P. 1
Transfusi darah

Transfusi darah

|Views: 71|Likes:
Published by Istari Putri
Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Reaksi transfusi darah yang paling berat adalah reaksi hemolitik yang berhubungan dengan inkompatibilitas ABO, dimana antibodi yang didapat secara alami dapat bereaksi melawan antigen dari transfusi (asing), sehingga mengaktifkan komplemen, dan mengakibatkan terjadinya hemolisis intravascular (Morgan, 2005). Berdasarkan sumber darah atau komponen darah, transfusi darah dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu:
1. Homologous atau allogenic transfusion, yaitu transfusi menggunakan darah dari orang lain;
2. Autologous transfusion, yaitu transfusi dengan menggunakan darah resipien itu sendiri yang diambil sebelum transfusi dilakukan.
Membran sel darah merah berisi sedikitnya 300 faktor penentu antigenik berbeda. Sedikitnya 20 antigen golongan darah terpisah dapat dikenal, tanda dari masing-masing adalah di bawah kontrol genetik dari kromosom loci. Kebetulan, hanya ABO dan Rh Sistem yang penting pada transfusi darah. Setiap orang biasanya menghasilkan antibody (alloantibodies). Antibodi bertanggung jawab untuk reaksi-reaksi dari transfusi. Antibodi dapat menjadi “alami” atau sebagai respon atas sensitisasi dari suatu kehamilan atau transfusi sebelumnya
Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Reaksi transfusi darah yang paling berat adalah reaksi hemolitik yang berhubungan dengan inkompatibilitas ABO, dimana antibodi yang didapat secara alami dapat bereaksi melawan antigen dari transfusi (asing), sehingga mengaktifkan komplemen, dan mengakibatkan terjadinya hemolisis intravascular (Morgan, 2005). Berdasarkan sumber darah atau komponen darah, transfusi darah dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu:
1. Homologous atau allogenic transfusion, yaitu transfusi menggunakan darah dari orang lain;
2. Autologous transfusion, yaitu transfusi dengan menggunakan darah resipien itu sendiri yang diambil sebelum transfusi dilakukan.
Membran sel darah merah berisi sedikitnya 300 faktor penentu antigenik berbeda. Sedikitnya 20 antigen golongan darah terpisah dapat dikenal, tanda dari masing-masing adalah di bawah kontrol genetik dari kromosom loci. Kebetulan, hanya ABO dan Rh Sistem yang penting pada transfusi darah. Setiap orang biasanya menghasilkan antibody (alloantibodies). Antibodi bertanggung jawab untuk reaksi-reaksi dari transfusi. Antibodi dapat menjadi “alami” atau sebagai respon atas sensitisasi dari suatu kehamilan atau transfusi sebelumnya

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Istari Putri on Aug 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/20/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah umumnya berhubungan dengan kehilangan darah dalam jumlah besar yang disebabkan oleh trauma, operasi, syok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah merah. Menurut penelitian, dilaporkan bahwa reaksi transfusi darah yang tidak diharapkan ditemukan pada 6,6% responden, dimana 55% berupa demam, 14% menggigil, 20% reaksi alergi terutama urtikaria, 6% hepatitis serum positif, 4% reaksi hemolitik dan 1% overload sirkulasi (Sudoyo, 2006). Reaksi transfusi darah yang paling berat adalah reaksi hemolitik yang berhubungan dengan inkompatibilitas ABO, dimana antibodi yang didapat secara alami dapat bereaksi melawan antigen dari transfusi (asing), sehingga mengaktifkan komplemen, dan mengakibatkan terjadinya hemolisis intravascular (Morgan, 2005). Manifestasi klinis yang dapat ditemui pada pasien yang mengalami reaksi hemolisis intravascular adalah demam, menggigil, kemerahan, nyeri pada punggung bagian bawah, takikardi dan hipotensi, kolaps pembuluh darah sampai henti jantung. Mistransfusi, di mana terjadi kesalahan dalam pemberian transfusi darah kepada penerima merupakan kesalahan yang paling sering mengakibatkan inkompatibilitas ABO. Inkompatibilitas ABO umumnya terjadi karena kesalahan dalam pemberian label dan salah mengidentifikasi darah atau pasien. Oleh karena itu, sebelum memberikan transfusi darah dilakukan pemeriksaan pre tansfusi untuk memastikan bahwa semua yang akan dilakukan sudah tepat. Tes kompatibilitas dapat dilakukan untuk memprediksi dan mencegah antigenantibodi sebagai hasil transfusi sel darah merah. Tes kompatibilitas yang dapat dilakukan antara lain Crossmatching dan Screening Anti body. Kedua pemeriksaan ini dapat memberikan informasi mengenai jenis ABO dan Rhesus. Namun kelemahan pada kedua pemeriksaan ini adalah keduanya membutuhkan waktu 5-45 menit untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

1

BAB II ISI I. Sedikitnya 20 antigen golongan darah terpisah dapat dikenal. tanda dari masing-masing adalah di bawah kontrol genetik dari kromosom loci. 2. Antibodi dapat menjadi “alami” atau sebagai respon atas sensitisasi dari suatu kehamilan atau transfusi sebelumnya. Antibodi bertanggung jawab untuk reaksi-reaksi dari transfusi. yaitu transfusi dengan menggunakan darah resipien itu sendiri yang diambil sebelum transfusi dilakukan. menghasilkan antigen yang berbeda. (Sebenarnya. II.1 Sistem ABO Kromosomal untuk sistem ABO ini menghasilkan dua allel: A dan B. Antigen H adalah precursor dari system ABO tetapi diproduksi oleh suatu kromosom tempat berbeda.) Hampir semua individu tidak mempunyai A atau B " natural" yang menghasilkan antibodi (sebagian besar immunoglobulin M) melawan antigens di dalam tahun pertama kehidupan. 2. transfusi darah dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok. yaitu: 1. Masing-masing merepresentasikan suatu enzim yang merupakan modifikasi dari suatu permukaan sel glycoprotein. Homologous atau allogenic transfusion. Setiap orang biasanya menghasilkan antibody (alloantibodies). Definisi Transfusi Darah Transfusi darah adalah proses pemindahan darah atau komponen darah dari donor ke sistem sirkulasi penerima melalui pembuluh darah vena. Berdasarkan sumber darah atau komponen darah. hanya ABO dan Rh Sistem yang penting pada transfusi darah. Tidak adanya antigen H (hh genotype. juga disebut Bombay pheno-type) mencegah 2 . Autologous transfusion. ada berbagai varian A dan B. yaitu transfusi menggunakan darah dari orang lain. Golongan Darah Membran sel darah merah berisi sedikitnya 300 faktor penentu antigenik berbeda. Kebetulan.

3 Sistem Lain Sistem lain ini meliputi antigen Lewis. ada atau tidak alel yang paling immunogenik dan umum. Individu yang kekurangan alel ini disebut Rh-Negative dan biasanya antibodi akan melawan antigen D hanya setelah terpapar oleh ( Rh-Positive) transfusi sebelumnya atau kehamilan ( seorang Ibu Rh-Negative melahirkan bayi Rh-Positive). Kell. Dan). AB. O O 2.munculny gen A atau B. Sid. Mediator juga akan menyebabkan agregasi platelet. Jalur komplemen ini akan melepaskan anafilatoksin C3a dan C5a yang akan membebaskan sitokin seperti TNF. YK. Xg. Duffy. MNS. individu dengan kondisi sangat jarang ini akan mempunyai anti-A. c. Biasanya. dan hipotensi yang akan mengarah ke shock dan gagal ginjal. ada lima antigen utama ( D. Lutheran. Hal ini akan mengaktifkan jalur komplemen yang akan menyebabkan lisis dinding SDM (intravaskular hemolisis). tetapi secara klinis. O A. dipertimbangkan. Tabel 7. 3 .2 Sistem Rh Sistem Rh ditandai oleh dua gen yang menempati chromosome 1. D antigen. antibodi dalam plasma resipien akan mengikat reseptor khusus di dinding SDM donor. Cartright. Bila sel darah merah (SDM) yang ditransfusikan tidak kompatibel. Kebetulan. dengan beberapa perkecualian ( Kell. dan anti-H antibodi. Semua substansi ini bisa menyebabkan inflamasi. anti-B. 2. peningkatan permeabilitas vaskular. Kidd. Ada sekitar 46 Rhberhubungan dengan antigen. C. dan e) dan menyesuaikan dengan antibody. IL1 Dan IL8. B. Duffy. O B. dan kontraksi otot kecil. E. alloantibodi melawan sistem ini jarang menyebabkan reaksi hemolytic serius. Daftar Golongan Darah Golongan A B AB O Antigen di RBC Antigen A Antigen B Antigen A & B Tidak ada Antibodi dalam plasma Anti-B Anti-A Tidak ada Anti. P. oedema paru peribronchial. dan Chido Rodgers antigens.A & B Golongan donor yang kompatibel A. dan menstimulasi degranulasi sel mast dengan mengsekresikan mediator vasoaktif. Kira-Kira 80-85% tentang populasi orang kulit putih mempunyai antigen D. li. Kidd.

Oleh karena prevalensi secara umum antibodi ABO alami. dan mengakibatkan hemolisis intravaskular. Tabel 9. adanya antibodi anti-D d dapat diuji dengan mencampur serum pasien dengan sel darah merah Rh (+). Sel darah merah pasien juga diuji dengan antibody anti-D untuk menentukan Rh. Sel darah merah pasien diuji dengan serum yang dikenal mempunyai antibody melawan A dan B untuk menentukan jenis darah.1 Tes ABO-Rh Reaksi Transfusi yang paling berat adalah yang berhubungan dengan inkompatibilitas ABO. Tes Kompatibilitas Tujuan tes ini adalah untuk memprediksi dan untuk mencegah reaksi antigen- antibody sebagai hasil transfusi sel darah merah. Jika hasilnya adalah Rh-Negative. ( 2) 4 . konfirmasi jenis darah kemudian dibuat dengan menguji serum pasien melawan sel darah merah dengan antigen yang dikenal. mengaktifkan komplemen. 3. antibodi yang didapat secara alami dapat bereaksi melawan antigen dari transfusi (asing). Kemungkinan berkembangnya antibodi anti-D setelah paparan pertama pada antigen Rh adalah 50-70%. anti–B Insidensi* 45% 8% 4% 43% 3.III. Crossmatch mempunyai tiga fungsi: ( 1) Konfirmasi jenis ABO dan Rh ( kurang dari 5 menit). Donor dan penerima donor darah harus di periksa adanya antibody yang tidak baik.2 Crossmatching Suatu crossmatch transfusi: sel donor dicampur dengan serum penerima. Golongan darah ABO TIPE A B AB O * angka rata-rata pada orang di Eropa Adanya antibodi dalam serum anti– B anti – A anti A.

Fresh Blood: darah setelah pengambilan/telah disimpan pada suhu 4 derajat celcius. Kerugian : lebih sering kemungkinan terjadinya reaksi tranfuse. membran sel darah merah dilapisi.2 Sel darah merah 5 . para klinisi lebih senang menggunakan produk komponen darah saja. Sekarang produk ini sudah jarang digunakan. jika ada antibodi spesifik. Trombosit. 3. Keuntungan : mudah didapat dan tekniknya lebih mudah. Komponen Darah 4. Darah lengkap segar hanya untuk 48 jam. baru untuk 6 hari. dan ( 3) mendeteksi antibody dengan titer rendah atau tidak terjadi aglutinasi mudah. Transfusi dengan komponen darah 4.1 Whole blood Darah lengkap segar digunakan pada perdarahan akut. Macam transfusi dengan whole blood : 1. syok hemovolemik. Test ini ( dikenal juga Coombs Tes tidak langsung) memerlukan 45 menit dan dengan mencampur serum pasien dengan sel darah merah dari antigen yang dikenal. Yang dua terakhir memerlukan sedikitnya 45 menit. Screening ini rutin dilakukan pada seluruh donor darah dan dilakukan untuk penerima donor sebagai ganti dari crossmatch.3 Screening Antibodi Tujuan tes ini adalah untuk mendeteksi dalam serum adanya antibodi yang biasanya dihubungkan dengan reaksi hemolitik non-ABO. dan biasa untuk 35 hari. IV.mendeteksi antibodi pada golongan darah lain . 2. dan bedah mayor dengan perdarahan >1500 mL. selama kurang dari 6 jam. VII. selama lebih dari 6 jam. Stored Blood : darah yang telah disimpan pada suhu 4 derajat celcius. biasanya mudah rusak. dan penambahan dari suatu antibodi antiglobulin menghasilkan aglutinasi sel daraah. Indikasi transfusi dengan whole blood : • • Perdarahan akut dan profuse menyebabkan hipovolemik syok Exchange transfusion : haemolitik diseases of the new born Intoxicaci. faktor V.

Keuntungan transfusi dengan PRC : • • • • • • • • Dapat diberikan SDM dalam jumlah yang banyak pada satu kali transfusi. Indikasi: hanya pada pasien dengan gejala klinis gangguan hemodinamik seperti hipoksia. Sebagaimana diketahui leukosit adalah penyebab reaksi transfusi. dan penderita lain. Plasma dapat digunakan pada penderita lain. +50 mL plasma. K.91. Penambahan volume darah lebih sedikit. cordis (vol penambahan sedikit). sehingga tidak dapat memperbaiki perdarahan bila diperlukan. thalasemia. PRC tidak mengandung faktor pembekuan darah. defisiensi Fe. Kandungan yang terdapat dalam PRC: hematokrit sekitar 50-80%. Indikasi transfusi dengan PRC : • • • Anemia tanpa penurunan volume darh. misal : perdarahan kronis. dosisnya 10-15 mL/kgBB akan meningkatkan kadar hemoglobin 3 g/dL. Biasanya bila kadar hemoglobin kurang dari 6 g/dL dengan target akhir 10 g/dL.5-80 hemoglobin (128-240 mL eritrosit murni). Kadar hemoglobin akhir dapat diperkirakan dengan rumus = volume darah x hematokrit x 0. Jadi dengan mengurangi 6 . Kemungkinan terjadinya reaksi transfusi juga lebih kecil. mengandung konsentrat eritrosit dari whole blood yang disentrifugasi atau dengan metode apheresis. sehingga dapat dilakukan substitusi bila diperlukan. Kadar anti A dan anti B dalam PRC rendah. Transfusi dengan sel darah merah yang lainnya adalah dengan : LEUKOSIT POOR RBC (LPRBC). NH4. Dosis: pada dewasa tergantung kadar hemoglobin sekarang dan yang akan dicapai. 147-dan 278 mg besi. yaitu sel darah merah yang mengandung sedikit sekali sel darah putih (leukosit). Kerugian transfusi dengan PRC : PRC yg terbentuk harus dipakai dalam waktu < 4jam/21 hari. Penderita sirosis hepatic (kadar NH4 sedikit). transfusi pengganti misal pada bayi dengan penyakit hemolitik. Penderita dengan decom. Satu kantong akan menaikkan kadar hemoglobin resipien sekitar 1 g/dL. Pada neonatus. 42. sehingga bahaya decom cordis menurun.Biasa juga disebut PRC (packed red blood cells). Kadar Na. Transfusi PRC mempunyai waktu paruh sekitar 30 hari.

sehingga dikhawatirkan terjadi perdarahan.3 Platelet Merupakan derivat dari whole blood dengan kandungan >5. maka supernatan nya adalah PRP.5 x 1010 platelet per kantong. Bila PRP tersebut disentrifuse lagi 7 .000 pada dewasa. Menghilangkan antibodi pd sel darah merah (Anti A/Anti B). Terdapat 2 macam trombositopeni yang dapat ditransfusikan : • • PRP (Plathellet Rich Plasma) PC (Platellet Concetrate) Cara mendapatkan PRP dan PC adalah : darah disentrifuse selam 3 menit dengan kecepatan 2300 rpm. Kontraindikasi: autoimun trombositopenia. Kontraindikasi transfusi dengan LPRBC : Penderita dengan leukopeni yg berat Kerugian transfusi ini adalah : lekosit tidak dapat dihilangkan 100%. Indikasi transfusi dengan LPRBC : • • • Penderita yang memiliki titer antibodi leukosit yang tinggi. trombotik trombositopeniapurpura. Indikasi transfusi dengan WRBC : pada penderita dengan gangguanautoimun.000-50. 4.000/mm. dan 50 mL plasma. 1 kantong dapat meningkatkan platelet sekitar 50-100. dan fungsi platelet resipien yang tidak normal dengan kadar platelet kurang dari 40. Indikasi: untuk mengatasi perdarahan karena kurangnya jumlah platelet.000/mm3. dan kurang dari 100. Jenis transfusi dengan sel darah merah lain : transfusi dengan WASHED RBC (WRBC) Tujuan pencucian sel darah merah ini : • • • Menghilangkan protein plasma. diharapkan kemungkinan terjadinya reaksi transfusi dapat dikurangi. Kerugian pada transfusi dengan WRBC : pencucian yang berulang menjadikan sterilisasi darah kurang terjamin. Penderita yang pernah mengalami reaksi transfusi yang berat.kandungan leukosit dalam darah yang hendak ditransfusikan. Menghilangkan/mengurangi sel darah putih (lekosit). Dosis: pada kasus trombositopenia cukup 1 kantong. Indikasi pemberian transfusi dengan trombosit adalah bila terjadi trombositopeni yang berat.000/mm3 pada neonatus. atau sesuai target kadar platelet biasanya 40.

Dosis: 10-20 mL/kg. 80 IU faktor VIII:C. Transfusi granulosit mempunyai masa hidup dalam sirkulasi sangat pendek.selama 3 menit dengan kecepatan 2300 rpm. maka endapan yang terjadi adalah PC. atau G-CSF) dan sargramostim (granulocyte-macrophage colony-stimulating faktor. setelah terapi warfarin dan kuagulopati pada penyakit hati. Biasanya sekitar 1 kantong per 7-10 kgBB. yang dibuat dengan leukapheresis. Indikasi: perdarahan masif. kerusakan endothelial berhubungan dengan paruparu. Setelah suatu transfusi dengan trombosit. Mengandung 150 mg fibrinogen. Pemberian 1 unit PC dapt meningkatkan sekitar 15. Untuk melakukan transfusi dengan trombosit ini tidak perlu dilakukan reaksi silang terhadap gol. diindikasikan pada pasien neutropenia dengan infeksi bakteri yang tidak respon dengan antibiotik. Dosis: kebutuhan fibrinogen : 250 fibrinogen/kantong. 4. dan 5-20 mL plasma.5 Cryoprecipitated AHF Biasa disebut cryoprecipitated antihemophilic factor. FFP dalam 24 jam mengandung Faktor V dan Faktor VIII. Iradiasi dari granulosit menurunkan insiden timbulnya reaksi graft-versus-host . sedangkan terhadap Rhesus masih tetap dilakukan. 4.darah ABO. trombotik trombositopenia purpura. atau GM-CSF) telah sangat mengurangi penggunaan transfusi granulosit. faktor VIII:vWF (von Willebrand factor).4 Frozen plasma Biasa disebut fresh frozen plasma (FFP). dan lain permasalahan berhubungan dengan transfusi leukosit ( lihat di bawah). 1 kantong berjumlah sekitar 250 mL yang dibekukan pada suhu -180C dalam 6-8 jam. fibronectin.000/mm3 trombosit. pasien dengan hemofili A atau von Willebrand’s disease. Didapatkan dengan mencairkan FFP pada suhu 1-60C. 4. tetapi mempengaruhi fungsi granulosit. V. Komplikasi Transfusi Darah 8 . sehingga dapat dilakukan transfusi sebanyak 2-3 kali dalam seminggu. Ketersediaan filgrastim ( granulocyte colony-stimulating faktor.6 Granulosit Transfusi Granulosit. sedemikian sehingga sehari-hari transfusi 1010 granulosit pada umumnya diperlukan. Indikasi: perdarahan karena defisiensi fibrinogen dan faktor XIII. maka umur trombosit hanya sekitar 1-3 hari. faktor XIII.

Trombosit konsentrat yang inkompatible. FFP. hemoglobinuria. Reaksi hemolisis lambat . Gejala yang berat dapat terjadi setelah transfusi 10 – 15 ml darah yang ABO inkompatibel. Resiko suatu reaksi hemolytic fatal terjadi 1 dalam 100. atau Kidd antigen. hypotensi. Lebih sedikit biasanya. Darah harus di cek ulang dengan slip darah dan identitas pasien.1 Reaksi Hemolisis Reaksi Hemolisis pada umumnya melibatkan destruksi spesifik dari sel darah merah yang ditransfusikan oleh antibodi resipien. Osmotic diuresis harus diaktifkan dengan mannitol dan cairan kedalam pembuluh darah. clotting factor. dan penurunan fungsi ginjal dapat berkembang dengan cepat.6% kesempatan membentuk antibody untuk melawan 9 akut ( intravascular) atau delayed 2. atau cryoprecipitate berisi sejumlah kecil plasma dengan anti-A atau anti-B (atau kedua-duanya) alloantibodi. • • • • • Jika dicurigai suatu reaksi hemolisis. Manajemen reaksi hemolisis dapat simpulkan sebagai berikut.000 transfusi. manifestasi dari suatu reaksi hemolytic akut adalah suhu meningkat. transfusi harus dihentikan dengan segera. Jika ada perdarahan akut. gejala meliputi rasa dingin. Reaksi Hemolisis biasanya digolongkan (extravascular). Reaksi hemolisis akut Hemolisis Intravascular akut pada umumnya berhubungan dengan Inkompatibilitas ABO dan frekwensi yang dilaporkan kira-kira 1:38. pasien mempunyai 1-1. Penyebab yang paling umum adalah misidentifikasi suatu pasien.5. Berikut suatu transfusi ABO dan Rh Dkompatibel. demam. Pada pasien yang dianestesi. Pada pasien yang sadar. tachycardia tak dapat dijelaskan. nausea. hemolisis sel darah merah resipien terjadi sebagai hasil transfusi antibodi sel darah merah. spesimen darah. 1. Reaksi ini adalah yang terberat. dan oozing yang difus dari lapangan operasi. Transfusi dalam jumlah besar dapat menyebabkan hemolisis intravaskular. dan sakit dada.000 transfusi. atau unit transfusi. shock. Duffy. Kateter urin dipasang . dan urin harus dicek adanya hemoglobin. Disseminated Intravascular Coagulation. Beratnya suatu reaksi seringkali tergantung pada berapa banyak darah yang inkompatibel yang sudah diberikan. indikasi pemberian platelets dan FFP Suatu reaksi hemolisis lambat biasanya disebut hemolisis extravaskular biasanya ringan dan disebabkan oleh antibodi non D antigen sistem Rh atau ke alel asing di sistem lain seperti Kell.

Pada saat itu sejumlah antibody ini sudah terbentuk ( beberapa minggu sampai beberapa bulan). Coombs test mendeteksi adanya antibodi di membran sel darah. direct antiglobulin test. Diagnosa antibodi-reaksi hemolisis lambat mungkin difasilitasi oleh antiglobulin (Coombs) Test.3 Reaksi Urtikaria harus menerima tranfusi lekosit saja. Fungsi ginjal harus dimonitoring ketat.antigen asing. Reaksi imun nonhemolisis Reaksi imun nonhemolisis adalah dalam kaitan dengan sensitisasi dari resipien ke donor leukosit. Hematokrit pasien tidak meningkat setelah transfusi dan tidak adanya perdarahan. Kehamilan ( terpapar sel darah merah janin) dapat juga menyebabkan pembentukan allo antibodies pada sel darah merah. Reaksi ini umumnya 1-3% tentang episode transfusi dan ditandai oleh suatu peningkatan temperatur tanpa adanya hemolisis. Terapi spesisfik sangat jarang dibutuhkan.000 transfusi. Frekuensi reaksi transfusi hemolisis lambat diperkirakan kira-kira 1:12. dan gejala biasanya ringan. Lebih dari itu. Serum bilirubin unconjugated meningkat sebagai hasil pemecahan hemoglobin. serum bilirubin. Transfusi darah merah dapat dibuat leukositnya kurang 10 . dan urinalysis. 5. platelet. filtrasi. jaundice. Peristiwa ini dilihat jelas dengan Sistem Kidd antigen.2 Reaksi Febris Sensitisasi leukosit atau platelet secara khas manifestasinya adalah reaksi febris. dapat mencetuskan respon antibody melawan antigen asing. hanya saja pada transfusi selanjutnya perlu berhati-hati dengan melakukan screening golongan darah dan antibodi. Reaksi hemolisis pada tipe lambat terjadi 2-21 hari setelah transfusi. dan demam. blood film. renal profile. tranfusi sel darah telah dibersihkan dari sirkulasi. atau protein plasma. haptoglobin. Terpapar kembali dengan antigen asing yang sama selama transfuse sel darah. Pasien dengan suatu riwayat febris berulang dengan sentrifuge. 5. terdiri dari malaise. atau teknik freeze-thaw. titer antibody menurun dan mungkin tidak terdeteksi. Test ini tidak bisa membedakan antara membran antibodi resipien pada sel darah merah dengan membran antibodi donor pada sel darah merah. LDH. Jadi. 3. Manajemen: perlu dilakukan pemeriksaan darah rutin. Penanganan reaksi hemolisis lambat adalah suportif. ini memerlukan suatu pemeriksaan ulang yang lebih terperinci pretransfusi pada kedua spesimen : pasien dan donor.

Untuk menghilangkan gejala berikan antihistamin. Reaksi urtikaria dapat diatasi dengan obat antihistamin ( H. dyspnoea. dan H2 bloker. dan menimbulkan rasa gatal tanpa demam. Perawatan Awal TRALI adalah sama dengan Acute Respiratory distress syndrome (ARDS). Manajemen: hentikan transfusi sampai gejala menghilang selama 30 menit. mual & muntah. penyakit gatal bintik merah dan bengkak. Penggunaan filter leukosit khusus sendiri tidak dapat dipercaya mencegah penyakit graft-versus-host.000 transfusi). dan nyeri abdomen. Prevalensi defisiensi IgA diperkirakan 1:600-800 pada populasi yang umum. Produk sel darah berisi limfosit mampu mengaktifkan respon imun. periorbital dan laryngeal edema. dan mungkin H2 blockers) dan steroid. H1. secara khas pada IgA pasien dengan defisiensi anti-IgA yang menerima tranfusi darah yang berisi IgA. urtikaria.5 Edema Pulmoner Nonkardiogenik Sindrom acute lung injury (Transfusion-Related Acute Lung Injury [TRALI]) merupakan komplikasi yang jarang terjadi(<1:10. atau IgA-Free blood Unit . Tandanya meliputi hipotensi. 5. Reaksi ini berat dan terjadi setelah hanya beberapa mililiter darah ditranfusi. tetapi dapat sembuh dalam 12-48 jam dengan terapi suportif. kortikosteroid. nyeri dada. erythema.000). cairan.6 Graft versus Host Disease Reaksi jenis ini dapat dilihat pada pasien immune-compromised. bronkospasme. Berikan chlorpheniramine sebelum transfusi berikutnya dilakukan. deglycerolized frozen red cells. Ini berkaitan dengan transfusi antileukositik atau anti-HLA antibodi yang saling berhubungan dan menyebabkan sel darah putih pasien teragregasi di sirkulasi pulmoner. Pasien dengan defisiensi IgA perlu menerima Washed Packed Red Cells. dan berikan steroid. 5. 5. Iradiasi (1500-3000 cGy) sel 11 . Manajemen: atasi distres pernapasan dengan ventilator. konjunctivitis. Pada umumnya ( 1% tentang transfusi) dan dipikirkan berkaitan dengan sensitisasi pasien terhadap transfusi protein plasma. misalnya chlorpheniramine 10 mg. Tranfusi sel darah putih dapat berinteraksi dengan leukoaglutinin.4 Reaksi Anafilaksis Reaksi Anafilaksis jarang terjadi (kurang lebih 1 dari 150. Reaksi ini diatasi dengan pemberian epinefrin.Reaksi Urtikaria pada umumnya ditandai oleh eritema.

000 tranfusi.7 Purpura Posttransfusi Thrombositopenia jarang terjadi setelah transfusi darah dan ini berkaitan dengan berkembangnya aloantibodi trombosit. Dengan adanya FDA yang menguji asam nukleat memperkecil waktu kurang dari satu minggu dan menurunkan resiko dari penularan HIV melalui tranfusi 1:1. insidensi timbulnya hepatitis setelah transfusi darah 7-10%.000 dan 1:1. Ini adalah terlihat jelas pada penerima cangkok ginjal. 5.900.600. di mana transfusi darah preoperatif nampak untuk meningkatkan survival dari graft.1 Infeksi Virus Hepatitis Sampai tes rutin untuk virus hepatitis telah diterapkan. Dari kejadian yang ada juga menyatakan bahwa tranfusi leukosit allogenik dapat mengaktifkan virus laten pada resipien. granulocyte.2 antibodi. 5. Pada akhirnya. VI. 6. 6. Karena alasan yang tidak jelas. ditularkan melalui transfusi darah. Beberapa studi menyatakan bahwa rekurensi dari pertumbuhan malignan mungkin lebih mirip pada pasien yang menerima transfusi darah selama pembedahan. 75% tentang kasus ini adalah anikterik. Hitung trombosit secara jelas menurun 1 minggu setelah tranfusi. sedikitnya 10-20% berkembang menjadi sirosis.8 Imunosupresi Transfusi leukosit merupakan produk darah dapat sebagai immunosuppressi. Lebih dari itu. Plasmapheresis dalam hal ini dianjurkan. transfusi darah dapat meningkatkan timbulnya infeksi yang serius setelah pembedahan atau trauma.2 Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) Virus yang bertanggung jawab untuk penyakit ini. Komplikasi Infeksi 6. Semua darah dites untuk mengetahui adanya anti-HIV-1 dan . antibodi menghancurkan trombosit.darah merah. dan transfusi platelet secara efektif menginaktifasi limfosit tanpa mengubah efikasi dari transfusi. Sedikitnya 90% tentang kasus ini adalah dalam kaitan dengan hepatitis C virus. tentang kelompok yang terakhir ini. Timbulnya hepatitis posttransfusi antarab 1:63.000. dan sedikitnya 50% berkembang menjadi penyakit hati kronis.3 Infeksi Virus Lain 12 . HIV-1.

Manajemen: penanganan kasus ini adalah dengan memberikan antibiotik sesuai bakteri penginfeksi. Baik bakteri gram-positif (Staphylococus) dan bakteri gram-negatif (Yersinia dan Citrobacter) jarang mencemari transfusi darah dan menularkan penyakit. kedua-duanya telah dilaporkan ditularkan melalui transfusi darah. Prevalensi kultur positif dari kantong darah berkisar dari 1/2000 trombosit sampai 1/7000 untuk RBC.pasien menerima hanya CMV negatif. dan dapat mengakibatkan krisis transient aplastic pada pasien immunocompromised. bayi prematur dan penerima transplantasi organ) peka terhadap infeksi CMV berat setelah tranfusi. yersiniosis. salmonellosis. dan berbagai macam rickettsia. kombinasi berikut dapat dipertimbangkan: 13 .Cytomegalovirus (CMV) dan Epstein-Barr Virus umumnya menyebabkan penyakit sistemik ringan atau asimptomatik. Human T sel virus lymphotropic I dan II ( HTLV-1 dan HTLV-2) adalah leukemia dan lymphoma virus. Angka-angka ini secara relatif besar dibandingkan ke resiko HIV atau hepatitis. pada beberapa individu menjadi pembawa infeksi asimptomatik. toxoplasmosis. leukemia dihubungkan dengan myelopathy. Namun kasus-kasus tersebut jarang terjadi. Penggunaan filter leukosit khusus nampaknya mengurangi tetapi tidak mengeliminasi timbulnya komplikasi di atas.000 tromobosit sampai 1/250. pasien . Bila jenis bakterinya tidak diketahui. Penularan Parvovirus telah dilaporkan setelah transfusi faktor pembekuan. brucellosis. Penyakit bakteri yang ditularkan melalui transfusi darah dari donor meliputi sifilis. Pasien immunosupresif dan Immunocompromise (misalnya. studi terbaru menunjukkan bahwa resiko transmisi CMV dari transfusi dari darah yang leukositnya berkurang sama dengan tes darah yang CMV negatif. Yang kurang menguntungkan.000 untuk RBC. pemberian darah dengan leukosit yang dikurangi secara klinis cocok diberikan pada pasien seperti itu. Oleh karena itu. 6. Idealnya. lekosit dalam darah dari donor dapat menularkan virus.4 Infeksi Parasit Penyakit parasit yang dapat ditularkan melalui transfusi seperti malaria. Bagaimanapun. dan Penyakit Chagas'. Untuk mencegah kemungkinan kontaminasi dari bakteri. 6. yang adalah di sekitar 1/1-2 juta.5 Infeksi Bakteri Kontaminasi bakteri adalah penyebab kedua kematian melalui transfusi. darah harus berikan dalam waktu kurang dari 4 jam. Prevalensi sepsis oleh karena transfusi darah berkisar dari 1/25.

6. idealnya menjadi acuan transfusi trombosit dan FFP. Pelajari koagulasi dan hitung trombosit. VII. Sebab metabolisme sitrat terutama di hepar. pasien dengan 14 . dan takikardi.7 Iron Overload Komplikasi ini sering terjadi pada resipien dengan kelainan yang hidupnya bergantung pada transfusi darah seperti talasemia dan sickle cell.2 Keracunan Sitrat Kalsium berikatan dengan bahan pengawet sitrat secara teoritis dapat menjadi penting setelah transfusi darah dalam jumlah besar. atau ceftriaxone 1 g 1x/hari. Komplikasi ini terjadi bila transfusi sudah mencapai 10-50 kantong.6 Overload Cairan Overload cairan terjadi bila transfusi dilakukan terlalu cepat. batuk kering. Bakteri gram positif: teicoplain 400mg bd iv x2. Pada kebanyakan pasien dewasa. dan berikan oksigen dan diuretik. karena menyebabkan depresi jantung. 6. Secara klinis dilusi dari faktor koagulasi tidak biasa terjadi pada pasien normal. Analisa viskoelastis dari pembekuan darah (thromboelastography dan Sonoclot Analyze) juga bermanfaat. atau vancomycin 1 g bd iv. Transfusi Darah Masif Transfusi darah masif umumnya didefinisikan sebagai kebutuhan transfusi satu sampai dua kali volume darah pasien.5 g tds iv. peningkatan JVP. Gagal jantung ventrikel kiri akut sering terjadi disertai dyspnoe. Manajemen: hentikan transfusi. equivalent dengan 10-20 unit. jika tersedia. ronki basal paru. minimal 5x/minggu. Manajemen: dilakukan iron chelation therapy dengan desferoxamine 30-50 mg subkutan atau infus lambat saat malam.1 Koagulopati Penyebab utama perdarahan setelah transfusi darah masif adalah dilutional thrombocytopenia. Secara klinis hipokalsemia penting. hipertensi. 7. atau meropenem 1 g tds iv. 7.- Bakteri gram negatif: piperacillin 4. tidak terjadi pada pasien normal kecuali jika transfusi melebihi 1 U tiap-tiap 5 menit. tachypnoea.

1 Transfusi Autologus Pasien yang mengalami prosedur pembedahan elektif dengan suatu kemungkinan tinggi untuk transfusi dapat mendonorkan darah mereka sendiri untuk digunakan selama operasi. Aritmia Ventrikular dapat menjadi fibrilasi. Yang terbanyak dari kelainan asam basa setelah tranfusi darah masif adalah alkalosis metabolik postoperatif. Hyperkalemia dapat berkembang dengan mengabaikan umur darah ketika transfusi melebihi 100 mL/min. Strategi Alternatif Penanganan Kehilangan Darah 8. 7. asidosis metabolik berakhir dan alkalosis metabolik progresif terjadi. sitrat dan laktat yang ada dalam tranfusi dan cairan resusitasi diubah menjadi bikarbonat oleh hepar. Ketika perfusi normal diperbaiki. Hypothermia dapat menghambat resusitasi jantung. berkenaan dengan metabolisme asidosis metabolik yang berkaitan dengan transfusi tidaklah umum.4 Kelainan Asam Basa Walaupun darah yang disimpan adalah bersifat asam dalam kaitan dengan antikoagulan asam sitrat dan akumulasi dari metabolit sel darah merah (karbondioksida dan asam laktat). terutama sekali dihubungkan dengan alkalosis metabolik. Darah ini dapat dikumpulkan mulai 4-5 minggu sebelum operasi. VIII. sering terjadi pada temperatur sekitar 30°C. Penggunaan alat infus cepat dengan pemindahan panas yang efisien sangat efisien telah sungguh mengurangi timbulnya insiden hipotermia yang terkait dengan transfuse. Pasien diperbolehkan untuk mendonorkan satu kantong darah sepanjang hematokrit kurang lebih 15 . Hypokalemia biasanya ditemui sesudah operasi. Jumlah kalium ekstraselular yang transfusi pada unit masing-msaing kurang dari 4 mEq perunit.penyakit atau disfungsi hepar (dan kemungkinan pada pasien hipotermi) memerlukan infus kalsium selama transfusi masif.3 Hipotermia Transfusi Darah massif adalah merupakan indikasi mutlak untuk semua produk darah cairan intravena hangat ke temperatur badan normal.5 Perubahan Konsentrasi Kalium Serum Konsentrasi kalium ekstraselular dalam darah yang disimpan meningkat dengan waktu. 7. 7.

Kebutuhan pemakaian darah minimum 72 jam antara mendonorkan darah dan membuat volume plasma kembali normal. Reaksi alergi dapat terjadi dalam kaitan dengan alergen (misalnya. cardiac output tetap normal sebab volume intravaskular terkontrol. Untuk digunakan secara efektif.34% atau hemoglobin sekitar 11 g/dl. Darah di aspirasi intraoperatif bersama-sama dengan suatu pencegah pembekuan darah (heparin) ke dalam suatu reservoir. Resiko meliputi reaksi immunologi yang berhubungan dengan kesalahan pekerjaan karyawan dalam pengumpulan dan label. meskipun demikian kekhawatiran tentang kemungkinan reinfusi sel malignan via teknik ini tidak dibenarkan. Lebih dari itu. Beberapa studi menyatakan bahwa transfusi darah autologous tidak mempunyai efek tambahan yang mempengaruhi survival pada pasien yang mengalami operasi untuk kanker. sel darah yang merah di konsentratkan dan dicuci untuk dimurnikan dari kotoran dan zat pembeku kemudian di transfusikan kembali ke dalam pasien. Pengumpulan darah preoperative dilakukan dengan frekuensi berkurang. Sistem lebih modern dan sederhana memungkinkan reinfusion darah tanpa centrifuge.3 Normovolemik Hemodilusi Hemodilution normovolemic akut bergantung pada pendapat bahwa jika konsentrasi sel darah merah dikurangi. teknik ini memerlukan kehilangan darah lebih besar dari 1000-1500 mL. pencemaran. vaskular dan bedah tulang. sedikitnya tiga atau empat unit pada umumnya dikumpulkan sebelum operasi. Walaupun transfusi autologous mungkin mengurangi resiko infeksi dan reaksi transfusi. Dengan suplementasi besi dan terapi eritropoetin rekombinan ( 400 U perminggu). 8. supaya pasien tetap normovolemic tetapi dengan hematocrit 21-25%. dan gudang/penyimpanan yang tidak benar. Konsentrat darah tersebut umumnya mempunyai hematokrit 50-60%.2 Penyimpanan Darah dan Pemberian Cairan Melalui Infus Berulang Teknik ini umumnya digunakan pada bedah jantung. total kehilangan sel darah merah dapat dikurangi apabila darah dalam jumlah besar ditumpahkan. Setelah jumlah darah cukup dikumpulkan. Darah yang dikeluarkan disimpan dalam autologous 16 . ethylen oksida). mereka tidaklah dengan sepenuhnya bebas dari resiko. 8. dapat masuk kedalam darah dari tempat pengumpulan dan gudang penyimpanan. Kontrainidikasi meliputi pencemaran dari luka yang busuk dan tumor malignan. Darah umumnya dikeluarkan sebelum operasi melalui kateter intravena yang besar dan digantikan dengan cairan kristaloid dan koloid.

8. Kebanyakan bank darah tidak menyarankan hal ini dan umumnya memerlukan donor kurang lebih 7 hari sebelum operasi untuk memproses darah dan mengkonfirmasikan kompatibilitas. ataupun bank darah lebih aman. Studi yang membandingkan keamanan dari pendonor-langsung dengan donor secara random tidak ada perbedaan.kantong CPD pada suhu sampai 6 jam untuk menjaga fungsi dari trombosit. Darah di transfusikan kembali ke pasien setelah kehilangan darah atau lebih cepat jika diperlukan. BAB III PENUTUP 17 .4 Donor – Transfusi Langsung Pasien dapat meminta donor darah dari anggota keluarga atau teman yang mengandung ABO kompatibilitas.

keracunan sitrat.Kesimpulan Transfusi darah adalah proses pemindahan darah atau komponen darah dari donor ke sistem sirkulasi penerima melalui pembuluh darah vena. hipotermia. Selain itu. reaksi imun nonhemolisis. sel darah putih. Dibagi menjadi 2 jenis yaitu homologous transfusion dan autologous transfusion. dan screening antiobodi. perubahan konsentrasi kalium serum. dan bisa juga sampai AIDS. donortransfusi langsung. Komplikasi dari transfusi darah adalah reaksi hemolisis. crossmatching. imunosupresi. graft versus host disease. equivalent dengan 10-20 unit. platelet. cryoprecipitated AHF. pemberian darah dan cairan melalui infus berulang. Transfusi darah masif didefinisikan sebagai kebutuhan transfusi satu sampai dua kali volume darah pasien. purpura post transfusi. normovolemik hemodilusi. DAFTAR PUSTAKA 18 . reaksi hemolisis lambat. reaksi anafilaksis. Komponen darah terdiri dari whole blood dan transfusi dengan komponen darah seperti sel darah merah. edema pulmoner nonkardiogenik. parasit. frozen plasma. Tujuan transfusi darah adalah menggantikan volume darah yang hilang dan menambah fraksi darah yang kurang. ada juga transfusi darah masif. Ada beberapa tes yang dilakukan dalam pengujian transfusi darah yaitu tes ABO-Rh. Sedangkan komplikasinya bisa berupa komplikasi infeksi yang berupa infeksi virus. granulosit. kelainan asam basa. Ada beberapa strategi dalam menangani kehilangan darah yaitu transfusi autologus. Pada kebanyakan pasien dewasa. bakteri. reaksi urtikaria. Tetapi transfusi darah masif menyebabkan keadaankeadaan koagulopati.

G. 23rd ed. Clinical Anesthesiology. 2007. 2005. dkk. 2002 Jul 20. United State. 4th Edition. Transfusion medicine. WHO. Morgan. Said A. Taylor C. Ausiello D. Mc Graw-Hill Companies. 2002. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. eds. In: Goldman L. Regan F. The Clinical Use of Blood Handbook.Goodnough L. Philadelphia. Blood transfusion medicine. Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi Kedua. Cecil Medicine. Edward.325(7356):143-7. Latief. 2002. Inc. 19 . Geneva. BMJ..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->