CONTOH PROPOSAL PTK MATEMATIKA SD KELAS IV

A. JUDUL PENELITIAN Penggunaan Media Lidi Untuk Meningkatkan Keterampilan Siswa Pada Penjumlahan Bilangan Bulat Di Kelas IV SD Negeri 1 Jungutan

B. BIDANG KAJIAN Mata pelajaran Bidang kajian : Matematika : Pembelajaran inovatif

C. LATAR BELAKANG MASALAH Salah satu permasalahan yang menyangkut pengelolaan proses belajar mengajar mata pelajaran matematika di SD adalah kurangnya pengetahuan bagi guru SD, serta terbatasnya dana dan sarana tentang bagaimana cara membuat dan menggunakan media/alat peraga dalam pembelajaran matematika. Di sisi lain pentingnya media/alat peraga dalam pembelajaran matematika telah diakui oleh semua jajaran pengelola pendidikan dan para ahli pendidikan. Kompetensi guru dalam pelaksanaan interaksi belajar mengajar mempunyai indikator, mampu membuka pelajaran, mampu menyajikan materi, mampu

menggunakan metode/strategi, mampu menggunakan media/ alat peraga, mampu menggunakan bahasa yang komutatif, mampu memotivasi siswa, mampu

mengorganisasi kegiatan, mampu menyimpulkan pelajaran, mampu memberikan umpan balik, mampu melaksanakan penilaian, dan mampu menggunakan waktu. (Departemen Pendidikan Nasional, 2004 ; 13 – 14).

Agar pembelajaran yang akan diberikan oleh guru kepada siswa berhasil sesuai dengan kompetensi dasar, maka guru diharapkan dapat menyusun langkahlangkah pengembangan silabus pembelajaran, diantaranya merumuskan pengalaman belajar siswa meliputi; 1). Pengalaman belajar merupakan kegiatan fisik dan mental yang perlu dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan sumber belajar dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan standar kompetensi. 2). Pengalaman belajar dapat dilaksanakan di dalam dan di luar kelas. Kegiatan yang diberikan sebagai pengalaman belajar siswa harus berorientasi agar siswa aktif dalam belajar, iklim belajar menyenangkan, fungsi guru lebih ditekankan sebagai fasilitator dari pada sebagai pemberi informasi, siswa terbiasa mencari sendiri informasi (dengan

bimbingan guru) dari berbagai sumber, siswa dibekali dengan kecakapan hidup dan dibiasakan memecahkan permasalahan yang kontektual yaitu terkait dengan

lingkungan (nyata maupun maya) dari siswa. 3). Pada hakekatnya pengalaman belajar memberikan pengalaman kepada siswa untuk menguasai kompetensi dasar secara ilmiah dan ditinjau dari dimensi kompetensi yang ingin dicapai pengalaman belajar meliputi pengalaman untuk mencapei kompetensi pada ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif. Selanjutnya pengalaman belajar dirumuskan dengan kata kerja yang opersional.(Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran

Matematika, Dit. PMU, Ditjen Dikdsmen, Depdiknas, 2003 ; 3) Berdasarkan teori perkembangan kognitif Piaget, anak usia Sekolah Dasar berada pada tahap konkret operasional, dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1)Pola berpikir dalam memahami konsep yang abstrak masih terikat pada benda konkret (2)Jika diberikan permasalahan belum mampu memikirkan segala alternatif

pemecahannya (3)Pemahaman terhadap konsep yang berurutan melalui tahap demi tahap, misal pada konsep panjang, luas, volum, berat, dan sebagainya.(4)Belum urutan operasi pada

mapu menyelesaikan masalah yang melibatkan kombinasi

masalah yang kompleks. (5)Mampu mengelompokkan objek berdasarkan kesamaan sifat-sifat tertentu, dapat mengadakan korespondensi satu-satu dan dapat berpikir membalik.(6) Dapat mengurutkan unsur-unsur atau kejadian (7) Dapat memahami ruang dan waktu. (8) Dapat menunjukkan pemikiran yang abstrak. Selain itu, menurut Pujiati (2004 ; 1) yang menyarikan pada Bruner bahwa untuk memahami pengetahuan yang baru, maka diperlukan tahapan-tahapan yang runtut, yaitu: enactive, ikonik, dan simbolik. Tahap enactive, yaitu tahap belajar dengan memanipulasi benda atau objek yang kongkret, tahap ikonik, yaitu tahap belajar dengan menggunakan gambar, dan tahap simbolik, yaitu tahap belajar melalui manipulasi lambang atau simbul. (Penggunaan Alat Peraga dalam

Pembelajaran Berhitung di SD, Pujiati, 2004) Berdasarkan pada uraian diatas, siswa pada usia sekolah dasar dalam memahami konsep-konsep matematika masih sangat memerlukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan benda nyata (pengalaman-pengalaman konkret) yang dapat diterima akal mereka. Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti mencoba mengetengahkan salah satu bentuk pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Dalam penyampaian pembelajaran ini peneliti menggunakan media/alat peraga lidi dalam penjumlahan bilangan bulat di kelas IV SDN 1 Jungutan, dengan urutan

Setelah waktu yang ditentukan habis. guru mengadakan tanya jawab agar siswa terampil menggunakan lidi itu sebagai alat bantu untuk menjumlah dua bilangan bulat sekaligus sebagai alat evaluasi . sedangkan guru mengamati proses penggunaan lidi itu untuk menjawab tugas yang telah diberikan. Guru memperagakan lidi itu untuk menjumlah dua bilangan bulat. kemudian lidi kita bagikan kepada masingmasing kelompok sebanyak 20 biji. PERUMUSAN MASALAH Bertolak dari permasalahan diatas.pembelajaranya sebagai berikut: Guru membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil (berpasangan dalam satu bangku). . Siswa diberi lembar tugas untuk dikerjakan dengan cara memperagakan lidi itu sebagai alat untuk menjawab lembar tugas tersebut. begitu seterusnya sampai siswa trampil menggunakan lidi itu untuk menjumlah dua bilangan bulat. maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah : Bagaimana penggunaan dan penerapan media lidi dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menjumlah dua bilangan bulat di kelas IV SD ? E. TUJUAN PENELITIAN Penulisan keterampilan penelitian ini bertujuan media lidi agar siswa mampu meningkatkan soal-soal yang penggunaan dalam menyelesaikan berhubungan dengan penjumlahan bilangan bulat. D. Pada akhir pengajaran. siswa disuruh memperagakan hasil kerjanya di depan kelas.

F. antara lain: 1. 4. sehingga menambah wawasan dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. 3. Memberikan pengalaman langsung bagi peneliti dalam menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media lidi dalam penjumlahan bilangan bulat serta memberikan dorongan untuk melaksanakan penelitian lagi dengan pembelajaranpembelajaran matematika yang lain. Memberikan pembelajaran secara langsung bagi guru tentang pembelajaran yang menggunakan media lidi guna meningkatkan pemahaman siswa terhadap operasi penjumlahan bilangan bulat. 2. . Meningkatkan keterampilan bagi siswa tentang penggunaan media lidi dalam proses pembelajaran sehingga siswa dapat berperan aktif dan kreatif terutama pada penjumlahan bilangan bulat. MANFAAT PENELITIAN Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi bagi semua pihak. Hasil penelitian ini dapat digunakan bagi sekolah untuk meningkatkan pemahaman tentang fungsi penelitian tindakan kelas.

et al. Pembelajaran Matematika Mengajarkan matematika tidaklah mudah. serta (5) sebagai alat (a tool) yang dipergunakan oleh setiap orang dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa matematika sekolah adalah matematika yang telah dipilah-pilah dan disesuaikan dengan tahap perkembangan intelektual siswa. menganalisis dan mensintesa data atau semua yang ditemui dalam masalah sehari-hari. 1998 :4 ) “Matematika sekolah adalah bagian atau unsur dari matematika yang dipilih antara lain dengan pertimbangan atau berorentasi pada pendidikan. keadaan kehidupan riil. (3). (2).” (Reyt. KAJIAN PUSTAKA G. Maka dari itu perlu adanya desain khusus untuk mningkatkan kualitas belajar mengajar khususnya pada mata pelajaran matematika.” (Soedjadi 199 : 1). . dan matematika itu sendiri. Suatu seni (an art) yaitu ditandai dengan adanya urutan dan konsistensi internal. Sedangkan mengenai pengertian matematika sekolah..1.G. dan (4) sebagai bahasa (a language) dipergunakan secara hati-hati dan didefinisikan dalam term dan symbol yang akan meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi akan sains. Cara berpikir (way of thinking) yaitu memberikan strategi untuk mengatur. serta digunakan sebagai salah satu sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir bagi para siswa. “Matematika adalah (1) studi pola dan hubungan (study of patterns and relationships) dengan demikian masing-masing topik itu akan saling berjalinan satu dengan yang lain yang membentuknya. oleh karena itu tidak dibedakan antara matematika dan matematika sekolah.

“Dalam belajar aktif siswa harus melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mendengarkan. dan evaluasi. Oleh karena itu dalam rangka mewujudkan CBSA guru harus berusaha mencari metode mengajar yang dapat menyebabkan siswa aktif belajar. Dengan kata lain guru harus membangun konsep yang dapat menggugah siswa agar bisa menguatkan metode penerapan pembelajaran guna untuk menciptakan bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang menyenangkan dan tidak sulit untuk dipelajari. (Bonwell dan Eison. Pembelajaran matematika hendaknya menganut kebenaran konsistensi yang didasarkan kepada kebenaran-kebnaran terdahulu yang telah diterima. maka siswa dalam proses . sintesis. Hal ini didasarkan pada pemberian konsep harus tahap demi tahap guna untuk menyesuaikan taraf kemampuan intelektual siswa. untuk bisa terlibat aktif para siswa itu harus terlibat dalam tugas yang perlu pemikiran tingkat tinggi seperti tugas analisis. atau setiap struktur dalam matematika tidak boleh terdapat kontradiksi. Dengan melihat paparan tersebut di atas maka penulis dapat memberikan penjelasan yaitu untuk menciftakan suasana pembelajaran yang aktif. 1991:1). Maka dari itu guru dituntut untuk menciptakan suasana pembelajaran yang sesuai dengan acuan yang berlaku sehingga proses pembelajaran khususnya pemblajaram matematika dijadikan suatu mata pelajaran yang tidak dianggap sulit oleh siswa.Berdasarkan paparan tersebut di atas jelas terlihat bahwa konsep pembelajaran matematika harus diberikan sesuai dengan tingkat itelektual siswa.

secara luwes. menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma.pembelajaran tidak hanya mendengarkan. . Menurut Newman dan Logan. strategi dasar dari setiap usaha akan mencakup keempat hal sbb : a. strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.2 Strategi Belajar Mengajar Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. dalam bukunya yang berjudul Strategy Policy and Central Management(1971 : 8). dan memahami konsep matematika. Adapun tujuan pembelajaran matematika disebutkan bahwa tujuan yang hendak dicapai dari pembelajaran matematika sekolah adalah: Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berhitung (menggunakan bilangan) sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari. tetapi harus terjun dalam aktivitas pembelajaran yang disampaikan. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil seperti apa yang harus dicapai dan menjadi sasaran usaha itu yang sesuai dengan aspirasi dan selera masyarakat. efisien. Maka dari itu proses pembelajaran harus didesain sedemikian rupa agar supaya proses pembelajaran dapat diterima dengan cepat oleh siswa. G. akurat. Dihubungkan dengan belajar mengajar. menumbuhkan kemampuan siswa yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan matematika. dan tepat dalam pemecahan masalah.

G. 8. Usaha inovasi dalam media pendidikan dan lain-lain. Media sebagai alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. Dengan demikian tidak lepas dari peran serta guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. d. 7. 6. 5. Memilih dan menggunakan pendidikan. Pengetahuan itu meliputi: 1. Hubungan antara metode mengajar dan media pendidikan.b. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama manakah yang dipandang paling efektif guna mencapai sasaran tersebut. c. Fungsi media dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Guru harus mampu memberikan suatu metode yang cepat dan tepat sehingga dengan cepat siswa akan menangkap hasil pembelajaran yang disampaikan. Tentang proses-proses mengajar. Nilai atau manfaat media pendidikan dalam pengajaran. Berbagai jenis alat dan teknik media pendidikan. 3. Media pendidikan dalam setiap mata pelajaran dan 9. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah apa saja yang akan ditempuh untuk mencapai sasaran tersebut. 4.3 Media Untuk mengembangkan pemahaman dan keterampilan secara optimal dibutuhkan pengetahuan dan pemahaman tentang media. maka strategi belajar mengajar dapat disimpulkan sebagi suatu proses upaya untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. 2. Mempertimbangkan dan menetapkan kriteria dan patokan ukuran yang harus dipergunakan untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan usaha tersebut. Melihat paparan tersebut di atas. Dititik dari beberapa pokok yang telah di .

menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. 2. Tindakan. adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama. Kelas. Dari ketiga kata di atas dapat disimpulkan bahwa PTK merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan. Penelitian. menunjuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. 3. menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti. (Hamalik. yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. G. yang memiliki pengertian sebagai berikut : 1. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa.4 Penelitian Tindakan Kelas Penelitian Tindakan Kelas [PTK] dibentuk dari 3 kata. 1980 : 15-16).kemukakan diatas. Pada intinya PTK bertujuan untuk memperbaiki berbagai persoalan nyata dan praktis dalam peningkatan mutu pembelajaran di kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa yang sedang belajar. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa. jelaslah bahwa media pendidikan merupakan dasar yang sangat diperlukan yang bersifat melengkapi dan merupakan bagian integral demi berhasilnya proses pendidikan dan usaha pengajaran di sekolah. .

Oleh karena itu. tetapi sifatnya hanya sementara. Kegiatan nyata dalam situasi rutin Penelitian tindakan dilakukan oleh peneliti tanpa mengubah situasi rutin. perlu kiranya dipahami bersama prinsip-prinsip yang harus dipenuhi. Meningkatkan mutu isi. karena dilanjutkan lagi dengan keinginan untuk lebih baik yang datang susul . Peningkatan diri untuk hal yang lebih baik ini dilakukan terus menerus sampai tujuan tercapai. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah : 1. penelitian tindakan tidak perlu mengadakan waktu khusus. karena jika penelitian dilakukan dalam kondisi lain. tetapi selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik. Agar peneliti memperoleh informasi atau kejelasan yang lebih baik tentang penelitian tindakan. tujuan PTK antara lain sebagai berikut : 1. tidak mengubah jadwal yang sudah ada. Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan 4. serta hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah 2. masukan. Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah. Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas 3. Adanya kesadaran diri untuk memperbaiki kinerja Didasarkan pada sebuah filosofi bahwa setiap manusia tidak suka dengan hal-hal yang statis. 2. sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan.Secara lebih rinci. atau dengan kata lain penelitiannya tidak dalam situasi wajar. proses. hasilnya tidak dijamin dapat dilaksanakan lagi dalam situasi aslinya.

Penelitian tindakan sifatnya bukan menyangkut hal-hal statis. yang biasanya tidak mengudang resiko.menyusul. atau cara untuk memperoleh hasil melalui sebuah kegiatan uji coba atau eksperimen. Hal ini terkait dengan prinsip pertama. yang keterlaksanaannya didukung oleh unsur-unsur yang kait-mengait. pendekatan. juga sebaliknya berpikir tentang “bahaya” di luar diri dan subyeknya sehingga dapat mendatangkan resiko. Pembelajaran adalah sebuah sistem. yaitu strategi. tidak terlalu umum). Ikuti prinsip SMART dalam perencanaan SMART merupakan akronim dari Spesific (khusus. dilaksanakan). 4. tetapi dinamis. Penelitian tindakan bukan menyangkut materi atau topik bahasan itu sendiri. berpijak pada unsur-unsur yang terkait dengan keseluruhan sistem yang terkait dengan objek yang sedang digarap. dapat . yaitu adanya perubahan. SWOT sebagai dasar pijakan PTK harus dimulai dengan analisis SWOT. Acceptable/Achievable (dapat diterima lingkungan. 5. Upaya empiris dan sistemik Merupakan penerapan prinsip ketiga. sehingga dalam memilih sebuah tindakan peneliti harus mempertimbangkan apakah ada sesuatu di luar diri dan subyek tindakan yang kiranya dapat dimanfaatkan. Dengan telah dilaksanakannya analisis SWOT. metode. berarti sudah mengikuti prinsip empiris (terkait dengan pengalaman) dan sistemik. 3. Managable (dapat dikelola. tetapi menyangkut penyajian topik pokok bahasan yang bersangkutan. bahwa penelitian tindakan tidak boleh mengubah situasi asli.

Secara garis besar terdapat 4 tahapan yang lazim dilalui : 1. Tindakan yang akan diberikan oleh guru dan akan mereka lakukan harus disepakati dengan suka rela. 2. Diantara unsur dalam SMART. dan bagaimana tindakan akan dilakukan. Menyusun rancangan tindakan (planning/perencanaan). 4. Penelitian tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakn dan pihak yang mengamati proses yang dijalankan.dicapai. Dalam tahap ini. Dampaknya adalah akan menghasilkan semangat atau kegairahan yang tinggi. yaitu mengenakan tindakan di kelas. yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. Refleksi (reflecting). dijangkau). . 3. Dengan demikian. Pengamatan (observing). Realistic (operasional. tidak di luar jangkauan). Dalam tahap ini. kapan. dan Time bound (diikat oleh waktu. Pelaksanaan Tindakan (acting). guru berusaha untuk menemukan hal-hal yang sudah dirasakan memuaskan hati karena sudah sesuai dengan rancangan dan secar cermat mengenali hal-hal yang masih perlu diperbaiki. tahap ini merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan. mereka harus diajak bicara. terencana). dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa. merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. sebelum guru menentukan lebih lanjut tindakan yang akan diberikan. unsur ketiga acceptable adalah yang paling terkait dengan subyek yang akan dikenai tindakan. mengapa. dimana. oleh siapa. Oleh karena itu. guru dapat mengharapkan tindakan yang dilakukan oleh siswa dilandasi atas kesadaran dan kemauan penuh. guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi agar memperoleh data yang akurat untuk perbaikan siklus berikutnya.

Hasil pencermatan ini digunakan sebagai bahan untuk menentukan tindak lanjut yang harus diambil segera oleh peneliti 3. . (2) guru.Jika penelitian tindakan dilakukan melalui beberapa siklus. Dilakukan sekurang-kurangnya dalam dua siklus tindakan yang berurutan. Harus betul-betul disadari oleh pemberi maupun pelakunya. sehingga pihak-pihak yang bersangkutan dapat mengemukakan kembali apa yang dilakukan dibandingkan dengan rencana yang sudah dibuat sebelumnya. Harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi di dalam pembelajaran dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. bukan objek yang sedang diam dan tanpa gerak. ohjektif. Unsur-unsur yang dapat dijadikan sasaran/objek PTK tersebut adalah : (1) siswa. maka dalam refleksi terakhir. dan sistematis. yaitu siswa yang sedang belajar. 2. Menuntut dilakukannya pencermatan secara terus menerus. baik yang dimiliki oleh siswa secara perseorangan. meliputi peralatan. atau kepada diri sendiri apabila akan melanjutkan dalam kesempatan Adapun persyaratan PTK itu sendiri adalah sebagai berikut : 1. Objek PTK harus merupakan sesuatu yang aktif dan dapat dikenai aktivitas. tidak mengubah aturan yang sudah ditentukan. 6. 4. 5. Terjadi secara wajar. (4) peralatan atau sarana pendidikan. ataupun peralatan yang disediakan lain. peralatan yang disediakan oleh sekolah. Harus benar-benar menunjukkan adanya tindakan yang dilakukan oleh sasaran tindakan. dalam arti tidak mengubah jadwal yang berlaku. (3) materi pelajaran. peneliti menyampaikan rencana yang disarankan kepada peneliti lain apabila dia menghentikan kegiatannya.

hal yang termasuk dalam kegiatan pengelolaan misalnya cara dan waktu mengelompokkan siswa ketika guru memberikan tugas. H.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SDN 1 Jungutan I kecamatan Bebandem Kabupaten Karangasem H. begitu juga dengan penelitian tindakan kelas. pengaturan tempat duduk siswa. model. adalah merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan profesionalitas guru. Pertama adalah dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa dan yang kedua. (5) hasil pembelajaran. (6) lingkungan. METODE PENELITIAN H. penataan peralatan milik siswa. dan (7) pengelolaan. dan sasaran/objek yang bisa dikenai tindakan. prinsip. Dengan catatan. penempatan papan tulis. Bagaikan mata uang yang memiliki dua sisi.d 24 Oktober 2011 .2 Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan selama dua bulan dari tanggal 15 September s. dan lainlain. Ada dua keuntungan nyata yang menjadi efek apabila seorang guru melaksanakan penelitian tindakan kelas. PTK akan berhasil baik dan signifikan apabila sebelum melaksanakannya seorang guru harus sudah mengetahui konsep dasar tentang bagaimana melaksanakan PTK. tujuan. pengaturan jadwal. persayaratan. Mulai dari pengertian PTK.dan digunakan di kelas dan di laboratorium. bila penelitian tindakan kelas dilakukan secara baik dan benar.

hasil belajar. Materi ini selalu mengalami kesulitan di kelas kelas V dan VI.H. yang memuat mata pelajaran. Silabus. sumber/ alat/ bahan belajar dan penilaian. indicator. kelas/ . Siklus I a.3 Materi Pembelajaran Untuk menentukan mata pelajaran dan materi pokok yang akan digunakan dalam penelitian ini dipilih mata pelajaran matematika dengan materi pokok penjumlahan bilangan bulat di kelas IV semester I. Rencana pembelajaran. Sekolah mempunyai buku paket yang relevan Materi pembelajaran ini dilaksanakan dalam waktu 3 pertemuan dengan setiap pertemuan 2 x 40 menit. Rancangan Pembelajaran Sebelum pelaksanaan pembelajaran peneliti telah menyiapkan/ menyusun perangkat pembelajaran antara lain: 1). pengalaman belajar. Berdasarkan kurikulum 2004. 2.4 Pelaksanaan Penelitian 1. dan masing-masing pertemuan ditutup dengan tes dengan pertimbangan H. yang memuat standar kompetensi. alokasi waktu. tertulis. kompetensi dasar. 2). materi ini dipilih sebagai berikut : 1.

Lidi sejumlah 220 buah.semester. Pelaksanaan Pembelajaran 1). lembar pengamatan dan lembar soal tes. lidi yang dipegang oleh siswa yang duduk di sebelah kanan adalah positif dan di sebelah kiri adalah negatif. Guru mengucapkan salam di depan kelas. c). langkah. d). sarana. Guru menginfomasikan kepada siswa bahwa masing-masing harus memengang 10 lidi. Guru membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil (berpasangan) c). b). 4). bilangan cacah dengan 2). b. alokasi waktu. Kegiatan inti meliputi : a).langkah pembelajaran. Guru membagi lidi kepada tiap-tiap kelompok sebanyak 20 buah. kompetensi dasar. Guru mengadakan tanya jawab tentang penjumlahan tujuan untuk merangsang siswa agar termotivasi. sumber. Lembar penilaian proses. bahan belajar dan penilaian. materi pokok. 3). . Kegiatan awal meliputi : a). Guru memberi contoh cara menjumlah bilangan bulat dengan menggunakan lidi. Guru dan siswa mengadakan kesepakatan. b).

Siswa yang duduk disebelah kiri. meletakkan 4 lidi di atas mejanya. . . . Siswa yang duduk disebelah kanan. sehingga posisinya menjadi : di atas mejanya. Langkah-langkah penggunaan : (a). I I I I I I I I Lidi yang diambil dari siswa yang duduk di sebelah kanan ( lidi yang menunjuk bilangan positif ) III Lidi yang diambil dari siswa yang duduk di sebelah kiri ( lidi yang menunjuk bilangan . meletakkan 7 lidi (c) Kemudian kedua lidi itu digabung menjadi satu.Misalnya : 4 + ( -7 ) = . (b).

negatif ) (d). Evaluasi 1). Lidi yang tidak punya pasangan (yang berada diluar kotak) sebanyak 3 lidi dari siswa disebelah kiri. Evaluasi tertulis. e. (e). Observer melakukan observasi untuk melihat seberapa jauh keefektifan perencanaan. b). dan evaluasi pembelajaran ketika diterapkan. pelaksanaan. Evaluasi proses. pada saat siswa menggunakan lidi dalam penjumlahan bilangan bulat. Observasi Aktivitas observasi dilakukan ketika peneliti melakukan pembelajaran. tentang penggunaan lidi dalam menjumlah bilangan bulat dengan cara tanya jawab. Jadi 4 + (-7) = -3 3). Pemberian tugas ( PR terdiri dari 5 soal ) c. d. Refleksi . Kegiatan Akhir : a). Pengecekan keterampilan siswa. 2). pada saat siswa mengerjakan lembar tes.

indikator. Setelah mengetahui kekurangan dari skenario pembelajaran pada siklus ini. kompetensi dasar. peneliti akan tahu kelebihan dan kekurangan dari skenario pembelajaran yang telah direncanakan dan dilaksanakan. Siklus II a. Berdasarkan hasil refleksi ini . kelas/ . yang memuat standar kompetensi. pengalaman belajar. 2). kemudian berdasarkan hasil ini peneliti melakukan refleksi diri tentang pembelajaran yang telah dilakukan. sumber/ alat bahan belajar dan penilaian. Silabus. Rencana pembelajaran. peneliti merencanakan perbaikan untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya. Rancangan Pembelajaran Sebelum pelaksanaan pembelajaran peneliti telah menyiapkan/ menyusun perangkat pembelajaran antara lain: 1). hasil belajar. 2.Data-data dari observasi dan evaluasi dikumpulkan. yang memuat mata pelajaran. alokasi waktu. sampai peneliti menemukan hasil yang terbaik sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah direncanakan.

Kegiatan inti meliputi : a. merah adalah b). . Lidi sejumlah 220 buah. kompetensi dasar. Lembar penilaian proses.Guru dan siswa mengadakan kesepakatan. Guru mengadakan tanya jawab tentang penjumlahan bilangan bulat dengan tujuan untuk merangsang siswa agar termotivasi. bahan belajar dan penilaian. lembar pengamatan dan lembar soal tes. e). 2. sarana. Guru memberi contoh cara menjumlah bilangan bulat dengan menggunakan lidi. materi pokok. langkah-langkah pembelajaran. sumber. 3).semester. Guru membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil (berpasangan) buah berwarna merah d). Misalnya : 4 + ( -7 ) = . Pelaksanaan Pembelajaran 1). . c). . Guru membagi lidi kepada tiap-tiap kelompok sebanyak 10 dan 10 buah tidak berwarna. lidi yang berwarna positif dan lidi yang tidak berwarna adalah negatif. c). Mengerjakan tugas PR. b). alokasi waktu. yang berwarna merah 110 buah dan yang tidak berwarna 110 buah. Kegiatan awal meliputi : a). Guru menginfomasikan kepada siswa bahwa masing-masing kelompok harus memengang 10 lidi berwarna merah dan 10 lidi tidak berwarna. . Guru mengucapkan salam di depan kelas. 4). b.

Langkah-langkah penggunaan : (a). Siswa yang memegang lidi berwarna merah. mejanya. Kemudian kedua lidi itu digabung menjadi satu. ( lidi yang menunjuk bilangan negatif ) . posisinya menjadi : sehingga meletakkan 7 lidi di atas I I I I (lidi merah) I I I I Lidi yang berwarna merah sebanyak 4 buah. ( lidi yang menunjuk bilangan positif ) III Lidi yang tidak berwarna sebanyak 7 buah. meletakkan 4 lidi di atas meja. (c). (b).Siswa yang memegang lidi yang tidak berwarna.

d. Kegiatan Akhir : 1). Pengecekan keterampilan siswa. 2). Evaluasi 1). . Jadi 4 + (-7) = -3 b. Observer melakukan observasi untuk melihat seberapa jauh keefektifan perencanaan. Lidi yang tidak punya pasangan (yang berada diluar kotak) sebanyak 3 lidi yang tidak berwarna (negatif). Evaluasi proses. tentang penggunaan lidi dalam menjumlah bilangan bulat dengan cara tanya jawab.(d).Pemberian tugas ( PR terdiri dari 5 soal ) c. (e). pelaksanaan. Evaluasi tertulis. pada saat siswa mengerjakan lembar tes. pada saat siswa menggunakan lidi dalam penjumlahan bilangan bulat. dan evaluasi pembelajaran ketika diterapkan pada siklus II. 2). Observasi Aktivitas observasi dilakukan ketika peneliti melakukan pembelajaran pada siklus I.

alokasi waktu. alokasi waktu. sampai peneliti menemukan hasil yang terbaik sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah direncanakan. kemudian berdasarkan hasil ini peneliti melakukan refleksi diri tentang pembelajaran yang telah dilakukan. yang memuat standar kompetensi. 3). yang memuat mata pelajaran. sumber/ alat/ bahan belajar dan penilaian.Lembar penilaian proses.Rencana pembelajaran. langkah-langkah pembelajaran. Refleksi Data-data dari observasi dan evaluasi pada siklus II dikumpulkan.e. sumber. Berdasarkan hasil refleksi ini.Silabus. peneliti akan tahu kelebihan dan kekurangan dari skenario pembelajaran yang telah direncanakan dan dilaksanakan pada silkus II. indikator. Rancangan Pembelajaran Sebelum pelaksanaan pembelajaran peneliti telah menyiapkan / menyusun perangkat pembelajaran antara lain: 1). Siklus III a. 2). sarana. bahan belajar dan penilaian. kompetensi dasar. peneliti merencanakan perbaikan untuk dilaksanakan pada siklus III. Setelah mengetahui kekurangan dari skenario pembelajaran pada siklus ini. hasil belajar. . pengalaman belajar. materi pokok. kompetensi dasar. lembar pengamatan dan lembar soal tes. kelas/ semester. 3.

Lidi sejumlah 420 buah. Langkah-langkah penggunaan : a).. di atas mejanya. sehingga posisinya menjadi : . 210 lidi berwarna merah dan 210 lidi tidak berwarna . d).4). b. Kegiatan awal meliputi : a). c). Guru menginfomasikan kepada siswa bahwa. Siswa meletakkan 7 lidi yang tidak berwarna. c). 2). b.Guru mengadakan tanya jawab tentang penjumlahan bilangan bulat dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan siswa sebelum mendapat pembelajaran. Siswa meletakkan 4 lidi berwarna merah diatas mejanya dengan menggunakan lidi. Guru membagi lidi kepada tiap-tiap anak sebanyak 10 lidi berwarna merah dan 10 lidi tidak berwarna. . lidi yang berwarna merah adalah positif dan lidi yang tidak berwarna adalah negatif. Guru memberi contoh cara menjumlah bilangan bulat Misalnya : 4 + ( -7 ) = . b). . Kegiatan inti meliputi : 1). Pelaksanaan Pembelajaran 1). Kemudian kedua lidi itu digabung menjadi satu. Guru mengucapkan salam di depan kelas. b). Mengerjakan tugas PR. .

( lidi yang menunjuk bilangan positif ) III Lidi yang tidak berwarna sebanyak 7 buah. Pengecekan keterampilan siswa. ( lidi yang menunjuk bilangan negatif ) d). Pemberian tugas ( PR terdiri dari 5 soal ) dalam penjumlahan . Jadi 4 + (-7) = -3 c. 2).I I I I (lidi merah) I I I I Lidi yang berwarna merah sebanyak 4 buah. tentang penggunaan lidi bilangan bulat dengan cara tanya jawab. e). Lidi yang tidak punya pasangan adalah hasilnya (yang berada diluar kotak) sebanyak 3 lidi yang tidak berwarna (negatif). Kegiatan Akhir : 1).

peneliti merencanakan perbaikan untuk dilaksanakan pada siklus III. BIAYA PENELITIAN . I. Refleksi Data-data dari observasi dan evaluasi pada siklus II dikumpulkan. e. pada saat siswa menggunakan lidi dalam penjumlahan bilangan bulat. kemudian berdasarkan hasil ini peneliti melakukan refleksi diri tentang pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus III. 2.d 25 Oktober 2011 bertempat di SD N 1 Jungutan. Evaluasi proses. Evaluasi tertulis. pada saat siswa mengerjakan lembar tes. pelaksanaan.c. Setelah mengetahui kekurangan dari skenario pembelajaran pada siklus ini. J. Berdasarkan hasil refleksi pada siklus ini peneliti akan tahu kelebihan dan kekurangan dari skenario pembelajaran yang telah direncanakan dan dilaksanakan pada siklus III. dan evaluasi pembelajaran ketika diterapkan pada siklus III. Observasi Aktivitas observasi dilakukan ketika peneliti melakukan pembelajaran. Observer melakukan observasi untuk melihat seberapa jauh keefektifan perencanaan. Evaluasi 1. d. sampai peneliti menemukan hasil yang terbaik sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah direncanakan. JADWAL PENELITIAN Penelitian dilaksanakan selama dua bulan dari tanggal 15 September s.

A / 197503081997032003 SDN 1 Jungutan Jl.Pd. Alamat Kantor dan No.d Oktober 2011 ) h. Alamat Rumah dan No. Telaga Tista. Identitas Peneliti a.S. Asal Sekolah e. PERSONALIA PENELITIAN 1. Jenis Kelamin c. f. Nama Lengkap b. Pangkat/gol/NIP d.……………………………………………………………………………… …………………………………………………………………… K. Lama Penelitian 2 bulan ( September s. Desa Jungutan Ida Ayu Putu Dipeningrat. Biaya yang diperlukan - . Perempuan Pembina / IV.Judul Penelitian Penggunaan Media Lidi Untuk Meningkatkan Keterampilan Siswa Pada Penjumlahan Bilangan Bulat di Kelas IV SDN 1 Jungutan 2. Jungutan g. Telp. Dsn Jungutan.Telp.

DAFTAR PUSTAKA Djoko Moesono & Sujono. 2004. Metodologi Pembelajaran. Jakarta. Pujiati. Metoda Pengajaran Matematika di Sekolah Dasar. 1998. 2006. Jakarta: Depdibud. . Karim Muchtar A. Jakarta Elly E. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah. 1980. Jakarta. 1999. Media Pendidikan. Matematika 4. Pedoman Pengembangan Silabus. Jakarta. Depdiknas. Jogjakarta: PPPG JOGJAKARTA. 2003. Oemar Hamalik. Penggunaan Alat Peraga dalam Pembelajaran Berhitung di SD. Jogjakarta: PPPG JOGJAKARTA. Jakarta. Depdiknas. Depdiknas. Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Matematika. 1996.L.

M. LAMPIRAN – LAMPIRAN ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ………………………………………………………… .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful