P. 1
Bhavana Samadhi

Bhavana Samadhi

|Views: 66|Likes:
Published by Sato Sakaki

More info:

Published by: Sato Sakaki on Jul 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/24/2014

pdf

text

original

Bhavana/samadhi/meditasi PENGERTIAN, FAEDAH DAN CARA MELAKSANAKAN BHAVANA 1.

PENGERTIAN BHAVANA Bhavana berarti pengembangan, yaitu pengembangan batin dalam melaksanakan pembersihannya. Istilah lain yang arti dan pemakaiannya hampir sama dengan bhava na adalah samadhi. Samadhi berarti pemusatan pikiran pada suatu obyek. Samadhi yang benar (samma samadhi) adalah pemusatan pikiran pada obyek yang dapa t menghilangkan kekotoran batin tatkala pikiran bersatu dengan bentuk-bentuk karma yang baik, sedangkan samadhi yang salah (miccha samadhi) adalah pemusatan pikira n pada obyek yang dapat menimbulkan kekotoran batin tatkala pikiran bersatu dengan bentuk-bentuk karma yang tidak baik. Jika dipergunakan istilah samadhi, maka yan g dimaksud adalah "Samadhi yang benar". 2. FAEDAH BHAVANA Bhavana atau meditasi yang benar akan memberikan faedah bagi orang bagi orang ya ng melaksanakannya. Faedah-faedah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dari prak tek meditasi itu adalah : 1. Bagi orang yang selalu sibuk, meditasi akan menolong dia untuk membebaskan di ri dari ketegangan dan mendapatkan relaksasi atau pelemasan. 2. Bagi orang yang sedang bingung, meditasi akan menolong dia untuk menenangkan diri dari kebingungan dan mendapatkan ketenangan yang bersifat sementara maupun yang bersifat permanen (tetap). 3. Bagi orang yang mempunyai banyak problem atau persoalan yang tidak putusputus nya, meditasi akan menolong dia untuk menimbulkan ketabahan dan keberanian serta mengembangkan kekuatan untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut. 4. Bagi orang yang kurang percaya diri sendiri, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan keparcayaan kepada diri sendiri yag sangat dibutuhkannya itu. 5. Bagi orang yang mempunyai rasa takut dalam hati atau kebimbangan, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan pengertian terhadap keadaan atau sifat yang sebenarnya dari hal-hal yang menyebabkannya takut dan selanjutnya dia akan dapat mengatasi rasa takut itu dalam pikirannya. 6. Bagi orang yang selalu merasa tidak puas terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya atau dalam kehidupan ini, meditasi akan memberikan dia perubahan dan perkembangan yang menuju pada kepuasan batin. 7. Bagi orang yang pikirannya sedang kacau dan berputus asa karena kurangnya pengertian akan sifat kehidupan dan keadaan dunia ini, meditasi akan menolong di a utnuk memberikan pengertian padanya bahwa pikirannya itu kacau untuk hal-hal yang tidak ada gunanya. 8. Bagi orang yang ragu-ragu dan tidak begitu tertarik kepada agama, meditasi ak an menolong dia untuk mengatasi keragu-raguannya itu dan untuk melihat segi-segi serta nilai-nilai yang praktis dalam bimbingan agama. 9. Bagi seorang pelajar atau mahasiswa, meditasi akan menolong dia untuk menimbulkan dan menguatkan ingatannya serta untuk belajar lebih seksama dan lebih efisien. 10. Bagi orang yang kaya, meditasi akan menolong dia untuk dapat melihat sifat d an kegunaan dari kekayaannya itu, bagaimana cara menggunakan harta tersebut untuk kebahagiaan dirinya sendiri dan kebahagiaan orang lain. 11. Bagi orang miskin, meditasi akan menolong dia untuk memiliki rasa puas dan ketenangan serta tidak melampiaskan rasa iri hati terhadap orang lain yang lebih

mampu daripadanya. 12. Bagi seorang pemuda yang sedang berada dalam persimpangan jalan dari kehidupan ini dan dia tidak tahu jalan mana yang akan ditempuhnya, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan pengertian dalam menempuh salah satu jalan yang akan membawa ke tujuannya. 13. Bagi orang yang telah lanjut usia yang telah bosan dengan kehidupan ini, med itasi akan menolong dia ke dalam pengertian yang lebih mendalam mengenai kehidupan ini, dan pengertian tersebut akan memberi dia kelegaan dan kebebasan dari penderitaan serta pahit getirnya kehidupan ini, dan akan menimbulkan kegairahan yang baru bagi dirinya. 14. Bagi orang yang mudah marah, meditasi akan menolong dia mengembangkan kekuatan kemauan untuk mengatasi kelemahan-kelemahannya. 15. Bagi orang yang bersifat iri hati, meditasi akan menolong dia untuk mengerti tentang bahayanya sifat iri hati itu. 16. Bagi orang yang diperbudak oleh panca inderanya, meditasi akan menolong dia untuk belajar menguasai nafsu-nafsu dan keinginannya itu. 17. Bagi orang yang telah ketagihan minuman keras yang memabukkan, meditasi akan menolong dia untuk menyadari dirinya dan melihat cara mengatasi kebiasaan yang berbahaya itu yang telah memperbudak dan mengikat dirinya. 18. Bagi orang yang tidak terpelajar atau bodoh, meditasi akan memberikan dia kesempatan untuk mengenal diri dan mengembangkan pengetahuan-pengetahuan yang sangat berguna untuk kesejahteraan diri sendiri dan untuk keluarga serta handai taulannya. 19. Bagi orang yang sungguh-sungguh melakukan latihan meditasi yang benar ini, maka nafsu-nafsu dan emosinya tak mempunyai kesempatan untuk memperbodohi dirinya lagi. 20. Bagi orang yang bijaksana, meditasi akan membawa dia kepada kesadaran yang lebih tinggi dan pencapaian penerangan sempurna; dia akan dapat melihat segala sesuatu dengan sewajarnya dan tidak akan terseret lagi ke dalam persoalanpersoal an yang remeh. 21. Selanjutnya, dalam agama Buddha, meditasi yang benar itu dipergunakan untuk membebaskan diri dari segala penderitaan, untuk mencapai Nibbana. Demikianlah beberapa faedah praktis yang dapat dihasilkan dari latihan meditasi. Faedah-faedah ini merupakan milik yang akan ditemui dalam pikiran sendiri. 3. CARA MELAKSANAKAN BHAVANA Orang yang baru belajar meditasi sebaiknya mencari tempat yang cocok untuk melakukan meditasi. Tempat itu adalah tempat yang sunyi dan tenang, bebas dari gangguan orang-orang di sekitarnya, bebas dari gangguan nyamuk. Untuk tahap permulaan, hendaknya orang berlatih di tempat yang sama, jangan pindah-pindah tempat. Jika meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan di mana saja di setiap tempat, baik di kantor, di pasar, di kebun, di hutan, di goa, dikuburan, maupun di tempat yang ramai. Waktu untu melaksanakannya dapat dipilih sendiri. Biasanya waktu yang baik untuk bermeditasi adalah pagi hari antara pukul 04.00 sampai pukul 07.00 dan malam har i antara pukul 17.00 sampai pukul 22.00. Jika waktu untuk bermeditasi telah ditent ukan, maka waktu tersebut hendaknya digunakan khusus untuk bermeditasi. Meditasi sebaiknya dilakukan setiap hari dengan waktu yang sama secara teratur atau konti nyu. Bila meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan kapan saja, pada setiap waktu. Orang bebas memilih posisi meditasi. Biasanya posisi meditasi yang baik adalah d uduk bersila di lantai yang beralas, dengan meletakkan kaki kanan di atas kaki kiri, dan tangan kanan menumpu tangan kiri di pangkuan. Atau boleh juga dalam posisi seten gah

sila, dengan kaki dilipat ke samping. Bahkan kalau tidak memungkinkan, maka dipersilahkan duduk di kursi. Yang penting adalah bahwa badan dan kepala harus t egak, tetapi tidak kaku atau tegang. Duduklah seenaknya, jangan bersandar. Mulut dan m ata harus tertutup. Selama meditasi berlangsung hendaknya diusahakan untuk tidak menggerakkan anggota badan, jika tidak perlu. Namun bila badan jasmani merasa ti dak enak, maka diperbolehkan untuk menggerakkan tubuh atau mengubah sikap meditasi. Tetapi, hal ini harus dilakukan perlahan-lahan, disertai dengan penuh perhatian dan kesadaran. Jika meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan dalam berbagai posi si, baik berdiri, berjalan, maupun berbaring. Sebelum melaksanakan meditasi, sebaiknya diminta petunjuk atau nasehat dari guru meditasi atau mereka yang telah berpengalaman mengenai meditasi, agar dapat dica pai sukses dalam bermeditasi. Pada saat hendak bermeditasi, sebaiknya dibacakan paritta terlebih dahulu. Selan jutnya, laksanakanlah meditasi dengan tekun. Pikiran dipusatkan pada obyek yang telah di pilih. Pada tingkat permulaan, tentunya pikiran akan lari dari obyek. Hal ini biasa, ka rena pikiran itu lincah, binal, dan selalu bergerak. Namun, hendaknya orang yang bermeditasi selalu sadar dan waspada terhadap pikiran. Bila pikiran itu lari dar i obyek, ia sadar bahwa pikiran itu lari, dan cepat mengembalikan pikiran itu pada obyek semula. Bila hal ini dapat dilaksanakan dengan baik, maka kemajuan dalam meditasi pasti akan diperoleh. Pembagian Bhavana Bhavana dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu : 1. Samatha Bhavana, berarti pengembangan ketenangan batin. 2. Vipassana Bhavana, berarti pengembangan pandangan terang. Diantara kedua jenis bhavana ini terdapat perbedaan. Perbedaan itu mencakup: 1. Tujuannya Samatha Bhavana merupakan pengembangan batin yang bertujuan untuk mencapai ketenangan. Dalam Samatha Bhavana, batin terutama pikiran terpusat dan tertuju p ada suatu obyek. Jadi pikiran tidak berhamburan ke segala penjuru, pikiran tidak ber keliaran kesana kemari, pikiran tidak melamun dan mengembara tanpa tujuan. Dengan melaksanakan Samatha Bhavana, rintangan-rintangan batin tidak dapat dilenyapkan secara menyeluruh. Jadi kekotoran batin hanya dapat diendapkan, sepe rti batu besar yang menekan rumput hingga tertidur di tanah. Dengan demikian, Samath a Bhavana hanya dapat mencapai tingkat-tingkat konsentrasi yang disebut jhana-jhan a, dan mencapai berbagai kekuatan batin. Sesungguhnya pikiran yang tenang bukanlah tujuan terakhir dari meditasi. Ketenan gan pikiran hanyalah salah satu keadaan yang diperlukan untuk mengembangkan pandanga n terang atau Vipassana Bhavana. Vipassana Bhavana merupakan pengembangan batin yang bertujuan untuk mencapai pandangan terang. Dengan melaksanakan Vipassana Bhavana, kekotoran-kekotoran batin dapat disadari dan kemudian dibasmi sampai keakar-akarnya, sehingga orang

Buddhanussati = perenungan terhadap Buddha 2. yang disebut sepuluh vipassanupakilesa. Vikkhittaka = wujud mayat yang telah hancur lebur 7. Obyek-obyek meditasi ini dapat dipilih salah satu yang kiranya cocok dengan sifat atau pribadi seseorang. Dhammanussati = perenungan terhadap Dhamma 3. pada umumnya orang yang bermeditasi sering mendapat gangguan atau halangan atau rintangan. yaitu : 1. Keempat puluh macam obyek meditasi itu adalah : a. Hatavikkhittaka = wujud mayat yang busuk dan hancur 8. Vipubbaka = wujud mayat yang bernanah 4. Devatanussati = perenungan terhadap makhluk-makhluk agung atau para dewa . Lohita kasina = wujud warna merah 8. Vinilaka = wujud mayat yang berwarna kebiru-biruan 3. Nila kasina = wujud warna biru 6. Sepuluh asubha (sepuluh wujud kekotoran). satu aharapatikulasañña. dukkha (derita). yaitu lima nivarana dan sepuluh palibodha. Pathavi kasina = wujud tanah 2. Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan). terdapat pula rintangan-rintang an yang dapat menghambat perkembangan pandangan terang. Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. Sanghanussati = perenungan terhadap Sangha 4. yaitu : 1. 3. Aloka kasina = wujud cahaya 10. pembebasan sempurna. Pita kasina = wujud warna kuning 7. Vikkahayitaka = wujud mayat yang digerogoti binatang-binatang 6. Samatha Bhavana 1. dan anatta (tanpa aku yang kekal). Obyeknya Obyek yang dipakai dalam Samatha Bhavana ada 40 macam. Vayo kasina = wujud udara atau angin 5. Penghalangnya Dalam melaksanakan Samatha Bhavana. Pemilihan sebaiknya dilakukan dengan bantuan seorang guru. pencapaian Nibbana. Lohitaka = wujud mayat yang berlumuran darah 9. Atthika = wujud tengkorak c. Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda). Akasa kasina = wujud ruangan terbatas b. sepuluh anussati. Pemilihan ini dimaksudkan untuk membantu mempercepat perkembangannya. Sesungguhnya "dalam kitab suci telah ditulis bahwa hanya dengan pandangan terang inilah kita dapat menyucikan diri kita. obyek yan g dipakai dalam Vipassana Bhavana adalah nama dan rupa (batin dan materi). Obyek-obyek itu adalah sepuluh kasina. empat appamañña. Vipassana Bhavana dapat menuju ke arah pembersihan batin. Uddhumataka = wujud mayat yang membengkak 2. bahwa hidup ini dicengkeram oleh anicca (ketidak-kekalan). dan tidak dengan jalan lain".yang melakukan Vipassana Bhavana dapat melihat hidup dan kehidupan ini dengan sewajarnya. Apo kasina = wujud air 3. dan empat arupa. EMPAT PULUH MACAM OBYEK MEDITASI Dalam Samatha Bhavana ada 40 macam obyek meditasi. Sebaliknya. Teja kasina = wujud api 4. satu catudhatuvavatthana. Vicchiddaka = wujud mayat yang terbelah di tengahnya 5. Caganussati = perenungan terhadap kebajikan 6. sepuluh asubha. Dengan demikian. Silanussati = perenungan terhadap sila 5. 2. Puluvaka = wujud mayat yang dikerubungi belatung 10. atau em pat satipatthana. Odata kasina = wujud warna putih 9. yaitu : 1.

yaitu : 1. seperti gambar pikiran mengenai mayat yang membengka k dan lain-lain. Mudita = perasaan simpati 4. Selanjutnya. Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan) . atau bunga yang berwarna biru. Empat appamañña (empat keadaan yang tidak terbatas). yang makin lama makin terang seperti bulatan dari rembulan. Akincaññayatana-citta = obyek bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan Berikut penjelasan lebih mendetil tentang masing-masing obyek meditasi diatas : a. terbelah di tengahnya. membengkak. Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda) Dalam kasina tanah. tidak dapat dihin dari". atau putih. dan akhirnya merupakan tengkorak. Dalam kasina r uangan terbatas. Dalam kasina api. kain. Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dal am badan jasmani) g. dapat dipakai api yang menyala yang di depannya diletakkan seng yang berlobang. membiru. dengan memandang terus pada bulatan itu. "Badanku ini juga mempunyai sifat-sifat itu sebagai kodratnya. dikerubungi oleh lalat dan belatung. ia menarik kesimpulan terhadap badannya sendir i. Selanjutnya. kuning. Disini. Upasamanussati = perenungan terhadap Nibbana atau Nirwana d. tanpa pamrih 2.7. dan sadar. Kasinugaghatimakasapaññatti = obyek ruangan yang sudah keluar dari kasina 2. Akasanancayatana-citta = obyek kesadaran yang tanpa batas 3. yaitu : 1. waspada. orang melihat atau membayangkan sesosok tubuh yang tel ah menjadi mayat diturunkan ke dalam lubang kuburan. dapat dipakai sebuah telaga atau air yang ada di dalam ember. dapat dipakai kebun yang baru dicangkul atau segumpal tanah yang dibulatkan. Kini. Marananussati = perenungan terhadap kematian 8. Metta = cinta kasih yang universal. dikoyak-koyak oleh burung gagak atau serigala. or ang harus berjuang agar pikirannya tetap berjaga-jaga. dapat dipakai benda-ben da seperti bulatan dari kertas. c. Upekkha = keseimbangan batin e. merah. Empat arupa (empat perenungan tanpa materi). Sementara itu. berlumuran darah. hancur dan membusuk. Dalam kasina cahaya. b. dapat dipakai cahaya matahari atau bulan yang memantul di dinding atau di lantai melalui jendela dan lain-lain. dan bulatan terse but kelihatan menjadi makin semu dan akhirnya sebagai bayangan pikiran saja. mula-mula orang harus memusatkan seluruh perhatiannya pada bulatan yang berwarna biru misalnya. Sepuluh asubha (sepuluh wujud kekotoran) Dalam sepuluh asubha ini. Anapanasati = perenungan terhadap pernapasan 10. Dalam kasina angin. Disinilah hendaknya orang memegang dengan teguh di dalam pikirannya obyek yang berharga yang telah timbul. Natthibhavapaññati = obyek kekosongan 4. dapat dipakai ruangan kosong yang mempunyai batas-batas disekelilingny a seperti drum dan lain-lain. orang masih melihat bulatan biru itu di dalam pikirannya. Satu aharapatikulasanna (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) f. dapat dipakai angin yang berhembus di pohon-pohon atau badan. benda-benda di sekeliling bulatan tersebut seolah-olah lenyap. Dalam kasina warna. walaupun mata dibuka atau ditutup. Karuna = belas kasihan 3. bernanah. Dalam kasina air. papan. Kayagatasati = perenungan terhadap badan jasmani 9.

patut meneri ma tempat bernaung. telah bertindak lurus. limpa. direnungkan enam sifat Dhamma. Dalam devatanussati. cinta kasih dipancarkan kepada orang tu a. daging. air mata. seseorang harus mulai dari dirinya sen diri. Keenam sifat Dhamma itu adalah telah sempurna dibabarkan. d. Dengan sadar ia menarik napas. hendaknya diusahakan untuk mengatasi kebencian itu dengan merenungkan sifat-sifat yang bai . Akhirnya. dan binatang lainnya yang hidup dengan ini. teman-teman laki-laki dan wanita sekaligus. yang tersulit adalah memancarkan cinta kasih kepada musuh-musuhnya. direnungkan sila yang telah dilaksanakan. guru-guru. kuku. patut menerima penghormatan. empedu. kutu. Dalam marananussati. selaput dada. dan melalui apa oran g akan meninggal. yang patut dimuliakan. Kesembilan sifat Ariya-Sangha itu adalah telah bertindak dengan baik. direnungkan makhluk-makhluk agung atau para dewa yang berbahagia. Empat appamañña (empat keadaan yang tidak terbatas) Empat appamañña ini sering disebut juga sebagai Brahma-Vihara (kediaman yang luhur). dan otak. nyata di dalam kehidupan. Namun. Dalam hal ini mungkin timbul perasaan dendam atau sakit hati. cairan sendi. direnungkan sembilan sifat Buddha. Dalam kayagatasati. dengan sadar ia mengeluarkan napas. dari telapak kaki ke atas dan dari puncak kepala ke bawah. dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing. telah bertindak patut. Dalam anapanasati. karena ia tidak mungkin dapat memancarkan cinta kasih sejati bila ia membenci da n meremehkan dirinya sendiri. kotoran. m inyak kulit. ingus. tak lapuk oleh waktu . pengenal semua alam. lendir. air kencing. orang harus merenungkan bahwa pada suatu hari. Dalam Dhammanussati. guru para dewa dan manusia.Dalam Buddhanussati. serta keadaan yang bagaimana menungguku setelah kematian. bulu badan. keringat. dan menuju pemusatan pikiran. saluran usus. kulit. Dalam upasamanussati. ludah. nanah. lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya di alam semesta. y ang tidak ternoda. tela h bertindak benar. putusnya lingkaran tumimbal lahir. belatung. direnungkan kebajikan berdana yang telah dilaksanakan. Kesembilan sifat Buddha tersebut adalah maha suci. direnungkan sembilan sifat Ariya-Sangha. yang tidak patah. kematian aka n datang menyongsongku dan makhluk lainnya. orang merenungkan Nibbana atau Nirwana yang terbebas dari kekotoran batin. darah. Dalam caganussati. paru-paru. Dalam silanussati. yang dipuji oleh para bijaksana. bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan. orang merenungkan 32 bagian anggota tubuh. yang sedang menikmati hasil dari perbuatan baik yang telah dilakukan nya. pembimbing manusia yang tiada taranya. urat. hati. orang merenungkan keluar masuknya napas. patut menerima bingkisan. bahwa di dalam badan ini terdapat rambut kepala. ginjal. usu s. patut menerima persembahan. lemak. telah mencapai penerangan sempurna. yang menyebabkan musnahnya kekikiran. tulang. yang sadar. bahwa badan ini harus dibagi-bagikan olehku kepada ulat-ulat. gigi. Dalam Sanghanussati. sempurna pengetahuan dan tingkah lakunya. menuntun ke dalam batin. perut. mengundang untuk dibuktikan. jantung. sumsum. Dalam melaksanakan metta-bhavana. di mana. yang diselubungi kulit dan penuh kekotoran . hancurnya keinginan. Setelah itu. sempurna menempuh jalan ke Nibbana.

nanah. Jadi. Umpamanya : setelah selesai makan dan minum. Umpamanya : empedu. batin yang telah memperoleh gambaran kasina dikembangkan ke dalam perenungan ruangan yang tanpa batas sambil membayangkan. dan lain-lain. ia turut berbahagia melihat kebahagiaan orang lain. ialah segala sesuatu yang bersifat p anas dingin. Tejo-dhatu (unsur api atau unsur panas). gigi. e. "Tak terbataslah kesadaran itu". Dalam akasanancayatana-citta. "Ruangan! Ruangan! Tak terbatas ruangan ini!" dan kemudian gambaran kasina dihilangkan. ialah segala sesuatu yang bersifat ber hubungan yang satu dengan yang lain atau melekat. Dalam upekkha-bhavana. dan menembus tanpa batas. 4. atau bila sedang sakit. Satu aharapatikulasañña (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) Dalam satu aharapatikulasañña. Dalam akincaññayatana-citta. orang harus mengarahkan perhatiannya pada kekosongan atau kehampaan dan tidak ada apa-apanya dari kesadaran terhadap ruangan yang tan pa batas itu. pikiran ditujukan kepada ruangan yang tanpa batas.k dari musuhnya dan jangan menghiraukan kejelekan-kejelekan yang ada padanya. Umpamanya : rambut kepala. Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan jasmani) Dalam satu catudhatuvavatthana. orang merenungkan keadaan kekosongan sebagai ketenangan atau kesejahteraan. lendir. 3. orang memancarkan perasaan simpati kepada orang yang sedang bersuka-cita. orang akan tetap tenang menghadapi suka dan duka. Pathavi-dhatu (unsur tanah atau unsur padat). f. ialah segala sesuatu yang bersifat bergerak. diminum. pujian dan celaan. bad an akan terasa panas dingin. dara h. ruangan yang tanpa batas itu ditembus dengan kesadarannya sambil merenungkan. 2. Ia terus menerus merenungkan. Empat arupa (empat perenungan tanpa materi) Dalam kasinugaghatimakasapaññati. kesengsaraan. Dalam karuna-bhavana. Vayo-dhatu (unsur angin atau unsur gerak). angin yang keluar masuk waktu bernapas. mencurahkan perhatiannya kepada hal tersebut. Ia harus berul angulang memikirkan penembusan ruangan itu dengan sadar. yaitu perasaan. dan lain-lain. bulu badan. Apo-dhatu (unsur air atau unsur cair). Dalam natthibhavapaññati. dan lain-lain. bentuk-bentuk pi . ialah segala sesuatu yang bersi fat keras atau padat. semuanya akan berakhir sebagai kotoran (ti nja) dan air seni (urine). dicicipi. Perl u diingat bahwa kebencian hanya dapat ditaklukkan dengan cinta kasih. "Tidak ada apa-apa di sana! Kosonglah adanya ini". pencerapan. direnungkan bahwa di dalam badan jasmani terdapa t empat unsur materi. Umpamanya : angin yang ada di dalam perut dan usus. dikunyah. direnungkan bahwa apapun yang tela h dimakan. diliputi kesedihan. dipusatkan di dalamnya. direnungkan bahwa makanan adalah barang yang menjijikkan bila telah berada di dalam perut. g. kuku. untung dan rugi. dan setelah itu ia mengembangkan pencapaian dari sisa unsur-unsur batin yang penghabisan. yaitu : 1. dan penderitaan. Dalam mudita-bhavana. orang memancarkan belas kasihan kepada orang yang sedang ditimpa kemalangan.

Untuk menaklukkan kemauan jahat hendaknya orang senantiasa melaksanakan meditasi cinta kasih. Keragu-raguan (vicikiccha) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatika n sesuatu yang menyebabkan timbulnya keragu-raguan. Dhamma. Labha (keuntungan) 4. Kula (pembantu dan orang yang bertanggung jawab) 3. Palibodha ini ada sepuluh macam. Untuk membebaskan diri dari nafsu keinginan. Kamma (pekerjaan) 6. orang hendaknya senantiasa meneguhkan keyakinan pada Buddha. Avasa (tempat tinggal) 2. Kemalasan dan kelelahan (thina-middha) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan rasa segan. yaitu : 1. dan kesadaran sampai batas kelenyapannya. Jadi. keluarga. tentang kepuasan.kiran. Untuk membebaskan diri dari keragu-raguan. mengantuk sesudah makan. Untuk membebaskan diri dari kemalasan dan kelelahan. berusaha untuk menguasai pikiran dan mengendalikan indriya indriyanya. ora ng hendaknya senantiasa merenungkan suatu cahaya sampai terserap ke dalam batin. kebajikan. Sepuluh macam palibodha Palibodha berarti gangguan dalam meditasi yang menyebabkan batin gelisah dan tid ak mampu memusatkan pikiran pada obyek. Kemauan jahat (byapada) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan obyek yang menyebabkan timbulnya kebencian. dan saudara) 8. hendaknya orang senantiasa melaksanakan meditasi deng an memakai obyek yang kotor atau menjijikkan dan berusaha menghindari obyek-obyek yang bisa merangsang. yaitu: 1. Byapada (kemauan jahat) 3. tanpa disertai kebijaksanaan. Abadha (penyakit) . tanpa disertai kebijaksanaan. tanpa disertai kebijaksanaan. seolah-olah tidak ada pencerapan lagi 2. Vicikiccha (keragu-raguan) Untuk menaklukkan kelima rintangan tersebut. dan Sangha. Ñati (orangtua. Nafsu-nafsu keinginan (kamachanda) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan obyek yang indah. LIMA MACAM NIVARANA DAN SEPULUH MACAM PALIBODHA Lima macam nivarana Nivarana berarti rintangan atau penghalang batin yang selalu menghambat perkembangan pikiran. Kegelisahan dan kekhawatiran (uddhacca-kukkucca) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan ketidak-tenteraman pikiran. orang hendaknya senantiasa mempelajari dan memahami kitab suci Tripitaka. senantiasa melihat penderitaan di dalam ketidak-kekalan. Kamachanda (nafsu-nafsu keinginan) 2. setelah kekosongan itu dicapai. Nivarana ini ada lima macam. tanpa disertai kebijaksanaan. serta berusaha melaksanakan sila dengan sempurna. bebas dari nafsu-nafsu. kesunyian. kelelahan. maka kesadaran mengenai kekosongan itu dilepas. Untuk mengatasi kegelisahan dan kekhawatiran. senantiasa ingat bahwa setiap orang adalah pemilik dan pewaris dari perbuatannya sendiri. orang harus mengetahui sebab-sebab timbulnya nivarana dan berusaha menghindari sebab-sebab itu serta melakukan usah ausaha yang dapat melenyapkan nivarana itu. Uddhacca-kukkucca (kegelisahan dan kekhawatiran) 5. senantiasa merenungkan ajaran-ajaran Sang Buddha dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Thina-middha (kemalasan dan kelelahan) 4. rasa malas. Addhana (perjalanan) 7. kebebasan. senantiasa berbicara tentang kesempurnaan hidup. Gana (murid dan teman) 5. tanpa disertai kebijaksanaan.

Orang yang keras nafsu lobanya atau Ragacarita 2. yakin pada sesuatu yang dianggap baik. keluarganya. perangai. tak senan g melihat kesalahan walaupun kecil. malas. menggantungkan diri pada pendapat orang lain. terdapat pembagian sifat-sifat secara umum yang berdasarkan atas keadaan batin manusia. Orang yang mempunyai saddhacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan keyakinan. cenderung ke arah kelemahan batin. suka menemui orang-orang suci. Palibodha ini harus dibasmi. Ia merasa khawa tir akan kemungkinan timbulnya penyakit. suka marah. Untuk mereka yang mempunyai dosacarita. cerdik. suka kha watir. s uka mendengarkan Dhamma. dan saudara-saudaranya. Ia merasa khawatir akan pelajaran yang ditinggalkannya. Gantha (pelajaran) 10. . ENAM MACAM CARITA Carita berarti sifat. Untuk mereka yang mempunyai mohacarita. Di dalam Abhidhamma. suka bermusuhan. Orang yang tebal keyakinannya atau Saddhacarita 5. dan odata kasina). maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh asubha dan sa tu kayagatasati. Orang yang bodoh (dungu) atau Mohacarita 4. Sanghanussati. kadang-kadang kukuh memegang suatu pandangan. pikiran ruwet. cenderung ke arah rendah hati. sombong. Ia merasa khawatir akan tempat tinggalnya. lohita kasina. Ia merasa khawatir akan persoalannya . jujur. 3. suka ragu-ragu. suka memerintah dan mendikte orang lain. yaitu manusia itu dapat dibagi menjadi enam golongan berdasarkan sifat-sifat yang dimilikinya: 1. suka bingung. pada umumnya orang yang bermeditasi sering juga mendapat gangguan yang disebut palibodha. memandang rendah orang lain. Ia merasa khawatir akan pembantunya dan ora ng yang bertanggung jawab atas harta bendanya. kagum melihat suatu kebajikan walaupun itu kec il sekali. cenderung ke arah panas hati. Orang yang mempunyai mohacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan kebodohan batin. atau perilaku. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah empat appamañña dan empat kasina (nila kasina. Dhammanussati. Ia merasa khawatir akan murid-murid dan teman-temannya. cenderung ke arah keindahan dan kecantikan. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah anapanasati. dermawan. mudah melupakan kesalahan orang lain. Ia merasa khawatir akan pekerjaannya yang belum selesai. suka iri hati. mementingkan diri sendiri. tak mau tahu terhadap kebajikan orang lain walaupun be sar. suka jengkel. berambisi besar. takut akan kemerosotan kekuatan magisnya. pita kasina. Ia merasa khawatir akan bermacam-macam kekuatan magis yang dipertunjukkan. apakah meditasi ini akan membawa keuntungan baginya. Orang yang keras kebenciannya atau Dosacarita 3.Iddhi (kekuatan gaib) Dalam melaksanakan meditasi. Orang yang suka melamun atau Vitakkacarita Orang yang mempunyai ragacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan loba. terikat dengan rumahnya.9. Ia merasa khawatir akan perjalanan jauh yang harus ditempuhnya. Orang yang mempunyai dosacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan kebencian. pendiriannya tidak tetap. Untuk mereka yang mempunyai ragacarita. Ia mera sa khawatir akan orang tuanya. Orang yang bijaksana (pandai) atau Buddhicarita 6. agar orang dapat memusatkan pikiran dengan baik. Untuk mereka yang mempunyai saddhacarita. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah enam anussati (Buddhanussati.

nivarana telah dapat diatasi. kemudian dibayangkan dalam pikiran. Uggaha-Nimitta (gambaran batin mencapai) 3. Patibhaga-Nimitta (gambaran batin berlawanan) Mengenai parikamma-nimitta. terpeta dengan nyata. Semua obyek (empat puluh macam obyek meditasi) dapat menghasilkan parikamma-nimitta. aloka kasina. dan catudhatuvavatthana. patibhaga-nimitta merupakan gambaran pantulan dari obyek yang dipakai. dan mulai timbulnya patibhaga-nimitta. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi diliha t dengan batin. caganussati. Penjelasan: Pathavi kasina. mula-mula dilihat dengan mata. pikiran telah siap untuk memasuki pemusatannya. maka obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh kasina. Na . Parikamma-Bhavana (perkembangan batin tingkat pendahuluan) 2. yaitu keempat puluh obyek meditasi yang tersebut terdahulu. dan satu anapanasati. upasamanussati. TIGA MACAM NIMITTA Nimitta berarti suatu pertanda atau gambaran yang ada hubungannya dengan perkembangan obyek meditasi. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi. bersedia mendengarkan omongan orang lain. TIGA MACAM BHAVANA Dalam meditasi. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi yan g telah melekat pada pikiran. Orang yang mempunyai vitakkavcarita melaksanakan sesuatu berdasarkan tergesa-ges a. Mengenai uggaha-nimitta. maka obyek yang cocok untuk melaksanakan Samatha Bhavana ialah anapanasati. dan devatanussati). parikamma-nimitta merupakan gambaran atau bentuk dari obyek dalam keadaan yang sebenarnya. Mengenai patibhaga-nimitta. Dalam upacara-bhavana. Untuk mereka yang mempunyai vitakkacarita. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah marananussati. jernih. yaitu : 1. jelas. tidak suka bekerja untuk kepentingan sosial. mempunyai kawankaw an yang baik. Jadi. Jadi. yang bentuk gambaran itu berubah menjadi sinar terang di dalam batinnya . apo kasina. vayo kasina. pikirannya se ring berkeliaran. Upacara-Bhavana (perkembangan batin tingkat mendekati konsentrasi) 3. Semua obyek (empat puluh macam obyek meditasi) dapat menghasilkan parikamma-bhavana. sering bermeditasi. Jadi. aharapatikulasañña. pikiran baru akan dipusatkan pada obyek. Untuk mereka yang mempunyai buddhicarita atau ñanacarita. uggaha-nimitta merup akan gambaran obyek di dalam batin yang sama dengan bentuk obyek yang dipakai. kegagalan dalam usaha. sepuluh asubha. 5. dan empat arupa dapat dijadikan obyek meditasi oleh semua orang tanpa memperhatikan caritanya. terbebas dari gangguan. cenderung ke arah perenungan terhadap Tiga Corak Umum (Tilakkhana) . dan gambaran obyek tersebut dapat dibesarkan serta dikecilkan menurut kemauan. cenderung ke arah kegugupan. walaupun mata telah dipejamkan. seperti patung Buddha. Orang yang mempunyai buddhicarita atau ñanacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan berhati-hati.silanussati. 4. Parikamma-Nimitta (gambaran batin permulaan) 2. terdapat tiga macam tingkat perkembangan batin. semua obyek meditasi dapat dipakai dalam melaksanakan Samatha Bhavana. satu kayagatasati. Appana-Bhavana (perkembangan batin tingkat terkonsentrasi dengan kuat) Dalam parikamma-bhavana. Nimitta ini ada tiga macam. hingga obyek itu melekat dalam pikiran. Untuk mencapai patibhaga-nimitta. suka berteori. Untuk mencapai uggaha-nimitta. tejo kasina. Dalam keadaan ini. tetap. akasa kasina . yaitu : 1.

Jhana hanya mampu menekan atau mengendapkan kekotoran batin untuk sementara waktu. Piti. Ekaggata. Dalam appana-bhavana. karena jhana tidak kekal. Di samping nivarana telah dapat diatasi. batin masih tetap aktif dan berjaga secara sempurna serta sadar sepenuhnya. 7. PENGERTIAN JHANA Jhana berarti kesadaran/pikiran yang memusat dan melekat kuat pada obyek kammatthana/meditasi. namun masih belum mantap. upasamanu ssati). Dalam keadaan ini. satu anapanasati. ialah kebahagiaan yang tak terhingga. Keadaan ini hanya dapat dicapai dengan usaha yang ulet dan tekun. maka faktor-faktor jhana juga mulai timbul berperanan (vitakka. Kedu a keadaan ini dapat diumpamakan seperti bunyi lonceng. sedangkan suasana pikiran yang telah berhasil memegang ob . sepuluh asubha. ialah penopang pikiran yang merupakan perenungan permulaan untuk memegang obyek. Obyek-obyek yang dapat dipakai untuk mencapai appana-bhavana ialah sepuluh kasina. ialah kegiuran atau kenikmatan. Keadaan ini dapat diumpamakan sebagai orang yang telah dewasa yang tel ah dapat berdiri dengan kuat. Walaupun kesan-kesan dari luar telah berhen ti. Bunyi lonceng pada saat terkena pu kulan merupakan vitakka. ialah pemusatan pikiran yang kuat. 4. Suasana pikiran pada saat permulaan memegang obyek disebut vitakka. Jhana merupakan keadaan batin yang sudah di luar aktivitas panca indera. maka akan terjadi bunyi yang bergema. Ia tidak dapat melenyapkan kekotoran batin. pun tidak muncul perasaan badan jasmani. Hal ini dapat disamakan dengan anak keci l yang baru belajar berdiri. ialah gema pikiran. Pada waktu lonceng dipukul sekali. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah delapan anussati (Buddhanussati. Vitakka dan vicara adalah dua keadaan dari suatu proses yang berkelanjutan. satu kayagatasati. timbullah faktor-faktor jhana yang memberi corak dan suasana bagi tiap-tiap jhana itu. vicara. Faktor-faktor jhana tersebut ada lima macam. tetapi ia ter us berusaha.mun konsentrasi pikiran masih belum mantap. satu aharapatikulasanna. marananussati. karena konsentrasi yang penuh dan mantap tela h tercapai. tak jatuh-jatuh lagi. Sanghanussati. pikiran telah dapat tinggal diam dalam jangka waktu yang lama. devatanussati. tidak muncul kesan-kesan penglihatan maupun pendengaran. caganussati. Demikian pula ketika bermeditasi. Untuk mencapai upacara-bhavana. Vitakka. FAKTOR-FAKTOR JHANA Di dalam memasuki jhana-jhana. su kha. y aitu : 1. aktivit as panca indera berhenti. sedangkan gema dari bunyi lonceng itu merupakan vicara. silanussati. Sewaktu-waktu jhana dapat merosot. Vicara. 6. yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada obyek dengan kekuatan appana-samadhi (konsentrasi yang mantap. Sukha. sering jatuh. menurut yang dikehendakinya. piti. empat appam añña. yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada obyek yang kuat). 2. dan ekaggata). 5. 3. dan satu catudhatuvavatthana. dan empat arupa. keadaan pikiran dalam memegang obyek dengan kuat. Dhammanussati.

yaitu vicara. yaitu dengan mengendapkan kekotoran batin. Dalam Abhidhamma. bila jhana merosot. piti membasmi byapada. vicara membasmi vicikiccha. terdapat delapan tingkat jhana. Keadaan batinnya terdiri dari empat corak. Keadaan batinnya terdiri dari dua corak. Pathama-Jhana. karena di sini kegiuran timbul akibat keterbatasan dari tekanan perasaan. 4. Dutiya-Jhana. terdiri atas : 1. yaitu vitakka membasmi thina-middha. Selama jhana masih ada. 8. sukha. menurut Abhidhamma. Tingkatan jhana. Mengenai piti. piti. hanya dapat membuang 'keadaan batin' satu persatu. Akasanancayatana-Jhana. yaitu dutiya-jhana membuang vitakka. setelah ia meminum air itu. Pancama-Jhana. mak a perasaan berobah menjadi nikmat dan segar. dalam Sutta Pitaka. yait u lima rupa jhana dan empat arupa jhana. yaitu empat rupa jhana dan empat arupa jhana. 2. . Tatiya-Jhana. dan ekaggata membasmi kamachanda. 6. Keadaan batinnya terdiri dari lima corak. selama itu pula nivarana tidak timbul. tikkha-puggala (orang yang cerdas) mampu menyelidiki dan melihat kekotor an dari vitakka dan vicara sekaligus dalam waktu yang sama. yaitu sukha dan ekaggata. karena hal ini disesuaikan menurut keadaan. sebab kesadaran dari manda-puggala (orang yang tidak cerdas) tidak dapat melihat kekotoran dari vitakka dan vicara keduaduanya ini sekaligus dalam waktu yang sama. menurut bagian. dan ekagga ta. Karena itu. sehingga kekotora n batin tidak mampu mengganggu lagi. Dalam ekaggata. vicara. tingkatan rupa jhana ad a lima. sukha membasmi uddhaccakukkuc ca. Catuttha-Jhana. ialah jhana tingkat ketiga. maka nivarana akan timbul lag i. maka ia akan merasa gembira. dan jumlah kesadaran yang berada dalam rupavacara-citta. Namun. senang. Vikkhambhana-Pahana adalah pembasmian nivarana dengan kekuatan jhana. Tetapi. 5. Tetapi. ialah jhana tingkat keempat. terdapat sembilan tingkat jhana. Perasaan ini merupakan piti. TINGKAT-TINGKAT JHANA Menurut Sutta Pitaka. Antara piti dan sukha terdapat pula perbedaan perasaan yang khas seperti berikut . dan kemudian ia menemukan sebuah sumber air.yek dengan kuat disebut vicara. sedangkan menurut Abhidhamma. pikiran telah terpusat pada obyek dengan kuat. ialah jhana tingkat pertama. da n tergiur melihatnya. ialah jhana tingkat kelima. yaitu upekkha dan ekaggata. Perasaan ini merupakan sukha. Jhana merupakan alat pembasmi nivarana. ialah jhana tingkat kedua. dan membuang vitakka da n vicara sekaligus. ialah keadaan dari konsepsi ruangan yang tanpa batas. Keadaan batinnya terdiri dari dua corak. Apabila seseorang yang sedang dalam suatu perjalanan merasa sangat haus. dan tatiya-jhana membuang vic ara. yaitu vitakka. Selanjutnya. tingkatan rupa jhana ada empat . kiranya di sini tidak begitu perlu diuraikan. 3. sukha. da n ekaggata. sebenarnya secara terperinci terdapat lima macam. piti.

2. Avajjana-vasi. 7. 8. Penjelasan : Sepuluh kasina dan satu anapanasati dapat dijasikan obyek meditasi oleh semua or ang untuk mencapai lima rupa jhana. dimana piti mulai lenyap. 2. Viññanancayatana-Jhana. terdiri atas : 1. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah tiga appamañña (metta. Abhiñña akan timbul dalam diri orang yang telah mencapai jhana-jhana. Nevasaññanasaññayatana-Jhana. dimana sukha mulai lenyap. yaitu keahlian dalam pemikiran untuk memasuki jhana menurut kehendaknya. Vutthana-vasi. 6. ialah jhana tingkat pertama. maka ia harus mempunyai lima mac am vasi. 9. Tatiya-Jhana. ialah jhana tingkat kedua. Viññanancayatana-Jhana. vicara. Akincaññayatana-Jhana. dan ekaggata. yaitu keahlian dalam memasuki jhana. karena kedua faktor ini bersifat kasar untuk jhana kedua. ialah keadaan dari konsepsi bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan. ENAM MACAM ABHIÑÑA Abhiñña berarti kemampuan atau kekuatan batin yang luar biasa. su kha. 3. Akasanancayatana-Jhana. ialah keadaan dari konsepsi kesadaran yang tak terbatas. sukha. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah satu upekkha. 5. Samapajjana-vasi. Nevasaññanasaññayatana-Jhana. 4. yaitu keahlian dalam menentukan berapa lama hendak berada da lam jhana. Kelima macam vasi tersebut ialah : 1. karuna. yaitu keahlian dalam 'keluar' dari jhana. karen a faktor ini masih terasa kasar untuk jhana keempat. 3. Untuk mencapai pathama-jhana. yaitu keahlian dalam meninjauan terhadap jhana. LIMA MACAM VASI Vasi berarti keahlian atau kemahiran atau kemampuan untuk mengolah jhana. atau tenaga batin. Jika seseorang telah mencapai jhana tingkat pertama (pathama-jhana). Tingkatan jhana. 9. Pathama-Jhana. dimana nivarana telah dapat diata si dengan seksama. ialah keadaan dari konsepsi kekosongan. dan mudita). obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah empat arupa. dan ekaggata. dimana jhana . Paccavekkhana-vasi. dimana vitakka dan vicara mulai leny ap. piti. Untuk mencapai dutiya-jhana.7. ialah jhana tingkat keempat. karena pi ti ini masih terasa kasar untuk jhana ketiga. Faktor-faktor jhana yang masih ada adalah sukha dan ekaggata. 8. kemudian ia ingin mencapai jhana-jhana tingkat selanjutnya. Di dalam jhana keempat ini ha nya ada faktor ekaggata dan ditambah dengan upekkha (keseimbangan batin). menurut Sutta Pitaka. Faktor-faktor jhana ya ng masih ada adalah piti. 5. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh asubha dan satu kayagatasati. ialah jhana tingkat ketiga. Dutiya-Jhana. dan catuttha-jhana. Adhitthana-vasi. 10. Untuk mencapai empat arupa jhana. Catuttha-Jhana. tatiya-jhana. 4. Untuk mencapai pancama-jhana. Faktor-faktor jhana yang timbul adalah vitakka. Akincaññayatana-Jhana.

ialah kemampuan untuk memusnahkan kekotoran batin. 2. c. Kemampuan melawan api. 3. Abhiñña yang duniawi (lokiya-abhiñña) terdiri atas lima macam. Manomaya-iddhi. ialah kemampuan mencipta dengan menggunakan pikiran. ular. yaitu : 1. seperti menciptakan istana. ialah kemampuan untuk membaca pikiran makhluk lain. Mengenai obyek meditasi yang dapat menimbulkan abhiñña ialah hanya sepuluh kasina. Kemampuan berjalan di atas air bagaikan berjalan di atas tanah yang padat. atau membuat diri menjadi tak tampak.tingkat keempat (catuttha-jhana) merupakan dasar untuk timbulnya abhiñña ini. seperti menjadi anak kecil. obyeknya adalah nama dan rupa (batin dan materi). sehingga dapat melihat dengan nyata bahwa nama dan rupa itu dicengkeram oleh anicca (ketidak-kekalan). dan anatta (tanpa aku). sering disebut sebagai kekuatan gaib atau kekuatan magis atau kesaktian. Perlu diingat bahwa tujuan umat Buddha bukanlah untuk mendapatkan kegaiban dan mujijat yang aneh-aneh dan luar biasa. d. wanita cantik. yaitu : a. Abhiñña yang di atas duniawi (lokuttara-abhiñña) hanya ada satu macam. Empat macam satipatthana (empat macam perenungan) terdiri atas : kaya-nupassana (perenungan terhadap badan jasmani). ialah kemampuan untuk menembus ajaran melalui pengetahuan. Ñanavipphara-iddhi. Kemampuan terbang di angkasa seperti burung. ialah kemampuan untuk berubah bentuk. Dibbacakkhuñana atau cutupapatañana (mata dewa). e. ialah kemampuan untuk mengubah diri dari satu menjadi banya k atau dari banyak menjadi satu. karena perbuatan demikian itu tidak akan mempertinggi martabat mereka di mata orang lain. vedana-nupassana (perenungan . Lagipula kegaiban it u bukanlah merupakan hal yang penting dalam mencari kebebasan (Nibbana). hal ini juga tergantung pada kusala-kamma (perbuatan baik) dari kehidupan yang lampau. yaitu : Kemampuan menembus dinding. taman. dan lain-lain. yang disebut pancakkhandha itu adalah makhluk. Sang Buddha tidak membenarkan siswasiswaN ya melakukan sesuatu yang ajaib dan mujijat. Cetopariyañana atau paracittavijañana. b. Kemampuan menyelam ke dalam bumi bagaikan menyelam ke dalam air. dan viññana-khandha (kelompok kesadaran). Kemampuan memanjat puncak dunia sampai ke alam Brahma. Adhitthana-iddhi. Ini terbagi lagi atas beberapa macam. Pancakkhandha (lima kelompok faktor kehidupan) terdiri atas : rupa-khandha (kelompok jasmani). Sesungguhnya. Ini dilakukan denga n memperhatikan gerak-gerik nama dan rupa terus menerus. ialah kemampuan untuk melihat alam-alam halus dan muncul lenyapnya makhluk-makhluk yang bertumimbal lahir sesuai dengan karmanya masing-masing. 4. vedana-khandha (kelompok perasaan). atau pancakhandha (lima kelompok faktor kehidupan). raksasa. ialah kemampuan memencarkan melalui konsentrasi. yang jauh maupun yang dekat. Vikubbana-iddhi. ialah kemampuan untuk mendengar suara-suara dari alam lain. gunung. Abhiñña itu ada enam macam dan dapat dibagi atas dua kelompok besar. Pemusnahan kekotoran batin ini akan membimbing ke arah kesucian tertinggi atau arahat. Pubbenivasanussatiñana. yaitu abhiñña yang duniawi atau lokiya dan abhiñña yang di atas duniawi atau lokuttara. Dibbasotañana (telinga dewa). yaitu asavakkhayañana. pagar. Vipassana Bhavana 1. sankhara-khandha (kelompok bentuk pikiran). EMPAT MACAM SATIPATTHANA Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. harimau. Iddhividhañana. ialah kemampuan untuk mengingat tumimbal lahir yang lampau dari diri sendiri dan orang lain. Samadhivipphara-iddhi. dukkha (derita). 5. Namun. saññakhandha (kelompok pencerapan). Kemampuan menyentuk bulan dan matahari dengan tangannya.

terhadap perasaan). yang dipakai sebagai suatu obyek perhatian murni. direnungkan bentuk-bentuk . berdiri. Empat macam satipatthana itu adalah pancakkhandha. atau nama dan rupa itu sendir i. citta-nupassana (perenungan terhadap pikiran). tidak ada tekanan atau paksaan pada pernapasan. Dalam anapanasa ti ini. 1. sewaktu melihat ke muka dan ke belakang. yang timbul tenggelam ini. maupun perasaan yang acuh tak acuh. tidak terikat oleh apapun di dalam dunia ini. Vedana-nupassana adalah vedana-khandha. keadaan pikira n yang sebenarnya harus diamat-amati. Kaya-nupassana (perenungan terhadap badan jasmani). yaitu untuk mengembangkan jhana-jhana. Kaya nupassana adalah rupa-khandha. Di sini direnungkan segala gerak-gerik pikiran. dapat disadari dengan mudah. naik turunnya gelombang kehidupan y ang tidak kekal. berlangsung. ketika berbicara atau berdiam diri. tetapi tidak dibuat-buat atau sengaja diatur. direnungkan bentukb entuk pikiran dari lima macam rintangan (nivarana). Jadi. Direnungkan keadaan perasaan yang sebenarnya. ketika buang kotoran dan kencing. Walaupun menurut kebiasaan . maka batin menjadi bebas. agar batin menjadi bebas dan tidak terikat. ketika berpakaian. yang akan berkembang dalam latihan Vipassana itu ialah perhatian y ang tajam dan kesadaran yang kuat. dan kemudian lenyap kembali. Citta-nupassana (perenungan terhadap pikiran). kesadaran terhadap pernapasan itu pada tingkat permulaan dianggap sebagai obyek untuk meditasi ketenangan (Samatha Bhavana). ia juga sangat berguna untuk mengembangkan Pandangan Terang (Vipassana Bhavana). Dhamma-nupassana (perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran). Di sini direnungkan perasaan yang sedang dialami secara obyektif. maka hal itu harus disadari. 2. 4. Dalam pernapasan. dan Dhammanup assana (perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran). 3. dan berguna ialah sadar dan waspada te rhadap segala sesuatu yang dilakukan. Betapa banyak tenaga yang terbuang dengan percuma karena melamunkan keadaan-keadaan yang telah lalu dan mengkhayalkan keadaan yang akan datang. Cara meditasi lain yang penting. Apabila pikiran sedang dihinggap i hawa nafsu atau terbebas daripadanya. Di sini tidak dijalankan penyiksaan badan jasmani dengan maksud untuk mengendalikan badan. baik perasaan senang. ketika berjalan. Panjang atau pendeknya pernapasan harus disadari. Sesungguhnya. dan minum. sewaktu membungkukkan dan melencangkan badan. Citta-nupassana adalah Viññana-khandha. praktis. Di sini direnungkan bentuk-bentuk pikiran dengan sewajarnya. agar perasaan itu tidak membangkitkan bermacam-macam bentuk emosi. b ernapas secara biasa dan wajar. atau berbaring. Apabila perasaan telah dapat diatasi dengan tepat. Jadi. perasaan tidak senang. bagaimana ia timbul. makan. Perasaan harus dikendalikan oleh akal dan kebijaksanaan. Masalah-masalah yang telah lewat atau hal-hal yang akan datang tidak boleh dipikirkan pada saat ini. duduk. Dhamma-nupassana adalah pancakkhandha. dengan menyadari timbul dan tenggelamnya bentuk kehidupan setiap saat. Pikiran harus diarahkan pada kenyataan hidup pada saat ini. Salah satu contoh yang paling populer dan praktis tentang meditasi dengan obyek badan jasmani ialah anapanasati (menyadari keluar dan masuknya napas). Vedana-nupassana (perenungan terhadap perasaan). Tetapi dipergunakan jalan tengah yang sederhana.

Ia tahu bagaimana sekali timbul. atau keseimbangan (upekkha). bentuk-bentuk pikiran itu tidak a kan timbul lagi kemudian. Ia tahu bahwa sekali ditaklukkan. kemalasan dan kelelahan. Akhirnya. maka hal itu harus disadari. kegelisahan dan kekhawatiran. di dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari lima macam rintangan (nivarana) iala h bahwa apabila di dalam diri orang yang bermeditasi timbul nafsu keinginan. inilah pemadaman dari penderitaan. pemusatan pikiran (samadhi). dan direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari Empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ariya Saccani). maka hal itu harus disadari. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari tujuh faktor Penerangan Agung (Satta Bojjhanga) ialah apabila di dalam diri orang yang bermeditasi timbul kesadaran ( sati). inilah asal mula dari penderitaan. kemau an jahat. Obhasa. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari Empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ari ya Saccani) ialah dengan menyadari berdasarkan kesunyataan bahwa inilah penderitaan . Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari lima kelompok faktor kehidupan (pancakkhandha) ialah dengan menyadari bahwa inilah bentuk jasmani. inilah bentuk pikiran. inilah lidah dan obyek kec apan. inilah badan dan obyek sentuhan. Vipassanupakilesa ini ada sepuluh macam. inilah pikiran dan obyek pikiran. inilah kesadaran. bentuk-bentuk pikiran itu ditaklukkan. ketenangan (passadhi). ialah sinar-sinar yang gemerlapan. kegiuran (piti). Ia tahu bagaimana bentuk-bentuk pikira n itu datang dan timbul. inilah pencerapan. penyelidikan Dhamma yang mendalam (Dhamma-Vicaya). direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari tujuh faktor Penerangan Agung (Satta Bojjhanga). i nilah telinga dan obyek suara. Ia tahu bagaimana cara timbulnya. Ia merenungkan masalah-masalah yang timbul dan hancur dari bentuk-bentuk pikiran. Ia tahu bagaimana caranya supaya belengg u yang telah dibuang itu tidak timbul lagi kemudian.pikiran dari lima kelompok faktor kehidupan (pancakkhandha). Ia tahu bagaimana ca ranya timbul dan bagaimana caranya lenyap. dan bagaimana cara mengembangkannya dengan sempurna. 2. yang bentuk dan keadaannya bermaca . ia hidup bebas tanpa ikatan dal am dunia ini. Ia tahu bilamana keadaan-keadaan ini tid ak ada di dalam dirinya. tenaga (viriya). direnungkan bentukb entuk pikiran dari enam landasan indriya dalam dan luar (dua belas ayatana). Ia tahu bagaimana cara menaklukkan belenggu-belenggu itu. Ia tahu akan belenggu-belenggu yang timbul dalam hubungan dengan semua itu. Demikian pula apabila nivarana itu tidak ada di dal am dirinya. atau keragu-raguan . SEPULUH MACAM VIPASSANUPAKILESA Vipassanupakilesa berarti kekotoran batin atau rintangan yang menghambat perkembangan Pandangan Terang. inilah hidung dan obyek bau. inilah jal an menuju pemadaman dari penderitaan. yaitu : 1. inilah peras aan. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari enam landasan indriya dalam dan luar (dua bleas ayatana) ialah dengan menyadari bahwa inilah mata dan obyek bentuk. maka hal itu pun harus disadari.

Nicca-Vipallasa ini dapat dib asmi dengan melaksanakan citta-nupassana. yang sering timbul dan mengganggu perkembangan kesadaran. ialah perasaan yang berbahagia. Atta-Vipallasa ini dapat dibasmi . Atta-Vipallasa. Upatthana. 2. c. yang suasananya seolah-olah mengangkat badan naik ke udara. pikiran. yang merupakan perasaan yang nyaman dan nikmat. pikiran. 8. Sukha. ialah kegiuran yang mengangkat. 9. e. Ubbonga Piti. yaitu : a. yaitu kekeliruan dari pencerapan. 3. yang suasananya sel uruh badan seperti terserap oleh perasaan yang menakjubkan. Vipallasa-Dhamma ini ada empat macam dan dapa t dibasmi dengan melaksanakan empat macam Satipatthana. yang suasananya seperti bulu badan y ang terangkat atau merinding. Paggaha. dan pandangan. Nicca-Vipallasa. ialah kegiuran yang menyerap seluruh badan. yaitu kekeliruan dari pencerapan. Okkantika Piti. ialah kegiuran yang kecil. Subha-Vipallasa ini dapat dibasmi dengan melaksanakan kaya-nupassana. 4. pikiran. ialah perasaan puas terhadap obyek-obyek. karena tidak memperhatikan saat yang sekarang ini. Nikanti. ialah kegiuran yang menyeluruh. yang suasananya meriang di se luruh badan. dan pandangan. dan pandangan. 3. 5. Upekkha. ialah pengetahuan yang sering timbul dan mengganggu jalannya praktek meditasi. Piti in i ada lima macam menurut keadaannya. seperti ombak laut memecah di pantai. Sukha-Vipallasa. Khudaka Piti. atau kekeliruan yang berken aan dengan paham yang menganggap suatu kebenaran sebagai suatu kesalahan dan kesalahan sebagai suatu kebenaran. EMPAT MACAM VIPALLASA-DHAMMA Vipallasa-Dhamma berarti kekhayalan. ialah ketenangan batin. 4. ialah keseimbangan batin. ialah ingatan yang tajam. Ñana. 7. atau kepalsuan. Subha-Vipallasa. ialah usaha yang terlalu giat. dan pandangan.mmacam. Sepuluh macam vipassanupakilesa ini biasanya timbul dalam perkembangan Sammasana-Ñana. 2. Pharana Piti. Sukha_Vipallasa ini dapat dibasm i dengan melaksanakan vedana-nupassana. ya ng menganggap sesuatu yang derita sebagai bahagia. Keempat macam Vipallasa-Dhamma itu ialah : 1. d. yaitu ñana yang ketiga. yang lebih daripada semestinya. dimana pikiran tidak mau bergerak untuk menyadari proses-proses yang timbul 10. ialah kegiuran yang sepintas lalu menggerakkan badan. b. 6. yaitu kekeliruan dari pencerapan. ialah kegiuran. Piti. ya ng menganggap sesuatu yang tidak kekal sebagai kekal. Saddha. yaitu kekeliruan dari pencerapan. yang seolah-olah orang telah mencapai penera ngan sejati. 3. yang kadang-kadang merupakan pemandangan yang menyenangkan. Passadi. pikiran. Khanika Piti. ya ng menganggap sesuatu yang tidak cantik sebagai cantik. ialah keyakinan yang kuat dan harapan agar setiap orang juga seperti dirinya. yan g menganggap sesuatu yang tanpa aku sebagai aku. yang seolah-olah orang telah bebas dar i penderitaan.

ialah pengetahuan mengenai pembabaran phala yang merupakan hasil dari penembusan terhadap magga. 7. yang menimbulkan keputusan untuk berlatih terus dengan bersemangat. ialah pengetahuan mengenai keseimbangan tentang semua bentuk-bentuk kehidupan. Dalam mendengar bunyi. a natta (tanpa aku). dimana kilesa atau kekotoran batin telah dilenyapkan. 9. Sammasana Ñana. naik dan turunnya rongga perut ketika bernapas adalah rupa. 5. Umpamanya. ialah pengetahuan mengenai ketakutan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa. . Nama-Rupa Pariccheda Ñana. 4. 11.Gotrabhu Ñana. maka akan berkembanglah ñana di dalam dirinya. 3. Muncitukamyata Ñana.Magga Ñana. yaitu : 1. Udayabbaya Ñana.Sankharupekkha Ñana. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. c. 15. dan mendekati Nirvana. Paccaya Pariggaha Ñana. ialah pengetahuan mengenai peninjauan terhadap sisa-sisa kilesa atau kekotoran batin yang masih ada. ialah pengetahuan mengenai kesedihan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa. dengan melalui ani cca. bentuk atau warna itu adalah rupa. Dalam mencium bau. Nama-Rupa Pariccheda Ñana Dengan memiliki ñana ini. ialah pengetahuan mengenai timbul dan lenyapnya nama dan rupa. 14. dapat dijelaskan sebagai berikut : a. 2. dukkha. ialah pengetahuan yang menunjukkan nama dan rupa sebagai Tilakkhana (Tiga Corak Umum). b. sebagai persiapan untuk memasuki magga (Jalan). dukkha (derita). Nibbida Ñana. 13. ialah pengetahuan mengenai perbedaan nama (batin) dan rupa (materi). ialah pengetahuan mengenai penembusan terhadap magga.Patisankha Ñana.Paccavekkhana Ñana. dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. Bhanga Ñana. ialah pengetahuan mengenai keinginan untuk mencapai kebebasan.dengan melaksanakan Dhamma-nupassana. Adinava Ñana. Enam belas macam ñana tersebut di atas diuraikan agak terperinci seperti di bawah ini. dan kesad aran terhadap hal itu adalah nama. Ñana itu ada enam belas macam. dan Nirvana sebagai obyek batinnya. mencapai phala (hasil) dari magga itu. sedangkan kesadaran terhadapa hal itu adalah nama. seseorang dapat membedakan nama dari rupa dan rupa dari nama. 4. Mengenai membedakan nama dan rupa yang berkenaan dengan panca-indera. bau itu adalah rupa. bunyi itu adalah rupa. dan anatta. Dalam melihat bentuk atau warna. ialah pengetahuan mengenai pemotongan atau pemutusan keadaan duniawi.Phala Ñana. 12. 10. 6. ialah pengetahuan mengenai hubungan sebab dan akibat dari nama dan rupa. dan Nirvana sebagai obyek dari pikiran. sedangkan pikiran yang mengetahui pros es itu adalah nama. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. ialah pengetahuan mengenai penyesuaian diri dengan Ariya-Sacca (Empat Kesunyataan Mulia). ialah pengetahuan mengenai peleburan/pelenyapan nama dan rupa. Bhaya Ñana. Apabila orang tekun melaksanakan Vipassana Bhavana. Gerakan kaki ketika berjalan adalah rupa.Anuloma Ñana. ialah pengetahuan mengenai penglihatan akan jalan yang menuju kebebasan. ialah pengetahuan mengenai keengganan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa. ENAM BELAS MACAM ÑANA Ñana berarti pengetahuan. 8. 1. 16. yaitu anicca (ketidak-kekalan).

Pernapasan dapat berlangsung cepat. Pikiran menjadi kacau. tetapi tidak ada turun. at au tertahan. Naik turunnya perut dan bekerjanya proses kesadaran itu berlangsung dengan terat ur. halus. Akhirnya . dan lain-lainnya. yang sekarang. e. kalau rongga perut naik. rasa itu adalah rupa. seperti binatang liar. pelan. rupa merupakan sebab. Yang ada hanya rupa dan nama. dan yang akan datang hanya terbentuk dari rangkaian sebab dan akibat. Permulaan dan pengakhiran dari gerakan naik turunnya perut lebih terasa. Tak ada sesuatu yang disebut makhluk. dan lain-lain. Jadi. nama merupakan sebab. 2. Keinginan duduk merupakan sebab. keras. kesimpulannya ialah bahwa seluruh badan ini adalah rupa. Namun. Rongga perut mungkin turun de ngan keras dan tinggal diam dalam keadaan itu. atau enam tingkat. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. dan Anatta (tanpa aku). Gerak naiknya perut dan gerak turunnya perut ada tiga bagian. atau merasa diri tidak berhasil. proses itu masih tetap ada. tiga. Rongga perut mungkin naik. bergoyang ke muka atau ke belakang. empat. seseorang dapat menyadari bahwa gerakan naik turunnya perut itu terdiri atas dua. Jadi. dia. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. maka kesadaran akan mengikutinya. benda itu adalah rupa. Dalam mencicipi sesuatu. Sammasana Ñana Dengan memiliki ñana ini. yaitu upada (terja di). Dalam menyentuh suatu benda yang dingin. 3. maka g erak jasmani akan mengikutinya. Naik turunnya perut dapat lenyap seben tar atau dalam waktu yang lama. orang dapat merasakan bahwa kehidupan yang lampau. yaitu. tak ad a pribadi. dan pikiran adala h nama. Sewaktu-waktu ada perasaan yang sangat tertekan dan kadang-kadang agak kurang. dan duduk adalah akibatnya. gunung-gunung. Dukkha (derita). Naik turunnya rongga perut hilang. yang hanya dapat lenyap setelah disadari beberapa kali dengan perlahan-lahan. Jadi. seseorang dapat merasakan nama dan rupa melalui pancaind era sebagai Tilakkhana (Tiga Corak Umum). dan nama merupakan akibat. Timbul perasaan tertekan. thiti (berlangsung). 4. orang akan merasakan bahwa ketika pernapasan berhenti pada waktu beristirahat ya ng . Sering diganggu oleh pemandangan atau khayalan. seperti lampu listrik. Udayabbaya Ñana Dengan memiliki ñana ini. yang memperlihatkan adanya kesadar an terhadap Tilakkhana itu. dalam hal lain. Berbagai perasaan lenyap setela h disadari beberapa kali. Akhirny a. kalau pikiran bergerak. Kadang-kadang orang dapat terkejut. panas. Terlihat cahaya yang terang. Paccaya Pariggaha Ñana Dalam beberapa hal. dan bhanga (lenyap). dan rupa merupakan akibat. lima. aku. tet api kalau dirasakan dengan tangan. Anicca (ketidak-kekalan).d. Naik dan turunnya perut lenyap berselang-seling. atau lunak. dan hanya terdiri atas n ama dan rupa.

Kalau melihat pada langit. Jadi. Semua bagian dari benda-benda ini menakutkan. dan remang-remang. atau terb ang dengan pesawat terbang. terutama pada waktu berjalan atau berdiri. kemegahan. Terasa panas seluruh badan. tetapi kemampuan untuk mengenal atau menyadari sesuatu masih berjalan dengan baik. senang. Orang merasa bahwa keinginan-keinginan atau cita-citanya yang dahulu. Terasa diri seperti ditutupi dengan jaring. Semua manusia dan makhluk lain. Gerakan naik turun dan kesadaran/pikiran (citta) terasa seolah-olah lenyap. atau naik dengan lift. Kebosanan timb ul sebagai dorongan yang keras untuk mencari Nibbana. seperti kemasyhuran. jelek. Diri terasa buruk. Segala s esuatu kelihatannya seolah-olah dalam suasana yang penuh kesuraman. atau seperti ada binata . citta dan ob yeknya lenyap bersama-sama. Terdapat bahaya dari perubahan-perubahan yang terus menerus di dalam semua bentu k kehidupan. Kemudian. dan membosankan. tidak ada lagi yang menimbulkan rasa takut. atau nikmat. sebenarnya tidak mempunyai intisari. Adinava Ñana Gerakan naik turun menghilang sedikit demi sedikit. kemewahan. usia tua. Terasa seperti malas. Semua bentuk batin dan fisik menyedih kan. dan kelihatannya hanya samar samar dan suram. dan kosong sama sekali. Pert amatama. sangat kabur. badan seperti jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. seolah-olah ada getaran-getaran di uda ra. seperti digigit-gigit semut. Bhaya Ñana Timbul perasaan takut. 7. dan lebih sen ang tinggal di kamar sendiri saja. 5. Tak ada keinginan untuk bertemu atau bercakap-cakap dengan orang lain. terasa lenyap. tetapi sebenarnya badan masih tet ap diam dan tak bergerak. bahkan berubah menjadi kebosanan setelah menyadari sendiri bahwa manusia itu tercengkeram dan terseret ke dalam kelapukan. tetapi tidak seperti takut ketika melihat hantu atau seta n. Nama dan rupa muncul dengan cepatnya. Terasa sakit pada urat-urat syaraf . dan kadang-kadang terasa tidak ada apa-apa. dan kematian. tetapi citta masih bergema. dan tidak terdapat perasaan kenikmatan yang sejati. rupa (materi/jasmani) yang mengendap. gembira. demikian pula kesadarannya. Gerakan naik dan turun sekonyong-konyong berhenti dan sekonyong-konyong timbul lagi. Nibbida Ñana Semua obyek kelihatan membosankan dan jelek. 6. Bhanga Ñana Pengakhiran dari gerak naik turunnya perut lebih terasa. Tidak merasa bahagia. dan lain-lainnya tidak lagi merupakan kesenangan dan kegembiraan. gerakan naik turun segera lenyap. tetapi dapat juga disadari. 9. Setelah nama dan rupa lenyap. Muncitukamyata Ñana Seluruh badan merasa gatal. sakit. bahkan para dewa dan para brahma tidak ada yang terkec uali semasih diliputi oleh bentuk-bentuk ini. Naik turunnya perut ter asa samar-samar. Nama dan rupa yang dianggap sebagai sesuatu yang bagus atau indah.berulang-ulang. 8. di mana masih ada kelahiran.

Keadaan pernapasan yang cepat itu adala h corak anicca. Samadhi atau konsentrasi menjadi kuat dan lekat. maka hal itu aka n terhalang. menyadari sikap dudu k atau sentuhan-sentuhan badannya dengan jelas. tetapi setelah disadari dua atau tiga kali. atau sentuhan-sentuhan pada badan.Konsentr asi pikiran berjalan baik. anatta) sebagai berikut : a. tetapi sekonyong-konyong berhenti. Terasa kurang senang. tetapi agak seperti acuh ta k acuh. Tidak ada perasaa n gembira atau perasaan sedih.Sankharupekkha Ñana Tidak ada perasaan takut. 10. Anicca : orang yang biasa melatih diri dalam kebersihan atau kesucian dan sil a-sila akan mencapai magga melalui perenungan tentang anicca. Seluruh badan terasa panas. sikap duduk. Naik turunnya perut hanya disadari sebagai nama dan rupa saja. maka terjadilah proses berhenti. Dapat dikatakan bahwa penyadaran dan pengenalan di dalam nama ini berlangsung dengan mudah dan memuaskan. tetapi pikiran dan kesadaran pada saat itu tetap te rang. dan pengenalan atau kesadaran terhadap proses berhentinya pernapas an ini adalah anuloma-ñana. semua itu menjadi lenyap. Ingatan. Kalau ia berlatih menyadari na ik turunnya perut. b. Ada pula yang ingin pulang karena merasa bahwa paramitanya atau perbuatan-perbuatan baiknya belum cukup kua t. 12. tidak ada perasaan senang. Keadaan pernapasa n . Badan menjadi kaku. Ada perasaan puas dan mungkin lupa dengan waktu. tetapi janganlah hendaknya ragu-ragu atau dipikir-pikirka n.Patisankha Ñana Terasa ditusuk-tusuk di bawah kulit dengan benda-benda tajam di seluruh badan. Badan terasa seperti ditindih batu atau kayu. Dukkha : Orang yang biasa melatih diri dalam Samatha (meditasi ketenangan) ak an mencapai magga melalui perenungan tentang dukkha. sepe rti sebuah mobil yang berjalan di atas jalan yang datar dan rata. gelisah dan bosan. sikap duduk . Ia menyadari atau mengetahui dengan terang tentang gerakan naik turun itu yang berhenti. Muncul perasaan tak senang. Kalau ia terus melanjutkan menyadari naik turunnya perut. padahal mulanya ia ingin bermeditasi hanya 30 menit saja. Terasa mengantuk. sepe rti adonan tepung yang diremas-remas oleh tukang roti yang pandai.Anuloma Ñana Di sini Anuloma Ñana diuraikan dalam bentuk Tilakkhana (anicca. Proses berhenti ini harus disadari dengan nyata. pengenalan. Timbul bermacam-macam perasaan yang mengganggu. Orang mungkin dapat lupa dengan waktu yang telah dilewatinya dalam latihan itu. atau sentuhan-sentuhan pada badan. Mungkin ia telah duduk selama satu jam atau lebih . atau kesadaran tidak mengalami kesukaran-kesukaran. tetap tenang dan halus dalam jangka waktu yang lama. Gerakan naik turun perut menjadi cepat. tetap i pikiran masih aktif dan pendengaran masih bekerja. dukkha.ng kecil yang merayap pada muka dan badan. 11. Ada keinginan pergi dan menghentikan latihan meditasinya.

dan pengenalan atau kesadaran yang terang terhadap proses berhentin ya gerakan naik turun ini. 14. maka gotrabhu-ñana tercapai. 16. seperti Sakayaditthi (kekhayalan dari aku). Pertimbangan mengenai kilesa yang telah dihancurkan. Dalam beberapa saat. Demikian proses tersebut dapat timbul di dalam diri seseorang dan dapat disadari dengan seksama. Anatta : Orang yang biasa melatih diri dalam Vipassana (meditasi pandangan te rang). b. yang muncul langsung setelah timbulnya maggañana . dan pengenalan atau kesadaran terha dap proses berhentinya gerakan naik turun ini.Phala Ñana Phala-ñana adalah hasil dari magga.Paccavekkhana Ñana Paccavekkhana-Ñana terdiri atas pertimbangan-pertimbangan mengenai masih adanya kilesa (kekotoran batin). c. Jadi. yang berarti bahwa kita telah mencapai phala ata u hasil ini. yang berarti kita masih memiliki kilesa. Ini berarti bahwa orang telah mendapat penerangan dengan nibbana sebagai obyeknya. Pertimbangan mengenai phala. Gotrabhu Ñana Nama-rupa bersama-sama dengan citta (pikiran) yang mengetahui proses berhenti it u menjadi diam. Chattha-sangiti-pucchaka. atau sentuhan-sentuhan pada badan kelihatan dengan terang. dua atau tiga saat. yang berarti kita telah menghancurkan semua kilesa. yang menjadi obyek phala-citta adalah nibbana. __________________ PURPOSE OF PRACTISING KAMATTHANA MEDITATION (Perbedaan Antara Samatha & Vipassana) Penulis Asli : Mahasi Sayadaw Bhadanta Sobhana. jangka waktu dari gerakan naik dan gerakan turun sama. aman. yang berarti bahwa kita telah tiba pada magga in i. kalau pencerapan mulai pecah d an lenyap. 13. atau sentuhan-sentuhan pada b adan itu adalah anuloma-ñana. Dalam hal ini terdapat lima macam pertimbangan sebagai berikut : a.yang terhalang itu adalah corak dari dukkha. Jadi. atau sikap duduk. Gerak naik turunnya perut. Sasanadhaja-siri-pavara-dhammacariya. 15. Agga-mahapandita.Magga Ñana Magga timbul langsung pada saat perasaann pecah dan pencerapan kilesa hancur aki bat dari putusnya belenggu-belenggu. yang berarti bahwa Dhamma tertentu telah kita capai untuk menuju ke Nibbana sebagai obyek pikiran. Ñana ini bersifat lokuttara. atau senang dengan Vipassana dalam kehidupannya yang dulu-dulu. . Pertimbangan mengenai nibbana. atau sentu hansentuhan pada badan itu adalah anuloma-ñana. dan damai. Pertimbangan mengenai magga. akan mencapai magga melalui perenungan tentang anatta. d. Silabbataparamasa (ketahyulan tentang upacara). naik turunnya perut menjadi tenan g dan teratur. tenang. e. Pertimbangan mengenai kilesa yang belum dihancurkan. atau terhadap sikap duduk. Vicikiccha (keragu-raguan). jika orang melaksanakan Vipassana Bhavana. c. dan kemudian ber henti. atau terhadap sikap duduk. Keadaan pernapasan yang halus dan teratur itu adalah co rak dari anatta.

dan penderitaan lainnya. Yang Suci Mulia. Sebagai contoh. Apabila ia mulai mengetahui kenyataan-kenyataan secara penuh. dan pende ritaan kehidupan lainnnya. sakit. Lagi-lagi. mirip kasus seseorang yang hidup di daerah yang gersang dan menyedihkan yang dikelilingi oleh banyak bahaya. Kelahiran yang baru hanyalah munculnya sebuah kesadaran yang merupakan hasi l dari kemelekatan terhadap objek dari kehidupan sebelumnya. Kemudian. baik penderitaan fisik dan kelu han mental/batin. mer eka berkelana di dalam lingkaran tumimbal lahir dari kehidupan ke kehidupan lain. dan sejahtera tanpa penderitaan usia tua. itupun tidak berakhir di dalam kematian. Dan. Kemelekatan terhadap kehidupan ini tidak berlangsung karena dua alasan : pertama karena tidak mengerti ketidakpuasan/penderitaan batin dan jasmani. mati. terdapat kelahiran dika renakan kemelekatan untuk menjadi (berwujud). maka tidak akan ada kelahiran baru. diikuti oleh kematian. dan penderitaan kehidupan lain nya. Selama masih di dalam roda kehidupan. di sana mengikuti rangkaian : usia tua. masih selalu dijumpai usia tua. Oleh karena itu. gembira. TUJUAN UTAMA MEDITASI AJARAN BUDDHA Apakah tujuan melaksanakan latihan meditasi? Latihan meditasi dilaksanakan untuk tujuan terbebas dari penderitaan kehidupan u sia tua. sangatlah penting untuk mencegah tumimbal lahir yang berkelanju tan apabila ingin terbebas dari penderitaan kehidupan di dalam usia tua dan sebagain ya. daerahnya tidak la gi . merealisasi Nibbana. oleh karena itu setiap usaha ha rus ditujukan untuk terbebas dari kemelekatan apabila tidak menginginkan kelahiran y ang baru. setelah menderita rasa yang amat sangat dan penderitaan yang amat berat. namun mereka selalu sia-sia menemukan harapannya itu. Yang telah merealisasi pencerahan secara mandiri PURPOSE OF PRACTISING KAMATTHAANA MEDITATION (Perbedaan Antara Samattha & Vipassana) I. Tumimbal lahir terjadi dikarenakan kemelekatan yang terkandung di dalam kehidupa n ini.Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa Penuh hormat kepada Bhagava. Di dalam kehidupan baru ini mereka pun menjadi korban usia tua. dan kedua kar ena tidak merealisasi bahwa Nibbana jauh lebih luhur bila dibandingkan dengan jenis kebahagiaan lainnya. sakit. sakit. Di dalam mencari sebab u tama (akar) dari peristiwa itu menjadi tampak nyata bahwa dikondisikan oleh kelahiran . kesedihan dan ratapan dikarenakan banyak bahaya dan kejahatan. Semua makhluk hidup ingin hidup berumur panjang tanpa kekerasan. mati dan seterusnya. menderita semua jenis derita kehidupan dan tanpa henti. mati. Di dalam cara seperti ini. Apabila tidak terdapa t kemelekatan. sakit. Secara alamiah ia berpikir meluhurkan desanya itu dan memiliki kemelekatan yang kuat terhadapnya karena ia tidak memiliki pengetahuan yang jelas akan kekurangan daerahnya dan kondisi yang lebih baik dari tempat lainnya. hidup dengan damai.

.. beberapa di antaran ya dapat digunakan sebagai latihan dasar samatha untuk melaksanakan latihan vipassa na. Melalui latihan Vipassana-kammatthana seseorang dapat merealisasi Nibbana dan memenangkan kebebasan mutlak dari penderitaan kehidupan. seseorang yang secara langsung melatih vipassana kammatthana untuk merealisasi Nibbana.. Latihan yang berulangkali atas kondisi di dalam jhana ini akan membawa lima kemahiran batin duniawi luar biasa (abhinna 5) sebagai berikut : * Iddhi-vidha-abhinna . Kekuatan untuk terbang denga n kaki bersila ke angkasa. bisa satu usia dunia atau dua kal i atau empat kali atau delapan kali usia dunia dan seterusnya. Kekuatan untuk mengetahui pikiran orang lain. seseorang yang mengambil dasar permulaan latihan samatha kammatthana untuk merealisasi Nibbana.. terdapat empat puluh pokok/subjek meditasi.. Vipassana-kammatthana dibagi menjadi dua sub bagian. sesuai kasus per kasus. 2. Kekuatan untuk berjalan di atas air tanpa tenggelam. kematian dan sebagainya dan merealisasi Nibbana secara mandiri seyogyanya melaksanakan latihan meditasi. seolah seperti berja lan di atas tanah. sangatlah penting untuk mencoba mengerti kondisi tak memuaskan dari batin dan jasmani yang menguasai kehidupan ini dan secara mandiri merealisasi superioritas Nibbana dengan sebuah pandangan untuk menghancurkan secara total kemelekatan terhadap kehidupan. setiap orang yang menginginkan untuk terbebas dari pende ritaan akibat usia tua. * Dibba-cakkhu-abhinna ..menarik baginya dan ia akan serta merta pindah ke daerah yang baru. seolah d i udara. kekuatan dari satu menjadi banyak dan dari banyak men jadi satu lagi. Memiliki atribut-atribut ini tetap tidak akan menjamin/membawa ke kebebasan dari ketidakpuasan kehidupan.. seolah seperti ke/ dari dalam air.. baik besar maupun kecil. * Ceto-pariya-abhinna . Oleh karena itu. Demikian pul a. yaitu : Samattha-yanika. Mata dewa. Latihan samattha-kammatthana akan mengembangkan faktor batin atas delapan pencapaian duniawi (lokiya-samapatti) yang terdiri dari 4 jenis rupa-jhana dan 4 arupajhana. Kekuatan untuk menembus dinding atau gunung tanpa rintangan. Vipassana kammatthana 1.. usia tua. tanpa melalui awal samatha kammatthana. Kekuatan untuk menyentuh matahari dan bulan dengan menggunakan tangan. * Pubbe-nivassa-abhinna . PEMBAGIAN MEDITASI AJARAN BUDDHA Meditasi dibagi menjadi dua bagian : 1. Suddha-vipassana-yanika. II. jauh maupun dekat. Kematian seseorang y ang mamiliki jhana secara utuh akan menyebabkan tumimbal lahir di alam para Brahma yang jangka waktu kehidupannya sangat panjang.. * Dibba-sota-abhinna . Pengetahuan ini dapat diperoleh melalui latihan meditasi yan g tepat.. kekuatan untuk mendengarkan suara baik suara manusia maupun makhluk surgawi. Kekuatan untuk mengetahui kejadian kehidupan lampau seseorang. kekuatan untuk melihat semua bentuk bentu k dan warna yang jauh maupun dekat. Empat puluh pokok/subjek meditasi itu adalah : . kematian dan seterusnya. Kekuatan untuk memasuki/ menyelam ke dalam tanah dan muncul lagi di permukaan tanah. Telinga dewa.... seolah seperti burung yang memiliki sayap. Samatha kammatthana 2. EMPAT PULUH POKOK/SUBJEK MEDITASI Di dalam naskah. __________________ III..

dengan batin yang dipenuhi oleh . Kasina warna biru gelap (Nila) 6. Sebuah mayat membiru (Vinilaka) 2. Kasina udara (Vayo) 5. tanpa batas. gigi. Perenungan atas 32 (tiga puluh dua) bagian tubuh (Kayagatasati). Kasina cahaya (Aloka) 10. 4 arupa (tahapan arupa jhana) 6.1. Perenungan terhadap kemurah-hatian seseorang (Caganussati) 6. berkembang. Kasina air (Apo) 3. Perenungan terhadap kaluar dan masuknya nafas (Anapanasati) Empat Brahma Vihara terdiri dari : 1. Kasina warna kuning (Pita) 7. 10 anussati (perenungan) 4. Sebuah Mayat membengkak (Uddhumataka) 3. dan ke sekeliling dan ke segala penjur u kepada semua makhluk. kemauan belajar dan mendengark an Dhamma (suta). Ia memancarkan ke segenap dunia dengan batin dipenuhi oleh cinta kasih universal. Sebuah mayat yang terpotong-potong dan berserakan (Vikkhittaka) 8. Sebuah Mayat terbelah dua (Vicchiddaka) 5. Keseimbangan batin sempurna (upekkha) . Perenungan terhadap kemoralan seseorang (Silanussati) 5. Sebuah mayat yang telah digigit binatang buas (Vikkhayittaka) 6. Kasina api (Tejo) 4. kemoralan (sila). Sebuah Mayat terinfeksi/bernanah (Vipubbaka) 4. Kasina tanah (Pathavi) 2. Kemudian ke arah ketiga. seperti : ra mbut. Cinta kasih yang universal terhadap semua makhluk (metta) 2. kuku. Simpati atas keberhasilan / pencapaian makhluk lain (mudita) 4. Kemudian ke arah keempat. Berdiam dengan batin yang dipenuhi oleh cinta kasih universal yang diarahk an ke arah pertama. kemurah-hatian (cage) dan kebijaksanaan (panna) 7. bulu tubuh. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Buddha (Buddhanusati) 2. 10 asubha (ketidakmurnian) 3. Sebuah mayat yang terserak hancur (Hatavikkhittaka) 7. seperti terhadap dirinya. ke bawah. batin yang lapang. 1 Ahare-patikula-sanna (perenungan atas makanan yang menjijikan) 7. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Sangha (Sanghanussati) 4. kulit. 1 Catu-dhatu-vavatthana (analisis empat unsur) Sepuluh kasina terdiri dari : 1. Perenungan terhadap Nibbana (Upasamanussati) 8. dan seterusnya.. ke atas. 10. Kasina ruang terbatas (Akasa) Sepuluh Asubha terdiri dari : 1.. Sebuah tengkorak (Atthika) Sepuluh Anussati terdiri dari : 1. yaitu keyakinan teguh (saddha). Perenungan terhadap kualitas-kualitas Dhamma (Dhammanussati) 3. Kasina warna merah darah (Lohita) 8.. Perenungan akan kepastian kematian (Marananussati) 9. Perenungan terhadap kualitas untuk tumimbal lahir sebagai dewa (Devatanussati ). 4 Brahma vihara (sikap batin luhur) 5. demikan pula. 10 kasina (alat permenungan) 2.. Sebuah mayat yang berdarah (Lohitaka) 9. Kasina warna putih (Odata) 9. Belas kasih terhadap makhluk menderita (karuna) 3. Sebuah mayat yang terinfeksi cacing/belatung (Puluvaka) 10. kemudian ke arah kedua. terbebas dari kebencian dan niat jahat .

yaitu : 1. diminum. Setelah merenungkan berulang kali untuk sejumlah waktu tertentu. Umpamanya : empedu. 1 catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan jasmani) Dalam satu catudhatuvavatthana. Berdiam dalam permenungan atas alam kekosongan (Akincannayatana) 4. Ia seyogyanya kemudian melanjutkan untuk merenungkan Uggahanimit ta itu dengan mengatakan dalam batin pathavi. gigi.. 3. dan lain-lain IV. Umpamanya : setelah selesai makan dan minum. Sutta Pitaka). Pathavi-dhatu (unsur tanah atau unsur padat). Apo-dhatu (unsur air atau unsur cair). semuanya akan berakhir sebagai kotoran (ti nja) dan air seni (urine). (Jivaka Sutta. dan oleh keseimbangan yang sempurna . bad an akan terasa panas dingin. Berdiam dalam permenungan atas kondisi ruangan yang tanpa batas (Akasanancayatana) 2. . ia dapat pergi ke mana pun dan mengambil posisi apa saja.. oleh sikap simpati terhadap pencapaian/keberhasilan mahluk lain. lendir. DESKRIPSI SINGKAT LATIHAN SAMATHA-KAMMATTHANA 1. ialah segala sesuatu yang bersifat p anas dingin. tanah . Umpamanya : rambut kepala. ialah segala sesuatu yang bersifat bergerak. atau bila sedang sakit. baik posisi duduk. dikunyah. bulu badan.. Seyogyanya memperhatikan sebongkah tanah di atas tanah atau alat berupa segumpal tanah yang merenungkannya dengan mengatakan di dalam batin: pathavi. 2. berjalan. Penampilan gambaran batin ini disebut Uggaha-nimitta (bayangan yang diperoleh). Empat Arupa. ialah segala sesuatu yang bersi fat keras atau padat. pathavi. Vayo-dhatu (unsur angin atau unsur gerak). terdiri dari : 1. pathavi atau tanah . direnungkan bahwa di dalam badan jasmani terdapa t empat unsur materi. direnungkan bahwa apapun yang tela h dimakan. Tejo-dhatu (unsur api atau unsur panas). Segera setelah bayangan (nimitta) ini menjadi kuat dan stabil di dalam batin.. Umpamanya : angin yang ada di dalam perut dan usus. pathavi atau tanah. tanah .. dan lain-lain. gambaran alat-tanah yan g kuat dan jelas akan muncul di dalam batin seolah-olah dilihat langsung oleh inde ra penglihatan (mata). angin yang keluar masuk waktu bernapas. Pathavi Kasina Kammattha dan pencapaian Jhana Seseorang yang mengambil subjek meditasi dengan memilih Kasina tanah (Pathavikas ina) untuk permenungannya. dicicipi. dan lain-lain. 4.belas kasihan. Berdiam dalam permenungan atas alam kesadaran yang tak terbatas (Vinnanancayatana) 3. be rdiri atau berbaring. direnungkan bahwa makanan adalah barang yang menjijikkan bila telah berada di dalam perut. kuku. Majjhima Nikaya. nanah. dara h. ialah segala sesuatu yang bersifat ber hubungan yang satu dengan yang lain atau melekat. Berdiam dalam permenungan atas kondisi alam bukan pencerapan juga bukan pencerapan (Nevasannanasannayaatana) 1 aharapatikulasañña (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) Dalam satu aharapatikulasañña. pathavi.

(d) Jhana keempat . tanah . 5. maka ia seyogyanya kembali ke te mpat asal alat-tanah itu dan melakukan perenungan lagi: pathavi. Tahap ketetapan dan kestabilan batin ini dikenal sebagai 'Appana-samadhi' (konse ntrasi pencapaian). berbaring maupun berjalan. In i adalah Thina-middha-nivarana (rintangan batin kemalasan dan kelambanan batin). Apakah metode ini dapat membawa hasil yang bermanfaat. Batin sering bercokol pada pikiran-pikiran sedih dan marah. objek tersebut akan 'terlihat' jelas dan mirip penampilan kristal tidak seperti penampakan awalnya. pathavi atau tanah. baik duduk. Apakah ada kesempatan untuk meraih hasil yang baik. Ini adalah Vyapad anivarana (rintangan batin keinginan jahat / niat buruk). Kemudian ia seyogyanya kembali ke tempat yang sama dan melanjutkan dengan permenungan di dalam berbagai posisi tubuh.tanah. Batin sering tidak stabil namun gelisah. Ini disebut 'Patibhag animitta' (bayangan keseimbangan). Kelima rintangan (nivarana) ini seyogyanya dipotong segera setelah mereka muncul dan batin seyogyanya kembali mengambil objek ugghana-nimitta misalnya dengan merenungkan sebagai: pathavi. tanah. Selama waktu permenungan ini dapat terjadi bahwa batin tidak tetap terfokus pada objeknya namun sering kali mengembara/ melayang-layang mengalami objek lainnya dalam hal-hal sebagai berikut : 1. dan berhasil menca pai . Ini adalah Uddhaca-kukkucca-nivarana (rintangan batin kegelisahan dan kekhawatiran). yaitu: (a) Jhana pertama. pathavi atau tanah. Ini adalah Vicikiccha-nivaran a (rintangan batin keraguan skeptis). pathavi. Kondisi batin seperti ini dikenal dengan 'Upacarasamadh i' (konsentrasi berdekatan). (b) Jhana kedua. berdiri. Ini adal ah Kamacchanda-nivarana (rintangan batin keinginan nafsu indera). Dengan melakukan permenungan demikian terhadap objek uggaha-nimitta secara berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama. Terdapat kekenduran di dalam permenungan dan batin sering bosan dan kabur. tanah seperti yang dilakukan pada permulaan latihan. Batin sering berfikir akan objek-objek yang diinginkan nafsu indera. Terdapat empat jenis Appana-samadhi untuk rupa jhana. batin mencapai satu keadaan seolah tenggelam ke dalam objek dan berdiam secara menetap di dalamnya. tanah. 2. tanah . Batin sering memikirkan apakah permenungan yang sedang dilakukan ini adalah sebuah metode yang benar. 3. pathavi. melanjutkan lagi melakukan perenungan untuk mengatasi kedua faktor batin tadi. (c) Jhana ketiga. yaitu vitakka dan vicara. a) Di dalam jhana pertama lima faktor batin yang hadir secara nyata adalah: * Faktor batin yang berfungsi dalam penerapan/ perenungan awal/ pengarahan terha dap objek (vitakka) * Faktor batin yang berfungsi dalam penerapan penambatan terhadap objek (vicara) * Faktor batin yang berfungsi dalam menimbulkan suka cita/ kegiuran (piti) * Faktor batin yang berfungsi dalam menimbulkan kegembiraan (sukkha) * Faktor batin yang berfungsi dalam konsentrasi terfokus kuat terhadap objek (ekaggata) b) Seseorang yang telah mencapai tahap Jhana pertama dan ahli. dengan secara berkesinambungan batin berada dalam Upacara-samadhi dengan objeknya Patibhaga-nimitta. Kini. dan batin sering khawatir dalam merenungkan dalam merenungkan perbuatan buruk melalui ucapan dan tindak-tanduk jasmani yang telah lampau. 4. melihat ketidakpu asan di dalam dua faktor batin pertama di atas. Apabila batin kehilangan ugghana-nimitta sebagai objek.

c) Dengan melihat ketidakpuasan yang terdapat di dalam piti ia melanjutkan dengan perenungannya untuk mengatasi piti dan berhasil mencapai tahap jhana ketiga yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada dua. dan merenungkan dengan mengatakan di dalam batin 'mayat membengkak. Perbedaan yang ada adalah bahwa perenugan sub jek Asubha hanya akan mengantarkan untuk pencapaian tingkat Jhana pertama. dengan badan yang tegak.' 'mayat membiru. yaitu sukha dan ekaggata. Ia kemudia n akan mengetahui secara jelas sensasi sentuhan di ujung hidung atau di sisi sebel ah atas bibir. ia seyogyanya melihat ke arah seonggok mayat membengkak. namun seyogyanya tetap pa da titik sentuhan tadi. mayat membengkak. masuk pada setiap aktivitas nafas masuk dan nafas keluar. mayat membiru'. dan ekaggata. Delapan perenungan yang terdiri dari Buddhanussati sampai dengan marananussati. akan terdapat banyak rintangan di mana batin akan mengembara/ melayang-layang. yang disebabkan oleh kontak berkesinambungan dari aliran nafas masuk dan keluar. (Kayagata-sati) juga hanya akan mengantarka n untuk pencapaian tingkat Jhana pertama. makanan yang menjijikan (aharepatikkula-sanna). Di dalam hal seseorang yang memilih salah satu pokok meditasinya Asubha sebagai subjek konsentrasinya. Ia seyogyanya kemudian melaksanakan perenungan di dalam cara yang sama seperti kasus pathavi-kasina. yaitu upekkha (keseimbangan) dan ekaggata. atau mayat membiru. masuk. yaitu metta. namun seseorang yang telah melakukan meditasi melal ui perenungan satu dari tiga brahma vihara ini yang telah mencapai tingkat jhana ke tiga. Anapana-sati Kammatthana Seseorang yang memilih Anapanasati sebagai subjek perenungan seyogyanya tinggal di tempat yang sunyi dan duduk dengan kaki bersila atau di dalam cara yang nyaman sehingga dapat duduk di dalam jangka waktu yang cukup lama. Batin seyogyanya tidak pergi bersama aliran itu. juga akan mencapai tingkat jhana keempat dengan melaksanakan perenungan brahma vihara keempat. keluar. Perenungan terhadap 32 bagian tubuh. yaitu piti. Rintangan ini seyogyanya tidak diikuti lebih lanjut . Aliran ini seyogyanya diamati pada titik sentuhannya dan direnungkan den gan mengatakan dalam batin: keluar. baik perjalanan nafas masuk maupun perjalanan nafas keluar. dan kemudian menetapkan perhatiannya pada celah/lubang hidung. dan analisa empat unsur (catu-dh atuvavatthana) akan membawa hanya sampai tahap upacara-samadhi. Inilah diskripsi singkat cara untuk merenungkan Pathavi kasina dan pengembangan bertahap keempat tingkat jhana. aka n mencapai tingkat-tingkat 4 Arupa Jhana dengan merenungkan empat Arupa secara berurutan. Selama di dalam perenungan. yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada tiga.tahap jhana kedua. Hal yang sama dapat dilakukan untuk kasina yang lain. Mereka yang telah mencapai tingkat jhana keempat melalui permenungan kasina. yaitu upekkha. d) Dengan melihat ketidakpuasan yang terdapat di dalam sukha ia melanjutkan dengan perenungan untuk mengatasi faktor batin sukha tersebut dan berhasil mencapai tah ap jhana keempat yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada dua. dan seterusnya. karuna dan mudita akan membawa sampa i dengan tingkat Jhana ketiga. Tiga dari empat Brahma vihara. sukha. dan seterusnya. 2.

Inilah deskripsi singkat LATIHAN PERMULAAN samatha yang dilakukan oleh seorang 'samatha-yanika' yang memilih 'samatha-kammatthana'. keluar sesuai aktivitas nafas masuk dan nafas keluar . Perubahan bertahap dari nafas masuk dan keluar yang kuat ke nafas masuk dan k eluar yang lebih halus menjadi jelas teramati. bagi yang lainnya mirip benang panjang terurai atau sekuntum bunga atau segumpal asap rokok. disebut Upacara-samadhi . . pertenga han dan akhirnya menjadi jelas teramati dari titik sentuhan ujung hidung hingga ke t empat nafas itu meninggalkan hidung. Setiap rangkaian nafas masuk dan nafas keluar yang lembut pada awal. Di dalam kasus seperti ini. namun perhatian seyogyanya dikembalikan ke titik sentuh dan merenungkan kembali sebagai masuk. maka nafas tersebut akan tampak seolah nafas tersebut padam total. Dinyatakan bahwa keragaman bentuk atau objek bayangan itu disebabkan oleh perbedaan (sanna) individu yang mengalaminya. Mereka yang berhasrat untuk melatih vipassana seyogyanya pertama-tama dibekali dengan seperangkat pengetahuan. 3. bagi yang lainnya dengan sebuah sentuhan kas ar seperti dari kain sutera. 2. dan 4. Bentuk objek yang khusus ini adalah Patibhaga Nimitta . Nafas masuk dan nafas keluar yang panjang menjadi jelas teramati ketika merek a panjang. Dengan secar a berkesinambungan merenungkan dibantu oleh Upacara-samadhi maka tingkat appanasam adhi dari tahapan 4 Rupa Jhana akan berkembang. maka aliran nafas itu akan tergambar/terbayangkan dalam bentuk atau ukuran khusus. masuk. Nafas masuk dan nafas keluar yang pendek menjadi jelas teramati ketika mereka pendek. namun cukup . apabila batin dengan penuh perhatian kembali tetap mengamati titik sen tuhan pada ujung hidung atau sisi bibir sebelah atas maka aliran nafas masuk dan kelua r yang halus akan tampak lagi dan akan tercerap dengan sangat jelas. Sejalan dengan nafas masuk dan keluar menjadi lebih halus dan lebih halus lagi. Dengan cara berkesinambungan mengamati titik sentuhan dan melaksanakan perenungan: 1. keluar. Namun demikian. janganlah membuang waktu dengan cara demikian. Konsentrasi (samadhi) yang kemudian dikembangkan dengan 'Patibhaga-nimitta' sebagai objeknya. umumnya waktu terbuang untuk mencari objek nafas masuk dan nafas ke luar dengan mencoba meneliti penyebab padamnya nafas dan akhirnya tetap sia-sia tanpa melaksanakan perenungan. Dengan terus-menerus merenungkan nafas masuk dan nafas keluar. atau sebuah tonggak terbuat dari hati kayu. Berikut ini ada lah yang dinyatakan di dalam kitab Visuddhi-magga (Jalan Kesucian/ Kemurnian batin). sebagai dasar untuk merealisasi Nibbana. sedangkan bagi yang lainnya mirip sebuah sarang laba-laba atau sebuah lapisan aw an atau sekuntum bunga teratai atau sebuah roda kereta atau sebuah piringan bulan a tau matahari.. baik secara singkat maupun mendalam. Untuk orang tertentu. nafas masuk dan nafas keluar 'tampak' seperti sebuah binta ng atau sebuah permata atau sebuah berlian.

seseorang yang berhasr at untuk latihan vipassana seyogyanya menetap di tempat sunyi dan duduk dengan kaki bersila atau dalam cara yang nyaman sehingga ia dapat duduk dalam waktu yang cuk up lama. Ia seyogyanya kemudian melanjutkan dengan merenungkan secara berkesinambungan sensasi-sensasi. mencium bau. dengan badan tegak. seperti melihat. DISKRIPSI SINGKAT LATIHAN VIPASSANA 1. Fenomenafenomena ini seyogyanya secara berkesinambungan direnungkan pada setiap saat kemunculannya. Upadanakkhandha adalah semua yang secara jelas dicerap pada saat melihat. Prosedur bergantian dari memasuki keadaan jhana dan kemudian dilanjutkan dengan perenungan sensasi indera pada enam pintu indera seyogyanya dilakukan dengan berulang kali. Pada tingkat ini dapat dicerap dengan sangat jelas sebagai satu keteraturan pada setiap saat perenungan bahwa jasmani dan batin merupakan dua hal yang berbeda yang bekerja sama. dimengerti bahwa jasmani dan batin terbukti dengan jelas tidak kekal . Dengan pengetahuan cukup seperti yang disebutkan di atas. Dengan perkembangan penuh dari pengetahuan langsung ata annica. bahwa mereka tidak memuaskan. yaitu jasmani (rupa) dan batin (nama). . dan kemudian merenungkan dengan memusatkan perhatiannya terhadap fenomena jasmani dan batin yang diketahui sebagai upadanakkhandha . mengecap rasa. Apabila keadaan jhana telah berlalu ia seyogyanya kemudian segera merenungkan keadaan jhana tadi dan kemudian dilanjutkan dengan merenungkan secara berkesinambungan sensasi-sensasi indera sebagaimana mereka muncul pada saat sala h satu dari enam pintu indera. ia akan dapat melaksanakan perenungan berkesinambungan siang dan malam tanpa merasa terhambat. 2. Apabila vipassana-samadhi telah cukup kuat. __________________ V. mengeta hui sentuhan. muncul dan padam pada setiap saat perenungan. tidak memuaskan dan tidak mengandung kepemilikan/keakuan/ atta . bahwa jasmani dan batin terbentuk dikarenakan sebab dan akibat. oleh karena itu jasmani dan batin tidak kekal. anatta terealisasilah pengetahuan bijaksana akan Magga. dan bahwa mereka semata-mata merupakan proses muncul dan padam dari segala sesuatu yang tidak mengandung 'atta' (jiwa atau keberadaan kekal). dan yang secara jelas muncul di dalam tubuhnya. Apabila ia merasa lelah atau bosan dengan melaksanakan terusm enerus perenungan akan beragam objek (pakinnakasankhara) ia seyogyanya memasuki jhana lagi dengan menetapkan tekad yang kuat bahwa jhana tersebut akan berlangsung selama 15 atau 30 menit.terhadap kenyataan bahwa makhluk hidup terdiri dari dua komponen. tanpa kualitas atau keberadaan yang menyenangkan. Juga dapat dicerap bahwa objek dan batin yang secara langsung mengetahui objek tersebut. Suddhavipassana-yanika Di bawah ini. dan bahwa jasmani dan batin berada dalam proses perubahan yang terusmene rus. mendengar. Oleh karena itu. adalah diskripsi singkat latihan dengan cara suddha-vipassana-yanik a . Samatha-yanika Seseorang yang telah cukup pengetahuannya seperti disebutkan di atas seyogyanya pertama-tama berada di dalam jhana yang telah dicapainya dan kemudian merenungkannya. dukkha. Inilah deskripsi singkat latihan dengan cara samatha-yanika untuk tujuan merealisa si Nibbana. dan seterusnya sebagaimana mereka muncul dengan jelas pada salah satu dari enam pintu indera. Phala dan Nibbana.

perasaan (vedana). Mirip seperti di sekolah. Saya mencerap . tidak akan mengerti bahwa mereka tidak kekal. maka dengan jelas akan dapat diamati sensasi kontak jasmani pada paha atau kaki atau bagian . dan sankhara upadanakkhandha . duduk'. kelima upadanakkhandha dicerap dengan jelas pada saat mendengar suara melalui indera pendengaran. bahwa mereka 'muncul dan padam tanpa henti dan oleh karenanya tidak memuaskan'. mendengar. mengetahui sensasi sentuhan melalui indera sensasi sentuhan. Saya melihat dengan penuh perhatian dan melekat kepadanya. Keduanya itu merupakan kelompok meteri (rupa). Dari kedua jenis fenomena. Namun demikian di dalam kasus objek batin. seyogyanya diambil sebagai objek utama/permulaan untuk perenungan saat memulai latihan vipassana. Mereka semata-mata kelompok batin. mengetahui objek batin melalui indera pikiran. tidak memuaskan dan 'anatta'. Mereka bukanlah menyenangkan. pencerapan (sanna) akan o bjek pengelihatan. Mereka yang tidak merenungkan pada saat kemunculannya tidak akan mengerti bahwa 'mereka segera padam dan tidak kekal'. mencium bau melalui indera penciuman . Lagi. perhatian seyogyanya ditetapkan pada posisi duduk dan merenungkan secara berkesinambungan. vedana upadanakkhandha.mendengar. mereka menganggap bahwa fenomena batin ini menyenangkan dan melekat kepadanya. namun anatta di mana mereka merupakan subjek bagi sebab dan akibat di dalam proses muncul dan padam. bukan pula 'orang'. Di dalam vipassana. sebagai ketentuan keharusan saat memulai pelajaran. Kesadaran melihat (cakkhu-vinnana). maka mereka disebut upadanakkhandha atau kelompok yang menimbulkan kemelekatan . bahwa mereka bukan atta bukan pula keberadaan hidup. maka pel ajaranpelajaran mudah terlebih dulu yang dipelajari. Saya merasakan . Mereka secara egois menganggap Saya melihat . Walaupun fenomena jasmani dan batin muncul dengan jelas pada saat melihat. dengan satu pandangan untuk mengamati kontak jasmani khusus yan g lebih mudah dicerap. Mereka yang tidak merenung kan pada setiap saat kemunculan fenomena itu. bukan pula atta dan bukan orang . seyogyanya dipilih sebaga i objek perenungan awal atau utama di dalam vipassana-kammatthana. mengecap. Inilah alasan yang jelas mengapa kelompok batin ini secara berurut disebut vinnana upadanakkhandha. Pada saat melihat. mencium bau. mengalami kontak badan/sentuhan dan memikirkan ide/gagasan dan seterusnya. Inilah alasan mengapa lima upadanakkhandha secara jelas dicerap dengan jelas pada saat melihat objek penglihatan melalui pintu indera penglihatan ('mata'). keduanya di cerap. tidaklah mungkin bagi seorang pemula untuk merenungkannya di dalam urutan kemunculannya pada saat memulai latihan vipassana. Oleh karena itu. latihan dimulai dengan merenungkan hal khusus. Dikarenakan materi menjadi objek kecenderungan kekeliruan dan kemelekatan. mencium bau. mungkin dialami unsur batin maupun unsur fisik/materi. Pada saat perenungan mencapai kematangan. sanna upadanakkhandha. objek yang paling mudah hadir di dalam jasmani. dengan membuat catatan secara batiniah seperti : 'duduk. mendengar dan seterusnya melalui pintu indera yang bersesuaian. objek penglihatan dan indera pengelihatan/'mata'. dan keinginan untuk melihat objek. Oleh karena itu. batin dan materi. maka fenomena materi yang lebih mudah dicerap. bukan 'atta'. Merek a bukan menyenangkan. mengecap rasa kecapan maka kontak jasmaniah (bhuta-rupa) merupakan objek yang lebih mudah dicerap. Dengan cara yang sama. bentuk/faktor batin (sankhara) juga secara jelas dicerap pada saat melihat. dari berbagai kelas fenomena materi. mencerap rasa kecapan melalui indera pengecapan. dibandingkan objek-objek dari pintu indera (upad arupa) ketika melihat.

Namun demikian. Pertama-tama perhatian seyogyanya ditetapkan pada perut. Ilustrasi Apabila dialami bahwa pikiran mengembara ke objek yang bukan sedang diamati. dengan hanya merenungkan yang dilakukan melalui tindakan sederhana dari pengamatan batin tanpa aktivitas pengulangan di dalam batin. agar mencapai sasaran perenungan seyogyanya dilaksanakan secara berulang-ulang dalam batin dengan kata-kata khusu s atas objek-objek yang bersesuaian. Apabila pada saat permulaan latiha n. Saat perut mengembang seyogyanya direnungkan dengan ditetapkan secara bertahap dengan tahap naiknya perut sejak mulai hingga berakhir. Perenungan seyogyanya dilakukan secara berulang hingga faktor batin yang mengembara ini padam. bila menginginkan sesuatu seyogyanya direnungkan 'ingin'. dalam hal gembira. seyogyanya direnungkan sebagai : 'mengembara'. atau kecewa. Sensasi kontak jasmani khusus ini seyogyanya diambil sebagai objek tamb ahan bersama 'duduk' dan secara berkesinambugan direnungkan sebagai 'kontak. Just ru mengetahui gerakan perut dan gerakan jasmani yang sebenarnya merupakan kepentingan yang nyata. Saat perut dirasakan mulai turun (mengempis) seyogyanya direnungkan di dalam batin sebagai 'mengempis'. Ketika sedang dalam perenungan seperti 'naik. disebabkan oleh aliran keluar dan masuknya nafas. kontak' sulit untuk dimulai. kata-kata bukan kepentingan yang nyata. perenungan akan sia-sia dan tidak efektif dan banyak kemunduran seperti perhatian gagal untuk mencapai cukup dekat terhadap objek yan g dituju. atau marah. perenungan seyogyanya kembali kepada objek semula 'naik'. kontak'. objek tidak jelas perbedaannya dan dicerap secara terpisah dan bahwa ene rgi yang dibutuhkan menjadi bekurang. namun mereka seyogyanya diulangi di dalam batin. satu atau kedua tangan seyogyanya ditempatkan pada perut. Penekanan nafas . Apabila pikiran sedang merenung. 'marah'. Apabila hal ini pun sulit dilakukan maka perenungan seyogyanya ditetapkan dengan memperhatikan gerakan perut yang mengembang dan mengempis. seyogyanya direnungkan sebagai 'merenung'. Kemudian akan dirasakan bahwa perut mengembang dan mengempis dan gerakan perut selalu hadir. seyogyanya direnungkan sebagai 'gembira'. 'kecewa'. Perhatian seyogyanya ditetapkan secara bertahap dengan tahap turunnya perut sejak mulai hingga berakhir. Inilah ilustrasi untuk menunjukkan tata cara perenungan. apabila pikiran bermaksud sesuatu seyogyanya direnungkan sebagai 'bermaksud'. Perhatian khusus Disebutkan di sini bahwa kata-kata 'naik/mengembang' dan 'turun/mengempis' seyogyanya tidak diulangi dengan mulut. apabila perenungan dengan cara demikian seperti 'kontak . mungkin akan terdapat bany ak kesempatan ketika batin ditemukan mengembara ke objeknya masing-masing. turun'. gerakan naik dan turunnya perut tidak jelas dengan hanya menetapkan perhatian ke pada perut. duduk. Kemudia n. mempercepat atau membuat nafas dalam seyogyanya tidak dilakukan. Aliran nafas alamiah seyogyanya dipelihara. Namun demikian. Di dalam kenyataannya. 'turun' dan dilakukan .tubuh lainnya. Jadi. apabila merasa malas atau sena ng seyogyanya direnungkan sebagai 'malas' atau 'senang'. maka perhatian seyogyanya ditetapkan pada ko ntak jasmani saat aliran nafas masuk dan keluar dengan cara merenungkan 'kontak. duduk. Pengembaraan batin ini seyogyanya direnungkan sebagaimana mereka muncul. kont ak'.

Apabila sensasi yang tidak menyenangkan (dukhavedana). mengangkat. Kemudian perenungan dikembalikan ke 'naik'. nyeri'. Apabila perubahan itu telah selesai maka perenungan dikembalikan kepada 'naik'. Di dalam hal berjalan. perenungan seyogyanyan dilakukan dengan menetapkan perhatian terhadap setiap pergerakan mayor yang nyata dari jasmani dan anggota tubuh sesuai urutan proses pergerakan perubahan tersebut. dapat dikatakan bahwa perenungan seyogyanya dilaksanakan terhada p semua aktivitas jasmani dan anggota tubuh seperti menekuk. 'mendengar'. untuk mengetahui sifat alamiah mereka sebagaimana mereka muncul. seyogyanya direnungkan sebagai 'memperhatikan'. Pada saat sesuatu sedang diperhatikan. 'panas. 'mengangkat' . panas'. untuk mengetahui bentuk sebenarnya ketika mereka muncu l. berjalan' ata u 'bergerak maju. 'merenungkan'. Secara singkat. Di dalam perubahan posisi ini pun perhatian seyogyanya ditetapkan kepada gerakan yang paling nyata (mayor) dari tubuh/jasmani dan anggota tubuh dan perenungan dilaksanakan seperti 'menekuk'. seyogyanya direnungkan sebagai 'mendengar'. dan sebagainya muncul di dalam jas mani. bergerak. Apabila pikiran merenungkan mengikuti maka seyogyanya direnungkan sebagai 'merenungkan'. sesuai kasusnya. maka posisi tubuh dan posisi tangan serta kaki harus diubah maka meringankan sit uasi. 'turun'-nya perut sesuai objek semula. bergerak maju. 'mendengar'. 'nyeri. lelah'. dan seterusnya. seperti rasa lelah pada anggota tubuh atau perasaan panas atau nyeri. meregang. Apabila sesuatu didenga r tanpa mendengarkan seyogyanya direnungkan sebagai 'mendengar'. turun' peru t sesuai objek semula. bergerak maju'. atau 'mengangkat. Namun apabila sensasi nyeri begitu kuat sehingga mereka tidak dapat ditoleransi lagi. dan seterusnya. Apabila sesuatu dilihat tanpa diperhatikan. Perenungan juga seyogyanya dilaksanakan terhadap semua gagasan/ide/faktor batini ah dan seterusnya. maka perenungan dikembalikan ke 'naik. Perenungan seyogyanya dilaksanakan dilaksanakan terhadap setiap sensasi fisik da n perasaan batin (vedana) untuk mengetahui sifat alamiahnya ketika mereka muncul. melihat'. 'turun 'nya perut sesuai objek semula. perhatian seyogyanya difokuskan ke titik sensasi dan perenungan dilakukan seperi : 'lelah. 'bergerak'. meletakkan kaki '. sesuai urutan proses perubahan tersebut. Dalam kasus perubahan posisi dari duduk menjadi berdiri dan perubahan ke posisi berbaring. perenungan seyogyanya dilakukan dengan menetapkan perhati an terhadap gerakan setiap langkah dari saat mengangkat kaki hingga kembali meletak kan kaki dan dengan membuat catatan secara batiniah sebagai 'berjalan. 'meregang'. Apabila sensasi tak menyenangkan itu telah paham. 'mengayun'. 'meletakkan ke bawah'. Apabila seseorang akan mendengarkan sesu atu. maka perenungan seyogyanya . 'melihat'.secara berkesinambungan. seyogyan ya direnungkan sebagai 'melihat. Apabila tidak terdapat objek yang outstanding yang dapat direnungkan ketika berdia m dengan tenang dalam posisi duduk atau berbaring.

seorang siswa seyogyanya berupaya untuk merealisas i muncul dan padamnya faktor batin tidak kurang daripada sekali setiap detik pada tahap permulaan latihannya. Namun demikian. y aitu (1) perenungan terhadap posisi tubuh duduk dan sentuhan. dan perenungan dikembalikan kepada objek semula secara berkesinambungan. mengecap ras a. sementara itu di dalam Vipassana-Kammathana perenungan juga harus dilakukan terhadap faktor batin yang mengembara itu. maka perenungan seyogyanya dikembalikan kepada objek naik . dengan cara perenungan kontinyu ini. sala h satu dapat dipilih sebagai objek utama atau pertama di dalam perenungan. sebagai objek utama dan pertama di dalam perenugan. Namun seorang siswa yang baru saja mulai melatih perenungan belum dapat merealis asi perubahan yang demikian cepat. mencium bau. Inilah latihan dasariah latihan Vipassana secara singkat. bergagasan dan seterusnya sesuai urutan kemunculan mereka. Namun. Di dalam merealisasi kondisi perenungan yang luhur yang memungkinkan untuk merenungkan setiap objek sebagaimana mereka muncul. Oleh karena itu tidak diperlukan u ntuk merenungkan rintangan batin seperti faktor batin yang mengembara yang muncul sewaktu-waktu. Mirip seseorang yang mulai belajar. Setelah perenungan dengan cara ini. tak dapat membaca begitu cepat dan baik bila dibandingkan dengan orang yang telah belajar dengan mahir. terdapat dua jenis kasus perenungan lain yang sudah disebutkan di atas. dan (2) perenungan terh adap impresi kontak di dalam nafas masuk dan keluar. Namun demikian. turun seperti semula. terdapat banyak rintanan batin (Nivarana) yang menyebabkan batin mengembara ke arah objek lain. Di dalam hal Samatha-Kammatthana. tidak ada perlakuan khusus untuk merenungkan faktor batin yang mengembara. Perenungan seyogyanya dilaksanakan pada setiap saat dari melihat. PERKEMBANGAN KONSENTRASI VIPASSANA (VIPASSANA SAMADHI) DAN PENGETAHUAN BIJAKSANA PANDANGAN TERANG (VIPASSANA NANA) Bila tidak berupaya kuat untuk melaksanakan perenungan seperti disebutkan di ata s. namun mereka seyogyanya ditekan. konsentrasi (samadhi) dan pandangan bijaksana ke dalam (nana) yang cukup kuat akan secara mandiri merealisasi muncul dan padamnya batin sangat sering di dalam satu detik. Seperti ditunjukkan di dalam bagian Samatha-Kammatthana. __________________ VI. para siswa akan gagal untuk mengamati banyak aktivitas jasmani dan batin pada sa at permulaan latihan. semua fenomena batin dan jasmani yan . Oleh karena itu. Di dalam kasus samatha-bhavana seseorang harus merenungkan secara berkesinambungan terhadap objek semula dari samatha untuk membuat batin terkonsentrasi dengan kuat hanya kepada objek tersebut. petunjuk-petunjuk yang diberikan di sini untuk memperlakukan atau menjaga perhatian kepada naik dan turunnya gerakan perut. di dalam vipassana-bhavana. Siswa yang telah berkembang. Hanya perlu menyingkirkannya sesegera mungkin saat mereka muncul. maka tidak dibutuhkan kembali semuanya untuk kembali ke objek utama dan pertama.dilaksanakan dengan selalu menetapkan perhatian terhadap kontak jasmaniah. Ini adalah satu dari butir-but ir perbedaan antara samatha-bhavana dengan vipassana-bhavana di dalam hal mengatasi rintangan batin (nivarana). mendengar. Tidak dibutuhkan untuk mengamati fenomena batin dan fisik yang lain. yang lebih mudah dijelaskan dan mudah untuk direnungkan. berpikir. di mana apabila diinginkan. mengetahui sentuhan jasmani.

mendengar. Jasmani tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui. Fenomena batin. Di dalam beberapa kasus. menurunkan . Pada tahapan perenungan ini. Dengan terealisasinya perkembangan pengetahuan bijaksana (nana) selama satu peri ode waktu yang baik di dalam latihan perenungan yang berkesinambungan. melihat. menyenangkan dan atta (aku) akan muncul. Oleh karena itu apabila dan keti ka rintangan batin seperti misalnya batin merenungkan sesuatu selain objek perenung an semula atau batin menikmati nafsu atau keserakahan dan sebagainya mereka juga ha rus direnungkan. Sekarang batin terbebas dari kamacchanda (nafsu indera) dan rintangan batin (niv arana) lainnya dan oleh karena itu sama seperti pada tingkat seperti Upacara-samadhi (konsentrasi berdekatan) yang disebutkan di dalam bagian Samatha-kammatthana. maka hanya ada perenungan murni yang terpusat. Kemudian fenomena fisik seperti naik. Terkonsentrasinya batin terhadap objek nya ini disebut Vipassana-khanika-samadhi (konsentrasi sementara dari pandangan terang). Segera setelah faktor batin mengembara ke objek la in. batin segera memperhatikan dan merenungkannya dan kemudian pengembaraan tersebut tidak berlangsung lebih jauh lagi. maka hampir tidak akan ada l agi faktor batin yang mengembara. turun. . Inilah yang disebut Citta-visuddhi (kemurnian batin). Pada setiap saat bernafas. menekuk. dan seterusnya. maka akan muncul sebuah pengertian jelas bahwa fenomena 'hanya terdiri dari proses batin d an fisik'. ditemukan b ahwa perenungan dilaksanakan tanpa interupsi karena faktor batin dicerap segara saat faktor batin itu mulai muncul. seperti merenungan berpikir. oleh karena itu menghindari mereka tidaklah cukup seperti dalam kasus samatha. ditemukan bahwa batin yang merenungkan dan objeknya selalu datang bersama dan terkonsentrasi. jasmani dan batin yang mengetahui jasmani dicerap secara jelas dan ter pisah sebagai dua hal yang berbeda. Begitu batin tidak lagi bercampur dengan rintangan batin yang menyebabkan mengembaranya batin.g muncul melalui enam pintu indera harus diamati. Pengetahuan bijaksana atas pembedaan fenomena fisi k dan batin sebagai dua proses yang terpisah disebut Nama-rupa-pariccheda-nana (pengetahuan bijaksana yang dapat membedakan dengan jelas fenomena batin dan jasmani). yang sedang direnungkan. juga dicerap pada setiap saat perenungan di dalam keadaan terpisah t anpa dicampuri oleh fenomena materi lain atau fenomena batin lain. da n seterusnya. Apabila mereka tidak direnungkan. maka kemelekatan dan pandangan keliru bahwa mereka kekal. dicerap pada setiap saat perenungan di dalam setiap bentuk y ang terpisah tanpa bercampur dengan batin yang merenungkannya atau dengan fenomena materi lain. Objek vipassana a kan lengkap hanya apabila seseorang merenungkan terhadap semua fenomena itu sehingga mengetahui dengan jelas sifat alamiahnya dan tidak melekat terhadapnya. menaikkan. meregang. Apabila faktor batin yang mengembara ini direnungkan secara berkesinambungan dengan cara ini dalam jangka waktu yang cukup lama.

maka batin mencapai objeknya. Dengan melanjutkan perenungan lebih jauh. ma ka muncullah kesadaran melihat. dan lahir adalah munculnya sebu ah kesadaran baru di dalam urutan kelangsungan kesadaran ini.menekuk. semua jenis perbuatan dipikirkan dan dilakukan. dikarenakan fluktuasi di dalam temperatur/suhu. . Sebagai ilustrasi : Seorang siswa mencerap kenyataan bahwa dikarenakan batin menginginkan untuk membungkuk atau bergerak atau meregang atau mengubah posisi tubuh. maka muncul aksi atau tindakan membungkuk. Sebelum mengembangkan pengetahuan benar kenyataan bahwa "kehidupan terdiri dari batin dan jasmani yang tergantung atas 'sebab-musabab yang terkait' terdapat ban yak keraguan skeptis apakah terdapat SAYA di waktu lampau. di dalam urutan yang sangat cepat dan berkesinambungan. atau mengubah posisi tubuh. dan dikarenakan mengkonsumsi makanan maka akan selalu muncul energi fisik yang baru. ia mencerap kenyataa n bahwa kematian bukanlah kematian bukanlah sesuatu hanya padamnya kesadaran terakhir di dalam urutan kelangsungan kesadaran. Sekarang keraguan ini tidak dapat muncul karena mereka telah diatasi. tergantung atas formasi/bentukan materi/jasad yang baru. mendengar. ia mencerap kenyataan bahwa dikondisikan kehadiran Avijja (kegelapan/kebodohan batin). dicerap bahwa fenomena materi/fisik d an batin yang muncul di dalam jasmani merupakan efek atau hasil dari sebab-sebab ya ng bersesuaian dengannya. dan seterusnya. dicerap bahwa materi/jasmani dan batin muncul dan padam pada setiap saat perenungan. Pengertian jelas ini disebut Ditthi-vis uddhi (Kemurnian Pandangan). Namun batin memiliki kemampuan merenungkan. dan dikarenakan kehendak untuk mengarahkan. indera pendengaran. maka muncullah. yang tergantung dari sebab musabab yang terkait dan dengan demikian akan ada proses yang mirip pada kehidupan di masa mendatang . Pengetahuan bijaksana membedakan sebab musabab yang saling tergantung ini disebut Paccaya-pariggaha-nana (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari pengertian pengalaman penuh akan sebab-musabab fenomena). Dengan meneruskan perenungan lebih lanjut. Pandangan murni seperti ini disebut Kankha-vitarana visuddhi (Kemurnian pandangan yang muncul setelah mengatasi keraguan). dan dikarenakan kemelekatan terhadap perbuatan-perbuat an tersebut yang telah dilakukan. Lagi. apakah SAYA berada hanya dalam kehidupan ini atau apakah SAYA akan terus ada di waktu mendatang" dengan memegang pandangan bahwa formasi/perpaduan meteri/jasmani dan batin adalah ATTA atau DIRI . tidak terdapat aku atau Atta. Pengertian bijaksana ini disebut Anicca-sammassana-Nana (Pengertian bijaksana akan ketidak-kekalan fenomena alam). memikirkan. kesadaran-kesadaran (vinnana) baru. meregang. Lagi. memindahkan. objek pendengaran. melihat. ia mencerap kenyataan bahwa dikarenakan kehadiran/adanya indera penglihata n dan objek penglihatan. maka sela lu terdapat perubahan di dalam kondisi fisik apakah menjadi dingin atau panas. yang memandang kehidupan sebagai indah dan menyenangkan dan kehadiran Tanha (keinginan rendah). mendengar. dan seterusnya. Terpisah dari dua faktor ini. bergerak. Lagi. Dengan mengerti kenyataan sebab-musabab yang saling tergantung (paticcasamuppada ) ia akan datang pada satu kesimpulan bahwa hidup di masa lampau adalah sebuah formasi materi dan batin. dan sebagainya. dan seterusnya.

Keyakinan kuat tak terhingga terhadap Tiratana (Adhimokkho ti saddha) 5. Pada tahap ini. I a tiba pada keputusannya ini sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya dari penga laman atau sesuai dengan petunjuk gurunya. tidak memuaskan. Semangat yang sangat tinggi atas pelaksanaan perenungan/meditasi (Paggaha) 6. dukkha dan anatta tanpa halangan (Nana) 8. Keputusan murni ini adalah indikasi Maggamagga-nana-dassana-visuddhi (kemurnian pandangan benar terhadap jalan dan bukan jalan). Kemudian siswa itu memutuskan pengalaman melihat bayangan batin dan perasaanpera saan lainnya bukanlah perealisasian pencerahan sempurna yang sesungguhnya. Inilah indikasi awal atau tahap permul aan dari 'Udayabbaya-nana' (pengetahuan bijaksana atas muncul dan padamnya fenomena) yang lemah. bahwa mereka secara konstan dicengkeram oleh muncul dan padam mereka dipandang sebagai bukan menyenangkan juga tidak patut digantungi. Kegembiraan yang mencakup ke seluruh tubuh (Sukkha) 7. Melekat terhadap fenomena dhamma butir 1 9 (Nikanti) Oleh karena itu. umumnya ia menceritakan pengalamannya. Setelah tiba pada keputusan ini dan diteruskan dengan melanjutkan perenungannya pengalaman-pengalaman melihat bayangan batin dan perasaan-perasaan lainnya secar a bertahap akan berkurang dan pencerapan objek menjadi lebih jelas dan lebih jelas lagi. seringkali muncul pengalaman-pengalaman aneh. yang mengkondisikan terhambatnya latihan vipassana sehingga menjadi kotor (vipassanupakkilesa). siswa itu melanjutkan dengan perenungan tanpa refleksi lebih lanjut.Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara konstan muncul dan padam. set . Cahaya yang gemilang (Obhasa) 2. Ia juga mencerap dengan sangat jelas padamnya setiap objek perenungannya seolah-olah diputus deng an jelas. Kemampuan di dalam melaksanakan perhatian murni tanpa kehilangan objek (Upatthana) 9. Ia sering kali menganggap bahwa ia telah merealisasi pencerahan sempurna. dan bahwa metode perenungan yang tepat untuk merealisasi pencerahan sempurna adalah hanya dengan mengobservasi secara konstan terhadap semua fenomena yang muncul. Setelah merefleksikan kenyataan-kenyataan ini selama ia inginkan. siswa tersebut dapat terbuai sehingga ia tidak dapat lagi menja ga mulutnya. namun hanya merupakan dukkha. Muncul dan padamnya fenomena materi pada setiap gerakan di dalam hal satu geraka n membungkuk atau meregangkan tangan atau kaki atau di dalam hal satu langkah. Pandangan yang tajam terhadap sifat alamiah anicca. Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara alamiah tidak mengikuti perintah keinginannya. Ia kemudian mencerap dengan sangat jelas permulaan dari setiap objek perenungannya. maka direalisasi bahwa mereka bukan atta atau diri . Sikap batin tenang (Passaddhi) 4. seperti : 1. Kegiuran batin (Piti) 3. Keseimbangan batin (Upekkha) 10. namun muncul dan padam sesuai dengan sifa t alamiah dan kondisi relatifnya. Namun demikian sepuluh fenomena ini adalah jalan yang sala h (Amagga). Pengertian bijaksana ini disebut Anatta-sammassana-nana (Pengertian bijaksana terhadap segala sesuatu yang bukan atta atau bukan diri). Pengetahuan bijaksana ini disebut Dukkha-sammassana-nana (Pengertian bijaksana terhadap kondisi yang tidak memuaskan).

Dilanjutkan den gan perenungan atas objek-objek dengan keseimbangan batin hanya memperhatikan objek tanpa terlarut di dalam kesenangan maupun ketidaksenangan. dengan kejelasan khusus yaitu dukkha. Saat kemunculan Magga dan Phala Nana tidak berjeda waktu sedetik pun. Ini adalah Paccavekkhana-nana (Pengertian bijaksana dari retropeksi/perenungan mendalam). Magga Nana disebut Nana-dassana-visuddhi (Kemurnian pandangan). Ini adalah pengertian bijaksana yang memotong kekerabatan Puthujjana (makhluk awam duniawi) dan memasuki kekerabatan Ariya (makhluk suci). Inilah kema tangan atau tahap akhir dari Udayabbaya-Nana . Kemudian muncul Sotapati Magga Nana dan Phala Nana (Pengetahuan bijaksana dari Jalan Suci pemenang arus dan buahnya) yang merealisasi Nibbana. Setelah pengertian bijaksana (Nana) ini diperoleh cukup kuat. Ini adalah Patisankha-nana (Pengertian bijaksana yang muncul dari perenungan yang lanjut). disebut Sankharupekkha-nana (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari keseimbangan batin terhadap sankhara).iap fregmen (bagian) dari satu gerakan akan dengan sangat jelas diamati. Ketika Patisankha-nana ini masak. muncullah pengertian bijaksana yang khusus sangat cepat dan a ktif. Keluar dari perenungan ini yang dilanjutkan secara otomatis dan dengan momentumn ya merealisasi objek. Khas Anicca. Perenungan itu mengalir tanpa hambatan seolah terbebas dari Upakkilesa (ketidakmurnian). perenungan berlanjut secara otomatis mirip sebua h jam tanpa upaya khusus bagi pencerapan dan pengertian bijaksana. pencerapan terhada p objek-objek dijumpai lebih cepat. Phala dan Nibbana . Seseorang yang telah merealisasi Paccavekkhana-nana sesuai urutan itu disebut se bagai makhluk Sotapanna (Pemenang arus). Pencerapan yang muncul dalam jangka waktu lama ini merealisasi sifat alamiah obj ekobjek perenungan secara otomatis dan tanpa terlibat di dalam kesenangan dan ketidaksenangan. Setelah Anuloma Nana. Pandangan terang mulai dari Udayabbaya-Nana yang masak sampai dengan Anuloma-nana secara kolektif dikenal sebagai Patipada-nana-dassana-visuddhi (Kemurnian dengan pengertian bijaksana dan pandangan terang yang muncul akibat telah mengikuti latihan yang benar). Pengertian bijaksana yang muncul langsung menuju sebuah jalan mulia ini yang jug a dikenal sebagai Vuitthana (elevasi) adalah Vutthana-gamini-vipassana-nana (Pengetahuan bijaksana menuju elevasi yang lebih luhur). Ini adalah nana atau pengertian bijaksana yang tepat bagi 8 vipassana nana yang mendahuluinya dan Magga-nana (Pengertian bijaksana atas Jalan) yang mengikutinya. dan bahkan dapat berakhir dalam jangka waktu yang begitu lama. Perenungan ini begitu damai dan tanpa upaya khusus saat itu dan dilanjutkan dengan mengetahui objek-ob jek begitu otomatis dan dapat berlangsung lebih dari satu jam. Kemurnian segera disusul kemunculan refleksi atas pengalaman khusus Magga. muncullah Gotrabhu-Nana (Pengertian bijaksana memenangkan kesucian) dimana Nibbana adalah objeknya. tidak memuaskan. Anatta. dan . Akhir atau padamnya objek lebih jelas dicerap daripada permulaan Upacara (pendekatan) dan Anuloma (adaptasi). dua jam atau tiga jam . Pengertian bijaksana ini muncul merealisasi bahwa fenomena fisik dan batin yang muncul melalui enam pintu indera pada saat itu tidak kekal. Dukkha. dimana duka cita dan ketidakpuasan yang berhubungan dengan fenomena fisik dan batin padam secara tota l. tanpa lelah atau bosa n.

bukan diri/aku. Pengertian bijaksana terakhir adalah Anuloma-nana (Pengertian bijaksana atas adaptasi) yang terdiri dari tiga javana (saat-saat dorongan) disebu t Parikamma (persiapan), seyogyanya melaksanakan latihan meditasi sesuai dengan petunjuk yang diberikan di atas. Semoga semua makhluk dapat melaksanakan latihan Meditasi dan merealisasi Nibbana . __________________ KETERANGAN BEBERAPA ISTILAH PENTING Ariya Sacca Kebenaran Suci, terdapat 4 jenis : a. Dukkha sacca = Kebenaran suci tentang 'penderitaan' b. Samudaya sacca = Kebenaran suci tentang penyebab 'penderitaan' c. Nirodha sacca = kebenaran suci tentang padamnya 'penderitaan' d. Magga sacca = Kebenaran suci tentang jalan untuk terbebas dari 'penderitaan'. Bhavana a. Samatha - bhavana Pengembangan ketenangan batin. Secara sementara kekotoran batin tertentu mengend ap (lihat nivarana). Objek samatha-bhavana ini merupakan pannatti (konsepsi batin). b. Vipassana bhavana Pengembangan kebijaksanaan melalui pengamatan dan perhatian murni terhadap fenomena batin dan jasmani yang dicengkeram oleh sifat universal (lihat Tilakkha na). Hasil akhirnya, kekotoran batin terbasmi hingga ke akarnya. Objek vipassana-bhav ana ini merupakan paramattha (hakekatnya sesungguhnya segala sesuatu yang dialami). Dukkha a. Di dalam sifat alamiah universal (Tilakkhana), mengandung pengertian = tidak memuaskan. Dukkha jenis ini meliputi makhluk hidup suci atau tidak suci dan juga bukan makhluk hidup. b. Di dalam kebenaran suci tentang dukkha (Dukkha sacca), mengandung pengertian = penderitaan biasa (dukkha-dukkha), penderitaan yang inheren karena perubahan (viparinama dukkha), penderitaan yang inheren bagi mahluk yang merupakan perpaduan (sankhara dukkha). Dukkha jenis ini hanya berkenaan dengan makhluk hid up yang belum suci. Ekaggata a. Sebagai faktor batin bersifat netral (bukan baik juga bukan tidak baik), meng andung pengertian faktor batin yang berfungsi memusatkan batin terhadap objek yang diam ati. b. Di dalam faktor jhana, mengandung pengertian sebagai faktor batin yang berfun gsi menekan kamachanda-nivarana (hasrat nafsu indera). Jhana Kondisi batin yang melekat kuat terhadap objek (arammana) yang dialami. Objek ya ng dialami oleh batin selama di dalam kondisi jhana merupakan objek yang bukan sesungguhnya atau bersifat konsepsi batin (pannatti). Khanda Mengandung pengertian sebagai kelompok perpaduan; umum pula dijumpai dalam istilah upadanakkhandha yang berarti kelompok perpaduan yang berpotensi menimbulkan kemelekatan. Khandha terdiri dari 5 lima kelompok yaitu : a. Vedanakkhandha = kelompok perpaduan perasaan, yaitu perasaan yang menyenangkan, perasaan tidak menyenangkan dan perasaan netral (bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan). b. Sannakkhandha = kelompok perpaduan pencerapan. Fungsinya menandai objek, mencerap objek yang dialami, mengkondisikan pengenalan terhadap objek.

Apabila makhluk Anagami melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah pandangan untuk merealisasi Anagami Phala-sampatti , maka ia akan merealisasi tingkatan tersebut. Apabila ia melaksanakan latihan bagi tingkatan yang lebih luhur, maka Vipasanna-nana akan dikembangkan di dalam urutan yang sama seperti sebelumnya da n di dalam kematangan yang penuh ia akan merealisasi Nibbana dengan pandangan tera ng Arahatta Magga dan Phala (jalan kesucian Arahat dan buahnya) dan menjadi makhluk suci Arahat. Makhluk Arahat telah terbebas dari lima belenggu (samyojana ) yang masih tersisa, yaitu : 1. Rupa-raga (hasrat untuk keberadaan bermateri halus) 2. Arupa-raga (hasrat untuk keberadaan tanpa materi) 3. Mana (kesombongan) 4. Uddhacca (kegelisahan batin) 5. Avijja (kegelapan atau kebodohan batin) secara bersama dengan semua kilesa (kekotoran batin) Pada akhir masa kehidupannya saat ini ia akan Parinibbana, dan tidak akan tumimb al lahir lagi, ia secara mutlak terbebas dari duka ketuaan, kesakitan, kematian, da n seterusnya. Dengan tetap berpandangan terhadap kebebasan ini bahwa pertanyaan pada permulaan artikel ini : Apakah tujuan utama melaksanakan latihan meditasi telah diberikan jawabannya sebagai berikut : Latihan meditasi dilaksanakan untuk tujuan utama merealisasi Nibbana dan terbebas dari duka cita kehidupan di dalam bentuk ketuaan, kesakitan, kematian, dan seterusnya . Oleh karena itu mereka semua yang dengan tekun berharap untuk merealisasi Nibban a dan merealisasi kebebasan mutlak atau kemunculannya. Objek-objek perenungan nampak padam. Bentuk dan ukuran tangan, kaki, kepala, jasmani dan seterusnya tid ak dicerap lagi. Hanya kepadaman jasmani dan batin yang dicerap pada setiap saat perenungan. Bahkan, perenungan batin dicerap padam bersama objek perenungannya setiap saat. Pengertian bijaksana atas proses kepadaman ini di dalam pasangan ba tin dan objeknya adalah Bhanga-nana (pengetahuan bijaksana akan proses padamnya fenomena). Dengan terus-menerus mencerap proses yang selalu padam di dalam tiap pasang bati n dan objeknya maka akan tiba kemunculan perealisasian bahwa setiap fenomena dapat menimbulkan ketakutan. Ini adalah Bhaya-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang menakutkan). Kemudian akan disusul dengan munculnya pengertian bijaksana merealisasi ketidaksempurnaan fenomena batin dan materi. Ini adalah Adinava-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang tidak memuaskan). Kemudian akan disusul dengan pengertian bijaksana merealisasi sifat alamiah feno mena yang tidak menarik dan membosankan. Ini adalah Nibbida-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang membosankan). Apabila direalisasi bahwa sungguh baik apabila tidak terdapat fenomena fisik mau pun batin yang secara konstan datang/muncul dan padam di dalam cara demikian, muncul lah pengertian bijaksana, mencari kebebasan dari ketidakpuasan terhadap fenomenafeno mena ini. Ini adalah Muccitu-kamyata-nana (Pengetahuan bijaksana dari niat untuk terbebas).

Dengan lebih lanjut merenungkan disertai keinginan kuat untuk terbebas, munculla h sebuah persepsi kuat atas sifat alamiah Sotapanna terbebas dari tiga belenggu (samyojana) sebagai berikut : 1. Pandangan keliru bahwa fenomena kelompok perpaduan fisik dan batin adalah ego , atau diri. (Sakkaya-ditthi kepercayaan bahwa fenomena fisik dan batin adalah dir i). 2. Keraguan atas Buddha, Dhamma dan Sangha serta disiplin (Vicikiccha). 3. Kepercayaan bahwa metode di luar pengembangan jalan mulia berunsur delapan (Ariya Magga) dan di luar pengembangan pandangan terang di dalam empat kebenaran mulia (Ariya Sacca) dapat membawa kebahagiaan sejati (Silabbata-paramasa kepercayaan hanya terhadap ritual dan upacara membawa ke kesucian). Lebih lanjut, bahwa observasinya terhadap pelaksanaan lima kaidah kemoralan menj adi murni dan mutlak. Bagi alasan inilah, Sotapanna tidak mungkin tumimbal lahir ke alam yang tidak menyenangkan, yang rendah (Apaya loka). Ia akan menjalani kehidupan bahagia di dunia manusia dan para dewa selama tujuh kali tumimbal lahir maksimum , dan selama periode ini ia akan merealisasi tingkat kesucian Arahat. Apabila Sotapanna melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah niat untuk merealisasi Phala-samapatti (perealisasian buah), ia kemudian akan mencapai keadaan itu dan menetap dengan objek Nibbana untuk jangka waktu 5 atau 6 menit, atau setengah jam, atau satu jam. Apabila ia cukup baik terlatih di dalam latihan perealisasian Phala-samapatti maka ia akan merealisasinya dengan sangat cepat dan menetap di dalam objeknya itu selama sehari penuh atau bahkan semalaman atau leb ih lama lagi. Apabila ia melaksanakan perenungan terhadap Upadanakkhanda di dalam cara yang sama seperti yang telah disebutkan di atas dengan sebuah pandangan untuk mereali sasi tingkat Magga dan Phala yang lebih tinggi, maka vipassana-nana akan dikembangkan dari tahapan Udayabbaya-nana dalam urutan yang sama seperti sebelumnya dan dalam kematangan penuh ia akan merealisasi Nibbana dengan pandangan terang dari Sakadagami-Magga dan Phala (Jalan makhluk suci yang paling banyak akan kembali lagi satu kali ke alam nafsu dan buahnya) dan menjadi makhluk Sakadagami (yang kembali satu kali lagi). Ia kemudian terbebas dari nafs u indera (kama-raga) yang kasar dan keinginan buruk (patigha) yang kasar. Ia akan menuju kehidupan bahagia di dalam alam manusia dan dewa maksimum selama dua kali tumimbal lahir dan akan merealisasi tingkat kesucian Arahat selama periode tersebut. Apabila makhluk Sakadagami melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah pandangan untuk merealisasi Sakadagami Phala-Samapatti maka ia akan merealisasi tingkat tersebut. Apabila ia melaksanakan latihan dengan sebuah pandangan merealisasi tingkat Magga dan Phala yang lebih luhur, Vipassana-nana akan dikembangkan di dalam urutan yang sama seperti sebelumnya dan di dalam kematangan penuh ia akan merealisasi Nibban a dengan pandangan terang dari Anagami Magga dan Phala (Jalan makhluk yang tidak akan kembali lagi ke alam yang diliputi nafsu dan buahnya) dan menjadi mak hluk Anagami (Makhluk yang tidak pernah kembali lagi, ke alam nafsu indera). Ia kemud ian secara total terbebas dari dua belenggu/samyojana lebih banyak, yaitu kama-raga (nafsu indera) dan Patigha (keinginan buruk). Ia tidak akan tumimbal lahir lagi di Kama-loka (alam yang diliputi nafsu indera) namun akan tumimbal lahir di Rupaloka (alam dengan materi halus) atau Arupa-loka /alam tanpa materi (bila ia saat itu

formulasi umumnya terdiri dari empat pernyataan. Timbulnya ini mengkondisikan timbulnya itu. yang tidak baik dan yang netral (bukan baik juga bukan tidak baik). Vicikiccha = sikap batin ragu secara skeptis. phala) dan Nibbana. e. Dalam hal ini meliputi batin para makhluk rendah. Silabbata-paramasa = kepercayaan bahwa hanya dengan ritual keagamaan dapat merealisasi kesucian. makhluk manusia. Lokiya dhamma Dhamma yang bersifat duniawi. yaitu : 1. Sebagai faktor jhana merupakan faktor batin yang fungsinya menekan byapada-nivar ana (niat jahat). Byapada = niat jahat. . e. fungsinya menyadari objek yang dialami. 2. Vinnanakkkandha = kelompok perpaduan kesadaran. Vicikiccha = keraguan skeptis. c. yang secara umum terd iri dari unsur materi padatan. ada 10 jenis. Padamnya ini mengkondisikan padamnya itu. Rupakkhandha = kelompok perpaduan materi/fisik/jasmani. Sakkaya-ditthi = kepercayaan atau pandangan keliru terhadap lima kelompok perpaduan (khandha 5) sebagai inti/aku/diri. Kamachanda = hasrat di dalam nafsu indera. Nivarana Rintangan batin. Uddhacca-kukkucca = sikap batin gelisah/tak dapat memegang objek dengan baik dan khawatir atas perbuatan baik yang belum dilakukan atau perbuatan jahat yang telah dilakukan. Piti Sebagai faktor/penyerta batin berarti kegiuran batin terhadap objek yang dialami . Lokuttara Dhamma Dhamma yang mengatasi duniawi. terdiri dari 5. 7. tak dapat membedakan kebaikan dari keburukan. 8. 6. d. dan bersifat netral (bukan baik juga bukan tidak baik). c. Ruparaga = hasrat untuk memiliki fisik/nafsu untuk tumimbal lahir di alam ber materi halus. Avijja = kegelapan batin. unsur materi gerak. unsur materi cairan. yaitu : a. Aruparaga = nafsu untuk tidak memiliki fisik/nafsu untuk tumimbal lahir di al am tanpa materi. Samyojana Adalah belenggu batin. Dalam hal ini meliputi batin para makhluk suci (Ariya puggala) pada saat hancurnya tiga atau lebih belenggu/ kekotoran batinnya (magga. tak mengetahui hakekat sesungguhnya segala sesuatu. Paticca-samuppada Sebab-musabab yang saling tergantung. Patigha = niat jahat/dendam. unsur materi panas. Kamaraga = nafsu indera 5. Uddhacca = kegelisahan batin. makhluk dewa maupun brahma/makhluk awam (puthujjhana puggala) yang belum hancur belenggu/kekotoran batinnya. Mana = kesombongan 9. 3. yaitu : Adanya ini mengkondisikan adanya itu. 10. Tidak adanya ini mengkondisikan tidak adanya itu.makhluk Arupa Brahma) dan ia nantinya akan menjadi Arahat. Thina-middha = sikap malas dan lamban d. 4. b. Sankharakkhandha = kelompok perpaduan faktor-faktor/penyerta batin yang baik. tak mengetahui kebenaran suci.

Di dalam khandha 5. Di dalam faktor jhana. fungsinya membua t batin mengarah kepada objek yang dialami. netral dan buruk. fungsinya membuat batin menambat terhadap objek yang dialami. Sabbe dhamma anatta = semua dhamma dalam hakekat sesungguhnya adalah tanpa kepemilikan. pada dasarnya terbentuk dari dua unsur. b. Vitakka a. Sukha a. mengandung penger tian sikap batin seimbang terhadap semua fenomena yang dicengkeram Tilakkhana. b. mengandung pengertian = faktor/penyerta batin (cetasika) yang baik. yang baik d an yang tidak baik. mengandung pengertian perasaan netral . Sebagai faktor jhana (jhananga) merupakan faktor penyerta batin yang fungsiny a menekan Vicikiccha-nivarana (keraguan skeptis). dikategorikan sebagi faktor batin perasaan (sukkha vedana ) yang berfungsi merasakan objek yang menyenangkan yang dialmi. hal ini seringkali ditaf sirkan atau diterapkan secara keliru. Sebagai faktor/penyerta batin artinya perenungan permulaaan. Sabbe sankhara anicca = semua fenomena perpaduan bersifat tidak kekal. bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan. . Sebagai manusia. c. dan tidak memuaskan (Dukkha ). Di dalam sifat alamiah yang berlaku universal (Tilakkhana). Di dalam lima kelompok perpaduan/yang berpadu (Khandha 5). b. b. Sabbe sankhara dukkha = semua fenomena perpaduan bersifat tidak memuaskan. sehingga merupakan bersifat ketidakkekalan (Annica). Vicara a. tanpa inti. yaitu : a. yaitu batin (nama) dan jasmani (rupa). merupakan faktor batin perasaan yang berfungsi menekan uddhacca-kukkucca-nivarana (kegelisahan kekhawatiran) Tilakkhana Tiga sifat alamiah yang berlaku universal. di lu ar pencerapan (sanna) dan perasaan (vedana). Upekkha a. berarti memahami proses batin dan jasmani yang bersifat tanpa inti (Ana tta). Di dalam hal sikap batin luhur tanpa batas (brahma-vihara). MEDITASI Menerima Diri Apa Adanya dengan Pengertian Benar Dalam kehidupan ini. b. Ditinjau dari cara pandang yang sebenarnya. mengandung penger tian = perpaduan.Sankhara a. tanpa diri. kita sering mendengar anjuran-anjuran di masyarakat yang menyatakan untuk menerima diri apa adanya. Sebagai faktor/penyerta batin artinya perenungan penopang. Di dalam hal perasaan (upekkha vedana). "Menerima Diri Apa Adanya". ba ik sebagai sebab (paccaya) maupun sebagai akibat (pacayuppana) mengandung pengertia n = kehendak (cetana) lampau dan melandasi perbuatan-perbuatan lampau. Di dalam fenomena sebab-musabab yang saling tergantung (Paticca-samupada). Sebagai faktor jhana (jhananga) merupakan faktor/penyerta batin yang fungsiny a menekan Thina-middha-nivarana (sikap batin malas dan lamban). c. b. Akan tetapi. dikarenakan tidak memiliki pemahaman yang benar sehingga menimbulkan pengaruh yang kurang baik.

para yogi mempraktekkan meditasi kesadaran (vipassana) dengan menggunakan empat sikap tubuh yang berbeda-beda. apapun ha sil yang diperoleh. Mere ka harus sepenuhnya membangun kesadaran setiap saat dalam kondisi apapun. maka aspek batin seharusnya menjadi prioritas u tama untuk diperbaiki.K. inilah yang sebenarnya dimaksud sebagai "Menerima Diri Apa Adany a" dalam meditasi. menerima sifat sesungguhnya d ari segala sesuatu. kenapa tidak dilakukan. termasuk apa yang kita anggap dan percaya sebagai "aku dan diriku". juga merasa puas dengan setiap kondisi yang ada. melainkan ha nya arti pada tingkat permukaan saja. berdiri. Dari semua aspek perbaikan diri. maka itulah hasil terbaik yang dap at kita peroleh. kebencian (Dosa) dan ketidaktahuan (Moha) . yaitu kesempurnaan batin (bebas dari keserakahan. lebih banyak orang yang belum sampai ke tahap pemahaman yang mendalam dan menyeluruh seperti yang didapat dari hasil berlatih Vipassanâ Bhâvanâ. tetap membutuhkan dasar pemahaman yang benar. Kondisi batin kita memang jauh dari sempurna.Inilah sifat sesungguhnya dari segala sesuatu yang terbentuk. Jadi sudah sewajarnya kita berusah a untuk menjadi lebih baik. bisa menc apai tujuan. dan kekayaan materi tidaklah banyak membawa manfaat. karena tanpa batin yang berkembang menuju arah yang lebih baik . maka perbaikan kondisi jasmani. Inilah yang dimaksud dengan "Menerima Diri Apa Adanya" MEDITASI JALAN Oleh : Sayadaw U Silananda Alih Inggris . materi. intelektual. maka kemajuan dalam se gi jasmani. terutama dari segi batin. yaitu terkikisnya keserakahan (Lobha). dan intelektual. apalagi menyalahkan orang lain. Mereka mempraktekkan kesadaran saat berjalan. supaya suatu saat. Karena itu. jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan sehari-hari. intelektual. Kita menerimanya dengan pengertian benar dan merasa pua s sambil terus berusaha untuk menjadi lebih baik lagi dari sekarang dan begitulah seterusnya. dan materi tidaklah banyak artinya. Jadi. kebencian dan kebodoha n batin) Tanpa batin yang terus menerus ditingkatkan. tidak dapat mencakup arti yang sesungguhnya.Indonesia : Chandasili Nunuk Y. Tida k mengeluh ataupun menyesalinya. Pada jaman sekarang ini. Tapi umumnya para yogi sulit duduk berjam-jam tanpa merubah posisi. Kalau kita memang masih bisa mencapai kondisi yang lebi h baik. menerima diri apa adanya. baik atau buruk. Dikegiatan penyunyian yang kami selenggarakan. Selanjutnya. duduk dan berbaring. Jadi "PENGERTIAN BENAR" yang berkenan dengan anjuran menerima diri apa adanya dalam kehidupan sehari-hari adalah memahami dan menerima. kualitasnya. Sikap utama tubuh dalam meditasi kesadaran adalah duduk bersila dengan punggung tegak. Untuk memahami inipun. setelah berusaha memperbaiki diri. yan g belum memiliki batin yang telah berkembang. Sehin . sebagai orang awam. Merasa puas bukan berarti kita berhenti berusaha menjadi orang yang lebih baik dari segi batin dan jasmani. untuk saat ini.

Kita harus menyadari bukan saja pemahaman yang jernih tapi juga kesadaran dan konsentrasi saat sedang berjalan bolak-balik. Karena meditasi jalan sangat penting maka perlu didiskusikan lebih jauh. Untuk membangun konsentrasi ia harus menggunakan kesadarannya. Praktek meditasi kesadaran bisa diumpamakan seperti merebus air. pentingnya dan kondisi alami yang bis a dipahami saat mempraktekkan meditasi jalan. Itulah sebabnya para yogi yang berada dalam pengawasan kami diinstruksikan untuk membangun kesadaran sepanjang waktu. mematikan dan menyalakan kompor (sebelum air mendi dih) maka air di dalam teko tidak akan pernah mendidih. Sebelum air mendidih ia mematikan kompor. Diskusi tersebut berkenaan dengan manfaat. Dalam hal ini praktek meditasi jalan menyatu didalamnya untuk menumbuhkan kesadaran yang berkesinambungan. Seorang bhikkhu menggunakan pemahaman yang jernih saat berjalan bolak-balik . Para pengritik ini mengatakan mereka tidak memperoleh manfaat at au hasil yang baik dari praktek meditasi jalan tersebut. Sebagai tambahan para guru terdahulu telah memiliki resep berdasarkan pengalaman praktek meditasi mereka sendiri. Izinkan kami secara khusus membahas praktek meditasi jalan. Dengan memiliki pemahaman yang benar terhadap pengamatannya seorang yogi dapat membangun konsentrasi. Maksud dari pemahaman yang jernih disini adalah pemahaman yang benar atas segala sesuatu yang diamati. Pada bagian lain yang disebut pemahaman jernih Sang Buddha mengatakan. jika ada jeda atau celah diantara kesadaran maka kita tid ak akan bisa membangun konsentrasi dengan baik. Sesungguhnya Sang Buddha merupakan orang pertama yang membabarkan praktek meditasi jalan ini. Pembahasan meditasi jalan Beliau sampaikan dua kali. tahu.gga kami mengganti saat-saat duduk meditasi ini dengan meditasi jalan. Mulai dari saat bangun dari tidur di pagi h ari hingga terlelap pada malam harinya. saya sedang berdiri ketika sedang berdiri. air di dalam teko tidak langsung mendidih. tahu saya sedang duduk saat sedang duduk dan tahu saat sedang berbaring sebagai saya sedang berbaring . Para bhikkhu gunakan pemahaman jernihmu . Petunjuk-petunjuk itu telah dipelajari oleh para murid Sang Buddha dan diturunka n dari satu generasi ke generasi berikutnya. Saat ini kami memiliki serangkaian petunjuk yang teliti tentang cara mempraktekk an meditasi jalan. saya sedang berjalan saat ia sedang berjalan. Meski sesaat kompor dimatikan untuk kemudian dinyalakan lagi sebentar. Dengan cara yang sama. meditasi jalan merupakan sua tu bagian penting dari proses ini. Namun demikian kami pernah mendengar orang-orang yang mengkritik praktek meditasi jalan. Lebih jauh Sang Buddha berkata. Lalu teko itu diletakkan di atas kompor kemudia n kompor itu dinyalakan. Pertama seseora ng harus mengisi air ke dalam teko. Meski Sang Buddha tidak memberikan petunjuk secara khusus dan rinci tentang meditasi jalan (hanya penjelasan singkat yang tercatat di dalam sutta) kami perc aya Beliau telah memberikan petunjuk pada suatu waktu. Jika kalian adalah p . Jika hal ini terus dilakukan. Jadi. Dalam bagian yang disebut sikap tubuh Beliau mengatakan seorang yogi tahu.

Pada saat itulah secara otomatis ia berjalan dengan perlahan. Tapi si sopir secara otomatis akan memperlambat laju kendaraannya untuk bisa melihat rambu-rambu tersebut.berjalan . yaitu melangkah dan meletakkan kaki . dengan menaruh perhatian penuh secara otomatis langkah kak i akan melambat.ara pemula sang guru akan menasehati untuk sepenuhnya awas pada satu hal selama mempraktekkan meditasi jalan. Bila ia ingin membaca rambu-ra mbu tersebut ia harus melambatkan laju kendaraannya. Tak perlu siapapun mengingatkan . maju. kedua maju. Hanya dengan berjalan lambat ia bisa sepenuhnya awa s dan waspada terhadap gerakan kaki tersebut. turun dan tekan. Setelah beberapa jam atau setelah satu-dua hari bermeditasi kalian akan diberi p etunjuk untuk melakukan dua tahapan dalam melangkah. pertama mengangkat.berjalan .atau kirikanan kiri-kanan Yang perlu diingat kalian harus berjalan lebih lambat dari biasanya saat sedang berlatih meditasi jalan.. Sesudahnya kalian akan diberi petunjuk lanjutan untuk sepenuhnya menyadari empat tahapan dalam proses melangkah yakni. Dengan demikian semakin lama ia semakin penuh perhatian. .. Namun.angkatletakka n . Dengan kecepatan seperti itu akan sulit b aginya membaca rambu-rambu lalu lintas di pinggir jalan. Tapi. Kalian akan diinstruksikan untuk mencatat dalam batin empat gerakan tersebut. Maklum tahapan pergerakan itu belum menempel di pikiran. Kalian harus mengamati sungguh-sungguh dua tahapan proses melangkah tersebut. Dengan pemahaman yang sama. Setelah itu kalian akan diberi petunjuk untuk sepenuhnya menyadari tiga proses berjalan. pelan-pelanlah . ia bisa menyadari semua gerakan itu . k etika ia sepenuhnya memberi perhatian dengan baik. Saat konsentrasi berkembang lebih kuat para yogi akan mampu mengamati tahapan-tahapan gerakan yang berbeda dalam satu langkah dimana akhirnya empat tahap gerakan (dal am satu langkah) lebih mudah diamati. Saya akan memberi perumpamaan untuk menjelaskan pernyataan di atas. ketiga tur un. Ini harus dicatat dalam batin sebagai. keempat sentuh atau meletakkan kaki ke lantai. bila seorang yogi ingin memberikan perhatian yang lebih cermat atas gerakan mengangkat. Sewaktu berkendara di jalan bebas hambatan seseorang cenderung memacu kendaraannya pada kecepatan 60-70 atau malah 80 mil/jam. kedua proses maju dan ketiga proses meletakkan kaki. Saat itu seolah-olah pergerakan tersebut merupakan satu kesatuan gerak yang berkesinambungan. Sebagai pemula para yogi akan menemui kesulitan untuk berjalan perlahan. Meskipun para yogi memberikan perhatian yang cermat dan melambatkan langkahnya ada kemungkinan mereka tidak melihat semua pergerakan dan tahapan dari pergeraka n tersebut dengan jernih. Tidak perlu secara sengaja melambatkan lan gkah kaki tersebut. yakni pertama proses mengangkat. angkat-maju-turun-tekan . secara otomatis ia akan melambatkan langkah kakinya. Sepenuhnya awas pada langkah kaki sementara kalian membuat pencatatan di dalam batin berjalan . angkat-letakkan angkat-letakkan .

Empat unsur utama itu adalah unsur tanah. realitas mutla k. Saat mengamati proses-proses ini mereka sedang melihat empat unsur utama (Pali: Dhatu ). Kekerasan adalah karakteristik dari unsur air. Jadi. unsur air. Mereka mengetahui kaki yang terangkat itu ter asa ringan. Tapi . turun dan tekan ke lantai. unsur api lebih dominan dibanding unsur udara. Setelah itu terjadi per gerakan kaki bergerak naik. Saat meletakkan kaki ke lantai/tanah mere ka merasakan sentuhan. dalam hal naiknya kaki. Dengan kata lain saat itu yogi merasakan intisari dari unsur api. empat unsur utama tersebut nampak . Pergerakan terjadi karena ada unsur udara yang bekerja. saat bersungguh-sungguh melihat gerakan kaki maju ketika melakukan meditas i jalan yogi-yogi itu sebetulnya tengah melihat intisari unsur udara. Saat mendorong kaki ke depan mereka akan mencapai pergerakan dari satu tempat ke tempat lain. Persinggungan antara kaki . Ijinkan kami membahas lebih terperinci sifat dari unsur-unsur tersebut yang beke rja saat mempraktekkan meditasi jalan. Kedua unsur tersebut bisa dirasakan oleh para yogi saat mere ka menaruh perhatian sungguh-sungguh ketika mengangkat kaki. Saat kaki menekan ke tanah/lantai yogi-yogi akan mengalami kekerasan dan kelembutan dari kaki yang menyentuh tanah atau lantai. Pada gerakan pertama. Unsur air bersifat merembes dan mengental. yakni gerakan mengangkat kaki. Dan ketika menurunkan kaki mereka mencatat gerakan kaki y ang turun menjadi berat dan semakin berat. Saat ca iran menjadi berat maka ia akan mengental. Tahap meditasi jalan berikutnya adalah gerakan menurunkan kaki. Saat benda-benda menjadi lebih ringan itulah mereka bisa mengangkat kaki. maju. tapi merupakan proses nyata. unsur api dan unsur udar a. sepanjang pengamatan angkat. saat yogi mengalami rasa berat pada kaki mereka sebenarnya mengalami peristiwa bekerjanya unsur air. Saat kaki terangkat ada unsur lain yang juga bekerja di sana. Tidak hanya it u. Saat kaki terdorong ke depan un sur utama yang mempengaruhi gerakan tersebut adalah unsur udara. Sewaktu yogi meletakkan kaki ke bawah ada sejenis kekerasan pada kaki. para y ogi akan melihat rasa ringan saat kaki mengangkat. Tahap berikutnya adalah mendorong kaki ke depan. Ketika mengalami rasa ringan mereka melihat unsur api. Karena pergerakan (dalam hal ini adalah gerakan mendorong) adalah satu sifat utama dari unsur udar a. Lebih jauh. rasa berat saat kak i turun dan sentuhan pada kaki terhadap lantai yang berupa rasa keras dan lunak. Salah satu aspek dari unsur api adalah membuat benda-benda menjadi lebih ringan. yogi mengalami rasa ringan.Para yogi akan mengetahui secara jelas bahwa gerakan mengangkat berbeda dengan gerakan maju maupun gerakan turun. Jadi bisa dikat akan saat menangkat kaki unsur utamanya adalah unsur api dan unsur kedua yang mengiku ti adalah unsur udara. Dengan memberi perhatian yang cermat pada empat tahapan melangkah sewaktu berlatih meditasi jalan. Jadi. gerakan kaki. Jadi unsur-unsur itu t idak hanya sekedar konsep (teori belaka).

Saat para yogi meneruskan latihan meditasi jalannya mereka akan menyadari pada setiap gerakan ada pikiran yang mencatat atau mengawasi setiap gerakan tersebut.dan landasan mengalami keadaaan alaminya yang khas. Demikian seterusnya. Pergerakan-pergerakan itu tak akan terjadi tanpa adanya suatu sebab. h al itu bisa terjadi karena munculnya serangkaian kehendak. Saat it u ada gerakan menekan dan munculnya pengawasan atas gerakan tersebut. Mereka bisa mengamati empat unsur utama dan menyadari keempatnya secara alami. Kehendaklah yang mengawa li setiap pergerakan. Saat-saat menyadari tersebut termasuk ke dalam bekerjanya kelompok batin (dalam bahasa Pali disebut nama). Hanya saja pemahaman atau pengertian tentang munc ul dan lenyapnya batin dan jasmani setiap saat ini hanya akan terjadi bagi mereka y ang berlatih dengan sungguh-sungguh. Keduanya muncul dan lenyap sampai kaki betul-betul menyentuh landasan. Setelah mengamati proses ini dengan sungguh-sungguh para yogi kemudian memahami semua kemunculan itu berkondisi. Kaki bisa turun karena mereka menginginkannya. Selanjutnya. Saat berikutnya ada gerakan kaki mendorong ke depan dan kesadaran yang melihat pergerakan tersebut. Ada hal lain yang akan ditemui para yogi. Setelah ada kehendak untuk mengangkat maka muncul proses mengangkat kaki. Pad a saat itu para yogi akan memahami batin dan jasmani muncul dan lenyap setiap saat . Jadi. Kondisi ini dipengaruhi oleh uns ur tanah. Yakni munculnya serangkaian kehendak a tau maksud yang mengakibatkan terjadinya setiap gerakan. Keadaan ini hanya bisa dilihat dan dialami oleh para yogi yang berlatih dengan sungguh-sungguh. Jadi dengan menaruh perhatian sungguh-sungguh saat kaki menekan landasan yogi-yogi sebenarnya bisa memetik pengalaman berupa keadaan alami yang dipengaruhi oleh unsur tanah. Kondisi yang dimaksud adalah munculnya kehendak atau maksud yang mengawali setiap pergerakan. kaki terdorong ke depan karena mereka bermaksud demikian. Bersamaan dengan itu ada pikiran yang mengawasi gerakan tersebut. Inilah penjelasannya. Bisa dikatakan hanya dengan satu langkah para yogi bisa mengamati banyak proses. Setelah itu ada g erakan menurunkan kaki ke landasan. Ada sebuah sebab atau kondisi untuk setiap pergerakan. Dengan cara ini para yogi akan memahami bahwa bersamaan dengan melangkah ada gerakan kesadaran atau pengawasan. Inilah temuan berikutnya yang bisa ditemui para yogi saat mereka memberikan perhatian dengan . Begitu pula kaki bisa menekan landasan karena mereka bermaksud demikian. Proses yang sama muncul saat melakukan gerakan menekan kaki ke landasan. Mereka akan menyadari bahwa kaki bisa diangkat karena mereka menginginkannya. Juga. Sementara gerakan-gerakan kaki termasuk ke dalam kelompok materi atau rupa . Demikian seterusnya. Dari sinilah muncul pemahaman tentang bekerjanya pasangan batin dan jasmani yang muncul dan lenyap setiap saat. Pergerakan-pergerakan itu tak akan muncul denga n sendirinya. Pada satu waktu ada kaki yang terangkat dan munculnya kesadaran mengangkat. Setelah ada kehendak untuk mendorong maka muncul proses kaki terdorong ke depan. Dengan kata lain ada gerakan mengangkat disertai munculnya pikiran yang mengawas i (mencatat) gerakan mengangkat tersebut. ada gerakan mendorong kaki ke depan disertai dengan pikiran yang mengawasi gerakan tersebut.

Dengan demikian seseorang yang mendekati pemahaman sotapanna tak mungkin terlahir di alam-alam bawah (alam peta. bila seorang yogi mampu meraihnya bisa dipastikan ia hanya akan terlahir di alam-alam bahagia. Kita harus berusaha memahami apakah sesuatu itu bersifat kekal atau tidak kekal. Melalui penyelidikannya para yogi melihat (menyadari) saat bermeditasi jalan ada gerakan mengangkat dan kesadaran yang muncul atas gerakan itu yang sesaat kemudi an lenyap. Pemahaman ini tidak timbul dari membaca buku. Tapi. muncul dan lenyap (timbul tenggelam). binatang. Inilah keuntungan besar dari berlatih meditasi jalan. Akhirnya pengertian selanjutnya yang muncul adalah segala sesuatu itu bersifat tidak kekal. Tentu saja hal ini bisa terjadi sekali l agi dengan memberikan perhatian secara teliti dan sungguh-sungguh dalam mengamati setiap pergerakan kaki. Gerakan in i pun secara sederhana muncul dan lenyap. Melalui proses ini lewat pengalamannya sendiri. Dengan pemahaman yang jernih atas kondisi setiap benda dan dengan tersingkirnya keragu-raguan atas batin dan jasmani bisa dikatakan ia meraih tingkat mendekati seorang sotapanna . Kita harus berusaha untuk melihat melalui kekuatan yang muncul dalam meditasi apakah benda-benda itu subyek dari proses menjadi yang kemudian lenyap. Mereka juga akan memahami ketidakkekalan kesadaran melangkah. Pada saat inilah seorang yogi bisa memahami hubungan sebab akibat.. atau alam-alam neraka). Saat yogi memiliki pengertian tentang muncul-lenyapnya batin dan jasmani mereka akan memahami ketidakkekalan proses melangkah. Saat mengalami bahwa batin dan jasmani itu timbul dan tenggelam para yogi akan memahami batin dan jasmani itu bersifat tidak kekal. Sotapanna artinya pemenang arus. Saat pemahaman itu muncul yogi ini bisa saja menyingkirkan keragu-raguannya tent ang batin dan jasmani. Saat mereka memahami batin . Hal ini memberi ruang atas munculnya gerakan mendorong kaki ke depan. Jika meditasi k ita cukup baik keadaan ini memungkinkan untuk mengamati ketidakkekalan. Hal ini terjadi melalui munculnya pengertian bahwa batin dan jasmani tidak akan muncul tanpa adanya suatu kondisi. Tentu saja tingkat di atas tidak mudah dicapai. Setelah itu barulah seorang yogi bisa memutuskan fenomena yang tengah diselidikinya itu bers ifat tidak kekal. Pemaha man ini bisa diraih melalui meditasi jalan. pengertian muncul dalam diri par a yogi. Mereka memahami bahwa pergerakan itu tercipta oleh maksud atau kehendak. Saat seorang yogi memahami kondisi munculnya setiap pergerakan maka akan muncul pemahaman baru. Mereka akan memahami bahwa maksud atau kehendak adalah kondisi yang membuat munculnya pergerakan.sungguh-sungguh. Hal ini terjadi seiring dengan timbulnya pengertian bahwa segala sesuatu itu akan muncul dan lenyap. Seorang sotapanna adalah seseorang yang telah meraih pencerahan tingkat pertama. diberitahu pihak lain atau adanya suatu otoritas tertentu yang mendorong munculnya pengertian ini. Seseorang yang meraih tingkat pemahaman mendekati seorang sotapanna belum benar-benar menjadi sotapanna. Tapi pihak tera khir ini sudah dipastikan hanya akan terlahir kembali ke alam manusia atau alam dewad ewa. Mereka bisa memahami hubungan antara yang dikondisikan dan yang mengkondisikan.

umpamanya. anicca. Pada kondisi ini yogi-yogi bisa memahami sifat ketiga dari semua fenomena yang berkondisi yakni bersifat tidak kekal. Sekarang izinkan kami untuk menjelaskan lebih terperinci tentang pergerakan dala m meditasi jalan. penuh penderitaan dan tak ada inti yang k ekal di dalamnya (dalam Pali disebut bersifat. Dengan cara semacam inilah akan muncul penghargaan dan penghormatan atas . Lebih jauh. Umpamanya seseorang mengambil gambar bergerak dari proses mengangkat kaki. Inilah kenyataannya. Dengan memberikan perhatian penuh atas gerakan tersebut mereka melihat bendabend a timbul-tenggelam terus-menerus. naiknya kaki berkisar satu detik. Setelah memahami ketidakkekalan dan tidak memuaskannya benda-benda akan muncul suatu penyelidikan yang memunculkan pengertian bahwa di sana tak ada tuan dari benda-benda tersebut. Akibatnya mereka bisa melihat anicca. Meskipun. dukkha dan anatta). Benda-benda hanya timbul dan tenggelam mengikuti hukum alam. yakni sifat dari anatta. rangk aian gambar pergerakan itu hampir-hampir sulit dibedakan. Terlihat rangkaian pergerakan itu berbeda satu sama lainnya. Usaha yang dikerahkan saat bermeditasi jalan adalah melihat gerakan kita secara cermat secermat kamera berkekuatan tinggi melihatnya bingkai demi bingkai. Para yogi bisa memahami ketiga sifat tersebut dengan penyelidikan secara tekun s aat kaki naik dan kesadaran yang muncul saat menaikkan kaki dan seterusnya. Sekarang akan semakin sulit melihat perbedaan pergerakan dalam bingkai gambar dari hasil rekaman kamera yang bisa mengambil gambar satu juta bingkai dalam satu detik. Dengan memiliki pemahaman semacam ini yogi-yogi memahami sifat ketiga dari fenomena yang berkondisi. Setelah gambar itu terekam kita bisa mengamati rangkaian pergerakan dalam bingka ibingkai yang terpisah itu. Meski perbedaan itu kecil sekali tapi seseorang bisa dengan mudah melihat perbedaan tersebut. Bagaimana jika ada kamera yang bisa mengambil gambar dari pergerakan mengangkat kaki sebanyak 1000 bingkai dalam satu detik? Bila ada kamera demikian maka akan dihasilkan rekaman seribu pergerakan dalam satu detik. Hal ini muncul karena ternyata batin dan jasmani berad a dalam keadaan terus-menerus timbul dan tenggelam. Sehingga kamera ini bisa mengambi l gambar dari gerakan itu sebanyak 36 bingkai dalam satu detik. Bahwa benda-benda tak memiliki diri di dalamn ya. Kataka nlah ada kamera yang bisa merekam gerakan tersebut.dan jasmani itu bersifat tidak kekal mereka akan mengerti bahwa batin dan jasmani it u bersifat tidak memuaskan. Atau dengan kata lain. tak ada kekuatan apapun. Salah satu arti dari anatta adalah tak ada tuan (majikan) tiada apapun. tak ada jiwa dibalik fenomena-fenomena tersebut. tentunya. ternyata ada satu juta proses pergerakan mengangkat kaki dimana kita menganggapn ya sebagai satu gerakan belaka. dukkha dan anatta dari semua fenomena secara alami. mereka menyadari tak ada jiwa atau diri di dalam benda-benda yang memerintah mereka untuk menjadi kekal. Kita pun per lu menyelidiki kekuatan kesadaran dan kekuatan kehendak yang muncul di awal setiap pergerakan.

timbul tenggelam. bahwa kita tak akan mungkin melihat secara langsung seluruh satu juta gerakan se perti yang bisa dilihat oleh Sang Buddha. Sebelum mulai berlatih meditasi jalan mungkin para yogi pernah berpikir satu lan gkah hanya terdiri dari satu gerakan. Nilai dari meditasi ini bersandar pada kemampuan kita untuk menyingkirkan selubu ng ketidakterputusan dengan menemui keadaan alami atas ketidakkekalan. Karena ternyata lukisan terseb ut terdiri dari banyak lubang dan rongga-rongga. sebagai umat awam. Khayalan ini bisa dipatahkan oleh pengamatan langsung atas fenomena jasmani sedi kit demi sedikit. sebagai ketidakkekalan. Para yogi bi sa menemukan ketidakkekalan sebagaimana adanya secara langsung melalui daya upaya mereka sendiri. yang melihat saat melangkah hanya berupa satu gerakan tak terputus. Demikian pula dengan yang terjadi pada khayalan atas ketidakterputusan bisa dipatahkan. mudah busuk dan hancur. Tak ada suatu i . Ahli fisika modern tahu hal ini dengan baik. Dari proses ini mereka melihat batin dan jasmani. Saat itu kita berpikir cat dan kanvas secara keseluruhan sebagai suatu k esatuan. Kita berpikir. Setelah berlatih meditasi dan mengamati dengan penuh perhatian para yogi akan ta hu meski hanya satu pergerakan (dari jumlah keseluruhan 4 tahapan gerak) sebenarnya pergerakan itu gabungan dari jutaan gerak. setahap demi setahap sebagaimana adanya sehingga khayalan tersebut bisa dihancurkan. Saat menggunakan kata melihat atau mengamati yang merujuk pada situasi diri sendiri. Karenanya kita akan kehilangan keterikatan atasnya. para yogi akan menyadari sesungguhnya tak ada apapun di dunia ini yang cukup berharga untuk dilekati atau diidam-idamkan. Setelah menyadari bahwa benda-benda merupakan gabungan dari bagian-bagian yang muncul sedikit demi sedikit dan setelah mengamati bagian-bagian ini satu demi sa tu. Sebagai contoh kita mungkin melihat sebuah lukisan indah yang digoreskan pada su atu kanvas. Setelah melihat lukisan tersebut merupakan gabungan dari ruang-ruang kita akan kehilangan ketertarikan padanya. Jika lukisan tersebut ditaruh di bawah mikroskop kita akan melihat ternyata gamb ar tersebut tidak padat dan merupakan satu kesatuan. Dengan pandangan biasa seseorang tak akan mampu melihat ketidakkekalan dari bend abenda karena ketidakkekalan tersembunyi oleh khayalan. kebijaksanaan dan pandangan terang Sang Buddha atas apa yang beliau lihat dari pergerakan-pergerakan tersebut. Jika melihat sesuatu yang sekilas k ita pikir cantik ternyata si cantik itu berlubang-lubang. Dengan kata lain ketertarikan kita pada lukisan tersebut akan padam.perjuangan. Namun dengan mengamati lebih jernih kita bisa mengetahui bahwa gerakan itu terdiri dari banyak gerak yang berkesinambungan dalam membentu k satu-kesatuan gerak. hal ini dimaksudkan secara langsung melihat dan juga menarik kesimpulan . Mereka telah mengamatinya dengan peralatan sangat canggih bahwa materi hanyalah gabungan getaran partikel-partikel dan energi yang berubah terus-menerus.

sebanyak apapun buku yang dibaca atau bahan yang didiskusikan (mendiskusikan tentang bagaimana menyingkirkan kemelekatan) kita tidak akan mampu mengenyahkan kemelekatan tersebut. Kita harus mengenyahkan kerinduan dan kemelekatan.nti sari yang kekal di dalamnya. Meditasi jalan juga sekuat kesadaran murni mel ihat kembung dan kempisnya perut. Burma Praktek Vipassanâ atau meditasi pandangan terang merupakan upaya yang dilakukan oleh meditator untuk memahami dengan benar sifat sejati fenomena psiko-fisik yan g terjadi pada tubuhnya. Lebih jauh kita harus memberikan perhatian penuh saat bermeditasi jalan sama sep erti yang kita lakukan saat duduk bermeditasi atau berbaring. Sekarang kita bisa memahami alasan mengapa perlu berlatih meditasi. Meditasi jalan bisa menolong kita meraih pandangan terang melalui melihat ke dalam benda-benda apa adanya. Selebihnya kita harus berlatih meditasi jalan dengan sungguh-sungguh sama sepert i waktu berlatih meditasi duduk atau posisi lainnya. Terjadinya Nâma-rûpa ini dirasakan . Dengan menyadari ketidakkekalan yang tiada akhir ini para yogi tahu benar-benar tidak ada apapun yang cukup berharga untuk diidam-idamkan. Dengan mempraktekkan semua si kap tubuh dalam meditasi vipassana. Fenomena fisik adalah segala sesuatu (obyek-obyek) di sek itar yang dirasakan dengan jelas oleh seseorang. Maka sangat diperlukan memiliki pengalaman langsung bahwa semua benda yang berkondisi adalah tanda dari keberadaan ketiga sifat dasar ters ebut. Kita harus memahami bahwa segala sesuatu muncul dan lenyap. Tak ada apapun yang cukup berharga untuk digenggam di dunia fenomena ini. Rangoon. tersusun atas sekelompok sifat materi (rûpa). Sekali kita mampu menyadari hal ini maka kita akan mampu menyingkirkan kemelekatan terhadap benda-benda. Mahâsî Sayâdaw Agga Mahâpandita U Sobhana khotbah YM Mahâsi Sayâdaw Agga Mahâ Pandita U Sobhana kepada murid beliau pada saat pelantikan Meditasi Vipassanâ di Sâsana Yeikhta. Keseluruhan tubuh yang dirasakan den gan jelas tersebut. semoga semua yogi bisa meraih pemurnian sepenuhnya dalam kehidupan ini. Meditation Centre. Itu terjadi melalui pengertian atas merealisir ketiga keberadaan anicca. dukkha dan anatta dari benda-benda secara apa adanya. Dengan cara itulah kita bisa menyingkirkan kerinduan. Sedangkan fenomena f isik atau mental merupakan bentuk kesadaran (nâma). Kita berlati h meditasi karena ingin menyingkirkan kemelekatan dan kerinduan terhadap obyekobye k. Saya tidak sedang berusaha mengatakan bahwa dengan mempraktekkan meditasi jalan bisa memberikan kesadaran tertinggi dan kemampuan untuk sepenuhnya mengusir kemelekatan. Meditasi jalan bisa mengakibatkan berkembangnya kekuatan spiritual. Meditasi jalan juga bisa menjadi alat yang tepat gu na menolong kita menyingkirkan kekotoran batin. Sepanjang belum mampu menyadari kebenaran ini. Kita ingin menyingkirkan kerinduan karena tidak ingin menderita. termasuk sikap tubuh berdiri. Tak ada substansi yang kekal di dalamnya. Meski begitu meditasi jalan bisa seakurat seperti meditasi duduk at au jenis posisi meditasi vipassana yang manapun. __________________ Latihan Meditasi Vipassana Praktis oleh: Ven.

dirasakan. Jangan bernafas terlalu keras juga.dengan jelas. didengar. Hal ini juga harus disadari dengan berkata dalam hati. Jika gerakan tersebut tidak cukup jelas bila hanya diamati oleh pikiran. maka Anda dapat menyentuh perut Anda dengan menggunakan telapak tangan. mencium sebagai mencium . sampai . yaitu saat nâma-rûpa dilihat. maka sadarilah itu sebagai berpikir. dicium. J ika Anda membayangkan. seperti layaknya sebuah batu yang dilempar mengenai sasarannya. Meditator harus mulai dengan memperhatikan gerakan ini. jangan memperlambat atau mempercepatnya. dan bergerak turun saat Anda menghembuskan nafas. bertemu. Saat mengamati perut yang bergerak naik. perut senantiasa naik dan turun dan ger akan tersebut jelas sekali. maka pikiran akan berhenti mengembara. Senang sebag ai . Yang menjadi persoalan utama adalah mengetahui atau merasakan. bicara . Jika Anda membayangkan bertemu dan berbicara dengan seseorang maka amati hal itu demikian. Kemudian kembali lagi kepada gerakan perut naik dan turun. Kemudian kembali lagi kepada gerakan perut yang naik dan turun. dan gerak an turun sebagai gerakan turun. mengembara. Singkatnya. Lakukan pengamatan itu dengan pikiran dan bukan dengan gerakan. Bernafaslah dengan teratur seperti biasanya dan perhatikan perut yang bergerak naik dan turun setiap kali berlangsung. Jika ha l ini diamati sekali atau dua kali. Jika kemudian pikiran sampai di suatu tempat. disentuh at au dipikirkan. merasakan sebagai merasakan . bicara. Gerakan naiknya perut serta kesa daran mental terhadapnya harus bertepatan. Kita harus senantiasa membuat diri sendiri sadar akan nâma-rûpa tersebut dengan cara mengamati dan memperhatikannya sedemikian rupa. Demikian pula dengan gerakan turun. Anda akan mengetahui bahwa perut bergerak naik saat Anda menarik nafas. orang ten tu saja tidak dapat menyadari setiap hal tersebut di atas. Karena itu ia harus mula i memperhatikan hal-hal yang berlaku. Jangan mengubah cara Anda bernafas. Dalam setiap tindakan bernafas. Pikiran Anda bisa saja mengembara ke mana-mana saat mengamati gerakan perut. sampai. merasakan. menyentuh sebagai menyentuh dan berpïkir sebagai berpikir . Gerakan naik harus disadari sebagai gerakan naik. Jika Anda berpikir. mendengar. mengembara . apa yang Anda sebut atau katakan tidak masalah. Bosan sebagai bosan. seperti: melihat sebagai melihat . mencium. mendengar sebagai mendengar . Dalam meditasi vipassanâ. Anda akan merasa lelah jika mengubah cara bernafas. maka kita sadari. Setiap kali seseorang melihat. lakukan hal itu dari awal hi ngga akhir gerakan seperti layaknya Anda melihatnya dengan mata. Hal ini merupakan sifat materi yang dikenal sebagai vâyodhâtu (elemen pergerakan). Lakukan hal yang sam a untuk gerakan turun. Merencanakan sebagai merencanakan. sadarilah itu sebagai bahagia. dan dilakukan oleh pikiran yang dengan tekun mengamati perut. sehingg a Anda akan kembali mengamati perut yang bergerak naik dan turun. maka amatilah sebagai. Namun di awal latihan. maka sadarilah itu sebagai membayangkan. maka ia harus menyadari kenyataannya. yang menarik perhatian dan mudah dirasakan olehnya. bertemu . Perhatikan gerakan naik sedemikian rupa hingga kesadaran An da terhadapnya selaras dengan gerakan itu sendiri. Jika Anda membayangkan bertemu seseora ng. Jika And a merasa bahagia. menyentuh atau berpikir. apapun bentuk pikiran atau bayangan yang timbul haruslah disadari.

Jika ia menukar atau mengganti posisi tubuh terlalu sering karena tidak sabar menghad api perasaan kaku atau panas yang timbul. I . Hal ini sama seperti timbulnya aliran listrik baru yang berkesinambungan. Kita jadi berpikir bahwa ada seseorang yang sejak kan akkanak hingga sekarang. Seluruh bentuk perasaan itu disebut sebagai dukkhâved anâ (perasaan tidak puas) dan tindakan mengamatinya disebut sebagai vedanânupassanâ. Dan mengamati semua bentuk kesadaran ini disebut sebagai cittânupassanâ. orang tersebut tidak ada. Itulah mengapa kita harus senantiasa mengamati setiap bentuk kesadaran yang timbul. mengetahui atau merasakan. Keinginan ini pun harus diamati. pegal. Memang kesabaran terhadap bentuk-bentuk perasaan tidak menyenangkan dalam tubuh seperti rasa kaku. Kemudian kita akan kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut.senang. maka samâdhi (konsentrasi benar) tidak akan berkembang. perasaan tersebut cenderung meningkat dan menyebabk an keinginan untuk mengganti posisi tubuh. Setiap kali kontak yang tidak menyenangkan menyentuh tubuh maka bentuk-bentuk perasaan tidak menyenangkan timbul saling bergantian. bentuk kesadaran tersebut cenderung lenyap. Hal ini juga harus diamati dengan hati-hati pula. Kita cenderung berpi kir bahwa inilah aku yang sedang membayangkan. Yang ada hanyalah bentuk-bentuk kesadaran yang berlangsung terus menerus. Sesungguhnya tidak ada aku yang terlibat di sini. pegal atau panas. Jika samâdhi tidak berkembang maka batin tidak akan mencapai hasil. Phala (Buah dari Sang Jal an) dan Nibbâna. Orang harus sabar dalam bermeditasi. Bentuk-bentuk perasaan ini harus diamati dengan hati-hati dan terus menerus. Karena dengan mengamati. Kegagalan atau kelalaian dalam mengamati sensasisensasi tersebut membuat Anda berpikir. panas dan pegal serta yang lainnya sangatlah sukar dipertahankan. sedang hidup dan berpikir. tak peduli apakah itu perasaan kaku. Itulah mengapa kita harus mengamati bentuk-bentuk kesadaran dan memahaminya sebagaimana adanya. yang menyebabkan lampu menyala. kita cenderung mengidentifikasikannya dengan seseorang atau satu individu. panas da n sebagainya. di mana setelahnya sang yogi harus kembali lagi mengamati perasaan kaku. padahal aku baik-b aik saja beberapa saat yang lalu. Kesabaran menuntun ke Nibbâna demikian kata pepatah. Jika Anda telah duduk bermeditasi sekian lama. Jika kita gagal mengamati bentuk-bentuk kesadaran tersebut. Itulah mengapa kesabaran sangat dibutuhkan dalam meditasi. Kecil hati sebagai kecil hati. aku merasa panas. aku merasa pegal. Pepatah ini rupanya berhubungan erat dengan upaya bermeditasi. Aku sekarang merasa tidak nyaman dengan perasaanpe rasaan yang tidak enak ini . sedang berpikir. maka perasaan kaku dan panas akan timbul dalam tubuh. Sama halny a dengan rasa pegal dan lelah. Ora ng tidak seharusnya gampang menyerah terhadap latihan meditasi pada saat muncul bentuk-bentuk perasaan tersebut sehingga ia langsung mengubah posisi tubuhnya. merencanakan. Sesungguhnya. Aku merasa kaku. da n tidak juga akan tercapai Magga (Jalan menuju Nibbana). Pada tahap awal latihan meditasi yan g dilakukan oleh seorang yogi. Yang ada hanyalah timbulnya satu bentuk perasaan tidak menyenangkan yang disusul oleh bentuk perasaan tak menyenangkan berikutnya. Penjelasan mengenai bentuk-bentuk perasaan dengan menyertakan ego adalah keliru.

ingin mengubah posisi . bergerak. terangkat . Namun pertama-tama. Sa at konsentrasi baik dan mantap. Yang ada hanyalah kesinambungan antara usaha mengamati dan pengamatan sesungguhnya. terangkat . bergerak dan menyentuh. Jika ia dengan tekun mengamati. terangkat. pengamatan dalam meditasi vipassanâ harus berkesinambungan dan tanpa henti. keinginan untuk menggaruk tersebut juga harus diamat i. terangkat. Saat Anda bangun. tanpa adanya jeda di antara kegiatan mengamati tersebut apapun fenomena yang timbul. Tak boleh ada waktu jeda saat it u. amati demikian. Dengan demikian tercapailah tahap-tahap kematangan yang terus menerus dan meningkat dalam kecerdasan seorang yogi. Tapi ia tentu saja harus segera mengubah posisi tubuhnya jika bentuk-bentuk pera saan yang tidak menyenangkan tetap ada meskipun telah diamati sekian lama. Mengubah posisi tubuh ini harus dilakukan dengan halus dan diamati demikian. Bentuk-bentuk perasaan yang halus seperti ini akan langsung hilang jika orang tersebut mengamatinya dengan penuh kesabaran. terangkat . maka rasa gatal akan berangsur-angsur hilang dan kemudian ia bisa kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut. dan juga b ila perasaan-perasaan tersebut menjadi tak tertahankan lagi. bergerak. menyadari rasa kaku sebagai rasa kaku atau panas sebagai panas . Namun ia juga harus tet ap mengamati demikian. Saat tubuh Anda condong ke depan. Sehingga ia lalu kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut. dan jangan lang sung menggaruk agar gatalnya hilang. tubuh menjadi ringan dan terangkat. Jika tangan bergerak. seperti misalnya bangun dari posisi duduk. ingin mengubah posisi. Proses meditasi adalah seperti menciptakan api dengan car a menggesekkan dua batang kayu dengan sekuat tenaga dan tanpa henti hingga timbul intensitas panas yang dibutuhkan (agar api menyala). Anda harus mulai dan mengamati keinginan untuk mengubah posisi tubuh itu dan dilanjutkan dengan mengamati setiap gerakan dengan cermat. Semua gerakan yang dilakukan untuk menghilangkan rasa gatal ini harus diamati. Jika kaki terangkat. maka harus diamati. menarik dan mendorong (gerakan-gerakan menggaruk) hingga akhirnya kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Anda harus mengamatinya pelan-pelan.a harus melanjutkan meditasinya dengan penuh kesabaran. Konsentrasikan pikiran Anda pada gerakan ini. bahkan bentuk perasaan yang kuat sekalipun cenderun g menghilang. maka ia memang harus menggaruknya agar rasa gatal it u hilang. Dengan cara yang sama. amatilah itu. . antara usaha samâdhi (tahap konsentrasi) dan samâdhi yang sesungguhnya. mengangkat tangan. Magga dan Phala Ñâna (pengetahuan akan Jalan dan Buahnya) didapatkan hanya jika terjadi momentum pertemuan seperti ini. khususnya gerakan menyentuh. turun. maka rasa gatal dan keinginan untuk menggaruk itu harus diamati. turun . Perubahan posisi harus dilakukan bersamaan dengan pengamatan yang Anda lakukan. hanya istirahat statis saja. Jika kaki bergerak. Jika tangan terangkat. jika rasa gatal timbul dan meditator ingin menggaruknya karena rasa gatal tersebut sudah tidak tertahankan lagi. menggerakkan dan merentangkannya. bergerak . bangun . maka kembal ilah pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. bergerak . bergerak. Sebagai contoh. Jika rasa ga tal tersebut tidak juga hilang. terangkat. Jika tubuh bergerak. bangun. Namun jika tidak mengubah posisi tubuh. bergerak. Jika kaki turun. Setiap kali Anda mengubah posisi tubuh. bergerak . menyentuh .

Mulai saja dengan gerakan terangkat dan gerakan jatuh. Inilah cara mengamati jika seseorang berjalan dengan cepat. Dengan demikian kewaspadaan. Saat membuat gerakan tubuh. kiri. pada saat yang sama amatilah. maju. Anda harus selalu menyadari semua gerakan yang ada. maka amati gerakan perut yang naik dan turun. ingin duduk . jika timbul . mulai dari gerakan terangkatnya hingga turunnya kaki. ia harus melakukannya secar a perlahan. Begitu juga para yogi yang bermeditasi. bangun . Mereka harus bergerak mengubah posisi tu buh secara bertahap. Cukuplah jika Anda melakukan pengamatan saat berjalan cepat atau berjalan dalam jarak tertentu. menekuk atau meluruskannya. Meskipun mungkin mata melihat. lakukanlah sepelan mungkin seperti layaknya orang cacat. Saat mengamati. Demikian pu la saat kaki jatuh ke tanah. berdiri . pelan dan hati-hati. Orang normal d an sehat akan berdiri dengan mudah. Saat bermeditasi. ia akan berdiri pelanpelan supaya punggungnya tidak semakin sakit. Semua gerakan ini harus dilakukan pelan-pelan. Pada awalnya . Saat Anda sudah duduk. Saat berjalan perlahan atau berjalan cankama (berjalan naik dan turun). Dan pada saat duduk. mengamati setiap langkah demikian. seorang yogi harus melakukannya perlahan-lahan seper ti orang cacat yang lemah. mengamati demikian. ia akan bergerak pelan dan hati-hati. Jika pada saat berjalan Anda lalu ingin du duk maka amatilah demikian. Anda juga harus mengamati beratnya gerakan kaki turun. ingin duduk. yang ia lakukan hanyalah terus mengamati hal-hal tersebut dengan cermat. Melihat atau mendengar tidak menjadi perhatiannya. Jika tidak ada gerakan apa-apa. menundukkan atau menegakkan kepala. Jika akan bangun. tapi bersikaplah seperti tidak melihat. Orang harus berjalan. berdiri. apakah kaki kiri atau kaki kanan yang maju. Namun tidak demikian denga n orang cacat. amati dengan konsentrasi penuh beratnya gerakan turun tubuh Anda. amati langkah kaki. angkat. turun pada saat berjalan pelan. kanan saat berjalan cepat dan angkat. apakah den gan kaki kiri atau kaki kanan. amati demikian. Sama halnya jika mendengar. Jadi seaneh atau seheboh apapun yang barangkali dilihat atau didengarnya. Anda harus mengamati dengan cermat terangkatnya kaki. Tidak hanya ini. pelan-pelan menggerakkan lengan dan kaki. Kemudian lakuk an pengamatan 3 gerakan seperti disebutkan di atas. Amati setiap langkah kaki. angkat. Saat melihat kesana kemari.Seorang meditator harus bertindak seperti orang cacat yang lemah. memandang . bangun . Demikian pula dengan orang ya ng menderita sakit punggung (encok). 3 gerakan harus diamati dalam setiap langkah yaitu: saat kaki terangkat. bangun. Saat bangun dan posisi duduk. amati gerakan-gerakan yang Anda lakukan saat mengatur posisi kaki dan tangan Anda. konsentrasi d an pandangan akan mantap. Saat meluruskan badan dan berdiri. amati demikian. namun hanya posisi tubuh yang statis. cepat dan tiba-tiba. Pengamatan seperti ini akan semakin mudah setelah dilakukan selama dua hari. Karena itu mulailah dengan gerakan yang bertahap dan perlahan. melihat. saat kaki terdorong ke depan dan saat kaki jatuh. Saat berjalan. cukup mengamati satu atau dua gerakan saja yaitu. ia harus bersikap seakan tidak melihat atau mendengarnya. turun . perhatian seorang yogi hanyalah mengamati. turun .

Melakukan pengamatan saat Anda berbaring dengan cara demikian adalah penting. maka kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Jadi renungkanlah pengalaman YM Ananda yang mencapai tingkat Arahat ini. maka ia masuk ke dalam kutinya. menempelnya sikut pada lanta i. lanjutkan dengan mengama ti bentuk-bentuk perasaan tersebut. Terangkatnya lengan. mencapai tingkat kesucian pertama) sebelum ia membaringkan tubuhnya. maka seorang yogi tidak boleh . berbaring maka ia langsung mencapai tingkat Arahat. naik. Dari tingkat sotâpanna . Pencapaian seperti itu datang setiap sa at dan hanya butuh waktu sekejap. Ia tidak boleh bersantai-santai dalam mengamati dan berpikir bahwa. ia melanjutkan meditasi dan mencapai tingkat sakadâgâmi (yaitu orang yang kembali sekali lagi atau orang yang telah mencapai tingkat kesucian ke dua). Itulah mengapa seorang yogi harus tekun mengamati setiap saat. Tiga tingkat kesucian yang lebih tinggi ini dicapai hanya dalam waktu sekejap. sedikit waktu terlewat tidak lah seberapa . maka pengetahuan itu dapat timbul kapan saja. YM Ananda telah bertekad untuk mencapai tingkat Arahat dalam semalam saat Sang Buddha membabarkan ajaranNya untuk pertama kali. Segala gerakan yang terjadi saat berbaring dan mengatur posisi lengan d an kaki harus diamati secara cermat dan terus menerus. ia harus bermedita si dalam posisi berbaring sejenak. Saat mengamati. condongnya tubuh saat Anda telah siap untu k berbaring. dan dengan tujuan menyeimbangkan samâdhi (konsentrasi) dan viriya (usaha). maju ke depan dan menjejak. Saat melakukan ini dan mengamati. Bahkan jika hari sudah sangat larut dan waktunya tidur. Meskipun ini dilakukan hingga hampir subuh. Dengan menyadari bahwa ia telah berlatih meditasi secara berlebihan. Lalu kembali lagi pada. Ia berlatih semalaman satu bentuk meditasi vipassanâ yang dikenal sebagai kayagatasati. yaitu mengamati langkah kaki . goyangan badan. Ia mengamati setiap kejadian . kaki yang diluruskan. Pengetahuan itu bisa datang dalam sekali tekukan tangan atau dalam sekali rentan gan tangan. turun . YM Ananda hanyalah seorang sotâpanna (yaitu seorang pemenang arus. kiri dan kanan. Dalam kasus gerakan seperti ini (yaitu berbaring) Anda dapat memperoleh pengetah uan (yaitu magga ñâna dan phala ñâna pengetahuan akan Sang Jalan dan Buah). angkat. Ia duduk di atas bantal dan membaringkan tubuhnya. semua gerakan ini harus diamati. Jika tak ada gerakan.rasa kaku pada pinggul dan rasa panas di sekujur tubuh. bergeraknya lengan. amati keinginan itu dan juga gerakan-gerakan tangan dan kaki saat And a berbaring. berbaring. ia belum juga berhasil mencapai tingkat Araha t. Saat samâdhi (konsentrasi) dan ñâna (pandangan terang) cukup mantap. tingkat anâgâmi (yaitu yang tidak kembali lagi atau tingkat kesucian ke tiga) dan tingkat Arahat (yaitu kondisi seseorang yang telah mencapai kesucian tertinggi). jika timbul keinginan untuk berbaring. keinginan mental untuk berjalan serta gerakan fisik yang terjadi saat berjalan. namun hanya tubuh yang statis. Karena ini jugalah maka YM Ananda menjadi seorang Arahat.

menurunkan tangan kembali dan . Saat menyodorkan tangan ke arah makanan. mengamati gerakan perut naik dan turun. segar. bangun . memandang. Jika matanya terpejam. merapikan ranjang. menyentuhnya. yaitu pada saat bangun. Saat seorang yogi bangun. ngantuk. maka ia bisa bermeditasi saat berbaring. Jika meditasinya matang dan mengalahkan rasa kantuknya maka ia tidak akan tertidur. memandang . Itulah mengapa mereka yang baru mulai belajar bermeditasi tidak dianjurkan untuk sering-sering berlatih dalam posisi berbaring. Di saat yang lain. ingin bangun. i ngin bangun . Sang yogi lalu harus mengamati. Jika tak ada perubahan apapun.tidur dulu dan mengendurkan pengamatannya. Ia harus terus bermeditasi hingga akhirnya memang tertidur. Tapi jika hari semakin larut malam dan sudah waktunya tidur . bahkan sangat gampang. Jika seorang pemula dalam meditasi berpikir bahwa 4 jam tidur tidaklah cukup untuk menjaga kesehatan. maka jika kantuk yang sebenarnya timbul maka ia akan langsung tertidur. ia harus mengamati demikian. melihat. sehingga harus diamati sebanyak yang memungkinkan. Itulah mengapa pada saat terbangun dan tidur maka ia harus langsung mengamati keadaan pikiran saat bangun seperti. tegak. sakit. terpejam . namun hanya duduk diam. Jika ia mengubah gerakan-gerakan saat mengatur posisi tangan dan kaki. Semua gerakan tersebut harus diamati secermat mungkin. Sebaliknya. ia harus membatasi waktu tidurnya hingga 4 jam. berat . Inilah waktu tengah malam yang disarankan Sang Buddha. segar dan terus mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Jika matanya terasa makin berat. Seorang yogi yang serius dan bersemangat harus melatih kewaspadaan seperti mendahului rasa kantuknya itu. maka ia bisa memperpanjang waktu tersebut hingga 5 atau 6 jam. semua gerakan ini juga harus diamati. ngantuk . sakit . Lalu ia harus segera mengamati gerakan-gerakan saat mengatur posisi lenga n dan kaki. melihat. Jika Anda bermeditasi dalam posisi berbar ing maka rasa kantuk cepat datang dan akhirnya Anda jatuh tertidur. menundukkan kepala dan memasukkan sesendok ke dalam mulut. tegak . duduk duduk . Kemudian ada pula gerakan berpakaian. Mengamati dengan cara demikian maka rasa kantuk akan hilang dan mata menjadi segar lagi. Betapa pun giatnya seorang yogi melakukan medit asi. Tidaklah sulit untuk tertidur. jika rasa ka ntuk yang menang maka ia akan langsung tertidur. Saat tidur merupakan saat beristirahat bagi seorang yogi. Kemudian ia secara alami (otomatis) akan tertidur. terpejam. ia harus mengamati demikian. Saat menegakkan kepala ia mengamati demikian. berat. membuka dan menutup pintu. Orang juga harus mengamati saat ia mencuci wajah atau mandi. Jika ia berniat bangun dari ranjang. ia harus terus mengamati tanpa henti. Karena biasanya gerakan-gerakan yang terjadi berlangsung cepat. Seorang yogi yang bertekad mencapai magga dan phalañâna harus beristirahat hanya pada saat tidur saja. Saat ia duduk ia akan mengamati. Saat ia merasa ngantuk. Tapi bagi seorang yogi yang benar-benar serius. Jika mata terasa sakit. ia harus mulai dengan mengamati gerakan naik turunnya perut. ia harus langsung mulai mengamati. bangun. 4 jam tidur adalah cukup. mengambil dan mengaturnya di piring. maka ia haru s mengamati. Enam j am tidur sangatlah cukup untuk menjaga kesehatan. Ia seharusnya lebih sering bermeditasi dalam po sisi duduk atau berjalan. maka ia harus kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Saat seorang yogi makan dan memandang meja makan. Jika ia belum mampu membuat dirinya sadar akan hal ini.

Saat berjalan pel an. demikian pula dengan gerakan turunn ya perut). ia akan semakin menyadari saat pikirannya mulai m elantur hingga akhirnya pikiran itu berhenti melantur. tak ada satu individu atau orang yang terlib at. mengetahui. g erakan naiknya perut akan selaras dengan mengamati. Saat berjalan cepat. kanan. Amati juga. saat pikirannya mengembara kesana kemari. pegal dan sakit serta rasa gatal manakala timbul. memegan g sendok dan menyendok sup tersebut. ia harus mengamati demikian. Lalu kembali pada gerakan naik dan turunnya perut. Amati pula rasa kaku. gerakan memutar dan meluruskan tubuh. kewaspadaan menjadi hampir simultan (tanpa henti) pada obyek perhatiannya. Begitu pula dengan gerakan turunnya perut. Saat mengamati demikian dan pikiran melantur. Lalu kem bali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. turun . amatilah bentuk-bentuk kesadaran. kiri . amati hanya gerakan naik dan turunnya perut. mengetahui . Begitu pula j ika ia sedang makan sup. Yang ada hanyalah obyek pengamatan dan kegiatan mengamati yang berpasangan. Tapi ia pantang putus asa k arena setiap pemula dalam meditasi akan menghadapi kesulitan yang sama. Saat duduk diam. Semua gerakan yang terjadi seperti menyodorkan tangan. Tapi secara singkat. Pada awalnya seorang yogi akan mele wati beberapa hal yang seharusnya diamati. Saat ia menikmati dan menelan makanan tersebut. gerakan condong dan meluruskan pinggul. Mengamati gerakan-gerakan yang terjadi pada saat makan memang cukup sulit karena terdapat begitu banyak hal untuk dilihat dan diamati. Sang yogi pada saatnya akan mengalami sendiri keadaan ini yang sesungguhnya. tapi ia harus bertekad untuk dapat mengama ti semuanya. Inilah y ang harus dilakukan seorang yogi saat ia makan sesendok demi sesendok. Dengan demikian sang . tapi saat samâdhi (konsentrasi)nya telah mantap. mengunyah. Jika seorang yogi terus mengamati secara demikian. saat timbul. Sampai di sini saya telah menyebutkan begitu banyak hal yang harus diamati oleh seorang yogi. Lalu kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. angkat. gerakan mencondongkan dan menegakkan kepala. dan saat makanan tersebut turun melalui kerongkongannya. ia akan mampu mengamati dengan cermat semua gerakan yang terjadi. Pikirannya kemudian akan terpusat pada obyek perhatian. Saat ia sampai pada tahap merasakan makanan. Tapi saat ia semakin terlatih. Saat mengamati gerakan naik dan turunnya perut ia akan dapat membedakan bahwa gerakan naiknya perut sebagai fenomena fisik dan kegiatan mental mengamatinya sebagai fenomena psikis. semua gerakan ini harus diamati seperti adanya (pengamatan seperti ini sama seperti cara pengamatan orang Burma saat makan. Obyek fisik perhatian dan kegiatan mental mengamati akan berlangsung secara berpasangan. Pada awalnya. Tentu saja ia tak dapat mencegah lewatnya beberapa hal yang seharusnya diamati. mengunyah . amati demikian. misalnya gerakan naik dan turunnya perut (atau dengan kata lain. Dan dalam keadaan ini. Amati hal yang sama saat Anda yang perlu diamati. ia harus mengamati gerakan ini.menegakkan kepala. Saat ia mengunyah makanan. ia harus mengamati. semua gerakan ini harus diamati. Mereka yang menggunakan garpu dan sendok atau sumpit harus mengamati gerakan-gerakannya dengan sikap yang sepatutnya). ia akan kehilangan banyak hal untuk diamati. sebenarnya hanya ada beberapa hal mendasar ya ng perlu diamati. ia akan mampu mengamati lebih banyak gerakan yang terjadi.

Orang awam selalu berasumsi bahwa baik fenomena mental dan material akan berlangsung selamanya. Ini adalah juga dukkhanupassana-ñâna. Arahat dan Arya. yang merupakan satu bentuk dari penderitaan. Bahkan bagi mereka yang memiliki pârâmi istimewa akan mengalami Dhamma-Dhamma ini hanya dalam 7 hari. Arahat dan Arya. dengan pengetahuan membedakan antara sebab dan akibat. hal-hal tersebut akan dialami dalam rentang waktu satu bulan. bahkan tidak lebih lama dari satu kedi pan mata. Tidak lama setelah itu mereka akan mengalami sendiri magga-ñâna. serta yang menyertai masaknya buah itu adalah pârâmi mereka (kebajikan sempurna). Arahat dan Arya. Saat sang yogi terus mengamati. sebagai tahap awal vipassanâ-ñâna. serta terselamatkan dari bahaya kelahiran kembali di alam manapun juga.yogi akan menyadari dengan sejelas-jelasnya keadaan tanpa henti dari pasangan fenomena fisik dan psikis tersebut. sang yogi akan menjadi yakin bahwa segala fenomena psiko-fisik terjadi dengan sendirinya. Sang yogi akan memahaminya sendiri jika ia terus mengamati. Mereka harus merasa bahagia akan hal ini serta pada kemungkinan mengalami keadaan samâdhi luhur ini (kedamaian pikiran yang timbul dari konsentrasi) dan ñâna (kebijaksanaan) yang dialami oleh para Buddha. sang yogi akan menyadari dengan jelas bahwa se gala fenomena besifat aniccâ. Ia harus melanjutkan berlatih meditasi dalam keyakinan ini. tanpa menuruti keinginan atau dibawah kendali siapa pun. Mereka bersifat tanpa jiwa at au tanpa ego. Saat ia terus melakukan meditasi. yaitu menyadari bahwa segala sesuatu yang bersifat sementara adalah derita. untuk memenuhi keinginan mereka mencapai magga-ñâna (pengetahuan akan Sang Jalan). Arahat dan Arya memahami Nibbâna dengan mengikuti hanya jalan ini. dalam setiap tindakan mengamati. Tak ada satu fenomena pun yang abadi. Pemahaman membedakan ini disebut sebagai nâmarûpa-pariccheda-ñâna. ia akan memahami bahwa segala sesuatu yang timbu l akan cepat berlalu. Keyakinan seperti i ni disebut sebagai aniccânupassana-ñâna. Para yogi meditasi harus mengenali bahwa mereka berada pada jalan satipatthana i ni. bahwa ia akan terbebas d ari sakâyaditthi (kepercayaan akan adanya aku) dan vicikicchâ (keragu-raguan). Dan sesungguhnya. Semoga Anda semua mampu berlatih meditasi dengan baik dan dengan segera mencapai Nibbâna yang telah dialami oleh para Buddha. Semua bent uk fenomena timbul dan berlalu begitu cepat. Sang yogi memang seharusnya merasa puas dalam keyakinan bahwa ia akan mencapai Dhamma-Dhamma ini dalam waktu seperti tersebut di atas. phalañâna dan Nibbâna-Dhamma yang juga dialami oleh para Buddha. Sangatlah penting untuk mendapatkan pemahaman ini secara benar. Sang yogi juga akan menemui berbagai macam kesulitan dalam tubuh. yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. Pengetahuan tersebut lalu akan diikuti oleh dukkhânupassanâ-ñâna. 20 a tau 15 hari latihan meditasi. Dan pengetahuan ini disebut sebagai paccaya-pariggaha-ñâna. sang yogi akan memahami sendiri dengan jelas bahwa yang ada hanyalah bentuk materi yang menjadi obyek perhatian serta keadaan mental yang mengamatinya. Karenanya. Hal ini akan dicapai. Kesadaran akan hal ini disebut sebagai anattânupassanâñâna. Ia lalu menjad i sangat yakin bahwa segala fenomena bersifat hanya sementara. Para Buddha. Pada kenyataannya tidaklah demikian. yaitu dari kanak-kanak hingga dewasa. Sadhu!Sadhu!Sadhu! *** . hingga akhirnya ia mencapai Nibbâna. dukkhâ dan anattâ. phalañâna (pengetahuan buah dan Sang Jalan) dan Nibbâna-dhamma. jika sang yo gi terus berlatih. Selanjutnya.

Sumber: LATIHAN MEDITASI VIPASSANA PRAKTIS. Mahâsi Yogi. terjemahan dari bahasa Burma ke bahasa Inggris oleh: U Nyi Nyi. beserta anggota Executive Committee. Buddhasâsanânuggaha Association. 1978 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->