BAB I PENDAHULUAN

Pengurangan dampak buruk NAPZA untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS dari dan di kalangan penyalahguna NAPZA suntikan (injecting drug user - IDU) dapat dilakukan melalui upaya penanggulangan yang komprehensif. Penanggulangan ini meliputi upaya promotif, preventif, terapi dan rehabilitatif serta dapat diakses oleh setiap individu pengguna NAPZA, termasuk mereka yang terinfeksi HIV. A. Program penanggulangan NAPZA Program penanggulangan NAPZA haruslah merupakan suatu paket kegiatan yang meliputi: 1. Terapi ketergantungan NAPZA, terutama terapi substitusi NAPZA seperti pemberian maintenance metadon, buprenorfin, program therapeutic community , dan terapi rawat jalan. 2. Kegiatan penjangkauan untuk mengakses, memotivasi, dan mendukung IDU yang belum dan tidak sedang menjalani terapi, yang bertujuan untuk mengurangi risiko perilaku seks yang tidak aman dan perilaku penggunaan NAPZA (yang pada akhirnya dapat menghentikan penggunaan NAPZA). 3. Program Jarum Suntik. Program ini telah terbukti dapat mengurangi dampak buruk akibat penggunaan NAPZA suntik dan tidak menimbulkan peningkatan penggunaan NAPZA maupun dampak lainnya terhadap masyarakat. 4. Program pencegahan dan edukasi NAPZA dan HIV/AIDS perlu ditingkatkan, termasuk materi mengenai cara komunikas i, informasi, dan edukasi (KIE). Program ini bertujuan untuk menimbulkan kesadaran dan penyediaan pendidikan yang khusus kepada IDU dan keluarganya mengenai cara penularan dan pencegahan HIV, pelatihan keterampilan hidup (life skills), distribusi kondom, konseling dan tes HIV sukarela dan rahasia ( voluntary and confidential counselling and HIV testing – VCT). 5. Pengobatan, perawatan, dan dukungan dengan melibatkan partisipasi masyarakat bagi IDU yang terinfeksi HIV dan keluarganya. Kegiatan ini termasuk untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang terjangkau, terapi anti-retroviral dan pengobatan infeksi oportunistik, perawatan di rumah, intervensi pencegahan penularan HIV yang efektif, mendapatkan pelayanan sosial dan masalah hukum, dukungan psiko -sosial dan pelayanan konseling.

1

B. Prinsip-prinsip advokasi untuk mencegah penularan HIV dari dan di kalangan IDU 1. Harus dapat menghindari terjadinya peningkatan dampak buruk berupa peningkatan prevalensi HIV/AIDS . 2. Tujuan jangka panjang dan pendek harus seimbang. 3. Dapat mengemukakan bukti berdasarkan hasil penelitian tentang efektifitas pencegahan HIV/AIDS dikalangan IDU. 4. Sasaran advokasi harus spesifik dan metodenya disesuaikan dengan lingkup sosial, budaya, dan politik masyarakat . 5. Ditujukan pada berbagai sektor dan tokoh-tokoh yang ada di masyarakat. 6. Harus dilaksanakan sesegera dan seluas mungkin dengan tetap memperhatikan konteks sosial, politik, dan kemampuan pendanaan. 7. IDU dan ODHA dapat dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program. 8. Kegiatan advokasi ini tidak hanya berkonsentrasi pada pencegahan HIV pada kelompok IDU saja namun juga pada perawatan, pengobatan dan dukungan, . 9. Mampu mengangkat isu baru dan memberikan respon terhadap institusi, media, dan yang lainnya dalam menanggapi HIV di kalangan IDU

2

BAB II PENDEKATAN EFEKTIF UNTUK MENCEGAH HIV/AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIK
Epidemi penyalahgunaan NAPZA suntikan dan infeksi HIV yang berkaitan dengan penggunaan jarum suntik secara bersama telah menimbulkan dampak yang serius terhadap kesehatan serta kesejahteraan sosial dan ekonomi di banyak negara. Pada tahun 2002, epidemi ganda ini telah terjadi di Amerika Utara dan Selatan, Eropa Timur, Tengah, dan Barat, Asia Selatan dan Tenggara, dan sedang mulai berkembang di Timur Tengah dan Afrika. Jumlah negara yang melaporkan adanya infeksi HIV di kalangan IDU meningkat dari 54 negara pada 1992 menjadi 120 negara pada 2001. A. CONTOH KASUS 1. Kasus di Indonesia Depkes RI bekerja sama dengan, WHO, UNAIDS dan ASA/FHI/USAID pada tahun 2002 memperkirakan terdapat 159.000 kasus pengguna NAPZA suntik di Indonesia. Dari jumlah tersebut sebanyak 42.750 kasus (33.46 %) diperkirakan positif mengidap HIV/AIDS. Dua penelitian dilakukan baru -baru ini juga menunjukkan angka infeksi HIV dikalangan IDU telah mencapai 15 %. Dalam skala yang lebih luas ini bisa berarti jika 10 % saja dari satu juta pengguna NAPZA terinfeksi HIV maka akan terdapat paling sedikit 100.000 kasus. Sedangkan pihak lain memperkirakan sebanyak 500.000 – 2 juta pengguna NAPZA di Indones ia. Sebagian besar diantaranya menggunakannya dengan cara menyuntik dan sebagian diantaranya melakukan penyuntikan secara bergantian. Pada tahun 2000, 187 narapidana di lembaga pemasyarakatan Krobokan Bali menjalani tes HIV, hasilnya 35 dari 62 (56%) Na rapidana yang mempunyai riwayat memakai NAPZA dengan menyuntik ternyata mengidap HIV positif. Sebuah pusat rehabilitasi di Bali pada tahun 2000 juga telah memeriksa tes HIV pada 14 orang pasien, 8 orang diantaranya HIV positif. Data terakhir dari Puskesmas Kelurahan Kampung Bali-Kecamatan Tanah Abang Jakarta Pusat sampai bulan Juli 2002, telah melakukan konseling tes sukarela (VCT) HIV pada 60 pengguna NAPZA suntik, 56 diantaranya atau 93% dengan hasil HIV positif. 2. Kasus di Negara Lain Ledakan epidemi HIV di kalangan IDU telah terjadi di wilayah yang luas dalam kurun waktu 20 tahun ini, dimulai di New York (USA) pada 1979, diikuti oleh kota -kota besar serupa seperti Edinburg (UK), Bangkok (Thailand), Ho Chi Minh (Vietnam), Santos (Brazil), Odessa (Ukraina), Svetlogorsk (Belarus), Moskow dan Irkutsk (Federasi Rusia) dan Narva (Estonia).

3

prevalensi meningkat dari di bawah 10% menjadi lebih dari 60% dalam waktu 6 bulan. yang dapat mengarah pada epidemi berikutnya pada kelompok subpopulasi lain di mana perilaku yang berisiko terhadap HIV biasa terjadi. hal tersebut juga dapat memicu perluasan epidemi di negara -negara di mana sebagian besar penularan HIV terjadi melalui salah satu jalur kegiatan seks. sebesar 45% dari pasangan seksual tetap IDU yang mengidap HIV terinfeksi HIV selama kurun waktu 6 tahun. 4 . pre valensi HIV di kalangan IDU telah melonjak dari di bawah 5% menjadi lebih dari 40% dalam kurun waktu kurang dari 12 bulan. dan Brazil dapat diperlambat hingga beberapa tahun. Upaya penjangkauan juga ditujukan untuk mengembalikan IDU ke dalam proses terapi untuk mempertahankan kondisi abstinen. Dalam kurun waktu 1996 – 2001 kebanyakan bayi yang mengidap HIV di Ukraina dan Federasi Rusia dilahirkan oleh ibu yang juga IDU atau menjadi pasangan seks IDU. Di Manipur. Namun demikian. terutama terapi substitusi NAPZA seperti terapi maintenance metadon. New York. sepakat bahwa kegiatan-kegiatan berikut ini sudah sangat diperlukan pelaksanaannya untuk mencegah penularan HIV/AIDS di kalangan IDU. o luka tertusuk jarum suntik dan transfusi darah. o perilaku heteroseksual dan homoseksual yang berisiko tinggi. Selain itu. Di beberapa daerah. Sebagai contoh. Sedangkan epidemi HIV di kalangan IDU di Nepal. Penularan HIV dari dan di kalangan IDU terjadi melalui beberapa cara antara lain : o penggunaan jarum suntik bersama. Misalnya prevalensi HIV di beberapa kota di Australia. telah terdapat 80-90% infeksi HIV baru di kalangan IDU pada tahun 2002. program therapeutic community . dan mendukung IDU yang tidak sedang dalam terapi untuk mengurangi perilaku penggunaan NAPZA berisiko dan perilaku seksual berisiko. di Manipur. dan program abstinensia bagi pasien rawat jalan.Ledakan juga terjadi melintasi seluruh provinsi seperti Manipur di India dan Yunnan di Cina. London. diperlambat dan bahkan diturunkan. dan Dhaka (Bangladesh) telah tetap berada di bawah 5 %. antara lain: • • Terapi ketergantungan NAPZA. o pencampuran NAPZA sebelum digunakan dan adanya ritual tertentu yang berhubungan dengan penyuntikan NAPZA. Penurunan ini terjadi karena adanya kegiatan khusus melalui pendekatan pengurangan dampak buruk NAPZA untuk menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU. juga mengurangi timbulnya HIV. meskipun terjadi ledakan epidemi di kalangan IDU di banyak tempat. Pada tahun 2002 masyarakat internasional telah mencapai sebuah konsensus mengenai komposisi dari pendekatan -pengurangan dampak buruk NAPZA ini. Dalam makalah yang berjudul “Preventing the transmission of HIV among drug abusers: A position paper of the United Nations System” (2000). Kegiatan-kegiatan penjangkauan menjangkau. dan badan-badan internasional lainnya. Epidemi HIV dengan pertumbuhan tercepat yang pernah tercatat terjadi di kalangan IDU di Rusia. memotivasi. o ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi yang dikandungnya. di mana epidemi baru mulai muncul pada sekitar 1996. Edinburgh. badan-badan PBB bersama dengan WHO. dapat membantu IDU mengurangi jumlah penggunaan NAPZA secara signifikan. Epidemi HIV di kalangan IDU dapat mengakibatkan epidemi yang luas di negara yang memiliki jumlah IDU yang banyak. serta melintasi negara seperti Myanmar. Di Eropa Timur. infeksi dapat dicegah.

program penanggulangan AIDS. Program pencegahan HIV dan terapi ketergantungan NAPZA dalam institusi penegakan hukum seperti lembaga pemasyarakatan atau penjara. perlu menjangkau sebanyak mungkin individu dari populasi yang berisiko. Program ini akan lebih bermanfaat lagi bila dilaksanakan secara terpadu dengan program KIE. maka akan terjadi penyebaran yang sangat cepat. g) Upaya untuk menghentikan penularan HIV memerlukan 3 strategi sebagai berikut: • Mencegah penyalahgunaan NAPZA. • Memfasilitasi agar IDU bersedia menjalani terapi ketergantungan NAPZA • Membentuk kelompok-kelompok penjangkauan dengan mengikutsertakan IDU dalam strategi pencegahan HIV yang akan melindungi mereka dan teman-temannya serta keluarganya dari bahaya HIV serta mendorong mereka agar bersedia menjalani terapi ketergantungan NAPZA dan perawatan medis. Berdasarkan kebijakan-kebijakan yang dinyatakan dalam UN Drug Control Convention and Declaration on the Guiding Principles of Drug Demand Reduction. maka respon terhadap epidemi yang efektif akan sulit dilaksanakan. b) Pencegahan HIV pada kelompok IDU harus dimulai sedini mungkin. f) Permasalahan penyalahgunaan NAPZA tidak dapat hanya ditanggulangi semata-mata dengan upaya penegakan hukum saja . besarnya masalah penyalahgunaan NAPZA serta kecenderungan dan pola infeksi HIV. c) Intervensi sebaiknya dilaksanakan berdasarkan hasil penjajakan kebutuhan (need assessment ). d) Cakupa n menyeluruh dan komprehensif pada populasi yang dituju merupakan hal yang penting . Lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat. Sarana ini dapat menyediakan berbagai terapi alternatif. termasuk penanggulangan kemiskinan serta kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan lapangan pekerjaan dapat mendukung intervensi yang spesifik dengan melibatkan kegiatan-kegiatan multi-disipliner dan menyediakan pelatihan dan dukungan yang memadai . misalnya terapi substitusi NAPZA. Pendekatan dengan cara menghukum dapat membuat orang-orang yang membutuhkan perawatan menyembunyikan diri. h) Fasilitas sarana pelayanan terapi perlu disiapkan dengan berbagai jenis dan metode terapi yang sesuai dengan kebutuhan IDU. Progam ini juga berfungsi sebagai sarana pertemuan antara IDU dengan pengelola program termasuk terapi ketergantungan NAPZA. sebab begitu HIV masuk ke dalam suatu komunitas IDU. dan hak-hak budaya mereka tidak dihargai. UN Human Rights documents on UN Health Promotion Policy documents. dan rujukan. kesehatan sos ial. e) Program pengurangan permintaan (demand reduction) NAPZA dan program pencegahan HIV harus terintegrasi dalam suatu kebijakan kesehatan dan kesejahteraan sosial melalui program promotif-preventif. merupakan komponen yang sangat penting dalam mencegah penularan HIV. konseling. Hal ini termasuk bila hak-hak sipil tidak dihargai. Masyarakat menjadi lebih rentan terhadap infeksi bila masalah ekonomi. prinsip -prinsip dan pendekatan strategis berikut ini dapat digunakan untuk menanggulangi HIV/AIDS di kalangan IDU: a) Perlindungan terhadap hak asasi manusia adalah penting bagi keberhasilan pencegahan HIV/AIDS. Agar langkah-langkah pencegahan menjadi lebih efektif dalam mengurangi epidemi yang sedang berlangsung. 5 .• Program pertukaran jarum suntik (perjasun) menunjukkan pengurangan dalam perilaku penyuntikan yang berisiko dan penularan HIV.

dukungan psiko-sosial dan pelayanan konseling. perundang-undangan. dan advokasi yang terarah dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi diskriminasi. Oleh karena itu perlu adanya sumberdaya yang memadai untuk dapat menjangkau klien yang banyak dimasyarakat .i) Meningkatkan partisipasi aktif kelompok sasaran (IDU) terhadap permasalahan HIV dalam seluruh upaya pengembangan dan pelaksanaan program. buprenorphin n) Dukungan dan perawatan yang melibatkan partisipasi masyarakat harus disediakan bagi IDU yang terinfeksi HIV dan keluarganya. serta pendistribusian materi KIE dan upaya pencegahan.Pendidikan tentang dampak buruk . termasuk kemudahan untuk mendapatkan pelayanan medik yang terjangkau secara ekonomi dan perawatan di rumah. 5. Kebijakan yang mendukung. intervensi pencegahan HIV yang efektif. Penjangkauan IDU dapat dilakukan melalui pendid ikan dengan cara tatap muka mengenai risiko -risiko HIV dan langkah-langkah pencegahannya. Penyediaan alat suntik yang steril dan zat suci hama seperti cairan pemutih termasuk penyediaan kondom. l) Kegiatan penjangkauan dan pendidikan kelompok sebaya di luar fasilitas pelayanan kesehatan diperlukan untuk menjangkau kelompok yang tidak terjangkau oleh fasilitas pelayanan kesehatan tersebut. 3. pelayanan sosial dan hukum. 2. B. j) Program pengobatan harus menyediakan pemeriksaan terhadap HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya serta memberikan konseling untuk membantu IDU agar dapat mengubah perilaku berisiko atau mencegah risiko terinfeksi k) Program pencegahan penularan HIV juga harus berfokus pada perilaku seksual berisiko di kalangan IDU atau pengguna NAPZA lainnya. m) Program kegiatan intervensi dalam pencegahan HIV di kalangan IDU meliputi: • Menyelenggarakan KIE • Penjangkauan pengguna NAPZA • Pendampingan termasuk : .Cara penyuntikan yang aman . sehingga IDU dengan mudah mendapatkan pelayanan pencegahan HIV. Penggunaan materi KIE ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran akan risiko HIV di kalangan IDU. pendidikan kesehatan serta motivasi di kalangan IDU dan masyarakat sekitarnya. 6 . merupakan sarana utama dalam pencegahan HIV dari dan di kalangan IDU. 4. PRINSIP-PRINSIP PENGURANGAN DAMPAK BURUK Prinsip-prinsip pelaksanaan program pengurangan dampak buruk NAPZA dalam mencegah in feksi HIV di kalangan IDU adalah : 1. Penyediaan terapi substitusi NAPZA dapat membantu IDU dalam mengurangi atau menghentikan penyuntikan NAPZA.Pendidikan sebaya • Konseling tes HIV secara sukarela dan rahasia (VCT) • Terapi ketergantungan NAPZA • Pelayanan kesehatan dasar dan rujukan • Pertukaran jarum suntik • Penjualan dan distribusi jarum suntik • Terapi substitusi dengan menggunakan metadone.

sebagai upaya terbaik dalam menanggulangi HIV/AIDS di kalangan IDU: • • Memastikan bahwa kebijakan dan strategi nasional mengenai NAPZA dan HIV/AIDS harus sejalan.Pada tahun 2001. informasi. termasuk kondom bagi lakilaki dan wanita dan peralatan suntik yang steril. terapi. peralatan suntik yang steril. termasuk mereka yang terinfeksi HIV/AIDS. selaras dan tidak timbul permasalahan hukum untuk keberhasilan program pencegahan HIV di kalangan IDU. dan rehabilitatif dapat diakses oleh seluruh individu yang menggunakan dan menyalahgunakan NAPZA . Mengakui bahwa strategi-strategi pencegahan. termasuk komunikasi. dan terapi yang efektif akan membutuhkan perubahan perilaku dan meningkatkan ketersediaan akses pelayanan yang tidak membeda-bedakan. diagnosis dan teknologi yang terkait. • Hingga tahun 2002. Program ini ditujukan untuk: o mengurangi perilaku berisiko dan mendorong perilaku seksual yang bertanggung jawab. obat-obatan termasuk terapi anti-retroviral. (Paragraf 52). Pada tahun 2002. o terapi dini dan efektif untuk infeksi yang ditularkan secara seksual. mikrobisida. 7 . pelicin. begitu pula penelitian dan pengembangan yang terus meningkat. Mengimplementasikan langkah-langkah yang dapat mengurangi atau menghilangkan kebiasaan berbagi peralatan suntik yang tidak steril. etika. dan edukasi. memastikan: program pencegahan yang beragam yang mempertimbangkan keadaan lingkungan setempat. Hingga tahun 2005. Komite Narkotika ( Committee on Narcotic Drugs) mengeluarkan suatu resolusi mengenai HIV/AIDS dan penggunaan NAPZA yang mendukung Negara-negara Anggota Komisi untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan dibawah ini: • Meningkatkan upaya-upaya untuk mengurangi permintaan akan NAPZA dan memastikan bahwa paket program penanggulangan secara komprehensif yang terdiri dari langkahlangkah promotif. dalam bahasa yang paling mudah dimengerti oleh kebanyakan masyarakat dan sesuai dengan budayanya. Makalah-makalah tersebut mengacu pada hal-hal di bawah ini. kondom. o upaya-upaya pengurangan dampak buruk yang berkaitan dengan penggunaan NAPZA . perawatan. termasuk tidak berhubungan seks sama sekali atau setia pada satu pasangan. menyatakan bahwa: (Paragraf 23). o perluasan akses penyediaan bahan-bahan penting lainnya. o perluasan akses ke fasilitas pelayanan konseling dan tes HIV sukarela dan rahasia. antara lain untuk vaksin. Program penjangkauan dan program jarum suntik merupakan metode yang efektif dalam mempertahankan prevalensi HIV yang rendah di kalangan IDU. o penyediaan darah untuk transfusi yang aman. Majelis Umum PBB mempertimbangkan isu-isu HIV/AIDS dan pada UN General Assembly Special Session on HIV/AIDS (UNGASS) Decleration of Commitment yang ditandatangani oleh perwakilan dari 189 negara. UNAIDS telah menempatkan enam makalah mengenai penggunaan NAPZA suntikan dalam Best Practice Collection. dan nilai-nilai budaya yang terdapat ditiap negara. preventif.

dan melibatkan masyarakat dalam upaya penanggulangan. Inisiatif regional untuk membantu negara -negara mengadopsi panduan-panduan resmi untuk memfasilitasi kegiatan pencegahan. bahwa kegiatan pencegahan yang efektif akan meningkatkan jumlah pengguna NAPZA. Penolakan ini terjadi dalam beberapa b entuk. mendorong penelitian. Bahkan di negara-negara yang telah melaksanakan satu atau lebih program-program efektif ini. sementara pasien “yang tidak berdosa” tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. telah terjadi penolakan yang kuat terhadap pengenalan dan pengelolaan program-program efektif ini. kegiatan -kegiatan seperti itu seringkali dilakukan dalam ruang lingkup yang sangat kecil atau berupa proyek percontohan saja. Panduan tersebut bertujuan agar para politisi dan media menjadi lebih peka terhadap masalah ini. antara lain: • • • • • • • Kekuatiran yang tidak terbukti. Kekuatiran bahwa program metadon maintenance dan program efektif lainnya bukan merupakan bentuk terapi ketergantungan NAPZA yang tepat. Persepsi dari petugas kesehatan sendiri yang beranggapan bahwa pengobatan m edis bagi IDU hanya akan menyia -nyiakan sumber daya yang sudah terbatas dan para pengguna NAPZA dianggap sebagai “sampah masyarakat”. Di sejumlah negara.• • • Program jarum suntik sebagai salah satu cara yang efektif dan murah untuk mengontrol epidemi HIV di kalangan IDU. namun kegiatan-kegiatan efektif yang berhubungan dengan HIV/AIDS dan penggunaan NAPZA suntikan baru dilaksanakan di 55 negara di dunia. karena dalam program ini penghentian penggunaan NAPZA (abstinensia) bukan merupakan tujuan utama. Kritikan bahwa langkah-langkah yang efektif ini terlalu toleran dan seharusnya diganti dengan cara memberi hukuman pada para pengguna NAPZA . Penolakan dari pihak kepolisian terhadap program jarum suntik yang dianggap bertentangan dengan upaya-upaya penegakan hukum yang melarang pemasokan NAPZA atau melarang ketersediaan peralatan suntik. C. Jumlah ini kurang dari setengah jumlah negara -negara yang mempunyai kasus HIV di kalangan IDU. Pendidikan kelompok sebaya di kalangan IDU dalam pencegahan HIV mencakup pendidikan penjangkauan dan program kelompok sebaya dalam fasilitas terapi ketergantungan. 8 . dan dapat menginformasikan fasilitas pelayanan kesehatan dan sosial kepada IDU. dapat mengurangi kenyamanan lingkungan. Penjajakan cepat (rapid assesment) sebagai suatu metode untuk mendapatkan pemahaman yang cepat mengenai HIV/AIDS dan situasi penggunaan NAPZA di mana intervensi yang efektif dapat dikembangkan. Penolakan dari pemerintahan daerah dan masyarakat sekitar terhadap pendirian tempattempat untuk pelaksanaan program harm reduction ini dengan alasan bahwa fasilitas-fasilitas pelayanan yang melayani para IDU. Penjelasan berbagai media masa yang membandingkan program yang terlalu “berbaik hati” terhadap para pengguna NAPZA yang tidak bisa diperbaiki lagi. FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT PROGRAM Meskipun telah mendapatkan dukungan dari badan-badan internasional dan berbagai kesepakatan internasional.

Kurangnya pengetahuan di kalangan pembuat kebijakan mengenai seberapa cepat infeksi HIV dapat menyebar di kalangan IDU dan program pengurangan dampak buruk NAPZA . atau mempromosikan pendekatan pengurangan dampak buruk ini untuk pencegahan HIV/AIDS di kalangan IDU. LSM. 9 . Kritikan. mengelola. TERMINOLOGI Istilah “ harm reduction” telah digunakan secara luas pada tahun 80-an untuk program-program dan kebijakan-kebijakan yang mencoba merespon secara efektif ancaman serius epidemi HIV dari dan di kalangan IDU tersebut. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman tentang masalah yang terkait dengan adiksi NAPZA (khususnya di beberapa negara berkembang dan negara transisi). Namun demikian.• • Kekuatiran bahwa penekanan pada program pencegahan HIV yang efektif bagi IDU merusak program utama pencegahan NAPZA maupun program terapi ketergantungan NAPZA di negara tersebut. misalnya pernyataan bahwa program harm reduction ini bertentangan dengan budaya atau ajaran agama yang berlaku. pembuat kebijakan. Definisi yang biasa dipakai mengacu pada upaya -upaya untuk mengurangi dampak kesehatan. Istilah lain harm reduction adalah langkah-langkah apa saja yang dapat membantu mengurangi risiko penggunaan NAPZA (sehingga memungkinkan dimasukkannya kegiatan-kegiatan pengurangan pemasokan (supply reduction ) dan pengurangan permintaan (demand reduction). tidak ada persetujuan internasional mengenai definisi harm reduction ini. maupun mereka yang sedang berupaya untuk memulai. Kritikan terhadap pengurangan dampak buruk NAPZA dari pusat-pusat terapi dan lembaga penelitian yang menganggap bahwa sistim penegakan hukum dan terapi ketergantungan NAPZA sebaiknya mengarah pada penghentian tota l (abstinensia). ekonomi dan sos ial yang merugikan sebagai akibat dari penggunaan NAPZA . • • • • • • D. Beberapa jenis penolakan yang mungkin terjadi: • Kurang atau terlambatnya pengakuan para politisi maupun birokrat bahwa masalah IDU ini merupakan masalah yang serius. Kurangnya pengalaman atau pelatihan mengenai advokasi dan cara pendekatan dikalangan para petugas kesehatan. program jarum suntik seringkali dihubungkan sebagai kegiatan -kegiatan harm reduction. Dalam definisi ini. Kurangnya pengalaman atau pelatihan mengenai pengurangan dampak buruk NAPZA di antara para petugas kesehatan dan petugas LSM. seringkali berdasarkan pada keterbatasan dan kurangnya pengetahuan tentang program ini. Keyakinan umum di beberapa negara pada mekanisme penegakan hukum dan pendekatan yang semata -mata mengarah pada penghentian total dari penggunaan NAPZA (abstinent only approach ) dapat “memecahkan” masalah ketergantungan NAPZA (termasuk infeksi HIV yang berkaitan dengan penggunaan NAPZA). Kurangnya kesadaran masyarakat akan efektifitas pendekatan pengurangan dampak buruk NAPZA ini dan manfaatnya dalam mengurangi epidemi HIV di kalangan IDU.

masih terdapat perdebatan yang seru mengenai penggunaan istilah “harm reduction”. perbedaan antara penerapan kegiatan-kegiatan demand reduction (mendidik masyarakat tentang masalah penggunaan NAPZA. istilah “harm reduction” ini tak dapat diterima secara politis karena dapat diintepretasikan sebagai legalisasi obat-obatan. dilaksanakan. Apabila upaya-upaya supply reduction mengabaikan semua pendekatan yang lain. Demikian pula halnya. mengurangi atau menghentikan penggunaan NAPZA) dengan 10 . Badan-badan internasional menyetujui bahwa ini merupakan respon yang tepat apabila tindakan yang lain seperti demand reduction dan pengurangan dampak buruk NAPZA (harm reduction) untuk mencegah HIV/AIDS dari dan di kalangan IDU juga dilaksanakan – meskipun ada perbedaan pendapat tentang jenis sumber daya yang harus disediakan untuk ke tiga area ini. sehingga istilah dan kegiatan apapun yang digambarkan dalam istilah ini selalu ditolak. Pemberian istilah pada sejumlah kegiatan adalah untuk menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan ini memiliki tujuan-tujuan yang berbeda (terutama dalam jangka pendek) dan memiliki cara -cara yang berbeda pula dengan pendekatan lain. Sebagian orang yang bergerak dalam penanggulangan HIV di kalangan IDU lebih suka menggunakan istilah “harm reduction” dari pada “ risk reduction”. Oleh karena itu. Hal yang paling penting dari perdebatan ini. dan dikembangkan: seperti yang dapat dilihat pada perjanjian internasional mengenai kebutuhan untuk kegiatan -kegiatan ini. dan sebagian yang lain menyatakan tidak ada bedanya. istilah ‘risk reduction’ lebih banyak digunakan untuk merujuk berbagai kegiatan termasuk yang telah dijelaskan di awal bab ini. sebagian yang lain lebih menyukai kebalikannya. Istilah lain yang digunakan dalam buku panduan ini merupakan perbedaan antara kebijakan dan strategi yang dikenal sebagai “ supply reduction” (misalnya mencegah NAPZA masuk ke suatu negara dan menangkap penjual NAPZA) yang semata -mata merupakan suatu pendekatan pada penegakan hukum. Di beberapa negara. dipertahankan. adalah kegiatan -kegiatan yang telah disebutkan sebelumnya ini hendaknya dapat dipromosikan. pelaksana advokasi harus berhati-hati dalam mempertimbangkan istilah yang akan digunakan. Supply reduction mengacu pada berbagai tindakan yang digunakan oleh berbagai negara untuk mengontrol atau menghapus ketersediaan NAPZA dijalur ilegal. Dalam beberapa konteks.Beberapa penggunaan lain istilah ini juga merujuk pada upaya-upaya untuk mengadakan perubahan terhadap kebijakan mengenai NAPZA (termasuk hukum yang berkenaan dengan penggunaan NAPZA) sebagai langkah penting dalam mengurangi risiko penyalahgunaan NAPZA terhadap individu atau pun masyarakat. maka upayaupaya ini disebut sebagai “pendekatan penegakan hukum semata ( law enforcement only approach)” dan ini dinyatakan PBB sebagai upaya yang tidak efektif untuk mengatasi HIV/AIDS di kalangan IDU dan permasalahan lain yang berkaitan dengan penggunaan NAPZA. Karena kelemahan definisi ini dan untuk alasan-alasan politis yang berkaitan dengan pandangan beberapa organisasi maupun individu. dan mengajak para pengguna NAPZA aktif untuk mau mengontrol. melatih para remaja agar mampu menolak tawaran untuk tidak menggunakan NAPZA.

Program demand reduction merupakan bagian penting dari pengurangan dampak buruk NAPZA dalam mengatasi HIV di kalangan IDU.pendekatan yang hanya mengarah pada berhenti total dari penggunaan NAPZA (abstinence only approach). misalnya istilah ”strategi”. Demand reduction . dan advokasi. merupakan bagian penting dari suatu pengurangan dampak buruk NAPZA. bisnis. organisasi dan individu yang mempercayai bahwa hanya satu tujuan yang bisa diterima dalam terapi ketergantungan NAPZA yaitu bahwa pengguna berhenti ( abstinensia) menggunakan NAPZA selamanya. masih ada beberapa pandangan pemerintah. dapat menjadikan para pengguna berhenti total (total abstinent) sebagai tujuan jangka panjang. Pemilihan istilah militer dalam buku panduan ini merefleksikan pengalaman dan pandangan dari banyak ahli pada cara-cara di mana upaya -upaya advokasi yang berhasil telah terjadi perubahan yang besar dalam waktu yang singkat. adalah istilah yang diambil dari bidang militer. “kampanye”. dan sebagainya. metode dan ide militer para pemikir politik yang militeris tik dapat menjadi sangat berguna. Beberapa istilah lain. Dengan munculnya epidemi HIV di kalangan IDU. yang dapat menyebabkan kekuatiran pada beberapa pembaca. Istilah-istilah yang pada mulanya digunakan dalam konteks kemiliteran saat ini digunakan sebagai referensi dalam berbagai kegiatan. sekarang digunak an dalam peristilahan politik. dan pemahaman yang lebih luas mengenai adiksi dan cara orang menggunakan dan berhenti dari NAPZA. perbaikan hak asasi manusia. Namun demikian. Buku panduan ini lebih memfokuskan pada metode yang telah terbukti menghasilkan hasil yang cepat dan dramatis. metode ini perlu diimbangi dan barangkali malah diganti dengan metode yang lebih membangun peningkatan demokrasi. 11 . Meskipun demikian. “target”. perbaikan kekuasaan. mengurangi perilaku kriminal dan lain-lain sebagai tujuan jangka pendek juga dapat diterapkan. namun tidak begitu halnya dengan abstinent only approach (yang tidak menyertakan terapi substitusi NAPZA dan tujuan terapi jangka pendek lainnya) hal ini dianggap tidak efektif dalam mengatasi HIV/AIDS di kalangan IDU. dalam jangka panjang. Untuk advokasi yang cepat dan efektif dalam konteks perluasan pandemi HIV/AIDS yang sangat cepat. meningkatkan keterampilan sosial. Para pelaksana advokasi perlu secara seksama mempertimbangkan gabungan yang tepat dari pendekatan jangka pendek dan jangka panjang berdasarkan konteks sosial dan politik di mana mereka bekerja. Istilah ini dikenal sebagai abstinence only approach dan populer terutama di kalangan institusi terapi ketergantungan NAPZA pada tahun 60-an. Beberapa pelaksana advokasi lebih memilih untuk menghindari istilah militer. banyak penelitian mengenai keefektifan metode terapi ketergantungan NAPZA. Metode terapi substitusi NAPZA. “taktik”. telah disepakati bahwa dibutuhkan bermacam-macam metode terapi. Upaya untuk mengurangi atau memberhentikan penyuntikan. terutama penyediaan berbagai layanan terapi ketergantungan NAPZA termasuk terapi substitusi NAPZA.

Kebijakan dapat didefinisikan sebagai cara masyarakat dan institusi mengatasi berbagai isu baik yang tertulis (misalnya undang-undang) ataupun tidak tertulis (misalnya etika. KELOMPOK SASARAN ADVOKASI ANTARA LAIN: • • Pembuat kebijakan di beberapa Departemen termasuk Kesehatan. Kehakiman dan HAM termasuk didalamnya Lembaga Pemasyarakatan. masyarakat. Kebijakan publik cenderung formal dan tertulis termasuk pernyataan -pernyataan. Departemen Sosial. 3. termasuk para menteri yang bertanggungjawab untuk Departemen di atas. Departemen Pertahanan dan Keamanan. dan berbagai wakil rakyat di DPR yang menangani masalah penggunaan NAPZA dan/atau HIV/AIDS. 12 . APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN ADVOKASI Banyak naskah dan buku panduan telah dihasilkan untuk membantu upaya-upaya advokasi pada program dan kebijakan HIV/AIDS. untuk itu opini dan perilaku dari berbagai kelompok sasaran perlu dipengaruhi. 2. definisi di atas terlalu umum atau juga sempit bagi yang melaksanakan advokasi untuk pendekatan penanganan HIV/AIDS yang efektif di kalangan IDU. upaya yang terorganisir untuk mempengaruhi pengambilan keputusan. khususnya yang berhubungan dengan HIV/AIDS di kalangan IDU. Definisi advokasi yang paling sederhana adalah : 1. Semuanya difokuskan untuk memberikan pengalaman kepada orang-orang yang telah melaksanakan advokasi baik yang berhasil maupun tidak. Dapat dicatat bahwa tidak ada padanan yang tepat untuk istilah “advokasi” dalam beberapa bahasa. norma sosial). Politisi. Namun demikian. posisi atau program-program dari semua jenis institusi. Departemen Dalam Negeri. tindakan yang diarahkan pada pengubahan kebijakan. Departemen Keuangan. prinsip.BAB III TINJAUAN DAN PRINSIP-PRINSIP ADVOKASI A. Birokrat. Buku panduan ini merupakan ringkasan dari beberapa pendekatan yang diambil dari berbagai sumber. atau tindakan-tindakan yang dipaksakan oleh pihak-pihak berwenang untuk membimbing atau mengawasi institusi. Kebijakan dapat bersifat formal (seperti Strategi Nasional Penanggulangan AIDS) atau informal (fakta bahwa beberapa tempat kerja tidak mau memperkerjakan ODHA). dan perilaku individu. dan langkahlangkahnya sendiri untuk mengarah pada advokasi yang efektif. kebijakan. upaya mempengaruhi kebijakan publik melalui berbagai bentuk komunikasi persuasif. Masing-masing menggunakan definisi.

• • • • • • • • • Kepolisian dan Badan Narkotika Nasional. HIV/AIDS. dan internasional yang bergerak dalam bidang kesehatan. tetapi advokasi yang sukses perlu memperoleh dukungan dari semua kelompok sasaran advokasi. Kalangan pers dan medi a massa. LSM lokal. nasional. dukungan. PRINSIP-PRINSIP ADVOKASI 1. bahkan akan terjadi peningkatan dampak buruk. Kelompok-kelompok yang paling penting untuk diadvokasi tergantung dari masalah sosial yang dihadapi. C. DEFINISI ADVOKASI Advokasi adalah upaya-upaya terpadu yang dilakukan oleh sekelompok individu atau organisasi untuk: ð Meyakinkan seluruh individu. Sebagai contoh. mempertahankan atau meningkatkan kegiatan-kegiatan tertentu sampai pada suatu tingkatan dimana kegiatan ini akan lebih efektif mencegah infeksi HIV di kalangan IDU dan membantu dalam pengobatan. penegakan hukum. Pimpinan informal masyarakat seperti tokoh-tokoh masyarakat baik tingkat lokal atau tingkat nasional. 13 . Para dokter dan petugas kesehatan lainnya khususnya yang tidak memiliki pengalaman bekerja dengan pengguna NAPZA. Para pimpinan berbagai agama. dan perawatan kepada IDU dengan HIV/AIDS. hak asasi manusia dan sebagainya. dan ð Memulai. Para guru. TNI (yang sering kali beranggapan bahwa pendekatan penegakan hukum merupakan satu-satunya cara yang dapat memecahkan permasalahan penggunaan NAPZA dan HIV). polisi hanya dapat memantau kegiatan tersebut. dalam kegiatan penjangkauan. kelompok atau organisasi yang berpengaruh melalui berbagai kegiatan persuasif untuk secepatnya dapat menerapkan pengurangan dampak buruk NAPZA dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS dari dan di kalangan IDU. Dengan kata lain advokasi bukanlah merupakan pekerjaan seorang individu saja. Masyarakat sekitar dan anggota keluarga di lokasi program pencegahan atau terapi (termasuk perumahan dan perkantoran). dosen dan komite sekolah Orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pencegahan dan terapi ketergantungan NAPZA. NAPZA. Jika polisi mau menangkap klien yang berada dalam kegiatan tersebut atau meminta daftar nama dan alamat IDU. maka hal ini akan mengurangi kepercayaan para pengguna NAPZA terhadap kegiatan tersebut. Kegiatan advokasi harus menghindari terjadinya kesalah pahaman peningkatan dampak buruk Pengurangan dampak buruk NAPZA untuk mencegah HIV/AIDS di kalangan IDU harus dilaksanakan secara terus menerus. B.

Sebagai contoh. Ini berarti bahwa seluruh penyalah guna NAPZA harus berhenti total. Para pelaksana advokasi hendaknya mengetahui sistem politik. Hal ini dapat menimbulkan masalah yang serius dan perlu dicegah. Sedangkan beberapa pihak berpendapat bahwa tujuan tersebut tak akan pernah tercapai. 3. kebudayaan. diskriminasi rasial dan jender. berbagai program dan kebijaka n harus segera dimulai. dan masyarakat dan menyesuaikan kegiatan dengan masalah yang ada. Advokasi hendaknya juga dilihat sebagai proses yang melibatkan kegiatan-kegiatan di setiap tingkat masyarakat mulai dari desa.Risiko yang timbul pada seseorang dapat juga terjadi selama proses advokasi. kemiskinan. kabupaten/kota. Akan tetapi. Untuk mendapatkan hasil advokasi yang maksimal dengan lingkungan yang mendukung dalam penanggulangan HIV/ AIDS di kalangan IDU. provinsi. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan penanggulangan masalah sosial lainnya seperti mengatasi pengangguran. Spesifik dan terarah. 4. seorang pengguna NAPZA mungkin dapat dibujuk untuk tampil dan dipublikasikan di Televisi. untuk mencegah penularan HIV dari dan di kalangan IDU. regional dan 14 . dalam upaya untuk mendapatkan perhatian media mengenai hal-hal yang berkaitan dengan HIV dan penyalahgunaan NAPZA. nasional. penekanan usaha-usaha advokasi harus difokuskan pada tujuan jangka pendek seperti mencegah penularan HIV di kalangan IDU. Pada situasi seperti ini. advokasi disesuaikan dengan situasi masyarakat. dan politik Dalam banyak hal. Harus ditujukan pada berbagai sektor dan tokoh masyarakat dengan menggunakan teknik yang berbeda pada saat yang bersamaan. sejarah. Keberhasilan advokasi tergantung juga pada penggunaan berbagai strategi yang saling melengkapi. Untuk mencapai tujuan ini dibutuhkan beberapa tahun atau dekade. Kecuali jika penyalahguna NAPZA tadi telah diberitahu sebelumnya dan memahami secara jelas konsekuensi yang mungkin terjadi atas publikasi tersebut. Oleh karena itu pelaksana advokasi harus mengerti dasar-dasar pene litian dan mengikuti terus menerus perkembangan dan temuan-temuan baru dalam pencegahan HIV/AIDS terutama di kalangan IDU. 5. Kegiatan ini harus dapat menerima kenyataan bahwa IDU ada dalam masyarakat. Dapat menyeimbangkan tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang Banyak orang berpendapat bahwa penanggulangan penyalahgunaan NAPZA harus dilakukan secara lengkap dan tuntas. budaya. masalah seksual. yang harus disesuaikan dengan masalah sosial. kecamatan. Tujuan harus dikaitkan dengan kegiatan yang dapat dibuktikan dengan penelitian Perlu dipastikan bahwa semua kegiatan advokasi yang dilaksanakan dapat dibuktikan berhasil melalui penelitian. advokasi dilakukan pada berbagai individu dan kelompok yang berpengaruh pada waktu yang bersamaan. 2.

dan evaluasi pada semua kegiatan dan program-program yang dilaksanakan Sesuai dengan prinsip yang pertama. Misalnya program percontohan harus dilihat sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir. dan dukungan Pendekatan pencegahan dan perawatan HIV/AIDS dalam beberapa cara saling berkaitan. Pelayanan pengobatan yang berkualitas tinggi dan komprehensif akan menciptakan kelompok yang mau menerima p esan-pesan pencegahan. atau mengurangi epidemi apabila dilaksanakan dalam skala yang besar. dan perilaku menyuntik dan seksual berisiko di kalangan IDU. terapi ketergantungan NAPZA yang diwa jibkan atau kekerasan. pelaksanaan. IDU dan ODHA tidak perlu dilibatkan bila mengarah pada hal yang merugikan mereka seperi diidentifikasi polisi. dan pendanaan Karena HIV dapat menyebar dengan cepat di kalangan IDU. menstabilkan. dan mengevaluasi kegiatan advokasi dan program-program. Meskipun berbagai kegiatan ditekankan pada tingkatan masyarakat tertentu. dan menghasilkan program yang lebih berkualitas untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pencegahan yang efektif pada akhirnya akan mengurangi permintaan untuk pelayanan pengobatan. 6. Di tempat dimana IDU dan ODHA dapat terlibat dalam diskusi dengan pihak yang berwenang tanpa membahayakan diri mereka. faktor waktu sangat penting dalam upaya-upaya advokasi. Percontohan ini dapat menunjukkan keefektifan kegiatan dalam lingkup lokal (melalui evaluasi). Pendekatan komprehensif seperti itu akan membantu membangun kepercayaan dan mengurangi stigmatisasi terhadap IDU. 7. Pengurangan dampak buruk NAPZA hanya dapat mencegah. Harus dilaksanakan secepat mungkin dan dalam tingkatan yang seluas mungkin dalam lingkup sosial. 9. melaksanakan. perawatan. Besarnya program tersebut tergantung pada banyak faktor seperti jumlah penyalahguna NAPZA suntik. dan yang lainnya dalam menanggapi masalah HIV di kalangan IDU 15 . politik.international. Apabila keterlibatan IDU dan ODHA membahayakan bila mengikuti pertemuan atau bekerja untuk advokasi dan perencanaan program. sangat penting bagi mereka untuk berperan dalam merancang. misalnya melalui wawancara untuk mendapatkan pandangan mereka. Hal ini mengarah pada perubahan kebijakan dan pengenalan kegiatan pada skala yang efektif. Keterlibatan IDU dan ODHA seperti ini akan meningkatkan percepatan program-program yang efektif. penjangkauan dapat mengupayakan cara lain. Mampu mengangkat isu-isu baru tentang HIV dan memberikan respon terhadap caracara yang dilakukan oleh institusi. keberhasilan advokasi tetap memerlukan kegiatan dengan jangkauan penuh pada setiap tingkatan secara berkesinamb ungan. 8. Hasil program percontohan ini sebaiknya dis ebarluaskan kepada individu-individu dan kelompok-kelompok yang berpengaruh. penahanan. Memastikan IDU dan ODHA dilibatkan dalam perencanaan. media. Kegiatan advokasi tidak hanya terfokus pada pencegahan HIV di kalangan IDU tetapi juga pada isu-isu mengenai pengobatan.

Oleh karena itu para pelaksana advokasi harus siap dengan bukti-bukti dan melibatkan kelompok yang berpengaruh seperti media. penolakan sering terjadi dalam upaya untuk mencegah HIV/AIDS di kalangan IDU. dan kelompok penting lainnya untuk mengatasi setiap penolakan secepatnya. seperti menghubungi juru bicara surat kabar tersebut kapan saja. atau sebuah survei surat kabar mungkin menemukan banyak masyarakat yang prihatin dengan penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja. seorang politisi mungkin menemukan bahwa anaknya menggunakan NAPZA. 16 . Para pelaksana advokasi perlu memperhatikan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi dan mencari kesempatan seperti ini. Dalam bab sebelumnya. kelompok lain yang menolak akan terus bermunculan.Proses advokasi tidak hanya dianggap sebatas pada pencapaian tujuan yang ditentukan oleh para pelaksana advokasi. Meskipun sebagian dari penolakan ini akan diketahui dan menjadi subyek kegiatan kelompok advokasi. Sebagai contoh. Pada setiap tingkat pelaksanaan advokasi. menjadikan sebagai sumber-sumber yang ada untuk memanfaatkan kesempatan tersebut. beberapa peristiwa penting dapat terjadi. tetapi hal ini juga merupakan reaksi terhadap peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi. politisi.

pemecahan. Proses advokasi biasanya dimulai dengan menentukan permasalahan. Strategi: Pada tahap ini penyelesaian masalah dapat dirumuskan yang mengandalkan analisis untuk mengarahkan. Evaluasi harus digunakan sebagai langkah pertama dalam menganalisis ulang. A. tindakan praktis dan sebagainya. yang dilaksanakan untuk beberapa aspek yang berbeda dari isu pada setiap tingkatan masyarakat secara simultan. yang mengarah pada setiap tahapan advokasi dan evaluasi yang sedang berlangsung. dan kemauan politik akan menjadi satu kesatuan. dan memusatkan pada tujuan yang spesifik dan menempatkan upaya advokasi untuk mencapai maksud dan tujuan. akan tetapi perlu memikirkan advokasi sebagai suatu rangkaian tahapan. • • • 17 . TAHAPAN ADVOKASI Pengorganisasian dan penggalangan dana : Bentuk kelompok advokasi atau kemitraan serta pendanaan diperlukan untuk keberhasilan suatu advokasi. kelompok yang terlibat. Hal ini akan membantu untuk menciptakan perhatian dan keprihatinan sehingga permasalahan. sehingga kegiatan advokasi perlu disesuaikan dengan masalah politik. Evaluasi: Karena advokasi sering memberikan hasil yang tidak lengkap. • Analisis : Kelompok atau koalisi advokasi dimulai dengan menganalisis masalah. kelompok advokasi perlu mengevaluasi kegiatan yang telah. maka semakin persuasif advokasi akan dilaksanakan. Apabila ada penolakan perlu dilaksanakan pengulangan secara terus menerus. dan budaya setempat. Semakin kita dapat menganalisis. Penilaian indikator proses mungkin lebih penting dan lebih sulit dari pada penilaian indikator dampak. sosial. Aksi dan Reaksi: Dukungan perlu dibangun untuk perubahan kebijakan. merencanakan. kelompok yang melaksanakan dan tidak melaksanakan kebijakan tersebut. Proses ini dapat dipertimbangkan dalam berbagai cara. kemudian memberikan solusi terhadap masalah tersebut dan membangun dukungan untuk tindakan yang dilakukan.BAB IV PROSES ADVOKASI Proses advokasi berhubungan erat dengan proses pembuatan kebijakan. belum dan akan dilaksanakan secara teratur dan objektif. kebijakan-kebijakan yang ada. dan semua jalur yang dapat digunakan untuk mendekati orang-orang yang berpengaruh dan pembuat kebijakan.

Secara ringkas tahap advokasi dapat digambarkan dalam bagan di bawah ini. Proses advokasi dapat dijabarkan dalam diagram berikut ini:

Pengorganisasian kelompok advokasi

Analisis

Evaluasi

Penggalangan dana

Strategi

Aksi dan Reaksi

B. STUDI KASUS PROSES ADVOKASI 1. Studi kasus – Indonesia Pada akhir tahun 90-an, di Indonesia penyalahgunaan NAPZA suntik meningkat dengan tajam dan HIV telah menyebar di kalangan IDU. Upaya yang telah dilakukan hanya sedikit berpengaruh untuk mencegah epidemi HIV di kalangan IDU. Pemerintah dan LSM tidak begitu mengetahui konsep pengurangan dampak buruk NAPZA di kalangan IDU. Sehingga muncul kekuatiran di antara pemerhati program HIV/AIDS (terutama di kalangan donor, LSM, dan para dokter yang bekerja untuk terapi ketergantungan NAPZA) bahwa para pejabat dan masyarakat Indonesia akan menolak pelaksanaan program pengurangan dampak buruk. Pada 1999, koalisi beberapa donor dan LSM memutuskan untuk membentuk sebuah kelompok advokasi untuk mendesak penerimaan program tersebut di Indonesia. Pada awal 2000, para donor ini mendukung suatu pelatihan mengenai me tode Rapid Assessment and Response (RAR) yang dikeluarkan oleh World Health Organization, yang melibatkan pelatih dari Indonesia dan pelatih internasional. Pelatihan ini menuntun pelaksanaan penjajakan cepat pada IDU yang berhubungan dengan penyebaran HIV di delapan kota besar. Penjajakan cepat ini dirancang

18

untuk mendapatkan informasi bagi pelaksanaan kegiatan advokasi dan mendapatkan data untuk membantu perencanaan intervensi yang efektif. Kegiatan advokasi yang pertama dilakukan adalah mempresentasikan hasil sementara penjajakan cepat ini di hadapan pejabat pemerintahan dan LSM di masing-masing provinsi di mana penjajakan ini dilaksanakan. Tim penjajakan cepat mendapatkan pelatihan lanjutan dari pelatih Indonesia dan internasional untuk mempresentasika n hasil penjajakan ini kepada kelompok yang lebih luas termasuk para politisi dan media. Hasil akhir penjajakan ini dipresentasikan dalam seminar tingkat provinsi dan nasional, sehingga menyebabkan meningkatnya kepedulian pada isu-isu yang berkaitan dengan HIV di kalangan IDU. Dari proses-proses ini, kelompok advokasi yang lebih khusus dibentuk untuk tingkat nasional di Jakarta dan tingkat provinsi di Denpasar-Bali. Kelompok ini mengidentifikasi pelaksana kunci advokasi, pendukung dan kelompok penentang potensial advokasi, dan mengembangkan tujuan advokasi. Tim inti menggunakan hasil penjajakan cepat ini untuk mempengaruhi individu dan kelompok yang berwenang bahwa HIV di kalangan IDU adalah masalah yang serius yang sedang tumbuh di Indonesia dan mendorong pelaksanaan program pengurangan dampak buruk NAPZA. Hasil penjajakan ini didukung oleh hasil studi lain yang menunjukkan adanya kecenderungan infeksi HIV di kalangan IDU dan narapidana yang sudah mengkuatirkan. Karena upaya-upaya advokasi ini, studi di atas mendapatkan perhatian yang luas dari media. Para donor anggota tim advokasi yang dibentuk pertama kali mendanai lokakarya untuk memusatkan perhatian masyarakat dan politisi pada isu ini, dan tokoh politik kunci seringkali dihubungi untuk membangun dukungan terhadap perubahan kebijakan pemerintah, dan pengenalan atau perluasan program -program percontohan penjangkauan, jarum suntik, dan metadon. Pada tahun 2001, sebuah studi tur diselenggarakan di Sydney, Australia, bagi pejabat senior dari peme rintahan dan LSM untuk mendapatkan pelatihan mengenai advokasi terhadap pengurangan dampak buruk NAPZA dan mengunjungi beberapa lembaga yang berhubungan dengan HIV dan NAPZA, perwakilan Departemen Kesehatan, Hakim Pengadilan Tinggi, para politisi, dan polisi senior. Setelah studi tur tersebut, para peserta sepakat membentuk Harm Reduction Steering Committe – HRSC (sebagian besar terdiri dari perwakilan pemerintah) dan Jaringan Harm Reduction Indonesia (Indonesian Harm Reduction Network - IHRN, diketuai ole h sebuah LSM di Bali). Pada pertengahan tahun 2002, ada beberapa kegiatan advokasi untuk harm reduction yang sangat penting di Indonesia: • • • HRSC melakukan pertemuan secara reguler dan membangun hubungan antara staf sektor kesehatan dan polisi dan tokoh m asyarakat. Sedangkan dukungan kesekretariatan diberikan oleh donor untuk pertemuan dan kegiatan steering committee. IHRN menerima dana untuk melakukan capacity building dan kegiatan jejaringan. Ada enam program yang dimulai dilaksanakan di empat kota untuk pendidikan pencegahan HIV melalui kegiatan penjangkauan dan material pencegahan kepada IDU. Program percontohan untuk pertukaran jarum suntik disiapkan untuk tiga tempat di Jakarta dan dua di Denpasar, Bali. Sementara itu Pemerintah Indonesia setuju untuk

19

• •

mempertimbangkan program pertukaran jarum suntik sebagai kebijakan nasional berdasarkan hasil evaluasi terhadap program percontohan tersebut. Dua proyek percontohan program metadon yang sudah disetujui pemerintah pusat dan provinsi dipersiapkan. Kampanye advokasi untuk harm reduction dimulai dengan memilih target sasaran dan melaksanakan pertemuan nasional untuk mengangkat profil pengurangan dampak buruk NAPZA dan mengembangkan kegiatan advokasi yang spesifik yang ditujukan kepada target sasaran. Target p ertama dalam kampanye ini melibatkan polisi, staf penegak hukum (termasuk hakim, pengacara dan petugas penjara), tokoh agama, dan media massa.

2. Studi Kasus – Negara-negara Eropa Tengah dan Timur International Harm Reduction Development (IHRD), program dari Open Society Institute (OSI) yang berkedudukan di New York, merupakan salah satu penyandang dana untuk program metadon dan perjasun di Eropa Timur dan Tengah serta Asia Tengah sejak pertengahan tahun 90-an. Sayangnya, lebih dari 150 program kecil yang telah dilaksanakan tidak direplikasi oleh pemerintah negara -negara di daerah ini. Pada bulan Juni 2001, IHRD mendirikan Inisiatif Kebijakan regional yang mempromosikan filosofi harm reduction, nilai-nilai kesehatan masyarakat, penghormatan terhadap hak a sasi manusia, dan pelaksana advokasi untuk mengubah kebijakan di daerah ini. Inisiatif Kebijakan ini merupakan bagian integral dari tiga strategi IHRD yaitu dukungan layanan langsung; pelatihan dan capacity building ; kebijakan publik dan advokasi. Kegiatan ini sangat terkait dengan ketiga komponen di atas. Inisiatif Kebijakan membantu pihak-pihak yang terlibat dalam harm reduction dan membuat ikatan yang baru dan kuat dengan aktifis HAM dan masyarakat. Melalui upaya ini, Inisiatif mengangkat harm reduction sebagai hal yang tidak kontroversial dan tidak marjinal lagi.

Ada beberapa contoh dukungan pemerintah terhadap harm reduction di wilayah ini: • Di Polandia, pemerintah pusat memberi dana kepada pekerja penjangkauan yang menjalankan program pertukaran jarum suntik. • Di Bulgaria, program harm reduction dimasukkan ke dalam Program AIDS Nasional • Di Kyrgyzstan dan Polandia, program metadon telah dilaksanakan. Kegiatan Inisiatif Kebijakan yang dilakukan meliputi: • dukungan untuk pembentukan kelompok mandiri bagi pengguna NAPZA dan ODHA; • dukungan terhadap keterlibatan individu yang berpengaruh dalam kegiatan internasional yang didedikasikan bagi kebijakan NAPZA yang progresif, • studi tur bagi polisi dan pejabat penegakan hukum, pelatihan untuk polisi; dukungan untuk jaringan harm reduction ; • advokasi program metadon; • penelitian hukum dan hambatannya terhadap program harm reduction; • publikasi dan distribusi materi harm reduction: • kerjasama aktif dengan program lain seperti OSI, LSM nasional, badan PBB, pe merintah, dan lain -lain. 20

o Kedua. pemerintah lebih memilih mengalokasikan anggaran pada program lain dan mengabaikan pencegahan HIV di kalangan IDU. organisasi keagamaan yang sangat berpengaruh mendukung kritikan terhadap program ini. Organisasi-organisasi yang seharusnya dapat menjadi mitra kerja potensial seringkali tak mempunyai akses ke komputer. Karena reaksi negatif ini. Akan tetapi karena program pelatihan dan percontohan sangat menyita waktu sehingga waktu untuk melaksanakan advokasi sangat terbatas. Program pelatihan dan percontohan yang telah dilaksanakan terancam. kepolisian. Studi Kasus: Kegagalan Advokasi di Negara X Pelaksanaan advokasi tidak selalu berhasil. Beberapa LSM internasional menghimbau Departemen Kesehatan agar LSM tersebut diberi ijin melakukan pelatihan mengenai pendekatan efektif untuk mengatasi masalah ini dan mempersiapkan program pe rcontohan. Ternyata. Hal ini disebabkan karena sedikitnya sumber daya yang tersedia berasal dari pemerintah untuk program tersebut. setelah empat tahun pelaksanaan program. Studi kasus ini akan menjelaskan sebuah negara yang kita sebut sebagai negara X. Namun. Di negara X. internet atau mesin faks. Sehingga pejabat senior pemerintah jarang membicarakan hubungan NAPZA suntik dengan HIV/AIDS. dan lainlain. ternyata hanya sedikit organisasi pemerintah maupun LSM yang pernah bekerja sama secara lintas program dan sektor dalam mengatasi masalah HIV dan ketergantungan NAPZA seperti penegak hukum. Sehingga mitra kerja koalisi kemudian tertarik untuk ikut serta dalam kegiatan ini. Selama lebih dari satu tahun. terutama dalam jangka pendek. Sedangkan 21 . kemunduran telah terjadi dan mitramitra kerja potensial khawatir keterlibatan mereka dalam program tersebut dapat mengancam program penanggulangan HIV/AIDS yang lain. Sehingga dukungan publik terhadap program ini menjadi semakin sedikit. Ada lima faktor yang penting untuk dibahas : o Pertama . Hal ini diyakini karena sebelumnya negara X telah menolak ide ini dan baru diterima setelah beberapa tahun kemudian terbukti efektf. Departemen Kesehatan menyetujui langkah-langkah efektif tersebut menjadi bagian dari Strategi Penanggulangan AIDS. Sedangkan media yang sebelumnya mendukung berbalik melancarkan kritikan. tidak ada dewan koalisi yang dibentuk untuk melakukan advokasi mengenai program ini. Sebenarnya LSM internasional menyadari sejak awal bahwa advokasi sangat dibutuhkan. pernyataan publik yang diterima oleh Departemen Kesehatan berubah menjadi kritikan. pengadilan. Di samping itu tidak dilakukan kampanye advokasi. pelatihan bagi para professional kesehatan secara ekstensif dilaksanakan. Ironisnya. Pada saat itu. Kemudian advokasi kepada pejabat lokal dilakukan secara berhasil dan banyak program percontohan didirikan. kesejahteraan sosial. merupakan suatu kenyataan bahwa HIV menyebar dengan pesat di kalangan IDU. Mitra kerja potensial lainnya tidak yakin pengurangan dampak buruk NAPZA ini akan berhasil dilaksanakan di negara ini. Menurut bukti yang ada program tersebut sebenarnya akan berdampak apabila pemerintah menyediakan dana yang memadai untuk pelaksanaan program dalam skala yang luas. infeksi HIV baru di kalangan IDU masih tinggi.3.

polisi dan organisasi keagamaan percaya bahwa mereka boleh mengkritik pendekatan untuk mengurangi dampak buruk penyalahgunaan NAPZA. Setelah munculnya kritikan ini. publikasi kritikan tersebut dijadikan alat pertahanan organisasi tersebut untuk tak mengubah pendiriannya. Akibat hasil penjajakan awal dan regular lainnya serta sistem monitoring yang lemah. dalam kurun waktu hanya lima tahun selama program ini berjalan. Ternyata berdasarkan penjajakan awal yang dilakukan dalam proyek pelatihan menunjukkann bahwa organisasi keagamaan mempunyai pengaruh yang sedikit dalam masyarakat. namun sumber daya untuk melatih dan mendidik mereka tidak tersedia. terutama dikaitkan dengan partai politik. Comment: kedengerannya lebih kontekstual. Telah terbukti di banyak negara bahwa kemauan politik kepala negara akan mempunyai dampak yang sangat besar dalam merespon epidemi HIV. adanya faktor lain berupa kegagalan untuk mencapai pihak tertinggi dalam pemerintahan. maka para politisi dan pembuat kebijakan akan mendengarkan kritikan-kritikan tersebut. tak ada pendekatan yang diambil hingga sebelum organisasi tersebut menyebarluaskan kritikan. sangat penting melibatkan polisi dalam usaha advokasi dan pendidikan sejak awal karena setiap saat mereka dapat menutup program program yang dimulai oleh petugas kesehatan dan LSM. polisi jarang terlibat dalam pelatihan dan proses awal advokasi kecuali pada tingkat lokal di mana program percontohan dilaksanakan. Kepala Negara X tidak secara terbuka menyetujui pelaksanaan program tersebut. Para professional kesehatan dan Departemen Kesehatan di Negara X berada pada tingkat kepentingan politis yang lebih rendah dari pada pejabat kepolisian dan Departemennya. Pentingnya polisi untuk kelanjutan jangka panjang dapat dimengerti. 22 . o Kelima . Meskipun beberapa upaya advokasi telah dilaksanakan. organisasi keagamaan yang disebutkan di atas tidak dilibatkan dalam diskusi mengenai HIV di kalangan IDU. Namun. o Ketiga. Tanpa pernyataan yang jelas dari kepala negara. Untuk itu. o Keempat.jaringan komunikasi yang dapat digunakan untuk membantu perkembangan kerjasama hanya sedikit. Ketika organisasi keagamaan tersebut mengkritik pendekatan efektif. untuk melakukan advokasi yang berhasil perlu dijangkau seluruh individu dan kelompok dalam masyarakat yang mempunyai pengaruh dalam kebijakan HIV/AIDS dan NAPZA dan perlu dimonitor dan disikapi adanya perubahan politik dari kelompok yang berpengaruh. Secara ringkas. Sebenarnya ada pemahaman akan kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan dari tingkat tertinggi namun tidak ada cara yang efektif yang ditemukan untuk menjangkau kelompok ini. pengaruh organisasi tersebut semakin kuat terhadap masyarakat.

Selain itu kelompok i ni memberikan edukasi bagi pembuat kebijakan terhadap pengurangan dampak buruk NAPZA untuk menanggulangi HIV/AIDS di kalangan IDU. Kelompok advokasi yang dibentuk di tingkat kabupaten atau kota dibentuk untuk mendapatkan dukungan untuk kegiatan yang sangat spesifik.BAB V PEMBENTUKAN KELOMPOK DAN PENDANAAN ADVOKASI A. pada studi kasus dari Indonesia dalam bab sebelumnya. dan sebagainya. tiga. sebuah kelompok advokasi dibentuk terdiri dari LSM-LSM dan penyandang dana program HIV/AIDS. Peran dan kegiatan kelompok koordinasi advokasi ini berbeda-beda sesuai dengan situasi di mana kelompok ini beroperasi dan posisinya dalam kelompok tersebut. koordinasi akan lebih mudah dilakukan apabila kelompok cukup kecil. Misalnya. o bertindak sebagai juru bicara untuk media dan pihak-pihak lain yang ingin berhubungan dengan kelompok ini. memastikan pekerja penjangkauan tidak ditangkap polisi. Tujuan kelompok ini adalah untuk mendapatkan dukungan masyarakat untuk melaksanaan program ini secara terbuka. Kelompok ini mempunyai tujuan khusus yang lebih terfokus terkait dengan situasi di masing-masing provinsi. Sedangkan kelompok advokasi di tingkat provinsi (di Jakarta dan Denpasar) dibentuk secara khusus guna melakukan advokasi untuk pengurangan dampak buruk NAPZA untuk menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU. 23 . Tujuan umum kelompok ini adalah melakukan advokasi agar kelompok IDU mendapat perhatian yang lebih besar dalam penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Peran kelompok ini adalah: o merencanakan dan mengawasi seluruh tugas -tugas advokasi. KELOMPOK KOORDINASI ADVOKASI Langkah pertama dalam advokasi adalah membentuk kelompok koordinasi advokasi. Kelompok nasional ini mempunyai banyak tugas salah satu di antaranya adalah advokasi. sepuluh orang atau lebih. Disamping itu kelompok ini juga berupaya mempengaruhi pejabat-pejabat yang terkait untuk melaksanakan program-program yang efektif dan memastikan sektor pemerintahan dan LSM bekerja sama memfasilitasi pelaksanaan program ini. Kelompok ini bisa terdiri dari dua. o melaksanakan kegiatan-kegiatan advokasi secara khusus. Biasanya.

Keahlian-keahlian yang diperlukan biasanya akan teridentifikasi selama penjajakan dan fase analisis. B. • praktisi pengurangan dampak buruk/risiko NAPZA atau staf kesehatan lain seperti perawat atau staf LSM yang bekerja dengan kelompok-kelompok marginal.Untuk membantu para pembaca mengikuti langkah-langkah advokasi. Fasilitas kesehatan yang tersedia adalah rumah sakit. kelompok keagamaan. dan beberapa bisnis kecil. Sedangkan satu LSM lain menyediakan terapi ketergantungan NAPZA dalam bentuk therapeutic community. Sepuluh tahun sebelumnya hampir tidak ada orang yang menyalahgunakan NAPZA suntik. kelompok perempuan. Para politisi dan masyarakat mendesak polisi agar berhasil menghapuskan permasalahan NAPZA ini. Sebenarnya penyalahgunaan NAPZA suntik merupakan hal yang baru. beberapa LSM yang bekerja di bidang HIV/AIDS dan NAPZA. Sebaiknya kelompok ini dimulai dengan kelom pok kecil saja. politisi lokal. badan narkotika narkotika. dan apabila kemudian berkembang perlu mencari orang-orang dengan keahlian khusus yang diperlukan untuk pelaksanaan advokasi. di kolong jembatan. Sekarang IDU sudah ada di banyak kota dan biasanya berkumpul di berbagai tempat seperti di gudang-gudang kosong. Keanggotaan kelompok koordinasi advokasi di banyak negara adalah sebagai berikut: • dokter. puskesmas. Kota ini miskin dan hanya sedikit IDU yang memiliki pekerjaan tetap. Namun demikian. dan kegiatan-kegiatan spesifik yang akan dilaksanakan. Para dokter dan petugas kesehatan di rumah sakit dan puskesmas yang terdapat di wilayah tersebut beserta para pekerja LSM percaya bahwa HIV di kalangan IDU bukan hanya masalah penyalahguna NAPZA dapat berhenti dari penyalahgunaan NAPZA atau pindah dari wilayah tersebut. atau mantan penyalahguna NAPZA. petugas kesehatan. tokoh masyarakat. • para IDU dan ODHA. sebuah contoh diberikan di bawah ini: Contoh dari Kota Z Kota Z yang berpenduduk 100. dan atau sektor masyarakat lainnya. anggota lain bisa dicari dari anggota kepolisian. pekerja sosial.000 orang mempunyai banyak IDU. dan di rumah-rumah para IDU itu sendiri. organisasi internasional. Tingkat kualitas setiap anggota tidak perlu sama karena setiap anggota dengan latar belakang yang berbeda dapat berpartisipasi aktif. paling tidak anggota tersebut: • Mampu mema hami dan menginterpretasikan literatur ilmiah 24 . jajaran kepolisian. keluarga IDU. • Wakil dari media Sebagai tambahan. Banyak IDU mempunyai pekerjaan serabutan dan melakukan tindakan kriminal. KEANGGOTAAN Keanggotaan kelompok koordinasi advokasi tergantung pada masalah sosial budaya di suatu negara. kalangan bisnis. . pengacara. Satu LSM mempromosikan kesadaran masyarakat umum terhadap HIV/AIDS kepada semua penduduk kota. Polisi merespon dengan cara menangkap para penyalahguna NAPZA atau memaksa I DU pergi dari kota tersebut.

Karena banyak orang hanya memiliki sedikit atau sama sekali tidak memiliki pengetahuan dalam bidang ini. seorang direktur sebuah LSM yang melaksanakan program peningkatan kesadaran umum terhadap HIV di wilayah tersebut. Setelah menghubungi beberapa rekan mereka yang bekerja di beberapa kantor di sekitar wilayah tersebut.• • • • Memiliki pengalaman yang berkaitan dengan penyalahgunaan NAPZA dan/atau infeksi HIV baik pribadi. teman. atau selebritis. pemimpin partai politik. Mungkin yang menjadi pelaksana advokasi adalah orang-orang yang tertarik pada isu mengenai HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntikan namun kurang memiliki kualifikasi formal seperti gelar atau jabatan. Mampu dan siap bertindak sebagai jurubicara untuk media Kepemimpinan merupakan suatu hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam kelompok koordinasi advokasi. mantan kepala kepolisian. Sehingga melalui hubungannya dengan para politisi. Di salah satu negara di Asia. dan dukungan di kalangan IDU. pembuat kebijakan. pengobatan. Sehingga dapat menimbulkan kesulitan kelompok ini untuk akses ke media. Bila memungkinkan salah satu anggota dari kelompok koordinasi advokasi adalah seorang tokoh masyarakat yang mengetahui banyak tentang kesehatan masyarakat. dan pendekatan efektif untuk menanggulangi HIV/AIDS di kalangan IDU. kebutuhan terhadap penanggulangan. seorang dokter perempuan yang bekerja di puskesmas dan Pak E. atau anggota keluarga Memahami pembuatan kebijakan dalam masalah sosial budaya setempat. Pak E menjelaskan bahwa kelompok koordinasi advokasi dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini karena terdapat banyak hambatan untuk memperkenalkan pengurangan dampak buruk NAPZA. Contoh Kota Z Di sebuah wilayah di kota Z. Mengetahui hal tersebut Dr A dan Pak E memutuskan untuk membentuk suatu kelompok advokasi untuk meningkatkan fokus wilayah tersebut pada kegiatan pencegahan HIV. seorang putri Presiden juga dapat menjadi seorang pelaksana advokasi untuk pendekatan-pendekatan efektif untuk mencegah HIV/AIDS di kalangan IDU. Kadang-kadang perlu memb erikan edukasi kepada anggota kelompok koordinasi advokasi yang potensial mengenai pendekatan-pengurangan dampak buruk NAPZA ini. politisi. Pada pertemuan tersebut. Dr A mempresentasikan bebera pa temuan penelitian internasional mengenai cara -cara HIV menyebar di kalangan IDU. mereka mengadakan pertemuan untuk membahas isu HIV di kalangan IDU. 25 . dan pihak lainnya. terdapat dua orang yang sedang membaca jurnal internasional mengenai penyebaran HIV yang cepat di kalangan IDU yaitu Dr A. Mampu mengumpulkan dan mempertanggung-jawabkan dana. Hal ini karena salah seorang anggota kelompok yang mendirikan rumah singgah tersebut adalah putri Menteri Kesehatan dan cucu Perdana Menteri negara tersebut. walaupun terdapat tbanyak antangan politik tapi sebuah LSM mampu memulai program rumah singgah ( drop-in center) bagi IDU. perawatan.

C. kelompok tersebut telah memutuskan untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai NAPZA dan HIV di wilayah tersebut melalui penjajakan. sebuah koalisi mulai terbentu. Awalnya. LSM -LSM. Dalam menetapkan tujuan umum. pendek dan sederhana Tujuan tersebut akan menarik dukungan banyak orang yang peduli sehingga mau melakukan aksi Tujuan tersebut akan membantu membangun aliansidengan sektor-sektor lain. kelompok ini perlu menjajaki apakah: • • • • Tujuan tersebut mudah dimengerti. Para anggota kelompok perlu membaca dokumen-dokumen mengenai pengurangan dampak buruk NAPZA untuk menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU dan laporan atau penelitian mengenai HIV/AIDS di kalangan IDU. PENETAPAN TUJUAN Langkah pertama dari kelomp ok di atas adalah menentukan visi atau tujuan umum. 26 . dua anggota yaitu seorang ibu yang mempunyai anak penyalahguna NAPZA dan seorang jurnalis suratkabar kota setempat memilih untuk bergabung d engan kelompok advokasi tersebut. dan orang-orang yang berpengaruh untuk membentuk sebuah koalisi Kelompok koordinasi advokasi akan mampu menggalang dana atau sumber-sumber lain untuk mendukung kegiatan kelompok ini dalam mencapai tujuannya Contoh dari Kota Z Kelompok advokasi di atas mengadopsi tujuan berikut ini: o meningkatkan manfaat pengurangan dampak buruk pada penyalahgunaan NAPZA suntik di Kota Z o mencegah penularan HIV di kalangan IDU o meningkatkan kualitas ODHA dan OHIDA. setelah beberapa waktu. Akhirnya. Kelompok advokasi tersebut meminta Dr A untuk menjadi juru bicara untuk memimpin pertemuan-pertemuan kelompok tersebut. Dengan cara ini. kelompok kecil ini bekerja hanya untuk memberikan informasi kepada orang-orang dan organisasi-organisasi yang peduli di wilayah tersebut mengenai adanya kelompok ini dan kebutuhan untuk bekerja pada masalah HIV kalangan IDU. Dr A dan Pak E mendesak anggota lainnya agar kelompok koordinasi advokasi dibentuk. Untuk menentukan hal-hal yang spesifik dari pendekatan efektif mana yang paling diperlukan di Kota Z.Beberapa anggota kelompok berpendapat bahwa penempatan fokus pada HIV di kalangan IDU adalah hal yang keliru karena masih ada banyak masalah lain di wilayah tersebut.

akan semakin besar kemungkinan advokasi tersebut berhasil. • Laksanakan hubungan komunikasi formal dan informal di antara anggota koalisi seperti laporan. kelompok tersebut perlu mendiskusikannya dengan orang yang lebih banyak. pelatihan bersama. • Perlu pengakuan dan penghargaan peran para pembuat kebijakan dan mitra koalisi. sektor pemerintahan. dan memberikan umpan balik yang positif kepada para anggota koalisi. dan kegiatan advokasi. Jika seseorang atau sebuah organisasi setuju untuk membantu kelom pok advokasi. Keberhasilan yang dicapai pada tahap awal ini akan menciptakan kepercayaan dan mempererat kebersamaan koalisi. para profesional. pertemuan. BNN. dan kegiatan. • Perlu menentukan tujuan khusus yang relatif mudah dilaksanakan pada awal program. • Berusaha sedapat mungkin untuk membentuk konsensus terhadap keputusan koalisi untuk menimbulkan rasa memiliki terhadap tujuan. kelompok sasaran dan cara-cara melakukan kegiatan. 27 . organisasi internasional. sumberdaya yang tersedia.D. • Perlu melakukan komunikasi yang erat dengan anggota koalisi secara pribadi untuk mengenal anggota-anggota lain dan pandangannya (yang mungkin sangat berbeda satu sama lain). dan bila memungkinkan ODHA dan IDU. ia menjadi bagian dari kelompok sasaran advokasi. Jika ia tidak tertarik atau menentang kegiatan kelompok ini. mereka mungkin menimbulkan masalah dan perselisihan di antara anggota koalisi. Mengumpulkan anggota kelompok advokasi merupakan langkah dalam pembentukan koalisi. Setiap interaksi dengan orang atau organisasi baru merupakan langkah maju dalam pembangunan koalisi dan analisis. Makin kuat koalisi. • Manfaatkan koalisi untuk berbagi informasi dan menemukan badan penyandang dana yang potensial. dan kemungkinan untuk berpartisipasi dalam pelatihan. • Libatkan anggota koalisi yang mempunyai pengaruh kuat dalam semua keputusan. tujuan khusus. sumber informasi dan pendidikan. makan atau minum bersama. orang tersebut telah menjadi bagian dari koalisi yang bekerja untuk advokasi. keluarga ODHA dan IDU – untuk meningkatkan dampak koalisi pada pembuatan kebijakan. Pada saat kelompok memulai untuk bertemu dan melakukan analisis terhadap tujuan umum dan tujuan khusus. apablia mereka tidak dilibatkan. Dirikan sebuah sarana (seperti newsletter atau pertemuan-pertemuan reguler) agar para anggota koalisi tetap terus mendapatkan informasi mengenai kegiatan-kegiatan dan hasil-hasilnya. • Upayakan agar pertemuan koalisi berlangsung singkat dan tetap. Beberapa saran untuk pembentukan koalisi: • Perlu melibatkan kelompok dari berbagai jenis sebagai anggota koalisi – seperti LSM. PEMBENTUKAN KOALISI Koalisi d an jejaringan kerja adalah dasar dari kegiatan advokasi. Pembentukan dan pemeliharaan koalisi memerlukan waktu dan tenaga karena perlu menciptakan hubungan kepercayaan yang baik dengan orang lain. penelitian yang relevan. • Membangun hubungan dan jaringan layanan untuk berbagi informasi secara reguler.

Kadang-kadang kelompok koordinasi advokasi dan koalisi berkembang menjadi jaringan melakukan kegiatan advokasi. Artinya ODHA. Beberapa saran untuk melibatkan ODHA. namun pertemuan tersebut mungkin mempunyai dampak yang besar untuk layanan bagi ODHA dan IDU. dan atau mantan IDU yang diplomatis.Beberapa metode tertentu perlu digunakan apabila melibatkan ODHA. BNN atau badan keamanan masyarakat yang mungkin hadir dalam pertemuan memperkenalkan diri. dukungan. IDU. kelompok advokasi. MEMBUAT JARINGAN UNTUK KEGIATAN ADVOKASI Di luar pembentukan koalisi atau sebagai bagian dari pembangunan koalisi yang lebih besar terdapat tugas m embuat jaringan individu dan organisasi yang tertarik pada pendekatan efektif untuk HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntikan. dan pragmatis. Identifikasi para ODHA. Jaringan seperti FORUM dari kilink terapi ketergantungan NAPZA di Asia Selatan dan jaringan pengurangan dampak buruk (harm reduction ) regional telah memainkan peranan penting dalam memulai program pencegahan HIV yang efektif di kalangan IDU dan membantu berbagai program untuk bisa belajar satu sama lain. Jaringan memungkinkan organisasi. Sebagai contoh. Jaringan seperti terapi ketergantungan NAPZA atau jaringan pengurangan dampak buruk NAPZA biasanya mempunyai fokus yang lebih luas daripada advokasi untuk pendekatanpendekatan efektif. IDU. IDU. Hal ini memberikan kesempatan kepada para pendatang baru dalam advokasi untuk belajar dari kelompok lain yang lebih berpengalaman. • • • E. IDU dan atau mantan IDU adalah: • Informasikan sebelumnya kepada para anggota koalisi yang lain mengenai kebutuhan akan “suara” dari kelompok terpapa masalah. Pertama. harus diingat bahwa prinsip dari advokasi ini adalah untuk menghindari peningkatan bahaya bagi IDU dan ODHA. dan atau mantan IDU. Jaringan regional. untu k bertindak sebagai juru bicara dan membantu kelompok advokasi mengidentifikasi dan mencalonkan para juru bicara Tawarkan pelatihan. dan atau mantan IDU. dan informasi antar kota dan negara. IDU dan atau mantan IDU dalam koalisi. baik dalam koalisi maupun dalam pembuatan rencana dan program advokasi. dan individu yang tertarik untuk bertukar pendapat. bagi IDU duduk dalam pertemuan yang memakan w aktu lama merupakan hal yang sulit. dan atau mantan IDU harus mengerti risiko yang dapat timbul akibat berbicara di muka umum atau bahkan dalam pertemuan anggota koalisi mengenai penyalahgunaan NAPZA atau status HIV. sangat berguna saat memulai pelaksanaan advokasi karena jaringan ini menyediakan hubungan dengan kelompok-kelompok lain di wilayah tersebut yang telah beroperasi sebelumnya. khususnya. Pastikan juga para ODHA. Namun advokasi tetap merupakan bagian inti dari tugas koalisi. Pastikan petugas kepolisian. dan nasehat bagi ODHA. IDU. Perlu menimbulkan suatu pendekatan simpatik dari anggota koalisi yang lain untuk menarik respon-respon yang mendukung dari para ODHA. dan atau mantan IDU mengetahui ada petugas semacam itu menghadiri pertemuan. IDU. Pada saat kelompok 28 . fasih berbicara. pengalaman.

Universitas Nasional Rosario. lesbian. Dalam membangun dukungan untuk pertukaran jarum suntik. Konferensi ini diikuti dengan pertemuan-pertemuan AIDS dan NAPZA di Buenos Aires dan Konferensi Harm Reduction Argentina yang pertama di Rosario. Konferensi ini merupakan faktor yang penting dalam menarik perhatian pemerintah. Kementrian Kesehatan mendanai beberapa program dan kampanye komunikasi yang menyangkut pendekatan ini. sebuah program terapi substitusi percontohan dimulai di Rosario. Program di atas sebenarnya telah dimulai di Pusat Penelitian Lanjutan mengenai Penyalahgunaan NAPZA dan AIDS. yang mengumumkan dan mendiskusikan hasil-hasil konferensi internasional yang kemudian menimbulkan perhatian media lebih lanjut. penjaja seks. ornop. Upaya-upaya ini diperkuat setelah Konferensi Internasional mengenai Pengurangan Bahaya yang Berhubungan dengan NAPZA ke-9 dilaksanakan di Sao Paulo (Brazil) pada tahun 1998. Program ini menyebarkan alat-alat untuk penyucihamaan peralatan suntik dan melakukan lokakarya mengenai pengurangan dampak buruk NAPZA untuk HIV/AIDS di kalangan IDU di rumah sakit jiwa di kota tersebut. dan organisasi-organisasi lokal yang dilakukan dengan sangat hati-hati. dan media dan mempromosikan penelitian di Amerika Latin mengenai isu-isu yang berhubungan dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntikan. STUDI KASUS: PEMBANGUNAN KOALISI DI ARGENTINA Ornop Intercambios di Buenos Aires mendirikan program pencegahan HIV di kalangan IDU pada tahun 1998 melalui pembangunan dukungan masyarakat dengan penyalahguna NAPZA. dan universitas ini sangat penting di Argentina dengan peran kunci dari Jaringan Harm Reduction Amerika Latin (RELARD) yang memberikan peluang bagi organisasi-organisasi nasional untuk belajar dari program di negara lain di wilayah mereka.advokasi memulai kegiatannya dan mendapatkan pengalaman. terutama yang bergerak di pencegahan HIV di kalangan gay. ODHA. Melalui advokasi yang terus menerus program ini mendapatkan dukungan resmi dari gubernur wilayah tersebut. Argentina pada tahun 1994. 29 . penduduk sekitar. ornop ini berhubungan dengan organisasi sosial seperti Gerakan Buruh Menganggur yang mencoba merespon kebutuhankebutuhan orang yang menganggur di wilayah lokal (dan banyak IDU yang menganggur). Ornop ini mempunyai kebiasaan bekerja dengan jaringan sosial lain. Asosiasi Harm Reduction Argentina (ARDA) dibentuk dan. Pada tahun 1999. masyarakat. Pada tahun 1998. yang merekomendasikan agar pendekatan efektif dilaksanakan di seluru h Argentina. Konferensi dan hubungan antara masyarakat sipil. Pada tahun 2000 dibentuk pula Jaringan Harm Reduction Argentina (REDARD) dan Organisasi Penyalahguna NAPZA Argentina (RADDUD). dan penyalahguna NAPZA. Sebagai hasil dari gerakan dan upaya advokasi oleh koalisi yang terus berkembang tersebut. Dukungan badan internasional seperti UNAIDS untuk pendekatan-pendekatan ini juga sangat penting dalam argumentasi-argumentasi koalisi dengan para pejabat pemerintah. Dukungan dari berbagai organisasi dan gerakan masyarakat ini memudahkan ornop ini dalam menghadapi perlawanan dari pemerintah pusat terhadap harm reduction. jaringan juga berguna sebagai media untuk berbagi cerita mengenai keberhasilan dan kegagalan. Badan Pengawasan NAPZA Nasional SEDRONAR mengeluarkan sebuah resolusi pada bulan Agustus 2000.

mereka perlu menyesuaikan pelaksanaan advokasi ini dengan pekerjaan mereka lainnya. Advokasi akan berjalan lebih cepat dan efektif apabila ditunjang dari segi pendanaan. sekalipun di negara yang pelaksanaan advokasinya berhasil. PENGGALIAN DANA UNTUK KEGIATAN ADVOKASI Penggalian dana adalah langkah yang penting dan sering dilupakan dalam proses advokasi. Sebagai contoh. Keuntungan dari penggalian dana untuk advokasi adalah meskipun dana yang didapat hanya sedikit. Hingga akhir tahun 1990-an. konferensi dan program percontohan memerlukan biaya yang lebih besar. Penggalian dana untuk kegiatan-kegiatan advokasi sama dengan penggalian dana untuk programprogram pencegahan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Kelompok advokasi hendaknya memastikan bahwa dana bisa diperoleh dari lebih dari satu donatur. dana untuk kegiatan advokasi untuk pendekatan efektif pada HIV/AIDS di kalangan IDU seringkali sulit diperoleh. Penelitian. Para duta besar seringkali mau menyediakan dana yang tak terlalu besar misalnya sebesar US$ 2000. namun bermanfaat besar karena biaya advokasi relatif sedikit. Meskipun ada kemungkinan beberapa kegiatan advokasi hanya memerlukan biaya sedikit. Perbedaan lain antara penggalian dana untuk advokasi dan program jenis lain adalah sumber pendanaan yang berbeda. Jika tidak diperoleh dana untuk kegiatan-kegiatan tersebut. penjajakan cepat. walaupun semua anggota koordinasi advokasi tidak perlu dibayar untuk melakukan advokasi pendekatan efektif untuk masalah HIV/AIDS di kalangan IDU. Untuk beberapa kasus tertentu hal ini memungkinkan. Buku panduan ini diharapkan akan bermanfaat untuk mendapat perhatian dari para penyandang dana bahwa advokasi adalah investasi yang bermanfaat. kenyataannya banyak orang yang perlu dibayar. Sehingga proposal untuk dana yang tidak besar dapat dikirim ke sejumlah penyandang dana yang potensial selama proses advokasi. Selain itu.F. Namun. menghadiri pertemuan-pertemuan masyarakat. setidaknya ada pembayaran kepada paling tidak satu anggota dari kelompok tersebut. sumber dana yang potensial yang tidak terlalu besar seperti ini adalah kedutaan negara berkembang. Di negara -negara berkembang dan transisi. Akan tetapi untuk mendapatkan dana untuk advokasi berskala besar masih sangat jarang seperti di Indonesia yang dijabarkan dalam bab sebelumnya. banyak kegiatan memerlukan dokumen-dokumen untuk para politisi dan media. Hal ini diperlukan karena kelompok perlu memastikan bahwa kelompok ini mampu melakukan advokasi pada berbagai isu yang berhubungan dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA. atau menggunakan internet untuk mencari informasi yang relevan yang memerlukan pembiayaan. melakukan hubungan komunikasi per telepon. Selain itu advokasi dapat menjadi penting untuk keberlangsungan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. Namun masalah ini telah teratasi dengan semakin banyaknya bukti bahwa advokasi dapat mempercepat proses pelaksanaan pendekatan efektif. para anggota akan mengeluarkan uangnya sendiri atau organisasi akan menggunakan dana yang dialokasikan untuk kegiatan lain menjadi dana untuk kegiatan di atas. Beberapa penyandang dana dengan alasan politik atau 30 .

Pola ini sebaiknya menggunakan argumentasi advokasi yang serupa dengan yang digunakan untuk para profesional kesehatan. Kemudian kelompok tersebut mulai mengadakan pembicaraan dengan penyandang dana utama program-program HIV/AIDS mengenai apakah kemungkinan mendapatkan dana untuk pelaksanaan proyek advokasi di wilayah tersebut. Jika mungkin. Demikian juga dengan penggalian dana untuk program-program lain. Para anggota kelompok tersebut menyumbangkan waktunya dalam menghadiri pertemuan-pertemuan kelompok itu dan memulai kegiatan-kegiatan dalam dua bab berikutnya. Contoh Kota Z Kelompok koordinasi advokasi di kota Z memperoleh dana US$ 1000 untuk melaksanakan penumpulan dana. sangat penting mengetahui penyandang dana mana tertarik pada program HIV/AIDS atau penyalahgunaan NAPZA. p enggalian dana bisa dilakukan dengan mencantumkan daftar kegiatankegiatan yang dapat dilakukan: • Menyelenggarakan acara pengumpulan dana seperti pesta. Tim penasihat hendaknya menyusun pola permohonan dukungan dana sehingga kelompok dapat merespon pendanaan yang tersedia dengan cepat. dan pelaporan penggunaan dana. kelompok advokasi sebaiknya mengembangkan hubungan dengan tokoh kunci dari organisasi penyandang dana sehingga argumentasi ini dapat disampaikan secara personal dan informal. meskipun argumentasi HAM dan ekonomi mungkin juga bermanfaat. konser dan sebagainya • Minta iuran keanggotaan dari para anggota koalisi • Cari sumbangan dari orang -orang kaya • Cari donasi dari perusahaan • Jual barang -barang seperti T-shirt dan lain-lain • Lelang atau adakan undian untuk barang-barang atau jasa yang disumbangkan • Jual ruang iklan pada surat kabar Perlu diperiksa isu-isu legal mengenai pengumpulan. disertai dengan permohonan pendanaan. Sebagai tambahan. Hal ini berbeda anata satu negara dengan negara lain.alasan lain mungkin tidak ingin kelompok ini memusatkan perhatian pada isu tertentu seperti pertukaran jarum suntik sehingga perlu untuk memperoleh dana dari berbagai sumber lain. 31 . pengeluaran. malam pertunjukan film.

informasi mengenai layanan yang tersedia. tokoh agama. dan sebagainya) ? Mengidentifikasi tokoh kunci (penyalahguna NAPZA atau IDU. perawat. dengan cara penjajakan dan respon cepat yang dikeluarkan WHO atau cara penelitian lain bisa digunakan. Penilaian masalah atau penjajakan mungkin dapat dilaksanakan oleh para anggota kelompok koordinasi advokasi. pendapatan. tergantung pada pengalaman. keahlian. pengacara. Hukum apa yang relevan untuk memulai atau memperluas program-program yang efektif? Apa pandangan kepolisian. usia. kesehatan dan kesejahteraan sosial. ODHA. Informasi ini harus dibuat sebagai laporan dalam berbagai format. dan hakim terhadap IDU dan HIV/AIDS? • Masalah sosial dan budaya. dan lain-lain). jenis kelamin. dan para keluarga IDU terhadap program pengurangan dampak buruk ini? • Masalah kesehatan dan kesejahteraan sosial . • Penelitian-penelitian mengenai perilaku berisiko HIV di kalangan IDU. Apa pandangan pemerintah. Faktor-faktor ini termasuk: • Masalah hukum dan penegakan hukum. gambaran situasi HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntik di negara tersebut akan muncul. kondisi kehidupan IDU. 32 . Alternatif lain. dan pekerja sosial? • Kemungkinan sumber dana Dari proses ini. Satu versi hendaknya berisi ringkasan dari semua informasi yang dikumpulkan. para profesional kesehatan dan kesejahteraan sosial. dan pengetahuan yang dimiliki mengenai situasi HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA di negara tersebut. di bawah tema seperti: • “prevalensi HIV dan hepatitis”. organisasi non-pemerintah atau LSM. masyarakat. dan sebagainya) untuk mendapatkan informasi di atas dan mendapatkan informasi penanganan IDU oleh berbagai instansi kepolisian. ? Menjajaki faktor -faktor situasional yang mungkin membantu atau menghambat pembentukan dan perluasan program-program yang efektif. BNN. pendidikan. polisi. Pelaksananaan penilaian madalah atau penjajakan meliputi tugas-tugas berikut ini: ? Mengumpulkan data dan infornasi tertulis mengenai: • Karakteristik IDU (jumlah.BAB VI ANALISIS A. latar belakang etnis. PENILAIAN MASALAH Langkah berikutnya adalah menentukan parameter masalah yang akan dihadapi dan menentukan tujuan umum dan tujuan khusus advokasi. Apa pandangan para dokter. • Laporan organisasi-organisasi pemberi layanan (jumlah dan tipe klien terutama yang IDU. prevalensi HIV dan hepatitis.

• Sebagian besa r IDU yang diwawancarai mengatakan bahwa mereka ingin berhenti menggunakan NAPZA. • “kondisi-kondisi hidup/penghidupan”. • Para IDU dapat membeli jarum suntik dari dua apotik di daerah itu • Terapi ketergantungan NAPZA (tanpa substitusi NAPZA) tersedia di sebuah LSM dan rumah sakit.• “perilaku berisiko HIV”. tidak merasa takut terhadap AIDS. • Empat tempat tidur tersedia di rumah sakit sedangkan di LSM tersedia 20 tempat tidur. • 80% berbagi jarum suntik dengan teman-teman mereka secara rutin • 20% telah berbagi peralatan suntik dengan orang asing pada minggu sebelumnya. 33 . Versi kedua hendaknya dibuat dengan penekanan pada butir-butir yang paling penting yang berhubungan dengan faktor-faktor situasional yang membantu atau menghambat program. • Kebanyakan IDU takut membeli peralatan suntik di apotik (karena polisi berjaga di sekitar apotik tersebut dan menangkap mereka saat mereka keluar dari apotik). anggota koalisi serta kepada mereka yang tertarik pada laporan yang lengkap. • Para IDU memahami bahwa masyarakat menginginkan mereka berhenti menggunakan NAPZA atau keluar dari wilayah tersebut namun mereka merasa tidak mampu menghentikan penyalahgunaan NAPZA dan wilayah tersebut adalah rumah mereka karena mereka tidak mempunyai tempat lain untuk tinggal. pro ses pelaksanaan memakan waktu berbulan-bulan karena universitas dan staf ornop/LSM menyesuaikan kegiatan penjajakan dengan kegiatan-kegiatan mereka yang lain. Faktor-faktor ini hendaknya disusun berdasarkan urutan prioritas. tapi gratis di rumah sakit (untuk 12 hari detoksifikasi). Contoh dari Kota Z Kelompok advokasi meminta para peneliti dari sebuah universitas untuk bekerja dengan staf dari beberapa ornop/LSM melakukan penilaiaian masalah dengan cara penjajakan cepat HIV/AIDS dan situasi IDU di wilayah tersebut. Laporan ini hendaknya digunakan untuk proses pembuatan tujuan -tujuan khusus di bawah ini. Karena kelompok ini tidak mempunyai dana untuk melakukan penjajakan ini. • kurang dari 10% IDU secara teratur menggunakan kondom saat berhubungan seks. • dan sebagainya. Kegiatan ini dapat selesai lebih cepat apabila pendanaan memadai. Laporan ini hendaknya diberikan kepada seluruh anggota kelompok koord inasi advokasi.. dan jarang membeli jarum suntik baru karena mereka lebih suka menggunakan uangnya untuk membeli NAPZA. • Biaya terapi ketergantungan NAPZA di LSM sama besarnya dengan tiga bulan gaji (untuk enam bulan dalam therapeutic community). • Mereka jarang atau tidak pernah pergi ke rumah sakit atau puskesmas karena para dokter atau perawat d apat mengetahui bahwa mereka penyalahguna NAPZA. Penjajakan yang dilakukan di wilayah tersebut telah menemukan adanya kurang lebih 1000 IDU: • 60% dari mereka adalah laki-laki. telah mendengar mengenai AIDS.

karena layanan-layanan ini tidak tersedia di wilayah tersebut. Para IDU tidak kuatir bahwa mereka bisa terkena HIV sehingga kecil kemungkinan mereka mengurangi perilaku berisiko menularkan atau ditulari HIV. Hal ini mengarah pada peningkatan penularan HIV di kalangan IDU. 34 . dan penyebaran HIV di kalangan IDU. Perumusan masalah dapat menjelaskan parameter umum dari suatu masalah dengan sederhana. Pernyataan isu berfokus pada penyebab-penyebab masalah dan mengarah pada pencarian penyelesaian masalah. Para politisi. Beberapa contoh dari Kota Z: • • • • • Para IDU seringkali berbagi jarum suntik. Sebuah contoh dari Kota Z: ? Para IDU sering berbagi jarum suntik karena mereka: • Takut ditangkap dan takut membeli peralatan suntik baru dari apotik • Tidak cukup mendapat pendidikan mengenai HIV/AIDS serta penyebaran dan pencegahannya • Tidak dapat mengakses terapi ketergantungan NAPZA • Tidak dapat mengakses layanan -layanan yang sesuai yang mungkin dapat merespon kebutuhan kesehatan dan kebutuhan lainnya. Para IDU jarang menggunakan kondom saat berhubungan seks. Terapi ketergantungan NAPZA tidak dapat diakses oleh sebagian besar IDU sehingga para IDU mendapatkan kesulitan dalam mengurangi atau menghentikan penyuntikan dan penyalahgunaan NAPZA. sehingga kecil kemungkinannya bahwa kelompok -kelompok ini akan memastikan penerapan pendekatanpengurangan dampak buruk NAPZA. dan polisi mengetahui sedikit informasi mengenai penyalahgunaan NAPZA. Pernyataan-pernyataan ini akan diperlukan untuk menyusun tujuan khusus kelompok advokasi tersebut. masyarakat. Hal ini mengarah pada peningkatan penularan HIV di kalangan IDU dan dari IDU ke pasangan seks mereka.Butir-butir di atas bermanfaat untuk membuat rumusan-rumusan masalah dan isu berdasarkan penjajakan yang dilakukan. IDU.

Tujuan Umum adalah gambaran um um mengenai peristiwa yang diinginkan suatu kelompok pada akhir sebuah pelaksanaan advokasi. politisi. • • 35 . Beberapa tujuan khusus yang muncul dari penjajakan yang dilakukan di Kota Z: Dalam 12 bulan. Tujuan khusus yang bersifat SMART dibuat dengan mempertimbangkan langkah-langkah yang diperlukan. TUJUAN KHUSUS YANG BERSIFAT SMART Seringkali terjadi kesalahpahaman perbedaan antara tujuan umum (goal ). dan kegiatan (activities). • Meningkatkan edukasi: para IDU perlu dihubungi oleh seseorang yang dipercayai dan diberi informasi mengenai penyebaran dan pencegahan HIV. Keinginan ini mungkin sulit dicapai namun akan membantu semua pihak yang bekerja pada proyek yang sedang dilaksanakan untuk tetap terfokus dan bekerja bersama -sama dengan tujuan yang menyeluruh. dan tokoh masyarakat) perlu banyak mempelajari kebutuhan pengurangan dampak buruk NAPZA di wilayah tersebut. akan sulit diukur. tujuan khusus (objective ) hanya merupakan tujuan umum (goal ). Kegiatan adalah pekerjaan yang dilakuka n untuk mencapai setiap tujuan khusus. Meningkatkan akses bagi para IDU untuk mendapatkan peralatan suntik baru dengan cara meningkatkan akses IDU ke apotik atau memulai program jarum suntik steril. Tujuan khusus merupakan hasil kegiatan kelompok advokasi dan bersifat SMART sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini. Tanpa sifat-sifat SMART. Hal utama mengena i tujuan khusus adalah kelompok koordinasi advokasi harus mampu mengukur apakah kelompok tersebut mampu mencapai tujuan khusus. para IDU harus didorong untuk mengurangi perilaku berisiko terhadap HIV. yaitu: Specific (spesifik): Tujuan harus menyebutkan secara jelas apa yang ingin dicapai oleh program Measurable (dapat diukur): Tujuan harus dapat diukur dengan mudah tanpa harus memakai sumber daya yang besar untuk penelitian dan evaluasi Achievable (dapat dicapai): Tujuan harus dapat dicapai dengan sumber-sumber (keuangan. Meningkatkan akses bagi para IDU ke terapi ketergantungan NAPZA yang terjangkau secara ekonomi (baik detoksifikasi maupun therapeutic community) dan meningkatkan pilihan-pilihan terapi (termasuk terapi substitusi NAPZA). dan lainnya) yang tersedia Relevant (relevan): Tujuan harus berguna untuk keseluruhan proses pencapaian tujuan. sumber daya manusia. tujuan khusus (objectives). Time -constrained (mempunyai batasan waktu): Tujuan harus memiliki batas waktu pencapaiana.B. melalui upaya:. Dokter dan petugas kesehatan perlu mengetahui mengenai penyalahgunaan NAPZA dan HIV/AIDS. kalau tidak. Tujuan Khusus adalah hal-hal spesifik yang diharapkan dari suatu pelaksanaan advokasi. dan kelompokkelompok lain di wilayah tersebut (seperti polisi. Kegiatan dirancang secara spesifik untuk membantu anggota kelompok menuju pencapaian tujuan khusus.

Pencapaian tujuan memang sulit dicapai. tujuan khusus mungkin harus diganti untuk memasukkan pengumpulan informasi lebih lanjut).• Meningkatkan akses bagi para IDU. Dalam menetapkan tujuan khusus. Namun pengalaman para pelaksana advokasi pada isu lain seperti perawatan dan pengobatan bagi ODHA menunjukkan bahwa advokasi berhasil dilakukan pada berbagai masalah. sistim SMART harus digunakan paling tidak untuk menuntun pengembangan tujuan khusus advokasi. ke layanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas. kelompok advokasi harus menilaia hal-hal berikut: • • • • • • • Tujuan khusus mudah dimengerti Adanya perbaikan atau perubahan situasi yang akan dicapai dengan pelaksanaan tujuan tersebut Tujuan khusus tersebut dapat dicapai. Namun demikian. 36 . terutama mereka yang mengidap HIV. walaupun mendapat tantangan Tujuan khusus ini didukung oleh sejumlah orang sehingga dapat dicapai Pendanaan dapat dikumpulkan untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan khusus tersebut Pembuat keputusan yang berhubungan dengan tujuan khusus ini dapat diidentifikasi dengan jelas Aliansi dibentuk untuk membantu mencapai tujuan khusus tersebut. Kelompok koordinasi advokasi harus secara seksama mempertimbangkan isu mengenai tujuan khusus yang dapat dicapai: • • • Apakah isu ini sangat sensitif sehingga para pembuat keputusan tidak dapat didekati secara langsung? Apakah sudah ada orang atau koalisi yang telah mencoba melakukan advokasi isu ini? Pelajaran apa yang dapat diambil dari pengalaman mereka? Apakah informasi yang tersedia cukup untuk mempengaruhi para pembuat kebijakan? Jika tidak. sehingga penjajakan yang kedua setelah 12 bulan akan dapat mengukur apakah perubahan-perubahan yang dicari oleh tujuan khusus ini telah terjadi). (Catatan: semua tujuan khusus ini dapat diukur karena penjajakan telah dilaksanakan sebelumnya. tujuan khusus yang bersifat SMART dapat menimbulkan kesulitan. Kelompok koordinasi advokasi harus membuat draft prioritas tujuan khusus. Untuk advokasi. Tanpa adanya gerakan sosial dan kemauan politik. para pelaksana advokasi di beberapa negara dapat merasakan bahwa kegiatan advokasi yang dilakukan kurang memungkinkan untuk berhasil. Hal ini disebabkan karena kesulitan dalam menentukan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan khusus dan melakukan pengukuran capaian dengan tidak mengabaikan sejumlah informasi penting mengenai proses advokasi.

atau menyetujui sebagian. proposal tersebut bisa dikerjakan kembali dan prosesnya dimulai lagi. Jika proposal disetujui. Ada 5 tahap pembuatan keputusan. atau menyetujui dengan syarat-syarat tertentu. A. Tahap 4: Keputusan diambil. informasi dan syarat-syarat ini perlu dipenuhi dan proposal bisa kembali pada tahap 4. dan perundang-undangan. Contoh dari Kota Z 37 . Pada tahap ini. Permasalahan dan usulan solusinya diberikan kepada para pembuat kebijakan.BAB VII STRATEGI Kelompok koordinasi advokasi pada tahap ini sudah harus memiliki gambaran yang jelas mengenai masalah-masalah yang akan dihadapi dan draft tujuan khusus untuk advokasi. Bila proposal ditolak. Tahap-tahap tersebut adalah: Tahap 1 : Mengidentifikasi permasalahan atau isu-isu dalam suatu organisasi baik pemerintahan. bisa dilanjutikan ke tingkat pembuatan keputusan selanjutnya atau langsung dilaksanakan. Biasanya keputusan diambil untuk menyetujui atau menolak proposal (baik yang asli maupun yang telah dirubah). Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana agar tujuan-tujuan ini dapat dicapai. isu ditempatkan pada agenda organisasi tersebut. Tahap 3: Pertimbangan. Mungkin terdapat peraturan dan prosedur formal cara -cara pembuatan dan perubahan peraturan. instruksi pemerintah. yang perlu untuk diikuti. Terutama pada awal proses advokasi. Pelaksana advokasi perlu memahami hal ini a pabila pendekatan formal tersebut terjadi selama proses advokasi. Tahap 2 : Memperkenalkan ide atau proposal untuk memecahkan masalah yang telah teridentifikasi. adalah penting untuk memahami bagaimana proses pembuatan keputusan di berbagai sektor untuk dapat dipengaruhi oleh kegiatan -kegiatan advokasi. MEMAHAMI PROSES PEMBUATAN KEPUTUSAN Pertama-tama. baik untuk proses formal maupun informal. LSM dan lain -lain. Tahap 5: Maju ke tahap berikutnya. biasanya perlu dicari jalur-jalur informal dimana isu-isu mulai diangkat dan keputusan awal diambil. Jika informasi lebih lanjut diperlukan atau ada syarat-syarat yang perlu dipenuhi. Namun kadang-kadang keputusan yang diambil adalah mengupayakan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Usulan di atas didiskusikan dan mungkin diubah oleh para pembuat kebijakan.

Tahap 4: DPRD memutuskan agar polisi tetap melakukan kegiatan sebelumnya. • Jika kepala kepolisian kota mempunyai seorang teman dengan anak seorang IDU yang positif HIV. • Jika administrasi kota menolak mentah -mentah untuk mendukung proposal tersebut. Untuk ini. Tahap 1: Kelompok koordinasi advokasi telah mengidentifikasi suatu masalah mengenai kepolisian yaitu hadirnya polisi di dekat apotik merupakan alasan utama mengapa IDU tidak membeli peralatan suntik baru. Sejumlah besar unsur dan faktor yang tidak tetap dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. dan Dr. DPRD bisa memutuskan untuk mengadopsi meskipun ditentang oleh kepolisian. kepolisian bertanggungjawab kepada DPRD . Biro diminta untuk menyerahkan laporan termasuk rekomendasi untuk pertemuan dengan DPRD berikutnya (di mana pada saat itu proses dimulai lagi dari Tahap 2). misalnya: • Jika polisi telah mengetahui proposal tadi dan setuju bahwa hal tersebut memang perlu. Kelompok ini telah menginformasikan kepada kepala kepolisian kota tapi kepala polisi mengatakan bahwa ia hanya mengikuti perintah biro administrasi kota. Selain itu advokasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan mungkin melibatkan banyak proses pembuatan keputusan yang terbeda -beda. Bahkan dalam situasi yang sangat formal seperti contoh di atas.Di Kota Z. Sedangkan kepala kepolisian harus memberikan jawaban kepada kepala biro administrasi kota (juga kepada kepala kepolisian nasional). 38 . pihak administrasi kota. banyak faktor mempengaruhi suatu keputusan. A yang mewakili kelompok advokasi. Tahap 5: DPRD meminta biro administrasi kota untuk mengadakan pertemuan antara Dr. Biro administrasi kota terdiri dari wakil masyarakat yang bekerja untuk DPRD. Tahap 3: DPRD mempertimbangkan proposal tersebut. mendengarkan argumen pihak kepolisian. kepala polisi tersebut mungkin akan lebih simpatik. Tahap 2: Kelompok koordinasi membuat suatu proposal kepada DPRD untuk meminta polisi menghentikan kegiatan menunggu di dekat apotik selama 6 bulan pelaksanaan program percontohan untuk meningkatkan akses IDU pada peralatan suntik. • Jika kebanyakan anggota DPRD orang-orang yang bersimpati kepada polisi dan tidak tertarik pada masalah-masalah kesehatan. DPRD mungkin tidak akan mengadakan diskusi terhadap proposal tersebut tapi langsung menolaknya. kelompok advokasi perlu mencoba memecahkan proses yang rumit tersebut menjadi bagian yang lebih sederhana. namun menyetujui pencarian metode yang memungkinkan proyek percontohan dilaksanakan. mereka akan mendukung proposal tadi sejak pertemuan yang pertama. A dan rekan-rekannya dengan kepolisian untuk membahas agar proyek percontohan tetap berjalan tanpa menimbulkan permasalahan bagi kepolisian.

• Edukasi yang diberikan melalui penjangkauan kepada IDU mengenai peningkatan dalam pilihan terapi ketergantungan NAPZA dan pengurangan biaya yang dibebankan kepada klien . Pendengar primer dan sekunder Perlu adanya pemanfaatan peta -peta kebijakan untuk menentukan individu atau kelompok yang paling berpengaruh terhadap suatu keputusan. Kelompok ini bisa terdiri dari mitra kerja yang mendukung tujuan advokasi. Pendengar sekunder adalah para individu dan kelompok yang dapat mempengaruhi pembuat keputusan (pendengar primer ). mendorong IDU untuk mencari layanan terapi: hal ini memerlukan adanya suatu program penjangkauan untuk IDU. Contoh dari Kota Z Kelompok koordinasi advokasi telah mengkaji tujuan sebagai berikut ini: Meningkatkan akses bagi IDU untuk mendapatkan terapi ketergantungan NAPZA yang dapat dijangkau (baik detoksifikasi atau therapeutic community) dan meningkatkan rangkaian layanan terapi (termasuk terapi substitusi) Dalam diskusi dengan koalisi yang lebih luas. Kunci untuk advokasi adalah menentukan individu atau kelompok mana yang kira -kira akan memiliki pengaruh paling besar pada setiap keputusan dan mencoba untuk membujuk mereka untuk mendukung tujuan-tujuan advokasi. dan kelompok yang menentang advokasi. 39 .B. kelompok tersebut telah memutuskan hal yang akan dicapai adalah dengan pemenuhan tiga sub-tujuan dibawah ini: • Peningkatan pendanaan oleh Dinas Kesehatan kota bagi dua layanan terapi ketergantungan NAPZA untuk memungkinkan penanganan IDU lebih banyak dan mengurangi biaya yang dibebankan kepada klien (dari therapeutic community) • Pengenalan program terapi substitusi percontohan. kelompok yang netral yang tak mendukung atau pun menentang. PEMETAAN PROSES KEBIJAKAN 1. berlokasi di puskesmas. Berdasarkan proses tersebut diatas dapat dibagi jenis pendengar dalam advokasi yaitu: • • Pendengar primer termasuk para pembuat kebijakan dengan kewenangan untuk secara langsung mempengaruhi pencapaian tujuan. Pendengar sekunder dapat merupakan bagian atau perluasan dari pendengar primer.

Kelompok tersebut sekarang melaksanakan latihan pemetaan kebijakan untuk dua sub-tujuan yang pertama (lihat Contoh Peta Kebijakan 1) Peta Kebijakan 1: Contoh dari Kota Z: Siapakah para pendengar advokasi Sub-tujuan 1: Meningkatkan pendanaan bagi dua layanan terapi ketergantungan NAPZA yang sedang berlangsung Pendengar Primer: Sasaran DPRD Kota Pendengar Sekunder: Yang berpengaruh Staf anggota DPRD kota: karena anggota DPRD kota sering kali meminta pendapat dari para staf mereka. pelayan toko. Media: anggota DPRD kota ingin mengetahui sikap media terhadap peningkatan pendanaan: apakah reaksi media akan menguntungkan atau tidak? Tokoh masyarakat: anggota DPRD kota adalah orang yang berinteraksi dengan keluarga. apakah para penyandang dana akan membayar peningkatan pendanaan selama tiga tahun pertama (sehingga anggota DPRD kota tidak harus mengeluarkan dana dari proyek lain) Kepala Dinas Staf Dinas Kesehatan Kota (seperti di atas) Kesehatan Kota Para peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat di universitas terdekat: para profesional sebaya sangat berpengaruh. para pekerja di seluruh wilayah itu: bagaimana reaksi orang-orang tersebut terhadap keputusan. Departemen Kesehatan: Dinas Kesehatan Kota biasanya tidak akan membuat keputusan yang menentang kebijakan Departemen Kesehatan Pusat Keluarga dan teman-teman IDU 40 . apakah keputusan ini akan memperbesar atau memperkecil kemungkinan masyarakat untuk memilih anggota dewan kota pada pemilihan berikutnya? Pemimpin agama : apakah pemimpin agama berkeberatan atau menyetujui terapi ketergantungan NAPZA? Penyandang dana internasional untuk program HIV/AIDS atau NAPZA: ka rena Kota Z adalah kota yang miskin. para atasan/majikan.

Dinas Kesehatan Kota. Kepala Pukesmas Staf. Menteri Kesehatan Anggota DPRD Kota dan Media Kepala Kepolisian Nasional Anggota DPRD Kota Anggota Kepolisian untuk masalah NAPZA Media Presiden Kepala Kepolisian dan Anggota DPR/MPR lain. Para “Pa kar” nasional dan internasional di bidang HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA Para Pemimpin Agama dan Media Para Penyandang Dana internasional untuk program-program HIV/AIDS dan NAPZA Kepala Kepolisian Kota Menteri Kesehatan Kepala Nasional Kepolisian Presiden Para “Pakar” Kepolisian di bidang tindak kejahatan NAPZA Para Kolega kepolisian internasional dan Media Staf dari anggota dewan kota dan Media Para tokoh masyarakat Para pemimpin agama Para penyandang dana internasional untuk program-program HIV/AIDS dan NAPZA DPRD Kota Kepala Dinas Kesehatan Staf Dinas Kesehatan Kota Kota Para Peneliti pada Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas terdekat Departemen Kesehatan Pusat IDU IDU lain. pasien dan masyarakat sekitar puskesmas Para kolega profesional: puskesmas lain. berbasis di puskesmas. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa adanya perubahan seperti peningkatan pendanaan untuk layanan yang ada 41 . Keluarga dan teman-teman IDU Para dokter/petugas kesehatan lain dan media Tabel di atas menunjukan bahwa keputusan bisa dibuat oleh kelompok kecil namun pendapat kelompok yang lebih luas yang terdiri dari para profesional. pemimpin agama dan tokoh masyarakat dapat mempengaruhi kelompok pembuat keputusan.Sub-Tujuan 2 : Pengenalan program percontohan terapi substitusi.

Apakah opini mereka saat ini mengenai HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntik? Apa kepentingan mereka terhadap isu-isu ini? Apa yang memotivasi mereka? Bagaimana mereka biasanya mempelajari isu -isu baru (melalui hubungan personal. dengan membaca koran. Sama halnya di beberapa negara lain. Jika IDU menolak untuk ikut program ini. ODHA dan keluarga. Hal lain yang perlu dicatat adalah kelompok yang berpengaruh yang perlu digunakan seperti media. ada kemungkinan untuk mendapatkan kutipan langsung mengenai pandangan mereka tentang NAPZA dan HIV/AIDS 42 . pengurangan kriminalitas. IDU dimasukkan sebagai pendengar primer untuk program substitusi karena sangat vital bagi keberhasilan program. Melalui pertemuan dengan IDU. dua di antaranya adalah ODHA dan IDU. Namun IDU cenderung tidak mempunyai pengaruh selama diskusi yang berhubungan dengan keuangan. IDU telah membantu pengenalan kegiatan efektif tersebut. IDU dapat memiliki dampak kuat mengenai layanan yang akan dimulai atau diperluas untuk menghadapi HIV/AIDS. Apabila ODHA memiliki juru bicara yang tampil di media dan dalam komite untuk para politisi yang berpengaruh. Karena perluasan layanan terapi ketergantungan NAPZA umumnya dianggap sebagai isu yang berhubungan dengan NAPZA dari pada isu yang berhubungan dengan AIDS. 2. Anggota baru ini mengerjakan berbagai publikasi dan tertarik untuk berbicara pada konferensi dan pertemuan komite. dan sebagainya. para pejabat pemerintah seperti polisi dan militer memiliki pengaruh yang besar sehingga perlu dimasukkan dalam kelompok pendengar sekunder. Media bukan pendengar primer untuk ke dua sub-tujuan di atas. perlu untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin mengenai kelompok dan individu tersebut. Dengan menunjukkan kebutuhan terhadap layanan semacam ini. maka program ini tidak akan menghasilkan dampak terhadap pencegahan HIV.dapat menyederhanakan dan mempercepat pelaksanaan kegiatan lain seperti pelaksanaan program terapi substitusi. Dengan membaca semua itu secara teliti. kelompok advokasi di Kota Z menyadari bahwa kedua kebutuhan ini perlu dilaksanakan (bersama dengan edukasi yang dilakukan melalui kegiatan penjangkauan dan tujuan lain dalam bab sebelumnya) untuk secara efektif menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU di kota tersebut. Selain itu ODHA merupakan kelompok yang sangat penting untuk pembuatan keputusan mengenai topik -topik ini. namun kemungkinan besar dapat mempengaruhi pendengar primer. IDU juga penting dalam pembahasan peningkatan layanan terapi. Namun demikian. Penelitian pendengar kebijakan Saat pendengar primer dan sekunder telah diidentifikasi untuk tujuan tertentu. dan lain-lain)? Informasi ini bisa didapatkan dengan beberapa cara: • Pejabat dan selebritis menyatakan opininya melalui media. pidato atau dokumendokumen lain. kelompok advokasi dapat berhasil menarik tiga anggota lagi.

rencana. Informasi isu-isu yang tidak berhubungan dengan tujuan khusus kadang-kadang berguna untuk menyusun pesan-pesan persuasif. Analisis informasi di atas harus berfokus pada organisasi atau individual apakah telah mendukung tujuan advokasi atau menentang tujuan advokasi. FGD ini dapat melibatkan anggota masyarakat umum atau pendengar tertentu seperti dokter. Survei mengenai penyalahgunaan NAPZA. pengacara. dan ODHA yang telah dilaksanakan sangat bermanfaat untuk mengukur opini masyarakat. Analisis ini bisa sangat sederhana seperti menghitung jumlah artikel mengenai NAPZA dalam surat kabar selama periode tertentu dan mencatat tema-tema umum artikel tersebut misalnya penyalahguna NAPZA adalah penjahat. strategi. Perlu melakukan penilaian mengenai jurnalis yang menulis artikel-artikel tersebut apakah telah bersikap sensasional atau seimbang. protokol. polisi dan sebagainya. penyalahguna NAPZA seharusnya dibuang dari keluarganya. sikap terhadap p enyalahgunaan NAPZA. beberapa penyalahguna NAPZA telah berhenti menggunakan NAPZA. beberapa penyalahguna NAPZA memainkan peran yang bermanfaat dalam masyarakat. dan sebagainya. penyalahguna NAPZA adalah orang-orang yang tidak waras. kemungkinan besar pendengar akan memperhatikannya. Ketelitian perlu diperhatikan saat menggunakan teknik ini karena banyak politisi berpikir bahwa mereka perlu dilihat “keras terhadap NA PZA”. Untuk itu. Untuk pendengar primer dan sekunder. dan diyakini oleh para pendengar mengenai isu-isu tersebut yang bisa berhubungan dengan tujuan khusus. Kebijakan-kebijakan resmi yang tertuang dalam perundang-undangan. Analisis media dapat membantu memprediksi pandangan media dan masyarakat mengenai beberapa topik. peraturan. instruksi pemerintah. Kelompok tersebut perlu terus dijajaki dan pesan-pesan terus dikembangkan dan diteruskan ke par a pendengar yang lain. Perlu mencatat nama -nama jurnalis yang tertarik akan keseimbangan dan kedalaman informasi. Tahap selanjutnya adalah memetakan apa yang diketahui.• • • • atau topik-topik yang sejenis. Diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discusssion (FGD) dapat digunakan untuk mendapatkan pemahaman mengenai cara berpikir pendengar mengenai topik-topik yang spesifik. kita perlu mengenal orang-orang yang dekat dengan para politisi yang dapat memberikan gambaran yang lebih aktual mengenai pandangan politisi tersebut. dirasakan. penyalahguna NAPZA. 43 . Sebab sangat berat menyelidiki dan memprediksi beberapa pendengar sekunder khusus. Jika tujuan advokasi dapat dikaitkan dengan isu yang sangat diperhatikan oleh pendengar. seluruh dokumen yang berkaitan dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntik perlu dikumpulkan dan dikaji.

• • • • Kesehatan seluruh penduduk wilayah tersebut. percaya bahwa substitusi malah akan mendatangkan IDU ke wilayah tersebut 44 . Tidak dipecat. Tidak dikritik media dan Departemen Kesehatan. Kemungkinan akan dan bekerja. Kepala puskesmas • Staf puskesmas Beberapa staf puskesmas menghadiri kelompok advokasi. • • • Penduduk sekitar Puskesmas • • Belum menentukan Kenyamanan wilayah itu sebagai tempat untuk tinggal sikap. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik .Contoh dari Kota Z Kelompok koordinasi advokasi melanj utkan latihan pemetaan kebijakan untuk sub-tujuan yang kedua (lihat Contoh Peta Kebijakan 2 untuk contoh-contoh yang dipilih dari proses pemetaan ini). Setiap anggota staf memperhatikan satu bidang kesehatan khusus. Kuatir mengenai dampak program kepada klien puskesmas (nonIDU) yang lain. menentang. telah membaca banyak informasi mengenai terapi substitusi. • Bermacam-macam sikap dari yang sangat mendukung sampai yang tak mendukung. Peta Kebijakan 2: Contoh dari Kota Z: Apa yang diketahui dan dipikirkan oleh para pendengar? Sub-tujuan2 : Pengenalan program percontohan terapi substitusi. staf lainnya hanya mengetahui sedikit Hampir tak tahu apa-apa. Tidak dipecat. berbasis di puskesmas Pendengar Pengetahuan Keyakinan dan sikap Isu-isu yang diperhatikan pendengar pendengar mengenai oleh pendengar mengenai sub. Kebanyakan mendukung program. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik.sub-tujuan tujuan Tahu sedikit • Dapat mengerti bahwa kegiatan ini adalah penting.

Tidak dipecat. • • • • • • Kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan di seluruh kota. keberadaan program di wilayah tersebut akan membantu mengurangi penularan HIV di kalangan IDU Belum menentukan sikap. peristiwa baru dll. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik. Kemungkinan reaksi yang muncul akan beragam. Pemberian informasi. periklanan. Penjualan koran. • • • Keingintahuan akan hal-hal ilmiah Kenaikan jabatan akademis Publikasi DPRD kota Hampir tak tahu apa-apa. terutama pada ide baru. Merasa bertanggung jawab untuk menghentikan AIDS di wilayah itu. Buktinya sudah jelas. Kemungkinan tertarik akan isunya dan ingin memberikan ulasan. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik Ide-ide baru. Konflik. Ulasannya sepertinya berpusat pada kontroversi dan konflik. • • • Kesehatan masyarakat secara keseluruhan di seluruh kota. Kepala Dinas Telah mendengar tahu Kesehatan Kota namun sedikit mengenai penelitian atau bagaimana terapi substitusi bekerja • • • • • • • Media Hampir tak tahu apa-apa.Para peneliti Telah membaca penelitian dari internasional universitas • • Mendukung. Sangat mendukung program tersebut. 45 . namun kuatir para pemilih mereka akan menentang program itu. Pemilihan/penunjukan kembali. percaya bahwa program ini akan menyelamatkan banyak jiwa.

Percaya bahwa satu-satunya jalan untuk menangani IDU adalah dengan menghukum mereka. yakin bahwa program itu akan menolong mereka berhenti menyuntikan NAPZA Keyakinan dan sikap pendengar mengenai subtujuan Kebanyakan dari mereka yang tahu mengenai terapi substitusi sangat mendukung. Beberapa (terutama para orang tua) menentangnya dan berpikir bahwa uang yang tersedia seharusnya digunakan untuk program yang menghentikan anak -anak muda menggunakan • • • • IDU Telah mendengar mengenai terapi substitusi. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik Kepala Kepolisian Kota Hampir tak tahu apa-apa. • • Kemungkinan akan menentang. • • Menyuarakan perlawanan terhadap penyalahgunaan NAPZA secara konsisten dan menolong penyalahguna NAPZA. Pendengar • • Isu-isu diperhatikan pendengar yang oleh Teman-teman dan Keluarga IDU • • • Kesejahteraan IDU Bila mungkin. Persahabatan. • Kemungkinan akan menentang. • • • Bertahan hidup. Sangat mendukung. Menjaga amanat rakyat. bebas dari penyalahgunaan NAPZA • 46 .Para pemimpin agama (kota) Hampir tak tahu apa-apa. tapi umumnya pengetahuan yang dimiliki tidak banyak Pengetahuan pendengar mengenai subtujuan Kebanyakan memiliki pengetahuan yang sedikit. Menyatakan bahwa penyalahgunaan NAPZA adalah dosa Pencegahan kejahatan Menahan penjahat.

mempunyai tingkat pengetahuan yang tinggi. Kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan nasional. Beberapa sangat menentang dan yakin bahwa program ini “salah” karena tidak menolong IDU berhenti menggunakan NAPZA dengan segera. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik. Menteri Kesehatan Telah mendengar namun tahu sedikit mengenai penelitian atau bagaimana terapi substitusi bekerja • • • • Kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan di seluruh wilayah di negara tersebut. • • • • • Reputasi profesional sebagai “pakar” Hubungan dengan institusi-institusi dan orang-orang yang berpengaruh. mau mendanai program percontohan apabila dukungan masyarakat yang memadai dapat diperlihatkan Beberapa sangat mendukung. terutama di Kota Z. Dari hasilnya. Staf Menteri Beberapa membaca Kesehatan telah • penelitian internasional • 47 .segala NAPZA. Bidang perawatan kesehatan yang spesifik di seluruh wilayah di negara tersebut. macam Para penyandang dana internasional Telah melaksanakan penelitian internasional. Mendukung suatu ujicoba di Kota Z. • Sangat mendukung. telah menyaksikan program substitusi di negara lain dan akan membantu dimulainya program di Kota Z. Pemilihan/penunjukan kembali. Peduli akan AIDS. kebijakan nasional dapat disusun • • Pengurangan kemiskinan Pencegahan HIV/AIDS secara global Para ‘pakar’ Kebanyakaan tingkat nasional memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. tapi tidak yakin kalau substitusi adalah kebijakan nasional yang terbaik.

• Kemungkinan akan menentang. • Dibutuhkan penelitian. Hampir tak tahu apa-apa. 48 . Kelompok advokasi juga mempunyai beberapa ide mengenai hal yang diketehui dan dirasakan pendengar mengenai isu-isu yang berhubungan dengan tujuan tersebut. secara tetap menjanjikan membersihkan masyarakat dari NAPZA. dapat dilihat adanya berbagai pengetahuan. kontroversial (terutama secara politis). Dibutuhkan penelitian. dan keyakinan di antara para pendengar di Kota Z dan di tingkat nasional. Pemilihan/penunjukan kembali. • • Menjaga amanat rakyat. dan kelihatan aneh dibanding dengan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan penyalahgunaan NAPZA seperti kegiatan pengurangan pemasokan (Supply reduction) dan permintaan (Deman reduction). Setelah melengkapi peta kebijakan untuk tujuan dan sub-tujuan kelompok advokasi mempunyai gambaran tentang individu dan kelompok yang dapat membuat atau mempengaruhi keputusankeputusan yang berkaitan dengan tujuan. Hal ini merupakan kasus yang sering dijumpai ketika melaksanakan advokasi untuk pendekatan-pengurangan dampak buruk NAPZA (Harm reduction) karena isu yang diangkat melalui berbagai kegiatan sangat kompleks. • Dari proses ini. Dipilih berdasarkan program partai yang memasukkan upaya upaya “Bersikap keras terhadap NAPZA”. Serangkaian kegiatan dapat direncanakan untuk menyampaikan pesanpesan advokasi kepada para pendengar ini. Presiden. sikap.Kepolisian Nasional Tak diketahui.

ada dua kategori kegiatan utama yang diperlukan: • Edukasi: Sasaran perlu diberi edukasi mengenai . Seiring dengan berkembangnya kelompok yang mempunyia pemahaman sama maka seluruh mitra kerja perlu didorong agar dapat berpartisipasi secara aktif untuk mencapai tujuan. jadual kegiatan. Untuk sub-tujuan mengenai pelaksanaan program substitusi di puskesmas wilayah tersebut. Ø keefektifan terapi substitusi untuk pencegahan HIV dan efek-efek lainnya. Rencana aksi sebaiknya dikembangkan dengan memprioritaskan sasaran yang strategis dan berdampak maksimal dengan upaya yang minimal. Ø keuntungan terapi bagi IDU dan masyarakat. Ø dan kebutuhan untuk memulai program substitusi percontohan di puskesmas wilayah itu. Persuasi: Bagi k elompok yang belum sepaham dengan kegiatan tersebut perlu dilakukan pendekatan secara persuasif dengan berbagai argumentasi. Kelompok advokasi yang terkoordinir dengan baik perlu mengembangkan rencana aksi yang menjelaskan situasi. kegiatan-kegiatan pokok. dan indikator untuk mengevaluasi kegiatan tersebut. PERENCANAAN KEGIATAN (ACTION PLANNING) Kegiatan advokasi perlu direncanakan. Cara lain dapat dilakukan dengan mengajak berkunjung pada negara yang telah berhasil melaksanakan untuk studi banding. sasaran advokasi yang diharapkan. Contoh dari Kota Z Kelompok koordinasi advokasi sangat senang telah menyelesaikan tujuan-tujuan khusus dan peta kebijakannya. Ø pendekatan -pengurangan dampak buru k NAPZA tentang HIV di kalangan IDU.BAB VIII AKSI DAN REAKSI A. berdiskusi d engan pakar internasional atau melakukan dialog terbuka tentang risiko dan keuntungan program terapi substitusi. • 49 . Berdasarkan tujuan-tujuan khusus dan kebijakan yang dijelaskan pada bab sebelumnya. rencana aksi sebaiknya mencantumkan setiap kegiatan yang diperlukan. Kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan sebaiknya dilaksanakan secara berkesinambungan dan tepat waktu. tujuan khusus advokasi. untuk menghadapi pendengar dan tanggapan terhadap pesan -pesan yang disampaikan. Kelompok ini telah memiliki gambaran yang jelas mengenai kelompok yang akan dilibatkan dalam diskusi dan beberapa kebutuhan yang diperlukan.

Konsistensi pemberian pesan perlu dilakukan untuk menghindarkan kebingungan pendengar. • Rencanakan kegiatan yang melibatkan para juru bicara yang kredibel dari organisasi mitra. diserap atau dimengerti. dan gaya yang mengesankan. verifikasi fakta dan data kunci untuk mendukung tujuan advokasi. • Kembangkan perangkat advokasi yang spesifik untuk mempengaruhi pendengar tertentu • Bekerjalah dengan semua tingkatan. • Monitor dan respon dengan cepat dan fleksibel pandangan dan gerak-gerik yang tidak sepaham. sedangkan variasi membantu memastikan pendengar tidak bosan. • Identifikasi. • Adakan pelatihan dan praktek advokasi. Ø Presiden kemungkinan lebih memperhatikan dampak-dampak ekonomi sebuah epidemi HIV di negaranya. dan sajikan data baru. Sebagai contoh: Ø Penduduk di sekitar puskesmas kemungkinan adalah pendengar yang paling memperhatikan mengenai cara puskesmas menangani isu-isu keamanan seperti memastikan obat substitusi tidak dicuri atau diberikan kepada bukan penyalahguna NAPZA dan apakah program baru akan membuat para pengguna NAPZA suntik “nongkrong” di sekitar puskesmas. Ø Kepala Kepolisian Kota kemungkinan paling tertarik mengenai apakah dengan dimulainya program substitusi akan mengurangi kejahatan. dramatis. melalui jaringan yang sesuai. • Tekankan urgensi dan prioritas aksi yang direkomendasikan • Rencanakan dan adakan peliputan media untuk memberitahu kepada masyarakat mengenai kejadian yang relevan. • Delegasikan tanggungjawab secara jelas kepada anggota untuk melaksanakan dan memonitor kegiatan . Beberapa kiat umum lain mengenai perencanaan dan aksi mencakup: • Sampaikan pesan-pesan dengan konsisten melalui berbagai media dan sumber bagi setiap tujuan khusus advokasi dan setiap pendengar. dari lokal hingga nasional dan internasional.Perlu ada berbagai pesan yang berbeda untuk kelompok pendengar yang berbeda. Perlu diingat bahwa pesan tidak selalu segera didengar. • Tentukan aksi yang dikehendaki dengan jelas sesuai dengan kebijakan yang disepakati. Jadi pengulangan adalah hal yang sangat penting. • Buat catatan keberhasilan d an kegagalan dalam advokasi. 50 . Bila ada kontroversi cobalah untuk mengubah kontroversi tersebut menjadi yang menguntungkan. • Presentasikan informasi dengan singkat.

Kepala Kepolisian Kota dan 5 staf senior Dr. Bertemu dengan Kepala Kepolisian Kota untuk membicarakan mengenai operasi yang dilakukan polisi di dekat apotek-apotek dan tempat-tempat pelaksanaan program jarum suntik steril yang diusulkan. Telah membuat perjanjian dengan Badan Narkotika Kota untuk meminta bantuan untuk mengatur pertemuan dengan kepala kepolisian. Materi pelatihan disiapkan. Contoh Rencana Aksi: Contoh dari Kota Z (Kutipan) Tujuan khusus A: Dalam 12 bulan. 51 .Contoh dari Kota Z Kelompok koordinasi advokasi sekarang sedang melaksanakan berbagai kegiatan sesuai dengan rencana aksi yang disepakati oleh mitra koalisi kelompok ini (lihat Contoh Kutipan Rencana Aksi). 2. Undangan disebar kepada para apoteker. Melatih apoteker mengenai kebutuhan untuk peningkatan akses pada peralatan suntik. A ditambah seorang anggota kelompok yang lain 4 minggu Para anggota DPRD kota beserta staf mereka Para politisi Nasional Jurnalis anggota kelompok advokasi 6 minggu • • Telah menerima data penelitian internasional dalam bahasa Inggris. meningkatkan akses bagi IDU untuk mendapatkan peralatan suntik baru dengan cara meningkatkan akses IDU ke persediaan apotik dan memulai program jarum suntik steril. Para pendengar Apoteker Siapa yang bertanggung jawab? Dr A: dibantu oleh asosiasi apotek Diselesai kan dalam waktu? Status • • 4 minggu • • Asosiasi apotek telah setuju untuk menjadi tuan rumah pertemuan. dengan argumentasiargumentasi untuk program jarum suntik steril. Telah menterjemahkan nya dalam bahasa lokal. Kegiatan 1. Menyiapkan leaflet “politisi”. Akan mulai menulis minggu depan. 3.

(setiap pasangan akan menjumpai paling sedikit 3 orang anggota dewan kota dan/atau staf mereka) 12 minggu Belum dimulai. Kepala puskesmas telah menyetujui untuk mengupayakan penyetujuan setelah surat ditulis. 2. A 1 minggu • • 52 . Menulis surat resmi yang meminta penyetujuan untuk memulai terapi substitusi di puskesmas Dewan Kota Dr.4. Meningkatkan akses bagi para IDU ke terapi ketergantungan NAPZA yang terjangkau secara ekonomi (baik detoksifikasi maupun therapeutic community) dan meningkatkan pilihan-pilihan terapi (termasuk terapi substitusi NAPZA). Tujuan B: Dalam 12 bulan. Menyelidiki status legal dari NAPZA substitusi untuk program yang diusulkan di Puskesmas Siapa yang bertanggung jawab? Seluruh Mahasiswa hukum pendengar di yang membantu kota tersebut kelompok Advokasi Menteri Kesehatan dan Kepolisian Nasional Para pendengar Diselesaikan dalam waktu? Telah selesai Status • • Metadon dan buprenorfin telah didaftar secara resmi dan mungkin digunakan. Hambatanhambatan hukum dan biaya-biaya dicantumkan dalam laporan. Melobby DPRD Para anggota kota mengenai DPRD Kota program jarum (12 orang) suntik steril dan para staf dengan secara mereka (20 personal bertemu orang) dengan setiap orang anggota dewan dan memberikan informasi mengenai program tersebut. Seluruh anggota kelompok advokasi bekerja berpasangan. Seluruh data saat ini telah ditemukan. Kegiatan 1. Menunggu penyelesaian pembuatan leaflet “politisi”.

Mengupayakan persetujuan untuk program substitusi DPRD Kota Kepala puskesmas 5 minggu • • 3 anggota DPRD kota setuju mendukung proposal dan 4 orang menentang. Contoh di atas merupakan seleksi kegiatan yang dilakukan oleh kelompok advokasi dan mitra koalisinya. Mengadakan pertemuan dengan 4 orang tersebut di tambah dengan 5 orang anggota dewan lainnya untuk melobby program ini sebelum pemilihan dalam waktu 6 minggu. Kelompok advokasi juga bekerja dengan kelompokkelompok ODHA di Kota Z untuk menyiapkan lokakarya peningkatan kesadaran media mengenai stigma dan diskriminasi di kalangan ODHA. Karena beban pekerjaan yang meningkat.3. 4. Akan melakukan wawancara eksklusif dengan kepala puskesmas . sedang diupayakan dana dari penyandang dana internasional untuk koordinator advokasi yang bekerja paruh-waktu dan untuk biaya beberapa kegiatan advokasi terutama buklet untuk masyarakat umum dan lokakarya-lokakarya pelatihan bagi polisi. A tidak lagi dapat menangani seluruh tugas koordinasi advokasi karena pekerjaannya di puskesmas. Telah menghasilkan 2 halaman ringkasan mengenai bukti penelitian untuk terapi subtitusi dan proposal puskesmas. 53 . seorang dari TV). Memberikan penerangan secara ringkas kepada media mengenai program substitusi ini. Seluruh Jurnalis pendengar di Anggota kelompok kota tersebut advokasi 2 minggu • • • Telah mengidentikasi 2 orang jurnalis kunci (seorang dari suratkabar. Dr.

Pesan-pesan tertentu perlu dibedakan dan dikembangkan untuk pendengar yang berbeda. mengapa. dan bagi pencegahan HIV/AIDS. yang mengandung kutipankutipan dari berbagai sumber. pesan advokasi harus sederhana. pendek dan persuasif mengenai setiap tujuan khusus advokasi: apa yang seharusnya dilakukan. Suatu contoh pesan: Epidemi HIV/AIDS di kalangan IDU telah terjadi saat ini. Metadon (atau burprenorfin) efektif dalam mengurangi penyebaran HIV di kalangan penyalahguna NAPZA. seorang politisi yang berpengaruh memberikan pendidikan sebaya kepada politisi lainnya merupakan medium dan sekaligus sumber. Ini merupakan langkah yang penting dan penuh risiko namun para IDU dan ODHA anggota kelompok advokasi ini ingin memberikan edukasi kepada masyarakat dan kelompok berpengaruh lainnya mengenai kenyataan hidup dengan HIV dan hidup sebagai IDU. Kadang-kadang pesan dapat dipadatkan menjadi slogan seperti: “Metadon berhasilguna: bagi masyarakat. atau ketika para pelaksana advokasi mengembangkan makalah advokasi khusus bagi para pendengar. langkah selanjutnya adalah mengembangkan pesan-pesan untuk kegiatan advokasi tersebut. B. Metadon (atau burprenorfin) perlu secara resmi didaftar di Departemen Kesehatan agar program-program tersebut dapat dimulai. Bila memungkinkan. 54 . dan bagaimana? Tujuan dari pesan tersebut adalah untuk menghasilkan aksi sehingga pesannya harus secara jelas menentukan aksi apa yang harus diambil dan oleh siapa. Sebagai contoh. Daftarkan metadon secara resmi sekarang” Media adalah sarana untuk menyampaikan sebuah pesan. begitu juga halnya dengan seorang wartawan yang menulis sebuah berita mengenai keuntungan pendekatan-pendekatan efektif atau seorang dokter atau peneliti terke muka yang sedang berbicara dalam suatu pertemuan. media bisa juga termasuk sumber pesan. media dan sumber terpisah misalnya ketika seorang wartawan menulis tentang pidato seorang politisi atau tentang hasil penelitian. Kadangkadang. jadi mereka antusias untuk melakukan wawancara. PESAN-PESAN DAN MEDIA Setelah menentukan sasaran pendengar untuk advokasi. bagi penyalahguna NAPZA.IDU dan ODHA anggota kelompok advokasi saat ini cukup percaya diri untuk berbicara mengenai pendekatan-pengurangan dampak buruk NAPZA di seminar-seminar dan pertemuan. Kelompok advokasi meneliti para jurnalis lokal untuk melihat kemungkinan adanya jurnalis yang dapat menulis cerita yang seimbang dan membantu mencapai tujuan-tujuan kelompok advokasi tersebut melalui wawancara dengan para IDU dan ODHA.

Stasiun radio yang terkenal mungkin menggambarkan suatu penekanan pada pelayanan kesehatan terhadap IDU sebagai “suatu aib: bagaimana dengan orang -orang tua di dalam masyarakat kita yang tak berkecukupan untuk makan?” Tokoh-tokoh agama atau politik mungkin menyerang perubahan-perubahan yang mereka lihat sebagai penghancuran “nilai-nilai tradisional”. termasuk kata -kata yang digunakan dalam pesan. dan “keuntungan ekonomi”. TV? Ini akan tergantung pada pesan apa yang dirancang untuk pendengar yang mana dan pada akses kelompok advokasi untuk mendapatkan dana dan sumber-sumber lain. “keamanan nasional”.Bahasa sangatlah penting. Para pelaksana advokasi sebaiknya menghindari “jargon” dan bahasa teknis (kecuali bagi beberapa pendengar tertentu). Sebagai contoh. Beberapa elemen penting lain dari pesan dan media termasuk : • Argumentasi dan data yang digunakan untuk membujuk pendengar untuk bertindak atas pesan tersebut. (lihat lampiran B). “masyarakat”. Argumentasi dan data ini hendaknya sesuai dengan sasaran. kelompok advokasi akan menghadapi reaksi dari beberapa individu dan organisasi dalam masyarakat. REAKSI DAN KESINAMBUNGAN Setelah kegiatan advokasi. seperti “keluarga”. film dokumenter. “anak-anak”. Kredibilitas sumber: kepada siapa pendengar akan percaya? Format : apakah lebih baik menggunakan makalah diskusi. beberapa surat kabar secara terus menerus mencari berita – berita sensasional. Masing-masing kejadian akan berdampak pada kegiatan-kegiatan advokasi. catatan-catatan singkat tentang kebijakan. siaran radio. (Lampiran B mengandung beberapa argumentasi reaktif ini serta saran argumentasi balasannya). Mengapa tokoh agama telah berbicara? Sudah cukupkah kegiatan advokasi dilakukan pada organisasi-organisasi keagamaan? 55 . sebaiknya menggunakan yang sederhana dan mudah dimengerti. Kejadian semacam itu hendaknya dimonitor secara seksama untuk analisis dan evaluasi yang berkelanjutan. Waktu dan tempat: apakah ada peristiwa (seperti konferensi AIDS) atau tanggal tertentu (seperti Hari AIDS Sedunia atau Hari Anti Narkotika) di mana kemungkinan pesan dapat lebih menarik perhatian? • • • C. untuk sasaran advokasi. Mungkin ada beberapa kalimat atau ungkapan yang seharusnya digunakan dalam advokasi akan tetapi mungkin tidak dapat dimengerti oleh sasaran. Pesan yang baik seharusnya mengandung kalimat atau ungkapan yang memiliki konotasi positif atau arti tertentu. mereka mungkin akan menulis “ Departemen Kesehatan bersikap lunak kepada penyalahguna NAPZA” . Dari pada menulis “pilihan terapi ketergantungan NAPZA tengah diperluas untuk mencegah sebuah epidemi HIV”. Jika menggunakan grafik atau diagram.

Advokasi yang berhasil perlu menggunakan peluang-peluang yang ada dan perlu berpikir secara komprehensif. seringkali bermanfaat untuk segera merespon melalui press release dan/atau konferensi media. Antisipasi digambarkan secara jelas misalnya dalam kasus parlemen yang terpilih di mana partai yang memerintah berubah dari waktu ke waktu. Kadang-kadang. Kelompok advokasi harus mengantisipasi masalah ini dengan memastikan bahwa pesan-pesan telah disampaikan kepada seluruh politisi. 56 . bagaimana. Konferensi medis atau hukum dapat diminta untuk menekankan masalah-masalah HIV spesifik di kalangan IDU dan bagaimana cara yang terbaik untuk mengatasi masalah ini. Sebuah contoh misalnya pemanfaatan resolusi-resolusi dan deklarasi-deklarasi PBB. Kelompok advokasi dapat melakukan presentasi atau paparan untuk memberikan laporan-laporan kepada komite. Kelompok advokasi harus tetap memperhatikan berbagai laporan yang dipublikasikan. Harus diingat bahwa kebanyakan tantangan terhadap pengurangan dampak buruk NAPZA muncul dalam suatu lingkungan yang tidak mendapatkan informasi yang lengkap atau terdapat kesalahpahaman. Barangkali politisi yang akan menjalankan misi tersebut dapat dibujuk untuk mengunjungi program-program HIV yang efektif di kalangan IDU di negara lain. dan kapan. tantangan dapat diubah menjadi dukungan atau paling tidak menjadi netral. komitekomite yang sedang mengadakan pertemuan. Pelaksanaan kegiatan tersebut mungkin berisiko dan biasanya harus dilakukan dengan koalisi yang kuat. sosial.Apakah stasiun radio mewakili suatu bagian yang luas dari masyarakat. dengan menemui seorang oposisi dan menjelaskan seluruh alasan untuk tujuan-tujuan advokasi. yang telah dilakukan dan yang belum dilakukan. konferensi-konferensi medis dan hukum. semuanya merupakan peluang bagi advokasi. misalnya yang terdiri dari LSM-LSM yang bergerak dalam bidang HIV/AIDS. para politisi yang akan menjalankan misi pencarian fakta di negara-negara lain. barangkali politisi lain yang mendukung dapat didorong untuk membuat pernyataan publik yang mendukung – meskipun dalam beberapa kasus mungkin akan berguna untuk meminta para pendukung mengunjungi politisi yang menentang tersebut dan mendiskusikan isu-isunya jauh dari media untuk mencoba membujuk politisi yang menentang tersebut menjadi seorang pendukung. di mana suatu pemerintah telah menandatangani sebuah deklarasi yang menyatakan akan menjalankan pengurangan dampak buruk NAPZA. Kelompok advokasi sebaiknya juga menciptakan peluangnya sendiri dan mengantisipasi perubahan-perubahan yang kemungkinan akan terjadi. apakah pandanganpandangan ini hanya sebuah cara untuk meningkatkan popularitas dari siaran radio tersebut? Kelompok advokasi harus mempertimbangkan apakah perlu merespon tantangan semacam ini. Kejadian yang sedang berlangsung juga hendaknya dimonitor secara terus menerus. dan bahkan hukum–dapat berubah dengan sangat cepat. Jika seluruh kegiatan advokasi telah dilaksanakan kepada partai yang berkuasa namun tidak ada satupun kegiatan advokasi dilaksanakan pada parlemen oposisi. maka masalah-masalah yang besar dapat terjadi ketika ada perubahan pemerintahan. Jika hubungan dengan media secara umum berjalan baik. Sifat dasar dari kehidupan modern adalah keadaan-keadaaan–politik. Kelompok advokasi dapat menyampaikan laporan mengenai aksi-aksi yang telah dijanjikan. Jika seorang politisi telah membuat pernyataan yang bertentangan.

dan argumentasi yang dikembangkan. Transparansi berarti bahwa para mitra koalisi dan yang lainnya terus mendapatkan informasi mengenai kegiatan advokasi.Proses-proses ini harus disusun dalam pertemuan tahunan atau pertemuan yang lebih sering di mana kelompok advokasi menganalisis keberhasilan atau kegagalannya selama ini dan menentukan tujuan khusus baru. D. 57 . Keberhasilan harus dihargai namun kegagalan juga harus dianalisis untuk melihat pelajaran apa yang bisa diambil oleh kelompok ini. Sebagai contoh. bahwa setiap pemilihan (di mana kelompok advokasi menjadi atau bagian dari sebuah organisasi yang demokratis) adalah adil dan mengikuti peraturan tertulis mengenai pemilihan. Pekerjaan yang berdasarkan bukti berarti bahwa kelompok advokasi harus secara terus menerus mencari informasi yang terkini mengenai pengurangan dampak buruk NAPZA untuk HIV/AIDS di kalangan IDU dan selalu menggunakan bukti ini sebagai dasar semua tujuan khusus. dan waspada terhadap konflik kepentingan dan sesegera mungkin menjernihkan hal tersebut. Etika sangat penting karena pelaksana advokasi yang berhasil makin dianggap sebagai seorang ahli. sub-tujuan khusus dan kegiatan-kegiatan u ntuk 12 bulan mendatang. Sebuah pembahasan mengenai etika advokasi dapat ditemukan dalam Chapman ( lihat Publikasi dan Situs Internet ). bahwa setiap dana yang diterima dilaporkan dengan cara yang tepat dan sebagainya. Analisis pada kegiatan ini harus sangat teliti. tetapi mereka harus berhati-hati untuk menjaga agar status orang-orang ini tetap rahasia kecuali dengan jelas telah diijinkan oleh individu tersebut untuk membuka status mereka. Proses ini memberi para pelaksana advokasi kekuatan yang besar. Para politisi mungkin akan mendengarkan pelaksana advokasi tersebut saat yang lain tidak mampu menyampaikan pesannya. Evaluasi (lihat bab berikutnya) harus membantu proses ini. Mereka sebaiknya menyadari bahwa tindakan mereka mempengaruhi kehidupan orang lain. Wartawan mungkin akan menulis segala hal yang dikatakan oleh pelaksana advokasi tersebut. Para pelaksana advokasi perlu memenuhi standar praktek yang etis dan legal dalam komunitas mereka dan menolak berpartisipasi dalam kegiatan yang tidak etis atau bisa membahayakan anggota masyarakat. para pelaksana advokasi bisa mengetahui nama-nama ODHA dan IDU di kotanya. Setelah analisis ini (atau kapan saja selama proses advokasi) saran dapat dicari dari kelompokkelompok advokasi di tempat lain mengenai cara -cara mengatasi masalah tertentu atau argumentasi yang bisa terbukti efektif saat argumentasi sebelumnya telah gagal. yang harus digunakan secara bertanggung jawab. Cara yang terbaik untuk memastikan sikap yang etis adalah transparansi dalam pelaksanaan kegiatan dan memastikan adanya dasar atau bukti yang kuat untuk semua kegiatan. RISIKO DAN ETIKA Para pelaksana advokasi perlu memastikan bahwa mereka berperilaku etis dan mengikuti prinsip pertama yang dijabarkan dalam Bab II: kegiatan advokasi harus menghindari terjadinya peningkatan risiko. Hal ini seringkali dilaksanakan bersama-sama dengan seluruh anggota koalisi dan pendukungnya. pesan.

Kelompok advokasi juga perlu bersikap sensitif terhadap kebutuhan akan program yang efektif. 58 . Jika kelompok advokasi mengeluarkan pernyataan kepada pers mengenai program tersebut. ini akan menyebabkan penutupan program dan terjadi kemunduran advokasi. Kadang-kadang. (Lebih jauh mengenai kegiatan-kegiatan advokasi yang spesifik dapat ditemukan dalam Lampiran A). sebuah program distribusi kondom dalam sebuah lembaga pemasyarakatan atau sebuah program penjangkauan percontohan hanya akan diperbolehkan oleh sebuah pemerintahan selama masyarakat luas tidak tahu akan program ini.

strategi. para editor. evaluasi ini mencoba menunjukkan bahwa perubahan apa pun yang diamati pada populasi sasaran dapat dihubungkan dengan proses advokasi. perubahan dapat digambarkan dalam perilaku berisiko IDU dan dalam banyak proses yang mempengaruhi perilaku ini. dan dengan secara kritis memikirkan laporan proses advokasi yang ditulis oleh para pelaksana advokasi itu sendiri. Evaluasi juga akan bisa mengukur efek advokasi (sebagai sebuah kegiatan penelitian atau untuk mempengaruhi penyandang dana untuk menyediakan dana bagi kegiatan advokasi selanjutnya). tokoh-tokoh masyarakat. Metode lain untuk melaksanakan evaluasi dampak ialah mengulangi penilaian yang telah digambarkan dalam Bab IV. Evaluasi dampak mempunyai dua tujuan utama: • pertama adalah menilai dampak program dan mengetahui dengan pasti sejauh mana tujuan khusus telah dicapai. pejabat Departemen Kesehatan. Evaluasi proses bertujuan memonitor pelaksanaan proses evaluasi sedangkan evaluasi dampak bertujuan untuk menilai dampak dan hasil dari kegiatan advokasi.BAB IX EVALUASI KEGIATAN ADVOKASI Evaluasi dapat membantu kelompok advokasi untuk menentukan apakah kegiatan telah berhasil dilaksanakan dan apakah ada perubahan yang harus dibuat pada tujuan khusus. sebuah tugas yang dia samakan dengan mengurai jaring laba -laba sambil mengenakan sarung tinju. menganalisis laporan dan ulasan media untuk memetakan perubahan pada diskusi publik mengenai isu yang relevan. yaitu evaluasi proses dan evaluasi dampak. dan mengevaluasi”. Jika penilaian dilaksanakan pada interval yang teratur. • kedua. “realitas yang kacau balau dari proses advokasi mendapatkan tandingannya dalam upaya menggambarkan. kegiatan. para repoter). Evaluasi proses menggambarkan dan memonitor cara di mana kegiatan dilaksanakan. menilai. Evaluasi dapat dibagi dalam dua jenis. Ini diperlukan untuk mengkaji strategi dan metode mana yang paling berhasil (dan seharusnya diperluas) ser ta strategi dan metode mana yang paling tidak berhasil (dan seharusnya dikurangi atau disesuaikan). Sebuah alat untuk menjajaki perubahan dalam lingkungan kebijakan telah dirancang oleh Proyek POLICY: alat ini tidak khusus untuk pendekatan efektif dalam menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU namun alat ini mungkin bisa memberikan panduan untuk mereka yang tertarik pada evaluasi dampak (lihat Proyek POLICY: Menjajaki Kenya dalam Publikasi dan Situs Internet ). Chapman merekomendasikan bahwa evaluasi dampak advokasi dilaksanakan dengan mencoba menemukan perubahan persepsi dar i individu kunci sepanjang waktu (seperti petugas kepolisian senior. sebagaimana yang telah dikatakan oleh Chapman (lihat Publikasi dan Situs Internet). dan pesan. Namun. Masalah utama dengan evaluasi semacam ini adalah menunjukkan dengan jelas 59 .

Advokasi ini harus dilaksanakan pada basis yang teratur. Untuk sebagian besar kelompok advokasi. Sebagai contoh. sikap dan keyakinan mereka? Apakah ada sasaran advokasi baru untuk diantisipasi? • Apakah pesan yang diberikan menjangkau kelompok sasaran advokasi? Pesan mana yang paling diterima oleh sasaran ? Media dan metode apa yang paling berhasil untuk sasaran yang mana? • Apakah data disajikan secara meyakinkan? Apakah data ini mudah dimengerti? Apakah ada cara yang bisa digunakan untuk memperbaiki penyajian data? • Bagaimana keadaan koalisi advokasi? Apakah anggota koalisi merasa dilibatkan dalam proses advokasi? Apakah mereka merasa (paling tidak sebagian dari anggota koalisi) bertanggung jawab untuk keberhasilan dan kegagalan advokasi? Apakah ada cara untuk meningkatkan partisipasi anggota advokasi dalam kegiatan advokasi? • Peluang-peluang apa yang ada untuk advokasi yang belum didiskusikan? Apakah kelompok advokasi memberikan respon secara cepat dan sesuai pada peluang dan pada tantangan? • Apakah ada kegiatan advokasi lain yang dilaksanakan (yang tidak berhubungan dengan HIV/AIDS dan IDU) yang bisa dijadikan sumber pembelajaran oleh kelompok advokasi? Apakah kegiatan advokasi ini telah mencapai keberhasilan? Apa yang bisa dipelajari dari keberhasilan atau kegagalan mereka? 60 . Jenis evaluasi semacam ini dapat dilaksanakan secara informal pada pertemuan kelompok advokasi atau secara lebih formal dengan menggunakan kuisener terstruktur dan/atau FGD (lihat Sharam untuk beberapa contoh dalam Publikasi dan Situs Internet ).perubahan apa yang telah dihasilkan (atau lebih tepat lagi seberapa besar perubahan ini telah dihasilkan) oleh kegiatan advokasi. lebih penting menggunakan evaluasi untuk memeriksa kemajuan dan arah dari kegiatan advokasi. pada waktu yang telah ditentukan (mungkin setiap enam bulan). Beberapa hal yang perlu didiskusikan: • Apakah tujuan masih sesuai? Apakah ada yang berlebihan? Apakah tujuan baru (atau subtujuan) diperlukan? • Apakah kegiatan yang sedang dilaksanakan terlihat akan mencapai tujuannya? Apakah prioritas kegiatan harus diubah? Apakah ada kegiatan yang harus dihentikan (sehubungan dengan ketidak efektifan atau karena kegiatan ini terlalu menghabiskan banyak waktu dan sumberdaya?) Apakah kegiatan baru perlu ditambahkan? • Dapatkah kelompok advokasi yang sedang berjalan ini mencapai semua kegiatan yang telah didaftar? Apakah diperlukan anggota baru? Apakah diperlukan keahlian baru? • Apakah cukup sumberdaya untuk melaksanakan semua kegiatan? Apakah cukup tersedia dana untuk saat ini dan untuk sisa periode advokasi? Apakah diperlukan penggalian dana lagi? • Apakah ada perubahan pada sasaran advokasi? Apakah kelompok advokasi telah mengetahui lebih banyak mengenai sasaran advokasi? Dapatkah peta kebijakan diperbaharui dengan sasaran advokasi baru dan pengetahuan baru mengenai sasaran. kelompok ini dapat menyediakan waktu beberapa jam untuk memikirkan mengenai tujuan dan strategi kelompok ini.

baik karena hal-hal prinsip atau alasan-alasan lain. Syndrome – sejumlah tanda dan gejala yang menunjukkan suatu kondisi penyakit tertentu. Pemberiaan buprenorfin merupakan bagian dari suatu intervensi yang juga melibatkan konseling.BAB X DAFTAR SINGKATAN DAN DAFTAR KATA-KATA A. heroin) untuk menstabilkan mereka dan mengalihkan penyuntikan atau metode yang berbahaya lainnya menjadi cara yang biasa atau cara oral. DAFTAR KATA-KATA Perlu dicatat bahwa penjelasan yang diberikan di bawah ini semata-mata untuk meningkatkan pemahaman dan pemanfaatan penyalahgunaan terminologi dalam panduan ini. Penjelasan ini bukan definisi resmi WHO. dan Nepal. DAFTAR SINGKATAN IMS KIE LSM ODHA Ornop IDU PS UNAIDS UNGASS VCT WHO : Infeksi Menular Seksual : Komunikasi Informasi Edukasi : Lembaga Swadaya Masyarakat : Orang hidup dengan HIV/AIDS : Organisasi non-pemerintah : Penyalahguna NAPZA suntikan (Injecting Drug User – IDU) : Pekerja Seks : United Nations Program on HIV/AIDS : UN General Assembly Special Session on HIV/AIDS : Voluntary testing and counseling (Konseling dan tes HIV sukarela) : World Health Organisation B. Bangladesh. Pakistan. Penyuntikan burprenorfin juga merupakan obat pilihan utama di antara para IDU di India. Immuno – berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh yang memberikan proteksi terhadap agen pem bawa penyakit. perawatan HIV dan layanan-layanan lainnya. Deficiency – kekurangan respon kekebalan terhadap agen penyakit. Di Indonesia obat ini diberikan di bawah pengawasan dokter atau psikiater yang telah mendapat pelatihan dan memiliki sertifikat. Abstinensia ( bebas dari penyalahgunaan NAPZA) Menahan diri dari penyalahgunaan NAPZA. Buprenorfin Obat yang digunakan sebagai pengganti untuk membantu penyalahguna opiat (misalnya. AIDS AIDS adalah singkatan dari: Acquired – tidak diturunkan. perawatan kesehatan dasar. 61 .

norma-norma. Dosis Jumlah suatu zat yang dikonsumsi seseorang dalam periode tertentu Obat (drug ) Dalam pengobatan. etnik. Anak-anak jalanan mungkin dapat dikatakan memiliki lebih dari satu budaya. bahasa dan kebangsaan. misalnya budaya orangtua mereka dan beberapa budaya remaja (diwakili oleh kelompok dengan siapa mereka bergaul. keyakinankeyakinan. istilah ini seringkali mengacu pada obat-obatan terlarang (Narkotika. kemampuan. dan kebiasaan. istilah obat mengacu pada setiap bahan kimia yang merubah proses biokimia atau fisiologi dari jaringan tubuh atau organisme. Ini termasuk karakter-karakter feminin dan maskulin yang khas. Detoksifikasi Perawatan yang diberikan kepada seseorang yang mengalami ketergantungan selama periode pengurangan atau penghentian obat yang menimbulkan ketergantungan tadi dengan tujuan untuk menghentikan zat dengan aman dan efektif. Budaya Secara luas didefinisikan sebagai kebiasaan dan tingkah-laku dari sekelompok orang. Dalam bahasa umum. Psikotropika dan Zat adiktif lainnya). Penyalahguna yang mengalami ketergantungan dapat menjadi toleran terhadap zat tertentu dan dapat mengalami gejala putus zat (“sakau”) jika mereka tidak menggunakan zat itu untuk waktu yang lama. dan pengharapanpengharapan mengenai bagaimana perempuan dan laki-laki seharusnya bersikap dalam berbagai situasi. tradisi. Dalam farmakologi. Seorang penyalahguna NAPZA akan mengalami masa transisi yang sulit ketika ia menghentikan suatu zat atau mengurangi jumlah zat yang digunakan setelah pemakaian yang lama atau berlebihan. istilah ini mengacu pada setiap zat yang berpotensi untuk mencegah atau menyembuhkan penyakit atau potensi untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. dan kegiatan -kegiatan) Ketergantungan NAPZA Para pemakai yang tergantung pada NAPZA seringkali memiliki kontrol yang lemah dalam memakainya dan terus menggunakannya meskipun terdapat masalah yang bermakna berkaitan dengan NAPZA ini.Konseling Merupakan proses komunikasi interpersonal di mana seseorang yang memiliki masalah atau suatu kebutuhan dibantu untuk memahami situasinya dalam upaya untuk menentukan dan menggunakan solusi yang dapat dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan atau mengatasi masalah tersebut. juga perbedaan dalam nilai-nilai bersama. Perbedaan dalam budaya dikarenakan adanya perbedaan dalam ras. Jender Ide dan pengharapan (norma) bersama yang luas mengenai perempuan dan laki-laki. yang sering digunakan untuk alasan non -medis (misalnya alasan rekreasional). 62 .

Ini termasuk pengambilan keputusan. Terdapat perubahan pada kewaspadaan. hepatitis B dan C) dan kondisi medis seperti abses/peradangan dan overdosis. Beberapa zat seperti bahan bakar yang mengandung timah. Metadone Obat yang dig unakan sebagai pengganti (substitusi) untuk membantu penyalahguna opiat (misalnya. empati. atau terapi/perawatan masalah yang berkaitan dengan penyalahgunaan NAPZA dan masalah kesehatan lain. kesadaran akan diri sendiri. Penasun (Pengguna NAPZA suntik) mungkin menyuntikkan obatobatan yang legal ataupun tidak. kontrol emosi atau tingkah laku seseorang. definisi yang luas dari IDU digunakan untuk mencakup orang-orang yang telah melakukan penyuntikan secara eksperimental atau melanjutkan penyuntikannya sekali-kali dan juga termasuk penyalahguna NAPZA yang telah mengalami ketergantungan hebat yang dapat menyuntik beberapa ka li dalam satu hari. meningkatkan harga diri. terinfeksi virus yang menular melalui darah (seperti HIV. HIV Human Immuno-deficiency Virus menyerang sistem kekebalan dan secara pelahan-lahan menghancurkannya. pemecahan masalah. Keterampilan Hidup (Life skills) Kemampuan yang memungkinkan individu-individu mengatasi tuntutan dan tantangan kehidupan sehari-hari.Penyalahgunaan zat berbahaya Pola penyalahgunaan zat yang menyebabkan kerusakan pada kesehatan fisik dan mental termasuk cedera akibat kecelakaan dan penganiayaaan. pengambilan keputusan. Penyuntikan NAPZA berbahaya terutama karena adanya risiko akan hepatitis. heroin) untuk menstabilkan penyalahgunaan NAPZA mereka dan mengalihkan 63 . menguasai emosi dan mengatasi stress. Intoksikasi Keadaan di bawah pengaruh satu atau lebih zat. Penyalahgunaan NAPZA yang dihisap asapnya dapat mengakibatkan kelainan sistem pernapasan dan luka ba kar. Dalam materi -materi ini. Tubuh tak dapat mempertahankan diri melawan infeksi dan mengakibatkan suatu kondisi yang dikenal sebagai AIDS. benzena dan pasta koka dapat mengakibatkan rusaknya kesehatan walaupun digunakan dalam jumlah yang sedikit. IDU (Injecting Drug User) Seseorang yang menggunakan NAPZA dengan cara menyuntik. persepsi. obat depresan (seperti heroin dan benzodiazepines) atau obat-obatan lain seperti steroid. Manifestasi khusus dari perubahan tersebut tergantung pada sifat dasar zat yang dikonsumsinya. modifikasi. hubungan interpersonal. Merek a mungkin menyuntik secara intramuskuler (melalui otot) atau secara intravena (melalui vena/pembuluh darah). pemikiran kreatif. Intervensi Dalam materi ini. keterjagaan. HIV dan infeksi lain dari jarum yang terkontaminasi. pemikiran. komunikasi yang efektif. sebuah intervensi didefinisikan sebagai sebuah aksi atau kegiatan yang membantu dalam pencegahan. obat stimulansia (seperti amfetamin dan kokain).

penyuntikan atau metode penyalahgunaan NAPZA yang berbahaya lainnya menjadi ke cara oral. baik secara sengaja maupun tidak sengaja dalam jumlah yang lebih banyak dari yang biasa digunakan oleh seseorang. Kelompok sebaya Orang-orang yang sama dengan ‘dirinya sendiri’. Pendidikan sebaya Para IDU. Kebanyakan program jarum suntik steril termasuk layanan untuk mengumpulkan jarum suntik bekas. Kelompok sebaya untuk seorang IDU biasanya adalah para IDU lain dengan usia yang hampir sama dan tinggal di lingkungan yang sama. Masing-masing kelompok sebaya memiliki peraturan sendiri yang tidak tertulis mengenai cara NAPZA digunakan dan mengenai perilaku yang diterima dan tidak diterima. Jumlah NAPZA yang dapat mengakibatkan kematian berbeda-beda pada setiap individu. para mantan penyalahguna NAPZA atau orang-orang yang dekat dengan komunitas yang menggunakan NAPZA dilatih untuk melaksanakan kegiatan edukasi informal atau mengadakan kegiatan edukasi mengenai berbagai topik yang berkaitan dengan kesehatan para IDU (dalam kelompok kecil atau individual). perawatan kesehatan dasar. Ini mengakibatkan dampak fisik atau mental yang merugikan secara akut. Overdosis Penyalahgunaan NAPZA. dan atau mesin penjualan. dan dimulai dengan menentukan tujuan yang menguntungkan IDU dengan suatu cara tertentu. Seringkali disertai dengan kembali ke tingkat penyalahgunaan NAPZA dan ketergantungan yang telah ada sebelumnya 64 . Dalam beberapa program. perawatan HIV dan layanan lainnya. klinik atau pos-pos khusus. Overdosis bisa mengarah pada kematian. dan air yang digunakan untuk mencampur bubuk heroin) diberikan kepada IDU melalui penjangkauan. unit-unit bergerak seperti mobil van dan bis. Program Kegiatan spesifik atau bertahap yang direncanakan. Kekambuhan (Relapse ) Kembali menggunakan NAPZA atau minum minuman beralkohol lain setelah suatu periode abstinensia di luar periode detoksifikasi. Program Jarum Suntik Steril Sebuah intervensi di mana jarum suntik dan peralatan suntik lain (sepe rti kapas beralkohol untuk membersihkan lokasi penyuntikan. dan mungkin mengandung konsekuensi jangka pendek atau jangka panjang. IDU harus memberikan atau didorong untuk memberikan jarum suntik bekas sebelum mereka bisa mendapatkan jarum suntik baru: program ini dis ebut program pertukaran jarum suntik (perjasun). Perilaku yang biasa dan diterima disebut sebagai “norma”. Obat ini diberikan di bawah pengawasan dan sebagai bagian dari suatu intervensi yang melibatkan konseling.

ditinggal oleh keluarga mereka atau mereka tidak lagi mempunyai keluarga yang masih hidup. berkeringat. rasa sakit dan lain -lain. Zat Produk yang mempengaruhi sistem saraf pusat (psikoaktif) seperti proses pikir. kejang. dan tempat lain. emosi serta sikap dan perilaku.Pekerja seks Seseorang yang melayani seks dengan uang. atau kekerasan fisik atau seksual di rumah. Zat-zat yang berbeda mempunyai manifestasi spesifik. benzodiazepin atau produk industrial seperti lem. hostel-hostel. seperti obat-obatan yang telah diakui dan rokok. Anak jalanan Anak jalanan bisa ber arti benar-benar hidup di jalanan . NAPZA atau komoditas lain. 65 . Putus zat Masalah -masalah yang dialami oleh seseorang pada penghentian atau pengurangan jumlah penyalahgunaan suatu jenis NAPZA setelah suatu periode penyalahgunaan yang panjang atau berlebihan. dan yang lainnya ilegal. gemetaran. seperti heroin dan kokain. Pekerja seks bisa lakilaki atau perempuan atau transjender/waria. masih berhubungan dengan keluarga mereka namun menghabiskan sebagian besar waktu di jalanan karena masalah kemiskinan. Beberapa zat adalah legal. perasaan. seperti gedung -gedung yang telah ditinggalkan. terpisah dari keluarga mereka dan pindah dari teman ke teman atau hidup di tempat perlindungan. Suatu zat dapat berupa obat seperti morfin. seperti depresi. kepadatan.

DC 2001.pdf AIDSCAP Policy and advocacy in HIV/AIDS Prevention Behaviour Change Communications (BCC) Handbook. Rusia.org/en/aids/aidscap/aidspubs/special/lessons/chap4. International Harm Reduction Development (OSI/IHRD) NY 2000. Juga diterbitkan dalam bahasa Spanyol sebagai: Burrows D. HIV risk reduction in injecting drug users. New York NY 10019 USA.fhi. dan Slovakia. Advocacy for harm reduction: objectives. In GV Stimson. Dorabjee J and Wodak A. D C Des Jarlais and A Ball (Eds) Drug Injecting and HIV Infection: Global Dimensions and Local Responses UCL Press. In: Lamptey PR and Gayle H (Eds) HIV/AIDS Prevention and Care in Resource-Constrained Settings.soros. Web site:http://www. Policies and interventions to stem HIV-1 epidemics associated with injecting drug use. Dari OSI/IHRD 400 West 59th St. Geneva 2000 Burrows D.fhi. Ensayos y Experiencas No. Walking on two legs: a developmental and emergency response to HIV/AIDS among young drug users in the CEE/CIS/Baltics and Central Asia Region: A review paper UNICEF.org/harm-reduction/ 66 . Starting and Managing Needle and Syringe Programmes: A guide for Central and Eastern Europe and the newly independent states of the former Soviet Union Open Society Institute. 1998 Web site: http://www.pdf AIDSCAP Making prevention work: Global lessons learned from the AIDS Control and Prevention (AIDSCAP) Project 1991 -1997. Herramientas para abogar por los derechos de los usuarios de drogas en relacion con la epidemia de VIH/SIDA. Washington. Arlington. Virginia: Family Health International 2002 Ball A. 39 July/August 2001 Burrows D. Chapter 4: Policy development and HIV/AIDS prevention: creating a supportive environment for behaviour change.BAB XI PUBLIKASI DAN SITUS INTERNET AFAO/NAPWA (Australian Federation of AIDS Organizations/ National Association of People Living with HIV/AIDS in Australia) Advocacy Guide to the Asia-Pacific Ministerial Statement on HIV/AIDS Sydney 2002. In: Proceedings of Global Research Network on HIV/AIDS and Drug Use Durban Meeting July 2000 . strategies and activities. Web site: http://www.net/AdvocacyGuideMinisterial. Tidak ada tanggal. National Institute on Drug Abuse. Dorabjee J and Wodak A.org/en/aids/aidscap/aidspubs/handbooks/bccpol. Web site: http://www.ahrn.html Ball A and Crofts N. Dalam bahasa Inggris. London 1998 Burrows D and Alexander G.

com/web/pb4/eng/4782D096-C740-41A5-AF06-D67C14B46DB8. Melbourne/ Chiang Mai 1999.icaso.gnpplus. Focuses on the economics of HIV/AIDS prevention and treatment. Web site (termasuk saluran ke Statement and pidato-pidato yang berhubungan): http://ahrn. PO Box 235 Phrasingha Post Office. Dalam bahasa Inggris. tools. Vienna. Advocacy in public health: roles and challenges International Journal of Epidemiology 2001: 30: 1226-1232.iaen.au/tobacco/worddocs/IJE. The Centre for Harm Reduction.ca/Maincontent/infosheets. HIT Liverpool 1999.aidslaw.pdf International HIV/AIDS Alliance Advocacy in Action: A toolkit to support NGOs and CBOs responding to HIV/AIDS Brighton 2001 Web site (19 dokumen yang terpisah): http://www. Juga tersedia dalam bahasa Perancis dan Spanyol. The Safer Injecting Briefing. Jaringan orang yang hidup dengan HIV/AIDS dan sumber-sumber yang berhubungan dengan keterlibatan ODHA dalam advokasi dan program-program. pekerja seks komersil. Manual for reducing drug-related harm in Asia . Preston A and Hunt N.htm Chapman S. Tersedia langsung dari HIT Cavern Walks. Thailand 50200. hukum kriminal. Macfarlane Burnet Centre for Medical Research and Asian Harm Reduction Network. Web site: http://www.html Costigan G. Crofts N and Reid G. Mathew Street. Berbagai macam publikasi termasuk mengenai HIV/AIDS dan IDU. 11-15 March 2002. Vietnam. Web si te: http://www.org/docs/AdvocatesGuide -English. Thailand.org/ungass/advocacyeng.pdf ICASO (International Council of AIDS Service Organizations) An Advocate’s Guide to the International Guidelines on HIV/AIDS and Human Rights Toronto 1999. isu-isu yang berhubungan dengan pekerjaan untuk para petugas kesehatan. Chiang Mai.drugtext.net/drugcontrol. Web site: http://www.aidsmap.net/ Derricot J. Web site: http://www.health.usyd. penjara. dan Mandarin (dengan edisi-edisi baru dalam bahasa-bahasa di Asia lainnya segera).org/ ICASO (International Council of AIDS Service Organizations) Advocacy Guide to the Declaration of Commitment on HIV/AIDS Toronto 2001.Canadian HIV/AIDS Legal Network. Web site: http://www. Hanya dalam bahasa Inggris. gay dan lesbian. stigma dan diskriminasi.htm 67 .icaso.edu. Web site: http://www. Web site:http://www.pdf Commission on Narcotic Drugs Resolution on HIV/AIDS and Drug Abuse 45th Session. Liverpool L2 6RE juga dalam Web sitehttp://www.ahrn. and analysis for researchers and policymakers. Tersedia dari Asian Harm Reduction Network. providing data. Juga tersedia dalam bahasa Perancis dan Spanyol.net/ International AIDS Economics Network.org/books/needle/ Global Network of People Living with HIV/AIDS.

stm KIT Health UNAIDS Catalogue for Local Responses to HIV/AIDS Amsterdam. World Health Organization/UNAIDS Geneva 1997. cost effectiveness studies and mathematical simulation models. Diakses pada tanggal 7 May 2002.hivtools.kit. Tersedia dalam bahasa Inggris dan Rusia.policyproject. Kumpulan yang terdiri dari sembilan halaman web yang memberikan gamba ran singkat langkah -langkah dalam advokasi untuk kesehatan masyarakat. Web site: http://www. Web site: http://www. Methadone Briefing HIT Liverpool 1997.cfm?topic=HIV Choose Assessing the HIV/AIDS Policy Environment in Kenya POLICY Project HIV/AIDS Toolkit: Building Political Commitment for Effective HIV/AIDS Policies and Programs Washington DC 2000.org/sara_pubs_list_sara_5.org/Aidscorps/tool_kit. Juga dalam bahasa Spanyol dan Perancis.org/publications/documents/specific/injecting/Hraids. Washington DC 1997. Web site: http://www.policyproject.pactworld.Johns Hopkins Centre for Communications Programs “A” frame for Advocacy.int/home/ United Nations preventing the transmission of HIV among drug abusers: A position paper of the UnitedNations System .htm POLICY Project Assessing the HIV/AIDS Policy Environment in Kenya Washington DC 2000.lshtm.htm Stimson G.com/pubs/AdvocacyManual. Tersedia langsung dari HIT Cavern Walks. DC 2001 Web site: http://www. Web site: http://sara.asp London School of Hygiene and Tropical Medicine HIV Tools Research Group: costing guidelines. CH-1211 Geneva 27. Web site: http://www. Mathew Street.drugtext. USAID Africa Bureau Office of Sustainable Development.cfm?topic=HIV Choose HIV/AIDS Toolkit: Building Political Commitment POLICY Project Networking for Policy Change: an advocacy training manual Washington DC 1999. Support for Analysis and Research in Africa.cfm Preston A.org/pr/advocacy/index.doc 68 . Indeks dan pengenalan: http://www. 20 avenue Appia.policyproject. Annex to the Report of 8th Session of Administrative Committee on Coordination Subcommittee on Drug Control 28-29 September 2000 Web site: http://www.jhuccp. Rapid Assessment and Response Guide on Injecting Drug Use.ac.org/books/methadone/ default.unaids.uk/ Pact Survival is the First Freedom: Applying Democracy and Governance Approaches to HIV/AIDS work Washington. Web site: http://www. Tidak ada tanggal. Fitch C and Rhodes T (Eds).aed.com/byTopic. From WHO/ UNAIDS. Web site: www.htm Sharma RR.com/byTopic.who. Switzerland.nl/health/html/aids_. Web site: http://www. Liverpool L2 6RE. An Introduction to Advocacy: Training Guide .

org/bestpractice/digest/table. Rusia). Promoting Reproductive Health UNFPA Response to HIV/AIDS WHO (World Health Organization) The Ottawa Charter on Health Promotion Geneva.org/publications/documents/specific/injecting/una99e1. V.html#inj UNAIDS/ODCCP Drug Abuse and HIV/AIDS: Lessons Learned Case studies Booklet: Central andEastern Europe and the Central Asian States 2001 Web site: http://www. Southern Cone countries (Latin America). dan Rusia.unaids. Perancis. Juga dalam bahasa Spanyol. Web site: http://www. Web site: http ://www.org/bestpractice/digest/table. Belarus.html WHO (World Health Organization)/ UNAIDS The Rapid Assessment and Response Guide on Injecting Drug Use (RAR -IDU) Eds Stimson. Web site: http://www.int/substance_abuse/pubs_prevention_assessment. T.unaids.ahrn. and Southern Cone of Latin America) Geneva Web site: http://www. Geneva 2001. Web site: http://www. and Rhodes.org/UNGASS/index.United Nations ACC Guidance Note for United Nations System Activ ities to Counter the World DrugProblem Administrative Committee on Co-ordination. Rusia.html UNAIDS/UNDCP Drug use and HIV Vulnerability: Policies in Seven Asian Countries UNAIDS APICT. 1997 (Juga dalam bahasa Portugis. and Spanyol). Nepal.org/publications/advocacy. Bangkok 2001. China..pdf UNAIDS Best Practice Collection Six best practice studies on HIV/AIDS and injecting drug use in China. html#inj UNDP HIV/AIDS: Implications for Poverty Reduction Background Paper prepared for UNDP for UN General Assembly Special Session on HIV/AIDS 25-27 June 2001.pdf UNFPA Advocacy Series Collection.pdf UNAIDS Drug use and HIV/AIDS UNAIDS Statement presented at the UN General Assembly Special Session on Drugs June 1998 Geneva. Perancis. Fitch. C.htm 69 .org/publications/documents/specific/injecting/JC673-DrugAbuse-E.int/hpr/archive/docs/ottawa. Web site: http://www. Spanyol. Web site: http://unaids.unaids. Web site: http://www.who.org/dpa/frontpagearchive/2001/june/22june01/hiv-aids. Bangladesh. 1986 Web site: http://www. Nepal.unaids.pdf United Nations General Assembly Special Session on HIV/AIDS Declaration of Commitment (dalam bahasa Inggris. Web site: http://www. Asia.net/Final-Guidance-Note -layed-out2. Asia region. G.undp.htm Includes: Preventing Infection.who.unfpa. Geneva.unaids.org/publications/documents/health/access/Drug.pdf UNAIDS Best Practice Collection: Injecting Drug Users (5 papers covering cost-effectiveness.

au/ 70 .lt/ceehrn.canadianharmreduction.com/ Central and Eastern European Harm Reduction Network (dalam bahasa Inggris dan Rusia) http://www.net/ Canadian Harm Reduction Network http://www.net/ Oceania Harm Reduction Coalition (Australasia/ Pacific) http://www.voxpopuli.ahrn. termasuk hubungan ke jaringan-jaringan harm reduction regional dan International Conference on the Reduction of Drug Related Harm http://www.net/ Asian Harm Reduction Network http://www. Sexual and Reproductive Health.ihra.relard. Dalam persiapan JARINGAN-JARINGAN HARM REDUCTION International Harm Reduction Association Jaringan global. Geneva WHO/MSD/MSP/00.harmreduction.org/ Harm Reduction Coalition (USA) http://www.14 WHO (World Health Organization) Evidence for Action on HIV Prevention among IDUs 12 papers.asn. including HIV/AIDS and STIs.chr.WHO (World Health Organization) Working with Street Children: Introduction A training Package on Substance Use.org/ Latin American Harm Reduction Network (Spanyol dan Portugis) http://www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful