BAB III TINJAUAN PUSTAKA I.

Definisi Obstruksi Jaundice

Hambatan aliran empedu yang disebabkan oleh sumbatan mekanik menyebabkan terjadinya kolestasis yang disebut sebagai ikterus obstruktif saluran empedu, sebelum sumbatan melebar. Aktifitas enzim alkalifosfatase akan meningkat dan ini merupakan tanda adanya kolestasis. Infeksi bakteri dengan kolangitis dan kemudian pembentukan abses menyertai demam dan septisemia yang tidak jarang dijumpai sebagai penyulit ikterus obstruktif. (5) II. Anatomi dan Histologis Kandung empedu merupakan kantong berbentuk bulat lonjong seperti buah alpukat dengan panjang sekitar 4-6 cm dan berisi 30-60 ml empedu. Kandung empedu terletak tepat dibawah lobus kanan hati. Kandung empedu terdiri atas fundus, korpus, infundibulum, dan kolum. Fundus berbentuk bulat dan biasanya menonjol dibawah pinggir inferior hepar, dimana fundus berhubungan dengan dinding anterior abdomen setinggi ujung tulang rawan costa IX kanan. Empedu dibentuk oleh sel-sel hati dan ditampung di dalam kanalikuli. Kemudian disalurkan ke duktus biliaris terminalis yang terletak di dalam septum inter lobaris. Saluran ini kemudian keluar dari hati sebagai duktus hepatikus kanan dan kiri. Kemudian keduanya membentuk duktus biliaris komunis. Pada saluran ini sebelum mencapai duodenum terdapat cabang ke kandung empedu yaitu duktus sistikus yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan empedu sebelum disalurkan ke duodenum. Histologi Saluran empedu dilapisi epitel toraks dengan bentuk seperti kriptus, yang didalamnya terdapat sel mukus yang berselang-seling. Sel oto polos yang jarang akan ditemukan di dalam dinding fibrosa duktus utama. Dinding vesika biliaris memiliki empat lapisan. Daerah fundus, korpus dan infundibulum ditutupi oleh peritoneum

1

Sistem Limfatik Drainase pembuluh limfe batang hepatobiliaris bersifat sentrifugal. Vaskularisasi Suplai arteri ke batang saluran empedu ekstrahepatik proksimal muncul dari cabang kecil yang berasal dari arteri hepatika lobaris. Tunika mukosa dilapisi epitel toraks tinggi. dan hati. Persyarafan Sistem Saluran Empedu Persyarafan otonom batang saluran empedu terdiri dari serabut saraf simpatis (nervus vagus) dan simpatis (torasika) yang mengikuti jalannya suplai vaskular. duktus sistikus. tiga sisiya dibatasi oleh duktus hepatikus komunis. Pembuluh dari parenkim hati dan batang saluran empedu intrahepatik berkonvergensi pada porta hepatis dan berjalan sepanjang duktus hepatikus komunis di dalam ligamentum hepatoduodenale untuk memasuki sisterna khili dan kemudian duktus torasikus. yang bila terjadi peradangan. Limfe vesika biliaris berdrainsase sepanjang duktus sistikus ke dalam jalinan ini. dan vaskularisasi duktus koledokus distal oleh cabang dari arteri gastroduodenalis dan arteri pankreatikoduodenalis superior. Pada kolesistisis. Tunika muskularis mengandung serabut otot longitudinalis. Perimuskularis dibawahnya merupakan jaringan lapisan ikat dengan penonjolan yang bervariasi dan kaya pembuluh darah dan pembuluh limfe. Arteri sistika yang ke vesika biliaris biasanya berasal dari arteri hepatika dekstra yang terletak posterior lateral terhadap duktus heaptikus komunis. bisa berinvaginasi secara dalam untuk membentuk sinus Rokitansky-Aschoff. Sel yang mensekresi mukus hanya menonjol pada daerah kollum. Selama kolesistektomi. arteri sistika ditemukan pada basis duktus sistikus dalam segitiga Calot. kelenjar limfe yang membesar khas bisa ditemukan pada kollum vesika biliaris (nodus limfatikus duktus sistikus) maupun pada sambungan duktus sistikus dengan koledokus serta sepanjang bagian supraduodenal distal dari duktus koledokus.viseralis. Persyarafan vagus muncul dari vagus anterior serta penting dalam mempertahankan tonus 2 . Drainase vena ke batang saluran empedu ekstrahepatik dan vesika biliaris langsung ke vena porta.

empedu disimpan untuk sementara di dalam kandung empedu. Pada saat yang sama. hormon kemudian masuk kedalam darah. Kandung empedu mampu memekatkan zat terlarut yang kedap. dan di akan mengalami pemekatan sekitar 50 %. Sebagian produksi empedu dipengaruhi oleh kendali otonom. menyebabkan kandung empedu berkontraksi.Kandung empedu mampu menyimpan sekitar 45 ml empedu. Empedu dialirkan sebagai akibat kontraksi dan pengosongan parsial kandung empedu. Diluar waktu makan. Lemak menyebabkan pengeluaran hormon kolesistokinin dari mukosa duodenum.dan kontraktilitas vesika biliaris. normalnya antara 600-1200 ml/hari. yang terkandung dalam empedu hepatik 5-10 kali dan mengurangi volume nya 80-90%. Fungsi primer dari kandung empedu adalah memekatkan empedu dengan absorpsi air dan natrium. Gambar 1 anatomi system hepatobilier III. Proses koordinasi dari kedua aktifitas ini disebabkan oleh dua hal berikut ini yaitu : 3 . Mekanisme ini diawali dengan masuknya makanan berlemak kedalam duodenum. Garam – garam empedu dalam cairan empedu penting untuk emulsifikasi lemak dalam usus halus dan membantu pencernaan dan absorbsi lemak. Fisiologis Salah satu fungsi hati adalah untuk mengeluarkan empedu. Serabut simpatis aferen memperantarai nyeri kolik biliaris. otot polos yang terletak pada ujung distal duktus coledokus dan ampula relaksasi. sehingga memungkinkan masuknya empedu yang kental ke dalam duodenum.

1997 empedu melakukan dua fungsi penting yaitu : Empedu memainkan peranan penting dalam pencernaan dan absorpsi lemak. Sisanya adalah bilirubin. dan kelebihan kolesterol yang di bentuk oleh sel. diekstraksi oleh hepatosit. lemak organic dan elektrolit yang secara normal disekresi oleh hepatosit.a. Empedu bekerja sebagai suatu alat untuk mengeluarkan beberapa produk buangan penting dari darah. bilirubin diangkut oleh protein Y dan Z ke retikulum endoplasma. Pigmen ini direduksi menjadi bilirubin yang tak larut air yang tak terkonjugasi (bilirubin indirect yang diukur dengan reaksi van den bergh). asam lemak. dan kolesterol merupakan komponen terbesar (90%) cairan empedu. antara lain bilirubin. dan garam anorganik. Neurogen :Stimulasi vagal yang berhubungan dengan fase Cephalik dari sekresi cairan lambung atau dengan refleks intestino-intestinal akan menyebabkan kontraksi dari kandung empedu. diangkut ke dalam darah dan terikat pada albumin. Pengaturan produksinya dipengaruhi mekanisme umpan balik yang dapat ditingkatkan sampai 20 kali produksi normal kalau diperlukan. lesitin. Dengan adanya glukoronil transferase. Hormonal :Zat lemak yang terdapat pada makanan setelah sampai duodenum akan merangsang mukosa sehingga hormon Cholecystokinin akan terlepas. Garam empedu adalah steroid yang dibuat oleh hepatosit dan berasal dari kolesterol. Di dalam sitoplasma. (3) Empedu Empedu secara primer terdiri dari air. Menurut Guyton &Hall. bilirubin 4 . suatu produk akhir dari yang penghancuran hemoglobin. karena asam empedu membantu mengemulsikan partikel-partikel lemak yang besar menjadi partikel yang lebih kecil dengan bantuan enzim lipase yang disekresikan dalam getah pancreas serta asam empedu membantu transpor dan absorpsi produk akhir lemak yang dicerna menuju dan melalui membran mukosa intestinal. maka hemoglobin dilepaskan dan diubah menjadi biliverdin.sel hati. Hormon ini yang paling besar peranannya dalam kontraksi kandung empedu. Garam empedu. Metabolisme bilirubin Karena eritrosit yang sudah tidak berguna lagi di degradasi di dalam sistem retikuloendotelial.

untuk membentuk bilirubin glukoronida dan bilirubin sulfat. Beban bilirubin harian bagi sekresi sekitar 30 mg. Di dalam usus. Urobilinogen ini terutama diekskresikan di dalam feses. Gambar 2 5 . tetapi sebagian di reabsorpsi dan di ekstraksi oleh hepatosit untuk memasuki sirkulasi enterohepatik atau diekskresikan di dalam urin. Bilirubin terkonjugasi yang larut dalam air ini (bilirubin direct) kemudian disekresi ke dalam kanalikuli biliaris melalui mekanisme transpor aktif yang sama dengan yang dimiliki oleh garam organik lain.dikonjugasikan dengan asam glukoronat dan dalam jumla lebih sedikit dengan sulfat. tetapi berbeda dari sekresi garam empedu. bakteri usus mengubah bilirubin ke kelas senyawa yang dikenal sebagai urobilinogen.

Penyimpanan asam empedu hidrofobik mengindikasikan penyebab utama hepatotoksisitas dengan perubahan sejumlah fungsi sel penting. seperti kolesterol. obatobatan. Patofisiologis Empedu merupakan sekresi multi-fungsi dengan susunan fungsi. mengakibatkan steatorrhea dan defisiensi vitamin larut lemak (A. efek patofisiologisnya mencerminkan ketiadaan komponen empedu (yang paling penting bilirubin. dan berbagai hormon. Level tinggi sirkulasi garam empedu berhubungan dengan. dan metabolitnya. bilirubin. K). pruritus. (4) Pada obstruksi jaundice. termasuk pencernaan dan penyerapan lipid di usus. Ketiadaan garam empedu dapat menyebabkan malabsorpsi. Kolesterol dan retensi fosfolipid menyebabkan hiperlipidemia karena malabsorpsi lemak (meskipun meningkatnya sintesis hati dan menurunnya esterifikasi kolesterol juga punya andil). (4) Penyakit hati kolestatik ditandai dengan akumulasi substansi hepatotoksik.IV. seperti produksi energi mitokondria. disfungsi mitokondria dan gangguan pertahanan antioksidan hati. Feses biasanya menjadi pucat karena kurangnya bilirubin yang mencapai usus halus. karsinogen. dan lipid) di usus halus. Gangguan metabolisme mitokondria dan akumulasi asam empedu hidrofobik berhubungan dengan meningkatnya produksi oksigen jenis radikal bebas dan berkembangnya kerusakan oksidatif. namun tidak menyebabkan. level trigliserida sebagian besar tidak terpengaruh. D. dan menyediakan jalur primer ekskresi beragam komponen endogen dan produk metabolit. defisiensi vitamin K bisa mengurangi level protrombin. Beberapa bilirubin terkonjugasi mencapai urin dan menggelapkan warnanya. (4) 6 . dan cadangannya. Pada kolestasis berkepanjangan. seiring malabsorpsi vitamin D dan Ca bisa menyebabkan osteoporosis atau osteomalasia. garam empedu. eliminasi toksin lingkungan. yang menyebabkan tumpahan pada sirkulasi sistemik. (4) Retensi bilirubin menyebabkan hiperbilirubinemia campuran.

Hilangnya berat badan. Kandung empedu yang teraba membesar pada pasien jaundice juga diduga sebuah malignansi ekstrahepatik (hukum Couvoissier). tumor kaput pankreas. biasanya berupa kolangitis piogenik intrahepatik. Apabila timbul serangan kolangitis yang umumnya disertai obstruksi. mungkin ditimbulkan karsinoma pankreas. (4) Batu Saluran Empedu (Koledokolitiasis) Pada batu duktus koledokus. Manifestasi Klinis Jaundice. Apabila terjadi kolangiolitis. massa abdomen. dan jaundice intermiten mungkin diduga kolangitis/koledokolitiasis. jaundice yang semakin dalam. nyeri didaerah hati. Jaundice yang dalam (dengan rona kehijauan) yang intensitasnya berfluktuasi mungkin disebabkan karsinoma peri-ampula. karsinoma 7 . karsinoma ampulla. akan ditemukan gejala klinis yang sesuai dengan beratnya kolangitis tersebut. Etiologi Sumbatan saluran empedu dapat terjadi karena kelainan pada dinding saluran misalnya adanya tumor atau penyempitan karena trauma (iatrogenik). Kolangitis akut yang ringan z sampai sedang biasanya kolangitis bakterial non piogenik yang ditandai dengan trias Charcot yaitu demam dan menggigil. Batu empedu dan cacing askaris sering dijumpai sebagai penyebab sumbatan di dalam lumen saluran. (4) VI. riwayat nyeri atau kolik di epigastrium dan perut kanan atas disertai tanda sepsis. seperti demam dan menggigil bila terjadi kolangitis. feses pucat dan pruritus general merupakan ciri jaundice obstruktif. tumor kandung empedu atau anak sebar tumor ganas di daerah ligamentum hepatoduodenale dapat menekan saluran empedu dari luar menimbulkan gangguan aliran empedu. divertikel duodenum dan striktur sfingter papila vater. urin pekat. akan timbul 5 gejala Ringkasnya etiologi disebabkan oleh: koledokolitiasis. kolik bilier. striktur bilier. Riwayat demam. (5) Beberapa keadaan yang jarang dijumpai (5) sebagai penyebab sumbatan antara lain kista koledokus. pankreas. nyeri yang menjalar ke punggung. abses amuba pada lokasi tertentu. Pankreatitis. dan ikterus. kolangiokarsinoma.V.

dan kekacauan mental atau penurunan kesadaran sampai koma. Migrasi batu empedu kecil melalui ampula Vateri sewaktu ada saluran umum diantara duktus koledokus distal dan duktus pankreatikus dapat menyebabkan pankreatitis batu empedu. Obstruksi batu pada gallbladder dan manifestasi klinis Koledokolitiasis sering menimbulkan masalah yang sangat serius karena komplikasi mekanik dan infeksi yang mungkin mengancam nyawa. Episode parah kolangitis akut dapat menyeb abkan abses hati. Tersangkutnya batu empedu dalam ampula akan menyebabkan ikterus obstruktif.pentade Reynold. Obstruksi pada ampula 8 . Gambar 3 . Gambar 4. berupa tiga gejala trias Charcot. dapat timbul kolangitis akut. ditambah syok. Batu duktus koledokus disertai dengan bakterobilia dalam 75% persen pasien serta dengan adanya obstruksi saluran empedu.

Di samping itu. yaitu demam dan menggigil. maka batang saluran empedu tidak memberikan kemungkinan dengan pemeriksaan palpasi luar (kecuali vesika biliaris yang berdistensi). Semuanya menggambarkan penyakit saluran empedu. Kelainan batang saluran empedu sering bisa dicurigai atas dasar riwayat penyakit saja. Sehingga berbeda dari banyak sistem tubuh lain. Pemeriksaan Fisik Batu saluran empedu tidak menimbulkan gejala atau tanda dalam fase tenang. baru akan timbul ikterik klinis. Tetapi gambaran ini tidak patognomonik bagi penyakit saluran empedu dan kadang-kadang bisa timbul sekunder terhadap penyakit dalam sistem organ lain. Apabila terjadi kolangiolitis. Nyeri kuadran kanan atas. demam dan kedinginan serta riwayat ikterus. Kadang teraba hati agak membesar dan sklera ikterik. nyeri tekan kuadran kanan atas dan massa pada kuadan kanan atas sangat bermanfaat dalam memusatkan diagnosis pada batang saluran empedu. Lebih lanjut karena lokasi anatominya. akan ditemukan gejala klinis yang sesuai dengan beratnya kolangitis tersebut. berupa tiga gejala tria charcot. intoleransi makanan berlemak. gejala ikterik tidak jelas. 9 . Kolangitis akut yang ringan sampai sedang biasanya kolangitis bakterial nonpiogenik yang ditandai dengan trias Charcot. Apabila sumbatan saluran empedu bertambah berat. ditambah shock dan kekacauan mental atau penurunan kesadaran sampai koma. sebenarnya diagnosis pasti sebagian besar kasus saluran empedu selalu memerlukan bantuan pemeriksaan laboratorium dan/atau teknik pembuatan gambar radiografi. gambaran fisis ikterus.VII. nyeri di daerah hati dan ikterus. sonografi atau radionuklir. biasanya berupa kolangiolitis piognik intrahepatik. akan timbul lima gejala pentade reynold. urin berwarna gelap dan feses berwarna terang. Apabila timbul serangan kolangitis yang umumnya disertai dengan obstruksi. Diagnosis(4) 1. Tes diagnostik ini telah dirancang secara primer untuk mendeteksi adanya batu empedu dan/atau untuk menentukan adanya obstruksi atau halangan aliran empedu dengan analisis kimia berbagai fungsi hati dan ekskresi empedu atau dengan visualisasi langsung anatomi batang saluran empedu. Perlu diketahui bila kadar bilirubin darah kurang dari 3mg/dl.

CEA dan CA-125 biasanya meningkat pada karsinoma pankreas. Serum bilirubin biasanya < 20 mg/dL. namun penanda tersebut tidak spesifik dan mungkin saja meningkat pada penyakit jinak percabangan hepatobilier lainnya. namun transamin tetap normal. Alkali fosfatase meningkat 10 kali jumlah normal. kolangiokarsinoma. Transaminase juga mendadak meningkat 10 kali nilai normal dan menurun dengan cepat begitu penyebab obstruksi dihilangkan. dan karsinoma peri-ampula. Penanda tumor seperti CA 19-9.Umumnya.2. Serum gamma glutamyl transpeptidase (GGT) juga meningkat pada kolestasis. Pemeriksaan laboratorium Meningkatnya level serum bilirubin dengan kelebihan fraksi bilirubin terkonjugasi. alkali fosfatase meningkat 10 kali nilai normal. (3) untuk mengidentifikasi penyebab spesifik obstruksi. pada pasien dengan penyakit batu kandung empedu hiperbilirubinemia lebih rendah dibandingkan pasien dengan obstruksi maligna ekstrahepatik. (2) untuk menentukan level obstruksi. Meningkatnya leukosit terjadi pada kolangitis. pemeriksaan radiologis Tujuan dibuat pencitraan adalah: (1) memastikan adanya obstruksi ekstrahepatik (yaitu membuktikan apakah jaundice akibat post-hepatik dibandingkan hepatik). informasi staging pada kasus malignansi) 10 . bilirubin serum meningkat menjadi 35-40 mg/dL. 3. Pada karsinoma pankreas dan kanker obstruksi lainnya. (4) memberikan informasi pelengkap sehubungan dengan diagnosa yang mendasarinya (misal.

metastase hepatik. membandingkan antara obstruksi intra. seperti staging malignansi gastrointestinal. perubahan parenkimal hepatik).dan ekstrahepatik dengan akurasi 95%. mengidentifikasi penyebab dan memberikan informasi lain sehubuungan dengan penyakit (mis.USG obstruksi jaundice CT : memberi viasualisasi yang baik untuk hepar. hepar dan struktur yang mengelilinginya. pankreatitis dan perdarahan. EUS juga bisa digunakan untuk aspirasi kista dan biopsi lesi padat. kebocoran bilier.USG : memperlihatkan ukuran duktus biliaris. kandung empedu. 11 . ginjal dan retroperitoneum. EUS (endoscopic ultrasound) : memiliki beragam aplikasi. namun tidak dapat diandalkan untuk batu kecil atau striktur. memperlihatkan batu kandung empedu dan duktus biliaris yang berdilatasi. EUS juga berguna untuk mendeteksi dan staging tumor ampula. kandung empedu. Namun prosedur ini invasif dan bisa menyebabkan komplikasi seperti kolangitis. ERCP dan PTC : menyediakan visualisasi langsung level obstruksi. koledokolitiasis dan evaluasi striktur duktus biliaris benigna atau maligna. deteksi mikrolitiasis. pankreas. USG : identifikasi obstruksi duktus dengan akurasi 95%. kista atau abses di pankreas. Gambar 5. mendefinisikan level obstruksi. evaluasi tumor submukosa dan berkembang menjadi modalitas penting dalam evaluasi sistem pankreatikobilier. Juga dapat memperlihatkan tumor. CT dengan kontras digunakan untuk menilai malignansi bilier.

Pasien-pasien dengan cholangitis adalah sangat sakit dengan suatu demam yang tinggi dan peningkatan jumlahjumlah sel darah putih. Komplikasi Obstruktif Jaundice 1. kolangitis dan pankreatitis IX. BSE yang tidak keluar spontan akan tetap berada dalam saluran empedu dan dapat membesar. Kolesistektomi dengan atau tanpa eksplorasi duktus komunis tetap merupakan tindakan pengobatan untuk penderita dengan batu empedu simptomatik. 2. Cholangitis Cholangitis adalah suatu kondisi dimana empedu didalam saluran-saluran common. Sebagian ahli 12 . Visualisasi yang baik dari anatomi bilier memungkinkan tanpa sifat invasif dari ERCP. Pankreatits akut Batu saluran empedu (BSE) kecil dapat masuk ke duodenum spontan tanpa menimbulkan gejala atau menyebabkan obstruksi temporer di ampula vateri sehingga timbul pankreatitis akut dan lalu masuk ke duodenum (gallstone pancreatitis). Gambaran klinis koledokolitiasis didominasi penyulitnya seperti ikterus obstruktif. MRCP adalah murni diagnostik. VIII. Seperti cholecystitis. Tindakan operatif a.Magnetic Resonance Cholangio-Pancreatography (MRCP) merupakan teknik visualisasi terbaru. dan intrahepatik menjadi terinfeksi. hepatik. banyak ahli menganjurkan terapi konservatif. Tidak seperti ERCP. non-invasif pada bilier dan sistem duktus pankreas. Cholangitis mungkin berakibat pada suatu abses (abscess) didalam hati atau sepsis. Kolesistektomi Terapi terbanyak pada penderita batu kandung empedu adalah dengan operasi. Hal ini terutama berguna pada pasien dengan kontraindikasi untuk dilakukan ERCP. infeksi menyebar melalui saluran-saluran dari usus kecil setelah saluran-saluran menjadi terhalang oleh sebuah batu empedu. Pembedahan untuk batu empedu tanpa gejala masih diperdebatkan. Penatalaksanaan 1.

Indikasi dari kolesistostomi adalah : 1. 2. kesulitan teknik operasi. 3. Adanya keluhan bilier apabila mengganggu atau semakin sering atau berat. 13 . kandung empedu yang tidak tampak pada foto kontras dan sebagainya b. maka mereka sepakat bahwa pembedahan adalah pengobatan yang paling tepat yaitu kolesistektomi efektif dan berlaku pada setiap kasus batu kandung empedu kalau keadaan umum penderita baik.lainnya berpendapat lain mengingat “silent stone” akhirnya akan menimbulkan gejala-gejala bahkan komplikasi. Adanya komplikasi atau pernah ada komplikasi batu kandung empedu. Sfingerotomy endosokopik. 3. karena ada penyakit lain yang berat yang menyertai. c. Keadaan umum sangat buruk misalnya karena sepsis 2. PTBD (perkutaneus transhepatik bilirian drainage) . Indikasi kolesistektomi sebagai berikut : 1. Penderita yang berumur lanjut. Kerugian dari kolesistostomi mungkin terselipnya batu sehingga sukar dikeluarkan dan kemungkinan besar terjadinya batu lagi kalau tidak diikuti dengan kolesistektomi. Kolesistostomi Beberapa ahli bedah menganjurkan kolesistostomi dan dekompresi cabang-cabang saluran empedu sebagai tindakan awal pilihan pada penderita kolesistitis dengan resiko tinggi yang mungkin tidak dapat diatasi dengan kolesistektomi dini. Adanya penyakit lain yang mempermudah timbulnya komplikasi misalnya Diabetes Mellitus. Tersangka adanya pankreatitis. Pemasangan “T Tube ” saluran empedu koledoskop dan Laparatomi kolesistektomi pemasangan T Tube.

juga untuk memperkecil kemungkinan batu memasuki duktus sistikus. c.2. Di samping itu untuk memberi makanan secukupnya untuk memelihara berat badan dan keseimbangan cairan tubuh. Pemecahan batu menjadi partikel kecil bertujuan agar kelarutannya dalam asam empedu menjadi meningkat serta pengeluarannya melalui duktus sistikus dengan kontraksi kandung empedu juga menjadi lebih mudah. secara invivo telah dimulai sejak 1973 di klinik Mayo. Kandung empedu yang tidak berfungsi. Pemberian CDCA dibutuhkan syarat tertentu yaitu : 1. Penyakit hati yang kronis 3. Wanita hamil 2. Tindakan non operatif a. Bahan makanan yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan makanan juga harus dihindarkan. Kadang-kadang 14 . b. Amerika Serikat juga dapat berhasil. Penghentian pengobatan CDCA setelah batu larut sering timbul rekurensi kolelitiasis. Pengobatan dengan asam empedu ini dengan sukses melarutkan sempurna batu pada sekitar 60 % penderita yang diobati dengan CDCA oral dalam dosis 10 – 15 mg/kg berat badan per hari selama 6 sampai 24 bulan. Kolik empedu berat atau berulang-ulang 4. Dietetik Prinsip perawatan dietetic pada penderita batu kandung empedu adalah memberi istirahat pada kandung empedu dan mengurangi rasa sakit. Terapi disolusi Penggunaan garam empedu yaitu asam Chenodeodeoxycholat (CDCA) yang mampu melarutkan batu kolesterol invitro. Pembatasan kalori juga perlu dilakukan karena pada umumnya batu kandung empedu tergolong juga ke dalam penderita obesitas. hanya tidak dijelaskan terjadinya kekambuhan. Extracorporeal Shock Wave Lithotripsi (ESWL) ESWL merupakan litotripsi untuk batu empedu dimana dasar terapinya adalah disintegrasi batu dengan gelombang kejut sehingga menjadi partikel yang lebih kecil.

Sumbatan saluran empedu dapat terjadi karena kelaian pada dinding saluran empedu misalnya adanya tumor atau penyempitan karena trauma (iatrogenik). Obstruksi jaundice dapat terjadi akibat adanya hambatan saluran empedu. Kesimpulan Secara umumnya. sclera mata atau jaringan lainnya (mebran mukosa) yang menjadi kuning karena pewarnaan bilirubin yang meningkat konsentrasinya dalam sirkulasi darah. X. 15 . maka diet dengan menggunakan buah-buahan dan sayuran yang tidak mengeluarkan gas akan sangat membantu. Pengobatan ikterus sangat bergantung penyakit dasar penyebabnya.penderita batu kandung empedu sering menderita konstipasi. obstruksi jaundice adalah perubahan warna kulit.

BAB IV DAFTAR PUSTAKA 1. 570-9..html 4. Bonheur. Patofisiologi Pembentukan Batu Empedu. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jr. Buku Ajar Ilmu Bedah.info/cholelithiasis-patofisiologi-pembentukan-batu-empedu20110216. Febuary. Diunduh dari : http://emedicine.115-128 Sjamsuhidayat R. 5. Buku Ajar Ilmu Bedah. Diunduh dari http://www. de Jong W.2010. Diagnosis of Obstructive Jaundice.gov/pmc/articles/PMC1501243/.nih. Cholelithiasis. Barrett P. Febuary. 4 2012 16 . J.com/article/187001-overview. Jakarta:EGC. 3.nlm. Clarke. Sabiston David C. James S. 2005.L. 2.medscape. Diunduh dari: http://ilmubedah. Edisi 2.ncbi. Biliary Obstruction. 4 2012.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful