DIKLAT PEMBENTUKAN AUDITOR TERAMPIL

PPA I
KODE MA : 1.150

PEDOMAN PELAKSANAAN ANGGARAN I

2007
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGAWASAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN EDISI KELIMA

Judul Modul
Penyusun

: Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Perevisi I Perevisi II Perevisi III Perevisi IV Pereviu Editor

: Drs. Achmad Sadji, M.M. Drs. Abdul Kadir R. Bambang S.W., Ak., M.B.A. Drs. Bistok Manurung : Drs. Achmad Sadji, M.M. Drs. Abdul Kadir R. : Drs. Sunarto : Nurharyanto, Ak : Sigit Susilo Broto, Ak., M Comm Suhartanto, Ak., M.M. : Linda Ellen Theresia, SE., M.B.A. : Rini Septowati, Ak., M.M.

Dikeluarkan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP dalam rangka Diklat Sertifikasi JFA Tingkat Terampil
Edisi Pertama Edisi Kedua (Revisi Pertama) Edisi Ketiga (Revisi Kedua) Edisi Keempat (Revisi Ketiga) Edisi Kelima (Revisi Keempat) : : : : : Tahun 1998 Tahun 2000 Tahun 2004 Tahun 2006 Tahun 2007

ISBN 979-95661-1-8 (no. jilid lengkap) ISBN 979-95661-2-6 (jilid 1)

Dilarang keras mengutip, menjiplak, atau menggandakan sebagian atau seluruh isi modul ini, serta memperjualbelikan tanpa izin tertulis dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP

Pusdiklatwas BPKP
Jln. Beringin II Pandansari, Ciawi Bogor 16720

ISBN 979-95661-1-8 ISBN 979-95661-2-6

2007 i .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pusdiklatwas BPKP .

............. 42 Dasar Hukum ...................... C........................ 6 A............... 27 Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)........ 52 Bendahara Sebagai Pemotong Pph Pasal 23/26......2007 ii ................................................................................... 53 Bendahara Sebagai Pemotong Ppn Dan Ppnbm ................. .. 2 Deskripsi Singkat Struktur Modul ...... B......... B.................. Latar Belakang ..................................... 29 Penerimaan Pengembalian Belanja .................. i BAB I PENDAHULUAN ............................................................. D..................................... 56 Pusdiklatwas BPKP ....................................................... 1 Tujuan Pemelajaran Umum (TPU)... B................................................................................ 6 Penerbitan Dan Pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA) ....... E........................ 4 BAB II PERSIAPAN PELAKSANAAN ANGGARAN .. 46 Bendahara Sebagai Pemotong Pph Pasal 22 .......... D...................... F......... DAFTAR ISI ................................................. 42 Kewajiban Dan Sanksi Perpajakan Bendahara .................................................... BAB IV A.. 2 Tujuan Pemelajaran Khusus (TPK) ........ 3 Metodologi Pemelajaran. BAB III A........... Penetapan Pejabat Pengelola Anggaran .......... 1 A.................................. 27 Penerimaan Perpajakan .................................... C...................... 43 Bendahara Sebagai Pemotong Pph Pasal 21 Dan Pasal 26......................... B.................. 39 MEKANISME PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN PAJAK-PAJAK NEGARA OLEH BENDAHARA .............................................................. E............................................................. 14 MEKANISME PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN NEGARA .................. Error! Bookmark not defined........ C............................................Pedoman Pelaksanaan Anggaran I DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ..........

....…... Dan Ruang Lingkup Pengadaan Barang Dan Jasa ..135 Pusdiklatwas BPKP ...............125 Bahan Diskusi Dan Soal Latihan.. MEKANISME PELAKSANAAN BELANJA NEGARA .................... Etika... B. Kebijakan Umum......................................... B..............................……........................... 71 Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Oleh Bendahara Umum Negara (BUN)/Kuasa BUN ...................................................... 95 Pokok-Pokok Kebijakan Pengadaan Barang Dan Jasa Pemerintah .............. 91 POKOK-POKOK PENGADAAN BARANG DAN JASA INSTANSI PEMERINTAH ............. E..........Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB V A.... 60 Pedoman Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara.................................................................. 60 Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran........... D................... 95 Prinsip Dasar....100 Prosedur Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah....................................... 86 Pelaporan Realisasi Anggaran Belanja......... 90 Bahan Diskusi Dan Soal Latihan.... D..................................................................2007 iii .................….............. BAB VI A...... C.....132 DAFTAR PUSTAKA…...…………………………………..................................................... C..

pemerintah sebagai pelaksana dari UU APBN selanjutnya menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagai dasar hukum pelaksanaan APBN. Modul ini disusun untuk memenuhi materi pemelajaran pada Diklat Pembentukan Auditor Ahli di lingkungan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dengan jumlah jam pelatihan sebanyak 25 jam latihan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pelaksanaan anggaran merupakan salah satu tahapan dari siklus anggaran yang dimulai dari pengesahan pelaksanaan anggaran oleh anggaran. Pada saat ini keppres yang berlaku adalah Keppres nomor 42 tahun 2002. Tahapan pelaksanaan anggaran ini dimulai ketika UU Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disahkan oleh DPR. sebagaimana ditetapkan dalam Pola Diklat Auditor Bagi Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah. Modul ini akan menguraikan pedoman pelaksanaan anggaraan APBN.2007 1 . perencanaan anggaran. khususnya terkait dengan Undang-undang Pusdiklatwas BPKP . Dalam rangka terjadinya kesatuan pemahaman serta kesatuan langkah dalam pelaksanaan. Modul Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (PPA I) ini telah mengalami beberapa kali revisi dan penyempurnaan sejalan dengan perubahan ketentuan pengelolaan keuangan negara yang telah berkembang dan berubah secara signifikan. dan pengawasan anggaran pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran. penetapan dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

pajak (PNBP) dan penerimaan yang berasal dari penyelesaian kerugian keuangan negara. B. penerimaan negara bukan 3.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan Undang-undang No. menjelaskan mekanisme pelaksanaan penerimaan negara yang meliputi: penerimaan sektor perpajakan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I No. menjelaskan mekanisme pemotongan/pemungutan pajak-pajak negara oleh bendahara.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. C. mekanisme pembayaran melalui uang persediaan. penerbitan Pusdiklatwas BPKP . TUJUAN PEMELAJARAN KHUSUS (TPK) Setelah mengikuti pelajaran ini. Undang-undang No. peserta diklat diharapkan akan mampu: 1. proses pencairan dana APBN dan proses penerbitan SPM. menjelaskan menjelaskan mekanisme pelaksanaan belanja negara. menjelaskan persiapan pelaksanaan anggaran yang meliputi penetapan dan pengangkatan pejabat pengelola anggaran serta penerbitan DIPA sebagai dasar pelaksanaan anggaran. serta anggaran pembiayaan khususnya pembiayaan yang bersumber dari pinjaman luar negeri. 2. 4.15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan Keputusan Presiden Nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN beserta ketentuan-ketentuan pelaksanaan anggaran yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN).2007 2 . TUJUAN PEMELAJARAN UMUM (TPU) Tujuan pemelajaran umum modul ini adalah agar para auditor setelah mengikuti diklat ini diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I SP2D oleh KPPN serta memahami mekanisme pelaporan realisasi APBN. 6. menjelaskan mekanisme pengadaan barang dan jasa. Pembahasan modul PPA I ini akan diakhiri dengan pembahasan tentang pokok-pokok pengadaan barang dan jasa instansi pemerintah. menjelaskan mekanisme pembiayaan APBN dengan sumber pembiayaan dari pinjaman/hibah luar negeri. Pembahasan mekanisme pengadaan barang dan jasa ini dianggap penting dan wajib diketahui bagi auditor. sejak proses persiapan. D. dilanjutkan dengan pembahasan tentang mekanisme pelaksanaan anggaran pendapatan dan mekanisme pelaksanaan anggaran belanja yang diuraikan dalam Bab III dan Bab V.2007 3 . oleh karena itu. 2002 persiapan dijelaskan Keppres tahun hingga penunjukkan dan penetapan penyedia langkah-langkah pelaksanaan anggaran yang diuraikan dalam Bab I. Mekanisme penting yang perlu ditekankan dalam pelaksanaan anggaran ini adalah mekanisme pemotongan/pemungutan pajak oleh bendahara. DESKRIPSI SINGKAT STRUKTUR MODUL Modul ini membahas pedoman pelaksanaan anggaran baik dari sisi administrasi sebagaimana pembahasan maupun telah akan teknis diawali substansi dalam dengan pelaksanaan 42 anggaran. mekanisme ini akan secara khusus dibahas dalam Bab IV. Pusdiklatwas BPKP . 5. sesuai dengan Keppres 80 tahun 2003. seorang auditor wajib memahami hal ini dan secara khusus mekanisme pengadaan barang/jasa ini dibahas dalam Bab VI. barang/jasa. karena alokasi anggaran belanja yang paling dominan pada instansi pemerintah adalah anggaran yang dialokasikan untuk pengadaan barang/jasa. oleh karena itu.

2007 4 . Metode pemelajaran ini menerapkan Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Secara sistematis. Bab I Bab II Bab III Bab IV : Pendahuluan : Persiapan Pelaksanaan Anggaran : Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Pendapatan : Mekanisme Pemotongan/Pemungutan Pajak Negara oleh Bendahara Bab V Bab VI : Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Belanja : Pokok-Pokok Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah Guna menghindari kesalahan interpretasi terhadap materi pemelajaran yang tercantum dalam modul ini. dan ketentuan lainnya merupakan pelengkap yang tidak terpisahkan dari materi modul ini. modul ini lebih menitikberatkan pada sisi anggaran pendapatan dan belanja pada instansi pemerintah pusat (APBN). maka terdapat beberapa batasan yang digunakan dalam revisi modul ini. yaitu: 1. 2. urutan pembahasan dalam modul ini sebagai berikut. perkembangan perubahan peraturan pelaksanaan teknis di bidang pengelolaan anggaran yang dikeluarkan oleh instansi terkait seperti Menteri Keuangan c.q Ditjen Perbendaharaan. METODOLOGI PEMELAJARAN Agar peserta mampu Anggaran memahami I (PPA I). substansi proses modul belajar Pedoman mengajar Pelaksanaan menggunakan pendekatan andragogi. Dengan metode ini. E. peserta dipacu untuk berperan serta secara aktif melalui komunikasi dua arah. Ditjen Anggaran dan Perimbangan Keuangan Daerah.

dilakukan pula diskusi kelompok sehingga peserta benar-benar dapat secara aktif terlibat dalam proses belajar mengajar. dan diskusi pemecahan kasus. Untuk lebih membantu pemahaman peserta. Instruktur akan membantu peserta dalam memahami materi dengan metode ceramah dan pembahasan contoh kasus.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I kombinasi proses belajar mengajar dengan cara ceramah.2007 5 . Agar proses pendalaman materi dapat berlangsung dengan lebih baik. Dalam proses ini peserta diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan pendapat. Pusdiklatwas BPKP . modul ini dilengkapi pula dengan soal-soal teori dan pertanyaan kasus/bahan diskusi. tanya jawab.

PENETAPAN PEJABAT PENGELOLA ANGGARAN Sistem Administrasi Keuangan Perbendaharaarn Negara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB II PERSIAPAN PELAKSANAAN ANGGARAN Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. Pada awal tahun anggaran.2007 6 . dimulailah tahap ketiga yaitu tahap pelaksanaan anggaran (APBN) merupakan tersebut. A. maka selesailah tahapan kedua dari siklus anggaran yaitu tahapan penetapan dan pengesahan UU APBN oleh DPR. Negara. Pada saat ini. sesuai dengan UU 17 tahun pemisahan fungsi pejabat 2003 tentang Keuangan Negara dan UU 1 tahun 2004 tentang mengatur pengelola keuangan negara yang terdiri dari: Menteri Keuangan selaku kewenangan Presiden selaku kepala pemerintah yang untuk melaksanakan seluruh kebijakan yang telah tertuang dalam undang-undang Pusdiklatwas BPKP . Ketika Undang-Undang tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disetujui oleh DPR dan ditetapkan sebagai UndangUndang APBN. peserta diklat diharap mampu menjelaskan persiapan pelaksanaan anggaran yang meliputi penetapan dan pengangkatan pejabat pengelola anggaran serta penerbitan DIPA sebagai dasar pelaksanaan anggaran. langkah pertama yang dilakukan dalam tahap pelaksanaan anggaran meliputi penetapan pejabat pengelola anggaran serta penerbitan dan pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA) sebagai dasar hukum pelaksanaan anggaran bagi masing-masing kementerian/lembaga dan instansi pemerintah lainnya.

pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja negara. 2. Pusdiklatwas BPKP . menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran menetapkan para pejabat di lingkungannya yang ditunjuk sebagai: 1. sementara Pimpinan Kementerian/Lembaga selaku Pengguna Anggaran (Chief Operational Officer /COO).2007 7 .1.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Manajer Keuangan Negara (Chief Financial Officer /CFO) dan Bendahara Umum Negara (BUN). KEWENANGAN FUNGSI ADMINISTRASI MENURUT UU No. 3. Pada awal tahun anggaran. Pengurusan Komtabel comptabel beheer Pelaksanaan anggaran selanjutnya secara teknis dilakukan oleh kementerian dan lembaga terkait dengan menteri/pimpinan lembaga sebagai pengguna anggaran/pengguna barang. Struktur Organisasi dan pejabat yang berwenang dalam [pengelolaan keuangan negara dapar digambarkan sebagai berikut. kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang. pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara (PNBP). 1 Tahun 2004 Menteri Teknis Selaku Pengguna Anggaran Menteri Keuangan Selaku Bendahara Umum Negara PEMBUATAN PENGUJIAN & KOMITMEN PEMBEBANAN PERINTAH PEMBAYARAN PENGUJIAN & PEMBEBANAN PERINTAH PENCARIAN DANA Pengurusan Administrasi administrasi beheer Gambar 2.

6. Dengan ketentuan: pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja (butir 3) tidak boleh merangkap sebagai pejabat sebagaimana pada butir 4. 5. Ditjen Roren Policy Formula Rokeu Policy Implementation SPP KPPN voucher SPP Gambar 2. Perbandingan Kewenangan Pengguna Anggaran Menteri Teknis Menteri Keuangan Ditjen Setjen DJAPK Policy Formula DJPb Policy Implementation Set. pejabat yang bertugas melakukan pengujian dan perintah pembayaran. bendahara pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran belanja. 5.2007 8 . bendahara penerimaan untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran penerimaan. Dari flow chart di atas. sebagaimana seorang pejabat eselon IV (kuasa BUN) di KPPN menandatangani SP2D atas nama Menteri Keuangan/Bendahara Umum Negara.606/2004 tentang Pedoman Pembayaran dalam pelaksanaan Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4. Selanjutnya merujuk pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 606/PMK. tampak bahwa kewenangan pengguna anggaran dapat dikuasakan kepada eselon/pejabat yang lebih rendah yakni dari menteri teknis sampai dengan kepada eselon IV (kuasa pengguna anggaran).2. dan 6.

menjelaskan suatu struktur organisasi yang ideal menurut amanah UU No. 3. 2. dengan catatan tidak diperkenankan perangkapan jabatan pembuat komitmen dengan jabatan bendahara pengeluaran. kuasa pengguna anggaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I APBN Tahun 2005 dan Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-050/PB/2004 bahwa menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran menerbitkan keputusan tentang penunjukan: 1. STRUKTUR ORGANISASI PENGELOLA KEUANGAN NEGARA (IDEAL MENURUT UU) MENTERI PENGGUNA ANGGARAN SATKER KUASA PENGGUNA ANGGARAN PEMBUAT KOMITMEN BENDAHARA PENGUJI TAGIHAN PENERBIT SPM UNIT AKUNTANSI INSTANSI Pusdiklatwas BPKP . 4. Gambar di bawah ini. Gambar 2. pejabat yang diberi kewenangan untuk menerbitkan dan menandatangani SPM. bendahara pengeluaran. pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran.2007 9 . Keputusan tersebut bertujuan menyerahkan sepenuhnya kewenangan menteri teknis. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.3.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Gambar 2.4.

SATUAN KERJA (Satker) - PUSAT DIPA Satker 1. eselon 2 Kegiatan a Kegiatan b 2. eselon 2 Kegiatan 3. eselon 2 .. Dst. 1 DIPA 1 ESELON 1 1 PROVINSI

SATUAN KERJA (Satker) - PUSAT
1 DIPA 1 ESELON 1 1 PROVINSI

DIPA Satker a Kegiatan a Kegiatan b Satker b Kegiatan a Kegiatan b …Dst

Pusdiklatwas BPKP - 2007

10

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Gambar 2.5.

KEMENTERIAN NEGARA
SATKER KUASA PENGGUNA ANGGARAN

SETJEN DITJEN
ESELON 2 KUASA PENGGUNA ANGGARAN

BADAN IRJEN
ESELON 3 KUASA PENGGUNA ANGGARAN

Gambar 2.6. TINGKAT SEKRETARIAT JENDERAL DEPARTEMEN/LEMBAGA SEKJEN
KUASA PENGGUNA ANGGARAN

KEPALA BIRO

KARO KEUANGAN

KEPALA BIRO

PEMBUAT KOMITMEN

BENDAHARA

PENGUJI TAGIHAN

PENERBIT SPM

UNIT AKUNTANSI

Pusdiklatwas BPKP - 2007

11

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Gambar 2.7 TINGKAT DIREKTORAT JENDERALKEMENTERIAN/ LEMBAGA DITJEN
KUASA PENGGUNA ANGGARAN

DIREKTUR

SEK.DITJEN

DIREKTUR

PEMBUAT KOMITMEN

BENDAHARA

PENGUJI TAGIHAN

PENERBIT SPM

UNIT AKUNTANSI INSTANSI

Gambar 2.8. TINGKAT INPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN / LEMBAGA

IRJEN KPA

INSPEKTUR

SEK. ITJEN

INSPEKTUR

PEMBUAT KOMITMEN

BENDAHARA

PENGUJI TAGIHAN

PENERBIT SPM

UNIT AKUNTANSI

Pusdiklatwas BPKP - 2007

12

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Gambar 2.2007 13 . TINGKAT ESELON II PADA KEMENTERIAN / LEMBAGA: ESELON 2 KUASA PENGGUNA ANGGARAN KEPALA BIDANG KABAG.10. UMUM KEPALA BIDANG PEMBUAT KOMITMEN BENDAHARA PENERBIT SPM PEMBUAT KOMITMEN PENGUJI TAGIHAN UNIT AKUNTANSI INSTANSI Pusdiklatwas BPKP . INSTANSI BADAN PADA KEMENTERIAN/ LEMBAGA BADAN KPA DEPUTI/KA PUSAT SEKBADAN DEPUT/KAPUS PEMBUAT KOMITMEN BENDAHARA PENGUJI TAGIHAN PENERBIT SPM UNIT AKUNTANSI Gambar 2.9.

rencana penarikan dana tiap-tiap bulan dalam satu tahun serta pendapatan yang diperkirakan oleh kementerian/lembaga. DIPA merupakan suatu daftar isian yang memuat uraian: sasaran yang hendak dicapai. fungsi. kelompok mata anggaran keluaran dan rencana penarikan dana serta perkiraan penerimaan kementerian negara/lembaga.2007 14 . PENERBITAN DAN PENGESAHAN DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA) 1. jenis belanja. rincian kegiatan/sub kegiatan. program. DIPA yang lengkap memuat uraian fungsi/sub fungsi. sasaran program. 11 TINGKAT ESELON III PADA KEMENTERIAN/LEMBAGA ESELON 3 KUASA PENGGUNA ANGGARAN KEPALA SEKSI PEMBUAT KOMITMEN KASUBAG TU PENERBIT SPM KEPALA SEKSI BENDAHARA PENGUJI TAGIHAN PENGUJI TAGIHAN UNIT AKUNTANSI INSTANSI B. program dan rincian kegiatan. Dengan demikian dokumen DIPA yang lengkap terdiri dari: Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Gambar 2. Konsep DIPA Pelaksanaan anggaran pada setiap instansi pemerintah didasarkan pada sebuah dokumen yang disebut Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA).

Memuat informasi yang bersifat umum dari setiap satuan kerja tentang rincian fungsi. Struktur Penganggaran Masing-masing kementerian negara/lembaga dibagi dalam tingkat eselon I. Lebih jauh. Pusdiklatwas BPKP . kegiatan dan jenis belanja. Memuat informasi tentang rencana penarikan dana dan penerimaan negara bukan pajak yang menjadi tanggung jawab setiap satuan kerja. fungsi dan jenis belanja. program dan sasarannya serta indikator keluaran untuk masing-masing kegiatan. dalam pasal 15 undang-undang yang sama menyatakan bahwa anggaran yang disetujui oleh DPR dirinci dalam unit organisasi. 17/2003 menyatakan bahwa anggaran belanja negara dibagi atas unit organisasi. Selanjutnya informasi yang terdapat dalam DIPA dapat dijelaskan sebagai berikut.2007 15 . fungsi. Memuat informasi setiap satuan kerja tentang uraian kegiatan/sub kegiatan. program. a.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Surat Pengesahan DIPA DIPA halaman I (Umum) DIPA halaman II DIPA halaman III DIPA halaman IV Pengesahan DIPA yang ditandatangani Dirjen Perbendaharaan atau Kepala Kanwil DJPB atas nama Menteri Keuangan. Dalam pasal 11 ayat 5 UU No. Memuat catatan tentang hal-hal yang perlu menjadi perhatian oleh pelaksana kegiatan. volume keluaran yang hendak dicapai serta alokasi dana pada masing-masing belanja yang dicerminkan dalam mata anggaran keluaran.

dan pelaporan anggaran akan menjadi suatu sinergi yang positif apabila ada sinkronisasi antara struktur program dan kegiatan dengan struktur organisasinya. Dengan demikian tanggung jawab dan kewenangan akan lebih jelas bagi para manajer. Sub fungsi merupakan penjabaran fungsi yang dirinci ke dalam 79 (tujuh puluh sembilan) sub fungsi. Penggunaan fungsi dan sub fungsi disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing kementerian negara/lembaga. Fungsi adalah perwujudan tugas kepemerintahan di bidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional. walaupun tetap ada sedikit kesulitan apabila program dimaksud dilaksanakan Bagian secara lintas unit organsasi klasifikasi dan lintas kementerian negara/lembaga. unit eselon II dan unit eselon III yang bertanggung jawab terhadap suatu pelaksanaan kegiatan pendukung program. Pusdiklatwas BPKP . 2) Fungsi dan Sub Fungsi Klasifikasi anggaran dibagi menurut fungsi. Pelaksanaan. monitoring. hal ini akan sangat membantu dalam penyusunan struktur program dan kegiatan. anggaran merupakan anggaran berdasarkan organisasi antara lain menurut kementerian negara/lembaga.2007 16 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 1) Organisasi dan Bagian Anggaran Klasifikasi organisasi yang digunakan dalam anggaran belanja negara adalah sesuai unit yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan suatu program.

pembayaran cicilan utang dan berbagai kewajiban pemerintah sehubungan dengan Pusdiklatwas BPKP . legislatif. kegiatan luar negeri termasuk Menteri Luar Negeri. Wakil DPRD. keuangan dan fiskal serta urusan luar negeri digunakan untuk: administrasi. lembaga eksekutif dan legislatif. penasehat. termasuk kegiatan kantor kepala eksekutif pada semua level: legislatif: Presiden. statistik keuangan dan fiskal. semua tingkatan lembaga DPR. komite antar departemen dan lain-lain yang terkait dengan fungsi tertentu (diklasifikasikan sesuai dengan fungsi masing-masing). semua badan atau kegiatan yang bersifat tetap atau sementara yang ditujukan untuk membantu lembaga eksekutif dan legislatif. sub fungsi ini (01. Presiden. operasional perpajakan. kegiatan keuangan dan fiskal dan pelayanan pada seluruh tingkatan pemerintah. MPR.01) tidak termasuk untuk kantorkantor kementerian baik di pusat maupun di daerah. penyediaan dan penyebaran informasi. manajemen kas negara. kegiatan diplomat.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Contoh sub fungsi 01. kegiatan kementerian keuangan. misi-misi internasional dll. utang pemerintah.2007 17 . operasi atau dukungan untuk lembaga eksekutif. kegiatan politik dalam negeri. bupati/walikota dan lain-lain. dokumentasi. dan penyediaan dan penyebaran informasi dokumentasi. serta staf yang ditunjuk secara politis untuk membantu lembaga eksekutif dan legislatif. statistik mengenai politik dalam negeri. keuangan dan fiskal. administrasi. lembaga gubernur.01.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sub kegiatan yang satu dipisahkan dengan sub kegiatan lainnya berdasarkan perbedaan keluaran. dana. 3) Program Program adalah penjabaran kebijakan kementerian negara/lembaga dalam bentuk upaya yang berisi satu atau beberapa kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi kementerian negara/lembaga. Contoh : Kegiatan pendidikan dan pelatihan aparatur negara dengan sub kegiatan: Pusdiklatwas BPKP .2007 18 . atau kombinasi dari beberapa atau semua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. bantuan pemerintah RI kepada negara lain dalam rangka bantuan ekonomi. Timbulnya sub kegiatan adalah sebagai konsekuensi adanya perbedaan jenis dan satuan keluaran antar sub kegiatan dalam kegiatan dimaksud. Sub kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian sasaran dan tujuan kegiatan tersebut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I utang pemerintah. baik yang berupa personil (sumber daya manusia). yang terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya. 4) Kegiatan dan Sub Kegiatan Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program. barang modal termasuk peralatan dan teknologi.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

penyelenggaraan jumlah peserta didik;

Diklat

Penjenjangan

Jabatan

Fungsional Auditor (JFA) dengan keluaran antara lain: • • penyelenggaraan Diklat Fungsional dengan keluaran antara lain: jumlah lulusan; pengembangan kurikulum diklat dengan keluaran antara lain: jumlah modul. 5) Jenis Belanja Klasifikasi anggaran menurut jenis belanja dibagi ke dalam delapan kategori sebagai berikut. a) Belanja pegawai yaitu kompensasi dalam bentuk uang maupun barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah yang bertugas di dalam maupun di luar negeri sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan. Dikecualikan untuk pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. Belanja ini antara lain digunakan untuk gaji dan tunjangan, honorarium, vakasi, lembur dan kontribusi sosial. b) Belanja barang yaitu pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memroduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan. Belanja ini antara lain digunakan untuk pengadaan barang dan jasa, pemeliharaan, dan perjalanan. c) Belanja Modal yaitu pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal. Dalam belanja ini termasuk untuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jaringan, maupun dalam bentuk fisik lainnya, seperti buku, binatang dan lain sebagainya.
Pusdiklatwas BPKP - 2007

19

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

d) Beban Bunga yaitu pembayaran yang dilakukan atas kewajiban penggunaan pokok utang (principal

outstanding), baik utang dalam negeri maupun utang
luar negeri yang dihitung berdasarkan posisi pinjaman. e) Subsidi yaitu alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi, menjual, mengekspor, atau mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak, sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat terjangkau oleh masyarakat. Belanja ini antara lain digunakan untuk penyaluran subsidi kepada perusahaan negara dan perusahaan swasta. f) Bantuan Sosial yaitu transfer uang atau barang yang diberikan kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya risiko sosial. Bantuan sosial dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atau lembaga kemasyarakatan. Bantuan ini antara lain untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. g) Hibah yaitu transfer dana yang sifatnya tidak wajib kepada negara lain atau kepada organisasi internasional. Belanja ini antara lain digunakan untuk hibah kepada pemerintah luar negeri dan organisasi internasional. h) Belanja lain-lain yaitu pengeluaran/belanja

pemerintah pusat yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam jenis belanja pada huruf a) sampai dengan huruf g) tersebut di atas.

Pusdiklatwas BPKP - 2007

20

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Dalam (non

pengalokasian

dana

oleh

kementerian

negara/lembaga harus memerhatikan pagu yang terikat

discretionary) dan pagu yang tidak terikat

(discretionary) yang telah disepakati oleh pemerintah bersama-sama DPR. Pagu terikat adalah jumlah dana yang tidak dapat diubah selain untuk belanja yang sudah ditentukan antara lain pagu pembayaran gaji dan tunjangan (belanja pegawai) serta biaya langganan daya dan jasa. Sesuai dengan ketentuan UU No. 17 Tahun 2003 bahwa belanja negara digunakan pemerintah klasifikasi pusat untuk dan keperluan pelaksanaan jenis belanja penyelenggaraan daerah, maka

perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan dan berdasarkan diupayakan untuk memenuhi ketentuan tersebut. b. Lokasi DIPA juga menginformasikan lokasi pelaksanaan kegiatan/sub kegiatan, yaitu dengan memberikan informasi alamat pelaksanaan kegiatan seperti provinsi, kabupaten, kota atau lokasi di luar negeri. 2. Prosedur Penyelesaian DIPA a. Prosedur Penyelesaian DIPA di Pusat Prosedur penelaahan dan penyusunan DIPA di pusat diatur sebagai berikut. 1) Setelah keputusan presiden tentang Rincian APBN diterbitkan, dan data Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) diterima dari Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan (DJAPK), Direktorat Pelaksanaan Anggaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan

Pusdiklatwas BPKP - 2007

21

Kanwil DJPBN segera menyampaikan copy SRAA kepada Kantor Daerah Kementerian Negara/Lembaga atau satker pelaksana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk menyusun Konsep DIPA dan segera melakukan koordinasi dengan semua satker di wilayah pembinaannya. b. Prosedur Penyelesaian DIPA di Daerah Prosedur penelaahan dan penyusunan DIPA di daerah diatur sebagai berikut. dan dokumen pendukung untuk diteliti lebih lanjut. 2) Petugas penelaah Dit. Rincian tersebut meliputi kegiatan yang akan dilaksanakan di kantor pusat dan di daerah termasuk kegiatan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Pusdiklatwas BPKP . PA DKBN dan kementerian negara/lembaga melakukan penelaahan semua kegiatan yang tertuang dalam DIPA dan melampirkan: catatan pembahasan. Setelah Surat Rincian Alokasi Anggaran (SRAA) diterima dari Kantor Pusat DJPBN. PA DJPBN melakukan penelaahan DIPA yang diajukan kementerian negara/lembaga dengan mengacu kepada: i) alokasi anggaran yang ditetapkan Presiden. 3) Petugas penelaah Dit. PA DJPBN) segera menghubungi membuat kegiatan kementerian perincian akan yang negara/lembaga pelaksanaan untuk segera untuk anggaran dilaksanakan. Kemudian memberitahukan kepada satker-satker untuk segera menyusun konsep DIPA yang selanjutnya disampaikan kepada Kanwil DJPBN beserta disketnya.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (Dit. konsep surat pengesahan DIPA/konsep DIPA.2007 22 . ii) rencana kerja dan anggaran satuan kerja pada kementerian negara/lembaga.

b. − MAP 423154 untuk pendapatan jasa catatan sipil. Rencana Pendapatan Penatausahaan pendapatan dimulai dari satuan kerja dikoordinasikan oleh kementerian negara/lembaga dengan mengikuti kelompok pendapatan sebagai berikut. DIPA Kantor Pusat DIPA Kantor Pusat adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanaannya dilakukan oleh kantor pusat kementerian negara/lembaga. Penelahaan DIPA dilakukan secara bersamaan Pusdiklatwas BPKP . c. a. Tiga digit pertama merupakan kelompok pendapatan. Untuk belanja barang. rencana penarikan dana per bulan adalah seperdua belas dari pagu gaji 1 tahun. a. c. Untuk belanja modal.2007 23 . 5. Lima digit pertama merupakan sub kelompok pendapatan. b. Rencana Penarikan Dana Dalam hal pencantuman angka rencana penarikan dana pada halaman III DIPA berdasarkan rencana kerja satker perlu memerhatikan hal-hal sebagai berikut. Penetapan DIPA dan SP DIPA Dalam penetapan DIPA dan Surat Pengesahan DIPA (SP DIPA) dikategorikan sebagai berikut. 4. agar memerhatikan kebutuhan berdasarkan rencana pelaksanaan kegiatan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. a. agar memerhatikan batas penarikan dana triwulan. − subkelompok pendapatan 42315 untuk pendapatan jasa II. Enam digit merupakan mata anggaran penerimaan (MAP) Contoh: − kelompok pendapatan 423 untuk PNBP lainnya. Untuk belanja pegawai.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

antara

Direktorat

Pelaksanaan

Anggaran

DJPBN

dengan

kementerian negara/lembaga terkait. Menteri/pimpinan lembaga atau pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA, dan Dirjen Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP DIPA. b. DIPA Kantor Daerah DIPA Kantor Daerah adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanaannya dilakukan oleh kantor daerah/instansi vertikal kementerian negara/lembaga. Penelahaan DIPA dilakukan secara bersama antara Kanwil DJPBN dengan kantor daerah/intansi vertikal kementerian negara/lembaga. Kepala kantor daerah/instansi vertikal kementerian negara/lembaga atau pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA, dan Kanwil DJPBN atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP DIPA. c. DIPA Dalam Rangka Pelaksanaan Dekonsentrasi DIPA dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanaannya dilimpahkan kepada gubernur. Penelahaan DIPA dilakukan secara bersama antara Kanwil DJPBN dengan dinas terkait atas nama gubernur. Gubernur atau kepala dinas atau pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA, dan Kanwil DJPBN atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP DIPA. d. DIPA Dalam Rangka Pelaksanaan Tugas Pembantuan DIPA dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan adalah dokumen ditugaskan Pelaksanaan pelaksanaan kepada anggaran yang pelaksanaannya daerah. gubernur/bupati/walikota/kepala DJPBN dengan

Penelaahan DIPA dilakukan secara bersama antara Direktorat Anggaran kementerian negara/lembaga terkait. Menteri/pimpinan lembaga atau pejabat

Pusdiklatwas BPKP - 2007

24

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

yang DIPA.

ditunjuk

menetapkan

DIPA,

dan

Direktur

Jenderal

Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP

6. Revisi DIPA DIPA yang sudah disahkan oleh DJPBN atau Kepala Kanwil DJPBN apabila diperlukan dapat dilakukan revisi oleh satker yang bersangkutan dan selanjutnya diajukan kepada DJPBN atau Kanwil DJPBN untuk ditelaah dan disahkan, dengan catatan sebagai berikut. a. Dapat dilakukan realokasi dana antar sub kegiatan dalam satu kegiatan. b. Dapat dilakukan perubahan volume keluaran pada sub kegiatan tanpa merubah alokasi dana kegiatan dan masih sesuai dengan sasaran kegiatan dan atau sasaran program. c. Dapat dilakukan realokasi dana antar MAK dalam satu jenis belanja sepanjang tidak mengurangi: 1) gaji dan berbagai tunjangan yang melekat dengan gaji: 2) belanja untuk langganan listrik, telepon, gas dan air; 3) pembayaran untuk berbagai tunggakan; 4) alokasi untuk dana pendamping PHLN; 5) belanja barang untuk pengadaan bahan makanan (MAK 52 1113). d. Dalam revisi DIPA tidak diperkenankan ada perubahan terhadap: 1) pagu untuk masing-masing unit organisasi; 2) pagu untuk masing-masing kegiatan dan masing-masing jenis belanja; 3) pagu untuk lokasi provinsi; 4) kegiatan dan program.

Pusdiklatwas BPKP - 2007

25

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Revisi DIPA yang menyebabkan realokasi dana antar satuan kerja dapat dilakukan oleh pimpinan unit organisasi (unit eselon I untuk tingkat pusat atau kanwil/koordinator satker untuk tingkat daerah) dan selanjutnya diajukan kepada DJPBN atau Kanwil DJPBN untuk diteliti dan disahkan. Terhadap revisi DIPA yang menyebabkan perubahan dalam butir 6.d.1 sampai dengan 4, harus mendapat persetujuan DPR melalui DJAPK. Keputusan atas perubahan tersebut disampaikan kepada instansi terkait. 7. Aktivitas Terkait Setelah DIPA disahkan, maka unit organisasi/satuan kerja dapat menerbitkan petunjuk pelaksanaan sebagai pedoman pelaksanaan lebih lanjut dari DIPA. Penyelesaian DIPA, mulai dari penyusunan konsep DIPA oleh kementerian negara/lembaga sampai dengan pengesahan DIPA oleh Dirjen Perbendaharaan atau Kepala Kanwil DJPBN agar memerhatikan waktu yang tersedia.

Pusdiklatwas BPKP - 2007

26

bea perolehan hak atas tanah dan Pusdiklatwas BPKP . Penerimaan perpajakan dalam negeri meliputi semua penerimaan negara yang berasal dari pajak penghasilan. pajak bumi dan bangunan. serta penerimaan hibah dalam negeri dan luar negeri.2007 27 . Sedangkan menurut UU nomor 18 tahun 2006 tentang APBN Tahun Anggaran 2007 manyatakan bahwa pendapatan negara dan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari perpajakan. Salah satu hak pemerintah pusat adalah menggali sumber-sumber penerimaan bagi negara untuk membiayai berbagai belanja/pengeluaran negara yang berkaitan dengan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB III MEKANISME PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN NEGARA Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. UU nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan negara menyatakan bahwa pendapatan negara merupakan hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. penerimaan negara bukan pajak. PENERIMAAN PERPAJAKAN Penerimaan perpajakan adalah semua penerimaan negara yang terdiri dari penerimaan pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pelaksanaan penerimaan negara yang meliputi: penerimaan sektor perpajakan. penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan penerimaan yang berasal dari penyelesaian kerugian keuangan negara. pajak pertambahan nilai barang/jasa dan pajak penjualan atas barang mewah. A.

Sedangkan pajak perdagangan internasional merupakan semua penerimaan negara yang berasal dari bea masuk dan pajak/pungutan ekspor. setiap bendahara instansi pemerintah baik pusat maupun daerah. Dalam mekanisme ini diterapkan Sistem Self-Assessment yaitu sistem penerimaan perpajakan yang mengatur wajib pajak untuk menghitung pajaknya sendiri. BUMN/BUMD dan badan lainnya ditetapkan sebagai wajib pungut. Penerimaan perpajakan yang berasal dari wajib pajak pribadi dan perusahaan. diuraikan dalam Bab IV) Selanjutnya dalam rangka meningkatkan intensifikasi penerimaan (Mekanisme pemotongan dan pemungutan pajak oleh bendahara selanjutnya akan pajak. penerimaan perpajakan yang berkaitan dengan mekanisme pelaksanaan anggaran negara/daerah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I bangunan. kemudian menyetorkannya ke kas negara dan melaporkannya dalam laporan Surat Permberitahuan Pajak (SPT). dilakukan sesuai dengan mekanisme perpajakan sesuai dengan UU Nomor 28 tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas UU Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Perpajakan. setiap instansi pemerintah. Oleh karena itu. Pusdiklatwas BPKP . penerimaan uang negara dari perpajakan wajib disetorkan oleh wajib pajak dan atau wajib pungut ke kas negara pada bank pemerintah atau lembaga lain yang ditetapkan oleh Menteri keuangan. dalam rangka intensifikasi penerimaan pajak negara. Sedangkan.2007 28 . dilakukan dengan mekanisme pemotongan/pemungutan pajak oleh setiap instansi pemerintah yang melakukan pembayaran atas beban negara/daerah. Pada prinsipnya. wajib menyetorkan seluruh penerimaan pajak yang dipungutnya dalam waktu selambatlambatnya satu hari setelah uang pajak diterima. cukai dan pajak lainnya. BUMN/BUMD serta badan lainnya diwajibkan untuk memberikan informasi perpajakan kepada pemerintah.

1. 3. proyek/bagian proyek. pemerintah daerah. dan BUMN/D.2007 29 . Keppres Nomor 72 tahun 2004 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran dan Belanja Negara mengatur ketentuan data dan informasi perpajakan sebagai berikut. bendahara dan badan lain yang melakukan pembayaran atas beban APBN/APBD. diperlukan langkah-langkah Pusdiklatwas BPKP . Menetapkan Setiap instansi pemerintah. sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. B. Mewajibkan setiap kementerian/lembaga. Untuk memadukan dan mensinerjikan data dan informasi perpajakan tersebut dibentuk Bank Data Nasional dan Nomor Identitas Tunggal yang dilaksanakan oleh Menteri Keuangan. Menteri Keuangan cq Dirjen Pajak mengadministrasikan data dan informasi perpajakan dalam Bank Data Nasional dengan membentuk Nomor Identitas Bersama sebagai embrio Nomor Identitas Tunggal. proyek/bagian proyek. BUMN/D.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. 4. sebagai Wajib Pungut Pajak. kantor dan satuan kerja. pemerintah daerah. Direktur Jenderal Pajak. kantor dan satuan kerja. pemerintah daerah. dan BUMN/D untuk menyampaikan bahan-bahan dan keterangan yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya guna keperluan perpajakan kepada Menteri Keuangan cq. oleh karenanya. Menteri Keuangan cq Dirjen Pajak wajib memberikan Nomor Identitas Tunggal kepada masing-masing kementerian/lembaga. PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP) Penerimaan negara bukan pajak memiliki arti dan peran yang sangat penting dalam pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan negara dan pembangunan nasional. 5. 2.

1. Pengelolaan PNBP dilaksanakan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku yaitu: • • Undang-undang nomor 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pengadministrasian yang efisien agar penerimaan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. PNPB lainnya ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Pengertian PNBP Dalam rangka pengelolaan penerimaan negara bukan pajak tersebut. penerimaan lainnya yang diatur dalam undang-undang tersendiri. penerimaan berupa hibah yang merupakan hak pemerintah. Peraturan Pemerintah ini ditetapkan. dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Selain jenis tersebut di atas. Peraturan Pemerintah nomor 22 Tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak. penerimaan Pemerintah. Pusdiklatwas BPKP . yang meliputi: • • • • • • • penerimaan yang bersumber dari pengelolaan dana pemerintah. penerimaan berdasarkan putusan pengadilan dan yang berasal dari pengenaan denda administrasi.2007 30 . penerimaan dari hasil-hasil pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan. penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. Penerimaan negara bukan pajak adalah seluruh penerimaan Pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan.

Penerimaan hasil penyewaan barang/kekayaan negara. aspek keadilan dalam pengenaan beban kepada masyarakat. penerimaan negara bukan pajak yang bersangkutan. Penetapan tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak ditetapkan dengan memerhatikan: a. b. pengenaan terhadap masyarakat dan kegiatan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan Pusdiklatwas BPKP . dampak usahanya. d. Penerimaan hasil penjualan barang/kekayaan negara. Secara rinci peraturan pemerintah tersebut juga menetapkan jenis PNBP pada masing-masing departemen. Jenis dan Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Jenis PNBP secara rinci diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak. e. jenis PNBP meliputi hal berikut. d. c. g. 2. b. Penerimaan dari hasil penjualan dokumen lelang. Penerimaan pemerintah. f.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I • Peraturan Pemerintah nomor 73 tahun 1999 tentang Tata Cara Penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Bersumber dari Kegiatan Tertentu.2007 31 . Penerimaan ganti rugi atas kerugian negara (tuntutan ganti rugi dan tuntutan perbendaharaan). c. Penerimaan hasil penyimpanan uang negara (jasa giro). biaya penyelenggaraan kegiatan pemerintah sehubungan dengan jenis. Penerimaan kembali anggaran (sisa anggaran rutin dan sisa anggaran pembangunan. Sesuai dengan peraturan pemerintah tersebut. a.

Pejabat instansi pemerintah wajib menyampaikan rencana pnbp tahun anggaran yang akan datang secara tertulis di lingkungan instansi pemerintah yang bersangkutan kepada menteri paling lambat pada tanggal 15 Juli tahun anggaran berjalan. Ketentuan kedaluwarsa sebagaimana tertunda apabila Wajib Bayar melakukan tindak pidana di bidang penerimaan negara bukan pajak. Dalam hal terdapat revisi. 1) Revisi rencana PNBP tahun yang akan datang. sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2004 tentang Tata Cara Penyampaian Rencana dan Laporan Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak. Pelaporan Rencana dan Realisasi Penerimaan PNBP Instansi yang mengelola PNBP wajib menyampaikan laporan rencana dan realisasi penerimaan secara periodik. menteri dapat menetapkan rencana PNBP instansi pemerintah yang bersangkutan. ditetapkan oleh instansi pemerintah. Mekanisme tentang pelaporan diatur sebagai berikut. b. Pusdiklatwas BPKP . atau b. c. a. pejabat instansi pemerintah wajib menyampaikan revisi rencana PNBP kepada menteri. dihitung sendiri oleh wajib bayar. PNBP terhutang menjadi kedaluwarsa setelah sepuluh tahun terhitung sejak saat terutangnya penerimaan negara bukan pajak yang bersangkutan. dengan ketentuan sebagai berikut.2007 32 . disampaikan paling lambat tanggal 5 Agustus Tahun Anggaran yang bersangkutan. Dalam hal pejabat instansi pemerintah tidak atau terlambat menyampaikan rencana PNBP.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Penetapan jumlah penerimaan negara bukan pajak yang terutang ditentukan dengan cara: a. 3.

Penerimaan dan Penyetoran PNBP Seluruh penerimaan negara bukan pajak dikelola dalam sistem anggaran pendapatan dan belanja negara. disampaikan paling lambat tanggal 15 Agustus tahun anggaran berjalan. 4. melalui dokumen pelaksanaan anggaran (DIPA) masing-masing kementerian/lembaga.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Revisi rencana PNBP tahun anggaran berjalan. d. Setiap kementerian sumber negara/lembaga/satuan pendapatan wajib kerja yang mempunyai jawabnya. dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Laporan realisasi PNBP triwulanan disampaikan secara tertulis oleh pejabat instansi pemerintah kepada menteri paling lambat satu bulan setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. Laporan perkiraan realisasi PNBP triwulan IV disampaikan kepada menteri paling lambat tanggal 15 Agustus tahun anggaran berjalan. mengintensifkan perolehan pendapatan yang menjadi wewenang dan tanggung b.2007 33 . Dalam hal pejabat instansi pemerintah belum menyampaikan revisi rencana PNBP menteri dapat menetapkan rencana PNBP untuk masing-masing instansi pemerintah. Pusdiklatwas BPKP . e. Dalam hal pejabat instansi pemerintah tidak atau terlambat menyampaikan rencana dan laporan realisasi PNBP. pengelolaan atas PNBP tersebut diatur dengan ketentuan sebagai berikut. Menteri dapat menunjuk instansi pemerintah untuk menagih dan atau memungut penerimaan negara bukan pajak yang terutang. f. a.

sebagian dana dari suatu jenis penerimaan negara bukan pajak dapat digunakan untuk kegiatan tertentu yang berkaitan dengan jenis penerimaan negara bukan pajak tersebut oleh instansi yang bersangkutan. 5. untuk beberapa kegiatan tertentu. Instansi pemerintah yang ditunjuk tersebut wajib menyetor langsung penerimaan negara bukan pajak yang diterima ke kas negara. e.2007 34 . diatur dalam PP NOMOR 73 tahun 1999 tentang Tatacara Pusdiklatwas BPKP . pendidikan dan pelatihan. pelayanan kesehatan. Penggunaan Sebagian Dana PNBP Pada dasarnya. penegakan hukum.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c. pelestarian sumber daya alam. Namun demikian. Instansi pemerintah yang ditunjuk wajib menyampaikan rencana dan laporan realisasi penerimaan negara bukan pajak secara tertulis dan berkala kepada menteri. Tidak dipenuhinya kewajiban instansi pemerintah untuk menagih dan atau memungut serta menyetor sebagaimana dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. d. seluruh PNBP wajib disetor langsung secepatnya ke kas negara. Proses permohonan untuk menggunakan sebagian dana PNBP. Penggunaan sebagian dana PNBP tersebut dapat dilakukan setelah memperoleh persetujuan dari Menteri Keuangan. Kegiatan yang dapat menggunakan sebagian dana PNBP meliputi: • • • • • • penelitian dan pengembangan teknologi. pelayanan yang melibatkan kemampuan intelektual tertentu.

yaitu sebagai berikut. Rencana penggunaan penerimaan negara bukan pajak tersebut diteliti dan dibahas oleh Departemen Keuangan bersama-sama instansi pemerintah yang bersangkutan sebelum ditetapkan Menteri Keuangan. instansi pemerintah mengajukan pengajuan rencana penggunaan untuk setiap tahun anggaran selambat-lambatnya pada tanggal 15 November. 3) jenis penerimaan negara bukan pajak beserta tarif yang berlaku. Sebagian dana penerimaan negara bukan pajak disediakan dalam suatu dokumen anggaran tahunan yang berlaku sebagai surat keputusan otorisasi. Setelah mendapatkan persetujuan dari Menteri Keuangan. c.2007 35 . Permohonan tersebut dilengkapi dengan: 1) tujuan penggunaan dana penerimaan negara bukan pajak. 4) laporan realisasi dan perkiraan tahun anggaran berjalan serta perkiraan untuk dua tahun anggaran mendatang. a. 2) rincian kegiatan pokok instansi dan kegiatan yang akan dibiayai penerimaan negara bukan pajak. Sebagian dana penerimaan negara bukan pajak tersebut dapat digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan tertentu pada instansi bersangkutan dalam rangka pembiayaan: Pusdiklatwas BPKP . b. e. d. Pimpinan instansi pemerintah mengajukan permohonan penggunaan penerimaan negara bukan pajak kepada Menteri Keuangan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersumber dari kegiatan tertentu.

f. Pembiayaan sebagian dana PNBP yang telah disediakan dalam suatu dokumen anggaran dan belum dilaksanakan atau belum diselesaikan dalam tahun anggaran yang bersangkutan dapat dicantumkan pada dokumen anggaran tahun berikutnya melalui revisi anggaran. 1) Pimpinan instansi/bendaharawan penerima dan pengguna wajib menyelenggarakan pembukuan. termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. melakukan Pusdiklatwas BPKP . Pembayaran atas pelaksanaan kegiatan instansi yang bersangkutan dilakukan sebagai pembayaran langsung kepada yang berhak. g.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 1) operasional dana pemeliharaan. 2) bendaharawan penerima. pada akhir tahun anggaran wajib disetor seluruhnya ke kas negara. atau melalui penyediaan Uang Yang Harus Dipertanggungjawabkan (UYHD). Batas jumlah pembayaran ditetapkan oleh menteri.2007 36 . 3) bendaharawan pengguna. dilarang Kantor Perbendaharaan pembayaran. dan atau 2) investasi. Dalam hal bendaharawan dan Kas belum Negara ditunjuk. j. Kewajiban pembukuan diatur sebagai berikut. Saldo lebih dari sebagian dana penerimaan negara bukan pajak. i. h. Pimpinan instansi pemerintah yang bersangkutan setiap awal tahun anggaran menetapkan: 1) atasan langsung bendaharawan penerima/pengguna.

Ketentuan lainnya. 1) Instansi pemerintah yang ditunjuk untuk menagih.2007 37 . Pencatatan dan Pemeriksaan a. 6. Pencatatan dan Pembukuan Ketentuan terkait dengan pencatatan dan pembukuan antara lain adalah sebagai berikut. k. 1) Pemberian izin penggunaan dana penerimaan negara bukan pajak yang telah diberikan masih tetap berlaku sebelum dilakukan penyesuaian berdasarkan peraturan pemerintah ini. Pusdiklatwas BPKP . 2) Penggunaan penerimaan negara bukan pajak yang berasal dari dana reboisasi karena karakteristik dan atau sifat khusus yang dimilikinya dapat diatur dengan peraturan pemerintah tersendiri. Kewajiban penyusunan laporan. 3) Kegiatan dan penatausahaan tersebut dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. l. memungut dan menyetorkan PNBP wajib menyelenggarakan pembukuan yaitu mengadakan suatu pencatatan yang dapat menyajikan keterangan yang cukup untuk dijadikan dasar penghitungan penerimaan negara bukan pajak. Pimpinan instansi pemerintah wajib menyampaikan laporan triwulan mengenai seluruh penerimaan dan penggunaan dana oleh Instansi yang bersangkutan kepada Menteri Keuangan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Bendaharawan penerima dan pengguna menyimpan secara lengkap dan teratur dokumen yang menyangkut penerimaan negara bukan pajak.

2) Hasil pemeriksaan terhadap wajib bayar untuk PNBP disampaikan kepada instansi pemerintah untuk penetapan jumlah PNBP yang terutang wajib bayar yang bersangkutan.2007 38 . 3) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap wajib bayar terdapat kekurangan pembayaran jumlah PNBP yang terutang. 1) Hasil pemeriksaan terhadap instansi pemerintah disampaikan kepada Menteri Keuangan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Pencatatan wajib diselenggarakan di Indonesia dalam satuan mata uang rupiah dan disusun dalam Bahasa Indonesia atau mata uang asing dan bahasa asing yang diizinkan Menteri Keuangan. memungut dan menyetorkan PNBP juga dapat dilakukan pemeriksaan khusus oleh instansi yang berwenang. 3) Buku. b. catatan dan dokumen lainnya yang menjadi dasar perhitungan PNBP tersebut wajib disimpan selama sepuluh tahun. dan Menteri Keuangan memberitahukan hasil pemeriksaan tersebut kepada instansi pemerintah yang bersangkutan guna penyelesaian lebih lanjut. 4) Terhadap wajib bayar untuk jenis penerimaan negara bukan pajak. wajib bayar yang bersangkutan wajib melunasi Pusdiklatwas BPKP . atas permintaan instansi pemerintah dapat dilakukan pemeriksaan oleh instansi yang berwenang. Selain itu. Pemeriksaan Ketentuan terkait dengan pemeriksaan antara lain adalah sebagai berikut. terhadap instansi pemerintah yang ditunjuk atas permintaan menteri untuk menagih.

maka jumlah kelebihan pembayaran PNBP dikembalikan kepada wajib bayar selambat-lambatnya satu bulan sejak dikeluarkan ketetapan kelebihan pembayaran. pengeluaran dalam melakukan pembayaran yang dibebankan kepada negara. jumlah kelebihan tersebut diperhitungkan sebagai pembayaran dimuka atas jumlah PNBP yang terutang wajib bayar yang bersangkutan pada periode berikutnya. kelebihan pembayaran tersebut dikembalikan kepada wajib bayar dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% sebulan untuk paling lama 24 bulan. 6) Dalam hal pengembalian kelebihan pembayaran dilakukan melampaui batas waktu sebagaimana dimaksud dalam poin 5) di atas. 5) Dalam hal terjadi pengakhiran kegiatan usaha wajib bayar. 4) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap wajib bayar untuk jenis PNBP terdapat kelebihan pembayaran jumlah PNBP yang terutang. C. penerimaan pengembalian belanja barang. Penerimaan pengembalian belanja ini dapat Pusdiklatwas BPKP . yang terjadi karena kelebihan pembayaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I kekurangannya dan ditambah dengan sanksi berupa denda administrasi sebesar 2% sebulan untuk paling lama 24 bulan dari jumlah kekurangan tersebut. PENERIMAAN PENGEMBALIAN BELANJA Penerimaan pengembalian belanja adalah seluruh penerimaan negara yang berasal dari pengembalian belanja tahun anggaran tahun berjalan.2007 39 . kesalahan atau kelalaian bendahara berupa: ƒ ƒ penerimaan pengembalian belanja pegawai.

Pejabat lain dimaksud meliputi pejabat negara dan pejabat penyelenggara pemerintahan yang tidak berstatus pejabat negara. Setiap pimpinan kementerian negara/lembaga/kepala satuan kerja dapat segera melakukan tuntutan ganti rugi. atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan negara wajib mengganti kerugian tersebut. setelah mengetahui Pusdiklatwas BPKP . Setiap kerugian negara yang disebabkan oleh tindakan melanggar hukum atau kelalaian seseorang harus segera diselesaikan sesuai dengan ketentuan perundangan-undangan yang berlaku. 4. pegawai negeri bukan bendahara. 3.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ƒ ƒ penerimaan pengembalian belanja modal. tidak termasuk bendahara dan pegawai negeri bukan bendahara. Beberapa ketentuan yang mengatur mekanisme penyelesaian kerugian keuangan negara diatur sebagai berikut. Penyelesaian meningkatkan negeri/pejabat kerugian disiplin negara negara dan pada perlu segera jawab dan dilakukan para para untuk mengembalikan kekayaan negara yang hilang atau berkurang serta tanggung umumnya. 1. 5. penerimaan pengembalian belanja tahun lalu. 2. Penerimaan pengembalian belanja ini juga meliputi penerimaan yang berasal dari penyelesaian kerugian keuangan negara. Bendahara. Kerugian negara dapat terjadi karena pelanggaran hukum atau kelalaian pejabat negara atau pegawai negeri bukan bendahara dalam rangka pelaksanaan kewenangan administratif atau oleh bendahara dalam rangka pelaksanaan kewenangan kebendaharaan.2007 40 . pegawai pengelola keuangan pada khususnya.

Setiap kerugian negara wajib dilaporkan oleh atasan langsung atau kepala kantor kepada menteri/pimpinan lembaga dan diberitahukan kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selambat-lambatnya tujuh hari kerja setelah kerugian negara itu diketahui. menteri/pimpinan lembaga yang bersangkutan segera mengeluarkan Surat Keputusan Pembebanan Penggantian Kerugian Sementara kepada yang bersangkutan. 6. Jika surat keterangan tanggung jawab mutlak tidak mungkin diperoleh atau tidak dapat menjamin pengembalian kerugian negara. pegawai negeri bukan bendahara. Surat keputusan dimaksud mempunyai kekuatan hukum untuk pelaksanaan sita jaminan (conservatoir beslaag). 8. Segera setelah kerugian negara tersebut diketahui. atau pejabat lain yang nyata-nyata melanggar hukum atau melalaikan kewajibannya. pernyataan tersebut biasa disebut Surat Pernyataan Tanggung Pusdiklatwas BPKP . 7. Jawab Mutlak.2007 41 . segera dimintakan surat pernyataan kesanggupan dan atau Surat pengakuan bahwa kerugian tersebut menjadi tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian negara dimaksud. kepada bendahara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I bahwa dalam kementerian negara/lembaga/satuan kerja yang bersangkutan terjadi kerugian akibat perbuatan dari pihak manapun.

1.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB IV MEKANISME PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN PAJAKPAJAK NEGARA OLEH BENDAHARA Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. A. Peraturan perundangan yang dijadikan sebagai dasar hukum penunjukkan bendahara ini antara lain sebagai berikut. Pusdiklatwas BPKP . sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU nomor 18 tahun 2000. sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU nomor 16 tahun 2000. bendahara pada instansi pemerintah telah ditunjuk sebagai pemotong/pemungut atas penerimaan pajak-pajak negara khususnya pada transaksi belanja yang dilakukan oleh instansi pemerintah. UU nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. c. b. peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pemotongan/pemungutan pajak-pajak negara oleh bendahara. sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU nomor 17 tahun 2000. Undang-undang perpajakan yang meliputi : a. DASAR HUKUM Dalam pelaksanaan penerimaan pajak-pajak negara.2007 42 . UU nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. UU nomor 8 tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa. dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

KEWAJIBAN DAN SANKSI PERPAJAKAN BENDAHARA Dalam perpajakan. sebagai berikut. sehingga bendahara mempunyai kewajiban. Kewajiban dan saksi perpajakan bagi bendahara yang mengelola anggran pendapatan dan belanja negara/daerah. Keputusan Presiden RI 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Keputusan Presiden RI Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah. kedudukan bendahara pemerintah yang mengelola APBN/APBD sama dengan kedudukan wajib pajak (WP). Menyetor dan Melaporkan PPN. 3. B. wajib mendaftarkan diri ke kantor pelayanan pajak BUMN (KPP-BUMN). Peraturan Pemerintah nomor 45 tahun 1994 tentang Pajak Penghasilan Bagi Pejabat Negara. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 5563/KMK. Pegawai Negeri Sipil. Kewajiban mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) di kantor pelayanan pajak yang sesuai dengan lokasi kedudukannya. Untuk bendahara BUMN. serta mendapatkan sanksi perpajakan jika terjadi pelanggaran. Anggota ABRI dan Para Pensiunan atas Penghasilan yang Dibebankan kepada Keuangan Negara atau Keuangan Daerah. sebagaimana WP lainnya.2007 43 .03/2003 tentang Penunjukkan Bendaharawan Pemerintah dan Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara untuk Memungut. Penyetoran dan Pelaporannya. 4. Kewajiban Perpajakan a. 1.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. Selama masih melaksanakan pengelolaan anggaran Pusdiklatwas BPKP . PPnBM Beserta Tata Cara Pemungutan.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I negara/daerah. 2. berupa pengenaan bunga sebesar 2% per bulan (selama-lamanya 24 bulan) atas jumlah pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar. c.2007 44 . b. berupa denda yaitu: 1) denda sebesar Rp50. b. Sanksi administrasi. Sanksi Perpajakan Sanksi perpajakan meliputi sanksi administrasi dan sanksi pidana dengan uraian sebagai berikut. NPWP atas nama bendahara ini akan dilakukan penghapusan jika terjadi: 1) perubahan organisasi yang mengakibatkan nama unit instansinya berubah. Pusdiklatwas BPKP . a. Kewajiban untuk menyetorkan pada saat penerimaan tempat pajak sesuai yang dengan dipungut/dipotong dan ketentuan umum perpajakan yang berlaku.00 jika tidak menyampaikan SPT Masa PPh dan PPN sesuai dengan waktu yang telah ditentukan yaitu dua puluh hari setelah masa pajak berakhir. 2) denda sebesar Rp100. 2) proyek/kegiatan telah berakhir (selesai). Kewajiban untuk melaporkan pemungutan dan pemotongan pajak negara dengan menyerahkan surat permberitahuan pajak (SPT) sesuai dengan ketentuan umum perpajakan yang berlaku.000.000. NPWP bendahara ini tetap berlaku. Sanksi administrasi.00 jika tidak menyampaikan SPT Tahunan PPh sesuai dengan waktu yang telah ditentukan yaitu dua puluh hari setelah masa pajak berakhir.

2007 45 . tidak disampaikan pada waktunya sesuai dengan surat teguran. tidak/kurang dipungut. b) berdasarkan hasil pemeriksaan terdapat PPN dan PPnBM yang seharusnya tidak dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya dikenakan tarif 0%. dan dipotong/dipungut tetapi tidak/kurang disetorkan. adalah sebagai berikut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c. atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar. atau menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap. yang dapat menimbulkan kerugian keuangan negara. 1) Sebesar 50% dari PPh tidak/kurang bayar dalam satu tahun pajak. berupa kurungan selama satu tahun dan denda setinggi-tingginya dua kali jumlah pajak terutang. 4) Sebesar 100% atas PPN dan PPnBM yang tidak atau kurang dibayar jika: a) SPT tidak disampaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan telah dikenakan teguran sescara tertulis. d. tidak/kurang disetor. yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak terutang. Pusdiklatwas BPKP . juga tidak disampaikan sesuai dengan surat teguran. 3) Sebesar 100% dari kekurangan pajak dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKP-KBT) dalam hal ditemukan data baru dan/atau data semula yang belum terungkap. 2) Sebesar 100% dari PPH tidak/kurang dipotong. jika SPT tidak disampaikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan dan telah ditegur secara tertulis. Sanksi pidana. jika karena kealpaan tidak menyampaikan SPT. Sanksi Administrasi berupa kenaikan pajak terutang.

premi swap dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian hutang. diskonto. Sanksi pidana berupa kurungan selama 6 tahun dan denda setinggi-tingginya empat kali jumlah pajak terutang. bunga termasuk premium. 2) tidak menyampaikan SPT.2007 46 . jika dengan sengaja: 1) tidak mendaftarkan diri atau menyalahgunakan NPWP. pensiun dan pembayaran berkala lainnya yang diterima oleh wajib pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap. BENDAHARA PASAL 26 SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 21 DAN 1. 4) memperlihatkan pembukuan dan pencatatan yang palsu dan tidak melaksanakan pembukuan. C. PPh pasal 26 adalah PPh atas deviden. pekerjaan dan kegiatan. jasa dan kegiatan dengan nama dan bentuk apapun yang diterima atau diperoleh wajib pajak orang pribadi dalam negeri. 3) menolak dilakukan pemeriksaan. hadiah dan penghargaan. royalty. imbalan sehubungan dengan jasa.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I e. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. Pusdiklatwas BPKP . Pengertian PPh pasal 21 dan pasal 26 PPh pasal 21 adalah PPh sehubungan dengan pekerjaan. 5) tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong/dipungut.

a. upah satuan. penghargaan. kecuali jika pembayaran tersebut dibayarkan kepada PNS golongan II-d ke bawah dan anggota ABRI berpangkat PELTU ke bawah. PNS. upah mingguan. uang saku. Penghasilan yang diterima oleh penerima penghasilan selain pejabat negara. ABRI. Pusdiklatwas BPKP . dan pensiunan yang dibebankan kepada keuangan negara/daerah. Penghasilan berupa honorarium.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. 2) honorarium. bea siswa serta pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan jasa dan kegiatan.2007 47 . b. uang saku harian dan upah borongan. 2) gaji kehormatan dan tunjangan lain yang bersifat tetap diterima pejabat negara. uang lembur. komisi. anggota ABRI dan pensiunan yang dibebankan kepada keuangan negara/daerah. berupa: 1) upah harian. hadiah. Penghasilan yang Dipotong Bendahara wajib memotong PPh pasal 21 atas penghasilan berikut. c. 3) uang pensiun dan tunjangan lain yang bersifat tetap diterima pensiunan termasuk janda/duda dan/atau anak-anaknya. berupa: 1) gaji dan tunjangan lainnya yang bersifat tetap yang diterima PNS/ABRI. PNS. uang sidang. Penghasilan yang diterima oleh pejabat negara. uang hadir. imbalan prestasi kerja dan imbalan lain dengan nama dan bentuk apapun yang dibebankan keuangan negara/daerah.

2 juta b. mingguan. penghasilan bruto boleh dikurangi dengan unsur berikut.000. 3) Penghasilan tidak kena pajak (PTKP) dengan ketentuan berikut.00 dengan biaya sebulan. 1) Biaya jabatan sebesar 5% dari penghasilan bruto setinggitingginya pensiunan. Pengurangan yang Diperbolehkan a. satuan. borongan dan uang saku harian. penghasilan bruto boleh dikurangi berikut. boleh dikurangi 1/10 dengan unsur Pusdiklatwas BPKP . PNS dan ABRI. PNS dan anggota ABRI dan pensiunan yang dibebankan pada APBN/APBD. SETAHUN 12 juta 1.000. Atas penghasilan yang dibayarkan kepada selain pejabat negara. Atas penghasilan yang dibayarkan kepada pejabat negara.2 juta 1. 1) Pengurangan atas penerimaan upah harian.00 sebulan. PNS dan anggota ABRI dan pensiunan.00 penghasilan setahun atau Rp108. Sedangkan untuk menentukan penghasilan neto bruto dikurangi pensiun sebesar 5% dari penghasilan bruto setinggi-tingginya Rp432.2007 48 .000.296. Untuk menentukan penghasilan neto pejabat negara. Rp1.00 setahun atau Rp36. PTKP ƒ Untuk diri pegawai ƒ Tambahan untuk pegawai yang kawin ƒ Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya paling banyak 3 orang. 2) Iuran pensiun.000.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. dan pensiunan.

Tarif dan Cara Penghitungan Pemotongan a.2007 49 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I UMP/UMK (sepanjang jumlah yang diterimanya dalam satu bulan tidak melebihi UMP/UMK dan tidak dibayarkan secara bulanan). bea siswa sebagai imbalan atas jasa yang jumlahnya dihitung tidak atas dasar banyaknya hari yang diperlukan untuk menyelesaikan jasa atau kegiatan yang diberikan. Tarif PPh berdasarkan pasal 17 UU nomor 7 tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan UU nomor 17 tahun 2000 sebagai berikut. hadiah dan penghargaan dengan nama dan bentuk apapun. Lapisan PKP 1) s/d Rp 25 jt 2) Di atas Rp 25 jt s/d/Rp 50 jt 3) Di atas Rp 50 jt s/d Rp 100 jt 4) Di atas Rp 100 jt s/d/Rp 200 jt 5) Di atas Rp 200 jt Tarif Pajak 5% 10% 15% 25% 35% Pusdiklatwas BPKP . 4) Untuk penghasilan WP luar negeri. tidak ada pengurangan. 4. komisi. tidak ada pengurangan. uang saku. 2) Jika penghasilan bruto dalam satu bulan melebihi UMP/UMK atau dibayarkan secara bulanan. maka pengurangan yang diperbolehkan berupa PTKP sebenarnya sebesar: [PTKP harian = PTKP sebenarnya /360] 3) Pembayaran atas honorarium.

ABRI dan pensiunan yang dibebankan kepada keuangan negara/daerah adalah sebagai berikut. gaji/pensiun dan tunjangan yang terkait dengan gaji: Pusdiklatwas BPKP . 2) 5% atas upah dan uang saku harian yang jumlahnya melebihi 1/10 UMP/UMK sehari tapi tidak melebihi UMP/UMK sebulan dan/atau tidak dibayarkan secara bulanan. PNS. Tarif berdasarkan Keputusan Dirjen Pajak No KEP-545/PJ/2000 1) 15% atas prakiraan penghasilan netto yang dibayarkan kepada tenaga ahli (prakiraan penghasilan = 50). a) Atas pembayaran gaji kehormatan. tebusan pensiun. 149 tahun 2000 atas pembayaran uang pesangon. dipotong dengan PPh pasal 21 dan bersifat final dengan tarif berikut. Lapisan PKP 1) Rp 25 juta ke bawah 2) Di atas Rp 25 juta s/d Rp 50 juta 3) Di atas Rp 30 juta s/d Rp 100 juta 4) Di atas Rp 100 juta s/d Rp 200 juta 5) Di atas Rp 200 juta Tarif Pajak 0% 5% 10 % 15 % 25 % d. Tarif efektif = 15% x 50% x Penghasilan Bruto.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b.2007 50 . dan THT atau Jaminan Hari Tua yang dibayarkan sekaligus. c. 3) 15% final atas honorarium dan imbalan lain dengan nama apapun. Tarif berdasarkan PP No. Cara Penghitungan 1) Penghitungan PPh pasal 21 bagi pejabat negara.

olahragawan. ABRI dan pensiunan yang dibebankan lepada keuangan negara/daerah adalah sebagai berikut. a) Atas pembayaran honorarium.bagi pensiunan bulanan Æ PPh psl. pemasaran. 21 = tarif psl. moderador. uang saku. PNS. pembayaran imbalan pekerjaan. PPh pasal 21 = tarif pasal 17 x penghasilan bruto (tarif progresif) Pusdiklatwas BPKP . 17 x (penghasilan bruto – biaya pensiun – PTKP) b) Atas penghasilan berupa honorarium. pengajar. elektronika.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I . penasihat. 21 = tarif psl. bea siswa. jasa dan kegiatan yang dilakukan oleh WP dalam negeri (artis. uang sidang. komisi.2007 51 . PPh psl.bagi pejabat negara/PNS/ABRI Æ PPh psl. imbalan prestasi kerja dan imbalan lain dengan nama apapun. telekomunikasi. fotografi. hadiah/penghargaan. 17 x (penghasilan bruto – biaya jabatan – iuran pensiun – PTKP) . dll). uang lembur. pemberi jasa teknik komputer. penceramah. uang hadir. 21 = 15 % x penghasilan bruto (bersifat final) 2) Penghitungan PPh pasal 21 bagi selain pejabat negara.

dokter. Saat Pemotongan dan Tarif Saat pemungutan PPh pasal 22. adalah sebagai berikut. gas. PPh pasal 21 = tarif 15 % x perkiraan penghasilan neto = tarif 15 % x 50 % x penghasilan bruto 3) Penghitungan pajak dari penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi dengan status WP luar negeri sebagai imbalan atas pekerjaan. maka pemotongan PPh pasal 21 tidak bersifat final. a) PPh pasal 21 = 20 % penghasilan bruto (bersifat final). konsultan. benda-benda pos. d) pembayaran pelaksanaan proyek yang dibiayai dengan hibah/pinjaman luar negeri. D. 2. aktuaris). Pengertian PPh Pasal 22 Pajak penghasilan dipungut/dipotong sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang. arsitek. akuntan. adalah pada setiap saat pelaksanaan pembayaran atas penyerahan barang oleh rekanan Pusdiklatwas BPKP . c) pencairan dana jaring pengaman sosial (JPS) oleh KPKN. listrik. jasa dan kegiatan. b) pembelian BBM. air minum/PDAM.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b) honorarium atau imbalan lain kepada tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas (pengacara. kecuali atas pembayaran: a) penyerahan barang paling banyak 1 juta (bukan jumlah yang dipecah-pecah). BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 22 1. penilai. b) Jika WP luar negeri berubah status.2007 52 .

00 E. c.000. Penghasilan yang dikenakan pemotongan PPh pasal 23 adalah sebagai berikut. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. jasa manajemen. dengan tarif 1. selain sewa atas tanah dan atau bangunan.5% dari Rp100. Pengertian PPh Pasal 23/26 PPh pasal 23/26 adalah pajak atas penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang berasal dari modal.00 PPh psl. jasa konstruksi.000.00 = Rp 1. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 23/26 1. 22 yang harus dipungut oleh bendahara sebesar 1.5 % x Harga/Nilai Pembelian Barang. Deviden. b. hadiah dan penghargaan sehubungan dengan pelaksanaan status kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21. royalty. Contoh : Itjen Departemen A membeli komputer untuk keperluan kantor dengan harga Rp100.500.000.000. bunga termasuk premium. Pusdiklatwas BPKP . penyerahan jasa atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21.2007 53 .000. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik. a. diskonto dan imbalan karena jaminan pengembalian utang. consultan dan jasa lain selain yang telah dipotong PPh pasal 21.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I yang dibiayai dari APBN/APBD.

komanditer modalnya terbagi dalam persekutuan. konsultan dan jasa lain selain yang telah dipotong PPh pasal 21. selain sewa atas tanah dan atau bangunan. a. royalty. diskonto dan imbalan karena jaminan pengembalian utang. bagian laba yang yang diterima/diperoleh tidak anggota perseroan saham. Penghasilan yang tidak dikenakan pemotongan PPh Pasal 23/26: a. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik.000. Pusdiklatwas BPKP . g. sewa guna usaha dengan hak opsi. e. d. dan kongsi. dividen atau bagian laba yang diperoleh/diterima PT sebagai WP dalam negeri (dengan syarat tertentu).00 setiap bulan yang dibayarkan oleh koperasi. firma. perkumpulan. jasa konstruksi. penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank. bunga termasuk premium.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Penghasilan yang dikenakan pemotongan PPh pasal 26 adalah penghasilan berikut. b. f. c. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. jasa manajemen. d. SHU koperasi yang dibayarkan kepada anggotanya. e. Deviden.2007 54 . hadiah dan penghargaan sehubungan dengan pelaksanaan suatu kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21. Pembayaran premi asuransi dan premi reasuransi lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung yang dibayarkan kepada wajib pajak luar negeri selain BUT. bunga simpanan yang tidak melebihi Rp240. Pensiun dan pembayaran berkala lainnya. bunga obligasi yang diperoleh/diterima perusahaan reksa dana selama lima tahun pertama. c. b.

20% 26. diskonto. No. b.33% 6 50% Pusdiklatwas BPKP . penunjang penerbangan. alat kemasan). rekrut tenaga kerja. Jasa profesi. jasa perantara. jasa instalasi/pemasangan mesin /listrik/telepon/air/gas/AC/TV kabel.67% 40% Tarif PPh 23 10% 13. listrik/telepon/air/gas/TV kabel di luar konstruksi. jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan mesin. 15% dari prakiraan penghasilan neto. dubbing/mixing film. 3 4 5 Sewa & penghasilan kendaraan angkutan darat. mesin. 15% dari jumlah bruto atas deviden. penilai dan aktuaris. dan penghargaan (selain yang telah dipotong PPh pasal 21). Jasa perencanaan dan pengawasan konstruksi. Besarnya prakiraan penghasilan neto antara lain sebagai berikut. peralatan. jasa kustodian selain sewa gudang. dan imbalan karena jaminan pengembalian utang. katering. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta khususnya kend. pengolahan/pembuangan limbah. 1 2 Jenis Jasa pembasmian hama. royalti. pelaksanaan konstruksi. IT. konsultan selain akuntansi. telkom bukan umum. jasa desain (interior. konstruksi.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. darat. angk. Tarif dan Dasar Pemotongan PPh Pasal 23 a.2007 55 . manajemen. alat transportasi/kendaraan. pembersihan. iklan/logo. jasa teknik. kendaraan. bangunan di luar konstruksi. jasa instalasi/pemasangan peralatan. pertamanan. software komputer termasuk perbaikan/perawatan. hadiah. jasa pengeboran minyak/gas bumi. bunga. mesin/peralatan.

maka tarif PPh pasal 26 disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku dalam P3B tersebut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. penyerahan BKP dan/atau JKP yang dilakukan oleh PKP rekanan. pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean. Pusdiklatwas BPKP . c. Pengertian PPN dan PPnBM a. d. Objek Pemungutan PPN dan PPnBM Bendahara yang mengelola anggaran negara/daerah wajib memungut.2007 56 . F. Tarif Pemotongan PPh Pasal 26 Tarif dan dasar pemotongan PPh Pasal 26 adalah 20% dari jumlah bruto kecuali bila ada Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B). b. 2. menyetorkan dan melaporkan PPN atas: a. b. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak di dalam daerah Pabean. PPnBM hanya dipungut dalam hal PKP rekanan adalah pabrikan dari BKP yang tergolong mewah. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPN DAN PPnBM 1. pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi barang di dalam daerah pabean yang berdasarkan keputusan Menteri Keuangan tergolong barang mewah.

pembayaran dibebaskan atas dari penyerahan pengenaan BKP PPN dan/atau berdasarkan JKP yang Peraturan Pemerintah nomor 38 tahun 2003 tentang Impor dan atau penyerahan BKP Tertentu dan atau Penyerahan JKP Tertentu yang Dibebaskan dari Pengenaan PPN. dengan cara pemotongan secara langsung dari tagihan PKP rekanan pemerintah tersebut.2007 57 .000.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pembayaran yang tidak dipungut PPN dan/atau PPnBM antara lain: a.000. Tarif PPN dan PPnBM Tarif PPN adalah tarif tunggal sebesar 10% (berdasarkan peraturan pemerintah dapat diubah serendah-rendahnya 5% dan setinggi-tingginya 15%).000. c. pembayaran untuk pembebasan tanah. Saat Pemungutan Pemungutan PPN dan atau PPnBM oleh bendahara dilakukan pada saat pembayaran kepada rekanan pemerintah. Dasar Pemungutan Dasar pemungutan PPN dan PPnBM adalah jumlah pembayaran baik dalam bentuk uang muka. Pusdiklatwas BPKP . pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp1. c. Batasan Rp1. 3. Saat Pemungutan.00 dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah. pembayaran sebagian. b. b. atau pembayaran seluruhnya yang dilakukan oleh pemungut PPN kepada PKP rekanan. tarif PPnBM yang berlaku sekarang ini paling rendah 10 % dan paling tinggi sebesar 75 %. Sementara. Tarif dan Dasar Pemungutan a.00 tersebut merupakan jumlah pembayaran yang sudah termasuk PPN dan PPnBM.000.

00 (di atas Rp 1.000.000.000.000.300.00 Jumlah yang dibayarkan kepada PKP rekanan Contoh 3: Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp1.000.000.000.000.00 PPnBM yang dipungut 20/130xRp1.000.100.000.170.170.2007 58 .00 90.00 100.300.00 Rp 200.000.00).00 20% x Rp900.000.00 180.000.00 100.00 dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah. Pusdiklatwas BPKP .00 Harga jual termasuk PPN dan PPnBM Rp 1.300.000. Contoh 1: Jumlah PPN yang dipungut 10/11/bagian dari jumlah pembayaran Jumlah Pembayaran PPN yang harus dipungut 10/110x Rp1.000.000 Jumlah yang dibayarkan kepada PKP rekanan Rp Rp 1.00 Contoh 2: Dalam hal BKP yang diserahkan oleh rekanan pemerintah termasuk golongan barang mewah (misal PPnBM 20 %).000.000.00 Rp 1. maka PPN dan PPnBM yang terutang harus dipungut oleh bendahara sebesar Rp 270. Harga Jual PPN PPnBM 10% x Rp900.00.100.00 Rp Rp Rp 900. termasuk PPN dan PPnBM yang terutang tanpa memerhatikan apakah dalam kontrak menyebutkan ketentuan pemungutan PPN dan atau PPnBM maupun tidak.00 Meskipun harga jual Rp900.00 Rp Rp 1.00 Rp 1.00.000.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Dalam jumlah pembayaran yang dilakukan oleh pemungut PPn tersebut.000.000.000. Jumlah Pembayaran PPN yang dipungut 10/130 x Rp 1. tetapi karena pembayaran termasuk PPN dan PPnBM berjumlah Rp1.000.000.000.

000.000. tetapi akan disetor sendiri oleh PKP rekanan.000.000.00 Harga jual termasuk PPN dan PPnBM 960.00 80.2007 59 . Pusdiklatwas BPKP .00 Karena harga jual termasuk PPN dan PPnBM berjumlah Rp960.000.00).000.00 10% x Rp800.00 Rp Rp Rp Rp 800.00 80. maka PPN dan PPnBM yang terutang tidak dipungut oleh bendahara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Contoh 4: Harga Jual PPN PPnBM 10% x Rp800.000.000.000.00 (di bawah Rp 1.

PEDOMAN PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA NEGARA 1. Per-66/PB/2005 Tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran atas beban APBN. • Peraturan Dirjen Perbendaharaan No.72 Tahun 2004 Tentang Pedoman Pelaksanaan APBN. • Peraturan Menteri Keuangan No.06/2005 Tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Tahun 2005. • • • UU No. peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pelaksanaan belanja negara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB V MEKANISME PELAKSANAAN BELANJA NEGARA Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. 134/PMK. • Keppres No. mekanisme pembayaran melalui uang persediaan. Perubahan mendasar dalam ketentuan pengelolaan keuangan negara yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Pusdiklatwas BPKP . UU tentang APBN (penetapan setiap tahun sesuai tahun anggarannya). 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.42 Tahun 2002 jo Keppres No. UU No. proses pencairan dana APBN dan proses penerbitan SPM.2007 60 . Dasar Hukum Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Pelaksanaan belanja negara didasarkan pada beberapa dasar hukum sebagai berikut. penerbitan SP2D oleh KPPN serta memahami mekanisme pelaporan realisasi APBN A.

dirasakan pula semakin pentingnya fungsi perbendaharaan dalam rangka pengelolaan sumber daya keuangan pemerintahan yang terbatas secara efisien. kedudukan Presiden sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara. perusahaan daerah dan perusahaan swasta. asas-asas umum pengelolaan keuangan negara. pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan bank sentral. dan badan pengelola dana masyarakat. Penerapan Kaidah Pengelolaan Keuangan yang sehat di lingkungan pemerintah sejalan dengan perkembangan kebutuhan pengelolaan keuangan negara. Pemerintah daerah dan pemerintah/lembaga asing. pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah dengan perusahaan negara. pencegahan agar jangan sampai terjadi kebocoran dan penyimpangan. pendekatan kekuasaan Presiden kepada Menteri Keuangan dan menteri/pimpinan lembaga susunan APBN. Ketentuan mengenai penyusunan dan penetapan APBN. tidaklah dimaksudkan untuk Pusdiklatwas BPKP .2007 61 . Upaya untuk menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan yang selama ini lebih banyak dilaksanakan di dunia usaha dalam pengelolaan keuangan pemerintah. Dalam undang-undang tersebut juga telah mengantisipasi perubahan standar akuntansi di lingkungan pemerintahan di Indonesia yang mengacu kepada perkembangan standar akuntansi di lingkungan pemerintahan secara internasional. serta penetapan bentuk dan batas waktu penyampaian laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. pencarian sumber pembiayaan yang paling murah dan pemanfaatan dana yang menganggur (idle cash) untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya keuangan. Fungsi perbendaharaan tersebut meliputi perencanaan kas yang baik.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I tentang Keuangan Negara meliputi pengertian dan ruang lingkup keuangan negara.

perlu dilakukan pelurusan kembali pengelolaan keuangan pemerintah dengan menerapkan prinsip-prinsip pemerintahan yang baik (good governance) yang sesuai dengan lingkungan pemerintahan. negara berusaha memberikan jaminan kesejahteraan kepada rakyat (welfare state). negara adalah suatu lembaga politik. pengelolaan keuangan sektor publik yang dilakukan selama ini dengan menggunakan pendekatan superioritas negara telah membuat aparatur pemerintahan yang bergerak dalam kegiatan pengelolaan keuangan sektor publik tidak lagi dianggap berada dalam kelompok profesi manajemen oleh para profesional. Melalui kegiatan berbagai lembaga pemerintah. menyimpan uang negara dalam rekening kas umum negara pada bank sentral. Pada hakikatnya. dalam rangka pelaksanaan pembiayaan ditetapkan pejabat yang diberi kuasa untuk mengadakan utang negara/daerah. Oleh karena itu.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I menyamakan pengelolaan keuangan sektor pemerintah dengan pengelolaan keuangan sektor swasta. Namun. Dalam undang-undang Perbendaharaan Negara juga diatur prinsipprinsip yang berkaitan dengan pelaksanaan utang piutang dan investasi serta barang milik negara/daerah yang selama ini belum mendapat perhatian yang memadai. dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas Pusdiklatwas BPKP . Dalam kedudukannya yang demikian. Sementara itu. Demikian pula. pengelolaan piutang negara/daerah diatur kewenangan penyelesaian piutang negara dan daerah. Dalam rangka pengelolaan uang negara/daerah dalam undangundang perbendaharaan negara ditegaskan kewenangan Menteri Keuangan untuk mengatur dan meyelenggarakan rekening pemerintah. negara tunduk pada tatanan hukum publik. serta ketentuan yang meningkatkan transparansi dan akuntabilitas.2007 62 .

2007 63 . a. 2) Dalam rangka pelaksanaan APBN. dengan penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) oleh KPPN berdasarkan Surat Perintah Membayar (SPM) yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pengelolaan investasi dan barang milik negara/daerah dalam undang-undang Perbendaharaan Negara diatur pula ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan investasi serta kewenangan mengelola dan menggunakan barang milik negara. 3) Pelaksanaan pengeluaran atas beban APBN oleh KPPN selaku kuasa bendahara umum negara. Kantor Pelayanan Perbendaharan Negara (KPPN) melaksanakan penerimaan dan pengeluaran negara secara giral. 1) Dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN. Dalam peraturan tersebut diatur ketentuan Menteri/Pimpinan Lembaga adalah Dokumen Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) yang disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan serta dokumen pendukung kegiatan akuntansi pemerintah.06/2005 sebagai berikut. Pusdiklatwas BPKP . Peraturan Menteri Keuangan tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Pelaksanaan pembayaran dalam pelaksanaan anggaran belanja negara didasarkan pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.

e) bendahara belanja. 5) Pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja tidak boleh merangkap sebagai pejabat sebagaimana pada butir 4. harus dalam dilaksanakan sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4) Pada awal tahun anggaran menteri/ketua lembaga menetapkan para pejabat yang ditunjuk sebagai: a) kuasa pengguna anggaran/pengguna barang.06/2005 Pelaksanaan APBN. c) pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja. d) pejabat yang bertugas melakukan pengujian dan perintah pembayaran.2007 64 . f) bendahara belanja. 6) Penerbitan SPM oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran didasarkan pada alokasi dana yang tersedia dalam DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA. e dan f di atas. tentang Pembayaran pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran penerimaan untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran Pusdiklatwas BPKP . 7) Pelaksanaan pembayaran tagihan atas beban belanja negara melalui SPM-LS yang disampaikan Pedoman ke KPPN.d. b) pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara.

11) Pengajuan tambahan uang persediaan sebagaimana dimaksud diatur oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan dan Pembayaran dengan menggunakan uang persediaan untuk keperluan sebagaimana selain keperluan diatas sehari-hari dapat perkantoran setelah tersebut dilakukan memperoleh persetujuan Direktur Jenderal Perbendaharaan. 13) Pembayaran yang dilakukan oleh bendahara pengeluaran tidak boleh melebihi Rp10.000. 9) Untuk memperoleh penggantian uang persediaan yang telah digunakan. 14) Pembayaran kepada rekanan harus memerhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.000. Pusdiklatwas BPKP . satuan kerja yang bersangkutan menerbitkan surat perintah membayar penggantian uang persediaan (SPMGUP).Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 8) Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dapat mengajukan permintaan uang persedian dengan menerbitkan surat perintah membayar uang persediaan (SPM-UP) untuk membiayai keperluan sehari-hari perkantoran. 12) Pelaksanaan pembayaran dengan uang persediaan dilakukan oleh bendahara pengeluaran sepanjang pembayaran dimaksud tidak dapat dilakukan melalui pembayaran langsung (SPM-LS).00 kepada satu pihak.2007 65 . satuan kerja dapat mengajukan tambahan dengan menerbitkan surat perintah membayar tambahan uang persediaan (SPM-TUP). kecuali pembayaran honor. 10) Dalam hal uang persediaan tidak mencukupi kebutuhan.

KPPN menerbitkan SP2D yang ditujukan kepada bank operasional mitra kerjanya. 18) Berdasarkan SPM yang disampaikan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. 17) Bukti asli pembayaran Pembayaran dalam yang dilampirkan dalam Surat bukti Permintaan dan (SPP)-GUP merupakan pengeluaran dalam pelaksanaan anggaran belanja negara disimpan arsip pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 15) Pengguna anggaran atau kuasa pengguna anggaran dapat mengajukan penggantian uang persediaan yang telah digunakan kepada KPPN dengan menyampaikan SPM-GUP yang dilampiri Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja (SPTB) dan Faktur Pajak serta Surat Setoran Pajak (SSP). 19) KPPN menolak permintaan pembayaran yang diajukan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dalam hal: a) pengeluaran untuk MAK yang melampaui pagu. 16) Pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan dengan surat bukti yang menjadi dasar pengeluaran atas beban APBN bertanggung jawab atas kebenaran material dan akibat yang timbul dari penggunaan surat bukti dimaksud. atau penolakan permintaan pembayaran sebagaimana dimaksud pada butir 19 wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai berikut.2007 66 . dan/atau b) tidak didukung oleh dokumen yang sah sesuai ketentuan yang berlaku. 20) Penerbitan SP2D sebagaimana butir 18.

Pusdiklatwas BPKP .2007 67 . 5) lain-lain. d) Pengembalian SPM dilakukan paling lambat hari kerja berikutnya sejak diterimanya SPM berkenaan. Secara garis besar peraturan tersebut berisi ketentuanketentuan mengenai: 1) prosedur penerbitan surat permintaan pembayaran (SPP). 3) prosedur penerbitan surat perintah pencairan dana (SP2D) oleh KPPN.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I a) Penerbitan SP2D uang persediaan/tambahan uang persediaan/penggantian uang persediaan (SPM-UP/SPMTUP/SPM-GUP) dan SPM pembayaran langsung (SPM-LS) paling lambat dalam waktu satu hari sejak diterimanya SPM secara lengkap. Mekanisme Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Mekanisme pembayaran dalam pelaksanaan anggaran belanja didasarkan pada peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor Per66/PB/2005 tentang Mekanisme Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN. c) Untuk pembayaran non gaji induk (non gaji bulanan) SP2D diterbitkan paling lambat lima hari sejak diterimanya SPM. b. 2) prosedur penerbitan surat perintah pembayaran (SPM) oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. b) Untuk pembayaran gaji induk (gaji bulanan) PNS Pusat paling lambat lima hari kerja sebelum awal bulan pembayaran gaji. 4) pelaporan realisasi APBN.

pelaksanaan anggaran belanja negara harus mengikuti prinsip-prinsip berikut. Jumlah pengeluaran dalam anggaran merupakan batas yang tertinggi untuk setiap jenis pengeluaran.2007 68 . Pembayaran atas beban negara pada dasarnya dilakukan setelah barang/jasa diterima oleh negara. Anggaran tidak mutlak harus dihabiskan. Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran juga tidak diperkenankan melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja negara untuk tujuan lain dari yang ditetapkan dalam anggaran belanja negara (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran/DIPA). Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran tidak diperkenankan melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja negara. tidak mewah. Hemat. c. Secara umum. terkendali. Prinsip Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Berdasarkan aturan perundangan tersebut. jika dana untuk membiayai tindakan tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam anggaran belanja negara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. dan f. Dilarang melakukan pengeluaran yang menyimpang dari tujuan yang ditetapkan. semaksimal mungkin menggunakan produksi/jasa dalam negeri. Belanja atas beban anggaran belanja negara didasarkan pada DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA. efisien. b. jumlah dana yang dimuat dalam anggaran belanja negara merupakan batas tertinggi untuk tiap-tiap pengeluaran. a. bila anggarannya tidak tersedia. terarah. d. Dilarang melakukan tindakan yang membebani anggaran. Pusdiklatwas BPKP . e. Persyaratan pengeluaran atas beban negara didasarkan pada bukti hak tagihan kepada negara.

Belanja untuk pelaksanaan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada pemerintah daerah untuk mendanai kebutuhan pemerintah daerah dalam Pusdiklatwas BPKP . Penyelenggaraan rapat. 3. hadiah/tanda mata. seminar. perayaan atau peringatan hari besar. a. pesta untuk berbagai peristiwa dan pekan olah raga pada departemen/lembaga/pemerintah daerah. dibatasi pada hal-hal yang sangat penting dan dilakukan sesederhana mungkin.2007 69 . a.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pengeluaran atas beban anggaran belanja negara tidak diperkenankan untuk keperluan berikut. lokakarya. pengeluaran lain-lain untuk kegiatan/keperluan yang sejenis serupa dengan yang tersebut di atas. peresmian kantor/proyek dan sejenisnya. rapat dinas. hari raya dan hari ulang tahun departemen/lembaga/pemerintah daerah. Bagian anggaran yang tidak dikuasai oleh kementerian/lembaga negara dikuasai oleh Menteri Keuangan. 17 Tahun 2003 tentang Perbendaharaan Negara. kegiatan. Belanja untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintahan pusat. pemberian ucapan selamat. b. karangan bunga. dan sebagainya untuk berbagai peristiwa. dan jenis belanja. c. Belanja pemerintah pusat tersebut dibagi menurut fungsi. b. pertemuan. Komponen Anggaran Belanja Negara Sesuai UU No. belanja negara meliputi hal berikut. Belanja untuk pemerintah daerah dirupakan dalam bentuk ”Dana Perimbangan”. d. organisasi/bagian anggaran.

dan sebagian Pajak Penghasilan (PPh) Wajib Pajak Orang Dalam Negeri. Tidak seluruh hasil pajak pusat dibagihasilkan dengan daerah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I rangka pelaksanaan Desentralisasi. Pemerintah daerah yang menerima dana alokasi khusus wajib menyediakan dana pendamping sedikitnya 10% dari seluruh biaya kegiatan. Dana Perimbangan mencakup: 1) Dana Bagi Hasil. Dalam kondisi tertentu. 3) Dana Alokasi Khusus. pemerintah daerah penerima dana alokasi khusus dapat tidak wajib menyediakan dana pendamping. yakni dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan pemerintah daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Hasil pajak yang dibagihasilkan dengan daerah mencakup Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). 2) Dana Alokasi Umum.2007 70 . Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). b) Bagi Hasil Pajak. yang meliputi: a) Bagi Hasil Sumber Daya Alam. yakni dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. Pusdiklatwas BPKP .

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I B. (Gambar 5. SPK. daft gaji. BA Serah terima Draft SPM LS Pembebanan BENAR SPM LS Proses SAI Transfer UP/GU Bukti SK SK Bukti Dan tagihan Uji dan periksa Transfer Pihak ke tiga SP2D SALAH SPM Perbaiki KPKN Pusdiklatwas BPKP . Lembur. sesuai ketentuan/batasan yang diatur secara khusus pembayaran persediaan.1) dapat dilakukan dengan menggunakan uang BAGAN PROSES PEMBAYARAN PADA SATUAN KERJA PEMBUAT KOMITMEN PENGUJI TAGIHAN BENDAHARA PENGELUARAN PENERBIT SPM UNIT AKUNTANSI SATKER SK. BA PK. BA PB. PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA NEGARA OLEH PENGGUNA ANGGARAN/KUASA PENGGUNA ANGGARAN 1.2007 71 . Jenis dan Proses Pembayaran Anggaran Belanja Negara Pembayaran atas beban APBN pada dasarnya dilakukan secara langsung melalui penerbitan Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS) kepada pihak yang berhak (pembayaran langsung). Proses pembayaran pada satuan kerja dapat digambarkan seperti bagan alur dokumen di bawah ini. KONTRAK Draft SPM GU BAYAR SPM GU Bukti Laporan Keuangan Daft. Untuk keperluan tertentu yang tidak dapat dan/atau tidak memungkinkan dilakukannya pembayaran secara langsung (menggunakan prosedur SPM LS).

e. 2. Asli surat keputusan dimaksud disampaikan kepada kepala KPPN selaku Kuasa BUN setelah dilengkapi dengan bukti identitas Pusdiklatwas BPKP . Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara a.2007 72 . Tahap Penetapan Pejabat Kuasa PA dan Penandatangan SPM Pada setiap awal tahun anggaran. a. pelaksanaan kegiatan benar. maka pejabat penguji menetapkan pembebanan anggaran mengajukan SPM kepada pejabat penerbit SPM. maka SPP dikembalikan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Secara ringkas. Bank mentransfer uang ke rekening bendahara pengeluaran atau ke rekening pihak ketiga. c. 2) pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja. Pembukuan KPPN dijadikan bahan sistem akuntansi instansi untuk penyusunan laporan keuangan pemerintah. bagan alur tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Pejabat penerbit SPM menyerahkan SPM ke KPPN. mengajukan SPP kepada pejabat penguji tagihan. b. Berdasarkan SPM yang diajukan. KPPN meenerbitkan SP2D kepada bank mitra. 3) pejabat yang diberi kewenangan untuk menandatangani SPM. menteri/pimpinan lembaga selaku PA menerbitkan keputusan tentang penunjukan: 1) pejabat kuasa PA untuk satuan kerja sementara di lingkungan instansi PA. sedangkan jika pelaksanaan kegiatan tidak didukung bukti. Jika berdasarkan pengujian. Pejabat pembuat komitmen (PPK) dan bendahara pengeluaran berdasarkan bukti pelaksanaan kegiatan. d. 4) bendahara pengeluaran.

kepala satuan kerja selaku kuasa pengguna anggaran. Pejabat yang menandatangani kontrak/keputusan bertanggung jawab atas kebenaran material dan akibat yang timbul dari kontrak/keputusan tersebut. dan spesimen tanda tangan. cantor/satuan kerja. dll. 3) keputusan/tindakan dalam rangka pengadaan barang/jasa (kontrak jual beli. b.). Pusdiklatwas BPKP . ruang. mutasi pegawai. 2) keputusan/tindakan dalam rangka pelaksanaan kegiatan yang terkait dengan substansi tugas pokok dan fungsi. c.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pejabat yang bersangkutan yang meliputi: nama.). Pelaksanaan Kegiatan Pada tahap ini. pangkat/gol. surat perjalanan dinas. walaupun prosedur/tatacara kepada penyelesaian pengguna kegiatan diserahkan sepenuhnya kuasa anggaran. melaksanakan rencana kerja yang telah ditetapkan dalam DIPA. membuat keputusan-keputusan dan atau mengambil tindakan-tindakan yang dapat mengakibatkan timbulnya pengeluaran uang dan/atau tagihan atas beban APBN. kenaikan gaji berkala. jabatan. pengangkatan pegawai dalam jabatan. NIP/NRP. Keputusan-keputusan dan/atau tindakantindakan tersebut antara lain dapat berupa: 1) keputusan kepegawaian (seperti pengangkatan pertama pegawai. kenaikan pangkat. Tahap Pembuatan Komitmen Sesuai tugas pokok dan fungsinya.2007 73 . dll. cap/stempel kantor/satuan kerja. namun masih harus mengikuti ketentuan berikut. surat perintah kerja.

d. seorang bendahara menteri/pimpinan lembaga atau pejabat yang diberi hak/tagihan atas penyelesaian-penyelesaian Pusdiklatwas BPKP . dan rekomendasi pembayaran pekerjaan. pernyataan kesaksian atas prestasi kerja yang telah diselesaikan. Uang Persediaan dan Tambahan Uang Persediaan (UP dan TUP) 1) Pengelola Uang Persediaan a) Bendahara Pengeluaran Untuk mengelola uang persediaan bagi satuan kerja di lingkungan kewenangan kementerian dapat mengangkat negara/lembaga. 2) Pemeriksaan Penyelesaian Pekerjaan Pada setiap tahap penyelesaian pekerjaan perlu dilakukan pemeriksaan. nomor dan tanggal kontrak kerja. pemeriksaan dituangkan dalam suatu dokumen Berita Acara Hasil Pemeriksaan Penyelesaian Pekerjaan. tahap penyelesaian pekerjaan (termijn).2007 74 . tempat/lokasi pekerjaan. besar nilai kontrak. 3) Pembuatan Berita Acara Berita Acara Hasil Pemeriksaan Penyelesaian Pekerjaan harus memuat sekurang-kurangnya identitas pekerjaan (yang meliputi kantor/satuan kerja pengelola pekerjaan. nomor dan tanggal DIPA yang menjadi dasar pembuatan dan/atau ditunjuk dalam kontrak).Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 1) Pelaksanaan Pekerjaan Pelaksanaan kegiatan harus dilakukan secara tertib dan memenuhi ketentuan yang diperjanjikan baik dalam spesifikasi teknis maupun dalam jadwal/waktu penyelesaian.

e) Pengisian kembali uang persediaan dilakukan dengan mengajukan SPM GU kepada KPPN. Pusdiklatwas BPKP . 2) Prosedur Penggunaan Uang Persediaan a) PA/Kuasa PA menerbitkan SPM-UP berdasarkan alokasi dana dalam DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA atas permintaan dari bendahara pengeluaran yang dibebankan pada mata anggaran keluaran (MAK) untuk pengeluaran transito. f) Pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan sesuai buktibukti yang sah dibebankan pada mata annggaran (MAK) definitif sesuai pagu MAK yang tersedia.2007 75 . c) Penggunaan persediaan tanggung jawab bendahara pengeluaran. b) Untuk membantu pengelolaan uang persediaan pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya. d) Bendahara pengeluaran melakukan pengisian kembali uang persediaan segera setelah uang persediaan dimaksud digunakan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pengeluaran pada kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya. sesuai kebutuhan kepala satuan kerja mengusulkan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan untuk menunjuk pemegang uang uuka. b) KKPPN. selanjutnya. berdasarkan SPM-UP dimaksud pada angka 1 di atas menerbitkan uang SP2D untuk rekening selanjutnya bendahara menjadi pengeluaran yang ditunjuk dalam SPM-UP. Di dalam pelaksanaan tugasnya pemegang uang muka bertanggung jawab kepada bendahara pengeluaran.

5241-belanja perjalanan. a) UP dapat diberikan untuk pengeluaran-pengeluaran belanja barang pada klasifikasi belanja: 5211-belanja barang operasional. masih cukup tersedia. Pusdiklatwas BPKP . dan 5811–belanja barang lainnya. Setoran sisa uang persediaan dimaksud. i) Sisa uang persediaan yang terdapat pada akhir tahun anggaran harus disetor ke Rekening Kas Umum Negara selambat-lambatnya tanggal 31 Desember tahun anggaran berkenaan. yang dapat dibayarkan melalui prosedur SPM-UP. 3) Petunjuk Pelaksanaan Uang Persediaan Uang persediaan dapat diberikan dalam batasan ketentuan sebagai berikut. 5212-belanja bahan. h) Penggunaan dan penggantian uang persediaan dapat dilakukan sepanjang pagu anggaran dalam DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA. 5221-belanja langganan daya dan jasa. dapat diberikan pengecualian untuk DIPA Pusat oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan dan untuk DIPA Pusat yang kegiatannya berlokasi di daerah serta DIPA yang ditetapkan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan setempat. b) Di luar ketentuan pada butir a. 5231-belanja biaya pemeliharaan.2007 76 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I g) Pembebanan dimaksud pada butir f) di atas mengurangi kredit/pagu anggaran dalam DIPA. oleh KPPN dibukukan sebagai pengembalian uang persediaan sesuai mata anggaran yang ditetapkan.

000 > Rp2.00 untuk klasifikasi belanja yang diperbolehkan diberi UP bagi instansi dalam wilayah pembayaran KPPN bersangkutan. Kepala KPPN dapat memberikan TUP sampai dengan jumlah Rp200.000.000. 3.000.000. Permintaan TUP di atas Rp200.400.00 Rp 100. f) Dalam hal penggunaan UP belum mencapai 75%. satker/SKS dimaksud dapat mengajukan TUP. No Pagu (Rp juta) 1.00 Rp 200.000.000.000.000 Prosentase pagu DIPA menurut klasifikasi belanja yang diijinkan untuk diberikan UP 1/12 1/18 1/24 Maksimal UP Rp 50.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c) Maksimal UP yang dapat diberikan adalah sebagai berikut.000 > Rp900.000.000 .2007 77 .000. sedangkan satker/SKS yang bersangkutan memerlukan pendanaan melebihi sisa dana yang tersedia. Pusdiklatwas BPKP . ≤ Rp900. e) Pengisian kembali UP sebagaimana dimaksud pada butir c) dapat diberikan apabila dana UP telah dipergunakan sekurang-kurangnya 75% dari dana UP yang diterima.000. i.000. 2.400. ii.000.00 d) Perubahan besaran UP di luar ketentuan pada butir c) ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan.000. ≤ Rp2.00 untuk klasifikasi belanja yang diperbolehkan diberi UP harus mendapat dispensasi dari Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan.000. g) Pemberian TUP diatur sebagai berikut.

baik uang persediaan maupun pembayaran langsung.Uang Persediaan) Surat pernyataan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. pengajuan SPP. Pusdiklatwas BPKP . ƒ Pengajuan SPP-LS belanja lainnya diajukan oleh pejabat pembuat komitmen. 1) SPP-UP (Surat Permintaan Pembayaran . Persyaratan Penerbitan SPP Pengajuan surat permintaan pembayaran (SPP) untuk penerbitan surat perintah membayar (SPM). 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. menyatakan bahwa Uang Persediaan tersebut tidak untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang menurut ketentuan harus dengan LS. Pejabat yang Mengajukan SPP Pengajuan SPP dibedakan sesuai dengan jenis pembayaran yang dilakukan. diajukan oleh bendahara pengeluaran. untuk pelaksanaan anggaran belanja pemerintah daerah.2007 78 . dibuat dengan kelengkapan persyaratan sebagai berikut. sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Sebagai bahan perbandingan. Prosedur Penerbitan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) a. ƒ Pengajuan SPP-UP/TUP/GUP dilakukan oleh bendahara pengeluaran. Pengajuan SPP untuk pelaksanaan anggaran belanja negara dibedakan sebagai berikut. b. ƒ Pengajuan SPP-LS belanja pegawai dan belanja perjalanan dinas dilakukan oleh bendahara pengeluaran.

2007 79 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) SPP-TUP (Surat Permintaan Pembayaran .Tambahan Uang Persediaan) a) Rincian rencana penggunaan dana Tambahan uang persediaan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk. dapat dilakukan melalui UP/TUP. Pengaturan mekanisme pembayaran adalah sebagai berikut. (2) apabila terdapat sisa dana TUP. harus disetorkan ke rekening kas negara. b) Surat pernyataan tanggung jawab belanja (SPTB). b) Surat pernyataan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk bahwa: (1) dana tambahan UP tersebut akan digunakan untuk keperluan mendesak dan akan habis digunakan dalam waktu satu bulan terhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D. 3) SPP-GUP (Surat Permintaan Pembayaran . Pusdiklatwas BPKP . Apabila tidak mungkin dilaksanakan melalui mekanisme LS. (3) tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung. 4) SPP Untuk Pengadaan Tanah Pembayaran pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilaksanakan melalui mekanisme pembayaran langsung (LS). c) Rekening koran yang menunjukkan saldo terakhir.Penggantian Uang Persediaan) a) Kuitansi/tanda bukti pembayaran. c) Surat setoran pajak (SSP) yang telah dilegalisir oleh kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk.

(8) SSP PPh final atas pelepasan hak.2007 80 . (5) Surat persetujuan harga. (2) Pengadaan tanah yang luasnya lebih dari satu hektar dilakukan dengan bantuan panitia pengadaan tanah di kabupaten/kota setempat. (4) SPPT PBB tahun transaksi. b) SPP-UP/TUP (1) Pengadaan tanah yang luasnya kurang dari satu hektar dilengkapi persyaratan daftar nominatif pemilik tanah yang ditandatangani oleh kuasa PA. (3) Pengadaan tanah yang pembayarannya dilaksanakan melalui UP/TUP harus terlebih dahulu mendapat ijin dispensasi dari Kantor Pusat Ditjen PBN/Kanwil Ditjen PBN.Pembayaran Langsung) (1) Persetujuan Panitia Pengadaan Tanah untuk tanah yang luasnya lebih dari satu hektar di kabupaten/kota. (6) Pernyataan dari penjual bahwa tanah tersebut tidak dalam sengketa dan tidak sedang dalam agunan. dan dilengkapi dengan daftar nominatif pemilik tanah serta besaran harga tanah yang ditandatangani oleh Kuasa PA dan diketahui oleh Panitia Pengadaan Tanah (PPT). (9) Surat pelepasan hak adat (bila diperlukan). (7) Pelepasan/penyerahan hak atas tanah/akta jual beli di hadapan PPAT.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I a) SPP-LS (Surat Permintaan Pembayaran . (3) kuitansi. (2) foto copy bukti kepemilikan tanah. sedangkan besaran uangnya harus mendapat dispensasi UP/TUP sesuai ketentuan yang berlaku. Pusdiklatwas BPKP .

(4) berita acara serah terima pekerjaan. PA atau pejabat Pusdiklatwas BPKP . (3) berita acara penyelesaian pekerjaan. (6) kuitansi yang disetujui oleh kuasa yang ditunjuk. c) Pembayaran keputusan pembayaran honor/vakasi tentang perhitungan dilengkapi honor dengan vakasi.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 5) SPP-LS Untuk Pembayaran Gaji. 6) SPP-LS Non Belanja Pegawai a) Pembayaran pengadaan barang dan jasa. Lembur dan Honor/Vakasi a) Pembayaran gaji induk/gaji susulan/kekurangan gaji/gaji terusan/uang PPh Pasal 21. dan SSP PPh Pasal 21. (2) surat pernyataan kuasa PA mengenai penetapan rekanan. daftar hadir kerja. dilengkapi dengan: (1) kontrak/SPK yang mencantumkan nomor rekening rekanan. daftar hadir lembur dan SSP PPh Pasal 21. b) Pembayaran lembur dilengkapi dengan daftar pembayaran perhitungan lembur yang ditandatangani oleh kuasa PA/pejabat yang ditunjuk dan bendahara pengeluaran.2007 81 . surat daftar yang pemberian duka wafat/tewas. dilengkapi dengan dokumen yang terkait dengan pembayarannya dan SSP honor/vakasi ditandatangani oleh kuasa PA/pejabat yang ditunjuk dan bendahara pengeluaran yang bersangkutan. (5) berita acara pembayaran. surat perintah kerja lembur.

(10) ringkasan kontrak. (9) dokumen lain yang dipersyaratkan untuk kontrakkontrak yang dananya sebagian atau seluruhnya bersumber dari pinjaman/hibah luar negeri. yang berisi antara lain: informasi mengenai data pejabat (nama. tanggal keberangkatan. PDAM dll. tujuan. dapat satuan kerja/SKS yang bersangkutan melakukan bank atau yang dipersamakan yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan non pembayaran dengan UP. b) Pembayaran biaya langganan daya dan jasa (listrik. dan biaya yang diperlukan untuk masing-masing pejabat. PT Telkom.2007 82 . (2) nomor rekening pihak ketiga (PT PLN. pangkat/golongan). (8) jaminan bank.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (7) faktur pajak beserta SSP yang telah ditandatangani wajib pajak. Tunggakan langganan daya dan jasa tahun anggaran sebelumnya dapat dibayarkan oleh satker/SKS setelah mendapat dispensasi/persetujuan terlebih dahulu dari Kanwil Ditjen PBN sepanjang dananya tersedia dalam DIPA berkenaan. Pusdiklatwas BPKP . lama perjalanan dinas.). telepon dan air) dilengkapi dengan: (1) bukti tagihan daya dan jasa. Dalam hal pembayaran Langganan Daya dan Jasa belum dapat dilakukan secara langsung. c) Pembayaran belanja perjalanan dinas harus dilengkapi dengan daftar nominatif pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas.

7) SPP untuk PNBP a) UP/TUP untuk PNBP diajukan terpisah dari UP/TUP lainnya.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Daftar nominatif tersebut harus ditandatangani oleh pejabat yang berwenang memerintahkan perjalanan dinas. PPP = proporsi pagu pengeluaran terhadap pendapatan. satker pengguna harus melampirkan daftar perhitungan jumlah MP. JS = jumlah setoran. d) Dalam pengajuan SPM-TUP/GUP/LS PNBP ke KPPN. dengan SPM terakhir yang diterbitkan. MP = (PPP x JS) – JPS MP = maksimum pencairan dana. b) UP dapat diberikan kepada satker pengguna sebesar 20% dari pagu dana PNBP pada DIPA maksimal sebesar Rp500. Apabila UP tidak mencukupi dapat mengajukan TUP sebesar kebutuhan riil satu bulan dengan memerhatikan maksimum pencairan (MP).PNBP tahun anggaran sebelumnya. c) Dana yang berasal dari PNBP dapat dicairkan maksimal sesuai formula sebagai berikut. JPS = jumlah pencairan dana sebelumnya sampai Pusdiklatwas BPKP .000. Pembayaran dilakukan oleh bendahara pengeluaran satker/SKS yang bersangkutan kepada para pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas.2007 83 . dan disahkan oleh pejabat yang berwenang di KPPN.000.00 dengan melampirkan Daftar Realisasi Pendapatan dan Penggunaan Dana DIPA .

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I e) Untuk satker pengguna yang setorannya dilakukan secara terpusat. dilakukan dengan mengajukan SPM ke KPPN setempat cukup dengan melampirkan SPTB. Pusdiklatwas BPKP .2007 84 . yang disetorkan ke rekening kas negara pada akhir tahun anggaran merupakan bagian realisasi penerimaan PNBP tahun anggaran berikutnya dan dapat dipergunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan setelah diterimanya DIPA. h) Besarnya pencairan dana PNBP secara keseluruhan tidak boleh melampaui pagu PNBP satker yang bersangkutan dalam DIPA. pencairan dana diatur secara khusus dengan surat edaran Dirjen PBN tanpa melampirkan SSBP. g) Besaran PPP untuk masing-masing satker pengguna diatur berdasarkan surat keputusan Menteri Keuangan yang berlaku. pencairan dana harus melampirkan bukti setoran (SSBP) yang telah dikonfirmasi oleh KPPN. k) Sisa dana PNBP dari satker pengguna di luar butir i. j) Khusus perguruan tinggi negeri selaku pengguna PNBP (non BHMN). f) Satker pengguna yang menyetorkan pada masing-masing unit (tidak terpusat). sisa dana PNBP yang disetorkan pada akhir tahun anggaran ke rekening kas negara dapat dicairkan kembali maksimal sebesar jumlah yang sama pada awal tahun anggaran berikutnya mendahului diterimanya DIPA dan merupakan bagian dari target PNBP yang tercantum dalam DIPA tahun anggaran berikutnya. i) Pertanggungjawaban penggunaan dana UP/TUP PNBP oleh kuasa PA.

akan diperhitungkan pada saat pengajuan pencairan dana UP tahun anggaran berikutnya. Penerimaan dan pengujian SPP Petugas penerima SPP memeriksa kelengkapan berkas SPP. 4. mengisi check list kelengkapan berkas SPP. 3) Memeriksa kesesuaian rencana kerja dan/atau kelayakan hasil kerja yang dicapai dengan indikator keluaran. Prosedur Penerbitan SPM Setelah menerima SPP. 1) Memeriksa secara rinci dokumen pendukung SPP sesuai dengan ketentuan yang berlaku. alamat. dan membuat/menandatangani pejabat penerbit SPM. mencatatnya dalam buku pengawasan penerimaan tanda terima SPP. Selanjutnya petugas penerima SPP menyampaikan SPP dimaksud kepada Pusdiklatwas BPKP . a. pejabat penerbit SPM menerbitkan SPM dengan mekanisme sebagai berikut. nomor rekening dan nama bank).2007 85 . 2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran. b. SPP. 4) Memeriksa kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain: a) pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/perusahaan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I l) Sisa UP/TUP dana PNBP sampai akhir tahun anggaran yang tidak disetorkan ke rekening kas negara. Pejabat penerbit SPM melakukan pengujian atas SPP sebagai berikut.

dengan rincian: 1) lembar kesatu dan kedua disampaikan kepada KPPN. Pusdiklatwas BPKP . C. a. kecuali bagi satker yang masih menerbitkan SPM secara manual tidak perlu ADK. Pengguna anggaran/kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk menyampaikan SPM beserta dokumen pendukung dilengkapi dengan Arsip Data Komputer (ADK) berupa soft copy melalui loket penerimaan SPM pada KPPN atau melalui kantor pos. Pejabat Penguji SPP dan Penanda Tangan SPM menerbitkan SPM-UP/SPM-TUP/SPM-GUP/SPM-LS dalam rangkap tiga. PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA NEGARA OLEH BENDAHARA UMUM NEGARA (BUN)/KUASA BUN 1. 2) lembar ketiga sebagai pertinggal pada satker yang bersangkutan.2007 86 . Penyampaian SPM kepada KPPN Penyampaian SPM kepada KPPN dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut. Setelah dilakukan pengujian terhadap SPP-UP/SPP-TUP/SPPGUP/SPP-LS. 5) Memeriksa pencapaian tujuan dan/atau sasaran kegiatan sesuai dengan indikator keluaran yang tercantum dalam DIPA berkenaan dan/atau spesifikasi teknis yang sudah ditetapkan dalam kontrak. c) jadwal waktu pembayaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b) nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan/atau kelayakannya dengan prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak). c.

c) surat pernyataan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk yang menyatakan bahwa: (1) dana tambahan UP tersebut akan digunakan untuk keperluan mendesak dan akan habis digunakan dalam waktu satu bulan terhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D.2007 87 . 3) untuk keperluan pembayaran TUP: a) rincian rencana penggunaan dana. c) surat keputusan pemberian honor/vakasi dan SPK lembur. (2) apabila terdapat sisa dana TUP. Pusdiklatwas BPKP . 2) untuk keperluan pembayaran langsung (LS) non belanja pegawai: a) resume kontrak/SPK atau daftar nominatif perjalanan dinas. b) surat-surat keputusan kepegawaian dalam hal terjadi perubahan pada daftar gaji. SPM dimaksud dilampiri bukti pendukung pengeluaran sebagai berikut. d) surat setoran pajak (SSP). b) SPTB. 1) untuk keperluan pembayaran langsung (LS) belanja pegawai: a) daftar gaji/gaji susulan/kekurangan gaji/lembur/honor dan vakasi yang ditandatangani oleh kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk dan bendahara pengeluaran.000. c) faktur pajak dan SSP.00.000. harus disetorkan ke rekening kas negara. Perbendaharaan untuk TUP diatas RP200. b) surat dispensasi Kepala Kantor Wilayah Ditjen.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b.

1) Pengujian substantif dilakukan untuk menguji: a) kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM. Pengujian SPM Berdasarkan berkas SPM yang diterima.2007 88 . b) Faktur Pajak dan SSP. c. Bukti asli lampiran SPP merupakan arsip yang disimpan oleh PA/KPA. surat keputusan. d. daftar nominatif perjalanan Pusdiklatwas BPKP . sebagai dasar penagihan (ringkasan kontrak/SPK. SPM Gaji Induk harus sudah diterima KPPN paling lambat tanggal 15 sebelum bulan pembayaran. b) ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA yang ditunjuk dalam SPM tersebut. c) dokumen dinas). Petugas KPPN pada loket penerimaan SPM memeriksa kelengkapan SPM. 2. mencatat dalam Daftar Pengawasan Penyelesaian SPM. KPPN melakukan pengujian yang bersifat substansif dan formal. e. Pengujian SPM dan Penerbitan SP2D a. mengisi check list kelengkapan berkas SPM. dan meneruskan check list serta kelengkapan SPM ke seksi perbendaharaan untuk diproses lebih lanjut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (3) tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung. 4) untuk keperluan pembayaran GUP: a) SPTB.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I d) surat pernyataan tanggung jawab (SPTB) dari kepala kantor/satker atau pejabat lain yang ditunjuk mengenai tanggung jawab terhadap kebenaran pelaksanaan pembayaran. Penerbitan SP2D Penerbitan SP2D wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai berikut. b) pengembalian SPM kepada penerbit SPM. b. e) faktur pajak beserta SSP-nya. Keputusan hasil pengujian ditindak lanjuti dengan: a) penerbitan SP2D bilamana SPM yang diajukan memenuhi syarat yang ditentukan. b) SPM UP/TUP/GUP dan LS dikembalikan paling lambat satu hari kerja setelah SPM diterima. Pengembalian SPM sebagaimana dimaksud di atas diatur sebagai berikut. Pusdiklatwas BPKP . apabila tidak memenuhi syarat untuk diterbitkan SP2D. termasuk tidak boleh terdapat cacat dalam penulisan. a) SPM Belanja Pegawai Non Gaji Induk dikembalikan paling lambat tiga hari kerja setelah SPM diterima. 2) Pengujian formal dilakukan untuk: a) mencocokkan tanda tangan pejabat penanda tangan SPM dengan spesimen tanda tangan. c) memeriksa kebenaran dalam penulisan.2007 89 . b) memeriksa cara penulisan/pengisian jumlah uang dalam angka dan huruf. 1) SP2D Gaji Induk diterbitkan paling lambat lima hari kerja sebelum awal bulan pembayaran gaji.

Untuk keperluan pelaporan tersebut. Laporan yang menyangkut dengan realisasi APBN lainnya sepanjang belum dicabut dan masih diperlukan tetap dilaksanakan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) SP2D Non Gaji Induk diterbitkan paling lambat lima hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap. untuk diproses dan selanjutnya diteruskan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan u. anggaran (UAKPA) wajib membuat laporan realisasi anggaran dan neraca serta arsip data komputer (ADK) yang dikelolanya kepada menteri/pimpinan lembaga secara berjenjang melalui unit akuntansi pembantu pengguna anggaran tingkat wilayah (UAPPAW) dan kepada KPPN setempat. Direktur Informasi dan Akuntansi. 3. neraca. kepala KPPN selaku kuasa bendahara umum negara wajib membuat laporan bulanan realisasi anggaran. maka: 1.p. 3) SP2D UP/TUP/GUP dan LS paling lambat satu hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap.2007 90 . PELAPORAN REALISASI ANGGARAN BELANJA Untuk keperluan penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN diperlukan antara lain data realisasi APBN. arus kas dan neraca kepada Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan. 2. Pusdiklatwas BPKP . kepala KPPN selaku kuasa bendahara umum negara wajib membuat laporan kas posisi (LKP) harian dan mingguan yang disampaikan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan u. Direktur Pengelolaan Kas Negara dengan tembusan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan. dan catatan atas laporan keuangan. arus kas.p. kepala kantor/satker selaku unit akuntansi kuasa pengguna D.

2 persen. BI menyatakan perekonomian pada triwulan Pusdiklatwas BPKP . Fiskal tidak ada yang baru. "Sementara. diskusikan artikel di bawah ini.2007 91 . mungkin penyerapan anggaran masih perlu lebih diakselerasi.58 persen. pemerintah menargetkan pertumbuhan 6." katanya. sosial politik. Sedangkan. masih adanya hambatan dalam pencairan daftar isian pelaksanaan Anggaran (DIPA) dari sisi teknis maupun pelaksanaan projek atau programnya. Namun.2% Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan." kata Sri Mulyani. enam persen tahun ini masih dalam jangkauan. Menko Perekonomian Boediono optimistis pertumbuhan Indonesia pada tahun ini tetap mencapai target 6. Ia mengakui.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I E. Kita jalankan saja apa yang ada di APBN.58 persen.4 persen. Saya kira kalau kita mempertahankan situasi yang baik ini. "Pemerintah akan memerhatikan itu. Lapangan Banteng Jakarta. dengan pendekatan dari sisi pengguna anggaran." kata dia di Gedung Departemen Keuangan Jln. Bank Pembangunan Asia (ADB) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2006 mencapai 5. Pemerintah Mempercepat Penyerapan Anggaran Untuk Mendorong Target Pertumbuhan 6.2 persen. setiap laporan menyangkut pertumbuhan ekonomi pasti menyebutkan faktor-faktor yang mendukung pertumbuhan itu. Sebelumnya. pemerintah akan mempercepat penyerapan anggaran dalam tahun 2006 guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang menurut laporan Bank Indonesia (BI) pada triwulan pertama 2006 hanya mencapai 4. "Saya kira kalau pribadi dari segi saya enam persen tetap. Ketika ditanya mengapa pertumbuhan ekonomi hanya 4." ujarnya. Sementara. Baik dari segi ekonomi. dari sisi fiskal tidak ada kebijakan baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Jumat (7/4). Sri Mulyani menyatakan tidak tahu. "Faktor-faktornya biasanya konsumsi dan investasi. BAHAN DISKUSI DAN SOAL LATIHAN BAHAN DISKUSI Berdasarkan materi pemelajaran di atas.

anggaran yang tersedia sudah mengikat dan harus direalisir 2. semaksimal mungkin menggunakan produksi dalam negeri d.. Untuk PDB secara keseluruhan 2006. dan surplus neraca pembayaran.. a. dihabiskan sesuai dengan mata anggarannya c. efisien sesuai kebutuhan teknis yang disyaratkan Anggaran negara merupakan batas tertinggi (maksimum) untuk setiap jenis pengeluaran artinya …. sisa anggaran d. kemampuan stimulus fiskal yang lebih besar. tidak mewah. "PDB 2006 diperkirakan melebihi nilai tengah (mid point) 5. b." katanya. c atau d yang saudara anggap paling benar. Berikut adalah prinsip dari pengeluaran anggaran." kata Gubernur Bank Indonesia Burhanudin Abdulah.2007 92 . dan intensifnya upaya pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi. anggaran yang tersedia harus dihabiskan sampai akhir tahun anggaran b. (JAKARTA-(PR) A-75/A-78)*** SOAL LATIHAN Pilihlah salah satu jawaban a. a. Pusdiklatwas BPKP . menurunnya tingkat inflasi. pengeluaran yang dilakukan tidak boleh melampaui batas anggaran yang tersedia pengeluaran negara dilakukan sehemat mungkin agar ada c. 1. kecuali . sedikit lebih tinggi dari perkiraan awal tahun sebesar 4. "Perkembangan yang lebih positif ini terutama didukung oleh kestabilan ekonomi makro seperti menguatnya nilai tukar.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pertama 2006 diperkirakan tumbuh 4.. Untuk keseluruhan tahun 2006. terarah dan terkendali sesuai dengan rencana b.7 persen. kinerja neraca pembayaran yang lebih baik.7 persen.35 persen.58 persen. BI memandang optimisme pada perekonomian nasional semakin menguat terutama didorong oleh ekonomi global yang lebih kondusif. hemat.4 persen mendekati batas atas 5. diperkirakan mengalami pertumbuhan sedikit lebih tinggi mendekati batas atas kisaran proyeksi BI yaitu 5.0-5.

SPM yang diterbitkan oleh kuasa pengguna anggaran SP2D yang diterbitkan oleh kantor pelayanan perbendaharaan c.000.2007 93 . Rp 25. 6.00 c. a. sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan Penanggung jawab penggunaan uang persediaan (UP) adalah …. d..00 b... a. bendahara pengeluaran b. satu bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan b. pejabat penguji Tambahan Uang Persediaan (TUP) dapat digunakan paling lama.00 4. dua minggu sejak tanggal SP2D diterbitkan dua bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan c. cek tunai dari KPPN SPM uang persediaan (SPM-UP) yang diterbitkan kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk dibebankan pada …. d. a. a. MAK Belanja Tidak Tersangka Pembayaran yang dapat dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran kepada satu rekanan paling tinggi .. d. Pusdiklatwas BPKP .000. Rp 10.. Rp 5.000. (KPPN) d.00 Rp 15 . pejabat pembuat komitmen (PPK) kuasa pengguna anggaran (KPA) c.000. MAK Belanja Non Pegawai b.000.000. berdasarkan bukti atas hak b. Pengeluaran atas beban belanja negara harus memenuhi persyaratan berikut. a. a. SPP yang dibuat dan diajukan oleh bendahara pengeluaran b. tiga bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan Dasar untuk mencairkan uang dari bendahara umum negara (BUN) adalah …. didasarkan atas DIPA atau dokumen yang disamakan dilengkapi pernyataan tidak melakukan KKN c. MAK Transito MAK Belanja Lain-lain c.000.000. kecuali …. 8. d. d. 7. 5.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3..

a. a. kuasa pengguna anggaran d. dan c) dapat melakukannya. surat setoran pajak (SSP) yg telah dilegalisir oleh KPA/PPK 10 Pusdiklatwas BPKP . d. b. bendahara umum negara/kuasa bendahara umum negara c.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 9 Melakukan pembayaran tagihan pihak ketiga sebagai pengeluaran anggaran adalah tanggung jawab dari …. Tentukan mana yang bukan menjadi persyaratan yang harus dilampirkan pada pengajuan SPP-GUP (penggantian uang persediaan) ….2007 94 . menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran/ pengguna barang b. semua (jawaban a. surat pernyataan tanggungjawab belanja (SPTB) surat pernyataan tidak melakukan KKN c. kuitansi/tanda bukti pembayaran b.

a. untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkatsingkatnya dan dapat dipertanggungjawabkan. Efektif. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. hingga penunjukkan dan penetapan penyedia barang/jasa. Prinsip-Prinsip Dasar Pengadaan barang/jasa pemerintah yang yang sebagian atau seluruhnya dibiayai APBN/APBD diwajibkan untuk prinsip-prinsip sebagai berikut. menerapkan Pusdiklatwas BPKP . Efisien. dengan beberapa kali perubahannya. berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan.2007 95 . DAN RUANG LINGKUP PENGADAAN BARANG DAN JASA Pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah yang sebagian atau seluruhnya dibiayai APBN/APBD diatur dalam Keputusan Presiden No. 1. b. PRINSIP DASAR. peserta diklat diharapkan mampu mekanisme pengadaan barang dan jasa. A. sejak proses persiapan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB VI POKOK-POKOK PENGADAAN BARANG DAN JASA INSTANSI PEMERINTAH Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. ETIKA. berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang terbatas. KEBIJAKAN UMUM.

f. keuangan maupun manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsipprinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa. Akuntabel.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c. berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa. berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak tertentu. dengan cara dan atau alasan apapun. e.2007 96 . berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu berdasarkan transparan. sifatnya terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya. d. yang sasarannya adalah memperluas lapangan kerja dan mengembangkan industri dalam ketentuan dan prosedur yang jelas dan Pusdiklatwas BPKP . Transparan. Adil/tidak diskriminatif. berarti harus mencapai sasaran baik fisik. penetapan calon penyedia barang/jasa. Kebijakan Umum Kebijakan umum pemerintah dalam pengadaan barang/jasa meliputi antara lain hal-hal sebagai berikut. tata cara evaluasi. hasil evaluasi. Meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri. a. Terbuka dan bersaing. 2. termasuk syarat teknis administrasi pengadaan. rancang bangun dan perekayasaan nasional.

Mengumumkan kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah secara terbuka melalui surat kabar naslonal dan/atau surat kabar provinsi. Mengharuskan pengumuman rencana pengadaan barang/jasa secara terbuka. Mengharuskan pelaksanaan pemilihan penyedia barang/jasa dilakukan di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meningkatkan profesionalisme. 3. b. i. Menyederhanakan ketentuan dan tata cara untuk mempercepat proses pengambilan keputusan dalam pengadaan barang/jasa. c. f. h. Meningkatkan peran serta usaha kecil termasuk koperasi kecil dan kelompok masyarakat dalam pengadaan barang/jasa. Etika Dalam Pengadaan Barang/Jasa Para pihak yang terkait dengan aktivitas pengadaan barang/jasa yaitu penyedia barang/jasa dan pihak pemberi kerja maupun pihak lainnya yang terkait dengan pengadaan instansi pemerintah.2007 97 . d.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I negeri dalam rangka meningkatkan daya saing barang/jasa produksi dalam negeri pada perdagangan internasional. Etika yang harus dipegang teguh antara lain adalah sebagai berikut Pusdiklatwas BPKP . wajib mematuhi prinsip etika dalam pengadaan untuk menciptakan praktik yang sehat dan pemerintahan yang bersih. e. Meningkatkan penerimaan negara melalui sektor perpajakan. panitia/pejabat pengadaan. kecuali yang bersifat rahasia pada setiap awal pelaksanaan anggaran kepada masyarakat luas. Menumbuh kembangkan peran serta usaha nasional. g. kemandirian dan tanggung jawab pengguna barang/jasa. dan penyedia barang/jasa.

d. tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima hadiah/imbalan berupa apa saja kepada siapapun yang diketahui atau patut dapat diduga berkaitan dengan pengadaan barang/jasa. golongan atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. h. g. Tidak saling memengaruhi baik langsung maupun tidak langsung untuk mencegah dan menghindari terjadinya persaingan tidak sehat. e. Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. Bekerja secara profesional dan mandiri atas dasar kejujuran. disertai rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran kelancaran dan ketepatan tercapainya tujuan pengadaan barang/jasa. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa. f. serta menjaga kerahasiaan dokumen pengadaan barang dan jasa yang seharusnya dirahasiakan untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam pengadaan barang/jasa.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I a. Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang ditetapkan sesuai dengan kesepakatan para pihak. langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan barang/jasa (conflict of interest).2007 98 . c. Menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak yang terkait. Pusdiklatwas BPKP . b. Melaksanakan tugas secara tertib. Tidak menerima.

pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruhnya dibiayai dari pinjaman/hibah luar negeri (PHLN) yang sesuai atau tidak bertentangan dengan pedoman dan ketentuan pengadaan barang/jasa dari pemberi pinjaman/hibah bersangkutan. yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD. Pusdiklatwas BPKP . panitia/pejabat pengadaan. c. BUMD. Pembiayaan Pengadaan. b. apabila ditindaklanjuti dengan keputusan menteri/pemimpin lembaga/panglima TNI/Kapolri/Dewan Gubernur BI/pemimpin BHMN/direksi BUMN. BHMN.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4. BUMN. Ruang Lingkup dan Pembiayaan Pengadaan a. pengadaan barang/jasa yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD. harus tetap berpedoman serta tidak boleh bertentangan dengan ketentuan dalam Keputusan Presiden 80/2003. dan staf proyek. b. pengadaan barang/jasa untuk investasi di lingkungan BI.2007 99 . Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibiayai dari dana APBN. Departemen/kementerian/lembaga/ TNI/Polri/pemerintah pelaksanaan 1) honorarium daerah/BI/ BHMN/BUMN/BUMD yang dibiayai wajib dari menyediakan biaya administrasi proyek untuk mendukung pengadaan barang/jasa APBN/APBD. bendaharawan. yaitu biaya untuk: pengguna barang/jasa. Ruang lingkup pengadaan barang/jasa mencakup: a. dan peraturan daerah/keputusan kepala daerah yang mengatur pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibiayai dari dana APBD.

4. Prakualifikasi dan pascakualifikasi. 4) administrasi lainnya yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pengadaan barang/jasa. 3) penggandaan dokumen pengadaan barang/jasa dan/atau dokumen prakualifikasi.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) pengumuman pengadaan barang/jasa. Harga perkiraan sendiri (HPS). POKOK-POKOK KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMERINTAH Pada subbab ini akan dibahas mengenai pokok-pokok kebijakan pengadaan barang dan jasa pemerintah yang meliputi: 1. panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan. Organisasi dan tugas pokok organ pengadaan barang dan jasa pemerintah. 1. Pusdiklatwas BPKP . Metode penyampaian dokumen penawaran. Penetapan penyedia barang/jasa dan jenis kontrak. Organisasi dan Tugas Pokok Organ Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah a. Pelaksanaan dan metode pemilihan penyedia barang/jasa. B. Uraian lebih lanjut dari pokok kebijakan pengadaan barang dan jasa adalah sebagai berikut. 2. pejabat pembuat komitmen.2007 100 . Organisasi Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Organisasi dalam pengadaan barang/jasa pemerintah meliputi: • • • pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. 3. 5. 6. 7. Metode evaluasi penawaran.

Pengadaan juga dapat dilaksanakan oleh unit layanan pengadaan (Procurement Unit). dan fungsional atas pengadaan barang/jasa yang dilaksanakannya. 1) Pengadaan dilaksanakan sampai oleh dengan seorang Rp50. fisik.000.000. c. baik dari instansi sendiri maupun instansi teknis lainnya. b. 2) Anggota panitia pengadaan/pejabat pengadaan/anggota unit layanan pengadaan berasal dari pegawai negeri.000.000.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Organisasi dalam pengadaan barang/jasa bertugas dan bertanggung jawab dari segi administrasi. pejabat pembuat komitmen dan bendahara. namun bukan (dilarang) pegawai yang menjadi: a.00 pejabat pengadaan.00 wajib dibentuk panitia pengadaan. pejabat yang bertugas melakukan verifikasi surat permintaan pembayaran dan/atau pejabat yang bertugas menandatangani surat perintah membayar.2007 101 . pengawasan BI/BHMN/BUMN/BUMD untuk pengadaan panitia/pejabat pengadaan/anggota dibutuhkan instansinya). keuangan. Berkaitan dengan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan terdapat beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan yang mencakup hal-hal berikut. dapat Untuk pengadaan di atas Rp50. Pusdiklatwas BPKP . pegawai Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)/inspektorat utama internal pengadaan lembaga jenderal pemerintah departemen/inspektorat non departemen/badan (kecuali unit barang/jasa menjadi layanan yang pengawas daerah provinsi/kabupaten/kota.

Pejabat Pembuat Komitmen dapat melaksanakan proses pengadaan barang/jasa sebelum dokumen anggaran disahkan sepanjang anggaran untuk kegiatan yang bersangkutan telah dialokasikan. dan memahami prosedur pengadaan berdasarkan Peraturan Presiden ini. Jumlah Pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya ≤ Rp500 juta > Rp500 juta Pengadaan jasa konsultansi ≤ Rp200juta > Rp200 juta Sedikitnya 3 orang Sedikitnya 5 orang 5) Panitia/pejabat pengadaan/anggota unit layanan pengadaan harus memiliki integritas moral. dan dapat menyertakan pihak lain yang ditunjuk oleh kepala badan pelaksana.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3) Dalam hal pengadaan barang/jasa dilakukan oleh Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara.2007 102 . dengan Pusdiklatwas BPKP . anggota panitia pengadaan berasal dari instansinya sendiri atau instansi teknis pemerintah. Pejabat Pembuat Komitmen dilarang mengadakan ikatan perjanjian dengan penyedia barang/jasa apabila belum tersedia anggaran atau tidak cukup tersedia anggarannya. Tugas Pokok Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pejabat Pembuat Komitmen diangkat dengan surat keputusan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. b. 4) Jumlah panitia harus berjumlah gasal dengan ketentuan sebagai berikut. memahami keseluruhan pekerjaan yang akan diadakan.

2) menetapkan paket-paket pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ketentuan penerbitan surat penunjukan penyedia barang/jasa (SPPBJ) dan penandatanganan kontrak pengadaan barang/jasa dilakukan setelah dokumen anggaran disahkan. 7) melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/ jasa kepada pimpinan instansinya. Tugas pokok Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) meliputi: 1) menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa. 4) menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan sesuai kewenangannya. jadwal. serta kelompok masyarakat. 8) mengendalikan pelaksanaan penjanjian/kontrak. 5) menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku. Pusdiklatwas BPKP .2007 103 . 9) menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada menteri/Panglima TNI/Kepala Polri/pimpinan lembaga/pimpinan kesekretariatan lembaga tinggi negara/ pimpinan kesekretariatan komisi/gubernur/bupati /walikota/ Dewan Gubernur BI/pemimpin BHMN/direksi BUMN/BUMD dengan berita acara penyerahan. 6) menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedia barang/jasa. tata cara pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun oleh panitia pengadaan/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan. 3) menetapkan dan mengesahkan harga perkiraan sendiri (HPS).

7) mengusulkan calon pemenang. 8) membuat laporan mengenai proses dan hasil pengadaan kepada Pejabat Pembuat Komitmen dan/atau pejabat yang mengangkatnya. 3) menyiapkan dokumen pengadaan. 5) menilai kualifikasi penyedia melalui pascakualifikasi atau prakualifikasi. c. Tugas pokok pejabat/panitia pengadaan/Unit Layanan Pengadaan Tugas pokok pejabat/panitia pengadaan/unit layanan pengadaan (procurement unit) meliputi: 1) menyusun jadwal dan menetapkan cara pelaksanaan serta lokasi pengadaan. 2. 4) mengumumkan pengadaan barang/jasa di surat kabar nasional dan/atau provinsi dan/atau papan pengumuman resmi untuk penerangan umum. 2) menyusun dan menyiapkan harga perkiraan sendiri (HPS). dan diupayakan diumumkan di website pengadaan nasional. 6) melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk. Pelaksanaan dan Metode Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah dapat dilakukan dengan cara: Pusdiklatwas BPKP .2007 104 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 10)menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai. 9) menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai.

o pengadaan jasa konsultansi. Pusdiklatwas BPKP . ¾ swakelola. ƒ ƒ Pelelangan umum.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ¾ menggunakan jasa penyedia barang dan jasa. Metode Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Pemborongan /Jasa Lainnya Metode pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya dapat dilakukan dengan salah satu dari metode berikut. Pelelangan terbatas. Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut. yang dikelompokkan menjadi: o pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya.2007 105 . PELELANGAN UMUM PENGADAAN BARANG/ JASA PEMBORONGAN PELELANGAN TERBATAS PEMILIHAN LANGSUNG PENYEDIA B/J PENUNJUKAN LANGSUNG SELEKSI UMUM PBJ PENGADAAN JASA KONSULTANSI SELEKSI TERBATAS SELEKSI LANGSUNG SWAKELOLA PENUNJUKAN LANGSUNG a.

Dalam hal jumlah penyedia barang/jasa yang mampu melaksanakan diyakini terbatas yaitu untuk pekerjaan yang kompleks. yaitu metode pemilihan yang dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi untuk penerangan umum sehingga masyarakat luas dunia usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya. prinsipnya pengadaan dilakukan melalui metode Pada pelelangan umum. Pusdiklatwas BPKP . guna pelelangan terbatas dan diumumkan secara penyedia memberi barang/jasa kesempatan yang telah diyakini penyedia luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi dengan kepada barang/jasa lainnya yang memenuhi kualifikasi. sekurang-kurangnya tiga penawaran dari penyedia barang/jasa yang telah lulus prakualifikasi serta dilakukan negosiasi baik teknis maupun biaya serta harus diumumkan minimal melalui papan pengumuman resmi untuk penerangan umum dan bila memungkinkan melalui internet. maka pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan metode mencantumkan mampu. Dalam hal metode penyedia pelelangan umum atau pelelangan terbatas dapat dilakukan dengan metode dinilai tidak efisien dari segi biaya pelelangan. yaitu pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan dengan membandingkan sebanyak-banyaknya penawaran. maka pemilihan barang/jasa pemilihan langsung.00.000. Penunjukkan langsung.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ƒ ƒ Pemilihan langsung.000.2007 106 . Pemilihan langsung dapat dilaksanakan untuk pengadaan yang bernilai sampai dengan Rp100.

00 ketentuan: ƒ untuk keperluan sendiri. dan/atau ƒ risiko kecil. Penunjukan langsung dilaksanakan dalam hal memenuhi kriteria sebagai berikut. dan/atau ƒ dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa usaha orang perseorangan dan/atau badan usaha kecil termasuk koperasi kecil.000. keamanan dan keselamatan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda. 2) Pengadaan barang/jasa khusus. atau harus dilakukan segera.000. dan/atau ƒ teknologi sederhana. pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan cara penunjukan langsung terhadap satu penyedia barang/jasa dengan cara melakukan negosiasi baik teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat dapat dipertanggungjawabkan. dan/atau b) pekerjaan yang perlu dirahasiakan yang menyangkut pertahanan dan keamanan negara yang ditetapkan oleh Presiden. yaitu : a) pekerjaan berdasarkan tarif resmi yang ditetapkan pemerintah. yaitu: a) penanganan darurat untuk pertahanan negara. dan/atau c) pekerjaan yang berskala kecil dengan nilai maksimum Rp50. termasuk penanganan darurat akibat bencana alam.2007 107 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus. atau (lima puluh juta rupiah) dengan Pusdiklatwas BPKP . 1) Keadaan tertentu.

pabrikan. b.2007 108 . atau c) merupakan hasil produksi usaha kecil atau koperasi kecil atau pengrajin industri kecil yang telah mempunyai pasar dan harga yang relatif stabil. Seleksi umum adalah metode pemilihan penyedia jasa konsultansi yang daftar pendek pesertanya dipilih melalui proses prakualifikasi secara terbuka yaitu diumumkan secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi untuk berminat dan memenuhi penerangan umum sehingga masyarakat luas mengetahui dan penyedia jasa konsultansi yang kualifikasi dapat mengikutinya. pemegang hak paten. Metode Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi Pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan dengan salah satu dari metode: ƒ seleksi umum. atau d) pekerjaan yang kompleks yang hanya dapat dilaksanakan dengan penggunaan teknologi khusus dan/atau hanya ada satu penyedia barang/jasa yang mampu mengaplikasikannya. pengadaan harus dilakukan melalui seleksi umum. Pusdiklatwas BPKP . ƒ seleksi langsung. ƒ seleksi terbatas.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b) pekerjaan/barang spesifik yang hanya dapat dilaksanakan oleh satu penyedia barang/jasa. Pada prinsipnya. ƒ penunjukan langsung. seleksi langsung atau penunjukan langsung. Dalam keadaan tertentu pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan melalui seleksi terbatas.

keamanan dan keselamatan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda/harus dilakukan segera. Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus. pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan dengan penunjukan langsung satu penyedia jasa konsultansi yang memenuhi kualifikasi dan dilakukan negosiasi baik dari segi teknis maupun biaya sehingga diperoleh biaya yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan. dan/atau 3) pekerjaan yang perlu dirahasiakan yang menyangkut pertahanan dan keamanan negara yang ditetapkan oleh Presiden. Penunjukan langsung dapat dilaksanakan dalam hal memenuhi kriteria: 1) penanganan darurat untuk pertahanan negara.00.000. dan/atau 2) penyedia jasa tunggal.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Seleksi terbatas adalah metode pemilihan penyedia jasa konsultansi untuk pekerjaan yang kompleks dan diyakini jumlah penyedia jasa yang mampu melaksanakan pekerjaan tersebut jumlahnya terbatas. Dalam hal metode seleksi umum atau seleksi terbatas dinilai tidak efisien dari segi biaya seleksi. maka pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan dengan seleksi langsung yaitu metode pemilihan penyedia jasa konsultansi yang daftar pendek pesertanya ditentukan melalui proses prakualifikasi terhadap penyedia jasa konsultansi yang dipilih langsung dan diumumkan sekurang-kurangnya di papan pengumuman resmi untuk penerangan umum atau media elektronik (internet).000. Seleksi langsung dapat dilaksanakan untuk pengadaan yang bernilai sampai dengan Rp100.2007 109 . dan/atau Pusdiklatwas BPKP .

dan diawasi sendiri. dikerjakan. o instansi pemerintah lain. Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa dengan Swakelola Swakelola adalah pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan. c. 6) pekerjaan yang memerlukan penyelesaian secara cepat dalam rangka pengembalian kekayaan negara yang penanganannya dilakukan secara khusus berdasarkan peraturan perundangundangan. Swakelola dapat dilaksanakan oleh: o pengguna barang/jasa.000. dilaksanakan oleh penyedia jasa usaha orang perseorangan dan badan usaha kecil.000.2007 110 . mempunyai risiko kecil. dan/atau bernilai sampai dengan Rp50. dan/atau 5) pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh pemegang hak paten atau pihak yang telah mendapat ijin. o kelompok masyarakat/lembaga swadaya masyarakat penerima hibah. (Tambahan menurut Keppres 61 tahun 2004 tgl 5 Agustus 2004 tentang perubahan Keppres 80 tahun 2003). menggunakan teknologi sederhana.00 (lima puluh juta rupiah). dan/atau instansi pemerintah yang bersangkutan dan sesuai dengan fungsi dan tugas pokok Pusdiklatwas BPKP . dan/atau 2) pekerjaan yang operasi dan pemeliharaannya memerlukan partisipasi masyarakat setempat.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4) pekerjaan yang berskala kecil dengan ketentuan: untuk keperluan sendiri. Pekerjaan yang dapat dilakukan dengan swakelola meliputi: 1) pekerjaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis sumber daya manusia pengguna barang/jasa.

pengembangan sistem tertentu dan penelitian oleh perguruan tinggi/lembaga ilmiah pemerintah. penataran. lokakarya. dan/atau 5) penyelenggaraan diklat. kursus. biaya umum dan keuntungan (overhead cost and profit) yang wajar bagi penyedia barang/jasa. tidak sehingga dapat apabila dihitung/ditentukan dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa akan menanggung risiko yang besar.2007 111 . 8) pekerjaan yang bersifat rahasia bagi instansi pengguna barang/jasa yang bersangkutan. HPS tidak boleh memperhitungkan biaya tak kerja yang belum dapat dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa. perumusan kebijakan pemerintah. 3. Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Pengguna barang/jasa wajib memiliki harga perkiraan sendiri (HPS) yang dikalkulasikan secara keahlian dan berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan. atau penyuluhan. dan/atau 4) pekerjaan yang secara terlebih rinci/detail dahulu.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3) pekerjaan tersebut dilihat dari segi besaran. dan/atau 6) pekerjaan untuk proyek percontohan (pilot project) yang bersifat khusus untuk pengembangan teknologi/metode dan/atau 7) pekerjaan khusus yang bersifat pemrosesan data. lokasi atau pembiayaannya tidak diminati oleh penyedia barang/jasa. Pusdiklatwas BPKP . HPS disusun oleh panitia/pejabat pengadaan dan ditetapkan oleh pengguna barang/jasa. HPS telah memperhitungkan pajak pertambahan nilai (PPN). sifat. seminar. pengujian di laboratorium.

biaya lain-lain dan Pajak Penghasilan (PPh) penyedia barang/jasa. informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan. d. harga kontrak/surat perintah kerja (SPK) untuk barang/pekerjaan sejenis setempat yang pernah dilaksanakan. HPS tidak dapat dijadikan dasar untuk menggugurkan penawaran. h.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I terduga. HPS merupakan alat untuk menilai kewajaran harga penawaran termasuk rinciannya dan untuk menetapkan besaran tambahan nilai jaminan pelaksanaan bagi penawaran yang dinilai terlalu rendah. b. Perhitungan HPS menggunakan data dasar dan mempertimbangkan: a. 4. perkiraan perhitungan biaya oleh konsultan/engineer's estimate (EE). harga pasar setempat pada waktu penyusunan HPS. harga/tarif barang/jasa yang dikeluarkan oleh pabrikan/agen tunggal atau lembaga independen. informasi harga satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh Badan Pusat Statistik (BPS). f. e. Dalam proses Pusdiklatwas BPKP . Prakualifikasi dan Pascakualifikasi a. daftar harga standar/tarif biaya yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. Penilaian Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa Kualifikasi kemampuan adalah usaha proses calon penilaian penyedia atas kompetensi dan barang/jasa. badan/instansi lainnya dan media cetak yang datanya dapat dipertanggungjawabkan. Tujuan kualifikasi adalah untuk menjamin bahwa pengadaan barang/jasa pemerintah dilaksanakan oleh pihak yang mampu. Nilai total HPS terbuka dan tidak bersifat rahasia. analisis harga satuan pekerjaan yang bersangkutan. c. g.2007 112 .

b. dan apabila diketemukan penipuan/pemalsuan atas informasi yang disampaikan. panitia/pejabat pengadaan dilarang persyaratan prakualifikasi/pascakualifikasi di luar yang telah ditetapkan dalam ketentuan Keputusan Presiden ini atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. dan membatasi keikutsertaan calon peserta pengadaan barang/jasa dari luar provinsi/kabupaten/kota lokasi pengadaan barang/jasa. Pengguna barang/jasa wajib menyederhanakan proses prakualifikasi dengan tidak meminta seluruh dokumen yang disyaratkan melainkan cukup dengan formulir isian kualifikasi penyedia barang/jasa.2007 113 . ƒ diancam dituntut secara perdata dan pidana. Dalam proses prakualifikasi/pascakualifikasi panitia /pejabat pengadaan tidak boleh melarang. menghambat. ƒ dimasukkan dalam daftar hitam sekurang-kurangnya dua tahun.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I penilaian menambah kualifikasi. Penyedia barang/jasa wajib menandatangani surat pernyataan di atas meterai bahwa semua informasi yang disampaikan dalam formulir isian kualifikasi adalah benar. Syarat Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa Persyaratan kualifikasi penyedia barang/jasa adalah sebagai berikut. terhadap yang bersangkutan dikenakan sanksi: ƒ pembatalan sebagai calon pemenang. 1) Memiliki surat izin usaha pada bidang usahanya yang dikeluarkan oleh instansi pemerintah yang berwenang yang Pusdiklatwas BPKP . ƒ tidak boleh mengikuti pengadaan untuk dua tahun berikutnya.

IUJK untuk jasa konstruksi. Pusdiklatwas BPKP . 3) Tidak dalam pengawasan pengadilan. 2) Secara hukum mempunyai kapasitas menandatangani kontrak pengadaan. tidak bangkrut. 8) Memiliki kemampuan pada bidang pekerjaan yang sesuai untuk usaha kecil termasuk koperasi kecil. seperti SIUP untuk jasa perdagangan. 5) Telah melunasi kewajiban pajak tahun terakhir (SPT/PPh) serta memiliki laporan bulanan PPh Pasal 25 atau Pasal 21/Pasal 23 atau PPN sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan yang lalu. 7) Memiliki kinerja baik dan tidak masuk dalam daftar sanksi atau daftar hitam di suatu instansi. kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan. penyedia barang/jasa wajib mempunyai perjanjian kerjasama operasi/kemitraan yang memuat persentase kemitraan dan perusahaan yang mewakili kemitraan tersebut.2007 114 . kecuali penyedia barang/jasa yang baru berdiri kurang dari 3 (tiga) tahun.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I masih berlaku. dan sebagainya. 6) Selama 4 (empat) tahun terakhir pernah memiliki pengalaman menyediakan barang/jasa baik di lingkungan pemerintah atau swasta termasuk pengalaman subkontrak baik di lingkungan pemerintah atau swasta . 4) Dalam hal penyedia jasa akan melakukan kemitraan. dan/atau tidak sedang menjalani sanksi pidana.

2007 115 . c) Untuk pengadaan jasa konsultansi memenuhi: KD = 3 NPt pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil dalam kurun waktu 7 (tujuh) tahun terakhir. 11) Untuk pekerjaan khusus/spesifik/teknologi tinggi dapat ditambahkan persyaratan lain seperti peralatan khusus. b) Untuk pengadaan barang/jasa lainnya memenuhi: KD = 5 NPt pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir. 12) Memiliki surat keterangan dukungan keuangan dari bank pemerintah/swasta untuk mengikuti pengadaan barang/jasa sekurang-kurangnya sepuluh persen dari nilai proyek untuk pekerjaan jasa pemborongan dan lima persen dari nilai proyek untuk pekerjaan pemasokan barang/jasa lainnya. Pusdiklatwas BPKP . tenaga ahli spesialis yang diperlukan. a) Untuk jasa pemborongan memenuhi: KD = 2 NPt (KD : Kemampuan Dasar.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 9) Memiliki kemampuan pada bidang dan subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil. NPt : nilai pengalaman tertinggi) pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir. kecuali untuk penyedia barang/jasa usaha kecil termasuk koperasi kecil. atau pengalaman tertentu. 10) Dalam hal bermitra dasar dari yang diperhitungkan yang adalah mewakili kemampuan perusahaan kemitraan (lead firm).

14) Termasuk dalam penyedia barang/jasa yang sesuai dengan nilai paket pekerjaan. 17) Untuk pekerjaan jasa pemborongan (SKK) yang memiliki dan sisa sisa kemampuan keuangan cukup kemampuan paket (SKP).2007 116 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 13) Memiliki kemampuan menyediakan fasilitas dan peralatan serta personil yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan. Prakualifikasi konsultansi wajib dan dilaksanakan untuk pengadaan jasa pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa Pusdiklatwas BPKP . Pascakualifikasi lainnya dari adalah penyedia proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu barang/jasa setelah memasukkan penawaran. 15) Menyampaikan daftar perolehan pekerjaan yang sedang dilaksanakan khusus untuk jasa pemborongan. dilakukan dengan pascakualifikasi. 16) Tidak membuat pernyataan yang tidak benar tentang kompetensi dan kemampuan usaha yang dimilikinya. c. Prakualifikasi lainnya dari adalah penyedia proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu barang/jasa sebelum memasukkan penawaran. Pelaksanaan Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa Pada prinsipnya penilaian kualifikasi atas kompetensi dan kemampuan usaha peserta pelelangan umum. Khusus untuk pekerjaan yang kompleks dapat dilakukan dengan prakualifikasi.

Metode Penyampaian Dokumen Penawaran Metode berikut ini. Panitia/pejabat pengadaan dapat melakukan prakualifikasi untuk pelelangan umum pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya yang bersifat kompleks. Pelaksanaan kualifikasi pengadaan barang/jasa pemerintah kompleks. metode dua sampul.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I lainnya yang menggunakan metode penunjukan langsung untuk pekerjaan langsung. a. penyampaian dokumen penawaran oleh calon penyedia barang/jasa pemerintah dapat menggunakan salah satu dari metode Pusdiklatwas BPKP . pelelangan terbatas dan pemilihan secara ringkas dapat disajikan sebagai berikut. b. Metode pengadaan Tidak komplek Komplek Pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya Pelelangan umum Pelelangan terbatas Pemilihan langsung Penunjukan langsung Pascakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Pengadaan jasa konsultansi Seleksi umum Seleksi terbatas Seleksi langsung Penunjukan langsung Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Pasca atau prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi 5. c.2007 117 . metode dua tahap. metode satu sampul.

Dalam penyampaian dokumen penawaran dengan metode dua sampul. yaitu: ƒ ƒ ƒ sistem gugur. Sistem gugur adalah evaluasi penilaian penawaran dengan cara memeriksa dan membandingkan dokumen penawaran terhadap pemenuhan persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen Pusdiklatwas BPKP . sesuai dengan jenis barang/jasa yang akan diadakan. Metode Evaluasi Penawaran a. sedangkan harga penawaran dimasukkan dalam sampul tertutup II. sistem penilaian biaya selama umur ekonomis. 6.2007 118 . sistem nilai. teknis. dalam pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya dapat menggunakan salah satu dari tiga sistem yang ada.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Metode satu sampul adalah cara penyampaian dokumen penawaran yang terdiri dari persyaratan administrasi. yang penyampaiannya dilakukan dalam dua tahap secara terpisah dan dalam waktu yang berbeda. dan penawaran harga yang dimasukan ke dalam satu sampul tertutup kepada panitia/pejabat pengadaan. Metode Metode Evaluasi Penawaran Pada Pengadaan Barang/Jasa Pemborongan/Jasa Lainnya evaluasi penawaran. Metode dua tahap adalah cara penyampaian dokumen penawaran yang persyaratan administrasi dan teknis dimasukkan dalam sampul tertutup I. persyaratan administrasi dan teknis dimasukkan dalam sampul tertutup I. selanjutnya sampul I dan sampul II dimasukkan ke dalam satu sampul (sampul penutup) dan disampaikan kepada panitia/pejabat pengadaan. sedangkan harga penawaran dimasukkan dalam sampul tertutup II.

sesuai dengan sifat jasa konsultansi yang akan diadakan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pemilihan penyedia barang/jasa dengan urutan proses evaluasi dimulai dari penilaian persyaratan administrasi. terhadap penyedia barang/jasa yang gugur. b. Sistem nilai adalah evaluasi penilaian penawaran dengan cara memberikan nilai angka tertentu pada setiap unsur yang dinilai berdasarkan kriteria dan nilai yang telah ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa. kemudian nilai unsur-unsur tersebut dikonversikan ke dalam satuan mata uang tertentu. Pusdiklatwas BPKP . yaitu: 1) metode evaluasi kualitas.2007 119 . Metode Evaluasi Penawaran Pada Pengadaan Jasa Konsultansi Metode evaluasi penawaran. Sistem penilaian biaya selama umur ekonomis adalah evaluasi penilaian penawaran dengan cara memberikan nilai pada unsur-unsur teknis dan harga yang dinilai menurut umur ekonomis barang dan yang ditawarkan berdasarkan kriteria nilai yang ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia tidak lulus penilaian pada setiap tahapan dinyatakan barang/jasa. kemudian membandingkan jumlah nilai dari setiap penawaran peserta dengan penawaran peserta lainnya. dan dibandingkan dengan jumlah nilai dari setiap penawaran peserta dengan penawaran peserta lainnya. 2) metode evaluasi kualitas dan biaya. persyaratan teknis dan kewajaran harga. dalam pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat menggunakan salah satu dari lima metode yang ada.

dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3) metode evaluasi pagu anggaran. dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya. Pusdiklatwas BPKP . Metode evaluasi pagu anggaran adalah evaluasi pengadaan jasa konsultansi berdasarkan kualitas penawaran teknis terbaik dari peserta yang penawaran biaya terkoreksinya lebih kecil atau sama dengan pagu anggaran.2007 120 . Metode evaluasi kualitas dan biaya adalah evaluasi pengadaan jasa konsultansi berdasarkan nilai kombinasi terbaik penawaran teknis dan biaya terkoreksi dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya. dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya. 5) metode evaluasi penunjukan langsung. Metode evaluasi biaya terendah adalah evaluasi pengadaan jasa konsultansi berdasarkan penawaran biaya terkoreksinya terendah dari konsultan yang nilai penawaran teknisnya di atas ambang batas persyaratan teknis yang telah ditentukan. Sedangkan metode evaluasi penunjukan langsung adalah evaluasi terhadap hanya satu penawaran jasa konsultansi berdasarkan kualitas teknis yang dapat dipertanggungjawabkan dan biaya yang wajar setelah dilakukan klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya. Metode evaluasi kualitas adalah evaluasi penawaran jasa konsultansi berdasarkan kualitas penawaran teknis terbaik. 4) metode evaluasi biaya terendah.

pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD dan bersifat Pusdiklatwas BPKP .000. maka akan diputuskan oleh menteri/PanglimaTNI/Kapolri/Kepala Gubernur BI/ LPND/gubernur/bupati/walikota/Dewan final.000.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 7.00. Penetapan penyedia barang/jasa Panitia/pejabat pengadaan membuat dan menyampaikan laporan kepada pengguna barang/jasa atau kepada pejabat yang berwenang mengambil keputusan untuk menetapkan pemenang lelang. atau c) bila akhirnya tidak tercapai kesepakatan. maka PPK membahas hal tersebut dengan panitia/pejabat pengadaan untuk mengambil keputusan dari alternatif: a) menyetujui usulan panitia/pejabat pengadaan. dan dituangkan dalam berita acara yang memuat keberatan dan kesepakatan masing-masing pihak.2007 121 . 1) Untuk pengadaan barang/jasa yang bernilai sampai dengan Rp50.000. apabila PPK tidak sependapat dengan usulan panitia/pejabat pengadaan. Penetapan penyedia barang/jasa dan jenis kontrak a. atau b) menetapkan keputusan yang disepakati bersama untuk melakukan evaluasi ulang atau lelang ulang atau menetapkan pemenang lelang. melalui pengguna barang/jasa laporan tersebut disertai usulan calon pemenang dan penjelasan atau keterangan lain yang dianggap perlu sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Ketentuan mengenai pejabat yang berwenang menetapkan penyedia barang/jasa pemerintah diatur sebagai berikut.

untuk diputuskan dan bersifat final.000. atau b) menetapkan keputusan yang disepakati bersama untuk melakukan menteri/ evaluasi ulang atau lelang ulang.2007 122 .000.000. Kapolri/Kepala maka penetapan pemenang walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/direktur utama lelang keputusan lain diserahkan kepada menteri/PanglimaTNI/ LPND/gubernur/bupati/ walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD. apabila PPK tidak sependapat dengan usulan panitia/pejabat pengadaan. apabila pengguna barang/jasa dan/atau panitia/pejabat Bupati/ atau pengadaan pengadaan tidak sependapat dengan keputusan menteri/PanglimaTNI/Kapolri/KepalaLPND/gubernur/ BUMN/BUMD. dan dituangkan dalam berita acara serta dilaporkan kepada PanglimaTNI/Kapolri/Kepala LPND/gubernur/ bupati/ walikota/ Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/ direktur utama BUMN/BUMD.000. dengan catatan keberatan dari pengguna barang/jasa.00. 4) Untuk pengadaan yang bernilai di atas Rp50.000. maka PPK membahas hal tersebut dengan panitia/pejabat pengadaan untuk mengambil keputusan: a) menyetujui usulan panitia/pejabat pengadaan untuk dimintakan persetujuan kepada menteri/PanglimaTNI/ Kapolri/Kepala /BUMD. atau 3) Apabila masih belum ada kesepakatan maka dilaporkan kepada menteri/PanglimaTNI/Kapolri/Kepala LPND/gubernur/ bupati/walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD. LPND/ gubernur/bupati/walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/ direktur utama BUMN Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Untuk pengadaan yang bernilai di atas Rp 50.000.00.

berdasarkan harga satuan yang pasti dan tetap untuk setiap satuan/unsur pekerjaan dengan spesifikasi teknis tertentu. Kontrak gabungan lump sum dan harga satuan adalah kontrak yang merupakan gabungan lump sum dan harga satuan dalam satu pekerjaan yang diperjanjikan. dengan jumlah harga yang pasti dan tetap.2007 . Kontrak lump sum adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I panitia/pejabat pengadaan pengadaan dan pengguna barang jasa tidak perlu melakukan perubahan berita acara evaluasi. 123 Pusdiklatwas BPKP . 4) kontrak terima jadi (turn key). b. Jenis kontrak Kontrak pengadaan barang/jasa berdasarkan bentuk imbalan dapat berupa: 1) kontrak lump sum. dan semua risiko yang mungkin terjadi dalam proses penyelesaian pekerjaan sepenuhnya ditanggung oleh penyedia barang/jasa. Kontrak harga satuan adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu. 3) kontrak gabungan lump sum dan harga satuan. sedangkan pembayarannya didasarkan pada hasil pengukuran bersama atas volume pekerjaan yang benar-benar telah dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa. Keputusan menteri/PanglimaTNI/Kapolri/Kepala Gubernur LPND/ gubernur/bupati/walikota/Dewan BI/pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD bersifat final. yang volume pekerjaannya masih bersifat perkiraan sementara. 2) kontrak harga satuan. 5) kontrak persentase.

Kontrak pengadaan bersama adalah kontrak antara beberapa unit kerja atau beberapa proyek dengan penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu sesuai dengan kegiatan bersama yang jelas dari masing-masing unit kerja dan pendanaan bersama yang dituangkan dalam kesepakatan bersama. peralatan dan jaringan utama maupun penunjangnya dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan kriteria kinerja yang telah ditetapkan. Kontrak tahun tunggal adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa satu tahun anggaran. Pusdiklatwas BPKP . Kontrak pengadaan tunggal adalah kontrak antara satu unit kerja atau satu proyek dengan penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu. Kontrak persentase adalah kontrak pelaksanaan jasa konsultansi di bidang konstruksi atau pekerjaan pemborongan tertentu. Bupati/Walikota untuk pengadaan yang dibiayai APBD Kabupaten/Kota.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Kontrak terima jadi adalah kontrak pengadaan barang/jasa pemborongan atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu dengan jumlah harga pasti dan tetap sampai seluruh bangunan/konstruksi. Kontrak tahun jamak adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa lebih dari satu tahun anggaran yang dilakukan atas persetujuan oleh Menteri Keuangan untuk pengadaan yang dibiayai APBN. dimana konsultan yang bersangkutan menerima imbalan jasa berdasarkan persentase tertentu dari nilai pekerjaan fisik konstruksi/pemborongan tersebut.2007 124 . Gubernur untuk pengadaan yang dibiayai APBD Propinsi.

Penetapan sistem pengadaan barang/jasa pemerintah mencakup kegiatan penetapan metode metode pemilihan penyedia barang/jasa. penyampaian dokumen penawaran. 2. d.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I C. pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah. f. Persiapan Pengadaan Barang dan Jasa Persiapan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah mencakup kegiatan berikut ini. Penyusunan dokumen pengadaan. b. Penyusunan jadwal pelaksanaan pengadaan. Secara rinci prosedur tersebut adalah sebagai berikut. 1. c. pelaksanaan dengan menggunakan penyedia barang/jasa. yaitu a. dan jenis kontrak yang sesuai dengan barang/jasa yang akan diadakan.2007 125 . b. Pusdiklatwas BPKP . Penetapan sistem pengadaan barang/jasa. Beberapa hal dalam subbab ini akan dibahas dalam subab berikutnya. Dokumen pengadaan mencakup dokumen pasca/prakualifikasi dan dokumen pemilihan penyedia barang/jasa. Penyusunan Harga Perkiraan Sendiri (HPS). pelaksanaan dengan swakelola. a. Pembentukan panitia pengadaan barang/jasa. Perencanaan pengadaan barang/jasa pemerintah. PROSEDUR PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH Prosedur pengadaan barang dan jasa pemerintah meliputi kegiatan: 1. e. Penyusunan jadwal pelaksanaan pengadaan harus memberikan waktu yang cukup untuk semua tahapan proses pengadaan. persiapan pengadaan barang dana jasa pemerintah.

b.2007 126 . pelelangan terbatas. Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah dapat dilaksanaan oleh penyedia barang/jasa atau dilaksanakan sendiri oleh pengguna anggaran (swakelola). a. Penilaian Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa. masa sanggah kualifikasi. Pengumuman dan Pendaftaran Peserta Pengumuman pengadaan barang dan jasa pemerintah harus dilakukan sesuai dengan metode metode pemilihan penyedia barang dan jasanya. Dalam hal sistem dan pengadaannya menggunakan dahulu metode sebelum prakualifikasi. Pusdiklatwas BPKP . evaluasi kualifikasi. Pengumuman pengadaan barang/jasa dengan pelelangan umum.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. dan seleksi terbatas harus dimuat di surat kabar nasional. Dalam hal ini prosesnya akan meliputi: pengambilan dokumen prakualifikasi. penetapan dan pengumuman hasil prakualifikasi. seleksi umum. maka atas calon penyedia barang/jasa dinilai kemampuan kompetensinya terlebih memasukkan penawaran. Dalam pelelangan terbatas dan seleksi terbatas. namun demikian. Urutan prosedur pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah dilakukan sesuai dengan metode menggunakan Penyedia Barang/Jasa pada pemilihan penyedia dasarnya akan barang/jasanya. penyerahan dokumen. pengumuman harus telah menyebutkan calon penyedia barang/jasa yang diyakini mampu. hal tersebut tidak membatasi calon penyedia barang/jasa lain yang merasa mampu. Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa dengan dilaksanakan dengan urutan kegiatan sebagai berikut.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Sedangkan jika pengadaannya menggunakan metode pascakualifikasi maka penyerahan dokumen kualifikasi bersamsama dengan dokumen penawaran.2007 127 . menggunakan metode dokumen penawaran. Penyusunan Daftar Peserta dan Penyampaian Undangan Untuk pengadaan barang dan jasa selain jasa konsultansi. pascakualifikasi. d. hanya lulus kualifikasi yang dapat jika menyampaikan pengadaannya Sedangakan penawaran. dan syarat-syarat lainnya. sedangkan untuk seleksi umum. cara penyampaian penawaran. harus dituangkan dalam Berita Acara Penjelasan (BAP). Pemberian penjelasan mengenai pasal-pasal dokumen pemilihan penyedia barang/jasa yang berupa pertanyaan dari peserta dan jawaban dari panitia /pejabat pengadaan serta keterangan lain termasuk perubahannya dan peninjauan lapangan. dihadiri oleh para penyedia barang/jasa yang terdaftar dalam daftar peserta lelang. Penyampaian dan Pembukaan Dokumen Penawaran Dalam metode peserta dokumen yang pengadaannya dengan prakualifikasi. harus dijelaskan kepada peserta lelang mengenai: Metode penyelenggaraan pelelangan. maka semua calon penyedia barang/jasa yang merasa mampu dapat menyampaikan Pusdiklatwas BPKP . c. Penjelasan Lelang (aanwwijziing) Pemberian penjelasan lelang dilakukan di tempat dan pada waktu yang ditentukan. daftar peserta pengadaan sesuai dengan peserta prakualifikasi. e. peserta yang diundag adalah yang dimuat dalam daftar pendek (short list) peserta yang berisi sedikitnya 5 (lima) dan paling banyak 7 (tujuh) calon penyedia yang lulus prakualifikasi. Dalam acara penjelasan lelang.

pelelangan tidak dapat dilanjutkan dan harus diulang. dan tatacara evaluasi yang telah ditetapkan dalam dokumen lelang. Unsur dokumen penawaran yang dievaluasi meliputi: • • • kelengkapan data administrasi.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pembukaan dokumen penawaran harus melibatkan sekurang- kurangnya dua wakil dari peserta pelelangan yang hadir sebagai saksi. panitia/pejabat pengadaan dapat melakukan koreksi aritmatik terhadap semua penawaran yang masuk dan melakukan evaluasi sekurang-kurangnya tiga penawaran terendah setelah koreksi aritmatik. berdasarkan kriteria.2007 128 . teknis dan harga yang dituangkan dalam berita acara hasil pelelangan (BAHP). Hasil pembukaan dokumen penawaran dituangkan dalam Berita Acara yang ditandatangani oleh panitia/pejabat pengadaan dan dua orang wakil peserta lelang yang sah yang ditunjuk oleh para peserta lelang yang hadir. Bila penawaran yang masuk kurang dari tiga peserta. dokumen teknis. Evaluasi Penawaran Evaluasi dokumen penawaran adalah kegiatan panitia pengadaan dalam meneliti dan menilai semua dokumen penawaran yang disampaikan oleh calon penyedia barang/jasa. BAHP memuat hasil pelaksanaan Pusdiklatwas BPKP . dan dokumen penawaran harga. Pada tahap awal. f. Panitia/Pejabat pengadaan membuat simpulan dari hasil evaluasi administrasi. metode. kemudian mengumumkan kembali dengan mengundang calon peserta lelang yang baru. BAPP dibagikan kepada wakil peserta pelelangan yang hadir tanpa dilampiri dokumen penawaran. Urutan pembukaan dokumen dilakukan sesuai metode penyampaian dokumen yang ditetapkan.

Dalam hal terdapat dua calon pemenang lelang mengajukan harga penawaran yang sama.2007 129 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pelelangan. g. dan dalam batas ketentuan mengenai harga satuan yang telah ditetapkan. 3) telah memerhatikan penggunaan semaksimal mungkin hasil produksi dalam negeri. termasuk cara penilaian. teknis dan harga. BAHP ditandatangani oleh ketua dan semua anggota panitia/pejabat pengadaan atau sekurangkurangnya dua pertiga dari jumlah anggota panitia. serta telah sesuai dengan ketentuan maka panitia pengadaan menetapkan calon pemenang lelang yang paling menguntungkan dalam arti: 1) penawaran memenuhi syarat administratif dan teknis yang ditentukan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa. 2) perhitungan harga yang ditawarkan dapat dipertanggung jawabkan. rumus-rumus yang digunakan. Pusdiklatwas BPKP . dan hal ini dicatat dalam berita acara. Penetapan Pemenang Apabila harga dalam penawaran telah dianggap wajar.. dan memilih peserta yang menurut pertimbangannya mempunyai kemampuan yang lebih besar. maka panitia/pejabat pengadaan meneliti kembali data kualifikasi peserta yang bersangkutan. sampai dengan penetapan urutan pemenangnya berupa daftar peserta pelelangan yang dimulai dari harga penawaran yang terendah. Calon pemenang lelang harus sudah ditetapkan oleh panitia/pejabat pengadaan selambat-lambatnya tujuh hari kerja setelah pembukaan penawaran. penawaran tersebut adalah yang terendah diantara penawaran yang memenuhi syarat administrasi.

Dalam pengumuman juga diberitahukan bahwa surat jaminan pelelangan dapat diambil kembali kecuali untuk peserta yang menang.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Panitia/pejabat pengadaan membuat dan menyampaikan laporan kepada PPK untuk menetapkan pemenang lelang disertai usulan calon pemenang dan penjelasan atau keterangan lain yang dianggap perlu sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Pusdiklatwas BPKP . panitia mengumumkannya kepada para peserta lelang. Pemenang lelang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja untuk pengadaan sampai dengan Rp50 milyar dan 14 (empat belas) hari kerja untuk pengadaan di atas Rp50 milyar terhitung sejak surat usulan penetapan pemenang lelang tersebut diterima oleh pejabat yang berwenang menetapkan pemenang lelang. h. Sanggahan disampaikan kepada pimpinan instansi/pejabat pembuat komitmen/panitia secara tertulis disertai bukti-bukti terjadinya penyimpangan. Pengumuman Pemenang Pemenang lelang diumumkan dan diberitahukan oleh panitia/pejabat pengadaan kepada para peserta selambatlambatnya dua hari kerja setelah diterimanya Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) dari pejabat yang berwenang.2007 130 . i. Segera setelah pejabat yang berwenang mengambil keputusan tentang penetapan pemenang lelang. Sanggahan Peserta dan Pengaduan Masyarakat Peserta lelang yang keberatan atas penetapan calon pemenang lelang tersebut baik bertindak sendiri atau bersama-sama calon penyedia barang dapat mengajukan sanggahan secara tertulis secepat mungkin. cadangan urutan pertama dan cadangan urutan kedua.

baik secara tertulis maupun lisan kepada pejabat yang berwenang memberikan jawaban atas sanggahan tersebut. Penyedia barang yang ditunjuk menyiapkan jaminan pelaksanaan sesuai dengan ketentuan yang tercantum di dalam dokumen lelang. Penerbitan Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) Penunjukan pemenang lelang adalah keputusan definitif dari pengguna barang mengenai penunjukan pemenang lelang pengadaan barang dalam bentuk penerbitan SPPBJ. Penandatanganan Kontrak Tahap akhir dari rangkaian proses pelelangan adalah penandatanganan kontrak antara pengguna barang dengan penyedia barang/jasa yang ditunjuk. Pusdiklatwas BPKP . Apabila dalam waktu yang telah ditentukan tidak ada sanggahan dari peserta lelang. j.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pejabat Pembuat Komitmen/Panitia/Pejabat Pengadaan wajib memberikan jawaban dan menyampaikan bahan-bahan yang berkaitan dengan sanggahan.2007 131 . k. atau sanggahan yang disampaikan ternyata tidak benar maka pengguna menetapkan penunjukan pemenang lelang pengadaan barang dengan surat keputusan.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I D... meningkatkan penerimaan negara melalui sektor perpajakan c.. BAHAN DISKUSI DAN SOAL LATIHAN BAHAN DISKUSI Diskusikan artikel yang termuat pada salah satu harian berikut ini dari sisi pelaksanaan pedoman pengadaan barang/jasa instansi pemerintah.. c atau d yang Saudara anggap paling benar. pemberian sertifikatnya harus selektif.2007 132 ... a. meningkatkan peran serta usaha kecil termasuk koperasi kecil Pejabat pengadaan terdiri dari...... cakap dan sanggup melaksanakan proyek dengan baik serta penuh tanggung jawab...... 1. a. satu orang PNS di instansinya d. mengurangi impor barang jadi dari luar negeri d. menyederhanakan ketentuan dan tatacara dalam pelaksanaan pengadaan b.. b... Berikut adalah kebijakan umum pengadaan barang/jasa.. Semua penting karena pemegang sertifikat bukan saja harus cakap dan menguasai aturan tentang proyek. ... satu orang PNS baik dari instansi sendiri atau dari instansi lain c. Rabu 16 Agustus 2006) SOAL LATIHAN Pilihlah salah satu jawaban a. .. kecuali …. tetapi juga jujur terlebih dulu. tiga orang b.. satu orang pejabat struktural di instansinya 2..... Jangan ada konspirasi dalam pengeluarannya. Bila di era sertifikasi sekarang ini masih ada pimpro dan aparat yang menyimpang dalam proyek..(Kompas.. Oleh karena menjadi pimpro harus memiliki sertifikat khusus... apalagi dengan unsur perjokian saat ujian untuk mendapatkannya. Pusdiklatwas BPKP . hal itu sangat keterlaluan... Demikian halnya dengan adanya Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang atau Jasa Pemerintah juga harus bisa menjadi pedoman dalam pelaksanaan proyek pengadaan barang atau jasa pemerintah.....

pelelangan umum dan pelelangan terbatas b. a. prosedur dan metode pengadaan Yang tidak dilarang untuk diangkat menjadi panitia/pejabat pengadaan adalah …. Tidak termasuk persyaratan sebagai panitia/pejabat pengadaan adalah…. memahami isi dokumen. pelelangan dan penunjukan langsung c. 7.. wajib dilaksanakan oleh pejabat pengadaan c. tiga penyedia barang/jasa b. 5. di atas Rp100 juta b. a. dilaksanakan oleh panitia pengadaan atau oleh pejabat pengadaan Panitia pengadaan harus pengadaan yang bernilai…. di atas RP50 juta c. peneliti c. memiliki integritas moral dan tanggungjawab b. sampai Rp50 juta d. 8. a.2007 133 . pegawai BPKP. Pengadaan barang/jasa pemborongan sampai nilai Rp50. Itjen.. sembilan penyedia barang/jasa 6.. a. dilaksanakan oleh panitia pengadaan bersama-sama dengan pejabat pengadaan d. wajib dilaksanakan oleh panitia pengadaan b. tidak berstatus sebagai calon pejabat struktural c. melalui penunjukan langsung dan melalui swakelola Pelelangan umum diikuti sekurang-kurangnya …. Pusdiklatwas BPKP . tujuh penyedia barang/jasa d.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. diserahkan kepada penyedia barang/jasa dan secara swakelola d. Bawasda Pengadaan barang/jasa pemerintah dilaksankan dengan dua cara yaitu….000. lima penyedia barang/jasa c. tidak ada batasan nilai dibentuk untuk melaksanakan paket 4. a. a. tidak mempunyai hubungan keluarga dengan pejabat yang mengangkatnya d. pengguna barang/jasa d. bendahara b. dilakukan dengan cara.000.

bernilai di atas Rp 50 milyar c. prakualifikasi b. Tidak termasuk batasan pengertian pekerjaan bersifat komplek adalah…. a. tidak dapat diselesaikan dalam satu tahun anggaran Pusdiklatwas BPKP . memerlukan teknologi tinggi b. negosiasi akhir 10. menggunakan peralatan yang didesain khusus berisiko tinggi d. pelelangan umum dilaksanakan dengan …. negosiasi awal d. Untuk pekerjaan yang sifatnya tidak komplek.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 9. pasca kualifikasi c.2007 134 . a.

Bijloo J. e. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Undang-undang No. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 beserta Amandemennya Undang-undang nomor 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak Undang-undang No. 72 tahun 2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Keputusan Presiden No. Depkeu. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara Undang-Undang No. i.2007 . b. Perbendaharaan. Kantor Menteri Negara Koordinator Bidang Ekonomi. c. 42 Tahun 2002 jo Keppres No. k. Pusdiklatwas BPKP . Pusdiklat Anggaran BPLK Depkeu. h. Jakarta. Jakarta. Ali Tojib M.H. Garis-garis Besar Ilmu Keuangan Negara. g. Penerbit Jembatan. 2 tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri Keputusan Presiden No. Wiemas AJGA. Modul 1: Kebijakan Umum Pengadaan Barang dan Jasa. 2. 1995. Depkeu. Goedhart C. Drs. 5.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I DAFTAR PUSTAKA 1. 1979.. 4. 29 Tahun 2002 tentang APBN Tahun 2003 Undang-undang No.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan Peraturan Pemerintah No. 3. Jakarta. 1982. f. Sistem Tata Usaha Keuangan Indonesia. Anggaran Negara. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa instansi pemerintah beserta amandemen I s/d VII Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK. Terjemahan oleh Ratmoko. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Undang-undang No. Dr. d. 1982. 1996. Komisi Penterjemah. keuangan dan Pengawasan Pembangunan. Peraturan-peraturan: a.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN 135 6. Komisi Penterjemah. S.. j.

Republik Indonesia. o. 8. 7. Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. m. Peraturan-peraturan tentang Pengelolaan Dana Pinjaman/Hibah Luar Negeri dari Bappenas dan Departemen Keuangan Panduan Bagi KPPN dan Bendahara Pemerintah sebagai Pemotong/Pemungut Pajak-Pajak Negara. Per-66/PB/2005 tentang Mekanisme Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Surat Edaran Direktur Jenderal Anggaran Nomor 136/A/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 42/2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN Surat Edaran Direktur Jenderal Anggaran Nomor 157/A/2002 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan APBN Peraturan-peraturan tentang Pengelolaan Setoran Penerimaan Negara Melalui Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi n. Departemen Komunikasi dan Informatika.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I l.2006 Pusdiklatwas BPKP . Biro Keuangan.2007 136 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful