P. 1
Pedoman Pelaksanaan Anggaran

Pedoman Pelaksanaan Anggaran

|Views: 437|Likes:
Published by aagun85
Pedoman pelaksanaan anggaran yang diterbitkan oleh BPKP
Pedoman pelaksanaan anggaran yang diterbitkan oleh BPKP

More info:

Published by: aagun85 on Jul 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/04/2015

pdf

text

original

Sections

  • A. LATAR BELAKANG
  • B. TUJUAN PEMELAJARAN UMUM (TPU)
  • C. TUJUAN PEMELAJARAN KHUSUS (TPK)
  • D. DESKRIPSI SINGKAT STRUKTUR MODUL
  • E. METODOLOGI PEMELAJARAN
  • A. PENETAPAN PEJABAT PENGELOLA ANGGARAN
  • B. PENERBITAN DAN PENGESAHAN DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA)
  • BAB III MEKANISME PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN NEGARA
  • A. PENERIMAAN PERPAJAKAN
  • B. PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP)
  • C. PENERIMAAN PENGEMBALIAN BELANJA
  • penerimaan pengembalian belanja pegawai,
  • A. DASAR HUKUM
  • B. KEWAJIBAN DAN SANKSI PERPAJAKAN BENDAHARA
  • C. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 21 DAN PASAL 26
  • D. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 22
  • E. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 23/26
  • F. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPN DAN PPnBM
  • BAB V MEKANISME PELAKSANAAN BELANJA NEGARA
  • A. PEDOMAN PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA NEGARA
  • D. PELAPORAN REALISASI ANGGARAN BELANJA
  • E. BAHAN DISKUSI DAN SOAL LATIHAN
  • B. POKOK-POKOK KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMERINTAH
  • C. PROSEDUR PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH
  • D. BAHAN DISKUSI DAN SOAL LATIHAN
  • DAFTAR PUSTAKA

DIKLAT PEMBENTUKAN AUDITOR TERAMPIL

PPA I
KODE MA : 1.150

PEDOMAN PELAKSANAAN ANGGARAN I

2007
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGAWASAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN EDISI KELIMA

Judul Modul
Penyusun

: Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Perevisi I Perevisi II Perevisi III Perevisi IV Pereviu Editor

: Drs. Achmad Sadji, M.M. Drs. Abdul Kadir R. Bambang S.W., Ak., M.B.A. Drs. Bistok Manurung : Drs. Achmad Sadji, M.M. Drs. Abdul Kadir R. : Drs. Sunarto : Nurharyanto, Ak : Sigit Susilo Broto, Ak., M Comm Suhartanto, Ak., M.M. : Linda Ellen Theresia, SE., M.B.A. : Rini Septowati, Ak., M.M.

Dikeluarkan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP dalam rangka Diklat Sertifikasi JFA Tingkat Terampil
Edisi Pertama Edisi Kedua (Revisi Pertama) Edisi Ketiga (Revisi Kedua) Edisi Keempat (Revisi Ketiga) Edisi Kelima (Revisi Keempat) : : : : : Tahun 1998 Tahun 2000 Tahun 2004 Tahun 2006 Tahun 2007

ISBN 979-95661-1-8 (no. jilid lengkap) ISBN 979-95661-2-6 (jilid 1)

Dilarang keras mengutip, menjiplak, atau menggandakan sebagian atau seluruh isi modul ini, serta memperjualbelikan tanpa izin tertulis dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP

Pusdiklatwas BPKP
Jln. Beringin II Pandansari, Ciawi Bogor 16720

ISBN 979-95661-1-8 ISBN 979-95661-2-6

2007 i .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pusdiklatwas BPKP .

....................................... 29 Penerimaan Pengembalian Belanja ... B..... 1 Tujuan Pemelajaran Umum (TPU)......................... 4 BAB II PERSIAPAN PELAKSANAAN ANGGARAN ............ C...................................................................................... E.......................... BAB III A.. ................................ 39 MEKANISME PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN PAJAK-PAJAK NEGARA OLEH BENDAHARA ......... Penetapan Pejabat Pengelola Anggaran . B.............................................. D...... i BAB I PENDAHULUAN .... 27 Penerimaan Perpajakan . Error! Bookmark not defined........................ 43 Bendahara Sebagai Pemotong Pph Pasal 21 Dan Pasal 26........................................ 14 MEKANISME PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN NEGARA ............ 2 Tujuan Pemelajaran Khusus (TPK) ....................... E.......... Latar Belakang ....... 53 Bendahara Sebagai Pemotong Ppn Dan Ppnbm ......... 56 Pusdiklatwas BPKP ................ BAB IV A.. B.................................................... C...................................................... 52 Bendahara Sebagai Pemotong Pph Pasal 23/26......................... 6 Penerbitan Dan Pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA) ...................................................... 46 Bendahara Sebagai Pemotong Pph Pasal 22 .................................. 2 Deskripsi Singkat Struktur Modul .............. 42 Dasar Hukum ..................................... F.............................2007 ii ............................................. D. 42 Kewajiban Dan Sanksi Perpajakan Bendahara .................... 3 Metodologi Pemelajaran..... 1 A............................................................................................................... 27 Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).................. DAFTAR ISI ............. C.. B............. 6 A.............................................................................Pedoman Pelaksanaan Anggaran I DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ...............

...............................Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB V A.......... 95 Pokok-Pokok Kebijakan Pengadaan Barang Dan Jasa Pemerintah ...................................125 Bahan Diskusi Dan Soal Latihan...... 95 Prinsip Dasar...... D. 71 Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Oleh Bendahara Umum Negara (BUN)/Kuasa BUN ....…………………………………....................... 60 Pedoman Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara...... C..............…. C........... B................................ E...……............... Etika.........100 Prosedur Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah............. Kebijakan Umum... 91 POKOK-POKOK PENGADAAN BARANG DAN JASA INSTANSI PEMERINTAH ........... MEKANISME PELAKSANAAN BELANJA NEGARA ...........................................2007 iii .............. 60 Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran................................ 86 Pelaporan Realisasi Anggaran Belanja.................. B............................................................... Dan Ruang Lingkup Pengadaan Barang Dan Jasa ....................................…..135 Pusdiklatwas BPKP ....132 DAFTAR PUSTAKA…....................................................................... 90 Bahan Diskusi Dan Soal Latihan......... D.............. BAB VI A.....................

LATAR BELAKANG Pelaksanaan anggaran merupakan salah satu tahapan dari siklus anggaran yang dimulai dari pengesahan pelaksanaan anggaran oleh anggaran. Modul ini akan menguraikan pedoman pelaksanaan anggaraan APBN. khususnya terkait dengan Undang-undang Pusdiklatwas BPKP . sebagaimana ditetapkan dalam Pola Diklat Auditor Bagi Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah. Dalam rangka terjadinya kesatuan pemahaman serta kesatuan langkah dalam pelaksanaan. Pada saat ini keppres yang berlaku adalah Keppres nomor 42 tahun 2002. Tahapan pelaksanaan anggaran ini dimulai ketika UU Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disahkan oleh DPR.2007 1 . dan pengawasan anggaran pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB I PENDAHULUAN A. penetapan dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). pemerintah sebagai pelaksana dari UU APBN selanjutnya menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagai dasar hukum pelaksanaan APBN. Modul Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (PPA I) ini telah mengalami beberapa kali revisi dan penyempurnaan sejalan dengan perubahan ketentuan pengelolaan keuangan negara yang telah berkembang dan berubah secara signifikan. Modul ini disusun untuk memenuhi materi pemelajaran pada Diklat Pembentukan Auditor Ahli di lingkungan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dengan jumlah jam pelatihan sebanyak 25 jam latihan. perencanaan anggaran.

menjelaskan menjelaskan mekanisme pelaksanaan belanja negara. mekanisme pembayaran melalui uang persediaan. 4. menjelaskan mekanisme pemotongan/pemungutan pajak-pajak negara oleh bendahara. TUJUAN PEMELAJARAN UMUM (TPU) Tujuan pemelajaran umum modul ini adalah agar para auditor setelah mengikuti diklat ini diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara. peserta diklat diharapkan akan mampu: 1. Undang-undang No. penerimaan negara bukan 3. 2.15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan Keputusan Presiden Nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN beserta ketentuan-ketentuan pelaksanaan anggaran yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN). pajak (PNBP) dan penerimaan yang berasal dari penyelesaian kerugian keuangan negara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I No. menjelaskan persiapan pelaksanaan anggaran yang meliputi penetapan dan pengangkatan pejabat pengelola anggaran serta penerbitan DIPA sebagai dasar pelaksanaan anggaran. proses pencairan dana APBN dan proses penerbitan SPM.2007 2 . menjelaskan mekanisme pelaksanaan penerimaan negara yang meliputi: penerimaan sektor perpajakan. TUJUAN PEMELAJARAN KHUSUS (TPK) Setelah mengikuti pelajaran ini. C. serta anggaran pembiayaan khususnya pembiayaan yang bersumber dari pinjaman luar negeri. B.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan Undang-undang No. penerbitan Pusdiklatwas BPKP .

dilanjutkan dengan pembahasan tentang mekanisme pelaksanaan anggaran pendapatan dan mekanisme pelaksanaan anggaran belanja yang diuraikan dalam Bab III dan Bab V. 2002 persiapan dijelaskan Keppres tahun hingga penunjukkan dan penetapan penyedia langkah-langkah pelaksanaan anggaran yang diuraikan dalam Bab I. sesuai dengan Keppres 80 tahun 2003. oleh karena itu. Pembahasan modul PPA I ini akan diakhiri dengan pembahasan tentang pokok-pokok pengadaan barang dan jasa instansi pemerintah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I SP2D oleh KPPN serta memahami mekanisme pelaporan realisasi APBN. Pembahasan mekanisme pengadaan barang dan jasa ini dianggap penting dan wajib diketahui bagi auditor. karena alokasi anggaran belanja yang paling dominan pada instansi pemerintah adalah anggaran yang dialokasikan untuk pengadaan barang/jasa. seorang auditor wajib memahami hal ini dan secara khusus mekanisme pengadaan barang/jasa ini dibahas dalam Bab VI. mekanisme ini akan secara khusus dibahas dalam Bab IV. D. oleh karena itu. 5. barang/jasa. Mekanisme penting yang perlu ditekankan dalam pelaksanaan anggaran ini adalah mekanisme pemotongan/pemungutan pajak oleh bendahara. Pusdiklatwas BPKP . 6.2007 3 . DESKRIPSI SINGKAT STRUKTUR MODUL Modul ini membahas pedoman pelaksanaan anggaran baik dari sisi administrasi sebagaimana pembahasan maupun telah akan teknis diawali substansi dalam dengan pelaksanaan 42 anggaran. menjelaskan mekanisme pembiayaan APBN dengan sumber pembiayaan dari pinjaman/hibah luar negeri. menjelaskan mekanisme pengadaan barang dan jasa. sejak proses persiapan.

yaitu: 1. E. peserta dipacu untuk berperan serta secara aktif melalui komunikasi dua arah. perkembangan perubahan peraturan pelaksanaan teknis di bidang pengelolaan anggaran yang dikeluarkan oleh instansi terkait seperti Menteri Keuangan c.2007 4 . Ditjen Anggaran dan Perimbangan Keuangan Daerah. Bab I Bab II Bab III Bab IV : Pendahuluan : Persiapan Pelaksanaan Anggaran : Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Pendapatan : Mekanisme Pemotongan/Pemungutan Pajak Negara oleh Bendahara Bab V Bab VI : Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Belanja : Pokok-Pokok Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah Guna menghindari kesalahan interpretasi terhadap materi pemelajaran yang tercantum dalam modul ini.q Ditjen Perbendaharaan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Secara sistematis. dan ketentuan lainnya merupakan pelengkap yang tidak terpisahkan dari materi modul ini. Dengan metode ini. modul ini lebih menitikberatkan pada sisi anggaran pendapatan dan belanja pada instansi pemerintah pusat (APBN). Metode pemelajaran ini menerapkan Pusdiklatwas BPKP . urutan pembahasan dalam modul ini sebagai berikut. substansi proses modul belajar Pedoman mengajar Pelaksanaan menggunakan pendekatan andragogi. METODOLOGI PEMELAJARAN Agar peserta mampu Anggaran memahami I (PPA I). 2. maka terdapat beberapa batasan yang digunakan dalam revisi modul ini.

modul ini dilengkapi pula dengan soal-soal teori dan pertanyaan kasus/bahan diskusi. Untuk lebih membantu pemahaman peserta. Agar proses pendalaman materi dapat berlangsung dengan lebih baik.2007 5 . Instruktur akan membantu peserta dalam memahami materi dengan metode ceramah dan pembahasan contoh kasus.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I kombinasi proses belajar mengajar dengan cara ceramah. dilakukan pula diskusi kelompok sehingga peserta benar-benar dapat secara aktif terlibat dalam proses belajar mengajar. tanya jawab. Pusdiklatwas BPKP . Dalam proses ini peserta diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan pendapat. dan diskusi pemecahan kasus.

langkah pertama yang dilakukan dalam tahap pelaksanaan anggaran meliputi penetapan pejabat pengelola anggaran serta penerbitan dan pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA) sebagai dasar hukum pelaksanaan anggaran bagi masing-masing kementerian/lembaga dan instansi pemerintah lainnya. Ketika Undang-Undang tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disetujui oleh DPR dan ditetapkan sebagai UndangUndang APBN. Pada saat ini. maka selesailah tahapan kedua dari siklus anggaran yaitu tahapan penetapan dan pengesahan UU APBN oleh DPR.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB II PERSIAPAN PELAKSANAAN ANGGARAN Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. dimulailah tahap ketiga yaitu tahap pelaksanaan anggaran (APBN) merupakan tersebut. A.2007 6 . Negara. peserta diklat diharap mampu menjelaskan persiapan pelaksanaan anggaran yang meliputi penetapan dan pengangkatan pejabat pengelola anggaran serta penerbitan DIPA sebagai dasar pelaksanaan anggaran. sesuai dengan UU 17 tahun pemisahan fungsi pejabat 2003 tentang Keuangan Negara dan UU 1 tahun 2004 tentang mengatur pengelola keuangan negara yang terdiri dari: Menteri Keuangan selaku kewenangan Presiden selaku kepala pemerintah yang untuk melaksanakan seluruh kebijakan yang telah tertuang dalam undang-undang Pusdiklatwas BPKP . PENETAPAN PEJABAT PENGELOLA ANGGARAN Sistem Administrasi Keuangan Perbendaharaarn Negara. Pada awal tahun anggaran.

1 Tahun 2004 Menteri Teknis Selaku Pengguna Anggaran Menteri Keuangan Selaku Bendahara Umum Negara PEMBUATAN PENGUJIAN & KOMITMEN PEMBEBANAN PERINTAH PEMBAYARAN PENGUJIAN & PEMBEBANAN PERINTAH PENCARIAN DANA Pengurusan Administrasi administrasi beheer Gambar 2. pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara (PNBP). Pengurusan Komtabel comptabel beheer Pelaksanaan anggaran selanjutnya secara teknis dilakukan oleh kementerian dan lembaga terkait dengan menteri/pimpinan lembaga sebagai pengguna anggaran/pengguna barang.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Manajer Keuangan Negara (Chief Financial Officer /CFO) dan Bendahara Umum Negara (BUN). kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang. 2. KEWENANGAN FUNGSI ADMINISTRASI MENURUT UU No. Pada awal tahun anggaran. menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran menetapkan para pejabat di lingkungannya yang ditunjuk sebagai: 1. Struktur Organisasi dan pejabat yang berwenang dalam [pengelolaan keuangan negara dapar digambarkan sebagai berikut. pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja negara. sementara Pimpinan Kementerian/Lembaga selaku Pengguna Anggaran (Chief Operational Officer /COO).1. Pusdiklatwas BPKP . 3.2007 7 .

2007 8 . bendahara penerimaan untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran penerimaan.2. Dari flow chart di atas. Dengan ketentuan: pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja (butir 3) tidak boleh merangkap sebagai pejabat sebagaimana pada butir 4. 5. 6. Selanjutnya merujuk pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 606/PMK. Ditjen Roren Policy Formula Rokeu Policy Implementation SPP KPPN voucher SPP Gambar 2.606/2004 tentang Pedoman Pembayaran dalam pelaksanaan Pusdiklatwas BPKP . 5.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4. sebagaimana seorang pejabat eselon IV (kuasa BUN) di KPPN menandatangani SP2D atas nama Menteri Keuangan/Bendahara Umum Negara. tampak bahwa kewenangan pengguna anggaran dapat dikuasakan kepada eselon/pejabat yang lebih rendah yakni dari menteri teknis sampai dengan kepada eselon IV (kuasa pengguna anggaran). bendahara pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran belanja. Perbandingan Kewenangan Pengguna Anggaran Menteri Teknis Menteri Keuangan Ditjen Setjen DJAPK Policy Formula DJPb Policy Implementation Set. dan 6. pejabat yang bertugas melakukan pengujian dan perintah pembayaran.

pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran. Gambar di bawah ini. pejabat yang diberi kewenangan untuk menerbitkan dan menandatangani SPM. menjelaskan suatu struktur organisasi yang ideal menurut amanah UU No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 3. kuasa pengguna anggaran.3. Keputusan tersebut bertujuan menyerahkan sepenuhnya kewenangan menteri teknis. 2. STRUKTUR ORGANISASI PENGELOLA KEUANGAN NEGARA (IDEAL MENURUT UU) MENTERI PENGGUNA ANGGARAN SATKER KUASA PENGGUNA ANGGARAN PEMBUAT KOMITMEN BENDAHARA PENGUJI TAGIHAN PENERBIT SPM UNIT AKUNTANSI INSTANSI Pusdiklatwas BPKP .2007 9 . Gambar 2. dengan catatan tidak diperkenankan perangkapan jabatan pembuat komitmen dengan jabatan bendahara pengeluaran. 4.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I APBN Tahun 2005 dan Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-050/PB/2004 bahwa menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran menerbitkan keputusan tentang penunjukan: 1. bendahara pengeluaran.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Gambar 2.4.

SATUAN KERJA (Satker) - PUSAT DIPA Satker 1. eselon 2 Kegiatan a Kegiatan b 2. eselon 2 Kegiatan 3. eselon 2 .. Dst. 1 DIPA 1 ESELON 1 1 PROVINSI

SATUAN KERJA (Satker) - PUSAT
1 DIPA 1 ESELON 1 1 PROVINSI

DIPA Satker a Kegiatan a Kegiatan b Satker b Kegiatan a Kegiatan b …Dst

Pusdiklatwas BPKP - 2007

10

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Gambar 2.5.

KEMENTERIAN NEGARA
SATKER KUASA PENGGUNA ANGGARAN

SETJEN DITJEN
ESELON 2 KUASA PENGGUNA ANGGARAN

BADAN IRJEN
ESELON 3 KUASA PENGGUNA ANGGARAN

Gambar 2.6. TINGKAT SEKRETARIAT JENDERAL DEPARTEMEN/LEMBAGA SEKJEN
KUASA PENGGUNA ANGGARAN

KEPALA BIRO

KARO KEUANGAN

KEPALA BIRO

PEMBUAT KOMITMEN

BENDAHARA

PENGUJI TAGIHAN

PENERBIT SPM

UNIT AKUNTANSI

Pusdiklatwas BPKP - 2007

11

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Gambar 2.7 TINGKAT DIREKTORAT JENDERALKEMENTERIAN/ LEMBAGA DITJEN
KUASA PENGGUNA ANGGARAN

DIREKTUR

SEK.DITJEN

DIREKTUR

PEMBUAT KOMITMEN

BENDAHARA

PENGUJI TAGIHAN

PENERBIT SPM

UNIT AKUNTANSI INSTANSI

Gambar 2.8. TINGKAT INPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN / LEMBAGA

IRJEN KPA

INSPEKTUR

SEK. ITJEN

INSPEKTUR

PEMBUAT KOMITMEN

BENDAHARA

PENGUJI TAGIHAN

PENERBIT SPM

UNIT AKUNTANSI

Pusdiklatwas BPKP - 2007

12

2007 13 . INSTANSI BADAN PADA KEMENTERIAN/ LEMBAGA BADAN KPA DEPUTI/KA PUSAT SEKBADAN DEPUT/KAPUS PEMBUAT KOMITMEN BENDAHARA PENGUJI TAGIHAN PENERBIT SPM UNIT AKUNTANSI Gambar 2.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Gambar 2.10. TINGKAT ESELON II PADA KEMENTERIAN / LEMBAGA: ESELON 2 KUASA PENGGUNA ANGGARAN KEPALA BIDANG KABAG. UMUM KEPALA BIDANG PEMBUAT KOMITMEN BENDAHARA PENERBIT SPM PEMBUAT KOMITMEN PENGUJI TAGIHAN UNIT AKUNTANSI INSTANSI Pusdiklatwas BPKP .9.

program. rencana penarikan dana tiap-tiap bulan dalam satu tahun serta pendapatan yang diperkirakan oleh kementerian/lembaga.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Gambar 2. jenis belanja. DIPA merupakan suatu daftar isian yang memuat uraian: sasaran yang hendak dicapai. rincian kegiatan/sub kegiatan. sasaran program. Dengan demikian dokumen DIPA yang lengkap terdiri dari: Pusdiklatwas BPKP . fungsi. 11 TINGKAT ESELON III PADA KEMENTERIAN/LEMBAGA ESELON 3 KUASA PENGGUNA ANGGARAN KEPALA SEKSI PEMBUAT KOMITMEN KASUBAG TU PENERBIT SPM KEPALA SEKSI BENDAHARA PENGUJI TAGIHAN PENGUJI TAGIHAN UNIT AKUNTANSI INSTANSI B. DIPA yang lengkap memuat uraian fungsi/sub fungsi. PENERBITAN DAN PENGESAHAN DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA) 1. Konsep DIPA Pelaksanaan anggaran pada setiap instansi pemerintah didasarkan pada sebuah dokumen yang disebut Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA). program dan rincian kegiatan.2007 14 . kelompok mata anggaran keluaran dan rencana penarikan dana serta perkiraan penerimaan kementerian negara/lembaga.

dalam pasal 15 undang-undang yang sama menyatakan bahwa anggaran yang disetujui oleh DPR dirinci dalam unit organisasi. fungsi dan jenis belanja. Pusdiklatwas BPKP . volume keluaran yang hendak dicapai serta alokasi dana pada masing-masing belanja yang dicerminkan dalam mata anggaran keluaran. program. Memuat informasi setiap satuan kerja tentang uraian kegiatan/sub kegiatan. fungsi. program dan sasarannya serta indikator keluaran untuk masing-masing kegiatan. Struktur Penganggaran Masing-masing kementerian negara/lembaga dibagi dalam tingkat eselon I. Memuat informasi tentang rencana penarikan dana dan penerimaan negara bukan pajak yang menjadi tanggung jawab setiap satuan kerja. Lebih jauh. 17/2003 menyatakan bahwa anggaran belanja negara dibagi atas unit organisasi. Selanjutnya informasi yang terdapat dalam DIPA dapat dijelaskan sebagai berikut. kegiatan dan jenis belanja. Memuat catatan tentang hal-hal yang perlu menjadi perhatian oleh pelaksana kegiatan. a. Memuat informasi yang bersifat umum dari setiap satuan kerja tentang rincian fungsi.2007 15 . Dalam pasal 11 ayat 5 UU No.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Surat Pengesahan DIPA DIPA halaman I (Umum) DIPA halaman II DIPA halaman III DIPA halaman IV Pengesahan DIPA yang ditandatangani Dirjen Perbendaharaan atau Kepala Kanwil DJPB atas nama Menteri Keuangan.

Penggunaan fungsi dan sub fungsi disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing kementerian negara/lembaga. Fungsi adalah perwujudan tugas kepemerintahan di bidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional. anggaran merupakan anggaran berdasarkan organisasi antara lain menurut kementerian negara/lembaga. Pelaksanaan. Sub fungsi merupakan penjabaran fungsi yang dirinci ke dalam 79 (tujuh puluh sembilan) sub fungsi. walaupun tetap ada sedikit kesulitan apabila program dimaksud dilaksanakan Bagian secara lintas unit organsasi klasifikasi dan lintas kementerian negara/lembaga. 2) Fungsi dan Sub Fungsi Klasifikasi anggaran dibagi menurut fungsi. hal ini akan sangat membantu dalam penyusunan struktur program dan kegiatan. unit eselon II dan unit eselon III yang bertanggung jawab terhadap suatu pelaksanaan kegiatan pendukung program.2007 16 . Dengan demikian tanggung jawab dan kewenangan akan lebih jelas bagi para manajer. monitoring. dan pelaporan anggaran akan menjadi suatu sinergi yang positif apabila ada sinkronisasi antara struktur program dan kegiatan dengan struktur organisasinya. Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 1) Organisasi dan Bagian Anggaran Klasifikasi organisasi yang digunakan dalam anggaran belanja negara adalah sesuai unit yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan suatu program.

serta staf yang ditunjuk secara politis untuk membantu lembaga eksekutif dan legislatif. MPR. sub fungsi ini (01.01. Wakil DPRD. kegiatan politik dalam negeri. penasehat. Presiden. utang pemerintah. lembaga eksekutif dan legislatif. kegiatan luar negeri termasuk Menteri Luar Negeri. misi-misi internasional dll. penyediaan dan penyebaran informasi. administrasi. kegiatan keuangan dan fiskal dan pelayanan pada seluruh tingkatan pemerintah. operasi atau dukungan untuk lembaga eksekutif. semua badan atau kegiatan yang bersifat tetap atau sementara yang ditujukan untuk membantu lembaga eksekutif dan legislatif. statistik mengenai politik dalam negeri. manajemen kas negara. termasuk kegiatan kantor kepala eksekutif pada semua level: legislatif: Presiden. komite antar departemen dan lain-lain yang terkait dengan fungsi tertentu (diklasifikasikan sesuai dengan fungsi masing-masing). operasional perpajakan. keuangan dan fiskal. statistik keuangan dan fiskal. legislatif. kegiatan diplomat. pembayaran cicilan utang dan berbagai kewajiban pemerintah sehubungan dengan Pusdiklatwas BPKP . dan penyediaan dan penyebaran informasi dokumentasi. bupati/walikota dan lain-lain. semua tingkatan lembaga DPR. kegiatan kementerian keuangan. keuangan dan fiskal serta urusan luar negeri digunakan untuk: administrasi.01) tidak termasuk untuk kantorkantor kementerian baik di pusat maupun di daerah.2007 17 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Contoh sub fungsi 01. lembaga gubernur. dokumentasi.

Timbulnya sub kegiatan adalah sebagai konsekuensi adanya perbedaan jenis dan satuan keluaran antar sub kegiatan dalam kegiatan dimaksud. 4) Kegiatan dan Sub Kegiatan Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program. dana. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sub kegiatan yang satu dipisahkan dengan sub kegiatan lainnya berdasarkan perbedaan keluaran. baik yang berupa personil (sumber daya manusia). 3) Program Program adalah penjabaran kebijakan kementerian negara/lembaga dalam bentuk upaya yang berisi satu atau beberapa kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi kementerian negara/lembaga.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I utang pemerintah. yang terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya. bantuan pemerintah RI kepada negara lain dalam rangka bantuan ekonomi.2007 18 . barang modal termasuk peralatan dan teknologi. Sub kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian sasaran dan tujuan kegiatan tersebut. atau kombinasi dari beberapa atau semua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. Contoh : Kegiatan pendidikan dan pelatihan aparatur negara dengan sub kegiatan: Pusdiklatwas BPKP .

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

penyelenggaraan jumlah peserta didik;

Diklat

Penjenjangan

Jabatan

Fungsional Auditor (JFA) dengan keluaran antara lain: • • penyelenggaraan Diklat Fungsional dengan keluaran antara lain: jumlah lulusan; pengembangan kurikulum diklat dengan keluaran antara lain: jumlah modul. 5) Jenis Belanja Klasifikasi anggaran menurut jenis belanja dibagi ke dalam delapan kategori sebagai berikut. a) Belanja pegawai yaitu kompensasi dalam bentuk uang maupun barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah yang bertugas di dalam maupun di luar negeri sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan. Dikecualikan untuk pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. Belanja ini antara lain digunakan untuk gaji dan tunjangan, honorarium, vakasi, lembur dan kontribusi sosial. b) Belanja barang yaitu pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memroduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan. Belanja ini antara lain digunakan untuk pengadaan barang dan jasa, pemeliharaan, dan perjalanan. c) Belanja Modal yaitu pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal. Dalam belanja ini termasuk untuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jaringan, maupun dalam bentuk fisik lainnya, seperti buku, binatang dan lain sebagainya.
Pusdiklatwas BPKP - 2007

19

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

d) Beban Bunga yaitu pembayaran yang dilakukan atas kewajiban penggunaan pokok utang (principal

outstanding), baik utang dalam negeri maupun utang
luar negeri yang dihitung berdasarkan posisi pinjaman. e) Subsidi yaitu alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi, menjual, mengekspor, atau mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak, sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat terjangkau oleh masyarakat. Belanja ini antara lain digunakan untuk penyaluran subsidi kepada perusahaan negara dan perusahaan swasta. f) Bantuan Sosial yaitu transfer uang atau barang yang diberikan kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya risiko sosial. Bantuan sosial dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atau lembaga kemasyarakatan. Bantuan ini antara lain untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. g) Hibah yaitu transfer dana yang sifatnya tidak wajib kepada negara lain atau kepada organisasi internasional. Belanja ini antara lain digunakan untuk hibah kepada pemerintah luar negeri dan organisasi internasional. h) Belanja lain-lain yaitu pengeluaran/belanja

pemerintah pusat yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam jenis belanja pada huruf a) sampai dengan huruf g) tersebut di atas.

Pusdiklatwas BPKP - 2007

20

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Dalam (non

pengalokasian

dana

oleh

kementerian

negara/lembaga harus memerhatikan pagu yang terikat

discretionary) dan pagu yang tidak terikat

(discretionary) yang telah disepakati oleh pemerintah bersama-sama DPR. Pagu terikat adalah jumlah dana yang tidak dapat diubah selain untuk belanja yang sudah ditentukan antara lain pagu pembayaran gaji dan tunjangan (belanja pegawai) serta biaya langganan daya dan jasa. Sesuai dengan ketentuan UU No. 17 Tahun 2003 bahwa belanja negara digunakan pemerintah klasifikasi pusat untuk dan keperluan pelaksanaan jenis belanja penyelenggaraan daerah, maka

perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan dan berdasarkan diupayakan untuk memenuhi ketentuan tersebut. b. Lokasi DIPA juga menginformasikan lokasi pelaksanaan kegiatan/sub kegiatan, yaitu dengan memberikan informasi alamat pelaksanaan kegiatan seperti provinsi, kabupaten, kota atau lokasi di luar negeri. 2. Prosedur Penyelesaian DIPA a. Prosedur Penyelesaian DIPA di Pusat Prosedur penelaahan dan penyusunan DIPA di pusat diatur sebagai berikut. 1) Setelah keputusan presiden tentang Rincian APBN diterbitkan, dan data Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) diterima dari Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan (DJAPK), Direktorat Pelaksanaan Anggaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan

Pusdiklatwas BPKP - 2007

21

Pusdiklatwas BPKP . PA DJPBN melakukan penelaahan DIPA yang diajukan kementerian negara/lembaga dengan mengacu kepada: i) alokasi anggaran yang ditetapkan Presiden. 2) Petugas penelaah Dit. Rincian tersebut meliputi kegiatan yang akan dilaksanakan di kantor pusat dan di daerah termasuk kegiatan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. PA DKBN dan kementerian negara/lembaga melakukan penelaahan semua kegiatan yang tertuang dalam DIPA dan melampirkan: catatan pembahasan. Setelah Surat Rincian Alokasi Anggaran (SRAA) diterima dari Kantor Pusat DJPBN. Kemudian memberitahukan kepada satker-satker untuk segera menyusun konsep DIPA yang selanjutnya disampaikan kepada Kanwil DJPBN beserta disketnya. PA DJPBN) segera menghubungi membuat kegiatan kementerian perincian akan yang negara/lembaga pelaksanaan untuk segera untuk anggaran dilaksanakan. dan dokumen pendukung untuk diteliti lebih lanjut. 3) Petugas penelaah Dit. Kanwil DJPBN segera menyampaikan copy SRAA kepada Kantor Daerah Kementerian Negara/Lembaga atau satker pelaksana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk menyusun Konsep DIPA dan segera melakukan koordinasi dengan semua satker di wilayah pembinaannya.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (Dit. b.2007 22 . Prosedur Penyelesaian DIPA di Daerah Prosedur penelaahan dan penyusunan DIPA di daerah diatur sebagai berikut. ii) rencana kerja dan anggaran satuan kerja pada kementerian negara/lembaga. konsep surat pengesahan DIPA/konsep DIPA.

c. Penelahaan DIPA dilakukan secara bersamaan Pusdiklatwas BPKP . 4.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. − subkelompok pendapatan 42315 untuk pendapatan jasa II. Rencana Pendapatan Penatausahaan pendapatan dimulai dari satuan kerja dikoordinasikan oleh kementerian negara/lembaga dengan mengikuti kelompok pendapatan sebagai berikut. b. c. b. a. − MAP 423154 untuk pendapatan jasa catatan sipil. rencana penarikan dana per bulan adalah seperdua belas dari pagu gaji 1 tahun. a. Rencana Penarikan Dana Dalam hal pencantuman angka rencana penarikan dana pada halaman III DIPA berdasarkan rencana kerja satker perlu memerhatikan hal-hal sebagai berikut. a. Penetapan DIPA dan SP DIPA Dalam penetapan DIPA dan Surat Pengesahan DIPA (SP DIPA) dikategorikan sebagai berikut. DIPA Kantor Pusat DIPA Kantor Pusat adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanaannya dilakukan oleh kantor pusat kementerian negara/lembaga. agar memerhatikan kebutuhan berdasarkan rencana pelaksanaan kegiatan. Untuk belanja modal. Untuk belanja pegawai. 5. Lima digit pertama merupakan sub kelompok pendapatan. agar memerhatikan batas penarikan dana triwulan. Tiga digit pertama merupakan kelompok pendapatan.2007 23 . Untuk belanja barang. Enam digit merupakan mata anggaran penerimaan (MAP) Contoh: − kelompok pendapatan 423 untuk PNBP lainnya.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

antara

Direktorat

Pelaksanaan

Anggaran

DJPBN

dengan

kementerian negara/lembaga terkait. Menteri/pimpinan lembaga atau pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA, dan Dirjen Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP DIPA. b. DIPA Kantor Daerah DIPA Kantor Daerah adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanaannya dilakukan oleh kantor daerah/instansi vertikal kementerian negara/lembaga. Penelahaan DIPA dilakukan secara bersama antara Kanwil DJPBN dengan kantor daerah/intansi vertikal kementerian negara/lembaga. Kepala kantor daerah/instansi vertikal kementerian negara/lembaga atau pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA, dan Kanwil DJPBN atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP DIPA. c. DIPA Dalam Rangka Pelaksanaan Dekonsentrasi DIPA dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang pelaksanaannya dilimpahkan kepada gubernur. Penelahaan DIPA dilakukan secara bersama antara Kanwil DJPBN dengan dinas terkait atas nama gubernur. Gubernur atau kepala dinas atau pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA, dan Kanwil DJPBN atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP DIPA. d. DIPA Dalam Rangka Pelaksanaan Tugas Pembantuan DIPA dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan adalah dokumen ditugaskan Pelaksanaan pelaksanaan kepada anggaran yang pelaksanaannya daerah. gubernur/bupati/walikota/kepala DJPBN dengan

Penelaahan DIPA dilakukan secara bersama antara Direktorat Anggaran kementerian negara/lembaga terkait. Menteri/pimpinan lembaga atau pejabat

Pusdiklatwas BPKP - 2007

24

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

yang DIPA.

ditunjuk

menetapkan

DIPA,

dan

Direktur

Jenderal

Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP

6. Revisi DIPA DIPA yang sudah disahkan oleh DJPBN atau Kepala Kanwil DJPBN apabila diperlukan dapat dilakukan revisi oleh satker yang bersangkutan dan selanjutnya diajukan kepada DJPBN atau Kanwil DJPBN untuk ditelaah dan disahkan, dengan catatan sebagai berikut. a. Dapat dilakukan realokasi dana antar sub kegiatan dalam satu kegiatan. b. Dapat dilakukan perubahan volume keluaran pada sub kegiatan tanpa merubah alokasi dana kegiatan dan masih sesuai dengan sasaran kegiatan dan atau sasaran program. c. Dapat dilakukan realokasi dana antar MAK dalam satu jenis belanja sepanjang tidak mengurangi: 1) gaji dan berbagai tunjangan yang melekat dengan gaji: 2) belanja untuk langganan listrik, telepon, gas dan air; 3) pembayaran untuk berbagai tunggakan; 4) alokasi untuk dana pendamping PHLN; 5) belanja barang untuk pengadaan bahan makanan (MAK 52 1113). d. Dalam revisi DIPA tidak diperkenankan ada perubahan terhadap: 1) pagu untuk masing-masing unit organisasi; 2) pagu untuk masing-masing kegiatan dan masing-masing jenis belanja; 3) pagu untuk lokasi provinsi; 4) kegiatan dan program.

Pusdiklatwas BPKP - 2007

25

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I

Revisi DIPA yang menyebabkan realokasi dana antar satuan kerja dapat dilakukan oleh pimpinan unit organisasi (unit eselon I untuk tingkat pusat atau kanwil/koordinator satker untuk tingkat daerah) dan selanjutnya diajukan kepada DJPBN atau Kanwil DJPBN untuk diteliti dan disahkan. Terhadap revisi DIPA yang menyebabkan perubahan dalam butir 6.d.1 sampai dengan 4, harus mendapat persetujuan DPR melalui DJAPK. Keputusan atas perubahan tersebut disampaikan kepada instansi terkait. 7. Aktivitas Terkait Setelah DIPA disahkan, maka unit organisasi/satuan kerja dapat menerbitkan petunjuk pelaksanaan sebagai pedoman pelaksanaan lebih lanjut dari DIPA. Penyelesaian DIPA, mulai dari penyusunan konsep DIPA oleh kementerian negara/lembaga sampai dengan pengesahan DIPA oleh Dirjen Perbendaharaan atau Kepala Kanwil DJPBN agar memerhatikan waktu yang tersedia.

Pusdiklatwas BPKP - 2007

26

PENERIMAAN PERPAJAKAN Penerimaan perpajakan adalah semua penerimaan negara yang terdiri dari penerimaan pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB III MEKANISME PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN NEGARA Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. UU nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan negara menyatakan bahwa pendapatan negara merupakan hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. pajak pertambahan nilai barang/jasa dan pajak penjualan atas barang mewah. peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pelaksanaan penerimaan negara yang meliputi: penerimaan sektor perpajakan. pajak bumi dan bangunan. Salah satu hak pemerintah pusat adalah menggali sumber-sumber penerimaan bagi negara untuk membiayai berbagai belanja/pengeluaran negara yang berkaitan dengan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan. Sedangkan menurut UU nomor 18 tahun 2006 tentang APBN Tahun Anggaran 2007 manyatakan bahwa pendapatan negara dan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari perpajakan. A. Penerimaan perpajakan dalam negeri meliputi semua penerimaan negara yang berasal dari pajak penghasilan. penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan penerimaan yang berasal dari penyelesaian kerugian keuangan negara. serta penerimaan hibah dalam negeri dan luar negeri. bea perolehan hak atas tanah dan Pusdiklatwas BPKP .2007 27 . penerimaan negara bukan pajak.

2007 28 . dilakukan sesuai dengan mekanisme perpajakan sesuai dengan UU Nomor 28 tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas UU Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Perpajakan. Penerimaan perpajakan yang berasal dari wajib pajak pribadi dan perusahaan. kemudian menyetorkannya ke kas negara dan melaporkannya dalam laporan Surat Permberitahuan Pajak (SPT). BUMN/BUMD serta badan lainnya diwajibkan untuk memberikan informasi perpajakan kepada pemerintah. penerimaan uang negara dari perpajakan wajib disetorkan oleh wajib pajak dan atau wajib pungut ke kas negara pada bank pemerintah atau lembaga lain yang ditetapkan oleh Menteri keuangan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I bangunan. Pusdiklatwas BPKP . Pada prinsipnya. Oleh karena itu. cukai dan pajak lainnya. setiap bendahara instansi pemerintah baik pusat maupun daerah. Sedangkan. diuraikan dalam Bab IV) Selanjutnya dalam rangka meningkatkan intensifikasi penerimaan (Mekanisme pemotongan dan pemungutan pajak oleh bendahara selanjutnya akan pajak. wajib menyetorkan seluruh penerimaan pajak yang dipungutnya dalam waktu selambatlambatnya satu hari setelah uang pajak diterima. dalam rangka intensifikasi penerimaan pajak negara. setiap instansi pemerintah. BUMN/BUMD dan badan lainnya ditetapkan sebagai wajib pungut. Dalam mekanisme ini diterapkan Sistem Self-Assessment yaitu sistem penerimaan perpajakan yang mengatur wajib pajak untuk menghitung pajaknya sendiri. dilakukan dengan mekanisme pemotongan/pemungutan pajak oleh setiap instansi pemerintah yang melakukan pembayaran atas beban negara/daerah. Sedangkan pajak perdagangan internasional merupakan semua penerimaan negara yang berasal dari bea masuk dan pajak/pungutan ekspor. penerimaan perpajakan yang berkaitan dengan mekanisme pelaksanaan anggaran negara/daerah.

bendahara dan badan lain yang melakukan pembayaran atas beban APBN/APBD. Menteri Keuangan cq Dirjen Pajak mengadministrasikan data dan informasi perpajakan dalam Bank Data Nasional dengan membentuk Nomor Identitas Bersama sebagai embrio Nomor Identitas Tunggal. sebagai Wajib Pungut Pajak. 3. pemerintah daerah. dan BUMN/D. kantor dan satuan kerja. 2. kantor dan satuan kerja. diperlukan langkah-langkah Pusdiklatwas BPKP . 1. 4. BUMN/D. Mewajibkan setiap kementerian/lembaga. Direktur Jenderal Pajak. pemerintah daerah. Menteri Keuangan cq Dirjen Pajak wajib memberikan Nomor Identitas Tunggal kepada masing-masing kementerian/lembaga. PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP) Penerimaan negara bukan pajak memiliki arti dan peran yang sangat penting dalam pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan negara dan pembangunan nasional. proyek/bagian proyek. pemerintah daerah.2007 29 . Keppres Nomor 72 tahun 2004 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran dan Belanja Negara mengatur ketentuan data dan informasi perpajakan sebagai berikut. sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. 5. Menetapkan Setiap instansi pemerintah. proyek/bagian proyek. oleh karenanya. B. dan BUMN/D untuk menyampaikan bahan-bahan dan keterangan yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya guna keperluan perpajakan kepada Menteri Keuangan cq.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Untuk memadukan dan mensinerjikan data dan informasi perpajakan tersebut dibentuk Bank Data Nasional dan Nomor Identitas Tunggal yang dilaksanakan oleh Menteri Keuangan.

penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. penerimaan berupa hibah yang merupakan hak pemerintah. penerimaan dari hasil-hasil pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan. Peraturan Pemerintah ini ditetapkan.2007 30 . penerimaan berdasarkan putusan pengadilan dan yang berasal dari pengenaan denda administrasi. 1. Pengertian PNBP Dalam rangka pengelolaan penerimaan negara bukan pajak tersebut. penerimaan lainnya yang diatur dalam undang-undang tersendiri. Pengelolaan PNBP dilaksanakan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku yaitu: • • Undang-undang nomor 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Selain jenis tersebut di atas. penerimaan Pemerintah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pengadministrasian yang efisien agar penerimaan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Pusdiklatwas BPKP . Peraturan Pemerintah nomor 22 Tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak. PNPB lainnya ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Penerimaan negara bukan pajak adalah seluruh penerimaan Pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. yang meliputi: • • • • • • • penerimaan yang bersumber dari pengelolaan dana pemerintah.

b. Penerimaan kembali anggaran (sisa anggaran rutin dan sisa anggaran pembangunan. b. a. e. c. d. pengenaan terhadap masyarakat dan kegiatan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan Pusdiklatwas BPKP . dampak usahanya. jenis PNBP meliputi hal berikut. d. f. Penerimaan pemerintah. Jenis dan Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Jenis PNBP secara rinci diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak. Penerimaan hasil penjualan barang/kekayaan negara. Penerimaan ganti rugi atas kerugian negara (tuntutan ganti rugi dan tuntutan perbendaharaan). Penerimaan hasil penyewaan barang/kekayaan negara. Sesuai dengan peraturan pemerintah tersebut. g. aspek keadilan dalam pengenaan beban kepada masyarakat. penerimaan negara bukan pajak yang bersangkutan. Penetapan tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak ditetapkan dengan memerhatikan: a. Penerimaan hasil penyimpanan uang negara (jasa giro). Penerimaan dari hasil penjualan dokumen lelang. 2.2007 31 . c.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I • Peraturan Pemerintah nomor 73 tahun 1999 tentang Tata Cara Penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Bersumber dari Kegiatan Tertentu. Secara rinci peraturan pemerintah tersebut juga menetapkan jenis PNBP pada masing-masing departemen. biaya penyelenggaraan kegiatan pemerintah sehubungan dengan jenis.

sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2004 tentang Tata Cara Penyampaian Rencana dan Laporan Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak. pejabat instansi pemerintah wajib menyampaikan revisi rencana PNBP kepada menteri. disampaikan paling lambat tanggal 5 Agustus Tahun Anggaran yang bersangkutan. c. Mekanisme tentang pelaporan diatur sebagai berikut. menteri dapat menetapkan rencana PNBP instansi pemerintah yang bersangkutan. dengan ketentuan sebagai berikut. 1) Revisi rencana PNBP tahun yang akan datang.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Penetapan jumlah penerimaan negara bukan pajak yang terutang ditentukan dengan cara: a. PNBP terhutang menjadi kedaluwarsa setelah sepuluh tahun terhitung sejak saat terutangnya penerimaan negara bukan pajak yang bersangkutan. Pejabat instansi pemerintah wajib menyampaikan rencana pnbp tahun anggaran yang akan datang secara tertulis di lingkungan instansi pemerintah yang bersangkutan kepada menteri paling lambat pada tanggal 15 Juli tahun anggaran berjalan. Pelaporan Rencana dan Realisasi Penerimaan PNBP Instansi yang mengelola PNBP wajib menyampaikan laporan rencana dan realisasi penerimaan secara periodik.2007 32 . Pusdiklatwas BPKP . 3. ditetapkan oleh instansi pemerintah. b. Dalam hal pejabat instansi pemerintah tidak atau terlambat menyampaikan rencana PNBP. Dalam hal terdapat revisi. Ketentuan kedaluwarsa sebagaimana tertunda apabila Wajib Bayar melakukan tindak pidana di bidang penerimaan negara bukan pajak. dihitung sendiri oleh wajib bayar. atau b. a.

4. Menteri dapat menunjuk instansi pemerintah untuk menagih dan atau memungut penerimaan negara bukan pajak yang terutang. d. Laporan realisasi PNBP triwulanan disampaikan secara tertulis oleh pejabat instansi pemerintah kepada menteri paling lambat satu bulan setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. melalui dokumen pelaksanaan anggaran (DIPA) masing-masing kementerian/lembaga.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Revisi rencana PNBP tahun anggaran berjalan. Penerimaan dan Penyetoran PNBP Seluruh penerimaan negara bukan pajak dikelola dalam sistem anggaran pendapatan dan belanja negara. mengintensifkan perolehan pendapatan yang menjadi wewenang dan tanggung b. Setiap kementerian sumber negara/lembaga/satuan pendapatan wajib kerja yang mempunyai jawabnya. Laporan perkiraan realisasi PNBP triwulan IV disampaikan kepada menteri paling lambat tanggal 15 Agustus tahun anggaran berjalan. disampaikan paling lambat tanggal 15 Agustus tahun anggaran berjalan. f. dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal pejabat instansi pemerintah tidak atau terlambat menyampaikan rencana dan laporan realisasi PNBP. Pusdiklatwas BPKP .2007 33 . a. Dalam hal pejabat instansi pemerintah belum menyampaikan revisi rencana PNBP menteri dapat menetapkan rencana PNBP untuk masing-masing instansi pemerintah. e. pengelolaan atas PNBP tersebut diatur dengan ketentuan sebagai berikut.

pelayanan kesehatan. Instansi pemerintah yang ditunjuk wajib menyampaikan rencana dan laporan realisasi penerimaan negara bukan pajak secara tertulis dan berkala kepada menteri.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c. untuk beberapa kegiatan tertentu. Penggunaan sebagian dana PNBP tersebut dapat dilakukan setelah memperoleh persetujuan dari Menteri Keuangan. pelestarian sumber daya alam. Tidak dipenuhinya kewajiban instansi pemerintah untuk menagih dan atau memungut serta menyetor sebagaimana dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. diatur dalam PP NOMOR 73 tahun 1999 tentang Tatacara Pusdiklatwas BPKP . 5.2007 34 . Kegiatan yang dapat menggunakan sebagian dana PNBP meliputi: • • • • • • penelitian dan pengembangan teknologi. sebagian dana dari suatu jenis penerimaan negara bukan pajak dapat digunakan untuk kegiatan tertentu yang berkaitan dengan jenis penerimaan negara bukan pajak tersebut oleh instansi yang bersangkutan. Proses permohonan untuk menggunakan sebagian dana PNBP. Penggunaan Sebagian Dana PNBP Pada dasarnya. Namun demikian. d. seluruh PNBP wajib disetor langsung secepatnya ke kas negara. pendidikan dan pelatihan. pelayanan yang melibatkan kemampuan intelektual tertentu. penegakan hukum. Instansi pemerintah yang ditunjuk tersebut wajib menyetor langsung penerimaan negara bukan pajak yang diterima ke kas negara. e.

c. b. Setelah mendapatkan persetujuan dari Menteri Keuangan. e. a.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersumber dari kegiatan tertentu. d. 4) laporan realisasi dan perkiraan tahun anggaran berjalan serta perkiraan untuk dua tahun anggaran mendatang. 3) jenis penerimaan negara bukan pajak beserta tarif yang berlaku. instansi pemerintah mengajukan pengajuan rencana penggunaan untuk setiap tahun anggaran selambat-lambatnya pada tanggal 15 November.2007 35 . Permohonan tersebut dilengkapi dengan: 1) tujuan penggunaan dana penerimaan negara bukan pajak. 2) rincian kegiatan pokok instansi dan kegiatan yang akan dibiayai penerimaan negara bukan pajak. Sebagian dana penerimaan negara bukan pajak tersebut dapat digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan tertentu pada instansi bersangkutan dalam rangka pembiayaan: Pusdiklatwas BPKP . Sebagian dana penerimaan negara bukan pajak disediakan dalam suatu dokumen anggaran tahunan yang berlaku sebagai surat keputusan otorisasi. Rencana penggunaan penerimaan negara bukan pajak tersebut diteliti dan dibahas oleh Departemen Keuangan bersama-sama instansi pemerintah yang bersangkutan sebelum ditetapkan Menteri Keuangan. Pimpinan instansi pemerintah mengajukan permohonan penggunaan penerimaan negara bukan pajak kepada Menteri Keuangan. yaitu sebagai berikut.

dan atau 2) investasi. Pembiayaan sebagian dana PNBP yang telah disediakan dalam suatu dokumen anggaran dan belum dilaksanakan atau belum diselesaikan dalam tahun anggaran yang bersangkutan dapat dicantumkan pada dokumen anggaran tahun berikutnya melalui revisi anggaran. Dalam hal bendaharawan dan Kas belum Negara ditunjuk. Batas jumlah pembayaran ditetapkan oleh menteri. Kewajiban pembukuan diatur sebagai berikut.2007 36 . 2) bendaharawan penerima. i. Pembayaran atas pelaksanaan kegiatan instansi yang bersangkutan dilakukan sebagai pembayaran langsung kepada yang berhak. pada akhir tahun anggaran wajib disetor seluruhnya ke kas negara. 3) bendaharawan pengguna. Saldo lebih dari sebagian dana penerimaan negara bukan pajak. j. h. f. Pimpinan instansi pemerintah yang bersangkutan setiap awal tahun anggaran menetapkan: 1) atasan langsung bendaharawan penerima/pengguna.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 1) operasional dana pemeliharaan. atau melalui penyediaan Uang Yang Harus Dipertanggungjawabkan (UYHD). termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. g. melakukan Pusdiklatwas BPKP . 1) Pimpinan instansi/bendaharawan penerima dan pengguna wajib menyelenggarakan pembukuan. dilarang Kantor Perbendaharaan pembayaran.

Pencatatan dan Pemeriksaan a. k. Pimpinan instansi pemerintah wajib menyampaikan laporan triwulan mengenai seluruh penerimaan dan penggunaan dana oleh Instansi yang bersangkutan kepada Menteri Keuangan.2007 37 . memungut dan menyetorkan PNBP wajib menyelenggarakan pembukuan yaitu mengadakan suatu pencatatan yang dapat menyajikan keterangan yang cukup untuk dijadikan dasar penghitungan penerimaan negara bukan pajak. Pencatatan dan Pembukuan Ketentuan terkait dengan pencatatan dan pembukuan antara lain adalah sebagai berikut. Kewajiban penyusunan laporan. l. 3) Kegiatan dan penatausahaan tersebut dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Pusdiklatwas BPKP . 2) Penggunaan penerimaan negara bukan pajak yang berasal dari dana reboisasi karena karakteristik dan atau sifat khusus yang dimilikinya dapat diatur dengan peraturan pemerintah tersendiri. 1) Instansi pemerintah yang ditunjuk untuk menagih. 6. Ketentuan lainnya. 1) Pemberian izin penggunaan dana penerimaan negara bukan pajak yang telah diberikan masih tetap berlaku sebelum dilakukan penyesuaian berdasarkan peraturan pemerintah ini.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Bendaharawan penerima dan pengguna menyimpan secara lengkap dan teratur dokumen yang menyangkut penerimaan negara bukan pajak.

memungut dan menyetorkan PNBP juga dapat dilakukan pemeriksaan khusus oleh instansi yang berwenang. Pemeriksaan Ketentuan terkait dengan pemeriksaan antara lain adalah sebagai berikut. terhadap instansi pemerintah yang ditunjuk atas permintaan menteri untuk menagih. dan Menteri Keuangan memberitahukan hasil pemeriksaan tersebut kepada instansi pemerintah yang bersangkutan guna penyelesaian lebih lanjut. b. 3) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap wajib bayar terdapat kekurangan pembayaran jumlah PNBP yang terutang. catatan dan dokumen lainnya yang menjadi dasar perhitungan PNBP tersebut wajib disimpan selama sepuluh tahun. 3) Buku. 2) Hasil pemeriksaan terhadap wajib bayar untuk PNBP disampaikan kepada instansi pemerintah untuk penetapan jumlah PNBP yang terutang wajib bayar yang bersangkutan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Pencatatan wajib diselenggarakan di Indonesia dalam satuan mata uang rupiah dan disusun dalam Bahasa Indonesia atau mata uang asing dan bahasa asing yang diizinkan Menteri Keuangan. 1) Hasil pemeriksaan terhadap instansi pemerintah disampaikan kepada Menteri Keuangan. 4) Terhadap wajib bayar untuk jenis penerimaan negara bukan pajak. Selain itu. wajib bayar yang bersangkutan wajib melunasi Pusdiklatwas BPKP .2007 38 . atas permintaan instansi pemerintah dapat dilakukan pemeriksaan oleh instansi yang berwenang.

yang terjadi karena kelebihan pembayaran. C. kelebihan pembayaran tersebut dikembalikan kepada wajib bayar dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% sebulan untuk paling lama 24 bulan. jumlah kelebihan tersebut diperhitungkan sebagai pembayaran dimuka atas jumlah PNBP yang terutang wajib bayar yang bersangkutan pada periode berikutnya. 6) Dalam hal pengembalian kelebihan pembayaran dilakukan melampaui batas waktu sebagaimana dimaksud dalam poin 5) di atas. maka jumlah kelebihan pembayaran PNBP dikembalikan kepada wajib bayar selambat-lambatnya satu bulan sejak dikeluarkan ketetapan kelebihan pembayaran.2007 39 . pengeluaran dalam melakukan pembayaran yang dibebankan kepada negara. penerimaan pengembalian belanja barang.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I kekurangannya dan ditambah dengan sanksi berupa denda administrasi sebesar 2% sebulan untuk paling lama 24 bulan dari jumlah kekurangan tersebut. 4) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap wajib bayar untuk jenis PNBP terdapat kelebihan pembayaran jumlah PNBP yang terutang. PENERIMAAN PENGEMBALIAN BELANJA Penerimaan pengembalian belanja adalah seluruh penerimaan negara yang berasal dari pengembalian belanja tahun anggaran tahun berjalan. kesalahan atau kelalaian bendahara berupa: ƒ ƒ penerimaan pengembalian belanja pegawai. 5) Dalam hal terjadi pengakhiran kegiatan usaha wajib bayar. Penerimaan pengembalian belanja ini dapat Pusdiklatwas BPKP .

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ƒ ƒ penerimaan pengembalian belanja modal. 1. pegawai negeri bukan bendahara. penerimaan pengembalian belanja tahun lalu. 5. pegawai pengelola keuangan pada khususnya. Setiap pimpinan kementerian negara/lembaga/kepala satuan kerja dapat segera melakukan tuntutan ganti rugi.2007 40 . Setiap kerugian negara yang disebabkan oleh tindakan melanggar hukum atau kelalaian seseorang harus segera diselesaikan sesuai dengan ketentuan perundangan-undangan yang berlaku. atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan negara wajib mengganti kerugian tersebut. Bendahara. Kerugian negara dapat terjadi karena pelanggaran hukum atau kelalaian pejabat negara atau pegawai negeri bukan bendahara dalam rangka pelaksanaan kewenangan administratif atau oleh bendahara dalam rangka pelaksanaan kewenangan kebendaharaan. Penyelesaian meningkatkan negeri/pejabat kerugian disiplin negara negara dan pada perlu segera jawab dan dilakukan para para untuk mengembalikan kekayaan negara yang hilang atau berkurang serta tanggung umumnya. 4. 2. Beberapa ketentuan yang mengatur mekanisme penyelesaian kerugian keuangan negara diatur sebagai berikut. Penerimaan pengembalian belanja ini juga meliputi penerimaan yang berasal dari penyelesaian kerugian keuangan negara. setelah mengetahui Pusdiklatwas BPKP . Pejabat lain dimaksud meliputi pejabat negara dan pejabat penyelenggara pemerintahan yang tidak berstatus pejabat negara. 3. tidak termasuk bendahara dan pegawai negeri bukan bendahara.

Segera setelah kerugian negara tersebut diketahui. segera dimintakan surat pernyataan kesanggupan dan atau Surat pengakuan bahwa kerugian tersebut menjadi tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian negara dimaksud.2007 41 . 7. pernyataan tersebut biasa disebut Surat Pernyataan Tanggung Pusdiklatwas BPKP . Jika surat keterangan tanggung jawab mutlak tidak mungkin diperoleh atau tidak dapat menjamin pengembalian kerugian negara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I bahwa dalam kementerian negara/lembaga/satuan kerja yang bersangkutan terjadi kerugian akibat perbuatan dari pihak manapun. 8. atau pejabat lain yang nyata-nyata melanggar hukum atau melalaikan kewajibannya. menteri/pimpinan lembaga yang bersangkutan segera mengeluarkan Surat Keputusan Pembebanan Penggantian Kerugian Sementara kepada yang bersangkutan. Surat keputusan dimaksud mempunyai kekuatan hukum untuk pelaksanaan sita jaminan (conservatoir beslaag). Jawab Mutlak. Setiap kerugian negara wajib dilaporkan oleh atasan langsung atau kepala kantor kepada menteri/pimpinan lembaga dan diberitahukan kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selambat-lambatnya tujuh hari kerja setelah kerugian negara itu diketahui. pegawai negeri bukan bendahara. 6. kepada bendahara.

bendahara pada instansi pemerintah telah ditunjuk sebagai pemotong/pemungut atas penerimaan pajak-pajak negara khususnya pada transaksi belanja yang dilakukan oleh instansi pemerintah. DASAR HUKUM Dalam pelaksanaan penerimaan pajak-pajak negara. b. Peraturan perundangan yang dijadikan sebagai dasar hukum penunjukkan bendahara ini antara lain sebagai berikut. peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pemotongan/pemungutan pajak-pajak negara oleh bendahara. dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. UU nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Undang-undang perpajakan yang meliputi : a. sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU nomor 17 tahun 2000. sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU nomor 16 tahun 2000. UU nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 1. A. Pusdiklatwas BPKP . sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU nomor 18 tahun 2000. c.2007 42 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB IV MEKANISME PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN PAJAKPAJAK NEGARA OLEH BENDAHARA Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. UU nomor 8 tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa.

Kewajiban mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) di kantor pelayanan pajak yang sesuai dengan lokasi kedudukannya. Peraturan Pemerintah nomor 45 tahun 1994 tentang Pajak Penghasilan Bagi Pejabat Negara. 3. Penyetoran dan Pelaporannya. Pegawai Negeri Sipil. Keputusan Presiden RI 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Keputusan Presiden RI Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah. wajib mendaftarkan diri ke kantor pelayanan pajak BUMN (KPP-BUMN). Kewajiban Perpajakan a. 1. serta mendapatkan sanksi perpajakan jika terjadi pelanggaran. Kewajiban dan saksi perpajakan bagi bendahara yang mengelola anggran pendapatan dan belanja negara/daerah.03/2003 tentang Penunjukkan Bendaharawan Pemerintah dan Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara untuk Memungut. KEWAJIBAN DAN SANKSI PERPAJAKAN BENDAHARA Dalam perpajakan.2007 43 . Untuk bendahara BUMN. Selama masih melaksanakan pengelolaan anggaran Pusdiklatwas BPKP . Keputusan Menteri Keuangan Nomor 5563/KMK. Anggota ABRI dan Para Pensiunan atas Penghasilan yang Dibebankan kepada Keuangan Negara atau Keuangan Daerah. PPnBM Beserta Tata Cara Pemungutan. B. sebagaimana WP lainnya.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. kedudukan bendahara pemerintah yang mengelola APBN/APBD sama dengan kedudukan wajib pajak (WP). sebagai berikut. sehingga bendahara mempunyai kewajiban. 4. Menyetor dan Melaporkan PPN.

2. NPWP atas nama bendahara ini akan dilakukan penghapusan jika terjadi: 1) perubahan organisasi yang mengakibatkan nama unit instansinya berubah. Sanksi administrasi.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I negara/daerah. c. 2) denda sebesar Rp100. Kewajiban untuk menyetorkan pada saat penerimaan tempat pajak sesuai yang dengan dipungut/dipotong dan ketentuan umum perpajakan yang berlaku. a.00 jika tidak menyampaikan SPT Masa PPh dan PPN sesuai dengan waktu yang telah ditentukan yaitu dua puluh hari setelah masa pajak berakhir.2007 44 . b. Sanksi administrasi. Pusdiklatwas BPKP . 2) proyek/kegiatan telah berakhir (selesai).00 jika tidak menyampaikan SPT Tahunan PPh sesuai dengan waktu yang telah ditentukan yaitu dua puluh hari setelah masa pajak berakhir. b. berupa denda yaitu: 1) denda sebesar Rp50. berupa pengenaan bunga sebesar 2% per bulan (selama-lamanya 24 bulan) atas jumlah pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar. Sanksi Perpajakan Sanksi perpajakan meliputi sanksi administrasi dan sanksi pidana dengan uraian sebagai berikut. NPWP bendahara ini tetap berlaku. Kewajiban untuk melaporkan pemungutan dan pemotongan pajak negara dengan menyerahkan surat permberitahuan pajak (SPT) sesuai dengan ketentuan umum perpajakan yang berlaku.000.000.

adalah sebagai berikut. yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak terutang. 2) Sebesar 100% dari PPH tidak/kurang dipotong. 1) Sebesar 50% dari PPh tidak/kurang bayar dalam satu tahun pajak. dan dipotong/dipungut tetapi tidak/kurang disetorkan. yang dapat menimbulkan kerugian keuangan negara. tidak disampaikan pada waktunya sesuai dengan surat teguran. juga tidak disampaikan sesuai dengan surat teguran. atau menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c. tidak/kurang disetor. b) berdasarkan hasil pemeriksaan terdapat PPN dan PPnBM yang seharusnya tidak dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya dikenakan tarif 0%. Pusdiklatwas BPKP . jika karena kealpaan tidak menyampaikan SPT. 4) Sebesar 100% atas PPN dan PPnBM yang tidak atau kurang dibayar jika: a) SPT tidak disampaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan telah dikenakan teguran sescara tertulis. berupa kurungan selama satu tahun dan denda setinggi-tingginya dua kali jumlah pajak terutang. 3) Sebesar 100% dari kekurangan pajak dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKP-KBT) dalam hal ditemukan data baru dan/atau data semula yang belum terungkap. d. atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar. Sanksi pidana.2007 45 . jika SPT tidak disampaikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan dan telah ditegur secara tertulis. Sanksi Administrasi berupa kenaikan pajak terutang. tidak/kurang dipungut.

premi swap dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian hutang. 3) menolak dilakukan pemeriksaan. 4) memperlihatkan pembukuan dan pencatatan yang palsu dan tidak melaksanakan pembukuan.2007 46 . C. pensiun dan pembayaran berkala lainnya yang diterima oleh wajib pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap. Pusdiklatwas BPKP . Sanksi pidana berupa kurungan selama 6 tahun dan denda setinggi-tingginya empat kali jumlah pajak terutang. royalty. imbalan sehubungan dengan jasa. diskonto. pekerjaan dan kegiatan. 5) tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong/dipungut. 2) tidak menyampaikan SPT. hadiah dan penghargaan. bunga termasuk premium.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I e. PPh pasal 26 adalah PPh atas deviden. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. BENDAHARA PASAL 26 SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 21 DAN 1. jika dengan sengaja: 1) tidak mendaftarkan diri atau menyalahgunakan NPWP. Pengertian PPh pasal 21 dan pasal 26 PPh pasal 21 adalah PPh sehubungan dengan pekerjaan. jasa dan kegiatan dengan nama dan bentuk apapun yang diterima atau diperoleh wajib pajak orang pribadi dalam negeri.

hadiah. PNS. uang saku harian dan upah borongan. 3) uang pensiun dan tunjangan lain yang bersifat tetap diterima pensiunan termasuk janda/duda dan/atau anak-anaknya. 2) honorarium. Penghasilan yang diterima oleh penerima penghasilan selain pejabat negara. Penghasilan yang diterima oleh pejabat negara. ABRI.2007 47 . berupa: 1) gaji dan tunjangan lainnya yang bersifat tetap yang diterima PNS/ABRI. uang hadir. uang saku. Penghasilan berupa honorarium. PNS. dan pensiunan yang dibebankan kepada keuangan negara/daerah. kecuali jika pembayaran tersebut dibayarkan kepada PNS golongan II-d ke bawah dan anggota ABRI berpangkat PELTU ke bawah. Penghasilan yang Dipotong Bendahara wajib memotong PPh pasal 21 atas penghasilan berikut. upah satuan. c. komisi. imbalan prestasi kerja dan imbalan lain dengan nama dan bentuk apapun yang dibebankan keuangan negara/daerah. penghargaan. berupa: 1) upah harian. bea siswa serta pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan jasa dan kegiatan. a. uang lembur.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. anggota ABRI dan pensiunan yang dibebankan kepada keuangan negara/daerah. b. 2) gaji kehormatan dan tunjangan lain yang bersifat tetap diterima pejabat negara. uang sidang. upah mingguan. Pusdiklatwas BPKP .

penghasilan bruto boleh dikurangi berikut.296.2 juta 1.00 sebulan. mingguan. SETAHUN 12 juta 1. satuan. 3) Penghasilan tidak kena pajak (PTKP) dengan ketentuan berikut.000.2 juta b. PNS dan anggota ABRI dan pensiunan yang dibebankan pada APBN/APBD. dan pensiunan. Rp1.00 penghasilan setahun atau Rp108. Atas penghasilan yang dibayarkan kepada selain pejabat negara.2007 48 .000. boleh dikurangi 1/10 dengan unsur Pusdiklatwas BPKP . Sedangkan untuk menentukan penghasilan neto bruto dikurangi pensiun sebesar 5% dari penghasilan bruto setinggi-tingginya Rp432.000. 1) Biaya jabatan sebesar 5% dari penghasilan bruto setinggitingginya pensiunan. Atas penghasilan yang dibayarkan kepada pejabat negara. 1) Pengurangan atas penerimaan upah harian.00 dengan biaya sebulan. Untuk menentukan penghasilan neto pejabat negara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3.00 setahun atau Rp36. PTKP ƒ Untuk diri pegawai ƒ Tambahan untuk pegawai yang kawin ƒ Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya paling banyak 3 orang. PNS dan ABRI. 2) Iuran pensiun. Pengurangan yang Diperbolehkan a. borongan dan uang saku harian.000. PNS dan anggota ABRI dan pensiunan. penghasilan bruto boleh dikurangi dengan unsur berikut.

4) Untuk penghasilan WP luar negeri. maka pengurangan yang diperbolehkan berupa PTKP sebenarnya sebesar: [PTKP harian = PTKP sebenarnya /360] 3) Pembayaran atas honorarium. komisi. 2) Jika penghasilan bruto dalam satu bulan melebihi UMP/UMK atau dibayarkan secara bulanan. tidak ada pengurangan. Tarif dan Cara Penghitungan Pemotongan a.2007 49 . bea siswa sebagai imbalan atas jasa yang jumlahnya dihitung tidak atas dasar banyaknya hari yang diperlukan untuk menyelesaikan jasa atau kegiatan yang diberikan. Lapisan PKP 1) s/d Rp 25 jt 2) Di atas Rp 25 jt s/d/Rp 50 jt 3) Di atas Rp 50 jt s/d Rp 100 jt 4) Di atas Rp 100 jt s/d/Rp 200 jt 5) Di atas Rp 200 jt Tarif Pajak 5% 10% 15% 25% 35% Pusdiklatwas BPKP . tidak ada pengurangan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I UMP/UMK (sepanjang jumlah yang diterimanya dalam satu bulan tidak melebihi UMP/UMK dan tidak dibayarkan secara bulanan). 4. uang saku. hadiah dan penghargaan dengan nama dan bentuk apapun. Tarif PPh berdasarkan pasal 17 UU nomor 7 tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan UU nomor 17 tahun 2000 sebagai berikut.

dan THT atau Jaminan Hari Tua yang dibayarkan sekaligus. tebusan pensiun. PNS. dipotong dengan PPh pasal 21 dan bersifat final dengan tarif berikut. 149 tahun 2000 atas pembayaran uang pesangon. Cara Penghitungan 1) Penghitungan PPh pasal 21 bagi pejabat negara. Lapisan PKP 1) Rp 25 juta ke bawah 2) Di atas Rp 25 juta s/d Rp 50 juta 3) Di atas Rp 30 juta s/d Rp 100 juta 4) Di atas Rp 100 juta s/d Rp 200 juta 5) Di atas Rp 200 juta Tarif Pajak 0% 5% 10 % 15 % 25 % d. Tarif berdasarkan Keputusan Dirjen Pajak No KEP-545/PJ/2000 1) 15% atas prakiraan penghasilan netto yang dibayarkan kepada tenaga ahli (prakiraan penghasilan = 50). c. ABRI dan pensiunan yang dibebankan kepada keuangan negara/daerah adalah sebagai berikut. 2) 5% atas upah dan uang saku harian yang jumlahnya melebihi 1/10 UMP/UMK sehari tapi tidak melebihi UMP/UMK sebulan dan/atau tidak dibayarkan secara bulanan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b. Tarif berdasarkan PP No. a) Atas pembayaran gaji kehormatan. 3) 15% final atas honorarium dan imbalan lain dengan nama apapun. gaji/pensiun dan tunjangan yang terkait dengan gaji: Pusdiklatwas BPKP . Tarif efektif = 15% x 50% x Penghasilan Bruto.2007 50 .

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I . komisi. dll). fotografi.bagi pensiunan bulanan Æ PPh psl. 17 x (penghasilan bruto – biaya pensiun – PTKP) b) Atas penghasilan berupa honorarium. pengajar. jasa dan kegiatan yang dilakukan oleh WP dalam negeri (artis. PPh psl. penceramah. uang hadir. pembayaran imbalan pekerjaan. 21 = 15 % x penghasilan bruto (bersifat final) 2) Penghitungan PPh pasal 21 bagi selain pejabat negara. 21 = tarif psl. olahragawan. penasihat. PPh pasal 21 = tarif pasal 17 x penghasilan bruto (tarif progresif) Pusdiklatwas BPKP . a) Atas pembayaran honorarium. 21 = tarif psl. imbalan prestasi kerja dan imbalan lain dengan nama apapun. pemberi jasa teknik komputer. uang saku. pemasaran.bagi pejabat negara/PNS/ABRI Æ PPh psl. uang sidang. hadiah/penghargaan. ABRI dan pensiunan yang dibebankan lepada keuangan negara/daerah adalah sebagai berikut.2007 51 . PNS. telekomunikasi. moderador. 17 x (penghasilan bruto – biaya jabatan – iuran pensiun – PTKP) . uang lembur. bea siswa. elektronika.

benda-benda pos. b) pembelian BBM. a) PPh pasal 21 = 20 % penghasilan bruto (bersifat final). 2. d) pembayaran pelaksanaan proyek yang dibiayai dengan hibah/pinjaman luar negeri. adalah sebagai berikut. aktuaris).2007 52 . penilai. listrik. air minum/PDAM. b) Jika WP luar negeri berubah status. Pengertian PPh Pasal 22 Pajak penghasilan dipungut/dipotong sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang. gas. PPh pasal 21 = tarif 15 % x perkiraan penghasilan neto = tarif 15 % x 50 % x penghasilan bruto 3) Penghitungan pajak dari penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi dengan status WP luar negeri sebagai imbalan atas pekerjaan. kecuali atas pembayaran: a) penyerahan barang paling banyak 1 juta (bukan jumlah yang dipecah-pecah). konsultan. adalah pada setiap saat pelaksanaan pembayaran atas penyerahan barang oleh rekanan Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b) honorarium atau imbalan lain kepada tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas (pengacara. arsitek. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 22 1. dokter. Saat Pemotongan dan Tarif Saat pemungutan PPh pasal 22. maka pemotongan PPh pasal 21 tidak bersifat final. akuntan. D. jasa dan kegiatan. c) pencairan dana jaring pengaman sosial (JPS) oleh KPKN.

000.000. Penghasilan yang dikenakan pemotongan PPh pasal 23 adalah sebagai berikut.000. 22 yang harus dipungut oleh bendahara sebesar 1. b.5 % x Harga/Nilai Pembelian Barang. Contoh : Itjen Departemen A membeli komputer untuk keperluan kantor dengan harga Rp100.5% dari Rp100. royalty. Pengertian PPh Pasal 23/26 PPh pasal 23/26 adalah pajak atas penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang berasal dari modal. jasa konstruksi. bunga termasuk premium. Deviden.00 PPh psl. selain sewa atas tanah dan atau bangunan. a. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPH PASAL 23/26 1. consultan dan jasa lain selain yang telah dipotong PPh pasal 21.000.00 = Rp 1.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I yang dibiayai dari APBN/APBD. c.000. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik. jasa manajemen. diskonto dan imbalan karena jaminan pengembalian utang.2007 53 . Pusdiklatwas BPKP .500. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.00 E. penyerahan jasa atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21. hadiah dan penghargaan sehubungan dengan pelaksanaan status kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21. dengan tarif 1.

bunga simpanan yang tidak melebihi Rp240. selain sewa atas tanah dan atau bangunan. c. e. Pensiun dan pembayaran berkala lainnya. bagian laba yang yang diterima/diperoleh tidak anggota perseroan saham. royalty. komanditer modalnya terbagi dalam persekutuan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Penghasilan yang dikenakan pemotongan PPh pasal 26 adalah penghasilan berikut. bunga termasuk premium. bunga obligasi yang diperoleh/diterima perusahaan reksa dana selama lima tahun pertama. b. dan kongsi. hadiah dan penghargaan sehubungan dengan pelaksanaan suatu kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21. konsultan dan jasa lain selain yang telah dipotong PPh pasal 21.2007 54 . penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank. Pusdiklatwas BPKP . firma. Deviden. b.000. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. d. a. Penghasilan yang tidak dikenakan pemotongan PPh Pasal 23/26: a. diskonto dan imbalan karena jaminan pengembalian utang. f. g. sewa guna usaha dengan hak opsi. e. SHU koperasi yang dibayarkan kepada anggotanya.00 setiap bulan yang dibayarkan oleh koperasi. dividen atau bagian laba yang diperoleh/diterima PT sebagai WP dalam negeri (dengan syarat tertentu). jasa manajemen. c. Pembayaran premi asuransi dan premi reasuransi lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung yang dibayarkan kepada wajib pajak luar negeri selain BUT. perkumpulan. jasa konstruksi. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik. d.

jasa kustodian selain sewa gudang. dan penghargaan (selain yang telah dipotong PPh pasal 21). rekrut tenaga kerja. pengolahan/pembuangan limbah. dubbing/mixing film. konsultan selain akuntansi. jasa instalasi/pemasangan mesin /listrik/telepon/air/gas/AC/TV kabel. bunga. IT. Jasa profesi. jasa instalasi/pemasangan peralatan. 1 2 Jenis Jasa pembasmian hama. hadiah.33% 6 50% Pusdiklatwas BPKP . Jasa perencanaan dan pengawasan konstruksi. pembersihan. jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan mesin. 20% 26.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. royalti. alat kemasan). bangunan di luar konstruksi. alat transportasi/kendaraan. software komputer termasuk perbaikan/perawatan. jasa teknik. kendaraan. mesin/peralatan. jasa desain (interior. penilai dan aktuaris. darat. manajemen. peralatan. penunjang penerbangan. Tarif dan Dasar Pemotongan PPh Pasal 23 a.67% 40% Tarif PPh 23 10% 13. listrik/telepon/air/gas/TV kabel di luar konstruksi. pertamanan. angk. No. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta khususnya kend. 15% dari jumlah bruto atas deviden. jasa pengeboran minyak/gas bumi. jasa perantara. katering.2007 55 . konstruksi. dan imbalan karena jaminan pengembalian utang. 15% dari prakiraan penghasilan neto. mesin. telkom bukan umum. iklan/logo. diskonto. b. Besarnya prakiraan penghasilan neto antara lain sebagai berikut. 3 4 5 Sewa & penghasilan kendaraan angkutan darat. pelaksanaan konstruksi.

d. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak di dalam daerah Pabean. 2. F. PPnBM hanya dipungut dalam hal PKP rekanan adalah pabrikan dari BKP yang tergolong mewah. maka tarif PPh pasal 26 disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku dalam P3B tersebut. Objek Pemungutan PPN dan PPnBM Bendahara yang mengelola anggaran negara/daerah wajib memungut. Pengertian PPN dan PPnBM a. Pusdiklatwas BPKP . b.2007 56 . menyetorkan dan melaporkan PPN atas: a.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. penyerahan BKP dan/atau JKP yang dilakukan oleh PKP rekanan. b. pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean. Tarif Pemotongan PPh Pasal 26 Tarif dan dasar pemotongan PPh Pasal 26 adalah 20% dari jumlah bruto kecuali bila ada Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B). Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi barang di dalam daerah pabean yang berdasarkan keputusan Menteri Keuangan tergolong barang mewah. c. pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean. BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG PPN DAN PPnBM 1.

Sementara. tarif PPnBM yang berlaku sekarang ini paling rendah 10 % dan paling tinggi sebesar 75 %. Pusdiklatwas BPKP . Saat Pemungutan Pemungutan PPN dan atau PPnBM oleh bendahara dilakukan pada saat pembayaran kepada rekanan pemerintah.00 dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah. c. b. Dasar Pemungutan Dasar pemungutan PPN dan PPnBM adalah jumlah pembayaran baik dalam bentuk uang muka.000. 3. dengan cara pemotongan secara langsung dari tagihan PKP rekanan pemerintah tersebut. Batasan Rp1. atau pembayaran seluruhnya yang dilakukan oleh pemungut PPN kepada PKP rekanan. Tarif PPN dan PPnBM Tarif PPN adalah tarif tunggal sebesar 10% (berdasarkan peraturan pemerintah dapat diubah serendah-rendahnya 5% dan setinggi-tingginya 15%). b. pembayaran dibebaskan atas dari penyerahan pengenaan BKP PPN dan/atau berdasarkan JKP yang Peraturan Pemerintah nomor 38 tahun 2003 tentang Impor dan atau penyerahan BKP Tertentu dan atau Penyerahan JKP Tertentu yang Dibebaskan dari Pengenaan PPN. pembayaran sebagian.00 tersebut merupakan jumlah pembayaran yang sudah termasuk PPN dan PPnBM.000.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pembayaran yang tidak dipungut PPN dan/atau PPnBM antara lain: a. Tarif dan Dasar Pemungutan a.000. pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp1. pembayaran untuk pembebasan tanah. Saat Pemungutan.000.2007 57 . c.

000.000.000. maka PPN dan PPnBM yang terutang harus dipungut oleh bendahara sebesar Rp 270. termasuk PPN dan PPnBM yang terutang tanpa memerhatikan apakah dalam kontrak menyebutkan ketentuan pemungutan PPN dan atau PPnBM maupun tidak.2007 58 .170.000.000.00.00).000.000.000.100. Contoh 1: Jumlah PPN yang dipungut 10/11/bagian dari jumlah pembayaran Jumlah Pembayaran PPN yang harus dipungut 10/110x Rp1.00 dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah.00 Rp 1.000.000.300.00 20% x Rp900.300.00 100.000.000.000.000.00 (di atas Rp 1.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Dalam jumlah pembayaran yang dilakukan oleh pemungut PPn tersebut.00 Rp 200. Harga Jual PPN PPnBM 10% x Rp900.000 Jumlah yang dibayarkan kepada PKP rekanan Rp Rp 1.00.000.000.000.000.000. tetapi karena pembayaran termasuk PPN dan PPnBM berjumlah Rp1.000.000.00 Rp Rp 1.00 90.00 Rp Rp Rp 900.000. Jumlah Pembayaran PPN yang dipungut 10/130 x Rp 1. Pusdiklatwas BPKP .00 Jumlah yang dibayarkan kepada PKP rekanan Contoh 3: Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp1.100.00 Contoh 2: Dalam hal BKP yang diserahkan oleh rekanan pemerintah termasuk golongan barang mewah (misal PPnBM 20 %).00 Rp 1.300.000.00 180.00 Harga jual termasuk PPN dan PPnBM Rp 1.00 100.000.00 Meskipun harga jual Rp900.170.00 PPnBM yang dipungut 20/130xRp1.

00 (di bawah Rp 1. maka PPN dan PPnBM yang terutang tidak dipungut oleh bendahara.00 10% x Rp800.00 Harga jual termasuk PPN dan PPnBM 960.000. tetapi akan disetor sendiri oleh PKP rekanan.000.2007 59 . Pusdiklatwas BPKP .000.00 Rp Rp Rp Rp 800.000.00 Karena harga jual termasuk PPN dan PPnBM berjumlah Rp960.000.000.00).Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Contoh 4: Harga Jual PPN PPnBM 10% x Rp800.00 80.000.000.00 80.000.

• Keppres No.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB V MEKANISME PELAKSANAAN BELANJA NEGARA Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini.06/2005 Tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Tahun 2005.42 Tahun 2002 jo Keppres No. • • • UU No. Per-66/PB/2005 Tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran atas beban APBN. 134/PMK. penerbitan SP2D oleh KPPN serta memahami mekanisme pelaporan realisasi APBN A. mekanisme pembayaran melalui uang persediaan. UU tentang APBN (penetapan setiap tahun sesuai tahun anggarannya). UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Perubahan mendasar dalam ketentuan pengelolaan keuangan negara yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Pusdiklatwas BPKP .72 Tahun 2004 Tentang Pedoman Pelaksanaan APBN. • Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. Dasar Hukum Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Pelaksanaan belanja negara didasarkan pada beberapa dasar hukum sebagai berikut. PEDOMAN PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA NEGARA 1. • Peraturan Menteri Keuangan No. peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan mekanisme pelaksanaan belanja negara. proses pencairan dana APBN dan proses penerbitan SPM.2007 60 .

tidaklah dimaksudkan untuk Pusdiklatwas BPKP . Fungsi perbendaharaan tersebut meliputi perencanaan kas yang baik. pendekatan kekuasaan Presiden kepada Menteri Keuangan dan menteri/pimpinan lembaga susunan APBN.2007 61 . Pemerintah daerah dan pemerintah/lembaga asing. serta penetapan bentuk dan batas waktu penyampaian laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. pencarian sumber pembiayaan yang paling murah dan pemanfaatan dana yang menganggur (idle cash) untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya keuangan. pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan bank sentral. kedudukan Presiden sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara. Penerapan Kaidah Pengelolaan Keuangan yang sehat di lingkungan pemerintah sejalan dengan perkembangan kebutuhan pengelolaan keuangan negara. Ketentuan mengenai penyusunan dan penetapan APBN. Upaya untuk menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan yang selama ini lebih banyak dilaksanakan di dunia usaha dalam pengelolaan keuangan pemerintah. dirasakan pula semakin pentingnya fungsi perbendaharaan dalam rangka pengelolaan sumber daya keuangan pemerintahan yang terbatas secara efisien. pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah dengan perusahaan negara. pencegahan agar jangan sampai terjadi kebocoran dan penyimpangan. perusahaan daerah dan perusahaan swasta.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I tentang Keuangan Negara meliputi pengertian dan ruang lingkup keuangan negara. asas-asas umum pengelolaan keuangan negara. Dalam undang-undang tersebut juga telah mengantisipasi perubahan standar akuntansi di lingkungan pemerintahan di Indonesia yang mengacu kepada perkembangan standar akuntansi di lingkungan pemerintahan secara internasional. dan badan pengelola dana masyarakat.

Oleh karena itu. negara berusaha memberikan jaminan kesejahteraan kepada rakyat (welfare state). pengelolaan piutang negara/daerah diatur kewenangan penyelesaian piutang negara dan daerah. Dalam kedudukannya yang demikian. Melalui kegiatan berbagai lembaga pemerintah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I menyamakan pengelolaan keuangan sektor pemerintah dengan pengelolaan keuangan sektor swasta. Demikian pula. pengelolaan keuangan sektor publik yang dilakukan selama ini dengan menggunakan pendekatan superioritas negara telah membuat aparatur pemerintahan yang bergerak dalam kegiatan pengelolaan keuangan sektor publik tidak lagi dianggap berada dalam kelompok profesi manajemen oleh para profesional. Dalam rangka pengelolaan uang negara/daerah dalam undangundang perbendaharaan negara ditegaskan kewenangan Menteri Keuangan untuk mengatur dan meyelenggarakan rekening pemerintah. Dalam undang-undang Perbendaharaan Negara juga diatur prinsipprinsip yang berkaitan dengan pelaksanaan utang piutang dan investasi serta barang milik negara/daerah yang selama ini belum mendapat perhatian yang memadai. menyimpan uang negara dalam rekening kas umum negara pada bank sentral. Sementara itu. negara tunduk pada tatanan hukum publik.2007 62 . Namun. dalam rangka pelaksanaan pembiayaan ditetapkan pejabat yang diberi kuasa untuk mengadakan utang negara/daerah. negara adalah suatu lembaga politik. serta ketentuan yang meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas Pusdiklatwas BPKP . perlu dilakukan pelurusan kembali pengelolaan keuangan pemerintah dengan menerapkan prinsip-prinsip pemerintahan yang baik (good governance) yang sesuai dengan lingkungan pemerintahan. Pada hakikatnya.

Peraturan Menteri Keuangan tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Pelaksanaan pembayaran dalam pelaksanaan anggaran belanja negara didasarkan pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.06/2005 sebagai berikut. Pusdiklatwas BPKP . a.2007 63 . Kantor Pelayanan Perbendaharan Negara (KPPN) melaksanakan penerimaan dan pengeluaran negara secara giral. 2) Dalam rangka pelaksanaan APBN. Dalam peraturan tersebut diatur ketentuan Menteri/Pimpinan Lembaga adalah Dokumen Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) yang disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan serta dokumen pendukung kegiatan akuntansi pemerintah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pengelolaan investasi dan barang milik negara/daerah dalam undang-undang Perbendaharaan Negara diatur pula ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan investasi serta kewenangan mengelola dan menggunakan barang milik negara. 1) Dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN. dengan penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) oleh KPPN berdasarkan Surat Perintah Membayar (SPM) yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. 3) Pelaksanaan pengeluaran atas beban APBN oleh KPPN selaku kuasa bendahara umum negara.

d. d) pejabat yang bertugas melakukan pengujian dan perintah pembayaran. harus dalam dilaksanakan sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK. b) pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara. e) bendahara belanja. f) bendahara belanja. c) pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja. 6) Penerbitan SPM oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran didasarkan pada alokasi dana yang tersedia dalam DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA. 7) Pelaksanaan pembayaran tagihan atas beban belanja negara melalui SPM-LS yang disampaikan Pedoman ke KPPN.06/2005 Pelaksanaan APBN. 5) Pejabat yang melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja tidak boleh merangkap sebagai pejabat sebagaimana pada butir 4.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4) Pada awal tahun anggaran menteri/ketua lembaga menetapkan para pejabat yang ditunjuk sebagai: a) kuasa pengguna anggaran/pengguna barang. tentang Pembayaran pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran penerimaan untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran Pusdiklatwas BPKP .2007 64 . e dan f di atas.

14) Pembayaran kepada rekanan harus memerhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. 13) Pembayaran yang dilakukan oleh bendahara pengeluaran tidak boleh melebihi Rp10.2007 65 . 11) Pengajuan tambahan uang persediaan sebagaimana dimaksud diatur oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan dan Pembayaran dengan menggunakan uang persediaan untuk keperluan sebagaimana selain keperluan diatas sehari-hari dapat perkantoran setelah tersebut dilakukan memperoleh persetujuan Direktur Jenderal Perbendaharaan. 12) Pelaksanaan pembayaran dengan uang persediaan dilakukan oleh bendahara pengeluaran sepanjang pembayaran dimaksud tidak dapat dilakukan melalui pembayaran langsung (SPM-LS).000. 9) Untuk memperoleh penggantian uang persediaan yang telah digunakan. kecuali pembayaran honor. satuan kerja dapat mengajukan tambahan dengan menerbitkan surat perintah membayar tambahan uang persediaan (SPM-TUP). Pusdiklatwas BPKP .000. satuan kerja yang bersangkutan menerbitkan surat perintah membayar penggantian uang persediaan (SPMGUP).Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 8) Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dapat mengajukan permintaan uang persedian dengan menerbitkan surat perintah membayar uang persediaan (SPM-UP) untuk membiayai keperluan sehari-hari perkantoran. 10) Dalam hal uang persediaan tidak mencukupi kebutuhan.00 kepada satu pihak.

2007 66 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 15) Pengguna anggaran atau kuasa pengguna anggaran dapat mengajukan penggantian uang persediaan yang telah digunakan kepada KPPN dengan menyampaikan SPM-GUP yang dilampiri Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja (SPTB) dan Faktur Pajak serta Surat Setoran Pajak (SSP). 17) Bukti asli pembayaran Pembayaran dalam yang dilampirkan dalam Surat bukti Permintaan dan (SPP)-GUP merupakan pengeluaran dalam pelaksanaan anggaran belanja negara disimpan arsip pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. 16) Pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan dengan surat bukti yang menjadi dasar pengeluaran atas beban APBN bertanggung jawab atas kebenaran material dan akibat yang timbul dari penggunaan surat bukti dimaksud. 18) Berdasarkan SPM yang disampaikan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. 19) KPPN menolak permintaan pembayaran yang diajukan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dalam hal: a) pengeluaran untuk MAK yang melampaui pagu. dan/atau b) tidak didukung oleh dokumen yang sah sesuai ketentuan yang berlaku. atau penolakan permintaan pembayaran sebagaimana dimaksud pada butir 19 wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai berikut. Pusdiklatwas BPKP . KPPN menerbitkan SP2D yang ditujukan kepada bank operasional mitra kerjanya. 20) Penerbitan SP2D sebagaimana butir 18.

b. 4) pelaporan realisasi APBN. Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I a) Penerbitan SP2D uang persediaan/tambahan uang persediaan/penggantian uang persediaan (SPM-UP/SPMTUP/SPM-GUP) dan SPM pembayaran langsung (SPM-LS) paling lambat dalam waktu satu hari sejak diterimanya SPM secara lengkap. Secara garis besar peraturan tersebut berisi ketentuanketentuan mengenai: 1) prosedur penerbitan surat permintaan pembayaran (SPP). Mekanisme Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Mekanisme pembayaran dalam pelaksanaan anggaran belanja didasarkan pada peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor Per66/PB/2005 tentang Mekanisme Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN. 3) prosedur penerbitan surat perintah pencairan dana (SP2D) oleh KPPN. d) Pengembalian SPM dilakukan paling lambat hari kerja berikutnya sejak diterimanya SPM berkenaan. 5) lain-lain.2007 67 . b) Untuk pembayaran gaji induk (gaji bulanan) PNS Pusat paling lambat lima hari kerja sebelum awal bulan pembayaran gaji. 2) prosedur penerbitan surat perintah pembayaran (SPM) oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. c) Untuk pembayaran non gaji induk (non gaji bulanan) SP2D diterbitkan paling lambat lima hari sejak diterimanya SPM.

Dilarang melakukan tindakan yang membebani anggaran. terarah. Jumlah pengeluaran dalam anggaran merupakan batas yang tertinggi untuk setiap jenis pengeluaran. Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran tidak diperkenankan melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja negara. Secara umum. d. c. Persyaratan pengeluaran atas beban negara didasarkan pada bukti hak tagihan kepada negara. Belanja atas beban anggaran belanja negara didasarkan pada DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA. Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran juga tidak diperkenankan melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja negara untuk tujuan lain dari yang ditetapkan dalam anggaran belanja negara (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran/DIPA). semaksimal mungkin menggunakan produksi/jasa dalam negeri. Prinsip Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara Berdasarkan aturan perundangan tersebut. bila anggarannya tidak tersedia. jika dana untuk membiayai tindakan tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam anggaran belanja negara. dan f. pelaksanaan anggaran belanja negara harus mengikuti prinsip-prinsip berikut. Hemat. e.2007 68 . Anggaran tidak mutlak harus dihabiskan. a. Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. jumlah dana yang dimuat dalam anggaran belanja negara merupakan batas tertinggi untuk tiap-tiap pengeluaran. Pembayaran atas beban negara pada dasarnya dilakukan setelah barang/jasa diterima oleh negara. b. efisien. Dilarang melakukan pengeluaran yang menyimpang dari tujuan yang ditetapkan. tidak mewah. terkendali.

belanja negara meliputi hal berikut. Belanja untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintahan pusat. d. pemberian ucapan selamat. lokakarya. karangan bunga. rapat dinas. b. hadiah/tanda mata. seminar. organisasi/bagian anggaran. hari raya dan hari ulang tahun departemen/lembaga/pemerintah daerah. Belanja untuk pemerintah daerah dirupakan dalam bentuk ”Dana Perimbangan”. perayaan atau peringatan hari besar.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pengeluaran atas beban anggaran belanja negara tidak diperkenankan untuk keperluan berikut. peresmian kantor/proyek dan sejenisnya. Komponen Anggaran Belanja Negara Sesuai UU No. pertemuan. a. Belanja pemerintah pusat tersebut dibagi menurut fungsi. kegiatan. Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada pemerintah daerah untuk mendanai kebutuhan pemerintah daerah dalam Pusdiklatwas BPKP . a. pengeluaran lain-lain untuk kegiatan/keperluan yang sejenis serupa dengan yang tersebut di atas. pesta untuk berbagai peristiwa dan pekan olah raga pada departemen/lembaga/pemerintah daerah. dibatasi pada hal-hal yang sangat penting dan dilakukan sesederhana mungkin. Penyelenggaraan rapat. 3. dan jenis belanja. c. 17 Tahun 2003 tentang Perbendaharaan Negara. dan sebagainya untuk berbagai peristiwa.2007 69 . Belanja untuk pelaksanaan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Bagian anggaran yang tidak dikuasai oleh kementerian/lembaga negara dikuasai oleh Menteri Keuangan. b.

pemerintah daerah penerima dana alokasi khusus dapat tidak wajib menyediakan dana pendamping. yang meliputi: a) Bagi Hasil Sumber Daya Alam.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I rangka pelaksanaan Desentralisasi. Tidak seluruh hasil pajak pusat dibagihasilkan dengan daerah. Pemerintah daerah yang menerima dana alokasi khusus wajib menyediakan dana pendamping sedikitnya 10% dari seluruh biaya kegiatan. Pusdiklatwas BPKP . b) Bagi Hasil Pajak. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). yakni dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. Dalam kondisi tertentu. dan sebagian Pajak Penghasilan (PPh) Wajib Pajak Orang Dalam Negeri. 2) Dana Alokasi Umum. Hasil pajak yang dibagihasilkan dengan daerah mencakup Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).2007 70 . 3) Dana Alokasi Khusus. Dana Perimbangan mencakup: 1) Dana Bagi Hasil. yakni dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan pemerintah daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.

Lembur. PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA NEGARA OLEH PENGGUNA ANGGARAN/KUASA PENGGUNA ANGGARAN 1. KONTRAK Draft SPM GU BAYAR SPM GU Bukti Laporan Keuangan Daft.2007 71 . Untuk keperluan tertentu yang tidak dapat dan/atau tidak memungkinkan dilakukannya pembayaran secara langsung (menggunakan prosedur SPM LS). daft gaji. (Gambar 5. BA PK. Jenis dan Proses Pembayaran Anggaran Belanja Negara Pembayaran atas beban APBN pada dasarnya dilakukan secara langsung melalui penerbitan Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS) kepada pihak yang berhak (pembayaran langsung).1) dapat dilakukan dengan menggunakan uang BAGAN PROSES PEMBAYARAN PADA SATUAN KERJA PEMBUAT KOMITMEN PENGUJI TAGIHAN BENDAHARA PENGELUARAN PENERBIT SPM UNIT AKUNTANSI SATKER SK. Proses pembayaran pada satuan kerja dapat digambarkan seperti bagan alur dokumen di bawah ini.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I B. sesuai ketentuan/batasan yang diatur secara khusus pembayaran persediaan. BA PB. BA Serah terima Draft SPM LS Pembebanan BENAR SPM LS Proses SAI Transfer UP/GU Bukti SK SK Bukti Dan tagihan Uji dan periksa Transfer Pihak ke tiga SP2D SALAH SPM Perbaiki KPKN Pusdiklatwas BPKP . SPK.

c. maka SPP dikembalikan. d. 2. 2) pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja. maka pejabat penguji menetapkan pembebanan anggaran mengajukan SPM kepada pejabat penerbit SPM. pelaksanaan kegiatan benar. Pejabat pembuat komitmen (PPK) dan bendahara pengeluaran berdasarkan bukti pelaksanaan kegiatan. menteri/pimpinan lembaga selaku PA menerbitkan keputusan tentang penunjukan: 1) pejabat kuasa PA untuk satuan kerja sementara di lingkungan instansi PA. Bank mentransfer uang ke rekening bendahara pengeluaran atau ke rekening pihak ketiga. Jika berdasarkan pengujian. 3) pejabat yang diberi kewenangan untuk menandatangani SPM. Asli surat keputusan dimaksud disampaikan kepada kepala KPPN selaku Kuasa BUN setelah dilengkapi dengan bukti identitas Pusdiklatwas BPKP . sedangkan jika pelaksanaan kegiatan tidak didukung bukti. 4) bendahara pengeluaran. Pejabat penerbit SPM menyerahkan SPM ke KPPN. mengajukan SPP kepada pejabat penguji tagihan. Berdasarkan SPM yang diajukan. KPPN meenerbitkan SP2D kepada bank mitra. e. Pembukuan KPPN dijadikan bahan sistem akuntansi instansi untuk penyusunan laporan keuangan pemerintah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Secara ringkas. Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara a.2007 72 . Tahap Penetapan Pejabat Kuasa PA dan Penandatangan SPM Pada setiap awal tahun anggaran. a. b. bagan alur tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

). membuat keputusan-keputusan dan atau mengambil tindakan-tindakan yang dapat mengakibatkan timbulnya pengeluaran uang dan/atau tagihan atas beban APBN. kenaikan gaji berkala. dll. Pejabat yang menandatangani kontrak/keputusan bertanggung jawab atas kebenaran material dan akibat yang timbul dari kontrak/keputusan tersebut.2007 73 . Keputusan-keputusan dan/atau tindakantindakan tersebut antara lain dapat berupa: 1) keputusan kepegawaian (seperti pengangkatan pertama pegawai. melaksanakan rencana kerja yang telah ditetapkan dalam DIPA. Tahap Pembuatan Komitmen Sesuai tugas pokok dan fungsinya. b. walaupun prosedur/tatacara kepada penyelesaian pengguna kegiatan diserahkan sepenuhnya kuasa anggaran. dll. 3) keputusan/tindakan dalam rangka pengadaan barang/jasa (kontrak jual beli. surat perintah kerja. ruang. c. kenaikan pangkat. jabatan. Pusdiklatwas BPKP . NIP/NRP. pengangkatan pegawai dalam jabatan. dan spesimen tanda tangan. cap/stempel kantor/satuan kerja.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pejabat yang bersangkutan yang meliputi: nama. Pelaksanaan Kegiatan Pada tahap ini.). cantor/satuan kerja. surat perjalanan dinas. pangkat/gol. mutasi pegawai. 2) keputusan/tindakan dalam rangka pelaksanaan kegiatan yang terkait dengan substansi tugas pokok dan fungsi. namun masih harus mengikuti ketentuan berikut. kepala satuan kerja selaku kuasa pengguna anggaran.

pemeriksaan dituangkan dalam suatu dokumen Berita Acara Hasil Pemeriksaan Penyelesaian Pekerjaan. seorang bendahara menteri/pimpinan lembaga atau pejabat yang diberi hak/tagihan atas penyelesaian-penyelesaian Pusdiklatwas BPKP . 2) Pemeriksaan Penyelesaian Pekerjaan Pada setiap tahap penyelesaian pekerjaan perlu dilakukan pemeriksaan. Uang Persediaan dan Tambahan Uang Persediaan (UP dan TUP) 1) Pengelola Uang Persediaan a) Bendahara Pengeluaran Untuk mengelola uang persediaan bagi satuan kerja di lingkungan kewenangan kementerian dapat mengangkat negara/lembaga.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 1) Pelaksanaan Pekerjaan Pelaksanaan kegiatan harus dilakukan secara tertib dan memenuhi ketentuan yang diperjanjikan baik dalam spesifikasi teknis maupun dalam jadwal/waktu penyelesaian. besar nilai kontrak. pernyataan kesaksian atas prestasi kerja yang telah diselesaikan. 3) Pembuatan Berita Acara Berita Acara Hasil Pemeriksaan Penyelesaian Pekerjaan harus memuat sekurang-kurangnya identitas pekerjaan (yang meliputi kantor/satuan kerja pengelola pekerjaan. dan rekomendasi pembayaran pekerjaan. nomor dan tanggal kontrak kerja.2007 74 . nomor dan tanggal DIPA yang menjadi dasar pembuatan dan/atau ditunjuk dalam kontrak). tempat/lokasi pekerjaan. d. tahap penyelesaian pekerjaan (termijn).

sesuai kebutuhan kepala satuan kerja mengusulkan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan untuk menunjuk pemegang uang uuka. berdasarkan SPM-UP dimaksud pada angka 1 di atas menerbitkan uang SP2D untuk rekening selanjutnya bendahara menjadi pengeluaran yang ditunjuk dalam SPM-UP.2007 75 . b) Untuk membantu pengelolaan uang persediaan pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya. e) Pengisian kembali uang persediaan dilakukan dengan mengajukan SPM GU kepada KPPN. 2) Prosedur Penggunaan Uang Persediaan a) PA/Kuasa PA menerbitkan SPM-UP berdasarkan alokasi dana dalam DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA atas permintaan dari bendahara pengeluaran yang dibebankan pada mata anggaran keluaran (MAK) untuk pengeluaran transito. Di dalam pelaksanaan tugasnya pemegang uang muka bertanggung jawab kepada bendahara pengeluaran. b) KKPPN. f) Pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan sesuai buktibukti yang sah dibebankan pada mata annggaran (MAK) definitif sesuai pagu MAK yang tersedia. c) Penggunaan persediaan tanggung jawab bendahara pengeluaran. Pusdiklatwas BPKP . selanjutnya. d) Bendahara pengeluaran melakukan pengisian kembali uang persediaan segera setelah uang persediaan dimaksud digunakan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pengeluaran pada kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya.

h) Penggunaan dan penggantian uang persediaan dapat dilakukan sepanjang pagu anggaran dalam DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA. Pusdiklatwas BPKP . b) Di luar ketentuan pada butir a. dan 5811–belanja barang lainnya. 5231-belanja biaya pemeliharaan. yang dapat dibayarkan melalui prosedur SPM-UP.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I g) Pembebanan dimaksud pada butir f) di atas mengurangi kredit/pagu anggaran dalam DIPA. oleh KPPN dibukukan sebagai pengembalian uang persediaan sesuai mata anggaran yang ditetapkan. masih cukup tersedia. i) Sisa uang persediaan yang terdapat pada akhir tahun anggaran harus disetor ke Rekening Kas Umum Negara selambat-lambatnya tanggal 31 Desember tahun anggaran berkenaan. 5221-belanja langganan daya dan jasa. 5241-belanja perjalanan. dapat diberikan pengecualian untuk DIPA Pusat oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan dan untuk DIPA Pusat yang kegiatannya berlokasi di daerah serta DIPA yang ditetapkan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan setempat. 5212-belanja bahan. 3) Petunjuk Pelaksanaan Uang Persediaan Uang persediaan dapat diberikan dalam batasan ketentuan sebagai berikut.2007 76 . a) UP dapat diberikan untuk pengeluaran-pengeluaran belanja barang pada klasifikasi belanja: 5211-belanja barang operasional. Setoran sisa uang persediaan dimaksud.

≤ Rp2.000. No Pagu (Rp juta) 1.000. 2. i.000 Prosentase pagu DIPA menurut klasifikasi belanja yang diijinkan untuk diberikan UP 1/12 1/18 1/24 Maksimal UP Rp 50.00 d) Perubahan besaran UP di luar ketentuan pada butir c) ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan. Permintaan TUP di atas Rp200.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c) Maksimal UP yang dapat diberikan adalah sebagai berikut. Kepala KPPN dapat memberikan TUP sampai dengan jumlah Rp200.400.000 .400. ≤ Rp900.00 untuk klasifikasi belanja yang diperbolehkan diberi UP bagi instansi dalam wilayah pembayaran KPPN bersangkutan.2007 77 .000.00 Rp 100.000.000.000. f) Dalam hal penggunaan UP belum mencapai 75%. Pusdiklatwas BPKP .000.000 > Rp2. sedangkan satker/SKS yang bersangkutan memerlukan pendanaan melebihi sisa dana yang tersedia.00 Rp 200.000. satker/SKS dimaksud dapat mengajukan TUP. ii.000. g) Pemberian TUP diatur sebagai berikut. 3.000 > Rp900.00 untuk klasifikasi belanja yang diperbolehkan diberi UP harus mendapat dispensasi dari Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan.000.000.000. e) Pengisian kembali UP sebagaimana dimaksud pada butir c) dapat diberikan apabila dana UP telah dipergunakan sekurang-kurangnya 75% dari dana UP yang diterima.000.000.

Pusdiklatwas BPKP . Pejabat yang Mengajukan SPP Pengajuan SPP dibedakan sesuai dengan jenis pembayaran yang dilakukan. ƒ Pengajuan SPP-LS belanja lainnya diajukan oleh pejabat pembuat komitmen. Prosedur Penerbitan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) a. untuk pelaksanaan anggaran belanja pemerintah daerah.2007 78 . b. pengajuan SPP. ƒ Pengajuan SPP-UP/TUP/GUP dilakukan oleh bendahara pengeluaran. sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri No. dibuat dengan kelengkapan persyaratan sebagai berikut.Uang Persediaan) Surat pernyataan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk. diajukan oleh bendahara pengeluaran. Sebagai bahan perbandingan. baik uang persediaan maupun pembayaran langsung. 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. menyatakan bahwa Uang Persediaan tersebut tidak untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang menurut ketentuan harus dengan LS. Pengajuan SPP untuk pelaksanaan anggaran belanja negara dibedakan sebagai berikut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. Persyaratan Penerbitan SPP Pengajuan surat permintaan pembayaran (SPP) untuk penerbitan surat perintah membayar (SPM). 1) SPP-UP (Surat Permintaan Pembayaran . ƒ Pengajuan SPP-LS belanja pegawai dan belanja perjalanan dinas dilakukan oleh bendahara pengeluaran.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) SPP-TUP (Surat Permintaan Pembayaran .2007 79 . (3) tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung. 3) SPP-GUP (Surat Permintaan Pembayaran .Penggantian Uang Persediaan) a) Kuitansi/tanda bukti pembayaran.Tambahan Uang Persediaan) a) Rincian rencana penggunaan dana Tambahan uang persediaan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk. b) Surat pernyataan tanggung jawab belanja (SPTB). Pusdiklatwas BPKP . c) Rekening koran yang menunjukkan saldo terakhir. dapat dilakukan melalui UP/TUP. Pengaturan mekanisme pembayaran adalah sebagai berikut. Apabila tidak mungkin dilaksanakan melalui mekanisme LS. 4) SPP Untuk Pengadaan Tanah Pembayaran pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilaksanakan melalui mekanisme pembayaran langsung (LS). (2) apabila terdapat sisa dana TUP. b) Surat pernyataan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk bahwa: (1) dana tambahan UP tersebut akan digunakan untuk keperluan mendesak dan akan habis digunakan dalam waktu satu bulan terhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D. c) Surat setoran pajak (SSP) yang telah dilegalisir oleh kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk. harus disetorkan ke rekening kas negara.

sedangkan besaran uangnya harus mendapat dispensasi UP/TUP sesuai ketentuan yang berlaku.2007 80 . (9) Surat pelepasan hak adat (bila diperlukan).Pedoman Pelaksanaan Anggaran I a) SPP-LS (Surat Permintaan Pembayaran . (7) Pelepasan/penyerahan hak atas tanah/akta jual beli di hadapan PPAT. (2) foto copy bukti kepemilikan tanah. (6) Pernyataan dari penjual bahwa tanah tersebut tidak dalam sengketa dan tidak sedang dalam agunan. (2) Pengadaan tanah yang luasnya lebih dari satu hektar dilakukan dengan bantuan panitia pengadaan tanah di kabupaten/kota setempat. Pusdiklatwas BPKP . b) SPP-UP/TUP (1) Pengadaan tanah yang luasnya kurang dari satu hektar dilengkapi persyaratan daftar nominatif pemilik tanah yang ditandatangani oleh kuasa PA. (3) kuitansi. dan dilengkapi dengan daftar nominatif pemilik tanah serta besaran harga tanah yang ditandatangani oleh Kuasa PA dan diketahui oleh Panitia Pengadaan Tanah (PPT). (3) Pengadaan tanah yang pembayarannya dilaksanakan melalui UP/TUP harus terlebih dahulu mendapat ijin dispensasi dari Kantor Pusat Ditjen PBN/Kanwil Ditjen PBN. (4) SPPT PBB tahun transaksi.Pembayaran Langsung) (1) Persetujuan Panitia Pengadaan Tanah untuk tanah yang luasnya lebih dari satu hektar di kabupaten/kota. (5) Surat persetujuan harga. (8) SSP PPh final atas pelepasan hak.

surat daftar yang pemberian duka wafat/tewas. 6) SPP-LS Non Belanja Pegawai a) Pembayaran pengadaan barang dan jasa. (2) surat pernyataan kuasa PA mengenai penetapan rekanan. (4) berita acara serah terima pekerjaan. (3) berita acara penyelesaian pekerjaan.2007 81 . daftar hadir kerja. surat perintah kerja lembur.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 5) SPP-LS Untuk Pembayaran Gaji. dilengkapi dengan: (1) kontrak/SPK yang mencantumkan nomor rekening rekanan. (6) kuitansi yang disetujui oleh kuasa yang ditunjuk. (5) berita acara pembayaran. Lembur dan Honor/Vakasi a) Pembayaran gaji induk/gaji susulan/kekurangan gaji/gaji terusan/uang PPh Pasal 21. PA atau pejabat Pusdiklatwas BPKP . b) Pembayaran lembur dilengkapi dengan daftar pembayaran perhitungan lembur yang ditandatangani oleh kuasa PA/pejabat yang ditunjuk dan bendahara pengeluaran. c) Pembayaran keputusan pembayaran honor/vakasi tentang perhitungan dilengkapi honor dengan vakasi. dilengkapi dengan dokumen yang terkait dengan pembayarannya dan SSP honor/vakasi ditandatangani oleh kuasa PA/pejabat yang ditunjuk dan bendahara pengeluaran yang bersangkutan. dan SSP PPh Pasal 21. daftar hadir lembur dan SSP PPh Pasal 21.

yang berisi antara lain: informasi mengenai data pejabat (nama. (9) dokumen lain yang dipersyaratkan untuk kontrakkontrak yang dananya sebagian atau seluruhnya bersumber dari pinjaman/hibah luar negeri. dapat satuan kerja/SKS yang bersangkutan melakukan bank atau yang dipersamakan yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan non pembayaran dengan UP. PDAM dll. lama perjalanan dinas. telepon dan air) dilengkapi dengan: (1) bukti tagihan daya dan jasa.2007 82 . (8) jaminan bank. tanggal keberangkatan. Dalam hal pembayaran Langganan Daya dan Jasa belum dapat dilakukan secara langsung. c) Pembayaran belanja perjalanan dinas harus dilengkapi dengan daftar nominatif pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (7) faktur pajak beserta SSP yang telah ditandatangani wajib pajak. PT Telkom. Tunggakan langganan daya dan jasa tahun anggaran sebelumnya dapat dibayarkan oleh satker/SKS setelah mendapat dispensasi/persetujuan terlebih dahulu dari Kanwil Ditjen PBN sepanjang dananya tersedia dalam DIPA berkenaan. dan biaya yang diperlukan untuk masing-masing pejabat. (10) ringkasan kontrak. tujuan. b) Pembayaran biaya langganan daya dan jasa (listrik. pangkat/golongan). (2) nomor rekening pihak ketiga (PT PLN.). Pusdiklatwas BPKP .

dengan SPM terakhir yang diterbitkan.00 dengan melampirkan Daftar Realisasi Pendapatan dan Penggunaan Dana DIPA . JPS = jumlah pencairan dana sebelumnya sampai Pusdiklatwas BPKP . 7) SPP untuk PNBP a) UP/TUP untuk PNBP diajukan terpisah dari UP/TUP lainnya. d) Dalam pengajuan SPM-TUP/GUP/LS PNBP ke KPPN.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Daftar nominatif tersebut harus ditandatangani oleh pejabat yang berwenang memerintahkan perjalanan dinas. b) UP dapat diberikan kepada satker pengguna sebesar 20% dari pagu dana PNBP pada DIPA maksimal sebesar Rp500. PPP = proporsi pagu pengeluaran terhadap pendapatan.000. MP = (PPP x JS) – JPS MP = maksimum pencairan dana. satker pengguna harus melampirkan daftar perhitungan jumlah MP. dan disahkan oleh pejabat yang berwenang di KPPN.PNBP tahun anggaran sebelumnya.2007 83 . Apabila UP tidak mencukupi dapat mengajukan TUP sebesar kebutuhan riil satu bulan dengan memerhatikan maksimum pencairan (MP).000. c) Dana yang berasal dari PNBP dapat dicairkan maksimal sesuai formula sebagai berikut. JS = jumlah setoran. Pembayaran dilakukan oleh bendahara pengeluaran satker/SKS yang bersangkutan kepada para pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas.

i) Pertanggungjawaban penggunaan dana UP/TUP PNBP oleh kuasa PA. yang disetorkan ke rekening kas negara pada akhir tahun anggaran merupakan bagian realisasi penerimaan PNBP tahun anggaran berikutnya dan dapat dipergunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan setelah diterimanya DIPA. g) Besaran PPP untuk masing-masing satker pengguna diatur berdasarkan surat keputusan Menteri Keuangan yang berlaku. h) Besarnya pencairan dana PNBP secara keseluruhan tidak boleh melampaui pagu PNBP satker yang bersangkutan dalam DIPA. Pusdiklatwas BPKP .2007 84 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I e) Untuk satker pengguna yang setorannya dilakukan secara terpusat. pencairan dana diatur secara khusus dengan surat edaran Dirjen PBN tanpa melampirkan SSBP. k) Sisa dana PNBP dari satker pengguna di luar butir i. dilakukan dengan mengajukan SPM ke KPPN setempat cukup dengan melampirkan SPTB. sisa dana PNBP yang disetorkan pada akhir tahun anggaran ke rekening kas negara dapat dicairkan kembali maksimal sebesar jumlah yang sama pada awal tahun anggaran berikutnya mendahului diterimanya DIPA dan merupakan bagian dari target PNBP yang tercantum dalam DIPA tahun anggaran berikutnya. j) Khusus perguruan tinggi negeri selaku pengguna PNBP (non BHMN). pencairan dana harus melampirkan bukti setoran (SSBP) yang telah dikonfirmasi oleh KPPN. f) Satker pengguna yang menyetorkan pada masing-masing unit (tidak terpusat).

akan diperhitungkan pada saat pengajuan pencairan dana UP tahun anggaran berikutnya. 3) Memeriksa kesesuaian rencana kerja dan/atau kelayakan hasil kerja yang dicapai dengan indikator keluaran. 4.2007 85 . dan membuat/menandatangani pejabat penerbit SPM. nomor rekening dan nama bank). 4) Memeriksa kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain: a) pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/perusahaan. a. mencatatnya dalam buku pengawasan penerimaan tanda terima SPP. SPP. mengisi check list kelengkapan berkas SPP. Penerimaan dan pengujian SPP Petugas penerima SPP memeriksa kelengkapan berkas SPP.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I l) Sisa UP/TUP dana PNBP sampai akhir tahun anggaran yang tidak disetorkan ke rekening kas negara. Prosedur Penerbitan SPM Setelah menerima SPP. pejabat penerbit SPM menerbitkan SPM dengan mekanisme sebagai berikut. b. Selanjutnya petugas penerima SPP menyampaikan SPP dimaksud kepada Pusdiklatwas BPKP . Pejabat penerbit SPM melakukan pengujian atas SPP sebagai berikut. 2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran. alamat. 1) Memeriksa secara rinci dokumen pendukung SPP sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Setelah dilakukan pengujian terhadap SPP-UP/SPP-TUP/SPPGUP/SPP-LS. a. 5) Memeriksa pencapaian tujuan dan/atau sasaran kegiatan sesuai dengan indikator keluaran yang tercantum dalam DIPA berkenaan dan/atau spesifikasi teknis yang sudah ditetapkan dalam kontrak. kecuali bagi satker yang masih menerbitkan SPM secara manual tidak perlu ADK. dengan rincian: 1) lembar kesatu dan kedua disampaikan kepada KPPN. Pusdiklatwas BPKP . c) jadwal waktu pembayaran. 2) lembar ketiga sebagai pertinggal pada satker yang bersangkutan. Penyampaian SPM kepada KPPN Penyampaian SPM kepada KPPN dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut. Pejabat Penguji SPP dan Penanda Tangan SPM menerbitkan SPM-UP/SPM-TUP/SPM-GUP/SPM-LS dalam rangkap tiga. c.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b) nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan/atau kelayakannya dengan prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak). PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA NEGARA OLEH BENDAHARA UMUM NEGARA (BUN)/KUASA BUN 1. C. Pengguna anggaran/kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk menyampaikan SPM beserta dokumen pendukung dilengkapi dengan Arsip Data Komputer (ADK) berupa soft copy melalui loket penerimaan SPM pada KPPN atau melalui kantor pos.2007 86 .

b) surat dispensasi Kepala Kantor Wilayah Ditjen.00. b) SPTB. 3) untuk keperluan pembayaran TUP: a) rincian rencana penggunaan dana. Pusdiklatwas BPKP .000. 1) untuk keperluan pembayaran langsung (LS) belanja pegawai: a) daftar gaji/gaji susulan/kekurangan gaji/lembur/honor dan vakasi yang ditandatangani oleh kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk dan bendahara pengeluaran. harus disetorkan ke rekening kas negara. c) surat pernyataan dari kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk yang menyatakan bahwa: (1) dana tambahan UP tersebut akan digunakan untuk keperluan mendesak dan akan habis digunakan dalam waktu satu bulan terhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D. 2) untuk keperluan pembayaran langsung (LS) non belanja pegawai: a) resume kontrak/SPK atau daftar nominatif perjalanan dinas. Perbendaharaan untuk TUP diatas RP200.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b.000. (2) apabila terdapat sisa dana TUP. c) surat keputusan pemberian honor/vakasi dan SPK lembur.2007 87 . SPM dimaksud dilampiri bukti pendukung pengeluaran sebagai berikut. d) surat setoran pajak (SSP). c) faktur pajak dan SSP. b) surat-surat keputusan kepegawaian dalam hal terjadi perubahan pada daftar gaji.

b) ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA yang ditunjuk dalam SPM tersebut. surat keputusan. Pengujian SPM Berdasarkan berkas SPM yang diterima. c. daftar nominatif perjalanan Pusdiklatwas BPKP . e. sebagai dasar penagihan (ringkasan kontrak/SPK. mencatat dalam Daftar Pengawasan Penyelesaian SPM.2007 88 . 1) Pengujian substantif dilakukan untuk menguji: a) kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM. mengisi check list kelengkapan berkas SPM.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I (3) tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung. b) Faktur Pajak dan SSP. SPM Gaji Induk harus sudah diterima KPPN paling lambat tanggal 15 sebelum bulan pembayaran. 2. dan meneruskan check list serta kelengkapan SPM ke seksi perbendaharaan untuk diproses lebih lanjut. Pengujian SPM dan Penerbitan SP2D a. Petugas KPPN pada loket penerimaan SPM memeriksa kelengkapan SPM. 4) untuk keperluan pembayaran GUP: a) SPTB. Bukti asli lampiran SPP merupakan arsip yang disimpan oleh PA/KPA. d. KPPN melakukan pengujian yang bersifat substansif dan formal. c) dokumen dinas).

2007 89 . Pengembalian SPM sebagaimana dimaksud di atas diatur sebagai berikut. b) SPM UP/TUP/GUP dan LS dikembalikan paling lambat satu hari kerja setelah SPM diterima. b) pengembalian SPM kepada penerbit SPM. Pusdiklatwas BPKP . b. Keputusan hasil pengujian ditindak lanjuti dengan: a) penerbitan SP2D bilamana SPM yang diajukan memenuhi syarat yang ditentukan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I d) surat pernyataan tanggung jawab (SPTB) dari kepala kantor/satker atau pejabat lain yang ditunjuk mengenai tanggung jawab terhadap kebenaran pelaksanaan pembayaran. b) memeriksa cara penulisan/pengisian jumlah uang dalam angka dan huruf. c) memeriksa kebenaran dalam penulisan. Penerbitan SP2D Penerbitan SP2D wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai berikut. e) faktur pajak beserta SSP-nya. 1) SP2D Gaji Induk diterbitkan paling lambat lima hari kerja sebelum awal bulan pembayaran gaji. a) SPM Belanja Pegawai Non Gaji Induk dikembalikan paling lambat tiga hari kerja setelah SPM diterima. apabila tidak memenuhi syarat untuk diterbitkan SP2D. termasuk tidak boleh terdapat cacat dalam penulisan. 2) Pengujian formal dilakukan untuk: a) mencocokkan tanda tangan pejabat penanda tangan SPM dengan spesimen tanda tangan.

untuk diproses dan selanjutnya diteruskan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan u. arus kas dan neraca kepada Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Untuk keperluan pelaporan tersebut. kepala KPPN selaku kuasa bendahara umum negara wajib membuat laporan bulanan realisasi anggaran. maka: 1. dan catatan atas laporan keuangan. Laporan yang menyangkut dengan realisasi APBN lainnya sepanjang belum dicabut dan masih diperlukan tetap dilaksanakan. 2. kepala kantor/satker selaku unit akuntansi kuasa pengguna D. PELAPORAN REALISASI ANGGARAN BELANJA Untuk keperluan penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN diperlukan antara lain data realisasi APBN.p. Pusdiklatwas BPKP . Direktur Informasi dan Akuntansi. kepala KPPN selaku kuasa bendahara umum negara wajib membuat laporan kas posisi (LKP) harian dan mingguan yang disampaikan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan u. Direktur Pengelolaan Kas Negara dengan tembusan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan. arus kas. 3.2007 90 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) SP2D Non Gaji Induk diterbitkan paling lambat lima hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap. neraca. 3) SP2D UP/TUP/GUP dan LS paling lambat satu hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap.p. anggaran (UAKPA) wajib membuat laporan realisasi anggaran dan neraca serta arsip data komputer (ADK) yang dikelolanya kepada menteri/pimpinan lembaga secara berjenjang melalui unit akuntansi pembantu pengguna anggaran tingkat wilayah (UAPPAW) dan kepada KPPN setempat.

58 persen. Sedangkan. Sri Mulyani menyatakan tidak tahu. "Faktor-faktornya biasanya konsumsi dan investasi. Sebelumnya.4 persen. BAHAN DISKUSI DAN SOAL LATIHAN BAHAN DISKUSI Berdasarkan materi pemelajaran di atas. pemerintah menargetkan pertumbuhan 6." ujarnya. Kita jalankan saja apa yang ada di APBN. sosial politik. "Saya kira kalau pribadi dari segi saya enam persen tetap. dari sisi fiskal tidak ada kebijakan baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. "Sementara. Pemerintah Mempercepat Penyerapan Anggaran Untuk Mendorong Target Pertumbuhan 6. setiap laporan menyangkut pertumbuhan ekonomi pasti menyebutkan faktor-faktor yang mendukung pertumbuhan itu. enam persen tahun ini masih dalam jangkauan. "Pemerintah akan memerhatikan itu. Lapangan Banteng Jakarta.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I E. diskusikan artikel di bawah ini. Sementara.2007 91 . Jumat (7/4). Fiskal tidak ada yang baru. pemerintah akan mempercepat penyerapan anggaran dalam tahun 2006 guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang menurut laporan Bank Indonesia (BI) pada triwulan pertama 2006 hanya mencapai 4." katanya. BI menyatakan perekonomian pada triwulan Pusdiklatwas BPKP .2% Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan.58 persen. Namun." kata Sri Mulyani." kata dia di Gedung Departemen Keuangan Jln. Ketika ditanya mengapa pertumbuhan ekonomi hanya 4.2 persen. mungkin penyerapan anggaran masih perlu lebih diakselerasi. Menko Perekonomian Boediono optimistis pertumbuhan Indonesia pada tahun ini tetap mencapai target 6. Bank Pembangunan Asia (ADB) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2006 mencapai 5. Ia mengakui. dengan pendekatan dari sisi pengguna anggaran. Saya kira kalau kita mempertahankan situasi yang baik ini. Baik dari segi ekonomi. masih adanya hambatan dalam pencairan daftar isian pelaksanaan Anggaran (DIPA) dari sisi teknis maupun pelaksanaan projek atau programnya.2 persen.

pengeluaran yang dilakukan tidak boleh melampaui batas anggaran yang tersedia pengeluaran negara dilakukan sehemat mungkin agar ada c. a.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pertama 2006 diperkirakan tumbuh 4. sisa anggaran d.0-5. anggaran yang tersedia harus dihabiskan sampai akhir tahun anggaran b.2007 92 .4 persen mendekati batas atas 5.58 persen.7 persen. menurunnya tingkat inflasi. terarah dan terkendali sesuai dengan rencana b. dan surplus neraca pembayaran. "Perkembangan yang lebih positif ini terutama didukung oleh kestabilan ekonomi makro seperti menguatnya nilai tukar. "PDB 2006 diperkirakan melebihi nilai tengah (mid point) 5. dihabiskan sesuai dengan mata anggarannya c. kinerja neraca pembayaran yang lebih baik. BI memandang optimisme pada perekonomian nasional semakin menguat terutama didorong oleh ekonomi global yang lebih kondusif." kata Gubernur Bank Indonesia Burhanudin Abdulah. anggaran yang tersedia sudah mengikat dan harus direalisir 2.35 persen. semaksimal mungkin menggunakan produksi dalam negeri d.. c atau d yang saudara anggap paling benar. kemampuan stimulus fiskal yang lebih besar. (JAKARTA-(PR) A-75/A-78)*** SOAL LATIHAN Pilihlah salah satu jawaban a. Untuk keseluruhan tahun 2006. Pusdiklatwas BPKP . tidak mewah. dan intensifnya upaya pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi. hemat.. Untuk PDB secara keseluruhan 2006. diperkirakan mengalami pertumbuhan sedikit lebih tinggi mendekati batas atas kisaran proyeksi BI yaitu 5. b." katanya. Berikut adalah prinsip dari pengeluaran anggaran. a. kecuali . efisien sesuai kebutuhan teknis yang disyaratkan Anggaran negara merupakan batas tertinggi (maksimum) untuk setiap jenis pengeluaran artinya ….7 persen. 1. sedikit lebih tinggi dari perkiraan awal tahun sebesar 4..

pejabat penguji Tambahan Uang Persediaan (TUP) dapat digunakan paling lama. didasarkan atas DIPA atau dokumen yang disamakan dilengkapi pernyataan tidak melakukan KKN c. a.000.000. kecuali …. d. bendahara pengeluaran b. 5. SPP yang dibuat dan diajukan oleh bendahara pengeluaran b. dua minggu sejak tanggal SP2D diterbitkan dua bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan c. Rp 10. Rp 5. d. berdasarkan bukti atas hak b. (KPPN) d..000. tiga bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan Dasar untuk mencairkan uang dari bendahara umum negara (BUN) adalah …. d. a.. a.2007 93 . MAK Transito MAK Belanja Lain-lain c.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3.00 Rp 15 . Pengeluaran atas beban belanja negara harus memenuhi persyaratan berikut. 6.00 b. Rp 25.. cek tunai dari KPPN SPM uang persediaan (SPM-UP) yang diterbitkan kuasa pengguna anggaran atau pejabat yang ditunjuk dibebankan pada …. pejabat pembuat komitmen (PPK) kuasa pengguna anggaran (KPA) c. a.. sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan Penanggung jawab penggunaan uang persediaan (UP) adalah ….. 8. d. satu bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan b.000. Pusdiklatwas BPKP .000. MAK Belanja Tidak Tersangka Pembayaran yang dapat dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran kepada satu rekanan paling tinggi . d. 7.000.00 4.00 c.000. MAK Belanja Non Pegawai b.. SPM yang diterbitkan oleh kuasa pengguna anggaran SP2D yang diterbitkan oleh kantor pelayanan perbendaharaan c. a. a.000.

Tentukan mana yang bukan menjadi persyaratan yang harus dilampirkan pada pengajuan SPP-GUP (penggantian uang persediaan) ….Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 9 Melakukan pembayaran tagihan pihak ketiga sebagai pengeluaran anggaran adalah tanggung jawab dari ….2007 94 . a. semua (jawaban a. dan c) dapat melakukannya. surat setoran pajak (SSP) yg telah dilegalisir oleh KPA/PPK 10 Pusdiklatwas BPKP . kuasa pengguna anggaran d. a. kuitansi/tanda bukti pembayaran b. surat pernyataan tanggungjawab belanja (SPTB) surat pernyataan tidak melakukan KKN c. menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran/ pengguna barang b. d. bendahara umum negara/kuasa bendahara umum negara c. b.

menerapkan Pusdiklatwas BPKP . A. berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan. Efisien. Efektif. b.2007 95 . KEBIJAKAN UMUM. 1. a.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I BAB VI POKOK-POKOK PENGADAAN BARANG DAN JASA INSTANSI PEMERINTAH Tujuan Pemelajaran Khusus Setelah memelajari bab ini. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. ETIKA. sejak proses persiapan. DAN RUANG LINGKUP PENGADAAN BARANG DAN JASA Pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah yang sebagian atau seluruhnya dibiayai APBN/APBD diatur dalam Keputusan Presiden No. hingga penunjukkan dan penetapan penyedia barang/jasa. PRINSIP DASAR. Prinsip-Prinsip Dasar Pengadaan barang/jasa pemerintah yang yang sebagian atau seluruhnya dibiayai APBN/APBD diwajibkan untuk prinsip-prinsip sebagai berikut. untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkatsingkatnya dan dapat dipertanggungjawabkan. berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang terbatas. peserta diklat diharapkan mampu mekanisme pengadaan barang dan jasa. dengan beberapa kali perubahannya.

d. 2. berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak tertentu. Akuntabel. berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu berdasarkan transparan. Meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri. hasil evaluasi. rancang bangun dan perekayasaan nasional.2007 96 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I c. Transparan. a. Kebijakan Umum Kebijakan umum pemerintah dalam pengadaan barang/jasa meliputi antara lain hal-hal sebagai berikut. dengan cara dan atau alasan apapun. Adil/tidak diskriminatif. sifatnya terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya. penetapan calon penyedia barang/jasa. berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa. keuangan maupun manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsipprinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa. e. berarti harus mencapai sasaran baik fisik. Terbuka dan bersaing. yang sasarannya adalah memperluas lapangan kerja dan mengembangkan industri dalam ketentuan dan prosedur yang jelas dan Pusdiklatwas BPKP . tata cara evaluasi. termasuk syarat teknis administrasi pengadaan. f.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I negeri dalam rangka meningkatkan daya saing barang/jasa produksi dalam negeri pada perdagangan internasional. h. Mengumumkan kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah secara terbuka melalui surat kabar naslonal dan/atau surat kabar provinsi. g. Mengharuskan pengumuman rencana pengadaan barang/jasa secara terbuka. Menyederhanakan ketentuan dan tata cara untuk mempercepat proses pengambilan keputusan dalam pengadaan barang/jasa. b. Meningkatkan profesionalisme. e. kecuali yang bersifat rahasia pada setiap awal pelaksanaan anggaran kepada masyarakat luas. dan penyedia barang/jasa. Etika Dalam Pengadaan Barang/Jasa Para pihak yang terkait dengan aktivitas pengadaan barang/jasa yaitu penyedia barang/jasa dan pihak pemberi kerja maupun pihak lainnya yang terkait dengan pengadaan instansi pemerintah. 3.2007 97 . Menumbuh kembangkan peran serta usaha nasional. Meningkatkan peran serta usaha kecil termasuk koperasi kecil dan kelompok masyarakat dalam pengadaan barang/jasa. i. c. panitia/pejabat pengadaan. kemandirian dan tanggung jawab pengguna barang/jasa. wajib mematuhi prinsip etika dalam pengadaan untuk menciptakan praktik yang sehat dan pemerintahan yang bersih. f. Etika yang harus dipegang teguh antara lain adalah sebagai berikut Pusdiklatwas BPKP . Meningkatkan penerimaan negara melalui sektor perpajakan. Mengharuskan pelaksanaan pemilihan penyedia barang/jasa dilakukan di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. d.

disertai rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran kelancaran dan ketepatan tercapainya tujuan pengadaan barang/jasa. f. Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang ditetapkan sesuai dengan kesepakatan para pihak.2007 98 .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I a. Pusdiklatwas BPKP . Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa. h. langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan barang/jasa (conflict of interest). Tidak menerima. c. e. Bekerja secara profesional dan mandiri atas dasar kejujuran. serta menjaga kerahasiaan dokumen pengadaan barang dan jasa yang seharusnya dirahasiakan untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam pengadaan barang/jasa. golongan atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. Melaksanakan tugas secara tertib. d. Tidak saling memengaruhi baik langsung maupun tidak langsung untuk mencegah dan menghindari terjadinya persaingan tidak sehat. g. Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. Menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak yang terkait. tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima hadiah/imbalan berupa apa saja kepada siapapun yang diketahui atau patut dapat diduga berkaitan dengan pengadaan barang/jasa. b.

Ruang lingkup pengadaan barang/jasa mencakup: a. c. Ruang Lingkup dan Pembiayaan Pengadaan a. dan peraturan daerah/keputusan kepala daerah yang mengatur pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibiayai dari dana APBD. BHMN. yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD. apabila ditindaklanjuti dengan keputusan menteri/pemimpin lembaga/panglima TNI/Kapolri/Dewan Gubernur BI/pemimpin BHMN/direksi BUMN.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4. pengadaan barang/jasa yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD. pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruhnya dibiayai dari pinjaman/hibah luar negeri (PHLN) yang sesuai atau tidak bertentangan dengan pedoman dan ketentuan pengadaan barang/jasa dari pemberi pinjaman/hibah bersangkutan. Pusdiklatwas BPKP . BUMN. dan staf proyek.2007 99 . pengadaan barang/jasa untuk investasi di lingkungan BI. panitia/pejabat pengadaan. BUMD. Departemen/kementerian/lembaga/ TNI/Polri/pemerintah pelaksanaan 1) honorarium daerah/BI/ BHMN/BUMN/BUMD yang dibiayai wajib dari menyediakan biaya administrasi proyek untuk mendukung pengadaan barang/jasa APBN/APBD. harus tetap berpedoman serta tidak boleh bertentangan dengan ketentuan dalam Keputusan Presiden 80/2003. b. Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibiayai dari dana APBN. yaitu biaya untuk: pengguna barang/jasa. Pembiayaan Pengadaan. b. bendaharawan.

Prakualifikasi dan pascakualifikasi. 1. Penetapan penyedia barang/jasa dan jenis kontrak. Pelaksanaan dan metode pemilihan penyedia barang/jasa. 6. Metode penyampaian dokumen penawaran. pejabat pembuat komitmen. Metode evaluasi penawaran. B.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) pengumuman pengadaan barang/jasa. 4. 3. Organisasi dan Tugas Pokok Organ Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah a. Organisasi dan tugas pokok organ pengadaan barang dan jasa pemerintah. 7. 2.2007 100 . 4) administrasi lainnya yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pengadaan barang/jasa. Uraian lebih lanjut dari pokok kebijakan pengadaan barang dan jasa adalah sebagai berikut. Harga perkiraan sendiri (HPS). 3) penggandaan dokumen pengadaan barang/jasa dan/atau dokumen prakualifikasi. panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan. Organisasi Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Organisasi dalam pengadaan barang/jasa pemerintah meliputi: • • • pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Pusdiklatwas BPKP . POKOK-POKOK KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMERINTAH Pada subbab ini akan dibahas mengenai pokok-pokok kebijakan pengadaan barang dan jasa pemerintah yang meliputi: 1. 5.

fisik. dapat Untuk pengadaan di atas Rp50.000.00 wajib dibentuk panitia pengadaan.000. Berkaitan dengan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan terdapat beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan yang mencakup hal-hal berikut. pengawasan BI/BHMN/BUMN/BUMD untuk pengadaan panitia/pejabat pengadaan/anggota dibutuhkan instansinya).000. pejabat yang bertugas melakukan verifikasi surat permintaan pembayaran dan/atau pejabat yang bertugas menandatangani surat perintah membayar.00 pejabat pengadaan. Pengadaan juga dapat dilaksanakan oleh unit layanan pengadaan (Procurement Unit). 2) Anggota panitia pengadaan/pejabat pengadaan/anggota unit layanan pengadaan berasal dari pegawai negeri. namun bukan (dilarang) pegawai yang menjadi: a. c.2007 101 . pejabat pembuat komitmen dan bendahara. baik dari instansi sendiri maupun instansi teknis lainnya. Pusdiklatwas BPKP .000.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Organisasi dalam pengadaan barang/jasa bertugas dan bertanggung jawab dari segi administrasi. pegawai Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)/inspektorat utama internal pengadaan lembaga jenderal pemerintah departemen/inspektorat non departemen/badan (kecuali unit barang/jasa menjadi layanan yang pengawas daerah provinsi/kabupaten/kota. keuangan. dan fungsional atas pengadaan barang/jasa yang dilaksanakannya. 1) Pengadaan dilaksanakan sampai oleh dengan seorang Rp50. b.

Tugas Pokok Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pejabat Pembuat Komitmen diangkat dengan surat keputusan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. dengan Pusdiklatwas BPKP . b. anggota panitia pengadaan berasal dari instansinya sendiri atau instansi teknis pemerintah. Jumlah Pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya ≤ Rp500 juta > Rp500 juta Pengadaan jasa konsultansi ≤ Rp200juta > Rp200 juta Sedikitnya 3 orang Sedikitnya 5 orang 5) Panitia/pejabat pengadaan/anggota unit layanan pengadaan harus memiliki integritas moral. Pejabat Pembuat Komitmen dapat melaksanakan proses pengadaan barang/jasa sebelum dokumen anggaran disahkan sepanjang anggaran untuk kegiatan yang bersangkutan telah dialokasikan. dan dapat menyertakan pihak lain yang ditunjuk oleh kepala badan pelaksana. Pejabat Pembuat Komitmen dilarang mengadakan ikatan perjanjian dengan penyedia barang/jasa apabila belum tersedia anggaran atau tidak cukup tersedia anggarannya. dan memahami prosedur pengadaan berdasarkan Peraturan Presiden ini. memahami keseluruhan pekerjaan yang akan diadakan. 4) Jumlah panitia harus berjumlah gasal dengan ketentuan sebagai berikut.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3) Dalam hal pengadaan barang/jasa dilakukan oleh Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara.2007 102 .

2007 103 . jadwal. 3) menetapkan dan mengesahkan harga perkiraan sendiri (HPS). 8) mengendalikan pelaksanaan penjanjian/kontrak. serta kelompok masyarakat. Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ketentuan penerbitan surat penunjukan penyedia barang/jasa (SPPBJ) dan penandatanganan kontrak pengadaan barang/jasa dilakukan setelah dokumen anggaran disahkan. 2) menetapkan paket-paket pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil. 4) menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan sesuai kewenangannya. 6) menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedia barang/jasa. Tugas pokok Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) meliputi: 1) menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa. 5) menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku. 7) melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/ jasa kepada pimpinan instansinya. 9) menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada menteri/Panglima TNI/Kepala Polri/pimpinan lembaga/pimpinan kesekretariatan lembaga tinggi negara/ pimpinan kesekretariatan komisi/gubernur/bupati /walikota/ Dewan Gubernur BI/pemimpin BHMN/direksi BUMN/BUMD dengan berita acara penyerahan. tata cara pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun oleh panitia pengadaan/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan.

2.2007 104 . c. 7) mengusulkan calon pemenang. 2) menyusun dan menyiapkan harga perkiraan sendiri (HPS). 4) mengumumkan pengadaan barang/jasa di surat kabar nasional dan/atau provinsi dan/atau papan pengumuman resmi untuk penerangan umum. 8) membuat laporan mengenai proses dan hasil pengadaan kepada Pejabat Pembuat Komitmen dan/atau pejabat yang mengangkatnya. 9) menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai. 3) menyiapkan dokumen pengadaan. 6) melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk. Pelaksanaan dan Metode Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah dapat dilakukan dengan cara: Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 10)menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai. Tugas pokok pejabat/panitia pengadaan/Unit Layanan Pengadaan Tugas pokok pejabat/panitia pengadaan/unit layanan pengadaan (procurement unit) meliputi: 1) menyusun jadwal dan menetapkan cara pelaksanaan serta lokasi pengadaan. 5) menilai kualifikasi penyedia melalui pascakualifikasi atau prakualifikasi. dan diupayakan diumumkan di website pengadaan nasional.

o pengadaan jasa konsultansi. Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut. Pelelangan terbatas.2007 105 . ¾ swakelola. Pusdiklatwas BPKP . PELELANGAN UMUM PENGADAAN BARANG/ JASA PEMBORONGAN PELELANGAN TERBATAS PEMILIHAN LANGSUNG PENYEDIA B/J PENUNJUKAN LANGSUNG SELEKSI UMUM PBJ PENGADAAN JASA KONSULTANSI SELEKSI TERBATAS SELEKSI LANGSUNG SWAKELOLA PENUNJUKAN LANGSUNG a. yang dikelompokkan menjadi: o pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya. ƒ ƒ Pelelangan umum.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ¾ menggunakan jasa penyedia barang dan jasa. Metode Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Pemborongan /Jasa Lainnya Metode pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya dapat dilakukan dengan salah satu dari metode berikut.

Penunjukkan langsung. yaitu pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan dengan membandingkan sebanyak-banyaknya penawaran. Pemilihan langsung dapat dilaksanakan untuk pengadaan yang bernilai sampai dengan Rp100. maka pemilihan barang/jasa pemilihan langsung. maka pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan metode mencantumkan mampu.000. Dalam hal jumlah penyedia barang/jasa yang mampu melaksanakan diyakini terbatas yaitu untuk pekerjaan yang kompleks.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I ƒ ƒ Pemilihan langsung. yaitu metode pemilihan yang dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi untuk penerangan umum sehingga masyarakat luas dunia usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya. guna pelelangan terbatas dan diumumkan secara penyedia memberi barang/jasa kesempatan yang telah diyakini penyedia luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi dengan kepada barang/jasa lainnya yang memenuhi kualifikasi. sekurang-kurangnya tiga penawaran dari penyedia barang/jasa yang telah lulus prakualifikasi serta dilakukan negosiasi baik teknis maupun biaya serta harus diumumkan minimal melalui papan pengumuman resmi untuk penerangan umum dan bila memungkinkan melalui internet. Pusdiklatwas BPKP . prinsipnya pengadaan dilakukan melalui metode Pada pelelangan umum. Dalam hal metode penyedia pelelangan umum atau pelelangan terbatas dapat dilakukan dengan metode dinilai tidak efisien dari segi biaya pelelangan.2007 106 .000.00.

atau (lima puluh juta rupiah) dengan Pusdiklatwas BPKP .2007 107 .00 ketentuan: ƒ untuk keperluan sendiri. 1) Keadaan tertentu. atau harus dilakukan segera. dan/atau ƒ dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa usaha orang perseorangan dan/atau badan usaha kecil termasuk koperasi kecil. dan/atau b) pekerjaan yang perlu dirahasiakan yang menyangkut pertahanan dan keamanan negara yang ditetapkan oleh Presiden.000. dan/atau c) pekerjaan yang berskala kecil dengan nilai maksimum Rp50. 2) Pengadaan barang/jasa khusus. dan/atau ƒ teknologi sederhana. yaitu : a) pekerjaan berdasarkan tarif resmi yang ditetapkan pemerintah.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus.000. termasuk penanganan darurat akibat bencana alam. keamanan dan keselamatan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda. yaitu: a) penanganan darurat untuk pertahanan negara. Penunjukan langsung dilaksanakan dalam hal memenuhi kriteria sebagai berikut. dan/atau ƒ risiko kecil. pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan cara penunjukan langsung terhadap satu penyedia barang/jasa dengan cara melakukan negosiasi baik teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat dapat dipertanggungjawabkan.

Metode Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi Pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan dengan salah satu dari metode: ƒ seleksi umum. Seleksi umum adalah metode pemilihan penyedia jasa konsultansi yang daftar pendek pesertanya dipilih melalui proses prakualifikasi secara terbuka yaitu diumumkan secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi untuk berminat dan memenuhi penerangan umum sehingga masyarakat luas mengetahui dan penyedia jasa konsultansi yang kualifikasi dapat mengikutinya. b. atau c) merupakan hasil produksi usaha kecil atau koperasi kecil atau pengrajin industri kecil yang telah mempunyai pasar dan harga yang relatif stabil. pemegang hak paten. pabrikan. ƒ seleksi langsung. ƒ penunjukan langsung. pengadaan harus dilakukan melalui seleksi umum.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I b) pekerjaan/barang spesifik yang hanya dapat dilaksanakan oleh satu penyedia barang/jasa. Pada prinsipnya. atau d) pekerjaan yang kompleks yang hanya dapat dilaksanakan dengan penggunaan teknologi khusus dan/atau hanya ada satu penyedia barang/jasa yang mampu mengaplikasikannya. ƒ seleksi terbatas.2007 108 . Dalam keadaan tertentu pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan melalui seleksi terbatas. Pusdiklatwas BPKP . seleksi langsung atau penunjukan langsung.

000.00. Penunjukan langsung dapat dilaksanakan dalam hal memenuhi kriteria: 1) penanganan darurat untuk pertahanan negara. Dalam hal metode seleksi umum atau seleksi terbatas dinilai tidak efisien dari segi biaya seleksi. Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus.2007 109 . dan/atau 2) penyedia jasa tunggal. maka pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan dengan seleksi langsung yaitu metode pemilihan penyedia jasa konsultansi yang daftar pendek pesertanya ditentukan melalui proses prakualifikasi terhadap penyedia jasa konsultansi yang dipilih langsung dan diumumkan sekurang-kurangnya di papan pengumuman resmi untuk penerangan umum atau media elektronik (internet).000. pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan dengan penunjukan langsung satu penyedia jasa konsultansi yang memenuhi kualifikasi dan dilakukan negosiasi baik dari segi teknis maupun biaya sehingga diperoleh biaya yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan. Seleksi langsung dapat dilaksanakan untuk pengadaan yang bernilai sampai dengan Rp100. keamanan dan keselamatan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda/harus dilakukan segera. dan/atau 3) pekerjaan yang perlu dirahasiakan yang menyangkut pertahanan dan keamanan negara yang ditetapkan oleh Presiden.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Seleksi terbatas adalah metode pemilihan penyedia jasa konsultansi untuk pekerjaan yang kompleks dan diyakini jumlah penyedia jasa yang mampu melaksanakan pekerjaan tersebut jumlahnya terbatas. dan/atau Pusdiklatwas BPKP .

mempunyai risiko kecil. dan diawasi sendiri. dan/atau 5) pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh pemegang hak paten atau pihak yang telah mendapat ijin. c. dan/atau bernilai sampai dengan Rp50. (Tambahan menurut Keppres 61 tahun 2004 tgl 5 Agustus 2004 tentang perubahan Keppres 80 tahun 2003). 6) pekerjaan yang memerlukan penyelesaian secara cepat dalam rangka pengembalian kekayaan negara yang penanganannya dilakukan secara khusus berdasarkan peraturan perundangundangan.000. dan/atau instansi pemerintah yang bersangkutan dan sesuai dengan fungsi dan tugas pokok Pusdiklatwas BPKP .Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 4) pekerjaan yang berskala kecil dengan ketentuan: untuk keperluan sendiri. o instansi pemerintah lain.00 (lima puluh juta rupiah).2007 110 . Swakelola dapat dilaksanakan oleh: o pengguna barang/jasa. dan/atau 2) pekerjaan yang operasi dan pemeliharaannya memerlukan partisipasi masyarakat setempat.000. dikerjakan. dilaksanakan oleh penyedia jasa usaha orang perseorangan dan badan usaha kecil. o kelompok masyarakat/lembaga swadaya masyarakat penerima hibah. Pekerjaan yang dapat dilakukan dengan swakelola meliputi: 1) pekerjaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis sumber daya manusia pengguna barang/jasa. Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa dengan Swakelola Swakelola adalah pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan. menggunakan teknologi sederhana.

tidak sehingga dapat apabila dihitung/ditentukan dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa akan menanggung risiko yang besar. pengembangan sistem tertentu dan penelitian oleh perguruan tinggi/lembaga ilmiah pemerintah. perumusan kebijakan pemerintah. dan/atau 5) penyelenggaraan diklat. atau penyuluhan. Pusdiklatwas BPKP . HPS tidak boleh memperhitungkan biaya tak kerja yang belum dapat dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa. HPS telah memperhitungkan pajak pertambahan nilai (PPN). dan/atau 4) pekerjaan yang secara terlebih rinci/detail dahulu. HPS disusun oleh panitia/pejabat pengadaan dan ditetapkan oleh pengguna barang/jasa.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3) pekerjaan tersebut dilihat dari segi besaran.2007 111 . 3. sifat. 8) pekerjaan yang bersifat rahasia bagi instansi pengguna barang/jasa yang bersangkutan. seminar. pengujian di laboratorium. lokakarya. penataran. Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Pengguna barang/jasa wajib memiliki harga perkiraan sendiri (HPS) yang dikalkulasikan secara keahlian dan berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan. biaya umum dan keuntungan (overhead cost and profit) yang wajar bagi penyedia barang/jasa. dan/atau 6) pekerjaan untuk proyek percontohan (pilot project) yang bersifat khusus untuk pengembangan teknologi/metode dan/atau 7) pekerjaan khusus yang bersifat pemrosesan data. lokasi atau pembiayaannya tidak diminati oleh penyedia barang/jasa. kursus.

daftar harga standar/tarif biaya yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I terduga. HPS tidak dapat dijadikan dasar untuk menggugurkan penawaran. Dalam proses Pusdiklatwas BPKP . Perhitungan HPS menggunakan data dasar dan mempertimbangkan: a. Tujuan kualifikasi adalah untuk menjamin bahwa pengadaan barang/jasa pemerintah dilaksanakan oleh pihak yang mampu. c. e. Prakualifikasi dan Pascakualifikasi a. harga pasar setempat pada waktu penyusunan HPS. Nilai total HPS terbuka dan tidak bersifat rahasia. Penilaian Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa Kualifikasi kemampuan adalah usaha proses calon penilaian penyedia atas kompetensi dan barang/jasa. badan/instansi lainnya dan media cetak yang datanya dapat dipertanggungjawabkan. informasi harga satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh Badan Pusat Statistik (BPS). biaya lain-lain dan Pajak Penghasilan (PPh) penyedia barang/jasa. d. informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan. harga/tarif barang/jasa yang dikeluarkan oleh pabrikan/agen tunggal atau lembaga independen. perkiraan perhitungan biaya oleh konsultan/engineer's estimate (EE). h. f. b. 4. analisis harga satuan pekerjaan yang bersangkutan. HPS merupakan alat untuk menilai kewajaran harga penawaran termasuk rinciannya dan untuk menetapkan besaran tambahan nilai jaminan pelaksanaan bagi penawaran yang dinilai terlalu rendah. harga kontrak/surat perintah kerja (SPK) untuk barang/pekerjaan sejenis setempat yang pernah dilaksanakan.2007 112 . g.

panitia/pejabat pengadaan dilarang persyaratan prakualifikasi/pascakualifikasi di luar yang telah ditetapkan dalam ketentuan Keputusan Presiden ini atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Penyedia barang/jasa wajib menandatangani surat pernyataan di atas meterai bahwa semua informasi yang disampaikan dalam formulir isian kualifikasi adalah benar. menghambat. terhadap yang bersangkutan dikenakan sanksi: ƒ pembatalan sebagai calon pemenang. ƒ tidak boleh mengikuti pengadaan untuk dua tahun berikutnya.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I penilaian menambah kualifikasi. dan apabila diketemukan penipuan/pemalsuan atas informasi yang disampaikan. dan membatasi keikutsertaan calon peserta pengadaan barang/jasa dari luar provinsi/kabupaten/kota lokasi pengadaan barang/jasa. Dalam proses prakualifikasi/pascakualifikasi panitia /pejabat pengadaan tidak boleh melarang. ƒ dimasukkan dalam daftar hitam sekurang-kurangnya dua tahun. 1) Memiliki surat izin usaha pada bidang usahanya yang dikeluarkan oleh instansi pemerintah yang berwenang yang Pusdiklatwas BPKP . ƒ diancam dituntut secara perdata dan pidana.2007 113 . Pengguna barang/jasa wajib menyederhanakan proses prakualifikasi dengan tidak meminta seluruh dokumen yang disyaratkan melainkan cukup dengan formulir isian kualifikasi penyedia barang/jasa. b. Syarat Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa Persyaratan kualifikasi penyedia barang/jasa adalah sebagai berikut.

dan/atau tidak sedang menjalani sanksi pidana. kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan. seperti SIUP untuk jasa perdagangan. 7) Memiliki kinerja baik dan tidak masuk dalam daftar sanksi atau daftar hitam di suatu instansi. tidak bangkrut. dan sebagainya.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I masih berlaku. 8) Memiliki kemampuan pada bidang pekerjaan yang sesuai untuk usaha kecil termasuk koperasi kecil. kecuali penyedia barang/jasa yang baru berdiri kurang dari 3 (tiga) tahun. penyedia barang/jasa wajib mempunyai perjanjian kerjasama operasi/kemitraan yang memuat persentase kemitraan dan perusahaan yang mewakili kemitraan tersebut. 6) Selama 4 (empat) tahun terakhir pernah memiliki pengalaman menyediakan barang/jasa baik di lingkungan pemerintah atau swasta termasuk pengalaman subkontrak baik di lingkungan pemerintah atau swasta . 5) Telah melunasi kewajiban pajak tahun terakhir (SPT/PPh) serta memiliki laporan bulanan PPh Pasal 25 atau Pasal 21/Pasal 23 atau PPN sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan yang lalu. 3) Tidak dalam pengawasan pengadilan. Pusdiklatwas BPKP . 2) Secara hukum mempunyai kapasitas menandatangani kontrak pengadaan. IUJK untuk jasa konstruksi.2007 114 . 4) Dalam hal penyedia jasa akan melakukan kemitraan.

11) Untuk pekerjaan khusus/spesifik/teknologi tinggi dapat ditambahkan persyaratan lain seperti peralatan khusus.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 9) Memiliki kemampuan pada bidang dan subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil. a) Untuk jasa pemborongan memenuhi: KD = 2 NPt (KD : Kemampuan Dasar. kecuali untuk penyedia barang/jasa usaha kecil termasuk koperasi kecil.2007 115 . tenaga ahli spesialis yang diperlukan. 10) Dalam hal bermitra dasar dari yang diperhitungkan yang adalah mewakili kemampuan perusahaan kemitraan (lead firm). b) Untuk pengadaan barang/jasa lainnya memenuhi: KD = 5 NPt pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir. NPt : nilai pengalaman tertinggi) pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir. 12) Memiliki surat keterangan dukungan keuangan dari bank pemerintah/swasta untuk mengikuti pengadaan barang/jasa sekurang-kurangnya sepuluh persen dari nilai proyek untuk pekerjaan jasa pemborongan dan lima persen dari nilai proyek untuk pekerjaan pemasokan barang/jasa lainnya. Pusdiklatwas BPKP . atau pengalaman tertentu. c) Untuk pengadaan jasa konsultansi memenuhi: KD = 3 NPt pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk bukan usaha kecil dalam kurun waktu 7 (tujuh) tahun terakhir.

Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 13) Memiliki kemampuan menyediakan fasilitas dan peralatan serta personil yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan. 15) Menyampaikan daftar perolehan pekerjaan yang sedang dilaksanakan khusus untuk jasa pemborongan. Khusus untuk pekerjaan yang kompleks dapat dilakukan dengan prakualifikasi. Pascakualifikasi lainnya dari adalah penyedia proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu barang/jasa setelah memasukkan penawaran. 17) Untuk pekerjaan jasa pemborongan (SKK) yang memiliki dan sisa sisa kemampuan keuangan cukup kemampuan paket (SKP). dilakukan dengan pascakualifikasi. c. 14) Termasuk dalam penyedia barang/jasa yang sesuai dengan nilai paket pekerjaan.2007 116 . 16) Tidak membuat pernyataan yang tidak benar tentang kompetensi dan kemampuan usaha yang dimilikinya. Pelaksanaan Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa Pada prinsipnya penilaian kualifikasi atas kompetensi dan kemampuan usaha peserta pelelangan umum. Prakualifikasi lainnya dari adalah penyedia proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu barang/jasa sebelum memasukkan penawaran. Prakualifikasi konsultansi wajib dan dilaksanakan untuk pengadaan jasa pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa Pusdiklatwas BPKP .

Panitia/pejabat pengadaan dapat melakukan prakualifikasi untuk pelelangan umum pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya yang bersifat kompleks. Metode Penyampaian Dokumen Penawaran Metode berikut ini.2007 117 . Metode pengadaan Tidak komplek Komplek Pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya Pelelangan umum Pelelangan terbatas Pemilihan langsung Penunjukan langsung Pascakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Pengadaan jasa konsultansi Seleksi umum Seleksi terbatas Seleksi langsung Penunjukan langsung Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Pasca atau prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi Prakualifikasi 5. pelelangan terbatas dan pemilihan secara ringkas dapat disajikan sebagai berikut. penyampaian dokumen penawaran oleh calon penyedia barang/jasa pemerintah dapat menggunakan salah satu dari metode Pusdiklatwas BPKP . Pelaksanaan kualifikasi pengadaan barang/jasa pemerintah kompleks. c. a. metode satu sampul. metode dua sampul. metode dua tahap.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I lainnya yang menggunakan metode penunjukan langsung untuk pekerjaan langsung. b.

dan penawaran harga yang dimasukan ke dalam satu sampul tertutup kepada panitia/pejabat pengadaan. Metode Evaluasi Penawaran a. sistem penilaian biaya selama umur ekonomis.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Metode satu sampul adalah cara penyampaian dokumen penawaran yang terdiri dari persyaratan administrasi. Sistem gugur adalah evaluasi penilaian penawaran dengan cara memeriksa dan membandingkan dokumen penawaran terhadap pemenuhan persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen Pusdiklatwas BPKP . Metode Metode Evaluasi Penawaran Pada Pengadaan Barang/Jasa Pemborongan/Jasa Lainnya evaluasi penawaran. yaitu: ƒ ƒ ƒ sistem gugur. dalam pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya dapat menggunakan salah satu dari tiga sistem yang ada. Dalam penyampaian dokumen penawaran dengan metode dua sampul. sedangkan harga penawaran dimasukkan dalam sampul tertutup II. sistem nilai. sesuai dengan jenis barang/jasa yang akan diadakan. sedangkan harga penawaran dimasukkan dalam sampul tertutup II.2007 118 . persyaratan administrasi dan teknis dimasukkan dalam sampul tertutup I. teknis. Metode dua tahap adalah cara penyampaian dokumen penawaran yang persyaratan administrasi dan teknis dimasukkan dalam sampul tertutup I. selanjutnya sampul I dan sampul II dimasukkan ke dalam satu sampul (sampul penutup) dan disampaikan kepada panitia/pejabat pengadaan. 6. yang penyampaiannya dilakukan dalam dua tahap secara terpisah dan dalam waktu yang berbeda.

Sistem nilai adalah evaluasi penilaian penawaran dengan cara memberikan nilai angka tertentu pada setiap unsur yang dinilai berdasarkan kriteria dan nilai yang telah ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa. Sistem penilaian biaya selama umur ekonomis adalah evaluasi penilaian penawaran dengan cara memberikan nilai pada unsur-unsur teknis dan harga yang dinilai menurut umur ekonomis barang dan yang ditawarkan berdasarkan kriteria nilai yang ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia tidak lulus penilaian pada setiap tahapan dinyatakan barang/jasa. terhadap penyedia barang/jasa yang gugur. kemudian nilai unsur-unsur tersebut dikonversikan ke dalam satuan mata uang tertentu. Pusdiklatwas BPKP . dalam pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat menggunakan salah satu dari lima metode yang ada. 2) metode evaluasi kualitas dan biaya. kemudian membandingkan jumlah nilai dari setiap penawaran peserta dengan penawaran peserta lainnya. dan dibandingkan dengan jumlah nilai dari setiap penawaran peserta dengan penawaran peserta lainnya. sesuai dengan sifat jasa konsultansi yang akan diadakan. persyaratan teknis dan kewajaran harga.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pemilihan penyedia barang/jasa dengan urutan proses evaluasi dimulai dari penilaian persyaratan administrasi. yaitu: 1) metode evaluasi kualitas. b. Metode Evaluasi Penawaran Pada Pengadaan Jasa Konsultansi Metode evaluasi penawaran.2007 119 .

dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya. 4) metode evaluasi biaya terendah. Pusdiklatwas BPKP . Metode evaluasi kualitas dan biaya adalah evaluasi pengadaan jasa konsultansi berdasarkan nilai kombinasi terbaik penawaran teknis dan biaya terkoreksi dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya. dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3) metode evaluasi pagu anggaran. Metode evaluasi biaya terendah adalah evaluasi pengadaan jasa konsultansi berdasarkan penawaran biaya terkoreksinya terendah dari konsultan yang nilai penawaran teknisnya di atas ambang batas persyaratan teknis yang telah ditentukan.2007 120 . 5) metode evaluasi penunjukan langsung. dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya. Metode evaluasi kualitas adalah evaluasi penawaran jasa konsultansi berdasarkan kualitas penawaran teknis terbaik. Metode evaluasi pagu anggaran adalah evaluasi pengadaan jasa konsultansi berdasarkan kualitas penawaran teknis terbaik dari peserta yang penawaran biaya terkoreksinya lebih kecil atau sama dengan pagu anggaran. Sedangkan metode evaluasi penunjukan langsung adalah evaluasi terhadap hanya satu penawaran jasa konsultansi berdasarkan kualitas teknis yang dapat dipertanggungjawabkan dan biaya yang wajar setelah dilakukan klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya.

000. apabila PPK tidak sependapat dengan usulan panitia/pejabat pengadaan. atau c) bila akhirnya tidak tercapai kesepakatan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 7. Penetapan penyedia barang/jasa Panitia/pejabat pengadaan membuat dan menyampaikan laporan kepada pengguna barang/jasa atau kepada pejabat yang berwenang mengambil keputusan untuk menetapkan pemenang lelang. 1) Untuk pengadaan barang/jasa yang bernilai sampai dengan Rp50. dan dituangkan dalam berita acara yang memuat keberatan dan kesepakatan masing-masing pihak. melalui pengguna barang/jasa laporan tersebut disertai usulan calon pemenang dan penjelasan atau keterangan lain yang dianggap perlu sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Penetapan penyedia barang/jasa dan jenis kontrak a.00. maka akan diputuskan oleh menteri/PanglimaTNI/Kapolri/Kepala Gubernur BI/ LPND/gubernur/bupati/walikota/Dewan final.2007 121 . pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD dan bersifat Pusdiklatwas BPKP . atau b) menetapkan keputusan yang disepakati bersama untuk melakukan evaluasi ulang atau lelang ulang atau menetapkan pemenang lelang.000.000. maka PPK membahas hal tersebut dengan panitia/pejabat pengadaan untuk mengambil keputusan dari alternatif: a) menyetujui usulan panitia/pejabat pengadaan. Ketentuan mengenai pejabat yang berwenang menetapkan penyedia barang/jasa pemerintah diatur sebagai berikut.

4) Untuk pengadaan yang bernilai di atas Rp50.00.000. atau b) menetapkan keputusan yang disepakati bersama untuk melakukan menteri/ evaluasi ulang atau lelang ulang.000. dengan catatan keberatan dari pengguna barang/jasa. untuk diputuskan dan bersifat final. Kapolri/Kepala maka penetapan pemenang walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/direktur utama lelang keputusan lain diserahkan kepada menteri/PanglimaTNI/ LPND/gubernur/bupati/ walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD.000. maka PPK membahas hal tersebut dengan panitia/pejabat pengadaan untuk mengambil keputusan: a) menyetujui usulan panitia/pejabat pengadaan untuk dimintakan persetujuan kepada menteri/PanglimaTNI/ Kapolri/Kepala /BUMD.000. dan dituangkan dalam berita acara serta dilaporkan kepada PanglimaTNI/Kapolri/Kepala LPND/gubernur/ bupati/ walikota/ Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/ direktur utama BUMN/BUMD. apabila pengguna barang/jasa dan/atau panitia/pejabat Bupati/ atau pengadaan pengadaan tidak sependapat dengan keputusan menteri/PanglimaTNI/Kapolri/KepalaLPND/gubernur/ BUMN/BUMD. LPND/ gubernur/bupati/walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/ direktur utama BUMN Pusdiklatwas BPKP .00.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2) Untuk pengadaan yang bernilai di atas Rp 50. apabila PPK tidak sependapat dengan usulan panitia/pejabat pengadaan.2007 122 .000. atau 3) Apabila masih belum ada kesepakatan maka dilaporkan kepada menteri/PanglimaTNI/Kapolri/Kepala LPND/gubernur/ bupati/walikota/Dewan Gubernur BI/pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD.000.

yang volume pekerjaannya masih bersifat perkiraan sementara. dan semua risiko yang mungkin terjadi dalam proses penyelesaian pekerjaan sepenuhnya ditanggung oleh penyedia barang/jasa. 3) kontrak gabungan lump sum dan harga satuan. berdasarkan harga satuan yang pasti dan tetap untuk setiap satuan/unsur pekerjaan dengan spesifikasi teknis tertentu. Kontrak gabungan lump sum dan harga satuan adalah kontrak yang merupakan gabungan lump sum dan harga satuan dalam satu pekerjaan yang diperjanjikan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I panitia/pejabat pengadaan pengadaan dan pengguna barang jasa tidak perlu melakukan perubahan berita acara evaluasi. 5) kontrak persentase. b. Kontrak harga satuan adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu.2007 . Kontrak lump sum adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu. Jenis kontrak Kontrak pengadaan barang/jasa berdasarkan bentuk imbalan dapat berupa: 1) kontrak lump sum. dengan jumlah harga yang pasti dan tetap. 123 Pusdiklatwas BPKP . 4) kontrak terima jadi (turn key). 2) kontrak harga satuan. sedangkan pembayarannya didasarkan pada hasil pengukuran bersama atas volume pekerjaan yang benar-benar telah dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa. Keputusan menteri/PanglimaTNI/Kapolri/Kepala Gubernur LPND/ gubernur/bupati/walikota/Dewan BI/pimpinan BHMN/direktur utama BUMN/BUMD bersifat final.

Gubernur untuk pengadaan yang dibiayai APBD Propinsi. Kontrak pengadaan bersama adalah kontrak antara beberapa unit kerja atau beberapa proyek dengan penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu sesuai dengan kegiatan bersama yang jelas dari masing-masing unit kerja dan pendanaan bersama yang dituangkan dalam kesepakatan bersama. Kontrak tahun tunggal adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa satu tahun anggaran. Pusdiklatwas BPKP . Kontrak pengadaan tunggal adalah kontrak antara satu unit kerja atau satu proyek dengan penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu. Bupati/Walikota untuk pengadaan yang dibiayai APBD Kabupaten/Kota.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Kontrak terima jadi adalah kontrak pengadaan barang/jasa pemborongan atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu dengan jumlah harga pasti dan tetap sampai seluruh bangunan/konstruksi.2007 124 . dimana konsultan yang bersangkutan menerima imbalan jasa berdasarkan persentase tertentu dari nilai pekerjaan fisik konstruksi/pemborongan tersebut. peralatan dan jaringan utama maupun penunjangnya dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan kriteria kinerja yang telah ditetapkan. Kontrak persentase adalah kontrak pelaksanaan jasa konsultansi di bidang konstruksi atau pekerjaan pemborongan tertentu. Kontrak tahun jamak adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa lebih dari satu tahun anggaran yang dilakukan atas persetujuan oleh Menteri Keuangan untuk pengadaan yang dibiayai APBN.

Beberapa hal dalam subbab ini akan dibahas dalam subab berikutnya.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I C. yaitu a. Pusdiklatwas BPKP . Penyusunan Harga Perkiraan Sendiri (HPS). penyampaian dokumen penawaran. d. b. Perencanaan pengadaan barang/jasa pemerintah. dan jenis kontrak yang sesuai dengan barang/jasa yang akan diadakan. 1. Dokumen pengadaan mencakup dokumen pasca/prakualifikasi dan dokumen pemilihan penyedia barang/jasa. pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah. 2. Penyusunan dokumen pengadaan. pelaksanaan dengan swakelola. PROSEDUR PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH Prosedur pengadaan barang dan jasa pemerintah meliputi kegiatan: 1. Penetapan sistem pengadaan barang/jasa. persiapan pengadaan barang dana jasa pemerintah. Persiapan Pengadaan Barang dan Jasa Persiapan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah mencakup kegiatan berikut ini. a. Penyusunan jadwal pelaksanaan pengadaan harus memberikan waktu yang cukup untuk semua tahapan proses pengadaan. b.2007 125 . c. Pembentukan panitia pengadaan barang/jasa. Penetapan sistem pengadaan barang/jasa pemerintah mencakup kegiatan penetapan metode metode pemilihan penyedia barang/jasa. pelaksanaan dengan menggunakan penyedia barang/jasa. Secara rinci prosedur tersebut adalah sebagai berikut. e. f. Penyusunan jadwal pelaksanaan pengadaan.

Pusdiklatwas BPKP . hal tersebut tidak membatasi calon penyedia barang/jasa lain yang merasa mampu. Penilaian Kualifikasi Calon Penyedia Barang/Jasa. Dalam hal ini prosesnya akan meliputi: pengambilan dokumen prakualifikasi. pengumuman harus telah menyebutkan calon penyedia barang/jasa yang diyakini mampu. a. Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa dengan dilaksanakan dengan urutan kegiatan sebagai berikut. masa sanggah kualifikasi. penyerahan dokumen. Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah dapat dilaksanaan oleh penyedia barang/jasa atau dilaksanakan sendiri oleh pengguna anggaran (swakelola). Dalam pelelangan terbatas dan seleksi terbatas. Dalam hal sistem dan pengadaannya menggunakan dahulu metode sebelum prakualifikasi. dan seleksi terbatas harus dimuat di surat kabar nasional. penetapan dan pengumuman hasil prakualifikasi. seleksi umum.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 2. maka atas calon penyedia barang/jasa dinilai kemampuan kompetensinya terlebih memasukkan penawaran. Pengumuman dan Pendaftaran Peserta Pengumuman pengadaan barang dan jasa pemerintah harus dilakukan sesuai dengan metode metode pemilihan penyedia barang dan jasanya. Urutan prosedur pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah dilakukan sesuai dengan metode menggunakan Penyedia Barang/Jasa pada pemilihan penyedia dasarnya akan barang/jasanya.2007 126 . b. evaluasi kualifikasi. namun demikian. Pengumuman pengadaan barang/jasa dengan pelelangan umum. pelelangan terbatas.

peserta yang diundag adalah yang dimuat dalam daftar pendek (short list) peserta yang berisi sedikitnya 5 (lima) dan paling banyak 7 (tujuh) calon penyedia yang lulus prakualifikasi. harus dituangkan dalam Berita Acara Penjelasan (BAP). dan syarat-syarat lainnya. Penyusunan Daftar Peserta dan Penyampaian Undangan Untuk pengadaan barang dan jasa selain jasa konsultansi. Penjelasan Lelang (aanwwijziing) Pemberian penjelasan lelang dilakukan di tempat dan pada waktu yang ditentukan. d. pascakualifikasi. e. sedangkan untuk seleksi umum. c. harus dijelaskan kepada peserta lelang mengenai: Metode penyelenggaraan pelelangan. Pemberian penjelasan mengenai pasal-pasal dokumen pemilihan penyedia barang/jasa yang berupa pertanyaan dari peserta dan jawaban dari panitia /pejabat pengadaan serta keterangan lain termasuk perubahannya dan peninjauan lapangan. menggunakan metode dokumen penawaran. daftar peserta pengadaan sesuai dengan peserta prakualifikasi. Dalam acara penjelasan lelang.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Sedangkan jika pengadaannya menggunakan metode pascakualifikasi maka penyerahan dokumen kualifikasi bersamsama dengan dokumen penawaran. hanya lulus kualifikasi yang dapat jika menyampaikan pengadaannya Sedangakan penawaran. cara penyampaian penawaran. maka semua calon penyedia barang/jasa yang merasa mampu dapat menyampaikan Pusdiklatwas BPKP . dihadiri oleh para penyedia barang/jasa yang terdaftar dalam daftar peserta lelang. Penyampaian dan Pembukaan Dokumen Penawaran Dalam metode peserta dokumen yang pengadaannya dengan prakualifikasi.2007 127 .

Panitia/Pejabat pengadaan membuat simpulan dari hasil evaluasi administrasi. berdasarkan kriteria. Unsur dokumen penawaran yang dievaluasi meliputi: • • • kelengkapan data administrasi. metode. panitia/pejabat pengadaan dapat melakukan koreksi aritmatik terhadap semua penawaran yang masuk dan melakukan evaluasi sekurang-kurangnya tiga penawaran terendah setelah koreksi aritmatik. f. Bila penawaran yang masuk kurang dari tiga peserta. Hasil pembukaan dokumen penawaran dituangkan dalam Berita Acara yang ditandatangani oleh panitia/pejabat pengadaan dan dua orang wakil peserta lelang yang sah yang ditunjuk oleh para peserta lelang yang hadir. BAHP memuat hasil pelaksanaan Pusdiklatwas BPKP .2007 128 . teknis dan harga yang dituangkan dalam berita acara hasil pelelangan (BAHP). Urutan pembukaan dokumen dilakukan sesuai metode penyampaian dokumen yang ditetapkan. BAPP dibagikan kepada wakil peserta pelelangan yang hadir tanpa dilampiri dokumen penawaran. Pada tahap awal. Evaluasi Penawaran Evaluasi dokumen penawaran adalah kegiatan panitia pengadaan dalam meneliti dan menilai semua dokumen penawaran yang disampaikan oleh calon penyedia barang/jasa. dokumen teknis. dan dokumen penawaran harga. kemudian mengumumkan kembali dengan mengundang calon peserta lelang yang baru.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pembukaan dokumen penawaran harus melibatkan sekurang- kurangnya dua wakil dari peserta pelelangan yang hadir sebagai saksi. dan tatacara evaluasi yang telah ditetapkan dalam dokumen lelang. pelelangan tidak dapat dilanjutkan dan harus diulang.

Calon pemenang lelang harus sudah ditetapkan oleh panitia/pejabat pengadaan selambat-lambatnya tujuh hari kerja setelah pembukaan penawaran. maka panitia/pejabat pengadaan meneliti kembali data kualifikasi peserta yang bersangkutan. penawaran tersebut adalah yang terendah diantara penawaran yang memenuhi syarat administrasi. g. Penetapan Pemenang Apabila harga dalam penawaran telah dianggap wajar. Pusdiklatwas BPKP . serta telah sesuai dengan ketentuan maka panitia pengadaan menetapkan calon pemenang lelang yang paling menguntungkan dalam arti: 1) penawaran memenuhi syarat administratif dan teknis yang ditentukan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa. dan dalam batas ketentuan mengenai harga satuan yang telah ditetapkan. 2) perhitungan harga yang ditawarkan dapat dipertanggung jawabkan. termasuk cara penilaian.2007 129 .. dan hal ini dicatat dalam berita acara. 3) telah memerhatikan penggunaan semaksimal mungkin hasil produksi dalam negeri. teknis dan harga. BAHP ditandatangani oleh ketua dan semua anggota panitia/pejabat pengadaan atau sekurangkurangnya dua pertiga dari jumlah anggota panitia. dan memilih peserta yang menurut pertimbangannya mempunyai kemampuan yang lebih besar. rumus-rumus yang digunakan. sampai dengan penetapan urutan pemenangnya berupa daftar peserta pelelangan yang dimulai dari harga penawaran yang terendah. Dalam hal terdapat dua calon pemenang lelang mengajukan harga penawaran yang sama.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I pelelangan.

Dalam pengumuman juga diberitahukan bahwa surat jaminan pelelangan dapat diambil kembali kecuali untuk peserta yang menang. Pusdiklatwas BPKP . panitia mengumumkannya kepada para peserta lelang. Pengumuman Pemenang Pemenang lelang diumumkan dan diberitahukan oleh panitia/pejabat pengadaan kepada para peserta selambatlambatnya dua hari kerja setelah diterimanya Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) dari pejabat yang berwenang. h. Sanggahan disampaikan kepada pimpinan instansi/pejabat pembuat komitmen/panitia secara tertulis disertai bukti-bukti terjadinya penyimpangan. i. cadangan urutan pertama dan cadangan urutan kedua.2007 130 . Segera setelah pejabat yang berwenang mengambil keputusan tentang penetapan pemenang lelang. Pemenang lelang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja untuk pengadaan sampai dengan Rp50 milyar dan 14 (empat belas) hari kerja untuk pengadaan di atas Rp50 milyar terhitung sejak surat usulan penetapan pemenang lelang tersebut diterima oleh pejabat yang berwenang menetapkan pemenang lelang. Sanggahan Peserta dan Pengaduan Masyarakat Peserta lelang yang keberatan atas penetapan calon pemenang lelang tersebut baik bertindak sendiri atau bersama-sama calon penyedia barang dapat mengajukan sanggahan secara tertulis secepat mungkin.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Panitia/pejabat pengadaan membuat dan menyampaikan laporan kepada PPK untuk menetapkan pemenang lelang disertai usulan calon pemenang dan penjelasan atau keterangan lain yang dianggap perlu sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan.

Penerbitan Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) Penunjukan pemenang lelang adalah keputusan definitif dari pengguna barang mengenai penunjukan pemenang lelang pengadaan barang dalam bentuk penerbitan SPPBJ. j. Pusdiklatwas BPKP . Penandatanganan Kontrak Tahap akhir dari rangkaian proses pelelangan adalah penandatanganan kontrak antara pengguna barang dengan penyedia barang/jasa yang ditunjuk. k. baik secara tertulis maupun lisan kepada pejabat yang berwenang memberikan jawaban atas sanggahan tersebut. atau sanggahan yang disampaikan ternyata tidak benar maka pengguna menetapkan penunjukan pemenang lelang pengadaan barang dengan surat keputusan.2007 131 . Penyedia barang yang ditunjuk menyiapkan jaminan pelaksanaan sesuai dengan ketentuan yang tercantum di dalam dokumen lelang. Apabila dalam waktu yang telah ditentukan tidak ada sanggahan dari peserta lelang.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I Pejabat Pembuat Komitmen/Panitia/Pejabat Pengadaan wajib memberikan jawaban dan menyampaikan bahan-bahan yang berkaitan dengan sanggahan.

BAHAN DISKUSI DAN SOAL LATIHAN BAHAN DISKUSI Diskusikan artikel yang termuat pada salah satu harian berikut ini dari sisi pelaksanaan pedoman pengadaan barang/jasa instansi pemerintah..... b...... tiga orang b..... cakap dan sanggup melaksanakan proyek dengan baik serta penuh tanggung jawab. a. Bila di era sertifikasi sekarang ini masih ada pimpro dan aparat yang menyimpang dalam proyek..(Kompas...... Semua penting karena pemegang sertifikat bukan saja harus cakap dan menguasai aturan tentang proyek. satu orang PNS di instansinya d.. Pusdiklatwas BPKP . Berikut adalah kebijakan umum pengadaan barang/jasa. mengurangi impor barang jadi dari luar negeri d. satu orang pejabat struktural di instansinya 2.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I D. apalagi dengan unsur perjokian saat ujian untuk mendapatkannya.... Oleh karena menjadi pimpro harus memiliki sertifikat khusus. c atau d yang Saudara anggap paling benar. Rabu 16 Agustus 2006) SOAL LATIHAN Pilihlah salah satu jawaban a.. hal itu sangat keterlaluan. kecuali …..2007 132 .. meningkatkan penerimaan negara melalui sektor perpajakan c.. tetapi juga jujur terlebih dulu.. a.... . satu orang PNS baik dari instansi sendiri atau dari instansi lain c. menyederhanakan ketentuan dan tatacara dalam pelaksanaan pengadaan b.. Jangan ada konspirasi dalam pengeluarannya. pemberian sertifikatnya harus selektif.. meningkatkan peran serta usaha kecil termasuk koperasi kecil Pejabat pengadaan terdiri dari. Demikian halnya dengan adanya Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang atau Jasa Pemerintah juga harus bisa menjadi pedoman dalam pelaksanaan proyek pengadaan barang atau jasa pemerintah.... .. 1..

Bawasda Pengadaan barang/jasa pemerintah dilaksankan dengan dua cara yaitu…. dilaksanakan oleh panitia pengadaan bersama-sama dengan pejabat pengadaan d. lima penyedia barang/jasa c.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 3. melalui penunjukan langsung dan melalui swakelola Pelelangan umum diikuti sekurang-kurangnya …. a. peneliti c. a. tidak berstatus sebagai calon pejabat struktural c. wajib dilaksanakan oleh panitia pengadaan b. sampai Rp50 juta d. pegawai BPKP.. bendahara b. a. tidak mempunyai hubungan keluarga dengan pejabat yang mengangkatnya d.000. pengguna barang/jasa d. wajib dilaksanakan oleh pejabat pengadaan c.000. pelelangan umum dan pelelangan terbatas b. pelelangan dan penunjukan langsung c. di atas Rp100 juta b. memiliki integritas moral dan tanggungjawab b. a. dilaksanakan oleh panitia pengadaan atau oleh pejabat pengadaan Panitia pengadaan harus pengadaan yang bernilai…. a. Tidak termasuk persyaratan sebagai panitia/pejabat pengadaan adalah….. Pengadaan barang/jasa pemborongan sampai nilai Rp50. Itjen. a. Pusdiklatwas BPKP . dilakukan dengan cara. memahami isi dokumen. 8. tiga penyedia barang/jasa b. tidak ada batasan nilai dibentuk untuk melaksanakan paket 4. sembilan penyedia barang/jasa 6. tujuh penyedia barang/jasa d. 7. diserahkan kepada penyedia barang/jasa dan secara swakelola d.. 5.2007 133 . di atas RP50 juta c. prosedur dan metode pengadaan Yang tidak dilarang untuk diangkat menjadi panitia/pejabat pengadaan adalah ….

a.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I 9. Untuk pekerjaan yang sifatnya tidak komplek. memerlukan teknologi tinggi b. menggunakan peralatan yang didesain khusus berisiko tinggi d. pasca kualifikasi c. negosiasi akhir 10.2007 134 . bernilai di atas Rp 50 milyar c. a. negosiasi awal d. prakualifikasi b. tidak dapat diselesaikan dalam satu tahun anggaran Pusdiklatwas BPKP . Tidak termasuk batasan pengertian pekerjaan bersifat komplek adalah…. pelelangan umum dilaksanakan dengan ….

.. 42 Tahun 2002 jo Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa instansi pemerintah beserta amandemen I s/d VII Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK. 2. d. S. Jakarta. Goedhart C. Kantor Menteri Negara Koordinator Bidang Ekonomi. 1979. 5. f. Jakarta. k. Depkeu. 1996. i. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara Undang-Undang No. Sistem Tata Usaha Keuangan Indonesia. 72 tahun 2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Keputusan Presiden No. Anggaran Negara. 1982. Dr. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 beserta Amandemennya Undang-undang nomor 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak Undang-undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Undang-undang No. Penerbit Jembatan. Terjemahan oleh Ratmoko. b. 1982. Depkeu. 3. keuangan dan Pengawasan Pembangunan. Jakarta. Pusdiklat Anggaran BPLK Depkeu.2007 . e. 4.H. c. 2 tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri Keputusan Presiden No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Undang-undang No. Komisi Penterjemah. Wiemas AJGA. Modul 1: Kebijakan Umum Pengadaan Barang dan Jasa.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan Peraturan Pemerintah No. Komisi Penterjemah. Garis-garis Besar Ilmu Keuangan Negara. j. Drs. Peraturan-peraturan: a.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN 135 6. 1995. Perbendaharaan.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I DAFTAR PUSTAKA 1. g. h. Ali Tojib M. Pusdiklatwas BPKP . 29 Tahun 2002 tentang APBN Tahun 2003 Undang-undang No. Bijloo J.

2006 Pusdiklatwas BPKP . Biro Keuangan. m. Republik Indonesia. Per-66/PB/2005 tentang Mekanisme Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN Surat Edaran Direktur Jenderal Anggaran Nomor 136/A/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 42/2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN Surat Edaran Direktur Jenderal Anggaran Nomor 157/A/2002 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan APBN Peraturan-peraturan tentang Pengelolaan Setoran Penerimaan Negara Melalui Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi n. 8.2007 136 . Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. 7. Departemen Komunikasi dan Informatika. Peraturan-peraturan tentang Pengelolaan Dana Pinjaman/Hibah Luar Negeri dari Bappenas dan Departemen Keuangan Panduan Bagi KPPN dan Bendahara Pemerintah sebagai Pemotong/Pemungut Pajak-Pajak Negara.Pedoman Pelaksanaan Anggaran I l. o.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->