BAB I. PENDAHULUAN II.1 Masyarakat Madani I.

1 Latar Belakang Masyarakat madani merupakan sistem kenegaraan dengan politik tempat warga dapat terlibat langsung dalam berbagai peraturan ekonomi politik, serta dalam pengambilan keputusan. Masyarakat madani merupakan kondisi masyarakat ideal, dan tentunya proses pembentukan masyarakat tersebut tidaklah lepas dari pengaruh lingkungan hidup suatu masyarakat. Merujuk pada kondisi masyarakat Indonesia, ditemukan fakta bahwa adanya perbedaan perlakuan yang diterima secara luas oleh masyarakat di sekitar kita. Sebagai contohnya adalah dalam konsep ekonomi, di mana terdapat perbedaan drastis antara masyarakat yang mampu dan tidak mampu. Secara umum, ditemukan penggolongan yaitu golongan bawah, menengah, dan atas. Setiap golongan ini akan memperoleh pengaruh kuat dari lingkungannya masing-masing, yang memengaruhi bagaimana pola hidup dan pola interaksi mereka. Hal ini juga mempengaruhi suatu kelompok atau golongan masyarakat dalam prosesnya menuju masyarakat madani. Membicarakan masyarakat madani, sering kali pendapat yang muncul adalah hal pertama yang harus dilihat dalam sebuah masyarakat madani adalah bahwa ia mampu secara finansial, dengan kata lain mapan. Karenanya, muncul anggapan bahwa golongan menengah ke atas lebih berpotensi untuk terwujudnya menjadi masyarakat madani karena posisi mereka yang lebih mapan. Satu faktor penting yang perlu disadari bahwa lingkungan hidup sangat berperan dalam proses perkembangan suatu masyarakat menuju masyarakat madani, karena pada hakikatnya masyakarat madani adalah masyarakat yang tidak hanya mampu secara finansial, namun mereka juga memiliki kepekaan terhadap sesama, toleransi, rasa keadilan sosial, serta demokratis. Karena itu, dari berbagai lingkungan yang berbeda, sesungguhnya ada proses menuju masyarakat madani yang dapat diamati. Hal inilah yang melatarbelakangi pembuatan makalah ini, yaitu kesadaran akan fakta bahwa masyarakat madani (meski belum sepenuhnya) dapat ditemui melalui beberapa ciri yang nyata pada setiap kelompok masyarakat yang berbeda-beda.

PEMBAHASAN

I.2 Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Mempelajari lebih jauh mengenai masyarakat madani dan fenomena proses pembentukannya. 2. Mengetahui lebih jauh mengenai pengaruh lingkungan hidup terhadap proses pembentukan masyarakat madani.

I.3 Permasalahan Permasalahan yang kami angkat dalam makalah ini adalah sejauh mana pengaruh lingkungan hidup terhadap proses pembentukan masyarakat madani, serta bagaimana mengintegrasikan lingkungan-lingkungan tersebut ke dalam satu kesatuan sehingga terbentuk masyarakat yang ideal, madani secara sepenuhnya.

BAB II.

Secara harfiah, masyarakat madani atau civil society itu sendiri adalah terjemahan dari istilah Latin, civilis societas, yang mula-mula dipakai oleh CICERO (106-43 S.M),--seorang orator dan pujangga Roma-Pengertiannya mengacu kepada gejala budaya perorangan dan masyarakat. Masyarakat sipil disebutnya sebagai sebuah masyarakat politik (political society) yang memiliki kode hukum sebagai dasar pengaturan hidup. Adanya hukum yang mengatur pergaulan antar individu menandai keberadaban suatu jenis masyarakat tersendiri. Masyarakat seperti itu, di zaman dahulu adalah masyarakat yang tinggal di kota. Dalam kehidupan kota, penghuninya telah menundukkan hidupnya di bawah satu dan lain bentuk hukum sipil (civil law) sebagai dasar dan yang mengatur kehidupan bersama. Bahkan bisa pula dikatakan bahwa proses pembentukan masyarakat sipil itulah yang sesungguhnya membentuk masyarakat kota. Rahardjo (1997-1724) menyatakan bahwa masyarakat madani merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, civil society. Dengan konsep civility (kewargaan) dan urbanity (budaya kota), maka kota dipahami bukan hanya sekedar konsentrasi penduduk, melainkan juga sebagai pusat peradaban dan kebudayaan. Di zaman modern, istilah itu diambil dan dihidupkan lagi oleh John Locke (1632-1704) dan Rousseau (1712-1778) untuk mengungkapkan pemikirannya mengenai masyarakat dan politik. Locke umpamanya, mendefinisikan masyarakat sipil sebagai "masyarakat politik" ( political society). Pengertian tentang gejala tersebut dihadapkan dengan pengertian tentang gejala "otoritas paternal" (peternal authority) atau "keadalan alami" ( state of nature) suatu kelompok manusia. Ciri dari suatu masyarakat sipil, selain terdapatnya tata kehidupan politik yang terikat pada hukum, juga adanya kehidupan ekonomi yang didasarkan pada sistem uang sebagai alat tukar, terjadinya kegiatan tukar menukar atau perdagangan dalam suatu pasar bebas, demikian pula terjadinya perkembangan teknologi yang dipakai untuk mensejahterakan dan memuliakan hidup sebagai ciri dari suatu masyarakat yang telah beradab. Merujuk pada Bahmueller (1997), ada beberapa karakteristik masyarakat madani, diantaranya: 1. Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok eksklusif kedalam masyarakat melalui kontrak sosial dan aliansi sosial. 2. Menyebarnya kekuasaan sehingga kepentingan-kepentingan yang mendominasi dalam masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan alternatif. 3. Dilengkapinya program-program pembangunan yang didominasi oleh negara dengan program-program pembangunan yang berbasis masyarakat. 4. Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan negara karena keanggotaan organisasi-organisasi volunter mampu memberikan masukan-masukan terhadap keputusan-keputusan pemerintah. 5. Tumbuhkembangnya kreatifitas yang pada mulanya terhambat oleh rejimrejim totaliter. 6. Meluasnya kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust) sehingga individuindividu mengakui keterkaitannya dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri. 7. Adanya pembebasan masyarakat melalui kegiatan lembaga-lembaga sosial dengan berbagai ragam perspektif. Namun untuk menjadi masyarakat madani yang sepenuhnya tidaklah mudah, ada tujuh prasyarat masyarakat madani, sebagai berikut:

1

jenis kelamin. kenyataan itu adalah ketidaksamaan. dan bentuk organisasi-organsasi lainnya. Sekalipun kita mengetahui bahwa pada dasarnya semua manusia adalah sama. sesuatu yang diikuti. Rukun Warga. agama. Tidak adanya diskriminasi dalam berbagai bidang pembangunan. Dengan posisi lingkungan hidup sebagai alat pergaulan. Berkembangnya modal manusia (human capital) dan modal sosial (social capital) yang kondusif bagi terbentuknya kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan terjalinya kepercayaan dan relasi sosial antar kelompok. Sesuatu yang diikuti individu. Sedangkan menurut Weber. apabila dianggap sesuai dengan dirinya. misalnya saja dalam dimensi ekonomi: sebagian anggota masyarakat mempunyai kekayaan yang berlimpah dan kesejahteraan hidupnya terjamin. Konsumsi ini dilihat bukan hanya dari tingkat dan barang yang dikonsumsi. hukum. Dalam ruang lingkup tersebut terdapat sosialisasi warga masyarakat yang bersifat sukarela dan terbangun dari sebuah jaringan hubungan di antara assosiasi tersebut. 1. Rukun Tetangga. Adanya jaminan. kelompok buruh yang digaji atau di PHK secara sepihak dan lain-lain) 3. Stratifikasi masyarakat memiliki dua pandangan utama. secara umum masyarakat dapat dibagi menjadi tiga golongan. Sebagai kontrol terhadap negara 4. masyarakat dapat dipisahkan menjadi dua kelas. 5. dan mayoritas yang menjadi penghasil produksi. namun dalam kehidupan sehari-hari. 4. Ada banyak sosiolog yang mencetuskan stratifikasi masyarakat berdasarkan kondisi ekonomi.3 Pengelompokan Masyarakat Masyarakat terdiri dari beragam kelompok orang yang ciri-ciri pembedanya bisa berupa warna kulit. baik langsung ataupun secara tidak langsung. tempat tinggal. Terselenggaranya sistem pemerintahan yang memungkinkan lembagalembaga ekonomi. melainkan dari cara konsumsi tersebut. tentunya lingkunganlah yang akan secara langsung dan tidak langsung membentuk suatu masyarakat. dan kesempatan-kesempatan hidup. 3. dengan kata lain terbukanya akses terhadap berbagai pelayanan sosial. dan berkeinginan untuk berinteraksi dengan komunitas. kepercayaan. Objek penyesuaian diri bagi individu. Berdasarkan beberapa pendapat di atas. 2 . dan objek penyesuaian diri. Beberapa pendapat lainnya adalah menurut Dick (1993 dan 1985). Berdasarkan UU No. kalangan bisnis. yaitu kelas bawah. di mana golongan menengah ke atas memiliki tingkat penghasilan tinggi dan golongan menengah ke bawah memiliki tingkat penghasilan rendah. yaitu bahwa ciri yang membedakan masyarakat adalah dari konsumsinya. tinggi badan. ataupun pola masyarakat lainnya. Menurut Marx. Dalam menghadapi perkembangan dan perubahan jaman. Terpenuhinya kebutuhan dasar individu. dan kelompok dalam masyarakat. Dalam dimensi yang lain misalnya kekuasaan: sebagian orang mempunyai kekuasaan. II. Adanya kohesifitas antarkelompok dalam masyarakat serta tumbuhnya sikap saling menghargai perbedaan antar budaya dan kepercayaan. Berkaitan dengan fungsi lingkungan hidup di atas. kekayaan. 3. Secara umum. politik. 2. yaitu minoritas yang mengendalikan alat produksi. dan sosial berjalan secara produktif dan berkeadilan sosial. sehingga pada kasus kali ini pembagiannya dipersempit menjadi golongan menengah ke bawah dan golongan menengah ke atas. yaitu Marx dan Weber. keluarga. hal yang membedakan adalah kekayaan. Penyesuaian diri alloplastis berarti individu tersebut berusaha mengubah lingkungannya. Pembedaan ini sering kali dilakukan bahkan mungkin diperlukan. setidaknya realitas yang hanya bisa ditangkap oleh panca indera dan kemampuan berpikir manusia. dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. Namun. umur. Sebagai makhluk sosial. kelas didefinisikan sebagai bentuk posisi pasar yang berhubungan dengan hak pemilikan. Sebagai pengembangan masyarakat melalui upaya peningkatan pendapatan dan pendidikan 2. didapatkan golongan menengah ke bawah yang menjadikan barang konsumsi sebagai milik bersama. pendapatan. 7. masyarakat pada kelas menengah adalah masyarakat yang sangat heterogen. antara lain melalui peranannya sebagai berikut: 1. kepastian dan kepercayaan antara jaringan-jaringan kemasyarakatan yang memungkinkan terjalinnya hubungan dan komunikasi antarmereka secara teratur. koperasi. misalnya berupa perjanjian. terbuka dan terpercaya. Beberapa pendapat sosiologis mengatakan dalam semua masyarakat dijumpai ketidaksamaan di berbagai bidang. 2. tantangan. yang ruang lingkupnya ditentukan oleh keberlakuan pola-pola hubungan sosial tersebut.1. kemampuan dan kesempatan bagi masyarakat dan lembaga-lembaga swadaya untuk terlibat dalam berbagai forum dimana isu-isu kepentingan bersama dan kebijakan publik dapat dikembangkan. sedangkan sisanya miskin dan hidup dalam kondisi yang jauh dari sejahtera. dan oleh tingkat rasa integrasi mereka yang berada di dalamnya. Tantangan bagi individu. tidak berdaya membela hak-hak dan kepentingan mereka (masyarakat yang terkena pengangguran. 23 tahun 1997. tentunya dapat dipahami bahwa manusia membutuhkan dirinya untuk menjadi bagian dari lingkungannya. Beberapa peran lingkungan terhadap individu antara lain: Sebagai alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. yaitu lingkungan antar manusia yang meliputi pola-pola hubungan sosial serta kaidah pendukungnya yang berlaku dalam suatu lingkungan spasial (ruang). pemberdayaan masyarakat madani perlu ditekankan. dan atas. lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya. 4. menengah. Adanya hak. baik secara allopatis maupun autoplastis. II. Peran lingkungan hidup itu sendiri tentunya tidak dapat dilepaskan dari proses pembentukan masyarakat madani. 6. atau pendidikan. Dari perbedaan tersebut. Sebagai advokasi bagi masyarakt yang “teraniaya”. Menjadi kelompok kepentingan (interest group) atau kelompok penekan (pressure group) Masyarakat madani pada dasarnya merupakan suatu ruang yang terletak antara negara di satu pihak dan masyarakat di pihak lain. baik itu masyarakat yang madani sepenuhnya. sedangkan yang lain dikuasai. Suka atau tidak suka inilah realitas masyarakat. manusia merupakan bagian dari sistem sosial masyarakat yang secara berkelompok membentuk budaya.2 Lingkungan Hidup dan Kaitannya dengan Masyarakat Madani Pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia. serta golongan menengah ke atas yang memiliki 'privatisasi cara konsumsi'.

masyarakat madani sesungguhnya adalah kondisi masyarakat ideal. Terakhir. dalam kelompok masyarakat ini justru lebih terjalin kepercayaan diri dan relasi sosial antar kelompok. kepastian dan kepercayaan antara jaringanjaringan kemasyarakatan yang memungkinkan terjalinnya hubungan dan komunikasi antar mereka secara teratur. Perkembangan modal manusia (human capital) dan modal sosial (social capital) yang tidak kondusif bagi terbentuknya kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan. kawasan konservasi. Secara gamblang. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya. secara umum akan lebih mendapatkan penghormatan dari masyarakat. Selanjutnya. sedangkan hal sebaliknya terjadi pada golongan menengah ke atas. tetapi juga melakukan inisiatif lokal. Sebagian besar masyarakat menengah ke bawah belum memenuhi kebutuhan dasar. Poin penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak adanya diskriminasi dalam berbagai bidang pembangunan.Pembeda selanjutnya adalah ukuran kekuasaan. menarik untuk disadari bahwa salah satu ciri utama masyarakat madani justru dapat dilihat dari kelompok masyarakat ini. namun mereka memiliki kesamaan yang diperoleh dari proses pendidikannya. dengan semua yang dimilikinya. dan lain sebagainya Masyarakat dengan kondisi menengah ke bawah ternyata masih perlu menimbulkan kesadaran dan kepahaman akan haknya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat serta sanggup menjalankan kewajiban dan tanggung jawab untuk tercapainya kualitas lingkungan hidup yang dituntutnya. untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari pun cukup sulit. Di lihat dari penghasilan mereka yang sangat minim. adalah suatu kewajaran jika cita-cita dari suatu bangsa adalah menjadikan masyarakatnya menjadi masyarakat yang madani seutuhnya. dan adanya keengganan untuk berbagi wewenang dan sumber daya yang ada pada pemerintah kepada masyarakat.4 Pengaruh Lingkungan Hidup terhadap Proses Pembentukan Masyarakat Madani Seperti yang sudah dibahas pada poin sebelumnya. Maka. Kemudian berdaya. seperti lingkungan tempat tinggal mereka. dan golongan menengah ke bawah tidak begitu mendapatkan penghormatan dari masyarakat. apakah itu di kawasan hutan. yaitu mampu melakukan tuntutan untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat. pun dalam mengatur pola 3 . hukum. Minimnya tingkat pendidikan menyebabkan hukum yang berlaku pada masyarakat ini bukanlah hukum seperti yang diatur oleh undang-undang. yaitu civitas akademika. ada tidaknya pendidikan secara tidak langsung mengubah teori penggolongan tersebut. Namun di sisi lain. Masyarakat seperti ini cenderung tidak memperdulikan SARA yang ada dalam setiap individu di antara mereka. dan sosial tidak terselenggara secara produktif. II. 2. Selanjutnya adalah ukuran kehormatan. Golongan menengah ke bawah sangat lemah dan bahkan seringkali menjadi korban dari hukum. karena kondisi masyarakat golongan menengah ke bawah yang lemah. berupa kelompok masyarakat dari berbagai latar belakang ekonomi dan sosial. Peran masyarakat harus dipandang sebagai hal yang dinamis dan memberikan suatu peluang bagi pemerintah yang bermaksud membangun kredibilitas negara melalui potensinya dalam membangun koalisi dan aksi kolektif. apalagi jika ditambah memenuhi kebutuhan untuk berbagai kelompok yang berada dalam masyarakat sekitarnya. dan berikut adalah pengaruh lingkungan hidup terhadap proses pembentukan masyarakat madani di setiap kelompok masyarakat. terutama keterlibatannya pada berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan ketahanan sosial. secara aktif tidak saja memperjuangkan aspirasi dan tuntutan kebutuhan lingkungan yang baik dan sehat secara terus menerus. terbuka dan terpercaya. serta lingkungan hidup mereka. keluarga dan kelompok dalam masyarakat. maka pembangunan harus melibatkan masyarakat. sedangkan golongan menengah ke atas adalah mereka yang memiliki tempat tinggal paten. bahwa yang kuatlah yang akan menjadi pemenang. kondisi kemiskinan yang dialami. sebagai contohnya di kompleks perumahan. tidak akan ada strategi yang mampu bertahan lama. dan golongan menengah ke atas berperan sebagai 'yang menyuruh'. bahwa interaksi antar masyarakat pada golongan menengah ke bawah lebih dominan. Pelayanan sosial sangat perlu dilaksanakan. Tanpa partisipasi masyarakat. Adanya golongan ketiga. bantaran sungai. sistem pemerintahan dan lembaga-lembaga ekonomi.4. Namun. Pemerintah kurang tanggap dalam menangani masalah ini. ketiadaan diskriminasi itulah yang menjadi satu poin plus bagi masyarakat menengah ke bawah dalam kaitannya dengan masyarakat madani. membuat golongan menengah kebawah ini cukup sulit untuk berkembang menuju masyarakat madani. mandiri dalam berkehendak agar mampu untuk menjalankan inisiatif lokal dalam menghadapi masalah lingkungan di sekitarnya. Namun patut disayangkan. Pembentukan masyarakat madani tidak lepas dari faktor lingkungan hidup. keterampilan. Namun.1 Masyarakat Golongan Menengah ke Bawah Lingkungan hidup sangat berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat madani. Orang yang berpenghasilan tinggi cenderung lebih leluasa dalam mempergunakan uangnya. contoh golongan menengah ke bawah adalah mereka yang hidup di lingkungan yang dapat dikatakan sederhana. Dan. dan kepedulian mayarakatnya dalam memecahkan masalah kemasyarakatan termasuk didalamnya masalah lingkungan. dengan kata lain terbukanya akses terhadap berbagai pelayanan sosial. melainkan lebih ke hukum rimba. dan wawasan terutama mengenai politik dan pemerintahan Indonesia. di mana salah satu karakteristiknya adalah mendorong partisipasi dan kemitraan dengan masyarakat. dan kurang efektif dalam memberikan bantuan terhadap masyarakat menengah ke bawah. karena melihat kondisi diantara mereka tidak sedikit yang sangat memprihatinkan. Hal ini juga berlaku dalam kekuasaan pekerjaan. Perlu dikembangkan lebih lanjut bahwa masyarakat menengah ke bawah memiliki potensi untuk menuju masyarakat madani. yaitu golongan menengah ke bawah beperan sebagai 'yang disuruh'. dan justru mampu menerima semuanya dan bekerja sama seperti layaknya masyarakat yang ideal.2 Masyarakat Golongan Menengah ke Atas Gaya hidup seseorang sangat ditentukan oleh tingkat penghasilannya. Selanjutnya adalah adanya kohesifitas antar kelompok dalam masyarakat serta tumbuhnya sikap saling menghargai perbedaan antarbudaya dan kepercayaan. Mayoritas masyarakat menengah ke bawah cenderung memiliki interaksi sosial yang tinggi. 2. Masalah dan tantangan dalam pengelolaan lingkungan mengharuskan pemerintah mengubah paradigma dalam mewujudkan setiap kebijakan dengan mengutamakan pola-pola keberpihakan pada masyarakat terutama masyarakat menengah ke bawah melalui perwujudan good governance. Golongan menengah ke atas. Namun. kurangnya pengetahuan. yaitu adanya jaminan.4. bahkan cenderung kurang.

Mereka memiliki kesempatan lebih luas untuk menentukan barang yang akan dibeli. Seperti yang telah dibahas mengenai kaitan antara karakteristik masyarakat madani dengan lingkungan hidup masyarakat menengah ke bawah. Lingkungan yang cenderung borjuisme lebih mendorong masyarakat menengah ke atas untuk peduli pada dirinya sendiri. sebagai kompensasi atas 'lebih luasnya' dunia pergaulan mereka. bahkan berlebih. namun pengaruh lingkungannya baru menjadikan mereka mumpuni dalam hal ekonomi. karena pendidikan pada umumnya telah membukakan mata masyarakatnya untuk mendaya usahakan segala potensi agar mampu memenuhi kebutuhan. idealnya dapat berlaku santun dalam pola hubungan interaksi masyarakat sekitarnya dengan tidak mempertimbangkan SARA. Kelompok ini diidentifikasi melalui tingkat pendidikannya yang relatif tinggi dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Satu hal yang menjadi kesamaan para civitas akademika adalah pendidikan yang diperoleh. dan belum dalam hal lainnya. pemenuhan kebutuhan dasar lebih terjamin untuk terpenuhi. Tidak seperti masyarakat menengah ke bawah yang cukup sulit bila ingin mengemukakan aspirasi. dapat dikatakan bahwa civitas akademika adalah kelompok masyarakat yang paling medekati menuju masyarakat madani. Lingkungan masyarakat menengah ke atas sebenarnya mendidik masyarakatnya untuk menjadi demokratis. Saat ini cukup banyak tayangan berita pada media elektronik yang memiliki segmen di mana penonton dapat menyuarakan aspirasinya. Setiap individu memegang peranannya masing-masing. Sebagai contoh. yaitu peka terhadap lingkungan sekitar. bahkan mungkin interaksi terjauh dengan komponen masyarakat lainnya hanya sekedar bertegur sapa. Kebalikan dengan masyarakat menengah ke bawah. pada saat yang sama kurang peduli pada orang lain. dan sulit bagi mereka untuk bertoleransi dengan kelompok lain yang menghabiskan waktunya dengan cara lain. Civitas akademika relatif lebih cepat tanggap terhadap segala isu dan permasalahan yang terjadi di Indonesia. hal ini dapat dididik dengan baik jika mereka mau menghargai perbedaan satu sama lain dan mencoba melihat dunia mereka lebih jauh. kegiatan yang akan dilakukan. atau berbicara jika ada perlunya saja. yang tentunya berbeda tiap individunya. terdapat fakta yang cukup unik. Jika dilihat dari pola hidup masyarakat menengah ke atas. Walaupun secara teoritis mereka lebih mampu menjadi masyarakat madani. dan mereka pula yang biasa memberikan respon paling pertama terhadap apa yang tengah terjadi. dan terjalin kerja sama yang baik antara satu pemegang tanggung jawab dengan lainnya. pada civitas akademika hal ini relatif lebih berkembang.4. Namun kenyataannya. hal ini juga terasa jauh bagi masyarakat menengah ke atas sebab lingkungan mereka cenderung mengelompok dan menjunjung tinggi setiap kelompoknya masing-masing. Namun. 4 . terpenuhinya kebutuhan dasar tiap individu bergantung pada kondisi ekonomi dan sosial masing-masing. Kecenderungan untuk mengelompok dan self-centered menjadikan mereka secara umum kurang menghargai kedemokratisan itu sendiri. Mahasiswa. Hal ini dapat dilihat dari beberapa ciri atau prasyarat masyarakat madani yang telah terpenuhi. apalagi mengetahui kondisi dan bertoleransi terhadap orang-orang di sekitarnya. Selanjutnya adalah mengenai kesadaran dalam berdemokrasi. atau pada saat yang sama justru tidak demokratis. maka masyarakat menengah ke atas pun ternyata tengah berproses menuju masyarakat madani. Sebagai contoh. Masyarakat yang demokratis. Pada civitas akademika.kehidupannya. pelajar. Jika berbicara mengenai toleransi dan pluralisme. 2. dengan beberapa aspek yang telah diterapkan dalam kehidupan mereka. Civitas akademika juga memiliki pandangan yang lebih dewasa mengenai perbedaan. Kebiasaan dan pembentukan lingkungan yang menjadikan mereka lebih terfokus pada pemenuhan kebutuhan masing-masing membuat masyarakat menengah ke atas tidak tahu menahu mengenai kondisi sekitarnya. Mengenai perkembangan modal manusia dan modal sosial. Sibuk dengan agenda masing-masing. namun pada kenyataannya keheterogenan itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk bekerja sama. namun kepercayaan dan relasi sosialnya justru kurang terbangun. dan sebagainya. Hal ini dikarenakan masyarakat menengah ke atas yang cenderung memiliki interaksi sosial lebih rendah terhadap sesamanya. Masyarakat menengah ke atas. tentu secara tidak langsung menjadikan kesempatan beraspirasi ini tertutup bagi mereka yang tidak mampu memenuhi 'syarat pulsa'. Sebagai contoh. Adanya keharusan untuk berada dalam 'waiting line' dengan tidak menutup telepon. secara tidak langsung memiliki ruang publik yang bebas sebagai sarana untuk mengemukakan aspirasi. dosen. dapat ditarik benang merah bahwa masyarakat menengah ke atas masih belum merupakan masyarakat madani. pada golongan masyarakat ini. dan komponen-komponen yang terkait. yaitu lingkungan yang senantiasa memberikan pendidikan dan pengajaran kepada masyarakatnya dalam berbagai aspek kehidupan. semisal mengenai penyaluran aspirasi via media.3 Civitas Akademika Civitas akademika merujuk pada golongan masyarakat yang berasal dari kondisi ekonomi dan sosial yang berbeda-beda. Hal ini dapat dilihat semisal pada pembagian kerja dalam kelembagaan. Mengenai toleransi. Tentu. Pada civitas akademika. terdapat orang-orang yang sangat heterogen. Kelompok menengah ke atas juga ditandai dengan kepemilikan barangbarang kebutuhan sekunder yang mencukupi. hal-hal seperti pengaturan pembagian tanggung jawab dan kekuasaan relatif lebih teratur. masyarakat seperti ini justru jauh dari nilai demokratis itu sendiri. Jadi. namun sebaliknya justru terbuka lebar bagi mereka yang memiliki cukup uang untuk membeli pulsa ataupun membayar tagihan telepon. hal ini justru terasa jauh bagi masyarakat menengah ke atas. Sebagai contoh dari civitas akademika adalah mahasiswa. dengan faktor penyebab seperti yang telah disebutkan di atas. sehingga lebih mampu bertoleransi dan tidak mendiskriminasi pihak lain tanpa alasan yang jelas. Pada kondisi masyarakat menengah ke atas. termasuk juga bagaimana komponen-komponennya dapat terjalin kepercayaan dan relasi sosial. sekalipun memiliki tanggung jawab di kelembagaan yang berbeda-beda namun tetap bisa bekerja sama satu sama lain. dalam satu lembaga pendidikan. melalui koneksi yang luas masyarakat menengah ke atas dapat dengan lebih mudah mengakses kegiatan publik dan menyalurkan aspirasinya. Pemenuhan prasyarat ini tentunya tidak lepas dari pengaruh lingkungan hidup civitas akademika. untuk menyuarakan aspirasi dibutuhkan beberapa pengorbanan. Hal ini sesuai dengan salah satu karakterisitik masyarakat madani. Sudah menjadi fakta umum bahwa belum tentu penghuni kompleks suatu perumahan saling mengenal satu sama lain. kelompok masyarakat yang senang menghabiskan waktu untuk berbelanja akan mengelompok sendiri. Jika dikaitkan dengan proses pembentukan masyarakat madani. pada masyarakat menengah ke atas modal manusia dan modal sosial relatif lebih berkembang karena lebih tersedianya sumber daya. seperti pulsa telepon yang tidak sedikit.

tentu banyak hal yang harus dilakukan baik oleh Departemen Pendidikan. 3. Kepada masyarakat menengah ke bawah. dan adanya keengganan untuk berbagi wewenang dan sumber daya yang ada pada pemerintah kepada masyarakat. Namun ternyata belum semua masyarakat dalam golongan itu sadar. Kepada civitas akademika. III. dengan tetap mempertahankan sikap toleransi. serta mengalokasikan kelebihan yang dimiliki demi kesejahteraan bersama. Maka. seperti individualisme. dan saling menghargai yang telah terbina sejak awal. maka civitas akademika (dalam kondisi ideal) merupakan potret yang paling mendekati masyarakat madani itu sendiri.2 Saran Adapun saran yang dapat kami ajukan sesuai dengan permasalahan yang kami bahas antara lain: 1. Lingkungan Hidup. Sebagai contohnya adalah Departemen yang membawahi mengenai lingkungan hidup. Namun. karena masyarakat madani adalah poin penting bagi berlangsungnya kehidupan yang baik di sebuah negara. Konservatisme filosofis. pluralisme. kedua golongan itu memiliki potensi untuk menjadi masyarakat madani. Perlindungan atas mereka yang lemah. faktanya pada saat ini belumlah sedemikin ideal. Pada kasus kali ini pembagiannya dipersempit menjadi golongan menengah ke bawah dan golongan menengah ke atas. karena masyarakat madani adalah cita-cita bersama. Kedua kelompok ini 5 . Namun bagaimana mewujudkan masyarakat madani yang berkeadilan? Ada beberapa solusi yang dapat mendukung terbentuknya masyarakat madani yang ideal.ciri masyarakat madani tetapi belum dikatakan sepenuhnya menjadi masyarakat madani. (Blakeley dan Suggate. Tak ada otoritas tanpa demokrasi. bagaimana masyarakat menengah ke bawah berusaha meningkatkan taraf hidup mereka tanpa mengurangi kriteria masyarakat madani yang telah mereka punya. dan bagaimana masyarakat menengah ke atas berusaha untuk lebih peduli dan toleransi terhadap sesamanya ataupun terhadap komponen masyarakat lain. lingkungan hidup memegang peranan yang sangat penting dalam terbentuknya masyarakat madani. antara lain dengan memberlakukan sikap-sikap sebagai berikut: 1. Sudah menjadi fakta pula bahwa adanya gap yang lumayan besar antara lingkungan masyarakat menengah ke bawah dan menengah ke atas. diharapkan untuk berusaha membuka mata lebih lebar dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. 7. terutama departemen yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan kemasyarakatan. 4. Pengaruh lingkungan hidup terhadap masyarakat golongan menengah ke atas pun ternyata turut andil dalam pembentukan karakteristik mereka. Sedangkan masyarakat menengah keatas. belum mampu menjadi masyarakat madani yang seutuhnya. dan kesadaran mereka terhadap pentingnya menjadi masayarakat madani. Kepada pemerintah. Kepada masyarakat menengah ke atas. Maka menjadi tanggung jawab departemen ini pada khususnya untuk merumuskan kurikulum dan proses pendidikan agar dapat lebih meluas ke segala lapisan masyarakat. Seperti yang telah diketahui bersama. Berdasarkan uraian telah diketahui bahwa salah satu faktor yang paling memengaruhi proses pembentukan masyarakat madani adalah pendidikan. solusinya terletak pada diri masing-masing. Kebebasan sebagai otonomi. diharapkan agar menggunakan ilmu yang telah didapat untuk secara aktif mewujudkan masyarakat madani sebagai bentuk rasa peduli. 4. maupun masyarakatnya sendiri. Pluralisme kosmopolitan. Akan tetapi. baik masyarakat menengah ke bawah dan menengah keatas. diharapkan untuk berusaha meningkatkan taraf hidup dan pendidikan terutama. rasa saling tidak percaya satu sama lain. BAB III. II. kondisi kemiskinan yang dialami. PENUTUP III. alangkah baiknya jika memberikan perhatian lebih kepada permasalahan ini. 2.Berdasarkan uraian di atas. 6. 3. keterampilan. menjadi tanggung jawab departemen tersebut agar menjembatani perbedaan itu demi terciptanya masyarakat madani. 1997) Jika dikonversi sebagai daftar hal yang harus dilakukan. Hal tersebut tergantung dari lingkungan hidup yang membentuk karakter mereka. Selanjutnya adalah Departemen Pendidikan.5 Solusi Alternatif Untuk mewujudkan masyarakat madani yang ideal. dan wawasan terutama mengenai politik dan pemerintahan Indonesia. mereka memiliki fasilitas-fasilitas yang mencukupi untuk menuju masyarakat madani. serta lingkungan hidup mereka.1 Kesimpulan Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat berbagai kelompok masyarakat. jadi civitas akademika sendiri masih dalam proses menuju masyarakat madani. 5. Tak ada hak tanpa tanggungjawab. Sedangkan bagi masyarakat secara umum. Adanya persamaan hak sebagai warga negara tanpa adanya diskriminasi terhadap orang-orang yang tidak mampu. egois dan sifat-sifat lain yang menjadikan mereka jauh dari karakteristik masyarakat madani. Karena masyarakat menengah ke bawah masih kurang pengetahuan. maka solusi alternatif untuk mewujudkan masyarakat madani ini menjadi tanggung jawab berbagai pihak sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. 2. memiliki ciri.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.