Pemecahan masalah sistematik yang dilakukan oleh perusahaan yang berciri sebagai organisasi pembelajaran adalah mendasarkan diri

pada segi falsafah dan metode yang berorientasi pada mutu proses dan hasil. Hal demikian dicerminkan oleh ciri-ciri (1) lebih mengandalkan pada metode ilmiah ketimbang prakiraan-prakiraan intuisi saja dalam mendiagnosis masalah (penggunaan hipotesis), (2) lebih memerlukan dukungan data (manajemen berbasis fakta) daripada hanya asumsi-asumsi, dan (3) menggunakan alat statistik seperti histogram, analisis korelasi, dan diagram sebab dan akibat. ada model pemecahan masalah sistematik di atas. Para senior telah meluncurkan pola kepemimpinan melalui inisiatif bermutu. Para anggota dilatih dalam kegiatankegiatan kelompok kecil dan teknik pemecahan masalah. Para anggota disediakan pengetahuan penggunaan berbagai teknik dalam empat hal yakni pengembangan ide dan pengumpulan informasi seperti urun rembug, wawancara dan survei ; pencapaian konsensus ; analisis dan penampilan data seperti diagram sebab akibat; dan perencanaan aksi seperti bagan alur. Empat hal itu diberikan dalam suatu pelatihan beberapa hari bagi karyawan di dalam kelompok kecil. Isu-isu penting diungkapkan di dalam kelompok dan kemudian dianalisis dan dirumuskan pemecahan masalahannya. Hasilnya bagi organisasi sangat signifikan. Melalui proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu setiap karyawan sudah terbiasa untuk melakukan analisis masalah dan pemecahan masalah dalam bentuk penyusunan rencana aksi. Disamping berbentuk pemecahan masalah, kegiatan pembelajaran juga berbentuk eksperimen. Kegiatan ini menyangkut penelitian sistematik dan menguji pengetahuan baru. Untuk itu penggunaan metode ilmiah yang paralel dengan pemecahan masalah menjadi hal yang pokok. Eksperimen dilakukan dalam dua bentuk yakni program yang sedang berlangsung dan proyek-proyek percontohan. Eksperimen yang dilakukan pada program yang sedang berlangsung dilakukan secara serial ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dalam upaya meningkatkan produktifitas anggota dan mengurangi biaya. Keberhasilan pola ini didukung dengan pelatihan-pelatihan dan bahkan kalau perlu digunakan teknologi dari luar. Misalnya perusahaan atau organisasi besar, setelah menggunakan pola ini berhasil menjadi besar. Untuk itu diperlukan orang2 yang terlatih untuk merancang dan mengevaluasi eksperimen. Pelaksanaan Kegiatan2 dalam skala besar dan lebih kompleks dibanding dengan model eksperimen dari program yang sedang berjalan. Ciri-cirinya adalah bersifat holistik, adanya perubahan sistem, dan biasanya untuk mengembangkan keorganisasian yang baru. Inti dari kegiatan ini dimulai dari skala kecil kemudian diuji, dan kalau berhasil kemudian diterapkan. Untuk itu dibutuhkan sensitivitas para Pimpinana ketika menghadapi masalah dan terdorong untuk mengatasinya. Misalnya General Food’s Topeka, salahsatu perusahaan di USA yang komit dan berhasil dengan model proyek percontohan ini. Pendekatan yang dilakukan adalah memperkenalkan model tim yang mampu mengelola sendiri dan tingkat otonomi para karyawan yang tinggi. Interaksi diantara anggota kelompok begitu tinggi melalui proses diskusi dan praktik langsung pemecahan masalah. Dari kegiatan itu terbentuk sikap peduli dan komit yang tinggi terhadap setiap masalah yang dihadapi. Dari dua ilustrasi di atas terdapat beberapa hal yang dapat dirumuskan yaitu:

(2) Pendekatan dengan model ilmiah atau organisasi berbasis pengetahuan menjadi sisi pokok dalam mengembangkan lembaga sebagai organisasi pembelajaran. pimpinan yang tinggi.(1) Kunci keberhasilan Lembaga sebagai organisasi pembelajaran adalah adanya dukungan dan komitmen manajemen puncak. (3) Kelompok-kelompok belajar yang dipadukan dengan pendekatan mutu kerja menjadi sangat penting dan perlu dikembangkan oleh organisasi. disitu terdapat interaksi sesama anggota berupa alih pengetahuan yang aktif. (5) Pengetahuan dan kemampuan pimpinan dan anggota dalam bekerja semakin tinggi karena sudah memiliki kapabilitas tinggi dan adanya kepercayaan dari pihak atasan. . (4) Pelatihan bagi para anggota organisasi adalah sangat esensial dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan baru serta kalau perlu memperoleh pengetahuan dari pihak lain yang kemudian diuji coba kelayakan teknis oleh lembaga itu sendiri. dengan kata lain semakin tinggi mutu SDM semakin tinggi peluang untuk memperoleh pengetahuan yang lebih besar. dan (6) Adanya peningkatan mutu SDM dalam hal kemampuan analisis dan pemecahan masalah maka kinerja perusahaan menjadi lebih baik yang dicirikan oleh produktifitas tinggi dan biaya rendah.

mungkin tidak akan muncul kebutuhan untuk mempekerjakan para manajer. mengetahui manfaatnya bila kita memiliki lebih dari satu alternatif pemecahan masalah. Secara luas dapat diterima bahwa untuk meningkatan kualitas individu dan organisasi. Pengambilan keputusan yang tidak tepat. seperti halnya Pemimpin Eksekutif Porsche. serta menjadi inti dari gerakan peningkatan kualitas (quality improvement). dan memberikan bobot kepada semua implikasi yang dapat terjadi dari sebuah rencana. Salah satu bagian dari proses pemecahan masalah adalah pengambilan keputusan (decision making). 2002). termasuk para manajer mempunyai kecenderungan alamiah untuk memilih solusi pertama yang masuk akal yang muncul dalam benak mereka (March & Simon. A. merupakan pekerjaan yang mengandung unsur pemecahan masalah di dalamnya. Pemecahan masalah yang tidak optimal ini. Riley. yang salah satu cirinya adalah pada kemampuannya untuk memecahkan masalah. menjadi seorang manajer (Whetten & Cameron. akan mempengaruhi kualitas hasil dari pemecahan masalah yang dilakukan. Broekhuijsen. 1998). Ungkapan di atas memberikan gambaran yang jelas kepada kita semua bahwa sulit untuk menghindarkan diri kita dari masalah. Jarang sekali seseorang tidak menghadapi masalah dalam kehidupannya sehari-hari. saya akan menjelaskan secara singkat hal tersebut di atas. 2002). 1998). baik kehidupan sosial. bukan tidak mungkin dapat memunculkan masalah baru yang lebih rumit dibandingkan dengan masalah awal. pilihan pertama yang mereka ambil seringkali bukanlah solusi terbaik. sebelum menerapkan rencana yang bersangkutan. General Electric.Ada dua bentuk pemecahan masalah yakni : Pemecahan Masalah Secara Analitis dan Kreatif Pemecahan masalah didefinisikan sebagai suatu proses penghilangan perbedaan atau ketidak-sesuaian yang terjadi antara hasil yang diperoleh dan hasil yang diinginkan (Hunsaker. Untuk itulah penguasaan atas metode pemecahan masalah menjadi sangat penting. serta perbedaan-perbedaan yang ada diantara keduanya. Pekerjaan seorang manajer. Secara tipikal. Ichikawa. karena masalah telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita. & Weirdsma. Untuk itulah sulit untuk dapat diterima bila seorang yang tidak memiliki kompetensi untuk menyelesaikan masalah. Pemecahan Masalah Secara Analitis Metode penyelesaian masalah secara analitis merupakan pendekatan yang cukup terkenal dan digunakan oleh banyak perusahaan. 2005). secara khusus. Banyak organisasi besar (misalnya : Ford Motor Company. Pemecahan masalah dapat dilakukan melalui dua metode yang berbeda. Pelatihan ini penting agar para manajer dapat berfungsi efektif. yaitu proses penarikan kesimpulan terhadap suatu masalah tanpa melalui proses analisa masalah secara benar. Untuk dapat memberikan gambaran yang lebih baik tentang pemecahan masalah secara analitis dan kreatif. serta didukung oleh bukti-bukti atau informasi yang akurat. Sayangnya. Wendelin Wiedeking. 1986. Definisikan Masalah . 2005). agar kita terhindar dari tindakan Jump to conclusion. Dana) menghabiskan jutaan Dolar untuk mendidik para manajer mereka tentang metode pemecahan masalah ini sebagai bagian dari proses peningkatan kualitas yang ada di organisasi mereka (Whetten & Cameron. dibanding solusi yang optimal atau yang ideal (Whetten & Cameron. I. yang didefinisikan sebagai memilih solusi terbaik dari sejumlah alternatif yang tersedia (Hunsaker. 1994. 1988. 2002). Ada kecenderungan bahwa orang-orang. langkah penting yang perlu dilakukan adalah mempelajari dan menerapkan metode pemecahan masalah secara analitis (Juran. mengetahui cara mengumpulkan dan mengevaluasi informasi yang dapat menerangkan tentang masalah yang terjadi. dalam pemecahan masalah. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Hunsaker (2005) yang menyatakan bahwa manajer yang efektif. maupun kehidupan profesional kita. Bila tidak ada masalah di dalam banyak organisasi. Koopman. Kemampuan untuk melakukan pemecahan masalah adalah ketrampilan yang dibutuhkan oleh hampir semua orang dalam setiap aspek kehidupannya. 1958. yaitu analitis dan kreatif. March. maka pada bagian berikut . kebanyakan orang menerapkan solusi yang kurang dapat diterima atau kurang memuaskan.

Alternatif-alternatif yang diusulkan harus dapat menyelesaikan masalah yang telah didefinisikan dengan baik. Cara kerja yang lambat. kita perlu melakukan diagnosis terhadap sebuah situasi. maka dalam proses mendefiniskan suatu masalah. Kritik dapat menjadi penghambat baik terhadap proses organisasi maupun proses pembuatan alternatif pemecahan masalah. Buat Alternatif Pemecahan Masalah. Contoh : Pengurangan jumlah tenaga kerja. diperlukan upaya untuk mencari informasi yang diperlukan sebanyak-banyaknya. tidak secara langsung mempengaruhi pemecahan masalah utama yang sedang terjadi. Berikut ini adalah beberapa karakteristik dari pendefinisian masalah yang baik: • • • • • • Fakta dipisahkan dari opini atau spekulasi. sebelum alternatif solusi-solusi yang ada diusulkan. bisa saja hanya sebuah gejala dari permasalahan yang lebih mendasar lagi. Masalah lainnya yang muncul. Definisi yang dibuat bukanlah seperti sebuah solusi yang samar. kita diharapkan dapat menunda untuk memilih hanya satu solusi. namun kepada karyawan yang terkena dampak diberikan paket kompensasi yang menarik. Alternatif–alternatif yang ada saling melengkapi satu dengan lainnya. 2002). diusulkan oleh semua orang yang terlibat dalam penyelesaian masalah. pihak-pihak yang terkait atau berkepentingan dengan terjadinya masalah. bisa menjadi gagasan yang menarik bila dikombinasikan dengan gagasan-gagasan lainnya. Agar kita dapat memfokuskan perhatian kita pada masalah sebenarnya. dan bukan pada gejala-gejala yang muncul. kurangnya pelatihan atau kurang efektifnya proses kepemimpinan yang ada. Contoh: Masalah yang kita hadapi adalah melatih staf yang bekerja lamban. Berikut adalah karakteristik-karakteristik dari pembuatan alternatif masalah yang baik: • • • • • Semua alternatif yang ada sebaiknya diusulkan dan dikemukakan terlebih dahulu sebelum kemudian dilakukannya evaluasi terhadap mereka. Alternatif-alternatif yang diusulkan harus sejalan dengan tujuan atau kebijakan organisasi. dan bukan pada gejala-gejala yang muncul.Langkah pertama yang perlu dilakukan dengan metode analitis adalah mendefinisikan masalah yang terjadi. cara kerja yang lambat dari staf yang bersangkutan. Hal ini seringkali dapat menghindarkan kita dari pembuatan definisi yang tidak jelas Definisi yang dibuat harus menyatakan dengan jelas adanya ketidak-sesuaian antara standar atau harapan yang telah ditetapkan sebelumnya dan kenyataan yang terjadi. 1999) mendukung pandangan bahwa kualitas solusi-solusi yang dihasilkan akan lebih baik bila mempertimbangkan berbagai alternatif (Whetten & Cameron. peristiwa atau kejadian. Langkah kedua yang perlu kita lakukan adalah membuat alternatif penyelesaian masalah. Pada tahap ini. Sebagai contoh : Seorang manajer yang mempunyai masalah dengan staf-nya yang kerapkali tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya pada waktu yang telah ditentukan. Evaluasi Alternatif-Alternatif Pemecahan Masalah . agar masalah dapat didefinisikan dengan tepat. Definisi yang dibuat harus menyatakan dengan jelas. Alternatif-alternatif yang diusulkan perlu mempertimbangkan konsekuensi yang muncul dalam jangka pendek. Masalah ini bisa terjadi karena. maupun jangka panjang. Semakin banyaknya orang yang mengusulkan alternatif. untuk memfokuskan perhatian kita pada masalah sebenarnya. Gagasan yang kurang menarik . seperti misalnya masalah kesehatan. Namun dapat diabaikan bila. Data objektif dipisahkan dari persepsi Semua pihak yang terlibat diperlakukan sebagai sumber informasi Masalah harus dinyatakan secara eksplisit/tegas. Pada tahap ini. B. Penelitian-penelitian yang pernah dilakukan dalam kaitannya dengan pemecahan masalah (contohnya oleh March. mungkin juga penting. Alternatif-alternatif yang ada. dapat meningkatkan kualitas solusi dan penerimaaan kelompok. moral kerja yang rendah. • C.

Sebuah solusi tidak dapat dianggap berhasil bila masalah yang menjadi pertimbangan yang utama tidak terselesaikan dengan baik. Alternatif-alternatif yang ada dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan tujuan organisasi dan mempertimbangkan preferensi dari orang-orang yang terlibat didalamnya. Berhasil tidaknya penerapan solusi. 2002). sehingga semua alternatif yang diusulkan akan dipertimbangkan. Dalam upaya menerapkan berbagai solusi terhadap suatu masalah. Berikut adalah karakteristik dari penerapan dan langkah tindak lanjut yang efektif: • • • • • • Penerapan solusi dilakukan pada saat yang tepat dan dalam urutan yang benar. . Tingkat penerimaan dari semua orang yang terlibat di dalamnya Tingkat kemungkinan penerapannya Tingkat kesesuaiannya dengan batasan-batasan yang ada di dalam organisasi. Karena itulah seorang yang piawai dalam melakukan pemecahan masalah akan secara hati-hati memilih strategi yang akan meningkatkan kemungkinan penerimaan terhadap solusi pemecahan masalah oleh orang-orang yang terkena dampak dan kemungkinan penerapan sepenuhnya dari solusi yang bersangkutan (Whetten & Cameron. baik secara langsung. Penerapan tidak mengabaikan faktor-faktor yang membatasi dan tidak akan terjadi sebelum tahap 1. Dampak jangka pendek. Penilaian terhadap keberhasilan penerapan solusi didasarkan atas terselesaikannya masalah yang dihadapi. kita perlu lebih sensitif terhadap kemungkinan terjadinya resistensi dari orang-orang yang mungkin terkena dampak dari penerapan tersebut. Alternatif-alternatif yang ada dinilai berdasarkan dampak yang mungkin ditimbulkannya.alternatif yang ada dinilai secara relatif berdasarkan suatu standar yang optimal.Lanjuti Langkah terakhir dari metode ini adalah menerapkan dan menindak-lanjuti solusi yang telah diambil. Berikut adalah karakteristik-karakteristik dari evaluasi alternatif-alternatif pemecahan masalah yang baik: • • • • • Alternatif. kita perlu berhati-hati dalam memberikan bobot terhadap keuntungan dan kerugian dari masing-masing alternatif yang ada.Langkah ketiga dalam proses pemecahan masalah adalah melakukan evaluasi terhadap alternatif-alternatif yang diusulkan atau tersedia. sehingga terjadi proses pertukaran informasi Keterlibatan dari orang-orang yang akan terkena dampak dari penerapan solusi dianjurkan dengan tujuan untuk membangun dukungan dan komitmen Adanya sistim monitoring yang dapat memantau penerapan solusi secara berkesinambungan. walaupun mungkin muncul dampak positif lainnya. Seorang yang terampil dalam melakukan pemecahan masalah. sebelum membuat pilihan akhir. maupun jangka panjang diukur. dan 3 dalam proses pemecahan masalah dilakukan. Penerapan solusi dilakukan dengan menggunakan strategi "sedikit-demi sedikit" dengan tujuan untuk meminimalkan terjadinya resistensi dan meningkatkan dukungan. Dalam tahap ini . Terapkan Solusi dan Tindak. bukan karena adanya manfaat lain yang diperoleh dengan adanya penerapan solusi ini. terjadi resistensi. 2. akan memastikan bahwa dalam memilih alternatifalternatif yang ada dinilai berdasarkan: • • • • Tingkat kemungkinannya untuk dapat menyelesaikan masalah tanpa menyebabkan terjadinya masalah lain yang tidak diperkirakan sebelumnya. D. dll. harus dikomunikasikan . Proses penerapan solusi meliputi juga proses pemberian umpan balik. misalnya budget. Hampir pada semua perubahan. kebijakan perusahaan. maupun tidak langsung Alternatif yang paling dipilih dinyatakan secara eksplisit/tegas. dan bukan sekedar standar yang memuaskan penilaian terhadap alternative-alternatif yang ada dilakukan secara sistematis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful