P. 1
Makalah Ti Ascariasis

Makalah Ti Ascariasis

|Views: 283|Likes:

More info:

Published by: Almirazada Zhes Putri on Aug 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/14/2015

pdf

text

original

LAPORAN KASUS Anak Perempuan dengan Infeksi Cacing

Kelompok III

030.07.271 030.07.348 030.09.076 030.09.081 030.10.020 030.10.022 030.10.024 030.10.025 030.10.026

Yanti Wijaya Dimas Adi Bayu Dewo Dyka Jafar Hutama Putra Eva Natalia Manulang Alice Melissa Simaela Almirazada Zhes Putri Amanda Kadar Amelia Shadrina Anak Agung Anom

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA 13 Januari 2012

BAB I PENDAHULUAN Cacingan masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. . Infeksi cacing usus merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penurunan kualitas sumber daya manusia. akan menghambat pertumbuhan fisik. gejala klinis yang akan terjadi.90% tergantung lokasi. higine. Berikut ini akan dibahas lebih lanjut mengenai infeksi cacing usus. Prevalensi penyakit cacingan berkisar 60% . dalam hal ini. perkembangan. Disebut sebagai STH karena bentuk infektif cacing tersebut berada di tanah. Penularan infeksi cacing yang tergolong STH umumnya terjadi melalui cara tertelan telur infeksius atau larva menembus kulit seperti cacing tambang. dan kecerdasan bagi anak yang terinfeksi. sanitasi pribadi dan lingkungan penderita. Tingginya prevalensi ini disebabkan oleh iklim tropis dan kelembaban udara yang tinggi di Indonesia selain higine dan sanitasi yang rendah sehingga menjadi lingkungan yang baik untuk perkembangan cacing. beserta penatalaksanaan yang tepat.

Hepar dan Lien tidak teraba. RR 20/menit. suhu : 39. kulit tidak ditemukan petechiae.BAB II LAPORAN KASUS Seorang anak perempuan usia 4 tahun dibawa ibunya ke puskesmas karena badannya semakin kurus dan tidak nafsu makan sejak 2 bulan terakhir . Pemeriksaan fisik Kesadaran : kompos mentis. kumuh. motorik niormal. . Abdomen tampak membuncit. Anak juga mengalami demam. Pada auskultasi paruparu didapatkan wheezing.0 oC . Anak sering bermain di halaman tanpa menggunakan alas kaki dan tidak mencuci tangan sebelum makan. Demam telah dirasakan hilang timbul sejak 2 minggu yang lalu tetapi tetap tinggi selama 3 hari terakhir. Batuknya kering dan berbunyi. Jantung tidak ada kelainan. Sejak 2 minggu yang lalu pasien batuk-batuk dan sesak nafas. kadang-kadang ada gejala diare. Keluarga pasien tinggal di daerah yang padat. dan tidak mempunyai jamban keluarga. mata dan THT tidak ada kelainan.

Gangguan karna larva biasanya terjadi pada saat berada di paru yang dapat menimbulkan batuk . I. diare . Pada foto thoraks tampak infiltrat yang hilang dalam waktu 3 minggu yang disebut sindrom loeffler . Ascariasis Ascariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing ascaris lumbricoides dengan manusia sebagai satu-satunya hospes . demam. anoreksia . maka hipotesis yang didapat adalah berupa : Hipotesis 1 . Gejala yang ditemukan pada stadium larva adalah ground itch yang diakibatkan : : 4 tahun : Perempuan :- . Necatoriasis dan Ankilostomiasis Necatoriasis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing necator americanus yang terdapat di indonesia .1 2. kadang-kadang ada gejala diare.BAB III PEMBAHASAN Untuk menegakkan sebuah diagnosis dan memberikan tata laksana yang tepat pada pasien maka perlu dilakukan beberapa langkah sebagai berikut. Gejala nekatoriasis bisaditimbulkan oleh stadium larva maupun dewasa . eosinofilia . Gangguan yang disebabkan oleh cacing dewasa seperti mual . Anamnesis Status Pasien Nama Usia Jenis kelamin Alamat Keluhan Utama Pasien datang dengan keluhan utama yang didapat dari ibunya berupa badannya semakin kurus dan tidak nafsu makan sejak 2 bulan terakhir . Gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan larva . Berdasarkan keluhan yang dialami pasien tersebut.

Suhu :39o C (febris : >37. Apakah ada anggota keluarga yang menderita TBC ? (Anamnesis ini mengacu pada hipotesis TBC) 2. Gejala yang ditimbulkan penderita nampak lesu. 1. letih. Apakah ada luka pada telapak kaki atau tangan ? (Anamnesis ini mengacu pada hipotesis infeksi cacing) 6. Demam Tifoid Penyakit demam tifoid merupakan suatu penyakit sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi . muntah . batuk . Bagaimana sifatnya ? (Anamnesis ini mengacu pada hipotesis demam tifoid) 8. Apakah ada demam lebih dari 2 minggu ? (Anamnesis ini mengacu pada hipotesis TBC) 3. kembung. anoreksia kurang sering terjadi . Tuberkulosis Tuberkulosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosa . batuk. dispnea yang ringan merupakan gejala yang lazim . Demamnya sejak kapan ? (Anamnesis ini mengacu pada hipotesis demam tifoid) 7. Keluhan sistemik seperti demam. Infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa pada anak-anak berbeda seperti pada orang dewasa karena pada anak-anak . letih . Apakah berat badan naik atau turun ? (Anamnesis ini mengacu pada hipotesis TBC serta infeksi cacing) 4. muntah. Tanda vital a. 3 Diperlukan anamnesis lanjutan terhadap keluhan utama pasien demi menentukan diagnosis yang tepat. Kapan waktu muncul demamnya ? (Anamnesis ini mengacu pada hipotesis demam tifoid) II. keringan malam . diare .pada infeksi berat terjadi anemia hipokrom mikrositer dan eosinofilia . gejala yang ditimbulkan seperti batuk non produktif . Gejala yang ditimbulkan oleh stadium dewasa tergantung dari species dan jumlah cacing .2) . Pemeriksaan Fisik 1. 2 4. Apakah ada rasa lemah .duodenale menyebabkan gejala mual . 1 3.karena masuknya larva filariform dengan menembus kulit. Infeksi A. lesu ? (Anamnesis ini mengacu pada hipotesis infeksi cacing) 5.

7. lemas dan kurus : compos mentis : tidak ada kelainan. Rhongki kering disebabkan terjadinya akibat udara melewati daerah yang sempit karena adanya spasme bronkus. : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan 6. Abdomen 9. TB : 20x/menit (N : 16-20x/pemenit) ::- Interpretasi Hasil : Pada pasien ini mengalami demam yang tinggi (febris). Hepar dan Lien 10. Paru-paru     Inspeksi Palpasi Perkusi :::- Auskultasi : wheezing (+) : pada auskultasi di temukan suara wheezing. Keadaan umum a.b. Tekanan darah : d. Kesan sakit b. Pernafasan e. Ekstremitas : tidak ada kelainan : tampak membuncit (ascites) : tidak teraba : tidak ada kelainan . Kesadaran 3. Leher : tampak sakit. Suara wheezing Interpretasi adalah jenis rhongki kering yang terdengar lebih nyaring. THT 5. Jantung 8. BB f. Toraks a. Denyut nadi :- c.dan pernafasannya normal 2. Mata 4.

sel muda akan ditemukan bila pasien mengalami leukositosis. hipotesa malaria dapat dihapuskan.000 34% .39% 0-20 mm/jam Keterangan Anemia Leukopenia Menurun Meningkat Trombosit Diff Count 250.000 0-1/1-3/2-6/5070/2040/2-8 Normal Eusinofil meningkat Segmen Menurun Selain itu tidak di temukan sel muda pada darah tepi. Pemeriksaan penunjang Darah Lengkap Jenis Pemeriksaan Hemoglobin Leukosit Hematokrit LED Hasil 10 g/dl 4500 32% 25 mm/jam Nilai Normal 12-14 g/dl 5000-10.III.000 0/15/4/25/40/6 >200. Dimana pasien ini tidak mengalami gangguan ginjal. Urinalisa Pada hasil urinalisa didapatkan hasil protein (-) dan glukosa (-) yang menunjukkan hasil normal. Hal ini menunjukkan hasil normal. Parasit malaria juga tidak ditemukan pada pemeriksaan darah. Pada pemeriksaan sedimen     Leukosit : 3-4 / LPB Eritrosit : 0/LPB Silinder : Negatif (-) Bakteri : Negatif (-)  Normal  Normal  Normal  Normal . Oleh karena itu.

yang berisi larva. dan darah samar didapatkan hasil negatif yang berarti normal serta tidak terdapatnya perdarahan pada GIT. Pemeriksaan KOH 10% = Jamur (-) d. dan. Dilihat pada hasil pemeriksaan mikroskopis... dan S. maka hipotesa TBC dapat dihapus serta keadaan eosinofilia tersebut memperkuat hipotesa mengenai infeksi cacing pada pasien tersebut. Pada hasil pemeriksaan tinja juga didapatkan hasil eritrosit. Parathpyii A/B/C (-). Pewarnaan gram tidak ditemukan bakteri b.. Pewarnaan tahan asam = BTA (-) c. leukosit.. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesa Demam Typhoid dapat dihapus. STH (-).Uji Feses Pada pemeriksaan tinja didapatkan telur cacing yang berarti adanya infeksi cacing pada pasien tersebut. Pemeriksaan Sputum a.. Morfologi telur ini merupakan telur infektif/telur matang Ascaris lumbricoides. ditemukan gambaran telur bilayer. Pewarnaan Wright/Giemsa = Eosinofilia Dari hasil pemeriksaan sputum di atas. . Uji Widal Pada uji widal didapatkan hasil STO (-).

V. Antigen-antigen larva akan berikatan pada Fab IgE dan . yang akan mengaktivasi sel Th memproduksi IL 4 yang bekerja pada sel Th sendiri sehingga sel Th berdifferensiasi menjadi sel Th2. Kemudian sel Th2 akan mengeluarkan dua sitokin. Hal ini menunjukkan terdapatnya sindroma Loeffler sebagai gambaran khas penderita askariasis.dendritik sel. Ige kemudian akan menempel ke sel mast sehingga berdegranulasi sedangkan IL-5 berguna untuk aktivasi eosinofil. telur yang tertelan melalui mulut akan melewati saluran cerna hingga mencapai lumen usus halus. maka diagnosa pada pasien ini ialah : Ascariasis dengan sindroma Loeffler. pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang. yaitu: IL-4 yang akan mengaktivasikan sel B menjadi sel plasma yang siap untuk memproduksikan antibodi.Interpretasi Hasil foto rontgen Pada hasil foto thorax didapatkan gambaran infiltrat seluruh lapangan paru kiri dan kanan. kemudian Larvanya menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limfe.yaitu IgE .sel B) yang kemudian akan membawanya ke limfanodulus untuk di presentasikan ke sel Th. Diagnosis Berdasarkan hasil anamnesis. Patofisiologi Awal penyakit. IV. dimana disini tubuh akan berespon dengan terjadinya reaksi imun pertama. Larva ini akan ditangkap oleh APC(makrofag. Kemudian Fc reseptor dari IgE yang lain akan berikatan dengan eosinofil.

leukotrien dan prostalglandin akan menyebabkan bronkokonstriksi dari paru. hingga ke laring. cacing akan mengabsorbsi nutrisi makanan berupa (karbohidrat dan protein) sehingga menyebabkan cairan intravaskuler tertarik keluar intertisial yang menyebabkan acites pada bagian abdomen anak tersebut. Sel-sel yang bergranulasi adalah sel mast. yg sebagian besar diproduksi dari metabolisme asam arakhidonat setelah sel mast teraktivasi. sehingga akan menimbulkan suara wheezing. Contoh lain yaitu prostaglandin dan leukotriens. Subtansi-subtansi ini menimbulkan efek seperti: . Saat di usus. dan eosinofil.Enzim proteolitik untuk pemecahan C3 dan mengaktivasi jalur komplemen . Respon imun. maltosa dari cacing tersebut yang akan di kenali oleh sel mast. Sel mast kemungkinan teraktivasi ketika molekul cacing terikat ke Toll-like receptors. Pada saat aktivasi. sebagian besar cacing akan menghabiskan stadium akhir hidupnya di bagian lumen dari usus. Eosinofil yang melawan dan membunuh larva akan memunculkan gambaran klinis berupa eosinofilia dan gambaran infiltrat yang kita kenal dengan Sindrom Looffler. Beberapa subtansi tersebut seperti histamin dan enzim proteolitik. Ini merupakan efek dari sel-sel yg bergranulasi. Namun. peristiwa respon imun yang terjadi hampir sama dengan saat pertama kali. tetapi pada saat telah mencapai stadium dewasa. basofil. keadaan ini juga menimbulkan gejala klinis berupa diare. sel mast melepaskan subtansi ke permukaan dari patogen. diharapkan akhirnya cacing keluar dari usus. larva yang berhasil berevasi dari sistem imun dapat memasuki kapiler darah menuju jantung dan paru. yang dapat mengakibatkan tertelannya larva filariform sehingga dapat memasuki sistem gastrointestinal melalui esofagus.menyebabkan cross-linking sehingga eosinofil tersensitisasi dan berdegranulasi mengeluarkan granulanya yang akan membunuh larvanya. Reaksi pertahanan imun yang terjadi juga sama. Respon imun yang berperan disini adalah mukosa berupa sel dendritik dan makrofag yang menangkap larva dan memulai proses imun. Untuk mengeluarkan cacing maka juga terjadi hiperperistaltik. dimana pengeluaran histamin dari sel mast.Histamin dapat menyebabkan kontraksi dari otot polos di usus dan relaksasi otot polos di pembuluh darah . netrofil. Di dalam usus kecil ini. ia juga akan memicu rasa gatal yaitu histamin akan memunculkan refleks batuk.

Siklusnya mirip dengan makrofag yang menarik neutrofil ke tempat infeksi bakteri.Sitokin seperti IL-3 dan IL-8 mengaktivasi eosinofil dan sel-sel sistem imun adaptif.Metabolisme asam arakhidonat (tromboksan. Penatalaksanaan Medikamentosa Obat-obat yang dapat digunakan untuk membasmi cacing adalah : -Albendazol Obat ini cukup efektif bila diberikan dengan dosis tunggal 400 mg. Pembuluh darah juga ikut berdilatasi dan sel leukosit lainnya tertarik ke tempat adanya cacing dengan kemotaksis. Lalu eosinofil juga melepaskan 3 subtansi berbahaya: . Salah satu sel yang ikut ke tempat adanya cacing adalah eosinofil.Protein kationik yang juga akan merusak lapisan terluar cacing dan melumpuhkan sistem saraf cacing Dari kejadian dan keterangan di atas maka memungkinkan pasien tersebut untuk merasakan batuk dan demam berulang hingga mencapai fase kronis. ..Protein dasar untuk menyerang lapisan terluar parasit . 2 kali sehari selama 3 hari. prostaglandin) mempunyai banyak kegunaan . -Mebendazol Obat ini cukup efektif bila diberikan dengan dosis 100 mg. Sumsum tulang memproduksi eosionofil yang akan meningkat oleh IL-3 dan IL-5. Keuntungan dari mediator ini adalah sekresi mukus meningkat dan kontraksi otot polos yang cukup memungkinkan untuk mengeluarkan cacing. leukotriens. Eosinofil melepaskan subtansi yang mirip dengan sel mast kecuali histamin. Leukotrien merupakan kemotraktan untuk eosinofil dan menarik mereka ke tempat cacing.Peroksidase yang akan menghasilkan asam hipoklorus . VI.

Namun. Prognosis Pada umumnya askariasis mempunyai prognosis baik. dengan pengobatan angka kesembuhan 70-90%. ad sanationam. maksimum 1 g. maupun ad fungsionam adalah Ad Bonam. ruam kulit dan demam. mencret. pusing.5 tahun. Maka jika pasien ini mendapat penatalaksanaan yang baik dan tepat maka prognosisnya baik ad vitam.-Pirantel Pamoat Obat ini cukup efektif bila diberikan dengan dosis 10 mg/kg berat badan. berupa : 1. Efek samping obat ini adalah rasa mual. Membuat fasilitas MCK yang memadai 4. penyakit ini dapat sembuh sendiri namun dalam jangka waktu yang lama yaitu 1. Membiasakan diri mencuci tangan dan memakai alas kaki 3. Memasak makanan dengan matang VII. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah 2. . Tanpa pengobatan-pun. Non-Medikamentosa Penatalaksanaan non-medikamentosa dapat dilakukan dengan memberikan edukasi.

daur hidup. dan hubungan hospes-parasit. Diantara nematoda usus. Ancylostoma duodenale. kelembapan tinggi dan suhu 25-30oC merupakan kondisi yang sangat baik telur menjadi Penyakit untuk ascaris bentuk yang berkembangnya lumbrocoides infektif. Nematoda usus lainnya bagi manusia adalah Oxyuris vermicularis dan Trichinella spiralis yang merupakan non soil transmitted helminths. dan dibawah tempat pembuangan sampah. Necator americanus. Dinegara- negara tertentu terdapat kebiasaan memakai tinja sebagai pupuk. ditempat mencuci. Trichuris trichiura. disebabkannya disebut Ascariasis. Strongiloides stercoralis. Cacing tersebut berbeda-beda dalam habitat. Nemmatoda terbagi menjadi nematoda usus dan nematoda jaringan . terdapat sejumlah spesies yang ditularkan melalui tanah disebut soil transmitted helminths. Sebagian besar nematoda tersebut menyebabkan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Kurangnya pemakaian jamban keluarga menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja disekitar halaman rumah.BAB IV TINJAUAN PUSTAKA Nematoda Nematoda mempunyai jumlah spesies terbanyak diantara cacing-cacing yang hidup sebagai parasit. Manusia merupakan hospes beberapa nematoda usus. Cacing yang terpenting bagi manusia adalah Ascaris lumbricoides. dan beberapa spesies Trichostrongylus. Morfologi dan Daur Hidup . Ascaris Lumbricoides Prevalensi Ascaris lumbricoides masih cukup tinggi di Indonesia sekitar 60-90 %. Tanah liat. dibawah pohon.

Pada foto torax tampak infiltrat yang menghilang dalam waktu 3 minggu (sindrom Loofler). Selain itu diagnosis dapat dibuat apabila cacing dewasa keluar sendiri baik melalui mulut atau hidung karena muntah maupun melalui tinja. nafsu makan berkurang. Stadium dewasa hidup di rongga usus kecil. Seekor cacing betina dapat bertelur sebanyak 100. kadang penderita mengalami gangguan seperti mual. Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa bertelur dibutuhkan waktu kurang lebih 2-3 bulan. Terdiri atas telur yang dibuahi dan tidak dibuahi. Gangguan karena larva biasanya terjadi pada saat berada di paru. Diagnosis Cara menegakkan diagnosis penyakit ini adalah pemeriksaan tinja secara langsung. demam. Larvanya menembus dinding usus halus ke pembuluh darah atau saluran limfe lalu dialirkan ke jantung kemudian mengikuti aliran darah ke paru. Patologi dan Gejala Klinis Gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan larva. Pada orang yang rentan akan terjadi perdarahan kecil di dinding alveolus dan timbul gangguan pada paru yang disertai batuk.000 butir sehari. Pada infeksi berat terutama pada anak dapat terjadi malabsorbsi sehingga terjadi memperberat keadaan malnutrisi dan penurunan status kognitif. Gangguan yang disebabkan cacing dewasa biasanya ringan.000 – 200. Telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk invektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. . dan eosinofilia. Penderita batuk karena rangsangan tersebut dan larva akan tertelan ke dalam esofagus lalu menuju ke usus halus. dan konstipasi. Efek yang serius ialah ketika cacing menggumpal dalam usus dan menimbulkan obstruksi. diare. appendix atau ke bronkus yang menimbulkan keadaan gawat darurat dan terkadang perlu tindakan operatif. Pada keadaan tertentu cacing dewasa dapat mengembara ke saluran empedu. Dari trakhea larva menuju faring sehingga menimbulkan rangsangan pada faring.Cacing jantan berukuran lebih kecil dari cacing betina. Larva di paru menembus dinding pembuluh darah lalu dinding alveolus masuk rongga alveolus kemudian naik ke trakhea melalui bronkiolus dan bronkus. Di usus halus larva berubah menjadi cacing dewasa. Adanya telur dalam tinja memastikan diagnosis ascariasis. Bila telur ini tertelan manusia. maka menetas di usus halus.

Pengobatan Pengobatan dapat dilakukan secara perorangan atau secara masal. Oksantel-pirantel pamoat adalah obat yang dapat digunakan untuk infeksi campuran A. angka kesembuhan 7099%. Untuk pengobatan masal perlu beberapa syarat. Untuk perorangan dapat digunakan bermacam-macam obat misalnya piperasin. sehingga berkhasiat terhadap beberapa jenis cacing Harganya murah Pengobatan masal dilakukan oleh pemerintah pada anak sekolah dasar dengan pemberian albendazol 400 mg 2 kali setahun. penyakit dapat sembuh sendiri dalam waktu 1. Prognosis Pada umumnya askariasis mempunyai prognosis baik. dosis tunggal mebendazol 500 mg atau albendazol 400 mg. . yaitu :      Obat mudah diterima masyarakat Aturan pemakaian sederhana Mempunyai efek samping yang minim Bersifat polivalen. Tanpa pengobatan.5 tahun.lumbricoides dan T. Dengan pengobatan. pirantel pamoat 10 mg/kg berat badan.trichiura.

dan hasil laboratorium. kelompok kami menyimpulkan bahwa pasien ini mengalami infeksi cacing Ascaris lumbricoides dengan Sindroma Loeffler. serta non medikamentosa dengan memberikan edukasi. Sehingga dapat dengan mudah terkena Askariasis. . Prognosis umumnya baik.BAB V KESIMPULAN Berdasarkan anamnesis. pemeriksaan fisik. Hal ini dikarenakan kebiasaan pasien yang tidak mencuci tangan sebelum makan serta tidak memakai alas kaki. Penatalaksanaan pada pasien ini dapat berupa medikamentosa dengan pemberian obat cacing.

Sutanto I . Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. demam tifoid . 2007 . Sjarifuddin P . Imunologi Dasar Edisi IX. 4. Jakarta: Universitas Trisakti. 1993. . jakarta : EGC . 8. 2000 .DAFTAR PUSTAKA 1. Sumarmo. edisi keempat . Hadi U . jakarta : Universitas airlangga . Wahab S . 9. Rampengan TH. Laurentz IR. Jakarta: FKUI. Sutanto Inge. Bramantono . 2010. Jakarta: FKUI . Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V. 2008. ilmu kesehatan anak . 6 . Jakarta: Interna Publishing. p . Garna H. Jakarta: EGC. Priyana Adi. 3. Margono S . Ismid I . Hadinegoro S. 2009 . penyakit infeksi di indonesia . Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2009. Infeksi dan Penyakit Tropis Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Edisi I. Nematoda usus . 13 . Suharto . 2002. p 138. Sudoyo Aru W. p 1030 . Sungkar S . Parasitologi Kedokteran. jakarta : Universitas Indonesia . Supali T . Parasitologi kedokteran . 2010. Starke J . Nasronudin . Baratawijaya KG. 5. edisi 15 volume 2 . 2. Tuberkulosis . 6. Patologi Klinik untuk Kurikulum Pendidikan Dokter berbasis Kompetensi. Vitanata . 7.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->