OBAT ANTI JAMUR

Pengertian : Obat-obat anti jamur juga disebut dengan obat anti mikotik, dipakai untuk mengobati dua jenis infeksi jamur : infeksi jamur superficial pada kulit atau selaput lender dan infeksi jamur sistemik pada paru-paru atau system saraf pusat. Infeksi jamur dapat ringan, seperti pada tinea pedis (atlete’s food) atau berat, seperti pada paru-paru atau jamur seperti candida spp, (ragi),

merupakan bagian dari flora normal pada mulut, kulit, usus halus dan vagina. Kandidiasis dapat terjadi sebagai infeksi oportunistik jika mekanisme pertahanan tubuh terganggu. Obat-obat seperti anti biotic, kontrasepsi oral dan imonusupre dif, dapat juga mengubah mekanisme pertumbuhan tubuh. Infeksi jamur oportunistik dapat ringan (infeksi ragi pada vagina) atau berat (Infeksi Jamur Sistematik) Uraian obat anti jamur adalah sebagai berikut :

ANTIJAMUR UNTUK INFEKSI SISTEMIK

1.1. AMFOTERISIN B

ASAL DAN KIMIA. Amfoterisin A dan B merupakan hasil fermentasi Streptomyces nodosus. Sembilan puluh delapan persen campuran ini terdiri dari amfoterisin B yang mempunyai aktivitas antijamur. Kristal seperti jarum atau prisma berwarna kuning jingga, tidak berbau dan tidak berasa ini merupakan antibiotik polien yang bersifat basa amfoter lemah, tidak larut dalam air, tidak stabil, tidak tahan suhu diatas 37°C tetapi dapat bertahan sampai berminggu-minggu pada suhu 4°C. AKTIVITAS ANTIJAMUR Amfoterisin B menyerang sel yang sedang tumbuh dan sel matang. Aktivitas anti jamur nyata pada pH 6,0-7,5: berkurang pada pH yang lebih rendah. Antibiotik ini bersifat fungistatik atau fungisidal tergantung pada dosis dan sensitivitas jamur yang dipengaruhi. Dengan kadar 0,3-1,0 µg/mL antibiotik ini dapat menchambat Coccidioides aktivitas immitis, Histoplasma dan capsulaium, Cryptococcus neoformans, glabrata,

beberapa spesies

Candida,

Tondopsis

kandidiasis. Resistensi terhadap amfoterisin B ini mungkin disebabkan terjadinya perubahan reseptor sterol pada membran sel. Paracoccidioides braziliensis. Cryptococcus dan Candida dapat menjadi resisten selama pengobatan dengan flusitosin. neoformans. AKTIVITAS ANTIJAMUR.2. MEKANISME KERJA. kromomikosis. Flusitosin masuk ke dalam sel jamur dengan bantuan sitosin deaminase dan dalam sitoplasma akan bergabung dengan RNA setelah mengalami . FLUSITOSIN ASAL DAN KIMIA. torulopsis dan aspergilosis. 1. albicans yang sensitif. Obat ini efektif untuk pengobatan kriptokokosis. Pengikatan kolesterol pada sel hewan dan manusia oleh antibiotic ini diduga merupakan salah satu penyebab efek toksiknya. Secara in vitro bila rifampisin atau minosiklin diberikan bersama amfoterisin B terjadi sinergisme terhadap beberapa jamur tertentu. Amfoterisin B berikatan kuat dengan ergosterol yang terdapat pada membran sel jamur. Blastomyces dermatitidis. Microsporum audiouini dan spesies Trichophyton. Flusitosin (5-fluorositosin. Obat ini berbentuk kristal putih tidak berbau. Sporotrichum schenckii. In vitro pemberian flusitosin bersama amfoterisin B akan menghasilkan efek supraaditif terhadap C. Infeksi saluran kemih bagian bawah oleh Candida yang sensitif dapat diobati dengan flusitosin saja karena kadar obat ini dalam urin sangat tinggi. beberapa spesies Aspergillus. Ikatan ini akan menyebabkan membran sel bocor sehingga terjadi kehilangan beberapa bahan intrasel dan mengakibatkan kerusakan yang tetap pada sel. Empat puluh sampai 50% Candida sudah resisten sejak semula pada kadar 100 µg/mL flusitosin. C. Bakteri. 5FC) merupakan antijamur sintetik yang berasal dari fluorinasi pirimidin. MEKANISME KERJA. sedikit larut dalam air tapi mudah larut dalam alkohol. Spektrum antijamur flusitosin agak sempit. virus dan riketsia tidak dipengaruhi oleh antibiotik ini karena jasad renik ini tidak mempunyai gugus sterol pada membran selnya. dan mempunyai persamaan struktur dengan fluorourasil dan floksuridin. tropicalis dan C.Rhodotorula.

dan sebaiknya dikumur dahulu sebelum ditelan untuk mengoptimalken efek topikalnya. B. AKTIVITAS ANTIJAMUR. capsulatum. H. Itrakonazol diserap lebih sempuma melalui saluran cerna bila diberikan bersama makanan. Sintesis protein sel jamur terganggu akibat penghambatan Iangsung sintesis DNA oleh metabolit fluorourasil. Itrakonazol. sariawan pada mulut dan tenggorokan serta tinea versikolor. itrakonazol juga memberikan efek terapi terhadap aspergilosis di luar SSP. dermatitidis. histoplasmosis. juga berinteraksi dengan enzim mikrosom hati. Berbeda dari ketokonazol.3. Ketokonazol aktif sebagai antijamur baik sistemik maupun nonsistemik efektif terhadap Candida. Rifampisin akan mengurarangi kadar plasmaitrakonazol. Keadaan ini tidak terjadi pada sel mamalia karena dalam tubuh mamalia flusitosin tidak diubah menjadi fluorourasil.deaminasi menjadi 5-fluorourasil dan fosforilasi. Obat ini bersifat liofilik dan larut dalam air pada pH asam. Ketokonazol merupakan turunan imidazol sintetik dengan struktur mirip mikonazol dan klotrimazol. koksidioidomikosis. 1. Itrakonazol memberikan hasil mernuaskan untuk indikasi yang sama dengan ketokonazol antara lain terhadap blastomikosis. IMIDAZOL DAN TRIAZOL  KETOKONAZOL ASAL DAN KIMIA. Coccidioides immitis. Itrakonazol suspensi diberkan dalam keadaan lambung kosong dengan dosis dua kali 100 mg sehari. tetapi tidak sebanyak ketokonazol. seperti golongan azol lainnya. Aktivitas antijamumya lebih lebar sedangkan efek samping yang ditimbulkan lebih kecil dibandingkan dengan ketokonazol. Lamanya pengobatan biasanya 2-4 mirggu.  ITRAKONAZOL Antijamur sistemik turunan triazol ini erat hubungannya dengan ketokonazol. Aspergillus dan Sporothrix spp. Obat ini dapat diberikan per oral dan IV. Cryptococcus neoformans. Itrakonazol .

Dosis muat oral untuk pasien dengan berat badan > 40 kg ialah 400 mg dan untuk pasien yang berate nya < 40 kg diberikan 200 mg. . Obat ini diserap sempuma melalul saluran cema tanpa dipengaruhi adanya makanan ataupun keasaman lambung. Cryptococcus sp dan Dermatophyte sp. Untuk pasien dengan berat badan kurang dari 40 kg diberikan dosis pemeliharaan 2 kali 100 mg sehari. Infus diberikan dalam waktu satu jam. eosinofilia. Obat ini juga mempunyai efektivitas yang baik terhadap Candida sp. Flukonazol berguna untuk mencegah relaps meningitis yang disebabkan oleh Cryptococcus pada pasien AIDS setelah pengobatan dengan amfoterisin B. Pengobatan lalu dilanjutkan dengan pemberian oral 200 mg tiap 12 jam bagi pasien dengan berat badan > 40 kg. termasuk untuk infeksi kandida yang resisten terhadap flukonazol. Pada pasien AIDS ditemukan urtikaria.  VORIKONAZOL Obat ini adalah antijamur baru golongan triazol yang diindikasika. secepatnya harus dialihkan ke pemberian oral. diikuti satu kali 200 mg sehari selama 12 hari.IV diberikan untuk infeksi berat melalui infus dengan dosis muat dua kali 200 mg sehari. Flukonazol tersebar rata ke dalam cairan tubuh juga dalam sputum dan Gangguan saluran cema merupakan efek samping yang paling banyak ditemukan. Farmakokinetik obat ini tidak linier akibat terjadinya saturasi metabolisme. Kadar plasma setelah pemberian per oral sama dengan kadar plasma setelah pemberian IV. sindrome StevensJohnson. gangguan fungsi hati yang terspmbunyi dan trombositopenia. Juga efektif untuk pengobatan kandidiasis mulut dan tenggorokan pada pasien AIDS. Pengobatan yang dimulai dengan pemberian IV ini.  FLUKONAZOL Ini adalah suatu fluorinated bis-triazol dengan khasiat farmakologis yang baru. Dosis must oral irat juga diberikan hanya 2 kali dengan interval 12 jam. untuk aspergiiosis sistemik dan Infeksi jamur berat yang disebabkan olhe Scedosporium apiosperrnun dan Fusarium sp.

Aspergilosis invasif yang sudah refrakter terhadap antijamur lainnya. Obat ini terikat dengan protein plasma lebih dari 99% dan terakumulasi di kulit. Terbinafin diserap baik melalui saluran cerna. Obat ini digunakan untuk terapi dermatofitosis. termasuk kandidemia pada pasien neutropenia atau nonneutropenia. . Kaspofungin diindikasikan untuk infeksi jamur sebagai berikut: 1. Obat ini bekerja dengan menghambat sintesis beta (1. Ekskresinya melalui urin hanya sedikit sekali. 2. Obat ini dimetabolisme secara lambat dengan cara hidrolisis dan asetilasi. 1. Obat in masih dapat ditemukan dalam plasma hingga 4-8 minggu setelah pengobatan yang lama. TERBINAFIN ASAL DAN KIMIA. Waktu paruh awalnya adalah sekitar 12 jam dan berkisar antara 200 sampai 400 jam bila telah mencapai kadar mantap. Kandidiasis orofarings 4. kuku dan jaringan lemak. Terbinafin dimetabolisme di hati menjadi metabolit yang tidak aktif dan diekskresikan di urin.5. Kandidiasis esofagus 3. terbinafin biasanya dikombinasikan dengan golongan imidazol atau triazol karena penggunaannya sebagai monoterapi kurang efektif.1. Terbinafin tidak di indikasikan untuk pasien azotemia atau gagal hati karena dapat terjadi peningkatan kadar terbinafin yang sulit diperkirakan. suatu komponen esensial yang membentuk dinding sel jamur.hari. tetapi bioavailabilitasnya menurun hingga 40% karena mengalami metabolisme lintas pertama di hati. Namun. Dalam darah 97% obat terikat protein dan masa paruh eliminasinya 9-11 jam. Kandidiasis invasif.4. Terbinafin merupakan suatu derivat alilamin sintetik dengan struktur mirip naftitin.3)-Dglukan. pada pengobatan kandidiasis kutaneus dan tinea versikolor. FARMAKOKINETIK. terutama onikomikosis. KASPOFUNGIN Kaspofungin adalah antijamur sistemik dari suatu kelas baru yang disebut ekinokandin. Pengobatan umumnya diberikan selama 14. Keamanan obat ini belum diketahui pada wanita hamil dan anak berumur kurang dari 18 tahun.

Bila terdapat penyebaran ekstrapulmonar. Bila invasi tidak mengenai parenkim ginjal pengobatan cukup dengan amfoterisin B 50 µg/mL dalam air steril selama 5 .400 mg sekali sehari pada beberapa kasus. BLASTOMIKOSIS. amfoterisin B IV bermanfaat untuk penyakit berat ini. Histoplasmosis. KANDIDIASIS. Kateterisasi ataupun manipulasi instrument lain dapat memperburuk kandidiasis. Ditemukannya kavitas tunggal di paru atau adanya infiltrasi fibrokavitas yang tidak responsif terkadap kemoterapi merupakan ciri yang khas dari penyakit kronis koksidioidomikosis.4 mg/kgBB/hari selama 10 minggu. dosis dapat ditingkatkan sampai dua kalinya. yang membutuhkan tindakan reseksi. Bila ada kelainan parenkim ginjal. Dosis yang dianjurkan 0.51.PENGOBATAN INFEKSI JAMUR SISTEMIK Infeksi oleh jamur patogen yang terinhalasi dapat sembuh spontan. koksidioidomikosis. Amfoterisin B dicadangkan untuk pasien yang tidak dapat menerima ketokonazol. Invasi aspergilosis paru sering terjadi pada pasien penyakit imunosupresi yang berat dan. atau bila disangsikan terjadi penyebaran atau adanya risiko penyakit akan menjadi lebih parah. Pasien AIDS atau pasien penyakit imunosupresi lain biasanya membutuhkan kemoterapi untuk mengatasi pneumonia karena jamur atau oleh sebab lain. pasien harus diobati dengan amfoterisin B IV seperti mengobati kandidiasis berat pada organ lain. Ketokonazol diberikan untuk . dosis obat dapat ditingkatkan.7 hari. ASPERGILOSIS.tidak memberi respons yang memuaskan terhadap pengobatan dengan antijamur. Kadangkala dibutuhkan tindakan operatif untuk mengalirkan nanah dari sekitar lesi.0 mg/kgBB setiap hari dalam infus lambat. blastomikosis dan kriptokokosis pada paru yang sehat tidak membutuhkan pengobatan. Itrakonazol juga efektif dengan dosis 200 . Kemoterapi baru dibutuhkan bila ditemukan pneumonia yang berat. juga pada pasien dengan penyakit imunosupresi dan AIDS. infeksinya sangat progresif atau infeksi menyerang SSP. Obat terpilih untuk kasus ini adalah ketokonazol per oral 400 mg sehari selama 6 .12 bulan. Untuk infeksi berat. infeksi cenderung menjadi kronis. KOKSIDIOIDOMIKOSIS. Obat pilihan adalah amfoterisin B IV dengan dosis 0. Bila penyakit progresif.

terapi supresi jangka panjang terhadap lesi kulit. flusitosin diduga bekerja aditif terhadap amfoterisin sehingga dosis amfoterisin B dapat dikurangi dan dapat mengurangi terjadinya resistensi terhadap flusitosin. Penambahan flusitosin dapat mengurangi pemakaian amfoterisin B menjadi 0. GRISEOFULVIN ASAL DAN KIMIA. KRIPTOKOKOSIS.1. Untuk meningitis yang disebabkan oleh Coccidioides obat terpilih ialah amfoterisin B yang diberikan secara intratekal. diberikan selama 10 minggu. Ketokonazol 400 mg per hari merupakan obat pilihan yang diberikan selama 6-12 bulan. MUKORMIKOSIS. Obat terpilih adalah amfoterisin B IV dengan dosis 0. Untuk mencegah kekambuhan penyebaran histoplasmosis pada pasien AIDS yang sudah diobati dengan ketokonazol dapat ditambahkan pemberian amfoterisin B IV sekali seminggu. ANTIJAMUR UNTUK INFEKSI DERMATOFIT DAN MUKOKUTAN 3. Itrakonazol 200-400 mg sekali sehari juga cukup efektif. Flukonazol banyak digunakan untuk terapi supresi pada pasien AIDS.3 mg/kg/13B.4-0. Amfoterisin B merupakan obat pilihan untuk mukormikosis paru kronis. Di samping penyebarannya yang lebih baik ke dalam jaringan sakit. menemukan bahan yang menyebabkan susut dan . HISTOPLASMOSIS. Pada keadaan yang berat dapat ditambahkan amfoterisin B. Pasien dengan histoplasmosis paru kronis sebagian besar dapat diobati dengan r ketokonazol 400 mg per hari selama 6-12 bulan. Brian dkk. Pada tahun 1946. Griseofulvin diisolasi dari Penicillium griseovulyum dierckx. Mukormikosis kraniofasial juga diberikan amfoterisin B IV di samping melakukan debridement dan kontrol diabetes melitus yang sering menyertainya. Hasil serupa juga dapat dicapai dengan pemberian itrakonazol 200-400 mg sekali sehari. PARAKOKSIDIOIDOMIKOSIS. Amfoterisin B IV juga dapat. Pengobatan dilanjutkan sampai hasil pemeriksaan kultur negatif.5 mgtkgBB/hari. tulang dan jaringan lunak pada pasien dengan fungsi imunologik normal.

Waktu paruh obat ini kira-kira 24 jam. sebagian kecil larut dalam air . tetapi dari jamur kandida paling sering terjadi. Obat ini tidak efektif terhadap bakteri. Griseofulvin in vitro efektif terhadap berbagai jenis jamur dermatofit seperti Trichophyton. maka hanya mikonazol dan klotrimazol yang akan dibahas. Keringat dan hilangnya cairan transepidermal memegang peranan penting dalam penyebaran obat ini pada stratum korneum kadar yang ditemukan dalam cairan dan jaringan tubuh lainnya kecil sekali. juga itrakonazol (golongan triazol).  MIKONAZOL ASAL DAN KIMIA. Karena sifat dan penggunaannya praktis tidak berbeda. Terhadap sel muda yang sedang berkembang griseofulvin bersifat fungisidal. terikat kuat dengan keratin sehingga sel baru ini akan resisten terhadap serangan jamur. lalu muncul bersama sel yang baru berdiferensiasi.2. Ketokonazol yang juga termasuk golongan imidazol telah dibahas pada pembicaraan mengenai antijamur untuk infeksi sistemik. Obat ini dimetabolisme di hati dan metabolit utamanya adalah 6- metilgriseofulvin. Actinomyces dan Nocardia. Obat ini berbentuk kristal putih. Keratin yang mengandung jamur akan terkelupas dan diganti oleh sel yang normal. jamur lain dan ragi. IMIDAZOL DAN TRIAZOL Antijamur golongan imidazol mempunyai spektrum yang luas. Kulit yang sakit mem punyai afinitas yang tinggi terhadap obat ini. Epidermophyton dan Microsporum. Mikonazol merupakan turunan imidazol sintetik yang relatif stabil. Resistensi terhadap imidazol dan triazol sangat jarang terjadi dari jamur penyebab dermatofitosis. tidak bewama dan tidak berbau. mempunyai spektrum antijamur yang lebar terhadap jamur dermatofit. AKTMTAS ANTIJAMUR. Antibiotik ini dapat ditemukan dalam lapisan tanduk 4-8 jam setelah pemberian per oral. Obat ini akan dihimpun dalam sel pembentuk keratin. 50% dari dosis oral yang diberikan dikeluarkan bersama urin dalam bentuk metabolit selarna 5 hari. 3.mengecilnya hifa yang disebut sebagai curling factor kemudian temyata diketahui bahwa bahan yang mereka isolasi dari Penicillin janczewski adalah griseofulvin.

telapak dan kuku sebaiknya dipakai griseofulvin. Tolnaftat adalah suatu tiokarbamat yang efektif untuk pengobatan sebagian besar dermatofitosis tapi tidak efektif terhadap kandida.tapi lebih larut dalam pelarut organic. E. T. Epidermophyton. Untuk dermatofitosis sedang atau berat yang mengenai kulit kepala. TOLNAFTAT DAN TOLSIKLAT TOLNAFTAT. larut dalam alkohol dan kloroform. tinea versikolor dan kandidiasis mukokutan. Obat yang sudah menembus ke dalam lapisan tanduk kulit akan menetap di sana sampai 4 hari. Juga untuk infeksi kulit dan vulvovaginitis yang disebabkan oleh C.  KLOTRIMAZOL Klotrimazol berbentuk bubuk tidak berwama yang praktis tidak larut dalam air. Microsporum. mentagrophytes. 3. Mikonazol masuk ke dalam sel jamur dan menyebabkan kerusakan dinding sel sehingga permeabilitas terhadap berbagai zat intrasel meningkat. albicans. Klotrimazol mempunyai efek antijamur dan antibakteri dengan mekanisme kerja mirip mikonazol dan secara topikal digunakan untuk pengobatan tinea pedis . Candida dan Malassezia furfur. Mikonazol in vitro efektif terhadap beberapa kuman Gram positif. Mikonazol topikal diindikasikan untuk dermatofitosis. . TOLSIKLAT. canis dan untuk tinea versikolor.3. AKTIVITAS ANTIJAMUR. kruris dan korporis yang disebabkan oleh T. Tolsiklat merupakan antijamur topikal yang diturunkan dan tiokarbamat. antijamur ini tidak banyak digunakan lagi. Mikonazol menghambat aktivitas jamur Trichophyton. floccosum dan M. Mungkin pula terjadi gangguan sintesis asam nukleat atau penimbunan peroksida dalam sel jamur yang akan menyebabkan kerusakan. sedikit larut dalam eter. Mekanisme kerja obat ini belum diketahui sepenuhnya. rubrum. Namun karena spektrumnya yang sempit.

Nistatin tidak diserap melalui saluran cema. Nistatin hanya akan diikat oleh jamur atau ragi yang sensitif. sukar larut dalam kloroform dan eter. Karena asam benzoat hanya bersifat fungistatik maka penyembuhan baru tercapai setelah lapisan tanduk yang menderita infeksi terkelupas seluruhnya. bahkan sekaligus menjadi tidak sensitif terhadap amfoterisin B. tetapi C. tropicalis. Sekalipun nistatin mempunyai struktur kimia dan mekanisme kerja mirip dengan amfoterisin B. Aktivitas antijamur tergantung dari adanya ikatan dengan sterol pada membran sel jamur atau ragi terutama sekali ergosterol. AKTIVITAS ANTIJAMUR. Larutannya mudah terurai dalam air atau plasma. Asam benzoat memberikan efek fungistatik sedangkan asam Salisilat memberikan efek keratolitik. Dapat .3. Akibat terbentuknya ikatan antara sterol dengan antibiotik ini akan terjadi perubahan permeabilitas membran sel sehingga sel akan kehilangan berbagai molekul kecil. guillermondi dan C.. kulit maupun vagina. berbau khas. C. nistatin lebih toksik sehingga tidak digunakan sebagai obat sistemik. namun resistensi ini biasanya tidak terjadi in vivo.5. Obat yang berupa bubuk wama kuning kemerahan ini bersifat higroskopis. Nistatin menghambat pertumbuhan berbagai jamur dan ragi tetapi tidak aktif terhadap bakteri. MEKANISME KERJA. Salep ini banyak digunakan untuk pengobatan tinea pedis dan kadang-kadang juga untuk tinea kapitis. stellatiodes mulai resisten.4. ANTIJAMUR TOPIKAL LAINNYA ASAM BENZOAT DAN ASAM SALISILAT Kombinasi asam benzoat dan asam salisilat dalam perbandingannya 2 : 1 (biasanya 6% dan 3%) ini dikenal sebagai salep Whitfield. NISTATIN ASAL DAN KIMIA. protozoa dan virus. 3. Candida albicans hampir tidak memperlihatkan resistensti terhadap nistatin. sehingga pemakaian obat ini membutuhkan waktu beberapa minggu sampai bulanan. Nistatin merupakan suatu antibiotik polien yang dihasilkan oleh Streptomyces noursei.

Haloprogin sedikit sekali diserap melalui kulit. Obat ini dapat menghambat pertumbuhan jamur pada tinea pedis. . kandidiasis dan tinea versikolor. meluasnya maserasi dan sensitisasi. Sensitisasi mungkin merupakan pertanda cepatnya respons pengobatan sebab toksin yang dilepaskan kadang-kadang memperburuk lesi. TERBINAFIN ' Terbinafin merupakan suatu derivat alilamin sintetik dengan struktur mirip naftitin. SIKLOPIROKS OLAMIN Obat ini merupakan antijamur topikal berspektrum luas. juga ada keluhan kurang menyenangkan dari para pemakainya karena salep ini berlemak. terutama onikomikosis. HALOPROGIN Haloprogin merupakan suatu antijamur sintetik.terjadi iritasi ringan pada tempat pemakaian. Selama pemakaian obat ini dapat timbul iritasi lokal. rasa terbakar. Trichophyton. Miciosporum dan Malassezia furfur. Penggunaan kliniknya ialah untuk dermatofitosis. Obat ini bersifat fungisidal terhadap Epidermophyton. Obat ini digunakan untuk terapi dermatofitosis. Reaksi iritatif dapat terjadi walaupun jarang. Siklopiroks olamin tersedia dalam bentuk krim 1% yang dioleskan pada lesi 2 kali sehari. Terbinafin topikal tersedia dalam bentuk krim 1 % dan gel 1%. ASAM UNDESILENAT Asam undesilenat merupakan cairan kuning dengan bau khas yang tajam. sukar larut dalam air tetapi larut dalam alkohol. haloprogin atau tolnaftat. Terbinafin topikal digunakan untuk pengobatan tinea kruris dan korporis yang diberikan 1-2 kali sehari selama 1-2 minggu. daiam tubuh akan terurai menjadi triklorofenol. Di samping itu obat ini juga digunakan untuk tinea versikolor. Dalam hal ini seng berperan untuk menekan luasnya peradangan. vesikel. tetapi efektivitasnya tidak sebaik mikonazol. dan juga digunakan secara topikal untuk dermatofitosis. Dosis biasa dari asam ini hanya menimbulkan efek fungistatik tetapi dalam dosis tinggi dan pemakaian yang lama dapat memberikan efek fungisidal. berbentuk kristal putih kekuningan.

Evelyn R. Clin Infect Dis 2004.1644-56 Maschmeyer G. Drug Evaluation Annual 1995. 1996.DAFTAR PUSTAKA American Medical Association.49:239-41.38:161-89. Alih Bahasa: Farnakologi Pendekatan Prosesperawatan. Rex JH. New antifungal agents-treatment standards are beginning to grow old. Gudelines for the treatment of candidiasis. P. Pappas PG. et al. Hayes. Journal of Antimicrobial Chemotherapy 2002. Sobel JD. Jakarta: EGC .