P. 1
Kajian Reservat Perikanan di Tulang Bawang Lampung Oleh Indra Gumay Yudha

Kajian Reservat Perikanan di Tulang Bawang Lampung Oleh Indra Gumay Yudha

4.0

|Views: 1,628|Likes:
Published by Indra Gumay Yudha
Kajian tentang usulan reservat perikanan di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, untuk melindungi keberadaan ikan-ikan lokal yang terancam punah
Kajian tentang usulan reservat perikanan di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, untuk melindungi keberadaan ikan-ikan lokal yang terancam punah

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Indra Gumay Yudha on May 18, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/03/2013

pdf

text

original

Dari seluruh luas perairan umum yang ada di Indonesia, baru sebagian kecil saja yang

dimanfaatkan sebagai reservat yang lokasinya tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

Pembinaan reservat yang telah dilakukan di beberapa daerah masih terbatas pada

perlindungan pada musim pemijahan atau pada waktu air surut, restocking, dan

pengendalian gulma air; sedangkan binaan untuk pengembangan kegiatan yang lain,

seperti penetapan zonasi, peningkatan fungsi dan peranan reservat masih belum

dilakukan. Hal ini mungkin disebabkan karena adanya kendala dan keterbatasan yang

dihadapi oleh masing-masing daerah.

Kebijakan pemerintah dalam melakukan kegiatan reservat di berbagai daerah pada

dasarnya telah jelas dinyatakan dalam UU Dasar 1945 Pasal 33 ayat (3) dan ayat (4),

yaitu:

• Ayat (3): menekankan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya, dikuasai oleh Negara dan dimanfaatkan sebesarnya-besarnya untuk

kemakmuran rakyat.

• Ayat (4): menekankan bahwa perekonomian nasional diselenggarakan antara
lain berdasarkan atas prinsip keberlanjutan dan berwawasan lingkungan.

INDRA GUMAY YUDHA: Kajian Usulan Kawasan Reservat Ikan Air Tawar di Kabupaten Tulang Bawang

10

Adapun undang-undang dan peraturan-peraturan lainnya yang menjadi dasar dalam

pengelolaan lahan basah (termasuk rawa-rawa) untuk kegiatan reservat, antara lain

adalah:

• UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Antara lain
berisi tentang asas, tujuan dan sasaran; hak, kewajiban, dan peran masyarakat;

wewenang pemerintah; upaya pelestarian fungsi; serta tata-cara penyeselesaian

sengketa dan penyidikan kasus-kasus mengenai pengelolaan lingkungan hidup.

• UU No. 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi PBB mengenai
Keanekaragaman Hayati (United Nations Convention on Biological

Diversity/CBD): Mengesahkan Konvensi PBB mengenai Keanekaragaman

Hayati yang antara lain berisi tentang tindakan umum bagi konservasi dan

pemanfaatan secara berkelanjutan; identifikasi dan pemantauan keanekaragaman

hayati; serta pengkajian dampak dan pengurangan dampak yang merugikan.

• UU No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang: Mengatur hal-hal yang
berkenaan dengan perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian tata ruang

(termasuk pemanfaatan ruang kawasan lindung); yang antara lain bertujuan

untuk meningkatkan pemanfaatan sumberdaya alam dan mencegah timbulnya

dampak negatif terhadap lingkungan.

• UU No. 5 Tahun 1990 tentang Pelestarian Sumberdaya Alam Hayati dan
Ekosistemnya: Mengatur hal-hal yang berkenaan dengan usaha perlindungan

seperti perlindungan sistem penyangga, pengawetan keanekaragaman jenis,

aktivitas apa saja yang dilarang, dan sanksi-sanksi bagi pelanggarnya.

• UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan: Mengatur hal-hal yang berkenaan
dengan pengelolaan, pemanfaatan, dan pengawasan sumberdaya ikan termasuk

habitatnya

• UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air: Undang-undang ini
menegaskan bahwa sumber daya air harus dikelola secara menyeluruh, terpadu,

dan berwawasan lingkungan hidup dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan

sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

INDRA GUMAY YUDHA: Kajian Usulan Kawasan Reservat Ikan Air Tawar di Kabupaten Tulang Bawang

11

Sumberdaya air juga memiliki fungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi

sehingga pengelolaannya harus dilakukan secara seimbang.

• PP No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar :
Mengatur masalah pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar, yang antara lain

meliputi: pengkajian, penelitian, pengembangan, penangkapan, perburuan,

perdagangan, peragaan, pertukaran, budidaya tanaman obat-obatan,

pemeliharaan untuk kesenangan, pengiriman dan pengangkutan, serta sanksi.

• PP No. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian
Alam: antara lain berisi tentang definisi, asas, tujuan, serta kriteria Kawasan

Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam; pengawetan keanekaragaman jenis

tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; serta pemanfaatan sumber daya alam

hayati dan ekosistemnya (kecuali pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa serta

kegiatan kepariwisataaan di zona pemanfaatan).

• PP No. 35 Tahun 1991 tentang Sungai: Antara lain berisi tentang penguasaan
sungai; fungsi sungai; wewenang dan tanggung jawab pembinaan; perencanaan

sungai, pembangunan bangunan sungai; eksploitasi dan pemeliharaan sungai dan

bangunan sungai; pembangunan, pengelolaan, dan pengamanan waduk;

pengamanan sungai dan bangunan sungai; kewajiban dan larangan; pembiayaan;

serta ketentuan pidana.

• PP No. 27 Tahun 1991 tentang Rawa: Lingkup pengaturan rawa dalam Peraturan
Pemerintah ini adalah penyelenggaraan konservasi rawa yang meliputi

perlindungan, pengawetan secara lestari dan pemanfaatan rawa sebagai

ekosistem sumber air.

• Keppres No.48 Tahun 1991 mengenai Pengesahan Convention on Wetlands of
International Importance Especially as Waterfowl Habitat : Konvensi ini berisi

tentang ketentuan konservasi lahan basah dan situs-situs lahan basah yang

mempunyai kepentingan internasional. Pada pengesahan tersebut Pemerintah RI

telah mengajukan Taman Nasional Berbak di Jambi sebagai lahan basah yang

memiliki nilai penting secara internasional untuk dilindungi.

INDRA GUMAY YUDHA: Kajian Usulan Kawasan Reservat Ikan Air Tawar di Kabupaten Tulang Bawang

12

• Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung :
Menerangkan tentang ruang lingkup kawasan lindung; pokok kebijaksanaan

kawasan lindung (meliputi kriteria jenis-jenis kawasan lindung dan tujuan

perlindungannya); tata cara penetapan kawasan lindung; serta upaya

pengendalian kawasan lindung.

• Keppres No. 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Konvensi Internasional
mengenai Perdagangan Spesies Flora dan Fauna yang Terancam Punah

(Convention on International Trade of Endangered Species of wild Plants and

Animals/ CITES): Berisi tentang pembatasan, pelarangan, dan pemantauan

terhadap jenis flora dan fauna (terutama yang terancam punah). Konvensi ini

terdiri dari tiga lampiran; Lampiran 1 berisi tentang kategori spesies yang

terancam punah yang kemungkinan besar disebabkan karena adanya

perdagangan spesies tersebut; Lampiran II berisi tentang daftar semua spesies

yang masuk dalam kategori tidak benar-benar terancam punah, namun akan

menjadi terancam jika perdagangan spesiesnya tidak dikontrol dengan ketat; dan

Lampiran III berisi tentang kategori spesies di mana suatu negara

menganggapnya perlu untuk diatur dalam yurisdiksinya dengan tujuan

mencegah atau membatasi eksploitasi.

Sehubungan dengan kegiatan reservat di Indonesia, beberapa contoh reservat yang ada

disajikan pada Tabel 7. berikut.

Tabel 7. Beberapa contoh reservat yang ada di Indonesia

No.

Provinsi/lokasi

Luas (ha)

Kepentingan

1.

Kalimantan Timur:
• Danau Jempang
• Danau Semayang
• Danau Melintang
• Danau Tempatung
• Danau Gnayam

15.000
13.000
11.000
1.300
900

Perlindungan ikan pesut
Perlindungan ikan pesut
Perlindungan ikan pesut
Perlindungan ikan pesut
Perlindungan ikan pesut

2.

Kalimantan Tengah:
• Danau Lagon
• Danau Rangkas
• Danau Kitang
• Danau Limus
• Danau Bulan
• Danau Bintang
• Danau Botong
• Danau Maso Ruyan

100
35
30
30
25
20
10
10

Perlindungan Arowana
Perlindungan Arowana
Perlindungan Arowana
Perlindungan Arowana
Perlindungan Arowana
Perlindungan Arowana
Perlindungan Arowana
Perlindungan Arowana

INDRA GUMAY YUDHA: Kajian Usulan Kawasan Reservat Ikan Air Tawar di Kabupaten Tulang Bawang

13

3.

DI Aceh:

• Danau Laut Air Tawar

700

Perlindungan ikan endemik

4.

Sumatera Utara
• Danau Toba

113.000

Perlindungan ikan batak dan remis toba

5.

Sumatera Barat:
• Danau Singkarak
• Danau Diatas
• Danau Dibawah
• Danau Maninjau

11.000
3.600
1.200
900

Perlindungan ikan selusur maninjau dan bilih
Perlindungan ikan selusur maninjau dan bilih
Perlindungan ikan selusur maninjau dan bilih
Perlindungan ikan selusur maninjau dan bilih

6.

Sumatera Selatan:
• Danau Ranau
• Lebung Lampan
• Teluk Rasau
• Danau Raya
• Danau Ulak Lia
• Lebung Karangan

6.000
1.200
180
100
30
22

Perlindungan ikan Arowana
Perlindungan ikan Arowana
Perlindungan ikan Arowana
Perlindungan ikan Arowana
Perlindungan ikan Arowana
Perlindungan ikan Arowana

7.

Jambi:

• Danau Kerinci

6.000

Perlindungan ikan Arowana, botia, semah dan
hampal

8.

Sulawesi Selatan:
• Komplek Danau Tempe

15.000

Perlindungan ikan endemik

9.

Sulawesi Utara:
• Danau Limboto
• Danau Tondano
• Danau Moat

6.000
6.000
960

Perlindungan ikan Payangka
Perlindungan ikan Payangka
Perlindungan anguilla

10. NTB:

• Danau Taliwang

856

Perlindungan ikan endemik

Sumber: Ditjen Perikanan (1997)

Beberapa daerah di Indonesia hingga saat ini telah menambah jumlah reservat yang

dimilikinya. Hal ini tidak terlepas dari peranan Departemen Kelautan dan Perikanan RI

yang terus berupaya untuk mewujudkan keberadaan kawasan konservasi di perairan

umum. Sebagai contoh, Kalimantan Timur telah menambah areal reservat dengan

sedikitnya sebelas danau yang dikonservasi. Sebelas danau yang menjadi suaka ikan itu

adalah Danau Batu Bumbun, Loa Kang, Teluk Kademba, Teluk Berduit, Teluk Selimau,

Ngayan, Danau Padam Api, Tanah Liat, Gab, Sungai Batangan Muntai, serta Danau

Jantur Malang. Dalam kondisi baik, danau reservat itu bisa menjadi tempat

perlindungan ikan pada saat kemarau ekstrem yang mengeringkan air tiga danau utama.

Reservat yang berupa cekungan dalam biasanya masih terisi air pada saat kemarau.

Di Provinsi Kalimantan Selatan setidaknya terdapat 31 daerah suaka perikanan yang

baru. Daerah suaka perikanan tersebut adalah: 2 lokasi di Tapin-di antaranya di Rawa

Muning, 1 lokasi di Hulu Sungai Selatan-yaitu di Danau Bangkau, 11 lokasi di Hulu

Sungai Tengah-di antaranya di Panalatan, 15 lokasi di Hulu Sungai Utara-di antaranya

di Banyu Hirang dan Danau Panggang, 11 di Tabalong-di antaranya di Undalan Sungai

INDRA GUMAY YUDHA: Kajian Usulan Kawasan Reservat Ikan Air Tawar di Kabupaten Tulang Bawang

14

Talan, dan satu lokasi di Banjar-yaitu di Alalak Padang. Selain kegiatan restocking dan

budidaya, Kalsel juga menjanjikan konservasi ikan lokal dengan manajemen

penangkapan yang lestari. Di beberapa tempat kelompok petani sudah menjalankan

manajemen penangkapan ikan dengan kaidah lestari. Saat kemarau, penangkapan di

beberapa tempat harus dicegah agar ikan-ikan tidak semuanya diambil. Pada musim

hujan terutama saat ikan memijah, masyarakat juga dilarang untuk menangkap ikan

tersebut,baik ikan indukan maupun anakannya. Di masa mendatang, konservasi ikan

lokal memang akan melibatkan masyarakat secara partisipatif untuk menjaga habitat

ikan yang menjadi sumber penghasilan masyarakat. Di beberapa tempat Sistem

Pengawasan Masyarakat (Siswamas) ini sudah berjalan. Walaupun Kalsel telah

menyiapkan program tersebut, hingga kini belum ada perangkat aturan yang bisa

dijadikan regulasi perikanan. Semua kebijakan yang terkait manajemen penangkapan

ikan masih berupa imbauan. Hanya penyetruman ikan dan penggunaan potas yang

mungkin bisa dijerat hukum; sementara menangkap ikan yang sedang memijah,

menangkap anakan ikan, dan menangkap ikan di bawah ukuran standar belum bisa

diproses. Larangan menangkap ikan lokal di daerah tertentu dan pada waktu tertentu

pun secara regulasi juga belum jelas diatur.

Di Provinsi Jambi hingga tahun 2005 terdapat 19 suaka perikanan yang ditetapkan oleh

DKP, antara lain: Danau Teluk Kenali (Kota Jambi) untuk suaka ikan baung, lambak,

betutu, dan udang; Lubuk Teluk Kayu Putih (Kabupaten Tebo) ditetapkan sebagai suaka

ikan arwana silver, botia, baung, dan lampam; Lubuk Batu Taman Ciri (Kabupaten

Merangin) dijadikan suaka ikan semah, lampam, nilem, dan sebarau; Lubuk Manik

(Kabupaten Bungo), Lubuk Sahab (Kerinci), kawasan laut Sungai Dualap (Tanjabar)

untuk suaka udang, kepiting, dan kakap; serta laut di Desa Lambur Lestari. Kenyataan

di lapangan, jumlah suaka perikanan jauh lebih besar dari yang ditetapkan, karena

banyak desa menjadikan sungai atau danau di desanya sebagai lubuk larangan.

Kawasan suaka dibagi tiga, yaitu zona inti, penyangga, dan ekonomi. Ikan di zona inti

selamanya tidak boleh ditangkap, di zona penyangga ditangkap sekali dua tahun, sedang

di zona ekonomi, ikan boleh ditangkap dua kali setahun, bahkan ada yang melelang.

Di Provinsi Lampung hingga tahun 2006 belum ada kawasan yang ditetapkan sebagai

daerah reservat di perairan umum. Mengingat rawa-rawa di sepanjang DAS Tulang

Bawang menyimpan sejumlah besar potensi ikan-ikan ekonomis penting, maka perlu

INDRA GUMAY YUDHA: Kajian Usulan Kawasan Reservat Ikan Air Tawar di Kabupaten Tulang Bawang

15

dipertimbangkan adanya suatu kawasan reservat. Dalam kaitannya dengan pengelolaan

dan pemanfaatan rawa-rawa ataupun perairan umum lainnya di wilayah Provinsi

Lampung, Pemerintah Provinsi Lampung telah mengeluarkan Surat Keputusan

Gubernur No.G/132/B.III/HK/1973 tertanggal 9 Juli 1973 tentang Peraturan Pelelangan

Lebak Lebung dan Muara Sungai/Kuala Sungai dalam Daerah Propinsi Lampung. Surat

Keputusan Gubernur ini pada dasarnya bertujuan untuk melindungi sumberdaya ikan

untuk dapat dikelola dengan baik dan dimanfaatkan secara bijaksana, sehingga tidak

menimbulkan kemerosotan produksi ikan dan memperkecil income pemerintah.

Dalam SK Gubernur tersebut jga dijelaskan beberapa hal sebagai berikut:

• Semua lebak lebung/muara sungai/kuala sungai dan yang sejenis yang berada
dalam daerah Provinsi Lampung yang dapat dijadikan tempat penangkapan dan

pemeliharaan ikan dikuasai langsung oleh dan dijadikan sumber penghasilan

daerah Provinsi Lampung.

• Yang ditetapkan sebagai lebak lebung/muara sungai/kuala sungai Kenegerian

adalah:

o Semua lebak lebung yang dari semula pengurusannya telah dikoordinir

oleh Kenegerian.

o Semua lebak lebung yang diusahakan oleh rakyat yang berada di sekitar

100 (seratus) meter jaraknya dari lebak lebung Kenegerian.

o Semua muara sungai/kuala sungai dalam Daerah Provinsi Lampung.

• Ijin pengusahaannya melalui pelelangan yang pelaksanaannya dilakukan oleh
suatu panitia pelelangan yang terdiri dari camat (ketua), mantri perikanan

(anggota), serta pamong desa dan staf (anggota).

• Hak penguasaan lebak lebung/muara sungai/kuala sungai untuk masa 1 (satu)

tahun.

• Pengawasan atas pengusahaan lebak lebung dilakukan oleh Dinas Perikanan dan
Camat setempat.

• Hasil pelelangan lebak lebung dipungut oleh camat sebagai bendaharawan
penerima, dengan ketentuan:

o 10% untuk administrasi dan panitia pelelangan

o 10% untuk pembinaan/pemeliharaan lebak lebung

o 30% untuk pembangunan kampung

INDRA GUMAY YUDHA: Kajian Usulan Kawasan Reservat Ikan Air Tawar di Kabupaten Tulang Bawang

16

o 25% untuk Daerah Tingkat II

o 25% untuk Daerah Tingkat I

Terkait dengan pencegahan kegiatan penangkapan ikan yang merusak, khususnya

penggunaan racun dan arus listrik (strum ikan), pemerintah Kabupaten Tulang Bawang

melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Tulang Bawang telah membentuk Kelompok

Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) Gattau Tejang Wilayah Menggalau, Bakung,

Gedung Aji dan Penawar dengan SK tertanggal 23 Desember 2003. Selain itu

himbauan agar masyarakat tidak melakukan illegal fishing tersebut juga kerap

dilakukan, antara lain dengan memasang papan himbauan yang tersebar di beberapa

desa. Penegakkan hukum juga dilakukan terhadap pelaku pelanggaran. Beberapa

pelaku telah diproses secara hukum.

Gambar 6. Himbauan agar masyarakat tidak menggunakan alat tangkap yang merusak

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->