PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil sudah tidak sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan keadaan; b. bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 30 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian, perlu mengganti Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil; c. bahwa berdasarkan dalam pertimbangan a dan sebagaimana b, perlu

dimaksud

huruf

huruf

menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil; Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang PokokPokok Kepegawaian Tahun (Lembaran 1974 Nomor Negara 55, Republik Tambahan Indonesia

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890); MEMUTUSKAN: . . .

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -2MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Disiplin Pegawai Negeri Sipil adalah kesanggupan Pegawai Negeri Sipil untuk menaati kewajiban dan menghindari peraturan larangan yang ditentukan dalam perundang-undangan dan/atau

peraturan kedinasan yang apabila tidak ditaati atau dilanggar dijatuhi hukuman disiplin. 2. 3. Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PNS adalah PNS Pusat dan PNS Daerah. Pelanggaran disiplin adalah setiap ucapan, tulisan, atau perbuatan PNS yang tidak menaati kewajiban dan/atau melanggar larangan ketentuan disiplin PNS, baik yang dilakukan di dalam maupun di luar jam kerja. 4. Hukuman dijatuhkan 5. Pejabat Pembina disiplin kepada adalah PNS hukuman karena yang melanggar Pejabat

peraturan disiplin PNS. Pembina Kepegawaian Daerah Pusat, Pembina Kepegawaian Daerah Provinsi, dan Pejabat Kepegawaian Kabupaten/Kota wewenang adalah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan PNS. 6. Upaya . . . yang mengatur pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -3Upaya administratif adalah prosedur yang dapat ditempuh oleh PNS yang tidak puas terhadap hukuman 7. disiplin yang dijatuhkan kepadanya berupa keberatan atau banding administratif. Keberatan adalah upaya administratif yang dapat ditempuh oleh PNS yang tidak puas terhadap hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh pejabat yang berwenang menghukum kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum. 8. Banding administratif adalah upaya administratif yang dapat ditempuh oleh PNS yang tidak puas terhadap hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS yang dijatuhkan oleh pejabat yang berwenang menghukum, Kepegawaian. Pasal 2 Ketentuan Peraturan Pemerintah ini berlaku juga bagi calon PNS. BAB II KEWAJIBAN DAN LARANGAN Bagian Kesatu Kewajiban Pasal 3 Setiap PNS wajib: 1. 2. mengucapkan sumpah/janji PNS; mengucapkan sumpah/janji jabatan; 3. setia . . . kepada Badan Pertimbangan

6.

16. Pemerintah. 8. kesadaran. dan 3. masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja. dan martabat PNS. melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS dengan penuh pengabdian. . bekerja dengan jujur. Negara Kesatuan Republik Indonesia. membimbing bawahan dalam melaksanakan tugas. bersemangat untuk kepentingan negara. dan 17. 9. . mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan. mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -4setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. cermat. menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaik-baiknya. pelayanan sebaik-baiknya kepada 15. dan Pemerintah. dan/atau golongan. seseorang. memberikan masyarakat. 11. 5. memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus dirahasiakan. menjunjung tinggi kehormatan negara. memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan karier. 13. Bagian Kedua . 4. 12. 7. melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan. tertib. . keuangan. 10. 14. menaati segala ketentuan peraturan perundangundangan. 6. dan materiil. menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang. dan tanggung jawab.

konsultan asing. menjual. memiliki. atau lembaga swadaya masyarakat asing. tanpa izin Pemerintah menjadi pegawai atau bekerja untuk 4. 5. 2. 6. bawahan. melakukan kegiatan bersama dengan atasan. 8. atau pihak lain. menyalahgunakan wewenang. . 10. membeli. 3. teman sejawat. negara lain dan/atau lembaga atau organisasi internasional. atau meminjamkan barang-barang baik bergerak atau tidak bergerak. bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya. menerima hadiah atau suatu pemberian apa saja dari siapapun juga yang berhubungan dengan jabatan dan/atau pekerjaannya. menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau orang lain dengan menggunakan kewenangan orang lain. . . bekerja pada perusahaan asing. melakukan . menyewakan. 7.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -5Bagian Kedua Larangan Pasal 4 Setiap PNS dilarang: 1. 9. golongan. atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. menggadaikan. dokumen atau surat berharga milik negara secara tidak sah. memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun baik secara langsung atau tidak langsung dan dengan dalih apapun untuk diangkat dalam jabatan. yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara.

ikut serta sebagai pelaksana kampanye. selama. Dewan Perwakilan Rakyat. atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya. . sebagai peserta kampanye dengan mengerahkan PNS lain. atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan cara: a. melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan yang dapat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayani sehingga mengakibatkan kerugian bagi yang dilayani. b. sebagai peserta kampanye dengan menggunakan fasilitas negara. dan/atau mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum. 14. himbauan. dan 15. 13. b. dan masyarakat. seruan. memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden. 12. dan/atau d. memberikan dukungan kepada calon anggota Dewan Perwakilan Daerah atau calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dengan cara memberikan surat dukungan disertai foto kopi Kartu Tanda Penduduk atau Surat Keterangan Tanda Penduduk sesuai peraturan perundangundangan. menghalangi berjalannya tugas kedinasan. calon membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye. ajakan. 11.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -610. . Dewan Perwakilan Daerah. menjadi peserta kampanye dengan menggunakan atribut partai atau atribut PNS. c. memberikan dukungan kepada Presiden/Wakil Presiden dengan cara: a. anggota keluarga. memberikan . dan sesudah masa kampanye meliputi pertemuan. .

anggota keluarga. c. . seruan. atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya. memberikan dukungan a. dan sesudah masa kampanye meliputi pertemuan. mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum. dengan cara: kegiatan kampanye mendukung calon Kepala Daerah/Wakil Kepala BAB III HUKUMAN DISIPLIN Bagian Kesatu Umum Pasal 5 PNS yang tidak menaati ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan/atau Pasal 4 dijatuhi hukuman disiplin. ajakan. calon selama masa kampanye. . dan masyarakat. Pasal 6 . himbauan. membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan dan/atau d. . b.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -715. selama. menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatan dalam kegiatan kampanye. dalam kepada calon Kepala untuk Daerah/Wakil Kepala Daerah. terlibat Daerah.

(4) Jenis a. dan pernyataan tidak puas secara tertulis. penundaan kenaikan pangkat selama 1 (satu) tahun. hukuman disiplin berat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri dari: penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 (tiga) tahun. dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari: teguran lisan. b. (2) hukuman disiplin ringan. hukuman disiplin ringan sebagaimana tidak mengesampingkan ketentuan pidana. Bagian Kedua Tingkat dan Jenis Hukuman Disiplin Pasal 7 (1) Tingkat hukuman disiplin terdiri dari: a. dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari: penundaan kenaikan gaji berkala selama 1 (satu) tahun.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -8Pasal 6 Dengan peraturan disiplin. dan penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 (satu) tahun. . dan hukuman disiplin berat. b. pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah. b. c. . b. . teguran tertulis. c. hukuman disiplin sedang sebagaimana (3) Jenis a. pembebasan . hukuman disiplin sedang. PNS dalam yang perundang-undangan melakukan pelangggaran disiplin dijatuhi hukuman Jenis a. c. c.

apabila pelanggaran berdampak negatif pada unit kerja. 3. . 2. . Bagian Ketiga Pelanggaran dan Jenis Hukuman Paragraf 1 Pelanggaran Terhadap Kewajiban Pasal 8 Hukuman disiplin ringan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dijatuhkan bagi pelanggaran terhadap kewajiban: 1. Negara Kesatuan Republik Indonesia. . pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS. pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS. dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 5. dan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 3. dan e. 4. setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. menjunjung . apabila pelanggaran berdampak negatif pada unit kerja. melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS dengan penuh pengabdian. menaati segala peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 4. d. apabila pelanggaran berdampak negatif pada unit kerja. c. kesadaran.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -9pembebasan dari jabatan.

melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan negara atau pemerintah terutama di bidang keamanan. apabila pelanggaran berdampak negatif pada unit kerja. teguran tertulis bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 6 (enam) sampai dengan 10 (sepuluh) hari kerja. apabila pelanggaran berdampak negatif pada unit kerja. . dan bersemangat untuk kepentingan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 9. keuangan. dan materiil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 10. bekerja dengan jujur. 7. 5. 9. mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri. 8. 6. memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus dirahasiakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 8. seseorang. apabila pelanggaran berdampak negatif pada unit kerja.10 4. menjunjung tinggi kehormatan negara. . apabila pelanggaran berdampak negatif pada unit kerja. apabila pelanggaran berdampak negatif pada unit kerja. Pemerintah. tertib. pernyataan . cermat. dan/atau golongan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 7. . dan c. teguran lisan bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 5 (lima) hari kerja. b. dan martabat PNS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 6.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 11 berupa: a.

membimbing bawahan dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 15. .PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . . . Pasal 9 Hukuman disiplin sedang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dijatuhkan bagi pelanggaran terhadap kewajiban: 1. 10. 13. 11. 12. apabila sengaja. menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 17. dan 14. memberikan pelayanan sebaik-baiknya masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 14. apabila kepada c. apabila pelanggaran dilakukan dengan tidak sengaja. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. apabila dalam pelanggaran dilakukan dengan tidak pelanggaran dilakukan tanpa alasan yang sah. 2. menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dimaksud dengan dalam sebaik-baiknya Pasal 3 angka sebagaimana 13.11 pernyataan tidak puas secara tertulis bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 11 (sebelas) sampai dengan 15 (lima belas) hari kerja. mengucapkan dimaksud sumpah/janji Pasal 3 PNS angka sebagaimana 1. mengucapkan. apabila pelanggaran berdampak negatif pada unit kerja. pelanggaran berdampak negatif pada unit kerja. memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan karier sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 16.

kesadaran. dan/atau golongan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 7. dalam Pasal 3 angka 2. 9. pelanggaran berdampak negatif pada instansi yang bersangkutan. . . dan martabat PNS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 6. mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri. menaati segala peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 4. menjunjung tinggi kehormatan negara. apabila pelanggaran berdampak negatif bagi instansi yang bersangkutan. apabila pelanggaran berdampak negatif bagi instansi yang bersangkutan. apabila pelanggaran berdampak negatif bagi instansi yang bersangkutan. seseorang. apabila pelanggaran dilakukan tanpa alasan yang sah. 7. melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS dengan penuh pengabdian. bekerja . 6. pelanggaran berdampak instansi yang bersangkutan. apabila pelanggaran berdampak negatif bagi instansi yang bersangkutan. 2.12 mengucapkan sumpah/janji jabatan sebagaimana dimaksud 3. dan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 3. memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau apabila menurut perintah harus dirahasiakan negatif pada sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 8. Negara Kesatuan Republik Indonesia. 4. 5. apabila 8. pemerintah.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . . setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 5.

apabila pelanggaran berdampak negatif pada instansi yang bersangkutan. mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 12. . dan penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 (satu) tahun bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 26 (dua puluh enam) sampai dengan 30 (tiga puluh) hari kerja. tertib. 12. c. bekerja dengan jujur. b. apabila pencapaian sasaran kerja pada akhir tahun hanya mencapai 25% (dua puluh lima persen) sampai dengan 50% (lima puluh persen). menggunakan . 10. 11.13 9. 13. masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 11 berupa: a. dan materiil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 10. cermat.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan. dan bersemangat untuk kepentingan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 9. apabila pelanggaran berdampak negatif bagi instansi yang bersangkutan. penundaan kenaikan gaji berkala selama 1 (satu) tahun bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 16 (enam belas) sampai dengan 20 (dua puluh) hari kerja. . keuangan. penundaan kenaikan pangkat selama 1 (satu) tahun bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 21 (dua puluh satu) sampai dengan 25 (dua puluh lima) hari kerja. .

negatif pada instansi yang Pasal 10 Hukuman disiplin berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) dijatuhkan bagi pelanggaran terhadap kewajiban: 1. menaati . dan 17. membimbing bawahan dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 15.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . apabila pelanggaran dilakukan dengan sengaja. apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara. menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 17. . dan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 3. memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan karier sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 16. apabila pelanggaran dilakukan dengan sengaja. setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 15.14 13. menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dimaksud dengan dalam sebaik-baiknya Pasal 3 angka sebagaimana 13. . Negara Kesatuan Republik Indonesia. memberikan angka 14. . apabila pelanggaran berdampak bersangkutan. pelayanan sebaik-baiknya ketentuan kepada masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 14. 2. apabila pelanggaran berdampak negatif pada instansi yang bersangkutan. 16.

memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus dirahasiakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 8. dan bersemangat untuk kepentingan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 9. apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara. masuk . . mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri. dan/atau golongan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 7. menaati segala ketentuan peraturan perundangundangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 4. 6. dan materiil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 10. apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara. dan martabat PNS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 6. 3. apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara. bekerja dengan jujur. cermat.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . pemerintah. menjunjung tinggi kehormatan negara. . melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS dengan penuh pengabdian. seseorang. apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara. apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara. . 4. 9. 7. dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 5. apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara. kesadaran. tertib.15 2. melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan. 5. apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara. keuangan. 8.

. 11. masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 11 berupa: a. dan d. menggunakan . c. penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 (tiga) tahun bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 31 (tiga puluh satu) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) hari kerja. .16 9. pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 46 (empat puluh enam) hari kerja atau lebih. . b. pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah bagi PNS yang menduduki jabatan struktural atau fungsional tertentu yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 36 (tiga puluh enam) sampai dengan 40 (empat puluh) hari kerja. pembebasan dari jabatan bagi PNS yang menduduki jabatan struktural atau fungsional tertentu yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 41 (empat puluh satu) sampai dengan 45 (empat puluh lima) hari kerja.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . 10. mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 12. apabila pencapaian sasaran kerja pegawai pada akhir tahun kurang dari 25% (dua puluh lima persen).

menjual. atau meminjamkan barang-barang baik bergerak atau tidak bergerak. . dan 13. apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara. menggadaikan. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. golongan. apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara. bertindak .PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . apabila pelanggaran berdampak negatif pada unit kerja. melakukan kegiatan bersama dengan atasan. apabila pelanggaran berdampak negatif pada unit kerja. . menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 17. menyewakan. 12. secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 5. teman sejawat. dokumen atau surat berharga milik negara. 2. memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 14. memiliki. atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 6. 3. atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. Paragraf 2 Pelanggaran Terhadap Larangan Pasal 11 Hukuman disiplin ringan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dijatuhkan bagi pelanggaran terhadap larangan: 1. bawahan. membeli. menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaik-baiknya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 13.17 11. .

sehingga mengakibatkan kerugian bagi yang dilayani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 10. menghalangi berjalannya tugas kedinasan. apabila pelanggaran berdampak negatif pada instansi yang bersangkutan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 9. sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. membeli. teman sejawat. menggadaikan.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . bawahan. melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan yang dapat menghalangi yang atau mempersulit salah satu pihak dilayani pelanggaran dilakukan dengan tidak 3. bertindak . apabila pelanggaran berdampak negatif pada unit kerja. dan 5. Pasal 12 Hukuman disiplin sedang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dijatuhkan bagi pelanggaran terhadap larangan: 1.18 bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya. dokumen atau surat berharga milik negara secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 5. melakukan kegiatan bersama dengan atasan. yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 6. apabila sengaja. menyewakan. memiliki. atau pihak lain. apabila pelanggaran berdampak negatif pada instansi yang bersangkutan. . atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. . 4. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 11. 2. golongan. . atau meminjamkan barang-barang baik bergerak atau tidak bergerak. 3. menjual.

selama. dan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 13 huruf b. sebagai peserta kampanye dengan mengerahkan PNS lain. dan huruf c. himbauan. 8. . negatif bagi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 11.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Dewan Perwakilan Rakyat.19 3. atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya. dan sesudah masa kampanye meliputi pertemuan. menghalangi apabila instansi. 5. 4. apabila pelanggaran dilakukan dengan sengaja. sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. berjalannya tugas kedinasan. menjadi peserta kampanye dengan menggunakan atribut partai atau atribut PNS. ajakan. anggota keluarga. Dewan Perwakilan Daerah. atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan cara ikut serta sebagai pelaksana kampanye. huruf b. 6. memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden. seruan. . memberikan . memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden dengan cara mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum. pelanggaran berdampak 7. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 12 huruf a. . bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 9. melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan yang dapat menghalangi yang atau mempersulit salah satu pihak dilayani sehingga mengakibatkan kerugian bagi yang dilayani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 10.

tanpa .20 8. . memberikan dukungan kepada calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dengan cara terlibat dalam kegiatan kampanye untuk mendukung calon Kepala Daerah/Wakil kegiatan terhadap pemilu Kepala yang Daerah calon selama. kerjanya. serta kepada yang dan mengadakan keberpihakan menjadi sesudah kepada masa PNS mengarah pasangan sebelum. atau pemberian barang dalam lingkungan unit anggota keluarga. . meliputi peserta kampanye pertemuan. 2. dan 9.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . . seruan. menyalahgunakan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 1. 3. ajakan. memberikan Dewan Daerah/Wakil dukungan Kepala kepada atau Daerah calon calon dengan anggota Kepala cara Perwakilan Daerah memberikan surat dukungan disertai foto kopi Kartu Tanda Penduduk atau Surat Keterangan Tanda Penduduk sesuai peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 14. himbauan. menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau orang lain dengan menggunakan kewenangan orang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 2. Pasal 13 Hukuman disiplin berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) dijatuhkan bagi pelanggaran terhadap larangan: 1. dan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 15 huruf a dan huruf d.

7. dokumen atau surat berharga milik negara secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 5. melakukan kegiatan bersama dengan atasan. menyewakan. konsultan asing.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan yang dapat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayani sehingga mengakibatkan kerugian bagi yang dilayani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 10. 6. apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara. 9. menerima hadiah atau suatu pemberian apa saja dari siapapun juga yang berhubungan dengan jabatan dan/atau pekerjaannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 8.21 tanpa izin Pemerintah menjadi pegawai atau bekerja untuk negara lain dan/atau lembaga atau organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 3. golongan. menghalangi . atau pihak lain. apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara. memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun baik secara langsung atau tidak langsung dan dengan dalih apapun untuk diangkat dalam jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 7. teman sejawat. atau meminjamkan barang-barang baik bergerak atau tidak bergerak. . 10. bawahan. sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. 5. atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 6. 3. menggadaikan. . membeli. 4. . bekerja pada perusahaan asing. menjual. memiliki. atau lembaga swadaya masyarakat asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 4. 8.

12. . Pasal 14 Pelanggaran terhadap kewajiban masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 angka 9. menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatan kampanye dan/atau membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 15 huruf b dan huruf c. dan Pasal 10 angka 9 dihitung secara kumulatif sampai dengan akhir tahun berjalan.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . dan 13. menghalangi berjalannya apabila pelanggaran tugas kedinasan negatif pada calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 11. . Dewan Perwakilan Daerah. 11. memberikan dukungan kepada Presiden/Wakil Presiden.22 10. Pasal 9 angka 11. . Dewan Perwakilan Rakyat. Bagian Keempat . berdampak pemerintah dan/atau negara. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 12 huruf d. memberikan Presiden/Wakil dukungan Presiden kepada cara calon membuat dengan keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye sebagaimana dimaksud calon dengan dalam Kepala cara Pasal 4 angka 13 huruf a. memberikan Daerah/Wakil dalam kegiatan dukungan Kepala kepada Daerah. atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan cara sebagai peserta kampanye dengan menggunakan fasilitas negara.

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . dan ayat (4). dan ayat (4) huruf a. 4. Penjatuhan hukuman disiplin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan berdasarkan usul dari Pejabat Pembina Kepegawaian. . fungsional tertentu jenjang Utama di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). . ayat (3). huruf d. menetapkan 2. . huruf d. struktural eselon I di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). struktural .23 Bagian Keempat Pejabat yang Berwenang Menghukum Pasal 15 (1) Presiden menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi PNS yang menduduki jabatan struktural eselon I dan jabatan lain yang pengangkatan dan pemberhentiannya menjadi wewenang Presiden untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) huruf b. ayat (3). huruf c. dan huruf e. ayat (3). fungsional umum golongan ruang IV/d dan golongan ruang IV/e di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). PNS yang menduduki jabatan: 1. dan ayat (4) huruf a. dan huruf e. 3. (2) Pasal 16 (1) Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat penjatuhan hukuman disiplin bagi: a.

. . struktural eselon III ke bawah. dan huruf e. ayat (3).24 struktural eselon II dan fungsional tertentu jenjang Madya dan Penyelia di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4). huruf d. PNS yang dipekerjakan di lingkungannya yang menduduki jabatan: 1. 8. 4. 2. 7. dan ayat (4). huruf d. 6. . fungsional tertentu jenjang Muda dan Penyelia ke bawah di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf c dan ayat (4). fungsional umum golongan ruang IV/a sampai dengan golongan ruang IV/c di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a. 5. dan huruf e. struktural eselon I untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). fungsional . b.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . struktural eselon II di lingkungan instansi vertikal dan pejabat yang setara yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Pejabat Pembina Kepegawaian untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). dan fungsional umum golongan ruang III/d ke bawah di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf c dan ayat (4) huruf a.

c. struktural eselon II dan fungsional tertentu jenjang Madya untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a. 2. dan huruf c. fungsional tertentu jenjang Utama untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dan ayat (4) huruf b dan huruf c. ayat (3). ayat (3). 3.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . fungsional . dan huruf c. 5. PNS yang diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan: 1. ayat (3). dan ayat (4) huruf a. 3. struktural eselon I untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). . 4. fungsional tertentu jenjang Utama untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). dan struktural eselon II ke bawah dan fungsional tertentu jenjang Madya dan Penyelia ke bawah untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) huruf b dan huruf c.25 2. . fungsional umum golongan ruang IV/d dan golongan ruang IV/e untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). huruf b. 4. . dan ayat (4) huruf a. fungsional umum golongan ruang IV/d dan golongan ruang IV/e untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). dan ayat (4) huruf a. huruf b.

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 26 -

5.

fungsional umum golongan ruang IV/a sampai dengan golongan ruang IV/c untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a; struktural eselon III ke bawah dan fungsional tertentu jenjang Muda dan Penyelia ke bawah untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf c dan ayat (4) huruf a, huruf b, dan huruf c; dan fungsional umum golongan ruang III/d ke bawah untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf c dan ayat (4) huruf a; yang dipekerjakan ke luar instansi

6.

7.

d.

PNS 1.

induknya yang menduduki jabatan: struktural eselon I untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a; struktural eselon II ke bawah dan fungsional tertentu jenjang Utama ke bawah untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a, huruf d, dan huruf e; dan fungsional umum golongan ruang IV/e ke bawah untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a, huruf d, dan huruf e;

2.

3.

e. PNS . . .

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 27 e. PNS yang diperbantukan ke luar instansi induknya yang menduduki jabatan struktural eselon II ke bawah, jabatan fungsional tertentu jenjang Utama ke bawah, dan jabatan fungsional umum golongan ruang IV/e ke bawah, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) huruf d dan huruf e; PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan pada Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a, huruf d, dan huruf e; dan PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan pada negara lain atau badan internasional, atau tugas di luar negeri, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) huruf a, huruf d, dan huruf e.

f.

g.

(2)

Pejabat struktural eselon I dan pejabat yang setara menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi: a. PNS yang menduduki jabatan: 1. struktural eselon II, fungsional tertentu jenjang Madya, dan fungsional umum golongan ruang IV/a sampai dengan golongan ruang IV/c di lingkungannya, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2); dan struktural eselon III, fungsional tertentu jenjang Muda dan Penyelia, dan fungsional umum golongan ruang III/b sampai dengan III/d di lingkungannya, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b; b. PNS . . .

2.

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 28 b. PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan struktural eselon II, jabatan fungsional tertentu jenjang Madya, dan jabatan fungsional umum golongan ruang IV/a sampai dengan golongan ruang IV/c untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2); dan c. PNS yang diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan struktural eselon III, jabatan fungsional tertentu jenjang Muda dan Penyelia, dan jabatan fungsional umum golongan ruang III/b sampai dengan golongan ruang III/d untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. (3) Pejabat struktural eselon II dan pejabat yang setara menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi: a. PNS yang menduduki jabatan: 1. struktural eselon III, fungsional tertentu jenjang Muda dan Penyelia, dan fungsional umum golongan ruang III/c dan golongan ruang III/d di lingkungannya, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2); dan struktural eselon IV, fungsional tertentu jenjang Pertama dan Pelaksana Lanjutan, dan fungsional umum golongan ruang II/c sampai dengan golongan ruang III/b di lingkungannya, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b;

2.

b. PNS . . .

dan c. jabatan fungsional umum golongan ruang III/c dan golongan ruang III/d untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan di lingkungannya struktural tertentu jenjang yang III. ruang III/b dan jabatan jenis fungsional umum golongan ruang II/c sampai dengan untuk hukuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. (4) Pejabat struktural eselon II yang atasan langsungnya: a. b. Muda menduduki jabatan dan jabatan fungsional dan eselon Penyelia. jabatan fungsional tertentu jenjang Pertama dan Pelaksana golongan disiplin Lanjutan. dan jabatan fungsional umum golongan ruang III/d ke bawah di lingkungannya. dan Pejabat struktural eselon I yang bukan Pejabat Pembina Kepegawaian. . PNS yang diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan struktural eselon IV. Pejabat Pembina Kepegawaian. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf c.29 b. . (5) Pejabat . . jabatan fungsional tertentu jenjang Pertama dan Pelaksana Lanjutan.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . selain menetapkan penjatuhan hukuman disiplin sebagaimana berwenang disiplin bagi dimaksud menetapkan PNS yang pada ayat (3) juga penjatuhan menduduki hukuman jabatan struktural eselon IV ke bawah.

dan fungsional umum golongan ruang II/c sampai dengan golongan ruang III/b di lingkungannya. . dan struktural eselon V. PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan di lingkungannya struktural tertentu Lanjutan. (6) Pejabat . . struktural eselon IV. PNS yang menduduki jabatan: 1. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. dan fungsional umum golongan ruang II/a dan golongan ruang II/b di lingkungannya. PNS yang diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan struktural eselon V. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2).30 (5) Pejabat struktural eselon III dan pejabat yang setara menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi: a. fungsional tertentu jenjang Pertama dan Pelaksana Lanjutan. . yang IV. jenjang dan eselon Pertama jabatan fungsional golongan ruang II/c sampai dengan golongan ruang III/b untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). dan jabatan fungsional umum golongan ruang II/a dan golongan ruang II/b untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. b. fungsional tertentu jenjang Pelaksana dan Pelaksana Pemula. jabatan fungsional tertentu jenjang Pelaksana dan Pelaksana Pemula. menduduki jabatan dan jabatan fungsional Pelaksana umum 2. dan c.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA .

c. dan fungsional umum golongan ruang I/a sampai dengan golongan ruang I/d untuk hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. dan PNS yang diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan fungsional umum golongan ruang I/a sampai dengan golongan ruang I/d untuk hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. jabatan fungsional tertentu jenjang Pelaksana dan Pelaksana Pemula. b. . 2. struktural eselon V. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). fungsional tertentu jenjang Pelaksana dan Pelaksana Pemula. PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan struktural eselon V. . untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2).31 (6) Pejabat struktural eselon IV dan pejabat yang setara menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi: a.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . dan b. dan jabatan fungsional umum golongan ruang II/a dan golongan ruang II/b untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). . dan fungsional umum golongan ruang II/a dan golongan ruang II/b di lingkungannya. PNS . PNS yang menduduki jabatan fungsional umum golongan ruang I/a sampai dengan golongan ruang I/d di lingkungannya. PNS yang menduduki jabatan: 1. (7) Pejabat struktural eselon V dan pejabat yang setara menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi: a.

dan ayat (4) huruf a. fungsional umum golongan ruang IV/d dan golongan ruang IV/e di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). dan huruf e. ayat (3).PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . huruf d.32 PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan fungsional umum golongan ruang I/a sampai dengan golongan ruang I/d untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). ayat (3). . ayat (3). b. Pasal 18 (1) Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Provinsi menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi: a. dan ayat (4) huruf a. Pasal 17 Kepala Perwakilan Republik Indonesia menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan pada Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dan ayat (4) huruf b dan huruf c. struktural . fungsional tertentu jenjang Utama di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). struktural eselon I di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). PNS Daerah Provinsi yang menduduki jabatan: 1. 3. . . dan ayat (4). 4. 2.

b. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). 3. 6.33 4. dan huruf e. dan huruf e. fungsional umum golongan ruang III/d ke bawah di lingkungannya. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf c dan ayat (4) huruf a. fungsional tertentu jenjang Muda dan Penyelia ke bawah di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf c dan ayat (4). struktural eselon III ke bawah. untuk sebagaimana dimaksud Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4). fungsional . struktural eselon II dan jenis fungsional hukuman dalam tertentu jenjang Madya dan Penyelia di lingkungannya disiplin 5. huruf d. . PNS yang dipekerjakan di lingkungannya yang menduduki jabatan: 1. fungsional umum golongan ruang IV/a sampai dengan golongan ruang IV/c di lingkungannya disiplin untuk jenis hukuman dalam sebagaimana dimaksud Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . struktural eselon I untuk jenis hukuman disiplin 2. . dan 7. . fungsional tertentu jenjang Utama untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dan ayat (4) huruf b dan huruf c. huruf d.

ayat (3). untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). struktural eselon II dan fungsional tertentu jenjang Madya. dan huruf c. 2. dan struktural eselon II ke bawah dan fungsional tertentu jenjang Madya dan Penyelia ke bawah untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) huruf b dan huruf c. . fungsional tertentu jenjang Utama.34 3. huruf b. dan ayat (4) huruf a. ayat (3). dan huruf c. fungsional umum golongan ruang IV/d dan golongan ruang IV/e untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2).PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . dan ayat (4) huruf a. 5. PNS yang diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan: 1. struktural eselon I. ayat (3). huruf b. . untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). . fungsional umum golongan ruang IV/a sampai dengan golongan ruang IV/c. 4. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a. 4. dan ayat (4) huruf a. struktural . c. 6. fungsional umum golongan ruang IV/d dan golongan ruang IV/e. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). 3.

struktural eselon II ke bawah dan fungsional tertentu jenjang Utama ke bawah. dan huruf c. d. . 7. e. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a. dan fungsional umum golongan ruang III/d ke bawah. dan huruf e. 3. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a. jabatan fungsional tertentu jenjang Utama ke bawah. PNS yang dipekerjakan ke luar induknya yang menduduki jabatan: 1. huruf b. . struktural eselon I. instansi 6. dan huruf e. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf c dan ayat (4) huruf a. huruf d. dan jabatan fungsional umum golongan ruang IV/e ke bawah. f.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . PNS yang diperbantukan ke luar instansi induknya yang menduduki jabatan struktural eselon II ke bawah. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a. huruf d. .35 struktural eselon III ke bawah dan fungsional tertentu jenjang Muda dan Penyelia ke bawah. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf c dan ayat (4) huruf a. PNS . untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) huruf d dan huruf e. 2. dan fungsional umum golongan ruang IV/e ke bawah.

untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a. . untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). (2) Pejabat struktural eselon I menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi: a. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). atau tugas di luar negeri. struktural eselon II. b. fungsional tertentu jenjang Madya. dan struktural eselon III. PNS . PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan pada Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri. dan fungsional umum golongan ruang IV/a sampai dengan golongan ruang IV/c di lingkungannya. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan struktural eselon II. dan fungsional umum golongan ruang III/b sampai dengan III/d di lingkungannya.36 f.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . dan huruf e. g. 2. ayat (3). dan jabatan fungsional umum golongan ruang IV/a sampai dengan golongan ruang IV/c. huruf d. . huruf d. PNS yang menduduki jabatan: 1. dan PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan pada negara lain atau badan internasional. dan c. fungsional tertentu jenjang Muda dan Penyelia. dan ayat (4) huruf a. jabatan fungsional tertentu jenjang Madya. . dan huruf e.

Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. fungsional tertentu jenjang Pertama dan Pelaksana Lanjutan. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. untuk jenis hukuman dalam sebagaimana dimaksud c.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . dan 2. jabatan fungsional dan jenis eselon Penyelia. dan jabatan fungsional umum golongan ruang III/b sampai dengan golongan ruang III/d. jabatan fungsional tertentu jenjang Muda dan Penyelia. struktural eselon III. (3) Pejabat struktural eselon II menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi: a. dan fungsional umum golongan ruang III/c dan golongan ruang III/d di lingkungannya. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). PNS yang menduduki jabatan: 1. dan fungsional umum golongan ruang II/c sampai dengan golongan ruang III/b di lingkungannya. dan c. fungsional tertentu jenjang Muda dan Penyelia. . PNS . struktural eselon IV. . untuk jabatan fungsional umum golongan ruang III/c golongan hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). .37 PNS yang diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan struktural eselon III. PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan di lingkungannya struktural tertentu dan jenjang yang III. disiplin b. Muda ruang menduduki jabatan dan III/d.

untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. jabatan fungsional tertentu jenjang Pertama dan Pelaksana Lanjutan. menetapkan (4) Pejabat struktural eselon III penjatuhan hukuman disiplin bagi: a. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). fungsional tertentu jenjang Pelaksana dan Pelaksana Pemula.38 c. PNS yang menduduki jabatan: 1. dan jabatan fungsional umum golongan ruang II/c sampai dengan golongan ruang III/b. . PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan struktural eselon IV. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). dan fungsional umum golongan ruang II/c sampai dengan golongan ruang III/b di lingkungannya. PNS yang diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan struktural eselon IV. fungsional tertentu jenjang Pertama dan Pelaksana Lanjutan. . b. . 2. PNS . jabatan fungsional tertentu jenjang Pertama dan Pelaksana Lanjutan. dan fungsional umum golongan ruang II/a dan golongan ruang II/b di lingkungannya.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . dan struktural eselon V. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. struktural eselon IV. dan jabatan fungsional umum golongan ruang II/c sampai dengan golongan ruang III/b. dan c.

struktural eselon V.39 PNS yang diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan struktural eselon V. dan 2.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . dan fungsional umum golongan ruang II/a dan golongan ruang II/b di lingkungannya. jabatan fungsional tertentu jenjang Pelaksana dan Pelaksana Pemula. fungsional umum golongan ruang I/a sampai dengan golongan ruang I/d. PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan di lingkungannya. PNS yang menduduki jabatan: 1. jabatan fungsional tertentu jenjang Pelaksana dan Pelaksana Pemula. fungsional tertentu jenjang Pelaksana dan Pelaksana Pemula. dan jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat c. untuk (2). b. . dan jabatan fungsional umum golongan ruang II/a dan golongan ruang II/b. c. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. dan jabatan fungsional umum golongan ruang II/a dan golongan ruang II/b. . untuk hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. yang menduduki jabatan struktural eselon V. . (5) Pejabat struktural eselon IV dan pejabat yang setara menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi: a. PNS .

Pasal 19 Gubernur a. huruf c. dan b. . dan b. selaku wakil Pemerintah menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi: PNS Daerah Kabupaten/Kota dan PNS Daerah Kabupaten/Kota yang dipekerjakan atau diperbantukan pada Kabupaten/Kota lain dalam satu provinsi yang menduduki jabatan Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota. PNS . umum golongan ruang I/a sampai dengan golongan ruang I/d di lingkungannya.40 PNS yang diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan fungsional umum golongan ruang I/a sampai dengan golongan ruang I/d. jabatan jenis fungsional umum golongan ruang I/a sampai golongan disiplin ruang untuk hukuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). (6) Pejabat struktural eselon V dan pejabat yang setara menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi: a. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan di lingkungannya dengan yang menduduki I/d. PNS yang menduduki jabatan fungsional c. . huruf d. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. dan huruf e.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . . untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) huruf b.

dan ayat (4) huruf a. fungsional tertentu jenjang Utama di lingkungannya. 5. PNS Daerah Kabupaten/Kota yang menduduki jabatan: 1. fungsional . dan ayat (4) huruf a.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). b. 3. ayat (3).41 PNS Daerah Kabupaten/Kota dari provinsi lain yang dipekerjakan atau diperbantukan pada Kabupaten/Kota di provinsinya yang menduduki jabatan Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota. . . Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota di lingkungannya. fungsional umum golongan ruang IV/d dan golongan ruang IV/e. 2. ayat (3). untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) huruf b dan huruf c. ayat (3). dan ayat (4). untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). ayat (3). struktural eselon II dan fungsional tertentu jenjang Madya dan Penyelia di lingkungannya. Pasal 20 (1) Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kota menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi: a. huruf d. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). 4. dan huruf e. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). . dan ayat (4).

PNS . 6. 3. fungsional umum golongan ruang IV/d dan golongan ruang IV/e. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dan ayat (4) huruf b dan huruf c. 2. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4). . Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota. PNS yang dipekerjakan di lingkungannya yang menduduki jabatan: 1. . untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). b. 5. huruf d. huruf d. dan struktural eselon II ke bawah dan fungsional tertentu jenjang Madya dan Penyelia ke bawah. . struktural eselon III ke bawah dan fungsional tertentu jenjang Muda dan Penyelia ke bawah di lingkungannya. 4. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a. dan huruf e. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dan ayat (4) huruf b dan huruf c. dan huruf e. dan fungsional umum golongan ruang III/d ke bawah di lingkungannya. 7. c. fungsional tertentu jenjang Utama.42 fungsional umum golongan ruang IV/a sampai dengan golongan ruang IV/c di lingkungannya.

huruf b. 3. 4. dan ayat (4) huruf a.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . dan huruf c. dan ayat (4) huruf a. huruf b. 2. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a. fungsional umum golongan ruang IV/a sampai untuk dengan jenis golongan ruang IV/e. fungsional umum golongan ruang III/c dan golongan ruang III/d. ayat (3). untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). dan ayat (4) huruf a. struktural eselon III ke bawah dan fungsional tertentu jenjang Muda dan Penyelia ke bawah. ayat (3). untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). huruf b. dan huruf c. hukuman disiplin c. ayat (3). fungsional tertentu jenjang Utama. untuk hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). . ayat (3). d. dan 6. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a.43 PNS yang diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan: 1. PNS . Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota. . dan huruf c. . 5. struktural tertentu eselon jenjang II dan fungsional jenis Madya. dan ayat (4) huruf a.

(2) Sekretaris . e. 2. f. ayat (3). PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan pada negara lain atau badan internasional. yang dipekerjakan ke luar instansi induknya yang menduduki jabatan: struktural eselon II ke bawah dan fungsional tertentu jenjang Utama ke bawah untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a. . untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). huruf d. PNS yang diperbantukan ke luar instansi induknya yang menduduki jabatan struktural eselon II ke bawah dan jabatan fungsional tertentu jenjang Utama ke bawah serta jabatan fungsional umum golongan IV/e ke bawah. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) huruf d dan huruf e. . dan ayat (4) huruf a. huruf d. . PNS 1. atau tugas di luar negeri. dan huruf e.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA .44 d. dan huruf e. PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan pada Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri. dan g. dan huruf e. dan fungsional umum golongan ruang IV/e ke bawah untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a. huruf d. huruf d. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) huruf a. dan huruf e.

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 45 (2) Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota, menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi: a. PNS yang menduduki jabatan: 1. struktural eselon II di lingkungannya, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2); struktural eselon III, fungsional tertentu jenjang Muda dan Penyelia, dan fungsional umum golongan ruang III/c dan golongan ruang III/d di lingkungannya, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2); dan struktural eselon IV, fungsional tertentu jenjang Pertama dan Pelaksana Lanjutan, dan fungsional umum golongan ruang II/c sampai dengan golongan ruang III/b di lingkungannya, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b;

2.

3.

b.

PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan struktural eselon III, jabatan fungsional tertentu jenjang Muda dan Penyelia, dan jabatan fungsional umum golongan ruang III/c dan golongan ruang III/d, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2); dan PNS yang diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan struktural eselon IV, jabatan fungsional tertentu jenjang Pertama dan Pelaksana Lanjutan, dan jabatan fungsional umum golongan ruang II/c sampai dengan golongan ruang III/b, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. (3) Pejabat . . .

c.

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 46 Pejabat struktural eselon II menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi: a. PNS yang menduduki jabatan: 1. struktural eselon III, fungsional tertentu jenjang Muda dan Penyelia, dan fungsional umum golongan ruang III/c dan golongan ruang III/d di lingkungannya, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2); dan 2. struktural eselon IV, fungsional tertentu jenjang Pertama dan Pelaksana Lanjutan, dan fungsional umum golongan ruang II/c sampai dengan golongan ruang III/b di lingkungannya, disiplin b. untuk jenis hukuman dalam sebagaimana dimaksud

(3)

Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b; PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan di lingkungannya struktural tertentu dan jenjang yang III, Muda ruang menduduki jabatan dan III/d, jabatan fungsional dan jenis eselon

Penyelia, untuk

jabatan fungsional umum golongan ruang III/c golongan hukuman c. disiplin sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 7 ayat (2); dan PNS yang diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan struktural eselon IV, jabatan fungsional tertentu jenjang Pertama dan Pelaksana Lanjutan, dan jabatan fungsional umum golongan ruang II/c sampai dengan golongan ruang III/b, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b.

(4) Pejabat . . .

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 47 (4) Pejabat struktural eselon III penjatuhan hukuman disiplin bagi: a. PNS yang menduduki jabatan: 1. struktural eselon IV, fungsional tertentu jenjang Pertama dan Pelaksana Lanjutan, dan fungsional umum golongan ruang II/c sampai dengan golongan ruang III/b di lingkungannya, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2); dan struktural eselon V, fungsional tertentu jenjang Pelaksana dan Pelaksana Pemula, dan fungsional umum golongan ruang II/a dan golongan ruang II/b di lingkungannya, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b; yang IV, menduduki jabatan dan jabatan fungsional Pelaksana umum menetapkan

2.

b.

PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan di lingkungannya struktural tertentu Lanjutan, jenjang dan eselon

Pertama jabatan

fungsional

golongan ruang II/c sampai dengan golongan ruang III/b, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2); dan c. PNS yang diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan struktural eselon V, jabatan fungsional tertentu jenjang Pelaksana dan Pelaksana Pemula, dan jabatan fungsional umum golongan ruang II/a dan golongan ruang II/b, untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. (5) Pejabat . . .

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . dan fungsional umum golongan ruang I/a sampai dengan golongan ruang I/d. b. struktural eselon V. dan jabatan fungsional umum golongan ruang II/a dan golongan ruang II/b. dan PNS yang diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan fungsional umum golongan ruang I/a sampai dengan golongan ruang I/d. dan fungsional umum golongan ruang II/a dan golongan ruang II/b di lingkungannya. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). . untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. PNS . . fungsional tertentu jenjang Pelaksana dan Pelaksana Pemula. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). fungsional tertentu jenjang Pelaksana dan Pelaksana Pemula. untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). PNS yang menduduki jabatan fungsional umum golongan ruang I/a sampai dengan golongan ruang I/d di lingkungannya. . PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan di lingkungannya yang menduduki jabatan struktural eselon V.48 Pejabat struktural eselon IV dan pejabat yang setara menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi: a. (5) 2. dan b. c. untuk hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b. (6) Pejabat struktural eselon V dan pejabat yang setara menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi: a. PNS yang menduduki jabatan: 1.

Bagian Kelima . Pasal 21 (1) Pejabat yang berwenang menghukum wajib menjatuhkan hukuman disiplin kepada PNS yang melakukan pelanggaran disiplin. (2) Apabila Pejabat yang berwenang pada ayat menghukum (1) tidak sebagaimana dimaksud menjatuhkan hukuman disiplin kepada PNS yang melakukan pelanggaran disiplin. Atasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). juga menjatuhkan hukuman disiplin terhadap PNS yang melakukan pelanggaran disiplin. (3) Hukuman disiplin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sama dengan jenis hukuman disiplin yang seharusnya (4) dijatuhkan kepada PNS yang melakukan pelanggaran disiplin.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Pasal 22 Apabila tidak terdapat pejabat yang berwenang menghukum. . pejabat tersebut dijatuhi hukuman disiplin oleh atasannya. jabatan jenis fungsional umum golongan ruang I/a sampai golongan disiplin ruang untuk hukuman sebagaimana dimaksud b. . maka kewenangan menjatuhkan hukuman disiplin menjadi kewenangan pejabat yang lebih tinggi.49 PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan di lingkungannya dengan yang menduduki I/d. . dalam Pasal 7 ayat (2).

50 Bagian Kelima Tata Cara Pemanggilan. (4) Apabila pada tanggal pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) PNS yang bersangkutan tidak hadir juga maka pejabat yang berwenang menghukum menjatuhkan hukuman disiplin berdasarkan alat bukti dan keterangan yang ada tanpa dilakukan pemeriksaan. . . dan Penyampaian Keputusan Hukuman Disiplin Pasal 23 (1) PNS yang diduga melakukan pelanggaran disiplin dipanggil secara tertulis oleh atasan langsung untuk dilakukan pemeriksaan. Pasal 24 (1) Sebelum PNS dijatuhi hukuman disiplin setiap atasan langsung wajib memeriksa terlebih dahulu PNS yang diduga melakukan pelanggaran disiplin. yang maka bersangkutan tidak dilakukan pemanggilan kedua paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal seharusnya yang bersangkutan diperiksa pada pemanggilan pertama. Penjatuhan. (2) Pemanggilan kepada PNS yang diduga melakukan pelanggaran disiplin dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebelum tanggal pemeriksaan. (3) Apabila pada tanggal diperiksa yang seharusnya hadir.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . (2) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara tertutup dan hasilnya dituangkan dalam bentuk berita acara pemeriksaan. . Pemeriksaan. (3) Apabila .

hukuman disiplin (3) tersebut merupakan kewenangan: atasan langsung yang bersangkutan maka atasan langsung tersebut wajib menjatuhkan hukuman disiplin. unsur pengawasan. (3) Tim Pemeriksa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk oleh Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat lain yang ditunjuk. b.51 Apabila menurut hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kewenangan kepada untuk PNS menjatuhkan a.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . atasan langsung. pejabat yang lebih tinggi maka atasan langsung tersebut wajib melaporkan secara hierarki disertai berita acara pemeriksaan. dan unsur kepegawaian atau pejabat lain yang ditunjuk. Pasal 26 Apabila diperlukan. Pasal 27 . . . Pasal 25 (1) Khusus untuk pelanggaran disiplin yang ancaman hukumannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) dapat dibentuk Tim Pemeriksa. Tim Pemeriksa atau pejabat yang berwenang menghukum dapat meminta keterangan dari orang lain. (2) Tim Pemeriksa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari atasan langsung. .

(3) PNS yang dibebaskan sementara dari tugas jabatannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tetap diberikan hak-hak kepegawaiannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Pasal 29 . PNS yang diduga melakukan akan pelanggaran dijatuhi disiplin dan kemungkinan hukuman disiplin tingkat berat. maka pembebasan sementara dari jabatannya dilakukan oleh pejabat yang lebih tinggi. Pasal 28 (1) Berita acara pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) harus ditandatangani oleh pejabat yang memeriksa dan PNS yang diperiksa. berita acara pemeriksaan tersebut tetap dijadikan sebagai dasar untuk menjatuhkan hukuman disiplin. (2) Pembebasan sebagaimana disiplin. sementara dimaksud dari pada tugas ayat jabatannya (1) berlaku sampai dengan ditetapkannya keputusan hukuman .52 Pasal 27 (1) Dalam rangka kelancaran pemeriksaan. (3) PNS yang diperiksa berhak mendapat foto kopi berita acara pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Dalam hal PNS yang diperiksa tidak bersedia menandatangani berita acara pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Dalam hal atasan langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ada. . . dapat dibebaskan sementara dari tugas jabatannya oleh atasan langsung sejak yang bersangkutan diperiksa.

(3) (4) PNS tidak dapat dijatuhi hukuman disiplin dua kali atau lebih untuk satu pelanggaran disiplin. satu jenis setelah disiplin dapat mempertimbangkan pelanggaran yang dilakukan. . (2) Dalam keputusan hukuman disiplin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disebutkan pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh PNS yang bersangkutan. . kemudian melakukan pelanggaran disiplin yang sifatnya sama. Pimpinan instansi atau Kepala mengusulkan pejabat induknya penjatuhan pembina kepada kepegawaian disertai berita pemeriksaan. Pasal 30 (1) PNS yang berdasarkan hasil pemeriksaan ternyata melakukan terhadapnya hukuman (2) PNS yang beberapa hanya disiplin pernah pelanggaran dijatuhi yang dijatuhi terberat hukuman disiplin. kepadanya dijatuhi jenis hukuman disiplin yang lebih berat dari hukuman disiplin terakhir yang pernah dijatuhkan. Pasal 31 . Dalam hukuman Perwakilan disiplin instansi hal PNS di disiplin yang yang dipekerjakan akan bukan atau dijatuhi menjadi hukuman acara diperbantukan lingkungannya kewenangannya. .53 Pasal 29 (1) Berdasarkan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dan Pasal 25 pejabat yang berwenang menghukum menjatuhkan hukuman disiplin.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA .

Presiden. . ayat (3). dan huruf c. Gubernur . . BAB IV UPAYA ADMINISTRATIF (2) (3) (4) Pasal 32 Upaya administratif terdiri dari keberatan dan banding administratif.54 Pasal 31 (1) Setiap penjatuhan hukuman disiplin ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang menghukum. Pasal 33 Hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh: a. huruf b. dan ayat (4) huruf a. b. . Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertutup oleh pejabat yang berwenang menghukum atau pejabat lain yang ditunjuk kepada PNS yang bersangkutan serta tembusannya disampaikan kepada pejabat instansi terkait.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Pejabat Pembina Kepegawaian untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). Penyampaian keputusan hukuman disiplin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak keputusan ditetapkan. keputusan dikirim kepada yang bersangkutan. Dalam hal PNS yang dijatuhi hukuman disiplin tidak hadir pada saat penyampaian keputusan hukuman disiplin. c.

dan Pejabat struktural eselon II lingkungan sebutan lain instansi yang vertikal berada di ke bawah di dan Kantor dan Perwakilan Provinsi dan unit setara dengan bawah bertanggung jawab kepada Pejabat Pembina Kepegawaian. (2) Hukuman . b. dan Pejabat yang berwenang menghukum untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). e. Pejabat struktural eselon II ke bawah di lingkungan instansi vertikal dan unit dengan sebutan lain yang atasan langsungnya Pejabat struktural d. Pasal 34 (1) Hukuman disiplin yang dapat diajukan keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 yaitu jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a dan huruf b yang dijatuhkan oleh: a. . . Pejabat struktural eselon I dan pejabat yang setara ke bawah. tidak dapat diajukan upaya administratif.55 Gubernur selaku wakil pemerintah untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) huruf b dan huruf c.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . d. c. eselon I yang bukan Pejabat Pembina Kepegawaian. Sekretaris Daerah/Pejabat struktural eselon II Kabupaten/Kota ke bawah/Pejabat yang setara ke bawah. Kepala Perwakilan Republik Indonesia. c. .

Pasal 36 (1) Pejabat yang berwenang menghukum sebagaimana dimaksud memberikan dalam Pasal 35 atas ayat (1). Pejabat Pembina disiplin Kepegawaian untuk jenis hukuman b. Pasal 35 (1) Keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). . (2) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari. . . harus yang tanggapan keberatan diajukan oleh PNS yang bersangkutan. (2) Tanggapan .56 Hukuman disiplin yang dapat diajukan banding administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 yaitu hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh: a. terhitung mulai tanggal yang bersangkutan menerima keputusan hukuman disiplin. dan Gubernur selaku wakil pemerintah untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) huruf d dan huruf e.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . diajukan secara tertulis kepada atasan pejabat memuat yang berwenang keberatan pejabat kepada menghukum dan yang dengan alasan tembusannya berwenang disampaikan menghukum. sebagaimana dimaksud (2) dalam Pasal 7 ayat (4) huruf d dan huruf e.

57 Tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis kepada atasan Pejabat yang berwenang menghukum. Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pejabat yang berwenang menghukum tidak memberikan tanggapan atas keberatan maka atasan (5) pejabat yang berwenang menghukum mengambil keputusan berdasarkan data yang ada. (2) Pasal 37 (1) Atasan Pejabat yang berwenang menghukum dapat memperkuat. memperberat. peringanan. Atasan pejabat yang berwenang menghukum dapat memanggil dan/atau meminta keterangan dari pejabat yang berwenang menghukum. memperingan. hukuman pada ayat Atasan (1) pemberatan. disiplin yang ditetapkan atau dengan sebagaimana berwenang Pejabat (3) Keputusan .PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . PNS yang dijatuhi hukuman disiplin. . dan/atau pihak lain yang dianggap perlu. atau membatalkan hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh pejabat yang berwenang menghukum. pembatalan dimaksud keputusan menghukum. dalam jangka waktu 6 (enam) hari kerja terhitung mulai tanggal yang bersangkutan menerima tembusan surat keberatan. (2) Penguatan. (3) Atasan pejabat yang berwenang menghukum wajib mengambil keputusan atas keberatan yang diajukan oleh PNS yang bersangkutan dalam jangka waktu 21 (dua puluh satu) hari kerja terhitung mulai tanggal (4) yang bersangkutan menerima surat keberatan. . .

. tidak tetap banding dibayarkan administratif sepanjang yang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 maka bersangkutan tetap melaksanakan tugas. mengajukan banding administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 maka pembayaran gajinya dihentikan terhitung mulai bulan berikutnya sejak hari ke 15 (lima belas) keputusan hukuman disiplin diterima. dapat mengajukan banding administratif kepada Badan Pertimbangan Kepegawaian. . Pasal 39 (1) Dalam hal PNS yang dijatuhi hukuman disiplin: a.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA .58 Keputusan Atasan (3) Pejabat yang berwenang menghukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat final dan mengikat. . (4) Apabila dalam waktu lebih 21 (dua puluh satu) hari kerja Atasan Pejabat yang berwenang menghukum tidak mengambil keputusan atas keberatan maka keputusan pejabat yang berwenang menghukum batal demi hukum. mengajukan gajinya b. (2) Ketentuan mengenai banding administratif diatur lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Badan Pertimbangan Kepegawaian. Pasal 38 (1) PNS yang dijatuhi hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2). (2) Penentuan .

banding administratif. (2) Apabila . . diberhentikan dengan hormat dan diberikan hakhak kepegawaiannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 40 PNS yang meninggal dunia sebelum ada keputusan atas upaya administratif. diberhentikan dengan hormat sebagai PNS dan diberikan hak-hak kepegawaiannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.59 Penentuan dapat atau tidaknya PNS melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a menjadi kewenangan Pejabat Pembina Kepegawaian dengan mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan kerja.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . (3) Dalam hal PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) huruf b meninggal dunia. PNS yang mencapai batas usia pensiun sebelum ada keputusan atas: a. (2) (1) (2) b. dianggap telah selesai menjalani hukuman disiplin dan diberhentikan dengan hormat sebagai PNS serta diberikan hak-hak kepegawaiannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. keberatan. dihentikan pembayaran gajinya sampai dengan ditetapkannya keputusan banding administratif. . tidak diberikan kenaikan pangkat dan/atau kenaikan gaji berkala sampai dengan ditetapkannya keputusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Pasal 41 (1) PNS yang mengajukan keberatan kepada atasan Pejabat yang berwenang menghukum atau banding administratif kepada Badan Pertimbangan Kepegawaian. .

BAB V BERLAKUNYA HUKUMAN DISIPLIN DAN PENDOKUMENTASIAN KEPUTUSAN HUKUMAN DISIPLIN Bagian Kesatu Berlakunya Hukuman Disiplin Pasal 43 Hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh: a. Pejabat Pembina Kepegawaian untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). b.60 keputusan dapat (2) Apabila pejabat yang berwenang PNS yang kenaikan menghukum bersangkutan dibatalkan maka dipertimbangkan pangkat dan/atau kenaikan gaji berkala sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Gubernur . c. . huruf b. ayat (3). . Pasal 42 PNS yang sedang dalam proses pemeriksaan karena diduga melakukan pelanggaran disiplin atau sedang mengajukan upaya administratif tidak dapat disetujui untuk pindah instansi. dan ayat (4) huruf a. dan huruf c. .PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Presiden.

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . dan Pejabat yang berwenang menghukum untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). (2) Hukuman . d. . Pasal 44 (1) Hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh pejabat selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43. mulai berlaku sejak tanggal keputusan ditetapkan. apabila tidak diajukan keberatan maka mulai berlaku pada hari ke 15 (lima belas) setelah keputusan hukuman disiplin diterima.61 Gubernur selaku wakil pemerintah untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) huruf b dan huruf c. . Kepala Perwakilan Republik Indonesia. (2) Hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh pejabat selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43. c. e. apabila diajukan keberatan maka mulai berlaku pada tanggal ditetapkannya keputusan atas keberatan. . Pasal 45 (1) Hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian atau Gubernur selaku wakil pemerintah untuk jenis hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) huruf d dan huruf e. apabila tidak diajukan banding administratif maka mulai berlaku pada hari ke 15 (lima belas) setelah keputusan hukuman disiplin diterima.

.62 Hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian atau Gubernur selaku wakil pemerintah d dan untuk e. . . BAB VI . keputusan salah satu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan pembinaan PNS yang bersangkutan. Bagian Kedua Pendokumentasian Keputusan Hukuman Disiplin Pasal 47 (1) Keputusan hukuman oleh disiplin pejabat hukuman bahan penilaian wajib pengelola disiplin dalam didokumentasikan (2) Dokumen sebagai kepegawaian di instansi yang bersangkutan. (2) Pasal 46 Apabila PNS yang dijatuhi hukuman disiplin tidak hadir pada waktu penyampaian keputusan hukuman disiplin maka hukuman disiplin berlaku pada hari ke 15 (lima belas) sejak tanggal yang ditentukan untuk penyampaian keputusan hukuman disiplin.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . jenis apabila hukuman diajukan disiplin banding sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) huruf huruf administratif maka mulai berlaku pada tanggal ditetapkannya keputusan banding administratif.

Pasal 50 . . BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 49 Ketentuan pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini diatur lebih lanjut oleh Kepala Badan Kepegawaian Negara. (4) Apabila terjadi pelanggaran disiplin sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini dan belum dilakukan pemeriksaan maka berlaku ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini. (3) Apabila terjadi pelanggaran disiplin dan telah dilakukan tetap pemeriksaan dan proses sebelum berlakunya berlaku Peraturan Pemerintah ini maka hasil pemeriksaan berlaku selanjutnya ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . . .63 BAB VI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 48 (1) Hukuman disiplin yang telah dijatuhkan sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini dan sedang dijalani oleh PNS yang bersangkutan dinyatakan tetap berlaku. (2) Keberatan yang diajukan kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum Badan atau banding Peraturan dengan 1980 administratif Kepegawaian Pemerintah Peraturan kepada sebelum ini Pertimbangan sesuai 30 berlakunya Nomor diselesaikan Pemerintah Tahun tentang Peraturan Disiplin PNS beserta peraturan pelaksanaannya.

2. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 51 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. . dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1980 Nomor 50. Ketentuan Pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1979 tentang Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1979 dua Nomor kali 47. Ketentuan pelaksanaan mengenai disiplin PNS yang ada sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini dinyatakan bertentangan tetap dan berlaku belum sepanjang tidak diubah berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. 3. . Agar . .PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Tambahan terakhir Lembaran dengan Negara Republik Indonesia Nomor 3149) sebagaimana telah diubah Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 141). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3176).64 Pasal 50 Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku: 1.

ttd. Peraturan dalam Lembaran Agar setiap memerintahkan ini dengan Republik Negara pengundangan penempatannya Indonesia. ttd... PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 74 Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT NEGARA RI Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan Bidang Politik dan Kesejahteraan Rakyat. DR.6 Juni 2010. Pemerintah Ditetapkan di Jakarta pada tanggal ... Wisnu Setiawan .PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA .65 orang mengetahuinya... SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 6 Juni 2010 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. H. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

bersikap disiplin. dan Pemerintah. profesional. maka PNS sebagai unsur aparatur negara dituntut untuk setia kepada Pancasila. dan akuntabel dalam melaksanakan tugas. Namun demikian peraturan pemerintah tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL I. Negara Kesatuan Republik Indonesia. pasal 30 UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas UndangUndang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian mengamanatkan ditetapkannya peraturan pemerintah mengenai disiplin PNS. jujur. karena tidak sesuai lagi dengan situasi dan kondisi saat ini. Selama ini ketentuan mengenai disiplin PNS telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Untuk menumbuhkan sikap disiplin PNS. transparan. dan bermoral sebagai penyelenggara pemerintahan yang menerapkan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik (good governance). adil. Untuk mewujudkan PNS yang handal. mutlak diperlukan peraturan disiplin PNS yang dapat dijadikan pedoman dalam menegakkan disiplin. profesional. Peraturan . . . Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan bermoral tersebut. . sehingga dapat menjamin terpeliharanya tata tertib dan kelancaran pelaksanaan tugas serta dapat mendorong PNS untuk lebih produktif berdasarkan sistem karier dan sistem prestasi kerja. UMUM Dalam rangka mewujudkan PNS yang handal.

sehingga dapat dihindari terjadinya kesewenang-wenangan dalam penjatuhan hukuman disiplin. Pasal 2 Cukup jelas. . dengan mempertimbangkan latar belakang dan dampak dari pelanggaran yang dilakukan. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. atau berat sesuai dengan berat ringannya pelanggaran yang dilakukan oleh PNS yang bersangkutan. Kewenangan untuk menetapkan keputusan pemberhentian bagi PNS yang melakukan pelanggaran disiplin dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. agar yang bersangkutan mempunyai sikap menyesal dan berusaha tidak mengulangi dan memperbaiki diri pada masa yang akan datang. sedang. Dalam Peraturan Pemerintah ini secara tegas disebutkan jenis hukuman disiplin yang dapat dijatuhkan terhadap suatu pelanggaran disiplin. larangan.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -2Peraturan Pemerintah tentang disiplin PNS ini antara lain memuat kewajiban. . bagi PNS yang dijatuhi hukuman disiplin diberikan hak untuk membela diri melalui upaya administratif. Hal ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi pejabat yang berwenang kewenangan menghukum bagi pejabat serta yang memberikan berwenang kepastian menghukum dalam telah menjatuhkan hukuman disiplin. dan hukuman disiplin yang dapat dijatuhkan kepada PNS yang telah terbukti melakukan pelanggaran. Penjatuhan hukuman disiplin dimaksudkan untuk membina PNS yang telah melakukan pelanggaran. Penjatuhan hukuman berupa jenis hukuman disiplin ringan. . Selain hal tersebut di atas. Pasal 3 . Demikian juga dengan batasan ditentukan dalam Peraturan Pemerintah ini. II.

peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian atau peraturan yang berkaitan dengan kepegawaian. dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. standar prosedur kerja (Standar Operating Procedure atau SOP). Angka 2 Cukup jelas. Angka 4 Yang dimaksud dengan “peraturan perundang-undangan” adalah peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan. c. Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pemerintah” adalah setiap PNS di samping taat juga berkewajiban melaksanakan ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. . Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. perintah kedinasan. b.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -3Pasal 3 Angka 1 Cukup jelas. . kebijakan negara dan Pemerintah serta tidak mempermasalahkan dan/atau menentang Pancasila. tata tertib di lingkungan kantor. Angka 3 Yang dimaksud dengan “setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. d. Angka 5 Yang dimaksud dengan “tugas kedinasan” adalah tugas yang diberikan oleh atasan yang berwenang dan berhubungan dengan: a. . atau e. Angka 6 . peraturan kedinasan.

Angka 7 Cukup jelas. Angka 13 . Angka 12 Yang dimaksud dengan “sasaran kerja pegawai” adalah rencana kerja dan target yang akan dicapai oleh seorang pegawai yang disusun dan disepakati bersama antara pegawai dengan atasan pegawai. Angka 11 Yang dimaksud dengan kewajiban untuk “masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja” adalah setiap PNS wajib datang. . dan pulang sesuai ketentuan jam kerja serta tidak berada di tempat umum bukan karena dinas. . Angka 9 Cukup jelas. Keterlambatan masuk kerja dan/atau pulang cepat dihitung secara kumulatif dan dikonversi 7 ½ (tujuh setengah) jam sama dengan 1 (satu) hari tidak masuk kerja. melaksanakan tugas.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -4Angka 6 Cukup jelas. Angka 8 Yang dimaksud dengan “menurut sifatnya” dan “menurut perintah” adalah didasarkan pada peraturan perundangundangan. perintah kedinasan. Angka 10 Cukup jelas. Apabila berhalangan hadir wajib memberitahukan kepada pejabat yang berwenang. dan/atau kepatutan. .

diklat. antara lain memberi kesempatan mengikuti rapat. Pasal 4 Angka 1 Yang dimaksud dengan “menyalahgunakan wewenang” adalah menggunakan kewenangannya untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu untuk kepentingan pribadi atau kepentingan pihak lain yang tidak sesuai dengan tujuan pemberian kewenangan tersebut. Angka 16 Yang dimaksud dengan “memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan karier” adalah memberi kesempatan kepada bawahan untuk meningkatkan kemampuan dalam rangka pengembangan karier. Angka 14 Yang dimaksud dengan “memberikan pelayanan sebaikbaiknya kepada masyarakat” adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat dan yang berkualitas.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -5Angka 13 Cukup jelas. terukur. dan pendidikan formal lanjutan. Angka 17 Cukup jelas. sesuai cepat. Angka 3 . dengan perundang-undangan. Angka 15 Cukup jelas. . Angka 2 Contoh: Seorang PNS yang tidak memiliki wewenang di bidang perizinan membantu mengurus perizinan bagi orang lain dengan memperoleh imbalan. . mudah. seminar. peraturan terjangkau. .

atau benda lain yang dapat dipindahtangankan. dan prosedur yang ditetapkan. Angka 6 Cukup jelas. menyewakan. Angka 5 Yang dimaksud dengan “memiliki. Angka 9 Yang dimaksud dengan “bertindak sewenang-wenang” adalah setiap tindakan atasan kepada bawahan yang tidak sesuai dengan peraturan kedinasan seperti tidak memberikan tugas atau pekerjaan kepada bawahan. Angka 7 Yang dimaksud dengan “jabatan” adalah jabatan struktural dan jabatan fungsional tertentu. dokumen. Angka 10 . atau meminjamkan barangbarang baik bergerak atau tidak bergerak. membeli. padahal diketahui dan patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya. standar. . menggadaikan. dokumen atau surat berharga milik negara secara tidak sah” adalah perbuatan yang dilakukan tidak atas dasar ketentuan termasuk tata cara maupun kualifikasi barang. Angka 8 PNS dilarang menerima hadiah. . menjual. atau memberikan nilai hasil pekerjaan (Daftar Penilaian Pekerjaan Pegawai) tidak berdasarkan norma. Angka 4 Cukup jelas.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -6Angka 3 Cukup jelas. .

Huruf d .PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -7Angka 10 Cukup jelas. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. . kendaraan. sinkronisasi. . Angka 11 Yang dimaksud dengan “menghalangi berjalannya tugas kedinasan” adalah perbuatan yang mengakibatkan tugas kedinasan menjadi tidak lancar atau tidak mencapai hasil yang harus dipenuhi. Huruf c Cukup jelas. Dewan Perwakilan Daerah. kedinasan. seragam dinas. kendaraan dinas. dan lain-lain. Huruf b PNS sebagai peserta kampanye hadir untuk mendengar. misi. atau media lain yang bergambar partai politik dan/atau calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat. dan integrasi dalam tugas . Yang dimaksud dengan “menggunakan atribut partai” adalah dengan menggunakan dan/atau memanfaatkan pakaian. dan/atau calon Presiden/Wakil Presiden dalam masa kampanye. Angka 12 Huruf a Cukup jelas. Yang dimaksud dengan “menggunakan atribut PNS” adalah seperti menggunakan seragam Korpri. Contoh: PNS yang tidak memberikan dukungan dalam hal diperlukan koordinasi. menyimak visi. dan program yang ditawarkan peserta pemilu. tanpa menggunakan atribut Partai atau PNS.

Huruf d Cukup jelas. penyandang dana. Huruf b Cukup jelas. Pasal 7 . Angka 13 Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. . tenaga ahli. petugas kampanye/tim sukses. . Angka 15 Huruf a Yang dimaksud dengan seperti “terlibat PNS dalam bertindak kegiatan sebagai kampanye” adalah pelaksana kampanye. dan lainlain. Angka 14 Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas. pencari dana. . Pasal 6 PNS yang melanggar ketentuan disiplin PNS dijatuhi hukuman disiplin dan apabila perbuatan tersebut terdapat unsur pidana maka terhadap PNS tersebut tidak tertutup kemungkinan dapat dikenakan hukuman pidana.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -8Huruf d Cukup jelas.

dinyatakan secara tegas sebagai hukuman disiplin. Ayat (4) . .PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -9Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. disiplin yang berupa teguran PNS tertulis yang dinyatakan dan disampaikan secara tertulis oleh pejabat berwenang menghukum kepada melakukan pelanggaran. bukan hukuman disiplin. Huruf c Cukup jelas. . Apabila seorang atasan menegur bawahannya tetapi tidak Huruf b Hukuman yang Huruf c Hukuman disiplin yang berupa pernyataan tidak puas secara tertulis dinyatakan dan disampaikan secara tertulis oleh pejabat yang berwenang menghukum kepada PNS yang melakukan pelanggaran. Ayat (3) Huruf a Masa penundaan kenaikan gaji berkala tersebut dihitung penuh untuk kenaikan gaji berkala berikutnya. Ayat (2) Huruf a Hukuman disiplin yang berupa teguran lisan dinyatakan dan disampaikan secara lisan oleh pejabat yang berwenang menghukum kepada PNS yang melakukan pelanggaran disiplin. .

Angka 6 .PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Huruf c Yang dimaksud dengan “jabatan” adalah jabatan struktural dan fungsional tertentu. . Angka 5 Cukup jelas. . . Angka 4 Cukup jelas. Pasal 8 Angka 1 Cukup jelas. Huruf b Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah dengan memperhatikan jabatan yang lowong dan persyaratan jabatan. Angka 2 Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas.10 Ayat (4) Huruf a Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Angka 3 Cukup jelas.

Angka 14 Cukup jelas. Angka 8 Cukup jelas. . Angka 12 Cukup jelas. Pasal 9 Angka 1 Cukup jelas.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA .11 Angka 6 Cukup jelas. Angka 11 Jenis hukuman disiplin terhadap pelanggaran ketentuan ini mengacu antara lain pada peraturan perundang-undangan tentang pelayanan publik. Angka 10 Cukup jelas. . . Angka 2 . Angka 7 Cukup jelas. Angka 9 Yang dimaksud dengan “tanpa alasan yang sah” adalah bahwa alasan ketidakhadirannya tidak dapat diterima akal sehat. Angka 13 Cukup jelas.

. Angka 13 Cukup jelas. . . Angka 14 . Angka 5 Cukup jelas. Angka 10 Cukup jelas. Angka 8 Cukup jelas. Angka 7 Cukup jelas.12 Angka 2 Cukup jelas. Angka 6 Cukup jelas. Angka 11 Lihat penjelasan Pasal 8 angka 9.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Angka 3 Cukup jelas. Angka 12 Cukup jelas. Angka 4 Cukup jelas. Angka 9 Cukup jelas.

Pasal 10 Angka 1 Cukup jelas. Angka 5 Cukup jelas. Angka 4 Cukup jelas. Angka 7 Cukup jelas. Angka 17 Cukup jelas. . . . Angka 16 Cukup jelas. Angka 6 Cukup jelas. Angka 3 Cukup jelas.13 Angka 14 Lihat penjelasan Pasal 8 angka 11. Angka 8 Cukup jelas. Angka 2 Cukup jelas. Angka 15 Cukup jelas.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Angka 9 .

Angka 2 Cukup jelas. Pasal 12 Angka 1 Cukup jelas. Pasal 11 Angka 1 Cukup jelas. Angka 2 . Angka 13 Cukup jelas. Angka 11 Cukup jelas. . Angka 12 Lihat penjelasan Pasal 8 angka 11.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . . . Angka 10 Cukup jelas. Angka 3 Cukup jelas.14 Angka 9 Lihat penjelasan Pasal 8 angka 9. Angka 4 Lihat penjelasan Pasal 8 angka 11 Angka 5 Cukup jelas.

. . Angka 5 Cukup jelas. . Angka 3 Cukup jelas. Angka 8 Cukup jelas. Pasal 13 Angka 1 Cukup jelas. Angka 4 Lihat penjelasan Pasal 8 angka 11.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA .15 Angka 2 Cukup jelas. Angka 2 Cukup jelas. Angka 9 Cukup jelas. Angka 3 Cukup jelas. Angka 6 Cukup jelas. Angka 5 . Angka 7 Cukup jelas. Angka 4 Cukup jelas.

Angka 7 Cukup jelas. Angka 12 Cukup jelas.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Angka 13 Cukup jelas. . Contoh: . Angka 10 Cukup jelas. . Angka 6 Cukup jelas.16 Angka 5 Cukup jelas. Angka 8 Cukup jelas. Pasal 14 Yang dimaksud dengan “dihitung secara kumulatif sampai dengan akhir tahun berjalan” adalah bahwa pelanggaran yang dilakukan dihitung mulai bulan Januari sampai dengan bulan Desember tahun yang bersangkutan. Angka 9 Lihat penjelasan Pasal 8 angka 11. Angka 11 Cukup jelas. .

. Angka 2 . pada bulan September sampai dengan bulan Nopember 2011 yang bersangkutan tidak masuk kerja selama 5 (lima) hari. . Selanjutnya. Mahkamah Agung dan Panitera Mahkamah Konstitusi. Pasal 15 Ayat (1) Pejabat struktural eselon I yang diturunkan jabatannya menjadi pejabat struktural eselon II maka untuk pengangkatan dalam jabatan struktural eselon II ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK). maka yang bersangkutan dijatuhi hukuman disiplin berupa teguran tertulis. pada bulan Mei sampai dengan Juli 2011 yang bersangkutan tidak masuk kerja selama 2 (dua) hari. sehingga jumlahnya menjadi 7 (tujuh) hari.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Yang dimaksud dengan “jabatan lain yang pengangkatan dan pemberhentiannya menjadi wewenang Presiden” antara lain Panitera Ayat (2) Cukup jelas.17 - Contoh: Seorang PNS dari bulan Januari sampai dengan bulan Maret 2011 tidak masuk kerja selama 5 (lima) hari maka yang bersangkutan dijatuhi hukuman disiplin berupa teguran lisan. Dalam hal demikian. Dalam hal demikian. sehingga jumlahnya menjadi 12 (dua belas) hari. Selanjutnya. Pasal 16 Ayat (1) Huruf a Angka 1 Cukup jelas. . maka yang bersangkutan dijatuhi hukuman disiplin berupa pernyataan tidak puas secara tertulis.

. Angka 6 . seperti Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. c. Kepala Pusat. seperti Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak. Angka 3 Cukup jelas.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Angka 4 Yang dimaksud dengan “pejabat struktural eselon II” antara lain adalah: a. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Kepala Kantor Regional Badan Kepegawaian Negara. seperti Kepala Balai Besar.18 Angka 2 Cukup jelas. b. Pejabat struktural eselon II di lingkungan instansi vertikal yang atasan langsungnya Pejabat struktural eselon I yang Bukan Pejabat Pembina Kepegawaian. Pejabat struktural eselon II b di lingkungan Unit Pelaksana Teknis. . Angka 5 Yang dimaksud dengan “pejabat struktural eselon II” adalah Pejabat struktural eselon II di lingkungan instansi vertikal dan Kepala Kantor Perwakilan Provinsi atau Kepala unit setara dengan sebutan lain yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Pejabat Pembina Kepegawaian. Kepala Biro. Kepala Kantor Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan. . dan Kepala Kejaksaan Tinggi. seperti Direktur. Pejabat struktural eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal atau Badan atau Sekretariat Jenderal.

Huruf c Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “pejabat yang setara” adalah PNS yang diberi tugas tambahan untuk memimpin satuan unit kerja tertentu. Angka 7 Cukup jelas. . Huruf f Cukup jelas. Ayat (4) . .PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Angka 8 Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. antara lain Ketua Pengadilan Tinggi. Huruf d Cukup jelas. Huruf g Cukup jelas. . Ayat (2) Yang dimaksud dengan “pejabat yang setara” adalah PNS yang diberi tugas tambahan untuk memimpin satuan unit kerja tertentu. Huruf e Cukup jelas. antara lain Rektor dan Dekan.19 Angka 6 Cukup jelas.

Direktur Akademi. Kepala Taman Kanak-Kanak.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Pasal 17 Cukup jelas. antara lain Kepala Sekolah Menengah Atas. antara lain Ketua Pengadilan Negeri. Ayat (7) Yang dimaksud dengan “pejabat yang setara” adalah PNS yang diberi tugas tambahan untuk memimpin satuan unit kerja tertentu. antara lain Kepala Sekolah Dasar.20 Ayat (4) Lihat penjelasan ayat (1) angka 4 dan angka 5. Kepala Sekolah Menengah Pertama. . . Ayat (5) Yang dimaksud dengan “pejabat yang setara” adalah PNS yang diberi tugas tambahan untuk memimpin satuan unit kerja tertentu. Pasal 18 Ayat (1) Huruf a Angka 1 Jabatan struktural eselon I di Provinsi adalah jabatan Sekretaris Daerah Provinsi. . Ayat (6) Yang dimaksud dengan “pejabat yang setara” adalah PNS yang diberi tugas tambahan untuk memimpin satuan unit kerja tertentu. Angka 3 Cukup jelas. Angka 2 Cukup jelas. Angka 4 .

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . . Huruf b Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.21 Angka 4 Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. Angka 5 Cukup jelas. . Angka 7 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. . Ayat (4) . Huruf g Cukup jelas. Angka 6 Cukup jelas.

. Pasal 19 Cukup jelas. Ayat (6) Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (7).22 Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (6). . Pasal 20 Ayat (1) Huruf a Angka 1 Cukup jelas. Angka 3 Cukup jelas. . Angka 5 Cukup jelas. Angka 6 Cukup jelas.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Angka 4 Jabatan struktural eselon II antara lain adalah Kepala Dinas di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Angka 7 . Angka 2 Cukup jelas.

Huruf d Cukup jelas. . . Huruf b Cukup jelas. Angka 3 Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Angka 2 Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Angka 1 Jabatan struktural eselon II adalah Asisten di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Huruf e Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas.23 Angka 7 Cukup jelas. Huruf c . Huruf b Cukup jelas. .PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Huruf g Cukup jelas.

dan dilakukan perlu setelah mendengar keterangannya.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Ayat (6) Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (7). Ayat (3) Cukup jelas. tidak dilakukan pemeriksaan yang dituangkan dalam berita acara pemeriksaan. Ayat (5) Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (6).24 Huruf c Cukup jelas. Pasal 21 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 22 . . Penjatuhan hukuman disiplin oleh atasan kepada pejabat yang tidak menjatuhkan hukuman disiplin. . Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Ketentuan penjatuhan hukuman disiplin oleh atasan kepada pejabat yang seharusnya menghukum berlaku juga bagi atasan dari atasan secara berjenjang. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. .

. atau tidak terdapat dalam struktur organisasi. sehingga adilnya dengan dapat tentang demikian jenis pejabat yang berwenang seadilakan yang menghukum dijatuhkan. mempertimbangkan hukuman dengan disiplin . Ayat (2) Cukup jelas. antara lain karena berhalangan tetap.25 Pasal 22 Yang dimaksud dengan “tidak terdapat pejabat yang berwenang menghukum” adalah terdapat satuan organisasi yang pejabatnya lowong. Pasal 23 Ayat (1) Cukup jelas.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Ayat (3) Dalam menentukan tanggal pemeriksaan berikutnya harus pula diperhatikan waktu yang diperlukan untuk menyampaikan surat panggilan. Ayat (2) . . adalah untuk mengetahui apakah PNS yang bersangkutan benar atau tidak melakukan pelanggaran disiplin. Pasal 24 Ayat (1) Tujuan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat ini. Ayat (4) Cukup jelas. serta untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong atau menyebabkan ia melakukan pelanggaran disiplin. Pemeriksaan harus dilakukan dengan teliti dan obyektif.

Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 25 Ayat (1) Tim Pemeriksa bersifat temporer (Ad Hoc). . Pasal 26 Cukup jelas.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 27 Ayat (1) Pembebasan sementara dari tugas jabatannya dimaksudkan untuk kelancaran pemeriksaan dan pelaksanaan tugastugasnya. Ayat (4) . Ayat (3) Cukup jelas. . . Selama PNS yang bersangkutan dibebaskan sementara dari tugas jabatannya.26 Ayat (2) Yang dimaksud dengan “pemeriksaan secara tertutup” adalah pemeriksaan hanya dihadiri oleh PNS yang diduga melakukan pelanggaran disiplin dan pemeriksa. diangkat pejabat pelaksana harian. Ayat (3) Cukup jelas.

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . . Pasal 33 Cukup jelas. dengan ketentuan bahwa pejabat terkait dimaksud jabatan dan pangkatnya tidak boleh lebih rendah dari PNS yang bersangkutan. Pasal 28 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 32 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. . Ayat (2) Yang dimaksud dengan “secara tertutup” adalah bahwa penyampaian surat keputusan hanya diketahui PNS yang bersangkutan dan pejabat yang menyampaikan keputusan serta pejabat lain yang terkait. Pasal 29 Cukup jelas. Pasal 31 Ayat (1) Cukup jelas. .27 Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 34 .

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Huruf d Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (1) angka 5. Huruf c Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (1) angka 4 huruf b dan huruf c. Pasal 36 Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan “final dan mengikat” adalah terhadap keputusan penguatan.28 Pasal 34 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas. . peringanan. . . Pasal 35 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. pemberatan. Pasal 37 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) . atau pembatalan hukuman disiplin tidak dapat diajukan keberatan dan wajib dilaksanakan.

. Pasal 42 Cukup jelas.29 Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Yang dimaksud dengan “keputusan yang dibatalkan” adalah bahwa berdasarkan keputusan atau atasan Badan pejabat yang berwenang bersalah. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 38 Cukup jelas. Ayat (3) Dalam hal PNS yang bersangkutan sebelumnya dijatuhkan hukuman disiplin berupa pemberhentian tidak dengan hormat maka keputusan pemberhentiannya ditinjau kembali oleh pejabat yang berwenang menjadi pemberhentian dengan hormat. . PNS yang bersangkutan dinyatakan tidak . Pasal 41 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 43 .PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA . Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 39 Cukup jelas. menghukum Pertimbangan Kepegawaian.

Pasal 44 Cukup jelas. Pasal 50 Cukup jelas. Pasal 49 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5135 . Pasal 46 Cukup jelas. Pasal 47 Cukup jelas. Pasal 51 Cukup jelas. Pasal 45 Cukup jelas.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA .30 Pasal 43 Cukup jelas. Pasal 48 Cukup jelas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful