Artikel Pesantren On Line

Makna Modernitas dan Tantangannya terhadap Iman To have failed to solve the problem of producing goods would have been to continue man in his oldest and grie vous misfortune. But to fail to see that we have solved it and to fail to proceed thence to the next task would be fully as tragic. Kalimat-kalimat di atas itu adalah ungkapan dan kesimpulan terakhir pembahasan Galbraith tentang problema pokok yang dihadapi manusia modern. Yaitu problema tindak lanjut setelah modernitas itu sendiri telah berhasil diwujudkan dalam bentuk kemudahan hidup dan kemakmuran. Sebagai anggota masyarakat makmur (Amerika), Galbraith membuat kesimpulannya itu berdasarkan pembahasan terhadap masyarakat yang sudah berhasil menjalankan modernisasi. Tetapi secara retrospektif kesimpulan Galbraith itu relevan bagi semua masyarakat, yang telah maupun belum makmur. Bagi yang telah makmur seperti masyarakat Galbraith ialah problema tindak lanjut setelah kemakmuran, dan bagi yang masih miskin seperti masyarakat Dunia Ketiga problema itu sudah tentu masih harus ditambah dengan, malah diawali oleh, problema mewujudkan kemakmuran itu sendiri, kemudian baru tindak lanjutnya. Kiranya tepat untuk memandang bahwa itulah pula problema kita, masyarakat Indonesia. Tetapi urutan problema itu problema menciptakan kemakmuran dan membuat tindak lanjut setelab kemakmuran terwujud hanyalah suatu urutan logis, bukan temporal. Secara temporal, kedua problema itu menyatu dan bersifat sekaligus, justru untuk menjamin keberbasilan menyeluruh modernisasi itu sendiri. Ini semakin terasa karena sifat modernitas yang secara tak terhindarkan menjagat, sehingga tidak sekeping kawasanpun dari permukaan planet bumi ini yang mampu mengisolir dan menghindarkan diri dari berbagai dampak kebidupan modern di tempat lain. Apa yang terjadi di New York, misalnya, terasa dampaknya di Jakarta, dan seterusnya. Pandangan Historis tentang Zaman Modern Modernisasi ditandai oleh kreatifitas manusia dalam mencari jalan mengatasi kesulitan hidupnya di dunia ini. Sungguh, modernisme, khususnya seperti yang ada di Barat, adalah suatu antroposentrisme yang hampir tak terkekang. Arnold Toynbee, seorang ahli sejarah yang terkenal, mengatakan bahwa modernitas telah mulai sejak menjelang akbir abad ke lima belas Masehi, ketika orang Barat "berterimakasih tidak kepada Tuhan tetapi kepada dirinya sendiri karena ia telah berhasil mengatasi kungkungan Kristen abad pertengaban.

169

dalam bentuknya yang mekar sekarang ini. masih merupakan kelanjutan berbagai hasil usaha (achieve. Kristen dan Islam) maupun yang "Asia" (Hinduisme. norma-norma etis (sebagaimana antara lain dicerminkan dalam ajaran agamaagama). baru berlangsung sekitar dua abad saja. maka sebenarnya telah pula terjadi "kebetulan" serupa sebelumnya. sebab zaman Agraria sendiri. Karena merupakan suatu kelanjutan logis sejarah. dalam perspektif sejarah dunia dan umat manusia secara keseluruhan. Di samping itu. Unsur-unsur elemen terkultural kebidupan modern seperti babasa. yaitu zaman Agraria. Lambat atau pun cepat modernitas tentu muncul di kalangan umat manusia. Tanpa pernah ada zaman Agraria itu. baik yang Semitik (Yahudi. yaitu dimulainya momentum zaman Agraria dari Lembah Mesopotamia (bangsa Sumeria) sekitar lima ribu tahun yang lalu. Hakikat Modernitas Penyebutan tahap perkembangan sejarah manusia yang sedang berlangsung sekarang ini sebagai "Zaman Modern" bukannya tanpa masalah. Oleb sebab itu. pertama-tama zaman Modern harus dipandang sebagai kelanjutan wajar dan logis perkembangan kehidupan manusia. dan zaman sebelumnya disebut zaman "prasejarah" yang tanpa "peradaban. Masalah itu timbul karena inti dan hakikat zaman sekarang bukanlah kebaruannya ("modern" berarti baru). Dan patut diingat bahwa semua agama besar. adalah produk zaman sebelumnya. telah berlangsung selama sekitar lima puluh abad. Maka muncullah zaman Agraria juga disebut sebagai permulaan sejarah. bahkan huruf dan angka serta temuan-temuan ilmiah. perkataan "modern" mengisyaratkan suatu penilaian tertentu yang cenderung positif ("modern" berarti maju dan baik). namun kreatifitas itu. Jika "kebetulan" momentum zaman Modern dimulai oleh Eropa Barat Laut sekitar dua abad yang lalu.ments) umat manusia sebelumnya. semenjak permulaannya oleh bangsa Sumeria tersebut. entah kapan dan di bagian mana dari muka bumi ini. padahal. maka konsep dan lembaga kenegaraan itu sendiri adalah akibat langsung dan diciptakan oleh zaman Agraria." Karena itu Lembah Mesopotamia dianggap sebagai tempat "buaian" peradaban manusia. sementara zaman Modern. Budhisme. seolah-olah sesudah tahap ini tidak ada lagi tahap yang berarti berikutnya. dari 170 . maka modernitas adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Ini barangkali tidak perlu mengherankan.Artikel Pesantren On Line Tetapi betapa pun kreatifnya manusia di zaman Modern. Konfusionisme) lahir dan berkembang di zaman Agraria. meskipun dalam bentuknya yang masih germinal dan embriyonik. zaman Modern sendiri sama sekali mustahil. Dan jika zaman Modern membawa implikasi terbentuknya negara-negara nasional.

jika seandainya sekarang ini belum muncul. adanya peran sentral teknikalisme serta bentuk-bentuk kemasyarakatan yang terkait dengan teknikalisme serta bentuk-bentuk kemasyarakatan yang terkait dengan teknikalisme itu. Dengan tibanya zaman Teknik itu maka umat manusia tidak lagi dihadapkan kepada persoalan kulturalnya sendiri secara terpisah dan berkembang secara otonomi dari yang lain. on a rational view of life. melainkan sekedar adopsi. a secular approach to social 171 . namun. Gambaran menyeluruh modernitas sebagai budaya dunia itu secara ringkas dirumuskan Lucian W. tetapi terdorong menuju kepada masyarakat jagad (global) yang terdiri dari berbagai bangsa yang erat berhubungan satu sama lain. Di sinilah kita menghadapi persoalan berhimpitnya modernisasi dengan westernisasi (seperti secara dramatis tercermin dalam Kemalisme Turki)."Zaman Modern" sebagai konvensi (yang salah kaprah) harus diterima saja.it is based on advanced technology and the spirit of science. yaitu Revolusi Industri (teknologis) di Inggris dan Revolusi Perancis (sosial-politik) di Perancis. untuk memunculkannya. pye :. pada munculnya zaman itu. Modernitas. maka modernitas sekali dimulai oleh suatu kelompok manusia (dalam hal ini bangsa-bangsa Barat). yang menjadi salah satu sumber kesulitan bangsabangsa bukan Barat. zaman modern itu sesungguhnya bernilai netral saja. Penggunaan sepenuhnya teknologi di suatu bagian dunia (Barat) tidak lagi dapat dibatasi pengaruhnya hanya kepada tempat itu sendiri saja. Sebab meskipun menurut watak dan dinamikanya sendiri modernitas adalah budaya dunia. zaman sekarang akan lebih tepat jika disebut sebagai "Zaman Teknik" (Technical Age). Meskipun penyebutan zaman sekarang sebagai . ditilik dari hakikat intinya. atau berdasar paradigma yang ada itu membuat paradigma baru. tetapi merambah ke seluruh muka bumi.. Namun karena dimensi pengaruhnya yang global dan cepat itu. dari yang ada di Barat. Namun hasilnya tidak dapat dipandang sebagai sama sekali orisinil.Artikel Pesantren On Line sudut hakikatnya. Jadi bangsa-bangsa bukan Barat dalam usaha modernisasi dirinya terpaksa pada permulaan prosesnya harus menerima paradigma modernitas Barat.. dengan keunggulan relatif antara mereka. tidak mungkin lagi bagi kelompok manusia lain untuk memulainya dari titik no1. Wujud keterkaitan antara segi teknologis diacu sebagai dorongan besar pertama umat manusia memasuki zaman sekarang ini. sekalipun sangat kreatif seperti pada kasus bangsa Jepang. namun pada berbagai kenyataan periferalnya ia banyak membawa serta berbagai sisa limpahan (carryover) budaya Barat. "karena. tentu akan membuka kemungkinan bagi kelompok manusia mana pun. meliputi seluruh budaya manusia tanpa dapat dihindari sama sekali.

Clifford Geertz. Modernitas dan Tradisi …Certainly we cannot escape or set aside tradition as such : all cultural action takes place within a setting of tradition. konsep negara bangsa. lingkungan agama dan budaya Kristen. Namun kutipan dari Pye itu menegaskan. misalnya. Dari hasil-hasil studi itu diketahui bahwa semua sistem etika mengandung unsur-unsur yang jika dikembangkan dapat menjadi wahana untuk menopang usaha-usaha modernisasi. yaitu Barat. Dari pangkuan Islam. . lengkap dengan pengalaman Barat itu terhadap. suatu hipotesis tentang apa yang terjadi. misalnya. salah satu di antaranya. yang terpenting. dan Peter Gran. on the acceptance in the political realm of the belief that the prime unit of the polity should be nation-state. dengan beberapa modifikasi. mengingat kecenderungan kuat Islam kepada kosmopolitanisme. mungkin yang lahir bukanlah sistem kapitalisme nasional yang antara lain berakibat kolonialisme dan imperialisme itu. even when in sharpest revolt againts particular creative events of the past. Tesis Weber itu segera diimbangi oleh berbagai tesis hasil kajian lebih lanjut.It is out of the hopes and dreans carried within a tradition that the exceptional individual can forge new creative possibilities at those interstitial points in historical action when currently established ways no longer suffice and a new vision has its chance. dan jika tradisi adalah "a living dialogue grounded in common reference to particular creative events. tetapi sesuatu yang mirip dengan sistem multinational corporations sekarang ini. jika modernitas itu lahir dari kalangan bangsa-bangsa Muslim." maka usaha modernisasi sebagai suatu bentuk tindakan kultural yang amat penting juga berlangsung dalam perangkat tradisi yang dinamis ("dialogis"). pada peringkat ekonomi. Kesadaran akan masalah ini telah melahirkan berbagai kajian ilmiah. misalnya. mungkin konsep negara-negara itu akan tidak menjadi unsur keharusan modernitas. Jika tindakan kultural selalu berlangsung dalam perangkat tradisi. seperti yang dilakukan oleh Robert N . ialah tesis Max Weber tentang etika Protestan. and above all else.. tradition is not the contrary of progress but the vehicle of it. selain unsur-unsur yang memang universal seperti ilmu dan teknologi. Sementara itu. Itulah persis yang terjadi di Eropa Barat pada permulaan modernisasi. a feeling for social justice in public affairs. betapa dalam fakta tentang modernitas yang "given" sekarang ini terdapat unsur-unsur budaya di mana ia dilahirkan pertama kali. Bellah. As we have seen.Artikel Pesantren On Line relations. seperti. dan itulah yang seharusnya terjadi di tempat-tempat lain di luar Eropa Barat. Ungkapan tentang modernitas dalam "nutshell" oleh Pye itu jelas sekali mengandung unsur-unsur budaya dan pengalaman Barat. misalnya.. Keberhasilan 172 .

Maka bangsa-bangsa Muslim. program. mungkin sekali merupakan kelompok manusia yang paling banyak mempunyai kaitan historis dengan Barat yang melahirkan modernitas itu. termasuk yang berkembang berdasarkan agama. betapa pun jauhnya berakar dalarn agama. yang timbul karena kompleks sebagai pihak yang kalah (berbeda dengan kedudukan internasional Islam klasik. sebagai dialog dinamis. modernisasi bagi mereka menyangkut bentuk kesulitan lain yang meskipun bersifat sampingan namun cukup efektif untuk menjadi penghalang. selalu bersifat historis. yaitu dimunculkannya ke permukaan berbagai potensi kreatif dari celah-celah sistem budaya yang ada. Namun sudah tentu kenyataan sosial masing-masing kelompok manusia selalu mengandung berbagai unsur perbedaan dari satu ke yang lainnya. Karena itu mungkin salah satu tantangan bangsa. bekas saingan. yaitu gejala tumbuhnya kewirausahawanan (enterpreneurship) pada orang-orang Muslim yang jika berkembang dengan bebas (dan kreatif) menurut dinamika internalnya sendiri akan dapat membawa masyarakat-masyarakat bersangkutan kepada modernisasi.Artikel Pesantren On Line Jepang dengan agama Tokugawanya telah menjadi pengetahuan umum. Semua pola budaya. Ini tentu penting sekali dalam kaitannya dengan usaha negara-negara berkembang (yang bukan Barat dan bukan pula Protestan itu) untuk mengembangkan kewirausahawanan sebagai pendukung dan pelaksana modernisasi. Salah satu rnakna dari kenyataan itu ialah bahwa suatu pola budaya. dan diganti dengan kesanggupan melihat keadaan seperti adanya. yang waktu itu umat Islam adalah pihak yang menang dan berkuasa). khususnya bangsa-bangsa Muslim. apalagi jika menghambat. maupun tindakan (khususnya yang berskala besar). Kesulitan semakin menjadi akut karena faktor psikologis yang lain. Tetapi disebabkan oleh berbagai pengalaman sejarah interaksi antara kedua kelompok budaya itu.bangsa bukan Barat. Tetapi Geertz dan Gran juga melihat gejala yang mirip pada orang-orang Islam (berturut-turut masing-masing di Jawa Timur dan Mesir). maka di sinilah letak relevansinya melihat kemungkinan terjadinya apa yang diisyaratkan oleh Hodgson. harus dinilai 173 . jika memang pola budaya yang mapan sekarang tidak lagi dirasakan cukup menopang. kalau bisa malah secara positif dan optimis. yang pengalaman itu ditandai dengan rasa permusuhan dan persaingan yang berkepanjangan. yaitu kesulitan psikologis berhadapan dengan Barat. Disebabkan oleh kebutuhan riil akan perangkat ekspresi simbolik dalam mengkomunikasikan ide. termasuk dan terutama sistem budaya berdasarkan agama. jika bukannya musuh sepanjang sejarah. karena itu rnanusiawi. dalam usaha mendorong modernisasi ialah membebaskan diri dari psikologis masa lalu yang serba traumatis itu. misalnya.

dan dengan sendirinya juga dengan agamaagama bukan Kristen di mana saja. the application of technologies in competitive market situations.the growth of lending and foscal devices. Like the underworld of crime. and the influence of trade and voyages on the scientific spirit all of which are evi.dence that modernity in the West attacked and superstition. Dari sudut penglihatan inilah kita harus memahami suatu pernyataan seperti. And often enough this phrase tells a literal description: it refers to the kitchens and furnace rooms that are under the city. dalarn arti bahwa suatu pola budaya merupakan interpretasi manusiawi atas noktahnoktah keagamaan. it tells of the place where tens of thousands of hidden peolple labor at impossible wages." Materialisme Modernitas Each big city in the United Stated has an economic underworld. Kennedy di Amerika Serikat. adalah problema yang sampai sejauh ini nampak 174 .." Sebab bentuk hubungannya dengan suatu agama yang mendasarinya ialah hubungan interpretatif. keilmuan dan kebebasan berusaha. bisa juga terjadi pada agama Kristen di ternpat lain.Artikel Pesantren On Line sebagai selalu berkernbang. Tetapi suatu "keharusan" tidak dengan sendirinya bernilai positif. Mungkin modernitas memang suatu keharusan sejarah. . Problema yang secara mendalam diprihatinkan oleh Michael Harrington. yang tidak sesuai dengan etos-etos modernitas seperti rasionalitas. Maka tantangan yang berat ialah bagaimana membebaskan pemahaman manusia akan agama dari unsur-unsur takhayul. Ini berarti bahwa penghadapan suatu fase terakhir perkembangan budaya tertentu kepada "agama". family and Church. tidak statis. mercantlisim and autocracy. lebih tepat dipandang sebagai penghadapan fase perkembangan itu tidak dengan agama an sich. tetapi dengan pola budaya keagamaan yang merupakan interpretasi manusiawi dan historis atas noktah-noktah ajaran agama itu. seperti modernitas yang dinilai orang banyak berhadapan dengan "nilai-nilai" keagamaan. tokoh yang disebut-sebut sebagai salah seseorang "aktor intelektualis" di belakang pemerintahan mendiang Presiden John F. jika memang agama itu tidak merupakan kumpulan takhayul sendiri seperti halnya agama-agama "primitif. dan tidak dibuat "sekali untuk selamanya. Yaitu bahwa dalam tradisi keagamaan (Kristen di Barat) itu banyak unsur-unsur yang merupakan hasil interpretasi manusia dalam interaksinya dengan sejarah dan dengan berbagai unsur budaya yang lain di sana. clandestine. the economic underworld is out of sight. the need to support modern armies. yang dibuat oleh David Apter dalam menekankan proses ganda modernisasi sebagai proses komersialisasi dan industrialisasi.. misalnya. Sebagaimana hal itu terjadi pada agama Kristen di Barat.

"Indeed systematic explorations reveal that the disires for security and material wellbeing are common elements in human nature. Apalagi adanya suatu kenyataan yang tak mungkin diingkari bahwa kemakmuran material mempunyai berbagai akibat pada bidangbidang bukan ekonomi seperti sosial. dunia dan pengalaman hidupnya secara pesimis. dan pengingkaran kepada realita itu hanya mungkin jika seseorang sepenuhnya menganut pandangan hidup yang melihat manusia. politik. Seperti tersirat dalam judul buku Harrington. sampai batas tertentu. yaitu usaha peningkatan kesejahteraan material adalah kelanjutan wajar dorongan naluri manusia sendiri untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik. Kebutuhan material manusia adalah realita. atau sekurang-kurangnya lebih realistis. yaitu kemiskinan yang menyayat hati. Kesadaran ini telah menjadi sumber dorongan yang kuat bagi bangsa-bangsa bukan Barat untuk berusaha melakukan modernisasi. Dan itulah pula salah satu keterangan tentang Jepang mengapa bangsa itu memiliki dorongan yang hebat untuk modernisasi dan akhirnya berhasil. Modernity simply brings these characteristics to the fore. Wood. Tetapi justru kapitalisme itulah motor yang menggerakkan bangsabangsa Barat sehingga menjadi bangsa-bangsa modern. kepada kehidupan akan membawa kita kepada penglihatan bahwa modernisasi biarpun dalam bentuknya yang paling lahiriah. yakni. The Other America. sehingga kemunduran di bidang ekonomi selalu berakibat kelemahan di bidang-bidang itu. Yaitu karena kebutuhan kemandirian Jepang dan daya tahannya sendiri. Sedangkan pandangan yang lebih optimis. Yaitu problema kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin. pertahanan dan lain-lain. adalah kelanjutan materialisme. khususnya bagi negaranegara berkembang." 175 . sebagaimana makna harfiahnya sendiri telah menunjukkan. selalu mengandung pengertian perjuangan mencapai taraf hidup yang lebih tinggi atau lebih makmur. Dan kapitalisme itu. materialisme modernitas bukanlah sesuatu yang berada terlalu jauh dari natur manusia beserta kebutuhan-kebutuhan dasarnya.Artikel Pesantren On Line selalu menyertai modernitas. Karena itu. Seperti dikatakan Robert C. Oleh karena itu proses modernisasi. setiap wajah cerah masyarakat modern menyembunyikan di balik dirinya wajah yang suram. lni lebih-lebih lagi benar berkenaan dengan tahap-tahap awal munculnya zaman Modern yang ditandai oleh naiknya kapitalisme. yaitu pada masa ia tampil utuh dan "telanjang" sebelum banyak diperlunak oleh ide-ide kemanusiaan dan keadilan sosial yang kemudian sedikit demi sedikit tertuang dalam berbagai ketentuan dan peraturan guna mengendalikan kebringasan kapitalisrne itu. pandangan hidup yang memberi tempat sangat tinggi kepada kenikmatan lahiriah.

betapapun ia pada dasarnya merupakan hal yang alami belaka. akan menjadi relevan untuk dipermasalahkan kalau diingat betapa tidak mungkinnya seluruh umat manusia mencapai taraf hidup ukuran bangsa-bangsa modern seperti Amerika saat ini.. mungkin keputusasaan. misalnya. pada banyak orang. ". ekonomi dan politik. may eventually compete with India and the Far East and Russia for the price of influencing the future in ways that may pass our under-standing. Dan segi-segi kekurangan itu terutama mereka telusuri sebagai kebanyakan bersumber kepada materialismenya yang sangat menonjol. Jika ada banyak hal yang tersirat dari ungkapan Toynbee itu. dan malah mungkin terbatasi. yang diselipkan dalam pandangan tentang kemungkinannya kelompok. Pembatasan itu. untuk menemukan jalan hidup yang lebih unggul daripada yang ada pada orang Barat modern sekarang ini. terkendali. namun materialisme modernitas dan kecenderungan serta perjuangan manusia untuk meningkatkan taraf hidup duniawinya harus diusahakan untuk bisa terarah. dan keteringkaran ini membuat semakin parah lagi masalah pemerataan dan keadilan sosial seperti diprihatinkan oleh Harrington tersebut di atas tadi. banyak orang mengalami keteringkaran (deprivation). Dalam posisi kurang favourable semacam itu." suatu ungkapan yang menyimpan keraguan tentang diri sendiri. manusia lain bukan Barat. 176 .Artikel Pesantren On Line Karena itu permasalahan yang perlu dipecahkan dalam kehidupan modern bukanlah terutama apa yang sering dikemukakan orang sebagai kemunduran kepribadian bangsa karena secara moral menjadi lunak akibat modernisasi. untuk aktif berpartisipasi dalam usaha mengembangkan peradaban modern. Oleh karena itu. mengingat sedemikian terbatasnya sumber daya alami bumi.In ways that may pass our understanding . in entering into the proletarian underworld of our latter day Western civilization." Adalah magnitude dan kompleksitas kehidupan modern itu (yang untuk bisa memahami dan menyertainya seseorang memerlukan antara lain tingkat pendidikan yang tinggi) beserta "perubahan yang terlembagakan" sehingga tidak ada hal permanen kecuali perubahan itu sendiri mengakibatkan adanya dislokasi dan disorientasi. . dalam hal ini Islam. melainkan "usaha menanggulangi kehidupan dalam ukuran dan skala yang cepat berkembang dan mengatasi masalah kompleksitas besar pola-pola sosial. satu yang mungkin paling penting ialah bahwa orangorang Barat sendiri banyak yang menyadari segi-segi kekurangan peradaban modern mereka. Iman dan Modernitas Islam. yang bersemangat yang sama dengan paham lingkungan [environmentalism]. Ungkapan Arnold Toynbee ini juga bisa dilihat sebagai harapan kepada bangsa-bangsa Muslim. fakta yang ikut mengilhami "Gerakan Pertumbuhan No1" [Zeri Growth Movement] pada sebagian masyarakat.

khususnya inereka yang merasa memiliki kekayaan keruhanian lebih dari bangsa-bangsa Barat yang materialistis itu (agama-agama semua lahir di Timur). maka pembicaraan tentang problema masyarakat modern dari segi kesulitan orang-orang modern (Barat) untuk menemukan makna hidup pribadi seperti diungkapkan oleh Robert C. habits and clearly defined approproate roles and styles are hard to find.The difficulty of many people in modern circumstances is not that they are overdirected or overcontrolled. clandestine. yang benar-benar clandestine. maka perhatian bangsa-bangsa Dunia Ketiga dari Timur. all the awesome stresses. maka kita benar-benar berhadapan dengan berbagai kenyataan pincang kehidupan modern. dipandang sebagai pembicaraan ten tang kepalsuan. Jika Harrington menyebutkan bahwa kemiskinan di kota-kota besar dalam sistem "ekonomi dunia bawah" adalah dunia tersembunyi. Institutions. and pressures of the urban world come to play on the individual personality structure.. Dan ini mulai dibuktikan oleh tampilnya Jepang pada dasawarsa terakhir ini.. but rather that they lack the resources to find meaningful personal lives. namun sesungguhnya dunia itu masih berada dalam dimensi kehidupan material. handled and obsorbed by whatever defenses the individual psyche may possess. atau. Untuk meloncat saja kepada masalah keruhanian mungkin terasa keburu nafsu: Tetapi jika dimulai dengan masalah keutuhan manusia. yang dapat melampaui produktifitas teknik dan organisasi mereka. Consequently. ialah kenyataan yang berdimensi spiritual. Michael Harrington telah dikutip berkenaan dengan kepribadiannya tentang kepincangan sosial-ekonomi kawasan perkotaan besar. Sedangkan suatu dunia yang lebih-lebih lagi tersembunyi.Artikel Pesantren On Line Sebab sementara tidak sedikit orang Barat yang beranggapan bahwa keunggulan mereka di bidang ekonomi dan teknologi tak akan terkejut oleh siapa pun dari bangsa-bangsa lain di dunia. customs. strains. yang membuat orang mulai berpikir tentang kemungkinan bergesernya titik pusat kemajuan manusia modern dari Lembah Atlantik (Eropa. Tetapi jika kita memiliki cukup kesediaan untuk memahami dan mengakui keadaan sekeliling kita. harus ditujukan kepada bagian dari segi negatif modernitas yang mungkin mereka bisa memberi kontribusi mereka yang terbaik untuk mengatasinya. Dalam suatu dunia yang sedang dikuasai oleh materialisme pembicaraan tentang hal-hal spiritual bukanlah perkara mudah. Clear 177 . namun mereka masih tetap melihat kemungkinannya supremasi mereka itu ditantang oleh temuan akan suatu bentuk teknik dan organisasi yang lebih unggul. . These must be coped with. bukan material. Mungkin akan dinilai sebagai pembicaraan yang tidak relevan dengan kehidupan. Wood. lebih celaka lagi. Kecuali jika hal terakhir ini terbukti palsu belaka sehingga harus segera dicampakkan sebagai wishful thinking semata.Amerika) ke Lembah Pasifik (Amerika -Timur Jauh).

Malah iman yang benar. Karena tuntutan-tuntutan kepada pabam Ketuhanan pun menjadi sangat negatif. maka sebenarnya modernitas akan dapat menjadi batu penguji kebenaran seruan suci itu. being human. termasuk intelektual dan imaginatifnya. Dan jika kita mampu mengungkapkan dengan nalar makna meluas dan mendalam simpul-simpul nilai keagamaan seperti iman. akan lebih mendapat dukungan manusia modern. inabah. nabi. in both cases. ikhlash. anymore than a physicist needs to visualize electron. dan bersama dengan itu sekaligus membebaskan diri dari belenggu takhayul dan supersitisi. tasbih. tawakkul ("tawakal"). Dalam agama Yahudi dan Islam. yang bebas dan murni dari setiap bentuk representasi. Many men who are intelligent and of good faith imagine they cannot believe in God because they are unable to conceive Him. atau perintah menggunakan akal. sejauh ini dan di tempat yang mereka kenal. yaitu tidak cocok dengan alam manusia sendiri. It is probably symptomatic of these pressures that the United States' most prevalent disbling ailment is mental illness. Dan jika modernitas adalah perkembangan alami manusia. In creasingly. maka mungkin kita akan banyak menemukan jawaban alami (fithri) untuk berbagai persoalan hidup 178 . Tuhan adalah ketidaksabaran orang akan kenisbian diri dan kemampuannya. If we could really conceive God we could no longer believe in Him because our representation.Artikel Pesantren On Line guidelines of professional and organizational behavior tend to disappear. syukur. dll. tuntutan untuk merepresentasi Tuhan timbul hanya karena orang memahami Tuhan sebagai nisbi. Representasi Tuhan yang pasti kasar dan palsu itulah sumber politheisme. Sebab mendasari setiap tuntutan kepada konsep Ketuhanan yang bisa merepresentasi . tanpa disadari. seperti dikatakan Lecomte de Nuy. ihsan. shoul not need to visualize God. islam. dorongan. modern people become preoccupied with job and meaningful encounters with other classes and groups. maka ketidakcocokan itu bisa bermakna serius. The electron is materially inconceivable and yet. Barangkali saja kegagalan atau kesulitan manusia menemukan makna hidup itu ialah karena mereka. Dan jika dalam Kitab Suci seruan iman kepada manusia selalu disertai dengan anjuran. maka iman tidak akan hilang oleh rnodernitas. disuguh dengan konsep-konsep ultimacy dalam bentuk paham Ketuhanan yang mereka rasa tidak cocok dengan sendi-sendi modernitas itu sendiri. it is more perfectly known through its effects than a simple piece of wood. tasbih. Berdasarkan itu. seperti dicerminkan dalam ikonoklastikanti gambar representasi obyek-obyek suci seperti Tuhan. Dengan kata lain. tahmid dll. would inspire us with doubts. malaikat. Any attempt at representation is necessarily crude and false. Sebab dengan iman yang murni ia tetap memiliki pegangan hidup. An honest man. endowed with scientific curiosity.

com 179 . 2004 from : www.Artikel Pesantren On Line kita.pesantrenonline. Retrieved on March. 16th. khususnya kehidupan modern yang cenderung individualistis dan atomistis (depersonalized) ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful