Bhavana/samadhi/meditasi PENGERTIAN, FAEDAH DAN CARA MELAKSANAKAN BHAVANA 1.

PENGERTIAN BHAVANA Bhavana berarti pengembangan, yaitu pengembangan batin dalam melaksanakan pembersihannya. Istilah lain yang arti dan pemakaiannya hampir sama dengan bhava na adalah samadhi. Samadhi berarti pemusatan pikiran pada suatu obyek. Samadhi yang benar (samma samadhi) adalah pemusatan pikiran pada obyek yang dapa t menghilangkan kekotoran batin tatkala pikiran bersatu dengan bentuk-bentuk karma yang baik, sedangkan samadhi yang salah (miccha samadhi) adalah pemusatan pikira n pada obyek yang dapat menimbulkan kekotoran batin tatkala pikiran bersatu dengan bentuk-bentuk karma yang tidak baik. Jika dipergunakan istilah samadhi, maka yan g dimaksud adalah "Samadhi yang benar". 2. FAEDAH BHAVANA Bhavana atau meditasi yang benar akan memberikan faedah bagi orang bagi orang ya ng melaksanakannya. Faedah-faedah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dari prak tek meditasi itu adalah : 1. Bagi orang yang selalu sibuk, meditasi akan menolong dia untuk membebaskan di ri dari ketegangan dan mendapatkan relaksasi atau pelemasan. 2. Bagi orang yang sedang bingung, meditasi akan menolong dia untuk menenangkan diri dari kebingungan dan mendapatkan ketenangan yang bersifat sementara maupun yang bersifat permanen (tetap). 3. Bagi orang yang mempunyai banyak problem atau persoalan yang tidak putusputus nya, meditasi akan menolong dia untuk menimbulkan ketabahan dan keberanian serta mengembangkan kekuatan untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut. 4. Bagi orang yang kurang percaya diri sendiri, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan keparcayaan kepada diri sendiri yag sangat dibutuhkannya itu. 5. Bagi orang yang mempunyai rasa takut dalam hati atau kebimbangan, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan pengertian terhadap keadaan atau sifat yang sebenarnya dari hal-hal yang menyebabkannya takut dan selanjutnya dia akan dapat mengatasi rasa takut itu dalam pikirannya. 6. Bagi orang yang selalu merasa tidak puas terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya atau dalam kehidupan ini, meditasi akan memberikan dia perubahan dan perkembangan yang menuju pada kepuasan batin. 7. Bagi orang yang pikirannya sedang kacau dan berputus asa karena kurangnya pengertian akan sifat kehidupan dan keadaan dunia ini, meditasi akan menolong di a utnuk memberikan pengertian padanya bahwa pikirannya itu kacau untuk hal-hal yang tidak ada gunanya. 8. Bagi orang yang ragu-ragu dan tidak begitu tertarik kepada agama, meditasi ak an menolong dia untuk mengatasi keragu-raguannya itu dan untuk melihat segi-segi serta nilai-nilai yang praktis dalam bimbingan agama. 9. Bagi seorang pelajar atau mahasiswa, meditasi akan menolong dia untuk menimbulkan dan menguatkan ingatannya serta untuk belajar lebih seksama dan lebih efisien. 10. Bagi orang yang kaya, meditasi akan menolong dia untuk dapat melihat sifat d an kegunaan dari kekayaannya itu, bagaimana cara menggunakan harta tersebut untuk kebahagiaan dirinya sendiri dan kebahagiaan orang lain. 11. Bagi orang miskin, meditasi akan menolong dia untuk memiliki rasa puas dan ketenangan serta tidak melampiaskan rasa iri hati terhadap orang lain yang lebih

mampu daripadanya. 12. Bagi seorang pemuda yang sedang berada dalam persimpangan jalan dari kehidupan ini dan dia tidak tahu jalan mana yang akan ditempuhnya, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan pengertian dalam menempuh salah satu jalan yang akan membawa ke tujuannya. 13. Bagi orang yang telah lanjut usia yang telah bosan dengan kehidupan ini, med itasi akan menolong dia ke dalam pengertian yang lebih mendalam mengenai kehidupan ini, dan pengertian tersebut akan memberi dia kelegaan dan kebebasan dari penderitaan serta pahit getirnya kehidupan ini, dan akan menimbulkan kegairahan yang baru bagi dirinya. 14. Bagi orang yang mudah marah, meditasi akan menolong dia mengembangkan kekuatan kemauan untuk mengatasi kelemahan-kelemahannya. 15. Bagi orang yang bersifat iri hati, meditasi akan menolong dia untuk mengerti tentang bahayanya sifat iri hati itu. 16. Bagi orang yang diperbudak oleh panca inderanya, meditasi akan menolong dia untuk belajar menguasai nafsu-nafsu dan keinginannya itu. 17. Bagi orang yang telah ketagihan minuman keras yang memabukkan, meditasi akan menolong dia untuk menyadari dirinya dan melihat cara mengatasi kebiasaan yang berbahaya itu yang telah memperbudak dan mengikat dirinya. 18. Bagi orang yang tidak terpelajar atau bodoh, meditasi akan memberikan dia kesempatan untuk mengenal diri dan mengembangkan pengetahuan-pengetahuan yang sangat berguna untuk kesejahteraan diri sendiri dan untuk keluarga serta handai taulannya. 19. Bagi orang yang sungguh-sungguh melakukan latihan meditasi yang benar ini, maka nafsu-nafsu dan emosinya tak mempunyai kesempatan untuk memperbodohi dirinya lagi. 20. Bagi orang yang bijaksana, meditasi akan membawa dia kepada kesadaran yang lebih tinggi dan pencapaian penerangan sempurna; dia akan dapat melihat segala sesuatu dengan sewajarnya dan tidak akan terseret lagi ke dalam persoalanpersoal an yang remeh. 21. Selanjutnya, dalam agama Buddha, meditasi yang benar itu dipergunakan untuk membebaskan diri dari segala penderitaan, untuk mencapai Nibbana. Demikianlah beberapa faedah praktis yang dapat dihasilkan dari latihan meditasi. Faedah-faedah ini merupakan milik yang akan ditemui dalam pikiran sendiri. 3. CARA MELAKSANAKAN BHAVANA Orang yang baru belajar meditasi sebaiknya mencari tempat yang cocok untuk melakukan meditasi. Tempat itu adalah tempat yang sunyi dan tenang, bebas dari gangguan orang-orang di sekitarnya, bebas dari gangguan nyamuk. Untuk tahap permulaan, hendaknya orang berlatih di tempat yang sama, jangan pindah-pindah tempat. Jika meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan di mana saja di setiap tempat, baik di kantor, di pasar, di kebun, di hutan, di goa, dikuburan, maupun di tempat yang ramai. Waktu untu melaksanakannya dapat dipilih sendiri. Biasanya waktu yang baik untuk bermeditasi adalah pagi hari antara pukul 04.00 sampai pukul 07.00 dan malam har i antara pukul 17.00 sampai pukul 22.00. Jika waktu untuk bermeditasi telah ditent ukan, maka waktu tersebut hendaknya digunakan khusus untuk bermeditasi. Meditasi sebaiknya dilakukan setiap hari dengan waktu yang sama secara teratur atau konti nyu. Bila meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan kapan saja, pada setiap waktu. Orang bebas memilih posisi meditasi. Biasanya posisi meditasi yang baik adalah d uduk bersila di lantai yang beralas, dengan meletakkan kaki kanan di atas kaki kiri, dan tangan kanan menumpu tangan kiri di pangkuan. Atau boleh juga dalam posisi seten gah

sila, dengan kaki dilipat ke samping. Bahkan kalau tidak memungkinkan, maka dipersilahkan duduk di kursi. Yang penting adalah bahwa badan dan kepala harus t egak, tetapi tidak kaku atau tegang. Duduklah seenaknya, jangan bersandar. Mulut dan m ata harus tertutup. Selama meditasi berlangsung hendaknya diusahakan untuk tidak menggerakkan anggota badan, jika tidak perlu. Namun bila badan jasmani merasa ti dak enak, maka diperbolehkan untuk menggerakkan tubuh atau mengubah sikap meditasi. Tetapi, hal ini harus dilakukan perlahan-lahan, disertai dengan penuh perhatian dan kesadaran. Jika meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan dalam berbagai posi si, baik berdiri, berjalan, maupun berbaring. Sebelum melaksanakan meditasi, sebaiknya diminta petunjuk atau nasehat dari guru meditasi atau mereka yang telah berpengalaman mengenai meditasi, agar dapat dica pai sukses dalam bermeditasi. Pada saat hendak bermeditasi, sebaiknya dibacakan paritta terlebih dahulu. Selan jutnya, laksanakanlah meditasi dengan tekun. Pikiran dipusatkan pada obyek yang telah di pilih. Pada tingkat permulaan, tentunya pikiran akan lari dari obyek. Hal ini biasa, ka rena pikiran itu lincah, binal, dan selalu bergerak. Namun, hendaknya orang yang bermeditasi selalu sadar dan waspada terhadap pikiran. Bila pikiran itu lari dar i obyek, ia sadar bahwa pikiran itu lari, dan cepat mengembalikan pikiran itu pada obyek semula. Bila hal ini dapat dilaksanakan dengan baik, maka kemajuan dalam meditasi pasti akan diperoleh. Pembagian Bhavana Bhavana dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu : 1. Samatha Bhavana, berarti pengembangan ketenangan batin. 2. Vipassana Bhavana, berarti pengembangan pandangan terang. Diantara kedua jenis bhavana ini terdapat perbedaan. Perbedaan itu mencakup: 1. Tujuannya Samatha Bhavana merupakan pengembangan batin yang bertujuan untuk mencapai ketenangan. Dalam Samatha Bhavana, batin terutama pikiran terpusat dan tertuju p ada suatu obyek. Jadi pikiran tidak berhamburan ke segala penjuru, pikiran tidak ber keliaran kesana kemari, pikiran tidak melamun dan mengembara tanpa tujuan. Dengan melaksanakan Samatha Bhavana, rintangan-rintangan batin tidak dapat dilenyapkan secara menyeluruh. Jadi kekotoran batin hanya dapat diendapkan, sepe rti batu besar yang menekan rumput hingga tertidur di tanah. Dengan demikian, Samath a Bhavana hanya dapat mencapai tingkat-tingkat konsentrasi yang disebut jhana-jhan a, dan mencapai berbagai kekuatan batin. Sesungguhnya pikiran yang tenang bukanlah tujuan terakhir dari meditasi. Ketenan gan pikiran hanyalah salah satu keadaan yang diperlukan untuk mengembangkan pandanga n terang atau Vipassana Bhavana. Vipassana Bhavana merupakan pengembangan batin yang bertujuan untuk mencapai pandangan terang. Dengan melaksanakan Vipassana Bhavana, kekotoran-kekotoran batin dapat disadari dan kemudian dibasmi sampai keakar-akarnya, sehingga orang

Odata kasina = wujud warna putih 9. Pemilihan ini dimaksudkan untuk membantu mempercepat perkembangannya. yaitu lima nivarana dan sepuluh palibodha. Lohita kasina = wujud warna merah 8. Pathavi kasina = wujud tanah 2. Lohitaka = wujud mayat yang berlumuran darah 9. 3. Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda). pada umumnya orang yang bermeditasi sering mendapat gangguan atau halangan atau rintangan. dan empat arupa. Keempat puluh macam obyek meditasi itu adalah : a. Nila kasina = wujud warna biru 6. Sepuluh asubha (sepuluh wujud kekotoran). Teja kasina = wujud api 4. Aloka kasina = wujud cahaya 10. Vicchiddaka = wujud mayat yang terbelah di tengahnya 5. bahwa hidup ini dicengkeram oleh anicca (ketidak-kekalan). Pita kasina = wujud warna kuning 7. dukkha (derita). Caganussati = perenungan terhadap kebajikan 6. sepuluh anussati. Puluvaka = wujud mayat yang dikerubungi belatung 10. yaitu : 1. Uddhumataka = wujud mayat yang membengkak 2. 2. Samatha Bhavana 1. yaitu : 1. Vipubbaka = wujud mayat yang bernanah 4. dan anatta (tanpa aku yang kekal). Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. Pemilihan sebaiknya dilakukan dengan bantuan seorang guru. satu aharapatikulasañña. Atthika = wujud tengkorak c. yang disebut sepuluh vipassanupakilesa. pencapaian Nibbana. Buddhanussati = perenungan terhadap Buddha 2. dan tidak dengan jalan lain". Apo kasina = wujud air 3. Akasa kasina = wujud ruangan terbatas b. Sanghanussati = perenungan terhadap Sangha 4. pembebasan sempurna. Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan). Sesungguhnya "dalam kitab suci telah ditulis bahwa hanya dengan pandangan terang inilah kita dapat menyucikan diri kita. Dhammanussati = perenungan terhadap Dhamma 3. Vikkhittaka = wujud mayat yang telah hancur lebur 7. Obyeknya Obyek yang dipakai dalam Samatha Bhavana ada 40 macam. Devatanussati = perenungan terhadap makhluk-makhluk agung atau para dewa . Hatavikkhittaka = wujud mayat yang busuk dan hancur 8. obyek yan g dipakai dalam Vipassana Bhavana adalah nama dan rupa (batin dan materi). yaitu : 1. Vipassana Bhavana dapat menuju ke arah pembersihan batin. Vikkahayitaka = wujud mayat yang digerogoti binatang-binatang 6. Obyek-obyek itu adalah sepuluh kasina.yang melakukan Vipassana Bhavana dapat melihat hidup dan kehidupan ini dengan sewajarnya. Dengan demikian. sepuluh asubha. Vinilaka = wujud mayat yang berwarna kebiru-biruan 3. satu catudhatuvavatthana. Sebaliknya. Silanussati = perenungan terhadap sila 5. Penghalangnya Dalam melaksanakan Samatha Bhavana. terdapat pula rintangan-rintang an yang dapat menghambat perkembangan pandangan terang. Vayo kasina = wujud udara atau angin 5. empat appamañña. Obyek-obyek meditasi ini dapat dipilih salah satu yang kiranya cocok dengan sifat atau pribadi seseorang. atau em pat satipatthana. EMPAT PULUH MACAM OBYEK MEDITASI Dalam Samatha Bhavana ada 40 macam obyek meditasi.

Satu aharapatikulasanna (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) f. dapat dipakai api yang menyala yang di depannya diletakkan seng yang berlobang. Dalam kasina cahaya. dan sadar. yang makin lama makin terang seperti bulatan dari rembulan. hancur dan membusuk. bernanah. Marananussati = perenungan terhadap kematian 8. kain. membiru. Kayagatasati = perenungan terhadap badan jasmani 9. terbelah di tengahnya. Dalam kasina angin. dapat dipakai sebuah telaga atau air yang ada di dalam ember. Metta = cinta kasih yang universal. dan bulatan terse but kelihatan menjadi makin semu dan akhirnya sebagai bayangan pikiran saja. mula-mula orang harus memusatkan seluruh perhatiannya pada bulatan yang berwarna biru misalnya. orang masih melihat bulatan biru itu di dalam pikirannya. atau bunga yang berwarna biru. waspada. benda-benda di sekeliling bulatan tersebut seolah-olah lenyap. Empat arupa (empat perenungan tanpa materi). dan akhirnya merupakan tengkorak. Anapanasati = perenungan terhadap pernapasan 10. seperti gambar pikiran mengenai mayat yang membengka k dan lain-lain. tidak dapat dihin dari". Dalam kasina warna. Dalam kasina air. Empat appamañña (empat keadaan yang tidak terbatas). Karuna = belas kasihan 3. Natthibhavapaññati = obyek kekosongan 4. Kasinugaghatimakasapaññatti = obyek ruangan yang sudah keluar dari kasina 2. walaupun mata dibuka atau ditutup. Dalam kasina api. Selanjutnya. berlumuran darah. Kini. Upekkha = keseimbangan batin e. or ang harus berjuang agar pikirannya tetap berjaga-jaga. Upasamanussati = perenungan terhadap Nibbana atau Nirwana d. dapat dipakai cahaya matahari atau bulan yang memantul di dinding atau di lantai melalui jendela dan lain-lain. b. Selanjutnya. dapat dipakai ruangan kosong yang mempunyai batas-batas disekelilingny a seperti drum dan lain-lain. merah. Disinilah hendaknya orang memegang dengan teguh di dalam pikirannya obyek yang berharga yang telah timbul. Akasanancayatana-citta = obyek kesadaran yang tanpa batas 3.7. Disini. dapat dipakai kebun yang baru dicangkul atau segumpal tanah yang dibulatkan. Sementara itu. papan. kuning. dengan memandang terus pada bulatan itu. "Badanku ini juga mempunyai sifat-sifat itu sebagai kodratnya. atau putih. dikoyak-koyak oleh burung gagak atau serigala. c. Akincaññayatana-citta = obyek bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan Berikut penjelasan lebih mendetil tentang masing-masing obyek meditasi diatas : a. dapat dipakai angin yang berhembus di pohon-pohon atau badan. tanpa pamrih 2. Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda) Dalam kasina tanah. dapat dipakai benda-ben da seperti bulatan dari kertas. orang melihat atau membayangkan sesosok tubuh yang tel ah menjadi mayat diturunkan ke dalam lubang kuburan. Dalam kasina r uangan terbatas. membengkak. Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan) . dikerubungi oleh lalat dan belatung. yaitu : 1. Mudita = perasaan simpati 4. Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dal am badan jasmani) g. yaitu : 1. Sepuluh asubha (sepuluh wujud kekotoran) Dalam sepuluh asubha ini. ia menarik kesimpulan terhadap badannya sendir i.

tela h bertindak benar. belatung. serta keadaan yang bagaimana menungguku setelah kematian. Dalam marananussati. direnungkan makhluk-makhluk agung atau para dewa yang berbahagia. bahwa badan ini harus dibagi-bagikan olehku kepada ulat-ulat. air mata. darah. patut meneri ma tempat bernaung.Dalam Buddhanussati. pengenal semua alam. air kencing. teman-teman laki-laki dan wanita sekaligus. patut menerima bingkisan. telah bertindak lurus. Dalam hal ini mungkin timbul perasaan dendam atau sakit hati. urat. jantung. Keenam sifat Dhamma itu adalah telah sempurna dibabarkan. putusnya lingkaran tumimbal lahir. lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya di alam semesta. telah mencapai penerangan sempurna. karena ia tidak mungkin dapat memancarkan cinta kasih sejati bila ia membenci da n meremehkan dirinya sendiri. perut. tulang. patut menerima penghormatan. direnungkan kebajikan berdana yang telah dilaksanakan. guru-guru. yang menyebabkan musnahnya kekikiran. bahwa di dalam badan ini terdapat rambut kepala. lemak. bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan. keringat. cinta kasih dipancarkan kepada orang tu a. patut menerima persembahan. tak lapuk oleh waktu . Setelah itu. hancurnya keinginan. menuntun ke dalam batin. dan menuju pemusatan pikiran. mengundang untuk dibuktikan. nanah. nyata di dalam kehidupan. Namun. telah bertindak patut. paru-paru. dengan sadar ia mengeluarkan napas. ginjal. Dengan sadar ia menarik napas. usu s. Dalam silanussati. Empat appamañña (empat keadaan yang tidak terbatas) Empat appamañña ini sering disebut juga sebagai Brahma-Vihara (kediaman yang luhur). orang merenungkan 32 bagian anggota tubuh. Kesembilan sifat Buddha tersebut adalah maha suci. direnungkan sembilan sifat Buddha. kotoran. y ang tidak ternoda. hati. ingus. direnungkan sembilan sifat Ariya-Sangha. yang sedang menikmati hasil dari perbuatan baik yang telah dilakukan nya. kematian aka n datang menyongsongku dan makhluk lainnya. kulit. gigi. seseorang harus mulai dari dirinya sen diri. yang patut dimuliakan. daging. Dalam kayagatasati. sumsum. m inyak kulit. Dalam anapanasati. dan melalui apa oran g akan meninggal. yang sadar. orang merenungkan keluar masuknya napas. Dalam Sanghanussati. dan otak. yang tidak patah. yang diselubungi kulit dan penuh kekotoran . dari telapak kaki ke atas dan dari puncak kepala ke bawah. selaput dada. ludah. kuku. dan binatang lainnya yang hidup dengan ini. sempurna menempuh jalan ke Nibbana. bulu badan. Dalam melaksanakan metta-bhavana. Dalam devatanussati. hendaknya diusahakan untuk mengatasi kebencian itu dengan merenungkan sifat-sifat yang bai . kutu. orang harus merenungkan bahwa pada suatu hari. direnungkan sila yang telah dilaksanakan. direnungkan enam sifat Dhamma. guru para dewa dan manusia. yang tersulit adalah memancarkan cinta kasih kepada musuh-musuhnya. Dalam upasamanussati. yang dipuji oleh para bijaksana. dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing. limpa. sempurna pengetahuan dan tingkah lakunya. d. saluran usus. Akhirnya. cairan sendi. orang merenungkan Nibbana atau Nirwana yang terbebas dari kekotoran batin. Kesembilan sifat Ariya-Sangha itu adalah telah bertindak dengan baik. Dalam caganussati. lendir. Dalam Dhammanussati. pembimbing manusia yang tiada taranya. empedu. di mana.

dipusatkan di dalamnya. angin yang keluar masuk waktu bernapas. Umpamanya : empedu. kesengsaraan. ialah segala sesuatu yang bersifat ber hubungan yang satu dengan yang lain atau melekat. untung dan rugi. gigi. Umpamanya : angin yang ada di dalam perut dan usus. Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan jasmani) Dalam satu catudhatuvavatthana. orang memancarkan perasaan simpati kepada orang yang sedang bersuka-cita. dan lain-lain. mencurahkan perhatiannya kepada hal tersebut.k dari musuhnya dan jangan menghiraukan kejelekan-kejelekan yang ada padanya. lendir. orang memancarkan belas kasihan kepada orang yang sedang ditimpa kemalangan. Ia harus berul angulang memikirkan penembusan ruangan itu dengan sadar. direnungkan bahwa di dalam badan jasmani terdapa t empat unsur materi. semuanya akan berakhir sebagai kotoran (ti nja) dan air seni (urine). yaitu perasaan. f. orang merenungkan keadaan kekosongan sebagai ketenangan atau kesejahteraan. ialah segala sesuatu yang bersifat p anas dingin. dicicipi. "Ruangan! Ruangan! Tak terbatas ruangan ini!" dan kemudian gambaran kasina dihilangkan. pencerapan. Umpamanya : setelah selesai makan dan minum. batin yang telah memperoleh gambaran kasina dikembangkan ke dalam perenungan ruangan yang tanpa batas sambil membayangkan. Vayo-dhatu (unsur angin atau unsur gerak). Dalam upekkha-bhavana. nanah. bentuk-bentuk pi . Satu aharapatikulasañña (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) Dalam satu aharapatikulasañña. Tejo-dhatu (unsur api atau unsur panas). dan menembus tanpa batas. diminum. 4. Apo-dhatu (unsur air atau unsur cair). Pathavi-dhatu (unsur tanah atau unsur padat). kuku. 2. direnungkan bahwa apapun yang tela h dimakan. dara h. Perl u diingat bahwa kebencian hanya dapat ditaklukkan dengan cinta kasih. Umpamanya : rambut kepala. ialah segala sesuatu yang bersi fat keras atau padat. ia turut berbahagia melihat kebahagiaan orang lain. diliputi kesedihan. atau bila sedang sakit. ialah segala sesuatu yang bersifat bergerak. "Tidak ada apa-apa di sana! Kosonglah adanya ini". orang harus mengarahkan perhatiannya pada kekosongan atau kehampaan dan tidak ada apa-apanya dari kesadaran terhadap ruangan yang tan pa batas itu. yaitu : 1. g. dan lain-lain. Dalam akasanancayatana-citta. ruangan yang tanpa batas itu ditembus dengan kesadarannya sambil merenungkan. Empat arupa (empat perenungan tanpa materi) Dalam kasinugaghatimakasapaññati. Ia terus menerus merenungkan. Dalam karuna-bhavana. "Tak terbataslah kesadaran itu". bulu badan. Jadi. pujian dan celaan. dan lain-lain. Dalam natthibhavapaññati. dan penderitaan. 3. pikiran ditujukan kepada ruangan yang tanpa batas. Dalam akincaññayatana-citta. orang akan tetap tenang menghadapi suka dan duka. dikunyah. e. direnungkan bahwa makanan adalah barang yang menjijikkan bila telah berada di dalam perut. Dalam mudita-bhavana. dan setelah itu ia mengembangkan pencapaian dari sisa unsur-unsur batin yang penghabisan. bad an akan terasa panas dingin.

tanpa disertai kebijaksanaan. yaitu: 1. tanpa disertai kebijaksanaan. orang hendaknya senantiasa meneguhkan keyakinan pada Buddha. senantiasa melihat penderitaan di dalam ketidak-kekalan. senantiasa merenungkan ajaran-ajaran Sang Buddha dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. seolah-olah tidak ada pencerapan lagi 2. orang harus mengetahui sebab-sebab timbulnya nivarana dan berusaha menghindari sebab-sebab itu serta melakukan usah ausaha yang dapat melenyapkan nivarana itu. keluarga. Kamachanda (nafsu-nafsu keinginan) 2. orang hendaknya senantiasa mempelajari dan memahami kitab suci Tripitaka. Keragu-raguan (vicikiccha) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatika n sesuatu yang menyebabkan timbulnya keragu-raguan. Untuk membebaskan diri dari kemalasan dan kelelahan. dan Sangha. yaitu : 1. Kemauan jahat (byapada) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan obyek yang menyebabkan timbulnya kebencian. Ñati (orangtua. Abadha (penyakit) . Palibodha ini ada sepuluh macam. Byapada (kemauan jahat) 3. kebebasan. kelelahan. rasa malas. Uddhacca-kukkucca (kegelisahan dan kekhawatiran) 5. Untuk membebaskan diri dari keragu-raguan. senantiasa ingat bahwa setiap orang adalah pemilik dan pewaris dari perbuatannya sendiri. Dhamma. ora ng hendaknya senantiasa merenungkan suatu cahaya sampai terserap ke dalam batin. Addhana (perjalanan) 7. kebajikan. dan kesadaran sampai batas kelenyapannya. Kula (pembantu dan orang yang bertanggung jawab) 3. Nivarana ini ada lima macam.kiran. senantiasa berbicara tentang kesempurnaan hidup. mengantuk sesudah makan. Kemalasan dan kelelahan (thina-middha) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan rasa segan. Avasa (tempat tinggal) 2. dan saudara) 8. tanpa disertai kebijaksanaan. kesunyian. Gana (murid dan teman) 5. Vicikiccha (keragu-raguan) Untuk menaklukkan kelima rintangan tersebut. Jadi. Nafsu-nafsu keinginan (kamachanda) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan obyek yang indah. tanpa disertai kebijaksanaan. serta berusaha melaksanakan sila dengan sempurna. tanpa disertai kebijaksanaan. Untuk mengatasi kegelisahan dan kekhawatiran. maka kesadaran mengenai kekosongan itu dilepas. Sepuluh macam palibodha Palibodha berarti gangguan dalam meditasi yang menyebabkan batin gelisah dan tid ak mampu memusatkan pikiran pada obyek. berusaha untuk menguasai pikiran dan mengendalikan indriya indriyanya. setelah kekosongan itu dicapai. Thina-middha (kemalasan dan kelelahan) 4. LIMA MACAM NIVARANA DAN SEPULUH MACAM PALIBODHA Lima macam nivarana Nivarana berarti rintangan atau penghalang batin yang selalu menghambat perkembangan pikiran. Labha (keuntungan) 4. Untuk membebaskan diri dari nafsu keinginan. bebas dari nafsu-nafsu. Kegelisahan dan kekhawatiran (uddhacca-kukkucca) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan ketidak-tenteraman pikiran. Untuk menaklukkan kemauan jahat hendaknya orang senantiasa melaksanakan meditasi cinta kasih. tentang kepuasan. Kamma (pekerjaan) 6. hendaknya orang senantiasa melaksanakan meditasi deng an memakai obyek yang kotor atau menjijikkan dan berusaha menghindari obyek-obyek yang bisa merangsang.

suka jengkel. Ia merasa khawatir akan persoalannya . Ia merasa khawa tir akan kemungkinan timbulnya penyakit. pikiran ruwet. suka kha watir. pita kasina. menggantungkan diri pada pendapat orang lain. Ia merasa khawatir akan bermacam-macam kekuatan magis yang dipertunjukkan. Ia merasa khawatir akan murid-murid dan teman-temannya. tak mau tahu terhadap kebajikan orang lain walaupun be sar. Gantha (pelajaran) 10. yaitu manusia itu dapat dibagi menjadi enam golongan berdasarkan sifat-sifat yang dimilikinya: 1. Ia merasa khawatir akan pelajaran yang ditinggalkannya. pendiriannya tidak tetap. 3. Ia merasa khawatir akan tempat tinggalnya. suka menemui orang-orang suci. Orang yang mempunyai saddhacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan keyakinan. perangai. kadang-kadang kukuh memegang suatu pandangan. suka memerintah dan mendikte orang lain. cerdik. atau perilaku. cenderung ke arah keindahan dan kecantikan. apakah meditasi ini akan membawa keuntungan baginya. malas. kagum melihat suatu kebajikan walaupun itu kec il sekali. suka bingung. Ia merasa khawatir akan pembantunya dan ora ng yang bertanggung jawab atas harta bendanya. sombong. mementingkan diri sendiri. suka bermusuhan. terdapat pembagian sifat-sifat secara umum yang berdasarkan atas keadaan batin manusia. Orang yang bodoh (dungu) atau Mohacarita 4. Untuk mereka yang mempunyai ragacarita. Orang yang keras nafsu lobanya atau Ragacarita 2. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah empat appamañña dan empat kasina (nila kasina. Sanghanussati. terikat dengan rumahnya. ENAM MACAM CARITA Carita berarti sifat. Orang yang suka melamun atau Vitakkacarita Orang yang mempunyai ragacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan loba. Untuk mereka yang mempunyai dosacarita. s uka mendengarkan Dhamma. mudah melupakan kesalahan orang lain. yakin pada sesuatu yang dianggap baik. Di dalam Abhidhamma. Untuk mereka yang mempunyai saddhacarita. lohita kasina. Orang yang mempunyai dosacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan kebencian. Orang yang bijaksana (pandai) atau Buddhicarita 6. Palibodha ini harus dibasmi. pada umumnya orang yang bermeditasi sering juga mendapat gangguan yang disebut palibodha. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah anapanasati. Ia merasa khawatir akan pekerjaannya yang belum selesai. dermawan.Iddhi (kekuatan gaib) Dalam melaksanakan meditasi. suka marah. takut akan kemerosotan kekuatan magisnya. agar orang dapat memusatkan pikiran dengan baik. keluarganya. Untuk mereka yang mempunyai mohacarita. Dhammanussati. cenderung ke arah rendah hati. dan odata kasina). suka ragu-ragu. memandang rendah orang lain. . suka iri hati. tak senan g melihat kesalahan walaupun kecil. cenderung ke arah panas hati. dan saudara-saudaranya. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh asubha dan sa tu kayagatasati. Ia mera sa khawatir akan orang tuanya. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah enam anussati (Buddhanussati. Orang yang mempunyai mohacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan kebodohan batin. Orang yang keras kebenciannya atau Dosacarita 3.9. berambisi besar. Ia merasa khawatir akan perjalanan jauh yang harus ditempuhnya. Orang yang tebal keyakinannya atau Saddhacarita 5. jujur. cenderung ke arah kelemahan batin.

Dalam keadaan ini. tejo kasina. 5. semua obyek meditasi dapat dipakai dalam melaksanakan Samatha Bhavana. yaitu : 1. akasa kasina . dan mulai timbulnya patibhaga-nimitta. uggaha-nimitta merup akan gambaran obyek di dalam batin yang sama dengan bentuk obyek yang dipakai. Orang yang mempunyai vitakkavcarita melaksanakan sesuatu berdasarkan tergesa-ges a. walaupun mata telah dipejamkan. Mengenai patibhaga-nimitta. Untuk mencapai patibhaga-nimitta. mula-mula dilihat dengan mata. Semua obyek (empat puluh macam obyek meditasi) dapat menghasilkan parikamma-bhavana. terpeta dengan nyata. patibhaga-nimitta merupakan gambaran pantulan dari obyek yang dipakai. Appana-Bhavana (perkembangan batin tingkat terkonsentrasi dengan kuat) Dalam parikamma-bhavana. sepuluh asubha. 4. dan devatanussati). Uggaha-Nimitta (gambaran batin mencapai) 3. kegagalan dalam usaha. Parikamma-Bhavana (perkembangan batin tingkat pendahuluan) 2. pikiran telah siap untuk memasuki pemusatannya. tidak suka bekerja untuk kepentingan sosial. cenderung ke arah kegugupan. tetap. Untuk mereka yang mempunyai vitakkacarita. jernih. Semua obyek (empat puluh macam obyek meditasi) dapat menghasilkan parikamma-nimitta. Jadi. suka berteori. Upacara-Bhavana (perkembangan batin tingkat mendekati konsentrasi) 3. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi. aharapatikulasañña. yang bentuk gambaran itu berubah menjadi sinar terang di dalam batinnya . upasamanussati. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi diliha t dengan batin. sering bermeditasi. apo kasina. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi yan g telah melekat pada pikiran. dan catudhatuvavatthana. TIGA MACAM BHAVANA Dalam meditasi. kemudian dibayangkan dalam pikiran. Parikamma-Nimitta (gambaran batin permulaan) 2. maka obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh kasina. dan satu anapanasati. caganussati. Orang yang mempunyai buddhicarita atau ñanacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan berhati-hati. pikiran baru akan dipusatkan pada obyek. Untuk mereka yang mempunyai buddhicarita atau ñanacarita. aloka kasina. maka obyek yang cocok untuk melaksanakan Samatha Bhavana ialah anapanasati. seperti patung Buddha. terbebas dari gangguan. Mengenai uggaha-nimitta. bersedia mendengarkan omongan orang lain. Dalam upacara-bhavana. Untuk mencapai uggaha-nimitta. yaitu : 1. jelas. Penjelasan: Pathavi kasina. parikamma-nimitta merupakan gambaran atau bentuk dari obyek dalam keadaan yang sebenarnya. dan empat arupa dapat dijadikan obyek meditasi oleh semua orang tanpa memperhatikan caritanya. hingga obyek itu melekat dalam pikiran.silanussati. Jadi. dan gambaran obyek tersebut dapat dibesarkan serta dikecilkan menurut kemauan. Na . vayo kasina. terdapat tiga macam tingkat perkembangan batin. Nimitta ini ada tiga macam. cenderung ke arah perenungan terhadap Tiga Corak Umum (Tilakkhana) . mempunyai kawankaw an yang baik. Patibhaga-Nimitta (gambaran batin berlawanan) Mengenai parikamma-nimitta. nivarana telah dapat diatasi. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah marananussati. pikirannya se ring berkeliaran. yaitu keempat puluh obyek meditasi yang tersebut terdahulu. satu kayagatasati. TIGA MACAM NIMITTA Nimitta berarti suatu pertanda atau gambaran yang ada hubungannya dengan perkembangan obyek meditasi. Jadi.

Untuk mencapai upacara-bhavana. Demikian pula ketika bermeditasi. sedangkan suasana pikiran yang telah berhasil memegang ob . caganussati. karena konsentrasi yang penuh dan mantap tela h tercapai. Dalam appana-bhavana. empat appam añña. Pada waktu lonceng dipukul sekali. Jhana merupakan keadaan batin yang sudah di luar aktivitas panca indera. satu kayagatasati. satu anapanasati. Bunyi lonceng pada saat terkena pu kulan merupakan vitakka. sering jatuh. sepuluh asubha. menurut yang dikehendakinya. y aitu : 1. dan empat arupa. yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada obyek yang kuat). Faktor-faktor jhana tersebut ada lima macam. Sewaktu-waktu jhana dapat merosot. maka akan terjadi bunyi yang bergema. 7. tetapi ia ter us berusaha. 6. namun masih belum mantap. batin masih tetap aktif dan berjaga secara sempurna serta sadar sepenuhnya. dan ekaggata). 2. Kedu a keadaan ini dapat diumpamakan seperti bunyi lonceng. Suasana pikiran pada saat permulaan memegang obyek disebut vitakka. Obyek-obyek yang dapat dipakai untuk mencapai appana-bhavana ialah sepuluh kasina. sedangkan gema dari bunyi lonceng itu merupakan vicara. Keadaan ini dapat diumpamakan sebagai orang yang telah dewasa yang tel ah dapat berdiri dengan kuat. Dalam keadaan ini. Sukha. upasamanu ssati). su kha. Ia tidak dapat melenyapkan kekotoran batin. ialah kebahagiaan yang tak terhingga. timbullah faktor-faktor jhana yang memberi corak dan suasana bagi tiap-tiap jhana itu. FAKTOR-FAKTOR JHANA Di dalam memasuki jhana-jhana. marananussati. ialah kegiuran atau kenikmatan. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah delapan anussati (Buddhanussati. Dhammanussati. keadaan pikiran dalam memegang obyek dengan kuat. tidak muncul kesan-kesan penglihatan maupun pendengaran. aktivit as panca indera berhenti. silanussati. pun tidak muncul perasaan badan jasmani. ialah pemusatan pikiran yang kuat. Ekaggata. ialah penopang pikiran yang merupakan perenungan permulaan untuk memegang obyek. PENGERTIAN JHANA Jhana berarti kesadaran/pikiran yang memusat dan melekat kuat pada obyek kammatthana/meditasi. Di samping nivarana telah dapat diatasi. Hal ini dapat disamakan dengan anak keci l yang baru belajar berdiri. 4. Sanghanussati. Vitakka dan vicara adalah dua keadaan dari suatu proses yang berkelanjutan. dan satu catudhatuvavatthana. satu aharapatikulasanna. Piti. pikiran telah dapat tinggal diam dalam jangka waktu yang lama. Jhana hanya mampu menekan atau mengendapkan kekotoran batin untuk sementara waktu. Walaupun kesan-kesan dari luar telah berhen ti. vicara. piti. yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada obyek dengan kekuatan appana-samadhi (konsentrasi yang mantap. tak jatuh-jatuh lagi.mun konsentrasi pikiran masih belum mantap. devatanussati. Vitakka. karena jhana tidak kekal. 5. maka faktor-faktor jhana juga mulai timbul berperanan (vitakka. 3. Vicara. Keadaan ini hanya dapat dicapai dengan usaha yang ulet dan tekun. ialah gema pikiran.

Tingkatan jhana. yaitu vicara. ialah jhana tingkat keempat.yek dengan kuat disebut vicara. menurut bagian. Keadaan batinnya terdiri dari dua corak. sukha. menurut Abhidhamma. Akasanancayatana-Jhana. . selama itu pula nivarana tidak timbul. sebab kesadaran dari manda-puggala (orang yang tidak cerdas) tidak dapat melihat kekotoran dari vitakka dan vicara keduaduanya ini sekaligus dalam waktu yang sama. Dutiya-Jhana. hanya dapat membuang 'keadaan batin' satu persatu. vicara membasmi vicikiccha. piti. yaitu dengan mengendapkan kekotoran batin. maka ia akan merasa gembira. sebenarnya secara terperinci terdapat lima macam. yaitu vitakka. ialah jhana tingkat ketiga. Apabila seseorang yang sedang dalam suatu perjalanan merasa sangat haus. yaitu vitakka membasmi thina-middha. 6. piti membasmi byapada. da n tergiur melihatnya. tingkatan rupa jhana ada empat . terdapat delapan tingkat jhana. yaitu sukha dan ekaggata. tingkatan rupa jhana ad a lima. ialah jhana tingkat kedua. yaitu empat rupa jhana dan empat arupa jhana. bila jhana merosot. yaitu dutiya-jhana membuang vitakka. piti. dan jumlah kesadaran yang berada dalam rupavacara-citta. dan tatiya-jhana membuang vic ara. Keadaan batinnya terdiri dari empat corak. sehingga kekotora n batin tidak mampu mengganggu lagi. pikiran telah terpusat pada obyek dengan kuat. tikkha-puggala (orang yang cerdas) mampu menyelidiki dan melihat kekotor an dari vitakka dan vicara sekaligus dalam waktu yang sama. TINGKAT-TINGKAT JHANA Menurut Sutta Pitaka. maka nivarana akan timbul lag i. Pancama-Jhana. mak a perasaan berobah menjadi nikmat dan segar. dan kemudian ia menemukan sebuah sumber air. Catuttha-Jhana. sukha. dan ekagga ta. Keadaan batinnya terdiri dari dua corak. yait u lima rupa jhana dan empat arupa jhana. Perasaan ini merupakan sukha. karena hal ini disesuaikan menurut keadaan. Mengenai piti. Pathama-Jhana. dalam Sutta Pitaka. 3. Jhana merupakan alat pembasmi nivarana. Perasaan ini merupakan piti. Selama jhana masih ada. 5. karena di sini kegiuran timbul akibat keterbatasan dari tekanan perasaan. senang. Tetapi. dan membuang vitakka da n vicara sekaligus. yaitu upekkha dan ekaggata. dan ekaggata membasmi kamachanda. setelah ia meminum air itu. sedangkan menurut Abhidhamma. ialah jhana tingkat kelima. Tetapi. 4. 2. Dalam ekaggata. da n ekaggata. terdapat sembilan tingkat jhana. vicara. Vikkhambhana-Pahana adalah pembasmian nivarana dengan kekuatan jhana. Selanjutnya. Antara piti dan sukha terdapat pula perbedaan perasaan yang khas seperti berikut . ialah jhana tingkat pertama. ialah keadaan dari konsepsi ruangan yang tanpa batas. kiranya di sini tidak begitu perlu diuraikan. sukha membasmi uddhaccakukkuc ca. Keadaan batinnya terdiri dari lima corak. 8. Dalam Abhidhamma. Tatiya-Jhana. Karena itu. Namun. terdiri atas : 1.

Jika seseorang telah mencapai jhana tingkat pertama (pathama-jhana). LIMA MACAM VASI Vasi berarti keahlian atau kemahiran atau kemampuan untuk mengolah jhana. ialah jhana tingkat pertama. Tatiya-Jhana. Penjelasan : Sepuluh kasina dan satu anapanasati dapat dijasikan obyek meditasi oleh semua or ang untuk mencapai lima rupa jhana. tatiya-jhana. Paccavekkhana-vasi. yaitu keahlian dalam 'keluar' dari jhana. 9. ialah keadaan dari konsepsi bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan. Faktor-faktor jhana yang masih ada adalah sukha dan ekaggata. karena pi ti ini masih terasa kasar untuk jhana ketiga. menurut Sutta Pitaka. dan ekaggata. Untuk mencapai pathama-jhana. Samapajjana-vasi. dan ekaggata. yaitu keahlian dalam meninjauan terhadap jhana. dan mudita). Kelima macam vasi tersebut ialah : 1. atau tenaga batin. Untuk mencapai empat arupa jhana. Avajjana-vasi. 2. 8. karuna. yaitu keahlian dalam menentukan berapa lama hendak berada da lam jhana. karen a faktor ini masih terasa kasar untuk jhana keempat. Viññanancayatana-Jhana. terdiri atas : 1. ialah keadaan dari konsepsi kekosongan. ENAM MACAM ABHIÑÑA Abhiñña berarti kemampuan atau kekuatan batin yang luar biasa. su kha. Catuttha-Jhana. vicara. 3. dimana sukha mulai lenyap. ialah jhana tingkat keempat.7. Vutthana-vasi. dan catuttha-jhana. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh asubha dan satu kayagatasati. ialah keadaan dari konsepsi kesadaran yang tak terbatas. 4. Untuk mencapai pancama-jhana. Dutiya-Jhana. ialah jhana tingkat kedua. dimana piti mulai lenyap. sukha. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah tiga appamañña (metta. dimana nivarana telah dapat diata si dengan seksama. Adhitthana-vasi. 4. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah satu upekkha. ialah jhana tingkat ketiga. 3. dimana jhana . karena kedua faktor ini bersifat kasar untuk jhana kedua. Akincaññayatana-Jhana. Pathama-Jhana. 9. 2. Abhiñña akan timbul dalam diri orang yang telah mencapai jhana-jhana. Viññanancayatana-Jhana. 7. Faktor-faktor jhana ya ng masih ada adalah piti. Nevasaññanasaññayatana-Jhana. yaitu keahlian dalam memasuki jhana. 10. Akincaññayatana-Jhana. 5. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah empat arupa. piti. 8. Untuk mencapai dutiya-jhana. yaitu keahlian dalam pemikiran untuk memasuki jhana menurut kehendaknya. kemudian ia ingin mencapai jhana-jhana tingkat selanjutnya. Tingkatan jhana. Di dalam jhana keempat ini ha nya ada faktor ekaggata dan ditambah dengan upekkha (keseimbangan batin). Akasanancayatana-Jhana. Nevasaññanasaññayatana-Jhana. 5. Faktor-faktor jhana yang timbul adalah vitakka. maka ia harus mempunyai lima mac am vasi. 6. dimana vitakka dan vicara mulai leny ap.

Dibbasotañana (telinga dewa). ialah kemampuan mencipta dengan menggunakan pikiran. 4. ialah kemampuan untuk mengubah diri dari satu menjadi banya k atau dari banyak menjadi satu. karena perbuatan demikian itu tidak akan mempertinggi martabat mereka di mata orang lain. sankhara-khandha (kelompok bentuk pikiran). Adhitthana-iddhi.tingkat keempat (catuttha-jhana) merupakan dasar untuk timbulnya abhiñña ini. yang disebut pancakkhandha itu adalah makhluk. dan anatta (tanpa aku). Ini dilakukan denga n memperhatikan gerak-gerik nama dan rupa terus menerus. Kemampuan terbang di angkasa seperti burung. Lagipula kegaiban it u bukanlah merupakan hal yang penting dalam mencari kebebasan (Nibbana). ialah kemampuan untuk menembus ajaran melalui pengetahuan. Kemampuan menyentuk bulan dan matahari dengan tangannya. Ini terbagi lagi atas beberapa macam. EMPAT MACAM SATIPATTHANA Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. ialah kemampuan untuk berubah bentuk. atau pancakhandha (lima kelompok faktor kehidupan). d. ialah kemampuan untuk memusnahkan kekotoran batin. ialah kemampuan untuk mengingat tumimbal lahir yang lampau dari diri sendiri dan orang lain. c. Pemusnahan kekotoran batin ini akan membimbing ke arah kesucian tertinggi atau arahat. b. Pancakkhandha (lima kelompok faktor kehidupan) terdiri atas : rupa-khandha (kelompok jasmani). Kemampuan memanjat puncak dunia sampai ke alam Brahma. Namun. dan lain-lain. Iddhividhañana. yaitu abhiñña yang duniawi atau lokiya dan abhiñña yang di atas duniawi atau lokuttara. Kemampuan menyelam ke dalam bumi bagaikan menyelam ke dalam air. Pubbenivasanussatiñana. Kemampuan berjalan di atas air bagaikan berjalan di atas tanah yang padat. vedana-khandha (kelompok perasaan). seperti menciptakan istana. saññakhandha (kelompok pencerapan). vedana-nupassana (perenungan . Ñanavipphara-iddhi. yaitu : a. Cetopariyañana atau paracittavijañana. wanita cantik. 5. Empat macam satipatthana (empat macam perenungan) terdiri atas : kaya-nupassana (perenungan terhadap badan jasmani). harimau. Vikubbana-iddhi. ular. Samadhivipphara-iddhi. yaitu : Kemampuan menembus dinding. Kemampuan melawan api. gunung. Vipassana Bhavana 1. e. pagar. Abhiñña yang di atas duniawi (lokuttara-abhiñña) hanya ada satu macam. 3. Mengenai obyek meditasi yang dapat menimbulkan abhiñña ialah hanya sepuluh kasina. yaitu asavakkhayañana. taman. Perlu diingat bahwa tujuan umat Buddha bukanlah untuk mendapatkan kegaiban dan mujijat yang aneh-aneh dan luar biasa. Sesungguhnya. obyeknya adalah nama dan rupa (batin dan materi). raksasa. ialah kemampuan memencarkan melalui konsentrasi. atau membuat diri menjadi tak tampak. Abhiñña itu ada enam macam dan dapat dibagi atas dua kelompok besar. ialah kemampuan untuk mendengar suara-suara dari alam lain. sehingga dapat melihat dengan nyata bahwa nama dan rupa itu dicengkeram oleh anicca (ketidak-kekalan). sering disebut sebagai kekuatan gaib atau kekuatan magis atau kesaktian. Manomaya-iddhi. ialah kemampuan untuk melihat alam-alam halus dan muncul lenyapnya makhluk-makhluk yang bertumimbal lahir sesuai dengan karmanya masing-masing. dukkha (derita). yaitu : 1. ialah kemampuan untuk membaca pikiran makhluk lain. Abhiñña yang duniawi (lokiya-abhiñña) terdiri atas lima macam. hal ini juga tergantung pada kusala-kamma (perbuatan baik) dari kehidupan yang lampau. dan viññana-khandha (kelompok kesadaran). 2. yang jauh maupun yang dekat. seperti menjadi anak kecil. Dibbacakkhuñana atau cutupapatañana (mata dewa). Sang Buddha tidak membenarkan siswasiswaN ya melakukan sesuatu yang ajaib dan mujijat.

ketika berjalan. Betapa banyak tenaga yang terbuang dengan percuma karena melamunkan keadaan-keadaan yang telah lalu dan mengkhayalkan keadaan yang akan datang. Vedana-nupassana (perenungan terhadap perasaan). Citta-nupassana (perenungan terhadap pikiran). dan kemudian lenyap kembali. Di sini direnungkan perasaan yang sedang dialami secara obyektif. berlangsung. dan minum. agar perasaan itu tidak membangkitkan bermacam-macam bentuk emosi. Apabila pikiran sedang dihinggap i hawa nafsu atau terbebas daripadanya. ketika berpakaian. dengan menyadari timbul dan tenggelamnya bentuk kehidupan setiap saat. bagaimana ia timbul. 4. Salah satu contoh yang paling populer dan praktis tentang meditasi dengan obyek badan jasmani ialah anapanasati (menyadari keluar dan masuknya napas). maka hal itu harus disadari. Direnungkan keadaan perasaan yang sebenarnya. dapat disadari dengan mudah. Empat macam satipatthana itu adalah pancakkhandha. Di sini tidak dijalankan penyiksaan badan jasmani dengan maksud untuk mengendalikan badan. naik turunnya gelombang kehidupan y ang tidak kekal. yaitu untuk mengembangkan jhana-jhana. sewaktu membungkukkan dan melencangkan badan. tidak terikat oleh apapun di dalam dunia ini. tidak ada tekanan atau paksaan pada pernapasan. baik perasaan senang. Tetapi dipergunakan jalan tengah yang sederhana. ketika berbicara atau berdiam diri. Cara meditasi lain yang penting. ia juga sangat berguna untuk mengembangkan Pandangan Terang (Vipassana Bhavana). Di sini direnungkan bentuk-bentuk pikiran dengan sewajarnya. Citta-nupassana adalah Viññana-khandha. Jadi. Pikiran harus diarahkan pada kenyataan hidup pada saat ini. dan berguna ialah sadar dan waspada te rhadap segala sesuatu yang dilakukan. sewaktu melihat ke muka dan ke belakang. dan Dhammanup assana (perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran). direnungkan bentuk-bentuk . Dhamma-nupassana (perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran). Sesungguhnya. maka batin menjadi bebas. atau nama dan rupa itu sendir i. Di sini direnungkan segala gerak-gerik pikiran. Jadi. ketika buang kotoran dan kencing. Perasaan harus dikendalikan oleh akal dan kebijaksanaan. Dhamma-nupassana adalah pancakkhandha. 1. makan. Kaya nupassana adalah rupa-khandha. b ernapas secara biasa dan wajar. direnungkan bentukb entuk pikiran dari lima macam rintangan (nivarana). tetapi tidak dibuat-buat atau sengaja diatur. yang dipakai sebagai suatu obyek perhatian murni. praktis. yang timbul tenggelam ini.terhadap perasaan). citta-nupassana (perenungan terhadap pikiran). maupun perasaan yang acuh tak acuh. Kaya-nupassana (perenungan terhadap badan jasmani). duduk. berdiri. agar batin menjadi bebas dan tidak terikat. perasaan tidak senang. 3. keadaan pikira n yang sebenarnya harus diamat-amati. Masalah-masalah yang telah lewat atau hal-hal yang akan datang tidak boleh dipikirkan pada saat ini. Apabila perasaan telah dapat diatasi dengan tepat. Walaupun menurut kebiasaan . 2. Panjang atau pendeknya pernapasan harus disadari. atau berbaring. Vedana-nupassana adalah vedana-khandha. yang akan berkembang dalam latihan Vipassana itu ialah perhatian y ang tajam dan kesadaran yang kuat. kesadaran terhadap pernapasan itu pada tingkat permulaan dianggap sebagai obyek untuk meditasi ketenangan (Samatha Bhavana). Dalam anapanasa ti ini. Dalam pernapasan.

inilah kesadaran. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari lima kelompok faktor kehidupan (pancakkhandha) ialah dengan menyadari bahwa inilah bentuk jasmani. i nilah telinga dan obyek suara. penyelidikan Dhamma yang mendalam (Dhamma-Vicaya). ketenangan (passadhi). Ia tahu bagaimana sekali timbul. direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari tujuh faktor Penerangan Agung (Satta Bojjhanga). inilah pikiran dan obyek pikiran. yang bentuk dan keadaannya bermaca . ia hidup bebas tanpa ikatan dal am dunia ini. yaitu : 1. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari tujuh faktor Penerangan Agung (Satta Bojjhanga) ialah apabila di dalam diri orang yang bermeditasi timbul kesadaran ( sati). Obhasa. dan direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari Empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ariya Saccani). inilah hidung dan obyek bau. kegiuran (piti). kemau an jahat. inilah peras aan. dan bagaimana cara mengembangkannya dengan sempurna. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari enam landasan indriya dalam dan luar (dua bleas ayatana) ialah dengan menyadari bahwa inilah mata dan obyek bentuk. Ia tahu bagaimana caranya supaya belengg u yang telah dibuang itu tidak timbul lagi kemudian. inilah asal mula dari penderitaan. maka hal itu harus disadari. Ia merenungkan masalah-masalah yang timbul dan hancur dari bentuk-bentuk pikiran. SEPULUH MACAM VIPASSANUPAKILESA Vipassanupakilesa berarti kekotoran batin atau rintangan yang menghambat perkembangan Pandangan Terang. Akhirnya. bentuk-bentuk pikiran itu ditaklukkan.pikiran dari lima kelompok faktor kehidupan (pancakkhandha). inilah jal an menuju pemadaman dari penderitaan. maka hal itu pun harus disadari. Ia tahu bilamana keadaan-keadaan ini tid ak ada di dalam dirinya. di dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. kegelisahan dan kekhawatiran. inilah bentuk pikiran. atau keseimbangan (upekkha). direnungkan bentukb entuk pikiran dari enam landasan indriya dalam dan luar (dua belas ayatana). Demikian pula apabila nivarana itu tidak ada di dal am dirinya. tenaga (viriya). pemusatan pikiran (samadhi). bentuk-bentuk pikiran itu tidak a kan timbul lagi kemudian. Ia tahu bagaimana cara timbulnya. Ia tahu bagaimana bentuk-bentuk pikira n itu datang dan timbul. Ia tahu bagaimana cara menaklukkan belenggu-belenggu itu. atau keragu-raguan . inilah pencerapan. Ia tahu akan belenggu-belenggu yang timbul dalam hubungan dengan semua itu. inilah lidah dan obyek kec apan. Ia tahu bahwa sekali ditaklukkan. ialah sinar-sinar yang gemerlapan. maka hal itu harus disadari. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari lima macam rintangan (nivarana) iala h bahwa apabila di dalam diri orang yang bermeditasi timbul nafsu keinginan. inilah badan dan obyek sentuhan. Vipassanupakilesa ini ada sepuluh macam. inilah pemadaman dari penderitaan. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari Empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ari ya Saccani) ialah dengan menyadari berdasarkan kesunyataan bahwa inilah penderitaan . kemalasan dan kelelahan. 2. Ia tahu bagaimana ca ranya timbul dan bagaimana caranya lenyap.

Upatthana. EMPAT MACAM VIPALLASA-DHAMMA Vipallasa-Dhamma berarti kekhayalan. yaitu ñana yang ketiga. yang lebih daripada semestinya. ialah kegiuran. ialah keyakinan yang kuat dan harapan agar setiap orang juga seperti dirinya. Okkantika Piti. ialah perasaan yang berbahagia. Atta-Vipallasa ini dapat dibasmi . yan g menganggap sesuatu yang tanpa aku sebagai aku. Ñana. dimana pikiran tidak mau bergerak untuk menyadari proses-proses yang timbul 10. Vipallasa-Dhamma ini ada empat macam dan dapa t dibasmi dengan melaksanakan empat macam Satipatthana. Saddha. yaitu kekeliruan dari pencerapan. yaitu kekeliruan dari pencerapan. 4. pikiran. yang seolah-olah orang telah mencapai penera ngan sejati. pikiran. Sepuluh macam vipassanupakilesa ini biasanya timbul dalam perkembangan Sammasana-Ñana. 6. 4. dan pandangan. Passadi. Sukha_Vipallasa ini dapat dibasm i dengan melaksanakan vedana-nupassana. yang seolah-olah orang telah bebas dar i penderitaan. yang suasananya meriang di se luruh badan.mmacam. Nikanti. ialah kegiuran yang menyeluruh. 3. ialah keseimbangan batin. ialah kegiuran yang sepintas lalu menggerakkan badan. ialah ketenangan batin. atau kepalsuan. Upekkha. Subha-Vipallasa. Sukha-Vipallasa. Pharana Piti. e. ialah kegiuran yang mengangkat. ya ng menganggap sesuatu yang tidak cantik sebagai cantik. karena tidak memperhatikan saat yang sekarang ini. 5. Ubbonga Piti. ya ng menganggap sesuatu yang derita sebagai bahagia. 2. yaitu kekeliruan dari pencerapan. Nicca-Vipallasa ini dapat dib asmi dengan melaksanakan citta-nupassana. ialah perasaan puas terhadap obyek-obyek. Piti in i ada lima macam menurut keadaannya. dan pandangan. 2. ialah kegiuran yang kecil. ialah kegiuran yang menyerap seluruh badan. ialah ingatan yang tajam. Khanika Piti. Subha-Vipallasa ini dapat dibasmi dengan melaksanakan kaya-nupassana. yaitu kekeliruan dari pencerapan. Paggaha. 3. 9. ialah pengetahuan yang sering timbul dan mengganggu jalannya praktek meditasi. c. yang suasananya sel uruh badan seperti terserap oleh perasaan yang menakjubkan. Atta-Vipallasa. yang sering timbul dan mengganggu perkembangan kesadaran. ya ng menganggap sesuatu yang tidak kekal sebagai kekal. b. Khudaka Piti. Nicca-Vipallasa. Piti. seperti ombak laut memecah di pantai. dan pandangan. ialah usaha yang terlalu giat. 3. d. Sukha. yang merupakan perasaan yang nyaman dan nikmat. 8. atau kekeliruan yang berken aan dengan paham yang menganggap suatu kebenaran sebagai suatu kesalahan dan kesalahan sebagai suatu kebenaran. dan pandangan. yang kadang-kadang merupakan pemandangan yang menyenangkan. pikiran. 7. pikiran. yaitu : a. yang suasananya seolah-olah mengangkat badan naik ke udara. yang suasananya seperti bulu badan y ang terangkat atau merinding. Keempat macam Vipallasa-Dhamma itu ialah : 1.

c. dengan melalui ani cca. dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. 7. 15. 12. seseorang dapat membedakan nama dari rupa dan rupa dari nama. 8. Muncitukamyata Ñana. ialah pengetahuan mengenai ketakutan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa. bau itu adalah rupa. dukkha (derita). Gerakan kaki ketika berjalan adalah rupa. Dalam mendengar bunyi. bentuk atau warna itu adalah rupa. ialah pengetahuan mengenai pemotongan atau pemutusan keadaan duniawi. ialah pengetahuan mengenai perbedaan nama (batin) dan rupa (materi).Phala Ñana. ialah pengetahuan mengenai penglihatan akan jalan yang menuju kebebasan. dimana kilesa atau kekotoran batin telah dilenyapkan. 5. ENAM BELAS MACAM ÑANA Ñana berarti pengetahuan. Dalam melihat bentuk atau warna. 4. Udayabbaya Ñana. 6. 1. bunyi itu adalah rupa. dan kesad aran terhadap hal itu adalah nama. 3. ialah pengetahuan mengenai peleburan/pelenyapan nama dan rupa. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. ialah pengetahuan mengenai penembusan terhadap magga. Nibbida Ñana.Sankharupekkha Ñana. a natta (tanpa aku). ialah pengetahuan mengenai hubungan sebab dan akibat dari nama dan rupa. Paccaya Pariggaha Ñana.Anuloma Ñana. dan mendekati Nirvana. Enam belas macam ñana tersebut di atas diuraikan agak terperinci seperti di bawah ini. Apabila orang tekun melaksanakan Vipassana Bhavana. ialah pengetahuan mengenai pembabaran phala yang merupakan hasil dari penembusan terhadap magga. dan anatta. Bhaya Ñana. ialah pengetahuan mengenai kesedihan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa. 13.Magga Ñana. ialah pengetahuan mengenai keengganan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa. Ñana itu ada enam belas macam.Patisankha Ñana.Paccavekkhana Ñana. sedangkan kesadaran terhadapa hal itu adalah nama.dengan melaksanakan Dhamma-nupassana. 14. 9. ialah pengetahuan mengenai peninjauan terhadap sisa-sisa kilesa atau kekotoran batin yang masih ada. 11. 4. yaitu anicca (ketidak-kekalan). Sammasana Ñana. ialah pengetahuan mengenai penyesuaian diri dengan Ariya-Sacca (Empat Kesunyataan Mulia). b. yaitu : 1. maka akan berkembanglah ñana di dalam dirinya. dan Nirvana sebagai obyek batinnya. 2. ialah pengetahuan mengenai timbul dan lenyapnya nama dan rupa. .Gotrabhu Ñana. Nama-Rupa Pariccheda Ñana. Umpamanya. Adinava Ñana. dukkha. mencapai phala (hasil) dari magga itu. sebagai persiapan untuk memasuki magga (Jalan). ialah pengetahuan yang menunjukkan nama dan rupa sebagai Tilakkhana (Tiga Corak Umum). naik dan turunnya rongga perut ketika bernapas adalah rupa. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. ialah pengetahuan mengenai keinginan untuk mencapai kebebasan. yang menimbulkan keputusan untuk berlatih terus dengan bersemangat. 10. Bhanga Ñana. dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Mengenai membedakan nama dan rupa yang berkenaan dengan panca-indera. 16. Dalam mencium bau. dan Nirvana sebagai obyek dari pikiran. ialah pengetahuan mengenai keseimbangan tentang semua bentuk-bentuk kehidupan. Nama-Rupa Pariccheda Ñana Dengan memiliki ñana ini. sedangkan pikiran yang mengetahui pros es itu adalah nama.

seperti binatang liar. dia. kalau rongga perut naik. Jadi. seperti lampu listrik. Pernapasan dapat berlangsung cepat. tiga. lima. proses itu masih tetap ada. Jadi. dalam hal lain. gunung-gunung. yang sekarang. Sering diganggu oleh pemandangan atau khayalan. Naik dan turunnya perut lenyap berselang-seling. dan yang akan datang hanya terbentuk dari rangkaian sebab dan akibat. Naik turunnya rongga perut hilang. Berbagai perasaan lenyap setela h disadari beberapa kali. e. tak ad a pribadi. Gerak naiknya perut dan gerak turunnya perut ada tiga bagian. Sammasana Ñana Dengan memiliki ñana ini. Sewaktu-waktu ada perasaan yang sangat tertekan dan kadang-kadang agak kurang. Rongga perut mungkin naik. Jadi. empat. Namun. Paccaya Pariggaha Ñana Dalam beberapa hal. benda itu adalah rupa. tetapi tidak ada turun. at au tertahan. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. Akhirnya . Dukkha (derita). dan bhanga (lenyap). Naik turunnya perut dan bekerjanya proses kesadaran itu berlangsung dengan terat ur. Keinginan duduk merupakan sebab. thiti (berlangsung). Anicca (ketidak-kekalan). Rongga perut mungkin turun de ngan keras dan tinggal diam dalam keadaan itu. bergoyang ke muka atau ke belakang. Dalam mencicipi sesuatu. dan lain-lainnya. rupa merupakan sebab.d. nama merupakan sebab. yaitu upada (terja di). Naik turunnya perut dapat lenyap seben tar atau dalam waktu yang lama. dan rupa merupakan akibat. Terlihat cahaya yang terang. Pikiran menjadi kacau. maka g erak jasmani akan mengikutinya. atau enam tingkat. dan duduk adalah akibatnya. panas. yaitu. 3. Permulaan dan pengakhiran dari gerakan naik turunnya perut lebih terasa. orang akan merasakan bahwa ketika pernapasan berhenti pada waktu beristirahat ya ng . yang memperlihatkan adanya kesadar an terhadap Tilakkhana itu. Udayabbaya Ñana Dengan memiliki ñana ini. Dalam menyentuh suatu benda yang dingin. Kadang-kadang orang dapat terkejut. kalau pikiran bergerak. dan hanya terdiri atas n ama dan rupa. Timbul perasaan tertekan. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. orang dapat merasakan bahwa kehidupan yang lampau. rasa itu adalah rupa. pelan. 2. dan Anatta (tanpa aku). maka kesadaran akan mengikutinya. Tak ada sesuatu yang disebut makhluk. kesimpulannya ialah bahwa seluruh badan ini adalah rupa. dan nama merupakan akibat. tet api kalau dirasakan dengan tangan. keras. dan lain-lain. halus. Akhirny a. atau merasa diri tidak berhasil. atau lunak. yang hanya dapat lenyap setelah disadari beberapa kali dengan perlahan-lahan. 4. Yang ada hanya rupa dan nama. seseorang dapat merasakan nama dan rupa melalui pancaind era sebagai Tilakkhana (Tiga Corak Umum). seseorang dapat menyadari bahwa gerakan naik turunnya perut itu terdiri atas dua. dan pikiran adala h nama. aku.

Pert amatama. Jadi. demikian pula kesadarannya. dan tidak terdapat perasaan kenikmatan yang sejati. 6. bahkan berubah menjadi kebosanan setelah menyadari sendiri bahwa manusia itu tercengkeram dan terseret ke dalam kelapukan. sangat kabur. sebenarnya tidak mempunyai intisari. citta dan ob yeknya lenyap bersama-sama. tetapi citta masih bergema. gembira. Setelah nama dan rupa lenyap. Semua manusia dan makhluk lain. tidak ada lagi yang menimbulkan rasa takut. seperti digigit-gigit semut. Semua bagian dari benda-benda ini menakutkan. sakit. Bhaya Ñana Timbul perasaan takut. Naik turunnya perut ter asa samar-samar. Gerakan naik turun dan kesadaran/pikiran (citta) terasa seolah-olah lenyap. senang. Tidak merasa bahagia. terutama pada waktu berjalan atau berdiri. Muncitukamyata Ñana Seluruh badan merasa gatal. Diri terasa buruk. badan seperti jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. Nama dan rupa muncul dengan cepatnya. bahkan para dewa dan para brahma tidak ada yang terkec uali semasih diliputi oleh bentuk-bentuk ini. Terasa sakit pada urat-urat syaraf .berulang-ulang. dan remang-remang. tetapi kemampuan untuk mengenal atau menyadari sesuatu masih berjalan dengan baik. seperti kemasyhuran. dan kematian. Kebosanan timb ul sebagai dorongan yang keras untuk mencari Nibbana. Semua bentuk batin dan fisik menyedih kan. dan lebih sen ang tinggal di kamar sendiri saja. seolah-olah ada getaran-getaran di uda ra. rupa (materi/jasmani) yang mengendap. Adinava Ñana Gerakan naik turun menghilang sedikit demi sedikit. Terasa diri seperti ditutupi dengan jaring. Segala s esuatu kelihatannya seolah-olah dalam suasana yang penuh kesuraman. 7. Terasa panas seluruh badan. atau terb ang dengan pesawat terbang. dan kadang-kadang terasa tidak ada apa-apa. di mana masih ada kelahiran. Kalau melihat pada langit. tetapi sebenarnya badan masih tet ap diam dan tak bergerak. dan membosankan. atau nikmat. dan kelihatannya hanya samar samar dan suram. 5. Nibbida Ñana Semua obyek kelihatan membosankan dan jelek. atau seperti ada binata . Nama dan rupa yang dianggap sebagai sesuatu yang bagus atau indah. Bhanga Ñana Pengakhiran dari gerak naik turunnya perut lebih terasa. gerakan naik turun segera lenyap. kemegahan. Orang merasa bahwa keinginan-keinginan atau cita-citanya yang dahulu. kemewahan. tetapi tidak seperti takut ketika melihat hantu atau seta n. Terasa seperti malas. atau naik dengan lift. jelek. tetapi dapat juga disadari. Tak ada keinginan untuk bertemu atau bercakap-cakap dengan orang lain. usia tua. Kemudian. dan kosong sama sekali. dan lain-lainnya tidak lagi merupakan kesenangan dan kegembiraan. terasa lenyap. 9. 8. Terdapat bahaya dari perubahan-perubahan yang terus menerus di dalam semua bentu k kehidupan. Gerakan naik dan turun sekonyong-konyong berhenti dan sekonyong-konyong timbul lagi.

tidak ada perasaan senang. Ada pula yang ingin pulang karena merasa bahwa paramitanya atau perbuatan-perbuatan baiknya belum cukup kua t.Konsentr asi pikiran berjalan baik.ng kecil yang merayap pada muka dan badan. tetap tenang dan halus dalam jangka waktu yang lama. b. tetapi setelah disadari dua atau tiga kali. tetap i pikiran masih aktif dan pendengaran masih bekerja. dan pengenalan atau kesadaran terhadap proses berhentinya pernapas an ini adalah anuloma-ñana. Anicca : orang yang biasa melatih diri dalam kebersihan atau kesucian dan sil a-sila akan mencapai magga melalui perenungan tentang anicca.Sankharupekkha Ñana Tidak ada perasaan takut. gelisah dan bosan. 12.Anuloma Ñana Di sini Anuloma Ñana diuraikan dalam bentuk Tilakkhana (anicca. anatta) sebagai berikut : a. Terasa kurang senang. Terasa mengantuk. Naik turunnya perut hanya disadari sebagai nama dan rupa saja. semua itu menjadi lenyap. Kalau ia terus melanjutkan menyadari naik turunnya perut. padahal mulanya ia ingin bermeditasi hanya 30 menit saja. Ada keinginan pergi dan menghentikan latihan meditasinya. Ingatan. tetapi agak seperti acuh ta k acuh. Orang mungkin dapat lupa dengan waktu yang telah dilewatinya dalam latihan itu. Timbul bermacam-macam perasaan yang mengganggu. Keadaan pernapasa n . Muncul perasaan tak senang. Ia menyadari atau mengetahui dengan terang tentang gerakan naik turun itu yang berhenti. tetapi janganlah hendaknya ragu-ragu atau dipikir-pikirka n. Badan terasa seperti ditindih batu atau kayu. menyadari sikap dudu k atau sentuhan-sentuhan badannya dengan jelas. Gerakan naik turun perut menjadi cepat. atau sentuhan-sentuhan pada badan. sepe rti adonan tepung yang diremas-remas oleh tukang roti yang pandai. sikap duduk . 11. Tidak ada perasaa n gembira atau perasaan sedih. Badan menjadi kaku. Dapat dikatakan bahwa penyadaran dan pengenalan di dalam nama ini berlangsung dengan mudah dan memuaskan. Ada perasaan puas dan mungkin lupa dengan waktu. 10. atau kesadaran tidak mengalami kesukaran-kesukaran. Samadhi atau konsentrasi menjadi kuat dan lekat. dukkha. sikap duduk. maka terjadilah proses berhenti. tetapi pikiran dan kesadaran pada saat itu tetap te rang. Keadaan pernapasan yang cepat itu adala h corak anicca. pengenalan. Proses berhenti ini harus disadari dengan nyata.Patisankha Ñana Terasa ditusuk-tusuk di bawah kulit dengan benda-benda tajam di seluruh badan. atau sentuhan-sentuhan pada badan. sepe rti sebuah mobil yang berjalan di atas jalan yang datar dan rata. Kalau ia berlatih menyadari na ik turunnya perut. maka hal itu aka n terhalang. Dukkha : Orang yang biasa melatih diri dalam Samatha (meditasi ketenangan) ak an mencapai magga melalui perenungan tentang dukkha. Mungkin ia telah duduk selama satu jam atau lebih . Seluruh badan terasa panas. tetapi sekonyong-konyong berhenti.

atau sentuhan-sentuhan pada b adan itu adalah anuloma-ñana. seperti Sakayaditthi (kekhayalan dari aku). Gotrabhu Ñana Nama-rupa bersama-sama dengan citta (pikiran) yang mengetahui proses berhenti it u menjadi diam. Anatta : Orang yang biasa melatih diri dalam Vipassana (meditasi pandangan te rang). Silabbataparamasa (ketahyulan tentang upacara).yang terhalang itu adalah corak dari dukkha. c. Pertimbangan mengenai kilesa yang telah dihancurkan. Ini berarti bahwa orang telah mendapat penerangan dengan nibbana sebagai obyeknya. Pertimbangan mengenai kilesa yang belum dihancurkan. atau terhadap sikap duduk. Jadi. jangka waktu dari gerakan naik dan gerakan turun sama.Phala Ñana Phala-ñana adalah hasil dari magga. aman. 15. atau terhadap sikap duduk. kalau pencerapan mulai pecah d an lenyap. 16. yang muncul langsung setelah timbulnya maggañana . tenang.Magga Ñana Magga timbul langsung pada saat perasaann pecah dan pencerapan kilesa hancur aki bat dari putusnya belenggu-belenggu. Dalam hal ini terdapat lima macam pertimbangan sebagai berikut : a. Pertimbangan mengenai magga. Pertimbangan mengenai nibbana. Demikian proses tersebut dapat timbul di dalam diri seseorang dan dapat disadari dengan seksama. Vicikiccha (keragu-raguan). dan kemudian ber henti. dan pengenalan atau kesadaran terha dap proses berhentinya gerakan naik turun ini. atau sikap duduk. Chattha-sangiti-pucchaka. jika orang melaksanakan Vipassana Bhavana. yang berarti bahwa Dhamma tertentu telah kita capai untuk menuju ke Nibbana sebagai obyek pikiran. yang berarti kita telah menghancurkan semua kilesa. c.Paccavekkhana Ñana Paccavekkhana-Ñana terdiri atas pertimbangan-pertimbangan mengenai masih adanya kilesa (kekotoran batin). Pertimbangan mengenai phala. yang menjadi obyek phala-citta adalah nibbana. dan pengenalan atau kesadaran yang terang terhadap proses berhentin ya gerakan naik turun ini. dua atau tiga saat. Sasanadhaja-siri-pavara-dhammacariya. Ñana ini bersifat lokuttara. Gerak naik turunnya perut. yang berarti kita masih memiliki kilesa. dan damai. Jadi. atau senang dengan Vipassana dalam kehidupannya yang dulu-dulu. Agga-mahapandita. maka gotrabhu-ñana tercapai. __________________ PURPOSE OF PRACTISING KAMATTHANA MEDITATION (Perbedaan Antara Samatha & Vipassana) Penulis Asli : Mahasi Sayadaw Bhadanta Sobhana. yang berarti bahwa kita telah mencapai phala ata u hasil ini. 14. b. atau sentuhan-sentuhan pada badan kelihatan dengan terang. akan mencapai magga melalui perenungan tentang anatta. yang berarti bahwa kita telah tiba pada magga in i. . 13. naik turunnya perut menjadi tenan g dan teratur. atau sentu hansentuhan pada badan itu adalah anuloma-ñana. Dalam beberapa saat. Keadaan pernapasan yang halus dan teratur itu adalah co rak dari anatta. d. e.

sakit. diikuti oleh kematian. baik penderitaan fisik dan kelu han mental/batin. gembira. sakit. mer eka berkelana di dalam lingkaran tumimbal lahir dari kehidupan ke kehidupan lain. dan kedua kar ena tidak merealisasi bahwa Nibbana jauh lebih luhur bila dibandingkan dengan jenis kebahagiaan lainnya. Kemelekatan terhadap kehidupan ini tidak berlangsung karena dua alasan : pertama karena tidak mengerti ketidakpuasan/penderitaan batin dan jasmani.Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa Penuh hormat kepada Bhagava. Semua makhluk hidup ingin hidup berumur panjang tanpa kekerasan. setelah menderita rasa yang amat sangat dan penderitaan yang amat berat. masih selalu dijumpai usia tua. sangatlah penting untuk mencegah tumimbal lahir yang berkelanju tan apabila ingin terbebas dari penderitaan kehidupan di dalam usia tua dan sebagain ya. Apabila ia mulai mengetahui kenyataan-kenyataan secara penuh. Yang Suci Mulia. Apabila tidak terdapa t kemelekatan. dan pende ritaan kehidupan lainnnya. Oleh karena itu. Tumimbal lahir terjadi dikarenakan kemelekatan yang terkandung di dalam kehidupa n ini. merealisasi Nibbana. TUJUAN UTAMA MEDITASI AJARAN BUDDHA Apakah tujuan melaksanakan latihan meditasi? Latihan meditasi dilaksanakan untuk tujuan terbebas dari penderitaan kehidupan u sia tua. Kemudian. Selama masih di dalam roda kehidupan. sakit. Yang telah merealisasi pencerahan secara mandiri PURPOSE OF PRACTISING KAMATTHAANA MEDITATION (Perbedaan Antara Samattha & Vipassana) I. Kelahiran yang baru hanyalah munculnya sebuah kesadaran yang merupakan hasi l dari kemelekatan terhadap objek dari kehidupan sebelumnya. Lagi-lagi. Di dalam cara seperti ini. menderita semua jenis derita kehidupan dan tanpa henti. sakit. maka tidak akan ada kelahiran baru. oleh karena itu setiap usaha ha rus ditujukan untuk terbebas dari kemelekatan apabila tidak menginginkan kelahiran y ang baru. dan penderitaan kehidupan lain nya. daerahnya tidak la gi . mati. Secara alamiah ia berpikir meluhurkan desanya itu dan memiliki kemelekatan yang kuat terhadapnya karena ia tidak memiliki pengetahuan yang jelas akan kekurangan daerahnya dan kondisi yang lebih baik dari tempat lainnya. Di dalam mencari sebab u tama (akar) dari peristiwa itu menjadi tampak nyata bahwa dikondisikan oleh kelahiran . Sebagai contoh. dan sejahtera tanpa penderitaan usia tua. mati. terdapat kelahiran dika renakan kemelekatan untuk menjadi (berwujud). itupun tidak berakhir di dalam kematian. namun mereka selalu sia-sia menemukan harapannya itu. di sana mengikuti rangkaian : usia tua. mati dan seterusnya. Di dalam kehidupan baru ini mereka pun menjadi korban usia tua. kesedihan dan ratapan dikarenakan banyak bahaya dan kejahatan. hidup dengan damai. dan penderitaan lainnya. mirip kasus seseorang yang hidup di daerah yang gersang dan menyedihkan yang dikelilingi oleh banyak bahaya. Dan.

kematian dan seterusnya.menarik baginya dan ia akan serta merta pindah ke daerah yang baru.. seolah seperti burung yang memiliki sayap. Vipassana-kammatthana dibagi menjadi dua sub bagian. EMPAT PULUH POKOK/SUBJEK MEDITASI Di dalam naskah.. Pengetahuan ini dapat diperoleh melalui latihan meditasi yan g tepat. __________________ III. Kekuatan untuk terbang denga n kaki bersila ke angkasa. seolah seperti ke/ dari dalam air. * Dibba-sota-abhinna . Latihan samattha-kammatthana akan mengembangkan faktor batin atas delapan pencapaian duniawi (lokiya-samapatti) yang terdiri dari 4 jenis rupa-jhana dan 4 arupajhana... setiap orang yang menginginkan untuk terbebas dari pende ritaan akibat usia tua.. Vipassana kammatthana 1. Samatha kammatthana 2. Kekuatan untuk mengetahui kejadian kehidupan lampau seseorang. * Ceto-pariya-abhinna . Demikian pul a. Kekuatan untuk berjalan di atas air tanpa tenggelam.. 2. tanpa melalui awal samatha kammatthana. Kekuatan untuk mengetahui pikiran orang lain. kematian dan sebagainya dan merealisasi Nibbana secara mandiri seyogyanya melaksanakan latihan meditasi.. * Pubbe-nivassa-abhinna . seolah seperti berja lan di atas tanah. II. Suddha-vipassana-yanika. Kekuatan untuk memasuki/ menyelam ke dalam tanah dan muncul lagi di permukaan tanah. jauh maupun dekat. sangatlah penting untuk mencoba mengerti kondisi tak memuaskan dari batin dan jasmani yang menguasai kehidupan ini dan secara mandiri merealisasi superioritas Nibbana dengan sebuah pandangan untuk menghancurkan secara total kemelekatan terhadap kehidupan. bisa satu usia dunia atau dua kal i atau empat kali atau delapan kali usia dunia dan seterusnya. baik besar maupun kecil. Telinga dewa. Kematian seseorang y ang mamiliki jhana secara utuh akan menyebabkan tumimbal lahir di alam para Brahma yang jangka waktu kehidupannya sangat panjang... * Dibba-cakkhu-abhinna . seseorang yang secara langsung melatih vipassana kammatthana untuk merealisasi Nibbana. Latihan yang berulangkali atas kondisi di dalam jhana ini akan membawa lima kemahiran batin duniawi luar biasa (abhinna 5) sebagai berikut : * Iddhi-vidha-abhinna . sesuai kasus per kasus. seolah d i udara. yaitu : Samattha-yanika... Kekuatan untuk menyentuh matahari dan bulan dengan menggunakan tangan. Mata dewa. Memiliki atribut-atribut ini tetap tidak akan menjamin/membawa ke kebebasan dari ketidakpuasan kehidupan. Melalui latihan Vipassana-kammatthana seseorang dapat merealisasi Nibbana dan memenangkan kebebasan mutlak dari penderitaan kehidupan. Empat puluh pokok/subjek meditasi itu adalah : .. beberapa di antaran ya dapat digunakan sebagai latihan dasar samatha untuk melaksanakan latihan vipassa na.. seseorang yang mengambil dasar permulaan latihan samatha kammatthana untuk merealisasi Nibbana. terdapat empat puluh pokok/subjek meditasi. kekuatan untuk melihat semua bentuk bentu k dan warna yang jauh maupun dekat. usia tua.. kekuatan untuk mendengarkan suara baik suara manusia maupun makhluk surgawi. Kekuatan untuk menembus dinding atau gunung tanpa rintangan.. kekuatan dari satu menjadi banyak dan dari banyak men jadi satu lagi. Oleh karena itu. PEMBAGIAN MEDITASI AJARAN BUDDHA Meditasi dibagi menjadi dua bagian : 1.

Kasina warna merah darah (Lohita) 8. Belas kasih terhadap makhluk menderita (karuna) 3. Berdiam dengan batin yang dipenuhi oleh cinta kasih universal yang diarahk an ke arah pertama.. Kasina udara (Vayo) 5. Ia memancarkan ke segenap dunia dengan batin dipenuhi oleh cinta kasih universal. Kasina warna kuning (Pita) 7. kemauan belajar dan mendengark an Dhamma (suta). Perenungan akan kepastian kematian (Marananussati) 9. berkembang. Perenungan terhadap kemurah-hatian seseorang (Caganussati) 6. Sebuah mayat yang telah digigit binatang buas (Vikkhayittaka) 6. 1 Ahare-patikula-sanna (perenungan atas makanan yang menjijikan) 7. 4 arupa (tahapan arupa jhana) 6. Kasina cahaya (Aloka) 10. Kasina warna biru gelap (Nila) 6. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Dhamma (Dhammanussati) 3. Perenungan terhadap kemoralan seseorang (Silanussati) 5. gigi. Sebuah Mayat membengkak (Uddhumataka) 3.. 10 asubha (ketidakmurnian) 3. Perenungan terhadap kualitas untuk tumimbal lahir sebagai dewa (Devatanussati ). 10. Perenungan atas 32 (tiga puluh dua) bagian tubuh (Kayagatasati). Sebuah tengkorak (Atthika) Sepuluh Anussati terdiri dari : 1. bulu tubuh. 10 kasina (alat permenungan) 2. Kasina air (Apo) 3. Cinta kasih yang universal terhadap semua makhluk (metta) 2. demikan pula. batin yang lapang. ke bawah. 1 Catu-dhatu-vavatthana (analisis empat unsur) Sepuluh kasina terdiri dari : 1. Perenungan terhadap kaluar dan masuknya nafas (Anapanasati) Empat Brahma Vihara terdiri dari : 1. terbebas dari kebencian dan niat jahat . Kasina tanah (Pathavi) 2. Simpati atas keberhasilan / pencapaian makhluk lain (mudita) 4.1. Sebuah Mayat terbelah dua (Vicchiddaka) 5. Sebuah Mayat terinfeksi/bernanah (Vipubbaka) 4. Perenungan terhadap Nibbana (Upasamanussati) 8. Sebuah mayat yang terserak hancur (Hatavikkhittaka) 7. Sebuah mayat yang berdarah (Lohitaka) 9. Keseimbangan batin sempurna (upekkha) . Sebuah mayat yang terinfeksi cacing/belatung (Puluvaka) 10. Kemudian ke arah ketiga. kemoralan (sila). kuku.. ke atas. Kasina warna putih (Odata) 9. Sebuah mayat membiru (Vinilaka) 2. Kasina api (Tejo) 4. 10 anussati (perenungan) 4. kulit. seperti : ra mbut. seperti terhadap dirinya. Kasina ruang terbatas (Akasa) Sepuluh Asubha terdiri dari : 1. kemudian ke arah kedua. Sebuah mayat yang terpotong-potong dan berserakan (Vikkhittaka) 8. tanpa batas. dan seterusnya. Kemudian ke arah keempat. dan ke sekeliling dan ke segala penjur u kepada semua makhluk. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Buddha (Buddhanusati) 2. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Sangha (Sanghanussati) 4. dengan batin yang dipenuhi oleh . yaitu keyakinan teguh (saddha). 4 Brahma vihara (sikap batin luhur) 5. kemurah-hatian (cage) dan kebijaksanaan (panna) 7..

Umpamanya : rambut kepala. semuanya akan berakhir sebagai kotoran (ti nja) dan air seni (urine). dara h. ialah segala sesuatu yang bersifat ber hubungan yang satu dengan yang lain atau melekat. pathavi. direnungkan bahwa makanan adalah barang yang menjijikkan bila telah berada di dalam perut. berjalan. Apo-dhatu (unsur air atau unsur cair). lendir. dicicipi. tanah . Penampilan gambaran batin ini disebut Uggaha-nimitta (bayangan yang diperoleh). Sutta Pitaka). terdiri dari : 1. baik posisi duduk. Vayo-dhatu (unsur angin atau unsur gerak). diminum. Tejo-dhatu (unsur api atau unsur panas). dan lain-lain. 1 catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan jasmani) Dalam satu catudhatuvavatthana. Berdiam dalam permenungan atas alam kekosongan (Akincannayatana) 4. Umpamanya : setelah selesai makan dan minum. atau bila sedang sakit. Pathavi-dhatu (unsur tanah atau unsur padat). pathavi. tanah . nanah. Empat Arupa.. be rdiri atau berbaring. dan lain-lain IV.. Segera setelah bayangan (nimitta) ini menjadi kuat dan stabil di dalam batin. direnungkan bahwa apapun yang tela h dimakan.. Setelah merenungkan berulang kali untuk sejumlah waktu tertentu. ia dapat pergi ke mana pun dan mengambil posisi apa saja. Seyogyanya memperhatikan sebongkah tanah di atas tanah atau alat berupa segumpal tanah yang merenungkannya dengan mengatakan di dalam batin: pathavi.belas kasihan. ialah segala sesuatu yang bersifat p anas dingin. gambaran alat-tanah yan g kuat dan jelas akan muncul di dalam batin seolah-olah dilihat langsung oleh inde ra penglihatan (mata). Pathavi Kasina Kammattha dan pencapaian Jhana Seseorang yang mengambil subjek meditasi dengan memilih Kasina tanah (Pathavikas ina) untuk permenungannya. Umpamanya : angin yang ada di dalam perut dan usus. yaitu : 1. kuku. Majjhima Nikaya. Berdiam dalam permenungan atas alam kesadaran yang tak terbatas (Vinnanancayatana) 3. Ia seyogyanya kemudian melanjutkan untuk merenungkan Uggahanimit ta itu dengan mengatakan dalam batin pathavi. ialah segala sesuatu yang bersi fat keras atau padat. dan lain-lain. ialah segala sesuatu yang bersifat bergerak. . Umpamanya : empedu. angin yang keluar masuk waktu bernapas. pathavi atau tanah . 3. oleh sikap simpati terhadap pencapaian/keberhasilan mahluk lain. gigi. Berdiam dalam permenungan atas kondisi alam bukan pencerapan juga bukan pencerapan (Nevasannanasannayaatana) 1 aharapatikulasañña (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) Dalam satu aharapatikulasañña. bulu badan. DESKRIPSI SINGKAT LATIHAN SAMATHA-KAMMATTHANA 1. 2.. pathavi atau tanah. 4.. (Jivaka Sutta. Berdiam dalam permenungan atas kondisi ruangan yang tanpa batas (Akasanancayatana) 2. direnungkan bahwa di dalam badan jasmani terdapa t empat unsur materi. bad an akan terasa panas dingin. dikunyah. dan oleh keseimbangan yang sempurna .

tanah . Selama waktu permenungan ini dapat terjadi bahwa batin tidak tetap terfokus pada objeknya namun sering kali mengembara/ melayang-layang mengalami objek lainnya dalam hal-hal sebagai berikut : 1. Kini. baik duduk. berdiri. 2. Batin sering memikirkan apakah permenungan yang sedang dilakukan ini adalah sebuah metode yang benar. Tahap ketetapan dan kestabilan batin ini dikenal sebagai 'Appana-samadhi' (konse ntrasi pencapaian). Batin sering berfikir akan objek-objek yang diinginkan nafsu indera. melihat ketidakpu asan di dalam dua faktor batin pertama di atas. pathavi atau tanah. objek tersebut akan 'terlihat' jelas dan mirip penampilan kristal tidak seperti penampakan awalnya. (d) Jhana keempat . dengan secara berkesinambungan batin berada dalam Upacara-samadhi dengan objeknya Patibhaga-nimitta. Ini adal ah Kamacchanda-nivarana (rintangan batin keinginan nafsu indera). tanah . Terdapat empat jenis Appana-samadhi untuk rupa jhana. Batin sering bercokol pada pikiran-pikiran sedih dan marah. 4. 3. melanjutkan lagi melakukan perenungan untuk mengatasi kedua faktor batin tadi. yaitu vitakka dan vicara. Ini adalah Uddhaca-kukkucca-nivarana (rintangan batin kegelisahan dan kekhawatiran). Kemudian ia seyogyanya kembali ke tempat yang sama dan melanjutkan dengan permenungan di dalam berbagai posisi tubuh. Batin sering tidak stabil namun gelisah. tanah seperti yang dilakukan pada permulaan latihan. Ini disebut 'Patibhag animitta' (bayangan keseimbangan). (c) Jhana ketiga. maka ia seyogyanya kembali ke te mpat asal alat-tanah itu dan melakukan perenungan lagi: pathavi. (b) Jhana kedua. Apakah ada kesempatan untuk meraih hasil yang baik. Kondisi batin seperti ini dikenal dengan 'Upacarasamadh i' (konsentrasi berdekatan). berbaring maupun berjalan. Apakah metode ini dapat membawa hasil yang bermanfaat. pathavi atau tanah. pathavi. pathavi. Terdapat kekenduran di dalam permenungan dan batin sering bosan dan kabur. tanah. Ini adalah Vyapad anivarana (rintangan batin keinginan jahat / niat buruk). batin mencapai satu keadaan seolah tenggelam ke dalam objek dan berdiam secara menetap di dalamnya. tanah. Ini adalah Vicikiccha-nivaran a (rintangan batin keraguan skeptis). yaitu: (a) Jhana pertama. 5. Dengan melakukan permenungan demikian terhadap objek uggaha-nimitta secara berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama. In i adalah Thina-middha-nivarana (rintangan batin kemalasan dan kelambanan batin). dan berhasil menca pai . dan batin sering khawatir dalam merenungkan dalam merenungkan perbuatan buruk melalui ucapan dan tindak-tanduk jasmani yang telah lampau. a) Di dalam jhana pertama lima faktor batin yang hadir secara nyata adalah: * Faktor batin yang berfungsi dalam penerapan/ perenungan awal/ pengarahan terha dap objek (vitakka) * Faktor batin yang berfungsi dalam penerapan penambatan terhadap objek (vicara) * Faktor batin yang berfungsi dalam menimbulkan suka cita/ kegiuran (piti) * Faktor batin yang berfungsi dalam menimbulkan kegembiraan (sukkha) * Faktor batin yang berfungsi dalam konsentrasi terfokus kuat terhadap objek (ekaggata) b) Seseorang yang telah mencapai tahap Jhana pertama dan ahli. Apabila batin kehilangan ugghana-nimitta sebagai objek.tanah. Kelima rintangan (nivarana) ini seyogyanya dipotong segera setelah mereka muncul dan batin seyogyanya kembali mengambil objek ugghana-nimitta misalnya dengan merenungkan sebagai: pathavi.

Tiga dari empat Brahma vihara. dan ekaggata. Mereka yang telah mencapai tingkat jhana keempat melalui permenungan kasina. Hal yang sama dapat dilakukan untuk kasina yang lain. c) Dengan melihat ketidakpuasan yang terdapat di dalam piti ia melanjutkan dengan perenungannya untuk mengatasi piti dan berhasil mencapai tahap jhana ketiga yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada dua. dan merenungkan dengan mengatakan di dalam batin 'mayat membengkak. mayat membengkak. yaitu sukha dan ekaggata. sukha. mayat membiru'. Delapan perenungan yang terdiri dari Buddhanussati sampai dengan marananussati. keluar. yaitu upekkha (keseimbangan) dan ekaggata. dan kemudian menetapkan perhatiannya pada celah/lubang hidung. akan terdapat banyak rintangan di mana batin akan mengembara/ melayang-layang. aka n mencapai tingkat-tingkat 4 Arupa Jhana dengan merenungkan empat Arupa secara berurutan. Perenungan terhadap 32 bagian tubuh. 2. yaitu upekkha. Ia seyogyanya kemudian melaksanakan perenungan di dalam cara yang sama seperti kasus pathavi-kasina. namun seyogyanya tetap pa da titik sentuhan tadi. yaitu piti.tahap jhana kedua. Rintangan ini seyogyanya tidak diikuti lebih lanjut . dan seterusnya. (Kayagata-sati) juga hanya akan mengantarka n untuk pencapaian tingkat Jhana pertama. namun seseorang yang telah melakukan meditasi melal ui perenungan satu dari tiga brahma vihara ini yang telah mencapai tingkat jhana ke tiga. Inilah diskripsi singkat cara untuk merenungkan Pathavi kasina dan pengembangan bertahap keempat tingkat jhana. Batin seyogyanya tidak pergi bersama aliran itu. masuk. karuna dan mudita akan membawa sampa i dengan tingkat Jhana ketiga. yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada tiga. dengan badan yang tegak. Di dalam hal seseorang yang memilih salah satu pokok meditasinya Asubha sebagai subjek konsentrasinya. Perbedaan yang ada adalah bahwa perenugan sub jek Asubha hanya akan mengantarkan untuk pencapaian tingkat Jhana pertama. dan analisa empat unsur (catu-dh atuvavatthana) akan membawa hanya sampai tahap upacara-samadhi. d) Dengan melihat ketidakpuasan yang terdapat di dalam sukha ia melanjutkan dengan perenungan untuk mengatasi faktor batin sukha tersebut dan berhasil mencapai tah ap jhana keempat yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada dua. yaitu metta. yang disebabkan oleh kontak berkesinambungan dari aliran nafas masuk dan keluar. masuk pada setiap aktivitas nafas masuk dan nafas keluar. Selama di dalam perenungan. Ia kemudia n akan mengetahui secara jelas sensasi sentuhan di ujung hidung atau di sisi sebel ah atas bibir. ia seyogyanya melihat ke arah seonggok mayat membengkak.' 'mayat membiru. atau mayat membiru. baik perjalanan nafas masuk maupun perjalanan nafas keluar. Aliran ini seyogyanya diamati pada titik sentuhannya dan direnungkan den gan mengatakan dalam batin: keluar. makanan yang menjijikan (aharepatikkula-sanna). juga akan mencapai tingkat jhana keempat dengan melaksanakan perenungan brahma vihara keempat. dan seterusnya. Anapana-sati Kammatthana Seseorang yang memilih Anapanasati sebagai subjek perenungan seyogyanya tinggal di tempat yang sunyi dan duduk dengan kaki bersila atau di dalam cara yang nyaman sehingga dapat duduk di dalam jangka waktu yang cukup lama.

keluar sesuai aktivitas nafas masuk dan nafas keluar . Dinyatakan bahwa keragaman bentuk atau objek bayangan itu disebabkan oleh perbedaan (sanna) individu yang mengalaminya. masuk. Nafas masuk dan nafas keluar yang panjang menjadi jelas teramati ketika merek a panjang. janganlah membuang waktu dengan cara demikian. baik secara singkat maupun mendalam. Di dalam kasus seperti ini. Setiap rangkaian nafas masuk dan nafas keluar yang lembut pada awal. disebut Upacara-samadhi . maka aliran nafas itu akan tergambar/terbayangkan dalam bentuk atau ukuran khusus. dan 4. Berikut ini ada lah yang dinyatakan di dalam kitab Visuddhi-magga (Jalan Kesucian/ Kemurnian batin). . bagi yang lainnya dengan sebuah sentuhan kas ar seperti dari kain sutera. Untuk orang tertentu. Dengan cara berkesinambungan mengamati titik sentuhan dan melaksanakan perenungan: 1. umumnya waktu terbuang untuk mencari objek nafas masuk dan nafas ke luar dengan mencoba meneliti penyebab padamnya nafas dan akhirnya tetap sia-sia tanpa melaksanakan perenungan. Inilah deskripsi singkat LATIHAN PERMULAAN samatha yang dilakukan oleh seorang 'samatha-yanika' yang memilih 'samatha-kammatthana'. keluar.. sebagai dasar untuk merealisasi Nibbana. nafas masuk dan nafas keluar 'tampak' seperti sebuah binta ng atau sebuah permata atau sebuah berlian. 2. atau sebuah tonggak terbuat dari hati kayu. Dengan secar a berkesinambungan merenungkan dibantu oleh Upacara-samadhi maka tingkat appanasam adhi dari tahapan 4 Rupa Jhana akan berkembang. apabila batin dengan penuh perhatian kembali tetap mengamati titik sen tuhan pada ujung hidung atau sisi bibir sebelah atas maka aliran nafas masuk dan kelua r yang halus akan tampak lagi dan akan tercerap dengan sangat jelas. Bentuk objek yang khusus ini adalah Patibhaga Nimitta . Mereka yang berhasrat untuk melatih vipassana seyogyanya pertama-tama dibekali dengan seperangkat pengetahuan. bagi yang lainnya mirip benang panjang terurai atau sekuntum bunga atau segumpal asap rokok. namun perhatian seyogyanya dikembalikan ke titik sentuh dan merenungkan kembali sebagai masuk. Dengan terus-menerus merenungkan nafas masuk dan nafas keluar. sedangkan bagi yang lainnya mirip sebuah sarang laba-laba atau sebuah lapisan aw an atau sekuntum bunga teratai atau sebuah roda kereta atau sebuah piringan bulan a tau matahari. Perubahan bertahap dari nafas masuk dan keluar yang kuat ke nafas masuk dan k eluar yang lebih halus menjadi jelas teramati. namun cukup . Namun demikian. Sejalan dengan nafas masuk dan keluar menjadi lebih halus dan lebih halus lagi. maka nafas tersebut akan tampak seolah nafas tersebut padam total. Konsentrasi (samadhi) yang kemudian dikembangkan dengan 'Patibhaga-nimitta' sebagai objeknya. Nafas masuk dan nafas keluar yang pendek menjadi jelas teramati ketika mereka pendek. 3. pertenga han dan akhirnya menjadi jelas teramati dari titik sentuhan ujung hidung hingga ke t empat nafas itu meninggalkan hidung.

dimengerti bahwa jasmani dan batin terbukti dengan jelas tidak kekal . seseorang yang berhasr at untuk latihan vipassana seyogyanya menetap di tempat sunyi dan duduk dengan kaki bersila atau dalam cara yang nyaman sehingga ia dapat duduk dalam waktu yang cuk up lama. Apabila ia merasa lelah atau bosan dengan melaksanakan terusm enerus perenungan akan beragam objek (pakinnakasankhara) ia seyogyanya memasuki jhana lagi dengan menetapkan tekad yang kuat bahwa jhana tersebut akan berlangsung selama 15 atau 30 menit. dan yang secara jelas muncul di dalam tubuhnya. dan bahwa mereka semata-mata merupakan proses muncul dan padam dari segala sesuatu yang tidak mengandung 'atta' (jiwa atau keberadaan kekal). Phala dan Nibbana. . dan kemudian merenungkan dengan memusatkan perhatiannya terhadap fenomena jasmani dan batin yang diketahui sebagai upadanakkhandha . Pada tingkat ini dapat dicerap dengan sangat jelas sebagai satu keteraturan pada setiap saat perenungan bahwa jasmani dan batin merupakan dua hal yang berbeda yang bekerja sama. Fenomenafenomena ini seyogyanya secara berkesinambungan direnungkan pada setiap saat kemunculannya. DISKRIPSI SINGKAT LATIHAN VIPASSANA 1. anatta terealisasilah pengetahuan bijaksana akan Magga. Juga dapat dicerap bahwa objek dan batin yang secara langsung mengetahui objek tersebut. Dengan pengetahuan cukup seperti yang disebutkan di atas. mengecap rasa. __________________ V. dan seterusnya sebagaimana mereka muncul dengan jelas pada salah satu dari enam pintu indera. mencium bau. muncul dan padam pada setiap saat perenungan.terhadap kenyataan bahwa makhluk hidup terdiri dari dua komponen. bahwa mereka tidak memuaskan. Dengan perkembangan penuh dari pengetahuan langsung ata annica. mendengar. dan bahwa jasmani dan batin berada dalam proses perubahan yang terusmene rus. bahwa jasmani dan batin terbentuk dikarenakan sebab dan akibat. tanpa kualitas atau keberadaan yang menyenangkan. ia akan dapat melaksanakan perenungan berkesinambungan siang dan malam tanpa merasa terhambat. Samatha-yanika Seseorang yang telah cukup pengetahuannya seperti disebutkan di atas seyogyanya pertama-tama berada di dalam jhana yang telah dicapainya dan kemudian merenungkannya. Suddhavipassana-yanika Di bawah ini. dukkha. Prosedur bergantian dari memasuki keadaan jhana dan kemudian dilanjutkan dengan perenungan sensasi indera pada enam pintu indera seyogyanya dilakukan dengan berulang kali. dengan badan tegak. adalah diskripsi singkat latihan dengan cara suddha-vipassana-yanik a . oleh karena itu jasmani dan batin tidak kekal. Oleh karena itu. yaitu jasmani (rupa) dan batin (nama). tidak memuaskan dan tidak mengandung kepemilikan/keakuan/ atta . Apabila vipassana-samadhi telah cukup kuat. Apabila keadaan jhana telah berlalu ia seyogyanya kemudian segera merenungkan keadaan jhana tadi dan kemudian dilanjutkan dengan merenungkan secara berkesinambungan sensasi-sensasi indera sebagaimana mereka muncul pada saat sala h satu dari enam pintu indera. 2. Ia seyogyanya kemudian melanjutkan dengan merenungkan secara berkesinambungan sensasi-sensasi. Upadanakkhandha adalah semua yang secara jelas dicerap pada saat melihat. seperti melihat. mengeta hui sentuhan. Inilah deskripsi singkat latihan dengan cara samatha-yanika untuk tujuan merealisa si Nibbana.

bukan pula 'orang'. sebagai ketentuan keharusan saat memulai pelajaran. maka mereka disebut upadanakkhandha atau kelompok yang menimbulkan kemelekatan . mendengar. maka pel ajaranpelajaran mudah terlebih dulu yang dipelajari. mengecap. perhatian seyogyanya ditetapkan pada posisi duduk dan merenungkan secara berkesinambungan. Inilah alasan yang jelas mengapa kelompok batin ini secara berurut disebut vinnana upadanakkhandha. mencium bau melalui indera penciuman . keduanya di cerap. Pada saat melihat. Dengan cara yang sama. Walaupun fenomena jasmani dan batin muncul dengan jelas pada saat melihat. mencium bau. tidak memuaskan dan 'anatta'. seyogyanya diambil sebagai objek utama/permulaan untuk perenungan saat memulai latihan vipassana. Lagi. dengan satu pandangan untuk mengamati kontak jasmani khusus yan g lebih mudah dicerap.mendengar. Dikarenakan materi menjadi objek kecenderungan kekeliruan dan kemelekatan. Mirip seperti di sekolah. namun anatta di mana mereka merupakan subjek bagi sebab dan akibat di dalam proses muncul dan padam. tidaklah mungkin bagi seorang pemula untuk merenungkannya di dalam urutan kemunculannya pada saat memulai latihan vipassana. sanna upadanakkhandha. mengalami kontak badan/sentuhan dan memikirkan ide/gagasan dan seterusnya. mencium bau. objek yang paling mudah hadir di dalam jasmani. Mereka secara egois menganggap Saya melihat . Inilah alasan mengapa lima upadanakkhandha secara jelas dicerap dengan jelas pada saat melihat objek penglihatan melalui pintu indera penglihatan ('mata'). batin dan materi. vedana upadanakkhandha. kelima upadanakkhandha dicerap dengan jelas pada saat mendengar suara melalui indera pendengaran. bentuk/faktor batin (sankhara) juga secara jelas dicerap pada saat melihat. Namun demikian di dalam kasus objek batin. latihan dimulai dengan merenungkan hal khusus. Mereka yang tidak merenung kan pada setiap saat kemunculan fenomena itu. maka dengan jelas akan dapat diamati sensasi kontak jasmani pada paha atau kaki atau bagian . bukan 'atta'. mengetahui sensasi sentuhan melalui indera sensasi sentuhan. Saya merasakan . tidak akan mengerti bahwa mereka tidak kekal. Kesadaran melihat (cakkhu-vinnana). Oleh karena itu. Dari kedua jenis fenomena. dan sankhara upadanakkhandha . pencerapan (sanna) akan o bjek pengelihatan. mengetahui objek batin melalui indera pikiran. objek penglihatan dan indera pengelihatan/'mata'. mengecap rasa kecapan maka kontak jasmaniah (bhuta-rupa) merupakan objek yang lebih mudah dicerap. duduk'. Merek a bukan menyenangkan. Keduanya itu merupakan kelompok meteri (rupa). Mereka yang tidak merenungkan pada saat kemunculannya tidak akan mengerti bahwa 'mereka segera padam dan tidak kekal'. Oleh karena itu. Pada saat perenungan mencapai kematangan. mereka menganggap bahwa fenomena batin ini menyenangkan dan melekat kepadanya. mencerap rasa kecapan melalui indera pengecapan. bahwa mereka bukan atta bukan pula keberadaan hidup. Mereka semata-mata kelompok batin. dengan membuat catatan secara batiniah seperti : 'duduk. Di dalam vipassana. dari berbagai kelas fenomena materi. bukan pula atta dan bukan orang . bahwa mereka 'muncul dan padam tanpa henti dan oleh karenanya tidak memuaskan'. mendengar dan seterusnya melalui pintu indera yang bersesuaian. dan keinginan untuk melihat objek. maka fenomena materi yang lebih mudah dicerap. perasaan (vedana). seyogyanya dipilih sebaga i objek perenungan awal atau utama di dalam vipassana-kammatthana. Saya melihat dengan penuh perhatian dan melekat kepadanya. dibandingkan objek-objek dari pintu indera (upad arupa) ketika melihat. Saya mencerap . Mereka bukanlah menyenangkan. mungkin dialami unsur batin maupun unsur fisik/materi.

perenungan akan sia-sia dan tidak efektif dan banyak kemunduran seperti perhatian gagal untuk mencapai cukup dekat terhadap objek yan g dituju. Inilah ilustrasi untuk menunjukkan tata cara perenungan. satu atau kedua tangan seyogyanya ditempatkan pada perut. gerakan naik dan turunnya perut tidak jelas dengan hanya menetapkan perhatian ke pada perut. atau marah. kont ak'. Ketika sedang dalam perenungan seperti 'naik. Perhatian khusus Disebutkan di sini bahwa kata-kata 'naik/mengembang' dan 'turun/mengempis' seyogyanya tidak diulangi dengan mulut. mungkin akan terdapat bany ak kesempatan ketika batin ditemukan mengembara ke objeknya masing-masing. agar mencapai sasaran perenungan seyogyanya dilaksanakan secara berulang-ulang dalam batin dengan kata-kata khusu s atas objek-objek yang bersesuaian. dengan hanya merenungkan yang dilakukan melalui tindakan sederhana dari pengamatan batin tanpa aktivitas pengulangan di dalam batin. mempercepat atau membuat nafas dalam seyogyanya tidak dilakukan. Jadi. disebabkan oleh aliran keluar dan masuknya nafas. apabila pikiran bermaksud sesuatu seyogyanya direnungkan sebagai 'bermaksud'. objek tidak jelas perbedaannya dan dicerap secara terpisah dan bahwa ene rgi yang dibutuhkan menjadi bekurang. Pengembaraan batin ini seyogyanya direnungkan sebagaimana mereka muncul. Namun demikian. seyogyanya direnungkan sebagai : 'mengembara'. 'turun' dan dilakukan . Perhatian seyogyanya ditetapkan secara bertahap dengan tahap turunnya perut sejak mulai hingga berakhir. duduk. maka perhatian seyogyanya ditetapkan pada ko ntak jasmani saat aliran nafas masuk dan keluar dengan cara merenungkan 'kontak. Aliran nafas alamiah seyogyanya dipelihara. Perenungan seyogyanya dilakukan secara berulang hingga faktor batin yang mengembara ini padam. Sensasi kontak jasmani khusus ini seyogyanya diambil sebagai objek tamb ahan bersama 'duduk' dan secara berkesinambugan direnungkan sebagai 'kontak. Pertama-tama perhatian seyogyanya ditetapkan pada perut.tubuh lainnya. Apabila hal ini pun sulit dilakukan maka perenungan seyogyanya ditetapkan dengan memperhatikan gerakan perut yang mengembang dan mengempis. Kemudian akan dirasakan bahwa perut mengembang dan mengempis dan gerakan perut selalu hadir. Namun demikian. bila menginginkan sesuatu seyogyanya direnungkan 'ingin'. apabila perenungan dengan cara demikian seperti 'kontak . apabila merasa malas atau sena ng seyogyanya direnungkan sebagai 'malas' atau 'senang'. turun'. atau kecewa. dalam hal gembira. kata-kata bukan kepentingan yang nyata. Just ru mengetahui gerakan perut dan gerakan jasmani yang sebenarnya merupakan kepentingan yang nyata. Apabila pikiran sedang merenung. Saat perut mengembang seyogyanya direnungkan dengan ditetapkan secara bertahap dengan tahap naiknya perut sejak mulai hingga berakhir. kontak'. Penekanan nafas . seyogyanya direnungkan sebagai 'gembira'. Di dalam kenyataannya. duduk. 'marah'. 'kecewa'. seyogyanya direnungkan sebagai 'merenung'. Apabila pada saat permulaan latiha n. namun mereka seyogyanya diulangi di dalam batin. Ilustrasi Apabila dialami bahwa pikiran mengembara ke objek yang bukan sedang diamati. kontak' sulit untuk dimulai. perenungan seyogyanya kembali kepada objek semula 'naik'. Saat perut dirasakan mulai turun (mengempis) seyogyanya direnungkan di dalam batin sebagai 'mengempis'. Kemudia n.

berjalan' ata u 'bergerak maju. Apabila sesuatu dilihat tanpa diperhatikan. sesuai urutan proses perubahan tersebut. sesuai kasusnya. Di dalam hal berjalan. 'mendengar'. lelah'. nyeri'. dapat dikatakan bahwa perenungan seyogyanya dilaksanakan terhada p semua aktivitas jasmani dan anggota tubuh seperti menekuk. 'mendengar'. 'panas. 'meregang'. Secara singkat.secara berkesinambungan. Apabila sensasi tak menyenangkan itu telah paham. seyogyanya direnungkan sebagai 'memperhatikan'. 'nyeri. 'mengangkat' . 'merenungkan'. bergerak maju'. Apabila tidak terdapat objek yang outstanding yang dapat direnungkan ketika berdia m dengan tenang dalam posisi duduk atau berbaring. Pada saat sesuatu sedang diperhatikan. Apabila sensasi yang tidak menyenangkan (dukhavedana). meletakkan kaki '. dan seterusnya. Dalam kasus perubahan posisi dari duduk menjadi berdiri dan perubahan ke posisi berbaring. Perenungan juga seyogyanya dilaksanakan terhadap semua gagasan/ide/faktor batini ah dan seterusnya. turun' peru t sesuai objek semula. perenungan seyogyanya dilakukan dengan menetapkan perhati an terhadap gerakan setiap langkah dari saat mengangkat kaki hingga kembali meletak kan kaki dan dengan membuat catatan secara batiniah sebagai 'berjalan. untuk mengetahui sifat alamiah mereka sebagaimana mereka muncul. Apabila sesuatu didenga r tanpa mendengarkan seyogyanya direnungkan sebagai 'mendengar'. 'melihat'. maka posisi tubuh dan posisi tangan serta kaki harus diubah maka meringankan sit uasi. perenungan seyogyanyan dilakukan dengan menetapkan perhatian terhadap setiap pergerakan mayor yang nyata dari jasmani dan anggota tubuh sesuai urutan proses pergerakan perubahan tersebut. Namun apabila sensasi nyeri begitu kuat sehingga mereka tidak dapat ditoleransi lagi. Di dalam perubahan posisi ini pun perhatian seyogyanya ditetapkan kepada gerakan yang paling nyata (mayor) dari tubuh/jasmani dan anggota tubuh dan perenungan dilaksanakan seperti 'menekuk'. Apabila pikiran merenungkan mengikuti maka seyogyanya direnungkan sebagai 'merenungkan'. seperti rasa lelah pada anggota tubuh atau perasaan panas atau nyeri. panas'. Kemudian perenungan dikembalikan ke 'naik'. melihat'. atau 'mengangkat. dan seterusnya. mengangkat. Apabila perubahan itu telah selesai maka perenungan dikembalikan kepada 'naik'. 'turun'-nya perut sesuai objek semula. 'meletakkan ke bawah'. bergerak maju. dan sebagainya muncul di dalam jas mani. perhatian seyogyanya difokuskan ke titik sensasi dan perenungan dilakukan seperi : 'lelah. seyogyanya direnungkan sebagai 'mendengar'. maka perenungan dikembalikan ke 'naik. Apabila seseorang akan mendengarkan sesu atu. bergerak. meregang. untuk mengetahui bentuk sebenarnya ketika mereka muncu l. 'bergerak'. 'mengayun'. Perenungan seyogyanya dilaksanakan dilaksanakan terhadap setiap sensasi fisik da n perasaan batin (vedana) untuk mengetahui sifat alamiahnya ketika mereka muncul. maka perenungan seyogyanya . seyogyan ya direnungkan sebagai 'melihat. 'turun 'nya perut sesuai objek semula.

bergagasan dan seterusnya sesuai urutan kemunculan mereka. Mirip seseorang yang mulai belajar. Namun seorang siswa yang baru saja mulai melatih perenungan belum dapat merealis asi perubahan yang demikian cepat. Hanya perlu menyingkirkannya sesegera mungkin saat mereka muncul. petunjuk-petunjuk yang diberikan di sini untuk memperlakukan atau menjaga perhatian kepada naik dan turunnya gerakan perut. PERKEMBANGAN KONSENTRASI VIPASSANA (VIPASSANA SAMADHI) DAN PENGETAHUAN BIJAKSANA PANDANGAN TERANG (VIPASSANA NANA) Bila tidak berupaya kuat untuk melaksanakan perenungan seperti disebutkan di ata s. para siswa akan gagal untuk mengamati banyak aktivitas jasmani dan batin pada sa at permulaan latihan. Oleh karena itu tidak diperlukan u ntuk merenungkan rintangan batin seperti faktor batin yang mengembara yang muncul sewaktu-waktu. Perenungan seyogyanya dilaksanakan pada setiap saat dari melihat. maka tidak dibutuhkan kembali semuanya untuk kembali ke objek utama dan pertama. sebagai objek utama dan pertama di dalam perenugan. Inilah latihan dasariah latihan Vipassana secara singkat. semua fenomena batin dan jasmani yan . di mana apabila diinginkan. Setelah perenungan dengan cara ini. sala h satu dapat dipilih sebagai objek utama atau pertama di dalam perenungan. Namun demikian. mengetahui sentuhan jasmani. tak dapat membaca begitu cepat dan baik bila dibandingkan dengan orang yang telah belajar dengan mahir. dan perenungan dikembalikan kepada objek semula secara berkesinambungan.dilaksanakan dengan selalu menetapkan perhatian terhadap kontak jasmaniah. seorang siswa seyogyanya berupaya untuk merealisas i muncul dan padamnya faktor batin tidak kurang daripada sekali setiap detik pada tahap permulaan latihannya. Di dalam hal Samatha-Kammatthana. konsentrasi (samadhi) dan pandangan bijaksana ke dalam (nana) yang cukup kuat akan secara mandiri merealisasi muncul dan padamnya batin sangat sering di dalam satu detik. yang lebih mudah dijelaskan dan mudah untuk direnungkan. Di dalam kasus samatha-bhavana seseorang harus merenungkan secara berkesinambungan terhadap objek semula dari samatha untuk membuat batin terkonsentrasi dengan kuat hanya kepada objek tersebut. mendengar. Siswa yang telah berkembang. di dalam vipassana-bhavana. __________________ VI. tidak ada perlakuan khusus untuk merenungkan faktor batin yang mengembara. Seperti ditunjukkan di dalam bagian Samatha-Kammatthana. dan (2) perenungan terh adap impresi kontak di dalam nafas masuk dan keluar. dengan cara perenungan kontinyu ini. Di dalam merealisasi kondisi perenungan yang luhur yang memungkinkan untuk merenungkan setiap objek sebagaimana mereka muncul. berpikir. Ini adalah satu dari butir-but ir perbedaan antara samatha-bhavana dengan vipassana-bhavana di dalam hal mengatasi rintangan batin (nivarana). turun seperti semula. Oleh karena itu. Tidak dibutuhkan untuk mengamati fenomena batin dan fisik yang lain. namun mereka seyogyanya ditekan. Namun demikian. Namun. terdapat banyak rintanan batin (Nivarana) yang menyebabkan batin mengembara ke arah objek lain. maka perenungan seyogyanya dikembalikan kepada objek naik . y aitu (1) perenungan terhadap posisi tubuh duduk dan sentuhan. mencium bau. sementara itu di dalam Vipassana-Kammathana perenungan juga harus dilakukan terhadap faktor batin yang mengembara itu. mengecap ras a. terdapat dua jenis kasus perenungan lain yang sudah disebutkan di atas.

Segera setelah faktor batin mengembara ke objek la in. Inilah yang disebut Citta-visuddhi (kemurnian batin). juga dicerap pada setiap saat perenungan di dalam keadaan terpisah t anpa dicampuri oleh fenomena materi lain atau fenomena batin lain. da n seterusnya. maka hampir tidak akan ada l agi faktor batin yang mengembara. ditemukan b ahwa perenungan dilaksanakan tanpa interupsi karena faktor batin dicerap segara saat faktor batin itu mulai muncul. Apabila mereka tidak direnungkan. . Pengetahuan bijaksana atas pembedaan fenomena fisi k dan batin sebagai dua proses yang terpisah disebut Nama-rupa-pariccheda-nana (pengetahuan bijaksana yang dapat membedakan dengan jelas fenomena batin dan jasmani). Pada tahapan perenungan ini. Di dalam beberapa kasus. oleh karena itu menghindari mereka tidaklah cukup seperti dalam kasus samatha. turun.g muncul melalui enam pintu indera harus diamati. menekuk. yang sedang direnungkan. dan seterusnya. maka kemelekatan dan pandangan keliru bahwa mereka kekal. Apabila faktor batin yang mengembara ini direnungkan secara berkesinambungan dengan cara ini dalam jangka waktu yang cukup lama. meregang. Terkonsentrasinya batin terhadap objek nya ini disebut Vipassana-khanika-samadhi (konsentrasi sementara dari pandangan terang). maka akan muncul sebuah pengertian jelas bahwa fenomena 'hanya terdiri dari proses batin d an fisik'. menyenangkan dan atta (aku) akan muncul. Begitu batin tidak lagi bercampur dengan rintangan batin yang menyebabkan mengembaranya batin. menurunkan . maka hanya ada perenungan murni yang terpusat. Pada setiap saat bernafas. Objek vipassana a kan lengkap hanya apabila seseorang merenungkan terhadap semua fenomena itu sehingga mengetahui dengan jelas sifat alamiahnya dan tidak melekat terhadapnya. melihat. menaikkan. Sekarang batin terbebas dari kamacchanda (nafsu indera) dan rintangan batin (niv arana) lainnya dan oleh karena itu sama seperti pada tingkat seperti Upacara-samadhi (konsentrasi berdekatan) yang disebutkan di dalam bagian Samatha-kammatthana. batin segera memperhatikan dan merenungkannya dan kemudian pengembaraan tersebut tidak berlangsung lebih jauh lagi. mendengar. Oleh karena itu apabila dan keti ka rintangan batin seperti misalnya batin merenungkan sesuatu selain objek perenung an semula atau batin menikmati nafsu atau keserakahan dan sebagainya mereka juga ha rus direnungkan. Fenomena batin. seperti merenungan berpikir. Dengan terealisasinya perkembangan pengetahuan bijaksana (nana) selama satu peri ode waktu yang baik di dalam latihan perenungan yang berkesinambungan. jasmani dan batin yang mengetahui jasmani dicerap secara jelas dan ter pisah sebagai dua hal yang berbeda. ditemukan bahwa batin yang merenungkan dan objeknya selalu datang bersama dan terkonsentrasi. Kemudian fenomena fisik seperti naik. dicerap pada setiap saat perenungan di dalam setiap bentuk y ang terpisah tanpa bercampur dengan batin yang merenungkannya atau dengan fenomena materi lain. Jasmani tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui.

dan lahir adalah munculnya sebu ah kesadaran baru di dalam urutan kelangsungan kesadaran ini. dikarenakan fluktuasi di dalam temperatur/suhu. yang tergantung dari sebab musabab yang terkait dan dengan demikian akan ada proses yang mirip pada kehidupan di masa mendatang . Dengan mengerti kenyataan sebab-musabab yang saling tergantung (paticcasamuppada ) ia akan datang pada satu kesimpulan bahwa hidup di masa lampau adalah sebuah formasi materi dan batin. ia mencerap kenyataan bahwa dikondisikan kehadiran Avijja (kegelapan/kebodohan batin). meregang. yang memandang kehidupan sebagai indah dan menyenangkan dan kehadiran Tanha (keinginan rendah). melihat. memindahkan. Dengan meneruskan perenungan lebih lanjut. ma ka muncullah kesadaran melihat.menekuk. mendengar. ia mencerap kenyataan bahwa dikarenakan kehadiran/adanya indera penglihata n dan objek penglihatan. dan dikarenakan kemelekatan terhadap perbuatan-perbuat an tersebut yang telah dilakukan. Lagi. . Namun batin memiliki kemampuan merenungkan. Lagi. Pandangan murni seperti ini disebut Kankha-vitarana visuddhi (Kemurnian pandangan yang muncul setelah mengatasi keraguan). dan seterusnya. bergerak. tidak terdapat aku atau Atta. maka batin mencapai objeknya. di dalam urutan yang sangat cepat dan berkesinambungan. Pengertian jelas ini disebut Ditthi-vis uddhi (Kemurnian Pandangan). mendengar. apakah SAYA berada hanya dalam kehidupan ini atau apakah SAYA akan terus ada di waktu mendatang" dengan memegang pandangan bahwa formasi/perpaduan meteri/jasmani dan batin adalah ATTA atau DIRI . kesadaran-kesadaran (vinnana) baru. Pengertian bijaksana ini disebut Anicca-sammassana-Nana (Pengertian bijaksana akan ketidak-kekalan fenomena alam). objek pendengaran. dan seterusnya. Terpisah dari dua faktor ini. indera pendengaran. Pengetahuan bijaksana membedakan sebab musabab yang saling tergantung ini disebut Paccaya-pariggaha-nana (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari pengertian pengalaman penuh akan sebab-musabab fenomena). maka sela lu terdapat perubahan di dalam kondisi fisik apakah menjadi dingin atau panas. Lagi. dicerap bahwa materi/jasmani dan batin muncul dan padam pada setiap saat perenungan. dicerap bahwa fenomena materi/fisik d an batin yang muncul di dalam jasmani merupakan efek atau hasil dari sebab-sebab ya ng bersesuaian dengannya. dan sebagainya. memikirkan. Dengan melanjutkan perenungan lebih jauh. Sebagai ilustrasi : Seorang siswa mencerap kenyataan bahwa dikarenakan batin menginginkan untuk membungkuk atau bergerak atau meregang atau mengubah posisi tubuh. semua jenis perbuatan dipikirkan dan dilakukan. Sebelum mengembangkan pengetahuan benar kenyataan bahwa "kehidupan terdiri dari batin dan jasmani yang tergantung atas 'sebab-musabab yang terkait' terdapat ban yak keraguan skeptis apakah terdapat SAYA di waktu lampau. maka muncullah. maka muncul aksi atau tindakan membungkuk. dan dikarenakan kehendak untuk mengarahkan. tergantung atas formasi/bentukan materi/jasad yang baru. Sekarang keraguan ini tidak dapat muncul karena mereka telah diatasi. ia mencerap kenyataa n bahwa kematian bukanlah kematian bukanlah sesuatu hanya padamnya kesadaran terakhir di dalam urutan kelangsungan kesadaran. dan seterusnya. atau mengubah posisi tubuh. dan dikarenakan mengkonsumsi makanan maka akan selalu muncul energi fisik yang baru.

dukkha dan anatta tanpa halangan (Nana) 8. Ia juga mencerap dengan sangat jelas padamnya setiap objek perenungannya seolah-olah diputus deng an jelas. Pandangan yang tajam terhadap sifat alamiah anicca. Kegembiraan yang mencakup ke seluruh tubuh (Sukkha) 7. Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara alamiah tidak mengikuti perintah keinginannya. dan bahwa metode perenungan yang tepat untuk merealisasi pencerahan sempurna adalah hanya dengan mengobservasi secara konstan terhadap semua fenomena yang muncul. Setelah tiba pada keputusan ini dan diteruskan dengan melanjutkan perenungannya pengalaman-pengalaman melihat bayangan batin dan perasaan-perasaan lainnya secar a bertahap akan berkurang dan pencerapan objek menjadi lebih jelas dan lebih jelas lagi. Inilah indikasi awal atau tahap permul aan dari 'Udayabbaya-nana' (pengetahuan bijaksana atas muncul dan padamnya fenomena) yang lemah. Keyakinan kuat tak terhingga terhadap Tiratana (Adhimokkho ti saddha) 5. yang mengkondisikan terhambatnya latihan vipassana sehingga menjadi kotor (vipassanupakkilesa). bahwa mereka secara konstan dicengkeram oleh muncul dan padam mereka dipandang sebagai bukan menyenangkan juga tidak patut digantungi. Cahaya yang gemilang (Obhasa) 2. Ia sering kali menganggap bahwa ia telah merealisasi pencerahan sempurna. Muncul dan padamnya fenomena materi pada setiap gerakan di dalam hal satu geraka n membungkuk atau meregangkan tangan atau kaki atau di dalam hal satu langkah. seringkali muncul pengalaman-pengalaman aneh. umumnya ia menceritakan pengalamannya. Kemudian siswa itu memutuskan pengalaman melihat bayangan batin dan perasaanpera saan lainnya bukanlah perealisasian pencerahan sempurna yang sesungguhnya. Pengertian bijaksana ini disebut Anatta-sammassana-nana (Pengertian bijaksana terhadap segala sesuatu yang bukan atta atau bukan diri). Sikap batin tenang (Passaddhi) 4. set . namun hanya merupakan dukkha. Kegiuran batin (Piti) 3. Semangat yang sangat tinggi atas pelaksanaan perenungan/meditasi (Paggaha) 6. Setelah merefleksikan kenyataan-kenyataan ini selama ia inginkan. maka direalisasi bahwa mereka bukan atta atau diri . siswa itu melanjutkan dengan perenungan tanpa refleksi lebih lanjut. namun muncul dan padam sesuai dengan sifa t alamiah dan kondisi relatifnya. siswa tersebut dapat terbuai sehingga ia tidak dapat lagi menja ga mulutnya. seperti : 1.Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara konstan muncul dan padam. I a tiba pada keputusannya ini sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya dari penga laman atau sesuai dengan petunjuk gurunya. Pengetahuan bijaksana ini disebut Dukkha-sammassana-nana (Pengertian bijaksana terhadap kondisi yang tidak memuaskan). Namun demikian sepuluh fenomena ini adalah jalan yang sala h (Amagga). Kemampuan di dalam melaksanakan perhatian murni tanpa kehilangan objek (Upatthana) 9. Pada tahap ini. Keseimbangan batin (Upekkha) 10. Melekat terhadap fenomena dhamma butir 1 9 (Nikanti) Oleh karena itu. Ia kemudian mencerap dengan sangat jelas permulaan dari setiap objek perenungannya. Keputusan murni ini adalah indikasi Maggamagga-nana-dassana-visuddhi (kemurnian pandangan benar terhadap jalan dan bukan jalan). tidak memuaskan.

Ini adalah Paccavekkhana-nana (Pengertian bijaksana dari retropeksi/perenungan mendalam). pencerapan terhada p objek-objek dijumpai lebih cepat. Seseorang yang telah merealisasi Paccavekkhana-nana sesuai urutan itu disebut se bagai makhluk Sotapanna (Pemenang arus). Pengertian bijaksana ini muncul merealisasi bahwa fenomena fisik dan batin yang muncul melalui enam pintu indera pada saat itu tidak kekal. Saat kemunculan Magga dan Phala Nana tidak berjeda waktu sedetik pun. Dilanjutkan den gan perenungan atas objek-objek dengan keseimbangan batin hanya memperhatikan objek tanpa terlarut di dalam kesenangan maupun ketidaksenangan. Dukkha. Anatta. tanpa lelah atau bosa n. dan bahkan dapat berakhir dalam jangka waktu yang begitu lama. Ketika Patisankha-nana ini masak. tidak memuaskan.iap fregmen (bagian) dari satu gerakan akan dengan sangat jelas diamati. Kemurnian segera disusul kemunculan refleksi atas pengalaman khusus Magga. disebut Sankharupekkha-nana (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari keseimbangan batin terhadap sankhara). Akhir atau padamnya objek lebih jelas dicerap daripada permulaan Upacara (pendekatan) dan Anuloma (adaptasi). Ini adalah pengertian bijaksana yang memotong kekerabatan Puthujjana (makhluk awam duniawi) dan memasuki kekerabatan Ariya (makhluk suci). Keluar dari perenungan ini yang dilanjutkan secara otomatis dan dengan momentumn ya merealisasi objek. Perenungan itu mengalir tanpa hambatan seolah terbebas dari Upakkilesa (ketidakmurnian). Setelah Anuloma Nana. Khas Anicca. Perenungan ini begitu damai dan tanpa upaya khusus saat itu dan dilanjutkan dengan mengetahui objek-ob jek begitu otomatis dan dapat berlangsung lebih dari satu jam. dimana duka cita dan ketidakpuasan yang berhubungan dengan fenomena fisik dan batin padam secara tota l. dan . Pengertian bijaksana yang muncul langsung menuju sebuah jalan mulia ini yang jug a dikenal sebagai Vuitthana (elevasi) adalah Vutthana-gamini-vipassana-nana (Pengetahuan bijaksana menuju elevasi yang lebih luhur). Pandangan terang mulai dari Udayabbaya-Nana yang masak sampai dengan Anuloma-nana secara kolektif dikenal sebagai Patipada-nana-dassana-visuddhi (Kemurnian dengan pengertian bijaksana dan pandangan terang yang muncul akibat telah mengikuti latihan yang benar). Setelah pengertian bijaksana (Nana) ini diperoleh cukup kuat. muncullah pengertian bijaksana yang khusus sangat cepat dan a ktif. dua jam atau tiga jam . Ini adalah nana atau pengertian bijaksana yang tepat bagi 8 vipassana nana yang mendahuluinya dan Magga-nana (Pengertian bijaksana atas Jalan) yang mengikutinya. muncullah Gotrabhu-Nana (Pengertian bijaksana memenangkan kesucian) dimana Nibbana adalah objeknya. Inilah kema tangan atau tahap akhir dari Udayabbaya-Nana . Phala dan Nibbana . perenungan berlanjut secara otomatis mirip sebua h jam tanpa upaya khusus bagi pencerapan dan pengertian bijaksana. dengan kejelasan khusus yaitu dukkha. Magga Nana disebut Nana-dassana-visuddhi (Kemurnian pandangan). Ini adalah Patisankha-nana (Pengertian bijaksana yang muncul dari perenungan yang lanjut). Kemudian muncul Sotapati Magga Nana dan Phala Nana (Pengetahuan bijaksana dari Jalan Suci pemenang arus dan buahnya) yang merealisasi Nibbana. Pencerapan yang muncul dalam jangka waktu lama ini merealisasi sifat alamiah obj ekobjek perenungan secara otomatis dan tanpa terlibat di dalam kesenangan dan ketidaksenangan.

bukan diri/aku. Pengertian bijaksana terakhir adalah Anuloma-nana (Pengertian bijaksana atas adaptasi) yang terdiri dari tiga javana (saat-saat dorongan) disebu t Parikamma (persiapan), seyogyanya melaksanakan latihan meditasi sesuai dengan petunjuk yang diberikan di atas. Semoga semua makhluk dapat melaksanakan latihan Meditasi dan merealisasi Nibbana . __________________ KETERANGAN BEBERAPA ISTILAH PENTING Ariya Sacca Kebenaran Suci, terdapat 4 jenis : a. Dukkha sacca = Kebenaran suci tentang 'penderitaan' b. Samudaya sacca = Kebenaran suci tentang penyebab 'penderitaan' c. Nirodha sacca = kebenaran suci tentang padamnya 'penderitaan' d. Magga sacca = Kebenaran suci tentang jalan untuk terbebas dari 'penderitaan'. Bhavana a. Samatha - bhavana Pengembangan ketenangan batin. Secara sementara kekotoran batin tertentu mengend ap (lihat nivarana). Objek samatha-bhavana ini merupakan pannatti (konsepsi batin). b. Vipassana bhavana Pengembangan kebijaksanaan melalui pengamatan dan perhatian murni terhadap fenomena batin dan jasmani yang dicengkeram oleh sifat universal (lihat Tilakkha na). Hasil akhirnya, kekotoran batin terbasmi hingga ke akarnya. Objek vipassana-bhav ana ini merupakan paramattha (hakekatnya sesungguhnya segala sesuatu yang dialami). Dukkha a. Di dalam sifat alamiah universal (Tilakkhana), mengandung pengertian = tidak memuaskan. Dukkha jenis ini meliputi makhluk hidup suci atau tidak suci dan juga bukan makhluk hidup. b. Di dalam kebenaran suci tentang dukkha (Dukkha sacca), mengandung pengertian = penderitaan biasa (dukkha-dukkha), penderitaan yang inheren karena perubahan (viparinama dukkha), penderitaan yang inheren bagi mahluk yang merupakan perpaduan (sankhara dukkha). Dukkha jenis ini hanya berkenaan dengan makhluk hid up yang belum suci. Ekaggata a. Sebagai faktor batin bersifat netral (bukan baik juga bukan tidak baik), meng andung pengertian faktor batin yang berfungsi memusatkan batin terhadap objek yang diam ati. b. Di dalam faktor jhana, mengandung pengertian sebagai faktor batin yang berfun gsi menekan kamachanda-nivarana (hasrat nafsu indera). Jhana Kondisi batin yang melekat kuat terhadap objek (arammana) yang dialami. Objek ya ng dialami oleh batin selama di dalam kondisi jhana merupakan objek yang bukan sesungguhnya atau bersifat konsepsi batin (pannatti). Khanda Mengandung pengertian sebagai kelompok perpaduan; umum pula dijumpai dalam istilah upadanakkhandha yang berarti kelompok perpaduan yang berpotensi menimbulkan kemelekatan. Khandha terdiri dari 5 lima kelompok yaitu : a. Vedanakkhandha = kelompok perpaduan perasaan, yaitu perasaan yang menyenangkan, perasaan tidak menyenangkan dan perasaan netral (bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan). b. Sannakkhandha = kelompok perpaduan pencerapan. Fungsinya menandai objek, mencerap objek yang dialami, mengkondisikan pengenalan terhadap objek.

Apabila makhluk Anagami melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah pandangan untuk merealisasi Anagami Phala-sampatti , maka ia akan merealisasi tingkatan tersebut. Apabila ia melaksanakan latihan bagi tingkatan yang lebih luhur, maka Vipasanna-nana akan dikembangkan di dalam urutan yang sama seperti sebelumnya da n di dalam kematangan yang penuh ia akan merealisasi Nibbana dengan pandangan tera ng Arahatta Magga dan Phala (jalan kesucian Arahat dan buahnya) dan menjadi makhluk suci Arahat. Makhluk Arahat telah terbebas dari lima belenggu (samyojana ) yang masih tersisa, yaitu : 1. Rupa-raga (hasrat untuk keberadaan bermateri halus) 2. Arupa-raga (hasrat untuk keberadaan tanpa materi) 3. Mana (kesombongan) 4. Uddhacca (kegelisahan batin) 5. Avijja (kegelapan atau kebodohan batin) secara bersama dengan semua kilesa (kekotoran batin) Pada akhir masa kehidupannya saat ini ia akan Parinibbana, dan tidak akan tumimb al lahir lagi, ia secara mutlak terbebas dari duka ketuaan, kesakitan, kematian, da n seterusnya. Dengan tetap berpandangan terhadap kebebasan ini bahwa pertanyaan pada permulaan artikel ini : Apakah tujuan utama melaksanakan latihan meditasi telah diberikan jawabannya sebagai berikut : Latihan meditasi dilaksanakan untuk tujuan utama merealisasi Nibbana dan terbebas dari duka cita kehidupan di dalam bentuk ketuaan, kesakitan, kematian, dan seterusnya . Oleh karena itu mereka semua yang dengan tekun berharap untuk merealisasi Nibban a dan merealisasi kebebasan mutlak atau kemunculannya. Objek-objek perenungan nampak padam. Bentuk dan ukuran tangan, kaki, kepala, jasmani dan seterusnya tid ak dicerap lagi. Hanya kepadaman jasmani dan batin yang dicerap pada setiap saat perenungan. Bahkan, perenungan batin dicerap padam bersama objek perenungannya setiap saat. Pengertian bijaksana atas proses kepadaman ini di dalam pasangan ba tin dan objeknya adalah Bhanga-nana (pengetahuan bijaksana akan proses padamnya fenomena). Dengan terus-menerus mencerap proses yang selalu padam di dalam tiap pasang bati n dan objeknya maka akan tiba kemunculan perealisasian bahwa setiap fenomena dapat menimbulkan ketakutan. Ini adalah Bhaya-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang menakutkan). Kemudian akan disusul dengan munculnya pengertian bijaksana merealisasi ketidaksempurnaan fenomena batin dan materi. Ini adalah Adinava-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang tidak memuaskan). Kemudian akan disusul dengan pengertian bijaksana merealisasi sifat alamiah feno mena yang tidak menarik dan membosankan. Ini adalah Nibbida-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang membosankan). Apabila direalisasi bahwa sungguh baik apabila tidak terdapat fenomena fisik mau pun batin yang secara konstan datang/muncul dan padam di dalam cara demikian, muncul lah pengertian bijaksana, mencari kebebasan dari ketidakpuasan terhadap fenomenafeno mena ini. Ini adalah Muccitu-kamyata-nana (Pengetahuan bijaksana dari niat untuk terbebas).

Dengan lebih lanjut merenungkan disertai keinginan kuat untuk terbebas, munculla h sebuah persepsi kuat atas sifat alamiah Sotapanna terbebas dari tiga belenggu (samyojana) sebagai berikut : 1. Pandangan keliru bahwa fenomena kelompok perpaduan fisik dan batin adalah ego , atau diri. (Sakkaya-ditthi kepercayaan bahwa fenomena fisik dan batin adalah dir i). 2. Keraguan atas Buddha, Dhamma dan Sangha serta disiplin (Vicikiccha). 3. Kepercayaan bahwa metode di luar pengembangan jalan mulia berunsur delapan (Ariya Magga) dan di luar pengembangan pandangan terang di dalam empat kebenaran mulia (Ariya Sacca) dapat membawa kebahagiaan sejati (Silabbata-paramasa kepercayaan hanya terhadap ritual dan upacara membawa ke kesucian). Lebih lanjut, bahwa observasinya terhadap pelaksanaan lima kaidah kemoralan menj adi murni dan mutlak. Bagi alasan inilah, Sotapanna tidak mungkin tumimbal lahir ke alam yang tidak menyenangkan, yang rendah (Apaya loka). Ia akan menjalani kehidupan bahagia di dunia manusia dan para dewa selama tujuh kali tumimbal lahir maksimum , dan selama periode ini ia akan merealisasi tingkat kesucian Arahat. Apabila Sotapanna melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah niat untuk merealisasi Phala-samapatti (perealisasian buah), ia kemudian akan mencapai keadaan itu dan menetap dengan objek Nibbana untuk jangka waktu 5 atau 6 menit, atau setengah jam, atau satu jam. Apabila ia cukup baik terlatih di dalam latihan perealisasian Phala-samapatti maka ia akan merealisasinya dengan sangat cepat dan menetap di dalam objeknya itu selama sehari penuh atau bahkan semalaman atau leb ih lama lagi. Apabila ia melaksanakan perenungan terhadap Upadanakkhanda di dalam cara yang sama seperti yang telah disebutkan di atas dengan sebuah pandangan untuk mereali sasi tingkat Magga dan Phala yang lebih tinggi, maka vipassana-nana akan dikembangkan dari tahapan Udayabbaya-nana dalam urutan yang sama seperti sebelumnya dan dalam kematangan penuh ia akan merealisasi Nibbana dengan pandangan terang dari Sakadagami-Magga dan Phala (Jalan makhluk suci yang paling banyak akan kembali lagi satu kali ke alam nafsu dan buahnya) dan menjadi makhluk Sakadagami (yang kembali satu kali lagi). Ia kemudian terbebas dari nafs u indera (kama-raga) yang kasar dan keinginan buruk (patigha) yang kasar. Ia akan menuju kehidupan bahagia di dalam alam manusia dan dewa maksimum selama dua kali tumimbal lahir dan akan merealisasi tingkat kesucian Arahat selama periode tersebut. Apabila makhluk Sakadagami melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah pandangan untuk merealisasi Sakadagami Phala-Samapatti maka ia akan merealisasi tingkat tersebut. Apabila ia melaksanakan latihan dengan sebuah pandangan merealisasi tingkat Magga dan Phala yang lebih luhur, Vipassana-nana akan dikembangkan di dalam urutan yang sama seperti sebelumnya dan di dalam kematangan penuh ia akan merealisasi Nibban a dengan pandangan terang dari Anagami Magga dan Phala (Jalan makhluk yang tidak akan kembali lagi ke alam yang diliputi nafsu dan buahnya) dan menjadi mak hluk Anagami (Makhluk yang tidak pernah kembali lagi, ke alam nafsu indera). Ia kemud ian secara total terbebas dari dua belenggu/samyojana lebih banyak, yaitu kama-raga (nafsu indera) dan Patigha (keinginan buruk). Ia tidak akan tumimbal lahir lagi di Kama-loka (alam yang diliputi nafsu indera) namun akan tumimbal lahir di Rupaloka (alam dengan materi halus) atau Arupa-loka /alam tanpa materi (bila ia saat itu

Rupakkhandha = kelompok perpaduan materi/fisik/jasmani. Piti Sebagai faktor/penyerta batin berarti kegiuran batin terhadap objek yang dialami . Nivarana Rintangan batin. dan bersifat netral (bukan baik juga bukan tidak baik). d. Samyojana Adalah belenggu batin. Paticca-samuppada Sebab-musabab yang saling tergantung. e. Patigha = niat jahat/dendam. c. 2. 10. yang tidak baik dan yang netral (bukan baik juga bukan tidak baik). Uddhacca = kegelisahan batin. Sankharakkhandha = kelompok perpaduan faktor-faktor/penyerta batin yang baik. Kamaraga = nafsu indera 5. ada 10 jenis. Vinnanakkkandha = kelompok perpaduan kesadaran. 3. Kamachanda = hasrat di dalam nafsu indera. formulasi umumnya terdiri dari empat pernyataan. Lokuttara Dhamma Dhamma yang mengatasi duniawi. Tidak adanya ini mengkondisikan tidak adanya itu. Byapada = niat jahat.makhluk Arupa Brahma) dan ia nantinya akan menjadi Arahat. Vicikiccha = keraguan skeptis. yaitu : a. phala) dan Nibbana. Sakkaya-ditthi = kepercayaan atau pandangan keliru terhadap lima kelompok perpaduan (khandha 5) sebagai inti/aku/diri. b. unsur materi gerak. makhluk manusia. terdiri dari 5. Dalam hal ini meliputi batin para makhluk suci (Ariya puggala) pada saat hancurnya tiga atau lebih belenggu/ kekotoran batinnya (magga. Silabbata-paramasa = kepercayaan bahwa hanya dengan ritual keagamaan dapat merealisasi kesucian. c. 6. unsur materi panas. Uddhacca-kukkucca = sikap batin gelisah/tak dapat memegang objek dengan baik dan khawatir atas perbuatan baik yang belum dilakukan atau perbuatan jahat yang telah dilakukan. tak mengetahui kebenaran suci. Avijja = kegelapan batin. tak mengetahui hakekat sesungguhnya segala sesuatu. tak dapat membedakan kebaikan dari keburukan. Vicikiccha = sikap batin ragu secara skeptis. 4. Mana = kesombongan 9. Lokiya dhamma Dhamma yang bersifat duniawi. yaitu : 1. Sebagai faktor jhana merupakan faktor batin yang fungsinya menekan byapada-nivar ana (niat jahat). Timbulnya ini mengkondisikan timbulnya itu. Dalam hal ini meliputi batin para makhluk rendah. Aruparaga = nafsu untuk tidak memiliki fisik/nafsu untuk tumimbal lahir di al am tanpa materi. yang secara umum terd iri dari unsur materi padatan. Padamnya ini mengkondisikan padamnya itu. 7. yaitu : Adanya ini mengkondisikan adanya itu. Ruparaga = hasrat untuk memiliki fisik/nafsu untuk tumimbal lahir di alam ber materi halus. makhluk dewa maupun brahma/makhluk awam (puthujjhana puggala) yang belum hancur belenggu/kekotoran batinnya. . Thina-middha = sikap malas dan lamban d. fungsinya menyadari objek yang dialami. unsur materi cairan. e. 8.

tanpa diri. . dikategorikan sebagi faktor batin perasaan (sukkha vedana ) yang berfungsi merasakan objek yang menyenangkan yang dialmi. ba ik sebagai sebab (paccaya) maupun sebagai akibat (pacayuppana) mengandung pengertia n = kehendak (cetana) lampau dan melandasi perbuatan-perbuatan lampau. Sabbe dhamma anatta = semua dhamma dalam hakekat sesungguhnya adalah tanpa kepemilikan. merupakan faktor batin perasaan yang berfungsi menekan uddhacca-kukkucca-nivarana (kegelisahan kekhawatiran) Tilakkhana Tiga sifat alamiah yang berlaku universal. fungsinya membuat batin menambat terhadap objek yang dialami. yaitu : a. b. yang baik d an yang tidak baik. Di dalam lima kelompok perpaduan/yang berpadu (Khandha 5). berarti memahami proses batin dan jasmani yang bersifat tanpa inti (Ana tta). Sebagai manusia. dikarenakan tidak memiliki pemahaman yang benar sehingga menimbulkan pengaruh yang kurang baik. Sebagai faktor/penyerta batin artinya perenungan permulaaan. Di dalam hal sikap batin luhur tanpa batas (brahma-vihara). mengandung penger tian = perpaduan. mengandung pengertian = faktor/penyerta batin (cetasika) yang baik. kita sering mendengar anjuran-anjuran di masyarakat yang menyatakan untuk menerima diri apa adanya. b. Di dalam faktor jhana. Akan tetapi. hal ini seringkali ditaf sirkan atau diterapkan secara keliru. Di dalam hal perasaan (upekkha vedana). c. c. Upekkha a. Di dalam fenomena sebab-musabab yang saling tergantung (Paticca-samupada). fungsinya membua t batin mengarah kepada objek yang dialami. tanpa inti. Sebagai faktor jhana (jhananga) merupakan faktor/penyerta batin yang fungsiny a menekan Thina-middha-nivarana (sikap batin malas dan lamban). "Menerima Diri Apa Adanya". Ditinjau dari cara pandang yang sebenarnya. bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan. netral dan buruk. yaitu batin (nama) dan jasmani (rupa). Vicara a. Di dalam khandha 5. sehingga merupakan bersifat ketidakkekalan (Annica). b. b. di lu ar pencerapan (sanna) dan perasaan (vedana). pada dasarnya terbentuk dari dua unsur. Di dalam sifat alamiah yang berlaku universal (Tilakkhana). Sabbe sankhara anicca = semua fenomena perpaduan bersifat tidak kekal. mengandung pengertian perasaan netral . b. Vitakka a. MEDITASI Menerima Diri Apa Adanya dengan Pengertian Benar Dalam kehidupan ini. Sabbe sankhara dukkha = semua fenomena perpaduan bersifat tidak memuaskan.Sankhara a. mengandung penger tian sikap batin seimbang terhadap semua fenomena yang dicengkeram Tilakkhana. Sebagai faktor jhana (jhananga) merupakan faktor penyerta batin yang fungsiny a menekan Vicikiccha-nivarana (keraguan skeptis). b. Sebagai faktor/penyerta batin artinya perenungan penopang. dan tidak memuaskan (Dukkha ). Sukha a.

sebagai orang awam. dan kekayaan materi tidaklah banyak membawa manfaat. Dari semua aspek perbaikan diri. karena tanpa batin yang berkembang menuju arah yang lebih baik . kenapa tidak dilakukan. Mereka mempraktekkan kesadaran saat berjalan. Sikap utama tubuh dalam meditasi kesadaran adalah duduk bersila dengan punggung tegak. tetap membutuhkan dasar pemahaman yang benar. lebih banyak orang yang belum sampai ke tahap pemahaman yang mendalam dan menyeluruh seperti yang didapat dari hasil berlatih Vipassanâ Bhâvanâ.Indonesia : Chandasili Nunuk Y. Kita menerimanya dengan pengertian benar dan merasa pua s sambil terus berusaha untuk menjadi lebih baik lagi dari sekarang dan begitulah seterusnya.Inilah sifat sesungguhnya dari segala sesuatu yang terbentuk. Dikegiatan penyunyian yang kami selenggarakan. Pada jaman sekarang ini. apapun ha sil yang diperoleh. menerima diri apa adanya. Jadi. dan intelektual. Untuk memahami inipun. Mere ka harus sepenuhnya membangun kesadaran setiap saat dalam kondisi apapun. baik atau buruk. Jadi sudah sewajarnya kita berusah a untuk menjadi lebih baik. maka perbaikan kondisi jasmani. supaya suatu saat. kebencian dan kebodoha n batin) Tanpa batin yang terus menerus ditingkatkan. kebencian (Dosa) dan ketidaktahuan (Moha) . kualitasnya. dan materi tidaklah banyak artinya. terutama dari segi batin. Tida k mengeluh ataupun menyesalinya. Inilah yang dimaksud dengan "Menerima Diri Apa Adanya" MEDITASI JALAN Oleh : Sayadaw U Silananda Alih Inggris . Merasa puas bukan berarti kita berhenti berusaha menjadi orang yang lebih baik dari segi batin dan jasmani. setelah berusaha memperbaiki diri. jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan sehari-hari. para yogi mempraktekkan meditasi kesadaran (vipassana) dengan menggunakan empat sikap tubuh yang berbeda-beda. Tapi umumnya para yogi sulit duduk berjam-jam tanpa merubah posisi. Kondisi batin kita memang jauh dari sempurna. yaitu terkikisnya keserakahan (Lobha). maka aspek batin seharusnya menjadi prioritas u tama untuk diperbaiki. intelektual. bisa menc apai tujuan. duduk dan berbaring. Karena itu. untuk saat ini. inilah yang sebenarnya dimaksud sebagai "Menerima Diri Apa Adany a" dalam meditasi. Kalau kita memang masih bisa mencapai kondisi yang lebi h baik. Jadi "PENGERTIAN BENAR" yang berkenan dengan anjuran menerima diri apa adanya dalam kehidupan sehari-hari adalah memahami dan menerima. materi. juga merasa puas dengan setiap kondisi yang ada. Selanjutnya. Sehin .K. termasuk apa yang kita anggap dan percaya sebagai "aku dan diriku". yan g belum memiliki batin yang telah berkembang. tidak dapat mencakup arti yang sesungguhnya. maka itulah hasil terbaik yang dap at kita peroleh. menerima sifat sesungguhnya d ari segala sesuatu. yaitu kesempurnaan batin (bebas dari keserakahan. apalagi menyalahkan orang lain. melainkan ha nya arti pada tingkat permukaan saja. intelektual. berdiri. maka kemajuan dalam se gi jasmani.

Meski sesaat kompor dimatikan untuk kemudian dinyalakan lagi sebentar. Para bhikkhu gunakan pemahaman jernihmu . Pertama seseora ng harus mengisi air ke dalam teko. Seorang bhikkhu menggunakan pemahaman yang jernih saat berjalan bolak-balik . Petunjuk-petunjuk itu telah dipelajari oleh para murid Sang Buddha dan diturunka n dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan memiliki pemahaman yang benar terhadap pengamatannya seorang yogi dapat membangun konsentrasi. pentingnya dan kondisi alami yang bis a dipahami saat mempraktekkan meditasi jalan. Dalam hal ini praktek meditasi jalan menyatu didalamnya untuk menumbuhkan kesadaran yang berkesinambungan. Jadi. meditasi jalan merupakan sua tu bagian penting dari proses ini. Lebih jauh Sang Buddha berkata. Izinkan kami secara khusus membahas praktek meditasi jalan. air di dalam teko tidak langsung mendidih. Maksud dari pemahaman yang jernih disini adalah pemahaman yang benar atas segala sesuatu yang diamati. mematikan dan menyalakan kompor (sebelum air mendi dih) maka air di dalam teko tidak akan pernah mendidih. Sebagai tambahan para guru terdahulu telah memiliki resep berdasarkan pengalaman praktek meditasi mereka sendiri. Namun demikian kami pernah mendengar orang-orang yang mengkritik praktek meditasi jalan. tahu. Karena meditasi jalan sangat penting maka perlu didiskusikan lebih jauh. Dalam bagian yang disebut sikap tubuh Beliau mengatakan seorang yogi tahu. Pada bagian lain yang disebut pemahaman jernih Sang Buddha mengatakan. Meski Sang Buddha tidak memberikan petunjuk secara khusus dan rinci tentang meditasi jalan (hanya penjelasan singkat yang tercatat di dalam sutta) kami perc aya Beliau telah memberikan petunjuk pada suatu waktu. jika ada jeda atau celah diantara kesadaran maka kita tid ak akan bisa membangun konsentrasi dengan baik. Sebelum air mendidih ia mematikan kompor. Itulah sebabnya para yogi yang berada dalam pengawasan kami diinstruksikan untuk membangun kesadaran sepanjang waktu. saya sedang berjalan saat ia sedang berjalan. Mulai dari saat bangun dari tidur di pagi h ari hingga terlelap pada malam harinya. Dengan cara yang sama. Jika kalian adalah p . Para pengritik ini mengatakan mereka tidak memperoleh manfaat at au hasil yang baik dari praktek meditasi jalan tersebut. Sesungguhnya Sang Buddha merupakan orang pertama yang membabarkan praktek meditasi jalan ini. tahu saya sedang duduk saat sedang duduk dan tahu saat sedang berbaring sebagai saya sedang berbaring . Saat ini kami memiliki serangkaian petunjuk yang teliti tentang cara mempraktekk an meditasi jalan. Kita harus menyadari bukan saja pemahaman yang jernih tapi juga kesadaran dan konsentrasi saat sedang berjalan bolak-balik. Praktek meditasi kesadaran bisa diumpamakan seperti merebus air. Diskusi tersebut berkenaan dengan manfaat.gga kami mengganti saat-saat duduk meditasi ini dengan meditasi jalan. saya sedang berdiri ketika sedang berdiri. Lalu teko itu diletakkan di atas kompor kemudia n kompor itu dinyalakan. Pembahasan meditasi jalan Beliau sampaikan dua kali. Untuk membangun konsentrasi ia harus menggunakan kesadarannya. Jika hal ini terus dilakukan.

Dengan pemahaman yang sama. Tak perlu siapapun mengingatkan . Ini harus dicatat dalam batin sebagai.. Sewaktu berkendara di jalan bebas hambatan seseorang cenderung memacu kendaraannya pada kecepatan 60-70 atau malah 80 mil/jam. ia bisa menyadari semua gerakan itu . Dengan demikian semakin lama ia semakin penuh perhatian.angkatletakka n . Dengan kecepatan seperti itu akan sulit b aginya membaca rambu-rambu lalu lintas di pinggir jalan. Saya akan memberi perumpamaan untuk menjelaskan pernyataan di atas.berjalan . Saat konsentrasi berkembang lebih kuat para yogi akan mampu mengamati tahapan-tahapan gerakan yang berbeda dalam satu langkah dimana akhirnya empat tahap gerakan (dal am satu langkah) lebih mudah diamati. Sebagai pemula para yogi akan menemui kesulitan untuk berjalan perlahan. Saat itu seolah-olah pergerakan tersebut merupakan satu kesatuan gerak yang berkesinambungan. Tidak perlu secara sengaja melambatkan lan gkah kaki tersebut. pelan-pelanlah . keempat sentuh atau meletakkan kaki ke lantai. yaitu melangkah dan meletakkan kaki . Setelah beberapa jam atau setelah satu-dua hari bermeditasi kalian akan diberi p etunjuk untuk melakukan dua tahapan dalam melangkah.ara pemula sang guru akan menasehati untuk sepenuhnya awas pada satu hal selama mempraktekkan meditasi jalan. Sepenuhnya awas pada langkah kaki sementara kalian membuat pencatatan di dalam batin berjalan . . Kalian akan diinstruksikan untuk mencatat dalam batin empat gerakan tersebut. secara otomatis ia akan melambatkan langkah kakinya. angkat-maju-turun-tekan .atau kirikanan kiri-kanan Yang perlu diingat kalian harus berjalan lebih lambat dari biasanya saat sedang berlatih meditasi jalan. k etika ia sepenuhnya memberi perhatian dengan baik. Tapi si sopir secara otomatis akan memperlambat laju kendaraannya untuk bisa melihat rambu-rambu tersebut. Maklum tahapan pergerakan itu belum menempel di pikiran. dengan menaruh perhatian penuh secara otomatis langkah kak i akan melambat. kedua maju. bila seorang yogi ingin memberikan perhatian yang lebih cermat atas gerakan mengangkat. maju. Pada saat itulah secara otomatis ia berjalan dengan perlahan. Hanya dengan berjalan lambat ia bisa sepenuhnya awa s dan waspada terhadap gerakan kaki tersebut. angkat-letakkan angkat-letakkan . turun dan tekan. Kalian harus mengamati sungguh-sungguh dua tahapan proses melangkah tersebut.berjalan .. yakni pertama proses mengangkat. Setelah itu kalian akan diberi petunjuk untuk sepenuhnya menyadari tiga proses berjalan. Tapi. Sesudahnya kalian akan diberi petunjuk lanjutan untuk sepenuhnya menyadari empat tahapan dalam proses melangkah yakni. Bila ia ingin membaca rambu-ra mbu tersebut ia harus melambatkan laju kendaraannya. Meskipun para yogi memberikan perhatian yang cermat dan melambatkan langkahnya ada kemungkinan mereka tidak melihat semua pergerakan dan tahapan dari pergeraka n tersebut dengan jernih. ketiga tur un. pertama mengangkat. Namun. kedua proses maju dan ketiga proses meletakkan kaki.

Para yogi akan mengetahui secara jelas bahwa gerakan mengangkat berbeda dengan gerakan maju maupun gerakan turun. Ketika mengalami rasa ringan mereka melihat unsur api. Ijinkan kami membahas lebih terperinci sifat dari unsur-unsur tersebut yang beke rja saat mempraktekkan meditasi jalan. unsur air. Pergerakan terjadi karena ada unsur udara yang bekerja. Jadi. Saat mendorong kaki ke depan mereka akan mencapai pergerakan dari satu tempat ke tempat lain. Saat kaki terangkat ada unsur lain yang juga bekerja di sana. Persinggungan antara kaki . Tidak hanya it u. unsur api lebih dominan dibanding unsur udara. turun dan tekan ke lantai. rasa berat saat kak i turun dan sentuhan pada kaki terhadap lantai yang berupa rasa keras dan lunak. empat unsur utama tersebut nampak . saat yogi mengalami rasa berat pada kaki mereka sebenarnya mengalami peristiwa bekerjanya unsur air. sepanjang pengamatan angkat. Saat meletakkan kaki ke lantai/tanah mere ka merasakan sentuhan. Tahap meditasi jalan berikutnya adalah gerakan menurunkan kaki. Saat benda-benda menjadi lebih ringan itulah mereka bisa mengangkat kaki. Setelah itu terjadi per gerakan kaki bergerak naik. Jadi bisa dikat akan saat menangkat kaki unsur utamanya adalah unsur api dan unsur kedua yang mengiku ti adalah unsur udara. yakni gerakan mengangkat kaki. realitas mutla k. gerakan kaki. unsur api dan unsur udar a. Sewaktu yogi meletakkan kaki ke bawah ada sejenis kekerasan pada kaki. Mereka mengetahui kaki yang terangkat itu ter asa ringan. Lebih jauh. Tapi . para y ogi akan melihat rasa ringan saat kaki mengangkat. Kedua unsur tersebut bisa dirasakan oleh para yogi saat mere ka menaruh perhatian sungguh-sungguh ketika mengangkat kaki. Saat mengamati proses-proses ini mereka sedang melihat empat unsur utama (Pali: Dhatu ). yogi mengalami rasa ringan. Tahap berikutnya adalah mendorong kaki ke depan. Dengan memberi perhatian yang cermat pada empat tahapan melangkah sewaktu berlatih meditasi jalan. Karena pergerakan (dalam hal ini adalah gerakan mendorong) adalah satu sifat utama dari unsur udar a. Dan ketika menurunkan kaki mereka mencatat gerakan kaki y ang turun menjadi berat dan semakin berat. Salah satu aspek dari unsur api adalah membuat benda-benda menjadi lebih ringan. dalam hal naiknya kaki. saat bersungguh-sungguh melihat gerakan kaki maju ketika melakukan meditas i jalan yogi-yogi itu sebetulnya tengah melihat intisari unsur udara. tapi merupakan proses nyata. Saat kaki terdorong ke depan un sur utama yang mempengaruhi gerakan tersebut adalah unsur udara. maju. Empat unsur utama itu adalah unsur tanah. Dengan kata lain saat itu yogi merasakan intisari dari unsur api. Pada gerakan pertama. Unsur air bersifat merembes dan mengental. Jadi. Saat ca iran menjadi berat maka ia akan mengental. Kekerasan adalah karakteristik dari unsur air. Jadi unsur-unsur itu t idak hanya sekedar konsep (teori belaka). Saat kaki menekan ke tanah/lantai yogi-yogi akan mengalami kekerasan dan kelembutan dari kaki yang menyentuh tanah atau lantai.

Yakni munculnya serangkaian kehendak a tau maksud yang mengakibatkan terjadinya setiap gerakan. Pergerakan-pergerakan itu tak akan muncul denga n sendirinya. Keduanya muncul dan lenyap sampai kaki betul-betul menyentuh landasan. Juga. Jadi. Proses yang sama muncul saat melakukan gerakan menekan kaki ke landasan. Dari sinilah muncul pemahaman tentang bekerjanya pasangan batin dan jasmani yang muncul dan lenyap setiap saat. Setelah ada kehendak untuk mendorong maka muncul proses kaki terdorong ke depan. kaki terdorong ke depan karena mereka bermaksud demikian. Saat-saat menyadari tersebut termasuk ke dalam bekerjanya kelompok batin (dalam bahasa Pali disebut nama). Demikian seterusnya. Setelah itu ada g erakan menurunkan kaki ke landasan. Kondisi ini dipengaruhi oleh uns ur tanah. Setelah ada kehendak untuk mengangkat maka muncul proses mengangkat kaki. Kaki bisa turun karena mereka menginginkannya. Saat berikutnya ada gerakan kaki mendorong ke depan dan kesadaran yang melihat pergerakan tersebut. Bersamaan dengan itu ada pikiran yang mengawasi gerakan tersebut. Mereka akan menyadari bahwa kaki bisa diangkat karena mereka menginginkannya. Selanjutnya. Sementara gerakan-gerakan kaki termasuk ke dalam kelompok materi atau rupa . Inilah temuan berikutnya yang bisa ditemui para yogi saat mereka memberikan perhatian dengan . Demikian seterusnya. Saat para yogi meneruskan latihan meditasi jalannya mereka akan menyadari pada setiap gerakan ada pikiran yang mencatat atau mengawasi setiap gerakan tersebut. Bisa dikatakan hanya dengan satu langkah para yogi bisa mengamati banyak proses. Pad a saat itu para yogi akan memahami batin dan jasmani muncul dan lenyap setiap saat . Hanya saja pemahaman atau pengertian tentang munc ul dan lenyapnya batin dan jasmani setiap saat ini hanya akan terjadi bagi mereka y ang berlatih dengan sungguh-sungguh. Kondisi yang dimaksud adalah munculnya kehendak atau maksud yang mengawali setiap pergerakan. Jadi dengan menaruh perhatian sungguh-sungguh saat kaki menekan landasan yogi-yogi sebenarnya bisa memetik pengalaman berupa keadaan alami yang dipengaruhi oleh unsur tanah. Dengan kata lain ada gerakan mengangkat disertai munculnya pikiran yang mengawas i (mencatat) gerakan mengangkat tersebut. Dengan cara ini para yogi akan memahami bahwa bersamaan dengan melangkah ada gerakan kesadaran atau pengawasan. Mereka bisa mengamati empat unsur utama dan menyadari keempatnya secara alami. Ada hal lain yang akan ditemui para yogi. Keadaan ini hanya bisa dilihat dan dialami oleh para yogi yang berlatih dengan sungguh-sungguh. Pergerakan-pergerakan itu tak akan terjadi tanpa adanya suatu sebab. ada gerakan mendorong kaki ke depan disertai dengan pikiran yang mengawasi gerakan tersebut. Saat it u ada gerakan menekan dan munculnya pengawasan atas gerakan tersebut. Begitu pula kaki bisa menekan landasan karena mereka bermaksud demikian. h al itu bisa terjadi karena munculnya serangkaian kehendak. Setelah mengamati proses ini dengan sungguh-sungguh para yogi kemudian memahami semua kemunculan itu berkondisi. Ada sebuah sebab atau kondisi untuk setiap pergerakan. Kehendaklah yang mengawa li setiap pergerakan. Pada satu waktu ada kaki yang terangkat dan munculnya kesadaran mengangkat. Inilah penjelasannya.dan landasan mengalami keadaaan alaminya yang khas.

pengertian muncul dalam diri par a yogi. Saat yogi memiliki pengertian tentang muncul-lenyapnya batin dan jasmani mereka akan memahami ketidakkekalan proses melangkah. Saat seorang yogi memahami kondisi munculnya setiap pergerakan maka akan muncul pemahaman baru. Tapi pihak tera khir ini sudah dipastikan hanya akan terlahir kembali ke alam manusia atau alam dewad ewa. Melalui proses ini lewat pengalamannya sendiri. Mereka bisa memahami hubungan antara yang dikondisikan dan yang mengkondisikan. Pada saat inilah seorang yogi bisa memahami hubungan sebab akibat. Seseorang yang meraih tingkat pemahaman mendekati seorang sotapanna belum benar-benar menjadi sotapanna. Setelah itu barulah seorang yogi bisa memutuskan fenomena yang tengah diselidikinya itu bers ifat tidak kekal. Jika meditasi k ita cukup baik keadaan ini memungkinkan untuk mengamati ketidakkekalan. Mereka memahami bahwa pergerakan itu tercipta oleh maksud atau kehendak. Saat mereka memahami batin . Tapi. Akhirnya pengertian selanjutnya yang muncul adalah segala sesuatu itu bersifat tidak kekal. Pemaha man ini bisa diraih melalui meditasi jalan. Hal ini terjadi seiring dengan timbulnya pengertian bahwa segala sesuatu itu akan muncul dan lenyap. Hal ini memberi ruang atas munculnya gerakan mendorong kaki ke depan. Tentu saja hal ini bisa terjadi sekali l agi dengan memberikan perhatian secara teliti dan sungguh-sungguh dalam mengamati setiap pergerakan kaki. Kita harus berusaha memahami apakah sesuatu itu bersifat kekal atau tidak kekal. Pemahaman ini tidak timbul dari membaca buku. Gerakan in i pun secara sederhana muncul dan lenyap. Kita harus berusaha untuk melihat melalui kekuatan yang muncul dalam meditasi apakah benda-benda itu subyek dari proses menjadi yang kemudian lenyap. Mereka juga akan memahami ketidakkekalan kesadaran melangkah. muncul dan lenyap (timbul tenggelam). Sotapanna artinya pemenang arus. Inilah keuntungan besar dari berlatih meditasi jalan. atau alam-alam neraka). Melalui penyelidikannya para yogi melihat (menyadari) saat bermeditasi jalan ada gerakan mengangkat dan kesadaran yang muncul atas gerakan itu yang sesaat kemudi an lenyap.sungguh-sungguh. diberitahu pihak lain atau adanya suatu otoritas tertentu yang mendorong munculnya pengertian ini. Tentu saja tingkat di atas tidak mudah dicapai. Seorang sotapanna adalah seseorang yang telah meraih pencerahan tingkat pertama. binatang. Hal ini terjadi melalui munculnya pengertian bahwa batin dan jasmani tidak akan muncul tanpa adanya suatu kondisi. bila seorang yogi mampu meraihnya bisa dipastikan ia hanya akan terlahir di alam-alam bahagia. Dengan pemahaman yang jernih atas kondisi setiap benda dan dengan tersingkirnya keragu-raguan atas batin dan jasmani bisa dikatakan ia meraih tingkat mendekati seorang sotapanna . Mereka akan memahami bahwa maksud atau kehendak adalah kondisi yang membuat munculnya pergerakan. Saat mengalami bahwa batin dan jasmani itu timbul dan tenggelam para yogi akan memahami batin dan jasmani itu bersifat tidak kekal. Dengan demikian seseorang yang mendekati pemahaman sotapanna tak mungkin terlahir di alam-alam bawah (alam peta.. Saat pemahaman itu muncul yogi ini bisa saja menyingkirkan keragu-raguannya tent ang batin dan jasmani.

dukkha dan anatta dari semua fenomena secara alami. ternyata ada satu juta proses pergerakan mengangkat kaki dimana kita menganggapn ya sebagai satu gerakan belaka. umpamanya. Kita pun per lu menyelidiki kekuatan kesadaran dan kekuatan kehendak yang muncul di awal setiap pergerakan. naiknya kaki berkisar satu detik. Atau dengan kata lain. dukkha dan anatta). tak ada kekuatan apapun. Lebih jauh. rangk aian gambar pergerakan itu hampir-hampir sulit dibedakan. tentunya. Salah satu arti dari anatta adalah tak ada tuan (majikan) tiada apapun. Sekarang akan semakin sulit melihat perbedaan pergerakan dalam bingkai gambar dari hasil rekaman kamera yang bisa mengambil gambar satu juta bingkai dalam satu detik. Usaha yang dikerahkan saat bermeditasi jalan adalah melihat gerakan kita secara cermat secermat kamera berkekuatan tinggi melihatnya bingkai demi bingkai. Dengan memberikan perhatian penuh atas gerakan tersebut mereka melihat bendabend a timbul-tenggelam terus-menerus. Dengan memiliki pemahaman semacam ini yogi-yogi memahami sifat ketiga dari fenomena yang berkondisi. Meskipun. Bagaimana jika ada kamera yang bisa mengambil gambar dari pergerakan mengangkat kaki sebanyak 1000 bingkai dalam satu detik? Bila ada kamera demikian maka akan dihasilkan rekaman seribu pergerakan dalam satu detik. Setelah memahami ketidakkekalan dan tidak memuaskannya benda-benda akan muncul suatu penyelidikan yang memunculkan pengertian bahwa di sana tak ada tuan dari benda-benda tersebut. Pada kondisi ini yogi-yogi bisa memahami sifat ketiga dari semua fenomena yang berkondisi yakni bersifat tidak kekal.dan jasmani itu bersifat tidak kekal mereka akan mengerti bahwa batin dan jasmani it u bersifat tidak memuaskan. Para yogi bisa memahami ketiga sifat tersebut dengan penyelidikan secara tekun s aat kaki naik dan kesadaran yang muncul saat menaikkan kaki dan seterusnya. Benda-benda hanya timbul dan tenggelam mengikuti hukum alam. Hal ini muncul karena ternyata batin dan jasmani berad a dalam keadaan terus-menerus timbul dan tenggelam. yakni sifat dari anatta. tak ada jiwa dibalik fenomena-fenomena tersebut. penuh penderitaan dan tak ada inti yang k ekal di dalamnya (dalam Pali disebut bersifat. Sekarang izinkan kami untuk menjelaskan lebih terperinci tentang pergerakan dala m meditasi jalan. Meski perbedaan itu kecil sekali tapi seseorang bisa dengan mudah melihat perbedaan tersebut. anicca. Akibatnya mereka bisa melihat anicca. Setelah gambar itu terekam kita bisa mengamati rangkaian pergerakan dalam bingka ibingkai yang terpisah itu. Umpamanya seseorang mengambil gambar bergerak dari proses mengangkat kaki. Kataka nlah ada kamera yang bisa merekam gerakan tersebut. mereka menyadari tak ada jiwa atau diri di dalam benda-benda yang memerintah mereka untuk menjadi kekal. Sehingga kamera ini bisa mengambi l gambar dari gerakan itu sebanyak 36 bingkai dalam satu detik. Dengan cara semacam inilah akan muncul penghargaan dan penghormatan atas . Bahwa benda-benda tak memiliki diri di dalamn ya. Terlihat rangkaian pergerakan itu berbeda satu sama lainnya. Inilah kenyataannya.

Saat itu kita berpikir cat dan kanvas secara keseluruhan sebagai suatu k esatuan. timbul tenggelam. Khayalan ini bisa dipatahkan oleh pengamatan langsung atas fenomena jasmani sedi kit demi sedikit. Para yogi bi sa menemukan ketidakkekalan sebagaimana adanya secara langsung melalui daya upaya mereka sendiri. sebagai umat awam. Mereka telah mengamatinya dengan peralatan sangat canggih bahwa materi hanyalah gabungan getaran partikel-partikel dan energi yang berubah terus-menerus. setahap demi setahap sebagaimana adanya sehingga khayalan tersebut bisa dihancurkan. para yogi akan menyadari sesungguhnya tak ada apapun di dunia ini yang cukup berharga untuk dilekati atau diidam-idamkan. Dengan kata lain ketertarikan kita pada lukisan tersebut akan padam. Setelah menyadari bahwa benda-benda merupakan gabungan dari bagian-bagian yang muncul sedikit demi sedikit dan setelah mengamati bagian-bagian ini satu demi sa tu. bahwa kita tak akan mungkin melihat secara langsung seluruh satu juta gerakan se perti yang bisa dilihat oleh Sang Buddha. Karenanya kita akan kehilangan keterikatan atasnya. hal ini dimaksudkan secara langsung melihat dan juga menarik kesimpulan . Setelah berlatih meditasi dan mengamati dengan penuh perhatian para yogi akan ta hu meski hanya satu pergerakan (dari jumlah keseluruhan 4 tahapan gerak) sebenarnya pergerakan itu gabungan dari jutaan gerak. Nilai dari meditasi ini bersandar pada kemampuan kita untuk menyingkirkan selubu ng ketidakterputusan dengan menemui keadaan alami atas ketidakkekalan. kebijaksanaan dan pandangan terang Sang Buddha atas apa yang beliau lihat dari pergerakan-pergerakan tersebut.perjuangan. Karena ternyata lukisan terseb ut terdiri dari banyak lubang dan rongga-rongga. mudah busuk dan hancur. Kita berpikir. Jika lukisan tersebut ditaruh di bawah mikroskop kita akan melihat ternyata gamb ar tersebut tidak padat dan merupakan satu kesatuan. sebagai ketidakkekalan. Dari proses ini mereka melihat batin dan jasmani. Ahli fisika modern tahu hal ini dengan baik. Sebagai contoh kita mungkin melihat sebuah lukisan indah yang digoreskan pada su atu kanvas. Dengan pandangan biasa seseorang tak akan mampu melihat ketidakkekalan dari bend abenda karena ketidakkekalan tersembunyi oleh khayalan. Setelah melihat lukisan tersebut merupakan gabungan dari ruang-ruang kita akan kehilangan ketertarikan padanya. Tak ada suatu i . Sebelum mulai berlatih meditasi jalan mungkin para yogi pernah berpikir satu lan gkah hanya terdiri dari satu gerakan. Demikian pula dengan yang terjadi pada khayalan atas ketidakterputusan bisa dipatahkan. Namun dengan mengamati lebih jernih kita bisa mengetahui bahwa gerakan itu terdiri dari banyak gerak yang berkesinambungan dalam membentu k satu-kesatuan gerak. Jika melihat sesuatu yang sekilas k ita pikir cantik ternyata si cantik itu berlubang-lubang. Saat menggunakan kata melihat atau mengamati yang merujuk pada situasi diri sendiri. yang melihat saat melangkah hanya berupa satu gerakan tak terputus.

Sekali kita mampu menyadari hal ini maka kita akan mampu menyingkirkan kemelekatan terhadap benda-benda. Kita harus mengenyahkan kerinduan dan kemelekatan. Dengan mempraktekkan semua si kap tubuh dalam meditasi vipassana. __________________ Latihan Meditasi Vipassana Praktis oleh: Ven. Mahâsî Sayâdaw Agga Mahâpandita U Sobhana khotbah YM Mahâsi Sayâdaw Agga Mahâ Pandita U Sobhana kepada murid beliau pada saat pelantikan Meditasi Vipassanâ di Sâsana Yeikhta. Meditasi jalan juga bisa menjadi alat yang tepat gu na menolong kita menyingkirkan kekotoran batin. Terjadinya Nâma-rûpa ini dirasakan . Kita berlati h meditasi karena ingin menyingkirkan kemelekatan dan kerinduan terhadap obyekobye k. Maka sangat diperlukan memiliki pengalaman langsung bahwa semua benda yang berkondisi adalah tanda dari keberadaan ketiga sifat dasar ters ebut. Dengan menyadari ketidakkekalan yang tiada akhir ini para yogi tahu benar-benar tidak ada apapun yang cukup berharga untuk diidam-idamkan. Selebihnya kita harus berlatih meditasi jalan dengan sungguh-sungguh sama sepert i waktu berlatih meditasi duduk atau posisi lainnya. Meski begitu meditasi jalan bisa seakurat seperti meditasi duduk at au jenis posisi meditasi vipassana yang manapun. Meditasi jalan juga sekuat kesadaran murni mel ihat kembung dan kempisnya perut. Itu terjadi melalui pengertian atas merealisir ketiga keberadaan anicca. termasuk sikap tubuh berdiri. tersusun atas sekelompok sifat materi (rûpa). Meditasi jalan bisa mengakibatkan berkembangnya kekuatan spiritual. Sekarang kita bisa memahami alasan mengapa perlu berlatih meditasi. Burma Praktek Vipassanâ atau meditasi pandangan terang merupakan upaya yang dilakukan oleh meditator untuk memahami dengan benar sifat sejati fenomena psiko-fisik yan g terjadi pada tubuhnya. Tak ada apapun yang cukup berharga untuk digenggam di dunia fenomena ini. Kita harus memahami bahwa segala sesuatu muncul dan lenyap. Fenomena fisik adalah segala sesuatu (obyek-obyek) di sek itar yang dirasakan dengan jelas oleh seseorang. Meditasi jalan bisa menolong kita meraih pandangan terang melalui melihat ke dalam benda-benda apa adanya. Saya tidak sedang berusaha mengatakan bahwa dengan mempraktekkan meditasi jalan bisa memberikan kesadaran tertinggi dan kemampuan untuk sepenuhnya mengusir kemelekatan. Sepanjang belum mampu menyadari kebenaran ini. Lebih jauh kita harus memberikan perhatian penuh saat bermeditasi jalan sama sep erti yang kita lakukan saat duduk bermeditasi atau berbaring. Keseluruhan tubuh yang dirasakan den gan jelas tersebut. dukkha dan anatta dari benda-benda secara apa adanya. Dengan cara itulah kita bisa menyingkirkan kerinduan. sebanyak apapun buku yang dibaca atau bahan yang didiskusikan (mendiskusikan tentang bagaimana menyingkirkan kemelekatan) kita tidak akan mampu mengenyahkan kemelekatan tersebut.nti sari yang kekal di dalamnya. semoga semua yogi bisa meraih pemurnian sepenuhnya dalam kehidupan ini. Tak ada substansi yang kekal di dalamnya. Sedangkan fenomena f isik atau mental merupakan bentuk kesadaran (nâma). Meditation Centre. Kita ingin menyingkirkan kerinduan karena tidak ingin menderita. Rangoon.

merasakan. yang menarik perhatian dan mudah dirasakan olehnya. Jika Anda membayangkan bertemu dan berbicara dengan seseorang maka amati hal itu demikian. apapun bentuk pikiran atau bayangan yang timbul haruslah disadari. dan bergerak turun saat Anda menghembuskan nafas. Gerakan naik harus disadari sebagai gerakan naik. Dalam meditasi vipassanâ. mencium sebagai mencium . mencium. mengembara. yaitu saat nâma-rûpa dilihat. dan dilakukan oleh pikiran yang dengan tekun mengamati perut. Demikian pula dengan gerakan turun. Yang menjadi persoalan utama adalah mengetahui atau merasakan. dan gerak an turun sebagai gerakan turun. didengar. sampai . Hal ini juga harus disadari dengan berkata dalam hati. Jangan mengubah cara Anda bernafas. jangan memperlambat atau mempercepatnya. Anda akan merasa lelah jika mengubah cara bernafas. menyentuh sebagai menyentuh dan berpïkir sebagai berpikir . Lakukan hal yang sam a untuk gerakan turun. merasakan sebagai merasakan . perut senantiasa naik dan turun dan ger akan tersebut jelas sekali. Hal ini merupakan sifat materi yang dikenal sebagai vâyodhâtu (elemen pergerakan). bicara. bertemu. Jika ha l ini diamati sekali atau dua kali. maka ia harus menyadari kenyataannya. Jangan bernafas terlalu keras juga. maka pikiran akan berhenti mengembara. bicara . Kemudian kembali lagi kepada gerakan perut yang naik dan turun. apa yang Anda sebut atau katakan tidak masalah. sadarilah itu sebagai bahagia. maka kita sadari. dirasakan. Merencanakan sebagai merencanakan. Singkatnya. mendengar sebagai mendengar . maka sadarilah itu sebagai berpikir. Jika Anda membayangkan bertemu seseora ng. seperti layaknya sebuah batu yang dilempar mengenai sasarannya. Lakukan pengamatan itu dengan pikiran dan bukan dengan gerakan. Jika Anda berpikir. Kita harus senantiasa membuat diri sendiri sadar akan nâma-rûpa tersebut dengan cara mengamati dan memperhatikannya sedemikian rupa.dengan jelas. maka Anda dapat menyentuh perut Anda dengan menggunakan telapak tangan. Meditator harus mulai dengan memperhatikan gerakan ini. lakukan hal itu dari awal hi ngga akhir gerakan seperti layaknya Anda melihatnya dengan mata. seperti: melihat sebagai melihat . Bosan sebagai bosan. Perhatikan gerakan naik sedemikian rupa hingga kesadaran An da terhadapnya selaras dengan gerakan itu sendiri. sehingg a Anda akan kembali mengamati perut yang bergerak naik dan turun. orang ten tu saja tidak dapat menyadari setiap hal tersebut di atas. dicium. Pikiran Anda bisa saja mengembara ke mana-mana saat mengamati gerakan perut. menyentuh atau berpikir. Bernafaslah dengan teratur seperti biasanya dan perhatikan perut yang bergerak naik dan turun setiap kali berlangsung. J ika Anda membayangkan. Kemudian kembali lagi kepada gerakan perut naik dan turun. mengembara . Senang sebag ai . Saat mengamati perut yang bergerak naik. Anda akan mengetahui bahwa perut bergerak naik saat Anda menarik nafas. sampai. Dalam setiap tindakan bernafas. maka sadarilah itu sebagai membayangkan. maka amatilah sebagai. disentuh at au dipikirkan. Setiap kali seseorang melihat. Jika And a merasa bahagia. Jika gerakan tersebut tidak cukup jelas bila hanya diamati oleh pikiran. Gerakan naiknya perut serta kesa daran mental terhadapnya harus bertepatan. bertemu . Namun di awal latihan. Jika kemudian pikiran sampai di suatu tempat. mendengar. Karena itu ia harus mula i memperhatikan hal-hal yang berlaku.

Phala (Buah dari Sang Jal an) dan Nibbâna. Sesungguhnya. sedang hidup dan berpikir. di mana setelahnya sang yogi harus kembali lagi mengamati perasaan kaku. orang tersebut tidak ada. Karena dengan mengamati. Ora ng tidak seharusnya gampang menyerah terhadap latihan meditasi pada saat muncul bentuk-bentuk perasaan tersebut sehingga ia langsung mengubah posisi tubuhnya. Hal ini juga harus diamati dengan hati-hati pula. Kita cenderung berpi kir bahwa inilah aku yang sedang membayangkan. Orang harus sabar dalam bermeditasi. Kesabaran menuntun ke Nibbâna demikian kata pepatah. Itulah mengapa kita harus senantiasa mengamati setiap bentuk kesadaran yang timbul. maka perasaan kaku dan panas akan timbul dalam tubuh. Keinginan ini pun harus diamati. aku merasa panas. Seluruh bentuk perasaan itu disebut sebagai dukkhâved anâ (perasaan tidak puas) dan tindakan mengamatinya disebut sebagai vedanânupassanâ. Pepatah ini rupanya berhubungan erat dengan upaya bermeditasi. Kegagalan atau kelalaian dalam mengamati sensasisensasi tersebut membuat Anda berpikir. Aku merasa kaku. Pada tahap awal latihan meditasi yan g dilakukan oleh seorang yogi. Itulah mengapa kita harus mengamati bentuk-bentuk kesadaran dan memahaminya sebagaimana adanya. maka samâdhi (konsentrasi benar) tidak akan berkembang. tak peduli apakah itu perasaan kaku.senang. sedang berpikir. Aku sekarang merasa tidak nyaman dengan perasaanpe rasaan yang tidak enak ini . perasaan tersebut cenderung meningkat dan menyebabk an keinginan untuk mengganti posisi tubuh. bentuk kesadaran tersebut cenderung lenyap. Hal ini sama seperti timbulnya aliran listrik baru yang berkesinambungan. Yang ada hanyalah bentuk-bentuk kesadaran yang berlangsung terus menerus. da n tidak juga akan tercapai Magga (Jalan menuju Nibbana). Setiap kali kontak yang tidak menyenangkan menyentuh tubuh maka bentuk-bentuk perasaan tidak menyenangkan timbul saling bergantian. Jika ia menukar atau mengganti posisi tubuh terlalu sering karena tidak sabar menghad api perasaan kaku atau panas yang timbul. Memang kesabaran terhadap bentuk-bentuk perasaan tidak menyenangkan dalam tubuh seperti rasa kaku. I . Yang ada hanyalah timbulnya satu bentuk perasaan tidak menyenangkan yang disusul oleh bentuk perasaan tak menyenangkan berikutnya. Jika kita gagal mengamati bentuk-bentuk kesadaran tersebut. yang menyebabkan lampu menyala. Sesungguhnya tidak ada aku yang terlibat di sini. mengetahui atau merasakan. Dan mengamati semua bentuk kesadaran ini disebut sebagai cittânupassanâ. Jika samâdhi tidak berkembang maka batin tidak akan mencapai hasil. panas dan pegal serta yang lainnya sangatlah sukar dipertahankan. pegal atau panas. Kemudian kita akan kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Sama halny a dengan rasa pegal dan lelah. Kita jadi berpikir bahwa ada seseorang yang sejak kan akkanak hingga sekarang. Itulah mengapa kesabaran sangat dibutuhkan dalam meditasi. pegal. merencanakan. Jika Anda telah duduk bermeditasi sekian lama. aku merasa pegal. padahal aku baik-b aik saja beberapa saat yang lalu. Penjelasan mengenai bentuk-bentuk perasaan dengan menyertakan ego adalah keliru. Bentuk-bentuk perasaan ini harus diamati dengan hati-hati dan terus menerus. panas da n sebagainya. kita cenderung mengidentifikasikannya dengan seseorang atau satu individu. Kecil hati sebagai kecil hati.

ingin mengubah posisi . Semua gerakan yang dilakukan untuk menghilangkan rasa gatal ini harus diamati. Magga dan Phala Ñâna (pengetahuan akan Jalan dan Buahnya) didapatkan hanya jika terjadi momentum pertemuan seperti ini. antara usaha samâdhi (tahap konsentrasi) dan samâdhi yang sesungguhnya. Sa at konsentrasi baik dan mantap. maka kembal ilah pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. . dan jangan lang sung menggaruk agar gatalnya hilang. terangkat . terangkat. Namun jika tidak mengubah posisi tubuh. Jika kaki bergerak. Bentuk-bentuk perasaan yang halus seperti ini akan langsung hilang jika orang tersebut mengamatinya dengan penuh kesabaran. menggerakkan dan merentangkannya. Anda harus mulai dan mengamati keinginan untuk mengubah posisi tubuh itu dan dilanjutkan dengan mengamati setiap gerakan dengan cermat. Proses meditasi adalah seperti menciptakan api dengan car a menggesekkan dua batang kayu dengan sekuat tenaga dan tanpa henti hingga timbul intensitas panas yang dibutuhkan (agar api menyala). bangun. Tak boleh ada waktu jeda saat it u. Saat tubuh Anda condong ke depan. Mengubah posisi tubuh ini harus dilakukan dengan halus dan diamati demikian. bergerak . tanpa adanya jeda di antara kegiatan mengamati tersebut apapun fenomena yang timbul. terangkat . Perubahan posisi harus dilakukan bersamaan dengan pengamatan yang Anda lakukan. bergerak. Jika tangan bergerak. Yang ada hanyalah kesinambungan antara usaha mengamati dan pengamatan sesungguhnya. menyentuh . mengangkat tangan. Tapi ia tentu saja harus segera mengubah posisi tubuhnya jika bentuk-bentuk pera saan yang tidak menyenangkan tetap ada meskipun telah diamati sekian lama. terangkat. Dengan cara yang sama. Sebagai contoh. maka rasa gatal dan keinginan untuk menggaruk itu harus diamati. terangkat . menarik dan mendorong (gerakan-gerakan menggaruk) hingga akhirnya kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. bahkan bentuk perasaan yang kuat sekalipun cenderun g menghilang. terangkat. Jika tangan terangkat. menyadari rasa kaku sebagai rasa kaku atau panas sebagai panas . amati demikian. Jika tubuh bergerak. Saat Anda bangun.a harus melanjutkan meditasinya dengan penuh kesabaran. maka harus diamati. bergerak. keinginan untuk menggaruk tersebut juga harus diamat i. bergerak . Konsentrasikan pikiran Anda pada gerakan ini. bangun . turun. Jika kaki turun. Namun pertama-tama. maka ia memang harus menggaruknya agar rasa gatal it u hilang. maka rasa gatal akan berangsur-angsur hilang dan kemudian ia bisa kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut. tubuh menjadi ringan dan terangkat. khususnya gerakan menyentuh. Jika kaki terangkat. jika rasa gatal timbul dan meditator ingin menggaruknya karena rasa gatal tersebut sudah tidak tertahankan lagi. Jika ia dengan tekun mengamati. amatilah itu. ingin mengubah posisi. seperti misalnya bangun dari posisi duduk. dan juga b ila perasaan-perasaan tersebut menjadi tak tertahankan lagi. bergerak. Anda harus mengamatinya pelan-pelan. bergerak. Dengan demikian tercapailah tahap-tahap kematangan yang terus menerus dan meningkat dalam kecerdasan seorang yogi. Namun ia juga harus tet ap mengamati demikian. Sehingga ia lalu kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut. pengamatan dalam meditasi vipassanâ harus berkesinambungan dan tanpa henti. Setiap kali Anda mengubah posisi tubuh. bergerak . hanya istirahat statis saja. turun . Jika rasa ga tal tersebut tidak juga hilang. bergerak dan menyentuh.

ia harus melakukannya secar a perlahan. Jika pada saat berjalan Anda lalu ingin du duk maka amatilah demikian. Saat mengamati. Saat membuat gerakan tubuh. 3 gerakan harus diamati dalam setiap langkah yaitu: saat kaki terangkat. turun . Dan pada saat duduk. turun pada saat berjalan pelan. maju. Jika akan bangun. Pada awalnya . kiri. Inilah cara mengamati jika seseorang berjalan dengan cepat. Mulai saja dengan gerakan terangkat dan gerakan jatuh. Kemudian lakuk an pengamatan 3 gerakan seperti disebutkan di atas. amati gerakan-gerakan yang Anda lakukan saat mengatur posisi kaki dan tangan Anda. Semua gerakan ini harus dilakukan pelan-pelan. Meskipun mungkin mata melihat. Anda harus selalu menyadari semua gerakan yang ada. Melihat atau mendengar tidak menjadi perhatiannya. mengamati demikian. bangun. Saat melihat kesana kemari. Karena itu mulailah dengan gerakan yang bertahap dan perlahan. ia akan bergerak pelan dan hati-hati. Demikian pula dengan orang ya ng menderita sakit punggung (encok). ia harus bersikap seakan tidak melihat atau mendengarnya. Saat meluruskan badan dan berdiri. bangun . saat kaki terdorong ke depan dan saat kaki jatuh. kanan saat berjalan cepat dan angkat. Mereka harus bergerak mengubah posisi tu buh secara bertahap. amati dengan konsentrasi penuh beratnya gerakan turun tubuh Anda. maka amati gerakan perut yang naik dan turun. ia akan berdiri pelanpelan supaya punggungnya tidak semakin sakit. Saat berjalan. Dengan demikian kewaspadaan. melihat. apakah den gan kaki kiri atau kaki kanan. perhatian seorang yogi hanyalah mengamati. Anda juga harus mengamati beratnya gerakan kaki turun. cukup mengamati satu atau dua gerakan saja yaitu. amati demikian. pada saat yang sama amatilah. jika timbul . ingin duduk. apakah kaki kiri atau kaki kanan yang maju. Orang normal d an sehat akan berdiri dengan mudah. namun hanya posisi tubuh yang statis. Jadi seaneh atau seheboh apapun yang barangkali dilihat atau didengarnya. turun . Saat bermeditasi. tapi bersikaplah seperti tidak melihat. mulai dari gerakan terangkatnya hingga turunnya kaki. bangun . berdiri. Begitu juga para yogi yang bermeditasi. memandang . amati demikian.Seorang meditator harus bertindak seperti orang cacat yang lemah. berdiri . konsentrasi d an pandangan akan mantap. Demikian pu la saat kaki jatuh ke tanah. Saat berjalan perlahan atau berjalan cankama (berjalan naik dan turun). amati langkah kaki. angkat. lakukanlah sepelan mungkin seperti layaknya orang cacat. Tidak hanya ini. angkat. Namun tidak demikian denga n orang cacat. pelan-pelan menggerakkan lengan dan kaki. menekuk atau meluruskannya. Cukuplah jika Anda melakukan pengamatan saat berjalan cepat atau berjalan dalam jarak tertentu. seorang yogi harus melakukannya perlahan-lahan seper ti orang cacat yang lemah. Jika tidak ada gerakan apa-apa. Amati setiap langkah kaki. Pengamatan seperti ini akan semakin mudah setelah dilakukan selama dua hari. Anda harus mengamati dengan cermat terangkatnya kaki. Saat Anda sudah duduk. yang ia lakukan hanyalah terus mengamati hal-hal tersebut dengan cermat. mengamati setiap langkah demikian. ingin duduk . menundukkan atau menegakkan kepala. Saat bangun dan posisi duduk. pelan dan hati-hati. cepat dan tiba-tiba. Sama halnya jika mendengar. Orang harus berjalan.

YM Ananda telah bertekad untuk mencapai tingkat Arahat dalam semalam saat Sang Buddha membabarkan ajaranNya untuk pertama kali. Dari tingkat sotâpanna . angkat. kiri dan kanan. Bahkan jika hari sudah sangat larut dan waktunya tidur. Terangkatnya lengan. lanjutkan dengan mengama ti bentuk-bentuk perasaan tersebut. ia melanjutkan meditasi dan mencapai tingkat sakadâgâmi (yaitu orang yang kembali sekali lagi atau orang yang telah mencapai tingkat kesucian ke dua). mencapai tingkat kesucian pertama) sebelum ia membaringkan tubuhnya. semua gerakan ini harus diamati. ia harus bermedita si dalam posisi berbaring sejenak. menempelnya sikut pada lanta i. maju ke depan dan menjejak. turun . Tiga tingkat kesucian yang lebih tinggi ini dicapai hanya dalam waktu sekejap.rasa kaku pada pinggul dan rasa panas di sekujur tubuh. dan dengan tujuan menyeimbangkan samâdhi (konsentrasi) dan viriya (usaha). Jika tak ada gerakan. kaki yang diluruskan. goyangan badan. Ia berlatih semalaman satu bentuk meditasi vipassanâ yang dikenal sebagai kayagatasati. maka kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Ia tidak boleh bersantai-santai dalam mengamati dan berpikir bahwa. berbaring maka ia langsung mencapai tingkat Arahat. jika timbul keinginan untuk berbaring. ia belum juga berhasil mencapai tingkat Araha t. YM Ananda hanyalah seorang sotâpanna (yaitu seorang pemenang arus. yaitu mengamati langkah kaki . Melakukan pengamatan saat Anda berbaring dengan cara demikian adalah penting. keinginan mental untuk berjalan serta gerakan fisik yang terjadi saat berjalan. bergeraknya lengan. Itulah mengapa seorang yogi harus tekun mengamati setiap saat. naik. maka pengetahuan itu dapat timbul kapan saja. Karena ini jugalah maka YM Ananda menjadi seorang Arahat. Pengetahuan itu bisa datang dalam sekali tekukan tangan atau dalam sekali rentan gan tangan. sedikit waktu terlewat tidak lah seberapa . Lalu kembali lagi pada. Pencapaian seperti itu datang setiap sa at dan hanya butuh waktu sekejap. Ia mengamati setiap kejadian . maka ia masuk ke dalam kutinya. condongnya tubuh saat Anda telah siap untu k berbaring. amati keinginan itu dan juga gerakan-gerakan tangan dan kaki saat And a berbaring. Saat mengamati. Segala gerakan yang terjadi saat berbaring dan mengatur posisi lengan d an kaki harus diamati secara cermat dan terus menerus. maka seorang yogi tidak boleh . Jadi renungkanlah pengalaman YM Ananda yang mencapai tingkat Arahat ini. berbaring. Dalam kasus gerakan seperti ini (yaitu berbaring) Anda dapat memperoleh pengetah uan (yaitu magga ñâna dan phala ñâna pengetahuan akan Sang Jalan dan Buah). namun hanya tubuh yang statis. Meskipun ini dilakukan hingga hampir subuh. Saat samâdhi (konsentrasi) dan ñâna (pandangan terang) cukup mantap. Dengan menyadari bahwa ia telah berlatih meditasi secara berlebihan. Saat melakukan ini dan mengamati. Ia duduk di atas bantal dan membaringkan tubuhnya. tingkat anâgâmi (yaitu yang tidak kembali lagi atau tingkat kesucian ke tiga) dan tingkat Arahat (yaitu kondisi seseorang yang telah mencapai kesucian tertinggi).

maka ia bisa bermeditasi saat berbaring. menurunkan tangan kembali dan . ingin bangun. Saat ia duduk ia akan mengamati. Tidaklah sulit untuk tertidur. Kemudian ia secara alami (otomatis) akan tertidur. Jika ia mengubah gerakan-gerakan saat mengatur posisi tangan dan kaki. Jika Anda bermeditasi dalam posisi berbar ing maka rasa kantuk cepat datang dan akhirnya Anda jatuh tertidur. Saat tidur merupakan saat beristirahat bagi seorang yogi. ngantuk . yaitu pada saat bangun. bangun. ia harus mulai dengan mengamati gerakan naik turunnya perut. Ia seharusnya lebih sering bermeditasi dalam po sisi duduk atau berjalan. maka ia harus kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. sakit. tegak . merapikan ranjang. Enam j am tidur sangatlah cukup untuk menjaga kesehatan. Sang yogi lalu harus mengamati. memandang . melihat. Itulah mengapa mereka yang baru mulai belajar bermeditasi tidak dianjurkan untuk sering-sering berlatih dalam posisi berbaring. maka ia haru s mengamati. Lalu ia harus segera mengamati gerakan-gerakan saat mengatur posisi lenga n dan kaki. bahkan sangat gampang. sehingga harus diamati sebanyak yang memungkinkan. Kemudian ada pula gerakan berpakaian. Saat ia merasa ngantuk. sakit . jika rasa ka ntuk yang menang maka ia akan langsung tertidur. segar dan terus mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Saat menyodorkan tangan ke arah makanan. berat . terpejam. ia harus mengamati demikian. melihat. namun hanya duduk diam. Sebaliknya. berat. ia harus mengamati demikian. terpejam . 4 jam tidur adalah cukup. Itulah mengapa pada saat terbangun dan tidur maka ia harus langsung mengamati keadaan pikiran saat bangun seperti. ia harus langsung mulai mengamati. i ngin bangun . Saat menegakkan kepala ia mengamati demikian. Di saat yang lain. Mengamati dengan cara demikian maka rasa kantuk akan hilang dan mata menjadi segar lagi. duduk duduk . ia harus membatasi waktu tidurnya hingga 4 jam. membuka dan menutup pintu. bangun . tegak. Inilah waktu tengah malam yang disarankan Sang Buddha. Jika tak ada perubahan apapun. Saat seorang yogi makan dan memandang meja makan. Jika ia belum mampu membuat dirinya sadar akan hal ini. maka jika kantuk yang sebenarnya timbul maka ia akan langsung tertidur. Jika matanya terpejam. ia harus terus mengamati tanpa henti. Ia harus terus bermeditasi hingga akhirnya memang tertidur. semua gerakan ini juga harus diamati. mengambil dan mengaturnya di piring. Seorang yogi yang serius dan bersemangat harus melatih kewaspadaan seperti mendahului rasa kantuknya itu. menyentuhnya. menundukkan kepala dan memasukkan sesendok ke dalam mulut. memandang. Betapa pun giatnya seorang yogi melakukan medit asi. Saat seorang yogi bangun. Orang juga harus mengamati saat ia mencuci wajah atau mandi. Tapi jika hari semakin larut malam dan sudah waktunya tidur . Semua gerakan tersebut harus diamati secermat mungkin. Tapi bagi seorang yogi yang benar-benar serius. mengamati gerakan perut naik dan turun. Jika seorang pemula dalam meditasi berpikir bahwa 4 jam tidur tidaklah cukup untuk menjaga kesehatan. Seorang yogi yang bertekad mencapai magga dan phalañâna harus beristirahat hanya pada saat tidur saja. Jika matanya terasa makin berat. segar.tidur dulu dan mengendurkan pengamatannya. Karena biasanya gerakan-gerakan yang terjadi berlangsung cepat. maka ia bisa memperpanjang waktu tersebut hingga 5 atau 6 jam. Jika meditasinya matang dan mengalahkan rasa kantuknya maka ia tidak akan tertidur. Jika ia berniat bangun dari ranjang. Jika mata terasa sakit. ngantuk.

Saat berjalan cepat. gerakan mencondongkan dan menegakkan kepala. mengunyah . pegal dan sakit serta rasa gatal manakala timbul. Begitu pula j ika ia sedang makan sup. Lalu kembali pada gerakan naik dan turunnya perut. angkat. tapi ia harus bertekad untuk dapat mengama ti semuanya. amati demikian. Sang yogi pada saatnya akan mengalami sendiri keadaan ini yang sesungguhnya. Saat duduk diam. mengetahui . ia harus mengamati. demikian pula dengan gerakan turunn ya perut). ia akan kehilangan banyak hal untuk diamati. mengetahui. semua gerakan ini harus diamati. Sampai di sini saya telah menyebutkan begitu banyak hal yang harus diamati oleh seorang yogi. kanan. Saat ia menikmati dan menelan makanan tersebut. ia harus mengamati gerakan ini. gerakan condong dan meluruskan pinggul. Saat ia mengunyah makanan. Amati juga. saat timbul. sebenarnya hanya ada beberapa hal mendasar ya ng perlu diamati. Amati hal yang sama saat Anda yang perlu diamati. Dan dalam keadaan ini.menegakkan kepala. kiri . amatilah bentuk-bentuk kesadaran. Jika seorang yogi terus mengamati secara demikian. ia akan mampu mengamati dengan cermat semua gerakan yang terjadi. Saat mengamati gerakan naik dan turunnya perut ia akan dapat membedakan bahwa gerakan naiknya perut sebagai fenomena fisik dan kegiatan mental mengamatinya sebagai fenomena psikis. Pada awalnya. kewaspadaan menjadi hampir simultan (tanpa henti) pada obyek perhatiannya. ia akan mampu mengamati lebih banyak gerakan yang terjadi. memegan g sendok dan menyendok sup tersebut. Dengan demikian sang . amati hanya gerakan naik dan turunnya perut. Saat berjalan pel an. Pikirannya kemudian akan terpusat pada obyek perhatian. Lalu kem bali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. g erakan naiknya perut akan selaras dengan mengamati. Tapi saat ia semakin terlatih. Begitu pula dengan gerakan turunnya perut. Obyek fisik perhatian dan kegiatan mental mengamati akan berlangsung secara berpasangan. Lalu kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. tapi saat samâdhi (konsentrasi)nya telah mantap. Tapi secara singkat. dan saat makanan tersebut turun melalui kerongkongannya. mengunyah. turun . semua gerakan ini harus diamati seperti adanya (pengamatan seperti ini sama seperti cara pengamatan orang Burma saat makan. Semua gerakan yang terjadi seperti menyodorkan tangan. ia harus mengamati demikian. misalnya gerakan naik dan turunnya perut (atau dengan kata lain. saat pikirannya mengembara kesana kemari. ia akan semakin menyadari saat pikirannya mulai m elantur hingga akhirnya pikiran itu berhenti melantur. Mereka yang menggunakan garpu dan sendok atau sumpit harus mengamati gerakan-gerakannya dengan sikap yang sepatutnya). Tentu saja ia tak dapat mencegah lewatnya beberapa hal yang seharusnya diamati. Pada awalnya seorang yogi akan mele wati beberapa hal yang seharusnya diamati. tak ada satu individu atau orang yang terlib at. Saat mengamati demikian dan pikiran melantur. Inilah y ang harus dilakukan seorang yogi saat ia makan sesendok demi sesendok. gerakan memutar dan meluruskan tubuh. Amati pula rasa kaku. Tapi ia pantang putus asa k arena setiap pemula dalam meditasi akan menghadapi kesulitan yang sama. Mengamati gerakan-gerakan yang terjadi pada saat makan memang cukup sulit karena terdapat begitu banyak hal untuk dilihat dan diamati. Saat ia sampai pada tahap merasakan makanan. Yang ada hanyalah obyek pengamatan dan kegiatan mengamati yang berpasangan.

yaitu dari kanak-kanak hingga dewasa. Semoga Anda semua mampu berlatih meditasi dengan baik dan dengan segera mencapai Nibbâna yang telah dialami oleh para Buddha. Saat ia terus melakukan meditasi. phalañâna (pengetahuan buah dan Sang Jalan) dan Nibbâna-dhamma. Dan sesungguhnya. serta terselamatkan dari bahaya kelahiran kembali di alam manapun juga. ia akan memahami bahwa segala sesuatu yang timbu l akan cepat berlalu. sang yogi akan menyadari dengan jelas bahwa se gala fenomena besifat aniccâ. Pemahaman membedakan ini disebut sebagai nâmarûpa-pariccheda-ñâna. serta yang menyertai masaknya buah itu adalah pârâmi mereka (kebajikan sempurna). Tidak lama setelah itu mereka akan mengalami sendiri magga-ñâna. Hal ini akan dicapai. Keyakinan seperti i ni disebut sebagai aniccânupassana-ñâna. Bahkan bagi mereka yang memiliki pârâmi istimewa akan mengalami Dhamma-Dhamma ini hanya dalam 7 hari. hal-hal tersebut akan dialami dalam rentang waktu satu bulan. Sadhu!Sadhu!Sadhu! *** . bahwa ia akan terbebas d ari sakâyaditthi (kepercayaan akan adanya aku) dan vicikicchâ (keragu-raguan). Sang yogi juga akan menemui berbagai macam kesulitan dalam tubuh. tanpa menuruti keinginan atau dibawah kendali siapa pun. Ia lalu menjad i sangat yakin bahwa segala fenomena bersifat hanya sementara. dukkhâ dan anattâ. Karenanya. Arahat dan Arya memahami Nibbâna dengan mengikuti hanya jalan ini. phalañâna dan Nibbâna-Dhamma yang juga dialami oleh para Buddha. Kesadaran akan hal ini disebut sebagai anattânupassanâñâna. Tak ada satu fenomena pun yang abadi. Pengetahuan tersebut lalu akan diikuti oleh dukkhânupassanâ-ñâna. Semua bent uk fenomena timbul dan berlalu begitu cepat. Para yogi meditasi harus mengenali bahwa mereka berada pada jalan satipatthana i ni. Sang yogi akan memahaminya sendiri jika ia terus mengamati. Arahat dan Arya. sebagai tahap awal vipassanâ-ñâna. Para Buddha. Pada kenyataannya tidaklah demikian. Sangatlah penting untuk mendapatkan pemahaman ini secara benar. Ini adalah juga dukkhanupassana-ñâna. Mereka harus merasa bahagia akan hal ini serta pada kemungkinan mengalami keadaan samâdhi luhur ini (kedamaian pikiran yang timbul dari konsentrasi) dan ñâna (kebijaksanaan) yang dialami oleh para Buddha. 20 a tau 15 hari latihan meditasi. Selanjutnya. yaitu menyadari bahwa segala sesuatu yang bersifat sementara adalah derita. Sang yogi memang seharusnya merasa puas dalam keyakinan bahwa ia akan mencapai Dhamma-Dhamma ini dalam waktu seperti tersebut di atas. untuk memenuhi keinginan mereka mencapai magga-ñâna (pengetahuan akan Sang Jalan). Arahat dan Arya. jika sang yo gi terus berlatih. yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. bahkan tidak lebih lama dari satu kedi pan mata. sang yogi akan memahami sendiri dengan jelas bahwa yang ada hanyalah bentuk materi yang menjadi obyek perhatian serta keadaan mental yang mengamatinya. Ia harus melanjutkan berlatih meditasi dalam keyakinan ini.yogi akan menyadari dengan sejelas-jelasnya keadaan tanpa henti dari pasangan fenomena fisik dan psikis tersebut. Orang awam selalu berasumsi bahwa baik fenomena mental dan material akan berlangsung selamanya. hingga akhirnya ia mencapai Nibbâna. yang merupakan satu bentuk dari penderitaan. Saat sang yogi terus mengamati. Dan pengetahuan ini disebut sebagai paccaya-pariggaha-ñâna. dengan pengetahuan membedakan antara sebab dan akibat. Arahat dan Arya. sang yogi akan menjadi yakin bahwa segala fenomena psiko-fisik terjadi dengan sendirinya. dalam setiap tindakan mengamati. Mereka bersifat tanpa jiwa at au tanpa ego.

1978 . Buddhasâsanânuggaha Association. terjemahan dari bahasa Burma ke bahasa Inggris oleh: U Nyi Nyi.Sumber: LATIHAN MEDITASI VIPASSANA PRAKTIS. Mahâsi Yogi. beserta anggota Executive Committee.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful