PROSEDUR PEMBAYARAN BELANJA MELALUI MEKANISME LANGSUNG (LS) DAN UANG PERSEDIAAN (UP

)

Fella Halida
D4 Akuntansi Khusus, STAN, Tangerang Selatan halidafella@gmail.com

ABSTRAK Dalam pencairan dana Anggaran Negara dikenal dua mekanisme pembayaran, yaitu mekanisme pembayaran langsung kepada pihak ketiga (LS) dan melalui Uang Persediaan (UP). Mekanisme LS merupakan mekanisme penyaluran pencairan dana dari kas Negara atau rekening Bendahara Umum Negara (BUN) kepada pihak ketiga sebagai penerima hak tagih kepada Negara, sedangkan mekanisme UP merupakan pembayaran kepada penerima hak tagih melalui Bendahara Pengeluaran masing-masing Satker. Mekanisme pembayaran atas beban APBN sebenarnya lebih difokuskan melalui pembayaran langsung (LS) kepada pihak ketiga, namun demikian banyak satuan kerja yang tetap menggunakan mekanisme UP untuk pembayaran kegiatan-kegiatannya. Mekanisme UP sebagai mekanisme pembayaran yang dipilih oleh satker karena alasan waktu yang mendesak ataupun alasan teknis yaitu kegiatan yang dilaksanakan tidak dapat dibayarkan langsung kepada pihak ketiga. Kata kunci : pembayaran langsung (LS), Uang Persediaan (UP), Anggaran

1.

PENDAHULUAN Dalam rangka pelaksanaan pembangunan Negara perlu melakukan belanja Negara baik belanja modal, belanja pegawai, dan lain-lain. Dalam penganggaran dikenal siklus APBN yang meliputi pertama, Perencanaan APBN yang meliputi perumusan kerangka ekonomi makro dan pokok kebijakan fiskal; penyususnan resource envelope; penetapan pagu indikatif; dan pelaksanaan Trilateral meeting, kemudian yang kedua Penyusunan APBN meliputi penetapan pagu sementara; penelaahan RKA-KL; penyusunan RAPBN dan RUU APBN; Nota Keuangan; dan himpunan RKA-KL, yang ketiga Pembahasan APBN yaitu pembahasan dengan komisi XI dan pembahasan dengan Badan Anggaran, ketiganya merupakan tupoksi dari Direktorat Jenderal Anggaran. Kemudian yang keepat yaitu Penetapan APBN, tahap ini dilakukan oleh DJA dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara (DJPBN) yang meliputi penetapan pagu definitif; penetapan RKA-KL; dan penyusuan Keppres Rincian APBN. Tahap kelima yaitu Pelaksanaan APBN meliputi pencairan anggaran dan penatausahaan penerimaan dan pengeluaran, kemudian tahap keenam yaitu Pertanggungjawaban APBN meliputi penyusunan LKPP dan penyusunan RUU Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran, tahap kelima dan keenam ini dilaksanakan oleh DJPBN. Dalam melakukan belanja Negara baik modal maupun pegawai nantinya perlu melibatkan pihak lain (biasanya swasta ataupun BUMN) sebagai rekanan. Untuk melakukan pembayaran kepada pihak rekanan diperlukan mekanisme pembayaran atau pencairan anggaran, pencairan anggaran ini terjadi pada

2. Prosedur pencairan anggaran pada kantor/satuan kerja instansi pemerintah. surat keputusan. Mekanisme pembayaran dalam pelaksanaan APBN yang berlaku saat ini terdapat dua mekanisme pembayaran yaitu melalui mekanisme pembayaran langsung (LS) dan mekanisme pembayaran Uang Persediaan (UP). Mekanisme UP yaitu melakukan pembayaran kepada penerima hak tagih melalui bendahara pengeluaran masing-masing satker. Definisi Definisi Pembayaran Langsung (LS) dan Pembayaran melalui Uang Persediaan (UP) Berdasarkan Pasal 1 angka 18 Pembayaran Langsung yang selanjutnya disebut Pembayaran LS adalah pembayaran yang dilakukan langsung kepada Bendahara Pengeluaran/penerima hak lainnya atas dasar perjanjian kerja. namun demikian banyak satuan kerja yang tetap menggunakan mekanisme UP untuk pembayaran kegiatan-kegiatannya. Dalam makalah ini penulis menggunakan data-data dari sumber-sumber yang berupa undang-undang dan peraturan terkait keuangan Negara dan Perbendaharaan Negara. LANDASAN TEORI Metode Metode yang digunakan adalah pendekatan Kepustakaan. Pihak ketiga selaku rekanan/penyedia barang jasa/jasa yang mengajukan tagihan kepada pemerintah. melibatkan berbagai pihak yaitu: 1. 2.tahap kelima yaitu Pelaksanaan APBN. seharusnya lebih menekankan pada prinsip-prinsip pembayaran LS ketimbang menggunakan mekanisme UP. 3. 2. Mekanisme UP sebagai mekanisme pembayaran yang dipilih oleh satker karena alasan waktu yang mendesak ataupun alasan teknis yaitu kegiatan yang dilaksanakan tidak dapat dibayarkan langsung kepada pihak ketiga. . Dalam makalah ini penulis akan mengupas tentang “Prosedur Pencairan Dana APBN” yang meliputi langkah-langkah dan persyaratan teknis dalam pencairan anggaran melalui pembayaran langsung (LS) dan pembayaran Uang Persediaan (UP) dalam hal ini penulis mengambil contoh yang terjadi pada Kantor Pelayanan Pajak. 3.2. surat tugas atau surat perintah kerja lainnya melalui penerbitan Surat Perintah Membayar Langsung. Sedangkan berdasarkan Pasal 1 angka 17 Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat UP adalah uang muka kerja dalam jumlah tertentu yang diberikan kepada Bendahara Pengeluaran untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari satker atau untuk membiayai pengeluaran yang menurut sifat dan tujuannya tidak mungkin dilakukan melalui mekanisme pembayaran langsung. HASIL DAN PEMBAHASAN Prosedur Pencairan Anggaran Mekanisme pembayaran LS merupakan mekanisme pembayaran yang utama di mana dalam rangka pencairan APBN.1.1. Mekanisme LS menyalurkan pencairan dana dari Bendahara Umum Negara (BUN) kepada pihak ketiga sebagai penerima hak tagih kepada negara atas prestasi/kemajuan pekerjaan yang telah diselesaikan dari pemberi pekerjaan (Kementerian/satuan kerja (satker)).

(PMK-190/PMK. seperti pembayaran honor atau untuk pengadaan barang dan jasa sampai dengan Rp 50 juta sesuai dengan keppres 80 tahun 2003 yang mengatur mekanisme tatacara pengadaan barang/jasa pemerintah. Menyusun rencana penarikan dana berdasarkan POK yang telah disusun. Berikut langkah-langkah yang harus dilakukan oleh satuan kerja setiap Awal Tahun: 3. Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 5. jika ada yang salah dan tidak sesuai segera lakukan revisi DIPA. Menunjuk petugas pengantar SPM dan Pengambilan SP2D. dan . KPPN selaku kuasa BUN. tetapi dapat dikembangkan untuk pembayaran langsung kepada pihak ketiga/rekanan tanpa melalui ikatan pekerjaan dengan sistem kontrak. 3. Langkah-Langkah Awal Tahun Anggaran (di satker):      Menetapkan Pejabat Perbendaharaan.05/2012 tanggal 29 Nopember 2012 tentang Tata Cara Pembayaran Dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. 3. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang mengajukan SPP-LS/SPP-GUP pada suatu kantor/satuan kerja.1.2. menerbitkan SP2D setelah menerima SPM dari kantor/satuan kerja. dengan dilampiri : a.2.05/2007 yang diubah dengan PMK-05/PMK. Mekanisme pembayaran LS tidak hanya untuk melakukan pembayaran dengan menggunakan sistem kontrak saja.2. Langkah-langkah awal pencairan dana anggaran (di KPPN) : 1) KPA menyampaikan surat keputusan penetapan pejabat perbendaharaan kepada Kepala KPPN selaku Kuasa BUN beserta spesimen tanda tangan dan cap/stempel Satker. serta peraturan lainnya yang masih berlaku.PMK-190/PMK. Meneliti DIPA untuk memastikan kebenaran baik jumlah dana atau akun yang digunakan. dengan menggunakan formulir dalam Lampiran I Peraturan Menteri Keuangan PMK-57/PMK.2. Mekanisme Pembayaran LS Mekanisme pembayaran langsung (LS).2. Fotokopi dokumen pelaksanaan anggaran. 3.05/2012) 2) Permohonan persetujuan pembukaan rekening dalam rangka pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran anggaran di lingkungan kementerian negara/lembaga disampaikan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala Kantor/Satuan Kerja selaku Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna Anggaran kepada Bendahara Umum Negara/Kuasa Bendahara Umum Negara. sesuai yang tersebut dalam SP2D dari KPPN mitra kerjanya.05/2010. Menyusun POK beserta jadwal kegiatan. apabila belum ada penunjukkan dapat mempergunakan pejabat yang lama dengan memberitahukan kepada KPPN. Pejabat penguji SPP/penerbit SPM yang melakukan pengujian SPP yang diajukan PPK dan menerbitkan SPM pada suatu kantor/satuan kerja. Pihak perbankan selaku bank operasional KPPN yang melakukan pemindahbukuan sejumlah uang ke rekening yang berhak. yaitu mekanisme pembayaran dari Bendahara Umum Negara (KPPN)/Negara kepada rekanan atau pihak ketiga. 4.

3. paling lambat 5 (lima) hari kerja sejak tanggal pembukaan rekening. KPPN menerbitkan surat persetujuan pembukaan rekening sesuai format lampiran III PMK57/PMK.05/2010. Dokumen yang harus dilampirkan pada SPM : SPM untuk Pembayaran langsung (LS) Belanja Pegawai : a) Gaji induk :  SPM 2 lembar beserta Arsip Data Komputer (ADK)nya.  Surat Setoran Pajak (SSP).05/2007 yang diubah dengan PMK-05/PMK.  Daftar Perubahan Data Pegawai beserta ADK Perubahan Data Pegawai (.  ADK Gaji (.SPMT.krm) setelah SK.05/2012 per 29 Nopember 2012 tentang Tata Cara Pembayaran Dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.  Foto berwarna terbaru ukuran 4 x 6  Selanjutnya KPPN menerbitkan Kartu Identitas Petugas Satker (KIPS) (PER-57/PB/2010 diubah dengan PER-41/PB/2011 diubah dengan PER-88/PB/2011) 4) PPSPM menyampaikan register pendaftaran PIN PPSPM.krm) b) Kekurangan gaji: . Registrasi dilakukan dengan mengisi formulir pendaftaran dan surat pernyataan sesuai format .6.(PER. Petugas yang ditunjuk adalah pejabat perbendaharaan atau PNS yang memahami prosedur pencairan dana. dengan menggunakan formulir dalam Lampiran II PMK-57/PMK. Menyampaikan surat penunjukan kepada KPPN (format Lampiran III PER-57/PB/2010.000. Langkah-langkah Prosedur Tahun Berjalan: Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No.05/2007 yang diubah dengan PMK-05/PMK.PRB).05/2007.  Apabila pegawai baru (CPNS): ADK kirim pegawai baru (. dilengkapi lampiran sebagai berikut :  Fotokopy KTP  Fotokopy Surat Keputusan Pengangkatan sebagai PP SPM Satu lembar Meterai Rp.2. data keluarga direkam pada aplikasi GPP dengan lengkap dan benar.b. Surat Pernyataan tentang Penggunaan Rekening.GPP).05/2010.19/PB/2012) 5) Melakukan pencairan dana dengan menggunakan aplikasi yang disediakan yaitu :  Aplikasi GPP PNS (khusus satker KD yang ada pembayaran gaji)  Aplikasi SPM dan PIN PPSPM  Aplikasi AFS 3. selanjutnya satker membuka rekening pengeluaran di Bank dan melaporkan rekening pengeluaran yang telah dibuka menggunakan formulir dalam Lampiran IV PMK-57/PMK. dilampiri:  Surat penunjukkan Petugas Pengantar SPM dan Pengambil SP2D  Foto copy SIM/KTP atau identitas lainnya.  Daftar Rekening Terlampir (penerima lebih dari 1 pegawai). berikut ini merupakan garis besar dokumen yang harus disertakan pada saat pengajuan pencairan dana APBN ke KPPN. 190/PMK.  Bila Pegawai Baru Pindahan: ADK kirim pegawai baru (. 3) KPA menunjuk petugas pengantar SPM dan Pengambilan SP2D (paling banyak 3 orang).

 ADK Gaji (.PRB).  Surat Setoran Pajak (SSP)  Daftar Rekening Terlampir (penerima lebih dari 1 pegawai). c) Gaji susulan: o Gaji Susulan Pegawai Pindahan/Baru (Jika belum pernah masuk Gaji Induk):  SPM 2 lembar beserta Arsip Data Komputer (ADK)nya.  ADK Gaji (.PRB).  ADK Gaji (.  Surat Setoran Pajak (SSP)  Daftar Rekening Terlampir (penerima lebih dari 1 pegawai).  Surat Setoran Pajak (SSP)  Daftar Rekening Terlampir (penerima lebih dari 1 pegawai).  Daftar Perubahan Data Pegawai beserta ADK Perubahan Data Pegawai (. SPM 2 lembar beserta Arsip Data Komputer (ADK)nya.GPP).GPP).PRB).  Daftar Perubahan Data Pegawai beserta ADK Perubahan Data Pegawai (. h) Uang lembur :  SPM 2 lembar beserta Arsip Data Komputer (ADK)nya dan Uraian dalam SPM menyebutkan bulan pelaksanaan lembur beserta nomor dan tanggal SPK Lembur.GPP).GPP).  ADK Gaji (.  ADK Gaji (. f) Gaji terusan:  SPM 2 lembar beserta Arsip Data Komputer (ADK)nya dan Uraian dalam SPM mencantumkan gaji terusan ke-berapa dan bulan gaji terusan dimaksud. d) Gaji bulan ke-13:  SPM 2 lembar beserta Arsip Data Komputer (ADK)nya.  Surat Setoran Pajak (SSP)  Daftar Rekening Terlampir (penerima lebih dari 1 pegawai).PRB).  Daftar Perubahan Data Pegawai beserta ADK Perubahan Data Pegawai (.  ADK Gaji (.  Daftar Rekening Terlampir (penerima lebih dari 1 pegawai).  Daftar Perubahan Data Pegawai beserta ADK Perubahan Data Pegawai (.GPP).  Daftar Perubahan Data Pegawai beserta ADK Perubahan Data Pegawai (.krm) o Gaji Susulan Pegawai Pindahan/Baru (Jika sudah masuk Gaji Induk):  SPM 2 lembar beserta Arsip Data Komputer (ADK)nya.  ADK Gaji (.  Daftar Perubahan Data Pegawai beserta ADK Perubahan Data Pegawai (. e) Uang duka/wafat/tewas :  SPM 2 lembar beserta Arsip Data Komputer (ADK)nya dan Uraian dalam SPM mencantumkan nama almarhum dan tanggal meninggal.  ADK kirim pegawai pindahan (.  Daftar Perubahan Data Pegawai beserta ADK Perubahan Data Pegawai (.  Surat Setoran Pajak (SSP)  Daftar Rekening Terlampir (penerima lebih dari 1 pegawai). g) Uang muka gaji :  SPM 2 lembar beserta Arsip Data Komputer (ADK)nya.  Daftar Rekening Terlampir (penerima lebih dari 1 pegawai).GPP).PRB).  Surat Setoran Pajak (SSP) .PRB).GPP).PRB).

3. Surat Setoran Pajak (SSP) 2. k) SPM untuk Pembayaran langsung (LS) non-belanja pegawai dilampiri dengan: 1. yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung. 5221. dan terakhir pada tahun 2005 menjadi Uang Persediaan (UP) yang dikenal sekarang ini.     3. SPM Pinjaman/Hibah Luar Negeri (P/HLN) diatur sesuai dengan SE yang masih berlaku. bulan pertama tugas belajar tunjangan jabatan hilang Tanggal pertama SK pengangkatan menjadi PNS tidak boleh melebihi tanggal TMT SK Anak dinyatakan dewasa umur 21 tahun apabila tidak kuliah. 5341.  Bila anak telah menyelesaikan sekolah/telah bekerja maka segera diubah statusnya dari daftar tanggungan gaji menjadi tidak dapat walaupun tanpa ijazah.i) j) Uang makan:  SPM 2 lembar beserta Arsip Data Komputer (ADK)nya dan Uraian dalam SPM menyebutkan bulan uang makan yang dimintakan. kemudian mengalami perubahan menjadi Uang Yang Harus Dipertanggungjawabkan (UYHD) pada tahun 1990. UP diberikan kepada bendahara pengeluaran oleh BUN/Kuasa BUN untuk membiayai kegiatan operasional kantor sehari-hari (kelompok akun 52 dan 58). dan 5811 dan biaya administrasi kegiatan pada kelompok belanja modal (kelompok akun 53) yaitu kelompok akun 5311. Terminologi uang persediaan tersebut telah melewati beberapa kali perubahan nama dan besaran jumlah. Mekanisme Pencairan Dana Anggaran dengan UP Uang persediaan merupakan uang muka kerja dengan jumlah tertentu yang bersifat daur ulang (revolving).  Surat Setoran Pajak (SSP) Ketentuan lain-lain : Pengangkatan dalam jabatan tidak boleh berlaku surut (terutama dalam jabatan pertama) Untuk pejabat struktural. 5321. dan 25 tahun apabila sekolah dengan ketentuan harus melampirkan Surat Keterangan Masih Kuliah setiap tahun. 5212. dan 5361 yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung. 5241. Uang persediaan yang diberikan kepada bendahara pengeluaran merupakan uang muka kerja dari Bendahara Umum Negara (BUN) atau Kuasa BUN yang belum membebani anggaran (Transito) yang harus dipertanggungjawabkan. yaitu untuk pengeluaran belanja barang pada klasifikasi belanja: 5211. Untuk Belanja Modal/Barang secara kontraktual ke rekening pihak ketiga. Hal ini untuk menghindari kelebihan tunjangan anak beserta berasnya. ADK kontrak terlebih dahulu disampaikan ke KPPN paling lambat 5(lima) hari kerja setelah kontrak ditandatangani 3. 5231. diberikan kepada bendahara pengeluaran hanya untuk membiayai kegiatan operasional kantor sehari-hari yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung. Sejak diperkenalkan pertama kali dengan nama Uang Untuk DiPertanggungjawabkan (UUDP). . 5331.  Anggota keluarga yang sudah tidak berhak mendapatkan tunjangan keluarga agar segera dihapus dari aplikasi GPP. dsb:  SPM 2 lembar beserta Arsip Data Komputer (ADK)nya dan Uraian dalam SPM menyebutkan bulan uang makan yang dimintakan. Untuk Jenis SPM-PNBP. Saat ini.  Surat Setoran Pajak (SSP) Honorarium tetap (Honor 51)/Vakasi/tunjangan profesi/tunjangan tambahan penghasilan non sertifikasi/uang kehormatan.

.. harus disetor ke Rekening Kas Negara.. UP dapat diberikan setinggitingginya : 1) 1/12 (satu per duabelas) dari pagu DIPA menurut klasifikasi belanja yang diijinkan untuk diberikan UP. Apabila tidak habis digunakan dalam satu bulan. Diatur pula persetujuan pemberian TUP oleh Kepala KPPN sampai dengan Rp.000 (Enam miliar rupiah).000..(dua ratus juta rupiah). harus dilampiri dengan :  Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau Pejabat yang ditunjuk.000..(lima ratus juta rupiah) untuk klasifikasi belanja yang diperbolehkan diberi UP bagi instansi dalam wilayah pembayaran KPPN bersangkutan.untuk pagu sampai dengan Rp. 2) 1/18 (satu per delapanbelas) dari pagu DIPA menurut klasifikasi belanja yang diijinkan untuk diberikan UP. 6. 900.. 500.000. Sedangkan permintaan TUP di atas Rp.000.000.400.100.000. Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan berwenang memberikan dispensasi perpanjangan waktu pertanggungjawaban TUP lebih dari satu bulan. menyatakan bahwa uang Persediaan tersebut tidak untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang menurut ketentuan harus dengan LS sesuai Lampiran VII PMK..000.000.untuk pagu diatas Rp.500.190/PMK.000.000.000 (dua ratus juta rupiah) untuk pagu diatas Rp.000. maksimal Rp. maksimal Rp. satker dapat mengajukan permintaan Tambahan UP kepada BUN/Kuasa BUN.(lima ratus juta rupiah) harus mendapat dispensasi dari Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan. 200. Dana TUP tersebut akan digunakan untuk keperluan mendesak dan akan habis digunakan dalam waktu satu bulan terhitung sejak diterbitkan SP2D.000.000. b.000.. 4) 1/30 (satu per tiga puluh) dari pagu DIPA menurut klasifikasi belanja yang diijinkan untuk diberikan UP. Surat Pernyataan dari KPA atau pejabat yang ditunjuk yang menyatakan bahwa: a. Tambahan UP digunakan paling lama satu bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan. Surat Dispensasi Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk TUP di atas Rp.500. .000. maka sisa dana yang ada pada bendahara.000. 2. maksimal Rp.400.000. Apabila terdapat sisa dana TUP.untuk pagu diatas Rp.000. 900.000. maksimal Rp.200. 50..000. Dalam hal satker membutuhkan pendanaan melebihi sisa dana UP yang dikelola.000.Berdasarkan Perdirjen Perbendaharaan nomor PER-11/PB/2011 sebagai Perubahan atas PER-66/PB/2005 khususnya pasal 7 yang mengatur pembayaran dengan mekanisme UP. harus disetor ke Kas Negara. Pengecualian terhadap hal tersebut.sampai dengan Rp. UP yang dikelola bendahara pengeluaran dilakukan pengisian kembali oleh BUN/Kuasa BUN apabila dana UP telah dipergunakan sekurang-kurangnya 75% dari dana UP yang diterima dan diajukan pertanggungjawabannya oleh satker kepada Kuasa BUN dengan SPM GU. 2.3) 1/24 (satu per dua puluh empat) dari pagu DIPA menurut klasifikasi belanja yang diijinkan untuk diberikan UP.000.000.. dilampiri :    Rincian rencana penggunaan dana Tambahan Uang Persediaan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk. Permohonan dispensasi perpanjangan batas akhir pertanggungjawaban TUP tersebut diajukan PA/KPA dengan disertai alasan yang jelas... Sedangkan untuk pengajuan SPM Pembayaran Tambahan Uang Persediaan (TUP). Dalam prosedurnya pengajuan SPM pembayaran UP.05/2012. Sedangkan pembayaran yang dapat dilakukan oleh bendahara pengeluaran kepada satu rekanan/pihak ketiga tidak boleh melebihi Rp 10 juta kecuali untuk pembayaran honor dan perjalanan dinas.

c. 1. 2. Untuk pengajuan SPM GUP (Penggantian Uang Persediaan) lampirannya :    Kuitansi/tanda bukti pembayaran. . Surat Setoran Pajak (SSP) yang telah dilegalisisir oleh Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk. Menguji faktur pajak serta SSP-nya. Prosedur Penerbitan SP2D Pengguna Anggaran atau Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk menyampaikan SPM beserta dokumen pendukung dilengkapi dengan Arsip Data Komputer (ADK) berupa soft copy (disket) melalui loket penerimaan SPM pada KPPN. c. jika SPM disetujui maka akan diterbitkan SP2D. No. 6. 5. sedangkan untuk pembayaran melalui mekanisme UP pembayaran kepada pihak ketiga (rekanan) dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran baru kemudian mekanisme pencairan dari rekening Kas Umum Negara sampai ke rekening Bendahara sama dengan prosedur LS. b. Pengujian SPM oleh KPPN mencakup: 1.c. 3.4. 4. Jenis SPM SPM UP SPM GUP SPM TUP SPM LS SPM Belanja Pegawai Induk Batas waktu penyelesaian Maks 1 jam* Maks 1 jam* Maks 1 jam* Maks 1 jam* Maks 5 hari kerja sebelum pembayaran 5 hari kerja 2. Mencocokkan tanda tangan pejabat penandatanganan SPM dengan specimen. Menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM. Pengujian formal dilakukan untuk: a. Tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung. Menguji ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA yang ditunjuk dalam SPM terebut. Pengujian substansif dilakukan untuk: a. Setelah diterbitkan SP2D langkah berikutnya adalah dilakukan pemindahbukuan dari rekening kas Negara ke rekening yang berhak/pihak rekanan untuk pembayaran melalui mekanisme LS. Menguji dokumen sebagai dasar penagihan. Memeriksa cara pengisian jumlah uang dalam angka dan huruf. awal bulan SPM Belanja Pegawai Non Gaji Induk *Terhitung sejak SPM diterima KPPN dengan benar dan lengkap Apabila memenuhi syarat akan diterbitkan SP2D namun apabila tidak memenuhi syarat maka akan ditolak dengan surat yang ditandatangani oleh Kepala KPPN. Menguji SPTB dari kepala kantor/satker. 3. e. SPM ini nantinya akan diuji terlebih dahulu oleh KPPN baik secara substansial maupun formal. b. Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja (SPTB). d. Tidak boleh terdapat cacat dalam penulisan.

Saran 1. dimulai dengan penyusunan SPP. kondisi tersebut dapat meningkatkan idle cash money pada bendahara pengeluaran yang bertolak belakang dengan prinsip-prinsip manajemen kas. dan memperpanjang rantai proses pembayaran kepada pihak ketiga/rekanan karena harus melalui bendahara pengeluaran terlebih dahulu. http://mengelolaperbendaharaan. oleh karena itu kebiasaan bendahara pengeluaran menggunakan mekanisme pembayaran UP dalam melakukan pembayaran pengeluaran APBN dapat dikurangi dengan memberikan kemudahan persyaratan pembayaran dan pencairan dana melalui mekanisme LS. Oleh karena itu perlu dilakukan pengaturan dan penataan kembali mengenai mekanisme pembayaran UP dan LS dalam rangka pengelolaan keuangan Negara yang transparan dan akuntabel.com/artikel/Peraturan_Menteri_Keuangan_Nomor_57/PMK. penerbitan SPM.05/2007 yang diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 5/PMK. sehingga memerlukan waktu yang cukup relatif lama.web. Pengujian SPP. penerbitan SP2D dan terakhir dengan pemindahbukuan sejumlah uang dari rekening kas negara ke rekening Bendahara Pengeluaran.html [5] EYP.kppnjktsatu.wikiapbn. mengajukan dispensasi TUP.4. 4.id/?pilih=lihat&id=77 . Dalam prakteknya masih terdapat satker yang mengajukan dispensasi penggunaan UP untuk melakukan pembayaran melebihi nilai Rp 10 juta. Padahal prinsip pembayaran utama adalah.05/2012 Tentang Tata Cara Pembayaran Dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara [2] Undang-Uandang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara [3] Peraturan Menteri Keuangan Nomor 57/PMK. penerbitan SP2D dan terakhir dengan pemindahbukuan sejumlah uang dari rekening kas Negara ke rekening yang berhak.05/2007 [4] MT Hadisaputra. seyogyanya mekanisme pembayaran dalam rangka APBN menggunakan mekanisme pembayaran LS. dibandingkan melalui mekanisme pembayaran LS. pengujian SPP. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Prosedur pembayaran secara langsung di mulai dari adanya tagihan kepada pemerintah. Sedangkan mekanisme UP pembayaran kepada pihak ketiga (rekanan) dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran.05/2010 Tentang Pengelolaan Rekening Milik Kementerian Negara/Lembaga/Kantor/Satuan Kerja. Mekanisme UP Dalam Rangka Percepatan Penyerapan APBN. penerbitan SPM. penyusunan SPP. 2.2.blogspot.1. Sedangkan mekanisme pencairan dari rekening Kas Umum Negara sampai ke rekening Bendahara sama dengan prosedur LS. 5. http://www. 4.com/2011/12/siklusapbn. DAFTAR REFERENSI [1] Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK. http://www. Siklus APBN. Bendahara pengeluaran lebih senang melakukan pembayaran melalui mekanisme UP dengan berbagai alasan tertentu.

bppk.net/index.php?option=com_content&task=view&id=47 [7]http://www.id/bdk/pontianak/index.kppnbengkulu.php?option=com_content&view=article&id=58%3Arepo&cati d=50%3Akeuangan&Itemid=65&showall=1 .[6] Abu Samman Lubis.depkeu.kanwildjpbnbanten. http://www. Prosedur Pencairan Anggaran Belanja Negara.net/?pilih=hal&id=16 [8]http://www.go.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful