P. 1
referat appendiks

referat appendiks

|Views: 43|Likes:
Published by laod_
aa
aa

More info:

Published by: laod_ on Jul 31, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/21/2014

pdf

text

original

REFERAT APPENDISITIS AKUT

Pembimbing: dr. Aladin S. Johan, Sp.B

Oleh: Nama: Primarini Kusuma Dewi A. NPM: 1102009218

BAGIAN ILMU BEDAH RSUD KABUPATEN BEKASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI 2013-2014

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim, Assalammu’alaikum Wr. Wb. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan ridho-Nya,sehingga penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul ”APPENDISITIS AKUT” ini. Referat ini disusun dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik Ilmu Bedah di RumahSakit Umum Daerah Kabupaten Bekasi. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnyakepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian referat ini. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan referat ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, untuk perbaikan lebih lanjut. Akhir kata dengan mengucapkan Alhamdulillah, semoga referat ini dapat bermanfaat bagi kita semua pada umumnya, dan bagi penulis pada khususnya. Wassalam.

Jakarta, April 2013

Penulis

2

...............................................................................................................16 2...............4 BAB II APPENDISITIS AKUT 2....6 2......................................................................................17 DAFTAR PUSTAKA..............................................17 2...................................19 2.....................................9 Komplikasi .............................6 Pemeriksaan Penunjang ..................................................................2 Etiologi dan Patofisiologi Appendisitis ...............................17 2................................................................................................................18 2....................................................................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR....................3 Klasifikasi Appendisitis ......10 2...................................................................................................................18 3 ...........................................................4 Manifestasi Klinis ...........................9 2.............5 Pemeriksaan Fisik .................2 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang …………………....................................................................................8 Diagnosis Banding ............................11 Komplikasi………………………………………………………………………………....10 Penatalaksanaan........19 BAB III KESIMPULAN……………………………………………………………………................5 2.........................12 2......................................................19 2............................................................................1 Anatomi dan Fisiologi Apendiks …..............................................................................................................................................7 Diagnosis .........12 Prognosis…………………………………………………………………………………....................................................................

Hampir 1/3 anak dengan Appendicitis acuta mengalami perforasi setelah dilakukan operasi. Meskipun telah dilakukan peningkatan pemberian resusitasi cairan dan antibiotik yang lebih baik. Reginald Fitz pada tahun 1886 adalah orang pertama yangmenjelaskan bahwa Appendicitis acuta merupakan salah satu penyebab utama terjadinyaakut abdomen di seluruh dunia 4 . appendicitis pada anak-anak. Peradangan akut Appendix atau Appendicitis acuta menyebabkan komplikasi yang berbahaya apabila tidak segera dilakukan tindakan bedah. maka angka kematian akan tinggi. Angka appendectomy negatif pada pasien anak berkisar 10-50%. terutama pada anak usia prasekolah masih tetap memiliki angka morbiditas yang signifikan.BAB I PENDAHULUAN Appendicitis adalah peradangan yang terjadi pada Appendix vermicularis. Diagnosis Appendicitis acuta pada anak kadangkadang sulit. Hanya 50-70% kasus yang bisa didiagnosis dengan tepat pada saat penilaian awal. Appendicitis dapat mengenai semua kelompok usia. meskipun tidak umum pada anak sebelum usia sekolah. Apabila tidak dilakukan tindakan pengobatan. Appendicitis merupakan kasus bedah akut abdomen yang paling sering ditemukan. terutama disebabkan karena peritonitis dan syok. baik dengan laparotomy maupun dengan laparoscopy. Riwayat perjalanan penyakit pasien dan pemeriksaan fisik merupakan hal yang paling penting dalam mendiagnosis Appendicitis. Appendix merupakan organ tubular yang terletak pada pangkal usus besar yang berada di perut kanan bawah dan organ ini mensekresikan IgA namun seringkali menimbulkan masalah bagi kesehatan. Semua kasus appendicitis memerlukan tindakan pengangkatan dari Appendix yang terinflamasi.

apendikularis. di belakang kolon ascendens. dan enzim proteolitik. Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut AssociatedLymphoid Tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks. musin. Meskipun fungsi apendiks sampai saat ini tidak jelas. Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya.apendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral. tinea colica.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Apendiks juga dapat terbentang retrocaecal. Lumennya menyempit di bagian proksimaldan melebar di bagian distal. apendiks terletak retroperitoneal. misalnya karena thrombosis pada infeksi. nyeri visceral pada apendisitis bermula di sekitar umbilicus. Pendarahan apendiks berasal dari a. Anatomi dan Fisiologi Apendiks merupakan organ berbentuk tabung. Jika arteri ini tersumbat.vagus yang mengikuti a. Pada kasus selebihnya. oleh karena itu. dan tinea omentum). Namun demikian pada bayi apendiks berbentuk kerucut. lebar pada pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya. apendiks akan mengalami gangrene. 5 .torakalis X. yaitu dibelakang sekum. ialah IgA. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n.retroileal. Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi.mesenterika superior dan a. Gejala klinis apendisitis ditentukan oleh letak apendiks. Namun demikian pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun karena jumlah kelenjar limfe disini sedikit sekali jika dibandingkan jumlahnya di saluran cerna atau di seluruh tubuh. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden apendisitis pada usia itu. dan pelvic Pada 65% kasus. sedangkan persarafan simpatis berasal dari n. panjangnya kira-kira10 cm dan berpangkal di sekum. Apendiks terletak di ileosekum dan merupakan pertemuan ketiga tinea koli (Tinea libera. apendiks terletak intraperitoneal.1. tetapi mukosa apendiks seperti mukosa lainnya mampu menghasilkan sekresi cairan. atau di tepi lateral kolon ascendens.

gallstone. Salmonella. sekitar 65% padakasus Appendicitis gangrenosa tanpa perforasi. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya Appendicitis adalah trauma.2.1 mL. barium yang mengering pada pemeriksaan sinar X. biji sayuran.5 mL pada distal sumbatan meningkatkan tekanan intraluminalsekitar 60 cmH. atau akibat invasi parasit seperti Entamoeba. Hal tersebut terjadi karena perubahan pada kelenjar yang mensekresi mukus. Schistosoma. biji-bijian. khususnya jika tumor berlokasi di 1/3 proksimal. Selama lebih dari 200 tahun. dan herediter. dan cytomegalovirus. Obstruksi Appendix juga dapat terjadi akibat tumor carcinoid. chicken pox. atau Ascaris. Fecalith merupakan penyebab umum obstruksi Appendix. 6 . baik lokal maupun generalisata. yaitu sekitar 20% pada anak dengan Appendicitis akut dan 30-40% pada anak dengan perforasi Appendix. cacing usus terutama Oxyuris vermicularis. Obstruksi lumen akibat adanya sumbatan pada bagian proksimal dan sekresi normal mukosa Appendix segera menyebabkan distensi. dapat disebabkanoleh infeksi Yersinia.stress psikologis. seperti measles. Penyebab yang lebih jarang adalah hiperplasia jaringan limfoid di sub mukosa Appendix. Reaksi jaringan limfatik. Insidensi Appendicitis juga meningkat pada pasien dengan cystic fibrosis. Strongyloides.2 Etiologi dan Patofisiologi Appendisitis Obstruksi Obstruksi lumen adalah penyebab utama pada Appendicitis acuta. dan Shigella. Kapasitas lumen pada Appendix normal0. Sekresi sekitar 0. dan 90% pada kasus Appendicitis acutagangrenosa dengan perforasi. corpus alienum seperti pin. dan batu cherry dilibatkan dalam terjadinya Appendicitis. Appendicitis juga dapat diakibatkan oleh infeksi virus enterik atau sistemik. Frekuensi obstruksi meningkat sejalan dengan keparahan proses inflamasi. Fecalith ditemukan pada 40% kasus Appendicitis acuta sederhana. Enterobius vermicularis.

Dengan adanya distensi. pasien akan mengalami gejala gangguan gastrointestinal ringan seperti berkurangnya nafsu makan. dapat dipikirkan diagnosis lain. Hal-hal tersebut semakin meningkatan tekanan intraluminal Appendix. Mukosa gastrointestinal termasuk Appendix.mengakibatkan nyeri yang samar-samar. Akhirnya. nyeri pada testis. nyeri somatik biasanya tertunda karena eksudat inflamasi tidak mengenai peritoneum parietale sebelum terjadi perforasi Appendix dan penyebaran infeksi. khususnya di titik Mc Burney’s. Distensi yang semakin bertambah menyebabkan mual dan muntahdalam beberapa jam setelah timbul nyeri perut. Ketika eksudat inflamasi yang berasal dari dinding Appendix berhubungan dengan peritoneum parietale. Appendix yang berlokasi di pelvis.khususnya pada anak-anak. gangguan vaskuler. sangat rentan terhadap kekurangansuplai darah. perubahan kebiasaan BAB. aliran kapiler dan vena terhambat menyebabkan kongesti vaskular. Distensi berlanjut tidak hanya dari sekresi mukosa. dan kesalahan pencernaan. serabut saraf somatik akan teraktivasi dan nyeri akan dirasakan lokal pada lokasi Appendix. dan leukositosisakibat pelepasan mediator inflamasi karena iskhemia jaringan. dan nyeri yang lebih nyata. Nyeri awal ini bersifat nyeri tumpuldi dermatom Th 10. Sejalan dengan peningkatan tekanan organ melebihitekanan vena. terjadi perforasi biasanya pada salah satu daerah infark di batas antemesenterik. Proses inflamasi segera melibatkan serosa Appendixdan peritoneum parietal pada regio ini. infark. Di awal proses peradangan Appendix. Appendix yang mengalami obstruksi merupakan tempat yang baik bagi perkembang biakan bakteri. Perforasi Appendix akan menyebabkan terjadinya abscess lokal atau peritonitis difus. Akantetapi aliran arteriol tidak terhambat. invasi bakteri. daerahdengan suplai darah yang paling sedikit akan mengalami kerusakan paling parah. Proses ini tergantung pada kecepatan progresivitas ke arah perforasi dan kemampuan tubuh pasien berespon terhadap perforasi tersebut. Nyeri pada Appendix yang berlokasi di retrocaecal dapat timbul di punggung atau pinggang. atau keduanya. nyeri difus pada perut tengah atau di bawah epigastrium. Jarang terjadi nyeri somatik pada kuadran kanan bawah tanpa didahului nyeri visceral sebelumnya. Setelah itu. Tanda perforasi Appendix mencakup peningkatan 7 . Distensi biasanya menimbulkan refleks mual. Pada Appendix yang berlokasi di retrocaecal atau di pelvis. tetapi juga dari pertumbuhan bakteri yang cepat di Appendix. atau nyeri seperti terjadi retensi urine. Anoreksia berperan penting pada diagnosis Appendicitis. mengakibatkan perpindahan nyeri yang khas ke RLQ. Jika mual muntah timbul mendahului nyeri perut. Seiring dengan peningkatan tekanan intraluminal.Distensi merangsang akhiran serabut saraf aferen nyeri visceral.muntah. peningkatan tekanan ini menyebabkan gangguan aliran sistem vaskularisasi Appendix yang menyebabkan iskhemia jaringan intraluminal Appendix. infark jaringan. yang terletak dekat ureter atau pembuluh darah testis dapat menyebabkan peningkatan frekuensi BAK. bakteri melakukan invasi ke dinding Appendix. diikuti demam. terjadi gangguan aliran limfatik sehingga terjadi oedem yang lebih hebat. Dengan bertambahnya distensi yang melampaui tekanan arteriol. takikardia. Distensi Appendix menyebabkan perangsangan serabut saraf visceral yang dipersepsikan sebagai nyeri di daerah periumbilical. Inflamasi ureter atau Vesica urinaria akibat penyebaran infeksi Appendicitis dapat menyebabkan nyeri saat berkemih. dan gangren.

Bakteri ini hanya terlihat pada orang dewasa. Bakteri yang umumnya terdapat di Appendix. Perforasi yang terjadi pada anak yang lebih tua atau remaja. Kultur intraperitonal rutin yang dilakukan pada pasien Appendicitis perforata dan non perforata masih dipertanyakan kegunaannya. Diare seringdijumpai pada anak-anak. Appendicitis. organisme yang dikultur dan kemampuan laboratorium untuk mengkultur organisme anaerob secara spesifik sangat bervariasi. lebih memungkinkan untuk terjadi abscess. sehingga tidak ada jaringan yang melokalisir penyebaran infeksi akibat perforasi. leukositosis > 14. Namun berbagai variasi dan bakteri fakultatif dan anaerob dan Mycobacteriadapat ditemukan. lebih banyak lemak. Flora padaAppendix akan tetap konstan seumur hidup kecuali Porphyomonas gingivalis. Adanya diare dapat mengindikasikan adanya abscess pelvis. Penggunaan irigasiantibiotik pada drainage rongga peritoneal dan transperitoneal masih kontroversi. dengan beberapa kasus didapatkan lebih dari 14 jenis bakteri yang berbeda dikultur pada pasien yang mengalami perforasi. Kultur peritoneal harus dilakukan pada pasien dengan keadaan imunosupresi. akibat iritasiIleum terminalis atau caecum. Flora normal pada Appendix sama dengan bakteri pada Colon normal. Peritonitis difus lebih sering dijumpai pada bayi karena bayi tidak memiliki jaringan lemak omentum. Appendicitis acuta dan Appendicitis perforasi adalah Eschericia coli dan Bacteriodes fragilis. Burkitt mengemukakan bahwa diet orang Barat dengan kandungan serat rendah. penyakit Divertikel. Appendicitis merupakan infeksi polimikroba. carcinoma Colorectal lebih sering pada orang 8 . seringkali pasien telah mengalami perbaikan. Konstipasi jarang dijumpai. Tenesmus ad ani sering dijumpai.6⁰C. Bakteriologi Flora pada Appendix yang meradang berbeda dengan flora Appendix normal.dan gejala dapat menetap hingga > 48 jam tanpa perforasi. antibiotik diberikan 7-10 hari secara intravena hingga leukosit normal atau pasien tidak demam dalam 24 jam.dibandingkan yang didapatkan dari 25% cairan aspirasi Appendix yang normal. Diduga lumen merupakan sumber organisme yang menginvasi mukosa ketika pertahanan mukosa terganggu oleh peningkatan tekanan lumen dan iskemik dinding lumen. dan pasien yang mengalami abscess setelah terapi Appendicitis. Perlindungan antibiotik terbatas 24-48 jam pada kasus Appendicitisnon perforata. Peranan lingkungan: diet dan higiene Di awal tahun 1970an. Pada Appendicitis perforata. yang terjadi dalam jangka waktu yang pendek. Apalagi. sebagai akibat dari obat-obatan atau penyakit lain. Pasien dapat tidak bergejala sebelum terjadi perforasi.suhu melebihi 38. Saat hasil kultur selesai. Flora normal Colon memainkan peranan penting pada perubahan Appendicitis acuta ke Appendicitis gangrenosa dan Appendicitis perforata. dan gula buatan berhubungan dengan kondisi tertentu pada pencernaan. Sekitar 60% cairan aspirasi yang didapatkan dari Appendicitis didapatkan bakteri jenis anaerob. Abscess tersebut dapat diketahui dari adanya massa pada palpasi abdomen pada saat pemeriksaan fisik.000. dan gejala peritonitis pada pemeriksaan fisik.

dan nyeri pada gerak aktif danpasif. mual. Pada appendicitis kataral terjadi leukositosis dan appendiks terlihatnormal. Kadang tidak ada nyeri epigastrium tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema padaapendiks. Disini nyeri dirasaakn lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan somatic setempat. 2. disertai maupun tidak disertai rangsang peritoneum local. Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema. Gejala diawali dengan rasanyeri di daerah umbilikus. Appendicitis Akut Sederhana (Cataral Appendicitis) Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa disebabkan obstruksi. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik McBurney. dan di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. anoreksia. b. Appendicitis Akut Purulenta (Supurative Appendicitis) Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edemamenyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks danmenimbulkan trombosis. Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertaidengan tanda-tanda peritonitis umum.dan keadaan lumen yang mempunyai kecenderungan untuk timbul fecalith. Burkitt mengemukakan bahwa diet rendah serat berperan pada perubahan motilitas.Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan. dan tidak ada eksudat serosa.Klasifikasi Appendisitis Adapun klasifikasi appendicitis berdasarkan klinikopatologis adalah sebagai berikut: 1. 9 . dan demamringan. flora normal. Sekresi mukosa menumpuk dalam lumen appendiks dan terjadipeningkatan tekanan dalam lumen yang mengganggu aliran limfe. Bila terdapaat perangsangan peritoneum biasanya pasien mengeluh sakit perut bila berjalan atau batuk. a. edema.hiperemia. Tindakan itu dianggap berbahaya karena bias mempermudah terjadinya perforasi. edema. defans muskuler. nyerilepas di titik Mc Burney. muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Appendisitis Akut Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang disadari oleh radang mendadak apendiks yang memberikan tanda setempat. dan kemerahan. malaise. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dindingappendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram karenadilapisi eksudat dan fibrin. hiperemia.3. mukosaappendiks jadi menebal.dengan diet seperti di atas dan lebih jarang diantara orang yang memakan makanan dengan kandungan serta lebih tinggi.

Dindingappendiks berwarna ungu. Terdapat infiltrasi sel radang limfosit daneosinofil pada sub mukosa. Pada dinding appendiks tampak daerah perforasi dikelilingi oleh jaringannekrotik. biasanya antara 4-6 jam lokasi nyeri terlokalisir di kuadran kanan bawah di titik McBurney. gejala. kolon dan peritoneum sehinggamembentuk gumpalan massa flegmon yang melekat erat satu dengan yanglainnya. 4. 3. muskularis propia. khususnya obstruksi parsial terhadap lumen. Manifestasi klinis Appendisitis akut mempunyai gejala klinis yang banyak sekali dan menyerupai penyakit lain. appendiks mengalami gangren pada bagian tertentu. 2. Appendicitis Abses Appendicitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah(pus). aliran darah arteri mulaiterganggu sehingga terjadi infrak dan ganggren. Kadang tidak ada nyeri epigastrium. Pembuluh darah serosatampak dilatasi. Tindakan itu dianggap 10 . kadang disertai rasa kram yang intermitten. hijau keabuan atau merah kehitaman. menetap. radang kronik appendiks secara makroskopik danmikroskopik. 2. Padaappendicitis akut gangrenosa terdapat mikroperforasi dan kenaikan cairanperitoneal yang purulen. subcaecal. dan serosa. tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Appendicitis Kronis Appendicitis kronis merupakan lanjutan appendicitis akut supuratif sebagaiproses radang yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan virulensirendah. maupun tes diagnostik yang akurat Gejala klinis Gejala klinis appendisitis akut adalah nyeri abdomen. Secara klasik nyeri timbul pertama kali ditengah bagian bawah epigastrium atau daerah umbilicus. Appendicitis Perforasi Appendicitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah ganggrenyang menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitisumum. lateral dari sekum. retrocaecal.c. 5. usus halus. biasanya di fossa iliaka kanan. sub mukosa danmuskularis propia mengalami fibrosis.4. Appendicitis akut gangrenosa Bila tekanan dalam lumen terus bertambah. Diagnosa appendicitis kronisbaru dapat ditegakkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kananbawah lebih dari dua minggu. dan pelvic. Appendicitis Infiltrat Appendicitis infiltrat adalah proses radang appendiks yang penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum. Selain didapatkan tandatandasupuratif. sekum. Secara histologis. Pada bebrapa kasus appendiks tidak mempunyai tanda utama. Setelah periode 12 jam. dinding appendiks menebal.

Setelah Appendectomy. Umumnya. bila skor >6 maka tindakan bedah sebaiknya dilakukan. Gejala Klinik Adanya migrasi nyeri Anoreksia Mual/muntah Nyeri RLQ Nyeri lepas Febris Leukositosis Shift to the left 11 . Skor Alvarado Semua penderita dengan suspek Appendicitis acuta dibuat skor Alvarado dan diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu.berbahaya karena mempermudah terjadinya perforasi. maka diagnosis Appendicitis diragukan. serta yangterletak retroileal dapat menyebabkan nyeri pada daerah testis. Sebagian besar pasien mengalami obstipasi pada awal nyeri perut dan banyak pasien yang merasa nyeri berkurang setelah buang air besar.defence muskuler. Diare dapat terjadi pada beberapa pasien. sebagian besar pasien mengalami vomitus hanya 1-2 kali. dapat ditemukan nyeri tekan yang difus. Obstipasi sebagian besar terjadi sebelum nyeri abdomen danmerasa bahwa defekasi dapat mengurangi rasa nyeri perutnya. Bila terjadi peritonitis. Anoreksia hampir selalu menyertai Appendicitis. biasanyasuhu naik hingga 38oC. dilakukan pemeriksaan PA terhadap jaringan Appendix dan hasil PA diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu radang akut dan bukan radang akut. Diare dapat timbul setelah terjadinya perforasi Appendix. skor <6 dan skor >6. Anoreksia hampir selalu menyertai appendicitis. Variasi letak appendiks akan menyebabkan letak nyeri yang bervariasi juga. Selanjutnya ditentukanapakah akan dilakukan Appendectomy. Bila muntah mendahului nyeri perut. Diare timbul pada beberapa pasien terutama anak-anak. Appendiks yang terletak retrosekal akan menyebabkan nyeri peda daerah sisi dan nyeri punggung. Muntah disebabkan oleh stimulasi saraf dan ileus. Muntah yang timbul sebelum nyeri abdomen mengarah pada diagnosis gastroenteritis. Value Gejala 1 1 1 Tanda 2 1 1 Lab 2 1 Total poin 10 Bila skor 5-6 dianjurkan untuk diobservasi di rumah sakit. suhu tubuh meningkat hingga >39oC. Tetapi pada keadaan perforasi. bising usus yang menurun atau hilang pada distensi abdomen. pasien mengalami demam saat terjadi inflamasi Appendix. Vomitus terjadi pada kira-kira 75% pasien tetapi tidak terus menerus. urutan munculnya gejala Appendicitis adalah anoreksia. sedangkan appendiks yang terletak pelvic akan menyebabkan nyeri pada suprapubis. Umumnya. Pada 75% pasien dijumpai muntah yang umumnya hanya terjadi satu atau dua kali saja. diikuti nyeri perut dan muntah.

Penderita Appendicitis umumnya lebih menyukai sikap jongkok pada paha kanan. Hampir semua pasien merasa nyeri pada nyeri lokal di titik McBurney’s. perubahan suara bising usus berhubungan dengan tingkatinflamasi pada Appendix. Pada penderita Appendicitis biasanya menunjukkan peningkatan nyeri dan tanda inflamasi yang khas. sehingga pada pemeriksaan jenis ini biasanya ditemukan distensi perut.5. diagnosis biasanya sering terlambat sehingga Appendicitisnya telah mengalami perforasi. dehidrasi. Kecepatan nadi dapat normal atau sedikit meningkat. Namun.karena pada sikap itu Caecum tertekan sehingga isi Caecum berkurang. Tanda Klinis Anak-anak dengan Appendicitis biasanya lebih tenang jika berbaring dengan gerakanyang minimal. kecuali pada anak dengan Appendicitis letak retrocaecal. pemeriksaan ini tidak spesifik untuk Appendicitis. pasien dapatdiobservasi dulu selama 6 jam. Pasien dengan peritonitis difus biasanya bernafas mengorok. Appendix umumnya terletak di sekitar McBurney. irritabilitas. Adanya psoas sign. Appendicitis letak retrocaecal dapat diketahui dari adanya nyeri di antara costa 12 dan spina iliaca posterior superior. khususnya pada pasien dengan pelvis abscess karena ruptur Appendix. Hal tersebutakan mengurangi tekanan ke arah Appendix sehingga nyeri perut berkurang. Pada awal perjalanan penyakit pada bayi. Namun perlu diingat bahwa letak anatomis Appendix sebenarnya dapat pada semua titik. 2. Pada beberapa kasus yang meragukan. Inspeksi Pada apendisitis akut sering ditemukan adanya abdominal swelling. dan nyeri. Selanjutnya. bayi yang tampak sepsis.hanya dijumpai gejala letargi. Pada kedua kelompok tersebut. 360⁰ mengelilingi pangkal Caecum. maka pemeriksaan rectaltoucher tidak diperlukan lagi. Tetapi pasien dengan Appendix retrocaecal menunjukkan gejala lokal yang minimal. dan anoreksia. nyeri local pada perut kanan bawah. Pemeriksaan Fisik Appendicitis Tanda-tanda vital tidak mengalami perubahan yang banyak pada appendicitis yang sederhana. pada akhirnya jarangdidiagnosis sebagai Appendicitis.Gejala Appendicitis yang terjadi pada anak dapat bervariasi. Anak yang menggeliat dan berteriak-teriak. Kenaikan temperature jarang melebihi 1⁰C. obturator sign. peradangan akut Appendix dapat dicurigai dengan adanya nyeri pada pemeriksaan rektum (Rectal toucher). Jika tanda-tanda Appendicitis lain telah positif. mulai dari yang menunjukkan kesan sakit ringan hingga anak yang tampak lesu. dan Rovsing’s sign bersifat konfirmasidibanding diagnostik. Pemeriksaan rectal toucher juga bersifat konfirmasi dibandingdiagnostik. muncul gejala muntah. Appendicitis letak pelvis dapat menyebabkan nyeri rectal. terjadi perangsangan ureter sehingganyeri yang timbul menyerupai nyeri pada kolik renal. Secara teori. demam. Pada pemeriksaan fisik. 12 . Pada Appendicitis letak retrocaecal. Diagnosis Appendicitis sulit dilakukan pada pasien yang terlalu muda atau terlalu tua.

akan didapatkan : -Nyeri tekan positif pada arah jam 9-11. terbukti proses bukan berasal dari appendiks. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah (tanda Rovsing). Pada anak-anak. Nyeri tekan dan nyeri lepas secara klasik di kuadran kanan bawah pada appendiks letak anterior yang mengalami inflamasi. ampula teraba distensi/cenderung kolaps.nyeri akan berpindah sesuai dengan pergeseran uterus. Defans muskuler menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale.Palpasi Pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan. pada appendisitis pelvika. bisa disertai nyeri lepas. misalnya pada appendisitis pelvika. Pemeriksaan tambahan (pemeriksaan khusus) 13 . karenaappendiksnya berbentuk konus atau pendek. Nyeri tekan yang maksimal terletak pada atau dekat titik McBurney. -Pada yang mengalami komplikasi. Pada appendisitis retrosekal atau retroileal diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri.Peristaltik usus sering normal. Nyeri tekan pada perut kanan ini merupakan kunci diagnosis. Pada kehamilan trimester I tidak berbeda dengan orang tidak hamil. tidak diperlukan rectal toucher. karena itu harus dibedakan apakahnyeri berasal dari appendiks atau uterus. keluhannyeri pada appendiks sewaktu hamil trimester I dan III akan bergeser kekanan sampai ke pinggang kanan. Pada pemeriksaan rectal toucher. tanda perut sering meragukan maka kunci diagnosis adalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan rectal toucher.peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat appendisitis perforata. Karena terjadi pergeseran sekum ke kraniolateral dorsal oleh uterus. Rectal Toucher Pada rectal toucher menyebabkan nyeri bila daerah infeksi dapat dicapai dengan jari telunjuk. bila penderita miring ke kiri.

Gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisiterlentang akan menimbulkan nyeri pada appendisitis pelvika. 3.kemudian paha ditahan. Psoas sign : Mengindikasikan adanya iritasi ke muskulus psoas. Obturator internus yang menandakan iritasi pada daerah tersebut.1. Rovsing’s Sign : Dengan cara penekanan pada kuadran kiri bawah menyebabkanrefleks nyeri pada daerah kuadran kanan bawah. Secara perlahan tungkai kanan pasien diekstensikan kearah kiri pasien sehingga menyebabkan peregangan m. 2. Obturator sign Dilakukan untuk melihat apakah appendiks yang meradang kontak dengan m. Tes inidilakukan dengan rangsangan otot psoas dengan hiperekstensisendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan.Positif dari nyeri hipogastrik pada peregangan m. Obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil.Rasa nyeri pada maneuver ini menandakan tes positif. Tesdilakukan dengan cara pasien berbaring terlentang. psoas. tungkai kanandifleksikan dan dilakukan rotasi interna secara pasif. Tes ini dilakukan dengan cara pasien terlentang. 14 .

Nyeri pada pemeriksaan rectal toucher pada saat penekanan di sisi lateral 10. dan terdapat penurunan peristaltik di segitiga Scherren padaauskultasi. pasien merasakan nyeri di RLQ. Manuver ini dikatakan positif bila pada saat dilepaskan.Blumberg’s sign (nyeri lepas kontralateral) Pemeriksa menekan di LLQ kemudian melepaskannya.Defence muscular Defence musculare bersifat lokal sesuai letak Appendix.Wahl’s sign Manuver ini dikatakan positif bila pasien merasakan nyeri pada saat dilakukan perkusi di RLQ. 6. 9.Nyeri pada daerah cavum Douglasi Nyeri pada daerah cavum Douglasi terjadi bila sudah ada abscess di cavum Douglasiatau Appendicitis letak pelvis. 8.Pemeriksaan Obturator sign 4. 5.Dunphy’s sign (nyeri ketika batuk) 15 . 7.Baldwin’s test Manuver ini dikatakan positif bila pasien merasakan nyeri di flank saat tungkaikanannya ditekuk.

Alat ini dapat membedakan kelainan ginekologis dan ileitis dengan appendisitis. kandung empedu. 16 . maka dapat langsung dilakukan appendektomi per laparoskopi. Ultrasonografi Dapat membantu dalam menegakkan diagnosis appendiks akut. tetapi kehadirannya tidak patognomonis pada diagnosis appendisitis. Laparoskopi dapat digunakan sebagai alat diagnostik.6 Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP). Analisis urin Bertujuan untuk mendiagnosia batu ureter dan kemungkinan infeksi saluran kemih sebagai akibat dari nyeri perut bawah Pengukuran enzim hati dan tingkatan amylase membantu mendiagnosa peradangan hati. Angka sensitifitas dan spesifitas CRP adalah 80% dan 90%. dapat dilihat melalui proses elektroforesis serum protein. CRP adalah salah satu komponen protein fase akut yang akan meningkat 4-6 jam setelah terjadinya proses inflamasi. Pemeriksaan Barium enema dan Colonoscopy menrupakan pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma colon. berkurangnya peristaltik ataupun akumulasi cairan disekitar periappendikal. sekaligus terapi. USG menunjukkan sensitifitas 75%. tetapi mempunyai arti penting dalam membedakan appendicitis dengan obstruksi usus halus atau batu ureter kanan. sehingga dapat menurunkan appendektomi yang tidak perlu sekitar 7% dan penundaan operasi yang lebih dari 6 jam. Peradangan appendiks ditujukkan dengan pembesaran diameter terluar lebih dari 6 mm. tidak tertekan. dan pancreas. sebanyak 2%. spesifisitasnya 100%. sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat. Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10.2.000-18. Bila diagnosis appendisitis akut dapat ditegakkan. CT scan Dapat digunakan untuk diagnosis appendisitis. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tnada pasti appendicitis. Appendiks yang meradang dapat ditunjukkan secara tepat pada 86% kasus. Serum Beta Human Chorionic Gonadotropin (B-HCG) untuk memeriksa adanya kemungkinan kehamilan. Pada CT scanappendiks yang mengalami inflamasi tampak berdilatasi (lebih besar dari 5cm) dan dindingnya lebih tipis. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum. Fekalit dapat mudah dilihat.000/mm3 (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%.

Hal ini dapat disadari mengingat pada perempuan terutama yang masih muda seringtimbul gangguan yang mirip apendisitis akut.trombositopenia.Demam Dengue Demam Dengue dapat dimulai dengan sakit perut mirip peritonitis. dan hematokrit yang meningkat. c. Pada colok vagina.Limfadenitis Mesenterika Limfadenitis mesenterika yang biasanya didahului oleh enteritis ataugastroenteritis ditandai dengan nyeri perut. terutama kanan. Keluhan itu berasal dari genitalia interna karena ovulasi. 2.Untuk menegakkan diagnosis appendisitis akut didahului dengan anamnesis yang lengkap.8. Padaanamnesis. Tidak ada tanda radang. muntah. nyeri tekan perut samar. Pada gadis dapatdilakukan colok dubur bila perlu untuk diagnosis banding 17 .7 Diagnosis Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti. atau penyakit ginekologik lain. e. Diagnosis Banding Terdapat banyak penyakit akut abdomen yang mempunyai tanda dangejala yang mirip dengan apendisitis akut : a. menstruasi. diagnosis klinis apendisitis akut masih mungkin salah pada sekitar 15-20% kasus. b.Kelainan ovulasi Folikel ovarium yang pecah (ovulasi) mungkin memberikan nyeri peurt kana bawah pada pertengahan siklus menstruasi. dan diare mendahului rasa sakit. radang di pelvis. Panas dan leukositosis kurang menonjoldibandingkan apendisitis akut. terutama kanan disertaidengan perasaan mual.Infeksi panggul Salpingitis akut kanan sering di kacaukan dengan apendisitis akut. akan timbulnyeri hebat dipanggul jika uterus diayunkan.Suhu biasanya lebih tingi daripada apendesitis dan nyeri perut bagian bawah perut lebih difus.2. Infeksi panggul pada wanita biasanyadisertai keputihan dan infeksi urin. mual.Gastroenteritis Pada gastroenteritis. d. tetapimungkin dapat mengganggu selama dua hari.Di sini didapatkan hasil tes positif untuk Rumple Leede. nyeri yang sama pernah timbul lebih dahulu. dan nyeri biasa hilang dalam waktu 24 jam. diikuti dengan pemeriksaan fisik dan diperkuat dengan pemeriksaan penunjang. Hiperperistalsissering ditemukan. Kesalahan diagnosis lebih sering pada perempuan dibanding lelaki.Sakit perut lebih ringan dan tidak berbatas tegas.

Pemeriksaan ultrasonografidapat menetukan diagnosis.Endometriasis eksterna Endometrium diluar rahim akan memberikan keluhan nyeri ditempatendometriosis berada. Eritrosituria serung ditemukan. terjadi Appendicular infiltrat jika pertahanan tubuh baik (massa lama kelamaan akan mengecil dan menghilang) Appendicitis kronis.f.Kehamilan diluar kandungan Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang tidak menentu. terjadi penyebaran kontaminasi didalam ruang atau rongga peritoneum akan menimbulkan peritonitis generalisata. dan piuria. Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan merupakan gambaranyang khas. Foto perut polos atauurografi intravena dapat meyakinkan penyakit tersebut. Komplikasi apendisitis akut diantaranya : Perforated Appendicitis.Kista ovarium terpuntir Timbul nyeri mendadak dengan intensitas yang tinggi dan terabamassa dalam rongga pelvis pada pemeriksaan perut. perforasi kolon.sekum. demam tifoid abdominalis. perforasi tukak duodenum atau kolon. Pada pemeriksaanvaginal didapatkan nyeri dan penonjolan rongga Douglas dan padakuldosentesis di dapatkan darah. atau colok rektal. i.karsinoid. Pielonefritissering disertai dengan demam tinggi. h.9. merupakan serangan ulang Appendicitis yang telahsembuh 18 . colok vaginal. 2.obstruksi usus awal. g. nyeri kostovertebraldisebelah kanan.seperti divertikulitis Meckel.Penyakit saluran cerna lainnnya Penyakit lain yang perlu dipikirkan adalah peradangan diperut.Urolitiasis pielium/ureter kanan Batu ureter atau batu ginjal kanan. dan darah menstruasi terkumpul ditempat itukarena tidak ada jalan keluar. menggigil. dan mukokel apendiks. dan lekuk usus halus. Jika ada ruptur tuba atau abortus kehamilan diluar rahimdengan perdarahan. j. Tidak terdapat demam. akan timbul nyeri yang mendadak difus didaerah pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik. Baik berupa perforasi bebas maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami perdindingan sehingga berupa massa yang terdiri atas kumpulan apendiks. Komplikasi Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi.

Penundaan appendektomi dengan pemberian antibiotic dapat mengakibatkan abses dan perforasi. mungkin karena emboli retrograd darisistem porta ke dalam vena di gaster/ duodenum. Perdarahan dari traktus digestivus: kebanyakan terjadi 24–27 jam setelahAppendectomy. 2. Komplikasi Post Operasi 1. kadang–kadang setelah 10–14 hari. tuberculosis. maupun fistel tak berfaeces.Penatalaksanaan Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita appendicitis meliputi penanggulangan konservatif dan operatif. sebelum operasi dilakukan penggantian cairan dan elektrolit. Fistel berfaeces Appendicitis gangrenosa. 3.12 Prognosis Mortalitas dari Appendicitis di USA menurun terus dari 9. 19 .v. Sumbernya adalah echymosisdan erosi kecil pada gaster dan jejunum. a) Penanggulangan konservatif Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian antibiotic.000 pada tahun1939 sampai 0. ketersediaan darah dan plasma. cairan i. yang semakin baik. perlu dilakukan laparotomi. 2. serta pemberian antibiotic sistemik.antibiotika. Pada penderita appendicitis perforasi. dan pemasangan pipa nasogastrik.11.10.000 pada tahun 1986.2% per 100. Sebelum pembedahan perlu dilakukan perbaikan keadaan umum dengan infus.faktor yang menyebabkan penurunan secara signifikan insidensi Appendicitis adalah sarana diagnosis dan terapi. Pemberian antibiotic berguna untuk mencegah infeksi. 2. sertameningkatnya persentase pasien yang mendapat terapi tepat sebelum terjadi perforasi. Aktinomikosis.2. Faktor.. b) Operasi Bila diagnose sudah tepat dan jelas ditemukan appendicitis maka tindakan yang dilakukan adalah operasi membuang appendiks (appendektomi). pemberian antibiotik untuk kuman gram negatif dan positif serta kuman anaerob. Pada appendisitis dengan abses atau pyda appendisitis dengan perforasi. Ileus 4. Pada abses appendiks dilakukan draignase (mengeluarkan nanah). Hernia cicatricalis. karena benda asing.9% per 100.

Appendix merupakan derivat bagian dari midgut. pemberian kristaloid untuk pasien dengan gejala klinis dehidrasi atau septikemia. nyeri berpindah. pada pasien yang menjalani laparotomi. Appendicular infiltrat.v. 20 . dan gejala sisa klasik berupa nyeri periumbilikal kemudian anorexia /mual/muntah. Defence musculare. nyeri pada pemeriksaan rectal toucher. Obstruksi lumen adalah penyebab utama pada Appendicitis acuta. anorexia. shock Septic. Obturator sign. puasakan pasien. demam. Faktor-faktor yang menjadi etiologi dan predisposisi terjadinya Appendicitis meliputifaktor obstruksi. mesenterial pyemia dengan Abscess hepar. Skor Alvarado. Diagnosis banding Appendicitis antara lain. Appendicular abscess. Penatalaksanaan pasien Appendicitis acuta meliputi. nyeri pada daerah cavum Douglas bila ada abscess di rongga abdomen atau Appendix letak pelvis. analgetika harus dengan konsultasi ahli bedah. yang lokasi anatomisnya dapat berbeda tiap individu. Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh Appendicitis adalah perforasi. bakteriologi.BAB III KESIMPULAN Appendicitis adalah peradangan pada Appendix vermicularis. Appendicitis merupakan kasus bedah akut abdomen yang paling sering ditemukan. Tanda klinis yang dapat dijumpai dan manuver diagnostik pada kasus Appendicitis adalah Rovsing’s sign. Pemeriksaan penunjang dalam diagnosis Appendicitis adalah pemeriksaan laboratorium. peritonitis. dan radiologi. . Psoas sign.Gejala klinis Appendicitis meliputi nyeri perut. dan perdarahan GIT. ultrasonografi. muntah. pemberian antibiotikai. dan diet. mual.

Edisi 2. 2004 David C Sabiston : buku Ajar Bedah. W. Bagian I. EGC: Jakarta. De Jong. Edisi 6. Patofisiologi. EGC: Jakarta. bLorraine M. Buku Ajar Ilmu Bedah. Wilson. 2005 21 .Jakarta. R.DAFTAR PUSTAKA Sjamsuhidjat. EGC.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->