DIKLAT PEMBENTUKAN AUDITOR TERAMPIL

PPA I
KODE MA : 1.150

PEDOMAN PELAKSANAAN ANGGARAN I

2007
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGAWASAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN EDISI KELIMA

Judul Modul
Penyusun

: Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Perevisi I Perevisi II Perevisi III Perevisi IV Pereviu Editor

: Drs. Achmad Sadji, M.M. Drs. Abdul Kadir R. Bambang S.W., Ak., M.B.A. Drs. Bistok Manurung : Drs. Achmad Sadji, M.M. Drs. Abdul Kadir R. : Drs. Sunarto : Nurharyanto, Ak : Sigit Susilo Broto, Ak., M Comm Suhartanto, Ak., M.M. : Linda Ellen Theresia, SE., M.B.A. : Rini Septowati, Ak., M.M.

Dikeluarkan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP dalam rangka Diklat Sertifikasi JFA Tingkat Terampil
Edisi Pertama Edisi Kedua (Revisi Pertama) Edisi Ketiga (Revisi Kedua) Edisi Keempat (Revisi Ketiga) Edisi Kelima (Revisi Keempat) : : : : : Tahun 1998 Tahun 2000 Tahun 2004 Tahun 2006 Tahun 2007

ISBN 979-95661-1-8 (no. jilid lengkap) ISBN 979-95661-2-6 (jilid 1)

Dilarang keras mengutip, menjiplak, atau menggandakan sebagian atau seluruh isi modul ini, serta memperjualbelikan tanpa izin tertulis dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP

Pusdiklatwas BPKP
Jln. Beringin II Pandansari, Ciawi Bogor 16720

ISBN 979-95661-1-8 ISBN 979-95661-2-6

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pusdiklatwas BPKP .2007 i .

.................... 29 Penerimaan Pengembalian Belanja ... B.... C................................................................ 3 Metodologi Pemelajaran........... 2 Deskripsi Singkat Struktur Modul ...................... 46 Bendahara Sebagai Pemotong Pph Pasal 22 ...... 42 Kewajiban Dan Sanksi Perpajakan Bendahara ........ 1 Tujuan Pemelajaran Umum (TPU). DAFTAR ISI ... F.....Pedoman Pelaksanaan Anggaran I DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ............ 52 Bendahara Sebagai Pemotong Pph Pasal 23/26. 56 Pusdiklatwas BPKP ............................ 42 Dasar Hukum ....................................................... 53 Bendahara Sebagai Pemotong Ppn Dan Ppnbm ..... D................. ........................................ Error! Bookmark not defined.. 27 Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).............................................. BAB IV A................................................. C..... BAB III A........ i BAB I PENDAHULUAN . 6 A.................................................. 14 MEKANISME PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN NEGARA .... E................................................................................................................. 1 A........................................................ 43 Bendahara Sebagai Pemotong Pph Pasal 21 Dan Pasal 26........................2007 ii .................................... B.............................................................. B..... Latar Belakang ...... D... Penetapan Pejabat Pengelola Anggaran ...................... 2 Tujuan Pemelajaran Khusus (TPK) ........................ 27 Penerimaan Perpajakan ................................................. 4 BAB II PERSIAPAN PELAKSANAAN ANGGARAN .............................. 6 Penerbitan Dan Pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA) ........................................ E........... C..................................................... 39 MEKANISME PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN PAJAK-PAJAK NEGARA OLEH BENDAHARA ............................. B..........................

........................ B....... 90 Bahan Diskusi Dan Soal Latihan. 71 Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Oleh Bendahara Umum Negara (BUN)/Kuasa BUN .......... BAB VI A..........Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB V A.....................135 Pusdiklatwas BPKP ......... Dan Ruang Lingkup Pengadaan Barang Dan Jasa ...............2007 iii .......…...................................... 91 POKOK-POKOK PENGADAAN BARANG DAN JASA INSTANSI PEMERINTAH ......... 60 Pedoman Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara.................................. MEKANISME PELAKSANAAN BELANJA NEGARA .............................132 DAFTAR PUSTAKA…. 60 Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran............................................ 86 Pelaporan Realisasi Anggaran Belanja.....................….......................................................100 Prosedur Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah...........125 Bahan Diskusi Dan Soal Latihan........ 95 Prinsip Dasar...............……...... D.................... Etika........................................ Kebijakan Umum............ C... 95 Pokok-Pokok Kebijakan Pengadaan Barang Dan Jasa Pemerintah ...................... C. B.......................... E........................…………………………………............. D.........................

perencanaan anggaran. Modul ini akan menguraikan pedoman pelaksanaan anggaraan APBN. Tahapan pelaksanaan anggaran ini dimulai ketika UU Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disahkan oleh DPR. Dalam rangka terjadinya kesatuan pemahaman serta kesatuan langkah dalam pelaksanaan.2007 1 . dan pengawasan anggaran pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran. LATAR BELAKANG Pelaksanaan anggaran merupakan salah satu tahapan dari siklus anggaran yang dimulai dari pengesahan pelaksanaan anggaran oleh anggaran. Modul Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (PPA I) ini telah mengalami beberapa kali revisi dan penyempurnaan sejalan dengan perubahan ketentuan pengelolaan keuangan negara yang telah berkembang dan berubah secara signifikan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB I PENDAHULUAN A. sebagaimana ditetapkan dalam Pola Diklat Auditor Bagi Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah. Modul ini disusun untuk memenuhi materi pemelajaran pada Diklat Pembentukan Auditor Ahli di lingkungan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dengan jumlah jam pelatihan sebanyak 25 jam latihan. Pada saat ini keppres yang berlaku adalah Keppres nomor 42 tahun 2002. pemerintah sebagai pelaksana dari UU APBN selanjutnya menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagai dasar hukum pelaksanaan APBN. penetapan dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). khususnya terkait dengan Undang-undang Pusdiklatwas BPKP .

mekanisme pembayaran melalui uang persediaan. penerimaan negara bukan 3. TUJUAN PEMELAJARAN UMUM (TPU) Tujuan pemelajaran umum modul ini adalah agar para auditor setelah mengikuti diklat ini diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara. menjelaskan persiapan pelaksanaan anggaran yang meliputi penetapan dan pengangkatan pejabat pengelola anggaran serta penerbitan DIPA sebagai dasar pelaksanaan anggaran. menjelaskan mekanisme pemotongan/pemungutan pajak-pajak negara oleh bendahara.15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan Keputusan Presiden Nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN beserta ketentuan-ketentuan pelaksanaan anggaran yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN). 4. pajak (PNBP) dan penerimaan yang berasal dari penyelesaian kerugian keuangan negara. penerbitan Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I No. menjelaskan menjelaskan mekanisme pelaksanaan belanja negara. TUJUAN PEMELAJARAN KHUSUS (TPK) Setelah mengikuti pelajaran ini. B.2007 2 . menjelaskan mekanisme pelaksanaan penerimaan negara yang meliputi: penerimaan sektor perpajakan. serta anggaran pembiayaan khususnya pembiayaan yang bersumber dari pinjaman luar negeri. proses pencairan dana APBN dan proses penerbitan SPM. Undang-undang No. peserta diklat diharapkan akan mampu: 1.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan Undang-undang No. 2.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. C.

seorang auditor wajib memahami hal ini dan secara khusus mekanisme pengadaan barang/jasa ini dibahas dalam Bab VI. oleh karena itu. 2002 persiapan dijelaskan Keppres tahun hingga penunjukkan dan penetapan penyedia langkah-langkah pelaksanaan anggaran yang diuraikan dalam Bab I. sejak proses persiapan. oleh karena itu. Pembahasan modul PPA I ini akan diakhiri dengan pembahasan tentang pokok-pokok pengadaan barang dan jasa instansi pemerintah. 6. menjelaskan mekanisme pengadaan barang dan jasa. barang/jasa. DESKRIPSI SINGKAT STRUKTUR MODUL Modul ini membahas pedoman pelaksanaan anggaran baik dari sisi administrasi sebagaimana pembahasan maupun telah akan teknis diawali substansi dalam dengan pelaksanaan 42 anggaran. Pusdiklatwas BPKP . mekanisme ini akan secara khusus dibahas dalam Bab IV. 5. sesuai dengan Keppres 80 tahun 2003. Pembahasan mekanisme pengadaan barang dan jasa ini dianggap penting dan wajib diketahui bagi auditor.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I SP2D oleh KPPN serta memahami mekanisme pelaporan realisasi APBN. D. Mekanisme penting yang perlu ditekankan dalam pelaksanaan anggaran ini adalah mekanisme pemotongan/pemungutan pajak oleh bendahara.2007 3 . dilanjutkan dengan pembahasan tentang mekanisme pelaksanaan anggaran pendapatan dan mekanisme pelaksanaan anggaran belanja yang diuraikan dalam Bab III dan Bab V. menjelaskan mekanisme pembiayaan APBN dengan sumber pembiayaan dari pinjaman/hibah luar negeri. karena alokasi anggaran belanja yang paling dominan pada instansi pemerintah adalah anggaran yang dialokasikan untuk pengadaan barang/jasa.

peserta dipacu untuk berperan serta secara aktif melalui komunikasi dua arah. yaitu: 1.2007 4 . substansi proses modul belajar Pedoman mengajar Pelaksanaan menggunakan pendekatan andragogi. perkembangan perubahan peraturan pelaksanaan teknis di bidang pengelolaan anggaran yang dikeluarkan oleh instansi terkait seperti Menteri Keuangan c. urutan pembahasan dalam modul ini sebagai berikut. maka terdapat beberapa batasan yang digunakan dalam revisi modul ini. Bab I Bab II Bab III Bab IV : Pendahuluan : Persiapan Pelaksanaan Anggaran : Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Pendapatan : Mekanisme Pemotongan/Pemungutan Pajak Negara oleh Bendahara Bab V Bab VI : Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Belanja : Pokok-Pokok Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah Guna menghindari kesalahan interpretasi terhadap materi pemelajaran yang tercantum dalam modul ini. modul ini lebih menitikberatkan pada sisi anggaran pendapatan dan belanja pada instansi pemerintah pusat (APBN).Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Secara sistematis. 2. Metode pemelajaran ini menerapkan Pusdiklatwas BPKP . Dengan metode ini. METODOLOGI PEMELAJARAN Agar peserta mampu Anggaran memahami I (PPA I).q Ditjen Perbendaharaan. dan ketentuan lainnya merupakan pelengkap yang tidak terpisahkan dari materi modul ini. Ditjen Anggaran dan Perimbangan Keuangan Daerah. E.

Pusdiklatwas BPKP . tanya jawab.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I kombinasi proses belajar mengajar dengan cara ceramah.2007 5 . dan diskusi pemecahan kasus. Untuk lebih membantu pemahaman peserta. Dalam proses ini peserta diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan pendapat. modul ini dilengkapi pula dengan soal-soal teori dan pertanyaan kasus/bahan diskusi. dilakukan pula diskusi kelompok sehingga peserta benar-benar dapat secara aktif terlibat dalam proses belajar mengajar. Agar proses pendalaman materi dapat berlangsung dengan lebih baik. Instruktur akan membantu peserta dalam memahami materi dengan metode ceramah dan pembahasan contoh kasus.

dimulailah tahap ketiga yaitu tahap pelaksanaan anggaran (APBN) merupakan tersebut.2007 6 . Pada saat ini. A. sesuai dengan UU 17 tahun pemisahan fungsi pejabat 2003 tentang Keuangan Negara dan UU 1 tahun 2004 tentang mengatur pengelola keuangan negara yang terdiri dari: Menteri Keuangan selaku kewenangan Presiden selaku kepala pemerintah yang untuk melaksanakan seluruh kebijakan yang telah tertuang dalam undang-undang Pusdiklatwas BPKP . Negara. Pada awal tahun anggaran. PENETAPAN PEJABAT PENGELOLA ANGGARAN Sistem Administrasi Keuangan Perbendaharaarn Negara. Ketika Undang-Undang tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disetujui oleh DPR dan ditetapkan sebagai UndangUndang APBN.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB II PERSIAPAN PELAKSANAAN ANGGARAN Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. maka selesailah tahapan kedua dari siklus anggaran yaitu tahapan penetapan dan pengesahan UU APBN oleh DPR. peserta diklat diharap mampu menjelaskan persiapan pelaksanaan anggaran yang meliputi penetapan dan pengangkatan pejabat pengelola anggaran serta penerbitan DIPA sebagai dasar pelaksanaan anggaran. langkah pertama yang dilakukan dalam tahap pelaksanaan anggaran meliputi penetapan pejabat pengelola anggaran serta penerbitan dan pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA) sebagai dasar hukum pelaksanaan anggaran bagi masing-masing kementerian/lembaga dan instansi pemerintah lainnya.

3.1.2007 7 . pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja negara. kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang. sementara Pimpinan Kementerian/Lembaga selaku Pengguna Anggaran (Chief Operational Officer /COO). pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara (PNBP). menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran menetapkan para pejabat di lingkungannya yang ditunjuk sebagai: 1. 2. KEWENANGAN FUNGSI ADMINISTRASI MENURUT UU No. Struktur Organisasi dan pejabat yang berwenang dalam [pengelolaan keuangan negara dapar digambarkan sebagai berikut. 1 Tahun 2004 Menteri Teknis Selaku Pengguna Anggaran Menteri Keuangan Selaku Bendahara Umum Negara PEMBUATAN PENGUJIAN & KOMITMEN PEMBEBANAN PERINTAH PEMBAYARAN PENGUJIAN & PEMBEBANAN PERINTAH PENCARIAN DANA Pengurusan Administrasi administrasi beheer Gambar 2. Pusdiklatwas BPKP . Pengurusan Komtabel comptabel beheer Pelaksanaan anggaran selanjutnya secara teknis dilakukan oleh kementerian dan lembaga terkait dengan menteri/pimpinan lembaga sebagai pengguna anggaran/pengguna barang. Pada awal tahun anggaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Manajer Keuangan Negara (Chief Financial Officer /CFO) dan Bendahara Umum Negara (BUN).

pejabat yang bertugas melakukan pengujian dan perintah pembayaran. bendahara pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran belanja. dan 6. Ditjen Roren Policy Formula Rokeu Policy Implementation SPP KPPN voucher SPP Gambar 2. 6. sebagaimana seorang pejabat eselon IV (kuasa BUN) di KPPN menandatangani SP2D atas nama Menteri Keuangan/Bendahara Umum Negara. bendahara penerimaan untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran penerimaan. 5. 5. Dengan ketentuan: pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja (butir 3) tidak boleh merangkap sebagai pejabat sebagaimana pada butir 4.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4. Perbandingan Kewenangan Pengguna Anggaran Menteri Teknis Menteri Keuangan Ditjen Setjen DJAPK Policy Formula DJPb Policy Implementation Set.606/2004 tentang Pedoman Pembayaran dalam pelaksanaan Pusdiklatwas BPKP . Selanjutnya merujuk pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 606/PMK.2007 8 . Dari flow chart di atas.2. tampak bahwa kewenangan pengguna anggaran dapat dikuasakan kepada eselon/pejabat yang lebih rendah yakni dari menteri teknis sampai dengan kepada eselon IV (kuasa pengguna anggaran).

Keputusan tersebut bertujuan menyerahkan sepenuhnya kewenangan menteri teknis. pejabat yang diberi kewenangan untuk menerbitkan dan menandatangani SPM.2007 9 . STRUKTUR ORGANISASI PENGELOLA KEUANGAN NEGARA (IDEAL MENURUT UU) MENTERI PENGGUNA ANGGARAN SATKER KUASA PENGGUNA ANGGARAN PEMBUAT KOMITMEN BENDAHARA PENGUJI TAGIHAN PENERBIT SPM UNIT AKUNTANSI INSTANSI Pusdiklatwas BPKP .3. 3. 4. Gambar di bawah ini. pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran. bendahara pengeluaran. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 2.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I APBN Tahun 2005 dan Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-050/PB/2004 bahwa menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran menerbitkan keputusan tentang penunjukan: 1. kuasa pengguna anggaran. menjelaskan suatu struktur organisasi yang ideal menurut amanah UU No. Gambar 2. dengan catatan tidak diperkenankan perangkapan jabatan pembuat komitmen dengan jabatan bendahara pengeluaran.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Gambar 2.4.

SATUAN KERJA (Satker) - PUSAT DIPA Satker 1. eselon 2 Kegiatan a Kegiatan b 2. eselon 2 Kegiatan 3. eselon 2 .. Dst. 1 DIPA 1 ESELON 1 1 PROVINSI

SATUAN KERJA (Satker) - PUSAT
1 DIPA 1 ESELON 1 1 PROVINSI

DIPA Satker a Kegiatan a Kegiatan b Satker b Kegiatan a Kegiatan b …Dst

Pusdiklatwas BPKP - 2007

10

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Gambar 2.5.

KEMENTERIAN NEGARA
SATKER KUASA PENGGUNA ANGGARAN

SETJEN DITJEN
ESELON 2 KUASA PENGGUNA ANGGARAN

BADAN IRJEN
ESELON 3 KUASA PENGGUNA ANGGARAN

Gambar 2.6. TINGKAT SEKRETARIAT JENDERAL DEPARTEMEN/LEMBAGA SEKJEN
KUASA PENGGUNA ANGGARAN

KEPALA BIRO

KARO KEUANGAN

KEPALA BIRO

PEMBUAT KOMITMEN

BENDAHARA

PENGUJI TAGIHAN

PENERBIT SPM

UNIT AKUNTANSI

Pusdiklatwas BPKP - 2007

11

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Gambar 2.7 TINGKAT DIREKTORAT JENDERALKEMENTERIAN/ LEMBAGA DITJEN
KUASA PENGGUNA ANGGARAN

DIREKTUR

SEK.DITJEN

DIREKTUR

PEMBUAT KOMITMEN

BENDAHARA

PENGUJI TAGIHAN

PENERBIT SPM

UNIT AKUNTANSI INSTANSI

Gambar 2.8. TINGKAT INPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN / LEMBAGA

IRJEN KPA

INSPEKTUR

SEK. ITJEN

INSPEKTUR

PEMBUAT KOMITMEN

BENDAHARA

PENGUJI TAGIHAN

PENERBIT SPM

UNIT AKUNTANSI

Pusdiklatwas BPKP - 2007

12

9. TINGKAT ESELON II PADA KEMENTERIAN / LEMBAGA: ESELON 2 KUASA PENGGUNA ANGGARAN KEPALA BIDANG KABAG. UMUM KEPALA BIDANG PEMBUAT KOMITMEN BENDAHARA PENERBIT SPM PEMBUAT KOMITMEN PENGUJI TAGIHAN UNIT AKUNTANSI INSTANSI Pusdiklatwas BPKP .2007 13 . INSTANSI BADAN PADA KEMENTERIAN/ LEMBAGA BADAN KPA DEPUTI/KA PUSAT SEKBADAN DEPUT/KAPUS PEMBUAT KOMITMEN BENDAHARA PENGUJI TAGIHAN PENERBIT SPM UNIT AKUNTANSI Gambar 2.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Gambar 2.10.

jenis belanja. program dan rincian kegiatan. PENERBITAN DAN PENGESAHAN DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA) 1.2007 14 . 11 TINGKAT ESELON III PADA KEMENTERIAN/LEMBAGA ESELON 3 KUASA PENGGUNA ANGGARAN KEPALA SEKSI PEMBUAT KOMITMEN KASUBAG TU PENERBIT SPM KEPALA SEKSI BENDAHARA PENGUJI TAGIHAN PENGUJI TAGIHAN UNIT AKUNTANSI INSTANSI B. DIPA yang lengkap memuat uraian fungsi/sub fungsi. Dengan demikian dokumen DIPA yang lengkap terdiri dari: Pusdiklatwas BPKP . kelompok mata anggaran keluaran dan rencana penarikan dana serta perkiraan penerimaan kementerian negara/lembaga. DIPA merupakan suatu daftar isian yang memuat uraian: sasaran yang hendak dicapai. fungsi. sasaran program. rincian kegiatan/sub kegiatan. Konsep DIPA Pelaksanaan anggaran pada setiap instansi pemerintah didasarkan pada sebuah dokumen yang disebut Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA).Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Gambar 2. program. rencana penarikan dana tiap-tiap bulan dalam satu tahun serta pendapatan yang diperkirakan oleh kementerian/lembaga.

Selanjutnya informasi yang terdapat dalam DIPA dapat dijelaskan sebagai berikut. kegiatan dan jenis belanja.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Surat Pengesahan DIPA DIPA halaman I (Umum) DIPA halaman II DIPA halaman III DIPA halaman IV Pengesahan DIPA yang ditandatangani Dirjen Perbendaharaan atau Kepala Kanwil DJPB atas nama Menteri Keuangan. volume keluaran yang hendak dicapai serta alokasi dana pada masing-masing belanja yang dicerminkan dalam mata anggaran keluaran. program. Lebih jauh. dalam pasal 15 undang-undang yang sama menyatakan bahwa anggaran yang disetujui oleh DPR dirinci dalam unit organisasi. Memuat catatan tentang hal-hal yang perlu menjadi perhatian oleh pelaksana kegiatan. Memuat informasi tentang rencana penarikan dana dan penerimaan negara bukan pajak yang menjadi tanggung jawab setiap satuan kerja. 17/2003 menyatakan bahwa anggaran belanja negara dibagi atas unit organisasi. a. Memuat informasi yang bersifat umum dari setiap satuan kerja tentang rincian fungsi. Dalam pasal 11 ayat 5 UU No. fungsi. program dan sasarannya serta indikator keluaran untuk masing-masing kegiatan. Pusdiklatwas BPKP . Memuat informasi setiap satuan kerja tentang uraian kegiatan/sub kegiatan.2007 15 . Struktur Penganggaran Masing-masing kementerian negara/lembaga dibagi dalam tingkat eselon I. fungsi dan jenis belanja.

2007 16 . Fungsi adalah perwujudan tugas kepemerintahan di bidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional. hal ini akan sangat membantu dalam penyusunan struktur program dan kegiatan. Dengan demikian tanggung jawab dan kewenangan akan lebih jelas bagi para manajer. Pelaksanaan. 2) Fungsi dan Sub Fungsi Klasifikasi anggaran dibagi menurut fungsi. dan pelaporan anggaran akan menjadi suatu sinergi yang positif apabila ada sinkronisasi antara struktur program dan kegiatan dengan struktur organisasinya. walaupun tetap ada sedikit kesulitan apabila program dimaksud dilaksanakan Bagian secara lintas unit organsasi klasifikasi dan lintas kementerian negara/lembaga. Penggunaan fungsi dan sub fungsi disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing kementerian negara/lembaga. monitoring. Sub fungsi merupakan penjabaran fungsi yang dirinci ke dalam 79 (tujuh puluh sembilan) sub fungsi. unit eselon II dan unit eselon III yang bertanggung jawab terhadap suatu pelaksanaan kegiatan pendukung program. Pusdiklatwas BPKP . anggaran merupakan anggaran berdasarkan organisasi antara lain menurut kementerian negara/lembaga.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 1) Organisasi dan Bagian Anggaran Klasifikasi organisasi yang digunakan dalam anggaran belanja negara adalah sesuai unit yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan suatu program.

termasuk kegiatan kantor kepala eksekutif pada semua level: legislatif: Presiden. manajemen kas negara. Wakil DPRD. kegiatan kementerian keuangan. serta staf yang ditunjuk secara politis untuk membantu lembaga eksekutif dan legislatif. legislatif. keuangan dan fiskal.01. statistik mengenai politik dalam negeri. kegiatan diplomat. kegiatan luar negeri termasuk Menteri Luar Negeri. bupati/walikota dan lain-lain. operasi atau dukungan untuk lembaga eksekutif.2007 17 . dokumentasi. lembaga gubernur. utang pemerintah. lembaga eksekutif dan legislatif. sub fungsi ini (01. operasional perpajakan. misi-misi internasional dll. semua tingkatan lembaga DPR. dan penyediaan dan penyebaran informasi dokumentasi. administrasi. Presiden. MPR. statistik keuangan dan fiskal. pembayaran cicilan utang dan berbagai kewajiban pemerintah sehubungan dengan Pusdiklatwas BPKP . komite antar departemen dan lain-lain yang terkait dengan fungsi tertentu (diklasifikasikan sesuai dengan fungsi masing-masing). penasehat. kegiatan keuangan dan fiskal dan pelayanan pada seluruh tingkatan pemerintah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Contoh sub fungsi 01. semua badan atau kegiatan yang bersifat tetap atau sementara yang ditujukan untuk membantu lembaga eksekutif dan legislatif.01) tidak termasuk untuk kantorkantor kementerian baik di pusat maupun di daerah. penyediaan dan penyebaran informasi. kegiatan politik dalam negeri. keuangan dan fiskal serta urusan luar negeri digunakan untuk: administrasi.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sub kegiatan yang satu dipisahkan dengan sub kegiatan lainnya berdasarkan perbedaan keluaran. yang terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya. Contoh : Kegiatan pendidikan dan pelatihan aparatur negara dengan sub kegiatan: Pusdiklatwas BPKP . baik yang berupa personil (sumber daya manusia). 4) Kegiatan dan Sub Kegiatan Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program.2007 18 . barang modal termasuk peralatan dan teknologi.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I utang pemerintah. Sub kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian sasaran dan tujuan kegiatan tersebut. Timbulnya sub kegiatan adalah sebagai konsekuensi adanya perbedaan jenis dan satuan keluaran antar sub kegiatan dalam kegiatan dimaksud. bantuan pemerintah RI kepada negara lain dalam rangka bantuan ekonomi. 3) Program Program adalah penjabaran kebijakan kementerian negara/lembaga dalam bentuk upaya yang berisi satu atau beberapa kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi kementerian negara/lembaga. atau kombinasi dari beberapa atau semua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. dana.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

penyelenggaraan jumlah peserta didik;

Diklat

Penjenjangan

Jabatan

Fungsional Auditor (JFA) dengan keluaran antara lain: • • penyelenggaraan Diklat Fungsional dengan keluaran antara lain: jumlah lulusan; pengembangan kurikulum diklat dengan keluaran antara lain: jumlah modul. 5) Jenis Belanja Klasifikasi anggaran menurut jenis belanja dibagi ke dalam delapan kategori sebagai berikut. a) Belanja pegawai yaitu kompensasi dalam bentuk uang maupun barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah yang bertugas di dalam maupun di luar negeri sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan. Dikecualikan untuk pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. Belanja ini antara lain digunakan untuk gaji dan tunjangan, honorarium, vakasi, lembur dan kontribusi sosial. b) Belanja barang yaitu pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memroduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan. Belanja ini antara lain digunakan untuk pengadaan barang dan jasa, pemeliharaan, dan perjalanan. c) Belanja Modal yaitu pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal. Dalam belanja ini termasuk untuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jaringan, maupun dalam bentuk fisik lainnya, seperti buku, binatang dan lain sebagainya.
Pusdiklatwas BPKP - 2007

19

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

d) Beban Bunga yaitu pembayaran yang dilakukan atas kewajiban penggunaan pokok utang (principal

outstanding), baik utang dalam negeri maupun utang
luar negeri yang dihitung berdasarkan posisi pinjaman. e) Subsidi yaitu alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi, menjual, mengekspor, atau mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak, sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat terjangkau oleh masyarakat. Belanja ini antara lain digunakan untuk penyaluran subsidi kepada perusahaan negara dan perusahaan swasta. f) Bantuan Sosial yaitu transfer uang atau barang yang diberikan kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya risiko sosial. Bantuan sosial dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atau lembaga kemasyarakatan. Bantuan ini antara lain untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. g) Hibah yaitu transfer dana yang sifatnya tidak wajib kepada negara lain atau kepada organisasi internasional. Belanja ini antara lain digunakan untuk hibah kepada pemerintah luar negeri dan organisasi internasional. h) Belanja lain-lain yaitu pengeluaran/belanja

pemerintah pusat yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam jenis belanja pada huruf a) sampai dengan huruf g) tersebut di atas.

Pusdiklatwas BPKP - 2007

20

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Dalam (non

pengalokasian

dana

oleh

kementerian

negara/lembaga harus memerhatikan pagu yang terikat

discretionary) dan pagu yang tidak terikat

(discretionary) yang telah disepakati oleh pemerintah bersama-sama DPR. Pagu terikat adalah jumlah dana yang tidak dapat diubah selain untuk belanja yang sudah ditentukan antara lain pagu pembayaran gaji dan tunjangan (belanja pegawai) serta biaya langganan daya dan jasa. Sesuai dengan ketentuan UU No. 17 Tahun 2003 bahwa belanja negara digunakan pemerintah klasifikasi pusat untuk dan keperluan pelaksanaan jenis belanja penyelenggaraan daerah, maka

perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan dan berdasarkan diupayakan untuk memenuhi ketentuan tersebut. b. Lokasi DIPA juga menginformasikan lokasi pelaksanaan kegiatan/sub kegiatan, yaitu dengan memberikan informasi alamat pelaksanaan kegiatan seperti provinsi, kabupaten, kota atau lokasi di luar negeri. 2. Prosedur Penyelesaian DIPA a. Prosedur Penyelesaian DIPA di Pusat Prosedur penelaahan dan penyusunan DIPA di pusat diatur sebagai berikut. 1) Setelah keputusan presiden tentang Rincian APBN diterbitkan, dan data Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) diterima dari Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan (DJAPK), Direktorat Pelaksanaan Anggaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan

Pusdiklatwas BPKP - 2007

21

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (Dit. Pusdiklatwas BPKP . konsep surat pengesahan DIPA/konsep DIPA. Kanwil DJPBN segera menyampaikan copy SRAA kepada Kantor Daerah Kementerian Negara/Lembaga atau satker pelaksana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk menyusun Konsep DIPA dan segera melakukan koordinasi dengan semua satker di wilayah pembinaannya. dan dokumen pendukung untuk diteliti lebih lanjut. Rincian tersebut meliputi kegiatan yang akan dilaksanakan di kantor pusat dan di daerah termasuk kegiatan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. 3) Petugas penelaah Dit. PA DKBN dan kementerian negara/lembaga melakukan penelaahan semua kegiatan yang tertuang dalam DIPA dan melampirkan: catatan pembahasan. Prosedur Penyelesaian DIPA di Daerah Prosedur penelaahan dan penyusunan DIPA di daerah diatur sebagai berikut. 2) Petugas penelaah Dit. Setelah Surat Rincian Alokasi Anggaran (SRAA) diterima dari Kantor Pusat DJPBN. PA DJPBN) segera menghubungi membuat kegiatan kementerian perincian akan yang negara/lembaga pelaksanaan untuk segera untuk anggaran dilaksanakan. PA DJPBN melakukan penelaahan DIPA yang diajukan kementerian negara/lembaga dengan mengacu kepada: i) alokasi anggaran yang ditetapkan Presiden.2007 22 . ii) rencana kerja dan anggaran satuan kerja pada kementerian negara/lembaga. Kemudian memberitahukan kepada satker-satker untuk segera menyusun konsep DIPA yang selanjutnya disampaikan kepada Kanwil DJPBN beserta disketnya. b.

Penelahaan DIPA dilakukan secara bersamaan Pusdiklatwas BPKP . Rencana Penarikan Dana Dalam hal pencantuman angka rencana penarikan dana pada halaman III DIPA berdasarkan rencana kerja satker perlu memerhatikan hal-hal sebagai berikut. a. a. − subkelompok pendapatan 42315 untuk pendapatan jasa II. 5.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. Rencana Pendapatan Penatausahaan pendapatan dimulai dari satuan kerja dikoordinasikan oleh kementerian negara/lembaga dengan mengikuti kelompok pendapatan sebagai berikut. c. Untuk belanja barang. 4. Untuk belanja pegawai. DIPA Kantor Pusat DIPA Kantor Pusat adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanaannya dilakukan oleh kantor pusat kementerian negara/lembaga. b. c. Enam digit merupakan mata anggaran penerimaan (MAP) Contoh: − kelompok pendapatan 423 untuk PNBP lainnya. agar memerhatikan kebutuhan berdasarkan rencana pelaksanaan kegiatan. b. Lima digit pertama merupakan sub kelompok pendapatan. rencana penarikan dana per bulan adalah seperdua belas dari pagu gaji 1 tahun. − MAP 423154 untuk pendapatan jasa catatan sipil.2007 23 . Tiga digit pertama merupakan kelompok pendapatan. Untuk belanja modal. Penetapan DIPA dan SP DIPA Dalam penetapan DIPA dan Surat Pengesahan DIPA (SP DIPA) dikategorikan sebagai berikut. a. agar memerhatikan batas penarikan dana triwulan.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

antara

Direktorat

Pelaksanaan

Anggaran

DJPBN

dengan

kementerian negara/lembaga terkait. Menteri/pimpinan lembaga atau pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA, dan Dirjen Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP DIPA. b. DIPA Kantor Daerah DIPA Kantor Daerah adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanaannya dilakukan oleh kantor daerah/instansi vertikal kementerian negara/lembaga. Penelahaan DIPA dilakukan secara bersama antara Kanwil DJPBN dengan kantor daerah/intansi vertikal kementerian negara/lembaga. Kepala kantor daerah/instansi vertikal kementerian negara/lembaga atau pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA, dan Kanwil DJPBN atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP DIPA. c. DIPA Dalam Rangka Pelaksanaan Dekonsentrasi DIPA dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanaannya dilimpahkan kepada gubernur. Penelahaan DIPA dilakukan secara bersama antara Kanwil DJPBN dengan dinas terkait atas nama gubernur. Gubernur atau kepala dinas atau pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA, dan Kanwil DJPBN atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP DIPA. d. DIPA Dalam Rangka Pelaksanaan Tugas Pembantuan DIPA dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan adalah dokumen ditugaskan Pelaksanaan pelaksanaan kepada anggaran yang pelaksanaannya daerah. gubernur/bupati/walikota/kepala DJPBN dengan

Penelaahan DIPA dilakukan secara bersama antara Direktorat Anggaran kementerian negara/lembaga terkait. Menteri/pimpinan lembaga atau pejabat

Pusdiklatwas BPKP - 2007

24

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

yang DIPA.

ditunjuk

menetapkan

DIPA,

dan

Direktur

Jenderal

Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP

6. Revisi DIPA DIPA yang sudah disahkan oleh DJPBN atau Kepala Kanwil DJPBN apabila diperlukan dapat dilakukan revisi oleh satker yang bersangkutan dan selanjutnya diajukan kepada DJPBN atau Kanwil DJPBN untuk ditelaah dan disahkan, dengan catatan sebagai berikut. a. Dapat dilakukan realokasi dana antar sub kegiatan dalam satu kegiatan. b. Dapat dilakukan perubahan volume keluaran pada sub kegiatan tanpa merubah alokasi dana kegiatan dan masih sesuai dengan sasaran kegiatan dan atau sasaran program. c. Dapat dilakukan realokasi dana antar MAK dalam satu jenis belanja sepanjang tidak mengurangi: 1) gaji dan berbagai tunjangan yang melekat dengan gaji: 2) belanja untuk langganan listrik, telepon, gas dan air; 3) pembayaran untuk berbagai tunggakan; 4) alokasi untuk dana pendamping PHLN; 5) belanja barang untuk pengadaan bahan makanan (MAK 52 1113). d. Dalam revisi DIPA tidak diperkenankan ada perubahan terhadap: 1) pagu untuk masing-masing unit organisasi; 2) pagu untuk masing-masing kegiatan dan masing-masing jenis belanja; 3) pagu untuk lokasi provinsi; 4) kegiatan dan program.

Pusdiklatwas BPKP - 2007

25

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Revisi DIPA yang menyebabkan realokasi dana antar satuan kerja dapat dilakukan oleh pimpinan unit organisasi (unit eselon I untuk tingkat pusat atau kanwil/koordinator satker untuk tingkat daerah) dan selanjutnya diajukan kepada DJPBN atau Kanwil DJPBN untuk diteliti dan disahkan. Terhadap revisi DIPA yang menyebabkan perubahan dalam butir 6.d.1 sampai dengan 4, harus mendapat persetujuan DPR melalui DJAPK. Keputusan atas perubahan tersebut disampaikan kepada instansi terkait. 7. Aktivitas Terkait Setelah DIPA disahkan, maka unit organisasi/satuan kerja dapat menerbitkan petunjuk pelaksanaan sebagai pedoman pelaksanaan lebih lanjut dari DIPA. Penyelesaian DIPA, mulai dari penyusunan konsep DIPA oleh kementerian negara/lembaga sampai dengan pengesahan DIPA oleh Dirjen Perbendaharaan atau Kepala Kanwil DJPBN agar memerhatikan waktu yang tersedia.

Pusdiklatwas BPKP - 2007

26

pajak bumi dan bangunan. penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan penerimaan yang berasal dari penyelesaian kerugian keuangan negara. PENERIMAAN PERPAJAKAN Penerimaan perpajakan adalah semua penerimaan negara yang terdiri dari penerimaan pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. serta penerimaan hibah dalam negeri dan luar negeri.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB III MEKANISME PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN NEGARA Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. Salah satu hak pemerintah pusat adalah menggali sumber-sumber penerimaan bagi negara untuk membiayai berbagai belanja/pengeluaran negara yang berkaitan dengan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan. A. peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pelaksanaan penerimaan negara yang meliputi: penerimaan sektor perpajakan. bea perolehan hak atas tanah dan Pusdiklatwas BPKP . penerimaan negara bukan pajak. pajak pertambahan nilai barang/jasa dan pajak penjualan atas barang mewah. UU nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan negara menyatakan bahwa pendapatan negara merupakan hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. Sedangkan menurut UU nomor 18 tahun 2006 tentang APBN Tahun Anggaran 2007 manyatakan bahwa pendapatan negara dan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari perpajakan. Penerimaan perpajakan dalam negeri meliputi semua penerimaan negara yang berasal dari pajak penghasilan.2007 27 .

BUMN/BUMD serta badan lainnya diwajibkan untuk memberikan informasi perpajakan kepada pemerintah. wajib menyetorkan seluruh penerimaan pajak yang dipungutnya dalam waktu selambatlambatnya satu hari setelah uang pajak diterima. setiap bendahara instansi pemerintah baik pusat maupun daerah. Dalam mekanisme ini diterapkan Sistem Self-Assessment yaitu sistem penerimaan perpajakan yang mengatur wajib pajak untuk menghitung pajaknya sendiri. Sedangkan pajak perdagangan internasional merupakan semua penerimaan negara yang berasal dari bea masuk dan pajak/pungutan ekspor. dilakukan dengan mekanisme pemotongan/pemungutan pajak oleh setiap instansi pemerintah yang melakukan pembayaran atas beban negara/daerah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I bangunan. penerimaan perpajakan yang berkaitan dengan mekanisme pelaksanaan anggaran negara/daerah. BUMN/BUMD dan badan lainnya ditetapkan sebagai wajib pungut. Pada prinsipnya. Pusdiklatwas BPKP . Sedangkan. dalam rangka intensifikasi penerimaan pajak negara. cukai dan pajak lainnya. penerimaan uang negara dari perpajakan wajib disetorkan oleh wajib pajak dan atau wajib pungut ke kas negara pada bank pemerintah atau lembaga lain yang ditetapkan oleh Menteri keuangan. diuraikan dalam Bab IV) Selanjutnya dalam rangka meningkatkan intensifikasi penerimaan (Mekanisme pemotongan dan pemungutan pajak oleh bendahara selanjutnya akan pajak. Penerimaan perpajakan yang berasal dari wajib pajak pribadi dan perusahaan.2007 28 . setiap instansi pemerintah. dilakukan sesuai dengan mekanisme perpajakan sesuai dengan UU Nomor 28 tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas UU Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Perpajakan. kemudian menyetorkannya ke kas negara dan melaporkannya dalam laporan Surat Permberitahuan Pajak (SPT). Oleh karena itu.

Menteri Keuangan cq Dirjen Pajak wajib memberikan Nomor Identitas Tunggal kepada masing-masing kementerian/lembaga. 4. proyek/bagian proyek. 2. Direktur Jenderal Pajak. sebagai Wajib Pungut Pajak. Untuk memadukan dan mensinerjikan data dan informasi perpajakan tersebut dibentuk Bank Data Nasional dan Nomor Identitas Tunggal yang dilaksanakan oleh Menteri Keuangan. BUMN/D. B. Menteri Keuangan cq Dirjen Pajak mengadministrasikan data dan informasi perpajakan dalam Bank Data Nasional dengan membentuk Nomor Identitas Bersama sebagai embrio Nomor Identitas Tunggal. diperlukan langkah-langkah Pusdiklatwas BPKP . 1. pemerintah daerah. 5. sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. 3.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Menetapkan Setiap instansi pemerintah.2007 29 . dan BUMN/D. bendahara dan badan lain yang melakukan pembayaran atas beban APBN/APBD. kantor dan satuan kerja. proyek/bagian proyek. pemerintah daerah. Mewajibkan setiap kementerian/lembaga. Keppres Nomor 72 tahun 2004 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran dan Belanja Negara mengatur ketentuan data dan informasi perpajakan sebagai berikut. kantor dan satuan kerja. pemerintah daerah. dan BUMN/D untuk menyampaikan bahan-bahan dan keterangan yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya guna keperluan perpajakan kepada Menteri Keuangan cq. oleh karenanya. PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP) Penerimaan negara bukan pajak memiliki arti dan peran yang sangat penting dalam pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan negara dan pembangunan nasional.

penerimaan dari hasil-hasil pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan. penerimaan berdasarkan putusan pengadilan dan yang berasal dari pengenaan denda administrasi. Pengertian PNBP Dalam rangka pengelolaan penerimaan negara bukan pajak tersebut. penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. yang meliputi: • • • • • • • penerimaan yang bersumber dari pengelolaan dana pemerintah. Penerimaan negara bukan pajak adalah seluruh penerimaan Pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. Pusdiklatwas BPKP .2007 30 . 1. Pengelolaan PNBP dilaksanakan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku yaitu: • • Undang-undang nomor 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. Peraturan Pemerintah nomor 22 Tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak. penerimaan lainnya yang diatur dalam undang-undang tersendiri. dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Selain jenis tersebut di atas. penerimaan berupa hibah yang merupakan hak pemerintah. PNPB lainnya ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Peraturan Pemerintah ini ditetapkan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pengadministrasian yang efisien agar penerimaan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. penerimaan Pemerintah.

c. penerimaan negara bukan pajak yang bersangkutan. b. jenis PNBP meliputi hal berikut. Penetapan tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak ditetapkan dengan memerhatikan: a. Penerimaan hasil penyewaan barang/kekayaan negara. d. c.2007 31 . e. pengenaan terhadap masyarakat dan kegiatan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan Pusdiklatwas BPKP . Sesuai dengan peraturan pemerintah tersebut. d. Penerimaan dari hasil penjualan dokumen lelang. g.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I • Peraturan Pemerintah nomor 73 tahun 1999 tentang Tata Cara Penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Bersumber dari Kegiatan Tertentu. Penerimaan hasil penyimpanan uang negara (jasa giro). 2. Penerimaan hasil penjualan barang/kekayaan negara. aspek keadilan dalam pengenaan beban kepada masyarakat. dampak usahanya. b. biaya penyelenggaraan kegiatan pemerintah sehubungan dengan jenis. f. Penerimaan ganti rugi atas kerugian negara (tuntutan ganti rugi dan tuntutan perbendaharaan). Jenis dan Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Jenis PNBP secara rinci diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak. a. Penerimaan kembali anggaran (sisa anggaran rutin dan sisa anggaran pembangunan. Secara rinci peraturan pemerintah tersebut juga menetapkan jenis PNBP pada masing-masing departemen. Penerimaan pemerintah.

Pejabat instansi pemerintah wajib menyampaikan rencana pnbp tahun anggaran yang akan datang secara tertulis di lingkungan instansi pemerintah yang bersangkutan kepada menteri paling lambat pada tanggal 15 Juli tahun anggaran berjalan. Ketentuan kedaluwarsa sebagaimana tertunda apabila Wajib Bayar melakukan tindak pidana di bidang penerimaan negara bukan pajak. Pelaporan Rencana dan Realisasi Penerimaan PNBP Instansi yang mengelola PNBP wajib menyampaikan laporan rencana dan realisasi penerimaan secara periodik. disampaikan paling lambat tanggal 5 Agustus Tahun Anggaran yang bersangkutan. dengan ketentuan sebagai berikut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Penetapan jumlah penerimaan negara bukan pajak yang terutang ditentukan dengan cara: a. 3. Mekanisme tentang pelaporan diatur sebagai berikut. 1) Revisi rencana PNBP tahun yang akan datang. ditetapkan oleh instansi pemerintah. dihitung sendiri oleh wajib bayar. b. menteri dapat menetapkan rencana PNBP instansi pemerintah yang bersangkutan. pejabat instansi pemerintah wajib menyampaikan revisi rencana PNBP kepada menteri.2007 32 . c. atau b. PNBP terhutang menjadi kedaluwarsa setelah sepuluh tahun terhitung sejak saat terutangnya penerimaan negara bukan pajak yang bersangkutan. Pusdiklatwas BPKP . a. Dalam hal terdapat revisi. sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2004 tentang Tata Cara Penyampaian Rencana dan Laporan Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak. Dalam hal pejabat instansi pemerintah tidak atau terlambat menyampaikan rencana PNBP.

d. 4. Setiap kementerian sumber negara/lembaga/satuan pendapatan wajib kerja yang mempunyai jawabnya.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Revisi rencana PNBP tahun anggaran berjalan. Pusdiklatwas BPKP . Menteri dapat menunjuk instansi pemerintah untuk menagih dan atau memungut penerimaan negara bukan pajak yang terutang. dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. melalui dokumen pelaksanaan anggaran (DIPA) masing-masing kementerian/lembaga. e.2007 33 . Dalam hal pejabat instansi pemerintah belum menyampaikan revisi rencana PNBP menteri dapat menetapkan rencana PNBP untuk masing-masing instansi pemerintah. Dalam hal pejabat instansi pemerintah tidak atau terlambat menyampaikan rencana dan laporan realisasi PNBP. pengelolaan atas PNBP tersebut diatur dengan ketentuan sebagai berikut. Laporan realisasi PNBP triwulanan disampaikan secara tertulis oleh pejabat instansi pemerintah kepada menteri paling lambat satu bulan setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. mengintensifkan perolehan pendapatan yang menjadi wewenang dan tanggung b. Laporan perkiraan realisasi PNBP triwulan IV disampaikan kepada menteri paling lambat tanggal 15 Agustus tahun anggaran berjalan. f. disampaikan paling lambat tanggal 15 Agustus tahun anggaran berjalan. a. Penerimaan dan Penyetoran PNBP Seluruh penerimaan negara bukan pajak dikelola dalam sistem anggaran pendapatan dan belanja negara.

Namun demikian.2007 34 . pelayanan yang melibatkan kemampuan intelektual tertentu. Tidak dipenuhinya kewajiban instansi pemerintah untuk menagih dan atau memungut serta menyetor sebagaimana dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. sebagian dana dari suatu jenis penerimaan negara bukan pajak dapat digunakan untuk kegiatan tertentu yang berkaitan dengan jenis penerimaan negara bukan pajak tersebut oleh instansi yang bersangkutan. pelestarian sumber daya alam. d. diatur dalam PP NOMOR 73 tahun 1999 tentang Tatacara Pusdiklatwas BPKP . Proses permohonan untuk menggunakan sebagian dana PNBP. pelayanan kesehatan. e. Kegiatan yang dapat menggunakan sebagian dana PNBP meliputi: • • • • • • penelitian dan pengembangan teknologi. pendidikan dan pelatihan. Instansi pemerintah yang ditunjuk wajib menyampaikan rencana dan laporan realisasi penerimaan negara bukan pajak secara tertulis dan berkala kepada menteri.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c. untuk beberapa kegiatan tertentu. 5. Penggunaan sebagian dana PNBP tersebut dapat dilakukan setelah memperoleh persetujuan dari Menteri Keuangan. penegakan hukum. Instansi pemerintah yang ditunjuk tersebut wajib menyetor langsung penerimaan negara bukan pajak yang diterima ke kas negara. seluruh PNBP wajib disetor langsung secepatnya ke kas negara. Penggunaan Sebagian Dana PNBP Pada dasarnya.

Sebagian dana penerimaan negara bukan pajak tersebut dapat digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan tertentu pada instansi bersangkutan dalam rangka pembiayaan: Pusdiklatwas BPKP . Pimpinan instansi pemerintah mengajukan permohonan penggunaan penerimaan negara bukan pajak kepada Menteri Keuangan. d. Sebagian dana penerimaan negara bukan pajak disediakan dalam suatu dokumen anggaran tahunan yang berlaku sebagai surat keputusan otorisasi. 3) jenis penerimaan negara bukan pajak beserta tarif yang berlaku. instansi pemerintah mengajukan pengajuan rencana penggunaan untuk setiap tahun anggaran selambat-lambatnya pada tanggal 15 November. 2) rincian kegiatan pokok instansi dan kegiatan yang akan dibiayai penerimaan negara bukan pajak. b. Permohonan tersebut dilengkapi dengan: 1) tujuan penggunaan dana penerimaan negara bukan pajak.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersumber dari kegiatan tertentu. Setelah mendapatkan persetujuan dari Menteri Keuangan.2007 35 . 4) laporan realisasi dan perkiraan tahun anggaran berjalan serta perkiraan untuk dua tahun anggaran mendatang. c. yaitu sebagai berikut. Rencana penggunaan penerimaan negara bukan pajak tersebut diteliti dan dibahas oleh Departemen Keuangan bersama-sama instansi pemerintah yang bersangkutan sebelum ditetapkan Menteri Keuangan. e. a.

f. 3) bendaharawan pengguna. dilarang Kantor Perbendaharaan pembayaran. Pembayaran atas pelaksanaan kegiatan instansi yang bersangkutan dilakukan sebagai pembayaran langsung kepada yang berhak. pada akhir tahun anggaran wajib disetor seluruhnya ke kas negara. g. atau melalui penyediaan Uang Yang Harus Dipertanggungjawabkan (UYHD). Dalam hal bendaharawan dan Kas belum Negara ditunjuk. j. termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. 1) Pimpinan instansi/bendaharawan penerima dan pengguna wajib menyelenggarakan pembukuan. Saldo lebih dari sebagian dana penerimaan negara bukan pajak. 2) bendaharawan penerima. h. i.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 1) operasional dana pemeliharaan. Pembiayaan sebagian dana PNBP yang telah disediakan dalam suatu dokumen anggaran dan belum dilaksanakan atau belum diselesaikan dalam tahun anggaran yang bersangkutan dapat dicantumkan pada dokumen anggaran tahun berikutnya melalui revisi anggaran. Kewajiban pembukuan diatur sebagai berikut. dan atau 2) investasi. Pimpinan instansi pemerintah yang bersangkutan setiap awal tahun anggaran menetapkan: 1) atasan langsung bendaharawan penerima/pengguna. Batas jumlah pembayaran ditetapkan oleh menteri. melakukan Pusdiklatwas BPKP .2007 36 .

Pimpinan instansi pemerintah wajib menyampaikan laporan triwulan mengenai seluruh penerimaan dan penggunaan dana oleh Instansi yang bersangkutan kepada Menteri Keuangan. Pusdiklatwas BPKP . 6. Kewajiban penyusunan laporan. 1) Pemberian izin penggunaan dana penerimaan negara bukan pajak yang telah diberikan masih tetap berlaku sebelum dilakukan penyesuaian berdasarkan peraturan pemerintah ini. l. Ketentuan lainnya. Pencatatan dan Pemeriksaan a. memungut dan menyetorkan PNBP wajib menyelenggarakan pembukuan yaitu mengadakan suatu pencatatan yang dapat menyajikan keterangan yang cukup untuk dijadikan dasar penghitungan penerimaan negara bukan pajak. k. Pencatatan dan Pembukuan Ketentuan terkait dengan pencatatan dan pembukuan antara lain adalah sebagai berikut. 3) Kegiatan dan penatausahaan tersebut dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Bendaharawan penerima dan pengguna menyimpan secara lengkap dan teratur dokumen yang menyangkut penerimaan negara bukan pajak.2007 37 . 2) Penggunaan penerimaan negara bukan pajak yang berasal dari dana reboisasi karena karakteristik dan atau sifat khusus yang dimilikinya dapat diatur dengan peraturan pemerintah tersendiri. 1) Instansi pemerintah yang ditunjuk untuk menagih.

terhadap instansi pemerintah yang ditunjuk atas permintaan menteri untuk menagih. wajib bayar yang bersangkutan wajib melunasi Pusdiklatwas BPKP . 2) Hasil pemeriksaan terhadap wajib bayar untuk PNBP disampaikan kepada instansi pemerintah untuk penetapan jumlah PNBP yang terutang wajib bayar yang bersangkutan. Selain itu. 4) Terhadap wajib bayar untuk jenis penerimaan negara bukan pajak.2007 38 . 3) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap wajib bayar terdapat kekurangan pembayaran jumlah PNBP yang terutang. 3) Buku. Pemeriksaan Ketentuan terkait dengan pemeriksaan antara lain adalah sebagai berikut. b. catatan dan dokumen lainnya yang menjadi dasar perhitungan PNBP tersebut wajib disimpan selama sepuluh tahun. atas permintaan instansi pemerintah dapat dilakukan pemeriksaan oleh instansi yang berwenang. dan Menteri Keuangan memberitahukan hasil pemeriksaan tersebut kepada instansi pemerintah yang bersangkutan guna penyelesaian lebih lanjut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Pencatatan wajib diselenggarakan di Indonesia dalam satuan mata uang rupiah dan disusun dalam Bahasa Indonesia atau mata uang asing dan bahasa asing yang diizinkan Menteri Keuangan. memungut dan menyetorkan PNBP juga dapat dilakukan pemeriksaan khusus oleh instansi yang berwenang. 1) Hasil pemeriksaan terhadap instansi pemerintah disampaikan kepada Menteri Keuangan.

Penerimaan pengembalian belanja ini dapat Pusdiklatwas BPKP .2007 39 . yang terjadi karena kelebihan pembayaran. penerimaan pengembalian belanja barang. 5) Dalam hal terjadi pengakhiran kegiatan usaha wajib bayar. 4) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap wajib bayar untuk jenis PNBP terdapat kelebihan pembayaran jumlah PNBP yang terutang. C. 6) Dalam hal pengembalian kelebihan pembayaran dilakukan melampaui batas waktu sebagaimana dimaksud dalam poin 5) di atas.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I kekurangannya dan ditambah dengan sanksi berupa denda administrasi sebesar 2% sebulan untuk paling lama 24 bulan dari jumlah kekurangan tersebut. jumlah kelebihan tersebut diperhitungkan sebagai pembayaran dimuka atas jumlah PNBP yang terutang wajib bayar yang bersangkutan pada periode berikutnya. pengeluaran dalam melakukan pembayaran yang dibebankan kepada negara. PENERIMAAN PENGEMBALIAN BELANJA Penerimaan pengembalian belanja adalah seluruh penerimaan negara yang berasal dari pengembalian belanja tahun anggaran tahun berjalan. kesalahan atau kelalaian bendahara berupa: ƒ ƒ penerimaan pengembalian belanja pegawai. kelebihan pembayaran tersebut dikembalikan kepada wajib bayar dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% sebulan untuk paling lama 24 bulan. maka jumlah kelebihan pembayaran PNBP dikembalikan kepada wajib bayar selambat-lambatnya satu bulan sejak dikeluarkan ketetapan kelebihan pembayaran.

4. 3. Beberapa ketentuan yang mengatur mekanisme penyelesaian kerugian keuangan negara diatur sebagai berikut. setelah mengetahui Pusdiklatwas BPKP . Kerugian negara dapat terjadi karena pelanggaran hukum atau kelalaian pejabat negara atau pegawai negeri bukan bendahara dalam rangka pelaksanaan kewenangan administratif atau oleh bendahara dalam rangka pelaksanaan kewenangan kebendaharaan. 1.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ƒ ƒ penerimaan pengembalian belanja modal. penerimaan pengembalian belanja tahun lalu. 5. Pejabat lain dimaksud meliputi pejabat negara dan pejabat penyelenggara pemerintahan yang tidak berstatus pejabat negara. Setiap kerugian negara yang disebabkan oleh tindakan melanggar hukum atau kelalaian seseorang harus segera diselesaikan sesuai dengan ketentuan perundangan-undangan yang berlaku. pegawai negeri bukan bendahara. tidak termasuk bendahara dan pegawai negeri bukan bendahara.2007 40 . atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan negara wajib mengganti kerugian tersebut. Penyelesaian meningkatkan negeri/pejabat kerugian disiplin negara negara dan pada perlu segera jawab dan dilakukan para para untuk mengembalikan kekayaan negara yang hilang atau berkurang serta tanggung umumnya. Penerimaan pengembalian belanja ini juga meliputi penerimaan yang berasal dari penyelesaian kerugian keuangan negara. Setiap pimpinan kementerian negara/lembaga/kepala satuan kerja dapat segera melakukan tuntutan ganti rugi. 2. pegawai pengelola keuangan pada khususnya. Bendahara.

menteri/pimpinan lembaga yang bersangkutan segera mengeluarkan Surat Keputusan Pembebanan Penggantian Kerugian Sementara kepada yang bersangkutan. 8. pernyataan tersebut biasa disebut Surat Pernyataan Tanggung Pusdiklatwas BPKP . Setiap kerugian negara wajib dilaporkan oleh atasan langsung atau kepala kantor kepada menteri/pimpinan lembaga dan diberitahukan kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selambat-lambatnya tujuh hari kerja setelah kerugian negara itu diketahui. Segera setelah kerugian negara tersebut diketahui. Jawab Mutlak. atau pejabat lain yang nyata-nyata melanggar hukum atau melalaikan kewajibannya. 7.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I bahwa dalam kementerian negara/lembaga/satuan kerja yang bersangkutan terjadi kerugian akibat perbuatan dari pihak manapun. kepada bendahara. 6. pegawai negeri bukan bendahara.2007 41 . segera dimintakan surat pernyataan kesanggupan dan atau Surat pengakuan bahwa kerugian tersebut menjadi tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian negara dimaksud. Jika surat keterangan tanggung jawab mutlak tidak mungkin diperoleh atau tidak dapat menjamin pengembalian kerugian negara. Surat keputusan dimaksud mempunyai kekuatan hukum untuk pelaksanaan sita jaminan (conservatoir beslaag).

Undang-undang perpajakan yang meliputi : a. 1. peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pemotongan/pemungutan pajak-pajak negara oleh bendahara. bendahara pada instansi pemerintah telah ditunjuk sebagai pemotong/pemungut atas penerimaan pajak-pajak negara khususnya pada transaksi belanja yang dilakukan oleh instansi pemerintah. b. A. UU nomor 8 tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa. DASAR HUKUM Dalam pelaksanaan penerimaan pajak-pajak negara. sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU nomor 16 tahun 2000. sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU nomor 18 tahun 2000.2007 42 . dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Peraturan perundangan yang dijadikan sebagai dasar hukum penunjukkan bendahara ini antara lain sebagai berikut. Pusdiklatwas BPKP . sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU nomor 17 tahun 2000. UU nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. UU nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB IV MEKANISME PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN PAJAKPAJAK NEGARA OLEH BENDAHARA Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. c.

4. Pegawai Negeri Sipil. serta mendapatkan sanksi perpajakan jika terjadi pelanggaran.03/2003 tentang Penunjukkan Bendaharawan Pemerintah dan Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara untuk Memungut. Kewajiban Perpajakan a.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. 1. Menyetor dan Melaporkan PPN. sehingga bendahara mempunyai kewajiban. sebagaimana WP lainnya. B. Selama masih melaksanakan pengelolaan anggaran Pusdiklatwas BPKP . kedudukan bendahara pemerintah yang mengelola APBN/APBD sama dengan kedudukan wajib pajak (WP). Kewajiban mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) di kantor pelayanan pajak yang sesuai dengan lokasi kedudukannya. KEWAJIBAN DAN SANKSI PERPAJAKAN BENDAHARA Dalam perpajakan. Peraturan Pemerintah nomor 45 tahun 1994 tentang Pajak Penghasilan Bagi Pejabat Negara. Anggota ABRI dan Para Pensiunan atas Penghasilan yang Dibebankan kepada Keuangan Negara atau Keuangan Daerah. Keputusan Presiden RI 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Keputusan Presiden RI Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah. 3. sebagai berikut. Untuk bendahara BUMN. Penyetoran dan Pelaporannya.2007 43 . Kewajiban dan saksi perpajakan bagi bendahara yang mengelola anggran pendapatan dan belanja negara/daerah. PPnBM Beserta Tata Cara Pemungutan. wajib mendaftarkan diri ke kantor pelayanan pajak BUMN (KPP-BUMN). Keputusan Menteri Keuangan Nomor 5563/KMK.

2) proyek/kegiatan telah berakhir (selesai). NPWP bendahara ini tetap berlaku.00 jika tidak menyampaikan SPT Tahunan PPh sesuai dengan waktu yang telah ditentukan yaitu dua puluh hari setelah masa pajak berakhir.00 jika tidak menyampaikan SPT Masa PPh dan PPN sesuai dengan waktu yang telah ditentukan yaitu dua puluh hari setelah masa pajak berakhir. a. b. 2.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I negara/daerah.000. 2) denda sebesar Rp100. b. NPWP atas nama bendahara ini akan dilakukan penghapusan jika terjadi: 1) perubahan organisasi yang mengakibatkan nama unit instansinya berubah. Pusdiklatwas BPKP . Sanksi Perpajakan Sanksi perpajakan meliputi sanksi administrasi dan sanksi pidana dengan uraian sebagai berikut. Kewajiban untuk melaporkan pemungutan dan pemotongan pajak negara dengan menyerahkan surat permberitahuan pajak (SPT) sesuai dengan ketentuan umum perpajakan yang berlaku. berupa pengenaan bunga sebesar 2% per bulan (selama-lamanya 24 bulan) atas jumlah pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar. Kewajiban untuk menyetorkan pada saat penerimaan tempat pajak sesuai yang dengan dipungut/dipotong dan ketentuan umum perpajakan yang berlaku. berupa denda yaitu: 1) denda sebesar Rp50. Sanksi administrasi.2007 44 .000. c. Sanksi administrasi.

adalah sebagai berikut. yang dapat menimbulkan kerugian keuangan negara. tidak/kurang dipungut. 2) Sebesar 100% dari PPH tidak/kurang dipotong.2007 45 . dan dipotong/dipungut tetapi tidak/kurang disetorkan. jika SPT tidak disampaikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan dan telah ditegur secara tertulis. b) berdasarkan hasil pemeriksaan terdapat PPN dan PPnBM yang seharusnya tidak dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya dikenakan tarif 0%. juga tidak disampaikan sesuai dengan surat teguran. atau menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap. 4) Sebesar 100% atas PPN dan PPnBM yang tidak atau kurang dibayar jika: a) SPT tidak disampaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan telah dikenakan teguran sescara tertulis.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c. d. tidak/kurang disetor. yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak terutang. 3) Sebesar 100% dari kekurangan pajak dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKP-KBT) dalam hal ditemukan data baru dan/atau data semula yang belum terungkap. Pusdiklatwas BPKP . atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar. Sanksi pidana. berupa kurungan selama satu tahun dan denda setinggi-tingginya dua kali jumlah pajak terutang. Sanksi Administrasi berupa kenaikan pajak terutang. 1) Sebesar 50% dari PPh tidak/kurang bayar dalam satu tahun pajak. tidak disampaikan pada waktunya sesuai dengan surat teguran. jika karena kealpaan tidak menyampaikan SPT.

Pengertian PPh pasal 21 dan pasal 26 PPh pasal 21 adalah PPh sehubungan dengan pekerjaan. royalty. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. jasa dan kegiatan dengan nama dan bentuk apapun yang diterima atau diperoleh wajib pajak orang pribadi dalam negeri. pekerjaan dan kegiatan. imbalan sehubungan dengan jasa. hadiah dan penghargaan. 2) tidak menyampaikan SPT. C. 4) memperlihatkan pembukuan dan pencatatan yang palsu dan tidak melaksanakan pembukuan. 5) tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong/dipungut.2007 46 . pensiun dan pembayaran berkala lainnya yang diterima oleh wajib pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap. PPh pasal 26 adalah PPh atas deviden. 3) menolak dilakukan pemeriksaan. bunga termasuk premium. diskonto. jika dengan sengaja: 1) tidak mendaftarkan diri atau menyalahgunakan NPWP. Sanksi pidana berupa kurungan selama 6 tahun dan denda setinggi-tingginya empat kali jumlah pajak terutang.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I e. Pusdiklatwas BPKP . premi swap dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian hutang. BENDAHARA PASAL 26 SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 21 DAN 1.

dan pensiunan yang dibebankan kepada keuangan negara/daerah. berupa: 1) gaji dan tunjangan lainnya yang bersifat tetap yang diterima PNS/ABRI. imbalan prestasi kerja dan imbalan lain dengan nama dan bentuk apapun yang dibebankan keuangan negara/daerah. b. ABRI. uang hadir. penghargaan. Penghasilan yang diterima oleh penerima penghasilan selain pejabat negara. Penghasilan yang Dipotong Bendahara wajib memotong PPh pasal 21 atas penghasilan berikut. 3) uang pensiun dan tunjangan lain yang bersifat tetap diterima pensiunan termasuk janda/duda dan/atau anak-anaknya. 2) honorarium. PNS. komisi. uang lembur. anggota ABRI dan pensiunan yang dibebankan kepada keuangan negara/daerah. uang sidang.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. hadiah. Penghasilan berupa honorarium. a.2007 47 . uang saku harian dan upah borongan. uang saku. Pusdiklatwas BPKP . PNS. upah mingguan. kecuali jika pembayaran tersebut dibayarkan kepada PNS golongan II-d ke bawah dan anggota ABRI berpangkat PELTU ke bawah. Penghasilan yang diterima oleh pejabat negara. berupa: 1) upah harian. 2) gaji kehormatan dan tunjangan lain yang bersifat tetap diterima pejabat negara. bea siswa serta pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan jasa dan kegiatan. c. upah satuan.

2 juta b. PTKP ƒ Untuk diri pegawai ƒ Tambahan untuk pegawai yang kawin ƒ Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya paling banyak 3 orang. Untuk menentukan penghasilan neto pejabat negara. 1) Biaya jabatan sebesar 5% dari penghasilan bruto setinggitingginya pensiunan. penghasilan bruto boleh dikurangi dengan unsur berikut.00 penghasilan setahun atau Rp108. satuan.00 setahun atau Rp36. PNS dan anggota ABRI dan pensiunan. dan pensiunan.296. PNS dan anggota ABRI dan pensiunan yang dibebankan pada APBN/APBD.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. 1) Pengurangan atas penerimaan upah harian.000. borongan dan uang saku harian. Rp1.00 sebulan.000. 2) Iuran pensiun. 3) Penghasilan tidak kena pajak (PTKP) dengan ketentuan berikut.000. Pengurangan yang Diperbolehkan a.2 juta 1.00 dengan biaya sebulan. Atas penghasilan yang dibayarkan kepada pejabat negara.2007 48 . mingguan. Sedangkan untuk menentukan penghasilan neto bruto dikurangi pensiun sebesar 5% dari penghasilan bruto setinggi-tingginya Rp432. boleh dikurangi 1/10 dengan unsur Pusdiklatwas BPKP . penghasilan bruto boleh dikurangi berikut. Atas penghasilan yang dibayarkan kepada selain pejabat negara. SETAHUN 12 juta 1. PNS dan ABRI.000.

Tarif dan Cara Penghitungan Pemotongan a. Tarif PPh berdasarkan pasal 17 UU nomor 7 tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan UU nomor 17 tahun 2000 sebagai berikut. uang saku. bea siswa sebagai imbalan atas jasa yang jumlahnya dihitung tidak atas dasar banyaknya hari yang diperlukan untuk menyelesaikan jasa atau kegiatan yang diberikan. 4) Untuk penghasilan WP luar negeri. hadiah dan penghargaan dengan nama dan bentuk apapun. Lapisan PKP 1) s/d Rp 25 jt 2) Di atas Rp 25 jt s/d/Rp 50 jt 3) Di atas Rp 50 jt s/d Rp 100 jt 4) Di atas Rp 100 jt s/d/Rp 200 jt 5) Di atas Rp 200 jt Tarif Pajak 5% 10% 15% 25% 35% Pusdiklatwas BPKP . komisi.2007 49 . 4. tidak ada pengurangan. tidak ada pengurangan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I UMP/UMK (sepanjang jumlah yang diterimanya dalam satu bulan tidak melebihi UMP/UMK dan tidak dibayarkan secara bulanan). maka pengurangan yang diperbolehkan berupa PTKP sebenarnya sebesar: [PTKP harian = PTKP sebenarnya /360] 3) Pembayaran atas honorarium. 2) Jika penghasilan bruto dalam satu bulan melebihi UMP/UMK atau dibayarkan secara bulanan.

Tarif berdasarkan Keputusan Dirjen Pajak No KEP-545/PJ/2000 1) 15% atas prakiraan penghasilan netto yang dibayarkan kepada tenaga ahli (prakiraan penghasilan = 50). dipotong dengan PPh pasal 21 dan bersifat final dengan tarif berikut. tebusan pensiun. Tarif efektif = 15% x 50% x Penghasilan Bruto. Cara Penghitungan 1) Penghitungan PPh pasal 21 bagi pejabat negara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b. gaji/pensiun dan tunjangan yang terkait dengan gaji: Pusdiklatwas BPKP .2007 50 . c. 2) 5% atas upah dan uang saku harian yang jumlahnya melebihi 1/10 UMP/UMK sehari tapi tidak melebihi UMP/UMK sebulan dan/atau tidak dibayarkan secara bulanan. Tarif berdasarkan PP No. ABRI dan pensiunan yang dibebankan kepada keuangan negara/daerah adalah sebagai berikut. a) Atas pembayaran gaji kehormatan. 149 tahun 2000 atas pembayaran uang pesangon. Lapisan PKP 1) Rp 25 juta ke bawah 2) Di atas Rp 25 juta s/d Rp 50 juta 3) Di atas Rp 30 juta s/d Rp 100 juta 4) Di atas Rp 100 juta s/d Rp 200 juta 5) Di atas Rp 200 juta Tarif Pajak 0% 5% 10 % 15 % 25 % d. dan THT atau Jaminan Hari Tua yang dibayarkan sekaligus. 3) 15% final atas honorarium dan imbalan lain dengan nama apapun. PNS.

uang lembur. dll). pembayaran imbalan pekerjaan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I .bagi pensiunan bulanan Æ PPh psl. PPh psl. bea siswa. fotografi. penceramah. pemasaran. a) Atas pembayaran honorarium. 17 x (penghasilan bruto – biaya pensiun – PTKP) b) Atas penghasilan berupa honorarium. imbalan prestasi kerja dan imbalan lain dengan nama apapun. 21 = 15 % x penghasilan bruto (bersifat final) 2) Penghitungan PPh pasal 21 bagi selain pejabat negara.bagi pejabat negara/PNS/ABRI Æ PPh psl. PNS. pengajar. pemberi jasa teknik komputer. hadiah/penghargaan. uang hadir. uang saku. 17 x (penghasilan bruto – biaya jabatan – iuran pensiun – PTKP) .2007 51 . olahragawan. penasihat. PPh pasal 21 = tarif pasal 17 x penghasilan bruto (tarif progresif) Pusdiklatwas BPKP . uang sidang. ABRI dan pensiunan yang dibebankan lepada keuangan negara/daerah adalah sebagai berikut. 21 = tarif psl. komisi. elektronika. jasa dan kegiatan yang dilakukan oleh WP dalam negeri (artis. moderador. telekomunikasi. 21 = tarif psl.

b) Jika WP luar negeri berubah status. benda-benda pos. arsitek. gas. b) pembelian BBM. a) PPh pasal 21 = 20 % penghasilan bruto (bersifat final). 2. penilai. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 22 1. d) pembayaran pelaksanaan proyek yang dibiayai dengan hibah/pinjaman luar negeri. listrik. aktuaris). konsultan. akuntan. PPh pasal 21 = tarif 15 % x perkiraan penghasilan neto = tarif 15 % x 50 % x penghasilan bruto 3) Penghitungan pajak dari penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi dengan status WP luar negeri sebagai imbalan atas pekerjaan. c) pencairan dana jaring pengaman sosial (JPS) oleh KPKN. Pengertian PPh Pasal 22 Pajak penghasilan dipungut/dipotong sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang. D. maka pemotongan PPh pasal 21 tidak bersifat final. jasa dan kegiatan. adalah pada setiap saat pelaksanaan pembayaran atas penyerahan barang oleh rekanan Pusdiklatwas BPKP . Saat Pemotongan dan Tarif Saat pemungutan PPh pasal 22. air minum/PDAM.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b) honorarium atau imbalan lain kepada tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas (pengacara. adalah sebagai berikut. dokter.2007 52 . kecuali atas pembayaran: a) penyerahan barang paling banyak 1 juta (bukan jumlah yang dipecah-pecah).

royalty.00 E. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.5 % x Harga/Nilai Pembelian Barang. 22 yang harus dipungut oleh bendahara sebesar 1. Contoh : Itjen Departemen A membeli komputer untuk keperluan kantor dengan harga Rp100. selain sewa atas tanah dan atau bangunan.2007 53 . Pengertian PPh Pasal 23/26 PPh pasal 23/26 adalah pajak atas penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang berasal dari modal. jasa konstruksi.000. Pusdiklatwas BPKP . Penghasilan yang dikenakan pemotongan PPh pasal 23 adalah sebagai berikut.000. Deviden. hadiah dan penghargaan sehubungan dengan pelaksanaan status kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21. bunga termasuk premium.00 = Rp 1.00 PPh psl. a.000.500. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 23/26 1. diskonto dan imbalan karena jaminan pengembalian utang. b. penyerahan jasa atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I yang dibiayai dari APBN/APBD.000. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik. c.5% dari Rp100. consultan dan jasa lain selain yang telah dipotong PPh pasal 21. jasa manajemen. dengan tarif 1.000.

Deviden. bagian laba yang yang diterima/diperoleh tidak anggota perseroan saham. bunga simpanan yang tidak melebihi Rp240. b. dividen atau bagian laba yang diperoleh/diterima PT sebagai WP dalam negeri (dengan syarat tertentu). dan kongsi. sewa guna usaha dengan hak opsi. hadiah dan penghargaan sehubungan dengan pelaksanaan suatu kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21. c. penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank. konsultan dan jasa lain selain yang telah dipotong PPh pasal 21. Pembayaran premi asuransi dan premi reasuransi lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung yang dibayarkan kepada wajib pajak luar negeri selain BUT. f. Pensiun dan pembayaran berkala lainnya. firma. e.00 setiap bulan yang dibayarkan oleh koperasi. e.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Penghasilan yang dikenakan pemotongan PPh pasal 26 adalah penghasilan berikut.2007 54 . Penghasilan yang tidak dikenakan pemotongan PPh Pasal 23/26: a. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik. d. a. g. jasa manajemen.000. royalty. bunga termasuk premium. SHU koperasi yang dibayarkan kepada anggotanya. d. perkumpulan. jasa konstruksi. c. diskonto dan imbalan karena jaminan pengembalian utang. bunga obligasi yang diperoleh/diterima perusahaan reksa dana selama lima tahun pertama. b. selain sewa atas tanah dan atau bangunan. Pusdiklatwas BPKP . komanditer modalnya terbagi dalam persekutuan.

jasa instalasi/pemasangan peralatan. konsultan selain akuntansi.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. penunjang penerbangan.67% 40% Tarif PPh 23 10% 13. telkom bukan umum.2007 55 . Tarif dan Dasar Pemotongan PPh Pasal 23 a. alat transportasi/kendaraan. dan imbalan karena jaminan pengembalian utang. katering. mesin. hadiah.33% 6 50% Pusdiklatwas BPKP . 3 4 5 Sewa & penghasilan kendaraan angkutan darat. diskonto. jasa perantara. pertamanan. mesin/peralatan. dan penghargaan (selain yang telah dipotong PPh pasal 21). dubbing/mixing film. bunga. Jasa profesi. manajemen. darat. jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan mesin. royalti. 20% 26. pengolahan/pembuangan limbah. bangunan di luar konstruksi. alat kemasan). jasa teknik. iklan/logo. jasa kustodian selain sewa gudang. pembersihan. jasa desain (interior. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta khususnya kend. software komputer termasuk perbaikan/perawatan. jasa pengeboran minyak/gas bumi. Besarnya prakiraan penghasilan neto antara lain sebagai berikut. 1 2 Jenis Jasa pembasmian hama. 15% dari jumlah bruto atas deviden. penilai dan aktuaris. jasa instalasi/pemasangan mesin /listrik/telepon/air/gas/AC/TV kabel. b. angk. No. konstruksi. IT. pelaksanaan konstruksi. rekrut tenaga kerja. kendaraan. Jasa perencanaan dan pengawasan konstruksi. 15% dari prakiraan penghasilan neto. listrik/telepon/air/gas/TV kabel di luar konstruksi. peralatan.

c. b. Pengertian PPN dan PPnBM a. d.2007 56 . pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean. 2.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. Pusdiklatwas BPKP . Tarif Pemotongan PPh Pasal 26 Tarif dan dasar pemotongan PPh Pasal 26 adalah 20% dari jumlah bruto kecuali bila ada Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B). F. menyetorkan dan melaporkan PPN atas: a. Objek Pemungutan PPN dan PPnBM Bendahara yang mengelola anggaran negara/daerah wajib memungut. penyerahan BKP dan/atau JKP yang dilakukan oleh PKP rekanan. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPN DAN PPnBM 1. b. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi barang di dalam daerah pabean yang berdasarkan keputusan Menteri Keuangan tergolong barang mewah. PPnBM hanya dipungut dalam hal PKP rekanan adalah pabrikan dari BKP yang tergolong mewah. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak di dalam daerah Pabean. maka tarif PPh pasal 26 disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku dalam P3B tersebut. pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean.

00 dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah.000. pembayaran untuk pembebasan tanah. Saat Pemungutan Pemungutan PPN dan atau PPnBM oleh bendahara dilakukan pada saat pembayaran kepada rekanan pemerintah. 3. atau pembayaran seluruhnya yang dilakukan oleh pemungut PPN kepada PKP rekanan. Sementara. Batasan Rp1. c. Saat Pemungutan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pembayaran yang tidak dipungut PPN dan/atau PPnBM antara lain: a. Dasar Pemungutan Dasar pemungutan PPN dan PPnBM adalah jumlah pembayaran baik dalam bentuk uang muka. pembayaran sebagian.000. dengan cara pemotongan secara langsung dari tagihan PKP rekanan pemerintah tersebut.2007 57 . b. b. Tarif dan Dasar Pemungutan a. tarif PPnBM yang berlaku sekarang ini paling rendah 10 % dan paling tinggi sebesar 75 %. pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp1. Pusdiklatwas BPKP .000.000.00 tersebut merupakan jumlah pembayaran yang sudah termasuk PPN dan PPnBM. Tarif PPN dan PPnBM Tarif PPN adalah tarif tunggal sebesar 10% (berdasarkan peraturan pemerintah dapat diubah serendah-rendahnya 5% dan setinggi-tingginya 15%). pembayaran dibebaskan atas dari penyerahan pengenaan BKP PPN dan/atau berdasarkan JKP yang Peraturan Pemerintah nomor 38 tahun 2003 tentang Impor dan atau penyerahan BKP Tertentu dan atau Penyerahan JKP Tertentu yang Dibebaskan dari Pengenaan PPN. c.

000.00 PPnBM yang dipungut 20/130xRp1.000.00 Meskipun harga jual Rp900.00 (di atas Rp 1.170.00 20% x Rp900.000.00.000. maka PPN dan PPnBM yang terutang harus dipungut oleh bendahara sebesar Rp 270.000.00 Rp Rp Rp 900.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Dalam jumlah pembayaran yang dilakukan oleh pemungut PPn tersebut.00 100.00 100.000.00 Rp 200.00. termasuk PPN dan PPnBM yang terutang tanpa memerhatikan apakah dalam kontrak menyebutkan ketentuan pemungutan PPN dan atau PPnBM maupun tidak.00 Harga jual termasuk PPN dan PPnBM Rp 1.000.000.300.100. Contoh 1: Jumlah PPN yang dipungut 10/11/bagian dari jumlah pembayaran Jumlah Pembayaran PPN yang harus dipungut 10/110x Rp1.00 Rp 1.100.00 Rp Rp 1.000.000.000.00 Jumlah yang dibayarkan kepada PKP rekanan Contoh 3: Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp1.00).000.00 180.00 90.000 Jumlah yang dibayarkan kepada PKP rekanan Rp Rp 1. tetapi karena pembayaran termasuk PPN dan PPnBM berjumlah Rp1.300.000. Harga Jual PPN PPnBM 10% x Rp900.000.000.300. Jumlah Pembayaran PPN yang dipungut 10/130 x Rp 1.00 Rp 1.000.000. Pusdiklatwas BPKP .170.000.000.00 dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah.2007 58 .000.00 Contoh 2: Dalam hal BKP yang diserahkan oleh rekanan pemerintah termasuk golongan barang mewah (misal PPnBM 20 %).000.000.000.000.

00 Karena harga jual termasuk PPN dan PPnBM berjumlah Rp960.000. tetapi akan disetor sendiri oleh PKP rekanan.00 10% x Rp800.000.00 Rp Rp Rp Rp 800.2007 59 .00 Harga jual termasuk PPN dan PPnBM 960.000.00).000.000. maka PPN dan PPnBM yang terutang tidak dipungut oleh bendahara.000.000.00 80.00 80. Pusdiklatwas BPKP .000.00 (di bawah Rp 1.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Contoh 4: Harga Jual PPN PPnBM 10% x Rp800.000.

UU No. Perubahan mendasar dalam ketentuan pengelolaan keuangan negara yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Pusdiklatwas BPKP . 134/PMK. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. mekanisme pembayaran melalui uang persediaan. UU tentang APBN (penetapan setiap tahun sesuai tahun anggarannya). • • • UU No.42 Tahun 2002 jo Keppres No.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB V MEKANISME PELAKSANAAN BELANJA NEGARA Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini.2007 60 . • Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. Dasar Hukum Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Pelaksanaan belanja negara didasarkan pada beberapa dasar hukum sebagai berikut. PEDOMAN PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA NEGARA 1. penerbitan SP2D oleh KPPN serta memahami mekanisme pelaporan realisasi APBN A. proses pencairan dana APBN dan proses penerbitan SPM. Per-66/PB/2005 Tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran atas beban APBN. • Keppres No.06/2005 Tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Tahun 2005. peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pelaksanaan belanja negara. • Peraturan Menteri Keuangan No.72 Tahun 2004 Tentang Pedoman Pelaksanaan APBN.

serta penetapan bentuk dan batas waktu penyampaian laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. Penerapan Kaidah Pengelolaan Keuangan yang sehat di lingkungan pemerintah sejalan dengan perkembangan kebutuhan pengelolaan keuangan negara. pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan bank sentral. dirasakan pula semakin pentingnya fungsi perbendaharaan dalam rangka pengelolaan sumber daya keuangan pemerintahan yang terbatas secara efisien. pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah dengan perusahaan negara. kedudukan Presiden sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I tentang Keuangan Negara meliputi pengertian dan ruang lingkup keuangan negara. pendekatan kekuasaan Presiden kepada Menteri Keuangan dan menteri/pimpinan lembaga susunan APBN. pencegahan agar jangan sampai terjadi kebocoran dan penyimpangan. tidaklah dimaksudkan untuk Pusdiklatwas BPKP . Upaya untuk menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan yang selama ini lebih banyak dilaksanakan di dunia usaha dalam pengelolaan keuangan pemerintah. asas-asas umum pengelolaan keuangan negara. Fungsi perbendaharaan tersebut meliputi perencanaan kas yang baik. pencarian sumber pembiayaan yang paling murah dan pemanfaatan dana yang menganggur (idle cash) untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya keuangan. Dalam undang-undang tersebut juga telah mengantisipasi perubahan standar akuntansi di lingkungan pemerintahan di Indonesia yang mengacu kepada perkembangan standar akuntansi di lingkungan pemerintahan secara internasional.2007 61 . dan badan pengelola dana masyarakat. Pemerintah daerah dan pemerintah/lembaga asing. perusahaan daerah dan perusahaan swasta. Ketentuan mengenai penyusunan dan penetapan APBN.

Melalui kegiatan berbagai lembaga pemerintah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I menyamakan pengelolaan keuangan sektor pemerintah dengan pengelolaan keuangan sektor swasta. Oleh karena itu. Dalam undang-undang Perbendaharaan Negara juga diatur prinsipprinsip yang berkaitan dengan pelaksanaan utang piutang dan investasi serta barang milik negara/daerah yang selama ini belum mendapat perhatian yang memadai. perlu dilakukan pelurusan kembali pengelolaan keuangan pemerintah dengan menerapkan prinsip-prinsip pemerintahan yang baik (good governance) yang sesuai dengan lingkungan pemerintahan. Demikian pula. negara adalah suatu lembaga politik. dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas Pusdiklatwas BPKP . serta ketentuan yang meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. menyimpan uang negara dalam rekening kas umum negara pada bank sentral. Namun. Dalam rangka pengelolaan uang negara/daerah dalam undangundang perbendaharaan negara ditegaskan kewenangan Menteri Keuangan untuk mengatur dan meyelenggarakan rekening pemerintah. dalam rangka pelaksanaan pembiayaan ditetapkan pejabat yang diberi kuasa untuk mengadakan utang negara/daerah. negara berusaha memberikan jaminan kesejahteraan kepada rakyat (welfare state). pengelolaan keuangan sektor publik yang dilakukan selama ini dengan menggunakan pendekatan superioritas negara telah membuat aparatur pemerintahan yang bergerak dalam kegiatan pengelolaan keuangan sektor publik tidak lagi dianggap berada dalam kelompok profesi manajemen oleh para profesional. Dalam kedudukannya yang demikian.2007 62 . negara tunduk pada tatanan hukum publik. Pada hakikatnya. Sementara itu. pengelolaan piutang negara/daerah diatur kewenangan penyelesaian piutang negara dan daerah.

a.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pengelolaan investasi dan barang milik negara/daerah dalam undang-undang Perbendaharaan Negara diatur pula ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan investasi serta kewenangan mengelola dan menggunakan barang milik negara. 1) Dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN. 3) Pelaksanaan pengeluaran atas beban APBN oleh KPPN selaku kuasa bendahara umum negara.2007 63 .06/2005 sebagai berikut. 2) Dalam rangka pelaksanaan APBN. dengan penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) oleh KPPN berdasarkan Surat Perintah Membayar (SPM) yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Dalam peraturan tersebut diatur ketentuan Menteri/Pimpinan Lembaga adalah Dokumen Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) yang disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan serta dokumen pendukung kegiatan akuntansi pemerintah. Pusdiklatwas BPKP . Kantor Pelayanan Perbendaharan Negara (KPPN) melaksanakan penerimaan dan pengeluaran negara secara giral. Peraturan Menteri Keuangan tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Pelaksanaan pembayaran dalam pelaksanaan anggaran belanja negara didasarkan pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.

e dan f di atas. c) pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja. 6) Penerbitan SPM oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran didasarkan pada alokasi dana yang tersedia dalam DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA. harus dalam dilaksanakan sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK. f) bendahara belanja.2007 64 . tentang Pembayaran pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran penerimaan untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran Pusdiklatwas BPKP .06/2005 Pelaksanaan APBN. b) pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara. 5) Pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja tidak boleh merangkap sebagai pejabat sebagaimana pada butir 4. d) pejabat yang bertugas melakukan pengujian dan perintah pembayaran.d.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4) Pada awal tahun anggaran menteri/ketua lembaga menetapkan para pejabat yang ditunjuk sebagai: a) kuasa pengguna anggaran/pengguna barang. 7) Pelaksanaan pembayaran tagihan atas beban belanja negara melalui SPM-LS yang disampaikan Pedoman ke KPPN. e) bendahara belanja.

2007 65 . satuan kerja yang bersangkutan menerbitkan surat perintah membayar penggantian uang persediaan (SPMGUP). 10) Dalam hal uang persediaan tidak mencukupi kebutuhan.000. 11) Pengajuan tambahan uang persediaan sebagaimana dimaksud diatur oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan dan Pembayaran dengan menggunakan uang persediaan untuk keperluan sebagaimana selain keperluan diatas sehari-hari dapat perkantoran setelah tersebut dilakukan memperoleh persetujuan Direktur Jenderal Perbendaharaan. Pusdiklatwas BPKP . 12) Pelaksanaan pembayaran dengan uang persediaan dilakukan oleh bendahara pengeluaran sepanjang pembayaran dimaksud tidak dapat dilakukan melalui pembayaran langsung (SPM-LS). 9) Untuk memperoleh penggantian uang persediaan yang telah digunakan. satuan kerja dapat mengajukan tambahan dengan menerbitkan surat perintah membayar tambahan uang persediaan (SPM-TUP). 13) Pembayaran yang dilakukan oleh bendahara pengeluaran tidak boleh melebihi Rp10.00 kepada satu pihak.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 8) Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dapat mengajukan permintaan uang persedian dengan menerbitkan surat perintah membayar uang persediaan (SPM-UP) untuk membiayai keperluan sehari-hari perkantoran. kecuali pembayaran honor.000. 14) Pembayaran kepada rekanan harus memerhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.

17) Bukti asli pembayaran Pembayaran dalam yang dilampirkan dalam Surat bukti Permintaan dan (SPP)-GUP merupakan pengeluaran dalam pelaksanaan anggaran belanja negara disimpan arsip pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. dan/atau b) tidak didukung oleh dokumen yang sah sesuai ketentuan yang berlaku. KPPN menerbitkan SP2D yang ditujukan kepada bank operasional mitra kerjanya.2007 66 . atau penolakan permintaan pembayaran sebagaimana dimaksud pada butir 19 wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai berikut. 18) Berdasarkan SPM yang disampaikan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 15) Pengguna anggaran atau kuasa pengguna anggaran dapat mengajukan penggantian uang persediaan yang telah digunakan kepada KPPN dengan menyampaikan SPM-GUP yang dilampiri Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja (SPTB) dan Faktur Pajak serta Surat Setoran Pajak (SSP). 19) KPPN menolak permintaan pembayaran yang diajukan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dalam hal: a) pengeluaran untuk MAK yang melampaui pagu. Pusdiklatwas BPKP . 16) Pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan dengan surat bukti yang menjadi dasar pengeluaran atas beban APBN bertanggung jawab atas kebenaran material dan akibat yang timbul dari penggunaan surat bukti dimaksud. 20) Penerbitan SP2D sebagaimana butir 18.

b.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I a) Penerbitan SP2D uang persediaan/tambahan uang persediaan/penggantian uang persediaan (SPM-UP/SPMTUP/SPM-GUP) dan SPM pembayaran langsung (SPM-LS) paling lambat dalam waktu satu hari sejak diterimanya SPM secara lengkap. 4) pelaporan realisasi APBN. d) Pengembalian SPM dilakukan paling lambat hari kerja berikutnya sejak diterimanya SPM berkenaan. Secara garis besar peraturan tersebut berisi ketentuanketentuan mengenai: 1) prosedur penerbitan surat permintaan pembayaran (SPP). Mekanisme Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Mekanisme pembayaran dalam pelaksanaan anggaran belanja didasarkan pada peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor Per66/PB/2005 tentang Mekanisme Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN. 5) lain-lain.2007 67 . 3) prosedur penerbitan surat perintah pencairan dana (SP2D) oleh KPPN. Pusdiklatwas BPKP . 2) prosedur penerbitan surat perintah pembayaran (SPM) oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. c) Untuk pembayaran non gaji induk (non gaji bulanan) SP2D diterbitkan paling lambat lima hari sejak diterimanya SPM. b) Untuk pembayaran gaji induk (gaji bulanan) PNS Pusat paling lambat lima hari kerja sebelum awal bulan pembayaran gaji.

jumlah dana yang dimuat dalam anggaran belanja negara merupakan batas tertinggi untuk tiap-tiap pengeluaran. bila anggarannya tidak tersedia. Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran tidak diperkenankan melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja negara. jika dana untuk membiayai tindakan tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam anggaran belanja negara. Pembayaran atas beban negara pada dasarnya dilakukan setelah barang/jasa diterima oleh negara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2.2007 68 . semaksimal mungkin menggunakan produksi/jasa dalam negeri. dan f. Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran juga tidak diperkenankan melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja negara untuk tujuan lain dari yang ditetapkan dalam anggaran belanja negara (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran/DIPA). efisien. Secara umum. Dilarang melakukan pengeluaran yang menyimpang dari tujuan yang ditetapkan. c. Prinsip Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Berdasarkan aturan perundangan tersebut. tidak mewah. Persyaratan pengeluaran atas beban negara didasarkan pada bukti hak tagihan kepada negara. Pusdiklatwas BPKP . Dilarang melakukan tindakan yang membebani anggaran. Hemat. d. a. terkendali. Anggaran tidak mutlak harus dihabiskan. b. terarah. Jumlah pengeluaran dalam anggaran merupakan batas yang tertinggi untuk setiap jenis pengeluaran. Belanja atas beban anggaran belanja negara didasarkan pada DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA. pelaksanaan anggaran belanja negara harus mengikuti prinsip-prinsip berikut. e.

a. dibatasi pada hal-hal yang sangat penting dan dilakukan sesederhana mungkin. belanja negara meliputi hal berikut. Komponen Anggaran Belanja Negara Sesuai UU No. b. b. d. dan sebagainya untuk berbagai peristiwa. Penyelenggaraan rapat. pemberian ucapan selamat. Belanja untuk pelaksanaan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. lokakarya. 17 Tahun 2003 tentang Perbendaharaan Negara. c. organisasi/bagian anggaran. Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada pemerintah daerah untuk mendanai kebutuhan pemerintah daerah dalam Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pengeluaran atas beban anggaran belanja negara tidak diperkenankan untuk keperluan berikut. perayaan atau peringatan hari besar. dan jenis belanja. a. pesta untuk berbagai peristiwa dan pekan olah raga pada departemen/lembaga/pemerintah daerah. seminar. pertemuan. hari raya dan hari ulang tahun departemen/lembaga/pemerintah daerah. rapat dinas. kegiatan. Belanja pemerintah pusat tersebut dibagi menurut fungsi. Belanja untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintahan pusat. peresmian kantor/proyek dan sejenisnya. Bagian anggaran yang tidak dikuasai oleh kementerian/lembaga negara dikuasai oleh Menteri Keuangan. pengeluaran lain-lain untuk kegiatan/keperluan yang sejenis serupa dengan yang tersebut di atas. Belanja untuk pemerintah daerah dirupakan dalam bentuk ”Dana Perimbangan”. hadiah/tanda mata. 3. karangan bunga.2007 69 .

yang meliputi: a) Bagi Hasil Sumber Daya Alam. Dalam kondisi tertentu. Hasil pajak yang dibagihasilkan dengan daerah mencakup Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Pemerintah daerah yang menerima dana alokasi khusus wajib menyediakan dana pendamping sedikitnya 10% dari seluruh biaya kegiatan. pemerintah daerah penerima dana alokasi khusus dapat tidak wajib menyediakan dana pendamping. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).Pedoman Pelaksanaan Anggaran I rangka pelaksanaan Desentralisasi. 2) Dana Alokasi Umum. Tidak seluruh hasil pajak pusat dibagihasilkan dengan daerah.2007 70 . b) Bagi Hasil Pajak. Dana Perimbangan mencakup: 1) Dana Bagi Hasil. Pusdiklatwas BPKP . yakni dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. yakni dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan pemerintah daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. 3) Dana Alokasi Khusus. dan sebagian Pajak Penghasilan (PPh) Wajib Pajak Orang Dalam Negeri.

sesuai ketentuan/batasan yang diatur secara khusus pembayaran persediaan. Lembur. (Gambar 5. Untuk keperluan tertentu yang tidak dapat dan/atau tidak memungkinkan dilakukannya pembayaran secara langsung (menggunakan prosedur SPM LS). BA Serah terima Draft SPM LS Pembebanan BENAR SPM LS Proses SAI Transfer UP/GU Bukti SK SK Bukti Dan tagihan Uji dan periksa Transfer Pihak ke tiga SP2D SALAH SPM Perbaiki KPKN Pusdiklatwas BPKP . daft gaji. KONTRAK Draft SPM GU BAYAR SPM GU Bukti Laporan Keuangan Daft. PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA NEGARA OLEH PENGGUNA ANGGARAN/KUASA PENGGUNA ANGGARAN 1. BA PB. SPK. Jenis dan Proses Pembayaran Anggaran Belanja Negara Pembayaran atas beban APBN pada dasarnya dilakukan secara langsung melalui penerbitan Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS) kepada pihak yang berhak (pembayaran langsung). Proses pembayaran pada satuan kerja dapat digambarkan seperti bagan alur dokumen di bawah ini.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I B.2007 71 . BA PK.1) dapat dilakukan dengan menggunakan uang BAGAN PROSES PEMBAYARAN PADA SATUAN KERJA PEMBUAT KOMITMEN PENGUJI TAGIHAN BENDAHARA PENGELUARAN PENERBIT SPM UNIT AKUNTANSI SATKER SK.

Pembukuan KPPN dijadikan bahan sistem akuntansi instansi untuk penyusunan laporan keuangan pemerintah. b. 4) bendahara pengeluaran. Berdasarkan SPM yang diajukan. 2. Pejabat penerbit SPM menyerahkan SPM ke KPPN. Tahap Penetapan Pejabat Kuasa PA dan Penandatangan SPM Pada setiap awal tahun anggaran. maka SPP dikembalikan. d. Asli surat keputusan dimaksud disampaikan kepada kepala KPPN selaku Kuasa BUN setelah dilengkapi dengan bukti identitas Pusdiklatwas BPKP . bagan alur tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. sedangkan jika pelaksanaan kegiatan tidak didukung bukti. 2) pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja. a.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Secara ringkas. mengajukan SPP kepada pejabat penguji tagihan. 3) pejabat yang diberi kewenangan untuk menandatangani SPM. Pejabat pembuat komitmen (PPK) dan bendahara pengeluaran berdasarkan bukti pelaksanaan kegiatan. Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara a. c.2007 72 . e. Jika berdasarkan pengujian. menteri/pimpinan lembaga selaku PA menerbitkan keputusan tentang penunjukan: 1) pejabat kuasa PA untuk satuan kerja sementara di lingkungan instansi PA. pelaksanaan kegiatan benar. KPPN meenerbitkan SP2D kepada bank mitra. maka pejabat penguji menetapkan pembebanan anggaran mengajukan SPM kepada pejabat penerbit SPM. Bank mentransfer uang ke rekening bendahara pengeluaran atau ke rekening pihak ketiga.

pangkat/gol. dll. 2) keputusan/tindakan dalam rangka pelaksanaan kegiatan yang terkait dengan substansi tugas pokok dan fungsi. surat perintah kerja. jabatan. melaksanakan rencana kerja yang telah ditetapkan dalam DIPA. Pejabat yang menandatangani kontrak/keputusan bertanggung jawab atas kebenaran material dan akibat yang timbul dari kontrak/keputusan tersebut. ruang.). membuat keputusan-keputusan dan atau mengambil tindakan-tindakan yang dapat mengakibatkan timbulnya pengeluaran uang dan/atau tagihan atas beban APBN. 3) keputusan/tindakan dalam rangka pengadaan barang/jasa (kontrak jual beli. mutasi pegawai. Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pejabat yang bersangkutan yang meliputi: nama. kenaikan pangkat. c. cantor/satuan kerja. pengangkatan pegawai dalam jabatan. surat perjalanan dinas. kenaikan gaji berkala. Pelaksanaan Kegiatan Pada tahap ini. dll. namun masih harus mengikuti ketentuan berikut. Tahap Pembuatan Komitmen Sesuai tugas pokok dan fungsinya. cap/stempel kantor/satuan kerja.). Keputusan-keputusan dan/atau tindakantindakan tersebut antara lain dapat berupa: 1) keputusan kepegawaian (seperti pengangkatan pertama pegawai.2007 73 . walaupun prosedur/tatacara kepada penyelesaian pengguna kegiatan diserahkan sepenuhnya kuasa anggaran. dan spesimen tanda tangan. kepala satuan kerja selaku kuasa pengguna anggaran. NIP/NRP. b.

d. Uang Persediaan dan Tambahan Uang Persediaan (UP dan TUP) 1) Pengelola Uang Persediaan a) Bendahara Pengeluaran Untuk mengelola uang persediaan bagi satuan kerja di lingkungan kewenangan kementerian dapat mengangkat negara/lembaga. pernyataan kesaksian atas prestasi kerja yang telah diselesaikan. 2) Pemeriksaan Penyelesaian Pekerjaan Pada setiap tahap penyelesaian pekerjaan perlu dilakukan pemeriksaan. tempat/lokasi pekerjaan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 1) Pelaksanaan Pekerjaan Pelaksanaan kegiatan harus dilakukan secara tertib dan memenuhi ketentuan yang diperjanjikan baik dalam spesifikasi teknis maupun dalam jadwal/waktu penyelesaian. tahap penyelesaian pekerjaan (termijn). dan rekomendasi pembayaran pekerjaan. seorang bendahara menteri/pimpinan lembaga atau pejabat yang diberi hak/tagihan atas penyelesaian-penyelesaian Pusdiklatwas BPKP . nomor dan tanggal DIPA yang menjadi dasar pembuatan dan/atau ditunjuk dalam kontrak). nomor dan tanggal kontrak kerja. besar nilai kontrak.2007 74 . pemeriksaan dituangkan dalam suatu dokumen Berita Acara Hasil Pemeriksaan Penyelesaian Pekerjaan. 3) Pembuatan Berita Acara Berita Acara Hasil Pemeriksaan Penyelesaian Pekerjaan harus memuat sekurang-kurangnya identitas pekerjaan (yang meliputi kantor/satuan kerja pengelola pekerjaan.

b) Untuk membantu pengelolaan uang persediaan pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya. f) Pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan sesuai buktibukti yang sah dibebankan pada mata annggaran (MAK) definitif sesuai pagu MAK yang tersedia. d) Bendahara pengeluaran melakukan pengisian kembali uang persediaan segera setelah uang persediaan dimaksud digunakan.2007 75 . Di dalam pelaksanaan tugasnya pemegang uang muka bertanggung jawab kepada bendahara pengeluaran. 2) Prosedur Penggunaan Uang Persediaan a) PA/Kuasa PA menerbitkan SPM-UP berdasarkan alokasi dana dalam DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA atas permintaan dari bendahara pengeluaran yang dibebankan pada mata anggaran keluaran (MAK) untuk pengeluaran transito.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pengeluaran pada kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya. selanjutnya. b) KKPPN. sesuai kebutuhan kepala satuan kerja mengusulkan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan untuk menunjuk pemegang uang uuka. c) Penggunaan persediaan tanggung jawab bendahara pengeluaran. Pusdiklatwas BPKP . e) Pengisian kembali uang persediaan dilakukan dengan mengajukan SPM GU kepada KPPN. berdasarkan SPM-UP dimaksud pada angka 1 di atas menerbitkan uang SP2D untuk rekening selanjutnya bendahara menjadi pengeluaran yang ditunjuk dalam SPM-UP.

oleh KPPN dibukukan sebagai pengembalian uang persediaan sesuai mata anggaran yang ditetapkan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I g) Pembebanan dimaksud pada butir f) di atas mengurangi kredit/pagu anggaran dalam DIPA. dan 5811–belanja barang lainnya. i) Sisa uang persediaan yang terdapat pada akhir tahun anggaran harus disetor ke Rekening Kas Umum Negara selambat-lambatnya tanggal 31 Desember tahun anggaran berkenaan. b) Di luar ketentuan pada butir a.2007 76 . masih cukup tersedia. Pusdiklatwas BPKP . dapat diberikan pengecualian untuk DIPA Pusat oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan dan untuk DIPA Pusat yang kegiatannya berlokasi di daerah serta DIPA yang ditetapkan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan setempat. 3) Petunjuk Pelaksanaan Uang Persediaan Uang persediaan dapat diberikan dalam batasan ketentuan sebagai berikut. Setoran sisa uang persediaan dimaksud. 5231-belanja biaya pemeliharaan. 5212-belanja bahan. 5221-belanja langganan daya dan jasa. h) Penggunaan dan penggantian uang persediaan dapat dilakukan sepanjang pagu anggaran dalam DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA. a) UP dapat diberikan untuk pengeluaran-pengeluaran belanja barang pada klasifikasi belanja: 5211-belanja barang operasional. 5241-belanja perjalanan. yang dapat dibayarkan melalui prosedur SPM-UP.

000. 2.000 > Rp2.400.000.000. No Pagu (Rp juta) 1. i. Pusdiklatwas BPKP . 3. ≤ Rp900. ≤ Rp2.000 > Rp900. Kepala KPPN dapat memberikan TUP sampai dengan jumlah Rp200. satker/SKS dimaksud dapat mengajukan TUP.000.00 d) Perubahan besaran UP di luar ketentuan pada butir c) ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan. sedangkan satker/SKS yang bersangkutan memerlukan pendanaan melebihi sisa dana yang tersedia.000. f) Dalam hal penggunaan UP belum mencapai 75%. Permintaan TUP di atas Rp200.000.000 Prosentase pagu DIPA menurut klasifikasi belanja yang diijinkan untuk diberikan UP 1/12 1/18 1/24 Maksimal UP Rp 50.000.00 untuk klasifikasi belanja yang diperbolehkan diberi UP bagi instansi dalam wilayah pembayaran KPPN bersangkutan.000.00 Rp 100. ii.00 untuk klasifikasi belanja yang diperbolehkan diberi UP harus mendapat dispensasi dari Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan.000. e) Pengisian kembali UP sebagaimana dimaksud pada butir c) dapat diberikan apabila dana UP telah dipergunakan sekurang-kurangnya 75% dari dana UP yang diterima.000.2007 77 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c) Maksimal UP yang dapat diberikan adalah sebagai berikut.000.400.00 Rp 200.000.000.000.000 . g) Pemberian TUP diatur sebagai berikut.

Pusdiklatwas BPKP . pengajuan SPP. baik uang persediaan maupun pembayaran langsung.2007 78 . Pejabat yang Mengajukan SPP Pengajuan SPP dibedakan sesuai dengan jenis pembayaran yang dilakukan. ƒ Pengajuan SPP-UP/TUP/GUP dilakukan oleh bendahara pengeluaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. untuk pelaksanaan anggaran belanja pemerintah daerah. b. ƒ Pengajuan SPP-LS belanja lainnya diajukan oleh pejabat pembuat komitmen.Uang Persediaan) Surat pernyataan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk. 1) SPP-UP (Surat Permintaan Pembayaran . Persyaratan Penerbitan SPP Pengajuan surat permintaan pembayaran (SPP) untuk penerbitan surat perintah membayar (SPM). menyatakan bahwa Uang Persediaan tersebut tidak untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang menurut ketentuan harus dengan LS. Pengajuan SPP untuk pelaksanaan anggaran belanja negara dibedakan sebagai berikut. Prosedur Penerbitan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) a. dibuat dengan kelengkapan persyaratan sebagai berikut. Sebagai bahan perbandingan. ƒ Pengajuan SPP-LS belanja pegawai dan belanja perjalanan dinas dilakukan oleh bendahara pengeluaran. diajukan oleh bendahara pengeluaran. sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri No.

c) Rekening koran yang menunjukkan saldo terakhir. 4) SPP Untuk Pengadaan Tanah Pembayaran pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilaksanakan melalui mekanisme pembayaran langsung (LS). (3) tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung. 3) SPP-GUP (Surat Permintaan Pembayaran . Pengaturan mekanisme pembayaran adalah sebagai berikut.Penggantian Uang Persediaan) a) Kuitansi/tanda bukti pembayaran. harus disetorkan ke rekening kas negara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) SPP-TUP (Surat Permintaan Pembayaran . (2) apabila terdapat sisa dana TUP. Pusdiklatwas BPKP . c) Surat setoran pajak (SSP) yang telah dilegalisir oleh kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk. b) Surat pernyataan tanggung jawab belanja (SPTB). dapat dilakukan melalui UP/TUP.2007 79 . Apabila tidak mungkin dilaksanakan melalui mekanisme LS.Tambahan Uang Persediaan) a) Rincian rencana penggunaan dana Tambahan uang persediaan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk. b) Surat pernyataan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk bahwa: (1) dana tambahan UP tersebut akan digunakan untuk keperluan mendesak dan akan habis digunakan dalam waktu satu bulan terhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D.

Pembayaran Langsung) (1) Persetujuan Panitia Pengadaan Tanah untuk tanah yang luasnya lebih dari satu hektar di kabupaten/kota. (8) SSP PPh final atas pelepasan hak. (2) Pengadaan tanah yang luasnya lebih dari satu hektar dilakukan dengan bantuan panitia pengadaan tanah di kabupaten/kota setempat. b) SPP-UP/TUP (1) Pengadaan tanah yang luasnya kurang dari satu hektar dilengkapi persyaratan daftar nominatif pemilik tanah yang ditandatangani oleh kuasa PA.2007 80 . dan dilengkapi dengan daftar nominatif pemilik tanah serta besaran harga tanah yang ditandatangani oleh Kuasa PA dan diketahui oleh Panitia Pengadaan Tanah (PPT). (3) kuitansi. (6) Pernyataan dari penjual bahwa tanah tersebut tidak dalam sengketa dan tidak sedang dalam agunan. (3) Pengadaan tanah yang pembayarannya dilaksanakan melalui UP/TUP harus terlebih dahulu mendapat ijin dispensasi dari Kantor Pusat Ditjen PBN/Kanwil Ditjen PBN. Pusdiklatwas BPKP . (5) Surat persetujuan harga. sedangkan besaran uangnya harus mendapat dispensasi UP/TUP sesuai ketentuan yang berlaku.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I a) SPP-LS (Surat Permintaan Pembayaran . (4) SPPT PBB tahun transaksi. (2) foto copy bukti kepemilikan tanah. (7) Pelepasan/penyerahan hak atas tanah/akta jual beli di hadapan PPAT. (9) Surat pelepasan hak adat (bila diperlukan).

(5) berita acara pembayaran. 6) SPP-LS Non Belanja Pegawai a) Pembayaran pengadaan barang dan jasa. Lembur dan Honor/Vakasi a) Pembayaran gaji induk/gaji susulan/kekurangan gaji/gaji terusan/uang PPh Pasal 21. daftar hadir kerja. daftar hadir lembur dan SSP PPh Pasal 21. (3) berita acara penyelesaian pekerjaan. (4) berita acara serah terima pekerjaan. c) Pembayaran keputusan pembayaran honor/vakasi tentang perhitungan dilengkapi honor dengan vakasi. b) Pembayaran lembur dilengkapi dengan daftar pembayaran perhitungan lembur yang ditandatangani oleh kuasa PA/pejabat yang ditunjuk dan bendahara pengeluaran. dan SSP PPh Pasal 21.2007 81 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 5) SPP-LS Untuk Pembayaran Gaji. (6) kuitansi yang disetujui oleh kuasa yang ditunjuk. surat daftar yang pemberian duka wafat/tewas. (2) surat pernyataan kuasa PA mengenai penetapan rekanan. surat perintah kerja lembur. PA atau pejabat Pusdiklatwas BPKP . dilengkapi dengan dokumen yang terkait dengan pembayarannya dan SSP honor/vakasi ditandatangani oleh kuasa PA/pejabat yang ditunjuk dan bendahara pengeluaran yang bersangkutan. dilengkapi dengan: (1) kontrak/SPK yang mencantumkan nomor rekening rekanan.

c) Pembayaran belanja perjalanan dinas harus dilengkapi dengan daftar nominatif pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (7) faktur pajak beserta SSP yang telah ditandatangani wajib pajak. tanggal keberangkatan. b) Pembayaran biaya langganan daya dan jasa (listrik. telepon dan air) dilengkapi dengan: (1) bukti tagihan daya dan jasa. PDAM dll. yang berisi antara lain: informasi mengenai data pejabat (nama. pangkat/golongan). Tunggakan langganan daya dan jasa tahun anggaran sebelumnya dapat dibayarkan oleh satker/SKS setelah mendapat dispensasi/persetujuan terlebih dahulu dari Kanwil Ditjen PBN sepanjang dananya tersedia dalam DIPA berkenaan. dan biaya yang diperlukan untuk masing-masing pejabat. (9) dokumen lain yang dipersyaratkan untuk kontrakkontrak yang dananya sebagian atau seluruhnya bersumber dari pinjaman/hibah luar negeri. PT Telkom. (8) jaminan bank. tujuan. (2) nomor rekening pihak ketiga (PT PLN. (10) ringkasan kontrak. Dalam hal pembayaran Langganan Daya dan Jasa belum dapat dilakukan secara langsung. lama perjalanan dinas.2007 82 . Pusdiklatwas BPKP . dapat satuan kerja/SKS yang bersangkutan melakukan bank atau yang dipersamakan yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan non pembayaran dengan UP.).

Pembayaran dilakukan oleh bendahara pengeluaran satker/SKS yang bersangkutan kepada para pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas.2007 83 . 7) SPP untuk PNBP a) UP/TUP untuk PNBP diajukan terpisah dari UP/TUP lainnya. JPS = jumlah pencairan dana sebelumnya sampai Pusdiklatwas BPKP . d) Dalam pengajuan SPM-TUP/GUP/LS PNBP ke KPPN. b) UP dapat diberikan kepada satker pengguna sebesar 20% dari pagu dana PNBP pada DIPA maksimal sebesar Rp500.000. dengan SPM terakhir yang diterbitkan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Daftar nominatif tersebut harus ditandatangani oleh pejabat yang berwenang memerintahkan perjalanan dinas.000.PNBP tahun anggaran sebelumnya. satker pengguna harus melampirkan daftar perhitungan jumlah MP. MP = (PPP x JS) – JPS MP = maksimum pencairan dana. JS = jumlah setoran. c) Dana yang berasal dari PNBP dapat dicairkan maksimal sesuai formula sebagai berikut. dan disahkan oleh pejabat yang berwenang di KPPN.00 dengan melampirkan Daftar Realisasi Pendapatan dan Penggunaan Dana DIPA . Apabila UP tidak mencukupi dapat mengajukan TUP sebesar kebutuhan riil satu bulan dengan memerhatikan maksimum pencairan (MP). PPP = proporsi pagu pengeluaran terhadap pendapatan.

j) Khusus perguruan tinggi negeri selaku pengguna PNBP (non BHMN). pencairan dana harus melampirkan bukti setoran (SSBP) yang telah dikonfirmasi oleh KPPN. sisa dana PNBP yang disetorkan pada akhir tahun anggaran ke rekening kas negara dapat dicairkan kembali maksimal sebesar jumlah yang sama pada awal tahun anggaran berikutnya mendahului diterimanya DIPA dan merupakan bagian dari target PNBP yang tercantum dalam DIPA tahun anggaran berikutnya. dilakukan dengan mengajukan SPM ke KPPN setempat cukup dengan melampirkan SPTB. Pusdiklatwas BPKP . h) Besarnya pencairan dana PNBP secara keseluruhan tidak boleh melampaui pagu PNBP satker yang bersangkutan dalam DIPA.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I e) Untuk satker pengguna yang setorannya dilakukan secara terpusat. yang disetorkan ke rekening kas negara pada akhir tahun anggaran merupakan bagian realisasi penerimaan PNBP tahun anggaran berikutnya dan dapat dipergunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan setelah diterimanya DIPA. i) Pertanggungjawaban penggunaan dana UP/TUP PNBP oleh kuasa PA. k) Sisa dana PNBP dari satker pengguna di luar butir i. f) Satker pengguna yang menyetorkan pada masing-masing unit (tidak terpusat). pencairan dana diatur secara khusus dengan surat edaran Dirjen PBN tanpa melampirkan SSBP. g) Besaran PPP untuk masing-masing satker pengguna diatur berdasarkan surat keputusan Menteri Keuangan yang berlaku.2007 84 .

alamat.2007 85 . 4) Memeriksa kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain: a) pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/perusahaan. 3) Memeriksa kesesuaian rencana kerja dan/atau kelayakan hasil kerja yang dicapai dengan indikator keluaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I l) Sisa UP/TUP dana PNBP sampai akhir tahun anggaran yang tidak disetorkan ke rekening kas negara. 4. dan membuat/menandatangani pejabat penerbit SPM. mencatatnya dalam buku pengawasan penerimaan tanda terima SPP. SPP. Selanjutnya petugas penerima SPP menyampaikan SPP dimaksud kepada Pusdiklatwas BPKP . Prosedur Penerbitan SPM Setelah menerima SPP. 1) Memeriksa secara rinci dokumen pendukung SPP sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran. Pejabat penerbit SPM melakukan pengujian atas SPP sebagai berikut. akan diperhitungkan pada saat pengajuan pencairan dana UP tahun anggaran berikutnya. nomor rekening dan nama bank). b. a. mengisi check list kelengkapan berkas SPP. pejabat penerbit SPM menerbitkan SPM dengan mekanisme sebagai berikut. Penerimaan dan pengujian SPP Petugas penerima SPP memeriksa kelengkapan berkas SPP.

5) Memeriksa pencapaian tujuan dan/atau sasaran kegiatan sesuai dengan indikator keluaran yang tercantum dalam DIPA berkenaan dan/atau spesifikasi teknis yang sudah ditetapkan dalam kontrak. PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA NEGARA OLEH BENDAHARA UMUM NEGARA (BUN)/KUASA BUN 1. Pusdiklatwas BPKP . Pengguna anggaran/kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk menyampaikan SPM beserta dokumen pendukung dilengkapi dengan Arsip Data Komputer (ADK) berupa soft copy melalui loket penerimaan SPM pada KPPN atau melalui kantor pos. dengan rincian: 1) lembar kesatu dan kedua disampaikan kepada KPPN. a. c. C. 2) lembar ketiga sebagai pertinggal pada satker yang bersangkutan. Pejabat Penguji SPP dan Penanda Tangan SPM menerbitkan SPM-UP/SPM-TUP/SPM-GUP/SPM-LS dalam rangkap tiga. kecuali bagi satker yang masih menerbitkan SPM secara manual tidak perlu ADK.2007 86 . c) jadwal waktu pembayaran. Penyampaian SPM kepada KPPN Penyampaian SPM kepada KPPN dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b) nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan/atau kelayakannya dengan prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak). Setelah dilakukan pengujian terhadap SPP-UP/SPP-TUP/SPPGUP/SPP-LS.

(2) apabila terdapat sisa dana TUP. b) surat-surat keputusan kepegawaian dalam hal terjadi perubahan pada daftar gaji. c) surat keputusan pemberian honor/vakasi dan SPK lembur. SPM dimaksud dilampiri bukti pendukung pengeluaran sebagai berikut. b) SPTB.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b. 2) untuk keperluan pembayaran langsung (LS) non belanja pegawai: a) resume kontrak/SPK atau daftar nominatif perjalanan dinas. c) surat pernyataan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk yang menyatakan bahwa: (1) dana tambahan UP tersebut akan digunakan untuk keperluan mendesak dan akan habis digunakan dalam waktu satu bulan terhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D. Pusdiklatwas BPKP . 3) untuk keperluan pembayaran TUP: a) rincian rencana penggunaan dana. harus disetorkan ke rekening kas negara. b) surat dispensasi Kepala Kantor Wilayah Ditjen.000. 1) untuk keperluan pembayaran langsung (LS) belanja pegawai: a) daftar gaji/gaji susulan/kekurangan gaji/lembur/honor dan vakasi yang ditandatangani oleh kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk dan bendahara pengeluaran. d) surat setoran pajak (SSP).00.2007 87 . c) faktur pajak dan SSP. Perbendaharaan untuk TUP diatas RP200.000.

2007 88 . SPM Gaji Induk harus sudah diterima KPPN paling lambat tanggal 15 sebelum bulan pembayaran. Pengujian SPM Berdasarkan berkas SPM yang diterima. Pengujian SPM dan Penerbitan SP2D a. c) dokumen dinas). mengisi check list kelengkapan berkas SPM. Bukti asli lampiran SPP merupakan arsip yang disimpan oleh PA/KPA. KPPN melakukan pengujian yang bersifat substansif dan formal.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (3) tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung. b) Faktur Pajak dan SSP. dan meneruskan check list serta kelengkapan SPM ke seksi perbendaharaan untuk diproses lebih lanjut. mencatat dalam Daftar Pengawasan Penyelesaian SPM. daftar nominatif perjalanan Pusdiklatwas BPKP . 1) Pengujian substantif dilakukan untuk menguji: a) kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM. sebagai dasar penagihan (ringkasan kontrak/SPK. Petugas KPPN pada loket penerimaan SPM memeriksa kelengkapan SPM. 4) untuk keperluan pembayaran GUP: a) SPTB. surat keputusan. e. c. 2. b) ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA yang ditunjuk dalam SPM tersebut. d.

Keputusan hasil pengujian ditindak lanjuti dengan: a) penerbitan SP2D bilamana SPM yang diajukan memenuhi syarat yang ditentukan.2007 89 . a) SPM Belanja Pegawai Non Gaji Induk dikembalikan paling lambat tiga hari kerja setelah SPM diterima. apabila tidak memenuhi syarat untuk diterbitkan SP2D. b) SPM UP/TUP/GUP dan LS dikembalikan paling lambat satu hari kerja setelah SPM diterima. termasuk tidak boleh terdapat cacat dalam penulisan. Penerbitan SP2D Penerbitan SP2D wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai berikut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I d) surat pernyataan tanggung jawab (SPTB) dari kepala kantor/satker atau pejabat lain yang ditunjuk mengenai tanggung jawab terhadap kebenaran pelaksanaan pembayaran. c) memeriksa kebenaran dalam penulisan. Pusdiklatwas BPKP . 2) Pengujian formal dilakukan untuk: a) mencocokkan tanda tangan pejabat penanda tangan SPM dengan spesimen tanda tangan. e) faktur pajak beserta SSP-nya. 1) SP2D Gaji Induk diterbitkan paling lambat lima hari kerja sebelum awal bulan pembayaran gaji. b) pengembalian SPM kepada penerbit SPM. b. b) memeriksa cara penulisan/pengisian jumlah uang dalam angka dan huruf. Pengembalian SPM sebagaimana dimaksud di atas diatur sebagai berikut.

kepala KPPN selaku kuasa bendahara umum negara wajib membuat laporan bulanan realisasi anggaran. 2. Laporan yang menyangkut dengan realisasi APBN lainnya sepanjang belum dicabut dan masih diperlukan tetap dilaksanakan. kepala kantor/satker selaku unit akuntansi kuasa pengguna D.p. PELAPORAN REALISASI ANGGARAN BELANJA Untuk keperluan penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN diperlukan antara lain data realisasi APBN. 3.p. maka: 1. Direktur Informasi dan Akuntansi. Direktur Pengelolaan Kas Negara dengan tembusan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan. untuk diproses dan selanjutnya diteruskan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan u.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) SP2D Non Gaji Induk diterbitkan paling lambat lima hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap.2007 90 . Untuk keperluan pelaporan tersebut. anggaran (UAKPA) wajib membuat laporan realisasi anggaran dan neraca serta arsip data komputer (ADK) yang dikelolanya kepada menteri/pimpinan lembaga secara berjenjang melalui unit akuntansi pembantu pengguna anggaran tingkat wilayah (UAPPAW) dan kepada KPPN setempat. kepala KPPN selaku kuasa bendahara umum negara wajib membuat laporan kas posisi (LKP) harian dan mingguan yang disampaikan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan u. Pusdiklatwas BPKP . neraca. arus kas dan neraca kepada Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan. dan catatan atas laporan keuangan. arus kas. 3) SP2D UP/TUP/GUP dan LS paling lambat satu hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap.

Sebelumnya. Baik dari segi ekonomi. Kita jalankan saja apa yang ada di APBN. Sedangkan. diskusikan artikel di bawah ini. BAHAN DISKUSI DAN SOAL LATIHAN BAHAN DISKUSI Berdasarkan materi pemelajaran di atas.2 persen. Saya kira kalau kita mempertahankan situasi yang baik ini. pemerintah akan mempercepat penyerapan anggaran dalam tahun 2006 guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang menurut laporan Bank Indonesia (BI) pada triwulan pertama 2006 hanya mencapai 4. dengan pendekatan dari sisi pengguna anggaran." katanya. Ia mengakui. "Faktor-faktornya biasanya konsumsi dan investasi.2 persen." kata dia di Gedung Departemen Keuangan Jln. setiap laporan menyangkut pertumbuhan ekonomi pasti menyebutkan faktor-faktor yang mendukung pertumbuhan itu. enam persen tahun ini masih dalam jangkauan. Pemerintah Mempercepat Penyerapan Anggaran Untuk Mendorong Target Pertumbuhan 6. Ketika ditanya mengapa pertumbuhan ekonomi hanya 4. Fiskal tidak ada yang baru.2007 91 . Menko Perekonomian Boediono optimistis pertumbuhan Indonesia pada tahun ini tetap mencapai target 6.58 persen. Namun. Lapangan Banteng Jakarta. Jumat (7/4).2% Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan." kata Sri Mulyani. "Sementara. pemerintah menargetkan pertumbuhan 6. BI menyatakan perekonomian pada triwulan Pusdiklatwas BPKP ." ujarnya. dari sisi fiskal tidak ada kebijakan baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. mungkin penyerapan anggaran masih perlu lebih diakselerasi. Bank Pembangunan Asia (ADB) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2006 mencapai 5. Sementara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I E.4 persen. "Saya kira kalau pribadi dari segi saya enam persen tetap.58 persen. sosial politik. masih adanya hambatan dalam pencairan daftar isian pelaksanaan Anggaran (DIPA) dari sisi teknis maupun pelaksanaan projek atau programnya. "Pemerintah akan memerhatikan itu. Sri Mulyani menyatakan tidak tahu.

4 persen mendekati batas atas 5. b. hemat. Berikut adalah prinsip dari pengeluaran anggaran. semaksimal mungkin menggunakan produksi dalam negeri d. pengeluaran yang dilakukan tidak boleh melampaui batas anggaran yang tersedia pengeluaran negara dilakukan sehemat mungkin agar ada c.2007 92 .58 persen. anggaran yang tersedia sudah mengikat dan harus direalisir 2. tidak mewah. 1. dan surplus neraca pembayaran.. a. kemampuan stimulus fiskal yang lebih besar. kecuali . sedikit lebih tinggi dari perkiraan awal tahun sebesar 4. c atau d yang saudara anggap paling benar. Untuk PDB secara keseluruhan 2006.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pertama 2006 diperkirakan tumbuh 4.. Pusdiklatwas BPKP . Untuk keseluruhan tahun 2006." katanya. terarah dan terkendali sesuai dengan rencana b. diperkirakan mengalami pertumbuhan sedikit lebih tinggi mendekati batas atas kisaran proyeksi BI yaitu 5.7 persen. (JAKARTA-(PR) A-75/A-78)*** SOAL LATIHAN Pilihlah salah satu jawaban a. dan intensifnya upaya pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi.7 persen.. BI memandang optimisme pada perekonomian nasional semakin menguat terutama didorong oleh ekonomi global yang lebih kondusif.0-5. dihabiskan sesuai dengan mata anggarannya c.35 persen. sisa anggaran d. a. "PDB 2006 diperkirakan melebihi nilai tengah (mid point) 5. efisien sesuai kebutuhan teknis yang disyaratkan Anggaran negara merupakan batas tertinggi (maksimum) untuk setiap jenis pengeluaran artinya …." kata Gubernur Bank Indonesia Burhanudin Abdulah. anggaran yang tersedia harus dihabiskan sampai akhir tahun anggaran b. kinerja neraca pembayaran yang lebih baik. "Perkembangan yang lebih positif ini terutama didukung oleh kestabilan ekonomi makro seperti menguatnya nilai tukar. menurunnya tingkat inflasi.

00 Rp 15 .000.. 5.00 b. d. d. bendahara pengeluaran b. d. MAK Belanja Tidak Tersangka Pembayaran yang dapat dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran kepada satu rekanan paling tinggi . cek tunai dari KPPN SPM uang persediaan (SPM-UP) yang diterbitkan kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk dibebankan pada ….000. Rp 25.000.. a. SPM yang diterbitkan oleh kuasa pengguna anggaran SP2D yang diterbitkan oleh kantor pelayanan perbendaharaan c.00 c. pejabat pembuat komitmen (PPK) kuasa pengguna anggaran (KPA) c.. didasarkan atas DIPA atau dokumen yang disamakan dilengkapi pernyataan tidak melakukan KKN c. 7.2007 93 ..00 4.000. tiga bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan Dasar untuk mencairkan uang dari bendahara umum negara (BUN) adalah …. kecuali …. pejabat penguji Tambahan Uang Persediaan (TUP) dapat digunakan paling lama. a. Pusdiklatwas BPKP . a.000. satu bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan b. MAK Belanja Non Pegawai b. (KPPN) d.000.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. a. berdasarkan bukti atas hak b. 8.. 6. Rp 5.000. Rp 10. a. dua minggu sejak tanggal SP2D diterbitkan dua bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan c. SPP yang dibuat dan diajukan oleh bendahara pengeluaran b. MAK Transito MAK Belanja Lain-lain c. d. a. sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan Penanggung jawab penggunaan uang persediaan (UP) adalah …..000. Pengeluaran atas beban belanja negara harus memenuhi persyaratan berikut. d.

d. dan c) dapat melakukannya. a. bendahara umum negara/kuasa bendahara umum negara c. kuasa pengguna anggaran d. a. Tentukan mana yang bukan menjadi persyaratan yang harus dilampirkan pada pengajuan SPP-GUP (penggantian uang persediaan) ….2007 94 . kuitansi/tanda bukti pembayaran b. semua (jawaban a. menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran/ pengguna barang b. b. surat setoran pajak (SSP) yg telah dilegalisir oleh KPA/PPK 10 Pusdiklatwas BPKP . surat pernyataan tanggungjawab belanja (SPTB) surat pernyataan tidak melakukan KKN c.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 9 Melakukan pembayaran tagihan pihak ketiga sebagai pengeluaran anggaran adalah tanggung jawab dari ….

PRINSIP DASAR. 1. sejak proses persiapan. peserta diklat diharapkan mampu mekanisme pengadaan barang dan jasa. a. berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan. A. KEBIJAKAN UMUM.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB VI POKOK-POKOK PENGADAAN BARANG DAN JASA INSTANSI PEMERINTAH Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. Efisien. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. ETIKA. Prinsip-Prinsip Dasar Pengadaan barang/jasa pemerintah yang yang sebagian atau seluruhnya dibiayai APBN/APBD diwajibkan untuk prinsip-prinsip sebagai berikut. b. DAN RUANG LINGKUP PENGADAAN BARANG DAN JASA Pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah yang sebagian atau seluruhnya dibiayai APBN/APBD diatur dalam Keputusan Presiden No. Efektif.2007 95 . menerapkan Pusdiklatwas BPKP . hingga penunjukkan dan penetapan penyedia barang/jasa. berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang terbatas. untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkatsingkatnya dan dapat dipertanggungjawabkan. dengan beberapa kali perubahannya.

rancang bangun dan perekayasaan nasional. Transparan. yang sasarannya adalah memperluas lapangan kerja dan mengembangkan industri dalam ketentuan dan prosedur yang jelas dan Pusdiklatwas BPKP . d. dengan cara dan atau alasan apapun. e. 2. Terbuka dan bersaing. Akuntabel. tata cara evaluasi. hasil evaluasi. Adil/tidak diskriminatif.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c. penetapan calon penyedia barang/jasa. f. berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu berdasarkan transparan. Meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri. termasuk syarat teknis administrasi pengadaan. sifatnya terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya. keuangan maupun manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsipprinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa. Kebijakan Umum Kebijakan umum pemerintah dalam pengadaan barang/jasa meliputi antara lain hal-hal sebagai berikut. berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa.2007 96 . berarti harus mencapai sasaran baik fisik. a. berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak tertentu.

3. Meningkatkan peran serta usaha kecil termasuk koperasi kecil dan kelompok masyarakat dalam pengadaan barang/jasa.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I negeri dalam rangka meningkatkan daya saing barang/jasa produksi dalam negeri pada perdagangan internasional. kecuali yang bersifat rahasia pada setiap awal pelaksanaan anggaran kepada masyarakat luas. h. Menumbuh kembangkan peran serta usaha nasional. i. Mengumumkan kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah secara terbuka melalui surat kabar naslonal dan/atau surat kabar provinsi. d. dan penyedia barang/jasa. Etika yang harus dipegang teguh antara lain adalah sebagai berikut Pusdiklatwas BPKP . Mengharuskan pengumuman rencana pengadaan barang/jasa secara terbuka. kemandirian dan tanggung jawab pengguna barang/jasa. e. panitia/pejabat pengadaan. Mengharuskan pelaksanaan pemilihan penyedia barang/jasa dilakukan di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. wajib mematuhi prinsip etika dalam pengadaan untuk menciptakan praktik yang sehat dan pemerintahan yang bersih. Etika Dalam Pengadaan Barang/Jasa Para pihak yang terkait dengan aktivitas pengadaan barang/jasa yaitu penyedia barang/jasa dan pihak pemberi kerja maupun pihak lainnya yang terkait dengan pengadaan instansi pemerintah. g.2007 97 . Meningkatkan profesionalisme. b. Meningkatkan penerimaan negara melalui sektor perpajakan. Menyederhanakan ketentuan dan tata cara untuk mempercepat proses pengambilan keputusan dalam pengadaan barang/jasa. c. f.

disertai rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran kelancaran dan ketepatan tercapainya tujuan pengadaan barang/jasa. e. b. g. h. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa. Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang ditetapkan sesuai dengan kesepakatan para pihak. langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan barang/jasa (conflict of interest). c. Bekerja secara profesional dan mandiri atas dasar kejujuran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I a. Pusdiklatwas BPKP . Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. Melaksanakan tugas secara tertib. d. Menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak yang terkait. Tidak saling memengaruhi baik langsung maupun tidak langsung untuk mencegah dan menghindari terjadinya persaingan tidak sehat. golongan atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. serta menjaga kerahasiaan dokumen pengadaan barang dan jasa yang seharusnya dirahasiakan untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam pengadaan barang/jasa. tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima hadiah/imbalan berupa apa saja kepada siapapun yang diketahui atau patut dapat diduga berkaitan dengan pengadaan barang/jasa. Tidak menerima. f.2007 98 .

Ruang Lingkup dan Pembiayaan Pengadaan a. Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibiayai dari dana APBN. b. Pusdiklatwas BPKP . BUMD. yaitu biaya untuk: pengguna barang/jasa.2007 99 . Pembiayaan Pengadaan. harus tetap berpedoman serta tidak boleh bertentangan dengan ketentuan dalam Keputusan Presiden 80/2003. panitia/pejabat pengadaan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4. b. Ruang lingkup pengadaan barang/jasa mencakup: a. apabila ditindaklanjuti dengan keputusan menteri/pemimpin lembaga/panglima TNI/Kapolri/Dewan Gubernur BI/pemimpin BHMN/direksi BUMN. BUMN. yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD. pengadaan barang/jasa untuk investasi di lingkungan BI. pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruhnya dibiayai dari pinjaman/hibah luar negeri (PHLN) yang sesuai atau tidak bertentangan dengan pedoman dan ketentuan pengadaan barang/jasa dari pemberi pinjaman/hibah bersangkutan. BHMN. dan staf proyek. bendaharawan. c. pengadaan barang/jasa yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD. Departemen/kementerian/lembaga/ TNI/Polri/pemerintah pelaksanaan 1) honorarium daerah/BI/ BHMN/BUMN/BUMD yang dibiayai wajib dari menyediakan biaya administrasi proyek untuk mendukung pengadaan barang/jasa APBN/APBD. dan peraturan daerah/keputusan kepala daerah yang mengatur pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibiayai dari dana APBD.

4. Prakualifikasi dan pascakualifikasi. 2. Harga perkiraan sendiri (HPS). 1. B. Metode penyampaian dokumen penawaran. pejabat pembuat komitmen. Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) pengumuman pengadaan barang/jasa. 5. 3. Organisasi dan tugas pokok organ pengadaan barang dan jasa pemerintah. 6. 3) penggandaan dokumen pengadaan barang/jasa dan/atau dokumen prakualifikasi. Pelaksanaan dan metode pemilihan penyedia barang/jasa. Penetapan penyedia barang/jasa dan jenis kontrak. 4) administrasi lainnya yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pengadaan barang/jasa.2007 100 . panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan. Organisasi dan Tugas Pokok Organ Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah a. Metode evaluasi penawaran. POKOK-POKOK KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMERINTAH Pada subbab ini akan dibahas mengenai pokok-pokok kebijakan pengadaan barang dan jasa pemerintah yang meliputi: 1. 7. Organisasi Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Organisasi dalam pengadaan barang/jasa pemerintah meliputi: • • • pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Uraian lebih lanjut dari pokok kebijakan pengadaan barang dan jasa adalah sebagai berikut.

Pengadaan juga dapat dilaksanakan oleh unit layanan pengadaan (Procurement Unit). pegawai Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)/inspektorat utama internal pengadaan lembaga jenderal pemerintah departemen/inspektorat non departemen/badan (kecuali unit barang/jasa menjadi layanan yang pengawas daerah provinsi/kabupaten/kota.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Organisasi dalam pengadaan barang/jasa bertugas dan bertanggung jawab dari segi administrasi.2007 101 . pengawasan BI/BHMN/BUMN/BUMD untuk pengadaan panitia/pejabat pengadaan/anggota dibutuhkan instansinya). Pusdiklatwas BPKP . 1) Pengadaan dilaksanakan sampai oleh dengan seorang Rp50. pejabat pembuat komitmen dan bendahara. b.000.00 wajib dibentuk panitia pengadaan. namun bukan (dilarang) pegawai yang menjadi: a.000.000. 2) Anggota panitia pengadaan/pejabat pengadaan/anggota unit layanan pengadaan berasal dari pegawai negeri.000. keuangan.00 pejabat pengadaan. dapat Untuk pengadaan di atas Rp50. dan fungsional atas pengadaan barang/jasa yang dilaksanakannya. Berkaitan dengan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan terdapat beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan yang mencakup hal-hal berikut. baik dari instansi sendiri maupun instansi teknis lainnya. c. pejabat yang bertugas melakukan verifikasi surat permintaan pembayaran dan/atau pejabat yang bertugas menandatangani surat perintah membayar. fisik.

dan memahami prosedur pengadaan berdasarkan Peraturan Presiden ini.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3) Dalam hal pengadaan barang/jasa dilakukan oleh Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. anggota panitia pengadaan berasal dari instansinya sendiri atau instansi teknis pemerintah. Tugas Pokok Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pejabat Pembuat Komitmen diangkat dengan surat keputusan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. dengan Pusdiklatwas BPKP . Jumlah Pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya ≤ Rp500 juta > Rp500 juta Pengadaan jasa konsultansi ≤ Rp200juta > Rp200 juta Sedikitnya 3 orang Sedikitnya 5 orang 5) Panitia/pejabat pengadaan/anggota unit layanan pengadaan harus memiliki integritas moral. b. 4) Jumlah panitia harus berjumlah gasal dengan ketentuan sebagai berikut. dan dapat menyertakan pihak lain yang ditunjuk oleh kepala badan pelaksana.2007 102 . memahami keseluruhan pekerjaan yang akan diadakan. Pejabat Pembuat Komitmen dapat melaksanakan proses pengadaan barang/jasa sebelum dokumen anggaran disahkan sepanjang anggaran untuk kegiatan yang bersangkutan telah dialokasikan. Pejabat Pembuat Komitmen dilarang mengadakan ikatan perjanjian dengan penyedia barang/jasa apabila belum tersedia anggaran atau tidak cukup tersedia anggarannya.

tata cara pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun oleh panitia pengadaan/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan. 9) menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada menteri/Panglima TNI/Kepala Polri/pimpinan lembaga/pimpinan kesekretariatan lembaga tinggi negara/ pimpinan kesekretariatan komisi/gubernur/bupati /walikota/ Dewan Gubernur BI/pemimpin BHMN/direksi BUMN/BUMD dengan berita acara penyerahan. 7) melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/ jasa kepada pimpinan instansinya.2007 103 . 4) menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan sesuai kewenangannya. Pusdiklatwas BPKP . 2) menetapkan paket-paket pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil. 6) menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedia barang/jasa. Tugas pokok Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) meliputi: 1) menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa. 8) mengendalikan pelaksanaan penjanjian/kontrak. serta kelompok masyarakat. 5) menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku. 3) menetapkan dan mengesahkan harga perkiraan sendiri (HPS). jadwal.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ketentuan penerbitan surat penunjukan penyedia barang/jasa (SPPBJ) dan penandatanganan kontrak pengadaan barang/jasa dilakukan setelah dokumen anggaran disahkan.

Pelaksanaan dan Metode Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah dapat dilakukan dengan cara: Pusdiklatwas BPKP . 2) menyusun dan menyiapkan harga perkiraan sendiri (HPS). dan diupayakan diumumkan di website pengadaan nasional. 8) membuat laporan mengenai proses dan hasil pengadaan kepada Pejabat Pembuat Komitmen dan/atau pejabat yang mengangkatnya. 7) mengusulkan calon pemenang. 3) menyiapkan dokumen pengadaan. 4) mengumumkan pengadaan barang/jasa di surat kabar nasional dan/atau provinsi dan/atau papan pengumuman resmi untuk penerangan umum.2007 104 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 10)menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai. c. Tugas pokok pejabat/panitia pengadaan/Unit Layanan Pengadaan Tugas pokok pejabat/panitia pengadaan/unit layanan pengadaan (procurement unit) meliputi: 1) menyusun jadwal dan menetapkan cara pelaksanaan serta lokasi pengadaan. 2. 9) menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai. 6) melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk. 5) menilai kualifikasi penyedia melalui pascakualifikasi atau prakualifikasi.

Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ¾ menggunakan jasa penyedia barang dan jasa. Pelelangan terbatas. ¾ swakelola. o pengadaan jasa konsultansi. yang dikelompokkan menjadi: o pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya.2007 105 . ƒ ƒ Pelelangan umum. PELELANGAN UMUM PENGADAAN BARANG/ JASA PEMBORONGAN PELELANGAN TERBATAS PEMILIHAN LANGSUNG PENYEDIA B/J PENUNJUKAN LANGSUNG SELEKSI UMUM PBJ PENGADAAN JASA KONSULTANSI SELEKSI TERBATAS SELEKSI LANGSUNG SWAKELOLA PENUNJUKAN LANGSUNG a. Metode Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Pemborongan /Jasa Lainnya Metode pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya dapat dilakukan dengan salah satu dari metode berikut. Pusdiklatwas BPKP .

maka pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan metode mencantumkan mampu. Pemilihan langsung dapat dilaksanakan untuk pengadaan yang bernilai sampai dengan Rp100. yaitu metode pemilihan yang dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi untuk penerangan umum sehingga masyarakat luas dunia usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya. yaitu pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan dengan membandingkan sebanyak-banyaknya penawaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ƒ ƒ Pemilihan langsung. sekurang-kurangnya tiga penawaran dari penyedia barang/jasa yang telah lulus prakualifikasi serta dilakukan negosiasi baik teknis maupun biaya serta harus diumumkan minimal melalui papan pengumuman resmi untuk penerangan umum dan bila memungkinkan melalui internet. guna pelelangan terbatas dan diumumkan secara penyedia memberi barang/jasa kesempatan yang telah diyakini penyedia luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi dengan kepada barang/jasa lainnya yang memenuhi kualifikasi.00. maka pemilihan barang/jasa pemilihan langsung. Dalam hal jumlah penyedia barang/jasa yang mampu melaksanakan diyakini terbatas yaitu untuk pekerjaan yang kompleks. Pusdiklatwas BPKP . prinsipnya pengadaan dilakukan melalui metode Pada pelelangan umum. Dalam hal metode penyedia pelelangan umum atau pelelangan terbatas dapat dilakukan dengan metode dinilai tidak efisien dari segi biaya pelelangan.000.2007 106 . Penunjukkan langsung.000.

dan/atau b) pekerjaan yang perlu dirahasiakan yang menyangkut pertahanan dan keamanan negara yang ditetapkan oleh Presiden. Penunjukan langsung dilaksanakan dalam hal memenuhi kriteria sebagai berikut.2007 107 . pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan cara penunjukan langsung terhadap satu penyedia barang/jasa dengan cara melakukan negosiasi baik teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat dapat dipertanggungjawabkan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus. atau (lima puluh juta rupiah) dengan Pusdiklatwas BPKP .000. 1) Keadaan tertentu. 2) Pengadaan barang/jasa khusus. keamanan dan keselamatan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda.00 ketentuan: ƒ untuk keperluan sendiri. atau harus dilakukan segera. dan/atau ƒ risiko kecil. yaitu: a) penanganan darurat untuk pertahanan negara. termasuk penanganan darurat akibat bencana alam. dan/atau ƒ dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa usaha orang perseorangan dan/atau badan usaha kecil termasuk koperasi kecil. dan/atau c) pekerjaan yang berskala kecil dengan nilai maksimum Rp50. dan/atau ƒ teknologi sederhana.000. yaitu : a) pekerjaan berdasarkan tarif resmi yang ditetapkan pemerintah.

2007 108 . pengadaan harus dilakukan melalui seleksi umum. ƒ penunjukan langsung.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b) pekerjaan/barang spesifik yang hanya dapat dilaksanakan oleh satu penyedia barang/jasa. b. Pada prinsipnya. ƒ seleksi langsung. pemegang hak paten. Dalam keadaan tertentu pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan melalui seleksi terbatas. Seleksi umum adalah metode pemilihan penyedia jasa konsultansi yang daftar pendek pesertanya dipilih melalui proses prakualifikasi secara terbuka yaitu diumumkan secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi untuk berminat dan memenuhi penerangan umum sehingga masyarakat luas mengetahui dan penyedia jasa konsultansi yang kualifikasi dapat mengikutinya. seleksi langsung atau penunjukan langsung. atau c) merupakan hasil produksi usaha kecil atau koperasi kecil atau pengrajin industri kecil yang telah mempunyai pasar dan harga yang relatif stabil. ƒ seleksi terbatas. Pusdiklatwas BPKP . pabrikan. atau d) pekerjaan yang kompleks yang hanya dapat dilaksanakan dengan penggunaan teknologi khusus dan/atau hanya ada satu penyedia barang/jasa yang mampu mengaplikasikannya. Metode Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi Pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan dengan salah satu dari metode: ƒ seleksi umum.

Seleksi langsung dapat dilaksanakan untuk pengadaan yang bernilai sampai dengan Rp100.000. Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus. dan/atau 2) penyedia jasa tunggal. keamanan dan keselamatan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda/harus dilakukan segera. Dalam hal metode seleksi umum atau seleksi terbatas dinilai tidak efisien dari segi biaya seleksi.2007 109 . dan/atau Pusdiklatwas BPKP . pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan dengan penunjukan langsung satu penyedia jasa konsultansi yang memenuhi kualifikasi dan dilakukan negosiasi baik dari segi teknis maupun biaya sehingga diperoleh biaya yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Seleksi terbatas adalah metode pemilihan penyedia jasa konsultansi untuk pekerjaan yang kompleks dan diyakini jumlah penyedia jasa yang mampu melaksanakan pekerjaan tersebut jumlahnya terbatas. dan/atau 3) pekerjaan yang perlu dirahasiakan yang menyangkut pertahanan dan keamanan negara yang ditetapkan oleh Presiden.00.000. Penunjukan langsung dapat dilaksanakan dalam hal memenuhi kriteria: 1) penanganan darurat untuk pertahanan negara. maka pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan dengan seleksi langsung yaitu metode pemilihan penyedia jasa konsultansi yang daftar pendek pesertanya ditentukan melalui proses prakualifikasi terhadap penyedia jasa konsultansi yang dipilih langsung dan diumumkan sekurang-kurangnya di papan pengumuman resmi untuk penerangan umum atau media elektronik (internet).

mempunyai risiko kecil. Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa dengan Swakelola Swakelola adalah pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan.00 (lima puluh juta rupiah).000. dan/atau 5) pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh pemegang hak paten atau pihak yang telah mendapat ijin. Pekerjaan yang dapat dilakukan dengan swakelola meliputi: 1) pekerjaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis sumber daya manusia pengguna barang/jasa. menggunakan teknologi sederhana. dikerjakan. c. 6) pekerjaan yang memerlukan penyelesaian secara cepat dalam rangka pengembalian kekayaan negara yang penanganannya dilakukan secara khusus berdasarkan peraturan perundangundangan.2007 110 . o kelompok masyarakat/lembaga swadaya masyarakat penerima hibah. dan/atau instansi pemerintah yang bersangkutan dan sesuai dengan fungsi dan tugas pokok Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4) pekerjaan yang berskala kecil dengan ketentuan: untuk keperluan sendiri. Swakelola dapat dilaksanakan oleh: o pengguna barang/jasa. dan diawasi sendiri. o instansi pemerintah lain. (Tambahan menurut Keppres 61 tahun 2004 tgl 5 Agustus 2004 tentang perubahan Keppres 80 tahun 2003).000. dan/atau bernilai sampai dengan Rp50. dan/atau 2) pekerjaan yang operasi dan pemeliharaannya memerlukan partisipasi masyarakat setempat. dilaksanakan oleh penyedia jasa usaha orang perseorangan dan badan usaha kecil.

tidak sehingga dapat apabila dihitung/ditentukan dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa akan menanggung risiko yang besar. HPS disusun oleh panitia/pejabat pengadaan dan ditetapkan oleh pengguna barang/jasa.2007 111 . Pusdiklatwas BPKP . seminar. HPS telah memperhitungkan pajak pertambahan nilai (PPN). HPS tidak boleh memperhitungkan biaya tak kerja yang belum dapat dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa. dan/atau 5) penyelenggaraan diklat. penataran. kursus. lokasi atau pembiayaannya tidak diminati oleh penyedia barang/jasa. 8) pekerjaan yang bersifat rahasia bagi instansi pengguna barang/jasa yang bersangkutan. atau penyuluhan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3) pekerjaan tersebut dilihat dari segi besaran. dan/atau 4) pekerjaan yang secara terlebih rinci/detail dahulu. pengembangan sistem tertentu dan penelitian oleh perguruan tinggi/lembaga ilmiah pemerintah. 3. sifat. perumusan kebijakan pemerintah. lokakarya. dan/atau 6) pekerjaan untuk proyek percontohan (pilot project) yang bersifat khusus untuk pengembangan teknologi/metode dan/atau 7) pekerjaan khusus yang bersifat pemrosesan data. Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Pengguna barang/jasa wajib memiliki harga perkiraan sendiri (HPS) yang dikalkulasikan secara keahlian dan berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan. biaya umum dan keuntungan (overhead cost and profit) yang wajar bagi penyedia barang/jasa. pengujian di laboratorium.

informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan. harga/tarif barang/jasa yang dikeluarkan oleh pabrikan/agen tunggal atau lembaga independen. Perhitungan HPS menggunakan data dasar dan mempertimbangkan: a. perkiraan perhitungan biaya oleh konsultan/engineer's estimate (EE). analisis harga satuan pekerjaan yang bersangkutan. Nilai total HPS terbuka dan tidak bersifat rahasia. 4. biaya lain-lain dan Pajak Penghasilan (PPh) penyedia barang/jasa. HPS tidak dapat dijadikan dasar untuk menggugurkan penawaran. harga pasar setempat pada waktu penyusunan HPS. badan/instansi lainnya dan media cetak yang datanya dapat dipertanggungjawabkan. HPS merupakan alat untuk menilai kewajaran harga penawaran termasuk rinciannya dan untuk menetapkan besaran tambahan nilai jaminan pelaksanaan bagi penawaran yang dinilai terlalu rendah. g.2007 112 . b. Prakualifikasi dan Pascakualifikasi a. informasi harga satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh Badan Pusat Statistik (BPS). f. Penilaian Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa Kualifikasi kemampuan adalah usaha proses calon penilaian penyedia atas kompetensi dan barang/jasa. Dalam proses Pusdiklatwas BPKP . daftar harga standar/tarif biaya yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. h.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I terduga. harga kontrak/surat perintah kerja (SPK) untuk barang/pekerjaan sejenis setempat yang pernah dilaksanakan. e. c. Tujuan kualifikasi adalah untuk menjamin bahwa pengadaan barang/jasa pemerintah dilaksanakan oleh pihak yang mampu. d.

ƒ dimasukkan dalam daftar hitam sekurang-kurangnya dua tahun. Penyedia barang/jasa wajib menandatangani surat pernyataan di atas meterai bahwa semua informasi yang disampaikan dalam formulir isian kualifikasi adalah benar.2007 113 . menghambat. Dalam proses prakualifikasi/pascakualifikasi panitia /pejabat pengadaan tidak boleh melarang. dan membatasi keikutsertaan calon peserta pengadaan barang/jasa dari luar provinsi/kabupaten/kota lokasi pengadaan barang/jasa. panitia/pejabat pengadaan dilarang persyaratan prakualifikasi/pascakualifikasi di luar yang telah ditetapkan dalam ketentuan Keputusan Presiden ini atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. b. dan apabila diketemukan penipuan/pemalsuan atas informasi yang disampaikan. Pengguna barang/jasa wajib menyederhanakan proses prakualifikasi dengan tidak meminta seluruh dokumen yang disyaratkan melainkan cukup dengan formulir isian kualifikasi penyedia barang/jasa. ƒ diancam dituntut secara perdata dan pidana.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I penilaian menambah kualifikasi. ƒ tidak boleh mengikuti pengadaan untuk dua tahun berikutnya. 1) Memiliki surat izin usaha pada bidang usahanya yang dikeluarkan oleh instansi pemerintah yang berwenang yang Pusdiklatwas BPKP . Syarat Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa Persyaratan kualifikasi penyedia barang/jasa adalah sebagai berikut. terhadap yang bersangkutan dikenakan sanksi: ƒ pembatalan sebagai calon pemenang.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I masih berlaku. seperti SIUP untuk jasa perdagangan. 6) Selama 4 (empat) tahun terakhir pernah memiliki pengalaman menyediakan barang/jasa baik di lingkungan pemerintah atau swasta termasuk pengalaman subkontrak baik di lingkungan pemerintah atau swasta . 5) Telah melunasi kewajiban pajak tahun terakhir (SPT/PPh) serta memiliki laporan bulanan PPh Pasal 25 atau Pasal 21/Pasal 23 atau PPN sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan yang lalu. tidak bangkrut.2007 114 . dan/atau tidak sedang menjalani sanksi pidana. kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan. 8) Memiliki kemampuan pada bidang pekerjaan yang sesuai untuk usaha kecil termasuk koperasi kecil. 2) Secara hukum mempunyai kapasitas menandatangani kontrak pengadaan. dan sebagainya. Pusdiklatwas BPKP . 7) Memiliki kinerja baik dan tidak masuk dalam daftar sanksi atau daftar hitam di suatu instansi. IUJK untuk jasa konstruksi. 3) Tidak dalam pengawasan pengadilan. penyedia barang/jasa wajib mempunyai perjanjian kerjasama operasi/kemitraan yang memuat persentase kemitraan dan perusahaan yang mewakili kemitraan tersebut. 4) Dalam hal penyedia jasa akan melakukan kemitraan. kecuali penyedia barang/jasa yang baru berdiri kurang dari 3 (tiga) tahun.

tenaga ahli spesialis yang diperlukan. 10) Dalam hal bermitra dasar dari yang diperhitungkan yang adalah mewakili kemampuan perusahaan kemitraan (lead firm). NPt : nilai pengalaman tertinggi) pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 9) Memiliki kemampuan pada bidang dan subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil. atau pengalaman tertentu. 11) Untuk pekerjaan khusus/spesifik/teknologi tinggi dapat ditambahkan persyaratan lain seperti peralatan khusus. a) Untuk jasa pemborongan memenuhi: KD = 2 NPt (KD : Kemampuan Dasar.2007 115 . b) Untuk pengadaan barang/jasa lainnya memenuhi: KD = 5 NPt pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir. Pusdiklatwas BPKP . c) Untuk pengadaan jasa konsultansi memenuhi: KD = 3 NPt pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil dalam kurun waktu 7 (tujuh) tahun terakhir. kecuali untuk penyedia barang/jasa usaha kecil termasuk koperasi kecil. 12) Memiliki surat keterangan dukungan keuangan dari bank pemerintah/swasta untuk mengikuti pengadaan barang/jasa sekurang-kurangnya sepuluh persen dari nilai proyek untuk pekerjaan jasa pemborongan dan lima persen dari nilai proyek untuk pekerjaan pemasokan barang/jasa lainnya.

Pascakualifikasi lainnya dari adalah penyedia proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu barang/jasa setelah memasukkan penawaran. Prakualifikasi lainnya dari adalah penyedia proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu barang/jasa sebelum memasukkan penawaran. 16) Tidak membuat pernyataan yang tidak benar tentang kompetensi dan kemampuan usaha yang dimilikinya. 14) Termasuk dalam penyedia barang/jasa yang sesuai dengan nilai paket pekerjaan.2007 116 . dilakukan dengan pascakualifikasi. Prakualifikasi konsultansi wajib dan dilaksanakan untuk pengadaan jasa pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa Pusdiklatwas BPKP . Khusus untuk pekerjaan yang kompleks dapat dilakukan dengan prakualifikasi. 17) Untuk pekerjaan jasa pemborongan (SKK) yang memiliki dan sisa sisa kemampuan keuangan cukup kemampuan paket (SKP).Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 13) Memiliki kemampuan menyediakan fasilitas dan peralatan serta personil yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan. Pelaksanaan Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa Pada prinsipnya penilaian kualifikasi atas kompetensi dan kemampuan usaha peserta pelelangan umum. 15) Menyampaikan daftar perolehan pekerjaan yang sedang dilaksanakan khusus untuk jasa pemborongan. c.

Metode pengadaan Tidak komplek Komplek Pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya Pelelangan umum Pelelangan terbatas Pemilihan langsung Penunjukan langsung Pascakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Pengadaan jasa konsultansi Seleksi umum Seleksi terbatas Seleksi langsung Penunjukan langsung Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Pasca atau prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi 5.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I lainnya yang menggunakan metode penunjukan langsung untuk pekerjaan langsung. a. Panitia/pejabat pengadaan dapat melakukan prakualifikasi untuk pelelangan umum pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya yang bersifat kompleks. b. metode dua tahap. c. Pelaksanaan kualifikasi pengadaan barang/jasa pemerintah kompleks.2007 117 . penyampaian dokumen penawaran oleh calon penyedia barang/jasa pemerintah dapat menggunakan salah satu dari metode Pusdiklatwas BPKP . pelelangan terbatas dan pemilihan secara ringkas dapat disajikan sebagai berikut. metode dua sampul. Metode Penyampaian Dokumen Penawaran Metode berikut ini. metode satu sampul.

Metode Evaluasi Penawaran a. sesuai dengan jenis barang/jasa yang akan diadakan. Metode Metode Evaluasi Penawaran Pada Pengadaan Barang/Jasa Pemborongan/Jasa Lainnya evaluasi penawaran. dalam pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya dapat menggunakan salah satu dari tiga sistem yang ada. sedangkan harga penawaran dimasukkan dalam sampul tertutup II. Dalam penyampaian dokumen penawaran dengan metode dua sampul. persyaratan administrasi dan teknis dimasukkan dalam sampul tertutup I. sistem nilai. 6. Sistem gugur adalah evaluasi penilaian penawaran dengan cara memeriksa dan membandingkan dokumen penawaran terhadap pemenuhan persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen Pusdiklatwas BPKP .2007 118 . yaitu: ƒ ƒ ƒ sistem gugur.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Metode satu sampul adalah cara penyampaian dokumen penawaran yang terdiri dari persyaratan administrasi. yang penyampaiannya dilakukan dalam dua tahap secara terpisah dan dalam waktu yang berbeda. sedangkan harga penawaran dimasukkan dalam sampul tertutup II. teknis. Metode dua tahap adalah cara penyampaian dokumen penawaran yang persyaratan administrasi dan teknis dimasukkan dalam sampul tertutup I. dan penawaran harga yang dimasukan ke dalam satu sampul tertutup kepada panitia/pejabat pengadaan. sistem penilaian biaya selama umur ekonomis. selanjutnya sampul I dan sampul II dimasukkan ke dalam satu sampul (sampul penutup) dan disampaikan kepada panitia/pejabat pengadaan.

dan dibandingkan dengan jumlah nilai dari setiap penawaran peserta dengan penawaran peserta lainnya. kemudian nilai unsur-unsur tersebut dikonversikan ke dalam satuan mata uang tertentu. b. Pusdiklatwas BPKP . dalam pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat menggunakan salah satu dari lima metode yang ada. yaitu: 1) metode evaluasi kualitas.2007 119 . sesuai dengan sifat jasa konsultansi yang akan diadakan. persyaratan teknis dan kewajaran harga. terhadap penyedia barang/jasa yang gugur.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pemilihan penyedia barang/jasa dengan urutan proses evaluasi dimulai dari penilaian persyaratan administrasi. Sistem penilaian biaya selama umur ekonomis adalah evaluasi penilaian penawaran dengan cara memberikan nilai pada unsur-unsur teknis dan harga yang dinilai menurut umur ekonomis barang dan yang ditawarkan berdasarkan kriteria nilai yang ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia tidak lulus penilaian pada setiap tahapan dinyatakan barang/jasa. kemudian membandingkan jumlah nilai dari setiap penawaran peserta dengan penawaran peserta lainnya. 2) metode evaluasi kualitas dan biaya. Sistem nilai adalah evaluasi penilaian penawaran dengan cara memberikan nilai angka tertentu pada setiap unsur yang dinilai berdasarkan kriteria dan nilai yang telah ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa. Metode Evaluasi Penawaran Pada Pengadaan Jasa Konsultansi Metode evaluasi penawaran.

2007 120 . Sedangkan metode evaluasi penunjukan langsung adalah evaluasi terhadap hanya satu penawaran jasa konsultansi berdasarkan kualitas teknis yang dapat dipertanggungjawabkan dan biaya yang wajar setelah dilakukan klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya. 5) metode evaluasi penunjukan langsung. Pusdiklatwas BPKP . dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya. Metode evaluasi kualitas dan biaya adalah evaluasi pengadaan jasa konsultansi berdasarkan nilai kombinasi terbaik penawaran teknis dan biaya terkoreksi dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3) metode evaluasi pagu anggaran. Metode evaluasi pagu anggaran adalah evaluasi pengadaan jasa konsultansi berdasarkan kualitas penawaran teknis terbaik dari peserta yang penawaran biaya terkoreksinya lebih kecil atau sama dengan pagu anggaran. Metode evaluasi biaya terendah adalah evaluasi pengadaan jasa konsultansi berdasarkan penawaran biaya terkoreksinya terendah dari konsultan yang nilai penawaran teknisnya di atas ambang batas persyaratan teknis yang telah ditentukan. Metode evaluasi kualitas adalah evaluasi penawaran jasa konsultansi berdasarkan kualitas penawaran teknis terbaik. dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya. 4) metode evaluasi biaya terendah. dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya.

000.2007 121 . melalui pengguna barang/jasa laporan tersebut disertai usulan calon pemenang dan penjelasan atau keterangan lain yang dianggap perlu sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan. 1) Untuk pengadaan barang/jasa yang bernilai sampai dengan Rp50.000. atau b) menetapkan keputusan yang disepakati bersama untuk melakukan evaluasi ulang atau lelang ulang atau menetapkan pemenang lelang. Ketentuan mengenai pejabat yang berwenang menetapkan penyedia barang/jasa pemerintah diatur sebagai berikut. Penetapan penyedia barang/jasa Panitia/pejabat pengadaan membuat dan menyampaikan laporan kepada pengguna barang/jasa atau kepada pejabat yang berwenang mengambil keputusan untuk menetapkan pemenang lelang.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 7. dan dituangkan dalam berita acara yang memuat keberatan dan kesepakatan masing-masing pihak. apabila PPK tidak sependapat dengan usulan panitia/pejabat pengadaan. pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD dan bersifat Pusdiklatwas BPKP . atau c) bila akhirnya tidak tercapai kesepakatan.000. Penetapan penyedia barang/jasa dan jenis kontrak a.00. maka PPK membahas hal tersebut dengan panitia/pejabat pengadaan untuk mengambil keputusan dari alternatif: a) menyetujui usulan panitia/pejabat pengadaan. maka akan diputuskan oleh menteri/PanglimaTNI/Kapolri/Kepala Gubernur BI/ LPND/gubernur/bupati/walikota/Dewan final.

LPND/ gubernur/bupati/walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/ direktur utama BUMN Pusdiklatwas BPKP .000.000. apabila PPK tidak sependapat dengan usulan panitia/pejabat pengadaan.000.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Untuk pengadaan yang bernilai di atas Rp 50. Kapolri/Kepala maka penetapan pemenang walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/direktur utama lelang keputusan lain diserahkan kepada menteri/PanglimaTNI/ LPND/gubernur/bupati/ walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD.00.00. apabila pengguna barang/jasa dan/atau panitia/pejabat Bupati/ atau pengadaan pengadaan tidak sependapat dengan keputusan menteri/PanglimaTNI/Kapolri/KepalaLPND/gubernur/ BUMN/BUMD. untuk diputuskan dan bersifat final. 4) Untuk pengadaan yang bernilai di atas Rp50. atau b) menetapkan keputusan yang disepakati bersama untuk melakukan menteri/ evaluasi ulang atau lelang ulang.000. dan dituangkan dalam berita acara serta dilaporkan kepada PanglimaTNI/Kapolri/Kepala LPND/gubernur/ bupati/ walikota/ Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/ direktur utama BUMN/BUMD. maka PPK membahas hal tersebut dengan panitia/pejabat pengadaan untuk mengambil keputusan: a) menyetujui usulan panitia/pejabat pengadaan untuk dimintakan persetujuan kepada menteri/PanglimaTNI/ Kapolri/Kepala /BUMD. dengan catatan keberatan dari pengguna barang/jasa. atau 3) Apabila masih belum ada kesepakatan maka dilaporkan kepada menteri/PanglimaTNI/Kapolri/Kepala LPND/gubernur/ bupati/walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD.000.000.2007 122 .

Kontrak harga satuan adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu. berdasarkan harga satuan yang pasti dan tetap untuk setiap satuan/unsur pekerjaan dengan spesifikasi teknis tertentu. b. 5) kontrak persentase.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I panitia/pejabat pengadaan pengadaan dan pengguna barang jasa tidak perlu melakukan perubahan berita acara evaluasi. 3) kontrak gabungan lump sum dan harga satuan. dan semua risiko yang mungkin terjadi dalam proses penyelesaian pekerjaan sepenuhnya ditanggung oleh penyedia barang/jasa. Keputusan menteri/PanglimaTNI/Kapolri/Kepala Gubernur LPND/ gubernur/bupati/walikota/Dewan BI/pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD bersifat final. Kontrak lump sum adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu.2007 . dengan jumlah harga yang pasti dan tetap. sedangkan pembayarannya didasarkan pada hasil pengukuran bersama atas volume pekerjaan yang benar-benar telah dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa. yang volume pekerjaannya masih bersifat perkiraan sementara. 2) kontrak harga satuan. Jenis kontrak Kontrak pengadaan barang/jasa berdasarkan bentuk imbalan dapat berupa: 1) kontrak lump sum. Kontrak gabungan lump sum dan harga satuan adalah kontrak yang merupakan gabungan lump sum dan harga satuan dalam satu pekerjaan yang diperjanjikan. 4) kontrak terima jadi (turn key). 123 Pusdiklatwas BPKP .

Kontrak tahun tunggal adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa satu tahun anggaran.2007 124 . peralatan dan jaringan utama maupun penunjangnya dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan kriteria kinerja yang telah ditetapkan. Pusdiklatwas BPKP . Gubernur untuk pengadaan yang dibiayai APBD Propinsi. Kontrak tahun jamak adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa lebih dari satu tahun anggaran yang dilakukan atas persetujuan oleh Menteri Keuangan untuk pengadaan yang dibiayai APBN. Bupati/Walikota untuk pengadaan yang dibiayai APBD Kabupaten/Kota. dimana konsultan yang bersangkutan menerima imbalan jasa berdasarkan persentase tertentu dari nilai pekerjaan fisik konstruksi/pemborongan tersebut. Kontrak persentase adalah kontrak pelaksanaan jasa konsultansi di bidang konstruksi atau pekerjaan pemborongan tertentu. Kontrak pengadaan tunggal adalah kontrak antara satu unit kerja atau satu proyek dengan penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Kontrak terima jadi adalah kontrak pengadaan barang/jasa pemborongan atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu dengan jumlah harga pasti dan tetap sampai seluruh bangunan/konstruksi. Kontrak pengadaan bersama adalah kontrak antara beberapa unit kerja atau beberapa proyek dengan penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu sesuai dengan kegiatan bersama yang jelas dari masing-masing unit kerja dan pendanaan bersama yang dituangkan dalam kesepakatan bersama.

1. Penetapan sistem pengadaan barang/jasa. 2. persiapan pengadaan barang dana jasa pemerintah. Penyusunan Harga Perkiraan Sendiri (HPS). d. pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah. Perencanaan pengadaan barang/jasa pemerintah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I C. b. Dokumen pengadaan mencakup dokumen pasca/prakualifikasi dan dokumen pemilihan penyedia barang/jasa. b. pelaksanaan dengan menggunakan penyedia barang/jasa. PROSEDUR PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH Prosedur pengadaan barang dan jasa pemerintah meliputi kegiatan: 1. e. Penyusunan jadwal pelaksanaan pengadaan. yaitu a. pelaksanaan dengan swakelola. Secara rinci prosedur tersebut adalah sebagai berikut. Beberapa hal dalam subbab ini akan dibahas dalam subab berikutnya.2007 125 . Pusdiklatwas BPKP . Pembentukan panitia pengadaan barang/jasa. penyampaian dokumen penawaran. c. Penyusunan dokumen pengadaan. dan jenis kontrak yang sesuai dengan barang/jasa yang akan diadakan. a. Persiapan Pengadaan Barang dan Jasa Persiapan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah mencakup kegiatan berikut ini. Penyusunan jadwal pelaksanaan pengadaan harus memberikan waktu yang cukup untuk semua tahapan proses pengadaan. f. Penetapan sistem pengadaan barang/jasa pemerintah mencakup kegiatan penetapan metode metode pemilihan penyedia barang/jasa.

Urutan prosedur pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah dilakukan sesuai dengan metode menggunakan Penyedia Barang/Jasa pada pemilihan penyedia dasarnya akan barang/jasanya. penetapan dan pengumuman hasil prakualifikasi. Dalam hal sistem dan pengadaannya menggunakan dahulu metode sebelum prakualifikasi. a. seleksi umum. Dalam hal ini prosesnya akan meliputi: pengambilan dokumen prakualifikasi. Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa dengan dilaksanakan dengan urutan kegiatan sebagai berikut. penyerahan dokumen. dan seleksi terbatas harus dimuat di surat kabar nasional. evaluasi kualifikasi. Pusdiklatwas BPKP . hal tersebut tidak membatasi calon penyedia barang/jasa lain yang merasa mampu. Pengumuman pengadaan barang/jasa dengan pelelangan umum. Pengumuman dan Pendaftaran Peserta Pengumuman pengadaan barang dan jasa pemerintah harus dilakukan sesuai dengan metode metode pemilihan penyedia barang dan jasanya. b. masa sanggah kualifikasi. namun demikian. maka atas calon penyedia barang/jasa dinilai kemampuan kompetensinya terlebih memasukkan penawaran. Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah dapat dilaksanaan oleh penyedia barang/jasa atau dilaksanakan sendiri oleh pengguna anggaran (swakelola).Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. pengumuman harus telah menyebutkan calon penyedia barang/jasa yang diyakini mampu.2007 126 . pelelangan terbatas. Penilaian Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa. Dalam pelelangan terbatas dan seleksi terbatas.

2007 127 . Penyusunan Daftar Peserta dan Penyampaian Undangan Untuk pengadaan barang dan jasa selain jasa konsultansi. pascakualifikasi. Penjelasan Lelang (aanwwijziing) Pemberian penjelasan lelang dilakukan di tempat dan pada waktu yang ditentukan. harus dituangkan dalam Berita Acara Penjelasan (BAP). Pemberian penjelasan mengenai pasal-pasal dokumen pemilihan penyedia barang/jasa yang berupa pertanyaan dari peserta dan jawaban dari panitia /pejabat pengadaan serta keterangan lain termasuk perubahannya dan peninjauan lapangan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Sedangkan jika pengadaannya menggunakan metode pascakualifikasi maka penyerahan dokumen kualifikasi bersamsama dengan dokumen penawaran. sedangkan untuk seleksi umum. daftar peserta pengadaan sesuai dengan peserta prakualifikasi. dan syarat-syarat lainnya. dihadiri oleh para penyedia barang/jasa yang terdaftar dalam daftar peserta lelang. e. hanya lulus kualifikasi yang dapat jika menyampaikan pengadaannya Sedangakan penawaran. Dalam acara penjelasan lelang. harus dijelaskan kepada peserta lelang mengenai: Metode penyelenggaraan pelelangan. c. peserta yang diundag adalah yang dimuat dalam daftar pendek (short list) peserta yang berisi sedikitnya 5 (lima) dan paling banyak 7 (tujuh) calon penyedia yang lulus prakualifikasi. d. menggunakan metode dokumen penawaran. maka semua calon penyedia barang/jasa yang merasa mampu dapat menyampaikan Pusdiklatwas BPKP . cara penyampaian penawaran. Penyampaian dan Pembukaan Dokumen Penawaran Dalam metode peserta dokumen yang pengadaannya dengan prakualifikasi.

kemudian mengumumkan kembali dengan mengundang calon peserta lelang yang baru. Panitia/Pejabat pengadaan membuat simpulan dari hasil evaluasi administrasi. metode. panitia/pejabat pengadaan dapat melakukan koreksi aritmatik terhadap semua penawaran yang masuk dan melakukan evaluasi sekurang-kurangnya tiga penawaran terendah setelah koreksi aritmatik. Urutan pembukaan dokumen dilakukan sesuai metode penyampaian dokumen yang ditetapkan. f. Evaluasi Penawaran Evaluasi dokumen penawaran adalah kegiatan panitia pengadaan dalam meneliti dan menilai semua dokumen penawaran yang disampaikan oleh calon penyedia barang/jasa. teknis dan harga yang dituangkan dalam berita acara hasil pelelangan (BAHP). BAPP dibagikan kepada wakil peserta pelelangan yang hadir tanpa dilampiri dokumen penawaran. dan dokumen penawaran harga.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pembukaan dokumen penawaran harus melibatkan sekurang- kurangnya dua wakil dari peserta pelelangan yang hadir sebagai saksi. Unsur dokumen penawaran yang dievaluasi meliputi: • • • kelengkapan data administrasi. BAHP memuat hasil pelaksanaan Pusdiklatwas BPKP . Hasil pembukaan dokumen penawaran dituangkan dalam Berita Acara yang ditandatangani oleh panitia/pejabat pengadaan dan dua orang wakil peserta lelang yang sah yang ditunjuk oleh para peserta lelang yang hadir. dokumen teknis. Pada tahap awal. Bila penawaran yang masuk kurang dari tiga peserta. berdasarkan kriteria.2007 128 . dan tatacara evaluasi yang telah ditetapkan dalam dokumen lelang. pelelangan tidak dapat dilanjutkan dan harus diulang.

. rumus-rumus yang digunakan. Calon pemenang lelang harus sudah ditetapkan oleh panitia/pejabat pengadaan selambat-lambatnya tujuh hari kerja setelah pembukaan penawaran. teknis dan harga. termasuk cara penilaian. g. serta telah sesuai dengan ketentuan maka panitia pengadaan menetapkan calon pemenang lelang yang paling menguntungkan dalam arti: 1) penawaran memenuhi syarat administratif dan teknis yang ditentukan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa. 3) telah memerhatikan penggunaan semaksimal mungkin hasil produksi dalam negeri. dan hal ini dicatat dalam berita acara. Dalam hal terdapat dua calon pemenang lelang mengajukan harga penawaran yang sama. sampai dengan penetapan urutan pemenangnya berupa daftar peserta pelelangan yang dimulai dari harga penawaran yang terendah. dan memilih peserta yang menurut pertimbangannya mempunyai kemampuan yang lebih besar. Penetapan Pemenang Apabila harga dalam penawaran telah dianggap wajar. maka panitia/pejabat pengadaan meneliti kembali data kualifikasi peserta yang bersangkutan. BAHP ditandatangani oleh ketua dan semua anggota panitia/pejabat pengadaan atau sekurangkurangnya dua pertiga dari jumlah anggota panitia. dan dalam batas ketentuan mengenai harga satuan yang telah ditetapkan. Pusdiklatwas BPKP . 2) perhitungan harga yang ditawarkan dapat dipertanggung jawabkan. penawaran tersebut adalah yang terendah diantara penawaran yang memenuhi syarat administrasi.2007 129 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pelelangan.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Panitia/pejabat pengadaan membuat dan menyampaikan laporan kepada PPK untuk menetapkan pemenang lelang disertai usulan calon pemenang dan penjelasan atau keterangan lain yang dianggap perlu sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Pemenang lelang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja untuk pengadaan sampai dengan Rp50 milyar dan 14 (empat belas) hari kerja untuk pengadaan di atas Rp50 milyar terhitung sejak surat usulan penetapan pemenang lelang tersebut diterima oleh pejabat yang berwenang menetapkan pemenang lelang.2007 130 . panitia mengumumkannya kepada para peserta lelang. cadangan urutan pertama dan cadangan urutan kedua. Pusdiklatwas BPKP . Sanggahan Peserta dan Pengaduan Masyarakat Peserta lelang yang keberatan atas penetapan calon pemenang lelang tersebut baik bertindak sendiri atau bersama-sama calon penyedia barang dapat mengajukan sanggahan secara tertulis secepat mungkin. Pengumuman Pemenang Pemenang lelang diumumkan dan diberitahukan oleh panitia/pejabat pengadaan kepada para peserta selambatlambatnya dua hari kerja setelah diterimanya Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) dari pejabat yang berwenang. Sanggahan disampaikan kepada pimpinan instansi/pejabat pembuat komitmen/panitia secara tertulis disertai bukti-bukti terjadinya penyimpangan. i. Segera setelah pejabat yang berwenang mengambil keputusan tentang penetapan pemenang lelang. h. Dalam pengumuman juga diberitahukan bahwa surat jaminan pelelangan dapat diambil kembali kecuali untuk peserta yang menang.

Pusdiklatwas BPKP . baik secara tertulis maupun lisan kepada pejabat yang berwenang memberikan jawaban atas sanggahan tersebut. Penandatanganan Kontrak Tahap akhir dari rangkaian proses pelelangan adalah penandatanganan kontrak antara pengguna barang dengan penyedia barang/jasa yang ditunjuk. k.2007 131 . Apabila dalam waktu yang telah ditentukan tidak ada sanggahan dari peserta lelang. j. atau sanggahan yang disampaikan ternyata tidak benar maka pengguna menetapkan penunjukan pemenang lelang pengadaan barang dengan surat keputusan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pejabat Pembuat Komitmen/Panitia/Pejabat Pengadaan wajib memberikan jawaban dan menyampaikan bahan-bahan yang berkaitan dengan sanggahan. Penyedia barang yang ditunjuk menyiapkan jaminan pelaksanaan sesuai dengan ketentuan yang tercantum di dalam dokumen lelang. Penerbitan Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) Penunjukan pemenang lelang adalah keputusan definitif dari pengguna barang mengenai penunjukan pemenang lelang pengadaan barang dalam bentuk penerbitan SPPBJ.

Berikut adalah kebijakan umum pengadaan barang/jasa.... Rabu 16 Agustus 2006) SOAL LATIHAN Pilihlah salah satu jawaban a.... Pusdiklatwas BPKP .. . Demikian halnya dengan adanya Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang atau Jasa Pemerintah juga harus bisa menjadi pedoman dalam pelaksanaan proyek pengadaan barang atau jasa pemerintah..... menyederhanakan ketentuan dan tatacara dalam pelaksanaan pengadaan b. .. 1.. satu orang PNS di instansinya d. kecuali …... Oleh karena menjadi pimpro harus memiliki sertifikat khusus....2007 132 ........ Semua penting karena pemegang sertifikat bukan saja harus cakap dan menguasai aturan tentang proyek.. meningkatkan peran serta usaha kecil termasuk koperasi kecil Pejabat pengadaan terdiri dari. pemberian sertifikatnya harus selektif...(Kompas. hal itu sangat keterlaluan.... meningkatkan penerimaan negara melalui sektor perpajakan c.. tiga orang b. mengurangi impor barang jadi dari luar negeri d. satu orang PNS baik dari instansi sendiri atau dari instansi lain c... Bila di era sertifikasi sekarang ini masih ada pimpro dan aparat yang menyimpang dalam proyek. cakap dan sanggup melaksanakan proyek dengan baik serta penuh tanggung jawab. satu orang pejabat struktural di instansinya 2.... apalagi dengan unsur perjokian saat ujian untuk mendapatkannya.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I D.. a. a. b. BAHAN DISKUSI DAN SOAL LATIHAN BAHAN DISKUSI Diskusikan artikel yang termuat pada salah satu harian berikut ini dari sisi pelaksanaan pedoman pengadaan barang/jasa instansi pemerintah. tetapi juga jujur terlebih dulu. c atau d yang Saudara anggap paling benar. Jangan ada konspirasi dalam pengeluarannya.

di atas Rp100 juta b. pelelangan dan penunjukan langsung c. dilaksanakan oleh panitia pengadaan atau oleh pejabat pengadaan Panitia pengadaan harus pengadaan yang bernilai…. dilaksanakan oleh panitia pengadaan bersama-sama dengan pejabat pengadaan d. 5. a. lima penyedia barang/jasa c. a. Pengadaan barang/jasa pemborongan sampai nilai Rp50. sampai Rp50 juta d. tiga penyedia barang/jasa b. tidak ada batasan nilai dibentuk untuk melaksanakan paket 4. memahami isi dokumen. wajib dilaksanakan oleh pejabat pengadaan c.2007 133 . peneliti c. Tidak termasuk persyaratan sebagai panitia/pejabat pengadaan adalah…. 8. a.000..000. 7.. a. tujuh penyedia barang/jasa d. Bawasda Pengadaan barang/jasa pemerintah dilaksankan dengan dua cara yaitu…. a.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. tidak mempunyai hubungan keluarga dengan pejabat yang mengangkatnya d. di atas RP50 juta c. prosedur dan metode pengadaan Yang tidak dilarang untuk diangkat menjadi panitia/pejabat pengadaan adalah ….. a. tidak berstatus sebagai calon pejabat struktural c. memiliki integritas moral dan tanggungjawab b. Pusdiklatwas BPKP . diserahkan kepada penyedia barang/jasa dan secara swakelola d. sembilan penyedia barang/jasa 6. pelelangan umum dan pelelangan terbatas b. dilakukan dengan cara. Itjen. pengguna barang/jasa d. pegawai BPKP. wajib dilaksanakan oleh panitia pengadaan b. bendahara b. melalui penunjukan langsung dan melalui swakelola Pelelangan umum diikuti sekurang-kurangnya ….

a. Tidak termasuk batasan pengertian pekerjaan bersifat komplek adalah…. memerlukan teknologi tinggi b. menggunakan peralatan yang didesain khusus berisiko tinggi d. negosiasi akhir 10. pasca kualifikasi c. pelelangan umum dilaksanakan dengan ….Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 9. Untuk pekerjaan yang sifatnya tidak komplek. a. bernilai di atas Rp 50 milyar c. tidak dapat diselesaikan dalam satu tahun anggaran Pusdiklatwas BPKP .2007 134 . prakualifikasi b. negosiasi awal d.

2007 . Depkeu. 1982. Wiemas AJGA. Komisi Penterjemah. 4. e. 1995. Komisi Penterjemah. Bijloo J. 29 Tahun 2002 tentang APBN Tahun 2003 Undang-undang No. Ali Tojib M. Kantor Menteri Negara Koordinator Bidang Ekonomi. Sistem Tata Usaha Keuangan Indonesia. f. h. 1996. Pusdiklat Anggaran BPLK Depkeu. c.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I DAFTAR PUSTAKA 1. Goedhart C. S. Peraturan-peraturan: a. 1982. Garis-garis Besar Ilmu Keuangan Negara. b. j. keuangan dan Pengawasan Pembangunan. k. 2.. Pusdiklatwas BPKP . i. g. Depkeu.. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara Undang-Undang No.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan Peraturan Pemerintah No. Jakarta. Modul 1: Kebijakan Umum Pengadaan Barang dan Jasa. Jakarta.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN 135 6. 42 Tahun 2002 jo Keppres No. Dr. Jakarta. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 beserta Amandemennya Undang-undang nomor 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak Undang-undang No. d. 2 tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri Keputusan Presiden No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Undang-undang No. 72 tahun 2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Keputusan Presiden No. 1979. 5. 3. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa instansi pemerintah beserta amandemen I s/d VII Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Undang-undang No.H. Anggaran Negara. Penerbit Jembatan. Drs. Terjemahan oleh Ratmoko. Perbendaharaan.

Peraturan-peraturan tentang Pengelolaan Dana Pinjaman/Hibah Luar Negeri dari Bappenas dan Departemen Keuangan Panduan Bagi KPPN dan Bendahara Pemerintah sebagai Pemotong/Pemungut Pajak-Pajak Negara. Departemen Komunikasi dan Informatika.2006 Pusdiklatwas BPKP .2007 136 . o. m. Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. Biro Keuangan. Per-66/PB/2005 tentang Mekanisme Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Surat Edaran Direktur Jenderal Anggaran Nomor 136/A/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 42/2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN Surat Edaran Direktur Jenderal Anggaran Nomor 157/A/2002 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan APBN Peraturan-peraturan tentang Pengelolaan Setoran Penerimaan Negara Melalui Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi n. Republik Indonesia.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I l. 8. 7.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful