.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4) pekerjaan yang berskala kecil dengan ketentuan: untuk keperluan sendiri. mempunyai risiko kecil.2007 110 . dilaksanakan oleh penyedia jasa usaha orang perseorangan dan badan usaha kecil. Pekerjaan yang dapat dilakukan dengan swakelola meliputi: 1) pekerjaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis sumber daya manusia pengguna barang/jasa. dan/atau instansi pemerintah yang bersangkutan dan sesuai dengan fungsi dan tugas pokok Pusdiklatwas BPKP . menggunakan teknologi sederhana.000. Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa dengan Swakelola Swakelola adalah pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan. (Tambahan menurut Keppres 61 tahun 2004 tgl 5 Agustus 2004 tentang perubahan Keppres 80 tahun 2003).00 (lima puluh juta rupiah). o kelompok masyarakat/lembaga swadaya masyarakat penerima hibah. 6) pekerjaan yang memerlukan penyelesaian secara cepat dalam rangka pengembalian kekayaan negara yang penanganannya dilakukan secara khusus berdasarkan peraturan perundangundangan. dan diawasi sendiri. dikerjakan.000.

Pusdiklatwas BPKP . lokasi atau pembiayaannya tidak diminati oleh penyedia barang/jasa. lokakarya. penataran. sifat. HPS disusun oleh panitia/pejabat pengadaan dan ditetapkan oleh pengguna barang/jasa.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3) pekerjaan tersebut dilihat dari segi besaran. atau penyuluhan. pengembangan sistem tertentu dan penelitian oleh perguruan tinggi/lembaga ilmiah pemerintah. kursus.2007 111 . 3. dan/atau 4) pekerjaan yang secara terlebih rinci/detail dahulu. dan/atau 5) penyelenggaraan diklat. 8) pekerjaan yang bersifat rahasia bagi instansi pengguna barang/jasa yang bersangkutan. biaya umum dan keuntungan (overhead cost and profit) yang wajar bagi penyedia barang/jasa. HPS telah memperhitungkan pajak pertambahan nilai (PPN). dan/atau 6) pekerjaan untuk proyek percontohan (pilot project) yang bersifat khusus untuk pengembangan teknologi/metode dan/atau 7) pekerjaan khusus yang bersifat pemrosesan data. Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Pengguna barang/jasa wajib memiliki harga perkiraan sendiri (HPS) yang dikalkulasikan secara keahlian dan berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan. pengujian di laboratorium. tidak sehingga dapat apabila dihitung/ditentukan dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa akan menanggung risiko yang besar. HPS tidak boleh memperhitungkan biaya tak kerja yang belum dapat dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa. seminar. perumusan kebijakan pemerintah.

Perhitungan HPS menggunakan data dasar dan mempertimbangkan: a. harga kontrak/surat perintah kerja (SPK) untuk barang/pekerjaan sejenis setempat yang pernah dilaksanakan. Tujuan kualifikasi adalah untuk menjamin bahwa pengadaan barang/jasa pemerintah dilaksanakan oleh pihak yang mampu. f. d. HPS tidak dapat dijadikan dasar untuk menggugurkan penawaran. Prakualifikasi dan Pascakualifikasi a. biaya lain-lain dan Pajak Penghasilan (PPh) penyedia barang/jasa.2007 112 . informasi harga satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh Badan Pusat Statistik (BPS). 4. daftar harga standar/tarif biaya yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. Dalam proses Pusdiklatwas BPKP . Penilaian Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa Kualifikasi kemampuan adalah usaha proses calon penilaian penyedia atas kompetensi dan barang/jasa. HPS merupakan alat untuk menilai kewajaran harga penawaran termasuk rinciannya dan untuk menetapkan besaran tambahan nilai jaminan pelaksanaan bagi penawaran yang dinilai terlalu rendah. harga pasar setempat pada waktu penyusunan HPS. c. harga/tarif barang/jasa yang dikeluarkan oleh pabrikan/agen tunggal atau lembaga independen. informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan. e. h. perkiraan perhitungan biaya oleh konsultan/engineer's estimate (EE). g. badan/instansi lainnya dan media cetak yang datanya dapat dipertanggungjawabkan. b. analisis harga satuan pekerjaan yang bersangkutan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I terduga. Nilai total HPS terbuka dan tidak bersifat rahasia.

1) Memiliki surat izin usaha pada bidang usahanya yang dikeluarkan oleh instansi pemerintah yang berwenang yang Pusdiklatwas BPKP . dan apabila diketemukan penipuan/pemalsuan atas informasi yang disampaikan. Pengguna barang/jasa wajib menyederhanakan proses prakualifikasi dengan tidak meminta seluruh dokumen yang disyaratkan melainkan cukup dengan formulir isian kualifikasi penyedia barang/jasa. Penyedia barang/jasa wajib menandatangani surat pernyataan di atas meterai bahwa semua informasi yang disampaikan dalam formulir isian kualifikasi adalah benar. ƒ diancam dituntut secara perdata dan pidana. Dalam proses prakualifikasi/pascakualifikasi panitia /pejabat pengadaan tidak boleh melarang. ƒ dimasukkan dalam daftar hitam sekurang-kurangnya dua tahun. menghambat.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I penilaian menambah kualifikasi. ƒ tidak boleh mengikuti pengadaan untuk dua tahun berikutnya. panitia/pejabat pengadaan dilarang persyaratan prakualifikasi/pascakualifikasi di luar yang telah ditetapkan dalam ketentuan Keputusan Presiden ini atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Syarat Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa Persyaratan kualifikasi penyedia barang/jasa adalah sebagai berikut. terhadap yang bersangkutan dikenakan sanksi: ƒ pembatalan sebagai calon pemenang. dan membatasi keikutsertaan calon peserta pengadaan barang/jasa dari luar provinsi/kabupaten/kota lokasi pengadaan barang/jasa. b.2007 113 .

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I masih berlaku. 7) Memiliki kinerja baik dan tidak masuk dalam daftar sanksi atau daftar hitam di suatu instansi. 5) Telah melunasi kewajiban pajak tahun terakhir (SPT/PPh) serta memiliki laporan bulanan PPh Pasal 25 atau Pasal 21/Pasal 23 atau PPN sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan yang lalu. 2) Secara hukum mempunyai kapasitas menandatangani kontrak pengadaan. 6) Selama 4 (empat) tahun terakhir pernah memiliki pengalaman menyediakan barang/jasa baik di lingkungan pemerintah atau swasta termasuk pengalaman subkontrak baik di lingkungan pemerintah atau swasta . IUJK untuk jasa konstruksi. 4) Dalam hal penyedia jasa akan melakukan kemitraan. dan/atau tidak sedang menjalani sanksi pidana. penyedia barang/jasa wajib mempunyai perjanjian kerjasama operasi/kemitraan yang memuat persentase kemitraan dan perusahaan yang mewakili kemitraan tersebut.2007 114 . kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan. kecuali penyedia barang/jasa yang baru berdiri kurang dari 3 (tiga) tahun. tidak bangkrut. 3) Tidak dalam pengawasan pengadilan. 8) Memiliki kemampuan pada bidang pekerjaan yang sesuai untuk usaha kecil termasuk koperasi kecil. dan sebagainya. seperti SIUP untuk jasa perdagangan. Pusdiklatwas BPKP .

c) Untuk pengadaan jasa konsultansi memenuhi: KD = 3 NPt pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil dalam kurun waktu 7 (tujuh) tahun terakhir. a) Untuk jasa pemborongan memenuhi: KD = 2 NPt (KD : Kemampuan Dasar.2007 115 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 9) Memiliki kemampuan pada bidang dan subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil. 10) Dalam hal bermitra dasar dari yang diperhitungkan yang adalah mewakili kemampuan perusahaan kemitraan (lead firm). 11) Untuk pekerjaan khusus/spesifik/teknologi tinggi dapat ditambahkan persyaratan lain seperti peralatan khusus. Pusdiklatwas BPKP . atau pengalaman tertentu. tenaga ahli spesialis yang diperlukan. NPt : nilai pengalaman tertinggi) pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir. kecuali untuk penyedia barang/jasa usaha kecil termasuk koperasi kecil. 12) Memiliki surat keterangan dukungan keuangan dari bank pemerintah/swasta untuk mengikuti pengadaan barang/jasa sekurang-kurangnya sepuluh persen dari nilai proyek untuk pekerjaan jasa pemborongan dan lima persen dari nilai proyek untuk pekerjaan pemasokan barang/jasa lainnya. b) Untuk pengadaan barang/jasa lainnya memenuhi: KD = 5 NPt pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir.

Prakualifikasi konsultansi wajib dan dilaksanakan untuk pengadaan jasa pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa Pusdiklatwas BPKP .2007 116 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 13) Memiliki kemampuan menyediakan fasilitas dan peralatan serta personil yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan. Pascakualifikasi lainnya dari adalah penyedia proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu barang/jasa setelah memasukkan penawaran. 17) Untuk pekerjaan jasa pemborongan (SKK) yang memiliki dan sisa sisa kemampuan keuangan cukup kemampuan paket (SKP). 15) Menyampaikan daftar perolehan pekerjaan yang sedang dilaksanakan khusus untuk jasa pemborongan. Prakualifikasi lainnya dari adalah penyedia proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu barang/jasa sebelum memasukkan penawaran. Khusus untuk pekerjaan yang kompleks dapat dilakukan dengan prakualifikasi. dilakukan dengan pascakualifikasi. c. 14) Termasuk dalam penyedia barang/jasa yang sesuai dengan nilai paket pekerjaan. Pelaksanaan Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa Pada prinsipnya penilaian kualifikasi atas kompetensi dan kemampuan usaha peserta pelelangan umum. 16) Tidak membuat pernyataan yang tidak benar tentang kompetensi dan kemampuan usaha yang dimilikinya.

metode satu sampul. c. pelelangan terbatas dan pemilihan secara ringkas dapat disajikan sebagai berikut. Panitia/pejabat pengadaan dapat melakukan prakualifikasi untuk pelelangan umum pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya yang bersifat kompleks. b. Metode Penyampaian Dokumen Penawaran Metode berikut ini. a.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I lainnya yang menggunakan metode penunjukan langsung untuk pekerjaan langsung. penyampaian dokumen penawaran oleh calon penyedia barang/jasa pemerintah dapat menggunakan salah satu dari metode Pusdiklatwas BPKP . metode dua tahap.2007 117 . Metode pengadaan Tidak komplek Komplek Pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya Pelelangan umum Pelelangan terbatas Pemilihan langsung Penunjukan langsung Pascakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Pengadaan jasa konsultansi Seleksi umum Seleksi terbatas Seleksi langsung Penunjukan langsung Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Pasca atau prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi 5. metode dua sampul. Pelaksanaan kualifikasi pengadaan barang/jasa pemerintah kompleks.

persyaratan administrasi dan teknis dimasukkan dalam sampul tertutup I. Metode Evaluasi Penawaran a. 6.2007 118 . dan penawaran harga yang dimasukan ke dalam satu sampul tertutup kepada panitia/pejabat pengadaan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Metode satu sampul adalah cara penyampaian dokumen penawaran yang terdiri dari persyaratan administrasi. sedangkan harga penawaran dimasukkan dalam sampul tertutup II. yaitu: ƒ ƒ ƒ sistem gugur. dalam pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya dapat menggunakan salah satu dari tiga sistem yang ada. selanjutnya sampul I dan sampul II dimasukkan ke dalam satu sampul (sampul penutup) dan disampaikan kepada panitia/pejabat pengadaan. teknis. yang penyampaiannya dilakukan dalam dua tahap secara terpisah dan dalam waktu yang berbeda. Metode Metode Evaluasi Penawaran Pada Pengadaan Barang/Jasa Pemborongan/Jasa Lainnya evaluasi penawaran. sistem nilai. Dalam penyampaian dokumen penawaran dengan metode dua sampul. Sistem gugur adalah evaluasi penilaian penawaran dengan cara memeriksa dan membandingkan dokumen penawaran terhadap pemenuhan persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen Pusdiklatwas BPKP . Metode dua tahap adalah cara penyampaian dokumen penawaran yang persyaratan administrasi dan teknis dimasukkan dalam sampul tertutup I. sedangkan harga penawaran dimasukkan dalam sampul tertutup II. sistem penilaian biaya selama umur ekonomis. sesuai dengan jenis barang/jasa yang akan diadakan.

dalam pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat menggunakan salah satu dari lima metode yang ada. dan dibandingkan dengan jumlah nilai dari setiap penawaran peserta dengan penawaran peserta lainnya. kemudian nilai unsur-unsur tersebut dikonversikan ke dalam satuan mata uang tertentu. terhadap penyedia barang/jasa yang gugur. 2) metode evaluasi kualitas dan biaya. Pusdiklatwas BPKP . Metode Evaluasi Penawaran Pada Pengadaan Jasa Konsultansi Metode evaluasi penawaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pemilihan penyedia barang/jasa dengan urutan proses evaluasi dimulai dari penilaian persyaratan administrasi.2007 119 . yaitu: 1) metode evaluasi kualitas. Sistem penilaian biaya selama umur ekonomis adalah evaluasi penilaian penawaran dengan cara memberikan nilai pada unsur-unsur teknis dan harga yang dinilai menurut umur ekonomis barang dan yang ditawarkan berdasarkan kriteria nilai yang ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia tidak lulus penilaian pada setiap tahapan dinyatakan barang/jasa. b. Sistem nilai adalah evaluasi penilaian penawaran dengan cara memberikan nilai angka tertentu pada setiap unsur yang dinilai berdasarkan kriteria dan nilai yang telah ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa. sesuai dengan sifat jasa konsultansi yang akan diadakan. persyaratan teknis dan kewajaran harga. kemudian membandingkan jumlah nilai dari setiap penawaran peserta dengan penawaran peserta lainnya.

Metode evaluasi pagu anggaran adalah evaluasi pengadaan jasa konsultansi berdasarkan kualitas penawaran teknis terbaik dari peserta yang penawaran biaya terkoreksinya lebih kecil atau sama dengan pagu anggaran. Sedangkan metode evaluasi penunjukan langsung adalah evaluasi terhadap hanya satu penawaran jasa konsultansi berdasarkan kualitas teknis yang dapat dipertanggungjawabkan dan biaya yang wajar setelah dilakukan klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya. dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya. dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya. 4) metode evaluasi biaya terendah. Metode evaluasi biaya terendah adalah evaluasi pengadaan jasa konsultansi berdasarkan penawaran biaya terkoreksinya terendah dari konsultan yang nilai penawaran teknisnya di atas ambang batas persyaratan teknis yang telah ditentukan. Metode evaluasi kualitas dan biaya adalah evaluasi pengadaan jasa konsultansi berdasarkan nilai kombinasi terbaik penawaran teknis dan biaya terkoreksi dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya. Metode evaluasi kualitas adalah evaluasi penawaran jasa konsultansi berdasarkan kualitas penawaran teknis terbaik.2007 120 . Pusdiklatwas BPKP . dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3) metode evaluasi pagu anggaran. 5) metode evaluasi penunjukan langsung.

pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD dan bersifat Pusdiklatwas BPKP . 1) Untuk pengadaan barang/jasa yang bernilai sampai dengan Rp50. dan dituangkan dalam berita acara yang memuat keberatan dan kesepakatan masing-masing pihak.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 7. melalui pengguna barang/jasa laporan tersebut disertai usulan calon pemenang dan penjelasan atau keterangan lain yang dianggap perlu sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan.000. maka PPK membahas hal tersebut dengan panitia/pejabat pengadaan untuk mengambil keputusan dari alternatif: a) menyetujui usulan panitia/pejabat pengadaan.000. apabila PPK tidak sependapat dengan usulan panitia/pejabat pengadaan. atau c) bila akhirnya tidak tercapai kesepakatan. atau b) menetapkan keputusan yang disepakati bersama untuk melakukan evaluasi ulang atau lelang ulang atau menetapkan pemenang lelang. Penetapan penyedia barang/jasa Panitia/pejabat pengadaan membuat dan menyampaikan laporan kepada pengguna barang/jasa atau kepada pejabat yang berwenang mengambil keputusan untuk menetapkan pemenang lelang. maka akan diputuskan oleh menteri/PanglimaTNI/Kapolri/Kepala Gubernur BI/ LPND/gubernur/bupati/walikota/Dewan final. Ketentuan mengenai pejabat yang berwenang menetapkan penyedia barang/jasa pemerintah diatur sebagai berikut.2007 121 . Penetapan penyedia barang/jasa dan jenis kontrak a.00.000.

000. dan dituangkan dalam berita acara serta dilaporkan kepada PanglimaTNI/Kapolri/Kepala LPND/gubernur/ bupati/ walikota/ Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/ direktur utama BUMN/BUMD. LPND/ gubernur/bupati/walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/ direktur utama BUMN Pusdiklatwas BPKP . Kapolri/Kepala maka penetapan pemenang walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/direktur utama lelang keputusan lain diserahkan kepada menteri/PanglimaTNI/ LPND/gubernur/bupati/ walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD. apabila PPK tidak sependapat dengan usulan panitia/pejabat pengadaan.00.000.000. atau b) menetapkan keputusan yang disepakati bersama untuk melakukan menteri/ evaluasi ulang atau lelang ulang.000.000.2007 122 . atau 3) Apabila masih belum ada kesepakatan maka dilaporkan kepada menteri/PanglimaTNI/Kapolri/Kepala LPND/gubernur/ bupati/walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD. untuk diputuskan dan bersifat final.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Untuk pengadaan yang bernilai di atas Rp 50. dengan catatan keberatan dari pengguna barang/jasa. maka PPK membahas hal tersebut dengan panitia/pejabat pengadaan untuk mengambil keputusan: a) menyetujui usulan panitia/pejabat pengadaan untuk dimintakan persetujuan kepada menteri/PanglimaTNI/ Kapolri/Kepala /BUMD.00. apabila pengguna barang/jasa dan/atau panitia/pejabat Bupati/ atau pengadaan pengadaan tidak sependapat dengan keputusan menteri/PanglimaTNI/Kapolri/KepalaLPND/gubernur/ BUMN/BUMD. 4) Untuk pengadaan yang bernilai di atas Rp50.000.

dan semua risiko yang mungkin terjadi dalam proses penyelesaian pekerjaan sepenuhnya ditanggung oleh penyedia barang/jasa. 2) kontrak harga satuan. dengan jumlah harga yang pasti dan tetap. berdasarkan harga satuan yang pasti dan tetap untuk setiap satuan/unsur pekerjaan dengan spesifikasi teknis tertentu. b. sedangkan pembayarannya didasarkan pada hasil pengukuran bersama atas volume pekerjaan yang benar-benar telah dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I panitia/pejabat pengadaan pengadaan dan pengguna barang jasa tidak perlu melakukan perubahan berita acara evaluasi. Kontrak gabungan lump sum dan harga satuan adalah kontrak yang merupakan gabungan lump sum dan harga satuan dalam satu pekerjaan yang diperjanjikan. 5) kontrak persentase. Keputusan menteri/PanglimaTNI/Kapolri/Kepala Gubernur LPND/ gubernur/bupati/walikota/Dewan BI/pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD bersifat final. yang volume pekerjaannya masih bersifat perkiraan sementara. Kontrak harga satuan adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu. 3) kontrak gabungan lump sum dan harga satuan. 4) kontrak terima jadi (turn key). Jenis kontrak Kontrak pengadaan barang/jasa berdasarkan bentuk imbalan dapat berupa: 1) kontrak lump sum.2007 . 123 Pusdiklatwas BPKP . Kontrak lump sum adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu.

Kontrak persentase adalah kontrak pelaksanaan jasa konsultansi di bidang konstruksi atau pekerjaan pemborongan tertentu. Kontrak tahun tunggal adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa satu tahun anggaran. Gubernur untuk pengadaan yang dibiayai APBD Propinsi. peralatan dan jaringan utama maupun penunjangnya dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan kriteria kinerja yang telah ditetapkan. dimana konsultan yang bersangkutan menerima imbalan jasa berdasarkan persentase tertentu dari nilai pekerjaan fisik konstruksi/pemborongan tersebut. Bupati/Walikota untuk pengadaan yang dibiayai APBD Kabupaten/Kota. Kontrak pengadaan tunggal adalah kontrak antara satu unit kerja atau satu proyek dengan penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu. Kontrak pengadaan bersama adalah kontrak antara beberapa unit kerja atau beberapa proyek dengan penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu sesuai dengan kegiatan bersama yang jelas dari masing-masing unit kerja dan pendanaan bersama yang dituangkan dalam kesepakatan bersama.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Kontrak terima jadi adalah kontrak pengadaan barang/jasa pemborongan atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu dengan jumlah harga pasti dan tetap sampai seluruh bangunan/konstruksi. Kontrak tahun jamak adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa lebih dari satu tahun anggaran yang dilakukan atas persetujuan oleh Menteri Keuangan untuk pengadaan yang dibiayai APBN. Pusdiklatwas BPKP .2007 124 .

penyampaian dokumen penawaran. pelaksanaan dengan swakelola. Dokumen pengadaan mencakup dokumen pasca/prakualifikasi dan dokumen pemilihan penyedia barang/jasa. 1. Persiapan Pengadaan Barang dan Jasa Persiapan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah mencakup kegiatan berikut ini. Penetapan sistem pengadaan barang/jasa. persiapan pengadaan barang dana jasa pemerintah. Penetapan sistem pengadaan barang/jasa pemerintah mencakup kegiatan penetapan metode metode pemilihan penyedia barang/jasa. a. d. b.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I C. Perencanaan pengadaan barang/jasa pemerintah.2007 125 . 2. b. dan jenis kontrak yang sesuai dengan barang/jasa yang akan diadakan. pelaksanaan dengan menggunakan penyedia barang/jasa. Penyusunan dokumen pengadaan. yaitu a. Pusdiklatwas BPKP . Secara rinci prosedur tersebut adalah sebagai berikut. Beberapa hal dalam subbab ini akan dibahas dalam subab berikutnya. PROSEDUR PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH Prosedur pengadaan barang dan jasa pemerintah meliputi kegiatan: 1. e. Penyusunan jadwal pelaksanaan pengadaan. Pembentukan panitia pengadaan barang/jasa. Penyusunan Harga Perkiraan Sendiri (HPS). f. Penyusunan jadwal pelaksanaan pengadaan harus memberikan waktu yang cukup untuk semua tahapan proses pengadaan. c. pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah.

namun demikian. hal tersebut tidak membatasi calon penyedia barang/jasa lain yang merasa mampu.2007 126 . Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah dapat dilaksanaan oleh penyedia barang/jasa atau dilaksanakan sendiri oleh pengguna anggaran (swakelola). Dalam hal sistem dan pengadaannya menggunakan dahulu metode sebelum prakualifikasi. a. Pengumuman dan Pendaftaran Peserta Pengumuman pengadaan barang dan jasa pemerintah harus dilakukan sesuai dengan metode metode pemilihan penyedia barang dan jasanya. Urutan prosedur pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah dilakukan sesuai dengan metode menggunakan Penyedia Barang/Jasa pada pemilihan penyedia dasarnya akan barang/jasanya. Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa dengan dilaksanakan dengan urutan kegiatan sebagai berikut. seleksi umum. Dalam hal ini prosesnya akan meliputi: pengambilan dokumen prakualifikasi. Pusdiklatwas BPKP . pelelangan terbatas. pengumuman harus telah menyebutkan calon penyedia barang/jasa yang diyakini mampu. b. maka atas calon penyedia barang/jasa dinilai kemampuan kompetensinya terlebih memasukkan penawaran. Pengumuman pengadaan barang/jasa dengan pelelangan umum. penyerahan dokumen. penetapan dan pengumuman hasil prakualifikasi. evaluasi kualifikasi. dan seleksi terbatas harus dimuat di surat kabar nasional. masa sanggah kualifikasi. Dalam pelelangan terbatas dan seleksi terbatas. Penilaian Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2.

harus dituangkan dalam Berita Acara Penjelasan (BAP). Penjelasan Lelang (aanwwijziing) Pemberian penjelasan lelang dilakukan di tempat dan pada waktu yang ditentukan. peserta yang diundag adalah yang dimuat dalam daftar pendek (short list) peserta yang berisi sedikitnya 5 (lima) dan paling banyak 7 (tujuh) calon penyedia yang lulus prakualifikasi. menggunakan metode dokumen penawaran. hanya lulus kualifikasi yang dapat jika menyampaikan pengadaannya Sedangakan penawaran. maka semua calon penyedia barang/jasa yang merasa mampu dapat menyampaikan Pusdiklatwas BPKP . d.2007 127 . Penyusunan Daftar Peserta dan Penyampaian Undangan Untuk pengadaan barang dan jasa selain jasa konsultansi.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Sedangkan jika pengadaannya menggunakan metode pascakualifikasi maka penyerahan dokumen kualifikasi bersamsama dengan dokumen penawaran. Dalam acara penjelasan lelang. cara penyampaian penawaran. pascakualifikasi. daftar peserta pengadaan sesuai dengan peserta prakualifikasi. harus dijelaskan kepada peserta lelang mengenai: Metode penyelenggaraan pelelangan. dihadiri oleh para penyedia barang/jasa yang terdaftar dalam daftar peserta lelang. e. Pemberian penjelasan mengenai pasal-pasal dokumen pemilihan penyedia barang/jasa yang berupa pertanyaan dari peserta dan jawaban dari panitia /pejabat pengadaan serta keterangan lain termasuk perubahannya dan peninjauan lapangan. sedangkan untuk seleksi umum. Penyampaian dan Pembukaan Dokumen Penawaran Dalam metode peserta dokumen yang pengadaannya dengan prakualifikasi. c. dan syarat-syarat lainnya.

Unsur dokumen penawaran yang dievaluasi meliputi: • • • kelengkapan data administrasi. pelelangan tidak dapat dilanjutkan dan harus diulang. Pada tahap awal. Bila penawaran yang masuk kurang dari tiga peserta. dokumen teknis. berdasarkan kriteria. BAHP memuat hasil pelaksanaan Pusdiklatwas BPKP . Evaluasi Penawaran Evaluasi dokumen penawaran adalah kegiatan panitia pengadaan dalam meneliti dan menilai semua dokumen penawaran yang disampaikan oleh calon penyedia barang/jasa. teknis dan harga yang dituangkan dalam berita acara hasil pelelangan (BAHP). metode. f. BAPP dibagikan kepada wakil peserta pelelangan yang hadir tanpa dilampiri dokumen penawaran. kemudian mengumumkan kembali dengan mengundang calon peserta lelang yang baru. panitia/pejabat pengadaan dapat melakukan koreksi aritmatik terhadap semua penawaran yang masuk dan melakukan evaluasi sekurang-kurangnya tiga penawaran terendah setelah koreksi aritmatik. Urutan pembukaan dokumen dilakukan sesuai metode penyampaian dokumen yang ditetapkan.2007 128 . dan dokumen penawaran harga. Hasil pembukaan dokumen penawaran dituangkan dalam Berita Acara yang ditandatangani oleh panitia/pejabat pengadaan dan dua orang wakil peserta lelang yang sah yang ditunjuk oleh para peserta lelang yang hadir. dan tatacara evaluasi yang telah ditetapkan dalam dokumen lelang.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pembukaan dokumen penawaran harus melibatkan sekurang- kurangnya dua wakil dari peserta pelelangan yang hadir sebagai saksi. Panitia/Pejabat pengadaan membuat simpulan dari hasil evaluasi administrasi.

g. 2) perhitungan harga yang ditawarkan dapat dipertanggung jawabkan. 3) telah memerhatikan penggunaan semaksimal mungkin hasil produksi dalam negeri.2007 129 . maka panitia/pejabat pengadaan meneliti kembali data kualifikasi peserta yang bersangkutan. teknis dan harga. termasuk cara penilaian. Calon pemenang lelang harus sudah ditetapkan oleh panitia/pejabat pengadaan selambat-lambatnya tujuh hari kerja setelah pembukaan penawaran. sampai dengan penetapan urutan pemenangnya berupa daftar peserta pelelangan yang dimulai dari harga penawaran yang terendah. BAHP ditandatangani oleh ketua dan semua anggota panitia/pejabat pengadaan atau sekurangkurangnya dua pertiga dari jumlah anggota panitia. Pusdiklatwas BPKP .. dan memilih peserta yang menurut pertimbangannya mempunyai kemampuan yang lebih besar. penawaran tersebut adalah yang terendah diantara penawaran yang memenuhi syarat administrasi. serta telah sesuai dengan ketentuan maka panitia pengadaan menetapkan calon pemenang lelang yang paling menguntungkan dalam arti: 1) penawaran memenuhi syarat administratif dan teknis yang ditentukan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa. Penetapan Pemenang Apabila harga dalam penawaran telah dianggap wajar. rumus-rumus yang digunakan. Dalam hal terdapat dua calon pemenang lelang mengajukan harga penawaran yang sama.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pelelangan. dan dalam batas ketentuan mengenai harga satuan yang telah ditetapkan. dan hal ini dicatat dalam berita acara.

Sanggahan disampaikan kepada pimpinan instansi/pejabat pembuat komitmen/panitia secara tertulis disertai bukti-bukti terjadinya penyimpangan. Segera setelah pejabat yang berwenang mengambil keputusan tentang penetapan pemenang lelang. Pengumuman Pemenang Pemenang lelang diumumkan dan diberitahukan oleh panitia/pejabat pengadaan kepada para peserta selambatlambatnya dua hari kerja setelah diterimanya Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) dari pejabat yang berwenang. Sanggahan Peserta dan Pengaduan Masyarakat Peserta lelang yang keberatan atas penetapan calon pemenang lelang tersebut baik bertindak sendiri atau bersama-sama calon penyedia barang dapat mengajukan sanggahan secara tertulis secepat mungkin. h.2007 130 . cadangan urutan pertama dan cadangan urutan kedua. panitia mengumumkannya kepada para peserta lelang.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Panitia/pejabat pengadaan membuat dan menyampaikan laporan kepada PPK untuk menetapkan pemenang lelang disertai usulan calon pemenang dan penjelasan atau keterangan lain yang dianggap perlu sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Dalam pengumuman juga diberitahukan bahwa surat jaminan pelelangan dapat diambil kembali kecuali untuk peserta yang menang. Pusdiklatwas BPKP . i. Pemenang lelang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja untuk pengadaan sampai dengan Rp50 milyar dan 14 (empat belas) hari kerja untuk pengadaan di atas Rp50 milyar terhitung sejak surat usulan penetapan pemenang lelang tersebut diterima oleh pejabat yang berwenang menetapkan pemenang lelang.

baik secara tertulis maupun lisan kepada pejabat yang berwenang memberikan jawaban atas sanggahan tersebut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pejabat Pembuat Komitmen/Panitia/Pejabat Pengadaan wajib memberikan jawaban dan menyampaikan bahan-bahan yang berkaitan dengan sanggahan.2007 131 . atau sanggahan yang disampaikan ternyata tidak benar maka pengguna menetapkan penunjukan pemenang lelang pengadaan barang dengan surat keputusan. Penerbitan Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) Penunjukan pemenang lelang adalah keputusan definitif dari pengguna barang mengenai penunjukan pemenang lelang pengadaan barang dalam bentuk penerbitan SPPBJ. Penyedia barang yang ditunjuk menyiapkan jaminan pelaksanaan sesuai dengan ketentuan yang tercantum di dalam dokumen lelang. k. Apabila dalam waktu yang telah ditentukan tidak ada sanggahan dari peserta lelang. j. Penandatanganan Kontrak Tahap akhir dari rangkaian proses pelelangan adalah penandatanganan kontrak antara pengguna barang dengan penyedia barang/jasa yang ditunjuk. Pusdiklatwas BPKP .

2007 132 ... Berikut adalah kebijakan umum pengadaan barang/jasa.(Kompas. meningkatkan peran serta usaha kecil termasuk koperasi kecil Pejabat pengadaan terdiri dari. apalagi dengan unsur perjokian saat ujian untuk mendapatkannya. kecuali …. b... satu orang pejabat struktural di instansinya 2. Jangan ada konspirasi dalam pengeluarannya... menyederhanakan ketentuan dan tatacara dalam pelaksanaan pengadaan b... meningkatkan penerimaan negara melalui sektor perpajakan c. tiga orang b.. Bila di era sertifikasi sekarang ini masih ada pimpro dan aparat yang menyimpang dalam proyek. pemberian sertifikatnya harus selektif.. hal itu sangat keterlaluan.. Semua penting karena pemegang sertifikat bukan saja harus cakap dan menguasai aturan tentang proyek.. mengurangi impor barang jadi dari luar negeri d. . BAHAN DISKUSI DAN SOAL LATIHAN BAHAN DISKUSI Diskusikan artikel yang termuat pada salah satu harian berikut ini dari sisi pelaksanaan pedoman pengadaan barang/jasa instansi pemerintah..... c atau d yang Saudara anggap paling benar.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I D. tetapi juga jujur terlebih dulu....... Rabu 16 Agustus 2006) SOAL LATIHAN Pilihlah salah satu jawaban a.... Demikian halnya dengan adanya Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang atau Jasa Pemerintah juga harus bisa menjadi pedoman dalam pelaksanaan proyek pengadaan barang atau jasa pemerintah. 1.. a. a...... satu orang PNS baik dari instansi sendiri atau dari instansi lain c. Pusdiklatwas BPKP ..... satu orang PNS di instansinya d.. Oleh karena menjadi pimpro harus memiliki sertifikat khusus... . cakap dan sanggup melaksanakan proyek dengan baik serta penuh tanggung jawab.

prosedur dan metode pengadaan Yang tidak dilarang untuk diangkat menjadi panitia/pejabat pengadaan adalah …. di atas RP50 juta c. pengguna barang/jasa d. Pusdiklatwas BPKP . pelelangan umum dan pelelangan terbatas b. pelelangan dan penunjukan langsung c.2007 133 .. tidak berstatus sebagai calon pejabat struktural c. a.000.000. a. diserahkan kepada penyedia barang/jasa dan secara swakelola d. 7. Itjen.. sembilan penyedia barang/jasa 6. Tidak termasuk persyaratan sebagai panitia/pejabat pengadaan adalah…. dilaksanakan oleh panitia pengadaan atau oleh pejabat pengadaan Panitia pengadaan harus pengadaan yang bernilai…. tiga penyedia barang/jasa b. Bawasda Pengadaan barang/jasa pemerintah dilaksankan dengan dua cara yaitu…. 5. a. bendahara b. a. melalui penunjukan langsung dan melalui swakelola Pelelangan umum diikuti sekurang-kurangnya …. tidak mempunyai hubungan keluarga dengan pejabat yang mengangkatnya d. wajib dilaksanakan oleh panitia pengadaan b.. peneliti c. tidak ada batasan nilai dibentuk untuk melaksanakan paket 4. Pengadaan barang/jasa pemborongan sampai nilai Rp50. memiliki integritas moral dan tanggungjawab b. 8. pegawai BPKP. dilakukan dengan cara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. dilaksanakan oleh panitia pengadaan bersama-sama dengan pejabat pengadaan d. a. wajib dilaksanakan oleh pejabat pengadaan c. lima penyedia barang/jasa c. tujuh penyedia barang/jasa d. di atas Rp100 juta b. a. sampai Rp50 juta d. memahami isi dokumen.

a. negosiasi akhir 10. pasca kualifikasi c. menggunakan peralatan yang didesain khusus berisiko tinggi d. prakualifikasi b. Untuk pekerjaan yang sifatnya tidak komplek. pelelangan umum dilaksanakan dengan …. a. bernilai di atas Rp 50 milyar c. tidak dapat diselesaikan dalam satu tahun anggaran Pusdiklatwas BPKP . negosiasi awal d. memerlukan teknologi tinggi b.2007 134 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 9. Tidak termasuk batasan pengertian pekerjaan bersifat komplek adalah….

Peraturan-peraturan: a. Drs.. d. i. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Undang-undang No. f. 42 Tahun 2002 jo Keppres No.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN 135 6. g. Modul 1: Kebijakan Umum Pengadaan Barang dan Jasa. c. Jakarta. 72 tahun 2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Keputusan Presiden No. Perbendaharaan. Pusdiklatwas BPKP . 2 tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri Keputusan Presiden No. Penerbit Jembatan. Dr. e. keuangan dan Pengawasan Pembangunan. 1995. k. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara Undang-Undang No.. Bijloo J.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan Peraturan Pemerintah No. 4. Depkeu. 3. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Undang-undang No. Komisi Penterjemah. Komisi Penterjemah. S. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 beserta Amandemennya Undang-undang nomor 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak Undang-undang No. Garis-garis Besar Ilmu Keuangan Negara. 2. Wiemas AJGA. Jakarta.2007 . 1982. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa instansi pemerintah beserta amandemen I s/d VII Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK. Anggaran Negara. 1982. Ali Tojib M. 1979. Kantor Menteri Negara Koordinator Bidang Ekonomi. Pusdiklat Anggaran BPLK Depkeu. Goedhart C. j. 1996. h.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I DAFTAR PUSTAKA 1. b. Depkeu.H. Jakarta. Sistem Tata Usaha Keuangan Indonesia. Terjemahan oleh Ratmoko. 29 Tahun 2002 tentang APBN Tahun 2003 Undang-undang No. 5.

2006 Pusdiklatwas BPKP . 8.2007 136 . o. 7. Per-66/PB/2005 tentang Mekanisme Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Surat Edaran Direktur Jenderal Anggaran Nomor 136/A/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 42/2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN Surat Edaran Direktur Jenderal Anggaran Nomor 157/A/2002 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan APBN Peraturan-peraturan tentang Pengelolaan Setoran Penerimaan Negara Melalui Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi n. Departemen Komunikasi dan Informatika. Peraturan Dirjen Perbendaharaan No.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I l. Biro Keuangan. Peraturan-peraturan tentang Pengelolaan Dana Pinjaman/Hibah Luar Negeri dari Bappenas dan Departemen Keuangan Panduan Bagi KPPN dan Bendahara Pemerintah sebagai Pemotong/Pemungut Pajak-Pajak Negara. Republik Indonesia. m.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful