BAB I PENDAHULUAN

Pengurangan dampak buruk NAPZA untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS dari dan di kalangan penyalahguna NAPZA suntikan (injecting drug user - IDU) dapat dilakukan melalui upaya penanggulangan yang komprehensif. Penanggulangan ini meliputi upaya promotif, preventif, terapi dan rehabilitatif serta dapat diakses oleh setiap individu pengguna NAPZA, termasuk mereka yang terinfeksi HIV. A. Program penanggulangan NAPZA Program penanggulangan NAPZA haruslah merupakan suatu paket kegiatan yang meliputi: 1. Terapi ketergantungan NAPZA, terutama terapi substitusi NAPZA seperti pemberian maintenance metadon, buprenorfin, program therapeutic community , dan terapi rawat jalan. 2. Kegiatan penjangkauan untuk mengakses, memotivasi, dan mendukung IDU yang belum dan tidak sedang menjalani terapi, yang bertujuan untuk mengurangi risiko perilaku seks yang tidak aman dan perilaku penggunaan NAPZA (yang pada akhirnya dapat menghentikan penggunaan NAPZA). 3. Program Jarum Suntik. Program ini telah terbukti dapat mengurangi dampak buruk akibat penggunaan NAPZA suntik dan tidak menimbulkan peningkatan penggunaan NAPZA maupun dampak lainnya terhadap masyarakat. 4. Program pencegahan dan edukasi NAPZA dan HIV/AIDS perlu ditingkatkan, termasuk materi mengenai cara komunikas i, informasi, dan edukasi (KIE). Program ini bertujuan untuk menimbulkan kesadaran dan penyediaan pendidikan yang khusus kepada IDU dan keluarganya mengenai cara penularan dan pencegahan HIV, pelatihan keterampilan hidup (life skills), distribusi kondom, konseling dan tes HIV sukarela dan rahasia ( voluntary and confidential counselling and HIV testing – VCT). 5. Pengobatan, perawatan, dan dukungan dengan melibatkan partisipasi masyarakat bagi IDU yang terinfeksi HIV dan keluarganya. Kegiatan ini termasuk untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang terjangkau, terapi anti-retroviral dan pengobatan infeksi oportunistik, perawatan di rumah, intervensi pencegahan penularan HIV yang efektif, mendapatkan pelayanan sosial dan masalah hukum, dukungan psiko -sosial dan pelayanan konseling.

1

B. Prinsip-prinsip advokasi untuk mencegah penularan HIV dari dan di kalangan IDU 1. Harus dapat menghindari terjadinya peningkatan dampak buruk berupa peningkatan prevalensi HIV/AIDS . 2. Tujuan jangka panjang dan pendek harus seimbang. 3. Dapat mengemukakan bukti berdasarkan hasil penelitian tentang efektifitas pencegahan HIV/AIDS dikalangan IDU. 4. Sasaran advokasi harus spesifik dan metodenya disesuaikan dengan lingkup sosial, budaya, dan politik masyarakat . 5. Ditujukan pada berbagai sektor dan tokoh-tokoh yang ada di masyarakat. 6. Harus dilaksanakan sesegera dan seluas mungkin dengan tetap memperhatikan konteks sosial, politik, dan kemampuan pendanaan. 7. IDU dan ODHA dapat dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program. 8. Kegiatan advokasi ini tidak hanya berkonsentrasi pada pencegahan HIV pada kelompok IDU saja namun juga pada perawatan, pengobatan dan dukungan, . 9. Mampu mengangkat isu baru dan memberikan respon terhadap institusi, media, dan yang lainnya dalam menanggapi HIV di kalangan IDU

2

BAB II PENDEKATAN EFEKTIF UNTUK MENCEGAH HIV/AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIK
Epidemi penyalahgunaan NAPZA suntikan dan infeksi HIV yang berkaitan dengan penggunaan jarum suntik secara bersama telah menimbulkan dampak yang serius terhadap kesehatan serta kesejahteraan sosial dan ekonomi di banyak negara. Pada tahun 2002, epidemi ganda ini telah terjadi di Amerika Utara dan Selatan, Eropa Timur, Tengah, dan Barat, Asia Selatan dan Tenggara, dan sedang mulai berkembang di Timur Tengah dan Afrika. Jumlah negara yang melaporkan adanya infeksi HIV di kalangan IDU meningkat dari 54 negara pada 1992 menjadi 120 negara pada 2001. A. CONTOH KASUS 1. Kasus di Indonesia Depkes RI bekerja sama dengan, WHO, UNAIDS dan ASA/FHI/USAID pada tahun 2002 memperkirakan terdapat 159.000 kasus pengguna NAPZA suntik di Indonesia. Dari jumlah tersebut sebanyak 42.750 kasus (33.46 %) diperkirakan positif mengidap HIV/AIDS. Dua penelitian dilakukan baru -baru ini juga menunjukkan angka infeksi HIV dikalangan IDU telah mencapai 15 %. Dalam skala yang lebih luas ini bisa berarti jika 10 % saja dari satu juta pengguna NAPZA terinfeksi HIV maka akan terdapat paling sedikit 100.000 kasus. Sedangkan pihak lain memperkirakan sebanyak 500.000 – 2 juta pengguna NAPZA di Indones ia. Sebagian besar diantaranya menggunakannya dengan cara menyuntik dan sebagian diantaranya melakukan penyuntikan secara bergantian. Pada tahun 2000, 187 narapidana di lembaga pemasyarakatan Krobokan Bali menjalani tes HIV, hasilnya 35 dari 62 (56%) Na rapidana yang mempunyai riwayat memakai NAPZA dengan menyuntik ternyata mengidap HIV positif. Sebuah pusat rehabilitasi di Bali pada tahun 2000 juga telah memeriksa tes HIV pada 14 orang pasien, 8 orang diantaranya HIV positif. Data terakhir dari Puskesmas Kelurahan Kampung Bali-Kecamatan Tanah Abang Jakarta Pusat sampai bulan Juli 2002, telah melakukan konseling tes sukarela (VCT) HIV pada 60 pengguna NAPZA suntik, 56 diantaranya atau 93% dengan hasil HIV positif. 2. Kasus di Negara Lain Ledakan epidemi HIV di kalangan IDU telah terjadi di wilayah yang luas dalam kurun waktu 20 tahun ini, dimulai di New York (USA) pada 1979, diikuti oleh kota -kota besar serupa seperti Edinburg (UK), Bangkok (Thailand), Ho Chi Minh (Vietnam), Santos (Brazil), Odessa (Ukraina), Svetlogorsk (Belarus), Moskow dan Irkutsk (Federasi Rusia) dan Narva (Estonia).

3

memotivasi. Misalnya prevalensi HIV di beberapa kota di Australia. Upaya penjangkauan juga ditujukan untuk mengembalikan IDU ke dalam proses terapi untuk mempertahankan kondisi abstinen. dan Dhaka (Bangladesh) telah tetap berada di bawah 5 %. New York. Sebagai contoh. Sedangkan epidemi HIV di kalangan IDU di Nepal. serta melintasi negara seperti Myanmar. Namun demikian. dan badan-badan internasional lainnya. badan-badan PBB bersama dengan WHO. yang dapat mengarah pada epidemi berikutnya pada kelompok subpopulasi lain di mana perilaku yang berisiko terhadap HIV biasa terjadi. o luka tertusuk jarum suntik dan transfusi darah. Dalam kurun waktu 1996 – 2001 kebanyakan bayi yang mengidap HIV di Ukraina dan Federasi Rusia dilahirkan oleh ibu yang juga IDU atau menjadi pasangan seks IDU. terutama terapi substitusi NAPZA seperti terapi maintenance metadon. Selain itu. Penularan HIV dari dan di kalangan IDU terjadi melalui beberapa cara antara lain : o penggunaan jarum suntik bersama. Epidemi HIV dengan pertumbuhan tercepat yang pernah tercatat terjadi di kalangan IDU di Rusia. telah terdapat 80-90% infeksi HIV baru di kalangan IDU pada tahun 2002. sebesar 45% dari pasangan seksual tetap IDU yang mengidap HIV terinfeksi HIV selama kurun waktu 6 tahun. di Manipur. program therapeutic community . sepakat bahwa kegiatan-kegiatan berikut ini sudah sangat diperlukan pelaksanaannya untuk mencegah penularan HIV/AIDS di kalangan IDU. o pencampuran NAPZA sebelum digunakan dan adanya ritual tertentu yang berhubungan dengan penyuntikan NAPZA. Edinburgh. di mana epidemi baru mulai muncul pada sekitar 1996. Di Eropa Timur. antara lain: • • Terapi ketergantungan NAPZA. o ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi yang dikandungnya. Pada tahun 2002 masyarakat internasional telah mencapai sebuah konsensus mengenai komposisi dari pendekatan -pengurangan dampak buruk NAPZA ini. diperlambat dan bahkan diturunkan. dan mendukung IDU yang tidak sedang dalam terapi untuk mengurangi perilaku penggunaan NAPZA berisiko dan perilaku seksual berisiko. meskipun terjadi ledakan epidemi di kalangan IDU di banyak tempat.Ledakan juga terjadi melintasi seluruh provinsi seperti Manipur di India dan Yunnan di Cina. juga mengurangi timbulnya HIV. Penurunan ini terjadi karena adanya kegiatan khusus melalui pendekatan pengurangan dampak buruk NAPZA untuk menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU. pre valensi HIV di kalangan IDU telah melonjak dari di bawah 5% menjadi lebih dari 40% dalam kurun waktu kurang dari 12 bulan. Dalam makalah yang berjudul “Preventing the transmission of HIV among drug abusers: A position paper of the United Nations System” (2000). London. infeksi dapat dicegah. prevalensi meningkat dari di bawah 10% menjadi lebih dari 60% dalam waktu 6 bulan. dan Brazil dapat diperlambat hingga beberapa tahun. o perilaku heteroseksual dan homoseksual yang berisiko tinggi. hal tersebut juga dapat memicu perluasan epidemi di negara -negara di mana sebagian besar penularan HIV terjadi melalui salah satu jalur kegiatan seks. Di beberapa daerah. Di Manipur. Kegiatan-kegiatan penjangkauan menjangkau. dapat membantu IDU mengurangi jumlah penggunaan NAPZA secara signifikan. dan program abstinensia bagi pasien rawat jalan. 4 . Epidemi HIV di kalangan IDU dapat mengakibatkan epidemi yang luas di negara yang memiliki jumlah IDU yang banyak.

c) Intervensi sebaiknya dilaksanakan berdasarkan hasil penjajakan kebutuhan (need assessment ). dan rujukan. Progam ini juga berfungsi sebagai sarana pertemuan antara IDU dengan pengelola program termasuk terapi ketergantungan NAPZA. maka akan terjadi penyebaran yang sangat cepat. Program ini akan lebih bermanfaat lagi bila dilaksanakan secara terpadu dengan program KIE. Pendekatan dengan cara menghukum dapat membuat orang-orang yang membutuhkan perawatan menyembunyikan diri. sebab begitu HIV masuk ke dalam suatu komunitas IDU. Agar langkah-langkah pencegahan menjadi lebih efektif dalam mengurangi epidemi yang sedang berlangsung. UN Human Rights documents on UN Health Promotion Policy documents. konseling. maka respon terhadap epidemi yang efektif akan sulit dilaksanakan. termasuk penanggulangan kemiskinan serta kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan lapangan pekerjaan dapat mendukung intervensi yang spesifik dengan melibatkan kegiatan-kegiatan multi-disipliner dan menyediakan pelatihan dan dukungan yang memadai . kesehatan sos ial. d) Cakupa n menyeluruh dan komprehensif pada populasi yang dituju merupakan hal yang penting . Program pencegahan HIV dan terapi ketergantungan NAPZA dalam institusi penegakan hukum seperti lembaga pemasyarakatan atau penjara. Berdasarkan kebijakan-kebijakan yang dinyatakan dalam UN Drug Control Convention and Declaration on the Guiding Principles of Drug Demand Reduction. f) Permasalahan penyalahgunaan NAPZA tidak dapat hanya ditanggulangi semata-mata dengan upaya penegakan hukum saja . e) Program pengurangan permintaan (demand reduction) NAPZA dan program pencegahan HIV harus terintegrasi dalam suatu kebijakan kesehatan dan kesejahteraan sosial melalui program promotif-preventif. 5 . merupakan komponen yang sangat penting dalam mencegah penularan HIV. g) Upaya untuk menghentikan penularan HIV memerlukan 3 strategi sebagai berikut: • Mencegah penyalahgunaan NAPZA.• Program pertukaran jarum suntik (perjasun) menunjukkan pengurangan dalam perilaku penyuntikan yang berisiko dan penularan HIV. Masyarakat menjadi lebih rentan terhadap infeksi bila masalah ekonomi. Hal ini termasuk bila hak-hak sipil tidak dihargai. program penanggulangan AIDS. dan hak-hak budaya mereka tidak dihargai. besarnya masalah penyalahgunaan NAPZA serta kecenderungan dan pola infeksi HIV. b) Pencegahan HIV pada kelompok IDU harus dimulai sedini mungkin. misalnya terapi substitusi NAPZA. • Memfasilitasi agar IDU bersedia menjalani terapi ketergantungan NAPZA • Membentuk kelompok-kelompok penjangkauan dengan mengikutsertakan IDU dalam strategi pencegahan HIV yang akan melindungi mereka dan teman-temannya serta keluarganya dari bahaya HIV serta mendorong mereka agar bersedia menjalani terapi ketergantungan NAPZA dan perawatan medis. Lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat. prinsip -prinsip dan pendekatan strategis berikut ini dapat digunakan untuk menanggulangi HIV/AIDS di kalangan IDU: a) Perlindungan terhadap hak asasi manusia adalah penting bagi keberhasilan pencegahan HIV/AIDS. Sarana ini dapat menyediakan berbagai terapi alternatif. perlu menjangkau sebanyak mungkin individu dari populasi yang berisiko. h) Fasilitas sarana pelayanan terapi perlu disiapkan dengan berbagai jenis dan metode terapi yang sesuai dengan kebutuhan IDU.

l) Kegiatan penjangkauan dan pendidikan kelompok sebaya di luar fasilitas pelayanan kesehatan diperlukan untuk menjangkau kelompok yang tidak terjangkau oleh fasilitas pelayanan kesehatan tersebut. intervensi pencegahan HIV yang efektif. serta pendistribusian materi KIE dan upaya pencegahan. Penjangkauan IDU dapat dilakukan melalui pendid ikan dengan cara tatap muka mengenai risiko -risiko HIV dan langkah-langkah pencegahannya.Pendidikan tentang dampak buruk .Cara penyuntikan yang aman . sehingga IDU dengan mudah mendapatkan pelayanan pencegahan HIV. PRINSIP-PRINSIP PENGURANGAN DAMPAK BURUK Prinsip-prinsip pelaksanaan program pengurangan dampak buruk NAPZA dalam mencegah in feksi HIV di kalangan IDU adalah : 1. Kebijakan yang mendukung.i) Meningkatkan partisipasi aktif kelompok sasaran (IDU) terhadap permasalahan HIV dalam seluruh upaya pengembangan dan pelaksanaan program. 2. Penyediaan terapi substitusi NAPZA dapat membantu IDU dalam mengurangi atau menghentikan penyuntikan NAPZA. 3. merupakan sarana utama dalam pencegahan HIV dari dan di kalangan IDU. B. termasuk kemudahan untuk mendapatkan pelayanan medik yang terjangkau secara ekonomi dan perawatan di rumah. Penggunaan materi KIE ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran akan risiko HIV di kalangan IDU. perundang-undangan.Pendidikan sebaya • Konseling tes HIV secara sukarela dan rahasia (VCT) • Terapi ketergantungan NAPZA • Pelayanan kesehatan dasar dan rujukan • Pertukaran jarum suntik • Penjualan dan distribusi jarum suntik • Terapi substitusi dengan menggunakan metadone. dan advokasi yang terarah dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi diskriminasi. 5. pelayanan sosial dan hukum. m) Program kegiatan intervensi dalam pencegahan HIV di kalangan IDU meliputi: • Menyelenggarakan KIE • Penjangkauan pengguna NAPZA • Pendampingan termasuk : . Oleh karena itu perlu adanya sumberdaya yang memadai untuk dapat menjangkau klien yang banyak dimasyarakat . j) Program pengobatan harus menyediakan pemeriksaan terhadap HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya serta memberikan konseling untuk membantu IDU agar dapat mengubah perilaku berisiko atau mencegah risiko terinfeksi k) Program pencegahan penularan HIV juga harus berfokus pada perilaku seksual berisiko di kalangan IDU atau pengguna NAPZA lainnya. 4. pendidikan kesehatan serta motivasi di kalangan IDU dan masyarakat sekitarnya. 6 . Penyediaan alat suntik yang steril dan zat suci hama seperti cairan pemutih termasuk penyediaan kondom. buprenorphin n) Dukungan dan perawatan yang melibatkan partisipasi masyarakat harus disediakan bagi IDU yang terinfeksi HIV dan keluarganya. dukungan psiko-sosial dan pelayanan konseling.

termasuk komunikasi. 7 . dan terapi yang efektif akan membutuhkan perubahan perilaku dan meningkatkan ketersediaan akses pelayanan yang tidak membeda-bedakan. (Paragraf 52). Mengakui bahwa strategi-strategi pencegahan. termasuk kondom bagi lakilaki dan wanita dan peralatan suntik yang steril. kondom. Mengimplementasikan langkah-langkah yang dapat mengurangi atau menghilangkan kebiasaan berbagi peralatan suntik yang tidak steril. menyatakan bahwa: (Paragraf 23). dalam bahasa yang paling mudah dimengerti oleh kebanyakan masyarakat dan sesuai dengan budayanya. selaras dan tidak timbul permasalahan hukum untuk keberhasilan program pencegahan HIV di kalangan IDU. mikrobisida. • Hingga tahun 2002. begitu pula penelitian dan pengembangan yang terus meningkat.Pada tahun 2001. perawatan. dan edukasi. Majelis Umum PBB mempertimbangkan isu-isu HIV/AIDS dan pada UN General Assembly Special Session on HIV/AIDS (UNGASS) Decleration of Commitment yang ditandatangani oleh perwakilan dari 189 negara. Program penjangkauan dan program jarum suntik merupakan metode yang efektif dalam mempertahankan prevalensi HIV yang rendah di kalangan IDU. antara lain untuk vaksin. Makalah-makalah tersebut mengacu pada hal-hal di bawah ini. Hingga tahun 2005. Program ini ditujukan untuk: o mengurangi perilaku berisiko dan mendorong perilaku seksual yang bertanggung jawab. etika. dan rehabilitatif dapat diakses oleh seluruh individu yang menggunakan dan menyalahgunakan NAPZA . informasi. memastikan: program pencegahan yang beragam yang mempertimbangkan keadaan lingkungan setempat. pelicin. o perluasan akses ke fasilitas pelayanan konseling dan tes HIV sukarela dan rahasia. terapi. o terapi dini dan efektif untuk infeksi yang ditularkan secara seksual. UNAIDS telah menempatkan enam makalah mengenai penggunaan NAPZA suntikan dalam Best Practice Collection. termasuk mereka yang terinfeksi HIV/AIDS. preventif. diagnosis dan teknologi yang terkait. sebagai upaya terbaik dalam menanggulangi HIV/AIDS di kalangan IDU: • • Memastikan bahwa kebijakan dan strategi nasional mengenai NAPZA dan HIV/AIDS harus sejalan. o perluasan akses penyediaan bahan-bahan penting lainnya. dan nilai-nilai budaya yang terdapat ditiap negara. Komite Narkotika ( Committee on Narcotic Drugs) mengeluarkan suatu resolusi mengenai HIV/AIDS dan penggunaan NAPZA yang mendukung Negara-negara Anggota Komisi untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan dibawah ini: • Meningkatkan upaya-upaya untuk mengurangi permintaan akan NAPZA dan memastikan bahwa paket program penanggulangan secara komprehensif yang terdiri dari langkahlangkah promotif. o upaya-upaya pengurangan dampak buruk yang berkaitan dengan penggunaan NAPZA . o penyediaan darah untuk transfusi yang aman. obat-obatan termasuk terapi anti-retroviral. Pada tahun 2002. termasuk tidak berhubungan seks sama sekali atau setia pada satu pasangan. peralatan suntik yang steril.

Pendidikan kelompok sebaya di kalangan IDU dalam pencegahan HIV mencakup pendidikan penjangkauan dan program kelompok sebaya dalam fasilitas terapi ketergantungan. Penolakan dari pihak kepolisian terhadap program jarum suntik yang dianggap bertentangan dengan upaya-upaya penegakan hukum yang melarang pemasokan NAPZA atau melarang ketersediaan peralatan suntik. dapat mengurangi kenyamanan lingkungan. Penolakan ini terjadi dalam beberapa b entuk. sementara pasien “yang tidak berdosa” tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Jumlah ini kurang dari setengah jumlah negara -negara yang mempunyai kasus HIV di kalangan IDU. Inisiatif regional untuk membantu negara -negara mengadopsi panduan-panduan resmi untuk memfasilitasi kegiatan pencegahan. dan melibatkan masyarakat dalam upaya penanggulangan. dan dapat menginformasikan fasilitas pelayanan kesehatan dan sosial kepada IDU. C. FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT PROGRAM Meskipun telah mendapatkan dukungan dari badan-badan internasional dan berbagai kesepakatan internasional. Persepsi dari petugas kesehatan sendiri yang beranggapan bahwa pengobatan m edis bagi IDU hanya akan menyia -nyiakan sumber daya yang sudah terbatas dan para pengguna NAPZA dianggap sebagai “sampah masyarakat”. antara lain: • • • • • • • Kekuatiran yang tidak terbukti. Kritikan bahwa langkah-langkah yang efektif ini terlalu toleran dan seharusnya diganti dengan cara memberi hukuman pada para pengguna NAPZA . Di sejumlah negara. kegiatan -kegiatan seperti itu seringkali dilakukan dalam ruang lingkup yang sangat kecil atau berupa proyek percontohan saja. bahwa kegiatan pencegahan yang efektif akan meningkatkan jumlah pengguna NAPZA. Panduan tersebut bertujuan agar para politisi dan media menjadi lebih peka terhadap masalah ini. telah terjadi penolakan yang kuat terhadap pengenalan dan pengelolaan program-program efektif ini. Bahkan di negara-negara yang telah melaksanakan satu atau lebih program-program efektif ini. karena dalam program ini penghentian penggunaan NAPZA (abstinensia) bukan merupakan tujuan utama. Penjajakan cepat (rapid assesment) sebagai suatu metode untuk mendapatkan pemahaman yang cepat mengenai HIV/AIDS dan situasi penggunaan NAPZA di mana intervensi yang efektif dapat dikembangkan. Kekuatiran bahwa program metadon maintenance dan program efektif lainnya bukan merupakan bentuk terapi ketergantungan NAPZA yang tepat.• • • Program jarum suntik sebagai salah satu cara yang efektif dan murah untuk mengontrol epidemi HIV di kalangan IDU. Penolakan dari pemerintahan daerah dan masyarakat sekitar terhadap pendirian tempattempat untuk pelaksanaan program harm reduction ini dengan alasan bahwa fasilitas-fasilitas pelayanan yang melayani para IDU. namun kegiatan-kegiatan efektif yang berhubungan dengan HIV/AIDS dan penggunaan NAPZA suntikan baru dilaksanakan di 55 negara di dunia. 8 . mendorong penelitian. Penjelasan berbagai media masa yang membandingkan program yang terlalu “berbaik hati” terhadap para pengguna NAPZA yang tidak bisa diperbaiki lagi.

Beberapa jenis penolakan yang mungkin terjadi: • Kurang atau terlambatnya pengakuan para politisi maupun birokrat bahwa masalah IDU ini merupakan masalah yang serius. mengelola. program jarum suntik seringkali dihubungkan sebagai kegiatan -kegiatan harm reduction. misalnya pernyataan bahwa program harm reduction ini bertentangan dengan budaya atau ajaran agama yang berlaku. 9 . atau mempromosikan pendekatan pengurangan dampak buruk ini untuk pencegahan HIV/AIDS di kalangan IDU. • • • • • • D. Keyakinan umum di beberapa negara pada mekanisme penegakan hukum dan pendekatan yang semata -mata mengarah pada penghentian total dari penggunaan NAPZA (abstinent only approach ) dapat “memecahkan” masalah ketergantungan NAPZA (termasuk infeksi HIV yang berkaitan dengan penggunaan NAPZA). Istilah lain harm reduction adalah langkah-langkah apa saja yang dapat membantu mengurangi risiko penggunaan NAPZA (sehingga memungkinkan dimasukkannya kegiatan-kegiatan pengurangan pemasokan (supply reduction ) dan pengurangan permintaan (demand reduction). Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman tentang masalah yang terkait dengan adiksi NAPZA (khususnya di beberapa negara berkembang dan negara transisi). Dalam definisi ini. Kritikan. pembuat kebijakan. Kurangnya pengalaman atau pelatihan mengenai pengurangan dampak buruk NAPZA di antara para petugas kesehatan dan petugas LSM. Kritikan terhadap pengurangan dampak buruk NAPZA dari pusat-pusat terapi dan lembaga penelitian yang menganggap bahwa sistim penegakan hukum dan terapi ketergantungan NAPZA sebaiknya mengarah pada penghentian tota l (abstinensia). TERMINOLOGI Istilah “ harm reduction” telah digunakan secara luas pada tahun 80-an untuk program-program dan kebijakan-kebijakan yang mencoba merespon secara efektif ancaman serius epidemi HIV dari dan di kalangan IDU tersebut.• • Kekuatiran bahwa penekanan pada program pencegahan HIV yang efektif bagi IDU merusak program utama pencegahan NAPZA maupun program terapi ketergantungan NAPZA di negara tersebut. Namun demikian. Definisi yang biasa dipakai mengacu pada upaya -upaya untuk mengurangi dampak kesehatan. seringkali berdasarkan pada keterbatasan dan kurangnya pengetahuan tentang program ini. Kurangnya kesadaran masyarakat akan efektifitas pendekatan pengurangan dampak buruk NAPZA ini dan manfaatnya dalam mengurangi epidemi HIV di kalangan IDU. Kurangnya pengalaman atau pelatihan mengenai advokasi dan cara pendekatan dikalangan para petugas kesehatan. maupun mereka yang sedang berupaya untuk memulai. LSM. ekonomi dan sos ial yang merugikan sebagai akibat dari penggunaan NAPZA . tidak ada persetujuan internasional mengenai definisi harm reduction ini. Kurangnya pengetahuan di kalangan pembuat kebijakan mengenai seberapa cepat infeksi HIV dapat menyebar di kalangan IDU dan program pengurangan dampak buruk NAPZA .

Pemberian istilah pada sejumlah kegiatan adalah untuk menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan ini memiliki tujuan-tujuan yang berbeda (terutama dalam jangka pendek) dan memiliki cara -cara yang berbeda pula dengan pendekatan lain. Badan-badan internasional menyetujui bahwa ini merupakan respon yang tepat apabila tindakan yang lain seperti demand reduction dan pengurangan dampak buruk NAPZA (harm reduction) untuk mencegah HIV/AIDS dari dan di kalangan IDU juga dilaksanakan – meskipun ada perbedaan pendapat tentang jenis sumber daya yang harus disediakan untuk ke tiga area ini. masih terdapat perdebatan yang seru mengenai penggunaan istilah “harm reduction”. dilaksanakan. sehingga istilah dan kegiatan apapun yang digambarkan dalam istilah ini selalu ditolak. mengurangi atau menghentikan penggunaan NAPZA) dengan 10 . dan dikembangkan: seperti yang dapat dilihat pada perjanjian internasional mengenai kebutuhan untuk kegiatan -kegiatan ini. adalah kegiatan -kegiatan yang telah disebutkan sebelumnya ini hendaknya dapat dipromosikan. dan mengajak para pengguna NAPZA aktif untuk mau mengontrol. Hal yang paling penting dari perdebatan ini. Oleh karena itu. Demikian pula halnya. melatih para remaja agar mampu menolak tawaran untuk tidak menggunakan NAPZA. dipertahankan. pelaksana advokasi harus berhati-hati dalam mempertimbangkan istilah yang akan digunakan. Dalam beberapa konteks. Istilah lain yang digunakan dalam buku panduan ini merupakan perbedaan antara kebijakan dan strategi yang dikenal sebagai “ supply reduction” (misalnya mencegah NAPZA masuk ke suatu negara dan menangkap penjual NAPZA) yang semata -mata merupakan suatu pendekatan pada penegakan hukum. Supply reduction mengacu pada berbagai tindakan yang digunakan oleh berbagai negara untuk mengontrol atau menghapus ketersediaan NAPZA dijalur ilegal. dan sebagian yang lain menyatakan tidak ada bedanya. sebagian yang lain lebih menyukai kebalikannya. istilah “harm reduction” ini tak dapat diterima secara politis karena dapat diintepretasikan sebagai legalisasi obat-obatan.Beberapa penggunaan lain istilah ini juga merujuk pada upaya-upaya untuk mengadakan perubahan terhadap kebijakan mengenai NAPZA (termasuk hukum yang berkenaan dengan penggunaan NAPZA) sebagai langkah penting dalam mengurangi risiko penyalahgunaan NAPZA terhadap individu atau pun masyarakat. perbedaan antara penerapan kegiatan-kegiatan demand reduction (mendidik masyarakat tentang masalah penggunaan NAPZA. istilah ‘risk reduction’ lebih banyak digunakan untuk merujuk berbagai kegiatan termasuk yang telah dijelaskan di awal bab ini. Sebagian orang yang bergerak dalam penanggulangan HIV di kalangan IDU lebih suka menggunakan istilah “harm reduction” dari pada “ risk reduction”. Apabila upaya-upaya supply reduction mengabaikan semua pendekatan yang lain. Karena kelemahan definisi ini dan untuk alasan-alasan politis yang berkaitan dengan pandangan beberapa organisasi maupun individu. Di beberapa negara. maka upayaupaya ini disebut sebagai “pendekatan penegakan hukum semata ( law enforcement only approach)” dan ini dinyatakan PBB sebagai upaya yang tidak efektif untuk mengatasi HIV/AIDS di kalangan IDU dan permasalahan lain yang berkaitan dengan penggunaan NAPZA.

misalnya istilah ”strategi”. dan sebagainya. perbaikan hak asasi manusia. banyak penelitian mengenai keefektifan metode terapi ketergantungan NAPZA. telah disepakati bahwa dibutuhkan bermacam-macam metode terapi. metode dan ide militer para pemikir politik yang militeris tik dapat menjadi sangat berguna. dan advokasi. “kampanye”. perbaikan kekuasaan. Pemilihan istilah militer dalam buku panduan ini merefleksikan pengalaman dan pandangan dari banyak ahli pada cara-cara di mana upaya -upaya advokasi yang berhasil telah terjadi perubahan yang besar dalam waktu yang singkat. Istilah ini dikenal sebagai abstinence only approach dan populer terutama di kalangan institusi terapi ketergantungan NAPZA pada tahun 60-an. Buku panduan ini lebih memfokuskan pada metode yang telah terbukti menghasilkan hasil yang cepat dan dramatis. Beberapa pelaksana advokasi lebih memilih untuk menghindari istilah militer. 11 . Demand reduction . Istilah-istilah yang pada mulanya digunakan dalam konteks kemiliteran saat ini digunakan sebagai referensi dalam berbagai kegiatan. dan pemahaman yang lebih luas mengenai adiksi dan cara orang menggunakan dan berhenti dari NAPZA. “taktik”. Upaya untuk mengurangi atau memberhentikan penyuntikan. yang dapat menyebabkan kekuatiran pada beberapa pembaca. Namun demikian.pendekatan yang hanya mengarah pada berhenti total dari penggunaan NAPZA (abstinence only approach). sekarang digunak an dalam peristilahan politik. Metode terapi substitusi NAPZA. Meskipun demikian. Untuk advokasi yang cepat dan efektif dalam konteks perluasan pandemi HIV/AIDS yang sangat cepat. dapat menjadikan para pengguna berhenti total (total abstinent) sebagai tujuan jangka panjang. bisnis. namun tidak begitu halnya dengan abstinent only approach (yang tidak menyertakan terapi substitusi NAPZA dan tujuan terapi jangka pendek lainnya) hal ini dianggap tidak efektif dalam mengatasi HIV/AIDS di kalangan IDU. merupakan bagian penting dari suatu pengurangan dampak buruk NAPZA. terutama penyediaan berbagai layanan terapi ketergantungan NAPZA termasuk terapi substitusi NAPZA. Program demand reduction merupakan bagian penting dari pengurangan dampak buruk NAPZA dalam mengatasi HIV di kalangan IDU. meningkatkan keterampilan sosial. adalah istilah yang diambil dari bidang militer. Beberapa istilah lain. Dengan munculnya epidemi HIV di kalangan IDU. metode ini perlu diimbangi dan barangkali malah diganti dengan metode yang lebih membangun peningkatan demokrasi. masih ada beberapa pandangan pemerintah. dalam jangka panjang. mengurangi perilaku kriminal dan lain-lain sebagai tujuan jangka pendek juga dapat diterapkan. Para pelaksana advokasi perlu secara seksama mempertimbangkan gabungan yang tepat dari pendekatan jangka pendek dan jangka panjang berdasarkan konteks sosial dan politik di mana mereka bekerja. organisasi dan individu yang mempercayai bahwa hanya satu tujuan yang bisa diterima dalam terapi ketergantungan NAPZA yaitu bahwa pengguna berhenti ( abstinensia) menggunakan NAPZA selamanya. “target”.

dan langkahlangkahnya sendiri untuk mengarah pada advokasi yang efektif. khususnya yang berhubungan dengan HIV/AIDS di kalangan IDU. Buku panduan ini merupakan ringkasan dari beberapa pendekatan yang diambil dari berbagai sumber. kebijakan. Kebijakan publik cenderung formal dan tertulis termasuk pernyataan -pernyataan.BAB III TINJAUAN DAN PRINSIP-PRINSIP ADVOKASI A. 3. posisi atau program-program dari semua jenis institusi. Departemen Dalam Negeri. definisi di atas terlalu umum atau juga sempit bagi yang melaksanakan advokasi untuk pendekatan penanganan HIV/AIDS yang efektif di kalangan IDU. tindakan yang diarahkan pada pengubahan kebijakan. atau tindakan-tindakan yang dipaksakan oleh pihak-pihak berwenang untuk membimbing atau mengawasi institusi. upaya yang terorganisir untuk mempengaruhi pengambilan keputusan. Kebijakan dapat didefinisikan sebagai cara masyarakat dan institusi mengatasi berbagai isu baik yang tertulis (misalnya undang-undang) ataupun tidak tertulis (misalnya etika. Departemen Sosial. dan berbagai wakil rakyat di DPR yang menangani masalah penggunaan NAPZA dan/atau HIV/AIDS. Namun demikian. prinsip. Departemen Pertahanan dan Keamanan. Birokrat. Politisi. Dapat dicatat bahwa tidak ada padanan yang tepat untuk istilah “advokasi” dalam beberapa bahasa. Semuanya difokuskan untuk memberikan pengalaman kepada orang-orang yang telah melaksanakan advokasi baik yang berhasil maupun tidak. APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN ADVOKASI Banyak naskah dan buku panduan telah dihasilkan untuk membantu upaya-upaya advokasi pada program dan kebijakan HIV/AIDS. KELOMPOK SASARAN ADVOKASI ANTARA LAIN: • • Pembuat kebijakan di beberapa Departemen termasuk Kesehatan. upaya mempengaruhi kebijakan publik melalui berbagai bentuk komunikasi persuasif. untuk itu opini dan perilaku dari berbagai kelompok sasaran perlu dipengaruhi. Masing-masing menggunakan definisi. 12 . termasuk para menteri yang bertanggungjawab untuk Departemen di atas. masyarakat. dan perilaku individu. Kehakiman dan HAM termasuk didalamnya Lembaga Pemasyarakatan. Definisi advokasi yang paling sederhana adalah : 1. 2. Kebijakan dapat bersifat formal (seperti Strategi Nasional Penanggulangan AIDS) atau informal (fakta bahwa beberapa tempat kerja tidak mau memperkerjakan ODHA). Departemen Keuangan. norma sosial).

Kelompok-kelompok yang paling penting untuk diadvokasi tergantung dari masalah sosial yang dihadapi. Kalangan pers dan medi a massa. Para dokter dan petugas kesehatan lainnya khususnya yang tidak memiliki pengalaman bekerja dengan pengguna NAPZA. dukungan. dan internasional yang bergerak dalam bidang kesehatan. Para guru. LSM lokal. PRINSIP-PRINSIP ADVOKASI 1. polisi hanya dapat memantau kegiatan tersebut. hak asasi manusia dan sebagainya. Pimpinan informal masyarakat seperti tokoh-tokoh masyarakat baik tingkat lokal atau tingkat nasional. NAPZA. dosen dan komite sekolah Orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pencegahan dan terapi ketergantungan NAPZA. B. penegakan hukum. C. Para pimpinan berbagai agama. Sebagai contoh. bahkan akan terjadi peningkatan dampak buruk. kelompok atau organisasi yang berpengaruh melalui berbagai kegiatan persuasif untuk secepatnya dapat menerapkan pengurangan dampak buruk NAPZA dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS dari dan di kalangan IDU. dan perawatan kepada IDU dengan HIV/AIDS. Jika polisi mau menangkap klien yang berada dalam kegiatan tersebut atau meminta daftar nama dan alamat IDU. Masyarakat sekitar dan anggota keluarga di lokasi program pencegahan atau terapi (termasuk perumahan dan perkantoran).• • • • • • • • • Kepolisian dan Badan Narkotika Nasional. Kegiatan advokasi harus menghindari terjadinya kesalah pahaman peningkatan dampak buruk Pengurangan dampak buruk NAPZA untuk mencegah HIV/AIDS di kalangan IDU harus dilaksanakan secara terus menerus. HIV/AIDS. dalam kegiatan penjangkauan. mempertahankan atau meningkatkan kegiatan-kegiatan tertentu sampai pada suatu tingkatan dimana kegiatan ini akan lebih efektif mencegah infeksi HIV di kalangan IDU dan membantu dalam pengobatan. nasional. TNI (yang sering kali beranggapan bahwa pendekatan penegakan hukum merupakan satu-satunya cara yang dapat memecahkan permasalahan penggunaan NAPZA dan HIV). tetapi advokasi yang sukses perlu memperoleh dukungan dari semua kelompok sasaran advokasi. DEFINISI ADVOKASI Advokasi adalah upaya-upaya terpadu yang dilakukan oleh sekelompok individu atau organisasi untuk: ð Meyakinkan seluruh individu. Dengan kata lain advokasi bukanlah merupakan pekerjaan seorang individu saja. maka hal ini akan mengurangi kepercayaan para pengguna NAPZA terhadap kegiatan tersebut. 13 . dan ð Memulai.

penekanan usaha-usaha advokasi harus difokuskan pada tujuan jangka pendek seperti mencegah penularan HIV di kalangan IDU. Advokasi hendaknya juga dilihat sebagai proses yang melibatkan kegiatan-kegiatan di setiap tingkat masyarakat mulai dari desa. Spesifik dan terarah. Sedangkan beberapa pihak berpendapat bahwa tujuan tersebut tak akan pernah tercapai. diskriminasi rasial dan jender. Tujuan harus dikaitkan dengan kegiatan yang dapat dibuktikan dengan penelitian Perlu dipastikan bahwa semua kegiatan advokasi yang dilaksanakan dapat dibuktikan berhasil melalui penelitian. Kecuali jika penyalahguna NAPZA tadi telah diberitahu sebelumnya dan memahami secara jelas konsekuensi yang mungkin terjadi atas publikasi tersebut. sejarah. untuk mencegah penularan HIV dari dan di kalangan IDU. Hal ini dapat menimbulkan masalah yang serius dan perlu dicegah. Untuk mendapatkan hasil advokasi yang maksimal dengan lingkungan yang mendukung dalam penanggulangan HIV/ AIDS di kalangan IDU. dan politik Dalam banyak hal. Sebagai contoh. regional dan 14 . kecamatan. nasional. Dapat menyeimbangkan tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang Banyak orang berpendapat bahwa penanggulangan penyalahgunaan NAPZA harus dilakukan secara lengkap dan tuntas. 3.Risiko yang timbul pada seseorang dapat juga terjadi selama proses advokasi. Untuk mencapai tujuan ini dibutuhkan beberapa tahun atau dekade. Ini berarti bahwa seluruh penyalah guna NAPZA harus berhenti total. dan masyarakat dan menyesuaikan kegiatan dengan masalah yang ada. kabupaten/kota. advokasi disesuaikan dengan situasi masyarakat. yang harus disesuaikan dengan masalah sosial. Kegiatan ini harus dapat menerima kenyataan bahwa IDU ada dalam masyarakat. budaya. berbagai program dan kebijaka n harus segera dimulai. Keberhasilan advokasi tergantung juga pada penggunaan berbagai strategi yang saling melengkapi. Akan tetapi. masalah seksual. Para pelaksana advokasi hendaknya mengetahui sistem politik. kebudayaan. 4. dalam upaya untuk mendapatkan perhatian media mengenai hal-hal yang berkaitan dengan HIV dan penyalahgunaan NAPZA. 2. Pada situasi seperti ini. seorang pengguna NAPZA mungkin dapat dibujuk untuk tampil dan dipublikasikan di Televisi. Harus ditujukan pada berbagai sektor dan tokoh masyarakat dengan menggunakan teknik yang berbeda pada saat yang bersamaan. kemiskinan. advokasi dilakukan pada berbagai individu dan kelompok yang berpengaruh pada waktu yang bersamaan. provinsi. Oleh karena itu pelaksana advokasi harus mengerti dasar-dasar pene litian dan mengikuti terus menerus perkembangan dan temuan-temuan baru dalam pencegahan HIV/AIDS terutama di kalangan IDU. 5. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan penanggulangan masalah sosial lainnya seperti mengatasi pengangguran.

international. 9. media. Keterlibatan IDU dan ODHA seperti ini akan meningkatkan percepatan program-program yang efektif. dan menghasilkan program yang lebih berkualitas untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pencegahan yang efektif pada akhirnya akan mengurangi permintaan untuk pelayanan pengobatan. Hasil program percontohan ini sebaiknya dis ebarluaskan kepada individu-individu dan kelompok-kelompok yang berpengaruh. pelaksanaan. IDU dan ODHA tidak perlu dilibatkan bila mengarah pada hal yang merugikan mereka seperi diidentifikasi polisi. 8. sangat penting bagi mereka untuk berperan dalam merancang. Apabila keterlibatan IDU dan ODHA membahayakan bila mengikuti pertemuan atau bekerja untuk advokasi dan perencanaan program. Besarnya program tersebut tergantung pada banyak faktor seperti jumlah penyalahguna NAPZA suntik. penjangkauan dapat mengupayakan cara lain. Meskipun berbagai kegiatan ditekankan pada tingkatan masyarakat tertentu. Kegiatan advokasi tidak hanya terfokus pada pencegahan HIV di kalangan IDU tetapi juga pada isu-isu mengenai pengobatan. faktor waktu sangat penting dalam upaya-upaya advokasi. Misalnya program percontohan harus dilihat sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir. Hal ini mengarah pada perubahan kebijakan dan pengenalan kegiatan pada skala yang efektif. dan mengevaluasi kegiatan advokasi dan program-program. Pendekatan komprehensif seperti itu akan membantu membangun kepercayaan dan mengurangi stigmatisasi terhadap IDU. terapi ketergantungan NAPZA yang diwa jibkan atau kekerasan. penahanan. Harus dilaksanakan secepat mungkin dan dalam tingkatan yang seluas mungkin dalam lingkup sosial. dan dukungan Pendekatan pencegahan dan perawatan HIV/AIDS dalam beberapa cara saling berkaitan. Percontohan ini dapat menunjukkan keefektifan kegiatan dalam lingkup lokal (melalui evaluasi). keberhasilan advokasi tetap memerlukan kegiatan dengan jangkauan penuh pada setiap tingkatan secara berkesinamb ungan. Pelayanan pengobatan yang berkualitas tinggi dan komprehensif akan menciptakan kelompok yang mau menerima p esan-pesan pencegahan. misalnya melalui wawancara untuk mendapatkan pandangan mereka. Di tempat dimana IDU dan ODHA dapat terlibat dalam diskusi dengan pihak yang berwenang tanpa membahayakan diri mereka. dan perilaku menyuntik dan seksual berisiko di kalangan IDU. Memastikan IDU dan ODHA dilibatkan dalam perencanaan. perawatan. Pengurangan dampak buruk NAPZA hanya dapat mencegah. dan evaluasi pada semua kegiatan dan program-program yang dilaksanakan Sesuai dengan prinsip yang pertama. dan pendanaan Karena HIV dapat menyebar dengan cepat di kalangan IDU. menstabilkan. politik. melaksanakan. 7. 6. Mampu mengangkat isu-isu baru tentang HIV dan memberikan respon terhadap caracara yang dilakukan oleh institusi. dan yang lainnya dalam menanggapi masalah HIV di kalangan IDU 15 . atau mengurangi epidemi apabila dilaksanakan dalam skala yang besar.

tetapi hal ini juga merupakan reaksi terhadap peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi. Dalam bab sebelumnya. seorang politisi mungkin menemukan bahwa anaknya menggunakan NAPZA. beberapa peristiwa penting dapat terjadi.Proses advokasi tidak hanya dianggap sebatas pada pencapaian tujuan yang ditentukan oleh para pelaksana advokasi. penolakan sering terjadi dalam upaya untuk mencegah HIV/AIDS di kalangan IDU. atau sebuah survei surat kabar mungkin menemukan banyak masyarakat yang prihatin dengan penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja. Para pelaksana advokasi perlu memperhatikan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi dan mencari kesempatan seperti ini. dan kelompok penting lainnya untuk mengatasi setiap penolakan secepatnya. Sebagai contoh. Oleh karena itu para pelaksana advokasi harus siap dengan bukti-bukti dan melibatkan kelompok yang berpengaruh seperti media. Pada setiap tingkat pelaksanaan advokasi. 16 . menjadikan sebagai sumber-sumber yang ada untuk memanfaatkan kesempatan tersebut. politisi. Meskipun sebagian dari penolakan ini akan diketahui dan menjadi subyek kegiatan kelompok advokasi. seperti menghubungi juru bicara surat kabar tersebut kapan saja. kelompok lain yang menolak akan terus bermunculan.

Apabila ada penolakan perlu dilaksanakan pengulangan secara terus menerus. • • • 17 . Proses advokasi biasanya dimulai dengan menentukan permasalahan. dan memusatkan pada tujuan yang spesifik dan menempatkan upaya advokasi untuk mencapai maksud dan tujuan. yang dilaksanakan untuk beberapa aspek yang berbeda dari isu pada setiap tingkatan masyarakat secara simultan. Aksi dan Reaksi: Dukungan perlu dibangun untuk perubahan kebijakan. pemecahan. tindakan praktis dan sebagainya. sehingga kegiatan advokasi perlu disesuaikan dengan masalah politik. Semakin kita dapat menganalisis. Proses ini dapat dipertimbangkan dalam berbagai cara. kelompok yang terlibat. kemudian memberikan solusi terhadap masalah tersebut dan membangun dukungan untuk tindakan yang dilakukan. • Analisis : Kelompok atau koalisi advokasi dimulai dengan menganalisis masalah. Strategi: Pada tahap ini penyelesaian masalah dapat dirumuskan yang mengandalkan analisis untuk mengarahkan. Penilaian indikator proses mungkin lebih penting dan lebih sulit dari pada penilaian indikator dampak.BAB IV PROSES ADVOKASI Proses advokasi berhubungan erat dengan proses pembuatan kebijakan. Evaluasi harus digunakan sebagai langkah pertama dalam menganalisis ulang. kelompok yang melaksanakan dan tidak melaksanakan kebijakan tersebut. merencanakan. dan budaya setempat. kebijakan-kebijakan yang ada. akan tetapi perlu memikirkan advokasi sebagai suatu rangkaian tahapan. maka semakin persuasif advokasi akan dilaksanakan. Evaluasi: Karena advokasi sering memberikan hasil yang tidak lengkap. dan kemauan politik akan menjadi satu kesatuan. TAHAPAN ADVOKASI Pengorganisasian dan penggalangan dana : Bentuk kelompok advokasi atau kemitraan serta pendanaan diperlukan untuk keberhasilan suatu advokasi. Hal ini akan membantu untuk menciptakan perhatian dan keprihatinan sehingga permasalahan. yang mengarah pada setiap tahapan advokasi dan evaluasi yang sedang berlangsung. kelompok advokasi perlu mengevaluasi kegiatan yang telah. sosial. A. dan semua jalur yang dapat digunakan untuk mendekati orang-orang yang berpengaruh dan pembuat kebijakan. belum dan akan dilaksanakan secara teratur dan objektif.

Secara ringkas tahap advokasi dapat digambarkan dalam bagan di bawah ini. Proses advokasi dapat dijabarkan dalam diagram berikut ini:

Pengorganisasian kelompok advokasi

Analisis

Evaluasi

Penggalangan dana

Strategi

Aksi dan Reaksi

B. STUDI KASUS PROSES ADVOKASI 1. Studi kasus – Indonesia Pada akhir tahun 90-an, di Indonesia penyalahgunaan NAPZA suntik meningkat dengan tajam dan HIV telah menyebar di kalangan IDU. Upaya yang telah dilakukan hanya sedikit berpengaruh untuk mencegah epidemi HIV di kalangan IDU. Pemerintah dan LSM tidak begitu mengetahui konsep pengurangan dampak buruk NAPZA di kalangan IDU. Sehingga muncul kekuatiran di antara pemerhati program HIV/AIDS (terutama di kalangan donor, LSM, dan para dokter yang bekerja untuk terapi ketergantungan NAPZA) bahwa para pejabat dan masyarakat Indonesia akan menolak pelaksanaan program pengurangan dampak buruk. Pada 1999, koalisi beberapa donor dan LSM memutuskan untuk membentuk sebuah kelompok advokasi untuk mendesak penerimaan program tersebut di Indonesia. Pada awal 2000, para donor ini mendukung suatu pelatihan mengenai me tode Rapid Assessment and Response (RAR) yang dikeluarkan oleh World Health Organization, yang melibatkan pelatih dari Indonesia dan pelatih internasional. Pelatihan ini menuntun pelaksanaan penjajakan cepat pada IDU yang berhubungan dengan penyebaran HIV di delapan kota besar. Penjajakan cepat ini dirancang

18

untuk mendapatkan informasi bagi pelaksanaan kegiatan advokasi dan mendapatkan data untuk membantu perencanaan intervensi yang efektif. Kegiatan advokasi yang pertama dilakukan adalah mempresentasikan hasil sementara penjajakan cepat ini di hadapan pejabat pemerintahan dan LSM di masing-masing provinsi di mana penjajakan ini dilaksanakan. Tim penjajakan cepat mendapatkan pelatihan lanjutan dari pelatih Indonesia dan internasional untuk mempresentasika n hasil penjajakan ini kepada kelompok yang lebih luas termasuk para politisi dan media. Hasil akhir penjajakan ini dipresentasikan dalam seminar tingkat provinsi dan nasional, sehingga menyebabkan meningkatnya kepedulian pada isu-isu yang berkaitan dengan HIV di kalangan IDU. Dari proses-proses ini, kelompok advokasi yang lebih khusus dibentuk untuk tingkat nasional di Jakarta dan tingkat provinsi di Denpasar-Bali. Kelompok ini mengidentifikasi pelaksana kunci advokasi, pendukung dan kelompok penentang potensial advokasi, dan mengembangkan tujuan advokasi. Tim inti menggunakan hasil penjajakan cepat ini untuk mempengaruhi individu dan kelompok yang berwenang bahwa HIV di kalangan IDU adalah masalah yang serius yang sedang tumbuh di Indonesia dan mendorong pelaksanaan program pengurangan dampak buruk NAPZA. Hasil penjajakan ini didukung oleh hasil studi lain yang menunjukkan adanya kecenderungan infeksi HIV di kalangan IDU dan narapidana yang sudah mengkuatirkan. Karena upaya-upaya advokasi ini, studi di atas mendapatkan perhatian yang luas dari media. Para donor anggota tim advokasi yang dibentuk pertama kali mendanai lokakarya untuk memusatkan perhatian masyarakat dan politisi pada isu ini, dan tokoh politik kunci seringkali dihubungi untuk membangun dukungan terhadap perubahan kebijakan pemerintah, dan pengenalan atau perluasan program -program percontohan penjangkauan, jarum suntik, dan metadon. Pada tahun 2001, sebuah studi tur diselenggarakan di Sydney, Australia, bagi pejabat senior dari peme rintahan dan LSM untuk mendapatkan pelatihan mengenai advokasi terhadap pengurangan dampak buruk NAPZA dan mengunjungi beberapa lembaga yang berhubungan dengan HIV dan NAPZA, perwakilan Departemen Kesehatan, Hakim Pengadilan Tinggi, para politisi, dan polisi senior. Setelah studi tur tersebut, para peserta sepakat membentuk Harm Reduction Steering Committe – HRSC (sebagian besar terdiri dari perwakilan pemerintah) dan Jaringan Harm Reduction Indonesia (Indonesian Harm Reduction Network - IHRN, diketuai ole h sebuah LSM di Bali). Pada pertengahan tahun 2002, ada beberapa kegiatan advokasi untuk harm reduction yang sangat penting di Indonesia: • • • HRSC melakukan pertemuan secara reguler dan membangun hubungan antara staf sektor kesehatan dan polisi dan tokoh m asyarakat. Sedangkan dukungan kesekretariatan diberikan oleh donor untuk pertemuan dan kegiatan steering committee. IHRN menerima dana untuk melakukan capacity building dan kegiatan jejaringan. Ada enam program yang dimulai dilaksanakan di empat kota untuk pendidikan pencegahan HIV melalui kegiatan penjangkauan dan material pencegahan kepada IDU. Program percontohan untuk pertukaran jarum suntik disiapkan untuk tiga tempat di Jakarta dan dua di Denpasar, Bali. Sementara itu Pemerintah Indonesia setuju untuk

19

• •

mempertimbangkan program pertukaran jarum suntik sebagai kebijakan nasional berdasarkan hasil evaluasi terhadap program percontohan tersebut. Dua proyek percontohan program metadon yang sudah disetujui pemerintah pusat dan provinsi dipersiapkan. Kampanye advokasi untuk harm reduction dimulai dengan memilih target sasaran dan melaksanakan pertemuan nasional untuk mengangkat profil pengurangan dampak buruk NAPZA dan mengembangkan kegiatan advokasi yang spesifik yang ditujukan kepada target sasaran. Target p ertama dalam kampanye ini melibatkan polisi, staf penegak hukum (termasuk hakim, pengacara dan petugas penjara), tokoh agama, dan media massa.

2. Studi Kasus – Negara-negara Eropa Tengah dan Timur International Harm Reduction Development (IHRD), program dari Open Society Institute (OSI) yang berkedudukan di New York, merupakan salah satu penyandang dana untuk program metadon dan perjasun di Eropa Timur dan Tengah serta Asia Tengah sejak pertengahan tahun 90-an. Sayangnya, lebih dari 150 program kecil yang telah dilaksanakan tidak direplikasi oleh pemerintah negara -negara di daerah ini. Pada bulan Juni 2001, IHRD mendirikan Inisiatif Kebijakan regional yang mempromosikan filosofi harm reduction, nilai-nilai kesehatan masyarakat, penghormatan terhadap hak a sasi manusia, dan pelaksana advokasi untuk mengubah kebijakan di daerah ini. Inisiatif Kebijakan ini merupakan bagian integral dari tiga strategi IHRD yaitu dukungan layanan langsung; pelatihan dan capacity building ; kebijakan publik dan advokasi. Kegiatan ini sangat terkait dengan ketiga komponen di atas. Inisiatif Kebijakan membantu pihak-pihak yang terlibat dalam harm reduction dan membuat ikatan yang baru dan kuat dengan aktifis HAM dan masyarakat. Melalui upaya ini, Inisiatif mengangkat harm reduction sebagai hal yang tidak kontroversial dan tidak marjinal lagi.

Ada beberapa contoh dukungan pemerintah terhadap harm reduction di wilayah ini: • Di Polandia, pemerintah pusat memberi dana kepada pekerja penjangkauan yang menjalankan program pertukaran jarum suntik. • Di Bulgaria, program harm reduction dimasukkan ke dalam Program AIDS Nasional • Di Kyrgyzstan dan Polandia, program metadon telah dilaksanakan. Kegiatan Inisiatif Kebijakan yang dilakukan meliputi: • dukungan untuk pembentukan kelompok mandiri bagi pengguna NAPZA dan ODHA; • dukungan terhadap keterlibatan individu yang berpengaruh dalam kegiatan internasional yang didedikasikan bagi kebijakan NAPZA yang progresif, • studi tur bagi polisi dan pejabat penegakan hukum, pelatihan untuk polisi; dukungan untuk jaringan harm reduction ; • advokasi program metadon; • penelitian hukum dan hambatannya terhadap program harm reduction; • publikasi dan distribusi materi harm reduction: • kerjasama aktif dengan program lain seperti OSI, LSM nasional, badan PBB, pe merintah, dan lain -lain. 20

setelah empat tahun pelaksanaan program. Sehingga dukungan publik terhadap program ini menjadi semakin sedikit. internet atau mesin faks. Karena reaksi negatif ini. terutama dalam jangka pendek. Sehingga mitra kerja koalisi kemudian tertarik untuk ikut serta dalam kegiatan ini. pemerintah lebih memilih mengalokasikan anggaran pada program lain dan mengabaikan pencegahan HIV di kalangan IDU. pelatihan bagi para professional kesehatan secara ekstensif dilaksanakan. pengadilan. Program pelatihan dan percontohan yang telah dilaksanakan terancam. Studi kasus ini akan menjelaskan sebuah negara yang kita sebut sebagai negara X. Beberapa LSM internasional menghimbau Departemen Kesehatan agar LSM tersebut diberi ijin melakukan pelatihan mengenai pendekatan efektif untuk mengatasi masalah ini dan mempersiapkan program pe rcontohan. Namun. Ternyata. Hal ini diyakini karena sebelumnya negara X telah menolak ide ini dan baru diterima setelah beberapa tahun kemudian terbukti efektf. Pada saat itu. infeksi HIV baru di kalangan IDU masih tinggi. merupakan suatu kenyataan bahwa HIV menyebar dengan pesat di kalangan IDU. kesejahteraan sosial. dan lainlain. o Kedua. kemunduran telah terjadi dan mitramitra kerja potensial khawatir keterlibatan mereka dalam program tersebut dapat mengancam program penanggulangan HIV/AIDS yang lain.3. Sedangkan 21 . Di negara X. pernyataan publik yang diterima oleh Departemen Kesehatan berubah menjadi kritikan. ternyata hanya sedikit organisasi pemerintah maupun LSM yang pernah bekerja sama secara lintas program dan sektor dalam mengatasi masalah HIV dan ketergantungan NAPZA seperti penegak hukum. organisasi keagamaan yang sangat berpengaruh mendukung kritikan terhadap program ini. Sebenarnya LSM internasional menyadari sejak awal bahwa advokasi sangat dibutuhkan. tidak ada dewan koalisi yang dibentuk untuk melakukan advokasi mengenai program ini. Mitra kerja potensial lainnya tidak yakin pengurangan dampak buruk NAPZA ini akan berhasil dilaksanakan di negara ini. Sedangkan media yang sebelumnya mendukung berbalik melancarkan kritikan. Ada lima faktor yang penting untuk dibahas : o Pertama . Akan tetapi karena program pelatihan dan percontohan sangat menyita waktu sehingga waktu untuk melaksanakan advokasi sangat terbatas. Di samping itu tidak dilakukan kampanye advokasi. Studi Kasus: Kegagalan Advokasi di Negara X Pelaksanaan advokasi tidak selalu berhasil. Menurut bukti yang ada program tersebut sebenarnya akan berdampak apabila pemerintah menyediakan dana yang memadai untuk pelaksanaan program dalam skala yang luas. Kemudian advokasi kepada pejabat lokal dilakukan secara berhasil dan banyak program percontohan didirikan. Hal ini disebabkan karena sedikitnya sumber daya yang tersedia berasal dari pemerintah untuk program tersebut. Ironisnya. Sehingga pejabat senior pemerintah jarang membicarakan hubungan NAPZA suntik dengan HIV/AIDS. Departemen Kesehatan menyetujui langkah-langkah efektif tersebut menjadi bagian dari Strategi Penanggulangan AIDS. kepolisian. Organisasi-organisasi yang seharusnya dapat menjadi mitra kerja potensial seringkali tak mempunyai akses ke komputer. Selama lebih dari satu tahun.

jaringan komunikasi yang dapat digunakan untuk membantu perkembangan kerjasama hanya sedikit. Ternyata berdasarkan penjajakan awal yang dilakukan dalam proyek pelatihan menunjukkann bahwa organisasi keagamaan mempunyai pengaruh yang sedikit dalam masyarakat. Para professional kesehatan dan Departemen Kesehatan di Negara X berada pada tingkat kepentingan politis yang lebih rendah dari pada pejabat kepolisian dan Departemennya. Telah terbukti di banyak negara bahwa kemauan politik kepala negara akan mempunyai dampak yang sangat besar dalam merespon epidemi HIV. sangat penting melibatkan polisi dalam usaha advokasi dan pendidikan sejak awal karena setiap saat mereka dapat menutup program program yang dimulai oleh petugas kesehatan dan LSM. 22 . Meskipun beberapa upaya advokasi telah dilaksanakan. maka para politisi dan pembuat kebijakan akan mendengarkan kritikan-kritikan tersebut. publikasi kritikan tersebut dijadikan alat pertahanan organisasi tersebut untuk tak mengubah pendiriannya. Tanpa pernyataan yang jelas dari kepala negara. Sebenarnya ada pemahaman akan kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan dari tingkat tertinggi namun tidak ada cara yang efektif yang ditemukan untuk menjangkau kelompok ini. o Kelima . tak ada pendekatan yang diambil hingga sebelum organisasi tersebut menyebarluaskan kritikan. Akibat hasil penjajakan awal dan regular lainnya serta sistem monitoring yang lemah. Kepala Negara X tidak secara terbuka menyetujui pelaksanaan program tersebut. terutama dikaitkan dengan partai politik. adanya faktor lain berupa kegagalan untuk mencapai pihak tertinggi dalam pemerintahan. o Keempat. Comment: kedengerannya lebih kontekstual. untuk melakukan advokasi yang berhasil perlu dijangkau seluruh individu dan kelompok dalam masyarakat yang mempunyai pengaruh dalam kebijakan HIV/AIDS dan NAPZA dan perlu dimonitor dan disikapi adanya perubahan politik dari kelompok yang berpengaruh. Untuk itu. namun sumber daya untuk melatih dan mendidik mereka tidak tersedia. polisi jarang terlibat dalam pelatihan dan proses awal advokasi kecuali pada tingkat lokal di mana program percontohan dilaksanakan. polisi dan organisasi keagamaan percaya bahwa mereka boleh mengkritik pendekatan untuk mengurangi dampak buruk penyalahgunaan NAPZA. organisasi keagamaan yang disebutkan di atas tidak dilibatkan dalam diskusi mengenai HIV di kalangan IDU. dalam kurun waktu hanya lima tahun selama program ini berjalan. Namun. o Ketiga. Secara ringkas. Pentingnya polisi untuk kelanjutan jangka panjang dapat dimengerti. Ketika organisasi keagamaan tersebut mengkritik pendekatan efektif. Setelah munculnya kritikan ini. pengaruh organisasi tersebut semakin kuat terhadap masyarakat.

Peran dan kegiatan kelompok koordinasi advokasi ini berbeda-beda sesuai dengan situasi di mana kelompok ini beroperasi dan posisinya dalam kelompok tersebut. Selain itu kelompok i ni memberikan edukasi bagi pembuat kebijakan terhadap pengurangan dampak buruk NAPZA untuk menanggulangi HIV/AIDS di kalangan IDU. Kelompok ini mempunyai tujuan khusus yang lebih terfokus terkait dengan situasi di masing-masing provinsi. sepuluh orang atau lebih. koordinasi akan lebih mudah dilakukan apabila kelompok cukup kecil. Kelompok advokasi yang dibentuk di tingkat kabupaten atau kota dibentuk untuk mendapatkan dukungan untuk kegiatan yang sangat spesifik. Peran kelompok ini adalah: o merencanakan dan mengawasi seluruh tugas -tugas advokasi. tiga. dan sebagainya. Kelompok nasional ini mempunyai banyak tugas salah satu di antaranya adalah advokasi. KELOMPOK KOORDINASI ADVOKASI Langkah pertama dalam advokasi adalah membentuk kelompok koordinasi advokasi. Biasanya. Tujuan umum kelompok ini adalah melakukan advokasi agar kelompok IDU mendapat perhatian yang lebih besar dalam penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. memastikan pekerja penjangkauan tidak ditangkap polisi. Misalnya. Disamping itu kelompok ini juga berupaya mempengaruhi pejabat-pejabat yang terkait untuk melaksanakan program-program yang efektif dan memastikan sektor pemerintahan dan LSM bekerja sama memfasilitasi pelaksanaan program ini.BAB V PEMBENTUKAN KELOMPOK DAN PENDANAAN ADVOKASI A. Tujuan kelompok ini adalah untuk mendapatkan dukungan masyarakat untuk melaksanaan program ini secara terbuka. Sedangkan kelompok advokasi di tingkat provinsi (di Jakarta dan Denpasar) dibentuk secara khusus guna melakukan advokasi untuk pengurangan dampak buruk NAPZA untuk menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU. o bertindak sebagai juru bicara untuk media dan pihak-pihak lain yang ingin berhubungan dengan kelompok ini. o melaksanakan kegiatan-kegiatan advokasi secara khusus. 23 . sebuah kelompok advokasi dibentuk terdiri dari LSM-LSM dan penyandang dana program HIV/AIDS. Kelompok ini bisa terdiri dari dua. pada studi kasus dari Indonesia dalam bab sebelumnya.

atau mantan penyalahguna NAPZA. pekerja sosial. dan apabila kemudian berkembang perlu mencari orang-orang dengan keahlian khusus yang diperlukan untuk pelaksanaan advokasi. . Sebaiknya kelompok ini dimulai dengan kelom pok kecil saja. anggota lain bisa dicari dari anggota kepolisian. B. petugas kesehatan.Untuk membantu para pembaca mengikuti langkah-langkah advokasi. Sepuluh tahun sebelumnya hampir tidak ada orang yang menyalahgunakan NAPZA suntik. Para dokter dan petugas kesehatan di rumah sakit dan puskesmas yang terdapat di wilayah tersebut beserta para pekerja LSM percaya bahwa HIV di kalangan IDU bukan hanya masalah penyalahguna NAPZA dapat berhenti dari penyalahgunaan NAPZA atau pindah dari wilayah tersebut. Polisi merespon dengan cara menangkap para penyalahguna NAPZA atau memaksa I DU pergi dari kota tersebut. Sedangkan satu LSM lain menyediakan terapi ketergantungan NAPZA dalam bentuk therapeutic community. dan kegiatan-kegiatan spesifik yang akan dilaksanakan. sebuah contoh diberikan di bawah ini: Contoh dari Kota Z Kota Z yang berpenduduk 100. organisasi internasional. paling tidak anggota tersebut: • Mampu mema hami dan menginterpretasikan literatur ilmiah 24 . dan beberapa bisnis kecil. Namun demikian. Satu LSM mempromosikan kesadaran masyarakat umum terhadap HIV/AIDS kepada semua penduduk kota. Sekarang IDU sudah ada di banyak kota dan biasanya berkumpul di berbagai tempat seperti di gudang-gudang kosong. beberapa LSM yang bekerja di bidang HIV/AIDS dan NAPZA. • Wakil dari media Sebagai tambahan. jajaran kepolisian. di kolong jembatan. tokoh masyarakat. • para IDU dan ODHA. Banyak IDU mempunyai pekerjaan serabutan dan melakukan tindakan kriminal. Tingkat kualitas setiap anggota tidak perlu sama karena setiap anggota dengan latar belakang yang berbeda dapat berpartisipasi aktif. Sebenarnya penyalahgunaan NAPZA suntik merupakan hal yang baru. badan narkotika narkotika. puskesmas. Para politisi dan masyarakat mendesak polisi agar berhasil menghapuskan permasalahan NAPZA ini. kalangan bisnis. kelompok keagamaan. KEANGGOTAAN Keanggotaan kelompok koordinasi advokasi tergantung pada masalah sosial budaya di suatu negara. keluarga IDU. Fasilitas kesehatan yang tersedia adalah rumah sakit. Kota ini miskin dan hanya sedikit IDU yang memiliki pekerjaan tetap. politisi lokal.000 orang mempunyai banyak IDU. dan atau sektor masyarakat lainnya. kelompok perempuan. pengacara. dan di rumah-rumah para IDU itu sendiri. Keanggotaan kelompok koordinasi advokasi di banyak negara adalah sebagai berikut: • dokter. • praktisi pengurangan dampak buruk/risiko NAPZA atau staf kesehatan lain seperti perawat atau staf LSM yang bekerja dengan kelompok-kelompok marginal. Keahlian-keahlian yang diperlukan biasanya akan teridentifikasi selama penjajakan dan fase analisis.

Dr A mempresentasikan bebera pa temuan penelitian internasional mengenai cara -cara HIV menyebar di kalangan IDU.• • • • Memiliki pengalaman yang berkaitan dengan penyalahgunaan NAPZA dan/atau infeksi HIV baik pribadi. seorang direktur sebuah LSM yang melaksanakan program peningkatan kesadaran umum terhadap HIV di wilayah tersebut. Setelah menghubungi beberapa rekan mereka yang bekerja di beberapa kantor di sekitar wilayah tersebut. 25 . Mampu mengumpulkan dan mempertanggung-jawabkan dana. Mengetahui hal tersebut Dr A dan Pak E memutuskan untuk membentuk suatu kelompok advokasi untuk meningkatkan fokus wilayah tersebut pada kegiatan pencegahan HIV. Mungkin yang menjadi pelaksana advokasi adalah orang-orang yang tertarik pada isu mengenai HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntikan namun kurang memiliki kualifikasi formal seperti gelar atau jabatan. Sehingga melalui hubungannya dengan para politisi. pembuat kebijakan. Hal ini karena salah seorang anggota kelompok yang mendirikan rumah singgah tersebut adalah putri Menteri Kesehatan dan cucu Perdana Menteri negara tersebut. walaupun terdapat tbanyak antangan politik tapi sebuah LSM mampu memulai program rumah singgah ( drop-in center) bagi IDU. Bila memungkinkan salah satu anggota dari kelompok koordinasi advokasi adalah seorang tokoh masyarakat yang mengetahui banyak tentang kesehatan masyarakat. seorang putri Presiden juga dapat menjadi seorang pelaksana advokasi untuk pendekatan-pendekatan efektif untuk mencegah HIV/AIDS di kalangan IDU. atau selebritis. Mampu dan siap bertindak sebagai jurubicara untuk media Kepemimpinan merupakan suatu hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam kelompok koordinasi advokasi. perawatan. Pak E menjelaskan bahwa kelompok koordinasi advokasi dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini karena terdapat banyak hambatan untuk memperkenalkan pengurangan dampak buruk NAPZA. mantan kepala kepolisian. Contoh Kota Z Di sebuah wilayah di kota Z. Pada pertemuan tersebut. teman. dan dukungan di kalangan IDU. Sehingga dapat menimbulkan kesulitan kelompok ini untuk akses ke media. Karena banyak orang hanya memiliki sedikit atau sama sekali tidak memiliki pengetahuan dalam bidang ini. dan pihak lainnya. politisi. dan pendekatan efektif untuk menanggulangi HIV/AIDS di kalangan IDU. mereka mengadakan pertemuan untuk membahas isu HIV di kalangan IDU. Di salah satu negara di Asia. terdapat dua orang yang sedang membaca jurnal internasional mengenai penyebaran HIV yang cepat di kalangan IDU yaitu Dr A. pengobatan. atau anggota keluarga Memahami pembuatan kebijakan dalam masalah sosial budaya setempat. seorang dokter perempuan yang bekerja di puskesmas dan Pak E. kebutuhan terhadap penanggulangan. Kadang-kadang perlu memb erikan edukasi kepada anggota kelompok koordinasi advokasi yang potensial mengenai pendekatan-pengurangan dampak buruk NAPZA ini. pemimpin partai politik.

kelompok tersebut telah memutuskan untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai NAPZA dan HIV di wilayah tersebut melalui penjajakan. kelompok kecil ini bekerja hanya untuk memberikan informasi kepada orang-orang dan organisasi-organisasi yang peduli di wilayah tersebut mengenai adanya kelompok ini dan kebutuhan untuk bekerja pada masalah HIV kalangan IDU. C. Dalam menetapkan tujuan umum. PENETAPAN TUJUAN Langkah pertama dari kelomp ok di atas adalah menentukan visi atau tujuan umum. kelompok ini perlu menjajaki apakah: • • • • Tujuan tersebut mudah dimengerti. Untuk menentukan hal-hal yang spesifik dari pendekatan efektif mana yang paling diperlukan di Kota Z. dua anggota yaitu seorang ibu yang mempunyai anak penyalahguna NAPZA dan seorang jurnalis suratkabar kota setempat memilih untuk bergabung d engan kelompok advokasi tersebut. Para anggota kelompok perlu membaca dokumen-dokumen mengenai pengurangan dampak buruk NAPZA untuk menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU dan laporan atau penelitian mengenai HIV/AIDS di kalangan IDU. Dengan cara ini. Akhirnya. Kelompok advokasi tersebut meminta Dr A untuk menjadi juru bicara untuk memimpin pertemuan-pertemuan kelompok tersebut. 26 . Awalnya.Beberapa anggota kelompok berpendapat bahwa penempatan fokus pada HIV di kalangan IDU adalah hal yang keliru karena masih ada banyak masalah lain di wilayah tersebut. setelah beberapa waktu. dan orang-orang yang berpengaruh untuk membentuk sebuah koalisi Kelompok koordinasi advokasi akan mampu menggalang dana atau sumber-sumber lain untuk mendukung kegiatan kelompok ini dalam mencapai tujuannya Contoh dari Kota Z Kelompok advokasi di atas mengadopsi tujuan berikut ini: o meningkatkan manfaat pengurangan dampak buruk pada penyalahgunaan NAPZA suntik di Kota Z o mencegah penularan HIV di kalangan IDU o meningkatkan kualitas ODHA dan OHIDA. LSM -LSM. Dr A dan Pak E mendesak anggota lainnya agar kelompok koordinasi advokasi dibentuk. pendek dan sederhana Tujuan tersebut akan menarik dukungan banyak orang yang peduli sehingga mau melakukan aksi Tujuan tersebut akan membantu membangun aliansidengan sektor-sektor lain. sebuah koalisi mulai terbentu.

• Membangun hubungan dan jaringan layanan untuk berbagi informasi secara reguler. • Upayakan agar pertemuan koalisi berlangsung singkat dan tetap. • Laksanakan hubungan komunikasi formal dan informal di antara anggota koalisi seperti laporan. dan kegiatan advokasi. Makin kuat koalisi. • Perlu menentukan tujuan khusus yang relatif mudah dilaksanakan pada awal program. BNN. PEMBENTUKAN KOALISI Koalisi d an jejaringan kerja adalah dasar dari kegiatan advokasi. sumberdaya yang tersedia. para profesional. organisasi internasional. dan kegiatan. Jika ia tidak tertarik atau menentang kegiatan kelompok ini. Pada saat kelompok memulai untuk bertemu dan melakukan analisis terhadap tujuan umum dan tujuan khusus. dan kemungkinan untuk berpartisipasi dalam pelatihan. ia menjadi bagian dari kelompok sasaran advokasi.D. pertemuan. • Berusaha sedapat mungkin untuk membentuk konsensus terhadap keputusan koalisi untuk menimbulkan rasa memiliki terhadap tujuan. apablia mereka tidak dilibatkan. • Perlu pengakuan dan penghargaan peran para pembuat kebijakan dan mitra koalisi. kelompok sasaran dan cara-cara melakukan kegiatan. tujuan khusus. • Manfaatkan koalisi untuk berbagi informasi dan menemukan badan penyandang dana yang potensial. dan memberikan umpan balik yang positif kepada para anggota koalisi. makan atau minum bersama. dan bila memungkinkan ODHA dan IDU. Setiap interaksi dengan orang atau organisasi baru merupakan langkah maju dalam pembangunan koalisi dan analisis. pelatihan bersama. kelompok tersebut perlu mendiskusikannya dengan orang yang lebih banyak. sumber informasi dan pendidikan. Beberapa saran untuk pembentukan koalisi: • Perlu melibatkan kelompok dari berbagai jenis sebagai anggota koalisi – seperti LSM. Jika seseorang atau sebuah organisasi setuju untuk membantu kelom pok advokasi. • Perlu melakukan komunikasi yang erat dengan anggota koalisi secara pribadi untuk mengenal anggota-anggota lain dan pandangannya (yang mungkin sangat berbeda satu sama lain). sektor pemerintahan. • Libatkan anggota koalisi yang mempunyai pengaruh kuat dalam semua keputusan. 27 . penelitian yang relevan. mereka mungkin menimbulkan masalah dan perselisihan di antara anggota koalisi. keluarga ODHA dan IDU – untuk meningkatkan dampak koalisi pada pembuatan kebijakan. Pembentukan dan pemeliharaan koalisi memerlukan waktu dan tenaga karena perlu menciptakan hubungan kepercayaan yang baik dengan orang lain. Dirikan sebuah sarana (seperti newsletter atau pertemuan-pertemuan reguler) agar para anggota koalisi tetap terus mendapatkan informasi mengenai kegiatan-kegiatan dan hasil-hasilnya. Keberhasilan yang dicapai pada tahap awal ini akan menciptakan kepercayaan dan mempererat kebersamaan koalisi. Mengumpulkan anggota kelompok advokasi merupakan langkah dalam pembentukan koalisi. orang tersebut telah menjadi bagian dari koalisi yang bekerja untuk advokasi. akan semakin besar kemungkinan advokasi tersebut berhasil.

Kadang-kadang kelompok koordinasi advokasi dan koalisi berkembang menjadi jaringan melakukan kegiatan advokasi. MEMBUAT JARINGAN UNTUK KEGIATAN ADVOKASI Di luar pembentukan koalisi atau sebagai bagian dari pembangunan koalisi yang lebih besar terdapat tugas m embuat jaringan individu dan organisasi yang tertarik pada pendekatan efektif untuk HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntikan. Jaringan seperti terapi ketergantungan NAPZA atau jaringan pengurangan dampak buruk NAPZA biasanya mempunyai fokus yang lebih luas daripada advokasi untuk pendekatanpendekatan efektif. Pastikan petugas kepolisian. dan nasehat bagi ODHA. IDU dan atau mantan IDU dalam koalisi. IDU. Pada saat kelompok 28 .Beberapa metode tertentu perlu digunakan apabila melibatkan ODHA. untu k bertindak sebagai juru bicara dan membantu kelompok advokasi mengidentifikasi dan mencalonkan para juru bicara Tawarkan pelatihan. Perlu menimbulkan suatu pendekatan simpatik dari anggota koalisi yang lain untuk menarik respon-respon yang mendukung dari para ODHA. dan atau mantan IDU yang diplomatis. Jaringan seperti FORUM dari kilink terapi ketergantungan NAPZA di Asia Selatan dan jaringan pengurangan dampak buruk (harm reduction ) regional telah memainkan peranan penting dalam memulai program pencegahan HIV yang efektif di kalangan IDU dan membantu berbagai program untuk bisa belajar satu sama lain. dan atau mantan IDU mengetahui ada petugas semacam itu menghadiri pertemuan. khususnya. Identifikasi para ODHA. dan individu yang tertarik untuk bertukar pendapat. Pastikan juga para ODHA. IDU. dan informasi antar kota dan negara. Hal ini memberikan kesempatan kepada para pendatang baru dalam advokasi untuk belajar dari kelompok lain yang lebih berpengalaman. pengalaman. Jaringan memungkinkan organisasi. dan atau mantan IDU harus mengerti risiko yang dapat timbul akibat berbicara di muka umum atau bahkan dalam pertemuan anggota koalisi mengenai penyalahgunaan NAPZA atau status HIV. IDU. Namun advokasi tetap merupakan bagian inti dari tugas koalisi. dan pragmatis. Pertama. dan atau mantan IDU. • • • E. IDU dan atau mantan IDU adalah: • Informasikan sebelumnya kepada para anggota koalisi yang lain mengenai kebutuhan akan “suara” dari kelompok terpapa masalah. fasih berbicara. dukungan. Beberapa saran untuk melibatkan ODHA. bagi IDU duduk dalam pertemuan yang memakan w aktu lama merupakan hal yang sulit. Artinya ODHA. dan atau mantan IDU. kelompok advokasi. IDU. harus diingat bahwa prinsip dari advokasi ini adalah untuk menghindari peningkatan bahaya bagi IDU dan ODHA. baik dalam koalisi maupun dalam pembuatan rencana dan program advokasi. namun pertemuan tersebut mungkin mempunyai dampak yang besar untuk layanan bagi ODHA dan IDU. Sebagai contoh. IDU. sangat berguna saat memulai pelaksanaan advokasi karena jaringan ini menyediakan hubungan dengan kelompok-kelompok lain di wilayah tersebut yang telah beroperasi sebelumnya. BNN atau badan keamanan masyarakat yang mungkin hadir dalam pertemuan memperkenalkan diri. Jaringan regional.

Konferensi ini merupakan faktor yang penting dalam menarik perhatian pemerintah. dan media dan mempromosikan penelitian di Amerika Latin mengenai isu-isu yang berhubungan dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntikan. masyarakat. dan penyalahguna NAPZA. Konferensi dan hubungan antara masyarakat sipil. Ornop ini mempunyai kebiasaan bekerja dengan jaringan sosial lain. Upaya-upaya ini diperkuat setelah Konferensi Internasional mengenai Pengurangan Bahaya yang Berhubungan dengan NAPZA ke-9 dilaksanakan di Sao Paulo (Brazil) pada tahun 1998. Program di atas sebenarnya telah dimulai di Pusat Penelitian Lanjutan mengenai Penyalahgunaan NAPZA dan AIDS. Dukungan dari berbagai organisasi dan gerakan masyarakat ini memudahkan ornop ini dalam menghadapi perlawanan dari pemerintah pusat terhadap harm reduction. STUDI KASUS: PEMBANGUNAN KOALISI DI ARGENTINA Ornop Intercambios di Buenos Aires mendirikan program pencegahan HIV di kalangan IDU pada tahun 1998 melalui pembangunan dukungan masyarakat dengan penyalahguna NAPZA. jaringan juga berguna sebagai media untuk berbagi cerita mengenai keberhasilan dan kegagalan. dan universitas ini sangat penting di Argentina dengan peran kunci dari Jaringan Harm Reduction Amerika Latin (RELARD) yang memberikan peluang bagi organisasi-organisasi nasional untuk belajar dari program di negara lain di wilayah mereka. Konferensi ini diikuti dengan pertemuan-pertemuan AIDS dan NAPZA di Buenos Aires dan Konferensi Harm Reduction Argentina yang pertama di Rosario. yang mengumumkan dan mendiskusikan hasil-hasil konferensi internasional yang kemudian menimbulkan perhatian media lebih lanjut. Melalui advokasi yang terus menerus program ini mendapatkan dukungan resmi dari gubernur wilayah tersebut. yang merekomendasikan agar pendekatan efektif dilaksanakan di seluru h Argentina. Kementrian Kesehatan mendanai beberapa program dan kampanye komunikasi yang menyangkut pendekatan ini. Pada tahun 2000 dibentuk pula Jaringan Harm Reduction Argentina (REDARD) dan Organisasi Penyalahguna NAPZA Argentina (RADDUD). ODHA. ornop ini berhubungan dengan organisasi sosial seperti Gerakan Buruh Menganggur yang mencoba merespon kebutuhankebutuhan orang yang menganggur di wilayah lokal (dan banyak IDU yang menganggur). Pada tahun 1998. Program ini menyebarkan alat-alat untuk penyucihamaan peralatan suntik dan melakukan lokakarya mengenai pengurangan dampak buruk NAPZA untuk HIV/AIDS di kalangan IDU di rumah sakit jiwa di kota tersebut. terutama yang bergerak di pencegahan HIV di kalangan gay. penduduk sekitar. Universitas Nasional Rosario. Asosiasi Harm Reduction Argentina (ARDA) dibentuk dan. Sebagai hasil dari gerakan dan upaya advokasi oleh koalisi yang terus berkembang tersebut. 29 . Dalam membangun dukungan untuk pertukaran jarum suntik.advokasi memulai kegiatannya dan mendapatkan pengalaman. sebuah program terapi substitusi percontohan dimulai di Rosario. penjaja seks. lesbian. Pada tahun 1999. Argentina pada tahun 1994. Badan Pengawasan NAPZA Nasional SEDRONAR mengeluarkan sebuah resolusi pada bulan Agustus 2000. dan organisasi-organisasi lokal yang dilakukan dengan sangat hati-hati. Dukungan badan internasional seperti UNAIDS untuk pendekatan-pendekatan ini juga sangat penting dalam argumentasi-argumentasi koalisi dengan para pejabat pemerintah. ornop.

kenyataannya banyak orang yang perlu dibayar. Hingga akhir tahun 1990-an. para anggota akan mengeluarkan uangnya sendiri atau organisasi akan menggunakan dana yang dialokasikan untuk kegiatan lain menjadi dana untuk kegiatan di atas. Selain itu. sekalipun di negara yang pelaksanaan advokasinya berhasil. Penelitian. Meskipun ada kemungkinan beberapa kegiatan advokasi hanya memerlukan biaya sedikit. Advokasi akan berjalan lebih cepat dan efektif apabila ditunjang dari segi pendanaan. Untuk beberapa kasus tertentu hal ini memungkinkan. mereka perlu menyesuaikan pelaksanaan advokasi ini dengan pekerjaan mereka lainnya. penjajakan cepat.F. Para duta besar seringkali mau menyediakan dana yang tak terlalu besar misalnya sebesar US$ 2000. Namun masalah ini telah teratasi dengan semakin banyaknya bukti bahwa advokasi dapat mempercepat proses pelaksanaan pendekatan efektif. walaupun semua anggota koordinasi advokasi tidak perlu dibayar untuk melakukan advokasi pendekatan efektif untuk masalah HIV/AIDS di kalangan IDU. Selain itu advokasi dapat menjadi penting untuk keberlangsungan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. sumber dana yang potensial yang tidak terlalu besar seperti ini adalah kedutaan negara berkembang. menghadiri pertemuan-pertemuan masyarakat. Perbedaan lain antara penggalian dana untuk advokasi dan program jenis lain adalah sumber pendanaan yang berbeda. PENGGALIAN DANA UNTUK KEGIATAN ADVOKASI Penggalian dana adalah langkah yang penting dan sering dilupakan dalam proses advokasi. Keuntungan dari penggalian dana untuk advokasi adalah meskipun dana yang didapat hanya sedikit. Buku panduan ini diharapkan akan bermanfaat untuk mendapat perhatian dari para penyandang dana bahwa advokasi adalah investasi yang bermanfaat. Sebagai contoh. Namun. banyak kegiatan memerlukan dokumen-dokumen untuk para politisi dan media. Hal ini diperlukan karena kelompok perlu memastikan bahwa kelompok ini mampu melakukan advokasi pada berbagai isu yang berhubungan dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA. Kelompok advokasi hendaknya memastikan bahwa dana bisa diperoleh dari lebih dari satu donatur. melakukan hubungan komunikasi per telepon. Beberapa penyandang dana dengan alasan politik atau 30 . Jika tidak diperoleh dana untuk kegiatan-kegiatan tersebut. konferensi dan program percontohan memerlukan biaya yang lebih besar. atau menggunakan internet untuk mencari informasi yang relevan yang memerlukan pembiayaan. Penggalian dana untuk kegiatan-kegiatan advokasi sama dengan penggalian dana untuk programprogram pencegahan dan kegiatan-kegiatan lainnya. dana untuk kegiatan advokasi untuk pendekatan efektif pada HIV/AIDS di kalangan IDU seringkali sulit diperoleh. Sehingga proposal untuk dana yang tidak besar dapat dikirim ke sejumlah penyandang dana yang potensial selama proses advokasi. namun bermanfaat besar karena biaya advokasi relatif sedikit. Di negara -negara berkembang dan transisi. Akan tetapi untuk mendapatkan dana untuk advokasi berskala besar masih sangat jarang seperti di Indonesia yang dijabarkan dalam bab sebelumnya. setidaknya ada pembayaran kepada paling tidak satu anggota dari kelompok tersebut.

konser dan sebagainya • Minta iuran keanggotaan dari para anggota koalisi • Cari sumbangan dari orang -orang kaya • Cari donasi dari perusahaan • Jual barang -barang seperti T-shirt dan lain-lain • Lelang atau adakan undian untuk barang-barang atau jasa yang disumbangkan • Jual ruang iklan pada surat kabar Perlu diperiksa isu-isu legal mengenai pengumpulan. Jika mungkin. sangat penting mengetahui penyandang dana mana tertarik pada program HIV/AIDS atau penyalahgunaan NAPZA. Pola ini sebaiknya menggunakan argumentasi advokasi yang serupa dengan yang digunakan untuk para profesional kesehatan.alasan lain mungkin tidak ingin kelompok ini memusatkan perhatian pada isu tertentu seperti pertukaran jarum suntik sehingga perlu untuk memperoleh dana dari berbagai sumber lain. disertai dengan permohonan pendanaan. Sebagai tambahan. 31 . meskipun argumentasi HAM dan ekonomi mungkin juga bermanfaat. Hal ini berbeda anata satu negara dengan negara lain. Demikian juga dengan penggalian dana untuk program-program lain. p enggalian dana bisa dilakukan dengan mencantumkan daftar kegiatankegiatan yang dapat dilakukan: • Menyelenggarakan acara pengumpulan dana seperti pesta. malam pertunjukan film. dan pelaporan penggunaan dana. Kemudian kelompok tersebut mulai mengadakan pembicaraan dengan penyandang dana utama program-program HIV/AIDS mengenai apakah kemungkinan mendapatkan dana untuk pelaksanaan proyek advokasi di wilayah tersebut. Para anggota kelompok tersebut menyumbangkan waktunya dalam menghadiri pertemuan-pertemuan kelompok itu dan memulai kegiatan-kegiatan dalam dua bab berikutnya. kelompok advokasi sebaiknya mengembangkan hubungan dengan tokoh kunci dari organisasi penyandang dana sehingga argumentasi ini dapat disampaikan secara personal dan informal. pengeluaran. Contoh Kota Z Kelompok koordinasi advokasi di kota Z memperoleh dana US$ 1000 untuk melaksanakan penumpulan dana. Tim penasihat hendaknya menyusun pola permohonan dukungan dana sehingga kelompok dapat merespon pendanaan yang tersedia dengan cepat.

dan hakim terhadap IDU dan HIV/AIDS? • Masalah sosial dan budaya. Pelaksananaan penilaian madalah atau penjajakan meliputi tugas-tugas berikut ini: ? Mengumpulkan data dan infornasi tertulis mengenai: • Karakteristik IDU (jumlah. ? Menjajaki faktor -faktor situasional yang mungkin membantu atau menghambat pembentukan dan perluasan program-program yang efektif. perawat. latar belakang etnis. pendidikan. Informasi ini harus dibuat sebagai laporan dalam berbagai format. gambaran situasi HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntik di negara tersebut akan muncul. usia. Apa pandangan pemerintah. Hukum apa yang relevan untuk memulai atau memperluas program-program yang efektif? Apa pandangan kepolisian. Alternatif lain. informasi mengenai layanan yang tersedia. dengan cara penjajakan dan respon cepat yang dikeluarkan WHO atau cara penelitian lain bisa digunakan. keahlian. jenis kelamin. Penilaian masalah atau penjajakan mungkin dapat dilaksanakan oleh para anggota kelompok koordinasi advokasi. Satu versi hendaknya berisi ringkasan dari semua informasi yang dikumpulkan. dan lain-lain). polisi. PENILAIAN MASALAH Langkah berikutnya adalah menentukan parameter masalah yang akan dihadapi dan menentukan tujuan umum dan tujuan khusus advokasi. para profesional kesehatan dan kesejahteraan sosial. Faktor-faktor ini termasuk: • Masalah hukum dan penegakan hukum. BNN. pendapatan. prevalensi HIV dan hepatitis. di bawah tema seperti: • “prevalensi HIV dan hepatitis”. dan sebagainya) untuk mendapatkan informasi di atas dan mendapatkan informasi penanganan IDU oleh berbagai instansi kepolisian. dan para keluarga IDU terhadap program pengurangan dampak buruk ini? • Masalah kesehatan dan kesejahteraan sosial . kesehatan dan kesejahteraan sosial. tergantung pada pengalaman. ODHA. Apa pandangan para dokter. tokoh agama. dan pengetahuan yang dimiliki mengenai situasi HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA di negara tersebut. masyarakat. 32 .BAB VI ANALISIS A. kondisi kehidupan IDU. pengacara. • Penelitian-penelitian mengenai perilaku berisiko HIV di kalangan IDU. • Laporan organisasi-organisasi pemberi layanan (jumlah dan tipe klien terutama yang IDU. organisasi non-pemerintah atau LSM. dan pekerja sosial? • Kemungkinan sumber dana Dari proses ini. dan sebagainya) ? Mengidentifikasi tokoh kunci (penyalahguna NAPZA atau IDU.

• Mereka jarang atau tidak pernah pergi ke rumah sakit atau puskesmas karena para dokter atau perawat d apat mengetahui bahwa mereka penyalahguna NAPZA. Kegiatan ini dapat selesai lebih cepat apabila pendanaan memadai. pro ses pelaksanaan memakan waktu berbulan-bulan karena universitas dan staf ornop/LSM menyesuaikan kegiatan penjajakan dengan kegiatan-kegiatan mereka yang lain. Versi kedua hendaknya dibuat dengan penekanan pada butir-butir yang paling penting yang berhubungan dengan faktor-faktor situasional yang membantu atau menghambat program. Karena kelompok ini tidak mempunyai dana untuk melakukan penjajakan ini. • Sebagian besa r IDU yang diwawancarai mengatakan bahwa mereka ingin berhenti menggunakan NAPZA. Faktor-faktor ini hendaknya disusun berdasarkan urutan prioritas. • Empat tempat tidur tersedia di rumah sakit sedangkan di LSM tersedia 20 tempat tidur. • “kondisi-kondisi hidup/penghidupan”. • Biaya terapi ketergantungan NAPZA di LSM sama besarnya dengan tiga bulan gaji (untuk enam bulan dalam therapeutic community). Laporan ini hendaknya digunakan untuk proses pembuatan tujuan -tujuan khusus di bawah ini. 33 . • kurang dari 10% IDU secara teratur menggunakan kondom saat berhubungan seks. Penjajakan yang dilakukan di wilayah tersebut telah menemukan adanya kurang lebih 1000 IDU: • 60% dari mereka adalah laki-laki. • 80% berbagi jarum suntik dengan teman-teman mereka secara rutin • 20% telah berbagi peralatan suntik dengan orang asing pada minggu sebelumnya. anggota koalisi serta kepada mereka yang tertarik pada laporan yang lengkap. telah mendengar mengenai AIDS.. Contoh dari Kota Z Kelompok advokasi meminta para peneliti dari sebuah universitas untuk bekerja dengan staf dari beberapa ornop/LSM melakukan penilaiaian masalah dengan cara penjajakan cepat HIV/AIDS dan situasi IDU di wilayah tersebut. • dan sebagainya. dan jarang membeli jarum suntik baru karena mereka lebih suka menggunakan uangnya untuk membeli NAPZA. Laporan ini hendaknya diberikan kepada seluruh anggota kelompok koord inasi advokasi. • Para IDU memahami bahwa masyarakat menginginkan mereka berhenti menggunakan NAPZA atau keluar dari wilayah tersebut namun mereka merasa tidak mampu menghentikan penyalahgunaan NAPZA dan wilayah tersebut adalah rumah mereka karena mereka tidak mempunyai tempat lain untuk tinggal. tidak merasa takut terhadap AIDS. • Para IDU dapat membeli jarum suntik dari dua apotik di daerah itu • Terapi ketergantungan NAPZA (tanpa substitusi NAPZA) tersedia di sebuah LSM dan rumah sakit.• “perilaku berisiko HIV”. • Kebanyakan IDU takut membeli peralatan suntik di apotik (karena polisi berjaga di sekitar apotik tersebut dan menangkap mereka saat mereka keluar dari apotik). tapi gratis di rumah sakit (untuk 12 hari detoksifikasi).

sehingga kecil kemungkinannya bahwa kelompok -kelompok ini akan memastikan penerapan pendekatanpengurangan dampak buruk NAPZA. karena layanan-layanan ini tidak tersedia di wilayah tersebut. dan polisi mengetahui sedikit informasi mengenai penyalahgunaan NAPZA. Hal ini mengarah pada peningkatan penularan HIV di kalangan IDU dan dari IDU ke pasangan seks mereka. dan penyebaran HIV di kalangan IDU. Para IDU tidak kuatir bahwa mereka bisa terkena HIV sehingga kecil kemungkinan mereka mengurangi perilaku berisiko menularkan atau ditulari HIV. Sebuah contoh dari Kota Z: ? Para IDU sering berbagi jarum suntik karena mereka: • Takut ditangkap dan takut membeli peralatan suntik baru dari apotik • Tidak cukup mendapat pendidikan mengenai HIV/AIDS serta penyebaran dan pencegahannya • Tidak dapat mengakses terapi ketergantungan NAPZA • Tidak dapat mengakses layanan -layanan yang sesuai yang mungkin dapat merespon kebutuhan kesehatan dan kebutuhan lainnya. 34 . Beberapa contoh dari Kota Z: • • • • • Para IDU seringkali berbagi jarum suntik.Butir-butir di atas bermanfaat untuk membuat rumusan-rumusan masalah dan isu berdasarkan penjajakan yang dilakukan. Pernyataan-pernyataan ini akan diperlukan untuk menyusun tujuan khusus kelompok advokasi tersebut. Hal ini mengarah pada peningkatan penularan HIV di kalangan IDU. Terapi ketergantungan NAPZA tidak dapat diakses oleh sebagian besar IDU sehingga para IDU mendapatkan kesulitan dalam mengurangi atau menghentikan penyuntikan dan penyalahgunaan NAPZA. masyarakat. Para IDU jarang menggunakan kondom saat berhubungan seks. Perumusan masalah dapat menjelaskan parameter umum dari suatu masalah dengan sederhana. Pernyataan isu berfokus pada penyebab-penyebab masalah dan mengarah pada pencarian penyelesaian masalah. IDU. Para politisi.

TUJUAN KHUSUS YANG BERSIFAT SMART Seringkali terjadi kesalahpahaman perbedaan antara tujuan umum (goal ). dan lainnya) yang tersedia Relevant (relevan): Tujuan harus berguna untuk keseluruhan proses pencapaian tujuan. melalui upaya:. Tujuan Umum adalah gambaran um um mengenai peristiwa yang diinginkan suatu kelompok pada akhir sebuah pelaksanaan advokasi. tujuan khusus (objective ) hanya merupakan tujuan umum (goal ). dan kelompokkelompok lain di wilayah tersebut (seperti polisi. Tanpa sifat-sifat SMART. dan tokoh masyarakat) perlu banyak mempelajari kebutuhan pengurangan dampak buruk NAPZA di wilayah tersebut. sumber daya manusia. tujuan khusus (objectives). • Meningkatkan edukasi: para IDU perlu dihubungi oleh seseorang yang dipercayai dan diberi informasi mengenai penyebaran dan pencegahan HIV.B. Tujuan khusus merupakan hasil kegiatan kelompok advokasi dan bersifat SMART sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini. Kegiatan dirancang secara spesifik untuk membantu anggota kelompok menuju pencapaian tujuan khusus. Tujuan Khusus adalah hal-hal spesifik yang diharapkan dari suatu pelaksanaan advokasi. Dokter dan petugas kesehatan perlu mengetahui mengenai penyalahgunaan NAPZA dan HIV/AIDS. kalau tidak. Keinginan ini mungkin sulit dicapai namun akan membantu semua pihak yang bekerja pada proyek yang sedang dilaksanakan untuk tetap terfokus dan bekerja bersama -sama dengan tujuan yang menyeluruh. para IDU harus didorong untuk mengurangi perilaku berisiko terhadap HIV. • • 35 . politisi. Hal utama mengena i tujuan khusus adalah kelompok koordinasi advokasi harus mampu mengukur apakah kelompok tersebut mampu mencapai tujuan khusus. akan sulit diukur. Beberapa tujuan khusus yang muncul dari penjajakan yang dilakukan di Kota Z: Dalam 12 bulan. Meningkatkan akses bagi para IDU untuk mendapatkan peralatan suntik baru dengan cara meningkatkan akses IDU ke apotik atau memulai program jarum suntik steril. Time -constrained (mempunyai batasan waktu): Tujuan harus memiliki batas waktu pencapaiana. Kegiatan adalah pekerjaan yang dilakuka n untuk mencapai setiap tujuan khusus. dan kegiatan (activities). Meningkatkan akses bagi para IDU ke terapi ketergantungan NAPZA yang terjangkau secara ekonomi (baik detoksifikasi maupun therapeutic community) dan meningkatkan pilihan-pilihan terapi (termasuk terapi substitusi NAPZA). yaitu: Specific (spesifik): Tujuan harus menyebutkan secara jelas apa yang ingin dicapai oleh program Measurable (dapat diukur): Tujuan harus dapat diukur dengan mudah tanpa harus memakai sumber daya yang besar untuk penelitian dan evaluasi Achievable (dapat dicapai): Tujuan harus dapat dicapai dengan sumber-sumber (keuangan. Tujuan khusus yang bersifat SMART dibuat dengan mempertimbangkan langkah-langkah yang diperlukan.

Kelompok koordinasi advokasi harus secara seksama mempertimbangkan isu mengenai tujuan khusus yang dapat dicapai: • • • Apakah isu ini sangat sensitif sehingga para pembuat keputusan tidak dapat didekati secara langsung? Apakah sudah ada orang atau koalisi yang telah mencoba melakukan advokasi isu ini? Pelajaran apa yang dapat diambil dari pengalaman mereka? Apakah informasi yang tersedia cukup untuk mempengaruhi para pembuat kebijakan? Jika tidak. Namun demikian. Untuk advokasi. ke layanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas. tujuan khusus yang bersifat SMART dapat menimbulkan kesulitan. Namun pengalaman para pelaksana advokasi pada isu lain seperti perawatan dan pengobatan bagi ODHA menunjukkan bahwa advokasi berhasil dilakukan pada berbagai masalah. kelompok advokasi harus menilaia hal-hal berikut: • • • • • • • Tujuan khusus mudah dimengerti Adanya perbaikan atau perubahan situasi yang akan dicapai dengan pelaksanaan tujuan tersebut Tujuan khusus tersebut dapat dicapai. Dalam menetapkan tujuan khusus. para pelaksana advokasi di beberapa negara dapat merasakan bahwa kegiatan advokasi yang dilakukan kurang memungkinkan untuk berhasil. walaupun mendapat tantangan Tujuan khusus ini didukung oleh sejumlah orang sehingga dapat dicapai Pendanaan dapat dikumpulkan untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan khusus tersebut Pembuat keputusan yang berhubungan dengan tujuan khusus ini dapat diidentifikasi dengan jelas Aliansi dibentuk untuk membantu mencapai tujuan khusus tersebut. sehingga penjajakan yang kedua setelah 12 bulan akan dapat mengukur apakah perubahan-perubahan yang dicari oleh tujuan khusus ini telah terjadi). 36 . terutama mereka yang mengidap HIV. Tanpa adanya gerakan sosial dan kemauan politik. tujuan khusus mungkin harus diganti untuk memasukkan pengumpulan informasi lebih lanjut). Pencapaian tujuan memang sulit dicapai. (Catatan: semua tujuan khusus ini dapat diukur karena penjajakan telah dilaksanakan sebelumnya. Kelompok koordinasi advokasi harus membuat draft prioritas tujuan khusus. Hal ini disebabkan karena kesulitan dalam menentukan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan khusus dan melakukan pengukuran capaian dengan tidak mengabaikan sejumlah informasi penting mengenai proses advokasi.• Meningkatkan akses bagi para IDU. sistim SMART harus digunakan paling tidak untuk menuntun pengembangan tujuan khusus advokasi.

biasanya perlu dicari jalur-jalur informal dimana isu-isu mulai diangkat dan keputusan awal diambil. atau menyetujui sebagian. baik untuk proses formal maupun informal. informasi dan syarat-syarat ini perlu dipenuhi dan proposal bisa kembali pada tahap 4. instruksi pemerintah. Tahap-tahap tersebut adalah: Tahap 1 : Mengidentifikasi permasalahan atau isu-isu dalam suatu organisasi baik pemerintahan. Tahap 5: Maju ke tahap berikutnya. Pelaksana advokasi perlu memahami hal ini a pabila pendekatan formal tersebut terjadi selama proses advokasi. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana agar tujuan-tujuan ini dapat dicapai. Tahap 3: Pertimbangan.BAB VII STRATEGI Kelompok koordinasi advokasi pada tahap ini sudah harus memiliki gambaran yang jelas mengenai masalah-masalah yang akan dihadapi dan draft tujuan khusus untuk advokasi. Usulan di atas didiskusikan dan mungkin diubah oleh para pembuat kebijakan. bisa dilanjutikan ke tingkat pembuatan keputusan selanjutnya atau langsung dilaksanakan. Tahap 4: Keputusan diambil. LSM dan lain -lain. Tahap 2 : Memperkenalkan ide atau proposal untuk memecahkan masalah yang telah teridentifikasi. A. Jika informasi lebih lanjut diperlukan atau ada syarat-syarat yang perlu dipenuhi. dan perundang-undangan. Mungkin terdapat peraturan dan prosedur formal cara -cara pembuatan dan perubahan peraturan. isu ditempatkan pada agenda organisasi tersebut. atau menyetujui dengan syarat-syarat tertentu. Namun kadang-kadang keputusan yang diambil adalah mengupayakan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Permasalahan dan usulan solusinya diberikan kepada para pembuat kebijakan. Contoh dari Kota Z 37 . Bila proposal ditolak. yang perlu untuk diikuti. Terutama pada awal proses advokasi. Pada tahap ini. Jika proposal disetujui. adalah penting untuk memahami bagaimana proses pembuatan keputusan di berbagai sektor untuk dapat dipengaruhi oleh kegiatan -kegiatan advokasi. Biasanya keputusan diambil untuk menyetujui atau menolak proposal (baik yang asli maupun yang telah dirubah). Ada 5 tahap pembuatan keputusan. proposal tersebut bisa dikerjakan kembali dan prosesnya dimulai lagi. MEMAHAMI PROSES PEMBUATAN KEPUTUSAN Pertama-tama.

DPRD bisa memutuskan untuk mengadopsi meskipun ditentang oleh kepolisian. mereka akan mendukung proposal tadi sejak pertemuan yang pertama. Bahkan dalam situasi yang sangat formal seperti contoh di atas. kepala polisi tersebut mungkin akan lebih simpatik. Tahap 5: DPRD meminta biro administrasi kota untuk mengadakan pertemuan antara Dr. Sejumlah besar unsur dan faktor yang tidak tetap dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. banyak faktor mempengaruhi suatu keputusan. kelompok advokasi perlu mencoba memecahkan proses yang rumit tersebut menjadi bagian yang lebih sederhana. Tahap 1: Kelompok koordinasi advokasi telah mengidentifikasi suatu masalah mengenai kepolisian yaitu hadirnya polisi di dekat apotik merupakan alasan utama mengapa IDU tidak membeli peralatan suntik baru. A dan rekan-rekannya dengan kepolisian untuk membahas agar proyek percontohan tetap berjalan tanpa menimbulkan permasalahan bagi kepolisian. • Jika kebanyakan anggota DPRD orang-orang yang bersimpati kepada polisi dan tidak tertarik pada masalah-masalah kesehatan. misalnya: • Jika polisi telah mengetahui proposal tadi dan setuju bahwa hal tersebut memang perlu. kepolisian bertanggungjawab kepada DPRD . mendengarkan argumen pihak kepolisian. Selain itu advokasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan mungkin melibatkan banyak proses pembuatan keputusan yang terbeda -beda.Di Kota Z. namun menyetujui pencarian metode yang memungkinkan proyek percontohan dilaksanakan. Tahap 2: Kelompok koordinasi membuat suatu proposal kepada DPRD untuk meminta polisi menghentikan kegiatan menunggu di dekat apotik selama 6 bulan pelaksanaan program percontohan untuk meningkatkan akses IDU pada peralatan suntik. A yang mewakili kelompok advokasi. dan Dr. Biro administrasi kota terdiri dari wakil masyarakat yang bekerja untuk DPRD. 38 . Untuk ini. Biro diminta untuk menyerahkan laporan termasuk rekomendasi untuk pertemuan dengan DPRD berikutnya (di mana pada saat itu proses dimulai lagi dari Tahap 2). Kelompok ini telah menginformasikan kepada kepala kepolisian kota tapi kepala polisi mengatakan bahwa ia hanya mengikuti perintah biro administrasi kota. Sedangkan kepala kepolisian harus memberikan jawaban kepada kepala biro administrasi kota (juga kepada kepala kepolisian nasional). Tahap 4: DPRD memutuskan agar polisi tetap melakukan kegiatan sebelumnya. • Jika kepala kepolisian kota mempunyai seorang teman dengan anak seorang IDU yang positif HIV. DPRD mungkin tidak akan mengadakan diskusi terhadap proposal tersebut tapi langsung menolaknya. Tahap 3: DPRD mempertimbangkan proposal tersebut. • Jika administrasi kota menolak mentah -mentah untuk mendukung proposal tersebut. pihak administrasi kota.

Contoh dari Kota Z Kelompok koordinasi advokasi telah mengkaji tujuan sebagai berikut ini: Meningkatkan akses bagi IDU untuk mendapatkan terapi ketergantungan NAPZA yang dapat dijangkau (baik detoksifikasi atau therapeutic community) dan meningkatkan rangkaian layanan terapi (termasuk terapi substitusi) Dalam diskusi dengan koalisi yang lebih luas. Pendengar sekunder dapat merupakan bagian atau perluasan dari pendengar primer. kelompok tersebut telah memutuskan hal yang akan dicapai adalah dengan pemenuhan tiga sub-tujuan dibawah ini: • Peningkatan pendanaan oleh Dinas Kesehatan kota bagi dua layanan terapi ketergantungan NAPZA untuk memungkinkan penanganan IDU lebih banyak dan mengurangi biaya yang dibebankan kepada klien (dari therapeutic community) • Pengenalan program terapi substitusi percontohan. Kunci untuk advokasi adalah menentukan individu atau kelompok mana yang kira -kira akan memiliki pengaruh paling besar pada setiap keputusan dan mencoba untuk membujuk mereka untuk mendukung tujuan-tujuan advokasi. kelompok yang netral yang tak mendukung atau pun menentang. dan kelompok yang menentang advokasi. Kelompok ini bisa terdiri dari mitra kerja yang mendukung tujuan advokasi. Pendengar primer dan sekunder Perlu adanya pemanfaatan peta -peta kebijakan untuk menentukan individu atau kelompok yang paling berpengaruh terhadap suatu keputusan. • Edukasi yang diberikan melalui penjangkauan kepada IDU mengenai peningkatan dalam pilihan terapi ketergantungan NAPZA dan pengurangan biaya yang dibebankan kepada klien . mendorong IDU untuk mencari layanan terapi: hal ini memerlukan adanya suatu program penjangkauan untuk IDU. 39 . PEMETAAN PROSES KEBIJAKAN 1.B. Berdasarkan proses tersebut diatas dapat dibagi jenis pendengar dalam advokasi yaitu: • • Pendengar primer termasuk para pembuat kebijakan dengan kewenangan untuk secara langsung mempengaruhi pencapaian tujuan. berlokasi di puskesmas. Pendengar sekunder adalah para individu dan kelompok yang dapat mempengaruhi pembuat keputusan (pendengar primer ).

Kelompok tersebut sekarang melaksanakan latihan pemetaan kebijakan untuk dua sub-tujuan yang pertama (lihat Contoh Peta Kebijakan 1) Peta Kebijakan 1: Contoh dari Kota Z: Siapakah para pendengar advokasi Sub-tujuan 1: Meningkatkan pendanaan bagi dua layanan terapi ketergantungan NAPZA yang sedang berlangsung Pendengar Primer: Sasaran DPRD Kota Pendengar Sekunder: Yang berpengaruh Staf anggota DPRD kota: karena anggota DPRD kota sering kali meminta pendapat dari para staf mereka. pelayan toko. para pekerja di seluruh wilayah itu: bagaimana reaksi orang-orang tersebut terhadap keputusan. para atasan/majikan. Media: anggota DPRD kota ingin mengetahui sikap media terhadap peningkatan pendanaan: apakah reaksi media akan menguntungkan atau tidak? Tokoh masyarakat: anggota DPRD kota adalah orang yang berinteraksi dengan keluarga. apakah keputusan ini akan memperbesar atau memperkecil kemungkinan masyarakat untuk memilih anggota dewan kota pada pemilihan berikutnya? Pemimpin agama : apakah pemimpin agama berkeberatan atau menyetujui terapi ketergantungan NAPZA? Penyandang dana internasional untuk program HIV/AIDS atau NAPZA: ka rena Kota Z adalah kota yang miskin. Departemen Kesehatan: Dinas Kesehatan Kota biasanya tidak akan membuat keputusan yang menentang kebijakan Departemen Kesehatan Pusat Keluarga dan teman-teman IDU 40 . apakah para penyandang dana akan membayar peningkatan pendanaan selama tiga tahun pertama (sehingga anggota DPRD kota tidak harus mengeluarkan dana dari proyek lain) Kepala Dinas Staf Dinas Kesehatan Kota (seperti di atas) Kesehatan Kota Para peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat di universitas terdekat: para profesional sebaya sangat berpengaruh.

Para “Pa kar” nasional dan internasional di bidang HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA Para Pemimpin Agama dan Media Para Penyandang Dana internasional untuk program-program HIV/AIDS dan NAPZA Kepala Kepolisian Kota Menteri Kesehatan Kepala Nasional Kepolisian Presiden Para “Pakar” Kepolisian di bidang tindak kejahatan NAPZA Para Kolega kepolisian internasional dan Media Staf dari anggota dewan kota dan Media Para tokoh masyarakat Para pemimpin agama Para penyandang dana internasional untuk program-program HIV/AIDS dan NAPZA DPRD Kota Kepala Dinas Kesehatan Staf Dinas Kesehatan Kota Kota Para Peneliti pada Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas terdekat Departemen Kesehatan Pusat IDU IDU lain. Dinas Kesehatan Kota. Menteri Kesehatan Anggota DPRD Kota dan Media Kepala Kepolisian Nasional Anggota DPRD Kota Anggota Kepolisian untuk masalah NAPZA Media Presiden Kepala Kepolisian dan Anggota DPR/MPR lain.Sub-Tujuan 2 : Pengenalan program percontohan terapi substitusi. pasien dan masyarakat sekitar puskesmas Para kolega profesional: puskesmas lain. Keluarga dan teman-teman IDU Para dokter/petugas kesehatan lain dan media Tabel di atas menunjukan bahwa keputusan bisa dibuat oleh kelompok kecil namun pendapat kelompok yang lebih luas yang terdiri dari para profesional. berbasis di puskesmas. pemimpin agama dan tokoh masyarakat dapat mempengaruhi kelompok pembuat keputusan. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa adanya perubahan seperti peningkatan pendanaan untuk layanan yang ada 41 . Kepala Pukesmas Staf.

Penelitian pendengar kebijakan Saat pendengar primer dan sekunder telah diidentifikasi untuk tujuan tertentu. pidato atau dokumendokumen lain. Media bukan pendengar primer untuk ke dua sub-tujuan di atas. Selain itu ODHA merupakan kelompok yang sangat penting untuk pembuatan keputusan mengenai topik -topik ini. IDU dimasukkan sebagai pendengar primer untuk program substitusi karena sangat vital bagi keberhasilan program. namun kemungkinan besar dapat mempengaruhi pendengar primer. Dengan menunjukkan kebutuhan terhadap layanan semacam ini. ODHA dan keluarga. Jika IDU menolak untuk ikut program ini. Anggota baru ini mengerjakan berbagai publikasi dan tertarik untuk berbicara pada konferensi dan pertemuan komite. dan sebagainya. 2. dengan membaca koran.dapat menyederhanakan dan mempercepat pelaksanaan kegiatan lain seperti pelaksanaan program terapi substitusi. Namun IDU cenderung tidak mempunyai pengaruh selama diskusi yang berhubungan dengan keuangan. pengurangan kriminalitas. Namun demikian. Sama halnya di beberapa negara lain. IDU dapat memiliki dampak kuat mengenai layanan yang akan dimulai atau diperluas untuk menghadapi HIV/AIDS. Hal lain yang perlu dicatat adalah kelompok yang berpengaruh yang perlu digunakan seperti media. Apabila ODHA memiliki juru bicara yang tampil di media dan dalam komite untuk para politisi yang berpengaruh. IDU telah membantu pengenalan kegiatan efektif tersebut. perlu untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin mengenai kelompok dan individu tersebut. para pejabat pemerintah seperti polisi dan militer memiliki pengaruh yang besar sehingga perlu dimasukkan dalam kelompok pendengar sekunder. kelompok advokasi di Kota Z menyadari bahwa kedua kebutuhan ini perlu dilaksanakan (bersama dengan edukasi yang dilakukan melalui kegiatan penjangkauan dan tujuan lain dalam bab sebelumnya) untuk secara efektif menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU di kota tersebut. IDU juga penting dalam pembahasan peningkatan layanan terapi. Apakah opini mereka saat ini mengenai HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntik? Apa kepentingan mereka terhadap isu-isu ini? Apa yang memotivasi mereka? Bagaimana mereka biasanya mempelajari isu -isu baru (melalui hubungan personal. dua di antaranya adalah ODHA dan IDU. Dengan membaca semua itu secara teliti. maka program ini tidak akan menghasilkan dampak terhadap pencegahan HIV. Karena perluasan layanan terapi ketergantungan NAPZA umumnya dianggap sebagai isu yang berhubungan dengan NAPZA dari pada isu yang berhubungan dengan AIDS. kelompok advokasi dapat berhasil menarik tiga anggota lagi. ada kemungkinan untuk mendapatkan kutipan langsung mengenai pandangan mereka tentang NAPZA dan HIV/AIDS 42 . Melalui pertemuan dengan IDU. dan lain-lain)? Informasi ini bisa didapatkan dengan beberapa cara: • Pejabat dan selebritis menyatakan opininya melalui media.

Tahap selanjutnya adalah memetakan apa yang diketahui. dan ODHA yang telah dilaksanakan sangat bermanfaat untuk mengukur opini masyarakat. pengacara. penyalahguna NAPZA seharusnya dibuang dari keluarganya. rencana. strategi. Survei mengenai penyalahgunaan NAPZA. 43 . dan sebagainya.• • • • atau topik-topik yang sejenis. peraturan. Informasi isu-isu yang tidak berhubungan dengan tujuan khusus kadang-kadang berguna untuk menyusun pesan-pesan persuasif. Kebijakan-kebijakan resmi yang tertuang dalam perundang-undangan. protokol. seluruh dokumen yang berkaitan dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntik perlu dikumpulkan dan dikaji. penyalahguna NAPZA adalah orang-orang yang tidak waras. Sebab sangat berat menyelidiki dan memprediksi beberapa pendengar sekunder khusus. Untuk pendengar primer dan sekunder. beberapa penyalahguna NAPZA memainkan peran yang bermanfaat dalam masyarakat. instruksi pemerintah. dirasakan. Ketelitian perlu diperhatikan saat menggunakan teknik ini karena banyak politisi berpikir bahwa mereka perlu dilihat “keras terhadap NA PZA”. Analisis informasi di atas harus berfokus pada organisasi atau individual apakah telah mendukung tujuan advokasi atau menentang tujuan advokasi. polisi dan sebagainya. kemungkinan besar pendengar akan memperhatikannya. beberapa penyalahguna NAPZA telah berhenti menggunakan NAPZA. Perlu mencatat nama -nama jurnalis yang tertarik akan keseimbangan dan kedalaman informasi. Untuk itu. Analisis media dapat membantu memprediksi pandangan media dan masyarakat mengenai beberapa topik. FGD ini dapat melibatkan anggota masyarakat umum atau pendengar tertentu seperti dokter. kita perlu mengenal orang-orang yang dekat dengan para politisi yang dapat memberikan gambaran yang lebih aktual mengenai pandangan politisi tersebut. Perlu melakukan penilaian mengenai jurnalis yang menulis artikel-artikel tersebut apakah telah bersikap sensasional atau seimbang. sikap terhadap p enyalahgunaan NAPZA. Analisis ini bisa sangat sederhana seperti menghitung jumlah artikel mengenai NAPZA dalam surat kabar selama periode tertentu dan mencatat tema-tema umum artikel tersebut misalnya penyalahguna NAPZA adalah penjahat. Jika tujuan advokasi dapat dikaitkan dengan isu yang sangat diperhatikan oleh pendengar. Kelompok tersebut perlu terus dijajaki dan pesan-pesan terus dikembangkan dan diteruskan ke par a pendengar yang lain. dan diyakini oleh para pendengar mengenai isu-isu tersebut yang bisa berhubungan dengan tujuan khusus. penyalahguna NAPZA. Diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discusssion (FGD) dapat digunakan untuk mendapatkan pemahaman mengenai cara berpikir pendengar mengenai topik-topik yang spesifik.

Contoh dari Kota Z Kelompok koordinasi advokasi melanj utkan latihan pemetaan kebijakan untuk sub-tujuan yang kedua (lihat Contoh Peta Kebijakan 2 untuk contoh-contoh yang dipilih dari proses pemetaan ini). menentang. • Bermacam-macam sikap dari yang sangat mendukung sampai yang tak mendukung. Kuatir mengenai dampak program kepada klien puskesmas (nonIDU) yang lain. percaya bahwa substitusi malah akan mendatangkan IDU ke wilayah tersebut 44 . Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik. Tidak dikritik media dan Departemen Kesehatan. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik . berbasis di puskesmas Pendengar Pengetahuan Keyakinan dan sikap Isu-isu yang diperhatikan pendengar pendengar mengenai oleh pendengar mengenai sub. staf lainnya hanya mengetahui sedikit Hampir tak tahu apa-apa. Kemungkinan akan dan bekerja. • • • Penduduk sekitar Puskesmas • • Belum menentukan Kenyamanan wilayah itu sebagai tempat untuk tinggal sikap. Tidak dipecat. Kepala puskesmas • Staf puskesmas Beberapa staf puskesmas menghadiri kelompok advokasi. Setiap anggota staf memperhatikan satu bidang kesehatan khusus. • • • • Kesehatan seluruh penduduk wilayah tersebut. Peta Kebijakan 2: Contoh dari Kota Z: Apa yang diketahui dan dipikirkan oleh para pendengar? Sub-tujuan2 : Pengenalan program percontohan terapi substitusi. Kebanyakan mendukung program. Tidak dipecat.sub-tujuan tujuan Tahu sedikit • Dapat mengerti bahwa kegiatan ini adalah penting. telah membaca banyak informasi mengenai terapi substitusi.

percaya bahwa program ini akan menyelamatkan banyak jiwa. Kemungkinan tertarik akan isunya dan ingin memberikan ulasan. Konflik. Kepala Dinas Telah mendengar tahu Kesehatan Kota namun sedikit mengenai penelitian atau bagaimana terapi substitusi bekerja • • • • • • • Media Hampir tak tahu apa-apa. namun kuatir para pemilih mereka akan menentang program itu. Merasa bertanggung jawab untuk menghentikan AIDS di wilayah itu. terutama pada ide baru. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik Ide-ide baru. 45 .Para peneliti Telah membaca penelitian dari internasional universitas • • Mendukung. Penjualan koran. • • • Keingintahuan akan hal-hal ilmiah Kenaikan jabatan akademis Publikasi DPRD kota Hampir tak tahu apa-apa. keberadaan program di wilayah tersebut akan membantu mengurangi penularan HIV di kalangan IDU Belum menentukan sikap. • • • Kesehatan masyarakat secara keseluruhan di seluruh kota. Sangat mendukung program tersebut. peristiwa baru dll. Tidak dipecat. Ulasannya sepertinya berpusat pada kontroversi dan konflik. Kemungkinan reaksi yang muncul akan beragam. • • • • • • Kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan di seluruh kota. Buktinya sudah jelas. periklanan. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik. Pemberian informasi. Pemilihan/penunjukan kembali.

• • Kemungkinan akan menentang. Sangat mendukung. yakin bahwa program itu akan menolong mereka berhenti menyuntikan NAPZA Keyakinan dan sikap pendengar mengenai subtujuan Kebanyakan dari mereka yang tahu mengenai terapi substitusi sangat mendukung. Percaya bahwa satu-satunya jalan untuk menangani IDU adalah dengan menghukum mereka. • • Menyuarakan perlawanan terhadap penyalahgunaan NAPZA secara konsisten dan menolong penyalahguna NAPZA. • Kemungkinan akan menentang. bebas dari penyalahgunaan NAPZA • 46 . • • • Bertahan hidup.Para pemimpin agama (kota) Hampir tak tahu apa-apa. Beberapa (terutama para orang tua) menentangnya dan berpikir bahwa uang yang tersedia seharusnya digunakan untuk program yang menghentikan anak -anak muda menggunakan • • • • IDU Telah mendengar mengenai terapi substitusi. Menjaga amanat rakyat. Pendengar • • Isu-isu diperhatikan pendengar yang oleh Teman-teman dan Keluarga IDU • • • Kesejahteraan IDU Bila mungkin. tapi umumnya pengetahuan yang dimiliki tidak banyak Pengetahuan pendengar mengenai subtujuan Kebanyakan memiliki pengetahuan yang sedikit. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik Kepala Kepolisian Kota Hampir tak tahu apa-apa. Menyatakan bahwa penyalahgunaan NAPZA adalah dosa Pencegahan kejahatan Menahan penjahat. Persahabatan.

Kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan nasional. Menteri Kesehatan Telah mendengar namun tahu sedikit mengenai penelitian atau bagaimana terapi substitusi bekerja • • • • Kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan di seluruh wilayah di negara tersebut. Mendukung suatu ujicoba di Kota Z. Peduli akan AIDS. Beberapa sangat menentang dan yakin bahwa program ini “salah” karena tidak menolong IDU berhenti menggunakan NAPZA dengan segera. tapi tidak yakin kalau substitusi adalah kebijakan nasional yang terbaik. • Sangat mendukung. mau mendanai program percontohan apabila dukungan masyarakat yang memadai dapat diperlihatkan Beberapa sangat mendukung. Pemilihan/penunjukan kembali. macam Para penyandang dana internasional Telah melaksanakan penelitian internasional. terutama di Kota Z. Dari hasilnya. Bidang perawatan kesehatan yang spesifik di seluruh wilayah di negara tersebut. telah menyaksikan program substitusi di negara lain dan akan membantu dimulainya program di Kota Z. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik. • • • • • Reputasi profesional sebagai “pakar” Hubungan dengan institusi-institusi dan orang-orang yang berpengaruh. Staf Menteri Beberapa membaca Kesehatan telah • penelitian internasional • 47 .segala NAPZA. mempunyai tingkat pengetahuan yang tinggi. kebijakan nasional dapat disusun • • Pengurangan kemiskinan Pencegahan HIV/AIDS secara global Para ‘pakar’ Kebanyakaan tingkat nasional memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi.

Kepolisian Nasional Tak diketahui. Hal ini merupakan kasus yang sering dijumpai ketika melaksanakan advokasi untuk pendekatan-pengurangan dampak buruk NAPZA (Harm reduction) karena isu yang diangkat melalui berbagai kegiatan sangat kompleks. Kelompok advokasi juga mempunyai beberapa ide mengenai hal yang diketehui dan dirasakan pendengar mengenai isu-isu yang berhubungan dengan tujuan tersebut. Pemilihan/penunjukan kembali. dan keyakinan di antara para pendengar di Kota Z dan di tingkat nasional. dan kelihatan aneh dibanding dengan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan penyalahgunaan NAPZA seperti kegiatan pengurangan pemasokan (Supply reduction) dan permintaan (Deman reduction). secara tetap menjanjikan membersihkan masyarakat dari NAPZA. sikap. 48 . • • Menjaga amanat rakyat. Dipilih berdasarkan program partai yang memasukkan upaya upaya “Bersikap keras terhadap NAPZA”. Dibutuhkan penelitian. • Dibutuhkan penelitian. Hampir tak tahu apa-apa. • Dari proses ini. kontroversial (terutama secara politis). • Kemungkinan akan menentang. Serangkaian kegiatan dapat direncanakan untuk menyampaikan pesanpesan advokasi kepada para pendengar ini. dapat dilihat adanya berbagai pengetahuan. Setelah melengkapi peta kebijakan untuk tujuan dan sub-tujuan kelompok advokasi mempunyai gambaran tentang individu dan kelompok yang dapat membuat atau mempengaruhi keputusankeputusan yang berkaitan dengan tujuan. Presiden.

dan indikator untuk mengevaluasi kegiatan tersebut. tujuan khusus advokasi. Persuasi: Bagi k elompok yang belum sepaham dengan kegiatan tersebut perlu dilakukan pendekatan secara persuasif dengan berbagai argumentasi. untuk menghadapi pendengar dan tanggapan terhadap pesan -pesan yang disampaikan. Kelompok ini telah memiliki gambaran yang jelas mengenai kelompok yang akan dilibatkan dalam diskusi dan beberapa kebutuhan yang diperlukan. Cara lain dapat dilakukan dengan mengajak berkunjung pada negara yang telah berhasil melaksanakan untuk studi banding. • 49 . Kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan sebaiknya dilaksanakan secara berkesinambungan dan tepat waktu. Rencana aksi sebaiknya dikembangkan dengan memprioritaskan sasaran yang strategis dan berdampak maksimal dengan upaya yang minimal. Ø keuntungan terapi bagi IDU dan masyarakat. Contoh dari Kota Z Kelompok koordinasi advokasi sangat senang telah menyelesaikan tujuan-tujuan khusus dan peta kebijakannya. rencana aksi sebaiknya mencantumkan setiap kegiatan yang diperlukan. ada dua kategori kegiatan utama yang diperlukan: • Edukasi: Sasaran perlu diberi edukasi mengenai . jadual kegiatan. sasaran advokasi yang diharapkan. berdiskusi d engan pakar internasional atau melakukan dialog terbuka tentang risiko dan keuntungan program terapi substitusi. Untuk sub-tujuan mengenai pelaksanaan program substitusi di puskesmas wilayah tersebut. Seiring dengan berkembangnya kelompok yang mempunyia pemahaman sama maka seluruh mitra kerja perlu didorong agar dapat berpartisipasi secara aktif untuk mencapai tujuan. PERENCANAAN KEGIATAN (ACTION PLANNING) Kegiatan advokasi perlu direncanakan. Ø keefektifan terapi substitusi untuk pencegahan HIV dan efek-efek lainnya. kegiatan-kegiatan pokok. Berdasarkan tujuan-tujuan khusus dan kebijakan yang dijelaskan pada bab sebelumnya. Kelompok advokasi yang terkoordinir dengan baik perlu mengembangkan rencana aksi yang menjelaskan situasi.BAB VIII AKSI DAN REAKSI A. Ø dan kebutuhan untuk memulai program substitusi percontohan di puskesmas wilayah itu. Ø pendekatan -pengurangan dampak buru k NAPZA tentang HIV di kalangan IDU.

• Adakan pelatihan dan praktek advokasi. • Rencanakan kegiatan yang melibatkan para juru bicara yang kredibel dari organisasi mitra. Jadi pengulangan adalah hal yang sangat penting. • Kembangkan perangkat advokasi yang spesifik untuk mempengaruhi pendengar tertentu • Bekerjalah dengan semua tingkatan. diserap atau dimengerti. • Delegasikan tanggungjawab secara jelas kepada anggota untuk melaksanakan dan memonitor kegiatan . verifikasi fakta dan data kunci untuk mendukung tujuan advokasi. melalui jaringan yang sesuai. • Buat catatan keberhasilan d an kegagalan dalam advokasi. sedangkan variasi membantu memastikan pendengar tidak bosan. • Monitor dan respon dengan cepat dan fleksibel pandangan dan gerak-gerik yang tidak sepaham. 50 . • Identifikasi. dan gaya yang mengesankan. Sebagai contoh: Ø Penduduk di sekitar puskesmas kemungkinan adalah pendengar yang paling memperhatikan mengenai cara puskesmas menangani isu-isu keamanan seperti memastikan obat substitusi tidak dicuri atau diberikan kepada bukan penyalahguna NAPZA dan apakah program baru akan membuat para pengguna NAPZA suntik “nongkrong” di sekitar puskesmas. • Tentukan aksi yang dikehendaki dengan jelas sesuai dengan kebijakan yang disepakati. Ø Presiden kemungkinan lebih memperhatikan dampak-dampak ekonomi sebuah epidemi HIV di negaranya. • Tekankan urgensi dan prioritas aksi yang direkomendasikan • Rencanakan dan adakan peliputan media untuk memberitahu kepada masyarakat mengenai kejadian yang relevan. dari lokal hingga nasional dan internasional. dramatis. Bila ada kontroversi cobalah untuk mengubah kontroversi tersebut menjadi yang menguntungkan. Konsistensi pemberian pesan perlu dilakukan untuk menghindarkan kebingungan pendengar. Perlu diingat bahwa pesan tidak selalu segera didengar. Ø Kepala Kepolisian Kota kemungkinan paling tertarik mengenai apakah dengan dimulainya program substitusi akan mengurangi kejahatan.Perlu ada berbagai pesan yang berbeda untuk kelompok pendengar yang berbeda. • Presentasikan informasi dengan singkat. Beberapa kiat umum lain mengenai perencanaan dan aksi mencakup: • Sampaikan pesan-pesan dengan konsisten melalui berbagai media dan sumber bagi setiap tujuan khusus advokasi dan setiap pendengar. dan sajikan data baru.

Contoh Rencana Aksi: Contoh dari Kota Z (Kutipan) Tujuan khusus A: Dalam 12 bulan. 3. Telah membuat perjanjian dengan Badan Narkotika Kota untuk meminta bantuan untuk mengatur pertemuan dengan kepala kepolisian. Melatih apoteker mengenai kebutuhan untuk peningkatan akses pada peralatan suntik. meningkatkan akses bagi IDU untuk mendapatkan peralatan suntik baru dengan cara meningkatkan akses IDU ke persediaan apotik dan memulai program jarum suntik steril. Materi pelatihan disiapkan. A ditambah seorang anggota kelompok yang lain 4 minggu Para anggota DPRD kota beserta staf mereka Para politisi Nasional Jurnalis anggota kelompok advokasi 6 minggu • • Telah menerima data penelitian internasional dalam bahasa Inggris. Menyiapkan leaflet “politisi”. Bertemu dengan Kepala Kepolisian Kota untuk membicarakan mengenai operasi yang dilakukan polisi di dekat apotek-apotek dan tempat-tempat pelaksanaan program jarum suntik steril yang diusulkan. 2. Kegiatan 1. dengan argumentasiargumentasi untuk program jarum suntik steril. Akan mulai menulis minggu depan. Undangan disebar kepada para apoteker. Para pendengar Apoteker Siapa yang bertanggung jawab? Dr A: dibantu oleh asosiasi apotek Diselesai kan dalam waktu? Status • • 4 minggu • • Asosiasi apotek telah setuju untuk menjadi tuan rumah pertemuan. Telah menterjemahkan nya dalam bahasa lokal.Contoh dari Kota Z Kelompok koordinasi advokasi sekarang sedang melaksanakan berbagai kegiatan sesuai dengan rencana aksi yang disepakati oleh mitra koalisi kelompok ini (lihat Contoh Kutipan Rencana Aksi). Kepala Kepolisian Kota dan 5 staf senior Dr. 51 .

Seluruh data saat ini telah ditemukan. A 1 minggu • • 52 . Seluruh anggota kelompok advokasi bekerja berpasangan. (setiap pasangan akan menjumpai paling sedikit 3 orang anggota dewan kota dan/atau staf mereka) 12 minggu Belum dimulai. Melobby DPRD Para anggota kota mengenai DPRD Kota program jarum (12 orang) suntik steril dan para staf dengan secara mereka (20 personal bertemu orang) dengan setiap orang anggota dewan dan memberikan informasi mengenai program tersebut.4. Tujuan B: Dalam 12 bulan. Kepala puskesmas telah menyetujui untuk mengupayakan penyetujuan setelah surat ditulis. Meningkatkan akses bagi para IDU ke terapi ketergantungan NAPZA yang terjangkau secara ekonomi (baik detoksifikasi maupun therapeutic community) dan meningkatkan pilihan-pilihan terapi (termasuk terapi substitusi NAPZA). Menyelidiki status legal dari NAPZA substitusi untuk program yang diusulkan di Puskesmas Siapa yang bertanggung jawab? Seluruh Mahasiswa hukum pendengar di yang membantu kota tersebut kelompok Advokasi Menteri Kesehatan dan Kepolisian Nasional Para pendengar Diselesaikan dalam waktu? Telah selesai Status • • Metadon dan buprenorfin telah didaftar secara resmi dan mungkin digunakan. Menulis surat resmi yang meminta penyetujuan untuk memulai terapi substitusi di puskesmas Dewan Kota Dr. Menunggu penyelesaian pembuatan leaflet “politisi”. Hambatanhambatan hukum dan biaya-biaya dicantumkan dalam laporan. Kegiatan 1. 2.

A tidak lagi dapat menangani seluruh tugas koordinasi advokasi karena pekerjaannya di puskesmas. 53 .3. Contoh di atas merupakan seleksi kegiatan yang dilakukan oleh kelompok advokasi dan mitra koalisinya. Karena beban pekerjaan yang meningkat. seorang dari TV). Mengadakan pertemuan dengan 4 orang tersebut di tambah dengan 5 orang anggota dewan lainnya untuk melobby program ini sebelum pemilihan dalam waktu 6 minggu. Memberikan penerangan secara ringkas kepada media mengenai program substitusi ini. Seluruh Jurnalis pendengar di Anggota kelompok kota tersebut advokasi 2 minggu • • • Telah mengidentikasi 2 orang jurnalis kunci (seorang dari suratkabar. Mengupayakan persetujuan untuk program substitusi DPRD Kota Kepala puskesmas 5 minggu • • 3 anggota DPRD kota setuju mendukung proposal dan 4 orang menentang. Akan melakukan wawancara eksklusif dengan kepala puskesmas . Dr. 4. Telah menghasilkan 2 halaman ringkasan mengenai bukti penelitian untuk terapi subtitusi dan proposal puskesmas. Kelompok advokasi juga bekerja dengan kelompokkelompok ODHA di Kota Z untuk menyiapkan lokakarya peningkatan kesadaran media mengenai stigma dan diskriminasi di kalangan ODHA. sedang diupayakan dana dari penyandang dana internasional untuk koordinator advokasi yang bekerja paruh-waktu dan untuk biaya beberapa kegiatan advokasi terutama buklet untuk masyarakat umum dan lokakarya-lokakarya pelatihan bagi polisi.

dan bagi pencegahan HIV/AIDS. bagi penyalahguna NAPZA. Kelompok advokasi meneliti para jurnalis lokal untuk melihat kemungkinan adanya jurnalis yang dapat menulis cerita yang seimbang dan membantu mencapai tujuan-tujuan kelompok advokasi tersebut melalui wawancara dengan para IDU dan ODHA. Ini merupakan langkah yang penting dan penuh risiko namun para IDU dan ODHA anggota kelompok advokasi ini ingin memberikan edukasi kepada masyarakat dan kelompok berpengaruh lainnya mengenai kenyataan hidup dengan HIV dan hidup sebagai IDU. seorang politisi yang berpengaruh memberikan pendidikan sebaya kepada politisi lainnya merupakan medium dan sekaligus sumber. Metadon (atau burprenorfin) perlu secara resmi didaftar di Departemen Kesehatan agar program-program tersebut dapat dimulai. Suatu contoh pesan: Epidemi HIV/AIDS di kalangan IDU telah terjadi saat ini. Kadangkadang. Sebagai contoh. B. Pesan-pesan tertentu perlu dibedakan dan dikembangkan untuk pendengar yang berbeda. mengapa. atau ketika para pelaksana advokasi mengembangkan makalah advokasi khusus bagi para pendengar. pendek dan persuasif mengenai setiap tujuan khusus advokasi: apa yang seharusnya dilakukan.IDU dan ODHA anggota kelompok advokasi saat ini cukup percaya diri untuk berbicara mengenai pendekatan-pengurangan dampak buruk NAPZA di seminar-seminar dan pertemuan. begitu juga halnya dengan seorang wartawan yang menulis sebuah berita mengenai keuntungan pendekatan-pendekatan efektif atau seorang dokter atau peneliti terke muka yang sedang berbicara dalam suatu pertemuan. langkah selanjutnya adalah mengembangkan pesan-pesan untuk kegiatan advokasi tersebut. yang mengandung kutipankutipan dari berbagai sumber. 54 . jadi mereka antusias untuk melakukan wawancara. Kadang-kadang pesan dapat dipadatkan menjadi slogan seperti: “Metadon berhasilguna: bagi masyarakat. Daftarkan metadon secara resmi sekarang” Media adalah sarana untuk menyampaikan sebuah pesan. media bisa juga termasuk sumber pesan. PESAN-PESAN DAN MEDIA Setelah menentukan sasaran pendengar untuk advokasi. Bila memungkinkan. Metadon (atau burprenorfin) efektif dalam mengurangi penyebaran HIV di kalangan penyalahguna NAPZA. media dan sumber terpisah misalnya ketika seorang wartawan menulis tentang pidato seorang politisi atau tentang hasil penelitian. dan bagaimana? Tujuan dari pesan tersebut adalah untuk menghasilkan aksi sehingga pesannya harus secara jelas menentukan aksi apa yang harus diambil dan oleh siapa. pesan advokasi harus sederhana.

untuk sasaran advokasi. TV? Ini akan tergantung pada pesan apa yang dirancang untuk pendengar yang mana dan pada akses kelompok advokasi untuk mendapatkan dana dan sumber-sumber lain. siaran radio. Para pelaksana advokasi sebaiknya menghindari “jargon” dan bahasa teknis (kecuali bagi beberapa pendengar tertentu). Pesan yang baik seharusnya mengandung kalimat atau ungkapan yang memiliki konotasi positif atau arti tertentu. Jika menggunakan grafik atau diagram. (lihat lampiran B). film dokumenter. seperti “keluarga”. Stasiun radio yang terkenal mungkin menggambarkan suatu penekanan pada pelayanan kesehatan terhadap IDU sebagai “suatu aib: bagaimana dengan orang -orang tua di dalam masyarakat kita yang tak berkecukupan untuk makan?” Tokoh-tokoh agama atau politik mungkin menyerang perubahan-perubahan yang mereka lihat sebagai penghancuran “nilai-nilai tradisional”.Bahasa sangatlah penting. Mungkin ada beberapa kalimat atau ungkapan yang seharusnya digunakan dalam advokasi akan tetapi mungkin tidak dapat dimengerti oleh sasaran. “keamanan nasional”. Dari pada menulis “pilihan terapi ketergantungan NAPZA tengah diperluas untuk mencegah sebuah epidemi HIV”. sebaiknya menggunakan yang sederhana dan mudah dimengerti. “anak-anak”. mereka mungkin akan menulis “ Departemen Kesehatan bersikap lunak kepada penyalahguna NAPZA” . Mengapa tokoh agama telah berbicara? Sudah cukupkah kegiatan advokasi dilakukan pada organisasi-organisasi keagamaan? 55 . REAKSI DAN KESINAMBUNGAN Setelah kegiatan advokasi. Kejadian semacam itu hendaknya dimonitor secara seksama untuk analisis dan evaluasi yang berkelanjutan. Sebagai contoh. kelompok advokasi akan menghadapi reaksi dari beberapa individu dan organisasi dalam masyarakat. Waktu dan tempat: apakah ada peristiwa (seperti konferensi AIDS) atau tanggal tertentu (seperti Hari AIDS Sedunia atau Hari Anti Narkotika) di mana kemungkinan pesan dapat lebih menarik perhatian? • • • C. Kredibilitas sumber: kepada siapa pendengar akan percaya? Format : apakah lebih baik menggunakan makalah diskusi. beberapa surat kabar secara terus menerus mencari berita – berita sensasional. termasuk kata -kata yang digunakan dalam pesan. Masing-masing kejadian akan berdampak pada kegiatan-kegiatan advokasi. Beberapa elemen penting lain dari pesan dan media termasuk : • Argumentasi dan data yang digunakan untuk membujuk pendengar untuk bertindak atas pesan tersebut. catatan-catatan singkat tentang kebijakan. dan “keuntungan ekonomi”. (Lampiran B mengandung beberapa argumentasi reaktif ini serta saran argumentasi balasannya). Argumentasi dan data ini hendaknya sesuai dengan sasaran. “masyarakat”.

Advokasi yang berhasil perlu menggunakan peluang-peluang yang ada dan perlu berpikir secara komprehensif. Kelompok advokasi dapat melakukan presentasi atau paparan untuk memberikan laporan-laporan kepada komite. Konferensi medis atau hukum dapat diminta untuk menekankan masalah-masalah HIV spesifik di kalangan IDU dan bagaimana cara yang terbaik untuk mengatasi masalah ini. maka masalah-masalah yang besar dapat terjadi ketika ada perubahan pemerintahan. para politisi yang akan menjalankan misi pencarian fakta di negara-negara lain. Kadang-kadang. komitekomite yang sedang mengadakan pertemuan. yang telah dilakukan dan yang belum dilakukan. Jika seorang politisi telah membuat pernyataan yang bertentangan. Pelaksanaan kegiatan tersebut mungkin berisiko dan biasanya harus dilakukan dengan koalisi yang kuat. Harus diingat bahwa kebanyakan tantangan terhadap pengurangan dampak buruk NAPZA muncul dalam suatu lingkungan yang tidak mendapatkan informasi yang lengkap atau terdapat kesalahpahaman. Kelompok advokasi harus tetap memperhatikan berbagai laporan yang dipublikasikan. Kejadian yang sedang berlangsung juga hendaknya dimonitor secara terus menerus. Sifat dasar dari kehidupan modern adalah keadaan-keadaaan–politik. Kelompok advokasi sebaiknya juga menciptakan peluangnya sendiri dan mengantisipasi perubahan-perubahan yang kemungkinan akan terjadi. barangkali politisi lain yang mendukung dapat didorong untuk membuat pernyataan publik yang mendukung – meskipun dalam beberapa kasus mungkin akan berguna untuk meminta para pendukung mengunjungi politisi yang menentang tersebut dan mendiskusikan isu-isunya jauh dari media untuk mencoba membujuk politisi yang menentang tersebut menjadi seorang pendukung. Kelompok advokasi harus mengantisipasi masalah ini dengan memastikan bahwa pesan-pesan telah disampaikan kepada seluruh politisi. Sebuah contoh misalnya pemanfaatan resolusi-resolusi dan deklarasi-deklarasi PBB. bagaimana. konferensi-konferensi medis dan hukum. semuanya merupakan peluang bagi advokasi. dan kapan. apakah pandanganpandangan ini hanya sebuah cara untuk meningkatkan popularitas dari siaran radio tersebut? Kelompok advokasi harus mempertimbangkan apakah perlu merespon tantangan semacam ini.Apakah stasiun radio mewakili suatu bagian yang luas dari masyarakat. tantangan dapat diubah menjadi dukungan atau paling tidak menjadi netral. di mana suatu pemerintah telah menandatangani sebuah deklarasi yang menyatakan akan menjalankan pengurangan dampak buruk NAPZA. seringkali bermanfaat untuk segera merespon melalui press release dan/atau konferensi media. dan bahkan hukum–dapat berubah dengan sangat cepat. dengan menemui seorang oposisi dan menjelaskan seluruh alasan untuk tujuan-tujuan advokasi. 56 . Barangkali politisi yang akan menjalankan misi tersebut dapat dibujuk untuk mengunjungi program-program HIV yang efektif di kalangan IDU di negara lain. Jika seluruh kegiatan advokasi telah dilaksanakan kepada partai yang berkuasa namun tidak ada satupun kegiatan advokasi dilaksanakan pada parlemen oposisi. Jika hubungan dengan media secara umum berjalan baik. Antisipasi digambarkan secara jelas misalnya dalam kasus parlemen yang terpilih di mana partai yang memerintah berubah dari waktu ke waktu. misalnya yang terdiri dari LSM-LSM yang bergerak dalam bidang HIV/AIDS. Kelompok advokasi dapat menyampaikan laporan mengenai aksi-aksi yang telah dijanjikan. sosial.

Analisis pada kegiatan ini harus sangat teliti. 57 . bahwa setiap dana yang diterima dilaporkan dengan cara yang tepat dan sebagainya. Hal ini seringkali dilaksanakan bersama-sama dengan seluruh anggota koalisi dan pendukungnya. Para pelaksana advokasi perlu memenuhi standar praktek yang etis dan legal dalam komunitas mereka dan menolak berpartisipasi dalam kegiatan yang tidak etis atau bisa membahayakan anggota masyarakat. Sebagai contoh. RISIKO DAN ETIKA Para pelaksana advokasi perlu memastikan bahwa mereka berperilaku etis dan mengikuti prinsip pertama yang dijabarkan dalam Bab II: kegiatan advokasi harus menghindari terjadinya peningkatan risiko. Cara yang terbaik untuk memastikan sikap yang etis adalah transparansi dalam pelaksanaan kegiatan dan memastikan adanya dasar atau bukti yang kuat untuk semua kegiatan. pesan. Proses ini memberi para pelaksana advokasi kekuatan yang besar.Proses-proses ini harus disusun dalam pertemuan tahunan atau pertemuan yang lebih sering di mana kelompok advokasi menganalisis keberhasilan atau kegagalannya selama ini dan menentukan tujuan khusus baru. Setelah analisis ini (atau kapan saja selama proses advokasi) saran dapat dicari dari kelompokkelompok advokasi di tempat lain mengenai cara -cara mengatasi masalah tertentu atau argumentasi yang bisa terbukti efektif saat argumentasi sebelumnya telah gagal. Transparansi berarti bahwa para mitra koalisi dan yang lainnya terus mendapatkan informasi mengenai kegiatan advokasi. Pekerjaan yang berdasarkan bukti berarti bahwa kelompok advokasi harus secara terus menerus mencari informasi yang terkini mengenai pengurangan dampak buruk NAPZA untuk HIV/AIDS di kalangan IDU dan selalu menggunakan bukti ini sebagai dasar semua tujuan khusus. Wartawan mungkin akan menulis segala hal yang dikatakan oleh pelaksana advokasi tersebut. bahwa setiap pemilihan (di mana kelompok advokasi menjadi atau bagian dari sebuah organisasi yang demokratis) adalah adil dan mengikuti peraturan tertulis mengenai pemilihan. Keberhasilan harus dihargai namun kegagalan juga harus dianalisis untuk melihat pelajaran apa yang bisa diambil oleh kelompok ini. para pelaksana advokasi bisa mengetahui nama-nama ODHA dan IDU di kotanya. dan argumentasi yang dikembangkan. yang harus digunakan secara bertanggung jawab. Sebuah pembahasan mengenai etika advokasi dapat ditemukan dalam Chapman ( lihat Publikasi dan Situs Internet ). Para politisi mungkin akan mendengarkan pelaksana advokasi tersebut saat yang lain tidak mampu menyampaikan pesannya. Etika sangat penting karena pelaksana advokasi yang berhasil makin dianggap sebagai seorang ahli. D. tetapi mereka harus berhati-hati untuk menjaga agar status orang-orang ini tetap rahasia kecuali dengan jelas telah diijinkan oleh individu tersebut untuk membuka status mereka. sub-tujuan khusus dan kegiatan-kegiatan u ntuk 12 bulan mendatang. dan waspada terhadap konflik kepentingan dan sesegera mungkin menjernihkan hal tersebut. Evaluasi (lihat bab berikutnya) harus membantu proses ini. Mereka sebaiknya menyadari bahwa tindakan mereka mempengaruhi kehidupan orang lain.

58 . ini akan menyebabkan penutupan program dan terjadi kemunduran advokasi. Kadang-kadang. (Lebih jauh mengenai kegiatan-kegiatan advokasi yang spesifik dapat ditemukan dalam Lampiran A). Jika kelompok advokasi mengeluarkan pernyataan kepada pers mengenai program tersebut.Kelompok advokasi juga perlu bersikap sensitif terhadap kebutuhan akan program yang efektif. sebuah program distribusi kondom dalam sebuah lembaga pemasyarakatan atau sebuah program penjangkauan percontohan hanya akan diperbolehkan oleh sebuah pemerintahan selama masyarakat luas tidak tahu akan program ini.

Evaluasi proses menggambarkan dan memonitor cara di mana kegiatan dilaksanakan. Sebuah alat untuk menjajaki perubahan dalam lingkungan kebijakan telah dirancang oleh Proyek POLICY: alat ini tidak khusus untuk pendekatan efektif dalam menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU namun alat ini mungkin bisa memberikan panduan untuk mereka yang tertarik pada evaluasi dampak (lihat Proyek POLICY: Menjajaki Kenya dalam Publikasi dan Situs Internet ). Namun. “realitas yang kacau balau dari proses advokasi mendapatkan tandingannya dalam upaya menggambarkan. Masalah utama dengan evaluasi semacam ini adalah menunjukkan dengan jelas 59 . • kedua. menganalisis laporan dan ulasan media untuk memetakan perubahan pada diskusi publik mengenai isu yang relevan. pejabat Departemen Kesehatan. yaitu evaluasi proses dan evaluasi dampak. dan mengevaluasi”. para editor. Evaluasi dapat dibagi dalam dua jenis. evaluasi ini mencoba menunjukkan bahwa perubahan apa pun yang diamati pada populasi sasaran dapat dihubungkan dengan proses advokasi. Ini diperlukan untuk mengkaji strategi dan metode mana yang paling berhasil (dan seharusnya diperluas) ser ta strategi dan metode mana yang paling tidak berhasil (dan seharusnya dikurangi atau disesuaikan). dan dengan secara kritis memikirkan laporan proses advokasi yang ditulis oleh para pelaksana advokasi itu sendiri. dan pesan. Evaluasi dampak mempunyai dua tujuan utama: • pertama adalah menilai dampak program dan mengetahui dengan pasti sejauh mana tujuan khusus telah dicapai. sebuah tugas yang dia samakan dengan mengurai jaring laba -laba sambil mengenakan sarung tinju. Evaluasi proses bertujuan memonitor pelaksanaan proses evaluasi sedangkan evaluasi dampak bertujuan untuk menilai dampak dan hasil dari kegiatan advokasi. tokoh-tokoh masyarakat.BAB IX EVALUASI KEGIATAN ADVOKASI Evaluasi dapat membantu kelompok advokasi untuk menentukan apakah kegiatan telah berhasil dilaksanakan dan apakah ada perubahan yang harus dibuat pada tujuan khusus. Jika penilaian dilaksanakan pada interval yang teratur. Chapman merekomendasikan bahwa evaluasi dampak advokasi dilaksanakan dengan mencoba menemukan perubahan persepsi dar i individu kunci sepanjang waktu (seperti petugas kepolisian senior. kegiatan. Evaluasi juga akan bisa mengukur efek advokasi (sebagai sebuah kegiatan penelitian atau untuk mempengaruhi penyandang dana untuk menyediakan dana bagi kegiatan advokasi selanjutnya). Metode lain untuk melaksanakan evaluasi dampak ialah mengulangi penilaian yang telah digambarkan dalam Bab IV. strategi. menilai. perubahan dapat digambarkan dalam perilaku berisiko IDU dan dalam banyak proses yang mempengaruhi perilaku ini. para repoter). sebagaimana yang telah dikatakan oleh Chapman (lihat Publikasi dan Situs Internet).

Untuk sebagian besar kelompok advokasi. lebih penting menggunakan evaluasi untuk memeriksa kemajuan dan arah dari kegiatan advokasi. Beberapa hal yang perlu didiskusikan: • Apakah tujuan masih sesuai? Apakah ada yang berlebihan? Apakah tujuan baru (atau subtujuan) diperlukan? • Apakah kegiatan yang sedang dilaksanakan terlihat akan mencapai tujuannya? Apakah prioritas kegiatan harus diubah? Apakah ada kegiatan yang harus dihentikan (sehubungan dengan ketidak efektifan atau karena kegiatan ini terlalu menghabiskan banyak waktu dan sumberdaya?) Apakah kegiatan baru perlu ditambahkan? • Dapatkah kelompok advokasi yang sedang berjalan ini mencapai semua kegiatan yang telah didaftar? Apakah diperlukan anggota baru? Apakah diperlukan keahlian baru? • Apakah cukup sumberdaya untuk melaksanakan semua kegiatan? Apakah cukup tersedia dana untuk saat ini dan untuk sisa periode advokasi? Apakah diperlukan penggalian dana lagi? • Apakah ada perubahan pada sasaran advokasi? Apakah kelompok advokasi telah mengetahui lebih banyak mengenai sasaran advokasi? Dapatkah peta kebijakan diperbaharui dengan sasaran advokasi baru dan pengetahuan baru mengenai sasaran. Jenis evaluasi semacam ini dapat dilaksanakan secara informal pada pertemuan kelompok advokasi atau secara lebih formal dengan menggunakan kuisener terstruktur dan/atau FGD (lihat Sharam untuk beberapa contoh dalam Publikasi dan Situs Internet ). Advokasi ini harus dilaksanakan pada basis yang teratur. sikap dan keyakinan mereka? Apakah ada sasaran advokasi baru untuk diantisipasi? • Apakah pesan yang diberikan menjangkau kelompok sasaran advokasi? Pesan mana yang paling diterima oleh sasaran ? Media dan metode apa yang paling berhasil untuk sasaran yang mana? • Apakah data disajikan secara meyakinkan? Apakah data ini mudah dimengerti? Apakah ada cara yang bisa digunakan untuk memperbaiki penyajian data? • Bagaimana keadaan koalisi advokasi? Apakah anggota koalisi merasa dilibatkan dalam proses advokasi? Apakah mereka merasa (paling tidak sebagian dari anggota koalisi) bertanggung jawab untuk keberhasilan dan kegagalan advokasi? Apakah ada cara untuk meningkatkan partisipasi anggota advokasi dalam kegiatan advokasi? • Peluang-peluang apa yang ada untuk advokasi yang belum didiskusikan? Apakah kelompok advokasi memberikan respon secara cepat dan sesuai pada peluang dan pada tantangan? • Apakah ada kegiatan advokasi lain yang dilaksanakan (yang tidak berhubungan dengan HIV/AIDS dan IDU) yang bisa dijadikan sumber pembelajaran oleh kelompok advokasi? Apakah kegiatan advokasi ini telah mencapai keberhasilan? Apa yang bisa dipelajari dari keberhasilan atau kegagalan mereka? 60 . Sebagai contoh.perubahan apa yang telah dihasilkan (atau lebih tepat lagi seberapa besar perubahan ini telah dihasilkan) oleh kegiatan advokasi. pada waktu yang telah ditentukan (mungkin setiap enam bulan). kelompok ini dapat menyediakan waktu beberapa jam untuk memikirkan mengenai tujuan dan strategi kelompok ini.

Penjelasan ini bukan definisi resmi WHO. Immuno – berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh yang memberikan proteksi terhadap agen pem bawa penyakit. 61 . Syndrome – sejumlah tanda dan gejala yang menunjukkan suatu kondisi penyakit tertentu. Pemberiaan buprenorfin merupakan bagian dari suatu intervensi yang juga melibatkan konseling. baik karena hal-hal prinsip atau alasan-alasan lain. Abstinensia ( bebas dari penyalahgunaan NAPZA) Menahan diri dari penyalahgunaan NAPZA. heroin) untuk menstabilkan mereka dan mengalihkan penyuntikan atau metode yang berbahaya lainnya menjadi cara yang biasa atau cara oral. Buprenorfin Obat yang digunakan sebagai pengganti untuk membantu penyalahguna opiat (misalnya. DAFTAR KATA-KATA Perlu dicatat bahwa penjelasan yang diberikan di bawah ini semata-mata untuk meningkatkan pemahaman dan pemanfaatan penyalahgunaan terminologi dalam panduan ini. perawatan kesehatan dasar. Pakistan. DAFTAR SINGKATAN IMS KIE LSM ODHA Ornop IDU PS UNAIDS UNGASS VCT WHO : Infeksi Menular Seksual : Komunikasi Informasi Edukasi : Lembaga Swadaya Masyarakat : Orang hidup dengan HIV/AIDS : Organisasi non-pemerintah : Penyalahguna NAPZA suntikan (Injecting Drug User – IDU) : Pekerja Seks : United Nations Program on HIV/AIDS : UN General Assembly Special Session on HIV/AIDS : Voluntary testing and counseling (Konseling dan tes HIV sukarela) : World Health Organisation B. Bangladesh. perawatan HIV dan layanan-layanan lainnya. Penyuntikan burprenorfin juga merupakan obat pilihan utama di antara para IDU di India.BAB X DAFTAR SINGKATAN DAN DAFTAR KATA-KATA A. Deficiency – kekurangan respon kekebalan terhadap agen penyakit. AIDS AIDS adalah singkatan dari: Acquired – tidak diturunkan. Di Indonesia obat ini diberikan di bawah pengawasan dokter atau psikiater yang telah mendapat pelatihan dan memiliki sertifikat. dan Nepal.

Seorang penyalahguna NAPZA akan mengalami masa transisi yang sulit ketika ia menghentikan suatu zat atau mengurangi jumlah zat yang digunakan setelah pemakaian yang lama atau berlebihan. dan kegiatan -kegiatan) Ketergantungan NAPZA Para pemakai yang tergantung pada NAPZA seringkali memiliki kontrol yang lemah dalam memakainya dan terus menggunakannya meskipun terdapat masalah yang bermakna berkaitan dengan NAPZA ini. Detoksifikasi Perawatan yang diberikan kepada seseorang yang mengalami ketergantungan selama periode pengurangan atau penghentian obat yang menimbulkan ketergantungan tadi dengan tujuan untuk menghentikan zat dengan aman dan efektif. etnik. dan kebiasaan. bahasa dan kebangsaan. Dalam bahasa umum. dan pengharapanpengharapan mengenai bagaimana perempuan dan laki-laki seharusnya bersikap dalam berbagai situasi. 62 . misalnya budaya orangtua mereka dan beberapa budaya remaja (diwakili oleh kelompok dengan siapa mereka bergaul. keyakinankeyakinan. Ini termasuk karakter-karakter feminin dan maskulin yang khas. juga perbedaan dalam nilai-nilai bersama. istilah ini seringkali mengacu pada obat-obatan terlarang (Narkotika. tradisi. istilah ini mengacu pada setiap zat yang berpotensi untuk mencegah atau menyembuhkan penyakit atau potensi untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. norma-norma. Budaya Secara luas didefinisikan sebagai kebiasaan dan tingkah-laku dari sekelompok orang. yang sering digunakan untuk alasan non -medis (misalnya alasan rekreasional). Perbedaan dalam budaya dikarenakan adanya perbedaan dalam ras. istilah obat mengacu pada setiap bahan kimia yang merubah proses biokimia atau fisiologi dari jaringan tubuh atau organisme. Jender Ide dan pengharapan (norma) bersama yang luas mengenai perempuan dan laki-laki. Psikotropika dan Zat adiktif lainnya). Penyalahguna yang mengalami ketergantungan dapat menjadi toleran terhadap zat tertentu dan dapat mengalami gejala putus zat (“sakau”) jika mereka tidak menggunakan zat itu untuk waktu yang lama. Dosis Jumlah suatu zat yang dikonsumsi seseorang dalam periode tertentu Obat (drug ) Dalam pengobatan.Konseling Merupakan proses komunikasi interpersonal di mana seseorang yang memiliki masalah atau suatu kebutuhan dibantu untuk memahami situasinya dalam upaya untuk menentukan dan menggunakan solusi yang dapat dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan atau mengatasi masalah tersebut. Dalam farmakologi. Anak-anak jalanan mungkin dapat dikatakan memiliki lebih dari satu budaya. kemampuan.

pengambilan keputusan. hepatitis B dan C) dan kondisi medis seperti abses/peradangan dan overdosis. Intoksikasi Keadaan di bawah pengaruh satu atau lebih zat. Intervensi Dalam materi ini. modifikasi. Penasun (Pengguna NAPZA suntik) mungkin menyuntikkan obatobatan yang legal ataupun tidak. kesadaran akan diri sendiri. meningkatkan harga diri. obat depresan (seperti heroin dan benzodiazepines) atau obat-obatan lain seperti steroid. Dalam materi -materi ini. pemikiran. komunikasi yang efektif. benzena dan pasta koka dapat mengakibatkan rusaknya kesehatan walaupun digunakan dalam jumlah yang sedikit. Manifestasi khusus dari perubahan tersebut tergantung pada sifat dasar zat yang dikonsumsinya. HIV Human Immuno-deficiency Virus menyerang sistem kekebalan dan secara pelahan-lahan menghancurkannya. HIV dan infeksi lain dari jarum yang terkontaminasi. Tubuh tak dapat mempertahankan diri melawan infeksi dan mengakibatkan suatu kondisi yang dikenal sebagai AIDS. kontrol emosi atau tingkah laku seseorang. definisi yang luas dari IDU digunakan untuk mencakup orang-orang yang telah melakukan penyuntikan secara eksperimental atau melanjutkan penyuntikannya sekali-kali dan juga termasuk penyalahguna NAPZA yang telah mengalami ketergantungan hebat yang dapat menyuntik beberapa ka li dalam satu hari. keterjagaan. Merek a mungkin menyuntik secara intramuskuler (melalui otot) atau secara intravena (melalui vena/pembuluh darah). heroin) untuk menstabilkan penyalahgunaan NAPZA mereka dan mengalihkan 63 . persepsi. Beberapa zat seperti bahan bakar yang mengandung timah. pemecahan masalah. atau terapi/perawatan masalah yang berkaitan dengan penyalahgunaan NAPZA dan masalah kesehatan lain. IDU (Injecting Drug User) Seseorang yang menggunakan NAPZA dengan cara menyuntik. Keterampilan Hidup (Life skills) Kemampuan yang memungkinkan individu-individu mengatasi tuntutan dan tantangan kehidupan sehari-hari. sebuah intervensi didefinisikan sebagai sebuah aksi atau kegiatan yang membantu dalam pencegahan. Penyalahgunaan NAPZA yang dihisap asapnya dapat mengakibatkan kelainan sistem pernapasan dan luka ba kar. Ini termasuk pengambilan keputusan. empati. Metadone Obat yang dig unakan sebagai pengganti (substitusi) untuk membantu penyalahguna opiat (misalnya. terinfeksi virus yang menular melalui darah (seperti HIV. Terdapat perubahan pada kewaspadaan. hubungan interpersonal. pemikiran kreatif.Penyalahgunaan zat berbahaya Pola penyalahgunaan zat yang menyebabkan kerusakan pada kesehatan fisik dan mental termasuk cedera akibat kecelakaan dan penganiayaaan. menguasai emosi dan mengatasi stress. obat stimulansia (seperti amfetamin dan kokain). Penyuntikan NAPZA berbahaya terutama karena adanya risiko akan hepatitis.

dan air yang digunakan untuk mencampur bubuk heroin) diberikan kepada IDU melalui penjangkauan. Perilaku yang biasa dan diterima disebut sebagai “norma”. Kekambuhan (Relapse ) Kembali menggunakan NAPZA atau minum minuman beralkohol lain setelah suatu periode abstinensia di luar periode detoksifikasi. Kelompok sebaya Orang-orang yang sama dengan ‘dirinya sendiri’. Ini mengakibatkan dampak fisik atau mental yang merugikan secara akut. Kebanyakan program jarum suntik steril termasuk layanan untuk mengumpulkan jarum suntik bekas. Seringkali disertai dengan kembali ke tingkat penyalahgunaan NAPZA dan ketergantungan yang telah ada sebelumnya 64 . dan atau mesin penjualan. Overdosis bisa mengarah pada kematian.penyuntikan atau metode penyalahgunaan NAPZA yang berbahaya lainnya menjadi ke cara oral. IDU harus memberikan atau didorong untuk memberikan jarum suntik bekas sebelum mereka bisa mendapatkan jarum suntik baru: program ini dis ebut program pertukaran jarum suntik (perjasun). unit-unit bergerak seperti mobil van dan bis. para mantan penyalahguna NAPZA atau orang-orang yang dekat dengan komunitas yang menggunakan NAPZA dilatih untuk melaksanakan kegiatan edukasi informal atau mengadakan kegiatan edukasi mengenai berbagai topik yang berkaitan dengan kesehatan para IDU (dalam kelompok kecil atau individual). perawatan HIV dan layanan lainnya. Overdosis Penyalahgunaan NAPZA. Program Kegiatan spesifik atau bertahap yang direncanakan. Program Jarum Suntik Steril Sebuah intervensi di mana jarum suntik dan peralatan suntik lain (sepe rti kapas beralkohol untuk membersihkan lokasi penyuntikan. dan dimulai dengan menentukan tujuan yang menguntungkan IDU dengan suatu cara tertentu. Kelompok sebaya untuk seorang IDU biasanya adalah para IDU lain dengan usia yang hampir sama dan tinggal di lingkungan yang sama. Masing-masing kelompok sebaya memiliki peraturan sendiri yang tidak tertulis mengenai cara NAPZA digunakan dan mengenai perilaku yang diterima dan tidak diterima. Jumlah NAPZA yang dapat mengakibatkan kematian berbeda-beda pada setiap individu. Obat ini diberikan di bawah pengawasan dan sebagai bagian dari suatu intervensi yang melibatkan konseling. dan mungkin mengandung konsekuensi jangka pendek atau jangka panjang. perawatan kesehatan dasar. baik secara sengaja maupun tidak sengaja dalam jumlah yang lebih banyak dari yang biasa digunakan oleh seseorang. Dalam beberapa program. Pendidikan sebaya Para IDU. klinik atau pos-pos khusus.

seperti heroin dan kokain. masih berhubungan dengan keluarga mereka namun menghabiskan sebagian besar waktu di jalanan karena masalah kemiskinan.Pekerja seks Seseorang yang melayani seks dengan uang. Zat Produk yang mempengaruhi sistem saraf pusat (psikoaktif) seperti proses pikir. dan tempat lain. Pekerja seks bisa lakilaki atau perempuan atau transjender/waria. kepadatan. gemetaran. Anak jalanan Anak jalanan bisa ber arti benar-benar hidup di jalanan . seperti depresi. Suatu zat dapat berupa obat seperti morfin. hostel-hostel. ditinggal oleh keluarga mereka atau mereka tidak lagi mempunyai keluarga yang masih hidup. terpisah dari keluarga mereka dan pindah dari teman ke teman atau hidup di tempat perlindungan. Zat-zat yang berbeda mempunyai manifestasi spesifik. perasaan. 65 . emosi serta sikap dan perilaku. Beberapa zat adalah legal. kejang. Putus zat Masalah -masalah yang dialami oleh seseorang pada penghentian atau pengurangan jumlah penyalahgunaan suatu jenis NAPZA setelah suatu periode penyalahgunaan yang panjang atau berlebihan. rasa sakit dan lain -lain. seperti obat-obatan yang telah diakui dan rokok. seperti gedung -gedung yang telah ditinggalkan. benzodiazepin atau produk industrial seperti lem. dan yang lainnya ilegal. atau kekerasan fisik atau seksual di rumah. NAPZA atau komoditas lain. berkeringat.

Virginia: Family Health International 2002 Ball A.soros. Web site:http://www. Policies and interventions to stem HIV-1 epidemics associated with injecting drug use.fhi. National Institute on Drug Abuse. Juga diterbitkan dalam bahasa Spanyol sebagai: Burrows D. In: Lamptey PR and Gayle H (Eds) HIV/AIDS Prevention and Care in Resource-Constrained Settings. dan Slovakia. New York NY 10019 USA.pdf AIDSCAP Making prevention work: Global lessons learned from the AIDS Control and Prevention (AIDSCAP) Project 1991 -1997. 1998 Web site: http://www. In: Proceedings of Global Research Network on HIV/AIDS and Drug Use Durban Meeting July 2000 .html Ball A and Crofts N. Washington.org/en/aids/aidscap/aidspubs/handbooks/bccpol. Herramientas para abogar por los derechos de los usuarios de drogas en relacion con la epidemia de VIH/SIDA. Dorabjee J and Wodak A. Starting and Managing Needle and Syringe Programmes: A guide for Central and Eastern Europe and the newly independent states of the former Soviet Union Open Society Institute. Advocacy for harm reduction: objectives. HIV risk reduction in injecting drug users. London 1998 Burrows D and Alexander G. Geneva 2000 Burrows D.pdf AIDSCAP Policy and advocacy in HIV/AIDS Prevention Behaviour Change Communications (BCC) Handbook. Arlington. Rusia. Tidak ada tanggal.org/harm-reduction/ 66 . Ensayos y Experiencas No. Dari OSI/IHRD 400 West 59th St. Chapter 4: Policy development and HIV/AIDS prevention: creating a supportive environment for behaviour change.BAB XI PUBLIKASI DAN SITUS INTERNET AFAO/NAPWA (Australian Federation of AIDS Organizations/ National Association of People Living with HIV/AIDS in Australia) Advocacy Guide to the Asia-Pacific Ministerial Statement on HIV/AIDS Sydney 2002. Web site: http://www. 39 July/August 2001 Burrows D.ahrn. Web site: http://www.net/AdvocacyGuideMinisterial. Walking on two legs: a developmental and emergency response to HIV/AIDS among young drug users in the CEE/CIS/Baltics and Central Asia Region: A review paper UNICEF. Dalam bahasa Inggris. DC 2001. In GV Stimson. Dorabjee J and Wodak A. International Harm Reduction Development (OSI/IHRD) NY 2000.org/en/aids/aidscap/aidspubs/special/lessons/chap4. strategies and activities. D C Des Jarlais and A Ball (Eds) Drug Injecting and HIV Infection: Global Dimensions and Local Responses UCL Press.fhi.

Juga tersedia dalam bahasa Perancis dan Spanyol. tools. Macfarlane Burnet Centre for Medical Research and Asian Harm Reduction Network. pekerja seks komersil. Web site: http://www.html Costigan G.au/tobacco/worddocs/IJE.com/web/pb4/eng/4782D096-C740-41A5-AF06-D67C14B46DB8. gay dan lesbian. Thailand 50200. Focuses on the economics of HIV/AIDS prevention and treatment.net/ International AIDS Economics Network.aidslaw. and analysis for researchers and policymakers. hukum kriminal.org/ungass/advocacyeng. Jaringan orang yang hidup dengan HIV/AIDS dan sumber-sumber yang berhubungan dengan keterlibatan ODHA dalam advokasi dan program-program.aidsmap. Hanya dalam bahasa Inggris. HIT Liverpool 1999. Web site (termasuk saluran ke Statement and pidato-pidato yang berhubungan): http://ahrn. PO Box 235 Phrasingha Post Office. Thailand. Liverpool L2 6RE juga dalam Web sitehttp://www. Crofts N and Reid G. Tersedia dari Asian Harm Reduction Network. Mathew Street.org/books/needle/ Global Network of People Living with HIV/AIDS.usyd.gnpplus. Chiang Mai.iaen.htm 67 .Canadian HIV/AIDS Legal Network. Web site: http://www. Web site: http://www. Melbourne/ Chiang Mai 1999.htm Chapman S.icaso. Vietnam. The Centre for Harm Reduction. providing data.pdf ICASO (International Council of AIDS Service Organizations) An Advocate’s Guide to the International Guidelines on HIV/AIDS and Human Rights Toronto 1999.ca/Maincontent/infosheets. Vienna. The Safer Injecting Briefing.org/docs/AdvocatesGuide -English. Dalam bahasa Inggris.pdf International HIV/AIDS Alliance Advocacy in Action: A toolkit to support NGOs and CBOs responding to HIV/AIDS Brighton 2001 Web site (19 dokumen yang terpisah): http://www. stigma dan diskriminasi. Berbagai macam publikasi termasuk mengenai HIV/AIDS dan IDU. Tersedia langsung dari HIT Cavern Walks. penjara. Advocacy in public health: roles and challenges International Journal of Epidemiology 2001: 30: 1226-1232. Web site:http://www. 11-15 March 2002. Web site: http://www. Web site: http://www.ahrn.org/ ICASO (International Council of AIDS Service Organizations) Advocacy Guide to the Declaration of Commitment on HIV/AIDS Toronto 2001.net/drugcontrol.icaso. dan Mandarin (dengan edisi-edisi baru dalam bahasa-bahasa di Asia lainnya segera).pdf Commission on Narcotic Drugs Resolution on HIV/AIDS and Drug Abuse 45th Session. Preston A and Hunt N.net/ Derricot J.health. Web si te: http://www. Manual for reducing drug-related harm in Asia .edu.drugtext. Juga tersedia dalam bahasa Perancis dan Spanyol. isu-isu yang berhubungan dengan pekerjaan untuk para petugas kesehatan.

com/byTopic. Web site: www.cfm Preston A. Mathew Street.policyproject. Tidak ada tanggal.policyproject. Web site: http://www. Diakses pada tanggal 7 May 2002. Rapid Assessment and Response Guide on Injecting Drug Use. Washington DC 1997.asp London School of Hygiene and Tropical Medicine HIV Tools Research Group: costing guidelines.org/pr/advocacy/index. Tersedia dalam bahasa Inggris dan Rusia. Switzerland. Annex to the Report of 8th Session of Administrative Committee on Coordination Subcommittee on Drug Control 28-29 September 2000 Web site: http://www.org/publications/documents/specific/injecting/Hraids.who.pactworld.com/pubs/AdvocacyManual.int/home/ United Nations preventing the transmission of HIV among drug abusers: A position paper of the UnitedNations System .org/books/methadone/ default.aed. Liverpool L2 6RE.unaids. Web site: http://www. Web site: http://www. Support for Analysis and Research in Africa. An Introduction to Advocacy: Training Guide .policyproject. Tersedia langsung dari HIT Cavern Walks. 20 avenue Appia. Fitch C and Rhodes T (Eds).Johns Hopkins Centre for Communications Programs “A” frame for Advocacy. Kumpulan yang terdiri dari sembilan halaman web yang memberikan gamba ran singkat langkah -langkah dalam advokasi untuk kesehatan masyarakat. Web site: http://www.htm Sharma RR.jhuccp.lshtm. Methadone Briefing HIT Liverpool 1997. cost effectiveness studies and mathematical simulation models. Juga dalam bahasa Spanyol dan Perancis.org/Aidscorps/tool_kit.stm KIT Health UNAIDS Catalogue for Local Responses to HIV/AIDS Amsterdam.com/byTopic. USAID Africa Bureau Office of Sustainable Development.org/sara_pubs_list_sara_5.ac.htm Stimson G.uk/ Pact Survival is the First Freedom: Applying Democracy and Governance Approaches to HIV/AIDS work Washington.drugtext.kit.htm POLICY Project Assessing the HIV/AIDS Policy Environment in Kenya Washington DC 2000.doc 68 . Indeks dan pengenalan: http://www. World Health Organization/UNAIDS Geneva 1997. Web site: http://sara. Web site: http://www. Web site: http://www. DC 2001 Web site: http://www.hivtools.cfm?topic=HIV Choose Assessing the HIV/AIDS Policy Environment in Kenya POLICY Project HIV/AIDS Toolkit: Building Political Commitment for Effective HIV/AIDS Policies and Programs Washington DC 2000.nl/health/html/aids_. CH-1211 Geneva 27.cfm?topic=HIV Choose HIV/AIDS Toolkit: Building Political Commitment POLICY Project Networking for Policy Change: an advocacy training manual Washington DC 1999. From WHO/ UNAIDS.

Spanyol. html#inj UNDP HIV/AIDS: Implications for Poverty Reduction Background Paper prepared for UNDP for UN General Assembly Special Session on HIV/AIDS 25-27 June 2001. Bangkok 2001.org/publications/advocacy.pdf UNAIDS Drug use and HIV/AIDS UNAIDS Statement presented at the UN General Assembly Special Session on Drugs June 1998 Geneva.htm 69 . Perancis. G. and Southern Cone of Latin America) Geneva Web site: http://www.who. Perancis.org/publications/documents/specific/injecting/JC673-DrugAbuse-E.html WHO (World Health Organization)/ UNAIDS The Rapid Assessment and Response Guide on Injecting Drug Use (RAR -IDU) Eds Stimson.unaids. Nepal.undp. Web site: http://www. Asia region.org/UNGASS/index. 1986 Web site: http://www. Nepal.unaids.pdf UNFPA Advocacy Series Collection.unaids. Fitch. 1997 (Juga dalam bahasa Portugis.who.pdf United Nations General Assembly Special Session on HIV/AIDS Declaration of Commitment (dalam bahasa Inggris.org/bestpractice/digest/table. Belarus. Juga dalam bahasa Spanyol. Web site: http://www.unaids.htm Includes: Preventing Infection.org/publications/documents/health/access/Drug.html UNAIDS/UNDCP Drug use and HIV Vulnerability: Policies in Seven Asian Countries UNAIDS APICT.United Nations ACC Guidance Note for United Nations System Activ ities to Counter the World DrugProblem Administrative Committee on Co-ordination.org/publications/documents/specific/injecting/una99e1. Geneva. Southern Cone countries (Latin America).. Web site: http://www. Rusia). T.int/hpr/archive/docs/ottawa.int/substance_abuse/pubs_prevention_assessment.unfpa.org/dpa/frontpagearchive/2001/june/22june01/hiv-aids. Web site: http://unaids. China.ahrn.html#inj UNAIDS/ODCCP Drug Abuse and HIV/AIDS: Lessons Learned Case studies Booklet: Central andEastern Europe and the Central Asian States 2001 Web site: http://www. dan Rusia. Rusia. and Spanyol). V. Web site: http://www. Asia. Web site: http ://www. Web site: http://www.pdf UNAIDS Best Practice Collection: Injecting Drug Users (5 papers covering cost-effectiveness.net/Final-Guidance-Note -layed-out2. and Rhodes. Promoting Reproductive Health UNFPA Response to HIV/AIDS WHO (World Health Organization) The Ottawa Charter on Health Promotion Geneva.unaids. C. Web site: http://www.org/bestpractice/digest/table.pdf UNAIDS Best Practice Collection Six best practice studies on HIV/AIDS and injecting drug use in China. Geneva 2001. Bangladesh.

voxpopuli.net/ Oceania Harm Reduction Coalition (Australasia/ Pacific) http://www. termasuk hubungan ke jaringan-jaringan harm reduction regional dan International Conference on the Reduction of Drug Related Harm http://www. Sexual and Reproductive Health.ihra.com/ Central and Eastern European Harm Reduction Network (dalam bahasa Inggris dan Rusia) http://www.net/ Canadian Harm Reduction Network http://www.org/ Latin American Harm Reduction Network (Spanyol dan Portugis) http://www.relard.ahrn. including HIV/AIDS and STIs.au/ 70 . Geneva WHO/MSD/MSP/00.WHO (World Health Organization) Working with Street Children: Introduction A training Package on Substance Use.chr.org/ Harm Reduction Coalition (USA) http://www.net/ Asian Harm Reduction Network http://www.lt/ceehrn.harmreduction.canadianharmreduction. Dalam persiapan JARINGAN-JARINGAN HARM REDUCTION International Harm Reduction Association Jaringan global.asn.14 WHO (World Health Organization) Evidence for Action on HIV Prevention among IDUs 12 papers.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful