P. 1
plastik

plastik

4.0

|Views: 5,408|Likes:
Published by naritul

More info:

Published by: naritul on May 22, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/02/2013

pdf

text

original

PUTRI ANTOINETTE 240210070032

BAB V HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN Pengenalan Berbagai Jenis Kemasan Plastik No. 1 2 3 4 5 6 Jenis Plastik P1 P2 P3 P4 P5 P6 Deskripsi Tipis,bening,fleksibel,licin,transparan, dapat berbunyi gemerisik Agak tebal, agak licin, agak kaku, transparan, tidak terlalu berbunyi gemerisik Tipis, licin, transparansi kurang/buram, berbunyi gemerisik, lentur Licin, agak tebal, agak kaku, berbunti lembut/tidak gemerisik, transparan, lembut Bening, sangat tebal, sangat kaku, tidak berbunyi gemerisik Sangat tebal, sangat kaku, bening, tidak berbunyi gemerisik

Pengukuran Ketebalan Berbagai Jenis Kemasan Plastik Pengukuran Jenis Plastik P1 Mikrometer 1 2 3 Rata-rata Maksimal Minimal 1,375x10-3 1,4375 x10-3 1,3125 x10-3 1,375 x10-3 1,4375 x10-3 1,3125 x10-3 Jangka Sorong 7,8125 x10-4 7,8125 x10-4 7,8125 x10-4 7,8125 x10-4 7,8125 x10-4 7,8125 x10-4

Pengukuran

Jenis Plastik P2 Mikrometer Jangka Sorong 1,875 x10-3

1

6,25x10-5

2 3 Rata-rata Maksimal Minimal

1,25 x10-4 6,25x10-5 8,33 x10-5 1,25 x10-4 6,25x10-5

1,875 x10-3 1,875 x10-3 1,875 x10-3 1,875 x10-3 1,875 x10-3

Pengukuran

Jenis Plastik P3 Mikrometer Jangka Sorong 8,33 x10-4 8,33 x10-4 8,33 x10-4 8,33 x10-4 8,33 x10-4 8,33 x10-4

1 2 3 Rata-rata Maksimal Minimal

1,1875 x10-3 1,1875 x10-3 1,1875 x10-3 1,1875 x10-3 1,1875 x10-3 1,1875 x10-3

Pengukuran

Jenis Plastik P4 Mikrometer Jangka Sorong 1,667 x10-4 2,5 x10-4 1,667 x10-4 1,9445 x10-4 2,5 x10-4 1,667 x10-4

1 2 3 Rata-rata Maksimal Minimal

3,25 x10-3 3,25 x10-3 3,375 x10-3 3,29167x10-3 3,375 x10-3 3,25 x10-3

Pengukuran

Jenis Plastik P5 Mikrometer Jangka Sorong 5 x10-3 5 x10-3

1 2

4,25 x10-3 4,25 x10-3

PUTRI ANTOINETTE 240210070032

3 Rata-rata Maksimal Minimal

4,25 x10-3 4,25 x10-3 4,25 x10-3 4,25 x10-3

5 x10-3 5 x10-3 5 x10-3 5 x10-3

Pengukuran

Jenis Plastik P6 Mikrometer Jangka Sorong 0,025 0,0275 0,025 0,0258 0,0275 0,025

1 2 3 Rata-rata Maksimal Minimal

0,02 0,019 0,017 0,0186 0,02 0,017

Pengukuran Berat Berbagai Jenis Kemasan Plastik 1. Berat kertas/satuan luas Jenis plastik P1 P2 P3 P4 P5 Berat1 (gr) 0,0276 0,0681 0,0277 0,0856 0,1431 Berat2 Berat3 Berat rata-rata (gr)

(gr) (gr) 0,0277 0,0127 0,02266 0,0682 0,0682 0,06816 0,0280 0,0278 0,02783 0,0853 0,0857 0,08553 0,1424 0,1426 0,1427

Jenis plastik P1 P2 P3 P4

gr/cm2 9,04 x10-4 2,7264 x 10-3 1,1132 x 10-3 3,4212 x 10-3

gr/m2 9,04 27,264 11,132 34,212

P5

5,708 x 10-3

57,08

2. Konversi berat rata-rata pengemasan dalam Kg/cm2 dan pound per square ft (psf) 1 lb/ft2 = 4,8824 Kg/m2 Jenis Plastik P1 P2 P3 P4 P5 Kg/cm2 1,1104 x10-6 2,7264 x 10-6 1,1132 x 10-6 3,4212 x 10-6 5,708 x 10-6 1 Kg/cm2 = 0,204816 lb/ft2 Psf 2,274 x10-7 5,584 x10-7 2,28 x10-7 7,007 x10-7 1,169 x10-7

3. Massa jenis masing-masing contoh Jenis Plastik Ketebalan mikrometer P1 P2 P3 P4 P5 (cm) 1,375 x10-3 8,33 x10-3 1,1875 x10-3 3,29167 x10-3 4,25 x10-3 Volume (cm3) Density/ massa jenis (gr/cm3) 0,6587
-3

0,0344 2,0825 x10 0,0297 0,0823 0,1063 Volume (cm3)

3,2729 x10-5 0,937 1,0392 1,3424

Jenis Plastik

Ketebalan jangka sorong (cm) 7,8125 x10-4 1,875 x10-3 8,333 x10-4 1,9445 x10-3 5 x10-3

Density/ massa jenis (gr/cm3) 1,16 1,4564 1,337 1,759 1,1416

P1 P2 P3 P4 P5

0,01953 0,0468 0,0208 0,0486 0,125

PUTRI ANTOINETTE 240210070032

Identifikasi Jenis Plastik dengan Uji Nyala (Burning Test) Nomor Sampel Kemudahan Menyala P1 Mudah terbakar, pijaran P2 api tidak terlalu √ Padam sendiri √ Paraffin Bau Warna Nyala Kelakuan Api Bahan Jenis Polymer PP Sifat-sifat Plastik dalam Uji Nyala

Asap hitam, Hasil api terlalu tidak bakaran keras (putih) Hasil bakaran lengket, lelehan menetes Asap putih, Mudah warna jingga api meleleh, lelehan menetes sendiri Mudah menetes, hasil bakaran keras Jingga, asap Hasil hitam bakaran berwarna

terlihat Bau lilin Asap hitam ++++

PP

P3

-

Bau ++++

LDPE

P4

-

Bau ++

Jingga

HDPE

P5

Agak susah

++++

PVC

P6

-

Bau gosong

hitam Api kuning, Lengket asap putih (meleh tapi tidak menetes), kehitaman

PET

tidak berpijar, hasil bakaran keras Praktikum kali ini akan menentukan deskripsi enam sampel jenis plastik yaitu Polypropylene (PP) dengan ketebalan 0,1 mm (P1) dan 0,3 mm (P2), LDPE, HDPE, PVC, dan PET. Dari hasil pengamatan, jenis-jenis plastik memiliki sifat berbeda, hal ini karena plastik berisi beberapa aditif yang diperlukan untuk memperbaiki sifatsifat fisiko kimia plastik itu sendiri. Bahan aditif yang sengaja ditambahkan itu disebut komponen non plastik, diantaranya berfungsi sebagai pewarna, antioksidan, penyerap cahaya ultraviolet, penstabil panas, penurun viskositas, penyerap asam, pengurai peroksida, pelumas, peliat, dan lain-lain. Bahan kemasan plastik dibuat dan disusun melalui proses yang disebabkan polimerisasi dengan menggunakan bahan mentah monomer, yang tersusun sambung-menyambung menjadi satu dalam bentuk polimer. Kemasan plastik memiliki beberapa keunggulan yaitu sifatnya kuat tapi ringan, inert, transparan, tidak karatan, selektif dalam permeabilitasnya terhadap uap air, O2, CO2, dan bersifat termoplastis (heat seal) serta dapat diberi warna. Kelemahan bahan ini adalah adanya zat-zat monomer dan molekul kecil lain yang terkandung dalam plastik yang dapat melakukan migrasi ke dalam bahan makanan yang dikemas. Berbagai jenis bahan kemasan lemas seperti misalnya polietilen, polipropilen, nilon poliester dan film vinil dapat digunakan secara tunggal untuk membungkus makanan atau dalam bentuk lapisan dengan bahan lain yang direkatkan bersama. Syarief et al., (1989) membagi plastik menjadi dua berdasarkan sifat-sifatnya terhadap perubahan suhu, yaitu: termoplastik: meleleh pada suhu tertentu, melekat mengikuti perubahan suhu dan mempunyai sifat dapat balik (reversibel) kepada sifat aslinya, yaitu kembali mengeras bila didinginkan. Thermoplastik adalah plastik yang dapat dilunakkan berulangkali dengan menggunakan panas, antara lain polietilen,

PUTRI ANTOINETTE 240210070032

polipropilen, polistiren dan polivinilklorida. termoset: tidak dapat mengikuti perubahan suhu (irreversibel). Bila sekali pengerasan telah terjadi maka bahan tidak dapat dilunakkan kembali. Pemanasan yang tinggi tidak akan melunakkan termoset melainkan akan membentuk arang dan terurai karena sifatnya yang demikian sering digunakan sebagai tutup ketel, seperti jenis-jenis melamin, phenol formaldehid dan urea formaldehid. Plastik jenis termoset tidak begitu menarik dalam proses daur ulang karena selain sulit penanganannya juga volumenya jauh lebih sedikit (sekitar 10%) dari volume jenis plastik yang bersifat termoplastik. Berikut sampel plastik yang diamati dalam praktikum : POLYPROPILEN Sampel P1 dan P2 merupakan jenis PP, tetapi karena ketebalannya berbeda (P1 berketebalan 0,1 mm dan P2 0,3 mm) , maka tampak sedikit berbeda secara visual. Polipropilen sangat mirip dengan polietilen dan sifat-sifat penggunaannya juga serupa. Monomer polypropilen diperoleh dengan pemecahan secara thermal naphtha (distalasi minyak kasar) etilen, propylene dan homologues yang lebih tinggi dipisahkan dengan distilasi pada temperatur rendah. Dengan menggunakan katalis Natta-Ziegler polypropilen dapat diperoleh dari propilen. ringan (densitas 0.9 g/cm3) mudah dibentuk tembus pandang dan jernih dalam bentuk film, tapi tidak transparan dalam bentuk kemasan kaku Polipropilen adalah polimer dari propilen dan termasuk jenis plastik olefin, dengan rumus bangun sebagai berikut : (•CH2• CH •)n•CH3 Polipropilen mempunyai nama dagang Bexophane, Dynafilm, Luparen, Escon, Olefane dan Profax.. Menurut teori, sifat-sifat dan penggunaannya sangat mirip dengan polietilen, yaitu : lebih kuat dari PE. Pada suhu rendah akan rapuh, dalam bentuk murninya mudah

pecah pada suhu -30oC sehingga perlu ditambahkan PE atau bahan lain untuk memperbaiki ketahanan terhadap benturan. Tidak dapat digunakan untuk kemasan beku. lebih kaku dari PE dan tidak mudah sobek sehingga mudah dalam penanganan dan distribusi daya tembus (permeabilitasnya) terhadap uap air rendah, permeabilitas terhadap gas sedang, dan tidak baik untuk bahan pangan yang mudah rusak oleh oksigen tahan terhadap suhu tinggi sampai dengan 150oC, sehingga dapat dipakai untuk mensterilkan bahan pangan mempunyai titik lebur yang tinggi, sehingga sulit untuk dibentuk menjadi kantung dengan sifat kelim panas yang baik polipropilen juga tahan lemak, asam kuat dan basa, sehingga baik untuk kemasan minyak dan sari buah. Pada suhu kamar tidak terpengaruh oleh pelarut kecuali oleh HCl pada suhu tinggi PP akan bereaksi dengan benzen, siklen, toluen, terpentin dan asam nitrat kuat cukup mengkilap Plastik PP memiliki panas jenis lebih rendah dibandingkan dengan HDPE dan PE. PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Simbol bahan yang terbuat dari PP seperti gambar berikut :

LOW DENSITY POLYETHYLEN (LDPE) Dari hasil pengamatan, LDPE lebih lentur (fleksibel) dibanding HDPE (modulus Young 20.000-30000 psi, dan kuat tarik 1200-2000 psi), tapi karena LDPE memiliki derajat elongasi yang tinggi (400-800%) maka plasik ini mempunyai kekuatan terhadap kerusakan dan ketahanan untuk putus yang tinggi. Titik lelehnya berkisar antara 105-115oC. Sifat mekanis jenis plastik LDPE menurut teori adalah kuat, agak tembus

PUTRI ANTOINETTE 240210070032

cahaya, fleksibel dan permukaan agak berlemak. Pada suhu di bawah 60oC sangat resisten terhadap senyawa kimia, daya proteksi terhadap uap air tergolong baik, akan tetapi kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen, sedangkan jenis plastik HDPE mempunyai sifat lebih kaku, lebih keras, kurang tembus cahaya dan kurang terasa berlemak. LDPE dihasilkan dengan cara polimerisasi pada tekanan tinggi, mudah dikelim dan harganya murah. Dalam perdagangan dikenal dengan nama alathon, dylan dan fortiflex. LDPE digunakan untuk film, mangkuk, botol dan wadah/kemasan. LDPE (low density polyethylene) juga biasa dipakai untuk tempat makanan dan botolbotol yang lembek. Barang-barang dengan kode 4 dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan kode 4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan Bahan ini terbuat dari minyak bumi. Sifatnya kuat, agak tembus cahaya, fleksibel, dan permukaannya agak berlemak. Pada suhu di bawah 60°C, sangat resisten terhadap senyawa kimia. Meski punya daya proteksi terhadap uap air baik, akan tetapi kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen. Berikut symbol LDPE pada bahan yang terbuat dari plastic LDPE:

HIGH DENSITY POLYETHYLEN (HDPE) Dari hasil pengamatan, high density memiliki sifat bahan yang lebih kuat, tebal dan kaku. Hal ini karena pada polietilen jenis low density terdapat sedikit cabang pada rantai antara molekulnya yang menyebabkan plastik ini memiliki densitas yang rendah, sedangkan high density mempunyai jumlah rantai cabang yang lebih sedikit dibanding jenis low density. Ikatan hidrogen antar molekul juga berperan dalam menentukan titik leleh plastik. HDPE dihasilkan dengan cara polimerisasi pada tekanan dan suhu yang rendah (10 atm, 50-70oC). HDPE lebih kaku dibanding LDPE, tahan terhadap suhu tinggi sehingga dapat digunakan untuk produk yang akan disterilisasi. Dalam perdagangan dikenal dengan nama alathon, alkahtene, blapol, carag, fi-fax,

hostalon. HDPE (high density polyethylene) biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu, tupperware, dan galon air minum. Sama seperti PET, HDPE juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian. Sebab senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu dan itu berbahaya bagi kesehatan kita. Dalam beberapa produk plastik dicantumkan simbol seperti dibawah ini.

POLIVINIL KLORIDA (PVC) Dari hasil pengamatan, plastik jenis ini bersifat tebal tetapi masih sedikit fleksibel karena ada bahan pemlastis. Kemasan PVC dapat berupa kemasan kaku atau kemasan bentuk. Beberapa jenis PVC adalah : a. Plasticized Vinyl Chlorida Bahan pemlastis yang digunakan adalah resin (poliester, epoksi) dan non resin (ptalat dan posfat). Digunakan untuk kemasan daging segar, ikan, buah-buahan dan sayuran. b. Vinyl Copolymer Vinyl copolimer mirip dengan plastized vinil klorida, hanya resinnya berupa polimer, sehingga dapat digunakan untuk kemasan blister pack, kosmetika dan sari buah. c. Oriented Film PVC jenis oriented film mempunyai sifat yang luwes (lunak) dan tidak mudah berkerut. Vinil klorida mempunyai sifat aliran yang baik, dan digunakan untuk bahan film atau untuk melindungi bahan yang memerlukan permeabilitas terhadap uap air dan gas yang rendah. Kopolimer vinil klorida sering mengalami kopolimerisasi dengan vinil asetat, viniliden klorida, polipropilen dan akrilonitril (vinil sianida). Sifat-sifat umum kemasan PVC adalah sebagai berikut : tembus pandang, ada juga yang keruh permeabilitas terhadap uap air dan gas rendah sehingga sesuai untuk mengemas

PUTRI ANTOINETTE 240210070032

makanan yang banyak mengandung air. tahan minyak, alkohol dan pelarut petrolium, sehingga dapat digunakan untuk kemasan, mentega, margarin dan minyak goreng kekuatan tarik tinggi dan tidak mudah sobek dipengaruhi oleh hidrokarbon aromatik, keton, aldehida, ester, eter aromatik, anhidrat dan molekul-molekul yang mengandung belerang, nitrogen dan fosfor tidak terpengaruh oleh asam dan basa, kecuali asam pengoksidasi, akan tetapi pemlastis akan terhidrolisa oleh asam dan basa pekat. densitas 1.35-1.4 g/cm3 mempunyai sifat keras, kaku, jernih dan mengkilap Bahan penstabil yang diizinkan untuk pembuatan kemasan PVC adalah dioktil-tin mercaptoasetat dan maleat. Menurut Buckle et al. (1987) permeabilitas gas PVC (seperti CO2, O2, N2) lebih rendah dibandingkan dengan HDPE, LDPE, PP, sehingga PVC cocok untuk mengemas produk yang banyak mengandung senyawa volatil (senyawa yang mudah menguap). PVC (polyvinyl chloride) simbolnya angka 3 di dalam segitiga dengan tulisan “V” di bawahnya adalah plastik yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu di-2-etil-heksiladipat (DEHA) yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. Kandungan DEHA mudah bermigrasi pada suhu 15 derajat celcius. Bahan ini berbahaya dan sulit mengalami daur ulang. Biasanya jenis ini dipakai untuk plastik pembungkus (cling wrap). PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.

POLIESTER atau POLIETILEN TEREPHTARATE (PET) PET adalah hasil kondensasi polimer etilen glikol dan asam treptalat,dan dikenal dengan nama dagang mylar. Jenis plastik ini banyak digunakan dalam laminasi terutama untuk meningkatkan daya tahan kemasan terhadap kikisan dan sobekan sehingga banyak digunakan sebagai kantung-kantung makanan. Rumus kimia PET adalah : [-OOC- - COO – CH2 – CH2]n Ada 3 (tiga) jenis plastik PE, yaitu : - PET biasa tanpa laminasi - PET yang mengkerut jika kena panas - PET yang dilaminasi untuk kemasan vakum. Sifat-sifat plastik PET secara umum adalah : tembus pandang (transparan), bersih dan jernih tahan terhadap suhu tinggi (300°C) permeabilitasnya terhadap uap air dan gas rendah tahan terhadap pelarut organik seperti asam-asam organik dari buah-buahan, sehingga dapat digunakan untuk mengemas minuman sari buah. tidak tahan terhadap asam kuat, fenol dan benzil alkohol. kuat dan tidak mudah sobek tidak mudah dikelim dengan pelarut Contoh kemasan plastik kaku yang ada di pasaran adalah botol, jerigen, drum, komplang, gelas, ember dan wadah lainnya. Wadah kaku ini dibuat dengan pencetakan injeksi atau dengan hembusan. PET (polyethylene terephthalate) simbolnya angka 1 di dalam segitiga, tulisan PETE dibawahnya, biasa dipakai untuk botol plastik yang

PUTRI ANTOINETTE 240210070032

jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus,isotonic, gelas plastik dan hampir semua botol minuman lainnya. Kemasan dengan angka 1 ini berarti mengandung 30% PET. Botol-botol dengan bahan PET dan HDPE direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret. Panas akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol bermigrasi ke makanan atau minuman.

Pada praktikum, selembar plastik dipotong dengan ukuran 5x5cm (luas 25 cm2). kemudian ditimbang. Dari hasil yang didapat, dilakukan perhitungan gramatur dan densitas. Gramatur adalah nilai yang menunjukkan bobot bahan per satuan luas bahan (g/m2), sedangkan densitas atau bobot jenis adalah nilai yang menunjukkan bobot bahan per satuan volume (g/cm3). Gramatur ditentukan dengan menimbang contoh bahan dan membagi bobot dengan luasannya melalui persamaan berikut: Gramatur (g/m2) = bobot contoh (g) x 10000 cm2 25 cm2 1 m2 Densitas (g/cm3) diperoleh dengan membagi gramatur plastik (g/cm2) dengan tebal plastik (cm) atau berat rata-rata plastic dibagi dengan volume. Tebal bahan diukur menggunakan mikrometer sekrup dan jangka sorong di tiga tempat yang berbeda pada satu lembar contoh bahan dan diambil nilai rata-ratanya. Jika satu lembar plastik terlalu tipis, maka plastik dilipat beberapa lapisan sampai terbaca pada alat ukur (micrometer atau jangka sorong), setelah itu hasil pengukuran dibagi oleh banyaknya lipatan. Data perhitungan gramature dan densitas plastik dapat dilihat pada tabel hasil pengamatan. Berdasarkan data tersebut, plastik PVC lebih tebal dan lebih berat dibandingkan dengan jenis plastik lain yang diuji. Demikian juga dengan nilai gramatur dan densitasnya. Hal ini dapat disebabkan karena pada PVC terdapat formasi rantai lurus, sehingga densitasnya tinggi. PVC dihasilkan dari proses polimerisasi dengan adisi HCl yang menghasilkan polimer rantai lurus dengan ikatan ganda. Hal ini meningkatkan derajat kristalinitas dan titik lunak,

karena energi yang diperlukan untuk melepaskan ikatan sekunder antara rantai (jaraknya tidak jauh dan tidak tersusun secara kuat) adalah besar. Menurut teori, LDPE mempunyai densitas antara 0,915 sampai 0,939 g/cm3, tidak jauh berbeda dari hasil praktikum yaitu 0,937. Sedangkan HDPE mempunyai densitas sebesar > 0,940 g/cm3, dari data praktikum didapatkan 1,0392 g/cm3 sehingga tidak begitu jauh dari teori. Menurut teori, densitas PVC berkisar antara 1,38 – 1,41 g/cm3, dari praktikum didapatkan 1,342 g/cm3 (sesuai teori). Densitas PP menurut teori berkisar antara 0,90 – 0,91 g/cm3, dari praktikum PP berketebalan 0,1mm sebesar 0,6587 dan PP berketebalan 0,3 mm sebesar 3,279x10-5 g/cm3. Ternyata densitas PP dengan tebal 0,3 mm tidak sesuai teori. Hal ini disebabkan karena kesalahan dalam pengukuran ketebalan atau kesalahan dalam penimbangan. Pengukuran nilai densitas pada plastik sangat penting, karena densitas dapat menunjukkan struktur plastik secara umum. Aplikasi dari hal tersebut yaitu dapat dilihat kemampuan plastik dalam melindungi produk dari beberapa zat seperti air, O2 dan CO2. Birley, et al. (1988), mengemukakan bahwa plastik dengan densitas yang rendah menandakan bahwa plastik tersebut memiliki struktur yang terbuka, artinya mudah atau dapat ditembusi fluida seperti air, oksigen atau CO2. Jadi nilai densitas plastik sangat penting dalam menentukan sifat-sifat plastik yang berhubungan dengan pemakaiannya. Dalam perdagangan mungkin digunakan satuan gramatur, karena satuan ini cukup mewakili pihak produsen (berat plastik) dan konsumen (luas plastik). Dalam praktikum, dilakukan identifikasi jenis plastik dengan uji nyala. Satu lembar plastik dibakar pada salah satu ujungnya. Pengamatan dilakukan terhadap kemudahan terbakar (kemudahan api menyala), kemudahan api padam sendiri, bau hasil pembakaran, warna nyala api dan asap, serta kelakuan bahan selama pembakaran. Dari hasil pengamatan, jenis plastik yang paling mudah terbakar dari semua jenis bahan plastik yang diteliti adalah jenis polietilen (LDPE), bahkan pada LDPE ini, saat sumber api dijauhkan tidak mati. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa PE dengan massa jenis 38 mempunyai konduktivitas thermal 0.046, sedangkan PVC dengan massa jenis 35 memiliki konduktivitas

PUTRI ANTOINETTE 240210070032

thermal 0.028. Jadi wajar saja LDPE lebih mudah terbakar, karena bahan plastik ini mempunyai daya penghantar panas yang lebih tinggi dibandingkan dengan PVC.

BAB VI KESIMPULAN HDPE memiliki sifat bahan yang lebih kuat, dan kaku dibanding LDPE karena HDPE mempunyai jumlah rantai cabang yang lebih sedikit dibanding LDPE Densitas PP dengan tebal 0,3 mm tidak sesuai teori. Hal ini disebabkan karena kesalahan dalam pengukuran ketebalan atau kesalahan dalam penimbangan Plastik PVC lebih tebal dan lebih berat dibandingkan dengan jenis plastik lain yang diuji karena pada PVC terdapat formasi rantai lurus Densitas dapat menunjukkan struktur plastik secara umum LDPE lebih mudah terbakar, karena bahan plastik ini mempunyai daya penghantar panas yang lebih tinggi dibandingkan dengan PVC

DAFTAR PUSTAKA Anonima.Available at : http://www.indocina.net/viewtopic.php (diakses tanggal : 6 Maret 2009) Anonimb.2008.Available at : http://cybertravel.cbn.net.id (diakses tanggal : 6 Maret 2009) Anonimc.2008.Kenali Anonimd.2008.Masalah rl.blogspot.com Anonime.2008.Plastik. Available at : http://www.distributorplastik.com Buckle, K.A., R.A. Edward, G.H. Fleet, dan M. Wooton. 1987.Ilmu Pangan. Diterjemahkan oleh H. Purnomo dan Adiono.Penerbit Univesitas Indonesia, Jakarta Bierley, A.W., R.J. Heat and M.J. Scott, 1988, Plastic Materials Properties and Aplications. cations. Chapman and Hall Publishing, New York. Mimi Nurminah. 2002. Penelitian Sifat Berbagai Bahan Kemasan Plastik dan Kertas Serta Pengaruhnya terhadap Bahan yang dikemas. Available at : http://www.iptek.net.id (diakses tanggal: 6 Maret 2008) Kode Kemasan Bahan Plastik. Available at : at : http://harisxyz.wordpress.com (diakses tanggal : 6 Maret 2009) Plastik.Availablle http://fkpa-

PUTRI ANTOINETTE 240210070032

Jawaban Pertanyaan Adakah perbedaan yang mencolok antara sesama contoh? Jika ya, terangkan sebabnya ! Jawab : Ya, ada. Plastik jenis P1 dan P2 merupakan jenis plastik PP. Tetapi secara visual terlihat berbeda. Hal ini karena ketebalannya berbeda. Jenis P1 mempunyai ketebalan 0,1 mm sedangkan P2 ketebalannya 0,3 mm. Sehingga plastik P1 lebih kaku dibanding P2. Selain itu plastik HDPE (sampel P4) dan LDPE (sampel P3) juga berbeda walaupun keduanya termasuk plastik jenis PE. Hal ini lebih sedikit dibanding LDPE karena struktu plastic secara kimia yaitu HDPE mempunyai jumlah rantai cabang yang

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->