Tawuran, Prasangka Terhadap Kelompok Siswa Sekolah Lain, Serta Konformitas pada Kelompok Teman Sebaya Proyeksi, Vol

. 4 (2), 85-94

TAWURAN, PRASANGKA TERHADAP KELOMPOK SISWA SEKOLAH LAIN, SERTA KONFORMITAS PADA KELOMPOK TEMAN SEBAYA Singgih Kurniawan & A. Mutho M. Rois
1)2) 1) 2)

Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung

Abstrak Tawuran atau perkelahian antarpelajar merupakan fenomena laten, yang suatu saat bisa muncul kapan, dimana dan tiba-tiba dan kita tidak bisa mengetahui hal tersebut. Ironisnya, sebagian di antara pelajar yang terlibat mengaku tak tahu-menahu ikhwal permasalahan tawuran. Adanya rasa bermusuhan yang diwariskan secara turun menurun menurun dari angkatan ke angkatan berikutnya. Menanamkan bahwa kelompok siswa sekolah lain merupakan musuh bebuyutan. Tekanan dalam kelompok sebagai bentuk solidaritas juga membawa pengaruh. Tujuan penelitian ini adalah menguji secara empirik perbedaan prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain dan konformitas pada kelompok teman sebaya antara siswa yang terlibat dengan yang tidak terlibat di Kota Semarang. Hasil uji hipotesis prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain antara siswa yang terlibat dengan yang tidak terlibat diperoleh t = 4,897 dengan p = 0,000 (p<0,01). Hasil tersebut menunjukan adanya perbedaan yang sangat signifikan prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain antara siswa yang terlibat dengan yang tidak terlibat. Siswa yang terlibat tawuran memiliki prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak terlibat tawuran. Untuk konformitas pada kelompok teman sebaya antara siswa yang terlibat dengan yang tidak terlibat diperoleh t = 1,882 dengan p = 0,0315 (p>0,05). Kata kunci: Prasangka terhadap kelompok, konformitas, teman sebaya Pendahuluan Salah satu bentuk kenakalan remaja yang ada pada saat ini adalah perkelahian massal atau yang popular dikalangan pelajar disebut dengan istilah tawuran. Erwandi (Sheila, 2001, hal 2) kata tawuran mengandung pengertian berkelahinya dua kelompok
ISSN : 1907-8455 85

Ketidak jelasan terhadap peran atau potensi diri membuat remaja masih mencari pegangan yang dapat digunakan sebagai acuan agar eksistensinya diakui oleh lingkungan. hal 65). Kalangan ahli Psikologi Perkembangan menyebutkan bahwa remaja. kendati saban tahun terjadi pergantian siswa. (Wawasan. Dugaan di atas mengindikasikan bahwa siswa yang terlibat tawuran juga dipengaruhi oleh konformitas. 2003. Kondisi tersebut ditambah dengan tingkat kestabilan emosi yang rendah serta pola pemikiran yang cenderung dipengaruhi oleh lingkungan eksternalnya menyebabkan pengaruh informasi atau akses tersebut besar dalam mempengaruhi pertimbangan yang diambil oleh remaja (Surya. Tawuran sebenarnya bukan monopoli antarwarga. khususnya di Semarang. dimana dan tiba-tiba dan kita tidak bisa mengetahui hal tersebut. Proses pencarian tersebut akan mengakibatkan banyaknya informasi ataupuan akses lain masuk ke dalam diri remaja. Konformitas terhadap tekanan teman sebaya pada remaja bisa dapat menjadi positif atau negatif. deret kasus tawuran antar pelajar jumlahnya cukup banyak tiap tahunnya. hal 221) mucul ketika individu meniru sikap atau tingkah laku orang lain dikarenakan tekanan yang nyata maupun yang dibayangan mereka. Ironisnya. biasanya hal itu tidak terkait langsung dengan dirinya. Para pelajar. yang suatu saat bisa muncul kapan. Istilah solidaritas menjadi bentuk pembenaran bagi remaja yang berkelahi secara rombongan. sebagian di antara pelajar yang terlibat mengaku tak tahu-menahu ikhwal permasalahan tawuran. Siswa pelajar STM/SMK adalah mereka adalah dalam tahap perkembangan remaja yakni usia 15 – 20 tahun. Rois 86 siswa atau pelajar secara massal disertai kata-kata yang meredahkan dan perilaku yang ditujukan untuk melukai lawannya. Keterlibatan tawuran pada pelajar juga adanya takut adanya penolakan sosial. 14 November 2005). bagaimana mereka dipandang oleh teman sebaya ISSN : 1907-8455 . Artinya. Kalaupun mereka tahu penyebab tawuran. sejumlah sekolah dicap biang pelaku tawuran. Artinya. Tawuran atau perkelahian antarpelajar yang banyak kita lihat bisa saja merupakan fenomena laten. Konformitas (Santrock. para pelajar dari sekolah itu-itu saja memang doyan tawuran. Bila kita membuka data di surat kabar atau di kepolisian. Palajar berseragam putih abu-abu sepertinya menjadi ikon tawuran di Kota Semarang. Ungkapan “saya cuma diajak teman” seolah menjadi hal biasa saat mereka di hadapan aparat kepolisian. Mutho M.Singgih Kurniawan & A. Yakni perasaan tidak disukai teman sebayanya. Hanya saja siswa sekolah yang terlibat tawuran kebanyakan dari sekolah itu-itu saja. sering kali terlibat dalam aksi memalukan tersebut. 1999.

Dari berbagai kondisi tersebut. Prasangka adalah penilaian terhadap kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada kelompok atau seseorang individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok orang itu. Serta Konformitas pada Kelompok Teman Sebaya Proyeksi. Myers mengemukakan bahwa prasangka adalah suatu sikap negatif yang tidak tepat atau tidak benar terhadap suatu kelompok atau anggota dalam kelompok ISSN : 1907-8455 . Bagi remaja yang memiliki kecenderungan kuat untuk memasuki suatu kelompok maka pengaruh pemberian norma oleh kelompok tersebut akan berdampak pada timbulnya konformitas yang kuat. hal 65). Konsep bahwa sekolah lain itu menjadi musuhnya merupakan hasil dari interaksi dari lingkungan terutama dengan kakak kelas/senior. Prasangka merupakan persepsi yang bias karena informasi salah atau tidak lengkap. sematamata karena orang atau orang-orang itu merupakan anggota kelompok lain yang berbeda dari kelompok sendiri. agar agar dapat dimasukan anggota kelompok (Santrock. Awalnya siswa yang tidak memiliki konsep tetang musuh sekolah lain mendapat informasi dari para seniornya. Freedman & Peplau.Tawuran. diduga dilatar belakangi oleh adanya prasangka terhadap kelompok atau sekolah tertentu. Menurut Nelson (Wirawan. Tawuran pelajar sebagai suatu bentuk tingkah laku agresi yang dilakukan secara kelompok. 4 (2). Beberapa remaja akan melakukan apapun. 1999. ketika seorang pelajar melihat kelompok pelajar dari kelompok lain yang pernah terlibat dalam suatu perkelahian antarpelajar dengan kelompok atau sekolahnya. Prasangka (Sears. Vol. Kondisi demikian akan membuat remaja cenderung untuk ikut atau cenderung untuk lebih menyesuaikan diri dengan norma kelompok agar mendapatkan penerimaan dan tidak ditolak (Surya. 2003. 85-94 87 merupakan aspek yang terpenting dalam kehidupan mereka. ia akan beranggapan bahwa anak itu atau kelompok pelajar itu musuhnya. Kakak kelas menanamkan bahwa siswa sekolah “x” itu adalah musuh. hal 18) prasangka merupakan suatu evaluasi negatif seseorang atau sekelompok orang terhadap orang atau kelompok lain. serta didasarkan pada sebagian karakteristik kelompok lain baik nyata maupun hanya khayalan. 2006. Prasangka memiliki kualitas suka-tidak suka yang sama dengan dimensi afektif. hal 219). Prasangka Terhadap Kelompok Siswa Sekolah Lain. Tetapi prasangka memiliki kualitas tambahan berupa penilaian pendahuluan (prejudgment). Sehingga. Kemudian mereka meneruskannya kelak pada adik kelas. tampaknya terbentuk sikap negatif atau prasangka terhadap kelompok pelajar dari sekolah lain yang dipandang sebagai musuh. 1985 hal 149) merupakan komponen afektif atau komponen evaluatif dari antagonisme kelompok.

Monks (1998. 1991. Siswa yang terlibat tawuran menilai kelompok siswa sekolah lain sebagai musuh. hal 78) mengatakan bahwa konformitas hanya dalam situasi ambigu. Asch. Mutho M. Baron dan Byrne (1991. Dalam peer group ini. Bahwa kelompok siswa sekolah lain bukan dari “kelompok kita”. sehingga menjadi kurang lebih sama atau identik guna mencapai tujuan tertentu (Sears. 2001. 2007. hal. Di sinilah muncul kategorisasi yakni adanya in group dan out group. 2005. yaitu orang merasa amat tidak pasti mengenai apa stadar perilaku yang benar.Singgih Kurniawan & A. 1991. Furhman (1990. hal 97) yang menyatakan bahwa konformitas adalah kecenderungan seseorang menerima dan mengikuti norma yang dibuat kelompoknya. Konformitas adalah suatu jenis pengaruh sosial di mana individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada (Baron & Byrne. ISSN : 1907-8455 . hal 214) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya terdiri dari anggota-anggota tertentu dari teman-teman yang dapat menerimanya dan kepadanya individu sendiri bergantung. Watson menyatakan prasangka adalah sikap negatif yang kaku (tidak toleran) terhadap sebuah kelompok orang tertentu (Kuncoro. namun di antara anggota kelompok merasakan adanya tanggung jawab atas keberhasilan dan kegagalan kelompoknya (Santosa. Konformitas adalah suatu bentuk tingkah laku menyesuaikan diri dengan tingkah laku orang lain. kebutuhan dan tujuan yang dapat memperkuat kelompok itu. menerima ide-ide atau aturan yang menunjukan bagaimana individu harus berperilaku dalam situasi tertentu. 68). individu merasa menemukan dirinya (pribadi) serta dapat mengembangkan rasa sosialnya sejalan dengan kepribadiannya. 1999. hal 92). Deaux et al mengemukakan bahwa konformitas berarti tunduk pada tekanan kelompok meskipun tidak ada permintaan langsung untuk mengikuti apa yang telah diperbuat oleh kelompok (Zebua & Nurdjayadi. Individu dalam kelompok sebaya (peer group) merasakan adanya kesamaan satu dengan yang lainnyaseperti bidang usia. Hurlock (1994. 1951 (Sears dkk. Rois 88 tertentu. hal 184) menyatakan bahwa interaksi dengan teman sebaya merupakan permulaan hubungan persahabatan dan hubungan dengan peer. namun bila orang lain menampilkan perilaku tersebut maka itu disebut konformitas. Di dalam peer group tidak dipentingkan adanya struktur organisasi. hal 75) . hal 311) mengemukakan konformitas adalah dimana individu mengubah perilakunya dengan menganut pada norma sosial yang ada. Sering kali orang atau organisasi berusaha agar pihak lain menampilkan tindakan tertentu pada saat pihak lain tidak menginginkan untuk melakukan itu. hal 53). hal 82).

satu sampel kluster adalah satu sampel acak sederhana dari kelompok atau kluster dari elemen-elemen (Silalahi. 2009. yakni aspek kekompakan. Vol. ISSN : 1907-8455 .304 – 0. Hasil Penelitian Skala prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain didapat koefisien daya beda untuk aitem yang berdaya tinggi adalah berkisar antara 0. 4 (2). Skala konfomitas pada kelompok teman sebaya disusun berdasarkan tiga aspek.05) yang berarti bahwa sebaran skor pada skala prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain dan skala konformitas pada kelompok teman sebaya adalah normal. Skala prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain ini hanya disusun menggunakan aitem bersifat favorable. Skala prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain disusun berdasarkan aspekaspek sebagai berikut: aspek Kognitif (komponen perceptual). 85-94 89 Metode Penelitian Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah cluster random sampling yakni dengan merandom sub-sub populasi dalam hal ini adalah kelas. Estimasi reliabilitas alat ukur yang digunakan pada skala prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain adalah menggunakan teknik Alpha Cronbach dan diperoleh koefisien reliabilitas alpha sebesar 0. Pemilihan sampel kluster mengetumakan seluruh kelompok adalah pemilihan sampel yang di dalamnya suatu kelompok. Prasangka Terhadap Kelompok Siswa Sekolah Lain.Tawuran.317 – 0. Hasil analisis uji normalitas menunjukkan bahwa variabel prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain diperoleh p sebesar 0. Estimasi reliabilitas alat ukur yang digunakan pada skala konformitas pada kelompok teman sebaya adalah menggunakan teknik Alpha Cronbach dan diperoleh koefisien reliabilitas alpha sebesar 0.776. Serta Konformitas pada Kelompok Teman Sebaya Proyeksi. hal 269).758 untuk 17 aitem. bukan individu.05) dan p pada variabel konformitas pada kelompok teman sebaya sebesar 0.848 (p > 0. ini disesuaikan dengan definisi operasional yang menyebutkan bahwa prasangka adalah merupakan suatu evaluasi negatif. skala konformitas pada kelompok teman sebaya Koefisien daya beda untuk aitem yang berdaya tinggi adalah berkisar antara 0.748 (p > 0.855. Afektif (komponen emosional). secara acak pilih. Konatif (komponen perilaku atau action component). ketaatan dan kesepakatan.626 untuk 22 aitem. Oleh karena itu.

skor probabilitas one-tailed pada penelitian ini adalah sebesar p = 0.515) > 0. Ini berarti ada perbedaan yang signifikan konformitas pada kelompok teman sebaya antara siswa yang terlibat dengan yang tidak terlibat. 1 Agustus 1999) adalah rasa bermusuhan yang diwariskan secara turun menurun menurun dari angkatan ke angkatan berikutnya Perasaan permusuhan.000 (p<0.897 dengan p = 0.140 yang artinya varians bersifat homogen karena p (0. Sebagaimana sesuai dengan pendapat Prof.05). Siswa yang terlibat tawuran memiliki konformitas pada kelompok teman sebaya lebih tinggi dari pada siswa yang tidak terlibat tawuran. Hasil uji hipotesis prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain antara siswa yang terlibat dengan yang tidak terlibat diperoleh t = 4. Siswa yang terlibat maupun yang tidak ISSN : 1907-8455 . 2008. Pada konformitas pada kelompok teman sebaya didapatkan F = 0.05).140) > 0.01).427 dengan p = 0. Tubagus Roni Niti Baskara (Kompas. yang ditanamkan melalui cerita-cerita para senior yang telah lulus. sehingga siswa yang tadinya tidak memiliki sikap negatif apa-apa terhadap kelompok pelajar lain.882 dengan p = 0. Hasil tersebut menunjukan adanya perbedaan yang sangat signifikan prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain antara siswa yang terlibat dengan yang tidak terlibat. Mutho M. maka disarankan untuk menghitung one-tailed probability dengan cara membagi dua skor probabilitas twotailed.222 dengan p = 0.05. Sears (Ancok. tanpa alasan yang jelas jadi membenci kelompok pelajar dari sekolah lain tersebut.0315 (p < 0. Menurut David O. Rois 90 Hasil analisis data pada prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain adalah F = 2. Selanjutnya dikarenakan penelitian ini sudah mengarah pada satu titik. tetapi didasrkan fakta-fakta yang minim yang diinterpretasikan secara subyektif. Siswa yang terlibat tawuran memiliki prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak terlibat tawuran. Prasangka cenderung tidak didasarkan pada fakta-fakta objektif.063 (p>0. hal 86) orang yang berprasangka umumnya mempunyai sedikit pengalaman pribadi dengan kelompok yang dipraangkai.Singgih Kurniawan & A. Senior menanamkan ‘sejarah’ permusuhan atau memanas-manasi siswa. Untuk konformitas pada kelompok teman sebaya antara siswa yang terlibat dengan yang tidak terlibat diperoleh t = 1. Pembahasan Prasangka yang dimiliki oleh siswa adalah merupakan hasil belajar.05. bisa jadi merupakan warisan dari kakak kelas mereka.515 yang artinya varians bersifat homogen karena p (0.

sikap dan nilai-nilai yang dianut (Zebua & Nurjdjayadi. Pada saat terjadinya perkelahian berkelompok antara siswa yang siswa-siswa sekolah-sekolahan yang bermusuhan terjadi suatu proses deindividualisasi. itu menarik untuk mengkaji ”tawuran” sebagai suatu bentuk tingkah laku kolektif. Konformitas terhadap kelompok teman sebaya ternyata merupakan suatu hal yang paling banyak terjadi pada fase remaja. Peer group menjadi suatu sarana sekaligus tujuan dalam mencari jatidiri remaja. Vol. Serta Konformitas pada Kelompok Teman Sebaya Proyeksi. Prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain ini dapat membawa siswa yang berprasangka kepada tingkahlaku agresi atau perkelahian antar pelajar. 2001. Konformitas adalah satu tuntutan yang tidak terulis dari kelompok remaja. Tidak heran apabila ditemukan berbagai kasus perilaku menyimpang remaja yang disebabkan pengaruh kelompok teman sebaya ini. 4 (2). Sebagaimana yang disebutkan oleh Alport (Sheila. Menurut Santrock. Siswa yang memiliki kestabilan emosi yang rendah melakukan berbagai perilaku demi diakui eksistensinya dalam kelompok lingkungannya. penampilan. Prasangka Terhadap Kelompok Siswa Sekolah Lain. bahasa yang digunakan. sehingga siswa-siswa yang terlibat tawuran tidak lagi menampilkan perilaku deindividualisasi. hal 10) bahwa prasangka mempunyai peran dalam memunculkan tingkah laku agresi seperti penyerangan fisik (physical attack). hal 66) untuk mencapai keinginan tersebut akan berusaha konformis dalam segala hal agar dapat diterima. konformitas mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan remaja seperti pilihan terhadap aktivitas sekolah atau sosial yang akan diikuti. maka akan muncul proses generalisasi terhadap kelompok siswa yang diprasangkai adalah berniali negatif semata-mata karena keanggotaannya. tetapi sudah menjadi bagian kelompoknya dan kehilangan identitas pribadi. antara lain supaya ada penerimaan dari kelompoknya. mempunyai ketergantungan dengan kelompok dan untuk menghindari sangsi dari kelompok. Harlock berpendapat (Surya. Individu yang berprasangka mempunyai kecenderungan untuk membuat kategori sosial. menjaga hubungan dengan kelompok. Banyak tujuan ingin didapat remaja ini dengan sikap konformis. Apabila perasaan in group dan out group menguat. hal 72). Usia mereka rata-rata antara 15-20 tahun. 2001. Di samping itu. sehingga siswa-siswa yang terlibat tawuran tidak lagi menampilkan perilaku individual. 1999. Atribut-atribut pribadi menjadi lemah dan pengidentifikasian diri dengan ISSN : 1907-8455 . Siswa ini merupakan dalam fase perkembangan remaja.Tawuran. 85-94 91 terlibat tawuran tentunya mendapat informasi dan pembelajaran dari lingkungannya terutama dari angkatan atas mereka.

Reliabilitas dan Validitas. Psikologi Sosial. Peneliti selanjutnya yang tertarik untuk mengadakan penelitian pada bidang ini. 2000. 1. Dengan memperhatikan kelemahan penulis. Bisa jadi karakteristik individu di tiap sekolah memiliki perbedaanperbedaan yang berarti. Penyusunan Skala Psikologi Edisi I.Singgih Kurniawan & A. Hal ini sesuai dengan hipotesis yang diajukan. 2001. Siswa yang terlibat memiliki konformitas terhadap kelompok teman sebaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak terlibat tawuran. 2007. Vol. 2001. Sekolahan yang memiliki riwayat tawuran khususnya di Kota Semarang untuk membuat perbandingan dengan seolahan atau obyek yang diprasangkai. S. Baron. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. S. D. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset Azwar. R. sehingga muncul suatu tingkah laku kolektif (sheila. Tes Prestasi Edisi II. hal 11). 11 No. S. diharapkan dapat menjadi bahan perbandingan bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang membahas masalah yang diungkap dalam penelitian ini. Jurnal Psikologi. Maret 2001 Azwar. Daftar Pustaka Abidin. ISSN : 1907-8455 . Jakarta: Raja Grafindo. 2003. Alih Bahasa: Michael Adriyanto. Mutho M. Ini sesuai dengan hipotesis yang diajukan bahwa siswa yang terlibat tawuran memiliki prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak terlibat tawuran. Studi Tentang Intensi Agresi Di Kalangan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan/Teknik (SMK/STM) Dan Sekolah Menengah Kejuruan Umum (SMU). Rois 92 kelompok menjadi sangat kuat. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap hasil penelitian. maka dapat ditarik simpulan bahwa ada perbedaan yang sangat signifikan prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain antara siswa yang terlibat dengan yang tidak terlibat tawuran. A & Byrne. Hipotesis diterima. Simpulan lain adalah adanya perbedaan signifikan konformitas pada kelompok teman sebaya antara siswa yang terlibat dengan yang tidak terlibat tawuran. Z. 2005. Azwar.

2000.Tawuran.A. K. 1993. Tokyo: Mc. 2001. Malang:UMM Press. 1991. Alih Bahasa: Dr. I. Jilid II. L. jilid 1. S. Semarang: Unissula Press Hurlock. 1994. Soejono.Sc. Jakarta: Erlangga Huraerah. Jilid 1. Edisi ke 7. 1997. Jakarta: Erlangga Kartini. 2006. Bandung: Remaja Rodakarya Monks. A & Byrne.G.. 2008. M... Knoers. Oktober 2007 Meleong. J. 2003a. W. K. Jakarta: Erlangga. Dinamika Kelompok. Alih Bahasa : dr. H. 1992. 2 No. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo. Med Meitasa Tjandrasa.. Startegi Belajar Mengajar. Perkembangan dan Kepribadian Anak. Yogyakarta: Andi Offset. dkk. P. D. Alih Bahasa: Dr. Psikologi Sosial. Psikologi Suatu Pengantar. Dayakisni. Eresco. Hadi. Jakarta: Raja Grafindo. Halmar. 2003b. Graw Hill Inc ISSN : 1907-8455 ..H. Jakarta: Arcan Myers. Tri. B. Vol. 2002. Jakarta: Andi Offset. Kartini. 2001.L. Statistik Jilid II. Vol. Alih bahasa: Dra Istiwidiyati dan Drs. Sinopsis Psikiatri Ilmu pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Kagan. 2. Jakarta: Raja Grafindo. Conger.A. J. J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Social Psychology. Kuncoro. Grebb. Yogyakarta: Gagjah Mada University Press Mussen. F. Prasangka dan Diskriminasi.M. J dan Huston. Alih Bahasa: Jumiati. Widjaja Kusuma. B. 1987. 1996. Metode Research. Jurnal Psikologi Proyeksi.R. A. Chaplin. P.J. Patologi Sosial. Serta Konformitas pada Kelompok Teman Sebaya Proyeksi. J. S. 2007. Bandung: Refika Aditama Kaplan. Kartini Kartono. A& Purwanto. 85-94 93 Baron. 2003. Hadi. Psikologi Sosial.. L. Jilid 3. C. Alih Bahasa: Mari Jumiati. J. Jakarta: Erlangga Gerungan. M. Psikologi Sosial jilid 1 edisi kesepuluh. E. 4 (2). D. R.J. Bandung: PT. Prasangka Terhadap Kelompok Siswa Sekolah Lain. Patologi Sosial.P dan Haditono. A. 2001. Davidoff. S. Psikologi Perkembangan: Pengantar Dalam Bernagai Bagiannya.. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Sadock. J.

S. Jakarta: Bumi Aksara ISSN : 1907-8455 . Psikologi Sosial Islam. 1999. 2007. Sears. Freadman. Psikologi Sosial Jilid 2.Singgih Kurniawan & A. Johnatan L. Rois 94 Nashori. Bandung: Refika Aditama O. Peplau. F. 1985. Mutho M. Dinamika Kelompok. Jakarta: Erlangga Santosa. L Anne. Cetakan ke II. Alih Bahasa: Michael Adriyanto Dan savitri Soekrisno.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful