P. 1
Pengertian Rumah Sakit Di Indonesia

Pengertian Rumah Sakit Di Indonesia

|Views: 260|Likes:
Published by tara manroe
Pengertian Rumah sakit
Pengertian Rumah sakit

More info:

Published by: tara manroe on Jul 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/20/2015

pdf

text

original

Tugas

KEBUTUHAN PEMASARAN RS PEMERINTAH

Oleh: Maya Rina Santara M

Pembimbing: dr. Abdullah Sahab, SpKJ

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA RUMAH SAKIT DR. ERNALDI BAHAR 2013

KEBUTUHAN PEMASARAN RS PEMERINTAH
PENGERTIAN RUMAH SAKIT DI INDONESIA Rumah sakit dalam bahasa Inggris disebut hospital. Kata hospital berasal dari kata dalam bahasa Latin hospitalis yang berarti tamu. Secara lebih luas kata itu bermakna menjamu para tamu. Memang menurut sejarahnya, hospital atau rumah sakit adalah suatu lembaga yang bersifat kedermawanan (charitable), untuk merawat pengungsi atau memberikan pendidikan bagi orangorang yang kurang beruntung atau miskin, berusia lanjut, cacat, atau para pemuda. Di Indonesia, evolusi rumah sakit dimulai dengan munculnya rumah sakit-rumah sakit milik misi keagamaan yang pelayanannya bersifat kedermawanan. Selanjutnya muncul rumah sakit-rumah sakit milik perusahaan yang dibangun khusus untuk melayani karyawan perusahaan (misalnya perkebunan, pertambangan, dan lain-lain). Setelah itu lalu muncul rumah sakit-rumah sakit yang berasal dari praktik pribadi dokter, atau kadang-kadang juga praktik pribadi bidan, yang mula-mula berkembang menjadi klinik. Beberapa dasawarsa terakhir, muncullah rumah sakit-rumah sakit yang dibangun sepenuhnya oleh pemilik modal yang bukan dokter. Setelah kemerdekaan, perumahsakitan di Indonesia berkembang pesat, sehingga muncul berbagai macam rumah sakit, baik milik swasta maupun milik pemerintah. Berdasarkan UndangUndang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Kesehatan, jenis rumah sakit dibagi berdasarkan jenis pelayanan dan pengelolaannya. Berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan, rumah sakit dikategorikan dalam rumah sakit umum dan rumah sakit khusus. 1. Rumah sakit umum merupakan rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit. 2. Rumah sakit khusus merupakan rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit, atau kekhususan lainnya. Berdasarkan pengelolaannya rumah sakit dapat dibagi menjadi rumah sakit publik dan rumahsakit privat. 1. Rumah sakit publik merupakan rumah sakit yang dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan badan hukum yang bersifat nirlaba. 2. Rumah sakit privat merupakan rumah sakit yang dikelola oleh badan hukum dengan tujuan profit yang berbentuk Perseroan Terbatas atau Persero. Rumah sakit tidak boleh dipandang sebagai suatu entitas yang terpisah dan berdiri sendiri dalam sektor kesehatan. Rumah sakit adalah bagian dari sistem kesehatan dan perannya adalah mendukung pelayanan kesehatan dasar melalui penyediaan fasilitas rujukan dan mekanisme bantuan. Menurut Organisasi Kesehatan Sedunia atau World Health Organization (WHO), "Rumah Sakit harus terintegrasi dalam sistem kesehatan di mana ia berada. Fungsinya adalah sebagai pusat sumber daya bagi peningkatan kesehatan masyarakat di wilayah yang bersangkutan."
1

Konsep pemasaran. sesuai sosial budaya setempat dan didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. artinya orientasi hanya pada usaha untuk mencapai pemanfaatan fasilitas dengan memadai 3. 2. agar mereka dapat menolong diri sendiri. 3. perencanaan. 6. Pemasaran merupakan proses manajemen. promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari. penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan. Konsep penjualan. 4. Konsep pemasaran sosial artinya orientasi pada usaha untuk memenuhi kebutuhan. berarti adanya saling menguntungkan Adanya target pasar. (1994) menyatakan bahwa pemasaran adalah analisis. artinya sesuai dengan kebutuhan konsumen Kegiatan penentuan harga. penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.D. bukan ditebak Adanya pertukaran nilai. PROMOSI KESEHATAN Sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1114/Menkes/SK/VIII/2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah. 5. Sedangkan Levey. 1979 yang dimaksud dengan pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk kepuasan keinginan dan kebutuhan melalui proses penukaran. untuk. 2 . dan bersama masyarakat. Konsep pelayanan. S. KONSEP MANAJEMEN PEMASARAN Menurut Cooper. dan komunikasi yang efektif Menurut Cooper. seperti analisis. serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat. pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis. 3. oleh. 2. keinginan dan permintaan konsumen serta memberikan kepuasan.Adapun fungsi-fungsi yang harus diselenggarakan oleh Rumah Sakit adalah: 1. perencanaan dan implementasi Merupakan kegiatan yang mengikuti permintaan.. penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan. P. artinya orientasi berusaha untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan pasien serta menciptakan pelayanan yang memuaskan 4. artinya orientasi hanya untuk memberikan pelayanan dan fasilitas yang baik 2. (1979) terdapat 4 konsep dalam pemasaran yaitu: 1. Dari definisi tersebut dapatlah dikemukakan beberapa hal sebagai berikut: 1. implementasi dan pengendalian dari program yang dirancang secara hati-hati untuk pertukaran nilai dengan target pasar untuk mencapai tujuan organisasi. berarti adanya sasaran yang jelas Mengutamakan permintaan pasar. dan 4. dkk.

Dengan kata lain. dan mengembangkan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat. Persamaannya terutama terletak pada sasaran (target group). tidak jarang rumah sakit yang menggabung ketiga kegiatan tersebut dalam satu wadah organisasi. dan kelompok-kelompok masyarakat. Jika definisi itu diterapkan di rumah sakit. Di dalam gedung 3 . PELUANG PROMOSI KESEHATAN Banyak sekali tersedia peluang untuk melaksanakan promosi kesehatan di rumah sakit. kondusif (demand) akan pelayanan yang *Dapat respon terhadap isu-isu untuk PHBS. dan mengatasi masalahmasalah kesehatan yang sudah terjadi dengan cara menanganinya secara efektif serta efisien. masyarakat. sedang perbedaannya adalah sebagai berikut: PKRS Pemasaran Rumah Sakit Humas Rumah Sakit *Tersebarnya informasi *Pasien dan klien Rumah Sakit serta *Tersedianya pelayanan seluk-beluk Rumah Sakit. ber-PHBS untuk menangani dengan harga yang dapat *Dapat diketahuinya isu/ umpan balik dari masalah-masalah kesehatan. untuk. tentang Rumah Sakit. melalui pembelajaran dari. Secara umum peluang itu dapat dikategorikan sebagai berikut. *lingkungan Rumah Sakit aman. oleh. walaupun banyak pula yang memilih untuk memisahkannya. mau dan mampu kesehatan yang layak "jual". agar pasien dapat mandiri dalam mempercepat kesembuhan dan rehabilitasinya. Oleh karena itu.Menolong diri sendiri artinya masyarakat mampu menghadapi masalah-masalah kesehatan potensial (yang mengancam) dengan cara mencegahnya. 1. masyarakat tahu. baik masalahmasalah kesehatan yang sudah diderita maupun yang potensial (mengancam). *Tumbuhnya permintaan disampaikannya nyaman. dijangkau masyarakat. bersih dan sehat. serta didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. maka dapat dibuat rumusan sebagai berikut: Promosi Kesehatan oleh Rumah Sakit (PKRS) adalah upaya rumah sakit untuk meningkatkan kemampuan pasien. masyarakat mampu berperilaku hidup bersih dan sehat dalam rangka memecahkan masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya (problem solving). klien dan kelompok-kelompok masyarakat dapat mandiri dalam meningkatkan kesehatan. tampak bahwa PKRS memang memiliki persamaan dan sekaligus perbedaan dengan kegiatan pemasaran (marketing) rumah sakit dan kegiatan kehumasan (public relation) rumah sakit. sesuai sosial budaya mereka. secara mandiri (dalam batas-batas tertentu). "dijual". Mencermati rumusan tersebut di atas. klien. mencegah masalah-masalah kesehatan. dan bersama mereka.

poliklinik bedah. yaitu baik taman-taman yang ada di depan. maka yang pertama kali harus dikunjunginya adalah Ruang/Tempat Pendaftaran. yaitu di ruang di mana pasien rawat inap harus menyelesaikan pembayaran biaya rawat inap. b. d. PKRS dalam pelayanan penunjang medik bagi pasien. poliklinik anak. yaitu seperti di pelayanan KB. sebelum meninggalkan rumah sakit. dan lain-lain. PKRS di pagar pembatas kawasan rumah sakit. d. Setelah pendaftaran selesai barulah mereka satu demi satu diarahkan ke tempat yang sesuai dengan pertolongan yang diharapkan. poliklinik THT. c. konseling gizi. rawat intensif. c. b. di mana terdapat loket untuk mendaftar. PKRS dalam pelayanan rawat inap bagi pasien. bimbingan senam. PKRS di Taman rumah sakit. PKRS dalam pelayanan rawat jalan bagi pasien. PKRS dalam pelayanan bagi klien (orang sehat). yaitu pemanfaatan ruang yang ada di lapangan/gedung parkir sejak dari bangunan gardu parkir sampai ke sudut-sudut lapangan gedung parkir. 4 . Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa di dalam gedung. yaitu di ruang-ruang rawat darurat. dan pelayanan rehabilitasi medik. Mereka akan tinggal beberapa saat di ruang pendaftaran itu sampai petugas selesai mendaftar. bahkan juga kamar mayat. f. PKRS di tempat-tempat umum di lingkungan rumah sakit misalnya tempat ibadah yang tersedia di rumah sakit (misalnya masjid atau musholla) dan di kantin/tokotoko/kios-kios. poliklinik mata. samping/sekitar maupun di dalam/halaman dalam rumah sakit. yaitu terutama di pelayanan obat/apotik. konseling kesehatan remaja. PKRS di ruang pembayaran rawat inap. pemeriksaan kesehatan (check up). yaitu di poliklinik-poliklinik seperti' poliklinik kebidanan dan kandungan. PKRS di ruang pendaftaran/administrasi. konseling kesehatan jiwa. yaitu: a. e. PKRS di dinding luar rumah sakit. poliklinik penyakit dalam. dan lain-lain. dan rawat inap. terdapat peluang-peluang: a. PKRS di Tempat Parkir. yaitu di ruang di mana pasien/klien harus melapor/mendaftar sebelum mendapatkan pelayanan rumah sakit. PELAKSANAAN PROMOSI KESEHATAN BAGI PASIEN RUMAH SAKIT PROMOSI KESEHATAN DI RUANG PENDAFTARAN Begitu pasien masuk ke gedung rumah sakit. PKRS dilaksanakan seiring dengan pelayanan yang diselenggarakan rumah sakit.Di dalam gedung rumah sakit. pelayanan laboratorium. 2. Di luar gedung Kawasan luar gedung rumah sakit pun dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk PKRS. e.

Media yang lain yang dapat disiapkan di ruang ini misalnya leaflet. diberi tugas di ruang konsultasi. Konsultasi seyogianya dilakukan secara individual. pelayanan yang tersedia di rumah sakit. dan tayangan menggunakan OHP atau laptop dan LCD. Ruang konsultasi ini disediakan di poliklinik dan dilayani oleh seorang dokter atau perawat mahir (yang berkualifikasi) sesuai dengan poliklinik yang bersangkutan. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan dilakukannya konsultasi secara berkelompok (5-6 pasien sekaligus). disediakan ruang konsultasi kesehatan mata yang dilayani oleh seorang dokter ahli mata atau perawat mahir kesehatan mata. yaitu mereka yang tidak bertugas di poliklinik. yaitu di mana setiap petugas rumah sakit yang melayani pasien meluangkan waktunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pasien berkenaan dengan penyakitnya atau obat yang harus ditelannya. maka ruang konsultasi ini sebaiknya cukup luas untuk menampung 6-7 orang. maka dapat disediakan satu ruang khusus bagi para pasien rawat jalan yang memerlukan konsultasi atau ingin mendapatkan informasi.Kontak awal dengan rumah sakit ini perlu disambut dengan promosi kesehatan. Seorang pasien yang hendak dioperasi katarak. Jika demikian. Bahkan lebih bagus lagi jika dapat ditayangkan rekaman tentang proses operasi katarak melalui laptop dan LCD yang diproyeksikan ke layar. Bina Suasana 5 . Pemberdayaan Idealnya pemberdayaan dilakukan terhadap seluruh pasien. mungkin menginginkan penjelasan tentang proses operasi katarak tersebut. serta informasi tentang penyakit baik pencegahan maupun tentang cara mendapatkan penanganan penyakit tersebut. Media informasi yang digunakan di ruang ini sebaiknya berupa poster dalam bentuk neon box yang memuat foto dokter dan perawat yang ramah disertai kata-kata "Selamat Datang. Jika demikian. Media komunikasi yang efektif digunakan di sini misalnya adalah lembar balik (flash cards). dan TV. Kami Siap Untuk Menolong Anda" atau yang sejenis. 1. Sambutan itu berupa salam hangat yang dapat membuat mereka merasa tenteram berada di rumah sakit. Di ruang ini pula. yaitu pemberdayaan yang didukung oleh bina suasana dan advokasi. disediakan informasi tentang rumah sakit tersebut yang dapat meliputi manajemen rumah sakit. maka selain penjelasan lisan. gambar-gambar atau model-model anatomi. jika keadaan mengijinkan. dokter/perawat jaga. Tetapi jika hal ini belum mungkin dilaksanakan. factsheet. Di poliklinik mata misalnya. PROMOSI KESEHATAN BAGI PASIEN RAWAT JALAN Promosi Kesehatan bagi pasien rawat jalan berpegang kepada strategi dasar promosi kesehatan. Ruang konsultasi sebaiknya dilengkapi dengan berbagai media komunikasi atau alat peraga yang sesuai dengan kebutuhan. Tugas melayani ruang konsultasi ini dapat digilir di antara dokter ahli mata atau perawat yang ada. tentu akan lebih memuaskan jika dapat disajikan gambar-gambar tentang proses operasi tersebut. 2.

Atau tidak memiliki dana untuk membangun jamban di rumahnya. rumah sakit dapat melakukan advokasi ke berbagai pihak. Atau tidak memiliki dana untuk menyemen lantai dan memasang genting kaca rumahnya agar rumahnya tidak lembab. proses pemberdayaan harus dimulai dari awal. Bahkan jika pasien yang bersangkutan juga dapat ikut memperhatikan leaflet. PROMOSI KESEHATAN BAGI PASIEN RAWAT INAP Pada saat pasien sudah memasuki masa penyembuhan. sehingga memungkinkan untuk mendapatkan informasi dari berbagai media komunikasi yang tersedia di poliklinik. Mereka bisa menggunakan uang belanja terlebih dulu atau mungkin meminjam kepada orang lain. perlu dipasang poster-poster. pihak yang paling berpengaruh terhadap pasien rawat jalan adalah orang yang mengantarkannya ke rumah sakit. Dengan-mendapatkan informasi yang benar mengenai penyakit yang diderita pasien yang diantarnya. misalnya kepada para pengusaha sukses.Sebagaimana disebutkan di muka. Untuk itu tentu diperlukan suatu pengaturan khusus guna mencegah penyalahgunaan. tuntasnya pengobatan dengan rawat jalan tidak dapat dijamin jika mereka tidak memiliki biaya untuk transportasi dari tempat tinggalnya ke rumah sakit. Pengelolaannya bisa melalui pembentukan yayasan atau lembaga fungsional lain di bawah kendali dari Direktur yang membawahi keuangan rumah sakit. Tetapi bagi mereka yang acuh tak acuh. Walaupun ada juga pasien yang acuh tak acuh. Biaya pengobatan dengan rawat jalan bagi penderita miskin memang sudah dibayar melalui program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM). maka seolah-olah ia berada dalam suatu lingkungan yang mendorongnya untuk berperilaku sesuai yang dikehendaki agar penyakit atau masalah kesehatan yang dideritanya dapat segera diatasi. untuk menyumbangkan dana. Agar mampu melakukan upaya membantu penderita miskin tersebut. Oleh karena itu di setiap poliklinik. Mereka ini tidak dalam keadaan sakit. Oleh karena itu akan sangat membantu jika RS dapat menyediakan uang pengganti ongkos bagi penderita miskin. 6 . disediakan selebaran (leaflet). umumnya pasien sangat ingin mengetahui seluk-beluk tentang penyakitnya. 3. Dana ini selanjutnya dikelola secara khusus dengan manajemen yang transparan dan akuntabel sehingga siapa pun dapat turut mengawasi penggunaannya. Akan tetapi bagi penderita miskin. poster atau tayangan yang disajikan. Terhadap mereka yang antusias. pemberian informasi dapat segera dilakukan. Advokasi Advokasi bagi kepentingan penderita rawat jalan umumnya diperlukan jika penderita tersebut miskin. yaitu dari fase meyakinkan adanya masalah. si pengantar diharapkan dapat membantu rumah sakit memberikan juga penyuluhan kepada pasien. khususnya di ruang tunggu. dan setelah itu rumah sakit akan menggantinya. atau dipasang televisi dan VCD/DVD player yang dirancang untuk secara terus menerus menayangkan informasi tentang penyakit sesuai dengan poliklinik yang bersangkutan.

Dalam hal ini perawat mahir yang menjadi konselor harus mendatangi pasien demi pasien. batere. cukup sekedar membalik-balik kertas. Terdapat beberapa cara pemberdayaan atau konseling yang dapat dilakukan dalam hal ini. Buku atau bahan bacaan memiliki sejumlah kelebihan dibanding media komunikasi lain. Memang. mungkin ia dapat membawa VCD/DVD player dan beberapa VCD/DVD yang berisi informasi tentang penyakit pasiennya. Tapi kelemahan 7 . bahan bacaan juga memiliki kelemahan. a. Kepada pasien yang seperti ini. perpustakaan-perpustakaan yang dimiliki rumah sakit tidak hanya berperan dalam mendukung perkembangan pengetahuan petugas. tuberkulosis. Konseling di Tempat Tidur Konseling di tempat tidur (bedside conseling) dilakukan terhadap pasien rawat inap yang belum dapat atau masih sulit meninggalkan tempat tidurnya dan harus terus berbaring. Bahan bacaan juga dapat menampung Iebih banyak informasi. khususnya karena ia menuntut kemampuan dan minat membaca dari pemakainya. Biblioterapi Biblioterapi adalah penggunaan bahan-bahan bacaan sebagai sarana untuk membantu proses penyembuhan penyakit yang diderita pasien rumah sakit. maka biblioterapi dapat digabung dengan bedside conseling. pasien dengan penyakit kronis dapat menunjukkan reaksi yang berbeda-beda. dan melakukan pelayanan konseling. seseorang tidak perlu berepot-repot. Hal ini dikarenakan penyakit kronis umumnya memberikan pengaruh fisik dan kejiwaan serta dampak sosial kepada penderitanya. agresif. b.Sementara itu. para pustakawan "menjajakan" bahan-bahan bacaan koleksinya dari tempat tidur ke tempat tidur pasien dengan sebuah kereta dorong. seperti misalnya apatis. khususnya dalam pelaksanaan pemberdayaan. Dalam hal ini perawat mahir akan membantu pasien membacakan sambil melakukan konseling. maka alat peraga atau media komunikasi yang digunakan haruslah yang mudah dibawa-bawa seperti lembar baik (flashcards). 1. dan lain-lain). Pemberdayaan Sebagaimana disebutkan di atas. tanpa tergantung kepada listrik. atau menarik diri. melainkan juga dalam upaya penyembuhan pasien. Alat peraga tersebut sebaiknya sedikit mungkin mencantumkan kata-kata atau kalimat Jika di ruang perawatan pasien terdapat televisi. Umur keberadaan buku atau bahan bacaan di tengah-tengah manusia adalah paling panjang. Untuk mengulang-ulang isi yang belum dipahami. pemberdayaan dilakukan terhadap pasien rawat inap pada saat mereka sudah dalam fase penyembuhan dan terhadap pasien rawat inap penyakit kronis (kanker. Oleh karena harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Para pasien boleh meminjam bahan bacaan yang diminati untuk beberapa lama. kapan saja. kesabaran dari petugas rumah sakit sungguh sangat diharapkan. duduk di samping tempat tidur pasien tersebut. cuaca. Bagi pasien yang tidak dapat membaca (misalnya karena sakit mata). dan peralatan-peralatan pendukung. dan mengembalikan bahan bacaan yang telah selesai dibacanya. Bahan bacaan juga lebih praktis penggunaannya. gambar-gambar atau foto-foto. karena dapat digunakan di mana saja. Dalam hal ini. Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat.

b. Atau sekali waktu diselingi acara menyanyi dengan iringan gitar. dapat digunakan laptop. Lebih baik digunakan media yang lebih besar seperti flipchart. Konseling berkelompok ini selain untuk meningkatkan pengetahuan serta mengubah sikap dan perilaku pasien. Jika konseling kelompok dilakukan di ruangan. Pada dinding ruang tunggu dapat dipasang berbagai poster cetakan atau poster dalam neon box. Misalnya dengan sekali waktu menyelenggarakan konseling berkelompok ini di taman rumah sakit. a. atau karaoke. Atau dengan makan siang bersama. Konseling Berkelompok Terhadap pasien yang dapat meninggalkan tempat tidurnya barang sejenak. maka di bangsal perawatan yang bersangkutan harus disediakan suatu tempat atau ruangan untuk berkumpul. c. Akan lebih baik lagi jika di ruang tunggu itu juga disediakan televisi yang menayangkan berbagai pesan kesehatan dari VCD/DVD player. Untuk itu. Banyak contoh di mana mereka yang semula tidak gemar membaca. sebaiknya rumah sakit menyediakan ruang tunggu bagi mereka. Juga dapat disediakan boks berisi selebaran atau leaflet yang boleh diambil secara gratis. Lembar balik (flashcards) mungkin terlalu kecil jika digunakan di sini. maka ruang tunggu ini dapat digunakan sebagai sarana untuk bina suasana. Pemanfaatan Ruang Tunggu Agar para penjenguk tertib saat menunggu jam bezuk. Pembekalan Pembesuk Secara Berkelompok 8 . atau standing banner. akhirnya menjadi kutu buku sekeluar dari rumah sakit. akibat ketekunan pustakawan atau perawat membimbingnya membaca. LCD projector dan layarnya untuk menayangkan gambar-gambar atau bahkan film. Oleh karena itu. juga sebagai sarana bersosialisasi para pasien. Dengan berbagai informasi tersebut diharapkan para pembesuk mendapat informasi yang nantinya dapat disampaikan juga kepada pasien yang akan dibesuknya. dapat dilakukan konseling secara berkelompok (3-6 orang). Untuk konseling berkelompok tentu sebaiknya digunakan alat peraga atau media komunikasi untuk kelompok. Jika demikian. poster. kegiatan ini dapat pula diselingi dengan rekreasi. organ. 2.ini dapat ditutup jika para petugas rumah sakit memang benar-benar bersedia sebagai penolong pasien. Bina Suasana Lingkungan yang besar pengaruhnya terhadap pasien rawat inap adalah para penjenguk (pembesuk). Biasanya para pembesuk ini sudah berdatangan beberapa saat sebelum jam besuk dimulai.

3. khususnya dalam rangka menciptakan kebijakan atau peraturan perundangundangan sebagai rambu-rambu perilaku dan menghimpun dukungan sumber daya. dan seterusnya. penjenguk pasien penyakit jantung misalnya. Pembacaan doa-doa ini kemudian disambung dengan pemberian nasihat (tausiyah) oleh petugas rumah sakit atau oleh pemuka agama tentang pentingnya melaksanakan perilaku tertentu. dokter spesialis atau perawat mahir menyampaikan pesan agar para pembesuk kiranya dapat membantu memberi penjelasan kepada pasien yang mereka bezuk agar proses penyembuhan menjadi Iebih cepat. Dalam waktu 15 . Sebelum menutup diskusi. Acara keagamaan ini dapat dilakukan untuk individu pasien ataupun untuk kelompok-kelompok pasien.Para pembesuk yang sedang menunggu jam bezuk. dan seterusnya. sebulan dua kali. Frekuensinya bisa seminggu sekali. Rumah sakit akan dapat mempercepat kesembuhan pasien. biaya untuk rawat inap juga sudah tercakup dalam program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin. jika rumah sakit juga dapat membantu meringankan beban ekonomi keluarga dengan memberikan bantuan biaya hidup keluarga selama pasien dirawat inap. Dalam hal ini para petugas rumah sakit.30 menit dokter spesialis atau perawat mahir tersebut memberikan penjelasan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan para pembesuk. Namun demikian. maka praktis pendapatan keluarga hilang atau setidak-tidaknya sangat berkurang. khususnya untuk membantu pasien miskin. Bagi pasien miskin. Advokasi Untuk promosi kesehatan pasien rawat inap pun advokasi diperlukan. mengajak pasien untuk melakukan pembacaan doa-doa. Setelah itu datang dokter spesialis jantung atau perawat mahir jantung ke ruang A. sebenarnya tidak hanya itu yang dibutuhkan oleh pasien miskin. Juga dapat melibatkan keluarga dan teman-teman pasien. sehingga pasien pun merasa Iebih yakin akan kebenaran perilaku yang harus dilaksanakannya dalam rangka mempercepat penyembuhan penyakitnya. 9 . c. dokter spesialis paru atau perawat mahir paru ke ruang B. baik dengan upaya sendiri atau pun dengan dibantu pemuka agama. penjenguk pasien tuberkulosis dikumpulkan di ruang B. Jadi. Rujukan terhadap kitab suci untuk memperkuat nasihat biasanya dilakukan. dapat pula dikumpulkan dalam ruangan-ruangan yang berbeda sesuai dengan penyakit pasien yang akan dibesuknya. sesuai dengan kemampuan rumah sakit. yaitu beberapa menit sebelum jam besuk dimulai. dikumpulkan di ruang A. Pendekatan Keagamaan Suasana yang mendukung terciptanya perilaku untuk mempercepat penyembuhan penyakit juga dapat dilakukan dengan pendekatan keagamaan. Dengan dirawat inapnya kepala keluarga. atau sebulan sekali. Apa lagi jika yang harus dirawat inap di rumah sakit adalah kepala keluarga yang bertugas menghidupi keluarganya.

Datang diterima dengan salam hangat. klien atau pengantarnya tidak tinggal terlalu lama di Pelayanan Laboratorium. yaitu pentingnya melakukan pemeriksaan rontgen: a. sehingga mereka benar-benar menganggap rumah sakit sebagai penolong yang baik. klien. selain dapat dijumpai pasien (orang sakit). 4. Bagi pasien adalah untuk ketepatan diagnosis yang dilakukan oleh dokter. juga klien (orang sehat). yaitu untuk menyampaikan salam hangat dan ucapan selamat jalan. 2. dan Pelayanan Pemulasaraan Jenasah. Pelayanan Obat/Apotik. Perlu juga disampaikan bahwa kapan pun kelak pasien membutuhkan lagi pertolongan. Di ruang perpisahan ini pasien/kerabatnya itu memang tidak berada terlalu lama. Pelayanan Rontgen. jangan ragu-ragu untuk datang lagi ke rumah sakit. Namun hendaknya promosi kesehatan juga masih hadir. maka berarti rumah sakit tidak hanya telah menolong individu pasien. di kawasan ini sebaiknya dilakukan promosi kesehatan dengan media swalayan (self service) seperti poster-poster yang ditempel di dinding atau penyediaan leaflet yang dapat diambil gratis. yaitu: a. membuat jamban keluarga. membuat saluran air limbah. Bagi pasien adalah untuk ketepatan diagnosis yang dilakukan oleh dokter. agar dapat diupayakan untuk tetap sehat. pasien rawat inap yang sudah sembuh atau kerabatnya harus singgah dulu di tempat pembayaran. 10 . Bagi klien atau mereka yang sehat lainnya adalah untuk memantau kondisi kesehatan. PKRS di Pelayanan Rontgen Sebagaimana di Pelayanan Laboratorium. Oleh karena itu. membuat sumber air. PKRS di Pelayanan Laboratorium Di Pelayanan Laboratorium. melainkan juga telah membantu mengatasi masalah kesehatan masyarakat. Promosi Kesehatan di Tempat Pembayaran Sebelum pulang. b. Kesadaran yang ingin diciptakan dalam diri mereka adalah pentingnya melakukan pemeriksaan laboratorium. tuntasnya kesembuhan pasien miskin yang dirawat inap juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Bagi klien atau mereka yang sehat Iainnya adalah untuk memantau kondisi kesehatan. 1. Di sini kesadaran yang ingin diciptakan dalam diri mereka pun serupa dengan di Pelayanan Laboratorium. b. dan para pengantarnya. PROMOSI KESEHATAN DALAM PELAYANAN PENUNJANG MEDIK Dalam rangka pelayanan penunjang medik. khususnya rumah pasien. dan lain-lain. agar dapat diupayakan untuk tetap sehat. PKRS terutama dapat dilaksanakan di Pelayanan Laboratorium. di Pelayanan Rontgen pun umumnya pasien.Sebagaimana pada pasien rawat jalan. dan pulang pun diantar dengan salam hangat. dan para pengantarnya tidak tinggal terlalu lama. semoga semakin bertambah sehat. Biarlah kenangan yang baik selalu tertanam dalam ingatan pasien/kerabatnya. Pada umumnya pasien. Jika rumah sakit dapat juga membantu pasien miskin rawat inap untuk memugar rumahnya menjadi rumah sehat.

Peluang ini dapat 11 . PKRS di Pelayanan Pemulasaraan Jenasah Di Pelayanan Pemulasaraan Jenasah tentu tidak akan dijumpai pasien. selain membuka konseling berbagai aspek kesehatan. Yang akan dijumpai di kawasan ini adalah para keluarga atau temanteman pasien (jenasah) yang mengurus pengambilan jenasah dan transportasinya. Sedangkan kesadaran yang ingin diciptakan dalam diri mereka adalah terutama tentang: a. karena yang ada adalah pasien yang sudah meninggal dunia. yaitu pemberdayaan yang didukung oleh bina suasana dan advokasi. Dengan demikian. di kawasan ini juga dapat dioperasikan VCD/DVD Player dan televisinya yang menayangkan pesan-pesan tersebut di atas. Pentingnya memelihara Taman Obat Keluarga (TOGA) dalam rangka memenuhi kebutuhan akan obat-obatan sederhana. Akan lebih menyentuh jika pesan-pesan dalam poster dan leaflet juga dikaitkan dengan pesan-pesan keagamaan. PELAKSANAAN PROMOSI KESEHATAN BAGI KLIEN SEHAT Strategi PKRS bagi pasien yang sehat termasuk pasien dalam masa rehabilitasi. sesuai dengan petunjuk dokter. cara yang paling tepat adalah dengan memasang poster-poster dan atau menyediakan leaflet untuk diambil secara gratis. kelompok paduan suara. maupun pengantarnya. Di Pelayanan Obat/Apotik boleh jadi pasien. PKRS di Pelayanan Obat/Apotik Di Pelayanan Obat/Apotik juga dapat dijumpai baik pasien. b. 1. selain poster dan leaflet. sehingga tidak mungkin dilakukan promosi kesehatan yang formal dan ketat. promosi kesehatan yang dilaksanakan di sini sebaiknya juga dengan memanfaatkan media swalayan seperti poster dan leaflet. Dengan demikian. karena menanti disiapkannya obat. rumah sakit dapat membentuk kelompok-kelompok diskusi. Adapun kesadaran dan perilaku yang hendak ditanamkan kepada mereka adalah tentang pentingnya memantau dan menjaga kesehatan dengan mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. koran. serupa dengan strategi PKRS bagi orang sakit. klien atau pengantarnya tinggal agak lama. akhir-akhir ini media massa penyedia informasi kesehatan (seperti tabloid. kelompok senam. Manfaat obat generik dan keuntungan jika menggunakan obat generik. dan juga acara-acara radio dan televisi) semakin banyak penggemarnya. 3. Kedisiplinan dan kesabaran dalam menggunakan obat. Namun perlu diingat bahwa di kawasan ini suasananya adalah suasana berkabung. majalah. klien. Pengelolaan Kelompok Diskusi Banyak anggota masyarakat yang dalam keadaan sehat ingin mempertahankan terus kesehatannya. 4. c.Dengan demikian. PEMBERDAYAAN Dalam rangka pemberdayaan terhadap pasien sehat. Oleh karena itu.

Kelompok Diskusi Kesehatan Ibu dan Anak. seperti Simposium. pihak rumah sakit masih akan dapat mengupayakannya dengan mudah melalui jaringan kerjasama antar rumah sakit atau antara rumah sakit dan perguruan tinggi. Sebaiknya rekreasi ini dapat dikaitkan dengan upaya kesehatan. dengan mengorganisasikan beberapa kelompok paduan suara. Peringatan Hari Osteoporosis. Selain bermanfaat bagi individu-individu yang tergabung dalam kelompok. Rumah sakit 12 . rumah sakit sendiri dapat memanfaatkannya pada saat merayakan Ulang Tahun rumah sakit misalnya. seperti misalnya mengunjungi taman-taman gizi. sekolah sehat. taman-taman obat keluarga. dengan mendayagunakan sumber daya manusia yang dimiliki rumah sakit. paduan suara ini dapat dimanfaatkan pada saat perayaan Peringatan Hari Kesehatan Nasional. dan lain-lain. Seminar. karena rumah sakit sendiri cukup memiliki sumber daya manusia yang dapat digunakan sebagai nara sumber dalam forum-forum tadi. dan forum-forum diskusi lainnya. Jika forum-forum seperti Simposium. Oleh karena itu. Kalaupun harus menggunakan nara sumber dari luar rumah sakit. instalasi pemrosesan sampah rumah sakit. rumah sakit tentu saja relevan jika mengorganisasikan pula pelayanan rekreasi bagi masyarakat umum.ditangkap oleh rumah sakit dengan menyediakan sarana atau mengorganisasi interaksi masyarakat. Hari AIDS Sedunia. Jika perlu bahkan dapat dibentuk kelompok-kelompok diskusi dengan substansi tertentu (misalnya Kelompok Diskusi Penyakit Degeneratif. 4. rumah sakit dapat menyelenggarakan forum-forum diskusi kecil (10-20 orang). kemudian rumah sakit menyediakan tempat untuk berlatih dan instruktur. balai penelitian tanaman obat. saat ini semakin marak kegiatan senam di tengah masyarakat. 3. Kalaupun rekreasi itu dilakukan ke tempat-tempat wisata. dan lain-lain. Mereka yang berminat didaftar dan diminta membayar kontribusi sejumlah tertentu. posyandu. bahkan Hari Kemerdekaan Indonesia. Lokakarya. Penyelenggaraan Acara Rekreasi Rekreasi juga dipercaya sebagai salah satu jalan ke luar untuk mencegah stres. Jika demikian. instalasi pengolahan limbah cair rumah sakit. pesantren sehat. dan lokakarya belum dapat diselenggarakan. Seminar. kiranya dapat dipadukan dengan kegiatan diskusi kesehatan di alam terbuka. Pengelolaan Kelompok Senam Dengan semakin diidolakannya bentuk tubuh yang ramping tetapi sehat. 2. Pengelolaan Kelompok Paduan Suara Bernyanyi dipercaya orang sebagai salah satu jalan ke luar (outlet) untuk mencegah stres. Bagi rumah sakit hal ini tidak merupakan sesuatu yang merepotkan. Diskusi kelompok dapat diselenggarakan secara reguler ataupun sewaktu-waktu. pada gilirannya kegiatan paduan suara juga akan bermanfaat bagi masyarakat. Kelompok Diskusi Kesehatan Usia lanjut. maka rumah sakit dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat sehat yang ingin terhindar dari stres. proses pengolahan makanan yang sehat. instalasi penjernihan air. Misalnya.

Demikian juga rekrutmen dan pembinaan terhadap mereka yang membantu mengelola pelayanan-pelayanan pemberdayaan seperti misalnya moderator diskusi. Untuk perokok yang ingin mengakhiri kebiasaan merokoknya. Senam Kecantikan. dan para petugas konseling. Selain kompeten dalam urusan/tugas yang diembannya. bahkan juga Senam Balita. Kegiatan-kegiatan bina suasana tambahan yang dimaksud di sini adalah terutama pemanfaatan ruang yang ada guna mendorong terciptanya sikap dan perilaku yang diharapkan dalam diri klien. Namun demikian. Sebagaimana pada kelompok diskusi atau kelompok paduan suara. bukan berarti bahwa kegiatan-kegiatan bina suasana lainnya tidak perlu dilakukan di sini. maka dapat dilakukan beberapa hal berikut: 1. Untuk para remaja dapat dibuka Konseling Kesehatan Remaja atau Konseling Pendidikan Seks. mereka juga harus konsisten melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Penampilan mereka juga harus mencerminkan kompetensinya. pemandu rekreasi. Mereka ini diharapkan menjadi teladan yang baik bagi para kliennya dalam hal pengetahuan. Senam Kebugaran Usia Lanjut. sikap dan perilaku. Pemasangan poster di dinding-dinding. 5. seperti misalnya: instruktur senam harus tampak langsing. Kepada para wanita usia subur dapat diberikan pelayanan Konseling Keluarga Berencana. BINA SUASANA Pihak yang berpengaruh terhadap klien sehat terutama adalah para petugas rumah sakit dan mereka yang direkrut oleh rumah sakit untuk mengelola pelayanan-pelayanan dalam rangka pemberdayaan. Khusus bagi pekerja keras dan mereka yang rawan stres. Berbagai kelompok senam dapat dibentuk seperti misalnya Senam Hamil. instruktur senam. sehat dan ceria. untuk kemudian menyediakan fasilitas dan instruktur. Kegiatan-kegiatan bina suasana lainnya diperlukan untuk lebih memperkuat pengaruh yang sudah dikembangkan oleh para petugas. bugar.tentunya juga dapat menangkap peluang ini dengan menawarkan pelayanan kelompok-kelompok senam. Kepada kelompok berusia lanjut dapat ditawarkan Konseling Kesehatan Usia. Kepada para orang tua muda dapat ditawarkan Konseling Ayah-Bunda. dapat ditawarkan Konseling Mencegah/Mengatasi Stres. 13 . Pelayanan Konseling Banyak pelayanan konseling dapat diselenggarakan rumah sakit bagi klien sehat. Untuk itu. Kepada calon-calon pengantin dapat dibuka Konseling Pranikah. dapat diselenggarakan Konseling Berhenti Merokok. rumah sakit dapat mendaftar mereka yang berminat. baik dalam bentuk cetakan maupun neon box atau bentuk-bentuk lain. Oleh karena itu pembinaan terhadap petugas rumah sakit yang bertugas di sini menjadi sangat penting. instruktur paduan suara.

dan lain sebagainya. tentu diperlukan advokasi terhadap mereka. peraturan tentang rumah sakit sebagai Kawasan Tanpa Rokok. Penyediaan. 3. walaupun tidak tertutup kemungkinan adanya klien sehat dari segmen masyarakat miskin. pembuatan taman obat keluarga. seperti misalnya Keputusan Gubernur/Bupati/Walikota atau Peraturan Daerah. Penambahan anggaran untuk melayani klien sehat mungkin memerlukan upaya meyakinkan para penentu anggaran rumah sakit tentang pentingnya pelayanan-pelayanan bagi klien sehat. Oleh karena itu diperlukan advokasi kepada Gubernur/Bupati/Walikota dan DPRD. dan lain-lain yang berada dalam kawasan rumah sakit. Untuk itu diperlukan advokasi terhadap Pemerintah (Pusat atau Daerah) dan DPRD. dan lain-lain. dukungan yang diharapkan oleh rumah sakit dalam pemberdayaan klien sehat terutama adalah adanya kebijakan atau peraturan perundang-undangan yang dapat menjadi rambu-rambu perilaku bagi mereka.2. pemasangan baliho/billboard. tempat ibadah. Misalnya tentang pentingnya melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Oleh karena itu. 4. Penyediaan perpustakaan atau ruang dan bahan-bahan bacaan. boleh jadi juga rumah sakit memerlukan tambahan dana dalam rangka pengembangan pelayanan atau pemberdayaan klien sehat. Sedangkan sarana-sarana di luar gedung rumah sakit dapat berupa kantin atau warung dan toko/kios. peraturan tentang menjaga kesopanan dan ketertiban di kawasan rumah sakit. Dengan demikian sesungguhnya tersedia banyak cara untuk melaksanakan promosi kesehatan di luar gedung rumah sakit. sehingga di tempat parkir sebaiknya dilakukan PKRS yang bersifat umum. yaitu: PKRS DI TEMPAT PARKIR Tempat parkir rumah sakit dapat berupa lapangan parkir atau gedung/bangunan parkir (termasuk basement rumah sakit). ADVOKASI Pada umumnya klien sehat datang dari segmen masyarakat mampu. informasi-informasi yang diperlukan. Misalnya peraturan tentang menjaga kebersihan lingkungan rumah sakit. Kebijakan atau peraturan-peraturan semacam ini akan lebih kuat pengaruhnya jika datang dari pembuat kebijakan di atas rumah sakit. PELAKSANAAN PROMOSI KESEHATAN DI LUAR GEDUNG RUMAH SAKIT Peluang PKRS di luar gedung rumah sakit pada hakikatnya berupa pemanfaatan media luar ruang dan pemanfaatan sarana-sarana di luar gedung rumah sakit untuk promosi kesehatan. Sedangkan jika tambahan dana itu diharapkan datang dari para donatur atau dunia usaha. Pemanfaatan media luar ruang dapat berupa pemasangan spanduk. Seruan Presiden 14 . VCD/DVD player dan televisi yang menayangkan. Semua kategori klien rumah sakit dapat dijumpai di tempat parkir. pemasangan neon box. Penyediaan leaflet atau selebaran atau bahan-bahan informasi lain yang dapat diambil secara gratis. Penyelenggaraan pameran yang secara berkala diganti topik dan bahan-bahan pamerannya. 5. Namun demikian.

Hari Tanpa Tembakau Sedunia. maka pesan-pesan tersebut dapat ditampilkan dalam bentuk baliho/billboard atau balon udara di sudut lapangan dan neon box diatap bangunan gardu parkir. di dinding luar rumah sakit juga dapat ditampilkan pesan-pesan promosi kesehatan. kacang-kacangan. Banyak jenis tanaman berkhasiat obat yang dapat ditanam di TOGA rumah sakit. Bahkan di taman rumah sakit itu pun dapat ditampilkan berbagai hewan sumber protein hewani (kalau tidak mau repot. kelinci. Hari AIDS. Pengaturan dalam pemasangan media komunikasi ini harus dilakukan dengan konsultasi kepada ahlinya. Taman-taman di halaman rumah sakit memang diperlukan guna memperindah pemandangan di sekitar rumah sakit. atau pun di belakang gedung rumah sakit. bahaya mengonsumsi minuman keras. Namun demikian perlu dicermati agar penampilan pesan ini tidak merusak keindahan gedung rumah sakit. obat generik berlogo. himbauan untuk menggunakan. Ahli pertamanan pasti dapat mengatur komposisi yang sesuai agar TOGA tersebut indah dan menarik. PKRS DI TAMAN RUMAH SAKIT Rumah sakit pada umumnya memiliki taman. di sekeliling. yang selain memiliki daun yang indah. ubi. unggas. bahaya merokok. Spanduk raksasa ini harus terbuat dari bahan 15 . dan lain-lain. Oleh karena itu disarankan untuk sebaiknya memasang hanya 1 . Jika tempat parkir rumah sakit berupa lapangan. maka taman-taman tersebut dapat dikatakan sebagai Taman-taman Obat Keluarga (TOGA). pohon buah. Namun demikian taman-taman rumah sakit ini sebenarnya dapat pula digunakan sebagai sarana memperkenalkan berbagai jenis tanaman yang berkhasiat obat. pesan-pesan tersebut sebaiknya disajikan dalam bentuk neon box yang dipasang di beberapa sudut ruang parkir.2 spanduk raksasa (giant banner) di dinding luar rumah sakit. dapat diwujudkan dalam bentuk patung-patung). Jika tempat parkir berupa bangunan (termasuk basement). PKRS DI DINDING LUAR RUMAH SAKIT Pada waktu-waktu tertentu. Dalam hal ini pun konsultasi perlu dilakukan kepada ahlinya agar pesan-pesan mudah ditangkap dan memperindah ruang parkir. Jika demikian. kedelai dan lain-lain. juga bunga dan bahkan buah yang menarik.tentang Kesehatan. baik di halaman depan. seperti ikan. dan lain-lain. sehingga mudah ditangkap oleh mereka yang berada di lapangan parkir. tanpa merusak keindahan lapangan tersebut. dan lain-lain. tetapi sekaligus juga informatif (misalnya dengan diberi label kecil di dekat tiap jenis tanaman). Taman tidak hanya dapat digunakan untuk menginformasikan jenis-jenis tanaman berkhasiat obat. seperti wortel. misalnya pada Hari Kesehatan Nasional. bahaya menyalahgunakan napza. Kolam beserta ikan-ikan sungguhan juga dapat dibuat guna menambah keindahan taman. jagung. Di taman rumah sakit juga dapat sekaligus ditunjukkan jenis-jenis tanaman dengan kandungan gizinya.

di kantin. Pemasangan spanduk di pagar ini pun harus diperhitungkan dengan cermat. Juga. Oleh sebab itu. dan lain-lain. toko atau kios yang menyediakan berbagai kebutuhan pengunjung rumah sakit. seperti musholla. spanduk-spanduk di pagar ini pun juga harus selalu dicek jangan sampai sobeksobek atau lepas tertiup angin. sebaiknya ditampilkan pesan-pesan yang berkaitan dengan konsumsi gizi seimbang. spanduk raksasa tersebut harus segera diturunkan. Adapun pesan-pesan yang 16 . di kios bacaan ditampilkan pesan tentang bagaimana membaca secara sehat (agar tidak merusak mata). sebagaimana halnya spanduk raksasa di dinding luar rumah sakit. brosur atau selebaran yang dapat diambil secara gratis. setelah rentang waktu acara selesai. spanduk-spanduk di pagar harus segera diangkat agar tidak sempat rusak dan menganggu keindahan pagar serta penampilan rumah sakit. dapat dipasang spanduk-spanduk biasa (normal). PKRS DI TEMPAT IBADAH Tempat ibadah yang tersedia di rumah sakit biasanya berupa tempat ibadah untuk kepentingan individu atau kelompok kecil. dan leaflet. di pagar pembatas sekeliling kawasan rumah sakit. pura. PKRS DI KANTIN/KIOS DI KAWASAN RUMAH SAKIT Tidak jarang di kawasan rumah sakit juga terdapat kantin. Selain itu. Tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa di kawasan rumah sakit juga berdiri tempat ibadah yang lebih besar seperti masjid. Bentuk media komunikasi yang cocok untuk sarana sarana ini adalah poster atau neon box. khususnya yang berbatasan dengan jalan. Misalnya. Untuk ruangan yang lebih besar seperti kantin atau toko buku. Alangkah baiknya jika pesan-pesan yang ditampilkan di sarana-sarana tersebut disesuaikan dengan fungsi sarana. sehingga tidak merusak keindahan pagar. pesan-pesan kesehatan dapat disampaikan dalam bentuk pemasangan poster atau penyediaan leaflet. tentu dapat pula ditayangkan VCD/DVD atau dibuatpameran kecil di sudut ruangan. PKRS DI PAGAR PEMBATAS KAWASAN RUMAH SAKIT Seiring dengan pemasangan spanduk raksasa di dinding luar rumah sakit. Di tempat ibadah kecil tentu tidak dilakukan khotbah atau ceramah. gereja. Jika rentang waktu acara sudah selesai. agar tidak sampai rusak dan mengganggu keindahan gedung rumah sakit. brosur atau selebaran yang dapat diambil secara gratis. dan lain sebagainya. Sarana-sarana ini sebaiknya juga dimanfaatkan untuk PKRS.yang tidak mudah sobek dan dipasang sedemikian rupa sehingga tidak diterbangkan angin. warung.

Unit ini sebaiknya berada pada posisi yang dapat menjangkau seluruh unit yang ada di rumah sakit. Bentuk kegiatan: a. Untuk itu sudah barang tentu harus dilakukan terlebih dulu pendekatan kepada pemberi khotbah sebelum khotbah dilaksanakan. selain dilakukan pemasangan poster dan penyediaan leaflet. yaitu: 1. untuk itu di perlukan kesamaan persepsi dan sikap mental yang positif terhadap PKRS. Kegiatan ini penting oleh karena suatu kegiatan tanpa mendapat dukungan dari para stakeholder rumah sakit akan tidak dapat memberikan dampak yang optimal. pemilik rumah sakit dan staf tentang pentingnya PKRS dilaksanakan di rumah sakit. juga dapat diselipkan pesan-pesan kesehatan dalam khotbah. Di tempat ibadah besar seperti masjid dan gereja. tujuan. sehingga fungsi koordinasinya dapat berjalan secara efektif dan efisien. Menyamakan persepsi pemahaman dan sikap mental yang positif bagi para direksi. Pertemuan jajaran Rumah Sakit yang dihadiri direksi. Dalam menyelenggarakan kegiatan PKRS tentunya di perlukan dukungan dari semua pihak. Oleh karena itu kegiatan penyamaan persepsi perlu dilaksanakan kepada para direksi.disampaikan sebaiknya berupa pesan-pesan untuk kesehatan jiwa (yang dikaitkan dengan perintah-perintah agama) dan pentingnya menjaga kebersihan/kesehatan Iingkungan. brosur atau selebaran yang dapat diambil secara gratis. Menyiapkan bentuk dan tugas kelembagaan PKRS Jika komitmen seluruh jajaran rumah sakit sudah didapat. Pengembangan sarana PKRS 5. Menyiapkan bentuk dan tugas kelembagaan PKRS 3. prinsip-prinsip. Pelaksanaan PKRS 6. Sosialisasi PKRS secara berjenjang di seluruh instalasi dan manajemen rumah sakit. b. Menyamakan persepsi pemahaman dan sikap mental yang positif bagi para direksi. Direksi kemudian membentuk unit yang akan ditugasi sebagai pengelola PKRS. perawat. Menyiapkan petugas yang memahami filosofi. apoteker. Pembinaan dan evaluasi 1. pemilik dan petugas rumah sakit 2. keluaran dari kegiatan ini adanya komitmen pelaksanaan PKRS. LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN PKRS Dalam melaksanakan pengembangan PKRS ada beberapa langkah kegiatan. pemilik rumah sakit/pemerintah maupun non pemerintah. 17 . strategi PKRS 4. tenaga adminstrasi dan petugas lainya). 2. pemilik dan petugas rumah sakit. petugas (dokter. bidan.

pengembangan media PKRS. Ukuran-ukuran kegiatan Adapun ukuran-ukuran kegiatan PKRS mengacu pada strategi promosi kesehatan secara umum yaitu dari aspek: 18 . seperti perencanaan. metode dan teknik PKRS Dalam pengelolaan PKRS keberhasilan akan dipengaruhi oleh petugas yang memahami philiosofi PKRS yang menekankan pomotif dan preventif dengan tidak mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitatif. 1 (satu) buah ruangan yang berfungsi sebagai tempat pusat manajemen PKRS b. bina suasana. tujuan. advokasi dan kemitraan dalam PKRS. 3. metode dan teknik PKRS. Oleh karena itu terlebih dahulu perlu dibuat Rencana Operasional. penerapan strategi pemberdayaan. serta target dan indikator-indikator yang ingin dicapai. Kualifikasi tenaga tersebut mengacu kepada standar minimal tenaga PKRS. Menyiapkan petugas yang memahami filosofi. adapun sarana dan prasarana yang perlu dipersiapakn Rumah Sakit antara lain: a. a. tujuan pelaksanaan PKRS dan menggunakan melaksanakan strategi dan menggunakan metode dan teknik PKRS. selanjutnya diikuti dengan penugasan sejumlah tenaga rumah sakit sebagai pengelola purnawaktu (fulltimer). pemantauan dan pelaporan. 4. Pengelola perlu dibekali pengetahuan bagaimana pengelola PKRS. Untuk itu pengelola penting dibekali dengan mengirimkan atau menyelenggarakan pelatihan bagi tenaga pengelola PKRS.Pembentukan unit dirumuskan tugas pokok dan fungsi serta tata hubungan kerja dengan instalasi lainya. Peralatan komunikasi sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1114/Menkes/SK/VIII/2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di daerah c. sikap dan perilaku pasien/klien rumah sakit serta pemeliharaan lingkungan rumah sakit dan dimanfaatkan dengan baik semua pelayanan yang disediakan rumah sakit. Pelaksanaan PKRS Pelaksanaan PKRS harus sejalan dengan tujuan yang ingin capai yaitu agar terciptanya masyarakat rumah sakit yang menerapkan PHBS melalui perubahan pengetahuan. dan dituangkan dalam keputusan direksi. strategi. identifikasi masalah dan prioritas masah. Pengalokasian anggaran untuk kegiatan operasional PKRS 5. serta memberikan kepastian jejang karir (fungsional ataupun struktural) sebagai pengelola PKRS. Pengembangan sarana PKRS Peranan sarana dan prasarana PKRS penting untuk mendukung pelaksanaan PKRS. Pelatihan ini dapat diselenggaran sendiri atupun mengirimkan petugas untuk mengikuti pelatihan di tempat lain atau dengan sistem magang pada rumah sakit yang telah melaksanakan PKRS dengan baik.

leaflet. spanduk. PPNI. lintas sektor dan lainya. alat kesehatan. asuransi kesehatan dan lainya. pabrik obat. 3) Advokasi adanya dukungan pelaksanaan PKRS. dana dan tenaga. IAKMI. c) Persentase konseling pasien rawat inap d) Persentase konseling keluarga/pendamping pasien rawat inap e) Persentase penyuluhan kelompok keluarga/pendamping dan pengunjung pasien rawat inap (penyuluhan kelompok bagi keluarga/pendamping/pengunjung adalah upaya penyuluhan yang dilakukan secara berkelompok (8-10 orang) dengan tujuan pemecahan masalah dalam upaya-upaya PHBS di rumah sakit dan rumah tangga. Kegiatan PKRS disusun dalam rangka pencapaian indikator PHBS di rumah sakit kegiatan tersebut adalah: 1) Kegiatan di rawat inap a) Persentase penyuluhan penyuluhan perorangan terhadap pasien rawat inap b) Persentase penyuluhan perorangan kelurga/pendamping pasien rawat inap. fasilitas. 2) Kegiatan di rawat jalan a) Persentase penyuluhan penyuluhan perorangan terhadap pasien rawat jalan b) Persentase konseling pasien rawat jalan c) Persentase penyuluhan perorangan kelurga/pengantar pasien rawat jalan. 4) Kemitraan adanya kemitraan melaksanaan PKRS dengan lintas sektor/unsur di luar rumah sakit seperti. 2) Bina Suasana diukur dengan keterlibatan kelompok-kelompok masyarakat rumah sakit dalam upaya PKRS. terkait. Menetapkan kegiatan dan target yang akan dilaksanakan pada instalasi/unit di rumah sakit. xbaner. dan lainlain). iklan layanan) Media cetak (poster. d) Persentase konseling keluarga/pendamping pasien rawat jalan e) Persentase penyuluhan kelompok keluarga/pengantar rawat jalan (penyuluhan kelompok bagi keluarga/pengantar adalah upaya penyuluhan yang dilakukan secara berkelompok (8-10 orang) dengan tujuan pemecahan masalah dalam upaya-upaya PHBS di rumah sakit dan rumah tangga) f) Persentase pesan media terhadap 10 kasus penyakit tertinggi di rawat jalan (pesan media mencakup informasi tenang upaya-upaya PHBS 19 . f) Persentase pesan media terhadap kasus-kasus penyakit di rawat inap (pesan media mencakup informasi tentang upaya-upaya PHBS dalam pencegahan dan penularan penyakit. sedangkan kasus-kasus adalah segala jumlah penyakit yang di tangani di rawat inap dalam satu tahun) pesan media dapat disampaikan melalui: media elektronik (tv spot. PERSAGI.1) Pemberdayaan masyarakat dapat mengukur seberapa besar tingkat partisipasi dan kepedulian masyarakat rumah sakit. IDGI. Peraturan. seperti keterlibatan ketua IDI. IBI. b.

spanduk. Media cetak. baliho. iklan layanan. pesan media dapat disampaikan melalui: media elektronik. jumlah pesan kesehatan yang disampaikan lewat khotbah. halaman rumah sakit. Masjid/Mushola. leaflet. dan lain-lain. xbaner. enam bulanan dan tahunan secara berjenjang. spanduk. tv spot. tv spot. triwulanan. 20 . a) Jumlah upaya PHBS dalam upaya aktivitas fisik (senam bersama. 3) Kegiatan di sarana instalasi penunjang medis a) Persentase penyuluhan penyuluhan perorangan terhadap pengunjung medis b) Persentase penyuluhan kelompok pengunjung (penyuluhan kelompok bagi pengunung adalah upaya penyuluhan yang dilakukan secara berkelompok (8-10 orang) dengan tujuan pemecahan masalah dalam upaya-upaya PHBS di rumah sakit dan rumah tangga) c) Persentase pesan media terhadap upaya-upaya PHBS di instalasipenunjang Medis. dll c) Bagi rumah sakit tersedia tempat ibadah/Masjid/Mushola. Pembinaan hendaknya dilakukan terhadap perkembangan dari masukan (input). Media cetak. jogging dsb) yang melibatkan masyarakat rumah sakit b) Persentase pesan media terhadap 10 kasus penyakit tertinggi di rawat jalan (pesan media mencakup informasi tenang upaya-upaya PHBS dalam pencegahan dan penularan penyakit.dalam pencegahan dan penularan penyakit. iklan layanan. poster. Media cetak. baliho. dan keluaran (output). atau ceramah yang berkaitan dengan keagamaan. Membuat sistem informasi PKRS Pengelolaan PKRS akan dapat berjalan dengan baik diperlukan system inforasi yang handal bentuk-bentuk system informasi yang dibutuhkan dalam pengelolaan PKRS adalah dengan memperhatikan tata hubungan kerja antar instalasi/unit dan dapat juga terintegrasi dengan system yang ada. 4) Kegiatan di sarana umum (tempat parkir. leaflet. dalam satu tahun). proses.tv spot. dengan menggunakan indikatorindikator tertentu. c. xbaner. pesan media dapat disampaikan melalui: media elektronik. Pembinaan dan evaluasi Pembinaan dalam upaya kesinambungan PKRS merupakan tugas manjemen rumah sakit. Hasil kegiatan dijadikan masukan dalam mengevaluasi kegiatan PKRS. 1) Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan laporan PKRS antara lain: Kasus 2) Jumlah kasus 3) Kasus yang diintervensi dengan metode PKRS 4) Jumlah topik pesan media yang di sampakian 5) Frekuensi yang pesan yang di sampaikan 6. Kantin. pembinaan dilaksanakan dengan mengadakan rapat bulanan. pesan media dapat disampaikan melalui: media elektronik. iklan layanan. dan lain-lain. spanduk. poster. leaflet. dalam satu tahun). dan lain. poster. xbaner.

BOR. Ada/tidaknya komitmen Direksi yang tercermin dalam Rencana Umum PKRS. keberhasilan mencakup indikator masukan (input). dan indikator dampak (outcome). sumber daya manusia. 2. konseling. PKRS untuk Klien Sehat. Pelayanan Penunjang). dan lain-lain). yaitu masih bagus atau sudah rusak. Ada/tidaknya komitmen seluruh jajaran yang tercermin dalam Rencana Operasional PKRS. spanduk.Evaluasi pelaksanaan PKRS perlu dilakukan untuk mengetahui efektifitas PKRS terhadap indikator dampak seperti PHBS di rumah sakit. Rawat Inap. dan dana. 5. Indikator yang digunakan di sini meliputi: 1. Sudah/belum dilaksanakannya kegiatan (pemasangan poster. Oleh karena itu. baik secara umum maupun secara khusus. angka LOS. indikator yang digunakan di sini adalah berupa cakupan dari kegiatan. indikator keluaran (output). Oleh karena itu. indikator proses. INDIKATOR MASUKAN Masukan yang perlu diperhatikan adalah yang berupa komitmen. INDIKATOR KELUARAN Keluaran yang dipantau adalah keluaran dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. INDIKATOR KEBERHASILAN Indikator keberhasilan perlu dirumuskan untuk keperluan pemantauan dan evaluasi PKRS. dan tingkat infeksi nosokomial di rumah sakit. dan pihak ketiga. indikator masukan ini dapat mencakup: 1. yaitu misalnya: 21 . seperti misalnya perguruan tinggi atau lembaga penelitian. sarana/peralatan. Ada/tidaknya sarana dan peralatan promosi kesehatan yang mengacu kepada standar. Oleh karena itu. neon box. Evaluasi dapat dilakukan oleh pihak rumah sakit. INDIKATOR PROSES Proses yang dipantau adalah proses pelaksanaan PKRS yang meliputi PKRS untuk Pasien (Rawat Jalan. Ada/tidaknya dana yang mencukupi untuk penyelenggaraan PKRS. leaflet. 2. dan PKRS di Luar Gedung rumah sakit. 6. 3. dan lain-lain) dan atau frekuensinya. Ada/tidaknya Unit dan petugas RS yang ditunjuk sebagai koordinator PKRS dan mengacu kepada standar. 4. indikator. giant banner. Kondisi media komunikasi yang digunakan (poster. Ada/tidaknya petugas koordinator PKRS dan petugas petugas lain yang sudah dilatih.

yaitu melalui upaya evaluasi. Oleh sebab itu. Oleh karena itu data untuk indikator ini biasanya didapat melalui survei. dan kondisi pemanfaatan pelayanan dapat dinilai dari pengolahan terhadap catatan/data pasien/klien rumah sakit. 2. sikap dan perilaku pasien/klien rumah sakit serta terpeliharanya lingkungan rumah sakit dan dimanfaatkannya dengan baik semua pelayanan yang disediakan rumah sakit. Sedangkan kondisi pengetahuan. Survei pasien/klien yang adil adalah yang dilakukan baik terhadap pasien/klien yang berada di rumah sakit maupun mereka yang tidak berada di rumah sakit tetapi pernah menggunakan rumah sakit. senam. yaitu berubahnya pengetahuan. sikap dan perilaku pasien/klien hanya dapat diketahui dengan menilai diri pasien/klien tersebut. Apakah semua bagian dari rumah sakit sudah tercakup PKRS. kondisi ini sebaiknya dinilai setelah PKRS berjalan beberapa lama. INDIKATOR DAMPAK Indikator dampak mengacu kepada tujuan dilaksanakannya PKRS. 22 .1. Kondisi lingkungan dapat dinilai melalui observasi. Berapa pasien/klien yang sudah terlayani oleh berbagai kegiatan PKRS (konseling. biblioterapi. dan lain-lain).

com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&ved=0CDoQ FjAC&url=http%3A%2F%2Fejournal.go.TINJAUAN PUSTAKA http://ngada.htm http://www.d.php%2Fhsr%2Farticle%2F download%2F2748%2F1531&ei=Lp6GUY-9EM7HrQf3oGgDA&usg=AFQjCNFmeQZ1Qt0Ar7SQKFp1dctKkFEtHQ&sig2=BI1pwKoVC1B_ulTXl7 M2RA&bvm=bv.depkes.id%2Findex.bmk 23 .45960087.org/bn236-2012.litbang.google.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->