Bhavana/samadhi/meditasi PENGERTIAN, FAEDAH DAN CARA MELAKSANAKAN BHAVANA 1.

PENGERTIAN BHAVANA Bhavana berarti pengembangan, yaitu pengembangan batin dalam melaksanakan pembersihannya. Istilah lain yang arti dan pemakaiannya hampir sama dengan bhava na adalah samadhi. Samadhi berarti pemusatan pikiran pada suatu obyek. Samadhi yang benar (samma samadhi) adalah pemusatan pikiran pada obyek yang dapa t menghilangkan kekotoran batin tatkala pikiran bersatu dengan bentuk-bentuk karma yang baik, sedangkan samadhi yang salah (miccha samadhi) adalah pemusatan pikira n pada obyek yang dapat menimbulkan kekotoran batin tatkala pikiran bersatu dengan bentuk-bentuk karma yang tidak baik. Jika dipergunakan istilah samadhi, maka yan g dimaksud adalah "Samadhi yang benar". 2. FAEDAH BHAVANA Bhavana atau meditasi yang benar akan memberikan faedah bagi orang bagi orang ya ng melaksanakannya. Faedah-faedah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dari prak tek meditasi itu adalah : 1. Bagi orang yang selalu sibuk, meditasi akan menolong dia untuk membebaskan di ri dari ketegangan dan mendapatkan relaksasi atau pelemasan. 2. Bagi orang yang sedang bingung, meditasi akan menolong dia untuk menenangkan diri dari kebingungan dan mendapatkan ketenangan yang bersifat sementara maupun yang bersifat permanen (tetap). 3. Bagi orang yang mempunyai banyak problem atau persoalan yang tidak putusputus nya, meditasi akan menolong dia untuk menimbulkan ketabahan dan keberanian serta mengembangkan kekuatan untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut. 4. Bagi orang yang kurang percaya diri sendiri, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan keparcayaan kepada diri sendiri yag sangat dibutuhkannya itu. 5. Bagi orang yang mempunyai rasa takut dalam hati atau kebimbangan, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan pengertian terhadap keadaan atau sifat yang sebenarnya dari hal-hal yang menyebabkannya takut dan selanjutnya dia akan dapat mengatasi rasa takut itu dalam pikirannya. 6. Bagi orang yang selalu merasa tidak puas terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya atau dalam kehidupan ini, meditasi akan memberikan dia perubahan dan perkembangan yang menuju pada kepuasan batin. 7. Bagi orang yang pikirannya sedang kacau dan berputus asa karena kurangnya pengertian akan sifat kehidupan dan keadaan dunia ini, meditasi akan menolong di a utnuk memberikan pengertian padanya bahwa pikirannya itu kacau untuk hal-hal yang tidak ada gunanya. 8. Bagi orang yang ragu-ragu dan tidak begitu tertarik kepada agama, meditasi ak an menolong dia untuk mengatasi keragu-raguannya itu dan untuk melihat segi-segi serta nilai-nilai yang praktis dalam bimbingan agama. 9. Bagi seorang pelajar atau mahasiswa, meditasi akan menolong dia untuk menimbulkan dan menguatkan ingatannya serta untuk belajar lebih seksama dan lebih efisien. 10. Bagi orang yang kaya, meditasi akan menolong dia untuk dapat melihat sifat d an kegunaan dari kekayaannya itu, bagaimana cara menggunakan harta tersebut untuk kebahagiaan dirinya sendiri dan kebahagiaan orang lain. 11. Bagi orang miskin, meditasi akan menolong dia untuk memiliki rasa puas dan ketenangan serta tidak melampiaskan rasa iri hati terhadap orang lain yang lebih

mampu daripadanya. 12. Bagi seorang pemuda yang sedang berada dalam persimpangan jalan dari kehidupan ini dan dia tidak tahu jalan mana yang akan ditempuhnya, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan pengertian dalam menempuh salah satu jalan yang akan membawa ke tujuannya. 13. Bagi orang yang telah lanjut usia yang telah bosan dengan kehidupan ini, med itasi akan menolong dia ke dalam pengertian yang lebih mendalam mengenai kehidupan ini, dan pengertian tersebut akan memberi dia kelegaan dan kebebasan dari penderitaan serta pahit getirnya kehidupan ini, dan akan menimbulkan kegairahan yang baru bagi dirinya. 14. Bagi orang yang mudah marah, meditasi akan menolong dia mengembangkan kekuatan kemauan untuk mengatasi kelemahan-kelemahannya. 15. Bagi orang yang bersifat iri hati, meditasi akan menolong dia untuk mengerti tentang bahayanya sifat iri hati itu. 16. Bagi orang yang diperbudak oleh panca inderanya, meditasi akan menolong dia untuk belajar menguasai nafsu-nafsu dan keinginannya itu. 17. Bagi orang yang telah ketagihan minuman keras yang memabukkan, meditasi akan menolong dia untuk menyadari dirinya dan melihat cara mengatasi kebiasaan yang berbahaya itu yang telah memperbudak dan mengikat dirinya. 18. Bagi orang yang tidak terpelajar atau bodoh, meditasi akan memberikan dia kesempatan untuk mengenal diri dan mengembangkan pengetahuan-pengetahuan yang sangat berguna untuk kesejahteraan diri sendiri dan untuk keluarga serta handai taulannya. 19. Bagi orang yang sungguh-sungguh melakukan latihan meditasi yang benar ini, maka nafsu-nafsu dan emosinya tak mempunyai kesempatan untuk memperbodohi dirinya lagi. 20. Bagi orang yang bijaksana, meditasi akan membawa dia kepada kesadaran yang lebih tinggi dan pencapaian penerangan sempurna; dia akan dapat melihat segala sesuatu dengan sewajarnya dan tidak akan terseret lagi ke dalam persoalanpersoal an yang remeh. 21. Selanjutnya, dalam agama Buddha, meditasi yang benar itu dipergunakan untuk membebaskan diri dari segala penderitaan, untuk mencapai Nibbana. Demikianlah beberapa faedah praktis yang dapat dihasilkan dari latihan meditasi. Faedah-faedah ini merupakan milik yang akan ditemui dalam pikiran sendiri. 3. CARA MELAKSANAKAN BHAVANA Orang yang baru belajar meditasi sebaiknya mencari tempat yang cocok untuk melakukan meditasi. Tempat itu adalah tempat yang sunyi dan tenang, bebas dari gangguan orang-orang di sekitarnya, bebas dari gangguan nyamuk. Untuk tahap permulaan, hendaknya orang berlatih di tempat yang sama, jangan pindah-pindah tempat. Jika meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan di mana saja di setiap tempat, baik di kantor, di pasar, di kebun, di hutan, di goa, dikuburan, maupun di tempat yang ramai. Waktu untu melaksanakannya dapat dipilih sendiri. Biasanya waktu yang baik untuk bermeditasi adalah pagi hari antara pukul 04.00 sampai pukul 07.00 dan malam har i antara pukul 17.00 sampai pukul 22.00. Jika waktu untuk bermeditasi telah ditent ukan, maka waktu tersebut hendaknya digunakan khusus untuk bermeditasi. Meditasi sebaiknya dilakukan setiap hari dengan waktu yang sama secara teratur atau konti nyu. Bila meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan kapan saja, pada setiap waktu. Orang bebas memilih posisi meditasi. Biasanya posisi meditasi yang baik adalah d uduk bersila di lantai yang beralas, dengan meletakkan kaki kanan di atas kaki kiri, dan tangan kanan menumpu tangan kiri di pangkuan. Atau boleh juga dalam posisi seten gah

sila, dengan kaki dilipat ke samping. Bahkan kalau tidak memungkinkan, maka dipersilahkan duduk di kursi. Yang penting adalah bahwa badan dan kepala harus t egak, tetapi tidak kaku atau tegang. Duduklah seenaknya, jangan bersandar. Mulut dan m ata harus tertutup. Selama meditasi berlangsung hendaknya diusahakan untuk tidak menggerakkan anggota badan, jika tidak perlu. Namun bila badan jasmani merasa ti dak enak, maka diperbolehkan untuk menggerakkan tubuh atau mengubah sikap meditasi. Tetapi, hal ini harus dilakukan perlahan-lahan, disertai dengan penuh perhatian dan kesadaran. Jika meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan dalam berbagai posi si, baik berdiri, berjalan, maupun berbaring. Sebelum melaksanakan meditasi, sebaiknya diminta petunjuk atau nasehat dari guru meditasi atau mereka yang telah berpengalaman mengenai meditasi, agar dapat dica pai sukses dalam bermeditasi. Pada saat hendak bermeditasi, sebaiknya dibacakan paritta terlebih dahulu. Selan jutnya, laksanakanlah meditasi dengan tekun. Pikiran dipusatkan pada obyek yang telah di pilih. Pada tingkat permulaan, tentunya pikiran akan lari dari obyek. Hal ini biasa, ka rena pikiran itu lincah, binal, dan selalu bergerak. Namun, hendaknya orang yang bermeditasi selalu sadar dan waspada terhadap pikiran. Bila pikiran itu lari dar i obyek, ia sadar bahwa pikiran itu lari, dan cepat mengembalikan pikiran itu pada obyek semula. Bila hal ini dapat dilaksanakan dengan baik, maka kemajuan dalam meditasi pasti akan diperoleh. Pembagian Bhavana Bhavana dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu : 1. Samatha Bhavana, berarti pengembangan ketenangan batin. 2. Vipassana Bhavana, berarti pengembangan pandangan terang. Diantara kedua jenis bhavana ini terdapat perbedaan. Perbedaan itu mencakup: 1. Tujuannya Samatha Bhavana merupakan pengembangan batin yang bertujuan untuk mencapai ketenangan. Dalam Samatha Bhavana, batin terutama pikiran terpusat dan tertuju p ada suatu obyek. Jadi pikiran tidak berhamburan ke segala penjuru, pikiran tidak ber keliaran kesana kemari, pikiran tidak melamun dan mengembara tanpa tujuan. Dengan melaksanakan Samatha Bhavana, rintangan-rintangan batin tidak dapat dilenyapkan secara menyeluruh. Jadi kekotoran batin hanya dapat diendapkan, sepe rti batu besar yang menekan rumput hingga tertidur di tanah. Dengan demikian, Samath a Bhavana hanya dapat mencapai tingkat-tingkat konsentrasi yang disebut jhana-jhan a, dan mencapai berbagai kekuatan batin. Sesungguhnya pikiran yang tenang bukanlah tujuan terakhir dari meditasi. Ketenan gan pikiran hanyalah salah satu keadaan yang diperlukan untuk mengembangkan pandanga n terang atau Vipassana Bhavana. Vipassana Bhavana merupakan pengembangan batin yang bertujuan untuk mencapai pandangan terang. Dengan melaksanakan Vipassana Bhavana, kekotoran-kekotoran batin dapat disadari dan kemudian dibasmi sampai keakar-akarnya, sehingga orang

Keempat puluh macam obyek meditasi itu adalah : a. Caganussati = perenungan terhadap kebajikan 6. Obyek-obyek meditasi ini dapat dipilih salah satu yang kiranya cocok dengan sifat atau pribadi seseorang. yaitu lima nivarana dan sepuluh palibodha. Silanussati = perenungan terhadap sila 5. Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda).yang melakukan Vipassana Bhavana dapat melihat hidup dan kehidupan ini dengan sewajarnya. yaitu : 1. Penghalangnya Dalam melaksanakan Samatha Bhavana. Pemilihan ini dimaksudkan untuk membantu mempercepat perkembangannya. Lohita kasina = wujud warna merah 8. Akasa kasina = wujud ruangan terbatas b. Sanghanussati = perenungan terhadap Sangha 4. Pemilihan sebaiknya dilakukan dengan bantuan seorang guru. Aloka kasina = wujud cahaya 10. Dhammanussati = perenungan terhadap Dhamma 3. sepuluh anussati. satu aharapatikulasañña. Sesungguhnya "dalam kitab suci telah ditulis bahwa hanya dengan pandangan terang inilah kita dapat menyucikan diri kita. dan empat arupa. Devatanussati = perenungan terhadap makhluk-makhluk agung atau para dewa . Sepuluh asubha (sepuluh wujud kekotoran). EMPAT PULUH MACAM OBYEK MEDITASI Dalam Samatha Bhavana ada 40 macam obyek meditasi. Samatha Bhavana 1. terdapat pula rintangan-rintang an yang dapat menghambat perkembangan pandangan terang. atau em pat satipatthana. yang disebut sepuluh vipassanupakilesa. pada umumnya orang yang bermeditasi sering mendapat gangguan atau halangan atau rintangan. sepuluh asubha. 3. Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. dan tidak dengan jalan lain". Dengan demikian. pencapaian Nibbana. obyek yan g dipakai dalam Vipassana Bhavana adalah nama dan rupa (batin dan materi). Vikkhittaka = wujud mayat yang telah hancur lebur 7. Puluvaka = wujud mayat yang dikerubungi belatung 10. Pita kasina = wujud warna kuning 7. Hatavikkhittaka = wujud mayat yang busuk dan hancur 8. Nila kasina = wujud warna biru 6. Pathavi kasina = wujud tanah 2. yaitu : 1. Apo kasina = wujud air 3. Atthika = wujud tengkorak c. Obyeknya Obyek yang dipakai dalam Samatha Bhavana ada 40 macam. Vipubbaka = wujud mayat yang bernanah 4. Obyek-obyek itu adalah sepuluh kasina. pembebasan sempurna. satu catudhatuvavatthana. Vinilaka = wujud mayat yang berwarna kebiru-biruan 3. Uddhumataka = wujud mayat yang membengkak 2. empat appamañña. Vipassana Bhavana dapat menuju ke arah pembersihan batin. Vicchiddaka = wujud mayat yang terbelah di tengahnya 5. Sebaliknya. dan anatta (tanpa aku yang kekal). 2. Vayo kasina = wujud udara atau angin 5. Lohitaka = wujud mayat yang berlumuran darah 9. Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan). bahwa hidup ini dicengkeram oleh anicca (ketidak-kekalan). Buddhanussati = perenungan terhadap Buddha 2. Teja kasina = wujud api 4. dukkha (derita). Vikkahayitaka = wujud mayat yang digerogoti binatang-binatang 6. Odata kasina = wujud warna putih 9. yaitu : 1.

Dalam kasina r uangan terbatas. Akincaññayatana-citta = obyek bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan Berikut penjelasan lebih mendetil tentang masing-masing obyek meditasi diatas : a. tidak dapat dihin dari". b. seperti gambar pikiran mengenai mayat yang membengka k dan lain-lain. Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dal am badan jasmani) g. Empat appamañña (empat keadaan yang tidak terbatas). orang melihat atau membayangkan sesosok tubuh yang tel ah menjadi mayat diturunkan ke dalam lubang kuburan. terbelah di tengahnya. "Badanku ini juga mempunyai sifat-sifat itu sebagai kodratnya. membiru. merah. Akasanancayatana-citta = obyek kesadaran yang tanpa batas 3. Dalam kasina angin. dan akhirnya merupakan tengkorak. kuning. papan. Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda) Dalam kasina tanah. atau putih. Upekkha = keseimbangan batin e. walaupun mata dibuka atau ditutup. Sementara itu. Anapanasati = perenungan terhadap pernapasan 10. Kasinugaghatimakasapaññatti = obyek ruangan yang sudah keluar dari kasina 2. Satu aharapatikulasanna (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) f. Karuna = belas kasihan 3. Dalam kasina air.7. atau bunga yang berwarna biru. dan sadar. dapat dipakai cahaya matahari atau bulan yang memantul di dinding atau di lantai melalui jendela dan lain-lain. Natthibhavapaññati = obyek kekosongan 4. c. berlumuran darah. hancur dan membusuk. Empat arupa (empat perenungan tanpa materi). benda-benda di sekeliling bulatan tersebut seolah-olah lenyap. Kayagatasati = perenungan terhadap badan jasmani 9. dapat dipakai sebuah telaga atau air yang ada di dalam ember. Disinilah hendaknya orang memegang dengan teguh di dalam pikirannya obyek yang berharga yang telah timbul. yang makin lama makin terang seperti bulatan dari rembulan. bernanah. Kini. dapat dipakai angin yang berhembus di pohon-pohon atau badan. membengkak. Mudita = perasaan simpati 4. Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan) . mula-mula orang harus memusatkan seluruh perhatiannya pada bulatan yang berwarna biru misalnya. orang masih melihat bulatan biru itu di dalam pikirannya. waspada. dikoyak-koyak oleh burung gagak atau serigala. Sepuluh asubha (sepuluh wujud kekotoran) Dalam sepuluh asubha ini. dapat dipakai benda-ben da seperti bulatan dari kertas. kain. Selanjutnya. dikerubungi oleh lalat dan belatung. dapat dipakai kebun yang baru dicangkul atau segumpal tanah yang dibulatkan. or ang harus berjuang agar pikirannya tetap berjaga-jaga. Dalam kasina cahaya. yaitu : 1. dapat dipakai api yang menyala yang di depannya diletakkan seng yang berlobang. Marananussati = perenungan terhadap kematian 8. dapat dipakai ruangan kosong yang mempunyai batas-batas disekelilingny a seperti drum dan lain-lain. Upasamanussati = perenungan terhadap Nibbana atau Nirwana d. Disini. Dalam kasina warna. Dalam kasina api. yaitu : 1. dengan memandang terus pada bulatan itu. Metta = cinta kasih yang universal. dan bulatan terse but kelihatan menjadi makin semu dan akhirnya sebagai bayangan pikiran saja. ia menarik kesimpulan terhadap badannya sendir i. tanpa pamrih 2. Selanjutnya.

Dalam melaksanakan metta-bhavana. Dalam kayagatasati. Namun. Dalam Sanghanussati. kotoran. seseorang harus mulai dari dirinya sen diri. dengan sadar ia mengeluarkan napas. yang patut dimuliakan. cairan sendi. nyata di dalam kehidupan. direnungkan sila yang telah dilaksanakan. yang sadar. lemak. pengenal semua alam. di mana. kulit. mengundang untuk dibuktikan.Dalam Buddhanussati. serta keadaan yang bagaimana menungguku setelah kematian. kematian aka n datang menyongsongku dan makhluk lainnya. direnungkan enam sifat Dhamma. Keenam sifat Dhamma itu adalah telah sempurna dibabarkan. yang tidak patah. kutu. paru-paru. bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan. Dengan sadar ia menarik napas. yang diselubungi kulit dan penuh kekotoran . hendaknya diusahakan untuk mengatasi kebencian itu dengan merenungkan sifat-sifat yang bai . kuku. Kesembilan sifat Buddha tersebut adalah maha suci. Dalam silanussati. cinta kasih dipancarkan kepada orang tu a. karena ia tidak mungkin dapat memancarkan cinta kasih sejati bila ia membenci da n meremehkan dirinya sendiri. hancurnya keinginan. telah mencapai penerangan sempurna. Dalam devatanussati. direnungkan kebajikan berdana yang telah dilaksanakan. sempurna menempuh jalan ke Nibbana. empedu. bulu badan. y ang tidak ternoda. usu s. pembimbing manusia yang tiada taranya. Dalam anapanasati. sempurna pengetahuan dan tingkah lakunya. yang dipuji oleh para bijaksana. dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing. dan binatang lainnya yang hidup dengan ini. yang sedang menikmati hasil dari perbuatan baik yang telah dilakukan nya. d. yang menyebabkan musnahnya kekikiran. air mata. direnungkan sembilan sifat Ariya-Sangha. Dalam Dhammanussati. telah bertindak patut. tela h bertindak benar. bahwa di dalam badan ini terdapat rambut kepala. patut menerima bingkisan. sumsum. yang tersulit adalah memancarkan cinta kasih kepada musuh-musuhnya. darah. bahwa badan ini harus dibagi-bagikan olehku kepada ulat-ulat. lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya di alam semesta. tak lapuk oleh waktu . teman-teman laki-laki dan wanita sekaligus. nanah. ludah. daging. urat. saluran usus. orang merenungkan 32 bagian anggota tubuh. Dalam upasamanussati. Dalam hal ini mungkin timbul perasaan dendam atau sakit hati. ingus. tulang. telah bertindak lurus. keringat. perut. hati. direnungkan makhluk-makhluk agung atau para dewa yang berbahagia. m inyak kulit. dari telapak kaki ke atas dan dari puncak kepala ke bawah. Akhirnya. Dalam caganussati. dan otak. Empat appamañña (empat keadaan yang tidak terbatas) Empat appamañña ini sering disebut juga sebagai Brahma-Vihara (kediaman yang luhur). ginjal. gigi. menuntun ke dalam batin. orang merenungkan keluar masuknya napas. guru-guru. putusnya lingkaran tumimbal lahir. dan menuju pemusatan pikiran. orang harus merenungkan bahwa pada suatu hari. air kencing. patut meneri ma tempat bernaung. patut menerima persembahan. selaput dada. dan melalui apa oran g akan meninggal. Dalam marananussati. limpa. Kesembilan sifat Ariya-Sangha itu adalah telah bertindak dengan baik. direnungkan sembilan sifat Buddha. belatung. orang merenungkan Nibbana atau Nirwana yang terbebas dari kekotoran batin. jantung. lendir. Setelah itu. patut menerima penghormatan. guru para dewa dan manusia.

2. 3. dan setelah itu ia mengembangkan pencapaian dari sisa unsur-unsur batin yang penghabisan. ialah segala sesuatu yang bersifat bergerak. orang merenungkan keadaan kekosongan sebagai ketenangan atau kesejahteraan. diliputi kesedihan. "Tak terbataslah kesadaran itu". ruangan yang tanpa batas itu ditembus dengan kesadarannya sambil merenungkan. dikunyah. ialah segala sesuatu yang bersifat ber hubungan yang satu dengan yang lain atau melekat. Vayo-dhatu (unsur angin atau unsur gerak). Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan jasmani) Dalam satu catudhatuvavatthana. untung dan rugi. "Tidak ada apa-apa di sana! Kosonglah adanya ini". Empat arupa (empat perenungan tanpa materi) Dalam kasinugaghatimakasapaññati. Dalam karuna-bhavana. orang memancarkan perasaan simpati kepada orang yang sedang bersuka-cita. dan lain-lain. Ia terus menerus merenungkan. 4. Jadi. pencerapan. f. g. bulu badan. Umpamanya : setelah selesai makan dan minum. Perl u diingat bahwa kebencian hanya dapat ditaklukkan dengan cinta kasih. ialah segala sesuatu yang bersifat p anas dingin. mencurahkan perhatiannya kepada hal tersebut. kesengsaraan. angin yang keluar masuk waktu bernapas. Satu aharapatikulasañña (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) Dalam satu aharapatikulasañña. Dalam mudita-bhavana. Apo-dhatu (unsur air atau unsur cair). pikiran ditujukan kepada ruangan yang tanpa batas. gigi. dicicipi. Dalam akasanancayatana-citta. direnungkan bahwa apapun yang tela h dimakan. atau bila sedang sakit. ia turut berbahagia melihat kebahagiaan orang lain. direnungkan bahwa makanan adalah barang yang menjijikkan bila telah berada di dalam perut. orang memancarkan belas kasihan kepada orang yang sedang ditimpa kemalangan. ialah segala sesuatu yang bersi fat keras atau padat. lendir. Dalam natthibhavapaññati. Umpamanya : empedu. Tejo-dhatu (unsur api atau unsur panas). dan menembus tanpa batas. nanah. Umpamanya : angin yang ada di dalam perut dan usus. Dalam akincaññayatana-citta. pujian dan celaan. batin yang telah memperoleh gambaran kasina dikembangkan ke dalam perenungan ruangan yang tanpa batas sambil membayangkan. bad an akan terasa panas dingin. bentuk-bentuk pi . orang akan tetap tenang menghadapi suka dan duka. Ia harus berul angulang memikirkan penembusan ruangan itu dengan sadar. dan penderitaan. dan lain-lain. Dalam upekkha-bhavana. direnungkan bahwa di dalam badan jasmani terdapa t empat unsur materi. dipusatkan di dalamnya. dara h. yaitu : 1. Umpamanya : rambut kepala. orang harus mengarahkan perhatiannya pada kekosongan atau kehampaan dan tidak ada apa-apanya dari kesadaran terhadap ruangan yang tan pa batas itu.k dari musuhnya dan jangan menghiraukan kejelekan-kejelekan yang ada padanya. e. yaitu perasaan. semuanya akan berakhir sebagai kotoran (ti nja) dan air seni (urine). Pathavi-dhatu (unsur tanah atau unsur padat). "Ruangan! Ruangan! Tak terbatas ruangan ini!" dan kemudian gambaran kasina dihilangkan. kuku. dan lain-lain. diminum.

Kemauan jahat (byapada) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan obyek yang menyebabkan timbulnya kebencian. Dhamma. Jadi. tentang kepuasan. senantiasa ingat bahwa setiap orang adalah pemilik dan pewaris dari perbuatannya sendiri. Gana (murid dan teman) 5. Palibodha ini ada sepuluh macam. hendaknya orang senantiasa melaksanakan meditasi deng an memakai obyek yang kotor atau menjijikkan dan berusaha menghindari obyek-obyek yang bisa merangsang. Untuk menaklukkan kemauan jahat hendaknya orang senantiasa melaksanakan meditasi cinta kasih. orang harus mengetahui sebab-sebab timbulnya nivarana dan berusaha menghindari sebab-sebab itu serta melakukan usah ausaha yang dapat melenyapkan nivarana itu. yaitu: 1. maka kesadaran mengenai kekosongan itu dilepas. dan saudara) 8. senantiasa melihat penderitaan di dalam ketidak-kekalan. Byapada (kemauan jahat) 3. Avasa (tempat tinggal) 2. Nafsu-nafsu keinginan (kamachanda) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan obyek yang indah. berusaha untuk menguasai pikiran dan mengendalikan indriya indriyanya. bebas dari nafsu-nafsu.kiran. kesunyian. setelah kekosongan itu dicapai. Untuk membebaskan diri dari kemalasan dan kelelahan. Kamachanda (nafsu-nafsu keinginan) 2. Thina-middha (kemalasan dan kelelahan) 4. orang hendaknya senantiasa mempelajari dan memahami kitab suci Tripitaka. senantiasa merenungkan ajaran-ajaran Sang Buddha dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Ñati (orangtua. LIMA MACAM NIVARANA DAN SEPULUH MACAM PALIBODHA Lima macam nivarana Nivarana berarti rintangan atau penghalang batin yang selalu menghambat perkembangan pikiran. tanpa disertai kebijaksanaan. Addhana (perjalanan) 7. serta berusaha melaksanakan sila dengan sempurna. dan Sangha. Kegelisahan dan kekhawatiran (uddhacca-kukkucca) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan ketidak-tenteraman pikiran. orang hendaknya senantiasa meneguhkan keyakinan pada Buddha. Sepuluh macam palibodha Palibodha berarti gangguan dalam meditasi yang menyebabkan batin gelisah dan tid ak mampu memusatkan pikiran pada obyek. tanpa disertai kebijaksanaan. Untuk membebaskan diri dari keragu-raguan. Nivarana ini ada lima macam. Vicikiccha (keragu-raguan) Untuk menaklukkan kelima rintangan tersebut. Labha (keuntungan) 4. Abadha (penyakit) . kelelahan. seolah-olah tidak ada pencerapan lagi 2. kebebasan. dan kesadaran sampai batas kelenyapannya. Kula (pembantu dan orang yang bertanggung jawab) 3. mengantuk sesudah makan. Untuk mengatasi kegelisahan dan kekhawatiran. Uddhacca-kukkucca (kegelisahan dan kekhawatiran) 5. rasa malas. Kemalasan dan kelelahan (thina-middha) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan rasa segan. Untuk membebaskan diri dari nafsu keinginan. tanpa disertai kebijaksanaan. tanpa disertai kebijaksanaan. keluarga. Keragu-raguan (vicikiccha) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatika n sesuatu yang menyebabkan timbulnya keragu-raguan. kebajikan. senantiasa berbicara tentang kesempurnaan hidup. tanpa disertai kebijaksanaan. Kamma (pekerjaan) 6. yaitu : 1. ora ng hendaknya senantiasa merenungkan suatu cahaya sampai terserap ke dalam batin.

pikiran ruwet. suka bingung. pita kasina. Gantha (pelajaran) 10. Ia merasa khawatir akan tempat tinggalnya. sombong. Ia merasa khawatir akan murid-murid dan teman-temannya. yakin pada sesuatu yang dianggap baik. tak mau tahu terhadap kebajikan orang lain walaupun be sar. atau perilaku. yaitu manusia itu dapat dibagi menjadi enam golongan berdasarkan sifat-sifat yang dimilikinya: 1. dan odata kasina). Orang yang tebal keyakinannya atau Saddhacarita 5. menggantungkan diri pada pendapat orang lain. jujur. perangai. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah anapanasati. suka kha watir. dermawan. kadang-kadang kukuh memegang suatu pandangan. Untuk mereka yang mempunyai dosacarita. . Orang yang mempunyai saddhacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan keyakinan. Ia merasa khawatir akan pelajaran yang ditinggalkannya. Orang yang mempunyai mohacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan kebodohan batin. terdapat pembagian sifat-sifat secara umum yang berdasarkan atas keadaan batin manusia. takut akan kemerosotan kekuatan magisnya. suka jengkel.9. berambisi besar.Iddhi (kekuatan gaib) Dalam melaksanakan meditasi. ENAM MACAM CARITA Carita berarti sifat. Orang yang bijaksana (pandai) atau Buddhicarita 6. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh asubha dan sa tu kayagatasati. apakah meditasi ini akan membawa keuntungan baginya. suka ragu-ragu. cerdik. cenderung ke arah rendah hati. Untuk mereka yang mempunyai ragacarita. mementingkan diri sendiri. Dhammanussati. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah empat appamañña dan empat kasina (nila kasina. suka marah. Ia merasa khawatir akan persoalannya . Orang yang keras kebenciannya atau Dosacarita 3. Ia merasa khawatir akan pekerjaannya yang belum selesai. Ia mera sa khawatir akan orang tuanya. Palibodha ini harus dibasmi. Di dalam Abhidhamma. Ia merasa khawatir akan perjalanan jauh yang harus ditempuhnya. dan saudara-saudaranya. pada umumnya orang yang bermeditasi sering juga mendapat gangguan yang disebut palibodha. Sanghanussati. agar orang dapat memusatkan pikiran dengan baik. cenderung ke arah keindahan dan kecantikan. cenderung ke arah kelemahan batin. suka iri hati. tak senan g melihat kesalahan walaupun kecil. Ia merasa khawatir akan pembantunya dan ora ng yang bertanggung jawab atas harta bendanya. 3. lohita kasina. Ia merasa khawa tir akan kemungkinan timbulnya penyakit. suka memerintah dan mendikte orang lain. s uka mendengarkan Dhamma. keluarganya. Ia merasa khawatir akan bermacam-macam kekuatan magis yang dipertunjukkan. cenderung ke arah panas hati. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah enam anussati (Buddhanussati. Orang yang suka melamun atau Vitakkacarita Orang yang mempunyai ragacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan loba. Untuk mereka yang mempunyai mohacarita. pendiriannya tidak tetap. kagum melihat suatu kebajikan walaupun itu kec il sekali. malas. terikat dengan rumahnya. Orang yang mempunyai dosacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan kebencian. mudah melupakan kesalahan orang lain. Untuk mereka yang mempunyai saddhacarita. suka menemui orang-orang suci. suka bermusuhan. memandang rendah orang lain. Orang yang keras nafsu lobanya atau Ragacarita 2. Orang yang bodoh (dungu) atau Mohacarita 4.

yang bentuk gambaran itu berubah menjadi sinar terang di dalam batinnya . Jadi. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi diliha t dengan batin. uggaha-nimitta merup akan gambaran obyek di dalam batin yang sama dengan bentuk obyek yang dipakai. pikiran telah siap untuk memasuki pemusatannya. kegagalan dalam usaha. Appana-Bhavana (perkembangan batin tingkat terkonsentrasi dengan kuat) Dalam parikamma-bhavana. Penjelasan: Pathavi kasina. dan catudhatuvavatthana. semua obyek meditasi dapat dipakai dalam melaksanakan Samatha Bhavana. terbebas dari gangguan. terpeta dengan nyata. Uggaha-Nimitta (gambaran batin mencapai) 3. maka obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh kasina. Mengenai patibhaga-nimitta. satu kayagatasati. suka berteori. Semua obyek (empat puluh macam obyek meditasi) dapat menghasilkan parikamma-nimitta. apo kasina. aharapatikulasañña. Jadi. Patibhaga-Nimitta (gambaran batin berlawanan) Mengenai parikamma-nimitta. akasa kasina . Na . patibhaga-nimitta merupakan gambaran pantulan dari obyek yang dipakai. Dalam keadaan ini. mula-mula dilihat dengan mata. parikamma-nimitta merupakan gambaran atau bentuk dari obyek dalam keadaan yang sebenarnya. tejo kasina. tetap. yaitu : 1. dan mulai timbulnya patibhaga-nimitta. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi. dan satu anapanasati. Untuk mencapai uggaha-nimitta. sering bermeditasi. Dalam upacara-bhavana. yaitu : 1. yaitu keempat puluh obyek meditasi yang tersebut terdahulu. terdapat tiga macam tingkat perkembangan batin. Untuk mencapai patibhaga-nimitta. TIGA MACAM NIMITTA Nimitta berarti suatu pertanda atau gambaran yang ada hubungannya dengan perkembangan obyek meditasi. Mengenai uggaha-nimitta. seperti patung Buddha. 5. Untuk mereka yang mempunyai buddhicarita atau ñanacarita. Jadi. Orang yang mempunyai vitakkavcarita melaksanakan sesuatu berdasarkan tergesa-ges a. jernih. dan devatanussati). jelas. aloka kasina. tidak suka bekerja untuk kepentingan sosial. Nimitta ini ada tiga macam.silanussati. cenderung ke arah perenungan terhadap Tiga Corak Umum (Tilakkhana) . sepuluh asubha. Parikamma-Bhavana (perkembangan batin tingkat pendahuluan) 2. upasamanussati. mempunyai kawankaw an yang baik. vayo kasina. dan empat arupa dapat dijadikan obyek meditasi oleh semua orang tanpa memperhatikan caritanya. Untuk mereka yang mempunyai vitakkacarita. cenderung ke arah kegugupan. Semua obyek (empat puluh macam obyek meditasi) dapat menghasilkan parikamma-bhavana. bersedia mendengarkan omongan orang lain. caganussati. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah marananussati. Upacara-Bhavana (perkembangan batin tingkat mendekati konsentrasi) 3. dan gambaran obyek tersebut dapat dibesarkan serta dikecilkan menurut kemauan. TIGA MACAM BHAVANA Dalam meditasi. maka obyek yang cocok untuk melaksanakan Samatha Bhavana ialah anapanasati. 4. hingga obyek itu melekat dalam pikiran. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi yan g telah melekat pada pikiran. Orang yang mempunyai buddhicarita atau ñanacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan berhati-hati. pikirannya se ring berkeliaran. Parikamma-Nimitta (gambaran batin permulaan) 2. walaupun mata telah dipejamkan. kemudian dibayangkan dalam pikiran. nivarana telah dapat diatasi. pikiran baru akan dipusatkan pada obyek.

Vicara. dan ekaggata). satu aharapatikulasanna. upasamanu ssati). sedangkan suasana pikiran yang telah berhasil memegang ob . Hal ini dapat disamakan dengan anak keci l yang baru belajar berdiri. karena jhana tidak kekal. Kedu a keadaan ini dapat diumpamakan seperti bunyi lonceng. 7. namun masih belum mantap. Keadaan ini dapat diumpamakan sebagai orang yang telah dewasa yang tel ah dapat berdiri dengan kuat. tidak muncul kesan-kesan penglihatan maupun pendengaran. Bunyi lonceng pada saat terkena pu kulan merupakan vitakka. Dalam appana-bhavana. Sewaktu-waktu jhana dapat merosot. vicara. Sukha. 3. ialah kegiuran atau kenikmatan. dan empat arupa. Ia tidak dapat melenyapkan kekotoran batin. devatanussati. marananussati. Di samping nivarana telah dapat diatasi. keadaan pikiran dalam memegang obyek dengan kuat. Pada waktu lonceng dipukul sekali. Jhana merupakan keadaan batin yang sudah di luar aktivitas panca indera. ialah pemusatan pikiran yang kuat. sepuluh asubha. 2. maka faktor-faktor jhana juga mulai timbul berperanan (vitakka. aktivit as panca indera berhenti. Sanghanussati. sering jatuh. satu anapanasati. yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada obyek yang kuat). Jhana hanya mampu menekan atau mengendapkan kekotoran batin untuk sementara waktu. Vitakka dan vicara adalah dua keadaan dari suatu proses yang berkelanjutan. Dhammanussati.mun konsentrasi pikiran masih belum mantap. 6. empat appam añña. batin masih tetap aktif dan berjaga secara sempurna serta sadar sepenuhnya. ialah penopang pikiran yang merupakan perenungan permulaan untuk memegang obyek. yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada obyek dengan kekuatan appana-samadhi (konsentrasi yang mantap. ialah kebahagiaan yang tak terhingga. Walaupun kesan-kesan dari luar telah berhen ti. Faktor-faktor jhana tersebut ada lima macam. timbullah faktor-faktor jhana yang memberi corak dan suasana bagi tiap-tiap jhana itu. dan satu catudhatuvavatthana. ialah gema pikiran. Dalam keadaan ini. FAKTOR-FAKTOR JHANA Di dalam memasuki jhana-jhana. silanussati. sedangkan gema dari bunyi lonceng itu merupakan vicara. pikiran telah dapat tinggal diam dalam jangka waktu yang lama. tak jatuh-jatuh lagi. Keadaan ini hanya dapat dicapai dengan usaha yang ulet dan tekun. Vitakka. Suasana pikiran pada saat permulaan memegang obyek disebut vitakka. maka akan terjadi bunyi yang bergema. Demikian pula ketika bermeditasi. 5. Piti. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah delapan anussati (Buddhanussati. y aitu : 1. satu kayagatasati. menurut yang dikehendakinya. caganussati. su kha. pun tidak muncul perasaan badan jasmani. Obyek-obyek yang dapat dipakai untuk mencapai appana-bhavana ialah sepuluh kasina. karena konsentrasi yang penuh dan mantap tela h tercapai. Ekaggata. piti. PENGERTIAN JHANA Jhana berarti kesadaran/pikiran yang memusat dan melekat kuat pada obyek kammatthana/meditasi. 4. tetapi ia ter us berusaha. Untuk mencapai upacara-bhavana.

mak a perasaan berobah menjadi nikmat dan segar. 5. Perasaan ini merupakan piti. Tatiya-Jhana. dalam Sutta Pitaka. yaitu upekkha dan ekaggata. Dalam Abhidhamma. dan membuang vitakka da n vicara sekaligus. Dalam ekaggata. vicara. Antara piti dan sukha terdapat pula perbedaan perasaan yang khas seperti berikut . dan ekaggata membasmi kamachanda. vicara membasmi vicikiccha. karena hal ini disesuaikan menurut keadaan. piti membasmi byapada. ialah jhana tingkat pertama. yaitu empat rupa jhana dan empat arupa jhana. sehingga kekotora n batin tidak mampu mengganggu lagi. sebab kesadaran dari manda-puggala (orang yang tidak cerdas) tidak dapat melihat kekotoran dari vitakka dan vicara keduaduanya ini sekaligus dalam waktu yang sama. Pathama-Jhana. Karena itu. hanya dapat membuang 'keadaan batin' satu persatu. Akasanancayatana-Jhana. sukha.yek dengan kuat disebut vicara. sukha. pikiran telah terpusat pada obyek dengan kuat. 6. yaitu dengan mengendapkan kekotoran batin. sukha membasmi uddhaccakukkuc ca. Keadaan batinnya terdiri dari lima corak. 2. Keadaan batinnya terdiri dari dua corak. 4. maka ia akan merasa gembira. tingkatan rupa jhana ada empat . Selama jhana masih ada. dan jumlah kesadaran yang berada dalam rupavacara-citta. dan kemudian ia menemukan sebuah sumber air. senang. terdapat delapan tingkat jhana. Perasaan ini merupakan sukha. Vikkhambhana-Pahana adalah pembasmian nivarana dengan kekuatan jhana. 3. Jhana merupakan alat pembasmi nivarana. Tetapi. ialah jhana tingkat kelima. 8. ialah jhana tingkat ketiga. Tingkatan jhana. ialah keadaan dari konsepsi ruangan yang tanpa batas. Pancama-Jhana. terdapat sembilan tingkat jhana. da n tergiur melihatnya. sedangkan menurut Abhidhamma. yaitu vitakka. ialah jhana tingkat keempat. terdiri atas : 1. Keadaan batinnya terdiri dari dua corak. kiranya di sini tidak begitu perlu diuraikan. karena di sini kegiuran timbul akibat keterbatasan dari tekanan perasaan. yaitu vicara. dan ekagga ta. Apabila seseorang yang sedang dalam suatu perjalanan merasa sangat haus. Keadaan batinnya terdiri dari empat corak. Catuttha-Jhana. menurut Abhidhamma. da n ekaggata. Dutiya-Jhana. sebenarnya secara terperinci terdapat lima macam. Tetapi. maka nivarana akan timbul lag i. tikkha-puggala (orang yang cerdas) mampu menyelidiki dan melihat kekotor an dari vitakka dan vicara sekaligus dalam waktu yang sama. yaitu dutiya-jhana membuang vitakka. menurut bagian. . piti. Selanjutnya. ialah jhana tingkat kedua. bila jhana merosot. Mengenai piti. yaitu sukha dan ekaggata. selama itu pula nivarana tidak timbul. TINGKAT-TINGKAT JHANA Menurut Sutta Pitaka. yaitu vitakka membasmi thina-middha. yait u lima rupa jhana dan empat arupa jhana. Namun. setelah ia meminum air itu. piti. dan tatiya-jhana membuang vic ara. tingkatan rupa jhana ad a lima.

Catuttha-Jhana. Abhiñña akan timbul dalam diri orang yang telah mencapai jhana-jhana. dimana sukha mulai lenyap. 7. Tingkatan jhana. Pathama-Jhana. ialah jhana tingkat keempat. maka ia harus mempunyai lima mac am vasi. Kelima macam vasi tersebut ialah : 1. Faktor-faktor jhana yang timbul adalah vitakka. Untuk mencapai empat arupa jhana. dimana nivarana telah dapat diata si dengan seksama. Adhitthana-vasi. ialah jhana tingkat ketiga. Untuk mencapai pancama-jhana. karuna. Nevasaññanasaññayatana-Jhana. dimana piti mulai lenyap. 8. vicara. 9. Akincaññayatana-Jhana. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah tiga appamañña (metta. Avajjana-vasi. 10. 9. Tatiya-Jhana. menurut Sutta Pitaka. terdiri atas : 1. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah empat arupa. ialah keadaan dari konsepsi kesadaran yang tak terbatas. yaitu keahlian dalam meninjauan terhadap jhana. 3. kemudian ia ingin mencapai jhana-jhana tingkat selanjutnya. 5. LIMA MACAM VASI Vasi berarti keahlian atau kemahiran atau kemampuan untuk mengolah jhana.7. Dutiya-Jhana. karena kedua faktor ini bersifat kasar untuk jhana kedua. dimana jhana . Jika seseorang telah mencapai jhana tingkat pertama (pathama-jhana). su kha. Penjelasan : Sepuluh kasina dan satu anapanasati dapat dijasikan obyek meditasi oleh semua or ang untuk mencapai lima rupa jhana. 5. 8. dan catuttha-jhana. Faktor-faktor jhana ya ng masih ada adalah piti. dan ekaggata. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah satu upekkha. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh asubha dan satu kayagatasati. ENAM MACAM ABHIÑÑA Abhiñña berarti kemampuan atau kekuatan batin yang luar biasa. 6. 4. yaitu keahlian dalam 'keluar' dari jhana. ialah keadaan dari konsepsi kekosongan. yaitu keahlian dalam memasuki jhana. tatiya-jhana. Viññanancayatana-Jhana. 2. ialah jhana tingkat pertama. 4. Nevasaññanasaññayatana-Jhana. Paccavekkhana-vasi. ialah keadaan dari konsepsi bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan. Untuk mencapai pathama-jhana. sukha. atau tenaga batin. Vutthana-vasi. yaitu keahlian dalam pemikiran untuk memasuki jhana menurut kehendaknya. Samapajjana-vasi. Untuk mencapai dutiya-jhana. dan ekaggata. Faktor-faktor jhana yang masih ada adalah sukha dan ekaggata. karen a faktor ini masih terasa kasar untuk jhana keempat. dimana vitakka dan vicara mulai leny ap. Viññanancayatana-Jhana. dan mudita). 3. 2. ialah jhana tingkat kedua. karena pi ti ini masih terasa kasar untuk jhana ketiga. Di dalam jhana keempat ini ha nya ada faktor ekaggata dan ditambah dengan upekkha (keseimbangan batin). piti. Akincaññayatana-Jhana. Akasanancayatana-Jhana. yaitu keahlian dalam menentukan berapa lama hendak berada da lam jhana.

ialah kemampuan mencipta dengan menggunakan pikiran. seperti menjadi anak kecil. vedana-khandha (kelompok perasaan). dan viññana-khandha (kelompok kesadaran). Manomaya-iddhi. ialah kemampuan untuk berubah bentuk. Pancakkhandha (lima kelompok faktor kehidupan) terdiri atas : rupa-khandha (kelompok jasmani). Pemusnahan kekotoran batin ini akan membimbing ke arah kesucian tertinggi atau arahat. yaitu : 1. e. karena perbuatan demikian itu tidak akan mempertinggi martabat mereka di mata orang lain. d. yaitu : Kemampuan menembus dinding. ialah kemampuan untuk mengubah diri dari satu menjadi banya k atau dari banyak menjadi satu. Dibbasotañana (telinga dewa). pagar. yaitu : a. gunung. Kemampuan berjalan di atas air bagaikan berjalan di atas tanah yang padat. taman. EMPAT MACAM SATIPATTHANA Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. ialah kemampuan untuk melihat alam-alam halus dan muncul lenyapnya makhluk-makhluk yang bertumimbal lahir sesuai dengan karmanya masing-masing. sering disebut sebagai kekuatan gaib atau kekuatan magis atau kesaktian. Pubbenivasanussatiñana. ialah kemampuan untuk menembus ajaran melalui pengetahuan. Perlu diingat bahwa tujuan umat Buddha bukanlah untuk mendapatkan kegaiban dan mujijat yang aneh-aneh dan luar biasa. ialah kemampuan untuk mendengar suara-suara dari alam lain. sehingga dapat melihat dengan nyata bahwa nama dan rupa itu dicengkeram oleh anicca (ketidak-kekalan). Kemampuan memanjat puncak dunia sampai ke alam Brahma. seperti menciptakan istana. b. Empat macam satipatthana (empat macam perenungan) terdiri atas : kaya-nupassana (perenungan terhadap badan jasmani). yang jauh maupun yang dekat. sankhara-khandha (kelompok bentuk pikiran). Cetopariyañana atau paracittavijañana. vedana-nupassana (perenungan . dan anatta (tanpa aku). hal ini juga tergantung pada kusala-kamma (perbuatan baik) dari kehidupan yang lampau. Abhiñña itu ada enam macam dan dapat dibagi atas dua kelompok besar. Sesungguhnya. ular. yaitu asavakkhayañana. Vipassana Bhavana 1. yang disebut pancakkhandha itu adalah makhluk. Abhiñña yang duniawi (lokiya-abhiñña) terdiri atas lima macam. 4.tingkat keempat (catuttha-jhana) merupakan dasar untuk timbulnya abhiñña ini. ialah kemampuan untuk memusnahkan kekotoran batin. Vikubbana-iddhi. Ini terbagi lagi atas beberapa macam. harimau. Mengenai obyek meditasi yang dapat menimbulkan abhiñña ialah hanya sepuluh kasina. Abhiñña yang di atas duniawi (lokuttara-abhiñña) hanya ada satu macam. yaitu abhiñña yang duniawi atau lokiya dan abhiñña yang di atas duniawi atau lokuttara. Ini dilakukan denga n memperhatikan gerak-gerik nama dan rupa terus menerus. Kemampuan terbang di angkasa seperti burung. Lagipula kegaiban it u bukanlah merupakan hal yang penting dalam mencari kebebasan (Nibbana). dan lain-lain. Kemampuan melawan api. ialah kemampuan untuk mengingat tumimbal lahir yang lampau dari diri sendiri dan orang lain. Iddhividhañana. raksasa. atau membuat diri menjadi tak tampak. Dibbacakkhuñana atau cutupapatañana (mata dewa). obyeknya adalah nama dan rupa (batin dan materi). Namun. Ñanavipphara-iddhi. Sang Buddha tidak membenarkan siswasiswaN ya melakukan sesuatu yang ajaib dan mujijat. 3. atau pancakhandha (lima kelompok faktor kehidupan). Samadhivipphara-iddhi. wanita cantik. Kemampuan menyelam ke dalam bumi bagaikan menyelam ke dalam air. saññakhandha (kelompok pencerapan). Adhitthana-iddhi. ialah kemampuan untuk membaca pikiran makhluk lain. dukkha (derita). ialah kemampuan memencarkan melalui konsentrasi. Kemampuan menyentuk bulan dan matahari dengan tangannya. 5. c. 2.

agar perasaan itu tidak membangkitkan bermacam-macam bentuk emosi. ketika berbicara atau berdiam diri. Sesungguhnya. maka hal itu harus disadari. tetapi tidak dibuat-buat atau sengaja diatur. ia juga sangat berguna untuk mengembangkan Pandangan Terang (Vipassana Bhavana). makan. yaitu untuk mengembangkan jhana-jhana. yang akan berkembang dalam latihan Vipassana itu ialah perhatian y ang tajam dan kesadaran yang kuat. kesadaran terhadap pernapasan itu pada tingkat permulaan dianggap sebagai obyek untuk meditasi ketenangan (Samatha Bhavana). dan berguna ialah sadar dan waspada te rhadap segala sesuatu yang dilakukan. duduk. Masalah-masalah yang telah lewat atau hal-hal yang akan datang tidak boleh dipikirkan pada saat ini. Pikiran harus diarahkan pada kenyataan hidup pada saat ini. Cara meditasi lain yang penting. ketika berpakaian. Jadi. Di sini tidak dijalankan penyiksaan badan jasmani dengan maksud untuk mengendalikan badan. Tetapi dipergunakan jalan tengah yang sederhana. baik perasaan senang. citta-nupassana (perenungan terhadap pikiran). naik turunnya gelombang kehidupan y ang tidak kekal.terhadap perasaan). dan kemudian lenyap kembali. Dhamma-nupassana (perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran). Di sini direnungkan segala gerak-gerik pikiran. Betapa banyak tenaga yang terbuang dengan percuma karena melamunkan keadaan-keadaan yang telah lalu dan mengkhayalkan keadaan yang akan datang. Apabila pikiran sedang dihinggap i hawa nafsu atau terbebas daripadanya. Di sini direnungkan perasaan yang sedang dialami secara obyektif. dan minum. atau nama dan rupa itu sendir i. Vedana-nupassana (perenungan terhadap perasaan). atau berbaring. Dhamma-nupassana adalah pancakkhandha. yang timbul tenggelam ini. Apabila perasaan telah dapat diatasi dengan tepat. berdiri. dengan menyadari timbul dan tenggelamnya bentuk kehidupan setiap saat. Citta-nupassana (perenungan terhadap pikiran). praktis. Citta-nupassana adalah Viññana-khandha. 4. tidak ada tekanan atau paksaan pada pernapasan. berlangsung. Kaya nupassana adalah rupa-khandha. direnungkan bentukb entuk pikiran dari lima macam rintangan (nivarana). yang dipakai sebagai suatu obyek perhatian murni. Jadi. dapat disadari dengan mudah. Walaupun menurut kebiasaan . ketika berjalan. ketika buang kotoran dan kencing. perasaan tidak senang. Empat macam satipatthana itu adalah pancakkhandha. b ernapas secara biasa dan wajar. Vedana-nupassana adalah vedana-khandha. Perasaan harus dikendalikan oleh akal dan kebijaksanaan. bagaimana ia timbul. tidak terikat oleh apapun di dalam dunia ini. 2. direnungkan bentuk-bentuk . maka batin menjadi bebas. maupun perasaan yang acuh tak acuh. Dalam pernapasan. Dalam anapanasa ti ini. dan Dhammanup assana (perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran). sewaktu melihat ke muka dan ke belakang. 3. Di sini direnungkan bentuk-bentuk pikiran dengan sewajarnya. agar batin menjadi bebas dan tidak terikat. keadaan pikira n yang sebenarnya harus diamat-amati. 1. Direnungkan keadaan perasaan yang sebenarnya. Panjang atau pendeknya pernapasan harus disadari. Salah satu contoh yang paling populer dan praktis tentang meditasi dengan obyek badan jasmani ialah anapanasati (menyadari keluar dan masuknya napas). Kaya-nupassana (perenungan terhadap badan jasmani). sewaktu membungkukkan dan melencangkan badan.

Ia tahu bagaimana sekali timbul. kemalasan dan kelelahan. inilah peras aan. di dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. Ia tahu bahwa sekali ditaklukkan. inilah lidah dan obyek kec apan. inilah pemadaman dari penderitaan. SEPULUH MACAM VIPASSANUPAKILESA Vipassanupakilesa berarti kekotoran batin atau rintangan yang menghambat perkembangan Pandangan Terang. inilah jal an menuju pemadaman dari penderitaan. Vipassanupakilesa ini ada sepuluh macam. 2. inilah kesadaran.pikiran dari lima kelompok faktor kehidupan (pancakkhandha). yang bentuk dan keadaannya bermaca . Ia tahu bagaimana cara timbulnya. Obhasa. bentuk-bentuk pikiran itu ditaklukkan. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari Empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ari ya Saccani) ialah dengan menyadari berdasarkan kesunyataan bahwa inilah penderitaan . inilah bentuk pikiran. maka hal itu pun harus disadari. direnungkan bentukb entuk pikiran dari enam landasan indriya dalam dan luar (dua belas ayatana). direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari tujuh faktor Penerangan Agung (Satta Bojjhanga). i nilah telinga dan obyek suara. ketenangan (passadhi). penyelidikan Dhamma yang mendalam (Dhamma-Vicaya). bentuk-bentuk pikiran itu tidak a kan timbul lagi kemudian. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari tujuh faktor Penerangan Agung (Satta Bojjhanga) ialah apabila di dalam diri orang yang bermeditasi timbul kesadaran ( sati). tenaga (viriya). pemusatan pikiran (samadhi). inilah asal mula dari penderitaan. inilah hidung dan obyek bau. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari enam landasan indriya dalam dan luar (dua bleas ayatana) ialah dengan menyadari bahwa inilah mata dan obyek bentuk. Ia tahu akan belenggu-belenggu yang timbul dalam hubungan dengan semua itu. kemau an jahat. ia hidup bebas tanpa ikatan dal am dunia ini. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari lima macam rintangan (nivarana) iala h bahwa apabila di dalam diri orang yang bermeditasi timbul nafsu keinginan. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari lima kelompok faktor kehidupan (pancakkhandha) ialah dengan menyadari bahwa inilah bentuk jasmani. Demikian pula apabila nivarana itu tidak ada di dal am dirinya. maka hal itu harus disadari. Akhirnya. Ia tahu bagaimana ca ranya timbul dan bagaimana caranya lenyap. atau keseimbangan (upekkha). yaitu : 1. dan bagaimana cara mengembangkannya dengan sempurna. kegelisahan dan kekhawatiran. maka hal itu harus disadari. inilah pikiran dan obyek pikiran. inilah pencerapan. ialah sinar-sinar yang gemerlapan. dan direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari Empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ariya Saccani). Ia merenungkan masalah-masalah yang timbul dan hancur dari bentuk-bentuk pikiran. Ia tahu bilamana keadaan-keadaan ini tid ak ada di dalam dirinya. Ia tahu bagaimana cara menaklukkan belenggu-belenggu itu. atau keragu-raguan . kegiuran (piti). inilah badan dan obyek sentuhan. Ia tahu bagaimana bentuk-bentuk pikira n itu datang dan timbul. Ia tahu bagaimana caranya supaya belengg u yang telah dibuang itu tidak timbul lagi kemudian.

9. Khudaka Piti. ialah ingatan yang tajam. ialah kegiuran yang mengangkat. b. EMPAT MACAM VIPALLASA-DHAMMA Vipallasa-Dhamma berarti kekhayalan. Upatthana. Passadi. 4. 3. yang suasananya seolah-olah mengangkat badan naik ke udara. yang suasananya seperti bulu badan y ang terangkat atau merinding. Atta-Vipallasa ini dapat dibasmi . Ñana. 2. yang suasananya sel uruh badan seperti terserap oleh perasaan yang menakjubkan. dimana pikiran tidak mau bergerak untuk menyadari proses-proses yang timbul 10. Atta-Vipallasa. ialah kegiuran yang kecil. yang merupakan perasaan yang nyaman dan nikmat. ialah kegiuran yang menyeluruh. yaitu ñana yang ketiga. 8. ya ng menganggap sesuatu yang tidak kekal sebagai kekal. d. ya ng menganggap sesuatu yang derita sebagai bahagia. yaitu kekeliruan dari pencerapan. Sepuluh macam vipassanupakilesa ini biasanya timbul dalam perkembangan Sammasana-Ñana. Sukha_Vipallasa ini dapat dibasm i dengan melaksanakan vedana-nupassana. ialah perasaan yang berbahagia. yang seolah-olah orang telah mencapai penera ngan sejati. ialah kegiuran yang sepintas lalu menggerakkan badan. 5. 7. 3. dan pandangan. dan pandangan. ialah usaha yang terlalu giat. Paggaha. 4. 6. pikiran. karena tidak memperhatikan saat yang sekarang ini. Khanika Piti. pikiran. atau kepalsuan. ialah pengetahuan yang sering timbul dan mengganggu jalannya praktek meditasi. Piti. 3. Nikanti. yaitu kekeliruan dari pencerapan. c. pikiran. yaitu kekeliruan dari pencerapan. dan pandangan. yang lebih daripada semestinya. Subha-Vipallasa ini dapat dibasmi dengan melaksanakan kaya-nupassana. Okkantika Piti.mmacam. yaitu kekeliruan dari pencerapan. ialah ketenangan batin. 2. ialah keseimbangan batin. Piti in i ada lima macam menurut keadaannya. Sukha-Vipallasa. Subha-Vipallasa. dan pandangan. ialah kegiuran yang menyerap seluruh badan. atau kekeliruan yang berken aan dengan paham yang menganggap suatu kebenaran sebagai suatu kesalahan dan kesalahan sebagai suatu kebenaran. Sukha. e. Nicca-Vipallasa ini dapat dib asmi dengan melaksanakan citta-nupassana. ialah kegiuran. Nicca-Vipallasa. Ubbonga Piti. Pharana Piti. Keempat macam Vipallasa-Dhamma itu ialah : 1. yang kadang-kadang merupakan pemandangan yang menyenangkan. ialah keyakinan yang kuat dan harapan agar setiap orang juga seperti dirinya. Vipallasa-Dhamma ini ada empat macam dan dapa t dibasmi dengan melaksanakan empat macam Satipatthana. seperti ombak laut memecah di pantai. yang suasananya meriang di se luruh badan. Saddha. pikiran. yang sering timbul dan mengganggu perkembangan kesadaran. ya ng menganggap sesuatu yang tidak cantik sebagai cantik. ialah perasaan puas terhadap obyek-obyek. yan g menganggap sesuatu yang tanpa aku sebagai aku. yaitu : a. Upekkha. yang seolah-olah orang telah bebas dar i penderitaan.

13.Anuloma Ñana. dimana kilesa atau kekotoran batin telah dilenyapkan. yang menimbulkan keputusan untuk berlatih terus dengan bersemangat. dukkha (derita). 3. ialah pengetahuan mengenai hubungan sebab dan akibat dari nama dan rupa. ialah pengetahuan mengenai penembusan terhadap magga. 2. dan kesad aran terhadap hal itu adalah nama. 5. Bhanga Ñana. ialah pengetahuan mengenai perbedaan nama (batin) dan rupa (materi). 1. ialah pengetahuan mengenai peleburan/pelenyapan nama dan rupa. sedangkan kesadaran terhadapa hal itu adalah nama. ialah pengetahuan mengenai pemotongan atau pemutusan keadaan duniawi. dengan melalui ani cca.Phala Ñana. Gerakan kaki ketika berjalan adalah rupa. Udayabbaya Ñana.Magga Ñana. ialah pengetahuan mengenai keseimbangan tentang semua bentuk-bentuk kehidupan. 14. 15. Apabila orang tekun melaksanakan Vipassana Bhavana. dukkha. ialah pengetahuan mengenai penyesuaian diri dengan Ariya-Sacca (Empat Kesunyataan Mulia). yaitu anicca (ketidak-kekalan). Paccaya Pariggaha Ñana. ialah pengetahuan mengenai ketakutan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa. 8. dan mendekati Nirvana. 16. Enam belas macam ñana tersebut di atas diuraikan agak terperinci seperti di bawah ini. ialah pengetahuan mengenai timbul dan lenyapnya nama dan rupa. 4. bunyi itu adalah rupa.dengan melaksanakan Dhamma-nupassana. dapat dijelaskan sebagai berikut : a. c. 10. maka akan berkembanglah ñana di dalam dirinya. dan anatta. naik dan turunnya rongga perut ketika bernapas adalah rupa. seseorang dapat membedakan nama dari rupa dan rupa dari nama. sedangkan pikiran yang mengetahui pros es itu adalah nama. ialah pengetahuan mengenai kesedihan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa. sebagai persiapan untuk memasuki magga (Jalan).Patisankha Ñana. Mengenai membedakan nama dan rupa yang berkenaan dengan panca-indera. ialah pengetahuan yang menunjukkan nama dan rupa sebagai Tilakkhana (Tiga Corak Umum). bau itu adalah rupa.Gotrabhu Ñana. mencapai phala (hasil) dari magga itu. 6. Dalam mencium bau. ialah pengetahuan mengenai penglihatan akan jalan yang menuju kebebasan. Dalam melihat bentuk atau warna. 12. b. dan Nirvana sebagai obyek batinnya. Nama-Rupa Pariccheda Ñana Dengan memiliki ñana ini. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. a natta (tanpa aku). Bhaya Ñana. Dalam mendengar bunyi. bentuk atau warna itu adalah rupa.Sankharupekkha Ñana. Nibbida Ñana. ialah pengetahuan mengenai peninjauan terhadap sisa-sisa kilesa atau kekotoran batin yang masih ada. 7. Ñana itu ada enam belas macam. Umpamanya. ialah pengetahuan mengenai keengganan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. ENAM BELAS MACAM ÑANA Ñana berarti pengetahuan. 9. Sammasana Ñana. dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. ialah pengetahuan mengenai pembabaran phala yang merupakan hasil dari penembusan terhadap magga. 11. . ialah pengetahuan mengenai keinginan untuk mencapai kebebasan. yaitu : 1. dan Nirvana sebagai obyek dari pikiran. 4. Adinava Ñana. Nama-Rupa Pariccheda Ñana. Muncitukamyata Ñana.Paccavekkhana Ñana.

yang memperlihatkan adanya kesadar an terhadap Tilakkhana itu. 4. kesimpulannya ialah bahwa seluruh badan ini adalah rupa. tet api kalau dirasakan dengan tangan. Tak ada sesuatu yang disebut makhluk. yang hanya dapat lenyap setelah disadari beberapa kali dengan perlahan-lahan. Sering diganggu oleh pemandangan atau khayalan. dan duduk adalah akibatnya. Terlihat cahaya yang terang. Sewaktu-waktu ada perasaan yang sangat tertekan dan kadang-kadang agak kurang. aku. e. 2. Timbul perasaan tertekan. 3. dia. Udayabbaya Ñana Dengan memiliki ñana ini. halus. panas. Dalam mencicipi sesuatu. Paccaya Pariggaha Ñana Dalam beberapa hal. dan yang akan datang hanya terbentuk dari rangkaian sebab dan akibat. kalau rongga perut naik. Permulaan dan pengakhiran dari gerakan naik turunnya perut lebih terasa. Dalam menyentuh suatu benda yang dingin. Naik turunnya perut dan bekerjanya proses kesadaran itu berlangsung dengan terat ur. dan Anatta (tanpa aku). dan hanya terdiri atas n ama dan rupa. tetapi tidak ada turun. yaitu. thiti (berlangsung). tak ad a pribadi. dan pikiran adala h nama. proses itu masih tetap ada. seseorang dapat merasakan nama dan rupa melalui pancaind era sebagai Tilakkhana (Tiga Corak Umum). nama merupakan sebab. tiga. dalam hal lain. maka kesadaran akan mengikutinya. Gerak naiknya perut dan gerak turunnya perut ada tiga bagian. lima. Berbagai perasaan lenyap setela h disadari beberapa kali. seperti binatang liar. Rongga perut mungkin naik. yang sekarang. Sammasana Ñana Dengan memiliki ñana ini. Akhirny a. Kadang-kadang orang dapat terkejut. orang akan merasakan bahwa ketika pernapasan berhenti pada waktu beristirahat ya ng . Pernapasan dapat berlangsung cepat. Jadi. atau merasa diri tidak berhasil. dan nama merupakan akibat.d. dan rupa merupakan akibat. yaitu upada (terja di). Jadi. benda itu adalah rupa. Anicca (ketidak-kekalan). Akhirnya . atau enam tingkat. Naik turunnya rongga perut hilang. Rongga perut mungkin turun de ngan keras dan tinggal diam dalam keadaan itu. Dukkha (derita). bergoyang ke muka atau ke belakang. rupa merupakan sebab. at au tertahan. atau lunak. Naik dan turunnya perut lenyap berselang-seling. gunung-gunung. Namun. dan lain-lainnya. Pikiran menjadi kacau. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. pelan. kalau pikiran bergerak. dan bhanga (lenyap). rasa itu adalah rupa. Naik turunnya perut dapat lenyap seben tar atau dalam waktu yang lama. seseorang dapat menyadari bahwa gerakan naik turunnya perut itu terdiri atas dua. Yang ada hanya rupa dan nama. maka g erak jasmani akan mengikutinya. Jadi. keras. Keinginan duduk merupakan sebab. orang dapat merasakan bahwa kehidupan yang lampau. seperti lampu listrik. empat. dan lain-lain. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama.

rupa (materi/jasmani) yang mengendap. Naik turunnya perut ter asa samar-samar. kemegahan. sakit. Kebosanan timb ul sebagai dorongan yang keras untuk mencari Nibbana. dan kematian. dan membosankan. di mana masih ada kelahiran. atau terb ang dengan pesawat terbang. tetapi tidak seperti takut ketika melihat hantu atau seta n. gerakan naik turun segera lenyap. dan tidak terdapat perasaan kenikmatan yang sejati. Setelah nama dan rupa lenyap. tetapi kemampuan untuk mengenal atau menyadari sesuatu masih berjalan dengan baik. Muncitukamyata Ñana Seluruh badan merasa gatal. Nama dan rupa muncul dengan cepatnya. Diri terasa buruk. Kalau melihat pada langit.berulang-ulang. atau naik dengan lift. citta dan ob yeknya lenyap bersama-sama. dan lain-lainnya tidak lagi merupakan kesenangan dan kegembiraan. Terasa sakit pada urat-urat syaraf . dan kosong sama sekali. 6. terutama pada waktu berjalan atau berdiri. badan seperti jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. atau nikmat. Bhaya Ñana Timbul perasaan takut. atau seperti ada binata . demikian pula kesadarannya. Tak ada keinginan untuk bertemu atau bercakap-cakap dengan orang lain. senang. Nibbida Ñana Semua obyek kelihatan membosankan dan jelek. bahkan berubah menjadi kebosanan setelah menyadari sendiri bahwa manusia itu tercengkeram dan terseret ke dalam kelapukan. 5. dan kelihatannya hanya samar samar dan suram. 9. dan lebih sen ang tinggal di kamar sendiri saja. Terdapat bahaya dari perubahan-perubahan yang terus menerus di dalam semua bentu k kehidupan. Terasa panas seluruh badan. sangat kabur. terasa lenyap. Gerakan naik turun dan kesadaran/pikiran (citta) terasa seolah-olah lenyap. Terasa seperti malas. tetapi dapat juga disadari. 8. seperti digigit-gigit semut. Pert amatama. kemewahan. Tidak merasa bahagia. seolah-olah ada getaran-getaran di uda ra. gembira. seperti kemasyhuran. Jadi. Adinava Ñana Gerakan naik turun menghilang sedikit demi sedikit. Semua manusia dan makhluk lain. Orang merasa bahwa keinginan-keinginan atau cita-citanya yang dahulu. bahkan para dewa dan para brahma tidak ada yang terkec uali semasih diliputi oleh bentuk-bentuk ini. Semua bentuk batin dan fisik menyedih kan. dan remang-remang. Segala s esuatu kelihatannya seolah-olah dalam suasana yang penuh kesuraman. Semua bagian dari benda-benda ini menakutkan. tetapi sebenarnya badan masih tet ap diam dan tak bergerak. tetapi citta masih bergema. sebenarnya tidak mempunyai intisari. Terasa diri seperti ditutupi dengan jaring. usia tua. Nama dan rupa yang dianggap sebagai sesuatu yang bagus atau indah. tidak ada lagi yang menimbulkan rasa takut. Bhanga Ñana Pengakhiran dari gerak naik turunnya perut lebih terasa. Gerakan naik dan turun sekonyong-konyong berhenti dan sekonyong-konyong timbul lagi. 7. dan kadang-kadang terasa tidak ada apa-apa. Kemudian. jelek.

dukkha. sikap duduk . Badan terasa seperti ditindih batu atau kayu. tidak ada perasaan senang. pengenalan. Badan menjadi kaku. menyadari sikap dudu k atau sentuhan-sentuhan badannya dengan jelas. atau sentuhan-sentuhan pada badan.Anuloma Ñana Di sini Anuloma Ñana diuraikan dalam bentuk Tilakkhana (anicca. Terasa mengantuk. tetap i pikiran masih aktif dan pendengaran masih bekerja.Sankharupekkha Ñana Tidak ada perasaan takut. Tidak ada perasaa n gembira atau perasaan sedih. sikap duduk. Orang mungkin dapat lupa dengan waktu yang telah dilewatinya dalam latihan itu. Dukkha : Orang yang biasa melatih diri dalam Samatha (meditasi ketenangan) ak an mencapai magga melalui perenungan tentang dukkha. Ingatan. maka hal itu aka n terhalang. Proses berhenti ini harus disadari dengan nyata.Patisankha Ñana Terasa ditusuk-tusuk di bawah kulit dengan benda-benda tajam di seluruh badan. tetapi setelah disadari dua atau tiga kali. 10. b.Konsentr asi pikiran berjalan baik. Terasa kurang senang. anatta) sebagai berikut : a. maka terjadilah proses berhenti. tetap tenang dan halus dalam jangka waktu yang lama. Kalau ia berlatih menyadari na ik turunnya perut. gelisah dan bosan. Dapat dikatakan bahwa penyadaran dan pengenalan di dalam nama ini berlangsung dengan mudah dan memuaskan. Gerakan naik turun perut menjadi cepat. Timbul bermacam-macam perasaan yang mengganggu. atau sentuhan-sentuhan pada badan. Muncul perasaan tak senang. Samadhi atau konsentrasi menjadi kuat dan lekat. Ada keinginan pergi dan menghentikan latihan meditasinya. Seluruh badan terasa panas. semua itu menjadi lenyap. tetapi sekonyong-konyong berhenti. sepe rti adonan tepung yang diremas-remas oleh tukang roti yang pandai. Ada perasaan puas dan mungkin lupa dengan waktu. dan pengenalan atau kesadaran terhadap proses berhentinya pernapas an ini adalah anuloma-ñana. tetapi janganlah hendaknya ragu-ragu atau dipikir-pikirka n. tetapi agak seperti acuh ta k acuh. Ada pula yang ingin pulang karena merasa bahwa paramitanya atau perbuatan-perbuatan baiknya belum cukup kua t. Ia menyadari atau mengetahui dengan terang tentang gerakan naik turun itu yang berhenti. Keadaan pernapasa n . Naik turunnya perut hanya disadari sebagai nama dan rupa saja. Keadaan pernapasan yang cepat itu adala h corak anicca. padahal mulanya ia ingin bermeditasi hanya 30 menit saja. Kalau ia terus melanjutkan menyadari naik turunnya perut.ng kecil yang merayap pada muka dan badan. 11. atau kesadaran tidak mengalami kesukaran-kesukaran. Mungkin ia telah duduk selama satu jam atau lebih . 12. sepe rti sebuah mobil yang berjalan di atas jalan yang datar dan rata. Anicca : orang yang biasa melatih diri dalam kebersihan atau kesucian dan sil a-sila akan mencapai magga melalui perenungan tentang anicca. tetapi pikiran dan kesadaran pada saat itu tetap te rang.

Magga Ñana Magga timbul langsung pada saat perasaann pecah dan pencerapan kilesa hancur aki bat dari putusnya belenggu-belenggu. dan pengenalan atau kesadaran terha dap proses berhentinya gerakan naik turun ini. c. naik turunnya perut menjadi tenan g dan teratur. b. atau sentuhan-sentuhan pada b adan itu adalah anuloma-ñana. Pertimbangan mengenai kilesa yang belum dihancurkan. yang berarti bahwa kita telah mencapai phala ata u hasil ini. Gerak naik turunnya perut. maka gotrabhu-ñana tercapai. . atau senang dengan Vipassana dalam kehidupannya yang dulu-dulu. dan pengenalan atau kesadaran yang terang terhadap proses berhentin ya gerakan naik turun ini. Dalam beberapa saat. tenang. dan damai. aman. Jadi. dua atau tiga saat. Jadi. atau terhadap sikap duduk. Vicikiccha (keragu-raguan). atau terhadap sikap duduk. kalau pencerapan mulai pecah d an lenyap. yang menjadi obyek phala-citta adalah nibbana. yang berarti bahwa Dhamma tertentu telah kita capai untuk menuju ke Nibbana sebagai obyek pikiran. Ini berarti bahwa orang telah mendapat penerangan dengan nibbana sebagai obyeknya. __________________ PURPOSE OF PRACTISING KAMATTHANA MEDITATION (Perbedaan Antara Samatha & Vipassana) Penulis Asli : Mahasi Sayadaw Bhadanta Sobhana. d. Gotrabhu Ñana Nama-rupa bersama-sama dengan citta (pikiran) yang mengetahui proses berhenti it u menjadi diam. Silabbataparamasa (ketahyulan tentang upacara). atau sikap duduk. akan mencapai magga melalui perenungan tentang anatta. atau sentu hansentuhan pada badan itu adalah anuloma-ñana.Phala Ñana Phala-ñana adalah hasil dari magga. Ñana ini bersifat lokuttara. yang muncul langsung setelah timbulnya maggañana . Keadaan pernapasan yang halus dan teratur itu adalah co rak dari anatta. dan kemudian ber henti. e. jika orang melaksanakan Vipassana Bhavana. Pertimbangan mengenai phala. Chattha-sangiti-pucchaka. Demikian proses tersebut dapat timbul di dalam diri seseorang dan dapat disadari dengan seksama. yang berarti kita masih memiliki kilesa. Agga-mahapandita. seperti Sakayaditthi (kekhayalan dari aku).yang terhalang itu adalah corak dari dukkha. yang berarti kita telah menghancurkan semua kilesa. yang berarti bahwa kita telah tiba pada magga in i. 16. Pertimbangan mengenai kilesa yang telah dihancurkan. Pertimbangan mengenai nibbana. Sasanadhaja-siri-pavara-dhammacariya. Pertimbangan mengenai magga. 13. jangka waktu dari gerakan naik dan gerakan turun sama.Paccavekkhana Ñana Paccavekkhana-Ñana terdiri atas pertimbangan-pertimbangan mengenai masih adanya kilesa (kekotoran batin). 14. 15. Dalam hal ini terdapat lima macam pertimbangan sebagai berikut : a. c. Anatta : Orang yang biasa melatih diri dalam Vipassana (meditasi pandangan te rang). atau sentuhan-sentuhan pada badan kelihatan dengan terang.

Semua makhluk hidup ingin hidup berumur panjang tanpa kekerasan. setelah menderita rasa yang amat sangat dan penderitaan yang amat berat. maka tidak akan ada kelahiran baru. sakit. Oleh karena itu. Lagi-lagi. sakit. dan penderitaan kehidupan lain nya. kesedihan dan ratapan dikarenakan banyak bahaya dan kejahatan. dan sejahtera tanpa penderitaan usia tua. Yang telah merealisasi pencerahan secara mandiri PURPOSE OF PRACTISING KAMATTHAANA MEDITATION (Perbedaan Antara Samattha & Vipassana) I. mati. diikuti oleh kematian. di sana mengikuti rangkaian : usia tua. sakit. masih selalu dijumpai usia tua. dan penderitaan lainnya. Di dalam mencari sebab u tama (akar) dari peristiwa itu menjadi tampak nyata bahwa dikondisikan oleh kelahiran . dan pende ritaan kehidupan lainnnya. Apabila tidak terdapa t kemelekatan. TUJUAN UTAMA MEDITASI AJARAN BUDDHA Apakah tujuan melaksanakan latihan meditasi? Latihan meditasi dilaksanakan untuk tujuan terbebas dari penderitaan kehidupan u sia tua. dan kedua kar ena tidak merealisasi bahwa Nibbana jauh lebih luhur bila dibandingkan dengan jenis kebahagiaan lainnya. Kemelekatan terhadap kehidupan ini tidak berlangsung karena dua alasan : pertama karena tidak mengerti ketidakpuasan/penderitaan batin dan jasmani. menderita semua jenis derita kehidupan dan tanpa henti. baik penderitaan fisik dan kelu han mental/batin. Kelahiran yang baru hanyalah munculnya sebuah kesadaran yang merupakan hasi l dari kemelekatan terhadap objek dari kehidupan sebelumnya. Di dalam cara seperti ini. daerahnya tidak la gi . Sebagai contoh. Kemudian. Apabila ia mulai mengetahui kenyataan-kenyataan secara penuh. hidup dengan damai. terdapat kelahiran dika renakan kemelekatan untuk menjadi (berwujud). Tumimbal lahir terjadi dikarenakan kemelekatan yang terkandung di dalam kehidupa n ini. mer eka berkelana di dalam lingkaran tumimbal lahir dari kehidupan ke kehidupan lain. merealisasi Nibbana. itupun tidak berakhir di dalam kematian. Di dalam kehidupan baru ini mereka pun menjadi korban usia tua. Selama masih di dalam roda kehidupan. Secara alamiah ia berpikir meluhurkan desanya itu dan memiliki kemelekatan yang kuat terhadapnya karena ia tidak memiliki pengetahuan yang jelas akan kekurangan daerahnya dan kondisi yang lebih baik dari tempat lainnya. mati. namun mereka selalu sia-sia menemukan harapannya itu.Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa Penuh hormat kepada Bhagava. mati dan seterusnya. sangatlah penting untuk mencegah tumimbal lahir yang berkelanju tan apabila ingin terbebas dari penderitaan kehidupan di dalam usia tua dan sebagain ya. Dan. mirip kasus seseorang yang hidup di daerah yang gersang dan menyedihkan yang dikelilingi oleh banyak bahaya. Yang Suci Mulia. oleh karena itu setiap usaha ha rus ditujukan untuk terbebas dari kemelekatan apabila tidak menginginkan kelahiran y ang baru. gembira. sakit.

II.. PEMBAGIAN MEDITASI AJARAN BUDDHA Meditasi dibagi menjadi dua bagian : 1. seolah d i udara. seolah seperti burung yang memiliki sayap. kematian dan seterusnya. tanpa melalui awal samatha kammatthana. Telinga dewa.. Kematian seseorang y ang mamiliki jhana secara utuh akan menyebabkan tumimbal lahir di alam para Brahma yang jangka waktu kehidupannya sangat panjang. * Pubbe-nivassa-abhinna . Kekuatan untuk berjalan di atas air tanpa tenggelam. seolah seperti ke/ dari dalam air. Melalui latihan Vipassana-kammatthana seseorang dapat merealisasi Nibbana dan memenangkan kebebasan mutlak dari penderitaan kehidupan. beberapa di antaran ya dapat digunakan sebagai latihan dasar samatha untuk melaksanakan latihan vipassa na. Memiliki atribut-atribut ini tetap tidak akan menjamin/membawa ke kebebasan dari ketidakpuasan kehidupan.. usia tua. * Dibba-cakkhu-abhinna . Latihan samattha-kammatthana akan mengembangkan faktor batin atas delapan pencapaian duniawi (lokiya-samapatti) yang terdiri dari 4 jenis rupa-jhana dan 4 arupajhana. seseorang yang mengambil dasar permulaan latihan samatha kammatthana untuk merealisasi Nibbana. sangatlah penting untuk mencoba mengerti kondisi tak memuaskan dari batin dan jasmani yang menguasai kehidupan ini dan secara mandiri merealisasi superioritas Nibbana dengan sebuah pandangan untuk menghancurkan secara total kemelekatan terhadap kehidupan. Kekuatan untuk memasuki/ menyelam ke dalam tanah dan muncul lagi di permukaan tanah. Kekuatan untuk mengetahui pikiran orang lain.. Vipassana kammatthana 1.. Demikian pul a. setiap orang yang menginginkan untuk terbebas dari pende ritaan akibat usia tua.. Kekuatan untuk terbang denga n kaki bersila ke angkasa. jauh maupun dekat. Samatha kammatthana 2. kekuatan dari satu menjadi banyak dan dari banyak men jadi satu lagi. sesuai kasus per kasus. Pengetahuan ini dapat diperoleh melalui latihan meditasi yan g tepat.. * Ceto-pariya-abhinna .. terdapat empat puluh pokok/subjek meditasi. Oleh karena itu. yaitu : Samattha-yanika.. seseorang yang secara langsung melatih vipassana kammatthana untuk merealisasi Nibbana... baik besar maupun kecil. Kekuatan untuk menembus dinding atau gunung tanpa rintangan. Empat puluh pokok/subjek meditasi itu adalah : .menarik baginya dan ia akan serta merta pindah ke daerah yang baru. __________________ III. kekuatan untuk melihat semua bentuk bentu k dan warna yang jauh maupun dekat. Kekuatan untuk mengetahui kejadian kehidupan lampau seseorang. Latihan yang berulangkali atas kondisi di dalam jhana ini akan membawa lima kemahiran batin duniawi luar biasa (abhinna 5) sebagai berikut : * Iddhi-vidha-abhinna . Vipassana-kammatthana dibagi menjadi dua sub bagian. 2.... Kekuatan untuk menyentuh matahari dan bulan dengan menggunakan tangan. Mata dewa.. kematian dan sebagainya dan merealisasi Nibbana secara mandiri seyogyanya melaksanakan latihan meditasi. Suddha-vipassana-yanika. bisa satu usia dunia atau dua kal i atau empat kali atau delapan kali usia dunia dan seterusnya. kekuatan untuk mendengarkan suara baik suara manusia maupun makhluk surgawi. seolah seperti berja lan di atas tanah. EMPAT PULUH POKOK/SUBJEK MEDITASI Di dalam naskah. * Dibba-sota-abhinna .

1. Sebuah mayat yang terserak hancur (Hatavikkhittaka) 7. Sebuah Mayat terinfeksi/bernanah (Vipubbaka) 4. Perenungan atas 32 (tiga puluh dua) bagian tubuh (Kayagatasati). kemudian ke arah kedua. ke bawah.. Simpati atas keberhasilan / pencapaian makhluk lain (mudita) 4. Sebuah mayat membiru (Vinilaka) 2. Perenungan terhadap Nibbana (Upasamanussati) 8. 4 Brahma vihara (sikap batin luhur) 5. Berdiam dengan batin yang dipenuhi oleh cinta kasih universal yang diarahk an ke arah pertama. Sebuah tengkorak (Atthika) Sepuluh Anussati terdiri dari : 1. Cinta kasih yang universal terhadap semua makhluk (metta) 2. Kemudian ke arah keempat. Sebuah mayat yang terpotong-potong dan berserakan (Vikkhittaka) 8.. ke atas. dan seterusnya. kemurah-hatian (cage) dan kebijaksanaan (panna) 7. Perenungan terhadap kaluar dan masuknya nafas (Anapanasati) Empat Brahma Vihara terdiri dari : 1. Sebuah mayat yang berdarah (Lohitaka) 9. tanpa batas. Keseimbangan batin sempurna (upekkha) . Kemudian ke arah ketiga. Kasina api (Tejo) 4. gigi. Perenungan terhadap kemoralan seseorang (Silanussati) 5. demikan pula.. yaitu keyakinan teguh (saddha). Sebuah Mayat membengkak (Uddhumataka) 3. 10 asubha (ketidakmurnian) 3.. bulu tubuh. Kasina warna kuning (Pita) 7. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Sangha (Sanghanussati) 4. Kasina ruang terbatas (Akasa) Sepuluh Asubha terdiri dari : 1. Kasina udara (Vayo) 5. 4 arupa (tahapan arupa jhana) 6. 10 kasina (alat permenungan) 2. kuku. dengan batin yang dipenuhi oleh . Kasina warna biru gelap (Nila) 6. seperti : ra mbut. batin yang lapang. dan ke sekeliling dan ke segala penjur u kepada semua makhluk. 10 anussati (perenungan) 4. Kasina warna merah darah (Lohita) 8. 1 Catu-dhatu-vavatthana (analisis empat unsur) Sepuluh kasina terdiri dari : 1. 1 Ahare-patikula-sanna (perenungan atas makanan yang menjijikan) 7. Belas kasih terhadap makhluk menderita (karuna) 3. Sebuah mayat yang telah digigit binatang buas (Vikkhayittaka) 6. Ia memancarkan ke segenap dunia dengan batin dipenuhi oleh cinta kasih universal. kemauan belajar dan mendengark an Dhamma (suta). berkembang. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Dhamma (Dhammanussati) 3. Kasina tanah (Pathavi) 2. 10. Perenungan terhadap kemurah-hatian seseorang (Caganussati) 6. Perenungan terhadap kualitas untuk tumimbal lahir sebagai dewa (Devatanussati ). Kasina cahaya (Aloka) 10. kulit. terbebas dari kebencian dan niat jahat . Sebuah Mayat terbelah dua (Vicchiddaka) 5. Kasina warna putih (Odata) 9. Kasina air (Apo) 3. Sebuah mayat yang terinfeksi cacing/belatung (Puluvaka) 10. seperti terhadap dirinya. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Buddha (Buddhanusati) 2. kemoralan (sila). Perenungan akan kepastian kematian (Marananussati) 9.

. pathavi atau tanah . Berdiam dalam permenungan atas kondisi ruangan yang tanpa batas (Akasanancayatana) 2. angin yang keluar masuk waktu bernapas. tanah . Sutta Pitaka). be rdiri atau berbaring. dara h. dikunyah. baik posisi duduk. 1 catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan jasmani) Dalam satu catudhatuvavatthana. pathavi. 2. Pathavi-dhatu (unsur tanah atau unsur padat).belas kasihan. direnungkan bahwa makanan adalah barang yang menjijikkan bila telah berada di dalam perut. Umpamanya : empedu. Majjhima Nikaya. Pathavi Kasina Kammattha dan pencapaian Jhana Seseorang yang mengambil subjek meditasi dengan memilih Kasina tanah (Pathavikas ina) untuk permenungannya. 4. yaitu : 1.. Tejo-dhatu (unsur api atau unsur panas). lendir. Segera setelah bayangan (nimitta) ini menjadi kuat dan stabil di dalam batin. (Jivaka Sutta. semuanya akan berakhir sebagai kotoran (ti nja) dan air seni (urine). dan lain-lain IV. diminum. dicicipi. Setelah merenungkan berulang kali untuk sejumlah waktu tertentu. dan lain-lain. atau bila sedang sakit. Berdiam dalam permenungan atas alam kesadaran yang tak terbatas (Vinnanancayatana) 3.. Ia seyogyanya kemudian melanjutkan untuk merenungkan Uggahanimit ta itu dengan mengatakan dalam batin pathavi. direnungkan bahwa apapun yang tela h dimakan. Umpamanya : angin yang ada di dalam perut dan usus. kuku. Vayo-dhatu (unsur angin atau unsur gerak). bulu badan. 3. Berdiam dalam permenungan atas kondisi alam bukan pencerapan juga bukan pencerapan (Nevasannanasannayaatana) 1 aharapatikulasañña (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) Dalam satu aharapatikulasañña. Penampilan gambaran batin ini disebut Uggaha-nimitta (bayangan yang diperoleh). ialah segala sesuatu yang bersifat p anas dingin. pathavi. Umpamanya : rambut kepala. DESKRIPSI SINGKAT LATIHAN SAMATHA-KAMMATTHANA 1. nanah.. oleh sikap simpati terhadap pencapaian/keberhasilan mahluk lain. pathavi atau tanah. berjalan. Seyogyanya memperhatikan sebongkah tanah di atas tanah atau alat berupa segumpal tanah yang merenungkannya dengan mengatakan di dalam batin: pathavi. Berdiam dalam permenungan atas alam kekosongan (Akincannayatana) 4. tanah . ia dapat pergi ke mana pun dan mengambil posisi apa saja. Apo-dhatu (unsur air atau unsur cair). terdiri dari : 1. direnungkan bahwa di dalam badan jasmani terdapa t empat unsur materi. Empat Arupa. gambaran alat-tanah yan g kuat dan jelas akan muncul di dalam batin seolah-olah dilihat langsung oleh inde ra penglihatan (mata). dan lain-lain. ialah segala sesuatu yang bersifat bergerak. dan oleh keseimbangan yang sempurna . Umpamanya : setelah selesai makan dan minum. . ialah segala sesuatu yang bersi fat keras atau padat. gigi. ialah segala sesuatu yang bersifat ber hubungan yang satu dengan yang lain atau melekat.. bad an akan terasa panas dingin.

tanah . pathavi. Batin sering berfikir akan objek-objek yang diinginkan nafsu indera. In i adalah Thina-middha-nivarana (rintangan batin kemalasan dan kelambanan batin). dan berhasil menca pai . berdiri. dan batin sering khawatir dalam merenungkan dalam merenungkan perbuatan buruk melalui ucapan dan tindak-tanduk jasmani yang telah lampau. Tahap ketetapan dan kestabilan batin ini dikenal sebagai 'Appana-samadhi' (konse ntrasi pencapaian). 4. tanah. maka ia seyogyanya kembali ke te mpat asal alat-tanah itu dan melakukan perenungan lagi: pathavi. 2. yaitu: (a) Jhana pertama. Ini adalah Vyapad anivarana (rintangan batin keinginan jahat / niat buruk). Dengan melakukan permenungan demikian terhadap objek uggaha-nimitta secara berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama. Batin sering tidak stabil namun gelisah. baik duduk. pathavi atau tanah. berbaring maupun berjalan. yaitu vitakka dan vicara. Terdapat empat jenis Appana-samadhi untuk rupa jhana. tanah seperti yang dilakukan pada permulaan latihan. Ini adalah Uddhaca-kukkucca-nivarana (rintangan batin kegelisahan dan kekhawatiran). tanah. Kelima rintangan (nivarana) ini seyogyanya dipotong segera setelah mereka muncul dan batin seyogyanya kembali mengambil objek ugghana-nimitta misalnya dengan merenungkan sebagai: pathavi. Kondisi batin seperti ini dikenal dengan 'Upacarasamadh i' (konsentrasi berdekatan). pathavi. Selama waktu permenungan ini dapat terjadi bahwa batin tidak tetap terfokus pada objeknya namun sering kali mengembara/ melayang-layang mengalami objek lainnya dalam hal-hal sebagai berikut : 1. (c) Jhana ketiga. melihat ketidakpu asan di dalam dua faktor batin pertama di atas. pathavi atau tanah. 3. Batin sering bercokol pada pikiran-pikiran sedih dan marah. (b) Jhana kedua. Apakah metode ini dapat membawa hasil yang bermanfaat. objek tersebut akan 'terlihat' jelas dan mirip penampilan kristal tidak seperti penampakan awalnya. melanjutkan lagi melakukan perenungan untuk mengatasi kedua faktor batin tadi. 5. Terdapat kekenduran di dalam permenungan dan batin sering bosan dan kabur. Ini adalah Vicikiccha-nivaran a (rintangan batin keraguan skeptis). (d) Jhana keempat . batin mencapai satu keadaan seolah tenggelam ke dalam objek dan berdiam secara menetap di dalamnya.tanah. Ini adal ah Kamacchanda-nivarana (rintangan batin keinginan nafsu indera). dengan secara berkesinambungan batin berada dalam Upacara-samadhi dengan objeknya Patibhaga-nimitta. Ini disebut 'Patibhag animitta' (bayangan keseimbangan). Kemudian ia seyogyanya kembali ke tempat yang sama dan melanjutkan dengan permenungan di dalam berbagai posisi tubuh. Apakah ada kesempatan untuk meraih hasil yang baik. Kini. Apabila batin kehilangan ugghana-nimitta sebagai objek. a) Di dalam jhana pertama lima faktor batin yang hadir secara nyata adalah: * Faktor batin yang berfungsi dalam penerapan/ perenungan awal/ pengarahan terha dap objek (vitakka) * Faktor batin yang berfungsi dalam penerapan penambatan terhadap objek (vicara) * Faktor batin yang berfungsi dalam menimbulkan suka cita/ kegiuran (piti) * Faktor batin yang berfungsi dalam menimbulkan kegembiraan (sukkha) * Faktor batin yang berfungsi dalam konsentrasi terfokus kuat terhadap objek (ekaggata) b) Seseorang yang telah mencapai tahap Jhana pertama dan ahli. tanah . Batin sering memikirkan apakah permenungan yang sedang dilakukan ini adalah sebuah metode yang benar.

yang disebabkan oleh kontak berkesinambungan dari aliran nafas masuk dan keluar. ia seyogyanya melihat ke arah seonggok mayat membengkak. dan kemudian menetapkan perhatiannya pada celah/lubang hidung. yaitu metta. dengan badan yang tegak. namun seseorang yang telah melakukan meditasi melal ui perenungan satu dari tiga brahma vihara ini yang telah mencapai tingkat jhana ke tiga. baik perjalanan nafas masuk maupun perjalanan nafas keluar. keluar. yaitu upekkha. sukha. Hal yang sama dapat dilakukan untuk kasina yang lain.tahap jhana kedua. Di dalam hal seseorang yang memilih salah satu pokok meditasinya Asubha sebagai subjek konsentrasinya. namun seyogyanya tetap pa da titik sentuhan tadi. (Kayagata-sati) juga hanya akan mengantarka n untuk pencapaian tingkat Jhana pertama. makanan yang menjijikan (aharepatikkula-sanna). yaitu upekkha (keseimbangan) dan ekaggata. Perbedaan yang ada adalah bahwa perenugan sub jek Asubha hanya akan mengantarkan untuk pencapaian tingkat Jhana pertama. mayat membiru'. masuk pada setiap aktivitas nafas masuk dan nafas keluar. Tiga dari empat Brahma vihara. akan terdapat banyak rintangan di mana batin akan mengembara/ melayang-layang. atau mayat membiru. dan seterusnya. Inilah diskripsi singkat cara untuk merenungkan Pathavi kasina dan pengembangan bertahap keempat tingkat jhana. Mereka yang telah mencapai tingkat jhana keempat melalui permenungan kasina. 2. Anapana-sati Kammatthana Seseorang yang memilih Anapanasati sebagai subjek perenungan seyogyanya tinggal di tempat yang sunyi dan duduk dengan kaki bersila atau di dalam cara yang nyaman sehingga dapat duduk di dalam jangka waktu yang cukup lama. masuk. d) Dengan melihat ketidakpuasan yang terdapat di dalam sukha ia melanjutkan dengan perenungan untuk mengatasi faktor batin sukha tersebut dan berhasil mencapai tah ap jhana keempat yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada dua. dan analisa empat unsur (catu-dh atuvavatthana) akan membawa hanya sampai tahap upacara-samadhi. yaitu sukha dan ekaggata. c) Dengan melihat ketidakpuasan yang terdapat di dalam piti ia melanjutkan dengan perenungannya untuk mengatasi piti dan berhasil mencapai tahap jhana ketiga yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada dua. karuna dan mudita akan membawa sampa i dengan tingkat Jhana ketiga. Selama di dalam perenungan. dan seterusnya.' 'mayat membiru. dan ekaggata. Ia kemudia n akan mengetahui secara jelas sensasi sentuhan di ujung hidung atau di sisi sebel ah atas bibir. yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada tiga. juga akan mencapai tingkat jhana keempat dengan melaksanakan perenungan brahma vihara keempat. Ia seyogyanya kemudian melaksanakan perenungan di dalam cara yang sama seperti kasus pathavi-kasina. dan merenungkan dengan mengatakan di dalam batin 'mayat membengkak. Rintangan ini seyogyanya tidak diikuti lebih lanjut . aka n mencapai tingkat-tingkat 4 Arupa Jhana dengan merenungkan empat Arupa secara berurutan. Delapan perenungan yang terdiri dari Buddhanussati sampai dengan marananussati. mayat membengkak. Perenungan terhadap 32 bagian tubuh. Batin seyogyanya tidak pergi bersama aliran itu. yaitu piti. Aliran ini seyogyanya diamati pada titik sentuhannya dan direnungkan den gan mengatakan dalam batin: keluar.

apabila batin dengan penuh perhatian kembali tetap mengamati titik sen tuhan pada ujung hidung atau sisi bibir sebelah atas maka aliran nafas masuk dan kelua r yang halus akan tampak lagi dan akan tercerap dengan sangat jelas. maka aliran nafas itu akan tergambar/terbayangkan dalam bentuk atau ukuran khusus. Setiap rangkaian nafas masuk dan nafas keluar yang lembut pada awal. dan 4. masuk. janganlah membuang waktu dengan cara demikian. maka nafas tersebut akan tampak seolah nafas tersebut padam total. namun cukup . nafas masuk dan nafas keluar 'tampak' seperti sebuah binta ng atau sebuah permata atau sebuah berlian. 2. Namun demikian. Untuk orang tertentu. umumnya waktu terbuang untuk mencari objek nafas masuk dan nafas ke luar dengan mencoba meneliti penyebab padamnya nafas dan akhirnya tetap sia-sia tanpa melaksanakan perenungan. Berikut ini ada lah yang dinyatakan di dalam kitab Visuddhi-magga (Jalan Kesucian/ Kemurnian batin). Inilah deskripsi singkat LATIHAN PERMULAAN samatha yang dilakukan oleh seorang 'samatha-yanika' yang memilih 'samatha-kammatthana'. Bentuk objek yang khusus ini adalah Patibhaga Nimitta . Dengan secar a berkesinambungan merenungkan dibantu oleh Upacara-samadhi maka tingkat appanasam adhi dari tahapan 4 Rupa Jhana akan berkembang. Sejalan dengan nafas masuk dan keluar menjadi lebih halus dan lebih halus lagi. Nafas masuk dan nafas keluar yang panjang menjadi jelas teramati ketika merek a panjang. atau sebuah tonggak terbuat dari hati kayu. Dengan cara berkesinambungan mengamati titik sentuhan dan melaksanakan perenungan: 1.. Nafas masuk dan nafas keluar yang pendek menjadi jelas teramati ketika mereka pendek. Dengan terus-menerus merenungkan nafas masuk dan nafas keluar. Dinyatakan bahwa keragaman bentuk atau objek bayangan itu disebabkan oleh perbedaan (sanna) individu yang mengalaminya. bagi yang lainnya mirip benang panjang terurai atau sekuntum bunga atau segumpal asap rokok. Mereka yang berhasrat untuk melatih vipassana seyogyanya pertama-tama dibekali dengan seperangkat pengetahuan. 3. sedangkan bagi yang lainnya mirip sebuah sarang laba-laba atau sebuah lapisan aw an atau sekuntum bunga teratai atau sebuah roda kereta atau sebuah piringan bulan a tau matahari. keluar. sebagai dasar untuk merealisasi Nibbana. Konsentrasi (samadhi) yang kemudian dikembangkan dengan 'Patibhaga-nimitta' sebagai objeknya. disebut Upacara-samadhi . Perubahan bertahap dari nafas masuk dan keluar yang kuat ke nafas masuk dan k eluar yang lebih halus menjadi jelas teramati. bagi yang lainnya dengan sebuah sentuhan kas ar seperti dari kain sutera. namun perhatian seyogyanya dikembalikan ke titik sentuh dan merenungkan kembali sebagai masuk. pertenga han dan akhirnya menjadi jelas teramati dari titik sentuhan ujung hidung hingga ke t empat nafas itu meninggalkan hidung. Di dalam kasus seperti ini. . keluar sesuai aktivitas nafas masuk dan nafas keluar . baik secara singkat maupun mendalam.

dan kemudian merenungkan dengan memusatkan perhatiannya terhadap fenomena jasmani dan batin yang diketahui sebagai upadanakkhandha . dengan badan tegak. bahwa mereka tidak memuaskan. Dengan pengetahuan cukup seperti yang disebutkan di atas. dan bahwa jasmani dan batin berada dalam proses perubahan yang terusmene rus. Juga dapat dicerap bahwa objek dan batin yang secara langsung mengetahui objek tersebut. tidak memuaskan dan tidak mengandung kepemilikan/keakuan/ atta . Samatha-yanika Seseorang yang telah cukup pengetahuannya seperti disebutkan di atas seyogyanya pertama-tama berada di dalam jhana yang telah dicapainya dan kemudian merenungkannya. Apabila vipassana-samadhi telah cukup kuat. Inilah deskripsi singkat latihan dengan cara samatha-yanika untuk tujuan merealisa si Nibbana. 2. adalah diskripsi singkat latihan dengan cara suddha-vipassana-yanik a . Prosedur bergantian dari memasuki keadaan jhana dan kemudian dilanjutkan dengan perenungan sensasi indera pada enam pintu indera seyogyanya dilakukan dengan berulang kali. dan bahwa mereka semata-mata merupakan proses muncul dan padam dari segala sesuatu yang tidak mengandung 'atta' (jiwa atau keberadaan kekal). Oleh karena itu. Suddhavipassana-yanika Di bawah ini. Dengan perkembangan penuh dari pengetahuan langsung ata annica. ia akan dapat melaksanakan perenungan berkesinambungan siang dan malam tanpa merasa terhambat. mengecap rasa. seseorang yang berhasr at untuk latihan vipassana seyogyanya menetap di tempat sunyi dan duduk dengan kaki bersila atau dalam cara yang nyaman sehingga ia dapat duduk dalam waktu yang cuk up lama. Upadanakkhandha adalah semua yang secara jelas dicerap pada saat melihat. yaitu jasmani (rupa) dan batin (nama). Apabila ia merasa lelah atau bosan dengan melaksanakan terusm enerus perenungan akan beragam objek (pakinnakasankhara) ia seyogyanya memasuki jhana lagi dengan menetapkan tekad yang kuat bahwa jhana tersebut akan berlangsung selama 15 atau 30 menit. Phala dan Nibbana.terhadap kenyataan bahwa makhluk hidup terdiri dari dua komponen. Ia seyogyanya kemudian melanjutkan dengan merenungkan secara berkesinambungan sensasi-sensasi. bahwa jasmani dan batin terbentuk dikarenakan sebab dan akibat. Apabila keadaan jhana telah berlalu ia seyogyanya kemudian segera merenungkan keadaan jhana tadi dan kemudian dilanjutkan dengan merenungkan secara berkesinambungan sensasi-sensasi indera sebagaimana mereka muncul pada saat sala h satu dari enam pintu indera. oleh karena itu jasmani dan batin tidak kekal. Fenomenafenomena ini seyogyanya secara berkesinambungan direnungkan pada setiap saat kemunculannya. seperti melihat. mendengar. dimengerti bahwa jasmani dan batin terbukti dengan jelas tidak kekal . Pada tingkat ini dapat dicerap dengan sangat jelas sebagai satu keteraturan pada setiap saat perenungan bahwa jasmani dan batin merupakan dua hal yang berbeda yang bekerja sama. tanpa kualitas atau keberadaan yang menyenangkan. dan yang secara jelas muncul di dalam tubuhnya. anatta terealisasilah pengetahuan bijaksana akan Magga. . dan seterusnya sebagaimana mereka muncul dengan jelas pada salah satu dari enam pintu indera. mengeta hui sentuhan. __________________ V. mencium bau. muncul dan padam pada setiap saat perenungan. DISKRIPSI SINGKAT LATIHAN VIPASSANA 1. dukkha.

mendengar dan seterusnya melalui pintu indera yang bersesuaian. mengecap rasa kecapan maka kontak jasmaniah (bhuta-rupa) merupakan objek yang lebih mudah dicerap. Pada saat perenungan mencapai kematangan. Kesadaran melihat (cakkhu-vinnana). objek penglihatan dan indera pengelihatan/'mata'. Merek a bukan menyenangkan. bukan 'atta'. mengalami kontak badan/sentuhan dan memikirkan ide/gagasan dan seterusnya. dari berbagai kelas fenomena materi. mengetahui sensasi sentuhan melalui indera sensasi sentuhan. Saya melihat dengan penuh perhatian dan melekat kepadanya. sanna upadanakkhandha. dengan satu pandangan untuk mengamati kontak jasmani khusus yan g lebih mudah dicerap. Inilah alasan yang jelas mengapa kelompok batin ini secara berurut disebut vinnana upadanakkhandha. Namun demikian di dalam kasus objek batin. tidak akan mengerti bahwa mereka tidak kekal. Dikarenakan materi menjadi objek kecenderungan kekeliruan dan kemelekatan. bentuk/faktor batin (sankhara) juga secara jelas dicerap pada saat melihat. mereka menganggap bahwa fenomena batin ini menyenangkan dan melekat kepadanya. Lagi. perhatian seyogyanya ditetapkan pada posisi duduk dan merenungkan secara berkesinambungan. pencerapan (sanna) akan o bjek pengelihatan. dan keinginan untuk melihat objek. Oleh karena itu. seyogyanya diambil sebagai objek utama/permulaan untuk perenungan saat memulai latihan vipassana. bukan pula atta dan bukan orang . dan sankhara upadanakkhandha . Mereka yang tidak merenung kan pada setiap saat kemunculan fenomena itu. mencium bau melalui indera penciuman . maka pel ajaranpelajaran mudah terlebih dulu yang dipelajari. Mereka yang tidak merenungkan pada saat kemunculannya tidak akan mengerti bahwa 'mereka segera padam dan tidak kekal'. maka mereka disebut upadanakkhandha atau kelompok yang menimbulkan kemelekatan . Keduanya itu merupakan kelompok meteri (rupa). dibandingkan objek-objek dari pintu indera (upad arupa) ketika melihat. keduanya di cerap. namun anatta di mana mereka merupakan subjek bagi sebab dan akibat di dalam proses muncul dan padam. Inilah alasan mengapa lima upadanakkhandha secara jelas dicerap dengan jelas pada saat melihat objek penglihatan melalui pintu indera penglihatan ('mata'). Mereka semata-mata kelompok batin. mencium bau. seyogyanya dipilih sebaga i objek perenungan awal atau utama di dalam vipassana-kammatthana. Walaupun fenomena jasmani dan batin muncul dengan jelas pada saat melihat. kelima upadanakkhandha dicerap dengan jelas pada saat mendengar suara melalui indera pendengaran. Mirip seperti di sekolah. Di dalam vipassana. mengetahui objek batin melalui indera pikiran. perasaan (vedana). Saya mencerap . mencerap rasa kecapan melalui indera pengecapan. latihan dimulai dengan merenungkan hal khusus. mendengar. dengan membuat catatan secara batiniah seperti : 'duduk. sebagai ketentuan keharusan saat memulai pelajaran. batin dan materi. Saya merasakan . vedana upadanakkhandha. tidaklah mungkin bagi seorang pemula untuk merenungkannya di dalam urutan kemunculannya pada saat memulai latihan vipassana. mencium bau. objek yang paling mudah hadir di dalam jasmani. bahwa mereka 'muncul dan padam tanpa henti dan oleh karenanya tidak memuaskan'. mengecap. maka fenomena materi yang lebih mudah dicerap. Mereka secara egois menganggap Saya melihat .mendengar. Pada saat melihat. maka dengan jelas akan dapat diamati sensasi kontak jasmani pada paha atau kaki atau bagian . Mereka bukanlah menyenangkan. bukan pula 'orang'. Oleh karena itu. Dari kedua jenis fenomena. mungkin dialami unsur batin maupun unsur fisik/materi. tidak memuaskan dan 'anatta'. duduk'. bahwa mereka bukan atta bukan pula keberadaan hidup. Dengan cara yang sama.

Saat perut dirasakan mulai turun (mengempis) seyogyanya direnungkan di dalam batin sebagai 'mengempis'. duduk. bila menginginkan sesuatu seyogyanya direnungkan 'ingin'. maka perhatian seyogyanya ditetapkan pada ko ntak jasmani saat aliran nafas masuk dan keluar dengan cara merenungkan 'kontak. Kemudian akan dirasakan bahwa perut mengembang dan mengempis dan gerakan perut selalu hadir. 'turun' dan dilakukan . Apabila pada saat permulaan latiha n. disebabkan oleh aliran keluar dan masuknya nafas. Inilah ilustrasi untuk menunjukkan tata cara perenungan. apabila merasa malas atau sena ng seyogyanya direnungkan sebagai 'malas' atau 'senang'. Namun demikian. Pengembaraan batin ini seyogyanya direnungkan sebagaimana mereka muncul. apabila pikiran bermaksud sesuatu seyogyanya direnungkan sebagai 'bermaksud'. Perhatian seyogyanya ditetapkan secara bertahap dengan tahap turunnya perut sejak mulai hingga berakhir. kont ak'. atau kecewa. turun'. Jadi. Apabila hal ini pun sulit dilakukan maka perenungan seyogyanya ditetapkan dengan memperhatikan gerakan perut yang mengembang dan mengempis. Pertama-tama perhatian seyogyanya ditetapkan pada perut. kontak' sulit untuk dimulai. Apabila pikiran sedang merenung. agar mencapai sasaran perenungan seyogyanya dilaksanakan secara berulang-ulang dalam batin dengan kata-kata khusu s atas objek-objek yang bersesuaian. namun mereka seyogyanya diulangi di dalam batin. Perhatian khusus Disebutkan di sini bahwa kata-kata 'naik/mengembang' dan 'turun/mengempis' seyogyanya tidak diulangi dengan mulut. Saat perut mengembang seyogyanya direnungkan dengan ditetapkan secara bertahap dengan tahap naiknya perut sejak mulai hingga berakhir. duduk. apabila perenungan dengan cara demikian seperti 'kontak . perenungan seyogyanya kembali kepada objek semula 'naik'. seyogyanya direnungkan sebagai 'merenung'.tubuh lainnya. perenungan akan sia-sia dan tidak efektif dan banyak kemunduran seperti perhatian gagal untuk mencapai cukup dekat terhadap objek yan g dituju. objek tidak jelas perbedaannya dan dicerap secara terpisah dan bahwa ene rgi yang dibutuhkan menjadi bekurang. Namun demikian. Di dalam kenyataannya. mempercepat atau membuat nafas dalam seyogyanya tidak dilakukan. Ilustrasi Apabila dialami bahwa pikiran mengembara ke objek yang bukan sedang diamati. Kemudia n. 'kecewa'. Aliran nafas alamiah seyogyanya dipelihara. Ketika sedang dalam perenungan seperti 'naik. Perenungan seyogyanya dilakukan secara berulang hingga faktor batin yang mengembara ini padam. dalam hal gembira. Sensasi kontak jasmani khusus ini seyogyanya diambil sebagai objek tamb ahan bersama 'duduk' dan secara berkesinambugan direnungkan sebagai 'kontak. gerakan naik dan turunnya perut tidak jelas dengan hanya menetapkan perhatian ke pada perut. kontak'. seyogyanya direnungkan sebagai : 'mengembara'. kata-kata bukan kepentingan yang nyata. atau marah. seyogyanya direnungkan sebagai 'gembira'. 'marah'. mungkin akan terdapat bany ak kesempatan ketika batin ditemukan mengembara ke objeknya masing-masing. satu atau kedua tangan seyogyanya ditempatkan pada perut. dengan hanya merenungkan yang dilakukan melalui tindakan sederhana dari pengamatan batin tanpa aktivitas pengulangan di dalam batin. Penekanan nafas . Just ru mengetahui gerakan perut dan gerakan jasmani yang sebenarnya merupakan kepentingan yang nyata.

'mengayun'.secara berkesinambungan. 'mengangkat' . perhatian seyogyanya difokuskan ke titik sensasi dan perenungan dilakukan seperi : 'lelah. meletakkan kaki '. Perenungan seyogyanya dilaksanakan dilaksanakan terhadap setiap sensasi fisik da n perasaan batin (vedana) untuk mengetahui sifat alamiahnya ketika mereka muncul. maka perenungan dikembalikan ke 'naik. Dalam kasus perubahan posisi dari duduk menjadi berdiri dan perubahan ke posisi berbaring. lelah'. dan sebagainya muncul di dalam jas mani. meregang. sesuai kasusnya. Secara singkat. Perenungan juga seyogyanya dilaksanakan terhadap semua gagasan/ide/faktor batini ah dan seterusnya. Apabila seseorang akan mendengarkan sesu atu. dapat dikatakan bahwa perenungan seyogyanya dilaksanakan terhada p semua aktivitas jasmani dan anggota tubuh seperti menekuk. seyogyanya direnungkan sebagai 'mendengar'. seperti rasa lelah pada anggota tubuh atau perasaan panas atau nyeri. turun' peru t sesuai objek semula. Apabila sensasi tak menyenangkan itu telah paham. Kemudian perenungan dikembalikan ke 'naik'. sesuai urutan proses perubahan tersebut. mengangkat. Di dalam hal berjalan. perenungan seyogyanyan dilakukan dengan menetapkan perhatian terhadap setiap pergerakan mayor yang nyata dari jasmani dan anggota tubuh sesuai urutan proses pergerakan perubahan tersebut. 'bergerak'. bergerak. seyogyan ya direnungkan sebagai 'melihat. 'meletakkan ke bawah'. Di dalam perubahan posisi ini pun perhatian seyogyanya ditetapkan kepada gerakan yang paling nyata (mayor) dari tubuh/jasmani dan anggota tubuh dan perenungan dilaksanakan seperti 'menekuk'. berjalan' ata u 'bergerak maju. 'mendengar'. Apabila sesuatu dilihat tanpa diperhatikan. 'nyeri. 'panas. Pada saat sesuatu sedang diperhatikan. 'meregang'. dan seterusnya. 'turun'-nya perut sesuai objek semula. perenungan seyogyanya dilakukan dengan menetapkan perhati an terhadap gerakan setiap langkah dari saat mengangkat kaki hingga kembali meletak kan kaki dan dengan membuat catatan secara batiniah sebagai 'berjalan. melihat'. 'merenungkan'. seyogyanya direnungkan sebagai 'memperhatikan'. dan seterusnya. Namun apabila sensasi nyeri begitu kuat sehingga mereka tidak dapat ditoleransi lagi. panas'. maka posisi tubuh dan posisi tangan serta kaki harus diubah maka meringankan sit uasi. Apabila tidak terdapat objek yang outstanding yang dapat direnungkan ketika berdia m dengan tenang dalam posisi duduk atau berbaring. Apabila perubahan itu telah selesai maka perenungan dikembalikan kepada 'naik'. untuk mengetahui bentuk sebenarnya ketika mereka muncu l. untuk mengetahui sifat alamiah mereka sebagaimana mereka muncul. Apabila pikiran merenungkan mengikuti maka seyogyanya direnungkan sebagai 'merenungkan'. bergerak maju'. Apabila sesuatu didenga r tanpa mendengarkan seyogyanya direnungkan sebagai 'mendengar'. maka perenungan seyogyanya . 'melihat'. atau 'mengangkat. 'mendengar'. Apabila sensasi yang tidak menyenangkan (dukhavedana). nyeri'. bergerak maju. 'turun 'nya perut sesuai objek semula.

berpikir. Di dalam kasus samatha-bhavana seseorang harus merenungkan secara berkesinambungan terhadap objek semula dari samatha untuk membuat batin terkonsentrasi dengan kuat hanya kepada objek tersebut. Namun seorang siswa yang baru saja mulai melatih perenungan belum dapat merealis asi perubahan yang demikian cepat. dan perenungan dikembalikan kepada objek semula secara berkesinambungan. namun mereka seyogyanya ditekan. terdapat dua jenis kasus perenungan lain yang sudah disebutkan di atas. tak dapat membaca begitu cepat dan baik bila dibandingkan dengan orang yang telah belajar dengan mahir. Namun. maka tidak dibutuhkan kembali semuanya untuk kembali ke objek utama dan pertama. tidak ada perlakuan khusus untuk merenungkan faktor batin yang mengembara. Perenungan seyogyanya dilaksanakan pada setiap saat dari melihat. turun seperti semula. Namun demikian. seorang siswa seyogyanya berupaya untuk merealisas i muncul dan padamnya faktor batin tidak kurang daripada sekali setiap detik pada tahap permulaan latihannya. maka perenungan seyogyanya dikembalikan kepada objek naik . Inilah latihan dasariah latihan Vipassana secara singkat. Oleh karena itu tidak diperlukan u ntuk merenungkan rintangan batin seperti faktor batin yang mengembara yang muncul sewaktu-waktu. Di dalam hal Samatha-Kammatthana. yang lebih mudah dijelaskan dan mudah untuk direnungkan. mencium bau. Seperti ditunjukkan di dalam bagian Samatha-Kammatthana. di dalam vipassana-bhavana. Ini adalah satu dari butir-but ir perbedaan antara samatha-bhavana dengan vipassana-bhavana di dalam hal mengatasi rintangan batin (nivarana). Siswa yang telah berkembang. __________________ VI. para siswa akan gagal untuk mengamati banyak aktivitas jasmani dan batin pada sa at permulaan latihan. dan (2) perenungan terh adap impresi kontak di dalam nafas masuk dan keluar. sementara itu di dalam Vipassana-Kammathana perenungan juga harus dilakukan terhadap faktor batin yang mengembara itu. Mirip seseorang yang mulai belajar. Tidak dibutuhkan untuk mengamati fenomena batin dan fisik yang lain. dengan cara perenungan kontinyu ini. mengecap ras a. sala h satu dapat dipilih sebagai objek utama atau pertama di dalam perenungan. Namun demikian. Di dalam merealisasi kondisi perenungan yang luhur yang memungkinkan untuk merenungkan setiap objek sebagaimana mereka muncul. y aitu (1) perenungan terhadap posisi tubuh duduk dan sentuhan. di mana apabila diinginkan. bergagasan dan seterusnya sesuai urutan kemunculan mereka. PERKEMBANGAN KONSENTRASI VIPASSANA (VIPASSANA SAMADHI) DAN PENGETAHUAN BIJAKSANA PANDANGAN TERANG (VIPASSANA NANA) Bila tidak berupaya kuat untuk melaksanakan perenungan seperti disebutkan di ata s.dilaksanakan dengan selalu menetapkan perhatian terhadap kontak jasmaniah. semua fenomena batin dan jasmani yan . sebagai objek utama dan pertama di dalam perenugan. Oleh karena itu. Hanya perlu menyingkirkannya sesegera mungkin saat mereka muncul. Setelah perenungan dengan cara ini. petunjuk-petunjuk yang diberikan di sini untuk memperlakukan atau menjaga perhatian kepada naik dan turunnya gerakan perut. mengetahui sentuhan jasmani. terdapat banyak rintanan batin (Nivarana) yang menyebabkan batin mengembara ke arah objek lain. konsentrasi (samadhi) dan pandangan bijaksana ke dalam (nana) yang cukup kuat akan secara mandiri merealisasi muncul dan padamnya batin sangat sering di dalam satu detik. mendengar.

Fenomena batin. Sekarang batin terbebas dari kamacchanda (nafsu indera) dan rintangan batin (niv arana) lainnya dan oleh karena itu sama seperti pada tingkat seperti Upacara-samadhi (konsentrasi berdekatan) yang disebutkan di dalam bagian Samatha-kammatthana. ditemukan bahwa batin yang merenungkan dan objeknya selalu datang bersama dan terkonsentrasi. menekuk. maka hanya ada perenungan murni yang terpusat. menyenangkan dan atta (aku) akan muncul. Apabila mereka tidak direnungkan. menurunkan . melihat. maka kemelekatan dan pandangan keliru bahwa mereka kekal.g muncul melalui enam pintu indera harus diamati. dan seterusnya. maka hampir tidak akan ada l agi faktor batin yang mengembara. yang sedang direnungkan. meregang. turun. Segera setelah faktor batin mengembara ke objek la in. Pada tahapan perenungan ini. oleh karena itu menghindari mereka tidaklah cukup seperti dalam kasus samatha. dicerap pada setiap saat perenungan di dalam setiap bentuk y ang terpisah tanpa bercampur dengan batin yang merenungkannya atau dengan fenomena materi lain. Jasmani tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui. Apabila faktor batin yang mengembara ini direnungkan secara berkesinambungan dengan cara ini dalam jangka waktu yang cukup lama. mendengar. ditemukan b ahwa perenungan dilaksanakan tanpa interupsi karena faktor batin dicerap segara saat faktor batin itu mulai muncul. seperti merenungan berpikir. . Pengetahuan bijaksana atas pembedaan fenomena fisi k dan batin sebagai dua proses yang terpisah disebut Nama-rupa-pariccheda-nana (pengetahuan bijaksana yang dapat membedakan dengan jelas fenomena batin dan jasmani). juga dicerap pada setiap saat perenungan di dalam keadaan terpisah t anpa dicampuri oleh fenomena materi lain atau fenomena batin lain. jasmani dan batin yang mengetahui jasmani dicerap secara jelas dan ter pisah sebagai dua hal yang berbeda. Objek vipassana a kan lengkap hanya apabila seseorang merenungkan terhadap semua fenomena itu sehingga mengetahui dengan jelas sifat alamiahnya dan tidak melekat terhadapnya. menaikkan. Inilah yang disebut Citta-visuddhi (kemurnian batin). maka akan muncul sebuah pengertian jelas bahwa fenomena 'hanya terdiri dari proses batin d an fisik'. da n seterusnya. Pada setiap saat bernafas. Oleh karena itu apabila dan keti ka rintangan batin seperti misalnya batin merenungkan sesuatu selain objek perenung an semula atau batin menikmati nafsu atau keserakahan dan sebagainya mereka juga ha rus direnungkan. Di dalam beberapa kasus. Dengan terealisasinya perkembangan pengetahuan bijaksana (nana) selama satu peri ode waktu yang baik di dalam latihan perenungan yang berkesinambungan. batin segera memperhatikan dan merenungkannya dan kemudian pengembaraan tersebut tidak berlangsung lebih jauh lagi. Begitu batin tidak lagi bercampur dengan rintangan batin yang menyebabkan mengembaranya batin. Kemudian fenomena fisik seperti naik. Terkonsentrasinya batin terhadap objek nya ini disebut Vipassana-khanika-samadhi (konsentrasi sementara dari pandangan terang).

Sebagai ilustrasi : Seorang siswa mencerap kenyataan bahwa dikarenakan batin menginginkan untuk membungkuk atau bergerak atau meregang atau mengubah posisi tubuh. tidak terdapat aku atau Atta. dan dikarenakan kehendak untuk mengarahkan. Dengan melanjutkan perenungan lebih jauh. Lagi. yang memandang kehidupan sebagai indah dan menyenangkan dan kehadiran Tanha (keinginan rendah). dan dikarenakan mengkonsumsi makanan maka akan selalu muncul energi fisik yang baru. dicerap bahwa materi/jasmani dan batin muncul dan padam pada setiap saat perenungan. Sekarang keraguan ini tidak dapat muncul karena mereka telah diatasi. Dengan mengerti kenyataan sebab-musabab yang saling tergantung (paticcasamuppada ) ia akan datang pada satu kesimpulan bahwa hidup di masa lampau adalah sebuah formasi materi dan batin. Namun batin memiliki kemampuan merenungkan. objek pendengaran. Dengan meneruskan perenungan lebih lanjut. Sebelum mengembangkan pengetahuan benar kenyataan bahwa "kehidupan terdiri dari batin dan jasmani yang tergantung atas 'sebab-musabab yang terkait' terdapat ban yak keraguan skeptis apakah terdapat SAYA di waktu lampau. dicerap bahwa fenomena materi/fisik d an batin yang muncul di dalam jasmani merupakan efek atau hasil dari sebab-sebab ya ng bersesuaian dengannya. yang tergantung dari sebab musabab yang terkait dan dengan demikian akan ada proses yang mirip pada kehidupan di masa mendatang . mendengar.menekuk. indera pendengaran. Lagi. maka muncul aksi atau tindakan membungkuk. meregang. dan seterusnya. Pandangan murni seperti ini disebut Kankha-vitarana visuddhi (Kemurnian pandangan yang muncul setelah mengatasi keraguan). kesadaran-kesadaran (vinnana) baru. ma ka muncullah kesadaran melihat. dan dikarenakan kemelekatan terhadap perbuatan-perbuat an tersebut yang telah dilakukan. Pengertian bijaksana ini disebut Anicca-sammassana-Nana (Pengertian bijaksana akan ketidak-kekalan fenomena alam). melihat. ia mencerap kenyataan bahwa dikondisikan kehadiran Avijja (kegelapan/kebodohan batin). maka sela lu terdapat perubahan di dalam kondisi fisik apakah menjadi dingin atau panas. tergantung atas formasi/bentukan materi/jasad yang baru. memindahkan. ia mencerap kenyataan bahwa dikarenakan kehadiran/adanya indera penglihata n dan objek penglihatan. . dan sebagainya. semua jenis perbuatan dipikirkan dan dilakukan. Lagi. Pengetahuan bijaksana membedakan sebab musabab yang saling tergantung ini disebut Paccaya-pariggaha-nana (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari pengertian pengalaman penuh akan sebab-musabab fenomena). Terpisah dari dua faktor ini. apakah SAYA berada hanya dalam kehidupan ini atau apakah SAYA akan terus ada di waktu mendatang" dengan memegang pandangan bahwa formasi/perpaduan meteri/jasmani dan batin adalah ATTA atau DIRI . dan seterusnya. ia mencerap kenyataa n bahwa kematian bukanlah kematian bukanlah sesuatu hanya padamnya kesadaran terakhir di dalam urutan kelangsungan kesadaran. dan seterusnya. di dalam urutan yang sangat cepat dan berkesinambungan. Pengertian jelas ini disebut Ditthi-vis uddhi (Kemurnian Pandangan). bergerak. maka muncullah. dan lahir adalah munculnya sebu ah kesadaran baru di dalam urutan kelangsungan kesadaran ini. memikirkan. atau mengubah posisi tubuh. maka batin mencapai objeknya. mendengar. dikarenakan fluktuasi di dalam temperatur/suhu.

Pengertian bijaksana ini disebut Anatta-sammassana-nana (Pengertian bijaksana terhadap segala sesuatu yang bukan atta atau bukan diri). Namun demikian sepuluh fenomena ini adalah jalan yang sala h (Amagga). Muncul dan padamnya fenomena materi pada setiap gerakan di dalam hal satu geraka n membungkuk atau meregangkan tangan atau kaki atau di dalam hal satu langkah. namun muncul dan padam sesuai dengan sifa t alamiah dan kondisi relatifnya. Keyakinan kuat tak terhingga terhadap Tiratana (Adhimokkho ti saddha) 5. yang mengkondisikan terhambatnya latihan vipassana sehingga menjadi kotor (vipassanupakkilesa).Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara konstan muncul dan padam. siswa tersebut dapat terbuai sehingga ia tidak dapat lagi menja ga mulutnya. Ia sering kali menganggap bahwa ia telah merealisasi pencerahan sempurna. namun hanya merupakan dukkha. seringkali muncul pengalaman-pengalaman aneh. Kemampuan di dalam melaksanakan perhatian murni tanpa kehilangan objek (Upatthana) 9. Inilah indikasi awal atau tahap permul aan dari 'Udayabbaya-nana' (pengetahuan bijaksana atas muncul dan padamnya fenomena) yang lemah. Setelah merefleksikan kenyataan-kenyataan ini selama ia inginkan. Semangat yang sangat tinggi atas pelaksanaan perenungan/meditasi (Paggaha) 6. Keputusan murni ini adalah indikasi Maggamagga-nana-dassana-visuddhi (kemurnian pandangan benar terhadap jalan dan bukan jalan). siswa itu melanjutkan dengan perenungan tanpa refleksi lebih lanjut. set . maka direalisasi bahwa mereka bukan atta atau diri . Melekat terhadap fenomena dhamma butir 1 9 (Nikanti) Oleh karena itu. I a tiba pada keputusannya ini sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya dari penga laman atau sesuai dengan petunjuk gurunya. Keseimbangan batin (Upekkha) 10. Cahaya yang gemilang (Obhasa) 2. tidak memuaskan. Kegiuran batin (Piti) 3. Sikap batin tenang (Passaddhi) 4. Kegembiraan yang mencakup ke seluruh tubuh (Sukkha) 7. umumnya ia menceritakan pengalamannya. Ia kemudian mencerap dengan sangat jelas permulaan dari setiap objek perenungannya. dan bahwa metode perenungan yang tepat untuk merealisasi pencerahan sempurna adalah hanya dengan mengobservasi secara konstan terhadap semua fenomena yang muncul. Pengetahuan bijaksana ini disebut Dukkha-sammassana-nana (Pengertian bijaksana terhadap kondisi yang tidak memuaskan). Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara alamiah tidak mengikuti perintah keinginannya. bahwa mereka secara konstan dicengkeram oleh muncul dan padam mereka dipandang sebagai bukan menyenangkan juga tidak patut digantungi. Setelah tiba pada keputusan ini dan diteruskan dengan melanjutkan perenungannya pengalaman-pengalaman melihat bayangan batin dan perasaan-perasaan lainnya secar a bertahap akan berkurang dan pencerapan objek menjadi lebih jelas dan lebih jelas lagi. seperti : 1. Ia juga mencerap dengan sangat jelas padamnya setiap objek perenungannya seolah-olah diputus deng an jelas. dukkha dan anatta tanpa halangan (Nana) 8. Pandangan yang tajam terhadap sifat alamiah anicca. Kemudian siswa itu memutuskan pengalaman melihat bayangan batin dan perasaanpera saan lainnya bukanlah perealisasian pencerahan sempurna yang sesungguhnya. Pada tahap ini.

Dilanjutkan den gan perenungan atas objek-objek dengan keseimbangan batin hanya memperhatikan objek tanpa terlarut di dalam kesenangan maupun ketidaksenangan. Pengertian bijaksana ini muncul merealisasi bahwa fenomena fisik dan batin yang muncul melalui enam pintu indera pada saat itu tidak kekal. Setelah Anuloma Nana. Ketika Patisankha-nana ini masak. Pandangan terang mulai dari Udayabbaya-Nana yang masak sampai dengan Anuloma-nana secara kolektif dikenal sebagai Patipada-nana-dassana-visuddhi (Kemurnian dengan pengertian bijaksana dan pandangan terang yang muncul akibat telah mengikuti latihan yang benar). perenungan berlanjut secara otomatis mirip sebua h jam tanpa upaya khusus bagi pencerapan dan pengertian bijaksana. Magga Nana disebut Nana-dassana-visuddhi (Kemurnian pandangan). Ini adalah Paccavekkhana-nana (Pengertian bijaksana dari retropeksi/perenungan mendalam). Perenungan itu mengalir tanpa hambatan seolah terbebas dari Upakkilesa (ketidakmurnian). dua jam atau tiga jam . Saat kemunculan Magga dan Phala Nana tidak berjeda waktu sedetik pun. Khas Anicca. dengan kejelasan khusus yaitu dukkha. Dukkha. tanpa lelah atau bosa n. Ini adalah nana atau pengertian bijaksana yang tepat bagi 8 vipassana nana yang mendahuluinya dan Magga-nana (Pengertian bijaksana atas Jalan) yang mengikutinya. dan . pencerapan terhada p objek-objek dijumpai lebih cepat. disebut Sankharupekkha-nana (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari keseimbangan batin terhadap sankhara). muncullah pengertian bijaksana yang khusus sangat cepat dan a ktif. dimana duka cita dan ketidakpuasan yang berhubungan dengan fenomena fisik dan batin padam secara tota l. Setelah pengertian bijaksana (Nana) ini diperoleh cukup kuat. Kemudian muncul Sotapati Magga Nana dan Phala Nana (Pengetahuan bijaksana dari Jalan Suci pemenang arus dan buahnya) yang merealisasi Nibbana. Ini adalah Patisankha-nana (Pengertian bijaksana yang muncul dari perenungan yang lanjut). tidak memuaskan. Kemurnian segera disusul kemunculan refleksi atas pengalaman khusus Magga. Anatta. Phala dan Nibbana . dan bahkan dapat berakhir dalam jangka waktu yang begitu lama. Seseorang yang telah merealisasi Paccavekkhana-nana sesuai urutan itu disebut se bagai makhluk Sotapanna (Pemenang arus). muncullah Gotrabhu-Nana (Pengertian bijaksana memenangkan kesucian) dimana Nibbana adalah objeknya. Perenungan ini begitu damai dan tanpa upaya khusus saat itu dan dilanjutkan dengan mengetahui objek-ob jek begitu otomatis dan dapat berlangsung lebih dari satu jam.iap fregmen (bagian) dari satu gerakan akan dengan sangat jelas diamati. Akhir atau padamnya objek lebih jelas dicerap daripada permulaan Upacara (pendekatan) dan Anuloma (adaptasi). Pengertian bijaksana yang muncul langsung menuju sebuah jalan mulia ini yang jug a dikenal sebagai Vuitthana (elevasi) adalah Vutthana-gamini-vipassana-nana (Pengetahuan bijaksana menuju elevasi yang lebih luhur). Keluar dari perenungan ini yang dilanjutkan secara otomatis dan dengan momentumn ya merealisasi objek. Inilah kema tangan atau tahap akhir dari Udayabbaya-Nana . Ini adalah pengertian bijaksana yang memotong kekerabatan Puthujjana (makhluk awam duniawi) dan memasuki kekerabatan Ariya (makhluk suci). Pencerapan yang muncul dalam jangka waktu lama ini merealisasi sifat alamiah obj ekobjek perenungan secara otomatis dan tanpa terlibat di dalam kesenangan dan ketidaksenangan.

bukan diri/aku. Pengertian bijaksana terakhir adalah Anuloma-nana (Pengertian bijaksana atas adaptasi) yang terdiri dari tiga javana (saat-saat dorongan) disebu t Parikamma (persiapan), seyogyanya melaksanakan latihan meditasi sesuai dengan petunjuk yang diberikan di atas. Semoga semua makhluk dapat melaksanakan latihan Meditasi dan merealisasi Nibbana . __________________ KETERANGAN BEBERAPA ISTILAH PENTING Ariya Sacca Kebenaran Suci, terdapat 4 jenis : a. Dukkha sacca = Kebenaran suci tentang 'penderitaan' b. Samudaya sacca = Kebenaran suci tentang penyebab 'penderitaan' c. Nirodha sacca = kebenaran suci tentang padamnya 'penderitaan' d. Magga sacca = Kebenaran suci tentang jalan untuk terbebas dari 'penderitaan'. Bhavana a. Samatha - bhavana Pengembangan ketenangan batin. Secara sementara kekotoran batin tertentu mengend ap (lihat nivarana). Objek samatha-bhavana ini merupakan pannatti (konsepsi batin). b. Vipassana bhavana Pengembangan kebijaksanaan melalui pengamatan dan perhatian murni terhadap fenomena batin dan jasmani yang dicengkeram oleh sifat universal (lihat Tilakkha na). Hasil akhirnya, kekotoran batin terbasmi hingga ke akarnya. Objek vipassana-bhav ana ini merupakan paramattha (hakekatnya sesungguhnya segala sesuatu yang dialami). Dukkha a. Di dalam sifat alamiah universal (Tilakkhana), mengandung pengertian = tidak memuaskan. Dukkha jenis ini meliputi makhluk hidup suci atau tidak suci dan juga bukan makhluk hidup. b. Di dalam kebenaran suci tentang dukkha (Dukkha sacca), mengandung pengertian = penderitaan biasa (dukkha-dukkha), penderitaan yang inheren karena perubahan (viparinama dukkha), penderitaan yang inheren bagi mahluk yang merupakan perpaduan (sankhara dukkha). Dukkha jenis ini hanya berkenaan dengan makhluk hid up yang belum suci. Ekaggata a. Sebagai faktor batin bersifat netral (bukan baik juga bukan tidak baik), meng andung pengertian faktor batin yang berfungsi memusatkan batin terhadap objek yang diam ati. b. Di dalam faktor jhana, mengandung pengertian sebagai faktor batin yang berfun gsi menekan kamachanda-nivarana (hasrat nafsu indera). Jhana Kondisi batin yang melekat kuat terhadap objek (arammana) yang dialami. Objek ya ng dialami oleh batin selama di dalam kondisi jhana merupakan objek yang bukan sesungguhnya atau bersifat konsepsi batin (pannatti). Khanda Mengandung pengertian sebagai kelompok perpaduan; umum pula dijumpai dalam istilah upadanakkhandha yang berarti kelompok perpaduan yang berpotensi menimbulkan kemelekatan. Khandha terdiri dari 5 lima kelompok yaitu : a. Vedanakkhandha = kelompok perpaduan perasaan, yaitu perasaan yang menyenangkan, perasaan tidak menyenangkan dan perasaan netral (bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan). b. Sannakkhandha = kelompok perpaduan pencerapan. Fungsinya menandai objek, mencerap objek yang dialami, mengkondisikan pengenalan terhadap objek.

Apabila makhluk Anagami melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah pandangan untuk merealisasi Anagami Phala-sampatti , maka ia akan merealisasi tingkatan tersebut. Apabila ia melaksanakan latihan bagi tingkatan yang lebih luhur, maka Vipasanna-nana akan dikembangkan di dalam urutan yang sama seperti sebelumnya da n di dalam kematangan yang penuh ia akan merealisasi Nibbana dengan pandangan tera ng Arahatta Magga dan Phala (jalan kesucian Arahat dan buahnya) dan menjadi makhluk suci Arahat. Makhluk Arahat telah terbebas dari lima belenggu (samyojana ) yang masih tersisa, yaitu : 1. Rupa-raga (hasrat untuk keberadaan bermateri halus) 2. Arupa-raga (hasrat untuk keberadaan tanpa materi) 3. Mana (kesombongan) 4. Uddhacca (kegelisahan batin) 5. Avijja (kegelapan atau kebodohan batin) secara bersama dengan semua kilesa (kekotoran batin) Pada akhir masa kehidupannya saat ini ia akan Parinibbana, dan tidak akan tumimb al lahir lagi, ia secara mutlak terbebas dari duka ketuaan, kesakitan, kematian, da n seterusnya. Dengan tetap berpandangan terhadap kebebasan ini bahwa pertanyaan pada permulaan artikel ini : Apakah tujuan utama melaksanakan latihan meditasi telah diberikan jawabannya sebagai berikut : Latihan meditasi dilaksanakan untuk tujuan utama merealisasi Nibbana dan terbebas dari duka cita kehidupan di dalam bentuk ketuaan, kesakitan, kematian, dan seterusnya . Oleh karena itu mereka semua yang dengan tekun berharap untuk merealisasi Nibban a dan merealisasi kebebasan mutlak atau kemunculannya. Objek-objek perenungan nampak padam. Bentuk dan ukuran tangan, kaki, kepala, jasmani dan seterusnya tid ak dicerap lagi. Hanya kepadaman jasmani dan batin yang dicerap pada setiap saat perenungan. Bahkan, perenungan batin dicerap padam bersama objek perenungannya setiap saat. Pengertian bijaksana atas proses kepadaman ini di dalam pasangan ba tin dan objeknya adalah Bhanga-nana (pengetahuan bijaksana akan proses padamnya fenomena). Dengan terus-menerus mencerap proses yang selalu padam di dalam tiap pasang bati n dan objeknya maka akan tiba kemunculan perealisasian bahwa setiap fenomena dapat menimbulkan ketakutan. Ini adalah Bhaya-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang menakutkan). Kemudian akan disusul dengan munculnya pengertian bijaksana merealisasi ketidaksempurnaan fenomena batin dan materi. Ini adalah Adinava-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang tidak memuaskan). Kemudian akan disusul dengan pengertian bijaksana merealisasi sifat alamiah feno mena yang tidak menarik dan membosankan. Ini adalah Nibbida-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang membosankan). Apabila direalisasi bahwa sungguh baik apabila tidak terdapat fenomena fisik mau pun batin yang secara konstan datang/muncul dan padam di dalam cara demikian, muncul lah pengertian bijaksana, mencari kebebasan dari ketidakpuasan terhadap fenomenafeno mena ini. Ini adalah Muccitu-kamyata-nana (Pengetahuan bijaksana dari niat untuk terbebas).

Dengan lebih lanjut merenungkan disertai keinginan kuat untuk terbebas, munculla h sebuah persepsi kuat atas sifat alamiah Sotapanna terbebas dari tiga belenggu (samyojana) sebagai berikut : 1. Pandangan keliru bahwa fenomena kelompok perpaduan fisik dan batin adalah ego , atau diri. (Sakkaya-ditthi kepercayaan bahwa fenomena fisik dan batin adalah dir i). 2. Keraguan atas Buddha, Dhamma dan Sangha serta disiplin (Vicikiccha). 3. Kepercayaan bahwa metode di luar pengembangan jalan mulia berunsur delapan (Ariya Magga) dan di luar pengembangan pandangan terang di dalam empat kebenaran mulia (Ariya Sacca) dapat membawa kebahagiaan sejati (Silabbata-paramasa kepercayaan hanya terhadap ritual dan upacara membawa ke kesucian). Lebih lanjut, bahwa observasinya terhadap pelaksanaan lima kaidah kemoralan menj adi murni dan mutlak. Bagi alasan inilah, Sotapanna tidak mungkin tumimbal lahir ke alam yang tidak menyenangkan, yang rendah (Apaya loka). Ia akan menjalani kehidupan bahagia di dunia manusia dan para dewa selama tujuh kali tumimbal lahir maksimum , dan selama periode ini ia akan merealisasi tingkat kesucian Arahat. Apabila Sotapanna melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah niat untuk merealisasi Phala-samapatti (perealisasian buah), ia kemudian akan mencapai keadaan itu dan menetap dengan objek Nibbana untuk jangka waktu 5 atau 6 menit, atau setengah jam, atau satu jam. Apabila ia cukup baik terlatih di dalam latihan perealisasian Phala-samapatti maka ia akan merealisasinya dengan sangat cepat dan menetap di dalam objeknya itu selama sehari penuh atau bahkan semalaman atau leb ih lama lagi. Apabila ia melaksanakan perenungan terhadap Upadanakkhanda di dalam cara yang sama seperti yang telah disebutkan di atas dengan sebuah pandangan untuk mereali sasi tingkat Magga dan Phala yang lebih tinggi, maka vipassana-nana akan dikembangkan dari tahapan Udayabbaya-nana dalam urutan yang sama seperti sebelumnya dan dalam kematangan penuh ia akan merealisasi Nibbana dengan pandangan terang dari Sakadagami-Magga dan Phala (Jalan makhluk suci yang paling banyak akan kembali lagi satu kali ke alam nafsu dan buahnya) dan menjadi makhluk Sakadagami (yang kembali satu kali lagi). Ia kemudian terbebas dari nafs u indera (kama-raga) yang kasar dan keinginan buruk (patigha) yang kasar. Ia akan menuju kehidupan bahagia di dalam alam manusia dan dewa maksimum selama dua kali tumimbal lahir dan akan merealisasi tingkat kesucian Arahat selama periode tersebut. Apabila makhluk Sakadagami melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah pandangan untuk merealisasi Sakadagami Phala-Samapatti maka ia akan merealisasi tingkat tersebut. Apabila ia melaksanakan latihan dengan sebuah pandangan merealisasi tingkat Magga dan Phala yang lebih luhur, Vipassana-nana akan dikembangkan di dalam urutan yang sama seperti sebelumnya dan di dalam kematangan penuh ia akan merealisasi Nibban a dengan pandangan terang dari Anagami Magga dan Phala (Jalan makhluk yang tidak akan kembali lagi ke alam yang diliputi nafsu dan buahnya) dan menjadi mak hluk Anagami (Makhluk yang tidak pernah kembali lagi, ke alam nafsu indera). Ia kemud ian secara total terbebas dari dua belenggu/samyojana lebih banyak, yaitu kama-raga (nafsu indera) dan Patigha (keinginan buruk). Ia tidak akan tumimbal lahir lagi di Kama-loka (alam yang diliputi nafsu indera) namun akan tumimbal lahir di Rupaloka (alam dengan materi halus) atau Arupa-loka /alam tanpa materi (bila ia saat itu

tak mengetahui hakekat sesungguhnya segala sesuatu. unsur materi gerak. Timbulnya ini mengkondisikan timbulnya itu. Sankharakkhandha = kelompok perpaduan faktor-faktor/penyerta batin yang baik. Byapada = niat jahat. Uddhacca = kegelisahan batin. Vicikiccha = sikap batin ragu secara skeptis. Avijja = kegelapan batin. Piti Sebagai faktor/penyerta batin berarti kegiuran batin terhadap objek yang dialami . tak dapat membedakan kebaikan dari keburukan. terdiri dari 5. 10. Lokiya dhamma Dhamma yang bersifat duniawi. makhluk dewa maupun brahma/makhluk awam (puthujjhana puggala) yang belum hancur belenggu/kekotoran batinnya. Mana = kesombongan 9. Rupakkhandha = kelompok perpaduan materi/fisik/jasmani. c. Silabbata-paramasa = kepercayaan bahwa hanya dengan ritual keagamaan dapat merealisasi kesucian. unsur materi panas. makhluk manusia. Nivarana Rintangan batin. b. Sakkaya-ditthi = kepercayaan atau pandangan keliru terhadap lima kelompok perpaduan (khandha 5) sebagai inti/aku/diri. 3. phala) dan Nibbana. 2. 4. dan bersifat netral (bukan baik juga bukan tidak baik). Samyojana Adalah belenggu batin. yaitu : a. . yaitu : 1. d. 7. Patigha = niat jahat/dendam. Kamachanda = hasrat di dalam nafsu indera. Uddhacca-kukkucca = sikap batin gelisah/tak dapat memegang objek dengan baik dan khawatir atas perbuatan baik yang belum dilakukan atau perbuatan jahat yang telah dilakukan. 8. formulasi umumnya terdiri dari empat pernyataan. Aruparaga = nafsu untuk tidak memiliki fisik/nafsu untuk tumimbal lahir di al am tanpa materi. c. e. yaitu : Adanya ini mengkondisikan adanya itu. Thina-middha = sikap malas dan lamban d. Lokuttara Dhamma Dhamma yang mengatasi duniawi. fungsinya menyadari objek yang dialami. Paticca-samuppada Sebab-musabab yang saling tergantung. Ruparaga = hasrat untuk memiliki fisik/nafsu untuk tumimbal lahir di alam ber materi halus. yang tidak baik dan yang netral (bukan baik juga bukan tidak baik). 6. unsur materi cairan.makhluk Arupa Brahma) dan ia nantinya akan menjadi Arahat. Dalam hal ini meliputi batin para makhluk rendah. tak mengetahui kebenaran suci. Sebagai faktor jhana merupakan faktor batin yang fungsinya menekan byapada-nivar ana (niat jahat). Vinnanakkkandha = kelompok perpaduan kesadaran. e. yang secara umum terd iri dari unsur materi padatan. Kamaraga = nafsu indera 5. Tidak adanya ini mengkondisikan tidak adanya itu. ada 10 jenis. Vicikiccha = keraguan skeptis. Dalam hal ini meliputi batin para makhluk suci (Ariya puggala) pada saat hancurnya tiga atau lebih belenggu/ kekotoran batinnya (magga. Padamnya ini mengkondisikan padamnya itu.

Di dalam faktor jhana. mengandung pengertian perasaan netral . mengandung penger tian sikap batin seimbang terhadap semua fenomena yang dicengkeram Tilakkhana. hal ini seringkali ditaf sirkan atau diterapkan secara keliru. Vicara a. dikarenakan tidak memiliki pemahaman yang benar sehingga menimbulkan pengaruh yang kurang baik. c. yaitu : a. b. mengandung penger tian = perpaduan. Di dalam khandha 5. . sehingga merupakan bersifat ketidakkekalan (Annica). Di dalam lima kelompok perpaduan/yang berpadu (Khandha 5). tanpa inti. MEDITASI Menerima Diri Apa Adanya dengan Pengertian Benar Dalam kehidupan ini. ba ik sebagai sebab (paccaya) maupun sebagai akibat (pacayuppana) mengandung pengertia n = kehendak (cetana) lampau dan melandasi perbuatan-perbuatan lampau. dikategorikan sebagi faktor batin perasaan (sukkha vedana ) yang berfungsi merasakan objek yang menyenangkan yang dialmi. Akan tetapi. pada dasarnya terbentuk dari dua unsur. b. c. Ditinjau dari cara pandang yang sebenarnya. b. Sebagai faktor/penyerta batin artinya perenungan permulaaan. bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan. Sabbe dhamma anatta = semua dhamma dalam hakekat sesungguhnya adalah tanpa kepemilikan. fungsinya membua t batin mengarah kepada objek yang dialami. "Menerima Diri Apa Adanya". Upekkha a. netral dan buruk. Sebagai faktor/penyerta batin artinya perenungan penopang. tanpa diri. Di dalam sifat alamiah yang berlaku universal (Tilakkhana). berarti memahami proses batin dan jasmani yang bersifat tanpa inti (Ana tta). merupakan faktor batin perasaan yang berfungsi menekan uddhacca-kukkucca-nivarana (kegelisahan kekhawatiran) Tilakkhana Tiga sifat alamiah yang berlaku universal. b. mengandung pengertian = faktor/penyerta batin (cetasika) yang baik. fungsinya membuat batin menambat terhadap objek yang dialami. b. Sabbe sankhara dukkha = semua fenomena perpaduan bersifat tidak memuaskan. dan tidak memuaskan (Dukkha ).Sankhara a. yaitu batin (nama) dan jasmani (rupa). Di dalam fenomena sebab-musabab yang saling tergantung (Paticca-samupada). Sebagai manusia. kita sering mendengar anjuran-anjuran di masyarakat yang menyatakan untuk menerima diri apa adanya. yang baik d an yang tidak baik. di lu ar pencerapan (sanna) dan perasaan (vedana). b. Sabbe sankhara anicca = semua fenomena perpaduan bersifat tidak kekal. Sukha a. Sebagai faktor jhana (jhananga) merupakan faktor penyerta batin yang fungsiny a menekan Vicikiccha-nivarana (keraguan skeptis). Di dalam hal perasaan (upekkha vedana). Sebagai faktor jhana (jhananga) merupakan faktor/penyerta batin yang fungsiny a menekan Thina-middha-nivarana (sikap batin malas dan lamban). Vitakka a. Di dalam hal sikap batin luhur tanpa batas (brahma-vihara).

yan g belum memiliki batin yang telah berkembang. maka perbaikan kondisi jasmani. Selanjutnya. Jadi sudah sewajarnya kita berusah a untuk menjadi lebih baik. Kalau kita memang masih bisa mencapai kondisi yang lebi h baik. apalagi menyalahkan orang lain. kebencian dan kebodoha n batin) Tanpa batin yang terus menerus ditingkatkan. Mere ka harus sepenuhnya membangun kesadaran setiap saat dalam kondisi apapun. setelah berusaha memperbaiki diri. Karena itu. lebih banyak orang yang belum sampai ke tahap pemahaman yang mendalam dan menyeluruh seperti yang didapat dari hasil berlatih Vipassanâ Bhâvanâ.Inilah sifat sesungguhnya dari segala sesuatu yang terbentuk. Mereka mempraktekkan kesadaran saat berjalan. materi. Inilah yang dimaksud dengan "Menerima Diri Apa Adanya" MEDITASI JALAN Oleh : Sayadaw U Silananda Alih Inggris . Dikegiatan penyunyian yang kami selenggarakan. baik atau buruk. kebencian (Dosa) dan ketidaktahuan (Moha) . terutama dari segi batin. inilah yang sebenarnya dimaksud sebagai "Menerima Diri Apa Adany a" dalam meditasi. Jadi. supaya suatu saat. juga merasa puas dengan setiap kondisi yang ada. Merasa puas bukan berarti kita berhenti berusaha menjadi orang yang lebih baik dari segi batin dan jasmani. yaitu kesempurnaan batin (bebas dari keserakahan. sebagai orang awam. Sehin . Kita menerimanya dengan pengertian benar dan merasa pua s sambil terus berusaha untuk menjadi lebih baik lagi dari sekarang dan begitulah seterusnya. berdiri. jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan sehari-hari. Tida k mengeluh ataupun menyesalinya.Indonesia : Chandasili Nunuk Y. kenapa tidak dilakukan. tetap membutuhkan dasar pemahaman yang benar. maka itulah hasil terbaik yang dap at kita peroleh. intelektual. dan kekayaan materi tidaklah banyak membawa manfaat. melainkan ha nya arti pada tingkat permukaan saja. dan materi tidaklah banyak artinya. dan intelektual. yaitu terkikisnya keserakahan (Lobha). duduk dan berbaring. para yogi mempraktekkan meditasi kesadaran (vipassana) dengan menggunakan empat sikap tubuh yang berbeda-beda. apapun ha sil yang diperoleh. maka kemajuan dalam se gi jasmani. Sikap utama tubuh dalam meditasi kesadaran adalah duduk bersila dengan punggung tegak. intelektual. karena tanpa batin yang berkembang menuju arah yang lebih baik . menerima diri apa adanya. Jadi "PENGERTIAN BENAR" yang berkenan dengan anjuran menerima diri apa adanya dalam kehidupan sehari-hari adalah memahami dan menerima. maka aspek batin seharusnya menjadi prioritas u tama untuk diperbaiki. Pada jaman sekarang ini. untuk saat ini. Untuk memahami inipun. menerima sifat sesungguhnya d ari segala sesuatu. Tapi umumnya para yogi sulit duduk berjam-jam tanpa merubah posisi. Dari semua aspek perbaikan diri. tidak dapat mencakup arti yang sesungguhnya. termasuk apa yang kita anggap dan percaya sebagai "aku dan diriku". kualitasnya.K. bisa menc apai tujuan. Kondisi batin kita memang jauh dari sempurna.

Sebagai tambahan para guru terdahulu telah memiliki resep berdasarkan pengalaman praktek meditasi mereka sendiri. Itulah sebabnya para yogi yang berada dalam pengawasan kami diinstruksikan untuk membangun kesadaran sepanjang waktu. mematikan dan menyalakan kompor (sebelum air mendi dih) maka air di dalam teko tidak akan pernah mendidih. Diskusi tersebut berkenaan dengan manfaat. Maksud dari pemahaman yang jernih disini adalah pemahaman yang benar atas segala sesuatu yang diamati. tahu. Dalam bagian yang disebut sikap tubuh Beliau mengatakan seorang yogi tahu. Dalam hal ini praktek meditasi jalan menyatu didalamnya untuk menumbuhkan kesadaran yang berkesinambungan. Karena meditasi jalan sangat penting maka perlu didiskusikan lebih jauh. Sesungguhnya Sang Buddha merupakan orang pertama yang membabarkan praktek meditasi jalan ini. Petunjuk-petunjuk itu telah dipelajari oleh para murid Sang Buddha dan diturunka n dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun demikian kami pernah mendengar orang-orang yang mengkritik praktek meditasi jalan. saya sedang berjalan saat ia sedang berjalan. Saat ini kami memiliki serangkaian petunjuk yang teliti tentang cara mempraktekk an meditasi jalan. Sebelum air mendidih ia mematikan kompor. Jika hal ini terus dilakukan. Jadi. Para pengritik ini mengatakan mereka tidak memperoleh manfaat at au hasil yang baik dari praktek meditasi jalan tersebut. Dengan cara yang sama. saya sedang berdiri ketika sedang berdiri. Untuk membangun konsentrasi ia harus menggunakan kesadarannya. Mulai dari saat bangun dari tidur di pagi h ari hingga terlelap pada malam harinya. pentingnya dan kondisi alami yang bis a dipahami saat mempraktekkan meditasi jalan. jika ada jeda atau celah diantara kesadaran maka kita tid ak akan bisa membangun konsentrasi dengan baik. Lebih jauh Sang Buddha berkata. air di dalam teko tidak langsung mendidih. Meski Sang Buddha tidak memberikan petunjuk secara khusus dan rinci tentang meditasi jalan (hanya penjelasan singkat yang tercatat di dalam sutta) kami perc aya Beliau telah memberikan petunjuk pada suatu waktu. Seorang bhikkhu menggunakan pemahaman yang jernih saat berjalan bolak-balik . Dengan memiliki pemahaman yang benar terhadap pengamatannya seorang yogi dapat membangun konsentrasi. Izinkan kami secara khusus membahas praktek meditasi jalan. Jika kalian adalah p . Pembahasan meditasi jalan Beliau sampaikan dua kali. Para bhikkhu gunakan pemahaman jernihmu . Praktek meditasi kesadaran bisa diumpamakan seperti merebus air. Pertama seseora ng harus mengisi air ke dalam teko. Kita harus menyadari bukan saja pemahaman yang jernih tapi juga kesadaran dan konsentrasi saat sedang berjalan bolak-balik. meditasi jalan merupakan sua tu bagian penting dari proses ini. tahu saya sedang duduk saat sedang duduk dan tahu saat sedang berbaring sebagai saya sedang berbaring . Pada bagian lain yang disebut pemahaman jernih Sang Buddha mengatakan. Meski sesaat kompor dimatikan untuk kemudian dinyalakan lagi sebentar. Lalu teko itu diletakkan di atas kompor kemudia n kompor itu dinyalakan.gga kami mengganti saat-saat duduk meditasi ini dengan meditasi jalan.

ia bisa menyadari semua gerakan itu .ara pemula sang guru akan menasehati untuk sepenuhnya awas pada satu hal selama mempraktekkan meditasi jalan. Tak perlu siapapun mengingatkan . . Setelah beberapa jam atau setelah satu-dua hari bermeditasi kalian akan diberi p etunjuk untuk melakukan dua tahapan dalam melangkah. pelan-pelanlah . kedua proses maju dan ketiga proses meletakkan kaki. Tidak perlu secara sengaja melambatkan lan gkah kaki tersebut. Ini harus dicatat dalam batin sebagai.atau kirikanan kiri-kanan Yang perlu diingat kalian harus berjalan lebih lambat dari biasanya saat sedang berlatih meditasi jalan. Maklum tahapan pergerakan itu belum menempel di pikiran. yaitu melangkah dan meletakkan kaki . maju. secara otomatis ia akan melambatkan langkah kakinya. Dengan demikian semakin lama ia semakin penuh perhatian.. bila seorang yogi ingin memberikan perhatian yang lebih cermat atas gerakan mengangkat.. Dengan kecepatan seperti itu akan sulit b aginya membaca rambu-rambu lalu lintas di pinggir jalan. turun dan tekan. angkat-maju-turun-tekan . Meskipun para yogi memberikan perhatian yang cermat dan melambatkan langkahnya ada kemungkinan mereka tidak melihat semua pergerakan dan tahapan dari pergeraka n tersebut dengan jernih. k etika ia sepenuhnya memberi perhatian dengan baik. Sepenuhnya awas pada langkah kaki sementara kalian membuat pencatatan di dalam batin berjalan . ketiga tur un. Namun. Saat itu seolah-olah pergerakan tersebut merupakan satu kesatuan gerak yang berkesinambungan.berjalan . Setelah itu kalian akan diberi petunjuk untuk sepenuhnya menyadari tiga proses berjalan. Pada saat itulah secara otomatis ia berjalan dengan perlahan.berjalan . Sesudahnya kalian akan diberi petunjuk lanjutan untuk sepenuhnya menyadari empat tahapan dalam proses melangkah yakni. dengan menaruh perhatian penuh secara otomatis langkah kak i akan melambat. kedua maju. Kalian akan diinstruksikan untuk mencatat dalam batin empat gerakan tersebut.angkatletakka n . Sebagai pemula para yogi akan menemui kesulitan untuk berjalan perlahan. Bila ia ingin membaca rambu-ra mbu tersebut ia harus melambatkan laju kendaraannya. Kalian harus mengamati sungguh-sungguh dua tahapan proses melangkah tersebut. Tapi. Dengan pemahaman yang sama. Sewaktu berkendara di jalan bebas hambatan seseorang cenderung memacu kendaraannya pada kecepatan 60-70 atau malah 80 mil/jam. yakni pertama proses mengangkat. angkat-letakkan angkat-letakkan . Hanya dengan berjalan lambat ia bisa sepenuhnya awa s dan waspada terhadap gerakan kaki tersebut. Tapi si sopir secara otomatis akan memperlambat laju kendaraannya untuk bisa melihat rambu-rambu tersebut. keempat sentuh atau meletakkan kaki ke lantai. Saat konsentrasi berkembang lebih kuat para yogi akan mampu mengamati tahapan-tahapan gerakan yang berbeda dalam satu langkah dimana akhirnya empat tahap gerakan (dal am satu langkah) lebih mudah diamati. pertama mengangkat. Saya akan memberi perumpamaan untuk menjelaskan pernyataan di atas.

Setelah itu terjadi per gerakan kaki bergerak naik. unsur api dan unsur udar a. gerakan kaki. maju. Kedua unsur tersebut bisa dirasakan oleh para yogi saat mere ka menaruh perhatian sungguh-sungguh ketika mengangkat kaki. Tapi . Pada gerakan pertama. Jadi. saat yogi mengalami rasa berat pada kaki mereka sebenarnya mengalami peristiwa bekerjanya unsur air. Saat kaki menekan ke tanah/lantai yogi-yogi akan mengalami kekerasan dan kelembutan dari kaki yang menyentuh tanah atau lantai. Saat kaki terangkat ada unsur lain yang juga bekerja di sana. Mereka mengetahui kaki yang terangkat itu ter asa ringan. Saat mengamati proses-proses ini mereka sedang melihat empat unsur utama (Pali: Dhatu ). Pergerakan terjadi karena ada unsur udara yang bekerja. Karena pergerakan (dalam hal ini adalah gerakan mendorong) adalah satu sifat utama dari unsur udar a. Lebih jauh. Unsur air bersifat merembes dan mengental. dalam hal naiknya kaki. Persinggungan antara kaki . Kekerasan adalah karakteristik dari unsur air. para y ogi akan melihat rasa ringan saat kaki mengangkat. unsur api lebih dominan dibanding unsur udara. Ketika mengalami rasa ringan mereka melihat unsur api. Saat kaki terdorong ke depan un sur utama yang mempengaruhi gerakan tersebut adalah unsur udara. Empat unsur utama itu adalah unsur tanah. Jadi. saat bersungguh-sungguh melihat gerakan kaki maju ketika melakukan meditas i jalan yogi-yogi itu sebetulnya tengah melihat intisari unsur udara. Saat ca iran menjadi berat maka ia akan mengental. Tahap berikutnya adalah mendorong kaki ke depan. Saat mendorong kaki ke depan mereka akan mencapai pergerakan dari satu tempat ke tempat lain. Tahap meditasi jalan berikutnya adalah gerakan menurunkan kaki. Jadi bisa dikat akan saat menangkat kaki unsur utamanya adalah unsur api dan unsur kedua yang mengiku ti adalah unsur udara. Tidak hanya it u. sepanjang pengamatan angkat. rasa berat saat kak i turun dan sentuhan pada kaki terhadap lantai yang berupa rasa keras dan lunak.Para yogi akan mengetahui secara jelas bahwa gerakan mengangkat berbeda dengan gerakan maju maupun gerakan turun. Saat meletakkan kaki ke lantai/tanah mere ka merasakan sentuhan. Dan ketika menurunkan kaki mereka mencatat gerakan kaki y ang turun menjadi berat dan semakin berat. Ijinkan kami membahas lebih terperinci sifat dari unsur-unsur tersebut yang beke rja saat mempraktekkan meditasi jalan. yakni gerakan mengangkat kaki. empat unsur utama tersebut nampak . Salah satu aspek dari unsur api adalah membuat benda-benda menjadi lebih ringan. unsur air. yogi mengalami rasa ringan. realitas mutla k. Saat benda-benda menjadi lebih ringan itulah mereka bisa mengangkat kaki. tapi merupakan proses nyata. Jadi unsur-unsur itu t idak hanya sekedar konsep (teori belaka). turun dan tekan ke lantai. Sewaktu yogi meletakkan kaki ke bawah ada sejenis kekerasan pada kaki. Dengan kata lain saat itu yogi merasakan intisari dari unsur api. Dengan memberi perhatian yang cermat pada empat tahapan melangkah sewaktu berlatih meditasi jalan.

Bisa dikatakan hanya dengan satu langkah para yogi bisa mengamati banyak proses. Setelah ada kehendak untuk mengangkat maka muncul proses mengangkat kaki. Yakni munculnya serangkaian kehendak a tau maksud yang mengakibatkan terjadinya setiap gerakan. Mereka bisa mengamati empat unsur utama dan menyadari keempatnya secara alami. Pad a saat itu para yogi akan memahami batin dan jasmani muncul dan lenyap setiap saat . Dari sinilah muncul pemahaman tentang bekerjanya pasangan batin dan jasmani yang muncul dan lenyap setiap saat. Jadi. h al itu bisa terjadi karena munculnya serangkaian kehendak. Dengan cara ini para yogi akan memahami bahwa bersamaan dengan melangkah ada gerakan kesadaran atau pengawasan. Inilah penjelasannya. Saat berikutnya ada gerakan kaki mendorong ke depan dan kesadaran yang melihat pergerakan tersebut. Kondisi ini dipengaruhi oleh uns ur tanah. Begitu pula kaki bisa menekan landasan karena mereka bermaksud demikian. Bersamaan dengan itu ada pikiran yang mengawasi gerakan tersebut. Hanya saja pemahaman atau pengertian tentang munc ul dan lenyapnya batin dan jasmani setiap saat ini hanya akan terjadi bagi mereka y ang berlatih dengan sungguh-sungguh.dan landasan mengalami keadaaan alaminya yang khas. Ada hal lain yang akan ditemui para yogi. Sementara gerakan-gerakan kaki termasuk ke dalam kelompok materi atau rupa . Dengan kata lain ada gerakan mengangkat disertai munculnya pikiran yang mengawas i (mencatat) gerakan mengangkat tersebut. Setelah mengamati proses ini dengan sungguh-sungguh para yogi kemudian memahami semua kemunculan itu berkondisi. Saat-saat menyadari tersebut termasuk ke dalam bekerjanya kelompok batin (dalam bahasa Pali disebut nama). Keduanya muncul dan lenyap sampai kaki betul-betul menyentuh landasan. Juga. Saat it u ada gerakan menekan dan munculnya pengawasan atas gerakan tersebut. ada gerakan mendorong kaki ke depan disertai dengan pikiran yang mengawasi gerakan tersebut. Pergerakan-pergerakan itu tak akan muncul denga n sendirinya. Setelah ada kehendak untuk mendorong maka muncul proses kaki terdorong ke depan. Jadi dengan menaruh perhatian sungguh-sungguh saat kaki menekan landasan yogi-yogi sebenarnya bisa memetik pengalaman berupa keadaan alami yang dipengaruhi oleh unsur tanah. kaki terdorong ke depan karena mereka bermaksud demikian. Kehendaklah yang mengawa li setiap pergerakan. Proses yang sama muncul saat melakukan gerakan menekan kaki ke landasan. Pada satu waktu ada kaki yang terangkat dan munculnya kesadaran mengangkat. Saat para yogi meneruskan latihan meditasi jalannya mereka akan menyadari pada setiap gerakan ada pikiran yang mencatat atau mengawasi setiap gerakan tersebut. Demikian seterusnya. Pergerakan-pergerakan itu tak akan terjadi tanpa adanya suatu sebab. Mereka akan menyadari bahwa kaki bisa diangkat karena mereka menginginkannya. Keadaan ini hanya bisa dilihat dan dialami oleh para yogi yang berlatih dengan sungguh-sungguh. Selanjutnya. Demikian seterusnya. Setelah itu ada g erakan menurunkan kaki ke landasan. Kondisi yang dimaksud adalah munculnya kehendak atau maksud yang mengawali setiap pergerakan. Kaki bisa turun karena mereka menginginkannya. Inilah temuan berikutnya yang bisa ditemui para yogi saat mereka memberikan perhatian dengan . Ada sebuah sebab atau kondisi untuk setiap pergerakan.

Pemaha man ini bisa diraih melalui meditasi jalan. Sotapanna artinya pemenang arus. Seorang sotapanna adalah seseorang yang telah meraih pencerahan tingkat pertama. Saat mengalami bahwa batin dan jasmani itu timbul dan tenggelam para yogi akan memahami batin dan jasmani itu bersifat tidak kekal. Saat seorang yogi memahami kondisi munculnya setiap pergerakan maka akan muncul pemahaman baru. muncul dan lenyap (timbul tenggelam). Mereka bisa memahami hubungan antara yang dikondisikan dan yang mengkondisikan. Akhirnya pengertian selanjutnya yang muncul adalah segala sesuatu itu bersifat tidak kekal. Saat mereka memahami batin . pengertian muncul dalam diri par a yogi. Hal ini terjadi melalui munculnya pengertian bahwa batin dan jasmani tidak akan muncul tanpa adanya suatu kondisi. Kita harus berusaha memahami apakah sesuatu itu bersifat kekal atau tidak kekal. Seseorang yang meraih tingkat pemahaman mendekati seorang sotapanna belum benar-benar menjadi sotapanna. diberitahu pihak lain atau adanya suatu otoritas tertentu yang mendorong munculnya pengertian ini. Melalui proses ini lewat pengalamannya sendiri. Mereka akan memahami bahwa maksud atau kehendak adalah kondisi yang membuat munculnya pergerakan. Tentu saja hal ini bisa terjadi sekali l agi dengan memberikan perhatian secara teliti dan sungguh-sungguh dalam mengamati setiap pergerakan kaki.sungguh-sungguh. Kita harus berusaha untuk melihat melalui kekuatan yang muncul dalam meditasi apakah benda-benda itu subyek dari proses menjadi yang kemudian lenyap. atau alam-alam neraka). Hal ini memberi ruang atas munculnya gerakan mendorong kaki ke depan. Tapi. Setelah itu barulah seorang yogi bisa memutuskan fenomena yang tengah diselidikinya itu bers ifat tidak kekal. Tapi pihak tera khir ini sudah dipastikan hanya akan terlahir kembali ke alam manusia atau alam dewad ewa. Melalui penyelidikannya para yogi melihat (menyadari) saat bermeditasi jalan ada gerakan mengangkat dan kesadaran yang muncul atas gerakan itu yang sesaat kemudi an lenyap. Inilah keuntungan besar dari berlatih meditasi jalan. Pada saat inilah seorang yogi bisa memahami hubungan sebab akibat. Saat pemahaman itu muncul yogi ini bisa saja menyingkirkan keragu-raguannya tent ang batin dan jasmani. Mereka memahami bahwa pergerakan itu tercipta oleh maksud atau kehendak. Dengan demikian seseorang yang mendekati pemahaman sotapanna tak mungkin terlahir di alam-alam bawah (alam peta. bila seorang yogi mampu meraihnya bisa dipastikan ia hanya akan terlahir di alam-alam bahagia. Gerakan in i pun secara sederhana muncul dan lenyap. Hal ini terjadi seiring dengan timbulnya pengertian bahwa segala sesuatu itu akan muncul dan lenyap. Tentu saja tingkat di atas tidak mudah dicapai. Mereka juga akan memahami ketidakkekalan kesadaran melangkah. Pemahaman ini tidak timbul dari membaca buku. Dengan pemahaman yang jernih atas kondisi setiap benda dan dengan tersingkirnya keragu-raguan atas batin dan jasmani bisa dikatakan ia meraih tingkat mendekati seorang sotapanna . binatang. Saat yogi memiliki pengertian tentang muncul-lenyapnya batin dan jasmani mereka akan memahami ketidakkekalan proses melangkah.. Jika meditasi k ita cukup baik keadaan ini memungkinkan untuk mengamati ketidakkekalan.

Meski perbedaan itu kecil sekali tapi seseorang bisa dengan mudah melihat perbedaan tersebut. dukkha dan anatta). Dengan cara semacam inilah akan muncul penghargaan dan penghormatan atas . Bagaimana jika ada kamera yang bisa mengambil gambar dari pergerakan mengangkat kaki sebanyak 1000 bingkai dalam satu detik? Bila ada kamera demikian maka akan dihasilkan rekaman seribu pergerakan dalam satu detik. Usaha yang dikerahkan saat bermeditasi jalan adalah melihat gerakan kita secara cermat secermat kamera berkekuatan tinggi melihatnya bingkai demi bingkai. umpamanya. Terlihat rangkaian pergerakan itu berbeda satu sama lainnya. Benda-benda hanya timbul dan tenggelam mengikuti hukum alam.dan jasmani itu bersifat tidak kekal mereka akan mengerti bahwa batin dan jasmani it u bersifat tidak memuaskan. Dengan memberikan perhatian penuh atas gerakan tersebut mereka melihat bendabend a timbul-tenggelam terus-menerus. Atau dengan kata lain. Sekarang izinkan kami untuk menjelaskan lebih terperinci tentang pergerakan dala m meditasi jalan. Umpamanya seseorang mengambil gambar bergerak dari proses mengangkat kaki. yakni sifat dari anatta. anicca. Kita pun per lu menyelidiki kekuatan kesadaran dan kekuatan kehendak yang muncul di awal setiap pergerakan. Inilah kenyataannya. tak ada jiwa dibalik fenomena-fenomena tersebut. Hal ini muncul karena ternyata batin dan jasmani berad a dalam keadaan terus-menerus timbul dan tenggelam. Pada kondisi ini yogi-yogi bisa memahami sifat ketiga dari semua fenomena yang berkondisi yakni bersifat tidak kekal. Kataka nlah ada kamera yang bisa merekam gerakan tersebut. dukkha dan anatta dari semua fenomena secara alami. Sekarang akan semakin sulit melihat perbedaan pergerakan dalam bingkai gambar dari hasil rekaman kamera yang bisa mengambil gambar satu juta bingkai dalam satu detik. mereka menyadari tak ada jiwa atau diri di dalam benda-benda yang memerintah mereka untuk menjadi kekal. tentunya. ternyata ada satu juta proses pergerakan mengangkat kaki dimana kita menganggapn ya sebagai satu gerakan belaka. Sehingga kamera ini bisa mengambi l gambar dari gerakan itu sebanyak 36 bingkai dalam satu detik. Setelah memahami ketidakkekalan dan tidak memuaskannya benda-benda akan muncul suatu penyelidikan yang memunculkan pengertian bahwa di sana tak ada tuan dari benda-benda tersebut. Para yogi bisa memahami ketiga sifat tersebut dengan penyelidikan secara tekun s aat kaki naik dan kesadaran yang muncul saat menaikkan kaki dan seterusnya. Dengan memiliki pemahaman semacam ini yogi-yogi memahami sifat ketiga dari fenomena yang berkondisi. naiknya kaki berkisar satu detik. Akibatnya mereka bisa melihat anicca. Lebih jauh. tak ada kekuatan apapun. Setelah gambar itu terekam kita bisa mengamati rangkaian pergerakan dalam bingka ibingkai yang terpisah itu. Salah satu arti dari anatta adalah tak ada tuan (majikan) tiada apapun. Meskipun. Bahwa benda-benda tak memiliki diri di dalamn ya. penuh penderitaan dan tak ada inti yang k ekal di dalamnya (dalam Pali disebut bersifat. rangk aian gambar pergerakan itu hampir-hampir sulit dibedakan.

Sebelum mulai berlatih meditasi jalan mungkin para yogi pernah berpikir satu lan gkah hanya terdiri dari satu gerakan. Dengan pandangan biasa seseorang tak akan mampu melihat ketidakkekalan dari bend abenda karena ketidakkekalan tersembunyi oleh khayalan. Saat itu kita berpikir cat dan kanvas secara keseluruhan sebagai suatu k esatuan. Ahli fisika modern tahu hal ini dengan baik. Setelah melihat lukisan tersebut merupakan gabungan dari ruang-ruang kita akan kehilangan ketertarikan padanya. hal ini dimaksudkan secara langsung melihat dan juga menarik kesimpulan . Sebagai contoh kita mungkin melihat sebuah lukisan indah yang digoreskan pada su atu kanvas. Para yogi bi sa menemukan ketidakkekalan sebagaimana adanya secara langsung melalui daya upaya mereka sendiri. Karenanya kita akan kehilangan keterikatan atasnya. Demikian pula dengan yang terjadi pada khayalan atas ketidakterputusan bisa dipatahkan. sebagai ketidakkekalan.perjuangan. Namun dengan mengamati lebih jernih kita bisa mengetahui bahwa gerakan itu terdiri dari banyak gerak yang berkesinambungan dalam membentu k satu-kesatuan gerak. mudah busuk dan hancur. Tak ada suatu i . Dengan kata lain ketertarikan kita pada lukisan tersebut akan padam. Jika melihat sesuatu yang sekilas k ita pikir cantik ternyata si cantik itu berlubang-lubang. yang melihat saat melangkah hanya berupa satu gerakan tak terputus. para yogi akan menyadari sesungguhnya tak ada apapun di dunia ini yang cukup berharga untuk dilekati atau diidam-idamkan. timbul tenggelam. sebagai umat awam. Setelah menyadari bahwa benda-benda merupakan gabungan dari bagian-bagian yang muncul sedikit demi sedikit dan setelah mengamati bagian-bagian ini satu demi sa tu. Khayalan ini bisa dipatahkan oleh pengamatan langsung atas fenomena jasmani sedi kit demi sedikit. bahwa kita tak akan mungkin melihat secara langsung seluruh satu juta gerakan se perti yang bisa dilihat oleh Sang Buddha. setahap demi setahap sebagaimana adanya sehingga khayalan tersebut bisa dihancurkan. Mereka telah mengamatinya dengan peralatan sangat canggih bahwa materi hanyalah gabungan getaran partikel-partikel dan energi yang berubah terus-menerus. Kita berpikir. Nilai dari meditasi ini bersandar pada kemampuan kita untuk menyingkirkan selubu ng ketidakterputusan dengan menemui keadaan alami atas ketidakkekalan. Saat menggunakan kata melihat atau mengamati yang merujuk pada situasi diri sendiri. Dari proses ini mereka melihat batin dan jasmani. kebijaksanaan dan pandangan terang Sang Buddha atas apa yang beliau lihat dari pergerakan-pergerakan tersebut. Setelah berlatih meditasi dan mengamati dengan penuh perhatian para yogi akan ta hu meski hanya satu pergerakan (dari jumlah keseluruhan 4 tahapan gerak) sebenarnya pergerakan itu gabungan dari jutaan gerak. Karena ternyata lukisan terseb ut terdiri dari banyak lubang dan rongga-rongga. Jika lukisan tersebut ditaruh di bawah mikroskop kita akan melihat ternyata gamb ar tersebut tidak padat dan merupakan satu kesatuan.

Rangoon. Kita ingin menyingkirkan kerinduan karena tidak ingin menderita. Meditation Centre. Burma Praktek Vipassanâ atau meditasi pandangan terang merupakan upaya yang dilakukan oleh meditator untuk memahami dengan benar sifat sejati fenomena psiko-fisik yan g terjadi pada tubuhnya.nti sari yang kekal di dalamnya. Meditasi jalan juga bisa menjadi alat yang tepat gu na menolong kita menyingkirkan kekotoran batin. Kita harus memahami bahwa segala sesuatu muncul dan lenyap. dukkha dan anatta dari benda-benda secara apa adanya. Kita berlati h meditasi karena ingin menyingkirkan kemelekatan dan kerinduan terhadap obyekobye k. Saya tidak sedang berusaha mengatakan bahwa dengan mempraktekkan meditasi jalan bisa memberikan kesadaran tertinggi dan kemampuan untuk sepenuhnya mengusir kemelekatan. Dengan menyadari ketidakkekalan yang tiada akhir ini para yogi tahu benar-benar tidak ada apapun yang cukup berharga untuk diidam-idamkan. tersusun atas sekelompok sifat materi (rûpa). Terjadinya Nâma-rûpa ini dirasakan . Sekali kita mampu menyadari hal ini maka kita akan mampu menyingkirkan kemelekatan terhadap benda-benda. Keseluruhan tubuh yang dirasakan den gan jelas tersebut. Dengan cara itulah kita bisa menyingkirkan kerinduan. termasuk sikap tubuh berdiri. Dengan mempraktekkan semua si kap tubuh dalam meditasi vipassana. Meditasi jalan bisa menolong kita meraih pandangan terang melalui melihat ke dalam benda-benda apa adanya. Mahâsî Sayâdaw Agga Mahâpandita U Sobhana khotbah YM Mahâsi Sayâdaw Agga Mahâ Pandita U Sobhana kepada murid beliau pada saat pelantikan Meditasi Vipassanâ di Sâsana Yeikhta. Sepanjang belum mampu menyadari kebenaran ini. Fenomena fisik adalah segala sesuatu (obyek-obyek) di sek itar yang dirasakan dengan jelas oleh seseorang. Meditasi jalan bisa mengakibatkan berkembangnya kekuatan spiritual. Sekarang kita bisa memahami alasan mengapa perlu berlatih meditasi. Meditasi jalan juga sekuat kesadaran murni mel ihat kembung dan kempisnya perut. __________________ Latihan Meditasi Vipassana Praktis oleh: Ven. Itu terjadi melalui pengertian atas merealisir ketiga keberadaan anicca. Tak ada apapun yang cukup berharga untuk digenggam di dunia fenomena ini. Sedangkan fenomena f isik atau mental merupakan bentuk kesadaran (nâma). Selebihnya kita harus berlatih meditasi jalan dengan sungguh-sungguh sama sepert i waktu berlatih meditasi duduk atau posisi lainnya. Meski begitu meditasi jalan bisa seakurat seperti meditasi duduk at au jenis posisi meditasi vipassana yang manapun. Kita harus mengenyahkan kerinduan dan kemelekatan. semoga semua yogi bisa meraih pemurnian sepenuhnya dalam kehidupan ini. Maka sangat diperlukan memiliki pengalaman langsung bahwa semua benda yang berkondisi adalah tanda dari keberadaan ketiga sifat dasar ters ebut. Lebih jauh kita harus memberikan perhatian penuh saat bermeditasi jalan sama sep erti yang kita lakukan saat duduk bermeditasi atau berbaring. sebanyak apapun buku yang dibaca atau bahan yang didiskusikan (mendiskusikan tentang bagaimana menyingkirkan kemelekatan) kita tidak akan mampu mengenyahkan kemelekatan tersebut. Tak ada substansi yang kekal di dalamnya.

Yang menjadi persoalan utama adalah mengetahui atau merasakan. Anda akan mengetahui bahwa perut bergerak naik saat Anda menarik nafas. Hal ini merupakan sifat materi yang dikenal sebagai vâyodhâtu (elemen pergerakan). mendengar. mendengar sebagai mendengar . Singkatnya. yaitu saat nâma-rûpa dilihat. apapun bentuk pikiran atau bayangan yang timbul haruslah disadari. Dalam setiap tindakan bernafas. menyentuh atau berpikir. Jika Anda berpikir. bicara. sampai. maka kita sadari. Jangan bernafas terlalu keras juga. sampai . Dalam meditasi vipassanâ. merasakan sebagai merasakan . J ika Anda membayangkan. Anda akan merasa lelah jika mengubah cara bernafas. seperti: melihat sebagai melihat . Kita harus senantiasa membuat diri sendiri sadar akan nâma-rûpa tersebut dengan cara mengamati dan memperhatikannya sedemikian rupa. Jika Anda membayangkan bertemu dan berbicara dengan seseorang maka amati hal itu demikian. Bernafaslah dengan teratur seperti biasanya dan perhatikan perut yang bergerak naik dan turun setiap kali berlangsung. lakukan hal itu dari awal hi ngga akhir gerakan seperti layaknya Anda melihatnya dengan mata. Gerakan naiknya perut serta kesa daran mental terhadapnya harus bertepatan. Jika And a merasa bahagia. dirasakan. maka amatilah sebagai. bertemu. yang menarik perhatian dan mudah dirasakan olehnya. Senang sebag ai . Kemudian kembali lagi kepada gerakan perut yang naik dan turun. apa yang Anda sebut atau katakan tidak masalah. sadarilah itu sebagai bahagia. seperti layaknya sebuah batu yang dilempar mengenai sasarannya. Jangan mengubah cara Anda bernafas. Lakukan pengamatan itu dengan pikiran dan bukan dengan gerakan. Jika Anda membayangkan bertemu seseora ng. orang ten tu saja tidak dapat menyadari setiap hal tersebut di atas. Setiap kali seseorang melihat. bicara . didengar. mencium. Jika gerakan tersebut tidak cukup jelas bila hanya diamati oleh pikiran. menyentuh sebagai menyentuh dan berpïkir sebagai berpikir . bertemu . Karena itu ia harus mula i memperhatikan hal-hal yang berlaku. Meditator harus mulai dengan memperhatikan gerakan ini. Hal ini juga harus disadari dengan berkata dalam hati. Jika kemudian pikiran sampai di suatu tempat. Merencanakan sebagai merencanakan. jangan memperlambat atau mempercepatnya. dan dilakukan oleh pikiran yang dengan tekun mengamati perut. Perhatikan gerakan naik sedemikian rupa hingga kesadaran An da terhadapnya selaras dengan gerakan itu sendiri. Demikian pula dengan gerakan turun. maka sadarilah itu sebagai membayangkan. merasakan.dengan jelas. Gerakan naik harus disadari sebagai gerakan naik. Jika ha l ini diamati sekali atau dua kali. dan bergerak turun saat Anda menghembuskan nafas. maka Anda dapat menyentuh perut Anda dengan menggunakan telapak tangan. Lakukan hal yang sam a untuk gerakan turun. perut senantiasa naik dan turun dan ger akan tersebut jelas sekali. Kemudian kembali lagi kepada gerakan perut naik dan turun. mencium sebagai mencium . Pikiran Anda bisa saja mengembara ke mana-mana saat mengamati gerakan perut. Saat mengamati perut yang bergerak naik. mengembara . disentuh at au dipikirkan. Bosan sebagai bosan. mengembara. maka sadarilah itu sebagai berpikir. dan gerak an turun sebagai gerakan turun. Namun di awal latihan. maka ia harus menyadari kenyataannya. maka pikiran akan berhenti mengembara. dicium. sehingg a Anda akan kembali mengamati perut yang bergerak naik dan turun.

Karena dengan mengamati. aku merasa panas. Aku merasa kaku. Keinginan ini pun harus diamati. Sesungguhnya tidak ada aku yang terlibat di sini. Seluruh bentuk perasaan itu disebut sebagai dukkhâved anâ (perasaan tidak puas) dan tindakan mengamatinya disebut sebagai vedanânupassanâ. Kita cenderung berpi kir bahwa inilah aku yang sedang membayangkan. perasaan tersebut cenderung meningkat dan menyebabk an keinginan untuk mengganti posisi tubuh. Penjelasan mengenai bentuk-bentuk perasaan dengan menyertakan ego adalah keliru. panas dan pegal serta yang lainnya sangatlah sukar dipertahankan. tak peduli apakah itu perasaan kaku. Jika samâdhi tidak berkembang maka batin tidak akan mencapai hasil. Jika Anda telah duduk bermeditasi sekian lama. Yang ada hanyalah timbulnya satu bentuk perasaan tidak menyenangkan yang disusul oleh bentuk perasaan tak menyenangkan berikutnya. Itulah mengapa kita harus senantiasa mengamati setiap bentuk kesadaran yang timbul. orang tersebut tidak ada. Hal ini sama seperti timbulnya aliran listrik baru yang berkesinambungan. Yang ada hanyalah bentuk-bentuk kesadaran yang berlangsung terus menerus. padahal aku baik-b aik saja beberapa saat yang lalu. bentuk kesadaran tersebut cenderung lenyap. I . Kita jadi berpikir bahwa ada seseorang yang sejak kan akkanak hingga sekarang. panas da n sebagainya. yang menyebabkan lampu menyala. Ora ng tidak seharusnya gampang menyerah terhadap latihan meditasi pada saat muncul bentuk-bentuk perasaan tersebut sehingga ia langsung mengubah posisi tubuhnya. Memang kesabaran terhadap bentuk-bentuk perasaan tidak menyenangkan dalam tubuh seperti rasa kaku. Kesabaran menuntun ke Nibbâna demikian kata pepatah. Hal ini juga harus diamati dengan hati-hati pula. pegal. Jika kita gagal mengamati bentuk-bentuk kesadaran tersebut. Phala (Buah dari Sang Jal an) dan Nibbâna. merencanakan. sedang berpikir. mengetahui atau merasakan. Jika ia menukar atau mengganti posisi tubuh terlalu sering karena tidak sabar menghad api perasaan kaku atau panas yang timbul. Kemudian kita akan kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut. maka perasaan kaku dan panas akan timbul dalam tubuh. Pada tahap awal latihan meditasi yan g dilakukan oleh seorang yogi. kita cenderung mengidentifikasikannya dengan seseorang atau satu individu. Kecil hati sebagai kecil hati. Dan mengamati semua bentuk kesadaran ini disebut sebagai cittânupassanâ. Sama halny a dengan rasa pegal dan lelah. Sesungguhnya. aku merasa pegal. Kegagalan atau kelalaian dalam mengamati sensasisensasi tersebut membuat Anda berpikir. pegal atau panas. Pepatah ini rupanya berhubungan erat dengan upaya bermeditasi.senang. Itulah mengapa kesabaran sangat dibutuhkan dalam meditasi. maka samâdhi (konsentrasi benar) tidak akan berkembang. Bentuk-bentuk perasaan ini harus diamati dengan hati-hati dan terus menerus. Orang harus sabar dalam bermeditasi. sedang hidup dan berpikir. Itulah mengapa kita harus mengamati bentuk-bentuk kesadaran dan memahaminya sebagaimana adanya. Aku sekarang merasa tidak nyaman dengan perasaanpe rasaan yang tidak enak ini . di mana setelahnya sang yogi harus kembali lagi mengamati perasaan kaku. Setiap kali kontak yang tidak menyenangkan menyentuh tubuh maka bentuk-bentuk perasaan tidak menyenangkan timbul saling bergantian. da n tidak juga akan tercapai Magga (Jalan menuju Nibbana).

bergerak . bahkan bentuk perasaan yang kuat sekalipun cenderun g menghilang. Proses meditasi adalah seperti menciptakan api dengan car a menggesekkan dua batang kayu dengan sekuat tenaga dan tanpa henti hingga timbul intensitas panas yang dibutuhkan (agar api menyala). maka ia memang harus menggaruknya agar rasa gatal it u hilang. seperti misalnya bangun dari posisi duduk. Jika rasa ga tal tersebut tidak juga hilang. Jika kaki bergerak. Namun jika tidak mengubah posisi tubuh. Saat Anda bangun. Perubahan posisi harus dilakukan bersamaan dengan pengamatan yang Anda lakukan. jika rasa gatal timbul dan meditator ingin menggaruknya karena rasa gatal tersebut sudah tidak tertahankan lagi. antara usaha samâdhi (tahap konsentrasi) dan samâdhi yang sesungguhnya. Namun ia juga harus tet ap mengamati demikian. Yang ada hanyalah kesinambungan antara usaha mengamati dan pengamatan sesungguhnya. terangkat. menarik dan mendorong (gerakan-gerakan menggaruk) hingga akhirnya kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Dengan cara yang sama. Mengubah posisi tubuh ini harus dilakukan dengan halus dan diamati demikian. Semua gerakan yang dilakukan untuk menghilangkan rasa gatal ini harus diamati. hanya istirahat statis saja. terangkat . Jika kaki turun. Magga dan Phala Ñâna (pengetahuan akan Jalan dan Buahnya) didapatkan hanya jika terjadi momentum pertemuan seperti ini. bangun . tubuh menjadi ringan dan terangkat. bangun. Namun pertama-tama. bergerak . keinginan untuk menggaruk tersebut juga harus diamat i. mengangkat tangan. tanpa adanya jeda di antara kegiatan mengamati tersebut apapun fenomena yang timbul. turun. Saat tubuh Anda condong ke depan. maka rasa gatal akan berangsur-angsur hilang dan kemudian ia bisa kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Setiap kali Anda mengubah posisi tubuh. bergerak dan menyentuh. bergerak. Jika tangan terangkat.a harus melanjutkan meditasinya dengan penuh kesabaran. dan jangan lang sung menggaruk agar gatalnya hilang. maka kembal ilah pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Sebagai contoh. menyentuh . Bentuk-bentuk perasaan yang halus seperti ini akan langsung hilang jika orang tersebut mengamatinya dengan penuh kesabaran. Anda harus mulai dan mengamati keinginan untuk mengubah posisi tubuh itu dan dilanjutkan dengan mengamati setiap gerakan dengan cermat. bergerak. Tapi ia tentu saja harus segera mengubah posisi tubuhnya jika bentuk-bentuk pera saan yang tidak menyenangkan tetap ada meskipun telah diamati sekian lama. terangkat . Dengan demikian tercapailah tahap-tahap kematangan yang terus menerus dan meningkat dalam kecerdasan seorang yogi. terangkat . Anda harus mengamatinya pelan-pelan. Jika ia dengan tekun mengamati. amati demikian. bergerak . bergerak. Jika kaki terangkat. maka harus diamati. pengamatan dalam meditasi vipassanâ harus berkesinambungan dan tanpa henti. Sehingga ia lalu kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut. dan juga b ila perasaan-perasaan tersebut menjadi tak tertahankan lagi. terangkat. turun . ingin mengubah posisi. amatilah itu. ingin mengubah posisi . . Sa at konsentrasi baik dan mantap. menggerakkan dan merentangkannya. khususnya gerakan menyentuh. terangkat. Tak boleh ada waktu jeda saat it u. Jika tangan bergerak. bergerak. menyadari rasa kaku sebagai rasa kaku atau panas sebagai panas . maka rasa gatal dan keinginan untuk menggaruk itu harus diamati. Jika tubuh bergerak. Konsentrasikan pikiran Anda pada gerakan ini.

Saat membuat gerakan tubuh. maju. Anda harus mengamati dengan cermat terangkatnya kaki. Jika pada saat berjalan Anda lalu ingin du duk maka amatilah demikian. ia harus bersikap seakan tidak melihat atau mendengarnya. mulai dari gerakan terangkatnya hingga turunnya kaki. apakah kaki kiri atau kaki kanan yang maju. amati demikian. bangun . melihat. bangun . amati demikian. Inilah cara mengamati jika seseorang berjalan dengan cepat. cepat dan tiba-tiba. apakah den gan kaki kiri atau kaki kanan. saat kaki terdorong ke depan dan saat kaki jatuh. ia harus melakukannya secar a perlahan. jika timbul . turun . mengamati demikian. Pengamatan seperti ini akan semakin mudah setelah dilakukan selama dua hari. amati gerakan-gerakan yang Anda lakukan saat mengatur posisi kaki dan tangan Anda. ia akan berdiri pelanpelan supaya punggungnya tidak semakin sakit. angkat. seorang yogi harus melakukannya perlahan-lahan seper ti orang cacat yang lemah. Demikian pula dengan orang ya ng menderita sakit punggung (encok). Sama halnya jika mendengar. Saat Anda sudah duduk. Saat berjalan perlahan atau berjalan cankama (berjalan naik dan turun). yang ia lakukan hanyalah terus mengamati hal-hal tersebut dengan cermat. Semua gerakan ini harus dilakukan pelan-pelan. Amati setiap langkah kaki. Tidak hanya ini. Namun tidak demikian denga n orang cacat. Mereka harus bergerak mengubah posisi tu buh secara bertahap. Mulai saja dengan gerakan terangkat dan gerakan jatuh. Jika tidak ada gerakan apa-apa. pelan dan hati-hati. namun hanya posisi tubuh yang statis. Saat melihat kesana kemari. Pada awalnya . amati dengan konsentrasi penuh beratnya gerakan turun tubuh Anda. turun . ingin duduk . perhatian seorang yogi hanyalah mengamati. Jika akan bangun. konsentrasi d an pandangan akan mantap. Dengan demikian kewaspadaan. Orang harus berjalan. Saat mengamati. Meskipun mungkin mata melihat. Saat bermeditasi.Seorang meditator harus bertindak seperti orang cacat yang lemah. bangun. kanan saat berjalan cepat dan angkat. menundukkan atau menegakkan kepala. Dan pada saat duduk. berdiri . Karena itu mulailah dengan gerakan yang bertahap dan perlahan. memandang . maka amati gerakan perut yang naik dan turun. Anda harus selalu menyadari semua gerakan yang ada. Saat meluruskan badan dan berdiri. tapi bersikaplah seperti tidak melihat. Melihat atau mendengar tidak menjadi perhatiannya. mengamati setiap langkah demikian. pelan-pelan menggerakkan lengan dan kaki. pada saat yang sama amatilah. Saat bangun dan posisi duduk. Demikian pu la saat kaki jatuh ke tanah. berdiri. Kemudian lakuk an pengamatan 3 gerakan seperti disebutkan di atas. menekuk atau meluruskannya. Jadi seaneh atau seheboh apapun yang barangkali dilihat atau didengarnya. Saat berjalan. kiri. Begitu juga para yogi yang bermeditasi. turun pada saat berjalan pelan. cukup mengamati satu atau dua gerakan saja yaitu. angkat. 3 gerakan harus diamati dalam setiap langkah yaitu: saat kaki terangkat. Cukuplah jika Anda melakukan pengamatan saat berjalan cepat atau berjalan dalam jarak tertentu. amati langkah kaki. ia akan bergerak pelan dan hati-hati. Orang normal d an sehat akan berdiri dengan mudah. ingin duduk. lakukanlah sepelan mungkin seperti layaknya orang cacat. Anda juga harus mengamati beratnya gerakan kaki turun.

menempelnya sikut pada lanta i. bergeraknya lengan. semua gerakan ini harus diamati. Saat melakukan ini dan mengamati. berbaring maka ia langsung mencapai tingkat Arahat. Ia mengamati setiap kejadian . Bahkan jika hari sudah sangat larut dan waktunya tidur. Jika tak ada gerakan. Dengan menyadari bahwa ia telah berlatih meditasi secara berlebihan. Tiga tingkat kesucian yang lebih tinggi ini dicapai hanya dalam waktu sekejap. ia harus bermedita si dalam posisi berbaring sejenak. Melakukan pengamatan saat Anda berbaring dengan cara demikian adalah penting. Saat mengamati. yaitu mengamati langkah kaki . Jadi renungkanlah pengalaman YM Ananda yang mencapai tingkat Arahat ini. Ia tidak boleh bersantai-santai dalam mengamati dan berpikir bahwa. turun . maka pengetahuan itu dapat timbul kapan saja. tingkat anâgâmi (yaitu yang tidak kembali lagi atau tingkat kesucian ke tiga) dan tingkat Arahat (yaitu kondisi seseorang yang telah mencapai kesucian tertinggi). naik. keinginan mental untuk berjalan serta gerakan fisik yang terjadi saat berjalan. lanjutkan dengan mengama ti bentuk-bentuk perasaan tersebut. angkat. kaki yang diluruskan. berbaring. jika timbul keinginan untuk berbaring.rasa kaku pada pinggul dan rasa panas di sekujur tubuh. Lalu kembali lagi pada. Ia duduk di atas bantal dan membaringkan tubuhnya. Meskipun ini dilakukan hingga hampir subuh. Dari tingkat sotâpanna . maka kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Ia berlatih semalaman satu bentuk meditasi vipassanâ yang dikenal sebagai kayagatasati. ia melanjutkan meditasi dan mencapai tingkat sakadâgâmi (yaitu orang yang kembali sekali lagi atau orang yang telah mencapai tingkat kesucian ke dua). kiri dan kanan. goyangan badan. Segala gerakan yang terjadi saat berbaring dan mengatur posisi lengan d an kaki harus diamati secara cermat dan terus menerus. Saat samâdhi (konsentrasi) dan ñâna (pandangan terang) cukup mantap. dan dengan tujuan menyeimbangkan samâdhi (konsentrasi) dan viriya (usaha). Pencapaian seperti itu datang setiap sa at dan hanya butuh waktu sekejap. Dalam kasus gerakan seperti ini (yaitu berbaring) Anda dapat memperoleh pengetah uan (yaitu magga ñâna dan phala ñâna pengetahuan akan Sang Jalan dan Buah). Terangkatnya lengan. sedikit waktu terlewat tidak lah seberapa . YM Ananda telah bertekad untuk mencapai tingkat Arahat dalam semalam saat Sang Buddha membabarkan ajaranNya untuk pertama kali. Itulah mengapa seorang yogi harus tekun mengamati setiap saat. condongnya tubuh saat Anda telah siap untu k berbaring. amati keinginan itu dan juga gerakan-gerakan tangan dan kaki saat And a berbaring. maka ia masuk ke dalam kutinya. Karena ini jugalah maka YM Ananda menjadi seorang Arahat. maka seorang yogi tidak boleh . YM Ananda hanyalah seorang sotâpanna (yaitu seorang pemenang arus. ia belum juga berhasil mencapai tingkat Araha t. Pengetahuan itu bisa datang dalam sekali tekukan tangan atau dalam sekali rentan gan tangan. namun hanya tubuh yang statis. maju ke depan dan menjejak. mencapai tingkat kesucian pertama) sebelum ia membaringkan tubuhnya.

memandang . Seorang yogi yang serius dan bersemangat harus melatih kewaspadaan seperti mendahului rasa kantuknya itu. Jika mata terasa sakit. Saat ia duduk ia akan mengamati. Jika ia belum mampu membuat dirinya sadar akan hal ini. Saat ia merasa ngantuk. jika rasa ka ntuk yang menang maka ia akan langsung tertidur. maka ia harus kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. tegak. ia harus terus mengamati tanpa henti. sakit. Sang yogi lalu harus mengamati. Di saat yang lain. ia harus membatasi waktu tidurnya hingga 4 jam. melihat. ia harus mengamati demikian. mengambil dan mengaturnya di piring. semua gerakan ini juga harus diamati. Jika seorang pemula dalam meditasi berpikir bahwa 4 jam tidur tidaklah cukup untuk menjaga kesehatan. Jika ia mengubah gerakan-gerakan saat mengatur posisi tangan dan kaki. Seorang yogi yang bertekad mencapai magga dan phalañâna harus beristirahat hanya pada saat tidur saja. menurunkan tangan kembali dan .tidur dulu dan mengendurkan pengamatannya. tegak . Jika meditasinya matang dan mengalahkan rasa kantuknya maka ia tidak akan tertidur. maka ia haru s mengamati. terpejam. ngantuk . namun hanya duduk diam. Tapi jika hari semakin larut malam dan sudah waktunya tidur . Ia harus terus bermeditasi hingga akhirnya memang tertidur. maka jika kantuk yang sebenarnya timbul maka ia akan langsung tertidur. Saat tidur merupakan saat beristirahat bagi seorang yogi. Inilah waktu tengah malam yang disarankan Sang Buddha. Kemudian ia secara alami (otomatis) akan tertidur. menyentuhnya. ia harus langsung mulai mengamati. Saat menegakkan kepala ia mengamati demikian. Lalu ia harus segera mengamati gerakan-gerakan saat mengatur posisi lenga n dan kaki. i ngin bangun . Kemudian ada pula gerakan berpakaian. terpejam . melihat. ia harus mengamati demikian. 4 jam tidur adalah cukup. Semua gerakan tersebut harus diamati secermat mungkin. ingin bangun. Itulah mengapa pada saat terbangun dan tidur maka ia harus langsung mengamati keadaan pikiran saat bangun seperti. Enam j am tidur sangatlah cukup untuk menjaga kesehatan. memandang. Sebaliknya. Ia seharusnya lebih sering bermeditasi dalam po sisi duduk atau berjalan. bangun. yaitu pada saat bangun. bahkan sangat gampang. ngantuk. Saat seorang yogi bangun. segar dan terus mengamati gerakan naik dan turunnya perut. menundukkan kepala dan memasukkan sesendok ke dalam mulut. Jika matanya terasa makin berat. ia harus mulai dengan mengamati gerakan naik turunnya perut. Jika ia berniat bangun dari ranjang. Tidaklah sulit untuk tertidur. maka ia bisa memperpanjang waktu tersebut hingga 5 atau 6 jam. Betapa pun giatnya seorang yogi melakukan medit asi. duduk duduk . Orang juga harus mengamati saat ia mencuci wajah atau mandi. bangun . Saat menyodorkan tangan ke arah makanan. Itulah mengapa mereka yang baru mulai belajar bermeditasi tidak dianjurkan untuk sering-sering berlatih dalam posisi berbaring. Saat seorang yogi makan dan memandang meja makan. Karena biasanya gerakan-gerakan yang terjadi berlangsung cepat. Jika tak ada perubahan apapun. sehingga harus diamati sebanyak yang memungkinkan. segar. berat. mengamati gerakan perut naik dan turun. berat . maka ia bisa bermeditasi saat berbaring. Jika Anda bermeditasi dalam posisi berbar ing maka rasa kantuk cepat datang dan akhirnya Anda jatuh tertidur. Mengamati dengan cara demikian maka rasa kantuk akan hilang dan mata menjadi segar lagi. membuka dan menutup pintu. merapikan ranjang. sakit . Tapi bagi seorang yogi yang benar-benar serius. Jika matanya terpejam.

Saat ia mengunyah makanan. Dan dalam keadaan ini. turun . ia akan mampu mengamati dengan cermat semua gerakan yang terjadi. Lalu kembali pada gerakan naik dan turunnya perut. mengunyah . mengetahui . ia harus mengamati gerakan ini. Saat mengamati gerakan naik dan turunnya perut ia akan dapat membedakan bahwa gerakan naiknya perut sebagai fenomena fisik dan kegiatan mental mengamatinya sebagai fenomena psikis. mengunyah. ia akan mampu mengamati lebih banyak gerakan yang terjadi. memegan g sendok dan menyendok sup tersebut. saat pikirannya mengembara kesana kemari. saat timbul. dan saat makanan tersebut turun melalui kerongkongannya. tapi saat samâdhi (konsentrasi)nya telah mantap. Semua gerakan yang terjadi seperti menyodorkan tangan. semua gerakan ini harus diamati seperti adanya (pengamatan seperti ini sama seperti cara pengamatan orang Burma saat makan. Saat mengamati demikian dan pikiran melantur. kiri . Saat berjalan pel an. Tapi saat ia semakin terlatih. Tapi secara singkat. tak ada satu individu atau orang yang terlib at. kewaspadaan menjadi hampir simultan (tanpa henti) pada obyek perhatiannya. Mereka yang menggunakan garpu dan sendok atau sumpit harus mengamati gerakan-gerakannya dengan sikap yang sepatutnya). tapi ia harus bertekad untuk dapat mengama ti semuanya. Amati juga. Saat berjalan cepat. mengetahui. Pada awalnya. Tentu saja ia tak dapat mencegah lewatnya beberapa hal yang seharusnya diamati. Yang ada hanyalah obyek pengamatan dan kegiatan mengamati yang berpasangan. Mengamati gerakan-gerakan yang terjadi pada saat makan memang cukup sulit karena terdapat begitu banyak hal untuk dilihat dan diamati. Saat duduk diam. ia harus mengamati. semua gerakan ini harus diamati. amatilah bentuk-bentuk kesadaran. Begitu pula dengan gerakan turunnya perut. kanan.menegakkan kepala. gerakan mencondongkan dan menegakkan kepala. Sampai di sini saya telah menyebutkan begitu banyak hal yang harus diamati oleh seorang yogi. demikian pula dengan gerakan turunn ya perut). misalnya gerakan naik dan turunnya perut (atau dengan kata lain. Amati hal yang sama saat Anda yang perlu diamati. g erakan naiknya perut akan selaras dengan mengamati. Obyek fisik perhatian dan kegiatan mental mengamati akan berlangsung secara berpasangan. angkat. gerakan memutar dan meluruskan tubuh. Inilah y ang harus dilakukan seorang yogi saat ia makan sesendok demi sesendok. Saat ia sampai pada tahap merasakan makanan. Lalu kem bali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. ia akan kehilangan banyak hal untuk diamati. pegal dan sakit serta rasa gatal manakala timbul. Pada awalnya seorang yogi akan mele wati beberapa hal yang seharusnya diamati. Sang yogi pada saatnya akan mengalami sendiri keadaan ini yang sesungguhnya. amati demikian. Lalu kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Amati pula rasa kaku. ia akan semakin menyadari saat pikirannya mulai m elantur hingga akhirnya pikiran itu berhenti melantur. sebenarnya hanya ada beberapa hal mendasar ya ng perlu diamati. Saat ia menikmati dan menelan makanan tersebut. Begitu pula j ika ia sedang makan sup. Pikirannya kemudian akan terpusat pada obyek perhatian. ia harus mengamati demikian. gerakan condong dan meluruskan pinggul. Dengan demikian sang . Jika seorang yogi terus mengamati secara demikian. amati hanya gerakan naik dan turunnya perut. Tapi ia pantang putus asa k arena setiap pemula dalam meditasi akan menghadapi kesulitan yang sama.

Ia lalu menjad i sangat yakin bahwa segala fenomena bersifat hanya sementara. yaitu menyadari bahwa segala sesuatu yang bersifat sementara adalah derita. sebagai tahap awal vipassanâ-ñâna. Bahkan bagi mereka yang memiliki pârâmi istimewa akan mengalami Dhamma-Dhamma ini hanya dalam 7 hari. Para yogi meditasi harus mengenali bahwa mereka berada pada jalan satipatthana i ni. serta terselamatkan dari bahaya kelahiran kembali di alam manapun juga. yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. Sadhu!Sadhu!Sadhu! *** . Sang yogi memang seharusnya merasa puas dalam keyakinan bahwa ia akan mencapai Dhamma-Dhamma ini dalam waktu seperti tersebut di atas. Orang awam selalu berasumsi bahwa baik fenomena mental dan material akan berlangsung selamanya. sang yogi akan menjadi yakin bahwa segala fenomena psiko-fisik terjadi dengan sendirinya. Saat ia terus melakukan meditasi. tanpa menuruti keinginan atau dibawah kendali siapa pun. Pengetahuan tersebut lalu akan diikuti oleh dukkhânupassanâ-ñâna. sang yogi akan menyadari dengan jelas bahwa se gala fenomena besifat aniccâ. Sang yogi akan memahaminya sendiri jika ia terus mengamati. bahkan tidak lebih lama dari satu kedi pan mata. Saat sang yogi terus mengamati. phalañâna dan Nibbâna-Dhamma yang juga dialami oleh para Buddha. Tidak lama setelah itu mereka akan mengalami sendiri magga-ñâna. Keyakinan seperti i ni disebut sebagai aniccânupassana-ñâna. dukkhâ dan anattâ. hal-hal tersebut akan dialami dalam rentang waktu satu bulan. dengan pengetahuan membedakan antara sebab dan akibat. Karenanya. Semoga Anda semua mampu berlatih meditasi dengan baik dan dengan segera mencapai Nibbâna yang telah dialami oleh para Buddha. 20 a tau 15 hari latihan meditasi. Ini adalah juga dukkhanupassana-ñâna. Arahat dan Arya. Pemahaman membedakan ini disebut sebagai nâmarûpa-pariccheda-ñâna. Mereka bersifat tanpa jiwa at au tanpa ego. Tak ada satu fenomena pun yang abadi. Selanjutnya. Dan sesungguhnya. yang merupakan satu bentuk dari penderitaan. bahwa ia akan terbebas d ari sakâyaditthi (kepercayaan akan adanya aku) dan vicikicchâ (keragu-raguan). Sang yogi juga akan menemui berbagai macam kesulitan dalam tubuh. sang yogi akan memahami sendiri dengan jelas bahwa yang ada hanyalah bentuk materi yang menjadi obyek perhatian serta keadaan mental yang mengamatinya. Para Buddha. Dan pengetahuan ini disebut sebagai paccaya-pariggaha-ñâna. Hal ini akan dicapai. Arahat dan Arya. dalam setiap tindakan mengamati. yaitu dari kanak-kanak hingga dewasa. serta yang menyertai masaknya buah itu adalah pârâmi mereka (kebajikan sempurna). untuk memenuhi keinginan mereka mencapai magga-ñâna (pengetahuan akan Sang Jalan). hingga akhirnya ia mencapai Nibbâna. Arahat dan Arya. Kesadaran akan hal ini disebut sebagai anattânupassanâñâna. jika sang yo gi terus berlatih. Mereka harus merasa bahagia akan hal ini serta pada kemungkinan mengalami keadaan samâdhi luhur ini (kedamaian pikiran yang timbul dari konsentrasi) dan ñâna (kebijaksanaan) yang dialami oleh para Buddha. Arahat dan Arya memahami Nibbâna dengan mengikuti hanya jalan ini. ia akan memahami bahwa segala sesuatu yang timbu l akan cepat berlalu. Sangatlah penting untuk mendapatkan pemahaman ini secara benar. Ia harus melanjutkan berlatih meditasi dalam keyakinan ini. Pada kenyataannya tidaklah demikian.yogi akan menyadari dengan sejelas-jelasnya keadaan tanpa henti dari pasangan fenomena fisik dan psikis tersebut. phalañâna (pengetahuan buah dan Sang Jalan) dan Nibbâna-dhamma. Semua bent uk fenomena timbul dan berlalu begitu cepat.

beserta anggota Executive Committee. 1978 . terjemahan dari bahasa Burma ke bahasa Inggris oleh: U Nyi Nyi.Sumber: LATIHAN MEDITASI VIPASSANA PRAKTIS. Buddhasâsanânuggaha Association. Mahâsi Yogi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful