P. 1
Agama Dan Kekerasan

Agama Dan Kekerasan

|Views: 17|Likes:
Agama dan kekerasan dalam sebuah ajaran.
Agama dan kekerasan dalam sebuah ajaran.

More info:

Published by: Vincent Kalvin Wenno on Aug 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2013

pdf

text

original

Agama dan Kekerasan

Bisakah kekekersan di lakukan atas nama agama? Memahai tetang agama adalah penting apa lagi Ideologi dari agama yang pada hakikatnya memiliki perspektif dan tujuan dengan ideology liberalism dan komunisme. Agama menjadi cirri yang banyak terutama dari penentuan tipologi kegamaan karena diselingi dengan wujud, gerak dan tujuan dari ideology tersebut. Ideologi keagamaan senatiasa mendasarkan pemikiran, cita-cita serta moral pada ajaran agama tertentu. Gerakan politik mendasarkan pada ideology keagamaan lasimnya sebagi suatu reaksi atas ketidak adalian , penindasan dan pemaksaan terhadap suatu bangsa, etnis, kelompok yang dasarnya pada agama. Initinya Agma menolak kekerasa atas nama Agama maka itu ada beberapa para ahli dan penjelas meraka dan juga pandangan saya terhadap kekarasan di pakai atas nama agama. Menurut Para Ahli tentang kekerasan atas nama agama :  Agama anti Diskriminasi dan anti Kekerasan: Belajar dari Hubungan KristenIslam di Timur Tengah Tatkala politik kekerasan yang berwajah konflik agama menggejala akhir-akhir ini, menyusul desakan tokoh-tokoh agama di Ciganjur untuk segera menghentikan segala bentuk politisasi agama.  Gus Dur mengemukakan pernyataannya bahwa Indonesia harus segera menentukan sikap: memilih Negara teokrasi (yang mendasar-kan Negara pada agama) atau Negara sekuler (yang memisahkan Negara dari agama). Istilah "Sekuler" sudah sejak lama menimbulkan alergi dan reaksi yang apriori. Tetapi sebenarnya, reaksi demikian lebih diarahkan pada penerapan sistem itu, yang sebaliknya terlalu ekstrim di Barat, di mana proses penyelenggaraan Negara disterilkan sama sekali dari moral agama. Fenomena tersebut boleh disebut Sekularisme. Padahal istilah Sekularisasi (berasal dari kata Latin: saecu-lum, "dunia"), justru mula-mula diarahkan untuk menghantam agama totalitas kosmik (ontokrasi) yang mengkeramatkan segala yang ada, termasuk pendewaan terhadap raja dan negara. Dalam kekuasaan-kekuasaan absolut tersebut, agama dijadikan justifikasi untuk merebut dan melanggengkan kekuasaan. Justru, melalui Sekularisasi itu ditempatkan kembali "(kekuasaan) dunia" yang selama itu disakralkan, sebagai dunia (saeculum) yang profan belaka. Dalam sejarah agama-agama Semitik, proses itu dimulai dari Israel (agama Musa): "Here a breaks is made with the everlasting cycle of nature and the timeless presentness of myth ".3) (Di sini diputuslah lingkaran alam yang melilit abadi dan mite tanpa waktu). Dengan proses itu, selanjutnya di dunia Barat melalui Renaisance dan Aufklaerung, -- meminjam padanan istilah yang diusulan Cak Nur, -- melakukan proses de-Sakralisasi yang menghantam kekuasaan

absolut "Droit Divin" (kekuasaan ilahi Raja),4) yang di belahan Timur lazim disebut kekuasaan "Dewa-raja". Agama, Kekuasaan dan Kekerasan: Belajar dari Sejarah Perjumpaan Banyak ahli sepakat adanya kaitan yang sangat erat antara kekuasaan dan kekerasan. Ketika agama tersubordinasi di bawah kekuasaan, disana ia gagal menjalankan fungsi profetis/ kenabiannya, lalu menjelma sebagai "alat legitimasi" kekuasaan untuk meloloskan kemauankemauan politik suatu golongan. Lebih-lebih bila agama itu mayoritas di suatu negara, ia sangat potensial dijadikan legitimasi kekuasaan untuk memaksakan kehendaknya kepada ummat. Sejarah perkembangan agama-agama besar sendiri telah membuktikan itu. Ketika Konstantin agung menjadi Kristen tahun 313, ia menjadikan Kekristenan sebagai "agama Negara". Memang, Kekristenan seperti "naik kelas": dari agama rakyat teraniaya yang secara sembunyi-sembunyi beribadah di katakombe-katakombe (gua-gua) wilayah kekaisaran Roma, menjadi agama negara, dengan segala atribut kebanggaannya. Euforia yang merayakan gegap gempitanya masa transisi dari agama tertindas ke agama negara ini, dalam Gereja Orthodoks Syria digambarkan dalam kisah para penghuni gua Efesus. Kisah itu secara lengkap dijumpai dalam buku berjudul: Ahl al-Kahfi fii Mushadir Al Suryaniyyat, 6) dikisahkan tujuh orang pemuda yang bersembunyi di sebuah gua pada masa penganiayaan Kaisar Dakeus yang memerintah tahun 249-251, yang oleh takdir Ilahi ditidurkan panjang sampai tahun 447, ketika Kaisar Deodeus II yang sudah menjadi Kristen dan menjadikan Kekristenan sebagai agama Negara. Tetapi sejak Roma memposisikan dirinya menjadi "pelindung" gereja-gereja Kristen di wilayah kekuasaannya (di Timur Tengah), justru lembar-lembar sejarah berikutnya ditandai dengan pertumpahan demi pertumbahan darah. Kenyataannya, Gereja Orthodoks Syria hanya sebentar saja merayakan "euphoria Konstantinus" itu, selanjutnya menjadi Gereja yang paling teraniaya oleh sesama Kristen: mereka menjadi sasaran fitnah, dicap sebagai aliran heresy (sesat) bahkan penganiayaan fisik oleh pihak Byzantium, sampai --justru tentara Arab Muslimlah yang membebaskan mereka. Nasib yang sama juga menimpa Gereja Koptik di Mesir, sebagaimana dicatat oleh Aziz S. Atiya, dalam History of Eastern Christianity. 7) Kisah gugurnya Menas saudara Ba-thrik Koptik Benyamin, pada tahun 632 sebagai martyr (syu-hada’) di tangan Cyrrus, utusan Kaisar Heraklitus, telah mendorong mereka lebih menyambut pemerintahan Islam sebagai pembebas mereka kira-kira 7 tahun sesudah peristiwa tersebut. Apakah yang dapat dipelajari dari pengalaman sejarah Gereja Syria dan Koptik ini? Pertama, bahwa ternyata : Politisasi agama (oleh pihak Byzantium) yang menggunakan kelompok mayoritas Kristen, telah menyebabkan serangkaian penindasan atas nama "kebenaran", bukan hanya terhadap agama lain, tetapi juga terhadap lingkungan agama sendiri yang berbeda formula keimanannya. Kedua, pengalaman perjumpaan yang intens dengan umat beragama lain, mengantarkan pada pengakuan terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang lebih luas yang tidak terkungkung agama sendiri, sehingga orang-orang Kristen tertindas ini justru menyambut tentara Arab-Islam sebagai pembebas yang adil. Pengalaman nyata perjumpaan antar iman ini, telah mengajar orang-orang

Kristen Orthodoks di Timur Tengah untuk melakukan proses -- yang akhir-akhir ini acap disebut "crossing over" atau "pasing over" (melintas batas Agama) -- dan membaptiskan nilai-nilai keadilan dan kebaikan, dari manapun asalnya, sebagai keadilan dan kebaikan sejati. Sebaliknya, mereka juga sekaligus belajar dewasa dalam beragama, yang antara lain ditandai dengan sikap otokritik : jujur mengakui bahwa brengsek itu tetap brengsek, kendati hal itu terjadi dalam agama sendiri. Manusia untuk Agama, atau Agama untuk Manusia? Setiap agama mempunyai klaim-klaim eksklusif, yang bila dibawakan secara vulgar akan menjadi pemicu dalam hubungan antaragama. Tanpa menyangkal adanya penegasan semacam itu dalam setiap agama, Gereja-gereja Timur meneruskan penghayatan patristik/salafiyah Gereja, mencoba memahami ayat-ayat eksklusif itu dengan lebih serius merenungi pribadi ‘Isa alMasih secara theantropos. Maksudnya, memahami al-Masih dalam relasi "Yang Ilahi-yang insani". Karena itu, kata ganti diri Aku: menunjuk kepada Kalimatullah yang ghayr al-Makhluk (bukan ciptaan) dan qadim, yang bersama Ruh Allah berdiam dalam Allah Yang Mahaesa, tetapi sekaligus juga Makhluq (ciptaan) dalam nuzulNya sebagai Manusia. Yang pertama mutlak, universal dan kekal, sedangkan yang kedua relatif, terbatas dan temporal. Kahal, eklesia (gereja) atau ummat adalah jalan, bukan tujuan (betapapun paling baiknya agama tersebut dalam penghayatan penganutnya). Dalam kesadaran penuh memproklamasikan sebuah esoterisme, ‘Isa al-Masih merelativisir eksoterisme : "Hari Sabat (baca: agama) diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat (baca: agama)" (Markus 3:27). Karena itu misi agama-agama adalah kemanusiaan. Harus ditekankan, setiap agama mempunyai nilai-nilai universal dalam dirinya. Tetapi ketika prinsip-prinsip itu harus berjumpa dengan kenyataan empiris, ia dibungkus oleh bingkai partikular berupa "organized religion". Pemutlakan terhadap agama sebagai agama (dan bukan terhadap Allah), -- sadar atau tidak -- telah melahirkan sikap diskriminatif terhadap pihak lain yang berbeda formula keimanannya. Karena itu, mengor-bankan prinsip-prinsip kebenaran universal di bawah "bingkai partikular" suatu agama, nyata-nyata suatu bentuk "dehumanisasi". Di sini religiositas, yang lebih menunjuk pada kualitas penghayatan seseorang atas ajaran yang diyakininya, ditun-dukkan oleh bentuk formal rumus-rumus keagamaan yang baku. Untuk fenomena di atas, kita dapat belajar dari sejarah panjang diskriminasi "atas nama agama". Apa yang harus kita katakan, ketika untuk alasan "kebenaran" agama: "The medieval Church did not view the taking of a man’s life as lightly as does the modern state"?. 12) (Gereja abad pertengahan tidak memandang bahwa merampas nyawa manusia se-enteng yang terjadi di Negara modern sekarang). Apa pula yang mesti kita katakan, di abad kita sekarang inipun, kita masih membaca dalam Qanun-i Shahadat (Hukum Pembuktian) yang berlaku di Pakistan (1984): bahwa di ruang pengadilan kesaksian seorang pria Kristen hanya bernilai separuh dibanding kesaksian pria Muslim?. 13) Tentu saja, praktek semacam ini sangat jauh dari teladanteladan luhur seperti yang diberikan Nabi Muhammad dan para sahabatnya terhadap ahlu adzDzimmiy (Yahudi/Kristen) pada masanya. Juga, bukankah "concerto for violence" -- meminjam istilah Max I. Dimont, 14) -- yang tanpa rasa bersalah selalu dimainkan oleh gereja abad-abad Pertengahan, begitu jauhnya dengan sabda-sabda Yesus da-lam Injil, yang bahkan harus

mengasihi musuh sekalipun?.15) Kendati mungkin ini bukan satu-satunya jawaban, tetapi dalam kedua kasus yang dicatat di atas, faktor pendorong utamanya ialah akibat campur-aduknya agama dengan politik. Karena itu agama hendaknya ditempatkan sesuai dengan proporsinya, khususnya dalam masyarakat majemuk Indonesia.

 Jonna Marcy anti-kekerasan merupakan tujuan luhur manusia. Siapa yang ingin ada pertumpahan darah, pembantaian wanita, dan anak-anak yang tak berdosa hidup dalam ancaman? Tujuan luhur manusia itu sejajar dengan ajaran semua agama juga memiliki tujuan yang sama: kedamaian dan anti-kekerasan. Semua agama yang ada di muka bumi ini mengajarkan kebaikan dan kedamaian hidup manusia. Buddha mengajarkan kesederhanaan, Kristen mengajarkan cinta kasih, Konfusianisme mengajarkan kebijaksanaan, dan Islam mengajarkan kasih sayang bagi seluruh alam. Islam, dilihat dari segi namanya saja merupakan agama yang unik, karena ia berarti keselamatan, kedamaian, atau penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Inilah sesungguhnya makna firman Allah, Inna al-din ind Allah al-Islam , (Q.s. Ali Imran/3:19) Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah ialah Islam. Bila Islam diterjemahkan perdamaian, maka terjemahan ayat tersebut menjadi Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah agama perdamaian. Dengan demikian, seorang Muslim adalah orang yang menganut agama perdamaian kepada seluruh umat manusia. Para nabi sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw. menganut agama Islam atau agama perdamaian itu. Pernyataan Nabi Ibrahim misalnya La syarika lahu wabi dzalika umirtu wa ana awwalul muslimin (Tidak ada sekutu bagi-Nya dan demikian itu diperintahkan kepadaku dan aku adalah golongan orang-orang pertama yang menganut agama perdamaian) (Q.s. Al Anam/6: 163). Dalam menyebarkan ajaran agama Islam, para nabi itu menyebarkannya secara damai, kecuali bila sangat terpaksa karena orang kafir melakukan tindakan ofensif, mereka terpaksa melawannya dengan perang pula. Jadi, pedang dilawan dengan pedang. Namun demikian, meskipun terjadi peperangan menghadapi orang-orang kafir dan. banyak ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan agar umat Islam memerangi orang-orang kafir seperti Q.s. Al-Baqarah/2: 191, Q.s. An Nisa/4: 89, 91 dan sebagainya, watak Islam sebagai agama perdamaian tidak hilang. Islam tetap merupakan agama perdamaian yang mengajarkan kasih sayang bagi segenap alam. Pernyataan Allah dalam Al-Quran, Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil alamin (Q.s. AlAnbiya/21: 108) (Dan tidaklah Aku utus Engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat (kasih sayang) bagi segenap alam) Bila tujuan luhur manusia dan semua agama menghendaki kedamaian dan komitmen terhadap anti-kekerasan, lalu mengapa kekerasan agama itu kerap terjadi dengan korban yang tidak terhitung jumlahnya ? Kekerasan agama selama berabad-abad merupakan kejahatan terburuk yang telah mengisi peradaban manusia. Sesuatu yang paradoks, karena agama mengajarkan nilainilai luhur, tetapi agama juga bertanggung jawab terhadap terjadinya kerusakan di muka bumi ini. Mengapa agama yang mengajarkan kesejukan, kedamaian, kesentosaan, kasih sayang dan nilai-nilai ideal lainnya, kemudian tampil dengan wajah yang keras, garang dan menakutkan?

Agama kerap dihubungkan dengan radikalisme, ekstrimisme, bahkan terorisme. Agama dikaitkan dengan bom bunuh diri, pembantaian, penghancuran gedung, dan lain-lain yang menunjukkan penampilan agama yang menakutkan. Peran agama sebagai perekat heterogenitas dan pereda konflik sudah lama dipertanyakan. Tidak dapat dipungkiri, bahwa manusia yang menghuni muka bumi ini begitu heterogen terdiri dari berbagai suku, etnis, ras, penganut agama, kultur, peradaban dan sebagainya.  Samuel P. Huntington mengatakan bahwa perbedaan tidak mesti konflik, dan konflik tidak mesti berarti kekerasan. Dalam dunia baru, konflik-konflik yang paling mudah menyebar dan sangat penting sekaligus paling berbahaya bukanlah konflik antarkelas sosial, antar golongan kaya dengan golongan miskin, atau antara kelompok-kelompok (kekuatan) ekonomi lainnya, tetapi konflik antara orang-orang yang memiliki entitasentitas budaya yang berbeda-beda. Namun, selama berabad-abad, perbedaan entitas agama telah menimbulkan konflik yang paling keras dan paling lama, paling luas, dan paling banyak memakan korban. Dalam citranya yang negatif, agama telah memberikan kontribusi terhadap terjadinya konflik, penindasan dan kekerasan. Agama telah menjadi tirani, di mana atas nama Tuhan orang melakukan kekerasan, menindas, melakukan ketidakadilan dan pembunuhan. Dalam konteks kekinian, bentuk-bentuk konflik, kekerasan dan perang agama itu biasanya dihubungkan dengan bangkitnya fundamentalisme agama. Fundamentalisme agama mengekspresikan cita-cita sosial-politiknya dalam bentuk ekstrimisme dan kekerasan sebagai reaksi terhadap kondisi kehidupan manusia yang dianggapnya tidak ideal. Fundamentalisme, sebagaimana dikatakan Karen Armstrong, merupakan salah satu fenomena paling mengejutkan di akhir abad 20. Ekspresi fundamentalisme ini terkadang cukup mengerikan. Para fundamentalis menembaki jamaah yang sedang salat di masjid, membunuh dokter dan perawat dalam klinik aborsi, membunuh presiden, dan bahkan mampu menggulingkan pemerintahan yang kuat. Peristiwa paling mutakhir yang menghebohkan dunia, yaitu hancurnya gedung World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat, September 2001 lalu, juga dihubungkan dengan gerakan fundamentalisme. Kekerasan atas nama agama merupakan isu paling hangat belakangan ini dalam wacana percaturan global yang mendorong kita untuk melakukan kajian terhadap dua persoalan ini. Sepoerti fundamentalisme identik dengan kekerasan. Inilah stereotip yang dilestarikan Barat selama berabad-abad. Islam fundamentalis adalah penyebab terjadinya berbagai tindakan kekerasan, bom bunuh diri, pembunuhan, pembantaian, peperangan dan penghancuran. Doktrin perang suci atau jihad yang menjadi keyakinan yang diusung fundamentalisme memperkuat stereotip itu. Benarkan fundamentalisme identik dengan kekerasan ? Adakah kaitan antara fundamentalisme dengan kekerasan agama ?

Pertanyaan di atas merupakan permasalahan yang akan diangkat ke permukaan menjadi tema penelitian ini. Penelitian ini mencoba untuk membuktikan hipotesis bahwa fundamentalisme muncul ketika agama tercampur dengan ekspresi-ekspresi kekerasan dari aspirasi-aspirasi sosial, kebanggaan personal, dan gerakkan-gerakkan untuk perubahan politik. Ketika ekspresi keagamaan ditujukan untuk memperbaiki tatanan dunia (world order) yang bobrok, dan ekspresi kekerasan ditempuh sebagai jalan terakhir dan terpaksa dilakukan dengan motivasi semata-mata murni keagamaan, maka dalam hal ini agama atau gerakkan agama tersebut tidak selalu dapat dipersalahkan. Berbicara mengenai istilah kekerasan, banyak sarjana yang mengakui bahwa penggunaan  William Montgomery Watt istilah kekerasan dan fundamentalisme yang indentik dengan kekerasan itu problematik dan tidak tepat. Istilah ini seperti dikatakan, pada dasarnya merupakan suatu istilah Inggriskuno kalangan Protestan yang secara khusus diterapkan kepada orang-orang yang berpandangan bahwa al-Kitab harus diterima dan ditafsirkan secara harfiah. Istilah sepadan yang paling dekat dalam bahasa Perancis adalah integrism, yang merujuk kepada kecenderungan senada tetapi tidak dalam pengertian kecenderungan yang sama di kalangan kaum Katolik Romawi. Kaum fundamentalis Sunni menerima al-Quran secara harfiah, sekalipun dalam beberapa kasus dengan syarat-syarat tertentu, tetapi mereka juga memiliki sisi lain yang berbeda. Kaum Syiah Iran, yang dalam suatu pengertian umum adalah para fundamentalis, tidak terikat kepada penafsiran harfiah al-Quran. Watt mendefinisikan bahwa kelompok fundamentalis Islam adalah kelompok muslimin yang secara sepenuhnya menerima pandangan dunia tradisional serta berkehendak mempertahankannya secara utuh.  James Barr dalam bukunya Fundamentalisme mengkritik definisi yang mengatakan bahwa kaum fundamentalis adalah kelompok yang menafsirkan kitab suci secara harfiah. Menurutnya definisi itu jauh dari tepat. Ia mengemukakan ciri-ciri fundamnetalisme (Kristen) sebagai berikut: a. Penekanan yang amat kuat pada ketiadasalahan (inerrancy) Alkitab. Bahwa Alkitab tidak mengandung kesalahan dalam bentuk apapun; Kebencian yang mendalam terhadap teologi modern serta terhadap metode, hasil dan akibat-akibat studi kritik modern terhadap Alkitab; Jaminan kepastian bahwa mereka yang tidak ikut menganut pandangan keagamaan mereka sama sekali bukanlah Kristen sejati.

b.

c.

 David Sagiv, seorang penulis Yahudi mengatakan bahwa lebih dua dekade, sloganslogan al-ushuliyah al-Islamiyah (akar Islam atau fundamentalisme Islam) telah menyihir berjuta-juta kaum muda di dunia Islam pada umumnya dan di Mesir, khususnya, disamping istilah-istilah lainnya seperti al-salafiyah (warisan leluhur), al-sahwah al-

Islamiyah (kebangkitan Islam), al-ihya al-islami (kebangkian kembali Islam) atau albadil al-islami (alternatif Islam).  Robert N. Bellah, sosiolog Amerika yang terkenal itu mengakui bahwa terminologi yang biasa digunakan dalam kerangka ini sangat membingungkankonservatif, liberal, reformis, fundamentalis, modernis, neo-ortodoksdan sebagian besarnya sangat menyesatkamn. Bellah cenderung memakai istilah skripturalis untuk istilah fundamentalis. Kelompok skripturalis melihat Al-Quran dan Sunnah sebagai suatu entitas yang sempurna, yang suci, yang datang dari Tuhan, dan sama sekali terhindar dai berbagai kemungkinan kritik. Sikap semacam ini telah menjadikan para skripturalis memperoleh julukan yang bernada menjelekkan, yakni fundamentalis. Sebagaimana telah sering ditunjukkan, sikap seperti ini dapat dipahami sebagai reaksi defensif mereka terhadap rasa percaya diri kebudayaan Barat yang arogan, meskipun akar persoalannya sebenaranya jauh lebih dalam lagi.  Menurut Roger Geraudy fundamentalisme didefinisikan oleh kamus Larous kecil (1966 M) dengan cara yang umum sekali, yaitu: sikap mereka yang menolak menyesuaikan kepercayaan dengan kondisi-kondisi yang baru. Sedangkan, kamus Larous saku (1979 M) hanya menerapkan istilah itu bagi Kristen Katolik saja, yaitu sikap pemikiran sebagian orang-orang Katolik yang membenci untuk untuk menyesuaikan diri dengan kondisi kehidupan modern. Dalam kamus Larous besar (1984 M), tertulis fundamentalisme adalah sikap stagnan dan membeku yang menolak seluruh pertumbuhan dan seluruh perkembangan. Mazhab konservatif yang membeku dalam masalah keyakinan politik. Sementara, dalam kamus Larous tahun 1987 M, tertulis sikap sebagian orang-orang Katolik yang menolak seluruh kemajuan, ketika mereka menisbatkan diri mereka kepada turats (warisan lama). Dalam pandangan Richard Nixon, mantan Presiden Amerika, bahwa orang-orang fundannetais (Islam) adalah: a. b. Mereka yang digerakkan oleh kebencian mereka yang besar terhadap Barat, Mereka yang bersikeras untuk mengembalikan peradaban Islam yang lalu dengan membangkitkan masa lalu itu, Mereka yang bertujuan untuk mengaplikasikan syariat Islam, Mereka yang mengampanyekan bahwa Islam adalah agama dan negara, dan Meskipun mereka melihat masa lalu, namun mereka menjadikan masa lalu itu sebagai penuntun bagi masa depan. Mereka bukan orang-orang konservatif, namun mereka adalah orang-orang revolusioner.

c. d. e.

 Muhammad Imarah menggunakan kata ushuliyah untuk fundamentalisme seperti dalam bukunya Al-Ushuliyah Bain al-Gharbi wa al-Islam. Muhammad Imarah menemukan

perbedaan yang jelas hingga secara diametral antara pemahaman dan pengertian istilah fundamentalisme seperti dikenal orang Kristen Barat, dengan pemahaman istilah ini dalam warisan pemikiran Islam, serta dalam aliran-aliran pemikiran Islam, baik masa lalu, modern, maupun kontemporer. Tokoh-tokoh yang biasa digolongkan modernis dan neo-modernis menggunakan istilah fundamentalisme dengan nada yang berbau sinisme. Fazlur Rahman, misalnya menyebut kaum fundamentalis sebagai orang-orang yang dangkal dan superfisial, anti intelektual dan pemikirannya tidak bersumberkan Al-Quran dan budaya intelektual tradisional Islam. Istilah fndamentalisme digunakan secara negatif untuk menyebut gerakan-gerakan Islam berhaluan keras seperti di Lybia, Aljazair, Lebanon, dan Iran.  Akibat istilah yang digunakan oleh media massa, pengertian kaum fundamentalis muslim kini cenderung diartikan sebagai kelompok Islam yang berjuang mencapai tujuannya dengan menggunakan cara-cara kekerasan.Fundamentalime Islambagi media-media Barat tidak lain berarti Islam yang kejam, Islam yang terbelakang dan sebagainya.  Bagi Allan Taylor, Patrick Bannerman, Daniel Pipes, Bassam Tibi dan Bruce Lawrence, kaum fundamentalis adalah kelompok yang melakukan pendekatan rigid dan literalis. Menurut Bannerman, kaum fundamentalis adalah kelompok ortodoks yang bercorak rigid dan taashub yang bercita-cita untuk menegakkan konsep-konsep keagamaan dari abad ketujuh masehi, yaitu doktrin Islam dari zaman klasik..  Sementara Bassam Tibi, dalam buku The Challenge of Fundamentalism: Political Islam and the New World Disorder (1998), seperti dikutip Alfan Alfian M., seorang peneliti dari Yayasan Katalis, memandang fundamentalisme Islam hanya salah satu jenis dari fenomena global yang baru dalam politik dunia, di mana isunya pada masing-masing kasus lebih pada ideologi politik. Kelompok ini berpendapat, Barat telah gagal dalam menata dunia. Karena itu, perlu diganti dengan tatanan baru berdasar interpretasi politik Islam versi mereka. Namun, selama ini, hal itu baru sebatas retorika. Mereka bisa saja merancang terorisme dan kekacauan. Tetapi, Tibi mengingatkan, sebenarnya Islam fundamentalisme itu beragam dan saling bersaing. Maka sulit membayangkan mereka bisa menciptakan tatanan baru yang komprehensif secara ekonomi, politik, dan militer.  Ahli fisioogi berpandangan, pengertian kekerasan sebagai tindakan yang terkait dengan struktur. Johan Galtung (1975) mendefinisikan kekerasan sebagai segala sesuatu yang menyebabkan orang terhalang untuk mengaktualisasikan potensi diri secara wajar. Kekerasan struktural yang dikemukakan Galtung menunjukkan bentuk kekerasan tidak langsung, tidak tampak, statis serta memperlihatkan stabilitas tertentu. Dengan demikian kekerasan tidak hanya dilakukan oleh aktor/kelompok aktor semata, tetapi juga oleh struktur seperti aparatus negara. Berbeda dengan Galtung yang melihat struktur bersifat sistemik dan tunggal, kelompok PosStrukturalis melihat struktur yang tidak sistemik dan lebih dari satu. Pemikir Pos-Strukturalis seperti b (1992), Jacques Derrida (1997), Samuel Weber (1997), James K.A. Smith (1998),

Robert Hefner (1999) dan James T. Siegel (1999), mengembangkan perhatian pada kekerasan struktural yang berlainan dengan politik-agama.  Graziano menjelaskan keterlibatan struktur negara lewat pelbagai cara, strategi dan tindak kekerasan, seraya secara munafik mengalihkan tanggung jawab ekses perbuatan tersebut kepada rakyat. Weber menguraikan kekerasan sebagai cara terstruktur untuk menunjukkan identitas diri dalam upaya penentuan nasib sendiri. Derrida menawarkan investigasi politik terhadap kekerasan atas nama agama atau agama tanpa agama sebagai bentuk kekerasan yang tidak terkendalikan yang menyertai kembalinya agama dalam maknanya yang paling kaku. Hefner mengingatkan bahwa kekerasan bisa terjadi karena negara memanfaatkan agama, atau bisa pula agama memanfaatkan negara. Siegel juga memperkuat dalil Derrida tentang pembunuhan ganda dalam struktur masyarakat dan negara.  Ahli psikologi, menyebut kekerasan sebagai jejaring antara aktor dan struktur seperti dikemukakan Jeniffer Turpin & Lester R. Kurtz (1997). Asumsi dari kelompok ini menyatakan bahwa ialah konflik bersifat endemik bagi kehidupan masyarakat (konflik sebagai sesuatu yang ditentukan), ada sejumlah alat alternatif untuk menyatakan/menyampaikan konflik sosial, untuk menyampaikan masalah kekerasan dengan efektif diperlukan perubahan dalam organisasi sosial dan individu, masalah kekerasan merupakan salah satu masalah pokok dari kehidupan modern, terdapat hubungan kekerasan level mikro-makro dan antara aktor-struktur (pemecahan masalah kekerasan struktural mengharuskan kita berkecimpung dalam kekerasan aktor, demikian sebaliknya), dan akhirnya spesialisasi akademik justru mengaburkan masalah karena hal ini mengabaikan pendekatan yang holistik termasuk di dalamnya dimensi ruang dan waktu. Hal yang tidak kalah penting untuk diurai ialah mengapa kekerasan politik-agama bisa terjadi? Seperti dinyatakan Gurr bahwa kekerasan politik dimulai dari diri aktor. Gurr menyatakan bahwa individu yang memberontak sebelumnya harus memiliki latar belakang situasi, seperti terjadinya ketidakadilan, munculnya kemarahan moral, dan kemudian memberi respons dengan kemarahan pada sumber penyebab kemarahan tersebut. Selain itu, massa juga harus merasakan situasi konkret dan langsung yang menjadi pendorong ungkapan kemarahan mereka, sehingga mereka bersedia menerima risiko yang berbahaya. Kekerasan politik-agama dalam kerusuhan dipengaruhi secara bersamaan oleh tekanan struktur sosial yang meghimpit mereka dalam kehidupan sehari-hari akibat perlakuan yang tidak adil, tidak jujur, serta motivasi dan kepentingan pribadi yang bersangkutan. Akumulasi kemarahan dan frustasi di tengah kehidupan sehari-hari, di samping emotional illiteracy (buta emosi) dan ketidakmampuan mengekspresikan emosi secara cerdas serta cara yang ditempuh ternyata tidak membuahkan hasil, telah dibelokkan menjadi kekerasan massa (deflected aggression) terhadap sasaran-sasaran utama yang sudah ditentukan sebelumnya (precipitating factor).

Kesadaran akan konflik terkait dengn seberapa parah tingkat penderitaan suatu komunitas dibanding kelompok lainnya, ketegasan identitas kelompok (tingkat penderitaan, tingkat perbedaan kultural, dan intensitas konflik), derajat kohesi dan mobilisasi kelompok, serta kontrol represif oleh kelompok dominan. Perasaan bahwa kelompok agamanya dipinggirkan oleh kelompok agama lain juga menimbulkan radikalisasi agama. Persoalan pribadi yang sepele dapat merebak menjadi konflik antar agama atau suku. Agama semestinya tidak menimbulkan kekerasan. Namun fakta menunjukkan bahwa agama dapat menimbukan kekerasan apabila berhubungan dengan faktor lain, misal kepentingan kelompok/nasional atau penindasan politik. Agama dapat disalahgunakan dan disalaharahkan baik dari sisi eksternal maupun internal. Dari sisi eksternal, agama profetik (kenabian) seperti Islam dan Kristen, cenderung melakukan kekerasan segera setelah identitas mereka terancam. Dari sisi internal, agama profetik cenderung melakukan kekerasan karena merasa yakin tindakannya berdasar kehendak Tuhan. Oleh karena itu, pemahaman agama atau bagaiamana agama diinterpretasi merupakan salah satu alasan yang mendasari kekerasan politik-agama. Politik agama yang banyak terjadi di negara yang baru merdeka, yang berjuang untuk menentukan identitas nasionalnya dan adanya kelompok minoritas yang menegaskan hakhaknya, mengakibatkan agama memainkan peran yang lebih besar. Lituania, Armenia, dan Azerbaijan adalah beberapa contoh di antaranya. Penguasa menganggap kekerasan, teror dan otoritas mutlak sebagai hak prerogatif yang tidak bisa dipisahkan dari kekuasaan. Agama telah dimanipulasi untuk kepentingan politik sebagai upaya untuk membebaskan dirinya dari kewajiban moral jika merasa eksistensinya terancam. Kekerasan telah dibingkai agama sebagai ekspresi keinginan untuk menetralisir dosa. Kekerasan dilegitimasi oleh negara untuk mempertahakan kekuasaan. Merebaknya kekerasan pada masa Orde Baru dengan munculnya kelompok-kelompok Islam radikal, peristiwa pembantaian Tanjung Priok, perusakan tempat ibadah merupakan rekayasa pemerintah untuk memarginalkan kelompok Islam dan untuk mempertahakan kekuasaan. Dengan demikian, munculnya kelompok-kelompok Islam radikal lebih disebabkan oleh kepentingan-kepentingan kelompok tertentu dengan menggunakan agama sebagai alat legitimasi. Kekerasan juga sering diidentikkan dengan terorisme yang mengandung arti menakut-nakuti. Kata tersebut berasal dari bahasa Latin terrere (menyebabkan ketakutan), dan digunakan secara umum dalam pengertian politik sebagai serangan terhadap tatanan sipil selama Rejim Teror pada masa Revolusi Perancis akhir abad XVIII. Dalam hal ini, respons publik terhadap kekerasan sebagai akibat yang ditimbulkan oleh terorismemerupakan bagian dari makna istilah tersebut. Madeline Albright, membuat daftar tiga puluh organisasi teroris dunia yang paling berbahaya, lebih dari setengahnya bersifat keagamaan. Mereka terdiri dari kaum Yahudi, muslim, dan Buddhis. Warren Christopher, menyatakan bahwa aksi-aksi teroris agama dan identitas etnis telah menjadi salah satu tantangan keamanan terpenting yang kita hadapi dalam kaitan dengan bangkitnya Perang Dingin.

Salah satu persoalan yang mengganggu beberapa analis sarjana agamadi antaranya Emile Durkheim, Marcel Muss, dan Sigmund Freud, adalah mengapa agama tampaknya memerlukan kekerasan dan kekerasan agama, dan mengapa mandat tuhan untuk melakukan perusakan diterima dengan keyakinan yangs sedemikian rupa oleh sebagian orang beriman.  Menurut Francois Houtart, setiap masyarakat memiliki unsur kekerasan. Secara apologetis terlalu mudah untuk mengklaim bahwa muatan agama pada dasarnya tidak violent (memiliki unsur kekerasan) dan bahwa adalah manusia yang, baik secara individu maupun kolektif, membelokkan dari makna sesungguhnya. Dalam kenyataannya akar kekerasan bisa ditemukan langsung dalam agama, dan bahwa karena itulah maka agama bisa dengan mudah menjadi kendaraan bagi tendensi kekerasan. Unsur pengorbanan merupakan hal penting dalam kebanyakan agama. Teori-teori Girard tentang hal ini sudah demikian terkenal memberi perhatian pada sifat fundamental kekerasan dan peran pengorbanan sebagai suatu cara melarikan diri dari kekerasan. Di sini pengorbanan menjadi sesuatu yang semakin ritual, yang menghasilkan kekerasan simbolik. Ini membuat kekerasan menjadi lebih abstrak sebagaimana diklaim penulis lain dalam kaitannya dengan ritus Vedie yang menunjukkan bahwa kekerasan tidak menghilangkan efek utama dari apa yang ditampilkan oleh penawaran ideal, di mana orang yang melakukan pengorbanan sekaligus menjadi korban. Sakralisasi kekerasan membuat kekerasan bisa dibedakan dengan kekerasan tak sah (lawless), yang ditolak masyarakat. Jelas bahwa semua hal ini bisa juga ditemukan dalam peritiwa kontemporer, seperti fakta bahwa GIA Aljazair memenggal leher korbannya. Pertentangan antara yang baik dan jahat adalah sumber lain kekerasan yang sangat terkait dengan agama. Hal ini banyak dipaparkan dalam Kitab Suci, baik Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama. Identifikasi terhadap kebaikan telah membenarkan banyak kekerasan dalam sejarah dari semua agama, dalam sejarah melawan penjajah, melalui penindasan internal heretik dan inquisisi. Bila menyentuh sistem-sistem agama besar maka kita akan menemukan jejak yang sama. Naskah-naskah landasan agama mencerminkan ritualisasi kekerasan pengorbanan, penggunaan kekerasan untuk mencapai kebaikan tertinggi dan kebutuhan akan kekerasan dalam mempertahankan iman, bersamaan dengan regulasi etis kekerasan tidak sah, semuanya bertujuan mencapai perdamaian tertinggi. Karena itu Hinduisme tidak bisa begitu saja direduksikan menjadi ahimsa (tidak melakukan kejahatan, yang biasanya diterjemahkan tanpa kekerasan), sebagaimana yang diyakini selama ini. Rig Vedas menawarkan pespektif yang berbeda terutama dalam hubungan dengan pengorbana. Para raja, meminta para dewa agar memberikan kemenangan peperangan, dan Baghavadgita menilai bahwa membunuh dalam perang dianggap sah, karena jiwa tidak akan mati. Hukum Manu membentuk suatu hirarki di mana kaum Brahmana, yang secara ontologis menempati pucuk skala kasta, dengan mudah membenarkan upaya mempertahankan kedudukannya dengan

kekerasan. Selain itu, membunuh seorang Brahmana tidak sama dengan membunuh kaum dalit (yang tak dapat disentuh). Dalam ambivalensi Hinduisme kita menemukan suatu tempat penting bagi Kali, Dewi Kehancuran. Sebagaimana dalam usaha pertahanan yang dilakukan Hindutva, yang memiliki wujud politiknya dalam Baratya Janaty Party, dalam kondisi sekarang menunjukkan bahwa perjuangan tanpa kekerasan bukan menjadi pilihannya. Buddhisme memiliki reputasi terbaik, karena ia memberi penekanan lebih pada ahimsa dan semangat cinta kasih. Dalam pembahasan menyangkut etika, Buddhisme menekankan niatnya. Melakukan kekerasan untuk melawan kekerasan dengan demikian bukan tujuannya, meskipun kekerasan sesunguhnya tidak dicari. Tidak terkecuali dengan Islam, yang memberi penekanan lebih besar pada keadilan daripada cinta kasih, sebagaimana yang diungkapkan Ali Mazrui. Islam menawarkan sedikit pertahanan atas kecenderungan kelompok tertentu untuk melakukan atribut-atribut keadilan ini dalam penggunaan kekerasan.  Dalam Yudaisme, Andre Wening menyatakan: Tidak satupun kekerasan manusia yang terlepas dari Kitab Suci. Atau dengan kata lain, Tuhan secara konstan terlibat di dalamnya, dan sering kali sebagai pelakunya. Kekerasan paling banyak terjadi di zaman penantian Mesias. Kitab Keluaran mengatakan bahwa Tuhan adalah ksatria dan bahwa intervensi Tuhan justru menimbulkan kehancuran yang dasyat ? Kekristenan, yang memiliki sumber yang sama, memiliki kultur agama yang sama, sehingga ia tidak diragukan melakukan perang suci dan perang salib. Kekristenan memperoleh inspirasinya dari pemikiran mesianik yang merupakan bentuk pemikiran yang sarat kekerasan karena mereka merupakan wujud dari kelompok-kelompok tertindas. Contoh kontemporer yang paling menonjol menyangkut persoalan agama dan kekerasan adalah konflik antara Israel dan Palestina. Agama hanya menjadi sebagian faktor relevan bagi kedua pihak, tetapi secara numerik dan sosial agama merupakan faktor penting. Bagi kedua pihak argumen agama merupakan hal penting. Setiap orang memiliki argumennya masing-masing, tetapi masing-masing mereka percaya bahwa mereka berjuang atas nama Tuhan. Bagi kalangan Yahudi ekstrem, bangsa terpilih mempertahankan tanah yang diberikan pada mereka oleh Tuhan; ada banyak referensi biblis yang bisa mereka gunakan sebagai dukungannya. Penggunaan kekuasaan, dan dengan demikian penggunaan kekerasan, merupakan suatu tugas agama, bukan dalam dirinya, tetapi untuk mempertahankan nilai tertinggi. Bagi kaum Hamas Palestina, upaya mempertahankan identitas muslim merupakan hal penting dan sakral. Pada kenyataannya metode kekerasan digunakan sebagai pertahanan terhadap kelompok yang memiliki sumber daya cukup besar. Kedua belah pihak membunuh atas nama Tuhan, dan keduanya melakukan hal tersebut agar suatu hari kelak kedamaian yang sesungguhnya akan tercapai, bergantung pada masih tersimpannya sisa-sisa kesetiaan pada suatu agama. Perjuangan di beberapa negara seperti Aljazair, Iran, Sudan, Mesir sampai Arab Saudi dilakukan khususnya atas nama Islam, karena Islam merupakan nilai utama dalam menghadapi disintegrasi sosial masyarakat tradisional, kehilangan eksistensinya, dan penegakan adat baru yang menimbulkan kehilangan orientasi. Gerakan-gerakan kaum ekstremis melakukan rekrutmen dari

antara kelompok-kelompok yang paling rentan dalam masyarakat, khususnya dari kalangan muda yang belum memiliki masa depan. Mereka berkembang di daerah-daerah yang saleh masyarakatnya, meskipun pemimpin mereka seringkali berperan sebagai pemuka agama atau intelektual fundamentalis.  Menurut Max Weber dalam The Sociology of Religion, pengorbanan manusia dengan harapan-harapan keduniawian didorong oleh magisme atau religiusme. Dengan kata lain, pengorbanan yang dilakukan oleh manusia yang mengandung unsur kekerasan itu diperintah oleh agama atau magis. Pada awal 1960-an, banyak orang meyakini kebenaran gagasan Kondrad Lorenz, seorang etiolog (pakar "psikologi" binatang) asal Jerman, yang menyebutkan bahwa kekerasan, tak ubahnya rasa lapar, adalah naluri manusia sebagai bagian dari kodratnya yang jasmaniah. Di dasawarsa berikutnya, tahun 1970-an, orang lebih menaruh perhatian pada apa yang kemudian dinamai sebagai "lingkaran setan" kekerasan. Menurut mereka, kekerasan seolah telah mengental lebih dari sekadar naluri yang "nature", dan menjadi "culture" kekerasan. Kalau pengamatan itu benar, artinya perlahan-lahan hubungan antarmanusia di abad ini tak hanya mengalami eskalasi kekerasan secara akumulatif, tapi juga sofistikasi, pencanggihan kekerasan. Kekerasan agama sering disebut juga dengan radikalisme agama. Secara etimologis, radikalisme berasal dari kata radix, yang berarti akar. Orang-orang radikal adalah seseorang yang menginginkan perubahan terhadap situasi yang ada dengan menjebol sampai ke akar-akarnya. Sebuah kamus menerangkan bahwa seorang radikal adalah seseorang yang menyukai perubahanperubahan cepat dan mendasar dalam hukum dan metode-metode pemerintahan (a radical is a person who favors rapid and sweeping changes in laws and methods of government). Jadi radikalisme dapat dipahami sebagai suatu sikap atau posisi yang mendambakan perubahan terhadap status quo dengan jalan menghancurkan status quo secara total, dan menggantinya dengan seseuatu yang baru, yang sama sekali berbeda. Biasanya cara yang digunakan bersifat revolusioner, artinya menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekeraan (violence) dan aksi-aksi yang ekstrem. Secara sosiologis radikalisme kerap muncul ketika masyarakat mengalami anomi atau kesenjangan antara nilai-nilai dengan pengalaman, dan para warga masyarakat merasa tidak mempunyai lagi daya untuk mengatasi kesenjangan itu, sehingga radikalisme dapat muncul ke permukaan. Tentu banyak faktor yang mendorong munculnya radikalisme.  Sosiolog Max Rudd mengingatkan bahwa fungsi politik yang konfrontatif dapat mendorong proses radikalisme. Weber melihat radikalisme dalam konteks politik massa. Kapitalime yang mula-mula begitu optimis terhadap masa depan manusia, kemudian telah menimbulkan suasana rutinitas-ritualistis, yang sangat monoton dan fatalisme, dan telah menyeret manusia ke penjara besi (iron cage) yang tanpa jiwa, tanpa nurani. Kapitalisme telah menyebabkan manusia teralienasi (terasing)--meminjam istilah Marx-dan mendorong godaan radikalisme sebagai solusi utopis. Pudarnya ikatan kelompok primer dan komunitas lokal, tergusurnya ikatan parokial menurut Daniel Bell dalam The End of Ideology juga dapat mendorong munculnya radikalisme. Sedangkan dalam istilah

Sigmund Freud, yang dapat mendorong munculnya gagasan radikalisme adalah apa yang dia sebut sebagai melancholia, yaitu kejengkelan mendalam yang menyakitkan (a profoundly painful dejection). Dalam hal radikalisme dan terorisme semua umat beragama memiliki prestasi yang cukup tinggi. Bahkan bagi pemimpin Israel seperti David Ben Gurion, Golda Meir, Menachem Begin dan Ariel Sharon, seperti dikatakan Amien Rais, ketiga-tiganya adalah teroris-teroris kelas satu dan bagi para pemimpin Israel itu, terorisme tampaknya telah mejadi bagian integral kehidupan mereka. Dengan kekerasan yang semakin canggih dunia semakin kelam dirundung malang. Dunia akan menangis terus melihat warga Palestina yang dibantai Yahudi selama puluhan tahun, dunia juga akan bersedih menyaksikan ledakan bom di Shopping Mall Ben Yehuda. Dunia dikejutkan oleh hancurnya gedung WTC di Washington D.C. dengan ribuan korban tiada berdosa. Dunia akan selalu bersedih bila terjadi sekian tindakan kekerasan di masa-masa yang akan datang. Setiap orang yang punya nurani dan masih mempunyai jiwa cinta kasih tidak akan rela melihat pembunuhan, pembantaian, pemerkosaan dalam bentuk apa pun dan atas nama apa pun. Setiap orang yang mendambakan kedamaian akan tersentuh hatinya bila menyaksikan korban-korban berlumuran darah atau tubuh berkeping-keping akibat peperangan. Sejarah mencatat tahun 1999 terjadi penembakan etnis di California dan Illinois; tahun 1998 kedutaan-kedutaan Amerika di Afrika diserang, pemboman klinik aborsi di Alabama dan Georgia tahun 1997; peledakan bom pada Olimpiade Atlanta dan penghancuran kompleks perumahan militer Amerika Serikat di Dhahran Arab Saudi pada tahun 1996; penghancuran secara tragis bangunan Federal di Oklahoma City pada tahun 1999, dan peledakan World Trade Cente di New York City pada tahun 1993. Insiden-isiden seperti ini dan serangkaian aksi kekekerasan lainnya dikatakan oleh Marx Juergensmeyer memiliki keterkaitan dengan ekstremis-ekstremis keagamaan Amerikadi antaranya milisi Kristen, gerakan Christian Identity, dan aktivis-aktivis Kristen anti-aborsi. Perancis memiliki masalah dengan aktivis Muslim Algeria, Inggris dengan kaum nasionalis Katolik Irladia, Jepang dengan gas beracun yang disebarkan oleh anggota-anggota sekte HinduBuddhis dalam kereta bawah tanah di Tokyo. India menghadapi masalah dengan separatis Sikh dan pejuang-pejuang Kashmir, Srilanka dengan pejuang Tamil dan Singhalese, Mesir dengan para militan Muslim, Aljazair dengan Front Penyelamat Islam (FIS), dan Israel dan Palestina berhadapan dengan aki-aksi maut para ekstimis Yahudi dan muslim.  Menurut Marx Juergensmeyer, yang lebih sering mendorong terjadinya aksi-aksi terorisme adalah agamakadang-kadang melalui suatu perpaduan dengan faktor-faktor lain, yang tidak jarang sebagai motivasi utama. Anggapan umum yang menyatakan bahwa telah terjadi kebangkitan kekerasan agama di seluruh dunia pada dekade terakhir

abad XX dibenarkan oleh mereka yang menyimpan catatan-catatan seperti ini. Waren Christopher, menyatakan bahwa aksi-aksi teroris agama dan identitas etnis menjadi salah satu tantangan keamanan terpenting yang kita hadapi dalam kaitan dengan bangkitnya Perang Dingin. Beberapa peneliti berusaha menjelaskan ikatan-ikatan yang terjadi akhir-akhir ini antara agama dengan kekerasan sebagai sebuah penyimpangan, hasil dari ideologi politik, atau karakeristik dari suatu bentuk agama yang senantiasa berubah-ubah. Sebagian peneliti lainnya beranggapan bahwa kekerasan agama mendapat legitimasi dari doktrin agama itu sendiri atau merupakan perintah suci dari Tuhan.  James Turner Johnson menggambarkan secara gamblang, perang suci bagi penganut pelbagai agama sering dimaknai sebagai perang yang dilakukan atas perintah Tuhan. Bahkan, menurut dia, ada keyakinan yang membentuk kesadaran kognitif bahwa perang suci adalah perang yang dilakukan Tuhan sendiri. Dalam tradisi Kristiani dan Yahudi, perang suci adalah keterlibatan Tuhan dalam perang. Pemahaman literal terhadap doktrin-doktrin keagamaan mendorong pada kekerasan dalam pelbagai bentuknya, baik secara struktural maupun kultural. Doktrin agama dan negara (al-din wa al-dawlah) misalnya, bagi sebagian kalangan senantiasa digunakan untuk merenggut kekuasaan dengan perantara kekerasan. Peralihan kekuasaan dalam tradisi Islam selalu menumbalkan kekerasan. Sejarah khilafah dalam tradisi Islam pasca-wafatnya Utsman bin Affan menjadi salah satu eksperimentasi historis betapa doktrin agama dan negara diterapkan dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Pemikir muslim, seperti Abid al-Jabiry (1994), melihat peristiwa itu sebagai awal sakralisasi kekerasan guna mendapatkan otoritas politik. Kekerasan dan ambisi politik ibarat dua sisi mata uang logam yang tak bisa dipisahkan. Kekerasan yang diprakarsai Israel juga tak luput dari ambisi politik untuk menguasai wilayah Palestina.  Zuhairi Misrawi, peneliti P3M itu mengatakan bahwa diskursus keagamaan harus mampu melakukan terobosan-terobosan baru guna mendekontekstualisasi kekerasan, seperti doktrin perang suci atau jihad, yang kerap dijadikan justifikasi untuk menghalalkan kekerasan. Amat diperlukan pemahaman keagamaan yang turut mendorong perlawanan terhadap segala bentuk kekerasan, terutama kekerasan yang mengancam terwujudnya masyarakat pluralis, karena bagaimanapun agama menghendaki agar setiap umat dapat hidup berdampingan tanpa harus menebarkan kebencian dan kecurigaan pada yang lain. Banyak orang yang tidak sepakat bila agama atau Tuhan memerintah pemeluknya berbuat kekerasan. Menurut pendapat ini, agama tidak mengandung unsur kekerasan justru mengajarkan perdamaian dan hidup baik. Kekerasan atau pembunuhan adalah masalah oknum-oknum yang menyalahgunakan agama untuk kepentingan sendiri atau kelompok. Sering orang menuduh

aspek politik dan ideologi yang telah mengotori agama. Agama menempati tempat yang suci yang merupakan entitas di luar manusia. Ajaran agama di negara-negara berkembang, masih amat potensial sebagai sumber tindakan praktis dalam hubungan antara individu dan kelompok.  Disebut Donald E. Smith, Religio political system, atau menurut Clifford - Geertz Religions mindedness, yakni suatu proses tercapainya ideologisasi agama. Pada saat ini, secara nyata agama memiliki kekuatan potensial untuk pembakar fanatisme yang akan mengobarkan pergolakan dan kekerasan yang meletus di kala ada kesempatan. Agama dengan posisi itu, mempunyai fungsi ganda, yakni sebagai pembentuk integritas dan pembentuk konfik-konflik kekerasan.

Kemungkinan penyalahgunaan agama untuk kepentingan pribadi dan kelompok itu, terkadang sering dikomentari masyarakat secara sinis. Tindakan yang dilakukan oleh laskar-laskar yang mengatasnamakan Islam yang bertindak menutup tempat-tempat yang dianggap tempat maksiat seperti kasus yang terjadi di Jakarta atau beberapa kota lainnya sering mengundang komentar antipati. Meskipun kita tidak tahu persis apa motivasi mereka, boleh jadi tindakan yang dilakukan sekelompok laskar Muslim itu didorong oleh motivasi murni keagamaan atau boleh jadi karena kepentingan pribadi atau kelompoknya. Yang jelas tindakan membasmi kemungkaran dengan kekerasan itu kerap mengundang komentar negatif dari masyarakat. Di antara komentar tersebut seperti digambarkan dari sebuah hasil penelitian di Solo sebagai berikut ini: Orang-orang yang setiap bulan puasa mengadakan penggerebakan tempat hiburan, mereka rata-rata tidak mempunyai ijin dari aparat. Mereka kadang mengotori kota Solo dengan mminta-minta di jalan. Menurut saya, itu memalukan orang Islam sendiri. Kayak pengamen saja. Saya kurang setuju terhadap aksi mereka. Yang dilakukan merupakan tugas dari aparat yang menertibkan. Dengan sikap yang mengobrak-abrik tempat hiburan di mana saya bekerja, sebenarnya saya ingin melakukan perlawanan, tetapi saya takut karena jumlah mereka terlalu banyak dan mereka sangat ganas alias buas. Kepolian seharusnya mencegah agar kota Solo jangan kayak Ambon. Saya berharap mereka tidak anarkis, tdak langsung asal gerebek, melainkan izin dahulu dari aparat. Mereka seharusnya menghormati pekerjaan orang lain. Contohnya: orang yang bekerja di tempat hiburan, meskipun bekerja di situ, semata-mata untuk menghidupi keluarganya. Mereka seharusnya punya ide, misalnya tempat hiburan harus ditutup, mau memberikan lapangan pekerjaan bagi para pekerja hiburan tersebut. Inilah salah satu komentar sinis masyarakat berkaitan dengan aksi kelompok-kelompok Muslim yang dikategorikan fundamentalis yang dianggap kerap melakukan tindakan kekerasan dan main hakim sendiri dengan memakai label agama.  kelompok keagagamaan

Munculnya fundamentalisme dilatarbelakangi oleh berbagai faktor yang sangat kompleks dan pelik, yang tidak semata-mata murni bersifat keagamaan, namun berkaitan dengan kepentingan politik, ekonomi, sosial dan idiologis. Semua agama mengajarkan nilai-nilai luhur untuk kemaslahatan hidup manusia. Manusia telah berperan untuk memperbarui peran agama di berbagai wilayah dunia menjadi sebagai sebuah idiologi tatanan publik sehingga dalam masyarakat idiologi-idiologi keagamaan dan politik saling berkelindan. Agama telah dipakai untuk mencapai kepentingan seseorang atau sekelompok tertentu yang telah mengakibatkan politisasi agama dalam wilayah-wilayah privat dan publik. Pada saat terjadinya idiologisasi dan politisasi agama, maka kekerasan atas nama agama tidak bisa dihindarkan. Dengan demikian kesucian agama telah tereduksi oleh suatu interest tertentu yang akan berbahaya bagi kedamaian ummat manusia itu sendiri. Oleh karena itu, dalam hal ini agama atau Tuhan itu sendiri tidak bisa dipersalahkan. Umat beragamalah yang telah berpartisipasi menyemarakan kekerasan dengan menggunakan legitimasi agama dan Tuhan. Agama telah tercampur dengan ekspresi-ekspresi kekerasan dari aspirasi-aspirasi sosial, kebanggaan personal, dan gerakan-gerakan untuk perubahan politik. Fundamentalisme sebagai reaksi terhadap segala bentuk kebobrokan moral dan spiritual manusia, sebagai perjuangan untuk pembebasan suatu bangsa, menghapuskan hegemoni dan penindasan, mendorong kita untuk memberikan toleransi kepadanya atau bahkan mendukungnya, selama tindakan-tindakan yang mereka lakukan tidak melampaui batas yang sudah digariskan Tuhan, meskipun cara yang paling damai dan maslahat harus menempati prioritas pertama sehingga sebisa mungkin terhindar dari upaya melenyapkan kekerasan dengan kekerasan atau menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan. Karena tidak ada dalam Islam yang menghalalkan kekerasan terhadap siapapun dan dalam bentuk apapun yang membahayakan perdamaian hidup manusia di muka bumi ini. Sudah sejak lama diketahui bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin yang seharusnya menjadi dasar bagi setiap kelompok Muslim untuk bersikap dan bertindak di manapun dan kapanpun. Sejarah peradaban umat manusia adalah sejarah peperangan dan penaklukan. Dalam film berjudul Mongol, diceritakan orang-orang suku Borjigins di pedalaman Mongolia berperang sepanjang hidupnya melawan suku-suku lainnya. Perang dan penaklukan yang mereka lakukan berdiri di atas identitas komunal (tribal). Dan, belakangan perang itu ditujukan untuk ’mempersatukan’ Mongolia menjadi satu kesatuan (negara) di bawah seorang Khan. Di sudut belahan dunia yang lain, tahun 1798 orang-orang Perancis mendarat di pelabuhan Iskandariyah. Niat awalnya menyelamatkan gereja-gereja ortodoks di Timur Tengah. Padahal kita tahu, ekspansi itu sebenarnya ditujukan guna memperluas imperium Eropa dan mencari bahan baku baru bagi industri mereka. Dalam kasus lain, Islam sebagai agama dan negara juga berkembang melalui peperangan.

 Menurut Juergensmeyer, The New Cold War ini terjadi karena westoxifikasi budaya , kebijakan luar negeri dan globalisasi sekulerisme yang dipromosikan Amerika telah melahirkan persepsi penghinaan dan ketertindasan berbagai kelompok agama. Setelah berbicara dengan banyak pelaku teror, Juergensmeyer menemukan tumbuhnya sikap ketidaknyamanan makro akibat globalisasi dan perubahan sosial. Ada banyak luapan kekecewaan dan kemarahan yang hadir di berbagai belahan dunia, bukan hanya dunia Islam, akan serangan westoksifikasi. Dominasi politik dan ekonomi AS dan Barat, dengan bauran persepsi ini, kemudian juga menjadi sumber kemarahan baru. Ada fenomena menentang globalisasi dan modernisme yang seakan hendak mengendalikan dunia. Akhirnya, reaksi kekerasan pun menjadi pilihan pada muaranya, seperti membangkitkan kenangan perang dingin dulu, di mana tercipta persepsi bahwa pihak yang di seberang itu jahat. Di dunia Islam, banyak tercipta persepsi bahwa Amerika Serikat dan Barat itu jahat dan di Barat juga terdapat persepsi bahwa Islam agama yang penuh dengan kekerasan. Fenomena ini turut diperparah oleh kesimpulan ilmuan Gedung Putih, salah satunya Samuel P. Huntington, yang menyatakan bahwa dunia saat ini sedang bergerak menuju perang peradaban antara Islam di satu pihak dan Barat di pihak lain. Padahal, sesungguhnya yang sedang terjadi adalah perang yang diciptakan oleh persepsi. Ada introduksi konsep perjuangan agama dalam menjawab masalah sosial. Yakni sebuah pertarungan kosmik antara kebaikan dan kejahatan, benar dan salah, agama dan sekulerime.

 Menurut saya, kembali ke pertanyaan awal, bagaimana cara mengakhiri kekerasan atas nama agama ini? Menurut Juergensmeyer, ada lima skenario yang dapat dilakukan untuk mengakhiri teror atas nama agama. Skenario pertama, merupakan salah satu dari solusi yang dilakukan melalui kekuatan (power). Hal ini dilakukan dengan cara membinasakan atau mengendalikan teroris-teroris itu dengan jalan kekerasan. Cara yang dianggap solusi ini pada kenyataannya bukan solusi yang baik, karena setiap kekerasan yang dihadapi kekerasan akan menimbulkan kekerasan baru. Inilah yang dilakukan oleh Amerika ketika mendeklarasikan perang total melawan terorisme agama dan melaksanakannya selama bertahun-tahun. Penggunaan kekuatan untuk menghancurkan terorisme tidak jarang hanya merupakan manipulasi untuk membenarkan kepentingan di balik itu. Kedua, solusi dalam bentuk ancaman pembalasan dengan kekerasan atau pemenjaraan untuk menakut-nakuti aktifis-aktifis keagamaan sehingga mereka ragu-ragu untuk melakukan aksinya. Cara ini pun dianggap tidak efektif, karena meski para aktivis itu diancam atau dipenjara, bahkan dibunuh sekalipun tidak akan berpengaruh terhadap para aktivis keagamaan lainnya. Ketiga, dengan melakukan kompromi atau negosiasi dengan para aktifis yang terlibat dalam terorisme. Cara ini pun seperti dikatakan oleh Marx Juergensmeyer sendiri merupakan penyelasaian yang tidak selalu berhasil. Beberapa aktifis barangkali menjadi lunak, tapi yang lain menjadi marah dikarenakan apa yang mereka sebut sebagai penjualan prinsip. Kasus Arafat dan

Hamas merupakan contoh dalam skenario ini. Setiap upaya kompromi yang dilakukan sekelompok aktifis Palestina akan membuat marah kelompok lainnya. Keempat, pemisahan agama dari politik dan kembali pada landasan-landasan moral dan metafisikal. Artinya, politisasi agama dapat dipecahkan melalui sekulerisasi. Solusi seperti ini telah dilakukan di beberapa negara di dunia. Namun, cara ini nampaknya belum menunjukkan keberhasilan. Alih-alih dapat melunakkan prinsip mereka, cara ini justru menimbulkan reaksi keras dari aktifis-aktifis keagamaan yang kadarnya semakin tinggi. Kelima, solusi-solusi yang mengharuskan pihak-pihak yang saling bertikai untuk, paling tidak pada tataran minimal, menyerukan adanya saling percaya dan saling menghormati. Hal ini ditingkatkan dan kemungkinan-kemungkinan ke arah penyelesaian dengan jalan kompromi semakin menguat ketika aktifis-aktifis keagamaan memandang otoritas-otoritas pemerintahan memiliki integritas moral yang sesuai dengan nilai-nilai agama. Di luar kelima skenario itu, Juergensmeyer menegaskan bahwa aksi kekerasan atas nama agama akan terus berlangsung, selama kita salah menyikapinya. Kalau kita menyikapinya dengan cara yang salah, maka terorisme justru akan berkembang dengan subur. Dus, ke depan diskursus keagamaan harus mampu melakukan terobosan-terobosan baru guna mendekontekstualisasi kekerasan, seperti doktrin perang suci atau jihad, yang kerap dijadikan justifikasi untuk menghalalkan kekerasan. Saat ini sangat diperlukan pemahaman keagamaan yang turut mendorong perlawanan terhadap segala bentuk kekerasan, terutama kekerasan yang mengancam terwujudnya masyarakat pluralis. Karena bagaimanapun, agama menghendaki agar setiap umat. Saya mengerti tetang agama dan kekerasaan. Agama sebenarnya merupakan identitas pepeluknya di dalam Negara, yang membentuk sikap, kerajter, tingka laku dan moral spiritual. Namun pada kenyataannya agama berisikan nilai-nilai politik yang sangat kuat dalam mempengaruhi setiap pemeluknya untuk percaya dan menyatakan kkeyakinaannya bagi penciptanya. Siapa penciptanya? Terutama bersikap fudalmetalisme. Penciptanya adalah Allah yang memegang kendali hidup manusia dalam tempat waktu di mana kekuataannya berakhir. Reaksi pada ketidak pusan diperlakukan dengan tidak adil, menindas dan sebgainya membuat reaksi yang keras dari setiap pemeluk. Agama di masukan dalam politik kerana agama sebagai inti atau pusat dari peradaban manusia terhadap agama mereka masingmasing. Keseimabangan yang tidak ada dan kelompok-kelompak oraganisi kempemudaan menjadikan semunya berubah. Kekersan menjadi nyatak ketika pengaruh kenyataan politik dunia yang muncul berbagi gerakan berbasis pada ideology keagamaan. Untuk melawan ketidak adilan dan kesewenang-wenangan bangsa. Contoh kekersan yang terjadi di Ambon, agama muslim deperlakukan tidak adalin atas kelompok lain. Indonesia kususnya karena ketidak puasan politik digiring ke nama agama, yang mengakibatkan gerkan-gerakan dari agama membentuk kelompok-kelompok yang memperjuangakan kehidupan umat beragama.

Sebaliknya dengan agama Kristen yang mengikuti arus perpolitikan dalam Negara. Semunya di bawa ke astu titik arus dan enilai bahwa gama meninandas agama, Negara menindas Negara, mengacu pada induvidu yang berkuasa menindas individu yang lemah. Portet eropa dan timur berada menjadikan keunikan pada pemikiran yang berbeda. Mucul berbagi gerakan radikal yang berbasis pada ideology agama misalanya Hisbollah, gerakan Hemmas, Al Qaeda yang melakukan gerakan bawah tanah kerana tertutup lobi politik pada tingkat apapun. Gerakan-gerakan seperti ini berpengaruhdi dunia dan khususnya Indonesia dengan adanya FPI dan gerakan-gerakan lainnya. Pengaruh ideology juga dipengaruhi berdasarkan ideology agama yang bersifat positif dan negative. Aspek agama positif sebanarnya menekankan bahwa setipa agaman mana pun tidak mengajarkan kekarasan, karena pada dasarnya gama mengajarkan umat manusia untuk mengembangkan dan mengamalkan moral antar umat beragama dalam kehidupan sesame atau pun berbangsa dan mendunia. Sedangkan aspek negative jakalau terdapat suatu gerkan politik yang mebenarkan tindakannya berdasarkan sempalan-sempalan norma agama. Hal ini yang mengaburkan ajaran agama yang sebenarnya mulia disalgunakan untuk untuk tujuan-tujuan sempit kepenting peribadi dan kelompok kecil dari masyarakat dan umat beragama, yang mengarah pada tindakan kekarasan. Oleh karena itu sebanarnya politik dan agama harus menaruh porsinya masing-masing pada tahap ajaran dan pelayan masyarakat dan umat beragama. Dengan demikan agama dan politk berjalan tidak saling berlawan tetapi berselingan saling baur-mebaur, mengisi satu dengan yang lain. Saya berpikir bahwa agama bersifat literal atau mencerminkan karakter utama yaitu tidak dapat kekerasan memekai nama agama untuk kepentingan keuntungan diri sendiri. Agama bersifat didaktis yaitu mendidik umatnya dalam mencapai hubungan antara manusia. Kekerasan benar-benar di tolak agama, kerana agama mempunyai fungsi kasih dan bertolak dari ajaran mengasih. Kedekatan, persahabat menjadikan agama pun tidak menjadi titik tolok dari masyarakat karena telah terbangun hubungan yang lebih penting yaitu kekeluargaan antra umat beagama dari pada menghancurakan agama demi kepantingan politik. Kekerasan di pakai dalam media yag dimanfaatkan oleh kepentingan tertentu dan menajikan perspektif dari tiap orang yang mebaca dan menyimak berita. Dalam hal media merupakan suar public yang diketahui setiap orang, tentang keslaha dan ketidak benaran. Agama di manipulasi dalam ajar-jara agama dan menghilangkan sifat fudamentalisme, oleh sebab itu berita sukacita yag disampaikan dari pemberita injil bias jauh dari inti nilai kasih dan berakhir kekerasan. Artinya tujuan agama hanyalah permusuan bukan perdamaian. Sebaiknya dari pada itu agama mempunyai ciri khas saling mengasihi satu sama lain tanpa berpandangan beda suku, agama, rasa, keyakinan, kepercayaan dan wajud cinta kasih.

KEWARGANEGARAAN

Oleh Pricellya Luhukay Kelas B

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA MALUKU
Ambon 2011

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->