BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan salah satu jenis penyakit yang banyak menyerang masyarakat dengan intensitas penularan yang cukup tinggi, hal ini karena penyakit ISPA sebabkan oleh lebih dari 200 agen virus yang berbeda secara serologis. Infeksi saluran pernapasan adalah infeksi yang mengenai bagian manapun saluran pernapasan, mulai dari hidung, telinga tengah, faring (tenggorokan), kotak suara (laring), bronchi, bronkhioli dan paru. Jenis penyakit yang termasuk dalam infeksi saluran pernapasan bagian atas antara lain yaitu batuk pilek, sakit telinga (otitis media) dan radang tenggorokan (Nelson, 2000). Pada umumnya, penyakit ISPA sering terjadi pada anak-anak karena pada anak memiliki daya tahan tubuh yang rendah. Penyakit ini dikatakan infeksi karena terjadi melalui proses masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit pada saluran pernapasan mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinussinus, rongga telinga tengah dan pleura. Penyakit ISPA juga dikatakan sebagai penyakit akut karena infeksi yang terjadi berlangsung sampai dengan 14 hari.

1

ISPA sering terjadi karena disebabkan oleh efek pencemaran udara terhadap saluran pernafasan yang menyebabkan pergerakan silia hidung menjadi lambat dan kaku bahkan dapat berhenti sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan akibat iritasi oleh bahan pencemar. Produksi lendir akan meningkat sehingga menyebabkan penyempitan saluran pernafasan dan rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernafasan. Akibat dari hal tersebut akan menyebabkan kesulitan bernafas sehingga benda asing tertarik dan bakteri lain tidak dapat dikeluarkan dari saluran pernafasan, hal ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran pernafasan (Budiman, 2006). Data yang dihimpun dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa setiap tahun ada sekitar 13 juta anak balita di dunia yang meninggal dan sebagian besar kematian tersebut terjadi di negara berkembang, dimana ISPA merupakan salah satu penyebab utamanya (Depkes RI, 2000). Tingginya serangan penyakit ISPA bahkan terjadi secara meluas sampai pada daerah pelosok misalnya di Propinsi Sulawesi Tenggara, dengan jumlah kasus pada 3 Tahun terakhir. Profil Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara Pada Tahun 2010 kejadian ISPA sebanyak 17.314 kasus. Tahun 2011 kejadian ISPA sebanyak 16.292 kasus. Tahun 2012 kejadian ISPA sebanyak 18.157 (Dinkes Sultra, 2009).

2

Kabupaten Buton Utara merupakan salah satu kebupaten di Propinsi Sulawesi Tenggara dengan jumlah kasus ISPA selama tiga tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 ditemukan penderita ISPA sebanyak 3.932 kasus, tahun 2011 meningkat menjadi 4.787 kasus, dan pada tahun 2012 meningkat

sebanyak 4.853 kasus (Dinkes Kab. Buton Utara, 2012). Tingginya kasus penyakit ISPA di Kabupaten Buton Utara diduga karena disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya yaitu status gizi balita yang kurang baik sehingga mempengaruhi daya tahan tubuh balita, kondisi pemukiman warga yang padat dan tidak terstruktur dengan baik serta sanitasi yang buruk yang memicu terjadinya polusi udara sehingga meningkatkan penularan penyakit ISPA. Salah satu daerak di Kabupaten Buton Utara dengan kondisi pemukiman yang demikian adalah Kelurahan Bone lipu. Data dari Puskesmas Bone Lipu tahun 2012 menunjukkan bahwa jumlah penderita ISPA selama empat bulan terakhir adalah 256 kasus. Hasil observasi dan wawancara awal dengan petugas kesehatan di Kelurahan Bone Lipu diperoleh fakta bahwa penyakit ISPA merupakan jenis penyakit penyakit yang ada dengan jumlah kasus tetinggi di daerah tersebut dan kebanyakan menyerang pada balita.

3

maka penulis melakukan penelitian tentang “Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pada Balita di Wilayah Pesisir Kelurahan Bone Lipu Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara Tahun 2013”. B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah a. kondisi fisik perumahan warga dan kepadata hunian dengan peningkatan kasus penyakit ISPA. Bagaimana hubungan antara status gizi balita dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah pesisir Kelurahan Bone Lipu Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara tahun 2013 ? 4 . Penelitian dapat dilakukan dengan mengidentifikasi hubungan antara status gizi balita. Berdasarkan uraian di atas.Tingginya kasus penyakit ISPA di Kelurahan Bone Lipu dengan status gizi dan kondisi pemukiman yang belum memadai. sangat penting untuk dilakukan penelitian sehingga dapat diketahui dengan pasti faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya kasus ISPA di daerah tersebut. Hasil penelitian nantinya dapat dijadikan sebagai bahan referensi terutama oleh pengambil kebijakan untuk menekan peningkatan kasus penyakit ISPA sehingga dapat memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat.

Bagaimana hubungan antara kepadatan hunian dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah pesisir Kelurahan Bone Lipu Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara tahun 2013 ? C. Untuk mengetahui hubungan antara kondisifisik rumah dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah pesisir Kelurahan Bone Lipu Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara tahun 2013 ? 5 . 2. Tujuan Penelitian 1. kondisi fisik rumah dan kepadatan hunian dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah pesisir Kelurahan Bone Lipu Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara tahun 2013. Tujuan Umum Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara status gizi balita. Untuk mengetahui hubungan antara status gizi balita dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah pesisir Kelurahan Bone Lipu Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara tahun 2013 ? b. Bagaimana hubungan kondisi fisik rumah dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah pesisir Kelurahan Bone Lipu Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara tahun 2013 ? c.b. Tujuan Khusus a.

Manfaat Bagi Peneliti Penelitian ini diharapkan bisa menjadi suatu pengalaman berharga bagi peneliti sehingga dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat. Selain itu. 3. serta menambah wawasan pengetahuan 6 . hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi pemerintah khususnya bagi Puskesmas Kulisusu dan Dinas Kesehatan Kabupaten Buton Utara dalam penentuan kebijakan program penanggulangan penyakit menular khususnya penyakit ISPA pada balita. Manfaat Penelitian 1. Untuk mengetahui hubungan antara kepadatan hunian dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah pesisir Kelurahan Bone Lipu Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara tahun 2013 ? D. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi atau sebagai bahan bahan kajian pustaka bagi peneliti selanjutnya. 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan.c.

2007). 7 . Beberapa penelitian telah membuktikan tentang adanya hubungan antara gizi buruk dan infeksi paru. Konsumsi zat gizi yang kurang baik kualitas maupun kuantitasnya akan mengakibatkan kekurangan gizi (Wiboworini. Penyakit infeksi sendiri akan menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu makan. Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang ISPA dibandingkan balita dengan gizi normal karena faktor daya tahan tubuh yang kurang.Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor risiko yang penting untuk terjadinya ISPA.

dan akut dengan pengertian sebagai berikut : 1. ISPA secara otomatis mencangkup saluran pernafasan bagian atas. Tinjauan Tentang ISPA 1. saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract) 3. Saluran pernafasan Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus. Infeksi akut 8 . rongga telinga tengah dan pleura. Infeksi Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. 2. saluran pernafasan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Dengan batasan ini. Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi. Defenisi ISPA Istilah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris yaitu Acute Respiratory Infections (ARI).

Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai 14 hari. Pneumokokus. virus dan riketsia. Mikoplasma. ISPA bagian 9 . polusi. dinama secara klinis suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi yang terjadi disetiap bagian saluran pernafasan atau struktur yang berhubungan dengan saluran pernafasan yang berlangsung tidak lebih dari 14 hari. Etiologi ISPA Penyebab penyakit ISPA beraneka ragam. Adnovirus. Dengan demikian ISPA adalah infeksi saluran pernafasan yang dapat berlangsung sampai 14 hari. Hemofillus. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptokokus. Namun demikian. Sebagian besar dari infeksi saluran pernafasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik. makanan). Bordetelia dan Korinebakterium. anak akan dapat menderita pneumonia bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik yang dapat mengakibatkan kematian. sedangkan ISPA bagian bawah dapat disebabkan oleh bakteri. bakteri dan aspirasi (debu. ISPA bagian atas umumnya disebabkan oleh Virus. Pikornavirus. virus dan mycoplasma. Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri. namun penyebab terbanyak adalah virus. Stafilokokus. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus. Herpesvirus dan lain-lain. 2. Koronavirus.

virus dan mycoplasma. dilaporkan bahwa faktor risiko ISPA pada balita meliputi: 1) kondisi rumah yaitu ventilasi. Faktor Resiko Berdasarkan hasil penelitian dan berbagai publikasi ilmiah dari berbagai negara termasuk Indonesia.bawah yang disebabkan oleh bakteri umumnya mempunyai manifestasi klinis yang berat sehingga menimbulkan beberapa masalah dalam penanganannya. sedangkan ISPA bagian bawah dapat disebabkan oleh bakteri. b. 10 . Keadaan lingkungan Keadaan lingkungan yang kumuh khususnya perumahan yang kotor dan padat penduduknya dapat mengakibatkan masyarakat mudah terjangkit berbagai penyakit antara lain ISPA. Daya tahan tubuh Daya tahan tubuh merupakan kemampuan individu untuk mencegah masuk dan berkembang biaknya kuman. Menurut WHO dalam Suciasih (2010). 3. ISPA bagian atas umumnya disebabkan oleh Virus. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain keadaan gizi dan kekebalan individu. beberapa faktor pencetus ISPA yaitu: a. ISPA bagian bawah yang disebabkan oleh bakteri umumnya mempunyai manifestasi klinis yang berat sehingga menimbulkan beberapa masalah dalam penanganannya.

kepadatan penghuni. Infeksi Saluran Pernafasan Akut Bagian Atas dan Infeksi Saluran Pernafasan Akut Bagian Bawah. 2) status gizi. 2006. Tingkat yang rendah. 11 . Siswono. Berdasarkan lokasi anatomik (WHO.kelembaban. 2002) infeksi saluran pernafasan akut terbagi atas dua yaitu. 3) status imunisasi. Klasifikasi berdasarkan lokasi anatomis meliputi Infeksi saluran pernapasan atas (common cold. 2004. letak dapur. kamarisasi. 5) pemberian Vitamin A dan berat badan lahir (Rasmaliah. dan aspek kepercayaan setempat dalam praktek pencarian pengobatan yang salah. Selain itu. Suhandany. 4. faktor risiko yang meningkatkan kematian akibat pneumonia pendidikan adalah ibu Tingkat sosial ekonomi rendah. bronciolitis dan pneumonia). tonsilitis akut dan otitis media) dan infeksi saluran bagian bawah (bronchitis. 4) pemberian ASI. Tingkat jangkauan pelayanan kesehatan yang rendah. faringitis akut. Menderita penyakit kronis. 2007. Klasifikasi Penyakit ISPA Penyakit ISPA dapat diklasifikasikan menurut lokasi anatomis dan berat ringannya penyakit. pencahayaan. Nindya. asap rokok dan asap dapur. 2005).

Kunci untuk mengurangi ISPA adalah dengan memastikan adanya akses yang lebih baik pada penanganan kasus pneumonia tepatpada waktunya. (Widjaja. Akan tetapi. bronkhitis akut. Infeksi Saluran Pernapasan bawah Akut Bawah dikelompokkan dalam dua kelompok umur yaitu. tidak semua infeksi saluran pernafasan bawah akut dapat menjadi serius. pneumoni dan sebagainya. Gejala ISPA 12 . sinusitus akut dan sebagainya. Infeksi Saluran Pernafasan Akut Bagian Atas yaitu infeksi infeksi yang menyerang hidung sampai epiglotis. Sedangkan untuk ISPA bagian atas mengakibatkan kematian pada anak dalam jumlah kecil. 2. Pneumonia pada anak umur 2 bulan hingga 5 tahun dan Pneumonia pada bayi muda yang berumur kurang dari 2 bulan. sebagai contoh: Bronkhitis relatif sering terjadi dan jarang fatal. Infeksi Saluran Pernafasan Akut Bagian Bawah yaitu Dinamakan sesuai dengan organ saluran pernafasan mulai dari bagian bawah epiglotis sampai alveoli paru misalnya trakhetis. Hampir seeluruh kematian karena ISPA pada anak kecil disebabkan oleh ISPA bagian bawah yaitu Pneumonia. misalnya rhinitis akut.1. 2003) 5. faringitis akut.

Kadang gejala-gejala penyakit menjadi lebih berat. dan bila semakin berat dapat mengakibatkan kematian. 13 . Gejala dari ISPA sedang Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari ISPA ringan disertai satu atau lebih gejalagejala sebagai berikut: 1) Pernafasan lebih dari 50 kali per menit pada anak yang berumur kurang dari satu tahun atau lebih dari 40 kali per menit pada anak yang berumur satu tahun atau lebih. yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya pada waktu berbicara atau menangis) 3) Pilek. suhu badan lebih dari 37º C atau jika dahi anak diraba. yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung 4) Panas atau demam.Umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. Untuk menghitung dapat digunakan arloji. Gejala ISPA ringan Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut: 1) Batuk 2) Serak. Gejala penyakit ISPA terbagi atas: a. b. Cara menghitung pernafasan ialah dengan menghitung jumlah tarikan nafas dalam satu menit.

Sumber penularan penyakit adalah penderita ISPA. Gejala dari ISPA berat Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejala-gejala ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut: a) Bibir atau kulit membiru b) Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernafas c) Anak tidak sadar atau kesadaran menurun d) Pernafasan berbunyi seperti orang mengorok dan anak tampak gelisah e) Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernafas f) Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba g) Tenggorokan berwarna merah 6. Awal dan lamanya 14 .2) Suhu lebih dari 39º C (diukur dengan termometer) 3) Tenggorokan berwarna merah 4) Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak 5) Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga 6) Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur) c. Cara Penularan Pada umumnya penyakit ISPA termasuk dalam kelompok penyakit yang ditularkan melalui udara (airborne diseases).

sebagai berikut: a) Promosi Kesehatan (Health Promotion) Promosi Kesehatan (Health Promotion) adalah upaya meningkatkan peran kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal. Penyediaan makanan sehat dan cukup (kualitas maupun kuantitas) 15 . 7.penderita dapat menularkan penyakitnya ke orang lain juga berbeda-beda karena beragamnya etiologinya. Penularan organisme penyebab ISPA terjadi melalui aerosol. Sasaran dari pencegahan ini yaitu orang sehat dengan usaha meningkatkan derajat kesehatan. mengurangi penyebab penyakit ISPA dan derajat resiko serta meningkatkan secara optimal lingkungan yang sehat. Pencegahan Penyakit ISPA Pencegahan penyakit ISPA dapat dilihat dalam lima tingkat pencegahan penyakit (five level prevention). Promosi Kesehatan (Health Promotion) dalam mencegah terjadinya penyakit ISPA dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya: 1. droplet atau kontak langsung tangan dengan sekret yang terinfeksi yang kemudian menyentuh hidung atau mata. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang cara-cara penularan dan cara-cara pemberantasan serta manfaat menegakkan diagnosis dini dari suatu penyakit seperti ISPA 2.

dan vitamin. yang banyak dibutuhkan oleh tubuh. pencegahan ini bertujuan untuk membentuk sistem kekebalan tubuh bayi sehingga terlindung dari berbagai penyakit infeksi termasuk ISPA. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat 5. Perlindungan khusus (spesific protection) dalam mencegah terjadinya penyakit ISPA dapat dilakukan dengan berbagai cara. 2. karena ASI banyak mengandung kalori. Olahraga secara teratur sesuai kemampuan individu b) Perlindungan Khusus (Spesific Protection) Sasaran pada perlindungan khusus (spesific protection) yang utama adalah ditujukan kepada penjamu (host) dan penyebab untuk meningkatkan daya tahan tubuh maupun untuk mengurangi resiko terhadap penyakit ISPA. Perbaikan status gizi individu/perorangan ataupun masyarakat untuk membentuk daya tahan tubuh yang lebih baik dan dapat melawan agent penyakit yang akan masuk ke dalam tubuh. protein. pembuangan sampah. Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan. yaitu: 1. seperti mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat gizi yang lebih baik dan diperlukan tubuh. misalnya penyediaan air bersih.3. pembuangan tinja dan limbah 4. 16 . Pemberian ASI eksklusif kepada bayi yang baru lahir.

Mencari kasus sedini mungkin 2. Meningkatkan keteraturan pengobatan terhadap penderita 5. Pemberian pengobatan yang tepat pada setiap permulaan kasus d) Pembatasan Cacat (Disability Limitation) Pembatasan cacat (disability limitation) merupakan pencegahan yang mencegah terjadinya kecacatan atau kematian 17 . dengan tujuan mencegah meluasnya penyakit atau terjadinya wabah penyakit menular dan menghentikan proses penyakit lebih lanjut serta mencegah terjadinya komplikasi. Mencari penderita dalam masyarakat dengan jalan pemeriksaan 3. Mencari semua orang yang telah berhubungan dengan penderita untuk diawasi agar bila penyakitnya timbul dapat segera diberikan pengobatan.c) Diagnosis Dini dan Pengobatan Segera (Early Diagnosis and Prompt Treatment) Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment) merupakan pencegahan yang ditujukan bagi mereka yang menderita atau terancam akan menderita penyakit ISPA. Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment) dalam mencegah terjadinya penyakit ISPA dapat dilakukan dengan berbagai upaya diantaranya: 1. 4.

akibat penyakit ISPA. Perbaikan fasilitas kesehatan sebagai penunjang untuk dimungkinkan pengobatan dan perawatan yang lebih intensif e) Rehabilitasi (Rehabilitation) Rehabilitasi (rehabilitation) merupakan pencegahan yang bertujuan untuk berusaha mengembalikan fungsi fisik. 2003). Pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita sembuh dan tak terjadi komplikasi 2. Balita sangat peka terhadap penyakit 3. Balita merupakan generasi penerus dan modal dasar untuk kelangsungan hidup bangsa. Rehabilitasi (rehabilitation) dalam mencegah terjadinya penyakit ISPA dapat dilakukan dengan rehabilitasi fisik/medis apabila terdapat gangguan kesehatan fisik akibat penyakit ISPA (Notoatmodjo. Tingkat kematian balita yang masih tinggi 18 . Balita merupakan generasi yang perlu mendapat perhatian disebabkan oleh beberapa hal yaitu: 1. B. Pembatasan cacat (disability limitation) dalam mencegah terjadinya penyakit ISPA dapat dilakukan dengan berbagai upaya diantaranya: 1. 2. psikologis dan sosial secara optimal. Tinjauan Tentang Balita Balita yaitu bayi yang berusia di bawah 5 tahun. Pencegahan terhadap komplikasi dan kecacatan 3.

Pada usia ini anak mulai bergaul dengan lingkungannya atau bersekolah playgroup sehingga anak mengalami beberapa perubahan dalam perilaku. Karakteristik Batita Anak usia 1-3 tahun merupakan konsumen pasif. 2. pola makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan frekuensi sering. artinya anak menerima makanan dari apa yang disediakan ibunya. Laju pertumbuhan masa batita lebih besar dari masa usia pra-sekolah sehingga diperlukan jumlah makanan yang relatif besar. Sedangkan usia prasekolah lebih dikenal sebagai konsumen aktif. Anak usia ini sudah mulai mengerti apa yang diinginkan dan mulai menunjukan komunikasi dengan dunia luar. Berdasarkan karakteristiknya balita usia 1-5 tahun dapat dibedakan menjadi dua. yaitu anak yang berumur 1-3 tahun yang dikenal dengan Batita merupakan konsumen pasif. Karakteristik Usia Pra-sekolah Pada usia pra-sekolah anak menjadi konsumen aktif. Pada masa ini anak akan mencapai fase gemar memprotes sehingga mereka akan mengatakan “tidak” terhadap setiap ajakan. Namun perut yang masih lebih kecil menyebabkan jumlah makanan yang mampu diterimanya dalam sekali makan lebih kecil dari anak yang usianya lebih besar.Balita juga amat peka terhadap penyakit. 2004) 1. Oleh karena itu. (Uripi. Mereka sudah dapat memilih makanan yang disukainya. 19 .

Perkembangan fisik Di awal balita. darah. berjinjit. memanjat. Pada fase ini anak berkembang dengan sangat pesat karena balita memiliki ciri khas perkembangan menurun disebabkan banyaknya energi untuk bergerak (Choirunisa. pertambahan berat badan Balita merupakan singkatan bawah lima tahun. melompat. satu periode usia manusia dengan rentang usia dua hingga lima tahun. otot. menggenggam. Tahap-tahap usia prasekolah (Wikipedia. serta kemampuan intelektual anak seperti menyebutkan nama atau bercerita lainnya. sebagai berikut : 1. melempar yang 20 . berguling. Sedangkan kemampuan motorik dan emosional anak mencakup sikap anak dalam lingkungan. balita mulai terampil dalam pergerakanya (lokomotion). ada juga yang menyebut dengan periode usia prasekolah. Perkembangan fisik yaitu hasil tumbuh kembang fisik adalah bertumbuh besarnya ukuran-ukuran antropometrik dan gejala/tanda lain pada rambut. serta jaringan lemak. Perkembangan Psikologis Dari sisi psikomotor. 2. 2009). gigi-geligi.Karakteristik anak pra-sekolah ini mencakup perkembangan fisik dan kemampuan motorik serta emosional anak. dan lainnya. seperti berlari. gerakan anggota badan. 2009 ).

pada usia lima tahun telah menjadi diatas 1000 kosa kata. mengikat tali sepatu. Beberapa faktor penyebab kematian maupun yang berperan dalam proses tumbuh kembang balita yaitu: diare dan Infeksi Saluran 21 . Pada usia tiga tahun balita mulai berbicara dengan kalimat sederhana berisi tiga kata dan mulai mempelajari tata bahasa dari bahasa ibunya (Choirunisa. Dari sisi kognitif. Pada akhir periode balita kemampuan motorik halus anak juga mulai terlatih seperti meronce. 2009). dan pelayanan kesehatan. Masalah kesehatan balita merupakan masalah nasional mengingat angka kesakitan dan angka kematian pada balita masih cukup tinggi. menulis. gizi kurang.berguna untuk mengelola keseimbangan tubuh dan mempertahankan rentang atensi. Angka kesakitan mencerminkan keadaan yang sesungguhnya sebab kesemuanya berkaitan erat dengan faktor lingkungan seperti perumahan. menggunakan gerakan pincer yaitu memegang benda dengan hanya menggunakan jari telunjuk dan ibu jari seperti memegang alat tulis atau mencubit serta memegang sendok dan menyuapkan makanan kemulutnya. Kemampuan bahasa balita tumbuh dengan pesat. kemiskinan. Balita diharapkan tumbuh dan berkembang dalam keadaan sehat jasmani sosial dan bukan hanya bebas dari penyakit dan kelemahan. menggambar. pemahaman tehadap obyek telah lebih ajeg. Pada periode awal balita yaitu usia dua tahun kosa kata rata-rata balita adalah 50 kata.

Tinjauan Tentang Status Gizi 1. Pengertian Status Gizi Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. 2004). Gangguan gizi terjadi baik pada status gizi kurang. maupun status gizi lebih (Almatsier. sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik. baik. C. dan pendidikan kesehatan pada orang tua (Kardjati. Status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan. Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial. pemeriksaan perkembangan kecerdasan. dan lebih. Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. imunisasi. Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor risiko yang penting untuk terjadinya ISPA. kegiatan yang dilakukan terhadap balita antara lain pemeriksaan penyakit infeksi. kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Beberapa penelitian telah membuktikan tentang adanya hubungan antara gizi buruk dan 22 . kurang. dibedakan antara status gizi buruk. 2000). perbaikan gizi. Untuk itu. sehingga menimbulkan efek toksis atau membahayakan. perkembangan otak.Pernapasan Akut (ISPA). Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien.

Penyakit infeksi sendiri akan menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu makan. 2. statistik vital dan faktor ekologi. Menurut jelliffe (1996) dalam Effendy DS (2009). Kombinasi antara beberapa parameter disebut indeks antropometri. 1) Penilaian Secara Langsung a) Antropometri Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Konsumsi zat gizi yang kurang baik kualitas maupun kuantitasnya akan mengakibatkan kekurangan gizi (Wiboworini. 2007). biokimia dan biofisik. Adapun penilaian secara langsung dibagi menjadi empat penilaian yaitu antropometri. Sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung terbagi atas tiga yaitu survei konsumsi makanan. Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang ISPA dibandingkan balita dengan gizi normal karena faktor daya tahan tubuh yang kurang.infeksi paru. antropometri gizi adalah pengukuran terhadap berbagai 23 . klinis. Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Penilaian Status Gizi Penilaian status gizi terbagi atas penilaian secara langsung dan penilaian secara tidak langsung.

24 . antropometri digunakan untuk mendiagnosa kegagalan tumbuh kembang dan kelebihan berat badan pada anak.. 3. Prosedurnya sederhana. karena dapat dibakukan. Penggunaan antropometri dalam penilaian status gizi secara luas digunakan baik untuk menilai ketidakseimbangan antara asupan energi dan protein. Alatnya murah. 7. Dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu.macam dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari bernagai tingkat luas digunakan umur dan tingkat gizi. Dapat manggambarkan riwayat gizi masa lampau. sedang. Umumnya dapat mengidentifikasi malnutrisi ringan. 5. mudah dibawa dan dapat dibuat/ dipesan di daerah setempat. 4. 6. aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel yang besar. tetapi cukup dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih. yaitu (Supariasa dkk. Metodenya tepat dan akurat. Pada Negara maju. 2001): 1. Relativ tidak membutuhkan tenaga ahli. atau dari satu generasi ke generasi berikutnya. Penggunaan antropometri untuk menilai status gizi mempunyai banyak keuntungan. 2. atau buruk.

8. 2009). Tidak bisa digunakan untuk mendeteksi status gizi dalam waktu singkat. 25 . 1991 dalam Effendy DS. Disamping mempunyai kelebihan juga terdapat keterbatasan dalam penggunaan antropometri yaitu (Gibson R. a. Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). Dapat digunakan untuk penampisan kelompok yang rawan gizi. dan Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). 2009): 1. Tidak bisa mengidentifikasi berbagai kekurangan yang spesifik sehingga tidak bisa dipakai untuk membedakan gangguan pertumbuhan dan komposisi tubuh yang disebabkan oleh kekurangan zat gizi tertentu. Berat Badan menurut Umur ( BB/U) Berat badan merupakan indikator yang baik untuk status gizi pada anak. 2009). yaitu Berat Badan menurut Umur (BB/U). 2.. 1983 dalam Effendy DS. Kegagalan penambahan berat badan adalah salah satu tanda awal terjadinya malnutrisi (McLaren et al. khususnya pada usia di bawah lima tahun (Cameron M and Hovfander Y. Beberapa indeks antropometri yang biasa digunakan. 2005 dalam Effendy DS.

Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang relatif lama. 2005 dalam Effendy. Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) Indeks BB/TB digunakan untuk menilai status gizi saat kini. 2002). c. Oleh karena itu. Keuntungan dari penggunaan indeks BB/TB adalah indeks ini tidak tergantung pada umur (umur 1-10 tahun) dan mungkin juga independent terhadap ras. Indeks tinggi badan menurut umur memberikan gambaran status gizi masa lampau dan berkaitan erat dengan status sosial ekonomi. indeks ini lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini (curreunt nutritional status) (Supariasa dkk. Indeks BB/TB juga berguna dalam evaluasi manfaat program intervensi. menurunnya nafsu makan atau menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi.. 2009). Berat badan lebih/sangat sensitif terhadap perubahan keadaan yang mendadak misalnya adanya infeksi. dimana 26 .Indeks berat badan menurut umur digunakan untuk menilai kurang energi protein dan adanya kelebihan gizi (Gibson R. b. Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) Pertumbuhan tinggi badan relatif kurang sensitif terhadap masalah kurang gizi dalam waktu yang pendek.

2002). TB/U. atau BB/TB. untuk mengidentifikasi wasting (Gibson R. Berbagai indeks antropometri tersebut. 1990 dalam Effendy DS. 2009). Bila “nilai Riel” hasil pengukuran < “nilai Median” BB/U.. dibutuhkan ambang batas.indeks ini lebih sensitif pada perubahan dalam status gizi dibandingkan Tinggi Badan terhadap Umur. Indeks ini juga seringkali digunakan dalam penilaian gizi pasien di rumah sakit. Rumus perhitungan Z-Skor (Dr. Selain itu. atau BB/TB. TB/U. maka: Z-Skor=Nilai Riel-Nilai median SD lower 27 . 2002) adalah : 1. untuk menginterpretasinya. Kelemahan indeks BB/TB adalah indeks ini tidak dapat menggambarkan apakah anak yang dinilai tersebut pendek atau cukup tinggi badan menurut umurnya.Benny. karena faktor umur tidak dipertimbangkan. adanya edema bisa mempersulit penafsiran hasil pengukuran (Supariasa dkk. Bila “nilai Riel” hasil pengukuran >= “nilai Median” BB/U. maka: Z-Skor=Nilai Riel-Nilai median SD upper 2. Penentuan ambang batas yang paling umum digunakan saat ini adalah dengan memakai standar deviasi unit (SD) atau disebut ZSkor.

2001). Jaringan tubuh yang digunakan antara lain darah. 2001).. urine. mata. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervicial epithelial tissues) seperti kulit. d) Biofisik Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan (Supariasa dkk.b) Klinis Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat.. 2001). Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. 2) Penilaian Secara Tidak Langsung a) Survei Konsumsi Makanan 28 . tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot (Supariasa dkk. c) Biokimia Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid (Supariasa dkk..

biologis dan lingkungan budaya. 2001). Metode esthimated food record. Metode penimbangan makanan (food weighting). Pemilihan metode yang akan digunakan untuk menulai status gzi perlu mempertimbangkan beberapa factor.. Metode dietary history. 2001).. c) Faktor Ekologi Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik.Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. b) Statistik Vital Pengukuran gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur. irigasi dan lain-lain (Supariasa dkk. angka kesakitan dan kematian sebagai akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi (Supariasa dkk. unit sampel yang akan diukur. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim. tanah. Metode survei konsumsi makanan untu individu antara lain: Metode recall 24 jam. jenis informasi yang dibutuhkan. tingkat reabilitas dan akurasi 29 . dan Metode frekuensi makanan (food frequency). yaitu : tujuan pengukuran.

Muller (2007) dalam Adawiah (2009).yang dibutuhkan. Tinjauan Tentang Perumahan 1. 2002). matahari. tenaga waktu dan dana yang tersedia (Supariasa dkk. 2002). Sedangkan pengertian rumah menurut Surat Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 403/KPTS/M02002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga (Depkes RI. D. 30 . Pengertian Rumah Sehat Pengertian rumah sehat menurut Surat Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 403/KPTS/M02002 adalah rumah sebagai tempat tinggal yang memenuhi ketetapan atau ketentuan teknis kesehatan yang wajib dipenuhi dalam rangka melindungi penghuni rumah dari bahaya atau gangguan kesehatan. Pengertian Rumah Menurut J.. rumah merupakan tempat untuk berlindung atau bernaung dari hubungan keadaan alam sekitarnya (misalnya hujan. 2. tersedianya fasilitas dan peralatan. dan lain-lain) serta merupakan tempat untuk beristrahat setelah bertugas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Memenuhi Kebutuhan Fisiologi 1) Suhu ruangan. perumahan sehat adalah suatu tempat untuk tinggal secara permanen. Bila cahaya yang masuk ke dalam rumah kurang terutama cahaya matahari disamping kurang nyaman juga merupakan 31 .sehingga memungkinkan penghuni memperoleh derajat kesehatan yang optimal (Depkes RI. berekreasi dan sebagai tempat berlindung dari pengaruh lingkungan yang memenuhi persyaratan fisiologi. dan suhu benda-benda di sekitarnya. beristrahat. Rumah sehat memerlukan cahaya yang cukup. berfungsi sebagai tempat untuk bermukim. 2002). bebas dari penularan penyakit dan kecelakaan (Candra. 2006). 3. Menurut Winslow dan American Public Health Association (APHA). Oleh sebab itu diperlukan syarat perumahan. Menurut Winslow dan APHA bahwa rumah sehat harus memiliki beberapa persyaratan sebagai berikut : a. 2) Pencahayaan. psikologi. Persyaratan Rumah Sehat Perumahan harus menjamin kesehatan penghuninya dalam arti luas. kelembaban udara. Suhu ruangan tergantung pada suhu udara luar. Suhu ruangan harus selalu dijaga agar jangan banyak berubah dan sebaiknya tetap berkisar antara 18ºC20oC. pergerakan udara.

4) Ruangan atau kamar diperhitungkan berdasarkan jumlah penghuni atau jumlah orang yang tinggal bersama di dalam satu rumah atau sekitar 5 m2 per orang. 3) Anggota keluarga yang mendekati dewasa harus mempunyai ruangan tersendiri sehingga privacy-nya tidak terganggu. Untuk itu rumah harus cukup mempunyai jendela. cara pengaturannya harus memenuhi rasa keindahan sehingga rumah tersebut menjadi pusat kesenangan rumah tangga yang sehat. Sebaliknya bila terlalu banyak cahaya dalam rumah akan menyebabkan kesilauan dan dapat merusak mata. jadi harus ada ruangan untuk menerima tamu. 2) Adanya jaminan kebebasan yang cukup bagi setiap anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut. 32 . 4) Harus ada ruangan yang menjalankan kehidupan keluarga dimana semua anggota keluarga dapat berkumpul. Susunan ruangan harus sedemikian rupa sehingga udara dapat mengalir bebas bila jendela dibuka. 5) Harus ada ruangan untuk hidup bermasyarakat. b. Pertukaran hawa yang cukup menyebabkan hawa tetap segar. Memenuhi Kebutuhan Psikologi 1) Keadaan rumah dan sekitarnya. Luas jendela keseluruhan adalah 15% dari luas lantai. 3) Penghawaan.media atau tempat yang baik untuk hidup dan berkembangnya bibit penyakit.

tempat lain terutama untuk anak-anak. dapat dilihat dari segi bahan bangunan serta konstruksinya yang menentukan apakah suatu rumah mudah rusak. terbakar. 2) Harus ada tempat pembuangan kotoran. lembab. Slamet (2004) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan perumahan adalah: a. kolam. 2) Sarana pencegahan terjadinya kecelakaan di sumur. 3) Diusahakan agar tidak mudah terbakar. cukup kualitas dan kuantitasnya. 33 . sampah. Mencegah Terjadinya Kecelakaan 1) Konstruksi rumah dan bahan-bahan harus kuat sehingga tidak mudah ambruk. lalat. bising dan lain-lain. panas. Kualitas bangunan.c. rumah harus memiliki syarat-syarat: 1) Adanya sumber air yang sehat. dan tempat. mudah menjadi sarang pembawa penyakit. tikus dan sebagainya. Mencegah Penularan Penyakit Untuk mencegah penularan penyakit. dan air limbah yang baik. 4) Adanya alat pemadam kebakaran terutama mempergunakan gas. d. 3) Harus dapat mencegah perkembangbiakan vektor seperti nyamuk.

akan menunjang terjadinya penyakit. Lantai Rumah Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya. kepadatan penghuni ini sangat bermakna pengaruhnya karena kepadatan penghuni sangat menentukan insidensi penyakit maupun kematian. Segala fasilitas yang disediakan apabila tidak dipelihara dengan baik. E. artinya luas lantai bangunan rumah tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya. tanah yang berasal dari tempat lain dapat mengandung bakteri. Pemanfaatan atau penggunaan rumah. tetapi apabila penggunaannya tidak sesuai dengan peruntukannya maka dapat terjadi gangguan kesehatan. terutama di negara seperti Indonesia. banyak mengandung debu. dimana masih banyak sekali terdapat penyakit menular. Banyak rumah yang secara teknis memenuhi syarat kesehatan. Berdasarkan aspek kesehatan. Tinjauan Tentang Kondisi Fisik Rumah 1. d. Misalnya rumah yang dibangun untuk dihuni 4 orang tetapi dihuni oleh lebih dari semestinya. c. Contoh lantai yang tidak dibersihkan. Pemeliharaan rumah. Luas bangunan 34 . Denah rumah menentukan cukup tidaknya jumlah ruangan yang tersedia terhadap jumlah penghuni serta berbagai kegiatan. penyakit pernapasan dan semua penyakit yang menyebar lewat udara menjadi lebih mudah sekali menyebar.b.

namun disamping mahal. 2002 dalam Adawiah. tembok sebenarnya kurang cocok untuk daerah tropis lebih–lebih bila ventilasi tidak cukup. Rumah yang berdinding tidak rapat seperti papan. Lantai yang baik adalah lantai yang dalam keadaan kering dan tidak lembab. Hal ini tidak sehat. Luas bangunan rumah yang optimum adalah 2. 2. kayu dan bambu dapat menyebabkan penyakit pernafasan yang berkelanjutan seperti ISPA. sebab disamping menyebabkan kurangnya konsumsi O2 juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi.5–3 m2 untuk setiap orang (Notoatmodjo. 2009). Dinding Rumah Rumah yang menggunakan dinding tembok adalah baik.rumah yang tidak sesuai dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan perjubelan (overcrowded). 2007). akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain. Jenis dinding mempengaruhi terjadinya ISPA. Bahan lantai harus kedap air dan mudah dibersihkan. Lantai rumah dapat mempengaruhi terjadinya penyakit ISPA karena lantai yang tidak memenuhi standar merupakan media yang baik untuk perkembangbiakan bakteri atau virus penyebab ISPA. jadi paling tidak lantai perlu diplester dan akan lebih baik kalau dilapisi ubin atau keramik yang mudah dibersihkan (Ditjen PPM dan PLP. karena dinding yang 35 . karena angin malam yang langsung masuk ke dalam rumah.

mulai dari atap asbes yang murah meriah sampai atap genteng keramik yang terlihat mengkilat. Atap asbes lebih murah dari segi harga bahan dan biaya pemasangan. namun beberapa wilayah di Indonesia juga menggunakan atap dari bahan kayu ataupun rumbia. 2003). dengan menggunakan atap asbes kayu rangka yang digunakan lebih sedikit karena atap asbes cenderung lebih lebar dibanding atap dari genteng. 36 . Tetapi atap asbes cenderung lebih panas karena pori-porinya yang lebih kecil dan tidak menetralisir panas. Hasil penelitian yang dilakukan Toanubun (2003) di Desa Tual Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara. Berbagai jenis atap tersebut memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. 3. Atap genteng atau tanah liat lebih mahal dalam hal biaya dan pemasangan daripada atap asbes dan metal. Saat ini atap bangunan semakin beragam. sehingga akan dijadikan sebagai media yang baik bagi berkembangbiaknya kuman (Suryanto. abu pada asbes cenderung berbahaya bagi kesehatan. Tetapi atap genteng lebih sejuk karena pori-pori dalam genteng dan tidak mudah terbang ketika terkena angin kencang. Atap Rumah Atap rumah dahulu biasa dibuat dari tanah liat atau yang biasa disebut dengan genteng.sulit dibersihkan akan menyebabkan penumpukan debu. Bahkan.

F. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni > 2 orang. Kondisi ini menyebabkan tingginya angka kejadian ISPA pada balita (Sulistyorini. tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia.menunjukkan bahwa atap rumah rata-rata di Desa Tual memakai atap genting dan tidak diberi langit-langit. Luas minimum per orang sangat relatif. Secara umum penilaian kepadatan penghuni dengan menggunakan ketentuan standar minimum. kecuali untuk suami istri dan anak dibawah dua tahun. 1989). Untuk perumahan sederhana. Untuk kamar tidur diperlukan minimum 2 orang. Hal ini disebabkan karena keterbatasan biaya keluarga. 1989). Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh perumahan biasa dinyatakan dalam m² per orang. yaitu kepadatan penghuni yang memenuhi syarat kesehatan diperoleh dari hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah penghuni >10 m²/orang dan kepadatan penghuni 37 . 2005). minimum 8 m²/orang. Tinjauan Tentang Kepadatan Hunian Kepadatan penghuni adalah perbandingan antara luas lantai rumah dengan jumlah anggota keluarga dalam satu rumah tinggal (Lubis. sehingga debu yang langsung masuk ke dalam rumah mengganggu saluran pernapasan pada balita yang ada di desa tersebut. Apabila ada anggota keluarga yang menjadi penderita penyakit ISPA sebaiknya tidak tidur dengan anggota keluarga lainnya (lubis.

Menurut hasil penelitian Hidayati (2003) yang di kutip oleh Agustama (2005) menunjukkan bahwa dengan kepadatan rumah yang tidak memenuhi syarat terhadap terjadinya ISPA pada balita sebesar 68% dimana jika terjadi kepadatan dalam hunian kamar akan menyebabkan efek negatif terhadap kesehatan fisik. Hal ini sesuai dengan penelitian Achmadi (1990) yang dikutip oleh Chahaya (2005). 1989). mental maupun moril. Rumah dengan penghuni kamar yang padat akan memudahkan terjadinya penularan penyakit saluran pernapasan. bahwa rumah yang padat sering kali menimbulkan gangguan pernapasan terutama pada anak-anak dan pengaruh lain pada anakanak adalah mereka menekan tumbuh kembang mentalnya. dimana semakin banyak jumlah penghuni maka akan semakin cepat udara di dalam rumah akan mengalami pencemaran.tidak memenuhi syarat kesehatan bila diperoleh hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah penghuni < 10 m²/orang (Lubis. 38 . Kepadatan hunian dapat mempengaruhi kualitas udara di dalam rumah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful