KANKER REKTUM PADA LANSIA PERANAN BEDAH DALAM PENCEGAHAN DAN PENYEMBUHAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Oleh: Prof. dr. Marijata, SpB-KBD

dr. SpB-KBD . Marijata.2 KANKER REKTUM PADA LANSIA PERANAN BEDAH DALAM PENCEGAHAN DAN PENYEMBUHAN UNIVERSITAS GADJAH MADA Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Diucapkan di depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada pada tanggal 21 Agustus 2007 di Yogyakarta Oleh: Prof.

Di Yogyakarta data dari laboratorium Patologi Anatomi (PA).3 KANKER REKTUM PADA LANSIA PERANAN BEDAH DALAM PENCEGAHAN DAN PENYEMBUHAN Kanker rektum atau karsinoma rekti adalah tumor ganas epithelial dari mukosa rektum. sedangkan pada laki-laki menduduki peringkat ketiga setelah karsinoma kulit dan nasofarynx (Suripto & Priyono.. 1993). sedangkan antara rektum dengan uterus pada wanita antara 5 – 8 cm (Goligher1984. karsinoma kulit dan karsinoma ovarium. 1985). Paul Aegina (625 – 690 M) memberi nama “cancer“ (bahasa Latin) yang artinya juga kepiting (Suripto & Priyono. kanker rektum atau karsinoma rekti pada wanita menduduki peringkat kelima setelah karsinoma cervix uteri. karsinoma mamma. Nama “carcinos“ diberikan untuk tumor ganas yang tidak dapat sembuh yang berupa borok (ulkus) sedangkan nama “ carcinoma“ untuk tumor ganas yang padat (solid). dan kenapa nama ini diberikan tidak jelas alasannya. Batas antara kolon sigmoid dengan rektum adalah menghilangnya taenia koli yang sifatnya gradual. Topik karker rektum dipilih salah satunya karena insidensinya cukup tinggi. dan bagian ini biasa disebut rektosigmoid. dan ketiga pada wanita (Kodner et al. Marijata & Hendro Wartatmo. Rektum (bahasa Latin) atau proktos (bahasa Yunani) adalah bagian akhir dari saluran cerna sebelum bermuara di anus (dubur). Nama karsinoma pertama digunakan oleh Hipocrates (460 – 375 SM). 1985). Panjang rektum sekitar 15 – 20 cm yang untuk kepentingan penanganan dibagi menjadi 3 bagian yaitu bagian bawah sampai 6 cm dari anus. 1990). Nama-nama ini berasal dari bahasa Yunani yang artinya kepiting. bagian tengah antara 7 -12 cm dari anus dan bagian atas yang lebih dari12 cm dari anus. Disamping itu karsinoma rekti dalam penanganannya . Di USA karsinoma kolorektal adalah keganasan paling sering kedua pada laki-laki. Menentukan batas ketiga bagian rektum dengan melihat langsung tidak mudah karena lipatan peritoneum antara rektum dengan kandung kencing pada laki-laki antara 8 – 9 cm dari anus. sehingga bukan merupakan garis batas melainkan masih mempunyai panjang antara 3 – 5 cm.

Jalur LOH ditandai dengan gangguan pasangan/allele kromosom sehingga menjadi aneuploidi atau poliploidi. 2005). keadaan atau penyakit premaligna. Penanganan holistik karsinoma rekti meliputi penanganan sebelum terjadi yaitu usaha-usaha untuk mencegah timbulnya karsinoma rekti. Steele.4 lebih sulit oleh karena berada di dalam rongga panggul yang relatif kecil. Ada 2 jalur utama untuk inisiasi dan progressi tumor yaitu jalur LOH (loss of heterozygosity) dan jalur RER (replication error). Kelompok yang diturunkan (heriditer) memang dilahirkan sudah dengan mutasi gen pada kromosomnya misalnya pada PAF (poliposis adenomatosa familial) dan HNPCC (hereditary non poliposis colorectal cancer). Sekitar 80 % karsinoma kolorektal terjadi secara sporadis. mungkinkah bedah sudah harus berperan dalam usaha pencegahan timbulnya karsinoma rekti. dan 80% karsinoma kolorektal terjadi melalui jalur ini. dan faktor lain (Bullard & Rothenberger. Pada kelompok sporadis terjadi mutasi gen dalam perjalanan hidupnya. dan penanganan setelah terjadi. 2006). Dari penanganan holistik ini dimana peran bedah. Faktor-faktor risiko munculnya karsinoma kolorektal meliputi faktor heriditer. Mungkinkan faktor heriditer dapat diatasi? Apabila dalam film fiksi (Jurassic Park) . pada orang-orang yang ada riwayat karsinoma kolorektal pada silsilah keluarganya. Untuk dapat mencegah timbulnya karsinoma rekti perlu tahu faktor-faktor risiko yang memungkinkan timbulnya karsinoma rekti dan biasanya berkaitan dengan kolon (colorektal). sedangkan 20% sisanya melalui jalur RER yaitu salah susun DNA dalam replikasinya (Bullard & Rothenberger. Faktor risiko heriditer. pada orang-orang yang sudah pernah menderita karsinoma kolorektal pada sisa kolon dan rektumnya. pada orangorang yang ada riwayat poliposis adenomatosa familial (PAF) pada silsilah keluarganya. sedangkan 20% terjadi pada pasien-pasien yang mempunyai riwayat karsinoma kolorektal pada silsilah keluarganya. faktor umur. faktor diet. Risiko timbulnya karsinoma kolorektal akan meningkat pada orang-orang yang mempunyai adenoma kolorektal. dan besar kemungkinan menghadapi cacad fisik yang berupa stoma (dubur buatan) sedangkan karsinoma kolon atau usus yang lain kemungkinan pembuatan stoma sangat kecil. 1990. 2006). dan pada orang-orang dengan kolitis ulserativa khronis (Laeper.

9. misalnya dengan mengecat rambut. Suharto. Sudarsa et al. Faktor risiko umur. angka tersebut tidak turun. Denmark 32. 1987. Inggris 32. 1996. Kenyataannya sampai saat ini terapi gen masih terus diteliti (Sue Clark. dan distribusi karsinoma kolorektal di berbagai umur pada beberapa penelitian hampir sama (Naeder & Archampong. mungkin saja suatu saat nanti gen-gen cacat penyebab munculnya karsinoma kolorektal dapat direparasi dengan manipulasi DNA nya. sedangkan orang-orang Barat dietnya tinggi lemak rendah serat (Goligher.3.5. Diet tinggi lemak. 1999). tidak akan berkurang menjadi 40 tahun. namun toh umurnya tetap 60 tahun.6. Ini diduga disebabkan penduduk asli Afrika di Afrika sendiri dietnya tinggi serat rendah lemak. Ini memungkinkan bahan-bahan . Ini mungkin karena jumlah penderita umur muda meningkat. pada penelitian menggunakan proporsi sekuensial belum terbukti. Faktor umur jelas tidak dapat dikoreksi. Bila penduduk asli Afrika hidup di populasi barat dan mengikuti gaya hidup dan diet ala barat. sedangkan di Negara Afrika (kulit hitam) hanya 2. 2005). Pada populasi campuran misalnya di pesisir California angka tersebut pada kulit putih 43. karbohidrat yang halus tanpa selulose (serat) dalam diet orang Barat menyebabkan waktu berjalan feses (transit time) dalam kolon lebih panjang. Orang selalu berusaha untuk tampak lebih muda dalam gaya dan penampilannya.. tetapi penderita umur tua juga meningkat sehingga proporsinya tetap (Marijata. Insidensi naik setelah umur 40 tahun. 1994.8. Faktor risiko yang berikutnya adalah faktor diet. kulit hitam 34. Mengenai issue adanya tren karsinoma kolorektal mengenai umur-umur muda. Marijata. Umur tua adalah faktor dominan karsinoma kolorektal. Diet dicurigai sebagai salah satu faktor risiko timbulnya karsinoma kolorektal berdasarkan fakta epidemiologis.5 orang dapat menciptakan bermacam dinosaurus dengan bahan baku DNA katak yang dimanipulasi. menghilangkan kerut-kerut pada muka dan sebagainya.5. Angka kematian akibat karsinoma kolorektal per 100 000 populasi di Negara-negara barat (kulit putih) cukup tinggi. angka tersebut naik secara progresif.0. 1984). 1999). misalnya di AS 48. tetapi bila populasi orang-orang Eropa hidup di Negara Afrika. dan Cina 43. sehingga umur 60 tahun dapat tampak seperti umur 40 tahun.

namun laporan-laporan mengenai ini belum ada. dan kadarnya dalam lumen dapat diturunkan dengan serat (selulose). Yang pertama adalah polip adenomatosa. sedangkan lemak nabati dan lemak dari ikan tidak. Untuk faktor diet ini tinggal pilih yang mana. 1993. sedangkan produk-produk pirolisis adalah hasil pemanasan daging pada temperatur tinggi (Oesterhuis.. Kalsium kemungkinan mengurangi efek toksik lipid-lipid asam yang ada di dalam asam empedu dengan membentuk kompleks garam empedu yang tidak larut. Jenis polip ini pada rektum berpotensi menjadi ganas yaitu adenokarsinoma. Oldhoff. Potensi untuk menjadi ganas semakin besar dengan bertambahnya ukuran. sedangkan jenis polip lainnya seperti polip juvenilis dan polip inflamatoir (pseudo polip) tidak berpotensi menjadi ganas. dan produk-produk pirolisis adalah bahan-bahan kimia toksik hasil dari pemecahan bakteri dan pemanasan makanan yang diduga menginduksi karsinoma kolorektal. 3 ketosteroid. Ada yang mencurigai jamu tradisional sebagai salah satu faktor penyebab. Fekapentens. dan perlu penelitian lebih lanjut. Untuk Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah Selatan sedikit kurang cocok. atau yang protektif mengurangi risiko dengan diet tinggi serat. 1993). Masalahnya masyarakat pedesaan dietnya kebanyakan juga tinggi serat. Bila diameternya . Fekapentens diproduksi oleh mikroflora usus. Tiga ketosteroid merupakan derivate dari produk metabolik kolesterol. toh angka kejadian karsinoma kolorektal cukup tinggi juga. mau yang berisiko tinggi dengan diet tinggi lemak hewani rendah serat.6 yang tidak aktif dalam bentuk aslinya karena metabolisme dan pengaruh kimiawi menjadi bentuk aktif (carsinogen) (Morton et al. vitamin C dan vitamin E. Sebaliknya diet tinggi serat justru mengurangi risiko (Bullard & Rothenberger. Faktor risiko yang berikutnya adalah keadaan atau penyakit premaligna yaitu penyakit tidak ganas yang mempunyai potensi untuk menjadi ganas. 2006). Lemak yang menaikkan risiko terjadinya karsinoma kolorektal terutama lemak hewani. rendah lemak. Rendahnya absorbsi kalsium dan produk vitamin D endogen berhubungan dengan kejadian keganasan kolorektal. 1983).

Laeper. 1990. 1990). 1990. Pada penderita-penderita kolitis granulomatosa khronis risiko timbulnya karsinoma 6 kali lebih besar dibanding populasi normal. sedangkan pada kolitis ulserativa khronis risiko menjadi ganas 2% setelah 10 tahun. 2005. Penyakit ini termasuk heriditer yang diturunkan secara autosomal dominan. 2001). Donohue. 2006). Keadaan premaligna yang ketiga adalah kolitis (peradangan colon).7 kurang dari 1 cm risiko keganasan 1%. Baik kolitis ulserativa maupun kolitis granulomatosa mempunyai potensi untuk manjadi ganas. dapat kolektomi parsial atau kolektomi total dengan ileostomi atau ileoanal anastomosis (Silater & Aufses. Bullard & Rothenberger. Kodner et al. 1983. Penanganan karsinoma rekti apabila telah terjadi atau dicurigai telah terjadi bertujuan untuk menghilangkan tumornya. disamping biopsi multiple pada mukosa yang lain.. 2001. 1994). Bila dijumpai abnormalitas morfologis perlu dibiopsi.. Oleh karena itu pada penderitapenderita kolitis kronis yang cukup lama perlu endoskopi periodik. 8% setelah 20 tahun. Keadaan premaligna yang kedua adalah PAF (poliposis adenomatosa familial).. Juga jenis PA nya. dan biasanya jenis campuran tubulovillosa yang potensi keganasannya 22% (Morton et al. Nicholls & Teklis. . Laeper. sedangkan jenis villosa 40%. 1990. Untuk polip rekti sudah memerlukan tindakan bedah dengan mengangkat polipnya (polipektomi) untuk mencegah terjadinya karsinoma. dan 18% setelah 30 tahun. Bila tidak ditangani penyakit ini 100% akan menjadi ganas pada umur sekitar 42 tahun (Morton et al. dengan menyelamatkan sejauh mungkin fungsi anatomis dan fisiologis apabila memungkinkan.. 1990). Bila seluruh rektum terkena poliposis adenomatosa familial maka rektum harus diangkat (proctectomi) dan sisa kolon disambungkan ke anus. Keighley & Williams. Bila ditemukan karsinoma atau displasia berat perlu pengangkatan bagian yang terkena.. Bila seluruh kolon terkena juga harus ikut diangkat (total proctokolectomi) kemudian dibuat ileoanal anastomosis (Wong et al. atau ileostomi (Kodner et al. 1983. bila ukurannya antara 1-2 cm risiko keganasan naik menjadi 10%. bila jenisnya tubuler potensi keganasannya 5%. dan bila ukurannya lebih dari 2 cm risiko keganasannya 35 – 50%.

1999).8 Ada tiga modalitas dalam penanganan karsinoma rekti yaitu dengan operasi (cutting).. sedangkan 51 (56. 1992). sedangkan keterlambatan dokter adalah apabila dokter memeriksa lebih dari 3 bulan belum mendiagnosis karsinoma rekti sehingga belum merujuk kerumah sakit (Graffner & Olsson. Cohen. dan 3 (3. Keterlambatan ini juga dikemukakan oleh peneliti-peneliti lain (Cleton. 32 (35. Bila colok dubur tidak menemukan sesuatu mungkin karena jari tidak sampai perlu pemeriksaan endoskopi. dari 90 penderita tersebut hanya 39 (43. 1993. 1986. tidak ada biaya untuk operasi. Soetamto Wibowo. 1996. walaupun dalam .7%) tumornya tidak dapat diangkat (Marijata. dan dengan kemoterapi (poisoning). buang air besar tidak lampias) lebih dari 3 bulan belum memeriksakan diri ke dokter. Dari 90 penderita karsinoma rekti hanya 1 (1. Prijono & Riwanto.3%) Duke’s D. dengan radiasi (burning). Sayangnya penderita kebanyakan datang sudah dalam stadium lanjut. buang air besar sulit. Keterlambatan dokter dalam menegakkan diagnosis karsinoma rekti kebanyakan karena dokter tidak melakukan colok dubur. 54 (60%) Duke’s C.1%) yang secara PA masih stadium Duke’s A.6%) Duke’s B. Sudarsa et al. atau penanganan setelah diagnosis ditegakkan. Karsinoma rekti yang terdeteksi dalam stadium awal belum tentu dapat segera dioperasi karena penderita takut operasi. 1996). 1986). Keterlambatan penanganan dapat terjadi dalam penegakkan diagnosis. 1979. Keterlambatan diagnosis dari penderita apabila penderita merasakan keluhan awal karsinoma rekti (buang air besar bercampur lendir atau dan atau darah. 1993. Graffner & Olsson. Sampai saat ini cara yang paling akurat untuk penanganan karsinoma rekti adalah dengan operasi apabila tumornya masih dapat diangkat. Keterlambatan dapat terjadi dari penderitanya sendiri atau dari dokter yang menangani. dan yang paling utama karena tidak mau duburnya dipindah (colostomi).3%) tumornya dapat diangkat. Dari dokternya terutama untuk karsinoma rekti letak rendah tidak memberi alternatif lain selain kolostomi. Keterlambatan penanganan setelah diagnosis ditegakkan juga dapat berasal dari penderita sendiri atau dari dokternya. padahal colok dubur mempunyai angka kecermatan 75% (Holliday & Hardcastle.

Penyambungan dapat dijahit biasa atau dengan stapler. 1988. Bila tumornya sudah tidak dapat diangkat juga hanya dibuat kolostomi dan biopsi. Operasi ini disebut anterior. Ada yang memilih abdominoperianeal reseksi yaitu mengangkat rektum dan anus sekaligus dan membuat kolostomi permanen. dan kemudian masih perlu operasi definitip bila kondisi penderita sudah membaik (Ellis. kadang-kadang penderita datang sudah dengan komplikasi. Ada yang membuat stoma temporer sampai sambungannya dianggap kuat. Horiuci et al. dapat dilakukan reseksi dengan anastomosis koloanal. Pada keadaan ini juga perlu operasi darurat untuk mengatasi perforasinya. Ada juga yang mengangkat rektum dan kolon disambungkan ke anus (coloanal). abses. dan secara tehnis ini lebih sulit dan risiko kebocoran sambungan cukup tinggi. Selain keterlambatan dalam arti stadiumnya sudah lanjut waktu datang. Marijata. Apabila tumornya sudah tidak dapat diangkat hanya dilakukan biopsi dan kolostomi disebelah oral tumor. 1990). 1999). Operasi definitip untuk karsinoma rekti sepertiga atas apabila tumornya masih dapat diangkat biasanya dapat disambung langsung tanpa harus membuat stoma. Untuk karsinoma rekti sepertiga tengah operasinya reseksi anterior bawah. Cara ini jelas lebih sulit dan ada risiko . Untuk kondisi tertentu misalnya tumornya masih sangat mobil. Kadang-kadang perforasi pada apendiks bila juga dijumpai tumor pada sekum. Pada keadaan ini perlu operasi darurat untuk mengatasi ileusnya dan kadang-kadang perlu operasi difinitip lagi bila kondisi penderita sudah membaik.9 stadium awal kemungkinan dapat ditangani tanpa memindah dubur (colostomi) (Ibrahim. atau perforasi pada sekum oleh karena distensi yang hebat. perforasi sterkoral tepat di atas tumornya. atau fistula. Komplikasi yang lain adalah perforasi yang kemudian menyebabkan peritonitis umum. (2005) melakukan pemasangan pipa kolorektal (Dennis Tube) melalui endoskopi untuk dekompresi sebelum dilakukan operasi. Perforasi dapat terjadi pada tumornya sendiri. Komplikasi yang sering adalah obstruksi lumen sehingga terjadi ileus. sfhincter jelas bebas dari tumor. Untuk karsinoma rekti sepertiga bawah kebanyakan melakukan reseksi abdominoperianeal yaitu mengangkat rektum dan anus dengan kolostomi permanen.

7%. 2005). Banyak penelitian menunjukkan bahwa residif lokal berkurang setelah dilakukan TME (Tepper. 1999). dan yang unresektabel 56.10 inkontinensia. pada 8 penderita (10. status limfonodi. Juga cara operasi tanpa menyentuh tumor (no touch isolation technique) mengurangi penyebaran sel-sel tumor dalam sirkulasi (Atkins et al. secara mikroskopis belum tentu bersih.4%) dilakukan pengangkatan tumar dan kolon disambungkan ke anus (kolo anal). invasi vasa extra mural. prognosis dalam hal ini angka ketahanan hidup. dan pada 27 penderita (35%) hanya dilakukan kolostomi dan biopsi. Cara operasi ini hanya digunakan untuk karasinoma rekti yang masih sangat awal dengan diameter kurang dari 2 cm (Savage et al.. namun untuk rektum bagian tengah dan bawah jelas sangat sulit oleh karena bentuk rongga pelvis yang dalam dan lengkung. Dalam penanganan karsinoma rekti selain operasi modalitas yang tidak kalah pentingnya adalah radioterapi dan khemoterapi. 2001. namun sebagian besar kalau tidak dikatakan semua penderita memilih cara ini dibanding dengan kolostomi permanen. dan yang tidak dapat diangkat (unresectable) 35%..2%) dilakukan pengangkatan tumor dengan kolostomi. Cara operasi yang lain untuk karasinoma rekti dengan TEM (transanal endoscopic microsurgery). . 1997). Jadi dilihat dari sudut resektabilitas keterlambatan penanganan karsinoma rekti sudah banyak berkurang. dan stadium (ukuran tumor. Walaupun tumor dapat diangkat. Jadi jumlah total penderita yang tumornya dapat diangkat (resectable) 65%. hanya cara ini dengan deseksi tajam dibawah pandangan mata langsung. Dari jumlah tersebut 28 penderita (36. Dari catatan pasien pribadi dari tahun 2005 sampai pertengahan tahun 2007 ini telah ditangani 77 penderita karsinoma rekti. 2006). Bullard & Rothenberger. 1994. dan stadium tumor ditentukan dari pemeriksaan spesimen operasi yang dikirim ke laboratorium PA. ditentukan oleh deferensiasi tumor. Cara yang terbaru dengan TME (total mesorectal excision) pada prinsipnya hampir sama. dan metastasis) (Hey et al. yang resektabel hanya 43. Ini jelas kemajuan yang luar biasa bila dibandingkan dengan penderita-penderita yang ditangani antara tahun 1989-1998 (Marijata. Mentges et al. pada 14 penderita (18. 1994).3%.4%) dilakukan pengangkatan tumor dan disambung langsung (reseksi anterior)...

neo ajuvan. maupun khemoterapi perlu dilakukan follow up atau monitoring. boleh diberikan pada yang stadium Duke’s B1. Senan & Smit 2007). Bullar & Rothenberger 2006. oleh karena sensitivitas CEA hanya 40 . Sering juga diberikan terapi tambahan kombinasi yaitu khemoradiasi. atau khemoradiasi ajuvan dalam menurunkan angka kekambuhan. dan kualitas hidup. Follow up dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan kondisi penderita dan untuk deteksi kemungkinan munculnya kekambuhan baik ditempat asalnya maupun dijalur-jalur metastasisnya. dengan hasil yang bervariasi (Redel et al 2003. Tepper 2005. dan perlu diberikan pada stadium yang lebih lanjut (Bullard & Rothenberger. yang secara rutin mengadakan pertemuan untuk membahas kasus-kasus tumor ganas yang sulit. DR. Radiasi dan khemoterapi ajuvan tidak perlu diberikan pada karsinoma rekti yang masih stadium Duke’s A. radiasi. sesudah operasi (ajuvan khemoterapi). setelah operasi (ajuvan radioterapi). sebelum dan sesudah operasi (sandwich radioterapi). Penanganan karsinoma rekti atau tumor-tumor ganas yang lain di rumah sakit yang besar sebaiknya secara interdisipliner.11 Radiasi dapat diberikan sebelum operasi (neoajuvan radioterapi). Pemeriksaan CEA (carsino embryonic antigen) suatu tumor marker untuk karsinoma rekti sebelum operasi penting untuk keperluan follow up bukan untuk menentukan diagnosisnya. 2006). dan spesifitasnya 90% . atau apabila tumornya sudah tidak dapat diangkat dan sudah metastasis ke banyak tempat. Tulisan-tulisan mengenai pengaruh radiasi ajuvan. dan terapi utama bila tumornya sudah tidak dapat diangkat.47%. khemoterapi ajuvan. Di RS. Legalitas keputusan tertinggi dalam penanganan tumor ganas termasuk karsinoma rekti diambil melalui rapat/pertemuan tim ini. baik dalam perencanaan penanganan maupun hasil penanganan yang telah dicapai. sehingga ada khemoradiasi ajuvan. Khemoterapi juga dapat diberikan sebelum operasi (neo ajuvan khemoterapi). atau apabila tumornya sudah tidak dapat diangkat. Sardjito Yogyakarta ada tim kanker yang anggotanya berasal dari berbagai disiplin ilmu termasuk ilmu bedah. Setelah penanganan baik dibidang bedah.

dan akan terjadi adaptasi sehingga dalam waktu tertentu. Tetapi bila kemudian kadarnya naik lagi berarti ada kemungkinan tumornya kambuh lagi atau tumbuh tumor baru lagi (metachronus). setelah operasi kadarnya turun menjadi normal. biasanya antara 2 sampai 6 minggu akan dapat menahan (Marijata. Pada penderita karsinoma rekti yang dilakukan reseksi dan anastomosis kolo-anal sering terjadi inkontinensia alvi yang artinya sulit menahan buang air besar.12 (Bernstem & Pollock. . 1990). Bila sebelum operasi kadarnya normal. Walaupun sebelum operasi sudah dijelaskan kemungkinan terjadinya inkontinentia. tidak dapat digunakan untuk follow up. Bila sebelum operasi kadarnya di dalam darah naik di atas normal. Dokter harus sabar menjelaskan bahwa inkontinentia itu tidak menetap. penderita tetap saja selalu menanyakan mengapa sulit menahan buang air besar. dan walaupun letak tumor di rektum bagian bawah asal masih sangat awal dan tidak mengenai sfincter kemungkinan masih dapat dihindari pemindahan dubur (colostomi). penanganan dapat optimal apabila datang masih dalam keadaan awal. 2006). Kalau karsinoma rekti sudah terjadi. dapat dikatakan operasi berhasil artinya tumornya sudah bersih. Dari uraian di atas dari beberapa faktor risiko terjadinya karsinoma rekti ada yang dapat dihindari dan ada yang tidak dapat dihindari.

182-196. and Hayoshi K. HI Poss. Bagley J. Patients and doctors delay in carcinoma of colon and rectum.. dalam FC Brunicardi. Prentice Hall Int. Sharif A.13 DAFTAR PUSTAKA Atkin. Smart C. Maingot’s abdominal operation. Tanaka N. 1049 . DK Andersen. Cleton F. 1979. G. H.. Fujii H.J. New York 1577 . 10-6-07 Bernstam F. DL Dunn. 1993. Donohue J. RK Bollinger. H Ellis. and RE Pollock. Lancet 10 : 309 11. Surabaya.. TR Billiar.. SJ Mulvihile. Surgery ( Basic science & clinical evidence ) Springer-Verlag. 2006. Yokoyama T. Cohen A. Dalam SI Schwartz. Schwartz Manual of Surgery 8th Ed. BR J Surg 81 : 685 – 8 Holliday H. Connecticut. 2001. Graffner H. Rothenberger D. Schwartz Manual of Surgery 8th Ed Mc Graw Hill.M. Preoperative evaluation of patients with primary colorectal cancer 70 : 1320-32. J of Surg Oncol. Surgery of the Anus. and RE Pollock. JG Hunter. and RW Thompson.. Bullard K.S.W. 2006. Colorectal Cancer. Nakayama Y. 1994. 31 : 188 . Ellis. New York 183 – 215. Balliere Tindall. 1992.. Resection of the colon. 9th Ed.E. Rectum and Colon. Colorectal cancer metastasis : In the surgeon’s hand.A. Inc. and Olsson S.90. Mc Graw Hill. Chopada A.M. Kajiyama M.com / content /2/1/5. State of the art. DL Dunn.. Delay in the diagnosis and treatment of symptomatic colorectal cancer.. JG Hunter. 2005. Colon Rektum an Anus. Sf Lowrey. 1986.D.96. and Erevin O. Oncology dalam FC Brunicardi.. AE Chang. Horiuchi A.. Goligher J.. Oncology VIII. and Pollock R. London. http / www / issoonline. Heys S. TR Billiar. 5th Ed. Dutch Foundation for Post Graduate Courses In Indonesia. 1990.H.A. Dk Andersen. New York.76. and Hardcastle J.M.D. Principles of Cancer Surgery dalam JA Norton. Acute colorectal . 1984. Prognostic factors and survival of patients aged less than 60 years with colorectal cancer. Brittenden J. 732 -783. and Mitchel I 2005.

Marijata. 1988. Kodner J. Br J Surg 84 : 348 – 51 Morton J.H.H.R. Marijata. New York. Yogyakarta. New york. Colon rectum and anus. New york 1107 . 1994. 9th Ed. dalam SI Schwartz & H Ellis.S. Elsovier Saunders.Q. and Bimbaumn E. colon rectum and anus.70 Ibrahim A.. Almentary tract cancer dalam P Rubin. Soc.D.. Fleshman J. Verschueren R. Effectiveness before surgery and stenting. Netherlands. Paulter C.18. Br J of Surg 81 : 456 – 9 Nicholls R. and Fry R. Bandung Keighley M.J. Buess G. Isu-isu baru karsinoma kolorektal. B I K XXV ( 2 ) : 89 . Principle of surgery 6th Ed Mc Graw Hill Inc. and Becher H. Mentges B.. Prentice Hall Int. dalam SI Schwartz & H Ellis.. 1994. a 5 years prospective study. Operasi abdomino-anal reseksi pada karsinoma rekti letak rendah..W. Can. Clinical Oncology 6th Ed.D. Fk UGM. and Archampong E.. Juli 1990. Colorectal Surgery. 3rd Ed. 1983. London. MArijata dan Hendro Wartatmo.. Am. Anal and rectal cancer.48. Maunce K.J. Effinger G.14 abstruction treated by means of transanal drainage tube.95. 100 ( 12 ) : 2765 .J. 1990. Indications and results of local treatment of rectal cancer..M. 2005. 1997. 1993. and Williams N.. Karsinoma rekti letak rendah. MABI X. 1033 . 1990. Ulcerative Colitis dalam RKS Phillips.48. 129 –162 Oldhoff J.W. The Am J of Gastroenterology.D. Kodner J. 1999.B.J. Fry R. Fk UGM. Prentice Hall Int. Fleshman J. Kodner J. Padang. Pengalaman reseksi anterior untuk karsinoma rekti.B. Inc.. Fleshman J. Surgery of the anus rectum and colon. PIT VI IKABI. Cancer of the Colon and Rectum in Ghana.J.C.J. 1033 . and Bimbaumn E. RF Bakemeier & SK Krackov. Colorectal cancer. 2001.. 1993. MAingot’s abdominal operation 9th Ed.P. BIK 31 ( 4 ) : 255 9. 2nd Ed WB Saunders. and Teklis I.W. and Pandya K. 1994. dalam Schwartz Shires & Spencer ( Ed ). Maingot’s abdominal operation.A. 154-76 Naaeder S. Duth . Yogyakarta. Inc.

15 Foundation for post graduate courses in Indonesia Oncology VIII.H. New York 1023 – 32. Schmoll H. Bedah FK UNUD. 2007. 2003.G. 41 – 66 Sudarsa W. FK UGM. Netherlands. Hahenberger W. Oncology VIII. Savege A. Maingot’s abdominal operation 9th Ed. H Ellis. Reece-Smith H. Karsinoma kolorektal di RSUP DR. Yogyakarta. Soetamto Wibowo P. Pathological aspect. Ropanasuri XXIV ( 2 ) : 23 . 1985. Inherrited bowel cancer dalam RKS Phillips.G. Prentice Hall Int. Surabaya 130 – 136 Priyono S. Yogyakarta. and Faber R..J. Br J Surg 81 : 1482 . 1990. Problem in advances and recurrence colorectal cancer. 2005.C. dan I Riwanto 1996. Papadopoulos T. and Smit E.3104. 1994. Journal of Clinical Oncology 21 ( 16 ) : 3098 . Phase I / II trial of capecitabin. Penatalaksanaan keganasan kolorektal di Bag..F. Colorectal cancer. . Faktor .W.. Oosterhuis J. 1997.. Tjakra Wibawa Manuaba. Dutch Foundation for post graduate courses in Indonesia. Oncology VIII.. Ropanasuri XXIV ( 1 ) : 37 – 41 Radel C. and Sauer H. Sue Clark 2005.7. Epidemiologi kanker.R. Sardjito. MABI IX Denpasar. 3rd Ed.204. Soeripto dan Prijono Tirtoprodjo. Elsevier Saunders. 1993. 3rd Ed. RSU Denpasar. Oncologyst 12 : 465 477. Inc. Elsevier Saunders. Colorectal Surgery. Surabaya 197 . Suharto P. Steele R. B I K XVII ( 4 ): 183-192. 1996. 23 40. Netherlands. IK Budha. Colorectal Surgery. Granulomatous colitis and Ulcerative colitis dalam SI Schwartz.faktor yang berpengaruh terhadap keterlambatan diagnosis karsinoma rekti. Grabenbauer G. and radiation for rectal cancer. Colonic cancer dalam RKS Phillips. Slater G. Design of clinical trials of radiation combined with anti angiogenic therapy. and Aufses A. dan Soegiyanto M. 1993..84. Survival after per anal abdominoperineal resection for rectal carcinoma.J. Dutch Foundation for post graduate courses in Indonesia. Surabaya 137 -156. oxaliplatin. Senan S.

New York. . Maingot’s abdominal operations.E. Inc. Ileoanal pull through procedures dalam SI Schwartz & H Ellis.D. and Goldberg S.. Journal of Clinical Oncology 19 ( 17 ) : 3709 . 2001.11.16 Tepper J. Rothenberger D.96. 1990. Prentice Hall Int. 9th Ed. Wong W.A. 1077 .M. Ajuvant radiation therapy of rectal cancer.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful