P. 1
Penyusunan RKAKL Perbaikan

Penyusunan RKAKL Perbaikan

|Views: 43|Likes:
Published by Eko Prayitno

More info:

Published by: Eko Prayitno on Jul 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/15/2014

pdf

text

original

PENDAHULUAN Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja Dan Anggaran

Kementerian Negara/Lembaga, yang dimaksud dengan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga, yang selanjutnya disebut RKAKL, adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan penjabaran dari Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Rencana Kerja Strategis Kementerian Negara/Lembaga (Renstra K/L) yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran untuk menjadi pedoman pelaksanaan program dan kegaitan.. Dalam penyusunan RKAKL selain mengacu pada RKP dan Renstra K/L, penyusunan RKAKL juga harus mengacu pada pagu sementara dan definitif yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan, hasil kesepakatan yang dilakukan oleh kementerian/lembaga terkait dengan DPR, serta tidak boleh keluar dari tupoksi unit organisasi kementerian/lembaga yang bersangkutan. Selain itu, banyak ramburambu yang harus diperhatikan dalam proses penyusunan RKAKL agar tercapai anggaran berbasis kinerja seperti memperhatikan alur

perencanaan dan penganggaran sebagaimana dicantumkan pada bagian selanjutnya dari booklet ini. ALUR PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN
Visi, Misi, Program Presiden Dijabarkan Pedoman Pedoman Acuan Dijabarkan Pedoman RenstraKL Pedoman RenjaKL Pedoman RKA-KL Rincian APBN

s u h a t n i r m e P

RPJP Nasional

RPJM Nasional

RKP

RAPBN

APBN

Acuan

Diperhatikan Pedoman Dijabarkan

Diserasikan melalui Musrenbang Pedoman

D h a t n i r m e P

RPJP Daerah

RPJM Daerah

RKP Daerah

RAPBD

APBD

Pedoman Dijabarkan Visi, Misi, Program Kepala Daerah RenstraSKPD

Acuan

Pedoman

RenjaSKPD

Pedoman

RKASKPD

Rincian APBD

UU SPPN

UU KN

DASAR HUKUM 1. UU NO 17/2003 Pasal 14 (1) Dalam rangka penyusunan RAPBN, menteri/ pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran/pengguna barang menyusun RKA-KL 2. UU NO 17/2003 Pasal 14 (2) RKAKL disusun berdasarkan prestasi kerja / kinerja yang akan dicapai. 3. PP NO 20/2004 Pasal 3 (2) Program dan kegiatan disusun dengan pendekatan berbasis kinerja, kerangka pengeluaran jangka menengah, dan penganggaran terpadu 4. PP NO 21/2004 Pasal 4 RKA-KL disusun dengan menggunakan pendekatan a. Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah; b. Penganggaran Terpadu dan Penganggaran Berbasis Kinerja. 5. Peraturan Menteri Keuangan tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL

6. Surat Edaran Menteri Keuangan tentang Pagu Sementara K/L 7. Surat Edaran Menteri Keuangan tentang Pagu Definitif K/L SITEM PERENCANAAN & PENGANGGARAN

Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengamanatkan Pemerintah untuk menyusun anggaran dengan pendekatan anggaran terpadu (unified budget), kerangka pengeluaran jangka menengah/KPJM (Medium Term Expenditure Framework/MTEF) dan Penganggaran Berbasis Kinerja/PBK (Perfomance Based Budgeting). Penyusunan anggaran ini dilakukan dengan menyusun dokumen anggaran yang disebut "Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-KL)" 1. PENGANGGARAN TERPADU Penganggaran terpadu merupakan unsur yang paling rnendasar bagi pelaksanaan elemen reformasi penganggaran lainnya, yaitu Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK) dan

Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM). Dengan kata lain bahwa pendekatan anggaran terpadu merupakan kondisi yang harus terwujud terlebih dahulu.
5 Komponen Pokok Pendekatan Anggaran Terpadu Dalam RKA-KL:

(1.) Satuan Kerja Penetapan satuan kerja sebagai kuasa pengguna anggaran untuk melaksanakan semua kegiatan yang ditetapkan menteri/pimpinan lembaga (2.) Kegiatan Setiap satuan kerja minimal mempunyai satu kegiatan dlm rangka mewujudkan sebagian sasaran program dari unit organisasi (3.) Keluaran

Kegiatan yang dilaksanakan satuan kerja mempunyai keluaran yang jelas & tidak tumpang tindih dng keluaran dari kegiatan lain (4.) Jenis Belanja Jenis belanja ditetapkan dengan kriteria yang sama untuk semua kegiatan (5.) Jenis Belanja Satu dokumen perencanaan, satu dokumen penganggaran dan satu dokumen pelaksanaan anggaran untuk semua jenis satker dan kegiatan
Diagram Kerangka Ideal Penganggaran Terpadu

DUAL BUDGET

UNIFIED BUDGET

1 Pendekatan Sektoral Kegiatan

Kepala Kantor (A. Rutin) • Program • Kegiatan - Kegiatan Dasar - Kegiatan Penunjang Pimpinan Proyek (A. Pemb)

1 Pendekatan Fungsional Kelembagaan

Kepala Kantor / KPA

2 • Program - Proyek – Prioritas Nasional • MAK Anggaran Rutin - Belanja Pegawai - Belanja Barang - Belanja Lain - Belanja Perjalanan • Mak Anggaran Pembangunan - Belanja Modal

2

• Program • Kegiatan - Kegiatan Dasar  Pembayaran Gaji  Ops. Kantor & Pemeliharaan - Kegiatan Penunjang  Priorotas Nasional  Penunjang

MAK: tida ada tumpang tindih penggunaan antara satu MAK dengan yang lainnya

Penerapan Penganggaran Terpadu (unified budget) diharapkan dapat mewujudkan: (1) Satuan kerja sebagai satu-satunya entitas akuntansi yang bertanggung jawab terhadap asset dan kewajiban yang dimilikinya; (2) Alokasi dana untuk kegiatan dasar/operasional organisasi mendukung kegiatan penunjang dan prioritas dalam rangka pelaksanaan fungsi, program dan kegiatan satuan kerja yang bersangkutan; (3) Adanya akun yang standar (dahulu dikenal sebagai mata anggaran keluaran) untuk satu jenis belanja dipastikan tidak ada duplikasi penggunaannya, sehingga satu jenis belanja hanya untuk satu jenis pengeluaran tertentu. 2. PENGANGGARAN BERBASIS KINERJA Penganggaran berbasis kinerja merupakan penyusunan anggaran yang dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran dan hasil yang diharapkan, termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dan keluaran tersebut. Sesuai Pasal 7 PP Nomor 21 tahun 2004 kementerian negara/lembaga diharuskan

menyusun anggaran dengan mengacu kepada indikator kinerja, standar biaya dan evaluasi kinerja. lndikator kinerja (performance indicators) dan sasaran (targets) merupakan bagian dari pengembangan sistem penganggaran berdasarkan kinerja. Penerapan penganggaran berbasis kinerja akan mendukung alokasi anggaran terhadap prioritas program dan kegiatan. Sistem ini terutama berusaha untuk menghubungkan antara keluaran (outputs) dengan hasil (outcomes) yang disertai dengan penekanan terhadap efektifitas dan efisiensi terhadap anggaran yang dialokasikan. Secara lebih rinci maksud dan tujuan penganggaran berbasis kinerja adalah : • • • Mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja (ouput) dan dampak (outcome) atas alokasi belanja (input) yang ditetapkan; Disusun berdasarkan sasaran tertentu yang hendak dicapai dalam satu tahun anggaran; Program dan kegiatan disusun berdasarkan renstra kementerian negara/lembaga.

Penerapan penganggaran berbasis kinerja tersebut akan tercermin dalam dokumen anggaran (RKA-KL). Secara substansi RKA-KL

menyatakan informasi kebijakan beserta dampak alokasi anggarannya. lnformasi yang dinyatakan dalam RKA-KL antara lain berupa : • • • Kebijakan dan hasil yang diharapkan dari suatu program. Kondisi yang diinginkan untuk mencapai sasaran program berupa output dan kegiatan tahunan yang akan dilaksanakan. Kegiatan dan keluarannya beserta masukan sumber daya yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan.

5 Komponen Pokok Pendekatan Anggaran Berbasis Kinerja Dalam RKA-KL: (1.) Satuan Kerja Satuan kerja sebagai penangung jawab pencapaian keluaran/output kegiatan/ subkegiatan (2.) Kegiatan Rangkaian tindakan yang dilaksanakan satuan kerja sesuai dengan tugas pokoknya untuk menghasilkan keluaran yang ditentukan (3.) Keluaran

Satuan kerja mempunyai keluaran yang jelas & terukur sebagai akibat dari pelaksanaan kegiatan (4.) Standar Biaya Perhitungan anggaran didasarkan pada standar biaya (bersifat umum dan bersifat khusus) (5.) Jenis Belanja Pembebanan anggaran pada jenis belanja yang sesuai 3. PENGANGGARAN DALAM KERANGKA PENGELUARAN JANGKA MENENGAH Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah adalah pendekatan penganggaran berdasarkan kebijakan, dengan pengambilan keputusan yang menimbulkan implikasi anggaran dalam jangka waktu lebih dari satu tahun anggaran dengan mempertimbangkan implikasi biaya pada tahun berikutnya yang dinyatakan sebagai prakiraan maju. Tujuan dari pendekatan ini adalah agar disiplin fiskal bisa berjalan secara berkelanjutan karena ketika Kementerian/Lembaga mengajukan usulan anggaran untuk membiayai program dan

kegaitan dalam tahun anggaran yang direncanakan menyampaikan prakiraan maju untuk tahun berikutnya.

dan

Dalam penyusunan RKA-KL dengan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah, kementerian negara/lembaga perlu menyelaraskan kegiatan/program yang disusun dengan RPJM Nasional dan Renstra kementerian negara/lembaga, yang pada tahap sebelumnya menjadi acuan dalam menyusun RKP dan Renja-KL. Secara umum konsepsi dasar KPJM dalam RKAKL dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut: Diagram Sistem Perencanaan dan Penganggaran

R ENCANA P EMBANGU NAN J ANGKA P ANJ ANG (RP J P )
1)

R P JM

2)

R enst ra KL
1)

3)

KPJ M
3) 5)

U n t u k M e n c a p a i

Visi Nasional

R KP

2)

RK - KL

4)

R KA-KL (AP BN)

Visi P residen

Program

1)

Kegiatan

5)

Output

5)

Outcome

"P e rform an ce -b ase db u d g e t"

1) Dijabarkan 2) Dirangkum 3) Indikasi Pendanaan 4) Kepastian pendanaan 5) Menghasilkan 6) Proyeksi ke Depan

SISTEM PENGANGGARAN K/L TAHUN 2008
PENDEKATAN
ANG G AR AN T E R P AD U

KEBIJAKAN 2008
ME NY E MP U R NA K AN P E L AK S ANAA N ANG G AR A NT E R P AD U

PENYUSUNAN RKA-KL TH 2008
ME NY E MP U R NA K AN : K R IT E R IAJE NISB E L ANJA K R IT E R IAS A T U ANK E R JA NONS T R U K T U R ALK /LD ID AE R AH AL OK AS ID ANAD A R IS U MB E RP H L N&P NB P P IL OTP R O Y E KK P JM P AD AB E B E R AP AK /L ME NY E MP U R NA K ANF OR MA TR K A-K L U NT U KP E L AK S ANAANK P JM P E NE T AP ANK E G IA T A NS E S U A IT U P OK S I P E NE T AP ANOU T P UT&OU T C OME P E MAK AIANS T AN D A RBIA Y AUMU MD AN S T AND ARB IA Y AK H U S U S

K P JM

P IL OTP R O Y E K K P JM

ANG G AR AN K INE R JA

T AH API P E L AK S ANAAN ANG G AR A NK INE R JA

FORMAT RKA-KL 2008 : TERDIRI DARI 13 FORMULIR MEMUAT ANGGARAN SATKER MEMUAT ANGGARAN UNIT ES I MEMUAT ANGGARAN K/L 1.1 2.1 3.1 1.2 2.2 3.2 1.3 2.3 3.3 1.4 2.4 3.4 1.5

DOKUMEN PENGANGGARAN
Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian / Lembaga (RKA-KL) FORMAT RKA-KL 1.1 2.1 3.1
KEGIATAN KELUARAN VOLUME KELUARAN ANGGARAN KINERJA

1.2 2.2 3.2
KEGIATAN PRAKIRAAN MAJU KPJM

1.3 2.3 3.3
KEGIATAN JENIS BELANJA MEMUAT BIAYA OUTPUT ANGARAN TERPADU ANGGARAN KINERJA

1.4 2.4 3.4
KEGIATAN PENDAPATAN

1.5

KEGIATAN JENIS BELANJA RINCIAN PER MATA ANGGARAN MEMUAT BIAYA INPUT ANGGARAN KINERJA

DASAR-DASAR PENGALOKASIAN ANGGARAN

• •

Visi dan Misi kementerian negara/lembaga. Skala Prioritas. RKA-KL disusun berdasarkan skala prioritas dengan mengacu pada: • Rencana Kerja Pemerintah (RKP) hasil pembahasan dengan DPR • Pagu Sementara/Pagu Definitif • Hasil Kesepakatan DPR dengan kementerian negara/lembaga • Tupoksi unit organisasi kementerian negara/lembaga Pengalokasian anggaran ke dalam kegiatan/subkegiatan dalam RKA-KL tidak dapat mengakibatkan : • Pergeseran anggaran antar program • Pengurangan belanja mengikat • Perubahan pagu sumber pendanaan/ sumber pembiayaan (RM/PLN/HLN/PNBP) yang ditetapkan

dalam Surat Edaran Menteri Keuangan tentang Pagu Sementara 2007. Perhitungan alokasi biaya didasarkan pada indeks satuan biaya yang ditetapkan.
PERATURAN, ANTARA LAIN: 1. PMK TENTANG PETUNJUK PENYUSUNAN DAN PENELAAHAN RKAKL RENJA-KL/RKP SE MENKEU PAGU SEMENTARA/DEFINITIF PMK TENTANG STANDAR BIAYA

2. 3. 4.

DOKUMEN PENDUKUNG, ANTARA LAIN: 1. 2. 3. 4. 5. TERM OF REFERENCE (TOR) RINCIAN ANGGARAN BIAYA (RAB) DAFTAR PEMBAYARAN GAJI BULAN TERTT. DATA ANALISIS KERUSAKAN BANGUNAN DAFTAR JUMLAH & KONDISI

COST OF ACTIVITY DETAIL OF COST ACTIVITY

HOW MUCH

HOW

WAY,METHOD,E FFORT TO IMPLEMENT

MEANING, ACTIVITY, OUTPUT

WHAT

WHERE
LOCATION OF ACTIVITY

REASONS RELATED TO PROGRAM

WHY WHO
SUBJECT PERFORMING ACTIVITY

WHEN
CERTAIN TIME STARTED & ENDED, HOW LONG

SUBJECT RECEIVING BENEFIT

UNIT ORG OUTPUT JENIS BELANJA (INPUT) NATIONAL GOALS Keterangan: FUNGSI SUBFUNGSI PROGRAM KEGIATAN SUBKEGIATAN K/L

Program dalam RKA-KL dikelompokkan ke dalam: • Program Prioritas (Nasional), yaitu programprogram yang ditetapkan Pemerintah dalam RKP sebagai prioritas pembangunan yang difokuskan pada upaya penyelesaian masalah mendesak dan berdampak luas bagi peningkatan kesejahteraan rakyat, keadaan yang lebih aman, adil dan demokratis. Program prioritas nasional tersebut dijabarkan lebih lanjut dalam kegiatan-kegiatan prioritas. Program Penunjang, yaitu semua program yang dilaksanakan oleh kementerian/lembaga, kecuali yang telah ditetapkan sebagai program prioritas

nasional. Program penunjang dijabarkan lanjut dalam kegiatan penunjang.

lebih

PENGELOLAAN GAJI, TUNJANGAN DAN HONORARIUM

KEGIATAN DASAR KEGIATAN

PENYELESAIAN LANGGANAN DAYA DAN JASA
1. SATUAN KERJA PUSAT ESELON I PRASARANA 2. SATUAN KERJA PUSAT ESELON II 3. SATUAN KERJA INSTANSI VERTIKAL

PERAWATAN SARANA

KEGIATAN TUPOKSI

4.

KEGIATAN PRIORITAS SATUAN KERJA INSTANSI VERTIKAL
ESELON II ESELON III

5. SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (SKPD) KEGIATAN 6. SATUAN KERJA NON VERTIKAL PENUNJANG TERTENTU (SNVT) 7. SATUAN KERJA SEMENTARA (SKS) 8. SATUAN KERJA KHUSUS (DILUAR BAGIAN ANGGARAN K/L)

Untuk mendukung kecepatan dan kelancaran penganggaran dan pelaksanaan anggaran satker pusat dapat berupa: Unit eselon II, sepanjang memenuhi salah satu atau lebih syarat sbb: • Lokasi satker berada pada prop/kab/kota yang berbeda dengan kantor pusatnya. • Karakteristik tugas/kegiatan satker yang komplek.

SATKER

KEGIATAN DASAR
GAJI & TUNJANGAN YANG MELEKAT PADA GAJI LANGGANAN DAYA DAN JASA PEMELIHARAAN SARANA DAN PRASARANA KANTOR DIDANAI DARI BELANJA MENGIKAT

KEGIATAN TUPOKSI (KEGIATAN PRIORITAS & KEGIATAN PENUNJANG)
UNTUK MENCAPAI OUTPUT YANG MENJADI TANGGUNGJAWABNYA UNTUK MENDUKUNG MEWUJUDKAN SASARAN PROGRAM DIDANAI DARI BELANJA TIDAK MENGIKAT

B EL ANJ A P EGAW AI B EL ANJ A BAR ANG B ELANJ A MODAL BANT U AN SOSIAL HIB AH SU B SIDI CICILAN/B U NGA U T ANG BEL ANJ A LAIN-LAIN

PENGELUARAN UNTUK KOMPENSSI DALAM BENTUK UANG YANG DIBERIKAN KEPADA PEGAWAI PEMERINTAH YANG BERTUGAS DIDALAM MAUPUN DILUAR NEGERI SEBAGI IMBALAN ATASPEKERJAAN YANG TELAH DILAKSANAKAN PENGELUARAN UNTUK PENGADAAN BARANG/JASA YANG HABIS PAKAI UNTUK MEMPRODUKSI BARANG/JASA TERTENTU PENGELUARAN YANG DIPAKAI UNTUK PEMBENTUKAN MODAL YANG SIFATNYA MENAMBAH ASET PEMERINTAH PENGELUARAN UNTUK TRANSFER UANG ATAU BARANG YANG DIBERIKAN KEPADA MASYARAKAT GUNA MELINDUNGI DARI KEMUNGKINAN TERJADINYA RESIKO SOSIAL TERTENTU PENGELUARAN UNT TRANSFER YANG SIFATNYA TIDAK WAJIB KEPADA NEGARA LAIN ATAU ORGANISASI INTERNASIONAL PENGELUARAN YG DIBAYARKAN KEPADA PERUSAHAAN NEGARA/SWASTA/LEMBAGA TERTENTU YG MEMPRODUKSI DAN MENJUAL BARANG/JASA AGAR HARGA BARANG/JASA YANG DIPRODUKSI DPT DIJANGKAU MASYARAKAT PENGELUARAN UNTUK PEMBAYARAN ATAS KEWAJIBAN PENGGUNAAN UTANG BAIK DALAM MAUPUN LUAR NEGERI PENGELUARAN UNTUK BELANJA PEMERINTAH YANG TIDAK DAPAT DIKLASIFIKASIKAN MENURUT JENIS BELANJA TERSEBUT SEBELUMNYA

SATKER

KEGIATAN SWAKELOLA
ANGGARAN DIBEBANKAN PADA BEBERAPA JENIS BELANJA, SESUAI DENGAN KOMPONENKOMPONENNYA CONTOH : DIKLAT FUNGSIONAL HONORARIUM MASUK BELANJA PEGAWAI, PERJALANAN MASUK BELANJA BARANG

KEGIATAN KONTRAKTUAL
ANGGARAN DIBEBANKAN PADA SATU JENIS BELANJA YANG SESUAI CONTOH : DIKLAT FUNGSIONAL MASUK BELANJA BARANG

KOMPONEN S T ANDAR BIAYA
HONORARIUM

Pengelola Keu PengadaanB&J T im T eknis Keg. T im F ungsional

S.B. UMUM STANDAR BIAYA S.B. KHUSUS

UANG LEMBUR
Dalam Negeri

PERJ ALANAN KEGIAT AN UMUM BARANG & J ASA

L uarNegeri AT K Bahan M Barang lainnya

BARANG & J ASA KEG. KHUSUS

PerawatanAset Sewa Jasa lainnya

J ADWAL PERENCANAAN
P r aK onsultasi P er encanaan Minggu ke II J anuar i P agu Indikatif Minggu ke III – IV Mar et

1
AP BN-P Minggu I Oktober

2
K onsult asi P er encanaan Nasional Minggu ke II – III Apr il

8
P agu Definitif Agust us - S eptember Opt imalisasi P agu Indikat if Minggu ke I – III Mei

3

7
Optimalisasi P agu S ementar a Minggu ke I – II J uli P agu S ementar a Minggu ke I – III J uni

4

6

5

Lingkar Koordinasi Perencanaan Dep. Agama
Kanwil Dep.Agama Provinsi

I N T E R N A L

DitjenPenyeleng. Haji & Umrah

1. 2. 3. 4. 5.

DitjenB imasIslam DitjenB imasKristen DitjenB imasKatolik DitjenB imasHindu DitjenB imasBudha

IT J EN

DitjenPendidikan Islam

UIN, IAIN, S T AIN, S T AKN, S T AHN, IHDN

B adan Litbang &Diklat S etjen/ Biro Perencanaan B APPENAS 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. MENKOKES R A DEPDIKNAS DEPKES PEMDA (PER DA) B KKB N MENEG PP B NN MENEG. PDT

BalaiDiklat& BalaiL itbang KPPN

E K S T E R N A L

DPR (Komisi VIII, KomisiX & Panja Anggaran) danDPD

Badan Pusat S tatistik(B PS )

DEPKEU : DJ APK& DJ PB

DEFINISI-DEFINISI • • • • • • • APBN adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh DPR. Menteri Keuangan adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang keuangan negara. Kementerian Keuangan adalah lembaga yang dipimpin oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang keuangan negara. Menteri Perencanaan adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang perencanaan pembangunan nasional (dalam hal ini adalah Bappenas). Kementerian Perencanaan adalah lembaga yang dipimpin oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang perencanaan pembangunan nasional. Kementerian Negara adalah organisasi dalam Pemerintahan RI yang dipimpin oleh menteri untuk melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang tertentu. Lembaga Negara adalah organisasi nonkementerian negara dan instansi lain pengguna anggaran yang dibentuk untuk melaksanakan

• • • • • • •

tugas tertentu berdasarkan UUD 45 dan peraturan perundangundangan. Unit Organisasi adalah bagian dari suatu kementerian negara/lembaga yang bertanggung jawab terhadap pengkoordinasian dan/atau pelaksanaan suatu program. Satuan Kerja adalah adalah bagian dari suatu unit organisasi pada kementerian negara/lembaga yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. Strategi adalah langkah-langkah yang berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai tujuan. Fungsi adalah perwujudan tugas kepemeritahan di bidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional.

• • • •

Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga atau masyarakat yang dikordinasikan oleh instansi pemerintah untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dengan mengerahkan segala sumber daya (personil, teknologi,dana,dll) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang dan jasa. Sub kegiatan adalah bagian dari kegiatan, timbulnya sub kegiatan ini sebagi kosekuensi adanya perbedaan jenis dan satuan keluaran. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA KL) adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu kementerian negara/lembaga yang merupakan penjabaran dari RKP dan rencana strategis

• •

Kementerian/Lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran serta pagu anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. Pagu Indikatif merupakan ancar-ancar pagu anggaran yang diberikan kepada KL untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan rencana kerja Kementerian/Lembaga. Pagu Sementara merupakan pagu anggaran yang didasarkan atas kebijakan umum dan prioritas anggaran hasil pembahasan Pemerintah Pusat dengan DPR sebagai acuan dalam penyusunan RKA KL. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA atau dokumen lain yang dipersamakan dengan DIPA) adalah suatu dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga atau Satuan Kerja yang disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kanwil DJPb atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan. Kanwil DJPb adalah instansi vertikal DJPb dan bertanggung jawab kepada Dirjen Perbendaharaan.

• •

Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) adalah instansi vertikal DJPb yang berada dan bertanggungjawab langsung kepada Kepala Kantor Wilayah DJPb. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA) adalah Menteri/Pimpinan Lembaga atau kuasanya yang bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran pada Kementerian/Lembaga yang bersangkutan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->