HUKUM DAN ETIK BERLALU LINTAS

Oleh. Paulus B. Adiputra
ABSTARK : UU No. 14 Tahun 1992 ternyata tidak bisa sepenuhnya dipatuhi oleh masyarakat karena adanya unsur yang tidak logis, dan tidak memenuhi syarat berlakunya secara filosofis, walaupun secara yuridis syarat-syarat tersebut dapat dilengkapi .Dan kesadaran tertib lalu lintas adalah tergantung kepada anggapan pentingya tertib berlalu lintas dengan bertujuan menghindari kemungkinan kecil terjadinya kecelakaan yang sangat berbahaya dan merugikan bagi dirinya dan keluarganya, BAB I PENDAHULUAN a. Latar Belakang

Kepadatan penduduk yang terus bertambah, kebutuhan orang yang semakin banyak, serta kemajuan teknologi yang semakin canggih membawa implikasi semakin ramainya transportasi di jalanan. Kepadatan lalu lintas di jalan tentu saja memerlukan pengaturan yang tepat agar keselamatan dan kenyamanan berlalu lintas dapat tetap terpelihara Disamping itu juga disiplin masyarakat dalam menaati peraturan lalu lintas harus pula dijaga. Keteguhan penegak hukum dalam hal ini polisi lalu lintas harus senantiasa ditingkatkan agar polisi tidak mudah terjebak oleh berbagai bujuk rayu masyarakat yang selalu saja menggoda polisi untuk tidak mematuhi hukum yang berlaku. Paradigma yang muncul kemudian adalah paradigma penyadaran masyarakat bahwa penegakan hukum adalah untuk kepentingan bersama seluruh anggota masyarakat, karena itu tidak dapat dibebankan secara sepihak kepada polisi lalu lintas belaka. Patuh hukum memang memerlukan biaya yang mahal. Sebagai contoh dalam hal berkendara di jalan raya. Untuk mematuhi hukum setiap pengendara sepeda motor misalnya harus memiliki SIM, STNK, mengenakan helm yang standart, serta perangkat kendaraan yang laik jalan. Bila satu keluarga dalam satu rumah tangga masyarakat kita terdiri dari seorang ayah, seorang ibu dan 2 orang anak, maka dengan satu kendaraan sepeda motor untuk orang serumah sudah memerlukan biaya tidak sedikit untuk mendapatkan 4 SIM dan 4 helm standart, bila tidak, maka seluruh anggota keluarga akan dapat menikmati bersepeda motor secara bergantian dengan mematuhi hukum. Apalagi sepeda motor dalam masyarakat kita adalah sarana transportasi minimal yang tidak dapat dihindari lagi bila kita ingin melancarkan segala urusan untuk memenuhi hajat hidup di masyarakat. Dalam kondisi masyarakat kita yang telah dilanda krisis ekonomi berkepanjangan, untuk patuh hukum dengan biaya setinggi itu tentu bukan hal yang mudah.

akibat trauma masa lalu dimana polisi selalu menghantui para pengendara lalu lintas di setiap sudut jalan raya. markasmarkas polsek den sebagainya. bahkan semua kasus penegakan hukum polisi tidak lagi dipercaya orang. demikian pula bila bersepeda motor tanpa mengenakan helm. yaitu untuk pelanggaran karena tidak dapat menunjukkan SIM kepada petugas sewaktu diperiksa di jalan. Tentu saja keadaan di jalan raya menjadi semakin semrawut tidak karuan. Tentu saja kondisi penegakan hukum yang demikian itu menimbulkan dilema di masyarakat. yaitu UU No. maka yang terjadi ialah pematungan polisi dimana-mana. Namun setelah reformasi. Bukan hanya di bidang lalu lintas. kita sudah terancam denda maksimal satu juta rupiah. dalam hal ini kepolisian. Sopir-sopir bis pun akhimya ketakutan untuk mengoperasikan . ketakutan masyarakat terhadap polisi berbalik menjadi ketakutan polisi terhadap masyarakat. sehingga pelanggaran pun tidak berkurang. Padahal sudah ada undang-undang lalu lintas yang seharusnya diberlakukan sejak tahun 1993. Dalam keadaan serupa itu terjadi keadaan tertib hukum menjadi semakin payah dan menyedihkan. Untuk patuh hukum saja biayanya sudah begitu mahal. akibat trauma masa lalu. Ancaman denda ini jauh lebih mahal daripada denda yang dikenakan terhadap berbagai kejahatan yang diancamkan dalam KUHP. sebab masyarakat akhimya hanya takut kepada polisi bukan patuh kepada hukum yang berlaku. Banyaknya pengendara sepeda motor yang tanpa menyalakan lampu di waktu malam sudah sering membuat orang lain selalu berdebar karena terkejut ataupun takut kalau terjadi tabrakan. Namun tampaknya kepercayaan masyarakat terhadap polisi pun sudah sangat rendah. sehingga walau banyak pengendara sepeda motor atau mobil yang melakukan pelanggaran lalu lintas. akibatnya polisi pun dimana-mana dianggap sebagai patung yang tidak berdaya. Disamping itu kecelakaan di jalan pun menjadi semakin sering terjadi karena keadaan di jalan yang seakan tanpa aturan yang harus dipatuhi. pasti akan diikuti dengan pengenaan denda damai yang selalu dapat ditawar menawarkan. hal itu terbukti bahwa polisi tidak lagi segalak dahulu dalam menindak pelanggar lalu lintas dijalan. jigo" yang artinya setiap ada bunyi pluit yang ditiup polisi. Dimana-mana terjadi unjuk rasa den perusakan terhadap kantor-kantor polisi.Di sisi lain untuk melanggar hukum. polisi kelihatan seakan cuek tidak ambil peduli. Keadaan serupa itu membuat citra polisi menjadi tidak ada harganya di masyarakat. biayanya akan lebih mahal lagi. sehingga pada waktu itu muncul plesetan dengan istilah "priiit. Momen ketakutan masyarakat terhadap polisi digunakan untuk lebih mempertakuti masyarakat dengan membuat patung-patung polisi ditempat-tempat yang tidak dapat dihadiri oleh polisi. ancaman denda maksimal adalah satu juta rupiah. apalagi untuk melanggar hukum jauh lebih mahal lagi. Logikanya disiplin berlalu lintas seharusnya tetap ditegakkan walau dalam kondisi krisis ekonomi yang berkepanjangan. Agaknya kondisi serupa itu juga dipahami oleh pihak penegak hukum. Kejadian yang sangat tragis ialah terjadinya tindakan main hakim sendiri dengan membakar bis-bis yang menabrak orang ataupun mengeroyok dan membakar para pelaku kejahatan seakan masyarakat sudah tidak mengenal hukum lagi. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas Jalan. dimana polisi pun sangat rendah.

walaupun keduanya berhubungan erat. Pada taraf individual. 2. Faktor pengendali sosial haruslah dibedakan dari pengendalian diri. Itulah gambaran sepintas tentang parahnya disiplin masyarakat serta aparat penegak hukum di negara kita yang kesemuanya itu mencerminkan betapa parahnya kondisi hukum kita pada saat ini. Kaedah hukum berlaku secara sosiologis.2 Namun juga diakui bahwa "betapapun melembaganya suatu norma. atau kaedah tadi berlaku karena diterima atau diakui oleh masyarakat (teori pengakuan). kaedah tersebut dapat dipaksakan berlakunya oleh penguasa walaupun tidak dapat diterima oleh warga masyarakat (teori kekuasaan). Hal ini untuk menghindari kesia-siaan dalam proses internalisasi di masyarakat. Zevenbergen). Kaedah hukum tersebut berlaku secara filosofis.4 . yakni : 1. Suatu norma terlembaga (institutionalized) dalam suatu sistem sosial tertentu. Sebagian terbesar dari warga suatu sistem sosial menerima norma tersebut. apabila dipenuhi paling sedikit tiga syarat. 2. Hal itu terbukti dari bereksistensinya sanksi-sanksi"3 Karena itu sangat diperlukan adanya faktor pengendali sosial. Kaedah hukum yang berlaku secara yuridis. atau apabila menunjukkan hubungan keharusan antara suatu kondisi dan akibatnya (JHA Logemann). 3.1 Adaptasi masyarakat terhadap norma-norma tersebut akan memerlukan waktu yang relatif lama. Secara teoritis untuk membentuk disiplin masyarakat haruslah melalui proses pelembagaan (institulization) hal ini disebabkan karena normaa-norma dalam berlalu lintas bukanlah norma yang tumbuh dari nilai-nilai sosial dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu norma yang dibuat hendaknya juga harus memiliki nilai filosofis. Kegagalan alam adaptasi akan mengakibatkan pemidanaan. logika serta sosiologisnya~ disamping tentu saja yuridis. Tentang hal berlakunya kaedah hukum ada anggapan-anggapan sebagai berikut : 1. atau apabila berbentuk menurut cara yang telah ditetapkan (W. dan ini adalah suatu hal yang normal. maka pengendalian sosial mengacu pada usaha umuk mempengaruhi pihak lain. akan tetapi kadangkadang terjadi juga penyimpangan-penyimpangan. artinya sesuai dengan cita-cita hukum sebagai nilai positif yang tertinggi.Nomta tersebut bersanksi.busnya dan mereka memilih mogok tidak hekerja karena takut dikeroyok dan dibakar massa. Norma-norma tersebut telah menjiwai bagian terbesar warga-warga sistem sosial tersebut. Adaptasi itu harus dilakukan melalui proses edukasi dan karenanya memerlukan biaya yang besar. apabila kaedah tersebut efektif Artinya. sedangkan pengendalian diri tertuju pada pribadi sesuai dengan ide atau tujuan tertentu yang ditetapkan sebelumnya. apabila penentuannya didasarkan pada kaedah yang lebih tinggi tingkatnya (Hens Kelsen).

Padahal ajaran agama pada dasamya selalu mengajarkan disiplin moral sebagai pijakan etika yang tinggi kepada para pemeluknya. ini muncul sehubungan dengan sejak diberlakukannya UU No. oleh karena itu seyogyanya penerapannya diperhemat. artinya tanpa diperlukan kontrol dari luar. kalau memang masih ada sarana lain yang ampuh. Penyebabnya antara lain karena dalam pembahasan di DPR terhadap UU tersebut seolah-olah dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh media masa. Etika paling tidak dapat menjadi pijakan dalam pergaulan masyarakat. Namun kesulitannya adalah untuk mengakomodasikan berbagai kaedah baru terutama yang berhubungan dengan etika berlalu lintas di jalan. Hendaknya hukum dipergunakan pada tingkat yang terakhir apabila sarana lainnya tidak mampu lagi untuk mengatasi masalah. serta ancaman denda yang terlalu tinggi dibanding dengan kemampuan masyarakat yang ada pada saat itu. Diantara norma-norma itu adalah etika yang sudah dikenal dalam masyarakat luas. 14 Tahun 1992 mempolakan disiplin masyarakat sebagai pengganti etika dalam berlalu lintas di jalan ?". ternyata banyak hal dalam undang-undang tersebut yang dipandang irasional.6 BAR III .b. undang-undang itu telah mendapat reaksi yang cukup besar dari masyarakat. yaitu adanya suatu hipotesa yang menyatakan bahwa semakin besar peranan sara pengendalian sosial lainnya (misalnya agama. PERAN ETIKA Peran faktor pengendali sosial adalah sangat penting sebagai alat pressure bagi masyarakat agar dapat menerima berlakunya kaedah-kaedah tersebut.5 BAB II PROBLEMATIKA Berdasar uraian diatas maka yang menjadi permasalahan dalam paper ini ialah :"Mampukah UU No. Problema. bahwa derajat kepatuhan masyarakat terhadap hukum. Memang hukum tidak dapat dipaksak berlakunya di dalam segala hal. agama juga sangat mudah dan cepat tersosialisasi di masyarakat. Disamping itu setelah diundangkan. merupakan salah satu indikator berfungsinya hukum yang bersangkutan. Pada umumnya faktor pengendali sosial yang dipandang efektif adalah norma-norma agama. Disamping itu norma. 14 Tahun 1992. masih ada persoalan lain. Hal itu disebabkan karena norma agama memiliki kekuatan berlaku yang secara otonom. semakin ke peranan hukum dan sebaliknya). Kini efektivitas UU tersebut semakin diragukan karena kenyataannya penegakan hukumpun tidak mampu menegakkannya di lapangan. "Secara sempit dapat dikatakan. khususnya dalam berlalu lintas. dalam berlalu lintas. adat istiadat. tentunya diperlukan kearifan dalam mengangkat nilai-nilai agama sebagai inti norma. Disamping masalah-masalah tersebut diatas.

8 Walaupun untuk UU sejenis itu. dikarenakan antara lain : 1. Sebagaimana lazimnya di mendapatkan kita kendaraan bermotor minimal yang beroda 2. 14 Tahun 1992 itu terutama adalah masyarakat perkotaan yang sudah banyak memiliki alat-alat transportasi herupa kendaraan bermotor. apakah sesuai dengan petuntukannya ? Demikian pale sepeda motor yang tidak memiliki tutup pentil.000. Dalam satu keluarga pada umumnya terdapat 1 sepeda motor untuk orang serumah bergantian. 2. tidak begitu menjadi masalah. perbankan. Banyak pasal karet yang tidak jelas definisinya. Kejanggalan demi kejanggalan itu merupakan hal yang sangat menghambat sosialisasi undang-mdang itu sendiri. Karena itu dalam waktu yang relatif singkat masyarakat langsung meraksi UU tersebut. hukum bukan keseluruhan peraturan yang menetapkan bagaimana orang seharusnya bertindak satu sama lain. maka seluruh masyarakat dianggap mengetahuinya. Ancaman pidana yang berlebihan. Misalnya sepeda motor yang digunakan untuk mengangkut dagangan ayam ke pasar. melainkan ia terdiri atas peraturan-peraturan menurut mana pada hakikatnya orang-orang biasanya bertingkah laku dalam masyarakat. masalahnya : kalau orang lupa membawa suratsurat kendaraan ataupun SIM. apakah termasuk memenuhi persyaratan teknis den laik jalan ? 2. seperti UU tentang perpajakan. maka teori ficrie 9 yang menyatakan bahwa sejak suatu undang-undang diundangkan.PEMBAHASAN a.7 Menurn Hamakerd. 14 Tahun 1992 itu berasal dari atas yang di drop dan harus dipatuhi oleh masyarakat. Seharusnya biaya untuk . atau kurungan paling lama 2 bulan. undang-undang tentang lalu lintas jalan tidak berasal dari 8 niali -nilai sosial yang hidup di masyarakat yang kemudian menjadi norma sosial yang selanjutnya diangkat menjadi hukum positip dengan diberi bentuk undang-undaag. Jadi untuk patuh hukum sudah diperlukan biaya yang luar biasa mahal untuk tingkat ekonomi masyarakat pada seat ini. sudah merupakan kebutuhan mutlak. Tetapi UU No. diancam denda Rp.000. dan sebagainya memerlukan waktu yang sangat lama untuk mensosialisasikan. Apalagi yang terkena UU No. namun berhubung dengan kepesatan kemajuan alat komunikasi dan informasi. Berbeda dengan Undang-Undang Hukum Pidana yang sudah berusia lebih dari 90 tahun itu. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah merupakan undang-undang yang dari aspek logika banyak mengandung kejanggalan. seperti kata-kata "mengendalikan kendaraan bermotor di jalan yang tidak sesuai dengan peruntukannya" ? Apa pula yang dimaksud dengan : "memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan" ? Pasal-pasal karet semacam ini dapat digunakan oleh petugas untuk bertindak sewenang-wenang di jalan dengan mencari-cari kesalahan pengendara. Dari Aspek Logika Undang-undang No.

sebab di kalangan para penegak hukum pun (dalam hal ini polisi) belum seluruhnya memiliki sepeda motor dengan kelengkapan yang sempurna. Von Feurbach mengatakan bahwa berhubungan dengan fungsi instrumental undang-undang pidana dan merupakan pengungkapan ajaran "paksaan psikologis". yaitu prosedur pembuatan UU tersebut telah melalui hak inisiatif dari Pemerintah kemudian disetujui oleh DPR lalu diundangkan. kini traffic-light telah menjamur di mana-mana. yaitu : azas regulatif dan azas konstitutif Azas konstitutif. Dari aspek Yuridis Dari sisi yuridis untuk terjadinya suatu perundang-undangan harus memenuhi 2 azas. sesuai dengan peruntukan. Kalau yang ternyata melanggar aturan itu adalah petugas lalu lintas sendiri. Hal ini dimaksud agar azas lex-certa11 dapat dipenuhi. yaitu azas yang bila tidak dipenuhi maka UU itu akan kehilangan rasa keadilan. Kesemuanya itu tentu memerlukan sosialisasi yang luas dan membutuhkan waktu. disipin berlalu lintas adalah mempakan hal yang baru bagi masyarakat yang tengah mengalami modemisasi. dan sebagainya harus ada ketentum yang jelas. Secara historis-kultural. Demikian pula dengan berbagai perkembangan teknologi di bidang pengaturan lalu lintas jalan serta kelengkapan kendaraan dalam berlalu lintas. kini sudah banyak. maka UU itu tidak sah 10 Agaknya azas ini memang sudah dipenuhi. Artinya jumlah kendaraan bermmor pada saat itu belum sebanyak sekarang. yaitu azas yang bila itu tidak dipenuhi. masyarakat kita masih dalam kondisi yang tradisional. Demikian pula kalau dulu belum dikenal adanya berbagai rambu-rambu lalu lintas. Tetapi dari sisi azas regulatif. Di sinipun ada syarat keadilan. akhimya terjadi kolusi antara para petugas dengan pengusaha helm untuk bersaing agar memperoleb kualifikasi standar. Azas regulatif harus mampu mengkomodasikan berbagai perkembangan masyarakat tersebut. Tentang berbagai kelengkapan kendaraan untuk dapat dikatakan sebagai laik jalan.mendapatkan SIM harus diturunkan semurah mungkin agar untuk patuh hukum itu tidak memberati masyarakat. Kalau dulu belum dikenal adanya traffic-light. agaknya UU ini tidak memenuhi persyaratan.12 Pemerintah juga harus selalu menggunakan wewenang yang diberikan kepadanya untuk memidana. dan sebagainya. sebab azas regulatif haruss dipenuhi dengan memperhatikan perkembangan masyarakat secara historis dan kultural. Hal itu dikarenakan UU yang memenuhi azas legalitas memberikan sifat perlindungan terhadap rakyat dari kekuasaan pemerintah yang tanpa batas. kolusi antara perusahaan asumnsi dan petugas pun terbuka lebar b. maka aturan hukum itu dirumuskan. demikian pula dengan kewajiban untuk mengasuransikan awak kendaraan serta kendaraan bermotor yang digunakan sebagai kendaran umum. adalah titik tidak . sebab sebelum periode ini. 3. Membuka peluang untuk terjadinya kolusi den nepotisme. yaitu azas persamaan. bagaimama penindakannya? Demikian pula dengan adanya kewajiban menggunakan helm standar.

dalam hal ini berupa pemidanaan. yang harus diperhatikan ialah bagaimana hukum yang berlaku di masyarakat itu sesuai dan terjalin dengan baik ke dalam jaringan interaksi sosial.adil dalam keadaan yang sama memidana pelanggar undang-undang yang satu sedangkan yang lain tidak.15 Untuk memparelelkan IJU No. semuanya dapat dijumpai pada kebiasaan. c. Dari pembicaraan-pembicaraan dalam lembaga legislatif tampak bahwa pembuatan Rancangan Undang-Undang umuk mengawasi penggunaan dan distribusi obat bius di Amerika Serikat diliputi oleh kenyataan bahwa para anggota legeslatif tidak mau menandatangani suatu RUU yang berlawanan dengan kepentingan-kepentmgan industri farmasi meskipun dihadapkan pada bukti bahwa industri inilah yang sesungguhnya harus bertanggungjawab atas penyebaran obat-obat bius. Dan sudut asal-usul hukum.14 Menurut Bohannan. masyarakat harus lama-sama merasakan pentingnya pengaturan yang tegas dan keras dalam penegakan disiplin berlalulintas. timbulnya hukum sebagai tingkah laku anggota masyarakat didorong oleh motif untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. apabila kebiasaan itu tetap berada dalam keadaannya semula. cirri-ciri yang dikemukakan orang dalam definisi-definisi tentang hukum. 1992 dengan nilai-nilal sosial yang tumbuh di masyarakat tentu hal yang mudah. sehingga polisipun . Sampai saat ini agaknya media massa pun belum banyak menyorot tentang penerapan disiplin dalam berlalu lintas. Menurut Vinogradoff13 hukum itu tumbuh dari praktek yang dijalankan anggota-anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan yang satu dengan yang lain. perlu diperhatikan adanya reaksi masyarakat terhadap hukum itu. 14 Th. maka hukum adalah kebiasaan yang diciptakan (kembali) secara khusus oleh badan-badan dalam masyarakat dalam bentuk yang lebih sempti dam jelas. melainkan sekaligus juga menjadi landasan berdirinya masyarakatnya Dengan demikian. 14 Th. apakah hukum sebagai hukum sebagai sarana pengatur masyarakat sudah bekerja secara efektif atau belum. Menurut Durkheim agar hukum dapat berlaku efektif di masyarakat harus ada rasa kebersamam di masyarakat tersebut. Dengan demikian maka hukum harus parallel dengan nilai-nilai yang bekembang di masyarakat. berupa penindakan terhadap serangan tersebut. Aspek Sosiologis Dalam rangka memahami keterkaitan antara hukum dengan masyarakat yang mendukung hukum itu. artinya apakah masyarakat masih mencari sarana lain di luar hukum itu. Perasaan kebersamaan ini tidak hanya menarik para anggota menjadi satu. serangan terhadap masyarakatnya akan dihadapi dengan kesadaran bersama pula. 1992 secara efektif. 16 Jadi agaknya memang untuk bisa berlakunya UU No. Hanya bedanya.

kaidah hukum haruslah dipilih dari orang terbanyak untuk dijadikan kaidah persekutuan.tampaknya belum merasa perlu untuk menindak tegas para pelanggar lalu-lintas sesuai dengan UU No. Ini adalah merupakan concitio sine qua non. maka departemen itu harus mengeluarkan biaya extra untuk menyenangkan para wakil rakyat. Akan tetapi individu itu sangatlah banyak. UU ini juga dimaksudkan sebagai rekayasa sosial yang akan mengarahkan perilaku masyarakat dalam berlalu lintas agar sesuai dengan kehendak pembuat UU. yaitu dari suara mayoritas yang mempunyai nilai hukum tertinggi. Bila ini kita hubungkan dengan keadaan UU No. Perhatian masyarakat beserta media masa masih banyak tertuju pada pemberantasan NKK di tingkat atas. Apalagi bahwa di DPR kita di jaman Orde Baru itu terkenal dengan adanya "uang gedhok". maka UU No. 1992 tersebut. . Hukum itu sendiri datangnya adalah dari perasaan hukum individu. Krabbe menekankan bahwa suara mayoritas ini adalah mayoritas mutlak (2/3 dari seluruh suata masyarakat) Berdasar teori Krabbe. sehingga kesadaran hukum kita memberikan nilai yang tertinggi kepada kesatuan kaidah tersebut. sehingga kasus-kasus pelanggaran lalu lintas dianggap sebagai kasus murahan atau kasusnya orang jalanan saja d. Pemikiran tentang hukum sebagai alat pembaharuan dalam masyarakat berasal dari Roscoe Pound dalam bukunya yang terkenal "An Introduction to the philosophy of law" (1954).17 Bila pernyataan Krabbe tersebut dihubungkan dengan pembuatan UU No. Karena menurut Krabbe untuk mendapatkan kaidah hukum yang mewakili seluruh perasaan hukum masyarakat. maka sebenarnya kekuatan mengikut UU itu bukan karena pemerintah menghendakinya. artinya kalau suatu departemen berkehendak untuk meluluskan pembahasan RUU di DPR. UU ini memang dimaksudkan untuk menjadi agen pembaharuan terhadap perilaku masyarakat dalam berlalulintas di jalan. Aspek Filosofis Menurut Krabbe hukum tidak memperoleh kekuatan mengikutinya dari kehendak pemerintah. 1992. melainkan pemerintah hanya memperoleh kekuasaannya. 1992 yang ditetapkan secara tidak jujur (tidak terbuka) bukanlah suatu kaidah persekutuan yang baik. Disesuaikan dengan situasi dan kondisi di Indonesia. Hal ini pernah terungkap dalam kasus Jamsostek yang kemudian dibekukan oleh Presiden Soeharto. 14 Th. Menurut Krabbe Undang-Undang itu mengikat berdasarkan hukum yang menjelma di dalamnya. 14 Th. 14 Th. sedang pergaulan hidup menghendaki kesatuan kaidah hukum : hukum harus sama untuk seluruh anggoat masyarakat. jika perlu mengorbankan sesuatu isi yang tertentu yang lebih kita sukai. 14 Th. oleh Mochtar Kusumaatmadja kemudian dikembangkan di Indonesia melalui Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. konsepsi "law as tool of social engineering" yang merupakan inti pemikiran dari aliran Pragmatic Legal Realism itu. Karena itu maka keseragaman kaidah hukum lebih penting daripada isi kaidah itu. 1992.

Agaknya teori ini menemukan keberannya apabila digabung dengan teori Roscoe Pound yang lain tentang hukum sebagai a tool afsocial engineering (alat rekayasa sosial). tidak memenuhi syarat berlakunya secara filosofis. BAB IV PENUTUP A. "Apabila dan di mana hukum tumbuh dengan berpangkal dalam perundang-undangan. tidak mendapat dukungan masyarakat luas (sosiologis). konsepsi hukum sebagai "sarana" pembaharuan masyarakat Indonesia lebih luas jangkauan dan ruang lingkupnya daripada di Amerika Serikat tempat kelahirannya. Perilaku masyarakat hendak dipolakan ke dalam suatu peraturan perundang-undangan. Jelasnya di bidang pengaturan disiplin berlalu lintas ini memang pemerintah harus menetapkan hukum untuk merekayasa perilaku masyarakat agar berdisiplin. maka tersebarlah suaru teori politik tentang hukum sebagai perintah dari penguasa yang berdaulat"19. sebab banyak mengandung konsep yang tidak jelas (tidak logis). guna mendapatkan dukungan dari masyarakat luas. Saran . yaitu aspek sosiologis. Namun usaha ini helum memenuhi persyaratan yang lain. Alasannya oleh karena lebih menonjolnya perundang-undangan dalam proses pembaharuan hukum di Indonesia (walau yurisdprudensi memegang peranan Pula) dan ditolaknya aplikasi mekanisme dari konsepsi tersebut yang digambarkan akan mengakibatkan hasil yang sama dari penerapan faham legisme yang banyak ditentang di Indonesia.18 Roscoe Pound menyatakan. B. Kesimpulan UU No. walaupun secara yuridis memenuhi syarat.Menurut pendapat Mochtar Kusumaatmadja. 14 Tabun 1992 tidak mampu mempolakan disiplin masyarakat dalam berlalu lintas di jalan.

Bandung. 199. pengantar ilmu hukum. Bandung. 1983. h. Ilmu Hukum. Beberapa Teori Tentang Straklur Masyarakat. Selain itu juga persyaratan untuk patuh hukum dipermudah sehingga masyarakat dengan mudah pula mematuhi hukum (misalnya persyaratan untuk mendapatkan SIM. Sinar Baru. Ronny Hanitijo Soemitro. Hukum Pidana. Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum. 1978. Soerjono Soekanto.Hendaknya UU No. ---------------------. CV. mengurus STNK.Schafrneister. Bandung. Masalah-Masalah Sosiolagi Hukum. Bhratara. 1995 Lili Rasjidi. dan sebagalnya) DAFTAR PUSTAKA Apeldoorn. PT. Alumni. 1984. Jakarta ____________________ 19 Satjipto Rahardjo. 2001. Yogyakarta. Pradnya Paramita.et al. Roscoe Pound. Pengantar Filsafat Hukum. 1963. 14 Tahun 1992 direvisi sejauh yang menyangkut rumusan pasal karet yang tidak jelas agar diperjelas. Jakarta. Rajawali. 1982. D. Citra Aditya Bakti. 1985 . CV Rajawali. Jakarta. Jakarta. Liberty. Penelitian Hukum Normatif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful