P. 1
Resume Materi Kuliah Biologi Perikanan

Resume Materi Kuliah Biologi Perikanan

|Views: 1,216|Likes:
Resume Materi Kuliah Biologi Perikanan
Resume Materi Kuliah Biologi Perikanan

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Benget R. Simanjuntak on Jul 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/21/2014

pdf

text

original

BIOLOGI PERIKANAN

TUGAS RESUM MATERI BIOLOGI PERIKANAN

OLEH :

NAMA NIM

: Benget R. Simanjuntak : 09/283439/PN/11670

PROGRAM STUDI : Teknologi Hasil Perikanan DOSEN : Senny Helmiati, S.Pi.,M.Sc

JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA

2011

Biologi Perikanan
Biologi Ikan merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari ikan dari segi murni, misalnya dari segi morfologi, anatomi, fisiologi, taksonomi, genetika, evolusi dan ekologi. Biologi perikanan merupakan ilmu yang mendasarkan diri pada biologi ikan dan ilmu-ilmu lainnya kemudian dipadu dan diterapkan untuk pemanfaatan dan pengelolaan perikanan dengan tujuan melindungi sumberdaya perikanan sehingga manusia dapat memanfaatkannya secara optimal, berkelanjutan dan selalu memperhatikan kaidah kelestariannya. Cakupan Biologi perikanan sangat luas yaitu meliputi sumberdaya ikan (biota), habitat, lingkungan, sumber daya manusia. Ahli biologi perikanan yaitu siap menghadapi keadaan populasi ikan yang sangat bervariasi dan dinamis, keadaan lingkungan yang kebanyakan belum terawasi, kemampuan cukup tinggi untuk melakukan kompromi, mempertahankan penangkapan optimum dan siap menghadapi konflik kepentingan dan keinginan banyak orang pemakai sumber daya. Tujuan mempelajari Biologi Perikanan yaitu semakin banyak orang yang mampu memahami pentingnya menjaga kelestarian sumberdaya perikanan dan mencegah kerusakannya agar dapat diperoleh hasil yang optimum, lestari dan berkelanjutan. Untuk itu perlu di upayakan baik dari usaha budidaya maupun penangkapan guna menjamin kelangsungan usaha perikanan sebagai penyedia hasil perikanan dalam bentuk segar (fresh product) maupun dari hasil industri perikanan yakni hasil yang ajeg akan dapat mendukung kegiatan pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat (domestik) dan ekspor hasil perikanan guna menambah devisa negara. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang hidup di air tersebar luas mulai dari perairan tawar, payau sampai ke samudera. Perikanan menurut UU RI Nomor 9 Tahun 1985 yaitu semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan. Perikanan menurut UU RI Nomor 31 Tahun 2004 yaitu semua kegiatan yang

berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengelolaan sampai pada pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan.

SUMBERDAYA PERAIRAN MANUSIA
Sumberdaya perairan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam dengan berdasarkan salinitas, ukuran kedalaman, kecepatan aliran airnya dan lain-lain. Periaran Tawar Air dalam (leutic)yaitu meliputi danau, waduk, rawa, kolam, dan reservoir Air mengalir (lotic) meliputi sungai (river, stream, creek,brook) Air Payau Perairan payau merupakan pencampuran antara air tawar dari hulu dengan air asin dari laut. Salinitas perairannya sangat bervariasi dan daerah payau yang sudah dekat dengan laut disebut daerah estuari atau kuala. Perairan air payau menampung berbagai nutrien yang terbawa sejak dari daerah atas relatif dangkal, sinar matahari cukup dan keadaan airnya tercampur sempurna (well-mixed) dan merupakan habitat yang baik untuk ikan. Perairan Asin (Laut) Habitat Pantai memiliki ciri sebagai berikut : kedalaman perairan <200 m, daerah perikanan tradisional, kondisi perairan belum tercemar, hampir sama dengan daerah kuala, dan kaya akan nutrien dan sangat produktif. Habitat Lautan memiliki ciri sebagai berikut : kedalaman lebih dari 200 m, miskin kandungan nutiren dengan sirkulasi nutrien dari daerah lautan yang sangat dalam ke daerah yang lebih dangkal boleh dikatakan tidak terjadi, sinar matahari tidak tembus ke daerah tersebut, perikanan di lautan terbuka yaitu kurang berkembang (sulitnya lokasi, perlu alat tangkap & peralatan canggih yaitu sangat mahal dan butuh tenaga terampil dan keahlian khusus, di negara maju dan sudah berkembang bukan hambatan dalam memanfaatkan sumberdaya perikanannya.

PENGELOLAAN PERIKANAN BERBASIS BIOLOGI
Dasar Biologi yaitu : Taksonomi dan identifikasi, distribusi dan persyaratan habitat, food dan feeding habits, umur dan pertumbuhan, reproduksi, dan behavior. Taksonomi dan Identifikasi Taxon merupakan suatu grup organisme yang mempunyai sejarah evolusi yang sama. Taksonomi merupakan ilmu yang mempelajari teori, prinsip, prosedur dan peraturanperaturan klasifikasi. Klasifikasi merupakan identifikasi, penamaan, dan pengelompokan organisme ke dalam suatu sistem formal berdasarkan pada persamaan seperti anatomi internal dan eksternal, fungsi fisiologis, keturunan, atau sejarah evolusi. Ciri yang umum dalam taksonomi ikan : i. Perbedaan bentuk (morfologi) kuantitatif yaitu morfometri dapat di ukur panjang tubuh, dan lain-lain dan ciri meristik (jumlah jari-jari sirip). Dan kualitatif yaitu berdasarkan warna dan bentuk tubuh (lebih sering dinyatakan dengan pernyataan : abu-abu, putih, bentuk bulat, ramping, dan sebagainya sekarang dilakukan dengan bantuan komputer (sistem skoring). ii. Bukan Morfologi : meliputi Perilaku fisiologi, sulit pemakaiannya namun tetap mungkin digunakan. Sebagai contoh, perbedaan laju pernafasan berhasil dipakai untuk mengenali populasi ikan gobi. Kemudian sitologi, yaitu melihat ciri-ciri khas bentuk dan ukuran khromosom dapat dipakai untuk mengenali spesies yang berbeda. Selanjutnya biokimia, yaitu secara langsung dapat digunakan untuk menggambarkan jarak antara taksaka secara genetik. Cara ini sangat peka dan dapat menjawab pertanyaan yang lebih sulit mengenai ikan yang bersangkutan. Misalnya, dari contoh ikan yang terlihat sama, apakah masing-masing mewakili populasi yang berlainan ataukah dari spesies yang sama. Dan kemudian berdasarkan distribusi.

Distribusi dan Persyaratan Habitat Ikan mempunyai derajat pemencarannya (degree of dispersal) yang sangat bervariasi. Misalnya ada beberapa ikan yang hanya mendiami suatu tempat dengan luas beberapa meter persegi dan ada juga yang mampu berpindah tempat sampai beratus bahkan beribu kilometer. Berikut penggolongan ikan berdasarkan derajat pemencarannya yaitu :  Sedentary species Jenis ikan ini sifatnya yang menetap contohnya tiram (oyster), kupang laut atau kijing tawar (mussel), clam dan lain-lain.  Resident Species Jenis ikan yang berpindah tempat tapi lebih menyukai membatasi diri pada tempat yang sempit. Beberapa spesies dari golongan ini sering melakukan gerak terbatas yang mungkin sebagai akibat dari adanya gejala alam, misalnya:   Gerak harian (diurnal movements) Gerakan pada siang hari secara vertikal. Gerakan pasang surut air laut (tidal movements) Gerakan menuju pantai pada waktu pasang dan kembali ke laut mengikuti air surut    Gerak pancar acak (random dispersal) Gerak pencaran atau sedikit perpindahan yang tidak bertujuan tertentu. Gerak musiman (seasonal movements) Perpindahan yang tidak jauh dan dilakukan musiman. Developmental migrants Jenis ikan yang berpindah tempat untuk pertumbuhan atau perkembangan hidupnya, golongan ini pada stadium hidup tertentu berpindah tempat ke habitat yang lebih sesuai. Jarak yang ditempuh dapat dekat atau jauh tergantung spesiesnya.  Annual migrant Jenis ikan yang melakukan pindah tahunan, jenis ikan ini berpindah tempat tiap tahun dengan berbagai tujuan.

Habitat dan Persyaratannya Habitat merupakan tempat hidup suatu organisme. Habitat ikan dapat di golongkan menjadi dua golongan besar yakni habitat air laut dan air tawar (dan air payau). Pada habitat sering sekali terjadi keracunan, ikan dari suatu spesies kemungkinan menghuni/ditemukan pada sub habitat yang tidak sama terutama ikan laut pelagik. Habitat Air Laut Dalam  Abyssal : laut yang sangat dalam berkisar antara 4000-6000 meter, suhu sangat dingin (1,2-4oC), salintias lebih kurang 35 permil, sinar matahari tidak pernah mencapainya,keadaannya sangat gelap,dasar laut menyerupai dasar lumpur, fauna yang hidup mempergunakan kaki-kaki yang panjang, seperti laba-laba. Sebagian kecil bagian laut abisal dasarnya keras berupa batu cadas.  Bathypelagic Daerah laut dalam (1000-4000m), keadaan tempat ini tidak jauh berbeda dengan abyssal,sinar matahari tidak sampai.  Archibenthic Kedalaman antara 1000 meter, dihuni golongan ikan yang hidupnya di dasar atau di dekat dasar. Sebagai contoh: ratfish, chimaera. Penggolongan Ikan pada Perairan Dangkal  Benthic/demersal Hidup pada habitat dengan kedalaman antara 10-250m, contoh: ikan kakap, kerapu, bawal, udang.  Oceanic Ikan yang hidup di dikat permukaan air laut, sangat jarang mendekati daratan, seperti ikan Mola-mola.  Pelagic Golongan ikan yang hidup di lingkungan laut tetapi tidak hidup di dasar laut, termasuk jenis penjelajah, berbentuk seperti torpedo (streamlined), kuat berenang dan mencari makan di dekat permukaan air. Biasanya hidup berkelompok, contoh: ikan lemuru, ikan pedang, tengiri, tongkol, layang dan kembung.  Benthopelagic

Ikan yang mampu hidup di daerah bentik maupun pelagik tergantung musim atau kondisi lain (misalnya perubahan salintas). Contoh: ikan hiu (squallus).  Coastal Golongan ikan ini tidak pernah jauh dari pantai tetapi jarang sekali masuk ke daerah payau. Contoh: jenis ikan trout.  Ikan kuala (estuarine)

Penggolongan Ikan Bermigrasi  Katadrom : cata = down = turun, dan dromos = race. Yaitu ikan yang memenuhi daerah perairan asin sampai air tawar pemijahan memerlukan air asin untuk beruaya ke laut. Contoh : sidat (eel, Anguila), belanak (mullet, Mugil cephalus), udang galah (Macrobrachium rossenbergii)   Anadrom : ana = up = naik, dan dromos = race. Yaitu ikan yang melakukan perjalanan naik dari laut ke arah hulu sungai untuk melakukan pemijahan. Fluvial anadromous, pada stadium muda hidup di habitat air tawar mengalir. Selanjutnya berpindah ke air asin, lingkungan air laut atau air payau. Setelah masa matang telur ikan ke hulu sungai untuk memijah dan bertelur. Contoh : ikan Pink Salmon (Oncorhynchus grobuscha).  Lacustrin anadromous, pada waktu mudanya hidup di laut atau kuala. Setelah dewasa melakukan ruaya naik ke danau atau perairan diam untuk bertelur. Contoh : sockeye salmon. Habitat Air Tawar Danau (air diam/leutic) : terdiri atas dua daerah yang memebedakan antara yang berair dan tidak. Zonasi danau  Litoral : daerah tepi yang masih dipengaruhi oleh gelombang dan percikan air sampai kedalaman di mana matahari masih cukup bagi tanaman air untuk tumbuh. o Infralitoral : relatif dangkal sehingga sinar matahari dapat menembus ke dasarnya. Dapat di temukan vegetasi berakar. o Litoriprofundal : merupakan zone peralihan yang dihuni oleh bakteri dan ganggang. Daerah ini masih tersinari dan fotosintesis dapat berlangsung.

Profundal : daerah yang lebih dalam lagi, tidak tertembus sinar matahari/gelap, tidak ada vegetasi dan hanya ditemukan sedimen.

Air mengalir (Sungai) Menurut ukuran dan lokasinya air mengalir dibedakan menjadi daerah hulu sungai dan sungai. Berdasarkan alirannya dibedakan beraliran deras (rapid zone) dan tenang/lubuk (pool zone). Penggolongan Ikan yang hidup di Air Tawar    Lacustrin : golongan ikan yang hidupnya menetap di perairan diam, contoh : tambakan, sepat, dan nilem. Fluvial : golongan ikan yang hidupnya di air mengalir, contoh : ikan karper, mujahir. Adfluvial : golongan ikan ini hidupnya memerlukan air tenang, tetapi untuk memijahnya mencari air mangalir. Pesyaratan Habitat Suatu pengelolaan perikanan yang baik memerlukan pengetahuan mengenai persyaratan habitat terutama kebutuhan minimal dari suatu spesies terhadap faktor tertentu dalam

lingkungannya. Dengan faktor pembatas yaiut kelimpahan dapat berupa fisik, kehmis atau biologis.  Suhu : keadaan suhu perairan di daerah tropika berbeda dengan daerah empat musim. Ikan yang hidup pada habitat bersuhu stabil biasanya sangat peka terhadap perubahan suhu. Sebagian besar ikan air tawar di perairan daerah tropika akan mengalami sterss apabila terjadi penurunan suhu. Sebagian species ikan mempunyai suhu optimum untuk kelangsungan hidupnya. Suhu dapat menjadi faktor pembatas distribusi. Pengaruh suhu yaitu perkembangan kehidupan ikan secara optimum (karper 20-25oC, tawes 25-33oC dan mujahir 15,5-39oC. Lama inkubasi telur, kenaikan suhu berbanding terbalik dengan lama inkubasi telur (trout suhu 40oF, lama inkubasi 80 hari, suhu ditingkatkan sampai 55oF waktu hanya 24 hari). Tataran hidup, beberapa species memerlukan kisaran suhu tertentu pada setiap tahap/tataran hidup (karper : mempunyai kisaran suhu antara 20-30oC untuk kehidupannya, untuk penetasan telurnya membutuhkan suhu sekitar 25oC). Salmon kisaran suhu yang diperlukan

pada setiap tingkatan hidunya sudah agak jelas. Fluktuasi suhu perairan 3oC ikan masih dapat beradaptasi. Fluktuasi >3oC ikan sters harus dihindarkan nafsu makan berkurang/hilang dan ikan sakit dan mudah terinfeksi. Kisaran suhu yang sesuai akan menyebabkan populasi melimpah.  Salinitas : perubahan salinitas yang mendadak akan dapat mengakibatkan kematian ikan massal. ikan kuala/ estuarin mamapu beradaptasi terhadap perubahan salinitas perairan tetapi pengaruh faktor lain seperti suhu tinggi akan memperburuk keadaan karena akan memepercepat penguapan air sehingga berakibat mengingkatnya salinitas di tempat tersebut dan tidak tahan menghadapi keadaan demikian akan mati. Ikan anadrom biasanya toleran terhadap perubahan salinitas, namun biasanya ikan-ikan muda tidak tahan terhadap salinitas tinggi.  Oksigen : kebutuhan suatu species ikan terhadap oksigen tidak sama. Spesies ikan yang sudah beradaptasi pada lingkungan oksigen rendah maka kebutuhan oksigen minimal relatif lebih rendah daripada spesies ikan yang terbiasa hidup di perairan kaya oksigen.

FOOD AND FEEDING HABIT
Makan merupakan hal yang sangat penting bagi organisme. Energi yang dihasilkan berfungsi untuk : gerak, pemeliharan, reproduksi, proses pencernaan, dan pertumbuhan. Food habits berkaitan dengan kualitas dan kuantitas pakan yang dimakan ikan. Feeding habits berkaitan dengan cara ikan makan, menyangkut tempat dan waktu makan. Cara mendapatkan Pakan :  Pemburu : aktif mengejar mangsa, pada umumnya perenang cepat, termasuk ikan pelagik. Bentuk tubuh fusiform dengan sirip ekor berbentuk cagak atau lengkungan. Contoh : hiu (Lamnidae) dan jenis tuna.   Perayap : perenang lambat, bertubuhu memanjang. Contoh : barakuda (sphyraenidae) Penghadang : menangkap mangsanya dengan cepat dari persembunyiannya ( jenis ikan dasar, mempunyai mulut lebar). Contoh : ikan karang (rockfish, keluarga scorpaenidae).  Penyaring : pakan disaring dari air melalui gill raker. Lambung biasanya cukup panjang. Contoh : Paus (Rhincodontidae), herring, anchovy.

Pemilih : memilih mangsa berukuran kecil dari badan air atau substrat (tubuhnya pendek, mulut kecil mencuat ke atas dengan gigi-gigi kecil).

Tersedianya pakan yang cukup maka pertumbuhan ikan baik, kematangan gonad dicapai tepat waktu, fekunditas cukup tinggi, ukuran telur dan ukuran ikan dari suatu tetesan relatif lebih seragam, dan mengurangi pemangsaan terhadap ikan yang lebih kecil/muda (pada ikan pemangsa). Kebiasaan Pakan (Food Habits) Kebiasaan pakan adalah pakan yang biasa dimakan oleh ikan, berupa pakan yang ada di lingkungannya, biasanya setiap spesies punya preferensi. Pakan tersebut dalam bentuk alami (bukan pakan buatan ataupun tambahan). Berdasa food habits : herbivorous, carnivorous, omnivorous, detritivorous, insektivorous dan psicivorous. Faktor yang mempengaruhi jenis maupun jumlah pakan ikan antara lain : siklus harian, perubahan musim, ukuran dan jenis ikan, kecepatan proses pencernaan dan kondisi setempat.

REPRODUKSI
Reproduksi artinya pertambahan individu baru sebagai hasil peleburuan sperma induk jantan dan telur dari induk betina. Hermaprodit merupakan dalam satu individu mempunyai jaringan ovarium dan jaringan testis. hermaprodit ada tiga bagian yaitu Hermaprodit sinkroni (contoh : Serranus cabrila, Hepatus hepatus), Hermaprodit Protandri (contoh : Lates calcarifer,Sparus auratus), Hermaprodit Protogini (contoh : Monopterus albus, Epinephelus tauvina, Xiphohorus helleri). Gonokhorisme yaitu kondisi seksual berganda, pada tahap juvenil gonad tidak

mempunyai jaringan yang jelas status jantan dan betina. Contoh : Sidat (Anguilla anguilla), Salmogairdneri irideus, Oreochromis sp.

Ciri Seksual Ciri seksual primer yaitu ovarium (betina) dan testis (jantan), dan ciri sekunder yaitu sexual dimorphism ( perbedaan morfologi) dan sexual dichromatism (perbedaan warna). Tanda-tanda khusus lainnya yaitu ada yang permanen (ada sebelum, selama dan setelah pemijahan) dan sementara (hanya muncul pada waktu musim pemijahan saja). Tingkat Kematangan Gonad (TKG) TKG adalah tingkat atau taraf yang menunjukkan berapa lama lagi (waktu) terjadi pemijahan. TKG menunjukkan perkembangan dari kelenjer kealmin (kerja gonad) dan melihat perkembangan gonad baik tanpa mikroskop maupun secara histologi. Faktor yang mempengaruhi Tingkat kematangan gonad yaitu ketersediaan pakan, suhu perairan dan lintang sebaran (berdasarkan letak geografis). Indeks Kematangan Gonad (IKG) IKG digunakan sebagai pendekatan untuk mengetahui perkembangan atau kematangan gonad.

IKG =

Berat Gonad Berat Tubuh + Berat gonad

X 100%

Perkembangan Seksual Perkembangan seksual terdapat 3 yaitu Ovivar (bertelur), vivipar (beranak) dan ovovivivar ( bertelur dan beranak). Siklus Reproduksi meliputi tingkah laku reproduksi dimana siklus yang berkala dan teratur. Beberapa spesies ikan yang reproduksinya hanya terjadi satu kali dalam hidupnya (Big bang spawner). Contoh salmon ( Oncorhynchus sp.) dan Lamprey Laut (Petromyzon marinus). Sebagian besar ikan siklus reproduksi tahunan, dimulai saat pertama kali mencapai matang gonad, dan akan berulang terus menerus sampai mati. Beberapa ikan bereproduksi lebih dari satu kali dalam setahun. Contoh ikan Seribu (Lebistes reticulatus) yaitu reproduksinya 4 minggu sekali, dan Tilapia sp./Oreochormis sp. Bereproduksi lebih dari 2-3 kali setahun.

Pemijahan Ikan memerlukan habitat tertentu untuk berlangsungnya pemijahan antara lain Fitofil, litofil, psamofil, pelagofil, ostrakofil, litipelagofil. Dan faktor yang memepengaruhi ialah suhu, musim dan keadaan lingkungan. Fekunditas Fekunditas adalah jumlah telur matang yang siap di keluarkan oleh induk betina pada waktu memijah. Fekunditas menunjukkan keragaman genetik, ukuran (panjang dan berat), umur ikan, musim, dan sediaan pakan di masa-masa sebelumnya. Jumlah telur/fekunditas meningkat sejalan dengan pertambahan umur ikan sampai batas tertentu, apabila ikan mendekati masa tuanya fekunditas umumnya semakin menurun. Fekunditas sering di kaitkan dengan panjang, berat dan umur ikan. Kebanyakan ikan fekunditas hampir proporsional terhadap pangkat tiga dari panjangnya (F = aL3), kelajuannya tinggi, nilai fekunditas mencapai pangkat tujuh dari panjang. Pengeluaran telur ada dua yaiut Isochronal (telur dikelurakan secara

serentak/sekaligus (ikan sub tropis) dan Heterochronal (telur dikeluarkan secara bertahap tetapi masih dalam satu musim peneluran, terjadi berbagai tingkat kematangan goand). Cara penghitungan telur ada 4 yaitu : 1. Langusng : telur dihitung satu demi satu. 2. Gravimeteri : menimbang seluruh ovari ikan dan sampel telur lalu menghitung jumlahnya. 3. Volumetri : prinsip sama dengan cara gravimetri, hanya berat diganti dengan volume. 4. Pemindahan. Penghitungan telur dengan metode gravimetri X:x=G:g Keterangan: X = jumlah total telur

X = rerata jumlah telur pada berat tertentu G = berat kering angin seluruh telur g = rerata berat kering ngin sebagian telur dihitung

Tingkah laku pemijahan ikan Fase pra-pemijahan yaitu aktfitas mencari makan, ruaya, pembuatan sarang, sekresi feromon (pengenalan lawan jenis mencari pasangan) dan gerakan rayuan. Fase pemijahan yaitu sentuhan bagian-bagian tubuh, gerakan eksotik dengan menggetarkan seluruh bagian tubuh, pembelitan tubuh. Kemudian fase pasca pemijahan yaitu fase penyempurnaan, penutupan sarang, penjagan sarang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->