P. 1
Parameter Penyimpanan Sekunder

Parameter Penyimpanan Sekunder

|Views: 169|Likes:
Published by adindaestikawati
Materi Matakuliah Sistem Berkas :

Pertemuan 4
Materi Matakuliah Sistem Berkas :

Pertemuan 4

More info:

Published by: adindaestikawati on Aug 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2013

pdf

text

original

PARAMETER PENYIMPANAN SEKUNDER

4.1 METODE BLOCKING Konsep Blocking berkaitan dengan bagaimana record-record ditempatkan di dalaam sebuah blok. Berdasarkan ukuran record, terdapat tiga buah metode blocking : A. Fixed Blocking, B. Variable-length spanned blocking, dan C. Variable-length unspanned blocking

A. Fixed Blocking Karakteristik yang dimiliki oleh metode blocking yang pertama yaitu : ukuran record-nya tetap (sesuai dengan namanya fixed berarti tetap) dan ukuran record tersebut lebih kecil atau sama dengan ukuran bloknya.

Ukuran blok dilambangkan dengan menggunakan huruf B. Ukuran record dilambangkan dengan menggunakan huruf R. Untuk mengetahui berapa banyak jumlah record dalam sebuah blok, dapat menggunakan rumus blocking factor berikut ini :
Bfr = B/R

Catatan : Lakukan pembulatan ke bawah. Contoh soal: Ukuran blok = 100 Byte, ukuran record = 30 Byte. Berapa banyak record yang dapat ditampung dalam sebuah blok?

Jawaban B = R = Bfr

: 100 Byte 30 Byte = B/R = 100/30 = 3 Jadi, maksimal yang dapat ditampung dalam sebuah blok adalah 3 record.

Berdasarkan perhitungan tersebut, sebenarnya terdapat pemborosan per bloknya karena ukuran tersebut.
Detailnya sebagai berikut : Ukuran blok sebesar 100 byte, ukuran record sebesar 30 byte. Banyaknya record yang dapat ditampung oleh blok yang ukurannya 100 byte adalah sebanyak 3 buah record. 30 byte * 3 = 90 Byte. Ukuran blok = 100 Byte. Ada ukuran kosong yang terbuang sebesar 10 Byte. (Perhitungannya berasal dari 100 byte – 90 byte).

Dengan menggunakan soal yang sama. Bagaimana cara untuk mengetahui jumlah blok yang diperlukan bila kita memiliki sejumlah record (b).
b = n/Bfr

Catatan : Lakukan pembulatan ke atas.

Contoh soal: Jumlah record yang dimiliki berjumlah 10 record. (Bfr berasal dari perhitungan sebelumnya yaitu 3) Jawaban : b = 10/3 = 4
Jadi, untuk menampung 10 buah record dibutuhkan 4 buah blok.

Berdasarkan jumlah blok yang diketahui tersebut kita dapat mengetahui ukuran ruang harddisk yang diperlukan, yaitu dengan mengalikan jumlah blok yang diperlukan (b) dengan ukuran blok (B).
Ruang harddisk = b*B

Contoh soal: Berdasarkan perhitungan sebelumnya kita memliki ukuran sebuah blok sebesar 10 Byte dan banyak blok yang kita perlukan adalah sebesar 4 blok. Jawaban : Ruang harddisk = 4 * 100 = 400 Byte

Berdasarkan informasi perhitungan yang telah dilakukan, kita dapat menemukan berapa besar ruang kosong yang terbuang.

Untuk memudahkannya marilah kita mencatat data perhitungan yang telah kita lakukan.  Ukuran blok = 100 Byte  Ukuran record = 30 Byte  Jumlah record = 10  Jumlah blok = 4
(b * B) – (n * R)

(4 * 100) – (10 * 30) = 100 Byte

Berikut ini merupakan gambar metode Fixed Blocking berdasarkan contoh soal. Ruang blok yang terbuang
B = 100 Sisa tempat yang tidak diisi data
R = 30

Inter-block Gap (IBG)

Kelebihan metode Fixed Blocking ada pada imlementasi yang sederhana dan memungkinkan pengaksesan secara acak. Namun, Fixed Blocking memiliki kekurangan yaitu bila ukuran blok bukan kelipatan dari ukuran record, maka akan terjadi pemborosan ruang di setiap blok.

B. Variable Length Spanned Blocking
Metode blocking yang kedua bernama Variable Length Spanned Blocking (VLSB). Metode blocking ini memiliki karakteristik sebagai berikut : • Ukuran recordnya bisa berbeda satu sama lain (variable). • Pada Variable Length Spanned Blocking. Record disimpan pada blok yang berukuran tetap dan record dapat dipecah apabila ukuran record lebih besar dari ukuran bloknya. • Pada Variable Length Spanned Blocking terdapat pointer yang menghubungkan dua buah pecahan record (apabila record terpecah). • Setiap block memiliki pointer ke block berikutnya (successor block).

Rumus yang digunakan untuk menemukan jumlah record yang mampu ditampung dalam sebuah blok, yaitu :
Bfr = (B-P)/(R+P)

Dimana : B = Ukuran blok P = Panjang block pointer dan panjang record mark yang diasumsikan sama dengan panjang block pointer. R = Ukuran record rata-rata.
Satu block
Inter-block Gap (IBG)

Next block pointer

Record Pointer

Kelebihan VLSB terletak pada fleksibilitasnya. Pada VLSB, ukuran record tidak tergantung pada ukuran blok. Sehingga memungkinkan ukuran record yang lebih besar dibandingukuran bloknya. Dengan demikian ruang kosong yang terbuang menjadi lebih kecil. Selain kelebihan VLSB juga memiliki kekurangan, yaitu: sulitnya implementasi VLSB dalam program akibat record yang terpecah sulit untuk ditransfer dan file sulit di-update. contoh: Terdapat recort sebagai berikut R1=10, R2=20, R3=40, R4=10, R5=30. Ukuran P=2, B=56. IBG=2 1. Gambarkan penempatan record dengan metode variable-length spanned blocking 2. Hitung Bfr

Jawaban : No.1
Satu block
Inter-block Gap (IBG)

10

20

22 2

18

10

24 2

6

48
Space Koseng

Record Pointer Blok Pointer IBG

No.2 Bfr = [(B - P) / (R + P)] Bfr = [(56 – 2) / (22 + 2)] = 2,25

C. Variable Length Unspanned Blocking Metode blocking yang ketiga Variable Length Unspanned Blocking. Karakteristik dari metode blocking tersebut adalah: • Ukuran recorth yang bervariasi (sama seperti Variable Length spanned Blocking), tapi • Pada variable length unspanned blocking sebuah record tidak dapat dipecah-pecah ke dalam beberapa block. • Untuk ukuran record-nya. Variable length unspanned blocking memiliki ukuran record yang lebih kecil sama dengan dibandingkan dengan ukuran bloknya. Rumus yang digunakan untuk menemukan jumlah record yang mampu ditampung dalam sebuah blok, yaitu:
Bfr = (B - 0.5R)/(R + P)

Yang dimaksud dengan 0.5R adalah rata-rata ruang block yang terbuang.

Satu hal yang perlu diingat dari metode blocking ini yaitu bahwa metode blocking ini tidak memerlukan pointer ke block berikutnya.
Ruang blok yang terbuang

Inter-block Gap (GAP)

Berikut ini merupakan kelebihan dan kekurangan Variable Length

Unspanned Blocking : Kelebihan : • Implementasi Variable Length Unspanned Blocking lebih mudah bila dibandingkan dengan metode Variable Length spanned Blocking, • Jumlah record per blok-nya bisa bervariasi sama dengan Variable Length spanned Blocking.

Kekurangan : • Ada kemungkinan banyak ruang terbuang, record tidak dapat dipecah seperti yang terjadi pada Variable Length Spanned Blocking • Ukuran record harus lebih kecil sama dengan ukuran bloknya.

Apabila ditemukan bahwa semua ukuran record adalah sama, maka Variable Length Unspanned Blocking menjadi fixed blocking. Contoh soal : Terdapat record sebagai berikut dengan R1 = 10, R2 = 20, R3 = 40, R4 = 10, R5 = 30 Ukuran P = 2, B = 56 1. Gambarkan penempatan record dengan metode Variable Length Unspanned Blocking 2. Hitung Bfr

Jawaban : No.1
Satu block
Inter-block Gap (IBG)

No.2 Bfr = [(B – ½ R) / (R + P)] Bfr = [(56 – ½ 22) / (22 + 2)] = [45 / 24] = 1,875

4.2 Penanda Record Jenis-jenis penanda record, diantaranya : • Separator

Separator Karakter ‘#’ bisa diganti Dengan karakter lain

Record-length indicator

Length indicator

Position table

Position table

Contoh soal position table : Diketahui bahwa isi dari position table adalah 5, 35, 50, 95. Panjang position table adalah 5 byte. Ukuran blok = 130 byte (termasuk IBG = 2 byte). Pemborosan diketahui sebesar 13 byte. Pertanyaan : 1. Hitung panjang R1, R2, R3, R4 2. Sebutkan metode blocking yang dapat digunakan untuk kasus tersebut. 3. Hitung jumlah record yang dapat ditampung dalam sebuah blok.

Jawaban : 1. Untuk mengetahui panjang R1. Kita dapat melakukan perhitungan sebagai berikut : Panjang R1 = Isi position table 2 dikurangi isi position table 1. Panjang R1 = 35 – 5 = 30 byte. Panjang R2 = Isi position table 3 dikurangi isi position table 2. Panjang R2 = 50 – 35 = 15 byte. Panjang R3 = Isi position table 4 dikurangi isi position table 3. Panjang R3 = 95 – 50 = 45 byte. Panjang R4 = Ukuran blok dikurangi dengan (panjang R1, panjang R2, panjang R3, pemborosan, IBG, ukuran panjang position table). Panjang R4 = B – (R1 + R2 + R3 + wasting space + IBG + panjang position table ) = 130 – (30 + 15 + 45 + 13 + 2 + 5) = 20 byte. 2. Metode blocking yang digunakan yaitu : variable length unspanned blocking.

3.

Bfr = (B – o,5 R) / (R + P) = (128 – ½ 27,5) / (27,5 + 5/4) = 3,97

Catatan : B adalah ukuran blok tanpa IBG

4.3 Pemborosan Ruang pada Block
• • Ada dua macam pemborosan ruang : Pemborosan karena IBG (WG) Pemborosan karena metode blocking (WR)

4.3.1 Pemborosan pada Fixed Blocking Rumus :
W = WG + WR

Keterangan : WG = G / Bfr WR = sisa blok / Bfr G adalah ukuran IBG, sedangkan sisa blok merupakan ruang kosong dalam sebuah blok.

Rumus pemborosan pada fixed blocking sering didekati dengan :
W ≈ WG = G / Bfr

4.3.2 Pemborosan pada Variable Length Spanned Blocking

Rumus :

W = P + (P + G) Bfr

Pemborosan tersebut dihitung untuk pemborosan per record, per penanda record, dan per blok pointer.

4.3.3 Pemborosan pada Variable Length Unspanned Blocking Rumus :
W = P + (0,5 R + G) Bfr

Pemborosan tersebut dihitung untuk pemborosan per record, per penanda record, dan per blok pointer. (Sama seperti pemborosan ruang pada Variable Length Spanned Blocking .

4.4 Parameter Penyimpanan Sekunder
Ukuran utama yang digunakan untuk mengukur kualitas disk, diantaranya : • Kapasitas • waktu akses (access time) • kecepatan transfer data (data transfer rate) • reliabilitas (reliability) Random Access Time (RAT) dihitung dengan menggunakan rumus :
RAT = s + r + t

Keterangan : s = Seek Time r = Rotational Latency t = Transfer Rate

4.4.1 Seek Time (s) Seek Time merupakan waktu yang dibutuhkan oleh lengan (arm) pada harddisk untuk menggerakkan head ke posisi track yang dituju dimana data tersebut berada. Semakin jauh arm harus bergerak, seek time semakin tinggi atau semakin lama. Rumus seek time (s) :
S = Sc + δ I ms

Keterangan : Sc = Waktu penyalaan awal.
δ = Waktu untuk head berpindah satu track. i = Jumlah ruang anatar-track yang ditempuh.

4.4.2 Rotational Latency (r) Rotational Latency merupakan waktu yang dibutuhkan head untuk menunggu perputaran disk sehingga data yang akan dibaca tepat berada di bawah head.
Rumus Rotational Latency (r) :
r = 0,5 * 60 * 1000 rpm
ms

Keterangan : rpm = jumlah putaran disk per menit.

4.4.3 Transfer Rate (t) Transfer Rate merupakan kecepatan transfer data aktual dari penyimpanan sekunder ke memori, dan sebaliknya. Transfer rate dihitung dalam jumlah byte data (bps,Kbps,Mbps). Transfer rate banyak dipengaruhi oleh ukuran blok data dan kecepatan membaca dan menulis data pada penyimpanan sekunder. Dalam transfer rate terdapat dua buah besaran yang bergantung pada transfer rate yaitu waktu transfer record dan waktu transfer blok.  Record Transfer Time (TR) merupakan waktu untuk transfer satu record logik berukuran R byte . Rumus yang digunakan yaitu :
TR = R/t

satuan : ms (milisecond)  Block transfer time (btt) merupakan waktu untuk transfer satu block data berukuran B byte. Rumus Yang digunakan yaitu :
Btt = B/t

satuan : ms (milisecond)

Untuk transfer time, semua yang ditransfer diasumsikan sebagai data. Namun, pengaksesan sekumpulan (besar) block tidak dapat menghindari pengaksesan daerah-daerah yang bukan data seperti Inter Block Gap (IBG), Pemborosan ruang (W), Pointer (P), dan sebagainya.

Kemudian dia akhir tiap track harus dilakukan pencarian untuk melanjutkan pengaksesan ke track berikutnya. Selama pencarian, tidak ada data yang ditransfer.
Untuk pengaksesan data dalam jumlah besar secara sekuensial dari titik awal, melewati gap-gap dan batas silinder sampai menemukan blok berisi record yang diinginkan memiliki waktu total yang diistilahkan sebagai bulk transfer rate (t’). Pada bulk transfer rate, rata-rata yang transfer dapat berupa data maupun nondata. Hal ini dipengaruhi oleh ukuran record, ukuran block, pemborosan ruang, dan waktu transfer itu sendiri. Bulk transfer rate (t’) dihitung dengan menggunakan rumus berikut ini :
t’ = R / { L (R + W) / t + s’}

satuan : ms (milisecond)

Dengan
S’ = 1 / L (R+W) / t

Sehingga
t’ = (t/2) * {R/(R+W)}

Dari rumus-rumus tadi terlihat bahwa t’ tergantung pada : • Pemborosan ruang (W) yang merupakan gabungan antara ukuran IBG (G), Ukuran pointer (P), dan jumlah record yang dapat ditampung dalam sebuah blok (Bfr). • Ukuran record (R) • Transfer Rate (t)
Contoh : Sebuah harddisk memiliki karakteristik sebagai berikut : seek time = 10 ms, kecepatan putar 3000 rpm, transfert rate = 1024 byte/s. Penyimpanan record menggunakan metode fixed blocking. ukuran blok 2 KB, ukuran record 128 byte, ukuran IBG 64 byte. Hitung Bfr, r, TR, Btt, W, t’, RAT untuk transfer record.

Jawaban : • Bfr • •


• •

= (B / R) = (2048 / 128) = 16 r = 0,5 x 60 x 1000 / rpm = 30000 / 3000 = 10 ms TR = R /t = 128 / 1024 = 0,125 s Btt = B /t = 2048 / 1024 = 2 s W = G /Bfr = 64 / 16 = 4 byte t’ = (1024 /2 ) x (128 / 128 +4) = 496,48 s RAT untuk transfer record = s+r+t = 10 + 10 + 125 = 145 ms (t yang digunakan adalah nilai TR)

4.5 Pengalamatan Blok
Ada 3 alternatif alamat yang disimpan di blok ini : • Alamat fisik • Alamat relatif • Alamat simbolik 4.5.1 Pengalamatan Fisik Dalam pengalamatan fisik, untuk mengacu satu unit data pada media. Ada 6 besaran yang harus disimpan, diantaranya : • Nomor perangkat fisik • Nomor silinder • Nomor permukaan • Nomor sektor / block • Nomor record dalam block • Nomor field dalam record Metode pengalamatan fisik ini memiliki kelemahan yaitu sulit diimplementasikan, karena bervariasinya kemungkinan peletakan record didalam block.

Selain itu, metode ini sangat bergantung pada perangkat (device-dependent). Akibatnya ketika perangkatnya berbeda, maka hal tersebut mengharuskan perubahan pada parameter-parameter di atas. 4.5.2 Pengalamatan Relatif

Pada pengalamatan relatif, setiap block dinomori dari 0 hingga jumlah maksimum block di dalam media. Sistem operasi menggunakan nomor-nomor tersebut untuk menghitung alamat fisik dari block yang dituju. 4.5.3 Pengalamatan Simbolik
Pada pengalamatan simbolik, setiap block mempunyai alamat simbolik (ID). Dalam pengalamatan ini terdapat tabel alamat yang berisi alamat simbolik dan alamat fisik/relatifnya. Apabila ada sebuah block yang diminta, maka sistem akan mencari di dalam tabel menggunakan ID block tersebut sebagai kunci / key pencarian. Dalam sistem ini block mudah dipindahkan karena hanya mengupdate tabel alamatnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->