SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

MATERI PELATIHAN GURU
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 SMA

MATEMATIKA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2013
Pendahuluan | i

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

Diterbitkan oleh: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2013

Copyright © 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pendahuluan | ii

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt, Kurikulum 2013 secara terbatas mulai dilaksanakan tahun 2013 pada sekolah-sekolah yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan secara selektif. Kurikulum 2013 merupakan pengembangan dari kurikulum sebelumnya untuk merespon berbagai tantangan tantangan internal dan eksternal. Titik tekan pengembangan Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan. Pengembangan kurikulum menjadi amat penting sejalan dengan kontinuitas kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya serta perubahan masyarakat pada tataran lokal, nasional, regional, dan global di masa depan. Aneka kemajuan dan perubahan itu melahirkan tantangan internal dan eksternal yang di bidang pendidikan pendidikan. Karena itu, implementasi Kurikulum 2013 merupakan langkah strategis dalam menghadapi globalisasi dan tuntutan masyarakat Indonesia masa depan. Pengembangan Kurikulum 2013 dilaksanakan atas dasar beberapa prinsip utama. Pertama, standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan. Kedua, standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran. Ketiga, semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Keempat, mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai. Kelima, semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti. Keenam, keselarasan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian. Aplikasi yang taat asas dari prinsip-prinsip ini menjadi sangat esensial dalam mewujudkan keberhasilan implementasi Kurikulum 2013.

Mudah-mudahan implementasi Kurikulum 2013 ini bisa berjalan dengan baik. Akhirnya, kepada semua pihak yang telah mendedikasikan dirinya dalam mempersiapkan Kurikulum 2013, saya mengucaplkan banyak terima kasih. Semoga bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa Indonesia.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Muhammad Nuh

Pendahuluan | iii

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya Modul Bahan Ajar Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Modul bahan ajar ini merupakan bahan ajar wajib dalam rangka pelatihan calon instruktur, guru inti, dan guru untuk memahami Kurikulum 2013 dan kemudian dalam proses pembelajaran di sekolah. Kurikulum 2013 ini diberlakukan secara bertahap mulai tahun ajaran 2013-2014 melalui pelaksanaan terbatas, khususnya bagi sekolah-sekolah yang sudah siap melaksanakannya. Pada Tahun Ajaran 2013/2014, Kurikulum 2013 dilaksanakan secara terbatas untuk Kelas I dan IV Sekolah Dasar/Madrasah Ibtida’iyah (SD/MI), Kelas VII Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Kelas X Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah (SMA/SMK/MA/MAK). Pada Tahun Ajaran 2015/2016 diharapkan Kurikulum 2013 telah dilaksanakan di seluruh kelas I sampai dengan Kelas XII. Menjelang implementasi Kurikulum 2013, penyiapan tenaga guru dan tenaga kependidikan lainnya sebagai pelaksana kurikulum di lapangan perlu dilakukan. Sehubungan dengan itu, Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP), telah menyiapkan strategi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas. Pada tahun 2013 pelatihan akan dilakukan bagi pengawas SD/SMP/SMA/SMK, kepala sekolah SD/SMP/SMA/SMK, dan guru Kelas I dan IV SD, guru Kelas VII SMP untuk 9 mata pelajaran, dan guru Kelas X SMA/SMK untuk 3 mata pelajaran. Guna menjamin kualitas pelatihan tersebut, maka BPSDMPK dan PMP telah menyiapkan 14 Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, sesuai dengan kelas, mata pelajaran, dan jenjang pendidikan. Modul ini diharapkan dapat membantu semua pihak menjalankan tugas dalam Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Saya mengucpkan terima kasih dan penghargaan atas partisipasi aktif kepada pejabat dan staf di jajaran BPSDMPK dan PMP, dosen perguruan tinggi, konsultan, widyaiswara, pengawas, kepala sekolah, dan guru yang terlibat di dalam penyusunan modul-modul tersebut di atas.

Jakarta, Juni 2013 Kepala Badan PSDMPK-PMP

Syawal Gultom NIP. 19620203 198703 1 002

Pendahuluan | iv

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

DAFTAR ISI

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAGIAN I PENDAHULUAN A. Tujuan Umum Pelatihan B. Indikator Umum Ketercapaian Tujuan C. Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai D. Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan E. Tahapan, Nara Sumber, dan Peserta Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, untuk Guru, Kepala Sekolah, F. dan Pengawas G. Penilaian H. Panduan Narasumber dan Fasilitator I. Kode Etik Narasumber J. Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013

iii iv v 1 2 2 3 3 3 5 6 6 7 8 10 11 13 15 19 25 29 32 33 34 34 34 34 35 59 60 60 60 61 62 64 93 105

Sistematika Modul BAGIAN II SILABUS PELATIHAN A. Silabus Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset B. Silabus Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013 C. Silabus Materi Pelatihan 2: Analisis Materi Ajar D. Silabus Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran E. Silabus Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing BAGIAN III MATERI PELATIHAN MATERI PELATIHAN 0: PERUBAHAN MINDSET A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D Perangkat pelatihan Skenario kegiatan Bahan tayang MATERI PELATIHAN 1 : KONSEP KURIKULUM 2013 A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 1.1 Rasional Kurikulum 1.2 Elemen Perubahan Kurikulum 1.3 SKL, KI, dan KD
K.

Pendahuluan | v

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

1.4 Strategi Implementasi Kurikulum MATERI PELATIHAN 2 : ANALISIS MATERI AJAR A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 2.1 Konsep Pendekatan Scientific 2.2 Model Pembelajaran 2.3 Konsep Penilaian Autentik pada Pembelajaran 2.4 Analisis Buku Guru dan Siswa MATERI PELATIHAN 3 : MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 3.1 Penyusunan RPP 3.2 Perancangan Penilaian Autentik MATERI PELATIHAN 4 : PRAKTEK PEMBELAJARAN TERBIMBING A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Kompetensi Peserta Pelatihan D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 4.1 Simulasi Pembelajaran 4.2 Peer Teaching

127 131 132 132 132 133 134 137 171 222 246 259 260 260 260 260 261 263 280 291 292 292 292 292 294 295 304

Pendahuluan | vi

D. F. E. Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013 1.2 Peer Teaching F. Tujuan Umum Pelatihan Indikator Umum KetercapaianTujuan Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan Tahapan.4 Strategi Implementasi C.1 Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu 2.1 Rasional 1. C. B. C.3 Model Pembelajaran 2. dan Peserta Pelatihan Struktur Pelatihan Penilaian Panduan Narasumber dan Fasilitator Kode Etik Narasumber Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Sistematika Materi Pelatihan Silabus Perubahan Mindset Silabus Konsep Kurikulum 2013 Silabus Analisis Materi Ajar Silabus Model Rancangan Pembelajaran Silabus Praktik Pembelajaran Terbimbing BAGIAN 2: SILABUS A.3 SKL. A. Program Pendampingan BAGIAN 3: MATERI PELATIHAN Pendahuluan | vii . D. J.2 Konsep Pendekatan Scientific 2. Narasumber. Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing 4. B. Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran 1. Materi Pelatihan 2: Analisis Materi Ajar 2.4 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar 2. H. E. K. G. I. Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset B.1 Simulasi Pembelajaran 4.1 Penyusunan RPP 1.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar E.2 Elemen Perubahan 1.5 Analisis Buku Guru dan Buku SIswa D.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 GAMBARAN STRUKTUR MATERI PELATIHAN GURU IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGIAN 1: PENDAHULUAN A. KD 1. KI.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN I PENDAHULUAN Matematika – SMA/MA/SMK | 1 .

Sesuai dengan Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013 mendapatkan bantuan secara benar dari pengawas sekolah selama implementasi Kurikulum 2013.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN I PENDAHULUAN Modul Pelatihan ini disiapkan untuk digunakan para Narasumber Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 sesuai dengan kelas. 3. 1. dan penilaian Kurikulum 2013. A. Kepala sekolah mampu mengerahkan sumber daya yang dimiliki dalam rangka menjamin keterlaksanaan implementasi Kurikulum 2013. Kepala Sekolah Inti. 2. sarana. sasaran pelatihan. Indikator Umum Ketercapaian Tujuan Hasil monitoring dan evaluasi implementasi Kurikulum 2013 pada akhir Tahun Ajaran 2013/2014. (5) Bahan/Materi Pelatihan untuk masing-masing Mata Pelatihan. sumber daya manusia. dan penilaian Kurikulum 2013. proses pembelajaran. VII. Guru Inti. Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP) telah menetapkan jenjang atau tahapan pelatihan. menunjukkan di bawah ini. Bahan/Materi Pelatihan yang dimaksud meliputi hand-out. Instruktur Nasional. Tujuan Umum Pelatihan Tujuan Umum Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 adalah sebagai berikut. dan struktur pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 untuk tahun kalender 2013. 1. X mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan. Modul ini memberi panduan bagi para pengguna mengenai (1) Tahapan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. (2) Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. dan kebijakan sekolah. Narasumber yang dimaksudkan adalah Narasumber Nasional. (4) Panduan Penilaian. Tujuh puluh persen (70%) guru kelas I. Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013 tidak mengalami hambatan biaya. 3. 2. isi. B. Matematika – SMA/MA/SMK | 2 . isi. IV. Pengawas sekolah mampu memberikan bantuan teknis secara benar kepada sekolah dalam mengatasi hambatan selama implementasi Kurikulum 2013. Guru mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan. proses pembelajaran. lembar kerja/worksheet. mata pelajaran dan jenjang pendidikan. bahan tayang baik dalam bentuk slide power point maupun rekaman video. (3) Panduan Narasumber. dan Pengawas Sekolah Inti.

Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan pendekatan Scientific secara benar. maka pelatihan ini menerapkan strategi pelatihan bertahap atau berjenjang. 6. Analisis buku siswa dan buku guru untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. kepala sekolah. dan santun. elemen perubahan. 4. maka berikut ini kompetensi inti yang harus dicapai peserta setelah mengikuti pelatihan. Contoh instrumen penilaian untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. Narasumber. Contoh RPP untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. 9. Memiliki keterampilan menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP) dengan mengacu pada Kurikulum 2013. Memiliki keterampilan berkomunikasi lisan dan tulis dengan runtut. Kompetensi Inti (KI). dan Buku Siswa. benar. 3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 C. KI. Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai Berdasarkan Indikator Ketercapaian Tujuan. KD untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. E. Mengingat jumlah sasaran akhir pelatihan sangat besar dan sebaran sasaran akhir pelatihan sangat luas. 2. Project Based Learning. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013. Kompetensi Dasar (KD). Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan Setelah selesai mengikuti pelatihan. 1. Memiliki keterampilan melaksanakan penilaian autentik dengan benar. Memiliki keterampilan menganalisis keterkaitan antara Standar Kompetensi Kelulusan (SKL). Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. guru. selama 1 semester. kepala sekolah dan pengawas. selama 1 semester. selama 1 semester. selama 1 semester. 8. dan Discovery Learning. 3. dan pengawas sekolah mampu mewujudkan hasil kerja secara kolektif berikut ini. Tahapan atau Matematika – SMA/MA/SMK | 3 . KI dan KD. 7. Buku Guru. 4. 2. 5. Tahapan. D. 1. serta strategi implementasi). SKL. Memiliki pemahaman yang mendalam tentang Kurikulum 2013 (rasional. dan Peserta Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Sasaran akhir dari pelatihan ini adalah guru. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013. Analisis SKL.

Pelatihan Kepala Sekolah Inti. Matematika – SMA/MA/SMK | 4 . dan Tingkat Kabupaten/Kota. Pelatihan Guru Inti. narasumber yang akan bertugas. Diagram tersebut menunjukan terdapat 3 tahap pelatihan yaitu:Pelatihan Tingkat Nasional.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 jenjang pelatihan. Pelatihan Kepala sekolah. serta sasaran peserta dapat dijelaskan pada diagram berikut ini. dan Pelatihan Pengawas. yakni: Pelatihan Instruktur Nasional. Pelatihan Pengawas Inti. Tahapan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Tahapan pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 dapat dilihat pada diagram 1 di atas. Secara keseluruhan terdapat 7 jenis pelatihan. Pelatihan Guru Kelas/ Mapel. Tingkat Provinsi. Narasumber: Narasumber Nasional PELATIHAN INSTRUKTUR NASIONAL Peserta: Instruktur Nasional Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN GURU INTI Peserta: Guru Inti Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN KEPALA SEKOLAH INTI Peserta: Kepala Sekolah Inti Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN PENGAWAS INTI Peserta: Pengawas Inti Narasumber: Guru Inti PELATIHAN GURU KELAS/MAPEL Peserta: Guru Kelas/Mapel/BK Narasumber: Kepala Sekolah Inti PELATIHAN KEPALA SEKOLAH Peserta: Kepala Sekolah Narasumber: Pengawas Inti PELATIHAN PENGAWAS Peserta: Pengawas Diagram 1.

1.5 6 6 4 4 6 6 3.5 2 1 2.5 0.5 2 1 SMP/MTs SMA/SMK /MA 2 4 0.5 0. 4.1 1. Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013.1 3.5 2 1 IPA 2 4 0.1 PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING Simulasi Pembelajaran 22 8 22 8 22 8 22 8 22 8 22 8 Matematika – SMA/MA/SMK | 5 .2 2.5 0.5 2 1 Kelas IV 2 4 0. 2. Kecukupan.1 ANALISIS MATERI AJAR Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu Konsep Pembelajaran IPA Terpadu Konsep Pembelajaran IPS Terpadu 12 2 12 2 12 12 12 12 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2.2 1.3 1. 1. untuk Guru.5 0. dan Pengawas Sekolah SD/MI No MateriPelatihan Kelas I 0. KI dan KD Strategi Implementasi 2 4 0.5 2 1 IPS 2 4 0.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 F. Kepala Sekolah.5 0.4 Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. Kepala Sekolah.5 2 1 Lainnya 2 4 0. dan PengawasSekolah Tabel 1: Struktur Pelatihan Guru.5 0. 3.3 2.2 MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN Penyusunan RPP Perancangan Penilaian Autentik 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 4. dan Kedalaman Materi) 2.4 PERUBAHAN MINDSET KONSEP KURIKULUM 2013 Rasional Elemen Perubahan SKL.

Memahami isi modul sesuai bidang yang ditugaskan. 1. tes akhir. Metode penilaian yang diterapkan di dalam penilaian ini meliputi: 1. Panduan Narasumber dan Fasilitator Narasumber memainkan peran yang sangat penting untuk menjadikan suatu pelatihan yang menarik dan menyenangkan. Setiap calon instruktur nasional. Jumlah narasumber yang akan bertugas sebanyak 3 (tiga) orang selama proses pelatihan. dan pengamatan. portofolio. Matematika – SMA/MA/SMK | 6 . 3. kepala sekolah inti. 2.2 Peer Teaching 14 14 14 14 14 14 PENDAMPINGAN 2 2 2 2 2 2 TES AWAL DAN TES AKHIR 2 2 2 2 2 2 TOTAL 52 52 52 52 52 52 G. Narasumber membagi tugas secara bersama-sama dengan prinsip keadilan. tes awal. memberikan penjelasan tambahan. Penilaian meliputi tiga ranah yaitu: 1. dan pengawas inti dinyatakan lulus apabila mencapai nilai 75 dan memiliki kewenangan untuk melatih. pengetahuan. sikap 2. keterampilan Penilaian autentik diterapkan di dalam pelatihan ini. guru inti. Penilaian Seusai pelatihan. H.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 4. maka narasumber lainnya berperan sebagai fasilitator yang membantu dalam menyiapkan perangkat pelatihan. Ketika seorang narasumber bertugas memberikan materi pelatihan. dan 3. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang narasumber adalah berikut ini. panitia pelatihan akan mengumumkan hasil penilaian peserta. 4. dan melakukan penilaian kepada peserta.

Mengurangi penjelasan definisi. menggali data. Menyerahkan laporan tertulis setiap selesai melakukan pelatihan. Kode Etik Narasumber Setiap fasilitator pelatihan wajib menyetujui dan menerapkan kode etik berikut ini. dan sebagainya. 4. tetapi wajib melibatkan peserta secara aktif dalam mencari. yang tua. Terpancing dalam perdebatan dengan peserta yang dapat mengakibatkan habisnya waktu. Menyiapkan alat. berperilaku. Memanggil nama peserta untuk mengurangi ketegangan. sumber. memecahkan masalah. 7. memberikan motivasi. dan media belajar yang diperlukan. 3. yang meliputi ranah sikap. dan keterampilan. 5. Memotivasi peserta untuk mengambil kesimpulan sendiri. e. 5. Menjawab pertanyaan yang tidak dipahami maksudnya. dan memberikan konfirmasi. 2. menganalisis alternatif temuan. Memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta baik laki-laki maupun perempuanyang memiliki keterbatasan berbicara. 8. Mengaktifkan peserta untuk menjawab pertanyaan peserta lain. Melaksanakan pelatihan sesuai dengan modul dan mematuhi urutan dalam skenario pelatihan yang telah disusun. Memberikan contoh panutan bagi peserta. 3. Matematika – SMA/MA/SMK | 7 . Melaksanakan penilaian terdiri atas: tes awal. mengambil keputusan atau simpulan. Menghindari hal-hal berikut ini. yang pendiam. 9.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 2. dan penilaian proses. a. Berperan sebagai orang yang serba tahu. Mencatat kehadiran peserta sebagai bagian dari bahan penilaian. menanyakan argumentasinya mengapa peserta mengambil simpulan itu.. d. 4. Tugas Narasumber yang Berperan sebagai Fasilitator 1. 6. Menjawab pertanyaan yang tidak perlu dijawab. c. Membagi bahan pelatihan kepada peserta sesuai haknya. cara memberikan umpan balik. Menjawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabnya. 10. I. menjawab pertanyaan. cara memberikan pertanyaan. tes akhir. b. menguatkan dan menekankan simpulan itu. maupun penguasaan materi pelatihan. pengetahuan. Mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab peserta sesering mungkin (jangan pertanyaan yang sulit dijawab atau terlalu mudah dijawab peserta). baik dalam hal disiplin. yang minoritas.

2/1. Melakukan penilaian secara objektif. 0.1 V-2.1 V-1. KD Kerja/Rubrik ANALISIS MATERI AJAR Video Bahan Tayang Pembelajaran Matematika SMA Model-model Pembelajaran Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Project Based Learning KODE PPT-0.4 HO-1. KI.1 PPT-1.3 HO-1.4 HO-1.3 2. dan KD Lembar Analisis Keterkaitan SKL.1 PPT-1. Memberlakukan peserta secara adil dan tidak diskriminatif.3 PPT-1. Tabel 2. 4. 2. KD Strategi Implementasi Hand-Out Naskah Kurikulum 2013 Contoh Analisis Keterkaitan antara SKL. 1. 3. V-2.2-1 Matematika – SMA/MA/SMK | 8 .2 PPT-1.3 PPT-2.1/4. Beberapa dokumen pelatihan digunakan sebagai acuan untuk beberapa materi pelatihan sebagaimana tercermin dalam pengkodean bahan pelatihan. Menjaga kerahasiaan semua alat penilaian yang akan digunakan.2 LK-1. KI. MATERI PELATIHAN PERUBAHAN MINDSET Bahan Tayang Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 KONSEP KURIKULUM 2013 Video Tayangan Paparan Kurikulum 2013 oleh Mendikbud Bahan Tayang Perubahan Mindset Rasional dan Elemen Perubahan SKL. J.1/1. Daftar dan Pengkodean Materi Pelatihan NO. Menghormati kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan implementasi Kurikulum 2013.4/3.1-1 PPT-2. KI.3/2. dan KD SKL.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 1.1/3. 5. Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013 Jenis bahan dan lembar kerja untuk masing-masing materi pelatihan dapat dilihat berikut ini. Mengacu pada prinsip-prinsip andragogi dalam bersikap dan berperilaku. KI.

1-2 HO-2.1 R-4.2-1 HO-2.2-3 HO-2.1-1 PPT-3.2 LK-2.3/3.1-2 HO-2.1/3.4 Lembar Kerja/Rubrik 3.4-1 LK-2.2-3 PPT-2. Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku Guru dan Siswa MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN Bahan Tayang Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP yang Telah Dibuat SKL.4 HO-2.1/4.1-1 HO-2.2 HO-3.2-2 LK-4.3/2.1-1 HO-3.3 HO-2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 NO. MATERI PELATIHAN Model Pembelajaran Problem Based Learning Model Pembelajaran Discovery Learning Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Siswa Hand-Out Konsep Pendekatan Scientific Contoh Penerapan Pendekatan scientific dalam Pembelajaran Matematika Model Pembelajaran Project Based Learning Model Pembelajaran Problem Based Learning Model Pembelajaran Discovery Learning Konsep Penilaian Autentik Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika Analisis Buku Guru Analisis Buku Siswa KODE PPT-2.1 PPT-4.2-2 PPT-2.4/3.2 HO-1.1/3.2-1 PPT-4.1/3.2 R-3.2 LK-3.2 V-2.1 Hand-Out Lembar Kerja/Rubrik 4.3 PPT-2. KI. dan KD Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific Contoh RPP Matematika SMA Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Telaah RPP Rubrik Penilaian Telaah RPP Video Pembelajaran Matematika Strategi Pengamatan Tayangan Video Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran Melalui Peer-Teaching Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran Analisis Pembelajaran pada Tayangan Video Rubrik Penilaian Analisis Pembelajaran pada Tayangan Video PPT-3.1 PPT-4.4-2 R-2. Video Bahan Tayang PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING Lembar Kerja/Rubrik Matematika – SMA/MA/SMK | 9 .3/3.2-2 HO-2.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 NO.1/2.3/2.3 artinya bahan presentasi ini digunakan saat menyampaikan Materi Pelatihan 1 (Konsep Kurikulum). MATERI PELATIHAN Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran Rubrik Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran KODE LK-4.1/3. Bagian I Bagian II : : Pendahuluan Silabus Pelatihan Materi Pelatihan Bagian III : Matematika – SMA/MA/SMK | 10 . K.4/3. Sistematika Modul Modul pelatihan implementasi kurikulum ini dibagi dalam tiga bagian berikut ini.KD) HO-1. . 2.Materi Pelatihan 2. submateri 1 dan 4. PPT-1. .Materi Pelatihan 1.2 R-4. submateri 3.Materi Pelatihan 3. Submateri 3 (SKL.2 Keterangan: V PPT HO LK R : : : : : Video Powerpoint Presentation Hand-Out Lembar Kerja Rubrik Catatan Pengkodean: 1. submateri 1 dan 2.KI.2 artinya hand-out ini digunakan sebagai acuan untuk beberapa materi pelatihan yaitu sebagai berikut: .

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN II SILABUS PELATIHAN Matematika – SMA/MA/SMK | 11 .

SMK/MAK MATA PELAJARAN: MATEMATIKA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2013 Matematika – SMA/MA/SMK | 12 .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 JENJANG: SMA/MA.

PERUBAHAN MINDSET 2 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. Mendiskusikan cara baru dalam belajar.1) WAKTU (JP) 2 NO 0.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: SUBMATERI PELATIHAN Tantangan Indonesia dalam Abad ke21 0. Tanya jawab tentang tantangan Indonesia dalam Abad ke-21.1 INDIKATOR 1. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan pelatihan. KEGIATAN PELATIHAN 1. 4. 2. Mendiskusikan 6 PENILAIAN ASPEK Sikap Terbuka untuk menerima dan mengimpleme ntasikan Kurikulum 2013. Curah pendapat membandingkan antara berpikir berbasis kendala (constraintbased thinking) dengan berpikir berbasis kesempatan (opportunitybased thinking) 3. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS Bahan Tayang DESKRIPSI Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (PPT-0. Menunjukan sikap terbuka terhadap perubahan. SMK/MAK MATEMATIKA KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN 1. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimpleme ntasikan Kurikulum 2013. Matematika – SMA/MA/SMK | 13 . 2. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013 2.

Tanya jawab tentang High order thingking WAKTU (JP) Matematika – SMA/MA/SMK | 14 .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN pendorong utama teknologi pendidikan yang harus diperhatikan 5.

Hand-out Matematika – SMA/MA/SMK | 15 . 2. KEGIATAN PELATIHAN 1. 2. Menyimak dan melakukan tanya jawab tentang paparan rasional Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan kurikulum di Indonesia. Menyimpulkan rasional Kurikulum 2013 yang mencakup permasalahan PENILAIAN ASPEK Sikap Menerima latar belakang alasan perubahan Kurikulum 2013.1) Naskah Kurikulum 2013 (D-1.1/1.1) Rasional Kurikulum 2013 (PPT-1. Pengetahuan Memahami secara utuh rasional kurikulum 2013 . 3. Mengamati dan menyimak tayangan paparan tentang Kurikulum 2013 oleh Mendikbud. Menjelaskan rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan.5 NO 1.2/1. SMK/MAK MATEMATIKA KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Memahami secara utuh rasional Kurikulum 2013. Video DESKRIPSI Tayangan Paparan Kurikulum 2013 oleh Mendikbud (V-1. 2. Menerima rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan.1 INDIKATOR 1. 3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: SUBMATERI PELATIHAN Rasional 1. Bahan Tayang Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 3. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. Menjelaskan permasalahan Kurikulum 2006 (KTSP). KONSEP KURIKULUM 4 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA.4) WAKTU (JP) 0.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR 4. Menjelaskan alasan pengembangan kurikulum. 5. Hand-out Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda Matematika – SMA/MA/SMK | 16 . Menjelaskan empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. Sikap Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 Pengetahuan Memahami elemen perubahan Kurikulum 2013 dan hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. 1. serta alasan pengembangan kurikulum. kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal. Mengidentifikasi kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal. KEGIATAN PELATIHAN kurikulum 2006 (KTSP). SI. Bahan Tayang Elemen Perubahan Kurikulum 2013 (PPT-1.5 2.2 Elemen Perubahan Kurikulum 2013 Memahami secara utuh elemen perubahan Kurikulum 2013. Standar Proses. Menyimpulkan empat elemen perubahan Kurikulum 2013.2/1.1/1. Menyimak dan melakukan tanya jawab tentang empat elemen perubahan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan kurikulum. Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. dan Standar Penilaian. SI. Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. 1. Standar Proses.4) 0. dan Standar Penilaian. 2. WAKTU (JP) 1. 2.2) Naskah Kurikulum 2013 (D-1.

dan KD yang akan dijadikan dasar dalam Sikap Bekerja sama dalam kelompok dengan baik dan benar Keterampilan Terampil menganalisis keterkaitan SKL. KI. dan KD. Hand-Out SKL.3) a.2) b. dan KD (PPT-1. Menganalisis keterkaitan SKL. 1. dan KD (HO-1. 2.3/ 2. dan KD (HO-1. Menganalisis keterkaitan antara SKL.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR 3. Menjelaskan empat elemen perubahan kurikulum dalam hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. KI. dan KD (LK-1. Bekerja sama dalam menganalisis keterkaitan SKL. Bahan Tayang 2.3 ) 2 Penugasan Rubrik penilaian hasil analisis keterkaitan SKL. SKL. KI.4/ 3. KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 1. Contoh Analisis Keterkaitan antara SKl. KI dan KD (R-1.3) Analisis Keterkaitan SKL. 1. KI. dan KD melalui diskusi kelompok pada format yang sudah disediakan (Tiap kelompok menganalisis keterkaitan SKL.1/3. Lembar Kerja Pengetahuan Kemampuan memahami konsep SKL. KI.3 SKL. dan KD. dan KD serta keterkaitan antara ketiga kompetensi Tes Tertulis Matematika – SMA/MA/SMK | 17 . dan KD. KI. Menyimak paparan SKL. 3. dan KD pada Kurikulum 2013. KI. KI. dan KD. 2. KI dan KD Memahami keterkaitan antara SKL. dan KD Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1.3) Tes Objektif Pilihan Ganda 3. KI. KI. Memberi contoh analisis keterkaitan SKL. KI. KI. KI.

4) Naskah Kurikulum 2013 (D-1. Menilai hasil kerja kelompok lain. Sikap Berkomunikasi dengan bahasa yang santun.4) 1 2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK tersebut. sistematis. 1. Bahan Tayang Strategi Implementasi Kurikulum (PPT-1. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok.2/1. Pengetahuan Memahami elemenelemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. Merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi kelas. 3. 2. WAKTU (JP) 1. 2. Hand-out Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda Matematika – SMA/MA/SMK | 18 . Diskusi kelas untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. dan komunikatif dalam meyampaikan ide-ide. Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013 Memahami secara utuh strategi implementasi Kurikulum 2013. 1.1/1. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN membuat RPP) 4. 5. Berkomunikasi dengan bahasa yang runtut dan komunikatif untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. Mengkomunikasi kan hasil diskusi kelas.

ANALISIS MATERI AJAR 12 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. INDIKATOR 1.1-1) b.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERIPELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 2. Konsep pendekatan scientific NO 2. Contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika (PPT-2. Bahan Tayang Tes tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 3. KEGIATAN PELATIHAN 1. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar pengamatan sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. Menjelaskan konsep pendekatan scientific 3. Pengetahuan Konsep pendekatan scientific dan penerapannya dalam pembelajaran Matematika. WAKTU (JP) 2 2. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain. Konsep pendekatan scientific (PPT-2. 2.1) a. Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain.1/4. Mengamati tayangan video pembelajaran Matematika. Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika. 2. Mengkaji pendekatan scientific berdasarkan tayangan video melalui diskusi kelompok.1-2) a. Video DESKRIPSI Pembelajaran Matematika (V-2. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 19 .1 SUBMATERI PELATIHAN Konsep Pendekatan Scientific KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika. Mendiskusikan contoh-contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika. 3.

Keterampilan Menganalisis.1) b.1-2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 4. Bahan Tayang Unjuk kerja Rubrik penilaian 3. Mengidentifikasi karakteristik 3 model pembelajaran.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI (HO-2. 1. 3. 2. Problem Based Learning.3-2) c. Discovery Learning (PPT-2. Video Contoh Pembelajaran dengan 3 model pembelajaran (V-2. 3. Mengamati tayangan 3 jenis model pembelajaran (Project Based Learning. Mengidentifikasi penerapan Pendekatan Sikap Menyadari manfaat penerapan tiga model pembelajaran Pengetahuan Karakteristik Project Based Learning. dan Discovery Learning. Focus Group Discussion Panduan FGD 1. Project Based Learning 2 Tes Tulis Tes Objektif Pilihan Ganda 2. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Project Based Learning.3-3) a. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning.1-1) b. Contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika (HO-2. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 20 . 2. Problem Based Learning. 2. 1. Problem Based Learning. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Discovery Learning. Project Based Learning (PPT-2. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok. Problem Based Learning (PPT-2.2 Model Pembelajaran Membedakan Model Pembelajaran Project Based Learning.3) a. dan Discovery Learning).3. dan Discovery Learning.

3) b. Bahan Tayang a. NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN Scientific pada 3 model pembelajaran BAHAN PELATIHAN BENTUK INSTRUMEN hasil kerja JENIS DESKRIPSI (HO-2. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 21 .3-2) c. Mendiskusikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. 2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK membedakan. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (PPT-2. 2. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok. Discovery Learning (HO-2.3) b. Pengetahuan Konsep penilaian autentik pada pembelajaran Matematika. Sikap Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madrasah dan menghargai pendapat orang lain.3-3) 1. Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madarasah dan menghargai pendapat orang lain. 3.3/3. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar (HO-2.1) b. Menyajikan kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan bentuk tes dalam penilaian autentik. Problem Based Learning (HO-2.3.3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar 1. Menjelaskan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar (PPT-2. 1.2) a. 2. Pengamatan Lembar pengamatan sikap 2 Tes tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 2. Contoh penerapan TEKNIK WAKTU (JP) mengaitkan.

2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 2. Bahan Tayang Analisis buku guru dan buku siswa (PPT-2. Analisis Buku Guru (LK-2.2) a. Mengidentifikasi kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL.4-1) b. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. KI. KI. 1. KI. dan Kedalaman Materi) 1. dan KD.4/ 3. Lembar Kerja Matematika – SMA/MA/SMK | 22 . 3. Diskusi kelompok membahas hasil penilaian buku guru dan buku siswa.3/3.4) 3. Peserta pelatihan menilai buku guru dan buku siswa. 2. Analisis Buku Siswa (LK-2. dan KD dalam diskusi Sikap Teliti dan serius dalam bekerja baik secara mandiri maupun berkelompok. Hand-out Penugasan Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (R-2. 2. dan KD. Pengamatan Lembar pengamatan sikap 1. dan KD. KI. Kecukupan. Mencermati format analisis buku guru dan buku siswa. KI. 1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (HO-2.1/3.4-2) 6 2. dan KD (HO-1. 4. Menganalisis kesesuaian buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL.4) SKL. Keterampilan Terampil menganalisis buku guru dan siswa.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian.3/2. Ketelitian dan keseriusan menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL.

Menjelaskan secara utuh materi. 6. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan standar proses. struktur. 3. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. WAKTU (JP) 2. 5. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku melalui diskusi kelompok. 3. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. Matematika – SMA/MA/SMK | 23 . struktur. 7. struktur. 5. pendekatan scientific. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa. pendekatan scientific.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN kelompok. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa melalui belajar 4. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa. Menganalisis kesesuaian proses. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran. Menguasai secara utuh materi. Mendeskripsikan kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa secara kelompok. Membaca isi materi.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN mandiri. WAKTU (JP) 4. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. 7. 10. Menyimpulkan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. 5. Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Membuat contoh-contoh penerapan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari secara berkelompok. 9. Matematika – SMA/MA/SMK | 24 . Mempresentasi kan hasil analisis buku guru dan buku siswa (perwakilan kelompok). Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. Menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. 8. 6.

Rambu-rambu penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific (PPT-3.3/2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 3. INDIKATOR NO 1. Penugasan Rubrik Penilaian Telaah RPP (R-3.1 Penyusunan RPP KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Menyusun RPP yang menerapkan pendekatan scientific sesuai model belajar yang relevan dengan mempertimbang kan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik.1-1) b.4/ SUBMATERI PELATIHAN 3. emosional. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 25 .2) 2. moral. dan KD (HO-1. Mendiskusikan rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific. MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN 8 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. WAKTU (JP) 5 2. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP Keterampilan Menyusun RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. KEGIATAN PELATIHAN 1. Peserta pelatihan menilai RPP yang dibawa oleh peserta lain. sosial. SKL. KI. Mengidentifikasi rambu-rambu penyusunan RPP. Panduan tugas telaah RPP (PPT-3.1-2) a.1/3. Menunjukkan sikap tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP. kultural. 2. Bahan Tayang DESKRIPSI a.

Lembar Kerja SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR NO KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 3. 3. 5.1/3. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. dan KD. KI. 7. Mempresentasikan hasil RPP yang sudah direvisi (sampel) 4. Standar Proses. MenelaahRPP yang disusun kelompok lain sesuai format telaah RPP. dan pendekatan scientific secara berkelompok (terutama KD awal semester I) 4. Menelaah RPP yang disusun kelompok lain (LK-3.1-2) Telaah RPP 3. 6. dan KD. Mendiskusikan format telaahRPP . Standar Proses. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. KI.2) Matematika – SMA/MA/SMK | 26 . Merevisi RPP berdasarkan hasil telaah. dan pendekatan scientific.1/3.1-1) c. Rambu-rambu penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific (HO-3. Contoh RPP Matematika (HO-3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN maupun intelektual PENILAIAN ASPEK Pengetahuan RPPyang menerapkan pendekatan scientific TEKNIK Tes Tertulis BENTUK INSTRUMEN Tes Objektif Pilihan Ganda BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI 3.2 b.

2. Mengidentifikasi kaidah perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (HO-2. Panduan tugas menelaah rancangan penilaian pada RPP yang telah dibuat (PPT-3.1/3. KEGIATAN PELATIHAN 1. WAKTU (JP) 3 2. Hand out Tes Tertulis 3.2) b. Menelaah rancangan penilaian Matematika – SMA/MA/SMK | 27 .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Merancang penilaian autentik pada proses dan hasil belajar PENILAIAN ASPEK Sikap Tanggung jawab dankreatif dalam menyusun rancangan penilaian autentik. Mengkaji penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika melalui contoh. Bahan Tayang DESKRIPSI a. dan KD (HO-1.3/3. SKL.2) SUBMATERI PELATIHAN 3.2) a. Mengidentifikasi jenis dan bentuk penilaian pada proses dan hasil belajar sesuai karakteristik mata pelajaran Matematika. Mendiskusikan dan melakukan tanya jawabtentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes. termasuk portofolio.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar INDIKATOR NO 1. Mendiskusikan tentang kaidah merancang penilaian autentik berbentuk tes dan nontes.4/ 3.3/3.2) Tes Objektif Pilihan Ganda 2. 4. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (PPT-2.2) b.3/2.1/3. Penugasan Rubrik Penilaian Telaah RPP (R-3. KI. Keterampilan Merancang penilaian autentik Pengetahuan Penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika. Menelaah rancangan penilaian 4. Menunjukkan sikap tanggung dan kreatifdalam menyusun rancangan penilaian autentik. 3.

Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun berdasarkan hasil telaah. KEGIATAN PELATIHAN autentik pada RPP yang telah disusun. 5. Mempresentasi kan rancangan penilaian proses dan hasil belajar yang sudah direvisi (sampel) WAKTU (JP) Matematika – SMA/MA/SMK | 28 .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR NO autentik pada proses dan hasil belajar yang ada dalam RPP. 6.

menalar. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. 3. Melalui diskusi. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. INDIKATOR 1. menganalisis tayangan video pelaksanaan pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientificdan penilaian autentik. mengolah. 2. Bahan Tayang 2.1) Analisis pembelajaran pada tayangan video (LK-4. menyaji. Lembar Kerja Pengetahuan Prinsipprinsip pendekatan scientific dan Tes Tertulis Matematika – SMA/MA/SMK | 29 .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERIPELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 4.1) NO 4.1/4. menanya. Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran. mencoba.1) Strategi pengamatan video pembelajaran (PPT-4. Mengamati tayangan video pembelajaran WAKTU (JP) 8 2. emosional. moral.1) Tes Objektif Pilihan Ganda 3. Mengkonfirmasi penerapan pendekatan Penugasan Rubrik Penilaian Analisis pembelajaran pada tayangan video (R-4. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran Keterampilan Menganalisis pembelajaran pada tayangan video. Menganalisis simulasi pembelajaran melalui tayangan video pembelajaran. sosial. KEGIATAN PELATIHAN 1. PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING 22 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. Video DESKRIPSI Pembelajaran Matematika (V-2. kultural.1 SUBMATERI PELATIHAN Simulasi Pembelajaran KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Mengkaji pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati.

Mempresentasi kan contoh RPP untuk kegiatan peer teaching. mengolah. Menginformasik an panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran melalui peer teaching.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN maupun.2 Peer Teaching Melaksanakan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. Merevisi RPP sehingga menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik untuk kegiatan peer teaching. 1. Melaksanakan peer teaching yang menerapkan pendekatan Tes Tertulis Rubrik penilaian pelaksanaan pembelajaran (R-4. Bahan Tayang a. 2. menyaji. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN scientific dan penilaian autentik mengacu pada tayangan video pembelajaran. 4. Panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran melalui peer teaching (PPT-4.2-2) 14 4. Penugasan 2. Merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran. mencoba.2-1) b. intelektual. Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (PPT-4. Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching. Menjelaskan garis besar instrumen penilaian pelaksanaan Sikap Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching Keterampilan Melaksanakan pembelajaran yang menerapkan Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. PENILAIAN ASPEK penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika. 5.2) Tes Objektif Matematika – SMA/MA/SMK | 30 . menanya. menalar. mencipta) 1. WAKTU (JP) 3.

Pengetahuan Prinsipprinsip pendekatan scientific dan penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika. Melakukan refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching. KEGIATAN PELATIHAN pembelajaran 3. Menilai kegiatan peer teaching menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran 6. intelektual. 5. kultural.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik.2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR scientific dan penilaian autentik menggunakan RPP yang telah disusun. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN Ganda BAHAN PELATIHAN JENIS 2. Lembar Kerja DESKRIPSI Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (LK-4. emosional. Menilai pelaksanaan peer teaching peserta lain. 4. maupun. Matematika – SMA/MA/SMK | 31 . sosial. moral. Mempraktikkan pembelajaran melalui peer teaching secara individual. PENILAIAN ASPEK pendekatan scientific. WAKTU (JP) 3. Mempersiapkan pelaksanaan peer teaching berdasarkan RPP yang telah disusun.

BAGIAN III MATERI PELATIHAN Matematika – SMA/MA/SMK | 32 .

MATERI PELATIHAN: PERUBAHAN MINDSET Matematika – SMA/MA/SMK | 33 .

2. 5. Menunjukkan sikap menghargai perubahan kurikulum. 4. 3.MATERI PELATIHAN: PERUBAHAN MINDSET A. B. PERANGKAT PELATIHAN 1. 4. Merespon secara positif terhadap cara baru dalam belajar. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013. D. 2. Bahan Tayang: Tantangan Indonesia dalam Abad 21 (Mengapa Kita Harus Berubah) ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 34 . 2. Menunjukkan sikap menerima secara terbuka terhadap perubahan Kurikulum dalam rangka menghadapi tantangan Indonesia dalam Abad ke-21. LINGKUP MATERI 1. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. 6. Berpikir Berbasis Kendala (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir Berbasis Kesempatan (Opportunity Based) Cara Baru dalam Belajar Enam Pendorong Utama Teknologi Pendidikan yang Harus Diperhatikan. INDIKATOR 3. Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skill). Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (Mengapa Kita Harus Berubah). C. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013. 5. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan materi pelatihan perubahan mindset.

dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. semangat. Fasilitator memotivasi peserta. indikator. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. kompetensi. dan Laser Pointer. Fasilitator menutup pembelajaran 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 35 . Mendiskusikan cara baru dalam belajar. atau media pembelajaran lainnnya. Active Speaker. tujuan. 15 Menit KEGIATAN PENDAHULUAN KEGIATAN INTI Perubahan Mindset 60 Menit Tanya jawab tentang tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 15 Menit (mengapa kita harus berubah). alokasi waktu. seperti LCD Projector. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. 10 Menit Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi pendidikan yang 20 Menit harus diperhatikan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skill) KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Perubahan Mindset. File. mengajak berdinamika agar saling mengenal. Laptop. serius.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN PERUBAHAN MINDSET 2 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN WAKTU Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. Fasilitator mengingatkankan peserta agar membaca referensi yang relevan. Curah pendapat untuk membandingkan berpikir berbasis kendala 15 menit (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based).

dan Penutup Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi pendidikan yang harus diperhatikan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi. Curah Pendapat Curah pendapat untuk membandingkan berpikir berbasis kendala (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based). tujuan. Tanya jawab tentang Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (mengapa kita harus berubah). fasilitator menjelaskan nama. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset. kompetensi. semangat. mengajak berdinamika agar saling mengenal. dan umpan balik. Matematika – SMA/MA/SMK | 36 . Tanya Jawab. indikator. Diskusi Diskusi cara baru dalam belajar Diskusi. refleksi. serius.Langkah Kegiatan Inti Pengkondisian Peserta dilanjutkan Tanya Jawab 30 Menit Curah Pendapat Diskusi Diskusi Dilanjutkan Tanya Jawab 15 Menit 10 Menit 20 Menit Pengkondisian Peserta dilanjutkan Tanya Jawab Perkenalan. diakhiri membuat rangkuman. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. Fasilitator memotivasi peserta. alokasi waktu.

Matematika – SMA/MA/SMK | 37 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 38 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 39 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 40 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 41 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 42 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 43 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 44 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 45 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 46 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 47 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 48 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 49 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 50 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 51 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 52 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 53 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 54 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 55 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 56 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 57 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 58 .

4 Strategi Implementasi Matematika – SMA/MA/SMK | 59 .3 SKL.1 Rasional 1.MATERI PELATIHAN 1: KONSEP KURIKULUM 2013 1. KI. dan KD 1.2 Elemen Perubahan 1.

4. 10. KI. 9. Menjelaskan alasan pengembangan kurikulum. C. dan memahami secara utuh strategi implementasi Kurikulum 2013. 5. LINGKUP MATERI 1. INDIKATOR 1. Menjelaskan permasalahan Kurikulum 2006 (KTSP). 2. SI. dan KD pada Kurikulum 2013. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. KI. 4. Menganalisis keterkaitan antara SKL. Matematika – SMA/MA/SMK | 60 . dan KD. memahami secara utuh rasional Kurikulum 2013. memahami secara utuh elemen perubahan Kurikulum 2013. 3. Standar Proses. dan Standar Penilaian.MATERI PELATIHAN 1: KONSEP KURIKULUM A. Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. dan KD pada kurikulum 2013. Menganalisis keterkaitan SKL. memahami keterkaitan antara SKL. Standar Proses. Standar Proses d. dan Standar Penilaian. dalam kaitannya dengan 2. Menerima rasional pengembangan Kurikulum 2013 perkembangan masa depan. Menjelaskan empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. 2. Standar Penilaian Strategi Implementasi Kurikulum 2013 4. Menjelaskan empat elemen perubahan kurikulum dalam hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. 3. 3. B. Rasional Kurikulum 2013 Elemen Perubahan Kurikulum 2013 Standar Nasional Pendidikan a. Standar Isi yang berisi Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) c. KI. 6. 8. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) b. Menjelaskan rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan. Mengidentifikasi kesenjangan implementasi kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal. SI. 7.

Kompetensi Inti (KI). Strategi Implementasi Kurikulum 2013 3. Rasional Kurikulum 2013 b. dan KD 4. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013 dengan bahasa yang runtut dan komunikatif. Standar Isi (Kompetensi Inti (KI). ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 61 . PERANGKAT PELATIHAN 1. Video tentang Rasional Kurikulum 2013 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2. Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013.11. Lembar Kerja Analisis SKL. Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Rasional Kurikulum 2013 b. dan Kompetensi Dasar (KD) d. KI. Bahan Tayang a. Hand-Out a. Strategi Implementasi Kurikulum 2013 5. D. Elemen Perubahan Kurikulum 2013 c. 12. dan Kompetensi Dasar (KD) d. Elemen Perubahan Kurikulum 2013 c.

mengajak berdinamika agar saling mengenal. kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dan kondisi ideal. tujuan. indikator. Active Speaker. Pemaparan oleh fasilitator tentang Rasional Kurikulum 10 Menit 2013 dengan menggunakan PPT-1. alokasi waktu.1 Rasional 25 Menit Penayangan Video Mendikbud tentang Paparan Kurikulum 10 Menit 2013 dengan menggunakan V-1. dan Standar Penilaian dan hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan dengan menggunakan Matematika – SMA/MA/SMK | 62 . Fasilitator memotivasi peserta. KONSEP KURIKULUM 4 JP (@45 MENIT) SMA/MA. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. atau media pembelajaran lainnya. dan Laser Pointer. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran seperti LCD Projector. Standar Proses. serius.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 1.1. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 1. Laptop.1. 1. Tanya jawab tentang Rasional Kurikulum 2013 yang 5 Menit mencakup: permasalahan kurikulum 2006 (KTSP). File. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Konsep Kurikulum. semangat.2 Elemen Perubahan Kurikulum 20 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang Elemen Perubahan 10 Menit Kurikulum yang mencakup SKL. serta alasan pengembangan kurikulum. kompetensi. SI.

Presentasi hasil kerja kelompok. Kerja kelompok untuk menganalisis keterkaitan SKL.PPT-1. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Konsep Kurikulum.3 Memberi contoh analisis keterkaitan antara SKL.3. KI. sementara kelompok 15 Menit lainnnya memberi komentar/ tanggapan dan menilai hasil kerja kelompok. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013 45 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang Strategi Implementasi 10 Menit Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1. Tanya jawab tentang Elemen Perubahan Kurikulum. Mengkomunikasikan hasil diskusi kelompok.3. dan 30 Menit KD yang akan dijadikan dasar untuk membuat RPP dengan menggunakan LK-1.3 SKL. Diskusi kelas tentang elemen-elemen penting Strategi 25 Menit Implementasi Kurikulum 2013. ICE BREAKER 1. kemudian merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi. KI. KI. dan KD dengan 10 Menit menggunakan PPT-1. KI. 1. Fasilitator menutup pembelajaran 10 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 63 . 10 Menit kemudian fasilitator menyimpulkannya. dan KD 5 Menit 60 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang SKL. dan KD 5 Menit dengan menggunakan HO-1. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.2.4.

penetapan platform untuk mata pelajaran tertentu (geografi untuk IPS. tematik terpadu untuk SD kls 1 dan 4. Alasan pengembangan kurikulum.1 RASIONAL KURIKULUM Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur dengan menggunakan PPT-1. Matematika – SMA/MA/SMK | 64 .2. bahasa sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge.2 10 Menit Tanya Jawab 10 Menit Pemaparan Instruktur menyampaikan materi Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum yang mencakup: 4 standar. Identifikasi perubahan yang penting dalam kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya (struktur kurikulum. Manfaat adanya perubahan kurikulum. Tanya Jawab Diskusi dan tanya jawab terkait dengan Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: a. TIK merupakan sarana pembelajaran yang dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain.SUBMATERI PELATIHAN : 1. perubahan pendekatan pembelajaran yaitu Scientific Approach. Kemudian fasilitator menyimpulkannya.1 dan PPT-1. Biologi untuk IPA)dengan menggunakan PPT-1. dan penilaian hasil belajar). b. proses pembelajaran. c.

Matematika – SMA/MA/SMK | 65 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 66 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 67 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 68 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 69 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 70 .

mandiri. pengetahuan. standar proses. Tantangan internal lainnya terkait dengan faktor perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. isi. RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Pengembangan kurikulum perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan yang dihadapi. kurikulum merupakan salah satu unsur yang memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. Jadi tidak dapat disangkal lagi bahwa kurikulum yang dikembangkan dengan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. yang diyakini akan menjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan negara Indonesia sepanjang zaman. Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap. RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 A. berakhlak mulia. standar biaya. dan keterampilan secara terpadu. 1. standar sarana prasarana. Kurikulum sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal 1 Ayat (19) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. cakap. Matematika – SMA/MA/SMK | 71 . standar pendidik dan tenaga kependidikan. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tantangan Internal Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar pengelolaan.2/1. standar penilaian.1/1. baik tantangan internal maupun tantangan eksternal. dan standar kompetensi lulusan. berilmu.4 I.HO-1. Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan. standar isi. sehat. dan (3) warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. kreatif. LATAR BELAKANG PERLUNYA PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan. dan (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. B.

Terkait dengan tantangan internal pertama. berbagai kegiatan dilaksanakan untuk mengupayakan agar penyelenggaraan pendidikan dapat mencapai ke delapan standar yang telah ditetapkan. Reformasi Pendidikan Mengacu Pada 8 Standar Kurikulum 2013 Sedang Dikerjakan Telah dan terus Dikerjakan -Peningkatan Kualifikasi & Sertifikasi -Pembayaran Tunjangan Sertifikasi -Uji Kompetensi dan Pengukuran Kinerja -Rehab Gedung Sekolah -Penyediaan Lab dan Perpustakaan -Penyediaan Buku -BOS -Bantuan Siswa Miskin -BOPTN/Bidik Misi (di PT) Manajemen Berbasis Sekolah Gambar 1 Terkait dengan perkembangan penduduk. SDM usia produktif yang melimpah apabila memiliki kompetensi dan keterampilan akan menjadi modal pembangunan yang luar biasa besarnya. Gambar 2 Matematika – SMA/MA/SMK | 72 . (Gambar 1). Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar SDM usia produktif yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi SDM yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban (Gambar 2). Namun apabila tidak memiliki kompetensi dan keterampilan tentunya akan menjadi beban pembangunan.

p. Penyempurnaan Pola Pikir Pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan hanya akan dapat terwujud apabila terjadi pergeseran atau perubahan pola pikir. ASEAN Community. Dari pemikiran faktual menuju kritis. Dari satu arah menuju interaktif. Dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan. APEC. c. serta berbagai fenomena negatif yang mengemuka. Dari alat tunggal menuju alat multimedia.2. Dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata. Dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala penjuru. Dari isolasi menuju lingkungan jejaring. d. Dari pembelajaran pribadi menuju pembelajaran berbasis tim. h. Pergeseran itu meliputi proses pembelajaran sebagai berikut: a. k. Kerpek. Dari berpusat pada guru menuju berpusat pada siswa. persepsi masyarakat. b. CAFTA Masalah lingkungan hidup Kemajuan teknologi informasi Konvergensi ilmu dan teknologi Ekonomi berbasis pengetahuan Kebangkitan industri kreatif dan budaya Pergeseran kekuatan ekonomi dunia Pengaruh dan imbas teknosains Mutu. Dari usaha sadar tunggal menuju jamak. Tekanan Untuk Pengembangan Kurikulum Tantangan Masa Depan • • • • • • • • • Globalisasi: WTO. n. e. j. Dari penyampaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan.) §Gejolak masyarakat (social unrest) Perkembangan Pengetahuan dan Pedagogi • Neurologi • Psikologi • Observation based [discovery] learning dan Collaborative learning Gambar 3 3. i. o. Dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif. l. investasi dan transformasi pada sektor pendidikan • Materi TIMSS dan PISA Kompetensi Masa Depan • Kemampuan berkomunikasi • Kemampuan berpikir jernih dan kritis • Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan • Kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab • Kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda • Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal • Memiliki minat luas dalam kehidupan • Memiliki kesiapan untuk bekerja • Memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya • Memiliki rasa tanggungjawab terhadap lingkungan Persepsi Masyarakat • Terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif • Beban siswa terlalu berat • Kurang bermuatan karakter Fenomena Negatif yang Mengemuka §Perkelahian pelajar §Narkoba §Korupsi §Plagiarisme §Kecurangan dalam Ujian (Contek. Dari luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan. Dari pasif menuju aktif-menyelidiki.. m. perkembangan pengetahuan dan pedagogi. f. Matematika – SMA/MA/SMK | 73 . kompetensi yang diperlukan di masa depan. Tantangan Eksternal Tantangan eksternal yang dihadapi dunia pendidikan antara lain berkaitan dengan tantangan masa depan. Dari satu ilmu pengetahuan bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak. Dari kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan. g.

Pendekatan dalam penyusunan SKL pada KBK 2004 dan KTSP 2006 dapat dilihat di Gambar 4 dan penyempurnaan pola pikir perumusan kurikulum dapat dilihat di Tabel 1.Sejalan dengan itu. Penguatan Tata Kelola Kurikulum Pada Kurikulum 2013. Guru lebih diberikan kesempatan mengembangkan proses pembelajaran tanpa harus dibebani dengan tugas-tugas penyusunan silabus yang memakan waktu yang banyak dan memerlukan penguasaan teknis penyusunan yang sangat memberatkan guru. perlu dilakukan penyempurnaan pola pikir dan penggunaan pendekatan baru dalam perumusan Standar Kompetensi Lulusan. tapi disusun pada tingkat nasional. Satuan pendidikan dan guru tidak diberikan kewenangan menyusun silabus. dan kebutuhan. Perbandingan kerangka kerja penyusunan kurikulum dapat dilihat pada Gambar 5. Setelah kompetensi ditetapkan kemudian ditentukan kurikulumnya yang terdiri dari kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum. Tabel 1 4. Perumusan SKL di dalam KBK 2004 dan KTSP 2006 yang diturunkan dari SI harus diubah menjadi perumusan yang diturunkan dari kebutuhan. Matematika – SMA/MA/SMK | 74 . penyusunan kurikulum dimulai dengan menetapkan standar kompetensi lulusan berdasarkan kesiapan peserta didik. tujuan pendidikan nasional.

maka sangat penting untuk menyiapkan guru supaya memahami pemanfaatan sumber belajar yang telah disiapkan dan sumber lain yang dapat mereka manfaatkan. Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR ISI (SKL MAPEL. dan kalau diajarkan kepada siswa sulit dicapai oleh siswa. Yuridis. Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR ISI (SKL MAPEL.Kerangka Kerja Penyusunan KBK 2004 TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL Kerangka Kerja Penyusunan KTSP 2006 TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. SMP. KD MAPEL) STANDAR PROSES STANDAR KOMPETENSI LULUSAN STANDAR PENILAIAN KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. dan sumber belajar. Yuridis. Yuridis. juga perlu diperkuat peran pendampingan dan pemantauan oleh pusat dan daerah. Dengan keyakinan Matematika – SMA/MA/SMK | 75 . dan sulit diajarkan karena keterbatasan sarana. dan 6 (enam). ada kemungkinan waktu yang dialokasikan dalam Standar Isi tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya. Karena guru merupakan faktor yang sangat penting di dalam pelaksanaan kurikulum. sulit dijabarkan ke penilaian. hampir semua peserta didik Indonesia hanya mampu menguasai pelajaran sampai level 3 (tiga) saja. Untuk menjamin ketercapaian kompetensi sesuai dengan yang telah ditetapkan dan untuk memudahkan pemantauan dan supervisi pelaksanaan pengajaran. Untuk menjamin keterlaksanaan implementasi kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran. sementara negara lain yang terlibat di dalam studi ini banyak yang mencapai level 4 (empat). 5. dan SMA lebih kecil dari total waktu pembelajaran yang dialokasikan menurut Standar Isi. 5 (lima). sulit diajarkan karena terlalu kompleks. SK MAPEL. Di samping itu. SK MAPEL. ditemukan bahwa dari 6 (enam) level kemampuan yang dirumuskan di dalam studi PISA. media. KD MAPEL) STANDAR PROSES STANDAR KOMPETENSI LULUSAN STANDAR PENILAIAN PEDOMAN SILABUS RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Oleh Satuan Pendidikan PEMBELAJARAN & PENILAIAN BUKU TEKS SISWA RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Oleh Satuan Pendidikan PEDOMAN SILABUS BUKU TEKS SISWA PEMBELAJARAN & PENILAIAN Kerangka Kerja Penyusunan Kurikulum 2013 KESIAPAN PESERTA DIDIK TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL KEBUTUHAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) SATUAN PENDIDIKAN KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. Pendalaman dan Perluasan Materi Berdasarkan analisis hasil PISA 2009. perlu diambil langkah penguatan tata kelola antara lain dengan menyiapkan pada tingkat pusat buku pegangan pembelajaran yang terdiri dari buku pegangan siswa dan buku pegangan guru. Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR PROSES KI KELAS & KD MAPEL (STANDAR ISI) STANDAR PENILAIAN SILABUS PANDUAN GURU Oleh Satuan Pendidikan PEMBELAJARAN & PENILAIAN (KTSP) BUKU TEKS SISWA 1 Gambar 5 Hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang dilakukan Balitbang pada tahun 2010 juga menunjukkan bahwa secara umum total waktu pembelajaran yang dialokasikan oleh banyak guru untuk beberapa mata pelajaran di SD. dikaitkan dengan kesulitan yang dihadapi guru dalam melaksanakan KTSP. Hasil monitoring dan evaluasi ini juga menunjukkan bahwa banyak kompetensi yang perumusannya sulit dipahami guru. Rumusan kompetensi juga sulit dijabarkan ke dalam indikator dengan akibat sulit dijabarkan ke pembelajaran.

Gambar 6 Analisis hasil TIMSS tahun 2007 dan 2011 di bidang matematika dan IPA untuk peserta didik kelas 2 SMP juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. interpretasi yang dapat disimpulkan dari hasil studi ini. lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah. sementara hampir 40% peserta didik Taiwan mampu mencapai level tinggi Matematika – SMA/MA/SMK | 76 .bahwa semua manusia diciptakan sama. Gambar 7 Untuk bidang IPA. yaitu yang kita ajarkan berbeda dengan tuntutan zaman (Gambar 6). Hasil studi pada tahun 2007 dan 2011 menunjukkan bahwa lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau yang distandarkan di tingkat internasional (Gambar 7). sementara misalnya di Taiwan hampir 50% peserta didiknya mampu mencapai level tinggi dan advance. pencapaian peserta didik kelas 2 SMP juga tidak jauh berbeda dengan pencapaian yang mereka peroleh untuk bidang matematika. hanya satu. Untuk bidang matematika.

Hal ini juga menunjukkan bahwa apa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan dan distandarkan pada tingkat internasional (Gambar 9). (Gambar 8). kesimpulan yang dapat diambil dari studi ini adalah bahwa apa yang diajarkan kepada peserta didik di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau distandarkan di tingkat internasional. Gambar 8 Hasil studi internasional untuk reading dan literacy (PIRLS) yang ditujukan untuk kelas IV SD juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan hasil studi untuk tingkat SMP seperti yang dipaparkan terdahulu.dan lanjut (advanced). sementara lebih dari 50% siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. Gambar 9 Hasil analisis lebih jauh untuk studi TIMSS dan PIRLS menunjukkan bahwa soal-soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dibagi menjadi empat kategori. yaitu: Matematika – SMA/MA/SMK | 77 . Dalam hal membaca. lebih dari 95% peserta didik Indonesia di SD kelas IV juga hanya mampu mencapai level menengah. Dengan keyakinan bahwa semua anak dilahirkan sama.

Tabel 2 Analisis lebih jauh untuk membandingkan kurikulum IPA SMP kelas VIII yang ada di Indonesia dengan materi yang terdapat di TIMSS menunjukkan bahwa terdapat beberapa topik yang sebenarnya belum diajarkan di kelas VIII SMP (Tabel 2). Tabel 3 Matematika – SMA/MA/SMK | 78 .- low mengukur kemampuan sampai level knowing intermediate mengukur kemampuan sampai level applying high mengukur kemampuan sampai level reasoning advance mengukur kemampuan sampai level reasoning with incomplete information. Lebih parahnya lagi. sehingga menyulitkan bagi peserta didik kelas VIII SMP menjawab pertanyaan yang terdapat di dalam TIMSS (Tabel 3). Hal yang sama juga terdapat di kurikulum matematika kelas VIII SMP di mana juga terdapat beberapa topik yang belum diajarkan di kelas XIII. malah terdapat beberapa topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini.

cerdas intelektual dalam ranah pengetahuan. Di mana kompeten tersebut. TUJUAN KURIKULUM Tujuan Pendidikan nasional sebagaimana telah dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Cerdas yang dimaksud disini adalah cerdas komprehensif. pengetahuan. Matematika – SMA/MA/SMK | 79 . Di samping itu juga perlu dievaluasi ulang tingkat kedalaman materi sesuai dengan tuntutan perbandingan internasional dan menyusun kompetensi dasar yang sesuai dengan materi yang dibutuhkan. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. cakap. II. mandiri. perlu dilakukan langkah penguatan materi dengan mengevaluasi ulang ruang lingkup materi yang terdapat di dalam kurikulum dengan cara meniadakan materi yang tidak esensial atau tidak relevan bagi peserta didik. telah pula ditetapkan visi pendidikan tahun 2025 yaitu menciptakan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Secara singkatnya. berilmu. seperti bisa dilihat pada Tabel 4. berakhlak mulia. kreatif. undang-undang tersebut berharap pendidikan dapat membuat peserta didk menjadi kompeten dalam bidangnya. harus mencakup kompetensi dalam ranah sikap. Tabel 4 Dalam kaitan itu. dan menambahkan materi yang dianggap penting dalam perbandingan internasional. yaitu cerdas spiritual dan cerdas sosial/emosional dalam ranah sikap. dan keterampilan sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan pasal 35 undangundang tersebut. sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang telah disampaikan di atas. serta cerdas kinestetis dalam ranah keterampilan.Hal yang sama juga terjadi di kurikulum matematika kelas IV SD pada studi internasional di mana juga terdapat topik yang belum diajarkan pada kelas IV dan topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini. sehat. Sejalan dengan arahan undang-undang tersebut. mempertahankan materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Kurikulum adalah instrumen pendidikan untuk dapat membawa insan Indonesia memiliki kompetensi sikap. dan landasan empirik. serta kemudian diwariskan serta dikembangkan untuk kehidupan masa depan. daerah. Landasan yuridis merupakan ketentuan hukum yang dijadikan dasar untuk pengembangan kurikulum dan yang mengharuskan adanya pengembangan kurikulum baru. inovatif. Kerangka Dasar juga digunakan sebagai pedoman untuk mengembangkan kurikulum tingkat nasional. berbangsa. Landasan empirik memberikan arahan berdasarkan pelaksanaan kurikulum yang sedang berlaku di lapangan.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. dan keterampilan sehingga dapat menjadi pribadi dan warga negara yang produktif. Landasan Yuridis Landasan yuridis kurikulum adalah Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. inovatif. bernegara dan peradaban dunia. dan keberlanjutan kehidupan bangsa dan Matematika – SMA/MA/SMK | 80 . masa lalu-masa sekarang-masa yang akan datang. landasan filosofis. KERANGKA DASAR KURIKULUM 2013 Kerangka dasar adalah pedoman yang digunakan untuk mengembangkan dokumen kurikulum. menjadi landasan filosofis pengembangan kurikulum. dan afektif III. produktif. pengetahuan. kreatif. Ketiga dimensi kehidupan bangsa. Lebih lanjut. kreatif. 1. modal yang digunakan dan dikembangkan untuk membangun kualitas kehidupan bangsa dan individu yang diperlukan bagi kehidupan masa kini. Landasan filosofis adalah landasan yang mengarahkan kurikulum kepada manusia apa yang akan dihasilkan kurikulum. Pembelajaran Aktif dan Pendidikan Kewirausahaan. Landasan Filosofis Secara singkat kurikulum adalah untuk membangun kehidupan masa kini dan masa akan datang bangsa. pengembangan Kurikulum 2013 diamanatkan oleh Rencana Pendidikan Pendidikan Menengah Nasional (RJPMN). dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat. dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 tahun Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. A. Landasan teoritik memberikan dasar-dasar teoritik pengembangan kurikulum sebagai dokumen dan proses. dan KTSP. Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Perubahan PP No. Pewarisan nilai dan pretasi bangsa di masa lampau memberikan dasar bagi kehidupan bangsa dan individu sebagai anggota masyarakat. yang dikembangkan dari warisan nilai dan pretasi bangsa di masa lalu. LANDASAN KURIKULUM 2013 Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan kurikulum baru. implementasi kurikulum. Landasan yuridis pengembangan Kurikulum 2013 lainnya adalah Instruksi Presiden Republik Indonesia tahun 2010 tentang Pendidikan Karakter.Dengan demikian Kurikulum 2013 adalah dirancang dengan tujuan untuk mempersiapkan insan Indonesia supaya memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warganegara yang beriman. dan evaluasi kurikulum. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2.

Berbagai elemen masyarakat telah memberikan kritikan.5%.4% (www. namun karena hasil gemblengan pada tiap jenjang satuan pendidikan dengan kurikulum sebagai pengarahnya. Dengan tiga dimensi kehidupan tersebut kurikulum selalu menempatkan peserta didik dalam lingkungan sosial-budayanya. misalnya pada kasus-kasus perkelahian massal. potensi ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 2005 sampai dengan 2008 berturut-turut 5. jujur. 5.go.id/index. dan beragamnya kemajuan pembangunan dari satu daerah ke daerah lain. 6. Beban belajar ini bahkan secara kasatmata terwujud pada beratnya beban buku yang harus dibawa ke sekolah. dalam Rapat Paripurna DPR. sangat diperlukan untuk memantapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.3%. mengembangkan kehidupan individu peserta didik sebagai warganegara yang tidak kehilangan kepribadian dan kualitas untuk kehidupan masa kini yang lebih baik. kurikulum harus mampu memandu upaya karakterisasi nilai-nilai kejujuran pada peserta didik.5 – 6. kurikulum perlu direorientasi dan direorganisasi terhadap beban belajar dan kegiatan pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan ini. tulis. 3. Generasi muda berjiwa wirausaha yang tangguh. Maka. ulet.W. Beban belajar ini salah satunya berhulu dari banyaknya matapelajaran yang ada di tingkat sekolah dasar. Maka. kurikulum pada tingkat sekolah dasar perlu diarahkan kepada peningkatan 3 (tiga) kemampuan dasar. Momentum pertumbuhan ekonomi ini harus terus dijaga dan ditingkatkan. Generasi seperti ini seharusnya tidak muncul karena hasil seleksi alam. Sebagai negara bangsa yang besar dari segi geografis. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara – negara ASEAN sebesar 6. khususnya siswa sekolah dasar. Berbagai kasus yang berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang. Oleh karena itu. 31/05/2012).php/indikator). dan pembentukan karakter. Matematika – SMA/MA/SMK | 81 .presidenri. Landasan Empiris Pada saat ini perekonomian Indonesia terus tumbuh di tengah bayang-bayang resesi dunia.7%. kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan kasus pemaksaan kehendak sering muncul di Indonesia. sekecil apapun ancaman disintegrasi bangsa masih tetap ada. Maka. suku bangsa. namun beberapa ahli pendidikan dan tokoh masyarakat menyatakan bahwa salah satu akar masalahnya adalah implementasi kurikulum yang terlalu menekankan aspek kognitif dan keterkungkungan peserta didik di ruang belajarnya dengan kegiatan yang kurang menantang peserta didik. komentar. 2008: 6. Martowardojo. kurikulum harus mampu membentuk manusia Indonesia yang mampu menyeimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat untuk memajukan jatidiri sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan kebutuhan untuk berintegrasi sebagai satu entitas bangsa Indonesia. yakni baca.warganegara di masa mendatang. dan hitung. kreatif. Walaupun belum ada kajian ilmiah bahwa kekerasan tersebut berhulu dari kurikulum.9 % (Agus D. Kecenderungan ini juga menimpa generasi muda. dan membangun kehidupan masa depan yang lebih baik lagi. dan saran berkaitan dengan beban belajar siswa. Dewasa ini. dan mandiri. manipulasi. termasuk masih adanya kecurangan di dalam Ujian Nasional menunjukkan mendesaknya upaya menumbuhkan budaya jujur dan antikorupsi melalui kegiatan pembelajaran di dalam satuan pendidikan.

upaya pemenuhan kebutuhan manusia telah secara nyata mempengaruhi secara negatif lingkungan alam. Dengan berbagai kemajuan yang telah dicapai. (2) teori.Pada saat ini. mutu pendidikan Indonesia harus terus ditingkatkan. matematika. Hasil riset PISA (Program for International Student Assessment). studi yang memfokuskan pada literasi bacaan. Hasil-hasil ini menunjukkan perlu ada perubahan orientasi kurikulum. analisis dan pemecahan masalah. Hasil Riset TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) menunjukkan siswa Indonesia berada pada rangking amat rendah dalam kemampuan (1) memahami informasi yang komplek. semakin berkurangnya sumber air bersih adanya potensi rawan pangan pada berbagai beahan dunia. Kurikulum seharusnya juga diarahkan untuk membangun kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan alam dan menumbuhkan kemampuan untuk merumuskan pemecahan masalah secara kreatif terhadap isu-isu lingkungan dan ketahanan pangan. Pencemaran. dengan tidak membebani peserta didik dengan konten namun pada aspek kemampuan esensial yang diperlukan semua warga negara untuk berperanserta dalam membangun negaranya pada abad 21. (3) pemakaian alat. Matematika – SMA/MA/SMK | 82 . prosedur dan pemecahan masalah dan (4) melakukan investigasi. dan IPAmenunjukkan peringkat Indonesia baru bisa menduduki 10 besar terbawah dari 65 negara. dan pemanasan global merupakan tantangan yang harus dihadapi generasi muda di masa kini dan di masa yang akan datang.

dan teori kurikulum berbasis kompetensi. SMA/MA. Hasil dari pengalaman belajar tersebut adalah hasil belajar peserta didik yang menggambarkan manusia dengan kualitas yang dinyatakan dalam SKL. Kompetensi untuk Kurikulum 2013 dirancang sebagai berikut: 1. Landasan Teoritik Kurikulum 2013 dikembangkan atas dasar teori “pendidikan berdasarkan standar” (standardbased education). pengetahuan. Isi atau konten kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) kelas dan dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran. SMP/MTS. SMA/MA. Keberhasilan kurikulum dartikan sebagai pencapaian kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh peserta didik. Standar Kompetensi Lulusan dikembangkan menjadi Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan yaitu SKL SD/MI. B. dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu untuk SMP/MTS. SMK/MAK. Standar Kompetensi Lulusan mencakup sikap. pengetahuan. 3. Matematika – SMA/MA/SMK | 83 . Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu tema untuk SD/MI. dan lingkungan dimana yang bersangkutan berinteraksi. Standar kualitas nasional dinyatakan sebagai Standar Kompetensi Lulusan. Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik untuk mengembangkan sikap. KARAKTERISTIK KURIKULUM 2013 Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi. masyarakat. Kurikulum berbasis kompetensi adalah outcomes-based curriculum dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL. Kompetensi Inti adalah kualitas yang harus dimiliki seorang peserta didik untuk setiap kelas melalui pembelajaran KD yang diorganisasikan dalam proses pembelajaran siswa aktif. Demikian pula penilaian hasil belajar dan hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi. kelas dan mata pelajaran. SMK/MAK. Pendidikan berdasarkan standar adalah pendidikan yang menetapkan standar nasional sebagai kualitas minimal warganegara untuk suatu jenjang pendidikan.4. menggunakan pengetahuan dan ketrampilan untuk melaksanakan suatu tugas di sekolah. dan ketrampilan (kognitif dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah. Standar bukan kurikulum dan kurikulum dikembangkan agar peserta didik mampu mencapai kualitas standar nasional atau di atasnya. 2. Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap. dan keterampilan. Kompetensi adalah kemampuan sesorang untuk bersikap. ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun kemampuan yang dirumuskan dalam SKL.

4. Dalam silabus tercantum seluruh KD untuk tema atau mata pelajaran di kelas tersebut. saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal). 8. Proses pembelajaran intra-kurikuler adalah proses pembelajaran yang berkenaan dengan mata pelajaran dalam struktur kurikulum dan dilakukan di kelas. C. Silabus dikembangkan sebagai rancangan belajar untuk satu tema (SD/MI) atau satu kelas dan satu mata pelajaran (SMP/MTS. SMK/MAK). Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar di jenjang pendidikan menengah diutamakan pada ranah sikap sedangkan pada jenjang pendidikan menengah pada kemampuan intelektual (kemampuan kognitif tinggi). f. 1. Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris (organizing elements) Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti. ketrampilan kognitif dan psikomotorik adalah konten yang bersifat developmental yang dapat dilatih (trainable) dan diajarkan secara langsung (direct teaching). PROSES PEMBELAJARAN Proses pembelajaran Kurikulum 2013 terdiri atas pembelajaran intra-kurikuler dan pembelajaran ekstra-kurikuler. rumah dan masyarakat. 6. b. sedangkan sikap adalah konten developmental dan dikembangkan melalui proses pendidikan yang tidak langsung (indirect teaching). Proses pembelajaran tidak langsung (indirect) terjadi pada setiap kegiatan belajar yang terjadi di kelas. dan saling memperkuat antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Pembelajaran kompetensi untuk konten yang bersifat developmentaldilaksanakan berkesinambungan antara satu pertemuan dengan pertemuan lainnya. SMA/MA. 5. Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dikembangkan dari setiap KD yang untuk mata pelajaran dan kelas tersebut. sekolah. Proses pembelajaran dikembangkan atas dasar karakteristik konten kompetensi yaitu pengetahuan yang merupakan konten yang bersifat mastery dan diajarkan secara langsung (direct teaching). dan masyarakat. 7. Proses pembelajaran tidak langsung bukan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) karena sikap yang dikembangkan dalam Matematika – SMA/MA/SMK | 84 . SMA/MA. Proses pembelajaran didasarkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif untuk menguasai Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti pada tingkat yang memuaskan (excepted). Proses pembelajaran di SD/MI berdasarkan tema sedangkan di SMP/MTS. dan SMK/MAK berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dikembangkan guru. c. e. Pembelajaran intra kurikuler didasarkan pada prinsip berikut: a. sekolah. d.

proses pembelajaran tidak langsung harus tercantum dalam silabus. grafik. bersifat formatif dan hasilnya segera diikuti dengan pembelajaran remedial untuk memastikan penguasaan kompetensi pada tingkat memuaskan. menganalis (menghubungkan. 2. Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi. Pembelajaran remedial dilaksanakan untuk membantu peserta didik menguasai kompetensi yang masih kurang. 5. tabel. ulangan. tulis. PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip berikut: 1. Matematika – SMA/MA/SMK | 85 . Kurikulum didasarkan atas prinsip bahwa setiap sikap. jenjang pendidikan. h. dan lain-lain). i. menentukan keterkaitan. Pembelajaran remedial dirancang dan dilaksanakan berdasarkan kelemahan yang ditemukan berdasarkan analisis hasil tes. Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat. mengkomunikasikan (lisan. Kegiatan ekstra-kurikuler terdiri atas kegiatan wajib dan pilihan. Pembelajaran remedial dirancang untuk individu. Kurikulum didasarkan pada model kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum didasarkan pada standar kompetensi lulusan yang ditetapkan untuk satu satuan pendidikan. dan program pendidikan. 4. kelompok atau kelas sesuai dengan hasil analisis jawaban peserta didik. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah mengenai Wajib Belajar 12 Tahun maka Standar Kompetensi Lulusan yang menjadi dasar pengembangan kurikulum adalah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan selama 12 tahun. tulis). Pembelajaran ekstrakurikuler Pembelajaran ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan untuk aktivitas yang dirancang sebagai kegiatan di luar kegiatan pembelajaran terjadwal secara rutin setiap minggu. ketrampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran. mendengar. menyimak). chart. Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap. keterampilan dan pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kompetensi Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi. Proses pembelajaran dikembangkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif melalui kegiatan mengamati (melihat. dan tugas setiap peserta didik. ketrampilan berpikir. dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat guru. membaca. Kegiatan ekstrakurikuler wajib dinilai yang hasilnya digunakan sebagai unsur pendukung kegiatan intrakurikuler. pengetahuan. membangun cerita/konsep). 2. Kurikulum bukan hanya merupakan sekumpulan daftar mata pelajaran karena mata pelajaran hanya merupakan sumber materi pembelajaran untuk mencapai kompetensi. Pramuka adalah kegiatan ekstrakurikuler wajib. g. gambar. D. 3. menanya (lisan.

Struktur kurikulum adalah juga merupakan aplikasi konsep pengorganisasian konten dalam sistem belajar dan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran. 10. budaya. Jam belajar SD/MI adalah 35 menit.Kurikulum didasarkan kepada kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kekurangan tersebut harus segera diikuti dengan proses memperbaiki kekurangan dalam aspek hasil belajar yang dimiliki seorang atau sekelompok peserta didik. A. dan III masing-masing 30. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. beban belajar untuk mata pelajaran dan beban belajar per minggu untuk setiap siswa. IV. STRUKTUR KURIKULUM Struktur kurikulum menggambarkan konseptualisasi konten kurikulum dalam bentuk mata pelajaran. Bahasa Indonesia 4. Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan. posisi konten/mata pelajaran dalam kurikulum. dan seni. 34 sedangkan untuk kelas IV. Pendidikan Jasmani. Beban belajar di SD/MI kelas I. V. Seni Budaya dan Prakarya 2. 8. distribusi konten/mata pelajaran dalam semester atau tahun. dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. 9.6. Pengorganisasian konten dalam sistem belajar yang digunakan untuk kurikulum yang akan datang adalah sistem semester sedangkan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran berdasarkan jam pelajaran per semester. pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik berada pada posisi sentral dan aktif dalam belajar. perkembangan. STRUKTUR KURIKULUM SD/MI Beban belajar dinyatakan dalam jam belajar setiap minggu untuk masa belajar selama satu semester. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. Struktur Kurikulum SD/MI adalah sebagai berikut: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU I Kelompok A 1. Kurikulum berpusat pada potensi. 32. Ilmu Pengetahuan Sosial Kelompok B 1. Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan memperbaiki pencapaian kompetensi. kebutuhan. Olah Raga dan Kesehatan 4 5 8 5 4 4 II 4 6 8 6 4 4 III IV 4 6 10 6 4 4 4 4 7 6 3 3 5 4 V 4 4 7 6 3 3 5 4 VI 4 4 7 6 3 3 5 4 MATA PELAJARAN Matematika – SMA/MA/SMK | 86 . 11. Ilmu Pengetahuan Alam 6. II. dan VI masing-masing 36 jam setiap minggu. teknologi. 7. Instrumen penilaian hasil belajar adalah alat untuk mengetahui kekurangan yang dimiliki setiap peserta didik atau sekelompok peserta didik. Kurikulum harus diarahkan kepada proses pengembangan. Matematika 5.

semangat kebangsaan. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Sedangkan untuk kelas IV. VIII. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. Seni Budaya 2. II. Matematika. kemampuan belajar.Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu 30 32 34 36 36 36 = Pembelajaran Tematik Integratif Keterangan: Mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dapat Bahasa Daerah. Olah Raga. Keduanya sebagai pendidikan berorientasi aplikatif. Matematika – SMA/MA/SMK | 87 . dan Kesehatan 3. Prakarya Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu Keterangan: Mata pelajaran Seni Budaya dapat memuat Bahasa Daerah. V dan VI. dan 32 menjadi 38. dan III. Disamping itu. Pendidikan Jasmani. Integrasi Kompetensi Dasar IPA dan IPS didasarkan pada keterdekatan makna dari konten Kompetensi Dasar IPA dan IPS dengan konten Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Bahasa Indonesia. Ilmu Pengetahuan Alam 6. bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. Matematika 5. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. Kompetensi Dasar IPA dan IPS berdiri sendiri dan kemudian diintegrasikan ke dalam tema-tema yang ada untuk kelas IV. Bahasa Indonesia 4. Sedangkan lama belajar untuk setiap jam belajar di SMP/MTs tetap yaitu 40 menit. patriotisme. dan IX. STRUKTUR KURIKULUM SMP/MTS Dalam struktur kurikulum SMP/MTs ada penambahan jam belajar per minggu dari semula 32. serta aktivitas masyarakat di bidang ekonomi dalam ruang atau space wilayah NKRI. B. tujuan pendidikan IPS menekankan pada pengetahuan tentang bangsanya. IPA dan IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science dan integrative social studies. 38 dan 38 untuk masing-masing kelas VII. Olahraga dan Kesehatan yang berlaku untuk kelas I. rasa ingin tahu. serta Pendidikan Jasmani. pengembangan kemampuan berpikir. serta pengenalan berbagai keunggulan wilayah nusantara. 32. Ilmu Pengetahuan Sosial 7. IPA juga ditujukan untuk pengenalan lingkungan biologi dan alam sekitarnya. dan pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan alam. Struktur Kurikulum SMP/MTS adalah sebagai berikut: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU VII VIII IX 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 MATA PELAJARAN Kelompok A 1. Bahasa Inggris Kelompok B 1. V dan VI.

Olah Raga. seni musik. Prakarya terdiri atas empat aspek. Prakarya dan Kewirausahaan Jumlah Jam Pelajaran Kelompok A dan B per minggu Kelompok C (Peminatan) Matematika – SMA/MA/SMK | 88 . dan Kesehatan 9. yakni seni rupa. Struktur ini menempatkan prinsip bahwa peserta didik adalah subjek dalam belajar dan mereka memiliki hak untuk memilih sesuai dengan minatnya. dan kemampuannya.Kelompok mata pelajaran wajib yang diikuti oleh seluruh peserta didik . minat. Masingmasing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan menyelenggarakan pembelajaran prakarya paling sedikit dua aspek prakarya sesuai dengan kemampuan dan potensi daerah pada satuan pendidikan itu. Bahasa Inggris Kelompok B (Wajib) 7. Adanya kelompok mata pelajaran wajib dan mata pelajaran peminatan dimaksudkan untuk menerapkan prinsip kesamaan antara SMA/MA dan SMK/MAK.Kelompok mata pelajaran peminatan yang diikuti oleh peserta didik sesuai dengan bakat. STRUKTUR KURIKULUM PENDIDIKAN MENENGAH (SMA/MA/SMK/MAK) Struktur kurikulum SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: . dan seni teater. Mata pelajaran wajib sebanyak 9 (sembilan) mata pelajaran dengan beban belajar 24 jam per minggu. budidaya. 1. seni tari. dan 20 jam per minggu untuk kelas XI dan XII. Kelompok mata pelajaran peminatan SMA/MA bersifat akademik. Sejarah Indonesia 6. yakni kerajinan. C. Masing-masing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan dapat memilih aspek yang diajarkan sesuai dengan kemampuan (guru dan fasilitas) pada satuan pendidikan itu. Kelompok mata pelajaran peminatan SMK/MAK masing-masing 24 jam per kelas. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. Pendidikan Jasmani. Kelompok mata pelajaran peminatan SMA/MA terdiri atas 18 jam per minggu untuk kelas X.Seni Budaya terdiri atas empat aspek. Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah adalah sebagaimana yang tertera di dalam tabel berikut ini: Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah kelompok mata pelajaran wajib: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU X XI XII 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 MATA PELAJARAN Kelompok A (Wajib) 1. rekayasa. Bahasa Indonesia 4. Seni Budaya 8. dan pengolahan. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. Matematika 5. sedangkan untuk SMK/MAK bersifat vokasional.

Mata Pelajaran Peminatan Akademik (SMA/MA) Jumlah Jam Pelajaran yang Harus Ditempuh per Minggu 18 42 20 44 20 44 Beban belajar di SMA/MA untuk Tahun X. Kelompok Peminatan Peminatan Matematika dan Ilmu-Ilmu Alam I 1 Matematika 2 Biologi 3 Fisika 4 Kimia Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial II 1 Geografi 2 Sejarah 3 Sosiologi 4 Ekonomi Peminatan Ilmu-Ilmu Bahasa dan Budaya III 1 Bahasa dan Sastra Indonesia 2 Bahasa dan Sastra Inggris 3 Bahasa dan Sastra Asing Lainnya 4 Antropologi Mata Pelajaran Pilihan dan Pendalaman Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat Jumlah jam pelajaran yang tersedia per minggu Jumlah jam pelajaran yang harus ditempuh per minggu Kelas XI 24 X 24 XII 24 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 6 66 42 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 76 44 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 76 44 Kelompok Peminatan terdiri atas Peminatan Matematika dan Ilmu-ilmu Alam. Pada akhir minggu ketiga semester pertama peserta didik masih mungkin mengubah pilihan peminatannya berdasarkan rekomendasi para guru dan ketersediaan tempat duduk. Setiap Kelompok Peminatan terdiri atas 4 (empat) mata pelajaran dan Matematika – SMA/MA/SMK | 89 . Satu jam belajar adalah 45 menit. Untuk MA. Peminatan Ilmu-ilmu Sosial. Sejak kelas X peserta didik sudah harus memilih kelompok peminatan yang akan dimasuki. dan XII masing-masing 43 jam belajar per minggu. Struktur Kurikulum SMA/MA MATA PELAJARAN Kelompok A dan B (Wajib) C. 2. dan Peminatan Ilmu-ilmu Bahasa dan Budaya. selain ketiga peminatan tersebut ditambah dengan Kelompok Peminatan Keagamaan. Pemilihan peminatan berdasarkan nilai rapor di SMP/MTsdan/atau nilai UN SMP/MTs dan/atau rekomendasi guru BK di SMP/MTs dan/atau hasil tes penempatan (placement test) ketika mendaftar di SMA/MA dan/atau tes bakat minat oleh psikolog dan/atau rekomendasi guru BK di SMA/MA. XI. Untuk sekolah yang mampu menyediakan layanan khusus maka setelah akhir semester pertama peserta didik masih mungkin mengubah pilihan peminatannya. Semua mata pelajaran yang terdapat dalam suatu Kelompok Peminatan yang dipilih peserta didik harus diikuti.

Untuk Mata Pelajaran Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat kelas X. Implementasi kurikulum adalah usaha bersama antara Pemerintah dengan pemerintah propinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota. bahwa sekolah adalah satu kesatuan lembaga pendidikan dan kurikulum adalah kurikulum satuan pendidikan. Setiap peserta didik memiliki beban belajar per semester selama 42 jam pelajaran untuk kelas X dan 44 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. Guru di satu satuan pendidikan adalah satu satuan pendidik (community of educators). b. Sedangkan pada kelas XI dan XII. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KURIKULUM A. Dua mata pelajaran di luar Kelompok Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam satu Kelompok Peminatan lainnya. c. Satu mata pelajaran di luar Kelompok Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam Kelompok Peminatan lainnya. dan/atau b.masing-masing mata pelajaran berdurasi 3 jampelajaran untuk kelas X. Pemerintah bertangungjawab dalam mempersiapkan guru dan kepala sekolah untuk melaksanakan kurikulum. Mata pelajaran Pendalaman Kelompok Peminatan yang dipilihnya. Matematika – SMA/MA/SMK | 90 . bukan daftar mata pelajaran b. c. Satu mata pelajaran dari masing-masing Kelompok Peminatan yang lainnya. dan 4 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. mengembangkan kurikulum secara bersama-sama. V. Pengembangan Kurikulum 2013 pada Satuan Pendidikan Pengembangan Kurikulum 2013 dilakukan atas prinsip: a. peserta didik mengambil Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat dengan jumlah jam pelajaran pilihan per minggu berdurasi 4 jam pelajaran yang dapat diambil dengan pilihan sebagai berikut: a. IMPLEMENTASI 1. 2. jumlah jam pelajaran pilihan per minggu berdurasi 6 jam pelajaran yang dapat diambil dengan pilihan sebagai berikut: a. Pelaksanaan implementasi kurikulum di satuan pendidikan dievaluasi oleh kepala sekolah. Pemerintah bertanggungjawab dalam melakukan evaluasi pelaksanaan kurikulum secara nasional. Manajemen Implementasi a. Beban belajar ini terdiri atas Kelompok Mata Pelajaran Wajib A dan B dengan durasi 24 jam pelajaran dan Kelompok Mata Pelajaran Peminatan dengan durasi 12 jam pelajaran untuk kelas X dan 16 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. dan/atau b. Pengembangan kurikulum di jenjang satuan pendidikan dipimpin langsung oleh kepala sekolah d.

.Juli 2013: Kelas I. Implementasi Kurikulum 2013 mensyaratkan penataan administrasi. Pengembangan manajemen. Seperti tahun pertama maka SD akan dipilih sebanyak 30% sehingga secara keseluruhan implementasi kurikulum pada tahun kedua sudah mencakup 60% SD di seluruh wilayah NKRI. Ini adalah tahun pertama implementasi dan dilakukan di seluruh wilayah NKRI. kepala sekolah yang akan melaksanakan Kurikulum 2013 dan dilakukan sebelum Kurikulum 2013 diimplementasikan. Pelatihan Guru. Sedangkan pedoman pembelajaran dan penilaian hasil belajara secara rinci tercantum dalam buku pedoman pembelajaran dan penilaian. Isi buku babon guru adalah sama dengan buku babon peserta didik dengan tambahan strategi pembelajaran dan penilaian hasil belajar. Pelaksanaan kurikulum di seluruh sekolah dan jenjang pendidikan yaitu: . SMP/MTs. Pada tahun kedua ini. Pelatihan guru. IV terbatas pada sejumlah SD/MI (30%).Juli 2014: Kelas I. IV. Prinsip ini menjadi prinsip utama implementasi dimana guru. b. SMK/MAK telah melaksanakan sepenuhnya Kurikulum 2013. pelatihan juga berkenaan dengan tata kerja baru para guru dan kepemimpinan kepala sekolah. d. penulisan dan percetakan serta distribusi buku babon akan seluruhnya selesai pada awal tahun terakhir implementasi kurikulum atau sebelumnya. seluruh guru. VII.Dengan penerapan pelatihan ini maka implementasi Kurikulum tidak hanya berkenaan dengan upaya realisasi ide dan rancangan kurikulum tetapi juga pembenahan pada pelaksanaan pendidikan di satuan pendidikan.Juli 2015: seluruh kelas dan seluruh sekolah SD/MI. kepala sekolah dan pengawas adalah untuk guru. dan X (SMA/MA. X. c. dimulai dari bulan Januari – Desember 2013. SMA/MA. Pengembangan buku babon. SMA/MA. sistem administrasi. Pemerintah propinsi bertanggungjawab dalam melakukan supervisi dan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum di propinsi terkait. kepala sekolah dan pengawas di wilayah sekolah terkait yang akan mengimplemntasikan kurikulum adalah mereka yang sudah terlatih. dan pengembangan budaya sekolah (budaya kerja guru) terutama untuk SMA/MA dan SMK/MAK. dan seluruh VII (SMP/MTs). kepala sekolah dan pengawas di seluruh Indonesia sudah mendapatkan pelatihan untuk melaksanakan kurikulum. Matematika – SMA/MA/SMK | 91 . e. Kepala Sekolah dan Pengawas. dari tahun 2013 – 2016. Oleh karena itu dalam persiapan implementasi Kurikulum 2013. kepemimpinan dan budaya kerja guru yang baru. VIII. manajemen. II. V. kepemimpinan. Sejalan dengan strategi implementasi. Stategi Implementasi Kurikulum terdiri atas: a. SMK/MAK yang belum melaksanakan kurikulum. dan XI: tahun 2014 adalah tahun kedua implementasi. Pada prinsipnya ketika implementasi Kurikulum 2013 memasuki tahun 2015-2016 seluruh buku babon sudah teredia di setiap sekolah. Dengan demikian. ketika Kurikulum 2013 akan diimplementasikan pada tahun pembelajaran 2015-2016. hanya kelas terakhir SMP/MTs. 3. Pemerintah kabupaten/kota bertanggungjawab dalam memberikan bantuan profesional kepada guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan kurikulum di kabupaten/kota terkait. . dari tahun 2013 – 2016.d. Untuk SD akan dipilih 30% SD dari setiap kabupaten/kota di setiap propinsi. Buku babon terdiri atas buku untuk peserta didik dan buku untuk guru. SMK/MAK).

e. Pendampingan dalam bentuk Monitoring dan Evaluasi untuk menemukan kesulitan dan masalah implementasi dan upaya penanggulangan: Juli 2013 – 2016. Strategi implementasi Kurikulum 2013 menghindari pelatihan yang dinamakan one-shot training sebagai strategi implementasi mengingat kelemahan strategi tersebut. Pleatihan yang dilakukan untuk para guru, kepala sekolah, dan pengawas akan diikuti dengan monitoring dan evaluasi sepanjang pelaksanaan paling tidak dari tahun pertama sampai tahun ketiga implementasi. Pada akhir tahun ketiga implementasi diharapkan permasalahan yang dihadapi para pelaksana sudah tidak lagi merupakan masalah mendasar dan kurikulum sudah dapat dilaksanakan sebagaimana seharusnya. Permasalahan lapangan yang muncul adalah yang dapat diselesaikan oleh kolaborasi guru, kepala sekolah dan pengawas di bawah supervisi dinas pendidikan kabupaten/kota.

B. EVALUASI KURIKULUM Evaluasi Kurikulum dilaksanakan selama masa pengembangan ide (deliberation process), pengembangan desain dan dokumen kurikulum, dan selama masa implementasi kurikulum. Evaluasi dalam deliberation process menghasilkan penyempurnaan dalam Kompetensi Inti yang dijadikan organising element dalam mengikat Kompetensi dasar mata pelajaran. Pelaksanaan evaluasi implementasi kurikulum dilaksanakan sebagai berikut: 1. Sampai tahun pelajaran 2015-2016: untuk memperbaiki berbagai kesulitan pelaksanaan kurikulum. 2. Sampai tahun pelajaran 2016 secara menyeluruh untuk menentukan efektivitas, kelayakan, kekuatan, dan kelemahan implementasi kurikulum. Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum (implementasi kurikulum) diselenggarakan dengan tujuan untuk mengidentifikai masalah pelaksanaan kurikulum dan membantu kepala sekolah dan guru menyelesaikan masalah tersebut. Evaluasi dilakukan pada setiap satuan pendidikan dan dilaksanakan pada satuan pendidikan di wilayah kota/kabupaten secara rutin dan bergiliran. Hasil evaluasi dilakukan sebagai bahan untuk memperbaiki kelemahan kurikulum agar lebih efektif lagi di masa yang akan datang.

Matematika – SMA/MA/SMK | 92

SUBMATERI PELATIHAN : 1.2 ELEMEN PERUBAHAN KURIKULUM

Langkah Kegiatan Inti

Pemaparan oleh Instruktur dengan menggunakan PPT-1.1 dan PPT-1.2 10 Menit

Tanya Jawab

10 Menit

Pemaparan
Instruktur menyampaikan materi Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum yang mencakup: 4 standar, tematik terpadu untuk SD kls 1 dan 4, TIK merupakan sarana pembelajaran yang dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain, perubahan pendekatan pembelajaran yaitu Scientific Approach, bahasa sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge, penetapan platform untuk mata pelajaran tertentu (geografi untuk IPS, Biologi untuk IPA)dengan menggunakan PPT-1.2.

Tanya Jawab
Diskusi dan tanya jawab terkait dengan Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: d. Alasan pengembangan kurikulum. e. Identifikasi perubahan yang penting dalam kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya (struktur kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian hasil belajar). f. Manfaat adanya perubahan kurikulum. Kemudian fasilitator menyimpulkannya.

Matematika – SMA/MA/SMK | 93

Matematika – SMA/MA/SMK | 94

Matematika – SMA/MA/SMK | 95

Matematika – SMA/MA/SMK | 96

Matematika – SMA/MA/SMK | 97

Matematika – SMA/MA/SMK | 98 .

KD masing-masing mapel selama 1 tahun yang akan dijadikan dasar untuk membuat RPP dengan menggunakan LK 1. Presentasi Hasil Kerja Kelompok Masing-masing kelompok memaparkan hasil kerja kelompok.2 Kerja Kelompok Peserta dibagi menjadi 5 kelompok.3/2.1/2. KI.SUBMATERI PELATIHAN 1. dan KD dengan menggunakan PPT-1.1/3.3/3. setiap kelompok diberi tugas menganalisis keterkaitan SKL. Sementara kelompok lainnnya memberi komentar/ tanggapan dan menilai hasil kerja kelompok lainnya.3 Matematika – SMA/MA/SMK | 99 . KI. Peserta yang akan memaparkan akan ditunjuk oleh Intruktur.3. KI.3: SKL. Masing-masing kelompok mengerjakan KD yang berbeda agar peserta mendapat bahan hasil analisis semua KI dan KD selama 1 tahun kelas X. Memberi Contoh Instruktur memberikan contoh analisis keterkaitan antara SKL. KI. KD 5 Menit Kerja Kelompok Presentasi Hasil Kelompok 10 Menit 30 Menit 15 Menit Pemaparan Instuktur memberikan materi SKL. dan KD dengan menggunakan HO-1. KI. DAN KD Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur Memberi Contoh Analisis Keterkaitan SKL.

Matematika – SMA/MA/SMK | 100 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 101 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 102 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 103 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 104 .

HO-1.3/2. seni. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian. konseptual. dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Memiliki pengetahuan faktual. kebangsaan.1/3. berilmu. berakhlak mulia. percaya diri.4/3. Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri. dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. prosedural. kenegaraan. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR MATEMATIKA (WAJIB) SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)/MADRASAH ALIYAH (MA) KELAS: X Matematika – SMA/MA/SMK | 105 . dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan.1/2.2 STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) SMA/MA/SMALB*/Paket C Aspek Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Sikap Pengetahuan Keterampilan Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman. teknologi.

Matematika – SMA/MA/SMK | 106 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 107 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 108 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 109 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 110 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 111 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 112 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 113 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 114 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 115 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 116 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 117 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 118 .

mengembangkan rasa percayadiri. sikap dan alam serta royong. dirinya sebagai santun.1 Memiliki jawab dalam mengamalkan trigonometri segitiga motivasi internal. dan sikap cerminan bangsa dan pro-aktif dan jujur dan bekerjasama. toleransi dalam pergaulan menunjukkan sikap dalam dunia sebagai bagian dari  Identitas Trigonometri. disiplin. percaya diri. kerjasama. damai). lingkungan sosial peduli (gotong identitas trigonometri konsisten. bekerjasama menyelesaikan Siswa menelaah hubungan perbandingan trigonometri dengan sudut pada segitiga sikusiku Siswa memecahkan masalah perbandingan trigonometri untuk sudut lebih dari atau kurang dari dengan/tanpa bimbingan guru Siswa memecahkan masalah perbandingan trigonometri untuk sudut lebih dari satu putaran Teknik Penilaian: Non tes (pengamatan) Bentuk Instrumen: Lembar pengamatan perkembangan sikap Matematika – SMA/MA/SMK | 119 . untuk disiplin. konsisten. Menghayati dan yang mencerminkan mengamalkan sikap orang ajaran agama yang beriman.CONTOH ANALISIS SKL. berinteraksi secara perilaku jujur.3 Aspek Sikap Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Lingkup Materi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Memiliki perilaku 1. Menghayati dan  Perbandingan 2. siku-siku. ukuran sudut serta bekerjasama. dalam menempatkan toleran. dan bertanggung 2. perbedaan solusi atas berbagai problem soving serta strategi berpikir permasalahan dalam macam dan ukuran dalam memilih berinteraksi secara sudut untuk dan menerapkan efektif dengan mengembangkan strategi lingkungan sosial toleransi. KI dan KD Mata Pelajaran : Matematika Kelas : X Materi Pokok : Perbandingan Trigonometri Standar Kompetensi Lulusan Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi HO – 1. macam dan kemampuan efektif dengan tanggungjawab. responsif disiplin. mulia. berakhlak dianutnya.

dan 3. menanya (berfikir divergen).d.2 Mampu bangsa dalam mentransformasi  Fungsi Trigonometri pergaulan dunia sudut lebih dari 900 diri dalam s. sudut lebih berpilaku jujur.14 Mendeskripsikan konsep perbandingan trigonometri pada  Nilai perbandingan sisi-sisi segitiga sikusiku (perbandinga trigonometri)  Melakukan kegiatan mengamati fakta matematika. dari 3600 dan sudut tangguh negatif untuk mengadapi mengembangkan masalah. mencoba dan Teknik Penilaian:  Tes tertulis terkait : perbandingan Matematika – SMA/MA/SMK | 120 . sikap dan disiplin rasa ingin tahu. dalam melakukan tugas belajar  Problem solving untuk matematika. serta kesadaran hak dalam menempatkan dan kewajiban diri sebagai cerminan 2.3 Menunjukkan lingkungan sikap bertanggung jawab. menalar. prosedural. dan menganalisis pengetahuan 3. rasa ingin tahu. 3600. mengembangkan rasa percaya diri dan peduli 2. Memahami. menerapkan. Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual.Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) dan alam serta masalah. kritis perilaku kritis. jujur dan perilaku peduli lingkungan. konseptual.

3. konseptual. kenegaraan. mencoba dan membuktikan serta menyimpulkan terkait sudut berelasi (sudut di kuadrani. misalnya in . sudut tumpul dan sudut tumpul Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) segitiga siku-siku (kuadran I) . seni. dan prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan. teknologi.16 Mendeskripsikan dan menentukan hubungan perbandingan trigonometri dari sudut di setiap kuadran. dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian. menalar. 3. budaya. seni. memilih dan menerapkan dalam penyelesaian Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi membuktikan dan menyimpulkan o terkait nilai perbandingan sisi segitiga siku-siku o terkait dengan perluasan nilai perbandingan trigonometri untuk sudut siku-siku. perluasan konsep pada kordinat kartesius dalam kaitannya dengan sudut berelasi  Hubungan antar perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku  Nilai perbandingan trigonometri diperluas dengan mengaitkan kordinat  Perbandingan trigonometri di berbagai kuadran dan pemahaman  Melakukan kegiatan mengamati fakta matematika. dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan. kuadran II. kuadran III dan kuadran IV)  Portofolio hasil kerja siswa dan catatan guru Bentuk instrumen penilaian:  Soal uraian  Portofolio Matematika – SMA/MA/SMK | 121 .Aspek Standar Kompetensi Lulusan metakognitif dalam ilmu pengetahuan.15 Menemukan sifatsifat dan hubungan antar perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku. Kompetensi Inti faktual.siku sebangun. menanya (berfikir divergen). kebangsaan. teknologi. dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. kebangsaan. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian. kenegaraan. serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah Kompetensi Dasar segitiga siku-siku melalui penyelidikan dan diskusi tentang hubungan perbandingan sisi-sisi yang bersesuaian dalam beberapa segitiga siku.

busur.Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti Kompetensi Dasar masalah nyata dan matematika 3.17 Mendeskripsikan konsep fungsi trigonometri dan menganalisis grafik fungsinya serta menentukan hubungan nilai fungsi trigonometri dari sudut-sudut istimewa Lingkup Materi sudut berelasi  Grafik fungsi trigonometri Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri. 4 Mengolah. menalar. dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri. dan mampu menggunakan 4.14 Menerapkan perbandingan trigonometri dalam menyelesaikan masalah 4. klinometer dan sebagainya)  Unjuk kerja (dengan instrumen pengamatan) Matematika – SMA/MA/SMK | 122 . (misalnya menggunakan bayangan.15 Menyajikan grafik fungsi trigonometri  Penerapan perbandingan trigonometri  Melukis grafik fungsi trigonometri  Menentukan tinggi gedung dengan memanfaatkan perbandingan trigonometri dengan berbagai cara.

Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti metoda sesuai kaidah keilmuan Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Matematika – SMA/MA/SMK | 123 .

KI dan KD 1. Tulislah aktivitas/ kegiatan belajar siswa untuk mencapai kompetensi tersebut dengan mengacu silabus mata pelajaran 7.LEMBAR KERJA ANALISIS KETERKAITAN SKL. dan KD matematika kelas X yang sudah disiapkan! Matematika – SMA/MA/SMK | 124 . KI DAN KD Kompetensi Tujuan Kegiatan Kelompok Kerja : : : Memahami keterkaitan antara SKL. Setelah selesai masukkan dalam Lembar Kerja Analisis Keterkaitan SKL.3 PETUNJUK KEGIATAN ANALISIS SKL. Bacalah substansi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tahun 2013. Analisislah lingup materi dari setiap KD mengacu silabus mata pelajaran 6. 3. 2. 4. Tentukan teknik dan instrumen penilaiannya dengan mengacu silabus mata pelajaran 8. dan KD MATEMATIKA KELAS X LK – 1. KI dan KD pada Kurikulum 2013 Menganalisis keterkaitan SKL. Bacalah KD mata pelajaran matematika SMA kelas X. Bacalah dan komparasikan dengan SKL Tahun 2006 (Permendiknas Th 2006). 5. KI. KI. Bacalah KI mata pelajaran matematika SMA kelas X.

prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas/Kegiatan Belajar Siswa untuk Mencapai Kompetensi LK – 1. santun. toleran. berakhlak mulia. menerapkan. prosedural. konseptual. kerjasama. ilmu Matematika – SMA/MA/SMK | 125 .3 Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual. damai). konseptual. percaya diri. responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Memahami . dan metakognitif dalam matematika. berilmu. disiplin. tanggungjawab. peduli (gotong royong. KI. menganalisis pengetahuan faktual. dan KD MATA PELAJARAN : MATEMATIKA KELAS :X MATERI AJAR : Domain Sikap Standar Kompetensi Lulusan Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman. dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Kompetensi Inti Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur.LEMBAR KERJA ANALISIS KETERKAITAN SKL.

dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas/Kegiatan Belajar Siswa untuk Mencapai Kompetensi Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret dalam menyelesaikan masalah secara mandiri. kenegaraan. Mengolah. serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. menalar. teknologi. Kompetensi Inti pengetahuan. teknologi. seni. seni. - Matematika – SMA/MA/SMK | 126 . dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian. budaya. kenegaraan. kebangsaan.Domain Standar Kompetensi Lulusan pengetahuan. dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan. dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri. dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian. kebangsaan.

pengawas sekolah. Dukungan dinas pendidikan kabupaten dan organisasi profesi dalam implementasi kurikulum 2013. kepala sekolah. 1. Dukungan manajemen sekolah atau kultur sekolah dalam mensukseskan pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013. Matematika – SMA/MA/SMK | 127 . Peran guru.MATERI PELATIHAN 1. 3.4: STRATEGI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur Diskusi Kelas Merangkum Hasil Diskusi Kelas Refleksi dan umpan balik untuk seluruh materi pelatihan 15 Menit 10 Menit 20 Menit 10 Menit Pemaparan Paparan oleh fasilitatortentang Strategi Implementasi Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1. dan guru BK. meliputi berikut ini. Membuat Rangkuman Instruktur merangkum semua materi pelatihan Konsep Kurikulum yang telah disampaikan selama 4 JP sebagai kegiatan penutup. 2.4 Diskusi Kelas Mendiskusikan elemen penting dalam implementasi kurikulum 2013.

Matematika – SMA/MA/SMK | 128 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 129 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 130 .

3 2.4 Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik BAGIAN Analisis Buku Guru danIII Siswa Matematika – SMA/MA/SMK | 131 .2 2.1 2.MATERI PELATIHAN 2: ANALISIS MATERI AJAR 2.

dan KD secara teliti dan serius. menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran. 4. 3. pendekatan belajar . Menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL. 3. KI. Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain. dan memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. LINGKUP MATERI 1. menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Menjelaskan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. 11. Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran. Mengidentifikasi kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. menguasai secara utuh materi. menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan seharihari. B. 2. 3. dan Kedalaman Materi) C. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran. dan KD. 10. Matematika – SMA/MA/SMK | 132 . 6. KI.MATERI PELATIHAN 2: ANALISIS MATERI AJAR A. 7. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. Menjelaskan secara utuh materi. struktur. struktur. dan KD. Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa. 2. Konsep Pendekatan Scientific Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. KI. 5. Kecukupan. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa. 2. Menganalisis kesesuaian proses. 6. 7. INDIKATOR 1. mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. 4. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. 8. Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madrasah dan menghargai pendapat orang lain. Menjelaskan konsep pendekatan scientific. 5. 9.

12. b. PERANGKAT PELATIHAN 1. c. Konsep Pendekatan Scientific Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Lembar Kerja Dokumen Bahan Bacaan a. Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Video Pembelajaran Bahan Tayang a. Konsep Pendekatan Scientific Konsep Penilaian Autentik 5. 3. D. 4. d. b. 2. ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 133 .

seperti LCD Projector. atau media pembelajaran lainnya.1. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 2.2-1 dan Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Matematika dengan menggunakan PPT-2.1/4. tujuan. Diskusi kelompok untuk mengkaji pendekatan scientific yang 40 Menit mengacu pada tayangan video.3 Model-model Pembelajaran 90 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 134 . Fasilitator memotivasi peserta agar serius.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 2.1-2. dan Laser Pointer. kompetensi. ANALISIS MATERI AJAR 12 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA.1-1 dan contoh-contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika dengan mengacu pada HO-2. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Analisis Materi Ajar. File. alokasi waktu. teliti. antusias. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. Laptop.dilanjutkan dengan paparan materi oleh fasilitator tentang Konsep Pendekatan Scientific dengan menggunakan PPT-2. 2. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama.1 Konsep Pendekatan Scientific 90 Menit Penayangan Video pembelajaran Matematika dengan menggunakan 20 Menit V-2.2. Diskusi kelompok tentang konsep pendekatan scientific dengan 30 Menit menggunakan HO-2. indikator.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. Active Speaker.

Menerapkan Focus Group Discussion untuk mengidentifikasi karakteristik tiga model pembelajaran.3 dan Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika menggunakan bahan tayang PPT-2.3 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.4-2. ICE BREAKER 2.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. dan Discovery Learning). dan kedalaman materi.Mengamati tayangan tiga jenis model pembelajaran (Project Based Learning. Kerja kelompok untuk mengidentifikasi penerapan Pendekatan Scientific pada tiga model pembelajaran.2. Presentasi hasil diskusi kelompok 25 Menit Paparan materi tentang Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan 15 Menit Hasil Belajar dengan menggunakan bahan tayang PPT-2. 2. Menyimpulkan hasil diskusi dan menyampaikan format lembar 15 Menit kerja yang telah disiapkan. Problem Based Learning. Diskusi kelompok hasil penilaian buku dilanjutkan dengan 30 Menit pemaparan materi tentang Analisis Buku Guru dan Buku Siswa dengan menggunakan PPT-2. KI. Kecukupan. dan KD dengan menggunakan LK-2.3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran 20 menit 30 menit 40 menit 90 Menit Kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan 15 Menit bentuk penilaian autentik.2/3. ICE BREAKER 5 Menit 5 Menit 240 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 135 . dan Kedalaman Materi) Menilai buku dilakukan oleh peserta dengan bimbingan fasilitator 20 Menit dilihat dari aspek kesesuaian. Kerja kelompok untuk menganalisis kesesuaian buku guru dan buku 60 Menit siswa dengan tuntutan SKL. Diskusi tentang konsep penilaian autentik pada proses dan hasil 30 Menit belajar. kecukupan.41 dan LK -2.

KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Analisis materi Ajar. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. Presentasi hasil kerja kelompok. 30 Menit pendekatan scientific. Fasilitator menutup pembelajaran 30 Menit 20 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 136 .Diskusi kelompok untuk menganalisis kesesuaian proses. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. Menyimpulkan materi analisis buku oleh fasilitator. Kerja kelompok untuk membuat contoh-contoh penerapan materi 30 Menit pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.

Membuat contoh pembelajaran salah satu KD dengan menggunakan pendekatan scientific. 2. KD yang ditetapkan adalah KD semester 1. Matematika – SMA/MA/SMK | 137 .Materi Pelatihan 2. Paparan Materi Fasilitator menyampaikan Konsep Pendekatan Scientific dengan menggunakan PPT-2.2-2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi. Diskusi Kelompok Diskusi kelompok Contoh-contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran. 3. 3. Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok 1. 2. 2. Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok.2. Mengidentifikasi konsep pendekatan scientific yang disampaikan pada tayangan video. 1. Mengkaji pendekatan scientific yang mengacu pada tayangan video. tugas diskusi kelompok sebagai berikut. Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya. Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok.1: Konsep Pendekatan Scientific Langkah Kegiatan Inti Diskusi Kelompok Contohcontoh Pendekatan Scientific dan Penerapannya 45 Menit Diskusi Kelompok Pendekatan Scientific 45 Menit Diskusi Kelompok 1. kelompok lain dapat dijadikan pembahas dan penanya.1 dan Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2. Membuat urutan aktivitas pada pendekatan scientific.

3. Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok. Matematika – SMA/MA/SMK | 138 . 2. Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok. kelompok lain dapat dijadikan pembahas dan penanya.Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok 1. Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya.

Matematika – SMA/MA/SMK | 139 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 140 .

kemudian memformulasi. mengolah informasi atau data. metode ilmiah umumnya memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen. Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala.1-1 PENDEKATAN ILMIAH DALAM PEMBELAJARAN A. dan menguji hipotesis. B. Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik.Karena itu. dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada pembelajaran tradisional. atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Matematika – SMA/MA/SMK | 141 . dan pengetahuan peserta didik. para ilmuan lebih mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning)ketimbang penalaran deduktif (deductivereasoning). Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah. penalaran induktif menempatkan buktibukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas. Pendekatan Ilmiah dan Non-ilmiah dalam Pembelajaran Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradidional. keterampilan. Sejatinya. retensi informasi dari guru sebesar lebih dari 90 persen setelah dua hari dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 50-70 persen. Untuk dapat disebut ilmiah. menganalisis. Karena itu Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan.Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap. Sebaliknya.HO-2. memperoleh pengetahuan baru. Esensi Pendekatan Ilmiah Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah. metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum. empiris. retensi informasi dari guru sebesar 10 persensetelah 15 menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25 persen. Pada pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah.

prasangka. memecahkan masalah.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis. penalaran. atau dongeng semata.Proses pembelajaran dengan berbasis pendekatan ilmiah harus dipandu dengan kaida-kaidah pendekatan ilmiah. Namun demikian. akal sehat. pengetahuan. memahami. bukan sebatas kira-kira. dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran. Kemampuan intuitif itu biasanya didapat secara cepat tanpa melalui proses panjang dan tanpa disadari. Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini. intuisi sama sekali menafikan dimensi alur pikir yang sistemik. jelas. dan asal berpikir kritis. atau kriteria ilmiah. respon peserta didik. dan tepat dalam mengidentifikasi.  Intuisi. atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis. menerapkan. dan penjelasan tentang suatu kebenaran.  Penjelasan guru.   Berbasis pada konsep.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami. kesamaan. analitis.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan. Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana.  Substansi atau materipembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu. Intuisi juga bermakna kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki oleh seseorang atas dasar pengalaman dan kecakapannya. legenda. Dengan demikian. Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai non-ilmiah yang meliputiintuisi. Matematika – SMA/MA/SMK | 142 . pemikiran subjektif. dan fakta empiris yang dapatdipertanggung-jawabkan. dan tautan satu dengan yang lain dari substansi atau materi pembelajaran. proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai. khayalan. teori. penemuan melalui coba-coba. penemuan. pengabsahan. prinsip-prinsip. dan menarik sistem penyajiannya. Intuisi sering dimaknai sebagai kecakapan praktis yang kemunculannya bersifat irasional dan individual. Istilah ini sering juga dipahami sebagai penilaian terhadap sikap. dan keterampilan secara cepat dan berjalan dengan sendirinya. dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran. dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta.

 Prasangka. Akal sehat. Hal inilah yang menyebabkan penggunaan akal sehat berubah menjadi prasangka atau pemikiran skeptis. Tentu saja. keterampilan. Tentu saja hasil pemikirannya itu Matematika – SMA/MA/SMK | 143 . peserta didik. dan pengetahuan yang benar. tindakan coba-coba itu ada manfaatnya bahkanmampu mendorong kreatifitas. dan pengetahuan yang diperoleh semata-mata atas dasar akal sehat (comon sense) umumnya sangat kuat dipandu kepentingan seseorang (guru. Misalnya. Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat selama proses pembelajaran.Karena itu. Orang seperti ini biasanya pemikirannya dipercaya benar oleh banyak orang.Sikap. tiba-tiba dia kaget komputer laptop itu menyala. karena memang hal itu dapat menunjukan ranah sikap. Berpikir skeptis atau prasangka itu memang penting. jika guru dan peserta didik hanya sematamata menggunakan akal sehat dapat pula menyesatkanmereka dalam proses dan pencapaian tujuan pembelajaran. jika diolah secara baik. tidak memiliki kepastian. hingga dia sampai pada kepastian jawaban atas tombol dengan lambang seperti apa yang bisa memastikan bahwa komputer laptop itu bisa menyala. kalau memang tindakan coba-coba ini akan dilakukan. Sebaliknya akan berubah menjadi prasangka buruk atau sikap tidak percaya. Peserta didik pun melihat lambang tombol yang menyebabkan komputer laptop itu menyala dan mengulangi lagi tindakannya. seringkali mereka menjeneralisasi hal-hal khusus menjadi terlalu luas. keterampilan. Namun demikian. sampai dengan menemukan kepastian jawaban. khususnya mereka yang normal hingga jenius.  Berpikir kritis. dan sejenisnya) yang menjadi pelakunya.Kamampuan berpikir kritis itu ada pada semua orang. keterampilan dan pengetahuan yang ditemukan dengan caracoba-coba selalu bersifat tidak terkontrol. dan tidak bersistematika baku. Namun demikian. Secara akademik diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang bependidikan tinggi. seorang peserta didik mencoba meraba-raba tombol-tombol sebuah komputer laptop.Tindakan atau aksi coba-coba seringkali melahirkan wujud atau temuan yang bermakna. Ketika akal sehat terlalu kuat didomplengi kepentingan pelakunya.  Penemuan coba-coba. jika diwarnai oleh kepentingan subjektif guru dan peserta didik. harus diserta dengan pencatatan atas setiap tindakan.

yaitu sikap. C. yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. karena bukan berdasarkan hasil esperimen yang valid dan reliabel. karena pendapatnya itu hanya didasari atas pikiran yang logis semata. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘bagaimana’. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘apa’. bertanya. ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘mengapa’. dan pengetahuan.tidak semuanya benar. keterampilan. pengetahuan. Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah.Hasil akhirnya adalahpeningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik(soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills)dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggali informasi melaui pengamatan. dan keterampilan. Matematika – SMA/MA/SMK | 144 . Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Ilmiah Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah.

sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. kamera. Untuk mata pelajaran.Merepa juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan pelaku. objek. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut ini. 1. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru. baik primer maupun sekunder  Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi  Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar  Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi . Mengamati Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). kemudian mengolah data atau informasi. padaobservasi terkendali untuk kepentingan pembelajaran.  Observasi biasa (common observation). Dalam kaitan ini. Kegiatan observasi dalam proses pembelajaran meniscayakan keterlibatan peserta didik secara langsung. dan mencipta. Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. objek. berbeda dengan observasi biasa. seperti menggunakan buku catatan. dilanjutkan dengan menganalisis. materi. biaya dan tenaga relatif banyak. tape recorder. kemudian menyimpulkan. menalar. peserta didik merupakan subjek yang sepenuhnya melakukan observasi (complete observer). Seperti halnya observasi biasa. dan mudah pelaksanaannya. Namun demikian. dan alat-alat tulis lainnya. tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah.  Menentukan objek apa yang akan diobservasi  Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi  Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diobservasi. peserta didik senang dan tertantang. atau situasi tertentu. atau situasi yang diamati. seperti menyajikan media obyek secara nyata. Pada kondisi seperti ini. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. pada observasi terkendalipelaku atau objek yang diamati ditempatkan pada ruang atau situasi yang dikhususkan. guru harus memahami bentuk keterlibatan peserta didik dalam observasi tersebut. Matematika – SMA/MA/SMK | 145 . atau situasi yang diamati. Metode ini memiliki keunggulan tertentu. Pendekatan ilmiah pembelajaran disajikan berikut ini.  Observasi terkendali (controlled observation). menyajikan data atau informasi.percobaan. dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran. Pada observasi biasa untuk kepentingan pembelajaran. atau situasi yang diamati. peserta didiksama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku. Di sini peserta didik sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku. objek. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang. video perekam.

peserta didik melibatkan diri secara langsung dengan pelaku atau objek yang diamati.faktor yang akan diobservasi. observasi semacam ini paling lazim dilakukan dalam penelitian antropologi khususnya etnografi. untuk merekam objek atau kegiatan secara visual. untuk merekam kegiatan objek atau secara audio-visual. seperti: (1) tape recorder. Daftar cek dapat berupa suatu daftar yang berisikan nama-nama subjek. misalnya. tidak ditentukan secara baku atau rijid mengenai apa yang harus diobservasi oleh peserta didik. atau faktor. skala rentang (rating scale). dengan menggunakan pendekatan ini berarti peserta didik hadir dan “bermukim” langsung di tempat subjek atau komunitas tertentu dan pada waktu tertentu pula untuk mempelajari bahasa atau dialek setempat.Karena itu. (2) film atau video. untuk merekam pembicaraan. atau situasi yang diobservasi. catatan berkala. (1) kamera. peserta didik dapat melakukan observasi dengan dua cara pelibatan diri. atau mengingat dalam memori secara spontan atas subjek. Matematika – SMA/MA/SMK | 146 . rekaman. Praktik observasi dalam pembelajaran hanya akan efektif jika peserta didik dan guru melengkapi diri dengan dengan alat-alat pencatatan dan alat-alat lain. objektif. komunitas.  Observasitidak berstruktur.  Observasipartisipatif (participant observation). objek. Observasi semacam ini mengharuskan peserta didik melibatkan diri pada pelaku. berupa alat untuk mencatat gejala atau fenomena menurut tingkatannya. dan (3) alat-alat lain sesuai dengan keperluan. alat atau instrumen yang digunakan dalam melakukan observasi. Dalam kerangka ini. catatan anekdotal (anecdotal record). Secara lebih luas. Prinsip-rinsip yang harus diperhatikan oleh guru dan peserta didik selama observasi pembelajaran disajikan berikut ini. objektif. Alat mekanikalberupa alat mekanik yang dapat dipakai untuk memotret atau merekam peristiwa-peristiwa tertentu yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi. Selama proses pembelajaran. pada pembelajaran dengan observasi terkendali termuat nilai-nilai percobaan atau eksperimen atas diri pelaku atau objek yang diobservasi. Kedua cara pelibatan dimaksud yaitu observasi berstruktur dan observasi tidak berstruktur. seperti dijelaskan berikut ini.  Observasiberstruktur.  Cermat. atau situasi apa yang ingin diobservasi oleh peserta didik telah direncanakan oleh secara sistematis di bawah bimbingan guru. Pada observasipartisipatif. atau objek yang diamati. peserta didik membuat catatan. Pada observasi berstruktur dalam rangka proses pembelajaran. Catatan anekdotalberupa catatan yang dibuat oleh peserta didik dan guru mengenai kelakuan-kelakuan luar biasa yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi. dan alat mekanikal (mechanical device). Skala rentang . dapat berupa daftar cek (checklist). objek. termasuk melibakan diri secara langsung dalam situasi kehidupan mereka. dan jujur serta terfokus pada objek yang diobservasi untuk kepentingan pembelajaran. Di bidang pengajaran bahasa. Sejatinya. Pada observasi yang tidak berstruktur dalam rangka proses pembelajaran. fenomena subjek.

pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik.  Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap. direkam. Sebelum obsevasi dilaksanakan. Fungsi bertanya  Membangkitkan rasa ingin tahu.  Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain. Banyak atau sedikit serta homogenitas atau hiterogenitas subjek. dan menggunakan bahasa yang baik dan benar. objek. Matematika – SMA/MA/SMK | 147 . melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan. serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok. atau situasi yang diobservasi. mengembangkan kemampuan berpikir. Kriteria pertanyaan yang baik  Singkat dan jelas. dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan. Makin banyak dan hiterogensubjek. Bentuk pertanyaan. atau situasi yang diobservasi. asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal. sistematis.  Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”. dan memberi jawaban secara logis. keterampilan.  Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat. Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyara.  Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya. keterampilan. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya. Pada saat guru bertanya. dan perhatian peserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar. dan menarik simpulan. makin sulit kegiatan obervasi itu dilakukan. misalnya: Sebutkan ciri-ciri kalimay efektif!  a. b. dan sejenisnya. memperkaya kosa kata.  Mendorong partisipasipeserta didik dalam berdiskusi. ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.  Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara. Menanya Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap. objek. serta bagaimana membuat catatan atas perolehan observasi. pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul.2. mengajukan pertanyaan.  Guru dan peserta didik perlu memahami apa yang hendak dicatat. serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri. berargumen. misalnya: Apakah ciri-ciri kalimat yang efektif? Bentuk pernyataan. minat. guru dan peserta didik sebaiknya menentukan dan menyepakati cara dan prosedur pengamatan. dan pengetahuannya.

sebaiknya guru menghentikan pertanyaan itu atau meminta mereka memunculkan jawaban yang lain yang berbeda. apakah peserta didik harus rajin belajar?(2) Mengapa peserta didik yang sangat malas belajar cenderung menjadi putus sekolah? Pertanyaan pertama cukup dijawab oleh peserta didik dengan Ya atau Tidak. tidak memiliki modal usaha. Contoh: (1) Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar.  Memiliki fokus.  Bersifat probing atau divergen. bisa dimintai jawaban.Contoh: (1) Seberapa jauh pemahaman Anda mengenai faktor-faktor yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? (2) Faktor-faktor apakah yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? Pertanyaan kedua lebih singkat dan lebih jelas dibandingkan dengan pertanyaan pertama. Pertanyaan dapat diajukan dengan cara meminta kepada peserta didik yang berbeda untuk menjawab pertanyaan yang sama.  Bersifat validatif atau penguatan. Jika masih tersedia alternatif jawaban lain. dan keterisolasian geografis. Sebaliknya. kelangkaan sumber daya alam. Coba jelaskan dampak sosial apa saja yang muncul. Contoh: Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kemiskinan? Untuk pertanyaan seperti ini sebaiknya masing-masing peserta didik diminta memunculkan satu jawaban. pertanyaan kedua menuntut jawaban yang bervariasi urutan jawaban dan penjelasannya. Contoh: Membangun semangat kerukunan umat beragama itu sangat penting pada bangsa yang multiagama. namun sifatnya menguatkan. Peserta didik pertama hingga kelima misalnya menjawab: kebodohan. Jawaban atas pertanyaan itu dimaksudkan untuk memvalidsi atau melakukan penguatan atas jawaban peserta didik sebelumnya. Jika suatu bangsa gagal membangun semangat kerukukan beragama. peserta didik yang keenam dan seterusnya. jika suatu bangsa gagal membangun kerukunan umat beragama?Dua kalimat yang mengawali pertanyaan di muka merupakan contoh yang diberikan guru untuk menginspirasi jawaban peserta menjawab pertanyaan. Pertanyaan yang luas seperti di atas dapat dipersempit. Ketika beberapa orang peserta didik telah memberikan jawaban yang sama. Contoh: o o Guru: “mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan”? Peserta didik I: “karena orang yang malas lebih banyak diam ketimbang bekerja. misalnya: Mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan? Pertanyaan seperti ini dimintakan jawabannya kepada peserta didik secara perorangan.” Matematika – SMA/MA/SMK | 148 .  Menginspirasi jawaban. akan muncul aneka persoalan sosial kemasyarakatan. yang kemungkinan memiliki bobot kebenaran yang sama. kemalasan.

seperti pemahaman. penerapan. mulai dari yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi.”  Memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang. dan evaluasi.  Merangsang proses interaksi. analisis.Dalam kaitan ini. guru memberi kesempatan kepada seorang atau beberapa orang peserta didik diminta menyampaikan jawaban atas pertanyaan tersebut. sintesis. Karena itu. ada baiknya dia mengubah pertanyaan seperti pertanyaan kedua. dan seterusnya. setelah mengajukan pertanyaan. Untuk menjawab pertanyaan dari guru. bagaimana. seperti: apa. seperti dari sekadar mengingat fakta ke pertanyaan yang menggugah kemampuan kognitif yang lebih tinggi. guru memberikan kesempatan kepada peserta didik mendiskusikan jawabannya. orang yang malas tidak produktif” Guru : “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?” Peserta didik III: “orang malas tidak bertindak aktif. peserta didik memerlukan waktu yang cukup untuk memikirkan jawabannya dan memverbalkannya dengan kata-kata. mengapa. Guru mengemas atau mengubah pertanyaan yang menuntut jawaban dengan tingkat kognitif rendah ke makin tinggi. Tingkatan Pertanyaan Pertanyaan guru yang baik dan benar menginspirasi peserta didik untuk memberikan jawaban yang baik dan benar pula. sehingga menggambarkan tingkatan kognitif seperti apa yang akan disentuh. guru hendaknya menunggu beberapa saat sebelum meminta atau menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan guru yang baik mendorong munculnya interaksi dan suasana menyenangkan pada diri peserta didik.  Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif. Bobot pertanyaan yang menggambarkan tingkatan kognitif yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi disajikan berikut ini. Pola bertanya seperti ini memposisikan guru sebagai wahana pemantul. c. Jika dengan pertanyaan tertentu tidak ada peserta didik yang bisa menjawah dengan baik. sangat dianjurkan guru mengubah pertanyaannya. Misalnya: (1) Apa faktor picu utama Belanda menjajah Indonesia?. Setelah itu. (2) Apa motif utama Belanda menjajah Indonesia? Jika dengan pertanyaan pertama guru belum memperoleh jawaban yang memuaskan. Matematika – SMA/MA/SMK | 149 .o o o o Guru: “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?” Peserta didik II: “karena lebih banyak diam ketimbang bekerja. setelah menyampaikan pertanyaan. sesuai dengan tuntunan tingkat kognitifnya. Kata-kata kunci pertanyaan ini. Pertanyaan guru yang baik membuka peluang peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang makin meningkat. sehingga kehilangan waktu terlalu banyak untuk bekerja. karena itu dia tidak produktif. Guru harus memahami kualitas pertanyaan.

.. Berilah nama.. Bedakanlah. Buatlah. Kapan.. Gunakanlah. Golongkan.... Di mana.. Ubahlah..... Persamaan kata...... Sebutkan........ Tunjukkanlah. Demonstrasikanlah. Kemukakan bukti-bukti… Mengapa… Identifikasikan… Tunjukkanlah sebabnya… Berilah alasan-alasan…  Pemahaman (comprehension)  Penerapan (application Kognitif  Analisis (analysis) yang lebih tinggi  Sintesis (synthesis) Ramalkanlah… Bentuk… Ciptakanlah… Susunlah… Rancanglah... Tulislah contoh. Terangkahlah.... Dll.. Siapa.. Analisislah. Bandingkan..... Terjemahkanlah.. Klasifikasikanlah..Tingkatan Subtingkatan Kognitif  Pengetahuan yang (knowledge) lebih rendah Kata-kata kunci pertanyaan                                       Apa.. Jodohkan atau pasangkan..... Simpulkan. Berikanlah interpretasi. Carilah hubungan.. Siapkanlah... Tulislah… Bagaimana kita dapat memecahkan…  Apa yang terjadi seaindainya…  Bagaimana kita dapat memperbaiki…  Kembangkan… Matematika – SMA/MA/SMK | 150 ........

Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar. Ini bermakna bahwa reward akan meningkatkan perilaku peserta didik. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Karena itu. efek dari reward (akibat yang menyenangkan) jauh lebih besar dalam memperkuat perilaku peserta didik dibandingkan efek punishment (akibat yang tidak menyenangkan) dalam memperlemah perilakunya. Menurut Thorndike. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas faktakata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. proses pembelajaran. pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Dari persepektif psikologi. Thorndike mengemukakan berapa hukum dalam proses pembelajaran. meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu. meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. maka perilaku peserta didik akan melemah. Esensi Menalar Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. yang juga dikenal dengan teori Stimulus-Respon (S-R). bukan secara tibatiba. proses pembelajaran pembelajaran akan berhasil secara efektif jika terjadi interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik. lebih khusus lagi proses belajar peserta didik terjadi secara perlahan atau inkremental/bertahap. yang kemudian dikenal dengan teori asosiasi. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. di mana intensitas hubungan antara stimulus (S) dan respon (R) selama proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh konsekuensi dari hubungan yang terjadi. jika akibat hubungan S-R dirasa tidak menyenangkan. Menalar a. Evaluasi (evaluation)  Berilah pendapat…  Alternatif mana yang lebih baik…  Setujukah anda…  Kritiklah…  Berilah alasan…  Nilailah…  Bandingkan…  Bedakanlah… 3. Pola ineraksi itu dilakukan melalui stimulus dan respons (S-R). Matematika – SMA/MA/SMK | 151 . Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. prinsip dasar proses pembelajaran yang dianut oleh Thorndike adalah asosiasi. bukan merupakan terjemanan dari reasonsing.  Hukum efek (The Law of Effect). Jadi. Menurut teori asosiasi. Teori ini dikembangan kerdasarkan hasil eksperimen Thorndike. Jika akibat dari hubungan S-R itu dirasa menyenangkan. Sebaliknya. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak. Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating. Menurut Thorndike. maka perilaku peserta didik akan mengalami penguatan. tetapi punishment belum tentu akan mengurangi atau menghilangkan perilakunya.

Menurut Thorndike. dan ganjaran. Manfaat hasil belajar yang diperoleh oleh peserta didik dirasakan langsung oleh mereka dalam dalam dunia kehidupannya. dan lain-lain) dan pengalaman vicarious yaitu belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain itu. Law of Disuse. Kemampuan peserta didik dalam meniru respons menjadi pengungkit utama aktivitas belajarnya. Kaidah atau prinsip “pengaruh” dalam pembelajaran berkaitan dengan kemamouan guru menciptakan suasana. Awalnya. jika pesert didik dalam keadaan tidak siap dan belajar terpaksa dilakukan. yaitu hubungan antara S-R akan semakin melemah jika tidak dilatih atau dilakukan berulang-ulang. mengendapkan hasil memperhatikan model dalam pikiran pebelajar (retention). celaan. Merujuk pada teori S-R. Karenanya. Dengan begitu.  Pertama. maka mereka akan merasa puas. belajar terjadi karena proses peniruan (imitation). perilaku dapat dibentuk dengan menggunakan penguatan (reinforcement). Prinsip-prinsip dasar dari Thorndike kemudian diperluas oleh B. Hukum latihan (The Law of Exercise). Memang. teori ini terkesan mengenyampingkan peranan minat. latihan berulang tetap dapat diberikan.  Oleh karena tidak semua perilaku belajar atau pembelajaran dapat dijelaskan dengan pelaziman sebagaimana dikembangkan oleh Ivan Pavlov. dan pengetahuan peserta didik sebagai hasil belajarnya. memberi penghargaan. Sebaliknya. Pengulangan ini memungkinkan hubungan antara S dengan R makin intensif dan ekstensif. hal ini bermakna bahwa jika peserta dalam keadaan siap dan belajar dilakukan. fase belajar. Law of Use yaitu hubungan antara S-R akan semakin kuat jika sering digunakan atau berulang-ulang. Karena dia menyadari bahwa latihan saja tidak dapat memperkuat atau membentuk perilaku.  Latihan (exercise). Skinner dalam Operant Conditioning atau pelaziman/pengkondisian operan. Dalam proses pembelajaran. meliputi fase memberi perhatian terhadap model (attentional). Menurut Bandura.  Kedua. dan apirasi peserta didik. Guru harus benar-benar siap mengajar dan peserta didik benar-benar siap menerima pelajaran dari gurunya. berarti makin tinggi pula kemampuannya dalam menghubungkan S dengan R. keterampilan. Kesiapan itu harus ada pada diri guru dan peserta didik. maka mereka akan merasa tidak puas bahkan mengalami frustrasi.F. pada prinsipnya apakah sesuatu itu akan menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk dipelajari tergantung pada kesiapan belajar individunya. Teori S – S ini memang terkesan robotik. Menurut Thorndike. proses pembelajaran akan makin efektif jika peserta didik makin giat belajar. Kesiapan diidentifikasi berkaitan langsung dengan motivasi peserta didik. pemodelan (modelling). anggota masyarakat. tetapi yang terpenting adalah individu menyadari konsekuensi perilakunya. segala sumber daya pembelajaran pun perlu disiapkan secara baik dan saksama. Hukum kesiapan (The Law of Readiness). Kaidah dasar yang digunakan dalam teori S-R adalah:  Kesiapan (readiness). Matematika – SMA/MA/SMK | 152  . hukuman. Pertama. yang setelah tahun 1930 dinyatakan dicabut oleh Thorndike. Ada empat konsep dasar teori belajar sosial (social learning theory) dari Bandura. Kedua. teman. Latihan merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara berulang oleh peserta didik. dimana peserta didik belajar dengan cara meniru perilaku orang lain (guru. kreativitas. Sejalan dengan itu. hukum ini terdiri dari duajenis. Pelaziman operan adalah bentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi.  Pengaruh (effect). Hubungan yang intensif dan berulang-ulang antara S dengan R akan meningkatkan kualitas ranah sikap. teori asosiasi biasanya menambahkan teori belajar sosial (social learning) yang dikembangkan oleh Bandura.

terdapat dua cara menalar.  Keempat. Bagaimana aplikasinya dalam proses pembelajaran? Aplikasi pengembangan aktivitas pembelajaran untuk meningkatkan daya menalar peserta didik dapat dilakukan dengan cara berikut ini. sebagai proposisi menarik simpulan. dimulai dari yang sederhana (persyaratan rendah) sampai pada yang kompleks (persyaratan tinggi). Penarikan simpulan dapat dilakukan melalui dua cara. Pola penalaran deduktif dikenal dengan pola silogisme.Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik. Ada tiga jenis silogisme.  Ketiga.  Guru menyusun bahan pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap sesuai dengan tuntutan kurikulum.  Guru mencatat semua kemajuan peserta didik untuk kemungkinan memberikan tindakan pembelajaran perbaikan. Jadi. Simpulan Matematika – SMA/MA/SMK | 153 . silogisme hipotesis. yaitu silogisme kategorial. berkembangbiak dengan cara melahirkan  Ikan Paus binatang berdaun telinga berkembangbiak dengan melahirkan  Simpulan: Semua binatang yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataanpernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. Cara menalar Seperti telah dijelaskan di muka. dimana peserta didik belajar dengan melihat apakah orang lain diberi ganjaran atau hukuman selama terlibat dalam perilaku-perilaku tertentu.menampilkan ulang perilaku model oleh pebelajar (reproduction). Dengan cara ini peserta didik akan melakukan peniruan terhadap apa yang nyata diobservasinya dari kinerja guru dan temannya di kelas. Penalaran induktif merupakan cara menalardengan menarik simpulan dari fenomena atau atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus. yaitu langsung dan tidak langsung. Contoh:  Singa binatang berdaun telinga. mempertimbangkan. dimana peserta didik mengamati.  Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang nyata atau otentik. dan motivasi (motivation) ketika peserta didik berkeinginan mengulang-ulang perilaku model yang mendatangkan konsekuensi-konsekuensi positif dari lingkungan. menalar secara induktif adalah proses penarikan simpulan dari kasus-kasus yang bersifat nyata secara individual atau spesifik menjadi simpulan yang bersifat umum. belajar vicarious. yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. berkembangbiak dengan cara melahirkan  Harimau binatang berdaun telinga.  Bahan pembelajaran disusun secara berjenjang atau hierarkis. Pada penalaran deduktif tedapat premis. Tugas utama guru adalah memberi instruksi singkat tapi jelas dengan disertai contoh-contoh. silogisme alternatif. b. Teori asosiasi ini sangat efektif menjadi landasan menanamkan sikap ilmiah dan motivasi pada peserta didik berkenaan dengan nilai-nilai instrinsik dari pembelajaran partisipatif. baik dilakukan sendiri maupun dengan cara simulasi.  Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati  Seriap kesalahan harus segera dikoreksi atau diperbaiki  Perlu dilakukan pengulangan dan latihan agar perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan atau pelaziman. memberi ganjaran atau hukuman terhadap perilakunya sendiri.  Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah. pengaturan-diri (self-regulation).

kemampuan menghubungkan antarfenomena atau gejala sangat penting dalam proses pembelajaran. Atas dasar persamaan dua gejala atau fenomena itu ditarik simpulan bahwa apa yang ada pada fenomena atau gejala pertama terjadi juga pada fenomena atau gejala kedua. Penalaran sebab-akibat ini masuk dalam ranah penalaran induktif.Suatu simpulan yang menjadi sebab dari satu atau beberapa fakta itu atau dapat juga menjadi akibat dari satuatau beberapa fakta tersebut. fenomena.Analogi deklaratif ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru. Analogi adalah suatu proses penalaran dalam pembelajaran dengan cara membandingkan sifat esensial yang mempunyai kesamaan atau persamaan. yaitu analogi induktif dan analogi deduktif. pengurus organisasi peserta didik intra sekolah. atau gejala menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah dketahui secara nyata dan dipercayai. dengan sesuatu yang sudah dikenal. dan pengetahuan. Berpikir analogis sangat penting dalam pembelajaran. guru dan pesert didik sering kali menemukan fenomena yang bersifat analog atau memiliki persamaan. Hubungan sebab-akibat diambil dengan menghubungkan satu atau beberapa fakta yang satu dengan datu atau beberapa fakta yang lain. Contoh: Kegiatan kepeserta didikan akan berjalan baik jika terjadi sinergitas kerja antara kepala sekolah. Dengan demikian. keterampilan. yang disebut dengan penalaran induktif sebab-akibat.secara langsung ditarik dari satu premis. Analogi deklaratif merupakan suatu‘metode menalar’untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu fenomena atau gejala yang belum dikenal atau masih samar. Contoh: Peserta didik Pulan merupakan pebelajar yang tekun.  Simpulan: semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk beroperasi. Kedua analogi itu dijelaskan berikut ini. analogi terdiri dari dua jenis. Contoh :  Kamera adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi  Telepon genggam adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperas. Matematika – SMA/MA/SMK | 154 . guru dan peserta didik adakalamua menalar secara analogis. guru. Untuk itu dia harus belajar lebih tekun lagi.Peserta didik Pulan akan mengikuti kompetisi pada Olimpiade Sains Tingkat Internasional. Dia lulus seleksi Olimpiade Sains Tingkat Nasional tahun ini. karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik. Hubungan Antarfenonena Seperti halnya penalaran dan analogi. Analogi induktifdisusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena atau gejala.sedangkan simpulan tidak langsung ditarik dari dua premis. staf tatalaksana. Analogi induktif merupakan suatu ‘metode menalar’yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu simpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua fenomena atau gejala khusus yang diperbandingkan. Analogi dalam Pembelajaran Selama proses pembelajaran. tahun ini juga. Dengan demikian. Seperti halnya penalaran. dan peserta didik. Di sinilah esensi bahwa guru dan peserta didik dituntut mampu memaknai hubungan antarfenonena atau gejala. Seperti halnya kegiatan belajar. khususnya hubungan sebab-akibat. untuk mewujudkan hasil yang baik diperlukan sinergitas antara ranah sikap. karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik. Penalaran induksi sebab akibat terdiri dri tiga jenis.

dan pengetahuan. hal-hal yang menjadi sebab dikemukakan terlebih dahulu. misalnya. Akibat kedua menjadi penyebab sehingga menimbulkan akibat ketiga. Contoh: Masyarakat yang tinggal di daerah terpencil. menganalisis. Pada mata pelajaran IPA. 4. Akibat yang pertama menjadi penyebab. (4) melakukan dan mengamati percobaan. (2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum. Pada penalaran hubungan akibat-sebab. dan seterusnya. serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. sehingga mengalami dekandensi moral secara massal. dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya.Hubungan sebab–akibat. hal-hal yang menjadi akibat dikemukakan terlebih dahulu. kemudian ditarik simpulan yang berupa akibat. Pada penalaran hubungan sbab-akibat 1 –akibat 2. Pada penalaran hubungan sebab-akibat. hidupnya terisolasi. dan menyajikan data. sehingga menimbulkan akibat kedua. suatu penyebab dapat menimbulkan serangkaian akibat. Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka: (1) Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan murid (2) Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan (3) Perlu memperhitungkan tempat dan waktu (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid (5) Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen (6) Membagi kertas kerja kepada murid (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru. dan tidak putus asa adalah faktor pengungkit yang bisa membuat kita mencapai puncak kesuksesan. Contoh : Akhir-ahir ini sangat marak kenakalan remaja.(6) menarik simpulan atas hasil percobaan. bukan tidak mungkin terjadi kemiskinan yang terus berlangsung secara siklikal. (5) mencatat fenomena yang terjadi.  Hubungan sebab–akibat 1 – akibat 2.  Hubungan akibat–sebab. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar. berdoa. sehingga muncullah kemiskinan keluarga yang akut. dan (7)membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan. perkelahian antarpeserta didik. keterampilan. penyalahgunaan Nakoba di kalangan generasi muda. Dampak lanjutannya. angka putus sekolah. Mencoba Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik. yaitu sikap. terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Keterisolasian itu menyebabkan mereka kehilangan akses untuk melakukan aktivitas ekonomi. Contoh: Bekerja keras. (3)mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya. selanjutnya ditarik simpulan yang merupakan penyebabnya. Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar. belajar tekun.peserta didik harus memahami konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Kemiskinan keluarga yang akut menyebabkan anak-anak mereka tidak berkesempatan menempuh pendidikan yang baik. peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan. yang disebabkan oleh pengabaian orang tua dan ketidaan keteladanan tokoh masyarakat. bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal.  Matematika – SMA/MA/SMK | 155 .

sebaliknya. yaitu. guru ikut membimbing dan mengamati proses percobaan. Ketiga tahapan eksperimen atau mencoba dimaksud dijelaskan berikut ini.  c. lebih dari sekadar sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. Pelaksanaan  Selama proses eksperimen atau mencoba. Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar. dan tindak lanjut. Di sini guru perlu menimbang apakah peserta didik akan melaksanakan eksperimen atau mencoba secara serentak atau dibagi menjadi beberapa kelompok secara paralel atau bergiliran Memertimbangkanmasalah keamanan dan kesehatan agar dapat memperkecil atau menghindari risiko yang mungkin timbul Memberikan penjelasan mengenai apa yang harus diperhatikan dan tahapa-tahapan yang harus dilakukan peserta didik. a. Tindak lanjut      Peserta didik mengumpulkan laporan hasil eksperimen kepada guru Guru memeriksa hasil eksperimen peserta didik Guru memberikan umpan balik kepada peserta didik atas hasil eksperimen. termasuk membantu mengatasi dan memecahkan masalahmasalah yang akan menghambat kegiatan pembelajaran. termasuk hal-hal yang dilarang atau membahayakan. maka ia menyentuh tentang identitas peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang Matematika – SMA/MA/SMK | 156 . peserta didiklah yang harus lebih aktif. Guru dan peserta didik memeriksa dan menyimpan kembali segala bahan dan alat yang digunakan 5.Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan eksperimen atau mencoba dilakukan melalui tiga tahap. Jika pembelajaran kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafah peribadi.   b. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama. Di sini guru harus memberikan dorongan dan bantuan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik agar kegiatan itu berhasil dengan baik. guru hendaknya memperhatikan situasi secara keseluruhan. persiapan. Selama proses eksperimen atau mencoba. Guru dan peserta didik mendiskusikan masalah-masalah yang ditemukan selama eksperimen. pelaksanaan. Jejaring Pembelajaran atau Pembelajaran Kolaboratif Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kolaboratif? Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal. Persiapan    Menentapkan tujuan eksperimen Mempersiapkan alat atau bahan Mempersiapkan tempat eksperimen sesuai dengan jumlah peserta didikserta alat atau bahan yang tersedia.

menghormati antarsesa. 2. Cara ini memungkinan peserta didik menimba pengalaman mereka sendiri. Guru berperan membantu menghubungkan informasi baru dengan pengalaman yang ada serta membantu peserta didik jika mereka mengalami kebutuan dan bersedia menunjukkan cara bagaimana mereka memiliki kesungguhan untuk belajar. guru berperan sebagai mediator atau perantara. guru berbagi tugas dan kewenangan dengan peserta didik. Guru memiliki berkewajiban menjadikan wilayah “abu-abu”yang ada pada peserta didik itu dapat teraktualisasi dengan cara belajar kelompok. Guru dan peserta didik saling berbagi informasi. Di sini.  Guru sebagai mediator. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif. saling menghormati. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif. Vigotsky merupakan salah satu pengagas teori konstruktivisme sosial. Jika peserta didikmemahami dan melihat fenomena nyata kehidupan bersama yang damai itu. Sifat ketiga berkaitan dengan pendekatan baru dari penyampaian guru selama proses pembelajaran. setiap manusia (dalam konteks ini disebut peserta didik) mempunyai potensi tertentu.lain atau guru. Pakar ini sangat terkenal dengan teori “Zone of Proximal Development” atau ZPD. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman. 1. “can do with help“. bahasa komunikasi. Istilah ”Proximal” yang digunakan di sini bisa bermakna “next“. Ada empat sifat kelas atau pembelajaran kolaboratif. mendoorong tumbuhnya ide-ide cerdas. Seperti termuat dalam gambar. Dengan pembelajaran kolaboratif. peran guru lebih banyak sebagai pembimbing dan manajer belajar ketimbang memberi instruksi dan mengawasi secara rijid. Dua sifat berkenaan dengan perubahan hubungan antara guru dan peserta didik. sehingga memungkin peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tntutan belajar secara bersama-sama. Matematika – SMA/MA/SMK | 157 . ZPD merupakan wilayah “can do with help”yang sifatnya tidak permanen. jika proses pembelajaran mampu menarik pebelajar dari zona tersebut dengan cara kolaborasi atau pembelajaran kolaboratif. Menurut Vygotsky. strategi dan konsep pembelajaran sesuai dengan teori. berbagi idea. Sifat keempat menyatakan isi kelas atau pembelajaran kolaboratif. Berbagi tugas dan kewenangan. berbagi strategi dan informasi. Di sini peserta didik juga dapat merumuskan kaitan antara proses pembelajaran yang sedang dilakukan dengan dunia sebenarnya. dan “can do alone“.” Peserta didik yang mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan topik tersebut berpeluang menyatakan sesuatu pada sesi pembelajaran. Contoh: Jika guru mengajarkan topik “hidup bersama secara damai. Akan tetapi di antara potensi dan aktualisasi peserta didik itu terdapat terdapat wilayah abu-abu. terlibat dalam pemikiran kreatif dan kritis serta memupuk dan menggalakkan mereka mengambil peran secara terbuka dan bermakna. Potensi tersebut dapat teraktualisasi dengan cara menerapkan ketuntasan belajar (mastery learning). pengalaman personal. Mereka pun akan termotivasi untuk melihat dan mendengar. pengalaman dan pengetahuannya dihargai dan dapat dibagikan dalam jaringan pembelajaran mereka. mereka akan bekerja sebaik-baiknya ketika bekerjasama atau berkolaborasi dengan temannya. Dalam situasi kolaboratif itu. dan memberi garis-garis besar arus komunikasi antar peserta didik. khususnya untuk hal-hal tertentu. dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing. peserta didik memiliki ruang gerak untuk menilai dan membina ilmu pengetahuan. peserta didik berinteraksi dengan empati. serta menautkan kondisi sosiobudaya dengan situasi pembelajaran. Vygostsky mengemukakan tiga wilayah yang tergamit dalam ZPD yang disebut dengan “cannot yet do”. Hasil penelitian Vygotsky membuktikan bahwa ketika peserta didik diberi tugas untuk dirinya sediri.

 JP = Jigsaw Proscedure.  CI = Complex Instruction. Penilaian didasari pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok peserta didik. berbagi informasi. dan pengetahuan peserta didk yang tumbuh dan berkembang sangat penting untuk memperkaya pembelajaran di kelas. Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif Banyak merode yang dipakai dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para peserta didik yang sangat heterogen. setiap peserta didik mengerjakan soal-soal Matematika – SMA/MA/SMK | 158 . Guru ingin mengajarkan tentang konsep. Berikan kepada peserta didik yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri kepada rekanhya. dan ilmu pengetahuan sosial. matematika. fakta. Untuk keperluan pembelajaran ini dia menggunakan media sortir kartu (card sort).     3. Prosedurnya dapat dilakukan seperti berikut ini. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Peserta didik diminta untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama. tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. setiap peserta didik sebagai anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu peserta didik lainnya. Secara bertahap. Pada kelas kolaboratif peserta didikdapat menunjukkan kemampuan dan keterampilan mereka. Anggotaanggota dalam setiap kelompok bertindak saling membelajarkan. Peserta didik dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Metodeini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/kolaboratif dengan pembelajaran individual. Kepada peserta didik diberikan kartu indeks yang memuat informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori. Penilaian didasari pada rata-rata skor tes kelompok. Titik tekan metode ini adalam pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan. Kelompok peserta didik yang heterogen. atau mengulangi informasi tentang objek. Dengan cara seperti ini akan muncul “keseragaman” di dalam heterogenitas peserta didik. Selama masing-masing katagori dipresentasikan oleh peserta didik. Pembelajaran dilakukan dengan cara peserta didik sebagai anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda mengenai suatu pokok bahasan. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua peserta didiksebagai anggota kelompok terhadap pokok bahasan. penggolongan sifat. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar. khususnya dalam bidang sains. keterampilan.  TAI = Team Accelerated Instruction. Beberapa di antaranya dijelaskan berikut ini.serta mendengar atau membahas sumbangan informasi dari peserta didik lainnya. Sikap. buatlah catatan dengan kata kunci (point) dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting.  STAD = Student Team Achievement Divisions. Agar masing-masing peserta didik anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan.

pertimbangan. Pada penerapan metode pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua peserta didik (berpasangan). TGT = Teams-Games-Tournament. para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. CLS = Cooperative Learning Stuctures. Penilaian didasari pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok peserta didik. ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Bila jawaban tutee benar. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok. hubungan antarpribadi. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. para peserta didik saling menilai kemampuan membaca. setelah belajar bersama kelompoknya sendiri. AC = Academic-Constructive Controversy. Dalam pembelajaran ini. Pada metode ini semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Namun jika seorang peserta didik belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar. Pada metode pembelajaran ini mirip dengan TAI. CIRC = Cooperative Integrated Reading and Composition. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Pada metode ini setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masingmasing. baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Penilaian didasari pada hasil belajar individual maupun kelompok. pemikiran kritis. menulis dan tata bahasa. berikutnya. Pemanfaatan Internet Pemanfaatan internet sangat dianjurkan dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Seorang peserta didik bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Saat ini internet telah menyediakan diri sebagai referensi yang murah dan mudah bagi peserta didik atau siapa saja yang hendak mengubah wajah dunia.      a. Masa depan adalah milik peserta didik Matematika – SMA/MA/SMK | 159 . Karena memang. Penggunaan internet disarakan makin mendesak sejalan denan perkembangan pengetahuan terjadi secara eksponensial. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. kedua peserta didik yang saling berpasangan itu berganti peran. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. internet merupakan salah satu jejaring pembelajaran dengan akses dan ketersediaan informasi yang luas dan mudah. baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya. menulis dan tata bahasa. Pada metode ini. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah. kesehatan psikis dan keselarasan. Metode pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok. GI = Group Investigation. LT = Learning Together Pada metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan peserta didik yang beragam kemampuannya. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya.

. Cronin. & Twiest. IN. Science Education. R. K. 13. A. (1975). Journal of Research in Science Teaching. D. 195203.. (1974). M. Matematika – SMA/MA/SMK | 160 . Tomera. 57. Daftar Pustaka Allen. Science Education. 289-296. Padilla. K. M. (1976). 123-151. Thiel. 59. (1973).. The development and validation of the test of basic process skills. Transfer and retention of transfer of the science processes of observation and comparison in junior high school students. D. (1985). French Lick. Science Education. M.yang memiliki akses hampir ke seluruh informasi tanpa batas dan mereka yang mampu memanfaatkan informasi diterima secepat mungkin. Science Education. Some factors affecting the use of the science process skill of prediction by elementary school children. Paper presented at the annual meeting of the National Association for Research in Science Teaching.. 58. & George. Teaching hypothesis formation. L. & George. An examination of the ability of third grade children from the Science Curriculum Improvement Study to identify experimental variables and to recognize change. 62. 155-166. Quinn. 215-221. L.

Pada umumnya sesorang selalu ingin memperoleh pengetahuan. Untuk dapat disebut ilmiah. dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Sebenarnya apa yang kita bicarakan dengan metode ilmiah merujuk pada: (1) adanya fakta. Pengetahuan dapat merupakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi. Karena itu.2 CONTOH PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA A. ramalan dsb) 3) Ingin tahu 4) Tidak mudah membuat prasangka 5) Selalu optimis Selanjutnya secara sederhana pendekatan ilmiah merupakan suatu cara atau mekanisme untuk mendapatkan pengetahuan dengan prosedur yang didasarkan pada suatu metode ilmiah. (3) sifat objektif. Suatu pengetahuan ilmiah hanya dapat diperoleh dari metode ilmiah. Pengantar Pendekatan scientific atau lebih umum dikatakan pendekatan ilmiah menjadi keniscayaan dalam kurikulum 2013. perlu dipahami lagi mengenai metode ilmiah.1. Dengan demikian diperlukan adanya penalaran dalam rangka pencarian (penemuan). dan (4) adanya analisa.HO – 2. kemudian memformulasi dan menguji hipotesis. Ada juga yang mengartikan pendekatan ilmiah sebagai mekanisme untuk memperoleh pengetahuan yang didasarkan pada struktur logis. (2) sifat bebas prasangka. Sebelum membicarakan mengenai pendekatan ilmiah. Metode ilmiah pada dasarnya memandang fenomena khusus (unik) dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan pada simpulan. empiris. Pendekatan ilmiah ini memerlukan langkah-langkah pokok (umum): 1) Mengamati 2) Menanya 3) Menalar 4) Mencoba Matematika – SMA/MA/SMK | 161 . metode ilmiah umumnya memuat rangkaian kegiatan koleksi data atau fakta melalui observasi dan ekperimen. Dengan metode ilmiah seperti ini diharapkan kita akan mempunya sifat 1) Kecintaan pada kebenaran yang objektif 2) Tidak gampang percaya pada hal-hal yang tidak rasional (takhayul.

Pengamatan nyata fenomena alam atau lingkungan. Misalnya dalam pelajaran matematika. Mi alkan kita mengamati air mancur Matematika – SMA/MA/SMK | 162 . Ada juga refensi yang menyatakan bahwa metode ilmiah adalah wujud dari pendekatan ilmiah. Contoh pendekatan ilmiah dalam matematika Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa karakter keilmuan dari setiap materi pelajaran tidak sama maka khusus untuk matematika langkah dalam pendekatan ilmiah dapat dicontohkan sebagai berikut: 1) Mengamati fakta Mengamati fakta matematika dapat dibagi dalam dua pengertian a. Pengamatan seperti ini cocok untuk anak sekolah dasar atau sekolah menengah pada kelas rendah dimana karakter penalarannya masih bertaraf induktif. Karena yang dikehendaki adalah jawaban mengenai fakta-fakta (matematika) maka pendekatan dengan langkah-langkah tersebut dikatakan sangat erat dengan metode ilmiah. Secara mudah dapat dipahami eperti halnya “matematika kontek tual”. maka langkah-langkahnya dalam pendekatan ilmiah sebagai berikut: 1) Mengamati fakta (matematika) 2) Menanya (perwujudan dari berfikir divergen) 3) Menalar (menentukan/menemukan solusi selanjutnya) 4) Mencoba 5) Menyimpulkan (mengaitkan dengan konsep lain) Langkah-langkah di atas boleh dikatakan sebagai pengejaran terhadap pengetahuan ilmiah yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis dalam matematika dan juga tidak kaku dalam urutan.5) Membentuk jejaring Dalam kenyataanya karakter keilmuan dari setiap materi pelajaran tidak sama. Fenomena alam akan menghasilkan suatu fakta yang dituangkan dalam bahasa matematika. Oleh karena itu pendekatan ilmiah dalam pelajaran tertentu tidak sama persis dengan pelajaran tertentu lainnya. B.

Misalnya. Artinya. walaupun objeknya tidak nyata. Maka (nantinya) akan terlihat bahwa mempengaruhi “runcingnya” titik puncak parabola yang terbentuk. siswa diminta menggambar ( ) dengan nilai fungsi dan tertentu. jika ada garis lain. Pengamatan objek matematika Pengamatan seperti ini sangat cocok untuk siswa yang mulai menerima kebenaran logis. postulat. Fakta yang didapatkan dapat berupa definisi. Matematika – SMA/MA/SMK | 163 . siswa memahami kebenaran postulat setiap dua titik pasti hanya dapat dibuat tepat satu garis yang melaluinya.Sebenarnya (nantinya) gerakan air mancur ini terkait dengan konsep fungsi kuadrat b. Jadi jika digambarkan (diamati). Contoh lain misalnya dalam geometri datar. aksioma. teorema. garis itu pasti garis yang tadi juga. sehingga mereka tidak mempermasalahkan suatu rangkaian kebenaran sebelumnya yang didapatkan dari penalaran yang benar. Selanjutnya nilai kuadrat diubah dalam berbagai nilai sedangkan b dan c tetap. sifat. Pengamatan seperti ini lebih tepat dikatakan sebagai pengumpulan dan pemahaman kebenaran matematika. Pengamatan ini akan sangat terbantu jika dalam penyampaian menggunakan TIK. grafik dan lain sebagainya. tidak mungkin terjadi gambar seperti di bawah.

guru hanya memberikan pertanyaan pancingan. bagaimana untuk negatif. bernilai positif kecil dan sebagainya. untuk bagaimana menentukan nilai sinus untuk (fakta) awal in Karena banyak guru membuat jembatan keledai dengan menyingkat “SINDEMI KOSAMI TANDESA” yaitu . . Dalam matematika permasalahan seperti ini dapat dijawab dengan mengaitkan teorema lain atau pendefinisian baru terutama bagi siswa yang sudah dapat menerima kebenaran logis. . sampai siswa sendiri yang menyelesaikan dan mencari alternatif yang lain. bagi siswa sekolah dasar kebenaran empirik masih dominan dibanding Matematika – SMA/MA/SMK | 164 . Dalam hal ini guru tidak boleh memberi tahu. Untuk menggalinya dapat dilakukan dengan memanfaatkan solusi yang mereka hasilkan (pemikiran siswa). dimana . Pemikiran yang divergen ini dapat dibangkitkan dari suatu pertanyaan. Tidak terbangun suatu pemikiran yang divergen. Ini terjadi karena siswa cenderung menghafal algoritma atau prosedur tertentu. Misalkan dalam grafik fungsi kuadrat ( ) untuk bernilai positif besar. sedangkan definisi Pertanyaan seperti di atas memerlukan adanya solusi (jawaban) melalui suatu penalaran. Sebaliknya. dengan menanyakan alternatif-alternatif yang mungkin dari solusi itu.2) Menanya Kecenderungan yang ada sekarang adalah siswa gagal menyelesaikan suatu masalah matematika jika konteksnya diubah sedikit saja. Contoh lain.

Oleh karena itu pertanyaan yang diajukan tentu berbeda siswa pada sekolah menengah. Penalaran induktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari fenomena khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. Ada dua cara menalar. Demikian pula untuk sudut siku-siku ( ) dan sudut lurus ( ). 3 kali Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataanpernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. Perlu diingat juga bahwa penalaran diartikan juga sebagai penyerupaan atau analogi atau dalam bahasa sosial asosiasi Terkait dengan contoh diatas dapat digambarkan sebagai berikut Matematika – SMA/MA/SMK | 165 . 3) Penalaran Sejatinya penalaran secara umum adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Sedangkan pada contoh sebelumnya yaitu menentukan nilai sinus sudut di kuadran II maka dengan kejadian seperti ini perlu adanya pengertian atau definisi baru sebagai perluasan (memikirkan perlunya hal baru).kebenaran logis. Misalkan menemukan volum kerucut dengan takaran. yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Disini penalaran dapat bermakna penyerupaan (associating) dan juga dapat bermakna akibat (reasoning). modus tolen dan silogisme. Penalaran yang paling dikenal dalam matematika terkait penarikan kesimpiulan adalah modus ponen. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus. Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik.

Dengan definisi akan mewadahi atau memenuhi sistem dalam matematika itu sendiri.Dalam hal ini (nantinya) definisi sinus tidak sebatas pada perbandingan panjang sisi segitiga siku-siku seperti pada definisi awal. tetapi terkait dengan posisi kordinat. Dari sini diperlukan adanya langkah atau tahap berikutnya yaitu mencoba atau secara lebih luas membuktikan. Matematika – SMA/MA/SMK | 166 .

hanya sekedar contoh tahapan/langkah dalam pendekatan ilmiah. Demikian pula untuk sudut di kuadran II.4) Mencoba Pengertian mencoba disini dapat diartikan secara sempit seperti menunjukkan dan dapat diartikan secara luas yaitu membuktikan. Selanjutnya dicoba untuk besar sudut yang lain. Untuk sudut di kuadran I. Sebagai cotoh nilai sinus sebagai perluasan ternyata merupakan perbandingan ordinat dengan panjang jari-jari. nilai ordinat (komponen-y) positif dan panjang jari-jari positif. Adapun tahapan yang lebih spesifik dalam matematika yaitu membuktikan berlakunya in in( ) untuk ( ) masih memerlukan pengerjaan lanjutan Matematika – SMA/MA/SMK | 167 . nilai ordinat (komponen-y) positif dan panjang jari-jari positif. Dari pengertian awal in sedangkan dengan perluasan in Jadi disini terlihat bahwa in in √ √ . Namun contoh seperti ini bukan merupakan pembuktian dalam matematika. Pada akhirnya langakah ini untuk menunjukkan bahwa jika besar sudut berada di kuadran II ( in in( ) maka dipenuhi ).

Dengan menerapkan prinsip perbandingan pada tangen maka dapat ditentukan tinggi pohon secara tidak langsung Matematika – SMA/MA/SMK | 168 . co ( ) in Contohnya hubungan in( (ii). yaitu mengaitkan konsep dalam matematika itu sendiri (matematika vertikal) dan mengaitkan konsep yang diperoleh dengan dunia nyata (matematika horizontal). Simpulan ini kemudian dikaitkan dengan pengertian matematka lain misalnya co tan in co tan ) dan sebagainya. Persisnya berelasi melalui nilai sinus yang sama. Sebagai contoh siswa ingin mengetahui tinggi suatu pohon. Misalnya dalam pengerjaan dimunculkan hasil berikut: Selanjutnya diharapkan siswa dapat menyimpulkan bahwa sudut yang demikian adalah sudut yang berelasi. (i). geografi dll).5) Menyimpulkan (mengaitkan dengan konsep dan aplikasi lain) Pengertian menyimpulkan disini mengandung dua pengertian. co . Disamping itu hasil yang diperoleh oleh siswa digunakan untuk aplikasi dalam dunia nyata maupun dikaitkan dengan pengetahuan lain (fisika. Dengan diperolehnya hubungan in antara sudut dan sudut in( ) maka siswa memahami kaitan yaitu mempunyai nilai sinus yang sama.

ramah lingkungan. gotong royong. C. siswa mengaitkan fungsi trigonometri dengan gerak ayunan dalam fisika Ada juga literasi yang memaknai tahapan menyimpulkan sebagai tindakan membentuk jejaring (networking) secara fisik yaitu bekerjasama atau berkolaborasi antar siswa. peduli.Contoh lain. tanggung jawab. konseptual. Matematika – SMA/MA/SMK | 169 . santun. Penutup Langkah-langkah dalam pendekatan ilmiah seperti dijelaskan di atas tentu saja harus dijiwai oleh perilaku (jujur. penerapan dan analisis dari pengetahuan faktual. prosedural. responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. kerjasama. disiplin. Disamping itu pemahaman. cinta damai. dan metakognitif terkait bidang kajian matematika dapat digunakan untuk memecahkan masalah.

(2008). Pendekatan-pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran.. CA 92649-1030: Shell Education [2] Sudarwan.wordpress.view/articleNo/24488/title/The-ScientificApproach/: diakses 16 Februari 2013 [4] http://ariasusman. Teaching Mathematics Today. Jakarta [3] http://www.com/?articles.the-scientist.com/2009/07/06/pendekatan-ilmiah/ Februari 2013 : diakses 16 Matematika – SMA/MA/SMK | 170 . (2013). Prof. Makalah pada Workshop Kurikulum. Huntington Beach.Referensi: [1] Shelly Frei.

Matematika – SMA/MA/SMK | 171 .Materi Pelatihan2. Problem Based Learning. danDiscovery Learning).2: Model Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Mengamati tayangan pembelajaran Diskusi Kelompok (Focus Group Discussion) 30 Menit Kerja Kelompok 20 Menit 40 Menit Mengamatitayangan tiga jenis model pembelajaran (Project Based Learning. Kerjakelompok untuk mengidentifikasi penerapan Pendekatan Scientific pada tiga model pembelajaran. Menerapkan Focus Group Discussion untuk mengidentifikasi karakteristik tiga model pembelajaran.

Matematika – SMA/MA/SMK | 172 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 173 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 174 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 175 .

Pada saat pertanyaan terjawab. Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dikatakan sebagai operasionalisasi konsep “Pendidikan Berbasis Produksi” yang dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik. secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. Peserta didik melakukan eksplorasi.HO-2. dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Dengan demikian model pembelajaran yang cocok untuk SMK adalah pembelajaran berbasis proyek. peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja. Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. penilaian. Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun ( a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum. 2. Dengan pembelajaran “berbasis produksi” peserta didik di SMK diperkenalkan dengan suasana dan makna kerja yang sesungguhnya di dunia kerja. hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. Melalui PjBL. interpretasi. SMK sebagai institusi yang berfungsi untuk menyiapkan lulusan untuk bekerja di dunia usaha dan industri harus dapat membekali peserta didiknya dengan “kompetensi terstandar” yang dibutuhkan untuk bekerja dibidang masing-masing. sintesis. Matematika – SMA/MA/SMK | 176 . KONSEP/DEFINISI Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL) adalah metoda pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata.2-1 MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK/ PROJECT BASED LEARNING A. maka Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya. dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata.

Ini merupakan suatu transisi yang sulit. 4. Atau buatlah suasana belajar menyenangkan. 2. 6. b. 4. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif. 5. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar.3. circle (presentasi). Banyak instruktur merasa nyaman dengan kelas tradisional . peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan. karena menambah biaya untuk memasuki system baru. 3. dan mereka perlu untuk dihargai. 8. peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan. 7. pelatih. Banyaknya peralatan yang harus disediakan. Beberapa hambatan dalam implementasi metode Pembelajaran Berbasis Proyek antara lain: 1. Untuk itu disarankan menggunakan team teaching dalam proses pembelajaran. Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan. bahkan saat diskusi dapat dilakukan di taman. terutama bagi instruktur yang kurang atau tidak menguasai teknologi. lab tables (saat mengerjakan tugas mandiri). 1. artinya belajar tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas. Matematika – SMA/MA/SMK | 177 . dan akan lebih menarik lagi jika suasana ruang belajar tidak monoton. mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting.dimana instruktur memegang peran utama di kelas. peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan. penasehat dan perantara untuk mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan daya imajinasi. Pembelajaran Berbasis Proyek memerlukan banyak waktu yang harus disediakan untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek. sehingga kebutuhan listrik bertambah. situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan Peran instruktur atau guru dalam Pembelajaran Berbasis Proyek sebaiknya sebagai fasilitator. seperti: traditional class (teori). discussion group (pembuatan konsep dan pembagian tugas kelompok). proses evaluasi dijalankan secara kontinyu. FAKTA EMPIRIK KEBERHASILAN Kelebihan dan kekurangan pada penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dijelaskan sebagai berikut. beberapa contoh perubahan lay-out ruang kelas. Keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek: a. B. kreasi dan inovasi dari siswa.

Menurut studi penelitian. g. memilih lokasi penelitian yang mudah dijangkau sehingga tidak membutuhkan banyak waktu dan biaya. dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas. Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek: a. d. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah. i. Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber. Pembelajaran Berbasis Proyek ini juga menuntut siswa untuk mengembangkan keterampilan seperti kolaborasi dan refleksi. Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problemproblem yang kompleks. f. di mana instruktur memegang peran utama di kelas. meminimalis dan menyediakan peralatan yang sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar. 2. Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok. sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran. g. f. Meningkatkan kolaborasi. j. Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi. d. Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek. Pembelajaran Berbasis Proyek Matematika – SMA/MA/SMK | 178 . e. menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga instruktur dan peserta didik merasa nyaman dalam proses pembelajaran. Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional. b. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda. Membutuhkan biaya yang cukup banyak c.c. e. Banyaknya peralatan yang harus disediakan. dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan Untuk mengatasi kelemahan dari pembelajaran berbasis proyek di atas seorang pendidik harus dapat mengatasi dengan cara memfasilitasi peserta didik dalam menghadapi masalah. h. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan. Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan. membatasi waktu peserta didik dalam menyelesaikan proyek. Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki. kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata.

sering menyebabkan absensi berkurang dan lebih sedikit masalah disiplin di kelas. serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk Matematika – SMA/MA/SMK | 179 . Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project) Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Perencanaan berisi tentang aturan main. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL Langkah langkah pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dijelaskan dengan diagram sebagai berikut. bukan melupakannya secepat mereka telah lulus tes. Siswa juga menjadi lebih percaya diri berbicara dengan kelompok orang. pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial. Antusias peserta didik cenderung untuk mempertahankan apa yang mereka pelajari. Langkah langkah Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek Penjelasan langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut. Dengan emikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Pelajaran berbasis proyek juga meningkatkan antusiasme untuk belajar. yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin. 2. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question) Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial. 1. C. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik. termasuk orang dewasa. mereka sering mendapatkan lebih banyak terlibat dalam subjek dan kemudian memperluas minat mereka untuk mata pelajaran lainnya. 1 PENENTUAN PERTANYAAN MENDASAR 2 MENYUSUN PERECANAAN PROYEK 3 MENYUSUN JADUAL 6 EVALUASI PENGALAMAN 5 MENGUJI HASIL 4 MONITORING Diagram 1.membantu siswa untuk meningkatkan keterampilan sosial mereka. Ketika anak-anak bersemangat dan antusias tentang apa yang mereka pelajari.

Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap roses. sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.masing peserta didik. Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience) Pada akhir proses pembelajaran. 5. 4. (2) membuat deadline penyelesaian proyek. pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik.membantu penyelesaian proyek. (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek. d. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Menyusun Jadwal (Create a Schedule) Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. e. c. Menguji Hasil (Assess the Outcome) Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar. Peran guru dan peserta didik dalam pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut. 3. dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara. f. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran. membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya. Peran Guru a. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project) Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. b. 6. 1. Agar mempermudah proses monitoring. Merencanakan dan mendesain pembelajaran Membuat strategi pembelajaran Membayangkan interaksi yang akan terjadi antara guru dan siswa Mencari keunikan siswa Menilai siswa dengan cara transparan dan berbagai macam penilaian Membuat portofolio pekerjaan siswa Matematika – SMA/MA/SMK | 180 . berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing.

f. 3) Keaslian Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya. g. dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan. survey. pengumpulan data. pengolahan dan penyajian data. c.2. Peran Peserta Didik a. SISTEM PENILAIAN Penilaian pembelajaran dengan metoda Pembelajaran Berbasis Proyek harus diakukan secara menyeluruh terhadap sikap. 2) Relevansi Kesesuaian dengan mata pelajaran. Menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir Melakukan riset sederhana Mempelajari ide dan konsep baru Belajar mengatur waktu dengan baik Melakukan kegiatan belajar sendiri/kelompok Mengaplikasikanhasil belajar lewat tindakan Melakukan interaksi sosial (wawancara. kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan. dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik. Penilaian Proyek a. b. mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. Pengertian Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan yaitu: 1) Kemampuan pengelolaan Kemampuan peserta didik dalam memilih topik. pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa dalam melaksanakan pembelajaran berbasis proyek. Penilaian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. D. Penilaian Pembelajaran Berbasis Proyek dapat menggunakan teknik penilaian yang dikembangkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu penilaian proyek atau penilaian produk. dll). Matematika – SMA/MA/SMK | 181 . kemampuan mengaplikasikan. d. pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman. pengorganisasian. e. 1. observasi.

Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/ instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. Keakuratan Sumber Data / Informasi c. Contoh Teknik Penilaian Proyek Mata Pelajaran Nama Proyek Alokasi Waktu Guru Pembimbing Nama NIS Kelas No. dan penyiapkan laporan tertulis. Matematika – SMA/MA/SMK | 182 . Persiapan b. Teknik Penilaian Proyek Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan. analisis data. proses pengerjaan sampai dengan akhir proyek. seperti penyusunan disain. Kuantitas Sumber Data d.5) 2 3 Penilaian Proyek dilakukan mulai dari perencanaan . Rumusan Judul PELAKSANAAN : a. sampai hasil akhir proyek.b. Penarikan Kesimpulan LAPORAN PROYEK : a. Pelaksanaan penilaian dapat juga menggunakan rating scale dan checklist. Untuk itu perlu memperhatikan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. 1 : : : : : : : ASPEK PERENCANAAN : a. Untuk itu. proses pengerjaan. Analisis Data e. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Performans b. Sistematika Penulisan b. pengumpulan data. Presentasi / Penguasaan TOTAL SKOR SKOR (1 .

yaitu berdasarkan aspek-aspek produk. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu: 1) Tahap persiapan. biasanya dilakukan pada tahap appraisal. dan teknik. Cara analitik. Matematika – SMA/MA/SMK | 183 . meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan.2. alat. lukisan. dan logam. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan. dan mengembangkan gagasan. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan. gambar). menggali. keramik. 3) Tahap penilaian produk (appraisal). Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni. hasil karya seni (patung. plastik. barang-barang terbuat dari kayu. biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan. 2) Tahap pembuatan produk (proses). Teknik Penilaian Produk Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik. seperti: makanan. b. Pengertian Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. dan mendesain produk. yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk. 1) 2) Cara holistik. pakaian. Penilaian Produk a.

& Darling-Hammond. Teaching for meaningful learning: A review of research on inquiry-based and cooperative learning.Contoh Penilaian Produk Mata Ajar : Nama Proyek : Alokasi Waktu : Nama Peserta didik : Kelas/SMT : No.org/ Publications/papers. Bentuk fisik b.pdf (18 Oktober 2011).Metode Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) [online].edutopia. Diakses di http://www. (2000).pdf. Barron. Admin. dengan ketentuan semakin lengkap jawaban dan ketepatan dalam proses pembuatan maka semakin tinggi nilainya. B. 1 2 Tahapan Tahap Perencanaan Bahan Tahap Proses Pembuatan : a. National Institute on Out-of-School Time. Matematika – SMA/MA/SMK | 184 . org/pdfs/edutopia-teaching-for-meaningful-learning. The learning that lies between play and academics in afterschool programs. Retrieved from http://www. keamanan dan kebersihan) Tahap Akhir (Hasil Produk) a. Inovasi TOTAL SKOR Skor ( 1 – 5 )* 3 Catatan : *) Skor diberikan dengan rentang skor 1 sampai dengan 5. E.bie. Teknik Pengolahan c. K3 (Keselamatan kerja.sunan-ampel.pdf (17 Oktober 2011). Buck Institute for Education. L.. Daftar Pustaka Alexander. Retrieved from http://www.niost. D. Introduction to Project Based Learning. Persiapan alat dan bahan b.ac.org/images/uploads/general/20fa7d42c216e2ec171a212e97fd4a9e. [Online]. (2008).id/files/disk1/151/hubptain-gdl-ellyikasus-7509-3-babii. Diakses di http://digilib.

[Online]. The Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning. San Diego.nmsa. Schneider. April). 3(1). CA: Buck Institute for Education. George . The Success of Project Based Learning. Lucas. Paper presented at Annual Meeting of the American Educational Research Association.org/Research/ResearchSummaries. T. 12–43.unige. M. Overview of problem-based learning: Definitions and distinctions. Diakses Florin. Suzanne. Novato. Retrieved from http://www. Research summary: Project-based learning in middle grades mathematics.com/education/k-12/articles/90553. [Online]. Savery. R. Project-based learning. Matematika – SMA/MA/SMK | 185 . (2006).Daniel K. Instructional Module Project Based Learning.php. (2009.aspx. 2005. Journal of Problem-Based Learning. (2003). 2010. Project-based learning handbook (2nd ed. 1(1). CA. Markham. ResearchSummaries/ProjectBasedLearninginMath/tabid/1570/Default.org/modules/PBL/whatpbl. 9–20.edutopia.).(2005). J.brighthub.aspx (18 Oktober 2011) Grant. Understanding projects in projectbased learning: A student’s perspective. http://www. Diakses tanggal 13 Juli 2010. Diakses di http://www.ch/en/Project-based_learning (18 Oktober 2011). dihttp://edutechwiki.

Matematika – SMA/MA/SMK | 186 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 187 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 188 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 189 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 190 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 191 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 192 .

2) Permasalahan sebagai penjajakan pemahaman Matematika – SMA/MA/SMK | 193 . Dalam kurikulumnya. dirancang masalah-masalah yang menuntut peserta didik mendapat pengetahuan penting. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah. A. peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world) 2) Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”.HO-2. yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah.2-2 MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) Problem Based Learning (PBL) adalah kurikulum dan proses pembelajaran. bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan adanya pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh peserta didik yang diharapkan dapat menambah keterampilan peserta didik dalam pencapaian materi pembelajaran.. sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. Masalah diberikan kepada peserta didik. Ada lima strategi dalam menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) yaitu: 1) Permasalahan sebagai kajian. Konsep/Definisi Definisi: 1) Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

3) Permasalahan sebagai contoh 4) Permasalahan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses 5) Permasalahan sebagai stimulus aktivitas otentik Peran guru, peserta didik dan masalah dalam pembelajaran berbasis masalah dapat digambarkan sebagai berikut: Guru sebagai pelatih o Asking about thinking (bertanya tentang pemikiran) o memonitor pembelajaran o probbing ( menantang peserta didik untuk berfikir ) o menjaga agar peserta didik terlibat o mengatur dinamika kelompok o menjaga berlangsungnya proses Peserta didik sebagai problem solver o peserta yang aktif o terlibat langsung dalam pembelajaran o membangun pembelajaran Masalah sebagai awal tantangan dan motivasi o menarik untuk dipecahkan o menyediakan kebutuhan yang ada hubungannya dengan pelajaran yang dipelajari

Tujuan dan hasil dari model pembelajaran berbasis masalah ini adalah: 1) Keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah Pembelajaran berbasis masalah ini ditujukan untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. 2) Pemodelan peranan orang dewasa. Bentuk pembelajaran berbasis masalah penting menjembatani gap antara pembelajaran sekolah formal dengan aktivitas mental yang lebih praktis yang dijumpai di luar sekolah. Aktivitas-aktivitas mental di luar sekolah yang dapat dikembangkan adalah : PBL mendorong kerjasama dalam menyelesaikan tugas. PBL memiliki elemen-elemen magang. Hal ini mendorong pengamatan dan dialog dengan yang lain sehingga peserta didik secara bertahap dapat memi peran yang diamati tersebut.  PBL melibatkan peserta didik dalam penyelidikan pilihan sendiri, yang memungkinkan mereka menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun femannya tentang fenomena itu. 3) Belajar Pengarahan Sendiri (self directed learning) Pembelajaran berbasis masalah berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus dapat menentukan sendiri apa yang harus dipelajari, dan dari mana informasi harus diperoleh, di bawah bimbingan guru. Pendekatan PBL mengacu pada hal-hal sebagai berikut : a. Kurikulum : PBL tidak seperti pada kurikulum tradisional, karena memerlukan suatu strategi sasaran di mana proyek sebagai pusat.  

Matematika – SMA/MA/SMK | 194

b. Responsibility : PBL menekankan responsibility dan answerability para peserta didik ke diri dan panutannya. c. Realisme : kegiatan peserta didik difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya. Aktifitas ini mengintegrasikan tugas otentik dan menghasilkan sikap profesional. d. Active-learning : menumbuhkan isu yang berujung pada pertanyaan dan keinginan peserta didik untuk menemukan jawaban yang relevan, sehingga dengan demikian telah terjadi proses pembelajaran yang mandiri. e. Umpan Balik : diskusi, presentasi, dan evaluasi terhadap para peserta didik menghasilkan umpan balik yang berharga. Ini mendorong kearah pembelajaran berdasarkan pengalaman. f. Keterampilan Umum : PBL dikembangkan tidak hanya pada ketrampilan pokok dan pengetahuan saja, tetapi juga mempunyai pengaruh besar pada keterampilan yang mendasar seperti pemecahan masalah, kerja kelompok, dan self-management.

g. Driving Questions : PBL difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan yang memicu peserta didik untuk berbuat menyelesaikan permasalahan dengan konsep, prinsip dan ilmu pengetahuan yang sesuai. h. Constructive Investigations : sebagai titik pusat, proyek harus disesuaikan dengan pengetahuan para peserta didik. i. Autonomy : proyek menjadikan aktifitas peserta didik sangat penting.

B. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil Pembelajaran Kelebihan menggunakan PBL, antara lain; (1) Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik/mahapeserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan; (2) Dalam situasi PBL, peserta didik/mahapeserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan; dan (3) PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik/mahapeserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok. Metoda ini memiliki kecocokan terhadap konsep inovasi pendidikan bidang keteknikan, terutama dalam hal sebagai berikut : 1. peserta didik memperoleh pengetahuan dasar (basic sciences) yang berguna untuk memecahkan masalah bidang keteknikan yang dijumpainya,
Matematika – SMA/MA/SMK | 195

2. peserta didik belajar secara aktif dan mandiri dengan sajian materi terintegrasi dan relevan dengan kenyataan sebenarnya, yang sering disebut student-centered, 3. peserta didik mampu berpikir kritis, dan mengembangkan inisiatif. Berikut adalah beberapa hasil penelitian berkaitan dengan model PBL. 1. Wagiran, dkk, 2010, Pengembangan Pembelajaran Model Problem Based Learning Dengan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer dalam Matadiklat Measuring Bagi Peserta didik SMK (Hibah Bersaing Perguruan Tinggi), 2010: Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Penelitian dirancang dalam tiga tahap dalam kurun waktu 3 tahun. Pada tahun pertama penelitian bertujuan untuk merancang, membuat dan mengembangkan media pembelajaran berbantuan komputer berikut perangkatnya dalam mendukung model pembelajaran PBL-PBK. Pada tahun kedua, penelitian ini bertujuan untuk menerapkan dan menguji model pembelajaran PBL-PBK dalam lingkup luas sekaligus melihat efektivitasnya. Pada tahun ketiga, penelitian ini memfokuskan pada tahap sosialisasi model pembelajaran PBL-PBK dalam lingkup yang lebih luas. Penelitian dirancang menggunakan pendekatan Research and Development Sumber data dalam penelitian ini meliputi kalangan industri permesinan, perumus kebijakan, kepala sekolah, guru, peserta didik, dan ahli pendidikan. Penerapan model direncanakan di 5 SMK dengan metode eksperimen. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kuantitatif yaitu deskriptif, dan komparatif. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah diperolehnya kompetensi Measuring dan diperolehnya media pembelajaran berbantuan komputer dalam mendukung pembelajaran PBL-PBK yang teruji. Hasil evaluasi ahli tentang kualitas media dilihat dari sisi materi menunjukkan skor 3,38 (dalam kategori baik), dari kualitas tampilan menunjukkan skor 3,04 (dalam kategori baik), sedangkan dari sisi pengorganisasian materi penunjukan skornya adalah: konsistensi sebesar 2,92 (cukup baik), format sebesar 3,13 (baik), pengorganisasian sebesar 3,25 (baik), bentuk dan ukuran huruf sebesar 2,63 (cukup baik). Hasil uji kelayakan(ujicoba) kepada peserta didik menunjukkan bahwa kualitas media dilihat dari sisi materi menunjukkan skor 3,28 (dalam kategori baik), dari kualitas tampilan dan daya tarik menunjukkan skor 3,30 (dalam kategori baik), sedangkan dari sisi pengorganisasian materi penunjukan skornya adalah: sebesar 3,22 (baik) Dengan demikian media berbantuan komputer dalam matadiklat measuring layak untuk diterapkan. Media berbantuan komputer yang disusun telah memnuhi aspek kelayakan baik dari segi teoritis maupun dari segi empiris. Tedapat tiga pola implementasi pembelajaran menggunakan media berbantuan komputer yaitu: (a) sebagai media tayamg, (b) sebagai media pendukung praktek, dan (c) sebagai media pembelajaran individual dan interaktif. 2. Dian Mala Sari, Pebriyenni ., Yulfia Nora, 2013, Peningkatan Partisipasi dan Hasil Belajar Peserta didik Kelas IVB dalam Pembelajaran IPS Melalui Model Problem Based Learning di SDN 20 Kurao Pagang, Faculty of Education, Bung Hatta University
Matematika – SMA/MA/SMK | 196

Penelitian ini dilatarbelakangi kurangnya partisipasi peserta didik kelas IVB pada pembelajaran IPS. Yang berdampak terhadap rendahnya hasil belajar peserta didik. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan peningkatan partisipasi dan hasil belajar peserta didik kelas IVB dalam pembelajaran IPS melalui model PBL di SDN 20 Kurao Pagang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan secara partisipan. Subjek penelitian ini peserta didik kelas IVB SDN 20 Kurao Pagang. Instrumen penelitian yang digunakan lembar observasi partisipasi peserta didik, lembar observasi aktivitas guru, tes hasil belajar dan catatan lapangan. Hasil penelitian diketahui bahwa partisipasi dalam menjawab pertanyaan meningkat dari 52,5 % di siklus I menjadi 70%, di siklus II. Partisipasi peserta didik menanggapi jawaban meningkat dari 40% di siklus I menjadi 65% di siklus II, dan partisipasi peserta didik dalam presentasi meningkat dari 27,5% di siklus I menjadi 67,5% di siklus II. Hasil belajar peserta didik siklus I meningkat dari 57,25% menjadi 72,75% di siklus II. Sedangkan persentase ketuntasan belajar yang ditentukan 70%. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa partisipasi dan hasil belajar peserta didik kelas IVB dapat ditingkatkan melalui model PBL dalam pembelajaran IPS di SDN 20 Kurao Pagang. C. Langkah-langkah Operasional Imlementasi dalam Proses Pembelajaran Pembelajaran suatu materi pelajaran dengan menggunakan PBL sebagai basis model dilaksanakan dengan cara mengikuti lima langkah PBL dengan bobot atau kedalaman setiap langkahnya disesuaikan dengan mata pelajaran yang bersangkutan. 1. Konsep Dasar (Basic Concept) Jika dipandang perlu, fasilitator dapat memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik lebih cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan ‘peta’ yang akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran. Lebih jauh, hal ini diperlukan untuk memastikan peserta didik memperoleh kunci utama materi pembelajaran, sehingga tidak ada kemungkinan terlewatkan oleh peserta didik seperti yang dapat terjadi jika peserta didik mempelajari secara mandiri. Konsep yang diberikan tidak perlu detail, diutamakan dalam bentuk garis besar saja, sehingga peserta didik dapat mengembangkannya secara mandiri secara mendalam. 2. Pendefinisian Masalah (Defining the Problem) Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan skenario atau permasalahan dan dalam kelompoknya, peserta didik melakukan berbagai kegiatan. Pertama, brainstorming yang dilaksanakan dengan cara semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat. Setiap anggota kelompok memiliki hak yang sama dalam memberikan dan menyampaikan ide dalam diskusi serta mendokumentasikan secara tertulis pendapat masing-masing dalam kertas kerja. Selain itu, setiap kelompok harus mencari istilah yang kurang dikenal dalam skenario tersebut dan berusaha mendiskusikan maksud dan artinya. Jika ada peserta didik yang
Matematika – SMA/MA/SMK | 197

mengetahui artinya, segera menjelaskan kepada teman yang lain. Jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis dalam permasalahan kelompok. Selanjutnya, jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis sebagai isu dalam permasalahan kelompok. Kedua, melakukan seleksi alternatif untuk memilih pendapat yang lebih fokus. Ketiga, menentukan permasalahan dan melakukan pembagian tugas dalam kelompok untuk mencari referensi penyelesaian dari isu permasalahan yang didapat. Fasilitator memvalidasi pilihan-pilihan yang diambil peserta didik. Jika tujuan yang diinginkan oleh fasilitator belum disinggung oleh peserta didik, fasilitator mengusulkannya dengan memberikan alasannya. Pada akhir langkah peserta didik diharapkan memiliki gambaran yang jelas tentang apa saja yang mereka ketahui, apa saja yang mereka tidak ketahui, dan pengetahuan apa saja yang diperlukan untuk menjembataninya. Untuk memastikan setiap peserta didik mengikuti langkah ini, maka pendefinisian masalah dilakukan dengan mengikuti petunjuk. 3. Pembelajaran Mandiri (Self Learning) Setelah mengetahui tugasnya, masing-masing peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu: (1) agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan (2) informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami. Di luar pertemuan dengan fasilitator, peserta didik bebas untuk mengadakan pertemuan dan melakukan berbagai kegiatan. Dalam pertemuan tersebut peserta didik akan saling bertukar informasi yang telah dikumpulkannya dan pengetahuan yang telah mereka bangun. Peserta didik juga harus mengorganisasi informasi yang didiskusikan, sehingga anggota kelompok lain dapat memahami relevansi terhadap permasalahan yang dihadapi. 4. Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge) Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara peserrta didik berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya. Tiap kelompok menentukan ketua diskusi dan tiap peserta didik menyampaikan hasil pembelajaran mandiri dengan cara mengintegrasikan hasil pembelajaran mandiri untuk mendapatkan kesimpulan kelompok. Langkah selanjutnya presentasi hasil dalam pleno (kelas besar) dengan mengakomodasi masukan dari pleno, menentukan kesimpulan akhir, dan dokumentasi akhir. Untuk memastikan setiap peserta didik mengikuti langkah ini maka dilakukan dengan mengikuti petunjuk.
Matematika – SMA/MA/SMK | 198

5. Penilaian (Assessment) Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan. Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran dalam pembelajaran. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. D. Contoh Penerapan Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu. Kemudian peserta didik diminta mencatat masalah-masalah yang muncul. Setelah itu tugas guru adalah meransang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka. Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar. Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan peserta didik, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar diluar kelas. Peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran. Tahapan-Tahapan Model PBL FASE-FASE Fase 1 Orientasi peserta didik kepada masalah Fase 2 Mengorganisasikan peserta didik Fase 3 Membimbing penyelidikan individu dan kelompok Fase 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya PERILAKU GURU  Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yg dibutuhkan  Memotivasi peserta didik untuk terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang dipilih Membantu peserta didik mendefinisikan danmengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut Mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah Membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, model dan berbagi tugas dengan teman
Matematika – SMA/MA/SMK | 199

serta dijelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses pembelajaran. Semua peserta didik diberi peluang untuk menyumbang kepada penyelidikan dan menyampaikan ide-ide mereka. 3.FASE-FASE Fase 5 Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah PERILAKU GURU Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari /meminta kelompok presentasi hasil kerja Fase 1: Mengorientasikan peserta didik pada masalah Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitasaktivitas yang akan dilakukan. Selama tahap analisis dan penjelasan. Dalam penggunaan PBL. Prinsip-prinsip pengelompokan peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen. Permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai jawaban mutlak “benar“. tetapi lebih kepada belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi peserta didik yang mandiri. guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok peserta didik dimana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. dan sebagainya. tahapan ini sangat penting dimana guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh peserta didik dan juga oleh guru. Guru sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja Matematika – SMA/MA/SMK | 200 . Fase 2: Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar Disamping mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah. yaitu: 1. namun peserta didik harus berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan temannya. peserta didik akan didorong untuk menyatakan ide-idenya secara terbuka dan penuh kebebasan. Tujuan utama pengajaran tidak untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru. sebuah masalah yang rumit atau kompleks mempunyai banyak penyelesaian dan seringkali bertentangan. Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar peserta didik dapat mengerti dalam pembelajaran yang akan dilakukan. Tidak ada ide yang akan ditertawakan oleh guru atau teman sekelas. Selama tahap penyelidikan (dalam pengajaran ini). Ada empat hal yang perlu dilakukan dalam proses ini. Oleh sebab itu. komunikasi yang efektif. Guru akan bertindak sebagai pembimbing yang siap membantu. dan 4. peserta didik didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi. adanya tutor sebaya. pentingnya interaksi antar anggota. pembelajaran PBL juga mendorong peserta didik belajar berkolaborasi. 2.

dan jadwal. Setelah peserta didik diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar selanjutnya guru dan peserta didik menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik. tugas-tugas penyelidikan. Setelah peserta didik mengumpulkan cukup data dan memberikan permasalahan tentang fenomena yang mereka selidiki. selanjutnya mereka mulai menawarkan penjelasan dalam bentuk hipotesis. Fase 5: Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah Matematika – SMA/MA/SMK | 201 . Selama pengajaran pada fase ini. program komputer. Guru juga harus mengajukan pertanyaan yang membuat peserta didik berfikir tentang kelayakan hipotesis dan solusi yang mereka buat serta tentang kualitas informasi yang dikumpulkan.masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini adalah mengupayakan agar semua peserta didik aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut. Tujuannya adalah agar peserta didik mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri. dan ia seharusnya mengajukan pertanyaan pada peserta didik untuk berifikir tentang masalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan. namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik. guru-guru. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. Guru membantu peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber. Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis. dan pemecahan. model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya). Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda. Akan lebih baik jika dalam pemeran ini melibatkan peserta didik-peserta didik lainnya. namun bisa suatu video tape (menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan). Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil karya) dan mempamerkannya Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran. Fase 3: Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok Penyelidikan adalah inti dari PBL. dan lainnya yang dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik. Pada tahap ini. guru mendorong peserta didik untuk menyampikan semua ide-idenya dan menerima secara penuh ide tersebut. Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat berfikir peserta didik. yakni pengumpulan data dan eksperimen. berhipotesis dan penjelasan. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting. orang tua. dan memberikan pemecahan. penjelesan. dan sajian multimedia. guru harus mendorong peserta didik untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan.

Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran. Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment. dokumen. Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS). Sistem Penilaian Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge). Fase ini dimaksudkan untuk membantu peserta didik menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment. ujian tengah semester (UTS). Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill. 2. Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran. Selama fase ini guru meminta peserta didik untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya E. yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi. atau melukis suatu gambar. kuis. Penilaian portofolio peserta didik. peserta didik diminta untuk unjuk kerja atau mendemonstrasikan kemampuan melakukan tugas-tugas tertentu. dan sikap (attitude). dan laporan. Self-assessment. kecakapan (skill). memainkan suatu lagu. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya.Fase ini merupakan tahap akhir dalam PBL. hardware. melakukan suatu eksperimen. baik software. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. 2. Penilaian portofolio adalah penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam suatu Matematika – SMA/MA/SMK | 202 . Penilaian kinerja peserta didik. kemampuan bekerjasama dalam tim. dan kehadiran dalam pembelajaran. 1. Penilaian yang relevan dalam PBL antara lain sebagai berikut: 1. menginterpretasikan jawaban pada suatu masalah. Pada penilaian kinerja ini. Peer-assessment. maupun kemampuan perancangan dan pengujian. PR. Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap usahausahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar. seperti menulis karangan.

Penilain dengan portofolio dapat dipakai untuk penilaian pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif. Dari informasi perkembangan itu peserta didik dan guru dapat menilai kemajuan belajar yang dicapai dan peserta didik terus berusaha memperbaiki diri. Dasar pemikiran pengembangan strategi pembelajaran tersebut sesuai dengan pandangan kontruktivis yang menekankan kebutuhan peserta didik untuk menyelidiki lingkungannya dan membangun pengetahuan secara pribadi pengetahuan bermakna. atau bentuk informasi lain yang terkait kompetensi tertentu dalam suatu mata pelajaran. 4. Penilaian potensi belajar.periode tertentu. maka di samping pengembangan kurikulum juga perlu dikembangkan model pembelajaran yang sesuai tujuan kurikulum yang memungkinkan peserta didik dapat secara aktif mengembangkan kerangka berfikir dalam memecahkan masalah serta kemampuannya untuk bagaimana belajar (learning how to learn). pekerjaan hasil tes. Penilaian proses bertujuan agar guru dapat melihat bagaimana peserta didik merencanakan pemecahan masalah. 2). Sebagian masalah dalam kehidupan nyata bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman dan konteks atau lingkungannya. Self assessment adalah penilaian yang dilakukan oleh peserta didik itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai oleh peserta didik itu sendiri dalam belajar. bagaimana peserta didik dan evaluator menilai produk (hasil akhir) proses 2. Penilaian kinerja memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan dalam situasi yang sebenarnya. melihat bagaimana peserta didik menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya. Menilai usaha kelompok seperti yang dlakukan pada pembelajaran kooperatif dapat dilakukan pada PBL. Penilaian usaha kelompok mengurangi kompetisi merugikan yang sering terjadi. 3. Penilaian proses dapat digunakan untuk menilai pekerjaan peserta didik tersebut.assesment kerja. misalnya membandingkan peserta didik dengan temannya. Penilaian kolaboratif dalam PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self assesment) dan peer assesment. piagam penghargaan. Dengan kemampuan atau kecakapan tersebut diharapkan peserta didik akan mudah beradaptasi. portofolio. Penilaian usaha kelompok. Penilaian yang diarahkan untuk mengukur potensi belajar peserta didik yaitu mengukur kemampuan yang dapat ditingkatkan dengan bantuan guru atau teman-temannya yang lebih maju. Informasi perkembangan peserta didik dapat berupa hasil karya terbaik peserta didik selama proses belajar. Tahap evaluasi pada PBM terdiri atas tiga hal : 1. Penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan oleh peserta didik sebagai hasil pekerjaan mereka dan mendiskusikan hasil pekerjaan secara bersama-sama. penilaian ini antara lain: 1). assesment autentik dan 3). bagaimana mereka menerapkan tahapan Matematika – SMA/MA/SMK | 203 . Peer assessment adalah penilian dimana peserta didik berdiskusi untuk memberikan penilaian upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang diselesaikan sendiri maupun teman dalam kelompoknya. PBL yang memberi tugas-tugas pemecahan masalah memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan dan mengenali potensi kesiapan belajarnya.

Bandung: Diponegoro. Tersedia : http://www.Daftar Pustaka Albanese. (1980). Emerging perspectives on learning. M dan Nur. Pengajaran Berdasarkan Masalah. S. M. [Online]. [21 Juli 2010]. (2007). Problems: A Key Factor in PBL.rapidintellect. Penerapan Problem Based Learning Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Peserta Didik Dalam Memecahkan Masalah.htm.S. Tersedia: http://www. Bandung: Tidak diterbitkan Major. Betsy. [17 Juni 2005]. Barbara. Kualitatif dan R&D. 2009.A. Penerapan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Penguasaan konsep Fisika serta Mengembangkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi dan Kecakapan Ilmiah. Journal of Academic Medicine Barrows. Evan. Prof. & Mitchell. Orey (Ed. Surabaya: University Press Karim. laporan tertulis. H.uga. Makalah Duch.com/AE Qweb/mop4spr01. M. (2008).coe.edu/epltt/ProblemBasedInstruct. teaching. and technology [Online].udel. R. & Tamblyn. (1990). F. Claire. misalnya secara lisan atau verbal. Problem Based Learning: a Review of The Literature on Outcomes and Implementation Issues. Tersedia : http://www.edu/pbl/cte/spr96-phys. New York: Springer Publishing Dahlan. In M. J.). Sugiyono.M. Metode Penelitian Kuantitatif..H dan Palmer. (2001). Glazer. Bandung: Alfabeta Das Salirawati. et al. (1993). Problem Based Learning: an Approach to Medical Education. Problem Based Instruction. (1995). Proposal Hibah Kompetitif UPI 2007.PBM untuk bekerja melalui masalah 3. Sebagian dari evaluasi memfokuskan pada pemecahan masalah oleh peserta didik maupun dengan cara melakukan proses belajar kolaborasi (bekerja bersama pihak lain). Dr.html.htm [14 Juli 2010] Matematika – SMA/MA/SMK | 204 . S.. atau sebagai suatu bentuk penyajian formal lainnya. 2001.D. Ibrahim. [Online]. Model-Model Mengajar . (2005).. Assessing the Effectiveness of Problem-Based Learning in Higher Education: Lessons from the Literature. bagaimana peserta didik akan menyampaikan pengetahuan hasil pemecahan akan masalah atau sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian atau respon-respon mereka dalam berbagai bentuk yang beragam.

Belajar Mandiri. Depok: UI Siburian. Jambi: Gaung Persada Press Matematika – SMA/MA/SMK | 205 . 2011. (1996). Martinis. & Silberman. Jodion. Kurikulum 2004: Pertanyaan dan Jawaban. Haris. Jakarta: Grasindo Proyek DUeLike Universitas Indonesia. Model Pembelajaran Sains. Paradigma Baru Pembelajaran. Surakarta: Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS Press) Nurhadi. USA: Allyn & Bacon Mudjiman. 2006. Jambi: Universitas Jambi Sudjana. D.Melvin L. (2004). 2010. (1982). Model Pembelajaran Pemecahan Masalah. (2002). Bandung : Lembaga Penelitian IKIP Bandung Yamin. Active Learning: 101 Strategies to Teach any Subject. Panduan Pelaksanaan Collaborative Learning & Problem Based Learning.

Matematika – SMA/MA/SMK | 206 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 207 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 208 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 209 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 210 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 211 .

Perbedaannya dengan discovery ialah bahwa pada discovery masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru. pada Discovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Definisi Metode Discovery Learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya. Mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented. terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Akan tetapi prinsip belajar yang nampak jelas dalam Discovery Learning adalah materi atau bahan pelajaran yang akan disampaikan tidak disampaikan dalam bentuk final akan tetapi siswa sebagai peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorgansasi atau membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir. Sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa. melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih. bahwa: “Discovery Learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter in the final form. Bruner memakai metode yang disebutnya Discovery Learning. Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving.HO-2. Penggunaan metode Discovery Learning. sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian.2-3 MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING) A. prediksi. dimana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono. Merubah Matematika – SMA/MA/SMK | 212 . Sund dalam Malik. pengukuran. Metode Discovery Learning adalah memahami konsep. ingin merubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. 1986:103). Dengan mengaplikasikan metode Discovery Learning secara berulang-ulang dapat meningkatkan kemampuan penemuan diri individu yang bersangkutan. 2005:43). Definisi/ Konsep 1. klasifikasi. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps and principles in the mind (Robert B. 2001:219). Sebagaimana pendapat Bruner. arti. Discovery terjadi bila indifidu terlibat. penentuan dan inferi. tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Yang menjadikan dasar ide Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas. but rather is required to organize it him self” (Lefancois dalam Emetembun. Discovery dilakukan melalaui observasi. Sebagai strategi belajar. 1996:41). Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini. sedangkan Problem Solving lebih memberi tekanan pada kemampuan menyelesaikan masalah. dan hubungan.

Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak simbol. Di dalam proses belajar. 4) Rentangan karakteristik. logika. yaitu: enactive. 2. Sebagaimana teori Bruner tentang kategorisasi yang nampak dalam Discovery. 3) Karakteristik. 2005:43). sesungguhnya metode Discovery Learning merupakan pembentukan kategori-kategori atau konsep-konsep. Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa. meliputi: 1) Nama. Lingkungan seperti ini bertujuan agar siswa dalam proses belajar dapat berjalan dengan baik dan lebih kreatif. semakin dominan sistem simbolnya. Tahap iconic. Untuk memfasilitasi proses belajar yang baik dan kreatif harus berdasarkan pada manipulasi bahan pelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. Semakin matang seseorang dalam proses berpikirnya. dan sebagainya. Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh bagaimana cara lingkungan. Manipulasi bahan pelajaran bertujuan untuk memfasilitasi kemampuan siswa dalam berfikir (merepresentasikan apa yang dipahami) sesuai dengan tingkat perkembangannya. Lingkungan ini dinamakan Discovery Learning Environment. Pembentukan kategori-kategori dan sistem-sistem coding dirumuskan demikian dalam arti relasi-relasi (similaritas & difference) yang terjadi diantara obyek-obyek dan kejadian-kejadian (events). baik yang pokok maupun tidak. dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Seluruh kegiatan mengkategori meliputi mengidentifikasi dan menempatkan contoh-contoh (obyek-obyek atau peristiwaperistiwa) ke dalam kelas dengan menggunakan dasar kriteria tertentu. misalnya melalui gigitan. pegangan. yaitu lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi. artinya. dan sebagainya. matematika. 2) Contohcontoh baik yang positif maupun yang negative. seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. yang dapat memungkinkan terjadinya generalisasi. Secara Matematika – SMA/MA/SMK | 213 . dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi). Tahap enaktive. iconic. Konsep Dalam Konsep Belajar. Untuk menunjang proses belajar perlu lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu siswa pada tahap eksplorasi.modus Ekspository siswa hanya menerima informasi secara keseluruhan dari guru ke modus Discovery siswa menemukan informasi sendiri. Tahap symbolic. seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan sekitarnya. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa. bahwa Discovery adalah pembentukan kategori-kategori. Maksudnya. dan siswa dikatakan memahami suatu konsep apabila mengetahui semua unsur dari konsep itu. Bruner memandang bahwa suatu konsep atau kategorisasi memiliki lima unsur. 5) Kaidah (Budiningsih. atau lebih sering disebut sistem-sistem coding. dan symbolic. penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui. dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik. sentuhan. Bruner menjelaskan bahwa pembentukan konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda yang menuntut proses berfikir yang berbeda pula.

atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya (Budiningsih. Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian. 1. iconic dan symbolic adalah anak menjelaskan sesuatu melalui perbuatan (ia bergeser ke depan atau kebelakang di papan mainan untuk menyesuaikan beratnya dengan berat temannya bermain) ini fase enactive. Menimbulkan rasa senang pada siswa. membandingkan. Dan melalui kegiatan tersebut siswa akan menguasainya. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil Pembelajaran Berdasarkan fakta dan hasil pengamatan. mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulankesimpulan. Matematika – SMA/MA/SMK | 214 . Dengan demikian seorang guru dalam aplikasi metode Discovery Learning harus dapat menempatkan siswa pada kesempatan-kesempatan dalam belajar yang lebih mandiri. karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil. Pada akhirnya yang menjadi tujuan dalam metode Discovery Learning menurut Bruner adalah hendaklah guru memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver. mengintegrasikan. Tetapi bimbingan yang diberikan tidak hanya dikurangi direktifnya melainkan pelajar diberi responsibilitas yang lebih besar untuk belajar sendiri. 2005:41). Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif. serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya. Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. b. seorang scientist. Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep. Hal ini tak berarti bahwa guru menghentikan untuk memberikan suatu bimbingan setelah problema disajikan kepada pelajar. atau ahli matematika. 85:2001). c. penerapan pendekatan Discovery Learning dalam pembelajaran memiliki kelebhihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan. B. bimbingan guru hendaklah lebih berkurang dari pada metode-metode mengajar lainnya. Kelebihan Penerapan Discovery Learning a. dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti mereka. seorang scientis. aturan. atau ahli matematika. siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi. historin. seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya. historin. teori. 2005:145). mengkategorikan. Dalam metode Discovery Learning bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir. ingatan dan transfer. Kemudian pada fase iconic ia menjelaskan keseimbangan pada gambar atau bagan dan akhirnya ia menggunakan bahasa untuk menjelaskan prinsip keseimbangan ini fase symbolic (Syaodih. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented. sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan (Sardiman. menganalisis. menerapkan. Karakteristik yang paling jelas mengenai Discovery sebagai metode mengajar ialah bahwa sesudah tingkat-tingkat inisial (pemulaan) mengajar. Hal tersebut memungkinkan murid-murid menemukan arti bagi diri mereka sendiri.sederhana teori perkembangan dalam fase enactive. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini. Hal yang menarik dalam pendapat Bruner yang menyebutkan: hendaknya guru harus memberikan kesempatan muridnya untuk menjadi seorang problem solver.

dan sebagainya) Matematika – SMA/MA/SMK | 215 . Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar. Metode ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya. gaya belajar. Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik. Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri. b. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal. d. dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi. e. p. Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman. minat. r. 2. Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti. akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep. misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur gagasan yang dikemukakan oleh para siswa f. h. Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasangagasan. Kelemahan Penerapan Discovery Learning a. c. Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu. i. Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik. Pada beberapa disiplin ilmu. Bagi siswa yang kurang pandai. Mendorong siswa berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri. f. Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama. Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri. Langkah-langkah Operasional Implementasi dalam Proses Pembelajaran Langkah-langkah dalam mengaplikasikan model discovery learning di kelas adalah sebagai berikut: 1. sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi. o. Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak. m. n. Langkah Persiapan Metode Discovery Learning a. Menentukan tujuan pembelajaran b. Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa. keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian. j. e. Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru. q. k. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa. l.d. Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan manusia seutuhnya. karena membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya. C. sedangkan mengembangkan aspek konsep. Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang. karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya. Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berfikir yang akan ditemukan oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru. Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri. yang tertulis atau lisan. Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. g.

Memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisa permasasalahan yang mereka hadapi. dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan. wawancara dengan nara sumber. Sedangkan menurut permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. ikonik sampai ke simbolik g. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh. Prosedur Aplikasi Metode Discovery Learning Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning di kelas. ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut: a. yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan. tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa f. 2004:244). dari yang konkret ke abstrak. Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis. ilustrasi. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks. Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa belajar secara aktif Matematika – SMA/MA/SMK | 216 . b. melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah 2004:244). Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah. merupakan teknik yang berguna dalam membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah. atau dari tahap enaktif. dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Memilih materi pelajaran.c. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi. membaca literatur. mengamati objek. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan) Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya. atau hipotesis. Dalam hal ini Bruner memberikan stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. anjuran membaca buku. c. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa 2. Dengan demikian seorang Guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus kepada siswa agar tujuan mengaktifkan siswa untuk mengeksplorasi dapat tercapai. Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah) Setelah dilakukan stimulation langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran. agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. d. Data collection (pengumpulan data). Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contohcontoh generalisasi) e.

aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. teori. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang. ditabulasi. dengan demikian secara tidak disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki. diklasifikasikan. Verification menurut Bruner. wawancara. observasi. 2002:22). Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis e. bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah. Verification (pembuktian) Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif. observasi. dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah. 2004:244). dihubungkan dengan hasil data processing (Syah. lalu ditafsirkan. Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi.untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi. Semua informai hasil bacaan. serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu. Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. semuanya diolah. apakah terbukti atau tidak. diacak. d. Matematika – SMA/MA/SMK | 217 . f. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi) Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama. apakah terjawab atau tidak. dan sebagainya. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran. bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep. Data processing (pengolahan data) Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara. dan sebagainya. 2004:244). atau informasi yang ada. pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek.

Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses. ya-tidak) c. mewarnai. yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan).D. memahami. misalnya kesesuian soal dengan indikator pada kurikulum. 1. konstruksi. misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas. materi. bahasa. dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut: a. maka pelaksanaan penilaian dapat menggunakan contohcontoh format penilaian seperti tersebut di bawah ini. atau penilaian hasil kerja siswa. isian singkat. b. maka dalam model pembelajaran discovery learning dapat menggunakan tes tertulis. Ada dua bentuk soal tes tertulis. tes memilih jawaban benar-salah. berpikir logis. sikap. Pilihan ganda mempunyai kelemahan. Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami. misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda. dua pilihan (benar-salah. dan menjodohkan merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah. proses. pilihan ganda b. atau penilaian hasil kerja siswa. Alat penilaian ini kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas karena tidak menggambarkan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya. c. Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat. a. menggambar dan lain sebagainya. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kemampuan. Matematika – SMA/MA/SMK | 218 . Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. Sedangkan penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif. menjodohkan  Soal dengan mensuplai-jawaban. Sistem Penilaian Dalam Model Pembelajaran Discovery Learning. isian atau melengkapi b. Penilaian Tertulis Penilaian tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. jawaban singkat c. penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun non tes. sikap. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda. misalnya mengemukakan pendapat. dan menyimpulkan. yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar. yaitu:  Soal dengan memilih jawaban a. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas. maka peserta didik akan menerka. Jika bentuk penialainnya berupa penilaian kognitif. soal uraian Dari berbagai alat penilaian tertulis. dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari.

Penilaian Sikap Contoh Format Penilaian Sikap Mata Pelajaran: _________ Kelompok : _________ Semester: _________ Kelas : _________ Skor No 1 2 3 4 5 . berkaitan dengan kompetensi kognitif. peserta didik dapat diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya sebagai hasil belajar berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Teknik penilaian diri dapat digunakan dalam berbagai aspek penilaian. membiasakan. Berkaitan dengan kompetensi psikomotorik. Selanjutnya.. harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya c. Penilaian Diri Penilaian diri (self assessment) adalah suatu teknik penilaian.2. Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. karena ketika mereka melakukan penilaian. karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri. 3. Nama Siswa Komitmen Tugas Kerja Sama Ketelitian Minat Jumlah Skor Nilai Matematika – SMA/MA/SMK | 219 . misalnya: peserta didik dapat diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dalam mata pelajaran tertentu. misalnya. afektif dan psikomotor. Berkaitan dengan kompetensi afektif. status. peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu obyek sikap tertentu. karena mereka dituntut untuk jujur dan obyektif dalam melakukan penilaian. di mana subyek yang ingin dinilai diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan. Dalam proses pembelajaran di kelas.. dapat mendorong. Keuntungan penggunaan teknik ini dalam penilaian di kelas antara lain sebagai berikut: a. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. yang berkaitan dengan kompetensi kognitif. peserta didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. b. dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur. .

3. uraian yang dijabarkan kurang sesuai dan diperoleh dengan menggunakan sebagian besar indra dengan gambargambar atau diagram 5. 2. Penilaian Hasil Kerja Siswa Nama Siswa: ……………… Input Tanggal: ……………… Proses Out Put/Hasil Kelas: ……………… Nilai Matematika – SMA/MA/SMK | 220 . uraian yang dijabarkan rinci dan diperoleh dengan menggunakan seluruh indra disertai dengan gambar-gambar atau diagram B: Pengelompokan yang dilakukan siswa baik. Penilaian Kinerja Nama Siswa: ……………… NO 1.4. uraian yang dijabarkan tidak rinci dan diperoleh dengan menggunakan sebagian kecil indra dengan gambar-gambar atau diagram D: Pengelompokan yang dilakukan siswa kurang baik. Baik Sekali Baik Cukup Kurang 4 3 2 1 Kriteria Penilaian 10 – 12 A 7– 9 B 4–6 C ≤ 3 D A: Pengelompokan yang dilakukan siswa sangat baik. uraian yang dijabarkan kurang rinci dan diperoleh dengan menggunakan sebagian besar indra dengan gambar-gambar atau diagram C: Pengelompokan yang dilakukan siswa cukup baik. 2. 4. Jumlah Contoh Format Penilaian Kinerja Tanggal: ……………… Kelas: ……………… Aspek Yang Dinilai 1 Tingkat Kemampuan 2 3 4 Kriteria Penskoran 1.

Syamsudini . 1996.blogspot. Aplikasi Metode Discovery Learning Dalam Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah. Lemlit UNRI.html (23 Mei 2013) Jurnal Geliga Sains 3 (2).com/pengertian-model-pembelajaran-discovery-learning-menurutpara-ahli-pdf-d368189396 (23 Mei 2013).. Pekanbaru. Tesis. dkk. B. Bandung. 2012. 2000. http://prismabekasi.. UNESA (tidak dipublikasikan). Penerapan Metode Penemuan Terbimbing pada Mata Pelajaran Sains untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN 016 Pekanbaru Kota (Laporan Penelitian). http://ebookbrowse.Daftar Pustaka Dahar. http://darussholahjember. Holiwarni. Penerbit Erlangga. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berorientasi Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guide-Discovery Learning) yang Mengintegrasikan Kegiatan Laboratorium untuk Fisika SLTP Bahan Kajian Pengukuran. PT Remaja Rosdakarya.. Jakarta. RW. 8-13.html (23 Mei 2013). 2008. 1991.com/2011/05/aplikasi-metode-discovery-learning.blogspot. Syah.com/2012/10/definisi-belajar-menurut-para-ahli. 2009 Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Riau ISSN 1978-502X. Teori-Teori Belajar. M. Matematika – SMA/MA/SMK | 221 .. Motivasi Belajar Dan Daya Ingat Siswa. Rizqi.

2. Matematika – SMA/MA/SMK | 222 .Materi Pelatihan 2.3: Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Kegiatan Interaktif Diskusi Kelompok Paparan Materi 15 Menit 50 Menit 20 Menit Kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan bentuk penilaian autentik. Diskusi materi Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar. Paparan materi Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.3/3.3 Paparan materi Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.

Matematika – SMA/MA/SMK | 223 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 224 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 225 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 226 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 227 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 228 .

pengukuran. atau evaluasi. Dalam kehidupan akademik keseharian. Dalam Newton Public School. mulai dari mereka Matematika – SMA/MA/SMK | 229 . Karenanya. Dalam American Librabry Association asesmen autentik didefinisikan sebagai proses evaluasi untuk mengukur kinerja. suatu metode yang sangat populer untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik yang miliki ciri-ciri khusus. keterampilan. Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013 Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. dan sebagainya. membangun jejaring. dan pengetahuan. portofolio. Secara konseptual asesmen autentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar sekali pun. dan nilai prestasi luar sekolah. prestasi. menalar. merevisi dan membahas artikel. Kata lain dari asesmen autentik adalah penilaian kinerja. aktivitas mengamati dan mencoba. seperti meneliti. dan lain-lain. guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan. Definsi dan Makna Asesmen Autentik Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap. mencoba. B. berkolaborasi dengan antarsesama melalui debat. Istilah asesmen merupakan sinonim dari penilaian. Ketika menerapkan asesmen autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik. tidak lazim digunakan. nyata. Karena. dan penilaian proyek. frasa pengukuran atau pengujian autentik. baik dalam rangka mengobservasi. frasa asesmen autentik dan penilaian autentik sering dipertukarkan. Untuk mendapatkan pemahaman cukup komprehentif mengenai arti asesmen autentik. memberikan analisa oral terhadap peristiwa. berikut ini dikemukakan beberapa definisi. atau reliabel. asesmen autentik diartikan sebagai penilaian atas produk dan kinerja yang berhubungan dengan pengalaman kehidupan nyata peserta didik.3-1 KONSEP PENILAIAN AUTENTIK A. pengujian. asesmen autentik sangat relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran.HO-2. Wiggins mendefinisikan asesmen autentik sebagai upaya pemberian tugas kepada peserta didik yang mencerminkan prioritas dan tantangan yang ditemukan dalam aktifitas-aktifitas pembelajaran. valid. dan sikap-sikap peserta didik pada aktifitas yang relevan dalam pembelajaran. menulis. Asesmen autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual. khususnya jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai. motivasi. memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik. asesmen semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik. Asesmen autentik adakalanya disebut penilaian responsif. Akan tetapi. Istilah autentik merupakan sinonim dari asli.

Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang dilakukan oleh peserta didik dikaitkan dengan realitas di luar sekolah atau kehidupan pada umumnya. pilihan ganda. Dalam beberapa kasus. seringkali pelibatan siswa sangat penting. serta keterampilan belajar. Pada asesmen autentik guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan. peserta didik bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka lakukan. hingga yang jenius. Asesmen semacam ini cenderung berfokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual bagi peserta didik. serta memamerkan dan menampilkan sesuatu. Asesmen autentik dapat juga diterapkan dalam bidang ilmu tertentu seperti seni atau ilmu pengetahuan pada umumnya.yang mengalami kelainan tertentu. Atas dasar itu. portofolio. Asesmen autentik dapat dibuat oleh guru sendiri. guru secara tim. yang memungkinkan mereka secara nyata menunjukkan kompetensi atau keterampilan yang dimilikinya. Asesmen autentik harus mampu menggambarkan sikap. Tentu saja. motivasi dan keterlibatan peserta didik. C. kemampuan mengaplikasikan atau menunjukkan perolehan pengetahuan tertentu. kajian keilmuan. dan sebagainya. Dalam asesmen autentik. dengan orientasi utamanya pada proses atau hasil pembelajaran. atau guru bekerja sama dengan peserta didik. Asesmen autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunkan standar tes berbasis norma. menjodohkan. pola penilaian seperti ini tidak diantikan dalam proses pembelajaran. Contoh asesmen autentik antara lain keterampilan kerja. benar–salah. kegiatan siswa belajar. Asesmen autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik. keterampilan. memilih kegiatan yang strategis. Asumsinya. dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah. guru dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja. Asesmen autentik mencoba menggabungkan kegiatan guru mengajar. Peserta didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi. dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar. karena memang lzim digunakan dan memperoleh legitimasi secara akademik. Asesmen Autentik dan Belajar Autentik Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya. dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik. guru dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remidial harus dilakukan. atau membuat jawaban singkat. Matematika – SMA/MA/SMK | 230 . memiliki bakat dan minat khusus. karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek. Karena penilaian itu merupakan bagian dari proses pembelajaran. peserta didik dapat melakukan aktivitas belajar lebih baik ketika mereka tahu bagaimana akan dinilai. simulasi dan bermain peran.

memiliki parameter waktu yang fleksibel. Wiggins (1993) menegaskan bahwa metode penilaian tradisional untuk mengukur prestasi. Asesmen autentik pun mendorong peserta didik mengkonstruksi. pengukuran langsung keterampilan peserta didik yang berhubungan dengan hasil jangka panjang pendidikan seperti kesuksesan di tempat kerja. dan bertanggungjawab untuk tetap pada tugas.” Peran guru bukan hanya pada proses pembelajaran. 4. Ketiga. melihat informasi baru. Mengetahui bagaimana menilai kekuatan dan kelemahan peserta didik serta desain pembelajaran. mensintesis. menganalisis. asesmen autentik akan bermakna bagi guru untuk menentukan cara-cara terbaik agar semua siswa dapat mencapai hasil akhir. Mengetahui bagaimana cara membimbing peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan mereka sebelumnya dengan cara mengajukan pertanyaan dan menyediakan sumberdaya memadai bagi peserta didik untuk melakukan akuisisi pengetahuan. pada pembelajaran autentik. meski dengan satuan waktu yang berbeda. analisis proses yang digunakan untuk menghasilkan respon peserta didik atas perolehan sikap. dan lain-lain telah gagal mengetahui kinerja peserta didik yang sesungguhnya. Konstruksi sikap. Menjadi pengasuh proses pembelajaran. penilaian atas tugas-tugas yang memerlukan keterlibatan yang luas dan kinerja yang kompleks. Kedua. melainkan juga pada penilaian. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang diperlukan dalam kenyataannya di luar sekolah. dan pengetahuan dicapai melalui penyelesaian tugas di mana peserta didik telah memainkan peran aktif dan kreatif. memahahi aneka fenomena atau gejala dan hubungannya satu sama lain secara mendalam. menafsirkan. Sejalan dengan deskripsi di atas.Asesmen autentik mengharuskan pembelajaran yang autentik pula. Di sini. 3. Asesmen autentik adalah komponen penting dari reformasi pendidikan sejak tahun 1990an. Dengan demikian. 2. menjodohkan. Menjadi kreatif tentang bagaimana proses belajar peserta didik dapat diperluas dengan menimba pengalaman dari dunia di luar tembok sekolah. guru harus menjadi “guru autentik. dan mengevaluasi informasi untuk kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan baru. serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia nyata yang luar sekolah. benar/salah. 1. guru harus memenuhi kriteria tertentu seperti disajikan berikut ini. seperti tes pilihan ganda. menjelaskan. Untuk bisa melaksanakan pembelajaran autentik. Pertama. Asesmen Autentik terdiri dari berbagai teknik penilaian. peserta didik diminta mengumpulkan informasi dengan pendekatan saintifik. guru dan peserta didik memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi. Dalam pembelajaran autentik. keteampilan. Keterlibatan peserta didik dalam melaksanakan tugas sangat bermakna bagi perkembangan pribadi mereka. mengorganisasikan. Tes semacam ini telah gagal memperoleh gambaran yang utuh Matematika – SMA/MA/SMK | 231 . keterampilan. dan pengetahuan yang ada. Peserta didik pun tahu apa yang mereka ingin pelajari. dan mengasimilasikan pemahaman peserta didik.

motivasi. sudah saatnya guru profesional pada semua satuan pendidikan memandu gerakan memadukan potensi peserta didik. berkaitan dengan sikap. Penilaian Kinerja Asesmen autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik. Beberapa jenis asesmen autentik disajikan berikut ini. seperti menilai kompetisi Olimpiade Sains Nasional. Ketika asesmen tradisional cenderung mereduksi makna kurikulum. keberanian berpendapat. pendekatan apa pun yang dipakai dalam penilaian tetap tidak luput dari kelemahan dan kelebihan. Data asesmen autentik digunakan untuk berbagai tujuan seperti menentukan kelayakan akuntabilitas implementasi kurikulum dan pembelajaran di kelas tertentu. dan lingkungannya melalui asesmen proses dan hasil belajar yang autentik.mengenai sikap. dan tidak mahir). ketika itu pula asesmen autentik memperoleh traksi yang cukup kuat. keterampilan. dan pengetahuan peserta didik dikaitkan dengan kehidupan nyata mereka di luar sekolah atau masyarakat. keterampilan. karena tidak menyentuh esensi nyata dari proses dan hasil belajar peserta didik. seperti penalaran. keterampilan. memori. maupun kuantitatif. khususnya dalam proses dan aspek-aspek yangg akan dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya. Analisis kuantitatif dari data asesmen autentik menerapkan rubrik skor atau daftar cek (checklist) untuk menilai tanggapan relatif peserta didik relatif terhadap kriteria dalam kisaran terbatas dari empat atau lebih tingkat kemahiran (misalnya: sangat mahir. sekolah. D. dan sebagainya. dan pengetahuan. Ada beberapa cara berbeda untuk merekam hasil penilaian berbasis kinerja: Matematika – SMA/MA/SMK | 232 . dan rendah daya prediksinya terhadap derajat sikap. misalnya. guru harus bertanya pada diri sendiri. Data asesmen autentik dapat dianalisis dengan metode kualitatif. Analisis kualitatif dari asesmen otentif berupa narasi atau deskripsi atas capaian hasil belajar peserta didik. dan pengetahuan apa yang akan dinilai. Rubrik penilaian dapat berupa analitik atau holistik. Dengan menggunakan informasi ini. Asesmen hasil belajar yang tradisional bahkan cenderung mereduksi makna kurikulum. Namun demikian. Untuk itu. kuanitatif. Analisis holistik memberikan skor keseluruhan kinerja peserta didik. 1. atau proses. keterampilan. guru dapat memberikan umpan balik terhadap kinerja peserta didik baik dalam bentuk laporan naratif mauun laporan kelas. mengenai keunggulan dan kelemahan. mahir. dan (3) tingkat pengetahuan apa yang akan dinilai. (2) fokus penilaian akan dilakukan. dan kemampuan berpikir yang diartikulasikan dalam banyak mata pelajaran atau disiplin ilmu. guru harus memahami secara jelas tujuan yang ingin dicapai. Memang. sebagian mahir. khususnya berkaitan dengan: (1) sikap. misalnya. Jenis-jenis Asesmen Autentik Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik. tidak mampu menggambarkan kompetensi dasar.

Daftar cek (checklist). b. fokus utama dari kinerja yang akan dinilai. Penilaian-diri (self assessment) termasuk dalam rumpun penilaian kinerja. ketepatan dan kelengkapan aspek kinerja yang dinilai. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. afektif dan psikomotor. Misalnya.a. seperti berpidato. observasi perilaku. Pengamatan atas kinerja peserta didik perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. berdiskusi.  Penilaian ranah sikap. peserta didik diminta mengungkapkan curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. misalnya. Cara seperti tetap ada manfaatnya. kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan oleh peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. Biasanya digunakan dengan menggunakan skala numerik berikut predikatnya. Digunakan dengan cara guru menulis laporan narasi tentang apa yang dilakukan oleh masing-masing peserta didik selama melakukan tindakan. Untuk menilai keterampilan berbahasa peserta didik. Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang harus muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan. langkahlangkah kinerja harus dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja yang nyata untuk suatu atau beberapa jenis kompetensi tertentu. atau pertanyaan pribadi. dan wawancara. 3 = cukup. Penilaian kinerja memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus. 2 = kurang. 1 = kurang sekali. seperti penilaian sikap. Guru menggunakan informasi dari memorinya untuk menentukan apakah peserta didik sudah berhasil atau belum. Skala penilaian (rating scale). Misalnya: 5 = baik sekali. Untuk mengamati kinerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen. c. namun tidak cukup dianjurkan. Kelima. Dari sini akan diperoleh keutuhan mengenai keterampilan berbicara dimaksud. khususnya indikator esensial yang akan diamati. Digunakan oleh guru dengan cara mengamati peserta didik ketika melakukan sesuatu. Penilaian diri merupakan suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status. Matematika – SMA/MA/SMK | 233 . Pertama. dengan tanpa membuat catatan. dari aspek keterampilan berbicara. pertanyaan langsung. Memori atau ingatan (memory approach). Dari laporan tersebut. Kedua. guru dapat menentukan seberapa baik peserta didik memenuhi standar yang ditetapkan. 4 = baik. Keempat. d. urutan dari kemampuan atau keerampilan peserta didik yang akan diamati. guru dapat mengobservasinya pada konteks yang. Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records). Ketiga. bercerita.

keterampilan. peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan sikap. Misalnya. mulai dari perencanaan. Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan untuk menilai kualitas dan bentuk hasil akhir secara holistik dan analitik. dan produk proyek. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik. peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. mendorong. dan penyajian data. Penilaian proyek dapat menggunakan instrumen daftar cek. pada setiap penilaian proyek. pengorganisasian. dan melatih peserta didik berperilaku jujur. atau narasi. setidaknya ada tiga hal yang memerlukan perhatian khusus dari guru. b. mengolah dan menganalisis. Dengan demikian. Penilaian ranah keterampilan. Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau tertulis. menumbuhkan semangat untuk maju secara personal. analisis. Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan penilaian khusus.  2. mengaplikasikan. keterampilan. Ketiga. skala penilaian. pengumpulan data. Karena itu. Selama mengerjakan sebuah proyek pembelajaran. Orijinalitas atas keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik. peserta didik diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya oleh dirinya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Keempat. dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik. Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap. pengolahan. Kedua. dan lain-lain. penilaian proyek bersentuhan dengan aspek pemahaman. Pertama. hasil karya Matematika – SMA/MA/SMK | 234 . penyelidikan. Penilaian produk dimaksud meliputi penilaian atas kemampuan peserta didik menghasilkan produk. memberi makna atas informasi yang diperoleh. dan penyiapkan laporan. Penilaian ranah pengetahuan. Misalnya. Dalam kaitan ini serial kegiatan yang harus dilakukan oleh guru meliputi penyusunan rancangan dan instrumen penilaian. Penilaian Proyek Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. mencari dan mengumpulkan data. Penilaian proyek berfokus pada perencanaan. dan menulis laporan. pengerjaan. pakaian. dan pengetahuannya. Teknik penilaian-diri bermanfaat memiliki beberapa manfaat positif. Keterampilan peserta didik dalam memilih topik. c. analisis data. a. membiasakan. seperti makanan. peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan. pengumpulan data. menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik.

dan karya logam. dan lain-lain. Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat. Atas dasar penilaian itu. Penilaian Portofolio Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi. sinopsis. Penilaian secara holistik merujuk pada apresiasi atau kesan secara keseluruhan atas produk yang dihasilkan. lukisan. g. c. disertai catatan tanggal pengumpulannya. meski dapat juga oleh peserta didik sendiri. memerlukan refleksi peserta didik. plastik. Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini. guru dan/atau peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan pembelajaran.seni (gambar. keterampilan. resensi buku/ literatur. Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai. a. hasil tes (bukan nilai). Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok. 3. dan lain-lain). f. d. mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran. e.Fokus penilaian portofolio adalah kumpulan karya peserta didik secara individu atau kelompok pada satu periode pembelajaran tertentu. Matematika – SMA/MA/SMK | 235 . Penilaian secara analitik merujuk pada semua kriteria yang harus dipenuhi untuk menghasilkan produk tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik. puisi. Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu. Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio. foto. karet. hasil karya mereka dalam menyusun atau membuat karangan. baik sendiri maupun kelompok. atau informasi lain yang releban dengan sikap. b. Memalui penilaian portofolio guru akan mengetahui perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik. keramik. barang-barang terbuat dari kayu. Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Misalnya. Peserta didik. Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio. kertas. gambar. patung. komposisi musik. laporan penelitian. surat. guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan. kulit. Penilaian terutama dilakukan oleh guru. dan pengetahuan yang dituntut oleh topik atau mata pelajaran tertentu. lukisan. Jika memungkinkan.

penilaian tertulis atas hasil pembelajaran tetap lazim dilakukan. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehentif. & Maxwell. (1999). Masing-masing sisi pandang ini akan melahirkan jawaban berbeda. 63–67. Teaching Exceptional Children. Cumming. Tes semacam ini memberi kesempatan pada guru untuk dapat mengukur hasil belajar peserta didik pada tingkatan yang lebih tinggi atau kompleks. Asesmen Berkelanjutan: Konsep dasar. rendahnya keterampilan. J. Matematika – SMA/MA/SMK | 236 . keterampilan. Assessment in Education. 6(2). 2005.4. yaitu jawaban terbuka (extendedresponse) atau jawaban terbatas (restricted-response). Tes tersulis berbentuk esai biasanya menuntut dua jenis pola jawaban. (1993). Memilih jawaban terdiri dari pilihan ganda. menganalisis. S. Tes tertulis terdiri dari memilih atau mensuplai jawaban dan uraian. Surabaya: UNESA University Press Anggota IKAPI Coutinho. dan uraian. 177–194. memahami. menjodohkan. & Malouf. sehingga mampu menggambarkan ranah sikap. Performance assessment and children with disabilities: Issues and possibilities. menerapkan. Memilih jawaban dan mensuplai jawaban. Penilaian Tertulis Meski konsepsi asesmen autentik muncul dari ketidakpuasan terhadap tes tertulis yang lazim dilaksanakan pada era sebelumnya. D. pilihan benar-salah. dan pengetahuan peserta didik. jawaban singkat atau pendek. mensintesis. namun tetap terbuka memperoleh nilai yang sama. Tahapan Pengembangan dan Contoh. Misalnya. asalkan analisisnya benar. ya-tidak. Contextualizing Authentic Assessment. peserta didik tertentu melihat fenomena kemiskinan dari sisi pandang kebiasaan malas bekerja. Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat. mengevaluasi. M. Muslimin. peserta didik berkesempatan memberikan jawabannya sendiri yang berbeda dengan teman-temannya. Mensuplai jawaban terdiri dari isian atau melengkapi.. J.. Hal ini sangat tergantung pada bobot soal yang diberikan oleh guru. Pada tes tertulis berbentuk esai. namun tetap terbuka memiliki kebenarann yang sama. dan sebab-akibat. mengorganisasikan. G. 25(4). atau kelangkaan sumberdaya alam. Daftar Pustaka Ibrahim. dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari.

(1993).. 45–51. Phi Delta Kappan. Matematika – SMA/MA/SMK | 237 .. Salvia.. R. & Brookshire. 23(4). 34(1).). L. & Jacob. (2002)..Dantes. Action in Teacher Education. 200 – 214. G. Hallam. Using authentic assessment to evidence children's progress toward early learning standards. (2004). J. Hakikat Asesmen Otentik Sebagai Penilaian Proses Dan Produk Dalam Pembelajaran Yang Berbasis Kompetensi (Makalah disampaikan pada In House Training (IHT) SMA N 1 Kuta Utara). 75(3). Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha Gatlin. Early Childhood Education Journal. 2008. E. & Ysseldyke. J. Wiggins. Standards-based digital portfolios: A component of authentic assessment for preservice teachers. J. (2006). context and validity. Assessment in special and inclusive education (9th ed. Nyoman. Assessment: Authenticity. Grisham-Brown. 28–34. S. R. New York: Houghton Mifflin.

akan tetapi maknanya sering disalahartikan dalam proses belajar mengajar. kelima prinsip tersebut adalah sebagai berikut: (i). Prinsip ketiga: Asesmen harus bersifat operasional untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. (iii). maka siswa akan kehilangan rasa percaya diri. Tambahan lagi bahwa penilaian bukan akhir dari pembelajaran tapi yang paling utama adalah balikan dari proses belajar yang telah berlangsung. melainkan harus mencakup ketiga tingkatan asesmen. Dengan demikian alat asesmen yang digunakan tentunya tidak hanya mencakup tingkatan tertentu saja. Asesmen seringkali dipandang sebagai produk akhir dari suatu proses pembelajaran yang tujuan utamanya untuk memberikan penilaian bagi masing-masing siswa. Walaupun hal ini tidak sepenuhnya salah. Makna yang sebenarnya dari asesmen tidak hanya menyangkut penyedian informasi tentang hasil belajar dalam bentuk nilai. Menurut de Lange (dalam Tatang Herman) terdapat lima prinsip utama yang melandasi asesmen dalam pembelajaran. Prinsip kedua: Metode asesmen harus dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa mampu mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui bukan mengungkap apa yang tidak diketahui. Prinsip pertama: Asesmen harus ditujukan untuk meningkatkan kualitas belajar dan pengajaran.HO-2. Pengantar Dalam proses pembelajaran. karena tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan yang sudah mereka miliki. Karena kemampuan berpikir tingkat tinggi lebih sulit untuk diases. Jadi penilaian bukan sekedar untuk menentukan rangking atau skor siswa yang pada akhirnya justru dapat menjadi penghalang bagi peningkatan kualitas belajar. Berdasarkan pengalaman asesmen sering diartiakan sebagai upaya untuk mengungkap aspek-aspek yang belum diketahui siswa. akan tetapi yang terpenting adalah adanya balikan tentang proses belajar yang telah terjadi. Walaupun ide ini bukan hal yang baru. tetapi pendekatan yang digunakan lebih bersifat negatif. penilaian (asesmen) merupakan bagian yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari kegiatan pembelajaran itu sendiri. Jika pendekatan negatif yang cenderung digunakan. menengah dan tinggi.3-2 CONTOH PENERAPAN PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA A. Matematika – SMA/MA/SMK | 238 . maka seperangkat alat asesmen harus mencakup berbagai variasi yang bisa secara efektif mengungkap kemampuan yang dimiliki siswa. (ii). Sejatinya tujuan penilaian adalah untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas belajar siswa. yaitu: rendah.

terpadu. transparan. ekonomis. Salah satu keunggulannya siswa memiliki kebebasan untuk mengekspresikan ide-idenya sehingga jawaban yang diberikan mereka biasanya sangat bervariasi.(iv). Kaitannya dengan pengertian ada beberapa definisi mengenai penilaian autentik. pengalaman menunjukkan bahwa tugas-tugas yang ada didalamnya memiliki banyak keunggulan. keterampilan. Walaupun untuk menyusun alat asesmen dengan tingkatan tinggi lebih sulit. proses dan keluaran (output) pembelajaran b. Sementara itu dalam Permendikbud No. dan pengetahuan Matematika – SMA/MA/SMK | 239 . Prinsip keempat: Kualitas alat asesmen tidak ditentukan oleh mudahnya pemberian skor secara objektif. Gambaran perkembangan belajar siswa ini perlu diketahui oleh guru agar bisa menentukan tindakan selanjutnya disamping memastikan bahwa siswa telah mengalami pembelajaran dengan benar. guru segara bisa mengambil langkah yang tepat. (v). Artinya. Selain itu guru dimungkinkan untuk melihat secara mendalam proses berpikir yang digunakan siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan. penilaian adalah proses pengumpulan berbagai informasi yang dapat memberikan gambaran sebenarnya tentang perkembangan belajar siswa. Penilaian autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap. Prinsip kelima: Alat asesmen hendaknya bersifat praktis. jika ada tanda-tanda siswa mengalami kemacetan dalam belajar. diantaranya adalah a. Terkait dengan konsep penilaian autentik. akuntabel dan edukatif. Sehingga penilaian tidak hanya dilakukan di akhir periode pembelajaran tetapi dilakukan bersama (simultan) dan merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam pembelajaran. Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input).66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan disebutkan bahwa penilaian hasil peserta didik didasarkan prinsip objektif. Konsep ini sesungguhnya mempunya core bahwa kemajuan belajar itu diperlukan selama proses pembelajaran. Akibat dari penerapan pandangan ini adalah bahwa suatu alat asesmen hanya terdiri atas sejumlah soal dengan tingkatan rendah yang memudahkan dalam melakukan penskoran. Dengan demikian konstruksi tes dapat disusun dengan format yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan serta pencapaian tujuan yang ingin diungkap. Umumnya pemberian skor secara objektif bagi setiap siswa menjadi faktor yang sangat dominan manakala dilakukan asesmen terhadap kualitas suatu tes.

membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai. Dibawah ini adalah gambaran penilaian autentik dibanding penilaian tradisional Penilaian autentik komprehensif Penilaian tradisional Matematika – SMA/MA/SMK | 240 . Penilaian autentik merupakan proses pengamatan. Dari berbagai pendefinisian diatas ada satu benang merah yang mengaitkan ketiganya yaitu penilaian yang mengutamakan perolehan fakta aktual (pada saat itu) tentang pengetahuan.c. Penilaian autentik adalah penilaian yang dilakukan menggunakan beragam sumber. perekaman dan pendokumentasian karya (apa yang dilakukan anak dan bagaimana hal itu dilakukan) sebagai dasar penentuan keputusan yang dapat menuju pada pembentukan anak sebagai individual learner (pembelajar mandiri). d. keterampilan dan sikap dengan berbagai cara. e. Penilaian autentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan. dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pembelajaran. pada saat/setelah kegiatan pembelajaran berlangsung.

Kemudian diberikan soal/instrumen untuk menilai sebagai berikut. dimana kedua siswa terjaring (oleh penilaian tradisional) sebagai berkemampuan sama padahal sejatinya sangat berbeda. kita ingin mengetahui kompetensi siswa dalam belajar (memahami) solusi persamaan linear. Penilaian autentik dalam matematika Seperti penjelasan terdahulu. namun sebenarnya mereka mengerjakan dengan cara yang sangat berbeda. Dari contoh ter ebut terlihat sangat nyata kelemahan penilaian dengan instrumen pilihan ganda seperti di atas yang tidak melihat proses pengerjaan. Ternyata ada dua siswa yang memilih jawaban yang benar (Jawaban: E). SISWA 1 SISWA 2 Jelas bahwa siswa 1 tidak memahami cara menyelesaikan persamaan linear karena dia hanya menerapkan prin ip “a al ama dicoret” ementara siswa 2 amat paham proses penyelesaian per amaan linear. Terlihat adanya upaya ‘i ola i’ variabel di rua kiri. penilaian tradisional yang selama ini kita terapkan tidak akan menggambarkan kompetensi atau kualitas belajar siswa. Sebagai contoh. Matematika – SMA/MA/SMK | 241 .B.

yaitu pengetahuan. disertai rubric Instrumen Daftar cek/skala penilaian (rating scale) yang Matematika – SMA/MA/SMK | 242 . menjodohkan. (3) kemampuan pemecahan masalah dan (4) sikap matematis Teknik dan instrumen dalam penilaian autentik Berbagai macam cara untuk memperoleh informasi kemampuan atau kualitas belajar siswa dalam rangka penilaian autentik.Aspek penilaian autentik Semangat kurikulum sekarang mengamanatkan bahwa kompetensi harus meliputi tiga ranah. Secara khusus aspek yang akan dimunculkan dalam untuk mengetahui kualitas belajar matematika adalah (1) pemahaman konsep matematika. penilaian kompetensi pengetahuan  Tes lisan  Penugasan  tes tulis Soal pilihan ganda. Teknik dan instrumen yang digunakan untuk penilaian kompetensi sikap. (2) keterampilan matematika. Oleh karena itu perlu adanya jabaran mengenai aspek penilaian autentik dalam matematika. penilaian kompetensi ketrampilan  praktik  proyek  praktik Daftar cek/skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran. benarsalah. isian. sikap dan keterampilan dari semua bidang. pengetahuan. Aspek a. Penilaian kompetensi sikap Teknik  Observasi  Penilaian diri  Penilaian antar peserta didik  Jurnal b. dan uraian. Daftar pertanyaan pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas c. dan keterampilan sebagai berikut. jawab singkat.

dst Trigono sering keliru dalam mengalikan dan menjumlah kan pecahan Gamma berpikirnya divergen dan sangat terampil dalam menggunakan jangka.. 2. Tanya jawab Wujud dari tanya jawab ini boleh saja berupa kegiatan presentasi oleh siswa atau tanya jawab secara personal. 3. namun dengan dipersiapkan secara nyata akan lebih membantu dalam melakukan pengamatan. Contoh dari hasil pengamatan kelas didapatkan Nama Siswa Jabar Hasil Pengamatan Jabar tidak begitu menanggapi jika ditanya teman sebangkunya Alfa tidak memahami pencoretan dalam persamaan. walaupun sekedar menyiapkan catatan. Oleh karena penilaiannya setelah Matematika – SMA/MA/SMK | 243 . Tugas Gambaran mengenai perkembangan kualitas belajar matematika dapat dilihat dari tugas yang diselesaikan.. Tugas dapat dapat dikaitkan dengan fenomena lingkungan atau bisa juga murni mengenai konsep yang ada di matematika. karena untuk menentukan nilai dia melakukan pengerjaan: Alfa Trigono Gamma . Pengamatan langsung (observasi) Sesungguhnya pengamatan langsung ini sering kita lakukan dalam kegiatan pembelajaran.Berikut ini contoh penilaian autentik: 1.

sehingga cenderung mangabaikan proses. Untuk memberikan ruang bagi penilaian autentik maka pilihan ganda perlu ditambah dengan cara pengerjaan. Misalnya siswa diminta mengukur tinggi tiang bendera dengan menggunakan identiitas trigonometri. dan sebagainya. laporan. Portofolio merupakan sumber data yang sangat baik bagi guru. Penilaian haruslah tertuju pada peningkatan kualitas belajar siswa dan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu setiap portofolio harus diberi catatan tanggal penyusunannya Untuk menjamin penilaian benar-benar faktual maka perlu adanya kombinasi dari berbagai teknik di atas C. Tes Sesuai dengan penjelasan sebelumnya. hasil tes. Portofolio Bahasa sederhana dari potofolio adalah kumpulan pekerjaan yang telah dilakukan oleh siswa. Penilaian autentik hakekatnya adalah menggali informasi sebenarnya Matematika – SMA/MA/SMK | 244 . Selain itu portofolio dapat digunakan oleh siswa untuk melihat perkembangan yang terjadi terhadap dirinya dalam kurun waktu tertentu. catatan guru. Pada kenyataannya. Penutup Kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari proses pembelajaran adalah penilaian. model pilihan ganda yang paling banyak digunakan. 5. tes dilakukan setelah proses pembelajaran atau kegiatan selesai. Sayangnya tes seperti biasanya berujung pada penyekoran.tugas diselesaikan maka akan sangat bagus jika dikombinasikan dengan teknik lainnya misalnya dengan wawancara. 4. Pragmatis penyekoran sering sebagai pertimbangan. Di dalamnya bisa termasuk tugas.

Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2013 Tentang Standar Penilaian Pendidikan. Tetapi perlu dicatat bahwa penilaian autentik bukan refleksi dari kemampuan yang telah dimiliki melainkan refleksi terhadap kemampuan yang dapat dikembangkan.com/rdg/res/litass/auth.(_____).vn diakses 17 Februari 2013 Matematika – SMA/MA/SMK | 245 .. Jakarta Tatang Herman.eduplace. . Jurusan Pendidikan Matematika http://www. Asesmen Otentik. Makalah pada Workshop Kurikulum. Jakarta Sudarwan. (2013).ntu.html diakses 17 Februari 2013 http://www. (2013).tentang kemampuan siswa dalam belajar. Referensi Kemdikbud.edu. Prof. Asesmen dalam Pembelajaran Matematika.

Materi Pelatihan : 2.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Langkah Kegiatan Inti Menilai Buku Diskusi Kelompok Menyimpulkan Hasil Kerja Kelompok 20 Menit 80 Menit 20 Menit 40 Menit Menyimpulkan Presentasi Kerja Kelompok Diskusi Kelompok 15 Menit 30 Menit 30 Menit 30 Menit Menilai Buku Peserta menilai buku dengan bimbingan fasilitator dilihat dari aspek kesesuaian. Matematika – SMA/MA/SMK | 246 .4-2. dan KD dengan menggunakan LK-2. kecukupan. KI. Kerja Kelompok Kerja kelompok menganalisis kesesuaian buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. dan kedalaman materi.4 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.4-1 dan LK -2. Diskusi Kelompok Diskusi kelompok hasil penilaian buku dilanjutkan dengan pemaparan materi Analisis Buku Guru dan Buku Siswa dengan menggunakan PPT-2. Simpulan Menyimpulkan hasil diskusi dan menyampaikan format lembar kerja yang telah disiapkan.

Diskusi Kelompok Diskusi kelompok untuk menganalisis kesesuaian proses. Presentasi Presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Simpulan Fasilitatormenyimpulkan materi analisis buku. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. Kerja Kelompok Kerja kelompokmembuat contoh-contoh penerapan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. pendekatan belajar. Matematika – SMA/MA/SMK | 247 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 248 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 249 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 250 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 251 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 252 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 253 .

Tujuan 1. Lakukanlah analisis terhadap buku tersebut dengan menggunakan format yang tersedia! 6. Matematika – SMA/MA/SMK | 254 . Siapkan SKL. Anda disarankan untuk memberikan rekomendasi tindak lanjut yang harus dikerjakan guru sebagai pengguna buku guru tersebut. Menganalisis keterpaduan antar mata pelajaran atau antar konsep/topik. Pelajari format Analisis Buku Sswa! 3. 2. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. dan KD. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. Kerjakanlah secara berkelompok! 2.LK–2. Merencanakan tindak lanjut dari hasil analisis . 4. Panduan Kegiatan 1. Berdasarkan hasil analisis. Jika sesuai dengan kebutuhan. buku bisa digunakan dalam pembelajaran.4-1 LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU PETUNJUK PENGISIAN LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU Kompetensi 1. 3. KI dan KD. KI. Jika kurang/tidak sesuai. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan konsep pendekatan scientificdan penialain autentik. tuliskan tindak lanjut hasil analisis sebagai berikut! a. 3. Cermatilah buku siswa yang sesuai dengan materi ajar yang Anda ampu! 5. b. KI dan KD sesuai jenjang pendidikan dan mata pelajaran! 4. Menganalisis kesesuaian isi buku siswa dengan SKL. 2.

....... 3. : .............. Karakteristik siswa 7......... : ......... dan b................ 5.... Matematika – SMA/MA/SMK | 255 ............................................. Pola pikir keilmuan.................................................... 6............................. alokasi waktu.......................... 4...................... : .. Kedalaman materi ditinjau dari: a............................. ASPEK YANG DIANALISIS Kesesuaian dengan SKL Kesesuaian dengan KI Kesesuaian dengan KD Kesesuaian dengan Topik Kecukupan materi ditinjau dari: a.............................. dan b.... Penerapan Pendekatan Scientific Penilaian Autentik yang Tersedia dalam Buku Siswa TIDAK SESUAI SESUAI SEBAGIAN SESUAI TINDAK LANJUT HASIL ANALISIS 8........................... 2...........LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU Judul buku Kelas Jenjang Tema/Topik : .................... 1.................. HASIL ANALISIS NO.......................... cakupan konsep/materi esensial................

Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. Menganalisis keterpaduan antar mata pelajaran atau antar konsep/topik. Panduan Kegiatan 1. 4. b. 2. KI. Anda disarankan untuk memberikan rekomendasi tindak lanjut yang harus dikerjakan guru sebagai pengguna buku guru tersebut. 3. Cermatilah buku siswa yang sesuai dengan materi ajar yang Anda ampu! 5. tuliskan tindak lanjut hasil analisis sebagai berikut! a. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Jika kurang/tidak sesuai. KI dan KD sesuai jenjang pendidikan dan mata pelajaran! 4.4-2 LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA PETUNJUK PENGISIAN LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA Kompetensi 1. Lakukanlah analisis terhadap buku tersebut dengan menggunakan format yang tersedia! 6. KI dan KD. Pelajari format Analisis Buku Sswa! 3. Kerjakanlah secara berkelompok! 2. Matematika – SMA/MA/SMK | 256 . Merencanakan tindak lanjut dari hasil analisis . Siapkan SKL. Berdasarkan hasil analisis. 3. Tujuan 1. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. 2. buku bisa digunakan dalam pembelajaran. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan konsep pendekatan scientificdan penialain autentik. Jika sesuai dengan kebutuhan.LK–2. dan KD. Menganalisis kesesuaian isi buku siswa dengan SKL.

.......... : ................................. Penerapan Pendekatan Scientific Penilaian Autentik yang Tersedia dalam Buku Siswa TIDAK SESUAI SESUAI SEBAGIAN SESUAI TINDAK LANJUT HASIL ANALISIS 8.... dan d..................................................... alokasi waktu........................ : ....................... Kedalaman materi ditinjau dari: c....LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA Judul buku Kelas Jenjang Tema/Topik : .................... HASIL ANALISIS NO........ 4......... 1.................... Karakteristik siswa 7......................................... : .. ASPEK YANG DIANALISIS Kesesuaian dengan SKL Kesesuaian dengan KI Kesesuaian dengan KD Kesesuaian dengan Topik Kecukupan materi ditinjau dari: c. Pola pikir keilmuan......................... 6......................................... Matematika – SMA/MA/SMK | 257 .............. 2........... 3...................... cakupan konsep/materi esensial........ 5...................................... dan d......

tindak lanjut kurang logis Hasil analisis kurang tepat. tindak lanjut logis dan bisa dilaksanakan Hasil analisis tepat. Langkah-langkah penilaian hasil analisis. jumlahkan nilai seluruh komponen sehingga menghasilkan nilai hasil analisis buku guru/siswa. tindak lanjut tidak logis 3. tindak lanjut logis Hasil analisis kurang tepat. Cermati format penilaian analisis buku guru atau buku siswa serta hasil analisis peserta yang akan dinilai! 2. Berikan nilai pada setiap aspek yang dianalisis sesuai dengan penilaian Anda terhadap hasil analisis peserta menggunakan rentang nilai sebagai berikut! PERINGKAT Amat Baik ( AB) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 < A ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 80 < 70 KRITERIA Hasil analisis tepat. Setelah selesai penilaian masing-masing komponen. 1.4 RUBRIK PENILAIAN HASIL ANALISIS BUKU GURU DAN SISWA Rubrik penilaian analisis buku guru dan buku siswa digunakan fasilitator untuk menilai hasil analisis peserta terhadap buku guru dan buku siswa sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Matematika – SMA/MA/SMK | 258 .R–2.

MATERI PELATIHAN 3 : MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN (8 JP) 3. Penyusunan RPP 3.2.1. Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Matematika – SMA/MA/SMK | 259 .

2. 8. emosional. Lembar KerjaTelaah RPP ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 260 . INDIKATOR 1. dan merancang penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. kultural. B. 9.1 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. 2.MATERI PELATIHAN 3: MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN A. Rambu-rambu Penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3. Menunjukkan sikap tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP. 6. Menelaah RPP. 4. Menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran. menyusun RPP yang menerapkan pendekatan scientific sesuai model belajar yang relevan dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. Mengidentifikasi kaidah perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. Menelaah rancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar yang ada dalam RPP. C. Standar Proses. LINGKUP MATERI 1. sosial. PERANGKAT PELATIHAN 1. Menunjukkan sikap tanggung dan kreatif dalam menyusun rancangan penilaian autentik. 3. c. Panduan tugas telaah RPP. b. 2. Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar. Panduan tugas menelaah rancangan penilaian pada RPP. KI dan KD. Bahan Tayang a. Penyusunan RPP. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. 7. 3. D. 5. Mengidentifikasi rambu-rambu penyusunan RPP. moral. maupun intelektual. dan pendekatan scientific. Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun. 2.

WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 3. Fasilitator memotivasi peserta agar serius. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran. dan KD. Standar Proses. 205 Menit 15 menit 10 Menit 40 Menit 80 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 261 . dan pendekatan scientific (terutama KD di awal semester 1).1. Kerja kelompok untuk menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. Active Speaker. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. Diskusi rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific. tujuan. dan Laser Pointer.1 dan Panduan Tugas Telaah RPP dengan menggunakan PPT-3.2 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN 8 JP (@45 MENIT) SMA/MA. dilanjutkan dengan paparan materi tentang Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3. Menyimpulkan hasil penilaian RPP dengan dipandu oleh fasilitator. atau media pembelajaran lainnya. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. teliti. indikator. File. kompetensi. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. KI.1. seperti LCD Projector.1 Penyusunan RPP Saling menilai RPP yang dibawa setiap peserta. alokasi waktu. Laptop.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 3. antusias.

2. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.2. Kerja kelompok untuk menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika menggunakan HO-2.1. dilanjutkan dengan pemaparan oleh fasilitator tentang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika menggunakan PPT 2.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Diskusi dan tanya jawab tentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes termasuk portofolio.1/3.Diskusi format telaah RPP dengan mengacu pada bahan tayang PPT-3.2/3. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.2 serta Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP yang tealh dibuat dengan menggunakan PPT-3. Kerja kelompok untuk menelaah dan merevisi rancangan penilaian autentik pada RPP yang telah disusun berdasarkan panduan tugas menelaah rancangan penilaian Presentasi hasil kerja kelompok (sampel) ICE BREAKER KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran. Kerja Kelompok untuk menelaah RPP yang disusun kelompok lain dengan menggunakan LK-3. ICE BREAKER 3.2/3.2.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Fasilitator menutup pembelajaran 20 Menit 35 menit 5 Menit 120 Menit 40 Menit 30 Menit 60 Menit 10 Menit 5 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 262 .

Hasil penilaian dituliskan langsung pada halaman depan RPP. b. c. Setiap peserta diwajibkan membawa dua set RPP yang telah digunakan dalam proses pembelajaran sesuai mata pelajaran yang diampu. RPP tersebut dikumpulkan kepada panitia untuk kemudian dibagikan kembali ke peserta untuk dinilai oleh peserta lainnya dengan menggunakan acuan pengetahuan masing-masing peserta. Matematika – SMA/MA/SMK | 263 . Instruktur mencatat hasil penilaian yang dilaporkan peserta. Diskusi rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific.Materi Pelatihan 3. Peserta menyimpulkan hasil penilaian RPP dengan dipandu oleh Instruktur. Hasil penilaian dipresentasikan oleh peserta yang ditunjuk instruktur.1: Penyusunan RPP Langkah Kegiatan Inti Tugas Individu: Saling Menilai RPP Menyimpulkan Hasil Penilaian RPP Diskusi 15 Menit 10 Menit 40 Menit Kerja Kelompok Diskusi Kerja Kelompok 35 Menit 20 Menit 80 Menit Aktivitas 1: Menilai RPP Menilai RPP Peserta Lain a. Peserta lainnya menyampaikan hasil penilaian yang tidak sama dengan peserta lainnya.

2. dan KD.1 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Standar Proses. Aktivitas 2: Kerja Kelompok Kerja kelompok untuk menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. Aktivitas 3: Kerja Kelompok Kerja Kelompok untuk menelaah RPP yang disusun kelompok lain dengan menggunakan LK-3.1. Diskusi format telaah RPPdengan mengacu pada bahan tayang PPT-3. dan pendekatan scientific (terutama KD di awal semester 1).1/3. Matematika – SMA/MA/SMK | 264 .Paparan materi tentang Rambu-rambu Penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3. KI.

Matematika – SMA/MA/SMK | 265 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 266

Matematika – SMA/MA/SMK | 267

Matematika – SMA/MA/SMK | 268

HO-3.1-2

CONTOH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Satuan Pendidikan Kelas/Semester Mata Pelajaran Topik Waktu : SMA : X/2 : Matematika-Wajib : Trigonometri : 2 × 45 menit

A. Kompetensi Inti SMA kelas X: 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia 3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. B. Kompetensi Dasar 2.1 Menunjukkan sikap senang, percaya diri, motivasi internal, sikap kritis, bekerjasama, jujur dan percaya diri dalam menyelesaikan berbagai permasalahan nyata. 2.2 Memiliki sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif 3.17Memahami dan menentukan hubungan perbandingan Trigonometri dari sudut di setiap kuadran, memilih dan menerapkan dalam penyelesaian masalah nyata dan matematika 4.7 Memanfaatkan informasi dari suatu permasalahan nyata, membuat model berupa fungsi dan persamaan Trigonometri serta menggunakannya dalam menyelesaikan masalah. C. Indikator Pencapaian Kompetensi 1. Terlibat aktif dalam pembelajaran trigonometri. 2. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok. 3. Toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
Matematika – SMA/MA/SMK | 269

4. Menjelaskan kembali pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis, ordinat, dan jari-jari pada sumbu koordinat. 5. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I. 6. Terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. D. Tujuan Pembelajaran Dengan kegiatan diskusi dan pembelajaran kelompok dalam pembelajaran trigonometri inii diharapkan siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan bertanggungjawab dalam menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, memberi saran dan kritik, serta dapat 1. Menjelaskan kembali pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis, ordinat, dan jari-jari pada sumbu koordinat kartesius secara tepat, sistematis, dan menggunakan simbol yang benar. 2. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I secara tepat dan kreatif. E. Materi Matematika 1. Mengingat kembali mengenai perbandingan trigonometri, fungsi trigonometri, besar sudut (tumpul dan refleks), dan koordinat kartesian. Dengan domain { : 0o    90o}, fungsi trigonometri didefinisikan lewat perbandingan trigonometri, sbb. sin  = (panjang sisi di depan sudut ) / panjang hipotenusa cos  = (panjang sisi di samping sudut ) / panjang hipotenusa tan  = (panjang sisi di depan sudut ) / (panjang sisi di samping sudut ) sec  = 1/cos  csc  = 1/sin  cot  = 1/tan  Sudut telah didefinisikan sebagai bangun geometri yang dibentuk oleh dua sinar bertitik pangkal sama. Dengan definisi tsb, dikenal beberapa macam sudut berdasarkan besarnya, sbb. sudut nol :  = 0o sudut lancip : 0o    90o sudut siku-siku: :  = 90o sudut tumpul : 90o    180o sudut lurus :  = 180o sudut refleks : 180o    360o

Matematika – SMA/MA/SMK | 270

Bidang datar berdasarkan sistem koordinat kartesian terbagi ke dalam 4 region/daerah: kuadran I, kuadran II, kuadran III, dan kuadran IV. Kuadran I Kuadran II Kuadran III Kuadran IV : : : : absis dan ordinat positif absis negatif, ordinat positif absis dan ordinat negatif absis positif, ordinat negatif
II III I IV

2. Perluasan definisi fungsi trigonometri dari perbandingan sisi-sisi segitiga siku-siku menjadi perbandingan absis, ordinat dan jari-jari. Beberapa pertanyaan penggugah:  Apakah perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku, dapat mendefinisikan fungsi trigonometri untuk sudut 90o?  Apakah perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku, juga dapat mendefinisikan fungsi trigonometri untuk sudut di atas 90o, misalnya kosinus dari 120o?  Dapatkah kita memperluas definisi fungsi trigonometri menggunakan cara lain (yang tidak bertentangan dengan definisi perbandingan trigonomeri pada segitiga siku-siku)? Jika titik sudut ditempatkan pada titik pusat sumbu koordinat kartesian dan salah satu kaki sudut berimpit dengan sumbu x positif, serta daerah interior sudut terletak pada kuadran I maka posisi yang demikian disebut posisi standar (baku) sudut tsb. Pada posisi standar maka perbandingan sisi-sisi pada segitiga siku-siku dapat diganti menjadi perbandingan absis, ordinat dan jari-jari. panjang sisi di depan sudut diganti menjadi ordinat panjang sisi di samping sudut diganti menjadi absis hipotenusa segitiga siku-siku diganti menjadi jari-jari Jadi, sin  = ordinat / jari-jari cos  = absis / jari-jari tan  = ordinat / absis c

b a

P(x,y) r

O
Matematika – SMA/MA/SMK | 271

b c a cos  = c b tan  = a

sin  =

y r x cos  = r y tan  = x

sin  =

3. Hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan nilai fungsi trigonometri di kuadran I. Jika pada posisi standar, salah satu kaki sudut berada di kuadran II maka sudut tsb kita namakan sudut di kuadran II. Pengertian yang sama untuk konsep sudut di kuadran II, dan sudut di kuadran IV.

Berdasarkan definisi fungsi trigonometri berdasarkan absis, ordinat dan jari-jari maka nilai fungsi trigonometri untuk sudut-sudut di kuadran II, II, dan IV sebagai berikut. Misalkan 0o    90o maka Kuadran II (sudut (180o   ) atau (90o +  ) di kuadran II) sin (180o   ) = sin  atau sin (90o +  ) = cos  cos (180o   ) = cos  atau cos (90o +  ) = sin  tan (180o   ) = tan  atau tan (90o +  ) = cot  Kuadran III (sudut (180o +  ) atau (270o   ) di kuadran III) sin (180o +  ) = sin  atau sin (270o   ) = cos  cos (180o +  ) = cos  atau cos (270o   ) = sin  tan (180o +  ) = tan  atau tan (270o   ) = cot  Kuadran IV (sudut (360o   ) di kuadran IV) sin (360o   ) = sin  atau sin (270o +  ) = cos  cos (360o   ) = cos  atau cos (270o +  ) = sin 
Matematika – SMA/MA/SMK | 272

tan (360o   ) = tan 

atau

tan (270o +  ) = cot 

Tampak bahwa  Pada kuadran II hanya nilai sinus yang positif, pada kuadran III hanya nilai tangen yang positif, dan pada kuadran IV hanya nilai kosinus yang positif.  Untuk relasi sudut yang jumlah atau selisihnya merupakan kelipatan 180 o maka jenis fungsi trigonometrinya tidak berubah.  Untuk relasi sudut yang jumlah atau selisihnya merupakan kelipatan 90 o maka jenis fungsi trigonometrinya berbeda saling komplementer. (sinus dengan kosinus, tangen dengan kotangen). F. Model/Metode Pembelajaran Pendekatan pembelajaran adalah pendekatan saintifik (scientific). Pembelajaran koperatif (cooperative learning) menggunakan kelompok diskusi yang berbasis masalah (problem-based learning).

G. Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Pendahuluan Deskripsi Kegiatan Alokasi Waktu

1. Guru memberikan gambaran tentang pentingnya 10 menit memahami Trigonometri dan memberikan gambaran tentang aplikasi Trigonometri dalam kehidupan seharihari. 2. Sebagai apersepsi untuk mendorong rasa ingin tahu dan berpikir kritis, siswa diajak memecahkan masalah mengenai bagaimana mendapatkan nilai sinus sudut 90 o dan nilai sinus sudut di atas 90o, misalnya 120o. (tidak terpecahkan bila menggunakan definisi menggunakan sisi-sisi pada segitiga siku-siku). 3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yaitu memperluas definisi fungsi trigonometri agar nilai fungsi trigonometri dapat diperoleh untuk besar sudut 0o, 90o, sudut tumpul dan sudut refleks. 1. Guru bertanya tentang bagaimana mengaitkan sisi-sisi 70 menit pada segitiga siku-siku dengan koordinat pada sumbu koordinat kartesius. 2. Bila siswa belum mampu menjawabnya, guru memberi scaffolding dengan mengingatkan siswa dengan sudut sebagai besar putaran. 3. Dengan tanya jawab, disimpulkan bahwa pada kuadran I, istilah panjang sisi di depan sudut dapat diganti
Matematika – SMA/MA/SMK | 273

Inti

4.

5.

6. 7.

8.

9.

10. 11.

12.

13. Penutup

ordinat, panjang sisi di samping sudut diganti absis, dan hipotenusa diganti jari-jari. Dengan tanya jawab, siswa diyakinkan bahwa definisi menggunakan absis, ordinat, dan jari-jari ini lebih luas dari pada definisi menggunakan sisi-sisi segitiga sikusiku. Selanjutnya, guru membuka cakrawala penerapan definisi fungsi yang diperluas itu untuk sudut yang sama atau lebih besar dari 90o, yaitu bila salah satu kaki sudut di kuadran II, III, atau IV. Dengan bantuan presentasi komputer, guru mengingatkan pengertian sudut di kuadran II, sudut di kuadran II, dan sudut di kuadran IV. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok dengan tiap kelompok terdiri atas 4 siswa. Tiap kelompok mendapat tugas untuk mendefinisikan fungsi-fungsi trigonometri untuk sudut di kuadran II atau III atau IV atau sudut negatif, serta menentukan hubungannya dengan fungsi trigonometri sudut di kuadran I. Tugas diselesaikan berdasarkan worksheet atau lembar kerja yang dibagikan. Selama siswa bekerja di dalam kelompok, guru memperhatikan dan mendorong semua siswa untuk terlibat diskusi, dan mengarahkan bila ada kelompok yang melenceng jauh pekerjaannya. Salah satu kelompok diskusi (tidak harus yang terbaik) diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas. Sementara kelompok lain, menanggapi dan menyempurnakan apa yang dipresentasikan. Guru mengumpulkan semua hasil diskusi tiap kelompok Dengan tanya jawab, guru mengarahkan semua siswa pada kesimpulan mengenai fungsi trigonometri di berbagai kuadran dan hubungannya dengan fungsi trigonometri di kuadran I, berdasarkan hasil reviu terhadap presentasi salah satu kelompok. Guru memberikan dua (2) soal yang terkait dengan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, atau IV. Dengan tanya jawab, siswa dan guru menyelesaikan kedua soal yang telah diberikan dengan menggunakan strategi yang tepat. Guru memberikan lima (5) soal untuk dikerjakan tiap siswa, dan dikumpulkan.

1. Siswa diminta menyimpulkan tentang bagaimana 10 menit menentukan nilai fungsi trigonometri sudut di berbagai kuadran. 2. Dengan bantuan presentasi komputer, guru menayangkan apa yang telah dipelajari dan disimpulkan mengenai nilai fungsi trigonometri untuk sudut di berbagai kuadran.
Matematika – SMA/MA/SMK | 274

Prosedur Penilaian: No 1. Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan untuk tetap belajar. Pengetahuan a. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran Penyelesaian tugas individu dan kelompok Matematika – SMA/MA/SMK | 275 . b. busur. dan jari-jari pada sumbu koordinat kartesius secara tepat. Penggaris. Guru memberikan tugas PR beberapa soal mengenai penerapan nilai fungsi di berbagai kuadran. Penilaian Hasil Belajar 1. jangkaWorksheet atau lembar kerja (siswa) 2. ordinat. Lembar penilaian 4. b. H. 4.3. Alat/Media/Sumber Pembelajaran 1. Teknik Penilaian: pengamatan. c. Menjelaskan kembali Pengamatan dan tes pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis. Sikap Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Pengamatan Waktu Penilaian Selama pembelajaran dan saat diskusi a. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok. tes tertulis 2. Bahan tayang 3. Video tentang lebah I. Toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. dan menggunakan simbol yang benar. Terlibat aktif dalam pembelajaran trigonometri. 2. sistematis.

hitunglah nilai dari [sin 321o + cos 0. Penyelesaian tugas (baik individu maupun kelompok) dan saat diskusi J. Pada sebuah permainan. lalu nyatakan pengertian fungsi secan untuk sudut tersebut! 2. Mula-mula Ari menghadap searah dengan arah jalan. tetapi juga proses pemecahan yang terutama meliputi pemahaman. Ari ditempatkan tepat di tengah-tengah sebuah gang yang bertembok tepat di tepi kiri dan kanannya. tidak saja memberi skor untuk jawaban akhir. Tentukanlah nilai dari sin 150o secara eksak (tidak menggunakan desimal) menggunakan sifat relasi sudut pada fungsi trigonometri! 3. Dengan menuliskan langkah-langkah yang jelas. Berapa tinggi gelombang suara Paus tsb untuk t = 120o? 5.7. berapa jarak yang ditempuh Ari jika kemudian ia berjalan lurus hingga menyentuh tembok gang? Catatan: Penyekoran bersifat holistik dan komprehensif. Setelah melalui studi yang mendalam. Keterampilan a. gelombang suara dari seekor ikan Paus akhirnya dapat digambarkan dengan suatu pendekatan menggunakan fungsi trigonometri sebagai berikut I(t) = 2.13 (rad)]. dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I secara tepat dan kreatif. tan 150 grad dengan menggunakan kalkulator saintifik. 3. III. Instrumen Penilaian Hasil belajar Tes tertulis 1. kemudian Ari diputar oleh temannya searah dengan arah perputaran jarum jam sebesar 660o. komunikasi matematis Matematika – SMA/MA/SMK | 276 .No Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Waktu Penilaian II.tan (2t) + cos t dengan t dalam derajat. Jika lebar gang adalah 4 meter. Gambarlah pada sebuah sumbu koordinat kartesian sebuah sudut pada kuadran III. 4. Terampil menerapkan Pengamatan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran.

(ketepatan penggunaan simbol dan istilah). serta ketepatan strategi memecahkan masalah. penalaran (logis). WORKSHEET (untuk tugas kelompok) Matematika – SMA/MA/SMK | 277 .

Sangat baik jika menunjukkan adanya usaha bekerjasama dalam kegiatan kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok tetapi masih belum ajeg/konsisten. 1. Sangat baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif secara terus menerus dan ajeg/konsisten. 2. Indikator sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. 3.LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP Mata Pelajaran Kelas/Semester Tahun Pelajaran Waktu Pengamatan : Matematika : X/2 : 2013/2014 : Indikator sikap aktif dalam pembelajaran trigonometri 1. 2. 1. 3. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian dalam menyelesaikan tugas kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten Indikator sikap bekerjasama dalam kegiatan kelompok. No Nama Siswa Aktif KB 1 2 3 4 Dhianika Rahma Nur Fadillah Galuh Lalita Mahaghora Muhammad Rasyid Alfaruqi Nur Endah Filaili B SB KB Sikap Bekerjasama B SB KB Toleran B SB Matematika – SMA/MA/SMK | 278 . Kurang baik jika sama sekali tidak bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. Kurang baik jika sama sekali tidak berusaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam pembelajaran 2. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha ambil bagian dalam pembelajaran tetapi belum ajeg/konsisten 3. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif tetapi masuih belum ajeg/konsisten. Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.

Shikarini Amirul P Arinta Destri Larasati Khanza Adzkia Vujira Joean Akbar Saputra Khansa Sitostra Tufana Arsy A. Bagaskara Adi Pamungkas Bram Yudhistira Hasna Amalia Faza Daniawan Dwi Nurrohman Devi Ristiyanti Nitya Sekar Tresnaningtyas Rafi Ibnu Ramadhan Ivan Akhir Julian Gasik Prawestri Intan Aringtyas Junaidi Muhammad Rafi Nurdiansyah Elvana Novita Candra Danuja Widigdaya Isnaeni Putri Nur Afifah Intan Putri Ristyaningrum Lisa Dewi Afrilita Gea Hanin Nisacita Rizki Kartika Angkasa Yudha Putri Adipertiwi A-Bach Keterangan: KB B SB : Kurang baik : Baik : Sangat baik Matematika – SMA/MA/SMK | 279 . Aj.5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Zerarita Amalia Ramadhani Febrian Anggoro Widiyanto Rizky Rachmadewi Elvan Saffria Charta R.

LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN KETERAMPILAN Mata Pelajaran Kelas/Semester Tahun Pelajaran Waktu Pengamatan : Matematika : X/2 : 2013/2014 : Indikator terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. Sangat terampill. Aj. No Nama Siswa Keterampilan Menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah KT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Dhianika Rahma Nur Fadillah Galuh Lalita Mahaghora Muhammad Rasyid Alfaruqi Nur Endah Filaili Zerarita Amalia Ramadhani Febrian Anggoro Widiyanto Rizky Rachmadewi Elvan Saffria Charta R. 3. 1. Bagaskara Adi Pamungkas T ST Matematika – SMA/MA/SMK | 280 . jika menunjukkan adanya usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran dan sudah tepat. Shikarini Amirul P Arinta Destri Larasati Khanza Adzkia Vujira Joean Akbar Saputra Khansa Sitostra Tufana Arsy A. Kurang terampil jika sama sekali tidak dapat menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran 2. Terampil jika menunjukkan sudah ada usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran tetapi belum tepat. Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.

15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Bram Yudhistira Hasna Amalia Faza Daniawan Dwi Nurrohman Devi Ristiyanti Nitya Sekar Tresnaningtyas Rafi Ibnu Ramadhan Ivan Akhir Julian Gasik Prawestri Intan Aringtyas Junaidi Muhammad Rafi Nurdiansyah Elvana Novita Candra Danuja Widigdaya Isnaeni Putri Nur Afifah Intan Putri Ristyaningrum Lisa Dewi Afrilita Gea Hanin Nisacita Rizki Kartika Angkasa Yudha Putri Adipertiwi A-Bach Keterangan: KT T ST : Kurang terampil : Terampil : Sangat terampil Matematika – SMA/MA/SMK | 281 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 282 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 283 .

kelas. 2. C. B. jumlah pertemuan. 2. Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 2. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Hasil Penelaahan dan Skor 1 Tidak Ada 2 Kurang Lengkap 3 Sudah Lengkap Catatan A 1. Kesesuaian penggunaan kata kerja operasional dengan kompetensi yang diukur. 1. Perumusan Indikator Kesesuaian dengan SKL.3.LK .2 LEMBAR KERJA PENELAAHAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Identitas RPP yang ditelaah: ………………………………… Berilah tanda cek ( V) pada kolom skor (1. pengetahuan. 1. Kesesuaian dengan kompetensi dasar. D. 3 ) sesuai dengan kriteria yang tertera pada kolom tersebut! Berikan catatan atau saran untuk perbaikan RPP sesuai penilaian Anda! No.1/3. dan keterampilan. semester. Kesesuaian dengan aspek sikap. 2. 1. Pemilihan Materi Ajar Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. program/program keahlian. Identitas Mata Pelajaran Satuan pendidikan. mata pelajaran atau tema pelajaran.KI dan KD. Perumusan Tujuan Pembelajaran Kesesuaian dengan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai. Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Matematika – SMA/MA/SMK | 284 . Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 3.

Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. Penilaian Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 3. Kesesuaian alokasi waktu dengan cakupan materi. 3. Kesesuaian dengan materi pembelajaran dan pendekatan scientific. Kesesuaian dengan materi pembelajaran dan pendekatan scientific. 1. G. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Hasil Penelaahan dan Skor 2 3 Catatan 3. 1. 2. 1. Pemilihan Media Belajar Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran. dan penutup dengan jelas. 3. 4. Model Pembelajaran Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran. Matematika – SMA/MA/SMK | 285 . 2. Kesesuaian dengan pendekatan Scientific. 2. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. Kesesuaian penyajian dengan sistematika materi. 1. inti. Skenario Pembelajaran Menampilkan kegiatan pendahuluan. E. I. Kesesuaian dengan alokasi waktu.No. H. Pemilihan Sumber Belajar Kesesuaian dengan KI dan KD. 2. Kesesuaian kegiatan dengan pendekatan scientific. F.

............. Jumlah 2................ Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Hasil Penelaahan dan Skor 2 3 Catatan 1........................ 4............................................................................. Komentar terhadap RPP secara umum....... ...........................................................No..... Kesesuaian dengan teknik dan bentuk penilaian autentik......... .............. Kesesuaian dengan dengan indikator pencapaian kompetensi................................................. Matematika – SMA/MA/SMK | 286 ................................. Kesesuaian kunci jawaban dengan soal........................ 3.... Kesesuaian pedoman penskoran dengan soal.

Selanjutnya nilai RPP dimasukkan ke dalam nilai portofolio peserta. Cermati format penilaian RPP dan RPP yang akan dinilai! 2. jumlahkan skor seluruh komponen! 5.2 RUBRIK PENILAIAN TELAAH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Rubrik penilaian RPP digunakan fasilitator untuk menilai RPP peserta yang digunakan peerteaching. 1. Setelah selesai penilaian.1/3. Tentukan nilai RPP menggunakan rumus sbb: Skor yang diperoleh PERINGKAT Amat Baik ( AB) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 ≤ A ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 75 < 60 Matematika – SMA/MA/SMK | 287 . Berikan nilai setiap komponen RPP dengan cara membubuhkan tanda cek (√) pada kolom pilihan skor (1 ).R-3. (2) dan (3) sesuai dengan penilaian Anda terhadap RPP tersebut! 3. Berikan catatan khusus atau saran perbaikan setiap komponen RPP jika diperlukan! 4. Langkah-langkah penilaian RPP sebagai berikut.

3/3.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Langkah Kegiatan Inti Diskusi dan Tanya jawab Kerja Kelompok Kerja Kelompok Presentasi Merangkum dan Refleksi 40 Menit 30 Menit 25 Menit 20 Menit 20 Menit Diskusi dan tanya jawab tentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes termasuk portofolio. dilanjutkan dengan Pemaparan materi oleh fasilitator tentang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.3/3.2 dan Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP dengan menggunakan PPT-3. Membuat rangkuman materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran.3/3. Kerja kelompok untuk merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun.2.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.2 dan Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP dengan menggunakan PPT-3. Presentasi hasil kerja kelompok. Matematika – SMA/MA/SMK | 288 . Kerja kelompok untuk menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran yang terdapat dalam HO-2.Materi Pelatihan : 3. Bahan Tayang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2.2-2. Fasilitator menutup pembelajaran. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.

Matematika – SMA/MA/SMK | 289 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 290 .

MATERI PELATIHAN 4 : PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING (24 JP) 4.2 Peer Teaching Matematika – SMA/MA/SMK | 291 .1 Simulasi Pembelajaran 4.

maupun. emosional. 7. 5. menalar.MATERI PELATIHAN 4: PRAKTEK PEMBELAJARAN TERBIMBING (24 JP) A. 3. Garis besar instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran. 4. sosial. 6. intelektual. Strategi Pengamatan tayangan video. 2. mencoba. moral. menanya. emosional. PERANGKAT PELATIHAN 1. Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran. kultural. menyaji. Bahan Tayang a. c. Merevisi RPP sehingga menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik untuk kegiatan peer teaching. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. Menganalisis simulasi pembelajaran melalui tayangan video pembelajaran. KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN 1. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. Matematika – SMA/MA/SMK | 292 . menalar. maupun. kultural. dan melaksanakan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. mengkaji pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. mengolah. LINGKUP MATERI 1. intelektual. Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching. menyaji. mencoba. b. B. 2. Menilai pelaksanaan peer teaching peserta lain. Melaksanakan peer teaching pembelajaranyang menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik. Menyimpulkan alur pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik. D. menanya. mengolah. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. Simulasi Pembelajaran Peer Teaching C. sosial. Panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran. 2. moral.

Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (Alat Penilaian Kinerja Guru). ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 293 . Lembar Kerja a. b.2. 3. Analisis pembelajaran pada tayangan video.

PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING 22 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. 360 Menit 20 Menit 20 Menit 60 Menit 30 Menit 135 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 294 .SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 4.1. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. Mengkonfirmasi penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik mengacu pada tayangan video pembelajaran Kerja kelompok untuk merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran. atau media pembelajaran lainnya. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN WAKTU Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. KEGIATAN INTI 4. Active Speaker. tujuan. semangat. kompetensi. alokasi waktu. 15 Menit KEGIATAN Pengkondisian Peserta PENDAHULUAN Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Praktik Pembelajaran Terbimbing. serius.1 Simulasi Pembelajaran Pemaparan Strategi Pengamatan Video Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT-4.1/4.1 oleh fasilitator. Penayangan video pembelajaran Matematika dengan menggunakan V-2. mengajak berdinamika agar saling mengenal. Laptop. Fasilitator memotivasi peserta. File. indikator. seperti LCD Projector.1. Kerja kelompok untuk menganalisis tayangan video pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik dengan menggunakan LK -4. dan Laser Pointer.

4. Menilai kegiatan peer teaching menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan LK-4. untuk setiap peserta 30 menit dipandu fasilitator.2. Persiapan peer teaching.1 Paparan oleh fasilitator tentang Garis Besar Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan PPT-4.2. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.2. Refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching. Fasilitator menutup pembelajaran. Praktik peer teaching pembelajaran Matematika secara individual.2. ICE BREAKER 4.Presentasi contoh RPP yang akan digunakan dalam kegiatan peer teaching.2 Peer Teaching Paparan oleh fasilitator tentang Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran melalui peer teaching dengan menggunakan PPT. 90 Menit 5 Menit 600 Menit 20 Menit 20 Menit 20 Menit 510 Menit 30 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 295 . Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Praktik Pembelajaran Terbimbing.

1 Simulasi Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Paparan Tayangan Video Kerja Kelompok 20 Menit 20 Menit 60 Menit Presentasi Kerja Kelompok Menyimpulkan 90 Menit 135 Menit 30 Menit Pemaparan Strategi Pengamatan Video Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT4. Matematika – SMA/MA/SMK | 296 .1.1 oleh fasilitator. Kerja kelompok untuk menganalisis tayangan video pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik dengan menggunakan LK 4. Menyimpulkan alur pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik. Penayangan video pembelajaran dengan menggunakan V-2.Materi Pelatihan : 4. Kerja kelompok untuk merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran.1/4.1. Presentasi contoh RPP yang akan digunakan dalam kegiatan peer teaching.

Matematika – SMA/MA/SMK | 297 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 298 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 299 .

.............. : ..... d Mengajak peserta didik berdinamika/melakukan sesuatu kegiatan yang terkait dengan materi. c... Kemampuan menyesuaikan materi dengan tujuan pembelajaran. Asal Sekolah 3............ a.... Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang diintegrasikan secara relevandengan perkembangan Iptek dankehidupan nyata .. dari konkrit ke abstrak) Guru menerapkan strategi pembelajaran yang mendidik... Kegiatan Inti Guru menguasai materi yang diajarkan............. Nama Peserta 2.............. b Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik dalam perjalanan menuju sekolah atau dengan tema sebelumnya.. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai...... : . a...... d... c........ Ya Tidak Catatan Matematika – SMA/MA/SMK | 300 ............. a Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran.......... Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual............. Tema : .... Mata Pelajaran 3.... b................ Melaksanakan pembelajaran secara runtut...... Aspek yang Diamati Kegiatan Pendahuluan Melakukan apersepsi dan motivasi........1 LEMBAR KERJA ANALISIS PEMBELAJARAN DALAM TAYANGAN VIDEO PEMBELAJARAN 1...... Menyajikan materi dalam tema secara sistematis dan gradual (dari yang mudah ke sulit... : .... c Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitan dengan tema yang akan dibelajarkan............LK ....4...... b.. Menguasai kelas dengan baik...

Guru menerapkan pendekatan scientific. Matematika – SMA/MA/SMK | 301 . Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media pembelajaran. peserta didik. Ya Tidak Catatan a b c a. b. a. a b c d f Memberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana. Mengamati sikap dan perilaku peserta didik dalam mengikuti pelajaran. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. perilaku dan keterampilan peserta didik. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengamati. d. sumber belajar. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif. Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect).Aspek yang Diamati e. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar pembelajaran. Guru memicu dan/atau memelihara keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. Menghasilkan pesan yang menarik. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan menganalisis. e. Memancing peserta didik untuk peserta didik bertanya. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengkomunikasikan. c. c. Mendokumentasikan hasil pengamatan skap. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran. Menumbuhkan keceriaan dan antusisme peserta didik dalam belajar. Guru memanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran. Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru. f. Guru melaksanakan penilaian autentik. Melakukan penilaian keterampilan peserta didik dalam melakukan aktifitas individu/kelompok. b. e. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar pembelajaran. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik. d. Merespon positif partisipasi peserta didik.

b. Ya Tidak Catatan b. Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai. Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan. atau kegiatan. atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik. Matematika – SMA/MA/SMK | 302 . Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar. Penutup Pembelajaran Guru mengakhiri pembelajaran dengan efektif a.a. Aspek yang Diamati Guru menggunakan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar. c.

Menunjukkansikapantusias.R . Mendeskripsikansetiap item padalembarkerjaanalisis Lembarkerjaanali proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar sispembelajaran yang disajikandalamtayangan video denganjelas. kegiatan inti. bersungguhsungguhdenganpenuh rasa ingintahu danaktifdalamberdiskusi. (15-30) Mendeskripsikansetiap item padalembarkerjaanalisis proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar yang disajikandalamtayangan video denganjelas.30 21 . dalam Video lengkapdanbenar. teliti.1 RUBRIK PENILAIAN HASIL ANALISIS PEMBELAJARAN PADA TAYANGAN VIDEO NAMA PESERTA DIKLAT KELAS/ TANGGAL PENILAIAN Aspek Pengamatan Video (15-30) :………………………………………………………….. kegiatan inti.25 Matematika – SMA/MA/SMK | 303 .4. bersungguhgamati sungguhdenganpenuh rasa ingintahu yang (5-15) disertaidenganpolaberpikiranalitikdalammengamatida nberdiskusi. teliti.20 25 .. dan kegiatan penutup dengan lengkap dan terinci yang disertai contoh kongkret hasil pengamatan.11 5-7 21 . dan kegiatan penutup namun tidaklengkap. Menunjukkansikapantusias. teliti. dan kegiatan penutup dengan lengkap namun kurang terinci. Sikapselamamen Menunjukkansikapantusias. Komentardan Simpulan (10-25) Memberikankomentar yang faktual dan terstruktur sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran yang terdiri dari pengalaman yang dapat diambil dari tayangan video dan kesimpulan.24 15 . Kriteria Rentangan Nilai 25 .20 12 . Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal. :…………………………………………………………. :…………………………………………………………. bersungguhsungguhdenganpenuh rasa ingintahu saja.15 8 .24 15 . Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal. Hanyamenandaisetiap item padalembarkerjaanalisis proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar yang disajikandalamtayangan video.. 21 . kegiatan inti.30 Nilai Peserta Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal.

. (.. 2013 Fasilitator............ Rentangan Nilai Nilai Peserta 16 -20 10 -15 100 JUMLAH ………………............……………..Aspek Kriteria Memberikan komentar yang faktual dan terstruktur sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran yang terdiri dari pengalaman yang dapat diambil daritayangan video... ……….. Memberikan komentar sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran..................) Matematika – SMA/MA/SMK | 304 ....

Persiapan peer teaching.4.2.2-2. Menilai kegiatan peer teachingoleh fasilitator dengan menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran LK-4.2 Peer Teaching Langkah Kegiatan Inti Paparan Panduan Paparan Instrumen Penilaian Persiapan Peer Teaching 20 Menit 20 Menit 20 Menit Refleksi Praktik Peer Teaching 30 Menit 510 Menit Paparan oleh fasilitator tentang Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran melalui peer teaching dengan menggunakan PPT. Praktik peer teaching pembelajaran secara individual.Materi Pelatihan : 4. Paparan oleh fasilitator tentang Garis Besar Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan PPT-4. Matematika – SMA/MA/SMK | 305 .2-1. Refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching. untuk setiap peserta 30 menit dipandu fasilitator.

Matematika – SMA/MA/SMK | 306 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 307 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 308 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 309 .

4........... 3 4 Melaksanakan pembelajaran secara runtut...... : ................... 2 Menyampaikan rencana kegiatan misalnya. elaborasi dan konfirmasi....2 LEMBAR KERJA INSTRUMEN PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 1...... Menyajikan materi secara sistematis (mudah ke sulit... 2 Mengajukan pertanyaan menantang......... Asal Sekolah 3.. 4 Mendemonstrasikan sesuatu yang terkait dengan materi pembelajaran.. Nama Peserta 2......... Penyampaian Kompetensi dan Rencana Kegiatan 1 Menyampaikan kemampuan yang akan dicapai peserta didik........... 2 Menfasilitasi kegiatan yang memuat komponen eksplorasi. dan melakukan observasi.. dari konkrit ke abstrak) Penerapan Strategi Pembelajaran yang Mendidik 1 Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.... Ya Tidak Catatan Aspek yang Diamati Kegiatan Pendahuluan Apersepsi dan Motivasi 1 Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik atau pembelajaran sebelumnya.. Topik : ..... 3 Menyampaikan manfaat materi pembelajaran.................LK ....... kerja kelompok... perkembangan iptek ... Kegiatan Inti Penguasaan Materi Pelajaran 1 2 3 4 Kemampuan menyesuiakan materi dengan tujuan pembelajaran... Matematika – SMA/MA/SMK | 310 . Menguasai kelas.............. individual....... Menyajikan pembahasan materi pembelajaran dengan tepat..... Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan. dan kehidupan nyata... : ............

Kegiatan Penutup Penutup pembelajaran Matematika – SMA/MA/SMK | 311 . Memberikan pertanyaan peserta didik untuk menalar (proses berfikir yang logis dan sistematis). Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif. Merespon positif partisipasi peserta didik.Aspek yang Diamati 5 Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk berkomunikasi. Memfasilitasi peserta didik untuk menganalisis. Menghasilkan pesan yang menarik. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran. sumber belajar. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik. Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar pembelajaran. Memancing peserta didik untuk bertanya. Memfasilitasi peserta didik untuk mengamati. Ya Tidak Catatan Penerapan Pendekatan scientific 1 2 3 4 5 6 7 Pemanfaatan Sumber Belajar/Media dalam Pembelajaran 1 2 3 4 5 Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar pembelajaran. Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar. Pelibatan Peserta Didik dalam Pembelajaran 1 2 3 4 5 Penggunaan Bahasa yang Benar dan Tepat dalam Pembelajaran 1 2 Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar. Memfasilitasi peserta didik untuk mencoba. Menumbuhkan keceriaan atau antuisme peserta didik dalam belajar. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media pembelajaran. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. 6 7 Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect). Memberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana. peserta didik.

Memberikan tes lisan atau tulisan . Mengumpulkan hasil kerja sebagai bahan portofolio.Aspek yang Diamati 1 2 3 4 Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik. Jumlah Ya Tidak Catatan Matematika – SMA/MA/SMK | 312 . Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan kegiatan berikutnya dan tugas pengayaan.

4. 4. 3. Langkah Kegiatan 1. Selanjutnya nilai PeerTeaching dimasukkan ke dalam nilai portofolio peserta.2 RUBRIK PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Rubrik Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran ini digunakan fasilitator untuk menilai kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran pada saat Peer Teaching. 2.R . Berikan tanda cek (√) pada kolom pilihan YA atau TIDAK sesuai dengan penilaian Anda terhadap penyajian guru pada saat pelaksanaan pembelajaran! Berikan catatan khusus atau saran perbaikan pelaksanaan pembelajaran! Hitung jumlah nilai YA dan TIDAK ! Tentukan Nilai menggunakan rumus berikut ini! PERINGKAT Amat Baik ( A) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 < AB ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 75 < 60 Matematika – SMA/MA/SMK | 313 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful