BAB I PENDAHULUAN

Pengurangan dampak buruk NAPZA untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS dari dan di kalangan penyalahguna NAPZA suntikan (injecting drug user - IDU) dapat dilakukan melalui upaya penanggulangan yang komprehensif. Penanggulangan ini meliputi upaya promotif, preventif, terapi dan rehabilitatif serta dapat diakses oleh setiap individu pengguna NAPZA, termasuk mereka yang terinfeksi HIV. A. Program penanggulangan NAPZA Program penanggulangan NAPZA haruslah merupakan suatu paket kegiatan yang meliputi: 1. Terapi ketergantungan NAPZA, terutama terapi substitusi NAPZA seperti pemberian maintenance metadon, buprenorfin, program therapeutic community , dan terapi rawat jalan. 2. Kegiatan penjangkauan untuk mengakses, memotivasi, dan mendukung IDU yang belum dan tidak sedang menjalani terapi, yang bertujuan untuk mengurangi risiko perilaku seks yang tidak aman dan perilaku penggunaan NAPZA (yang pada akhirnya dapat menghentikan penggunaan NAPZA). 3. Program Jarum Suntik. Program ini telah terbukti dapat mengurangi dampak buruk akibat penggunaan NAPZA suntik dan tidak menimbulkan peningkatan penggunaan NAPZA maupun dampak lainnya terhadap masyarakat. 4. Program pencegahan dan edukasi NAPZA dan HIV/AIDS perlu ditingkatkan, termasuk materi mengenai cara komunikas i, informasi, dan edukasi (KIE). Program ini bertujuan untuk menimbulkan kesadaran dan penyediaan pendidikan yang khusus kepada IDU dan keluarganya mengenai cara penularan dan pencegahan HIV, pelatihan keterampilan hidup (life skills), distribusi kondom, konseling dan tes HIV sukarela dan rahasia ( voluntary and confidential counselling and HIV testing – VCT). 5. Pengobatan, perawatan, dan dukungan dengan melibatkan partisipasi masyarakat bagi IDU yang terinfeksi HIV dan keluarganya. Kegiatan ini termasuk untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang terjangkau, terapi anti-retroviral dan pengobatan infeksi oportunistik, perawatan di rumah, intervensi pencegahan penularan HIV yang efektif, mendapatkan pelayanan sosial dan masalah hukum, dukungan psiko -sosial dan pelayanan konseling.

1

B. Prinsip-prinsip advokasi untuk mencegah penularan HIV dari dan di kalangan IDU 1. Harus dapat menghindari terjadinya peningkatan dampak buruk berupa peningkatan prevalensi HIV/AIDS . 2. Tujuan jangka panjang dan pendek harus seimbang. 3. Dapat mengemukakan bukti berdasarkan hasil penelitian tentang efektifitas pencegahan HIV/AIDS dikalangan IDU. 4. Sasaran advokasi harus spesifik dan metodenya disesuaikan dengan lingkup sosial, budaya, dan politik masyarakat . 5. Ditujukan pada berbagai sektor dan tokoh-tokoh yang ada di masyarakat. 6. Harus dilaksanakan sesegera dan seluas mungkin dengan tetap memperhatikan konteks sosial, politik, dan kemampuan pendanaan. 7. IDU dan ODHA dapat dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program. 8. Kegiatan advokasi ini tidak hanya berkonsentrasi pada pencegahan HIV pada kelompok IDU saja namun juga pada perawatan, pengobatan dan dukungan, . 9. Mampu mengangkat isu baru dan memberikan respon terhadap institusi, media, dan yang lainnya dalam menanggapi HIV di kalangan IDU

2

BAB II PENDEKATAN EFEKTIF UNTUK MENCEGAH HIV/AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIK
Epidemi penyalahgunaan NAPZA suntikan dan infeksi HIV yang berkaitan dengan penggunaan jarum suntik secara bersama telah menimbulkan dampak yang serius terhadap kesehatan serta kesejahteraan sosial dan ekonomi di banyak negara. Pada tahun 2002, epidemi ganda ini telah terjadi di Amerika Utara dan Selatan, Eropa Timur, Tengah, dan Barat, Asia Selatan dan Tenggara, dan sedang mulai berkembang di Timur Tengah dan Afrika. Jumlah negara yang melaporkan adanya infeksi HIV di kalangan IDU meningkat dari 54 negara pada 1992 menjadi 120 negara pada 2001. A. CONTOH KASUS 1. Kasus di Indonesia Depkes RI bekerja sama dengan, WHO, UNAIDS dan ASA/FHI/USAID pada tahun 2002 memperkirakan terdapat 159.000 kasus pengguna NAPZA suntik di Indonesia. Dari jumlah tersebut sebanyak 42.750 kasus (33.46 %) diperkirakan positif mengidap HIV/AIDS. Dua penelitian dilakukan baru -baru ini juga menunjukkan angka infeksi HIV dikalangan IDU telah mencapai 15 %. Dalam skala yang lebih luas ini bisa berarti jika 10 % saja dari satu juta pengguna NAPZA terinfeksi HIV maka akan terdapat paling sedikit 100.000 kasus. Sedangkan pihak lain memperkirakan sebanyak 500.000 – 2 juta pengguna NAPZA di Indones ia. Sebagian besar diantaranya menggunakannya dengan cara menyuntik dan sebagian diantaranya melakukan penyuntikan secara bergantian. Pada tahun 2000, 187 narapidana di lembaga pemasyarakatan Krobokan Bali menjalani tes HIV, hasilnya 35 dari 62 (56%) Na rapidana yang mempunyai riwayat memakai NAPZA dengan menyuntik ternyata mengidap HIV positif. Sebuah pusat rehabilitasi di Bali pada tahun 2000 juga telah memeriksa tes HIV pada 14 orang pasien, 8 orang diantaranya HIV positif. Data terakhir dari Puskesmas Kelurahan Kampung Bali-Kecamatan Tanah Abang Jakarta Pusat sampai bulan Juli 2002, telah melakukan konseling tes sukarela (VCT) HIV pada 60 pengguna NAPZA suntik, 56 diantaranya atau 93% dengan hasil HIV positif. 2. Kasus di Negara Lain Ledakan epidemi HIV di kalangan IDU telah terjadi di wilayah yang luas dalam kurun waktu 20 tahun ini, dimulai di New York (USA) pada 1979, diikuti oleh kota -kota besar serupa seperti Edinburg (UK), Bangkok (Thailand), Ho Chi Minh (Vietnam), Santos (Brazil), Odessa (Ukraina), Svetlogorsk (Belarus), Moskow dan Irkutsk (Federasi Rusia) dan Narva (Estonia).

3

dan Dhaka (Bangladesh) telah tetap berada di bawah 5 %. o pencampuran NAPZA sebelum digunakan dan adanya ritual tertentu yang berhubungan dengan penyuntikan NAPZA. meskipun terjadi ledakan epidemi di kalangan IDU di banyak tempat. memotivasi.Ledakan juga terjadi melintasi seluruh provinsi seperti Manipur di India dan Yunnan di Cina. o ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi yang dikandungnya. Di Manipur. Penurunan ini terjadi karena adanya kegiatan khusus melalui pendekatan pengurangan dampak buruk NAPZA untuk menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU. dan badan-badan internasional lainnya. di mana epidemi baru mulai muncul pada sekitar 1996. Pada tahun 2002 masyarakat internasional telah mencapai sebuah konsensus mengenai komposisi dari pendekatan -pengurangan dampak buruk NAPZA ini. serta melintasi negara seperti Myanmar. Epidemi HIV dengan pertumbuhan tercepat yang pernah tercatat terjadi di kalangan IDU di Rusia. pre valensi HIV di kalangan IDU telah melonjak dari di bawah 5% menjadi lebih dari 40% dalam kurun waktu kurang dari 12 bulan. sebesar 45% dari pasangan seksual tetap IDU yang mengidap HIV terinfeksi HIV selama kurun waktu 6 tahun. juga mengurangi timbulnya HIV. o luka tertusuk jarum suntik dan transfusi darah. Penularan HIV dari dan di kalangan IDU terjadi melalui beberapa cara antara lain : o penggunaan jarum suntik bersama. dapat membantu IDU mengurangi jumlah penggunaan NAPZA secara signifikan. Edinburgh. sepakat bahwa kegiatan-kegiatan berikut ini sudah sangat diperlukan pelaksanaannya untuk mencegah penularan HIV/AIDS di kalangan IDU. Upaya penjangkauan juga ditujukan untuk mengembalikan IDU ke dalam proses terapi untuk mempertahankan kondisi abstinen. Sebagai contoh. di Manipur. diperlambat dan bahkan diturunkan. badan-badan PBB bersama dengan WHO. Dalam kurun waktu 1996 – 2001 kebanyakan bayi yang mengidap HIV di Ukraina dan Federasi Rusia dilahirkan oleh ibu yang juga IDU atau menjadi pasangan seks IDU. antara lain: • • Terapi ketergantungan NAPZA. dan Brazil dapat diperlambat hingga beberapa tahun. Kegiatan-kegiatan penjangkauan menjangkau. yang dapat mengarah pada epidemi berikutnya pada kelompok subpopulasi lain di mana perilaku yang berisiko terhadap HIV biasa terjadi. o perilaku heteroseksual dan homoseksual yang berisiko tinggi. Epidemi HIV di kalangan IDU dapat mengakibatkan epidemi yang luas di negara yang memiliki jumlah IDU yang banyak. 4 . telah terdapat 80-90% infeksi HIV baru di kalangan IDU pada tahun 2002. prevalensi meningkat dari di bawah 10% menjadi lebih dari 60% dalam waktu 6 bulan. New York. Misalnya prevalensi HIV di beberapa kota di Australia. Namun demikian. infeksi dapat dicegah. dan mendukung IDU yang tidak sedang dalam terapi untuk mengurangi perilaku penggunaan NAPZA berisiko dan perilaku seksual berisiko. London. Selain itu. program therapeutic community . Di Eropa Timur. terutama terapi substitusi NAPZA seperti terapi maintenance metadon. Dalam makalah yang berjudul “Preventing the transmission of HIV among drug abusers: A position paper of the United Nations System” (2000). hal tersebut juga dapat memicu perluasan epidemi di negara -negara di mana sebagian besar penularan HIV terjadi melalui salah satu jalur kegiatan seks. Sedangkan epidemi HIV di kalangan IDU di Nepal. dan program abstinensia bagi pasien rawat jalan. Di beberapa daerah.

d) Cakupa n menyeluruh dan komprehensif pada populasi yang dituju merupakan hal yang penting . Agar langkah-langkah pencegahan menjadi lebih efektif dalam mengurangi epidemi yang sedang berlangsung. Lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat. g) Upaya untuk menghentikan penularan HIV memerlukan 3 strategi sebagai berikut: • Mencegah penyalahgunaan NAPZA. dan hak-hak budaya mereka tidak dihargai. h) Fasilitas sarana pelayanan terapi perlu disiapkan dengan berbagai jenis dan metode terapi yang sesuai dengan kebutuhan IDU. sebab begitu HIV masuk ke dalam suatu komunitas IDU. Program ini akan lebih bermanfaat lagi bila dilaksanakan secara terpadu dengan program KIE. Berdasarkan kebijakan-kebijakan yang dinyatakan dalam UN Drug Control Convention and Declaration on the Guiding Principles of Drug Demand Reduction. Progam ini juga berfungsi sebagai sarana pertemuan antara IDU dengan pengelola program termasuk terapi ketergantungan NAPZA. besarnya masalah penyalahgunaan NAPZA serta kecenderungan dan pola infeksi HIV. Program pencegahan HIV dan terapi ketergantungan NAPZA dalam institusi penegakan hukum seperti lembaga pemasyarakatan atau penjara. misalnya terapi substitusi NAPZA. maka akan terjadi penyebaran yang sangat cepat. program penanggulangan AIDS. UN Human Rights documents on UN Health Promotion Policy documents. Pendekatan dengan cara menghukum dapat membuat orang-orang yang membutuhkan perawatan menyembunyikan diri. Masyarakat menjadi lebih rentan terhadap infeksi bila masalah ekonomi. Hal ini termasuk bila hak-hak sipil tidak dihargai. • Memfasilitasi agar IDU bersedia menjalani terapi ketergantungan NAPZA • Membentuk kelompok-kelompok penjangkauan dengan mengikutsertakan IDU dalam strategi pencegahan HIV yang akan melindungi mereka dan teman-temannya serta keluarganya dari bahaya HIV serta mendorong mereka agar bersedia menjalani terapi ketergantungan NAPZA dan perawatan medis. prinsip -prinsip dan pendekatan strategis berikut ini dapat digunakan untuk menanggulangi HIV/AIDS di kalangan IDU: a) Perlindungan terhadap hak asasi manusia adalah penting bagi keberhasilan pencegahan HIV/AIDS. perlu menjangkau sebanyak mungkin individu dari populasi yang berisiko.• Program pertukaran jarum suntik (perjasun) menunjukkan pengurangan dalam perilaku penyuntikan yang berisiko dan penularan HIV. c) Intervensi sebaiknya dilaksanakan berdasarkan hasil penjajakan kebutuhan (need assessment ). kesehatan sos ial. dan rujukan. f) Permasalahan penyalahgunaan NAPZA tidak dapat hanya ditanggulangi semata-mata dengan upaya penegakan hukum saja . 5 . e) Program pengurangan permintaan (demand reduction) NAPZA dan program pencegahan HIV harus terintegrasi dalam suatu kebijakan kesehatan dan kesejahteraan sosial melalui program promotif-preventif. merupakan komponen yang sangat penting dalam mencegah penularan HIV. termasuk penanggulangan kemiskinan serta kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan lapangan pekerjaan dapat mendukung intervensi yang spesifik dengan melibatkan kegiatan-kegiatan multi-disipliner dan menyediakan pelatihan dan dukungan yang memadai . b) Pencegahan HIV pada kelompok IDU harus dimulai sedini mungkin. maka respon terhadap epidemi yang efektif akan sulit dilaksanakan. Sarana ini dapat menyediakan berbagai terapi alternatif. konseling.

Pendidikan tentang dampak buruk . termasuk kemudahan untuk mendapatkan pelayanan medik yang terjangkau secara ekonomi dan perawatan di rumah. intervensi pencegahan HIV yang efektif. Penjangkauan IDU dapat dilakukan melalui pendid ikan dengan cara tatap muka mengenai risiko -risiko HIV dan langkah-langkah pencegahannya. Penyediaan alat suntik yang steril dan zat suci hama seperti cairan pemutih termasuk penyediaan kondom. 6 . dan advokasi yang terarah dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi diskriminasi. Penyediaan terapi substitusi NAPZA dapat membantu IDU dalam mengurangi atau menghentikan penyuntikan NAPZA. 4. Penggunaan materi KIE ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran akan risiko HIV di kalangan IDU. j) Program pengobatan harus menyediakan pemeriksaan terhadap HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya serta memberikan konseling untuk membantu IDU agar dapat mengubah perilaku berisiko atau mencegah risiko terinfeksi k) Program pencegahan penularan HIV juga harus berfokus pada perilaku seksual berisiko di kalangan IDU atau pengguna NAPZA lainnya. 5. B. Oleh karena itu perlu adanya sumberdaya yang memadai untuk dapat menjangkau klien yang banyak dimasyarakat .i) Meningkatkan partisipasi aktif kelompok sasaran (IDU) terhadap permasalahan HIV dalam seluruh upaya pengembangan dan pelaksanaan program. Kebijakan yang mendukung. 3. buprenorphin n) Dukungan dan perawatan yang melibatkan partisipasi masyarakat harus disediakan bagi IDU yang terinfeksi HIV dan keluarganya. dukungan psiko-sosial dan pelayanan konseling. m) Program kegiatan intervensi dalam pencegahan HIV di kalangan IDU meliputi: • Menyelenggarakan KIE • Penjangkauan pengguna NAPZA • Pendampingan termasuk : .Pendidikan sebaya • Konseling tes HIV secara sukarela dan rahasia (VCT) • Terapi ketergantungan NAPZA • Pelayanan kesehatan dasar dan rujukan • Pertukaran jarum suntik • Penjualan dan distribusi jarum suntik • Terapi substitusi dengan menggunakan metadone. serta pendistribusian materi KIE dan upaya pencegahan. pelayanan sosial dan hukum. l) Kegiatan penjangkauan dan pendidikan kelompok sebaya di luar fasilitas pelayanan kesehatan diperlukan untuk menjangkau kelompok yang tidak terjangkau oleh fasilitas pelayanan kesehatan tersebut. merupakan sarana utama dalam pencegahan HIV dari dan di kalangan IDU. 2. PRINSIP-PRINSIP PENGURANGAN DAMPAK BURUK Prinsip-prinsip pelaksanaan program pengurangan dampak buruk NAPZA dalam mencegah in feksi HIV di kalangan IDU adalah : 1. perundang-undangan. pendidikan kesehatan serta motivasi di kalangan IDU dan masyarakat sekitarnya.Cara penyuntikan yang aman . sehingga IDU dengan mudah mendapatkan pelayanan pencegahan HIV.

begitu pula penelitian dan pengembangan yang terus meningkat. memastikan: program pencegahan yang beragam yang mempertimbangkan keadaan lingkungan setempat. diagnosis dan teknologi yang terkait. Komite Narkotika ( Committee on Narcotic Drugs) mengeluarkan suatu resolusi mengenai HIV/AIDS dan penggunaan NAPZA yang mendukung Negara-negara Anggota Komisi untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan dibawah ini: • Meningkatkan upaya-upaya untuk mengurangi permintaan akan NAPZA dan memastikan bahwa paket program penanggulangan secara komprehensif yang terdiri dari langkahlangkah promotif. etika. Program ini ditujukan untuk: o mengurangi perilaku berisiko dan mendorong perilaku seksual yang bertanggung jawab. • Hingga tahun 2002. 7 . dan terapi yang efektif akan membutuhkan perubahan perilaku dan meningkatkan ketersediaan akses pelayanan yang tidak membeda-bedakan. termasuk tidak berhubungan seks sama sekali atau setia pada satu pasangan. o upaya-upaya pengurangan dampak buruk yang berkaitan dengan penggunaan NAPZA . perawatan.Pada tahun 2001. informasi. obat-obatan termasuk terapi anti-retroviral. Pada tahun 2002. pelicin. Program penjangkauan dan program jarum suntik merupakan metode yang efektif dalam mempertahankan prevalensi HIV yang rendah di kalangan IDU. Hingga tahun 2005. terapi. peralatan suntik yang steril. Majelis Umum PBB mempertimbangkan isu-isu HIV/AIDS dan pada UN General Assembly Special Session on HIV/AIDS (UNGASS) Decleration of Commitment yang ditandatangani oleh perwakilan dari 189 negara. antara lain untuk vaksin. menyatakan bahwa: (Paragraf 23). termasuk kondom bagi lakilaki dan wanita dan peralatan suntik yang steril. sebagai upaya terbaik dalam menanggulangi HIV/AIDS di kalangan IDU: • • Memastikan bahwa kebijakan dan strategi nasional mengenai NAPZA dan HIV/AIDS harus sejalan. o penyediaan darah untuk transfusi yang aman. termasuk mereka yang terinfeksi HIV/AIDS. dan nilai-nilai budaya yang terdapat ditiap negara. Mengakui bahwa strategi-strategi pencegahan. kondom. (Paragraf 52). dalam bahasa yang paling mudah dimengerti oleh kebanyakan masyarakat dan sesuai dengan budayanya. dan rehabilitatif dapat diakses oleh seluruh individu yang menggunakan dan menyalahgunakan NAPZA . termasuk komunikasi. Makalah-makalah tersebut mengacu pada hal-hal di bawah ini. o terapi dini dan efektif untuk infeksi yang ditularkan secara seksual. mikrobisida. dan edukasi. UNAIDS telah menempatkan enam makalah mengenai penggunaan NAPZA suntikan dalam Best Practice Collection. o perluasan akses penyediaan bahan-bahan penting lainnya. Mengimplementasikan langkah-langkah yang dapat mengurangi atau menghilangkan kebiasaan berbagi peralatan suntik yang tidak steril. selaras dan tidak timbul permasalahan hukum untuk keberhasilan program pencegahan HIV di kalangan IDU. o perluasan akses ke fasilitas pelayanan konseling dan tes HIV sukarela dan rahasia. preventif.

Inisiatif regional untuk membantu negara -negara mengadopsi panduan-panduan resmi untuk memfasilitasi kegiatan pencegahan. Persepsi dari petugas kesehatan sendiri yang beranggapan bahwa pengobatan m edis bagi IDU hanya akan menyia -nyiakan sumber daya yang sudah terbatas dan para pengguna NAPZA dianggap sebagai “sampah masyarakat”. Penolakan dari pihak kepolisian terhadap program jarum suntik yang dianggap bertentangan dengan upaya-upaya penegakan hukum yang melarang pemasokan NAPZA atau melarang ketersediaan peralatan suntik. dan dapat menginformasikan fasilitas pelayanan kesehatan dan sosial kepada IDU. bahwa kegiatan pencegahan yang efektif akan meningkatkan jumlah pengguna NAPZA. antara lain: • • • • • • • Kekuatiran yang tidak terbukti. 8 . dapat mengurangi kenyamanan lingkungan. Kekuatiran bahwa program metadon maintenance dan program efektif lainnya bukan merupakan bentuk terapi ketergantungan NAPZA yang tepat. Penolakan dari pemerintahan daerah dan masyarakat sekitar terhadap pendirian tempattempat untuk pelaksanaan program harm reduction ini dengan alasan bahwa fasilitas-fasilitas pelayanan yang melayani para IDU. namun kegiatan-kegiatan efektif yang berhubungan dengan HIV/AIDS dan penggunaan NAPZA suntikan baru dilaksanakan di 55 negara di dunia. Jumlah ini kurang dari setengah jumlah negara -negara yang mempunyai kasus HIV di kalangan IDU. Panduan tersebut bertujuan agar para politisi dan media menjadi lebih peka terhadap masalah ini. Penjelasan berbagai media masa yang membandingkan program yang terlalu “berbaik hati” terhadap para pengguna NAPZA yang tidak bisa diperbaiki lagi.• • • Program jarum suntik sebagai salah satu cara yang efektif dan murah untuk mengontrol epidemi HIV di kalangan IDU. karena dalam program ini penghentian penggunaan NAPZA (abstinensia) bukan merupakan tujuan utama. Pendidikan kelompok sebaya di kalangan IDU dalam pencegahan HIV mencakup pendidikan penjangkauan dan program kelompok sebaya dalam fasilitas terapi ketergantungan. Kritikan bahwa langkah-langkah yang efektif ini terlalu toleran dan seharusnya diganti dengan cara memberi hukuman pada para pengguna NAPZA . C. mendorong penelitian. Di sejumlah negara. telah terjadi penolakan yang kuat terhadap pengenalan dan pengelolaan program-program efektif ini. Penjajakan cepat (rapid assesment) sebagai suatu metode untuk mendapatkan pemahaman yang cepat mengenai HIV/AIDS dan situasi penggunaan NAPZA di mana intervensi yang efektif dapat dikembangkan. dan melibatkan masyarakat dalam upaya penanggulangan. Penolakan ini terjadi dalam beberapa b entuk. FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT PROGRAM Meskipun telah mendapatkan dukungan dari badan-badan internasional dan berbagai kesepakatan internasional. kegiatan -kegiatan seperti itu seringkali dilakukan dalam ruang lingkup yang sangat kecil atau berupa proyek percontohan saja. Bahkan di negara-negara yang telah melaksanakan satu atau lebih program-program efektif ini. sementara pasien “yang tidak berdosa” tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.

program jarum suntik seringkali dihubungkan sebagai kegiatan -kegiatan harm reduction. Namun demikian. ekonomi dan sos ial yang merugikan sebagai akibat dari penggunaan NAPZA . atau mempromosikan pendekatan pengurangan dampak buruk ini untuk pencegahan HIV/AIDS di kalangan IDU. Kurangnya pengetahuan di kalangan pembuat kebijakan mengenai seberapa cepat infeksi HIV dapat menyebar di kalangan IDU dan program pengurangan dampak buruk NAPZA . Kritikan. tidak ada persetujuan internasional mengenai definisi harm reduction ini. Istilah lain harm reduction adalah langkah-langkah apa saja yang dapat membantu mengurangi risiko penggunaan NAPZA (sehingga memungkinkan dimasukkannya kegiatan-kegiatan pengurangan pemasokan (supply reduction ) dan pengurangan permintaan (demand reduction). TERMINOLOGI Istilah “ harm reduction” telah digunakan secara luas pada tahun 80-an untuk program-program dan kebijakan-kebijakan yang mencoba merespon secara efektif ancaman serius epidemi HIV dari dan di kalangan IDU tersebut. pembuat kebijakan. maupun mereka yang sedang berupaya untuk memulai. Kritikan terhadap pengurangan dampak buruk NAPZA dari pusat-pusat terapi dan lembaga penelitian yang menganggap bahwa sistim penegakan hukum dan terapi ketergantungan NAPZA sebaiknya mengarah pada penghentian tota l (abstinensia). Beberapa jenis penolakan yang mungkin terjadi: • Kurang atau terlambatnya pengakuan para politisi maupun birokrat bahwa masalah IDU ini merupakan masalah yang serius. seringkali berdasarkan pada keterbatasan dan kurangnya pengetahuan tentang program ini. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman tentang masalah yang terkait dengan adiksi NAPZA (khususnya di beberapa negara berkembang dan negara transisi). LSM.• • Kekuatiran bahwa penekanan pada program pencegahan HIV yang efektif bagi IDU merusak program utama pencegahan NAPZA maupun program terapi ketergantungan NAPZA di negara tersebut. misalnya pernyataan bahwa program harm reduction ini bertentangan dengan budaya atau ajaran agama yang berlaku. Kurangnya pengalaman atau pelatihan mengenai advokasi dan cara pendekatan dikalangan para petugas kesehatan. 9 . Kurangnya pengalaman atau pelatihan mengenai pengurangan dampak buruk NAPZA di antara para petugas kesehatan dan petugas LSM. mengelola. Kurangnya kesadaran masyarakat akan efektifitas pendekatan pengurangan dampak buruk NAPZA ini dan manfaatnya dalam mengurangi epidemi HIV di kalangan IDU. Keyakinan umum di beberapa negara pada mekanisme penegakan hukum dan pendekatan yang semata -mata mengarah pada penghentian total dari penggunaan NAPZA (abstinent only approach ) dapat “memecahkan” masalah ketergantungan NAPZA (termasuk infeksi HIV yang berkaitan dengan penggunaan NAPZA). • • • • • • D. Dalam definisi ini. Definisi yang biasa dipakai mengacu pada upaya -upaya untuk mengurangi dampak kesehatan.

Di beberapa negara. istilah “harm reduction” ini tak dapat diterima secara politis karena dapat diintepretasikan sebagai legalisasi obat-obatan. Supply reduction mengacu pada berbagai tindakan yang digunakan oleh berbagai negara untuk mengontrol atau menghapus ketersediaan NAPZA dijalur ilegal. dan mengajak para pengguna NAPZA aktif untuk mau mengontrol. sehingga istilah dan kegiatan apapun yang digambarkan dalam istilah ini selalu ditolak. perbedaan antara penerapan kegiatan-kegiatan demand reduction (mendidik masyarakat tentang masalah penggunaan NAPZA. maka upayaupaya ini disebut sebagai “pendekatan penegakan hukum semata ( law enforcement only approach)” dan ini dinyatakan PBB sebagai upaya yang tidak efektif untuk mengatasi HIV/AIDS di kalangan IDU dan permasalahan lain yang berkaitan dengan penggunaan NAPZA. sebagian yang lain lebih menyukai kebalikannya. Karena kelemahan definisi ini dan untuk alasan-alasan politis yang berkaitan dengan pandangan beberapa organisasi maupun individu. istilah ‘risk reduction’ lebih banyak digunakan untuk merujuk berbagai kegiatan termasuk yang telah dijelaskan di awal bab ini. Oleh karena itu. Hal yang paling penting dari perdebatan ini. Istilah lain yang digunakan dalam buku panduan ini merupakan perbedaan antara kebijakan dan strategi yang dikenal sebagai “ supply reduction” (misalnya mencegah NAPZA masuk ke suatu negara dan menangkap penjual NAPZA) yang semata -mata merupakan suatu pendekatan pada penegakan hukum. Badan-badan internasional menyetujui bahwa ini merupakan respon yang tepat apabila tindakan yang lain seperti demand reduction dan pengurangan dampak buruk NAPZA (harm reduction) untuk mencegah HIV/AIDS dari dan di kalangan IDU juga dilaksanakan – meskipun ada perbedaan pendapat tentang jenis sumber daya yang harus disediakan untuk ke tiga area ini. dilaksanakan. Apabila upaya-upaya supply reduction mengabaikan semua pendekatan yang lain. pelaksana advokasi harus berhati-hati dalam mempertimbangkan istilah yang akan digunakan. dan sebagian yang lain menyatakan tidak ada bedanya. masih terdapat perdebatan yang seru mengenai penggunaan istilah “harm reduction”. melatih para remaja agar mampu menolak tawaran untuk tidak menggunakan NAPZA. mengurangi atau menghentikan penggunaan NAPZA) dengan 10 . dan dikembangkan: seperti yang dapat dilihat pada perjanjian internasional mengenai kebutuhan untuk kegiatan -kegiatan ini.Beberapa penggunaan lain istilah ini juga merujuk pada upaya-upaya untuk mengadakan perubahan terhadap kebijakan mengenai NAPZA (termasuk hukum yang berkenaan dengan penggunaan NAPZA) sebagai langkah penting dalam mengurangi risiko penyalahgunaan NAPZA terhadap individu atau pun masyarakat. Demikian pula halnya. Dalam beberapa konteks. Pemberian istilah pada sejumlah kegiatan adalah untuk menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan ini memiliki tujuan-tujuan yang berbeda (terutama dalam jangka pendek) dan memiliki cara -cara yang berbeda pula dengan pendekatan lain. adalah kegiatan -kegiatan yang telah disebutkan sebelumnya ini hendaknya dapat dipromosikan. Sebagian orang yang bergerak dalam penanggulangan HIV di kalangan IDU lebih suka menggunakan istilah “harm reduction” dari pada “ risk reduction”. dipertahankan.

Namun demikian. namun tidak begitu halnya dengan abstinent only approach (yang tidak menyertakan terapi substitusi NAPZA dan tujuan terapi jangka pendek lainnya) hal ini dianggap tidak efektif dalam mengatasi HIV/AIDS di kalangan IDU. “taktik”. merupakan bagian penting dari suatu pengurangan dampak buruk NAPZA. Beberapa istilah lain. Buku panduan ini lebih memfokuskan pada metode yang telah terbukti menghasilkan hasil yang cepat dan dramatis. Untuk advokasi yang cepat dan efektif dalam konteks perluasan pandemi HIV/AIDS yang sangat cepat. Dengan munculnya epidemi HIV di kalangan IDU. dan pemahaman yang lebih luas mengenai adiksi dan cara orang menggunakan dan berhenti dari NAPZA. “target”. sekarang digunak an dalam peristilahan politik. dan advokasi. dalam jangka panjang. Demand reduction . banyak penelitian mengenai keefektifan metode terapi ketergantungan NAPZA. adalah istilah yang diambil dari bidang militer. organisasi dan individu yang mempercayai bahwa hanya satu tujuan yang bisa diterima dalam terapi ketergantungan NAPZA yaitu bahwa pengguna berhenti ( abstinensia) menggunakan NAPZA selamanya. misalnya istilah ”strategi”. Para pelaksana advokasi perlu secara seksama mempertimbangkan gabungan yang tepat dari pendekatan jangka pendek dan jangka panjang berdasarkan konteks sosial dan politik di mana mereka bekerja. dapat menjadikan para pengguna berhenti total (total abstinent) sebagai tujuan jangka panjang. Program demand reduction merupakan bagian penting dari pengurangan dampak buruk NAPZA dalam mengatasi HIV di kalangan IDU. 11 . meningkatkan keterampilan sosial. Istilah ini dikenal sebagai abstinence only approach dan populer terutama di kalangan institusi terapi ketergantungan NAPZA pada tahun 60-an. “kampanye”. yang dapat menyebabkan kekuatiran pada beberapa pembaca. bisnis. Pemilihan istilah militer dalam buku panduan ini merefleksikan pengalaman dan pandangan dari banyak ahli pada cara-cara di mana upaya -upaya advokasi yang berhasil telah terjadi perubahan yang besar dalam waktu yang singkat. Upaya untuk mengurangi atau memberhentikan penyuntikan. perbaikan hak asasi manusia. Metode terapi substitusi NAPZA. Istilah-istilah yang pada mulanya digunakan dalam konteks kemiliteran saat ini digunakan sebagai referensi dalam berbagai kegiatan. perbaikan kekuasaan. terutama penyediaan berbagai layanan terapi ketergantungan NAPZA termasuk terapi substitusi NAPZA. metode dan ide militer para pemikir politik yang militeris tik dapat menjadi sangat berguna. Beberapa pelaksana advokasi lebih memilih untuk menghindari istilah militer. metode ini perlu diimbangi dan barangkali malah diganti dengan metode yang lebih membangun peningkatan demokrasi. masih ada beberapa pandangan pemerintah. Meskipun demikian. mengurangi perilaku kriminal dan lain-lain sebagai tujuan jangka pendek juga dapat diterapkan.pendekatan yang hanya mengarah pada berhenti total dari penggunaan NAPZA (abstinence only approach). dan sebagainya. telah disepakati bahwa dibutuhkan bermacam-macam metode terapi.

dan perilaku individu. posisi atau program-program dari semua jenis institusi. Politisi. Departemen Pertahanan dan Keamanan. Birokrat. Departemen Sosial. 3. KELOMPOK SASARAN ADVOKASI ANTARA LAIN: • • Pembuat kebijakan di beberapa Departemen termasuk Kesehatan. APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN ADVOKASI Banyak naskah dan buku panduan telah dihasilkan untuk membantu upaya-upaya advokasi pada program dan kebijakan HIV/AIDS. norma sosial). definisi di atas terlalu umum atau juga sempit bagi yang melaksanakan advokasi untuk pendekatan penanganan HIV/AIDS yang efektif di kalangan IDU. khususnya yang berhubungan dengan HIV/AIDS di kalangan IDU. Dapat dicatat bahwa tidak ada padanan yang tepat untuk istilah “advokasi” dalam beberapa bahasa. Semuanya difokuskan untuk memberikan pengalaman kepada orang-orang yang telah melaksanakan advokasi baik yang berhasil maupun tidak. dan berbagai wakil rakyat di DPR yang menangani masalah penggunaan NAPZA dan/atau HIV/AIDS. atau tindakan-tindakan yang dipaksakan oleh pihak-pihak berwenang untuk membimbing atau mengawasi institusi. upaya yang terorganisir untuk mempengaruhi pengambilan keputusan. dan langkahlangkahnya sendiri untuk mengarah pada advokasi yang efektif. Namun demikian. termasuk para menteri yang bertanggungjawab untuk Departemen di atas.BAB III TINJAUAN DAN PRINSIP-PRINSIP ADVOKASI A. upaya mempengaruhi kebijakan publik melalui berbagai bentuk komunikasi persuasif. 12 . kebijakan. Kebijakan dapat didefinisikan sebagai cara masyarakat dan institusi mengatasi berbagai isu baik yang tertulis (misalnya undang-undang) ataupun tidak tertulis (misalnya etika. untuk itu opini dan perilaku dari berbagai kelompok sasaran perlu dipengaruhi. Departemen Dalam Negeri. Definisi advokasi yang paling sederhana adalah : 1. Kehakiman dan HAM termasuk didalamnya Lembaga Pemasyarakatan. 2. masyarakat. tindakan yang diarahkan pada pengubahan kebijakan. Kebijakan dapat bersifat formal (seperti Strategi Nasional Penanggulangan AIDS) atau informal (fakta bahwa beberapa tempat kerja tidak mau memperkerjakan ODHA). Masing-masing menggunakan definisi. prinsip. Departemen Keuangan. Kebijakan publik cenderung formal dan tertulis termasuk pernyataan -pernyataan. Buku panduan ini merupakan ringkasan dari beberapa pendekatan yang diambil dari berbagai sumber.

nasional. C. Sebagai contoh. maka hal ini akan mengurangi kepercayaan para pengguna NAPZA terhadap kegiatan tersebut. Pimpinan informal masyarakat seperti tokoh-tokoh masyarakat baik tingkat lokal atau tingkat nasional. dukungan. penegakan hukum. Kelompok-kelompok yang paling penting untuk diadvokasi tergantung dari masalah sosial yang dihadapi. NAPZA. Para dokter dan petugas kesehatan lainnya khususnya yang tidak memiliki pengalaman bekerja dengan pengguna NAPZA. HIV/AIDS. Masyarakat sekitar dan anggota keluarga di lokasi program pencegahan atau terapi (termasuk perumahan dan perkantoran). bahkan akan terjadi peningkatan dampak buruk. polisi hanya dapat memantau kegiatan tersebut. dalam kegiatan penjangkauan. Para pimpinan berbagai agama. PRINSIP-PRINSIP ADVOKASI 1. hak asasi manusia dan sebagainya. DEFINISI ADVOKASI Advokasi adalah upaya-upaya terpadu yang dilakukan oleh sekelompok individu atau organisasi untuk: ð Meyakinkan seluruh individu.• • • • • • • • • Kepolisian dan Badan Narkotika Nasional. dan internasional yang bergerak dalam bidang kesehatan. LSM lokal. dosen dan komite sekolah Orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pencegahan dan terapi ketergantungan NAPZA. 13 . dan perawatan kepada IDU dengan HIV/AIDS. Kegiatan advokasi harus menghindari terjadinya kesalah pahaman peningkatan dampak buruk Pengurangan dampak buruk NAPZA untuk mencegah HIV/AIDS di kalangan IDU harus dilaksanakan secara terus menerus. Para guru. kelompok atau organisasi yang berpengaruh melalui berbagai kegiatan persuasif untuk secepatnya dapat menerapkan pengurangan dampak buruk NAPZA dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS dari dan di kalangan IDU. mempertahankan atau meningkatkan kegiatan-kegiatan tertentu sampai pada suatu tingkatan dimana kegiatan ini akan lebih efektif mencegah infeksi HIV di kalangan IDU dan membantu dalam pengobatan. dan ð Memulai. Jika polisi mau menangkap klien yang berada dalam kegiatan tersebut atau meminta daftar nama dan alamat IDU. tetapi advokasi yang sukses perlu memperoleh dukungan dari semua kelompok sasaran advokasi. TNI (yang sering kali beranggapan bahwa pendekatan penegakan hukum merupakan satu-satunya cara yang dapat memecahkan permasalahan penggunaan NAPZA dan HIV). Kalangan pers dan medi a massa. Dengan kata lain advokasi bukanlah merupakan pekerjaan seorang individu saja. B.

Sebagai contoh. Ini berarti bahwa seluruh penyalah guna NAPZA harus berhenti total. Keberhasilan advokasi tergantung juga pada penggunaan berbagai strategi yang saling melengkapi. 2. advokasi dilakukan pada berbagai individu dan kelompok yang berpengaruh pada waktu yang bersamaan. 4. regional dan 14 . berbagai program dan kebijaka n harus segera dimulai. kemiskinan. Oleh karena itu pelaksana advokasi harus mengerti dasar-dasar pene litian dan mengikuti terus menerus perkembangan dan temuan-temuan baru dalam pencegahan HIV/AIDS terutama di kalangan IDU. Advokasi hendaknya juga dilihat sebagai proses yang melibatkan kegiatan-kegiatan di setiap tingkat masyarakat mulai dari desa. kabupaten/kota. Hal ini dapat menimbulkan masalah yang serius dan perlu dicegah. diskriminasi rasial dan jender. seorang pengguna NAPZA mungkin dapat dibujuk untuk tampil dan dipublikasikan di Televisi. Dapat menyeimbangkan tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang Banyak orang berpendapat bahwa penanggulangan penyalahgunaan NAPZA harus dilakukan secara lengkap dan tuntas. penekanan usaha-usaha advokasi harus difokuskan pada tujuan jangka pendek seperti mencegah penularan HIV di kalangan IDU. 3. nasional. Kecuali jika penyalahguna NAPZA tadi telah diberitahu sebelumnya dan memahami secara jelas konsekuensi yang mungkin terjadi atas publikasi tersebut. Untuk mendapatkan hasil advokasi yang maksimal dengan lingkungan yang mendukung dalam penanggulangan HIV/ AIDS di kalangan IDU. budaya. dalam upaya untuk mendapatkan perhatian media mengenai hal-hal yang berkaitan dengan HIV dan penyalahgunaan NAPZA. yang harus disesuaikan dengan masalah sosial. Tujuan harus dikaitkan dengan kegiatan yang dapat dibuktikan dengan penelitian Perlu dipastikan bahwa semua kegiatan advokasi yang dilaksanakan dapat dibuktikan berhasil melalui penelitian. provinsi. Harus ditujukan pada berbagai sektor dan tokoh masyarakat dengan menggunakan teknik yang berbeda pada saat yang bersamaan. Untuk mencapai tujuan ini dibutuhkan beberapa tahun atau dekade. Kegiatan ini harus dapat menerima kenyataan bahwa IDU ada dalam masyarakat. untuk mencegah penularan HIV dari dan di kalangan IDU. Sedangkan beberapa pihak berpendapat bahwa tujuan tersebut tak akan pernah tercapai. Para pelaksana advokasi hendaknya mengetahui sistem politik. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan penanggulangan masalah sosial lainnya seperti mengatasi pengangguran. advokasi disesuaikan dengan situasi masyarakat. sejarah. kecamatan. Pada situasi seperti ini. dan politik Dalam banyak hal. masalah seksual. Akan tetapi. dan masyarakat dan menyesuaikan kegiatan dengan masalah yang ada. 5. Spesifik dan terarah. kebudayaan.Risiko yang timbul pada seseorang dapat juga terjadi selama proses advokasi.

dan pendanaan Karena HIV dapat menyebar dengan cepat di kalangan IDU. 8. Di tempat dimana IDU dan ODHA dapat terlibat dalam diskusi dengan pihak yang berwenang tanpa membahayakan diri mereka. dan dukungan Pendekatan pencegahan dan perawatan HIV/AIDS dalam beberapa cara saling berkaitan. politik. Pencegahan yang efektif pada akhirnya akan mengurangi permintaan untuk pelayanan pengobatan. sangat penting bagi mereka untuk berperan dalam merancang. 7. penahanan. media. Meskipun berbagai kegiatan ditekankan pada tingkatan masyarakat tertentu.international. Hasil program percontohan ini sebaiknya dis ebarluaskan kepada individu-individu dan kelompok-kelompok yang berpengaruh. Hal ini mengarah pada perubahan kebijakan dan pengenalan kegiatan pada skala yang efektif. Pendekatan komprehensif seperti itu akan membantu membangun kepercayaan dan mengurangi stigmatisasi terhadap IDU. IDU dan ODHA tidak perlu dilibatkan bila mengarah pada hal yang merugikan mereka seperi diidentifikasi polisi. dan evaluasi pada semua kegiatan dan program-program yang dilaksanakan Sesuai dengan prinsip yang pertama. 9. Apabila keterlibatan IDU dan ODHA membahayakan bila mengikuti pertemuan atau bekerja untuk advokasi dan perencanaan program. faktor waktu sangat penting dalam upaya-upaya advokasi. penjangkauan dapat mengupayakan cara lain. Misalnya program percontohan harus dilihat sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir. dan mengevaluasi kegiatan advokasi dan program-program. keberhasilan advokasi tetap memerlukan kegiatan dengan jangkauan penuh pada setiap tingkatan secara berkesinamb ungan. Besarnya program tersebut tergantung pada banyak faktor seperti jumlah penyalahguna NAPZA suntik. Harus dilaksanakan secepat mungkin dan dalam tingkatan yang seluas mungkin dalam lingkup sosial. terapi ketergantungan NAPZA yang diwa jibkan atau kekerasan. Pengurangan dampak buruk NAPZA hanya dapat mencegah. pelaksanaan. atau mengurangi epidemi apabila dilaksanakan dalam skala yang besar. Memastikan IDU dan ODHA dilibatkan dalam perencanaan. Keterlibatan IDU dan ODHA seperti ini akan meningkatkan percepatan program-program yang efektif. Percontohan ini dapat menunjukkan keefektifan kegiatan dalam lingkup lokal (melalui evaluasi). Mampu mengangkat isu-isu baru tentang HIV dan memberikan respon terhadap caracara yang dilakukan oleh institusi. melaksanakan. dan yang lainnya dalam menanggapi masalah HIV di kalangan IDU 15 . dan menghasilkan program yang lebih berkualitas untuk memenuhi kebutuhan mereka. menstabilkan. Kegiatan advokasi tidak hanya terfokus pada pencegahan HIV di kalangan IDU tetapi juga pada isu-isu mengenai pengobatan. 6. Pelayanan pengobatan yang berkualitas tinggi dan komprehensif akan menciptakan kelompok yang mau menerima p esan-pesan pencegahan. misalnya melalui wawancara untuk mendapatkan pandangan mereka. dan perilaku menyuntik dan seksual berisiko di kalangan IDU. perawatan.

dan kelompok penting lainnya untuk mengatasi setiap penolakan secepatnya. Para pelaksana advokasi perlu memperhatikan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi dan mencari kesempatan seperti ini. politisi. beberapa peristiwa penting dapat terjadi. menjadikan sebagai sumber-sumber yang ada untuk memanfaatkan kesempatan tersebut. seorang politisi mungkin menemukan bahwa anaknya menggunakan NAPZA. Oleh karena itu para pelaksana advokasi harus siap dengan bukti-bukti dan melibatkan kelompok yang berpengaruh seperti media. Sebagai contoh. penolakan sering terjadi dalam upaya untuk mencegah HIV/AIDS di kalangan IDU. seperti menghubungi juru bicara surat kabar tersebut kapan saja. Meskipun sebagian dari penolakan ini akan diketahui dan menjadi subyek kegiatan kelompok advokasi. 16 . kelompok lain yang menolak akan terus bermunculan. Pada setiap tingkat pelaksanaan advokasi. atau sebuah survei surat kabar mungkin menemukan banyak masyarakat yang prihatin dengan penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja. Dalam bab sebelumnya. tetapi hal ini juga merupakan reaksi terhadap peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi.Proses advokasi tidak hanya dianggap sebatas pada pencapaian tujuan yang ditentukan oleh para pelaksana advokasi.

Proses advokasi biasanya dimulai dengan menentukan permasalahan. TAHAPAN ADVOKASI Pengorganisasian dan penggalangan dana : Bentuk kelompok advokasi atau kemitraan serta pendanaan diperlukan untuk keberhasilan suatu advokasi. Proses ini dapat dipertimbangkan dalam berbagai cara. kelompok yang melaksanakan dan tidak melaksanakan kebijakan tersebut. dan memusatkan pada tujuan yang spesifik dan menempatkan upaya advokasi untuk mencapai maksud dan tujuan. Strategi: Pada tahap ini penyelesaian masalah dapat dirumuskan yang mengandalkan analisis untuk mengarahkan. Semakin kita dapat menganalisis. • • • 17 . kelompok advokasi perlu mengevaluasi kegiatan yang telah. yang mengarah pada setiap tahapan advokasi dan evaluasi yang sedang berlangsung. sehingga kegiatan advokasi perlu disesuaikan dengan masalah politik. maka semakin persuasif advokasi akan dilaksanakan. kebijakan-kebijakan yang ada. kelompok yang terlibat. Aksi dan Reaksi: Dukungan perlu dibangun untuk perubahan kebijakan. pemecahan. dan budaya setempat. tindakan praktis dan sebagainya. Hal ini akan membantu untuk menciptakan perhatian dan keprihatinan sehingga permasalahan. dan semua jalur yang dapat digunakan untuk mendekati orang-orang yang berpengaruh dan pembuat kebijakan. Penilaian indikator proses mungkin lebih penting dan lebih sulit dari pada penilaian indikator dampak. Evaluasi: Karena advokasi sering memberikan hasil yang tidak lengkap. belum dan akan dilaksanakan secara teratur dan objektif. • Analisis : Kelompok atau koalisi advokasi dimulai dengan menganalisis masalah. Apabila ada penolakan perlu dilaksanakan pengulangan secara terus menerus. yang dilaksanakan untuk beberapa aspek yang berbeda dari isu pada setiap tingkatan masyarakat secara simultan. sosial. A. dan kemauan politik akan menjadi satu kesatuan.BAB IV PROSES ADVOKASI Proses advokasi berhubungan erat dengan proses pembuatan kebijakan. kemudian memberikan solusi terhadap masalah tersebut dan membangun dukungan untuk tindakan yang dilakukan. Evaluasi harus digunakan sebagai langkah pertama dalam menganalisis ulang. akan tetapi perlu memikirkan advokasi sebagai suatu rangkaian tahapan. merencanakan.

Secara ringkas tahap advokasi dapat digambarkan dalam bagan di bawah ini. Proses advokasi dapat dijabarkan dalam diagram berikut ini:

Pengorganisasian kelompok advokasi

Analisis

Evaluasi

Penggalangan dana

Strategi

Aksi dan Reaksi

B. STUDI KASUS PROSES ADVOKASI 1. Studi kasus – Indonesia Pada akhir tahun 90-an, di Indonesia penyalahgunaan NAPZA suntik meningkat dengan tajam dan HIV telah menyebar di kalangan IDU. Upaya yang telah dilakukan hanya sedikit berpengaruh untuk mencegah epidemi HIV di kalangan IDU. Pemerintah dan LSM tidak begitu mengetahui konsep pengurangan dampak buruk NAPZA di kalangan IDU. Sehingga muncul kekuatiran di antara pemerhati program HIV/AIDS (terutama di kalangan donor, LSM, dan para dokter yang bekerja untuk terapi ketergantungan NAPZA) bahwa para pejabat dan masyarakat Indonesia akan menolak pelaksanaan program pengurangan dampak buruk. Pada 1999, koalisi beberapa donor dan LSM memutuskan untuk membentuk sebuah kelompok advokasi untuk mendesak penerimaan program tersebut di Indonesia. Pada awal 2000, para donor ini mendukung suatu pelatihan mengenai me tode Rapid Assessment and Response (RAR) yang dikeluarkan oleh World Health Organization, yang melibatkan pelatih dari Indonesia dan pelatih internasional. Pelatihan ini menuntun pelaksanaan penjajakan cepat pada IDU yang berhubungan dengan penyebaran HIV di delapan kota besar. Penjajakan cepat ini dirancang

18

untuk mendapatkan informasi bagi pelaksanaan kegiatan advokasi dan mendapatkan data untuk membantu perencanaan intervensi yang efektif. Kegiatan advokasi yang pertama dilakukan adalah mempresentasikan hasil sementara penjajakan cepat ini di hadapan pejabat pemerintahan dan LSM di masing-masing provinsi di mana penjajakan ini dilaksanakan. Tim penjajakan cepat mendapatkan pelatihan lanjutan dari pelatih Indonesia dan internasional untuk mempresentasika n hasil penjajakan ini kepada kelompok yang lebih luas termasuk para politisi dan media. Hasil akhir penjajakan ini dipresentasikan dalam seminar tingkat provinsi dan nasional, sehingga menyebabkan meningkatnya kepedulian pada isu-isu yang berkaitan dengan HIV di kalangan IDU. Dari proses-proses ini, kelompok advokasi yang lebih khusus dibentuk untuk tingkat nasional di Jakarta dan tingkat provinsi di Denpasar-Bali. Kelompok ini mengidentifikasi pelaksana kunci advokasi, pendukung dan kelompok penentang potensial advokasi, dan mengembangkan tujuan advokasi. Tim inti menggunakan hasil penjajakan cepat ini untuk mempengaruhi individu dan kelompok yang berwenang bahwa HIV di kalangan IDU adalah masalah yang serius yang sedang tumbuh di Indonesia dan mendorong pelaksanaan program pengurangan dampak buruk NAPZA. Hasil penjajakan ini didukung oleh hasil studi lain yang menunjukkan adanya kecenderungan infeksi HIV di kalangan IDU dan narapidana yang sudah mengkuatirkan. Karena upaya-upaya advokasi ini, studi di atas mendapatkan perhatian yang luas dari media. Para donor anggota tim advokasi yang dibentuk pertama kali mendanai lokakarya untuk memusatkan perhatian masyarakat dan politisi pada isu ini, dan tokoh politik kunci seringkali dihubungi untuk membangun dukungan terhadap perubahan kebijakan pemerintah, dan pengenalan atau perluasan program -program percontohan penjangkauan, jarum suntik, dan metadon. Pada tahun 2001, sebuah studi tur diselenggarakan di Sydney, Australia, bagi pejabat senior dari peme rintahan dan LSM untuk mendapatkan pelatihan mengenai advokasi terhadap pengurangan dampak buruk NAPZA dan mengunjungi beberapa lembaga yang berhubungan dengan HIV dan NAPZA, perwakilan Departemen Kesehatan, Hakim Pengadilan Tinggi, para politisi, dan polisi senior. Setelah studi tur tersebut, para peserta sepakat membentuk Harm Reduction Steering Committe – HRSC (sebagian besar terdiri dari perwakilan pemerintah) dan Jaringan Harm Reduction Indonesia (Indonesian Harm Reduction Network - IHRN, diketuai ole h sebuah LSM di Bali). Pada pertengahan tahun 2002, ada beberapa kegiatan advokasi untuk harm reduction yang sangat penting di Indonesia: • • • HRSC melakukan pertemuan secara reguler dan membangun hubungan antara staf sektor kesehatan dan polisi dan tokoh m asyarakat. Sedangkan dukungan kesekretariatan diberikan oleh donor untuk pertemuan dan kegiatan steering committee. IHRN menerima dana untuk melakukan capacity building dan kegiatan jejaringan. Ada enam program yang dimulai dilaksanakan di empat kota untuk pendidikan pencegahan HIV melalui kegiatan penjangkauan dan material pencegahan kepada IDU. Program percontohan untuk pertukaran jarum suntik disiapkan untuk tiga tempat di Jakarta dan dua di Denpasar, Bali. Sementara itu Pemerintah Indonesia setuju untuk

19

• •

mempertimbangkan program pertukaran jarum suntik sebagai kebijakan nasional berdasarkan hasil evaluasi terhadap program percontohan tersebut. Dua proyek percontohan program metadon yang sudah disetujui pemerintah pusat dan provinsi dipersiapkan. Kampanye advokasi untuk harm reduction dimulai dengan memilih target sasaran dan melaksanakan pertemuan nasional untuk mengangkat profil pengurangan dampak buruk NAPZA dan mengembangkan kegiatan advokasi yang spesifik yang ditujukan kepada target sasaran. Target p ertama dalam kampanye ini melibatkan polisi, staf penegak hukum (termasuk hakim, pengacara dan petugas penjara), tokoh agama, dan media massa.

2. Studi Kasus – Negara-negara Eropa Tengah dan Timur International Harm Reduction Development (IHRD), program dari Open Society Institute (OSI) yang berkedudukan di New York, merupakan salah satu penyandang dana untuk program metadon dan perjasun di Eropa Timur dan Tengah serta Asia Tengah sejak pertengahan tahun 90-an. Sayangnya, lebih dari 150 program kecil yang telah dilaksanakan tidak direplikasi oleh pemerintah negara -negara di daerah ini. Pada bulan Juni 2001, IHRD mendirikan Inisiatif Kebijakan regional yang mempromosikan filosofi harm reduction, nilai-nilai kesehatan masyarakat, penghormatan terhadap hak a sasi manusia, dan pelaksana advokasi untuk mengubah kebijakan di daerah ini. Inisiatif Kebijakan ini merupakan bagian integral dari tiga strategi IHRD yaitu dukungan layanan langsung; pelatihan dan capacity building ; kebijakan publik dan advokasi. Kegiatan ini sangat terkait dengan ketiga komponen di atas. Inisiatif Kebijakan membantu pihak-pihak yang terlibat dalam harm reduction dan membuat ikatan yang baru dan kuat dengan aktifis HAM dan masyarakat. Melalui upaya ini, Inisiatif mengangkat harm reduction sebagai hal yang tidak kontroversial dan tidak marjinal lagi.

Ada beberapa contoh dukungan pemerintah terhadap harm reduction di wilayah ini: • Di Polandia, pemerintah pusat memberi dana kepada pekerja penjangkauan yang menjalankan program pertukaran jarum suntik. • Di Bulgaria, program harm reduction dimasukkan ke dalam Program AIDS Nasional • Di Kyrgyzstan dan Polandia, program metadon telah dilaksanakan. Kegiatan Inisiatif Kebijakan yang dilakukan meliputi: • dukungan untuk pembentukan kelompok mandiri bagi pengguna NAPZA dan ODHA; • dukungan terhadap keterlibatan individu yang berpengaruh dalam kegiatan internasional yang didedikasikan bagi kebijakan NAPZA yang progresif, • studi tur bagi polisi dan pejabat penegakan hukum, pelatihan untuk polisi; dukungan untuk jaringan harm reduction ; • advokasi program metadon; • penelitian hukum dan hambatannya terhadap program harm reduction; • publikasi dan distribusi materi harm reduction: • kerjasama aktif dengan program lain seperti OSI, LSM nasional, badan PBB, pe merintah, dan lain -lain. 20

pengadilan. Sedangkan 21 . Ada lima faktor yang penting untuk dibahas : o Pertama . organisasi keagamaan yang sangat berpengaruh mendukung kritikan terhadap program ini. Di negara X. setelah empat tahun pelaksanaan program. kesejahteraan sosial. Sehingga pejabat senior pemerintah jarang membicarakan hubungan NAPZA suntik dengan HIV/AIDS. Menurut bukti yang ada program tersebut sebenarnya akan berdampak apabila pemerintah menyediakan dana yang memadai untuk pelaksanaan program dalam skala yang luas. Program pelatihan dan percontohan yang telah dilaksanakan terancam. pernyataan publik yang diterima oleh Departemen Kesehatan berubah menjadi kritikan. Sehingga mitra kerja koalisi kemudian tertarik untuk ikut serta dalam kegiatan ini. Hal ini diyakini karena sebelumnya negara X telah menolak ide ini dan baru diterima setelah beberapa tahun kemudian terbukti efektf. Sehingga dukungan publik terhadap program ini menjadi semakin sedikit. kemunduran telah terjadi dan mitramitra kerja potensial khawatir keterlibatan mereka dalam program tersebut dapat mengancam program penanggulangan HIV/AIDS yang lain. Ternyata. Studi kasus ini akan menjelaskan sebuah negara yang kita sebut sebagai negara X. Studi Kasus: Kegagalan Advokasi di Negara X Pelaksanaan advokasi tidak selalu berhasil. internet atau mesin faks. dan lainlain. Karena reaksi negatif ini. o Kedua. Mitra kerja potensial lainnya tidak yakin pengurangan dampak buruk NAPZA ini akan berhasil dilaksanakan di negara ini. merupakan suatu kenyataan bahwa HIV menyebar dengan pesat di kalangan IDU. Organisasi-organisasi yang seharusnya dapat menjadi mitra kerja potensial seringkali tak mempunyai akses ke komputer. Beberapa LSM internasional menghimbau Departemen Kesehatan agar LSM tersebut diberi ijin melakukan pelatihan mengenai pendekatan efektif untuk mengatasi masalah ini dan mempersiapkan program pe rcontohan.3. Sebenarnya LSM internasional menyadari sejak awal bahwa advokasi sangat dibutuhkan. Sedangkan media yang sebelumnya mendukung berbalik melancarkan kritikan. terutama dalam jangka pendek. ternyata hanya sedikit organisasi pemerintah maupun LSM yang pernah bekerja sama secara lintas program dan sektor dalam mengatasi masalah HIV dan ketergantungan NAPZA seperti penegak hukum. tidak ada dewan koalisi yang dibentuk untuk melakukan advokasi mengenai program ini. kepolisian. pelatihan bagi para professional kesehatan secara ekstensif dilaksanakan. Kemudian advokasi kepada pejabat lokal dilakukan secara berhasil dan banyak program percontohan didirikan. pemerintah lebih memilih mengalokasikan anggaran pada program lain dan mengabaikan pencegahan HIV di kalangan IDU. Di samping itu tidak dilakukan kampanye advokasi. Departemen Kesehatan menyetujui langkah-langkah efektif tersebut menjadi bagian dari Strategi Penanggulangan AIDS. Namun. Pada saat itu. Hal ini disebabkan karena sedikitnya sumber daya yang tersedia berasal dari pemerintah untuk program tersebut. Ironisnya. Selama lebih dari satu tahun. Akan tetapi karena program pelatihan dan percontohan sangat menyita waktu sehingga waktu untuk melaksanakan advokasi sangat terbatas. infeksi HIV baru di kalangan IDU masih tinggi.

namun sumber daya untuk melatih dan mendidik mereka tidak tersedia. Akibat hasil penjajakan awal dan regular lainnya serta sistem monitoring yang lemah. Tanpa pernyataan yang jelas dari kepala negara. o Ketiga. sangat penting melibatkan polisi dalam usaha advokasi dan pendidikan sejak awal karena setiap saat mereka dapat menutup program program yang dimulai oleh petugas kesehatan dan LSM. Comment: kedengerannya lebih kontekstual. 22 . Meskipun beberapa upaya advokasi telah dilaksanakan. tak ada pendekatan yang diambil hingga sebelum organisasi tersebut menyebarluaskan kritikan. o Kelima . Para professional kesehatan dan Departemen Kesehatan di Negara X berada pada tingkat kepentingan politis yang lebih rendah dari pada pejabat kepolisian dan Departemennya. adanya faktor lain berupa kegagalan untuk mencapai pihak tertinggi dalam pemerintahan. pengaruh organisasi tersebut semakin kuat terhadap masyarakat. maka para politisi dan pembuat kebijakan akan mendengarkan kritikan-kritikan tersebut. Ternyata berdasarkan penjajakan awal yang dilakukan dalam proyek pelatihan menunjukkann bahwa organisasi keagamaan mempunyai pengaruh yang sedikit dalam masyarakat. Untuk itu. untuk melakukan advokasi yang berhasil perlu dijangkau seluruh individu dan kelompok dalam masyarakat yang mempunyai pengaruh dalam kebijakan HIV/AIDS dan NAPZA dan perlu dimonitor dan disikapi adanya perubahan politik dari kelompok yang berpengaruh. Secara ringkas.jaringan komunikasi yang dapat digunakan untuk membantu perkembangan kerjasama hanya sedikit. publikasi kritikan tersebut dijadikan alat pertahanan organisasi tersebut untuk tak mengubah pendiriannya. Telah terbukti di banyak negara bahwa kemauan politik kepala negara akan mempunyai dampak yang sangat besar dalam merespon epidemi HIV. Setelah munculnya kritikan ini. polisi dan organisasi keagamaan percaya bahwa mereka boleh mengkritik pendekatan untuk mengurangi dampak buruk penyalahgunaan NAPZA. Namun. Sebenarnya ada pemahaman akan kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan dari tingkat tertinggi namun tidak ada cara yang efektif yang ditemukan untuk menjangkau kelompok ini. organisasi keagamaan yang disebutkan di atas tidak dilibatkan dalam diskusi mengenai HIV di kalangan IDU. o Keempat. Ketika organisasi keagamaan tersebut mengkritik pendekatan efektif. polisi jarang terlibat dalam pelatihan dan proses awal advokasi kecuali pada tingkat lokal di mana program percontohan dilaksanakan. dalam kurun waktu hanya lima tahun selama program ini berjalan. terutama dikaitkan dengan partai politik. Pentingnya polisi untuk kelanjutan jangka panjang dapat dimengerti. Kepala Negara X tidak secara terbuka menyetujui pelaksanaan program tersebut.

Biasanya. Misalnya. KELOMPOK KOORDINASI ADVOKASI Langkah pertama dalam advokasi adalah membentuk kelompok koordinasi advokasi. memastikan pekerja penjangkauan tidak ditangkap polisi. tiga. Kelompok nasional ini mempunyai banyak tugas salah satu di antaranya adalah advokasi. o melaksanakan kegiatan-kegiatan advokasi secara khusus. sepuluh orang atau lebih. Kelompok ini mempunyai tujuan khusus yang lebih terfokus terkait dengan situasi di masing-masing provinsi. Sedangkan kelompok advokasi di tingkat provinsi (di Jakarta dan Denpasar) dibentuk secara khusus guna melakukan advokasi untuk pengurangan dampak buruk NAPZA untuk menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU. Tujuan kelompok ini adalah untuk mendapatkan dukungan masyarakat untuk melaksanaan program ini secara terbuka. pada studi kasus dari Indonesia dalam bab sebelumnya. Peran kelompok ini adalah: o merencanakan dan mengawasi seluruh tugas -tugas advokasi. o bertindak sebagai juru bicara untuk media dan pihak-pihak lain yang ingin berhubungan dengan kelompok ini.BAB V PEMBENTUKAN KELOMPOK DAN PENDANAAN ADVOKASI A. sebuah kelompok advokasi dibentuk terdiri dari LSM-LSM dan penyandang dana program HIV/AIDS. Tujuan umum kelompok ini adalah melakukan advokasi agar kelompok IDU mendapat perhatian yang lebih besar dalam penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. dan sebagainya. Disamping itu kelompok ini juga berupaya mempengaruhi pejabat-pejabat yang terkait untuk melaksanakan program-program yang efektif dan memastikan sektor pemerintahan dan LSM bekerja sama memfasilitasi pelaksanaan program ini. koordinasi akan lebih mudah dilakukan apabila kelompok cukup kecil. Kelompok ini bisa terdiri dari dua. Selain itu kelompok i ni memberikan edukasi bagi pembuat kebijakan terhadap pengurangan dampak buruk NAPZA untuk menanggulangi HIV/AIDS di kalangan IDU. 23 . Kelompok advokasi yang dibentuk di tingkat kabupaten atau kota dibentuk untuk mendapatkan dukungan untuk kegiatan yang sangat spesifik. Peran dan kegiatan kelompok koordinasi advokasi ini berbeda-beda sesuai dengan situasi di mana kelompok ini beroperasi dan posisinya dalam kelompok tersebut.

jajaran kepolisian. puskesmas. Polisi merespon dengan cara menangkap para penyalahguna NAPZA atau memaksa I DU pergi dari kota tersebut. Keahlian-keahlian yang diperlukan biasanya akan teridentifikasi selama penjajakan dan fase analisis. Sebaiknya kelompok ini dimulai dengan kelom pok kecil saja. Para dokter dan petugas kesehatan di rumah sakit dan puskesmas yang terdapat di wilayah tersebut beserta para pekerja LSM percaya bahwa HIV di kalangan IDU bukan hanya masalah penyalahguna NAPZA dapat berhenti dari penyalahgunaan NAPZA atau pindah dari wilayah tersebut. Tingkat kualitas setiap anggota tidak perlu sama karena setiap anggota dengan latar belakang yang berbeda dapat berpartisipasi aktif. kelompok keagamaan. • para IDU dan ODHA. Keanggotaan kelompok koordinasi advokasi di banyak negara adalah sebagai berikut: • dokter. Para politisi dan masyarakat mendesak polisi agar berhasil menghapuskan permasalahan NAPZA ini. atau mantan penyalahguna NAPZA. Kota ini miskin dan hanya sedikit IDU yang memiliki pekerjaan tetap. Banyak IDU mempunyai pekerjaan serabutan dan melakukan tindakan kriminal.Untuk membantu para pembaca mengikuti langkah-langkah advokasi. dan atau sektor masyarakat lainnya. paling tidak anggota tersebut: • Mampu mema hami dan menginterpretasikan literatur ilmiah 24 . organisasi internasional. pengacara. Sedangkan satu LSM lain menyediakan terapi ketergantungan NAPZA dalam bentuk therapeutic community. Satu LSM mempromosikan kesadaran masyarakat umum terhadap HIV/AIDS kepada semua penduduk kota. keluarga IDU. beberapa LSM yang bekerja di bidang HIV/AIDS dan NAPZA. Sekarang IDU sudah ada di banyak kota dan biasanya berkumpul di berbagai tempat seperti di gudang-gudang kosong. Sepuluh tahun sebelumnya hampir tidak ada orang yang menyalahgunakan NAPZA suntik. sebuah contoh diberikan di bawah ini: Contoh dari Kota Z Kota Z yang berpenduduk 100. kalangan bisnis. KEANGGOTAAN Keanggotaan kelompok koordinasi advokasi tergantung pada masalah sosial budaya di suatu negara. dan kegiatan-kegiatan spesifik yang akan dilaksanakan.000 orang mempunyai banyak IDU. kelompok perempuan. B. pekerja sosial. anggota lain bisa dicari dari anggota kepolisian. petugas kesehatan. Sebenarnya penyalahgunaan NAPZA suntik merupakan hal yang baru. . di kolong jembatan. tokoh masyarakat. dan beberapa bisnis kecil. Fasilitas kesehatan yang tersedia adalah rumah sakit. • Wakil dari media Sebagai tambahan. dan apabila kemudian berkembang perlu mencari orang-orang dengan keahlian khusus yang diperlukan untuk pelaksanaan advokasi. • praktisi pengurangan dampak buruk/risiko NAPZA atau staf kesehatan lain seperti perawat atau staf LSM yang bekerja dengan kelompok-kelompok marginal. badan narkotika narkotika. politisi lokal. dan di rumah-rumah para IDU itu sendiri. Namun demikian.

seorang dokter perempuan yang bekerja di puskesmas dan Pak E. perawatan. Sehingga melalui hubungannya dengan para politisi. pemimpin partai politik. Di salah satu negara di Asia. terdapat dua orang yang sedang membaca jurnal internasional mengenai penyebaran HIV yang cepat di kalangan IDU yaitu Dr A. Kadang-kadang perlu memb erikan edukasi kepada anggota kelompok koordinasi advokasi yang potensial mengenai pendekatan-pengurangan dampak buruk NAPZA ini. dan pendekatan efektif untuk menanggulangi HIV/AIDS di kalangan IDU. Bila memungkinkan salah satu anggota dari kelompok koordinasi advokasi adalah seorang tokoh masyarakat yang mengetahui banyak tentang kesehatan masyarakat. pengobatan. pembuat kebijakan. Hal ini karena salah seorang anggota kelompok yang mendirikan rumah singgah tersebut adalah putri Menteri Kesehatan dan cucu Perdana Menteri negara tersebut. Setelah menghubungi beberapa rekan mereka yang bekerja di beberapa kantor di sekitar wilayah tersebut. dan pihak lainnya. mantan kepala kepolisian. Pada pertemuan tersebut. Mengetahui hal tersebut Dr A dan Pak E memutuskan untuk membentuk suatu kelompok advokasi untuk meningkatkan fokus wilayah tersebut pada kegiatan pencegahan HIV. kebutuhan terhadap penanggulangan. seorang direktur sebuah LSM yang melaksanakan program peningkatan kesadaran umum terhadap HIV di wilayah tersebut. mereka mengadakan pertemuan untuk membahas isu HIV di kalangan IDU. Pak E menjelaskan bahwa kelompok koordinasi advokasi dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini karena terdapat banyak hambatan untuk memperkenalkan pengurangan dampak buruk NAPZA. atau selebritis. Sehingga dapat menimbulkan kesulitan kelompok ini untuk akses ke media. dan dukungan di kalangan IDU. Mungkin yang menjadi pelaksana advokasi adalah orang-orang yang tertarik pada isu mengenai HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntikan namun kurang memiliki kualifikasi formal seperti gelar atau jabatan. walaupun terdapat tbanyak antangan politik tapi sebuah LSM mampu memulai program rumah singgah ( drop-in center) bagi IDU. atau anggota keluarga Memahami pembuatan kebijakan dalam masalah sosial budaya setempat. Mampu mengumpulkan dan mempertanggung-jawabkan dana. Mampu dan siap bertindak sebagai jurubicara untuk media Kepemimpinan merupakan suatu hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam kelompok koordinasi advokasi. politisi. Contoh Kota Z Di sebuah wilayah di kota Z. Karena banyak orang hanya memiliki sedikit atau sama sekali tidak memiliki pengetahuan dalam bidang ini. teman. seorang putri Presiden juga dapat menjadi seorang pelaksana advokasi untuk pendekatan-pendekatan efektif untuk mencegah HIV/AIDS di kalangan IDU.• • • • Memiliki pengalaman yang berkaitan dengan penyalahgunaan NAPZA dan/atau infeksi HIV baik pribadi. Dr A mempresentasikan bebera pa temuan penelitian internasional mengenai cara -cara HIV menyebar di kalangan IDU. 25 .

26 . Para anggota kelompok perlu membaca dokumen-dokumen mengenai pengurangan dampak buruk NAPZA untuk menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU dan laporan atau penelitian mengenai HIV/AIDS di kalangan IDU. kelompok ini perlu menjajaki apakah: • • • • Tujuan tersebut mudah dimengerti. sebuah koalisi mulai terbentu. Awalnya. kelompok tersebut telah memutuskan untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai NAPZA dan HIV di wilayah tersebut melalui penjajakan. dua anggota yaitu seorang ibu yang mempunyai anak penyalahguna NAPZA dan seorang jurnalis suratkabar kota setempat memilih untuk bergabung d engan kelompok advokasi tersebut. kelompok kecil ini bekerja hanya untuk memberikan informasi kepada orang-orang dan organisasi-organisasi yang peduli di wilayah tersebut mengenai adanya kelompok ini dan kebutuhan untuk bekerja pada masalah HIV kalangan IDU. Dr A dan Pak E mendesak anggota lainnya agar kelompok koordinasi advokasi dibentuk. Akhirnya. pendek dan sederhana Tujuan tersebut akan menarik dukungan banyak orang yang peduli sehingga mau melakukan aksi Tujuan tersebut akan membantu membangun aliansidengan sektor-sektor lain. PENETAPAN TUJUAN Langkah pertama dari kelomp ok di atas adalah menentukan visi atau tujuan umum. Kelompok advokasi tersebut meminta Dr A untuk menjadi juru bicara untuk memimpin pertemuan-pertemuan kelompok tersebut.Beberapa anggota kelompok berpendapat bahwa penempatan fokus pada HIV di kalangan IDU adalah hal yang keliru karena masih ada banyak masalah lain di wilayah tersebut. C. LSM -LSM. Untuk menentukan hal-hal yang spesifik dari pendekatan efektif mana yang paling diperlukan di Kota Z. Dalam menetapkan tujuan umum. Dengan cara ini. dan orang-orang yang berpengaruh untuk membentuk sebuah koalisi Kelompok koordinasi advokasi akan mampu menggalang dana atau sumber-sumber lain untuk mendukung kegiatan kelompok ini dalam mencapai tujuannya Contoh dari Kota Z Kelompok advokasi di atas mengadopsi tujuan berikut ini: o meningkatkan manfaat pengurangan dampak buruk pada penyalahgunaan NAPZA suntik di Kota Z o mencegah penularan HIV di kalangan IDU o meningkatkan kualitas ODHA dan OHIDA. setelah beberapa waktu.

Pembentukan dan pemeliharaan koalisi memerlukan waktu dan tenaga karena perlu menciptakan hubungan kepercayaan yang baik dengan orang lain. akan semakin besar kemungkinan advokasi tersebut berhasil. • Upayakan agar pertemuan koalisi berlangsung singkat dan tetap. • Laksanakan hubungan komunikasi formal dan informal di antara anggota koalisi seperti laporan. Pada saat kelompok memulai untuk bertemu dan melakukan analisis terhadap tujuan umum dan tujuan khusus. keluarga ODHA dan IDU – untuk meningkatkan dampak koalisi pada pembuatan kebijakan. apablia mereka tidak dilibatkan. sumber informasi dan pendidikan. • Perlu melakukan komunikasi yang erat dengan anggota koalisi secara pribadi untuk mengenal anggota-anggota lain dan pandangannya (yang mungkin sangat berbeda satu sama lain). Jika seseorang atau sebuah organisasi setuju untuk membantu kelom pok advokasi. • Perlu menentukan tujuan khusus yang relatif mudah dilaksanakan pada awal program. • Libatkan anggota koalisi yang mempunyai pengaruh kuat dalam semua keputusan. BNN. Setiap interaksi dengan orang atau organisasi baru merupakan langkah maju dalam pembangunan koalisi dan analisis. 27 . Jika ia tidak tertarik atau menentang kegiatan kelompok ini. • Perlu pengakuan dan penghargaan peran para pembuat kebijakan dan mitra koalisi. PEMBENTUKAN KOALISI Koalisi d an jejaringan kerja adalah dasar dari kegiatan advokasi. ia menjadi bagian dari kelompok sasaran advokasi. dan memberikan umpan balik yang positif kepada para anggota koalisi. • Berusaha sedapat mungkin untuk membentuk konsensus terhadap keputusan koalisi untuk menimbulkan rasa memiliki terhadap tujuan. mereka mungkin menimbulkan masalah dan perselisihan di antara anggota koalisi. orang tersebut telah menjadi bagian dari koalisi yang bekerja untuk advokasi. makan atau minum bersama. kelompok tersebut perlu mendiskusikannya dengan orang yang lebih banyak. • Manfaatkan koalisi untuk berbagi informasi dan menemukan badan penyandang dana yang potensial. pertemuan. dan kegiatan. Mengumpulkan anggota kelompok advokasi merupakan langkah dalam pembentukan koalisi. Makin kuat koalisi. Dirikan sebuah sarana (seperti newsletter atau pertemuan-pertemuan reguler) agar para anggota koalisi tetap terus mendapatkan informasi mengenai kegiatan-kegiatan dan hasil-hasilnya. pelatihan bersama. tujuan khusus. dan kegiatan advokasi. dan kemungkinan untuk berpartisipasi dalam pelatihan. Keberhasilan yang dicapai pada tahap awal ini akan menciptakan kepercayaan dan mempererat kebersamaan koalisi. para profesional. sumberdaya yang tersedia. dan bila memungkinkan ODHA dan IDU. penelitian yang relevan. • Membangun hubungan dan jaringan layanan untuk berbagi informasi secara reguler. organisasi internasional.D. kelompok sasaran dan cara-cara melakukan kegiatan. Beberapa saran untuk pembentukan koalisi: • Perlu melibatkan kelompok dari berbagai jenis sebagai anggota koalisi – seperti LSM. sektor pemerintahan.

Namun advokasi tetap merupakan bagian inti dari tugas koalisi. MEMBUAT JARINGAN UNTUK KEGIATAN ADVOKASI Di luar pembentukan koalisi atau sebagai bagian dari pembangunan koalisi yang lebih besar terdapat tugas m embuat jaringan individu dan organisasi yang tertarik pada pendekatan efektif untuk HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntikan. fasih berbicara. dan individu yang tertarik untuk bertukar pendapat. Jaringan regional. Jaringan seperti FORUM dari kilink terapi ketergantungan NAPZA di Asia Selatan dan jaringan pengurangan dampak buruk (harm reduction ) regional telah memainkan peranan penting dalam memulai program pencegahan HIV yang efektif di kalangan IDU dan membantu berbagai program untuk bisa belajar satu sama lain. namun pertemuan tersebut mungkin mempunyai dampak yang besar untuk layanan bagi ODHA dan IDU. Artinya ODHA. untu k bertindak sebagai juru bicara dan membantu kelompok advokasi mengidentifikasi dan mencalonkan para juru bicara Tawarkan pelatihan. BNN atau badan keamanan masyarakat yang mungkin hadir dalam pertemuan memperkenalkan diri. Hal ini memberikan kesempatan kepada para pendatang baru dalam advokasi untuk belajar dari kelompok lain yang lebih berpengalaman. IDU. IDU. dan atau mantan IDU mengetahui ada petugas semacam itu menghadiri pertemuan. Pastikan petugas kepolisian. IDU. Kadang-kadang kelompok koordinasi advokasi dan koalisi berkembang menjadi jaringan melakukan kegiatan advokasi. khususnya. dukungan. Identifikasi para ODHA. dan atau mantan IDU. dan atau mantan IDU. IDU. Jaringan memungkinkan organisasi. • • • E. Beberapa saran untuk melibatkan ODHA. Sebagai contoh. Pertama. dan pragmatis. dan nasehat bagi ODHA. IDU. dan informasi antar kota dan negara. Pada saat kelompok 28 . Jaringan seperti terapi ketergantungan NAPZA atau jaringan pengurangan dampak buruk NAPZA biasanya mempunyai fokus yang lebih luas daripada advokasi untuk pendekatanpendekatan efektif. dan atau mantan IDU harus mengerti risiko yang dapat timbul akibat berbicara di muka umum atau bahkan dalam pertemuan anggota koalisi mengenai penyalahgunaan NAPZA atau status HIV. baik dalam koalisi maupun dalam pembuatan rencana dan program advokasi.Beberapa metode tertentu perlu digunakan apabila melibatkan ODHA. bagi IDU duduk dalam pertemuan yang memakan w aktu lama merupakan hal yang sulit. kelompok advokasi. pengalaman. IDU dan atau mantan IDU adalah: • Informasikan sebelumnya kepada para anggota koalisi yang lain mengenai kebutuhan akan “suara” dari kelompok terpapa masalah. sangat berguna saat memulai pelaksanaan advokasi karena jaringan ini menyediakan hubungan dengan kelompok-kelompok lain di wilayah tersebut yang telah beroperasi sebelumnya. dan atau mantan IDU yang diplomatis. harus diingat bahwa prinsip dari advokasi ini adalah untuk menghindari peningkatan bahaya bagi IDU dan ODHA. Perlu menimbulkan suatu pendekatan simpatik dari anggota koalisi yang lain untuk menarik respon-respon yang mendukung dari para ODHA. IDU dan atau mantan IDU dalam koalisi. Pastikan juga para ODHA.

yang mengumumkan dan mendiskusikan hasil-hasil konferensi internasional yang kemudian menimbulkan perhatian media lebih lanjut. Argentina pada tahun 1994. Program ini menyebarkan alat-alat untuk penyucihamaan peralatan suntik dan melakukan lokakarya mengenai pengurangan dampak buruk NAPZA untuk HIV/AIDS di kalangan IDU di rumah sakit jiwa di kota tersebut. Konferensi ini merupakan faktor yang penting dalam menarik perhatian pemerintah. dan penyalahguna NAPZA. 29 . dan media dan mempromosikan penelitian di Amerika Latin mengenai isu-isu yang berhubungan dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntikan. sebuah program terapi substitusi percontohan dimulai di Rosario. ornop ini berhubungan dengan organisasi sosial seperti Gerakan Buruh Menganggur yang mencoba merespon kebutuhankebutuhan orang yang menganggur di wilayah lokal (dan banyak IDU yang menganggur). dan organisasi-organisasi lokal yang dilakukan dengan sangat hati-hati. Pada tahun 1999. dan universitas ini sangat penting di Argentina dengan peran kunci dari Jaringan Harm Reduction Amerika Latin (RELARD) yang memberikan peluang bagi organisasi-organisasi nasional untuk belajar dari program di negara lain di wilayah mereka. Dukungan badan internasional seperti UNAIDS untuk pendekatan-pendekatan ini juga sangat penting dalam argumentasi-argumentasi koalisi dengan para pejabat pemerintah. Dalam membangun dukungan untuk pertukaran jarum suntik. Konferensi ini diikuti dengan pertemuan-pertemuan AIDS dan NAPZA di Buenos Aires dan Konferensi Harm Reduction Argentina yang pertama di Rosario. yang merekomendasikan agar pendekatan efektif dilaksanakan di seluru h Argentina. Program di atas sebenarnya telah dimulai di Pusat Penelitian Lanjutan mengenai Penyalahgunaan NAPZA dan AIDS. Pada tahun 2000 dibentuk pula Jaringan Harm Reduction Argentina (REDARD) dan Organisasi Penyalahguna NAPZA Argentina (RADDUD). ornop. penjaja seks. Sebagai hasil dari gerakan dan upaya advokasi oleh koalisi yang terus berkembang tersebut. Konferensi dan hubungan antara masyarakat sipil. Dukungan dari berbagai organisasi dan gerakan masyarakat ini memudahkan ornop ini dalam menghadapi perlawanan dari pemerintah pusat terhadap harm reduction. ODHA. Kementrian Kesehatan mendanai beberapa program dan kampanye komunikasi yang menyangkut pendekatan ini. Pada tahun 1998. Badan Pengawasan NAPZA Nasional SEDRONAR mengeluarkan sebuah resolusi pada bulan Agustus 2000. penduduk sekitar. Ornop ini mempunyai kebiasaan bekerja dengan jaringan sosial lain. jaringan juga berguna sebagai media untuk berbagi cerita mengenai keberhasilan dan kegagalan. Asosiasi Harm Reduction Argentina (ARDA) dibentuk dan.advokasi memulai kegiatannya dan mendapatkan pengalaman. Universitas Nasional Rosario. masyarakat. Upaya-upaya ini diperkuat setelah Konferensi Internasional mengenai Pengurangan Bahaya yang Berhubungan dengan NAPZA ke-9 dilaksanakan di Sao Paulo (Brazil) pada tahun 1998. terutama yang bergerak di pencegahan HIV di kalangan gay. Melalui advokasi yang terus menerus program ini mendapatkan dukungan resmi dari gubernur wilayah tersebut. lesbian. STUDI KASUS: PEMBANGUNAN KOALISI DI ARGENTINA Ornop Intercambios di Buenos Aires mendirikan program pencegahan HIV di kalangan IDU pada tahun 1998 melalui pembangunan dukungan masyarakat dengan penyalahguna NAPZA.

Akan tetapi untuk mendapatkan dana untuk advokasi berskala besar masih sangat jarang seperti di Indonesia yang dijabarkan dalam bab sebelumnya. Perbedaan lain antara penggalian dana untuk advokasi dan program jenis lain adalah sumber pendanaan yang berbeda. Beberapa penyandang dana dengan alasan politik atau 30 . penjajakan cepat. konferensi dan program percontohan memerlukan biaya yang lebih besar. mereka perlu menyesuaikan pelaksanaan advokasi ini dengan pekerjaan mereka lainnya. Penggalian dana untuk kegiatan-kegiatan advokasi sama dengan penggalian dana untuk programprogram pencegahan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Meskipun ada kemungkinan beberapa kegiatan advokasi hanya memerlukan biaya sedikit. PENGGALIAN DANA UNTUK KEGIATAN ADVOKASI Penggalian dana adalah langkah yang penting dan sering dilupakan dalam proses advokasi. Untuk beberapa kasus tertentu hal ini memungkinkan. Hal ini diperlukan karena kelompok perlu memastikan bahwa kelompok ini mampu melakukan advokasi pada berbagai isu yang berhubungan dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA. Di negara -negara berkembang dan transisi. banyak kegiatan memerlukan dokumen-dokumen untuk para politisi dan media. sekalipun di negara yang pelaksanaan advokasinya berhasil.F. melakukan hubungan komunikasi per telepon. menghadiri pertemuan-pertemuan masyarakat. Selain itu. kenyataannya banyak orang yang perlu dibayar. namun bermanfaat besar karena biaya advokasi relatif sedikit. Penelitian. atau menggunakan internet untuk mencari informasi yang relevan yang memerlukan pembiayaan. setidaknya ada pembayaran kepada paling tidak satu anggota dari kelompok tersebut. dana untuk kegiatan advokasi untuk pendekatan efektif pada HIV/AIDS di kalangan IDU seringkali sulit diperoleh. Buku panduan ini diharapkan akan bermanfaat untuk mendapat perhatian dari para penyandang dana bahwa advokasi adalah investasi yang bermanfaat. Advokasi akan berjalan lebih cepat dan efektif apabila ditunjang dari segi pendanaan. Hingga akhir tahun 1990-an. Keuntungan dari penggalian dana untuk advokasi adalah meskipun dana yang didapat hanya sedikit. Namun masalah ini telah teratasi dengan semakin banyaknya bukti bahwa advokasi dapat mempercepat proses pelaksanaan pendekatan efektif. Jika tidak diperoleh dana untuk kegiatan-kegiatan tersebut. para anggota akan mengeluarkan uangnya sendiri atau organisasi akan menggunakan dana yang dialokasikan untuk kegiatan lain menjadi dana untuk kegiatan di atas. sumber dana yang potensial yang tidak terlalu besar seperti ini adalah kedutaan negara berkembang. Selain itu advokasi dapat menjadi penting untuk keberlangsungan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. walaupun semua anggota koordinasi advokasi tidak perlu dibayar untuk melakukan advokasi pendekatan efektif untuk masalah HIV/AIDS di kalangan IDU. Kelompok advokasi hendaknya memastikan bahwa dana bisa diperoleh dari lebih dari satu donatur. Namun. Sehingga proposal untuk dana yang tidak besar dapat dikirim ke sejumlah penyandang dana yang potensial selama proses advokasi. Sebagai contoh. Para duta besar seringkali mau menyediakan dana yang tak terlalu besar misalnya sebesar US$ 2000.

malam pertunjukan film. konser dan sebagainya • Minta iuran keanggotaan dari para anggota koalisi • Cari sumbangan dari orang -orang kaya • Cari donasi dari perusahaan • Jual barang -barang seperti T-shirt dan lain-lain • Lelang atau adakan undian untuk barang-barang atau jasa yang disumbangkan • Jual ruang iklan pada surat kabar Perlu diperiksa isu-isu legal mengenai pengumpulan. Hal ini berbeda anata satu negara dengan negara lain. Demikian juga dengan penggalian dana untuk program-program lain. dan pelaporan penggunaan dana. Sebagai tambahan. Pola ini sebaiknya menggunakan argumentasi advokasi yang serupa dengan yang digunakan untuk para profesional kesehatan. sangat penting mengetahui penyandang dana mana tertarik pada program HIV/AIDS atau penyalahgunaan NAPZA.alasan lain mungkin tidak ingin kelompok ini memusatkan perhatian pada isu tertentu seperti pertukaran jarum suntik sehingga perlu untuk memperoleh dana dari berbagai sumber lain. p enggalian dana bisa dilakukan dengan mencantumkan daftar kegiatankegiatan yang dapat dilakukan: • Menyelenggarakan acara pengumpulan dana seperti pesta. pengeluaran. Contoh Kota Z Kelompok koordinasi advokasi di kota Z memperoleh dana US$ 1000 untuk melaksanakan penumpulan dana. kelompok advokasi sebaiknya mengembangkan hubungan dengan tokoh kunci dari organisasi penyandang dana sehingga argumentasi ini dapat disampaikan secara personal dan informal. Para anggota kelompok tersebut menyumbangkan waktunya dalam menghadiri pertemuan-pertemuan kelompok itu dan memulai kegiatan-kegiatan dalam dua bab berikutnya. Tim penasihat hendaknya menyusun pola permohonan dukungan dana sehingga kelompok dapat merespon pendanaan yang tersedia dengan cepat. meskipun argumentasi HAM dan ekonomi mungkin juga bermanfaat. 31 . Kemudian kelompok tersebut mulai mengadakan pembicaraan dengan penyandang dana utama program-program HIV/AIDS mengenai apakah kemungkinan mendapatkan dana untuk pelaksanaan proyek advokasi di wilayah tersebut. disertai dengan permohonan pendanaan. Jika mungkin.

• Laporan organisasi-organisasi pemberi layanan (jumlah dan tipe klien terutama yang IDU. Satu versi hendaknya berisi ringkasan dari semua informasi yang dikumpulkan. di bawah tema seperti: • “prevalensi HIV dan hepatitis”. masyarakat. dan para keluarga IDU terhadap program pengurangan dampak buruk ini? • Masalah kesehatan dan kesejahteraan sosial . • Penelitian-penelitian mengenai perilaku berisiko HIV di kalangan IDU. PENILAIAN MASALAH Langkah berikutnya adalah menentukan parameter masalah yang akan dihadapi dan menentukan tujuan umum dan tujuan khusus advokasi. keahlian. usia. tokoh agama. 32 . Apa pandangan para dokter. dan pengetahuan yang dimiliki mengenai situasi HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA di negara tersebut. Informasi ini harus dibuat sebagai laporan dalam berbagai format. Pelaksananaan penilaian madalah atau penjajakan meliputi tugas-tugas berikut ini: ? Mengumpulkan data dan infornasi tertulis mengenai: • Karakteristik IDU (jumlah. jenis kelamin. organisasi non-pemerintah atau LSM. pendidikan.BAB VI ANALISIS A. kesehatan dan kesejahteraan sosial. dan sebagainya) untuk mendapatkan informasi di atas dan mendapatkan informasi penanganan IDU oleh berbagai instansi kepolisian. informasi mengenai layanan yang tersedia. pengacara. ODHA. Faktor-faktor ini termasuk: • Masalah hukum dan penegakan hukum. dan hakim terhadap IDU dan HIV/AIDS? • Masalah sosial dan budaya. kondisi kehidupan IDU. latar belakang etnis. polisi. pendapatan. perawat. BNN. Penilaian masalah atau penjajakan mungkin dapat dilaksanakan oleh para anggota kelompok koordinasi advokasi. ? Menjajaki faktor -faktor situasional yang mungkin membantu atau menghambat pembentukan dan perluasan program-program yang efektif. Apa pandangan pemerintah. dan sebagainya) ? Mengidentifikasi tokoh kunci (penyalahguna NAPZA atau IDU. dan lain-lain). tergantung pada pengalaman. prevalensi HIV dan hepatitis. dan pekerja sosial? • Kemungkinan sumber dana Dari proses ini. Alternatif lain. dengan cara penjajakan dan respon cepat yang dikeluarkan WHO atau cara penelitian lain bisa digunakan. para profesional kesehatan dan kesejahteraan sosial. Hukum apa yang relevan untuk memulai atau memperluas program-program yang efektif? Apa pandangan kepolisian. gambaran situasi HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntik di negara tersebut akan muncul.

• Biaya terapi ketergantungan NAPZA di LSM sama besarnya dengan tiga bulan gaji (untuk enam bulan dalam therapeutic community). Penjajakan yang dilakukan di wilayah tersebut telah menemukan adanya kurang lebih 1000 IDU: • 60% dari mereka adalah laki-laki. • Kebanyakan IDU takut membeli peralatan suntik di apotik (karena polisi berjaga di sekitar apotik tersebut dan menangkap mereka saat mereka keluar dari apotik). tapi gratis di rumah sakit (untuk 12 hari detoksifikasi). Versi kedua hendaknya dibuat dengan penekanan pada butir-butir yang paling penting yang berhubungan dengan faktor-faktor situasional yang membantu atau menghambat program. Contoh dari Kota Z Kelompok advokasi meminta para peneliti dari sebuah universitas untuk bekerja dengan staf dari beberapa ornop/LSM melakukan penilaiaian masalah dengan cara penjajakan cepat HIV/AIDS dan situasi IDU di wilayah tersebut. Laporan ini hendaknya digunakan untuk proses pembuatan tujuan -tujuan khusus di bawah ini. Faktor-faktor ini hendaknya disusun berdasarkan urutan prioritas. • “kondisi-kondisi hidup/penghidupan”. pro ses pelaksanaan memakan waktu berbulan-bulan karena universitas dan staf ornop/LSM menyesuaikan kegiatan penjajakan dengan kegiatan-kegiatan mereka yang lain. • Empat tempat tidur tersedia di rumah sakit sedangkan di LSM tersedia 20 tempat tidur. Laporan ini hendaknya diberikan kepada seluruh anggota kelompok koord inasi advokasi. • dan sebagainya. • kurang dari 10% IDU secara teratur menggunakan kondom saat berhubungan seks. Kegiatan ini dapat selesai lebih cepat apabila pendanaan memadai. dan jarang membeli jarum suntik baru karena mereka lebih suka menggunakan uangnya untuk membeli NAPZA. • Para IDU memahami bahwa masyarakat menginginkan mereka berhenti menggunakan NAPZA atau keluar dari wilayah tersebut namun mereka merasa tidak mampu menghentikan penyalahgunaan NAPZA dan wilayah tersebut adalah rumah mereka karena mereka tidak mempunyai tempat lain untuk tinggal. anggota koalisi serta kepada mereka yang tertarik pada laporan yang lengkap. tidak merasa takut terhadap AIDS. • Mereka jarang atau tidak pernah pergi ke rumah sakit atau puskesmas karena para dokter atau perawat d apat mengetahui bahwa mereka penyalahguna NAPZA. • Para IDU dapat membeli jarum suntik dari dua apotik di daerah itu • Terapi ketergantungan NAPZA (tanpa substitusi NAPZA) tersedia di sebuah LSM dan rumah sakit..• “perilaku berisiko HIV”. • Sebagian besa r IDU yang diwawancarai mengatakan bahwa mereka ingin berhenti menggunakan NAPZA. Karena kelompok ini tidak mempunyai dana untuk melakukan penjajakan ini. 33 . telah mendengar mengenai AIDS. • 80% berbagi jarum suntik dengan teman-teman mereka secara rutin • 20% telah berbagi peralatan suntik dengan orang asing pada minggu sebelumnya.

Sebuah contoh dari Kota Z: ? Para IDU sering berbagi jarum suntik karena mereka: • Takut ditangkap dan takut membeli peralatan suntik baru dari apotik • Tidak cukup mendapat pendidikan mengenai HIV/AIDS serta penyebaran dan pencegahannya • Tidak dapat mengakses terapi ketergantungan NAPZA • Tidak dapat mengakses layanan -layanan yang sesuai yang mungkin dapat merespon kebutuhan kesehatan dan kebutuhan lainnya. Beberapa contoh dari Kota Z: • • • • • Para IDU seringkali berbagi jarum suntik. Pernyataan-pernyataan ini akan diperlukan untuk menyusun tujuan khusus kelompok advokasi tersebut. sehingga kecil kemungkinannya bahwa kelompok -kelompok ini akan memastikan penerapan pendekatanpengurangan dampak buruk NAPZA. Perumusan masalah dapat menjelaskan parameter umum dari suatu masalah dengan sederhana. 34 . Hal ini mengarah pada peningkatan penularan HIV di kalangan IDU dan dari IDU ke pasangan seks mereka. Pernyataan isu berfokus pada penyebab-penyebab masalah dan mengarah pada pencarian penyelesaian masalah. IDU. dan polisi mengetahui sedikit informasi mengenai penyalahgunaan NAPZA. Para IDU tidak kuatir bahwa mereka bisa terkena HIV sehingga kecil kemungkinan mereka mengurangi perilaku berisiko menularkan atau ditulari HIV. dan penyebaran HIV di kalangan IDU. Para politisi. karena layanan-layanan ini tidak tersedia di wilayah tersebut. Hal ini mengarah pada peningkatan penularan HIV di kalangan IDU. Terapi ketergantungan NAPZA tidak dapat diakses oleh sebagian besar IDU sehingga para IDU mendapatkan kesulitan dalam mengurangi atau menghentikan penyuntikan dan penyalahgunaan NAPZA. Para IDU jarang menggunakan kondom saat berhubungan seks. masyarakat.Butir-butir di atas bermanfaat untuk membuat rumusan-rumusan masalah dan isu berdasarkan penjajakan yang dilakukan.

Kegiatan adalah pekerjaan yang dilakuka n untuk mencapai setiap tujuan khusus.B. • • 35 . sumber daya manusia. dan lainnya) yang tersedia Relevant (relevan): Tujuan harus berguna untuk keseluruhan proses pencapaian tujuan. yaitu: Specific (spesifik): Tujuan harus menyebutkan secara jelas apa yang ingin dicapai oleh program Measurable (dapat diukur): Tujuan harus dapat diukur dengan mudah tanpa harus memakai sumber daya yang besar untuk penelitian dan evaluasi Achievable (dapat dicapai): Tujuan harus dapat dicapai dengan sumber-sumber (keuangan. tujuan khusus (objective ) hanya merupakan tujuan umum (goal ). Kegiatan dirancang secara spesifik untuk membantu anggota kelompok menuju pencapaian tujuan khusus. Keinginan ini mungkin sulit dicapai namun akan membantu semua pihak yang bekerja pada proyek yang sedang dilaksanakan untuk tetap terfokus dan bekerja bersama -sama dengan tujuan yang menyeluruh. Meningkatkan akses bagi para IDU untuk mendapatkan peralatan suntik baru dengan cara meningkatkan akses IDU ke apotik atau memulai program jarum suntik steril. dan kelompokkelompok lain di wilayah tersebut (seperti polisi. politisi. Beberapa tujuan khusus yang muncul dari penjajakan yang dilakukan di Kota Z: Dalam 12 bulan. tujuan khusus (objectives). Tanpa sifat-sifat SMART. akan sulit diukur. dan tokoh masyarakat) perlu banyak mempelajari kebutuhan pengurangan dampak buruk NAPZA di wilayah tersebut. Dokter dan petugas kesehatan perlu mengetahui mengenai penyalahgunaan NAPZA dan HIV/AIDS. Meningkatkan akses bagi para IDU ke terapi ketergantungan NAPZA yang terjangkau secara ekonomi (baik detoksifikasi maupun therapeutic community) dan meningkatkan pilihan-pilihan terapi (termasuk terapi substitusi NAPZA). kalau tidak. Tujuan khusus yang bersifat SMART dibuat dengan mempertimbangkan langkah-langkah yang diperlukan. • Meningkatkan edukasi: para IDU perlu dihubungi oleh seseorang yang dipercayai dan diberi informasi mengenai penyebaran dan pencegahan HIV. Time -constrained (mempunyai batasan waktu): Tujuan harus memiliki batas waktu pencapaiana. Tujuan Umum adalah gambaran um um mengenai peristiwa yang diinginkan suatu kelompok pada akhir sebuah pelaksanaan advokasi. melalui upaya:. Hal utama mengena i tujuan khusus adalah kelompok koordinasi advokasi harus mampu mengukur apakah kelompok tersebut mampu mencapai tujuan khusus. Tujuan Khusus adalah hal-hal spesifik yang diharapkan dari suatu pelaksanaan advokasi. TUJUAN KHUSUS YANG BERSIFAT SMART Seringkali terjadi kesalahpahaman perbedaan antara tujuan umum (goal ). Tujuan khusus merupakan hasil kegiatan kelompok advokasi dan bersifat SMART sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini. dan kegiatan (activities). para IDU harus didorong untuk mengurangi perilaku berisiko terhadap HIV.

tujuan khusus mungkin harus diganti untuk memasukkan pengumpulan informasi lebih lanjut). walaupun mendapat tantangan Tujuan khusus ini didukung oleh sejumlah orang sehingga dapat dicapai Pendanaan dapat dikumpulkan untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan khusus tersebut Pembuat keputusan yang berhubungan dengan tujuan khusus ini dapat diidentifikasi dengan jelas Aliansi dibentuk untuk membantu mencapai tujuan khusus tersebut. 36 . Kelompok koordinasi advokasi harus membuat draft prioritas tujuan khusus. terutama mereka yang mengidap HIV. Hal ini disebabkan karena kesulitan dalam menentukan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan khusus dan melakukan pengukuran capaian dengan tidak mengabaikan sejumlah informasi penting mengenai proses advokasi. Kelompok koordinasi advokasi harus secara seksama mempertimbangkan isu mengenai tujuan khusus yang dapat dicapai: • • • Apakah isu ini sangat sensitif sehingga para pembuat keputusan tidak dapat didekati secara langsung? Apakah sudah ada orang atau koalisi yang telah mencoba melakukan advokasi isu ini? Pelajaran apa yang dapat diambil dari pengalaman mereka? Apakah informasi yang tersedia cukup untuk mempengaruhi para pembuat kebijakan? Jika tidak. ke layanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas. Dalam menetapkan tujuan khusus. Namun pengalaman para pelaksana advokasi pada isu lain seperti perawatan dan pengobatan bagi ODHA menunjukkan bahwa advokasi berhasil dilakukan pada berbagai masalah. (Catatan: semua tujuan khusus ini dapat diukur karena penjajakan telah dilaksanakan sebelumnya. Untuk advokasi. Namun demikian. kelompok advokasi harus menilaia hal-hal berikut: • • • • • • • Tujuan khusus mudah dimengerti Adanya perbaikan atau perubahan situasi yang akan dicapai dengan pelaksanaan tujuan tersebut Tujuan khusus tersebut dapat dicapai. Tanpa adanya gerakan sosial dan kemauan politik. Pencapaian tujuan memang sulit dicapai. tujuan khusus yang bersifat SMART dapat menimbulkan kesulitan. sehingga penjajakan yang kedua setelah 12 bulan akan dapat mengukur apakah perubahan-perubahan yang dicari oleh tujuan khusus ini telah terjadi). para pelaksana advokasi di beberapa negara dapat merasakan bahwa kegiatan advokasi yang dilakukan kurang memungkinkan untuk berhasil.• Meningkatkan akses bagi para IDU. sistim SMART harus digunakan paling tidak untuk menuntun pengembangan tujuan khusus advokasi.

Tahap 3: Pertimbangan. adalah penting untuk memahami bagaimana proses pembuatan keputusan di berbagai sektor untuk dapat dipengaruhi oleh kegiatan -kegiatan advokasi. A. Jika proposal disetujui. proposal tersebut bisa dikerjakan kembali dan prosesnya dimulai lagi. Terutama pada awal proses advokasi. Namun kadang-kadang keputusan yang diambil adalah mengupayakan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. informasi dan syarat-syarat ini perlu dipenuhi dan proposal bisa kembali pada tahap 4. yang perlu untuk diikuti. LSM dan lain -lain. isu ditempatkan pada agenda organisasi tersebut. biasanya perlu dicari jalur-jalur informal dimana isu-isu mulai diangkat dan keputusan awal diambil. Jika informasi lebih lanjut diperlukan atau ada syarat-syarat yang perlu dipenuhi. Tahap-tahap tersebut adalah: Tahap 1 : Mengidentifikasi permasalahan atau isu-isu dalam suatu organisasi baik pemerintahan. baik untuk proses formal maupun informal. atau menyetujui dengan syarat-syarat tertentu. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana agar tujuan-tujuan ini dapat dicapai. Pada tahap ini. Tahap 4: Keputusan diambil. bisa dilanjutikan ke tingkat pembuatan keputusan selanjutnya atau langsung dilaksanakan. Bila proposal ditolak.BAB VII STRATEGI Kelompok koordinasi advokasi pada tahap ini sudah harus memiliki gambaran yang jelas mengenai masalah-masalah yang akan dihadapi dan draft tujuan khusus untuk advokasi. instruksi pemerintah. Permasalahan dan usulan solusinya diberikan kepada para pembuat kebijakan. Tahap 2 : Memperkenalkan ide atau proposal untuk memecahkan masalah yang telah teridentifikasi. Tahap 5: Maju ke tahap berikutnya. Contoh dari Kota Z 37 . Ada 5 tahap pembuatan keputusan. MEMAHAMI PROSES PEMBUATAN KEPUTUSAN Pertama-tama. Usulan di atas didiskusikan dan mungkin diubah oleh para pembuat kebijakan. Pelaksana advokasi perlu memahami hal ini a pabila pendekatan formal tersebut terjadi selama proses advokasi. Biasanya keputusan diambil untuk menyetujui atau menolak proposal (baik yang asli maupun yang telah dirubah). dan perundang-undangan. atau menyetujui sebagian. Mungkin terdapat peraturan dan prosedur formal cara -cara pembuatan dan perubahan peraturan.

pihak administrasi kota. Tahap 5: DPRD meminta biro administrasi kota untuk mengadakan pertemuan antara Dr. DPRD bisa memutuskan untuk mengadopsi meskipun ditentang oleh kepolisian. Tahap 3: DPRD mempertimbangkan proposal tersebut. Biro diminta untuk menyerahkan laporan termasuk rekomendasi untuk pertemuan dengan DPRD berikutnya (di mana pada saat itu proses dimulai lagi dari Tahap 2). Tahap 1: Kelompok koordinasi advokasi telah mengidentifikasi suatu masalah mengenai kepolisian yaitu hadirnya polisi di dekat apotik merupakan alasan utama mengapa IDU tidak membeli peralatan suntik baru. DPRD mungkin tidak akan mengadakan diskusi terhadap proposal tersebut tapi langsung menolaknya. mendengarkan argumen pihak kepolisian. A dan rekan-rekannya dengan kepolisian untuk membahas agar proyek percontohan tetap berjalan tanpa menimbulkan permasalahan bagi kepolisian. mereka akan mendukung proposal tadi sejak pertemuan yang pertama. dan Dr. A yang mewakili kelompok advokasi. Selain itu advokasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan mungkin melibatkan banyak proses pembuatan keputusan yang terbeda -beda. Sejumlah besar unsur dan faktor yang tidak tetap dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. 38 . Biro administrasi kota terdiri dari wakil masyarakat yang bekerja untuk DPRD. namun menyetujui pencarian metode yang memungkinkan proyek percontohan dilaksanakan. kelompok advokasi perlu mencoba memecahkan proses yang rumit tersebut menjadi bagian yang lebih sederhana. misalnya: • Jika polisi telah mengetahui proposal tadi dan setuju bahwa hal tersebut memang perlu. • Jika kepala kepolisian kota mempunyai seorang teman dengan anak seorang IDU yang positif HIV. Tahap 2: Kelompok koordinasi membuat suatu proposal kepada DPRD untuk meminta polisi menghentikan kegiatan menunggu di dekat apotik selama 6 bulan pelaksanaan program percontohan untuk meningkatkan akses IDU pada peralatan suntik. • Jika administrasi kota menolak mentah -mentah untuk mendukung proposal tersebut. Kelompok ini telah menginformasikan kepada kepala kepolisian kota tapi kepala polisi mengatakan bahwa ia hanya mengikuti perintah biro administrasi kota. • Jika kebanyakan anggota DPRD orang-orang yang bersimpati kepada polisi dan tidak tertarik pada masalah-masalah kesehatan. kepolisian bertanggungjawab kepada DPRD . kepala polisi tersebut mungkin akan lebih simpatik. Bahkan dalam situasi yang sangat formal seperti contoh di atas. banyak faktor mempengaruhi suatu keputusan. Sedangkan kepala kepolisian harus memberikan jawaban kepada kepala biro administrasi kota (juga kepada kepala kepolisian nasional). Tahap 4: DPRD memutuskan agar polisi tetap melakukan kegiatan sebelumnya. Untuk ini.Di Kota Z.

• Edukasi yang diberikan melalui penjangkauan kepada IDU mengenai peningkatan dalam pilihan terapi ketergantungan NAPZA dan pengurangan biaya yang dibebankan kepada klien .B. 39 . Kunci untuk advokasi adalah menentukan individu atau kelompok mana yang kira -kira akan memiliki pengaruh paling besar pada setiap keputusan dan mencoba untuk membujuk mereka untuk mendukung tujuan-tujuan advokasi. mendorong IDU untuk mencari layanan terapi: hal ini memerlukan adanya suatu program penjangkauan untuk IDU. Pendengar sekunder dapat merupakan bagian atau perluasan dari pendengar primer. Pendengar primer dan sekunder Perlu adanya pemanfaatan peta -peta kebijakan untuk menentukan individu atau kelompok yang paling berpengaruh terhadap suatu keputusan. Contoh dari Kota Z Kelompok koordinasi advokasi telah mengkaji tujuan sebagai berikut ini: Meningkatkan akses bagi IDU untuk mendapatkan terapi ketergantungan NAPZA yang dapat dijangkau (baik detoksifikasi atau therapeutic community) dan meningkatkan rangkaian layanan terapi (termasuk terapi substitusi) Dalam diskusi dengan koalisi yang lebih luas. PEMETAAN PROSES KEBIJAKAN 1. Kelompok ini bisa terdiri dari mitra kerja yang mendukung tujuan advokasi. kelompok tersebut telah memutuskan hal yang akan dicapai adalah dengan pemenuhan tiga sub-tujuan dibawah ini: • Peningkatan pendanaan oleh Dinas Kesehatan kota bagi dua layanan terapi ketergantungan NAPZA untuk memungkinkan penanganan IDU lebih banyak dan mengurangi biaya yang dibebankan kepada klien (dari therapeutic community) • Pengenalan program terapi substitusi percontohan. kelompok yang netral yang tak mendukung atau pun menentang. Berdasarkan proses tersebut diatas dapat dibagi jenis pendengar dalam advokasi yaitu: • • Pendengar primer termasuk para pembuat kebijakan dengan kewenangan untuk secara langsung mempengaruhi pencapaian tujuan. berlokasi di puskesmas. dan kelompok yang menentang advokasi. Pendengar sekunder adalah para individu dan kelompok yang dapat mempengaruhi pembuat keputusan (pendengar primer ).

Departemen Kesehatan: Dinas Kesehatan Kota biasanya tidak akan membuat keputusan yang menentang kebijakan Departemen Kesehatan Pusat Keluarga dan teman-teman IDU 40 . pelayan toko. apakah keputusan ini akan memperbesar atau memperkecil kemungkinan masyarakat untuk memilih anggota dewan kota pada pemilihan berikutnya? Pemimpin agama : apakah pemimpin agama berkeberatan atau menyetujui terapi ketergantungan NAPZA? Penyandang dana internasional untuk program HIV/AIDS atau NAPZA: ka rena Kota Z adalah kota yang miskin. para atasan/majikan.Kelompok tersebut sekarang melaksanakan latihan pemetaan kebijakan untuk dua sub-tujuan yang pertama (lihat Contoh Peta Kebijakan 1) Peta Kebijakan 1: Contoh dari Kota Z: Siapakah para pendengar advokasi Sub-tujuan 1: Meningkatkan pendanaan bagi dua layanan terapi ketergantungan NAPZA yang sedang berlangsung Pendengar Primer: Sasaran DPRD Kota Pendengar Sekunder: Yang berpengaruh Staf anggota DPRD kota: karena anggota DPRD kota sering kali meminta pendapat dari para staf mereka. apakah para penyandang dana akan membayar peningkatan pendanaan selama tiga tahun pertama (sehingga anggota DPRD kota tidak harus mengeluarkan dana dari proyek lain) Kepala Dinas Staf Dinas Kesehatan Kota (seperti di atas) Kesehatan Kota Para peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat di universitas terdekat: para profesional sebaya sangat berpengaruh. para pekerja di seluruh wilayah itu: bagaimana reaksi orang-orang tersebut terhadap keputusan. Media: anggota DPRD kota ingin mengetahui sikap media terhadap peningkatan pendanaan: apakah reaksi media akan menguntungkan atau tidak? Tokoh masyarakat: anggota DPRD kota adalah orang yang berinteraksi dengan keluarga.

Kepala Pukesmas Staf. berbasis di puskesmas. Para “Pa kar” nasional dan internasional di bidang HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA Para Pemimpin Agama dan Media Para Penyandang Dana internasional untuk program-program HIV/AIDS dan NAPZA Kepala Kepolisian Kota Menteri Kesehatan Kepala Nasional Kepolisian Presiden Para “Pakar” Kepolisian di bidang tindak kejahatan NAPZA Para Kolega kepolisian internasional dan Media Staf dari anggota dewan kota dan Media Para tokoh masyarakat Para pemimpin agama Para penyandang dana internasional untuk program-program HIV/AIDS dan NAPZA DPRD Kota Kepala Dinas Kesehatan Staf Dinas Kesehatan Kota Kota Para Peneliti pada Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas terdekat Departemen Kesehatan Pusat IDU IDU lain. pasien dan masyarakat sekitar puskesmas Para kolega profesional: puskesmas lain. pemimpin agama dan tokoh masyarakat dapat mempengaruhi kelompok pembuat keputusan. Keluarga dan teman-teman IDU Para dokter/petugas kesehatan lain dan media Tabel di atas menunjukan bahwa keputusan bisa dibuat oleh kelompok kecil namun pendapat kelompok yang lebih luas yang terdiri dari para profesional. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa adanya perubahan seperti peningkatan pendanaan untuk layanan yang ada 41 .Sub-Tujuan 2 : Pengenalan program percontohan terapi substitusi. Dinas Kesehatan Kota. Menteri Kesehatan Anggota DPRD Kota dan Media Kepala Kepolisian Nasional Anggota DPRD Kota Anggota Kepolisian untuk masalah NAPZA Media Presiden Kepala Kepolisian dan Anggota DPR/MPR lain.

Anggota baru ini mengerjakan berbagai publikasi dan tertarik untuk berbicara pada konferensi dan pertemuan komite. dua di antaranya adalah ODHA dan IDU.dapat menyederhanakan dan mempercepat pelaksanaan kegiatan lain seperti pelaksanaan program terapi substitusi. Namun demikian. pengurangan kriminalitas. Selain itu ODHA merupakan kelompok yang sangat penting untuk pembuatan keputusan mengenai topik -topik ini. Hal lain yang perlu dicatat adalah kelompok yang berpengaruh yang perlu digunakan seperti media. Dengan menunjukkan kebutuhan terhadap layanan semacam ini. IDU dapat memiliki dampak kuat mengenai layanan yang akan dimulai atau diperluas untuk menghadapi HIV/AIDS. Penelitian pendengar kebijakan Saat pendengar primer dan sekunder telah diidentifikasi untuk tujuan tertentu. dengan membaca koran. kelompok advokasi di Kota Z menyadari bahwa kedua kebutuhan ini perlu dilaksanakan (bersama dengan edukasi yang dilakukan melalui kegiatan penjangkauan dan tujuan lain dalam bab sebelumnya) untuk secara efektif menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU di kota tersebut. kelompok advokasi dapat berhasil menarik tiga anggota lagi. Dengan membaca semua itu secara teliti. Apabila ODHA memiliki juru bicara yang tampil di media dan dalam komite untuk para politisi yang berpengaruh. Jika IDU menolak untuk ikut program ini. 2. ada kemungkinan untuk mendapatkan kutipan langsung mengenai pandangan mereka tentang NAPZA dan HIV/AIDS 42 . perlu untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin mengenai kelompok dan individu tersebut. para pejabat pemerintah seperti polisi dan militer memiliki pengaruh yang besar sehingga perlu dimasukkan dalam kelompok pendengar sekunder. Media bukan pendengar primer untuk ke dua sub-tujuan di atas. maka program ini tidak akan menghasilkan dampak terhadap pencegahan HIV. dan sebagainya. Namun IDU cenderung tidak mempunyai pengaruh selama diskusi yang berhubungan dengan keuangan. namun kemungkinan besar dapat mempengaruhi pendengar primer. dan lain-lain)? Informasi ini bisa didapatkan dengan beberapa cara: • Pejabat dan selebritis menyatakan opininya melalui media. Karena perluasan layanan terapi ketergantungan NAPZA umumnya dianggap sebagai isu yang berhubungan dengan NAPZA dari pada isu yang berhubungan dengan AIDS. Melalui pertemuan dengan IDU. Apakah opini mereka saat ini mengenai HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntik? Apa kepentingan mereka terhadap isu-isu ini? Apa yang memotivasi mereka? Bagaimana mereka biasanya mempelajari isu -isu baru (melalui hubungan personal. IDU juga penting dalam pembahasan peningkatan layanan terapi. Sama halnya di beberapa negara lain. pidato atau dokumendokumen lain. ODHA dan keluarga. IDU dimasukkan sebagai pendengar primer untuk program substitusi karena sangat vital bagi keberhasilan program. IDU telah membantu pengenalan kegiatan efektif tersebut.

peraturan. dirasakan. protokol. Untuk itu. penyalahguna NAPZA seharusnya dibuang dari keluarganya. Survei mengenai penyalahgunaan NAPZA. Kebijakan-kebijakan resmi yang tertuang dalam perundang-undangan. Ketelitian perlu diperhatikan saat menggunakan teknik ini karena banyak politisi berpikir bahwa mereka perlu dilihat “keras terhadap NA PZA”. sikap terhadap p enyalahgunaan NAPZA. Analisis media dapat membantu memprediksi pandangan media dan masyarakat mengenai beberapa topik. 43 . Sebab sangat berat menyelidiki dan memprediksi beberapa pendengar sekunder khusus. penyalahguna NAPZA adalah orang-orang yang tidak waras. penyalahguna NAPZA. kita perlu mengenal orang-orang yang dekat dengan para politisi yang dapat memberikan gambaran yang lebih aktual mengenai pandangan politisi tersebut. beberapa penyalahguna NAPZA memainkan peran yang bermanfaat dalam masyarakat. rencana. instruksi pemerintah. strategi. polisi dan sebagainya. beberapa penyalahguna NAPZA telah berhenti menggunakan NAPZA. Diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discusssion (FGD) dapat digunakan untuk mendapatkan pemahaman mengenai cara berpikir pendengar mengenai topik-topik yang spesifik. Analisis informasi di atas harus berfokus pada organisasi atau individual apakah telah mendukung tujuan advokasi atau menentang tujuan advokasi. Perlu mencatat nama -nama jurnalis yang tertarik akan keseimbangan dan kedalaman informasi. seluruh dokumen yang berkaitan dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntik perlu dikumpulkan dan dikaji. Untuk pendengar primer dan sekunder. pengacara. Jika tujuan advokasi dapat dikaitkan dengan isu yang sangat diperhatikan oleh pendengar. Tahap selanjutnya adalah memetakan apa yang diketahui. dan diyakini oleh para pendengar mengenai isu-isu tersebut yang bisa berhubungan dengan tujuan khusus. Informasi isu-isu yang tidak berhubungan dengan tujuan khusus kadang-kadang berguna untuk menyusun pesan-pesan persuasif. Kelompok tersebut perlu terus dijajaki dan pesan-pesan terus dikembangkan dan diteruskan ke par a pendengar yang lain. dan ODHA yang telah dilaksanakan sangat bermanfaat untuk mengukur opini masyarakat. kemungkinan besar pendengar akan memperhatikannya. Analisis ini bisa sangat sederhana seperti menghitung jumlah artikel mengenai NAPZA dalam surat kabar selama periode tertentu dan mencatat tema-tema umum artikel tersebut misalnya penyalahguna NAPZA adalah penjahat. Perlu melakukan penilaian mengenai jurnalis yang menulis artikel-artikel tersebut apakah telah bersikap sensasional atau seimbang. dan sebagainya. FGD ini dapat melibatkan anggota masyarakat umum atau pendengar tertentu seperti dokter.• • • • atau topik-topik yang sejenis.

Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik. • Bermacam-macam sikap dari yang sangat mendukung sampai yang tak mendukung. Kepala puskesmas • Staf puskesmas Beberapa staf puskesmas menghadiri kelompok advokasi. telah membaca banyak informasi mengenai terapi substitusi.sub-tujuan tujuan Tahu sedikit • Dapat mengerti bahwa kegiatan ini adalah penting. menentang.Contoh dari Kota Z Kelompok koordinasi advokasi melanj utkan latihan pemetaan kebijakan untuk sub-tujuan yang kedua (lihat Contoh Peta Kebijakan 2 untuk contoh-contoh yang dipilih dari proses pemetaan ini). Kebanyakan mendukung program. • • • Penduduk sekitar Puskesmas • • Belum menentukan Kenyamanan wilayah itu sebagai tempat untuk tinggal sikap. staf lainnya hanya mengetahui sedikit Hampir tak tahu apa-apa. Setiap anggota staf memperhatikan satu bidang kesehatan khusus. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik . berbasis di puskesmas Pendengar Pengetahuan Keyakinan dan sikap Isu-isu yang diperhatikan pendengar pendengar mengenai oleh pendengar mengenai sub. Tidak dipecat. Peta Kebijakan 2: Contoh dari Kota Z: Apa yang diketahui dan dipikirkan oleh para pendengar? Sub-tujuan2 : Pengenalan program percontohan terapi substitusi. • • • • Kesehatan seluruh penduduk wilayah tersebut. Tidak dipecat. percaya bahwa substitusi malah akan mendatangkan IDU ke wilayah tersebut 44 . Tidak dikritik media dan Departemen Kesehatan. Kemungkinan akan dan bekerja. Kuatir mengenai dampak program kepada klien puskesmas (nonIDU) yang lain.

percaya bahwa program ini akan menyelamatkan banyak jiwa. Pemberian informasi. Ulasannya sepertinya berpusat pada kontroversi dan konflik. Tidak dipecat. • • • • • • Kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan di seluruh kota. terutama pada ide baru. Kemungkinan reaksi yang muncul akan beragam. Pemilihan/penunjukan kembali. namun kuatir para pemilih mereka akan menentang program itu.Para peneliti Telah membaca penelitian dari internasional universitas • • Mendukung. Sangat mendukung program tersebut. Merasa bertanggung jawab untuk menghentikan AIDS di wilayah itu. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik Ide-ide baru. Kemungkinan tertarik akan isunya dan ingin memberikan ulasan. keberadaan program di wilayah tersebut akan membantu mengurangi penularan HIV di kalangan IDU Belum menentukan sikap. • • • Kesehatan masyarakat secara keseluruhan di seluruh kota. Penjualan koran. Kepala Dinas Telah mendengar tahu Kesehatan Kota namun sedikit mengenai penelitian atau bagaimana terapi substitusi bekerja • • • • • • • Media Hampir tak tahu apa-apa. peristiwa baru dll. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik. Buktinya sudah jelas. 45 . Konflik. periklanan. • • • Keingintahuan akan hal-hal ilmiah Kenaikan jabatan akademis Publikasi DPRD kota Hampir tak tahu apa-apa.

Persahabatan. • • • Bertahan hidup. Percaya bahwa satu-satunya jalan untuk menangani IDU adalah dengan menghukum mereka. • • Kemungkinan akan menentang. Menyatakan bahwa penyalahgunaan NAPZA adalah dosa Pencegahan kejahatan Menahan penjahat. tapi umumnya pengetahuan yang dimiliki tidak banyak Pengetahuan pendengar mengenai subtujuan Kebanyakan memiliki pengetahuan yang sedikit. Menjaga amanat rakyat. yakin bahwa program itu akan menolong mereka berhenti menyuntikan NAPZA Keyakinan dan sikap pendengar mengenai subtujuan Kebanyakan dari mereka yang tahu mengenai terapi substitusi sangat mendukung. Beberapa (terutama para orang tua) menentangnya dan berpikir bahwa uang yang tersedia seharusnya digunakan untuk program yang menghentikan anak -anak muda menggunakan • • • • IDU Telah mendengar mengenai terapi substitusi. Pendengar • • Isu-isu diperhatikan pendengar yang oleh Teman-teman dan Keluarga IDU • • • Kesejahteraan IDU Bila mungkin. Sangat mendukung. • • Menyuarakan perlawanan terhadap penyalahgunaan NAPZA secara konsisten dan menolong penyalahguna NAPZA. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik Kepala Kepolisian Kota Hampir tak tahu apa-apa. bebas dari penyalahgunaan NAPZA • 46 .Para pemimpin agama (kota) Hampir tak tahu apa-apa. • Kemungkinan akan menentang.

• • • • • Reputasi profesional sebagai “pakar” Hubungan dengan institusi-institusi dan orang-orang yang berpengaruh. Mendukung suatu ujicoba di Kota Z. Bidang perawatan kesehatan yang spesifik di seluruh wilayah di negara tersebut. kebijakan nasional dapat disusun • • Pengurangan kemiskinan Pencegahan HIV/AIDS secara global Para ‘pakar’ Kebanyakaan tingkat nasional memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. telah menyaksikan program substitusi di negara lain dan akan membantu dimulainya program di Kota Z. Beberapa sangat menentang dan yakin bahwa program ini “salah” karena tidak menolong IDU berhenti menggunakan NAPZA dengan segera. Menteri Kesehatan Telah mendengar namun tahu sedikit mengenai penelitian atau bagaimana terapi substitusi bekerja • • • • Kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan di seluruh wilayah di negara tersebut. mau mendanai program percontohan apabila dukungan masyarakat yang memadai dapat diperlihatkan Beberapa sangat mendukung. tapi tidak yakin kalau substitusi adalah kebijakan nasional yang terbaik. Peduli akan AIDS. Dari hasilnya. Staf Menteri Beberapa membaca Kesehatan telah • penelitian internasional • 47 . terutama di Kota Z.segala NAPZA. macam Para penyandang dana internasional Telah melaksanakan penelitian internasional. mempunyai tingkat pengetahuan yang tinggi. Pemilihan/penunjukan kembali. Kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan nasional. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik. • Sangat mendukung.

Kepolisian Nasional Tak diketahui. dapat dilihat adanya berbagai pengetahuan. • Dibutuhkan penelitian. Pemilihan/penunjukan kembali. sikap. dan keyakinan di antara para pendengar di Kota Z dan di tingkat nasional. Kelompok advokasi juga mempunyai beberapa ide mengenai hal yang diketehui dan dirasakan pendengar mengenai isu-isu yang berhubungan dengan tujuan tersebut. • Dari proses ini. Dipilih berdasarkan program partai yang memasukkan upaya upaya “Bersikap keras terhadap NAPZA”. • • Menjaga amanat rakyat. Dibutuhkan penelitian. kontroversial (terutama secara politis). Hampir tak tahu apa-apa. 48 . Presiden. Serangkaian kegiatan dapat direncanakan untuk menyampaikan pesanpesan advokasi kepada para pendengar ini. secara tetap menjanjikan membersihkan masyarakat dari NAPZA. dan kelihatan aneh dibanding dengan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan penyalahgunaan NAPZA seperti kegiatan pengurangan pemasokan (Supply reduction) dan permintaan (Deman reduction). Setelah melengkapi peta kebijakan untuk tujuan dan sub-tujuan kelompok advokasi mempunyai gambaran tentang individu dan kelompok yang dapat membuat atau mempengaruhi keputusankeputusan yang berkaitan dengan tujuan. Hal ini merupakan kasus yang sering dijumpai ketika melaksanakan advokasi untuk pendekatan-pengurangan dampak buruk NAPZA (Harm reduction) karena isu yang diangkat melalui berbagai kegiatan sangat kompleks. • Kemungkinan akan menentang.

BAB VIII AKSI DAN REAKSI A. Contoh dari Kota Z Kelompok koordinasi advokasi sangat senang telah menyelesaikan tujuan-tujuan khusus dan peta kebijakannya. sasaran advokasi yang diharapkan. tujuan khusus advokasi. jadual kegiatan. Untuk sub-tujuan mengenai pelaksanaan program substitusi di puskesmas wilayah tersebut. Persuasi: Bagi k elompok yang belum sepaham dengan kegiatan tersebut perlu dilakukan pendekatan secara persuasif dengan berbagai argumentasi. dan indikator untuk mengevaluasi kegiatan tersebut. Rencana aksi sebaiknya dikembangkan dengan memprioritaskan sasaran yang strategis dan berdampak maksimal dengan upaya yang minimal. Ø dan kebutuhan untuk memulai program substitusi percontohan di puskesmas wilayah itu. Ø keuntungan terapi bagi IDU dan masyarakat. Cara lain dapat dilakukan dengan mengajak berkunjung pada negara yang telah berhasil melaksanakan untuk studi banding. kegiatan-kegiatan pokok. • 49 . Kelompok ini telah memiliki gambaran yang jelas mengenai kelompok yang akan dilibatkan dalam diskusi dan beberapa kebutuhan yang diperlukan. ada dua kategori kegiatan utama yang diperlukan: • Edukasi: Sasaran perlu diberi edukasi mengenai . Kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan sebaiknya dilaksanakan secara berkesinambungan dan tepat waktu. Ø keefektifan terapi substitusi untuk pencegahan HIV dan efek-efek lainnya. untuk menghadapi pendengar dan tanggapan terhadap pesan -pesan yang disampaikan. Ø pendekatan -pengurangan dampak buru k NAPZA tentang HIV di kalangan IDU. Berdasarkan tujuan-tujuan khusus dan kebijakan yang dijelaskan pada bab sebelumnya. berdiskusi d engan pakar internasional atau melakukan dialog terbuka tentang risiko dan keuntungan program terapi substitusi. Kelompok advokasi yang terkoordinir dengan baik perlu mengembangkan rencana aksi yang menjelaskan situasi. rencana aksi sebaiknya mencantumkan setiap kegiatan yang diperlukan. PERENCANAAN KEGIATAN (ACTION PLANNING) Kegiatan advokasi perlu direncanakan. Seiring dengan berkembangnya kelompok yang mempunyia pemahaman sama maka seluruh mitra kerja perlu didorong agar dapat berpartisipasi secara aktif untuk mencapai tujuan.

Konsistensi pemberian pesan perlu dilakukan untuk menghindarkan kebingungan pendengar. dan gaya yang mengesankan. • Tekankan urgensi dan prioritas aksi yang direkomendasikan • Rencanakan dan adakan peliputan media untuk memberitahu kepada masyarakat mengenai kejadian yang relevan. Beberapa kiat umum lain mengenai perencanaan dan aksi mencakup: • Sampaikan pesan-pesan dengan konsisten melalui berbagai media dan sumber bagi setiap tujuan khusus advokasi dan setiap pendengar. diserap atau dimengerti. Sebagai contoh: Ø Penduduk di sekitar puskesmas kemungkinan adalah pendengar yang paling memperhatikan mengenai cara puskesmas menangani isu-isu keamanan seperti memastikan obat substitusi tidak dicuri atau diberikan kepada bukan penyalahguna NAPZA dan apakah program baru akan membuat para pengguna NAPZA suntik “nongkrong” di sekitar puskesmas.Perlu ada berbagai pesan yang berbeda untuk kelompok pendengar yang berbeda. dramatis. 50 . Jadi pengulangan adalah hal yang sangat penting. Perlu diingat bahwa pesan tidak selalu segera didengar. sedangkan variasi membantu memastikan pendengar tidak bosan. • Identifikasi. dan sajikan data baru. • Buat catatan keberhasilan d an kegagalan dalam advokasi. • Delegasikan tanggungjawab secara jelas kepada anggota untuk melaksanakan dan memonitor kegiatan . Ø Kepala Kepolisian Kota kemungkinan paling tertarik mengenai apakah dengan dimulainya program substitusi akan mengurangi kejahatan. • Adakan pelatihan dan praktek advokasi. • Monitor dan respon dengan cepat dan fleksibel pandangan dan gerak-gerik yang tidak sepaham. melalui jaringan yang sesuai. dari lokal hingga nasional dan internasional. • Tentukan aksi yang dikehendaki dengan jelas sesuai dengan kebijakan yang disepakati. • Rencanakan kegiatan yang melibatkan para juru bicara yang kredibel dari organisasi mitra. Bila ada kontroversi cobalah untuk mengubah kontroversi tersebut menjadi yang menguntungkan. Ø Presiden kemungkinan lebih memperhatikan dampak-dampak ekonomi sebuah epidemi HIV di negaranya. verifikasi fakta dan data kunci untuk mendukung tujuan advokasi. • Presentasikan informasi dengan singkat. • Kembangkan perangkat advokasi yang spesifik untuk mempengaruhi pendengar tertentu • Bekerjalah dengan semua tingkatan.

3. Bertemu dengan Kepala Kepolisian Kota untuk membicarakan mengenai operasi yang dilakukan polisi di dekat apotek-apotek dan tempat-tempat pelaksanaan program jarum suntik steril yang diusulkan. Melatih apoteker mengenai kebutuhan untuk peningkatan akses pada peralatan suntik. Telah membuat perjanjian dengan Badan Narkotika Kota untuk meminta bantuan untuk mengatur pertemuan dengan kepala kepolisian. Undangan disebar kepada para apoteker. dengan argumentasiargumentasi untuk program jarum suntik steril. A ditambah seorang anggota kelompok yang lain 4 minggu Para anggota DPRD kota beserta staf mereka Para politisi Nasional Jurnalis anggota kelompok advokasi 6 minggu • • Telah menerima data penelitian internasional dalam bahasa Inggris. 51 . Para pendengar Apoteker Siapa yang bertanggung jawab? Dr A: dibantu oleh asosiasi apotek Diselesai kan dalam waktu? Status • • 4 minggu • • Asosiasi apotek telah setuju untuk menjadi tuan rumah pertemuan. Kegiatan 1. Telah menterjemahkan nya dalam bahasa lokal. Menyiapkan leaflet “politisi”. Kepala Kepolisian Kota dan 5 staf senior Dr.Contoh dari Kota Z Kelompok koordinasi advokasi sekarang sedang melaksanakan berbagai kegiatan sesuai dengan rencana aksi yang disepakati oleh mitra koalisi kelompok ini (lihat Contoh Kutipan Rencana Aksi). 2. Materi pelatihan disiapkan. meningkatkan akses bagi IDU untuk mendapatkan peralatan suntik baru dengan cara meningkatkan akses IDU ke persediaan apotik dan memulai program jarum suntik steril. Akan mulai menulis minggu depan. Contoh Rencana Aksi: Contoh dari Kota Z (Kutipan) Tujuan khusus A: Dalam 12 bulan.

Menyelidiki status legal dari NAPZA substitusi untuk program yang diusulkan di Puskesmas Siapa yang bertanggung jawab? Seluruh Mahasiswa hukum pendengar di yang membantu kota tersebut kelompok Advokasi Menteri Kesehatan dan Kepolisian Nasional Para pendengar Diselesaikan dalam waktu? Telah selesai Status • • Metadon dan buprenorfin telah didaftar secara resmi dan mungkin digunakan. A 1 minggu • • 52 . Seluruh anggota kelompok advokasi bekerja berpasangan. Menulis surat resmi yang meminta penyetujuan untuk memulai terapi substitusi di puskesmas Dewan Kota Dr. Seluruh data saat ini telah ditemukan. 2.4. Tujuan B: Dalam 12 bulan. (setiap pasangan akan menjumpai paling sedikit 3 orang anggota dewan kota dan/atau staf mereka) 12 minggu Belum dimulai. Meningkatkan akses bagi para IDU ke terapi ketergantungan NAPZA yang terjangkau secara ekonomi (baik detoksifikasi maupun therapeutic community) dan meningkatkan pilihan-pilihan terapi (termasuk terapi substitusi NAPZA). Hambatanhambatan hukum dan biaya-biaya dicantumkan dalam laporan. Melobby DPRD Para anggota kota mengenai DPRD Kota program jarum (12 orang) suntik steril dan para staf dengan secara mereka (20 personal bertemu orang) dengan setiap orang anggota dewan dan memberikan informasi mengenai program tersebut. Kepala puskesmas telah menyetujui untuk mengupayakan penyetujuan setelah surat ditulis. Menunggu penyelesaian pembuatan leaflet “politisi”. Kegiatan 1.

Telah menghasilkan 2 halaman ringkasan mengenai bukti penelitian untuk terapi subtitusi dan proposal puskesmas. Mengupayakan persetujuan untuk program substitusi DPRD Kota Kepala puskesmas 5 minggu • • 3 anggota DPRD kota setuju mendukung proposal dan 4 orang menentang. Dr. Contoh di atas merupakan seleksi kegiatan yang dilakukan oleh kelompok advokasi dan mitra koalisinya. Akan melakukan wawancara eksklusif dengan kepala puskesmas . Seluruh Jurnalis pendengar di Anggota kelompok kota tersebut advokasi 2 minggu • • • Telah mengidentikasi 2 orang jurnalis kunci (seorang dari suratkabar.3. Mengadakan pertemuan dengan 4 orang tersebut di tambah dengan 5 orang anggota dewan lainnya untuk melobby program ini sebelum pemilihan dalam waktu 6 minggu. A tidak lagi dapat menangani seluruh tugas koordinasi advokasi karena pekerjaannya di puskesmas. Kelompok advokasi juga bekerja dengan kelompokkelompok ODHA di Kota Z untuk menyiapkan lokakarya peningkatan kesadaran media mengenai stigma dan diskriminasi di kalangan ODHA. 53 . seorang dari TV). Memberikan penerangan secara ringkas kepada media mengenai program substitusi ini. Karena beban pekerjaan yang meningkat. sedang diupayakan dana dari penyandang dana internasional untuk koordinator advokasi yang bekerja paruh-waktu dan untuk biaya beberapa kegiatan advokasi terutama buklet untuk masyarakat umum dan lokakarya-lokakarya pelatihan bagi polisi. 4.

PESAN-PESAN DAN MEDIA Setelah menentukan sasaran pendengar untuk advokasi. Bila memungkinkan. Metadon (atau burprenorfin) efektif dalam mengurangi penyebaran HIV di kalangan penyalahguna NAPZA. Sebagai contoh. dan bagi pencegahan HIV/AIDS. dan bagaimana? Tujuan dari pesan tersebut adalah untuk menghasilkan aksi sehingga pesannya harus secara jelas menentukan aksi apa yang harus diambil dan oleh siapa. atau ketika para pelaksana advokasi mengembangkan makalah advokasi khusus bagi para pendengar. media dan sumber terpisah misalnya ketika seorang wartawan menulis tentang pidato seorang politisi atau tentang hasil penelitian. Pesan-pesan tertentu perlu dibedakan dan dikembangkan untuk pendengar yang berbeda. pesan advokasi harus sederhana. 54 . mengapa. seorang politisi yang berpengaruh memberikan pendidikan sebaya kepada politisi lainnya merupakan medium dan sekaligus sumber. Kadang-kadang pesan dapat dipadatkan menjadi slogan seperti: “Metadon berhasilguna: bagi masyarakat.IDU dan ODHA anggota kelompok advokasi saat ini cukup percaya diri untuk berbicara mengenai pendekatan-pengurangan dampak buruk NAPZA di seminar-seminar dan pertemuan. media bisa juga termasuk sumber pesan. Suatu contoh pesan: Epidemi HIV/AIDS di kalangan IDU telah terjadi saat ini. yang mengandung kutipankutipan dari berbagai sumber. begitu juga halnya dengan seorang wartawan yang menulis sebuah berita mengenai keuntungan pendekatan-pendekatan efektif atau seorang dokter atau peneliti terke muka yang sedang berbicara dalam suatu pertemuan. langkah selanjutnya adalah mengembangkan pesan-pesan untuk kegiatan advokasi tersebut. Ini merupakan langkah yang penting dan penuh risiko namun para IDU dan ODHA anggota kelompok advokasi ini ingin memberikan edukasi kepada masyarakat dan kelompok berpengaruh lainnya mengenai kenyataan hidup dengan HIV dan hidup sebagai IDU. Kadangkadang. Daftarkan metadon secara resmi sekarang” Media adalah sarana untuk menyampaikan sebuah pesan. bagi penyalahguna NAPZA. Kelompok advokasi meneliti para jurnalis lokal untuk melihat kemungkinan adanya jurnalis yang dapat menulis cerita yang seimbang dan membantu mencapai tujuan-tujuan kelompok advokasi tersebut melalui wawancara dengan para IDU dan ODHA. pendek dan persuasif mengenai setiap tujuan khusus advokasi: apa yang seharusnya dilakukan. Metadon (atau burprenorfin) perlu secara resmi didaftar di Departemen Kesehatan agar program-program tersebut dapat dimulai. B. jadi mereka antusias untuk melakukan wawancara.

Kejadian semacam itu hendaknya dimonitor secara seksama untuk analisis dan evaluasi yang berkelanjutan. “masyarakat”. siaran radio. termasuk kata -kata yang digunakan dalam pesan. “keamanan nasional”. REAKSI DAN KESINAMBUNGAN Setelah kegiatan advokasi. (Lampiran B mengandung beberapa argumentasi reaktif ini serta saran argumentasi balasannya). sebaiknya menggunakan yang sederhana dan mudah dimengerti. catatan-catatan singkat tentang kebijakan. Argumentasi dan data ini hendaknya sesuai dengan sasaran. Dari pada menulis “pilihan terapi ketergantungan NAPZA tengah diperluas untuk mencegah sebuah epidemi HIV”. seperti “keluarga”. Pesan yang baik seharusnya mengandung kalimat atau ungkapan yang memiliki konotasi positif atau arti tertentu. untuk sasaran advokasi.Bahasa sangatlah penting. Waktu dan tempat: apakah ada peristiwa (seperti konferensi AIDS) atau tanggal tertentu (seperti Hari AIDS Sedunia atau Hari Anti Narkotika) di mana kemungkinan pesan dapat lebih menarik perhatian? • • • C. Mengapa tokoh agama telah berbicara? Sudah cukupkah kegiatan advokasi dilakukan pada organisasi-organisasi keagamaan? 55 . Mungkin ada beberapa kalimat atau ungkapan yang seharusnya digunakan dalam advokasi akan tetapi mungkin tidak dapat dimengerti oleh sasaran. kelompok advokasi akan menghadapi reaksi dari beberapa individu dan organisasi dalam masyarakat. Para pelaksana advokasi sebaiknya menghindari “jargon” dan bahasa teknis (kecuali bagi beberapa pendengar tertentu). Jika menggunakan grafik atau diagram. Beberapa elemen penting lain dari pesan dan media termasuk : • Argumentasi dan data yang digunakan untuk membujuk pendengar untuk bertindak atas pesan tersebut. TV? Ini akan tergantung pada pesan apa yang dirancang untuk pendengar yang mana dan pada akses kelompok advokasi untuk mendapatkan dana dan sumber-sumber lain. Kredibilitas sumber: kepada siapa pendengar akan percaya? Format : apakah lebih baik menggunakan makalah diskusi. mereka mungkin akan menulis “ Departemen Kesehatan bersikap lunak kepada penyalahguna NAPZA” . beberapa surat kabar secara terus menerus mencari berita – berita sensasional. Sebagai contoh. (lihat lampiran B). dan “keuntungan ekonomi”. “anak-anak”. Stasiun radio yang terkenal mungkin menggambarkan suatu penekanan pada pelayanan kesehatan terhadap IDU sebagai “suatu aib: bagaimana dengan orang -orang tua di dalam masyarakat kita yang tak berkecukupan untuk makan?” Tokoh-tokoh agama atau politik mungkin menyerang perubahan-perubahan yang mereka lihat sebagai penghancuran “nilai-nilai tradisional”. Masing-masing kejadian akan berdampak pada kegiatan-kegiatan advokasi. film dokumenter.

seringkali bermanfaat untuk segera merespon melalui press release dan/atau konferensi media. Konferensi medis atau hukum dapat diminta untuk menekankan masalah-masalah HIV spesifik di kalangan IDU dan bagaimana cara yang terbaik untuk mengatasi masalah ini. Kelompok advokasi dapat menyampaikan laporan mengenai aksi-aksi yang telah dijanjikan. tantangan dapat diubah menjadi dukungan atau paling tidak menjadi netral. 56 . apakah pandanganpandangan ini hanya sebuah cara untuk meningkatkan popularitas dari siaran radio tersebut? Kelompok advokasi harus mempertimbangkan apakah perlu merespon tantangan semacam ini. Kadang-kadang. di mana suatu pemerintah telah menandatangani sebuah deklarasi yang menyatakan akan menjalankan pengurangan dampak buruk NAPZA. Kejadian yang sedang berlangsung juga hendaknya dimonitor secara terus menerus. Advokasi yang berhasil perlu menggunakan peluang-peluang yang ada dan perlu berpikir secara komprehensif. Kelompok advokasi harus mengantisipasi masalah ini dengan memastikan bahwa pesan-pesan telah disampaikan kepada seluruh politisi. konferensi-konferensi medis dan hukum. dengan menemui seorang oposisi dan menjelaskan seluruh alasan untuk tujuan-tujuan advokasi. misalnya yang terdiri dari LSM-LSM yang bergerak dalam bidang HIV/AIDS. Pelaksanaan kegiatan tersebut mungkin berisiko dan biasanya harus dilakukan dengan koalisi yang kuat. Kelompok advokasi harus tetap memperhatikan berbagai laporan yang dipublikasikan. Jika seluruh kegiatan advokasi telah dilaksanakan kepada partai yang berkuasa namun tidak ada satupun kegiatan advokasi dilaksanakan pada parlemen oposisi. dan kapan. Barangkali politisi yang akan menjalankan misi tersebut dapat dibujuk untuk mengunjungi program-program HIV yang efektif di kalangan IDU di negara lain. Kelompok advokasi dapat melakukan presentasi atau paparan untuk memberikan laporan-laporan kepada komite. Antisipasi digambarkan secara jelas misalnya dalam kasus parlemen yang terpilih di mana partai yang memerintah berubah dari waktu ke waktu. barangkali politisi lain yang mendukung dapat didorong untuk membuat pernyataan publik yang mendukung – meskipun dalam beberapa kasus mungkin akan berguna untuk meminta para pendukung mengunjungi politisi yang menentang tersebut dan mendiskusikan isu-isunya jauh dari media untuk mencoba membujuk politisi yang menentang tersebut menjadi seorang pendukung.Apakah stasiun radio mewakili suatu bagian yang luas dari masyarakat. Sifat dasar dari kehidupan modern adalah keadaan-keadaaan–politik. Harus diingat bahwa kebanyakan tantangan terhadap pengurangan dampak buruk NAPZA muncul dalam suatu lingkungan yang tidak mendapatkan informasi yang lengkap atau terdapat kesalahpahaman. bagaimana. komitekomite yang sedang mengadakan pertemuan. para politisi yang akan menjalankan misi pencarian fakta di negara-negara lain. Jika hubungan dengan media secara umum berjalan baik. sosial. Sebuah contoh misalnya pemanfaatan resolusi-resolusi dan deklarasi-deklarasi PBB. semuanya merupakan peluang bagi advokasi. Jika seorang politisi telah membuat pernyataan yang bertentangan. yang telah dilakukan dan yang belum dilakukan. dan bahkan hukum–dapat berubah dengan sangat cepat. maka masalah-masalah yang besar dapat terjadi ketika ada perubahan pemerintahan. Kelompok advokasi sebaiknya juga menciptakan peluangnya sendiri dan mengantisipasi perubahan-perubahan yang kemungkinan akan terjadi.

Wartawan mungkin akan menulis segala hal yang dikatakan oleh pelaksana advokasi tersebut.Proses-proses ini harus disusun dalam pertemuan tahunan atau pertemuan yang lebih sering di mana kelompok advokasi menganalisis keberhasilan atau kegagalannya selama ini dan menentukan tujuan khusus baru. Analisis pada kegiatan ini harus sangat teliti. yang harus digunakan secara bertanggung jawab. Transparansi berarti bahwa para mitra koalisi dan yang lainnya terus mendapatkan informasi mengenai kegiatan advokasi. D. Evaluasi (lihat bab berikutnya) harus membantu proses ini. Keberhasilan harus dihargai namun kegagalan juga harus dianalisis untuk melihat pelajaran apa yang bisa diambil oleh kelompok ini. para pelaksana advokasi bisa mengetahui nama-nama ODHA dan IDU di kotanya. bahwa setiap pemilihan (di mana kelompok advokasi menjadi atau bagian dari sebuah organisasi yang demokratis) adalah adil dan mengikuti peraturan tertulis mengenai pemilihan. sub-tujuan khusus dan kegiatan-kegiatan u ntuk 12 bulan mendatang. RISIKO DAN ETIKA Para pelaksana advokasi perlu memastikan bahwa mereka berperilaku etis dan mengikuti prinsip pertama yang dijabarkan dalam Bab II: kegiatan advokasi harus menghindari terjadinya peningkatan risiko. Sebagai contoh. Setelah analisis ini (atau kapan saja selama proses advokasi) saran dapat dicari dari kelompokkelompok advokasi di tempat lain mengenai cara -cara mengatasi masalah tertentu atau argumentasi yang bisa terbukti efektif saat argumentasi sebelumnya telah gagal. Mereka sebaiknya menyadari bahwa tindakan mereka mempengaruhi kehidupan orang lain. Proses ini memberi para pelaksana advokasi kekuatan yang besar. tetapi mereka harus berhati-hati untuk menjaga agar status orang-orang ini tetap rahasia kecuali dengan jelas telah diijinkan oleh individu tersebut untuk membuka status mereka. dan waspada terhadap konflik kepentingan dan sesegera mungkin menjernihkan hal tersebut. 57 . Pekerjaan yang berdasarkan bukti berarti bahwa kelompok advokasi harus secara terus menerus mencari informasi yang terkini mengenai pengurangan dampak buruk NAPZA untuk HIV/AIDS di kalangan IDU dan selalu menggunakan bukti ini sebagai dasar semua tujuan khusus. Para pelaksana advokasi perlu memenuhi standar praktek yang etis dan legal dalam komunitas mereka dan menolak berpartisipasi dalam kegiatan yang tidak etis atau bisa membahayakan anggota masyarakat. Etika sangat penting karena pelaksana advokasi yang berhasil makin dianggap sebagai seorang ahli. dan argumentasi yang dikembangkan. Sebuah pembahasan mengenai etika advokasi dapat ditemukan dalam Chapman ( lihat Publikasi dan Situs Internet ). Hal ini seringkali dilaksanakan bersama-sama dengan seluruh anggota koalisi dan pendukungnya. bahwa setiap dana yang diterima dilaporkan dengan cara yang tepat dan sebagainya. Para politisi mungkin akan mendengarkan pelaksana advokasi tersebut saat yang lain tidak mampu menyampaikan pesannya. pesan. Cara yang terbaik untuk memastikan sikap yang etis adalah transparansi dalam pelaksanaan kegiatan dan memastikan adanya dasar atau bukti yang kuat untuk semua kegiatan.

Kelompok advokasi juga perlu bersikap sensitif terhadap kebutuhan akan program yang efektif. ini akan menyebabkan penutupan program dan terjadi kemunduran advokasi. (Lebih jauh mengenai kegiatan-kegiatan advokasi yang spesifik dapat ditemukan dalam Lampiran A). Jika kelompok advokasi mengeluarkan pernyataan kepada pers mengenai program tersebut. Kadang-kadang. sebuah program distribusi kondom dalam sebuah lembaga pemasyarakatan atau sebuah program penjangkauan percontohan hanya akan diperbolehkan oleh sebuah pemerintahan selama masyarakat luas tidak tahu akan program ini. 58 .

tokoh-tokoh masyarakat. Sebuah alat untuk menjajaki perubahan dalam lingkungan kebijakan telah dirancang oleh Proyek POLICY: alat ini tidak khusus untuk pendekatan efektif dalam menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU namun alat ini mungkin bisa memberikan panduan untuk mereka yang tertarik pada evaluasi dampak (lihat Proyek POLICY: Menjajaki Kenya dalam Publikasi dan Situs Internet ). sebagaimana yang telah dikatakan oleh Chapman (lihat Publikasi dan Situs Internet). evaluasi ini mencoba menunjukkan bahwa perubahan apa pun yang diamati pada populasi sasaran dapat dihubungkan dengan proses advokasi. Evaluasi proses bertujuan memonitor pelaksanaan proses evaluasi sedangkan evaluasi dampak bertujuan untuk menilai dampak dan hasil dari kegiatan advokasi. dan mengevaluasi”. sebuah tugas yang dia samakan dengan mengurai jaring laba -laba sambil mengenakan sarung tinju. para repoter). Namun. strategi. • kedua. yaitu evaluasi proses dan evaluasi dampak. Evaluasi dampak mempunyai dua tujuan utama: • pertama adalah menilai dampak program dan mengetahui dengan pasti sejauh mana tujuan khusus telah dicapai. Metode lain untuk melaksanakan evaluasi dampak ialah mengulangi penilaian yang telah digambarkan dalam Bab IV.BAB IX EVALUASI KEGIATAN ADVOKASI Evaluasi dapat membantu kelompok advokasi untuk menentukan apakah kegiatan telah berhasil dilaksanakan dan apakah ada perubahan yang harus dibuat pada tujuan khusus. Jika penilaian dilaksanakan pada interval yang teratur. dan pesan. para editor. Chapman merekomendasikan bahwa evaluasi dampak advokasi dilaksanakan dengan mencoba menemukan perubahan persepsi dar i individu kunci sepanjang waktu (seperti petugas kepolisian senior. kegiatan. menganalisis laporan dan ulasan media untuk memetakan perubahan pada diskusi publik mengenai isu yang relevan. dan dengan secara kritis memikirkan laporan proses advokasi yang ditulis oleh para pelaksana advokasi itu sendiri. Evaluasi juga akan bisa mengukur efek advokasi (sebagai sebuah kegiatan penelitian atau untuk mempengaruhi penyandang dana untuk menyediakan dana bagi kegiatan advokasi selanjutnya). Evaluasi dapat dibagi dalam dua jenis. perubahan dapat digambarkan dalam perilaku berisiko IDU dan dalam banyak proses yang mempengaruhi perilaku ini. Ini diperlukan untuk mengkaji strategi dan metode mana yang paling berhasil (dan seharusnya diperluas) ser ta strategi dan metode mana yang paling tidak berhasil (dan seharusnya dikurangi atau disesuaikan). menilai. “realitas yang kacau balau dari proses advokasi mendapatkan tandingannya dalam upaya menggambarkan. Evaluasi proses menggambarkan dan memonitor cara di mana kegiatan dilaksanakan. Masalah utama dengan evaluasi semacam ini adalah menunjukkan dengan jelas 59 . pejabat Departemen Kesehatan.

sikap dan keyakinan mereka? Apakah ada sasaran advokasi baru untuk diantisipasi? • Apakah pesan yang diberikan menjangkau kelompok sasaran advokasi? Pesan mana yang paling diterima oleh sasaran ? Media dan metode apa yang paling berhasil untuk sasaran yang mana? • Apakah data disajikan secara meyakinkan? Apakah data ini mudah dimengerti? Apakah ada cara yang bisa digunakan untuk memperbaiki penyajian data? • Bagaimana keadaan koalisi advokasi? Apakah anggota koalisi merasa dilibatkan dalam proses advokasi? Apakah mereka merasa (paling tidak sebagian dari anggota koalisi) bertanggung jawab untuk keberhasilan dan kegagalan advokasi? Apakah ada cara untuk meningkatkan partisipasi anggota advokasi dalam kegiatan advokasi? • Peluang-peluang apa yang ada untuk advokasi yang belum didiskusikan? Apakah kelompok advokasi memberikan respon secara cepat dan sesuai pada peluang dan pada tantangan? • Apakah ada kegiatan advokasi lain yang dilaksanakan (yang tidak berhubungan dengan HIV/AIDS dan IDU) yang bisa dijadikan sumber pembelajaran oleh kelompok advokasi? Apakah kegiatan advokasi ini telah mencapai keberhasilan? Apa yang bisa dipelajari dari keberhasilan atau kegagalan mereka? 60 . pada waktu yang telah ditentukan (mungkin setiap enam bulan). lebih penting menggunakan evaluasi untuk memeriksa kemajuan dan arah dari kegiatan advokasi. kelompok ini dapat menyediakan waktu beberapa jam untuk memikirkan mengenai tujuan dan strategi kelompok ini. Untuk sebagian besar kelompok advokasi. Jenis evaluasi semacam ini dapat dilaksanakan secara informal pada pertemuan kelompok advokasi atau secara lebih formal dengan menggunakan kuisener terstruktur dan/atau FGD (lihat Sharam untuk beberapa contoh dalam Publikasi dan Situs Internet ). Advokasi ini harus dilaksanakan pada basis yang teratur.perubahan apa yang telah dihasilkan (atau lebih tepat lagi seberapa besar perubahan ini telah dihasilkan) oleh kegiatan advokasi. Sebagai contoh. Beberapa hal yang perlu didiskusikan: • Apakah tujuan masih sesuai? Apakah ada yang berlebihan? Apakah tujuan baru (atau subtujuan) diperlukan? • Apakah kegiatan yang sedang dilaksanakan terlihat akan mencapai tujuannya? Apakah prioritas kegiatan harus diubah? Apakah ada kegiatan yang harus dihentikan (sehubungan dengan ketidak efektifan atau karena kegiatan ini terlalu menghabiskan banyak waktu dan sumberdaya?) Apakah kegiatan baru perlu ditambahkan? • Dapatkah kelompok advokasi yang sedang berjalan ini mencapai semua kegiatan yang telah didaftar? Apakah diperlukan anggota baru? Apakah diperlukan keahlian baru? • Apakah cukup sumberdaya untuk melaksanakan semua kegiatan? Apakah cukup tersedia dana untuk saat ini dan untuk sisa periode advokasi? Apakah diperlukan penggalian dana lagi? • Apakah ada perubahan pada sasaran advokasi? Apakah kelompok advokasi telah mengetahui lebih banyak mengenai sasaran advokasi? Dapatkah peta kebijakan diperbaharui dengan sasaran advokasi baru dan pengetahuan baru mengenai sasaran.

Bangladesh. heroin) untuk menstabilkan mereka dan mengalihkan penyuntikan atau metode yang berbahaya lainnya menjadi cara yang biasa atau cara oral. Penjelasan ini bukan definisi resmi WHO. Buprenorfin Obat yang digunakan sebagai pengganti untuk membantu penyalahguna opiat (misalnya. perawatan kesehatan dasar. Deficiency – kekurangan respon kekebalan terhadap agen penyakit. AIDS AIDS adalah singkatan dari: Acquired – tidak diturunkan. Syndrome – sejumlah tanda dan gejala yang menunjukkan suatu kondisi penyakit tertentu. Penyuntikan burprenorfin juga merupakan obat pilihan utama di antara para IDU di India.BAB X DAFTAR SINGKATAN DAN DAFTAR KATA-KATA A. 61 . DAFTAR KATA-KATA Perlu dicatat bahwa penjelasan yang diberikan di bawah ini semata-mata untuk meningkatkan pemahaman dan pemanfaatan penyalahgunaan terminologi dalam panduan ini. Immuno – berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh yang memberikan proteksi terhadap agen pem bawa penyakit. Pemberiaan buprenorfin merupakan bagian dari suatu intervensi yang juga melibatkan konseling. baik karena hal-hal prinsip atau alasan-alasan lain. DAFTAR SINGKATAN IMS KIE LSM ODHA Ornop IDU PS UNAIDS UNGASS VCT WHO : Infeksi Menular Seksual : Komunikasi Informasi Edukasi : Lembaga Swadaya Masyarakat : Orang hidup dengan HIV/AIDS : Organisasi non-pemerintah : Penyalahguna NAPZA suntikan (Injecting Drug User – IDU) : Pekerja Seks : United Nations Program on HIV/AIDS : UN General Assembly Special Session on HIV/AIDS : Voluntary testing and counseling (Konseling dan tes HIV sukarela) : World Health Organisation B. perawatan HIV dan layanan-layanan lainnya. Di Indonesia obat ini diberikan di bawah pengawasan dokter atau psikiater yang telah mendapat pelatihan dan memiliki sertifikat. Pakistan. Abstinensia ( bebas dari penyalahgunaan NAPZA) Menahan diri dari penyalahgunaan NAPZA. dan Nepal.

Budaya Secara luas didefinisikan sebagai kebiasaan dan tingkah-laku dari sekelompok orang. Seorang penyalahguna NAPZA akan mengalami masa transisi yang sulit ketika ia menghentikan suatu zat atau mengurangi jumlah zat yang digunakan setelah pemakaian yang lama atau berlebihan. istilah ini seringkali mengacu pada obat-obatan terlarang (Narkotika. kemampuan. Ini termasuk karakter-karakter feminin dan maskulin yang khas. Detoksifikasi Perawatan yang diberikan kepada seseorang yang mengalami ketergantungan selama periode pengurangan atau penghentian obat yang menimbulkan ketergantungan tadi dengan tujuan untuk menghentikan zat dengan aman dan efektif. norma-norma. Dosis Jumlah suatu zat yang dikonsumsi seseorang dalam periode tertentu Obat (drug ) Dalam pengobatan. Dalam farmakologi. bahasa dan kebangsaan. tradisi. keyakinankeyakinan. yang sering digunakan untuk alasan non -medis (misalnya alasan rekreasional). Penyalahguna yang mengalami ketergantungan dapat menjadi toleran terhadap zat tertentu dan dapat mengalami gejala putus zat (“sakau”) jika mereka tidak menggunakan zat itu untuk waktu yang lama. juga perbedaan dalam nilai-nilai bersama. dan pengharapanpengharapan mengenai bagaimana perempuan dan laki-laki seharusnya bersikap dalam berbagai situasi. 62 . Anak-anak jalanan mungkin dapat dikatakan memiliki lebih dari satu budaya.Konseling Merupakan proses komunikasi interpersonal di mana seseorang yang memiliki masalah atau suatu kebutuhan dibantu untuk memahami situasinya dalam upaya untuk menentukan dan menggunakan solusi yang dapat dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan atau mengatasi masalah tersebut. Jender Ide dan pengharapan (norma) bersama yang luas mengenai perempuan dan laki-laki. etnik. Perbedaan dalam budaya dikarenakan adanya perbedaan dalam ras. istilah obat mengacu pada setiap bahan kimia yang merubah proses biokimia atau fisiologi dari jaringan tubuh atau organisme. misalnya budaya orangtua mereka dan beberapa budaya remaja (diwakili oleh kelompok dengan siapa mereka bergaul. Psikotropika dan Zat adiktif lainnya). dan kebiasaan. dan kegiatan -kegiatan) Ketergantungan NAPZA Para pemakai yang tergantung pada NAPZA seringkali memiliki kontrol yang lemah dalam memakainya dan terus menggunakannya meskipun terdapat masalah yang bermakna berkaitan dengan NAPZA ini. Dalam bahasa umum. istilah ini mengacu pada setiap zat yang berpotensi untuk mencegah atau menyembuhkan penyakit atau potensi untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental.

obat stimulansia (seperti amfetamin dan kokain). sebuah intervensi didefinisikan sebagai sebuah aksi atau kegiatan yang membantu dalam pencegahan. heroin) untuk menstabilkan penyalahgunaan NAPZA mereka dan mengalihkan 63 . kesadaran akan diri sendiri. definisi yang luas dari IDU digunakan untuk mencakup orang-orang yang telah melakukan penyuntikan secara eksperimental atau melanjutkan penyuntikannya sekali-kali dan juga termasuk penyalahguna NAPZA yang telah mengalami ketergantungan hebat yang dapat menyuntik beberapa ka li dalam satu hari. Ini termasuk pengambilan keputusan. Beberapa zat seperti bahan bakar yang mengandung timah. Intervensi Dalam materi ini. terinfeksi virus yang menular melalui darah (seperti HIV. obat depresan (seperti heroin dan benzodiazepines) atau obat-obatan lain seperti steroid. kontrol emosi atau tingkah laku seseorang. pemecahan masalah. benzena dan pasta koka dapat mengakibatkan rusaknya kesehatan walaupun digunakan dalam jumlah yang sedikit. persepsi. HIV Human Immuno-deficiency Virus menyerang sistem kekebalan dan secara pelahan-lahan menghancurkannya. Merek a mungkin menyuntik secara intramuskuler (melalui otot) atau secara intravena (melalui vena/pembuluh darah). Terdapat perubahan pada kewaspadaan. hepatitis B dan C) dan kondisi medis seperti abses/peradangan dan overdosis. menguasai emosi dan mengatasi stress. Penyuntikan NAPZA berbahaya terutama karena adanya risiko akan hepatitis. Tubuh tak dapat mempertahankan diri melawan infeksi dan mengakibatkan suatu kondisi yang dikenal sebagai AIDS. keterjagaan. meningkatkan harga diri. Penyalahgunaan NAPZA yang dihisap asapnya dapat mengakibatkan kelainan sistem pernapasan dan luka ba kar. hubungan interpersonal. komunikasi yang efektif. Intoksikasi Keadaan di bawah pengaruh satu atau lebih zat. Dalam materi -materi ini. empati. HIV dan infeksi lain dari jarum yang terkontaminasi. Metadone Obat yang dig unakan sebagai pengganti (substitusi) untuk membantu penyalahguna opiat (misalnya. IDU (Injecting Drug User) Seseorang yang menggunakan NAPZA dengan cara menyuntik. pengambilan keputusan. Penasun (Pengguna NAPZA suntik) mungkin menyuntikkan obatobatan yang legal ataupun tidak. pemikiran kreatif. Manifestasi khusus dari perubahan tersebut tergantung pada sifat dasar zat yang dikonsumsinya. pemikiran.Penyalahgunaan zat berbahaya Pola penyalahgunaan zat yang menyebabkan kerusakan pada kesehatan fisik dan mental termasuk cedera akibat kecelakaan dan penganiayaaan. Keterampilan Hidup (Life skills) Kemampuan yang memungkinkan individu-individu mengatasi tuntutan dan tantangan kehidupan sehari-hari. modifikasi. atau terapi/perawatan masalah yang berkaitan dengan penyalahgunaan NAPZA dan masalah kesehatan lain.

Program Jarum Suntik Steril Sebuah intervensi di mana jarum suntik dan peralatan suntik lain (sepe rti kapas beralkohol untuk membersihkan lokasi penyuntikan. Kelompok sebaya untuk seorang IDU biasanya adalah para IDU lain dengan usia yang hampir sama dan tinggal di lingkungan yang sama. Overdosis bisa mengarah pada kematian. Pendidikan sebaya Para IDU. baik secara sengaja maupun tidak sengaja dalam jumlah yang lebih banyak dari yang biasa digunakan oleh seseorang. perawatan HIV dan layanan lainnya. dan dimulai dengan menentukan tujuan yang menguntungkan IDU dengan suatu cara tertentu. Program Kegiatan spesifik atau bertahap yang direncanakan. IDU harus memberikan atau didorong untuk memberikan jarum suntik bekas sebelum mereka bisa mendapatkan jarum suntik baru: program ini dis ebut program pertukaran jarum suntik (perjasun). klinik atau pos-pos khusus. dan mungkin mengandung konsekuensi jangka pendek atau jangka panjang. Masing-masing kelompok sebaya memiliki peraturan sendiri yang tidak tertulis mengenai cara NAPZA digunakan dan mengenai perilaku yang diterima dan tidak diterima. Kebanyakan program jarum suntik steril termasuk layanan untuk mengumpulkan jarum suntik bekas. Overdosis Penyalahgunaan NAPZA. para mantan penyalahguna NAPZA atau orang-orang yang dekat dengan komunitas yang menggunakan NAPZA dilatih untuk melaksanakan kegiatan edukasi informal atau mengadakan kegiatan edukasi mengenai berbagai topik yang berkaitan dengan kesehatan para IDU (dalam kelompok kecil atau individual). dan air yang digunakan untuk mencampur bubuk heroin) diberikan kepada IDU melalui penjangkauan.penyuntikan atau metode penyalahgunaan NAPZA yang berbahaya lainnya menjadi ke cara oral. Kelompok sebaya Orang-orang yang sama dengan ‘dirinya sendiri’. Kekambuhan (Relapse ) Kembali menggunakan NAPZA atau minum minuman beralkohol lain setelah suatu periode abstinensia di luar periode detoksifikasi. Seringkali disertai dengan kembali ke tingkat penyalahgunaan NAPZA dan ketergantungan yang telah ada sebelumnya 64 . Perilaku yang biasa dan diterima disebut sebagai “norma”. Jumlah NAPZA yang dapat mengakibatkan kematian berbeda-beda pada setiap individu. Dalam beberapa program. perawatan kesehatan dasar. Ini mengakibatkan dampak fisik atau mental yang merugikan secara akut. unit-unit bergerak seperti mobil van dan bis. dan atau mesin penjualan. Obat ini diberikan di bawah pengawasan dan sebagai bagian dari suatu intervensi yang melibatkan konseling.

rasa sakit dan lain -lain. Anak jalanan Anak jalanan bisa ber arti benar-benar hidup di jalanan . Putus zat Masalah -masalah yang dialami oleh seseorang pada penghentian atau pengurangan jumlah penyalahgunaan suatu jenis NAPZA setelah suatu periode penyalahgunaan yang panjang atau berlebihan. kepadatan. berkeringat. gemetaran. dan yang lainnya ilegal. seperti gedung -gedung yang telah ditinggalkan. Zat-zat yang berbeda mempunyai manifestasi spesifik. dan tempat lain. Suatu zat dapat berupa obat seperti morfin. hostel-hostel. seperti obat-obatan yang telah diakui dan rokok. emosi serta sikap dan perilaku. Pekerja seks bisa lakilaki atau perempuan atau transjender/waria. ditinggal oleh keluarga mereka atau mereka tidak lagi mempunyai keluarga yang masih hidup. perasaan. Zat Produk yang mempengaruhi sistem saraf pusat (psikoaktif) seperti proses pikir. benzodiazepin atau produk industrial seperti lem. atau kekerasan fisik atau seksual di rumah. seperti heroin dan kokain. NAPZA atau komoditas lain. 65 .Pekerja seks Seseorang yang melayani seks dengan uang. seperti depresi. masih berhubungan dengan keluarga mereka namun menghabiskan sebagian besar waktu di jalanan karena masalah kemiskinan. kejang. terpisah dari keluarga mereka dan pindah dari teman ke teman atau hidup di tempat perlindungan. Beberapa zat adalah legal.

Dalam bahasa Inggris. dan Slovakia. HIV risk reduction in injecting drug users.fhi. Web site: http://www.org/en/aids/aidscap/aidspubs/handbooks/bccpol. 39 July/August 2001 Burrows D.BAB XI PUBLIKASI DAN SITUS INTERNET AFAO/NAPWA (Australian Federation of AIDS Organizations/ National Association of People Living with HIV/AIDS in Australia) Advocacy Guide to the Asia-Pacific Ministerial Statement on HIV/AIDS Sydney 2002. In: Proceedings of Global Research Network on HIV/AIDS and Drug Use Durban Meeting July 2000 . Geneva 2000 Burrows D.org/harm-reduction/ 66 . Dorabjee J and Wodak A. London 1998 Burrows D and Alexander G.ahrn.pdf AIDSCAP Policy and advocacy in HIV/AIDS Prevention Behaviour Change Communications (BCC) Handbook.fhi. Starting and Managing Needle and Syringe Programmes: A guide for Central and Eastern Europe and the newly independent states of the former Soviet Union Open Society Institute. National Institute on Drug Abuse. Juga diterbitkan dalam bahasa Spanyol sebagai: Burrows D.soros. Policies and interventions to stem HIV-1 epidemics associated with injecting drug use. Chapter 4: Policy development and HIV/AIDS prevention: creating a supportive environment for behaviour change. strategies and activities. In GV Stimson. Walking on two legs: a developmental and emergency response to HIV/AIDS among young drug users in the CEE/CIS/Baltics and Central Asia Region: A review paper UNICEF. Rusia. 1998 Web site: http://www. Virginia: Family Health International 2002 Ball A. Web site: http://www. Advocacy for harm reduction: objectives.net/AdvocacyGuideMinisterial.org/en/aids/aidscap/aidspubs/special/lessons/chap4. Washington. Tidak ada tanggal. Arlington. Ensayos y Experiencas No. Dorabjee J and Wodak A. In: Lamptey PR and Gayle H (Eds) HIV/AIDS Prevention and Care in Resource-Constrained Settings. New York NY 10019 USA. Web site:http://www.pdf AIDSCAP Making prevention work: Global lessons learned from the AIDS Control and Prevention (AIDSCAP) Project 1991 -1997. Herramientas para abogar por los derechos de los usuarios de drogas en relacion con la epidemia de VIH/SIDA. International Harm Reduction Development (OSI/IHRD) NY 2000.html Ball A and Crofts N. DC 2001. D C Des Jarlais and A Ball (Eds) Drug Injecting and HIV Infection: Global Dimensions and Local Responses UCL Press. Dari OSI/IHRD 400 West 59th St.

11-15 March 2002. isu-isu yang berhubungan dengan pekerjaan untuk para petugas kesehatan.icaso.usyd. Thailand 50200. Chiang Mai.org/books/needle/ Global Network of People Living with HIV/AIDS. Juga tersedia dalam bahasa Perancis dan Spanyol. Vienna. Web site: http://www. gay dan lesbian.iaen.com/web/pb4/eng/4782D096-C740-41A5-AF06-D67C14B46DB8. Tersedia langsung dari HIT Cavern Walks.drugtext.html Costigan G. Tersedia dari Asian Harm Reduction Network.ca/Maincontent/infosheets.org/docs/AdvocatesGuide -English. Melbourne/ Chiang Mai 1999. Thailand. providing data.au/tobacco/worddocs/IJE. Liverpool L2 6RE juga dalam Web sitehttp://www. HIT Liverpool 1999.org/ungass/advocacyeng.htm 67 . Advocacy in public health: roles and challenges International Journal of Epidemiology 2001: 30: 1226-1232.health. hukum kriminal. and analysis for researchers and policymakers. penjara.net/drugcontrol. Jaringan orang yang hidup dengan HIV/AIDS dan sumber-sumber yang berhubungan dengan keterlibatan ODHA dalam advokasi dan program-program.net/ Derricot J. Web site: http://www.ahrn.htm Chapman S. Mathew Street. Vietnam.net/ International AIDS Economics Network. Macfarlane Burnet Centre for Medical Research and Asian Harm Reduction Network. Web site: http://www.gnpplus. The Centre for Harm Reduction. Focuses on the economics of HIV/AIDS prevention and treatment.aidslaw.aidsmap. Crofts N and Reid G. Web si te: http://www. PO Box 235 Phrasingha Post Office. Web site (termasuk saluran ke Statement and pidato-pidato yang berhubungan): http://ahrn. Hanya dalam bahasa Inggris. Web site: http://www. Dalam bahasa Inggris. Web site:http://www. Manual for reducing drug-related harm in Asia .pdf International HIV/AIDS Alliance Advocacy in Action: A toolkit to support NGOs and CBOs responding to HIV/AIDS Brighton 2001 Web site (19 dokumen yang terpisah): http://www. dan Mandarin (dengan edisi-edisi baru dalam bahasa-bahasa di Asia lainnya segera). Web site: http://www.org/ ICASO (International Council of AIDS Service Organizations) Advocacy Guide to the Declaration of Commitment on HIV/AIDS Toronto 2001.edu. pekerja seks komersil.icaso. The Safer Injecting Briefing. tools. stigma dan diskriminasi.Canadian HIV/AIDS Legal Network. Preston A and Hunt N. Juga tersedia dalam bahasa Perancis dan Spanyol.pdf Commission on Narcotic Drugs Resolution on HIV/AIDS and Drug Abuse 45th Session.pdf ICASO (International Council of AIDS Service Organizations) An Advocate’s Guide to the International Guidelines on HIV/AIDS and Human Rights Toronto 1999. Berbagai macam publikasi termasuk mengenai HIV/AIDS dan IDU.

kit.org/sara_pubs_list_sara_5. Tersedia langsung dari HIT Cavern Walks.cfm?topic=HIV Choose Assessing the HIV/AIDS Policy Environment in Kenya POLICY Project HIV/AIDS Toolkit: Building Political Commitment for Effective HIV/AIDS Policies and Programs Washington DC 2000. Web site: http://www. Web site: http://www. World Health Organization/UNAIDS Geneva 1997.uk/ Pact Survival is the First Freedom: Applying Democracy and Governance Approaches to HIV/AIDS work Washington.lshtm.org/pr/advocacy/index.ac.policyproject. cost effectiveness studies and mathematical simulation models.int/home/ United Nations preventing the transmission of HIV among drug abusers: A position paper of the UnitedNations System .policyproject.htm POLICY Project Assessing the HIV/AIDS Policy Environment in Kenya Washington DC 2000. Tidak ada tanggal.cfm?topic=HIV Choose HIV/AIDS Toolkit: Building Political Commitment POLICY Project Networking for Policy Change: an advocacy training manual Washington DC 1999.stm KIT Health UNAIDS Catalogue for Local Responses to HIV/AIDS Amsterdam. Switzerland.com/byTopic. CH-1211 Geneva 27. Fitch C and Rhodes T (Eds). Annex to the Report of 8th Session of Administrative Committee on Coordination Subcommittee on Drug Control 28-29 September 2000 Web site: http://www.htm Sharma RR. Juga dalam bahasa Spanyol dan Perancis. From WHO/ UNAIDS. DC 2001 Web site: http://www. Rapid Assessment and Response Guide on Injecting Drug Use. Web site: http://www. USAID Africa Bureau Office of Sustainable Development.aed. Diakses pada tanggal 7 May 2002. Liverpool L2 6RE.asp London School of Hygiene and Tropical Medicine HIV Tools Research Group: costing guidelines. Support for Analysis and Research in Africa.drugtext. Web site: http://www. Tersedia dalam bahasa Inggris dan Rusia. Web site: http://sara.htm Stimson G.jhuccp. 20 avenue Appia.unaids. Methadone Briefing HIT Liverpool 1997. Web site: www.doc 68 .org/Aidscorps/tool_kit.com/pubs/AdvocacyManual.org/books/methadone/ default.hivtools.Johns Hopkins Centre for Communications Programs “A” frame for Advocacy. Web site: http://www.who.cfm Preston A. An Introduction to Advocacy: Training Guide .com/byTopic. Washington DC 1997.nl/health/html/aids_.policyproject. Mathew Street.pactworld. Indeks dan pengenalan: http://www. Kumpulan yang terdiri dari sembilan halaman web yang memberikan gamba ran singkat langkah -langkah dalam advokasi untuk kesehatan masyarakat.org/publications/documents/specific/injecting/Hraids. Web site: http://www.

Rusia.org/publications/documents/health/access/Drug.pdf UNAIDS Best Practice Collection Six best practice studies on HIV/AIDS and injecting drug use in China.html UNAIDS/UNDCP Drug use and HIV Vulnerability: Policies in Seven Asian Countries UNAIDS APICT.undp. Web site: http://www. Geneva 2001. Nepal. dan Rusia.unaids.unaids.int/substance_abuse/pubs_prevention_assessment. Spanyol.org/publications/advocacy. html#inj UNDP HIV/AIDS: Implications for Poverty Reduction Background Paper prepared for UNDP for UN General Assembly Special Session on HIV/AIDS 25-27 June 2001. Web site: http://www. 1997 (Juga dalam bahasa Portugis.html#inj UNAIDS/ODCCP Drug Abuse and HIV/AIDS: Lessons Learned Case studies Booklet: Central andEastern Europe and the Central Asian States 2001 Web site: http://www. Web site: http://www.htm Includes: Preventing Infection.org/bestpractice/digest/table. Bangladesh. Geneva. Web site: http ://www.. Rusia).pdf UNAIDS Best Practice Collection: Injecting Drug Users (5 papers covering cost-effectiveness. and Spanyol). Belarus. Perancis. Web site: http://www.html WHO (World Health Organization)/ UNAIDS The Rapid Assessment and Response Guide on Injecting Drug Use (RAR -IDU) Eds Stimson.org/dpa/frontpagearchive/2001/june/22june01/hiv-aids.pdf UNAIDS Drug use and HIV/AIDS UNAIDS Statement presented at the UN General Assembly Special Session on Drugs June 1998 Geneva.United Nations ACC Guidance Note for United Nations System Activ ities to Counter the World DrugProblem Administrative Committee on Co-ordination. C. G. Asia region. and Southern Cone of Latin America) Geneva Web site: http://www. Web site: http://www.net/Final-Guidance-Note -layed-out2. Promoting Reproductive Health UNFPA Response to HIV/AIDS WHO (World Health Organization) The Ottawa Charter on Health Promotion Geneva. Bangkok 2001.org/publications/documents/specific/injecting/JC673-DrugAbuse-E. Juga dalam bahasa Spanyol.who. Asia. China.org/publications/documents/specific/injecting/una99e1.htm 69 . Web site: http://www. and Rhodes. Web site: http://unaids.org/UNGASS/index.who.pdf United Nations General Assembly Special Session on HIV/AIDS Declaration of Commitment (dalam bahasa Inggris.unaids.unfpa.unaids. Southern Cone countries (Latin America).pdf UNFPA Advocacy Series Collection. V. Perancis.ahrn.int/hpr/archive/docs/ottawa.unaids. T. Fitch.org/bestpractice/digest/table. 1986 Web site: http://www. Nepal.

chr.relard.com/ Central and Eastern European Harm Reduction Network (dalam bahasa Inggris dan Rusia) http://www. Geneva WHO/MSD/MSP/00. including HIV/AIDS and STIs.ahrn.WHO (World Health Organization) Working with Street Children: Introduction A training Package on Substance Use.org/ Latin American Harm Reduction Network (Spanyol dan Portugis) http://www.net/ Canadian Harm Reduction Network http://www.net/ Asian Harm Reduction Network http://www.harmreduction.org/ Harm Reduction Coalition (USA) http://www.ihra.canadianharmreduction. Sexual and Reproductive Health.lt/ceehrn.net/ Oceania Harm Reduction Coalition (Australasia/ Pacific) http://www.voxpopuli.asn. termasuk hubungan ke jaringan-jaringan harm reduction regional dan International Conference on the Reduction of Drug Related Harm http://www.14 WHO (World Health Organization) Evidence for Action on HIV Prevention among IDUs 12 papers. Dalam persiapan JARINGAN-JARINGAN HARM REDUCTION International Harm Reduction Association Jaringan global.au/ 70 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful