P. 1
Sni Jalan Beton

Sni Jalan Beton

|Views: 17|Likes:
Published by Rahmat Permana
Pelaksanaan pekerjaan beton untuk jalan dan jembatan
Pelaksanaan pekerjaan beton untuk jalan dan jembatan

More info:

Categories:Types, Presentations
Published by: Rahmat Permana on Jul 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/25/2014

pdf

text

original

Pd.

T-07-2005-B

Prakata

Pedoman Pelaksanaan Pekerjaan Beton untuk Jalan dan Jembatan dipersiapkan oleh Panitia Teknik Standardisasi Bidang Konstruksi dan Bangunan melalui Gugus Kerja Bidang Jembatan dan Bangunan Jalan pada Sub Panitia Teknik Standardisasi Bidang Prasarana Transportasi. Pedoman ini diprakarsai oleh Pusat Litbang Prasarana Transportasi, Badan Litbang, ex., Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Pedoman ini merupakan revisi dari Buku III Dokumen Tender seksi 7.1, yang sebagian besar diambil dari SNI yang ada. Tujuan Pedoman ini adalah sebagai acuan pelaksanaan pembetonan untuk pekerjaan jalan dan jembatan, sehingga pekerjaan pembetonan mempunyai keseragaman dan dapat meningkatkan kualitas pekerjaan sebagaimana yang direncanakan. Pedoman penulisan ini disusun mengikuti Pedoman BSN No. 8 tahun 2000 dan dibahas dalam forum konsensus pada tanggal 3 September 2004 yang melibatkan narasumber, pakar dan pemangku kepentingan Prasarana Transportasi sesuai ketentuan Pedoman BSN No. 9 tahun 2000.

i

Pd. T-07-2005-B

Pendahuluan

Di Indonesia penggunaan beton untuk pekerjaan jalan dan jembatan telah lama digunakan, dan hampir 80% elemen jembatan terbuat dari bahan beton bahkan dewasa ini banyak perkerasan jalan menggunakan bahan beton, hal ini mengingat beberapa kelebihan bahan beton dibanding bahan lainnya. Pelaksanaan pembetonan baik untuk jalan maupun jembatan telah banyak mengalami kemajuan, baik teknologi beton maupun teknologi pelaksanaannya. Untuk itu perlu adanya pedoman pelaksanaan pekerjaan beton untuk jalan dan jembatan yang bisa menampung segala permasalahan pekerjaan beton yang sesuai dengan standar yang terbaru. Tujuan dari penyusunan pedoman ini adalah sebagai acuan pelaksanaan pekerjaan beton untuk pekerjaan jalan dan jembatan, sehingga pekerjaan pembetonan mempunyai keseragaman dan dapat meningkatkan kualitas pekerjaan sebagaimana yang direncanakan

ii

Metode pengujian slump beton SNI 03-1973-1990. Metode pengujian kotoran organik dalam pasir untuk campuran mortar dan beton SNI 03-2834-1992. Metode pengujian kuat tarik-belah beton SNI 03-2492-1991. Metode pembuatan dan perawatan benda uji beton di laboratorium SNI 03-2495-1991. Metode pengujian bliding dari beton segar SNI 03-4433-1997. Spesifikasi beton siap pakai SNI 03-4806-1998. Metode pengujian tentang analisis saringan agregat halus dan kasar SNI 03-1972-1990. Metode pengujian jumlah bahan dalam agregat yang lolos saringan no. Metode pengambilan contoh untuk campuran beton segar SNI 03-2491-1991.075 mm) SNI 03-4156-1996.200 (0. Metode pengujian kadar semen portland dalam beton segar dengan cara titrasi volumetri SNI 03-4807-1998. Metode pengujian keausan agregat dengan mesin Los Angeles SNI 03-2458-1991. Metode pengujian kuat tekan beton SNI 03-2417-1991. Metode pengujian gumpalan lempung dan butir-butir mudah pecah dalam agregat SNI 03-4142-1996. Metode pengujian untuk menentukan suhu beton segar semen portland SNI 03-4808-1998. Metode pengujian sifat kekekalan bentuk agregat ter-hadap larutan natrium sulfat dan magnesium sulfat SNI 03-3418-1994. 2 Acuan normatif − − − − − − − − − − − − − − − − − − − − − − − − SNI 03-1968-1990. Metoda pengujian berat isi beton SNI 03-1974-1990.Pd. Spesifikasi agregat untuk beton SNI 03-4141-1996. Metode pengujian kuat tekan beton inti pemboran SNI 03-3407-1994. Metode pembuatan dan perawatan benda uji beton di lapangan 1 . T-07-2005-B Pelaksanaan pekerjaan beton untuk jalan dan jembatan 1 Ruang lingkup Pedoman ini merupakan acuan untuk pelaksanaan pekerjaan pembetonan jalan dan jembatan. Spesifikasi bahan tambahan untuk beton SNI 03-2816-1992. Tata cara pembuatan rencana campuran beton normal SNI 03-3403-1994. Cakupan beton yang dimaksud dalam pedoman ini adalah beton yang dibuat dengan menggunakan semen portland yang mempunyai berat isi sekitar 22 kN/mm3 (2200 kg/m3) sampai dengan 24 kN/mm3 (2400 kg/m3) dan mempunyai kuat tekan (berdasarkan benda uji silinder) antara 10 MPa sampai dengan 65 MPa (setara dengan K-125 sampai dengan K-800 berdasarkan benda uji kubus). Metode pengujian kandungan udara pada beton segar SNI 03-3449-2002. Metode pengujian kadar air dalam beton segar dengan cara titrasi volumetri SNI 03-4810-1998. Metode pengambilan contoh benda uji beton inti SNI 03-2493-1991.

agregat kasar dan air. Ground granulated blast furnace slag ACI 305. T-07-2005-B − − − − − − − − − SNI 15-2049-1994.0 – 40.6 beton bertulang beton yang diberi baja tulangan dengan luas dan jumlah yang tidak kurang dari nilai minimum yang disyaratkan dengan atau tanpa prategang. accelarating.R-77.0 mm 3. Semen portland AASHTO T 26-79.4 agregat kasar kerikil sebagai hasil desintegrasi ‘alami’ batuan atau berupa batu pecah yang dihasilkan oleh industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir terbesar 5. dengan atau tanpa bahan tambahan yang membentuk massa padat 3.5 beton campuran antara semen Portland atau semen hidraulik lain. semen Portland atau jenis semen hidraulik yang lain dan air 3.1 adukan campuran antara agregat halus. batu pecah dan kerak tungku pijar yang digunakan bersama-sama dengan suatu media pengikat untuk membentuk suatu beton atau adukan semen hidraulik 3. Water reducing. Uncoated seven-wire stress-relieved strand for prestressed concrete ASTM A 421-91. fly ash and other mineral admixtures ASTM C 989. kerikil. dan direncanakan berdasarkan asumsi bahwa kedua material tersebut bekerja sama menahan gaya yang bekerja 2 .0 mm 3. Uncoated stress-relieved wire for prestressed concrete ASTM A 722. Pozzolans. high range water reducing ASTM C 618.3 agregat halus pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami batuan atau pasir yang dihasilkan oleh industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir terbesar 5.2 agregat material granular misalnya pasir. Uncoated high-strength steel bar for prestressed concrete ASTM C 494. agregat halus.Pd. retarding. Hot weather concreting 3 Istilah dan definisi Istilah dan definisi yang digunakan dalam pedoman ini sebagai berikut : 3. Quality of water to be used in concrete ASTM A 416-90a.

gelagar beton prategang. beton pracetak dan beton untuk struktur baja komposit. Umumnya digunakan untuk beton bertulang seperti pelat lantai jembatan.7 beton normal beton yang mempunyai berat isi 2200 – 2500 kg/m3 dan dibuat dengan menggunakan agregat alam yang dipecah atau tanpa dipecah 3. bangunan bawah jembatan. kerb. beton tanpa tulangan.Pd. penimbunan kembali dengan beton 3 Mutu sedang 20 – <35 K250 – < K400 15 – <20 Mutu rendah 10 – <15 K175 – < K250 K125 – < K175 . beton pracetak. c) Beton yang digunakan dalam pedoman ini mempunyai mutu beton sesuai tabel sebagai berikut: Tabel 1 Mutu beton dan penggunaan Jenis Beton Mutu tinggi fc’ (MPa) 35 – 65 σbk’ (Kg/cm2) K400 – K800 Uraian Umumnya digunakan untuk beton prategang seperti tiang pancang beton prategang. gorong-gorong beton bertulang. gelagar beton bertulang. b) Pekerjaan ini meliputi pula penyiapan tempat kerja untuk pengecoran beton. T-07-2005-B 3. diafragma. pelat beton prategang dan sejenisnya. trotoar dan pasangan batu kosong yang diisi adukan. digunakan sebagai lantai kerja. beton prategang.1 Uraian a) Pekerjaan yang disyaratkan dalam pedoman ini mencakup pelaksanaan seluruh struktur beton bertulang. untuk mengurangi tegangan tarik potensial dalam beton akibat beban kerja 4 Persyaratan umum 4.8 beton pracetak elemen atau komponen beton tanpa atau dengan tulangan yang dicetak terlebih dahulu sebelum dirakit menjadi elemen jembatan 3. pasangan batu. lantai kerja dan pemeliharaan pondasi seperti pemompaan atau tindakan lain untuk mempertahankan agar pondasi tetap kering. pengadaan penutup beton.9 beton prategang beton bertulang yang diberi tegangan dalam. Umumya digunakan untuk struktur beton tanpa tulangan seperti beton siklop.

proses dan hasil akhir harus dipantau dan dikendalikan sebagaimana yang disyaratkan dalam acuan normatif Pasal 2. b) Rancangan campuran untuk masing-masing mutu beton yang akan digunakan telah dipersiapkan 30 hari sebelum pekerjaan pengecoran beton dimulai. b) Toleransi Bentuk : § Persegi (selisih dalam panjang diagonal) § Kelurusan atau lengkungan (penyimpangan dari garis yang dimaksud) untuk panjang s/d 3 m.3 Toleransi untuk beton pracetak + 5 mm + 15 mm + 10 mm 10 mm 12 mm 15 mm 20 mm ± 10 mm ± 10 mm ± 10 mm ± 10 mm a) Toleransi Dimensi : § Panjang keseluruhan sampai dengan 6 m. 14 hari.6 m § Kelurusan atau lengkungan untuk panjang > 6 m d) Toleransi Alinyemen Vertikal : Penyimpangan ketegakan kolom dan dinding e) Toleransi Ketinggian (elevasi) : § Puncak lantai kerja di bawah pondasi § Puncak lantai kerja di bawah pelat injak § Puncak kolom.4 Pengajuan kesiapan kerja a) Semua bahan yang akan digunakan dilengkapi dengan data pengujian bahan dari laboratorium. dan 28 hari setelah tanggal pencampuran. d) Seluruh perancah yang akan digunakan disertai gambar detail dan perhitungan struktur sebelum pekerjaan perancah dimulai. ballk melintang f) Toleransi Alinyemen Horisontal : 10 mm dalam 4 m panjang mendatar. tembok kepala. 4 . dan tidak lebih dari 3 bulan sejak disimpan dalam tempat penyimpanan di lokasi pekerjaan.2 Jaminan mutu Mutu bahan. cara kerja. e) Rencana pelaksanaan pencampuran atau pengecoran setiap jenis beton telah dipersiapkan minimal 24 jam sebelum tanggal pelaksanaan pengecoran.5 Penyimpanan dan perlindungan bahan a) Semen harus terlindung dari perubahan cuaca dan diletakkan di atas lantai kayu dengan ketinggian tidak kurang dari 30 cm dari permukaan tanah serta ditutup dengan lembaran plastik (polyethylene) selama penyimpanan. 4. T-07-2005-B 4. sesuai SNI 03-1974-1990. mutu campuran. § Panjang keseluruhan lebih dari 6 m § Panjang balok. pelat lantai jembatan. 4. termasuk metode pengecoran. kapasitas peralatan yang digunakan. tanggung jawab personil dan jadwal pelaksanaannya. 7 hari. c) Pengujian kuat tekan beton dilaksanakan pada umur 3 hari. § Kelurusan atau lengkungan untuk panjang 3 m . kolom dinding. g) Toleransi untuk Penutup / Selimut Beton Tulangan : § Selimut beton sampai 3 cm + 5 mm § Selimut beton antara 3 cm sampai 10 cm + 10 mm 4.Pd.

0 kg / m2 / jam. 3) perkuatan.6 Kondisi tempat kerja Setiap pelaksanaan pengecoran beton harus terlindung dari sinar matahari secara langsung. Kelembaban relatif (%) Temperatur beton oC(oF) Kecep Angin km/j(mph) Suhu Udara. 4. Penyimpanan agregat harus dilakukan sedemikian rupa sehingga jenis agregat atau ukuran yang berbeda tidak tercampur. harus mengikuti petunjuk sebagai berikut : 1) perubahan proporsi campuran beton untuk sisa pekerjaan yang belum dikerjakan.R-77) 4.3.Pd. b) selama turun hujan atau bila udara penuh debu atau tercemar.7 Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi ketentuan a) Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi kriteria toleransi yang disyaratkan dalam Pasal 4. Sebagai tambahan. Gambar 1 adalah grafik yang menjelaskan tingkat penguapan pada permukaan beton. atau yang tidak memiliki permukaan akhir yang tidak memenuhi ketentuan. pembongkaran atau penggantian sebagian atau menyeluruh pada bagian pekerjaan yang memerlukan penanganan khusus. kelembaban relatif. suhu udara. dan kecepatan angin pada laju penguapan air permukaan beton (Sumber : ACI 305. 2) penanganan pada bagian struktur yang hasil pengujiannya gagal. pengecoran tidak boleh dilakukan bilamana: a) tingkat penguapan melampaui 1. T-07-2005-B b) Tempat penyimpanan agregat agar terlindung dan tidak langsung terkena sinar matahari dan hujan sepanjang waktu pengecoran. b) Bilamana terjadi perbedaan pendapat dalam hal mutu pekerjaan beton atau adanya keraguan dari data pengujian yang ada. o C Gambar 1 Pengaruh suhu beton. dapat dilakukan pengujian tambahan seperti 5 Tingkat Penguapan-kg/m2 /jam . atau yang tidak memenuhi sifat-sifat campuran yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.

Bilamana di dalam satu proyek digunakan lebih dari satu merk semen.60 0 -10 0–5 100 90 . Apabila menggunakan bahan tambahan yang dapat menghasilkan gelembung udara.15 0-5 - 100 95 – 100 80 – 100 50 – 85 10 – 30 2 – 10 b) Agregat kasar harus dipilih sedemikian rupa sehingga ukuran agregat terbesar tidak lebih dari ¾ jarak bersih minimum antara baja tulangan atau antara baja tulangan dengan acuan. 5 Bahan 5. Air yang diketahui dapat diminum dapat digunakan. hanya satu merk semen portland yang boleh digunakan. maka gelembung udara yang dihasilkan tidak boleh lebih dari 5 %.100 40 . tetapi bahan yang tidak memenuhi ketentuan gradasi tersebut harus diuji dan harus memenuhi sifat-sifat campuran yang disyaratkan dalam Pasal 6.18 (#16) 0. IIA.150 (# 100) Halus Persen Berat Yang Lolos Untuk Agregat Kasar 100 95 -100 35 . c) Perbaikan atas pekerjaan beton yang retak atau bergeser dilakukan sesuai dengan ketentuan dan spesifikasi yang berlaku. 5. dan harus mendapatkan persetujuan secara tertulis.2 Air Air yang memenuhi syarat untuk pencampuran.3 yang diperlukan untuk menjamin bahwa mutu pekerjaan yang telah dilaksanakan dapat dinilai dengan adil dengan meminta pihak ketiga untuk melaksanakannya.75 (# 4) 2. dan harus memenuhi syarat sesuai SNI 03-0624-1991. atau celah-celah lainnya di mana beton harus dicor. maka harus diadakan perbandingan pengujian kuat tekan mortar semen dan pasir dengan memakai air yang diusulkan dan dengan memakai air suling.1 (1½”) 25.300 (# 50) 0. IIIA dan IV. atau pemakaian lainnya harus bersih. b) Dalam satu campuran.8 (2”) 38. dan dibuat detail rencana perbaikan sebelum memulai pekerjaan perbaikan. Tabel 2 Ketentuan gradasi agregat Ukuran Saringan (mm) 50.3 Ketentuan gradasi agregat a) Gradasi agregat kasar dan halus harus memenuhi ketentuan yang diberikan dalam Tabel 2. T-07-2005-B dijelaskan dalam pasal 9. maka harus diajukan kembali rancangan campuran beton sesuai dengan merk semen yang digunakan.4 (1”) 19 (3/4”) 12.10 0-5 100 90 . 6 . Air yang diusulkan dapat digunakan bilamana kuat tekan mortar dengan air tersebut pada umur 7 hari dan 28 hari minimum 90 % kuat tekan mortar dengan air suling pada periode perawatan yang sama.5 (3/8”) 4.7 (1/2”) 9. Bilamana timbul keragu-raguan atas mutu air yang diusulkan dan pengujian air seperti di atas tidak dapat dilakukan.1 Semen a) Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton harus jenis semen portland yang memenuhi SNI 15-2049-1994 kecuali jenis IA.100 25 .36 (# 8) 1.70 0 . perawatan. 5.Pd.70 10 .55 0 .3.100 20 .30 0-5 100 95 .

atau dari pengayakan dan pencucian (jika perlu) kerikil dan pasir sungai. kuat yang diperoleh dari pemecahan batu atau koral. Tabel 3 Sifat-sifat agregat Sifat-sifat Keausan Agregat dengan Mesin Los Angeles pada 500 putaran Kekekalan Bentuk Batu terhadap Larutan Natrium Sulfat atau Magnesium Sulfat setelah 5 siklus Gumpalan Lempung dan Partikel yang Mudah Pecah Bahan yang Lolos Saringan No. bebas dari kotoran.1 Rancangan campuran Proporsi bahan dan berat penakaran harus ditentukan sesuai dengan SNI 03-2834-1992. minyak dan bahan-bahan lain yang mempengaruhi ikatan dengan beton. rongga dan tidak rusak oleh pengaruh cuaca.6 Cara pengambilan contoh bahan Pengambilan contoh bahan disesuaikan dengan Standar Pengambilan contoh agregat menurut ASTM D 75. Ukuran batu yang digunakan untuk beton siklop tidak boleh lebih besar dari 25 cm. b) Agregat harus bebas dari bahan organik seperti yang ditunjukkan oleh pengujian SNI 032816-1992 dan harus memenuhi sifat-sifat lainnya yang diberikan dalam Tabel 3 bila contoh-contoh diambil dan diuji sesuai dengan prosedur yang berhubungan.200 Metode Pengujian SNI 03-2417-1991 Batas Maksimum yang diijinkan untuk Agregat Halus Kasar 20 % untuk beton mutu sedang dan tinggi 40 % untuk beton mutu rendah 10 % dengan 12 % dengan natrium sulfat natrium sulfat 15% dengan magnesium sulfat 3% 18% dengan magnesium sulfat 2 % SNI 03-3407-1994 SK SNI M-01-1994-03 SK SNI M-02-1994-03 3% 1% 5. bebas dari retak.4 Sifat-sifat Agregat a) Agregat yang digunakan harus bersih. T-07-2005-B 5. keras.5 Batu untuk beton siklop Batu untuk beton siklop harus keras. awet. Batu harus bersudut runcing. Sebagai pedoman awal untuk perkiraan proporsi takaran campuran dapat digunakan Tabel 4. 7 . 6 Pencampuran dan penakaran 6.Pd. 5.

700 450 395 430 455 370 405 430 350 385 405 335 365 385 315 345 365 290 315 335 265 290 305 225 245 260 6. yang menggunakan jenis instalasi dan peralatan sebagaimana yang akan digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan.400 0.500 0. Kelecakan (workability) dan tekstur campuran harus sedemikian rupa sehingga beton dapat dicor pada pekerjaan tanpa membentuk rongga. dan sedemikian rupa sehingga pada saat pembongkaran acuan diperoleh permukaan yang rata.3 Ketentuan sifat-sifat campuran a) Campuran beton yang tidak memenuhi ketentuan kelecakan (misalnya dinyatakan dengan nilai “slump”) seperti yang diusulkan tidak boleh digunakan pada pekerjaan.400 0.550 0. dengan disaksikan oleh pihak berwenang.700 0. 8 .550 0. T-07-2005-B Tabel 4 Pedoman awal untuk perkiraan proporsi takaran campuran Jenis beton Mutu Beton Ukuran Agregat Maks.500 0. namun demikian dengan alasan-alasan tertentu dapat menggunakan nilai slump diluar Tabel 5 dengan dukungan bukti pengujian.475 0.425 0.475 0.2 Campuran percobaan Campuran percobaan harus dibuat dan diuji dengan rancangan campuran serta bahan yang diusulkan sesuai dengan SNI 03-2834-2000. gelembung udara atau gelembung air. halus dan padat. (terhadap berat) Kadar Semen 3 Min.600 0. b) Nilai slump untuk keperluan berbagai pekerjaan beton dapat menggunakan Tabel 5.450 0.Pd.475 0.500 0.425 0. 6. (mm) Rasio Air / Semen Maks.(kg/m ) dari campuran fc’ (MPa) 65 50 45 Mutu tinggi 38 σbk’ (kg/cm2) K800 K600 K500 K450 35 K400 30 Mutu sedang K350 25 K300 20 K250 Mutu rendah 15 K175 10 K125 19 37 25 19 37 25 19 37 25 19 37 25 19 37 25 19 37 25 19 37 25 19 37 25 19 0.425 0. celah.450 0.600 0.350 0.400 0.700 0.600 0.550 0.450 0.

SNI 03-2458-1991. Kekuatan beton dianggap lebih kecil dari yang disyaratkan bilamana hasil pengujian serangkaian benda uji dari suatu bagian pekerjaan yang dilaksanakan lebih kecil dari kuat tekan beton karakteristik yang diperoleh dari rumus yang diuraikan dalam Pasal 9.0 25. Dalam keadaan demikian.0 – 7.0 33.5 – 7.0 – 12.0 5. namun demikian apabila tetap menggunakan benda uji kubus maka harus dilakukan konversi terhadap benda uji silinder. SNI 03-2493-1991.0 9.5 7.5 – 9.5 2. Tabel 6 Ketentuan sifat campuran Mutu Beton Jenis beton Mutu Tinggi Mutu Sedang Mutu rendah Fc’ (MPa) (Kg/cm2) σbk’ Kuat Tekan Minimum (MPa) Benda Uji Silinder φ15 .2. balok.d) di atas dapat dilakukan pula pada umur 3 hari.5 50 45 35 30 25 20 15 10 K600 K500 K400 K350 K300 K250 K175 K125 Catatan : percepatan gravitasi (g) yang diambil sebesar 10 m/det d) Bilamana pengujian beton umur 7 hari menghasilkan kuat tekan beton di bawah kekuatan yang disyaratkan dalam Tabel 6. SNI 034810-1998. 9 .0 40.5 c) Seluruh beton yang digunakan dalam pekerjaan harus memenuhi kuat tekan yang disyaratkan dalam Tabel 6 (atau berdasarkan hasil uji laboratorium yang berwenang). pada waktu tersebut ditelaah kedua hasil pengujian umur 3 hari dan 7 hari.0 18.0 29.3.7 di atas. sebelum menerapkan tindakan perbaikan. perawatan dan pengujian sesuai dengan SNI 03-1974-1990.0 24. pelat pondasi dan pondasi telapak bertulang Pondasi telapak tidak bertulang. Kuat tekan beton umur 28 hari yang tidak memenuhi ketentuan yang disyaratkan harus dipandang sebagai pekerjaan yang tidak dapat diterima dan pekerjaan tersebut harus diperbaiki sebagaimana disyaratkan dalam Pasal 4. kaison dan konstruksi bawah tanah Pelat. Sangat tidak dianjurkan menggunakan benda uji kubus. maka pengecoran dihentikan sementara sampai penyebab dari hasil yang rendah tersebut diketahui dengan pasti dan diambil tindakan-tindakan yang menjamin bahwa produksi beton berikutnya memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam Spesifikasi. pekerjaan harus segera dihentikan pada saat pengecoran beton yang diragukan tetapi dapat memilih menunggu sampai hasil pengujian kuat tekan beton umur 7 hari diperoleh.30 cm 7 hari 32.0 21.0 7. kolom dan dinding Perkerasan jalan Pembetonan masal Slump 5. T-07-2005-B Tabel 5 Nilai slump untuk berbagai pekerjaan beton Uraian Dinding. e) Tindakan perbaikan untuk meningkatkan mutu campuran atas dasar hasil pengujian kuat tekan beton sebagaimana pasal 6.0 2 28 hari 50.0 15.0 14.5 – 15. bila pengambilan contoh.Pd.0 21. dan dapat segera diambil tindakan perbaikan yang dipandang perlu.5 10.5 26.5 2.

6. juga rasio air/semen yang telah ditentukan berdasarkan pengujian yang menghasilkan kuat tekan yang memenuhi tidak dinaikkan. memperlambat pengikatan hidrasi semen atau pengerasan beton. sebagian besar berupa mineral yang bersifat cementious seperti abu terbang (fly ash). Pengadukan kembali beton yang telah dicampur dengan cara menambah air atau oleh cara lain tidak diijinkan. T-07-2005-B f) Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi ketentuan dapat mencakup pembongkaran dan penggantian seluruh beton. mikrosilika (silicafume). yaitu : a) b) c) d) e) f) g) meningkatkan kinerja kelecakan adukan beton tanpa menambah air. Ketentuan mengenai bahan tambahan ini harus mengacu pada SNI 03-24951991. Dalam hal penggunaan bahan tambahan dalam campuran beton. Tindakan tersebut tidak boleh berdasarkan pada hasil pengujian kuat tekan beton umur 3 hari saja.4.Pd. maka kadar semen dapat ditingkatkan atau dapat digunakan bahan tambahan dengan syarat disetujui oleh Direksi Pekerjaan. 10 .4. kecuali bila ada kesepakatan para pihak yang terlibat dalam pekerjaan untuk melakukan perbaikan pada umur tersebut.1 Bilamana sifat kelecakan pada beton dengan proporsi yang semula dirancang sulit diperoleh. maka jenis dan takaran bahan tambahan yang akan digunakan untuk tujuan tertentu harus dibuktikan kebenarannya melalui pengujian campuran di laboratorium.4 6. dan ditetapkan proporsi baru berdasarkan atas hasil pengujian campuran percobaan baru dengan bahan tersebut. 6.4. maka boleh melakukan perubahan rancangan agregat. Bahan tambahan untuk meningkatkan sifat kelecakan hanya diijinkan bila telah dilakukan pengujian rancangan sebelumnya. mempercepat pengikatan hidrasi semen atau pengerasan beton. yang umumnya ditambahkan pada semen sebagai bahan utama beton. dengan syarat dalam hal apapun kadar semen yang semula dirancang tidak berubah. mengurangi susut beton atau memberikan sedikit pengembangan volume beton (ekspansi). mengurangi kecepatan terjadinya slump loss. Bila akan digunakan bahan tambahan berupa butiran yang sangat halus.3 Penyesuaian untuk bahan-bahan baru Perubahan sumber atau karakteristik bahan tidak boleh dilakukan tanpa ada persetujuan tertulis. Bahan tambahan ini boleh digunakan untuk meningkatkan kinerja beton segar (fresh concrete).2 Penyesuaian kekuatan Bilamana beton tidak mencapai kekuatan yang disyaratkan. 6. maka penggunaan bahan tersebut harus berdasarkan hasil pengujian laboratorium yang menyatakan bahwa hasil kuat tekan yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan yang diinginkan. mengurangi penggunaan air dalam campuran beton tanpa mengurangi kelecakan.4 Bahan tambahan (admixture) Bila akan menggunakan bahan tambahan. Penyesuaian campuran Penyesuaian sifat mudah dikerjakan (kelecakan atau workability) 6. beton polimer atau abu slag besi (iron furnace slag).4. meningkatkan kinerja kemudahan pemompaan beton. maka bahan tersebut ditambahkan pada saat pengadukan beton.

serta dengan proses pengadukan yang baik. g) mengendalikan ekspansi beton akibat reaksi alkali agregat. Terakhir masukkan sisa air untuk menyempurnakan campuran.6 Pencampuran a) Beton harus dicampur dalam mesin yang dijalankan secara mekanis dari jenis dan ukuran yang disetujui sehingga dapat menjamin distribusi yang merata dari seluruh bahan.Pd. Agregat harus ditimbang beratnya secara terpisah. penggunaan additive dan admixture perlu dilakukan secara hati-hati dan dengan takaran yang tepat sesuai manual penggunaannya. bahan tambahan campuran beton bisa digunakan untuk keperluan-keperluan sebagai berikut: a) meningkatkan kekuatan beton (secara tidak langsung). untuk mutu beton fc’ < 20 MPa diijinkan ditakar menurut volume sesuai SNI 03–3976–1995. i) mengurangi terjadinya segregasi. 11 . e) meningkatkan keawetan jangka panjang beton. pertama masukkan sebagian air. b) Penakaran agregat harus dilakukan dalam kondisi jenuh kering permukaan (SSD). atau dalam hal yang lebih parah. b) meningkatkan kekuatan pada beton muda. kuantitas penakaran harus sedemikian sehingga kuantitas semen yang digunakan adalah setara dengan satu satuan atau kebulatan dari jumlah zak semen. c) Cara pencampuran bahan beton dilakukan sebagai berikut. dapat menimbulkan kerusakan pada beton. kemudian seluruh agregat sehingga mencapai kondisi yang cukup basah. f) meningkatkan kekedapan beton (mengurangi permeabilitas beton). j) meningkatkan ketahanan beton terhadap abrasi dan tumbukan. Bila digunakan semen kemasan dalam zak. terutama untuk beton dengan kekuatan awal yang tinggi.5 Penakaran agregat a) Seluruh komponen bahan beton harus ditakar menurut berat. T-07-2005-B h) mengurangi terjadinya bleeding. agar pengaruh penambahannya pada kinerja beton bisa dicapai secara merata pada semua bagian beton. Untuk tujuan peningkatan kinerja beton sesudah mengeras. Ukuran setiap penakaran tidak boleh melebihi kapasitas alat pencampur. Apabila hal tersebut tidak dilakukan maka harus dilakukan koreksi penakaran sesuai dengan kondisi agregat di lapangan. Dalam hal ini perlu dimengerti bahwa dosis yang berlebih akan dapat mengakibatkan menurunnya kinerja beton. i) meningkatkan daya lekat antara beton dan baja tulangan. c) Pelaksana harus dapat menunjukkan sertifikat kalibrasi yang masih berlaku untuk seluruh peralatan yang digunakan untuk keperluan penakaran bahan-bahan beton termasuk saringan agregat pada perangkat ready mix. b) Pencampur harus dilengkapi dengan tangki air yang memadai dan alat ukur yang akurat untuk mengukur dan mengendalikan jumlah air yang digunakan dalam setiap penakaran. Untuk mendapatkan kondisi agregat yang jenuh kering permukaan dapat dilakukan dengan cara menyemprot tumpukan agregat dengan air secara berkala paling sedikit 12 jam sebelum penakaran untuk menjamin kondisi jenuh kering permukaan. c) mengurangi atau memperlambat panas hidrasi pada proses pengerasan beton. 6. d) meningkatkan kinerja pengecoran beton di dalam air atau di laut. 6. Walaupun demikian. dan selanjutnya masukkan seluruh semen yang sudah ditakar hingga tercampur dengan agregat secara merata. h) meningkatkan daya lekat antara beton baru dan beton lama.

seluruh acuan. Penggunaan pencampuran beton dengan cara manual harus dibatasi hanya pada beton non-struktural. baja tulangan atau pengecoran beton. Seluruh sisa air yang diperlukan harus sudah dimasukkan sekira seperempat waktu pencampuran tercapai. atau penyelidikan lainnya untuk memastikan cukup tidaknya daya dukung tanah di bawah pondasi.1 Penyiapan tempat kerja a) Struktur lama yang akan diganti dengan beton baru harus dibongkar atau struktur lama yang mengganggu harus dibongkar untuk dapat memungkinkan pelaksanaan pekerjaan beton yang baru. memadatkan tanah pondasi atau melakukan tindakan stabilisasi lainnya. dapat dilakukan perubahan dimensi atau kedalaman pondasi dan/atau menggali dan mengganti bahan di tempat yang lunak. 12 . 7 Pelaksanaan pengecoran 7. bersampah atau di dalam air. Beton tidak boleh dicor di atas tanah yang berlumpur. Apabila beton akan dicor di dalam air. pondasi dan galian untuk pekerjaan beton harus dijaga agar senantiasa kering.5 m3. Lokasi pengecoran juga harus dipastikan bebas dari resiko terkena air pasang atau muka air tanah dengan penanganan seperlunya. e) Bila tidak mungkin menggunakan mesin pencampur. g) Lokasi pengecoran harus dipastikan bebas dari resiko terkena air hujan dengan cara memasang tenda seperlunya. b) Pelaksana harus menggali atau menimbun kembali pondasi atau formasi untuk pekerjaan beton sesuai dengan garis yang ditunjukkan dalam Gambar Kerja dan sesuai dengan ketentuan dan Spesifikasi yang berlaku. untuk mesin yang lebih besar waktu harus ditingkatkan 30 detik untuk tiap penambahan 0. f) Seluruh galian yang disiapkan untuk pondasi harus diperiksa sebelum pemasangan acuan. Pembongkaran tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan persyaratan dan Spesifikasi yang berlaku. tulangan dan benda lain yang harus berada di dalam beton (seperti pipa atau selongsong) harus sudah dipasang dan diikat kuat sehingga tidak bergeser pada saat pengecoran. e) Bila disyaratkan menggunakan lantai kerja.Pd. maka harus dilakukan dengan cara dan peralatan khusus untuk menutup kebocoran seperti pada dasar sumuran atau cofferdam. Jika diperlukan harus disediakan jalan kerja yang stabil untuk menjamin dapat diperiksanya seluruh sudut pekerjaan dengan mudah dan aman. Bilamana dijumpai kondisi tanah dasar pondasi yang tidak memenuhi ketentuan. dapat dilakukan pencampuran beton dengan cara manual dan harus dilakukan sedekat mungkin dengan tempat pengecoran. c) Seluruh dasar pondasi. Waktu pencampuran untuk mesin berkapasitas 1 m3 atau kurang harus sekira 1. maka bahan lantai kerja untuk pekerjaan beton harus dihampar sesuai dengan ketentuan dan Spesifikasi yang berlaku.5 menit. T-07-2005-B d) Waktu pencampuran harus diukur mulai pada saat air dimasukkan ke dalam campuran bahan kering. Bila perlu dapat dilakukan pengujian penetrasi kedalaman tanah keras. dan harus membersihkan serta menggaru tempat di sekeliling pekerjaan beton yang cukup luas sehingga dapat menjamin dicapainya seluruh sudut pekerjaan. Pekerjaan pengecoran ditunda sebelum tenda terpasang dengan benar. pengujian kepadatan. d) Sebelum pengecoran beton dimulai.

c) Segera sebelum pengecoran beton dimulai. e) Pengecoran beton harus berkesinambungan tanpa berhenti sampai dengan sambungan pelaksanaan (construction joint) yang telah disetujui sebelumnya atau sampai pekerjaan selesai. d) Pengecoran beton ke dalam cetakan sampai selesai harus dalam waktu maksimum 1 jam setelah pencampuran. Beton harus dicor dalam cetakan sedekat mungkin dengan yang dapat dicapai pada posisi akhir beton. Dalam hal pengecoran di bawah air dengan menggunakan beton tremi maka campuran beton tremi tersebut harus dijaga sedemikian rupa agar campuran tersebut mempunyai slump tertentu. g) Pengecoran beton ke dalam acuan struktur yang berbentuk rumit dan penulangan yang rapat harus dilaksanakan secara lapis demi lapis dengan tebal yang tidak melampaui 15 cm. Untuk dinding beton. kelecakan yang baik dan pengecoran secara keseluruhan dari bagian dasar sampai atas tiang pancang selesai dalam masa setting time beton. Seluruh kotoran tanah yang lepas harus dibuang sebelum pengecoran beton. c) Untuk permukaan akhir struktur yang tidak terekspos dapat digunakan kayu yang tidak diserut permukaannya. kecuali digunakan bahan tambahan untuk memperlambat proses pengerasan (retarder). f) Pengecoran beton harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi segregasi antara agregat kasar dan agregat halus dari campuran. tebal lapis pengecoran dapat sampai 30 cm menerus sepanjang seluruh keliling struktur. Pemberitahuan harus meliputi lokasi. dimana pengggunaan bentuk dan jenis yang khusus untuk tujuan ini harus disetujui terlebih dahulu oleh Direksi Pekerjaan.Pd. mutu beton dan tanggal serta waktu pencampuran beton. T-07-2005-B 7. 7. Seluruh sudut-sudut tajam acuan harus ditumpulkan. b) Acuan dapat dibuat dari kayu atau baja dengan sambungan yang kedap dan kaku untuk mempertahankan posisi yang diperlukan selama pengecoran. b) Pemeriksaan acuan. Beton tidak boleh dicor langsung ke dalam air.2 Acuan a) Bilamana menggunakan acuan dari tanah maka harus dibentuk dari galian. Untuk itu harus dilakukan campuran percobaan dengan menggunakan bahan tambahan (retarder) untuk 13 .3 Pengecoran a) Pemberitahuan secara tertulis harus dibuat paling sedikit 24 jam sebelum memulai pengecoran beton. h) Tinggi jatuh bebas beton ke dalam cetakan tidak boleh lebih dari 150 cm. tulangan dan kesiapan lainnya perlu dicek ulang sebelum melakukan pengecoran. kondisi pekerjaan. d) Acuan harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dibongkar tanpa merusak permukaan beton dengan memberikan pelumas (oil form). atau meneruskan pengecoran beton bilamana pengecoran beton telah ditunda lebih dari 6 jam (final setting). maka beton harus dicor dengan metode tremi atau metode Drop-Bottom-Bucket. acuan harus dibasahi dengan air atau diolesi pelumas di sisi dalamnya yang tidak meninggalkan bekas. Bilamana beton dicor di dalam air dan tidak dapat dilakukan pemompaan dalam waktu 48 jam setelah pengecoran. atau dalam waktu yang lebih pendek sebagaimana berdasarkan pengamatan karakteristik waktu pengerasan (setting time) semen yang digunakan. dan sisi-sisi samping serta dasarnya harus dipangkas secara manual sesuai dimensi yang diperlukan. pemadatan dan perawatan. Sedangkan untuk permukaan akhir yang terekspos harus digunakan kayu yang mempunyai permukaan yang rata.

harus terlebih dahulu dikasarkan. pelat. daya pemompaan. Semua sambungan pelaksanaan harus tegak lurus terhadap sumbu memanjang dan pada umumnya harus diletakkan pada titik dengan gaya geser minimum. b) Sambungan pelaksanaan pada tembok sayap tidak diijinkan. T-07-2005-B memperlambat pengikatan awal beton. Sambungan pelaksanaan (construction joint) 7. Bilamana aliran beton terhambat maka tremi harus ditarik sedikit keatas dan diisi penuh terlebih dahulu sebelum pengecoran dilanjutkan. Baik tremi atau Drop-Bottom-Bucket harus mengalirkan campuran beton di bawah permukaan beton yang telah dicor sebelumnya i) j) Pengecoran harus dilakukan pada kecepatan sedemikian rupa hingga campuran beton yang telah dicor masih plastis sehingga dapat menyatu dengan campuran beton yang baru.Pd. c) Bilamana sambungan vertikal diperlukan. Tremi harus selalu terisi penuh selama pengecoran. mengalir di atasnya. kelecakan beton untuk mendapatkan hasil pengecoran yang sesuai dengan ketentuan. d) Pada sambungan pelaksanaan harus disediakan lidah alur dengan ke dalaman paling sedikit 4 cm untuk dinding. Sambungan pelaksanaan tidak boleh ditempatkan pada pertemuan elemenelemen struktur kecuali ditentukan demikian.4 a) Jadwal pengecoran beton yang berkaitan harus disiapkan untuk setiap jenis struktur yang diusulkan beserta lokasi sambungan pelaksanaan seperti yang ditunjukkan pada Gambar Rencana. l) Apabila dilakukan pengecoran beton yang menggunakan pompa beton dari alat Ready Mix. Pipa tremi dan sambungannya harus kedap air dan mempunyai ukuran yang cukup sehingga memungkinkan beton mengalir dengan baik. e) Pekerja dan bahan-bahan yang diperlukan harus disiapkan untuk kemungkinan adanya sambungan pelaksanaan tambahan bilamana pekerjaan terpaksa mendadak harus dihentikan akibat hujan atau terhentinya pemasokan beton atau penghentian pekerjaan oleh adanya sesuatu hal. serta antara dasar pondasi dan dinding. pemasangan dan penghentian pipa tremi serta volume beton yang dicor. 14 . f) Bonding agent yang akan digunakan untuk pelekatan pada sambungan pelaksanaan. Untuk pelaksanaan pengecoran pelat yang terletak di atas permukaan dengan cara manual. maka perlu diperhatikan kapasitas. sambungan pelaksanaan harus diletakkan sedemikian rupa sehingga pelat-pelat mempunyai luas maksimum 40 m2. yang lamanya tergantung dari lokasi pengecoran beton. cara pelaksanaannya harus sesuai dengan petunjuk pabrik pembuatnya. baja tulangan harus menerus melewati sambungan sedemikian rupa sehingga membuat struktur tetap monolit. g) Pada lingkungan air asin atau korosif. Bidang-bidang beton lama yang akan disambung dengan beton baru yang akan dicor. dibersihkan dari bahan-bahan yang lepas dan rapuh dan dilapisi dengan bonding agent yang telah diuji. sambungan pelaksanaan tidak diperkenankan berada pada 75 cm di bawah muka air terendah atau 75 cm di atas muka air tertinggi kecuali ditentukan lain dalam Gambar Kerja. tidak boleh ada air yang k) Dalam waktu 24 jam setelah pengecoran permukaan beton.

5 cm. Alat penggetar tidak boleh digunakan untuk memindahkan campuran beton dari satu titik ke titik lain di dalam acuan. Apabila alat penggetar tersebut akan digunakan pada posisi yang lain maka alat tersebut harus ditarik secara perlahan dan dimasukkan kembali pada posisi lain dengan jarak tidak lebih dari 45 cm. dan boleh diletakkan di atas acuan supaya dapat menghasilkan getaran yang merata. agar tidak terjadi segregasi pada hasil pemadatan yang diperlukan. dan usahakan tidak mengenai tulangan sehingga menghasilkan kepadatan yang menyeluruh pada bagian tersebut. penggetaran harus disertai penusukan secara manual dengan alat yang cocok untuk menjamin kepadatan yang tepat dan memadai. d) Alat penggetar mekanis dari luar harus mampu menghasilkan sekurang-kurangnya 5000 putaran per menit dengan berat efektif 0. di antara dan sekitar besi tulangan benar-benar terisi tanpa menggeser tulangan sehingga setiap rongga dan gelembung udara terisi. pemadatan beton harus sudah selesai sebelum terjadi waktu ikat awal (initial setting). c) Lama penggetaran harus dibatasi. Semua batu-batu pecah harus cukup dibasahi sebelum ditempatkan. Batu-batu ini diletakkan dengan hati-hati dan tidak boleh dijatuhkan dari tempat yang tinggi atau ditempatkan secara berlebihan yang dikhawatirkan akan merusak bentuk acuan atau pasangan-pasangan lain yang berdekatan. 7. Tabel 7 Jumlah minimum alat penggetar mekanis dari dalam Kecepatan Pengecoran Beton (m3 / jam) Jumlah Alat 4 2 8 3 12 4 16 5 20 6 > 20 >6 Apabila kecepatan pengecoran 20 m3/jam. Alat penggetar tidak boleh berada pada suatu titik lebih dari 15 detik atau permukaan beton sudah mengkilap. maka harus digunakan alat penyetor yang mempunyai dimensi lebih besar dari 7. T-07-2005-B 7. f) Jumlah minimum alat penggetar mekanis dari dalam diberikan dalam Tabel 7. Bilamana diperlukan. e) Posisi alat penggetar mekanis yang digunakan untuk memadatkan beton di dalam acuan harus vertikal sedemikian rupa sehingga tidak berada lebih dekat dari 100 mm terhadap acuan atau beton yang sudah mengeras.6 Beton siklop Beton siklop adalah beton yang terdiri dari campuran mutu beton fc’=15 Mpa (K175) dengan batu-batu pecah ukuran maksimum 25 cm. Untuk bagian konstruksi yang sangat tebal harus dilaksanakan lapis demi lapis. b) Pemadatan harus dilakukan secara hati-hati untuk memastikan semua sudut. Volume total batu pecah tidak boleh melebihi sepertiga dari total volume pekerjaan beton siklop.Pd. g) Lapisan yang digetarkan tidak boleh lebih tebal dari 500 mm.5 Pemadatan a) Beton harus dipadatkan dengan penggetar mekanis dari dalam atau dari luar acuan yang telah disetujui.25 kg. 15 . h) Dalam segala hal.

permukaan beton harus dikerjakan segera setelah pembongkaran acuan. atau dengan cara lain yang sesuai sebelum beton mulai mengeras. tanpa pasir) harus dioleskan pada permukaan lubang. tiang sandaran. jarak antar batu pecah maksimum 30 cm dan jarak terhadap permukaan minimum 15 cm. harus digaru dengan mistar bersudut untuk memberikan bentuk serta ketinggian yang diperlukan segera setelah pengecoran beton dan harus diselesaikan secara manual sampai rata dengan menggerakkan perata kayu secara memanjang dan melintang. tergantung pada keadaan cuaca dan tanpa mengabaikan perawatan. dan permukaan vertikal yang terekspos harus dibongkar dalam waktu paling sedikit 9 jam setelah pengecoran dan tidak lebih dari 30 jam. kerb. 8 Pengerjaan akhir 8. permukaan trotoar. balok. Permukaan bagian atas dilindungi dengan beton penutup (caping). 8.2 Permukaan (pekerjaan akhir biasa) a) Kecuali ditentukan lain.Pd. T-07-2005-B Untuk dinding penahan tanah dan pilar yang lebih tebal dari 60 cm. harus sedikit kasar tetapi merata dengan penyapuan. b) Beton harus diperiksa segera setelah pembongkaran acuan dan dapat segera dilakukan penambalan atas kekurang sempurnaan minor yang tidak akan mempengaruhi struktur atau fungsi lain dari pekerjaan beton. membentuk permukaan yang tegak lurus terhadap permukaan beton. atau struktur busur. kolom yang tipis dan struktur yang sejenis lebih awal 30 jam setelah pengecoran beton tanpa mengabaikan perawatan. Selanjutnya lubang harus diisi dengan adukan yang kental yang terdiri dari satu bagian semen dan dua bagian pasir dan dipadatkan. tidak boleh dibongkar hingga pengujian kuat tekan beton menunjukkan paling sedikit 85 % dari kekuatan rancangan beton. Lubang harus dibasahi dengan air dan adukan pasta (semen dan air. 16 . Seluruh perangkat kawat atau logam yang telah digunakan untuk memegang acuan dan acuan yang melewati badan beton. seperti untuk trotoar. tiap batu harus dilindungi dengan adukan beton setebal 15 cm. atau ditunjukkan dalam perhitungan bahwa beban yang ditanggung mampu menerima beban. dinding. Penambalan harus meliputi pengisian lubang-lubang kecil dan lekukan dengan adukan semen. gelegar. Adukan tersebut harus dibuat dan didiamkan sekira 30 menit sebelum dipakai agar dicapai penyusutan awal. Acuan yang ditopang oleh perancah di bawah pelat. tembok pengarah (parapet). pekerjaan harus dipahat sampai ke bagian yang utuh (sound). harus dibuang atau dipotong kembali paling sedikit 2. kecuali digunakan jenis semen tidak susut (non shrinkage cement). 8. Tonjolan mortar dan ketidakrataan lainnya yang disebabkan oleh sambungan cetakan harus dibersihkan.5 cm di bawah permukaan beton.1 Pembongkaran acuan a) Acuan tidak boleh dibongkar dari bidang vertikal. b) perataan permukaan horisontal tidak boleh menjadi licin. b) Untuk memungkinkan pengerjaan akhir. sebelum beton mulai mengeras.3 Permukaan (pekerjaan akhir khusus) Permukaan yang terekspos dapat diselesaikan dengan pekerjaan akhir berikut ini: a) bagian atas pelat. atau cara lain yang disetujui. c) Bilamana secara teknis diijinkan pengisian lubang besar akibat keropos. dan permukaan horisontal lainnya. acuan yang digunakan untuk pekerjaan yang diberi hiasan.

harus dibasahi sampai kuat tekannya mencapai minimal 70 % dari kekuatan rancangan beton berumur 28 hari. 8.1. untuk mencegah terbukanya sambungan-sambungan dan pengeringan beton. Semua bahan perawatan atau lembaran bahan penyerap air harus menempel pada permukaan yang dirawat.4 Perawatan dengan pembasahan yang yang yang dan a) Segera setelah pengecoran. dan gangguan mekanis. d) Beton semen yang mempunyai sifat kekuatan awal yang tinggi. b) Perawatan dengan uap harus dikerjakan secara menerus sampai waktu dimana beton telah mencapai 60 % dari kekuatan rancangan beton berumur 28 hari. 17 .Pd. Beton harus dijaga agar kehilangan kadar air terjadi seminimal mungkin dan diperoleh temperatur yang relatif tetap dalam waktu ditentukan untuk menjamin hidrasi yang sebagaimana mestinya pada semen pengerasan beton. Pasta yang dihasilkan dari penggosokan ini harus dibiarkan tertinggal di tempat. serta diperoleh permukaan yang rata. Bilamana acuan kayu tidak dibongkar sesuai dengan Pasal 8.5 Perawatan dengan uap a) Beton yang dirawat dengan uap untuk mendapatkan kekuatan awal yang tinggi. tidak diperkenankan menggunakan bahan tambahan kecuali bisa dipertanggung jawabkan secara teknis. 6) selama perawatan dengan uap. dan kemudian temperatur dinaikkan berangsurangsur sehingga mencapai 65 0C dengan kenaikan temperatur maksimum 14 0C / jam secara bertahap. dengan menempatkan sedikit adukan semen pada permukaannya. temperatur terlalu panas. dan seluruh rongga terisi. Lembaran bahan penyerap air ini yang harus dibuat jenuh dalam waktu paling sedikit 7 hari. ruangan harus selalu jenuh dengan uap air. c) Permukaan beton yang digunakan langsung sebagai lapis aus harus dirawat setelah permukaannya mulai mengeras (sebelum terjadi retak susut basah) dengan ditutupi oleh lapisan pasir lembab setebal 5 cm paling sedikit selama 21 hari. Perawatan dengan uap untuk beton harus mengikuti ketentuan di bawah ini : 1) tekanan uap pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh melebihi tekanan luar. 2) temperatur pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh melebihi 380C selama 2 jam sesudah pengecoran selesai. Penggosokan harus dilaksanakan sampai seluruh tanda bekas acuan. 8.5 0 C. T-07-2005-B c) permukaan yang tidak horisontal yang telah ditambal atau yang masih belum rata harus digosok dengan batu gurinda yang agak kasar (medium). b) Pekerjaan perawatan harus segera dimulai setelah beton mulai mengeras (sebelum terjadi retak susut basah) dengan menyelimutinya dengan bahan yang dapat menyerap air. 4) penurunan temperatur selama pendinginan dilaksanakan secara bertahap dan tidak boleh lebih dari 110C per jam. ketidakrataan. Adukan harus terdiri dari semen dan pasir halus yang dicampur sesuai dengan proporsi yang digunakan untuk pengerjaan akhir beton. maka acuan tersebut harus dipertahankan dalam kondisi basah sampai acuan dibongkar. 5) perbedaan temperatur beton pada saat dikeluarkan dari ruang penguapan tidak boleh lebih dari 11 0C dibanding udara luar. 3) perbedaan temperatur pada dua tempat di dalam ruangan uap tidak boleh melebihi 5. tonjolan hilang. beton harus dilindungi dari pengeringan dini.

c) Tingkat kekuatan dari suatu mutu beton diterima dengan memuaskan bilamana telah dipenuhi persyaratan sebagai berikut: 1) rata-rata dari semua nilai hasil uji kuat tekan (satu nilai hasil uji = rata-rata dari nilai uji tekan sepasang benda uji silinder yang diambil dari sumber adukan yang sama seperti telah disebutkan di atas). Dalam hal ini harus diambil paling tidak 3 (tiga) 18 . Slump yang diukur merupakan slump yang tidak mengubah komposisi campuran yang disepakati sebelumnya. Untuk masing-masing pengujian disediakan sepasang (2 buah) benda uji. di mana s menyatakan nilai deviasi standar dari hasil uji tekan. 2) tidak satupun dari nilai hasil uji tekan ( 1 hasil uji tekan sama dengan rata-rata dari hasil uji dua silinder yang diambil pada waktu bersamaan) mempunyai nilai di bawah 0. 3) apabila dalam pengambilan sepasang benda uji terdapat perbedaan nilai kuat tekan yang signifikan antara keduanya. dan pengujian harus disaksikan oleh para pihak yang terlibat. dan yang harus dirawat sesuai dengan SNI 03-4810-1998. 9. Slump yang terjadi tidak boleh melebihi 20 mm dari slump rencana. e) Bila kemungkinan terjadinya suatu beton dengan kekuatan rendah telah dapat dipastikan dan perhitungan menunjukkan bahwa kapasitas daya dukung struktur mungkin telah berkurang. yang kedua 7 hari. dan yang sekurang-kurangnya terdiri dari empat nilai (dari empat pasang) hasil uji kuat tekan yang berturut-turut.1 Pengujian untuk kelecakan (workability) Satu pengujian "slump" atau lebih. yang akan menyebabkan perbedaan temperatur pada bagian-bagian beton. harus disediakan benda uji beton berupa silinder dengan diameter 150 mm dan tinggi 300 mm.2 Pengujian kuat tekan a) Harus dibuat satu pasang benda uji untuk pengujian kuat tekan pada setiap campuran beton yang dicor dan dalam segala hal tidak kurang dari satu set pengujian untuk setiap mutu beton dan untuk setiap jenis komponen struktur yang dicor terpisah pada tiap hari pengecoran. T-07-2005-B 7) semua bagian struktural yang mendapat perawatan dengan uap harus dibasahi selama 4 hari sesudah selesai perawatan uap tersebut. serta tidak boleh kurang dari (fc’ + S). yang ketiga 14 hari dan yang keempat 28 hari.85 fc’. maka harus diambil langkah untuk meningkatkan rata-rata dari hasil uji kuat tekan berikutnya. maka diperlukan suatu uji bor (core drilling) pada daerah yang diragukan berdasarkan aturan pengujian yang berlaku. c) Pelaksana harus membuktikan bahwa peralatannya bekerja dengan baik dan temperatur di dalam ruangan perawatan dapat diatur sesuai dengan ketentuan dan tidak tergantung dari cuaca luar.Pd. harus dilaksanakan pada setiap pencampuran beton yang dihasilkan. 9 Pengendalian mutu di lapangan 9. maka perlu mendapat perhatian khusus. Setiap set pengujian minimum terdiri dari empat pasang benda uji. dan langkahlangkah lain untuk memastikan bahwa kapasitas daya dukung dari struktur tidak membahayakan. Benda uji tersebut harus dicetak bersamaan dan diambil dari contoh yang sama dengan benda uji silinder yang akan dirawat di laboratorium. d) Pipa uap harus ditempatkan sedemikian rupa atau balok harus dilindungi secukupnya agar beton tidak terkena langsung semburan uap. d) Bila salah satu dari kedua syarat tersebut di atas tidak dipenuhi. b) Untuk keperluan pengujian mutu beton. yang pertama harus diuji untuk kuat tekan beton umur 3 hari.

atau lebih bila disyaratkan). lokasi yang diwakili oleh kuat tekan benda uji bor inti yang tidak menentu (eratik) boleh diuji ulang.3 Untuk menentukan mutu bahan atau campuran atau pekerjaan beton akhir.85 fc’. perbedaan umur beton saat pengujian kuat tekan benda uji bor inti terhadap umur beton yang disyaratkan untuk penetapan kuat tekan beton (yaitu 28 hari. Dalam hal ini. Pengujian tambahan 9.75 fc’. meliputi : a) pengujian yang tidak merusak dengan menggunakan alat seperti Impact Echo. harus dilaksanakan pengujian tambahan sesuai yang diperlukan. dan tidak satupun dari benda uji bor inti yang mempunyai kekuatan kurang dari 0. c) pengambilan dan pengujian benda uji inti (core) beton. 19 . Ultrasonic Penetration Velocity (UPV) atau peralatan uji lainnya. d) pengujian lainnya sebagaimana yang direkomendasikan. perlu diperhitungkan dan dilakukan koreksi dalam menetapkan kuat tekan beton yang dihasilkan. T-07-2005-B buah benda uji bor inti untuk setiap hasil uji tekan yang meragukan atau terindikasi bermutu rendah seperti disebutkan di atas. Untuk memeriksa akurasi dari hasil pengujian bor inti. b) pengujian pembebanan struktur atau bagian struktur yang dipertanyakan.Pd. f) Beton di dalam derah yang diwakili oleh hasil uji bor inti bisa dianggap secara struktural cukup baik bila rata-rata kuat tekan dari ketiga benda uji bor inti tersebut tidak kurang dari 0.

ST. Badan Penelitian dan Pengembangan. Msi. Joko Purnomo. MT. 2) Penyusun Nama Ir.Pd. Instansi Puslitbang Prasarana Transportasi Puslitbang Prasarana Transportasi Puslitbang Prasarana Transportasi 20 . Ir. Iif Harry Setiadi. Departemen Kimpraswil. Lanny Hidayat. ex. T-07-2005-B Lampiran A (Informatif) Daftar nama dan lembaga 1) Pemrakarsa Pusat Penelitian dan Pengembangan Prasarana Transportasi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->