Bhavana/samadhi/meditasi PENGERTIAN, FAEDAH DAN CARA MELAKSANAKAN BHAVANA 1.

PENGERTIAN BHAVANA Bhavana berarti pengembangan, yaitu pengembangan batin dalam melaksanakan pembersihannya. Istilah lain yang arti dan pemakaiannya hampir sama dengan bhava na adalah samadhi. Samadhi berarti pemusatan pikiran pada suatu obyek. Samadhi yang benar (samma samadhi) adalah pemusatan pikiran pada obyek yang dapa t menghilangkan kekotoran batin tatkala pikiran bersatu dengan bentuk-bentuk karma yang baik, sedangkan samadhi yang salah (miccha samadhi) adalah pemusatan pikira n pada obyek yang dapat menimbulkan kekotoran batin tatkala pikiran bersatu dengan bentuk-bentuk karma yang tidak baik. Jika dipergunakan istilah samadhi, maka yan g dimaksud adalah "Samadhi yang benar". 2. FAEDAH BHAVANA Bhavana atau meditasi yang benar akan memberikan faedah bagi orang bagi orang ya ng melaksanakannya. Faedah-faedah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dari prak tek meditasi itu adalah : 1. Bagi orang yang selalu sibuk, meditasi akan menolong dia untuk membebaskan di ri dari ketegangan dan mendapatkan relaksasi atau pelemasan. 2. Bagi orang yang sedang bingung, meditasi akan menolong dia untuk menenangkan diri dari kebingungan dan mendapatkan ketenangan yang bersifat sementara maupun yang bersifat permanen (tetap). 3. Bagi orang yang mempunyai banyak problem atau persoalan yang tidak putusputus nya, meditasi akan menolong dia untuk menimbulkan ketabahan dan keberanian serta mengembangkan kekuatan untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut. 4. Bagi orang yang kurang percaya diri sendiri, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan keparcayaan kepada diri sendiri yag sangat dibutuhkannya itu. 5. Bagi orang yang mempunyai rasa takut dalam hati atau kebimbangan, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan pengertian terhadap keadaan atau sifat yang sebenarnya dari hal-hal yang menyebabkannya takut dan selanjutnya dia akan dapat mengatasi rasa takut itu dalam pikirannya. 6. Bagi orang yang selalu merasa tidak puas terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya atau dalam kehidupan ini, meditasi akan memberikan dia perubahan dan perkembangan yang menuju pada kepuasan batin. 7. Bagi orang yang pikirannya sedang kacau dan berputus asa karena kurangnya pengertian akan sifat kehidupan dan keadaan dunia ini, meditasi akan menolong di a utnuk memberikan pengertian padanya bahwa pikirannya itu kacau untuk hal-hal yang tidak ada gunanya. 8. Bagi orang yang ragu-ragu dan tidak begitu tertarik kepada agama, meditasi ak an menolong dia untuk mengatasi keragu-raguannya itu dan untuk melihat segi-segi serta nilai-nilai yang praktis dalam bimbingan agama. 9. Bagi seorang pelajar atau mahasiswa, meditasi akan menolong dia untuk menimbulkan dan menguatkan ingatannya serta untuk belajar lebih seksama dan lebih efisien. 10. Bagi orang yang kaya, meditasi akan menolong dia untuk dapat melihat sifat d an kegunaan dari kekayaannya itu, bagaimana cara menggunakan harta tersebut untuk kebahagiaan dirinya sendiri dan kebahagiaan orang lain. 11. Bagi orang miskin, meditasi akan menolong dia untuk memiliki rasa puas dan ketenangan serta tidak melampiaskan rasa iri hati terhadap orang lain yang lebih

mampu daripadanya. 12. Bagi seorang pemuda yang sedang berada dalam persimpangan jalan dari kehidupan ini dan dia tidak tahu jalan mana yang akan ditempuhnya, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan pengertian dalam menempuh salah satu jalan yang akan membawa ke tujuannya. 13. Bagi orang yang telah lanjut usia yang telah bosan dengan kehidupan ini, med itasi akan menolong dia ke dalam pengertian yang lebih mendalam mengenai kehidupan ini, dan pengertian tersebut akan memberi dia kelegaan dan kebebasan dari penderitaan serta pahit getirnya kehidupan ini, dan akan menimbulkan kegairahan yang baru bagi dirinya. 14. Bagi orang yang mudah marah, meditasi akan menolong dia mengembangkan kekuatan kemauan untuk mengatasi kelemahan-kelemahannya. 15. Bagi orang yang bersifat iri hati, meditasi akan menolong dia untuk mengerti tentang bahayanya sifat iri hati itu. 16. Bagi orang yang diperbudak oleh panca inderanya, meditasi akan menolong dia untuk belajar menguasai nafsu-nafsu dan keinginannya itu. 17. Bagi orang yang telah ketagihan minuman keras yang memabukkan, meditasi akan menolong dia untuk menyadari dirinya dan melihat cara mengatasi kebiasaan yang berbahaya itu yang telah memperbudak dan mengikat dirinya. 18. Bagi orang yang tidak terpelajar atau bodoh, meditasi akan memberikan dia kesempatan untuk mengenal diri dan mengembangkan pengetahuan-pengetahuan yang sangat berguna untuk kesejahteraan diri sendiri dan untuk keluarga serta handai taulannya. 19. Bagi orang yang sungguh-sungguh melakukan latihan meditasi yang benar ini, maka nafsu-nafsu dan emosinya tak mempunyai kesempatan untuk memperbodohi dirinya lagi. 20. Bagi orang yang bijaksana, meditasi akan membawa dia kepada kesadaran yang lebih tinggi dan pencapaian penerangan sempurna; dia akan dapat melihat segala sesuatu dengan sewajarnya dan tidak akan terseret lagi ke dalam persoalanpersoal an yang remeh. 21. Selanjutnya, dalam agama Buddha, meditasi yang benar itu dipergunakan untuk membebaskan diri dari segala penderitaan, untuk mencapai Nibbana. Demikianlah beberapa faedah praktis yang dapat dihasilkan dari latihan meditasi. Faedah-faedah ini merupakan milik yang akan ditemui dalam pikiran sendiri. 3. CARA MELAKSANAKAN BHAVANA Orang yang baru belajar meditasi sebaiknya mencari tempat yang cocok untuk melakukan meditasi. Tempat itu adalah tempat yang sunyi dan tenang, bebas dari gangguan orang-orang di sekitarnya, bebas dari gangguan nyamuk. Untuk tahap permulaan, hendaknya orang berlatih di tempat yang sama, jangan pindah-pindah tempat. Jika meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan di mana saja di setiap tempat, baik di kantor, di pasar, di kebun, di hutan, di goa, dikuburan, maupun di tempat yang ramai. Waktu untu melaksanakannya dapat dipilih sendiri. Biasanya waktu yang baik untuk bermeditasi adalah pagi hari antara pukul 04.00 sampai pukul 07.00 dan malam har i antara pukul 17.00 sampai pukul 22.00. Jika waktu untuk bermeditasi telah ditent ukan, maka waktu tersebut hendaknya digunakan khusus untuk bermeditasi. Meditasi sebaiknya dilakukan setiap hari dengan waktu yang sama secara teratur atau konti nyu. Bila meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan kapan saja, pada setiap waktu. Orang bebas memilih posisi meditasi. Biasanya posisi meditasi yang baik adalah d uduk bersila di lantai yang beralas, dengan meletakkan kaki kanan di atas kaki kiri, dan tangan kanan menumpu tangan kiri di pangkuan. Atau boleh juga dalam posisi seten gah

sila, dengan kaki dilipat ke samping. Bahkan kalau tidak memungkinkan, maka dipersilahkan duduk di kursi. Yang penting adalah bahwa badan dan kepala harus t egak, tetapi tidak kaku atau tegang. Duduklah seenaknya, jangan bersandar. Mulut dan m ata harus tertutup. Selama meditasi berlangsung hendaknya diusahakan untuk tidak menggerakkan anggota badan, jika tidak perlu. Namun bila badan jasmani merasa ti dak enak, maka diperbolehkan untuk menggerakkan tubuh atau mengubah sikap meditasi. Tetapi, hal ini harus dilakukan perlahan-lahan, disertai dengan penuh perhatian dan kesadaran. Jika meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan dalam berbagai posi si, baik berdiri, berjalan, maupun berbaring. Sebelum melaksanakan meditasi, sebaiknya diminta petunjuk atau nasehat dari guru meditasi atau mereka yang telah berpengalaman mengenai meditasi, agar dapat dica pai sukses dalam bermeditasi. Pada saat hendak bermeditasi, sebaiknya dibacakan paritta terlebih dahulu. Selan jutnya, laksanakanlah meditasi dengan tekun. Pikiran dipusatkan pada obyek yang telah di pilih. Pada tingkat permulaan, tentunya pikiran akan lari dari obyek. Hal ini biasa, ka rena pikiran itu lincah, binal, dan selalu bergerak. Namun, hendaknya orang yang bermeditasi selalu sadar dan waspada terhadap pikiran. Bila pikiran itu lari dar i obyek, ia sadar bahwa pikiran itu lari, dan cepat mengembalikan pikiran itu pada obyek semula. Bila hal ini dapat dilaksanakan dengan baik, maka kemajuan dalam meditasi pasti akan diperoleh. Pembagian Bhavana Bhavana dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu : 1. Samatha Bhavana, berarti pengembangan ketenangan batin. 2. Vipassana Bhavana, berarti pengembangan pandangan terang. Diantara kedua jenis bhavana ini terdapat perbedaan. Perbedaan itu mencakup: 1. Tujuannya Samatha Bhavana merupakan pengembangan batin yang bertujuan untuk mencapai ketenangan. Dalam Samatha Bhavana, batin terutama pikiran terpusat dan tertuju p ada suatu obyek. Jadi pikiran tidak berhamburan ke segala penjuru, pikiran tidak ber keliaran kesana kemari, pikiran tidak melamun dan mengembara tanpa tujuan. Dengan melaksanakan Samatha Bhavana, rintangan-rintangan batin tidak dapat dilenyapkan secara menyeluruh. Jadi kekotoran batin hanya dapat diendapkan, sepe rti batu besar yang menekan rumput hingga tertidur di tanah. Dengan demikian, Samath a Bhavana hanya dapat mencapai tingkat-tingkat konsentrasi yang disebut jhana-jhan a, dan mencapai berbagai kekuatan batin. Sesungguhnya pikiran yang tenang bukanlah tujuan terakhir dari meditasi. Ketenan gan pikiran hanyalah salah satu keadaan yang diperlukan untuk mengembangkan pandanga n terang atau Vipassana Bhavana. Vipassana Bhavana merupakan pengembangan batin yang bertujuan untuk mencapai pandangan terang. Dengan melaksanakan Vipassana Bhavana, kekotoran-kekotoran batin dapat disadari dan kemudian dibasmi sampai keakar-akarnya, sehingga orang

Devatanussati = perenungan terhadap makhluk-makhluk agung atau para dewa . pencapaian Nibbana. obyek yan g dipakai dalam Vipassana Bhavana adalah nama dan rupa (batin dan materi). dan tidak dengan jalan lain". 3. sepuluh asubha. EMPAT PULUH MACAM OBYEK MEDITASI Dalam Samatha Bhavana ada 40 macam obyek meditasi. yang disebut sepuluh vipassanupakilesa. Obyek-obyek meditasi ini dapat dipilih salah satu yang kiranya cocok dengan sifat atau pribadi seseorang. atau em pat satipatthana. yaitu : 1. Vicchiddaka = wujud mayat yang terbelah di tengahnya 5. Buddhanussati = perenungan terhadap Buddha 2. Puluvaka = wujud mayat yang dikerubungi belatung 10. Atthika = wujud tengkorak c. Dhammanussati = perenungan terhadap Dhamma 3. Vikkahayitaka = wujud mayat yang digerogoti binatang-binatang 6. Lohitaka = wujud mayat yang berlumuran darah 9. satu aharapatikulasañña. Uddhumataka = wujud mayat yang membengkak 2. Silanussati = perenungan terhadap sila 5. dan anatta (tanpa aku yang kekal). Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda). 2. satu catudhatuvavatthana. Sanghanussati = perenungan terhadap Sangha 4. Lohita kasina = wujud warna merah 8. yaitu : 1. sepuluh anussati. Sebaliknya. Dengan demikian. Obyek-obyek itu adalah sepuluh kasina. Akasa kasina = wujud ruangan terbatas b. Nila kasina = wujud warna biru 6. dukkha (derita). yaitu : 1. Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. Pemilihan ini dimaksudkan untuk membantu mempercepat perkembangannya.yang melakukan Vipassana Bhavana dapat melihat hidup dan kehidupan ini dengan sewajarnya. Vipassana Bhavana dapat menuju ke arah pembersihan batin. Apo kasina = wujud air 3. pembebasan sempurna. Sesungguhnya "dalam kitab suci telah ditulis bahwa hanya dengan pandangan terang inilah kita dapat menyucikan diri kita. Teja kasina = wujud api 4. Vipubbaka = wujud mayat yang bernanah 4. dan empat arupa. Hatavikkhittaka = wujud mayat yang busuk dan hancur 8. Vikkhittaka = wujud mayat yang telah hancur lebur 7. Vayo kasina = wujud udara atau angin 5. empat appamañña. Obyeknya Obyek yang dipakai dalam Samatha Bhavana ada 40 macam. Odata kasina = wujud warna putih 9. Samatha Bhavana 1. Sepuluh asubha (sepuluh wujud kekotoran). Aloka kasina = wujud cahaya 10. Penghalangnya Dalam melaksanakan Samatha Bhavana. terdapat pula rintangan-rintang an yang dapat menghambat perkembangan pandangan terang. Pathavi kasina = wujud tanah 2. pada umumnya orang yang bermeditasi sering mendapat gangguan atau halangan atau rintangan. Keempat puluh macam obyek meditasi itu adalah : a. Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan). Caganussati = perenungan terhadap kebajikan 6. bahwa hidup ini dicengkeram oleh anicca (ketidak-kekalan). Vinilaka = wujud mayat yang berwarna kebiru-biruan 3. Pemilihan sebaiknya dilakukan dengan bantuan seorang guru. Pita kasina = wujud warna kuning 7. yaitu lima nivarana dan sepuluh palibodha.

orang masih melihat bulatan biru itu di dalam pikirannya. bernanah. papan. dapat dipakai sebuah telaga atau air yang ada di dalam ember. Kayagatasati = perenungan terhadap badan jasmani 9. Anapanasati = perenungan terhadap pernapasan 10. tidak dapat dihin dari". Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan) . atau putih. Disini. membiru. seperti gambar pikiran mengenai mayat yang membengka k dan lain-lain. yang makin lama makin terang seperti bulatan dari rembulan. or ang harus berjuang agar pikirannya tetap berjaga-jaga. benda-benda di sekeliling bulatan tersebut seolah-olah lenyap. Dalam kasina angin. Natthibhavapaññati = obyek kekosongan 4. c. Dalam kasina api. Karuna = belas kasihan 3. Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dal am badan jasmani) g. berlumuran darah. dapat dipakai kebun yang baru dicangkul atau segumpal tanah yang dibulatkan. dapat dipakai angin yang berhembus di pohon-pohon atau badan. Selanjutnya. dapat dipakai cahaya matahari atau bulan yang memantul di dinding atau di lantai melalui jendela dan lain-lain. Dalam kasina air. "Badanku ini juga mempunyai sifat-sifat itu sebagai kodratnya. Upasamanussati = perenungan terhadap Nibbana atau Nirwana d. membengkak. merah. Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda) Dalam kasina tanah. dan akhirnya merupakan tengkorak. Mudita = perasaan simpati 4. Sepuluh asubha (sepuluh wujud kekotoran) Dalam sepuluh asubha ini. walaupun mata dibuka atau ditutup. Empat arupa (empat perenungan tanpa materi). dapat dipakai ruangan kosong yang mempunyai batas-batas disekelilingny a seperti drum dan lain-lain. Empat appamañña (empat keadaan yang tidak terbatas). kuning. Marananussati = perenungan terhadap kematian 8. Disinilah hendaknya orang memegang dengan teguh di dalam pikirannya obyek yang berharga yang telah timbul. dikoyak-koyak oleh burung gagak atau serigala. hancur dan membusuk.7. dapat dipakai benda-ben da seperti bulatan dari kertas. atau bunga yang berwarna biru. Dalam kasina warna. dan sadar. Kasinugaghatimakasapaññatti = obyek ruangan yang sudah keluar dari kasina 2. orang melihat atau membayangkan sesosok tubuh yang tel ah menjadi mayat diturunkan ke dalam lubang kuburan. yaitu : 1. Dalam kasina cahaya. waspada. mula-mula orang harus memusatkan seluruh perhatiannya pada bulatan yang berwarna biru misalnya. dengan memandang terus pada bulatan itu. Upekkha = keseimbangan batin e. tanpa pamrih 2. b. Kini. kain. Selanjutnya. Dalam kasina r uangan terbatas. dapat dipakai api yang menyala yang di depannya diletakkan seng yang berlobang. Sementara itu. Akincaññayatana-citta = obyek bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan Berikut penjelasan lebih mendetil tentang masing-masing obyek meditasi diatas : a. dikerubungi oleh lalat dan belatung. yaitu : 1. dan bulatan terse but kelihatan menjadi makin semu dan akhirnya sebagai bayangan pikiran saja. Metta = cinta kasih yang universal. ia menarik kesimpulan terhadap badannya sendir i. terbelah di tengahnya. Satu aharapatikulasanna (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) f. Akasanancayatana-citta = obyek kesadaran yang tanpa batas 3.

Dengan sadar ia menarik napas. yang menyebabkan musnahnya kekikiran. Kesembilan sifat Buddha tersebut adalah maha suci. kulit. Namun. tak lapuk oleh waktu . telah bertindak patut. jantung. direnungkan makhluk-makhluk agung atau para dewa yang berbahagia. saluran usus. m inyak kulit. pembimbing manusia yang tiada taranya. dan melalui apa oran g akan meninggal. Dalam hal ini mungkin timbul perasaan dendam atau sakit hati. Dalam Sanghanussati. Setelah itu. Empat appamañña (empat keadaan yang tidak terbatas) Empat appamañña ini sering disebut juga sebagai Brahma-Vihara (kediaman yang luhur). patut menerima persembahan. Dalam melaksanakan metta-bhavana. direnungkan kebajikan berdana yang telah dilaksanakan. air mata. empedu. Dalam upasamanussati. ludah. kematian aka n datang menyongsongku dan makhluk lainnya. seseorang harus mulai dari dirinya sen diri. orang merenungkan Nibbana atau Nirwana yang terbebas dari kekotoran batin. menuntun ke dalam batin. telah mencapai penerangan sempurna. direnungkan sembilan sifat Ariya-Sangha. yang patut dimuliakan. hendaknya diusahakan untuk mengatasi kebencian itu dengan merenungkan sifat-sifat yang bai . usu s. di mana. bahwa di dalam badan ini terdapat rambut kepala. urat. yang diselubungi kulit dan penuh kekotoran . putusnya lingkaran tumimbal lahir. Dalam devatanussati. bahwa badan ini harus dibagi-bagikan olehku kepada ulat-ulat. dari telapak kaki ke atas dan dari puncak kepala ke bawah. hati. darah. limpa. bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan. keringat. patut meneri ma tempat bernaung. tulang.Dalam Buddhanussati. Akhirnya. kutu. kuku. Dalam Dhammanussati. direnungkan sembilan sifat Buddha. yang sedang menikmati hasil dari perbuatan baik yang telah dilakukan nya. karena ia tidak mungkin dapat memancarkan cinta kasih sejati bila ia membenci da n meremehkan dirinya sendiri. direnungkan enam sifat Dhamma. lendir. orang merenungkan keluar masuknya napas. lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya di alam semesta. orang harus merenungkan bahwa pada suatu hari. Dalam marananussati. direnungkan sila yang telah dilaksanakan. d. sempurna pengetahuan dan tingkah lakunya. daging. air kencing. patut menerima penghormatan. patut menerima bingkisan. dan otak. pengenal semua alam. cinta kasih dipancarkan kepada orang tu a. gigi. mengundang untuk dibuktikan. orang merenungkan 32 bagian anggota tubuh. selaput dada. perut. Kesembilan sifat Ariya-Sangha itu adalah telah bertindak dengan baik. lemak. yang tersulit adalah memancarkan cinta kasih kepada musuh-musuhnya. dengan sadar ia mengeluarkan napas. Dalam kayagatasati. serta keadaan yang bagaimana menungguku setelah kematian. cairan sendi. ingus. Dalam silanussati. Keenam sifat Dhamma itu adalah telah sempurna dibabarkan. hancurnya keinginan. dan binatang lainnya yang hidup dengan ini. sumsum. teman-teman laki-laki dan wanita sekaligus. guru para dewa dan manusia. paru-paru. belatung. bulu badan. nanah. yang sadar. tela h bertindak benar. yang dipuji oleh para bijaksana. nyata di dalam kehidupan. Dalam caganussati. guru-guru. dan menuju pemusatan pikiran. ginjal. telah bertindak lurus. kotoran. yang tidak patah. Dalam anapanasati. dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing. y ang tidak ternoda. sempurna menempuh jalan ke Nibbana.

pikiran ditujukan kepada ruangan yang tanpa batas. lendir. dan setelah itu ia mengembangkan pencapaian dari sisa unsur-unsur batin yang penghabisan. kesengsaraan. angin yang keluar masuk waktu bernapas. orang memancarkan perasaan simpati kepada orang yang sedang bersuka-cita. dan penderitaan. 3. Tejo-dhatu (unsur api atau unsur panas). 2. g. Empat arupa (empat perenungan tanpa materi) Dalam kasinugaghatimakasapaññati. dan menembus tanpa batas. 4. semuanya akan berakhir sebagai kotoran (ti nja) dan air seni (urine). pujian dan celaan. ialah segala sesuatu yang bersifat p anas dingin. e. orang merenungkan keadaan kekosongan sebagai ketenangan atau kesejahteraan. atau bila sedang sakit. dan lain-lain. pencerapan. Vayo-dhatu (unsur angin atau unsur gerak). "Tak terbataslah kesadaran itu". kuku. orang akan tetap tenang menghadapi suka dan duka. dara h. diliputi kesedihan. nanah. batin yang telah memperoleh gambaran kasina dikembangkan ke dalam perenungan ruangan yang tanpa batas sambil membayangkan. ialah segala sesuatu yang bersi fat keras atau padat. direnungkan bahwa di dalam badan jasmani terdapa t empat unsur materi. Dalam akasanancayatana-citta. Perl u diingat bahwa kebencian hanya dapat ditaklukkan dengan cinta kasih. yaitu perasaan. Jadi. f. dicicipi. Dalam upekkha-bhavana. untung dan rugi. Ia terus menerus merenungkan. ruangan yang tanpa batas itu ditembus dengan kesadarannya sambil merenungkan. direnungkan bahwa apapun yang tela h dimakan. "Ruangan! Ruangan! Tak terbatas ruangan ini!" dan kemudian gambaran kasina dihilangkan. Ia harus berul angulang memikirkan penembusan ruangan itu dengan sadar. bentuk-bentuk pi . Apo-dhatu (unsur air atau unsur cair). Umpamanya : empedu. direnungkan bahwa makanan adalah barang yang menjijikkan bila telah berada di dalam perut. Dalam akincaññayatana-citta. mencurahkan perhatiannya kepada hal tersebut. dan lain-lain. Dalam karuna-bhavana. gigi. ialah segala sesuatu yang bersifat bergerak. Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan jasmani) Dalam satu catudhatuvavatthana. dipusatkan di dalamnya. Umpamanya : angin yang ada di dalam perut dan usus. yaitu : 1. Dalam mudita-bhavana. Satu aharapatikulasañña (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) Dalam satu aharapatikulasañña. ia turut berbahagia melihat kebahagiaan orang lain. bad an akan terasa panas dingin. dan lain-lain.k dari musuhnya dan jangan menghiraukan kejelekan-kejelekan yang ada padanya. Umpamanya : rambut kepala. orang memancarkan belas kasihan kepada orang yang sedang ditimpa kemalangan. Pathavi-dhatu (unsur tanah atau unsur padat). bulu badan. "Tidak ada apa-apa di sana! Kosonglah adanya ini". Umpamanya : setelah selesai makan dan minum. ialah segala sesuatu yang bersifat ber hubungan yang satu dengan yang lain atau melekat. dikunyah. diminum. orang harus mengarahkan perhatiannya pada kekosongan atau kehampaan dan tidak ada apa-apanya dari kesadaran terhadap ruangan yang tan pa batas itu. Dalam natthibhavapaññati.

tanpa disertai kebijaksanaan. kebajikan. setelah kekosongan itu dicapai. senantiasa melihat penderitaan di dalam ketidak-kekalan. yaitu: 1. mengantuk sesudah makan. tanpa disertai kebijaksanaan. keluarga. senantiasa ingat bahwa setiap orang adalah pemilik dan pewaris dari perbuatannya sendiri. Vicikiccha (keragu-raguan) Untuk menaklukkan kelima rintangan tersebut. orang hendaknya senantiasa meneguhkan keyakinan pada Buddha. kelelahan. Keragu-raguan (vicikiccha) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatika n sesuatu yang menyebabkan timbulnya keragu-raguan. Kemalasan dan kelelahan (thina-middha) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan rasa segan. serta berusaha melaksanakan sila dengan sempurna. hendaknya orang senantiasa melaksanakan meditasi deng an memakai obyek yang kotor atau menjijikkan dan berusaha menghindari obyek-obyek yang bisa merangsang. LIMA MACAM NIVARANA DAN SEPULUH MACAM PALIBODHA Lima macam nivarana Nivarana berarti rintangan atau penghalang batin yang selalu menghambat perkembangan pikiran. senantiasa merenungkan ajaran-ajaran Sang Buddha dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. berusaha untuk menguasai pikiran dan mengendalikan indriya indriyanya. ora ng hendaknya senantiasa merenungkan suatu cahaya sampai terserap ke dalam batin. yaitu : 1. Addhana (perjalanan) 7. Untuk membebaskan diri dari nafsu keinginan. maka kesadaran mengenai kekosongan itu dilepas. Labha (keuntungan) 4. seolah-olah tidak ada pencerapan lagi 2. Uddhacca-kukkucca (kegelisahan dan kekhawatiran) 5. Nivarana ini ada lima macam. rasa malas. Untuk menaklukkan kemauan jahat hendaknya orang senantiasa melaksanakan meditasi cinta kasih. Kemauan jahat (byapada) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan obyek yang menyebabkan timbulnya kebencian. tanpa disertai kebijaksanaan. Abadha (penyakit) . Untuk membebaskan diri dari keragu-raguan. Palibodha ini ada sepuluh macam. Untuk membebaskan diri dari kemalasan dan kelelahan. Ñati (orangtua. tanpa disertai kebijaksanaan. kebebasan. Nafsu-nafsu keinginan (kamachanda) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan obyek yang indah. Sepuluh macam palibodha Palibodha berarti gangguan dalam meditasi yang menyebabkan batin gelisah dan tid ak mampu memusatkan pikiran pada obyek. orang harus mengetahui sebab-sebab timbulnya nivarana dan berusaha menghindari sebab-sebab itu serta melakukan usah ausaha yang dapat melenyapkan nivarana itu. Dhamma. dan Sangha. Avasa (tempat tinggal) 2. senantiasa berbicara tentang kesempurnaan hidup. Byapada (kemauan jahat) 3. Jadi. dan kesadaran sampai batas kelenyapannya. dan saudara) 8. orang hendaknya senantiasa mempelajari dan memahami kitab suci Tripitaka. Kula (pembantu dan orang yang bertanggung jawab) 3. Thina-middha (kemalasan dan kelelahan) 4. Kegelisahan dan kekhawatiran (uddhacca-kukkucca) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan ketidak-tenteraman pikiran. tanpa disertai kebijaksanaan. Kamma (pekerjaan) 6. kesunyian. tentang kepuasan. bebas dari nafsu-nafsu. Kamachanda (nafsu-nafsu keinginan) 2. Gana (murid dan teman) 5.kiran. Untuk mengatasi kegelisahan dan kekhawatiran.

yakin pada sesuatu yang dianggap baik. Ia merasa khawatir akan tempat tinggalnya. Orang yang bodoh (dungu) atau Mohacarita 4. suka kha watir. sombong. apakah meditasi ini akan membawa keuntungan baginya. Untuk mereka yang mempunyai mohacarita. Untuk mereka yang mempunyai dosacarita. suka iri hati. Ia merasa khawatir akan murid-murid dan teman-temannya. Ia merasa khawatir akan perjalanan jauh yang harus ditempuhnya. suka memerintah dan mendikte orang lain. agar orang dapat memusatkan pikiran dengan baik. mudah melupakan kesalahan orang lain. mementingkan diri sendiri. suka menemui orang-orang suci. Orang yang mempunyai saddhacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan keyakinan. Orang yang keras nafsu lobanya atau Ragacarita 2. Orang yang mempunyai dosacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan kebencian. suka jengkel. Ia merasa khawatir akan pembantunya dan ora ng yang bertanggung jawab atas harta bendanya. memandang rendah orang lain. suka marah. takut akan kemerosotan kekuatan magisnya. Ia merasa khawatir akan pelajaran yang ditinggalkannya. suka bermusuhan. Orang yang tebal keyakinannya atau Saddhacarita 5. yaitu manusia itu dapat dibagi menjadi enam golongan berdasarkan sifat-sifat yang dimilikinya: 1. cenderung ke arah kelemahan batin. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh asubha dan sa tu kayagatasati. atau perilaku. berambisi besar. cenderung ke arah panas hati. . dan saudara-saudaranya. pada umumnya orang yang bermeditasi sering juga mendapat gangguan yang disebut palibodha. suka ragu-ragu. tak senan g melihat kesalahan walaupun kecil. Dhammanussati. cenderung ke arah keindahan dan kecantikan. jujur. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah anapanasati. Ia mera sa khawatir akan orang tuanya. Orang yang keras kebenciannya atau Dosacarita 3. s uka mendengarkan Dhamma. lohita kasina. perangai.Iddhi (kekuatan gaib) Dalam melaksanakan meditasi. Gantha (pelajaran) 10. Ia merasa khawatir akan pekerjaannya yang belum selesai. tak mau tahu terhadap kebajikan orang lain walaupun be sar. Orang yang suka melamun atau Vitakkacarita Orang yang mempunyai ragacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan loba. Orang yang mempunyai mohacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan kebodohan batin. Untuk mereka yang mempunyai ragacarita. pikiran ruwet.9. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah empat appamañña dan empat kasina (nila kasina. kagum melihat suatu kebajikan walaupun itu kec il sekali. Ia merasa khawa tir akan kemungkinan timbulnya penyakit. kadang-kadang kukuh memegang suatu pandangan. malas. dermawan. Sanghanussati. 3. pita kasina. menggantungkan diri pada pendapat orang lain. Di dalam Abhidhamma. Untuk mereka yang mempunyai saddhacarita. dan odata kasina). maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah enam anussati (Buddhanussati. terdapat pembagian sifat-sifat secara umum yang berdasarkan atas keadaan batin manusia. terikat dengan rumahnya. Ia merasa khawatir akan persoalannya . Palibodha ini harus dibasmi. Ia merasa khawatir akan bermacam-macam kekuatan magis yang dipertunjukkan. cenderung ke arah rendah hati. pendiriannya tidak tetap. suka bingung. keluarganya. Orang yang bijaksana (pandai) atau Buddhicarita 6. ENAM MACAM CARITA Carita berarti sifat. cerdik.

maka obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh kasina. Jadi. sering bermeditasi. yaitu : 1. TIGA MACAM NIMITTA Nimitta berarti suatu pertanda atau gambaran yang ada hubungannya dengan perkembangan obyek meditasi. Orang yang mempunyai vitakkavcarita melaksanakan sesuatu berdasarkan tergesa-ges a. pikirannya se ring berkeliaran. jernih. yang bentuk gambaran itu berubah menjadi sinar terang di dalam batinnya . Mengenai patibhaga-nimitta. Untuk mencapai uggaha-nimitta. sepuluh asubha. pikiran baru akan dipusatkan pada obyek. semua obyek meditasi dapat dipakai dalam melaksanakan Samatha Bhavana. nivarana telah dapat diatasi. Upacara-Bhavana (perkembangan batin tingkat mendekati konsentrasi) 3. jelas. Nimitta ini ada tiga macam. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi yan g telah melekat pada pikiran. upasamanussati. dan satu anapanasati. kegagalan dalam usaha. hingga obyek itu melekat dalam pikiran. bersedia mendengarkan omongan orang lain. Untuk mencapai patibhaga-nimitta.silanussati. tejo kasina. Dalam upacara-bhavana. parikamma-nimitta merupakan gambaran atau bentuk dari obyek dalam keadaan yang sebenarnya. apo kasina. Orang yang mempunyai buddhicarita atau ñanacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan berhati-hati. mula-mula dilihat dengan mata. suka berteori. yaitu keempat puluh obyek meditasi yang tersebut terdahulu. pikiran telah siap untuk memasuki pemusatannya. tidak suka bekerja untuk kepentingan sosial. seperti patung Buddha. Uggaha-Nimitta (gambaran batin mencapai) 3. Penjelasan: Pathavi kasina. yaitu : 1. dan catudhatuvavatthana. aharapatikulasañña. vayo kasina. Parikamma-Bhavana (perkembangan batin tingkat pendahuluan) 2. terpeta dengan nyata. dan gambaran obyek tersebut dapat dibesarkan serta dikecilkan menurut kemauan. Jadi. caganussati. cenderung ke arah perenungan terhadap Tiga Corak Umum (Tilakkhana) . Untuk mereka yang mempunyai buddhicarita atau ñanacarita. Semua obyek (empat puluh macam obyek meditasi) dapat menghasilkan parikamma-bhavana. kemudian dibayangkan dalam pikiran. satu kayagatasati. walaupun mata telah dipejamkan. Patibhaga-Nimitta (gambaran batin berlawanan) Mengenai parikamma-nimitta. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah marananussati. Appana-Bhavana (perkembangan batin tingkat terkonsentrasi dengan kuat) Dalam parikamma-bhavana. Dalam keadaan ini. Mengenai uggaha-nimitta. TIGA MACAM BHAVANA Dalam meditasi. aloka kasina. 4. cenderung ke arah kegugupan. dan devatanussati). terdapat tiga macam tingkat perkembangan batin. mempunyai kawankaw an yang baik. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi diliha t dengan batin. dan mulai timbulnya patibhaga-nimitta. akasa kasina . Untuk mereka yang mempunyai vitakkacarita. maka obyek yang cocok untuk melaksanakan Samatha Bhavana ialah anapanasati. uggaha-nimitta merup akan gambaran obyek di dalam batin yang sama dengan bentuk obyek yang dipakai. tetap. Semua obyek (empat puluh macam obyek meditasi) dapat menghasilkan parikamma-nimitta. Jadi. 5. dan empat arupa dapat dijadikan obyek meditasi oleh semua orang tanpa memperhatikan caritanya. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi. Parikamma-Nimitta (gambaran batin permulaan) 2. patibhaga-nimitta merupakan gambaran pantulan dari obyek yang dipakai. terbebas dari gangguan. Na .

karena jhana tidak kekal. dan satu catudhatuvavatthana. ialah gema pikiran. batin masih tetap aktif dan berjaga secara sempurna serta sadar sepenuhnya. 3. dan empat arupa. aktivit as panca indera berhenti. pikiran telah dapat tinggal diam dalam jangka waktu yang lama. upasamanu ssati). piti. maka faktor-faktor jhana juga mulai timbul berperanan (vitakka. namun masih belum mantap. Vitakka. Hal ini dapat disamakan dengan anak keci l yang baru belajar berdiri. y aitu : 1. Jhana hanya mampu menekan atau mengendapkan kekotoran batin untuk sementara waktu. PENGERTIAN JHANA Jhana berarti kesadaran/pikiran yang memusat dan melekat kuat pada obyek kammatthana/meditasi. vicara. 6. satu anapanasati. Walaupun kesan-kesan dari luar telah berhen ti. Keadaan ini dapat diumpamakan sebagai orang yang telah dewasa yang tel ah dapat berdiri dengan kuat. Dalam keadaan ini. FAKTOR-FAKTOR JHANA Di dalam memasuki jhana-jhana. marananussati. Sanghanussati. devatanussati. Faktor-faktor jhana tersebut ada lima macam. satu aharapatikulasanna. 2. caganussati. tidak muncul kesan-kesan penglihatan maupun pendengaran. ialah kebahagiaan yang tak terhingga. Di samping nivarana telah dapat diatasi. Untuk mencapai upacara-bhavana. satu kayagatasati. Piti. Demikian pula ketika bermeditasi. Keadaan ini hanya dapat dicapai dengan usaha yang ulet dan tekun. Bunyi lonceng pada saat terkena pu kulan merupakan vitakka.mun konsentrasi pikiran masih belum mantap. Jhana merupakan keadaan batin yang sudah di luar aktivitas panca indera. Vicara. ialah kegiuran atau kenikmatan. pun tidak muncul perasaan badan jasmani. Sewaktu-waktu jhana dapat merosot. empat appam añña. maka akan terjadi bunyi yang bergema. Vitakka dan vicara adalah dua keadaan dari suatu proses yang berkelanjutan. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah delapan anussati (Buddhanussati. yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada obyek dengan kekuatan appana-samadhi (konsentrasi yang mantap. ialah pemusatan pikiran yang kuat. yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada obyek yang kuat). sedangkan suasana pikiran yang telah berhasil memegang ob . Ekaggata. sedangkan gema dari bunyi lonceng itu merupakan vicara. sepuluh asubha. Dalam appana-bhavana. sering jatuh. Ia tidak dapat melenyapkan kekotoran batin. Pada waktu lonceng dipukul sekali. su kha. Suasana pikiran pada saat permulaan memegang obyek disebut vitakka. keadaan pikiran dalam memegang obyek dengan kuat. silanussati. Obyek-obyek yang dapat dipakai untuk mencapai appana-bhavana ialah sepuluh kasina. tak jatuh-jatuh lagi. 4. 5. Dhammanussati. dan ekaggata). menurut yang dikehendakinya. 7. karena konsentrasi yang penuh dan mantap tela h tercapai. tetapi ia ter us berusaha. ialah penopang pikiran yang merupakan perenungan permulaan untuk memegang obyek. Kedu a keadaan ini dapat diumpamakan seperti bunyi lonceng. Sukha. timbullah faktor-faktor jhana yang memberi corak dan suasana bagi tiap-tiap jhana itu.

yaitu vitakka. 4. sedangkan menurut Abhidhamma. yaitu sukha dan ekaggata. maka ia akan merasa gembira. Antara piti dan sukha terdapat pula perbedaan perasaan yang khas seperti berikut . da n ekaggata. kiranya di sini tidak begitu perlu diuraikan. Selanjutnya. sukha. dan ekaggata membasmi kamachanda. Pancama-Jhana. terdiri atas : 1. vicara. dan tatiya-jhana membuang vic ara. menurut bagian. karena hal ini disesuaikan menurut keadaan. dan jumlah kesadaran yang berada dalam rupavacara-citta. ialah jhana tingkat ketiga. dalam Sutta Pitaka. pikiran telah terpusat pada obyek dengan kuat. tingkatan rupa jhana ada empat . Dalam ekaggata. Tingkatan jhana. mak a perasaan berobah menjadi nikmat dan segar. tingkatan rupa jhana ad a lima. selama itu pula nivarana tidak timbul. dan ekagga ta. Tatiya-Jhana. terdapat delapan tingkat jhana. . senang. Akasanancayatana-Jhana. yaitu empat rupa jhana dan empat arupa jhana. TINGKAT-TINGKAT JHANA Menurut Sutta Pitaka. ialah jhana tingkat pertama. Catuttha-Jhana. Vikkhambhana-Pahana adalah pembasmian nivarana dengan kekuatan jhana. Keadaan batinnya terdiri dari dua corak. yaitu vicara. hanya dapat membuang 'keadaan batin' satu persatu. sebenarnya secara terperinci terdapat lima macam. 8. Jhana merupakan alat pembasmi nivarana. sehingga kekotora n batin tidak mampu mengganggu lagi. 3. 6. ialah jhana tingkat kelima. ialah jhana tingkat keempat. 2. yaitu dutiya-jhana membuang vitakka. da n tergiur melihatnya. Dutiya-Jhana. Keadaan batinnya terdiri dari empat corak. sukha membasmi uddhaccakukkuc ca. 5. dan kemudian ia menemukan sebuah sumber air. piti. Mengenai piti. Perasaan ini merupakan sukha.yek dengan kuat disebut vicara. Namun. Dalam Abhidhamma. Keadaan batinnya terdiri dari dua corak. terdapat sembilan tingkat jhana. Pathama-Jhana. yaitu dengan mengendapkan kekotoran batin. vicara membasmi vicikiccha. Selama jhana masih ada. Apabila seseorang yang sedang dalam suatu perjalanan merasa sangat haus. menurut Abhidhamma. yaitu vitakka membasmi thina-middha. maka nivarana akan timbul lag i. karena di sini kegiuran timbul akibat keterbatasan dari tekanan perasaan. piti membasmi byapada. sukha. yaitu upekkha dan ekaggata. piti. sebab kesadaran dari manda-puggala (orang yang tidak cerdas) tidak dapat melihat kekotoran dari vitakka dan vicara keduaduanya ini sekaligus dalam waktu yang sama. Perasaan ini merupakan piti. ialah jhana tingkat kedua. bila jhana merosot. Keadaan batinnya terdiri dari lima corak. tikkha-puggala (orang yang cerdas) mampu menyelidiki dan melihat kekotor an dari vitakka dan vicara sekaligus dalam waktu yang sama. dan membuang vitakka da n vicara sekaligus. yait u lima rupa jhana dan empat arupa jhana. setelah ia meminum air itu. Karena itu. ialah keadaan dari konsepsi ruangan yang tanpa batas. Tetapi. Tetapi.

Vutthana-vasi. menurut Sutta Pitaka. 5.7. Kelima macam vasi tersebut ialah : 1. Akincaññayatana-Jhana. su kha. yaitu keahlian dalam pemikiran untuk memasuki jhana menurut kehendaknya. Adhitthana-vasi. dan mudita). Samapajjana-vasi. ialah keadaan dari konsepsi kesadaran yang tak terbatas. Jika seseorang telah mencapai jhana tingkat pertama (pathama-jhana). 4. terdiri atas : 1. 4. dan ekaggata. karen a faktor ini masih terasa kasar untuk jhana keempat. 3. tatiya-jhana. Faktor-faktor jhana ya ng masih ada adalah piti. Faktor-faktor jhana yang timbul adalah vitakka. ialah jhana tingkat pertama. 9. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh asubha dan satu kayagatasati. 8. Untuk mencapai pancama-jhana. Untuk mencapai empat arupa jhana. 2. 7. Penjelasan : Sepuluh kasina dan satu anapanasati dapat dijasikan obyek meditasi oleh semua or ang untuk mencapai lima rupa jhana. Nevasaññanasaññayatana-Jhana. kemudian ia ingin mencapai jhana-jhana tingkat selanjutnya. dimana piti mulai lenyap. dimana jhana . Pathama-Jhana. karuna. Tingkatan jhana. Viññanancayatana-Jhana. atau tenaga batin. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah tiga appamañña (metta. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah empat arupa. yaitu keahlian dalam memasuki jhana. yaitu keahlian dalam menentukan berapa lama hendak berada da lam jhana. yaitu keahlian dalam 'keluar' dari jhana. ialah jhana tingkat ketiga. Di dalam jhana keempat ini ha nya ada faktor ekaggata dan ditambah dengan upekkha (keseimbangan batin). ENAM MACAM ABHIÑÑA Abhiñña berarti kemampuan atau kekuatan batin yang luar biasa. Abhiñña akan timbul dalam diri orang yang telah mencapai jhana-jhana. piti. dimana sukha mulai lenyap. dimana vitakka dan vicara mulai leny ap. Akasanancayatana-Jhana. Paccavekkhana-vasi. dimana nivarana telah dapat diata si dengan seksama. Avajjana-vasi. dan ekaggata. sukha. 5. Dutiya-Jhana. Untuk mencapai dutiya-jhana. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah satu upekkha. 9. Tatiya-Jhana. karena kedua faktor ini bersifat kasar untuk jhana kedua. ialah keadaan dari konsepsi bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan. Untuk mencapai pathama-jhana. maka ia harus mempunyai lima mac am vasi. Akincaññayatana-Jhana. karena pi ti ini masih terasa kasar untuk jhana ketiga. ialah keadaan dari konsepsi kekosongan. Nevasaññanasaññayatana-Jhana. 2. 8. ialah jhana tingkat keempat. 6. yaitu keahlian dalam meninjauan terhadap jhana. 3. dan catuttha-jhana. 10. Viññanancayatana-Jhana. Faktor-faktor jhana yang masih ada adalah sukha dan ekaggata. Catuttha-Jhana. ialah jhana tingkat kedua. LIMA MACAM VASI Vasi berarti keahlian atau kemahiran atau kemampuan untuk mengolah jhana. vicara.

yaitu asavakkhayañana. Abhiñña yang duniawi (lokiya-abhiñña) terdiri atas lima macam. Vikubbana-iddhi. 4. Manomaya-iddhi. Namun. gunung. Pemusnahan kekotoran batin ini akan membimbing ke arah kesucian tertinggi atau arahat. yaitu : 1. yang jauh maupun yang dekat. Samadhivipphara-iddhi. Vipassana Bhavana 1. ialah kemampuan untuk mengubah diri dari satu menjadi banya k atau dari banyak menjadi satu. Dibbacakkhuñana atau cutupapatañana (mata dewa). sehingga dapat melihat dengan nyata bahwa nama dan rupa itu dicengkeram oleh anicca (ketidak-kekalan). sankhara-khandha (kelompok bentuk pikiran). Sesungguhnya. taman. ialah kemampuan untuk memusnahkan kekotoran batin. Kemampuan menyelam ke dalam bumi bagaikan menyelam ke dalam air. ialah kemampuan untuk berubah bentuk. Mengenai obyek meditasi yang dapat menimbulkan abhiñña ialah hanya sepuluh kasina. Empat macam satipatthana (empat macam perenungan) terdiri atas : kaya-nupassana (perenungan terhadap badan jasmani). wanita cantik. ialah kemampuan mencipta dengan menggunakan pikiran. Sang Buddha tidak membenarkan siswasiswaN ya melakukan sesuatu yang ajaib dan mujijat. atau pancakhandha (lima kelompok faktor kehidupan). Kemampuan menyentuk bulan dan matahari dengan tangannya. Cetopariyañana atau paracittavijañana. Perlu diingat bahwa tujuan umat Buddha bukanlah untuk mendapatkan kegaiban dan mujijat yang aneh-aneh dan luar biasa. Pubbenivasanussatiñana. dan viññana-khandha (kelompok kesadaran). obyeknya adalah nama dan rupa (batin dan materi). c. ialah kemampuan untuk mengingat tumimbal lahir yang lampau dari diri sendiri dan orang lain. seperti menciptakan istana. ialah kemampuan memencarkan melalui konsentrasi. Ini terbagi lagi atas beberapa macam. hal ini juga tergantung pada kusala-kamma (perbuatan baik) dari kehidupan yang lampau. Ñanavipphara-iddhi. yaitu : Kemampuan menembus dinding. b. karena perbuatan demikian itu tidak akan mempertinggi martabat mereka di mata orang lain. yang disebut pancakkhandha itu adalah makhluk. 5. Adhitthana-iddhi. Kemampuan memanjat puncak dunia sampai ke alam Brahma. saññakhandha (kelompok pencerapan). Lagipula kegaiban it u bukanlah merupakan hal yang penting dalam mencari kebebasan (Nibbana). Iddhividhañana. EMPAT MACAM SATIPATTHANA Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. d. Pancakkhandha (lima kelompok faktor kehidupan) terdiri atas : rupa-khandha (kelompok jasmani). yaitu : a. dan lain-lain. atau membuat diri menjadi tak tampak. raksasa. 2. Dibbasotañana (telinga dewa). seperti menjadi anak kecil. Abhiñña itu ada enam macam dan dapat dibagi atas dua kelompok besar. ialah kemampuan untuk melihat alam-alam halus dan muncul lenyapnya makhluk-makhluk yang bertumimbal lahir sesuai dengan karmanya masing-masing. Ini dilakukan denga n memperhatikan gerak-gerik nama dan rupa terus menerus. dukkha (derita). sering disebut sebagai kekuatan gaib atau kekuatan magis atau kesaktian. harimau. Kemampuan terbang di angkasa seperti burung.tingkat keempat (catuttha-jhana) merupakan dasar untuk timbulnya abhiñña ini. vedana-nupassana (perenungan . Kemampuan melawan api. Kemampuan berjalan di atas air bagaikan berjalan di atas tanah yang padat. 3. Abhiñña yang di atas duniawi (lokuttara-abhiñña) hanya ada satu macam. vedana-khandha (kelompok perasaan). dan anatta (tanpa aku). ialah kemampuan untuk mendengar suara-suara dari alam lain. pagar. yaitu abhiñña yang duniawi atau lokiya dan abhiñña yang di atas duniawi atau lokuttara. ialah kemampuan untuk menembus ajaran melalui pengetahuan. ialah kemampuan untuk membaca pikiran makhluk lain. ular. e.

praktis. yang timbul tenggelam ini. b ernapas secara biasa dan wajar. ketika buang kotoran dan kencing. duduk. sewaktu membungkukkan dan melencangkan badan. atau berbaring.terhadap perasaan). bagaimana ia timbul. Citta-nupassana adalah Viññana-khandha. Masalah-masalah yang telah lewat atau hal-hal yang akan datang tidak boleh dipikirkan pada saat ini. maka batin menjadi bebas. Di sini direnungkan perasaan yang sedang dialami secara obyektif. Vedana-nupassana adalah vedana-khandha. Jadi. Pikiran harus diarahkan pada kenyataan hidup pada saat ini. yaitu untuk mengembangkan jhana-jhana. Empat macam satipatthana itu adalah pancakkhandha. Kaya-nupassana (perenungan terhadap badan jasmani). Apabila perasaan telah dapat diatasi dengan tepat. 2. 3. keadaan pikira n yang sebenarnya harus diamat-amati. Di sini direnungkan segala gerak-gerik pikiran. Apabila pikiran sedang dihinggap i hawa nafsu atau terbebas daripadanya. dan minum. Walaupun menurut kebiasaan . 4. Dhamma-nupassana adalah pancakkhandha. Panjang atau pendeknya pernapasan harus disadari. yang akan berkembang dalam latihan Vipassana itu ialah perhatian y ang tajam dan kesadaran yang kuat. Perasaan harus dikendalikan oleh akal dan kebijaksanaan. Citta-nupassana (perenungan terhadap pikiran). maupun perasaan yang acuh tak acuh. Dalam anapanasa ti ini. direnungkan bentuk-bentuk . Direnungkan keadaan perasaan yang sebenarnya. Vedana-nupassana (perenungan terhadap perasaan). ketika berpakaian. dapat disadari dengan mudah. dan berguna ialah sadar dan waspada te rhadap segala sesuatu yang dilakukan. tetapi tidak dibuat-buat atau sengaja diatur. dan Dhammanup assana (perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran). agar batin menjadi bebas dan tidak terikat. maka hal itu harus disadari. citta-nupassana (perenungan terhadap pikiran). Jadi. sewaktu melihat ke muka dan ke belakang. Dalam pernapasan. Dhamma-nupassana (perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran). ketika berbicara atau berdiam diri. Sesungguhnya. baik perasaan senang. yang dipakai sebagai suatu obyek perhatian murni. Salah satu contoh yang paling populer dan praktis tentang meditasi dengan obyek badan jasmani ialah anapanasati (menyadari keluar dan masuknya napas). berdiri. dan kemudian lenyap kembali. perasaan tidak senang. naik turunnya gelombang kehidupan y ang tidak kekal. Kaya nupassana adalah rupa-khandha. Tetapi dipergunakan jalan tengah yang sederhana. atau nama dan rupa itu sendir i. 1. agar perasaan itu tidak membangkitkan bermacam-macam bentuk emosi. Cara meditasi lain yang penting. berlangsung. dengan menyadari timbul dan tenggelamnya bentuk kehidupan setiap saat. Di sini direnungkan bentuk-bentuk pikiran dengan sewajarnya. kesadaran terhadap pernapasan itu pada tingkat permulaan dianggap sebagai obyek untuk meditasi ketenangan (Samatha Bhavana). Di sini tidak dijalankan penyiksaan badan jasmani dengan maksud untuk mengendalikan badan. direnungkan bentukb entuk pikiran dari lima macam rintangan (nivarana). Betapa banyak tenaga yang terbuang dengan percuma karena melamunkan keadaan-keadaan yang telah lalu dan mengkhayalkan keadaan yang akan datang. makan. tidak ada tekanan atau paksaan pada pernapasan. ketika berjalan. ia juga sangat berguna untuk mengembangkan Pandangan Terang (Vipassana Bhavana). tidak terikat oleh apapun di dalam dunia ini.

pikiran dari lima kelompok faktor kehidupan (pancakkhandha). ketenangan (passadhi). kegelisahan dan kekhawatiran. Ia tahu bilamana keadaan-keadaan ini tid ak ada di dalam dirinya. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari Empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ari ya Saccani) ialah dengan menyadari berdasarkan kesunyataan bahwa inilah penderitaan . 2. ialah sinar-sinar yang gemerlapan. Ia tahu bahwa sekali ditaklukkan. inilah kesadaran. inilah pemadaman dari penderitaan. kemalasan dan kelelahan. yaitu : 1. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari lima kelompok faktor kehidupan (pancakkhandha) ialah dengan menyadari bahwa inilah bentuk jasmani. Ia tahu bagaimana ca ranya timbul dan bagaimana caranya lenyap. inilah asal mula dari penderitaan. Ia tahu bagaimana cara timbulnya. inilah pencerapan. SEPULUH MACAM VIPASSANUPAKILESA Vipassanupakilesa berarti kekotoran batin atau rintangan yang menghambat perkembangan Pandangan Terang. inilah jal an menuju pemadaman dari penderitaan. direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari tujuh faktor Penerangan Agung (Satta Bojjhanga). atau keragu-raguan . inilah peras aan. dan bagaimana cara mengembangkannya dengan sempurna. maka hal itu pun harus disadari. bentuk-bentuk pikiran itu ditaklukkan. yang bentuk dan keadaannya bermaca . Demikian pula apabila nivarana itu tidak ada di dal am dirinya. Ia tahu bagaimana sekali timbul. Ia tahu bagaimana cara menaklukkan belenggu-belenggu itu. atau keseimbangan (upekkha). kemau an jahat. maka hal itu harus disadari. bentuk-bentuk pikiran itu tidak a kan timbul lagi kemudian. Obhasa. inilah bentuk pikiran. penyelidikan Dhamma yang mendalam (Dhamma-Vicaya). dan direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari Empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ariya Saccani). tenaga (viriya). inilah hidung dan obyek bau. kegiuran (piti). Ia tahu bagaimana bentuk-bentuk pikira n itu datang dan timbul. inilah lidah dan obyek kec apan. Akhirnya. Ia tahu akan belenggu-belenggu yang timbul dalam hubungan dengan semua itu. Ia tahu bagaimana caranya supaya belengg u yang telah dibuang itu tidak timbul lagi kemudian. Ia merenungkan masalah-masalah yang timbul dan hancur dari bentuk-bentuk pikiran. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari enam landasan indriya dalam dan luar (dua bleas ayatana) ialah dengan menyadari bahwa inilah mata dan obyek bentuk. ia hidup bebas tanpa ikatan dal am dunia ini. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari tujuh faktor Penerangan Agung (Satta Bojjhanga) ialah apabila di dalam diri orang yang bermeditasi timbul kesadaran ( sati). di dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. inilah badan dan obyek sentuhan. i nilah telinga dan obyek suara. Vipassanupakilesa ini ada sepuluh macam. pemusatan pikiran (samadhi). maka hal itu harus disadari. inilah pikiran dan obyek pikiran. direnungkan bentukb entuk pikiran dari enam landasan indriya dalam dan luar (dua belas ayatana). Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari lima macam rintangan (nivarana) iala h bahwa apabila di dalam diri orang yang bermeditasi timbul nafsu keinginan.

Vipallasa-Dhamma ini ada empat macam dan dapa t dibasmi dengan melaksanakan empat macam Satipatthana. Subha-Vipallasa. e. pikiran. ialah ketenangan batin. yaitu kekeliruan dari pencerapan. Pharana Piti. yang suasananya seolah-olah mengangkat badan naik ke udara. dan pandangan. dan pandangan. ialah perasaan yang berbahagia. 2. Okkantika Piti. 4. d. Saddha. Sukha-Vipallasa. 5. Passadi. Nicca-Vipallasa. ya ng menganggap sesuatu yang tidak kekal sebagai kekal. Upatthana. karena tidak memperhatikan saat yang sekarang ini. pikiran. Khanika Piti. EMPAT MACAM VIPALLASA-DHAMMA Vipallasa-Dhamma berarti kekhayalan. yaitu ñana yang ketiga. pikiran. ialah usaha yang terlalu giat. yan g menganggap sesuatu yang tanpa aku sebagai aku. ialah kegiuran yang kecil. yang merupakan perasaan yang nyaman dan nikmat. yaitu : a. yang lebih daripada semestinya. Khudaka Piti. yang suasananya sel uruh badan seperti terserap oleh perasaan yang menakjubkan. 6. dan pandangan. ialah perasaan puas terhadap obyek-obyek. yang suasananya meriang di se luruh badan. atau kekeliruan yang berken aan dengan paham yang menganggap suatu kebenaran sebagai suatu kesalahan dan kesalahan sebagai suatu kebenaran. Sukha. dan pandangan. 8.mmacam. yang seolah-olah orang telah mencapai penera ngan sejati. c. 3. Sukha_Vipallasa ini dapat dibasm i dengan melaksanakan vedana-nupassana. Nikanti. Atta-Vipallasa. yang seolah-olah orang telah bebas dar i penderitaan. ya ng menganggap sesuatu yang tidak cantik sebagai cantik. Nicca-Vipallasa ini dapat dib asmi dengan melaksanakan citta-nupassana. Sepuluh macam vipassanupakilesa ini biasanya timbul dalam perkembangan Sammasana-Ñana. seperti ombak laut memecah di pantai. ya ng menganggap sesuatu yang derita sebagai bahagia. ialah kegiuran yang menyerap seluruh badan. yaitu kekeliruan dari pencerapan. yang suasananya seperti bulu badan y ang terangkat atau merinding. yang kadang-kadang merupakan pemandangan yang menyenangkan. 9. ialah keyakinan yang kuat dan harapan agar setiap orang juga seperti dirinya. 7. Piti. yang sering timbul dan mengganggu perkembangan kesadaran. ialah kegiuran yang mengangkat. ialah kegiuran yang menyeluruh. 2. ialah pengetahuan yang sering timbul dan mengganggu jalannya praktek meditasi. yaitu kekeliruan dari pencerapan. Atta-Vipallasa ini dapat dibasmi . Keempat macam Vipallasa-Dhamma itu ialah : 1. yaitu kekeliruan dari pencerapan. Ñana. pikiran. 3. 3. Subha-Vipallasa ini dapat dibasmi dengan melaksanakan kaya-nupassana. ialah kegiuran. ialah ingatan yang tajam. Ubbonga Piti. Upekkha. Piti in i ada lima macam menurut keadaannya. ialah kegiuran yang sepintas lalu menggerakkan badan. atau kepalsuan. Paggaha. dimana pikiran tidak mau bergerak untuk menyadari proses-proses yang timbul 10. b. ialah keseimbangan batin. 4.

dukkha (derita). bentuk atau warna itu adalah rupa. dan Nirvana sebagai obyek batinnya. dapat dijelaskan sebagai berikut : a. 11. 13. ialah pengetahuan mengenai timbul dan lenyapnya nama dan rupa. 1. Muncitukamyata Ñana. 12. Umpamanya. maka akan berkembanglah ñana di dalam dirinya. ialah pengetahuan mengenai penembusan terhadap magga. Sammasana Ñana.Magga Ñana. dengan melalui ani cca. 3. ialah pengetahuan mengenai keengganan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa. Enam belas macam ñana tersebut di atas diuraikan agak terperinci seperti di bawah ini. a natta (tanpa aku). Dalam mendengar bunyi. bau itu adalah rupa. naik dan turunnya rongga perut ketika bernapas adalah rupa. Nama-Rupa Pariccheda Ñana Dengan memiliki ñana ini. 4. 7. ialah pengetahuan mengenai peleburan/pelenyapan nama dan rupa. 6. ialah pengetahuan mengenai penglihatan akan jalan yang menuju kebebasan. ialah pengetahuan mengenai keseimbangan tentang semua bentuk-bentuk kehidupan. ialah pengetahuan mengenai hubungan sebab dan akibat dari nama dan rupa. 16. yaitu : 1.dengan melaksanakan Dhamma-nupassana.Sankharupekkha Ñana. Gerakan kaki ketika berjalan adalah rupa. dukkha. ialah pengetahuan yang menunjukkan nama dan rupa sebagai Tilakkhana (Tiga Corak Umum). b. 14. ialah pengetahuan mengenai penyesuaian diri dengan Ariya-Sacca (Empat Kesunyataan Mulia). Adinava Ñana. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama.Phala Ñana. 5. 10. Paccaya Pariggaha Ñana. dan mendekati Nirvana.Gotrabhu Ñana. yang menimbulkan keputusan untuk berlatih terus dengan bersemangat. sebagai persiapan untuk memasuki magga (Jalan). 8. Dalam mencium bau.Paccavekkhana Ñana. 4. dan anatta.Patisankha Ñana. dan kesad aran terhadap hal itu adalah nama. sedangkan pikiran yang mengetahui pros es itu adalah nama.Anuloma Ñana. ialah pengetahuan mengenai peninjauan terhadap sisa-sisa kilesa atau kekotoran batin yang masih ada. seseorang dapat membedakan nama dari rupa dan rupa dari nama. 2. ialah pengetahuan mengenai keinginan untuk mencapai kebebasan. ialah pengetahuan mengenai ketakutan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa. Apabila orang tekun melaksanakan Vipassana Bhavana. yaitu anicca (ketidak-kekalan). Dalam melihat bentuk atau warna. Bhanga Ñana. c. ENAM BELAS MACAM ÑANA Ñana berarti pengetahuan. dimana kilesa atau kekotoran batin telah dilenyapkan. 15. mencapai phala (hasil) dari magga itu. dan Nirvana sebagai obyek dari pikiran. ialah pengetahuan mengenai kesedihan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa. . sedangkan kesadaran terhadapa hal itu adalah nama. bunyi itu adalah rupa. Nibbida Ñana. Udayabbaya Ñana. Mengenai membedakan nama dan rupa yang berkenaan dengan panca-indera. Ñana itu ada enam belas macam. ialah pengetahuan mengenai pembabaran phala yang merupakan hasil dari penembusan terhadap magga. ialah pengetahuan mengenai perbedaan nama (batin) dan rupa (materi). Nama-Rupa Pariccheda Ñana. Bhaya Ñana. ialah pengetahuan mengenai pemotongan atau pemutusan keadaan duniawi. 9. dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama.

aku. atau lunak. maka g erak jasmani akan mengikutinya. kalau rongga perut naik. seseorang dapat merasakan nama dan rupa melalui pancaind era sebagai Tilakkhana (Tiga Corak Umum). Paccaya Pariggaha Ñana Dalam beberapa hal. Berbagai perasaan lenyap setela h disadari beberapa kali. e. rupa merupakan sebab. seperti binatang liar. Naik turunnya perut dapat lenyap seben tar atau dalam waktu yang lama. yang hanya dapat lenyap setelah disadari beberapa kali dengan perlahan-lahan. seperti lampu listrik. tak ad a pribadi. Rongga perut mungkin naik. atau enam tingkat. dan lain-lainnya. bergoyang ke muka atau ke belakang. yaitu. 4. Jadi. dan Anatta (tanpa aku). Timbul perasaan tertekan. benda itu adalah rupa. Naik turunnya rongga perut hilang. Rongga perut mungkin turun de ngan keras dan tinggal diam dalam keadaan itu. keras. Anicca (ketidak-kekalan). Tak ada sesuatu yang disebut makhluk. seseorang dapat menyadari bahwa gerakan naik turunnya perut itu terdiri atas dua. dan pikiran adala h nama. at au tertahan. tiga. dan hanya terdiri atas n ama dan rupa. thiti (berlangsung). pelan. Akhirnya . Yang ada hanya rupa dan nama. kesimpulannya ialah bahwa seluruh badan ini adalah rupa. Kadang-kadang orang dapat terkejut. yang memperlihatkan adanya kesadar an terhadap Tilakkhana itu. maka kesadaran akan mengikutinya. Udayabbaya Ñana Dengan memiliki ñana ini. nama merupakan sebab. Keinginan duduk merupakan sebab. dia. Pernapasan dapat berlangsung cepat. tetapi tidak ada turun. orang akan merasakan bahwa ketika pernapasan berhenti pada waktu beristirahat ya ng . lima. Dalam mencicipi sesuatu. 2. Dukkha (derita). dan yang akan datang hanya terbentuk dari rangkaian sebab dan akibat. Terlihat cahaya yang terang. Akhirny a. dan rupa merupakan akibat. dan duduk adalah akibatnya. Naik turunnya perut dan bekerjanya proses kesadaran itu berlangsung dengan terat ur. tet api kalau dirasakan dengan tangan. dalam hal lain. Sewaktu-waktu ada perasaan yang sangat tertekan dan kadang-kadang agak kurang. Sering diganggu oleh pemandangan atau khayalan. yang sekarang. halus. Jadi. Dalam menyentuh suatu benda yang dingin. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. Namun. 3. atau merasa diri tidak berhasil. dan lain-lain.d. dan nama merupakan akibat. Sammasana Ñana Dengan memiliki ñana ini. Jadi. Pikiran menjadi kacau. orang dapat merasakan bahwa kehidupan yang lampau. Permulaan dan pengakhiran dari gerakan naik turunnya perut lebih terasa. empat. Naik dan turunnya perut lenyap berselang-seling. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. Gerak naiknya perut dan gerak turunnya perut ada tiga bagian. kalau pikiran bergerak. proses itu masih tetap ada. panas. rasa itu adalah rupa. yaitu upada (terja di). dan bhanga (lenyap). gunung-gunung.

atau seperti ada binata . Segala s esuatu kelihatannya seolah-olah dalam suasana yang penuh kesuraman. sebenarnya tidak mempunyai intisari. 6. Orang merasa bahwa keinginan-keinginan atau cita-citanya yang dahulu. 8. Kebosanan timb ul sebagai dorongan yang keras untuk mencari Nibbana. kemewahan. Muncitukamyata Ñana Seluruh badan merasa gatal. Bhaya Ñana Timbul perasaan takut. bahkan berubah menjadi kebosanan setelah menyadari sendiri bahwa manusia itu tercengkeram dan terseret ke dalam kelapukan. tetapi dapat juga disadari. Diri terasa buruk. Adinava Ñana Gerakan naik turun menghilang sedikit demi sedikit. Terasa sakit pada urat-urat syaraf . Gerakan naik dan turun sekonyong-konyong berhenti dan sekonyong-konyong timbul lagi. dan lain-lainnya tidak lagi merupakan kesenangan dan kegembiraan. dan kelihatannya hanya samar samar dan suram. Setelah nama dan rupa lenyap. Terasa seperti malas. usia tua. tetapi kemampuan untuk mengenal atau menyadari sesuatu masih berjalan dengan baik. kemegahan. di mana masih ada kelahiran. bahkan para dewa dan para brahma tidak ada yang terkec uali semasih diliputi oleh bentuk-bentuk ini. tidak ada lagi yang menimbulkan rasa takut. citta dan ob yeknya lenyap bersama-sama. Pert amatama. Terasa panas seluruh badan. Tidak merasa bahagia. Bhanga Ñana Pengakhiran dari gerak naik turunnya perut lebih terasa. demikian pula kesadarannya. Nibbida Ñana Semua obyek kelihatan membosankan dan jelek. sakit. tetapi citta masih bergema. rupa (materi/jasmani) yang mengendap. Gerakan naik turun dan kesadaran/pikiran (citta) terasa seolah-olah lenyap. dan lebih sen ang tinggal di kamar sendiri saja. Semua bentuk batin dan fisik menyedih kan. Nama dan rupa muncul dengan cepatnya. jelek. 9. Terdapat bahaya dari perubahan-perubahan yang terus menerus di dalam semua bentu k kehidupan. atau naik dengan lift. Kalau melihat pada langit. tetapi sebenarnya badan masih tet ap diam dan tak bergerak. gembira. Terasa diri seperti ditutupi dengan jaring. senang. Semua bagian dari benda-benda ini menakutkan. Jadi. dan membosankan. dan tidak terdapat perasaan kenikmatan yang sejati.berulang-ulang. seolah-olah ada getaran-getaran di uda ra. 5. badan seperti jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. dan kematian. seperti digigit-gigit semut. tetapi tidak seperti takut ketika melihat hantu atau seta n. dan remang-remang. 7. dan kadang-kadang terasa tidak ada apa-apa. Kemudian. Semua manusia dan makhluk lain. Tak ada keinginan untuk bertemu atau bercakap-cakap dengan orang lain. atau nikmat. seperti kemasyhuran. atau terb ang dengan pesawat terbang. gerakan naik turun segera lenyap. Nama dan rupa yang dianggap sebagai sesuatu yang bagus atau indah. terutama pada waktu berjalan atau berdiri. sangat kabur. Naik turunnya perut ter asa samar-samar. terasa lenyap. dan kosong sama sekali.

gelisah dan bosan. 10. tetapi setelah disadari dua atau tiga kali. anatta) sebagai berikut : a. Ada keinginan pergi dan menghentikan latihan meditasinya. tetapi janganlah hendaknya ragu-ragu atau dipikir-pikirka n. sepe rti adonan tepung yang diremas-remas oleh tukang roti yang pandai. Tidak ada perasaa n gembira atau perasaan sedih. Ia menyadari atau mengetahui dengan terang tentang gerakan naik turun itu yang berhenti. tetap i pikiran masih aktif dan pendengaran masih bekerja. Naik turunnya perut hanya disadari sebagai nama dan rupa saja. Ada perasaan puas dan mungkin lupa dengan waktu. Proses berhenti ini harus disadari dengan nyata. Keadaan pernapasa n . Terasa mengantuk.Konsentr asi pikiran berjalan baik.Patisankha Ñana Terasa ditusuk-tusuk di bawah kulit dengan benda-benda tajam di seluruh badan. atau sentuhan-sentuhan pada badan. tetapi sekonyong-konyong berhenti. Samadhi atau konsentrasi menjadi kuat dan lekat. tetap tenang dan halus dalam jangka waktu yang lama. Keadaan pernapasan yang cepat itu adala h corak anicca. b. dukkha. Terasa kurang senang. pengenalan. Badan terasa seperti ditindih batu atau kayu. Timbul bermacam-macam perasaan yang mengganggu. sepe rti sebuah mobil yang berjalan di atas jalan yang datar dan rata. dan pengenalan atau kesadaran terhadap proses berhentinya pernapas an ini adalah anuloma-ñana. Anicca : orang yang biasa melatih diri dalam kebersihan atau kesucian dan sil a-sila akan mencapai magga melalui perenungan tentang anicca. Muncul perasaan tak senang. Badan menjadi kaku. tetapi pikiran dan kesadaran pada saat itu tetap te rang. atau sentuhan-sentuhan pada badan. maka hal itu aka n terhalang. sikap duduk. Orang mungkin dapat lupa dengan waktu yang telah dilewatinya dalam latihan itu. semua itu menjadi lenyap. atau kesadaran tidak mengalami kesukaran-kesukaran. Mungkin ia telah duduk selama satu jam atau lebih . tidak ada perasaan senang.ng kecil yang merayap pada muka dan badan. menyadari sikap dudu k atau sentuhan-sentuhan badannya dengan jelas. Ingatan. maka terjadilah proses berhenti. 11. 12. Dukkha : Orang yang biasa melatih diri dalam Samatha (meditasi ketenangan) ak an mencapai magga melalui perenungan tentang dukkha. Gerakan naik turun perut menjadi cepat. Ada pula yang ingin pulang karena merasa bahwa paramitanya atau perbuatan-perbuatan baiknya belum cukup kua t. Seluruh badan terasa panas. sikap duduk . tetapi agak seperti acuh ta k acuh. padahal mulanya ia ingin bermeditasi hanya 30 menit saja. Kalau ia berlatih menyadari na ik turunnya perut.Anuloma Ñana Di sini Anuloma Ñana diuraikan dalam bentuk Tilakkhana (anicca. Kalau ia terus melanjutkan menyadari naik turunnya perut. Dapat dikatakan bahwa penyadaran dan pengenalan di dalam nama ini berlangsung dengan mudah dan memuaskan.Sankharupekkha Ñana Tidak ada perasaan takut.

kalau pencerapan mulai pecah d an lenyap. yang berarti bahwa kita telah tiba pada magga in i. atau terhadap sikap duduk.Phala Ñana Phala-ñana adalah hasil dari magga. yang muncul langsung setelah timbulnya maggañana . atau sentuhan-sentuhan pada b adan itu adalah anuloma-ñana. Vicikiccha (keragu-raguan). seperti Sakayaditthi (kekhayalan dari aku). dan kemudian ber henti. atau sikap duduk. 16. dua atau tiga saat.Magga Ñana Magga timbul langsung pada saat perasaann pecah dan pencerapan kilesa hancur aki bat dari putusnya belenggu-belenggu. dan pengenalan atau kesadaran yang terang terhadap proses berhentin ya gerakan naik turun ini. tenang. Agga-mahapandita. maka gotrabhu-ñana tercapai. jika orang melaksanakan Vipassana Bhavana. yang menjadi obyek phala-citta adalah nibbana. yang berarti kita telah menghancurkan semua kilesa. jangka waktu dari gerakan naik dan gerakan turun sama. . atau senang dengan Vipassana dalam kehidupannya yang dulu-dulu. yang berarti bahwa Dhamma tertentu telah kita capai untuk menuju ke Nibbana sebagai obyek pikiran. dan damai. Jadi. Chattha-sangiti-pucchaka. atau sentuhan-sentuhan pada badan kelihatan dengan terang. Dalam beberapa saat. Sasanadhaja-siri-pavara-dhammacariya. __________________ PURPOSE OF PRACTISING KAMATTHANA MEDITATION (Perbedaan Antara Samatha & Vipassana) Penulis Asli : Mahasi Sayadaw Bhadanta Sobhana. Demikian proses tersebut dapat timbul di dalam diri seseorang dan dapat disadari dengan seksama.Paccavekkhana Ñana Paccavekkhana-Ñana terdiri atas pertimbangan-pertimbangan mengenai masih adanya kilesa (kekotoran batin). atau sentu hansentuhan pada badan itu adalah anuloma-ñana. Keadaan pernapasan yang halus dan teratur itu adalah co rak dari anatta. yang berarti bahwa kita telah mencapai phala ata u hasil ini. Anatta : Orang yang biasa melatih diri dalam Vipassana (meditasi pandangan te rang). Ini berarti bahwa orang telah mendapat penerangan dengan nibbana sebagai obyeknya. Gerak naik turunnya perut. aman. Pertimbangan mengenai magga. 13. Pertimbangan mengenai nibbana. 14. Silabbataparamasa (ketahyulan tentang upacara). Ñana ini bersifat lokuttara. 15. atau terhadap sikap duduk. Pertimbangan mengenai kilesa yang belum dihancurkan. Pertimbangan mengenai phala. Jadi. naik turunnya perut menjadi tenan g dan teratur. Pertimbangan mengenai kilesa yang telah dihancurkan. e. akan mencapai magga melalui perenungan tentang anatta. c. Gotrabhu Ñana Nama-rupa bersama-sama dengan citta (pikiran) yang mengetahui proses berhenti it u menjadi diam.yang terhalang itu adalah corak dari dukkha. yang berarti kita masih memiliki kilesa. d. c. b. Dalam hal ini terdapat lima macam pertimbangan sebagai berikut : a. dan pengenalan atau kesadaran terha dap proses berhentinya gerakan naik turun ini.

Lagi-lagi. dan kedua kar ena tidak merealisasi bahwa Nibbana jauh lebih luhur bila dibandingkan dengan jenis kebahagiaan lainnya. Kemelekatan terhadap kehidupan ini tidak berlangsung karena dua alasan : pertama karena tidak mengerti ketidakpuasan/penderitaan batin dan jasmani. daerahnya tidak la gi . Semua makhluk hidup ingin hidup berumur panjang tanpa kekerasan. mati. mati. sakit. Di dalam cara seperti ini. sakit. hidup dengan damai. sakit. diikuti oleh kematian. namun mereka selalu sia-sia menemukan harapannya itu. merealisasi Nibbana. sangatlah penting untuk mencegah tumimbal lahir yang berkelanju tan apabila ingin terbebas dari penderitaan kehidupan di dalam usia tua dan sebagain ya. dan penderitaan kehidupan lain nya. Yang Suci Mulia. terdapat kelahiran dika renakan kemelekatan untuk menjadi (berwujud). Dan. di sana mengikuti rangkaian : usia tua. Secara alamiah ia berpikir meluhurkan desanya itu dan memiliki kemelekatan yang kuat terhadapnya karena ia tidak memiliki pengetahuan yang jelas akan kekurangan daerahnya dan kondisi yang lebih baik dari tempat lainnya. Selama masih di dalam roda kehidupan. menderita semua jenis derita kehidupan dan tanpa henti. Di dalam mencari sebab u tama (akar) dari peristiwa itu menjadi tampak nyata bahwa dikondisikan oleh kelahiran . Kemudian. dan pende ritaan kehidupan lainnnya. mer eka berkelana di dalam lingkaran tumimbal lahir dari kehidupan ke kehidupan lain. oleh karena itu setiap usaha ha rus ditujukan untuk terbebas dari kemelekatan apabila tidak menginginkan kelahiran y ang baru. dan penderitaan lainnya. Tumimbal lahir terjadi dikarenakan kemelekatan yang terkandung di dalam kehidupa n ini. Yang telah merealisasi pencerahan secara mandiri PURPOSE OF PRACTISING KAMATTHAANA MEDITATION (Perbedaan Antara Samattha & Vipassana) I. mirip kasus seseorang yang hidup di daerah yang gersang dan menyedihkan yang dikelilingi oleh banyak bahaya. sakit. TUJUAN UTAMA MEDITASI AJARAN BUDDHA Apakah tujuan melaksanakan latihan meditasi? Latihan meditasi dilaksanakan untuk tujuan terbebas dari penderitaan kehidupan u sia tua. mati dan seterusnya. Sebagai contoh. dan sejahtera tanpa penderitaan usia tua. masih selalu dijumpai usia tua. baik penderitaan fisik dan kelu han mental/batin. Di dalam kehidupan baru ini mereka pun menjadi korban usia tua. itupun tidak berakhir di dalam kematian. gembira. maka tidak akan ada kelahiran baru. Apabila ia mulai mengetahui kenyataan-kenyataan secara penuh. setelah menderita rasa yang amat sangat dan penderitaan yang amat berat. Kelahiran yang baru hanyalah munculnya sebuah kesadaran yang merupakan hasi l dari kemelekatan terhadap objek dari kehidupan sebelumnya. Apabila tidak terdapa t kemelekatan. Oleh karena itu. kesedihan dan ratapan dikarenakan banyak bahaya dan kejahatan.Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa Penuh hormat kepada Bhagava.

Latihan yang berulangkali atas kondisi di dalam jhana ini akan membawa lima kemahiran batin duniawi luar biasa (abhinna 5) sebagai berikut : * Iddhi-vidha-abhinna .. Kekuatan untuk mengetahui pikiran orang lain.. __________________ III.. kekuatan untuk mendengarkan suara baik suara manusia maupun makhluk surgawi. baik besar maupun kecil. sesuai kasus per kasus.. * Dibba-cakkhu-abhinna .. Pengetahuan ini dapat diperoleh melalui latihan meditasi yan g tepat.. seolah d i udara. kekuatan dari satu menjadi banyak dan dari banyak men jadi satu lagi. Vipassana-kammatthana dibagi menjadi dua sub bagian. seolah seperti ke/ dari dalam air. seseorang yang secara langsung melatih vipassana kammatthana untuk merealisasi Nibbana.. * Pubbe-nivassa-abhinna .. Kekuatan untuk mengetahui kejadian kehidupan lampau seseorang. Kekuatan untuk menyentuh matahari dan bulan dengan menggunakan tangan. tanpa melalui awal samatha kammatthana.. setiap orang yang menginginkan untuk terbebas dari pende ritaan akibat usia tua. 2. seseorang yang mengambil dasar permulaan latihan samatha kammatthana untuk merealisasi Nibbana. seolah seperti burung yang memiliki sayap.menarik baginya dan ia akan serta merta pindah ke daerah yang baru. Empat puluh pokok/subjek meditasi itu adalah : . seolah seperti berja lan di atas tanah.. Telinga dewa. Suddha-vipassana-yanika. Oleh karena itu. * Ceto-pariya-abhinna . EMPAT PULUH POKOK/SUBJEK MEDITASI Di dalam naskah. * Dibba-sota-abhinna . Kekuatan untuk memasuki/ menyelam ke dalam tanah dan muncul lagi di permukaan tanah. Latihan samattha-kammatthana akan mengembangkan faktor batin atas delapan pencapaian duniawi (lokiya-samapatti) yang terdiri dari 4 jenis rupa-jhana dan 4 arupajhana. PEMBAGIAN MEDITASI AJARAN BUDDHA Meditasi dibagi menjadi dua bagian : 1. Demikian pul a.. jauh maupun dekat. Memiliki atribut-atribut ini tetap tidak akan menjamin/membawa ke kebebasan dari ketidakpuasan kehidupan. Kekuatan untuk terbang denga n kaki bersila ke angkasa. Kematian seseorang y ang mamiliki jhana secara utuh akan menyebabkan tumimbal lahir di alam para Brahma yang jangka waktu kehidupannya sangat panjang. II. kematian dan seterusnya. beberapa di antaran ya dapat digunakan sebagai latihan dasar samatha untuk melaksanakan latihan vipassa na. yaitu : Samattha-yanika. Samatha kammatthana 2. sangatlah penting untuk mencoba mengerti kondisi tak memuaskan dari batin dan jasmani yang menguasai kehidupan ini dan secara mandiri merealisasi superioritas Nibbana dengan sebuah pandangan untuk menghancurkan secara total kemelekatan terhadap kehidupan. usia tua.. Mata dewa. Vipassana kammatthana 1. terdapat empat puluh pokok/subjek meditasi.. Kekuatan untuk menembus dinding atau gunung tanpa rintangan... kematian dan sebagainya dan merealisasi Nibbana secara mandiri seyogyanya melaksanakan latihan meditasi. Kekuatan untuk berjalan di atas air tanpa tenggelam. kekuatan untuk melihat semua bentuk bentu k dan warna yang jauh maupun dekat. Melalui latihan Vipassana-kammatthana seseorang dapat merealisasi Nibbana dan memenangkan kebebasan mutlak dari penderitaan kehidupan. bisa satu usia dunia atau dua kal i atau empat kali atau delapan kali usia dunia dan seterusnya.

Kasina ruang terbatas (Akasa) Sepuluh Asubha terdiri dari : 1.. Sebuah mayat yang telah digigit binatang buas (Vikkhayittaka) 6. Kemudian ke arah ketiga. Sebuah Mayat terinfeksi/bernanah (Vipubbaka) 4. 1 Catu-dhatu-vavatthana (analisis empat unsur) Sepuluh kasina terdiri dari : 1.. dan ke sekeliling dan ke segala penjur u kepada semua makhluk. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Buddha (Buddhanusati) 2. Perenungan terhadap kaluar dan masuknya nafas (Anapanasati) Empat Brahma Vihara terdiri dari : 1. 10. yaitu keyakinan teguh (saddha). Sebuah mayat yang berdarah (Lohitaka) 9. gigi. Perenungan terhadap Nibbana (Upasamanussati) 8.. Keseimbangan batin sempurna (upekkha) . 1 Ahare-patikula-sanna (perenungan atas makanan yang menjijikan) 7. kemudian ke arah kedua. demikan pula. Sebuah Mayat terbelah dua (Vicchiddaka) 5. kemoralan (sila). berkembang. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Dhamma (Dhammanussati) 3.1. Kasina api (Tejo) 4. 10 asubha (ketidakmurnian) 3. Sebuah mayat membiru (Vinilaka) 2. terbebas dari kebencian dan niat jahat . batin yang lapang. 4 arupa (tahapan arupa jhana) 6. Kasina tanah (Pathavi) 2. Kasina warna kuning (Pita) 7. Ia memancarkan ke segenap dunia dengan batin dipenuhi oleh cinta kasih universal. Belas kasih terhadap makhluk menderita (karuna) 3. tanpa batas. Kasina warna biru gelap (Nila) 6. ke bawah.. Cinta kasih yang universal terhadap semua makhluk (metta) 2. Kasina warna merah darah (Lohita) 8. 10 anussati (perenungan) 4. kulit. Sebuah mayat yang terinfeksi cacing/belatung (Puluvaka) 10. Perenungan terhadap kualitas untuk tumimbal lahir sebagai dewa (Devatanussati ). dengan batin yang dipenuhi oleh . Kasina udara (Vayo) 5. 10 kasina (alat permenungan) 2. seperti : ra mbut. Perenungan terhadap kemurah-hatian seseorang (Caganussati) 6. Perenungan terhadap kemoralan seseorang (Silanussati) 5. Sebuah Mayat membengkak (Uddhumataka) 3. kemauan belajar dan mendengark an Dhamma (suta). Perenungan atas 32 (tiga puluh dua) bagian tubuh (Kayagatasati). Kasina air (Apo) 3. Kasina warna putih (Odata) 9. ke atas. dan seterusnya. Simpati atas keberhasilan / pencapaian makhluk lain (mudita) 4. Sebuah tengkorak (Atthika) Sepuluh Anussati terdiri dari : 1. bulu tubuh. Sebuah mayat yang terpotong-potong dan berserakan (Vikkhittaka) 8. kemurah-hatian (cage) dan kebijaksanaan (panna) 7. Kasina cahaya (Aloka) 10. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Sangha (Sanghanussati) 4. Berdiam dengan batin yang dipenuhi oleh cinta kasih universal yang diarahk an ke arah pertama. 4 Brahma vihara (sikap batin luhur) 5. seperti terhadap dirinya. Kemudian ke arah keempat. Sebuah mayat yang terserak hancur (Hatavikkhittaka) 7. Perenungan akan kepastian kematian (Marananussati) 9. kuku.

Tejo-dhatu (unsur api atau unsur panas). 3. Empat Arupa.. ia dapat pergi ke mana pun dan mengambil posisi apa saja. dan lain-lain. (Jivaka Sutta. Sutta Pitaka). Ia seyogyanya kemudian melanjutkan untuk merenungkan Uggahanimit ta itu dengan mengatakan dalam batin pathavi. ialah segala sesuatu yang bersifat p anas dingin. Berdiam dalam permenungan atas alam kesadaran yang tak terbatas (Vinnanancayatana) 3. 4. dan lain-lain IV. dan lain-lain. Pathavi-dhatu (unsur tanah atau unsur padat). semuanya akan berakhir sebagai kotoran (ti nja) dan air seni (urine). bad an akan terasa panas dingin.. lendir. direnungkan bahwa makanan adalah barang yang menjijikkan bila telah berada di dalam perut. dikunyah. dicicipi. pathavi atau tanah. ialah segala sesuatu yang bersi fat keras atau padat. atau bila sedang sakit.. ialah segala sesuatu yang bersifat ber hubungan yang satu dengan yang lain atau melekat. tanah . Pathavi Kasina Kammattha dan pencapaian Jhana Seseorang yang mengambil subjek meditasi dengan memilih Kasina tanah (Pathavikas ina) untuk permenungannya. pathavi. Majjhima Nikaya. Umpamanya : angin yang ada di dalam perut dan usus. diminum. Penampilan gambaran batin ini disebut Uggaha-nimitta (bayangan yang diperoleh). terdiri dari : 1. tanah .. Berdiam dalam permenungan atas alam kekosongan (Akincannayatana) 4. angin yang keluar masuk waktu bernapas. Umpamanya : rambut kepala. Segera setelah bayangan (nimitta) ini menjadi kuat dan stabil di dalam batin.belas kasihan. Umpamanya : empedu. direnungkan bahwa di dalam badan jasmani terdapa t empat unsur materi. Apo-dhatu (unsur air atau unsur cair). Vayo-dhatu (unsur angin atau unsur gerak). Umpamanya : setelah selesai makan dan minum. Seyogyanya memperhatikan sebongkah tanah di atas tanah atau alat berupa segumpal tanah yang merenungkannya dengan mengatakan di dalam batin: pathavi. DESKRIPSI SINGKAT LATIHAN SAMATHA-KAMMATTHANA 1. Berdiam dalam permenungan atas kondisi ruangan yang tanpa batas (Akasanancayatana) 2. Setelah merenungkan berulang kali untuk sejumlah waktu tertentu. 2. pathavi. berjalan. nanah. dan oleh keseimbangan yang sempurna . ialah segala sesuatu yang bersifat bergerak. dara h. baik posisi duduk. kuku. Berdiam dalam permenungan atas kondisi alam bukan pencerapan juga bukan pencerapan (Nevasannanasannayaatana) 1 aharapatikulasañña (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) Dalam satu aharapatikulasañña. . direnungkan bahwa apapun yang tela h dimakan. oleh sikap simpati terhadap pencapaian/keberhasilan mahluk lain. yaitu : 1. 1 catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan jasmani) Dalam satu catudhatuvavatthana.. pathavi atau tanah . gambaran alat-tanah yan g kuat dan jelas akan muncul di dalam batin seolah-olah dilihat langsung oleh inde ra penglihatan (mata). bulu badan. be rdiri atau berbaring. gigi.

tanah. Kini. Apakah metode ini dapat membawa hasil yang bermanfaat. Apabila batin kehilangan ugghana-nimitta sebagai objek. Terdapat kekenduran di dalam permenungan dan batin sering bosan dan kabur. (c) Jhana ketiga. Terdapat empat jenis Appana-samadhi untuk rupa jhana. 3. baik duduk. Ini adalah Uddhaca-kukkucca-nivarana (rintangan batin kegelisahan dan kekhawatiran).tanah. Kelima rintangan (nivarana) ini seyogyanya dipotong segera setelah mereka muncul dan batin seyogyanya kembali mengambil objek ugghana-nimitta misalnya dengan merenungkan sebagai: pathavi. pathavi. berbaring maupun berjalan. Ini adal ah Kamacchanda-nivarana (rintangan batin keinginan nafsu indera). Kemudian ia seyogyanya kembali ke tempat yang sama dan melanjutkan dengan permenungan di dalam berbagai posisi tubuh. In i adalah Thina-middha-nivarana (rintangan batin kemalasan dan kelambanan batin). tanah seperti yang dilakukan pada permulaan latihan. tanah. Kondisi batin seperti ini dikenal dengan 'Upacarasamadh i' (konsentrasi berdekatan). pathavi atau tanah. Batin sering memikirkan apakah permenungan yang sedang dilakukan ini adalah sebuah metode yang benar. Batin sering berfikir akan objek-objek yang diinginkan nafsu indera. (d) Jhana keempat . yaitu: (a) Jhana pertama. pathavi. objek tersebut akan 'terlihat' jelas dan mirip penampilan kristal tidak seperti penampakan awalnya. batin mencapai satu keadaan seolah tenggelam ke dalam objek dan berdiam secara menetap di dalamnya. Ini adalah Vicikiccha-nivaran a (rintangan batin keraguan skeptis). dengan secara berkesinambungan batin berada dalam Upacara-samadhi dengan objeknya Patibhaga-nimitta. berdiri. pathavi atau tanah. Tahap ketetapan dan kestabilan batin ini dikenal sebagai 'Appana-samadhi' (konse ntrasi pencapaian). dan berhasil menca pai . dan batin sering khawatir dalam merenungkan dalam merenungkan perbuatan buruk melalui ucapan dan tindak-tanduk jasmani yang telah lampau. Ini adalah Vyapad anivarana (rintangan batin keinginan jahat / niat buruk). (b) Jhana kedua. yaitu vitakka dan vicara. Batin sering tidak stabil namun gelisah. tanah . 2. Dengan melakukan permenungan demikian terhadap objek uggaha-nimitta secara berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama. melihat ketidakpu asan di dalam dua faktor batin pertama di atas. Selama waktu permenungan ini dapat terjadi bahwa batin tidak tetap terfokus pada objeknya namun sering kali mengembara/ melayang-layang mengalami objek lainnya dalam hal-hal sebagai berikut : 1. melanjutkan lagi melakukan perenungan untuk mengatasi kedua faktor batin tadi. Ini disebut 'Patibhag animitta' (bayangan keseimbangan). Apakah ada kesempatan untuk meraih hasil yang baik. maka ia seyogyanya kembali ke te mpat asal alat-tanah itu dan melakukan perenungan lagi: pathavi. 4. tanah . a) Di dalam jhana pertama lima faktor batin yang hadir secara nyata adalah: * Faktor batin yang berfungsi dalam penerapan/ perenungan awal/ pengarahan terha dap objek (vitakka) * Faktor batin yang berfungsi dalam penerapan penambatan terhadap objek (vicara) * Faktor batin yang berfungsi dalam menimbulkan suka cita/ kegiuran (piti) * Faktor batin yang berfungsi dalam menimbulkan kegembiraan (sukkha) * Faktor batin yang berfungsi dalam konsentrasi terfokus kuat terhadap objek (ekaggata) b) Seseorang yang telah mencapai tahap Jhana pertama dan ahli. 5. Batin sering bercokol pada pikiran-pikiran sedih dan marah.

namun seyogyanya tetap pa da titik sentuhan tadi. Di dalam hal seseorang yang memilih salah satu pokok meditasinya Asubha sebagai subjek konsentrasinya. dan kemudian menetapkan perhatiannya pada celah/lubang hidung. aka n mencapai tingkat-tingkat 4 Arupa Jhana dengan merenungkan empat Arupa secara berurutan. yang disebabkan oleh kontak berkesinambungan dari aliran nafas masuk dan keluar. yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada tiga. masuk pada setiap aktivitas nafas masuk dan nafas keluar. Aliran ini seyogyanya diamati pada titik sentuhannya dan direnungkan den gan mengatakan dalam batin: keluar. Rintangan ini seyogyanya tidak diikuti lebih lanjut . dan analisa empat unsur (catu-dh atuvavatthana) akan membawa hanya sampai tahap upacara-samadhi. yaitu metta. dan seterusnya. atau mayat membiru. makanan yang menjijikan (aharepatikkula-sanna). mayat membiru'. Mereka yang telah mencapai tingkat jhana keempat melalui permenungan kasina. Anapana-sati Kammatthana Seseorang yang memilih Anapanasati sebagai subjek perenungan seyogyanya tinggal di tempat yang sunyi dan duduk dengan kaki bersila atau di dalam cara yang nyaman sehingga dapat duduk di dalam jangka waktu yang cukup lama. juga akan mencapai tingkat jhana keempat dengan melaksanakan perenungan brahma vihara keempat. Batin seyogyanya tidak pergi bersama aliran itu. masuk. yaitu sukha dan ekaggata. Inilah diskripsi singkat cara untuk merenungkan Pathavi kasina dan pengembangan bertahap keempat tingkat jhana. namun seseorang yang telah melakukan meditasi melal ui perenungan satu dari tiga brahma vihara ini yang telah mencapai tingkat jhana ke tiga. ia seyogyanya melihat ke arah seonggok mayat membengkak. dan seterusnya. yaitu upekkha. baik perjalanan nafas masuk maupun perjalanan nafas keluar. sukha.tahap jhana kedua. yaitu upekkha (keseimbangan) dan ekaggata. dan merenungkan dengan mengatakan di dalam batin 'mayat membengkak. (Kayagata-sati) juga hanya akan mengantarka n untuk pencapaian tingkat Jhana pertama. dengan badan yang tegak. Ia kemudia n akan mengetahui secara jelas sensasi sentuhan di ujung hidung atau di sisi sebel ah atas bibir. Ia seyogyanya kemudian melaksanakan perenungan di dalam cara yang sama seperti kasus pathavi-kasina. Perenungan terhadap 32 bagian tubuh. d) Dengan melihat ketidakpuasan yang terdapat di dalam sukha ia melanjutkan dengan perenungan untuk mengatasi faktor batin sukha tersebut dan berhasil mencapai tah ap jhana keempat yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada dua. Delapan perenungan yang terdiri dari Buddhanussati sampai dengan marananussati. keluar. karuna dan mudita akan membawa sampa i dengan tingkat Jhana ketiga. Perbedaan yang ada adalah bahwa perenugan sub jek Asubha hanya akan mengantarkan untuk pencapaian tingkat Jhana pertama. yaitu piti. 2.' 'mayat membiru. Tiga dari empat Brahma vihara. dan ekaggata. Selama di dalam perenungan. c) Dengan melihat ketidakpuasan yang terdapat di dalam piti ia melanjutkan dengan perenungannya untuk mengatasi piti dan berhasil mencapai tahap jhana ketiga yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada dua. mayat membengkak. akan terdapat banyak rintangan di mana batin akan mengembara/ melayang-layang. Hal yang sama dapat dilakukan untuk kasina yang lain.

Untuk orang tertentu. Nafas masuk dan nafas keluar yang panjang menjadi jelas teramati ketika merek a panjang. bagi yang lainnya mirip benang panjang terurai atau sekuntum bunga atau segumpal asap rokok. Dinyatakan bahwa keragaman bentuk atau objek bayangan itu disebabkan oleh perbedaan (sanna) individu yang mengalaminya. bagi yang lainnya dengan sebuah sentuhan kas ar seperti dari kain sutera. Mereka yang berhasrat untuk melatih vipassana seyogyanya pertama-tama dibekali dengan seperangkat pengetahuan. Inilah deskripsi singkat LATIHAN PERMULAAN samatha yang dilakukan oleh seorang 'samatha-yanika' yang memilih 'samatha-kammatthana'. umumnya waktu terbuang untuk mencari objek nafas masuk dan nafas ke luar dengan mencoba meneliti penyebab padamnya nafas dan akhirnya tetap sia-sia tanpa melaksanakan perenungan. Dengan cara berkesinambungan mengamati titik sentuhan dan melaksanakan perenungan: 1. keluar sesuai aktivitas nafas masuk dan nafas keluar . Perubahan bertahap dari nafas masuk dan keluar yang kuat ke nafas masuk dan k eluar yang lebih halus menjadi jelas teramati. maka nafas tersebut akan tampak seolah nafas tersebut padam total. baik secara singkat maupun mendalam. dan 4. Konsentrasi (samadhi) yang kemudian dikembangkan dengan 'Patibhaga-nimitta' sebagai objeknya. atau sebuah tonggak terbuat dari hati kayu. Di dalam kasus seperti ini. 3. Dengan secar a berkesinambungan merenungkan dibantu oleh Upacara-samadhi maka tingkat appanasam adhi dari tahapan 4 Rupa Jhana akan berkembang.. masuk. Sejalan dengan nafas masuk dan keluar menjadi lebih halus dan lebih halus lagi. sedangkan bagi yang lainnya mirip sebuah sarang laba-laba atau sebuah lapisan aw an atau sekuntum bunga teratai atau sebuah roda kereta atau sebuah piringan bulan a tau matahari. sebagai dasar untuk merealisasi Nibbana. Namun demikian. disebut Upacara-samadhi . namun perhatian seyogyanya dikembalikan ke titik sentuh dan merenungkan kembali sebagai masuk. 2. janganlah membuang waktu dengan cara demikian. Berikut ini ada lah yang dinyatakan di dalam kitab Visuddhi-magga (Jalan Kesucian/ Kemurnian batin). maka aliran nafas itu akan tergambar/terbayangkan dalam bentuk atau ukuran khusus. pertenga han dan akhirnya menjadi jelas teramati dari titik sentuhan ujung hidung hingga ke t empat nafas itu meninggalkan hidung. Dengan terus-menerus merenungkan nafas masuk dan nafas keluar. namun cukup . Setiap rangkaian nafas masuk dan nafas keluar yang lembut pada awal. Bentuk objek yang khusus ini adalah Patibhaga Nimitta . keluar. apabila batin dengan penuh perhatian kembali tetap mengamati titik sen tuhan pada ujung hidung atau sisi bibir sebelah atas maka aliran nafas masuk dan kelua r yang halus akan tampak lagi dan akan tercerap dengan sangat jelas. Nafas masuk dan nafas keluar yang pendek menjadi jelas teramati ketika mereka pendek. . nafas masuk dan nafas keluar 'tampak' seperti sebuah binta ng atau sebuah permata atau sebuah berlian.

seperti melihat. mencium bau. tidak memuaskan dan tidak mengandung kepemilikan/keakuan/ atta . Juga dapat dicerap bahwa objek dan batin yang secara langsung mengetahui objek tersebut. Apabila ia merasa lelah atau bosan dengan melaksanakan terusm enerus perenungan akan beragam objek (pakinnakasankhara) ia seyogyanya memasuki jhana lagi dengan menetapkan tekad yang kuat bahwa jhana tersebut akan berlangsung selama 15 atau 30 menit. dukkha. dimengerti bahwa jasmani dan batin terbukti dengan jelas tidak kekal . Inilah deskripsi singkat latihan dengan cara samatha-yanika untuk tujuan merealisa si Nibbana. muncul dan padam pada setiap saat perenungan. Dengan pengetahuan cukup seperti yang disebutkan di atas. Pada tingkat ini dapat dicerap dengan sangat jelas sebagai satu keteraturan pada setiap saat perenungan bahwa jasmani dan batin merupakan dua hal yang berbeda yang bekerja sama. 2. Fenomenafenomena ini seyogyanya secara berkesinambungan direnungkan pada setiap saat kemunculannya. Upadanakkhandha adalah semua yang secara jelas dicerap pada saat melihat. Prosedur bergantian dari memasuki keadaan jhana dan kemudian dilanjutkan dengan perenungan sensasi indera pada enam pintu indera seyogyanya dilakukan dengan berulang kali. __________________ V. Suddhavipassana-yanika Di bawah ini. DISKRIPSI SINGKAT LATIHAN VIPASSANA 1. dan bahwa mereka semata-mata merupakan proses muncul dan padam dari segala sesuatu yang tidak mengandung 'atta' (jiwa atau keberadaan kekal). Oleh karena itu. oleh karena itu jasmani dan batin tidak kekal. dan bahwa jasmani dan batin berada dalam proses perubahan yang terusmene rus. tanpa kualitas atau keberadaan yang menyenangkan. mengeta hui sentuhan. dan yang secara jelas muncul di dalam tubuhnya. . ia akan dapat melaksanakan perenungan berkesinambungan siang dan malam tanpa merasa terhambat. dengan badan tegak. bahwa jasmani dan batin terbentuk dikarenakan sebab dan akibat. mengecap rasa. Apabila vipassana-samadhi telah cukup kuat. bahwa mereka tidak memuaskan. Apabila keadaan jhana telah berlalu ia seyogyanya kemudian segera merenungkan keadaan jhana tadi dan kemudian dilanjutkan dengan merenungkan secara berkesinambungan sensasi-sensasi indera sebagaimana mereka muncul pada saat sala h satu dari enam pintu indera. Dengan perkembangan penuh dari pengetahuan langsung ata annica. anatta terealisasilah pengetahuan bijaksana akan Magga. dan seterusnya sebagaimana mereka muncul dengan jelas pada salah satu dari enam pintu indera. mendengar. yaitu jasmani (rupa) dan batin (nama). adalah diskripsi singkat latihan dengan cara suddha-vipassana-yanik a . seseorang yang berhasr at untuk latihan vipassana seyogyanya menetap di tempat sunyi dan duduk dengan kaki bersila atau dalam cara yang nyaman sehingga ia dapat duduk dalam waktu yang cuk up lama. Ia seyogyanya kemudian melanjutkan dengan merenungkan secara berkesinambungan sensasi-sensasi.terhadap kenyataan bahwa makhluk hidup terdiri dari dua komponen. Phala dan Nibbana. Samatha-yanika Seseorang yang telah cukup pengetahuannya seperti disebutkan di atas seyogyanya pertama-tama berada di dalam jhana yang telah dicapainya dan kemudian merenungkannya. dan kemudian merenungkan dengan memusatkan perhatiannya terhadap fenomena jasmani dan batin yang diketahui sebagai upadanakkhandha .

duduk'. Walaupun fenomena jasmani dan batin muncul dengan jelas pada saat melihat. mengetahui sensasi sentuhan melalui indera sensasi sentuhan. dari berbagai kelas fenomena materi. Mereka semata-mata kelompok batin. mendengar. dan sankhara upadanakkhandha . Inilah alasan yang jelas mengapa kelompok batin ini secara berurut disebut vinnana upadanakkhandha. mengecap. Saya mencerap .mendengar. mengalami kontak badan/sentuhan dan memikirkan ide/gagasan dan seterusnya. mencium bau. mereka menganggap bahwa fenomena batin ini menyenangkan dan melekat kepadanya. Pada saat perenungan mencapai kematangan. Pada saat melihat. maka fenomena materi yang lebih mudah dicerap. perhatian seyogyanya ditetapkan pada posisi duduk dan merenungkan secara berkesinambungan. Saya melihat dengan penuh perhatian dan melekat kepadanya. mencium bau. Di dalam vipassana. kelima upadanakkhandha dicerap dengan jelas pada saat mendengar suara melalui indera pendengaran. dan keinginan untuk melihat objek. Dengan cara yang sama. mencerap rasa kecapan melalui indera pengecapan. mendengar dan seterusnya melalui pintu indera yang bersesuaian. Mereka bukanlah menyenangkan. namun anatta di mana mereka merupakan subjek bagi sebab dan akibat di dalam proses muncul dan padam. bahwa mereka 'muncul dan padam tanpa henti dan oleh karenanya tidak memuaskan'. Kesadaran melihat (cakkhu-vinnana). pencerapan (sanna) akan o bjek pengelihatan. maka pel ajaranpelajaran mudah terlebih dulu yang dipelajari. dibandingkan objek-objek dari pintu indera (upad arupa) ketika melihat. sebagai ketentuan keharusan saat memulai pelajaran. vedana upadanakkhandha. maka mereka disebut upadanakkhandha atau kelompok yang menimbulkan kemelekatan . Keduanya itu merupakan kelompok meteri (rupa). Mereka yang tidak merenung kan pada setiap saat kemunculan fenomena itu. Inilah alasan mengapa lima upadanakkhandha secara jelas dicerap dengan jelas pada saat melihat objek penglihatan melalui pintu indera penglihatan ('mata'). tidak memuaskan dan 'anatta'. Merek a bukan menyenangkan. objek yang paling mudah hadir di dalam jasmani. Dikarenakan materi menjadi objek kecenderungan kekeliruan dan kemelekatan. bahwa mereka bukan atta bukan pula keberadaan hidup. mencium bau melalui indera penciuman . Saya merasakan . keduanya di cerap. mengetahui objek batin melalui indera pikiran. mengecap rasa kecapan maka kontak jasmaniah (bhuta-rupa) merupakan objek yang lebih mudah dicerap. mungkin dialami unsur batin maupun unsur fisik/materi. Oleh karena itu. Oleh karena itu. Mereka yang tidak merenungkan pada saat kemunculannya tidak akan mengerti bahwa 'mereka segera padam dan tidak kekal'. seyogyanya diambil sebagai objek utama/permulaan untuk perenungan saat memulai latihan vipassana. tidaklah mungkin bagi seorang pemula untuk merenungkannya di dalam urutan kemunculannya pada saat memulai latihan vipassana. Mereka secara egois menganggap Saya melihat . sanna upadanakkhandha. latihan dimulai dengan merenungkan hal khusus. bentuk/faktor batin (sankhara) juga secara jelas dicerap pada saat melihat. objek penglihatan dan indera pengelihatan/'mata'. perasaan (vedana). Dari kedua jenis fenomena. dengan membuat catatan secara batiniah seperti : 'duduk. dengan satu pandangan untuk mengamati kontak jasmani khusus yan g lebih mudah dicerap. maka dengan jelas akan dapat diamati sensasi kontak jasmani pada paha atau kaki atau bagian . seyogyanya dipilih sebaga i objek perenungan awal atau utama di dalam vipassana-kammatthana. bukan pula 'orang'. bukan pula atta dan bukan orang . bukan 'atta'. batin dan materi. Mirip seperti di sekolah. tidak akan mengerti bahwa mereka tidak kekal. Lagi. Namun demikian di dalam kasus objek batin.

Kemudian akan dirasakan bahwa perut mengembang dan mengempis dan gerakan perut selalu hadir. Jadi. mempercepat atau membuat nafas dalam seyogyanya tidak dilakukan. 'marah'. Apabila hal ini pun sulit dilakukan maka perenungan seyogyanya ditetapkan dengan memperhatikan gerakan perut yang mengembang dan mengempis. 'turun' dan dilakukan . Inilah ilustrasi untuk menunjukkan tata cara perenungan. Perenungan seyogyanya dilakukan secara berulang hingga faktor batin yang mengembara ini padam. kont ak'. perenungan akan sia-sia dan tidak efektif dan banyak kemunduran seperti perhatian gagal untuk mencapai cukup dekat terhadap objek yan g dituju. Perhatian seyogyanya ditetapkan secara bertahap dengan tahap turunnya perut sejak mulai hingga berakhir. disebabkan oleh aliran keluar dan masuknya nafas. apabila perenungan dengan cara demikian seperti 'kontak . atau marah. Di dalam kenyataannya. Saat perut dirasakan mulai turun (mengempis) seyogyanya direnungkan di dalam batin sebagai 'mengempis'. turun'. bila menginginkan sesuatu seyogyanya direnungkan 'ingin'. Namun demikian. Apabila pikiran sedang merenung. apabila pikiran bermaksud sesuatu seyogyanya direnungkan sebagai 'bermaksud'. Namun demikian. dalam hal gembira. seyogyanya direnungkan sebagai 'gembira'. duduk. apabila merasa malas atau sena ng seyogyanya direnungkan sebagai 'malas' atau 'senang'. perenungan seyogyanya kembali kepada objek semula 'naik'. seyogyanya direnungkan sebagai : 'mengembara'. kontak' sulit untuk dimulai. dengan hanya merenungkan yang dilakukan melalui tindakan sederhana dari pengamatan batin tanpa aktivitas pengulangan di dalam batin. Saat perut mengembang seyogyanya direnungkan dengan ditetapkan secara bertahap dengan tahap naiknya perut sejak mulai hingga berakhir. kontak'. mungkin akan terdapat bany ak kesempatan ketika batin ditemukan mengembara ke objeknya masing-masing. kata-kata bukan kepentingan yang nyata. Pertama-tama perhatian seyogyanya ditetapkan pada perut. 'kecewa'. seyogyanya direnungkan sebagai 'merenung'. satu atau kedua tangan seyogyanya ditempatkan pada perut. gerakan naik dan turunnya perut tidak jelas dengan hanya menetapkan perhatian ke pada perut. agar mencapai sasaran perenungan seyogyanya dilaksanakan secara berulang-ulang dalam batin dengan kata-kata khusu s atas objek-objek yang bersesuaian. Sensasi kontak jasmani khusus ini seyogyanya diambil sebagai objek tamb ahan bersama 'duduk' dan secara berkesinambugan direnungkan sebagai 'kontak. Apabila pada saat permulaan latiha n. atau kecewa. Perhatian khusus Disebutkan di sini bahwa kata-kata 'naik/mengembang' dan 'turun/mengempis' seyogyanya tidak diulangi dengan mulut. duduk. Ilustrasi Apabila dialami bahwa pikiran mengembara ke objek yang bukan sedang diamati. Ketika sedang dalam perenungan seperti 'naik. Pengembaraan batin ini seyogyanya direnungkan sebagaimana mereka muncul.tubuh lainnya. Aliran nafas alamiah seyogyanya dipelihara. Kemudia n. Penekanan nafas . namun mereka seyogyanya diulangi di dalam batin. objek tidak jelas perbedaannya dan dicerap secara terpisah dan bahwa ene rgi yang dibutuhkan menjadi bekurang. maka perhatian seyogyanya ditetapkan pada ko ntak jasmani saat aliran nafas masuk dan keluar dengan cara merenungkan 'kontak. Just ru mengetahui gerakan perut dan gerakan jasmani yang sebenarnya merupakan kepentingan yang nyata.

perenungan seyogyanya dilakukan dengan menetapkan perhati an terhadap gerakan setiap langkah dari saat mengangkat kaki hingga kembali meletak kan kaki dan dengan membuat catatan secara batiniah sebagai 'berjalan. perhatian seyogyanya difokuskan ke titik sensasi dan perenungan dilakukan seperi : 'lelah. 'turun 'nya perut sesuai objek semula. lelah'. Secara singkat. meregang. seyogyan ya direnungkan sebagai 'melihat. nyeri'. 'mengayun'. Apabila tidak terdapat objek yang outstanding yang dapat direnungkan ketika berdia m dengan tenang dalam posisi duduk atau berbaring. dan seterusnya. Pada saat sesuatu sedang diperhatikan. berjalan' ata u 'bergerak maju. seyogyanya direnungkan sebagai 'mendengar'. panas'. bergerak maju. turun' peru t sesuai objek semula. 'mengangkat' . seyogyanya direnungkan sebagai 'memperhatikan'. bergerak. maka perenungan seyogyanya . 'merenungkan'. Di dalam hal berjalan. sesuai urutan proses perubahan tersebut. 'mendengar'. 'meletakkan ke bawah'. 'nyeri. Perenungan seyogyanya dilaksanakan dilaksanakan terhadap setiap sensasi fisik da n perasaan batin (vedana) untuk mengetahui sifat alamiahnya ketika mereka muncul. maka posisi tubuh dan posisi tangan serta kaki harus diubah maka meringankan sit uasi. Apabila sensasi yang tidak menyenangkan (dukhavedana). atau 'mengangkat. Perenungan juga seyogyanya dilaksanakan terhadap semua gagasan/ide/faktor batini ah dan seterusnya. untuk mengetahui bentuk sebenarnya ketika mereka muncu l. Apabila pikiran merenungkan mengikuti maka seyogyanya direnungkan sebagai 'merenungkan'. Kemudian perenungan dikembalikan ke 'naik'. dan seterusnya. untuk mengetahui sifat alamiah mereka sebagaimana mereka muncul. Apabila sensasi tak menyenangkan itu telah paham. dapat dikatakan bahwa perenungan seyogyanya dilaksanakan terhada p semua aktivitas jasmani dan anggota tubuh seperti menekuk. 'panas. dan sebagainya muncul di dalam jas mani. 'turun'-nya perut sesuai objek semula. Apabila sesuatu dilihat tanpa diperhatikan. meletakkan kaki '. seperti rasa lelah pada anggota tubuh atau perasaan panas atau nyeri. Namun apabila sensasi nyeri begitu kuat sehingga mereka tidak dapat ditoleransi lagi. perenungan seyogyanyan dilakukan dengan menetapkan perhatian terhadap setiap pergerakan mayor yang nyata dari jasmani dan anggota tubuh sesuai urutan proses pergerakan perubahan tersebut. Di dalam perubahan posisi ini pun perhatian seyogyanya ditetapkan kepada gerakan yang paling nyata (mayor) dari tubuh/jasmani dan anggota tubuh dan perenungan dilaksanakan seperti 'menekuk'. Apabila sesuatu didenga r tanpa mendengarkan seyogyanya direnungkan sebagai 'mendengar'. maka perenungan dikembalikan ke 'naik. Apabila seseorang akan mendengarkan sesu atu. mengangkat. melihat'. Dalam kasus perubahan posisi dari duduk menjadi berdiri dan perubahan ke posisi berbaring. bergerak maju'. 'mendengar'. 'bergerak'. Apabila perubahan itu telah selesai maka perenungan dikembalikan kepada 'naik'.secara berkesinambungan. 'meregang'. sesuai kasusnya. 'melihat'.

mendengar. semua fenomena batin dan jasmani yan . Setelah perenungan dengan cara ini. para siswa akan gagal untuk mengamati banyak aktivitas jasmani dan batin pada sa at permulaan latihan. turun seperti semula. y aitu (1) perenungan terhadap posisi tubuh duduk dan sentuhan. Di dalam merealisasi kondisi perenungan yang luhur yang memungkinkan untuk merenungkan setiap objek sebagaimana mereka muncul. dengan cara perenungan kontinyu ini. Seperti ditunjukkan di dalam bagian Samatha-Kammatthana. di dalam vipassana-bhavana. yang lebih mudah dijelaskan dan mudah untuk direnungkan. dan (2) perenungan terh adap impresi kontak di dalam nafas masuk dan keluar. mencium bau. PERKEMBANGAN KONSENTRASI VIPASSANA (VIPASSANA SAMADHI) DAN PENGETAHUAN BIJAKSANA PANDANGAN TERANG (VIPASSANA NANA) Bila tidak berupaya kuat untuk melaksanakan perenungan seperti disebutkan di ata s. tak dapat membaca begitu cepat dan baik bila dibandingkan dengan orang yang telah belajar dengan mahir. mengecap ras a. namun mereka seyogyanya ditekan. Perenungan seyogyanya dilaksanakan pada setiap saat dari melihat. sala h satu dapat dipilih sebagai objek utama atau pertama di dalam perenungan. __________________ VI. seorang siswa seyogyanya berupaya untuk merealisas i muncul dan padamnya faktor batin tidak kurang daripada sekali setiap detik pada tahap permulaan latihannya. maka perenungan seyogyanya dikembalikan kepada objek naik . Mirip seseorang yang mulai belajar. Namun. Di dalam kasus samatha-bhavana seseorang harus merenungkan secara berkesinambungan terhadap objek semula dari samatha untuk membuat batin terkonsentrasi dengan kuat hanya kepada objek tersebut. bergagasan dan seterusnya sesuai urutan kemunculan mereka. Hanya perlu menyingkirkannya sesegera mungkin saat mereka muncul.dilaksanakan dengan selalu menetapkan perhatian terhadap kontak jasmaniah. sebagai objek utama dan pertama di dalam perenugan. maka tidak dibutuhkan kembali semuanya untuk kembali ke objek utama dan pertama. Inilah latihan dasariah latihan Vipassana secara singkat. Siswa yang telah berkembang. di mana apabila diinginkan. Oleh karena itu. Di dalam hal Samatha-Kammatthana. terdapat banyak rintanan batin (Nivarana) yang menyebabkan batin mengembara ke arah objek lain. sementara itu di dalam Vipassana-Kammathana perenungan juga harus dilakukan terhadap faktor batin yang mengembara itu. Namun demikian. Oleh karena itu tidak diperlukan u ntuk merenungkan rintangan batin seperti faktor batin yang mengembara yang muncul sewaktu-waktu. konsentrasi (samadhi) dan pandangan bijaksana ke dalam (nana) yang cukup kuat akan secara mandiri merealisasi muncul dan padamnya batin sangat sering di dalam satu detik. tidak ada perlakuan khusus untuk merenungkan faktor batin yang mengembara. mengetahui sentuhan jasmani. Ini adalah satu dari butir-but ir perbedaan antara samatha-bhavana dengan vipassana-bhavana di dalam hal mengatasi rintangan batin (nivarana). Tidak dibutuhkan untuk mengamati fenomena batin dan fisik yang lain. terdapat dua jenis kasus perenungan lain yang sudah disebutkan di atas. Namun demikian. berpikir. Namun seorang siswa yang baru saja mulai melatih perenungan belum dapat merealis asi perubahan yang demikian cepat. dan perenungan dikembalikan kepada objek semula secara berkesinambungan. petunjuk-petunjuk yang diberikan di sini untuk memperlakukan atau menjaga perhatian kepada naik dan turunnya gerakan perut.

. maka hanya ada perenungan murni yang terpusat. jasmani dan batin yang mengetahui jasmani dicerap secara jelas dan ter pisah sebagai dua hal yang berbeda. meregang. Pada setiap saat bernafas. menurunkan . Kemudian fenomena fisik seperti naik. maka hampir tidak akan ada l agi faktor batin yang mengembara. mendengar. seperti merenungan berpikir.g muncul melalui enam pintu indera harus diamati. Sekarang batin terbebas dari kamacchanda (nafsu indera) dan rintangan batin (niv arana) lainnya dan oleh karena itu sama seperti pada tingkat seperti Upacara-samadhi (konsentrasi berdekatan) yang disebutkan di dalam bagian Samatha-kammatthana. menaikkan. Segera setelah faktor batin mengembara ke objek la in. maka kemelekatan dan pandangan keliru bahwa mereka kekal. da n seterusnya. melihat. batin segera memperhatikan dan merenungkannya dan kemudian pengembaraan tersebut tidak berlangsung lebih jauh lagi. Apabila mereka tidak direnungkan. Begitu batin tidak lagi bercampur dengan rintangan batin yang menyebabkan mengembaranya batin. Pengetahuan bijaksana atas pembedaan fenomena fisi k dan batin sebagai dua proses yang terpisah disebut Nama-rupa-pariccheda-nana (pengetahuan bijaksana yang dapat membedakan dengan jelas fenomena batin dan jasmani). dicerap pada setiap saat perenungan di dalam setiap bentuk y ang terpisah tanpa bercampur dengan batin yang merenungkannya atau dengan fenomena materi lain. menekuk. juga dicerap pada setiap saat perenungan di dalam keadaan terpisah t anpa dicampuri oleh fenomena materi lain atau fenomena batin lain. Jasmani tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui. Inilah yang disebut Citta-visuddhi (kemurnian batin). ditemukan b ahwa perenungan dilaksanakan tanpa interupsi karena faktor batin dicerap segara saat faktor batin itu mulai muncul. Objek vipassana a kan lengkap hanya apabila seseorang merenungkan terhadap semua fenomena itu sehingga mengetahui dengan jelas sifat alamiahnya dan tidak melekat terhadapnya. Fenomena batin. oleh karena itu menghindari mereka tidaklah cukup seperti dalam kasus samatha. Apabila faktor batin yang mengembara ini direnungkan secara berkesinambungan dengan cara ini dalam jangka waktu yang cukup lama. turun. Dengan terealisasinya perkembangan pengetahuan bijaksana (nana) selama satu peri ode waktu yang baik di dalam latihan perenungan yang berkesinambungan. Terkonsentrasinya batin terhadap objek nya ini disebut Vipassana-khanika-samadhi (konsentrasi sementara dari pandangan terang). yang sedang direnungkan. dan seterusnya. maka akan muncul sebuah pengertian jelas bahwa fenomena 'hanya terdiri dari proses batin d an fisik'. ditemukan bahwa batin yang merenungkan dan objeknya selalu datang bersama dan terkonsentrasi. Pada tahapan perenungan ini. menyenangkan dan atta (aku) akan muncul. Oleh karena itu apabila dan keti ka rintangan batin seperti misalnya batin merenungkan sesuatu selain objek perenung an semula atau batin menikmati nafsu atau keserakahan dan sebagainya mereka juga ha rus direnungkan. Di dalam beberapa kasus.

Dengan mengerti kenyataan sebab-musabab yang saling tergantung (paticcasamuppada ) ia akan datang pada satu kesimpulan bahwa hidup di masa lampau adalah sebuah formasi materi dan batin. dicerap bahwa materi/jasmani dan batin muncul dan padam pada setiap saat perenungan. maka batin mencapai objeknya. objek pendengaran. . Pandangan murni seperti ini disebut Kankha-vitarana visuddhi (Kemurnian pandangan yang muncul setelah mengatasi keraguan). Dengan meneruskan perenungan lebih lanjut. Dengan melanjutkan perenungan lebih jauh. meregang. dan sebagainya. mendengar. dan seterusnya. Pengertian jelas ini disebut Ditthi-vis uddhi (Kemurnian Pandangan). di dalam urutan yang sangat cepat dan berkesinambungan. dan seterusnya. dan dikarenakan kehendak untuk mengarahkan. dan seterusnya. Sebelum mengembangkan pengetahuan benar kenyataan bahwa "kehidupan terdiri dari batin dan jasmani yang tergantung atas 'sebab-musabab yang terkait' terdapat ban yak keraguan skeptis apakah terdapat SAYA di waktu lampau. dan dikarenakan mengkonsumsi makanan maka akan selalu muncul energi fisik yang baru. tergantung atas formasi/bentukan materi/jasad yang baru. bergerak. maka muncullah. ia mencerap kenyataa n bahwa kematian bukanlah kematian bukanlah sesuatu hanya padamnya kesadaran terakhir di dalam urutan kelangsungan kesadaran. dan dikarenakan kemelekatan terhadap perbuatan-perbuat an tersebut yang telah dilakukan. Pengertian bijaksana ini disebut Anicca-sammassana-Nana (Pengertian bijaksana akan ketidak-kekalan fenomena alam). Namun batin memiliki kemampuan merenungkan. Lagi. Lagi. dikarenakan fluktuasi di dalam temperatur/suhu. dan lahir adalah munculnya sebu ah kesadaran baru di dalam urutan kelangsungan kesadaran ini.menekuk. dicerap bahwa fenomena materi/fisik d an batin yang muncul di dalam jasmani merupakan efek atau hasil dari sebab-sebab ya ng bersesuaian dengannya. ia mencerap kenyataan bahwa dikarenakan kehadiran/adanya indera penglihata n dan objek penglihatan. semua jenis perbuatan dipikirkan dan dilakukan. Sebagai ilustrasi : Seorang siswa mencerap kenyataan bahwa dikarenakan batin menginginkan untuk membungkuk atau bergerak atau meregang atau mengubah posisi tubuh. maka sela lu terdapat perubahan di dalam kondisi fisik apakah menjadi dingin atau panas. Sekarang keraguan ini tidak dapat muncul karena mereka telah diatasi. tidak terdapat aku atau Atta. yang memandang kehidupan sebagai indah dan menyenangkan dan kehadiran Tanha (keinginan rendah). ia mencerap kenyataan bahwa dikondisikan kehadiran Avijja (kegelapan/kebodohan batin). Terpisah dari dua faktor ini. indera pendengaran. atau mengubah posisi tubuh. Pengetahuan bijaksana membedakan sebab musabab yang saling tergantung ini disebut Paccaya-pariggaha-nana (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari pengertian pengalaman penuh akan sebab-musabab fenomena). maka muncul aksi atau tindakan membungkuk. Lagi. yang tergantung dari sebab musabab yang terkait dan dengan demikian akan ada proses yang mirip pada kehidupan di masa mendatang . kesadaran-kesadaran (vinnana) baru. ma ka muncullah kesadaran melihat. melihat. memikirkan. apakah SAYA berada hanya dalam kehidupan ini atau apakah SAYA akan terus ada di waktu mendatang" dengan memegang pandangan bahwa formasi/perpaduan meteri/jasmani dan batin adalah ATTA atau DIRI . mendengar. memindahkan.

Inilah indikasi awal atau tahap permul aan dari 'Udayabbaya-nana' (pengetahuan bijaksana atas muncul dan padamnya fenomena) yang lemah. Pandangan yang tajam terhadap sifat alamiah anicca. siswa itu melanjutkan dengan perenungan tanpa refleksi lebih lanjut. seringkali muncul pengalaman-pengalaman aneh. Kegembiraan yang mencakup ke seluruh tubuh (Sukkha) 7. Kemudian siswa itu memutuskan pengalaman melihat bayangan batin dan perasaanpera saan lainnya bukanlah perealisasian pencerahan sempurna yang sesungguhnya. Setelah merefleksikan kenyataan-kenyataan ini selama ia inginkan. Kegiuran batin (Piti) 3. Ia kemudian mencerap dengan sangat jelas permulaan dari setiap objek perenungannya. Cahaya yang gemilang (Obhasa) 2. tidak memuaskan. siswa tersebut dapat terbuai sehingga ia tidak dapat lagi menja ga mulutnya. bahwa mereka secara konstan dicengkeram oleh muncul dan padam mereka dipandang sebagai bukan menyenangkan juga tidak patut digantungi. Pengertian bijaksana ini disebut Anatta-sammassana-nana (Pengertian bijaksana terhadap segala sesuatu yang bukan atta atau bukan diri). maka direalisasi bahwa mereka bukan atta atau diri . Pada tahap ini.Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara konstan muncul dan padam. yang mengkondisikan terhambatnya latihan vipassana sehingga menjadi kotor (vipassanupakkilesa). namun muncul dan padam sesuai dengan sifa t alamiah dan kondisi relatifnya. Ia sering kali menganggap bahwa ia telah merealisasi pencerahan sempurna. dukkha dan anatta tanpa halangan (Nana) 8. Setelah tiba pada keputusan ini dan diteruskan dengan melanjutkan perenungannya pengalaman-pengalaman melihat bayangan batin dan perasaan-perasaan lainnya secar a bertahap akan berkurang dan pencerapan objek menjadi lebih jelas dan lebih jelas lagi. seperti : 1. Muncul dan padamnya fenomena materi pada setiap gerakan di dalam hal satu geraka n membungkuk atau meregangkan tangan atau kaki atau di dalam hal satu langkah. Keputusan murni ini adalah indikasi Maggamagga-nana-dassana-visuddhi (kemurnian pandangan benar terhadap jalan dan bukan jalan). Pengetahuan bijaksana ini disebut Dukkha-sammassana-nana (Pengertian bijaksana terhadap kondisi yang tidak memuaskan). set . Semangat yang sangat tinggi atas pelaksanaan perenungan/meditasi (Paggaha) 6. Melekat terhadap fenomena dhamma butir 1 9 (Nikanti) Oleh karena itu. Keseimbangan batin (Upekkha) 10. umumnya ia menceritakan pengalamannya. Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara alamiah tidak mengikuti perintah keinginannya. I a tiba pada keputusannya ini sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya dari penga laman atau sesuai dengan petunjuk gurunya. dan bahwa metode perenungan yang tepat untuk merealisasi pencerahan sempurna adalah hanya dengan mengobservasi secara konstan terhadap semua fenomena yang muncul. Kemampuan di dalam melaksanakan perhatian murni tanpa kehilangan objek (Upatthana) 9. namun hanya merupakan dukkha. Keyakinan kuat tak terhingga terhadap Tiratana (Adhimokkho ti saddha) 5. Sikap batin tenang (Passaddhi) 4. Namun demikian sepuluh fenomena ini adalah jalan yang sala h (Amagga). Ia juga mencerap dengan sangat jelas padamnya setiap objek perenungannya seolah-olah diputus deng an jelas.

Phala dan Nibbana . Setelah pengertian bijaksana (Nana) ini diperoleh cukup kuat. muncullah Gotrabhu-Nana (Pengertian bijaksana memenangkan kesucian) dimana Nibbana adalah objeknya. Pencerapan yang muncul dalam jangka waktu lama ini merealisasi sifat alamiah obj ekobjek perenungan secara otomatis dan tanpa terlibat di dalam kesenangan dan ketidaksenangan. Pengertian bijaksana ini muncul merealisasi bahwa fenomena fisik dan batin yang muncul melalui enam pintu indera pada saat itu tidak kekal. dua jam atau tiga jam . dan . Inilah kema tangan atau tahap akhir dari Udayabbaya-Nana . Setelah Anuloma Nana. Pengertian bijaksana yang muncul langsung menuju sebuah jalan mulia ini yang jug a dikenal sebagai Vuitthana (elevasi) adalah Vutthana-gamini-vipassana-nana (Pengetahuan bijaksana menuju elevasi yang lebih luhur). Kemudian muncul Sotapati Magga Nana dan Phala Nana (Pengetahuan bijaksana dari Jalan Suci pemenang arus dan buahnya) yang merealisasi Nibbana. Kemurnian segera disusul kemunculan refleksi atas pengalaman khusus Magga. Ini adalah nana atau pengertian bijaksana yang tepat bagi 8 vipassana nana yang mendahuluinya dan Magga-nana (Pengertian bijaksana atas Jalan) yang mengikutinya. Dilanjutkan den gan perenungan atas objek-objek dengan keseimbangan batin hanya memperhatikan objek tanpa terlarut di dalam kesenangan maupun ketidaksenangan. dengan kejelasan khusus yaitu dukkha. Saat kemunculan Magga dan Phala Nana tidak berjeda waktu sedetik pun. Perenungan itu mengalir tanpa hambatan seolah terbebas dari Upakkilesa (ketidakmurnian). dimana duka cita dan ketidakpuasan yang berhubungan dengan fenomena fisik dan batin padam secara tota l. tidak memuaskan. Pandangan terang mulai dari Udayabbaya-Nana yang masak sampai dengan Anuloma-nana secara kolektif dikenal sebagai Patipada-nana-dassana-visuddhi (Kemurnian dengan pengertian bijaksana dan pandangan terang yang muncul akibat telah mengikuti latihan yang benar). disebut Sankharupekkha-nana (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari keseimbangan batin terhadap sankhara). Magga Nana disebut Nana-dassana-visuddhi (Kemurnian pandangan).iap fregmen (bagian) dari satu gerakan akan dengan sangat jelas diamati. Anatta. Ketika Patisankha-nana ini masak. Ini adalah Paccavekkhana-nana (Pengertian bijaksana dari retropeksi/perenungan mendalam). dan bahkan dapat berakhir dalam jangka waktu yang begitu lama. perenungan berlanjut secara otomatis mirip sebua h jam tanpa upaya khusus bagi pencerapan dan pengertian bijaksana. Perenungan ini begitu damai dan tanpa upaya khusus saat itu dan dilanjutkan dengan mengetahui objek-ob jek begitu otomatis dan dapat berlangsung lebih dari satu jam. Ini adalah Patisankha-nana (Pengertian bijaksana yang muncul dari perenungan yang lanjut). Seseorang yang telah merealisasi Paccavekkhana-nana sesuai urutan itu disebut se bagai makhluk Sotapanna (Pemenang arus). muncullah pengertian bijaksana yang khusus sangat cepat dan a ktif. Keluar dari perenungan ini yang dilanjutkan secara otomatis dan dengan momentumn ya merealisasi objek. tanpa lelah atau bosa n. Khas Anicca. Dukkha. pencerapan terhada p objek-objek dijumpai lebih cepat. Ini adalah pengertian bijaksana yang memotong kekerabatan Puthujjana (makhluk awam duniawi) dan memasuki kekerabatan Ariya (makhluk suci). Akhir atau padamnya objek lebih jelas dicerap daripada permulaan Upacara (pendekatan) dan Anuloma (adaptasi).

bukan diri/aku. Pengertian bijaksana terakhir adalah Anuloma-nana (Pengertian bijaksana atas adaptasi) yang terdiri dari tiga javana (saat-saat dorongan) disebu t Parikamma (persiapan), seyogyanya melaksanakan latihan meditasi sesuai dengan petunjuk yang diberikan di atas. Semoga semua makhluk dapat melaksanakan latihan Meditasi dan merealisasi Nibbana . __________________ KETERANGAN BEBERAPA ISTILAH PENTING Ariya Sacca Kebenaran Suci, terdapat 4 jenis : a. Dukkha sacca = Kebenaran suci tentang 'penderitaan' b. Samudaya sacca = Kebenaran suci tentang penyebab 'penderitaan' c. Nirodha sacca = kebenaran suci tentang padamnya 'penderitaan' d. Magga sacca = Kebenaran suci tentang jalan untuk terbebas dari 'penderitaan'. Bhavana a. Samatha - bhavana Pengembangan ketenangan batin. Secara sementara kekotoran batin tertentu mengend ap (lihat nivarana). Objek samatha-bhavana ini merupakan pannatti (konsepsi batin). b. Vipassana bhavana Pengembangan kebijaksanaan melalui pengamatan dan perhatian murni terhadap fenomena batin dan jasmani yang dicengkeram oleh sifat universal (lihat Tilakkha na). Hasil akhirnya, kekotoran batin terbasmi hingga ke akarnya. Objek vipassana-bhav ana ini merupakan paramattha (hakekatnya sesungguhnya segala sesuatu yang dialami). Dukkha a. Di dalam sifat alamiah universal (Tilakkhana), mengandung pengertian = tidak memuaskan. Dukkha jenis ini meliputi makhluk hidup suci atau tidak suci dan juga bukan makhluk hidup. b. Di dalam kebenaran suci tentang dukkha (Dukkha sacca), mengandung pengertian = penderitaan biasa (dukkha-dukkha), penderitaan yang inheren karena perubahan (viparinama dukkha), penderitaan yang inheren bagi mahluk yang merupakan perpaduan (sankhara dukkha). Dukkha jenis ini hanya berkenaan dengan makhluk hid up yang belum suci. Ekaggata a. Sebagai faktor batin bersifat netral (bukan baik juga bukan tidak baik), meng andung pengertian faktor batin yang berfungsi memusatkan batin terhadap objek yang diam ati. b. Di dalam faktor jhana, mengandung pengertian sebagai faktor batin yang berfun gsi menekan kamachanda-nivarana (hasrat nafsu indera). Jhana Kondisi batin yang melekat kuat terhadap objek (arammana) yang dialami. Objek ya ng dialami oleh batin selama di dalam kondisi jhana merupakan objek yang bukan sesungguhnya atau bersifat konsepsi batin (pannatti). Khanda Mengandung pengertian sebagai kelompok perpaduan; umum pula dijumpai dalam istilah upadanakkhandha yang berarti kelompok perpaduan yang berpotensi menimbulkan kemelekatan. Khandha terdiri dari 5 lima kelompok yaitu : a. Vedanakkhandha = kelompok perpaduan perasaan, yaitu perasaan yang menyenangkan, perasaan tidak menyenangkan dan perasaan netral (bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan). b. Sannakkhandha = kelompok perpaduan pencerapan. Fungsinya menandai objek, mencerap objek yang dialami, mengkondisikan pengenalan terhadap objek.

Apabila makhluk Anagami melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah pandangan untuk merealisasi Anagami Phala-sampatti , maka ia akan merealisasi tingkatan tersebut. Apabila ia melaksanakan latihan bagi tingkatan yang lebih luhur, maka Vipasanna-nana akan dikembangkan di dalam urutan yang sama seperti sebelumnya da n di dalam kematangan yang penuh ia akan merealisasi Nibbana dengan pandangan tera ng Arahatta Magga dan Phala (jalan kesucian Arahat dan buahnya) dan menjadi makhluk suci Arahat. Makhluk Arahat telah terbebas dari lima belenggu (samyojana ) yang masih tersisa, yaitu : 1. Rupa-raga (hasrat untuk keberadaan bermateri halus) 2. Arupa-raga (hasrat untuk keberadaan tanpa materi) 3. Mana (kesombongan) 4. Uddhacca (kegelisahan batin) 5. Avijja (kegelapan atau kebodohan batin) secara bersama dengan semua kilesa (kekotoran batin) Pada akhir masa kehidupannya saat ini ia akan Parinibbana, dan tidak akan tumimb al lahir lagi, ia secara mutlak terbebas dari duka ketuaan, kesakitan, kematian, da n seterusnya. Dengan tetap berpandangan terhadap kebebasan ini bahwa pertanyaan pada permulaan artikel ini : Apakah tujuan utama melaksanakan latihan meditasi telah diberikan jawabannya sebagai berikut : Latihan meditasi dilaksanakan untuk tujuan utama merealisasi Nibbana dan terbebas dari duka cita kehidupan di dalam bentuk ketuaan, kesakitan, kematian, dan seterusnya . Oleh karena itu mereka semua yang dengan tekun berharap untuk merealisasi Nibban a dan merealisasi kebebasan mutlak atau kemunculannya. Objek-objek perenungan nampak padam. Bentuk dan ukuran tangan, kaki, kepala, jasmani dan seterusnya tid ak dicerap lagi. Hanya kepadaman jasmani dan batin yang dicerap pada setiap saat perenungan. Bahkan, perenungan batin dicerap padam bersama objek perenungannya setiap saat. Pengertian bijaksana atas proses kepadaman ini di dalam pasangan ba tin dan objeknya adalah Bhanga-nana (pengetahuan bijaksana akan proses padamnya fenomena). Dengan terus-menerus mencerap proses yang selalu padam di dalam tiap pasang bati n dan objeknya maka akan tiba kemunculan perealisasian bahwa setiap fenomena dapat menimbulkan ketakutan. Ini adalah Bhaya-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang menakutkan). Kemudian akan disusul dengan munculnya pengertian bijaksana merealisasi ketidaksempurnaan fenomena batin dan materi. Ini adalah Adinava-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang tidak memuaskan). Kemudian akan disusul dengan pengertian bijaksana merealisasi sifat alamiah feno mena yang tidak menarik dan membosankan. Ini adalah Nibbida-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang membosankan). Apabila direalisasi bahwa sungguh baik apabila tidak terdapat fenomena fisik mau pun batin yang secara konstan datang/muncul dan padam di dalam cara demikian, muncul lah pengertian bijaksana, mencari kebebasan dari ketidakpuasan terhadap fenomenafeno mena ini. Ini adalah Muccitu-kamyata-nana (Pengetahuan bijaksana dari niat untuk terbebas).

Dengan lebih lanjut merenungkan disertai keinginan kuat untuk terbebas, munculla h sebuah persepsi kuat atas sifat alamiah Sotapanna terbebas dari tiga belenggu (samyojana) sebagai berikut : 1. Pandangan keliru bahwa fenomena kelompok perpaduan fisik dan batin adalah ego , atau diri. (Sakkaya-ditthi kepercayaan bahwa fenomena fisik dan batin adalah dir i). 2. Keraguan atas Buddha, Dhamma dan Sangha serta disiplin (Vicikiccha). 3. Kepercayaan bahwa metode di luar pengembangan jalan mulia berunsur delapan (Ariya Magga) dan di luar pengembangan pandangan terang di dalam empat kebenaran mulia (Ariya Sacca) dapat membawa kebahagiaan sejati (Silabbata-paramasa kepercayaan hanya terhadap ritual dan upacara membawa ke kesucian). Lebih lanjut, bahwa observasinya terhadap pelaksanaan lima kaidah kemoralan menj adi murni dan mutlak. Bagi alasan inilah, Sotapanna tidak mungkin tumimbal lahir ke alam yang tidak menyenangkan, yang rendah (Apaya loka). Ia akan menjalani kehidupan bahagia di dunia manusia dan para dewa selama tujuh kali tumimbal lahir maksimum , dan selama periode ini ia akan merealisasi tingkat kesucian Arahat. Apabila Sotapanna melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah niat untuk merealisasi Phala-samapatti (perealisasian buah), ia kemudian akan mencapai keadaan itu dan menetap dengan objek Nibbana untuk jangka waktu 5 atau 6 menit, atau setengah jam, atau satu jam. Apabila ia cukup baik terlatih di dalam latihan perealisasian Phala-samapatti maka ia akan merealisasinya dengan sangat cepat dan menetap di dalam objeknya itu selama sehari penuh atau bahkan semalaman atau leb ih lama lagi. Apabila ia melaksanakan perenungan terhadap Upadanakkhanda di dalam cara yang sama seperti yang telah disebutkan di atas dengan sebuah pandangan untuk mereali sasi tingkat Magga dan Phala yang lebih tinggi, maka vipassana-nana akan dikembangkan dari tahapan Udayabbaya-nana dalam urutan yang sama seperti sebelumnya dan dalam kematangan penuh ia akan merealisasi Nibbana dengan pandangan terang dari Sakadagami-Magga dan Phala (Jalan makhluk suci yang paling banyak akan kembali lagi satu kali ke alam nafsu dan buahnya) dan menjadi makhluk Sakadagami (yang kembali satu kali lagi). Ia kemudian terbebas dari nafs u indera (kama-raga) yang kasar dan keinginan buruk (patigha) yang kasar. Ia akan menuju kehidupan bahagia di dalam alam manusia dan dewa maksimum selama dua kali tumimbal lahir dan akan merealisasi tingkat kesucian Arahat selama periode tersebut. Apabila makhluk Sakadagami melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah pandangan untuk merealisasi Sakadagami Phala-Samapatti maka ia akan merealisasi tingkat tersebut. Apabila ia melaksanakan latihan dengan sebuah pandangan merealisasi tingkat Magga dan Phala yang lebih luhur, Vipassana-nana akan dikembangkan di dalam urutan yang sama seperti sebelumnya dan di dalam kematangan penuh ia akan merealisasi Nibban a dengan pandangan terang dari Anagami Magga dan Phala (Jalan makhluk yang tidak akan kembali lagi ke alam yang diliputi nafsu dan buahnya) dan menjadi mak hluk Anagami (Makhluk yang tidak pernah kembali lagi, ke alam nafsu indera). Ia kemud ian secara total terbebas dari dua belenggu/samyojana lebih banyak, yaitu kama-raga (nafsu indera) dan Patigha (keinginan buruk). Ia tidak akan tumimbal lahir lagi di Kama-loka (alam yang diliputi nafsu indera) namun akan tumimbal lahir di Rupaloka (alam dengan materi halus) atau Arupa-loka /alam tanpa materi (bila ia saat itu

Silabbata-paramasa = kepercayaan bahwa hanya dengan ritual keagamaan dapat merealisasi kesucian. phala) dan Nibbana. Byapada = niat jahat. 3. Vinnanakkkandha = kelompok perpaduan kesadaran. fungsinya menyadari objek yang dialami. yaitu : 1. e. Avijja = kegelapan batin. tak mengetahui kebenaran suci. yang tidak baik dan yang netral (bukan baik juga bukan tidak baik). c. 6.makhluk Arupa Brahma) dan ia nantinya akan menjadi Arahat. makhluk dewa maupun brahma/makhluk awam (puthujjhana puggala) yang belum hancur belenggu/kekotoran batinnya. formulasi umumnya terdiri dari empat pernyataan. yaitu : a. Lokiya dhamma Dhamma yang bersifat duniawi. Timbulnya ini mengkondisikan timbulnya itu. b. 8. Patigha = niat jahat/dendam. Sebagai faktor jhana merupakan faktor batin yang fungsinya menekan byapada-nivar ana (niat jahat). Rupakkhandha = kelompok perpaduan materi/fisik/jasmani. c. tak mengetahui hakekat sesungguhnya segala sesuatu. unsur materi panas. e. 10. Dalam hal ini meliputi batin para makhluk suci (Ariya puggala) pada saat hancurnya tiga atau lebih belenggu/ kekotoran batinnya (magga. Nivarana Rintangan batin. Thina-middha = sikap malas dan lamban d. dan bersifat netral (bukan baik juga bukan tidak baik). Uddhacca = kegelisahan batin. Vicikiccha = sikap batin ragu secara skeptis. Lokuttara Dhamma Dhamma yang mengatasi duniawi. ada 10 jenis. unsur materi gerak. Sakkaya-ditthi = kepercayaan atau pandangan keliru terhadap lima kelompok perpaduan (khandha 5) sebagai inti/aku/diri. Kamaraga = nafsu indera 5. d. makhluk manusia. Tidak adanya ini mengkondisikan tidak adanya itu. Mana = kesombongan 9. Paticca-samuppada Sebab-musabab yang saling tergantung. Dalam hal ini meliputi batin para makhluk rendah. Aruparaga = nafsu untuk tidak memiliki fisik/nafsu untuk tumimbal lahir di al am tanpa materi. Samyojana Adalah belenggu batin. Kamachanda = hasrat di dalam nafsu indera. . 7. Uddhacca-kukkucca = sikap batin gelisah/tak dapat memegang objek dengan baik dan khawatir atas perbuatan baik yang belum dilakukan atau perbuatan jahat yang telah dilakukan. 4. yang secara umum terd iri dari unsur materi padatan. Padamnya ini mengkondisikan padamnya itu. 2. tak dapat membedakan kebaikan dari keburukan. Ruparaga = hasrat untuk memiliki fisik/nafsu untuk tumimbal lahir di alam ber materi halus. unsur materi cairan. yaitu : Adanya ini mengkondisikan adanya itu. Piti Sebagai faktor/penyerta batin berarti kegiuran batin terhadap objek yang dialami . terdiri dari 5. Vicikiccha = keraguan skeptis. Sankharakkhandha = kelompok perpaduan faktor-faktor/penyerta batin yang baik.

Sukha a. berarti memahami proses batin dan jasmani yang bersifat tanpa inti (Ana tta). Sebagai faktor/penyerta batin artinya perenungan permulaaan. Sebagai faktor jhana (jhananga) merupakan faktor penyerta batin yang fungsiny a menekan Vicikiccha-nivarana (keraguan skeptis). merupakan faktor batin perasaan yang berfungsi menekan uddhacca-kukkucca-nivarana (kegelisahan kekhawatiran) Tilakkhana Tiga sifat alamiah yang berlaku universal. Vicara a. dikarenakan tidak memiliki pemahaman yang benar sehingga menimbulkan pengaruh yang kurang baik. Upekkha a. tanpa diri. MEDITASI Menerima Diri Apa Adanya dengan Pengertian Benar Dalam kehidupan ini. pada dasarnya terbentuk dari dua unsur. b. Sabbe dhamma anatta = semua dhamma dalam hakekat sesungguhnya adalah tanpa kepemilikan. mengandung penger tian = perpaduan. Sabbe sankhara dukkha = semua fenomena perpaduan bersifat tidak memuaskan. b. Vitakka a. Ditinjau dari cara pandang yang sebenarnya. Di dalam sifat alamiah yang berlaku universal (Tilakkhana). b. yaitu batin (nama) dan jasmani (rupa). di lu ar pencerapan (sanna) dan perasaan (vedana). Sabbe sankhara anicca = semua fenomena perpaduan bersifat tidak kekal. c. Di dalam hal perasaan (upekkha vedana). Di dalam lima kelompok perpaduan/yang berpadu (Khandha 5). hal ini seringkali ditaf sirkan atau diterapkan secara keliru. Sebagai faktor jhana (jhananga) merupakan faktor/penyerta batin yang fungsiny a menekan Thina-middha-nivarana (sikap batin malas dan lamban). c. Sebagai manusia. mengandung pengertian perasaan netral . tanpa inti. Di dalam fenomena sebab-musabab yang saling tergantung (Paticca-samupada). bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan. mengandung penger tian sikap batin seimbang terhadap semua fenomena yang dicengkeram Tilakkhana.Sankhara a. dikategorikan sebagi faktor batin perasaan (sukkha vedana ) yang berfungsi merasakan objek yang menyenangkan yang dialmi. Akan tetapi. fungsinya membuat batin menambat terhadap objek yang dialami. . b. dan tidak memuaskan (Dukkha ). ba ik sebagai sebab (paccaya) maupun sebagai akibat (pacayuppana) mengandung pengertia n = kehendak (cetana) lampau dan melandasi perbuatan-perbuatan lampau. Di dalam hal sikap batin luhur tanpa batas (brahma-vihara). kita sering mendengar anjuran-anjuran di masyarakat yang menyatakan untuk menerima diri apa adanya. b. yaitu : a. Di dalam faktor jhana. "Menerima Diri Apa Adanya". Sebagai faktor/penyerta batin artinya perenungan penopang. mengandung pengertian = faktor/penyerta batin (cetasika) yang baik. netral dan buruk. b. fungsinya membua t batin mengarah kepada objek yang dialami. sehingga merupakan bersifat ketidakkekalan (Annica). Di dalam khandha 5. yang baik d an yang tidak baik.

lebih banyak orang yang belum sampai ke tahap pemahaman yang mendalam dan menyeluruh seperti yang didapat dari hasil berlatih Vipassanâ Bhâvanâ. termasuk apa yang kita anggap dan percaya sebagai "aku dan diriku". Dari semua aspek perbaikan diri. maka kemajuan dalam se gi jasmani. untuk saat ini. maka perbaikan kondisi jasmani. materi. kenapa tidak dilakukan. Jadi "PENGERTIAN BENAR" yang berkenan dengan anjuran menerima diri apa adanya dalam kehidupan sehari-hari adalah memahami dan menerima. kualitasnya. Sikap utama tubuh dalam meditasi kesadaran adalah duduk bersila dengan punggung tegak. sebagai orang awam. dan intelektual.Indonesia : Chandasili Nunuk Y. Jadi. intelektual. Mere ka harus sepenuhnya membangun kesadaran setiap saat dalam kondisi apapun. menerima diri apa adanya. kebencian (Dosa) dan ketidaktahuan (Moha) . bisa menc apai tujuan. terutama dari segi batin. menerima sifat sesungguhnya d ari segala sesuatu. jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan sehari-hari. supaya suatu saat. berdiri. yaitu kesempurnaan batin (bebas dari keserakahan. apapun ha sil yang diperoleh. Kalau kita memang masih bisa mencapai kondisi yang lebi h baik. Kondisi batin kita memang jauh dari sempurna. Selanjutnya. yan g belum memiliki batin yang telah berkembang. Tapi umumnya para yogi sulit duduk berjam-jam tanpa merubah posisi. kebencian dan kebodoha n batin) Tanpa batin yang terus menerus ditingkatkan. maka itulah hasil terbaik yang dap at kita peroleh. Kita menerimanya dengan pengertian benar dan merasa pua s sambil terus berusaha untuk menjadi lebih baik lagi dari sekarang dan begitulah seterusnya. dan kekayaan materi tidaklah banyak membawa manfaat. intelektual. karena tanpa batin yang berkembang menuju arah yang lebih baik .Inilah sifat sesungguhnya dari segala sesuatu yang terbentuk. apalagi menyalahkan orang lain. inilah yang sebenarnya dimaksud sebagai "Menerima Diri Apa Adany a" dalam meditasi. Inilah yang dimaksud dengan "Menerima Diri Apa Adanya" MEDITASI JALAN Oleh : Sayadaw U Silananda Alih Inggris . tidak dapat mencakup arti yang sesungguhnya. melainkan ha nya arti pada tingkat permukaan saja. baik atau buruk. Mereka mempraktekkan kesadaran saat berjalan. setelah berusaha memperbaiki diri. yaitu terkikisnya keserakahan (Lobha). para yogi mempraktekkan meditasi kesadaran (vipassana) dengan menggunakan empat sikap tubuh yang berbeda-beda. Jadi sudah sewajarnya kita berusah a untuk menjadi lebih baik. tetap membutuhkan dasar pemahaman yang benar. juga merasa puas dengan setiap kondisi yang ada. Karena itu. dan materi tidaklah banyak artinya. Merasa puas bukan berarti kita berhenti berusaha menjadi orang yang lebih baik dari segi batin dan jasmani. Pada jaman sekarang ini. Tida k mengeluh ataupun menyesalinya. Sehin .K. duduk dan berbaring. Dikegiatan penyunyian yang kami selenggarakan. maka aspek batin seharusnya menjadi prioritas u tama untuk diperbaiki. Untuk memahami inipun.

Diskusi tersebut berkenaan dengan manfaat. Mulai dari saat bangun dari tidur di pagi h ari hingga terlelap pada malam harinya. Jika kalian adalah p . Lebih jauh Sang Buddha berkata. Dalam bagian yang disebut sikap tubuh Beliau mengatakan seorang yogi tahu. Meski Sang Buddha tidak memberikan petunjuk secara khusus dan rinci tentang meditasi jalan (hanya penjelasan singkat yang tercatat di dalam sutta) kami perc aya Beliau telah memberikan petunjuk pada suatu waktu. Jika hal ini terus dilakukan. saya sedang berjalan saat ia sedang berjalan. Maksud dari pemahaman yang jernih disini adalah pemahaman yang benar atas segala sesuatu yang diamati. tahu saya sedang duduk saat sedang duduk dan tahu saat sedang berbaring sebagai saya sedang berbaring . Dalam hal ini praktek meditasi jalan menyatu didalamnya untuk menumbuhkan kesadaran yang berkesinambungan. Pertama seseora ng harus mengisi air ke dalam teko. meditasi jalan merupakan sua tu bagian penting dari proses ini. Para pengritik ini mengatakan mereka tidak memperoleh manfaat at au hasil yang baik dari praktek meditasi jalan tersebut. Para bhikkhu gunakan pemahaman jernihmu . Jadi. Pembahasan meditasi jalan Beliau sampaikan dua kali. saya sedang berdiri ketika sedang berdiri. Dengan cara yang sama. Itulah sebabnya para yogi yang berada dalam pengawasan kami diinstruksikan untuk membangun kesadaran sepanjang waktu. Kita harus menyadari bukan saja pemahaman yang jernih tapi juga kesadaran dan konsentrasi saat sedang berjalan bolak-balik. mematikan dan menyalakan kompor (sebelum air mendi dih) maka air di dalam teko tidak akan pernah mendidih. Dengan memiliki pemahaman yang benar terhadap pengamatannya seorang yogi dapat membangun konsentrasi. Sesungguhnya Sang Buddha merupakan orang pertama yang membabarkan praktek meditasi jalan ini. air di dalam teko tidak langsung mendidih. jika ada jeda atau celah diantara kesadaran maka kita tid ak akan bisa membangun konsentrasi dengan baik. Saat ini kami memiliki serangkaian petunjuk yang teliti tentang cara mempraktekk an meditasi jalan. Petunjuk-petunjuk itu telah dipelajari oleh para murid Sang Buddha dan diturunka n dari satu generasi ke generasi berikutnya. Untuk membangun konsentrasi ia harus menggunakan kesadarannya. Sebelum air mendidih ia mematikan kompor. Meski sesaat kompor dimatikan untuk kemudian dinyalakan lagi sebentar. Lalu teko itu diletakkan di atas kompor kemudia n kompor itu dinyalakan. Seorang bhikkhu menggunakan pemahaman yang jernih saat berjalan bolak-balik . Praktek meditasi kesadaran bisa diumpamakan seperti merebus air. pentingnya dan kondisi alami yang bis a dipahami saat mempraktekkan meditasi jalan. Sebagai tambahan para guru terdahulu telah memiliki resep berdasarkan pengalaman praktek meditasi mereka sendiri. Karena meditasi jalan sangat penting maka perlu didiskusikan lebih jauh. Izinkan kami secara khusus membahas praktek meditasi jalan. Namun demikian kami pernah mendengar orang-orang yang mengkritik praktek meditasi jalan. tahu. Pada bagian lain yang disebut pemahaman jernih Sang Buddha mengatakan.gga kami mengganti saat-saat duduk meditasi ini dengan meditasi jalan.

ia bisa menyadari semua gerakan itu .atau kirikanan kiri-kanan Yang perlu diingat kalian harus berjalan lebih lambat dari biasanya saat sedang berlatih meditasi jalan. Setelah beberapa jam atau setelah satu-dua hari bermeditasi kalian akan diberi p etunjuk untuk melakukan dua tahapan dalam melangkah.berjalan . Dengan kecepatan seperti itu akan sulit b aginya membaca rambu-rambu lalu lintas di pinggir jalan. Setelah itu kalian akan diberi petunjuk untuk sepenuhnya menyadari tiga proses berjalan. Pada saat itulah secara otomatis ia berjalan dengan perlahan. keempat sentuh atau meletakkan kaki ke lantai. Dengan pemahaman yang sama. Tidak perlu secara sengaja melambatkan lan gkah kaki tersebut. kedua proses maju dan ketiga proses meletakkan kaki. Maklum tahapan pergerakan itu belum menempel di pikiran. Bila ia ingin membaca rambu-ra mbu tersebut ia harus melambatkan laju kendaraannya. Meskipun para yogi memberikan perhatian yang cermat dan melambatkan langkahnya ada kemungkinan mereka tidak melihat semua pergerakan dan tahapan dari pergeraka n tersebut dengan jernih. turun dan tekan. angkat-maju-turun-tekan .. Saat konsentrasi berkembang lebih kuat para yogi akan mampu mengamati tahapan-tahapan gerakan yang berbeda dalam satu langkah dimana akhirnya empat tahap gerakan (dal am satu langkah) lebih mudah diamati. Ini harus dicatat dalam batin sebagai. Kalian akan diinstruksikan untuk mencatat dalam batin empat gerakan tersebut. pelan-pelanlah . Sewaktu berkendara di jalan bebas hambatan seseorang cenderung memacu kendaraannya pada kecepatan 60-70 atau malah 80 mil/jam. Saat itu seolah-olah pergerakan tersebut merupakan satu kesatuan gerak yang berkesinambungan. kedua maju. Saya akan memberi perumpamaan untuk menjelaskan pernyataan di atas. secara otomatis ia akan melambatkan langkah kakinya. yakni pertama proses mengangkat. .ara pemula sang guru akan menasehati untuk sepenuhnya awas pada satu hal selama mempraktekkan meditasi jalan. Namun. Kalian harus mengamati sungguh-sungguh dua tahapan proses melangkah tersebut. k etika ia sepenuhnya memberi perhatian dengan baik. dengan menaruh perhatian penuh secara otomatis langkah kak i akan melambat.berjalan . Sesudahnya kalian akan diberi petunjuk lanjutan untuk sepenuhnya menyadari empat tahapan dalam proses melangkah yakni. maju.. Sepenuhnya awas pada langkah kaki sementara kalian membuat pencatatan di dalam batin berjalan . Tapi. pertama mengangkat. Hanya dengan berjalan lambat ia bisa sepenuhnya awa s dan waspada terhadap gerakan kaki tersebut. Tak perlu siapapun mengingatkan .angkatletakka n . yaitu melangkah dan meletakkan kaki . angkat-letakkan angkat-letakkan . bila seorang yogi ingin memberikan perhatian yang lebih cermat atas gerakan mengangkat. ketiga tur un. Tapi si sopir secara otomatis akan memperlambat laju kendaraannya untuk bisa melihat rambu-rambu tersebut. Sebagai pemula para yogi akan menemui kesulitan untuk berjalan perlahan. Dengan demikian semakin lama ia semakin penuh perhatian.

Kedua unsur tersebut bisa dirasakan oleh para yogi saat mere ka menaruh perhatian sungguh-sungguh ketika mengangkat kaki. Persinggungan antara kaki . Jadi bisa dikat akan saat menangkat kaki unsur utamanya adalah unsur api dan unsur kedua yang mengiku ti adalah unsur udara. Ketika mengalami rasa ringan mereka melihat unsur api. realitas mutla k. yogi mengalami rasa ringan. Saat meletakkan kaki ke lantai/tanah mere ka merasakan sentuhan. unsur api dan unsur udar a. rasa berat saat kak i turun dan sentuhan pada kaki terhadap lantai yang berupa rasa keras dan lunak. yakni gerakan mengangkat kaki. saat bersungguh-sungguh melihat gerakan kaki maju ketika melakukan meditas i jalan yogi-yogi itu sebetulnya tengah melihat intisari unsur udara. Sewaktu yogi meletakkan kaki ke bawah ada sejenis kekerasan pada kaki.Para yogi akan mengetahui secara jelas bahwa gerakan mengangkat berbeda dengan gerakan maju maupun gerakan turun. Tahap meditasi jalan berikutnya adalah gerakan menurunkan kaki. Empat unsur utama itu adalah unsur tanah. Pergerakan terjadi karena ada unsur udara yang bekerja. dalam hal naiknya kaki. Salah satu aspek dari unsur api adalah membuat benda-benda menjadi lebih ringan. Pada gerakan pertama. Tidak hanya it u. unsur air. unsur api lebih dominan dibanding unsur udara. Tahap berikutnya adalah mendorong kaki ke depan. Dan ketika menurunkan kaki mereka mencatat gerakan kaki y ang turun menjadi berat dan semakin berat. Kekerasan adalah karakteristik dari unsur air. Jadi. para y ogi akan melihat rasa ringan saat kaki mengangkat. Dengan kata lain saat itu yogi merasakan intisari dari unsur api. maju. Jadi unsur-unsur itu t idak hanya sekedar konsep (teori belaka). sepanjang pengamatan angkat. Dengan memberi perhatian yang cermat pada empat tahapan melangkah sewaktu berlatih meditasi jalan. Saat mengamati proses-proses ini mereka sedang melihat empat unsur utama (Pali: Dhatu ). Lebih jauh. Unsur air bersifat merembes dan mengental. Saat kaki terangkat ada unsur lain yang juga bekerja di sana. tapi merupakan proses nyata. Jadi. Tapi . Saat benda-benda menjadi lebih ringan itulah mereka bisa mengangkat kaki. gerakan kaki. Saat ca iran menjadi berat maka ia akan mengental. empat unsur utama tersebut nampak . Saat kaki menekan ke tanah/lantai yogi-yogi akan mengalami kekerasan dan kelembutan dari kaki yang menyentuh tanah atau lantai. Saat kaki terdorong ke depan un sur utama yang mempengaruhi gerakan tersebut adalah unsur udara. Saat mendorong kaki ke depan mereka akan mencapai pergerakan dari satu tempat ke tempat lain. Ijinkan kami membahas lebih terperinci sifat dari unsur-unsur tersebut yang beke rja saat mempraktekkan meditasi jalan. Mereka mengetahui kaki yang terangkat itu ter asa ringan. turun dan tekan ke lantai. Karena pergerakan (dalam hal ini adalah gerakan mendorong) adalah satu sifat utama dari unsur udar a. Setelah itu terjadi per gerakan kaki bergerak naik. saat yogi mengalami rasa berat pada kaki mereka sebenarnya mengalami peristiwa bekerjanya unsur air.

Saat berikutnya ada gerakan kaki mendorong ke depan dan kesadaran yang melihat pergerakan tersebut. Inilah penjelasannya. Demikian seterusnya. Begitu pula kaki bisa menekan landasan karena mereka bermaksud demikian. Keadaan ini hanya bisa dilihat dan dialami oleh para yogi yang berlatih dengan sungguh-sungguh. Setelah mengamati proses ini dengan sungguh-sungguh para yogi kemudian memahami semua kemunculan itu berkondisi. Saat para yogi meneruskan latihan meditasi jalannya mereka akan menyadari pada setiap gerakan ada pikiran yang mencatat atau mengawasi setiap gerakan tersebut. Setelah ada kehendak untuk mendorong maka muncul proses kaki terdorong ke depan. h al itu bisa terjadi karena munculnya serangkaian kehendak. Pad a saat itu para yogi akan memahami batin dan jasmani muncul dan lenyap setiap saat . Sementara gerakan-gerakan kaki termasuk ke dalam kelompok materi atau rupa . ada gerakan mendorong kaki ke depan disertai dengan pikiran yang mengawasi gerakan tersebut. Pergerakan-pergerakan itu tak akan muncul denga n sendirinya. Selanjutnya. Kaki bisa turun karena mereka menginginkannya. Proses yang sama muncul saat melakukan gerakan menekan kaki ke landasan. Demikian seterusnya. Kondisi yang dimaksud adalah munculnya kehendak atau maksud yang mengawali setiap pergerakan. Saat it u ada gerakan menekan dan munculnya pengawasan atas gerakan tersebut. Yakni munculnya serangkaian kehendak a tau maksud yang mengakibatkan terjadinya setiap gerakan. Juga. Jadi dengan menaruh perhatian sungguh-sungguh saat kaki menekan landasan yogi-yogi sebenarnya bisa memetik pengalaman berupa keadaan alami yang dipengaruhi oleh unsur tanah. Dengan kata lain ada gerakan mengangkat disertai munculnya pikiran yang mengawas i (mencatat) gerakan mengangkat tersebut. Mereka bisa mengamati empat unsur utama dan menyadari keempatnya secara alami.dan landasan mengalami keadaaan alaminya yang khas. Dari sinilah muncul pemahaman tentang bekerjanya pasangan batin dan jasmani yang muncul dan lenyap setiap saat. Pergerakan-pergerakan itu tak akan terjadi tanpa adanya suatu sebab. kaki terdorong ke depan karena mereka bermaksud demikian. Ada sebuah sebab atau kondisi untuk setiap pergerakan. Keduanya muncul dan lenyap sampai kaki betul-betul menyentuh landasan. Kehendaklah yang mengawa li setiap pergerakan. Kondisi ini dipengaruhi oleh uns ur tanah. Setelah ada kehendak untuk mengangkat maka muncul proses mengangkat kaki. Ada hal lain yang akan ditemui para yogi. Saat-saat menyadari tersebut termasuk ke dalam bekerjanya kelompok batin (dalam bahasa Pali disebut nama). Mereka akan menyadari bahwa kaki bisa diangkat karena mereka menginginkannya. Dengan cara ini para yogi akan memahami bahwa bersamaan dengan melangkah ada gerakan kesadaran atau pengawasan. Bersamaan dengan itu ada pikiran yang mengawasi gerakan tersebut. Bisa dikatakan hanya dengan satu langkah para yogi bisa mengamati banyak proses. Setelah itu ada g erakan menurunkan kaki ke landasan. Hanya saja pemahaman atau pengertian tentang munc ul dan lenyapnya batin dan jasmani setiap saat ini hanya akan terjadi bagi mereka y ang berlatih dengan sungguh-sungguh. Inilah temuan berikutnya yang bisa ditemui para yogi saat mereka memberikan perhatian dengan . Jadi. Pada satu waktu ada kaki yang terangkat dan munculnya kesadaran mengangkat.

Mereka bisa memahami hubungan antara yang dikondisikan dan yang mengkondisikan. pengertian muncul dalam diri par a yogi. atau alam-alam neraka). bila seorang yogi mampu meraihnya bisa dipastikan ia hanya akan terlahir di alam-alam bahagia. Akhirnya pengertian selanjutnya yang muncul adalah segala sesuatu itu bersifat tidak kekal. Pada saat inilah seorang yogi bisa memahami hubungan sebab akibat. Seseorang yang meraih tingkat pemahaman mendekati seorang sotapanna belum benar-benar menjadi sotapanna. Setelah itu barulah seorang yogi bisa memutuskan fenomena yang tengah diselidikinya itu bers ifat tidak kekal. Tapi. Kita harus berusaha memahami apakah sesuatu itu bersifat kekal atau tidak kekal. Mereka juga akan memahami ketidakkekalan kesadaran melangkah. Melalui proses ini lewat pengalamannya sendiri. Mereka akan memahami bahwa maksud atau kehendak adalah kondisi yang membuat munculnya pergerakan. Melalui penyelidikannya para yogi melihat (menyadari) saat bermeditasi jalan ada gerakan mengangkat dan kesadaran yang muncul atas gerakan itu yang sesaat kemudi an lenyap.sungguh-sungguh. Kita harus berusaha untuk melihat melalui kekuatan yang muncul dalam meditasi apakah benda-benda itu subyek dari proses menjadi yang kemudian lenyap. Saat yogi memiliki pengertian tentang muncul-lenyapnya batin dan jasmani mereka akan memahami ketidakkekalan proses melangkah. binatang. Pemahaman ini tidak timbul dari membaca buku. Hal ini terjadi melalui munculnya pengertian bahwa batin dan jasmani tidak akan muncul tanpa adanya suatu kondisi. Saat pemahaman itu muncul yogi ini bisa saja menyingkirkan keragu-raguannya tent ang batin dan jasmani. Saat mengalami bahwa batin dan jasmani itu timbul dan tenggelam para yogi akan memahami batin dan jasmani itu bersifat tidak kekal. Inilah keuntungan besar dari berlatih meditasi jalan. Sotapanna artinya pemenang arus. Tentu saja hal ini bisa terjadi sekali l agi dengan memberikan perhatian secara teliti dan sungguh-sungguh dalam mengamati setiap pergerakan kaki. Saat seorang yogi memahami kondisi munculnya setiap pergerakan maka akan muncul pemahaman baru. Mereka memahami bahwa pergerakan itu tercipta oleh maksud atau kehendak. Tapi pihak tera khir ini sudah dipastikan hanya akan terlahir kembali ke alam manusia atau alam dewad ewa. Gerakan in i pun secara sederhana muncul dan lenyap. Tentu saja tingkat di atas tidak mudah dicapai. Pemaha man ini bisa diraih melalui meditasi jalan. Hal ini terjadi seiring dengan timbulnya pengertian bahwa segala sesuatu itu akan muncul dan lenyap. Dengan pemahaman yang jernih atas kondisi setiap benda dan dengan tersingkirnya keragu-raguan atas batin dan jasmani bisa dikatakan ia meraih tingkat mendekati seorang sotapanna .. Saat mereka memahami batin . Jika meditasi k ita cukup baik keadaan ini memungkinkan untuk mengamati ketidakkekalan. Dengan demikian seseorang yang mendekati pemahaman sotapanna tak mungkin terlahir di alam-alam bawah (alam peta. Hal ini memberi ruang atas munculnya gerakan mendorong kaki ke depan. muncul dan lenyap (timbul tenggelam). Seorang sotapanna adalah seseorang yang telah meraih pencerahan tingkat pertama. diberitahu pihak lain atau adanya suatu otoritas tertentu yang mendorong munculnya pengertian ini.

Usaha yang dikerahkan saat bermeditasi jalan adalah melihat gerakan kita secara cermat secermat kamera berkekuatan tinggi melihatnya bingkai demi bingkai. Terlihat rangkaian pergerakan itu berbeda satu sama lainnya. Atau dengan kata lain. umpamanya. tentunya. Dengan cara semacam inilah akan muncul penghargaan dan penghormatan atas . Hal ini muncul karena ternyata batin dan jasmani berad a dalam keadaan terus-menerus timbul dan tenggelam. mereka menyadari tak ada jiwa atau diri di dalam benda-benda yang memerintah mereka untuk menjadi kekal. Inilah kenyataannya. Pada kondisi ini yogi-yogi bisa memahami sifat ketiga dari semua fenomena yang berkondisi yakni bersifat tidak kekal. Meski perbedaan itu kecil sekali tapi seseorang bisa dengan mudah melihat perbedaan tersebut.dan jasmani itu bersifat tidak kekal mereka akan mengerti bahwa batin dan jasmani it u bersifat tidak memuaskan. dukkha dan anatta dari semua fenomena secara alami. Salah satu arti dari anatta adalah tak ada tuan (majikan) tiada apapun. Meskipun. naiknya kaki berkisar satu detik. Umpamanya seseorang mengambil gambar bergerak dari proses mengangkat kaki. Akibatnya mereka bisa melihat anicca. Sekarang akan semakin sulit melihat perbedaan pergerakan dalam bingkai gambar dari hasil rekaman kamera yang bisa mengambil gambar satu juta bingkai dalam satu detik. ternyata ada satu juta proses pergerakan mengangkat kaki dimana kita menganggapn ya sebagai satu gerakan belaka. tak ada jiwa dibalik fenomena-fenomena tersebut. Para yogi bisa memahami ketiga sifat tersebut dengan penyelidikan secara tekun s aat kaki naik dan kesadaran yang muncul saat menaikkan kaki dan seterusnya. Lebih jauh. Kita pun per lu menyelidiki kekuatan kesadaran dan kekuatan kehendak yang muncul di awal setiap pergerakan. Dengan memberikan perhatian penuh atas gerakan tersebut mereka melihat bendabend a timbul-tenggelam terus-menerus. Sehingga kamera ini bisa mengambi l gambar dari gerakan itu sebanyak 36 bingkai dalam satu detik. Bahwa benda-benda tak memiliki diri di dalamn ya. Sekarang izinkan kami untuk menjelaskan lebih terperinci tentang pergerakan dala m meditasi jalan. Setelah gambar itu terekam kita bisa mengamati rangkaian pergerakan dalam bingka ibingkai yang terpisah itu. yakni sifat dari anatta. Kataka nlah ada kamera yang bisa merekam gerakan tersebut. Setelah memahami ketidakkekalan dan tidak memuaskannya benda-benda akan muncul suatu penyelidikan yang memunculkan pengertian bahwa di sana tak ada tuan dari benda-benda tersebut. tak ada kekuatan apapun. Bagaimana jika ada kamera yang bisa mengambil gambar dari pergerakan mengangkat kaki sebanyak 1000 bingkai dalam satu detik? Bila ada kamera demikian maka akan dihasilkan rekaman seribu pergerakan dalam satu detik. anicca. rangk aian gambar pergerakan itu hampir-hampir sulit dibedakan. dukkha dan anatta). Dengan memiliki pemahaman semacam ini yogi-yogi memahami sifat ketiga dari fenomena yang berkondisi. penuh penderitaan dan tak ada inti yang k ekal di dalamnya (dalam Pali disebut bersifat. Benda-benda hanya timbul dan tenggelam mengikuti hukum alam.

perjuangan. Khayalan ini bisa dipatahkan oleh pengamatan langsung atas fenomena jasmani sedi kit demi sedikit. Sebagai contoh kita mungkin melihat sebuah lukisan indah yang digoreskan pada su atu kanvas. Jika melihat sesuatu yang sekilas k ita pikir cantik ternyata si cantik itu berlubang-lubang. bahwa kita tak akan mungkin melihat secara langsung seluruh satu juta gerakan se perti yang bisa dilihat oleh Sang Buddha. Setelah menyadari bahwa benda-benda merupakan gabungan dari bagian-bagian yang muncul sedikit demi sedikit dan setelah mengamati bagian-bagian ini satu demi sa tu. hal ini dimaksudkan secara langsung melihat dan juga menarik kesimpulan . Setelah melihat lukisan tersebut merupakan gabungan dari ruang-ruang kita akan kehilangan ketertarikan padanya. Tak ada suatu i . timbul tenggelam. Dengan kata lain ketertarikan kita pada lukisan tersebut akan padam. Jika lukisan tersebut ditaruh di bawah mikroskop kita akan melihat ternyata gamb ar tersebut tidak padat dan merupakan satu kesatuan. mudah busuk dan hancur. yang melihat saat melangkah hanya berupa satu gerakan tak terputus. kebijaksanaan dan pandangan terang Sang Buddha atas apa yang beliau lihat dari pergerakan-pergerakan tersebut. Nilai dari meditasi ini bersandar pada kemampuan kita untuk menyingkirkan selubu ng ketidakterputusan dengan menemui keadaan alami atas ketidakkekalan. Saat itu kita berpikir cat dan kanvas secara keseluruhan sebagai suatu k esatuan. Mereka telah mengamatinya dengan peralatan sangat canggih bahwa materi hanyalah gabungan getaran partikel-partikel dan energi yang berubah terus-menerus. Karenanya kita akan kehilangan keterikatan atasnya. setahap demi setahap sebagaimana adanya sehingga khayalan tersebut bisa dihancurkan. sebagai ketidakkekalan. Dengan pandangan biasa seseorang tak akan mampu melihat ketidakkekalan dari bend abenda karena ketidakkekalan tersembunyi oleh khayalan. Demikian pula dengan yang terjadi pada khayalan atas ketidakterputusan bisa dipatahkan. Namun dengan mengamati lebih jernih kita bisa mengetahui bahwa gerakan itu terdiri dari banyak gerak yang berkesinambungan dalam membentu k satu-kesatuan gerak. Saat menggunakan kata melihat atau mengamati yang merujuk pada situasi diri sendiri. Para yogi bi sa menemukan ketidakkekalan sebagaimana adanya secara langsung melalui daya upaya mereka sendiri. para yogi akan menyadari sesungguhnya tak ada apapun di dunia ini yang cukup berharga untuk dilekati atau diidam-idamkan. Dari proses ini mereka melihat batin dan jasmani. Sebelum mulai berlatih meditasi jalan mungkin para yogi pernah berpikir satu lan gkah hanya terdiri dari satu gerakan. sebagai umat awam. Ahli fisika modern tahu hal ini dengan baik. Setelah berlatih meditasi dan mengamati dengan penuh perhatian para yogi akan ta hu meski hanya satu pergerakan (dari jumlah keseluruhan 4 tahapan gerak) sebenarnya pergerakan itu gabungan dari jutaan gerak. Karena ternyata lukisan terseb ut terdiri dari banyak lubang dan rongga-rongga. Kita berpikir.

nti sari yang kekal di dalamnya. Burma Praktek Vipassanâ atau meditasi pandangan terang merupakan upaya yang dilakukan oleh meditator untuk memahami dengan benar sifat sejati fenomena psiko-fisik yan g terjadi pada tubuhnya. Mahâsî Sayâdaw Agga Mahâpandita U Sobhana khotbah YM Mahâsi Sayâdaw Agga Mahâ Pandita U Sobhana kepada murid beliau pada saat pelantikan Meditasi Vipassanâ di Sâsana Yeikhta. semoga semua yogi bisa meraih pemurnian sepenuhnya dalam kehidupan ini. sebanyak apapun buku yang dibaca atau bahan yang didiskusikan (mendiskusikan tentang bagaimana menyingkirkan kemelekatan) kita tidak akan mampu mengenyahkan kemelekatan tersebut. __________________ Latihan Meditasi Vipassana Praktis oleh: Ven. Dengan menyadari ketidakkekalan yang tiada akhir ini para yogi tahu benar-benar tidak ada apapun yang cukup berharga untuk diidam-idamkan. Meditasi jalan bisa menolong kita meraih pandangan terang melalui melihat ke dalam benda-benda apa adanya. Meditasi jalan juga bisa menjadi alat yang tepat gu na menolong kita menyingkirkan kekotoran batin. Meditation Centre. Dengan cara itulah kita bisa menyingkirkan kerinduan. termasuk sikap tubuh berdiri. Sepanjang belum mampu menyadari kebenaran ini. Kita harus mengenyahkan kerinduan dan kemelekatan. Sekali kita mampu menyadari hal ini maka kita akan mampu menyingkirkan kemelekatan terhadap benda-benda. Dengan mempraktekkan semua si kap tubuh dalam meditasi vipassana. Meski begitu meditasi jalan bisa seakurat seperti meditasi duduk at au jenis posisi meditasi vipassana yang manapun. Terjadinya Nâma-rûpa ini dirasakan . Rangoon. Kita harus memahami bahwa segala sesuatu muncul dan lenyap. Lebih jauh kita harus memberikan perhatian penuh saat bermeditasi jalan sama sep erti yang kita lakukan saat duduk bermeditasi atau berbaring. Sedangkan fenomena f isik atau mental merupakan bentuk kesadaran (nâma). Itu terjadi melalui pengertian atas merealisir ketiga keberadaan anicca. Maka sangat diperlukan memiliki pengalaman langsung bahwa semua benda yang berkondisi adalah tanda dari keberadaan ketiga sifat dasar ters ebut. Kita ingin menyingkirkan kerinduan karena tidak ingin menderita. Meditasi jalan bisa mengakibatkan berkembangnya kekuatan spiritual. Saya tidak sedang berusaha mengatakan bahwa dengan mempraktekkan meditasi jalan bisa memberikan kesadaran tertinggi dan kemampuan untuk sepenuhnya mengusir kemelekatan. Tak ada apapun yang cukup berharga untuk digenggam di dunia fenomena ini. Keseluruhan tubuh yang dirasakan den gan jelas tersebut. Meditasi jalan juga sekuat kesadaran murni mel ihat kembung dan kempisnya perut. Selebihnya kita harus berlatih meditasi jalan dengan sungguh-sungguh sama sepert i waktu berlatih meditasi duduk atau posisi lainnya. Fenomena fisik adalah segala sesuatu (obyek-obyek) di sek itar yang dirasakan dengan jelas oleh seseorang. tersusun atas sekelompok sifat materi (rûpa). Tak ada substansi yang kekal di dalamnya. Kita berlati h meditasi karena ingin menyingkirkan kemelekatan dan kerinduan terhadap obyekobye k. dukkha dan anatta dari benda-benda secara apa adanya. Sekarang kita bisa memahami alasan mengapa perlu berlatih meditasi.

Setiap kali seseorang melihat. seperti: melihat sebagai melihat . Jangan mengubah cara Anda bernafas. yaitu saat nâma-rûpa dilihat. maka sadarilah itu sebagai berpikir. mengembara. Kemudian kembali lagi kepada gerakan perut naik dan turun. Lakukan pengamatan itu dengan pikiran dan bukan dengan gerakan. perut senantiasa naik dan turun dan ger akan tersebut jelas sekali. orang ten tu saja tidak dapat menyadari setiap hal tersebut di atas. apa yang Anda sebut atau katakan tidak masalah. Namun di awal latihan. Merencanakan sebagai merencanakan. Yang menjadi persoalan utama adalah mengetahui atau merasakan. Dalam setiap tindakan bernafas. Jika kemudian pikiran sampai di suatu tempat. apapun bentuk pikiran atau bayangan yang timbul haruslah disadari. menyentuh sebagai menyentuh dan berpïkir sebagai berpikir . yang menarik perhatian dan mudah dirasakan olehnya. maka kita sadari. dirasakan. maka pikiran akan berhenti mengembara. Lakukan hal yang sam a untuk gerakan turun. sampai . Dalam meditasi vipassanâ. bicara . dan bergerak turun saat Anda menghembuskan nafas. dan gerak an turun sebagai gerakan turun. Karena itu ia harus mula i memperhatikan hal-hal yang berlaku. maka amatilah sebagai. Jika ha l ini diamati sekali atau dua kali. lakukan hal itu dari awal hi ngga akhir gerakan seperti layaknya Anda melihatnya dengan mata. dicium. Hal ini merupakan sifat materi yang dikenal sebagai vâyodhâtu (elemen pergerakan). Pikiran Anda bisa saja mengembara ke mana-mana saat mengamati gerakan perut. Gerakan naiknya perut serta kesa daran mental terhadapnya harus bertepatan. Jika And a merasa bahagia. Perhatikan gerakan naik sedemikian rupa hingga kesadaran An da terhadapnya selaras dengan gerakan itu sendiri. Jika gerakan tersebut tidak cukup jelas bila hanya diamati oleh pikiran. bertemu . merasakan sebagai merasakan . merasakan. J ika Anda membayangkan. mendengar. Bosan sebagai bosan. mencium sebagai mencium . Kemudian kembali lagi kepada gerakan perut yang naik dan turun. Hal ini juga harus disadari dengan berkata dalam hati. Jika Anda membayangkan bertemu dan berbicara dengan seseorang maka amati hal itu demikian. mencium. mendengar sebagai mendengar . maka sadarilah itu sebagai membayangkan. sadarilah itu sebagai bahagia. sampai. bicara. Meditator harus mulai dengan memperhatikan gerakan ini. Kita harus senantiasa membuat diri sendiri sadar akan nâma-rûpa tersebut dengan cara mengamati dan memperhatikannya sedemikian rupa. Jika Anda membayangkan bertemu seseora ng. Singkatnya. Demikian pula dengan gerakan turun. Gerakan naik harus disadari sebagai gerakan naik. menyentuh atau berpikir. disentuh at au dipikirkan. Jangan bernafas terlalu keras juga. Bernafaslah dengan teratur seperti biasanya dan perhatikan perut yang bergerak naik dan turun setiap kali berlangsung. Anda akan mengetahui bahwa perut bergerak naik saat Anda menarik nafas. maka Anda dapat menyentuh perut Anda dengan menggunakan telapak tangan. Anda akan merasa lelah jika mengubah cara bernafas. bertemu.dengan jelas. seperti layaknya sebuah batu yang dilempar mengenai sasarannya. Jika Anda berpikir. mengembara . jangan memperlambat atau mempercepatnya. didengar. Senang sebag ai . sehingg a Anda akan kembali mengamati perut yang bergerak naik dan turun. dan dilakukan oleh pikiran yang dengan tekun mengamati perut. Saat mengamati perut yang bergerak naik. maka ia harus menyadari kenyataannya.

panas da n sebagainya. Sesungguhnya. Yang ada hanyalah timbulnya satu bentuk perasaan tidak menyenangkan yang disusul oleh bentuk perasaan tak menyenangkan berikutnya. sedang hidup dan berpikir. maka perasaan kaku dan panas akan timbul dalam tubuh.senang. panas dan pegal serta yang lainnya sangatlah sukar dipertahankan. Hal ini sama seperti timbulnya aliran listrik baru yang berkesinambungan. Phala (Buah dari Sang Jal an) dan Nibbâna. Memang kesabaran terhadap bentuk-bentuk perasaan tidak menyenangkan dalam tubuh seperti rasa kaku. aku merasa pegal. Keinginan ini pun harus diamati. yang menyebabkan lampu menyala. Kesabaran menuntun ke Nibbâna demikian kata pepatah. sedang berpikir. bentuk kesadaran tersebut cenderung lenyap. pegal atau panas. orang tersebut tidak ada. Aku sekarang merasa tidak nyaman dengan perasaanpe rasaan yang tidak enak ini . tak peduli apakah itu perasaan kaku. Kita jadi berpikir bahwa ada seseorang yang sejak kan akkanak hingga sekarang. Orang harus sabar dalam bermeditasi. Bentuk-bentuk perasaan ini harus diamati dengan hati-hati dan terus menerus. Kemudian kita akan kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut. di mana setelahnya sang yogi harus kembali lagi mengamati perasaan kaku. Karena dengan mengamati. Jika kita gagal mengamati bentuk-bentuk kesadaran tersebut. Pepatah ini rupanya berhubungan erat dengan upaya bermeditasi. Dan mengamati semua bentuk kesadaran ini disebut sebagai cittânupassanâ. Setiap kali kontak yang tidak menyenangkan menyentuh tubuh maka bentuk-bentuk perasaan tidak menyenangkan timbul saling bergantian. Jika ia menukar atau mengganti posisi tubuh terlalu sering karena tidak sabar menghad api perasaan kaku atau panas yang timbul. Hal ini juga harus diamati dengan hati-hati pula. Penjelasan mengenai bentuk-bentuk perasaan dengan menyertakan ego adalah keliru. Jika samâdhi tidak berkembang maka batin tidak akan mencapai hasil. kita cenderung mengidentifikasikannya dengan seseorang atau satu individu. aku merasa panas. Ora ng tidak seharusnya gampang menyerah terhadap latihan meditasi pada saat muncul bentuk-bentuk perasaan tersebut sehingga ia langsung mengubah posisi tubuhnya. Sesungguhnya tidak ada aku yang terlibat di sini. perasaan tersebut cenderung meningkat dan menyebabk an keinginan untuk mengganti posisi tubuh. Itulah mengapa kita harus senantiasa mengamati setiap bentuk kesadaran yang timbul. pegal. Pada tahap awal latihan meditasi yan g dilakukan oleh seorang yogi. Kecil hati sebagai kecil hati. I . Seluruh bentuk perasaan itu disebut sebagai dukkhâved anâ (perasaan tidak puas) dan tindakan mengamatinya disebut sebagai vedanânupassanâ. Itulah mengapa kita harus mengamati bentuk-bentuk kesadaran dan memahaminya sebagaimana adanya. Jika Anda telah duduk bermeditasi sekian lama. da n tidak juga akan tercapai Magga (Jalan menuju Nibbana). padahal aku baik-b aik saja beberapa saat yang lalu. merencanakan. Kita cenderung berpi kir bahwa inilah aku yang sedang membayangkan. Sama halny a dengan rasa pegal dan lelah. Aku merasa kaku. Itulah mengapa kesabaran sangat dibutuhkan dalam meditasi. mengetahui atau merasakan. maka samâdhi (konsentrasi benar) tidak akan berkembang. Yang ada hanyalah bentuk-bentuk kesadaran yang berlangsung terus menerus. Kegagalan atau kelalaian dalam mengamati sensasisensasi tersebut membuat Anda berpikir.

Jika tubuh bergerak. Namun pertama-tama. ingin mengubah posisi. terangkat . menggerakkan dan merentangkannya. maka kembal ilah pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. bahkan bentuk perasaan yang kuat sekalipun cenderun g menghilang. dan juga b ila perasaan-perasaan tersebut menjadi tak tertahankan lagi. Jika tangan terangkat. Jika kaki terangkat. terangkat . Bentuk-bentuk perasaan yang halus seperti ini akan langsung hilang jika orang tersebut mengamatinya dengan penuh kesabaran. Konsentrasikan pikiran Anda pada gerakan ini. Yang ada hanyalah kesinambungan antara usaha mengamati dan pengamatan sesungguhnya. amatilah itu. turun . Sebagai contoh. terangkat. amati demikian. seperti misalnya bangun dari posisi duduk. Tak boleh ada waktu jeda saat it u. bergerak. terangkat . menyadari rasa kaku sebagai rasa kaku atau panas sebagai panas . Saat tubuh Anda condong ke depan. Jika rasa ga tal tersebut tidak juga hilang. dan jangan lang sung menggaruk agar gatalnya hilang. Sa at konsentrasi baik dan mantap. Sehingga ia lalu kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut. bangun. Semua gerakan yang dilakukan untuk menghilangkan rasa gatal ini harus diamati. terangkat. turun. bergerak. hanya istirahat statis saja. Jika kaki turun. pengamatan dalam meditasi vipassanâ harus berkesinambungan dan tanpa henti. tanpa adanya jeda di antara kegiatan mengamati tersebut apapun fenomena yang timbul. keinginan untuk menggaruk tersebut juga harus diamat i. Mengubah posisi tubuh ini harus dilakukan dengan halus dan diamati demikian. bergerak . Jika tangan bergerak. maka rasa gatal akan berangsur-angsur hilang dan kemudian ia bisa kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut. bergerak . Tapi ia tentu saja harus segera mengubah posisi tubuhnya jika bentuk-bentuk pera saan yang tidak menyenangkan tetap ada meskipun telah diamati sekian lama.a harus melanjutkan meditasinya dengan penuh kesabaran. maka ia memang harus menggaruknya agar rasa gatal it u hilang. Perubahan posisi harus dilakukan bersamaan dengan pengamatan yang Anda lakukan. Magga dan Phala Ñâna (pengetahuan akan Jalan dan Buahnya) didapatkan hanya jika terjadi momentum pertemuan seperti ini. Namun jika tidak mengubah posisi tubuh. maka rasa gatal dan keinginan untuk menggaruk itu harus diamati. terangkat. tubuh menjadi ringan dan terangkat. Jika ia dengan tekun mengamati. Setiap kali Anda mengubah posisi tubuh. bangun . bergerak . Anda harus mulai dan mengamati keinginan untuk mengubah posisi tubuh itu dan dilanjutkan dengan mengamati setiap gerakan dengan cermat. menyentuh . Dengan cara yang sama. bergerak dan menyentuh. Jika kaki bergerak. ingin mengubah posisi . Proses meditasi adalah seperti menciptakan api dengan car a menggesekkan dua batang kayu dengan sekuat tenaga dan tanpa henti hingga timbul intensitas panas yang dibutuhkan (agar api menyala). Anda harus mengamatinya pelan-pelan. khususnya gerakan menyentuh. menarik dan mendorong (gerakan-gerakan menggaruk) hingga akhirnya kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. mengangkat tangan. Dengan demikian tercapailah tahap-tahap kematangan yang terus menerus dan meningkat dalam kecerdasan seorang yogi. Namun ia juga harus tet ap mengamati demikian. maka harus diamati. . bergerak. Saat Anda bangun. antara usaha samâdhi (tahap konsentrasi) dan samâdhi yang sesungguhnya. bergerak. jika rasa gatal timbul dan meditator ingin menggaruknya karena rasa gatal tersebut sudah tidak tertahankan lagi.

pelan dan hati-hati. apakah den gan kaki kiri atau kaki kanan. ingin duduk . mulai dari gerakan terangkatnya hingga turunnya kaki. angkat. Kemudian lakuk an pengamatan 3 gerakan seperti disebutkan di atas. Mulai saja dengan gerakan terangkat dan gerakan jatuh. amati demikian. Anda harus mengamati dengan cermat terangkatnya kaki. kiri. Saat membuat gerakan tubuh. Amati setiap langkah kaki. Melihat atau mendengar tidak menjadi perhatiannya. ia harus melakukannya secar a perlahan. melihat. ia akan berdiri pelanpelan supaya punggungnya tidak semakin sakit. amati dengan konsentrasi penuh beratnya gerakan turun tubuh Anda. Dengan demikian kewaspadaan. ingin duduk. Pengamatan seperti ini akan semakin mudah setelah dilakukan selama dua hari. turun . bangun . ia akan bergerak pelan dan hati-hati. bangun . memandang . amati gerakan-gerakan yang Anda lakukan saat mengatur posisi kaki dan tangan Anda. Pada awalnya . 3 gerakan harus diamati dalam setiap langkah yaitu: saat kaki terangkat. maka amati gerakan perut yang naik dan turun. kanan saat berjalan cepat dan angkat. Karena itu mulailah dengan gerakan yang bertahap dan perlahan. namun hanya posisi tubuh yang statis. Jadi seaneh atau seheboh apapun yang barangkali dilihat atau didengarnya. Anda harus selalu menyadari semua gerakan yang ada. ia harus bersikap seakan tidak melihat atau mendengarnya. cukup mengamati satu atau dua gerakan saja yaitu. Saat meluruskan badan dan berdiri. menundukkan atau menegakkan kepala. pada saat yang sama amatilah. mengamati setiap langkah demikian. cepat dan tiba-tiba. bangun. jika timbul . Semua gerakan ini harus dilakukan pelan-pelan. Jika tidak ada gerakan apa-apa. Mereka harus bergerak mengubah posisi tu buh secara bertahap. turun . menekuk atau meluruskannya. yang ia lakukan hanyalah terus mengamati hal-hal tersebut dengan cermat. Tidak hanya ini. maju. Inilah cara mengamati jika seseorang berjalan dengan cepat. berdiri . Saat berjalan. Begitu juga para yogi yang bermeditasi. Demikian pula dengan orang ya ng menderita sakit punggung (encok). apakah kaki kiri atau kaki kanan yang maju. angkat. lakukanlah sepelan mungkin seperti layaknya orang cacat. mengamati demikian. saat kaki terdorong ke depan dan saat kaki jatuh.Seorang meditator harus bertindak seperti orang cacat yang lemah. Namun tidak demikian denga n orang cacat. Cukuplah jika Anda melakukan pengamatan saat berjalan cepat atau berjalan dalam jarak tertentu. konsentrasi d an pandangan akan mantap. Sama halnya jika mendengar. Saat bangun dan posisi duduk. Saat melihat kesana kemari. Jika akan bangun. Orang normal d an sehat akan berdiri dengan mudah. Saat berjalan perlahan atau berjalan cankama (berjalan naik dan turun). tapi bersikaplah seperti tidak melihat. Dan pada saat duduk. Jika pada saat berjalan Anda lalu ingin du duk maka amatilah demikian. Saat mengamati. turun pada saat berjalan pelan. Demikian pu la saat kaki jatuh ke tanah. berdiri. pelan-pelan menggerakkan lengan dan kaki. Saat Anda sudah duduk. Meskipun mungkin mata melihat. seorang yogi harus melakukannya perlahan-lahan seper ti orang cacat yang lemah. perhatian seorang yogi hanyalah mengamati. amati langkah kaki. Saat bermeditasi. Orang harus berjalan. Anda juga harus mengamati beratnya gerakan kaki turun. amati demikian.

Dalam kasus gerakan seperti ini (yaitu berbaring) Anda dapat memperoleh pengetah uan (yaitu magga ñâna dan phala ñâna pengetahuan akan Sang Jalan dan Buah). ia belum juga berhasil mencapai tingkat Araha t. ia melanjutkan meditasi dan mencapai tingkat sakadâgâmi (yaitu orang yang kembali sekali lagi atau orang yang telah mencapai tingkat kesucian ke dua). dan dengan tujuan menyeimbangkan samâdhi (konsentrasi) dan viriya (usaha). Melakukan pengamatan saat Anda berbaring dengan cara demikian adalah penting. maka kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. YM Ananda telah bertekad untuk mencapai tingkat Arahat dalam semalam saat Sang Buddha membabarkan ajaranNya untuk pertama kali. maka ia masuk ke dalam kutinya. Segala gerakan yang terjadi saat berbaring dan mengatur posisi lengan d an kaki harus diamati secara cermat dan terus menerus. jika timbul keinginan untuk berbaring.rasa kaku pada pinggul dan rasa panas di sekujur tubuh. maka seorang yogi tidak boleh . Dari tingkat sotâpanna . Terangkatnya lengan. menempelnya sikut pada lanta i. Pencapaian seperti itu datang setiap sa at dan hanya butuh waktu sekejap. ia harus bermedita si dalam posisi berbaring sejenak. yaitu mengamati langkah kaki . Pengetahuan itu bisa datang dalam sekali tekukan tangan atau dalam sekali rentan gan tangan. Saat melakukan ini dan mengamati. Itulah mengapa seorang yogi harus tekun mengamati setiap saat. Dengan menyadari bahwa ia telah berlatih meditasi secara berlebihan. semua gerakan ini harus diamati. mencapai tingkat kesucian pertama) sebelum ia membaringkan tubuhnya. angkat. Jadi renungkanlah pengalaman YM Ananda yang mencapai tingkat Arahat ini. YM Ananda hanyalah seorang sotâpanna (yaitu seorang pemenang arus. kaki yang diluruskan. sedikit waktu terlewat tidak lah seberapa . kiri dan kanan. Ia berlatih semalaman satu bentuk meditasi vipassanâ yang dikenal sebagai kayagatasati. Meskipun ini dilakukan hingga hampir subuh. Tiga tingkat kesucian yang lebih tinggi ini dicapai hanya dalam waktu sekejap. namun hanya tubuh yang statis. turun . amati keinginan itu dan juga gerakan-gerakan tangan dan kaki saat And a berbaring. keinginan mental untuk berjalan serta gerakan fisik yang terjadi saat berjalan. Karena ini jugalah maka YM Ananda menjadi seorang Arahat. Saat mengamati. maju ke depan dan menjejak. maka pengetahuan itu dapat timbul kapan saja. Bahkan jika hari sudah sangat larut dan waktunya tidur. berbaring maka ia langsung mencapai tingkat Arahat. tingkat anâgâmi (yaitu yang tidak kembali lagi atau tingkat kesucian ke tiga) dan tingkat Arahat (yaitu kondisi seseorang yang telah mencapai kesucian tertinggi). Saat samâdhi (konsentrasi) dan ñâna (pandangan terang) cukup mantap. Lalu kembali lagi pada. Ia tidak boleh bersantai-santai dalam mengamati dan berpikir bahwa. condongnya tubuh saat Anda telah siap untu k berbaring. Jika tak ada gerakan. Ia duduk di atas bantal dan membaringkan tubuhnya. Ia mengamati setiap kejadian . lanjutkan dengan mengama ti bentuk-bentuk perasaan tersebut. berbaring. naik. goyangan badan. bergeraknya lengan.

i ngin bangun . Tapi jika hari semakin larut malam dan sudah waktunya tidur . Jika matanya terasa makin berat. sakit . menurunkan tangan kembali dan . membuka dan menutup pintu. Karena biasanya gerakan-gerakan yang terjadi berlangsung cepat. Saat ia duduk ia akan mengamati. Tidaklah sulit untuk tertidur. Sang yogi lalu harus mengamati. berat . Saat menegakkan kepala ia mengamati demikian. Semua gerakan tersebut harus diamati secermat mungkin. Kemudian ada pula gerakan berpakaian. tegak. ingin bangun. melihat. mengambil dan mengaturnya di piring. ia harus mengamati demikian. jika rasa ka ntuk yang menang maka ia akan langsung tertidur. maka ia haru s mengamati. terpejam. ia harus terus mengamati tanpa henti. terpejam . Itulah mengapa mereka yang baru mulai belajar bermeditasi tidak dianjurkan untuk sering-sering berlatih dalam posisi berbaring. segar dan terus mengamati gerakan naik dan turunnya perut. semua gerakan ini juga harus diamati. Jika ia mengubah gerakan-gerakan saat mengatur posisi tangan dan kaki. Jika seorang pemula dalam meditasi berpikir bahwa 4 jam tidur tidaklah cukup untuk menjaga kesehatan. Mengamati dengan cara demikian maka rasa kantuk akan hilang dan mata menjadi segar lagi. ia harus mulai dengan mengamati gerakan naik turunnya perut. bahkan sangat gampang. Saat ia merasa ngantuk.tidur dulu dan mengendurkan pengamatannya. maka ia bisa memperpanjang waktu tersebut hingga 5 atau 6 jam. mengamati gerakan perut naik dan turun. maka ia harus kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Jika Anda bermeditasi dalam posisi berbar ing maka rasa kantuk cepat datang dan akhirnya Anda jatuh tertidur. 4 jam tidur adalah cukup. Kemudian ia secara alami (otomatis) akan tertidur. menundukkan kepala dan memasukkan sesendok ke dalam mulut. Lalu ia harus segera mengamati gerakan-gerakan saat mengatur posisi lenga n dan kaki. melihat. Ia harus terus bermeditasi hingga akhirnya memang tertidur. ia harus langsung mulai mengamati. Inilah waktu tengah malam yang disarankan Sang Buddha. memandang . menyentuhnya. berat. merapikan ranjang. tegak . Orang juga harus mengamati saat ia mencuci wajah atau mandi. Enam j am tidur sangatlah cukup untuk menjaga kesehatan. Di saat yang lain. maka ia bisa bermeditasi saat berbaring. sehingga harus diamati sebanyak yang memungkinkan. yaitu pada saat bangun. Seorang yogi yang serius dan bersemangat harus melatih kewaspadaan seperti mendahului rasa kantuknya itu. Saat menyodorkan tangan ke arah makanan. maka jika kantuk yang sebenarnya timbul maka ia akan langsung tertidur. Betapa pun giatnya seorang yogi melakukan medit asi. ia harus mengamati demikian. namun hanya duduk diam. Saat seorang yogi bangun. Jika matanya terpejam. Jika tak ada perubahan apapun. Jika meditasinya matang dan mengalahkan rasa kantuknya maka ia tidak akan tertidur. Itulah mengapa pada saat terbangun dan tidur maka ia harus langsung mengamati keadaan pikiran saat bangun seperti. segar. memandang. Jika ia berniat bangun dari ranjang. Seorang yogi yang bertekad mencapai magga dan phalañâna harus beristirahat hanya pada saat tidur saja. ngantuk . Sebaliknya. Ia seharusnya lebih sering bermeditasi dalam po sisi duduk atau berjalan. ngantuk. Saat tidur merupakan saat beristirahat bagi seorang yogi. ia harus membatasi waktu tidurnya hingga 4 jam. Jika mata terasa sakit. bangun . sakit. duduk duduk . Saat seorang yogi makan dan memandang meja makan. Tapi bagi seorang yogi yang benar-benar serius. Jika ia belum mampu membuat dirinya sadar akan hal ini. bangun.

Yang ada hanyalah obyek pengamatan dan kegiatan mengamati yang berpasangan. tapi ia harus bertekad untuk dapat mengama ti semuanya. Saat berjalan pel an. ia harus mengamati demikian. Begitu pula j ika ia sedang makan sup. kiri . Amati juga. Saat mengamati demikian dan pikiran melantur. mengetahui . Semua gerakan yang terjadi seperti menyodorkan tangan. ia akan mampu mengamati dengan cermat semua gerakan yang terjadi. Lalu kem bali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Tapi ia pantang putus asa k arena setiap pemula dalam meditasi akan menghadapi kesulitan yang sama. mengunyah . Dan dalam keadaan ini. semua gerakan ini harus diamati seperti adanya (pengamatan seperti ini sama seperti cara pengamatan orang Burma saat makan. gerakan condong dan meluruskan pinggul. dan saat makanan tersebut turun melalui kerongkongannya. Tapi secara singkat. Jika seorang yogi terus mengamati secara demikian. turun . Mereka yang menggunakan garpu dan sendok atau sumpit harus mengamati gerakan-gerakannya dengan sikap yang sepatutnya). ia akan kehilangan banyak hal untuk diamati. Pada awalnya. Amati pula rasa kaku. ia akan mampu mengamati lebih banyak gerakan yang terjadi. Pikirannya kemudian akan terpusat pada obyek perhatian. Saat duduk diam. g erakan naiknya perut akan selaras dengan mengamati. Inilah y ang harus dilakukan seorang yogi saat ia makan sesendok demi sesendok. Lalu kembali pada gerakan naik dan turunnya perut. Saat ia mengunyah makanan. mengetahui.menegakkan kepala. Mengamati gerakan-gerakan yang terjadi pada saat makan memang cukup sulit karena terdapat begitu banyak hal untuk dilihat dan diamati. Pada awalnya seorang yogi akan mele wati beberapa hal yang seharusnya diamati. sebenarnya hanya ada beberapa hal mendasar ya ng perlu diamati. semua gerakan ini harus diamati. demikian pula dengan gerakan turunn ya perut). kanan. Saat mengamati gerakan naik dan turunnya perut ia akan dapat membedakan bahwa gerakan naiknya perut sebagai fenomena fisik dan kegiatan mental mengamatinya sebagai fenomena psikis. Saat ia sampai pada tahap merasakan makanan. Begitu pula dengan gerakan turunnya perut. mengunyah. ia akan semakin menyadari saat pikirannya mulai m elantur hingga akhirnya pikiran itu berhenti melantur. tapi saat samâdhi (konsentrasi)nya telah mantap. Obyek fisik perhatian dan kegiatan mental mengamati akan berlangsung secara berpasangan. misalnya gerakan naik dan turunnya perut (atau dengan kata lain. kewaspadaan menjadi hampir simultan (tanpa henti) pada obyek perhatiannya. pegal dan sakit serta rasa gatal manakala timbul. Tentu saja ia tak dapat mencegah lewatnya beberapa hal yang seharusnya diamati. Sang yogi pada saatnya akan mengalami sendiri keadaan ini yang sesungguhnya. ia harus mengamati. amatilah bentuk-bentuk kesadaran. Saat ia menikmati dan menelan makanan tersebut. Dengan demikian sang . gerakan mencondongkan dan menegakkan kepala. Tapi saat ia semakin terlatih. gerakan memutar dan meluruskan tubuh. Saat berjalan cepat. amati hanya gerakan naik dan turunnya perut. Lalu kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. amati demikian. saat timbul. tak ada satu individu atau orang yang terlib at. ia harus mengamati gerakan ini. saat pikirannya mengembara kesana kemari. Amati hal yang sama saat Anda yang perlu diamati. Sampai di sini saya telah menyebutkan begitu banyak hal yang harus diamati oleh seorang yogi. memegan g sendok dan menyendok sup tersebut. angkat.

Para Buddha. Arahat dan Arya. 20 a tau 15 hari latihan meditasi. phalañâna (pengetahuan buah dan Sang Jalan) dan Nibbâna-dhamma. tanpa menuruti keinginan atau dibawah kendali siapa pun. bahwa ia akan terbebas d ari sakâyaditthi (kepercayaan akan adanya aku) dan vicikicchâ (keragu-raguan). Ia harus melanjutkan berlatih meditasi dalam keyakinan ini. Pengetahuan tersebut lalu akan diikuti oleh dukkhânupassanâ-ñâna. Sangatlah penting untuk mendapatkan pemahaman ini secara benar. phalañâna dan Nibbâna-Dhamma yang juga dialami oleh para Buddha. Sadhu!Sadhu!Sadhu! *** . Arahat dan Arya. Dan pengetahuan ini disebut sebagai paccaya-pariggaha-ñâna. Mereka bersifat tanpa jiwa at au tanpa ego. hal-hal tersebut akan dialami dalam rentang waktu satu bulan. serta yang menyertai masaknya buah itu adalah pârâmi mereka (kebajikan sempurna). Sang yogi memang seharusnya merasa puas dalam keyakinan bahwa ia akan mencapai Dhamma-Dhamma ini dalam waktu seperti tersebut di atas. Tidak lama setelah itu mereka akan mengalami sendiri magga-ñâna. yaitu menyadari bahwa segala sesuatu yang bersifat sementara adalah derita. Sang yogi akan memahaminya sendiri jika ia terus mengamati. dukkhâ dan anattâ. Keyakinan seperti i ni disebut sebagai aniccânupassana-ñâna. Ini adalah juga dukkhanupassana-ñâna. Selanjutnya. Pada kenyataannya tidaklah demikian. Orang awam selalu berasumsi bahwa baik fenomena mental dan material akan berlangsung selamanya. Karenanya. Arahat dan Arya. Arahat dan Arya memahami Nibbâna dengan mengikuti hanya jalan ini. Saat ia terus melakukan meditasi. yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. dengan pengetahuan membedakan antara sebab dan akibat. Kesadaran akan hal ini disebut sebagai anattânupassanâñâna. Mereka harus merasa bahagia akan hal ini serta pada kemungkinan mengalami keadaan samâdhi luhur ini (kedamaian pikiran yang timbul dari konsentrasi) dan ñâna (kebijaksanaan) yang dialami oleh para Buddha. jika sang yo gi terus berlatih. Hal ini akan dicapai. sang yogi akan menyadari dengan jelas bahwa se gala fenomena besifat aniccâ. yaitu dari kanak-kanak hingga dewasa. dalam setiap tindakan mengamati. Sang yogi juga akan menemui berbagai macam kesulitan dalam tubuh. Dan sesungguhnya.yogi akan menyadari dengan sejelas-jelasnya keadaan tanpa henti dari pasangan fenomena fisik dan psikis tersebut. Tak ada satu fenomena pun yang abadi. hingga akhirnya ia mencapai Nibbâna. serta terselamatkan dari bahaya kelahiran kembali di alam manapun juga. bahkan tidak lebih lama dari satu kedi pan mata. Semua bent uk fenomena timbul dan berlalu begitu cepat. Saat sang yogi terus mengamati. Pemahaman membedakan ini disebut sebagai nâmarûpa-pariccheda-ñâna. sebagai tahap awal vipassanâ-ñâna. Semoga Anda semua mampu berlatih meditasi dengan baik dan dengan segera mencapai Nibbâna yang telah dialami oleh para Buddha. sang yogi akan menjadi yakin bahwa segala fenomena psiko-fisik terjadi dengan sendirinya. Bahkan bagi mereka yang memiliki pârâmi istimewa akan mengalami Dhamma-Dhamma ini hanya dalam 7 hari. Para yogi meditasi harus mengenali bahwa mereka berada pada jalan satipatthana i ni. Ia lalu menjad i sangat yakin bahwa segala fenomena bersifat hanya sementara. sang yogi akan memahami sendiri dengan jelas bahwa yang ada hanyalah bentuk materi yang menjadi obyek perhatian serta keadaan mental yang mengamatinya. untuk memenuhi keinginan mereka mencapai magga-ñâna (pengetahuan akan Sang Jalan). yang merupakan satu bentuk dari penderitaan. ia akan memahami bahwa segala sesuatu yang timbu l akan cepat berlalu.

terjemahan dari bahasa Burma ke bahasa Inggris oleh: U Nyi Nyi.Sumber: LATIHAN MEDITASI VIPASSANA PRAKTIS. 1978 . beserta anggota Executive Committee. Mahâsi Yogi. Buddhasâsanânuggaha Association.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful