Bhavana/samadhi/meditasi PENGERTIAN, FAEDAH DAN CARA MELAKSANAKAN BHAVANA 1.

PENGERTIAN BHAVANA Bhavana berarti pengembangan, yaitu pengembangan batin dalam melaksanakan pembersihannya. Istilah lain yang arti dan pemakaiannya hampir sama dengan bhava na adalah samadhi. Samadhi berarti pemusatan pikiran pada suatu obyek. Samadhi yang benar (samma samadhi) adalah pemusatan pikiran pada obyek yang dapa t menghilangkan kekotoran batin tatkala pikiran bersatu dengan bentuk-bentuk karma yang baik, sedangkan samadhi yang salah (miccha samadhi) adalah pemusatan pikira n pada obyek yang dapat menimbulkan kekotoran batin tatkala pikiran bersatu dengan bentuk-bentuk karma yang tidak baik. Jika dipergunakan istilah samadhi, maka yan g dimaksud adalah "Samadhi yang benar". 2. FAEDAH BHAVANA Bhavana atau meditasi yang benar akan memberikan faedah bagi orang bagi orang ya ng melaksanakannya. Faedah-faedah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dari prak tek meditasi itu adalah : 1. Bagi orang yang selalu sibuk, meditasi akan menolong dia untuk membebaskan di ri dari ketegangan dan mendapatkan relaksasi atau pelemasan. 2. Bagi orang yang sedang bingung, meditasi akan menolong dia untuk menenangkan diri dari kebingungan dan mendapatkan ketenangan yang bersifat sementara maupun yang bersifat permanen (tetap). 3. Bagi orang yang mempunyai banyak problem atau persoalan yang tidak putusputus nya, meditasi akan menolong dia untuk menimbulkan ketabahan dan keberanian serta mengembangkan kekuatan untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut. 4. Bagi orang yang kurang percaya diri sendiri, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan keparcayaan kepada diri sendiri yag sangat dibutuhkannya itu. 5. Bagi orang yang mempunyai rasa takut dalam hati atau kebimbangan, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan pengertian terhadap keadaan atau sifat yang sebenarnya dari hal-hal yang menyebabkannya takut dan selanjutnya dia akan dapat mengatasi rasa takut itu dalam pikirannya. 6. Bagi orang yang selalu merasa tidak puas terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya atau dalam kehidupan ini, meditasi akan memberikan dia perubahan dan perkembangan yang menuju pada kepuasan batin. 7. Bagi orang yang pikirannya sedang kacau dan berputus asa karena kurangnya pengertian akan sifat kehidupan dan keadaan dunia ini, meditasi akan menolong di a utnuk memberikan pengertian padanya bahwa pikirannya itu kacau untuk hal-hal yang tidak ada gunanya. 8. Bagi orang yang ragu-ragu dan tidak begitu tertarik kepada agama, meditasi ak an menolong dia untuk mengatasi keragu-raguannya itu dan untuk melihat segi-segi serta nilai-nilai yang praktis dalam bimbingan agama. 9. Bagi seorang pelajar atau mahasiswa, meditasi akan menolong dia untuk menimbulkan dan menguatkan ingatannya serta untuk belajar lebih seksama dan lebih efisien. 10. Bagi orang yang kaya, meditasi akan menolong dia untuk dapat melihat sifat d an kegunaan dari kekayaannya itu, bagaimana cara menggunakan harta tersebut untuk kebahagiaan dirinya sendiri dan kebahagiaan orang lain. 11. Bagi orang miskin, meditasi akan menolong dia untuk memiliki rasa puas dan ketenangan serta tidak melampiaskan rasa iri hati terhadap orang lain yang lebih

mampu daripadanya. 12. Bagi seorang pemuda yang sedang berada dalam persimpangan jalan dari kehidupan ini dan dia tidak tahu jalan mana yang akan ditempuhnya, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan pengertian dalam menempuh salah satu jalan yang akan membawa ke tujuannya. 13. Bagi orang yang telah lanjut usia yang telah bosan dengan kehidupan ini, med itasi akan menolong dia ke dalam pengertian yang lebih mendalam mengenai kehidupan ini, dan pengertian tersebut akan memberi dia kelegaan dan kebebasan dari penderitaan serta pahit getirnya kehidupan ini, dan akan menimbulkan kegairahan yang baru bagi dirinya. 14. Bagi orang yang mudah marah, meditasi akan menolong dia mengembangkan kekuatan kemauan untuk mengatasi kelemahan-kelemahannya. 15. Bagi orang yang bersifat iri hati, meditasi akan menolong dia untuk mengerti tentang bahayanya sifat iri hati itu. 16. Bagi orang yang diperbudak oleh panca inderanya, meditasi akan menolong dia untuk belajar menguasai nafsu-nafsu dan keinginannya itu. 17. Bagi orang yang telah ketagihan minuman keras yang memabukkan, meditasi akan menolong dia untuk menyadari dirinya dan melihat cara mengatasi kebiasaan yang berbahaya itu yang telah memperbudak dan mengikat dirinya. 18. Bagi orang yang tidak terpelajar atau bodoh, meditasi akan memberikan dia kesempatan untuk mengenal diri dan mengembangkan pengetahuan-pengetahuan yang sangat berguna untuk kesejahteraan diri sendiri dan untuk keluarga serta handai taulannya. 19. Bagi orang yang sungguh-sungguh melakukan latihan meditasi yang benar ini, maka nafsu-nafsu dan emosinya tak mempunyai kesempatan untuk memperbodohi dirinya lagi. 20. Bagi orang yang bijaksana, meditasi akan membawa dia kepada kesadaran yang lebih tinggi dan pencapaian penerangan sempurna; dia akan dapat melihat segala sesuatu dengan sewajarnya dan tidak akan terseret lagi ke dalam persoalanpersoal an yang remeh. 21. Selanjutnya, dalam agama Buddha, meditasi yang benar itu dipergunakan untuk membebaskan diri dari segala penderitaan, untuk mencapai Nibbana. Demikianlah beberapa faedah praktis yang dapat dihasilkan dari latihan meditasi. Faedah-faedah ini merupakan milik yang akan ditemui dalam pikiran sendiri. 3. CARA MELAKSANAKAN BHAVANA Orang yang baru belajar meditasi sebaiknya mencari tempat yang cocok untuk melakukan meditasi. Tempat itu adalah tempat yang sunyi dan tenang, bebas dari gangguan orang-orang di sekitarnya, bebas dari gangguan nyamuk. Untuk tahap permulaan, hendaknya orang berlatih di tempat yang sama, jangan pindah-pindah tempat. Jika meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan di mana saja di setiap tempat, baik di kantor, di pasar, di kebun, di hutan, di goa, dikuburan, maupun di tempat yang ramai. Waktu untu melaksanakannya dapat dipilih sendiri. Biasanya waktu yang baik untuk bermeditasi adalah pagi hari antara pukul 04.00 sampai pukul 07.00 dan malam har i antara pukul 17.00 sampai pukul 22.00. Jika waktu untuk bermeditasi telah ditent ukan, maka waktu tersebut hendaknya digunakan khusus untuk bermeditasi. Meditasi sebaiknya dilakukan setiap hari dengan waktu yang sama secara teratur atau konti nyu. Bila meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan kapan saja, pada setiap waktu. Orang bebas memilih posisi meditasi. Biasanya posisi meditasi yang baik adalah d uduk bersila di lantai yang beralas, dengan meletakkan kaki kanan di atas kaki kiri, dan tangan kanan menumpu tangan kiri di pangkuan. Atau boleh juga dalam posisi seten gah

sila, dengan kaki dilipat ke samping. Bahkan kalau tidak memungkinkan, maka dipersilahkan duduk di kursi. Yang penting adalah bahwa badan dan kepala harus t egak, tetapi tidak kaku atau tegang. Duduklah seenaknya, jangan bersandar. Mulut dan m ata harus tertutup. Selama meditasi berlangsung hendaknya diusahakan untuk tidak menggerakkan anggota badan, jika tidak perlu. Namun bila badan jasmani merasa ti dak enak, maka diperbolehkan untuk menggerakkan tubuh atau mengubah sikap meditasi. Tetapi, hal ini harus dilakukan perlahan-lahan, disertai dengan penuh perhatian dan kesadaran. Jika meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan dalam berbagai posi si, baik berdiri, berjalan, maupun berbaring. Sebelum melaksanakan meditasi, sebaiknya diminta petunjuk atau nasehat dari guru meditasi atau mereka yang telah berpengalaman mengenai meditasi, agar dapat dica pai sukses dalam bermeditasi. Pada saat hendak bermeditasi, sebaiknya dibacakan paritta terlebih dahulu. Selan jutnya, laksanakanlah meditasi dengan tekun. Pikiran dipusatkan pada obyek yang telah di pilih. Pada tingkat permulaan, tentunya pikiran akan lari dari obyek. Hal ini biasa, ka rena pikiran itu lincah, binal, dan selalu bergerak. Namun, hendaknya orang yang bermeditasi selalu sadar dan waspada terhadap pikiran. Bila pikiran itu lari dar i obyek, ia sadar bahwa pikiran itu lari, dan cepat mengembalikan pikiran itu pada obyek semula. Bila hal ini dapat dilaksanakan dengan baik, maka kemajuan dalam meditasi pasti akan diperoleh. Pembagian Bhavana Bhavana dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu : 1. Samatha Bhavana, berarti pengembangan ketenangan batin. 2. Vipassana Bhavana, berarti pengembangan pandangan terang. Diantara kedua jenis bhavana ini terdapat perbedaan. Perbedaan itu mencakup: 1. Tujuannya Samatha Bhavana merupakan pengembangan batin yang bertujuan untuk mencapai ketenangan. Dalam Samatha Bhavana, batin terutama pikiran terpusat dan tertuju p ada suatu obyek. Jadi pikiran tidak berhamburan ke segala penjuru, pikiran tidak ber keliaran kesana kemari, pikiran tidak melamun dan mengembara tanpa tujuan. Dengan melaksanakan Samatha Bhavana, rintangan-rintangan batin tidak dapat dilenyapkan secara menyeluruh. Jadi kekotoran batin hanya dapat diendapkan, sepe rti batu besar yang menekan rumput hingga tertidur di tanah. Dengan demikian, Samath a Bhavana hanya dapat mencapai tingkat-tingkat konsentrasi yang disebut jhana-jhan a, dan mencapai berbagai kekuatan batin. Sesungguhnya pikiran yang tenang bukanlah tujuan terakhir dari meditasi. Ketenan gan pikiran hanyalah salah satu keadaan yang diperlukan untuk mengembangkan pandanga n terang atau Vipassana Bhavana. Vipassana Bhavana merupakan pengembangan batin yang bertujuan untuk mencapai pandangan terang. Dengan melaksanakan Vipassana Bhavana, kekotoran-kekotoran batin dapat disadari dan kemudian dibasmi sampai keakar-akarnya, sehingga orang

Apo kasina = wujud air 3. Sebaliknya. Obyek-obyek itu adalah sepuluh kasina. Pita kasina = wujud warna kuning 7. EMPAT PULUH MACAM OBYEK MEDITASI Dalam Samatha Bhavana ada 40 macam obyek meditasi. Vayo kasina = wujud udara atau angin 5. dan tidak dengan jalan lain". Vikkahayitaka = wujud mayat yang digerogoti binatang-binatang 6. Atthika = wujud tengkorak c. 2. Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. satu aharapatikulasañña. pada umumnya orang yang bermeditasi sering mendapat gangguan atau halangan atau rintangan. Uddhumataka = wujud mayat yang membengkak 2. Vipassana Bhavana dapat menuju ke arah pembersihan batin. Puluvaka = wujud mayat yang dikerubungi belatung 10. Dhammanussati = perenungan terhadap Dhamma 3. dukkha (derita). Akasa kasina = wujud ruangan terbatas b. Pemilihan ini dimaksudkan untuk membantu mempercepat perkembangannya. Vinilaka = wujud mayat yang berwarna kebiru-biruan 3. Vicchiddaka = wujud mayat yang terbelah di tengahnya 5. Dengan demikian. dan empat arupa. yaitu : 1. Vipubbaka = wujud mayat yang bernanah 4. Hatavikkhittaka = wujud mayat yang busuk dan hancur 8. Lohita kasina = wujud warna merah 8. empat appamañña. yaitu : 1. Sepuluh asubha (sepuluh wujud kekotoran).yang melakukan Vipassana Bhavana dapat melihat hidup dan kehidupan ini dengan sewajarnya. pembebasan sempurna. 3. Teja kasina = wujud api 4. dan anatta (tanpa aku yang kekal). yaitu : 1. Samatha Bhavana 1. Sanghanussati = perenungan terhadap Sangha 4. Pathavi kasina = wujud tanah 2. Buddhanussati = perenungan terhadap Buddha 2. Keempat puluh macam obyek meditasi itu adalah : a. Lohitaka = wujud mayat yang berlumuran darah 9. bahwa hidup ini dicengkeram oleh anicca (ketidak-kekalan). sepuluh anussati. satu catudhatuvavatthana. sepuluh asubha. Odata kasina = wujud warna putih 9. Obyeknya Obyek yang dipakai dalam Samatha Bhavana ada 40 macam. Vikkhittaka = wujud mayat yang telah hancur lebur 7. yang disebut sepuluh vipassanupakilesa. Sesungguhnya "dalam kitab suci telah ditulis bahwa hanya dengan pandangan terang inilah kita dapat menyucikan diri kita. terdapat pula rintangan-rintang an yang dapat menghambat perkembangan pandangan terang. Devatanussati = perenungan terhadap makhluk-makhluk agung atau para dewa . yaitu lima nivarana dan sepuluh palibodha. Penghalangnya Dalam melaksanakan Samatha Bhavana. Obyek-obyek meditasi ini dapat dipilih salah satu yang kiranya cocok dengan sifat atau pribadi seseorang. Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan). Nila kasina = wujud warna biru 6. Pemilihan sebaiknya dilakukan dengan bantuan seorang guru. pencapaian Nibbana. atau em pat satipatthana. Aloka kasina = wujud cahaya 10. Caganussati = perenungan terhadap kebajikan 6. Silanussati = perenungan terhadap sila 5. obyek yan g dipakai dalam Vipassana Bhavana adalah nama dan rupa (batin dan materi). Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda).

orang melihat atau membayangkan sesosok tubuh yang tel ah menjadi mayat diturunkan ke dalam lubang kuburan. hancur dan membusuk. Anapanasati = perenungan terhadap pernapasan 10. Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda) Dalam kasina tanah. Dalam kasina api. tanpa pamrih 2. Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan) . waspada. dapat dipakai cahaya matahari atau bulan yang memantul di dinding atau di lantai melalui jendela dan lain-lain. benda-benda di sekeliling bulatan tersebut seolah-olah lenyap. or ang harus berjuang agar pikirannya tetap berjaga-jaga. Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dal am badan jasmani) g. Selanjutnya. Disini. dapat dipakai ruangan kosong yang mempunyai batas-batas disekelilingny a seperti drum dan lain-lain. Empat arupa (empat perenungan tanpa materi). dapat dipakai kebun yang baru dicangkul atau segumpal tanah yang dibulatkan. kuning. "Badanku ini juga mempunyai sifat-sifat itu sebagai kodratnya. Dalam kasina air. Kini.7. orang masih melihat bulatan biru itu di dalam pikirannya. Sepuluh asubha (sepuluh wujud kekotoran) Dalam sepuluh asubha ini. dikerubungi oleh lalat dan belatung. dapat dipakai benda-ben da seperti bulatan dari kertas. Disinilah hendaknya orang memegang dengan teguh di dalam pikirannya obyek yang berharga yang telah timbul. merah. dapat dipakai angin yang berhembus di pohon-pohon atau badan. berlumuran darah. dan sadar. Dalam kasina warna. Kasinugaghatimakasapaññatti = obyek ruangan yang sudah keluar dari kasina 2. Dalam kasina angin. Upekkha = keseimbangan batin e. tidak dapat dihin dari". Selanjutnya. Satu aharapatikulasanna (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) f. dengan memandang terus pada bulatan itu. dapat dipakai api yang menyala yang di depannya diletakkan seng yang berlobang. c. Dalam kasina r uangan terbatas. Natthibhavapaññati = obyek kekosongan 4. Sementara itu. Akasanancayatana-citta = obyek kesadaran yang tanpa batas 3. terbelah di tengahnya. Metta = cinta kasih yang universal. membiru. dikoyak-koyak oleh burung gagak atau serigala. walaupun mata dibuka atau ditutup. yaitu : 1. dapat dipakai sebuah telaga atau air yang ada di dalam ember. bernanah. Upasamanussati = perenungan terhadap Nibbana atau Nirwana d. b. Empat appamañña (empat keadaan yang tidak terbatas). mula-mula orang harus memusatkan seluruh perhatiannya pada bulatan yang berwarna biru misalnya. Karuna = belas kasihan 3. atau bunga yang berwarna biru. papan. ia menarik kesimpulan terhadap badannya sendir i. dan bulatan terse but kelihatan menjadi makin semu dan akhirnya sebagai bayangan pikiran saja. yang makin lama makin terang seperti bulatan dari rembulan. Kayagatasati = perenungan terhadap badan jasmani 9. yaitu : 1. atau putih. dan akhirnya merupakan tengkorak. Mudita = perasaan simpati 4. Marananussati = perenungan terhadap kematian 8. membengkak. seperti gambar pikiran mengenai mayat yang membengka k dan lain-lain. kain. Akincaññayatana-citta = obyek bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan Berikut penjelasan lebih mendetil tentang masing-masing obyek meditasi diatas : a. Dalam kasina cahaya.

yang sedang menikmati hasil dari perbuatan baik yang telah dilakukan nya. hendaknya diusahakan untuk mengatasi kebencian itu dengan merenungkan sifat-sifat yang bai . Dalam anapanasati. pengenal semua alam. putusnya lingkaran tumimbal lahir. bahwa di dalam badan ini terdapat rambut kepala. bahwa badan ini harus dibagi-bagikan olehku kepada ulat-ulat. sempurna menempuh jalan ke Nibbana. serta keadaan yang bagaimana menungguku setelah kematian. m inyak kulit. jantung. orang merenungkan keluar masuknya napas. direnungkan sembilan sifat Buddha. seseorang harus mulai dari dirinya sen diri. patut menerima bingkisan. Empat appamañña (empat keadaan yang tidak terbatas) Empat appamañña ini sering disebut juga sebagai Brahma-Vihara (kediaman yang luhur). patut menerima penghormatan. cinta kasih dipancarkan kepada orang tu a. ginjal. yang sadar. nyata di dalam kehidupan. tulang. Setelah itu. urat. perut. direnungkan sila yang telah dilaksanakan. Dalam hal ini mungkin timbul perasaan dendam atau sakit hati. limpa. dan menuju pemusatan pikiran. empedu. sempurna pengetahuan dan tingkah lakunya. Namun. kutu. tela h bertindak benar. dan melalui apa oran g akan meninggal. dan binatang lainnya yang hidup dengan ini. telah bertindak lurus. patut meneri ma tempat bernaung. Dalam Sanghanussati. teman-teman laki-laki dan wanita sekaligus. tak lapuk oleh waktu . guru para dewa dan manusia. bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan. sumsum. menuntun ke dalam batin. dari telapak kaki ke atas dan dari puncak kepala ke bawah. yang tidak patah. bulu badan. air kencing. dengan sadar ia mengeluarkan napas. ludah. direnungkan sembilan sifat Ariya-Sangha. usu s. hati. telah bertindak patut. lemak. paru-paru. hancurnya keinginan. Dalam caganussati. saluran usus. darah. Dalam marananussati. di mana. direnungkan kebajikan berdana yang telah dilaksanakan. keringat.Dalam Buddhanussati. dan otak. orang merenungkan Nibbana atau Nirwana yang terbebas dari kekotoran batin. Kesembilan sifat Ariya-Sangha itu adalah telah bertindak dengan baik. lendir. direnungkan makhluk-makhluk agung atau para dewa yang berbahagia. yang tersulit adalah memancarkan cinta kasih kepada musuh-musuhnya. Dalam Dhammanussati. Dalam devatanussati. air mata. yang menyebabkan musnahnya kekikiran. Dalam kayagatasati. ingus. karena ia tidak mungkin dapat memancarkan cinta kasih sejati bila ia membenci da n meremehkan dirinya sendiri. Kesembilan sifat Buddha tersebut adalah maha suci. Akhirnya. yang patut dimuliakan. orang merenungkan 32 bagian anggota tubuh. y ang tidak ternoda. Dalam upasamanussati. dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing. pembimbing manusia yang tiada taranya. kotoran. direnungkan enam sifat Dhamma. belatung. gigi. Dalam silanussati. patut menerima persembahan. lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya di alam semesta. daging. kematian aka n datang menyongsongku dan makhluk lainnya. Dengan sadar ia menarik napas. Keenam sifat Dhamma itu adalah telah sempurna dibabarkan. yang diselubungi kulit dan penuh kekotoran . mengundang untuk dibuktikan. cairan sendi. kuku. orang harus merenungkan bahwa pada suatu hari. yang dipuji oleh para bijaksana. d. kulit. selaput dada. nanah. guru-guru. Dalam melaksanakan metta-bhavana. telah mencapai penerangan sempurna.

dan lain-lain. Satu aharapatikulasañña (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) Dalam satu aharapatikulasañña. dara h. ruangan yang tanpa batas itu ditembus dengan kesadarannya sambil merenungkan. Empat arupa (empat perenungan tanpa materi) Dalam kasinugaghatimakasapaññati. Jadi. bentuk-bentuk pi . dan setelah itu ia mengembangkan pencapaian dari sisa unsur-unsur batin yang penghabisan.k dari musuhnya dan jangan menghiraukan kejelekan-kejelekan yang ada padanya. "Tidak ada apa-apa di sana! Kosonglah adanya ini". Vayo-dhatu (unsur angin atau unsur gerak). Tejo-dhatu (unsur api atau unsur panas). orang akan tetap tenang menghadapi suka dan duka. "Ruangan! Ruangan! Tak terbatas ruangan ini!" dan kemudian gambaran kasina dihilangkan. Dalam mudita-bhavana. g. dipusatkan di dalamnya. 2. Pathavi-dhatu (unsur tanah atau unsur padat). nanah. atau bila sedang sakit. ialah segala sesuatu yang bersifat bergerak. Dalam akincaññayatana-citta. dan menembus tanpa batas. direnungkan bahwa makanan adalah barang yang menjijikkan bila telah berada di dalam perut. untung dan rugi. pencerapan. diliputi kesedihan. orang harus mengarahkan perhatiannya pada kekosongan atau kehampaan dan tidak ada apa-apanya dari kesadaran terhadap ruangan yang tan pa batas itu. pujian dan celaan. Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan jasmani) Dalam satu catudhatuvavatthana. ialah segala sesuatu yang bersi fat keras atau padat. dan lain-lain. lendir. pikiran ditujukan kepada ruangan yang tanpa batas. 4. Perl u diingat bahwa kebencian hanya dapat ditaklukkan dengan cinta kasih. dicicipi. ialah segala sesuatu yang bersifat ber hubungan yang satu dengan yang lain atau melekat. orang memancarkan belas kasihan kepada orang yang sedang ditimpa kemalangan. dikunyah. Dalam upekkha-bhavana. semuanya akan berakhir sebagai kotoran (ti nja) dan air seni (urine). ia turut berbahagia melihat kebahagiaan orang lain. dan penderitaan. Dalam natthibhavapaññati. orang merenungkan keadaan kekosongan sebagai ketenangan atau kesejahteraan. Ia terus menerus merenungkan. mencurahkan perhatiannya kepada hal tersebut. 3. direnungkan bahwa di dalam badan jasmani terdapa t empat unsur materi. Umpamanya : angin yang ada di dalam perut dan usus. bulu badan. angin yang keluar masuk waktu bernapas. Umpamanya : empedu. orang memancarkan perasaan simpati kepada orang yang sedang bersuka-cita. batin yang telah memperoleh gambaran kasina dikembangkan ke dalam perenungan ruangan yang tanpa batas sambil membayangkan. Apo-dhatu (unsur air atau unsur cair). yaitu : 1. direnungkan bahwa apapun yang tela h dimakan. diminum. Ia harus berul angulang memikirkan penembusan ruangan itu dengan sadar. kesengsaraan. gigi. Dalam akasanancayatana-citta. e. yaitu perasaan. ialah segala sesuatu yang bersifat p anas dingin. bad an akan terasa panas dingin. dan lain-lain. Dalam karuna-bhavana. kuku. Umpamanya : setelah selesai makan dan minum. f. "Tak terbataslah kesadaran itu". Umpamanya : rambut kepala.

orang hendaknya senantiasa mempelajari dan memahami kitab suci Tripitaka. keluarga. Keragu-raguan (vicikiccha) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatika n sesuatu yang menyebabkan timbulnya keragu-raguan. tentang kepuasan. Nafsu-nafsu keinginan (kamachanda) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan obyek yang indah. bebas dari nafsu-nafsu. Untuk menaklukkan kemauan jahat hendaknya orang senantiasa melaksanakan meditasi cinta kasih. senantiasa berbicara tentang kesempurnaan hidup. Kemalasan dan kelelahan (thina-middha) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan rasa segan. berusaha untuk menguasai pikiran dan mengendalikan indriya indriyanya. Thina-middha (kemalasan dan kelelahan) 4. senantiasa merenungkan ajaran-ajaran Sang Buddha dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Kamma (pekerjaan) 6. yaitu : 1. kelelahan. senantiasa ingat bahwa setiap orang adalah pemilik dan pewaris dari perbuatannya sendiri. LIMA MACAM NIVARANA DAN SEPULUH MACAM PALIBODHA Lima macam nivarana Nivarana berarti rintangan atau penghalang batin yang selalu menghambat perkembangan pikiran.kiran. tanpa disertai kebijaksanaan. Byapada (kemauan jahat) 3. senantiasa melihat penderitaan di dalam ketidak-kekalan. tanpa disertai kebijaksanaan. hendaknya orang senantiasa melaksanakan meditasi deng an memakai obyek yang kotor atau menjijikkan dan berusaha menghindari obyek-obyek yang bisa merangsang. Kegelisahan dan kekhawatiran (uddhacca-kukkucca) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan ketidak-tenteraman pikiran. Untuk membebaskan diri dari nafsu keinginan. Vicikiccha (keragu-raguan) Untuk menaklukkan kelima rintangan tersebut. seolah-olah tidak ada pencerapan lagi 2. Ñati (orangtua. dan kesadaran sampai batas kelenyapannya. Gana (murid dan teman) 5. Kamachanda (nafsu-nafsu keinginan) 2. rasa malas. setelah kekosongan itu dicapai. orang harus mengetahui sebab-sebab timbulnya nivarana dan berusaha menghindari sebab-sebab itu serta melakukan usah ausaha yang dapat melenyapkan nivarana itu. Kula (pembantu dan orang yang bertanggung jawab) 3. tanpa disertai kebijaksanaan. Dhamma. Palibodha ini ada sepuluh macam. maka kesadaran mengenai kekosongan itu dilepas. Avasa (tempat tinggal) 2. Untuk mengatasi kegelisahan dan kekhawatiran. orang hendaknya senantiasa meneguhkan keyakinan pada Buddha. mengantuk sesudah makan. kebajikan. kebebasan. Sepuluh macam palibodha Palibodha berarti gangguan dalam meditasi yang menyebabkan batin gelisah dan tid ak mampu memusatkan pikiran pada obyek. dan saudara) 8. serta berusaha melaksanakan sila dengan sempurna. Untuk membebaskan diri dari kemalasan dan kelelahan. dan Sangha. tanpa disertai kebijaksanaan. kesunyian. Abadha (penyakit) . ora ng hendaknya senantiasa merenungkan suatu cahaya sampai terserap ke dalam batin. Addhana (perjalanan) 7. Jadi. Kemauan jahat (byapada) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan obyek yang menyebabkan timbulnya kebencian. Labha (keuntungan) 4. Nivarana ini ada lima macam. Uddhacca-kukkucca (kegelisahan dan kekhawatiran) 5. Untuk membebaskan diri dari keragu-raguan. tanpa disertai kebijaksanaan. yaitu: 1.

. cenderung ke arah panas hati. cenderung ke arah kelemahan batin. suka memerintah dan mendikte orang lain. Ia merasa khawa tir akan kemungkinan timbulnya penyakit. dan odata kasina). Sanghanussati. perangai.Iddhi (kekuatan gaib) Dalam melaksanakan meditasi. pikiran ruwet. tak mau tahu terhadap kebajikan orang lain walaupun be sar. Palibodha ini harus dibasmi. suka menemui orang-orang suci. Orang yang keras nafsu lobanya atau Ragacarita 2. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah enam anussati (Buddhanussati. cenderung ke arah keindahan dan kecantikan. takut akan kemerosotan kekuatan magisnya. pada umumnya orang yang bermeditasi sering juga mendapat gangguan yang disebut palibodha. Ia merasa khawatir akan bermacam-macam kekuatan magis yang dipertunjukkan. kagum melihat suatu kebajikan walaupun itu kec il sekali. apakah meditasi ini akan membawa keuntungan baginya. 3. pita kasina. Orang yang bijaksana (pandai) atau Buddhicarita 6. s uka mendengarkan Dhamma. Ia mera sa khawatir akan orang tuanya. suka bingung. yakin pada sesuatu yang dianggap baik. Orang yang mempunyai mohacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan kebodohan batin. cenderung ke arah rendah hati. Di dalam Abhidhamma. Ia merasa khawatir akan murid-murid dan teman-temannya. mudah melupakan kesalahan orang lain. Untuk mereka yang mempunyai dosacarita. Ia merasa khawatir akan pekerjaannya yang belum selesai. lohita kasina. agar orang dapat memusatkan pikiran dengan baik. Untuk mereka yang mempunyai ragacarita. Ia merasa khawatir akan persoalannya . Untuk mereka yang mempunyai mohacarita. suka ragu-ragu.9. Untuk mereka yang mempunyai saddhacarita. Orang yang bodoh (dungu) atau Mohacarita 4. cerdik. atau perilaku. keluarganya. Ia merasa khawatir akan perjalanan jauh yang harus ditempuhnya. malas. Orang yang tebal keyakinannya atau Saddhacarita 5. ENAM MACAM CARITA Carita berarti sifat. suka bermusuhan. terikat dengan rumahnya. menggantungkan diri pada pendapat orang lain. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah empat appamañña dan empat kasina (nila kasina. Ia merasa khawatir akan tempat tinggalnya. suka marah. tak senan g melihat kesalahan walaupun kecil. Dhammanussati. sombong. berambisi besar. Ia merasa khawatir akan pembantunya dan ora ng yang bertanggung jawab atas harta bendanya. suka iri hati. memandang rendah orang lain. yaitu manusia itu dapat dibagi menjadi enam golongan berdasarkan sifat-sifat yang dimilikinya: 1. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh asubha dan sa tu kayagatasati. terdapat pembagian sifat-sifat secara umum yang berdasarkan atas keadaan batin manusia. Ia merasa khawatir akan pelajaran yang ditinggalkannya. suka kha watir. kadang-kadang kukuh memegang suatu pandangan. Orang yang suka melamun atau Vitakkacarita Orang yang mempunyai ragacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan loba. suka jengkel. Gantha (pelajaran) 10. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah anapanasati. pendiriannya tidak tetap. mementingkan diri sendiri. Orang yang keras kebenciannya atau Dosacarita 3. dan saudara-saudaranya. dermawan. jujur. Orang yang mempunyai saddhacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan keyakinan. Orang yang mempunyai dosacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan kebencian.

tidak suka bekerja untuk kepentingan sosial. Nimitta ini ada tiga macam. jernih. Parikamma-Nimitta (gambaran batin permulaan) 2. jelas. yang bentuk gambaran itu berubah menjadi sinar terang di dalam batinnya . suka berteori. tetap. caganussati. Appana-Bhavana (perkembangan batin tingkat terkonsentrasi dengan kuat) Dalam parikamma-bhavana. vayo kasina. TIGA MACAM NIMITTA Nimitta berarti suatu pertanda atau gambaran yang ada hubungannya dengan perkembangan obyek meditasi. terbebas dari gangguan. kegagalan dalam usaha. sering bermeditasi. Parikamma-Bhavana (perkembangan batin tingkat pendahuluan) 2. satu kayagatasati. Mengenai uggaha-nimitta. kemudian dibayangkan dalam pikiran. Untuk mereka yang mempunyai vitakkacarita. nivarana telah dapat diatasi. upasamanussati. dan empat arupa dapat dijadikan obyek meditasi oleh semua orang tanpa memperhatikan caritanya. patibhaga-nimitta merupakan gambaran pantulan dari obyek yang dipakai. semua obyek meditasi dapat dipakai dalam melaksanakan Samatha Bhavana. Upacara-Bhavana (perkembangan batin tingkat mendekati konsentrasi) 3. Dalam keadaan ini. dan catudhatuvavatthana. yaitu keempat puluh obyek meditasi yang tersebut terdahulu. Jadi. dan satu anapanasati. pikiran baru akan dipusatkan pada obyek. sepuluh asubha. pikirannya se ring berkeliaran. Semua obyek (empat puluh macam obyek meditasi) dapat menghasilkan parikamma-bhavana. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi. Uggaha-Nimitta (gambaran batin mencapai) 3. Orang yang mempunyai vitakkavcarita melaksanakan sesuatu berdasarkan tergesa-ges a. seperti patung Buddha. Orang yang mempunyai buddhicarita atau ñanacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan berhati-hati. Dalam upacara-bhavana. aloka kasina. Untuk mencapai uggaha-nimitta. yaitu : 1. terdapat tiga macam tingkat perkembangan batin. walaupun mata telah dipejamkan. mempunyai kawankaw an yang baik. cenderung ke arah kegugupan. akasa kasina . 4. parikamma-nimitta merupakan gambaran atau bentuk dari obyek dalam keadaan yang sebenarnya. uggaha-nimitta merup akan gambaran obyek di dalam batin yang sama dengan bentuk obyek yang dipakai. cenderung ke arah perenungan terhadap Tiga Corak Umum (Tilakkhana) . tejo kasina. terpeta dengan nyata. dan devatanussati). Patibhaga-Nimitta (gambaran batin berlawanan) Mengenai parikamma-nimitta. Penjelasan: Pathavi kasina. Untuk mereka yang mempunyai buddhicarita atau ñanacarita. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi diliha t dengan batin. dan mulai timbulnya patibhaga-nimitta. Na . Jadi. apo kasina. maka obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh kasina. yaitu : 1. Jadi. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah marananussati. Untuk mencapai patibhaga-nimitta. mula-mula dilihat dengan mata. Mengenai patibhaga-nimitta. TIGA MACAM BHAVANA Dalam meditasi. hingga obyek itu melekat dalam pikiran. Semua obyek (empat puluh macam obyek meditasi) dapat menghasilkan parikamma-nimitta. dan gambaran obyek tersebut dapat dibesarkan serta dikecilkan menurut kemauan. aharapatikulasañña.silanussati. maka obyek yang cocok untuk melaksanakan Samatha Bhavana ialah anapanasati. 5. pikiran telah siap untuk memasuki pemusatannya. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi yan g telah melekat pada pikiran. bersedia mendengarkan omongan orang lain.

Bunyi lonceng pada saat terkena pu kulan merupakan vitakka. aktivit as panca indera berhenti. satu aharapatikulasanna. sering jatuh. tidak muncul kesan-kesan penglihatan maupun pendengaran. sepuluh asubha. ialah kegiuran atau kenikmatan. Sukha. piti. 5. marananussati. maka faktor-faktor jhana juga mulai timbul berperanan (vitakka. Faktor-faktor jhana tersebut ada lima macam. Vicara. Vitakka dan vicara adalah dua keadaan dari suatu proses yang berkelanjutan. Pada waktu lonceng dipukul sekali. FAKTOR-FAKTOR JHANA Di dalam memasuki jhana-jhana. y aitu : 1. satu anapanasati. 4. Sanghanussati. Keadaan ini dapat diumpamakan sebagai orang yang telah dewasa yang tel ah dapat berdiri dengan kuat. ialah gema pikiran. 6. ialah kebahagiaan yang tak terhingga. tak jatuh-jatuh lagi. Ia tidak dapat melenyapkan kekotoran batin. 3.mun konsentrasi pikiran masih belum mantap. Kedu a keadaan ini dapat diumpamakan seperti bunyi lonceng. ialah pemusatan pikiran yang kuat. Hal ini dapat disamakan dengan anak keci l yang baru belajar berdiri. upasamanu ssati). Dalam appana-bhavana. Vitakka. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah delapan anussati (Buddhanussati. Sewaktu-waktu jhana dapat merosot. Di samping nivarana telah dapat diatasi. Jhana merupakan keadaan batin yang sudah di luar aktivitas panca indera. pun tidak muncul perasaan badan jasmani. sedangkan gema dari bunyi lonceng itu merupakan vicara. empat appam añña. vicara. satu kayagatasati. dan satu catudhatuvavatthana. su kha. Suasana pikiran pada saat permulaan memegang obyek disebut vitakka. yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada obyek yang kuat). Jhana hanya mampu menekan atau mengendapkan kekotoran batin untuk sementara waktu. batin masih tetap aktif dan berjaga secara sempurna serta sadar sepenuhnya. Demikian pula ketika bermeditasi. pikiran telah dapat tinggal diam dalam jangka waktu yang lama. Keadaan ini hanya dapat dicapai dengan usaha yang ulet dan tekun. silanussati. yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada obyek dengan kekuatan appana-samadhi (konsentrasi yang mantap. namun masih belum mantap. Dalam keadaan ini. karena konsentrasi yang penuh dan mantap tela h tercapai. Walaupun kesan-kesan dari luar telah berhen ti. Untuk mencapai upacara-bhavana. timbullah faktor-faktor jhana yang memberi corak dan suasana bagi tiap-tiap jhana itu. 2. Obyek-obyek yang dapat dipakai untuk mencapai appana-bhavana ialah sepuluh kasina. karena jhana tidak kekal. dan ekaggata). PENGERTIAN JHANA Jhana berarti kesadaran/pikiran yang memusat dan melekat kuat pada obyek kammatthana/meditasi. Piti. devatanussati. maka akan terjadi bunyi yang bergema. keadaan pikiran dalam memegang obyek dengan kuat. caganussati. dan empat arupa. Dhammanussati. menurut yang dikehendakinya. tetapi ia ter us berusaha. sedangkan suasana pikiran yang telah berhasil memegang ob . ialah penopang pikiran yang merupakan perenungan permulaan untuk memegang obyek. 7. Ekaggata.

sukha membasmi uddhaccakukkuc ca. 2. menurut bagian. Selama jhana masih ada. mak a perasaan berobah menjadi nikmat dan segar. yaitu vicara.yek dengan kuat disebut vicara. bila jhana merosot. terdiri atas : 1. Catuttha-Jhana. Karena itu. yaitu sukha dan ekaggata. sukha. Tingkatan jhana. 4. ialah jhana tingkat pertama. Namun. setelah ia meminum air itu. da n tergiur melihatnya. menurut Abhidhamma. maka nivarana akan timbul lag i. dan tatiya-jhana membuang vic ara. Keadaan batinnya terdiri dari empat corak. sebenarnya secara terperinci terdapat lima macam. Keadaan batinnya terdiri dari dua corak. dalam Sutta Pitaka. ialah jhana tingkat kelima. dan jumlah kesadaran yang berada dalam rupavacara-citta. TINGKAT-TINGKAT JHANA Menurut Sutta Pitaka. Antara piti dan sukha terdapat pula perbedaan perasaan yang khas seperti berikut . Pathama-Jhana. piti. Akasanancayatana-Jhana. kiranya di sini tidak begitu perlu diuraikan. hanya dapat membuang 'keadaan batin' satu persatu. yaitu vitakka. tikkha-puggala (orang yang cerdas) mampu menyelidiki dan melihat kekotor an dari vitakka dan vicara sekaligus dalam waktu yang sama. Dutiya-Jhana. da n ekaggata. karena di sini kegiuran timbul akibat keterbatasan dari tekanan perasaan. yaitu upekkha dan ekaggata. ialah keadaan dari konsepsi ruangan yang tanpa batas. yaitu vitakka membasmi thina-middha. 6. sukha. vicara. pikiran telah terpusat pada obyek dengan kuat. dan membuang vitakka da n vicara sekaligus. Dalam Abhidhamma. Mengenai piti. ialah jhana tingkat ketiga. piti. dan kemudian ia menemukan sebuah sumber air. Apabila seseorang yang sedang dalam suatu perjalanan merasa sangat haus. sehingga kekotora n batin tidak mampu mengganggu lagi. yaitu empat rupa jhana dan empat arupa jhana. tingkatan rupa jhana ada empat . Keadaan batinnya terdiri dari lima corak. ialah jhana tingkat keempat. dan ekagga ta. ialah jhana tingkat kedua. selama itu pula nivarana tidak timbul. yait u lima rupa jhana dan empat arupa jhana. senang. . yaitu dengan mengendapkan kekotoran batin. Tetapi. 8. Dalam ekaggata. sebab kesadaran dari manda-puggala (orang yang tidak cerdas) tidak dapat melihat kekotoran dari vitakka dan vicara keduaduanya ini sekaligus dalam waktu yang sama. Tatiya-Jhana. terdapat sembilan tingkat jhana. dan ekaggata membasmi kamachanda. terdapat delapan tingkat jhana. tingkatan rupa jhana ad a lima. Vikkhambhana-Pahana adalah pembasmian nivarana dengan kekuatan jhana. maka ia akan merasa gembira. karena hal ini disesuaikan menurut keadaan. 5. 3. Jhana merupakan alat pembasmi nivarana. Tetapi. sedangkan menurut Abhidhamma. Perasaan ini merupakan piti. Keadaan batinnya terdiri dari dua corak. piti membasmi byapada. Selanjutnya. vicara membasmi vicikiccha. Pancama-Jhana. yaitu dutiya-jhana membuang vitakka. Perasaan ini merupakan sukha.

Viññanancayatana-Jhana. Nevasaññanasaññayatana-Jhana. terdiri atas : 1. Untuk mencapai pathama-jhana. atau tenaga batin. Paccavekkhana-vasi. yaitu keahlian dalam menentukan berapa lama hendak berada da lam jhana.7. 2. Jika seseorang telah mencapai jhana tingkat pertama (pathama-jhana). Dutiya-Jhana. tatiya-jhana. 8. ENAM MACAM ABHIÑÑA Abhiñña berarti kemampuan atau kekuatan batin yang luar biasa. 5. maka ia harus mempunyai lima mac am vasi. 8. Tatiya-Jhana. 9. karena kedua faktor ini bersifat kasar untuk jhana kedua. LIMA MACAM VASI Vasi berarti keahlian atau kemahiran atau kemampuan untuk mengolah jhana. ialah keadaan dari konsepsi kekosongan. Akincaññayatana-Jhana. 7. yaitu keahlian dalam 'keluar' dari jhana. sukha. dan ekaggata. Catuttha-Jhana. dan mudita). dimana piti mulai lenyap. dimana vitakka dan vicara mulai leny ap. dan ekaggata. ialah jhana tingkat pertama. Faktor-faktor jhana ya ng masih ada adalah piti. karen a faktor ini masih terasa kasar untuk jhana keempat. Untuk mencapai empat arupa jhana. su kha. kemudian ia ingin mencapai jhana-jhana tingkat selanjutnya. Tingkatan jhana. Untuk mencapai pancama-jhana. ialah keadaan dari konsepsi bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan. karena pi ti ini masih terasa kasar untuk jhana ketiga. piti. Viññanancayatana-Jhana. 3. Vutthana-vasi. ialah keadaan dari konsepsi kesadaran yang tak terbatas. 6. dimana sukha mulai lenyap. Di dalam jhana keempat ini ha nya ada faktor ekaggata dan ditambah dengan upekkha (keseimbangan batin). yaitu keahlian dalam meninjauan terhadap jhana. 10. dimana nivarana telah dapat diata si dengan seksama. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah tiga appamañña (metta. ialah jhana tingkat ketiga. Nevasaññanasaññayatana-Jhana. Abhiñña akan timbul dalam diri orang yang telah mencapai jhana-jhana. yaitu keahlian dalam pemikiran untuk memasuki jhana menurut kehendaknya. dan catuttha-jhana. menurut Sutta Pitaka. 3. vicara. Samapajjana-vasi. Adhitthana-vasi. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh asubha dan satu kayagatasati. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah empat arupa. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah satu upekkha. Penjelasan : Sepuluh kasina dan satu anapanasati dapat dijasikan obyek meditasi oleh semua or ang untuk mencapai lima rupa jhana. karuna. Avajjana-vasi. 2. 5. ialah jhana tingkat keempat. Akincaññayatana-Jhana. yaitu keahlian dalam memasuki jhana. Kelima macam vasi tersebut ialah : 1. Pathama-Jhana. Untuk mencapai dutiya-jhana. ialah jhana tingkat kedua. Faktor-faktor jhana yang timbul adalah vitakka. 4. Faktor-faktor jhana yang masih ada adalah sukha dan ekaggata. dimana jhana . 9. 4. Akasanancayatana-Jhana.

sehingga dapat melihat dengan nyata bahwa nama dan rupa itu dicengkeram oleh anicca (ketidak-kekalan). vedana-khandha (kelompok perasaan). sankhara-khandha (kelompok bentuk pikiran). Dibbasotañana (telinga dewa). saññakhandha (kelompok pencerapan). pagar. Cetopariyañana atau paracittavijañana. ialah kemampuan untuk memusnahkan kekotoran batin. Kemampuan terbang di angkasa seperti burung. Empat macam satipatthana (empat macam perenungan) terdiri atas : kaya-nupassana (perenungan terhadap badan jasmani). dan anatta (tanpa aku). Pemusnahan kekotoran batin ini akan membimbing ke arah kesucian tertinggi atau arahat. ialah kemampuan memencarkan melalui konsentrasi. Sesungguhnya. Perlu diingat bahwa tujuan umat Buddha bukanlah untuk mendapatkan kegaiban dan mujijat yang aneh-aneh dan luar biasa. yaitu abhiñña yang duniawi atau lokiya dan abhiñña yang di atas duniawi atau lokuttara. Manomaya-iddhi. EMPAT MACAM SATIPATTHANA Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. Abhiñña yang di atas duniawi (lokuttara-abhiñña) hanya ada satu macam. Ini terbagi lagi atas beberapa macam. yaitu : 1. Kemampuan melawan api. ialah kemampuan mencipta dengan menggunakan pikiran. ular. atau membuat diri menjadi tak tampak. 3. yaitu : Kemampuan menembus dinding. seperti menjadi anak kecil. vedana-nupassana (perenungan . 2. atau pancakhandha (lima kelompok faktor kehidupan). Lagipula kegaiban it u bukanlah merupakan hal yang penting dalam mencari kebebasan (Nibbana). Abhiñña yang duniawi (lokiya-abhiñña) terdiri atas lima macam. Kemampuan memanjat puncak dunia sampai ke alam Brahma. dan viññana-khandha (kelompok kesadaran). Vipassana Bhavana 1. yang jauh maupun yang dekat. Ini dilakukan denga n memperhatikan gerak-gerik nama dan rupa terus menerus. Samadhivipphara-iddhi. karena perbuatan demikian itu tidak akan mempertinggi martabat mereka di mata orang lain. hal ini juga tergantung pada kusala-kamma (perbuatan baik) dari kehidupan yang lampau. dukkha (derita).tingkat keempat (catuttha-jhana) merupakan dasar untuk timbulnya abhiñña ini. taman. Ñanavipphara-iddhi. Abhiñña itu ada enam macam dan dapat dibagi atas dua kelompok besar. ialah kemampuan untuk mengubah diri dari satu menjadi banya k atau dari banyak menjadi satu. Kemampuan berjalan di atas air bagaikan berjalan di atas tanah yang padat. Mengenai obyek meditasi yang dapat menimbulkan abhiñña ialah hanya sepuluh kasina. yang disebut pancakkhandha itu adalah makhluk. yaitu : a. seperti menciptakan istana. gunung. sering disebut sebagai kekuatan gaib atau kekuatan magis atau kesaktian. Namun. 5. ialah kemampuan untuk melihat alam-alam halus dan muncul lenyapnya makhluk-makhluk yang bertumimbal lahir sesuai dengan karmanya masing-masing. dan lain-lain. Pancakkhandha (lima kelompok faktor kehidupan) terdiri atas : rupa-khandha (kelompok jasmani). obyeknya adalah nama dan rupa (batin dan materi). c. ialah kemampuan untuk mendengar suara-suara dari alam lain. Adhitthana-iddhi. Kemampuan menyentuk bulan dan matahari dengan tangannya. ialah kemampuan untuk mengingat tumimbal lahir yang lampau dari diri sendiri dan orang lain. Dibbacakkhuñana atau cutupapatañana (mata dewa). Kemampuan menyelam ke dalam bumi bagaikan menyelam ke dalam air. Pubbenivasanussatiñana. Sang Buddha tidak membenarkan siswasiswaN ya melakukan sesuatu yang ajaib dan mujijat. b. ialah kemampuan untuk membaca pikiran makhluk lain. ialah kemampuan untuk berubah bentuk. Vikubbana-iddhi. yaitu asavakkhayañana. 4. d. e. Iddhividhañana. raksasa. harimau. wanita cantik. ialah kemampuan untuk menembus ajaran melalui pengetahuan.

Dhamma-nupassana (perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran). Panjang atau pendeknya pernapasan harus disadari. ketika berbicara atau berdiam diri. Kaya nupassana adalah rupa-khandha. Direnungkan keadaan perasaan yang sebenarnya. berdiri. maupun perasaan yang acuh tak acuh. tetapi tidak dibuat-buat atau sengaja diatur. dengan menyadari timbul dan tenggelamnya bentuk kehidupan setiap saat. atau nama dan rupa itu sendir i. Di sini direnungkan perasaan yang sedang dialami secara obyektif. Salah satu contoh yang paling populer dan praktis tentang meditasi dengan obyek badan jasmani ialah anapanasati (menyadari keluar dan masuknya napas). duduk. praktis. Pikiran harus diarahkan pada kenyataan hidup pada saat ini. yang timbul tenggelam ini. atau berbaring. Perasaan harus dikendalikan oleh akal dan kebijaksanaan. agar batin menjadi bebas dan tidak terikat. Sesungguhnya. maka hal itu harus disadari. Cara meditasi lain yang penting. ketika berjalan. yaitu untuk mengembangkan jhana-jhana. ia juga sangat berguna untuk mengembangkan Pandangan Terang (Vipassana Bhavana). Apabila perasaan telah dapat diatasi dengan tepat. maka batin menjadi bebas. makan. citta-nupassana (perenungan terhadap pikiran). 4. keadaan pikira n yang sebenarnya harus diamat-amati. 3. 1. ketika buang kotoran dan kencing. dan Dhammanup assana (perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran).terhadap perasaan). Vedana-nupassana (perenungan terhadap perasaan). Kaya-nupassana (perenungan terhadap badan jasmani). Dalam anapanasa ti ini. yang dipakai sebagai suatu obyek perhatian murni. ketika berpakaian. Vedana-nupassana adalah vedana-khandha. perasaan tidak senang. direnungkan bentukb entuk pikiran dari lima macam rintangan (nivarana). dan minum. berlangsung. Dalam pernapasan. naik turunnya gelombang kehidupan y ang tidak kekal. tidak ada tekanan atau paksaan pada pernapasan. yang akan berkembang dalam latihan Vipassana itu ialah perhatian y ang tajam dan kesadaran yang kuat. Tetapi dipergunakan jalan tengah yang sederhana. agar perasaan itu tidak membangkitkan bermacam-macam bentuk emosi. Masalah-masalah yang telah lewat atau hal-hal yang akan datang tidak boleh dipikirkan pada saat ini. kesadaran terhadap pernapasan itu pada tingkat permulaan dianggap sebagai obyek untuk meditasi ketenangan (Samatha Bhavana). Empat macam satipatthana itu adalah pancakkhandha. dan berguna ialah sadar dan waspada te rhadap segala sesuatu yang dilakukan. Apabila pikiran sedang dihinggap i hawa nafsu atau terbebas daripadanya. Jadi. Di sini tidak dijalankan penyiksaan badan jasmani dengan maksud untuk mengendalikan badan. Di sini direnungkan segala gerak-gerik pikiran. baik perasaan senang. 2. Walaupun menurut kebiasaan . bagaimana ia timbul. Citta-nupassana (perenungan terhadap pikiran). tidak terikat oleh apapun di dalam dunia ini. sewaktu membungkukkan dan melencangkan badan. dapat disadari dengan mudah. Citta-nupassana adalah Viññana-khandha. Di sini direnungkan bentuk-bentuk pikiran dengan sewajarnya. b ernapas secara biasa dan wajar. Jadi. direnungkan bentuk-bentuk . Dhamma-nupassana adalah pancakkhandha. sewaktu melihat ke muka dan ke belakang. dan kemudian lenyap kembali. Betapa banyak tenaga yang terbuang dengan percuma karena melamunkan keadaan-keadaan yang telah lalu dan mengkhayalkan keadaan yang akan datang.

inilah asal mula dari penderitaan. Vipassanupakilesa ini ada sepuluh macam. Ia tahu bagaimana sekali timbul. inilah pikiran dan obyek pikiran. Obhasa. i nilah telinga dan obyek suara. direnungkan bentukb entuk pikiran dari enam landasan indriya dalam dan luar (dua belas ayatana). inilah hidung dan obyek bau. inilah bentuk pikiran. SEPULUH MACAM VIPASSANUPAKILESA Vipassanupakilesa berarti kekotoran batin atau rintangan yang menghambat perkembangan Pandangan Terang. Ia tahu bagaimana bentuk-bentuk pikira n itu datang dan timbul. inilah jal an menuju pemadaman dari penderitaan. maka hal itu harus disadari. inilah pemadaman dari penderitaan. ia hidup bebas tanpa ikatan dal am dunia ini. 2. kegiuran (piti). dan direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari Empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ariya Saccani). Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari lima macam rintangan (nivarana) iala h bahwa apabila di dalam diri orang yang bermeditasi timbul nafsu keinginan. Ia tahu bagaimana ca ranya timbul dan bagaimana caranya lenyap. inilah kesadaran. dan bagaimana cara mengembangkannya dengan sempurna. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari lima kelompok faktor kehidupan (pancakkhandha) ialah dengan menyadari bahwa inilah bentuk jasmani. Demikian pula apabila nivarana itu tidak ada di dal am dirinya. di dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. inilah pencerapan. kemalasan dan kelelahan. pemusatan pikiran (samadhi). Ia tahu bilamana keadaan-keadaan ini tid ak ada di dalam dirinya. ialah sinar-sinar yang gemerlapan. inilah lidah dan obyek kec apan. Ia tahu bagaimana caranya supaya belengg u yang telah dibuang itu tidak timbul lagi kemudian. kemau an jahat. Ia tahu bagaimana cara timbulnya. tenaga (viriya). Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari tujuh faktor Penerangan Agung (Satta Bojjhanga) ialah apabila di dalam diri orang yang bermeditasi timbul kesadaran ( sati). Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari Empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ari ya Saccani) ialah dengan menyadari berdasarkan kesunyataan bahwa inilah penderitaan . ketenangan (passadhi). yang bentuk dan keadaannya bermaca . bentuk-bentuk pikiran itu ditaklukkan. Ia tahu bahwa sekali ditaklukkan. maka hal itu harus disadari. direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari tujuh faktor Penerangan Agung (Satta Bojjhanga). inilah peras aan.pikiran dari lima kelompok faktor kehidupan (pancakkhandha). Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari enam landasan indriya dalam dan luar (dua bleas ayatana) ialah dengan menyadari bahwa inilah mata dan obyek bentuk. penyelidikan Dhamma yang mendalam (Dhamma-Vicaya). yaitu : 1. Ia tahu akan belenggu-belenggu yang timbul dalam hubungan dengan semua itu. Ia merenungkan masalah-masalah yang timbul dan hancur dari bentuk-bentuk pikiran. bentuk-bentuk pikiran itu tidak a kan timbul lagi kemudian. inilah badan dan obyek sentuhan. Akhirnya. Ia tahu bagaimana cara menaklukkan belenggu-belenggu itu. atau keseimbangan (upekkha). atau keragu-raguan . maka hal itu pun harus disadari. kegelisahan dan kekhawatiran.

8. pikiran. 3. Subha-Vipallasa. Ubbonga Piti. Atta-Vipallasa ini dapat dibasmi . atau kepalsuan. dan pandangan. Piti in i ada lima macam menurut keadaannya. atau kekeliruan yang berken aan dengan paham yang menganggap suatu kebenaran sebagai suatu kesalahan dan kesalahan sebagai suatu kebenaran. ialah kegiuran. ialah kegiuran yang kecil. yan g menganggap sesuatu yang tanpa aku sebagai aku. pikiran. 4. c. Nikanti. yaitu kekeliruan dari pencerapan. Keempat macam Vipallasa-Dhamma itu ialah : 1. ialah kegiuran yang mengangkat. Saddha. Pharana Piti. yang sering timbul dan mengganggu perkembangan kesadaran. yang suasananya meriang di se luruh badan. d. Okkantika Piti. dan pandangan. b. dimana pikiran tidak mau bergerak untuk menyadari proses-proses yang timbul 10. Atta-Vipallasa. ialah kegiuran yang sepintas lalu menggerakkan badan. ya ng menganggap sesuatu yang tidak kekal sebagai kekal. yaitu kekeliruan dari pencerapan. Sepuluh macam vipassanupakilesa ini biasanya timbul dalam perkembangan Sammasana-Ñana. 2. yaitu kekeliruan dari pencerapan. 2. ialah keyakinan yang kuat dan harapan agar setiap orang juga seperti dirinya. dan pandangan. ialah keseimbangan batin. ialah kegiuran yang menyerap seluruh badan. Passadi. yaitu ñana yang ketiga. Nicca-Vipallasa. ialah perasaan puas terhadap obyek-obyek. yang lebih daripada semestinya. yang seolah-olah orang telah mencapai penera ngan sejati. Piti. e. 9. yang seolah-olah orang telah bebas dar i penderitaan. pikiran. 6. dan pandangan. Khanika Piti. Nicca-Vipallasa ini dapat dib asmi dengan melaksanakan citta-nupassana. ya ng menganggap sesuatu yang tidak cantik sebagai cantik. yang suasananya seperti bulu badan y ang terangkat atau merinding. Upekkha. Khudaka Piti. ialah pengetahuan yang sering timbul dan mengganggu jalannya praktek meditasi. Sukha-Vipallasa. Upatthana. yaitu : a. Sukha_Vipallasa ini dapat dibasm i dengan melaksanakan vedana-nupassana. 4. 5. ialah usaha yang terlalu giat. yang suasananya seolah-olah mengangkat badan naik ke udara. ialah ketenangan batin. ialah kegiuran yang menyeluruh. yang kadang-kadang merupakan pemandangan yang menyenangkan. Vipallasa-Dhamma ini ada empat macam dan dapa t dibasmi dengan melaksanakan empat macam Satipatthana. EMPAT MACAM VIPALLASA-DHAMMA Vipallasa-Dhamma berarti kekhayalan. ya ng menganggap sesuatu yang derita sebagai bahagia. Ñana. 3. seperti ombak laut memecah di pantai. pikiran. karena tidak memperhatikan saat yang sekarang ini. Paggaha.mmacam. yaitu kekeliruan dari pencerapan. 7. Sukha. yang suasananya sel uruh badan seperti terserap oleh perasaan yang menakjubkan. 3. ialah ingatan yang tajam. yang merupakan perasaan yang nyaman dan nikmat. ialah perasaan yang berbahagia. Subha-Vipallasa ini dapat dibasmi dengan melaksanakan kaya-nupassana.

mencapai phala (hasil) dari magga itu. 1.dengan melaksanakan Dhamma-nupassana. Sammasana Ñana. dan kesad aran terhadap hal itu adalah nama. ialah pengetahuan mengenai peleburan/pelenyapan nama dan rupa. dapat dijelaskan sebagai berikut : a. b. Nama-Rupa Pariccheda Ñana. ialah pengetahuan mengenai peninjauan terhadap sisa-sisa kilesa atau kekotoran batin yang masih ada. sedangkan pikiran yang mengetahui pros es itu adalah nama. . 11. dan Nirvana sebagai obyek dari pikiran. ialah pengetahuan yang menunjukkan nama dan rupa sebagai Tilakkhana (Tiga Corak Umum). Dalam mendengar bunyi. 16. Muncitukamyata Ñana. ENAM BELAS MACAM ÑANA Ñana berarti pengetahuan. Bhaya Ñana. Dalam mencium bau. a natta (tanpa aku). 9. ialah pengetahuan mengenai perbedaan nama (batin) dan rupa (materi). ialah pengetahuan mengenai penyesuaian diri dengan Ariya-Sacca (Empat Kesunyataan Mulia).Paccavekkhana Ñana. yaitu : 1. seseorang dapat membedakan nama dari rupa dan rupa dari nama. ialah pengetahuan mengenai keinginan untuk mencapai kebebasan. bunyi itu adalah rupa. 14. yaitu anicca (ketidak-kekalan). ialah pengetahuan mengenai kesedihan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa. 4.Gotrabhu Ñana. 4. dan Nirvana sebagai obyek batinnya. sebagai persiapan untuk memasuki magga (Jalan). dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. Gerakan kaki ketika berjalan adalah rupa. 7. dengan melalui ani cca. dan anatta. Umpamanya. 5. ialah pengetahuan mengenai penglihatan akan jalan yang menuju kebebasan. c. Dalam melihat bentuk atau warna. 15.Sankharupekkha Ñana. Nama-Rupa Pariccheda Ñana Dengan memiliki ñana ini. Udayabbaya Ñana. 2. sedangkan kesadaran terhadapa hal itu adalah nama. dukkha (derita). bentuk atau warna itu adalah rupa. Nibbida Ñana. Paccaya Pariggaha Ñana. naik dan turunnya rongga perut ketika bernapas adalah rupa. 10. 13. bau itu adalah rupa.Magga Ñana.Patisankha Ñana. ialah pengetahuan mengenai pemotongan atau pemutusan keadaan duniawi. 3. Ñana itu ada enam belas macam. ialah pengetahuan mengenai ketakutan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa. ialah pengetahuan mengenai hubungan sebab dan akibat dari nama dan rupa. dan mendekati Nirvana.Anuloma Ñana. Enam belas macam ñana tersebut di atas diuraikan agak terperinci seperti di bawah ini. dukkha. 6. maka akan berkembanglah ñana di dalam dirinya. Apabila orang tekun melaksanakan Vipassana Bhavana. ialah pengetahuan mengenai timbul dan lenyapnya nama dan rupa. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. ialah pengetahuan mengenai keseimbangan tentang semua bentuk-bentuk kehidupan. ialah pengetahuan mengenai pembabaran phala yang merupakan hasil dari penembusan terhadap magga. Mengenai membedakan nama dan rupa yang berkenaan dengan panca-indera. Bhanga Ñana. 8. Adinava Ñana. ialah pengetahuan mengenai keengganan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa.Phala Ñana. yang menimbulkan keputusan untuk berlatih terus dengan bersemangat. 12. ialah pengetahuan mengenai penembusan terhadap magga. dimana kilesa atau kekotoran batin telah dilenyapkan.

maka g erak jasmani akan mengikutinya. Naik dan turunnya perut lenyap berselang-seling.d. dalam hal lain. dan bhanga (lenyap). seperti binatang liar. rasa itu adalah rupa. dan hanya terdiri atas n ama dan rupa. 3. tet api kalau dirasakan dengan tangan. Timbul perasaan tertekan. dan lain-lain. Sewaktu-waktu ada perasaan yang sangat tertekan dan kadang-kadang agak kurang. Naik turunnya rongga perut hilang. Keinginan duduk merupakan sebab. 2. Gerak naiknya perut dan gerak turunnya perut ada tiga bagian. Akhirnya . Kadang-kadang orang dapat terkejut. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. Dalam mencicipi sesuatu. Naik turunnya perut dapat lenyap seben tar atau dalam waktu yang lama. e. at au tertahan. yang hanya dapat lenyap setelah disadari beberapa kali dengan perlahan-lahan. yang memperlihatkan adanya kesadar an terhadap Tilakkhana itu. Namun. dan pikiran adala h nama. proses itu masih tetap ada. halus. Naik turunnya perut dan bekerjanya proses kesadaran itu berlangsung dengan terat ur. Akhirny a. Permulaan dan pengakhiran dari gerakan naik turunnya perut lebih terasa. Jadi. kalau rongga perut naik. yaitu upada (terja di). bergoyang ke muka atau ke belakang. dan Anatta (tanpa aku). dia. Pernapasan dapat berlangsung cepat. Anicca (ketidak-kekalan). tetapi tidak ada turun. panas. Yang ada hanya rupa dan nama. orang akan merasakan bahwa ketika pernapasan berhenti pada waktu beristirahat ya ng . atau merasa diri tidak berhasil. Rongga perut mungkin turun de ngan keras dan tinggal diam dalam keadaan itu. Rongga perut mungkin naik. seperti lampu listrik. empat. aku. dan rupa merupakan akibat. orang dapat merasakan bahwa kehidupan yang lampau. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. Sering diganggu oleh pemandangan atau khayalan. dan nama merupakan akibat. maka kesadaran akan mengikutinya. gunung-gunung. yang sekarang. rupa merupakan sebab. pelan. Pikiran menjadi kacau. dan duduk adalah akibatnya. seseorang dapat menyadari bahwa gerakan naik turunnya perut itu terdiri atas dua. thiti (berlangsung). benda itu adalah rupa. atau lunak. Jadi. Terlihat cahaya yang terang. kalau pikiran bergerak. 4. Paccaya Pariggaha Ñana Dalam beberapa hal. Tak ada sesuatu yang disebut makhluk. Jadi. yaitu. Sammasana Ñana Dengan memiliki ñana ini. kesimpulannya ialah bahwa seluruh badan ini adalah rupa. Dukkha (derita). nama merupakan sebab. Dalam menyentuh suatu benda yang dingin. lima. atau enam tingkat. Udayabbaya Ñana Dengan memiliki ñana ini. keras. tak ad a pribadi. tiga. dan lain-lainnya. Berbagai perasaan lenyap setela h disadari beberapa kali. seseorang dapat merasakan nama dan rupa melalui pancaind era sebagai Tilakkhana (Tiga Corak Umum). dan yang akan datang hanya terbentuk dari rangkaian sebab dan akibat.

badan seperti jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. dan membosankan. atau terb ang dengan pesawat terbang. dan lebih sen ang tinggal di kamar sendiri saja. Diri terasa buruk. Naik turunnya perut ter asa samar-samar. Bhaya Ñana Timbul perasaan takut. dan lain-lainnya tidak lagi merupakan kesenangan dan kegembiraan. Gerakan naik dan turun sekonyong-konyong berhenti dan sekonyong-konyong timbul lagi. citta dan ob yeknya lenyap bersama-sama. tetapi tidak seperti takut ketika melihat hantu atau seta n. Bhanga Ñana Pengakhiran dari gerak naik turunnya perut lebih terasa. seperti digigit-gigit semut. usia tua. atau nikmat. atau naik dengan lift. Terasa diri seperti ditutupi dengan jaring. Setelah nama dan rupa lenyap. kemegahan. Nama dan rupa muncul dengan cepatnya. Jadi. Kalau melihat pada langit. dan kematian. dan tidak terdapat perasaan kenikmatan yang sejati. gembira. bahkan berubah menjadi kebosanan setelah menyadari sendiri bahwa manusia itu tercengkeram dan terseret ke dalam kelapukan. Tak ada keinginan untuk bertemu atau bercakap-cakap dengan orang lain. seperti kemasyhuran. tetapi dapat juga disadari. 9. 7. Pert amatama.berulang-ulang. demikian pula kesadarannya. Kebosanan timb ul sebagai dorongan yang keras untuk mencari Nibbana. sakit. jelek. kemewahan. Semua bentuk batin dan fisik menyedih kan. 6. Terasa sakit pada urat-urat syaraf . Tidak merasa bahagia. atau seperti ada binata . Muncitukamyata Ñana Seluruh badan merasa gatal. gerakan naik turun segera lenyap. Terdapat bahaya dari perubahan-perubahan yang terus menerus di dalam semua bentu k kehidupan. Adinava Ñana Gerakan naik turun menghilang sedikit demi sedikit. terasa lenyap. tetapi kemampuan untuk mengenal atau menyadari sesuatu masih berjalan dengan baik. 8. dan kadang-kadang terasa tidak ada apa-apa. dan kelihatannya hanya samar samar dan suram. terutama pada waktu berjalan atau berdiri. bahkan para dewa dan para brahma tidak ada yang terkec uali semasih diliputi oleh bentuk-bentuk ini. sebenarnya tidak mempunyai intisari. Terasa panas seluruh badan. Orang merasa bahwa keinginan-keinginan atau cita-citanya yang dahulu. tetapi sebenarnya badan masih tet ap diam dan tak bergerak. Nama dan rupa yang dianggap sebagai sesuatu yang bagus atau indah. tidak ada lagi yang menimbulkan rasa takut. rupa (materi/jasmani) yang mengendap. Terasa seperti malas. Semua manusia dan makhluk lain. tetapi citta masih bergema. Gerakan naik turun dan kesadaran/pikiran (citta) terasa seolah-olah lenyap. seolah-olah ada getaran-getaran di uda ra. dan kosong sama sekali. Nibbida Ñana Semua obyek kelihatan membosankan dan jelek. 5. senang. Semua bagian dari benda-benda ini menakutkan. dan remang-remang. sangat kabur. Kemudian. di mana masih ada kelahiran. Segala s esuatu kelihatannya seolah-olah dalam suasana yang penuh kesuraman.

Badan terasa seperti ditindih batu atau kayu. sepe rti sebuah mobil yang berjalan di atas jalan yang datar dan rata. Terasa kurang senang. Naik turunnya perut hanya disadari sebagai nama dan rupa saja.ng kecil yang merayap pada muka dan badan. menyadari sikap dudu k atau sentuhan-sentuhan badannya dengan jelas. atau kesadaran tidak mengalami kesukaran-kesukaran. maka hal itu aka n terhalang. Kalau ia berlatih menyadari na ik turunnya perut. gelisah dan bosan. Orang mungkin dapat lupa dengan waktu yang telah dilewatinya dalam latihan itu. sepe rti adonan tepung yang diremas-remas oleh tukang roti yang pandai. Proses berhenti ini harus disadari dengan nyata. tetapi setelah disadari dua atau tiga kali. Muncul perasaan tak senang. anatta) sebagai berikut : a. maka terjadilah proses berhenti. Keadaan pernapasan yang cepat itu adala h corak anicca. Ada perasaan puas dan mungkin lupa dengan waktu.Konsentr asi pikiran berjalan baik. padahal mulanya ia ingin bermeditasi hanya 30 menit saja. tetapi janganlah hendaknya ragu-ragu atau dipikir-pikirka n. 12. Terasa mengantuk. Anicca : orang yang biasa melatih diri dalam kebersihan atau kesucian dan sil a-sila akan mencapai magga melalui perenungan tentang anicca. semua itu menjadi lenyap. b. Timbul bermacam-macam perasaan yang mengganggu. Gerakan naik turun perut menjadi cepat. tidak ada perasaan senang.Anuloma Ñana Di sini Anuloma Ñana diuraikan dalam bentuk Tilakkhana (anicca. pengenalan. Ada pula yang ingin pulang karena merasa bahwa paramitanya atau perbuatan-perbuatan baiknya belum cukup kua t. Dapat dikatakan bahwa penyadaran dan pengenalan di dalam nama ini berlangsung dengan mudah dan memuaskan. sikap duduk . tetapi sekonyong-konyong berhenti. dukkha. dan pengenalan atau kesadaran terhadap proses berhentinya pernapas an ini adalah anuloma-ñana.Patisankha Ñana Terasa ditusuk-tusuk di bawah kulit dengan benda-benda tajam di seluruh badan. Seluruh badan terasa panas. Badan menjadi kaku. 11.Sankharupekkha Ñana Tidak ada perasaan takut. Ingatan. Dukkha : Orang yang biasa melatih diri dalam Samatha (meditasi ketenangan) ak an mencapai magga melalui perenungan tentang dukkha. tetapi agak seperti acuh ta k acuh. tetap tenang dan halus dalam jangka waktu yang lama. tetapi pikiran dan kesadaran pada saat itu tetap te rang. atau sentuhan-sentuhan pada badan. Kalau ia terus melanjutkan menyadari naik turunnya perut. Keadaan pernapasa n . sikap duduk. Samadhi atau konsentrasi menjadi kuat dan lekat. 10. Ada keinginan pergi dan menghentikan latihan meditasinya. atau sentuhan-sentuhan pada badan. Mungkin ia telah duduk selama satu jam atau lebih . tetap i pikiran masih aktif dan pendengaran masih bekerja. Tidak ada perasaa n gembira atau perasaan sedih. Ia menyadari atau mengetahui dengan terang tentang gerakan naik turun itu yang berhenti.

Jadi.yang terhalang itu adalah corak dari dukkha. dua atau tiga saat. yang muncul langsung setelah timbulnya maggañana . Ñana ini bersifat lokuttara. Sasanadhaja-siri-pavara-dhammacariya. __________________ PURPOSE OF PRACTISING KAMATTHANA MEDITATION (Perbedaan Antara Samatha & Vipassana) Penulis Asli : Mahasi Sayadaw Bhadanta Sobhana. yang berarti kita masih memiliki kilesa. yang berarti bahwa Dhamma tertentu telah kita capai untuk menuju ke Nibbana sebagai obyek pikiran. Pertimbangan mengenai magga. dan kemudian ber henti. akan mencapai magga melalui perenungan tentang anatta. e. dan pengenalan atau kesadaran yang terang terhadap proses berhentin ya gerakan naik turun ini. c. atau sikap duduk. Gerak naik turunnya perut. 15. Agga-mahapandita. Dalam hal ini terdapat lima macam pertimbangan sebagai berikut : a. Silabbataparamasa (ketahyulan tentang upacara). Jadi. jangka waktu dari gerakan naik dan gerakan turun sama. atau senang dengan Vipassana dalam kehidupannya yang dulu-dulu. Pertimbangan mengenai kilesa yang telah dihancurkan. atau terhadap sikap duduk. aman. kalau pencerapan mulai pecah d an lenyap. Keadaan pernapasan yang halus dan teratur itu adalah co rak dari anatta. d.Phala Ñana Phala-ñana adalah hasil dari magga. yang menjadi obyek phala-citta adalah nibbana. Chattha-sangiti-pucchaka. seperti Sakayaditthi (kekhayalan dari aku). dan pengenalan atau kesadaran terha dap proses berhentinya gerakan naik turun ini. Gotrabhu Ñana Nama-rupa bersama-sama dengan citta (pikiran) yang mengetahui proses berhenti it u menjadi diam.Paccavekkhana Ñana Paccavekkhana-Ñana terdiri atas pertimbangan-pertimbangan mengenai masih adanya kilesa (kekotoran batin). Ini berarti bahwa orang telah mendapat penerangan dengan nibbana sebagai obyeknya. Pertimbangan mengenai phala. Vicikiccha (keragu-raguan). atau sentuhan-sentuhan pada b adan itu adalah anuloma-ñana. Pertimbangan mengenai nibbana. tenang. naik turunnya perut menjadi tenan g dan teratur. jika orang melaksanakan Vipassana Bhavana. b. atau sentu hansentuhan pada badan itu adalah anuloma-ñana. Anatta : Orang yang biasa melatih diri dalam Vipassana (meditasi pandangan te rang). . 14. yang berarti bahwa kita telah tiba pada magga in i.Magga Ñana Magga timbul langsung pada saat perasaann pecah dan pencerapan kilesa hancur aki bat dari putusnya belenggu-belenggu. maka gotrabhu-ñana tercapai. Dalam beberapa saat. yang berarti kita telah menghancurkan semua kilesa. atau sentuhan-sentuhan pada badan kelihatan dengan terang. 13. 16. Pertimbangan mengenai kilesa yang belum dihancurkan. c. yang berarti bahwa kita telah mencapai phala ata u hasil ini. atau terhadap sikap duduk. dan damai. Demikian proses tersebut dapat timbul di dalam diri seseorang dan dapat disadari dengan seksama.

Kelahiran yang baru hanyalah munculnya sebuah kesadaran yang merupakan hasi l dari kemelekatan terhadap objek dari kehidupan sebelumnya. oleh karena itu setiap usaha ha rus ditujukan untuk terbebas dari kemelekatan apabila tidak menginginkan kelahiran y ang baru. Kemudian. sakit. sakit. Di dalam cara seperti ini. di sana mengikuti rangkaian : usia tua. Apabila ia mulai mengetahui kenyataan-kenyataan secara penuh. Lagi-lagi. Tumimbal lahir terjadi dikarenakan kemelekatan yang terkandung di dalam kehidupa n ini. TUJUAN UTAMA MEDITASI AJARAN BUDDHA Apakah tujuan melaksanakan latihan meditasi? Latihan meditasi dilaksanakan untuk tujuan terbebas dari penderitaan kehidupan u sia tua. daerahnya tidak la gi . mirip kasus seseorang yang hidup di daerah yang gersang dan menyedihkan yang dikelilingi oleh banyak bahaya. Yang telah merealisasi pencerahan secara mandiri PURPOSE OF PRACTISING KAMATTHAANA MEDITATION (Perbedaan Antara Samattha & Vipassana) I. baik penderitaan fisik dan kelu han mental/batin. dan penderitaan lainnya. mati. mati dan seterusnya. diikuti oleh kematian. Oleh karena itu. Dan. menderita semua jenis derita kehidupan dan tanpa henti. namun mereka selalu sia-sia menemukan harapannya itu. Semua makhluk hidup ingin hidup berumur panjang tanpa kekerasan. Apabila tidak terdapa t kemelekatan. mati. dan pende ritaan kehidupan lainnnya. gembira. Selama masih di dalam roda kehidupan. dan penderitaan kehidupan lain nya. mer eka berkelana di dalam lingkaran tumimbal lahir dari kehidupan ke kehidupan lain. merealisasi Nibbana. Di dalam mencari sebab u tama (akar) dari peristiwa itu menjadi tampak nyata bahwa dikondisikan oleh kelahiran .Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa Penuh hormat kepada Bhagava. maka tidak akan ada kelahiran baru. Di dalam kehidupan baru ini mereka pun menjadi korban usia tua. itupun tidak berakhir di dalam kematian. sakit. Sebagai contoh. Kemelekatan terhadap kehidupan ini tidak berlangsung karena dua alasan : pertama karena tidak mengerti ketidakpuasan/penderitaan batin dan jasmani. sakit. hidup dengan damai. sangatlah penting untuk mencegah tumimbal lahir yang berkelanju tan apabila ingin terbebas dari penderitaan kehidupan di dalam usia tua dan sebagain ya. dan sejahtera tanpa penderitaan usia tua. Secara alamiah ia berpikir meluhurkan desanya itu dan memiliki kemelekatan yang kuat terhadapnya karena ia tidak memiliki pengetahuan yang jelas akan kekurangan daerahnya dan kondisi yang lebih baik dari tempat lainnya. Yang Suci Mulia. dan kedua kar ena tidak merealisasi bahwa Nibbana jauh lebih luhur bila dibandingkan dengan jenis kebahagiaan lainnya. terdapat kelahiran dika renakan kemelekatan untuk menjadi (berwujud). kesedihan dan ratapan dikarenakan banyak bahaya dan kejahatan. masih selalu dijumpai usia tua. setelah menderita rasa yang amat sangat dan penderitaan yang amat berat.

Kekuatan untuk menembus dinding atau gunung tanpa rintangan. Kekuatan untuk menyentuh matahari dan bulan dengan menggunakan tangan. PEMBAGIAN MEDITASI AJARAN BUDDHA Meditasi dibagi menjadi dua bagian : 1. II. Vipassana-kammatthana dibagi menjadi dua sub bagian. kematian dan seterusnya.. kekuatan untuk mendengarkan suara baik suara manusia maupun makhluk surgawi. Empat puluh pokok/subjek meditasi itu adalah : .. seseorang yang secara langsung melatih vipassana kammatthana untuk merealisasi Nibbana. Kekuatan untuk berjalan di atas air tanpa tenggelam. seolah seperti ke/ dari dalam air. seolah d i udara.. Demikian pul a. seolah seperti berja lan di atas tanah.. Melalui latihan Vipassana-kammatthana seseorang dapat merealisasi Nibbana dan memenangkan kebebasan mutlak dari penderitaan kehidupan.. sesuai kasus per kasus. * Ceto-pariya-abhinna . beberapa di antaran ya dapat digunakan sebagai latihan dasar samatha untuk melaksanakan latihan vipassa na. * Pubbe-nivassa-abhinna . sangatlah penting untuk mencoba mengerti kondisi tak memuaskan dari batin dan jasmani yang menguasai kehidupan ini dan secara mandiri merealisasi superioritas Nibbana dengan sebuah pandangan untuk menghancurkan secara total kemelekatan terhadap kehidupan. seseorang yang mengambil dasar permulaan latihan samatha kammatthana untuk merealisasi Nibbana. Mata dewa. yaitu : Samattha-yanika. setiap orang yang menginginkan untuk terbebas dari pende ritaan akibat usia tua.. Kematian seseorang y ang mamiliki jhana secara utuh akan menyebabkan tumimbal lahir di alam para Brahma yang jangka waktu kehidupannya sangat panjang. Vipassana kammatthana 1.. 2. EMPAT PULUH POKOK/SUBJEK MEDITASI Di dalam naskah. Latihan samattha-kammatthana akan mengembangkan faktor batin atas delapan pencapaian duniawi (lokiya-samapatti) yang terdiri dari 4 jenis rupa-jhana dan 4 arupajhana. bisa satu usia dunia atau dua kal i atau empat kali atau delapan kali usia dunia dan seterusnya. tanpa melalui awal samatha kammatthana. * Dibba-cakkhu-abhinna .. kematian dan sebagainya dan merealisasi Nibbana secara mandiri seyogyanya melaksanakan latihan meditasi.. Kekuatan untuk mengetahui pikiran orang lain. Samatha kammatthana 2. __________________ III. kekuatan dari satu menjadi banyak dan dari banyak men jadi satu lagi.. seolah seperti burung yang memiliki sayap.. Latihan yang berulangkali atas kondisi di dalam jhana ini akan membawa lima kemahiran batin duniawi luar biasa (abhinna 5) sebagai berikut : * Iddhi-vidha-abhinna . Oleh karena itu..menarik baginya dan ia akan serta merta pindah ke daerah yang baru. Kekuatan untuk memasuki/ menyelam ke dalam tanah dan muncul lagi di permukaan tanah. Kekuatan untuk mengetahui kejadian kehidupan lampau seseorang. Pengetahuan ini dapat diperoleh melalui latihan meditasi yan g tepat. Memiliki atribut-atribut ini tetap tidak akan menjamin/membawa ke kebebasan dari ketidakpuasan kehidupan. usia tua.. Kekuatan untuk terbang denga n kaki bersila ke angkasa. baik besar maupun kecil. kekuatan untuk melihat semua bentuk bentu k dan warna yang jauh maupun dekat. Suddha-vipassana-yanika.. Telinga dewa.. jauh maupun dekat. * Dibba-sota-abhinna . terdapat empat puluh pokok/subjek meditasi.

kemauan belajar dan mendengark an Dhamma (suta). Sebuah Mayat membengkak (Uddhumataka) 3. Kasina warna biru gelap (Nila) 6. Keseimbangan batin sempurna (upekkha) . batin yang lapang. Kasina warna merah darah (Lohita) 8. seperti : ra mbut.. Perenungan terhadap kaluar dan masuknya nafas (Anapanasati) Empat Brahma Vihara terdiri dari : 1. 1 Ahare-patikula-sanna (perenungan atas makanan yang menjijikan) 7. 4 arupa (tahapan arupa jhana) 6.. Berdiam dengan batin yang dipenuhi oleh cinta kasih universal yang diarahk an ke arah pertama. Sebuah mayat membiru (Vinilaka) 2. Sebuah mayat yang terinfeksi cacing/belatung (Puluvaka) 10. tanpa batas. Kasina warna putih (Odata) 9. Kasina cahaya (Aloka) 10. berkembang. Sebuah mayat yang terserak hancur (Hatavikkhittaka) 7. Sebuah Mayat terinfeksi/bernanah (Vipubbaka) 4. Kasina warna kuning (Pita) 7. dan ke sekeliling dan ke segala penjur u kepada semua makhluk. demikan pula. 10 anussati (perenungan) 4. kulit. Kemudian ke arah ketiga.. 4 Brahma vihara (sikap batin luhur) 5. bulu tubuh. Simpati atas keberhasilan / pencapaian makhluk lain (mudita) 4. 10. yaitu keyakinan teguh (saddha). 10 asubha (ketidakmurnian) 3. seperti terhadap dirinya. ke bawah. kemoralan (sila). Ia memancarkan ke segenap dunia dengan batin dipenuhi oleh cinta kasih universal. Cinta kasih yang universal terhadap semua makhluk (metta) 2. kuku. Sebuah mayat yang telah digigit binatang buas (Vikkhayittaka) 6. dan seterusnya. Perenungan terhadap kemoralan seseorang (Silanussati) 5. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Sangha (Sanghanussati) 4. kemurah-hatian (cage) dan kebijaksanaan (panna) 7. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Buddha (Buddhanusati) 2. Perenungan terhadap kemurah-hatian seseorang (Caganussati) 6. Perenungan terhadap Nibbana (Upasamanussati) 8. Perenungan akan kepastian kematian (Marananussati) 9. ke atas. Kasina tanah (Pathavi) 2. Sebuah mayat yang terpotong-potong dan berserakan (Vikkhittaka) 8. Perenungan terhadap kualitas untuk tumimbal lahir sebagai dewa (Devatanussati ). dengan batin yang dipenuhi oleh . Sebuah mayat yang berdarah (Lohitaka) 9. Kasina ruang terbatas (Akasa) Sepuluh Asubha terdiri dari : 1. gigi. Kasina api (Tejo) 4.. 10 kasina (alat permenungan) 2. Sebuah tengkorak (Atthika) Sepuluh Anussati terdiri dari : 1. terbebas dari kebencian dan niat jahat . Kasina udara (Vayo) 5.1. Belas kasih terhadap makhluk menderita (karuna) 3. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Dhamma (Dhammanussati) 3. Kasina air (Apo) 3. kemudian ke arah kedua. Perenungan atas 32 (tiga puluh dua) bagian tubuh (Kayagatasati). 1 Catu-dhatu-vavatthana (analisis empat unsur) Sepuluh kasina terdiri dari : 1. Sebuah Mayat terbelah dua (Vicchiddaka) 5. Kemudian ke arah keempat.

Tejo-dhatu (unsur api atau unsur panas). yaitu : 1. dara h. Umpamanya : rambut kepala. ialah segala sesuatu yang bersifat bergerak. Pathavi Kasina Kammattha dan pencapaian Jhana Seseorang yang mengambil subjek meditasi dengan memilih Kasina tanah (Pathavikas ina) untuk permenungannya.. Empat Arupa. Pathavi-dhatu (unsur tanah atau unsur padat).belas kasihan. berjalan.. 1 catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan jasmani) Dalam satu catudhatuvavatthana.. oleh sikap simpati terhadap pencapaian/keberhasilan mahluk lain. Vayo-dhatu (unsur angin atau unsur gerak). gigi.. Berdiam dalam permenungan atas kondisi ruangan yang tanpa batas (Akasanancayatana) 2. dikunyah. ia dapat pergi ke mana pun dan mengambil posisi apa saja. pathavi. pathavi atau tanah. diminum. pathavi atau tanah . ialah segala sesuatu yang bersifat p anas dingin. . dan lain-lain. direnungkan bahwa di dalam badan jasmani terdapa t empat unsur materi. DESKRIPSI SINGKAT LATIHAN SAMATHA-KAMMATTHANA 1. bulu badan. direnungkan bahwa makanan adalah barang yang menjijikkan bila telah berada di dalam perut. ialah segala sesuatu yang bersifat ber hubungan yang satu dengan yang lain atau melekat. nanah. ialah segala sesuatu yang bersi fat keras atau padat. Penampilan gambaran batin ini disebut Uggaha-nimitta (bayangan yang diperoleh). dicicipi. Segera setelah bayangan (nimitta) ini menjadi kuat dan stabil di dalam batin. direnungkan bahwa apapun yang tela h dimakan. semuanya akan berakhir sebagai kotoran (ti nja) dan air seni (urine). 2. 3. Berdiam dalam permenungan atas alam kesadaran yang tak terbatas (Vinnanancayatana) 3. Ia seyogyanya kemudian melanjutkan untuk merenungkan Uggahanimit ta itu dengan mengatakan dalam batin pathavi. Apo-dhatu (unsur air atau unsur cair). Berdiam dalam permenungan atas alam kekosongan (Akincannayatana) 4. tanah . Setelah merenungkan berulang kali untuk sejumlah waktu tertentu. bad an akan terasa panas dingin. terdiri dari : 1. Sutta Pitaka). Seyogyanya memperhatikan sebongkah tanah di atas tanah atau alat berupa segumpal tanah yang merenungkannya dengan mengatakan di dalam batin: pathavi. (Jivaka Sutta. dan lain-lain IV.. angin yang keluar masuk waktu bernapas. be rdiri atau berbaring. gambaran alat-tanah yan g kuat dan jelas akan muncul di dalam batin seolah-olah dilihat langsung oleh inde ra penglihatan (mata). Berdiam dalam permenungan atas kondisi alam bukan pencerapan juga bukan pencerapan (Nevasannanasannayaatana) 1 aharapatikulasañña (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) Dalam satu aharapatikulasañña. pathavi. lendir. dan oleh keseimbangan yang sempurna . tanah . 4. Majjhima Nikaya. Umpamanya : angin yang ada di dalam perut dan usus. baik posisi duduk. atau bila sedang sakit. dan lain-lain. Umpamanya : empedu. Umpamanya : setelah selesai makan dan minum. kuku.

(c) Jhana ketiga.tanah. Ini adal ah Kamacchanda-nivarana (rintangan batin keinginan nafsu indera). tanah. Batin sering tidak stabil namun gelisah. berdiri. pathavi atau tanah. Apabila batin kehilangan ugghana-nimitta sebagai objek. pathavi. Ini adalah Uddhaca-kukkucca-nivarana (rintangan batin kegelisahan dan kekhawatiran). Kemudian ia seyogyanya kembali ke tempat yang sama dan melanjutkan dengan permenungan di dalam berbagai posisi tubuh. berbaring maupun berjalan. objek tersebut akan 'terlihat' jelas dan mirip penampilan kristal tidak seperti penampakan awalnya. tanah . Kelima rintangan (nivarana) ini seyogyanya dipotong segera setelah mereka muncul dan batin seyogyanya kembali mengambil objek ugghana-nimitta misalnya dengan merenungkan sebagai: pathavi. dengan secara berkesinambungan batin berada dalam Upacara-samadhi dengan objeknya Patibhaga-nimitta. Kini. Ini adalah Vicikiccha-nivaran a (rintangan batin keraguan skeptis). a) Di dalam jhana pertama lima faktor batin yang hadir secara nyata adalah: * Faktor batin yang berfungsi dalam penerapan/ perenungan awal/ pengarahan terha dap objek (vitakka) * Faktor batin yang berfungsi dalam penerapan penambatan terhadap objek (vicara) * Faktor batin yang berfungsi dalam menimbulkan suka cita/ kegiuran (piti) * Faktor batin yang berfungsi dalam menimbulkan kegembiraan (sukkha) * Faktor batin yang berfungsi dalam konsentrasi terfokus kuat terhadap objek (ekaggata) b) Seseorang yang telah mencapai tahap Jhana pertama dan ahli. (b) Jhana kedua. 4. melihat ketidakpu asan di dalam dua faktor batin pertama di atas. 3. Tahap ketetapan dan kestabilan batin ini dikenal sebagai 'Appana-samadhi' (konse ntrasi pencapaian). Terdapat kekenduran di dalam permenungan dan batin sering bosan dan kabur. dan batin sering khawatir dalam merenungkan dalam merenungkan perbuatan buruk melalui ucapan dan tindak-tanduk jasmani yang telah lampau. Terdapat empat jenis Appana-samadhi untuk rupa jhana. Ini disebut 'Patibhag animitta' (bayangan keseimbangan). melanjutkan lagi melakukan perenungan untuk mengatasi kedua faktor batin tadi. yaitu vitakka dan vicara. Batin sering memikirkan apakah permenungan yang sedang dilakukan ini adalah sebuah metode yang benar. tanah . tanah seperti yang dilakukan pada permulaan latihan. 2. maka ia seyogyanya kembali ke te mpat asal alat-tanah itu dan melakukan perenungan lagi: pathavi. Batin sering bercokol pada pikiran-pikiran sedih dan marah. Apakah ada kesempatan untuk meraih hasil yang baik. pathavi. Apakah metode ini dapat membawa hasil yang bermanfaat. Dengan melakukan permenungan demikian terhadap objek uggaha-nimitta secara berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama. yaitu: (a) Jhana pertama. batin mencapai satu keadaan seolah tenggelam ke dalam objek dan berdiam secara menetap di dalamnya. pathavi atau tanah. In i adalah Thina-middha-nivarana (rintangan batin kemalasan dan kelambanan batin). (d) Jhana keempat . dan berhasil menca pai . tanah. 5. Batin sering berfikir akan objek-objek yang diinginkan nafsu indera. Ini adalah Vyapad anivarana (rintangan batin keinginan jahat / niat buruk). Selama waktu permenungan ini dapat terjadi bahwa batin tidak tetap terfokus pada objeknya namun sering kali mengembara/ melayang-layang mengalami objek lainnya dalam hal-hal sebagai berikut : 1. Kondisi batin seperti ini dikenal dengan 'Upacarasamadh i' (konsentrasi berdekatan). baik duduk.

d) Dengan melihat ketidakpuasan yang terdapat di dalam sukha ia melanjutkan dengan perenungan untuk mengatasi faktor batin sukha tersebut dan berhasil mencapai tah ap jhana keempat yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada dua. sukha. juga akan mencapai tingkat jhana keempat dengan melaksanakan perenungan brahma vihara keempat. mayat membiru'.tahap jhana kedua. dan ekaggata. Perenungan terhadap 32 bagian tubuh. masuk pada setiap aktivitas nafas masuk dan nafas keluar. namun seseorang yang telah melakukan meditasi melal ui perenungan satu dari tiga brahma vihara ini yang telah mencapai tingkat jhana ke tiga. yaitu sukha dan ekaggata. makanan yang menjijikan (aharepatikkula-sanna). mayat membengkak. Tiga dari empat Brahma vihara. c) Dengan melihat ketidakpuasan yang terdapat di dalam piti ia melanjutkan dengan perenungannya untuk mengatasi piti dan berhasil mencapai tahap jhana ketiga yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada dua. dan seterusnya. yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada tiga. dan seterusnya. baik perjalanan nafas masuk maupun perjalanan nafas keluar. atau mayat membiru. akan terdapat banyak rintangan di mana batin akan mengembara/ melayang-layang. Ia kemudia n akan mengetahui secara jelas sensasi sentuhan di ujung hidung atau di sisi sebel ah atas bibir. Mereka yang telah mencapai tingkat jhana keempat melalui permenungan kasina. Di dalam hal seseorang yang memilih salah satu pokok meditasinya Asubha sebagai subjek konsentrasinya. Perbedaan yang ada adalah bahwa perenugan sub jek Asubha hanya akan mengantarkan untuk pencapaian tingkat Jhana pertama. Anapana-sati Kammatthana Seseorang yang memilih Anapanasati sebagai subjek perenungan seyogyanya tinggal di tempat yang sunyi dan duduk dengan kaki bersila atau di dalam cara yang nyaman sehingga dapat duduk di dalam jangka waktu yang cukup lama.' 'mayat membiru. Hal yang sama dapat dilakukan untuk kasina yang lain. dan analisa empat unsur (catu-dh atuvavatthana) akan membawa hanya sampai tahap upacara-samadhi. 2. yaitu upekkha. namun seyogyanya tetap pa da titik sentuhan tadi. yaitu metta. dan kemudian menetapkan perhatiannya pada celah/lubang hidung. dengan badan yang tegak. yang disebabkan oleh kontak berkesinambungan dari aliran nafas masuk dan keluar. karuna dan mudita akan membawa sampa i dengan tingkat Jhana ketiga. dan merenungkan dengan mengatakan di dalam batin 'mayat membengkak. yaitu piti. yaitu upekkha (keseimbangan) dan ekaggata. Batin seyogyanya tidak pergi bersama aliran itu. Selama di dalam perenungan. Ia seyogyanya kemudian melaksanakan perenungan di dalam cara yang sama seperti kasus pathavi-kasina. keluar. Aliran ini seyogyanya diamati pada titik sentuhannya dan direnungkan den gan mengatakan dalam batin: keluar. ia seyogyanya melihat ke arah seonggok mayat membengkak. aka n mencapai tingkat-tingkat 4 Arupa Jhana dengan merenungkan empat Arupa secara berurutan. Rintangan ini seyogyanya tidak diikuti lebih lanjut . Inilah diskripsi singkat cara untuk merenungkan Pathavi kasina dan pengembangan bertahap keempat tingkat jhana. masuk. (Kayagata-sati) juga hanya akan mengantarka n untuk pencapaian tingkat Jhana pertama. Delapan perenungan yang terdiri dari Buddhanussati sampai dengan marananussati.

Berikut ini ada lah yang dinyatakan di dalam kitab Visuddhi-magga (Jalan Kesucian/ Kemurnian batin). Namun demikian. maka aliran nafas itu akan tergambar/terbayangkan dalam bentuk atau ukuran khusus. bagi yang lainnya dengan sebuah sentuhan kas ar seperti dari kain sutera. 2.. Mereka yang berhasrat untuk melatih vipassana seyogyanya pertama-tama dibekali dengan seperangkat pengetahuan. Dinyatakan bahwa keragaman bentuk atau objek bayangan itu disebabkan oleh perbedaan (sanna) individu yang mengalaminya. Dengan cara berkesinambungan mengamati titik sentuhan dan melaksanakan perenungan: 1. Dengan secar a berkesinambungan merenungkan dibantu oleh Upacara-samadhi maka tingkat appanasam adhi dari tahapan 4 Rupa Jhana akan berkembang. Inilah deskripsi singkat LATIHAN PERMULAAN samatha yang dilakukan oleh seorang 'samatha-yanika' yang memilih 'samatha-kammatthana'. keluar. pertenga han dan akhirnya menjadi jelas teramati dari titik sentuhan ujung hidung hingga ke t empat nafas itu meninggalkan hidung. Konsentrasi (samadhi) yang kemudian dikembangkan dengan 'Patibhaga-nimitta' sebagai objeknya. maka nafas tersebut akan tampak seolah nafas tersebut padam total. Untuk orang tertentu. Sejalan dengan nafas masuk dan keluar menjadi lebih halus dan lebih halus lagi. sedangkan bagi yang lainnya mirip sebuah sarang laba-laba atau sebuah lapisan aw an atau sekuntum bunga teratai atau sebuah roda kereta atau sebuah piringan bulan a tau matahari. keluar sesuai aktivitas nafas masuk dan nafas keluar . Dengan terus-menerus merenungkan nafas masuk dan nafas keluar. Nafas masuk dan nafas keluar yang pendek menjadi jelas teramati ketika mereka pendek. namun perhatian seyogyanya dikembalikan ke titik sentuh dan merenungkan kembali sebagai masuk. baik secara singkat maupun mendalam. Di dalam kasus seperti ini. disebut Upacara-samadhi . atau sebuah tonggak terbuat dari hati kayu. Setiap rangkaian nafas masuk dan nafas keluar yang lembut pada awal. 3. masuk. apabila batin dengan penuh perhatian kembali tetap mengamati titik sen tuhan pada ujung hidung atau sisi bibir sebelah atas maka aliran nafas masuk dan kelua r yang halus akan tampak lagi dan akan tercerap dengan sangat jelas. Bentuk objek yang khusus ini adalah Patibhaga Nimitta . nafas masuk dan nafas keluar 'tampak' seperti sebuah binta ng atau sebuah permata atau sebuah berlian. bagi yang lainnya mirip benang panjang terurai atau sekuntum bunga atau segumpal asap rokok. . Nafas masuk dan nafas keluar yang panjang menjadi jelas teramati ketika merek a panjang. dan 4. umumnya waktu terbuang untuk mencari objek nafas masuk dan nafas ke luar dengan mencoba meneliti penyebab padamnya nafas dan akhirnya tetap sia-sia tanpa melaksanakan perenungan. sebagai dasar untuk merealisasi Nibbana. janganlah membuang waktu dengan cara demikian. namun cukup . Perubahan bertahap dari nafas masuk dan keluar yang kuat ke nafas masuk dan k eluar yang lebih halus menjadi jelas teramati.

terhadap kenyataan bahwa makhluk hidup terdiri dari dua komponen. Fenomenafenomena ini seyogyanya secara berkesinambungan direnungkan pada setiap saat kemunculannya. Phala dan Nibbana. dan seterusnya sebagaimana mereka muncul dengan jelas pada salah satu dari enam pintu indera. Dengan pengetahuan cukup seperti yang disebutkan di atas. dan bahwa jasmani dan batin berada dalam proses perubahan yang terusmene rus. DISKRIPSI SINGKAT LATIHAN VIPASSANA 1. adalah diskripsi singkat latihan dengan cara suddha-vipassana-yanik a . dengan badan tegak. Ia seyogyanya kemudian melanjutkan dengan merenungkan secara berkesinambungan sensasi-sensasi. Apabila keadaan jhana telah berlalu ia seyogyanya kemudian segera merenungkan keadaan jhana tadi dan kemudian dilanjutkan dengan merenungkan secara berkesinambungan sensasi-sensasi indera sebagaimana mereka muncul pada saat sala h satu dari enam pintu indera. dan yang secara jelas muncul di dalam tubuhnya. seperti melihat. Apabila vipassana-samadhi telah cukup kuat. oleh karena itu jasmani dan batin tidak kekal. muncul dan padam pada setiap saat perenungan. tanpa kualitas atau keberadaan yang menyenangkan. mengecap rasa. dan bahwa mereka semata-mata merupakan proses muncul dan padam dari segala sesuatu yang tidak mengandung 'atta' (jiwa atau keberadaan kekal). Dengan perkembangan penuh dari pengetahuan langsung ata annica. Prosedur bergantian dari memasuki keadaan jhana dan kemudian dilanjutkan dengan perenungan sensasi indera pada enam pintu indera seyogyanya dilakukan dengan berulang kali. seseorang yang berhasr at untuk latihan vipassana seyogyanya menetap di tempat sunyi dan duduk dengan kaki bersila atau dalam cara yang nyaman sehingga ia dapat duduk dalam waktu yang cuk up lama. dimengerti bahwa jasmani dan batin terbukti dengan jelas tidak kekal . Suddhavipassana-yanika Di bawah ini. Upadanakkhandha adalah semua yang secara jelas dicerap pada saat melihat. Apabila ia merasa lelah atau bosan dengan melaksanakan terusm enerus perenungan akan beragam objek (pakinnakasankhara) ia seyogyanya memasuki jhana lagi dengan menetapkan tekad yang kuat bahwa jhana tersebut akan berlangsung selama 15 atau 30 menit. 2. mencium bau. Juga dapat dicerap bahwa objek dan batin yang secara langsung mengetahui objek tersebut. Inilah deskripsi singkat latihan dengan cara samatha-yanika untuk tujuan merealisa si Nibbana. yaitu jasmani (rupa) dan batin (nama). __________________ V. . bahwa jasmani dan batin terbentuk dikarenakan sebab dan akibat. Oleh karena itu. Samatha-yanika Seseorang yang telah cukup pengetahuannya seperti disebutkan di atas seyogyanya pertama-tama berada di dalam jhana yang telah dicapainya dan kemudian merenungkannya. dukkha. dan kemudian merenungkan dengan memusatkan perhatiannya terhadap fenomena jasmani dan batin yang diketahui sebagai upadanakkhandha . ia akan dapat melaksanakan perenungan berkesinambungan siang dan malam tanpa merasa terhambat. bahwa mereka tidak memuaskan. mendengar. tidak memuaskan dan tidak mengandung kepemilikan/keakuan/ atta . mengeta hui sentuhan. Pada tingkat ini dapat dicerap dengan sangat jelas sebagai satu keteraturan pada setiap saat perenungan bahwa jasmani dan batin merupakan dua hal yang berbeda yang bekerja sama. anatta terealisasilah pengetahuan bijaksana akan Magga.

Di dalam vipassana. mengetahui objek batin melalui indera pikiran. mereka menganggap bahwa fenomena batin ini menyenangkan dan melekat kepadanya. Merek a bukan menyenangkan. Mereka yang tidak merenung kan pada setiap saat kemunculan fenomena itu. bahwa mereka bukan atta bukan pula keberadaan hidup. latihan dimulai dengan merenungkan hal khusus. keduanya di cerap. bentuk/faktor batin (sankhara) juga secara jelas dicerap pada saat melihat. Inilah alasan mengapa lima upadanakkhandha secara jelas dicerap dengan jelas pada saat melihat objek penglihatan melalui pintu indera penglihatan ('mata'). bukan pula atta dan bukan orang . mendengar dan seterusnya melalui pintu indera yang bersesuaian. Pada saat melihat. mengetahui sensasi sentuhan melalui indera sensasi sentuhan. objek yang paling mudah hadir di dalam jasmani. Saya melihat dengan penuh perhatian dan melekat kepadanya. mengecap rasa kecapan maka kontak jasmaniah (bhuta-rupa) merupakan objek yang lebih mudah dicerap. maka pel ajaranpelajaran mudah terlebih dulu yang dipelajari. mengecap. mendengar. dengan satu pandangan untuk mengamati kontak jasmani khusus yan g lebih mudah dicerap. bukan 'atta'. mencerap rasa kecapan melalui indera pengecapan. namun anatta di mana mereka merupakan subjek bagi sebab dan akibat di dalam proses muncul dan padam. Saya merasakan . sanna upadanakkhandha. Pada saat perenungan mencapai kematangan. seyogyanya dipilih sebaga i objek perenungan awal atau utama di dalam vipassana-kammatthana. Namun demikian di dalam kasus objek batin. Dari kedua jenis fenomena. sebagai ketentuan keharusan saat memulai pelajaran. tidaklah mungkin bagi seorang pemula untuk merenungkannya di dalam urutan kemunculannya pada saat memulai latihan vipassana. Keduanya itu merupakan kelompok meteri (rupa). mencium bau melalui indera penciuman . Mereka secara egois menganggap Saya melihat . mencium bau. mungkin dialami unsur batin maupun unsur fisik/materi. objek penglihatan dan indera pengelihatan/'mata'. Walaupun fenomena jasmani dan batin muncul dengan jelas pada saat melihat. batin dan materi.mendengar. perasaan (vedana). pencerapan (sanna) akan o bjek pengelihatan. dan keinginan untuk melihat objek. vedana upadanakkhandha. duduk'. Inilah alasan yang jelas mengapa kelompok batin ini secara berurut disebut vinnana upadanakkhandha. Mereka bukanlah menyenangkan. Lagi. dari berbagai kelas fenomena materi. dengan membuat catatan secara batiniah seperti : 'duduk. maka fenomena materi yang lebih mudah dicerap. Dengan cara yang sama. maka mereka disebut upadanakkhandha atau kelompok yang menimbulkan kemelekatan . tidak akan mengerti bahwa mereka tidak kekal. Mirip seperti di sekolah. mengalami kontak badan/sentuhan dan memikirkan ide/gagasan dan seterusnya. Oleh karena itu. Kesadaran melihat (cakkhu-vinnana). bahwa mereka 'muncul dan padam tanpa henti dan oleh karenanya tidak memuaskan'. mencium bau. kelima upadanakkhandha dicerap dengan jelas pada saat mendengar suara melalui indera pendengaran. dibandingkan objek-objek dari pintu indera (upad arupa) ketika melihat. Mereka semata-mata kelompok batin. Mereka yang tidak merenungkan pada saat kemunculannya tidak akan mengerti bahwa 'mereka segera padam dan tidak kekal'. seyogyanya diambil sebagai objek utama/permulaan untuk perenungan saat memulai latihan vipassana. maka dengan jelas akan dapat diamati sensasi kontak jasmani pada paha atau kaki atau bagian . tidak memuaskan dan 'anatta'. dan sankhara upadanakkhandha . Saya mencerap . perhatian seyogyanya ditetapkan pada posisi duduk dan merenungkan secara berkesinambungan. bukan pula 'orang'. Oleh karena itu. Dikarenakan materi menjadi objek kecenderungan kekeliruan dan kemelekatan.

Aliran nafas alamiah seyogyanya dipelihara. Apabila hal ini pun sulit dilakukan maka perenungan seyogyanya ditetapkan dengan memperhatikan gerakan perut yang mengembang dan mengempis. Penekanan nafas . apabila pikiran bermaksud sesuatu seyogyanya direnungkan sebagai 'bermaksud'. objek tidak jelas perbedaannya dan dicerap secara terpisah dan bahwa ene rgi yang dibutuhkan menjadi bekurang. 'turun' dan dilakukan . atau kecewa. Pengembaraan batin ini seyogyanya direnungkan sebagaimana mereka muncul. Kemudian akan dirasakan bahwa perut mengembang dan mengempis dan gerakan perut selalu hadir. Just ru mengetahui gerakan perut dan gerakan jasmani yang sebenarnya merupakan kepentingan yang nyata. dengan hanya merenungkan yang dilakukan melalui tindakan sederhana dari pengamatan batin tanpa aktivitas pengulangan di dalam batin. Pertama-tama perhatian seyogyanya ditetapkan pada perut. seyogyanya direnungkan sebagai 'merenung'. duduk. maka perhatian seyogyanya ditetapkan pada ko ntak jasmani saat aliran nafas masuk dan keluar dengan cara merenungkan 'kontak. Apabila pada saat permulaan latiha n. mungkin akan terdapat bany ak kesempatan ketika batin ditemukan mengembara ke objeknya masing-masing. seyogyanya direnungkan sebagai : 'mengembara'. seyogyanya direnungkan sebagai 'gembira'. agar mencapai sasaran perenungan seyogyanya dilaksanakan secara berulang-ulang dalam batin dengan kata-kata khusu s atas objek-objek yang bersesuaian. Apabila pikiran sedang merenung. kont ak'. Di dalam kenyataannya. apabila perenungan dengan cara demikian seperti 'kontak . dalam hal gembira. bila menginginkan sesuatu seyogyanya direnungkan 'ingin'. gerakan naik dan turunnya perut tidak jelas dengan hanya menetapkan perhatian ke pada perut. 'marah'. Perhatian khusus Disebutkan di sini bahwa kata-kata 'naik/mengembang' dan 'turun/mengempis' seyogyanya tidak diulangi dengan mulut. atau marah. Jadi. Namun demikian. kontak' sulit untuk dimulai. Perhatian seyogyanya ditetapkan secara bertahap dengan tahap turunnya perut sejak mulai hingga berakhir. Kemudia n. perenungan seyogyanya kembali kepada objek semula 'naik'. namun mereka seyogyanya diulangi di dalam batin. Ilustrasi Apabila dialami bahwa pikiran mengembara ke objek yang bukan sedang diamati. kontak'. Inilah ilustrasi untuk menunjukkan tata cara perenungan. Saat perut dirasakan mulai turun (mengempis) seyogyanya direnungkan di dalam batin sebagai 'mengempis'. Sensasi kontak jasmani khusus ini seyogyanya diambil sebagai objek tamb ahan bersama 'duduk' dan secara berkesinambugan direnungkan sebagai 'kontak. disebabkan oleh aliran keluar dan masuknya nafas. mempercepat atau membuat nafas dalam seyogyanya tidak dilakukan. 'kecewa'. Perenungan seyogyanya dilakukan secara berulang hingga faktor batin yang mengembara ini padam. Ketika sedang dalam perenungan seperti 'naik. kata-kata bukan kepentingan yang nyata. Namun demikian. apabila merasa malas atau sena ng seyogyanya direnungkan sebagai 'malas' atau 'senang'.tubuh lainnya. perenungan akan sia-sia dan tidak efektif dan banyak kemunduran seperti perhatian gagal untuk mencapai cukup dekat terhadap objek yan g dituju. Saat perut mengembang seyogyanya direnungkan dengan ditetapkan secara bertahap dengan tahap naiknya perut sejak mulai hingga berakhir. satu atau kedua tangan seyogyanya ditempatkan pada perut. duduk. turun'.

seyogyanya direnungkan sebagai 'mendengar'. dapat dikatakan bahwa perenungan seyogyanya dilaksanakan terhada p semua aktivitas jasmani dan anggota tubuh seperti menekuk. perhatian seyogyanya difokuskan ke titik sensasi dan perenungan dilakukan seperi : 'lelah. dan seterusnya. seyogyanya direnungkan sebagai 'memperhatikan'. Apabila sesuatu dilihat tanpa diperhatikan. Apabila sensasi yang tidak menyenangkan (dukhavedana). 'turun 'nya perut sesuai objek semula. Perenungan juga seyogyanya dilaksanakan terhadap semua gagasan/ide/faktor batini ah dan seterusnya. maka perenungan seyogyanya . melihat'. 'bergerak'. 'meletakkan ke bawah'. Apabila tidak terdapat objek yang outstanding yang dapat direnungkan ketika berdia m dengan tenang dalam posisi duduk atau berbaring. 'panas. Apabila sesuatu didenga r tanpa mendengarkan seyogyanya direnungkan sebagai 'mendengar'. 'nyeri. dan seterusnya. 'mendengar'. 'mengayun'. untuk mengetahui bentuk sebenarnya ketika mereka muncu l. Dalam kasus perubahan posisi dari duduk menjadi berdiri dan perubahan ke posisi berbaring. lelah'. Di dalam hal berjalan. sesuai kasusnya. Apabila pikiran merenungkan mengikuti maka seyogyanya direnungkan sebagai 'merenungkan'. seperti rasa lelah pada anggota tubuh atau perasaan panas atau nyeri. bergerak maju'. nyeri'. Secara singkat. Kemudian perenungan dikembalikan ke 'naik'. untuk mengetahui sifat alamiah mereka sebagaimana mereka muncul. 'melihat'. Perenungan seyogyanya dilaksanakan dilaksanakan terhadap setiap sensasi fisik da n perasaan batin (vedana) untuk mengetahui sifat alamiahnya ketika mereka muncul. maka posisi tubuh dan posisi tangan serta kaki harus diubah maka meringankan sit uasi. Di dalam perubahan posisi ini pun perhatian seyogyanya ditetapkan kepada gerakan yang paling nyata (mayor) dari tubuh/jasmani dan anggota tubuh dan perenungan dilaksanakan seperti 'menekuk'. Pada saat sesuatu sedang diperhatikan. bergerak maju. 'mengangkat' . dan sebagainya muncul di dalam jas mani. meletakkan kaki '. perenungan seyogyanya dilakukan dengan menetapkan perhati an terhadap gerakan setiap langkah dari saat mengangkat kaki hingga kembali meletak kan kaki dan dengan membuat catatan secara batiniah sebagai 'berjalan. berjalan' ata u 'bergerak maju. Namun apabila sensasi nyeri begitu kuat sehingga mereka tidak dapat ditoleransi lagi. 'merenungkan'. Apabila seseorang akan mendengarkan sesu atu. 'turun'-nya perut sesuai objek semula. turun' peru t sesuai objek semula. mengangkat. 'meregang'. Apabila sensasi tak menyenangkan itu telah paham. 'mendengar'. maka perenungan dikembalikan ke 'naik.secara berkesinambungan. meregang. Apabila perubahan itu telah selesai maka perenungan dikembalikan kepada 'naik'. perenungan seyogyanyan dilakukan dengan menetapkan perhatian terhadap setiap pergerakan mayor yang nyata dari jasmani dan anggota tubuh sesuai urutan proses pergerakan perubahan tersebut. sesuai urutan proses perubahan tersebut. panas'. bergerak. seyogyan ya direnungkan sebagai 'melihat. atau 'mengangkat.

y aitu (1) perenungan terhadap posisi tubuh duduk dan sentuhan. mengetahui sentuhan jasmani. terdapat banyak rintanan batin (Nivarana) yang menyebabkan batin mengembara ke arah objek lain. Namun seorang siswa yang baru saja mulai melatih perenungan belum dapat merealis asi perubahan yang demikian cepat. sementara itu di dalam Vipassana-Kammathana perenungan juga harus dilakukan terhadap faktor batin yang mengembara itu. Inilah latihan dasariah latihan Vipassana secara singkat. seorang siswa seyogyanya berupaya untuk merealisas i muncul dan padamnya faktor batin tidak kurang daripada sekali setiap detik pada tahap permulaan latihannya. mendengar. Perenungan seyogyanya dilaksanakan pada setiap saat dari melihat. maka perenungan seyogyanya dikembalikan kepada objek naik . di dalam vipassana-bhavana. __________________ VI. Di dalam hal Samatha-Kammatthana. konsentrasi (samadhi) dan pandangan bijaksana ke dalam (nana) yang cukup kuat akan secara mandiri merealisasi muncul dan padamnya batin sangat sering di dalam satu detik. para siswa akan gagal untuk mengamati banyak aktivitas jasmani dan batin pada sa at permulaan latihan.dilaksanakan dengan selalu menetapkan perhatian terhadap kontak jasmaniah. berpikir. Setelah perenungan dengan cara ini. bergagasan dan seterusnya sesuai urutan kemunculan mereka. Siswa yang telah berkembang. petunjuk-petunjuk yang diberikan di sini untuk memperlakukan atau menjaga perhatian kepada naik dan turunnya gerakan perut. Namun demikian. tak dapat membaca begitu cepat dan baik bila dibandingkan dengan orang yang telah belajar dengan mahir. Namun demikian. dengan cara perenungan kontinyu ini. semua fenomena batin dan jasmani yan . terdapat dua jenis kasus perenungan lain yang sudah disebutkan di atas. dan perenungan dikembalikan kepada objek semula secara berkesinambungan. Di dalam kasus samatha-bhavana seseorang harus merenungkan secara berkesinambungan terhadap objek semula dari samatha untuk membuat batin terkonsentrasi dengan kuat hanya kepada objek tersebut. mengecap ras a. Namun. Seperti ditunjukkan di dalam bagian Samatha-Kammatthana. dan (2) perenungan terh adap impresi kontak di dalam nafas masuk dan keluar. sala h satu dapat dipilih sebagai objek utama atau pertama di dalam perenungan. PERKEMBANGAN KONSENTRASI VIPASSANA (VIPASSANA SAMADHI) DAN PENGETAHUAN BIJAKSANA PANDANGAN TERANG (VIPASSANA NANA) Bila tidak berupaya kuat untuk melaksanakan perenungan seperti disebutkan di ata s. namun mereka seyogyanya ditekan. Mirip seseorang yang mulai belajar. sebagai objek utama dan pertama di dalam perenugan. turun seperti semula. Oleh karena itu. mencium bau. di mana apabila diinginkan. yang lebih mudah dijelaskan dan mudah untuk direnungkan. maka tidak dibutuhkan kembali semuanya untuk kembali ke objek utama dan pertama. tidak ada perlakuan khusus untuk merenungkan faktor batin yang mengembara. Di dalam merealisasi kondisi perenungan yang luhur yang memungkinkan untuk merenungkan setiap objek sebagaimana mereka muncul. Ini adalah satu dari butir-but ir perbedaan antara samatha-bhavana dengan vipassana-bhavana di dalam hal mengatasi rintangan batin (nivarana). Tidak dibutuhkan untuk mengamati fenomena batin dan fisik yang lain. Hanya perlu menyingkirkannya sesegera mungkin saat mereka muncul. Oleh karena itu tidak diperlukan u ntuk merenungkan rintangan batin seperti faktor batin yang mengembara yang muncul sewaktu-waktu.

jasmani dan batin yang mengetahui jasmani dicerap secara jelas dan ter pisah sebagai dua hal yang berbeda. Fenomena batin. menurunkan . Pada setiap saat bernafas. Kemudian fenomena fisik seperti naik. Dengan terealisasinya perkembangan pengetahuan bijaksana (nana) selama satu peri ode waktu yang baik di dalam latihan perenungan yang berkesinambungan. Pada tahapan perenungan ini. Terkonsentrasinya batin terhadap objek nya ini disebut Vipassana-khanika-samadhi (konsentrasi sementara dari pandangan terang). Oleh karena itu apabila dan keti ka rintangan batin seperti misalnya batin merenungkan sesuatu selain objek perenung an semula atau batin menikmati nafsu atau keserakahan dan sebagainya mereka juga ha rus direnungkan. oleh karena itu menghindari mereka tidaklah cukup seperti dalam kasus samatha.g muncul melalui enam pintu indera harus diamati. dicerap pada setiap saat perenungan di dalam setiap bentuk y ang terpisah tanpa bercampur dengan batin yang merenungkannya atau dengan fenomena materi lain. menyenangkan dan atta (aku) akan muncul. mendengar. meregang. Di dalam beberapa kasus. ditemukan bahwa batin yang merenungkan dan objeknya selalu datang bersama dan terkonsentrasi. Segera setelah faktor batin mengembara ke objek la in. ditemukan b ahwa perenungan dilaksanakan tanpa interupsi karena faktor batin dicerap segara saat faktor batin itu mulai muncul. maka hanya ada perenungan murni yang terpusat. maka kemelekatan dan pandangan keliru bahwa mereka kekal. batin segera memperhatikan dan merenungkannya dan kemudian pengembaraan tersebut tidak berlangsung lebih jauh lagi. melihat. Begitu batin tidak lagi bercampur dengan rintangan batin yang menyebabkan mengembaranya batin. Inilah yang disebut Citta-visuddhi (kemurnian batin). Jasmani tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui. menekuk. seperti merenungan berpikir. Apabila faktor batin yang mengembara ini direnungkan secara berkesinambungan dengan cara ini dalam jangka waktu yang cukup lama. Pengetahuan bijaksana atas pembedaan fenomena fisi k dan batin sebagai dua proses yang terpisah disebut Nama-rupa-pariccheda-nana (pengetahuan bijaksana yang dapat membedakan dengan jelas fenomena batin dan jasmani). Objek vipassana a kan lengkap hanya apabila seseorang merenungkan terhadap semua fenomena itu sehingga mengetahui dengan jelas sifat alamiahnya dan tidak melekat terhadapnya. dan seterusnya. maka hampir tidak akan ada l agi faktor batin yang mengembara. juga dicerap pada setiap saat perenungan di dalam keadaan terpisah t anpa dicampuri oleh fenomena materi lain atau fenomena batin lain. maka akan muncul sebuah pengertian jelas bahwa fenomena 'hanya terdiri dari proses batin d an fisik'. Sekarang batin terbebas dari kamacchanda (nafsu indera) dan rintangan batin (niv arana) lainnya dan oleh karena itu sama seperti pada tingkat seperti Upacara-samadhi (konsentrasi berdekatan) yang disebutkan di dalam bagian Samatha-kammatthana. menaikkan. turun. yang sedang direnungkan. . da n seterusnya. Apabila mereka tidak direnungkan.

Sebagai ilustrasi : Seorang siswa mencerap kenyataan bahwa dikarenakan batin menginginkan untuk membungkuk atau bergerak atau meregang atau mengubah posisi tubuh. Terpisah dari dua faktor ini. . maka sela lu terdapat perubahan di dalam kondisi fisik apakah menjadi dingin atau panas. memikirkan. Lagi. dan dikarenakan kemelekatan terhadap perbuatan-perbuat an tersebut yang telah dilakukan. atau mengubah posisi tubuh. Namun batin memiliki kemampuan merenungkan. ia mencerap kenyataa n bahwa kematian bukanlah kematian bukanlah sesuatu hanya padamnya kesadaran terakhir di dalam urutan kelangsungan kesadaran. Sekarang keraguan ini tidak dapat muncul karena mereka telah diatasi. Lagi. ia mencerap kenyataan bahwa dikarenakan kehadiran/adanya indera penglihata n dan objek penglihatan. dikarenakan fluktuasi di dalam temperatur/suhu. Pengertian jelas ini disebut Ditthi-vis uddhi (Kemurnian Pandangan). dicerap bahwa fenomena materi/fisik d an batin yang muncul di dalam jasmani merupakan efek atau hasil dari sebab-sebab ya ng bersesuaian dengannya. dicerap bahwa materi/jasmani dan batin muncul dan padam pada setiap saat perenungan. apakah SAYA berada hanya dalam kehidupan ini atau apakah SAYA akan terus ada di waktu mendatang" dengan memegang pandangan bahwa formasi/perpaduan meteri/jasmani dan batin adalah ATTA atau DIRI . di dalam urutan yang sangat cepat dan berkesinambungan. maka muncullah. objek pendengaran. Pengertian bijaksana ini disebut Anicca-sammassana-Nana (Pengertian bijaksana akan ketidak-kekalan fenomena alam). dan seterusnya. bergerak. ma ka muncullah kesadaran melihat. Dengan mengerti kenyataan sebab-musabab yang saling tergantung (paticcasamuppada ) ia akan datang pada satu kesimpulan bahwa hidup di masa lampau adalah sebuah formasi materi dan batin. dan seterusnya. Lagi. dan lahir adalah munculnya sebu ah kesadaran baru di dalam urutan kelangsungan kesadaran ini. mendengar. Dengan meneruskan perenungan lebih lanjut. meregang. memindahkan. tidak terdapat aku atau Atta. mendengar. dan dikarenakan kehendak untuk mengarahkan. Sebelum mengembangkan pengetahuan benar kenyataan bahwa "kehidupan terdiri dari batin dan jasmani yang tergantung atas 'sebab-musabab yang terkait' terdapat ban yak keraguan skeptis apakah terdapat SAYA di waktu lampau. ia mencerap kenyataan bahwa dikondisikan kehadiran Avijja (kegelapan/kebodohan batin). dan seterusnya. dan dikarenakan mengkonsumsi makanan maka akan selalu muncul energi fisik yang baru. tergantung atas formasi/bentukan materi/jasad yang baru. maka muncul aksi atau tindakan membungkuk. semua jenis perbuatan dipikirkan dan dilakukan. Pandangan murni seperti ini disebut Kankha-vitarana visuddhi (Kemurnian pandangan yang muncul setelah mengatasi keraguan). Dengan melanjutkan perenungan lebih jauh. yang memandang kehidupan sebagai indah dan menyenangkan dan kehadiran Tanha (keinginan rendah). dan sebagainya. Pengetahuan bijaksana membedakan sebab musabab yang saling tergantung ini disebut Paccaya-pariggaha-nana (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari pengertian pengalaman penuh akan sebab-musabab fenomena). indera pendengaran.menekuk. maka batin mencapai objeknya. kesadaran-kesadaran (vinnana) baru. melihat. yang tergantung dari sebab musabab yang terkait dan dengan demikian akan ada proses yang mirip pada kehidupan di masa mendatang .

siswa itu melanjutkan dengan perenungan tanpa refleksi lebih lanjut. Kemampuan di dalam melaksanakan perhatian murni tanpa kehilangan objek (Upatthana) 9. Pandangan yang tajam terhadap sifat alamiah anicca. dan bahwa metode perenungan yang tepat untuk merealisasi pencerahan sempurna adalah hanya dengan mengobservasi secara konstan terhadap semua fenomena yang muncul. tidak memuaskan. Ia sering kali menganggap bahwa ia telah merealisasi pencerahan sempurna. Inilah indikasi awal atau tahap permul aan dari 'Udayabbaya-nana' (pengetahuan bijaksana atas muncul dan padamnya fenomena) yang lemah. dukkha dan anatta tanpa halangan (Nana) 8. Setelah tiba pada keputusan ini dan diteruskan dengan melanjutkan perenungannya pengalaman-pengalaman melihat bayangan batin dan perasaan-perasaan lainnya secar a bertahap akan berkurang dan pencerapan objek menjadi lebih jelas dan lebih jelas lagi. Sikap batin tenang (Passaddhi) 4. maka direalisasi bahwa mereka bukan atta atau diri . Kegembiraan yang mencakup ke seluruh tubuh (Sukkha) 7. Keputusan murni ini adalah indikasi Maggamagga-nana-dassana-visuddhi (kemurnian pandangan benar terhadap jalan dan bukan jalan). Melekat terhadap fenomena dhamma butir 1 9 (Nikanti) Oleh karena itu. Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara alamiah tidak mengikuti perintah keinginannya. namun muncul dan padam sesuai dengan sifa t alamiah dan kondisi relatifnya. Pengetahuan bijaksana ini disebut Dukkha-sammassana-nana (Pengertian bijaksana terhadap kondisi yang tidak memuaskan). set .Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara konstan muncul dan padam. seringkali muncul pengalaman-pengalaman aneh. namun hanya merupakan dukkha. siswa tersebut dapat terbuai sehingga ia tidak dapat lagi menja ga mulutnya. Kegiuran batin (Piti) 3. Namun demikian sepuluh fenomena ini adalah jalan yang sala h (Amagga). umumnya ia menceritakan pengalamannya. Pengertian bijaksana ini disebut Anatta-sammassana-nana (Pengertian bijaksana terhadap segala sesuatu yang bukan atta atau bukan diri). Semangat yang sangat tinggi atas pelaksanaan perenungan/meditasi (Paggaha) 6. Kemudian siswa itu memutuskan pengalaman melihat bayangan batin dan perasaanpera saan lainnya bukanlah perealisasian pencerahan sempurna yang sesungguhnya. bahwa mereka secara konstan dicengkeram oleh muncul dan padam mereka dipandang sebagai bukan menyenangkan juga tidak patut digantungi. Setelah merefleksikan kenyataan-kenyataan ini selama ia inginkan. Muncul dan padamnya fenomena materi pada setiap gerakan di dalam hal satu geraka n membungkuk atau meregangkan tangan atau kaki atau di dalam hal satu langkah. Keyakinan kuat tak terhingga terhadap Tiratana (Adhimokkho ti saddha) 5. Ia juga mencerap dengan sangat jelas padamnya setiap objek perenungannya seolah-olah diputus deng an jelas. Cahaya yang gemilang (Obhasa) 2. yang mengkondisikan terhambatnya latihan vipassana sehingga menjadi kotor (vipassanupakkilesa). I a tiba pada keputusannya ini sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya dari penga laman atau sesuai dengan petunjuk gurunya. Keseimbangan batin (Upekkha) 10. Pada tahap ini. Ia kemudian mencerap dengan sangat jelas permulaan dari setiap objek perenungannya. seperti : 1.

Akhir atau padamnya objek lebih jelas dicerap daripada permulaan Upacara (pendekatan) dan Anuloma (adaptasi). Anatta. Pandangan terang mulai dari Udayabbaya-Nana yang masak sampai dengan Anuloma-nana secara kolektif dikenal sebagai Patipada-nana-dassana-visuddhi (Kemurnian dengan pengertian bijaksana dan pandangan terang yang muncul akibat telah mengikuti latihan yang benar). perenungan berlanjut secara otomatis mirip sebua h jam tanpa upaya khusus bagi pencerapan dan pengertian bijaksana. Pencerapan yang muncul dalam jangka waktu lama ini merealisasi sifat alamiah obj ekobjek perenungan secara otomatis dan tanpa terlibat di dalam kesenangan dan ketidaksenangan. Setelah pengertian bijaksana (Nana) ini diperoleh cukup kuat. Ini adalah Paccavekkhana-nana (Pengertian bijaksana dari retropeksi/perenungan mendalam). Seseorang yang telah merealisasi Paccavekkhana-nana sesuai urutan itu disebut se bagai makhluk Sotapanna (Pemenang arus). Kemurnian segera disusul kemunculan refleksi atas pengalaman khusus Magga. Pengertian bijaksana yang muncul langsung menuju sebuah jalan mulia ini yang jug a dikenal sebagai Vuitthana (elevasi) adalah Vutthana-gamini-vipassana-nana (Pengetahuan bijaksana menuju elevasi yang lebih luhur). Dukkha. Setelah Anuloma Nana. Perenungan itu mengalir tanpa hambatan seolah terbebas dari Upakkilesa (ketidakmurnian). pencerapan terhada p objek-objek dijumpai lebih cepat. Ketika Patisankha-nana ini masak. Khas Anicca. muncullah Gotrabhu-Nana (Pengertian bijaksana memenangkan kesucian) dimana Nibbana adalah objeknya. Ini adalah nana atau pengertian bijaksana yang tepat bagi 8 vipassana nana yang mendahuluinya dan Magga-nana (Pengertian bijaksana atas Jalan) yang mengikutinya. dimana duka cita dan ketidakpuasan yang berhubungan dengan fenomena fisik dan batin padam secara tota l. muncullah pengertian bijaksana yang khusus sangat cepat dan a ktif. Pengertian bijaksana ini muncul merealisasi bahwa fenomena fisik dan batin yang muncul melalui enam pintu indera pada saat itu tidak kekal. dengan kejelasan khusus yaitu dukkha. Ini adalah pengertian bijaksana yang memotong kekerabatan Puthujjana (makhluk awam duniawi) dan memasuki kekerabatan Ariya (makhluk suci). Dilanjutkan den gan perenungan atas objek-objek dengan keseimbangan batin hanya memperhatikan objek tanpa terlarut di dalam kesenangan maupun ketidaksenangan. Saat kemunculan Magga dan Phala Nana tidak berjeda waktu sedetik pun. tidak memuaskan. Inilah kema tangan atau tahap akhir dari Udayabbaya-Nana . Magga Nana disebut Nana-dassana-visuddhi (Kemurnian pandangan). Ini adalah Patisankha-nana (Pengertian bijaksana yang muncul dari perenungan yang lanjut).iap fregmen (bagian) dari satu gerakan akan dengan sangat jelas diamati. disebut Sankharupekkha-nana (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari keseimbangan batin terhadap sankhara). dan bahkan dapat berakhir dalam jangka waktu yang begitu lama. Keluar dari perenungan ini yang dilanjutkan secara otomatis dan dengan momentumn ya merealisasi objek. tanpa lelah atau bosa n. Kemudian muncul Sotapati Magga Nana dan Phala Nana (Pengetahuan bijaksana dari Jalan Suci pemenang arus dan buahnya) yang merealisasi Nibbana. Perenungan ini begitu damai dan tanpa upaya khusus saat itu dan dilanjutkan dengan mengetahui objek-ob jek begitu otomatis dan dapat berlangsung lebih dari satu jam. dua jam atau tiga jam . dan . Phala dan Nibbana .

bukan diri/aku. Pengertian bijaksana terakhir adalah Anuloma-nana (Pengertian bijaksana atas adaptasi) yang terdiri dari tiga javana (saat-saat dorongan) disebu t Parikamma (persiapan), seyogyanya melaksanakan latihan meditasi sesuai dengan petunjuk yang diberikan di atas. Semoga semua makhluk dapat melaksanakan latihan Meditasi dan merealisasi Nibbana . __________________ KETERANGAN BEBERAPA ISTILAH PENTING Ariya Sacca Kebenaran Suci, terdapat 4 jenis : a. Dukkha sacca = Kebenaran suci tentang 'penderitaan' b. Samudaya sacca = Kebenaran suci tentang penyebab 'penderitaan' c. Nirodha sacca = kebenaran suci tentang padamnya 'penderitaan' d. Magga sacca = Kebenaran suci tentang jalan untuk terbebas dari 'penderitaan'. Bhavana a. Samatha - bhavana Pengembangan ketenangan batin. Secara sementara kekotoran batin tertentu mengend ap (lihat nivarana). Objek samatha-bhavana ini merupakan pannatti (konsepsi batin). b. Vipassana bhavana Pengembangan kebijaksanaan melalui pengamatan dan perhatian murni terhadap fenomena batin dan jasmani yang dicengkeram oleh sifat universal (lihat Tilakkha na). Hasil akhirnya, kekotoran batin terbasmi hingga ke akarnya. Objek vipassana-bhav ana ini merupakan paramattha (hakekatnya sesungguhnya segala sesuatu yang dialami). Dukkha a. Di dalam sifat alamiah universal (Tilakkhana), mengandung pengertian = tidak memuaskan. Dukkha jenis ini meliputi makhluk hidup suci atau tidak suci dan juga bukan makhluk hidup. b. Di dalam kebenaran suci tentang dukkha (Dukkha sacca), mengandung pengertian = penderitaan biasa (dukkha-dukkha), penderitaan yang inheren karena perubahan (viparinama dukkha), penderitaan yang inheren bagi mahluk yang merupakan perpaduan (sankhara dukkha). Dukkha jenis ini hanya berkenaan dengan makhluk hid up yang belum suci. Ekaggata a. Sebagai faktor batin bersifat netral (bukan baik juga bukan tidak baik), meng andung pengertian faktor batin yang berfungsi memusatkan batin terhadap objek yang diam ati. b. Di dalam faktor jhana, mengandung pengertian sebagai faktor batin yang berfun gsi menekan kamachanda-nivarana (hasrat nafsu indera). Jhana Kondisi batin yang melekat kuat terhadap objek (arammana) yang dialami. Objek ya ng dialami oleh batin selama di dalam kondisi jhana merupakan objek yang bukan sesungguhnya atau bersifat konsepsi batin (pannatti). Khanda Mengandung pengertian sebagai kelompok perpaduan; umum pula dijumpai dalam istilah upadanakkhandha yang berarti kelompok perpaduan yang berpotensi menimbulkan kemelekatan. Khandha terdiri dari 5 lima kelompok yaitu : a. Vedanakkhandha = kelompok perpaduan perasaan, yaitu perasaan yang menyenangkan, perasaan tidak menyenangkan dan perasaan netral (bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan). b. Sannakkhandha = kelompok perpaduan pencerapan. Fungsinya menandai objek, mencerap objek yang dialami, mengkondisikan pengenalan terhadap objek.

Apabila makhluk Anagami melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah pandangan untuk merealisasi Anagami Phala-sampatti , maka ia akan merealisasi tingkatan tersebut. Apabila ia melaksanakan latihan bagi tingkatan yang lebih luhur, maka Vipasanna-nana akan dikembangkan di dalam urutan yang sama seperti sebelumnya da n di dalam kematangan yang penuh ia akan merealisasi Nibbana dengan pandangan tera ng Arahatta Magga dan Phala (jalan kesucian Arahat dan buahnya) dan menjadi makhluk suci Arahat. Makhluk Arahat telah terbebas dari lima belenggu (samyojana ) yang masih tersisa, yaitu : 1. Rupa-raga (hasrat untuk keberadaan bermateri halus) 2. Arupa-raga (hasrat untuk keberadaan tanpa materi) 3. Mana (kesombongan) 4. Uddhacca (kegelisahan batin) 5. Avijja (kegelapan atau kebodohan batin) secara bersama dengan semua kilesa (kekotoran batin) Pada akhir masa kehidupannya saat ini ia akan Parinibbana, dan tidak akan tumimb al lahir lagi, ia secara mutlak terbebas dari duka ketuaan, kesakitan, kematian, da n seterusnya. Dengan tetap berpandangan terhadap kebebasan ini bahwa pertanyaan pada permulaan artikel ini : Apakah tujuan utama melaksanakan latihan meditasi telah diberikan jawabannya sebagai berikut : Latihan meditasi dilaksanakan untuk tujuan utama merealisasi Nibbana dan terbebas dari duka cita kehidupan di dalam bentuk ketuaan, kesakitan, kematian, dan seterusnya . Oleh karena itu mereka semua yang dengan tekun berharap untuk merealisasi Nibban a dan merealisasi kebebasan mutlak atau kemunculannya. Objek-objek perenungan nampak padam. Bentuk dan ukuran tangan, kaki, kepala, jasmani dan seterusnya tid ak dicerap lagi. Hanya kepadaman jasmani dan batin yang dicerap pada setiap saat perenungan. Bahkan, perenungan batin dicerap padam bersama objek perenungannya setiap saat. Pengertian bijaksana atas proses kepadaman ini di dalam pasangan ba tin dan objeknya adalah Bhanga-nana (pengetahuan bijaksana akan proses padamnya fenomena). Dengan terus-menerus mencerap proses yang selalu padam di dalam tiap pasang bati n dan objeknya maka akan tiba kemunculan perealisasian bahwa setiap fenomena dapat menimbulkan ketakutan. Ini adalah Bhaya-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang menakutkan). Kemudian akan disusul dengan munculnya pengertian bijaksana merealisasi ketidaksempurnaan fenomena batin dan materi. Ini adalah Adinava-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang tidak memuaskan). Kemudian akan disusul dengan pengertian bijaksana merealisasi sifat alamiah feno mena yang tidak menarik dan membosankan. Ini adalah Nibbida-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang membosankan). Apabila direalisasi bahwa sungguh baik apabila tidak terdapat fenomena fisik mau pun batin yang secara konstan datang/muncul dan padam di dalam cara demikian, muncul lah pengertian bijaksana, mencari kebebasan dari ketidakpuasan terhadap fenomenafeno mena ini. Ini adalah Muccitu-kamyata-nana (Pengetahuan bijaksana dari niat untuk terbebas).

Dengan lebih lanjut merenungkan disertai keinginan kuat untuk terbebas, munculla h sebuah persepsi kuat atas sifat alamiah Sotapanna terbebas dari tiga belenggu (samyojana) sebagai berikut : 1. Pandangan keliru bahwa fenomena kelompok perpaduan fisik dan batin adalah ego , atau diri. (Sakkaya-ditthi kepercayaan bahwa fenomena fisik dan batin adalah dir i). 2. Keraguan atas Buddha, Dhamma dan Sangha serta disiplin (Vicikiccha). 3. Kepercayaan bahwa metode di luar pengembangan jalan mulia berunsur delapan (Ariya Magga) dan di luar pengembangan pandangan terang di dalam empat kebenaran mulia (Ariya Sacca) dapat membawa kebahagiaan sejati (Silabbata-paramasa kepercayaan hanya terhadap ritual dan upacara membawa ke kesucian). Lebih lanjut, bahwa observasinya terhadap pelaksanaan lima kaidah kemoralan menj adi murni dan mutlak. Bagi alasan inilah, Sotapanna tidak mungkin tumimbal lahir ke alam yang tidak menyenangkan, yang rendah (Apaya loka). Ia akan menjalani kehidupan bahagia di dunia manusia dan para dewa selama tujuh kali tumimbal lahir maksimum , dan selama periode ini ia akan merealisasi tingkat kesucian Arahat. Apabila Sotapanna melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah niat untuk merealisasi Phala-samapatti (perealisasian buah), ia kemudian akan mencapai keadaan itu dan menetap dengan objek Nibbana untuk jangka waktu 5 atau 6 menit, atau setengah jam, atau satu jam. Apabila ia cukup baik terlatih di dalam latihan perealisasian Phala-samapatti maka ia akan merealisasinya dengan sangat cepat dan menetap di dalam objeknya itu selama sehari penuh atau bahkan semalaman atau leb ih lama lagi. Apabila ia melaksanakan perenungan terhadap Upadanakkhanda di dalam cara yang sama seperti yang telah disebutkan di atas dengan sebuah pandangan untuk mereali sasi tingkat Magga dan Phala yang lebih tinggi, maka vipassana-nana akan dikembangkan dari tahapan Udayabbaya-nana dalam urutan yang sama seperti sebelumnya dan dalam kematangan penuh ia akan merealisasi Nibbana dengan pandangan terang dari Sakadagami-Magga dan Phala (Jalan makhluk suci yang paling banyak akan kembali lagi satu kali ke alam nafsu dan buahnya) dan menjadi makhluk Sakadagami (yang kembali satu kali lagi). Ia kemudian terbebas dari nafs u indera (kama-raga) yang kasar dan keinginan buruk (patigha) yang kasar. Ia akan menuju kehidupan bahagia di dalam alam manusia dan dewa maksimum selama dua kali tumimbal lahir dan akan merealisasi tingkat kesucian Arahat selama periode tersebut. Apabila makhluk Sakadagami melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah pandangan untuk merealisasi Sakadagami Phala-Samapatti maka ia akan merealisasi tingkat tersebut. Apabila ia melaksanakan latihan dengan sebuah pandangan merealisasi tingkat Magga dan Phala yang lebih luhur, Vipassana-nana akan dikembangkan di dalam urutan yang sama seperti sebelumnya dan di dalam kematangan penuh ia akan merealisasi Nibban a dengan pandangan terang dari Anagami Magga dan Phala (Jalan makhluk yang tidak akan kembali lagi ke alam yang diliputi nafsu dan buahnya) dan menjadi mak hluk Anagami (Makhluk yang tidak pernah kembali lagi, ke alam nafsu indera). Ia kemud ian secara total terbebas dari dua belenggu/samyojana lebih banyak, yaitu kama-raga (nafsu indera) dan Patigha (keinginan buruk). Ia tidak akan tumimbal lahir lagi di Kama-loka (alam yang diliputi nafsu indera) namun akan tumimbal lahir di Rupaloka (alam dengan materi halus) atau Arupa-loka /alam tanpa materi (bila ia saat itu

3. Byapada = niat jahat. Ruparaga = hasrat untuk memiliki fisik/nafsu untuk tumimbal lahir di alam ber materi halus. terdiri dari 5. b. Padamnya ini mengkondisikan padamnya itu. Uddhacca-kukkucca = sikap batin gelisah/tak dapat memegang objek dengan baik dan khawatir atas perbuatan baik yang belum dilakukan atau perbuatan jahat yang telah dilakukan. yaitu : Adanya ini mengkondisikan adanya itu. fungsinya menyadari objek yang dialami. tak dapat membedakan kebaikan dari keburukan. Lokuttara Dhamma Dhamma yang mengatasi duniawi. Sankharakkhandha = kelompok perpaduan faktor-faktor/penyerta batin yang baik. Timbulnya ini mengkondisikan timbulnya itu. Aruparaga = nafsu untuk tidak memiliki fisik/nafsu untuk tumimbal lahir di al am tanpa materi. c. dan bersifat netral (bukan baik juga bukan tidak baik). . 6. Uddhacca = kegelisahan batin. makhluk manusia. c. 4. Sebagai faktor jhana merupakan faktor batin yang fungsinya menekan byapada-nivar ana (niat jahat). 2. d. phala) dan Nibbana. Thina-middha = sikap malas dan lamban d. Piti Sebagai faktor/penyerta batin berarti kegiuran batin terhadap objek yang dialami . Vicikiccha = keraguan skeptis. unsur materi cairan. Patigha = niat jahat/dendam. yang tidak baik dan yang netral (bukan baik juga bukan tidak baik). Rupakkhandha = kelompok perpaduan materi/fisik/jasmani. Vicikiccha = sikap batin ragu secara skeptis. Vinnanakkkandha = kelompok perpaduan kesadaran. Silabbata-paramasa = kepercayaan bahwa hanya dengan ritual keagamaan dapat merealisasi kesucian. Dalam hal ini meliputi batin para makhluk suci (Ariya puggala) pada saat hancurnya tiga atau lebih belenggu/ kekotoran batinnya (magga.makhluk Arupa Brahma) dan ia nantinya akan menjadi Arahat. Paticca-samuppada Sebab-musabab yang saling tergantung. 10. makhluk dewa maupun brahma/makhluk awam (puthujjhana puggala) yang belum hancur belenggu/kekotoran batinnya. Mana = kesombongan 9. 7. unsur materi panas. Sakkaya-ditthi = kepercayaan atau pandangan keliru terhadap lima kelompok perpaduan (khandha 5) sebagai inti/aku/diri. Avijja = kegelapan batin. Nivarana Rintangan batin. Kamachanda = hasrat di dalam nafsu indera. Samyojana Adalah belenggu batin. e. yaitu : a. yang secara umum terd iri dari unsur materi padatan. unsur materi gerak. e. Kamaraga = nafsu indera 5. Dalam hal ini meliputi batin para makhluk rendah. tak mengetahui hakekat sesungguhnya segala sesuatu. 8. Tidak adanya ini mengkondisikan tidak adanya itu. ada 10 jenis. yaitu : 1. Lokiya dhamma Dhamma yang bersifat duniawi. formulasi umumnya terdiri dari empat pernyataan. tak mengetahui kebenaran suci.

Akan tetapi. kita sering mendengar anjuran-anjuran di masyarakat yang menyatakan untuk menerima diri apa adanya. Di dalam khandha 5. yaitu batin (nama) dan jasmani (rupa). Di dalam hal perasaan (upekkha vedana). tanpa inti. b. b. bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan. merupakan faktor batin perasaan yang berfungsi menekan uddhacca-kukkucca-nivarana (kegelisahan kekhawatiran) Tilakkhana Tiga sifat alamiah yang berlaku universal. Ditinjau dari cara pandang yang sebenarnya. pada dasarnya terbentuk dari dua unsur. Vitakka a. dikarenakan tidak memiliki pemahaman yang benar sehingga menimbulkan pengaruh yang kurang baik. Di dalam fenomena sebab-musabab yang saling tergantung (Paticca-samupada). yang baik d an yang tidak baik. fungsinya membua t batin mengarah kepada objek yang dialami. Di dalam faktor jhana. Vicara a. Sabbe sankhara dukkha = semua fenomena perpaduan bersifat tidak memuaskan. Sabbe dhamma anatta = semua dhamma dalam hakekat sesungguhnya adalah tanpa kepemilikan. Di dalam hal sikap batin luhur tanpa batas (brahma-vihara). b. sehingga merupakan bersifat ketidakkekalan (Annica). hal ini seringkali ditaf sirkan atau diterapkan secara keliru. yaitu : a. mengandung penger tian sikap batin seimbang terhadap semua fenomena yang dicengkeram Tilakkhana. fungsinya membuat batin menambat terhadap objek yang dialami. tanpa diri. Sabbe sankhara anicca = semua fenomena perpaduan bersifat tidak kekal. netral dan buruk. Sebagai manusia. Upekkha a. dan tidak memuaskan (Dukkha ). mengandung pengertian perasaan netral . dikategorikan sebagi faktor batin perasaan (sukkha vedana ) yang berfungsi merasakan objek yang menyenangkan yang dialmi. berarti memahami proses batin dan jasmani yang bersifat tanpa inti (Ana tta). Sukha a. Sebagai faktor jhana (jhananga) merupakan faktor penyerta batin yang fungsiny a menekan Vicikiccha-nivarana (keraguan skeptis). c.Sankhara a. Sebagai faktor/penyerta batin artinya perenungan penopang. b. Sebagai faktor jhana (jhananga) merupakan faktor/penyerta batin yang fungsiny a menekan Thina-middha-nivarana (sikap batin malas dan lamban). c. mengandung pengertian = faktor/penyerta batin (cetasika) yang baik. . Sebagai faktor/penyerta batin artinya perenungan permulaaan. di lu ar pencerapan (sanna) dan perasaan (vedana). "Menerima Diri Apa Adanya". Di dalam lima kelompok perpaduan/yang berpadu (Khandha 5). b. ba ik sebagai sebab (paccaya) maupun sebagai akibat (pacayuppana) mengandung pengertia n = kehendak (cetana) lampau dan melandasi perbuatan-perbuatan lampau. mengandung penger tian = perpaduan. b. MEDITASI Menerima Diri Apa Adanya dengan Pengertian Benar Dalam kehidupan ini. Di dalam sifat alamiah yang berlaku universal (Tilakkhana).

Inilah yang dimaksud dengan "Menerima Diri Apa Adanya" MEDITASI JALAN Oleh : Sayadaw U Silananda Alih Inggris . Jadi sudah sewajarnya kita berusah a untuk menjadi lebih baik. Dikegiatan penyunyian yang kami selenggarakan. maka kemajuan dalam se gi jasmani. baik atau buruk. setelah berusaha memperbaiki diri. Untuk memahami inipun. kenapa tidak dilakukan. termasuk apa yang kita anggap dan percaya sebagai "aku dan diriku". juga merasa puas dengan setiap kondisi yang ada. supaya suatu saat. yan g belum memiliki batin yang telah berkembang. yaitu terkikisnya keserakahan (Lobha). Tida k mengeluh ataupun menyesalinya. menerima diri apa adanya. terutama dari segi batin. tidak dapat mencakup arti yang sesungguhnya. duduk dan berbaring. maka itulah hasil terbaik yang dap at kita peroleh. Kalau kita memang masih bisa mencapai kondisi yang lebi h baik. Mereka mempraktekkan kesadaran saat berjalan. kebencian dan kebodoha n batin) Tanpa batin yang terus menerus ditingkatkan. dan kekayaan materi tidaklah banyak membawa manfaat. karena tanpa batin yang berkembang menuju arah yang lebih baik . materi. para yogi mempraktekkan meditasi kesadaran (vipassana) dengan menggunakan empat sikap tubuh yang berbeda-beda. maka aspek batin seharusnya menjadi prioritas u tama untuk diperbaiki. Karena itu. menerima sifat sesungguhnya d ari segala sesuatu. Selanjutnya.Inilah sifat sesungguhnya dari segala sesuatu yang terbentuk. Kita menerimanya dengan pengertian benar dan merasa pua s sambil terus berusaha untuk menjadi lebih baik lagi dari sekarang dan begitulah seterusnya. Sikap utama tubuh dalam meditasi kesadaran adalah duduk bersila dengan punggung tegak. Pada jaman sekarang ini. sebagai orang awam. tetap membutuhkan dasar pemahaman yang benar. lebih banyak orang yang belum sampai ke tahap pemahaman yang mendalam dan menyeluruh seperti yang didapat dari hasil berlatih Vipassanâ Bhâvanâ. dan materi tidaklah banyak artinya. untuk saat ini. Jadi. apalagi menyalahkan orang lain. intelektual. bisa menc apai tujuan. apapun ha sil yang diperoleh. dan intelektual. maka perbaikan kondisi jasmani. Jadi "PENGERTIAN BENAR" yang berkenan dengan anjuran menerima diri apa adanya dalam kehidupan sehari-hari adalah memahami dan menerima. Merasa puas bukan berarti kita berhenti berusaha menjadi orang yang lebih baik dari segi batin dan jasmani. intelektual. melainkan ha nya arti pada tingkat permukaan saja. Kondisi batin kita memang jauh dari sempurna. kebencian (Dosa) dan ketidaktahuan (Moha) . Dari semua aspek perbaikan diri. jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan sehari-hari.Indonesia : Chandasili Nunuk Y. Tapi umumnya para yogi sulit duduk berjam-jam tanpa merubah posisi. yaitu kesempurnaan batin (bebas dari keserakahan. berdiri. inilah yang sebenarnya dimaksud sebagai "Menerima Diri Apa Adany a" dalam meditasi. kualitasnya. Mere ka harus sepenuhnya membangun kesadaran setiap saat dalam kondisi apapun.K. Sehin .

Itulah sebabnya para yogi yang berada dalam pengawasan kami diinstruksikan untuk membangun kesadaran sepanjang waktu. Meski Sang Buddha tidak memberikan petunjuk secara khusus dan rinci tentang meditasi jalan (hanya penjelasan singkat yang tercatat di dalam sutta) kami perc aya Beliau telah memberikan petunjuk pada suatu waktu. Dalam bagian yang disebut sikap tubuh Beliau mengatakan seorang yogi tahu. Kita harus menyadari bukan saja pemahaman yang jernih tapi juga kesadaran dan konsentrasi saat sedang berjalan bolak-balik. Sesungguhnya Sang Buddha merupakan orang pertama yang membabarkan praktek meditasi jalan ini. Sebelum air mendidih ia mematikan kompor. meditasi jalan merupakan sua tu bagian penting dari proses ini. Maksud dari pemahaman yang jernih disini adalah pemahaman yang benar atas segala sesuatu yang diamati. pentingnya dan kondisi alami yang bis a dipahami saat mempraktekkan meditasi jalan. Para bhikkhu gunakan pemahaman jernihmu . tahu saya sedang duduk saat sedang duduk dan tahu saat sedang berbaring sebagai saya sedang berbaring . tahu. Para pengritik ini mengatakan mereka tidak memperoleh manfaat at au hasil yang baik dari praktek meditasi jalan tersebut. air di dalam teko tidak langsung mendidih. Diskusi tersebut berkenaan dengan manfaat. Pertama seseora ng harus mengisi air ke dalam teko. Petunjuk-petunjuk itu telah dipelajari oleh para murid Sang Buddha dan diturunka n dari satu generasi ke generasi berikutnya. jika ada jeda atau celah diantara kesadaran maka kita tid ak akan bisa membangun konsentrasi dengan baik. Namun demikian kami pernah mendengar orang-orang yang mengkritik praktek meditasi jalan. Lalu teko itu diletakkan di atas kompor kemudia n kompor itu dinyalakan. saya sedang berdiri ketika sedang berdiri. Untuk membangun konsentrasi ia harus menggunakan kesadarannya.gga kami mengganti saat-saat duduk meditasi ini dengan meditasi jalan. Karena meditasi jalan sangat penting maka perlu didiskusikan lebih jauh. Seorang bhikkhu menggunakan pemahaman yang jernih saat berjalan bolak-balik . Jika kalian adalah p . Sebagai tambahan para guru terdahulu telah memiliki resep berdasarkan pengalaman praktek meditasi mereka sendiri. Mulai dari saat bangun dari tidur di pagi h ari hingga terlelap pada malam harinya. Pada bagian lain yang disebut pemahaman jernih Sang Buddha mengatakan. mematikan dan menyalakan kompor (sebelum air mendi dih) maka air di dalam teko tidak akan pernah mendidih. Jika hal ini terus dilakukan. Dengan cara yang sama. Izinkan kami secara khusus membahas praktek meditasi jalan. saya sedang berjalan saat ia sedang berjalan. Pembahasan meditasi jalan Beliau sampaikan dua kali. Lebih jauh Sang Buddha berkata. Jadi. Meski sesaat kompor dimatikan untuk kemudian dinyalakan lagi sebentar. Praktek meditasi kesadaran bisa diumpamakan seperti merebus air. Dalam hal ini praktek meditasi jalan menyatu didalamnya untuk menumbuhkan kesadaran yang berkesinambungan. Dengan memiliki pemahaman yang benar terhadap pengamatannya seorang yogi dapat membangun konsentrasi. Saat ini kami memiliki serangkaian petunjuk yang teliti tentang cara mempraktekk an meditasi jalan.

Bila ia ingin membaca rambu-ra mbu tersebut ia harus melambatkan laju kendaraannya. Sepenuhnya awas pada langkah kaki sementara kalian membuat pencatatan di dalam batin berjalan . turun dan tekan. Pada saat itulah secara otomatis ia berjalan dengan perlahan. yaitu melangkah dan meletakkan kaki . ia bisa menyadari semua gerakan itu . k etika ia sepenuhnya memberi perhatian dengan baik. angkat-maju-turun-tekan . Tak perlu siapapun mengingatkan . dengan menaruh perhatian penuh secara otomatis langkah kak i akan melambat. Setelah beberapa jam atau setelah satu-dua hari bermeditasi kalian akan diberi p etunjuk untuk melakukan dua tahapan dalam melangkah. secara otomatis ia akan melambatkan langkah kakinya.ara pemula sang guru akan menasehati untuk sepenuhnya awas pada satu hal selama mempraktekkan meditasi jalan. maju. pelan-pelanlah .atau kirikanan kiri-kanan Yang perlu diingat kalian harus berjalan lebih lambat dari biasanya saat sedang berlatih meditasi jalan. yakni pertama proses mengangkat.. Sesudahnya kalian akan diberi petunjuk lanjutan untuk sepenuhnya menyadari empat tahapan dalam proses melangkah yakni. Kalian harus mengamati sungguh-sungguh dua tahapan proses melangkah tersebut. Setelah itu kalian akan diberi petunjuk untuk sepenuhnya menyadari tiga proses berjalan. Saat konsentrasi berkembang lebih kuat para yogi akan mampu mengamati tahapan-tahapan gerakan yang berbeda dalam satu langkah dimana akhirnya empat tahap gerakan (dal am satu langkah) lebih mudah diamati. Saya akan memberi perumpamaan untuk menjelaskan pernyataan di atas. Tidak perlu secara sengaja melambatkan lan gkah kaki tersebut. keempat sentuh atau meletakkan kaki ke lantai. kedua maju. Maklum tahapan pergerakan itu belum menempel di pikiran. Namun. Dengan pemahaman yang sama. angkat-letakkan angkat-letakkan . Sebagai pemula para yogi akan menemui kesulitan untuk berjalan perlahan. kedua proses maju dan ketiga proses meletakkan kaki. Hanya dengan berjalan lambat ia bisa sepenuhnya awa s dan waspada terhadap gerakan kaki tersebut. pertama mengangkat.berjalan .. Dengan demikian semakin lama ia semakin penuh perhatian. ketiga tur un. Kalian akan diinstruksikan untuk mencatat dalam batin empat gerakan tersebut.berjalan . Dengan kecepatan seperti itu akan sulit b aginya membaca rambu-rambu lalu lintas di pinggir jalan. Ini harus dicatat dalam batin sebagai. Sewaktu berkendara di jalan bebas hambatan seseorang cenderung memacu kendaraannya pada kecepatan 60-70 atau malah 80 mil/jam. Saat itu seolah-olah pergerakan tersebut merupakan satu kesatuan gerak yang berkesinambungan. Tapi si sopir secara otomatis akan memperlambat laju kendaraannya untuk bisa melihat rambu-rambu tersebut.angkatletakka n . . Meskipun para yogi memberikan perhatian yang cermat dan melambatkan langkahnya ada kemungkinan mereka tidak melihat semua pergerakan dan tahapan dari pergeraka n tersebut dengan jernih. bila seorang yogi ingin memberikan perhatian yang lebih cermat atas gerakan mengangkat. Tapi.

rasa berat saat kak i turun dan sentuhan pada kaki terhadap lantai yang berupa rasa keras dan lunak. para y ogi akan melihat rasa ringan saat kaki mengangkat. Saat mengamati proses-proses ini mereka sedang melihat empat unsur utama (Pali: Dhatu ). Dengan kata lain saat itu yogi merasakan intisari dari unsur api. Lebih jauh. saat yogi mengalami rasa berat pada kaki mereka sebenarnya mengalami peristiwa bekerjanya unsur air. Kekerasan adalah karakteristik dari unsur air. Pada gerakan pertama. saat bersungguh-sungguh melihat gerakan kaki maju ketika melakukan meditas i jalan yogi-yogi itu sebetulnya tengah melihat intisari unsur udara. Karena pergerakan (dalam hal ini adalah gerakan mendorong) adalah satu sifat utama dari unsur udar a. Ketika mengalami rasa ringan mereka melihat unsur api. Unsur air bersifat merembes dan mengental. Dan ketika menurunkan kaki mereka mencatat gerakan kaki y ang turun menjadi berat dan semakin berat. Kedua unsur tersebut bisa dirasakan oleh para yogi saat mere ka menaruh perhatian sungguh-sungguh ketika mengangkat kaki. Saat benda-benda menjadi lebih ringan itulah mereka bisa mengangkat kaki. sepanjang pengamatan angkat. yogi mengalami rasa ringan. Jadi. Saat kaki terangkat ada unsur lain yang juga bekerja di sana. Tahap meditasi jalan berikutnya adalah gerakan menurunkan kaki. unsur api dan unsur udar a. Saat mendorong kaki ke depan mereka akan mencapai pergerakan dari satu tempat ke tempat lain. Tapi . Tidak hanya it u. Jadi. dalam hal naiknya kaki. unsur api lebih dominan dibanding unsur udara. Saat meletakkan kaki ke lantai/tanah mere ka merasakan sentuhan. Mereka mengetahui kaki yang terangkat itu ter asa ringan. Jadi bisa dikat akan saat menangkat kaki unsur utamanya adalah unsur api dan unsur kedua yang mengiku ti adalah unsur udara. tapi merupakan proses nyata. turun dan tekan ke lantai. Tahap berikutnya adalah mendorong kaki ke depan. gerakan kaki. Ijinkan kami membahas lebih terperinci sifat dari unsur-unsur tersebut yang beke rja saat mempraktekkan meditasi jalan. yakni gerakan mengangkat kaki. realitas mutla k. Saat ca iran menjadi berat maka ia akan mengental. maju. Setelah itu terjadi per gerakan kaki bergerak naik. Salah satu aspek dari unsur api adalah membuat benda-benda menjadi lebih ringan. Saat kaki terdorong ke depan un sur utama yang mempengaruhi gerakan tersebut adalah unsur udara. Jadi unsur-unsur itu t idak hanya sekedar konsep (teori belaka). Empat unsur utama itu adalah unsur tanah. Dengan memberi perhatian yang cermat pada empat tahapan melangkah sewaktu berlatih meditasi jalan. Sewaktu yogi meletakkan kaki ke bawah ada sejenis kekerasan pada kaki. Pergerakan terjadi karena ada unsur udara yang bekerja. Persinggungan antara kaki . Saat kaki menekan ke tanah/lantai yogi-yogi akan mengalami kekerasan dan kelembutan dari kaki yang menyentuh tanah atau lantai. unsur air.Para yogi akan mengetahui secara jelas bahwa gerakan mengangkat berbeda dengan gerakan maju maupun gerakan turun. empat unsur utama tersebut nampak .

Mereka akan menyadari bahwa kaki bisa diangkat karena mereka menginginkannya. Keadaan ini hanya bisa dilihat dan dialami oleh para yogi yang berlatih dengan sungguh-sungguh. Proses yang sama muncul saat melakukan gerakan menekan kaki ke landasan. Pergerakan-pergerakan itu tak akan muncul denga n sendirinya. Kondisi yang dimaksud adalah munculnya kehendak atau maksud yang mengawali setiap pergerakan. Pad a saat itu para yogi akan memahami batin dan jasmani muncul dan lenyap setiap saat . Pada satu waktu ada kaki yang terangkat dan munculnya kesadaran mengangkat. Demikian seterusnya. Saat para yogi meneruskan latihan meditasi jalannya mereka akan menyadari pada setiap gerakan ada pikiran yang mencatat atau mengawasi setiap gerakan tersebut. Hanya saja pemahaman atau pengertian tentang munc ul dan lenyapnya batin dan jasmani setiap saat ini hanya akan terjadi bagi mereka y ang berlatih dengan sungguh-sungguh. Begitu pula kaki bisa menekan landasan karena mereka bermaksud demikian. Saat it u ada gerakan menekan dan munculnya pengawasan atas gerakan tersebut. Sementara gerakan-gerakan kaki termasuk ke dalam kelompok materi atau rupa . Yakni munculnya serangkaian kehendak a tau maksud yang mengakibatkan terjadinya setiap gerakan. Inilah penjelasannya. Dengan kata lain ada gerakan mengangkat disertai munculnya pikiran yang mengawas i (mencatat) gerakan mengangkat tersebut. Ada sebuah sebab atau kondisi untuk setiap pergerakan. Kehendaklah yang mengawa li setiap pergerakan. Dari sinilah muncul pemahaman tentang bekerjanya pasangan batin dan jasmani yang muncul dan lenyap setiap saat. kaki terdorong ke depan karena mereka bermaksud demikian. Bisa dikatakan hanya dengan satu langkah para yogi bisa mengamati banyak proses. Mereka bisa mengamati empat unsur utama dan menyadari keempatnya secara alami. Kaki bisa turun karena mereka menginginkannya.dan landasan mengalami keadaaan alaminya yang khas. Inilah temuan berikutnya yang bisa ditemui para yogi saat mereka memberikan perhatian dengan . h al itu bisa terjadi karena munculnya serangkaian kehendak. Juga. Setelah ada kehendak untuk mendorong maka muncul proses kaki terdorong ke depan. Setelah itu ada g erakan menurunkan kaki ke landasan. Pergerakan-pergerakan itu tak akan terjadi tanpa adanya suatu sebab. Kondisi ini dipengaruhi oleh uns ur tanah. Setelah mengamati proses ini dengan sungguh-sungguh para yogi kemudian memahami semua kemunculan itu berkondisi. Saat-saat menyadari tersebut termasuk ke dalam bekerjanya kelompok batin (dalam bahasa Pali disebut nama). Demikian seterusnya. Jadi. Jadi dengan menaruh perhatian sungguh-sungguh saat kaki menekan landasan yogi-yogi sebenarnya bisa memetik pengalaman berupa keadaan alami yang dipengaruhi oleh unsur tanah. Saat berikutnya ada gerakan kaki mendorong ke depan dan kesadaran yang melihat pergerakan tersebut. Setelah ada kehendak untuk mengangkat maka muncul proses mengangkat kaki. Keduanya muncul dan lenyap sampai kaki betul-betul menyentuh landasan. ada gerakan mendorong kaki ke depan disertai dengan pikiran yang mengawasi gerakan tersebut. Dengan cara ini para yogi akan memahami bahwa bersamaan dengan melangkah ada gerakan kesadaran atau pengawasan. Bersamaan dengan itu ada pikiran yang mengawasi gerakan tersebut. Ada hal lain yang akan ditemui para yogi. Selanjutnya.

Dengan demikian seseorang yang mendekati pemahaman sotapanna tak mungkin terlahir di alam-alam bawah (alam peta. Tentu saja tingkat di atas tidak mudah dicapai. Pada saat inilah seorang yogi bisa memahami hubungan sebab akibat. Mereka bisa memahami hubungan antara yang dikondisikan dan yang mengkondisikan. Kita harus berusaha untuk melihat melalui kekuatan yang muncul dalam meditasi apakah benda-benda itu subyek dari proses menjadi yang kemudian lenyap. diberitahu pihak lain atau adanya suatu otoritas tertentu yang mendorong munculnya pengertian ini. Mereka memahami bahwa pergerakan itu tercipta oleh maksud atau kehendak. Tapi pihak tera khir ini sudah dipastikan hanya akan terlahir kembali ke alam manusia atau alam dewad ewa. binatang. atau alam-alam neraka). Melalui proses ini lewat pengalamannya sendiri. Hal ini terjadi seiring dengan timbulnya pengertian bahwa segala sesuatu itu akan muncul dan lenyap. Tapi. Mereka juga akan memahami ketidakkekalan kesadaran melangkah. bila seorang yogi mampu meraihnya bisa dipastikan ia hanya akan terlahir di alam-alam bahagia. Setelah itu barulah seorang yogi bisa memutuskan fenomena yang tengah diselidikinya itu bers ifat tidak kekal. Saat seorang yogi memahami kondisi munculnya setiap pergerakan maka akan muncul pemahaman baru. Hal ini terjadi melalui munculnya pengertian bahwa batin dan jasmani tidak akan muncul tanpa adanya suatu kondisi. Saat mereka memahami batin . pengertian muncul dalam diri par a yogi. Pemaha man ini bisa diraih melalui meditasi jalan.. Tentu saja hal ini bisa terjadi sekali l agi dengan memberikan perhatian secara teliti dan sungguh-sungguh dalam mengamati setiap pergerakan kaki. Akhirnya pengertian selanjutnya yang muncul adalah segala sesuatu itu bersifat tidak kekal. Seseorang yang meraih tingkat pemahaman mendekati seorang sotapanna belum benar-benar menjadi sotapanna. Sotapanna artinya pemenang arus. Kita harus berusaha memahami apakah sesuatu itu bersifat kekal atau tidak kekal. Saat pemahaman itu muncul yogi ini bisa saja menyingkirkan keragu-raguannya tent ang batin dan jasmani. muncul dan lenyap (timbul tenggelam). Saat yogi memiliki pengertian tentang muncul-lenyapnya batin dan jasmani mereka akan memahami ketidakkekalan proses melangkah. Melalui penyelidikannya para yogi melihat (menyadari) saat bermeditasi jalan ada gerakan mengangkat dan kesadaran yang muncul atas gerakan itu yang sesaat kemudi an lenyap. Mereka akan memahami bahwa maksud atau kehendak adalah kondisi yang membuat munculnya pergerakan. Seorang sotapanna adalah seseorang yang telah meraih pencerahan tingkat pertama. Gerakan in i pun secara sederhana muncul dan lenyap. Pemahaman ini tidak timbul dari membaca buku. Hal ini memberi ruang atas munculnya gerakan mendorong kaki ke depan. Saat mengalami bahwa batin dan jasmani itu timbul dan tenggelam para yogi akan memahami batin dan jasmani itu bersifat tidak kekal. Dengan pemahaman yang jernih atas kondisi setiap benda dan dengan tersingkirnya keragu-raguan atas batin dan jasmani bisa dikatakan ia meraih tingkat mendekati seorang sotapanna . Jika meditasi k ita cukup baik keadaan ini memungkinkan untuk mengamati ketidakkekalan. Inilah keuntungan besar dari berlatih meditasi jalan.sungguh-sungguh.

Akibatnya mereka bisa melihat anicca. Bagaimana jika ada kamera yang bisa mengambil gambar dari pergerakan mengangkat kaki sebanyak 1000 bingkai dalam satu detik? Bila ada kamera demikian maka akan dihasilkan rekaman seribu pergerakan dalam satu detik. Salah satu arti dari anatta adalah tak ada tuan (majikan) tiada apapun. dukkha dan anatta dari semua fenomena secara alami. Sekarang izinkan kami untuk menjelaskan lebih terperinci tentang pergerakan dala m meditasi jalan. Inilah kenyataannya. Dengan cara semacam inilah akan muncul penghargaan dan penghormatan atas . tak ada kekuatan apapun. ternyata ada satu juta proses pergerakan mengangkat kaki dimana kita menganggapn ya sebagai satu gerakan belaka. Terlihat rangkaian pergerakan itu berbeda satu sama lainnya. tak ada jiwa dibalik fenomena-fenomena tersebut. yakni sifat dari anatta. Bahwa benda-benda tak memiliki diri di dalamn ya. penuh penderitaan dan tak ada inti yang k ekal di dalamnya (dalam Pali disebut bersifat. anicca. mereka menyadari tak ada jiwa atau diri di dalam benda-benda yang memerintah mereka untuk menjadi kekal. Pada kondisi ini yogi-yogi bisa memahami sifat ketiga dari semua fenomena yang berkondisi yakni bersifat tidak kekal. dukkha dan anatta). tentunya. Umpamanya seseorang mengambil gambar bergerak dari proses mengangkat kaki. umpamanya. Benda-benda hanya timbul dan tenggelam mengikuti hukum alam. Atau dengan kata lain. Kataka nlah ada kamera yang bisa merekam gerakan tersebut. Dengan memiliki pemahaman semacam ini yogi-yogi memahami sifat ketiga dari fenomena yang berkondisi. Dengan memberikan perhatian penuh atas gerakan tersebut mereka melihat bendabend a timbul-tenggelam terus-menerus. Kita pun per lu menyelidiki kekuatan kesadaran dan kekuatan kehendak yang muncul di awal setiap pergerakan.dan jasmani itu bersifat tidak kekal mereka akan mengerti bahwa batin dan jasmani it u bersifat tidak memuaskan. Lebih jauh. Usaha yang dikerahkan saat bermeditasi jalan adalah melihat gerakan kita secara cermat secermat kamera berkekuatan tinggi melihatnya bingkai demi bingkai. rangk aian gambar pergerakan itu hampir-hampir sulit dibedakan. Meskipun. Setelah memahami ketidakkekalan dan tidak memuaskannya benda-benda akan muncul suatu penyelidikan yang memunculkan pengertian bahwa di sana tak ada tuan dari benda-benda tersebut. Sekarang akan semakin sulit melihat perbedaan pergerakan dalam bingkai gambar dari hasil rekaman kamera yang bisa mengambil gambar satu juta bingkai dalam satu detik. Para yogi bisa memahami ketiga sifat tersebut dengan penyelidikan secara tekun s aat kaki naik dan kesadaran yang muncul saat menaikkan kaki dan seterusnya. Sehingga kamera ini bisa mengambi l gambar dari gerakan itu sebanyak 36 bingkai dalam satu detik. Meski perbedaan itu kecil sekali tapi seseorang bisa dengan mudah melihat perbedaan tersebut. Hal ini muncul karena ternyata batin dan jasmani berad a dalam keadaan terus-menerus timbul dan tenggelam. Setelah gambar itu terekam kita bisa mengamati rangkaian pergerakan dalam bingka ibingkai yang terpisah itu. naiknya kaki berkisar satu detik.

sebagai umat awam. para yogi akan menyadari sesungguhnya tak ada apapun di dunia ini yang cukup berharga untuk dilekati atau diidam-idamkan. bahwa kita tak akan mungkin melihat secara langsung seluruh satu juta gerakan se perti yang bisa dilihat oleh Sang Buddha. Nilai dari meditasi ini bersandar pada kemampuan kita untuk menyingkirkan selubu ng ketidakterputusan dengan menemui keadaan alami atas ketidakkekalan. Dengan pandangan biasa seseorang tak akan mampu melihat ketidakkekalan dari bend abenda karena ketidakkekalan tersembunyi oleh khayalan. Mereka telah mengamatinya dengan peralatan sangat canggih bahwa materi hanyalah gabungan getaran partikel-partikel dan energi yang berubah terus-menerus. Setelah menyadari bahwa benda-benda merupakan gabungan dari bagian-bagian yang muncul sedikit demi sedikit dan setelah mengamati bagian-bagian ini satu demi sa tu. Sebagai contoh kita mungkin melihat sebuah lukisan indah yang digoreskan pada su atu kanvas. Kita berpikir. sebagai ketidakkekalan. Sebelum mulai berlatih meditasi jalan mungkin para yogi pernah berpikir satu lan gkah hanya terdiri dari satu gerakan. setahap demi setahap sebagaimana adanya sehingga khayalan tersebut bisa dihancurkan. Jika lukisan tersebut ditaruh di bawah mikroskop kita akan melihat ternyata gamb ar tersebut tidak padat dan merupakan satu kesatuan. kebijaksanaan dan pandangan terang Sang Buddha atas apa yang beliau lihat dari pergerakan-pergerakan tersebut. timbul tenggelam. Setelah melihat lukisan tersebut merupakan gabungan dari ruang-ruang kita akan kehilangan ketertarikan padanya. Karenanya kita akan kehilangan keterikatan atasnya. Tak ada suatu i . hal ini dimaksudkan secara langsung melihat dan juga menarik kesimpulan . Jika melihat sesuatu yang sekilas k ita pikir cantik ternyata si cantik itu berlubang-lubang. yang melihat saat melangkah hanya berupa satu gerakan tak terputus. Saat menggunakan kata melihat atau mengamati yang merujuk pada situasi diri sendiri. mudah busuk dan hancur. Saat itu kita berpikir cat dan kanvas secara keseluruhan sebagai suatu k esatuan.perjuangan. Setelah berlatih meditasi dan mengamati dengan penuh perhatian para yogi akan ta hu meski hanya satu pergerakan (dari jumlah keseluruhan 4 tahapan gerak) sebenarnya pergerakan itu gabungan dari jutaan gerak. Dengan kata lain ketertarikan kita pada lukisan tersebut akan padam. Dari proses ini mereka melihat batin dan jasmani. Karena ternyata lukisan terseb ut terdiri dari banyak lubang dan rongga-rongga. Demikian pula dengan yang terjadi pada khayalan atas ketidakterputusan bisa dipatahkan. Khayalan ini bisa dipatahkan oleh pengamatan langsung atas fenomena jasmani sedi kit demi sedikit. Para yogi bi sa menemukan ketidakkekalan sebagaimana adanya secara langsung melalui daya upaya mereka sendiri. Namun dengan mengamati lebih jernih kita bisa mengetahui bahwa gerakan itu terdiri dari banyak gerak yang berkesinambungan dalam membentu k satu-kesatuan gerak. Ahli fisika modern tahu hal ini dengan baik.

Meditasi jalan bisa mengakibatkan berkembangnya kekuatan spiritual. __________________ Latihan Meditasi Vipassana Praktis oleh: Ven. Sekali kita mampu menyadari hal ini maka kita akan mampu menyingkirkan kemelekatan terhadap benda-benda. Meditasi jalan juga sekuat kesadaran murni mel ihat kembung dan kempisnya perut. Kita berlati h meditasi karena ingin menyingkirkan kemelekatan dan kerinduan terhadap obyekobye k. Sepanjang belum mampu menyadari kebenaran ini. Terjadinya Nâma-rûpa ini dirasakan . Mahâsî Sayâdaw Agga Mahâpandita U Sobhana khotbah YM Mahâsi Sayâdaw Agga Mahâ Pandita U Sobhana kepada murid beliau pada saat pelantikan Meditasi Vipassanâ di Sâsana Yeikhta. Keseluruhan tubuh yang dirasakan den gan jelas tersebut. Meditasi jalan bisa menolong kita meraih pandangan terang melalui melihat ke dalam benda-benda apa adanya. Fenomena fisik adalah segala sesuatu (obyek-obyek) di sek itar yang dirasakan dengan jelas oleh seseorang. Sedangkan fenomena f isik atau mental merupakan bentuk kesadaran (nâma). Tak ada substansi yang kekal di dalamnya. Kita ingin menyingkirkan kerinduan karena tidak ingin menderita. Selebihnya kita harus berlatih meditasi jalan dengan sungguh-sungguh sama sepert i waktu berlatih meditasi duduk atau posisi lainnya. Meditasi jalan juga bisa menjadi alat yang tepat gu na menolong kita menyingkirkan kekotoran batin. Sekarang kita bisa memahami alasan mengapa perlu berlatih meditasi. Dengan mempraktekkan semua si kap tubuh dalam meditasi vipassana. Tak ada apapun yang cukup berharga untuk digenggam di dunia fenomena ini.nti sari yang kekal di dalamnya. Lebih jauh kita harus memberikan perhatian penuh saat bermeditasi jalan sama sep erti yang kita lakukan saat duduk bermeditasi atau berbaring. Dengan menyadari ketidakkekalan yang tiada akhir ini para yogi tahu benar-benar tidak ada apapun yang cukup berharga untuk diidam-idamkan. tersusun atas sekelompok sifat materi (rûpa). Kita harus mengenyahkan kerinduan dan kemelekatan. Rangoon. dukkha dan anatta dari benda-benda secara apa adanya. Burma Praktek Vipassanâ atau meditasi pandangan terang merupakan upaya yang dilakukan oleh meditator untuk memahami dengan benar sifat sejati fenomena psiko-fisik yan g terjadi pada tubuhnya. Itu terjadi melalui pengertian atas merealisir ketiga keberadaan anicca. termasuk sikap tubuh berdiri. Maka sangat diperlukan memiliki pengalaman langsung bahwa semua benda yang berkondisi adalah tanda dari keberadaan ketiga sifat dasar ters ebut. Kita harus memahami bahwa segala sesuatu muncul dan lenyap. sebanyak apapun buku yang dibaca atau bahan yang didiskusikan (mendiskusikan tentang bagaimana menyingkirkan kemelekatan) kita tidak akan mampu mengenyahkan kemelekatan tersebut. Meditation Centre. semoga semua yogi bisa meraih pemurnian sepenuhnya dalam kehidupan ini. Dengan cara itulah kita bisa menyingkirkan kerinduan. Saya tidak sedang berusaha mengatakan bahwa dengan mempraktekkan meditasi jalan bisa memberikan kesadaran tertinggi dan kemampuan untuk sepenuhnya mengusir kemelekatan. Meski begitu meditasi jalan bisa seakurat seperti meditasi duduk at au jenis posisi meditasi vipassana yang manapun.

Jika Anda membayangkan bertemu seseora ng. Merencanakan sebagai merencanakan. Senang sebag ai . Meditator harus mulai dengan memperhatikan gerakan ini. Anda akan mengetahui bahwa perut bergerak naik saat Anda menarik nafas. maka amatilah sebagai. Jika ha l ini diamati sekali atau dua kali. Kemudian kembali lagi kepada gerakan perut naik dan turun. mengembara. Kita harus senantiasa membuat diri sendiri sadar akan nâma-rûpa tersebut dengan cara mengamati dan memperhatikannya sedemikian rupa. J ika Anda membayangkan. merasakan sebagai merasakan . Yang menjadi persoalan utama adalah mengetahui atau merasakan. menyentuh atau berpikir. maka ia harus menyadari kenyataannya. Jika kemudian pikiran sampai di suatu tempat. perut senantiasa naik dan turun dan ger akan tersebut jelas sekali. mencium. Singkatnya. bicara . Kemudian kembali lagi kepada gerakan perut yang naik dan turun. Bernafaslah dengan teratur seperti biasanya dan perhatikan perut yang bergerak naik dan turun setiap kali berlangsung. Jangan mengubah cara Anda bernafas. Jangan bernafas terlalu keras juga. Jika And a merasa bahagia. Hal ini juga harus disadari dengan berkata dalam hati. sampai. dan dilakukan oleh pikiran yang dengan tekun mengamati perut. seperti layaknya sebuah batu yang dilempar mengenai sasarannya. dan bergerak turun saat Anda menghembuskan nafas. Dalam setiap tindakan bernafas. Saat mengamati perut yang bergerak naik. Gerakan naik harus disadari sebagai gerakan naik. Demikian pula dengan gerakan turun. Jika Anda membayangkan bertemu dan berbicara dengan seseorang maka amati hal itu demikian. maka sadarilah itu sebagai berpikir. dan gerak an turun sebagai gerakan turun. sadarilah itu sebagai bahagia.dengan jelas. Jika gerakan tersebut tidak cukup jelas bila hanya diamati oleh pikiran. Lakukan pengamatan itu dengan pikiran dan bukan dengan gerakan. Jika Anda berpikir. seperti: melihat sebagai melihat . Hal ini merupakan sifat materi yang dikenal sebagai vâyodhâtu (elemen pergerakan). sehingg a Anda akan kembali mengamati perut yang bergerak naik dan turun. menyentuh sebagai menyentuh dan berpïkir sebagai berpikir . lakukan hal itu dari awal hi ngga akhir gerakan seperti layaknya Anda melihatnya dengan mata. mendengar sebagai mendengar . orang ten tu saja tidak dapat menyadari setiap hal tersebut di atas. maka Anda dapat menyentuh perut Anda dengan menggunakan telapak tangan. Perhatikan gerakan naik sedemikian rupa hingga kesadaran An da terhadapnya selaras dengan gerakan itu sendiri. mengembara . jangan memperlambat atau mempercepatnya. mencium sebagai mencium . dicium. Lakukan hal yang sam a untuk gerakan turun. Anda akan merasa lelah jika mengubah cara bernafas. merasakan. maka sadarilah itu sebagai membayangkan. Karena itu ia harus mula i memperhatikan hal-hal yang berlaku. Gerakan naiknya perut serta kesa daran mental terhadapnya harus bertepatan. Dalam meditasi vipassanâ. Setiap kali seseorang melihat. apa yang Anda sebut atau katakan tidak masalah. maka pikiran akan berhenti mengembara. apapun bentuk pikiran atau bayangan yang timbul haruslah disadari. sampai . bicara. Bosan sebagai bosan. Pikiran Anda bisa saja mengembara ke mana-mana saat mengamati gerakan perut. mendengar. bertemu . Namun di awal latihan. didengar. disentuh at au dipikirkan. maka kita sadari. bertemu. yaitu saat nâma-rûpa dilihat. yang menarik perhatian dan mudah dirasakan olehnya. dirasakan.

Itulah mengapa kita harus senantiasa mengamati setiap bentuk kesadaran yang timbul. Kemudian kita akan kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut. I . maka perasaan kaku dan panas akan timbul dalam tubuh. aku merasa pegal. Dan mengamati semua bentuk kesadaran ini disebut sebagai cittânupassanâ. Penjelasan mengenai bentuk-bentuk perasaan dengan menyertakan ego adalah keliru. Hal ini juga harus diamati dengan hati-hati pula. Phala (Buah dari Sang Jal an) dan Nibbâna. Jika samâdhi tidak berkembang maka batin tidak akan mencapai hasil. di mana setelahnya sang yogi harus kembali lagi mengamati perasaan kaku. Orang harus sabar dalam bermeditasi. aku merasa panas. Hal ini sama seperti timbulnya aliran listrik baru yang berkesinambungan. perasaan tersebut cenderung meningkat dan menyebabk an keinginan untuk mengganti posisi tubuh. Sama halny a dengan rasa pegal dan lelah. maka samâdhi (konsentrasi benar) tidak akan berkembang. Jika ia menukar atau mengganti posisi tubuh terlalu sering karena tidak sabar menghad api perasaan kaku atau panas yang timbul. panas da n sebagainya. yang menyebabkan lampu menyala. mengetahui atau merasakan. Seluruh bentuk perasaan itu disebut sebagai dukkhâved anâ (perasaan tidak puas) dan tindakan mengamatinya disebut sebagai vedanânupassanâ. Ora ng tidak seharusnya gampang menyerah terhadap latihan meditasi pada saat muncul bentuk-bentuk perasaan tersebut sehingga ia langsung mengubah posisi tubuhnya. orang tersebut tidak ada. Itulah mengapa kesabaran sangat dibutuhkan dalam meditasi. Pada tahap awal latihan meditasi yan g dilakukan oleh seorang yogi. kita cenderung mengidentifikasikannya dengan seseorang atau satu individu. Kita cenderung berpi kir bahwa inilah aku yang sedang membayangkan. Pepatah ini rupanya berhubungan erat dengan upaya bermeditasi. panas dan pegal serta yang lainnya sangatlah sukar dipertahankan. bentuk kesadaran tersebut cenderung lenyap. Kecil hati sebagai kecil hati. Jika kita gagal mengamati bentuk-bentuk kesadaran tersebut. padahal aku baik-b aik saja beberapa saat yang lalu. Aku sekarang merasa tidak nyaman dengan perasaanpe rasaan yang tidak enak ini . Yang ada hanyalah bentuk-bentuk kesadaran yang berlangsung terus menerus. Bentuk-bentuk perasaan ini harus diamati dengan hati-hati dan terus menerus. Kita jadi berpikir bahwa ada seseorang yang sejak kan akkanak hingga sekarang. Karena dengan mengamati. Setiap kali kontak yang tidak menyenangkan menyentuh tubuh maka bentuk-bentuk perasaan tidak menyenangkan timbul saling bergantian. Jika Anda telah duduk bermeditasi sekian lama. Aku merasa kaku. Memang kesabaran terhadap bentuk-bentuk perasaan tidak menyenangkan dalam tubuh seperti rasa kaku. merencanakan. Yang ada hanyalah timbulnya satu bentuk perasaan tidak menyenangkan yang disusul oleh bentuk perasaan tak menyenangkan berikutnya. Kesabaran menuntun ke Nibbâna demikian kata pepatah. sedang berpikir. Kegagalan atau kelalaian dalam mengamati sensasisensasi tersebut membuat Anda berpikir. sedang hidup dan berpikir. pegal atau panas. tak peduli apakah itu perasaan kaku. da n tidak juga akan tercapai Magga (Jalan menuju Nibbana). pegal.senang. Sesungguhnya. Sesungguhnya tidak ada aku yang terlibat di sini. Itulah mengapa kita harus mengamati bentuk-bentuk kesadaran dan memahaminya sebagaimana adanya. Keinginan ini pun harus diamati.

ingin mengubah posisi . Jika kaki turun. terangkat . maka ia memang harus menggaruknya agar rasa gatal it u hilang. menyadari rasa kaku sebagai rasa kaku atau panas sebagai panas . bergerak . pengamatan dalam meditasi vipassanâ harus berkesinambungan dan tanpa henti. Namun ia juga harus tet ap mengamati demikian. antara usaha samâdhi (tahap konsentrasi) dan samâdhi yang sesungguhnya. tubuh menjadi ringan dan terangkat. menarik dan mendorong (gerakan-gerakan menggaruk) hingga akhirnya kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. bergerak. menyentuh . bergerak. Anda harus mulai dan mengamati keinginan untuk mengubah posisi tubuh itu dan dilanjutkan dengan mengamati setiap gerakan dengan cermat. Konsentrasikan pikiran Anda pada gerakan ini. Yang ada hanyalah kesinambungan antara usaha mengamati dan pengamatan sesungguhnya. bahkan bentuk perasaan yang kuat sekalipun cenderun g menghilang. bangun. Anda harus mengamatinya pelan-pelan. maka rasa gatal akan berangsur-angsur hilang dan kemudian ia bisa kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut.a harus melanjutkan meditasinya dengan penuh kesabaran. terangkat. Jika ia dengan tekun mengamati. mengangkat tangan. Proses meditasi adalah seperti menciptakan api dengan car a menggesekkan dua batang kayu dengan sekuat tenaga dan tanpa henti hingga timbul intensitas panas yang dibutuhkan (agar api menyala). turun. maka harus diamati. seperti misalnya bangun dari posisi duduk. Sehingga ia lalu kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut. maka rasa gatal dan keinginan untuk menggaruk itu harus diamati. terangkat. bangun . bergerak dan menyentuh. Magga dan Phala Ñâna (pengetahuan akan Jalan dan Buahnya) didapatkan hanya jika terjadi momentum pertemuan seperti ini. Jika rasa ga tal tersebut tidak juga hilang. menggerakkan dan merentangkannya. amatilah itu. bergerak . Jika tangan terangkat. amati demikian. Sebagai contoh. dan juga b ila perasaan-perasaan tersebut menjadi tak tertahankan lagi. Dengan demikian tercapailah tahap-tahap kematangan yang terus menerus dan meningkat dalam kecerdasan seorang yogi. jika rasa gatal timbul dan meditator ingin menggaruknya karena rasa gatal tersebut sudah tidak tertahankan lagi. tanpa adanya jeda di antara kegiatan mengamati tersebut apapun fenomena yang timbul. Sa at konsentrasi baik dan mantap. Tapi ia tentu saja harus segera mengubah posisi tubuhnya jika bentuk-bentuk pera saan yang tidak menyenangkan tetap ada meskipun telah diamati sekian lama. bergerak . Setiap kali Anda mengubah posisi tubuh. Saat tubuh Anda condong ke depan. bergerak. terangkat . Mengubah posisi tubuh ini harus dilakukan dengan halus dan diamati demikian. Perubahan posisi harus dilakukan bersamaan dengan pengamatan yang Anda lakukan. Jika tubuh bergerak. Namun pertama-tama. hanya istirahat statis saja. maka kembal ilah pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. khususnya gerakan menyentuh. Bentuk-bentuk perasaan yang halus seperti ini akan langsung hilang jika orang tersebut mengamatinya dengan penuh kesabaran. Semua gerakan yang dilakukan untuk menghilangkan rasa gatal ini harus diamati. keinginan untuk menggaruk tersebut juga harus diamat i. dan jangan lang sung menggaruk agar gatalnya hilang. terangkat. Tak boleh ada waktu jeda saat it u. ingin mengubah posisi. turun . terangkat . Namun jika tidak mengubah posisi tubuh. Jika tangan bergerak. Jika kaki terangkat. bergerak. Saat Anda bangun. Dengan cara yang sama. Jika kaki bergerak. .

maju. Saat berjalan. apakah den gan kaki kiri atau kaki kanan. Demikian pula dengan orang ya ng menderita sakit punggung (encok). ingin duduk. angkat. bangun. mengamati setiap langkah demikian. Mereka harus bergerak mengubah posisi tu buh secara bertahap. Saat Anda sudah duduk. Pengamatan seperti ini akan semakin mudah setelah dilakukan selama dua hari. Orang normal d an sehat akan berdiri dengan mudah.Seorang meditator harus bertindak seperti orang cacat yang lemah. maka amati gerakan perut yang naik dan turun. cukup mengamati satu atau dua gerakan saja yaitu. Saat melihat kesana kemari. kanan saat berjalan cepat dan angkat. turun . Anda harus selalu menyadari semua gerakan yang ada. menundukkan atau menegakkan kepala. Sama halnya jika mendengar. Begitu juga para yogi yang bermeditasi. Semua gerakan ini harus dilakukan pelan-pelan. Cukuplah jika Anda melakukan pengamatan saat berjalan cepat atau berjalan dalam jarak tertentu. Melihat atau mendengar tidak menjadi perhatiannya. ia akan berdiri pelanpelan supaya punggungnya tidak semakin sakit. mulai dari gerakan terangkatnya hingga turunnya kaki. turun pada saat berjalan pelan. memandang . Tidak hanya ini. ingin duduk . Meskipun mungkin mata melihat. jika timbul . ia akan bergerak pelan dan hati-hati. Saat bangun dan posisi duduk. tapi bersikaplah seperti tidak melihat. amati dengan konsentrasi penuh beratnya gerakan turun tubuh Anda. Saat meluruskan badan dan berdiri. Jadi seaneh atau seheboh apapun yang barangkali dilihat atau didengarnya. berdiri . Pada awalnya . Anda harus mengamati dengan cermat terangkatnya kaki. namun hanya posisi tubuh yang statis. kiri. amati langkah kaki. Amati setiap langkah kaki. Kemudian lakuk an pengamatan 3 gerakan seperti disebutkan di atas. berdiri. Jika akan bangun. Mulai saja dengan gerakan terangkat dan gerakan jatuh. 3 gerakan harus diamati dalam setiap langkah yaitu: saat kaki terangkat. amati demikian. apakah kaki kiri atau kaki kanan yang maju. pelan-pelan menggerakkan lengan dan kaki. perhatian seorang yogi hanyalah mengamati. Dan pada saat duduk. seorang yogi harus melakukannya perlahan-lahan seper ti orang cacat yang lemah. cepat dan tiba-tiba. pelan dan hati-hati. Saat bermeditasi. ia harus bersikap seakan tidak melihat atau mendengarnya. Karena itu mulailah dengan gerakan yang bertahap dan perlahan. saat kaki terdorong ke depan dan saat kaki jatuh. Namun tidak demikian denga n orang cacat. turun . Demikian pu la saat kaki jatuh ke tanah. pada saat yang sama amatilah. Jika tidak ada gerakan apa-apa. menekuk atau meluruskannya. bangun . Dengan demikian kewaspadaan. Anda juga harus mengamati beratnya gerakan kaki turun. yang ia lakukan hanyalah terus mengamati hal-hal tersebut dengan cermat. Orang harus berjalan. Jika pada saat berjalan Anda lalu ingin du duk maka amatilah demikian. lakukanlah sepelan mungkin seperti layaknya orang cacat. ia harus melakukannya secar a perlahan. konsentrasi d an pandangan akan mantap. amati gerakan-gerakan yang Anda lakukan saat mengatur posisi kaki dan tangan Anda. Saat membuat gerakan tubuh. Saat berjalan perlahan atau berjalan cankama (berjalan naik dan turun). Saat mengamati. angkat. amati demikian. mengamati demikian. bangun . melihat. Inilah cara mengamati jika seseorang berjalan dengan cepat.

Melakukan pengamatan saat Anda berbaring dengan cara demikian adalah penting. Pencapaian seperti itu datang setiap sa at dan hanya butuh waktu sekejap. Dengan menyadari bahwa ia telah berlatih meditasi secara berlebihan. angkat. menempelnya sikut pada lanta i. tingkat anâgâmi (yaitu yang tidak kembali lagi atau tingkat kesucian ke tiga) dan tingkat Arahat (yaitu kondisi seseorang yang telah mencapai kesucian tertinggi). turun . Pengetahuan itu bisa datang dalam sekali tekukan tangan atau dalam sekali rentan gan tangan. naik. amati keinginan itu dan juga gerakan-gerakan tangan dan kaki saat And a berbaring. maka seorang yogi tidak boleh .rasa kaku pada pinggul dan rasa panas di sekujur tubuh. lanjutkan dengan mengama ti bentuk-bentuk perasaan tersebut. Itulah mengapa seorang yogi harus tekun mengamati setiap saat. keinginan mental untuk berjalan serta gerakan fisik yang terjadi saat berjalan. jika timbul keinginan untuk berbaring. Bahkan jika hari sudah sangat larut dan waktunya tidur. ia melanjutkan meditasi dan mencapai tingkat sakadâgâmi (yaitu orang yang kembali sekali lagi atau orang yang telah mencapai tingkat kesucian ke dua). Ia mengamati setiap kejadian . Karena ini jugalah maka YM Ananda menjadi seorang Arahat. kaki yang diluruskan. condongnya tubuh saat Anda telah siap untu k berbaring. mencapai tingkat kesucian pertama) sebelum ia membaringkan tubuhnya. YM Ananda telah bertekad untuk mencapai tingkat Arahat dalam semalam saat Sang Buddha membabarkan ajaranNya untuk pertama kali. dan dengan tujuan menyeimbangkan samâdhi (konsentrasi) dan viriya (usaha). yaitu mengamati langkah kaki . maka ia masuk ke dalam kutinya. Terangkatnya lengan. Ia tidak boleh bersantai-santai dalam mengamati dan berpikir bahwa. Tiga tingkat kesucian yang lebih tinggi ini dicapai hanya dalam waktu sekejap. Jika tak ada gerakan. Lalu kembali lagi pada. ia belum juga berhasil mencapai tingkat Araha t. Saat mengamati. berbaring. Ia berlatih semalaman satu bentuk meditasi vipassanâ yang dikenal sebagai kayagatasati. berbaring maka ia langsung mencapai tingkat Arahat. namun hanya tubuh yang statis. Segala gerakan yang terjadi saat berbaring dan mengatur posisi lengan d an kaki harus diamati secara cermat dan terus menerus. kiri dan kanan. maju ke depan dan menjejak. bergeraknya lengan. goyangan badan. YM Ananda hanyalah seorang sotâpanna (yaitu seorang pemenang arus. semua gerakan ini harus diamati. maka pengetahuan itu dapat timbul kapan saja. Jadi renungkanlah pengalaman YM Ananda yang mencapai tingkat Arahat ini. Ia duduk di atas bantal dan membaringkan tubuhnya. Dalam kasus gerakan seperti ini (yaitu berbaring) Anda dapat memperoleh pengetah uan (yaitu magga ñâna dan phala ñâna pengetahuan akan Sang Jalan dan Buah). maka kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. ia harus bermedita si dalam posisi berbaring sejenak. Dari tingkat sotâpanna . Saat samâdhi (konsentrasi) dan ñâna (pandangan terang) cukup mantap. sedikit waktu terlewat tidak lah seberapa . Saat melakukan ini dan mengamati. Meskipun ini dilakukan hingga hampir subuh.

Seorang yogi yang bertekad mencapai magga dan phalañâna harus beristirahat hanya pada saat tidur saja. terpejam. sakit . semua gerakan ini juga harus diamati. jika rasa ka ntuk yang menang maka ia akan langsung tertidur. Jika ia mengubah gerakan-gerakan saat mengatur posisi tangan dan kaki. ia harus mengamati demikian. Orang juga harus mengamati saat ia mencuci wajah atau mandi. Jika Anda bermeditasi dalam posisi berbar ing maka rasa kantuk cepat datang dan akhirnya Anda jatuh tertidur. segar dan terus mengamati gerakan naik dan turunnya perut. membuka dan menutup pintu. maka ia bisa memperpanjang waktu tersebut hingga 5 atau 6 jam. Saat seorang yogi bangun. Jika mata terasa sakit. ia harus terus mengamati tanpa henti. Saat tidur merupakan saat beristirahat bagi seorang yogi. melihat. maka ia haru s mengamati. bangun. ngantuk . Di saat yang lain. ia harus membatasi waktu tidurnya hingga 4 jam. ngantuk. Kemudian ia secara alami (otomatis) akan tertidur. Jika ia berniat bangun dari ranjang. Jika meditasinya matang dan mengalahkan rasa kantuknya maka ia tidak akan tertidur. yaitu pada saat bangun. Jika seorang pemula dalam meditasi berpikir bahwa 4 jam tidur tidaklah cukup untuk menjaga kesehatan. segar. maka jika kantuk yang sebenarnya timbul maka ia akan langsung tertidur. Sang yogi lalu harus mengamati. Karena biasanya gerakan-gerakan yang terjadi berlangsung cepat. ia harus langsung mulai mengamati. Tidaklah sulit untuk tertidur. Ia seharusnya lebih sering bermeditasi dalam po sisi duduk atau berjalan. Itulah mengapa mereka yang baru mulai belajar bermeditasi tidak dianjurkan untuk sering-sering berlatih dalam posisi berbaring. Saat seorang yogi makan dan memandang meja makan. Jika matanya terpejam. ia harus mulai dengan mengamati gerakan naik turunnya perut. menurunkan tangan kembali dan . melihat. Jika ia belum mampu membuat dirinya sadar akan hal ini. Enam j am tidur sangatlah cukup untuk menjaga kesehatan. Inilah waktu tengah malam yang disarankan Sang Buddha. tegak . maka ia bisa bermeditasi saat berbaring. Saat menegakkan kepala ia mengamati demikian. Saat ia merasa ngantuk. Seorang yogi yang serius dan bersemangat harus melatih kewaspadaan seperti mendahului rasa kantuknya itu. namun hanya duduk diam. menundukkan kepala dan memasukkan sesendok ke dalam mulut. menyentuhnya. bahkan sangat gampang. Sebaliknya. duduk duduk . i ngin bangun . Jika matanya terasa makin berat. sehingga harus diamati sebanyak yang memungkinkan. Tapi bagi seorang yogi yang benar-benar serius. terpejam . Betapa pun giatnya seorang yogi melakukan medit asi. 4 jam tidur adalah cukup. Tapi jika hari semakin larut malam dan sudah waktunya tidur . mengamati gerakan perut naik dan turun. maka ia harus kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. memandang. mengambil dan mengaturnya di piring. Ia harus terus bermeditasi hingga akhirnya memang tertidur. berat . ingin bangun. bangun . berat. Kemudian ada pula gerakan berpakaian. tegak. Jika tak ada perubahan apapun.tidur dulu dan mengendurkan pengamatannya. Mengamati dengan cara demikian maka rasa kantuk akan hilang dan mata menjadi segar lagi. ia harus mengamati demikian. sakit. memandang . Saat menyodorkan tangan ke arah makanan. Lalu ia harus segera mengamati gerakan-gerakan saat mengatur posisi lenga n dan kaki. merapikan ranjang. Semua gerakan tersebut harus diamati secermat mungkin. Itulah mengapa pada saat terbangun dan tidur maka ia harus langsung mengamati keadaan pikiran saat bangun seperti. Saat ia duduk ia akan mengamati.

memegan g sendok dan menyendok sup tersebut. g erakan naiknya perut akan selaras dengan mengamati. Pada awalnya seorang yogi akan mele wati beberapa hal yang seharusnya diamati. kanan. Sampai di sini saya telah menyebutkan begitu banyak hal yang harus diamati oleh seorang yogi. kewaspadaan menjadi hampir simultan (tanpa henti) pada obyek perhatiannya. Pikirannya kemudian akan terpusat pada obyek perhatian. Tapi saat ia semakin terlatih. turun . ia akan mampu mengamati dengan cermat semua gerakan yang terjadi. Yang ada hanyalah obyek pengamatan dan kegiatan mengamati yang berpasangan. gerakan mencondongkan dan menegakkan kepala. ia akan mampu mengamati lebih banyak gerakan yang terjadi. Saat mengamati demikian dan pikiran melantur. semua gerakan ini harus diamati. Semua gerakan yang terjadi seperti menyodorkan tangan. demikian pula dengan gerakan turunn ya perut). mengunyah . Pada awalnya. ia harus mengamati demikian. amati demikian. gerakan condong dan meluruskan pinggul. Jika seorang yogi terus mengamati secara demikian. amati hanya gerakan naik dan turunnya perut. misalnya gerakan naik dan turunnya perut (atau dengan kata lain. Tapi ia pantang putus asa k arena setiap pemula dalam meditasi akan menghadapi kesulitan yang sama. mengetahui. ia akan kehilangan banyak hal untuk diamati. mengunyah. gerakan memutar dan meluruskan tubuh. Saat ia sampai pada tahap merasakan makanan. ia akan semakin menyadari saat pikirannya mulai m elantur hingga akhirnya pikiran itu berhenti melantur. Saat ia menikmati dan menelan makanan tersebut. tapi saat samâdhi (konsentrasi)nya telah mantap. Saat berjalan pel an. sebenarnya hanya ada beberapa hal mendasar ya ng perlu diamati. angkat. Amati juga. Sang yogi pada saatnya akan mengalami sendiri keadaan ini yang sesungguhnya. semua gerakan ini harus diamati seperti adanya (pengamatan seperti ini sama seperti cara pengamatan orang Burma saat makan. Tentu saja ia tak dapat mencegah lewatnya beberapa hal yang seharusnya diamati. Lalu kem bali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Saat ia mengunyah makanan. Saat berjalan cepat. Inilah y ang harus dilakukan seorang yogi saat ia makan sesendok demi sesendok. Dengan demikian sang . Saat mengamati gerakan naik dan turunnya perut ia akan dapat membedakan bahwa gerakan naiknya perut sebagai fenomena fisik dan kegiatan mental mengamatinya sebagai fenomena psikis. saat pikirannya mengembara kesana kemari. tak ada satu individu atau orang yang terlib at. Lalu kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Tapi secara singkat. Begitu pula dengan gerakan turunnya perut. Mereka yang menggunakan garpu dan sendok atau sumpit harus mengamati gerakan-gerakannya dengan sikap yang sepatutnya). dan saat makanan tersebut turun melalui kerongkongannya. Mengamati gerakan-gerakan yang terjadi pada saat makan memang cukup sulit karena terdapat begitu banyak hal untuk dilihat dan diamati. mengetahui . pegal dan sakit serta rasa gatal manakala timbul. Amati pula rasa kaku.menegakkan kepala. ia harus mengamati gerakan ini. ia harus mengamati. Amati hal yang sama saat Anda yang perlu diamati. Dan dalam keadaan ini. saat timbul. kiri . Obyek fisik perhatian dan kegiatan mental mengamati akan berlangsung secara berpasangan. Lalu kembali pada gerakan naik dan turunnya perut. Saat duduk diam. Begitu pula j ika ia sedang makan sup. amatilah bentuk-bentuk kesadaran. tapi ia harus bertekad untuk dapat mengama ti semuanya.

ia akan memahami bahwa segala sesuatu yang timbu l akan cepat berlalu. Tidak lama setelah itu mereka akan mengalami sendiri magga-ñâna. yaitu menyadari bahwa segala sesuatu yang bersifat sementara adalah derita. Ini adalah juga dukkhanupassana-ñâna. Arahat dan Arya. Mereka bersifat tanpa jiwa at au tanpa ego. untuk memenuhi keinginan mereka mencapai magga-ñâna (pengetahuan akan Sang Jalan). Dan sesungguhnya. Selanjutnya.yogi akan menyadari dengan sejelas-jelasnya keadaan tanpa henti dari pasangan fenomena fisik dan psikis tersebut. Sangatlah penting untuk mendapatkan pemahaman ini secara benar. Arahat dan Arya. sang yogi akan menyadari dengan jelas bahwa se gala fenomena besifat aniccâ. serta terselamatkan dari bahaya kelahiran kembali di alam manapun juga. serta yang menyertai masaknya buah itu adalah pârâmi mereka (kebajikan sempurna). bahwa ia akan terbebas d ari sakâyaditthi (kepercayaan akan adanya aku) dan vicikicchâ (keragu-raguan). sang yogi akan menjadi yakin bahwa segala fenomena psiko-fisik terjadi dengan sendirinya. Semoga Anda semua mampu berlatih meditasi dengan baik dan dengan segera mencapai Nibbâna yang telah dialami oleh para Buddha. Mereka harus merasa bahagia akan hal ini serta pada kemungkinan mengalami keadaan samâdhi luhur ini (kedamaian pikiran yang timbul dari konsentrasi) dan ñâna (kebijaksanaan) yang dialami oleh para Buddha. Pada kenyataannya tidaklah demikian. yang merupakan satu bentuk dari penderitaan. dengan pengetahuan membedakan antara sebab dan akibat. Karenanya. Pengetahuan tersebut lalu akan diikuti oleh dukkhânupassanâ-ñâna. phalañâna (pengetahuan buah dan Sang Jalan) dan Nibbâna-dhamma. Sang yogi juga akan menemui berbagai macam kesulitan dalam tubuh. Sadhu!Sadhu!Sadhu! *** . hal-hal tersebut akan dialami dalam rentang waktu satu bulan. Arahat dan Arya memahami Nibbâna dengan mengikuti hanya jalan ini. sebagai tahap awal vipassanâ-ñâna. Saat sang yogi terus mengamati. Arahat dan Arya. Keyakinan seperti i ni disebut sebagai aniccânupassana-ñâna. Dan pengetahuan ini disebut sebagai paccaya-pariggaha-ñâna. Sang yogi memang seharusnya merasa puas dalam keyakinan bahwa ia akan mencapai Dhamma-Dhamma ini dalam waktu seperti tersebut di atas. Para Buddha. sang yogi akan memahami sendiri dengan jelas bahwa yang ada hanyalah bentuk materi yang menjadi obyek perhatian serta keadaan mental yang mengamatinya. Ia harus melanjutkan berlatih meditasi dalam keyakinan ini. Saat ia terus melakukan meditasi. Bahkan bagi mereka yang memiliki pârâmi istimewa akan mengalami Dhamma-Dhamma ini hanya dalam 7 hari. Semua bent uk fenomena timbul dan berlalu begitu cepat. Ia lalu menjad i sangat yakin bahwa segala fenomena bersifat hanya sementara. 20 a tau 15 hari latihan meditasi. yaitu dari kanak-kanak hingga dewasa. tanpa menuruti keinginan atau dibawah kendali siapa pun. Pemahaman membedakan ini disebut sebagai nâmarûpa-pariccheda-ñâna. dalam setiap tindakan mengamati. yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. Sang yogi akan memahaminya sendiri jika ia terus mengamati. Para yogi meditasi harus mengenali bahwa mereka berada pada jalan satipatthana i ni. Orang awam selalu berasumsi bahwa baik fenomena mental dan material akan berlangsung selamanya. Tak ada satu fenomena pun yang abadi. jika sang yo gi terus berlatih. Kesadaran akan hal ini disebut sebagai anattânupassanâñâna. dukkhâ dan anattâ. bahkan tidak lebih lama dari satu kedi pan mata. hingga akhirnya ia mencapai Nibbâna. Hal ini akan dicapai. phalañâna dan Nibbâna-Dhamma yang juga dialami oleh para Buddha.

Sumber: LATIHAN MEDITASI VIPASSANA PRAKTIS. 1978 . terjemahan dari bahasa Burma ke bahasa Inggris oleh: U Nyi Nyi. Mahâsi Yogi. beserta anggota Executive Committee. Buddhasâsanânuggaha Association.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful