Bhavana/samadhi/meditasi PENGERTIAN, FAEDAH DAN CARA MELAKSANAKAN BHAVANA 1.

PENGERTIAN BHAVANA Bhavana berarti pengembangan, yaitu pengembangan batin dalam melaksanakan pembersihannya. Istilah lain yang arti dan pemakaiannya hampir sama dengan bhava na adalah samadhi. Samadhi berarti pemusatan pikiran pada suatu obyek. Samadhi yang benar (samma samadhi) adalah pemusatan pikiran pada obyek yang dapa t menghilangkan kekotoran batin tatkala pikiran bersatu dengan bentuk-bentuk karma yang baik, sedangkan samadhi yang salah (miccha samadhi) adalah pemusatan pikira n pada obyek yang dapat menimbulkan kekotoran batin tatkala pikiran bersatu dengan bentuk-bentuk karma yang tidak baik. Jika dipergunakan istilah samadhi, maka yan g dimaksud adalah "Samadhi yang benar". 2. FAEDAH BHAVANA Bhavana atau meditasi yang benar akan memberikan faedah bagi orang bagi orang ya ng melaksanakannya. Faedah-faedah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dari prak tek meditasi itu adalah : 1. Bagi orang yang selalu sibuk, meditasi akan menolong dia untuk membebaskan di ri dari ketegangan dan mendapatkan relaksasi atau pelemasan. 2. Bagi orang yang sedang bingung, meditasi akan menolong dia untuk menenangkan diri dari kebingungan dan mendapatkan ketenangan yang bersifat sementara maupun yang bersifat permanen (tetap). 3. Bagi orang yang mempunyai banyak problem atau persoalan yang tidak putusputus nya, meditasi akan menolong dia untuk menimbulkan ketabahan dan keberanian serta mengembangkan kekuatan untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut. 4. Bagi orang yang kurang percaya diri sendiri, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan keparcayaan kepada diri sendiri yag sangat dibutuhkannya itu. 5. Bagi orang yang mempunyai rasa takut dalam hati atau kebimbangan, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan pengertian terhadap keadaan atau sifat yang sebenarnya dari hal-hal yang menyebabkannya takut dan selanjutnya dia akan dapat mengatasi rasa takut itu dalam pikirannya. 6. Bagi orang yang selalu merasa tidak puas terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya atau dalam kehidupan ini, meditasi akan memberikan dia perubahan dan perkembangan yang menuju pada kepuasan batin. 7. Bagi orang yang pikirannya sedang kacau dan berputus asa karena kurangnya pengertian akan sifat kehidupan dan keadaan dunia ini, meditasi akan menolong di a utnuk memberikan pengertian padanya bahwa pikirannya itu kacau untuk hal-hal yang tidak ada gunanya. 8. Bagi orang yang ragu-ragu dan tidak begitu tertarik kepada agama, meditasi ak an menolong dia untuk mengatasi keragu-raguannya itu dan untuk melihat segi-segi serta nilai-nilai yang praktis dalam bimbingan agama. 9. Bagi seorang pelajar atau mahasiswa, meditasi akan menolong dia untuk menimbulkan dan menguatkan ingatannya serta untuk belajar lebih seksama dan lebih efisien. 10. Bagi orang yang kaya, meditasi akan menolong dia untuk dapat melihat sifat d an kegunaan dari kekayaannya itu, bagaimana cara menggunakan harta tersebut untuk kebahagiaan dirinya sendiri dan kebahagiaan orang lain. 11. Bagi orang miskin, meditasi akan menolong dia untuk memiliki rasa puas dan ketenangan serta tidak melampiaskan rasa iri hati terhadap orang lain yang lebih

mampu daripadanya. 12. Bagi seorang pemuda yang sedang berada dalam persimpangan jalan dari kehidupan ini dan dia tidak tahu jalan mana yang akan ditempuhnya, meditasi akan menolong dia untuk mendapatkan pengertian dalam menempuh salah satu jalan yang akan membawa ke tujuannya. 13. Bagi orang yang telah lanjut usia yang telah bosan dengan kehidupan ini, med itasi akan menolong dia ke dalam pengertian yang lebih mendalam mengenai kehidupan ini, dan pengertian tersebut akan memberi dia kelegaan dan kebebasan dari penderitaan serta pahit getirnya kehidupan ini, dan akan menimbulkan kegairahan yang baru bagi dirinya. 14. Bagi orang yang mudah marah, meditasi akan menolong dia mengembangkan kekuatan kemauan untuk mengatasi kelemahan-kelemahannya. 15. Bagi orang yang bersifat iri hati, meditasi akan menolong dia untuk mengerti tentang bahayanya sifat iri hati itu. 16. Bagi orang yang diperbudak oleh panca inderanya, meditasi akan menolong dia untuk belajar menguasai nafsu-nafsu dan keinginannya itu. 17. Bagi orang yang telah ketagihan minuman keras yang memabukkan, meditasi akan menolong dia untuk menyadari dirinya dan melihat cara mengatasi kebiasaan yang berbahaya itu yang telah memperbudak dan mengikat dirinya. 18. Bagi orang yang tidak terpelajar atau bodoh, meditasi akan memberikan dia kesempatan untuk mengenal diri dan mengembangkan pengetahuan-pengetahuan yang sangat berguna untuk kesejahteraan diri sendiri dan untuk keluarga serta handai taulannya. 19. Bagi orang yang sungguh-sungguh melakukan latihan meditasi yang benar ini, maka nafsu-nafsu dan emosinya tak mempunyai kesempatan untuk memperbodohi dirinya lagi. 20. Bagi orang yang bijaksana, meditasi akan membawa dia kepada kesadaran yang lebih tinggi dan pencapaian penerangan sempurna; dia akan dapat melihat segala sesuatu dengan sewajarnya dan tidak akan terseret lagi ke dalam persoalanpersoal an yang remeh. 21. Selanjutnya, dalam agama Buddha, meditasi yang benar itu dipergunakan untuk membebaskan diri dari segala penderitaan, untuk mencapai Nibbana. Demikianlah beberapa faedah praktis yang dapat dihasilkan dari latihan meditasi. Faedah-faedah ini merupakan milik yang akan ditemui dalam pikiran sendiri. 3. CARA MELAKSANAKAN BHAVANA Orang yang baru belajar meditasi sebaiknya mencari tempat yang cocok untuk melakukan meditasi. Tempat itu adalah tempat yang sunyi dan tenang, bebas dari gangguan orang-orang di sekitarnya, bebas dari gangguan nyamuk. Untuk tahap permulaan, hendaknya orang berlatih di tempat yang sama, jangan pindah-pindah tempat. Jika meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan di mana saja di setiap tempat, baik di kantor, di pasar, di kebun, di hutan, di goa, dikuburan, maupun di tempat yang ramai. Waktu untu melaksanakannya dapat dipilih sendiri. Biasanya waktu yang baik untuk bermeditasi adalah pagi hari antara pukul 04.00 sampai pukul 07.00 dan malam har i antara pukul 17.00 sampai pukul 22.00. Jika waktu untuk bermeditasi telah ditent ukan, maka waktu tersebut hendaknya digunakan khusus untuk bermeditasi. Meditasi sebaiknya dilakukan setiap hari dengan waktu yang sama secara teratur atau konti nyu. Bila meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan kapan saja, pada setiap waktu. Orang bebas memilih posisi meditasi. Biasanya posisi meditasi yang baik adalah d uduk bersila di lantai yang beralas, dengan meletakkan kaki kanan di atas kaki kiri, dan tangan kanan menumpu tangan kiri di pangkuan. Atau boleh juga dalam posisi seten gah

sila, dengan kaki dilipat ke samping. Bahkan kalau tidak memungkinkan, maka dipersilahkan duduk di kursi. Yang penting adalah bahwa badan dan kepala harus t egak, tetapi tidak kaku atau tegang. Duduklah seenaknya, jangan bersandar. Mulut dan m ata harus tertutup. Selama meditasi berlangsung hendaknya diusahakan untuk tidak menggerakkan anggota badan, jika tidak perlu. Namun bila badan jasmani merasa ti dak enak, maka diperbolehkan untuk menggerakkan tubuh atau mengubah sikap meditasi. Tetapi, hal ini harus dilakukan perlahan-lahan, disertai dengan penuh perhatian dan kesadaran. Jika meditasinya telah maju, maka dapat dilakukan dalam berbagai posi si, baik berdiri, berjalan, maupun berbaring. Sebelum melaksanakan meditasi, sebaiknya diminta petunjuk atau nasehat dari guru meditasi atau mereka yang telah berpengalaman mengenai meditasi, agar dapat dica pai sukses dalam bermeditasi. Pada saat hendak bermeditasi, sebaiknya dibacakan paritta terlebih dahulu. Selan jutnya, laksanakanlah meditasi dengan tekun. Pikiran dipusatkan pada obyek yang telah di pilih. Pada tingkat permulaan, tentunya pikiran akan lari dari obyek. Hal ini biasa, ka rena pikiran itu lincah, binal, dan selalu bergerak. Namun, hendaknya orang yang bermeditasi selalu sadar dan waspada terhadap pikiran. Bila pikiran itu lari dar i obyek, ia sadar bahwa pikiran itu lari, dan cepat mengembalikan pikiran itu pada obyek semula. Bila hal ini dapat dilaksanakan dengan baik, maka kemajuan dalam meditasi pasti akan diperoleh. Pembagian Bhavana Bhavana dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu : 1. Samatha Bhavana, berarti pengembangan ketenangan batin. 2. Vipassana Bhavana, berarti pengembangan pandangan terang. Diantara kedua jenis bhavana ini terdapat perbedaan. Perbedaan itu mencakup: 1. Tujuannya Samatha Bhavana merupakan pengembangan batin yang bertujuan untuk mencapai ketenangan. Dalam Samatha Bhavana, batin terutama pikiran terpusat dan tertuju p ada suatu obyek. Jadi pikiran tidak berhamburan ke segala penjuru, pikiran tidak ber keliaran kesana kemari, pikiran tidak melamun dan mengembara tanpa tujuan. Dengan melaksanakan Samatha Bhavana, rintangan-rintangan batin tidak dapat dilenyapkan secara menyeluruh. Jadi kekotoran batin hanya dapat diendapkan, sepe rti batu besar yang menekan rumput hingga tertidur di tanah. Dengan demikian, Samath a Bhavana hanya dapat mencapai tingkat-tingkat konsentrasi yang disebut jhana-jhan a, dan mencapai berbagai kekuatan batin. Sesungguhnya pikiran yang tenang bukanlah tujuan terakhir dari meditasi. Ketenan gan pikiran hanyalah salah satu keadaan yang diperlukan untuk mengembangkan pandanga n terang atau Vipassana Bhavana. Vipassana Bhavana merupakan pengembangan batin yang bertujuan untuk mencapai pandangan terang. Dengan melaksanakan Vipassana Bhavana, kekotoran-kekotoran batin dapat disadari dan kemudian dibasmi sampai keakar-akarnya, sehingga orang

Sepuluh asubha (sepuluh wujud kekotoran). Obyeknya Obyek yang dipakai dalam Samatha Bhavana ada 40 macam. Vayo kasina = wujud udara atau angin 5. pencapaian Nibbana. Akasa kasina = wujud ruangan terbatas b. Odata kasina = wujud warna putih 9. Sesungguhnya "dalam kitab suci telah ditulis bahwa hanya dengan pandangan terang inilah kita dapat menyucikan diri kita. Vikkhittaka = wujud mayat yang telah hancur lebur 7. Vinilaka = wujud mayat yang berwarna kebiru-biruan 3. Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. 2. sepuluh asubha. Lohitaka = wujud mayat yang berlumuran darah 9. dukkha (derita). 3. Atthika = wujud tengkorak c. Vicchiddaka = wujud mayat yang terbelah di tengahnya 5. Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda). Vikkahayitaka = wujud mayat yang digerogoti binatang-binatang 6. Obyek-obyek meditasi ini dapat dipilih salah satu yang kiranya cocok dengan sifat atau pribadi seseorang. Obyek-obyek itu adalah sepuluh kasina. Teja kasina = wujud api 4. bahwa hidup ini dicengkeram oleh anicca (ketidak-kekalan). Hatavikkhittaka = wujud mayat yang busuk dan hancur 8. obyek yan g dipakai dalam Vipassana Bhavana adalah nama dan rupa (batin dan materi). Devatanussati = perenungan terhadap makhluk-makhluk agung atau para dewa . Pemilihan ini dimaksudkan untuk membantu mempercepat perkembangannya. Keempat puluh macam obyek meditasi itu adalah : a. Samatha Bhavana 1.yang melakukan Vipassana Bhavana dapat melihat hidup dan kehidupan ini dengan sewajarnya. dan tidak dengan jalan lain". empat appamañña. Dhammanussati = perenungan terhadap Dhamma 3. Uddhumataka = wujud mayat yang membengkak 2. pada umumnya orang yang bermeditasi sering mendapat gangguan atau halangan atau rintangan. Vipassana Bhavana dapat menuju ke arah pembersihan batin. Lohita kasina = wujud warna merah 8. Vipubbaka = wujud mayat yang bernanah 4. Caganussati = perenungan terhadap kebajikan 6. yaitu lima nivarana dan sepuluh palibodha. Pita kasina = wujud warna kuning 7. Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan). Aloka kasina = wujud cahaya 10. satu catudhatuvavatthana. Nila kasina = wujud warna biru 6. Penghalangnya Dalam melaksanakan Samatha Bhavana. dan empat arupa. yang disebut sepuluh vipassanupakilesa. terdapat pula rintangan-rintang an yang dapat menghambat perkembangan pandangan terang. Apo kasina = wujud air 3. Pemilihan sebaiknya dilakukan dengan bantuan seorang guru. satu aharapatikulasañña. yaitu : 1. yaitu : 1. Buddhanussati = perenungan terhadap Buddha 2. atau em pat satipatthana. pembebasan sempurna. Silanussati = perenungan terhadap sila 5. dan anatta (tanpa aku yang kekal). yaitu : 1. sepuluh anussati. Puluvaka = wujud mayat yang dikerubungi belatung 10. Sebaliknya. EMPAT PULUH MACAM OBYEK MEDITASI Dalam Samatha Bhavana ada 40 macam obyek meditasi. Sanghanussati = perenungan terhadap Sangha 4. Dengan demikian. Pathavi kasina = wujud tanah 2.

dan sadar. dapat dipakai kebun yang baru dicangkul atau segumpal tanah yang dibulatkan. Empat arupa (empat perenungan tanpa materi). Karuna = belas kasihan 3. Metta = cinta kasih yang universal. mula-mula orang harus memusatkan seluruh perhatiannya pada bulatan yang berwarna biru misalnya. Anapanasati = perenungan terhadap pernapasan 10. b. Selanjutnya. papan. terbelah di tengahnya. Dalam kasina angin. Akincaññayatana-citta = obyek bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan Berikut penjelasan lebih mendetil tentang masing-masing obyek meditasi diatas : a. atau bunga yang berwarna biru. orang melihat atau membayangkan sesosok tubuh yang tel ah menjadi mayat diturunkan ke dalam lubang kuburan. Akasanancayatana-citta = obyek kesadaran yang tanpa batas 3. dapat dipakai angin yang berhembus di pohon-pohon atau badan. dapat dipakai benda-ben da seperti bulatan dari kertas. membiru. Disini. kuning. Kasinugaghatimakasapaññatti = obyek ruangan yang sudah keluar dari kasina 2. berlumuran darah. tidak dapat dihin dari". dan akhirnya merupakan tengkorak. or ang harus berjuang agar pikirannya tetap berjaga-jaga. merah. dan bulatan terse but kelihatan menjadi makin semu dan akhirnya sebagai bayangan pikiran saja. Satu aharapatikulasanna (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) f. Natthibhavapaññati = obyek kekosongan 4. seperti gambar pikiran mengenai mayat yang membengka k dan lain-lain. benda-benda di sekeliling bulatan tersebut seolah-olah lenyap.7. Disinilah hendaknya orang memegang dengan teguh di dalam pikirannya obyek yang berharga yang telah timbul. hancur dan membusuk. Upasamanussati = perenungan terhadap Nibbana atau Nirwana d. Kayagatasati = perenungan terhadap badan jasmani 9. Mudita = perasaan simpati 4. Dalam kasina warna. bernanah. dapat dipakai sebuah telaga atau air yang ada di dalam ember. Dalam kasina r uangan terbatas. Sementara itu. dapat dipakai api yang menyala yang di depannya diletakkan seng yang berlobang. yaitu : 1. waspada. Dalam kasina api. Dalam kasina air. Marananussati = perenungan terhadap kematian 8. Empat appamañña (empat keadaan yang tidak terbatas). Selanjutnya. "Badanku ini juga mempunyai sifat-sifat itu sebagai kodratnya. dapat dipakai ruangan kosong yang mempunyai batas-batas disekelilingny a seperti drum dan lain-lain. yaitu : 1. membengkak. dikoyak-koyak oleh burung gagak atau serigala. Dalam kasina cahaya. c. atau putih. Kini. Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda) Dalam kasina tanah. orang masih melihat bulatan biru itu di dalam pikirannya. dengan memandang terus pada bulatan itu. walaupun mata dibuka atau ditutup. yang makin lama makin terang seperti bulatan dari rembulan. kain. Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan) . Sepuluh asubha (sepuluh wujud kekotoran) Dalam sepuluh asubha ini. dikerubungi oleh lalat dan belatung. ia menarik kesimpulan terhadap badannya sendir i. Upekkha = keseimbangan batin e. dapat dipakai cahaya matahari atau bulan yang memantul di dinding atau di lantai melalui jendela dan lain-lain. tanpa pamrih 2. Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dal am badan jasmani) g.

gigi. patut menerima persembahan. dengan sadar ia mengeluarkan napas. direnungkan kebajikan berdana yang telah dilaksanakan. yang tidak patah. empedu. serta keadaan yang bagaimana menungguku setelah kematian. Empat appamañña (empat keadaan yang tidak terbatas) Empat appamañña ini sering disebut juga sebagai Brahma-Vihara (kediaman yang luhur). kotoran. Namun. Dalam devatanussati. dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing. Akhirnya. Dalam Sanghanussati. guru-guru. bahwa badan ini harus dibagi-bagikan olehku kepada ulat-ulat. air kencing. y ang tidak ternoda. dan binatang lainnya yang hidup dengan ini. sempurna pengetahuan dan tingkah lakunya. orang merenungkan keluar masuknya napas. dan menuju pemusatan pikiran. d. yang patut dimuliakan. bahwa di dalam badan ini terdapat rambut kepala. hancurnya keinginan. lemak. Setelah itu. karena ia tidak mungkin dapat memancarkan cinta kasih sejati bila ia membenci da n meremehkan dirinya sendiri. patut meneri ma tempat bernaung. yang menyebabkan musnahnya kekikiran. kutu. selaput dada. perut. yang tersulit adalah memancarkan cinta kasih kepada musuh-musuhnya. Dalam melaksanakan metta-bhavana. kuku. tak lapuk oleh waktu .Dalam Buddhanussati. daging. Keenam sifat Dhamma itu adalah telah sempurna dibabarkan. ingus. paru-paru. Dalam hal ini mungkin timbul perasaan dendam atau sakit hati. dan otak. Dalam upasamanussati. Kesembilan sifat Buddha tersebut adalah maha suci. pembimbing manusia yang tiada taranya. direnungkan sembilan sifat Ariya-Sangha. keringat. ginjal. yang dipuji oleh para bijaksana. Dalam Dhammanussati. tulang. limpa. kematian aka n datang menyongsongku dan makhluk lainnya. Dalam caganussati. Dalam kayagatasati. Dengan sadar ia menarik napas. direnungkan enam sifat Dhamma. jantung. Dalam anapanasati. teman-teman laki-laki dan wanita sekaligus. orang merenungkan Nibbana atau Nirwana yang terbebas dari kekotoran batin. nyata di dalam kehidupan. direnungkan sila yang telah dilaksanakan. di mana. Dalam silanussati. telah bertindak lurus. direnungkan sembilan sifat Buddha. darah. tela h bertindak benar. belatung. sempurna menempuh jalan ke Nibbana. dari telapak kaki ke atas dan dari puncak kepala ke bawah. yang diselubungi kulit dan penuh kekotoran . direnungkan makhluk-makhluk agung atau para dewa yang berbahagia. menuntun ke dalam batin. kulit. bulu badan. sumsum. patut menerima penghormatan. nanah. patut menerima bingkisan. bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan. yang sadar. telah bertindak patut. orang harus merenungkan bahwa pada suatu hari. air mata. cinta kasih dipancarkan kepada orang tu a. usu s. guru para dewa dan manusia. mengundang untuk dibuktikan. yang sedang menikmati hasil dari perbuatan baik yang telah dilakukan nya. pengenal semua alam. cairan sendi. hati. saluran usus. lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya di alam semesta. lendir. telah mencapai penerangan sempurna. urat. Dalam marananussati. ludah. orang merenungkan 32 bagian anggota tubuh. hendaknya diusahakan untuk mengatasi kebencian itu dengan merenungkan sifat-sifat yang bai . putusnya lingkaran tumimbal lahir. seseorang harus mulai dari dirinya sen diri. dan melalui apa oran g akan meninggal. Kesembilan sifat Ariya-Sangha itu adalah telah bertindak dengan baik. m inyak kulit.

Ia harus berul angulang memikirkan penembusan ruangan itu dengan sadar. orang memancarkan belas kasihan kepada orang yang sedang ditimpa kemalangan. gigi. Empat arupa (empat perenungan tanpa materi) Dalam kasinugaghatimakasapaññati. Umpamanya : angin yang ada di dalam perut dan usus. bulu badan. Vayo-dhatu (unsur angin atau unsur gerak). direnungkan bahwa apapun yang tela h dimakan. dan penderitaan. ia turut berbahagia melihat kebahagiaan orang lain. orang memancarkan perasaan simpati kepada orang yang sedang bersuka-cita. untung dan rugi. batin yang telah memperoleh gambaran kasina dikembangkan ke dalam perenungan ruangan yang tanpa batas sambil membayangkan. Umpamanya : setelah selesai makan dan minum. dan menembus tanpa batas. g. lendir. ruangan yang tanpa batas itu ditembus dengan kesadarannya sambil merenungkan. orang akan tetap tenang menghadapi suka dan duka. pikiran ditujukan kepada ruangan yang tanpa batas. 3. Pathavi-dhatu (unsur tanah atau unsur padat). Dalam akincaññayatana-citta. ialah segala sesuatu yang bersifat p anas dingin. dikunyah. "Tak terbataslah kesadaran itu". nanah. bentuk-bentuk pi . orang harus mengarahkan perhatiannya pada kekosongan atau kehampaan dan tidak ada apa-apanya dari kesadaran terhadap ruangan yang tan pa batas itu. atau bila sedang sakit. Dalam karuna-bhavana. orang merenungkan keadaan kekosongan sebagai ketenangan atau kesejahteraan. Jadi. mencurahkan perhatiannya kepada hal tersebut. yaitu : 1. bad an akan terasa panas dingin. direnungkan bahwa di dalam badan jasmani terdapa t empat unsur materi. diminum. dipusatkan di dalamnya. ialah segala sesuatu yang bersifat ber hubungan yang satu dengan yang lain atau melekat. dan setelah itu ia mengembangkan pencapaian dari sisa unsur-unsur batin yang penghabisan. "Ruangan! Ruangan! Tak terbatas ruangan ini!" dan kemudian gambaran kasina dihilangkan. "Tidak ada apa-apa di sana! Kosonglah adanya ini". Satu aharapatikulasañña (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) Dalam satu aharapatikulasañña. dara h. dicicipi. f. 4. direnungkan bahwa makanan adalah barang yang menjijikkan bila telah berada di dalam perut. ialah segala sesuatu yang bersifat bergerak. yaitu perasaan. Ia terus menerus merenungkan. Dalam akasanancayatana-citta. semuanya akan berakhir sebagai kotoran (ti nja) dan air seni (urine). Umpamanya : rambut kepala. kesengsaraan. dan lain-lain. Umpamanya : empedu. Dalam upekkha-bhavana. 2. Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan jasmani) Dalam satu catudhatuvavatthana.k dari musuhnya dan jangan menghiraukan kejelekan-kejelekan yang ada padanya. dan lain-lain. Apo-dhatu (unsur air atau unsur cair). Perl u diingat bahwa kebencian hanya dapat ditaklukkan dengan cinta kasih. Tejo-dhatu (unsur api atau unsur panas). diliputi kesedihan. e. Dalam mudita-bhavana. Dalam natthibhavapaññati. dan lain-lain. pencerapan. angin yang keluar masuk waktu bernapas. kuku. pujian dan celaan. ialah segala sesuatu yang bersi fat keras atau padat.

Untuk membebaskan diri dari kemalasan dan kelelahan. kebajikan. tanpa disertai kebijaksanaan. Avasa (tempat tinggal) 2. yaitu : 1. kesunyian. setelah kekosongan itu dicapai. Ñati (orangtua. yaitu: 1. Vicikiccha (keragu-raguan) Untuk menaklukkan kelima rintangan tersebut. berusaha untuk menguasai pikiran dan mengendalikan indriya indriyanya. kebebasan. tanpa disertai kebijaksanaan. Nafsu-nafsu keinginan (kamachanda) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan obyek yang indah. Untuk menaklukkan kemauan jahat hendaknya orang senantiasa melaksanakan meditasi cinta kasih. Gana (murid dan teman) 5. rasa malas. Thina-middha (kemalasan dan kelelahan) 4. orang hendaknya senantiasa mempelajari dan memahami kitab suci Tripitaka. Uddhacca-kukkucca (kegelisahan dan kekhawatiran) 5. seolah-olah tidak ada pencerapan lagi 2. Untuk membebaskan diri dari keragu-raguan. Nivarana ini ada lima macam. tentang kepuasan. Dhamma. Keragu-raguan (vicikiccha) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatika n sesuatu yang menyebabkan timbulnya keragu-raguan. keluarga. mengantuk sesudah makan. Addhana (perjalanan) 7. tanpa disertai kebijaksanaan. Jadi. Kula (pembantu dan orang yang bertanggung jawab) 3. dan Sangha. ora ng hendaknya senantiasa merenungkan suatu cahaya sampai terserap ke dalam batin. bebas dari nafsu-nafsu. kelelahan. tanpa disertai kebijaksanaan. senantiasa berbicara tentang kesempurnaan hidup. Labha (keuntungan) 4. Kemalasan dan kelelahan (thina-middha) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan rasa segan. tanpa disertai kebijaksanaan. Kamma (pekerjaan) 6. Kegelisahan dan kekhawatiran (uddhacca-kukkucca) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan ketidak-tenteraman pikiran. Abadha (penyakit) . orang hendaknya senantiasa meneguhkan keyakinan pada Buddha. senantiasa merenungkan ajaran-ajaran Sang Buddha dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk membebaskan diri dari nafsu keinginan. Untuk mengatasi kegelisahan dan kekhawatiran.kiran. senantiasa ingat bahwa setiap orang adalah pemilik dan pewaris dari perbuatannya sendiri. Byapada (kemauan jahat) 3. orang harus mengetahui sebab-sebab timbulnya nivarana dan berusaha menghindari sebab-sebab itu serta melakukan usah ausaha yang dapat melenyapkan nivarana itu. senantiasa melihat penderitaan di dalam ketidak-kekalan. hendaknya orang senantiasa melaksanakan meditasi deng an memakai obyek yang kotor atau menjijikkan dan berusaha menghindari obyek-obyek yang bisa merangsang. maka kesadaran mengenai kekosongan itu dilepas. dan kesadaran sampai batas kelenyapannya. Kemauan jahat (byapada) akan timbul apabila orang berulang-ulang memperhatikan obyek yang menyebabkan timbulnya kebencian. LIMA MACAM NIVARANA DAN SEPULUH MACAM PALIBODHA Lima macam nivarana Nivarana berarti rintangan atau penghalang batin yang selalu menghambat perkembangan pikiran. serta berusaha melaksanakan sila dengan sempurna. dan saudara) 8. Palibodha ini ada sepuluh macam. Kamachanda (nafsu-nafsu keinginan) 2. Sepuluh macam palibodha Palibodha berarti gangguan dalam meditasi yang menyebabkan batin gelisah dan tid ak mampu memusatkan pikiran pada obyek.

Ia merasa khawatir akan pekerjaannya yang belum selesai. agar orang dapat memusatkan pikiran dengan baik. pendiriannya tidak tetap. pita kasina. Ia merasa khawatir akan pembantunya dan ora ng yang bertanggung jawab atas harta bendanya.9. Gantha (pelajaran) 10. Dhammanussati. Untuk mereka yang mempunyai saddhacarita. lohita kasina. cenderung ke arah panas hati. cerdik. atau perilaku. menggantungkan diri pada pendapat orang lain. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah empat appamañña dan empat kasina (nila kasina. Orang yang keras kebenciannya atau Dosacarita 3. dan saudara-saudaranya. suka memerintah dan mendikte orang lain. suka jengkel. suka marah. sombong. s uka mendengarkan Dhamma. Orang yang keras nafsu lobanya atau Ragacarita 2. apakah meditasi ini akan membawa keuntungan baginya. keluarganya. malas. Orang yang mempunyai dosacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan kebencian. yaitu manusia itu dapat dibagi menjadi enam golongan berdasarkan sifat-sifat yang dimilikinya: 1. Sanghanussati. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah anapanasati. dermawan. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh asubha dan sa tu kayagatasati. 3. Ia merasa khawatir akan pelajaran yang ditinggalkannya. kadang-kadang kukuh memegang suatu pandangan. dan odata kasina). pada umumnya orang yang bermeditasi sering juga mendapat gangguan yang disebut palibodha. tak senan g melihat kesalahan walaupun kecil. suka bingung. suka ragu-ragu. terdapat pembagian sifat-sifat secara umum yang berdasarkan atas keadaan batin manusia. Ia merasa khawatir akan murid-murid dan teman-temannya. jujur. Untuk mereka yang mempunyai dosacarita. Orang yang bodoh (dungu) atau Mohacarita 4. Orang yang mempunyai saddhacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan keyakinan. suka bermusuhan. memandang rendah orang lain. Ia merasa khawa tir akan kemungkinan timbulnya penyakit. Orang yang tebal keyakinannya atau Saddhacarita 5. Orang yang suka melamun atau Vitakkacarita Orang yang mempunyai ragacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan loba. Ia mera sa khawatir akan orang tuanya. perangai. Ia merasa khawatir akan persoalannya . mementingkan diri sendiri. Untuk mereka yang mempunyai ragacarita. yakin pada sesuatu yang dianggap baik. mudah melupakan kesalahan orang lain. suka iri hati. tak mau tahu terhadap kebajikan orang lain walaupun be sar. Ia merasa khawatir akan bermacam-macam kekuatan magis yang dipertunjukkan. terikat dengan rumahnya. cenderung ke arah kelemahan batin. Palibodha ini harus dibasmi. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah enam anussati (Buddhanussati. suka kha watir. . Orang yang bijaksana (pandai) atau Buddhicarita 6. Ia merasa khawatir akan tempat tinggalnya. Ia merasa khawatir akan perjalanan jauh yang harus ditempuhnya. Orang yang mempunyai mohacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan kebodohan batin. pikiran ruwet. Di dalam Abhidhamma. kagum melihat suatu kebajikan walaupun itu kec il sekali. ENAM MACAM CARITA Carita berarti sifat. cenderung ke arah keindahan dan kecantikan. cenderung ke arah rendah hati. suka menemui orang-orang suci. takut akan kemerosotan kekuatan magisnya. Untuk mereka yang mempunyai mohacarita.Iddhi (kekuatan gaib) Dalam melaksanakan meditasi. berambisi besar.

pikiran baru akan dipusatkan pada obyek. jelas. dan mulai timbulnya patibhaga-nimitta. Uggaha-Nimitta (gambaran batin mencapai) 3. tetap. 5. Mengenai uggaha-nimitta. parikamma-nimitta merupakan gambaran atau bentuk dari obyek dalam keadaan yang sebenarnya. maka obyek yang cocok untuk melaksanakan Samatha Bhavana ialah anapanasati. tidak suka bekerja untuk kepentingan sosial. sering bermeditasi. Orang yang mempunyai vitakkavcarita melaksanakan sesuatu berdasarkan tergesa-ges a. sepuluh asubha. aharapatikulasañña. satu kayagatasati. seperti patung Buddha. TIGA MACAM NIMITTA Nimitta berarti suatu pertanda atau gambaran yang ada hubungannya dengan perkembangan obyek meditasi. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi yan g telah melekat pada pikiran. terbebas dari gangguan. Na . 4. Nimitta ini ada tiga macam. Orang yang mempunyai buddhicarita atau ñanacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan berhati-hati. mempunyai kawankaw an yang baik. Penjelasan: Pathavi kasina. Jadi. walaupun mata telah dipejamkan. apo kasina. tejo kasina. yaitu : 1.silanussati. Dalam keadaan ini. terpeta dengan nyata. kemudian dibayangkan dalam pikiran. terdapat tiga macam tingkat perkembangan batin. Patibhaga-Nimitta (gambaran batin berlawanan) Mengenai parikamma-nimitta. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi diliha t dengan batin. cenderung ke arah kegugupan. semua obyek meditasi dapat dipakai dalam melaksanakan Samatha Bhavana. Untuk mencapai uggaha-nimitta. vayo kasina. jernih. TIGA MACAM BHAVANA Dalam meditasi. Mengenai patibhaga-nimitta. gambaran suatu obyek yang diambil dalam meditasi. maka obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh kasina. aloka kasina. hingga obyek itu melekat dalam pikiran. yang bentuk gambaran itu berubah menjadi sinar terang di dalam batinnya . suka berteori. patibhaga-nimitta merupakan gambaran pantulan dari obyek yang dipakai. bersedia mendengarkan omongan orang lain. cenderung ke arah perenungan terhadap Tiga Corak Umum (Tilakkhana) . Upacara-Bhavana (perkembangan batin tingkat mendekati konsentrasi) 3. dan empat arupa dapat dijadikan obyek meditasi oleh semua orang tanpa memperhatikan caritanya. yaitu keempat puluh obyek meditasi yang tersebut terdahulu. upasamanussati. uggaha-nimitta merup akan gambaran obyek di dalam batin yang sama dengan bentuk obyek yang dipakai. Jadi. Semua obyek (empat puluh macam obyek meditasi) dapat menghasilkan parikamma-bhavana. pikiran telah siap untuk memasuki pemusatannya. mula-mula dilihat dengan mata. dan catudhatuvavatthana. akasa kasina . Untuk mencapai patibhaga-nimitta. Parikamma-Bhavana (perkembangan batin tingkat pendahuluan) 2. Appana-Bhavana (perkembangan batin tingkat terkonsentrasi dengan kuat) Dalam parikamma-bhavana. pikirannya se ring berkeliaran. dan devatanussati). dan gambaran obyek tersebut dapat dibesarkan serta dikecilkan menurut kemauan. maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah marananussati. Untuk mereka yang mempunyai buddhicarita atau ñanacarita. caganussati. Untuk mereka yang mempunyai vitakkacarita. yaitu : 1. dan satu anapanasati. kegagalan dalam usaha. Dalam upacara-bhavana. Jadi. Parikamma-Nimitta (gambaran batin permulaan) 2. nivarana telah dapat diatasi. Semua obyek (empat puluh macam obyek meditasi) dapat menghasilkan parikamma-nimitta.

ialah pemusatan pikiran yang kuat. tidak muncul kesan-kesan penglihatan maupun pendengaran. keadaan pikiran dalam memegang obyek dengan kuat. marananussati. PENGERTIAN JHANA Jhana berarti kesadaran/pikiran yang memusat dan melekat kuat pada obyek kammatthana/meditasi. timbullah faktor-faktor jhana yang memberi corak dan suasana bagi tiap-tiap jhana itu. 4. sepuluh asubha. satu aharapatikulasanna. Demikian pula ketika bermeditasi. ialah gema pikiran. y aitu : 1. ialah kegiuran atau kenikmatan. Di samping nivarana telah dapat diatasi. batin masih tetap aktif dan berjaga secara sempurna serta sadar sepenuhnya. Keadaan ini hanya dapat dicapai dengan usaha yang ulet dan tekun. 6. 5. FAKTOR-FAKTOR JHANA Di dalam memasuki jhana-jhana. Vitakka dan vicara adalah dua keadaan dari suatu proses yang berkelanjutan. Bunyi lonceng pada saat terkena pu kulan merupakan vitakka. maka akan terjadi bunyi yang bergema. dan satu catudhatuvavatthana.mun konsentrasi pikiran masih belum mantap. pikiran telah dapat tinggal diam dalam jangka waktu yang lama. sedangkan suasana pikiran yang telah berhasil memegang ob . Faktor-faktor jhana tersebut ada lima macam. Ekaggata. yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada obyek yang kuat). Jhana hanya mampu menekan atau mengendapkan kekotoran batin untuk sementara waktu. karena konsentrasi yang penuh dan mantap tela h tercapai. satu kayagatasati. yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada obyek dengan kekuatan appana-samadhi (konsentrasi yang mantap. dan ekaggata). aktivit as panca indera berhenti. Jhana merupakan keadaan batin yang sudah di luar aktivitas panca indera. pun tidak muncul perasaan badan jasmani. 7. Ia tidak dapat melenyapkan kekotoran batin. Vicara. ialah penopang pikiran yang merupakan perenungan permulaan untuk memegang obyek. su kha. Keadaan ini dapat diumpamakan sebagai orang yang telah dewasa yang tel ah dapat berdiri dengan kuat. Dalam appana-bhavana. ialah kebahagiaan yang tak terhingga. Kedu a keadaan ini dapat diumpamakan seperti bunyi lonceng. Dalam keadaan ini. sedangkan gema dari bunyi lonceng itu merupakan vicara. Vitakka. vicara. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah delapan anussati (Buddhanussati. Piti. piti. Suasana pikiran pada saat permulaan memegang obyek disebut vitakka. Dhammanussati. satu anapanasati. namun masih belum mantap. karena jhana tidak kekal. tak jatuh-jatuh lagi. menurut yang dikehendakinya. Pada waktu lonceng dipukul sekali. empat appam añña. Sukha. Hal ini dapat disamakan dengan anak keci l yang baru belajar berdiri. caganussati. devatanussati. Sanghanussati. Obyek-obyek yang dapat dipakai untuk mencapai appana-bhavana ialah sepuluh kasina. Untuk mencapai upacara-bhavana. Walaupun kesan-kesan dari luar telah berhen ti. Sewaktu-waktu jhana dapat merosot. silanussati. 2. upasamanu ssati). tetapi ia ter us berusaha. maka faktor-faktor jhana juga mulai timbul berperanan (vitakka. 3. sering jatuh. dan empat arupa.

dan membuang vitakka da n vicara sekaligus. Vikkhambhana-Pahana adalah pembasmian nivarana dengan kekuatan jhana. bila jhana merosot. yaitu vitakka membasmi thina-middha. hanya dapat membuang 'keadaan batin' satu persatu. da n ekaggata. selama itu pula nivarana tidak timbul. sedangkan menurut Abhidhamma. piti membasmi byapada. Dalam Abhidhamma. Selama jhana masih ada. Apabila seseorang yang sedang dalam suatu perjalanan merasa sangat haus. Namun. yaitu upekkha dan ekaggata. Catuttha-Jhana. tingkatan rupa jhana ad a lima. piti. dan jumlah kesadaran yang berada dalam rupavacara-citta. ialah jhana tingkat pertama. Tingkatan jhana. dan ekaggata membasmi kamachanda. terdapat delapan tingkat jhana. Mengenai piti. Keadaan batinnya terdiri dari lima corak. yaitu empat rupa jhana dan empat arupa jhana. pikiran telah terpusat pada obyek dengan kuat. dalam Sutta Pitaka. maka nivarana akan timbul lag i. 3. ialah jhana tingkat kedua. 5. . sehingga kekotora n batin tidak mampu mengganggu lagi. Perasaan ini merupakan piti. piti. Karena itu. ialah keadaan dari konsepsi ruangan yang tanpa batas. Perasaan ini merupakan sukha. tikkha-puggala (orang yang cerdas) mampu menyelidiki dan melihat kekotor an dari vitakka dan vicara sekaligus dalam waktu yang sama. TINGKAT-TINGKAT JHANA Menurut Sutta Pitaka. yaitu dutiya-jhana membuang vitakka. Keadaan batinnya terdiri dari dua corak.yek dengan kuat disebut vicara. sebenarnya secara terperinci terdapat lima macam. ialah jhana tingkat ketiga. senang. 6. sukha. Keadaan batinnya terdiri dari empat corak. kiranya di sini tidak begitu perlu diuraikan. vicara membasmi vicikiccha. karena hal ini disesuaikan menurut keadaan. karena di sini kegiuran timbul akibat keterbatasan dari tekanan perasaan. terdapat sembilan tingkat jhana. tingkatan rupa jhana ada empat . maka ia akan merasa gembira. 4. Keadaan batinnya terdiri dari dua corak. sukha membasmi uddhaccakukkuc ca. Pancama-Jhana. Dalam ekaggata. yaitu sukha dan ekaggata. sebab kesadaran dari manda-puggala (orang yang tidak cerdas) tidak dapat melihat kekotoran dari vitakka dan vicara keduaduanya ini sekaligus dalam waktu yang sama. Akasanancayatana-Jhana. yaitu vitakka. menurut Abhidhamma. Dutiya-Jhana. Tetapi. 8. Jhana merupakan alat pembasmi nivarana. terdiri atas : 1. ialah jhana tingkat keempat. setelah ia meminum air itu. Antara piti dan sukha terdapat pula perbedaan perasaan yang khas seperti berikut . Tetapi. yait u lima rupa jhana dan empat arupa jhana. mak a perasaan berobah menjadi nikmat dan segar. dan tatiya-jhana membuang vic ara. yaitu dengan mengendapkan kekotoran batin. yaitu vicara. 2. dan ekagga ta. sukha. Selanjutnya. Pathama-Jhana. Tatiya-Jhana. vicara. da n tergiur melihatnya. ialah jhana tingkat kelima. menurut bagian. dan kemudian ia menemukan sebuah sumber air.

Paccavekkhana-vasi. ialah keadaan dari konsepsi kesadaran yang tak terbatas. karuna. dan catuttha-jhana. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah sepuluh asubha dan satu kayagatasati. 4. Adhitthana-vasi. Samapajjana-vasi. karen a faktor ini masih terasa kasar untuk jhana keempat. Abhiñña akan timbul dalam diri orang yang telah mencapai jhana-jhana. ialah jhana tingkat keempat. kemudian ia ingin mencapai jhana-jhana tingkat selanjutnya. 9. 10. su kha. karena kedua faktor ini bersifat kasar untuk jhana kedua. Untuk mencapai dutiya-jhana. Viññanancayatana-Jhana. 7. 6. Untuk mencapai pathama-jhana.7. Di dalam jhana keempat ini ha nya ada faktor ekaggata dan ditambah dengan upekkha (keseimbangan batin). Pathama-Jhana. ialah jhana tingkat ketiga. dimana piti mulai lenyap. terdiri atas : 1. vicara. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah tiga appamañña (metta. dimana vitakka dan vicara mulai leny ap. Untuk mencapai pancama-jhana. 5. dan ekaggata. dan ekaggata. 9. ialah keadaan dari konsepsi bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan. sukha. yaitu keahlian dalam meninjauan terhadap jhana. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah empat arupa. 8. ialah jhana tingkat pertama. Akincaññayatana-Jhana. ENAM MACAM ABHIÑÑA Abhiñña berarti kemampuan atau kekuatan batin yang luar biasa. Akincaññayatana-Jhana. dimana nivarana telah dapat diata si dengan seksama. ialah jhana tingkat kedua. dan mudita). LIMA MACAM VASI Vasi berarti keahlian atau kemahiran atau kemampuan untuk mengolah jhana. yaitu keahlian dalam menentukan berapa lama hendak berada da lam jhana. Tingkatan jhana. atau tenaga batin. yaitu keahlian dalam 'keluar' dari jhana. Untuk mencapai empat arupa jhana. obyek yang harus diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah satu upekkha. yaitu keahlian dalam pemikiran untuk memasuki jhana menurut kehendaknya. Jika seseorang telah mencapai jhana tingkat pertama (pathama-jhana). Avajjana-vasi. 2. Faktor-faktor jhana ya ng masih ada adalah piti. Penjelasan : Sepuluh kasina dan satu anapanasati dapat dijasikan obyek meditasi oleh semua or ang untuk mencapai lima rupa jhana. Faktor-faktor jhana yang masih ada adalah sukha dan ekaggata. Catuttha-Jhana. 5. Kelima macam vasi tersebut ialah : 1. 4. piti. dimana jhana . yaitu keahlian dalam memasuki jhana. ialah keadaan dari konsepsi kekosongan. 3. Faktor-faktor jhana yang timbul adalah vitakka. 3. Dutiya-Jhana. 8. Nevasaññanasaññayatana-Jhana. karena pi ti ini masih terasa kasar untuk jhana ketiga. Tatiya-Jhana. menurut Sutta Pitaka. Akasanancayatana-Jhana. dimana sukha mulai lenyap. Nevasaññanasaññayatana-Jhana. Viññanancayatana-Jhana. 2. Vutthana-vasi. maka ia harus mempunyai lima mac am vasi. tatiya-jhana.

raksasa. ialah kemampuan untuk berubah bentuk. Dibbasotañana (telinga dewa). Perlu diingat bahwa tujuan umat Buddha bukanlah untuk mendapatkan kegaiban dan mujijat yang aneh-aneh dan luar biasa. Pancakkhandha (lima kelompok faktor kehidupan) terdiri atas : rupa-khandha (kelompok jasmani). dan lain-lain. Cetopariyañana atau paracittavijañana. Pubbenivasanussatiñana. ialah kemampuan untuk mendengar suara-suara dari alam lain. Iddhividhañana. sering disebut sebagai kekuatan gaib atau kekuatan magis atau kesaktian. ialah kemampuan untuk melihat alam-alam halus dan muncul lenyapnya makhluk-makhluk yang bertumimbal lahir sesuai dengan karmanya masing-masing. ialah kemampuan memencarkan melalui konsentrasi. b. EMPAT MACAM SATIPATTHANA Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. Kemampuan memanjat puncak dunia sampai ke alam Brahma. Abhiñña itu ada enam macam dan dapat dibagi atas dua kelompok besar. d. 2. Dibbacakkhuñana atau cutupapatañana (mata dewa). ialah kemampuan untuk membaca pikiran makhluk lain. dan viññana-khandha (kelompok kesadaran). Mengenai obyek meditasi yang dapat menimbulkan abhiñña ialah hanya sepuluh kasina. Kemampuan melawan api. Sesungguhnya. obyeknya adalah nama dan rupa (batin dan materi). atau membuat diri menjadi tak tampak.tingkat keempat (catuttha-jhana) merupakan dasar untuk timbulnya abhiñña ini. yaitu : 1. Vipassana Bhavana 1. Pemusnahan kekotoran batin ini akan membimbing ke arah kesucian tertinggi atau arahat. c. Namun. yaitu abhiñña yang duniawi atau lokiya dan abhiñña yang di atas duniawi atau lokuttara. Abhiñña yang di atas duniawi (lokuttara-abhiñña) hanya ada satu macam. taman. Abhiñña yang duniawi (lokiya-abhiñña) terdiri atas lima macam. Manomaya-iddhi. 5. sankhara-khandha (kelompok bentuk pikiran). Sang Buddha tidak membenarkan siswasiswaN ya melakukan sesuatu yang ajaib dan mujijat. seperti menjadi anak kecil. vedana-nupassana (perenungan . yaitu asavakkhayañana. e. saññakhandha (kelompok pencerapan). vedana-khandha (kelompok perasaan). Kemampuan menyentuk bulan dan matahari dengan tangannya. seperti menciptakan istana. karena perbuatan demikian itu tidak akan mempertinggi martabat mereka di mata orang lain. ialah kemampuan untuk menembus ajaran melalui pengetahuan. gunung. Samadhivipphara-iddhi. ialah kemampuan untuk memusnahkan kekotoran batin. yang disebut pancakkhandha itu adalah makhluk. wanita cantik. sehingga dapat melihat dengan nyata bahwa nama dan rupa itu dicengkeram oleh anicca (ketidak-kekalan). Kemampuan menyelam ke dalam bumi bagaikan menyelam ke dalam air. dukkha (derita). Ini terbagi lagi atas beberapa macam. ular. Adhitthana-iddhi. Lagipula kegaiban it u bukanlah merupakan hal yang penting dalam mencari kebebasan (Nibbana). Vikubbana-iddhi. Ñanavipphara-iddhi. yaitu : Kemampuan menembus dinding. Ini dilakukan denga n memperhatikan gerak-gerik nama dan rupa terus menerus. Kemampuan berjalan di atas air bagaikan berjalan di atas tanah yang padat. Kemampuan terbang di angkasa seperti burung. dan anatta (tanpa aku). ialah kemampuan untuk mengubah diri dari satu menjadi banya k atau dari banyak menjadi satu. atau pancakhandha (lima kelompok faktor kehidupan). ialah kemampuan untuk mengingat tumimbal lahir yang lampau dari diri sendiri dan orang lain. hal ini juga tergantung pada kusala-kamma (perbuatan baik) dari kehidupan yang lampau. yang jauh maupun yang dekat. yaitu : a. 3. harimau. pagar. Empat macam satipatthana (empat macam perenungan) terdiri atas : kaya-nupassana (perenungan terhadap badan jasmani). ialah kemampuan mencipta dengan menggunakan pikiran. 4.

keadaan pikira n yang sebenarnya harus diamat-amati. Apabila pikiran sedang dihinggap i hawa nafsu atau terbebas daripadanya. yang dipakai sebagai suatu obyek perhatian murni.terhadap perasaan). Dalam pernapasan. Dhamma-nupassana adalah pancakkhandha. berlangsung. berdiri. sewaktu membungkukkan dan melencangkan badan. dengan menyadari timbul dan tenggelamnya bentuk kehidupan setiap saat. Citta-nupassana (perenungan terhadap pikiran). tetapi tidak dibuat-buat atau sengaja diatur. agar batin menjadi bebas dan tidak terikat. tidak ada tekanan atau paksaan pada pernapasan. duduk. Betapa banyak tenaga yang terbuang dengan percuma karena melamunkan keadaan-keadaan yang telah lalu dan mengkhayalkan keadaan yang akan datang. ketika berpakaian. Jadi. Jadi. Pikiran harus diarahkan pada kenyataan hidup pada saat ini. kesadaran terhadap pernapasan itu pada tingkat permulaan dianggap sebagai obyek untuk meditasi ketenangan (Samatha Bhavana). perasaan tidak senang. Vedana-nupassana adalah vedana-khandha. Masalah-masalah yang telah lewat atau hal-hal yang akan datang tidak boleh dipikirkan pada saat ini. Apabila perasaan telah dapat diatasi dengan tepat. citta-nupassana (perenungan terhadap pikiran). Vedana-nupassana (perenungan terhadap perasaan). Di sini tidak dijalankan penyiksaan badan jasmani dengan maksud untuk mengendalikan badan. Walaupun menurut kebiasaan . atau berbaring. maka hal itu harus disadari. dan Dhammanup assana (perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran). maupun perasaan yang acuh tak acuh. Di sini direnungkan bentuk-bentuk pikiran dengan sewajarnya. Panjang atau pendeknya pernapasan harus disadari. yaitu untuk mengembangkan jhana-jhana. ketika berjalan. dan berguna ialah sadar dan waspada te rhadap segala sesuatu yang dilakukan. Citta-nupassana adalah Viññana-khandha. Salah satu contoh yang paling populer dan praktis tentang meditasi dengan obyek badan jasmani ialah anapanasati (menyadari keluar dan masuknya napas). yang timbul tenggelam ini. Cara meditasi lain yang penting. Tetapi dipergunakan jalan tengah yang sederhana. 1. tidak terikat oleh apapun di dalam dunia ini. 2. dan minum. naik turunnya gelombang kehidupan y ang tidak kekal. Empat macam satipatthana itu adalah pancakkhandha. dapat disadari dengan mudah. Kaya nupassana adalah rupa-khandha. ketika berbicara atau berdiam diri. Di sini direnungkan perasaan yang sedang dialami secara obyektif. direnungkan bentukb entuk pikiran dari lima macam rintangan (nivarana). direnungkan bentuk-bentuk . Dalam anapanasa ti ini. baik perasaan senang. Direnungkan keadaan perasaan yang sebenarnya. Sesungguhnya. Di sini direnungkan segala gerak-gerik pikiran. ketika buang kotoran dan kencing. dan kemudian lenyap kembali. agar perasaan itu tidak membangkitkan bermacam-macam bentuk emosi. Kaya-nupassana (perenungan terhadap badan jasmani). ia juga sangat berguna untuk mengembangkan Pandangan Terang (Vipassana Bhavana). Dhamma-nupassana (perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran). maka batin menjadi bebas. bagaimana ia timbul. b ernapas secara biasa dan wajar. atau nama dan rupa itu sendir i. 4. praktis. sewaktu melihat ke muka dan ke belakang. makan. Perasaan harus dikendalikan oleh akal dan kebijaksanaan. yang akan berkembang dalam latihan Vipassana itu ialah perhatian y ang tajam dan kesadaran yang kuat. 3.

Akhirnya. bentuk-bentuk pikiran itu ditaklukkan. direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari tujuh faktor Penerangan Agung (Satta Bojjhanga). inilah hidung dan obyek bau.pikiran dari lima kelompok faktor kehidupan (pancakkhandha). maka hal itu harus disadari. direnungkan bentukb entuk pikiran dari enam landasan indriya dalam dan luar (dua belas ayatana). maka hal itu harus disadari. inilah badan dan obyek sentuhan. Ia tahu bagaimana caranya supaya belengg u yang telah dibuang itu tidak timbul lagi kemudian. kegelisahan dan kekhawatiran. Ia tahu bagaimana cara menaklukkan belenggu-belenggu itu. Ia tahu bagaimana ca ranya timbul dan bagaimana caranya lenyap. Ia tahu bagaimana cara timbulnya. kegiuran (piti). Ia merenungkan masalah-masalah yang timbul dan hancur dari bentuk-bentuk pikiran. i nilah telinga dan obyek suara. inilah pemadaman dari penderitaan. dan direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari Empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ariya Saccani). tenaga (viriya). inilah pencerapan. inilah peras aan. Obhasa. SEPULUH MACAM VIPASSANUPAKILESA Vipassanupakilesa berarti kekotoran batin atau rintangan yang menghambat perkembangan Pandangan Terang. inilah bentuk pikiran. Ia tahu bagaimana bentuk-bentuk pikira n itu datang dan timbul. bentuk-bentuk pikiran itu tidak a kan timbul lagi kemudian. penyelidikan Dhamma yang mendalam (Dhamma-Vicaya). Ia tahu bahwa sekali ditaklukkan. pemusatan pikiran (samadhi). kemau an jahat. dan bagaimana cara mengembangkannya dengan sempurna. inilah kesadaran. atau keseimbangan (upekkha). atau keragu-raguan . kemalasan dan kelelahan. inilah asal mula dari penderitaan. yang bentuk dan keadaannya bermaca . Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari lima kelompok faktor kehidupan (pancakkhandha) ialah dengan menyadari bahwa inilah bentuk jasmani. ialah sinar-sinar yang gemerlapan. inilah jal an menuju pemadaman dari penderitaan. di dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. inilah pikiran dan obyek pikiran. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari enam landasan indriya dalam dan luar (dua bleas ayatana) ialah dengan menyadari bahwa inilah mata dan obyek bentuk. 2. Ia tahu bagaimana sekali timbul. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari tujuh faktor Penerangan Agung (Satta Bojjhanga) ialah apabila di dalam diri orang yang bermeditasi timbul kesadaran ( sati). maka hal itu pun harus disadari. inilah lidah dan obyek kec apan. Demikian pula apabila nivarana itu tidak ada di dal am dirinya. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari lima macam rintangan (nivarana) iala h bahwa apabila di dalam diri orang yang bermeditasi timbul nafsu keinginan. yaitu : 1. Ia tahu akan belenggu-belenggu yang timbul dalam hubungan dengan semua itu. ketenangan (passadhi). Vipassanupakilesa ini ada sepuluh macam. Ia tahu bilamana keadaan-keadaan ini tid ak ada di dalam dirinya. Cara merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari Empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ari ya Saccani) ialah dengan menyadari berdasarkan kesunyataan bahwa inilah penderitaan . ia hidup bebas tanpa ikatan dal am dunia ini.

Vipallasa-Dhamma ini ada empat macam dan dapa t dibasmi dengan melaksanakan empat macam Satipatthana. Atta-Vipallasa ini dapat dibasmi . 6. 2. c. EMPAT MACAM VIPALLASA-DHAMMA Vipallasa-Dhamma berarti kekhayalan. Atta-Vipallasa. yang suasananya seolah-olah mengangkat badan naik ke udara. dan pandangan. pikiran. 3. pikiran. Sepuluh macam vipassanupakilesa ini biasanya timbul dalam perkembangan Sammasana-Ñana. pikiran. dan pandangan. Khudaka Piti. yang merupakan perasaan yang nyaman dan nikmat. seperti ombak laut memecah di pantai. Subha-Vipallasa ini dapat dibasmi dengan melaksanakan kaya-nupassana. yang suasananya meriang di se luruh badan. karena tidak memperhatikan saat yang sekarang ini. ialah keyakinan yang kuat dan harapan agar setiap orang juga seperti dirinya. yaitu kekeliruan dari pencerapan. b. ialah keseimbangan batin. Keempat macam Vipallasa-Dhamma itu ialah : 1. dan pandangan. Nikanti. yaitu kekeliruan dari pencerapan. Upekkha. e. yang seolah-olah orang telah bebas dar i penderitaan. 4. dimana pikiran tidak mau bergerak untuk menyadari proses-proses yang timbul 10. yaitu : a. 4. Paggaha. atau kekeliruan yang berken aan dengan paham yang menganggap suatu kebenaran sebagai suatu kesalahan dan kesalahan sebagai suatu kebenaran. 8. ya ng menganggap sesuatu yang derita sebagai bahagia. ialah pengetahuan yang sering timbul dan mengganggu jalannya praktek meditasi. Piti in i ada lima macam menurut keadaannya. ialah kegiuran. Sukha-Vipallasa. ialah kegiuran yang menyerap seluruh badan. yan g menganggap sesuatu yang tanpa aku sebagai aku. Sukha. yang sering timbul dan mengganggu perkembangan kesadaran. 3. Sukha_Vipallasa ini dapat dibasm i dengan melaksanakan vedana-nupassana. ialah perasaan puas terhadap obyek-obyek.mmacam. yaitu ñana yang ketiga. ialah ingatan yang tajam. yang seolah-olah orang telah mencapai penera ngan sejati. 2. Ñana. ya ng menganggap sesuatu yang tidak kekal sebagai kekal. ya ng menganggap sesuatu yang tidak cantik sebagai cantik. Saddha. yang kadang-kadang merupakan pemandangan yang menyenangkan. ialah kegiuran yang mengangkat. yaitu kekeliruan dari pencerapan. ialah usaha yang terlalu giat. yaitu kekeliruan dari pencerapan. 3. pikiran. Upatthana. 5. 9. atau kepalsuan. Ubbonga Piti. yang lebih daripada semestinya. ialah perasaan yang berbahagia. dan pandangan. Nicca-Vipallasa. Passadi. Piti. 7. ialah ketenangan batin. ialah kegiuran yang kecil. ialah kegiuran yang menyeluruh. yang suasananya sel uruh badan seperti terserap oleh perasaan yang menakjubkan. Okkantika Piti. d. ialah kegiuran yang sepintas lalu menggerakkan badan. Nicca-Vipallasa ini dapat dib asmi dengan melaksanakan citta-nupassana. Khanika Piti. yang suasananya seperti bulu badan y ang terangkat atau merinding. Pharana Piti. Subha-Vipallasa.

dukkha (derita). sebagai persiapan untuk memasuki magga (Jalan). sedangkan pikiran yang mengetahui pros es itu adalah nama. 6.Gotrabhu Ñana. Gerakan kaki ketika berjalan adalah rupa. yaitu anicca (ketidak-kekalan).Anuloma Ñana. Bhanga Ñana. dimana kilesa atau kekotoran batin telah dilenyapkan. mencapai phala (hasil) dari magga itu. ialah pengetahuan mengenai penembusan terhadap magga. bentuk atau warna itu adalah rupa. c.Phala Ñana. Nibbida Ñana. 4. ialah pengetahuan mengenai penyesuaian diri dengan Ariya-Sacca (Empat Kesunyataan Mulia). Mengenai membedakan nama dan rupa yang berkenaan dengan panca-indera. Ñana itu ada enam belas macam. ialah pengetahuan mengenai peleburan/pelenyapan nama dan rupa. 2. ialah pengetahuan mengenai keengganan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa. dan anatta. 14. seseorang dapat membedakan nama dari rupa dan rupa dari nama. b. ialah pengetahuan mengenai pemotongan atau pemutusan keadaan duniawi. 11. 13. dukkha. Enam belas macam ñana tersebut di atas diuraikan agak terperinci seperti di bawah ini. 3. ialah pengetahuan mengenai ketakutan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa. ialah pengetahuan mengenai penglihatan akan jalan yang menuju kebebasan. Dalam mendengar bunyi. bunyi itu adalah rupa. 9. ialah pengetahuan mengenai pembabaran phala yang merupakan hasil dari penembusan terhadap magga. Udayabbaya Ñana. ialah pengetahuan mengenai perbedaan nama (batin) dan rupa (materi). 12. dan Nirvana sebagai obyek dari pikiran. dan kesad aran terhadap hal itu adalah nama. 10. ialah pengetahuan mengenai keseimbangan tentang semua bentuk-bentuk kehidupan. Umpamanya.Patisankha Ñana. . dan mendekati Nirvana.Paccavekkhana Ñana. ialah pengetahuan yang menunjukkan nama dan rupa sebagai Tilakkhana (Tiga Corak Umum). dengan melalui ani cca. a natta (tanpa aku). ENAM BELAS MACAM ÑANA Ñana berarti pengetahuan. Paccaya Pariggaha Ñana. Muncitukamyata Ñana.dengan melaksanakan Dhamma-nupassana. Dalam melihat bentuk atau warna. 15. dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Nama-Rupa Pariccheda Ñana Dengan memiliki ñana ini. Apabila orang tekun melaksanakan Vipassana Bhavana. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. 7. ialah pengetahuan mengenai peninjauan terhadap sisa-sisa kilesa atau kekotoran batin yang masih ada. maka akan berkembanglah ñana di dalam dirinya. bau itu adalah rupa. 5. naik dan turunnya rongga perut ketika bernapas adalah rupa. yang menimbulkan keputusan untuk berlatih terus dengan bersemangat. sedangkan kesadaran terhadapa hal itu adalah nama. dan Nirvana sebagai obyek batinnya. yaitu : 1. 4. ialah pengetahuan mengenai kesedihan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa.Sankharupekkha Ñana. Bhaya Ñana. Sammasana Ñana. 1. 8. 16. dalam melaksanakan Vipassana Bhavana.Magga Ñana. Dalam mencium bau. ialah pengetahuan mengenai hubungan sebab dan akibat dari nama dan rupa. Adinava Ñana. ialah pengetahuan mengenai keinginan untuk mencapai kebebasan. Nama-Rupa Pariccheda Ñana. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. ialah pengetahuan mengenai timbul dan lenyapnya nama dan rupa.

Gerak naiknya perut dan gerak turunnya perut ada tiga bagian. Namun. Naik turunnya perut dapat lenyap seben tar atau dalam waktu yang lama. proses itu masih tetap ada. Naik turunnya perut dan bekerjanya proses kesadaran itu berlangsung dengan terat ur. dan bhanga (lenyap). lima. thiti (berlangsung). Jadi. orang dapat merasakan bahwa kehidupan yang lampau. atau enam tingkat. 4.d. Berbagai perasaan lenyap setela h disadari beberapa kali. kesimpulannya ialah bahwa seluruh badan ini adalah rupa. Jadi. pelan. at au tertahan. tak ad a pribadi. dan lain-lain. rupa merupakan sebab. seseorang dapat merasakan nama dan rupa melalui pancaind era sebagai Tilakkhana (Tiga Corak Umum). Sewaktu-waktu ada perasaan yang sangat tertekan dan kadang-kadang agak kurang. 3. dalam hal lain. kalau rongga perut naik. tetapi tidak ada turun. Timbul perasaan tertekan. orang akan merasakan bahwa ketika pernapasan berhenti pada waktu beristirahat ya ng . seperti binatang liar. Rongga perut mungkin turun de ngan keras dan tinggal diam dalam keadaan itu. Akhirnya . Rongga perut mungkin naik. e. Udayabbaya Ñana Dengan memiliki ñana ini. Dalam mencicipi sesuatu. Permulaan dan pengakhiran dari gerakan naik turunnya perut lebih terasa. Keinginan duduk merupakan sebab. dan pikiran adala h nama. Naik turunnya rongga perut hilang. Paccaya Pariggaha Ñana Dalam beberapa hal. yaitu upada (terja di). dia. Dukkha (derita). yang hanya dapat lenyap setelah disadari beberapa kali dengan perlahan-lahan. gunung-gunung. nama merupakan sebab. Yang ada hanya rupa dan nama. Pernapasan dapat berlangsung cepat. dan duduk adalah akibatnya. maka kesadaran akan mengikutinya. Naik dan turunnya perut lenyap berselang-seling. 2. Anicca (ketidak-kekalan). Kadang-kadang orang dapat terkejut. Terlihat cahaya yang terang. rasa itu adalah rupa. atau merasa diri tidak berhasil. aku. dan rupa merupakan akibat. Pikiran menjadi kacau. empat. dan nama merupakan akibat. tiga. keras. tet api kalau dirasakan dengan tangan. Tak ada sesuatu yang disebut makhluk. panas. bergoyang ke muka atau ke belakang. Sering diganggu oleh pemandangan atau khayalan. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. dan kesadaran terhadap hal itu adalah nama. atau lunak. Jadi. dan Anatta (tanpa aku). seperti lampu listrik. Dalam menyentuh suatu benda yang dingin. kalau pikiran bergerak. yaitu. dan hanya terdiri atas n ama dan rupa. seseorang dapat menyadari bahwa gerakan naik turunnya perut itu terdiri atas dua. benda itu adalah rupa. Sammasana Ñana Dengan memiliki ñana ini. halus. yang memperlihatkan adanya kesadar an terhadap Tilakkhana itu. dan yang akan datang hanya terbentuk dari rangkaian sebab dan akibat. Akhirny a. maka g erak jasmani akan mengikutinya. yang sekarang. dan lain-lainnya.

Gerakan naik turun dan kesadaran/pikiran (citta) terasa seolah-olah lenyap. tetapi citta masih bergema. Semua bagian dari benda-benda ini menakutkan. tetapi dapat juga disadari. seolah-olah ada getaran-getaran di uda ra. Kalau melihat pada langit. gembira. dan kematian. dan remang-remang. tetapi tidak seperti takut ketika melihat hantu atau seta n. atau terb ang dengan pesawat terbang. Semua manusia dan makhluk lain. 6. Naik turunnya perut ter asa samar-samar. Bhaya Ñana Timbul perasaan takut. Semua bentuk batin dan fisik menyedih kan. Tidak merasa bahagia. atau naik dengan lift. Terasa panas seluruh badan. Tak ada keinginan untuk bertemu atau bercakap-cakap dengan orang lain. seperti digigit-gigit semut. tidak ada lagi yang menimbulkan rasa takut. Setelah nama dan rupa lenyap. Nama dan rupa yang dianggap sebagai sesuatu yang bagus atau indah. dan kelihatannya hanya samar samar dan suram. kemewahan. tetapi kemampuan untuk mengenal atau menyadari sesuatu masih berjalan dengan baik. terutama pada waktu berjalan atau berdiri. dan tidak terdapat perasaan kenikmatan yang sejati. dan membosankan.berulang-ulang. di mana masih ada kelahiran. dan lebih sen ang tinggal di kamar sendiri saja. Pert amatama. bahkan para dewa dan para brahma tidak ada yang terkec uali semasih diliputi oleh bentuk-bentuk ini. usia tua. 7. Terdapat bahaya dari perubahan-perubahan yang terus menerus di dalam semua bentu k kehidupan. dan kadang-kadang terasa tidak ada apa-apa. sebenarnya tidak mempunyai intisari. dan lain-lainnya tidak lagi merupakan kesenangan dan kegembiraan. Jadi. demikian pula kesadarannya. gerakan naik turun segera lenyap. Nibbida Ñana Semua obyek kelihatan membosankan dan jelek. Terasa seperti malas. Diri terasa buruk. 5. senang. sakit. rupa (materi/jasmani) yang mengendap. bahkan berubah menjadi kebosanan setelah menyadari sendiri bahwa manusia itu tercengkeram dan terseret ke dalam kelapukan. 8. dan kosong sama sekali. Bhanga Ñana Pengakhiran dari gerak naik turunnya perut lebih terasa. 9. Kemudian. Orang merasa bahwa keinginan-keinginan atau cita-citanya yang dahulu. badan seperti jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. sangat kabur. terasa lenyap. Nama dan rupa muncul dengan cepatnya. Adinava Ñana Gerakan naik turun menghilang sedikit demi sedikit. Segala s esuatu kelihatannya seolah-olah dalam suasana yang penuh kesuraman. jelek. atau nikmat. seperti kemasyhuran. tetapi sebenarnya badan masih tet ap diam dan tak bergerak. Muncitukamyata Ñana Seluruh badan merasa gatal. Kebosanan timb ul sebagai dorongan yang keras untuk mencari Nibbana. atau seperti ada binata . kemegahan. citta dan ob yeknya lenyap bersama-sama. Terasa sakit pada urat-urat syaraf . Gerakan naik dan turun sekonyong-konyong berhenti dan sekonyong-konyong timbul lagi. Terasa diri seperti ditutupi dengan jaring.

atau kesadaran tidak mengalami kesukaran-kesukaran. Mungkin ia telah duduk selama satu jam atau lebih . Samadhi atau konsentrasi menjadi kuat dan lekat. Dukkha : Orang yang biasa melatih diri dalam Samatha (meditasi ketenangan) ak an mencapai magga melalui perenungan tentang dukkha.Anuloma Ñana Di sini Anuloma Ñana diuraikan dalam bentuk Tilakkhana (anicca. Terasa mengantuk. Terasa kurang senang. 11. tetap i pikiran masih aktif dan pendengaran masih bekerja. Anicca : orang yang biasa melatih diri dalam kebersihan atau kesucian dan sil a-sila akan mencapai magga melalui perenungan tentang anicca.Patisankha Ñana Terasa ditusuk-tusuk di bawah kulit dengan benda-benda tajam di seluruh badan. Orang mungkin dapat lupa dengan waktu yang telah dilewatinya dalam latihan itu. sikap duduk . dan pengenalan atau kesadaran terhadap proses berhentinya pernapas an ini adalah anuloma-ñana. Naik turunnya perut hanya disadari sebagai nama dan rupa saja. tetapi janganlah hendaknya ragu-ragu atau dipikir-pikirka n. atau sentuhan-sentuhan pada badan. tetapi pikiran dan kesadaran pada saat itu tetap te rang. Kalau ia terus melanjutkan menyadari naik turunnya perut. Ada perasaan puas dan mungkin lupa dengan waktu. Gerakan naik turun perut menjadi cepat. Keadaan pernapasa n . anatta) sebagai berikut : a. tetapi agak seperti acuh ta k acuh. semua itu menjadi lenyap. Kalau ia berlatih menyadari na ik turunnya perut. pengenalan. Badan menjadi kaku. Ingatan. maka hal itu aka n terhalang. dukkha.Konsentr asi pikiran berjalan baik. tetap tenang dan halus dalam jangka waktu yang lama. Ada keinginan pergi dan menghentikan latihan meditasinya. padahal mulanya ia ingin bermeditasi hanya 30 menit saja. Ada pula yang ingin pulang karena merasa bahwa paramitanya atau perbuatan-perbuatan baiknya belum cukup kua t. Muncul perasaan tak senang. Proses berhenti ini harus disadari dengan nyata. 12.ng kecil yang merayap pada muka dan badan. sepe rti adonan tepung yang diremas-remas oleh tukang roti yang pandai. maka terjadilah proses berhenti. tidak ada perasaan senang. tetapi sekonyong-konyong berhenti. menyadari sikap dudu k atau sentuhan-sentuhan badannya dengan jelas. sepe rti sebuah mobil yang berjalan di atas jalan yang datar dan rata. Dapat dikatakan bahwa penyadaran dan pengenalan di dalam nama ini berlangsung dengan mudah dan memuaskan. Keadaan pernapasan yang cepat itu adala h corak anicca. b. 10. sikap duduk.Sankharupekkha Ñana Tidak ada perasaan takut. Timbul bermacam-macam perasaan yang mengganggu. gelisah dan bosan. Seluruh badan terasa panas. atau sentuhan-sentuhan pada badan. Ia menyadari atau mengetahui dengan terang tentang gerakan naik turun itu yang berhenti. Badan terasa seperti ditindih batu atau kayu. tetapi setelah disadari dua atau tiga kali. Tidak ada perasaa n gembira atau perasaan sedih.

dan pengenalan atau kesadaran terha dap proses berhentinya gerakan naik turun ini. atau terhadap sikap duduk. maka gotrabhu-ñana tercapai. yang berarti bahwa kita telah tiba pada magga in i.Phala Ñana Phala-ñana adalah hasil dari magga. jika orang melaksanakan Vipassana Bhavana. Pertimbangan mengenai phala. d. Pertimbangan mengenai kilesa yang belum dihancurkan. Silabbataparamasa (ketahyulan tentang upacara). naik turunnya perut menjadi tenan g dan teratur. tenang. dan kemudian ber henti. jangka waktu dari gerakan naik dan gerakan turun sama. dan damai. atau sentu hansentuhan pada badan itu adalah anuloma-ñana. Keadaan pernapasan yang halus dan teratur itu adalah co rak dari anatta.Paccavekkhana Ñana Paccavekkhana-Ñana terdiri atas pertimbangan-pertimbangan mengenai masih adanya kilesa (kekotoran batin). 14. yang muncul langsung setelah timbulnya maggañana . . e. yang berarti bahwa kita telah mencapai phala ata u hasil ini. atau terhadap sikap duduk. Sasanadhaja-siri-pavara-dhammacariya.yang terhalang itu adalah corak dari dukkha. yang berarti kita telah menghancurkan semua kilesa. 13. akan mencapai magga melalui perenungan tentang anatta. atau senang dengan Vipassana dalam kehidupannya yang dulu-dulu. aman.Magga Ñana Magga timbul langsung pada saat perasaann pecah dan pencerapan kilesa hancur aki bat dari putusnya belenggu-belenggu. c. atau sentuhan-sentuhan pada b adan itu adalah anuloma-ñana. dan pengenalan atau kesadaran yang terang terhadap proses berhentin ya gerakan naik turun ini. Pertimbangan mengenai kilesa yang telah dihancurkan. Jadi. Gerak naik turunnya perut. b. 16. Dalam hal ini terdapat lima macam pertimbangan sebagai berikut : a. dua atau tiga saat. Chattha-sangiti-pucchaka. Demikian proses tersebut dapat timbul di dalam diri seseorang dan dapat disadari dengan seksama. Pertimbangan mengenai magga. seperti Sakayaditthi (kekhayalan dari aku). Pertimbangan mengenai nibbana. Vicikiccha (keragu-raguan). Dalam beberapa saat. atau sentuhan-sentuhan pada badan kelihatan dengan terang. c. Anatta : Orang yang biasa melatih diri dalam Vipassana (meditasi pandangan te rang). Ñana ini bersifat lokuttara. atau sikap duduk. yang berarti bahwa Dhamma tertentu telah kita capai untuk menuju ke Nibbana sebagai obyek pikiran. Ini berarti bahwa orang telah mendapat penerangan dengan nibbana sebagai obyeknya. yang menjadi obyek phala-citta adalah nibbana. kalau pencerapan mulai pecah d an lenyap. yang berarti kita masih memiliki kilesa. Agga-mahapandita. Jadi. 15. Gotrabhu Ñana Nama-rupa bersama-sama dengan citta (pikiran) yang mengetahui proses berhenti it u menjadi diam. __________________ PURPOSE OF PRACTISING KAMATTHANA MEDITATION (Perbedaan Antara Samatha & Vipassana) Penulis Asli : Mahasi Sayadaw Bhadanta Sobhana.

sakit. kesedihan dan ratapan dikarenakan banyak bahaya dan kejahatan. setelah menderita rasa yang amat sangat dan penderitaan yang amat berat. mati. gembira. maka tidak akan ada kelahiran baru. Di dalam mencari sebab u tama (akar) dari peristiwa itu menjadi tampak nyata bahwa dikondisikan oleh kelahiran . Kemudian. sakit. mer eka berkelana di dalam lingkaran tumimbal lahir dari kehidupan ke kehidupan lain. terdapat kelahiran dika renakan kemelekatan untuk menjadi (berwujud). dan sejahtera tanpa penderitaan usia tua. masih selalu dijumpai usia tua. Di dalam kehidupan baru ini mereka pun menjadi korban usia tua. Semua makhluk hidup ingin hidup berumur panjang tanpa kekerasan. dan pende ritaan kehidupan lainnnya. Apabila tidak terdapa t kemelekatan. baik penderitaan fisik dan kelu han mental/batin. Secara alamiah ia berpikir meluhurkan desanya itu dan memiliki kemelekatan yang kuat terhadapnya karena ia tidak memiliki pengetahuan yang jelas akan kekurangan daerahnya dan kondisi yang lebih baik dari tempat lainnya. Selama masih di dalam roda kehidupan. Yang Suci Mulia. menderita semua jenis derita kehidupan dan tanpa henti. dan penderitaan kehidupan lain nya. diikuti oleh kematian. sakit. hidup dengan damai. dan penderitaan lainnya. dan kedua kar ena tidak merealisasi bahwa Nibbana jauh lebih luhur bila dibandingkan dengan jenis kebahagiaan lainnya. oleh karena itu setiap usaha ha rus ditujukan untuk terbebas dari kemelekatan apabila tidak menginginkan kelahiran y ang baru. Di dalam cara seperti ini. Tumimbal lahir terjadi dikarenakan kemelekatan yang terkandung di dalam kehidupa n ini. Dan. Oleh karena itu. daerahnya tidak la gi . itupun tidak berakhir di dalam kematian. mati dan seterusnya. merealisasi Nibbana. di sana mengikuti rangkaian : usia tua. TUJUAN UTAMA MEDITASI AJARAN BUDDHA Apakah tujuan melaksanakan latihan meditasi? Latihan meditasi dilaksanakan untuk tujuan terbebas dari penderitaan kehidupan u sia tua. Sebagai contoh. Kelahiran yang baru hanyalah munculnya sebuah kesadaran yang merupakan hasi l dari kemelekatan terhadap objek dari kehidupan sebelumnya. mati. sakit. Yang telah merealisasi pencerahan secara mandiri PURPOSE OF PRACTISING KAMATTHAANA MEDITATION (Perbedaan Antara Samattha & Vipassana) I.Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa Penuh hormat kepada Bhagava. Apabila ia mulai mengetahui kenyataan-kenyataan secara penuh. Lagi-lagi. mirip kasus seseorang yang hidup di daerah yang gersang dan menyedihkan yang dikelilingi oleh banyak bahaya. sangatlah penting untuk mencegah tumimbal lahir yang berkelanju tan apabila ingin terbebas dari penderitaan kehidupan di dalam usia tua dan sebagain ya. namun mereka selalu sia-sia menemukan harapannya itu. Kemelekatan terhadap kehidupan ini tidak berlangsung karena dua alasan : pertama karena tidak mengerti ketidakpuasan/penderitaan batin dan jasmani.

seolah seperti ke/ dari dalam air. seolah seperti burung yang memiliki sayap. Melalui latihan Vipassana-kammatthana seseorang dapat merealisasi Nibbana dan memenangkan kebebasan mutlak dari penderitaan kehidupan. Kekuatan untuk mengetahui kejadian kehidupan lampau seseorang. Kekuatan untuk menembus dinding atau gunung tanpa rintangan. Mata dewa.. jauh maupun dekat.. beberapa di antaran ya dapat digunakan sebagai latihan dasar samatha untuk melaksanakan latihan vipassa na.. Pengetahuan ini dapat diperoleh melalui latihan meditasi yan g tepat. Demikian pul a. Telinga dewa. Kekuatan untuk menyentuh matahari dan bulan dengan menggunakan tangan. Vipassana-kammatthana dibagi menjadi dua sub bagian. kematian dan sebagainya dan merealisasi Nibbana secara mandiri seyogyanya melaksanakan latihan meditasi. Empat puluh pokok/subjek meditasi itu adalah : . terdapat empat puluh pokok/subjek meditasi.menarik baginya dan ia akan serta merta pindah ke daerah yang baru. Suddha-vipassana-yanika... tanpa melalui awal samatha kammatthana. kematian dan seterusnya. baik besar maupun kecil. bisa satu usia dunia atau dua kal i atau empat kali atau delapan kali usia dunia dan seterusnya. PEMBAGIAN MEDITASI AJARAN BUDDHA Meditasi dibagi menjadi dua bagian : 1. sangatlah penting untuk mencoba mengerti kondisi tak memuaskan dari batin dan jasmani yang menguasai kehidupan ini dan secara mandiri merealisasi superioritas Nibbana dengan sebuah pandangan untuk menghancurkan secara total kemelekatan terhadap kehidupan. Latihan samattha-kammatthana akan mengembangkan faktor batin atas delapan pencapaian duniawi (lokiya-samapatti) yang terdiri dari 4 jenis rupa-jhana dan 4 arupajhana. 2... * Pubbe-nivassa-abhinna . seolah d i udara. Kekuatan untuk berjalan di atas air tanpa tenggelam. Kekuatan untuk terbang denga n kaki bersila ke angkasa. kekuatan untuk melihat semua bentuk bentu k dan warna yang jauh maupun dekat. setiap orang yang menginginkan untuk terbebas dari pende ritaan akibat usia tua. kekuatan untuk mendengarkan suara baik suara manusia maupun makhluk surgawi. Samatha kammatthana 2. * Ceto-pariya-abhinna . Kekuatan untuk memasuki/ menyelam ke dalam tanah dan muncul lagi di permukaan tanah.... Memiliki atribut-atribut ini tetap tidak akan menjamin/membawa ke kebebasan dari ketidakpuasan kehidupan... seseorang yang mengambil dasar permulaan latihan samatha kammatthana untuk merealisasi Nibbana. Latihan yang berulangkali atas kondisi di dalam jhana ini akan membawa lima kemahiran batin duniawi luar biasa (abhinna 5) sebagai berikut : * Iddhi-vidha-abhinna .. Oleh karena itu.. seolah seperti berja lan di atas tanah. __________________ III. Kematian seseorang y ang mamiliki jhana secara utuh akan menyebabkan tumimbal lahir di alam para Brahma yang jangka waktu kehidupannya sangat panjang. Kekuatan untuk mengetahui pikiran orang lain. * Dibba-cakkhu-abhinna . II. seseorang yang secara langsung melatih vipassana kammatthana untuk merealisasi Nibbana. sesuai kasus per kasus.. usia tua. Vipassana kammatthana 1. yaitu : Samattha-yanika. EMPAT PULUH POKOK/SUBJEK MEDITASI Di dalam naskah. * Dibba-sota-abhinna . kekuatan dari satu menjadi banyak dan dari banyak men jadi satu lagi.

kemauan belajar dan mendengark an Dhamma (suta). ke bawah. berkembang. Kemudian ke arah keempat. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Buddha (Buddhanusati) 2. Ia memancarkan ke segenap dunia dengan batin dipenuhi oleh cinta kasih universal. terbebas dari kebencian dan niat jahat . seperti : ra mbut. kulit. 4 arupa (tahapan arupa jhana) 6. Perenungan terhadap Nibbana (Upasamanussati) 8. yaitu keyakinan teguh (saddha). Perenungan terhadap kaluar dan masuknya nafas (Anapanasati) Empat Brahma Vihara terdiri dari : 1. dan ke sekeliling dan ke segala penjur u kepada semua makhluk. Keseimbangan batin sempurna (upekkha) . Perenungan terhadap kualitas-kualitas Dhamma (Dhammanussati) 3.. Perenungan terhadap kemurah-hatian seseorang (Caganussati) 6. tanpa batas.1. kuku. Cinta kasih yang universal terhadap semua makhluk (metta) 2. Kasina api (Tejo) 4. Kasina cahaya (Aloka) 10. 4 Brahma vihara (sikap batin luhur) 5. dan seterusnya. Sebuah mayat yang terpotong-potong dan berserakan (Vikkhittaka) 8. Perenungan akan kepastian kematian (Marananussati) 9. Kasina warna merah darah (Lohita) 8. dengan batin yang dipenuhi oleh . Perenungan terhadap kualitas untuk tumimbal lahir sebagai dewa (Devatanussati ). Belas kasih terhadap makhluk menderita (karuna) 3.. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Sangha (Sanghanussati) 4. Sebuah Mayat membengkak (Uddhumataka) 3.. Kasina ruang terbatas (Akasa) Sepuluh Asubha terdiri dari : 1. batin yang lapang. 1 Catu-dhatu-vavatthana (analisis empat unsur) Sepuluh kasina terdiri dari : 1. 10 asubha (ketidakmurnian) 3. Sebuah mayat yang terinfeksi cacing/belatung (Puluvaka) 10. Kasina tanah (Pathavi) 2. Perenungan terhadap kemoralan seseorang (Silanussati) 5. Kasina warna biru gelap (Nila) 6. 10 kasina (alat permenungan) 2. Simpati atas keberhasilan / pencapaian makhluk lain (mudita) 4. Kasina air (Apo) 3. seperti terhadap dirinya. Kasina warna kuning (Pita) 7. Berdiam dengan batin yang dipenuhi oleh cinta kasih universal yang diarahk an ke arah pertama. Kemudian ke arah ketiga. Sebuah mayat yang berdarah (Lohitaka) 9. 1 Ahare-patikula-sanna (perenungan atas makanan yang menjijikan) 7.. Kasina udara (Vayo) 5. demikan pula. Kasina warna putih (Odata) 9. 10. Sebuah Mayat terinfeksi/bernanah (Vipubbaka) 4. Sebuah tengkorak (Atthika) Sepuluh Anussati terdiri dari : 1. Sebuah mayat yang telah digigit binatang buas (Vikkhayittaka) 6. kemurah-hatian (cage) dan kebijaksanaan (panna) 7. kemoralan (sila). kemudian ke arah kedua. Sebuah Mayat terbelah dua (Vicchiddaka) 5. Perenungan atas 32 (tiga puluh dua) bagian tubuh (Kayagatasati). gigi. Sebuah mayat yang terserak hancur (Hatavikkhittaka) 7. 10 anussati (perenungan) 4. ke atas. bulu tubuh. Sebuah mayat membiru (Vinilaka) 2.

dikunyah. angin yang keluar masuk waktu bernapas. ialah segala sesuatu yang bersifat bergerak.belas kasihan. nanah. ialah segala sesuatu yang bersifat p anas dingin. terdiri dari : 1. Apo-dhatu (unsur air atau unsur cair). gigi. Umpamanya : rambut kepala. Majjhima Nikaya. Berdiam dalam permenungan atas kondisi ruangan yang tanpa batas (Akasanancayatana) 2. tanah . pathavi. Berdiam dalam permenungan atas alam kesadaran yang tak terbatas (Vinnanancayatana) 3. Berdiam dalam permenungan atas alam kekosongan (Akincannayatana) 4. DESKRIPSI SINGKAT LATIHAN SAMATHA-KAMMATTHANA 1. berjalan. dicicipi. Penampilan gambaran batin ini disebut Uggaha-nimitta (bayangan yang diperoleh). 2. diminum.. Pathavi-dhatu (unsur tanah atau unsur padat). dan lain-lain IV. pathavi atau tanah. 3. Empat Arupa. dan oleh keseimbangan yang sempurna .. (Jivaka Sutta. 1 catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan jasmani) Dalam satu catudhatuvavatthana. direnungkan bahwa di dalam badan jasmani terdapa t empat unsur materi. dan lain-lain. pathavi. direnungkan bahwa apapun yang tela h dimakan. Umpamanya : setelah selesai makan dan minum. pathavi atau tanah . oleh sikap simpati terhadap pencapaian/keberhasilan mahluk lain.. Ia seyogyanya kemudian melanjutkan untuk merenungkan Uggahanimit ta itu dengan mengatakan dalam batin pathavi. gambaran alat-tanah yan g kuat dan jelas akan muncul di dalam batin seolah-olah dilihat langsung oleh inde ra penglihatan (mata)... Setelah merenungkan berulang kali untuk sejumlah waktu tertentu. Seyogyanya memperhatikan sebongkah tanah di atas tanah atau alat berupa segumpal tanah yang merenungkannya dengan mengatakan di dalam batin: pathavi. direnungkan bahwa makanan adalah barang yang menjijikkan bila telah berada di dalam perut. Vayo-dhatu (unsur angin atau unsur gerak). . ia dapat pergi ke mana pun dan mengambil posisi apa saja. tanah . bad an akan terasa panas dingin. be rdiri atau berbaring. yaitu : 1. baik posisi duduk. kuku. Umpamanya : angin yang ada di dalam perut dan usus. Segera setelah bayangan (nimitta) ini menjadi kuat dan stabil di dalam batin. lendir. ialah segala sesuatu yang bersifat ber hubungan yang satu dengan yang lain atau melekat. 4. dan lain-lain. dara h. Umpamanya : empedu. Berdiam dalam permenungan atas kondisi alam bukan pencerapan juga bukan pencerapan (Nevasannanasannayaatana) 1 aharapatikulasañña (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan) Dalam satu aharapatikulasañña. Pathavi Kasina Kammattha dan pencapaian Jhana Seseorang yang mengambil subjek meditasi dengan memilih Kasina tanah (Pathavikas ina) untuk permenungannya. bulu badan. atau bila sedang sakit. ialah segala sesuatu yang bersi fat keras atau padat. semuanya akan berakhir sebagai kotoran (ti nja) dan air seni (urine). Sutta Pitaka). Tejo-dhatu (unsur api atau unsur panas).

Kini. (c) Jhana ketiga. melanjutkan lagi melakukan perenungan untuk mengatasi kedua faktor batin tadi. a) Di dalam jhana pertama lima faktor batin yang hadir secara nyata adalah: * Faktor batin yang berfungsi dalam penerapan/ perenungan awal/ pengarahan terha dap objek (vitakka) * Faktor batin yang berfungsi dalam penerapan penambatan terhadap objek (vicara) * Faktor batin yang berfungsi dalam menimbulkan suka cita/ kegiuran (piti) * Faktor batin yang berfungsi dalam menimbulkan kegembiraan (sukkha) * Faktor batin yang berfungsi dalam konsentrasi terfokus kuat terhadap objek (ekaggata) b) Seseorang yang telah mencapai tahap Jhana pertama dan ahli. Batin sering memikirkan apakah permenungan yang sedang dilakukan ini adalah sebuah metode yang benar. melihat ketidakpu asan di dalam dua faktor batin pertama di atas. Tahap ketetapan dan kestabilan batin ini dikenal sebagai 'Appana-samadhi' (konse ntrasi pencapaian). Terdapat empat jenis Appana-samadhi untuk rupa jhana. 5. (d) Jhana keempat . baik duduk. Batin sering bercokol pada pikiran-pikiran sedih dan marah. dan batin sering khawatir dalam merenungkan dalam merenungkan perbuatan buruk melalui ucapan dan tindak-tanduk jasmani yang telah lampau. berdiri. pathavi atau tanah. Batin sering berfikir akan objek-objek yang diinginkan nafsu indera. Ini adalah Vicikiccha-nivaran a (rintangan batin keraguan skeptis). objek tersebut akan 'terlihat' jelas dan mirip penampilan kristal tidak seperti penampakan awalnya. Kelima rintangan (nivarana) ini seyogyanya dipotong segera setelah mereka muncul dan batin seyogyanya kembali mengambil objek ugghana-nimitta misalnya dengan merenungkan sebagai: pathavi. yaitu vitakka dan vicara. pathavi. 4. Kondisi batin seperti ini dikenal dengan 'Upacarasamadh i' (konsentrasi berdekatan). 2. maka ia seyogyanya kembali ke te mpat asal alat-tanah itu dan melakukan perenungan lagi: pathavi. tanah.tanah. Batin sering tidak stabil namun gelisah. yaitu: (a) Jhana pertama. Apakah ada kesempatan untuk meraih hasil yang baik. Terdapat kekenduran di dalam permenungan dan batin sering bosan dan kabur. Ini adalah Vyapad anivarana (rintangan batin keinginan jahat / niat buruk). Kemudian ia seyogyanya kembali ke tempat yang sama dan melanjutkan dengan permenungan di dalam berbagai posisi tubuh. pathavi atau tanah. Selama waktu permenungan ini dapat terjadi bahwa batin tidak tetap terfokus pada objeknya namun sering kali mengembara/ melayang-layang mengalami objek lainnya dalam hal-hal sebagai berikut : 1. tanah . dengan secara berkesinambungan batin berada dalam Upacara-samadhi dengan objeknya Patibhaga-nimitta. berbaring maupun berjalan. Dengan melakukan permenungan demikian terhadap objek uggaha-nimitta secara berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama. tanah. Apabila batin kehilangan ugghana-nimitta sebagai objek. 3. batin mencapai satu keadaan seolah tenggelam ke dalam objek dan berdiam secara menetap di dalamnya. tanah . In i adalah Thina-middha-nivarana (rintangan batin kemalasan dan kelambanan batin). Apakah metode ini dapat membawa hasil yang bermanfaat. (b) Jhana kedua. dan berhasil menca pai . pathavi. Ini adalah Uddhaca-kukkucca-nivarana (rintangan batin kegelisahan dan kekhawatiran). Ini adal ah Kamacchanda-nivarana (rintangan batin keinginan nafsu indera). tanah seperti yang dilakukan pada permulaan latihan. Ini disebut 'Patibhag animitta' (bayangan keseimbangan).

Inilah diskripsi singkat cara untuk merenungkan Pathavi kasina dan pengembangan bertahap keempat tingkat jhana. yaitu piti. yaitu metta. Rintangan ini seyogyanya tidak diikuti lebih lanjut . yaitu upekkha (keseimbangan) dan ekaggata.' 'mayat membiru. juga akan mencapai tingkat jhana keempat dengan melaksanakan perenungan brahma vihara keempat. d) Dengan melihat ketidakpuasan yang terdapat di dalam sukha ia melanjutkan dengan perenungan untuk mengatasi faktor batin sukha tersebut dan berhasil mencapai tah ap jhana keempat yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada dua. karuna dan mudita akan membawa sampa i dengan tingkat Jhana ketiga. yaitu sukha dan ekaggata. masuk pada setiap aktivitas nafas masuk dan nafas keluar. Mereka yang telah mencapai tingkat jhana keempat melalui permenungan kasina. akan terdapat banyak rintangan di mana batin akan mengembara/ melayang-layang. (Kayagata-sati) juga hanya akan mengantarka n untuk pencapaian tingkat Jhana pertama. dan seterusnya. mayat membiru'. Ia kemudia n akan mengetahui secara jelas sensasi sentuhan di ujung hidung atau di sisi sebel ah atas bibir. c) Dengan melihat ketidakpuasan yang terdapat di dalam piti ia melanjutkan dengan perenungannya untuk mengatasi piti dan berhasil mencapai tahap jhana ketiga yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada dua. dengan badan yang tegak. dan kemudian menetapkan perhatiannya pada celah/lubang hidung. Hal yang sama dapat dilakukan untuk kasina yang lain. dan merenungkan dengan mengatakan di dalam batin 'mayat membengkak. mayat membengkak. 2. makanan yang menjijikan (aharepatikkula-sanna). Delapan perenungan yang terdiri dari Buddhanussati sampai dengan marananussati. atau mayat membiru. dan seterusnya. ia seyogyanya melihat ke arah seonggok mayat membengkak. yang kondisi faktor batin paling menonjolnya ada tiga. namun seyogyanya tetap pa da titik sentuhan tadi. sukha. aka n mencapai tingkat-tingkat 4 Arupa Jhana dengan merenungkan empat Arupa secara berurutan. namun seseorang yang telah melakukan meditasi melal ui perenungan satu dari tiga brahma vihara ini yang telah mencapai tingkat jhana ke tiga. Anapana-sati Kammatthana Seseorang yang memilih Anapanasati sebagai subjek perenungan seyogyanya tinggal di tempat yang sunyi dan duduk dengan kaki bersila atau di dalam cara yang nyaman sehingga dapat duduk di dalam jangka waktu yang cukup lama. Ia seyogyanya kemudian melaksanakan perenungan di dalam cara yang sama seperti kasus pathavi-kasina. keluar. yang disebabkan oleh kontak berkesinambungan dari aliran nafas masuk dan keluar. Selama di dalam perenungan. Di dalam hal seseorang yang memilih salah satu pokok meditasinya Asubha sebagai subjek konsentrasinya. Perenungan terhadap 32 bagian tubuh. masuk. dan analisa empat unsur (catu-dh atuvavatthana) akan membawa hanya sampai tahap upacara-samadhi. yaitu upekkha. dan ekaggata. Aliran ini seyogyanya diamati pada titik sentuhannya dan direnungkan den gan mengatakan dalam batin: keluar. Tiga dari empat Brahma vihara. baik perjalanan nafas masuk maupun perjalanan nafas keluar. Batin seyogyanya tidak pergi bersama aliran itu. Perbedaan yang ada adalah bahwa perenugan sub jek Asubha hanya akan mengantarkan untuk pencapaian tingkat Jhana pertama.tahap jhana kedua.

Sejalan dengan nafas masuk dan keluar menjadi lebih halus dan lebih halus lagi. Perubahan bertahap dari nafas masuk dan keluar yang kuat ke nafas masuk dan k eluar yang lebih halus menjadi jelas teramati. Dengan cara berkesinambungan mengamati titik sentuhan dan melaksanakan perenungan: 1. Namun demikian. keluar sesuai aktivitas nafas masuk dan nafas keluar .. disebut Upacara-samadhi . Inilah deskripsi singkat LATIHAN PERMULAAN samatha yang dilakukan oleh seorang 'samatha-yanika' yang memilih 'samatha-kammatthana'. janganlah membuang waktu dengan cara demikian. bagi yang lainnya dengan sebuah sentuhan kas ar seperti dari kain sutera. Dengan secar a berkesinambungan merenungkan dibantu oleh Upacara-samadhi maka tingkat appanasam adhi dari tahapan 4 Rupa Jhana akan berkembang. maka aliran nafas itu akan tergambar/terbayangkan dalam bentuk atau ukuran khusus. Di dalam kasus seperti ini. masuk. atau sebuah tonggak terbuat dari hati kayu. sebagai dasar untuk merealisasi Nibbana. Mereka yang berhasrat untuk melatih vipassana seyogyanya pertama-tama dibekali dengan seperangkat pengetahuan. maka nafas tersebut akan tampak seolah nafas tersebut padam total. sedangkan bagi yang lainnya mirip sebuah sarang laba-laba atau sebuah lapisan aw an atau sekuntum bunga teratai atau sebuah roda kereta atau sebuah piringan bulan a tau matahari. Nafas masuk dan nafas keluar yang pendek menjadi jelas teramati ketika mereka pendek. apabila batin dengan penuh perhatian kembali tetap mengamati titik sen tuhan pada ujung hidung atau sisi bibir sebelah atas maka aliran nafas masuk dan kelua r yang halus akan tampak lagi dan akan tercerap dengan sangat jelas. . Dinyatakan bahwa keragaman bentuk atau objek bayangan itu disebabkan oleh perbedaan (sanna) individu yang mengalaminya. Konsentrasi (samadhi) yang kemudian dikembangkan dengan 'Patibhaga-nimitta' sebagai objeknya. Untuk orang tertentu. dan 4. pertenga han dan akhirnya menjadi jelas teramati dari titik sentuhan ujung hidung hingga ke t empat nafas itu meninggalkan hidung. baik secara singkat maupun mendalam. Nafas masuk dan nafas keluar yang panjang menjadi jelas teramati ketika merek a panjang. nafas masuk dan nafas keluar 'tampak' seperti sebuah binta ng atau sebuah permata atau sebuah berlian. bagi yang lainnya mirip benang panjang terurai atau sekuntum bunga atau segumpal asap rokok. Bentuk objek yang khusus ini adalah Patibhaga Nimitta . Setiap rangkaian nafas masuk dan nafas keluar yang lembut pada awal. namun perhatian seyogyanya dikembalikan ke titik sentuh dan merenungkan kembali sebagai masuk. 2. namun cukup . Berikut ini ada lah yang dinyatakan di dalam kitab Visuddhi-magga (Jalan Kesucian/ Kemurnian batin). Dengan terus-menerus merenungkan nafas masuk dan nafas keluar. umumnya waktu terbuang untuk mencari objek nafas masuk dan nafas ke luar dengan mencoba meneliti penyebab padamnya nafas dan akhirnya tetap sia-sia tanpa melaksanakan perenungan. 3. keluar.

seseorang yang berhasr at untuk latihan vipassana seyogyanya menetap di tempat sunyi dan duduk dengan kaki bersila atau dalam cara yang nyaman sehingga ia dapat duduk dalam waktu yang cuk up lama. tidak memuaskan dan tidak mengandung kepemilikan/keakuan/ atta . dan kemudian merenungkan dengan memusatkan perhatiannya terhadap fenomena jasmani dan batin yang diketahui sebagai upadanakkhandha . Oleh karena itu. Fenomenafenomena ini seyogyanya secara berkesinambungan direnungkan pada setiap saat kemunculannya. mengeta hui sentuhan. dan yang secara jelas muncul di dalam tubuhnya. dan seterusnya sebagaimana mereka muncul dengan jelas pada salah satu dari enam pintu indera. ia akan dapat melaksanakan perenungan berkesinambungan siang dan malam tanpa merasa terhambat. DISKRIPSI SINGKAT LATIHAN VIPASSANA 1. Apabila vipassana-samadhi telah cukup kuat. 2. Phala dan Nibbana. mengecap rasa. Pada tingkat ini dapat dicerap dengan sangat jelas sebagai satu keteraturan pada setiap saat perenungan bahwa jasmani dan batin merupakan dua hal yang berbeda yang bekerja sama. mencium bau. dengan badan tegak.terhadap kenyataan bahwa makhluk hidup terdiri dari dua komponen. Samatha-yanika Seseorang yang telah cukup pengetahuannya seperti disebutkan di atas seyogyanya pertama-tama berada di dalam jhana yang telah dicapainya dan kemudian merenungkannya. Upadanakkhandha adalah semua yang secara jelas dicerap pada saat melihat. oleh karena itu jasmani dan batin tidak kekal. . tanpa kualitas atau keberadaan yang menyenangkan. dimengerti bahwa jasmani dan batin terbukti dengan jelas tidak kekal . bahwa mereka tidak memuaskan. bahwa jasmani dan batin terbentuk dikarenakan sebab dan akibat. Apabila ia merasa lelah atau bosan dengan melaksanakan terusm enerus perenungan akan beragam objek (pakinnakasankhara) ia seyogyanya memasuki jhana lagi dengan menetapkan tekad yang kuat bahwa jhana tersebut akan berlangsung selama 15 atau 30 menit. dan bahwa jasmani dan batin berada dalam proses perubahan yang terusmene rus. Dengan perkembangan penuh dari pengetahuan langsung ata annica. mendengar. Ia seyogyanya kemudian melanjutkan dengan merenungkan secara berkesinambungan sensasi-sensasi. dan bahwa mereka semata-mata merupakan proses muncul dan padam dari segala sesuatu yang tidak mengandung 'atta' (jiwa atau keberadaan kekal). Apabila keadaan jhana telah berlalu ia seyogyanya kemudian segera merenungkan keadaan jhana tadi dan kemudian dilanjutkan dengan merenungkan secara berkesinambungan sensasi-sensasi indera sebagaimana mereka muncul pada saat sala h satu dari enam pintu indera. muncul dan padam pada setiap saat perenungan. adalah diskripsi singkat latihan dengan cara suddha-vipassana-yanik a . Prosedur bergantian dari memasuki keadaan jhana dan kemudian dilanjutkan dengan perenungan sensasi indera pada enam pintu indera seyogyanya dilakukan dengan berulang kali. Inilah deskripsi singkat latihan dengan cara samatha-yanika untuk tujuan merealisa si Nibbana. dukkha. Suddhavipassana-yanika Di bawah ini. Juga dapat dicerap bahwa objek dan batin yang secara langsung mengetahui objek tersebut. anatta terealisasilah pengetahuan bijaksana akan Magga. Dengan pengetahuan cukup seperti yang disebutkan di atas. seperti melihat. __________________ V. yaitu jasmani (rupa) dan batin (nama).

tidak memuaskan dan 'anatta'. Inilah alasan yang jelas mengapa kelompok batin ini secara berurut disebut vinnana upadanakkhandha. maka pel ajaranpelajaran mudah terlebih dulu yang dipelajari. Mereka secara egois menganggap Saya melihat . seyogyanya dipilih sebaga i objek perenungan awal atau utama di dalam vipassana-kammatthana. objek penglihatan dan indera pengelihatan/'mata'. mendengar. Dikarenakan materi menjadi objek kecenderungan kekeliruan dan kemelekatan. namun anatta di mana mereka merupakan subjek bagi sebab dan akibat di dalam proses muncul dan padam. Walaupun fenomena jasmani dan batin muncul dengan jelas pada saat melihat. bukan pula atta dan bukan orang . latihan dimulai dengan merenungkan hal khusus. vedana upadanakkhandha. Saya melihat dengan penuh perhatian dan melekat kepadanya. duduk'. Mereka bukanlah menyenangkan. mengetahui objek batin melalui indera pikiran. bukan pula 'orang'. pencerapan (sanna) akan o bjek pengelihatan. dengan membuat catatan secara batiniah seperti : 'duduk. bentuk/faktor batin (sankhara) juga secara jelas dicerap pada saat melihat. mengecap. mengalami kontak badan/sentuhan dan memikirkan ide/gagasan dan seterusnya. bukan 'atta'. sanna upadanakkhandha. Mereka semata-mata kelompok batin. Di dalam vipassana. objek yang paling mudah hadir di dalam jasmani. dibandingkan objek-objek dari pintu indera (upad arupa) ketika melihat. batin dan materi.mendengar. mencium bau. maka fenomena materi yang lebih mudah dicerap. kelima upadanakkhandha dicerap dengan jelas pada saat mendengar suara melalui indera pendengaran. perasaan (vedana). mencium bau. mendengar dan seterusnya melalui pintu indera yang bersesuaian. Saya merasakan . Merek a bukan menyenangkan. tidak akan mengerti bahwa mereka tidak kekal. Mereka yang tidak merenungkan pada saat kemunculannya tidak akan mengerti bahwa 'mereka segera padam dan tidak kekal'. dan sankhara upadanakkhandha . Oleh karena itu. Pada saat perenungan mencapai kematangan. mengecap rasa kecapan maka kontak jasmaniah (bhuta-rupa) merupakan objek yang lebih mudah dicerap. Mereka yang tidak merenung kan pada setiap saat kemunculan fenomena itu. mengetahui sensasi sentuhan melalui indera sensasi sentuhan. Kesadaran melihat (cakkhu-vinnana). bahwa mereka bukan atta bukan pula keberadaan hidup. tidaklah mungkin bagi seorang pemula untuk merenungkannya di dalam urutan kemunculannya pada saat memulai latihan vipassana. Inilah alasan mengapa lima upadanakkhandha secara jelas dicerap dengan jelas pada saat melihat objek penglihatan melalui pintu indera penglihatan ('mata'). Mirip seperti di sekolah. keduanya di cerap. Saya mencerap . Dari kedua jenis fenomena. dari berbagai kelas fenomena materi. Pada saat melihat. mereka menganggap bahwa fenomena batin ini menyenangkan dan melekat kepadanya. mungkin dialami unsur batin maupun unsur fisik/materi. Oleh karena itu. Lagi. mencerap rasa kecapan melalui indera pengecapan. sebagai ketentuan keharusan saat memulai pelajaran. seyogyanya diambil sebagai objek utama/permulaan untuk perenungan saat memulai latihan vipassana. perhatian seyogyanya ditetapkan pada posisi duduk dan merenungkan secara berkesinambungan. dengan satu pandangan untuk mengamati kontak jasmani khusus yan g lebih mudah dicerap. Namun demikian di dalam kasus objek batin. Keduanya itu merupakan kelompok meteri (rupa). dan keinginan untuk melihat objek. bahwa mereka 'muncul dan padam tanpa henti dan oleh karenanya tidak memuaskan'. maka mereka disebut upadanakkhandha atau kelompok yang menimbulkan kemelekatan . maka dengan jelas akan dapat diamati sensasi kontak jasmani pada paha atau kaki atau bagian . mencium bau melalui indera penciuman . Dengan cara yang sama.

Pengembaraan batin ini seyogyanya direnungkan sebagaimana mereka muncul. Perhatian seyogyanya ditetapkan secara bertahap dengan tahap turunnya perut sejak mulai hingga berakhir. dalam hal gembira. Apabila pada saat permulaan latiha n. Kemudian akan dirasakan bahwa perut mengembang dan mengempis dan gerakan perut selalu hadir. duduk. Namun demikian. Penekanan nafas . kontak' sulit untuk dimulai. Pertama-tama perhatian seyogyanya ditetapkan pada perut. disebabkan oleh aliran keluar dan masuknya nafas. 'turun' dan dilakukan . seyogyanya direnungkan sebagai 'gembira'. Jadi. Perhatian khusus Disebutkan di sini bahwa kata-kata 'naik/mengembang' dan 'turun/mengempis' seyogyanya tidak diulangi dengan mulut. 'marah'. Sensasi kontak jasmani khusus ini seyogyanya diambil sebagai objek tamb ahan bersama 'duduk' dan secara berkesinambugan direnungkan sebagai 'kontak. turun'. dengan hanya merenungkan yang dilakukan melalui tindakan sederhana dari pengamatan batin tanpa aktivitas pengulangan di dalam batin. kata-kata bukan kepentingan yang nyata. atau marah. seyogyanya direnungkan sebagai 'merenung'. apabila merasa malas atau sena ng seyogyanya direnungkan sebagai 'malas' atau 'senang'. bila menginginkan sesuatu seyogyanya direnungkan 'ingin'. kontak'. Inilah ilustrasi untuk menunjukkan tata cara perenungan. Di dalam kenyataannya. 'kecewa'. maka perhatian seyogyanya ditetapkan pada ko ntak jasmani saat aliran nafas masuk dan keluar dengan cara merenungkan 'kontak. agar mencapai sasaran perenungan seyogyanya dilaksanakan secara berulang-ulang dalam batin dengan kata-kata khusu s atas objek-objek yang bersesuaian. mungkin akan terdapat bany ak kesempatan ketika batin ditemukan mengembara ke objeknya masing-masing. Apabila pikiran sedang merenung. mempercepat atau membuat nafas dalam seyogyanya tidak dilakukan. Perenungan seyogyanya dilakukan secara berulang hingga faktor batin yang mengembara ini padam.tubuh lainnya. perenungan akan sia-sia dan tidak efektif dan banyak kemunduran seperti perhatian gagal untuk mencapai cukup dekat terhadap objek yan g dituju. duduk. apabila perenungan dengan cara demikian seperti 'kontak . satu atau kedua tangan seyogyanya ditempatkan pada perut. namun mereka seyogyanya diulangi di dalam batin. Just ru mengetahui gerakan perut dan gerakan jasmani yang sebenarnya merupakan kepentingan yang nyata. Aliran nafas alamiah seyogyanya dipelihara. Kemudia n. Ilustrasi Apabila dialami bahwa pikiran mengembara ke objek yang bukan sedang diamati. objek tidak jelas perbedaannya dan dicerap secara terpisah dan bahwa ene rgi yang dibutuhkan menjadi bekurang. seyogyanya direnungkan sebagai : 'mengembara'. Apabila hal ini pun sulit dilakukan maka perenungan seyogyanya ditetapkan dengan memperhatikan gerakan perut yang mengembang dan mengempis. Saat perut dirasakan mulai turun (mengempis) seyogyanya direnungkan di dalam batin sebagai 'mengempis'. gerakan naik dan turunnya perut tidak jelas dengan hanya menetapkan perhatian ke pada perut. Saat perut mengembang seyogyanya direnungkan dengan ditetapkan secara bertahap dengan tahap naiknya perut sejak mulai hingga berakhir. apabila pikiran bermaksud sesuatu seyogyanya direnungkan sebagai 'bermaksud'. Namun demikian. kont ak'. perenungan seyogyanya kembali kepada objek semula 'naik'. Ketika sedang dalam perenungan seperti 'naik. atau kecewa.

maka perenungan dikembalikan ke 'naik. Apabila sesuatu dilihat tanpa diperhatikan. dan sebagainya muncul di dalam jas mani. Apabila tidak terdapat objek yang outstanding yang dapat direnungkan ketika berdia m dengan tenang dalam posisi duduk atau berbaring. turun' peru t sesuai objek semula. melihat'. Perenungan juga seyogyanya dilaksanakan terhadap semua gagasan/ide/faktor batini ah dan seterusnya. panas'. dan seterusnya. 'bergerak'. maka perenungan seyogyanya . Dalam kasus perubahan posisi dari duduk menjadi berdiri dan perubahan ke posisi berbaring. dan seterusnya. seyogyanya direnungkan sebagai 'memperhatikan'. perenungan seyogyanya dilakukan dengan menetapkan perhati an terhadap gerakan setiap langkah dari saat mengangkat kaki hingga kembali meletak kan kaki dan dengan membuat catatan secara batiniah sebagai 'berjalan. Apabila pikiran merenungkan mengikuti maka seyogyanya direnungkan sebagai 'merenungkan'. Apabila sensasi tak menyenangkan itu telah paham. 'turun 'nya perut sesuai objek semula. 'mendengar'. 'meletakkan ke bawah'. sesuai kasusnya. untuk mengetahui sifat alamiah mereka sebagaimana mereka muncul. 'meregang'. meregang. sesuai urutan proses perubahan tersebut. nyeri'. bergerak maju'. berjalan' ata u 'bergerak maju. 'mengangkat' . Kemudian perenungan dikembalikan ke 'naik'. Apabila sensasi yang tidak menyenangkan (dukhavedana). seperti rasa lelah pada anggota tubuh atau perasaan panas atau nyeri. mengangkat. untuk mengetahui bentuk sebenarnya ketika mereka muncu l. Apabila perubahan itu telah selesai maka perenungan dikembalikan kepada 'naik'. bergerak. maka posisi tubuh dan posisi tangan serta kaki harus diubah maka meringankan sit uasi. seyogyanya direnungkan sebagai 'mendengar'. atau 'mengangkat. Di dalam hal berjalan. 'merenungkan'. Apabila sesuatu didenga r tanpa mendengarkan seyogyanya direnungkan sebagai 'mendengar'. bergerak maju. dapat dikatakan bahwa perenungan seyogyanya dilaksanakan terhada p semua aktivitas jasmani dan anggota tubuh seperti menekuk. 'mendengar'. Secara singkat. 'mengayun'. Apabila seseorang akan mendengarkan sesu atu. Di dalam perubahan posisi ini pun perhatian seyogyanya ditetapkan kepada gerakan yang paling nyata (mayor) dari tubuh/jasmani dan anggota tubuh dan perenungan dilaksanakan seperti 'menekuk'. Perenungan seyogyanya dilaksanakan dilaksanakan terhadap setiap sensasi fisik da n perasaan batin (vedana) untuk mengetahui sifat alamiahnya ketika mereka muncul. Namun apabila sensasi nyeri begitu kuat sehingga mereka tidak dapat ditoleransi lagi.secara berkesinambungan. 'nyeri. Pada saat sesuatu sedang diperhatikan. seyogyan ya direnungkan sebagai 'melihat. perhatian seyogyanya difokuskan ke titik sensasi dan perenungan dilakukan seperi : 'lelah. lelah'. 'turun'-nya perut sesuai objek semula. 'melihat'. meletakkan kaki '. perenungan seyogyanyan dilakukan dengan menetapkan perhatian terhadap setiap pergerakan mayor yang nyata dari jasmani dan anggota tubuh sesuai urutan proses pergerakan perubahan tersebut. 'panas.

Seperti ditunjukkan di dalam bagian Samatha-Kammatthana. mencium bau. para siswa akan gagal untuk mengamati banyak aktivitas jasmani dan batin pada sa at permulaan latihan. di mana apabila diinginkan. petunjuk-petunjuk yang diberikan di sini untuk memperlakukan atau menjaga perhatian kepada naik dan turunnya gerakan perut. Namun demikian. mendengar. tak dapat membaca begitu cepat dan baik bila dibandingkan dengan orang yang telah belajar dengan mahir. yang lebih mudah dijelaskan dan mudah untuk direnungkan. turun seperti semula. Hanya perlu menyingkirkannya sesegera mungkin saat mereka muncul. mengetahui sentuhan jasmani. Ini adalah satu dari butir-but ir perbedaan antara samatha-bhavana dengan vipassana-bhavana di dalam hal mengatasi rintangan batin (nivarana). y aitu (1) perenungan terhadap posisi tubuh duduk dan sentuhan. Namun. dengan cara perenungan kontinyu ini. Di dalam hal Samatha-Kammatthana. PERKEMBANGAN KONSENTRASI VIPASSANA (VIPASSANA SAMADHI) DAN PENGETAHUAN BIJAKSANA PANDANGAN TERANG (VIPASSANA NANA) Bila tidak berupaya kuat untuk melaksanakan perenungan seperti disebutkan di ata s. terdapat banyak rintanan batin (Nivarana) yang menyebabkan batin mengembara ke arah objek lain. sementara itu di dalam Vipassana-Kammathana perenungan juga harus dilakukan terhadap faktor batin yang mengembara itu. Mirip seseorang yang mulai belajar. terdapat dua jenis kasus perenungan lain yang sudah disebutkan di atas. seorang siswa seyogyanya berupaya untuk merealisas i muncul dan padamnya faktor batin tidak kurang daripada sekali setiap detik pada tahap permulaan latihannya. Inilah latihan dasariah latihan Vipassana secara singkat. sala h satu dapat dipilih sebagai objek utama atau pertama di dalam perenungan. bergagasan dan seterusnya sesuai urutan kemunculan mereka. maka tidak dibutuhkan kembali semuanya untuk kembali ke objek utama dan pertama. semua fenomena batin dan jasmani yan . Di dalam kasus samatha-bhavana seseorang harus merenungkan secara berkesinambungan terhadap objek semula dari samatha untuk membuat batin terkonsentrasi dengan kuat hanya kepada objek tersebut. Tidak dibutuhkan untuk mengamati fenomena batin dan fisik yang lain. di dalam vipassana-bhavana. namun mereka seyogyanya ditekan. Perenungan seyogyanya dilaksanakan pada setiap saat dari melihat. dan perenungan dikembalikan kepada objek semula secara berkesinambungan.dilaksanakan dengan selalu menetapkan perhatian terhadap kontak jasmaniah. Siswa yang telah berkembang. dan (2) perenungan terh adap impresi kontak di dalam nafas masuk dan keluar. sebagai objek utama dan pertama di dalam perenugan. Oleh karena itu. maka perenungan seyogyanya dikembalikan kepada objek naik . konsentrasi (samadhi) dan pandangan bijaksana ke dalam (nana) yang cukup kuat akan secara mandiri merealisasi muncul dan padamnya batin sangat sering di dalam satu detik. berpikir. Namun seorang siswa yang baru saja mulai melatih perenungan belum dapat merealis asi perubahan yang demikian cepat. Di dalam merealisasi kondisi perenungan yang luhur yang memungkinkan untuk merenungkan setiap objek sebagaimana mereka muncul. Oleh karena itu tidak diperlukan u ntuk merenungkan rintangan batin seperti faktor batin yang mengembara yang muncul sewaktu-waktu. __________________ VI. tidak ada perlakuan khusus untuk merenungkan faktor batin yang mengembara. mengecap ras a. Setelah perenungan dengan cara ini. Namun demikian.

meregang. maka kemelekatan dan pandangan keliru bahwa mereka kekal. maka akan muncul sebuah pengertian jelas bahwa fenomena 'hanya terdiri dari proses batin d an fisik'. dicerap pada setiap saat perenungan di dalam setiap bentuk y ang terpisah tanpa bercampur dengan batin yang merenungkannya atau dengan fenomena materi lain. yang sedang direnungkan. Kemudian fenomena fisik seperti naik. mendengar. Dengan terealisasinya perkembangan pengetahuan bijaksana (nana) selama satu peri ode waktu yang baik di dalam latihan perenungan yang berkesinambungan. juga dicerap pada setiap saat perenungan di dalam keadaan terpisah t anpa dicampuri oleh fenomena materi lain atau fenomena batin lain. ditemukan bahwa batin yang merenungkan dan objeknya selalu datang bersama dan terkonsentrasi. Fenomena batin. Oleh karena itu apabila dan keti ka rintangan batin seperti misalnya batin merenungkan sesuatu selain objek perenung an semula atau batin menikmati nafsu atau keserakahan dan sebagainya mereka juga ha rus direnungkan. Pengetahuan bijaksana atas pembedaan fenomena fisi k dan batin sebagai dua proses yang terpisah disebut Nama-rupa-pariccheda-nana (pengetahuan bijaksana yang dapat membedakan dengan jelas fenomena batin dan jasmani). Sekarang batin terbebas dari kamacchanda (nafsu indera) dan rintangan batin (niv arana) lainnya dan oleh karena itu sama seperti pada tingkat seperti Upacara-samadhi (konsentrasi berdekatan) yang disebutkan di dalam bagian Samatha-kammatthana. seperti merenungan berpikir. batin segera memperhatikan dan merenungkannya dan kemudian pengembaraan tersebut tidak berlangsung lebih jauh lagi. Segera setelah faktor batin mengembara ke objek la in. oleh karena itu menghindari mereka tidaklah cukup seperti dalam kasus samatha. Pada tahapan perenungan ini. maka hanya ada perenungan murni yang terpusat. menyenangkan dan atta (aku) akan muncul. melihat. maka hampir tidak akan ada l agi faktor batin yang mengembara. menaikkan. Jasmani tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui. Begitu batin tidak lagi bercampur dengan rintangan batin yang menyebabkan mengembaranya batin. menekuk. da n seterusnya. jasmani dan batin yang mengetahui jasmani dicerap secara jelas dan ter pisah sebagai dua hal yang berbeda. Apabila mereka tidak direnungkan. Inilah yang disebut Citta-visuddhi (kemurnian batin). menurunkan . dan seterusnya. .g muncul melalui enam pintu indera harus diamati. Di dalam beberapa kasus. turun. Apabila faktor batin yang mengembara ini direnungkan secara berkesinambungan dengan cara ini dalam jangka waktu yang cukup lama. Objek vipassana a kan lengkap hanya apabila seseorang merenungkan terhadap semua fenomena itu sehingga mengetahui dengan jelas sifat alamiahnya dan tidak melekat terhadapnya. Terkonsentrasinya batin terhadap objek nya ini disebut Vipassana-khanika-samadhi (konsentrasi sementara dari pandangan terang). ditemukan b ahwa perenungan dilaksanakan tanpa interupsi karena faktor batin dicerap segara saat faktor batin itu mulai muncul. Pada setiap saat bernafas.

tergantung atas formasi/bentukan materi/jasad yang baru. dicerap bahwa fenomena materi/fisik d an batin yang muncul di dalam jasmani merupakan efek atau hasil dari sebab-sebab ya ng bersesuaian dengannya. Pandangan murni seperti ini disebut Kankha-vitarana visuddhi (Kemurnian pandangan yang muncul setelah mengatasi keraguan). Pengertian bijaksana ini disebut Anicca-sammassana-Nana (Pengertian bijaksana akan ketidak-kekalan fenomena alam). Sebagai ilustrasi : Seorang siswa mencerap kenyataan bahwa dikarenakan batin menginginkan untuk membungkuk atau bergerak atau meregang atau mengubah posisi tubuh.menekuk. dan dikarenakan kemelekatan terhadap perbuatan-perbuat an tersebut yang telah dilakukan. maka sela lu terdapat perubahan di dalam kondisi fisik apakah menjadi dingin atau panas. dan sebagainya. Dengan melanjutkan perenungan lebih jauh. melihat. . dan seterusnya. dan seterusnya. dan seterusnya. dikarenakan fluktuasi di dalam temperatur/suhu. Dengan mengerti kenyataan sebab-musabab yang saling tergantung (paticcasamuppada ) ia akan datang pada satu kesimpulan bahwa hidup di masa lampau adalah sebuah formasi materi dan batin. Lagi. mendengar. dan dikarenakan kehendak untuk mengarahkan. kesadaran-kesadaran (vinnana) baru. Sebelum mengembangkan pengetahuan benar kenyataan bahwa "kehidupan terdiri dari batin dan jasmani yang tergantung atas 'sebab-musabab yang terkait' terdapat ban yak keraguan skeptis apakah terdapat SAYA di waktu lampau. ia mencerap kenyataan bahwa dikondisikan kehadiran Avijja (kegelapan/kebodohan batin). maka muncullah. Pengertian jelas ini disebut Ditthi-vis uddhi (Kemurnian Pandangan). memindahkan. atau mengubah posisi tubuh. ia mencerap kenyataan bahwa dikarenakan kehadiran/adanya indera penglihata n dan objek penglihatan. ia mencerap kenyataa n bahwa kematian bukanlah kematian bukanlah sesuatu hanya padamnya kesadaran terakhir di dalam urutan kelangsungan kesadaran. maka muncul aksi atau tindakan membungkuk. ma ka muncullah kesadaran melihat. maka batin mencapai objeknya. Lagi. dan lahir adalah munculnya sebu ah kesadaran baru di dalam urutan kelangsungan kesadaran ini. yang memandang kehidupan sebagai indah dan menyenangkan dan kehadiran Tanha (keinginan rendah). tidak terdapat aku atau Atta. meregang. dan dikarenakan mengkonsumsi makanan maka akan selalu muncul energi fisik yang baru. apakah SAYA berada hanya dalam kehidupan ini atau apakah SAYA akan terus ada di waktu mendatang" dengan memegang pandangan bahwa formasi/perpaduan meteri/jasmani dan batin adalah ATTA atau DIRI . dicerap bahwa materi/jasmani dan batin muncul dan padam pada setiap saat perenungan. mendengar. Pengetahuan bijaksana membedakan sebab musabab yang saling tergantung ini disebut Paccaya-pariggaha-nana (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari pengertian pengalaman penuh akan sebab-musabab fenomena). Namun batin memiliki kemampuan merenungkan. yang tergantung dari sebab musabab yang terkait dan dengan demikian akan ada proses yang mirip pada kehidupan di masa mendatang . indera pendengaran. bergerak. memikirkan. semua jenis perbuatan dipikirkan dan dilakukan. Lagi. di dalam urutan yang sangat cepat dan berkesinambungan. Terpisah dari dua faktor ini. objek pendengaran. Dengan meneruskan perenungan lebih lanjut. Sekarang keraguan ini tidak dapat muncul karena mereka telah diatasi.

Kemampuan di dalam melaksanakan perhatian murni tanpa kehilangan objek (Upatthana) 9. Setelah merefleksikan kenyataan-kenyataan ini selama ia inginkan. dan bahwa metode perenungan yang tepat untuk merealisasi pencerahan sempurna adalah hanya dengan mengobservasi secara konstan terhadap semua fenomena yang muncul. Pengetahuan bijaksana ini disebut Dukkha-sammassana-nana (Pengertian bijaksana terhadap kondisi yang tidak memuaskan).Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara konstan muncul dan padam. yang mengkondisikan terhambatnya latihan vipassana sehingga menjadi kotor (vipassanupakkilesa). Pengertian bijaksana ini disebut Anatta-sammassana-nana (Pengertian bijaksana terhadap segala sesuatu yang bukan atta atau bukan diri). maka direalisasi bahwa mereka bukan atta atau diri . seringkali muncul pengalaman-pengalaman aneh. Inilah indikasi awal atau tahap permul aan dari 'Udayabbaya-nana' (pengetahuan bijaksana atas muncul dan padamnya fenomena) yang lemah. umumnya ia menceritakan pengalamannya. Semangat yang sangat tinggi atas pelaksanaan perenungan/meditasi (Paggaha) 6. siswa itu melanjutkan dengan perenungan tanpa refleksi lebih lanjut. namun muncul dan padam sesuai dengan sifa t alamiah dan kondisi relatifnya. Melekat terhadap fenomena dhamma butir 1 9 (Nikanti) Oleh karena itu. seperti : 1. Sikap batin tenang (Passaddhi) 4. dukkha dan anatta tanpa halangan (Nana) 8. Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara alamiah tidak mengikuti perintah keinginannya. I a tiba pada keputusannya ini sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya dari penga laman atau sesuai dengan petunjuk gurunya. siswa tersebut dapat terbuai sehingga ia tidak dapat lagi menja ga mulutnya. bahwa mereka secara konstan dicengkeram oleh muncul dan padam mereka dipandang sebagai bukan menyenangkan juga tidak patut digantungi. Kemudian siswa itu memutuskan pengalaman melihat bayangan batin dan perasaanpera saan lainnya bukanlah perealisasian pencerahan sempurna yang sesungguhnya. Ia sering kali menganggap bahwa ia telah merealisasi pencerahan sempurna. Pada tahap ini. set . Kegembiraan yang mencakup ke seluruh tubuh (Sukkha) 7. Keputusan murni ini adalah indikasi Maggamagga-nana-dassana-visuddhi (kemurnian pandangan benar terhadap jalan dan bukan jalan). Setelah tiba pada keputusan ini dan diteruskan dengan melanjutkan perenungannya pengalaman-pengalaman melihat bayangan batin dan perasaan-perasaan lainnya secar a bertahap akan berkurang dan pencerapan objek menjadi lebih jelas dan lebih jelas lagi. Muncul dan padamnya fenomena materi pada setiap gerakan di dalam hal satu geraka n membungkuk atau meregangkan tangan atau kaki atau di dalam hal satu langkah. Pandangan yang tajam terhadap sifat alamiah anicca. Ia kemudian mencerap dengan sangat jelas permulaan dari setiap objek perenungannya. Kegiuran batin (Piti) 3. Cahaya yang gemilang (Obhasa) 2. namun hanya merupakan dukkha. Keyakinan kuat tak terhingga terhadap Tiratana (Adhimokkho ti saddha) 5. Namun demikian sepuluh fenomena ini adalah jalan yang sala h (Amagga). tidak memuaskan. Ia juga mencerap dengan sangat jelas padamnya setiap objek perenungannya seolah-olah diputus deng an jelas. Keseimbangan batin (Upekkha) 10.

Akhir atau padamnya objek lebih jelas dicerap daripada permulaan Upacara (pendekatan) dan Anuloma (adaptasi). disebut Sankharupekkha-nana (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari keseimbangan batin terhadap sankhara). muncullah pengertian bijaksana yang khusus sangat cepat dan a ktif. Saat kemunculan Magga dan Phala Nana tidak berjeda waktu sedetik pun. tidak memuaskan. Phala dan Nibbana . perenungan berlanjut secara otomatis mirip sebua h jam tanpa upaya khusus bagi pencerapan dan pengertian bijaksana. Setelah pengertian bijaksana (Nana) ini diperoleh cukup kuat. Pengertian bijaksana ini muncul merealisasi bahwa fenomena fisik dan batin yang muncul melalui enam pintu indera pada saat itu tidak kekal. Pandangan terang mulai dari Udayabbaya-Nana yang masak sampai dengan Anuloma-nana secara kolektif dikenal sebagai Patipada-nana-dassana-visuddhi (Kemurnian dengan pengertian bijaksana dan pandangan terang yang muncul akibat telah mengikuti latihan yang benar). Ini adalah nana atau pengertian bijaksana yang tepat bagi 8 vipassana nana yang mendahuluinya dan Magga-nana (Pengertian bijaksana atas Jalan) yang mengikutinya. dan bahkan dapat berakhir dalam jangka waktu yang begitu lama. Pengertian bijaksana yang muncul langsung menuju sebuah jalan mulia ini yang jug a dikenal sebagai Vuitthana (elevasi) adalah Vutthana-gamini-vipassana-nana (Pengetahuan bijaksana menuju elevasi yang lebih luhur). Pencerapan yang muncul dalam jangka waktu lama ini merealisasi sifat alamiah obj ekobjek perenungan secara otomatis dan tanpa terlibat di dalam kesenangan dan ketidaksenangan. Setelah Anuloma Nana. Ini adalah pengertian bijaksana yang memotong kekerabatan Puthujjana (makhluk awam duniawi) dan memasuki kekerabatan Ariya (makhluk suci). Ini adalah Patisankha-nana (Pengertian bijaksana yang muncul dari perenungan yang lanjut). Kemudian muncul Sotapati Magga Nana dan Phala Nana (Pengetahuan bijaksana dari Jalan Suci pemenang arus dan buahnya) yang merealisasi Nibbana.iap fregmen (bagian) dari satu gerakan akan dengan sangat jelas diamati. Dukkha. Magga Nana disebut Nana-dassana-visuddhi (Kemurnian pandangan). dimana duka cita dan ketidakpuasan yang berhubungan dengan fenomena fisik dan batin padam secara tota l. Inilah kema tangan atau tahap akhir dari Udayabbaya-Nana . dengan kejelasan khusus yaitu dukkha. tanpa lelah atau bosa n. Seseorang yang telah merealisasi Paccavekkhana-nana sesuai urutan itu disebut se bagai makhluk Sotapanna (Pemenang arus). Ketika Patisankha-nana ini masak. Keluar dari perenungan ini yang dilanjutkan secara otomatis dan dengan momentumn ya merealisasi objek. Dilanjutkan den gan perenungan atas objek-objek dengan keseimbangan batin hanya memperhatikan objek tanpa terlarut di dalam kesenangan maupun ketidaksenangan. Anatta. muncullah Gotrabhu-Nana (Pengertian bijaksana memenangkan kesucian) dimana Nibbana adalah objeknya. dan . Kemurnian segera disusul kemunculan refleksi atas pengalaman khusus Magga. Perenungan ini begitu damai dan tanpa upaya khusus saat itu dan dilanjutkan dengan mengetahui objek-ob jek begitu otomatis dan dapat berlangsung lebih dari satu jam. pencerapan terhada p objek-objek dijumpai lebih cepat. Khas Anicca. Ini adalah Paccavekkhana-nana (Pengertian bijaksana dari retropeksi/perenungan mendalam). Perenungan itu mengalir tanpa hambatan seolah terbebas dari Upakkilesa (ketidakmurnian). dua jam atau tiga jam .

bukan diri/aku. Pengertian bijaksana terakhir adalah Anuloma-nana (Pengertian bijaksana atas adaptasi) yang terdiri dari tiga javana (saat-saat dorongan) disebu t Parikamma (persiapan), seyogyanya melaksanakan latihan meditasi sesuai dengan petunjuk yang diberikan di atas. Semoga semua makhluk dapat melaksanakan latihan Meditasi dan merealisasi Nibbana . __________________ KETERANGAN BEBERAPA ISTILAH PENTING Ariya Sacca Kebenaran Suci, terdapat 4 jenis : a. Dukkha sacca = Kebenaran suci tentang 'penderitaan' b. Samudaya sacca = Kebenaran suci tentang penyebab 'penderitaan' c. Nirodha sacca = kebenaran suci tentang padamnya 'penderitaan' d. Magga sacca = Kebenaran suci tentang jalan untuk terbebas dari 'penderitaan'. Bhavana a. Samatha - bhavana Pengembangan ketenangan batin. Secara sementara kekotoran batin tertentu mengend ap (lihat nivarana). Objek samatha-bhavana ini merupakan pannatti (konsepsi batin). b. Vipassana bhavana Pengembangan kebijaksanaan melalui pengamatan dan perhatian murni terhadap fenomena batin dan jasmani yang dicengkeram oleh sifat universal (lihat Tilakkha na). Hasil akhirnya, kekotoran batin terbasmi hingga ke akarnya. Objek vipassana-bhav ana ini merupakan paramattha (hakekatnya sesungguhnya segala sesuatu yang dialami). Dukkha a. Di dalam sifat alamiah universal (Tilakkhana), mengandung pengertian = tidak memuaskan. Dukkha jenis ini meliputi makhluk hidup suci atau tidak suci dan juga bukan makhluk hidup. b. Di dalam kebenaran suci tentang dukkha (Dukkha sacca), mengandung pengertian = penderitaan biasa (dukkha-dukkha), penderitaan yang inheren karena perubahan (viparinama dukkha), penderitaan yang inheren bagi mahluk yang merupakan perpaduan (sankhara dukkha). Dukkha jenis ini hanya berkenaan dengan makhluk hid up yang belum suci. Ekaggata a. Sebagai faktor batin bersifat netral (bukan baik juga bukan tidak baik), meng andung pengertian faktor batin yang berfungsi memusatkan batin terhadap objek yang diam ati. b. Di dalam faktor jhana, mengandung pengertian sebagai faktor batin yang berfun gsi menekan kamachanda-nivarana (hasrat nafsu indera). Jhana Kondisi batin yang melekat kuat terhadap objek (arammana) yang dialami. Objek ya ng dialami oleh batin selama di dalam kondisi jhana merupakan objek yang bukan sesungguhnya atau bersifat konsepsi batin (pannatti). Khanda Mengandung pengertian sebagai kelompok perpaduan; umum pula dijumpai dalam istilah upadanakkhandha yang berarti kelompok perpaduan yang berpotensi menimbulkan kemelekatan. Khandha terdiri dari 5 lima kelompok yaitu : a. Vedanakkhandha = kelompok perpaduan perasaan, yaitu perasaan yang menyenangkan, perasaan tidak menyenangkan dan perasaan netral (bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan). b. Sannakkhandha = kelompok perpaduan pencerapan. Fungsinya menandai objek, mencerap objek yang dialami, mengkondisikan pengenalan terhadap objek.

Apabila makhluk Anagami melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah pandangan untuk merealisasi Anagami Phala-sampatti , maka ia akan merealisasi tingkatan tersebut. Apabila ia melaksanakan latihan bagi tingkatan yang lebih luhur, maka Vipasanna-nana akan dikembangkan di dalam urutan yang sama seperti sebelumnya da n di dalam kematangan yang penuh ia akan merealisasi Nibbana dengan pandangan tera ng Arahatta Magga dan Phala (jalan kesucian Arahat dan buahnya) dan menjadi makhluk suci Arahat. Makhluk Arahat telah terbebas dari lima belenggu (samyojana ) yang masih tersisa, yaitu : 1. Rupa-raga (hasrat untuk keberadaan bermateri halus) 2. Arupa-raga (hasrat untuk keberadaan tanpa materi) 3. Mana (kesombongan) 4. Uddhacca (kegelisahan batin) 5. Avijja (kegelapan atau kebodohan batin) secara bersama dengan semua kilesa (kekotoran batin) Pada akhir masa kehidupannya saat ini ia akan Parinibbana, dan tidak akan tumimb al lahir lagi, ia secara mutlak terbebas dari duka ketuaan, kesakitan, kematian, da n seterusnya. Dengan tetap berpandangan terhadap kebebasan ini bahwa pertanyaan pada permulaan artikel ini : Apakah tujuan utama melaksanakan latihan meditasi telah diberikan jawabannya sebagai berikut : Latihan meditasi dilaksanakan untuk tujuan utama merealisasi Nibbana dan terbebas dari duka cita kehidupan di dalam bentuk ketuaan, kesakitan, kematian, dan seterusnya . Oleh karena itu mereka semua yang dengan tekun berharap untuk merealisasi Nibban a dan merealisasi kebebasan mutlak atau kemunculannya. Objek-objek perenungan nampak padam. Bentuk dan ukuran tangan, kaki, kepala, jasmani dan seterusnya tid ak dicerap lagi. Hanya kepadaman jasmani dan batin yang dicerap pada setiap saat perenungan. Bahkan, perenungan batin dicerap padam bersama objek perenungannya setiap saat. Pengertian bijaksana atas proses kepadaman ini di dalam pasangan ba tin dan objeknya adalah Bhanga-nana (pengetahuan bijaksana akan proses padamnya fenomena). Dengan terus-menerus mencerap proses yang selalu padam di dalam tiap pasang bati n dan objeknya maka akan tiba kemunculan perealisasian bahwa setiap fenomena dapat menimbulkan ketakutan. Ini adalah Bhaya-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang menakutkan). Kemudian akan disusul dengan munculnya pengertian bijaksana merealisasi ketidaksempurnaan fenomena batin dan materi. Ini adalah Adinava-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang tidak memuaskan). Kemudian akan disusul dengan pengertian bijaksana merealisasi sifat alamiah feno mena yang tidak menarik dan membosankan. Ini adalah Nibbida-nana (Pengetahuan bijaksana atas kondisi-kondisi yang membosankan). Apabila direalisasi bahwa sungguh baik apabila tidak terdapat fenomena fisik mau pun batin yang secara konstan datang/muncul dan padam di dalam cara demikian, muncul lah pengertian bijaksana, mencari kebebasan dari ketidakpuasan terhadap fenomenafeno mena ini. Ini adalah Muccitu-kamyata-nana (Pengetahuan bijaksana dari niat untuk terbebas).

Dengan lebih lanjut merenungkan disertai keinginan kuat untuk terbebas, munculla h sebuah persepsi kuat atas sifat alamiah Sotapanna terbebas dari tiga belenggu (samyojana) sebagai berikut : 1. Pandangan keliru bahwa fenomena kelompok perpaduan fisik dan batin adalah ego , atau diri. (Sakkaya-ditthi kepercayaan bahwa fenomena fisik dan batin adalah dir i). 2. Keraguan atas Buddha, Dhamma dan Sangha serta disiplin (Vicikiccha). 3. Kepercayaan bahwa metode di luar pengembangan jalan mulia berunsur delapan (Ariya Magga) dan di luar pengembangan pandangan terang di dalam empat kebenaran mulia (Ariya Sacca) dapat membawa kebahagiaan sejati (Silabbata-paramasa kepercayaan hanya terhadap ritual dan upacara membawa ke kesucian). Lebih lanjut, bahwa observasinya terhadap pelaksanaan lima kaidah kemoralan menj adi murni dan mutlak. Bagi alasan inilah, Sotapanna tidak mungkin tumimbal lahir ke alam yang tidak menyenangkan, yang rendah (Apaya loka). Ia akan menjalani kehidupan bahagia di dunia manusia dan para dewa selama tujuh kali tumimbal lahir maksimum , dan selama periode ini ia akan merealisasi tingkat kesucian Arahat. Apabila Sotapanna melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah niat untuk merealisasi Phala-samapatti (perealisasian buah), ia kemudian akan mencapai keadaan itu dan menetap dengan objek Nibbana untuk jangka waktu 5 atau 6 menit, atau setengah jam, atau satu jam. Apabila ia cukup baik terlatih di dalam latihan perealisasian Phala-samapatti maka ia akan merealisasinya dengan sangat cepat dan menetap di dalam objeknya itu selama sehari penuh atau bahkan semalaman atau leb ih lama lagi. Apabila ia melaksanakan perenungan terhadap Upadanakkhanda di dalam cara yang sama seperti yang telah disebutkan di atas dengan sebuah pandangan untuk mereali sasi tingkat Magga dan Phala yang lebih tinggi, maka vipassana-nana akan dikembangkan dari tahapan Udayabbaya-nana dalam urutan yang sama seperti sebelumnya dan dalam kematangan penuh ia akan merealisasi Nibbana dengan pandangan terang dari Sakadagami-Magga dan Phala (Jalan makhluk suci yang paling banyak akan kembali lagi satu kali ke alam nafsu dan buahnya) dan menjadi makhluk Sakadagami (yang kembali satu kali lagi). Ia kemudian terbebas dari nafs u indera (kama-raga) yang kasar dan keinginan buruk (patigha) yang kasar. Ia akan menuju kehidupan bahagia di dalam alam manusia dan dewa maksimum selama dua kali tumimbal lahir dan akan merealisasi tingkat kesucian Arahat selama periode tersebut. Apabila makhluk Sakadagami melaksanakan latihan Vipassana dengan sebuah pandangan untuk merealisasi Sakadagami Phala-Samapatti maka ia akan merealisasi tingkat tersebut. Apabila ia melaksanakan latihan dengan sebuah pandangan merealisasi tingkat Magga dan Phala yang lebih luhur, Vipassana-nana akan dikembangkan di dalam urutan yang sama seperti sebelumnya dan di dalam kematangan penuh ia akan merealisasi Nibban a dengan pandangan terang dari Anagami Magga dan Phala (Jalan makhluk yang tidak akan kembali lagi ke alam yang diliputi nafsu dan buahnya) dan menjadi mak hluk Anagami (Makhluk yang tidak pernah kembali lagi, ke alam nafsu indera). Ia kemud ian secara total terbebas dari dua belenggu/samyojana lebih banyak, yaitu kama-raga (nafsu indera) dan Patigha (keinginan buruk). Ia tidak akan tumimbal lahir lagi di Kama-loka (alam yang diliputi nafsu indera) namun akan tumimbal lahir di Rupaloka (alam dengan materi halus) atau Arupa-loka /alam tanpa materi (bila ia saat itu

Tidak adanya ini mengkondisikan tidak adanya itu. Nivarana Rintangan batin. 6. fungsinya menyadari objek yang dialami. dan bersifat netral (bukan baik juga bukan tidak baik). d. Uddhacca-kukkucca = sikap batin gelisah/tak dapat memegang objek dengan baik dan khawatir atas perbuatan baik yang belum dilakukan atau perbuatan jahat yang telah dilakukan. tak mengetahui kebenaran suci. unsur materi gerak. Vinnanakkkandha = kelompok perpaduan kesadaran. Kamachanda = hasrat di dalam nafsu indera. yang tidak baik dan yang netral (bukan baik juga bukan tidak baik). Ruparaga = hasrat untuk memiliki fisik/nafsu untuk tumimbal lahir di alam ber materi halus. c.makhluk Arupa Brahma) dan ia nantinya akan menjadi Arahat. e. 8. yaitu : 1. unsur materi panas. Samyojana Adalah belenggu batin. terdiri dari 5. e. Dalam hal ini meliputi batin para makhluk suci (Ariya puggala) pada saat hancurnya tiga atau lebih belenggu/ kekotoran batinnya (magga. ada 10 jenis. yaitu : a. Aruparaga = nafsu untuk tidak memiliki fisik/nafsu untuk tumimbal lahir di al am tanpa materi. Sakkaya-ditthi = kepercayaan atau pandangan keliru terhadap lima kelompok perpaduan (khandha 5) sebagai inti/aku/diri. Kamaraga = nafsu indera 5. Rupakkhandha = kelompok perpaduan materi/fisik/jasmani. Patigha = niat jahat/dendam. yang secara umum terd iri dari unsur materi padatan. 2. makhluk dewa maupun brahma/makhluk awam (puthujjhana puggala) yang belum hancur belenggu/kekotoran batinnya. Byapada = niat jahat. Dalam hal ini meliputi batin para makhluk rendah. b. Piti Sebagai faktor/penyerta batin berarti kegiuran batin terhadap objek yang dialami . Vicikiccha = keraguan skeptis. 4. c. Padamnya ini mengkondisikan padamnya itu. Mana = kesombongan 9. Lokuttara Dhamma Dhamma yang mengatasi duniawi. Lokiya dhamma Dhamma yang bersifat duniawi. unsur materi cairan. Timbulnya ini mengkondisikan timbulnya itu. Sankharakkhandha = kelompok perpaduan faktor-faktor/penyerta batin yang baik. formulasi umumnya terdiri dari empat pernyataan. 3. phala) dan Nibbana. 7. tak mengetahui hakekat sesungguhnya segala sesuatu. Thina-middha = sikap malas dan lamban d. tak dapat membedakan kebaikan dari keburukan. Uddhacca = kegelisahan batin. Sebagai faktor jhana merupakan faktor batin yang fungsinya menekan byapada-nivar ana (niat jahat). 10. Paticca-samuppada Sebab-musabab yang saling tergantung. makhluk manusia. yaitu : Adanya ini mengkondisikan adanya itu. Silabbata-paramasa = kepercayaan bahwa hanya dengan ritual keagamaan dapat merealisasi kesucian. . Vicikiccha = sikap batin ragu secara skeptis. Avijja = kegelapan batin.

Vicara a. c. dikategorikan sebagi faktor batin perasaan (sukkha vedana ) yang berfungsi merasakan objek yang menyenangkan yang dialmi. Di dalam hal perasaan (upekkha vedana). b. pada dasarnya terbentuk dari dua unsur. Di dalam sifat alamiah yang berlaku universal (Tilakkhana). hal ini seringkali ditaf sirkan atau diterapkan secara keliru. Sebagai faktor/penyerta batin artinya perenungan permulaaan. Sebagai faktor/penyerta batin artinya perenungan penopang. dikarenakan tidak memiliki pemahaman yang benar sehingga menimbulkan pengaruh yang kurang baik. "Menerima Diri Apa Adanya". mengandung pengertian perasaan netral . Sebagai manusia. kita sering mendengar anjuran-anjuran di masyarakat yang menyatakan untuk menerima diri apa adanya. MEDITASI Menerima Diri Apa Adanya dengan Pengertian Benar Dalam kehidupan ini.Sankhara a. b. di lu ar pencerapan (sanna) dan perasaan (vedana). Di dalam hal sikap batin luhur tanpa batas (brahma-vihara). ba ik sebagai sebab (paccaya) maupun sebagai akibat (pacayuppana) mengandung pengertia n = kehendak (cetana) lampau dan melandasi perbuatan-perbuatan lampau. b. netral dan buruk. Sabbe sankhara dukkha = semua fenomena perpaduan bersifat tidak memuaskan. yaitu batin (nama) dan jasmani (rupa). b. mengandung pengertian = faktor/penyerta batin (cetasika) yang baik. b. Sebagai faktor jhana (jhananga) merupakan faktor/penyerta batin yang fungsiny a menekan Thina-middha-nivarana (sikap batin malas dan lamban). Di dalam khandha 5. Vitakka a. yang baik d an yang tidak baik. yaitu : a. Di dalam faktor jhana. Ditinjau dari cara pandang yang sebenarnya. merupakan faktor batin perasaan yang berfungsi menekan uddhacca-kukkucca-nivarana (kegelisahan kekhawatiran) Tilakkhana Tiga sifat alamiah yang berlaku universal. sehingga merupakan bersifat ketidakkekalan (Annica). fungsinya membuat batin menambat terhadap objek yang dialami. Sabbe sankhara anicca = semua fenomena perpaduan bersifat tidak kekal. Akan tetapi. tanpa inti. Di dalam lima kelompok perpaduan/yang berpadu (Khandha 5). Sukha a. Upekkha a. mengandung penger tian = perpaduan. Di dalam fenomena sebab-musabab yang saling tergantung (Paticca-samupada). berarti memahami proses batin dan jasmani yang bersifat tanpa inti (Ana tta). . b. c. dan tidak memuaskan (Dukkha ). mengandung penger tian sikap batin seimbang terhadap semua fenomena yang dicengkeram Tilakkhana. Sebagai faktor jhana (jhananga) merupakan faktor penyerta batin yang fungsiny a menekan Vicikiccha-nivarana (keraguan skeptis). fungsinya membua t batin mengarah kepada objek yang dialami. Sabbe dhamma anatta = semua dhamma dalam hakekat sesungguhnya adalah tanpa kepemilikan. bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan. tanpa diri.

Kondisi batin kita memang jauh dari sempurna.Indonesia : Chandasili Nunuk Y. berdiri. setelah berusaha memperbaiki diri. kebencian dan kebodoha n batin) Tanpa batin yang terus menerus ditingkatkan. Sehin . maka itulah hasil terbaik yang dap at kita peroleh. Tida k mengeluh ataupun menyesalinya. Dikegiatan penyunyian yang kami selenggarakan. melainkan ha nya arti pada tingkat permukaan saja. Kalau kita memang masih bisa mencapai kondisi yang lebi h baik. dan intelektual. intelektual. baik atau buruk. materi. inilah yang sebenarnya dimaksud sebagai "Menerima Diri Apa Adany a" dalam meditasi. yaitu kesempurnaan batin (bebas dari keserakahan. Jadi "PENGERTIAN BENAR" yang berkenan dengan anjuran menerima diri apa adanya dalam kehidupan sehari-hari adalah memahami dan menerima. terutama dari segi batin. Kita menerimanya dengan pengertian benar dan merasa pua s sambil terus berusaha untuk menjadi lebih baik lagi dari sekarang dan begitulah seterusnya. Mereka mempraktekkan kesadaran saat berjalan. karena tanpa batin yang berkembang menuju arah yang lebih baik . apalagi menyalahkan orang lain. kenapa tidak dilakukan. duduk dan berbaring. maka aspek batin seharusnya menjadi prioritas u tama untuk diperbaiki. menerima diri apa adanya. kebencian (Dosa) dan ketidaktahuan (Moha) . Mere ka harus sepenuhnya membangun kesadaran setiap saat dalam kondisi apapun. menerima sifat sesungguhnya d ari segala sesuatu. Jadi. yaitu terkikisnya keserakahan (Lobha). sebagai orang awam. para yogi mempraktekkan meditasi kesadaran (vipassana) dengan menggunakan empat sikap tubuh yang berbeda-beda. kualitasnya. jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan sehari-hari. dan kekayaan materi tidaklah banyak membawa manfaat. yan g belum memiliki batin yang telah berkembang. termasuk apa yang kita anggap dan percaya sebagai "aku dan diriku". Karena itu. Selanjutnya. bisa menc apai tujuan.Inilah sifat sesungguhnya dari segala sesuatu yang terbentuk. maka kemajuan dalam se gi jasmani.K. juga merasa puas dengan setiap kondisi yang ada. Sikap utama tubuh dalam meditasi kesadaran adalah duduk bersila dengan punggung tegak. supaya suatu saat. maka perbaikan kondisi jasmani. Merasa puas bukan berarti kita berhenti berusaha menjadi orang yang lebih baik dari segi batin dan jasmani. intelektual. Inilah yang dimaksud dengan "Menerima Diri Apa Adanya" MEDITASI JALAN Oleh : Sayadaw U Silananda Alih Inggris . Dari semua aspek perbaikan diri. dan materi tidaklah banyak artinya. Untuk memahami inipun. tidak dapat mencakup arti yang sesungguhnya. apapun ha sil yang diperoleh. Tapi umumnya para yogi sulit duduk berjam-jam tanpa merubah posisi. Jadi sudah sewajarnya kita berusah a untuk menjadi lebih baik. untuk saat ini. lebih banyak orang yang belum sampai ke tahap pemahaman yang mendalam dan menyeluruh seperti yang didapat dari hasil berlatih Vipassanâ Bhâvanâ. tetap membutuhkan dasar pemahaman yang benar. Pada jaman sekarang ini.

Para bhikkhu gunakan pemahaman jernihmu .gga kami mengganti saat-saat duduk meditasi ini dengan meditasi jalan. Pada bagian lain yang disebut pemahaman jernih Sang Buddha mengatakan. Dengan cara yang sama. Kita harus menyadari bukan saja pemahaman yang jernih tapi juga kesadaran dan konsentrasi saat sedang berjalan bolak-balik. Praktek meditasi kesadaran bisa diumpamakan seperti merebus air. meditasi jalan merupakan sua tu bagian penting dari proses ini. Jika hal ini terus dilakukan. Namun demikian kami pernah mendengar orang-orang yang mengkritik praktek meditasi jalan. Lebih jauh Sang Buddha berkata. Lalu teko itu diletakkan di atas kompor kemudia n kompor itu dinyalakan. Untuk membangun konsentrasi ia harus menggunakan kesadarannya. Mulai dari saat bangun dari tidur di pagi h ari hingga terlelap pada malam harinya. Para pengritik ini mengatakan mereka tidak memperoleh manfaat at au hasil yang baik dari praktek meditasi jalan tersebut. mematikan dan menyalakan kompor (sebelum air mendi dih) maka air di dalam teko tidak akan pernah mendidih. Saat ini kami memiliki serangkaian petunjuk yang teliti tentang cara mempraktekk an meditasi jalan. Diskusi tersebut berkenaan dengan manfaat. Izinkan kami secara khusus membahas praktek meditasi jalan. Dengan memiliki pemahaman yang benar terhadap pengamatannya seorang yogi dapat membangun konsentrasi. air di dalam teko tidak langsung mendidih. Maksud dari pemahaman yang jernih disini adalah pemahaman yang benar atas segala sesuatu yang diamati. Sesungguhnya Sang Buddha merupakan orang pertama yang membabarkan praktek meditasi jalan ini. Pertama seseora ng harus mengisi air ke dalam teko. Petunjuk-petunjuk itu telah dipelajari oleh para murid Sang Buddha dan diturunka n dari satu generasi ke generasi berikutnya. tahu. Meski sesaat kompor dimatikan untuk kemudian dinyalakan lagi sebentar. pentingnya dan kondisi alami yang bis a dipahami saat mempraktekkan meditasi jalan. Pembahasan meditasi jalan Beliau sampaikan dua kali. Sebagai tambahan para guru terdahulu telah memiliki resep berdasarkan pengalaman praktek meditasi mereka sendiri. Sebelum air mendidih ia mematikan kompor. Seorang bhikkhu menggunakan pemahaman yang jernih saat berjalan bolak-balik . saya sedang berdiri ketika sedang berdiri. Dalam hal ini praktek meditasi jalan menyatu didalamnya untuk menumbuhkan kesadaran yang berkesinambungan. Meski Sang Buddha tidak memberikan petunjuk secara khusus dan rinci tentang meditasi jalan (hanya penjelasan singkat yang tercatat di dalam sutta) kami perc aya Beliau telah memberikan petunjuk pada suatu waktu. tahu saya sedang duduk saat sedang duduk dan tahu saat sedang berbaring sebagai saya sedang berbaring . Itulah sebabnya para yogi yang berada dalam pengawasan kami diinstruksikan untuk membangun kesadaran sepanjang waktu. Dalam bagian yang disebut sikap tubuh Beliau mengatakan seorang yogi tahu. Jadi. Karena meditasi jalan sangat penting maka perlu didiskusikan lebih jauh. Jika kalian adalah p . jika ada jeda atau celah diantara kesadaran maka kita tid ak akan bisa membangun konsentrasi dengan baik. saya sedang berjalan saat ia sedang berjalan.

yaitu melangkah dan meletakkan kaki . Tak perlu siapapun mengingatkan .ara pemula sang guru akan menasehati untuk sepenuhnya awas pada satu hal selama mempraktekkan meditasi jalan.atau kirikanan kiri-kanan Yang perlu diingat kalian harus berjalan lebih lambat dari biasanya saat sedang berlatih meditasi jalan. Kalian harus mengamati sungguh-sungguh dua tahapan proses melangkah tersebut. angkat-letakkan angkat-letakkan . angkat-maju-turun-tekan . .berjalan . Sebagai pemula para yogi akan menemui kesulitan untuk berjalan perlahan. pelan-pelanlah . Meskipun para yogi memberikan perhatian yang cermat dan melambatkan langkahnya ada kemungkinan mereka tidak melihat semua pergerakan dan tahapan dari pergeraka n tersebut dengan jernih. ia bisa menyadari semua gerakan itu . Tapi si sopir secara otomatis akan memperlambat laju kendaraannya untuk bisa melihat rambu-rambu tersebut. Kalian akan diinstruksikan untuk mencatat dalam batin empat gerakan tersebut. Hanya dengan berjalan lambat ia bisa sepenuhnya awa s dan waspada terhadap gerakan kaki tersebut. Saya akan memberi perumpamaan untuk menjelaskan pernyataan di atas. Sepenuhnya awas pada langkah kaki sementara kalian membuat pencatatan di dalam batin berjalan . secara otomatis ia akan melambatkan langkah kakinya. Bila ia ingin membaca rambu-ra mbu tersebut ia harus melambatkan laju kendaraannya. Sewaktu berkendara di jalan bebas hambatan seseorang cenderung memacu kendaraannya pada kecepatan 60-70 atau malah 80 mil/jam. Tapi. Setelah beberapa jam atau setelah satu-dua hari bermeditasi kalian akan diberi p etunjuk untuk melakukan dua tahapan dalam melangkah. k etika ia sepenuhnya memberi perhatian dengan baik. Pada saat itulah secara otomatis ia berjalan dengan perlahan. maju. Saat itu seolah-olah pergerakan tersebut merupakan satu kesatuan gerak yang berkesinambungan. Dengan pemahaman yang sama.. yakni pertama proses mengangkat.angkatletakka n . keempat sentuh atau meletakkan kaki ke lantai. kedua maju. ketiga tur un. Sesudahnya kalian akan diberi petunjuk lanjutan untuk sepenuhnya menyadari empat tahapan dalam proses melangkah yakni. turun dan tekan. Maklum tahapan pergerakan itu belum menempel di pikiran. Namun.berjalan . bila seorang yogi ingin memberikan perhatian yang lebih cermat atas gerakan mengangkat. Setelah itu kalian akan diberi petunjuk untuk sepenuhnya menyadari tiga proses berjalan. pertama mengangkat. Dengan demikian semakin lama ia semakin penuh perhatian. kedua proses maju dan ketiga proses meletakkan kaki. Dengan kecepatan seperti itu akan sulit b aginya membaca rambu-rambu lalu lintas di pinggir jalan. Tidak perlu secara sengaja melambatkan lan gkah kaki tersebut. Saat konsentrasi berkembang lebih kuat para yogi akan mampu mengamati tahapan-tahapan gerakan yang berbeda dalam satu langkah dimana akhirnya empat tahap gerakan (dal am satu langkah) lebih mudah diamati. Ini harus dicatat dalam batin sebagai.. dengan menaruh perhatian penuh secara otomatis langkah kak i akan melambat.

Jadi. Saat kaki terangkat ada unsur lain yang juga bekerja di sana. gerakan kaki. Dengan kata lain saat itu yogi merasakan intisari dari unsur api. Jadi. yakni gerakan mengangkat kaki. Saat benda-benda menjadi lebih ringan itulah mereka bisa mengangkat kaki. Saat kaki terdorong ke depan un sur utama yang mempengaruhi gerakan tersebut adalah unsur udara. Setelah itu terjadi per gerakan kaki bergerak naik. rasa berat saat kak i turun dan sentuhan pada kaki terhadap lantai yang berupa rasa keras dan lunak. tapi merupakan proses nyata. Saat mendorong kaki ke depan mereka akan mencapai pergerakan dari satu tempat ke tempat lain. dalam hal naiknya kaki. Sewaktu yogi meletakkan kaki ke bawah ada sejenis kekerasan pada kaki. maju. Persinggungan antara kaki . unsur api dan unsur udar a. Ketika mengalami rasa ringan mereka melihat unsur api. Pada gerakan pertama. unsur api lebih dominan dibanding unsur udara. Saat ca iran menjadi berat maka ia akan mengental. empat unsur utama tersebut nampak . Saat mengamati proses-proses ini mereka sedang melihat empat unsur utama (Pali: Dhatu ). para y ogi akan melihat rasa ringan saat kaki mengangkat. Lebih jauh. saat bersungguh-sungguh melihat gerakan kaki maju ketika melakukan meditas i jalan yogi-yogi itu sebetulnya tengah melihat intisari unsur udara. Tidak hanya it u. Dengan memberi perhatian yang cermat pada empat tahapan melangkah sewaktu berlatih meditasi jalan. Tahap berikutnya adalah mendorong kaki ke depan. turun dan tekan ke lantai. saat yogi mengalami rasa berat pada kaki mereka sebenarnya mengalami peristiwa bekerjanya unsur air. Tapi . Dan ketika menurunkan kaki mereka mencatat gerakan kaki y ang turun menjadi berat dan semakin berat. Salah satu aspek dari unsur api adalah membuat benda-benda menjadi lebih ringan. Saat kaki menekan ke tanah/lantai yogi-yogi akan mengalami kekerasan dan kelembutan dari kaki yang menyentuh tanah atau lantai. Mereka mengetahui kaki yang terangkat itu ter asa ringan. Tahap meditasi jalan berikutnya adalah gerakan menurunkan kaki. Unsur air bersifat merembes dan mengental. Kedua unsur tersebut bisa dirasakan oleh para yogi saat mere ka menaruh perhatian sungguh-sungguh ketika mengangkat kaki. Pergerakan terjadi karena ada unsur udara yang bekerja. Empat unsur utama itu adalah unsur tanah. unsur air. Karena pergerakan (dalam hal ini adalah gerakan mendorong) adalah satu sifat utama dari unsur udar a. Jadi bisa dikat akan saat menangkat kaki unsur utamanya adalah unsur api dan unsur kedua yang mengiku ti adalah unsur udara. Jadi unsur-unsur itu t idak hanya sekedar konsep (teori belaka). Saat meletakkan kaki ke lantai/tanah mere ka merasakan sentuhan. sepanjang pengamatan angkat. yogi mengalami rasa ringan.Para yogi akan mengetahui secara jelas bahwa gerakan mengangkat berbeda dengan gerakan maju maupun gerakan turun. realitas mutla k. Ijinkan kami membahas lebih terperinci sifat dari unsur-unsur tersebut yang beke rja saat mempraktekkan meditasi jalan. Kekerasan adalah karakteristik dari unsur air.

Inilah penjelasannya. h al itu bisa terjadi karena munculnya serangkaian kehendak. Dengan cara ini para yogi akan memahami bahwa bersamaan dengan melangkah ada gerakan kesadaran atau pengawasan. Pada satu waktu ada kaki yang terangkat dan munculnya kesadaran mengangkat. Bisa dikatakan hanya dengan satu langkah para yogi bisa mengamati banyak proses. Juga. Hanya saja pemahaman atau pengertian tentang munc ul dan lenyapnya batin dan jasmani setiap saat ini hanya akan terjadi bagi mereka y ang berlatih dengan sungguh-sungguh. Saat-saat menyadari tersebut termasuk ke dalam bekerjanya kelompok batin (dalam bahasa Pali disebut nama). Proses yang sama muncul saat melakukan gerakan menekan kaki ke landasan. Pergerakan-pergerakan itu tak akan terjadi tanpa adanya suatu sebab. Mereka akan menyadari bahwa kaki bisa diangkat karena mereka menginginkannya. Mereka bisa mengamati empat unsur utama dan menyadari keempatnya secara alami. Inilah temuan berikutnya yang bisa ditemui para yogi saat mereka memberikan perhatian dengan . Keadaan ini hanya bisa dilihat dan dialami oleh para yogi yang berlatih dengan sungguh-sungguh. Kaki bisa turun karena mereka menginginkannya. Keduanya muncul dan lenyap sampai kaki betul-betul menyentuh landasan. Setelah ada kehendak untuk mendorong maka muncul proses kaki terdorong ke depan. Saat it u ada gerakan menekan dan munculnya pengawasan atas gerakan tersebut. Jadi. Pad a saat itu para yogi akan memahami batin dan jasmani muncul dan lenyap setiap saat . Kehendaklah yang mengawa li setiap pergerakan. Sementara gerakan-gerakan kaki termasuk ke dalam kelompok materi atau rupa . ada gerakan mendorong kaki ke depan disertai dengan pikiran yang mengawasi gerakan tersebut. Dari sinilah muncul pemahaman tentang bekerjanya pasangan batin dan jasmani yang muncul dan lenyap setiap saat. Bersamaan dengan itu ada pikiran yang mengawasi gerakan tersebut. kaki terdorong ke depan karena mereka bermaksud demikian. Saat berikutnya ada gerakan kaki mendorong ke depan dan kesadaran yang melihat pergerakan tersebut. Kondisi yang dimaksud adalah munculnya kehendak atau maksud yang mengawali setiap pergerakan. Pergerakan-pergerakan itu tak akan muncul denga n sendirinya. Ada sebuah sebab atau kondisi untuk setiap pergerakan. Setelah mengamati proses ini dengan sungguh-sungguh para yogi kemudian memahami semua kemunculan itu berkondisi.dan landasan mengalami keadaaan alaminya yang khas. Demikian seterusnya. Demikian seterusnya. Begitu pula kaki bisa menekan landasan karena mereka bermaksud demikian. Setelah ada kehendak untuk mengangkat maka muncul proses mengangkat kaki. Yakni munculnya serangkaian kehendak a tau maksud yang mengakibatkan terjadinya setiap gerakan. Dengan kata lain ada gerakan mengangkat disertai munculnya pikiran yang mengawas i (mencatat) gerakan mengangkat tersebut. Ada hal lain yang akan ditemui para yogi. Jadi dengan menaruh perhatian sungguh-sungguh saat kaki menekan landasan yogi-yogi sebenarnya bisa memetik pengalaman berupa keadaan alami yang dipengaruhi oleh unsur tanah. Selanjutnya. Kondisi ini dipengaruhi oleh uns ur tanah. Setelah itu ada g erakan menurunkan kaki ke landasan. Saat para yogi meneruskan latihan meditasi jalannya mereka akan menyadari pada setiap gerakan ada pikiran yang mencatat atau mengawasi setiap gerakan tersebut.

Pemaha man ini bisa diraih melalui meditasi jalan. Mereka juga akan memahami ketidakkekalan kesadaran melangkah. Setelah itu barulah seorang yogi bisa memutuskan fenomena yang tengah diselidikinya itu bers ifat tidak kekal. Akhirnya pengertian selanjutnya yang muncul adalah segala sesuatu itu bersifat tidak kekal. Melalui penyelidikannya para yogi melihat (menyadari) saat bermeditasi jalan ada gerakan mengangkat dan kesadaran yang muncul atas gerakan itu yang sesaat kemudi an lenyap. Melalui proses ini lewat pengalamannya sendiri.. Sotapanna artinya pemenang arus. atau alam-alam neraka). binatang. Dengan demikian seseorang yang mendekati pemahaman sotapanna tak mungkin terlahir di alam-alam bawah (alam peta. Inilah keuntungan besar dari berlatih meditasi jalan. Saat yogi memiliki pengertian tentang muncul-lenyapnya batin dan jasmani mereka akan memahami ketidakkekalan proses melangkah. Tentu saja tingkat di atas tidak mudah dicapai. Dengan pemahaman yang jernih atas kondisi setiap benda dan dengan tersingkirnya keragu-raguan atas batin dan jasmani bisa dikatakan ia meraih tingkat mendekati seorang sotapanna . Gerakan in i pun secara sederhana muncul dan lenyap. Seorang sotapanna adalah seseorang yang telah meraih pencerahan tingkat pertama. Saat seorang yogi memahami kondisi munculnya setiap pergerakan maka akan muncul pemahaman baru.sungguh-sungguh. Tentu saja hal ini bisa terjadi sekali l agi dengan memberikan perhatian secara teliti dan sungguh-sungguh dalam mengamati setiap pergerakan kaki. pengertian muncul dalam diri par a yogi. diberitahu pihak lain atau adanya suatu otoritas tertentu yang mendorong munculnya pengertian ini. Hal ini memberi ruang atas munculnya gerakan mendorong kaki ke depan. Jika meditasi k ita cukup baik keadaan ini memungkinkan untuk mengamati ketidakkekalan. Tapi pihak tera khir ini sudah dipastikan hanya akan terlahir kembali ke alam manusia atau alam dewad ewa. Mereka bisa memahami hubungan antara yang dikondisikan dan yang mengkondisikan. Pada saat inilah seorang yogi bisa memahami hubungan sebab akibat. Tapi. Saat pemahaman itu muncul yogi ini bisa saja menyingkirkan keragu-raguannya tent ang batin dan jasmani. Seseorang yang meraih tingkat pemahaman mendekati seorang sotapanna belum benar-benar menjadi sotapanna. Hal ini terjadi melalui munculnya pengertian bahwa batin dan jasmani tidak akan muncul tanpa adanya suatu kondisi. Kita harus berusaha memahami apakah sesuatu itu bersifat kekal atau tidak kekal. Saat mereka memahami batin . bila seorang yogi mampu meraihnya bisa dipastikan ia hanya akan terlahir di alam-alam bahagia. Mereka akan memahami bahwa maksud atau kehendak adalah kondisi yang membuat munculnya pergerakan. Hal ini terjadi seiring dengan timbulnya pengertian bahwa segala sesuatu itu akan muncul dan lenyap. Saat mengalami bahwa batin dan jasmani itu timbul dan tenggelam para yogi akan memahami batin dan jasmani itu bersifat tidak kekal. Pemahaman ini tidak timbul dari membaca buku. Mereka memahami bahwa pergerakan itu tercipta oleh maksud atau kehendak. Kita harus berusaha untuk melihat melalui kekuatan yang muncul dalam meditasi apakah benda-benda itu subyek dari proses menjadi yang kemudian lenyap. muncul dan lenyap (timbul tenggelam).

tentunya. Setelah memahami ketidakkekalan dan tidak memuaskannya benda-benda akan muncul suatu penyelidikan yang memunculkan pengertian bahwa di sana tak ada tuan dari benda-benda tersebut. ternyata ada satu juta proses pergerakan mengangkat kaki dimana kita menganggapn ya sebagai satu gerakan belaka. Dengan memberikan perhatian penuh atas gerakan tersebut mereka melihat bendabend a timbul-tenggelam terus-menerus. Dengan cara semacam inilah akan muncul penghargaan dan penghormatan atas . Para yogi bisa memahami ketiga sifat tersebut dengan penyelidikan secara tekun s aat kaki naik dan kesadaran yang muncul saat menaikkan kaki dan seterusnya. Sekarang akan semakin sulit melihat perbedaan pergerakan dalam bingkai gambar dari hasil rekaman kamera yang bisa mengambil gambar satu juta bingkai dalam satu detik. Bagaimana jika ada kamera yang bisa mengambil gambar dari pergerakan mengangkat kaki sebanyak 1000 bingkai dalam satu detik? Bila ada kamera demikian maka akan dihasilkan rekaman seribu pergerakan dalam satu detik. Dengan memiliki pemahaman semacam ini yogi-yogi memahami sifat ketiga dari fenomena yang berkondisi. Meskipun. Benda-benda hanya timbul dan tenggelam mengikuti hukum alam. Pada kondisi ini yogi-yogi bisa memahami sifat ketiga dari semua fenomena yang berkondisi yakni bersifat tidak kekal. anicca. Akibatnya mereka bisa melihat anicca. Inilah kenyataannya. rangk aian gambar pergerakan itu hampir-hampir sulit dibedakan. mereka menyadari tak ada jiwa atau diri di dalam benda-benda yang memerintah mereka untuk menjadi kekal. Lebih jauh. Bahwa benda-benda tak memiliki diri di dalamn ya. Meski perbedaan itu kecil sekali tapi seseorang bisa dengan mudah melihat perbedaan tersebut. Kataka nlah ada kamera yang bisa merekam gerakan tersebut. Terlihat rangkaian pergerakan itu berbeda satu sama lainnya. Salah satu arti dari anatta adalah tak ada tuan (majikan) tiada apapun. Kita pun per lu menyelidiki kekuatan kesadaran dan kekuatan kehendak yang muncul di awal setiap pergerakan. dukkha dan anatta). Sehingga kamera ini bisa mengambi l gambar dari gerakan itu sebanyak 36 bingkai dalam satu detik. Usaha yang dikerahkan saat bermeditasi jalan adalah melihat gerakan kita secara cermat secermat kamera berkekuatan tinggi melihatnya bingkai demi bingkai. umpamanya. tak ada kekuatan apapun. penuh penderitaan dan tak ada inti yang k ekal di dalamnya (dalam Pali disebut bersifat. Sekarang izinkan kami untuk menjelaskan lebih terperinci tentang pergerakan dala m meditasi jalan. Hal ini muncul karena ternyata batin dan jasmani berad a dalam keadaan terus-menerus timbul dan tenggelam. naiknya kaki berkisar satu detik.dan jasmani itu bersifat tidak kekal mereka akan mengerti bahwa batin dan jasmani it u bersifat tidak memuaskan. yakni sifat dari anatta. Atau dengan kata lain. Setelah gambar itu terekam kita bisa mengamati rangkaian pergerakan dalam bingka ibingkai yang terpisah itu. tak ada jiwa dibalik fenomena-fenomena tersebut. dukkha dan anatta dari semua fenomena secara alami. Umpamanya seseorang mengambil gambar bergerak dari proses mengangkat kaki.

mudah busuk dan hancur.perjuangan. Dengan kata lain ketertarikan kita pada lukisan tersebut akan padam. kebijaksanaan dan pandangan terang Sang Buddha atas apa yang beliau lihat dari pergerakan-pergerakan tersebut. Tak ada suatu i . sebagai umat awam. Sebagai contoh kita mungkin melihat sebuah lukisan indah yang digoreskan pada su atu kanvas. Dari proses ini mereka melihat batin dan jasmani. timbul tenggelam. Nilai dari meditasi ini bersandar pada kemampuan kita untuk menyingkirkan selubu ng ketidakterputusan dengan menemui keadaan alami atas ketidakkekalan. Jika melihat sesuatu yang sekilas k ita pikir cantik ternyata si cantik itu berlubang-lubang. Dengan pandangan biasa seseorang tak akan mampu melihat ketidakkekalan dari bend abenda karena ketidakkekalan tersembunyi oleh khayalan. Karenanya kita akan kehilangan keterikatan atasnya. Mereka telah mengamatinya dengan peralatan sangat canggih bahwa materi hanyalah gabungan getaran partikel-partikel dan energi yang berubah terus-menerus. Saat menggunakan kata melihat atau mengamati yang merujuk pada situasi diri sendiri. Saat itu kita berpikir cat dan kanvas secara keseluruhan sebagai suatu k esatuan. Namun dengan mengamati lebih jernih kita bisa mengetahui bahwa gerakan itu terdiri dari banyak gerak yang berkesinambungan dalam membentu k satu-kesatuan gerak. Karena ternyata lukisan terseb ut terdiri dari banyak lubang dan rongga-rongga. para yogi akan menyadari sesungguhnya tak ada apapun di dunia ini yang cukup berharga untuk dilekati atau diidam-idamkan. Para yogi bi sa menemukan ketidakkekalan sebagaimana adanya secara langsung melalui daya upaya mereka sendiri. sebagai ketidakkekalan. yang melihat saat melangkah hanya berupa satu gerakan tak terputus. bahwa kita tak akan mungkin melihat secara langsung seluruh satu juta gerakan se perti yang bisa dilihat oleh Sang Buddha. Ahli fisika modern tahu hal ini dengan baik. hal ini dimaksudkan secara langsung melihat dan juga menarik kesimpulan . Jika lukisan tersebut ditaruh di bawah mikroskop kita akan melihat ternyata gamb ar tersebut tidak padat dan merupakan satu kesatuan. Demikian pula dengan yang terjadi pada khayalan atas ketidakterputusan bisa dipatahkan. Khayalan ini bisa dipatahkan oleh pengamatan langsung atas fenomena jasmani sedi kit demi sedikit. setahap demi setahap sebagaimana adanya sehingga khayalan tersebut bisa dihancurkan. Kita berpikir. Setelah berlatih meditasi dan mengamati dengan penuh perhatian para yogi akan ta hu meski hanya satu pergerakan (dari jumlah keseluruhan 4 tahapan gerak) sebenarnya pergerakan itu gabungan dari jutaan gerak. Setelah menyadari bahwa benda-benda merupakan gabungan dari bagian-bagian yang muncul sedikit demi sedikit dan setelah mengamati bagian-bagian ini satu demi sa tu. Sebelum mulai berlatih meditasi jalan mungkin para yogi pernah berpikir satu lan gkah hanya terdiri dari satu gerakan. Setelah melihat lukisan tersebut merupakan gabungan dari ruang-ruang kita akan kehilangan ketertarikan padanya.

Meditation Centre. Meditasi jalan juga bisa menjadi alat yang tepat gu na menolong kita menyingkirkan kekotoran batin. Meditasi jalan juga sekuat kesadaran murni mel ihat kembung dan kempisnya perut. Lebih jauh kita harus memberikan perhatian penuh saat bermeditasi jalan sama sep erti yang kita lakukan saat duduk bermeditasi atau berbaring. Sepanjang belum mampu menyadari kebenaran ini. Keseluruhan tubuh yang dirasakan den gan jelas tersebut. tersusun atas sekelompok sifat materi (rûpa). Kita berlati h meditasi karena ingin menyingkirkan kemelekatan dan kerinduan terhadap obyekobye k. Meditasi jalan bisa menolong kita meraih pandangan terang melalui melihat ke dalam benda-benda apa adanya. Itu terjadi melalui pengertian atas merealisir ketiga keberadaan anicca. Terjadinya Nâma-rûpa ini dirasakan . Dengan mempraktekkan semua si kap tubuh dalam meditasi vipassana. Kita ingin menyingkirkan kerinduan karena tidak ingin menderita. Selebihnya kita harus berlatih meditasi jalan dengan sungguh-sungguh sama sepert i waktu berlatih meditasi duduk atau posisi lainnya. Maka sangat diperlukan memiliki pengalaman langsung bahwa semua benda yang berkondisi adalah tanda dari keberadaan ketiga sifat dasar ters ebut. Sedangkan fenomena f isik atau mental merupakan bentuk kesadaran (nâma). Meditasi jalan bisa mengakibatkan berkembangnya kekuatan spiritual. Kita harus mengenyahkan kerinduan dan kemelekatan. Sekarang kita bisa memahami alasan mengapa perlu berlatih meditasi. Fenomena fisik adalah segala sesuatu (obyek-obyek) di sek itar yang dirasakan dengan jelas oleh seseorang. __________________ Latihan Meditasi Vipassana Praktis oleh: Ven. Burma Praktek Vipassanâ atau meditasi pandangan terang merupakan upaya yang dilakukan oleh meditator untuk memahami dengan benar sifat sejati fenomena psiko-fisik yan g terjadi pada tubuhnya. Dengan menyadari ketidakkekalan yang tiada akhir ini para yogi tahu benar-benar tidak ada apapun yang cukup berharga untuk diidam-idamkan. dukkha dan anatta dari benda-benda secara apa adanya. Sekali kita mampu menyadari hal ini maka kita akan mampu menyingkirkan kemelekatan terhadap benda-benda. termasuk sikap tubuh berdiri. Meski begitu meditasi jalan bisa seakurat seperti meditasi duduk at au jenis posisi meditasi vipassana yang manapun. sebanyak apapun buku yang dibaca atau bahan yang didiskusikan (mendiskusikan tentang bagaimana menyingkirkan kemelekatan) kita tidak akan mampu mengenyahkan kemelekatan tersebut. Tak ada apapun yang cukup berharga untuk digenggam di dunia fenomena ini.nti sari yang kekal di dalamnya. Saya tidak sedang berusaha mengatakan bahwa dengan mempraktekkan meditasi jalan bisa memberikan kesadaran tertinggi dan kemampuan untuk sepenuhnya mengusir kemelekatan. Dengan cara itulah kita bisa menyingkirkan kerinduan. Mahâsî Sayâdaw Agga Mahâpandita U Sobhana khotbah YM Mahâsi Sayâdaw Agga Mahâ Pandita U Sobhana kepada murid beliau pada saat pelantikan Meditasi Vipassanâ di Sâsana Yeikhta. Tak ada substansi yang kekal di dalamnya. Rangoon. Kita harus memahami bahwa segala sesuatu muncul dan lenyap. semoga semua yogi bisa meraih pemurnian sepenuhnya dalam kehidupan ini.

merasakan sebagai merasakan . Kemudian kembali lagi kepada gerakan perut naik dan turun. Dalam setiap tindakan bernafas. bertemu . Demikian pula dengan gerakan turun. Merencanakan sebagai merencanakan. yang menarik perhatian dan mudah dirasakan olehnya. menyentuh sebagai menyentuh dan berpïkir sebagai berpikir . Jangan bernafas terlalu keras juga. Gerakan naik harus disadari sebagai gerakan naik. Kita harus senantiasa membuat diri sendiri sadar akan nâma-rûpa tersebut dengan cara mengamati dan memperhatikannya sedemikian rupa. mendengar sebagai mendengar . dicium. Jika Anda membayangkan bertemu dan berbicara dengan seseorang maka amati hal itu demikian. bicara . dan bergerak turun saat Anda menghembuskan nafas. seperti layaknya sebuah batu yang dilempar mengenai sasarannya. sampai. Hal ini juga harus disadari dengan berkata dalam hati. mengembara. Singkatnya. Yang menjadi persoalan utama adalah mengetahui atau merasakan. orang ten tu saja tidak dapat menyadari setiap hal tersebut di atas. bicara. maka kita sadari. Namun di awal latihan. Bosan sebagai bosan. Bernafaslah dengan teratur seperti biasanya dan perhatikan perut yang bergerak naik dan turun setiap kali berlangsung. Kemudian kembali lagi kepada gerakan perut yang naik dan turun. menyentuh atau berpikir. Anda akan merasa lelah jika mengubah cara bernafas. perut senantiasa naik dan turun dan ger akan tersebut jelas sekali. maka sadarilah itu sebagai berpikir. Gerakan naiknya perut serta kesa daran mental terhadapnya harus bertepatan. bertemu. merasakan. Jika kemudian pikiran sampai di suatu tempat. Setiap kali seseorang melihat. Perhatikan gerakan naik sedemikian rupa hingga kesadaran An da terhadapnya selaras dengan gerakan itu sendiri. Jika And a merasa bahagia. Karena itu ia harus mula i memperhatikan hal-hal yang berlaku. sehingg a Anda akan kembali mengamati perut yang bergerak naik dan turun. maka sadarilah itu sebagai membayangkan. seperti: melihat sebagai melihat . lakukan hal itu dari awal hi ngga akhir gerakan seperti layaknya Anda melihatnya dengan mata. maka ia harus menyadari kenyataannya. mengembara . mencium sebagai mencium . Anda akan mengetahui bahwa perut bergerak naik saat Anda menarik nafas. apa yang Anda sebut atau katakan tidak masalah. Jika ha l ini diamati sekali atau dua kali. didengar. mendengar. Pikiran Anda bisa saja mengembara ke mana-mana saat mengamati gerakan perut. Saat mengamati perut yang bergerak naik. Meditator harus mulai dengan memperhatikan gerakan ini. yaitu saat nâma-rûpa dilihat. Jika Anda berpikir. jangan memperlambat atau mempercepatnya. maka amatilah sebagai. disentuh at au dipikirkan. dan gerak an turun sebagai gerakan turun.dengan jelas. Lakukan pengamatan itu dengan pikiran dan bukan dengan gerakan. mencium. Senang sebag ai . Jika Anda membayangkan bertemu seseora ng. J ika Anda membayangkan. apapun bentuk pikiran atau bayangan yang timbul haruslah disadari. Jika gerakan tersebut tidak cukup jelas bila hanya diamati oleh pikiran. Lakukan hal yang sam a untuk gerakan turun. Jangan mengubah cara Anda bernafas. dirasakan. sampai . Dalam meditasi vipassanâ. maka Anda dapat menyentuh perut Anda dengan menggunakan telapak tangan. Hal ini merupakan sifat materi yang dikenal sebagai vâyodhâtu (elemen pergerakan). dan dilakukan oleh pikiran yang dengan tekun mengamati perut. sadarilah itu sebagai bahagia. maka pikiran akan berhenti mengembara.

da n tidak juga akan tercapai Magga (Jalan menuju Nibbana). Phala (Buah dari Sang Jal an) dan Nibbâna. aku merasa panas. bentuk kesadaran tersebut cenderung lenyap. tak peduli apakah itu perasaan kaku. Karena dengan mengamati. mengetahui atau merasakan. Itulah mengapa kita harus mengamati bentuk-bentuk kesadaran dan memahaminya sebagaimana adanya. Kecil hati sebagai kecil hati. Dan mengamati semua bentuk kesadaran ini disebut sebagai cittânupassanâ. Aku merasa kaku. Jika ia menukar atau mengganti posisi tubuh terlalu sering karena tidak sabar menghad api perasaan kaku atau panas yang timbul. di mana setelahnya sang yogi harus kembali lagi mengamati perasaan kaku. yang menyebabkan lampu menyala. Setiap kali kontak yang tidak menyenangkan menyentuh tubuh maka bentuk-bentuk perasaan tidak menyenangkan timbul saling bergantian. Itulah mengapa kesabaran sangat dibutuhkan dalam meditasi. Kesabaran menuntun ke Nibbâna demikian kata pepatah. Jika kita gagal mengamati bentuk-bentuk kesadaran tersebut. panas da n sebagainya. Seluruh bentuk perasaan itu disebut sebagai dukkhâved anâ (perasaan tidak puas) dan tindakan mengamatinya disebut sebagai vedanânupassanâ. Orang harus sabar dalam bermeditasi. Sesungguhnya tidak ada aku yang terlibat di sini. sedang berpikir. Penjelasan mengenai bentuk-bentuk perasaan dengan menyertakan ego adalah keliru. Sama halny a dengan rasa pegal dan lelah. Kita jadi berpikir bahwa ada seseorang yang sejak kan akkanak hingga sekarang. Aku sekarang merasa tidak nyaman dengan perasaanpe rasaan yang tidak enak ini . Hal ini juga harus diamati dengan hati-hati pula. Jika Anda telah duduk bermeditasi sekian lama. Kita cenderung berpi kir bahwa inilah aku yang sedang membayangkan. aku merasa pegal. Bentuk-bentuk perasaan ini harus diamati dengan hati-hati dan terus menerus. orang tersebut tidak ada. Kegagalan atau kelalaian dalam mengamati sensasisensasi tersebut membuat Anda berpikir. Jika samâdhi tidak berkembang maka batin tidak akan mencapai hasil. Yang ada hanyalah bentuk-bentuk kesadaran yang berlangsung terus menerus. Kemudian kita akan kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Ora ng tidak seharusnya gampang menyerah terhadap latihan meditasi pada saat muncul bentuk-bentuk perasaan tersebut sehingga ia langsung mengubah posisi tubuhnya. pegal atau panas. Itulah mengapa kita harus senantiasa mengamati setiap bentuk kesadaran yang timbul. perasaan tersebut cenderung meningkat dan menyebabk an keinginan untuk mengganti posisi tubuh. merencanakan. Pepatah ini rupanya berhubungan erat dengan upaya bermeditasi. sedang hidup dan berpikir. maka perasaan kaku dan panas akan timbul dalam tubuh. Pada tahap awal latihan meditasi yan g dilakukan oleh seorang yogi. Keinginan ini pun harus diamati. maka samâdhi (konsentrasi benar) tidak akan berkembang. Yang ada hanyalah timbulnya satu bentuk perasaan tidak menyenangkan yang disusul oleh bentuk perasaan tak menyenangkan berikutnya. Memang kesabaran terhadap bentuk-bentuk perasaan tidak menyenangkan dalam tubuh seperti rasa kaku. pegal. Sesungguhnya. kita cenderung mengidentifikasikannya dengan seseorang atau satu individu. Hal ini sama seperti timbulnya aliran listrik baru yang berkesinambungan.senang. I . panas dan pegal serta yang lainnya sangatlah sukar dipertahankan. padahal aku baik-b aik saja beberapa saat yang lalu.

maka harus diamati. amati demikian. Yang ada hanyalah kesinambungan antara usaha mengamati dan pengamatan sesungguhnya. Jika rasa ga tal tersebut tidak juga hilang. turun . Jika ia dengan tekun mengamati. seperti misalnya bangun dari posisi duduk. Anda harus mulai dan mengamati keinginan untuk mengubah posisi tubuh itu dan dilanjutkan dengan mengamati setiap gerakan dengan cermat. Magga dan Phala Ñâna (pengetahuan akan Jalan dan Buahnya) didapatkan hanya jika terjadi momentum pertemuan seperti ini. terangkat . maka rasa gatal dan keinginan untuk menggaruk itu harus diamati. Tak boleh ada waktu jeda saat it u. terangkat . Saat Anda bangun. tubuh menjadi ringan dan terangkat. Konsentrasikan pikiran Anda pada gerakan ini. Semua gerakan yang dilakukan untuk menghilangkan rasa gatal ini harus diamati. khususnya gerakan menyentuh. bangun . Saat tubuh Anda condong ke depan. bahkan bentuk perasaan yang kuat sekalipun cenderun g menghilang. Jika tangan terangkat. Namun pertama-tama. bergerak. bergerak . pengamatan dalam meditasi vipassanâ harus berkesinambungan dan tanpa henti. Mengubah posisi tubuh ini harus dilakukan dengan halus dan diamati demikian. Namun jika tidak mengubah posisi tubuh. Tapi ia tentu saja harus segera mengubah posisi tubuhnya jika bentuk-bentuk pera saan yang tidak menyenangkan tetap ada meskipun telah diamati sekian lama. Jika kaki bergerak. . Namun ia juga harus tet ap mengamati demikian. amatilah itu. bergerak . terangkat. dan juga b ila perasaan-perasaan tersebut menjadi tak tertahankan lagi. Bentuk-bentuk perasaan yang halus seperti ini akan langsung hilang jika orang tersebut mengamatinya dengan penuh kesabaran. Jika tubuh bergerak. Jika tangan bergerak. ingin mengubah posisi . turun. Sehingga ia lalu kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut. bergerak. keinginan untuk menggaruk tersebut juga harus diamat i. menarik dan mendorong (gerakan-gerakan menggaruk) hingga akhirnya kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. maka rasa gatal akan berangsur-angsur hilang dan kemudian ia bisa kembali mengamati gerakan naik dan turunnya perut. bangun. bergerak dan menyentuh. hanya istirahat statis saja. Proses meditasi adalah seperti menciptakan api dengan car a menggesekkan dua batang kayu dengan sekuat tenaga dan tanpa henti hingga timbul intensitas panas yang dibutuhkan (agar api menyala). dan jangan lang sung menggaruk agar gatalnya hilang. Setiap kali Anda mengubah posisi tubuh. ingin mengubah posisi. Sebagai contoh. bergerak. terangkat. Dengan demikian tercapailah tahap-tahap kematangan yang terus menerus dan meningkat dalam kecerdasan seorang yogi. bergerak. bergerak . Perubahan posisi harus dilakukan bersamaan dengan pengamatan yang Anda lakukan. maka ia memang harus menggaruknya agar rasa gatal it u hilang. maka kembal ilah pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Sa at konsentrasi baik dan mantap. Anda harus mengamatinya pelan-pelan. Jika kaki terangkat. terangkat . tanpa adanya jeda di antara kegiatan mengamati tersebut apapun fenomena yang timbul. jika rasa gatal timbul dan meditator ingin menggaruknya karena rasa gatal tersebut sudah tidak tertahankan lagi. Dengan cara yang sama. terangkat. menyadari rasa kaku sebagai rasa kaku atau panas sebagai panas . menggerakkan dan merentangkannya. antara usaha samâdhi (tahap konsentrasi) dan samâdhi yang sesungguhnya.a harus melanjutkan meditasinya dengan penuh kesabaran. Jika kaki turun. mengangkat tangan. menyentuh .

apakah kaki kiri atau kaki kanan yang maju. Begitu juga para yogi yang bermeditasi. tapi bersikaplah seperti tidak melihat.Seorang meditator harus bertindak seperti orang cacat yang lemah. saat kaki terdorong ke depan dan saat kaki jatuh. amati demikian. Anda harus selalu menyadari semua gerakan yang ada. ia harus bersikap seakan tidak melihat atau mendengarnya. Amati setiap langkah kaki. kiri. bangun . berdiri. perhatian seorang yogi hanyalah mengamati. memandang . Orang normal d an sehat akan berdiri dengan mudah. Saat bermeditasi. kanan saat berjalan cepat dan angkat. Saat bangun dan posisi duduk. Demikian pu la saat kaki jatuh ke tanah. Saat melihat kesana kemari. bangun. menekuk atau meluruskannya. Kemudian lakuk an pengamatan 3 gerakan seperti disebutkan di atas. cukup mengamati satu atau dua gerakan saja yaitu. ia harus melakukannya secar a perlahan. Orang harus berjalan. pelan-pelan menggerakkan lengan dan kaki. Melihat atau mendengar tidak menjadi perhatiannya. pada saat yang sama amatilah. namun hanya posisi tubuh yang statis. jika timbul . Mereka harus bergerak mengubah posisi tu buh secara bertahap. Saat mengamati. Saat membuat gerakan tubuh. Saat meluruskan badan dan berdiri. Semua gerakan ini harus dilakukan pelan-pelan. pelan dan hati-hati. lakukanlah sepelan mungkin seperti layaknya orang cacat. turun . Jika akan bangun. maka amati gerakan perut yang naik dan turun. ia akan bergerak pelan dan hati-hati. konsentrasi d an pandangan akan mantap. amati gerakan-gerakan yang Anda lakukan saat mengatur posisi kaki dan tangan Anda. Saat berjalan. ingin duduk. angkat. apakah den gan kaki kiri atau kaki kanan. Namun tidak demikian denga n orang cacat. ia akan berdiri pelanpelan supaya punggungnya tidak semakin sakit. Meskipun mungkin mata melihat. Jika pada saat berjalan Anda lalu ingin du duk maka amatilah demikian. Anda juga harus mengamati beratnya gerakan kaki turun. Tidak hanya ini. Cukuplah jika Anda melakukan pengamatan saat berjalan cepat atau berjalan dalam jarak tertentu. Jika tidak ada gerakan apa-apa. melihat. 3 gerakan harus diamati dalam setiap langkah yaitu: saat kaki terangkat. Pada awalnya . Dan pada saat duduk. amati dengan konsentrasi penuh beratnya gerakan turun tubuh Anda. Inilah cara mengamati jika seseorang berjalan dengan cepat. ingin duduk . amati langkah kaki. Sama halnya jika mendengar. Saat Anda sudah duduk. Jadi seaneh atau seheboh apapun yang barangkali dilihat atau didengarnya. seorang yogi harus melakukannya perlahan-lahan seper ti orang cacat yang lemah. turun pada saat berjalan pelan. Karena itu mulailah dengan gerakan yang bertahap dan perlahan. amati demikian. bangun . Anda harus mengamati dengan cermat terangkatnya kaki. Pengamatan seperti ini akan semakin mudah setelah dilakukan selama dua hari. mulai dari gerakan terangkatnya hingga turunnya kaki. cepat dan tiba-tiba. mengamati demikian. berdiri . Dengan demikian kewaspadaan. maju. Demikian pula dengan orang ya ng menderita sakit punggung (encok). Mulai saja dengan gerakan terangkat dan gerakan jatuh. menundukkan atau menegakkan kepala. turun . Saat berjalan perlahan atau berjalan cankama (berjalan naik dan turun). yang ia lakukan hanyalah terus mengamati hal-hal tersebut dengan cermat. angkat. mengamati setiap langkah demikian.

berbaring. Pencapaian seperti itu datang setiap sa at dan hanya butuh waktu sekejap. Dari tingkat sotâpanna . menempelnya sikut pada lanta i. tingkat anâgâmi (yaitu yang tidak kembali lagi atau tingkat kesucian ke tiga) dan tingkat Arahat (yaitu kondisi seseorang yang telah mencapai kesucian tertinggi). lanjutkan dengan mengama ti bentuk-bentuk perasaan tersebut. Saat melakukan ini dan mengamati.rasa kaku pada pinggul dan rasa panas di sekujur tubuh. maju ke depan dan menjejak. maka seorang yogi tidak boleh . Terangkatnya lengan. sedikit waktu terlewat tidak lah seberapa . Saat mengamati. kiri dan kanan. ia harus bermedita si dalam posisi berbaring sejenak. keinginan mental untuk berjalan serta gerakan fisik yang terjadi saat berjalan. ia belum juga berhasil mencapai tingkat Araha t. mencapai tingkat kesucian pertama) sebelum ia membaringkan tubuhnya. yaitu mengamati langkah kaki . maka pengetahuan itu dapat timbul kapan saja. berbaring maka ia langsung mencapai tingkat Arahat. Jika tak ada gerakan. YM Ananda hanyalah seorang sotâpanna (yaitu seorang pemenang arus. angkat. maka kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Ia mengamati setiap kejadian . Itulah mengapa seorang yogi harus tekun mengamati setiap saat. Jadi renungkanlah pengalaman YM Ananda yang mencapai tingkat Arahat ini. Ia tidak boleh bersantai-santai dalam mengamati dan berpikir bahwa. turun . amati keinginan itu dan juga gerakan-gerakan tangan dan kaki saat And a berbaring. Segala gerakan yang terjadi saat berbaring dan mengatur posisi lengan d an kaki harus diamati secara cermat dan terus menerus. YM Ananda telah bertekad untuk mencapai tingkat Arahat dalam semalam saat Sang Buddha membabarkan ajaranNya untuk pertama kali. Ia duduk di atas bantal dan membaringkan tubuhnya. Saat samâdhi (konsentrasi) dan ñâna (pandangan terang) cukup mantap. Lalu kembali lagi pada. Melakukan pengamatan saat Anda berbaring dengan cara demikian adalah penting. ia melanjutkan meditasi dan mencapai tingkat sakadâgâmi (yaitu orang yang kembali sekali lagi atau orang yang telah mencapai tingkat kesucian ke dua). Dengan menyadari bahwa ia telah berlatih meditasi secara berlebihan. Karena ini jugalah maka YM Ananda menjadi seorang Arahat. Meskipun ini dilakukan hingga hampir subuh. Pengetahuan itu bisa datang dalam sekali tekukan tangan atau dalam sekali rentan gan tangan. Bahkan jika hari sudah sangat larut dan waktunya tidur. Ia berlatih semalaman satu bentuk meditasi vipassanâ yang dikenal sebagai kayagatasati. maka ia masuk ke dalam kutinya. Tiga tingkat kesucian yang lebih tinggi ini dicapai hanya dalam waktu sekejap. bergeraknya lengan. jika timbul keinginan untuk berbaring. naik. kaki yang diluruskan. goyangan badan. semua gerakan ini harus diamati. condongnya tubuh saat Anda telah siap untu k berbaring. namun hanya tubuh yang statis. Dalam kasus gerakan seperti ini (yaitu berbaring) Anda dapat memperoleh pengetah uan (yaitu magga ñâna dan phala ñâna pengetahuan akan Sang Jalan dan Buah). dan dengan tujuan menyeimbangkan samâdhi (konsentrasi) dan viriya (usaha).

bangun. memandang . sehingga harus diamati sebanyak yang memungkinkan. menyentuhnya. Itulah mengapa mereka yang baru mulai belajar bermeditasi tidak dianjurkan untuk sering-sering berlatih dalam posisi berbaring. ia harus langsung mulai mengamati. Jika matanya terasa makin berat. melihat. ingin bangun. Lalu ia harus segera mengamati gerakan-gerakan saat mengatur posisi lenga n dan kaki. Tidaklah sulit untuk tertidur. Seorang yogi yang bertekad mencapai magga dan phalañâna harus beristirahat hanya pada saat tidur saja. Inilah waktu tengah malam yang disarankan Sang Buddha. Tapi jika hari semakin larut malam dan sudah waktunya tidur . Betapa pun giatnya seorang yogi melakukan medit asi. sakit. maka ia haru s mengamati. melihat. bahkan sangat gampang. membuka dan menutup pintu. ngantuk . ia harus mengamati demikian. ia harus mengamati demikian. tegak. Jika seorang pemula dalam meditasi berpikir bahwa 4 jam tidur tidaklah cukup untuk menjaga kesehatan. Saat seorang yogi bangun. merapikan ranjang. Jika mata terasa sakit. Tapi bagi seorang yogi yang benar-benar serius. Orang juga harus mengamati saat ia mencuci wajah atau mandi. Jika ia berniat bangun dari ranjang. Saat tidur merupakan saat beristirahat bagi seorang yogi. Enam j am tidur sangatlah cukup untuk menjaga kesehatan. Sang yogi lalu harus mengamati. Saat ia merasa ngantuk. Sebaliknya. sakit . Jika ia mengubah gerakan-gerakan saat mengatur posisi tangan dan kaki. Ia harus terus bermeditasi hingga akhirnya memang tertidur. Kemudian ada pula gerakan berpakaian. ia harus membatasi waktu tidurnya hingga 4 jam. Jika ia belum mampu membuat dirinya sadar akan hal ini. ia harus terus mengamati tanpa henti. semua gerakan ini juga harus diamati. menundukkan kepala dan memasukkan sesendok ke dalam mulut. Seorang yogi yang serius dan bersemangat harus melatih kewaspadaan seperti mendahului rasa kantuknya itu. Saat menegakkan kepala ia mengamati demikian. namun hanya duduk diam. maka jika kantuk yang sebenarnya timbul maka ia akan langsung tertidur. 4 jam tidur adalah cukup. Karena biasanya gerakan-gerakan yang terjadi berlangsung cepat.tidur dulu dan mengendurkan pengamatannya. Jika tak ada perubahan apapun. terpejam . Mengamati dengan cara demikian maka rasa kantuk akan hilang dan mata menjadi segar lagi. mengamati gerakan perut naik dan turun. maka ia bisa memperpanjang waktu tersebut hingga 5 atau 6 jam. maka ia bisa bermeditasi saat berbaring. i ngin bangun . Jika Anda bermeditasi dalam posisi berbar ing maka rasa kantuk cepat datang dan akhirnya Anda jatuh tertidur. yaitu pada saat bangun. bangun . Semua gerakan tersebut harus diamati secermat mungkin. segar dan terus mengamati gerakan naik dan turunnya perut. jika rasa ka ntuk yang menang maka ia akan langsung tertidur. Di saat yang lain. Saat seorang yogi makan dan memandang meja makan. memandang. ia harus mulai dengan mengamati gerakan naik turunnya perut. tegak . Saat ia duduk ia akan mengamati. Ia seharusnya lebih sering bermeditasi dalam po sisi duduk atau berjalan. maka ia harus kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Saat menyodorkan tangan ke arah makanan. duduk duduk . ngantuk. menurunkan tangan kembali dan . Jika meditasinya matang dan mengalahkan rasa kantuknya maka ia tidak akan tertidur. mengambil dan mengaturnya di piring. berat. Itulah mengapa pada saat terbangun dan tidur maka ia harus langsung mengamati keadaan pikiran saat bangun seperti. Jika matanya terpejam. Kemudian ia secara alami (otomatis) akan tertidur. terpejam. berat . segar.

ia akan kehilangan banyak hal untuk diamati. Begitu pula j ika ia sedang makan sup. Dan dalam keadaan ini. demikian pula dengan gerakan turunn ya perut). Dengan demikian sang . kiri . Amati pula rasa kaku. Lalu kem bali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Sampai di sini saya telah menyebutkan begitu banyak hal yang harus diamati oleh seorang yogi. Amati juga. semua gerakan ini harus diamati seperti adanya (pengamatan seperti ini sama seperti cara pengamatan orang Burma saat makan. kewaspadaan menjadi hampir simultan (tanpa henti) pada obyek perhatiannya.menegakkan kepala. Pada awalnya. Saat berjalan cepat. Saat berjalan pel an. gerakan memutar dan meluruskan tubuh. tapi saat samâdhi (konsentrasi)nya telah mantap. mengetahui. Yang ada hanyalah obyek pengamatan dan kegiatan mengamati yang berpasangan. amati hanya gerakan naik dan turunnya perut. ia akan semakin menyadari saat pikirannya mulai m elantur hingga akhirnya pikiran itu berhenti melantur. semua gerakan ini harus diamati. Obyek fisik perhatian dan kegiatan mental mengamati akan berlangsung secara berpasangan. ia harus mengamati. Saat mengamati gerakan naik dan turunnya perut ia akan dapat membedakan bahwa gerakan naiknya perut sebagai fenomena fisik dan kegiatan mental mengamatinya sebagai fenomena psikis. amatilah bentuk-bentuk kesadaran. angkat. Tapi secara singkat. Lalu kembali pada gerakan naik dan turunnya perut. misalnya gerakan naik dan turunnya perut (atau dengan kata lain. Tapi saat ia semakin terlatih. mengunyah. Semua gerakan yang terjadi seperti menyodorkan tangan. Mereka yang menggunakan garpu dan sendok atau sumpit harus mengamati gerakan-gerakannya dengan sikap yang sepatutnya). memegan g sendok dan menyendok sup tersebut. Lalu kembali pada mengamati gerakan naik dan turunnya perut. Mengamati gerakan-gerakan yang terjadi pada saat makan memang cukup sulit karena terdapat begitu banyak hal untuk dilihat dan diamati. Jika seorang yogi terus mengamati secara demikian. tapi ia harus bertekad untuk dapat mengama ti semuanya. Pikirannya kemudian akan terpusat pada obyek perhatian. dan saat makanan tersebut turun melalui kerongkongannya. mengunyah . saat pikirannya mengembara kesana kemari. tak ada satu individu atau orang yang terlib at. Amati hal yang sama saat Anda yang perlu diamati. ia akan mampu mengamati lebih banyak gerakan yang terjadi. ia harus mengamati demikian. amati demikian. Saat duduk diam. turun . kanan. mengetahui . g erakan naiknya perut akan selaras dengan mengamati. ia akan mampu mengamati dengan cermat semua gerakan yang terjadi. ia harus mengamati gerakan ini. Saat ia menikmati dan menelan makanan tersebut. Pada awalnya seorang yogi akan mele wati beberapa hal yang seharusnya diamati. Saat ia sampai pada tahap merasakan makanan. Begitu pula dengan gerakan turunnya perut. sebenarnya hanya ada beberapa hal mendasar ya ng perlu diamati. Tapi ia pantang putus asa k arena setiap pemula dalam meditasi akan menghadapi kesulitan yang sama. gerakan condong dan meluruskan pinggul. Saat mengamati demikian dan pikiran melantur. Inilah y ang harus dilakukan seorang yogi saat ia makan sesendok demi sesendok. Saat ia mengunyah makanan. gerakan mencondongkan dan menegakkan kepala. saat timbul. Sang yogi pada saatnya akan mengalami sendiri keadaan ini yang sesungguhnya. Tentu saja ia tak dapat mencegah lewatnya beberapa hal yang seharusnya diamati. pegal dan sakit serta rasa gatal manakala timbul.

Para yogi meditasi harus mengenali bahwa mereka berada pada jalan satipatthana i ni. Mereka bersifat tanpa jiwa at au tanpa ego. serta terselamatkan dari bahaya kelahiran kembali di alam manapun juga. yaitu dari kanak-kanak hingga dewasa.yogi akan menyadari dengan sejelas-jelasnya keadaan tanpa henti dari pasangan fenomena fisik dan psikis tersebut. Selanjutnya. yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. Sadhu!Sadhu!Sadhu! *** . Saat sang yogi terus mengamati. phalañâna dan Nibbâna-Dhamma yang juga dialami oleh para Buddha. dalam setiap tindakan mengamati. yang merupakan satu bentuk dari penderitaan. bahwa ia akan terbebas d ari sakâyaditthi (kepercayaan akan adanya aku) dan vicikicchâ (keragu-raguan). bahkan tidak lebih lama dari satu kedi pan mata. Bahkan bagi mereka yang memiliki pârâmi istimewa akan mengalami Dhamma-Dhamma ini hanya dalam 7 hari. serta yang menyertai masaknya buah itu adalah pârâmi mereka (kebajikan sempurna). untuk memenuhi keinginan mereka mencapai magga-ñâna (pengetahuan akan Sang Jalan). dukkhâ dan anattâ. Sang yogi akan memahaminya sendiri jika ia terus mengamati. hingga akhirnya ia mencapai Nibbâna. yaitu menyadari bahwa segala sesuatu yang bersifat sementara adalah derita. Tidak lama setelah itu mereka akan mengalami sendiri magga-ñâna. Karenanya. Ini adalah juga dukkhanupassana-ñâna. hal-hal tersebut akan dialami dalam rentang waktu satu bulan. Arahat dan Arya. Semoga Anda semua mampu berlatih meditasi dengan baik dan dengan segera mencapai Nibbâna yang telah dialami oleh para Buddha. Pada kenyataannya tidaklah demikian. phalañâna (pengetahuan buah dan Sang Jalan) dan Nibbâna-dhamma. Hal ini akan dicapai. Ia harus melanjutkan berlatih meditasi dalam keyakinan ini. Sang yogi memang seharusnya merasa puas dalam keyakinan bahwa ia akan mencapai Dhamma-Dhamma ini dalam waktu seperti tersebut di atas. sang yogi akan menyadari dengan jelas bahwa se gala fenomena besifat aniccâ. Arahat dan Arya memahami Nibbâna dengan mengikuti hanya jalan ini. Pemahaman membedakan ini disebut sebagai nâmarûpa-pariccheda-ñâna. Para Buddha. Sangatlah penting untuk mendapatkan pemahaman ini secara benar. Orang awam selalu berasumsi bahwa baik fenomena mental dan material akan berlangsung selamanya. ia akan memahami bahwa segala sesuatu yang timbu l akan cepat berlalu. sang yogi akan memahami sendiri dengan jelas bahwa yang ada hanyalah bentuk materi yang menjadi obyek perhatian serta keadaan mental yang mengamatinya. dengan pengetahuan membedakan antara sebab dan akibat. Arahat dan Arya. Keyakinan seperti i ni disebut sebagai aniccânupassana-ñâna. Dan sesungguhnya. tanpa menuruti keinginan atau dibawah kendali siapa pun. Ia lalu menjad i sangat yakin bahwa segala fenomena bersifat hanya sementara. Saat ia terus melakukan meditasi. Arahat dan Arya. Tak ada satu fenomena pun yang abadi. 20 a tau 15 hari latihan meditasi. jika sang yo gi terus berlatih. Pengetahuan tersebut lalu akan diikuti oleh dukkhânupassanâ-ñâna. sang yogi akan menjadi yakin bahwa segala fenomena psiko-fisik terjadi dengan sendirinya. Kesadaran akan hal ini disebut sebagai anattânupassanâñâna. Mereka harus merasa bahagia akan hal ini serta pada kemungkinan mengalami keadaan samâdhi luhur ini (kedamaian pikiran yang timbul dari konsentrasi) dan ñâna (kebijaksanaan) yang dialami oleh para Buddha. Semua bent uk fenomena timbul dan berlalu begitu cepat. Sang yogi juga akan menemui berbagai macam kesulitan dalam tubuh. sebagai tahap awal vipassanâ-ñâna. Dan pengetahuan ini disebut sebagai paccaya-pariggaha-ñâna.

terjemahan dari bahasa Burma ke bahasa Inggris oleh: U Nyi Nyi. beserta anggota Executive Committee. Buddhasâsanânuggaha Association.Sumber: LATIHAN MEDITASI VIPASSANA PRAKTIS. 1978 . Mahâsi Yogi.