P. 1
Makna Modernitas Dan Tantangannya Terhadap Iman

Makna Modernitas Dan Tantangannya Terhadap Iman

|Views: 32|Likes:
Published by Gellar Bhumea

More info:

Published by: Gellar Bhumea on Aug 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/13/2014

pdf

text

original

Artikel Pesantren On Line

Makna Modernitas dan Tantangannya terhadap Iman To have failed to solve the problem of producing goods would have been to continue man in his oldest and grie vous misfortune. But to fail to see that we have solved it and to fail to proceed thence to the next task would be fully as tragic. Kalimat-kalimat di atas itu adalah ungkapan dan kesimpulan terakhir pembahasan Galbraith tentang problema pokok yang dihadapi manusia modern. Yaitu problema tindak lanjut setelah modernitas itu sendiri telah berhasil diwujudkan dalam bentuk kemudahan hidup dan kemakmuran. Sebagai anggota masyarakat makmur (Amerika), Galbraith membuat kesimpulannya itu berdasarkan pembahasan terhadap masyarakat yang sudah berhasil menjalankan modernisasi. Tetapi secara retrospektif kesimpulan Galbraith itu relevan bagi semua masyarakat, yang telah maupun belum makmur. Bagi yang telah makmur seperti masyarakat Galbraith ialah problema tindak lanjut setelah kemakmuran, dan bagi yang masih miskin seperti masyarakat Dunia Ketiga problema itu sudah tentu masih harus ditambah dengan, malah diawali oleh, problema mewujudkan kemakmuran itu sendiri, kemudian baru tindak lanjutnya. Kiranya tepat untuk memandang bahwa itulah pula problema kita, masyarakat Indonesia. Tetapi urutan problema itu problema menciptakan kemakmuran dan membuat tindak lanjut setelab kemakmuran terwujud hanyalah suatu urutan logis, bukan temporal. Secara temporal, kedua problema itu menyatu dan bersifat sekaligus, justru untuk menjamin keberbasilan menyeluruh modernisasi itu sendiri. Ini semakin terasa karena sifat modernitas yang secara tak terhindarkan menjagat, sehingga tidak sekeping kawasanpun dari permukaan planet bumi ini yang mampu mengisolir dan menghindarkan diri dari berbagai dampak kebidupan modern di tempat lain. Apa yang terjadi di New York, misalnya, terasa dampaknya di Jakarta, dan seterusnya. Pandangan Historis tentang Zaman Modern Modernisasi ditandai oleh kreatifitas manusia dalam mencari jalan mengatasi kesulitan hidupnya di dunia ini. Sungguh, modernisme, khususnya seperti yang ada di Barat, adalah suatu antroposentrisme yang hampir tak terkekang. Arnold Toynbee, seorang ahli sejarah yang terkenal, mengatakan bahwa modernitas telah mulai sejak menjelang akbir abad ke lima belas Masehi, ketika orang Barat "berterimakasih tidak kepada Tuhan tetapi kepada dirinya sendiri karena ia telah berhasil mengatasi kungkungan Kristen abad pertengaban.

169

masih merupakan kelanjutan berbagai hasil usaha (achieve. seolah-olah sesudah tahap ini tidak ada lagi tahap yang berarti berikutnya. semenjak permulaannya oleh bangsa Sumeria tersebut. pertama-tama zaman Modern harus dipandang sebagai kelanjutan wajar dan logis perkembangan kehidupan manusia. baru berlangsung sekitar dua abad saja. dari 170 . Hakikat Modernitas Penyebutan tahap perkembangan sejarah manusia yang sedang berlangsung sekarang ini sebagai "Zaman Modern" bukannya tanpa masalah. Kristen dan Islam) maupun yang "Asia" (Hinduisme. adalah produk zaman sebelumnya. Oleb sebab itu. Konfusionisme) lahir dan berkembang di zaman Agraria. padahal. perkataan "modern" mengisyaratkan suatu penilaian tertentu yang cenderung positif ("modern" berarti maju dan baik). baik yang Semitik (Yahudi." Karena itu Lembah Mesopotamia dianggap sebagai tempat "buaian" peradaban manusia. namun kreatifitas itu. Unsur-unsur elemen terkultural kebidupan modern seperti babasa.Artikel Pesantren On Line Tetapi betapa pun kreatifnya manusia di zaman Modern. sebab zaman Agraria sendiri. Karena merupakan suatu kelanjutan logis sejarah. Lambat atau pun cepat modernitas tentu muncul di kalangan umat manusia. dalam perspektif sejarah dunia dan umat manusia secara keseluruhan. Di samping itu. yaitu dimulainya momentum zaman Agraria dari Lembah Mesopotamia (bangsa Sumeria) sekitar lima ribu tahun yang lalu. zaman Modern sendiri sama sekali mustahil. telah berlangsung selama sekitar lima puluh abad. Jika "kebetulan" momentum zaman Modern dimulai oleh Eropa Barat Laut sekitar dua abad yang lalu.ments) umat manusia sebelumnya. Dan patut diingat bahwa semua agama besar. Dan jika zaman Modern membawa implikasi terbentuknya negara-negara nasional. bahkan huruf dan angka serta temuan-temuan ilmiah. entah kapan dan di bagian mana dari muka bumi ini. maka konsep dan lembaga kenegaraan itu sendiri adalah akibat langsung dan diciptakan oleh zaman Agraria. dan zaman sebelumnya disebut zaman "prasejarah" yang tanpa "peradaban. dalam bentuknya yang mekar sekarang ini. Tanpa pernah ada zaman Agraria itu. Masalah itu timbul karena inti dan hakikat zaman sekarang bukanlah kebaruannya ("modern" berarti baru). Ini barangkali tidak perlu mengherankan. meskipun dalam bentuknya yang masih germinal dan embriyonik. yaitu zaman Agraria. maka modernitas adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Maka muncullah zaman Agraria juga disebut sebagai permulaan sejarah. norma-norma etis (sebagaimana antara lain dicerminkan dalam ajaran agamaagama). sementara zaman Modern. Budhisme. maka sebenarnya telah pula terjadi "kebetulan" serupa sebelumnya.

Sebab meskipun menurut watak dan dinamikanya sendiri modernitas adalah budaya dunia.it is based on advanced technology and the spirit of science. yang menjadi salah satu sumber kesulitan bangsabangsa bukan Barat. untuk memunculkannya. Penggunaan sepenuhnya teknologi di suatu bagian dunia (Barat) tidak lagi dapat dibatasi pengaruhnya hanya kepada tempat itu sendiri saja."Zaman Modern" sebagai konvensi (yang salah kaprah) harus diterima saja. pye :. a secular approach to social 171 . meliputi seluruh budaya manusia tanpa dapat dihindari sama sekali. Meskipun penyebutan zaman sekarang sebagai . sekalipun sangat kreatif seperti pada kasus bangsa Jepang. Gambaran menyeluruh modernitas sebagai budaya dunia itu secara ringkas dirumuskan Lucian W. dari yang ada di Barat. Wujud keterkaitan antara segi teknologis diacu sebagai dorongan besar pertama umat manusia memasuki zaman sekarang ini. melainkan sekedar adopsi. tentu akan membuka kemungkinan bagi kelompok manusia mana pun. Dengan tibanya zaman Teknik itu maka umat manusia tidak lagi dihadapkan kepada persoalan kulturalnya sendiri secara terpisah dan berkembang secara otonomi dari yang lain. atau berdasar paradigma yang ada itu membuat paradigma baru. tidak mungkin lagi bagi kelompok manusia lain untuk memulainya dari titik no1. Namun hasilnya tidak dapat dipandang sebagai sama sekali orisinil.Artikel Pesantren On Line sudut hakikatnya. adanya peran sentral teknikalisme serta bentuk-bentuk kemasyarakatan yang terkait dengan teknikalisme serta bentuk-bentuk kemasyarakatan yang terkait dengan teknikalisme itu. Jadi bangsa-bangsa bukan Barat dalam usaha modernisasi dirinya terpaksa pada permulaan prosesnya harus menerima paradigma modernitas Barat. tetapi merambah ke seluruh muka bumi.. zaman sekarang akan lebih tepat jika disebut sebagai "Zaman Teknik" (Technical Age). on a rational view of life. zaman modern itu sesungguhnya bernilai netral saja. namun pada berbagai kenyataan periferalnya ia banyak membawa serta berbagai sisa limpahan (carryover) budaya Barat. Di sinilah kita menghadapi persoalan berhimpitnya modernisasi dengan westernisasi (seperti secara dramatis tercermin dalam Kemalisme Turki). namun. tetapi terdorong menuju kepada masyarakat jagad (global) yang terdiri dari berbagai bangsa yang erat berhubungan satu sama lain. yaitu Revolusi Industri (teknologis) di Inggris dan Revolusi Perancis (sosial-politik) di Perancis. Namun karena dimensi pengaruhnya yang global dan cepat itu. ditilik dari hakikat intinya. pada munculnya zaman itu. maka modernitas sekali dimulai oleh suatu kelompok manusia (dalam hal ini bangsa-bangsa Barat). "karena. jika seandainya sekarang ini belum muncul. Modernitas.. dengan keunggulan relatif antara mereka.

jika modernitas itu lahir dari kalangan bangsa-bangsa Muslim. yaitu Barat. tradition is not the contrary of progress but the vehicle of it. mengingat kecenderungan kuat Islam kepada kosmopolitanisme. Itulah persis yang terjadi di Eropa Barat pada permulaan modernisasi. . pada peringkat ekonomi. misalnya. Dari hasil-hasil studi itu diketahui bahwa semua sistem etika mengandung unsur-unsur yang jika dikembangkan dapat menjadi wahana untuk menopang usaha-usaha modernisasi. Ungkapan tentang modernitas dalam "nutshell" oleh Pye itu jelas sekali mengandung unsur-unsur budaya dan pengalaman Barat. dan itulah yang seharusnya terjadi di tempat-tempat lain di luar Eropa Barat. dengan beberapa modifikasi.. dan jika tradisi adalah "a living dialogue grounded in common reference to particular creative events. dan Peter Gran.Artikel Pesantren On Line relations. and above all else. even when in sharpest revolt againts particular creative events of the past. mungkin yang lahir bukanlah sistem kapitalisme nasional yang antara lain berakibat kolonialisme dan imperialisme itu. tetapi sesuatu yang mirip dengan sistem multinational corporations sekarang ini. suatu hipotesis tentang apa yang terjadi. lingkungan agama dan budaya Kristen. As we have seen. Keberhasilan 172 . mungkin konsep negara-negara itu akan tidak menjadi unsur keharusan modernitas. Kesadaran akan masalah ini telah melahirkan berbagai kajian ilmiah." maka usaha modernisasi sebagai suatu bentuk tindakan kultural yang amat penting juga berlangsung dalam perangkat tradisi yang dinamis ("dialogis"). ialah tesis Max Weber tentang etika Protestan. selain unsur-unsur yang memang universal seperti ilmu dan teknologi. yang terpenting. on the acceptance in the political realm of the belief that the prime unit of the polity should be nation-state. a feeling for social justice in public affairs..It is out of the hopes and dreans carried within a tradition that the exceptional individual can forge new creative possibilities at those interstitial points in historical action when currently established ways no longer suffice and a new vision has its chance. Namun kutipan dari Pye itu menegaskan. Clifford Geertz. Dari pangkuan Islam. misalnya. Jika tindakan kultural selalu berlangsung dalam perangkat tradisi. lengkap dengan pengalaman Barat itu terhadap. konsep negara bangsa. misalnya. Sementara itu. Modernitas dan Tradisi …Certainly we cannot escape or set aside tradition as such : all cultural action takes place within a setting of tradition. seperti yang dilakukan oleh Robert N . misalnya. seperti. salah satu di antaranya. betapa dalam fakta tentang modernitas yang "given" sekarang ini terdapat unsur-unsur budaya di mana ia dilahirkan pertama kali. Bellah. Tesis Weber itu segera diimbangi oleh berbagai tesis hasil kajian lebih lanjut.

Karena itu mungkin salah satu tantangan bangsa. modernisasi bagi mereka menyangkut bentuk kesulitan lain yang meskipun bersifat sampingan namun cukup efektif untuk menjadi penghalang. yang timbul karena kompleks sebagai pihak yang kalah (berbeda dengan kedudukan internasional Islam klasik. misalnya. bekas saingan. dalam usaha mendorong modernisasi ialah membebaskan diri dari psikologis masa lalu yang serba traumatis itu. karena itu rnanusiawi. yaitu gejala tumbuhnya kewirausahawanan (enterpreneurship) pada orang-orang Muslim yang jika berkembang dengan bebas (dan kreatif) menurut dinamika internalnya sendiri akan dapat membawa masyarakat-masyarakat bersangkutan kepada modernisasi.bangsa bukan Barat.Artikel Pesantren On Line Jepang dengan agama Tokugawanya telah menjadi pengetahuan umum. Ini tentu penting sekali dalam kaitannya dengan usaha negara-negara berkembang (yang bukan Barat dan bukan pula Protestan itu) untuk mengembangkan kewirausahawanan sebagai pendukung dan pelaksana modernisasi. Namun sudah tentu kenyataan sosial masing-masing kelompok manusia selalu mengandung berbagai unsur perbedaan dari satu ke yang lainnya. yang pengalaman itu ditandai dengan rasa permusuhan dan persaingan yang berkepanjangan. termasuk yang berkembang berdasarkan agama. yaitu dimunculkannya ke permukaan berbagai potensi kreatif dari celah-celah sistem budaya yang ada. khususnya bangsa-bangsa Muslim. kalau bisa malah secara positif dan optimis. maka di sinilah letak relevansinya melihat kemungkinan terjadinya apa yang diisyaratkan oleh Hodgson. maupun tindakan (khususnya yang berskala besar). program. yaitu kesulitan psikologis berhadapan dengan Barat. Semua pola budaya. sebagai dialog dinamis. harus dinilai 173 . selalu bersifat historis. apalagi jika menghambat. Kesulitan semakin menjadi akut karena faktor psikologis yang lain. yang waktu itu umat Islam adalah pihak yang menang dan berkuasa). betapa pun jauhnya berakar dalarn agama. Salah satu rnakna dari kenyataan itu ialah bahwa suatu pola budaya. jika memang pola budaya yang mapan sekarang tidak lagi dirasakan cukup menopang. dan diganti dengan kesanggupan melihat keadaan seperti adanya. Tetapi Geertz dan Gran juga melihat gejala yang mirip pada orang-orang Islam (berturut-turut masing-masing di Jawa Timur dan Mesir). Disebabkan oleh kebutuhan riil akan perangkat ekspresi simbolik dalam mengkomunikasikan ide. termasuk dan terutama sistem budaya berdasarkan agama. Tetapi disebabkan oleh berbagai pengalaman sejarah interaksi antara kedua kelompok budaya itu. mungkin sekali merupakan kelompok manusia yang paling banyak mempunyai kaitan historis dengan Barat yang melahirkan modernitas itu. Maka bangsa-bangsa Muslim. jika bukannya musuh sepanjang sejarah.

dan dengan sendirinya juga dengan agamaagama bukan Kristen di mana saja. Kennedy di Amerika Serikat. Problema yang secara mendalam diprihatinkan oleh Michael Harrington. Ini berarti bahwa penghadapan suatu fase terakhir perkembangan budaya tertentu kepada "agama". the application of technologies in competitive market situations.. Dari sudut penglihatan inilah kita harus memahami suatu pernyataan seperti. Maka tantangan yang berat ialah bagaimana membebaskan pemahaman manusia akan agama dari unsur-unsur takhayul. Tetapi suatu "keharusan" tidak dengan sendirinya bernilai positif. adalah problema yang sampai sejauh ini nampak 174 .the growth of lending and foscal devices. clandestine. misalnya. yang dibuat oleh David Apter dalam menekankan proses ganda modernisasi sebagai proses komersialisasi dan industrialisasi. yang tidak sesuai dengan etos-etos modernitas seperti rasionalitas. the need to support modern armies. it tells of the place where tens of thousands of hidden peolple labor at impossible wages.dence that modernity in the West attacked and superstition. tetapi dengan pola budaya keagamaan yang merupakan interpretasi manusiawi dan historis atas noktah-noktah ajaran agama itu. tokoh yang disebut-sebut sebagai salah seseorang "aktor intelektualis" di belakang pemerintahan mendiang Presiden John F.. the economic underworld is out of sight. Like the underworld of crime. bisa juga terjadi pada agama Kristen di ternpat lain. lebih tepat dipandang sebagai penghadapan fase perkembangan itu tidak dengan agama an sich. jika memang agama itu tidak merupakan kumpulan takhayul sendiri seperti halnya agama-agama "primitif. seperti modernitas yang dinilai orang banyak berhadapan dengan "nilai-nilai" keagamaan." Materialisme Modernitas Each big city in the United Stated has an economic underworld. family and Church. tidak statis. mercantlisim and autocracy. and the influence of trade and voyages on the scientific spirit all of which are evi. dan tidak dibuat "sekali untuk selamanya." Sebab bentuk hubungannya dengan suatu agama yang mendasarinya ialah hubungan interpretatif. keilmuan dan kebebasan berusaha. Sebagaimana hal itu terjadi pada agama Kristen di Barat.Artikel Pesantren On Line sebagai selalu berkernbang. Yaitu bahwa dalam tradisi keagamaan (Kristen di Barat) itu banyak unsur-unsur yang merupakan hasil interpretasi manusia dalam interaksinya dengan sejarah dan dengan berbagai unsur budaya yang lain di sana. Mungkin modernitas memang suatu keharusan sejarah. . And often enough this phrase tells a literal description: it refers to the kitchens and furnace rooms that are under the city. dalarn arti bahwa suatu pola budaya merupakan interpretasi manusiawi atas noktahnoktah keagamaan.

atau sekurang-kurangnya lebih realistis. The Other America. sehingga kemunduran di bidang ekonomi selalu berakibat kelemahan di bidang-bidang itu. yaitu pada masa ia tampil utuh dan "telanjang" sebelum banyak diperlunak oleh ide-ide kemanusiaan dan keadilan sosial yang kemudian sedikit demi sedikit tertuang dalam berbagai ketentuan dan peraturan guna mengendalikan kebringasan kapitalisrne itu. adalah kelanjutan materialisme. yakni. Seperti dikatakan Robert C.Artikel Pesantren On Line selalu menyertai modernitas. pertahanan dan lain-lain. Karena itu. Seperti tersirat dalam judul buku Harrington. Apalagi adanya suatu kenyataan yang tak mungkin diingkari bahwa kemakmuran material mempunyai berbagai akibat pada bidangbidang bukan ekonomi seperti sosial. selalu mengandung pengertian perjuangan mencapai taraf hidup yang lebih tinggi atau lebih makmur. sampai batas tertentu. kepada kehidupan akan membawa kita kepada penglihatan bahwa modernisasi biarpun dalam bentuknya yang paling lahiriah. politik. setiap wajah cerah masyarakat modern menyembunyikan di balik dirinya wajah yang suram. Yaitu problema kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin. Modernity simply brings these characteristics to the fore. Yaitu karena kebutuhan kemandirian Jepang dan daya tahannya sendiri. Kesadaran ini telah menjadi sumber dorongan yang kuat bagi bangsa-bangsa bukan Barat untuk berusaha melakukan modernisasi. lni lebih-lebih lagi benar berkenaan dengan tahap-tahap awal munculnya zaman Modern yang ditandai oleh naiknya kapitalisme. dunia dan pengalaman hidupnya secara pesimis. yaitu kemiskinan yang menyayat hati. materialisme modernitas bukanlah sesuatu yang berada terlalu jauh dari natur manusia beserta kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Tetapi justru kapitalisme itulah motor yang menggerakkan bangsabangsa Barat sehingga menjadi bangsa-bangsa modern. yaitu usaha peningkatan kesejahteraan material adalah kelanjutan wajar dorongan naluri manusia sendiri untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik. Wood. pandangan hidup yang memberi tempat sangat tinggi kepada kenikmatan lahiriah." 175 . sebagaimana makna harfiahnya sendiri telah menunjukkan. Kebutuhan material manusia adalah realita. khususnya bagi negaranegara berkembang. dan pengingkaran kepada realita itu hanya mungkin jika seseorang sepenuhnya menganut pandangan hidup yang melihat manusia. Dan itulah pula salah satu keterangan tentang Jepang mengapa bangsa itu memiliki dorongan yang hebat untuk modernisasi dan akhirnya berhasil. Dan kapitalisme itu. "Indeed systematic explorations reveal that the disires for security and material wellbeing are common elements in human nature. Oleh karena itu proses modernisasi. Sedangkan pandangan yang lebih optimis.

manusia lain bukan Barat. fakta yang ikut mengilhami "Gerakan Pertumbuhan No1" [Zeri Growth Movement] pada sebagian masyarakat. Dalam posisi kurang favourable semacam itu. dan keteringkaran ini membuat semakin parah lagi masalah pemerataan dan keadilan sosial seperti diprihatinkan oleh Harrington tersebut di atas tadi. ekonomi dan politik..In ways that may pass our understanding . may eventually compete with India and the Far East and Russia for the price of influencing the future in ways that may pass our under-standing. banyak orang mengalami keteringkaran (deprivation). mengingat sedemikian terbatasnya sumber daya alami bumi. Jika ada banyak hal yang tersirat dari ungkapan Toynbee itu." Adalah magnitude dan kompleksitas kehidupan modern itu (yang untuk bisa memahami dan menyertainya seseorang memerlukan antara lain tingkat pendidikan yang tinggi) beserta "perubahan yang terlembagakan" sehingga tidak ada hal permanen kecuali perubahan itu sendiri mengakibatkan adanya dislokasi dan disorientasi. namun materialisme modernitas dan kecenderungan serta perjuangan manusia untuk meningkatkan taraf hidup duniawinya harus diusahakan untuk bisa terarah. Ungkapan Arnold Toynbee ini juga bisa dilihat sebagai harapan kepada bangsa-bangsa Muslim. betapapun ia pada dasarnya merupakan hal yang alami belaka. 176 . Dan segi-segi kekurangan itu terutama mereka telusuri sebagai kebanyakan bersumber kepada materialismenya yang sangat menonjol. . terkendali. dalam hal ini Islam. Pembatasan itu. untuk aktif berpartisipasi dalam usaha mengembangkan peradaban modern. satu yang mungkin paling penting ialah bahwa orangorang Barat sendiri banyak yang menyadari segi-segi kekurangan peradaban modern mereka. mungkin keputusasaan. yang diselipkan dalam pandangan tentang kemungkinannya kelompok. pada banyak orang." suatu ungkapan yang menyimpan keraguan tentang diri sendiri. melainkan "usaha menanggulangi kehidupan dalam ukuran dan skala yang cepat berkembang dan mengatasi masalah kompleksitas besar pola-pola sosial. Oleh karena itu.Artikel Pesantren On Line Karena itu permasalahan yang perlu dipecahkan dalam kehidupan modern bukanlah terutama apa yang sering dikemukakan orang sebagai kemunduran kepribadian bangsa karena secara moral menjadi lunak akibat modernisasi. ". yang bersemangat yang sama dengan paham lingkungan [environmentalism]. Iman dan Modernitas Islam. akan menjadi relevan untuk dipermasalahkan kalau diingat betapa tidak mungkinnya seluruh umat manusia mencapai taraf hidup ukuran bangsa-bangsa modern seperti Amerika saat ini. dan malah mungkin terbatasi. untuk menemukan jalan hidup yang lebih unggul daripada yang ada pada orang Barat modern sekarang ini. in entering into the proletarian underworld of our latter day Western civilization. misalnya.

Dan ini mulai dibuktikan oleh tampilnya Jepang pada dasawarsa terakhir ini. Consequently. Sedangkan suatu dunia yang lebih-lebih lagi tersembunyi.. maka kita benar-benar berhadapan dengan berbagai kenyataan pincang kehidupan modern. Wood.The difficulty of many people in modern circumstances is not that they are overdirected or overcontrolled. yang membuat orang mulai berpikir tentang kemungkinan bergesernya titik pusat kemajuan manusia modern dari Lembah Atlantik (Eropa. These must be coped with. yang dapat melampaui produktifitas teknik dan organisasi mereka. Untuk meloncat saja kepada masalah keruhanian mungkin terasa keburu nafsu: Tetapi jika dimulai dengan masalah keutuhan manusia. namun sesungguhnya dunia itu masih berada dalam dimensi kehidupan material.Amerika) ke Lembah Pasifik (Amerika -Timur Jauh).Artikel Pesantren On Line Sebab sementara tidak sedikit orang Barat yang beranggapan bahwa keunggulan mereka di bidang ekonomi dan teknologi tak akan terkejut oleh siapa pun dari bangsa-bangsa lain di dunia. maka pembicaraan tentang problema masyarakat modern dari segi kesulitan orang-orang modern (Barat) untuk menemukan makna hidup pribadi seperti diungkapkan oleh Robert C. . harus ditujukan kepada bagian dari segi negatif modernitas yang mungkin mereka bisa memberi kontribusi mereka yang terbaik untuk mengatasinya. Tetapi jika kita memiliki cukup kesediaan untuk memahami dan mengakui keadaan sekeliling kita. all the awesome stresses. strains. customs. but rather that they lack the resources to find meaningful personal lives. ialah kenyataan yang berdimensi spiritual. Mungkin akan dinilai sebagai pembicaraan yang tidak relevan dengan kehidupan. Institutions. namun mereka masih tetap melihat kemungkinannya supremasi mereka itu ditantang oleh temuan akan suatu bentuk teknik dan organisasi yang lebih unggul.. Clear 177 . clandestine. Kecuali jika hal terakhir ini terbukti palsu belaka sehingga harus segera dicampakkan sebagai wishful thinking semata. atau. handled and obsorbed by whatever defenses the individual psyche may possess. maka perhatian bangsa-bangsa Dunia Ketiga dari Timur. habits and clearly defined approproate roles and styles are hard to find. lebih celaka lagi. Jika Harrington menyebutkan bahwa kemiskinan di kota-kota besar dalam sistem "ekonomi dunia bawah" adalah dunia tersembunyi. and pressures of the urban world come to play on the individual personality structure. dipandang sebagai pembicaraan ten tang kepalsuan. Dalam suatu dunia yang sedang dikuasai oleh materialisme pembicaraan tentang hal-hal spiritual bukanlah perkara mudah. bukan material. khususnya inereka yang merasa memiliki kekayaan keruhanian lebih dari bangsa-bangsa Barat yang materialistis itu (agama-agama semua lahir di Timur). yang benar-benar clandestine. Michael Harrington telah dikutip berkenaan dengan kepribadiannya tentang kepincangan sosial-ekonomi kawasan perkotaan besar.

maka mungkin kita akan banyak menemukan jawaban alami (fithri) untuk berbagai persoalan hidup 178 . Representasi Tuhan yang pasti kasar dan palsu itulah sumber politheisme. tanpa disadari. tuntutan untuk merepresentasi Tuhan timbul hanya karena orang memahami Tuhan sebagai nisbi. malaikat. dan bersama dengan itu sekaligus membebaskan diri dari belenggu takhayul dan supersitisi. It is probably symptomatic of these pressures that the United States' most prevalent disbling ailment is mental illness. dll. atau perintah menggunakan akal. ihsan. yang bebas dan murni dari setiap bentuk representasi. inabah. Dan jika dalam Kitab Suci seruan iman kepada manusia selalu disertai dengan anjuran. tahmid dll. Malah iman yang benar. would inspire us with doubts. endowed with scientific curiosity. Sebab dengan iman yang murni ia tetap memiliki pegangan hidup. Dalam agama Yahudi dan Islam. Barangkali saja kegagalan atau kesulitan manusia menemukan makna hidup itu ialah karena mereka. disuguh dengan konsep-konsep ultimacy dalam bentuk paham Ketuhanan yang mereka rasa tidak cocok dengan sendi-sendi modernitas itu sendiri. If we could really conceive God we could no longer believe in Him because our representation. tasbih. Dengan kata lain. yaitu tidak cocok dengan alam manusia sendiri. shoul not need to visualize God. Tuhan adalah ketidaksabaran orang akan kenisbian diri dan kemampuannya. termasuk intelektual dan imaginatifnya. ikhlash. seperti dicerminkan dalam ikonoklastikanti gambar representasi obyek-obyek suci seperti Tuhan. maka iman tidak akan hilang oleh rnodernitas. seperti dikatakan Lecomte de Nuy. tawakkul ("tawakal"). modern people become preoccupied with job and meaningful encounters with other classes and groups. Dan jika modernitas adalah perkembangan alami manusia. Karena tuntutan-tuntutan kepada pabam Ketuhanan pun menjadi sangat negatif. Many men who are intelligent and of good faith imagine they cannot believe in God because they are unable to conceive Him. in both cases. nabi. syukur. anymore than a physicist needs to visualize electron. akan lebih mendapat dukungan manusia modern. Sebab mendasari setiap tuntutan kepada konsep Ketuhanan yang bisa merepresentasi . being human. An honest man. maka ketidakcocokan itu bisa bermakna serius.Artikel Pesantren On Line guidelines of professional and organizational behavior tend to disappear. islam. tasbih. dorongan. Any attempt at representation is necessarily crude and false. maka sebenarnya modernitas akan dapat menjadi batu penguji kebenaran seruan suci itu. Dan jika kita mampu mengungkapkan dengan nalar makna meluas dan mendalam simpul-simpul nilai keagamaan seperti iman. Berdasarkan itu. The electron is materially inconceivable and yet. it is more perfectly known through its effects than a simple piece of wood. In creasingly. sejauh ini dan di tempat yang mereka kenal.

16th. khususnya kehidupan modern yang cenderung individualistis dan atomistis (depersonalized) ini.Artikel Pesantren On Line kita. 2004 from : www.pesantrenonline. Retrieved on March.com 179 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->