SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

MATERI PELATIHAN GURU
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 SMA

MATEMATIKA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2013
Pendahuluan | i

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

Diterbitkan oleh: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2013

Copyright © 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pendahuluan | ii

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt, Kurikulum 2013 secara terbatas mulai dilaksanakan tahun 2013 pada sekolah-sekolah yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan secara selektif. Kurikulum 2013 merupakan pengembangan dari kurikulum sebelumnya untuk merespon berbagai tantangan tantangan internal dan eksternal. Titik tekan pengembangan Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan. Pengembangan kurikulum menjadi amat penting sejalan dengan kontinuitas kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya serta perubahan masyarakat pada tataran lokal, nasional, regional, dan global di masa depan. Aneka kemajuan dan perubahan itu melahirkan tantangan internal dan eksternal yang di bidang pendidikan pendidikan. Karena itu, implementasi Kurikulum 2013 merupakan langkah strategis dalam menghadapi globalisasi dan tuntutan masyarakat Indonesia masa depan. Pengembangan Kurikulum 2013 dilaksanakan atas dasar beberapa prinsip utama. Pertama, standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan. Kedua, standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran. Ketiga, semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Keempat, mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai. Kelima, semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti. Keenam, keselarasan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian. Aplikasi yang taat asas dari prinsip-prinsip ini menjadi sangat esensial dalam mewujudkan keberhasilan implementasi Kurikulum 2013.

Mudah-mudahan implementasi Kurikulum 2013 ini bisa berjalan dengan baik. Akhirnya, kepada semua pihak yang telah mendedikasikan dirinya dalam mempersiapkan Kurikulum 2013, saya mengucaplkan banyak terima kasih. Semoga bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa Indonesia.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Muhammad Nuh

Pendahuluan | iii

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya Modul Bahan Ajar Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Modul bahan ajar ini merupakan bahan ajar wajib dalam rangka pelatihan calon instruktur, guru inti, dan guru untuk memahami Kurikulum 2013 dan kemudian dalam proses pembelajaran di sekolah. Kurikulum 2013 ini diberlakukan secara bertahap mulai tahun ajaran 2013-2014 melalui pelaksanaan terbatas, khususnya bagi sekolah-sekolah yang sudah siap melaksanakannya. Pada Tahun Ajaran 2013/2014, Kurikulum 2013 dilaksanakan secara terbatas untuk Kelas I dan IV Sekolah Dasar/Madrasah Ibtida’iyah (SD/MI), Kelas VII Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Kelas X Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah (SMA/SMK/MA/MAK). Pada Tahun Ajaran 2015/2016 diharapkan Kurikulum 2013 telah dilaksanakan di seluruh kelas I sampai dengan Kelas XII. Menjelang implementasi Kurikulum 2013, penyiapan tenaga guru dan tenaga kependidikan lainnya sebagai pelaksana kurikulum di lapangan perlu dilakukan. Sehubungan dengan itu, Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP), telah menyiapkan strategi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas. Pada tahun 2013 pelatihan akan dilakukan bagi pengawas SD/SMP/SMA/SMK, kepala sekolah SD/SMP/SMA/SMK, dan guru Kelas I dan IV SD, guru Kelas VII SMP untuk 9 mata pelajaran, dan guru Kelas X SMA/SMK untuk 3 mata pelajaran. Guna menjamin kualitas pelatihan tersebut, maka BPSDMPK dan PMP telah menyiapkan 14 Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, sesuai dengan kelas, mata pelajaran, dan jenjang pendidikan. Modul ini diharapkan dapat membantu semua pihak menjalankan tugas dalam Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Saya mengucpkan terima kasih dan penghargaan atas partisipasi aktif kepada pejabat dan staf di jajaran BPSDMPK dan PMP, dosen perguruan tinggi, konsultan, widyaiswara, pengawas, kepala sekolah, dan guru yang terlibat di dalam penyusunan modul-modul tersebut di atas.

Jakarta, Juni 2013 Kepala Badan PSDMPK-PMP

Syawal Gultom NIP. 19620203 198703 1 002

Pendahuluan | iv

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

DAFTAR ISI

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAGIAN I PENDAHULUAN A. Tujuan Umum Pelatihan B. Indikator Umum Ketercapaian Tujuan C. Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai D. Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan E. Tahapan, Nara Sumber, dan Peserta Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, untuk Guru, Kepala Sekolah, F. dan Pengawas G. Penilaian H. Panduan Narasumber dan Fasilitator I. Kode Etik Narasumber J. Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013

iii iv v 1 2 2 3 3 3 5 6 6 7 8 10 11 13 15 19 25 29 32 33 34 34 34 34 35 59 60 60 60 61 62 64 93 105

Sistematika Modul BAGIAN II SILABUS PELATIHAN A. Silabus Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset B. Silabus Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013 C. Silabus Materi Pelatihan 2: Analisis Materi Ajar D. Silabus Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran E. Silabus Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing BAGIAN III MATERI PELATIHAN MATERI PELATIHAN 0: PERUBAHAN MINDSET A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D Perangkat pelatihan Skenario kegiatan Bahan tayang MATERI PELATIHAN 1 : KONSEP KURIKULUM 2013 A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 1.1 Rasional Kurikulum 1.2 Elemen Perubahan Kurikulum 1.3 SKL, KI, dan KD
K.

Pendahuluan | v

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

1.4 Strategi Implementasi Kurikulum MATERI PELATIHAN 2 : ANALISIS MATERI AJAR A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 2.1 Konsep Pendekatan Scientific 2.2 Model Pembelajaran 2.3 Konsep Penilaian Autentik pada Pembelajaran 2.4 Analisis Buku Guru dan Siswa MATERI PELATIHAN 3 : MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 3.1 Penyusunan RPP 3.2 Perancangan Penilaian Autentik MATERI PELATIHAN 4 : PRAKTEK PEMBELAJARAN TERBIMBING A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Kompetensi Peserta Pelatihan D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 4.1 Simulasi Pembelajaran 4.2 Peer Teaching

127 131 132 132 132 133 134 137 171 222 246 259 260 260 260 260 261 263 280 291 292 292 292 292 294 295 304

Pendahuluan | vi

4 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar 2. Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran 1. D. Program Pendampingan BAGIAN 3: MATERI PELATIHAN Pendahuluan | vii .2 Peer Teaching F. C.1 Rasional 1. dan Peserta Pelatihan Struktur Pelatihan Penilaian Panduan Narasumber dan Fasilitator Kode Etik Narasumber Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Sistematika Materi Pelatihan Silabus Perubahan Mindset Silabus Konsep Kurikulum 2013 Silabus Analisis Materi Ajar Silabus Model Rancangan Pembelajaran Silabus Praktik Pembelajaran Terbimbing BAGIAN 2: SILABUS A. I.3 Model Pembelajaran 2. KD 1. Narasumber.1 Simulasi Pembelajaran 4. G. Materi Pelatihan 2: Analisis Materi Ajar 2. E.5 Analisis Buku Guru dan Buku SIswa D. K. B.2 Konsep Pendekatan Scientific 2. C. B. Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing 4.4 Strategi Implementasi C.1 Penyusunan RPP 1.1 Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu 2. H. KI.3 SKL. E. Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013 1.2 Elemen Perubahan 1. Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset B. A. D. F.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar E. J.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 GAMBARAN STRUKTUR MATERI PELATIHAN GURU IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGIAN 1: PENDAHULUAN A. Tujuan Umum Pelatihan Indikator Umum KetercapaianTujuan Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan Tahapan.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN I PENDAHULUAN Matematika – SMA/MA/SMK | 1 .

dan kebijakan sekolah. (3) Panduan Narasumber. X mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan. Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP) telah menetapkan jenjang atau tahapan pelatihan. dan penilaian Kurikulum 2013. isi. B. Guru mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan. Instruktur Nasional. dan penilaian Kurikulum 2013. Kepala sekolah mampu mengerahkan sumber daya yang dimiliki dalam rangka menjamin keterlaksanaan implementasi Kurikulum 2013. Indikator Umum Ketercapaian Tujuan Hasil monitoring dan evaluasi implementasi Kurikulum 2013 pada akhir Tahun Ajaran 2013/2014. proses pembelajaran. Matematika – SMA/MA/SMK | 2 . IV. isi. (2) Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. lembar kerja/worksheet. VII. Modul ini memberi panduan bagi para pengguna mengenai (1) Tahapan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Bahan/Materi Pelatihan yang dimaksud meliputi hand-out. 3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN I PENDAHULUAN Modul Pelatihan ini disiapkan untuk digunakan para Narasumber Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 sesuai dengan kelas. menunjukkan di bawah ini. Guru Inti. Kepala Sekolah Inti. sumber daya manusia. dan struktur pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 untuk tahun kalender 2013. Pengawas sekolah mampu memberikan bantuan teknis secara benar kepada sekolah dalam mengatasi hambatan selama implementasi Kurikulum 2013. sarana. proses pembelajaran. 2. bahan tayang baik dalam bentuk slide power point maupun rekaman video. Sesuai dengan Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. sasaran pelatihan. 2. A. (5) Bahan/Materi Pelatihan untuk masing-masing Mata Pelatihan. 1. 3. Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013 mendapatkan bantuan secara benar dari pengawas sekolah selama implementasi Kurikulum 2013. 1. Tujuan Umum Pelatihan Tujuan Umum Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 adalah sebagai berikut. (4) Panduan Penilaian. Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013 tidak mengalami hambatan biaya. mata pelajaran dan jenjang pendidikan. dan Pengawas Sekolah Inti. Narasumber yang dimaksudkan adalah Narasumber Nasional. Tujuh puluh persen (70%) guru kelas I.

selama 1 semester. Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai Berdasarkan Indikator Ketercapaian Tujuan. 2. selama 1 semester. 6. Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan pendekatan Scientific secara benar. 4. elemen perubahan. Kompetensi Inti (KI). maka pelatihan ini menerapkan strategi pelatihan bertahap atau berjenjang. Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. Project Based Learning. 1. Analisis SKL. KI. selama 1 semester. Contoh instrumen penilaian untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. Mengingat jumlah sasaran akhir pelatihan sangat besar dan sebaran sasaran akhir pelatihan sangat luas. Contoh RPP untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. Tahapan. 5. dan Buku Siswa. 8. kepala sekolah. KI dan KD. Memiliki keterampilan menganalisis keterkaitan antara Standar Kompetensi Kelulusan (SKL). dan pengawas sekolah mampu mewujudkan hasil kerja secara kolektif berikut ini. selama 1 semester. benar. E. Buku Guru. Tahapan atau Matematika – SMA/MA/SMK | 3 . dan santun. Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan Setelah selesai mengikuti pelatihan. dan Discovery Learning. 3. dan Peserta Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Sasaran akhir dari pelatihan ini adalah guru. 4. 2. D. 3. 7. Memiliki keterampilan berkomunikasi lisan dan tulis dengan runtut. Analisis buku siswa dan buku guru untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013. Memiliki pemahaman yang mendalam tentang Kurikulum 2013 (rasional.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 C. Narasumber. serta strategi implementasi). maka berikut ini kompetensi inti yang harus dicapai peserta setelah mengikuti pelatihan. Memiliki keterampilan menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP) dengan mengacu pada Kurikulum 2013. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013. 9. 1. kepala sekolah dan pengawas. Kompetensi Dasar (KD). Memiliki keterampilan melaksanakan penilaian autentik dengan benar. KD untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. guru. SKL.

Pelatihan Kepala sekolah. dan Pelatihan Pengawas. Pelatihan Pengawas Inti. Matematika – SMA/MA/SMK | 4 . Tingkat Provinsi. Diagram tersebut menunjukan terdapat 3 tahap pelatihan yaitu:Pelatihan Tingkat Nasional. Tahapan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Tahapan pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 dapat dilihat pada diagram 1 di atas. narasumber yang akan bertugas. Pelatihan Kepala Sekolah Inti.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 jenjang pelatihan. Secara keseluruhan terdapat 7 jenis pelatihan. dan Tingkat Kabupaten/Kota. serta sasaran peserta dapat dijelaskan pada diagram berikut ini. Pelatihan Guru Kelas/ Mapel. Pelatihan Guru Inti. yakni: Pelatihan Instruktur Nasional. Narasumber: Narasumber Nasional PELATIHAN INSTRUKTUR NASIONAL Peserta: Instruktur Nasional Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN GURU INTI Peserta: Guru Inti Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN KEPALA SEKOLAH INTI Peserta: Kepala Sekolah Inti Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN PENGAWAS INTI Peserta: Pengawas Inti Narasumber: Guru Inti PELATIHAN GURU KELAS/MAPEL Peserta: Guru Kelas/Mapel/BK Narasumber: Kepala Sekolah Inti PELATIHAN KEPALA SEKOLAH Peserta: Kepala Sekolah Narasumber: Pengawas Inti PELATIHAN PENGAWAS Peserta: Pengawas Diagram 1.

5 0. Kecukupan. 1. Kepala Sekolah. 3. Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013.5 6 6 4 4 6 6 3.4 Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian.3 2.2 2. dan Pengawas Sekolah SD/MI No MateriPelatihan Kelas I 0. 4.5 0.3 1.5 2 1 IPS 2 4 0.5 0.1 ANALISIS MATERI AJAR Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu Konsep Pembelajaran IPA Terpadu Konsep Pembelajaran IPS Terpadu 12 2 12 2 12 12 12 12 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2.4 PERUBAHAN MINDSET KONSEP KURIKULUM 2013 Rasional Elemen Perubahan SKL.5 2 1 Lainnya 2 4 0.2 MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN Penyusunan RPP Perancangan Penilaian Autentik 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 4.5 2 1 IPA 2 4 0.5 2 1 Kelas IV 2 4 0. 2. dan PengawasSekolah Tabel 1: Struktur Pelatihan Guru. KI dan KD Strategi Implementasi 2 4 0.1 3. 1.2 1.5 0.5 0.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 F. untuk Guru.5 2 1 2.5 2 1 SMP/MTs SMA/SMK /MA 2 4 0. Kepala Sekolah. dan Kedalaman Materi) 2.5 0.1 1.1 PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING Simulasi Pembelajaran 22 8 22 8 22 8 22 8 22 8 22 8 Matematika – SMA/MA/SMK | 5 .

dan melakukan penilaian kepada peserta. tes awal.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 4. panitia pelatihan akan mengumumkan hasil penilaian peserta. dan pengamatan. tes akhir.2 Peer Teaching 14 14 14 14 14 14 PENDAMPINGAN 2 2 2 2 2 2 TES AWAL DAN TES AKHIR 2 2 2 2 2 2 TOTAL 52 52 52 52 52 52 G. H. keterampilan Penilaian autentik diterapkan di dalam pelatihan ini. Matematika – SMA/MA/SMK | 6 . Beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang narasumber adalah berikut ini. Setiap calon instruktur nasional. Metode penilaian yang diterapkan di dalam penilaian ini meliputi: 1. sikap 2. 4. 1. Ketika seorang narasumber bertugas memberikan materi pelatihan. pengetahuan. Narasumber membagi tugas secara bersama-sama dengan prinsip keadilan. 2. guru inti. Penilaian meliputi tiga ranah yaitu: 1. Memahami isi modul sesuai bidang yang ditugaskan. 3. maka narasumber lainnya berperan sebagai fasilitator yang membantu dalam menyiapkan perangkat pelatihan. portofolio. dan pengawas inti dinyatakan lulus apabila mencapai nilai 75 dan memiliki kewenangan untuk melatih. dan 3. kepala sekolah inti. Jumlah narasumber yang akan bertugas sebanyak 3 (tiga) orang selama proses pelatihan. memberikan penjelasan tambahan. Panduan Narasumber dan Fasilitator Narasumber memainkan peran yang sangat penting untuk menjadikan suatu pelatihan yang menarik dan menyenangkan. Penilaian Seusai pelatihan.

Menyiapkan alat. baik dalam hal disiplin. Mencatat kehadiran peserta sebagai bagian dari bahan penilaian. 7. Menjawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabnya. 9. dan keterampilan. 3. dan sebagainya. Memanggil nama peserta untuk mengurangi ketegangan. 4. tetapi wajib melibatkan peserta secara aktif dalam mencari. tes akhir. 6. dan penilaian proses. berperilaku. c. yang pendiam. 5. 5. pengetahuan. Menghindari hal-hal berikut ini. 2. Memberikan contoh panutan bagi peserta. Matematika – SMA/MA/SMK | 7 . e. yang meliputi ranah sikap. Menyerahkan laporan tertulis setiap selesai melakukan pelatihan. Berperan sebagai orang yang serba tahu. a. b. Menjawab pertanyaan yang tidak dipahami maksudnya. Mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab peserta sesering mungkin (jangan pertanyaan yang sulit dijawab atau terlalu mudah dijawab peserta). sumber. Membagi bahan pelatihan kepada peserta sesuai haknya. Melaksanakan pelatihan sesuai dengan modul dan mematuhi urutan dalam skenario pelatihan yang telah disusun. memberikan motivasi. Mengaktifkan peserta untuk menjawab pertanyaan peserta lain. Menjawab pertanyaan yang tidak perlu dijawab. mengambil keputusan atau simpulan. maupun penguasaan materi pelatihan. dan memberikan konfirmasi. Memotivasi peserta untuk mengambil kesimpulan sendiri. cara memberikan pertanyaan. d. menjawab pertanyaan. Mengurangi penjelasan definisi. yang minoritas. 3. cara memberikan umpan balik. memecahkan masalah. menguatkan dan menekankan simpulan itu. Tugas Narasumber yang Berperan sebagai Fasilitator 1. I. menganalisis alternatif temuan. 8.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 2. Terpancing dalam perdebatan dengan peserta yang dapat mengakibatkan habisnya waktu. 10. Memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta baik laki-laki maupun perempuanyang memiliki keterbatasan berbicara. Kode Etik Narasumber Setiap fasilitator pelatihan wajib menyetujui dan menerapkan kode etik berikut ini.. menanyakan argumentasinya mengapa peserta mengambil simpulan itu. 4. Melaksanakan penilaian terdiri atas: tes awal. dan media belajar yang diperlukan. yang tua. menggali data.

2/1. KI. KD Kerja/Rubrik ANALISIS MATERI AJAR Video Bahan Tayang Pembelajaran Matematika SMA Model-model Pembelajaran Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Project Based Learning KODE PPT-0.1 V-2.2 PPT-1.2-1 Matematika – SMA/MA/SMK | 8 .3 PPT-2. 0. J.4 HO-1. 2. Beberapa dokumen pelatihan digunakan sebagai acuan untuk beberapa materi pelatihan sebagaimana tercermin dalam pengkodean bahan pelatihan. Menghormati kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan implementasi Kurikulum 2013.3 HO-1. Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013 Jenis bahan dan lembar kerja untuk masing-masing materi pelatihan dapat dilihat berikut ini.3/2.1 V-1. dan KD Lembar Analisis Keterkaitan SKL. 3. 4. Melakukan penilaian secara objektif.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 1.3 PPT-1. V-2. Memberlakukan peserta secara adil dan tidak diskriminatif.2 LK-1. dan KD SKL. KI.1/1. Menjaga kerahasiaan semua alat penilaian yang akan digunakan.1/4.4/3. Mengacu pada prinsip-prinsip andragogi dalam bersikap dan berperilaku.1-1 PPT-2.3 2.1/3. KI.1 PPT-1. KD Strategi Implementasi Hand-Out Naskah Kurikulum 2013 Contoh Analisis Keterkaitan antara SKL. Daftar dan Pengkodean Materi Pelatihan NO.1 PPT-1. KI. Tabel 2. 1. MATERI PELATIHAN PERUBAHAN MINDSET Bahan Tayang Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 KONSEP KURIKULUM 2013 Video Tayangan Paparan Kurikulum 2013 oleh Mendikbud Bahan Tayang Perubahan Mindset Rasional dan Elemen Perubahan SKL. 5.4 HO-1.

1-1 HO-3.1/4.1-1 HO-2.3/2.4 HO-2.4-1 LK-2.1 Hand-Out Lembar Kerja/Rubrik 4.2-1 PPT-4. KI. dan KD Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific Contoh RPP Matematika SMA Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Telaah RPP Rubrik Penilaian Telaah RPP Video Pembelajaran Matematika Strategi Pengamatan Tayangan Video Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran Melalui Peer-Teaching Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran Analisis Pembelajaran pada Tayangan Video Rubrik Penilaian Analisis Pembelajaran pada Tayangan Video PPT-3.3 HO-2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 NO.4-2 R-2.2 LK-2.2 V-2.4 Lembar Kerja/Rubrik 3.2 LK-3.2-3 HO-2.1/3.3/3.2-3 PPT-2. Video Bahan Tayang PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING Lembar Kerja/Rubrik Matematika – SMA/MA/SMK | 9 .1/3.2-2 HO-2.2 HO-1.2-2 PPT-2.2 R-3. MATERI PELATIHAN Model Pembelajaran Problem Based Learning Model Pembelajaran Discovery Learning Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Siswa Hand-Out Konsep Pendekatan Scientific Contoh Penerapan Pendekatan scientific dalam Pembelajaran Matematika Model Pembelajaran Project Based Learning Model Pembelajaran Problem Based Learning Model Pembelajaran Discovery Learning Konsep Penilaian Autentik Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika Analisis Buku Guru Analisis Buku Siswa KODE PPT-2.1-2 HO-2.2-2 LK-4.2-1 HO-2.3/3.1 PPT-4.1-2 HO-2. Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku Guru dan Siswa MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN Bahan Tayang Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP yang Telah Dibuat SKL.4/3.2 HO-3.1/3.3 PPT-2.1 PPT-4.1-1 PPT-3.1 R-4.

2 R-4. Sistematika Modul Modul pelatihan implementasi kurikulum ini dibagi dalam tiga bagian berikut ini.2 artinya hand-out ini digunakan sebagai acuan untuk beberapa materi pelatihan yaitu sebagai berikut: .KD) HO-1. submateri 3.1/2. submateri 1 dan 4.KI. K.Materi Pelatihan 3. PPT-1. .2 Keterangan: V PPT HO LK R : : : : : Video Powerpoint Presentation Hand-Out Lembar Kerja Rubrik Catatan Pengkodean: 1. . submateri 1 dan 2.4/3. Bagian I Bagian II : : Pendahuluan Silabus Pelatihan Materi Pelatihan Bagian III : Matematika – SMA/MA/SMK | 10 .3 artinya bahan presentasi ini digunakan saat menyampaikan Materi Pelatihan 1 (Konsep Kurikulum). 2. Submateri 3 (SKL.Materi Pelatihan 2. MATERI PELATIHAN Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran Rubrik Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran KODE LK-4.1/3.Materi Pelatihan 1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 NO.3/2.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN II SILABUS PELATIHAN Matematika – SMA/MA/SMK | 11 .

SMK/MAK MATA PELAJARAN: MATEMATIKA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2013 Matematika – SMA/MA/SMK | 12 .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 JENJANG: SMA/MA.

1 INDIKATOR 1. SMK/MAK MATEMATIKA KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN 1. Tanya jawab tentang tantangan Indonesia dalam Abad ke-21. Menunjukan sikap terbuka terhadap perubahan. PERUBAHAN MINDSET 2 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. 2. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan pelatihan.1) WAKTU (JP) 2 NO 0. Mendiskusikan 6 PENILAIAN ASPEK Sikap Terbuka untuk menerima dan mengimpleme ntasikan Kurikulum 2013.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: SUBMATERI PELATIHAN Tantangan Indonesia dalam Abad ke21 0. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013 2. 2. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimpleme ntasikan Kurikulum 2013. 4. Mendiskusikan cara baru dalam belajar. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS Bahan Tayang DESKRIPSI Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (PPT-0. Matematika – SMA/MA/SMK | 13 . KEGIATAN PELATIHAN 1. Curah pendapat membandingkan antara berpikir berbasis kendala (constraintbased thinking) dengan berpikir berbasis kesempatan (opportunitybased thinking) 3.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN pendorong utama teknologi pendidikan yang harus diperhatikan 5. Tanya jawab tentang High order thingking WAKTU (JP) Matematika – SMA/MA/SMK | 14 .

Bahan Tayang Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 3.1) Rasional Kurikulum 2013 (PPT-1.2/1. 3. 2. Pengetahuan Memahami secara utuh rasional kurikulum 2013 . Video DESKRIPSI Tayangan Paparan Kurikulum 2013 oleh Mendikbud (V-1. KEGIATAN PELATIHAN 1.1 INDIKATOR 1. Menjelaskan rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. 3. SMK/MAK MATEMATIKA KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Memahami secara utuh rasional Kurikulum 2013.4) WAKTU (JP) 0. Menjelaskan permasalahan Kurikulum 2006 (KTSP).1/1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: SUBMATERI PELATIHAN Rasional 1.1) Naskah Kurikulum 2013 (D-1. Menyimpulkan rasional Kurikulum 2013 yang mencakup permasalahan PENILAIAN ASPEK Sikap Menerima latar belakang alasan perubahan Kurikulum 2013. Menyimak dan melakukan tanya jawab tentang paparan rasional Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan kurikulum di Indonesia.5 NO 1. KONSEP KURIKULUM 4 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. 2. Hand-out Matematika – SMA/MA/SMK | 15 . Mengamati dan menyimak tayangan paparan tentang Kurikulum 2013 oleh Mendikbud. Menerima rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan. 2.

dan Standar Penilaian. kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal. WAKTU (JP) 1. KEGIATAN PELATIHAN kurikulum 2006 (KTSP). Menjelaskan empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. SI. Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. Bahan Tayang Elemen Perubahan Kurikulum 2013 (PPT-1.4) 0. 1.2/1.1/1. 2. Hand-out Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda Matematika – SMA/MA/SMK | 16 . 1. Menyimpulkan empat elemen perubahan Kurikulum 2013. Sikap Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 Pengetahuan Memahami elemen perubahan Kurikulum 2013 dan hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan.2 Elemen Perubahan Kurikulum 2013 Memahami secara utuh elemen perubahan Kurikulum 2013. Menyimak dan melakukan tanya jawab tentang empat elemen perubahan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan kurikulum.5 2. dan Standar Penilaian. Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR 4. serta alasan pengembangan kurikulum. Standar Proses. Mengidentifikasi kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal. Menjelaskan alasan pengembangan kurikulum.2) Naskah Kurikulum 2013 (D-1. Standar Proses. 5. 2. SI.

Menganalisis keterkaitan SKL. SKL. Hand-Out SKL. Bahan Tayang 2. KI. KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 1. KI dan KD Memahami keterkaitan antara SKL.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR 3. KI. dan KD (PPT-1. dan KD. dan KD melalui diskusi kelompok pada format yang sudah disediakan (Tiap kelompok menganalisis keterkaitan SKL. dan KD (LK-1. dan KD serta keterkaitan antara ketiga kompetensi Tes Tertulis Matematika – SMA/MA/SMK | 17 .3) Analisis Keterkaitan SKL. Menjelaskan empat elemen perubahan kurikulum dalam hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. KI. KI.2) b. Contoh Analisis Keterkaitan antara SKl.1/3.3 ) 2 Penugasan Rubrik penilaian hasil analisis keterkaitan SKL. dan KD yang akan dijadikan dasar dalam Sikap Bekerja sama dalam kelompok dengan baik dan benar Keterampilan Terampil menganalisis keterkaitan SKL. 1. dan KD (HO-1.3) a. KI. KI. 3. KI. Menganalisis keterkaitan antara SKL. 2. dan KD. 1. dan KD.3 SKL. KI. dan KD (HO-1.3/ 2. dan KD Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. KI. dan KD. Bekerja sama dalam menganalisis keterkaitan SKL. KI. Menyimak paparan SKL. Lembar Kerja Pengetahuan Kemampuan memahami konsep SKL. KI.4/ 3.3) Tes Objektif Pilihan Ganda 3. KI. Memberi contoh analisis keterkaitan SKL. 2. dan KD pada Kurikulum 2013. KI dan KD (R-1. KI.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK tersebut.4) 1 2. Mengkomunikasi kan hasil diskusi kelas. 2. Sikap Berkomunikasi dengan bahasa yang santun. Pengetahuan Memahami elemenelemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1.2/1.1/1. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. 1. WAKTU (JP) 1. dan komunikatif dalam meyampaikan ide-ide. Merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi kelas. Hand-out Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda Matematika – SMA/MA/SMK | 18 .4) Naskah Kurikulum 2013 (D-1. Diskusi kelas untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. 1. 3. Menilai hasil kerja kelompok lain. Berkomunikasi dengan bahasa yang runtut dan komunikatif untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013 Memahami secara utuh strategi implementasi Kurikulum 2013. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok. 2. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN membuat RPP) 4. 5. sistematis. Bahan Tayang Strategi Implementasi Kurikulum (PPT-1.

Video DESKRIPSI Pembelajaran Matematika (V-2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERIPELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 2. Menjelaskan konsep pendekatan scientific 3. Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika. Konsep pendekatan scientific NO 2.1-1) b. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar pengamatan sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. ANALISIS MATERI AJAR 12 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. 2. KEGIATAN PELATIHAN 1. 2. Contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika (PPT-2. Mendiskusikan contoh-contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika. 3. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain.1 SUBMATERI PELATIHAN Konsep Pendekatan Scientific KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika. Bahan Tayang Tes tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 3. Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain. INDIKATOR 1. Mengkaji pendekatan scientific berdasarkan tayangan video melalui diskusi kelompok. Mengamati tayangan video pembelajaran Matematika. Pengetahuan Konsep pendekatan scientific dan penerapannya dalam pembelajaran Matematika. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 19 .1/4. Konsep pendekatan scientific (PPT-2.1) a. WAKTU (JP) 2 2.1-2) a.

Mengidentifikasi karakteristik 3 model pembelajaran.3) a.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI (HO-2. 3. 1. 2. Contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika (HO-2. Project Based Learning 2 Tes Tulis Tes Objektif Pilihan Ganda 2. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok. Problem Based Learning.3. dan Discovery Learning.1-1) b.1) b. Project Based Learning (PPT-2.3-2) c.1-2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 4. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning. 2. Mengidentifikasi penerapan Pendekatan Sikap Menyadari manfaat penerapan tiga model pembelajaran Pengetahuan Karakteristik Project Based Learning. Problem Based Learning. Problem Based Learning (PPT-2. 1. Bahan Tayang Unjuk kerja Rubrik penilaian 3. Keterampilan Menganalisis. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 20 . 3. Mengamati tayangan 3 jenis model pembelajaran (Project Based Learning.2 Model Pembelajaran Membedakan Model Pembelajaran Project Based Learning.3-3) a. Problem Based Learning. dan Discovery Learning). Discovery Learning (PPT-2. dan Discovery Learning. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Discovery Learning. Focus Group Discussion Panduan FGD 1. 2. Video Contoh Pembelajaran dengan 3 model pembelajaran (V-2. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Project Based Learning.

2) a.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK membedakan. 2. Bahan Tayang a. 1.3) b. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar (PPT-2.3-3) 1.3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar 1. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 21 .3) b. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar (HO-2. Sikap Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madrasah dan menghargai pendapat orang lain. NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN Scientific pada 3 model pembelajaran BAHAN PELATIHAN BENTUK INSTRUMEN hasil kerja JENIS DESKRIPSI (HO-2. Contoh penerapan TEKNIK WAKTU (JP) mengaitkan.3-2) c. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (PPT-2. Menyajikan kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan bentuk tes dalam penilaian autentik. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok. Menjelaskan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. Mendiskusikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.1) b.3. 2.3/3. Discovery Learning (HO-2. 3. Pengamatan Lembar pengamatan sikap 2 Tes tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 2. Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madarasah dan menghargai pendapat orang lain. Pengetahuan Konsep penilaian autentik pada pembelajaran Matematika. Problem Based Learning (HO-2. 2.

1/3.4-1) b. Diskusi kelompok membahas hasil penilaian buku guru dan buku siswa.4) 3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (HO-2.4) SKL.2) a. 1. Kecukupan.2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 2. Analisis Buku Guru (LK-2. dan KD. Hand-out Penugasan Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (R-2. 2. Mencermati format analisis buku guru dan buku siswa. Lembar Kerja Matematika – SMA/MA/SMK | 22 . Mengidentifikasi kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. KI. Peserta pelatihan menilai buku guru dan buku siswa. Ketelitian dan keseriusan menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL. dan Kedalaman Materi) 1. Pengamatan Lembar pengamatan sikap 1. dan KD dalam diskusi Sikap Teliti dan serius dalam bekerja baik secara mandiri maupun berkelompok.4/ 3. Bahan Tayang Analisis buku guru dan buku siswa (PPT-2.4-2) 6 2. dan KD. 3. Menganalisis kesesuaian buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. KI. dan KD. Keterampilan Terampil menganalisis buku guru dan siswa. 1.3/2. 4. KI. Analisis Buku Siswa (LK-2. 2. KI.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. KI. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. dan KD (HO-1.3/3.

struktur. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa. struktur. struktur. pendekatan scientific. 5. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa melalui belajar 4. 3. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. Membaca isi materi. Menguasai secara utuh materi. WAKTU (JP) 2. 5. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN kelompok. Menjelaskan secara utuh materi. Mendeskripsikan kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa secara kelompok. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan standar proses. pendekatan scientific. 6. 7. Matematika – SMA/MA/SMK | 23 . 3. Menganalisis kesesuaian proses. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku melalui diskusi kelompok.

Matematika – SMA/MA/SMK | 24 . 9. Menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. 8. Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. 10. Menyimpulkan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Mempresentasi kan hasil analisis buku guru dan buku siswa (perwakilan kelompok).SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN mandiri. WAKTU (JP) 4. 6. 5. 7. Membuat contoh-contoh penerapan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari secara berkelompok.

1-2) a. Peserta pelatihan menilai RPP yang dibawa oleh peserta lain. KEGIATAN PELATIHAN 1.2) 2. KI. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP Keterampilan Menyusun RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. Rambu-rambu penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific (PPT-3. INDIKATOR NO 1. sosial.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 3.1-1) b. SKL.1 Penyusunan RPP KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Menyusun RPP yang menerapkan pendekatan scientific sesuai model belajar yang relevan dengan mempertimbang kan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. kultural. dan KD (HO-1.3/2. Menunjukkan sikap tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP.4/ SUBMATERI PELATIHAN 3. Mendiskusikan rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific. Penugasan Rubrik Penilaian Telaah RPP (R-3. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 25 . MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN 8 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. Bahan Tayang DESKRIPSI a. Mengidentifikasi rambu-rambu penyusunan RPP. emosional. WAKTU (JP) 5 2. Panduan tugas telaah RPP (PPT-3.1/3. moral. 2.

1-1) c. KI.2) Matematika – SMA/MA/SMK | 26 . MenelaahRPP yang disusun kelompok lain sesuai format telaah RPP. 3. Rambu-rambu penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific (HO-3. dan pendekatan scientific secara berkelompok (terutama KD awal semester I) 4.2 b.1-2) Telaah RPP 3. Lembar Kerja SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR NO KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 3. Mendiskusikan format telaahRPP . Contoh RPP Matematika (HO-3. Menelaah RPP yang disusun kelompok lain (LK-3. dan KD. dan pendekatan scientific.1/3. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. KI. 7. 6.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN maupun intelektual PENILAIAN ASPEK Pengetahuan RPPyang menerapkan pendekatan scientific TEKNIK Tes Tertulis BENTUK INSTRUMEN Tes Objektif Pilihan Ganda BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI 3.1/3. dan KD. Standar Proses. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. Merevisi RPP berdasarkan hasil telaah. Mempresentasikan hasil RPP yang sudah direvisi (sampel) 4. 5. Standar Proses.

Menelaah rancangan penilaian 4. 3. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (PPT-2. Mengkaji penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika melalui contoh. Mendiskusikan tentang kaidah merancang penilaian autentik berbentuk tes dan nontes. termasuk portofolio. Mengidentifikasi kaidah perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. Hand out Tes Tertulis 3. SKL. Mengidentifikasi jenis dan bentuk penilaian pada proses dan hasil belajar sesuai karakteristik mata pelajaran Matematika.4/ 3.2) SUBMATERI PELATIHAN 3.2) b. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (HO-2.2) b. Keterampilan Merancang penilaian autentik Pengetahuan Penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika.3/2. Bahan Tayang DESKRIPSI a.3/3. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. 2. Mendiskusikan dan melakukan tanya jawabtentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes.1/3. Menunjukkan sikap tanggung dan kreatifdalam menyusun rancangan penilaian autentik. WAKTU (JP) 3 2.1/3.2) a. Penugasan Rubrik Penilaian Telaah RPP (R-3. dan KD (HO-1.3/3.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar INDIKATOR NO 1. KI. Menelaah rancangan penilaian Matematika – SMA/MA/SMK | 27 . 4. Panduan tugas menelaah rancangan penilaian pada RPP yang telah dibuat (PPT-3.2) Tes Objektif Pilihan Ganda 2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Merancang penilaian autentik pada proses dan hasil belajar PENILAIAN ASPEK Sikap Tanggung jawab dankreatif dalam menyusun rancangan penilaian autentik. KEGIATAN PELATIHAN 1.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR NO autentik pada proses dan hasil belajar yang ada dalam RPP. Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun berdasarkan hasil telaah. Mempresentasi kan rancangan penilaian proses dan hasil belajar yang sudah direvisi (sampel) WAKTU (JP) Matematika – SMA/MA/SMK | 28 . 6. 5. KEGIATAN PELATIHAN autentik pada RPP yang telah disusun.

mencoba. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran Keterampilan Menganalisis pembelajaran pada tayangan video. Video DESKRIPSI Pembelajaran Matematika (V-2.1) Analisis pembelajaran pada tayangan video (LK-4.1 SUBMATERI PELATIHAN Simulasi Pembelajaran KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Mengkaji pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING 22 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. Mengamati tayangan video pembelajaran WAKTU (JP) 8 2. Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERIPELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 4. INDIKATOR 1. KEGIATAN PELATIHAN 1. Mengkonfirmasi penerapan pendekatan Penugasan Rubrik Penilaian Analisis pembelajaran pada tayangan video (R-4. Menganalisis simulasi pembelajaran melalui tayangan video pembelajaran. menyaji. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. kultural. Bahan Tayang 2.1) Strategi pengamatan video pembelajaran (PPT-4. menanya.1) Tes Objektif Pilihan Ganda 3. 2. mengolah.1/4. sosial.1) NO 4. moral. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. Lembar Kerja Pengetahuan Prinsipprinsip pendekatan scientific dan Tes Tertulis Matematika – SMA/MA/SMK | 29 . Melalui diskusi. menalar. emosional. menganalisis tayangan video pelaksanaan pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientificdan penilaian autentik. 3.

2-2) 14 4. Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching. 5. 4.2-1) b. menalar. Mempresentasi kan contoh RPP untuk kegiatan peer teaching. menanya. Menginformasik an panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran melalui peer teaching. mencoba. Panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran melalui peer teaching (PPT-4. mengolah. Penugasan 2. 1. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN scientific dan penilaian autentik mengacu pada tayangan video pembelajaran. mencipta) 1. Merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran.2 Peer Teaching Melaksanakan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. Merevisi RPP sehingga menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik untuk kegiatan peer teaching. Melaksanakan peer teaching yang menerapkan pendekatan Tes Tertulis Rubrik penilaian pelaksanaan pembelajaran (R-4. Bahan Tayang a. intelektual. WAKTU (JP) 3. menyaji.2) Tes Objektif Matematika – SMA/MA/SMK | 30 . PENILAIAN ASPEK penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika. Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (PPT-4.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN maupun. Menjelaskan garis besar instrumen penilaian pelaksanaan Sikap Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching Keterampilan Melaksanakan pembelajaran yang menerapkan Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. 2.

KEGIATAN PELATIHAN pembelajaran 3. Melakukan refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching.2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR scientific dan penilaian autentik menggunakan RPP yang telah disusun. Pengetahuan Prinsipprinsip pendekatan scientific dan penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika. Lembar Kerja DESKRIPSI Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (LK-4. Mempersiapkan pelaksanaan peer teaching berdasarkan RPP yang telah disusun. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN Ganda BAHAN PELATIHAN JENIS 2. moral. Matematika – SMA/MA/SMK | 31 . PENILAIAN ASPEK pendekatan scientific. intelektual. 4. maupun. sosial.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. WAKTU (JP) 3. emosional. Mempraktikkan pembelajaran melalui peer teaching secara individual. Menilai pelaksanaan peer teaching peserta lain. kultural. 5. Menilai kegiatan peer teaching menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran 6.

BAGIAN III MATERI PELATIHAN Matematika – SMA/MA/SMK | 32 .

MATERI PELATIHAN: PERUBAHAN MINDSET Matematika – SMA/MA/SMK | 33 .

B. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. 2. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan materi pelatihan perubahan mindset. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013. Berpikir Berbasis Kendala (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir Berbasis Kesempatan (Opportunity Based) Cara Baru dalam Belajar Enam Pendorong Utama Teknologi Pendidikan yang Harus Diperhatikan. 4. C. D. Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skill). 2. Merespon secara positif terhadap cara baru dalam belajar. Menunjukkan sikap menghargai perubahan kurikulum. 5. 2. 6. 3. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013. INDIKATOR 3. Bahan Tayang: Tantangan Indonesia dalam Abad 21 (Mengapa Kita Harus Berubah) ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 34 . Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (Mengapa Kita Harus Berubah). LINGKUP MATERI 1. PERANGKAT PELATIHAN 1. 5.MATERI PELATIHAN: PERUBAHAN MINDSET A. Menunjukkan sikap menerima secara terbuka terhadap perubahan Kurikulum dalam rangka menghadapi tantangan Indonesia dalam Abad ke-21. 4.

10 Menit Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi pendidikan yang 20 Menit harus diperhatikan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skill) KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Perubahan Mindset. serius. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN WAKTU Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. mengajak berdinamika agar saling mengenal. kompetensi. Active Speaker. 15 Menit KEGIATAN PENDAHULUAN KEGIATAN INTI Perubahan Mindset 60 Menit Tanya jawab tentang tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 15 Menit (mengapa kita harus berubah). Mendiskusikan cara baru dalam belajar. Laptop. semangat. Curah pendapat untuk membandingkan berpikir berbasis kendala 15 menit (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based).SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN PERUBAHAN MINDSET 2 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. Fasilitator menutup pembelajaran 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 35 . File. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. seperti LCD Projector. tujuan. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset. Fasilitator memotivasi peserta. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. indikator. dan Laser Pointer. atau media pembelajaran lainnnya. alokasi waktu. Fasilitator mengingatkankan peserta agar membaca referensi yang relevan.

tujuan. dan umpan balik. alokasi waktu. diakhiri membuat rangkuman. Tanya jawab tentang Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (mengapa kita harus berubah). fasilitator menjelaskan nama. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset. kompetensi. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. serius. dan Penutup Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi pendidikan yang harus diperhatikan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi. indikator. Diskusi Diskusi cara baru dalam belajar Diskusi. Matematika – SMA/MA/SMK | 36 . Tanya Jawab.Langkah Kegiatan Inti Pengkondisian Peserta dilanjutkan Tanya Jawab 30 Menit Curah Pendapat Diskusi Diskusi Dilanjutkan Tanya Jawab 15 Menit 10 Menit 20 Menit Pengkondisian Peserta dilanjutkan Tanya Jawab Perkenalan. Curah Pendapat Curah pendapat untuk membandingkan berpikir berbasis kendala (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based). mengajak berdinamika agar saling mengenal. refleksi. semangat. Fasilitator memotivasi peserta.

Matematika – SMA/MA/SMK | 37 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 38 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 39 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 40 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 41 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 42 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 43 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 44 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 45 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 46 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 47 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 48 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 49 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 50 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 51 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 52 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 53 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 54 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 55 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 56 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 57 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 58 .

4 Strategi Implementasi Matematika – SMA/MA/SMK | 59 .1 Rasional 1.MATERI PELATIHAN 1: KONSEP KURIKULUM 2013 1. KI.2 Elemen Perubahan 1.3 SKL. dan KD 1.

dalam kaitannya dengan 2. Menerima rasional pengembangan Kurikulum 2013 perkembangan masa depan. dan KD pada Kurikulum 2013. 7. Rasional Kurikulum 2013 Elemen Perubahan Kurikulum 2013 Standar Nasional Pendidikan a. Standar Proses. B. 3. memahami secara utuh rasional Kurikulum 2013. 3. 9. Menjelaskan empat elemen perubahan kurikulum dalam hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. Menjelaskan permasalahan Kurikulum 2006 (KTSP). Matematika – SMA/MA/SMK | 60 . SI. 4. dan KD. Standar Proses d. KI. memahami keterkaitan antara SKL. Standar Penilaian Strategi Implementasi Kurikulum 2013 4. dan Standar Penilaian. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. dan KD pada kurikulum 2013. Menjelaskan rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan. Standar Isi yang berisi Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) c. LINGKUP MATERI 1. dan memahami secara utuh strategi implementasi Kurikulum 2013. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) b. 4. 6. 10. 5. KI. C. 8. memahami secara utuh elemen perubahan Kurikulum 2013. dan Standar Penilaian. 2. Menjelaskan alasan pengembangan kurikulum. SI. Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. KI. INDIKATOR 1. 2. Mengidentifikasi kesenjangan implementasi kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal. Menganalisis keterkaitan antara SKL. Menganalisis keterkaitan SKL. 3.MATERI PELATIHAN 1: KONSEP KURIKULUM A. Standar Proses. Menjelaskan empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL.

Standar Kompetensi Lulusan (SKL). ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 61 . Standar Kompetensi Lulusan (SKL). dan KD 4. Rasional Kurikulum 2013 b. Strategi Implementasi Kurikulum 2013 3. dan Kompetensi Dasar (KD) d. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013 dengan bahasa yang runtut dan komunikatif. KI. Strategi Implementasi Kurikulum 2013 5. Video tentang Rasional Kurikulum 2013 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2. Elemen Perubahan Kurikulum 2013 c. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013.11. 12. Bahan Tayang a. Lembar Kerja Analisis SKL. Standar Isi (Kompetensi Inti (KI). Hand-Out a. D. Kompetensi Inti (KI). dan Kompetensi Dasar (KD) d. Rasional Kurikulum 2013 b. PERANGKAT PELATIHAN 1. Elemen Perubahan Kurikulum 2013 c.

KONSEP KURIKULUM 4 JP (@45 MENIT) SMA/MA. serius. serta alasan pengembangan kurikulum.2 Elemen Perubahan Kurikulum 20 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang Elemen Perubahan 10 Menit Kurikulum yang mencakup SKL. File. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran seperti LCD Projector. Active Speaker. Standar Proses. kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dan kondisi ideal.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 1. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Konsep Kurikulum. semangat.1. alokasi waktu. kompetensi. Pemaparan oleh fasilitator tentang Rasional Kurikulum 10 Menit 2013 dengan menggunakan PPT-1. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. mengajak berdinamika agar saling mengenal. tujuan. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 1.1 Rasional 25 Menit Penayangan Video Mendikbud tentang Paparan Kurikulum 10 Menit 2013 dengan menggunakan V-1.1. indikator. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. Fasilitator memotivasi peserta. Tanya jawab tentang Rasional Kurikulum 2013 yang 5 Menit mencakup: permasalahan kurikulum 2006 (KTSP). atau media pembelajaran lainnya. dan Standar Penilaian dan hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan dengan menggunakan Matematika – SMA/MA/SMK | 62 . Laptop. SI. 1. dan Laser Pointer.

4. KI.2. Presentasi hasil kerja kelompok. kemudian merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi. dan KD dengan 10 Menit menggunakan PPT-1. dan KD 5 Menit dengan menggunakan HO-1. Tanya jawab tentang Elemen Perubahan Kurikulum. Mengkomunikasikan hasil diskusi kelompok.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013 45 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang Strategi Implementasi 10 Menit Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Konsep Kurikulum. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. dan 30 Menit KD yang akan dijadikan dasar untuk membuat RPP dengan menggunakan LK-1. KI. ICE BREAKER 1.3 Memberi contoh analisis keterkaitan antara SKL. sementara kelompok 15 Menit lainnnya memberi komentar/ tanggapan dan menilai hasil kerja kelompok. 10 Menit kemudian fasilitator menyimpulkannya. KI. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan. dan KD 5 Menit 60 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang SKL. KI.3.3. Diskusi kelas tentang elemen-elemen penting Strategi 25 Menit Implementasi Kurikulum 2013.3 SKL. Fasilitator menutup pembelajaran 10 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 63 . Kerja kelompok untuk menganalisis keterkaitan SKL. 1.PPT-1.

Kemudian fasilitator menyimpulkannya. Manfaat adanya perubahan kurikulum. proses pembelajaran.SUBMATERI PELATIHAN : 1. b. Alasan pengembangan kurikulum. TIK merupakan sarana pembelajaran yang dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain.1 dan PPT-1.2 10 Menit Tanya Jawab 10 Menit Pemaparan Instruktur menyampaikan materi Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum yang mencakup: 4 standar. penetapan platform untuk mata pelajaran tertentu (geografi untuk IPS. c. Identifikasi perubahan yang penting dalam kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya (struktur kurikulum. bahasa sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge.1 RASIONAL KURIKULUM Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur dengan menggunakan PPT-1. Matematika – SMA/MA/SMK | 64 . perubahan pendekatan pembelajaran yaitu Scientific Approach. Biologi untuk IPA)dengan menggunakan PPT-1. Tanya Jawab Diskusi dan tanya jawab terkait dengan Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: a. tematik terpadu untuk SD kls 1 dan 4.2. dan penilaian hasil belajar).

Matematika – SMA/MA/SMK | 65 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 66 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 67 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 68 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 69 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 70 .

1. LATAR BELAKANG PERLUNYA PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan. standar penilaian. baik tantangan internal maupun tantangan eksternal. pengetahuan. Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap. mandiri. kurikulum merupakan salah satu unsur yang memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. standar sarana prasarana.1/1. dan (3) warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. dan keterampilan secara terpadu. yang diyakini akan menjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan negara Indonesia sepanjang zaman. dan (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Matematika – SMA/MA/SMK | 71 . B. berakhlak mulia.2/1. standar isi. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tantangan Internal Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar pengelolaan. Kurikulum sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal 1 Ayat (19) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan.HO-1. RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Pengembangan kurikulum perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan yang dihadapi. Jadi tidak dapat disangkal lagi bahwa kurikulum yang dikembangkan dengan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. kreatif. standar pendidik dan tenaga kependidikan. RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 A. sehat. isi. standar proses. Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan. standar biaya. Tantangan internal lainnya terkait dengan faktor perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. dan standar kompetensi lulusan. berilmu.4 I. cakap.

SDM usia produktif yang melimpah apabila memiliki kompetensi dan keterampilan akan menjadi modal pembangunan yang luar biasa besarnya. Namun apabila tidak memiliki kompetensi dan keterampilan tentunya akan menjadi beban pembangunan. (Gambar 1). Gambar 2 Matematika – SMA/MA/SMK | 72 . Reformasi Pendidikan Mengacu Pada 8 Standar Kurikulum 2013 Sedang Dikerjakan Telah dan terus Dikerjakan -Peningkatan Kualifikasi & Sertifikasi -Pembayaran Tunjangan Sertifikasi -Uji Kompetensi dan Pengukuran Kinerja -Rehab Gedung Sekolah -Penyediaan Lab dan Perpustakaan -Penyediaan Buku -BOS -Bantuan Siswa Miskin -BOPTN/Bidik Misi (di PT) Manajemen Berbasis Sekolah Gambar 1 Terkait dengan perkembangan penduduk. Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar SDM usia produktif yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi SDM yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban (Gambar 2).Terkait dengan tantangan internal pertama. berbagai kegiatan dilaksanakan untuk mengupayakan agar penyelenggaraan pendidikan dapat mencapai ke delapan standar yang telah ditetapkan.

Dari pemikiran faktual menuju kritis. kompetensi yang diperlukan di masa depan. Dari berpusat pada guru menuju berpusat pada siswa. serta berbagai fenomena negatif yang mengemuka. d. perkembangan pengetahuan dan pedagogi. f. Matematika – SMA/MA/SMK | 73 .) §Gejolak masyarakat (social unrest) Perkembangan Pengetahuan dan Pedagogi • Neurologi • Psikologi • Observation based [discovery] learning dan Collaborative learning Gambar 3 3. Tantangan Eksternal Tantangan eksternal yang dihadapi dunia pendidikan antara lain berkaitan dengan tantangan masa depan. Dari penyampaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan. Kerpek. Dari satu ilmu pengetahuan bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak. n. Dari kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan. Dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata. h. g. b. persepsi masyarakat. m. Dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan. o. Dari alat tunggal menuju alat multimedia. Dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif. i. e. Dari isolasi menuju lingkungan jejaring.. c. ASEAN Community. Dari pembelajaran pribadi menuju pembelajaran berbasis tim. j. Dari satu arah menuju interaktif. investasi dan transformasi pada sektor pendidikan • Materi TIMSS dan PISA Kompetensi Masa Depan • Kemampuan berkomunikasi • Kemampuan berpikir jernih dan kritis • Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan • Kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab • Kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda • Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal • Memiliki minat luas dalam kehidupan • Memiliki kesiapan untuk bekerja • Memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya • Memiliki rasa tanggungjawab terhadap lingkungan Persepsi Masyarakat • Terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif • Beban siswa terlalu berat • Kurang bermuatan karakter Fenomena Negatif yang Mengemuka §Perkelahian pelajar §Narkoba §Korupsi §Plagiarisme §Kecurangan dalam Ujian (Contek. Penyempurnaan Pola Pikir Pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan hanya akan dapat terwujud apabila terjadi pergeseran atau perubahan pola pikir. p. Dari luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan. Tekanan Untuk Pengembangan Kurikulum Tantangan Masa Depan • • • • • • • • • Globalisasi: WTO. Dari pasif menuju aktif-menyelidiki. APEC. l.2. CAFTA Masalah lingkungan hidup Kemajuan teknologi informasi Konvergensi ilmu dan teknologi Ekonomi berbasis pengetahuan Kebangkitan industri kreatif dan budaya Pergeseran kekuatan ekonomi dunia Pengaruh dan imbas teknosains Mutu. k. Dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala penjuru. Dari usaha sadar tunggal menuju jamak. Pergeseran itu meliputi proses pembelajaran sebagai berikut: a.

Perbandingan kerangka kerja penyusunan kurikulum dapat dilihat pada Gambar 5. penyusunan kurikulum dimulai dengan menetapkan standar kompetensi lulusan berdasarkan kesiapan peserta didik. Satuan pendidikan dan guru tidak diberikan kewenangan menyusun silabus. tujuan pendidikan nasional. dan kebutuhan. Tabel 1 4. Pendekatan dalam penyusunan SKL pada KBK 2004 dan KTSP 2006 dapat dilihat di Gambar 4 dan penyempurnaan pola pikir perumusan kurikulum dapat dilihat di Tabel 1. Matematika – SMA/MA/SMK | 74 . tapi disusun pada tingkat nasional. Guru lebih diberikan kesempatan mengembangkan proses pembelajaran tanpa harus dibebani dengan tugas-tugas penyusunan silabus yang memakan waktu yang banyak dan memerlukan penguasaan teknis penyusunan yang sangat memberatkan guru. Perumusan SKL di dalam KBK 2004 dan KTSP 2006 yang diturunkan dari SI harus diubah menjadi perumusan yang diturunkan dari kebutuhan. Penguatan Tata Kelola Kurikulum Pada Kurikulum 2013. Setelah kompetensi ditetapkan kemudian ditentukan kurikulumnya yang terdiri dari kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum. perlu dilakukan penyempurnaan pola pikir dan penggunaan pendekatan baru dalam perumusan Standar Kompetensi Lulusan.Sejalan dengan itu.

Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR PROSES KI KELAS & KD MAPEL (STANDAR ISI) STANDAR PENILAIAN SILABUS PANDUAN GURU Oleh Satuan Pendidikan PEMBELAJARAN & PENILAIAN (KTSP) BUKU TEKS SISWA 1 Gambar 5 Hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang dilakukan Balitbang pada tahun 2010 juga menunjukkan bahwa secara umum total waktu pembelajaran yang dialokasikan oleh banyak guru untuk beberapa mata pelajaran di SD. Rumusan kompetensi juga sulit dijabarkan ke dalam indikator dengan akibat sulit dijabarkan ke pembelajaran. sulit diajarkan karena terlalu kompleks. dan kalau diajarkan kepada siswa sulit dicapai oleh siswa. 5. Yuridis. sulit dijabarkan ke penilaian. Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR ISI (SKL MAPEL. Di samping itu. Untuk menjamin ketercapaian kompetensi sesuai dengan yang telah ditetapkan dan untuk memudahkan pemantauan dan supervisi pelaksanaan pengajaran. dikaitkan dengan kesulitan yang dihadapi guru dalam melaksanakan KTSP. dan sulit diajarkan karena keterbatasan sarana. SK MAPEL. KD MAPEL) STANDAR PROSES STANDAR KOMPETENSI LULUSAN STANDAR PENILAIAN PEDOMAN SILABUS RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Oleh Satuan Pendidikan PEMBELAJARAN & PENILAIAN BUKU TEKS SISWA RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Oleh Satuan Pendidikan PEDOMAN SILABUS BUKU TEKS SISWA PEMBELAJARAN & PENILAIAN Kerangka Kerja Penyusunan Kurikulum 2013 KESIAPAN PESERTA DIDIK TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL KEBUTUHAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) SATUAN PENDIDIKAN KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. sementara negara lain yang terlibat di dalam studi ini banyak yang mencapai level 4 (empat). hampir semua peserta didik Indonesia hanya mampu menguasai pelajaran sampai level 3 (tiga) saja. Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR ISI (SKL MAPEL. SMP. maka sangat penting untuk menyiapkan guru supaya memahami pemanfaatan sumber belajar yang telah disiapkan dan sumber lain yang dapat mereka manfaatkan. Untuk menjamin keterlaksanaan implementasi kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran. Pendalaman dan Perluasan Materi Berdasarkan analisis hasil PISA 2009. Dengan keyakinan Matematika – SMA/MA/SMK | 75 . dan 6 (enam). perlu diambil langkah penguatan tata kelola antara lain dengan menyiapkan pada tingkat pusat buku pegangan pembelajaran yang terdiri dari buku pegangan siswa dan buku pegangan guru. dan sumber belajar. ada kemungkinan waktu yang dialokasikan dalam Standar Isi tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya. media. Yuridis. KD MAPEL) STANDAR PROSES STANDAR KOMPETENSI LULUSAN STANDAR PENILAIAN KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. Yuridis. ditemukan bahwa dari 6 (enam) level kemampuan yang dirumuskan di dalam studi PISA. Karena guru merupakan faktor yang sangat penting di dalam pelaksanaan kurikulum. 5 (lima). Hasil monitoring dan evaluasi ini juga menunjukkan bahwa banyak kompetensi yang perumusannya sulit dipahami guru. SK MAPEL.Kerangka Kerja Penyusunan KBK 2004 TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL Kerangka Kerja Penyusunan KTSP 2006 TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. dan SMA lebih kecil dari total waktu pembelajaran yang dialokasikan menurut Standar Isi. juga perlu diperkuat peran pendampingan dan pemantauan oleh pusat dan daerah.

bahwa semua manusia diciptakan sama. Untuk bidang matematika. Gambar 6 Analisis hasil TIMSS tahun 2007 dan 2011 di bidang matematika dan IPA untuk peserta didik kelas 2 SMP juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau yang distandarkan di tingkat internasional (Gambar 7). sementara hampir 40% peserta didik Taiwan mampu mencapai level tinggi Matematika – SMA/MA/SMK | 76 . sementara misalnya di Taiwan hampir 50% peserta didiknya mampu mencapai level tinggi dan advance. Gambar 7 Untuk bidang IPA. yaitu yang kita ajarkan berbeda dengan tuntutan zaman (Gambar 6). interpretasi yang dapat disimpulkan dari hasil studi ini. hanya satu. pencapaian peserta didik kelas 2 SMP juga tidak jauh berbeda dengan pencapaian yang mereka peroleh untuk bidang matematika. Hasil studi pada tahun 2007 dan 2011 menunjukkan bahwa lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah.

kesimpulan yang dapat diambil dari studi ini adalah bahwa apa yang diajarkan kepada peserta didik di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau distandarkan di tingkat internasional. (Gambar 8). Gambar 8 Hasil studi internasional untuk reading dan literacy (PIRLS) yang ditujukan untuk kelas IV SD juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan hasil studi untuk tingkat SMP seperti yang dipaparkan terdahulu. Hal ini juga menunjukkan bahwa apa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan dan distandarkan pada tingkat internasional (Gambar 9). Dengan keyakinan bahwa semua anak dilahirkan sama. lebih dari 95% peserta didik Indonesia di SD kelas IV juga hanya mampu mencapai level menengah. yaitu: Matematika – SMA/MA/SMK | 77 .dan lanjut (advanced). Gambar 9 Hasil analisis lebih jauh untuk studi TIMSS dan PIRLS menunjukkan bahwa soal-soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dibagi menjadi empat kategori. sementara lebih dari 50% siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. Dalam hal membaca.

sehingga menyulitkan bagi peserta didik kelas VIII SMP menjawab pertanyaan yang terdapat di dalam TIMSS (Tabel 3). Tabel 2 Analisis lebih jauh untuk membandingkan kurikulum IPA SMP kelas VIII yang ada di Indonesia dengan materi yang terdapat di TIMSS menunjukkan bahwa terdapat beberapa topik yang sebenarnya belum diajarkan di kelas VIII SMP (Tabel 2). Hal yang sama juga terdapat di kurikulum matematika kelas VIII SMP di mana juga terdapat beberapa topik yang belum diajarkan di kelas XIII.- low mengukur kemampuan sampai level knowing intermediate mengukur kemampuan sampai level applying high mengukur kemampuan sampai level reasoning advance mengukur kemampuan sampai level reasoning with incomplete information. malah terdapat beberapa topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini. Tabel 3 Matematika – SMA/MA/SMK | 78 . Lebih parahnya lagi.

Hal yang sama juga terjadi di kurikulum matematika kelas IV SD pada studi internasional di mana juga terdapat topik yang belum diajarkan pada kelas IV dan topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini. Di mana kompeten tersebut. undang-undang tersebut berharap pendidikan dapat membuat peserta didk menjadi kompeten dalam bidangnya. Tabel 4 Dalam kaitan itu. Cerdas yang dimaksud disini adalah cerdas komprehensif. harus mencakup kompetensi dalam ranah sikap. Di samping itu juga perlu dievaluasi ulang tingkat kedalaman materi sesuai dengan tuntutan perbandingan internasional dan menyusun kompetensi dasar yang sesuai dengan materi yang dibutuhkan. Secara singkatnya. II. dan keterampilan sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan pasal 35 undangundang tersebut. perlu dilakukan langkah penguatan materi dengan mengevaluasi ulang ruang lingkup materi yang terdapat di dalam kurikulum dengan cara meniadakan materi yang tidak esensial atau tidak relevan bagi peserta didik. mempertahankan materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. berilmu. Sejalan dengan arahan undang-undang tersebut. dan menambahkan materi yang dianggap penting dalam perbandingan internasional. pengetahuan. TUJUAN KURIKULUM Tujuan Pendidikan nasional sebagaimana telah dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. kreatif. serta cerdas kinestetis dalam ranah keterampilan. sehat. berakhlak mulia. mandiri. seperti bisa dilihat pada Tabel 4. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Matematika – SMA/MA/SMK | 79 . cerdas intelektual dalam ranah pengetahuan. sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang telah disampaikan di atas. yaitu cerdas spiritual dan cerdas sosial/emosional dalam ranah sikap. cakap. telah pula ditetapkan visi pendidikan tahun 2025 yaitu menciptakan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif.

dan KTSP. LANDASAN KURIKULUM 2013 Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan kurikulum baru. KERANGKA DASAR KURIKULUM 2013 Kerangka dasar adalah pedoman yang digunakan untuk mengembangkan dokumen kurikulum. Kerangka Dasar juga digunakan sebagai pedoman untuk mengembangkan kurikulum tingkat nasional. berbangsa. menjadi landasan filosofis pengembangan kurikulum. modal yang digunakan dan dikembangkan untuk membangun kualitas kehidupan bangsa dan individu yang diperlukan bagi kehidupan masa kini. Lebih lanjut. inovatif. Landasan yuridis pengembangan Kurikulum 2013 lainnya adalah Instruksi Presiden Republik Indonesia tahun 2010 tentang Pendidikan Karakter. bernegara dan peradaban dunia. 2. 1. dan keterampilan sehingga dapat menjadi pribadi dan warga negara yang produktif. dan afektif III. Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Perubahan PP No. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kurikulum adalah instrumen pendidikan untuk dapat membawa insan Indonesia memiliki kompetensi sikap. dan evaluasi kurikulum. dan keberlanjutan kehidupan bangsa dan Matematika – SMA/MA/SMK | 80 .Dengan demikian Kurikulum 2013 adalah dirancang dengan tujuan untuk mempersiapkan insan Indonesia supaya memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warganegara yang beriman. masa lalu-masa sekarang-masa yang akan datang. serta kemudian diwariskan serta dikembangkan untuk kehidupan masa depan. inovatif. Landasan teoritik memberikan dasar-dasar teoritik pengembangan kurikulum sebagai dokumen dan proses. Ketiga dimensi kehidupan bangsa. Pembelajaran Aktif dan Pendidikan Kewirausahaan. Landasan yuridis merupakan ketentuan hukum yang dijadikan dasar untuk pengembangan kurikulum dan yang mengharuskan adanya pengembangan kurikulum baru. Landasan Yuridis Landasan yuridis kurikulum adalah Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. implementasi kurikulum. daerah. produktif. A.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. landasan filosofis. Landasan filosofis adalah landasan yang mengarahkan kurikulum kepada manusia apa yang akan dihasilkan kurikulum. pengetahuan. Landasan Filosofis Secara singkat kurikulum adalah untuk membangun kehidupan masa kini dan masa akan datang bangsa. Pewarisan nilai dan pretasi bangsa di masa lampau memberikan dasar bagi kehidupan bangsa dan individu sebagai anggota masyarakat. Landasan empirik memberikan arahan berdasarkan pelaksanaan kurikulum yang sedang berlaku di lapangan. kreatif. pengembangan Kurikulum 2013 diamanatkan oleh Rencana Pendidikan Pendidikan Menengah Nasional (RJPMN). yang dikembangkan dari warisan nilai dan pretasi bangsa di masa lalu. kreatif. dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 tahun Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat. dan landasan empirik.

Martowardojo. komentar. namun beberapa ahli pendidikan dan tokoh masyarakat menyatakan bahwa salah satu akar masalahnya adalah implementasi kurikulum yang terlalu menekankan aspek kognitif dan keterkungkungan peserta didik di ruang belajarnya dengan kegiatan yang kurang menantang peserta didik. Maka. yakni baca. 3. 6. khususnya siswa sekolah dasar.W. Walaupun belum ada kajian ilmiah bahwa kekerasan tersebut berhulu dari kurikulum. misalnya pada kasus-kasus perkelahian massal. dan beragamnya kemajuan pembangunan dari satu daerah ke daerah lain.id/index. kurikulum harus mampu memandu upaya karakterisasi nilai-nilai kejujuran pada peserta didik. Generasi seperti ini seharusnya tidak muncul karena hasil seleksi alam. Berbagai elemen masyarakat telah memberikan kritikan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara – negara ASEAN sebesar 6. sekecil apapun ancaman disintegrasi bangsa masih tetap ada. Kecenderungan ini juga menimpa generasi muda. kurikulum perlu direorientasi dan direorganisasi terhadap beban belajar dan kegiatan pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan ini. dan hitung. termasuk masih adanya kecurangan di dalam Ujian Nasional menunjukkan mendesaknya upaya menumbuhkan budaya jujur dan antikorupsi melalui kegiatan pembelajaran di dalam satuan pendidikan. Dewasa ini. Maka. Sebagai negara bangsa yang besar dari segi geografis.9 % (Agus D. Dengan tiga dimensi kehidupan tersebut kurikulum selalu menempatkan peserta didik dalam lingkungan sosial-budayanya. Landasan Empiris Pada saat ini perekonomian Indonesia terus tumbuh di tengah bayang-bayang resesi dunia. 2008: 6. Oleh karena itu. Matematika – SMA/MA/SMK | 81 .presidenri. kurikulum harus mampu membentuk manusia Indonesia yang mampu menyeimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat untuk memajukan jatidiri sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan kebutuhan untuk berintegrasi sebagai satu entitas bangsa Indonesia. kurikulum pada tingkat sekolah dasar perlu diarahkan kepada peningkatan 3 (tiga) kemampuan dasar. Beban belajar ini bahkan secara kasatmata terwujud pada beratnya beban buku yang harus dibawa ke sekolah. dan saran berkaitan dengan beban belajar siswa. potensi ekonomi. manipulasi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 2005 sampai dengan 2008 berturut-turut 5. Berbagai kasus yang berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang. Beban belajar ini salah satunya berhulu dari banyaknya matapelajaran yang ada di tingkat sekolah dasar.5%.4% (www. tulis. dan mandiri. 5.7%. dan membangun kehidupan masa depan yang lebih baik lagi. kreatif. dan pembentukan karakter. Momentum pertumbuhan ekonomi ini harus terus dijaga dan ditingkatkan. kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan kasus pemaksaan kehendak sering muncul di Indonesia. ulet. 31/05/2012). namun karena hasil gemblengan pada tiap jenjang satuan pendidikan dengan kurikulum sebagai pengarahnya. Generasi muda berjiwa wirausaha yang tangguh. suku bangsa.php/indikator).3%.warganegara di masa mendatang. Maka.5 – 6.go. sangat diperlukan untuk memantapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. dalam Rapat Paripurna DPR. mengembangkan kehidupan individu peserta didik sebagai warganegara yang tidak kehilangan kepribadian dan kualitas untuk kehidupan masa kini yang lebih baik. jujur.

semakin berkurangnya sumber air bersih adanya potensi rawan pangan pada berbagai beahan dunia. Pencemaran. analisis dan pemecahan masalah. matematika. mutu pendidikan Indonesia harus terus ditingkatkan. Hasil-hasil ini menunjukkan perlu ada perubahan orientasi kurikulum. upaya pemenuhan kebutuhan manusia telah secara nyata mempengaruhi secara negatif lingkungan alam. Hasil riset PISA (Program for International Student Assessment). studi yang memfokuskan pada literasi bacaan. (2) teori. Kurikulum seharusnya juga diarahkan untuk membangun kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan alam dan menumbuhkan kemampuan untuk merumuskan pemecahan masalah secara kreatif terhadap isu-isu lingkungan dan ketahanan pangan. dan pemanasan global merupakan tantangan yang harus dihadapi generasi muda di masa kini dan di masa yang akan datang. dengan tidak membebani peserta didik dengan konten namun pada aspek kemampuan esensial yang diperlukan semua warga negara untuk berperanserta dalam membangun negaranya pada abad 21.Pada saat ini. (3) pemakaian alat. dan IPAmenunjukkan peringkat Indonesia baru bisa menduduki 10 besar terbawah dari 65 negara. Hasil Riset TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) menunjukkan siswa Indonesia berada pada rangking amat rendah dalam kemampuan (1) memahami informasi yang komplek. Dengan berbagai kemajuan yang telah dicapai. prosedur dan pemecahan masalah dan (4) melakukan investigasi. Matematika – SMA/MA/SMK | 82 .

Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik untuk mengembangkan sikap. Demikian pula penilaian hasil belajar dan hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi. 2. SMA/MA. masyarakat. Kompetensi adalah kemampuan sesorang untuk bersikap. menggunakan pengetahuan dan ketrampilan untuk melaksanakan suatu tugas di sekolah. 3. KARAKTERISTIK KURIKULUM 2013 Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi.4. Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap. dan lingkungan dimana yang bersangkutan berinteraksi. B. Keberhasilan kurikulum dartikan sebagai pencapaian kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh peserta didik. Kompetensi Inti adalah kualitas yang harus dimiliki seorang peserta didik untuk setiap kelas melalui pembelajaran KD yang diorganisasikan dalam proses pembelajaran siswa aktif. SMK/MAK. Isi atau konten kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) kelas dan dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran. Standar Kompetensi Lulusan dikembangkan menjadi Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan yaitu SKL SD/MI. Kompetensi untuk Kurikulum 2013 dirancang sebagai berikut: 1. Landasan Teoritik Kurikulum 2013 dikembangkan atas dasar teori “pendidikan berdasarkan standar” (standardbased education). dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu untuk SMP/MTS. pengetahuan. Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu tema untuk SD/MI. dan keterampilan. Standar kualitas nasional dinyatakan sebagai Standar Kompetensi Lulusan. SMP/MTS. Pendidikan berdasarkan standar adalah pendidikan yang menetapkan standar nasional sebagai kualitas minimal warganegara untuk suatu jenjang pendidikan. Hasil dari pengalaman belajar tersebut adalah hasil belajar peserta didik yang menggambarkan manusia dengan kualitas yang dinyatakan dalam SKL. dan ketrampilan (kognitif dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah. Standar bukan kurikulum dan kurikulum dikembangkan agar peserta didik mampu mencapai kualitas standar nasional atau di atasnya. kelas dan mata pelajaran. SMK/MAK. dan teori kurikulum berbasis kompetensi. Standar Kompetensi Lulusan mencakup sikap. ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun kemampuan yang dirumuskan dalam SKL. pengetahuan. Kurikulum berbasis kompetensi adalah outcomes-based curriculum dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL. SMA/MA. Matematika – SMA/MA/SMK | 83 .

Pembelajaran intra kurikuler didasarkan pada prinsip berikut: a. Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif. Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris (organizing elements) Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti. Proses pembelajaran tidak langsung bukan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) karena sikap yang dikembangkan dalam Matematika – SMA/MA/SMK | 84 . ketrampilan kognitif dan psikomotorik adalah konten yang bersifat developmental yang dapat dilatih (trainable) dan diajarkan secara langsung (direct teaching). 7. Dalam silabus tercantum seluruh KD untuk tema atau mata pelajaran di kelas tersebut. dan masyarakat. 8. rumah dan masyarakat. Proses pembelajaran tidak langsung (indirect) terjadi pada setiap kegiatan belajar yang terjadi di kelas. SMA/MA. sekolah. dan saling memperkuat antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Proses pembelajaran dikembangkan atas dasar karakteristik konten kompetensi yaitu pengetahuan yang merupakan konten yang bersifat mastery dan diajarkan secara langsung (direct teaching). Silabus dikembangkan sebagai rancangan belajar untuk satu tema (SD/MI) atau satu kelas dan satu mata pelajaran (SMP/MTS. SMA/MA. SMK/MAK). c. Proses pembelajaran didasarkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif untuk menguasai Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti pada tingkat yang memuaskan (excepted). PROSES PEMBELAJARAN Proses pembelajaran Kurikulum 2013 terdiri atas pembelajaran intra-kurikuler dan pembelajaran ekstra-kurikuler. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dikembangkan dari setiap KD yang untuk mata pelajaran dan kelas tersebut. f. 6. Pembelajaran kompetensi untuk konten yang bersifat developmentaldilaksanakan berkesinambungan antara satu pertemuan dengan pertemuan lainnya. e. Proses pembelajaran intra-kurikuler adalah proses pembelajaran yang berkenaan dengan mata pelajaran dalam struktur kurikulum dan dilakukan di kelas. 5. 1. C. sedangkan sikap adalah konten developmental dan dikembangkan melalui proses pendidikan yang tidak langsung (indirect teaching). Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar di jenjang pendidikan menengah diutamakan pada ranah sikap sedangkan pada jenjang pendidikan menengah pada kemampuan intelektual (kemampuan kognitif tinggi). saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal). b. Proses pembelajaran di SD/MI berdasarkan tema sedangkan di SMP/MTS. dan SMK/MAK berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dikembangkan guru.4. d. sekolah.

Pramuka adalah kegiatan ekstrakurikuler wajib. Kurikulum didasarkan atas prinsip bahwa setiap sikap. ketrampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah mengenai Wajib Belajar 12 Tahun maka Standar Kompetensi Lulusan yang menjadi dasar pengembangan kurikulum adalah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan selama 12 tahun. Matematika – SMA/MA/SMK | 85 . grafik. 3. jenjang pendidikan. menanya (lisan. D. h. Pembelajaran ekstrakurikuler Pembelajaran ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan untuk aktivitas yang dirancang sebagai kegiatan di luar kegiatan pembelajaran terjadwal secara rutin setiap minggu. Kurikulum didasarkan pada model kurikulum berbasis kompetensi.proses pembelajaran tidak langsung harus tercantum dalam silabus. ketrampilan berpikir. Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat. mendengar. bersifat formatif dan hasilnya segera diikuti dengan pembelajaran remedial untuk memastikan penguasaan kompetensi pada tingkat memuaskan. dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat guru. Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi. Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap. 5. Pembelajaran remedial dirancang dan dilaksanakan berdasarkan kelemahan yang ditemukan berdasarkan analisis hasil tes. tulis). pengetahuan. tulis. dan tugas setiap peserta didik. Pembelajaran remedial dirancang untuk individu. dan program pendidikan. Proses pembelajaran dikembangkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif melalui kegiatan mengamati (melihat. membaca. ulangan. 2. chart. Kurikulum didasarkan pada standar kompetensi lulusan yang ditetapkan untuk satu satuan pendidikan. menganalis (menghubungkan. tabel. Kegiatan ekstrakurikuler wajib dinilai yang hasilnya digunakan sebagai unsur pendukung kegiatan intrakurikuler. gambar. g. Pembelajaran remedial dilaksanakan untuk membantu peserta didik menguasai kompetensi yang masih kurang. menyimak). kelompok atau kelas sesuai dengan hasil analisis jawaban peserta didik. keterampilan dan pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kompetensi Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum bukan hanya merupakan sekumpulan daftar mata pelajaran karena mata pelajaran hanya merupakan sumber materi pembelajaran untuk mencapai kompetensi. menentukan keterkaitan. dan lain-lain). mengkomunikasikan (lisan. 2. Kegiatan ekstra-kurikuler terdiri atas kegiatan wajib dan pilihan. i. PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip berikut: 1. 4. membangun cerita/konsep).

teknologi. Kekurangan tersebut harus segera diikuti dengan proses memperbaiki kekurangan dalam aspek hasil belajar yang dimiliki seorang atau sekelompok peserta didik. pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. budaya. STRUKTUR KURIKULUM Struktur kurikulum menggambarkan konseptualisasi konten kurikulum dalam bentuk mata pelajaran.Kurikulum didasarkan kepada kepentingan nasional dan kepentingan daerah. 10. Struktur Kurikulum SD/MI adalah sebagai berikut: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU I Kelompok A 1. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. A. Olah Raga dan Kesehatan 4 5 8 5 4 4 II 4 6 8 6 4 4 III IV 4 6 10 6 4 4 4 4 7 6 3 3 5 4 V 4 4 7 6 3 3 5 4 VI 4 4 7 6 3 3 5 4 MATA PELAJARAN Matematika – SMA/MA/SMK | 86 .6. Ilmu Pengetahuan Alam 6. STRUKTUR KURIKULUM SD/MI Beban belajar dinyatakan dalam jam belajar setiap minggu untuk masa belajar selama satu semester. dan III masing-masing 30. Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan.Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan memperbaiki pencapaian kompetensi. Struktur kurikulum adalah juga merupakan aplikasi konsep pengorganisasian konten dalam sistem belajar dan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran. Pengorganisasian konten dalam sistem belajar yang digunakan untuk kurikulum yang akan datang adalah sistem semester sedangkan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran berdasarkan jam pelajaran per semester. dan seni. 7. Kurikulum harus diarahkan kepada proses pengembangan. II. dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. IV. kebutuhan. Pendidikan Jasmani. 11. 8. Instrumen penilaian hasil belajar adalah alat untuk mengetahui kekurangan yang dimiliki setiap peserta didik atau sekelompok peserta didik. Bahasa Indonesia 4. distribusi konten/mata pelajaran dalam semester atau tahun. dan VI masing-masing 36 jam setiap minggu. posisi konten/mata pelajaran dalam kurikulum. Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. V. Ilmu Pengetahuan Sosial Kelompok B 1. perkembangan. beban belajar untuk mata pelajaran dan beban belajar per minggu untuk setiap siswa. 34 sedangkan untuk kelas IV. 32. 9. Matematika 5. Kurikulum berpusat pada potensi. Seni Budaya dan Prakarya 2. Jam belajar SD/MI adalah 35 menit. Beban belajar di SD/MI kelas I. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik berada pada posisi sentral dan aktif dalam belajar.

dan 32 menjadi 38. Bahasa Indonesia 4. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. Ilmu Pengetahuan Sosial 7. Sedangkan lama belajar untuk setiap jam belajar di SMP/MTs tetap yaitu 40 menit. bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. dan III. pengembangan kemampuan berpikir. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. Kompetensi Dasar IPA dan IPS berdiri sendiri dan kemudian diintegrasikan ke dalam tema-tema yang ada untuk kelas IV. Olahraga dan Kesehatan yang berlaku untuk kelas I. Disamping itu. Bahasa Indonesia. Struktur Kurikulum SMP/MTS adalah sebagai berikut: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU VII VIII IX 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 MATA PELAJARAN Kelompok A 1. semangat kebangsaan. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. 38 dan 38 untuk masing-masing kelas VII. Sedangkan untuk kelas IV. VIII. Ilmu Pengetahuan Alam 6. 32. serta Pendidikan Jasmani. dan Kesehatan 3. Olah Raga. IPA juga ditujukan untuk pengenalan lingkungan biologi dan alam sekitarnya. tujuan pendidikan IPS menekankan pada pengetahuan tentang bangsanya. kemampuan belajar. Matematika. dan pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan alam. V dan VI. Keduanya sebagai pendidikan berorientasi aplikatif. serta aktivitas masyarakat di bidang ekonomi dalam ruang atau space wilayah NKRI. Seni Budaya 2. patriotisme. STRUKTUR KURIKULUM SMP/MTS Dalam struktur kurikulum SMP/MTs ada penambahan jam belajar per minggu dari semula 32. Pendidikan Jasmani. IPA dan IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science dan integrative social studies. serta pengenalan berbagai keunggulan wilayah nusantara. II. dan IX. Matematika 5. Bahasa Inggris Kelompok B 1.Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu 30 32 34 36 36 36 = Pembelajaran Tematik Integratif Keterangan: Mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dapat Bahasa Daerah. Prakarya Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu Keterangan: Mata pelajaran Seni Budaya dapat memuat Bahasa Daerah. B. Matematika – SMA/MA/SMK | 87 . Integrasi Kompetensi Dasar IPA dan IPS didasarkan pada keterdekatan makna dari konten Kompetensi Dasar IPA dan IPS dengan konten Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. V dan VI. rasa ingin tahu.

C. dan kemampuannya. Olah Raga. yakni seni rupa. seni tari. Prakarya terdiri atas empat aspek. minat.Kelompok mata pelajaran wajib yang diikuti oleh seluruh peserta didik . yakni kerajinan. Masing-masing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan dapat memilih aspek yang diajarkan sesuai dengan kemampuan (guru dan fasilitas) pada satuan pendidikan itu.Kelompok mata pelajaran peminatan yang diikuti oleh peserta didik sesuai dengan bakat. seni musik. sedangkan untuk SMK/MAK bersifat vokasional. Pendidikan Jasmani. Kelompok mata pelajaran peminatan SMA/MA bersifat akademik. dan seni teater. Matematika 5. budidaya. Kelompok mata pelajaran peminatan SMA/MA terdiri atas 18 jam per minggu untuk kelas X. Masingmasing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan menyelenggarakan pembelajaran prakarya paling sedikit dua aspek prakarya sesuai dengan kemampuan dan potensi daerah pada satuan pendidikan itu. Prakarya dan Kewirausahaan Jumlah Jam Pelajaran Kelompok A dan B per minggu Kelompok C (Peminatan) Matematika – SMA/MA/SMK | 88 . STRUKTUR KURIKULUM PENDIDIKAN MENENGAH (SMA/MA/SMK/MAK) Struktur kurikulum SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: . Kelompok mata pelajaran peminatan SMK/MAK masing-masing 24 jam per kelas. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah adalah sebagaimana yang tertera di dalam tabel berikut ini: Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah kelompok mata pelajaran wajib: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU X XI XII 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 MATA PELAJARAN Kelompok A (Wajib) 1. Adanya kelompok mata pelajaran wajib dan mata pelajaran peminatan dimaksudkan untuk menerapkan prinsip kesamaan antara SMA/MA dan SMK/MAK. rekayasa. 1.Seni Budaya terdiri atas empat aspek. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. dan Kesehatan 9. Mata pelajaran wajib sebanyak 9 (sembilan) mata pelajaran dengan beban belajar 24 jam per minggu. Struktur ini menempatkan prinsip bahwa peserta didik adalah subjek dalam belajar dan mereka memiliki hak untuk memilih sesuai dengan minatnya. dan 20 jam per minggu untuk kelas XI dan XII. Bahasa Inggris Kelompok B (Wajib) 7. Sejarah Indonesia 6. Bahasa Indonesia 4. Seni Budaya 8. dan pengolahan.

XI. Pemilihan peminatan berdasarkan nilai rapor di SMP/MTsdan/atau nilai UN SMP/MTs dan/atau rekomendasi guru BK di SMP/MTs dan/atau hasil tes penempatan (placement test) ketika mendaftar di SMA/MA dan/atau tes bakat minat oleh psikolog dan/atau rekomendasi guru BK di SMA/MA.Mata Pelajaran Peminatan Akademik (SMA/MA) Jumlah Jam Pelajaran yang Harus Ditempuh per Minggu 18 42 20 44 20 44 Beban belajar di SMA/MA untuk Tahun X. 2. Satu jam belajar adalah 45 menit. Untuk sekolah yang mampu menyediakan layanan khusus maka setelah akhir semester pertama peserta didik masih mungkin mengubah pilihan peminatannya. dan XII masing-masing 43 jam belajar per minggu. Pada akhir minggu ketiga semester pertama peserta didik masih mungkin mengubah pilihan peminatannya berdasarkan rekomendasi para guru dan ketersediaan tempat duduk. Peminatan Ilmu-ilmu Sosial. Kelompok Peminatan Peminatan Matematika dan Ilmu-Ilmu Alam I 1 Matematika 2 Biologi 3 Fisika 4 Kimia Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial II 1 Geografi 2 Sejarah 3 Sosiologi 4 Ekonomi Peminatan Ilmu-Ilmu Bahasa dan Budaya III 1 Bahasa dan Sastra Indonesia 2 Bahasa dan Sastra Inggris 3 Bahasa dan Sastra Asing Lainnya 4 Antropologi Mata Pelajaran Pilihan dan Pendalaman Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat Jumlah jam pelajaran yang tersedia per minggu Jumlah jam pelajaran yang harus ditempuh per minggu Kelas XI 24 X 24 XII 24 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 6 66 42 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 76 44 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 76 44 Kelompok Peminatan terdiri atas Peminatan Matematika dan Ilmu-ilmu Alam. Sejak kelas X peserta didik sudah harus memilih kelompok peminatan yang akan dimasuki. selain ketiga peminatan tersebut ditambah dengan Kelompok Peminatan Keagamaan. Struktur Kurikulum SMA/MA MATA PELAJARAN Kelompok A dan B (Wajib) C. dan Peminatan Ilmu-ilmu Bahasa dan Budaya. Semua mata pelajaran yang terdapat dalam suatu Kelompok Peminatan yang dipilih peserta didik harus diikuti. Setiap Kelompok Peminatan terdiri atas 4 (empat) mata pelajaran dan Matematika – SMA/MA/SMK | 89 . Untuk MA.

Pemerintah bertanggungjawab dalam melakukan evaluasi pelaksanaan kurikulum secara nasional. Dua mata pelajaran di luar Kelompok Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam satu Kelompok Peminatan lainnya. Manajemen Implementasi a. Mata pelajaran Pendalaman Kelompok Peminatan yang dipilihnya. Setiap peserta didik memiliki beban belajar per semester selama 42 jam pelajaran untuk kelas X dan 44 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. IMPLEMENTASI 1. bahwa sekolah adalah satu kesatuan lembaga pendidikan dan kurikulum adalah kurikulum satuan pendidikan. Pengembangan Kurikulum 2013 pada Satuan Pendidikan Pengembangan Kurikulum 2013 dilakukan atas prinsip: a. Implementasi kurikulum adalah usaha bersama antara Pemerintah dengan pemerintah propinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KURIKULUM A. Satu mata pelajaran di luar Kelompok Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam Kelompok Peminatan lainnya. Pengembangan kurikulum di jenjang satuan pendidikan dipimpin langsung oleh kepala sekolah d. jumlah jam pelajaran pilihan per minggu berdurasi 6 jam pelajaran yang dapat diambil dengan pilihan sebagai berikut: a. bukan daftar mata pelajaran b. b. Beban belajar ini terdiri atas Kelompok Mata Pelajaran Wajib A dan B dengan durasi 24 jam pelajaran dan Kelompok Mata Pelajaran Peminatan dengan durasi 12 jam pelajaran untuk kelas X dan 16 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. Sedangkan pada kelas XI dan XII. Untuk Mata Pelajaran Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat kelas X. dan 4 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. peserta didik mengambil Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat dengan jumlah jam pelajaran pilihan per minggu berdurasi 4 jam pelajaran yang dapat diambil dengan pilihan sebagai berikut: a. mengembangkan kurikulum secara bersama-sama. Matematika – SMA/MA/SMK | 90 .masing-masing mata pelajaran berdurasi 3 jampelajaran untuk kelas X. dan/atau b. Satu mata pelajaran dari masing-masing Kelompok Peminatan yang lainnya. V. c. Pemerintah bertangungjawab dalam mempersiapkan guru dan kepala sekolah untuk melaksanakan kurikulum. c. Pelaksanaan implementasi kurikulum di satuan pendidikan dievaluasi oleh kepala sekolah. dan/atau b. Guru di satu satuan pendidikan adalah satu satuan pendidik (community of educators). 2.

Pemerintah propinsi bertanggungjawab dalam melakukan supervisi dan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum di propinsi terkait. Ini adalah tahun pertama implementasi dan dilakukan di seluruh wilayah NKRI.Juli 2015: seluruh kelas dan seluruh sekolah SD/MI. SMK/MAK yang belum melaksanakan kurikulum. VIII. SMK/MAK telah melaksanakan sepenuhnya Kurikulum 2013. Dengan demikian. SMA/MA. kepemimpinan. Pada prinsipnya ketika implementasi Kurikulum 2013 memasuki tahun 2015-2016 seluruh buku babon sudah teredia di setiap sekolah. IV. 3. dimulai dari bulan Januari – Desember 2013. dari tahun 2013 – 2016. kepala sekolah yang akan melaksanakan Kurikulum 2013 dan dilakukan sebelum Kurikulum 2013 diimplementasikan. Seperti tahun pertama maka SD akan dipilih sebanyak 30% sehingga secara keseluruhan implementasi kurikulum pada tahun kedua sudah mencakup 60% SD di seluruh wilayah NKRI. Implementasi Kurikulum 2013 mensyaratkan penataan administrasi. sistem administrasi. IV terbatas pada sejumlah SD/MI (30%). dan seluruh VII (SMP/MTs). Isi buku babon guru adalah sama dengan buku babon peserta didik dengan tambahan strategi pembelajaran dan penilaian hasil belajar. V. kepemimpinan dan budaya kerja guru yang baru. manajemen. SMA/MA. e. b. SMK/MAK). seluruh guru. penulisan dan percetakan serta distribusi buku babon akan seluruhnya selesai pada awal tahun terakhir implementasi kurikulum atau sebelumnya. kepala sekolah dan pengawas di seluruh Indonesia sudah mendapatkan pelatihan untuk melaksanakan kurikulum. pelatihan juga berkenaan dengan tata kerja baru para guru dan kepemimpinan kepala sekolah.Juli 2014: Kelas I. Untuk SD akan dipilih 30% SD dari setiap kabupaten/kota di setiap propinsi.Juli 2013: Kelas I. dan XI: tahun 2014 adalah tahun kedua implementasi. . dari tahun 2013 – 2016. Buku babon terdiri atas buku untuk peserta didik dan buku untuk guru.d. Sejalan dengan strategi implementasi. Kepala Sekolah dan Pengawas. dan pengembangan budaya sekolah (budaya kerja guru) terutama untuk SMA/MA dan SMK/MAK. VII. c. Pada tahun kedua ini. Oleh karena itu dalam persiapan implementasi Kurikulum 2013. ketika Kurikulum 2013 akan diimplementasikan pada tahun pembelajaran 2015-2016. Pelaksanaan kurikulum di seluruh sekolah dan jenjang pendidikan yaitu: . Prinsip ini menjadi prinsip utama implementasi dimana guru. Pengembangan manajemen. Stategi Implementasi Kurikulum terdiri atas: a. X. Pelatihan guru. hanya kelas terakhir SMP/MTs. kepala sekolah dan pengawas di wilayah sekolah terkait yang akan mengimplemntasikan kurikulum adalah mereka yang sudah terlatih. Pemerintah kabupaten/kota bertanggungjawab dalam memberikan bantuan profesional kepada guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan kurikulum di kabupaten/kota terkait. II. dan X (SMA/MA. d. Pengembangan buku babon.Dengan penerapan pelatihan ini maka implementasi Kurikulum tidak hanya berkenaan dengan upaya realisasi ide dan rancangan kurikulum tetapi juga pembenahan pada pelaksanaan pendidikan di satuan pendidikan. SMP/MTs. Sedangkan pedoman pembelajaran dan penilaian hasil belajara secara rinci tercantum dalam buku pedoman pembelajaran dan penilaian. Pelatihan Guru. Matematika – SMA/MA/SMK | 91 . kepala sekolah dan pengawas adalah untuk guru. .

e. Pendampingan dalam bentuk Monitoring dan Evaluasi untuk menemukan kesulitan dan masalah implementasi dan upaya penanggulangan: Juli 2013 – 2016. Strategi implementasi Kurikulum 2013 menghindari pelatihan yang dinamakan one-shot training sebagai strategi implementasi mengingat kelemahan strategi tersebut. Pleatihan yang dilakukan untuk para guru, kepala sekolah, dan pengawas akan diikuti dengan monitoring dan evaluasi sepanjang pelaksanaan paling tidak dari tahun pertama sampai tahun ketiga implementasi. Pada akhir tahun ketiga implementasi diharapkan permasalahan yang dihadapi para pelaksana sudah tidak lagi merupakan masalah mendasar dan kurikulum sudah dapat dilaksanakan sebagaimana seharusnya. Permasalahan lapangan yang muncul adalah yang dapat diselesaikan oleh kolaborasi guru, kepala sekolah dan pengawas di bawah supervisi dinas pendidikan kabupaten/kota.

B. EVALUASI KURIKULUM Evaluasi Kurikulum dilaksanakan selama masa pengembangan ide (deliberation process), pengembangan desain dan dokumen kurikulum, dan selama masa implementasi kurikulum. Evaluasi dalam deliberation process menghasilkan penyempurnaan dalam Kompetensi Inti yang dijadikan organising element dalam mengikat Kompetensi dasar mata pelajaran. Pelaksanaan evaluasi implementasi kurikulum dilaksanakan sebagai berikut: 1. Sampai tahun pelajaran 2015-2016: untuk memperbaiki berbagai kesulitan pelaksanaan kurikulum. 2. Sampai tahun pelajaran 2016 secara menyeluruh untuk menentukan efektivitas, kelayakan, kekuatan, dan kelemahan implementasi kurikulum. Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum (implementasi kurikulum) diselenggarakan dengan tujuan untuk mengidentifikai masalah pelaksanaan kurikulum dan membantu kepala sekolah dan guru menyelesaikan masalah tersebut. Evaluasi dilakukan pada setiap satuan pendidikan dan dilaksanakan pada satuan pendidikan di wilayah kota/kabupaten secara rutin dan bergiliran. Hasil evaluasi dilakukan sebagai bahan untuk memperbaiki kelemahan kurikulum agar lebih efektif lagi di masa yang akan datang.

Matematika – SMA/MA/SMK | 92

SUBMATERI PELATIHAN : 1.2 ELEMEN PERUBAHAN KURIKULUM

Langkah Kegiatan Inti

Pemaparan oleh Instruktur dengan menggunakan PPT-1.1 dan PPT-1.2 10 Menit

Tanya Jawab

10 Menit

Pemaparan
Instruktur menyampaikan materi Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum yang mencakup: 4 standar, tematik terpadu untuk SD kls 1 dan 4, TIK merupakan sarana pembelajaran yang dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain, perubahan pendekatan pembelajaran yaitu Scientific Approach, bahasa sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge, penetapan platform untuk mata pelajaran tertentu (geografi untuk IPS, Biologi untuk IPA)dengan menggunakan PPT-1.2.

Tanya Jawab
Diskusi dan tanya jawab terkait dengan Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: d. Alasan pengembangan kurikulum. e. Identifikasi perubahan yang penting dalam kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya (struktur kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian hasil belajar). f. Manfaat adanya perubahan kurikulum. Kemudian fasilitator menyimpulkannya.

Matematika – SMA/MA/SMK | 93

Matematika – SMA/MA/SMK | 94

Matematika – SMA/MA/SMK | 95

Matematika – SMA/MA/SMK | 96

Matematika – SMA/MA/SMK | 97

Matematika – SMA/MA/SMK | 98 .

3: SKL. KI.1/3. KI. KI.1/2.3/2. KD masing-masing mapel selama 1 tahun yang akan dijadikan dasar untuk membuat RPP dengan menggunakan LK 1. KI. Presentasi Hasil Kerja Kelompok Masing-masing kelompok memaparkan hasil kerja kelompok. KD 5 Menit Kerja Kelompok Presentasi Hasil Kelompok 10 Menit 30 Menit 15 Menit Pemaparan Instuktur memberikan materi SKL. dan KD dengan menggunakan PPT-1.2 Kerja Kelompok Peserta dibagi menjadi 5 kelompok.3. DAN KD Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur Memberi Contoh Analisis Keterkaitan SKL. KI. setiap kelompok diberi tugas menganalisis keterkaitan SKL. Peserta yang akan memaparkan akan ditunjuk oleh Intruktur. dan KD dengan menggunakan HO-1. Masing-masing kelompok mengerjakan KD yang berbeda agar peserta mendapat bahan hasil analisis semua KI dan KD selama 1 tahun kelas X. Sementara kelompok lainnnya memberi komentar/ tanggapan dan menilai hasil kerja kelompok lainnya.3/3. Memberi Contoh Instruktur memberikan contoh analisis keterkaitan antara SKL.SUBMATERI PELATIHAN 1.3 Matematika – SMA/MA/SMK | 99 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 100 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 101 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 102 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 103 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 104 .

berilmu.HO-1.3/2. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian. kenegaraan. kebangsaan. konseptual.1/3. seni. dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. berakhlak mulia. percaya diri.4/3.1/2. prosedural.2 STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) SMA/MA/SMALB*/Paket C Aspek Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Sikap Pengetahuan Keterampilan Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman. dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan. dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Memiliki pengetahuan faktual. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR MATEMATIKA (WAJIB) SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)/MADRASAH ALIYAH (MA) KELAS: X Matematika – SMA/MA/SMK | 105 . Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri. teknologi.

Matematika – SMA/MA/SMK | 106 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 107 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 108 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 109 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 110 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 111 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 112 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 113 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 114 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 115 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 116 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 117 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 118 .

macam dan kemampuan efektif dengan tanggungjawab. toleransi dalam pergaulan menunjukkan sikap dalam dunia sebagai bagian dari  Identitas Trigonometri. mulia. damai). lingkungan sosial peduli (gotong identitas trigonometri konsisten. berakhlak dianutnya. percaya diri. KI dan KD Mata Pelajaran : Matematika Kelas : X Materi Pokok : Perbandingan Trigonometri Standar Kompetensi Lulusan Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi HO – 1. sikap dan alam serta royong. siku-siku. konsisten. kerjasama. ukuran sudut serta bekerjasama.CONTOH ANALISIS SKL. mengembangkan rasa percayadiri. perbedaan solusi atas berbagai problem soving serta strategi berpikir permasalahan dalam macam dan ukuran dalam memilih berinteraksi secara sudut untuk dan menerapkan efektif dengan mengembangkan strategi lingkungan sosial toleransi. dan sikap cerminan bangsa dan pro-aktif dan jujur dan bekerjasama. berinteraksi secara perilaku jujur. Menghayati dan yang mencerminkan mengamalkan sikap orang ajaran agama yang beriman. dalam menempatkan toleran. Menghayati dan  Perbandingan 2. disiplin. untuk disiplin. dirinya sebagai santun. dan bertanggung 2. responsif disiplin.3 Aspek Sikap Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Lingkup Materi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Memiliki perilaku 1.1 Memiliki jawab dalam mengamalkan trigonometri segitiga motivasi internal. bekerjasama menyelesaikan Siswa menelaah hubungan perbandingan trigonometri dengan sudut pada segitiga sikusiku Siswa memecahkan masalah perbandingan trigonometri untuk sudut lebih dari atau kurang dari dengan/tanpa bimbingan guru Siswa memecahkan masalah perbandingan trigonometri untuk sudut lebih dari satu putaran Teknik Penilaian: Non tes (pengamatan) Bentuk Instrumen: Lembar pengamatan perkembangan sikap Matematika – SMA/MA/SMK | 119 .

dari 3600 dan sudut tangguh negatif untuk mengadapi mengembangkan masalah. prosedural. dan 3. Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual.d. sikap dan disiplin rasa ingin tahu. menerapkan.2 Mampu bangsa dalam mentransformasi  Fungsi Trigonometri pergaulan dunia sudut lebih dari 900 diri dalam s. Memahami.3 Menunjukkan lingkungan sikap bertanggung jawab.Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) dan alam serta masalah. menanya (berfikir divergen). menalar. 3600. jujur dan perilaku peduli lingkungan. mencoba dan Teknik Penilaian:  Tes tertulis terkait : perbandingan Matematika – SMA/MA/SMK | 120 . dalam melakukan tugas belajar  Problem solving untuk matematika. serta kesadaran hak dalam menempatkan dan kewajiban diri sebagai cerminan 2. mengembangkan rasa percaya diri dan peduli 2. konseptual. sudut lebih berpilaku jujur.14 Mendeskripsikan konsep perbandingan trigonometri pada  Nilai perbandingan sisi-sisi segitiga sikusiku (perbandinga trigonometri)  Melakukan kegiatan mengamati fakta matematika. dan menganalisis pengetahuan 3. kritis perilaku kritis. rasa ingin tahu.

dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. misalnya in . kebangsaan. kebangsaan. seni. dan prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan. 3. teknologi. menanya (berfikir divergen). Kompetensi Inti faktual. mencoba dan membuktikan serta menyimpulkan terkait sudut berelasi (sudut di kuadrani. teknologi. kenegaraan. sudut tumpul dan sudut tumpul Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) segitiga siku-siku (kuadran I) . budaya.16 Mendeskripsikan dan menentukan hubungan perbandingan trigonometri dari sudut di setiap kuadran. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian. konseptual. perluasan konsep pada kordinat kartesius dalam kaitannya dengan sudut berelasi  Hubungan antar perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku  Nilai perbandingan trigonometri diperluas dengan mengaitkan kordinat  Perbandingan trigonometri di berbagai kuadran dan pemahaman  Melakukan kegiatan mengamati fakta matematika. serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah Kompetensi Dasar segitiga siku-siku melalui penyelidikan dan diskusi tentang hubungan perbandingan sisi-sisi yang bersesuaian dalam beberapa segitiga siku.15 Menemukan sifatsifat dan hubungan antar perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku. kuadran II.Aspek Standar Kompetensi Lulusan metakognitif dalam ilmu pengetahuan. dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan. menalar.siku sebangun. kenegaraan. memilih dan menerapkan dalam penyelesaian Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi membuktikan dan menyimpulkan o terkait nilai perbandingan sisi segitiga siku-siku o terkait dengan perluasan nilai perbandingan trigonometri untuk sudut siku-siku. dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian. kuadran III dan kuadran IV)  Portofolio hasil kerja siswa dan catatan guru Bentuk instrumen penilaian:  Soal uraian  Portofolio Matematika – SMA/MA/SMK | 121 . seni. 3.

busur. dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri. (misalnya menggunakan bayangan. dan mampu menggunakan 4. menalar.15 Menyajikan grafik fungsi trigonometri  Penerapan perbandingan trigonometri  Melukis grafik fungsi trigonometri  Menentukan tinggi gedung dengan memanfaatkan perbandingan trigonometri dengan berbagai cara.17 Mendeskripsikan konsep fungsi trigonometri dan menganalisis grafik fungsinya serta menentukan hubungan nilai fungsi trigonometri dari sudut-sudut istimewa Lingkup Materi sudut berelasi  Grafik fungsi trigonometri Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri. klinometer dan sebagainya)  Unjuk kerja (dengan instrumen pengamatan) Matematika – SMA/MA/SMK | 122 .Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti Kompetensi Dasar masalah nyata dan matematika 3. 4 Mengolah.14 Menerapkan perbandingan trigonometri dalam menyelesaikan masalah 4.

Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti metoda sesuai kaidah keilmuan Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Matematika – SMA/MA/SMK | 123 .

3 PETUNJUK KEGIATAN ANALISIS SKL. KI. Setelah selesai masukkan dalam Lembar Kerja Analisis Keterkaitan SKL. dan KD MATEMATIKA KELAS X LK – 1. 2. Bacalah KI mata pelajaran matematika SMA kelas X. Bacalah dan komparasikan dengan SKL Tahun 2006 (Permendiknas Th 2006). KI dan KD 1. Tentukan teknik dan instrumen penilaiannya dengan mengacu silabus mata pelajaran 8. Bacalah substansi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tahun 2013. KI. 3. Bacalah KD mata pelajaran matematika SMA kelas X. 5. Analisislah lingup materi dari setiap KD mengacu silabus mata pelajaran 6. KI DAN KD Kompetensi Tujuan Kegiatan Kelompok Kerja : : : Memahami keterkaitan antara SKL.LEMBAR KERJA ANALISIS KETERKAITAN SKL. 4. Tulislah aktivitas/ kegiatan belajar siswa untuk mencapai kompetensi tersebut dengan mengacu silabus mata pelajaran 7. KI dan KD pada Kurikulum 2013 Menganalisis keterkaitan SKL. dan KD matematika kelas X yang sudah disiapkan! Matematika – SMA/MA/SMK | 124 .

disiplin. menganalisis pengetahuan faktual. santun. menerapkan. responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Memahami . KI. toleran. dan KD MATA PELAJARAN : MATEMATIKA KELAS :X MATERI AJAR : Domain Sikap Standar Kompetensi Lulusan Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman. dan metakognitif dalam matematika. Kompetensi Inti Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur. tanggungjawab. percaya diri. konseptual. konseptual.LEMBAR KERJA ANALISIS KETERKAITAN SKL. berilmu. kerjasama. prosedural. damai). peduli (gotong royong. berakhlak mulia.3 Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual. dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas/Kegiatan Belajar Siswa untuk Mencapai Kompetensi LK – 1. ilmu Matematika – SMA/MA/SMK | 125 .

Mengolah. menalar. teknologi. - Matematika – SMA/MA/SMK | 126 . Kompetensi Inti pengetahuan. dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian.Domain Standar Kompetensi Lulusan pengetahuan. seni. serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. kenegaraan. dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas/Kegiatan Belajar Siswa untuk Mencapai Kompetensi Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret dalam menyelesaikan masalah secara mandiri. dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan. budaya. seni. dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian. kenegaraan. kebangsaan. kebangsaan. teknologi.

Peran guru. dan guru BK. 2. Dukungan dinas pendidikan kabupaten dan organisasi profesi dalam implementasi kurikulum 2013. 3. Membuat Rangkuman Instruktur merangkum semua materi pelatihan Konsep Kurikulum yang telah disampaikan selama 4 JP sebagai kegiatan penutup.4: STRATEGI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur Diskusi Kelas Merangkum Hasil Diskusi Kelas Refleksi dan umpan balik untuk seluruh materi pelatihan 15 Menit 10 Menit 20 Menit 10 Menit Pemaparan Paparan oleh fasilitatortentang Strategi Implementasi Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1. meliputi berikut ini.MATERI PELATIHAN 1. pengawas sekolah. 1. Dukungan manajemen sekolah atau kultur sekolah dalam mensukseskan pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013.4 Diskusi Kelas Mendiskusikan elemen penting dalam implementasi kurikulum 2013. Matematika – SMA/MA/SMK | 127 . kepala sekolah.

Matematika – SMA/MA/SMK | 128 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 129 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 130 .

2 2.MATERI PELATIHAN 2: ANALISIS MATERI AJAR 2.3 2.4 Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik BAGIAN Analisis Buku Guru danIII Siswa Matematika – SMA/MA/SMK | 131 .1 2.

Matematika – SMA/MA/SMK | 132 . LINGKUP MATERI 1. dan KD. 3. KI. pendekatan belajar . KI. 5. 6. struktur. Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran. dan memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. 2. 11. Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain. 4. Kecukupan. dan KD secara teliti dan serius. 2. mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran. 9. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa. menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan seharihari.MATERI PELATIHAN 2: ANALISIS MATERI AJAR A. 5. Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. Konsep Pendekatan Scientific Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. Menjelaskan konsep pendekatan scientific. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Menjelaskan secara utuh materi. 4. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran. menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madrasah dan menghargai pendapat orang lain. Menjelaskan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. B. 8. 3. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. 7. struktur. 10. Mengidentifikasi kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. dan Kedalaman Materi) C. 3. 7. KI. Menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL. menguasai secara utuh materi. mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. INDIKATOR 1. 2. dan KD. 6. Menganalisis kesesuaian proses.

D.12. ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 133 . 4. Konsep Pendekatan Scientific Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Lembar Kerja Dokumen Bahan Bacaan a. 2. Video Pembelajaran Bahan Tayang a. PERANGKAT PELATIHAN 1. b. 3. c. d. Konsep Pendekatan Scientific Konsep Penilaian Autentik 5. b. Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran.

Laptop.dilanjutkan dengan paparan materi oleh fasilitator tentang Konsep Pendekatan Scientific dengan menggunakan PPT-2. ANALISIS MATERI AJAR 12 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. antusias. indikator.1/4.1. dan Laser Pointer. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 2.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. teliti. Diskusi kelompok untuk mengkaji pendekatan scientific yang 40 Menit mengacu pada tayangan video. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran.2-1 dan Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Matematika dengan menggunakan PPT-2. Active Speaker. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Analisis Materi Ajar. Diskusi kelompok tentang konsep pendekatan scientific dengan 30 Menit menggunakan HO-2.1 Konsep Pendekatan Scientific 90 Menit Penayangan Video pembelajaran Matematika dengan menggunakan 20 Menit V-2. Fasilitator memotivasi peserta agar serius.3 Model-model Pembelajaran 90 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 134 . tujuan. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. kompetensi. alokasi waktu.1-2.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 2. File. atau media pembelajaran lainnya. 2.1-1 dan contoh-contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika dengan mengacu pada HO-2.2. seperti LCD Projector.

dan Kedalaman Materi) Menilai buku dilakukan oleh peserta dengan bimbingan fasilitator 20 Menit dilihat dari aspek kesesuaian. Kerja kelompok untuk menganalisis kesesuaian buku guru dan buku 60 Menit siswa dengan tuntutan SKL. ICE BREAKER 5 Menit 5 Menit 240 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 135 .2. Kecukupan. dan kedalaman materi.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian.2/3. dan Discovery Learning). Menyimpulkan hasil diskusi dan menyampaikan format lembar 15 Menit kerja yang telah disiapkan. KI.Mengamati tayangan tiga jenis model pembelajaran (Project Based Learning.3 dan Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika menggunakan bahan tayang PPT-2. dan KD dengan menggunakan LK-2. kecukupan.4-2.3 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Problem Based Learning.3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran 20 menit 30 menit 40 menit 90 Menit Kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan 15 Menit bentuk penilaian autentik.41 dan LK -2. Kerja kelompok untuk mengidentifikasi penerapan Pendekatan Scientific pada tiga model pembelajaran. Presentasi hasil diskusi kelompok 25 Menit Paparan materi tentang Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan 15 Menit Hasil Belajar dengan menggunakan bahan tayang PPT-2. 2. Menerapkan Focus Group Discussion untuk mengidentifikasi karakteristik tiga model pembelajaran. Diskusi kelompok hasil penilaian buku dilanjutkan dengan 30 Menit pemaparan materi tentang Analisis Buku Guru dan Buku Siswa dengan menggunakan PPT-2. ICE BREAKER 2. Diskusi tentang konsep penilaian autentik pada proses dan hasil 30 Menit belajar.

Kerja kelompok untuk membuat contoh-contoh penerapan materi 30 Menit pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Analisis materi Ajar.Diskusi kelompok untuk menganalisis kesesuaian proses. 30 Menit pendekatan scientific. Presentasi hasil kerja kelompok. Menyimpulkan materi analisis buku oleh fasilitator. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. Fasilitator menutup pembelajaran 30 Menit 20 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 136 .

kelompok lain dapat dijadikan pembahas dan penanya.Materi Pelatihan 2.2-2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi. Matematika – SMA/MA/SMK | 137 . Mengidentifikasi konsep pendekatan scientific yang disampaikan pada tayangan video.1: Konsep Pendekatan Scientific Langkah Kegiatan Inti Diskusi Kelompok Contohcontoh Pendekatan Scientific dan Penerapannya 45 Menit Diskusi Kelompok Pendekatan Scientific 45 Menit Diskusi Kelompok 1. Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya. Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok 1. 2. tugas diskusi kelompok sebagai berikut. Membuat urutan aktivitas pada pendekatan scientific. 2. 1. Membuat contoh pembelajaran salah satu KD dengan menggunakan pendekatan scientific.1 dan Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2. KD yang ditetapkan adalah KD semester 1. Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok. 2. 3. Paparan Materi Fasilitator menyampaikan Konsep Pendekatan Scientific dengan menggunakan PPT-2. Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok. Mengkaji pendekatan scientific yang mengacu pada tayangan video.2. 3. Diskusi Kelompok Diskusi kelompok Contoh-contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran.

Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok 1. kelompok lain dapat dijadikan pembahas dan penanya. 2. Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok. Matematika – SMA/MA/SMK | 138 . Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya. Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok. 3.

Matematika – SMA/MA/SMK | 139 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 140 .

para ilmuan lebih mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning)ketimbang penalaran deduktif (deductivereasoning). retensi informasi dari guru sebesar lebih dari 90 persen setelah dua hari dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 50-70 persen. Matematika – SMA/MA/SMK | 141 . menganalisis. B. empiris. Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala. Sebaliknya.1-1 PENDEKATAN ILMIAH DALAM PEMBELAJARAN A. penalaran induktif menempatkan buktibukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah. memperoleh pengetahuan baru. mengolah informasi atau data. Pada pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah. retensi informasi dari guru sebesar 10 persensetelah 15 menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25 persen.Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap. Karena itu Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. Sejatinya. keterampilan. atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. dan pengetahuan peserta didik. penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. kemudian memformulasi. Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi.Karena itu. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada pembelajaran tradisional.HO-2. dan menguji hipotesis. Untuk dapat disebut ilmiah. Pendekatan Ilmiah dan Non-ilmiah dalam Pembelajaran Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradidional. metode ilmiah umumnya memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum. dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Esensi Pendekatan Ilmiah Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah.

prasangka. dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran. memecahkan masalah. teori.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis. dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran. memahami. Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana. penemuan melalui coba-coba. dan menarik sistem penyajiannya. intuisi sama sekali menafikan dimensi alur pikir yang sistemik. penemuan. dan fakta empiris yang dapatdipertanggung-jawabkan. kesamaan. atau kriteria ilmiah. Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan. dan penjelasan tentang suatu kebenaran. khayalan. dan keterampilan secara cepat dan berjalan dengan sendirinya. Istilah ini sering juga dipahami sebagai penilaian terhadap sikap. pemikiran subjektif. atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis. dan tepat dalam mengidentifikasi. Intuisi sering dimaknai sebagai kecakapan praktis yang kemunculannya bersifat irasional dan individual. penalaran. Kemampuan intuitif itu biasanya didapat secara cepat tanpa melalui proses panjang dan tanpa disadari.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan. dan asal berpikir kritis. proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai.  Penjelasan guru. akal sehat.  Substansi atau materipembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu. jelas. analitis.  Intuisi. pengetahuan.   Berbasis pada konsep. Matematika – SMA/MA/SMK | 142 . menerapkan. respon peserta didik. legenda. dan tautan satu dengan yang lain dari substansi atau materi pembelajaran. atau dongeng semata. dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami. pengabsahan. prinsip-prinsip.Proses pembelajaran dengan berbasis pendekatan ilmiah harus dipandu dengan kaida-kaidah pendekatan ilmiah. bukan sebatas kira-kira. Dengan demikian. Namun demikian. Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai non-ilmiah yang meliputiintuisi. Intuisi juga bermakna kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki oleh seseorang atas dasar pengalaman dan kecakapannya.

Hal inilah yang menyebabkan penggunaan akal sehat berubah menjadi prasangka atau pemikiran skeptis.Karena itu. Tentu saja. jika diolah secara baik. tindakan coba-coba itu ada manfaatnya bahkanmampu mendorong kreatifitas.  Prasangka. keterampilan. peserta didik. dan pengetahuan yang diperoleh semata-mata atas dasar akal sehat (comon sense) umumnya sangat kuat dipandu kepentingan seseorang (guru. dan pengetahuan yang benar. tiba-tiba dia kaget komputer laptop itu menyala. karena memang hal itu dapat menunjukan ranah sikap. Secara akademik diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang bependidikan tinggi. sampai dengan menemukan kepastian jawaban. khususnya mereka yang normal hingga jenius. seorang peserta didik mencoba meraba-raba tombol-tombol sebuah komputer laptop.  Berpikir kritis. keterampilan. Ketika akal sehat terlalu kuat didomplengi kepentingan pelakunya. Sebaliknya akan berubah menjadi prasangka buruk atau sikap tidak percaya. dan sejenisnya) yang menjadi pelakunya.Sikap.Tindakan atau aksi coba-coba seringkali melahirkan wujud atau temuan yang bermakna. jika diwarnai oleh kepentingan subjektif guru dan peserta didik. tidak memiliki kepastian. hingga dia sampai pada kepastian jawaban atas tombol dengan lambang seperti apa yang bisa memastikan bahwa komputer laptop itu bisa menyala. Berpikir skeptis atau prasangka itu memang penting. Namun demikian.Kamampuan berpikir kritis itu ada pada semua orang. harus diserta dengan pencatatan atas setiap tindakan. Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat selama proses pembelajaran. Namun demikian. Misalnya.  Penemuan coba-coba. Akal sehat. seringkali mereka menjeneralisasi hal-hal khusus menjadi terlalu luas. jika guru dan peserta didik hanya sematamata menggunakan akal sehat dapat pula menyesatkanmereka dalam proses dan pencapaian tujuan pembelajaran. kalau memang tindakan coba-coba ini akan dilakukan. keterampilan dan pengetahuan yang ditemukan dengan caracoba-coba selalu bersifat tidak terkontrol. Peserta didik pun melihat lambang tombol yang menyebabkan komputer laptop itu menyala dan mengulangi lagi tindakannya. Tentu saja hasil pemikirannya itu Matematika – SMA/MA/SMK | 143 . Orang seperti ini biasanya pemikirannya dipercaya benar oleh banyak orang. dan tidak bersistematika baku.

Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘bagaimana’. karena pendapatnya itu hanya didasari atas pikiran yang logis semata. C. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘apa’. Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah.tidak semuanya benar. dan keterampilan. Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Ilmiah Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah.Hasil akhirnya adalahpeningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik(soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills)dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap. Matematika – SMA/MA/SMK | 144 . Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah. karena bukan berdasarkan hasil esperimen yang valid dan reliabel. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggali informasi melaui pengamatan. keterampilan. yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘mengapa’. yaitu sikap. pengetahuan. dan pengetahuan. bertanya. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran.

kemudian menyimpulkan. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru. Mengamati Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Pendekatan ilmiah pembelajaran disajikan berikut ini. objek. Untuk mata pelajaran. Pada kondisi seperti ini. peserta didiksama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku. menyajikan data atau informasi.percobaan. Matematika – SMA/MA/SMK | 145 . dan mencipta. Dalam kaitan ini. guru harus memahami bentuk keterlibatan peserta didik dalam observasi tersebut. berbeda dengan observasi biasa. atau situasi yang diamati. tape recorder. atau situasi tertentu. pada observasi terkendalipelaku atau objek yang diamati ditempatkan pada ruang atau situasi yang dikhususkan. atau situasi yang diamati. video perekam. sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. seperti menyajikan media obyek secara nyata. baik primer maupun sekunder  Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi  Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar  Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi . biaya dan tenaga relatif banyak. 1. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut ini. dan alat-alat tulis lainnya. dan mudah pelaksanaannya. dilanjutkan dengan menganalisis. kemudian mengolah data atau informasi. Namun demikian. peserta didik senang dan tertantang. Seperti halnya observasi biasa. dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang. seperti menggunakan buku catatan.  Menentukan objek apa yang akan diobservasi  Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi  Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diobservasi. peserta didik merupakan subjek yang sepenuhnya melakukan observasi (complete observer). menalar. Kegiatan observasi dalam proses pembelajaran meniscayakan keterlibatan peserta didik secara langsung. materi. atau situasi yang diamati. kamera. Metode ini memiliki keunggulan tertentu.Merepa juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan pelaku. objek. Pada observasi biasa untuk kepentingan pembelajaran. Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Di sini peserta didik sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi.  Observasi terkendali (controlled observation). padaobservasi terkendali untuk kepentingan pembelajaran. tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. objek.  Observasi biasa (common observation).

rekaman. Skala rentang . dengan menggunakan pendekatan ini berarti peserta didik hadir dan “bermukim” langsung di tempat subjek atau komunitas tertentu dan pada waktu tertentu pula untuk mempelajari bahasa atau dialek setempat. atau situasi apa yang ingin diobservasi oleh peserta didik telah direncanakan oleh secara sistematis di bawah bimbingan guru. objek. Selama proses pembelajaran.Karena itu. Pada observasi berstruktur dalam rangka proses pembelajaran. dan (3) alat-alat lain sesuai dengan keperluan. Kedua cara pelibatan dimaksud yaitu observasi berstruktur dan observasi tidak berstruktur. Pada observasipartisipatif. skala rentang (rating scale). termasuk melibakan diri secara langsung dalam situasi kehidupan mereka. dan alat mekanikal (mechanical device). (2) film atau video. untuk merekam objek atau kegiatan secara visual. untuk merekam pembicaraan. Di bidang pengajaran bahasa. peserta didik melibatkan diri secara langsung dengan pelaku atau objek yang diamati. peserta didik dapat melakukan observasi dengan dua cara pelibatan diri. alat atau instrumen yang digunakan dalam melakukan observasi. Matematika – SMA/MA/SMK | 146 . komunitas. fenomena subjek. tidak ditentukan secara baku atau rijid mengenai apa yang harus diobservasi oleh peserta didik. atau situasi yang diobservasi.  Observasipartisipatif (participant observation). dan jujur serta terfokus pada objek yang diobservasi untuk kepentingan pembelajaran. atau objek yang diamati. Dalam kerangka ini. Sejatinya. objektif. Praktik observasi dalam pembelajaran hanya akan efektif jika peserta didik dan guru melengkapi diri dengan dengan alat-alat pencatatan dan alat-alat lain. seperti: (1) tape recorder. observasi semacam ini paling lazim dilakukan dalam penelitian antropologi khususnya etnografi. misalnya. Secara lebih luas. objektif. pada pembelajaran dengan observasi terkendali termuat nilai-nilai percobaan atau eksperimen atas diri pelaku atau objek yang diobservasi. Prinsip-rinsip yang harus diperhatikan oleh guru dan peserta didik selama observasi pembelajaran disajikan berikut ini. Daftar cek dapat berupa suatu daftar yang berisikan nama-nama subjek.faktor yang akan diobservasi. atau faktor.  Observasiberstruktur. Alat mekanikalberupa alat mekanik yang dapat dipakai untuk memotret atau merekam peristiwa-peristiwa tertentu yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi. (1) kamera.  Cermat. dapat berupa daftar cek (checklist). atau mengingat dalam memori secara spontan atas subjek. catatan berkala.  Observasitidak berstruktur. Catatan anekdotalberupa catatan yang dibuat oleh peserta didik dan guru mengenai kelakuan-kelakuan luar biasa yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi. objek. Observasi semacam ini mengharuskan peserta didik melibatkan diri pada pelaku. untuk merekam kegiatan objek atau secara audio-visual. catatan anekdotal (anecdotal record). seperti dijelaskan berikut ini. berupa alat untuk mencatat gejala atau fenomena menurut tingkatannya. Pada observasi yang tidak berstruktur dalam rangka proses pembelajaran. peserta didik membuat catatan.

misalnya: Sebutkan ciri-ciri kalimay efektif!  a.  Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”. keterampilan. serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok. objek. keterampilan.  Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan. minat. dan menarik simpulan. memperkaya kosa kata. mengajukan pertanyaan.  Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap.  Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya. Kriteria pertanyaan yang baik  Singkat dan jelas. ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik. dan perhatian peserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran. pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. b. objek. serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri. berargumen. dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan. Fungsi bertanya  Membangkitkan rasa ingin tahu. dan sejenisnya. Sebelum obsevasi dilaksanakan. atau situasi yang diobservasi. Bentuk pertanyaan. guru dan peserta didik sebaiknya menentukan dan menyepakati cara dan prosedur pengamatan. makin sulit kegiatan obervasi itu dilakukan. pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. direkam.2.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar. Banyak atau sedikit serta homogenitas atau hiterogenitas subjek.  Guru dan peserta didik perlu memahami apa yang hendak dicatat. asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal. dan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Pada saat guru bertanya. serta bagaimana membuat catatan atas perolehan observasi. Matematika – SMA/MA/SMK | 147 . dan memberi jawaban secara logis. misalnya: Apakah ciri-ciri kalimat yang efektif? Bentuk pernyataan. mengembangkan kemampuan berpikir. dan pengetahuannya.  Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain. Menanya Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap. atau situasi yang diobservasi. Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyara.  Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat. melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan. sistematis. Makin banyak dan hiterogensubjek. serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya.  Mendorong partisipasipeserta didik dalam berdiskusi.

Sebaliknya. Contoh: Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kemiskinan? Untuk pertanyaan seperti ini sebaiknya masing-masing peserta didik diminta memunculkan satu jawaban. Peserta didik pertama hingga kelima misalnya menjawab: kebodohan.  Bersifat validatif atau penguatan. bisa dimintai jawaban. akan muncul aneka persoalan sosial kemasyarakatan. Pertanyaan yang luas seperti di atas dapat dipersempit. sebaiknya guru menghentikan pertanyaan itu atau meminta mereka memunculkan jawaban yang lain yang berbeda.  Bersifat probing atau divergen. Contoh: (1) Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar. Contoh: o o Guru: “mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan”? Peserta didik I: “karena orang yang malas lebih banyak diam ketimbang bekerja. Contoh: Membangun semangat kerukunan umat beragama itu sangat penting pada bangsa yang multiagama. Ketika beberapa orang peserta didik telah memberikan jawaban yang sama. Jawaban atas pertanyaan itu dimaksudkan untuk memvalidsi atau melakukan penguatan atas jawaban peserta didik sebelumnya.  Memiliki fokus. jika suatu bangsa gagal membangun kerukunan umat beragama?Dua kalimat yang mengawali pertanyaan di muka merupakan contoh yang diberikan guru untuk menginspirasi jawaban peserta menjawab pertanyaan.” Matematika – SMA/MA/SMK | 148 .Contoh: (1) Seberapa jauh pemahaman Anda mengenai faktor-faktor yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? (2) Faktor-faktor apakah yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? Pertanyaan kedua lebih singkat dan lebih jelas dibandingkan dengan pertanyaan pertama. kemalasan. misalnya: Mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan? Pertanyaan seperti ini dimintakan jawabannya kepada peserta didik secara perorangan. kelangkaan sumber daya alam. pertanyaan kedua menuntut jawaban yang bervariasi urutan jawaban dan penjelasannya.  Menginspirasi jawaban. dan keterisolasian geografis. Jika masih tersedia alternatif jawaban lain. Pertanyaan dapat diajukan dengan cara meminta kepada peserta didik yang berbeda untuk menjawab pertanyaan yang sama. namun sifatnya menguatkan. Coba jelaskan dampak sosial apa saja yang muncul. Jika suatu bangsa gagal membangun semangat kerukukan beragama. yang kemungkinan memiliki bobot kebenaran yang sama. tidak memiliki modal usaha. peserta didik yang keenam dan seterusnya. apakah peserta didik harus rajin belajar?(2) Mengapa peserta didik yang sangat malas belajar cenderung menjadi putus sekolah? Pertanyaan pertama cukup dijawab oleh peserta didik dengan Ya atau Tidak.

guru memberikan kesempatan kepada peserta didik mendiskusikan jawabannya. c. mulai dari yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi. penerapan. sintesis. Setelah itu. Jika dengan pertanyaan tertentu tidak ada peserta didik yang bisa menjawah dengan baik. peserta didik memerlukan waktu yang cukup untuk memikirkan jawabannya dan memverbalkannya dengan kata-kata. seperti dari sekadar mengingat fakta ke pertanyaan yang menggugah kemampuan kognitif yang lebih tinggi. dan evaluasi. Tingkatan Pertanyaan Pertanyaan guru yang baik dan benar menginspirasi peserta didik untuk memberikan jawaban yang baik dan benar pula. Kata-kata kunci pertanyaan ini. sangat dianjurkan guru mengubah pertanyaannya. seperti: apa. Pola bertanya seperti ini memposisikan guru sebagai wahana pemantul. seperti pemahaman. Pertanyaan guru yang baik membuka peluang peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang makin meningkat. Karena itu.Dalam kaitan ini.”  Memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang. Guru mengemas atau mengubah pertanyaan yang menuntut jawaban dengan tingkat kognitif rendah ke makin tinggi. guru hendaknya menunggu beberapa saat sebelum meminta atau menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan itu. Bobot pertanyaan yang menggambarkan tingkatan kognitif yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi disajikan berikut ini. Matematika – SMA/MA/SMK | 149 . karena itu dia tidak produktif. orang yang malas tidak produktif” Guru : “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?” Peserta didik III: “orang malas tidak bertindak aktif. mengapa. ada baiknya dia mengubah pertanyaan seperti pertanyaan kedua.  Merangsang proses interaksi. setelah menyampaikan pertanyaan. analisis. Misalnya: (1) Apa faktor picu utama Belanda menjajah Indonesia?. dan seterusnya.o o o o Guru: “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?” Peserta didik II: “karena lebih banyak diam ketimbang bekerja. sehingga kehilangan waktu terlalu banyak untuk bekerja. sesuai dengan tuntunan tingkat kognitifnya. Untuk menjawab pertanyaan dari guru. bagaimana. guru memberi kesempatan kepada seorang atau beberapa orang peserta didik diminta menyampaikan jawaban atas pertanyaan tersebut. setelah mengajukan pertanyaan. Pertanyaan guru yang baik mendorong munculnya interaksi dan suasana menyenangkan pada diri peserta didik. Guru harus memahami kualitas pertanyaan.  Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif. (2) Apa motif utama Belanda menjajah Indonesia? Jika dengan pertanyaan pertama guru belum memperoleh jawaban yang memuaskan. sehingga menggambarkan tingkatan kognitif seperti apa yang akan disentuh.

Tulislah… Bagaimana kita dapat memecahkan…  Apa yang terjadi seaindainya…  Bagaimana kita dapat memperbaiki…  Kembangkan… Matematika – SMA/MA/SMK | 150 ... Bandingkan. Golongkan... Siapa...... Sebutkan.... Kemukakan bukti-bukti… Mengapa… Identifikasikan… Tunjukkanlah sebabnya… Berilah alasan-alasan…  Pemahaman (comprehension)  Penerapan (application Kognitif  Analisis (analysis) yang lebih tinggi  Sintesis (synthesis) Ramalkanlah… Bentuk… Ciptakanlah… Susunlah… Rancanglah. Terangkahlah...Tingkatan Subtingkatan Kognitif  Pengetahuan yang (knowledge) lebih rendah Kata-kata kunci pertanyaan                                       Apa..... Tunjukkanlah. Kapan... Ubahlah. Klasifikasikanlah. Persamaan kata. Berikanlah interpretasi. Dll.. Carilah hubungan..... Tulislah contoh. Bedakanlah.. Simpulkan. Terjemahkanlah.... Buatlah...... Jodohkan atau pasangkan. Berilah nama... Siapkanlah.. Di mana... Gunakanlah.. Demonstrasikanlah......... Analisislah.....

Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Thorndike mengemukakan berapa hukum dalam proses pembelajaran. tetapi punishment belum tentu akan mengurangi atau menghilangkan perilakunya. jika akibat hubungan S-R dirasa tidak menyenangkan. pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. bukan merupakan terjemanan dari reasonsing. Jika akibat dari hubungan S-R itu dirasa menyenangkan. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas faktakata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Pola ineraksi itu dilakukan melalui stimulus dan respons (S-R). proses pembelajaran pembelajaran akan berhasil secara efektif jika terjadi interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik. Menurut Thorndike. Sebaliknya. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak. Ini bermakna bahwa reward akan meningkatkan perilaku peserta didik. Menurut Thorndike. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Dari persepektif psikologi. Matematika – SMA/MA/SMK | 151 . lebih khusus lagi proses belajar peserta didik terjadi secara perlahan atau inkremental/bertahap. Teori ini dikembangan kerdasarkan hasil eksperimen Thorndike. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. bukan secara tibatiba. Karena itu. asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu. Menalar a. efek dari reward (akibat yang menyenangkan) jauh lebih besar dalam memperkuat perilaku peserta didik dibandingkan efek punishment (akibat yang tidak menyenangkan) dalam memperlemah perilakunya. proses pembelajaran. maka perilaku peserta didik akan melemah. yang kemudian dikenal dengan teori asosiasi. meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. Menurut teori asosiasi. Esensi Menalar Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah. prinsip dasar proses pembelajaran yang dianut oleh Thorndike adalah asosiasi. maka perilaku peserta didik akan mengalami penguatan. istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Evaluasi (evaluation)  Berilah pendapat…  Alternatif mana yang lebih baik…  Setujukah anda…  Kritiklah…  Berilah alasan…  Nilailah…  Bandingkan…  Bedakanlah… 3. yang juga dikenal dengan teori Stimulus-Respon (S-R). Jadi. meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. di mana intensitas hubungan antara stimulus (S) dan respon (R) selama proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh konsekuensi dari hubungan yang terjadi.  Hukum efek (The Law of Effect). Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating.

meliputi fase memberi perhatian terhadap model (attentional). hal ini bermakna bahwa jika peserta dalam keadaan siap dan belajar dilakukan. Dalam proses pembelajaran. maka mereka akan merasa tidak puas bahkan mengalami frustrasi.  Pertama. Menurut Thorndike. perilaku dapat dibentuk dengan menggunakan penguatan (reinforcement). Kemampuan peserta didik dalam meniru respons menjadi pengungkit utama aktivitas belajarnya. dan ganjaran. Latihan merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara berulang oleh peserta didik. maka mereka akan merasa puas. segala sumber daya pembelajaran pun perlu disiapkan secara baik dan saksama.F. kreativitas. Ada empat konsep dasar teori belajar sosial (social learning theory) dari Bandura. Sejalan dengan itu.  Latihan (exercise). fase belajar. Guru harus benar-benar siap mengajar dan peserta didik benar-benar siap menerima pelajaran dari gurunya. Prinsip-prinsip dasar dari Thorndike kemudian diperluas oleh B. teman. dan pengetahuan peserta didik sebagai hasil belajarnya. Kesiapan diidentifikasi berkaitan langsung dengan motivasi peserta didik. Kesiapan itu harus ada pada diri guru dan peserta didik. proses pembelajaran akan makin efektif jika peserta didik makin giat belajar. dan lain-lain) dan pengalaman vicarious yaitu belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain itu. Law of Disuse. Karena dia menyadari bahwa latihan saja tidak dapat memperkuat atau membentuk perilaku. Merujuk pada teori S-R. Menurut Bandura. Hubungan yang intensif dan berulang-ulang antara S dengan R akan meningkatkan kualitas ranah sikap. berarti makin tinggi pula kemampuannya dalam menghubungkan S dengan R. dan apirasi peserta didik. Law of Use yaitu hubungan antara S-R akan semakin kuat jika sering digunakan atau berulang-ulang. jika pesert didik dalam keadaan tidak siap dan belajar terpaksa dilakukan. yaitu hubungan antara S-R akan semakin melemah jika tidak dilatih atau dilakukan berulang-ulang.  Oleh karena tidak semua perilaku belajar atau pembelajaran dapat dijelaskan dengan pelaziman sebagaimana dikembangkan oleh Ivan Pavlov. yang setelah tahun 1930 dinyatakan dicabut oleh Thorndike. pada prinsipnya apakah sesuatu itu akan menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk dipelajari tergantung pada kesiapan belajar individunya.  Pengaruh (effect). Awalnya. Kaidah atau prinsip “pengaruh” dalam pembelajaran berkaitan dengan kemamouan guru menciptakan suasana.  Kedua. keterampilan. Karenanya. Kaidah dasar yang digunakan dalam teori S-R adalah:  Kesiapan (readiness). Sebaliknya. Matematika – SMA/MA/SMK | 152  . anggota masyarakat. Pengulangan ini memungkinkan hubungan antara S dengan R makin intensif dan ekstensif. dimana peserta didik belajar dengan cara meniru perilaku orang lain (guru. teori asosiasi biasanya menambahkan teori belajar sosial (social learning) yang dikembangkan oleh Bandura. Dengan begitu. teori ini terkesan mengenyampingkan peranan minat. Pelaziman operan adalah bentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi. memberi penghargaan. belajar terjadi karena proses peniruan (imitation). Kedua. latihan berulang tetap dapat diberikan. pemodelan (modelling). Memang. mengendapkan hasil memperhatikan model dalam pikiran pebelajar (retention). Skinner dalam Operant Conditioning atau pelaziman/pengkondisian operan. Hukum kesiapan (The Law of Readiness). hukum ini terdiri dari duajenis. Pertama. Hukum latihan (The Law of Exercise). celaan.Menurut Thorndike. Manfaat hasil belajar yang diperoleh oleh peserta didik dirasakan langsung oleh mereka dalam dalam dunia kehidupannya. Teori S – S ini memang terkesan robotik. hukuman. tetapi yang terpenting adalah individu menyadari konsekuensi perilakunya.

yaitu langsung dan tidak langsung.  Guru menyusun bahan pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap sesuai dengan tuntutan kurikulum. dimana peserta didik mengamati. silogisme hipotesis. Cara menalar Seperti telah dijelaskan di muka. Bagaimana aplikasinya dalam proses pembelajaran? Aplikasi pengembangan aktivitas pembelajaran untuk meningkatkan daya menalar peserta didik dapat dilakukan dengan cara berikut ini. Tugas utama guru adalah memberi instruksi singkat tapi jelas dengan disertai contoh-contoh.  Ketiga. Jadi. silogisme alternatif. dan motivasi (motivation) ketika peserta didik berkeinginan mengulang-ulang perilaku model yang mendatangkan konsekuensi-konsekuensi positif dari lingkungan.  Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah. berkembangbiak dengan cara melahirkan  Ikan Paus binatang berdaun telinga berkembangbiak dengan melahirkan  Simpulan: Semua binatang yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataanpernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus.Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik. baik dilakukan sendiri maupun dengan cara simulasi. Penalaran induktif merupakan cara menalardengan menarik simpulan dari fenomena atau atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum.menampilkan ulang perilaku model oleh pebelajar (reproduction). Pada penalaran deduktif tedapat premis. belajar vicarious. pengaturan-diri (self-regulation).  Guru mencatat semua kemajuan peserta didik untuk kemungkinan memberikan tindakan pembelajaran perbaikan. Contoh:  Singa binatang berdaun telinga. sebagai proposisi menarik simpulan. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus.  Keempat. Teori asosiasi ini sangat efektif menjadi landasan menanamkan sikap ilmiah dan motivasi pada peserta didik berkenaan dengan nilai-nilai instrinsik dari pembelajaran partisipatif. menalar secara induktif adalah proses penarikan simpulan dari kasus-kasus yang bersifat nyata secara individual atau spesifik menjadi simpulan yang bersifat umum.  Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati  Seriap kesalahan harus segera dikoreksi atau diperbaiki  Perlu dilakukan pengulangan dan latihan agar perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan atau pelaziman. Penarikan simpulan dapat dilakukan melalui dua cara. Dengan cara ini peserta didik akan melakukan peniruan terhadap apa yang nyata diobservasinya dari kinerja guru dan temannya di kelas. yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. mempertimbangkan. dimana peserta didik belajar dengan melihat apakah orang lain diberi ganjaran atau hukuman selama terlibat dalam perilaku-perilaku tertentu. terdapat dua cara menalar. Simpulan Matematika – SMA/MA/SMK | 153 . Ada tiga jenis silogisme. dimulai dari yang sederhana (persyaratan rendah) sampai pada yang kompleks (persyaratan tinggi). Pola penalaran deduktif dikenal dengan pola silogisme. memberi ganjaran atau hukuman terhadap perilakunya sendiri.  Bahan pembelajaran disusun secara berjenjang atau hierarkis. yaitu silogisme kategorial. b. berkembangbiak dengan cara melahirkan  Harimau binatang berdaun telinga.  Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang nyata atau otentik.

fenomena. Analogi adalah suatu proses penalaran dalam pembelajaran dengan cara membandingkan sifat esensial yang mempunyai kesamaan atau persamaan. Dengan demikian. Atas dasar persamaan dua gejala atau fenomena itu ditarik simpulan bahwa apa yang ada pada fenomena atau gejala pertama terjadi juga pada fenomena atau gejala kedua. Analogi dalam Pembelajaran Selama proses pembelajaran. Contoh: Peserta didik Pulan merupakan pebelajar yang tekun. Matematika – SMA/MA/SMK | 154 . Dia lulus seleksi Olimpiade Sains Tingkat Nasional tahun ini. Contoh: Kegiatan kepeserta didikan akan berjalan baik jika terjadi sinergitas kerja antara kepala sekolah. Penalaran induksi sebab akibat terdiri dri tiga jenis. Analogi deklaratif merupakan suatu‘metode menalar’untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu fenomena atau gejala yang belum dikenal atau masih samar.Peserta didik Pulan akan mengikuti kompetisi pada Olimpiade Sains Tingkat Internasional. Analogi induktif merupakan suatu ‘metode menalar’yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu simpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua fenomena atau gejala khusus yang diperbandingkan. untuk mewujudkan hasil yang baik diperlukan sinergitas antara ranah sikap. karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik. dan peserta didik. Berpikir analogis sangat penting dalam pembelajaran. Analogi induktifdisusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena atau gejala. dan pengetahuan. Hubungan Antarfenonena Seperti halnya penalaran dan analogi. Untuk itu dia harus belajar lebih tekun lagi.Analogi deklaratif ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru. pengurus organisasi peserta didik intra sekolah. Penalaran sebab-akibat ini masuk dalam ranah penalaran induktif. Contoh :  Kamera adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi  Telepon genggam adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperas. khususnya hubungan sebab-akibat.sedangkan simpulan tidak langsung ditarik dari dua premis. tahun ini juga. atau gejala menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah dketahui secara nyata dan dipercayai. Di sinilah esensi bahwa guru dan peserta didik dituntut mampu memaknai hubungan antarfenonena atau gejala. yaitu analogi induktif dan analogi deduktif. Hubungan sebab-akibat diambil dengan menghubungkan satu atau beberapa fakta yang satu dengan datu atau beberapa fakta yang lain. Kedua analogi itu dijelaskan berikut ini. Dengan demikian. guru dan pesert didik sering kali menemukan fenomena yang bersifat analog atau memiliki persamaan. staf tatalaksana. keterampilan. karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik. dengan sesuatu yang sudah dikenal.secara langsung ditarik dari satu premis.  Simpulan: semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk beroperasi. Seperti halnya penalaran.Suatu simpulan yang menjadi sebab dari satu atau beberapa fakta itu atau dapat juga menjadi akibat dari satuatau beberapa fakta tersebut. yang disebut dengan penalaran induktif sebab-akibat. guru dan peserta didik adakalamua menalar secara analogis. kemampuan menghubungkan antarfenomena atau gejala sangat penting dalam proses pembelajaran. guru. analogi terdiri dari dua jenis. Seperti halnya kegiatan belajar.

Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum. sehingga muncullah kemiskinan keluarga yang akut. menganalisis. dan (7)membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan. bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal. 4.peserta didik harus memahami konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. belajar tekun. Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar. Contoh: Bekerja keras.  Hubungan akibat–sebab. Keterisolasian itu menyebabkan mereka kehilangan akses untuk melakukan aktivitas ekonomi. Akibat kedua menjadi penyebab sehingga menimbulkan akibat ketiga. yaitu sikap. (3)mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya. Dampak lanjutannya. perkelahian antarpeserta didik. (4) melakukan dan mengamati percobaan. dan pengetahuan. dan tidak putus asa adalah faktor pengungkit yang bisa membuat kita mencapai puncak kesuksesan. hal-hal yang menjadi akibat dikemukakan terlebih dahulu.  Matematika – SMA/MA/SMK | 155 . (2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan. terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. berdoa. dan menyajikan data. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar. Pada penalaran hubungan sbab-akibat 1 –akibat 2. Kemiskinan keluarga yang akut menyebabkan anak-anak mereka tidak berkesempatan menempuh pendidikan yang baik. Contoh : Akhir-ahir ini sangat marak kenakalan remaja. dan seterusnya. sehingga menimbulkan akibat kedua.  Hubungan sebab–akibat 1 – akibat 2. Pada penalaran hubungan sebab-akibat. bukan tidak mungkin terjadi kemiskinan yang terus berlangsung secara siklikal. suatu penyebab dapat menimbulkan serangkaian akibat.Hubungan sebab–akibat. serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Contoh: Masyarakat yang tinggal di daerah terpencil. dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya. hal-hal yang menjadi sebab dikemukakan terlebih dahulu. (5) mencatat fenomena yang terjadi. hidupnya terisolasi. Mencoba Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik. penyalahgunaan Nakoba di kalangan generasi muda. peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan. keterampilan. angka putus sekolah. Pada mata pelajaran IPA. yang disebabkan oleh pengabaian orang tua dan ketidaan keteladanan tokoh masyarakat. Akibat yang pertama menjadi penyebab. Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka: (1) Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan murid (2) Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan (3) Perlu memperhitungkan tempat dan waktu (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid (5) Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen (6) Membagi kertas kerja kepada murid (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru. misalnya. Pada penalaran hubungan akibat-sebab. selanjutnya ditarik simpulan yang merupakan penyebabnya. sehingga mengalami dekandensi moral secara massal. kemudian ditarik simpulan yang berupa akibat.(6) menarik simpulan atas hasil percobaan.

dan tindak lanjut. Selama proses eksperimen atau mencoba. Guru dan peserta didik memeriksa dan menyimpan kembali segala bahan dan alat yang digunakan 5. yaitu. peserta didiklah yang harus lebih aktif.   b. pelaksanaan. Di sini guru perlu menimbang apakah peserta didik akan melaksanakan eksperimen atau mencoba secara serentak atau dibagi menjadi beberapa kelompok secara paralel atau bergiliran Memertimbangkanmasalah keamanan dan kesehatan agar dapat memperkecil atau menghindari risiko yang mungkin timbul Memberikan penjelasan mengenai apa yang harus diperhatikan dan tahapa-tahapan yang harus dilakukan peserta didik. persiapan. Pelaksanaan  Selama proses eksperimen atau mencoba. Guru dan peserta didik mendiskusikan masalah-masalah yang ditemukan selama eksperimen.  c. Di sini guru harus memberikan dorongan dan bantuan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik agar kegiatan itu berhasil dengan baik. Jika pembelajaran kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafah peribadi. Persiapan    Menentapkan tujuan eksperimen Mempersiapkan alat atau bahan Mempersiapkan tempat eksperimen sesuai dengan jumlah peserta didikserta alat atau bahan yang tersedia. Ketiga tahapan eksperimen atau mencoba dimaksud dijelaskan berikut ini. Tindak lanjut      Peserta didik mengumpulkan laporan hasil eksperimen kepada guru Guru memeriksa hasil eksperimen peserta didik Guru memberikan umpan balik kepada peserta didik atas hasil eksperimen. a. Jejaring Pembelajaran atau Pembelajaran Kolaboratif Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kolaboratif? Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal. termasuk hal-hal yang dilarang atau membahayakan. sebaliknya. termasuk membantu mengatasi dan memecahkan masalahmasalah yang akan menghambat kegiatan pembelajaran. lebih dari sekadar sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. guru hendaknya memperhatikan situasi secara keseluruhan. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama. Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar.Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan eksperimen atau mencoba dilakukan melalui tiga tahap. maka ia menyentuh tentang identitas peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang Matematika – SMA/MA/SMK | 156 . guru ikut membimbing dan mengamati proses percobaan.

guru berperan sebagai mediator atau perantara. terlibat dalam pemikiran kreatif dan kritis serta memupuk dan menggalakkan mereka mengambil peran secara terbuka dan bermakna. pengalaman personal. Dengan pembelajaran kolaboratif. peserta didik memiliki ruang gerak untuk menilai dan membina ilmu pengetahuan. bahasa komunikasi. Sifat keempat menyatakan isi kelas atau pembelajaran kolaboratif. Matematika – SMA/MA/SMK | 157 . Di sini peserta didik juga dapat merumuskan kaitan antara proses pembelajaran yang sedang dilakukan dengan dunia sebenarnya. guru berbagi tugas dan kewenangan dengan peserta didik. Guru memiliki berkewajiban menjadikan wilayah “abu-abu”yang ada pada peserta didik itu dapat teraktualisasi dengan cara belajar kelompok. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif. 1. berbagi strategi dan informasi.lain atau guru.” Peserta didik yang mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan topik tersebut berpeluang menyatakan sesuatu pada sesi pembelajaran. Contoh: Jika guru mengajarkan topik “hidup bersama secara damai. Seperti termuat dalam gambar. dan “can do alone“. 2. khususnya untuk hal-hal tertentu. menghormati antarsesa. Dua sifat berkenaan dengan perubahan hubungan antara guru dan peserta didik. mereka akan bekerja sebaik-baiknya ketika bekerjasama atau berkolaborasi dengan temannya. serta menautkan kondisi sosiobudaya dengan situasi pembelajaran.  Guru sebagai mediator. ZPD merupakan wilayah “can do with help”yang sifatnya tidak permanen. setiap manusia (dalam konteks ini disebut peserta didik) mempunyai potensi tertentu. peserta didik berinteraksi dengan empati. “can do with help“. saling menghormati. peran guru lebih banyak sebagai pembimbing dan manajer belajar ketimbang memberi instruksi dan mengawasi secara rijid. dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing. Potensi tersebut dapat teraktualisasi dengan cara menerapkan ketuntasan belajar (mastery learning). Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman. Hasil penelitian Vygotsky membuktikan bahwa ketika peserta didik diberi tugas untuk dirinya sediri. Vigotsky merupakan salah satu pengagas teori konstruktivisme sosial. pengalaman dan pengetahuannya dihargai dan dapat dibagikan dalam jaringan pembelajaran mereka. Jika peserta didikmemahami dan melihat fenomena nyata kehidupan bersama yang damai itu. Berbagi tugas dan kewenangan. berbagi idea. Vygostsky mengemukakan tiga wilayah yang tergamit dalam ZPD yang disebut dengan “cannot yet do”. Cara ini memungkinan peserta didik menimba pengalaman mereka sendiri. dan memberi garis-garis besar arus komunikasi antar peserta didik. jika proses pembelajaran mampu menarik pebelajar dari zona tersebut dengan cara kolaborasi atau pembelajaran kolaboratif. Dalam situasi kolaboratif itu. sehingga memungkin peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tntutan belajar secara bersama-sama. mendoorong tumbuhnya ide-ide cerdas. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif. strategi dan konsep pembelajaran sesuai dengan teori. Istilah ”Proximal” yang digunakan di sini bisa bermakna “next“. Mereka pun akan termotivasi untuk melihat dan mendengar. Menurut Vygotsky. Pakar ini sangat terkenal dengan teori “Zone of Proximal Development” atau ZPD. Sifat ketiga berkaitan dengan pendekatan baru dari penyampaian guru selama proses pembelajaran. Ada empat sifat kelas atau pembelajaran kolaboratif. Guru dan peserta didik saling berbagi informasi. Di sini. Akan tetapi di antara potensi dan aktualisasi peserta didik itu terdapat terdapat wilayah abu-abu. Guru berperan membantu menghubungkan informasi baru dengan pengalaman yang ada serta membantu peserta didik jika mereka mengalami kebutuan dan bersedia menunjukkan cara bagaimana mereka memiliki kesungguhan untuk belajar.

 TAI = Team Accelerated Instruction. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar. Titik tekan metode ini adalam pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan. dan pengetahuan peserta didk yang tumbuh dan berkembang sangat penting untuk memperkaya pembelajaran di kelas. penggolongan sifat. setiap peserta didik mengerjakan soal-soal Matematika – SMA/MA/SMK | 158 . atau mengulangi informasi tentang objek.  JP = Jigsaw Proscedure. tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Agar masing-masing peserta didik anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan. Kepada peserta didik diberikan kartu indeks yang memuat informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif Banyak merode yang dipakai dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. berbagi informasi. Berikan kepada peserta didik yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri kepada rekanhya.     3. Pada kelas kolaboratif peserta didikdapat menunjukkan kemampuan dan keterampilan mereka. khususnya dalam bidang sains. matematika. Peserta didik diminta untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama. Peserta didik dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. buatlah catatan dengan kata kunci (point) dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting.serta mendengar atau membahas sumbangan informasi dari peserta didik lainnya.  CI = Complex Instruction. keterampilan. Metodeini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/kolaboratif dengan pembelajaran individual. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua peserta didiksebagai anggota kelompok terhadap pokok bahasan. fakta. Secara bertahap. Guru ingin mengajarkan tentang konsep. Anggotaanggota dalam setiap kelompok bertindak saling membelajarkan. Untuk keperluan pembelajaran ini dia menggunakan media sortir kartu (card sort). Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu peserta didik lainnya. Sikap. dan ilmu pengetahuan sosial. Kelompok peserta didik yang heterogen. Prosedurnya dapat dilakukan seperti berikut ini.  STAD = Student Team Achievement Divisions. setiap peserta didik sebagai anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Dengan cara seperti ini akan muncul “keseragaman” di dalam heterogenitas peserta didik. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para peserta didik yang sangat heterogen. Penilaian didasari pada rata-rata skor tes kelompok. Pembelajaran dilakukan dengan cara peserta didik sebagai anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda mengenai suatu pokok bahasan. Penilaian didasari pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok peserta didik. Beberapa di antaranya dijelaskan berikut ini. Selama masing-masing katagori dipresentasikan oleh peserta didik.

LT = Learning Together Pada metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan peserta didik yang beragam kemampuannya. menulis dan tata bahasa. Metode pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca. Pemanfaatan Internet Pemanfaatan internet sangat dianjurkan dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok. ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Penilaian didasari pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok peserta didik. pemikiran kritis. Pada metode ini setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masingmasing.      a. para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. hubungan antarpribadi. Penilaian didasari pada hasil belajar individual maupun kelompok. TGT = Teams-Games-Tournament. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. GI = Group Investigation. berikutnya. baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. AC = Academic-Constructive Controversy. kesehatan psikis dan keselarasan. Pada metode ini. ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. internet merupakan salah satu jejaring pembelajaran dengan akses dan ketersediaan informasi yang luas dan mudah. setelah belajar bersama kelompoknya sendiri. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. kedua peserta didik yang saling berpasangan itu berganti peran. Dalam pembelajaran ini. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Pada metode pembelajaran ini mirip dengan TAI. CLS = Cooperative Learning Stuctures. para peserta didik saling menilai kemampuan membaca. menulis dan tata bahasa. Masa depan adalah milik peserta didik Matematika – SMA/MA/SMK | 159 . Bila jawaban tutee benar. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Saat ini internet telah menyediakan diri sebagai referensi yang murah dan mudah bagi peserta didik atau siapa saja yang hendak mengubah wajah dunia. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya. Pada metode ini semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. CIRC = Cooperative Integrated Reading and Composition. pertimbangan. Penggunaan internet disarakan makin mendesak sejalan denan perkembangan pengetahuan terjadi secara eksponensial. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok. Karena memang. Namun jika seorang peserta didik belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar. Seorang peserta didik bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Pada penerapan metode pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua peserta didik (berpasangan).

. D. Journal of Research in Science Teaching. (1975). 123-151. 59. Thiel. R. 289-296. A. The development and validation of the test of basic process skills. & George. M. K. Science Education.. L. (1985). 62. K. IN. Tomera. French Lick. Science Education. Science Education.. 195203. Science Education. (1976). 58. & Twiest. Quinn.. M. 155-166. 215-221. An examination of the ability of third grade children from the Science Curriculum Improvement Study to identify experimental variables and to recognize change. & George. Cronin. (1973). 13. Daftar Pustaka Allen. Matematika – SMA/MA/SMK | 160 . L. 57.yang memiliki akses hampir ke seluruh informasi tanpa batas dan mereka yang mampu memanfaatkan informasi diterima secepat mungkin. Padilla. Some factors affecting the use of the science process skill of prediction by elementary school children. M. D. Transfer and retention of transfer of the science processes of observation and comparison in junior high school students. (1974). Paper presented at the annual meeting of the National Association for Research in Science Teaching. Teaching hypothesis formation.

Pendekatan ilmiah ini memerlukan langkah-langkah pokok (umum): 1) Mengamati 2) Menanya 3) Menalar 4) Mencoba Matematika – SMA/MA/SMK | 161 . Suatu pengetahuan ilmiah hanya dapat diperoleh dari metode ilmiah.HO – 2. Ada juga yang mengartikan pendekatan ilmiah sebagai mekanisme untuk memperoleh pengetahuan yang didasarkan pada struktur logis. Sebelum membicarakan mengenai pendekatan ilmiah. empiris. metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi. Pada umumnya sesorang selalu ingin memperoleh pengetahuan.1. Karena itu. Metode ilmiah pada dasarnya memandang fenomena khusus (unik) dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan pada simpulan. Untuk dapat disebut ilmiah. (2) sifat bebas prasangka. kemudian memformulasi dan menguji hipotesis. Sebenarnya apa yang kita bicarakan dengan metode ilmiah merujuk pada: (1) adanya fakta. perlu dipahami lagi mengenai metode ilmiah. dan (4) adanya analisa.2 CONTOH PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA A. Dengan demikian diperlukan adanya penalaran dalam rangka pencarian (penemuan). Dengan metode ilmiah seperti ini diharapkan kita akan mempunya sifat 1) Kecintaan pada kebenaran yang objektif 2) Tidak gampang percaya pada hal-hal yang tidak rasional (takhayul. Pengantar Pendekatan scientific atau lebih umum dikatakan pendekatan ilmiah menjadi keniscayaan dalam kurikulum 2013. (3) sifat objektif. dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Pengetahuan dapat merupakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. metode ilmiah umumnya memuat rangkaian kegiatan koleksi data atau fakta melalui observasi dan ekperimen. ramalan dsb) 3) Ingin tahu 4) Tidak mudah membuat prasangka 5) Selalu optimis Selanjutnya secara sederhana pendekatan ilmiah merupakan suatu cara atau mekanisme untuk mendapatkan pengetahuan dengan prosedur yang didasarkan pada suatu metode ilmiah.

Karena yang dikehendaki adalah jawaban mengenai fakta-fakta (matematika) maka pendekatan dengan langkah-langkah tersebut dikatakan sangat erat dengan metode ilmiah. Pengamatan seperti ini cocok untuk anak sekolah dasar atau sekolah menengah pada kelas rendah dimana karakter penalarannya masih bertaraf induktif. Pengamatan nyata fenomena alam atau lingkungan. Misalnya dalam pelajaran matematika. Oleh karena itu pendekatan ilmiah dalam pelajaran tertentu tidak sama persis dengan pelajaran tertentu lainnya.5) Membentuk jejaring Dalam kenyataanya karakter keilmuan dari setiap materi pelajaran tidak sama. Secara mudah dapat dipahami eperti halnya “matematika kontek tual”. Fenomena alam akan menghasilkan suatu fakta yang dituangkan dalam bahasa matematika. maka langkah-langkahnya dalam pendekatan ilmiah sebagai berikut: 1) Mengamati fakta (matematika) 2) Menanya (perwujudan dari berfikir divergen) 3) Menalar (menentukan/menemukan solusi selanjutnya) 4) Mencoba 5) Menyimpulkan (mengaitkan dengan konsep lain) Langkah-langkah di atas boleh dikatakan sebagai pengejaran terhadap pengetahuan ilmiah yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis dalam matematika dan juga tidak kaku dalam urutan. Mi alkan kita mengamati air mancur Matematika – SMA/MA/SMK | 162 . Contoh pendekatan ilmiah dalam matematika Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa karakter keilmuan dari setiap materi pelajaran tidak sama maka khusus untuk matematika langkah dalam pendekatan ilmiah dapat dicontohkan sebagai berikut: 1) Mengamati fakta Mengamati fakta matematika dapat dibagi dalam dua pengertian a. B. Ada juga refensi yang menyatakan bahwa metode ilmiah adalah wujud dari pendekatan ilmiah.

walaupun objeknya tidak nyata. Maka (nantinya) akan terlihat bahwa mempengaruhi “runcingnya” titik puncak parabola yang terbentuk. Artinya. Contoh lain misalnya dalam geometri datar. garis itu pasti garis yang tadi juga. grafik dan lain sebagainya. Matematika – SMA/MA/SMK | 163 . Fakta yang didapatkan dapat berupa definisi. Misalnya. sifat. postulat. sehingga mereka tidak mempermasalahkan suatu rangkaian kebenaran sebelumnya yang didapatkan dari penalaran yang benar.Sebenarnya (nantinya) gerakan air mancur ini terkait dengan konsep fungsi kuadrat b. jika ada garis lain. siswa memahami kebenaran postulat setiap dua titik pasti hanya dapat dibuat tepat satu garis yang melaluinya. siswa diminta menggambar ( ) dengan nilai fungsi dan tertentu. Selanjutnya nilai kuadrat diubah dalam berbagai nilai sedangkan b dan c tetap. teorema. tidak mungkin terjadi gambar seperti di bawah. Pengamatan objek matematika Pengamatan seperti ini sangat cocok untuk siswa yang mulai menerima kebenaran logis. Pengamatan seperti ini lebih tepat dikatakan sebagai pengumpulan dan pemahaman kebenaran matematika. Pengamatan ini akan sangat terbantu jika dalam penyampaian menggunakan TIK. aksioma. Jadi jika digambarkan (diamati).

untuk bagaimana menentukan nilai sinus untuk (fakta) awal in Karena banyak guru membuat jembatan keledai dengan menyingkat “SINDEMI KOSAMI TANDESA” yaitu . Untuk menggalinya dapat dilakukan dengan memanfaatkan solusi yang mereka hasilkan (pemikiran siswa). . Misalkan dalam grafik fungsi kuadrat ( ) untuk bernilai positif besar. Ini terjadi karena siswa cenderung menghafal algoritma atau prosedur tertentu. sampai siswa sendiri yang menyelesaikan dan mencari alternatif yang lain. Dalam matematika permasalahan seperti ini dapat dijawab dengan mengaitkan teorema lain atau pendefinisian baru terutama bagi siswa yang sudah dapat menerima kebenaran logis. bernilai positif kecil dan sebagainya. dengan menanyakan alternatif-alternatif yang mungkin dari solusi itu. Dalam hal ini guru tidak boleh memberi tahu. bagaimana untuk negatif. Contoh lain. dimana . Pemikiran yang divergen ini dapat dibangkitkan dari suatu pertanyaan. . Sebaliknya. Tidak terbangun suatu pemikiran yang divergen.2) Menanya Kecenderungan yang ada sekarang adalah siswa gagal menyelesaikan suatu masalah matematika jika konteksnya diubah sedikit saja. guru hanya memberikan pertanyaan pancingan. sedangkan definisi Pertanyaan seperti di atas memerlukan adanya solusi (jawaban) melalui suatu penalaran. bagi siswa sekolah dasar kebenaran empirik masih dominan dibanding Matematika – SMA/MA/SMK | 164 .

3 kali Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataanpernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. Sedangkan pada contoh sebelumnya yaitu menentukan nilai sinus sudut di kuadran II maka dengan kejadian seperti ini perlu adanya pengertian atau definisi baru sebagai perluasan (memikirkan perlunya hal baru). Disini penalaran dapat bermakna penyerupaan (associating) dan juga dapat bermakna akibat (reasoning). Oleh karena itu pertanyaan yang diajukan tentu berbeda siswa pada sekolah menengah.kebenaran logis. 3) Penalaran Sejatinya penalaran secara umum adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Misalkan menemukan volum kerucut dengan takaran. Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik. modus tolen dan silogisme. Demikian pula untuk sudut siku-siku ( ) dan sudut lurus ( ). yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Penalaran induktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari fenomena khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. Penalaran yang paling dikenal dalam matematika terkait penarikan kesimpiulan adalah modus ponen. Perlu diingat juga bahwa penalaran diartikan juga sebagai penyerupaan atau analogi atau dalam bahasa sosial asosiasi Terkait dengan contoh diatas dapat digambarkan sebagai berikut Matematika – SMA/MA/SMK | 165 . Ada dua cara menalar. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Dalam hal ini (nantinya) definisi sinus tidak sebatas pada perbandingan panjang sisi segitiga siku-siku seperti pada definisi awal. tetapi terkait dengan posisi kordinat. Dengan definisi akan mewadahi atau memenuhi sistem dalam matematika itu sendiri. Dari sini diperlukan adanya langkah atau tahap berikutnya yaitu mencoba atau secara lebih luas membuktikan. Matematika – SMA/MA/SMK | 166 .

Demikian pula untuk sudut di kuadran II. nilai ordinat (komponen-y) positif dan panjang jari-jari positif. Pada akhirnya langakah ini untuk menunjukkan bahwa jika besar sudut berada di kuadran II ( in in( ) maka dipenuhi ).4) Mencoba Pengertian mencoba disini dapat diartikan secara sempit seperti menunjukkan dan dapat diartikan secara luas yaitu membuktikan. Dari pengertian awal in sedangkan dengan perluasan in Jadi disini terlihat bahwa in in √ √ . nilai ordinat (komponen-y) positif dan panjang jari-jari positif. Untuk sudut di kuadran I. Namun contoh seperti ini bukan merupakan pembuktian dalam matematika. hanya sekedar contoh tahapan/langkah dalam pendekatan ilmiah. Adapun tahapan yang lebih spesifik dalam matematika yaitu membuktikan berlakunya in in( ) untuk ( ) masih memerlukan pengerjaan lanjutan Matematika – SMA/MA/SMK | 167 . Sebagai cotoh nilai sinus sebagai perluasan ternyata merupakan perbandingan ordinat dengan panjang jari-jari. Selanjutnya dicoba untuk besar sudut yang lain.

Persisnya berelasi melalui nilai sinus yang sama. Disamping itu hasil yang diperoleh oleh siswa digunakan untuk aplikasi dalam dunia nyata maupun dikaitkan dengan pengetahuan lain (fisika. Misalnya dalam pengerjaan dimunculkan hasil berikut: Selanjutnya diharapkan siswa dapat menyimpulkan bahwa sudut yang demikian adalah sudut yang berelasi. yaitu mengaitkan konsep dalam matematika itu sendiri (matematika vertikal) dan mengaitkan konsep yang diperoleh dengan dunia nyata (matematika horizontal). Dengan diperolehnya hubungan in antara sudut dan sudut in( ) maka siswa memahami kaitan yaitu mempunyai nilai sinus yang sama. Simpulan ini kemudian dikaitkan dengan pengertian matematka lain misalnya co tan in co tan ) dan sebagainya. co . Sebagai contoh siswa ingin mengetahui tinggi suatu pohon.5) Menyimpulkan (mengaitkan dengan konsep dan aplikasi lain) Pengertian menyimpulkan disini mengandung dua pengertian. co ( ) in Contohnya hubungan in( (ii). (i). Dengan menerapkan prinsip perbandingan pada tangen maka dapat ditentukan tinggi pohon secara tidak langsung Matematika – SMA/MA/SMK | 168 . geografi dll).

konseptual. Matematika – SMA/MA/SMK | 169 . ramah lingkungan.Contoh lain. santun. disiplin. cinta damai. gotong royong. Penutup Langkah-langkah dalam pendekatan ilmiah seperti dijelaskan di atas tentu saja harus dijiwai oleh perilaku (jujur. kerjasama. penerapan dan analisis dari pengetahuan faktual. C. Disamping itu pemahaman. peduli. tanggung jawab. prosedural. siswa mengaitkan fungsi trigonometri dengan gerak ayunan dalam fisika Ada juga literasi yang memaknai tahapan menyimpulkan sebagai tindakan membentuk jejaring (networking) secara fisik yaitu bekerjasama atau berkolaborasi antar siswa. dan metakognitif terkait bidang kajian matematika dapat digunakan untuk memecahkan masalah. responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

Teaching Mathematics Today.the-scientist. Makalah pada Workshop Kurikulum.wordpress.Referensi: [1] Shelly Frei. (2008). Pendekatan-pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran.view/articleNo/24488/title/The-ScientificApproach/: diakses 16 Februari 2013 [4] http://ariasusman.com/2009/07/06/pendekatan-ilmiah/ Februari 2013 : diakses 16 Matematika – SMA/MA/SMK | 170 . CA 92649-1030: Shell Education [2] Sudarwan. Prof.. Huntington Beach. (2013).com/?articles. Jakarta [3] http://www.

Materi Pelatihan2. danDiscovery Learning). Matematika – SMA/MA/SMK | 171 . Kerjakelompok untuk mengidentifikasi penerapan Pendekatan Scientific pada tiga model pembelajaran. Menerapkan Focus Group Discussion untuk mengidentifikasi karakteristik tiga model pembelajaran. Problem Based Learning.2: Model Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Mengamati tayangan pembelajaran Diskusi Kelompok (Focus Group Discussion) 30 Menit Kerja Kelompok 20 Menit 40 Menit Mengamatitayangan tiga jenis model pembelajaran (Project Based Learning.

Matematika – SMA/MA/SMK | 172 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 173 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 174 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 175 .

Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda. Melalui PjBL. 2. Dengan pembelajaran “berbasis produksi” peserta didik di SMK diperkenalkan dengan suasana dan makna kerja yang sesungguhnya di dunia kerja. proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun ( a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum. sintesis. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dikatakan sebagai operasionalisasi konsep “Pendidikan Berbasis Produksi” yang dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Peserta didik melakukan eksplorasi. maka Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya. PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata.HO-2. adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik. Matematika – SMA/MA/SMK | 176 . Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki karakteristik sebagai berikut: 1.2-1 MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK/ PROJECT BASED LEARNING A. KONSEP/DEFINISI Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL) adalah metoda pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. interpretasi. dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. SMK sebagai institusi yang berfungsi untuk menyiapkan lulusan untuk bekerja di dunia usaha dan industri harus dapat membekali peserta didiknya dengan “kompetensi terstandar” yang dibutuhkan untuk bekerja dibidang masing-masing. hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. Dengan demikian model pembelajaran yang cocok untuk SMK adalah pembelajaran berbasis proyek. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata. Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. Pada saat pertanyaan terjawab. penilaian. peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja. dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.

peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan. 5. Beberapa hambatan dalam implementasi metode Pembelajaran Berbasis Proyek antara lain: 1. Keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek: a. peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. 6.3. dan akan lebih menarik lagi jika suasana ruang belajar tidak monoton. situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan Peran instruktur atau guru dalam Pembelajaran Berbasis Proyek sebaiknya sebagai fasilitator. 1. 2. Matematika – SMA/MA/SMK | 177 . artinya belajar tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas. seperti: traditional class (teori). Pembelajaran Berbasis Proyek memerlukan banyak waktu yang harus disediakan untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek. sehingga kebutuhan listrik bertambah. peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan. Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan. beberapa contoh perubahan lay-out ruang kelas. karena menambah biaya untuk memasuki system baru.dimana instruktur memegang peran utama di kelas. 3. pelatih. circle (presentasi). Ini merupakan suatu transisi yang sulit. Banyaknya peralatan yang harus disediakan. Untuk itu disarankan menggunakan team teaching dalam proses pembelajaran. 4. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar. b. penasehat dan perantara untuk mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan daya imajinasi. 8. FAKTA EMPIRIK KEBERHASILAN Kelebihan dan kekurangan pada penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dijelaskan sebagai berikut. B. produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif. lab tables (saat mengerjakan tugas mandiri). mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting. 4. discussion group (pembuatan konsep dan pembagian tugas kelompok). bahkan saat diskusi dapat dilakukan di taman. Atau buatlah suasana belajar menyenangkan. terutama bagi instruktur yang kurang atau tidak menguasai teknologi. kreasi dan inovasi dari siswa. Banyak instruktur merasa nyaman dengan kelas tradisional . proses evaluasi dijalankan secara kontinyu. 7. dan mereka perlu untuk dihargai.

e. Menurut studi penelitian. Pembelajaran Berbasis Proyek Matematika – SMA/MA/SMK | 178 . d. j. di mana instruktur memegang peran utama di kelas. Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek: a. Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok. h. Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata. sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran. e. Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek. Meningkatkan kolaborasi. kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata. Banyaknya peralatan yang harus disediakan. i. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan. Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan. g.c. 2. g. Membutuhkan biaya yang cukup banyak c. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda. b. d. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi. Pembelajaran Berbasis Proyek ini juga menuntut siswa untuk mengembangkan keterampilan seperti kolaborasi dan refleksi. Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problemproblem yang kompleks. dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan Untuk mengatasi kelemahan dari pembelajaran berbasis proyek di atas seorang pendidik harus dapat mengatasi dengan cara memfasilitasi peserta didik dalam menghadapi masalah. Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki. Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional. meminimalis dan menyediakan peralatan yang sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar. menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga instruktur dan peserta didik merasa nyaman dalam proses pembelajaran. Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber. membatasi waktu peserta didik dalam menyelesaikan proyek. dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas. f. memilih lokasi penelitian yang mudah dijangkau sehingga tidak membutuhkan banyak waktu dan biaya. f.

bukan melupakannya secepat mereka telah lulus tes. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik. Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project) Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. 2. Antusias peserta didik cenderung untuk mempertahankan apa yang mereka pelajari. dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin. Pelajaran berbasis proyek juga meningkatkan antusiasme untuk belajar. serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk Matematika – SMA/MA/SMK | 179 . 1 PENENTUAN PERTANYAAN MENDASAR 2 MENYUSUN PERECANAAN PROYEK 3 MENYUSUN JADUAL 6 EVALUASI PENGALAMAN 5 MENGUJI HASIL 4 MONITORING Diagram 1. Dengan emikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. termasuk orang dewasa. Ketika anak-anak bersemangat dan antusias tentang apa yang mereka pelajari. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question) Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial. Langkah langkah Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek Penjelasan langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut. yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Perencanaan berisi tentang aturan main. Siswa juga menjadi lebih percaya diri berbicara dengan kelompok orang. pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial. sering menyebabkan absensi berkurang dan lebih sedikit masalah disiplin di kelas. C. LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL Langkah langkah pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dijelaskan dengan diagram sebagai berikut.membantu siswa untuk meningkatkan keterampilan sosial mereka. mereka sering mendapatkan lebih banyak terlibat dalam subjek dan kemudian memperluas minat mereka untuk mata pelajaran lainnya. 1.

(3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru. (2) membuat deadline penyelesaian proyek. Peran Guru a. d. e. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek. Agar mempermudah proses monitoring. 3. pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing. 4. (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek.masing peserta didik.membantu penyelesaian proyek. c. memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik. 6. 5. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap roses. Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience) Pada akhir proses pembelajaran. 1. dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting. Menyusun Jadwal (Create a Schedule) Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project) Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. f. Menguji Hasil (Assess the Outcome) Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar. membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya. b. Peran guru dan peserta didik dalam pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut. Merencanakan dan mendesain pembelajaran Membuat strategi pembelajaran Membayangkan interaksi yang akan terjadi antara guru dan siswa Mencari keunikan siswa Menilai siswa dengan cara transparan dan berbagai macam penilaian Membuat portofolio pekerjaan siswa Matematika – SMA/MA/SMK | 180 .

Penilaian Proyek a. observasi.2. f. e. pengorganisasian. 3) Keaslian Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya. Matematika – SMA/MA/SMK | 181 . pengolahan dan penyajian data. survey. b. g. pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. SISTEM PENILAIAN Penilaian pembelajaran dengan metoda Pembelajaran Berbasis Proyek harus diakukan secara menyeluruh terhadap sikap. Pengertian Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. D. pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa dalam melaksanakan pembelajaran berbasis proyek. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman. pengumpulan data. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan. dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan. Menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir Melakukan riset sederhana Mempelajari ide dan konsep baru Belajar mengatur waktu dengan baik Melakukan kegiatan belajar sendiri/kelompok Mengaplikasikanhasil belajar lewat tindakan Melakukan interaksi sosial (wawancara. Penilaian Pembelajaran Berbasis Proyek dapat menggunakan teknik penilaian yang dikembangkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu penilaian proyek atau penilaian produk. Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan yaitu: 1) Kemampuan pengelolaan Kemampuan peserta didik dalam memilih topik. Peran Peserta Didik a. 1. 2) Relevansi Kesesuaian dengan mata pelajaran. Penilaian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. c. dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik. dll). mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. kemampuan mengaplikasikan. kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. d.

analisis data. Contoh Teknik Penilaian Proyek Mata Pelajaran Nama Proyek Alokasi Waktu Guru Pembimbing Nama NIS Kelas No. Analisis Data e. Matematika – SMA/MA/SMK | 182 . Sistematika Penulisan b. Untuk itu. dan penyiapkan laporan tertulis. Penarikan Kesimpulan LAPORAN PROYEK : a. seperti penyusunan disain. pengumpulan data. 1 : : : : : : : ASPEK PERENCANAAN : a.b. sampai hasil akhir proyek. Rumusan Judul PELAKSANAAN : a. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Persiapan b. Pelaksanaan penilaian dapat juga menggunakan rating scale dan checklist. Untuk itu perlu memperhatikan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. Performans b. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/ instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. Keakuratan Sumber Data / Informasi c. guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. proses pengerjaan sampai dengan akhir proyek. Kuantitas Sumber Data d.5) 2 3 Penilaian Proyek dilakukan mulai dari perencanaan . proses pengerjaan. Presentasi / Penguasaan TOTAL SKOR SKOR (1 . Teknik Penilaian Proyek Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan.

biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni. b. 3) Tahap penilaian produk (appraisal). meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan. Teknik Penilaian Produk Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik. biasanya dilakukan pada tahap appraisal. keramik. alat.2. seperti: makanan. dan mengembangkan gagasan. Penilaian Produk a. 1) 2) Cara holistik. Pengertian Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. dan teknik. dan mendesain produk. dan logam. plastik. yaitu berdasarkan aspek-aspek produk. Cara analitik. meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu: 1) Tahap persiapan. pakaian. Matematika – SMA/MA/SMK | 183 . 2) Tahap pembuatan produk (proses). gambar). menggali. yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk. barang-barang terbuat dari kayu. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan. lukisan. hasil karya seni (patung.

keamanan dan kebersihan) Tahap Akhir (Hasil Produk) a.Metode Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) [online].sunan-ampel. (2000). Inovasi TOTAL SKOR Skor ( 1 – 5 )* 3 Catatan : *) Skor diberikan dengan rentang skor 1 sampai dengan 5.org/ Publications/papers.niost.edutopia. National Institute on Out-of-School Time. Persiapan alat dan bahan b. Diakses di http://www. Diakses di http://digilib. Buck Institute for Education.. E. org/pdfs/edutopia-teaching-for-meaningful-learning.Contoh Penilaian Produk Mata Ajar : Nama Proyek : Alokasi Waktu : Nama Peserta didik : Kelas/SMT : No. Barron.pdf. Daftar Pustaka Alexander. Introduction to Project Based Learning.ac.org/images/uploads/general/20fa7d42c216e2ec171a212e97fd4a9e. Matematika – SMA/MA/SMK | 184 .pdf (17 Oktober 2011). B. & Darling-Hammond.id/files/disk1/151/hubptain-gdl-ellyikasus-7509-3-babii. The learning that lies between play and academics in afterschool programs. Admin. Retrieved from http://www. Teknik Pengolahan c. [Online].bie.pdf (18 Oktober 2011). Teaching for meaningful learning: A review of research on inquiry-based and cooperative learning. K3 (Keselamatan kerja. D. (2008). Bentuk fisik b. dengan ketentuan semakin lengkap jawaban dan ketepatan dalam proses pembuatan maka semakin tinggi nilainya. 1 2 Tahapan Tahap Perencanaan Bahan Tahap Proses Pembuatan : a. L. Retrieved from http://www.

3(1). Diakses Florin. 1(1). San Diego. Suzanne. Research summary: Project-based learning in middle grades mathematics.edutopia. M. Lucas.). The Success of Project Based Learning.ch/en/Project-based_learning (18 Oktober 2011). CA: Buck Institute for Education. 2010. The Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning. Instructional Module Project Based Learning. (2003). Schneider.unige. ResearchSummaries/ProjectBasedLearninginMath/tabid/1570/Default.org/Research/ResearchSummaries. [Online]. CA. (2009. Diakses tanggal 13 Juli 2010. April).php. http://www. Savery.(2005). Understanding projects in projectbased learning: A student’s perspective.aspx.org/modules/PBL/whatpbl. (2006).Daniel K. Project-based learning handbook (2nd ed. T. Matematika – SMA/MA/SMK | 185 . Novato. J. Diakses di http://www. Markham.nmsa.aspx (18 Oktober 2011) Grant.brighthub. Paper presented at Annual Meeting of the American Educational Research Association. 12–43. Project-based learning. Journal of Problem-Based Learning. Overview of problem-based learning: Definitions and distinctions. George . 2005. Retrieved from http://www.com/education/k-12/articles/90553. dihttp://edutechwiki. 9–20. R. [Online].

Matematika – SMA/MA/SMK | 186 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 187 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 188 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 189 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 190 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 191 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 192 .

Konsep/Definisi Definisi: 1) Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. dirancang masalah-masalah yang menuntut peserta didik mendapat pengetahuan penting. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.HO-2. dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud.. Ada lima strategi dalam menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) yaitu: 1) Permasalahan sebagai kajian. sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah. Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan adanya pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh peserta didik yang diharapkan dapat menambah keterampilan peserta didik dalam pencapaian materi pembelajaran. Dalam kurikulumnya. yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah.2-2 MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) Problem Based Learning (PBL) adalah kurikulum dan proses pembelajaran. peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world) 2) Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”. A. Masalah diberikan kepada peserta didik. bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. 2) Permasalahan sebagai penjajakan pemahaman Matematika – SMA/MA/SMK | 193 .

3) Permasalahan sebagai contoh 4) Permasalahan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses 5) Permasalahan sebagai stimulus aktivitas otentik Peran guru, peserta didik dan masalah dalam pembelajaran berbasis masalah dapat digambarkan sebagai berikut: Guru sebagai pelatih o Asking about thinking (bertanya tentang pemikiran) o memonitor pembelajaran o probbing ( menantang peserta didik untuk berfikir ) o menjaga agar peserta didik terlibat o mengatur dinamika kelompok o menjaga berlangsungnya proses Peserta didik sebagai problem solver o peserta yang aktif o terlibat langsung dalam pembelajaran o membangun pembelajaran Masalah sebagai awal tantangan dan motivasi o menarik untuk dipecahkan o menyediakan kebutuhan yang ada hubungannya dengan pelajaran yang dipelajari

Tujuan dan hasil dari model pembelajaran berbasis masalah ini adalah: 1) Keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah Pembelajaran berbasis masalah ini ditujukan untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. 2) Pemodelan peranan orang dewasa. Bentuk pembelajaran berbasis masalah penting menjembatani gap antara pembelajaran sekolah formal dengan aktivitas mental yang lebih praktis yang dijumpai di luar sekolah. Aktivitas-aktivitas mental di luar sekolah yang dapat dikembangkan adalah : PBL mendorong kerjasama dalam menyelesaikan tugas. PBL memiliki elemen-elemen magang. Hal ini mendorong pengamatan dan dialog dengan yang lain sehingga peserta didik secara bertahap dapat memi peran yang diamati tersebut.  PBL melibatkan peserta didik dalam penyelidikan pilihan sendiri, yang memungkinkan mereka menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun femannya tentang fenomena itu. 3) Belajar Pengarahan Sendiri (self directed learning) Pembelajaran berbasis masalah berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus dapat menentukan sendiri apa yang harus dipelajari, dan dari mana informasi harus diperoleh, di bawah bimbingan guru. Pendekatan PBL mengacu pada hal-hal sebagai berikut : a. Kurikulum : PBL tidak seperti pada kurikulum tradisional, karena memerlukan suatu strategi sasaran di mana proyek sebagai pusat.  

Matematika – SMA/MA/SMK | 194

b. Responsibility : PBL menekankan responsibility dan answerability para peserta didik ke diri dan panutannya. c. Realisme : kegiatan peserta didik difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya. Aktifitas ini mengintegrasikan tugas otentik dan menghasilkan sikap profesional. d. Active-learning : menumbuhkan isu yang berujung pada pertanyaan dan keinginan peserta didik untuk menemukan jawaban yang relevan, sehingga dengan demikian telah terjadi proses pembelajaran yang mandiri. e. Umpan Balik : diskusi, presentasi, dan evaluasi terhadap para peserta didik menghasilkan umpan balik yang berharga. Ini mendorong kearah pembelajaran berdasarkan pengalaman. f. Keterampilan Umum : PBL dikembangkan tidak hanya pada ketrampilan pokok dan pengetahuan saja, tetapi juga mempunyai pengaruh besar pada keterampilan yang mendasar seperti pemecahan masalah, kerja kelompok, dan self-management.

g. Driving Questions : PBL difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan yang memicu peserta didik untuk berbuat menyelesaikan permasalahan dengan konsep, prinsip dan ilmu pengetahuan yang sesuai. h. Constructive Investigations : sebagai titik pusat, proyek harus disesuaikan dengan pengetahuan para peserta didik. i. Autonomy : proyek menjadikan aktifitas peserta didik sangat penting.

B. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil Pembelajaran Kelebihan menggunakan PBL, antara lain; (1) Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik/mahapeserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan; (2) Dalam situasi PBL, peserta didik/mahapeserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan; dan (3) PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik/mahapeserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok. Metoda ini memiliki kecocokan terhadap konsep inovasi pendidikan bidang keteknikan, terutama dalam hal sebagai berikut : 1. peserta didik memperoleh pengetahuan dasar (basic sciences) yang berguna untuk memecahkan masalah bidang keteknikan yang dijumpainya,
Matematika – SMA/MA/SMK | 195

2. peserta didik belajar secara aktif dan mandiri dengan sajian materi terintegrasi dan relevan dengan kenyataan sebenarnya, yang sering disebut student-centered, 3. peserta didik mampu berpikir kritis, dan mengembangkan inisiatif. Berikut adalah beberapa hasil penelitian berkaitan dengan model PBL. 1. Wagiran, dkk, 2010, Pengembangan Pembelajaran Model Problem Based Learning Dengan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer dalam Matadiklat Measuring Bagi Peserta didik SMK (Hibah Bersaing Perguruan Tinggi), 2010: Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Penelitian dirancang dalam tiga tahap dalam kurun waktu 3 tahun. Pada tahun pertama penelitian bertujuan untuk merancang, membuat dan mengembangkan media pembelajaran berbantuan komputer berikut perangkatnya dalam mendukung model pembelajaran PBL-PBK. Pada tahun kedua, penelitian ini bertujuan untuk menerapkan dan menguji model pembelajaran PBL-PBK dalam lingkup luas sekaligus melihat efektivitasnya. Pada tahun ketiga, penelitian ini memfokuskan pada tahap sosialisasi model pembelajaran PBL-PBK dalam lingkup yang lebih luas. Penelitian dirancang menggunakan pendekatan Research and Development Sumber data dalam penelitian ini meliputi kalangan industri permesinan, perumus kebijakan, kepala sekolah, guru, peserta didik, dan ahli pendidikan. Penerapan model direncanakan di 5 SMK dengan metode eksperimen. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kuantitatif yaitu deskriptif, dan komparatif. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah diperolehnya kompetensi Measuring dan diperolehnya media pembelajaran berbantuan komputer dalam mendukung pembelajaran PBL-PBK yang teruji. Hasil evaluasi ahli tentang kualitas media dilihat dari sisi materi menunjukkan skor 3,38 (dalam kategori baik), dari kualitas tampilan menunjukkan skor 3,04 (dalam kategori baik), sedangkan dari sisi pengorganisasian materi penunjukan skornya adalah: konsistensi sebesar 2,92 (cukup baik), format sebesar 3,13 (baik), pengorganisasian sebesar 3,25 (baik), bentuk dan ukuran huruf sebesar 2,63 (cukup baik). Hasil uji kelayakan(ujicoba) kepada peserta didik menunjukkan bahwa kualitas media dilihat dari sisi materi menunjukkan skor 3,28 (dalam kategori baik), dari kualitas tampilan dan daya tarik menunjukkan skor 3,30 (dalam kategori baik), sedangkan dari sisi pengorganisasian materi penunjukan skornya adalah: sebesar 3,22 (baik) Dengan demikian media berbantuan komputer dalam matadiklat measuring layak untuk diterapkan. Media berbantuan komputer yang disusun telah memnuhi aspek kelayakan baik dari segi teoritis maupun dari segi empiris. Tedapat tiga pola implementasi pembelajaran menggunakan media berbantuan komputer yaitu: (a) sebagai media tayamg, (b) sebagai media pendukung praktek, dan (c) sebagai media pembelajaran individual dan interaktif. 2. Dian Mala Sari, Pebriyenni ., Yulfia Nora, 2013, Peningkatan Partisipasi dan Hasil Belajar Peserta didik Kelas IVB dalam Pembelajaran IPS Melalui Model Problem Based Learning di SDN 20 Kurao Pagang, Faculty of Education, Bung Hatta University
Matematika – SMA/MA/SMK | 196

Penelitian ini dilatarbelakangi kurangnya partisipasi peserta didik kelas IVB pada pembelajaran IPS. Yang berdampak terhadap rendahnya hasil belajar peserta didik. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan peningkatan partisipasi dan hasil belajar peserta didik kelas IVB dalam pembelajaran IPS melalui model PBL di SDN 20 Kurao Pagang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan secara partisipan. Subjek penelitian ini peserta didik kelas IVB SDN 20 Kurao Pagang. Instrumen penelitian yang digunakan lembar observasi partisipasi peserta didik, lembar observasi aktivitas guru, tes hasil belajar dan catatan lapangan. Hasil penelitian diketahui bahwa partisipasi dalam menjawab pertanyaan meningkat dari 52,5 % di siklus I menjadi 70%, di siklus II. Partisipasi peserta didik menanggapi jawaban meningkat dari 40% di siklus I menjadi 65% di siklus II, dan partisipasi peserta didik dalam presentasi meningkat dari 27,5% di siklus I menjadi 67,5% di siklus II. Hasil belajar peserta didik siklus I meningkat dari 57,25% menjadi 72,75% di siklus II. Sedangkan persentase ketuntasan belajar yang ditentukan 70%. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa partisipasi dan hasil belajar peserta didik kelas IVB dapat ditingkatkan melalui model PBL dalam pembelajaran IPS di SDN 20 Kurao Pagang. C. Langkah-langkah Operasional Imlementasi dalam Proses Pembelajaran Pembelajaran suatu materi pelajaran dengan menggunakan PBL sebagai basis model dilaksanakan dengan cara mengikuti lima langkah PBL dengan bobot atau kedalaman setiap langkahnya disesuaikan dengan mata pelajaran yang bersangkutan. 1. Konsep Dasar (Basic Concept) Jika dipandang perlu, fasilitator dapat memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik lebih cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan ‘peta’ yang akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran. Lebih jauh, hal ini diperlukan untuk memastikan peserta didik memperoleh kunci utama materi pembelajaran, sehingga tidak ada kemungkinan terlewatkan oleh peserta didik seperti yang dapat terjadi jika peserta didik mempelajari secara mandiri. Konsep yang diberikan tidak perlu detail, diutamakan dalam bentuk garis besar saja, sehingga peserta didik dapat mengembangkannya secara mandiri secara mendalam. 2. Pendefinisian Masalah (Defining the Problem) Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan skenario atau permasalahan dan dalam kelompoknya, peserta didik melakukan berbagai kegiatan. Pertama, brainstorming yang dilaksanakan dengan cara semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat. Setiap anggota kelompok memiliki hak yang sama dalam memberikan dan menyampaikan ide dalam diskusi serta mendokumentasikan secara tertulis pendapat masing-masing dalam kertas kerja. Selain itu, setiap kelompok harus mencari istilah yang kurang dikenal dalam skenario tersebut dan berusaha mendiskusikan maksud dan artinya. Jika ada peserta didik yang
Matematika – SMA/MA/SMK | 197

mengetahui artinya, segera menjelaskan kepada teman yang lain. Jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis dalam permasalahan kelompok. Selanjutnya, jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis sebagai isu dalam permasalahan kelompok. Kedua, melakukan seleksi alternatif untuk memilih pendapat yang lebih fokus. Ketiga, menentukan permasalahan dan melakukan pembagian tugas dalam kelompok untuk mencari referensi penyelesaian dari isu permasalahan yang didapat. Fasilitator memvalidasi pilihan-pilihan yang diambil peserta didik. Jika tujuan yang diinginkan oleh fasilitator belum disinggung oleh peserta didik, fasilitator mengusulkannya dengan memberikan alasannya. Pada akhir langkah peserta didik diharapkan memiliki gambaran yang jelas tentang apa saja yang mereka ketahui, apa saja yang mereka tidak ketahui, dan pengetahuan apa saja yang diperlukan untuk menjembataninya. Untuk memastikan setiap peserta didik mengikuti langkah ini, maka pendefinisian masalah dilakukan dengan mengikuti petunjuk. 3. Pembelajaran Mandiri (Self Learning) Setelah mengetahui tugasnya, masing-masing peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu: (1) agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan (2) informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami. Di luar pertemuan dengan fasilitator, peserta didik bebas untuk mengadakan pertemuan dan melakukan berbagai kegiatan. Dalam pertemuan tersebut peserta didik akan saling bertukar informasi yang telah dikumpulkannya dan pengetahuan yang telah mereka bangun. Peserta didik juga harus mengorganisasi informasi yang didiskusikan, sehingga anggota kelompok lain dapat memahami relevansi terhadap permasalahan yang dihadapi. 4. Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge) Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara peserrta didik berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya. Tiap kelompok menentukan ketua diskusi dan tiap peserta didik menyampaikan hasil pembelajaran mandiri dengan cara mengintegrasikan hasil pembelajaran mandiri untuk mendapatkan kesimpulan kelompok. Langkah selanjutnya presentasi hasil dalam pleno (kelas besar) dengan mengakomodasi masukan dari pleno, menentukan kesimpulan akhir, dan dokumentasi akhir. Untuk memastikan setiap peserta didik mengikuti langkah ini maka dilakukan dengan mengikuti petunjuk.
Matematika – SMA/MA/SMK | 198

5. Penilaian (Assessment) Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan. Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran dalam pembelajaran. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. D. Contoh Penerapan Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu. Kemudian peserta didik diminta mencatat masalah-masalah yang muncul. Setelah itu tugas guru adalah meransang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka. Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar. Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan peserta didik, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar diluar kelas. Peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran. Tahapan-Tahapan Model PBL FASE-FASE Fase 1 Orientasi peserta didik kepada masalah Fase 2 Mengorganisasikan peserta didik Fase 3 Membimbing penyelidikan individu dan kelompok Fase 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya PERILAKU GURU  Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yg dibutuhkan  Memotivasi peserta didik untuk terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang dipilih Membantu peserta didik mendefinisikan danmengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut Mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah Membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, model dan berbagi tugas dengan teman
Matematika – SMA/MA/SMK | 199

pentingnya interaksi antar anggota. 3. peserta didik didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi. 2. Tujuan utama pengajaran tidak untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru.FASE-FASE Fase 5 Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah PERILAKU GURU Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari /meminta kelompok presentasi hasil kerja Fase 1: Mengorientasikan peserta didik pada masalah Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitasaktivitas yang akan dilakukan. sebuah masalah yang rumit atau kompleks mempunyai banyak penyelesaian dan seringkali bertentangan. dan sebagainya. adanya tutor sebaya. serta dijelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses pembelajaran. yaitu: 1. Guru sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja Matematika – SMA/MA/SMK | 200 . dan 4. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. peserta didik akan didorong untuk menyatakan ide-idenya secara terbuka dan penuh kebebasan. Fase 2: Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar Disamping mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah. Prinsip-prinsip pengelompokan peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen. pembelajaran PBL juga mendorong peserta didik belajar berkolaborasi. guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok peserta didik dimana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Selama tahap penyelidikan (dalam pengajaran ini). komunikasi yang efektif. Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar peserta didik dapat mengerti dalam pembelajaran yang akan dilakukan. tetapi lebih kepada belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi peserta didik yang mandiri. Ada empat hal yang perlu dilakukan dalam proses ini. Guru akan bertindak sebagai pembimbing yang siap membantu. Oleh sebab itu. Permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai jawaban mutlak “benar“. Tidak ada ide yang akan ditertawakan oleh guru atau teman sekelas. tahapan ini sangat penting dimana guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh peserta didik dan juga oleh guru. namun peserta didik harus berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan temannya. Selama tahap analisis dan penjelasan. Dalam penggunaan PBL. Semua peserta didik diberi peluang untuk menyumbang kepada penyelidikan dan menyampaikan ide-ide mereka.

Guru juga harus mengajukan pertanyaan yang membuat peserta didik berfikir tentang kelayakan hipotesis dan solusi yang mereka buat serta tentang kualitas informasi yang dikumpulkan. guru harus mendorong peserta didik untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya). Akan lebih baik jika dalam pemeran ini melibatkan peserta didik-peserta didik lainnya. dan sajian multimedia. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting. Setelah peserta didik diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar selanjutnya guru dan peserta didik menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik. dan memberikan pemecahan. yakni pengumpulan data dan eksperimen. dan jadwal. dan pemecahan.masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran. namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik. Fase 3: Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok Penyelidikan adalah inti dari PBL. Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil karya) dan mempamerkannya Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran. guru mendorong peserta didik untuk menyampikan semua ide-idenya dan menerima secara penuh ide tersebut. Fase 5: Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah Matematika – SMA/MA/SMK | 201 . Tujuannya adalah agar peserta didik mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini adalah mengupayakan agar semua peserta didik aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut. program komputer. berhipotesis dan penjelasan. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda. Selama pengajaran pada fase ini. guru-guru. Pada tahap ini. tugas-tugas penyelidikan. Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis. orang tua. Setelah peserta didik mengumpulkan cukup data dan memberikan permasalahan tentang fenomena yang mereka selidiki. dan lainnya yang dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik. Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat berfikir peserta didik. selanjutnya mereka mulai menawarkan penjelasan dalam bentuk hipotesis. Guru membantu peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. namun bisa suatu video tape (menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan). penjelesan. dan ia seharusnya mengajukan pertanyaan pada peserta didik untuk berifikir tentang masalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan.

Peer-assessment. Penilaian portofolio peserta didik. baik software. Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment. dokumen. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya. dan kehadiran dalam pembelajaran. kemampuan bekerjasama dalam tim. Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment. atau melukis suatu gambar. dan laporan. maupun kemampuan perancangan dan pengujian. peserta didik diminta untuk unjuk kerja atau mendemonstrasikan kemampuan melakukan tugas-tugas tertentu. kecakapan (skill). dan sikap (attitude). 1. menginterpretasikan jawaban pada suatu masalah.Fase ini merupakan tahap akhir dalam PBL. Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran. melakukan suatu eksperimen. Penilaian yang relevan dalam PBL antara lain sebagai berikut: 1. 2. yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi. Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap usahausahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar. Self-assessment. seperti menulis karangan. Selama fase ini guru meminta peserta didik untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya E. Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. Fase ini dimaksudkan untuk membantu peserta didik menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. memainkan suatu lagu. Pada penilaian kinerja ini. PR. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill. hardware. Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS). 2. Penilaian portofolio adalah penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam suatu Matematika – SMA/MA/SMK | 202 . Sistem Penilaian Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge). ujian tengah semester (UTS). kuis. Penilaian kinerja peserta didik.

Dengan kemampuan atau kecakapan tersebut diharapkan peserta didik akan mudah beradaptasi. Self assessment adalah penilaian yang dilakukan oleh peserta didik itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai oleh peserta didik itu sendiri dalam belajar. Penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan oleh peserta didik sebagai hasil pekerjaan mereka dan mendiskusikan hasil pekerjaan secara bersama-sama. atau bentuk informasi lain yang terkait kompetensi tertentu dalam suatu mata pelajaran. Penilaian usaha kelompok mengurangi kompetisi merugikan yang sering terjadi. 2). Penilaian proses bertujuan agar guru dapat melihat bagaimana peserta didik merencanakan pemecahan masalah. PBL yang memberi tugas-tugas pemecahan masalah memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan dan mengenali potensi kesiapan belajarnya. Penilaian proses dapat digunakan untuk menilai pekerjaan peserta didik tersebut. Menilai usaha kelompok seperti yang dlakukan pada pembelajaran kooperatif dapat dilakukan pada PBL. assesment autentik dan 3). pekerjaan hasil tes. 4. melihat bagaimana peserta didik menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya. Penilaian yang diarahkan untuk mengukur potensi belajar peserta didik yaitu mengukur kemampuan yang dapat ditingkatkan dengan bantuan guru atau teman-temannya yang lebih maju. Penilaian potensi belajar.assesment kerja.periode tertentu. Penilaian kinerja memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan dalam situasi yang sebenarnya. penilaian ini antara lain: 1). Peer assessment adalah penilian dimana peserta didik berdiskusi untuk memberikan penilaian upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang diselesaikan sendiri maupun teman dalam kelompoknya. misalnya membandingkan peserta didik dengan temannya. Dasar pemikiran pengembangan strategi pembelajaran tersebut sesuai dengan pandangan kontruktivis yang menekankan kebutuhan peserta didik untuk menyelidiki lingkungannya dan membangun pengetahuan secara pribadi pengetahuan bermakna. piagam penghargaan. Penilaian kolaboratif dalam PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self assesment) dan peer assesment. Dari informasi perkembangan itu peserta didik dan guru dapat menilai kemajuan belajar yang dicapai dan peserta didik terus berusaha memperbaiki diri. Penilain dengan portofolio dapat dipakai untuk penilaian pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif. maka di samping pengembangan kurikulum juga perlu dikembangkan model pembelajaran yang sesuai tujuan kurikulum yang memungkinkan peserta didik dapat secara aktif mengembangkan kerangka berfikir dalam memecahkan masalah serta kemampuannya untuk bagaimana belajar (learning how to learn). 3. Penilaian usaha kelompok. bagaimana peserta didik dan evaluator menilai produk (hasil akhir) proses 2. Sebagian masalah dalam kehidupan nyata bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman dan konteks atau lingkungannya. bagaimana mereka menerapkan tahapan Matematika – SMA/MA/SMK | 203 . Informasi perkembangan peserta didik dapat berupa hasil karya terbaik peserta didik selama proses belajar. Tahap evaluasi pada PBM terdiri atas tiga hal : 1. portofolio.

Betsy. Sebagian dari evaluasi memfokuskan pada pemecahan masalah oleh peserta didik maupun dengan cara melakukan proses belajar kolaborasi (bekerja bersama pihak lain). Sugiyono. Proposal Hibah Kompetitif UPI 2007. Model-Model Mengajar .uga. M. (2007). (1990). H. Dr. (2008).A.rapidintellect. Tersedia : http://www. Problem Based Learning: a Review of The Literature on Outcomes and Implementation Issues. Tersedia : http://www. Assessing the Effectiveness of Problem-Based Learning in Higher Education: Lessons from the Literature.. Penerapan Problem Based Learning Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Peserta Didik Dalam Memecahkan Masalah.htm [14 Juli 2010] Matematika – SMA/MA/SMK | 204 . Bandung: Diponegoro. Journal of Academic Medicine Barrows. Pengajaran Berdasarkan Masalah. laporan tertulis.edu/epltt/ProblemBasedInstruct. (1995).Daftar Pustaka Albanese. Problem Based Learning: an Approach to Medical Education. et al. [Online]. R. [17 Juni 2005]. (2001). Makalah Duch. atau sebagai suatu bentuk penyajian formal lainnya.PBM untuk bekerja melalui masalah 3.com/AE Qweb/mop4spr01. Metode Penelitian Kuantitatif. F. New York: Springer Publishing Dahlan.S.udel. In M. Prof. Orey (Ed.H dan Palmer. & Tamblyn. bagaimana peserta didik akan menyampaikan pengetahuan hasil pemecahan akan masalah atau sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian atau respon-respon mereka dalam berbagai bentuk yang beragam.D.. Evan. M dan Nur. Glazer. [Online]. S. Problems: A Key Factor in PBL. 2009. (2005).). Bandung: Tidak diterbitkan Major.html. Claire. Kualitatif dan R&D. misalnya secara lisan atau verbal. S. J. Barbara. Surabaya: University Press Karim. Ibrahim. & Mitchell..coe. M. 2001.htm. Problem Based Instruction. (1993). and technology [Online]. Tersedia: http://www. Penerapan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Penguasaan konsep Fisika serta Mengembangkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi dan Kecakapan Ilmiah.M. Bandung: Alfabeta Das Salirawati. teaching. (1980). [21 Juli 2010]. Emerging perspectives on learning.edu/pbl/cte/spr96-phys.

Bandung : Lembaga Penelitian IKIP Bandung Yamin. 2011. (2004). Active Learning: 101 Strategies to Teach any Subject. Paradigma Baru Pembelajaran. Surakarta: Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS Press) Nurhadi. Belajar Mandiri. (1982). Jambi: Gaung Persada Press Matematika – SMA/MA/SMK | 205 . D. Kurikulum 2004: Pertanyaan dan Jawaban. & Silberman. Panduan Pelaksanaan Collaborative Learning & Problem Based Learning. Depok: UI Siburian. 2010. Model Pembelajaran Sains. Jambi: Universitas Jambi Sudjana.Melvin L. Model Pembelajaran Pemecahan Masalah. Jodion. 2006. Martinis. USA: Allyn & Bacon Mudjiman. Jakarta: Grasindo Proyek DUeLike Universitas Indonesia. (2002). Haris. (1996).

Matematika – SMA/MA/SMK | 206 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 207 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 208 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 209 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 210 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 211 .

tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. penentuan dan inferi. 2001:219). dan hubungan. Yang menjadikan dasar ide Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas. Bruner memakai metode yang disebutnya Discovery Learning. 1986:103). Definisi/ Konsep 1. klasifikasi. but rather is required to organize it him self” (Lefancois dalam Emetembun. Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving. Akan tetapi prinsip belajar yang nampak jelas dalam Discovery Learning adalah materi atau bahan pelajaran yang akan disampaikan tidak disampaikan dalam bentuk final akan tetapi siswa sebagai peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorgansasi atau membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir. Perbedaannya dengan discovery ialah bahwa pada discovery masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru. ingin merubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. Mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented. Sebagai strategi belajar. pada Discovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. 1996:41). Sund dalam Malik. Sebagaimana pendapat Bruner. terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. 2005:43). prediksi. pengukuran. arti. melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih.2-3 MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING) A. dimana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini. sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian. sedangkan Problem Solving lebih memberi tekanan pada kemampuan menyelesaikan masalah. Sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa. Merubah Matematika – SMA/MA/SMK | 212 . Metode Discovery Learning adalah memahami konsep. Dengan mengaplikasikan metode Discovery Learning secara berulang-ulang dapat meningkatkan kemampuan penemuan diri individu yang bersangkutan.HO-2. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps and principles in the mind (Robert B. Penggunaan metode Discovery Learning. Discovery dilakukan melalaui observasi. bahwa: “Discovery Learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter in the final form. Discovery terjadi bila indifidu terlibat. Definisi Metode Discovery Learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya.

dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi). yaitu lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi. 2) Contohcontoh baik yang positif maupun yang negative. pegangan. Bruner menjelaskan bahwa pembentukan konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda yang menuntut proses berfikir yang berbeda pula. Secara Matematika – SMA/MA/SMK | 213 . yang dapat memungkinkan terjadinya generalisasi. sentuhan. 5) Kaidah (Budiningsih. iconic. semakin dominan sistem simbolnya. Seluruh kegiatan mengkategori meliputi mengidentifikasi dan menempatkan contoh-contoh (obyek-obyek atau peristiwaperistiwa) ke dalam kelas dengan menggunakan dasar kriteria tertentu. Semakin matang seseorang dalam proses berpikirnya. Sebagaimana teori Bruner tentang kategorisasi yang nampak dalam Discovery. Lingkungan seperti ini bertujuan agar siswa dalam proses belajar dapat berjalan dengan baik dan lebih kreatif. dan sebagainya. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa. yaitu: enactive. sesungguhnya metode Discovery Learning merupakan pembentukan kategori-kategori atau konsep-konsep. 3) Karakteristik. penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui. logika. dan symbolic. Lingkungan ini dinamakan Discovery Learning Environment. Untuk menunjang proses belajar perlu lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu siswa pada tahap eksplorasi. baik yang pokok maupun tidak. seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Tahap enaktive. matematika. Untuk memfasilitasi proses belajar yang baik dan kreatif harus berdasarkan pada manipulasi bahan pelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. Manipulasi bahan pelajaran bertujuan untuk memfasilitasi kemampuan siswa dalam berfikir (merepresentasikan apa yang dipahami) sesuai dengan tingkat perkembangannya. seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. bahwa Discovery adalah pembentukan kategori-kategori. Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh bagaimana cara lingkungan.modus Ekspository siswa hanya menerima informasi secara keseluruhan dari guru ke modus Discovery siswa menemukan informasi sendiri. Tahap iconic. Bruner memandang bahwa suatu konsep atau kategorisasi memiliki lima unsur. dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik. Pembentukan kategori-kategori dan sistem-sistem coding dirumuskan demikian dalam arti relasi-relasi (similaritas & difference) yang terjadi diantara obyek-obyek dan kejadian-kejadian (events). atau lebih sering disebut sistem-sistem coding. 2. Tahap symbolic. Konsep Dalam Konsep Belajar. dan siswa dikatakan memahami suatu konsep apabila mengetahui semua unsur dari konsep itu. Di dalam proses belajar. artinya. 2005:43). Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak simbol. seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan sekitarnya. dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. dan sebagainya. 4) Rentangan karakteristik. Maksudnya. meliputi: 1) Nama. Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa. misalnya melalui gigitan.

Kemudian pada fase iconic ia menjelaskan keseimbangan pada gambar atau bagan dan akhirnya ia menggunakan bahasa untuk menjelaskan prinsip keseimbangan ini fase symbolic (Syaodih. Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. penerapan pendekatan Discovery Learning dalam pembelajaran memiliki kelebhihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan. Kelebihan Penerapan Discovery Learning a. mengkategorikan. sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan (Sardiman. Karakteristik yang paling jelas mengenai Discovery sebagai metode mengajar ialah bahwa sesudah tingkat-tingkat inisial (pemulaan) mengajar. Hal yang menarik dalam pendapat Bruner yang menyebutkan: hendaknya guru harus memberikan kesempatan muridnya untuk menjadi seorang problem solver. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented. aturan. karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil. 85:2001). iconic dan symbolic adalah anak menjelaskan sesuatu melalui perbuatan (ia bergeser ke depan atau kebelakang di papan mainan untuk menyesuaikan beratnya dengan berat temannya bermain) ini fase enactive. serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya. seorang scientist. mengintegrasikan. Dalam metode Discovery Learning bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir. Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep. dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti mereka. 1. menerapkan. ingatan dan transfer. Dengan demikian seorang guru dalam aplikasi metode Discovery Learning harus dapat menempatkan siswa pada kesempatan-kesempatan dalam belajar yang lebih mandiri. Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian. Matematika – SMA/MA/SMK | 214 . 2005:145). siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi. Tetapi bimbingan yang diberikan tidak hanya dikurangi direktifnya melainkan pelajar diberi responsibilitas yang lebih besar untuk belajar sendiri. atau ahli matematika. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini. historin. atau ahli matematika. c. 2005:41). bimbingan guru hendaklah lebih berkurang dari pada metode-metode mengajar lainnya. historin.sederhana teori perkembangan dalam fase enactive. seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya. b. mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulankesimpulan. Pada akhirnya yang menjadi tujuan dalam metode Discovery Learning menurut Bruner adalah hendaklah guru memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver. menganalisis. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil Pembelajaran Berdasarkan fakta dan hasil pengamatan. Menimbulkan rasa senang pada siswa. Dan melalui kegiatan tersebut siswa akan menguasainya. membandingkan. teori. seorang scientis. atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya (Budiningsih. Hal ini tak berarti bahwa guru menghentikan untuk memberikan suatu bimbingan setelah problema disajikan kepada pelajar. B. Hal tersebut memungkinkan murid-murid menemukan arti bagi diri mereka sendiri. Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif.

minat. C. Metode ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya. r. f. e. 2. Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berfikir yang akan ditemukan oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru. h. m. Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri. Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak. dan sebagainya) Matematika – SMA/MA/SMK | 215 . Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru. Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik. l. Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri. q. dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi. sedangkan mengembangkan aspek konsep.d. e. Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan manusia seutuhnya. Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasangagasan. Kelemahan Penerapan Discovery Learning a. Langkah Persiapan Metode Discovery Learning a. karena membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya. c. Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti. i. Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik. Pada beberapa disiplin ilmu. Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar. d. karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya. b. Bagi siswa yang kurang pandai. Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama. sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi. Menentukan tujuan pembelajaran b. Langkah-langkah Operasional Implementasi dalam Proses Pembelajaran Langkah-langkah dalam mengaplikasikan model discovery learning di kelas adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa. n. g. yang tertulis atau lisan. Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu. gaya belajar. keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian. Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang. akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep. p. j. k. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal. Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri. Mendorong siswa berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri. misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur gagasan yang dikemukakan oleh para siswa f. Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman. o.

atau hipotesis. melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi. Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contohcontoh generalisasi) e. Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis. Prosedur Aplikasi Metode Discovery Learning Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning di kelas. Memilih materi pelajaran. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks. ikonik sampai ke simbolik g. b. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa 2. 2004:244). Sedangkan menurut permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan. kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah 2004:244). Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan) Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya. c. dari yang konkret ke abstrak. d. ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut: a. membaca literatur. Dalam hal ini Bruner memberikan stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. atau dari tahap enaktif. mengamati objek. Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa belajar secara aktif Matematika – SMA/MA/SMK | 216 . Memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisa permasasalahan yang mereka hadapi. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan. wawancara dengan nara sumber.c. anjuran membaca buku. Data collection (pengumpulan data). agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. ilustrasi. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. merupakan teknik yang berguna dalam membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah. Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah) Setelah dilakukan stimulation langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran. dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan. dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Dengan demikian seorang Guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus kepada siswa agar tujuan mengaktifkan siswa untuk mengeksplorasi dapat tercapai. tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa f.

Verification (pembuktian) Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif. dan sebagainya. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran. observasi. lalu ditafsirkan. Verification menurut Bruner. wawancara. aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. apakah terjawab atau tidak. observasi. d. Semua informai hasil bacaan. Matematika – SMA/MA/SMK | 217 . apakah terbukti atau tidak. serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu. atau informasi yang ada. dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah. f. pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek. dan sebagainya.untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi. dengan demikian secara tidak disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki. 2004:244). semuanya diolah. diacak. teori. Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis e. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang. Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah. ditabulasi. diklasifikasikan. dihubungkan dengan hasil data processing (Syah. 2002:22). 2004:244). Data processing (pengolahan data) Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi) Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama. bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep.

ya-tidak) c. maka pelaksanaan penilaian dapat menggunakan contohcontoh format penilaian seperti tersebut di bawah ini. maka peserta didik akan menerka. Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat. bahasa. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda. penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun non tes. misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas. misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda. Alat penilaian ini kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas karena tidak menggambarkan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya. dan menjodohkan merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah. yaitu:  Soal dengan memilih jawaban a. isian singkat. Sistem Penilaian Dalam Model Pembelajaran Discovery Learning. Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. atau penilaian hasil kerja siswa. Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut: a. mewarnai. yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar. b. isian atau melengkapi b. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kemampuan. atau penilaian hasil kerja siswa. misalnya kesesuian soal dengan indikator pada kurikulum. konstruksi. tes memilih jawaban benar-salah. berpikir logis. Matematika – SMA/MA/SMK | 218 . materi. 1. dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari. sikap. pilihan ganda b. yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). dua pilihan (benar-salah. c. Pilihan ganda mempunyai kelemahan. Penilaian Tertulis Penilaian tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. jawaban singkat c. maka dalam model pembelajaran discovery learning dapat menggunakan tes tertulis. Jika bentuk penialainnya berupa penilaian kognitif. Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas. Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses. Ada dua bentuk soal tes tertulis. memahami. dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. a. menggambar dan lain sebagainya. sikap. menjodohkan  Soal dengan mensuplai-jawaban. proses.D. soal uraian Dari berbagai alat penilaian tertulis. dan menyimpulkan. misalnya mengemukakan pendapat. Sedangkan penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif.

yang berkaitan dengan kompetensi kognitif. berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. membiasakan. berkaitan dengan kompetensi kognitif. . peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu obyek sikap tertentu. di mana subyek yang ingin dinilai diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan. karena mereka dituntut untuk jujur dan obyektif dalam melakukan penilaian. dapat mendorong. peserta didik dapat diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya sebagai hasil belajar berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. 3. dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. Berkaitan dengan kompetensi afektif. dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur. Keuntungan penggunaan teknik ini dalam penilaian di kelas antara lain sebagai berikut: a. Penilaian Diri Penilaian diri (self assessment) adalah suatu teknik penilaian. karena ketika mereka melakukan penilaian. afektif dan psikomotor..2. Teknik penilaian diri dapat digunakan dalam berbagai aspek penilaian.. Dalam proses pembelajaran di kelas. misalnya. Berkaitan dengan kompetensi psikomotorik. b. karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri. Selanjutnya. misalnya: peserta didik dapat diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dalam mata pelajaran tertentu. harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya c. Nama Siswa Komitmen Tugas Kerja Sama Ketelitian Minat Jumlah Skor Nilai Matematika – SMA/MA/SMK | 219 . status. Penilaian Sikap Contoh Format Penilaian Sikap Mata Pelajaran: _________ Kelompok : _________ Semester: _________ Kelas : _________ Skor No 1 2 3 4 5 . peserta didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.

uraian yang dijabarkan rinci dan diperoleh dengan menggunakan seluruh indra disertai dengan gambar-gambar atau diagram B: Pengelompokan yang dilakukan siswa baik. uraian yang dijabarkan tidak rinci dan diperoleh dengan menggunakan sebagian kecil indra dengan gambar-gambar atau diagram D: Pengelompokan yang dilakukan siswa kurang baik. Penilaian Kinerja Nama Siswa: ……………… NO 1. 2. 3. Penilaian Hasil Kerja Siswa Nama Siswa: ……………… Input Tanggal: ……………… Proses Out Put/Hasil Kelas: ……………… Nilai Matematika – SMA/MA/SMK | 220 . uraian yang dijabarkan kurang sesuai dan diperoleh dengan menggunakan sebagian besar indra dengan gambargambar atau diagram 5. 2. Jumlah Contoh Format Penilaian Kinerja Tanggal: ……………… Kelas: ……………… Aspek Yang Dinilai 1 Tingkat Kemampuan 2 3 4 Kriteria Penskoran 1. uraian yang dijabarkan kurang rinci dan diperoleh dengan menggunakan sebagian besar indra dengan gambar-gambar atau diagram C: Pengelompokan yang dilakukan siswa cukup baik. Baik Sekali Baik Cukup Kurang 4 3 2 1 Kriteria Penilaian 10 – 12 A 7– 9 B 4–6 C ≤ 3 D A: Pengelompokan yang dilakukan siswa sangat baik. 4.4.

com/2011/05/aplikasi-metode-discovery-learning. Tesis.Daftar Pustaka Dahar. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Syah. RW. 2000. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berorientasi Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guide-Discovery Learning) yang Mengintegrasikan Kegiatan Laboratorium untuk Fisika SLTP Bahan Kajian Pengukuran. Holiwarni.. 1996.html (23 Mei 2013) Jurnal Geliga Sains 3 (2). Teori-Teori Belajar. UNESA (tidak dipublikasikan). 2009 Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Riau ISSN 1978-502X. http://prismabekasi.com/2012/10/definisi-belajar-menurut-para-ahli.. Pekanbaru.blogspot. Bandung.. 2008. 2012. M.. Motivasi Belajar Dan Daya Ingat Siswa. Jakarta. Rizqi. http://ebookbrowse. B. http://darussholahjember. Matematika – SMA/MA/SMK | 221 .blogspot.com/pengertian-model-pembelajaran-discovery-learning-menurutpara-ahli-pdf-d368189396 (23 Mei 2013). 8-13. Penerbit Erlangga. dkk. Syamsudini . Lemlit UNRI. PT Remaja Rosdakarya. 1991. Aplikasi Metode Discovery Learning Dalam Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah. Penerapan Metode Penemuan Terbimbing pada Mata Pelajaran Sains untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN 016 Pekanbaru Kota (Laporan Penelitian).html (23 Mei 2013).

3 Paparan materi Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.Materi Pelatihan 2. Diskusi materi Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar. Paparan materi Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.3: Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Kegiatan Interaktif Diskusi Kelompok Paparan Materi 15 Menit 50 Menit 20 Menit Kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan bentuk penilaian autentik.3/3.2. Matematika – SMA/MA/SMK | 222 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 223 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 224 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 225 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 226 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 227 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 228 .

dan sikap-sikap peserta didik pada aktifitas yang relevan dalam pembelajaran. merevisi dan membahas artikel. Untuk mendapatkan pemahaman cukup komprehentif mengenai arti asesmen autentik. Dalam American Librabry Association asesmen autentik didefinisikan sebagai proses evaluasi untuk mengukur kinerja. Kata lain dari asesmen autentik adalah penilaian kinerja. memberikan analisa oral terhadap peristiwa. menalar. suatu metode yang sangat populer untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik yang miliki ciri-ciri khusus. nyata. seperti meneliti. baik dalam rangka mengobservasi. mulai dari mereka Matematika – SMA/MA/SMK | 229 . motivasi. pengukuran. Asesmen autentik adakalanya disebut penilaian responsif. frasa pengukuran atau pengujian autentik. Dalam kehidupan akademik keseharian. portofolio. asesmen autentik sangat relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran. asesmen autentik diartikan sebagai penilaian atas produk dan kinerja yang berhubungan dengan pengalaman kehidupan nyata peserta didik. atau evaluasi. dan penilaian proyek. berikut ini dikemukakan beberapa definisi. Secara konseptual asesmen autentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar sekali pun. asesmen semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik. guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan. Karena. Karenanya. Ketika menerapkan asesmen autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik. aktivitas mengamati dan mencoba. Istilah asesmen merupakan sinonim dari penilaian. Wiggins mendefinisikan asesmen autentik sebagai upaya pemberian tugas kepada peserta didik yang mencerminkan prioritas dan tantangan yang ditemukan dalam aktifitas-aktifitas pembelajaran. atau reliabel. Akan tetapi. dan sebagainya. khususnya jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai. B. valid. frasa asesmen autentik dan penilaian autentik sering dipertukarkan. mencoba. Dalam Newton Public School. keterampilan. Istilah autentik merupakan sinonim dari asli.3-1 KONSEP PENILAIAN AUTENTIK A. dan lain-lain. dan nilai prestasi luar sekolah. Asesmen autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual. Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013 Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013.HO-2. Definsi dan Makna Asesmen Autentik Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap. pengujian. memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik. prestasi. membangun jejaring. berkolaborasi dengan antarsesama melalui debat. tidak lazim digunakan. dan pengetahuan. menulis.

karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek. karena memang lzim digunakan dan memperoleh legitimasi secara akademik. peserta didik dapat melakukan aktivitas belajar lebih baik ketika mereka tahu bagaimana akan dinilai. Atas dasar itu. Dalam beberapa kasus. Asesmen autentik harus mampu menggambarkan sikap. Asumsinya. dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar. simulasi dan bermain peran. benar–salah. hingga yang jenius. guru dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang dilakukan oleh peserta didik dikaitkan dengan realitas di luar sekolah atau kehidupan pada umumnya. memilih kegiatan yang strategis. Pada asesmen autentik guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan. dan sebagainya. pilihan ganda. atau membuat jawaban singkat. Tentu saja. kemampuan mengaplikasikan atau menunjukkan perolehan pengetahuan tertentu. yang memungkinkan mereka secara nyata menunjukkan kompetensi atau keterampilan yang dimilikinya. Matematika – SMA/MA/SMK | 230 . guru secara tim. serta keterampilan belajar. kegiatan siswa belajar. portofolio. Asesmen autentik mencoba menggabungkan kegiatan guru mengajar. bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya. dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah. menjodohkan.yang mengalami kelainan tertentu. keterampilan. pola penilaian seperti ini tidak diantikan dalam proses pembelajaran. serta memamerkan dan menampilkan sesuatu. Asesmen Autentik dan Belajar Autentik Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. kajian keilmuan. dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik. motivasi dan keterlibatan peserta didik. atau guru bekerja sama dengan peserta didik. Karena penilaian itu merupakan bagian dari proses pembelajaran. guru dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remidial harus dilakukan. Dalam asesmen autentik. Asesmen autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik. Asesmen autentik dapat juga diterapkan dalam bidang ilmu tertentu seperti seni atau ilmu pengetahuan pada umumnya. Contoh asesmen autentik antara lain keterampilan kerja. C. memiliki bakat dan minat khusus. Asesmen autentik dapat dibuat oleh guru sendiri. seringkali pelibatan siswa sangat penting. Asesmen autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunkan standar tes berbasis norma. Peserta didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi. dengan orientasi utamanya pada proses atau hasil pembelajaran. peserta didik bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka lakukan. Asesmen semacam ini cenderung berfokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual bagi peserta didik.

asesmen autentik akan bermakna bagi guru untuk menentukan cara-cara terbaik agar semua siswa dapat mencapai hasil akhir. 2.” Peran guru bukan hanya pada proses pembelajaran. Menjadi pengasuh proses pembelajaran. Ketiga. memiliki parameter waktu yang fleksibel. Untuk bisa melaksanakan pembelajaran autentik. keterampilan. guru dan peserta didik memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi. dan mengasimilasikan pemahaman peserta didik.Asesmen autentik mengharuskan pembelajaran yang autentik pula. Dengan demikian. guru harus menjadi “guru autentik. Sejalan dengan deskripsi di atas. pada pembelajaran autentik. Tes semacam ini telah gagal memperoleh gambaran yang utuh Matematika – SMA/MA/SMK | 231 . benar/salah. dan lain-lain telah gagal mengetahui kinerja peserta didik yang sesungguhnya. peserta didik diminta mengumpulkan informasi dengan pendekatan saintifik. analisis proses yang digunakan untuk menghasilkan respon peserta didik atas perolehan sikap. serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia nyata yang luar sekolah. mensintesis. Peserta didik pun tahu apa yang mereka ingin pelajari. melihat informasi baru. dan bertanggungjawab untuk tetap pada tugas. 1. Mengetahui bagaimana menilai kekuatan dan kelemahan peserta didik serta desain pembelajaran. penilaian atas tugas-tugas yang memerlukan keterlibatan yang luas dan kinerja yang kompleks. meski dengan satuan waktu yang berbeda. Wiggins (1993) menegaskan bahwa metode penilaian tradisional untuk mengukur prestasi. Keterlibatan peserta didik dalam melaksanakan tugas sangat bermakna bagi perkembangan pribadi mereka. Kedua. dan pengetahuan yang ada. menjelaskan. Konstruksi sikap. dan pengetahuan dicapai melalui penyelesaian tugas di mana peserta didik telah memainkan peran aktif dan kreatif. keteampilan. Mengetahui bagaimana cara membimbing peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan mereka sebelumnya dengan cara mengajukan pertanyaan dan menyediakan sumberdaya memadai bagi peserta didik untuk melakukan akuisisi pengetahuan. 3. menjodohkan. mengorganisasikan. memahahi aneka fenomena atau gejala dan hubungannya satu sama lain secara mendalam. Di sini. Asesmen Autentik terdiri dari berbagai teknik penilaian. melainkan juga pada penilaian. Asesmen autentik pun mendorong peserta didik mengkonstruksi. Asesmen autentik adalah komponen penting dari reformasi pendidikan sejak tahun 1990an. menafsirkan. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang diperlukan dalam kenyataannya di luar sekolah. Menjadi kreatif tentang bagaimana proses belajar peserta didik dapat diperluas dengan menimba pengalaman dari dunia di luar tembok sekolah. 4. menganalisis. seperti tes pilihan ganda. dan mengevaluasi informasi untuk kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan baru. pengukuran langsung keterampilan peserta didik yang berhubungan dengan hasil jangka panjang pendidikan seperti kesuksesan di tempat kerja. Pertama. Dalam pembelajaran autentik. guru harus memenuhi kriteria tertentu seperti disajikan berikut ini.

karena tidak menyentuh esensi nyata dari proses dan hasil belajar peserta didik. Namun demikian. seperti menilai kompetisi Olimpiade Sains Nasional. tidak mampu menggambarkan kompetensi dasar. Ada beberapa cara berbeda untuk merekam hasil penilaian berbasis kinerja: Matematika – SMA/MA/SMK | 232 . Memang. sudah saatnya guru profesional pada semua satuan pendidikan memandu gerakan memadukan potensi peserta didik. dan tidak mahir). dan pengetahuan apa yang akan dinilai. Ketika asesmen tradisional cenderung mereduksi makna kurikulum. misalnya. keterampilan. guru harus bertanya pada diri sendiri. keberanian berpendapat. keterampilan. keterampilan. dan lingkungannya melalui asesmen proses dan hasil belajar yang autentik. khususnya dalam proses dan aspek-aspek yangg akan dinilai. Jenis-jenis Asesmen Autentik Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik. Data asesmen autentik digunakan untuk berbagai tujuan seperti menentukan kelayakan akuntabilitas implementasi kurikulum dan pembelajaran di kelas tertentu. Analisis kuantitatif dari data asesmen autentik menerapkan rubrik skor atau daftar cek (checklist) untuk menilai tanggapan relatif peserta didik relatif terhadap kriteria dalam kisaran terbatas dari empat atau lebih tingkat kemahiran (misalnya: sangat mahir. dan rendah daya prediksinya terhadap derajat sikap. dan sebagainya.mengenai sikap. dan pengetahuan peserta didik dikaitkan dengan kehidupan nyata mereka di luar sekolah atau masyarakat. Rubrik penilaian dapat berupa analitik atau holistik. ketika itu pula asesmen autentik memperoleh traksi yang cukup kuat. Analisis holistik memberikan skor keseluruhan kinerja peserta didik. dan pengetahuan. pendekatan apa pun yang dipakai dalam penilaian tetap tidak luput dari kelemahan dan kelebihan. memori. mengenai keunggulan dan kelemahan. khususnya berkaitan dengan: (1) sikap. (2) fokus penilaian akan dilakukan. Penilaian Kinerja Asesmen autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik. atau proses. Dengan menggunakan informasi ini. berkaitan dengan sikap. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya. Asesmen hasil belajar yang tradisional bahkan cenderung mereduksi makna kurikulum. sebagian mahir. motivasi. Analisis kualitatif dari asesmen otentif berupa narasi atau deskripsi atas capaian hasil belajar peserta didik. maupun kuantitatif. mahir. keterampilan. dan kemampuan berpikir yang diartikulasikan dalam banyak mata pelajaran atau disiplin ilmu. kuanitatif. dan (3) tingkat pengetahuan apa yang akan dinilai. Data asesmen autentik dapat dianalisis dengan metode kualitatif. 1. guru dapat memberikan umpan balik terhadap kinerja peserta didik baik dalam bentuk laporan naratif mauun laporan kelas. misalnya. D. seperti penalaran. Beberapa jenis asesmen autentik disajikan berikut ini. guru harus memahami secara jelas tujuan yang ingin dicapai. sekolah. Untuk itu.

Misalnya. Daftar cek (checklist). Misalnya: 5 = baik sekali. peserta didik diminta mengungkapkan curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang harus muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan. Kedua. afektif dan psikomotor. Penilaian diri merupakan suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status. pertanyaan langsung. Cara seperti tetap ada manfaatnya.  Penilaian ranah sikap. 4 = baik. c. Untuk mengamati kinerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen. Dari sini akan diperoleh keutuhan mengenai keterampilan berbicara dimaksud. d. dan wawancara. guru dapat mengobservasinya pada konteks yang. Penilaian-diri (self assessment) termasuk dalam rumpun penilaian kinerja. kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan oleh peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. 3 = cukup. 1 = kurang sekali. Memori atau ingatan (memory approach). Pertama. Ketiga. Skala penilaian (rating scale). namun tidak cukup dianjurkan. ketepatan dan kelengkapan aspek kinerja yang dinilai. Pengamatan atas kinerja peserta didik perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Digunakan oleh guru dengan cara mengamati peserta didik ketika melakukan sesuatu. khususnya indikator esensial yang akan diamati. Kelima. Keempat. Guru menggunakan informasi dari memorinya untuk menentukan apakah peserta didik sudah berhasil atau belum. b. dari aspek keterampilan berbicara. dengan tanpa membuat catatan. seperti penilaian sikap. Untuk menilai keterampilan berbahasa peserta didik. atau pertanyaan pribadi. Penilaian kinerja memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus. Digunakan dengan cara guru menulis laporan narasi tentang apa yang dilakukan oleh masing-masing peserta didik selama melakukan tindakan. fokus utama dari kinerja yang akan dinilai. berdiskusi. bercerita. Biasanya digunakan dengan menggunakan skala numerik berikut predikatnya. urutan dari kemampuan atau keerampilan peserta didik yang akan diamati. misalnya.a. Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records). langkahlangkah kinerja harus dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja yang nyata untuk suatu atau beberapa jenis kompetensi tertentu. seperti berpidato. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. Matematika – SMA/MA/SMK | 233 . guru dapat menentukan seberapa baik peserta didik memenuhi standar yang ditetapkan. Dari laporan tersebut. 2 = kurang. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif. observasi perilaku.

pengerjaan. analisis data. Pertama. analisis. pengumpulan data. mulai dari perencanaan. Penilaian proyek dapat menggunakan instrumen daftar cek. dan melatih peserta didik berperilaku jujur. Misalnya. pengolahan. dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik. Orijinalitas atas keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik. Dengan demikian. a. dan pengetahuannya. Selama mengerjakan sebuah proyek pembelajaran. dan produk proyek. dan menulis laporan. Teknik penilaian-diri bermanfaat memiliki beberapa manfaat positif. Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan untuk menilai kualitas dan bentuk hasil akhir secara holistik dan analitik. skala penilaian. setidaknya ada tiga hal yang memerlukan perhatian khusus dari guru.  2. seperti makanan. hasil karya Matematika – SMA/MA/SMK | 234 . Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap. pakaian. Ketiga. menumbuhkan semangat untuk maju secara personal. peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Penilaian ranah keterampilan. Penilaian proyek berfokus pada perencanaan. Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan penilaian khusus. Keterampilan peserta didik dalam memilih topik. mengaplikasikan. atau narasi. keterampilan. menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. mendorong. Karena itu. peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. keterampilan. dan penyiapkan laporan. mencari dan mengumpulkan data. peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan sikap. Penilaian ranah pengetahuan. Dalam kaitan ini serial kegiatan yang harus dilakukan oleh guru meliputi penyusunan rancangan dan instrumen penilaian. dan lain-lain. Misalnya. penyelidikan. memberi makna atas informasi yang diperoleh. Penilaian Proyek Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Kedua. pada setiap penilaian proyek. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik. dan penyajian data. peserta didik diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya oleh dirinya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. pengumpulan data. membiasakan. pengorganisasian. mengolah dan menganalisis. b. Penilaian produk dimaksud meliputi penilaian atas kemampuan peserta didik menghasilkan produk. Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau tertulis. Keempat. c. penilaian proyek bersentuhan dengan aspek pemahaman.

patung. Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu. Penilaian secara holistik merujuk pada apresiasi atau kesan secara keseluruhan atas produk yang dihasilkan. karet. atau informasi lain yang releban dengan sikap. Peserta didik. kulit. mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran. 3. Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu.Fokus penilaian portofolio adalah kumpulan karya peserta didik secara individu atau kelompok pada satu periode pembelajaran tertentu. sinopsis. puisi. Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai. Matematika – SMA/MA/SMK | 235 . dan pengetahuan yang dituntut oleh topik atau mata pelajaran tertentu. komposisi musik. guru dan/atau peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan pembelajaran. dan lain-lain). Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini. Penilaian terutama dilakukan oleh guru. Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio. baik sendiri maupun kelompok. keramik. meski dapat juga oleh peserta didik sendiri. a. Memalui penilaian portofolio guru akan mengetahui perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik. Atas dasar penilaian itu. f. gambar. b. Jika memungkinkan. laporan penelitian. foto. lukisan. guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan. dan lain-lain. surat. lukisan. kertas. d. resensi buku/ literatur. memerlukan refleksi peserta didik. Penilaian secara analitik merujuk pada semua kriteria yang harus dipenuhi untuk menghasilkan produk tertentu. Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio. Misalnya. disertai catatan tanggal pengumpulannya.seni (gambar. keterampilan. hasil karya mereka dalam menyusun atau membuat karangan. barang-barang terbuat dari kayu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok. plastik. dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi. g. Penilaian Portofolio Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. hasil tes (bukan nilai). c. dan karya logam. e. Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat.

(1993). Daftar Pustaka Ibrahim. Assessment in Education. sehingga mampu menggambarkan ranah sikap. Tes tertulis terdiri dari memilih atau mensuplai jawaban dan uraian. asalkan analisisnya benar. (1999). dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari.. D. atau kelangkaan sumberdaya alam. 6(2).4. jawaban singkat atau pendek. Performance assessment and children with disabilities: Issues and possibilities. Memilih jawaban dan mensuplai jawaban. peserta didik tertentu melihat fenomena kemiskinan dari sisi pandang kebiasaan malas bekerja. yaitu jawaban terbuka (extendedresponse) atau jawaban terbatas (restricted-response). mengevaluasi. Memilih jawaban terdiri dari pilihan ganda. Penilaian Tertulis Meski konsepsi asesmen autentik muncul dari ketidakpuasan terhadap tes tertulis yang lazim dilaksanakan pada era sebelumnya. Muslimin. namun tetap terbuka memiliki kebenarann yang sama. J. mengorganisasikan. Tes semacam ini memberi kesempatan pada guru untuk dapat mengukur hasil belajar peserta didik pada tingkatan yang lebih tinggi atau kompleks. Cumming. dan pengetahuan peserta didik. Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat. G. Tes tersulis berbentuk esai biasanya menuntut dua jenis pola jawaban. penilaian tertulis atas hasil pembelajaran tetap lazim dilakukan. mensintesis. Masing-masing sisi pandang ini akan melahirkan jawaban berbeda. 177–194. namun tetap terbuka memperoleh nilai yang sama. 63–67. Asesmen Berkelanjutan: Konsep dasar. rendahnya keterampilan. pilihan benar-salah. Tahapan Pengembangan dan Contoh. ya-tidak. Pada tes tertulis berbentuk esai. Matematika – SMA/MA/SMK | 236 . 2005. M. dan uraian. menjodohkan. Teaching Exceptional Children. Contextualizing Authentic Assessment. peserta didik berkesempatan memberikan jawabannya sendiri yang berbeda dengan teman-temannya. memahami. & Malouf. 25(4). menganalisis. Hal ini sangat tergantung pada bobot soal yang diberikan oleh guru. J. menerapkan. Surabaya: UNESA University Press Anggota IKAPI Coutinho. Mensuplai jawaban terdiri dari isian atau melengkapi. S. dan sebab-akibat. keterampilan.. Misalnya. & Maxwell. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehentif.

Standards-based digital portfolios: A component of authentic assessment for preservice teachers. Grisham-Brown. 75(3). 45–51. Hakikat Asesmen Otentik Sebagai Penilaian Proses Dan Produk Dalam Pembelajaran Yang Berbasis Kompetensi (Makalah disampaikan pada In House Training (IHT) SMA N 1 Kuta Utara). R. 28–34. Nyoman. (2004). Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha Gatlin. & Ysseldyke. E. R. Phi Delta Kappan. Action in Teacher Education.. Assessment: Authenticity. J. J. Assessment in special and inclusive education (9th ed. Early Childhood Education Journal. New York: Houghton Mifflin.. L. 200 – 214. 23(4). S. J.. Wiggins. context and validity. (2002). & Brookshire. (1993).. 2008. (2006). 34(1).). G. Matematika – SMA/MA/SMK | 237 . Salvia. Using authentic assessment to evidence children's progress toward early learning standards.Dantes. Hallam. & Jacob.

menengah dan tinggi. akan tetapi maknanya sering disalahartikan dalam proses belajar mengajar. Prinsip ketiga: Asesmen harus bersifat operasional untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. (ii). Jika pendekatan negatif yang cenderung digunakan. Sejatinya tujuan penilaian adalah untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas belajar siswa. tetapi pendekatan yang digunakan lebih bersifat negatif.HO-2. Berdasarkan pengalaman asesmen sering diartiakan sebagai upaya untuk mengungkap aspek-aspek yang belum diketahui siswa. maka siswa akan kehilangan rasa percaya diri. Asesmen seringkali dipandang sebagai produk akhir dari suatu proses pembelajaran yang tujuan utamanya untuk memberikan penilaian bagi masing-masing siswa. Karena kemampuan berpikir tingkat tinggi lebih sulit untuk diases.3-2 CONTOH PENERAPAN PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA A. Menurut de Lange (dalam Tatang Herman) terdapat lima prinsip utama yang melandasi asesmen dalam pembelajaran. akan tetapi yang terpenting adalah adanya balikan tentang proses belajar yang telah terjadi. Matematika – SMA/MA/SMK | 238 . Jadi penilaian bukan sekedar untuk menentukan rangking atau skor siswa yang pada akhirnya justru dapat menjadi penghalang bagi peningkatan kualitas belajar. Walaupun hal ini tidak sepenuhnya salah. Prinsip pertama: Asesmen harus ditujukan untuk meningkatkan kualitas belajar dan pengajaran. Walaupun ide ini bukan hal yang baru. karena tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan yang sudah mereka miliki. penilaian (asesmen) merupakan bagian yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari kegiatan pembelajaran itu sendiri. Dengan demikian alat asesmen yang digunakan tentunya tidak hanya mencakup tingkatan tertentu saja. Makna yang sebenarnya dari asesmen tidak hanya menyangkut penyedian informasi tentang hasil belajar dalam bentuk nilai. Tambahan lagi bahwa penilaian bukan akhir dari pembelajaran tapi yang paling utama adalah balikan dari proses belajar yang telah berlangsung. kelima prinsip tersebut adalah sebagai berikut: (i). (iii). Prinsip kedua: Metode asesmen harus dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa mampu mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui bukan mengungkap apa yang tidak diketahui. melainkan harus mencakup ketiga tingkatan asesmen. maka seperangkat alat asesmen harus mencakup berbagai variasi yang bisa secara efektif mengungkap kemampuan yang dimiliki siswa. Pengantar Dalam proses pembelajaran. yaitu: rendah.

Konsep ini sesungguhnya mempunya core bahwa kemajuan belajar itu diperlukan selama proses pembelajaran. diantaranya adalah a. Sementara itu dalam Permendikbud No. Terkait dengan konsep penilaian autentik. guru segara bisa mengambil langkah yang tepat. dan pengetahuan Matematika – SMA/MA/SMK | 239 . Akibat dari penerapan pandangan ini adalah bahwa suatu alat asesmen hanya terdiri atas sejumlah soal dengan tingkatan rendah yang memudahkan dalam melakukan penskoran. Prinsip kelima: Alat asesmen hendaknya bersifat praktis. keterampilan. Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input). Kaitannya dengan pengertian ada beberapa definisi mengenai penilaian autentik. Artinya. Sehingga penilaian tidak hanya dilakukan di akhir periode pembelajaran tetapi dilakukan bersama (simultan) dan merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam pembelajaran. Salah satu keunggulannya siswa memiliki kebebasan untuk mengekspresikan ide-idenya sehingga jawaban yang diberikan mereka biasanya sangat bervariasi. jika ada tanda-tanda siswa mengalami kemacetan dalam belajar.66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan disebutkan bahwa penilaian hasil peserta didik didasarkan prinsip objektif. Penilaian autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap. akuntabel dan edukatif.(iv). Dengan demikian konstruksi tes dapat disusun dengan format yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan serta pencapaian tujuan yang ingin diungkap. Gambaran perkembangan belajar siswa ini perlu diketahui oleh guru agar bisa menentukan tindakan selanjutnya disamping memastikan bahwa siswa telah mengalami pembelajaran dengan benar. Umumnya pemberian skor secara objektif bagi setiap siswa menjadi faktor yang sangat dominan manakala dilakukan asesmen terhadap kualitas suatu tes. proses dan keluaran (output) pembelajaran b. Selain itu guru dimungkinkan untuk melihat secara mendalam proses berpikir yang digunakan siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan. ekonomis. Prinsip keempat: Kualitas alat asesmen tidak ditentukan oleh mudahnya pemberian skor secara objektif. (v). transparan. terpadu. pengalaman menunjukkan bahwa tugas-tugas yang ada didalamnya memiliki banyak keunggulan. Walaupun untuk menyusun alat asesmen dengan tingkatan tinggi lebih sulit. penilaian adalah proses pengumpulan berbagai informasi yang dapat memberikan gambaran sebenarnya tentang perkembangan belajar siswa.

membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai.c. perekaman dan pendokumentasian karya (apa yang dilakukan anak dan bagaimana hal itu dilakukan) sebagai dasar penentuan keputusan yang dapat menuju pada pembentukan anak sebagai individual learner (pembelajar mandiri). Dari berbagai pendefinisian diatas ada satu benang merah yang mengaitkan ketiganya yaitu penilaian yang mengutamakan perolehan fakta aktual (pada saat itu) tentang pengetahuan. e. Penilaian autentik adalah penilaian yang dilakukan menggunakan beragam sumber. dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pembelajaran. keterampilan dan sikap dengan berbagai cara. pada saat/setelah kegiatan pembelajaran berlangsung. Penilaian autentik merupakan proses pengamatan. Dibawah ini adalah gambaran penilaian autentik dibanding penilaian tradisional Penilaian autentik komprehensif Penilaian tradisional Matematika – SMA/MA/SMK | 240 . Penilaian autentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan. d.

Sebagai contoh. Matematika – SMA/MA/SMK | 241 . namun sebenarnya mereka mengerjakan dengan cara yang sangat berbeda. Ternyata ada dua siswa yang memilih jawaban yang benar (Jawaban: E).B. Terlihat adanya upaya ‘i ola i’ variabel di rua kiri. dimana kedua siswa terjaring (oleh penilaian tradisional) sebagai berkemampuan sama padahal sejatinya sangat berbeda. penilaian tradisional yang selama ini kita terapkan tidak akan menggambarkan kompetensi atau kualitas belajar siswa. Penilaian autentik dalam matematika Seperti penjelasan terdahulu. kita ingin mengetahui kompetensi siswa dalam belajar (memahami) solusi persamaan linear. Dari contoh ter ebut terlihat sangat nyata kelemahan penilaian dengan instrumen pilihan ganda seperti di atas yang tidak melihat proses pengerjaan. Kemudian diberikan soal/instrumen untuk menilai sebagai berikut. SISWA 1 SISWA 2 Jelas bahwa siswa 1 tidak memahami cara menyelesaikan persamaan linear karena dia hanya menerapkan prin ip “a al ama dicoret” ementara siswa 2 amat paham proses penyelesaian per amaan linear.

Aspek penilaian autentik Semangat kurikulum sekarang mengamanatkan bahwa kompetensi harus meliputi tiga ranah. Daftar pertanyaan pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas c. Aspek a. Teknik dan instrumen yang digunakan untuk penilaian kompetensi sikap. dan uraian. Oleh karena itu perlu adanya jabaran mengenai aspek penilaian autentik dalam matematika. penilaian kompetensi ketrampilan  praktik  proyek  praktik Daftar cek/skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran. Penilaian kompetensi sikap Teknik  Observasi  Penilaian diri  Penilaian antar peserta didik  Jurnal b. menjodohkan. sikap dan keterampilan dari semua bidang. isian. (2) keterampilan matematika. (3) kemampuan pemecahan masalah dan (4) sikap matematis Teknik dan instrumen dalam penilaian autentik Berbagai macam cara untuk memperoleh informasi kemampuan atau kualitas belajar siswa dalam rangka penilaian autentik. dan keterampilan sebagai berikut. benarsalah. jawab singkat. penilaian kompetensi pengetahuan  Tes lisan  Penugasan  tes tulis Soal pilihan ganda. yaitu pengetahuan. pengetahuan. Secara khusus aspek yang akan dimunculkan dalam untuk mengetahui kualitas belajar matematika adalah (1) pemahaman konsep matematika. disertai rubric Instrumen Daftar cek/skala penilaian (rating scale) yang Matematika – SMA/MA/SMK | 242 .

Contoh dari hasil pengamatan kelas didapatkan Nama Siswa Jabar Hasil Pengamatan Jabar tidak begitu menanggapi jika ditanya teman sebangkunya Alfa tidak memahami pencoretan dalam persamaan. 3... dst Trigono sering keliru dalam mengalikan dan menjumlah kan pecahan Gamma berpikirnya divergen dan sangat terampil dalam menggunakan jangka. Oleh karena penilaiannya setelah Matematika – SMA/MA/SMK | 243 . karena untuk menentukan nilai dia melakukan pengerjaan: Alfa Trigono Gamma . Tugas dapat dapat dikaitkan dengan fenomena lingkungan atau bisa juga murni mengenai konsep yang ada di matematika. Tanya jawab Wujud dari tanya jawab ini boleh saja berupa kegiatan presentasi oleh siswa atau tanya jawab secara personal. Pengamatan langsung (observasi) Sesungguhnya pengamatan langsung ini sering kita lakukan dalam kegiatan pembelajaran. 2. walaupun sekedar menyiapkan catatan. namun dengan dipersiapkan secara nyata akan lebih membantu dalam melakukan pengamatan. Tugas Gambaran mengenai perkembangan kualitas belajar matematika dapat dilihat dari tugas yang diselesaikan.Berikut ini contoh penilaian autentik: 1.

Di dalamnya bisa termasuk tugas. Misalnya siswa diminta mengukur tinggi tiang bendera dengan menggunakan identiitas trigonometri. Penilaian haruslah tertuju pada peningkatan kualitas belajar siswa dan kualitas pembelajaran. catatan guru. 5. dan sebagainya. Penilaian autentik hakekatnya adalah menggali informasi sebenarnya Matematika – SMA/MA/SMK | 244 . tes dilakukan setelah proses pembelajaran atau kegiatan selesai. Pada kenyataannya. 4. Sayangnya tes seperti biasanya berujung pada penyekoran. Portofolio Bahasa sederhana dari potofolio adalah kumpulan pekerjaan yang telah dilakukan oleh siswa. model pilihan ganda yang paling banyak digunakan. Untuk memberikan ruang bagi penilaian autentik maka pilihan ganda perlu ditambah dengan cara pengerjaan. Portofolio merupakan sumber data yang sangat baik bagi guru. Pragmatis penyekoran sering sebagai pertimbangan. Penutup Kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari proses pembelajaran adalah penilaian. Selain itu portofolio dapat digunakan oleh siswa untuk melihat perkembangan yang terjadi terhadap dirinya dalam kurun waktu tertentu. Tes Sesuai dengan penjelasan sebelumnya. sehingga cenderung mangabaikan proses. hasil tes. Oleh karena itu setiap portofolio harus diberi catatan tanggal penyusunannya Untuk menjamin penilaian benar-benar faktual maka perlu adanya kombinasi dari berbagai teknik di atas C.tugas diselesaikan maka akan sangat bagus jika dikombinasikan dengan teknik lainnya misalnya dengan wawancara. laporan.

Jurusan Pendidikan Matematika http://www.ntu. Tetapi perlu dicatat bahwa penilaian autentik bukan refleksi dari kemampuan yang telah dimiliki melainkan refleksi terhadap kemampuan yang dapat dikembangkan. Prof.tentang kemampuan siswa dalam belajar. .edu.eduplace. Referensi Kemdikbud..html diakses 17 Februari 2013 http://www.(_____). Asesmen dalam Pembelajaran Matematika. Jakarta Sudarwan. Jakarta Tatang Herman. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2013 Tentang Standar Penilaian Pendidikan. (2013).vn diakses 17 Februari 2013 Matematika – SMA/MA/SMK | 245 . (2013). Asesmen Otentik.com/rdg/res/litass/auth. Makalah pada Workshop Kurikulum.

4-2. Diskusi Kelompok Diskusi kelompok hasil penilaian buku dilanjutkan dengan pemaparan materi Analisis Buku Guru dan Buku Siswa dengan menggunakan PPT-2.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Langkah Kegiatan Inti Menilai Buku Diskusi Kelompok Menyimpulkan Hasil Kerja Kelompok 20 Menit 80 Menit 20 Menit 40 Menit Menyimpulkan Presentasi Kerja Kelompok Diskusi Kelompok 15 Menit 30 Menit 30 Menit 30 Menit Menilai Buku Peserta menilai buku dengan bimbingan fasilitator dilihat dari aspek kesesuaian. Simpulan Menyimpulkan hasil diskusi dan menyampaikan format lembar kerja yang telah disiapkan. kecukupan. dan KD dengan menggunakan LK-2. dan kedalaman materi.4-1 dan LK -2. KI. Kerja Kelompok Kerja kelompok menganalisis kesesuaian buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Matematika – SMA/MA/SMK | 246 .Materi Pelatihan : 2.4 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.

pendekatan belajar. Presentasi Presentasi hasil kerja masing-masing kelompok.Diskusi Kelompok Diskusi kelompok untuk menganalisis kesesuaian proses. Simpulan Fasilitatormenyimpulkan materi analisis buku. Kerja Kelompok Kerja kelompokmembuat contoh-contoh penerapan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. Matematika – SMA/MA/SMK | 247 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 248 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 249 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 250 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 251 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 252 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 253 .

Berdasarkan hasil analisis.4-1 LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU PETUNJUK PENGISIAN LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU Kompetensi 1. KI. Lakukanlah analisis terhadap buku tersebut dengan menggunakan format yang tersedia! 6. b. 2. Panduan Kegiatan 1. 3. tuliskan tindak lanjut hasil analisis sebagai berikut! a. buku bisa digunakan dalam pembelajaran. 3. Merencanakan tindak lanjut dari hasil analisis . Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Tujuan 1. Pelajari format Analisis Buku Sswa! 3. Matematika – SMA/MA/SMK | 254 . Menganalisis kesesuaian isi buku siswa dengan SKL. Kerjakanlah secara berkelompok! 2. Siapkan SKL. Menganalisis keterpaduan antar mata pelajaran atau antar konsep/topik. Cermatilah buku siswa yang sesuai dengan materi ajar yang Anda ampu! 5. 2.LK–2. KI dan KD. 4. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Anda disarankan untuk memberikan rekomendasi tindak lanjut yang harus dikerjakan guru sebagai pengguna buku guru tersebut. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. Jika sesuai dengan kebutuhan. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan konsep pendekatan scientificdan penialain autentik. dan KD. Jika kurang/tidak sesuai. KI dan KD sesuai jenjang pendidikan dan mata pelajaran! 4.

.......... dan b....................................................... Pola pikir keilmuan...................................... : .......LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU Judul buku Kelas Jenjang Tema/Topik : ...... Kedalaman materi ditinjau dari: a.. : ... Matematika – SMA/MA/SMK | 255 .. 2... dan b.. 6............. Penerapan Pendekatan Scientific Penilaian Autentik yang Tersedia dalam Buku Siswa TIDAK SESUAI SESUAI SEBAGIAN SESUAI TINDAK LANJUT HASIL ANALISIS 8................................................................ 1...... HASIL ANALISIS NO.................................................. 4................ 3...... ASPEK YANG DIANALISIS Kesesuaian dengan SKL Kesesuaian dengan KI Kesesuaian dengan KD Kesesuaian dengan Topik Kecukupan materi ditinjau dari: a............. 5. alokasi waktu........................... cakupan konsep/materi esensial................ Karakteristik siswa 7............................................... : ..............................

Panduan Kegiatan 1. KI dan KD. 3. Anda disarankan untuk memberikan rekomendasi tindak lanjut yang harus dikerjakan guru sebagai pengguna buku guru tersebut. Siapkan SKL. Kerjakanlah secara berkelompok! 2. Jika kurang/tidak sesuai. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan konsep pendekatan scientificdan penialain autentik. Menganalisis kesesuaian isi buku siswa dengan SKL. KI dan KD sesuai jenjang pendidikan dan mata pelajaran! 4. 4. dan KD. Matematika – SMA/MA/SMK | 256 . Merencanakan tindak lanjut dari hasil analisis . tuliskan tindak lanjut hasil analisis sebagai berikut! a. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. KI. 2. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. Cermatilah buku siswa yang sesuai dengan materi ajar yang Anda ampu! 5. buku bisa digunakan dalam pembelajaran. Menganalisis keterpaduan antar mata pelajaran atau antar konsep/topik. Pelajari format Analisis Buku Sswa! 3. b. 2. 3.LK–2. Berdasarkan hasil analisis. Jika sesuai dengan kebutuhan. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Tujuan 1.4-2 LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA PETUNJUK PENGISIAN LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA Kompetensi 1. Lakukanlah analisis terhadap buku tersebut dengan menggunakan format yang tersedia! 6.

......................... : .................. alokasi waktu..................................................... 2................ 1............. Pola pikir keilmuan..................................LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA Judul buku Kelas Jenjang Tema/Topik : .................... Kedalaman materi ditinjau dari: c................. dan d..... 6........... Penerapan Pendekatan Scientific Penilaian Autentik yang Tersedia dalam Buku Siswa TIDAK SESUAI SESUAI SEBAGIAN SESUAI TINDAK LANJUT HASIL ANALISIS 8....................... : .......................................... Karakteristik siswa 7.. HASIL ANALISIS NO. Matematika – SMA/MA/SMK | 257 .................... 5.............. 3............. 4.................................... ASPEK YANG DIANALISIS Kesesuaian dengan SKL Kesesuaian dengan KI Kesesuaian dengan KD Kesesuaian dengan Topik Kecukupan materi ditinjau dari: c....... : .......... cakupan konsep/materi esensial................. dan d....................

Matematika – SMA/MA/SMK | 258 . Langkah-langkah penilaian hasil analisis. 1. Berikan nilai pada setiap aspek yang dianalisis sesuai dengan penilaian Anda terhadap hasil analisis peserta menggunakan rentang nilai sebagai berikut! PERINGKAT Amat Baik ( AB) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 < A ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 80 < 70 KRITERIA Hasil analisis tepat. Cermati format penilaian analisis buku guru atau buku siswa serta hasil analisis peserta yang akan dinilai! 2.4 RUBRIK PENILAIAN HASIL ANALISIS BUKU GURU DAN SISWA Rubrik penilaian analisis buku guru dan buku siswa digunakan fasilitator untuk menilai hasil analisis peserta terhadap buku guru dan buku siswa sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. tindak lanjut logis Hasil analisis kurang tepat. Setelah selesai penilaian masing-masing komponen. tindak lanjut logis dan bisa dilaksanakan Hasil analisis tepat.R–2. tindak lanjut tidak logis 3. tindak lanjut kurang logis Hasil analisis kurang tepat. jumlahkan nilai seluruh komponen sehingga menghasilkan nilai hasil analisis buku guru/siswa.

Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Matematika – SMA/MA/SMK | 259 . Penyusunan RPP 3.2.1.MATERI PELATIHAN 3 : MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN (8 JP) 3.

PERANGKAT PELATIHAN 1. dan merancang penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. INDIKATOR 1. 2.1 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Bahan Tayang a. sosial. Penyusunan RPP. 2. 4. KI dan KD. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. moral. Mengidentifikasi kaidah perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. 3. 6. Menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran. LINGKUP MATERI 1.MATERI PELATIHAN 3: MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN A. dan pendekatan scientific. 9. c. menyusun RPP yang menerapkan pendekatan scientific sesuai model belajar yang relevan dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. maupun intelektual. Menunjukkan sikap tanggung dan kreatif dalam menyusun rancangan penilaian autentik. Lembar KerjaTelaah RPP ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 260 . Rambu-rambu Penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3. 5. Panduan tugas menelaah rancangan penilaian pada RPP. B. Menunjukkan sikap tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP. kultural. 2. b. Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar. Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun. Menelaah rancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar yang ada dalam RPP. 8. Mengidentifikasi rambu-rambu penyusunan RPP. 7. C. D. Panduan tugas telaah RPP. Standar Proses. 3. 2. Menelaah RPP. emosional.

dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran. dan pendekatan scientific (terutama KD di awal semester 1). 205 Menit 15 menit 10 Menit 40 Menit 80 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 261 . dan Laser Pointer.2 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Standar Proses.1 dan Panduan Tugas Telaah RPP dengan menggunakan PPT-3. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. Laptop. kompetensi. MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN 8 JP (@45 MENIT) SMA/MA.1. atau media pembelajaran lainnya.1. Fasilitator memotivasi peserta agar serius. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. File. indikator. teliti. KI. Menyimpulkan hasil penilaian RPP dengan dipandu oleh fasilitator. antusias. tujuan. alokasi waktu.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 3. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 3. Diskusi rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific. Kerja kelompok untuk menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. dilanjutkan dengan paparan materi tentang Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3. Active Speaker. seperti LCD Projector.1 Penyusunan RPP Saling menilai RPP yang dibawa setiap peserta. dan KD.

2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Diskusi dan tanya jawab tentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes termasuk portofolio.2. Fasilitator menutup pembelajaran 20 Menit 35 menit 5 Menit 120 Menit 40 Menit 30 Menit 60 Menit 10 Menit 5 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 262 .2 serta Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP yang tealh dibuat dengan menggunakan PPT-3. Kerja kelompok untuk menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika menggunakan HO-2.2.1.1/3. Kerja Kelompok untuk menelaah RPP yang disusun kelompok lain dengan menggunakan LK-3. Kerja kelompok untuk menelaah dan merevisi rancangan penilaian autentik pada RPP yang telah disusun berdasarkan panduan tugas menelaah rancangan penilaian Presentasi hasil kerja kelompok (sampel) ICE BREAKER KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran.2/3.2/3. dilanjutkan dengan pemaparan oleh fasilitator tentang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika menggunakan PPT 2.Diskusi format telaah RPP dengan mengacu pada bahan tayang PPT-3.2. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. ICE BREAKER 3.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.

Instruktur mencatat hasil penilaian yang dilaporkan peserta. Hasil penilaian dituliskan langsung pada halaman depan RPP. b. Matematika – SMA/MA/SMK | 263 . Peserta lainnya menyampaikan hasil penilaian yang tidak sama dengan peserta lainnya.1: Penyusunan RPP Langkah Kegiatan Inti Tugas Individu: Saling Menilai RPP Menyimpulkan Hasil Penilaian RPP Diskusi 15 Menit 10 Menit 40 Menit Kerja Kelompok Diskusi Kerja Kelompok 35 Menit 20 Menit 80 Menit Aktivitas 1: Menilai RPP Menilai RPP Peserta Lain a.Materi Pelatihan 3. Setiap peserta diwajibkan membawa dua set RPP yang telah digunakan dalam proses pembelajaran sesuai mata pelajaran yang diampu. RPP tersebut dikumpulkan kepada panitia untuk kemudian dibagikan kembali ke peserta untuk dinilai oleh peserta lainnya dengan menggunakan acuan pengetahuan masing-masing peserta. c. Diskusi rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific. Hasil penilaian dipresentasikan oleh peserta yang ditunjuk instruktur. Peserta menyimpulkan hasil penilaian RPP dengan dipandu oleh Instruktur.

2. KI. dan pendekatan scientific (terutama KD di awal semester 1). Diskusi format telaah RPPdengan mengacu pada bahan tayang PPT-3. Standar Proses. Matematika – SMA/MA/SMK | 264 . dan KD.1/3.1.Paparan materi tentang Rambu-rambu Penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3. Aktivitas 2: Kerja Kelompok Kerja kelompok untuk menyusun RPP yang sesuai dengan SKL.1 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Aktivitas 3: Kerja Kelompok Kerja Kelompok untuk menelaah RPP yang disusun kelompok lain dengan menggunakan LK-3.

Matematika – SMA/MA/SMK | 265 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 266

Matematika – SMA/MA/SMK | 267

Matematika – SMA/MA/SMK | 268

HO-3.1-2

CONTOH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Satuan Pendidikan Kelas/Semester Mata Pelajaran Topik Waktu : SMA : X/2 : Matematika-Wajib : Trigonometri : 2 × 45 menit

A. Kompetensi Inti SMA kelas X: 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia 3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. B. Kompetensi Dasar 2.1 Menunjukkan sikap senang, percaya diri, motivasi internal, sikap kritis, bekerjasama, jujur dan percaya diri dalam menyelesaikan berbagai permasalahan nyata. 2.2 Memiliki sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif 3.17Memahami dan menentukan hubungan perbandingan Trigonometri dari sudut di setiap kuadran, memilih dan menerapkan dalam penyelesaian masalah nyata dan matematika 4.7 Memanfaatkan informasi dari suatu permasalahan nyata, membuat model berupa fungsi dan persamaan Trigonometri serta menggunakannya dalam menyelesaikan masalah. C. Indikator Pencapaian Kompetensi 1. Terlibat aktif dalam pembelajaran trigonometri. 2. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok. 3. Toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
Matematika – SMA/MA/SMK | 269

4. Menjelaskan kembali pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis, ordinat, dan jari-jari pada sumbu koordinat. 5. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I. 6. Terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. D. Tujuan Pembelajaran Dengan kegiatan diskusi dan pembelajaran kelompok dalam pembelajaran trigonometri inii diharapkan siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan bertanggungjawab dalam menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, memberi saran dan kritik, serta dapat 1. Menjelaskan kembali pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis, ordinat, dan jari-jari pada sumbu koordinat kartesius secara tepat, sistematis, dan menggunakan simbol yang benar. 2. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I secara tepat dan kreatif. E. Materi Matematika 1. Mengingat kembali mengenai perbandingan trigonometri, fungsi trigonometri, besar sudut (tumpul dan refleks), dan koordinat kartesian. Dengan domain { : 0o    90o}, fungsi trigonometri didefinisikan lewat perbandingan trigonometri, sbb. sin  = (panjang sisi di depan sudut ) / panjang hipotenusa cos  = (panjang sisi di samping sudut ) / panjang hipotenusa tan  = (panjang sisi di depan sudut ) / (panjang sisi di samping sudut ) sec  = 1/cos  csc  = 1/sin  cot  = 1/tan  Sudut telah didefinisikan sebagai bangun geometri yang dibentuk oleh dua sinar bertitik pangkal sama. Dengan definisi tsb, dikenal beberapa macam sudut berdasarkan besarnya, sbb. sudut nol :  = 0o sudut lancip : 0o    90o sudut siku-siku: :  = 90o sudut tumpul : 90o    180o sudut lurus :  = 180o sudut refleks : 180o    360o

Matematika – SMA/MA/SMK | 270

Bidang datar berdasarkan sistem koordinat kartesian terbagi ke dalam 4 region/daerah: kuadran I, kuadran II, kuadran III, dan kuadran IV. Kuadran I Kuadran II Kuadran III Kuadran IV : : : : absis dan ordinat positif absis negatif, ordinat positif absis dan ordinat negatif absis positif, ordinat negatif
II III I IV

2. Perluasan definisi fungsi trigonometri dari perbandingan sisi-sisi segitiga siku-siku menjadi perbandingan absis, ordinat dan jari-jari. Beberapa pertanyaan penggugah:  Apakah perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku, dapat mendefinisikan fungsi trigonometri untuk sudut 90o?  Apakah perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku, juga dapat mendefinisikan fungsi trigonometri untuk sudut di atas 90o, misalnya kosinus dari 120o?  Dapatkah kita memperluas definisi fungsi trigonometri menggunakan cara lain (yang tidak bertentangan dengan definisi perbandingan trigonomeri pada segitiga siku-siku)? Jika titik sudut ditempatkan pada titik pusat sumbu koordinat kartesian dan salah satu kaki sudut berimpit dengan sumbu x positif, serta daerah interior sudut terletak pada kuadran I maka posisi yang demikian disebut posisi standar (baku) sudut tsb. Pada posisi standar maka perbandingan sisi-sisi pada segitiga siku-siku dapat diganti menjadi perbandingan absis, ordinat dan jari-jari. panjang sisi di depan sudut diganti menjadi ordinat panjang sisi di samping sudut diganti menjadi absis hipotenusa segitiga siku-siku diganti menjadi jari-jari Jadi, sin  = ordinat / jari-jari cos  = absis / jari-jari tan  = ordinat / absis c

b a

P(x,y) r

O
Matematika – SMA/MA/SMK | 271

b c a cos  = c b tan  = a

sin  =

y r x cos  = r y tan  = x

sin  =

3. Hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan nilai fungsi trigonometri di kuadran I. Jika pada posisi standar, salah satu kaki sudut berada di kuadran II maka sudut tsb kita namakan sudut di kuadran II. Pengertian yang sama untuk konsep sudut di kuadran II, dan sudut di kuadran IV.

Berdasarkan definisi fungsi trigonometri berdasarkan absis, ordinat dan jari-jari maka nilai fungsi trigonometri untuk sudut-sudut di kuadran II, II, dan IV sebagai berikut. Misalkan 0o    90o maka Kuadran II (sudut (180o   ) atau (90o +  ) di kuadran II) sin (180o   ) = sin  atau sin (90o +  ) = cos  cos (180o   ) = cos  atau cos (90o +  ) = sin  tan (180o   ) = tan  atau tan (90o +  ) = cot  Kuadran III (sudut (180o +  ) atau (270o   ) di kuadran III) sin (180o +  ) = sin  atau sin (270o   ) = cos  cos (180o +  ) = cos  atau cos (270o   ) = sin  tan (180o +  ) = tan  atau tan (270o   ) = cot  Kuadran IV (sudut (360o   ) di kuadran IV) sin (360o   ) = sin  atau sin (270o +  ) = cos  cos (360o   ) = cos  atau cos (270o +  ) = sin 
Matematika – SMA/MA/SMK | 272

tan (360o   ) = tan 

atau

tan (270o +  ) = cot 

Tampak bahwa  Pada kuadran II hanya nilai sinus yang positif, pada kuadran III hanya nilai tangen yang positif, dan pada kuadran IV hanya nilai kosinus yang positif.  Untuk relasi sudut yang jumlah atau selisihnya merupakan kelipatan 180 o maka jenis fungsi trigonometrinya tidak berubah.  Untuk relasi sudut yang jumlah atau selisihnya merupakan kelipatan 90 o maka jenis fungsi trigonometrinya berbeda saling komplementer. (sinus dengan kosinus, tangen dengan kotangen). F. Model/Metode Pembelajaran Pendekatan pembelajaran adalah pendekatan saintifik (scientific). Pembelajaran koperatif (cooperative learning) menggunakan kelompok diskusi yang berbasis masalah (problem-based learning).

G. Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Pendahuluan Deskripsi Kegiatan Alokasi Waktu

1. Guru memberikan gambaran tentang pentingnya 10 menit memahami Trigonometri dan memberikan gambaran tentang aplikasi Trigonometri dalam kehidupan seharihari. 2. Sebagai apersepsi untuk mendorong rasa ingin tahu dan berpikir kritis, siswa diajak memecahkan masalah mengenai bagaimana mendapatkan nilai sinus sudut 90 o dan nilai sinus sudut di atas 90o, misalnya 120o. (tidak terpecahkan bila menggunakan definisi menggunakan sisi-sisi pada segitiga siku-siku). 3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yaitu memperluas definisi fungsi trigonometri agar nilai fungsi trigonometri dapat diperoleh untuk besar sudut 0o, 90o, sudut tumpul dan sudut refleks. 1. Guru bertanya tentang bagaimana mengaitkan sisi-sisi 70 menit pada segitiga siku-siku dengan koordinat pada sumbu koordinat kartesius. 2. Bila siswa belum mampu menjawabnya, guru memberi scaffolding dengan mengingatkan siswa dengan sudut sebagai besar putaran. 3. Dengan tanya jawab, disimpulkan bahwa pada kuadran I, istilah panjang sisi di depan sudut dapat diganti
Matematika – SMA/MA/SMK | 273

Inti

4.

5.

6. 7.

8.

9.

10. 11.

12.

13. Penutup

ordinat, panjang sisi di samping sudut diganti absis, dan hipotenusa diganti jari-jari. Dengan tanya jawab, siswa diyakinkan bahwa definisi menggunakan absis, ordinat, dan jari-jari ini lebih luas dari pada definisi menggunakan sisi-sisi segitiga sikusiku. Selanjutnya, guru membuka cakrawala penerapan definisi fungsi yang diperluas itu untuk sudut yang sama atau lebih besar dari 90o, yaitu bila salah satu kaki sudut di kuadran II, III, atau IV. Dengan bantuan presentasi komputer, guru mengingatkan pengertian sudut di kuadran II, sudut di kuadran II, dan sudut di kuadran IV. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok dengan tiap kelompok terdiri atas 4 siswa. Tiap kelompok mendapat tugas untuk mendefinisikan fungsi-fungsi trigonometri untuk sudut di kuadran II atau III atau IV atau sudut negatif, serta menentukan hubungannya dengan fungsi trigonometri sudut di kuadran I. Tugas diselesaikan berdasarkan worksheet atau lembar kerja yang dibagikan. Selama siswa bekerja di dalam kelompok, guru memperhatikan dan mendorong semua siswa untuk terlibat diskusi, dan mengarahkan bila ada kelompok yang melenceng jauh pekerjaannya. Salah satu kelompok diskusi (tidak harus yang terbaik) diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas. Sementara kelompok lain, menanggapi dan menyempurnakan apa yang dipresentasikan. Guru mengumpulkan semua hasil diskusi tiap kelompok Dengan tanya jawab, guru mengarahkan semua siswa pada kesimpulan mengenai fungsi trigonometri di berbagai kuadran dan hubungannya dengan fungsi trigonometri di kuadran I, berdasarkan hasil reviu terhadap presentasi salah satu kelompok. Guru memberikan dua (2) soal yang terkait dengan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, atau IV. Dengan tanya jawab, siswa dan guru menyelesaikan kedua soal yang telah diberikan dengan menggunakan strategi yang tepat. Guru memberikan lima (5) soal untuk dikerjakan tiap siswa, dan dikumpulkan.

1. Siswa diminta menyimpulkan tentang bagaimana 10 menit menentukan nilai fungsi trigonometri sudut di berbagai kuadran. 2. Dengan bantuan presentasi komputer, guru menayangkan apa yang telah dipelajari dan disimpulkan mengenai nilai fungsi trigonometri untuk sudut di berbagai kuadran.
Matematika – SMA/MA/SMK | 274

Menjelaskan kembali Pengamatan dan tes pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis. Lembar penilaian 4. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok. Penggaris. H. b. dan menggunakan simbol yang benar. busur. Bahan tayang 3. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran Penyelesaian tugas individu dan kelompok Matematika – SMA/MA/SMK | 275 . Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan untuk tetap belajar. 2. Teknik Penilaian: pengamatan. jangkaWorksheet atau lembar kerja (siswa) 2. Terlibat aktif dalam pembelajaran trigonometri. 4. Alat/Media/Sumber Pembelajaran 1. Penilaian Hasil Belajar 1.3. Pengetahuan a. ordinat. c. sistematis. b. tes tertulis 2. dan jari-jari pada sumbu koordinat kartesius secara tepat. Guru memberikan tugas PR beberapa soal mengenai penerapan nilai fungsi di berbagai kuadran. Sikap Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Pengamatan Waktu Penilaian Selama pembelajaran dan saat diskusi a. Toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. Prosedur Penilaian: No 1. Video tentang lebah I.

Mula-mula Ari menghadap searah dengan arah jalan. Instrumen Penilaian Hasil belajar Tes tertulis 1. tan 150 grad dengan menggunakan kalkulator saintifik.tan (2t) + cos t dengan t dalam derajat. lalu nyatakan pengertian fungsi secan untuk sudut tersebut! 2. gelombang suara dari seekor ikan Paus akhirnya dapat digambarkan dengan suatu pendekatan menggunakan fungsi trigonometri sebagai berikut I(t) = 2. Setelah melalui studi yang mendalam. hitunglah nilai dari [sin 321o + cos 0. III. Penyelesaian tugas (baik individu maupun kelompok) dan saat diskusi J. 4. tetapi juga proses pemecahan yang terutama meliputi pemahaman.7. tidak saja memberi skor untuk jawaban akhir. Gambarlah pada sebuah sumbu koordinat kartesian sebuah sudut pada kuadran III. Keterampilan a. kemudian Ari diputar oleh temannya searah dengan arah perputaran jarum jam sebesar 660o. dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I secara tepat dan kreatif. Terampil menerapkan Pengamatan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. 3.No Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Waktu Penilaian II. Berapa tinggi gelombang suara Paus tsb untuk t = 120o? 5. Tentukanlah nilai dari sin 150o secara eksak (tidak menggunakan desimal) menggunakan sifat relasi sudut pada fungsi trigonometri! 3. Dengan menuliskan langkah-langkah yang jelas. berapa jarak yang ditempuh Ari jika kemudian ia berjalan lurus hingga menyentuh tembok gang? Catatan: Penyekoran bersifat holistik dan komprehensif.13 (rad)]. Jika lebar gang adalah 4 meter. Ari ditempatkan tepat di tengah-tengah sebuah gang yang bertembok tepat di tepi kiri dan kanannya. Pada sebuah permainan. komunikasi matematis Matematika – SMA/MA/SMK | 276 .

serta ketepatan strategi memecahkan masalah.(ketepatan penggunaan simbol dan istilah). penalaran (logis). WORKSHEET (untuk tugas kelompok) Matematika – SMA/MA/SMK | 277 .

1. Kurang baik jika sama sekali tidak berusaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha ambil bagian dalam pembelajaran tetapi belum ajeg/konsisten 3. Indikator sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. Kurang baik jika sama sekali tidak bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. Sangat baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif secara terus menerus dan ajeg/konsisten. 3. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok tetapi masih belum ajeg/konsisten. 3. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam pembelajaran 2.LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP Mata Pelajaran Kelas/Semester Tahun Pelajaran Waktu Pengamatan : Matematika : X/2 : 2013/2014 : Indikator sikap aktif dalam pembelajaran trigonometri 1. 1. Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian dalam menyelesaikan tugas kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten Indikator sikap bekerjasama dalam kegiatan kelompok. 2. No Nama Siswa Aktif KB 1 2 3 4 Dhianika Rahma Nur Fadillah Galuh Lalita Mahaghora Muhammad Rasyid Alfaruqi Nur Endah Filaili B SB KB Sikap Bekerjasama B SB KB Toleran B SB Matematika – SMA/MA/SMK | 278 . Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif tetapi masuih belum ajeg/konsisten. 2. Sangat baik jika menunjukkan adanya usaha bekerjasama dalam kegiatan kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten.

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Zerarita Amalia Ramadhani Febrian Anggoro Widiyanto Rizky Rachmadewi Elvan Saffria Charta R. Shikarini Amirul P Arinta Destri Larasati Khanza Adzkia Vujira Joean Akbar Saputra Khansa Sitostra Tufana Arsy A. Bagaskara Adi Pamungkas Bram Yudhistira Hasna Amalia Faza Daniawan Dwi Nurrohman Devi Ristiyanti Nitya Sekar Tresnaningtyas Rafi Ibnu Ramadhan Ivan Akhir Julian Gasik Prawestri Intan Aringtyas Junaidi Muhammad Rafi Nurdiansyah Elvana Novita Candra Danuja Widigdaya Isnaeni Putri Nur Afifah Intan Putri Ristyaningrum Lisa Dewi Afrilita Gea Hanin Nisacita Rizki Kartika Angkasa Yudha Putri Adipertiwi A-Bach Keterangan: KB B SB : Kurang baik : Baik : Sangat baik Matematika – SMA/MA/SMK | 279 . Aj.

jika menunjukkan adanya usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran dan sudah tepat. 1. Terampil jika menunjukkan sudah ada usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran tetapi belum tepat. Aj. Bagaskara Adi Pamungkas T ST Matematika – SMA/MA/SMK | 280 . Shikarini Amirul P Arinta Destri Larasati Khanza Adzkia Vujira Joean Akbar Saputra Khansa Sitostra Tufana Arsy A. Sangat terampill.LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN KETERAMPILAN Mata Pelajaran Kelas/Semester Tahun Pelajaran Waktu Pengamatan : Matematika : X/2 : 2013/2014 : Indikator terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. 3. No Nama Siswa Keterampilan Menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah KT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Dhianika Rahma Nur Fadillah Galuh Lalita Mahaghora Muhammad Rasyid Alfaruqi Nur Endah Filaili Zerarita Amalia Ramadhani Febrian Anggoro Widiyanto Rizky Rachmadewi Elvan Saffria Charta R. Kurang terampil jika sama sekali tidak dapat menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran 2. Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.

15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Bram Yudhistira Hasna Amalia Faza Daniawan Dwi Nurrohman Devi Ristiyanti Nitya Sekar Tresnaningtyas Rafi Ibnu Ramadhan Ivan Akhir Julian Gasik Prawestri Intan Aringtyas Junaidi Muhammad Rafi Nurdiansyah Elvana Novita Candra Danuja Widigdaya Isnaeni Putri Nur Afifah Intan Putri Ristyaningrum Lisa Dewi Afrilita Gea Hanin Nisacita Rizki Kartika Angkasa Yudha Putri Adipertiwi A-Bach Keterangan: KT T ST : Kurang terampil : Terampil : Sangat terampil Matematika – SMA/MA/SMK | 281 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 282 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 283 .

Perumusan Indikator Kesesuaian dengan SKL. mata pelajaran atau tema pelajaran. B. Pemilihan Materi Ajar Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. 1. Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 2. program/program keahlian.LK .3. 1. 2. C. semester. 2. Kesesuaian dengan kompetensi dasar. Identitas Mata Pelajaran Satuan pendidikan. Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Matematika – SMA/MA/SMK | 284 . Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 3. 3 ) sesuai dengan kriteria yang tertera pada kolom tersebut! Berikan catatan atau saran untuk perbaikan RPP sesuai penilaian Anda! No. Perumusan Tujuan Pembelajaran Kesesuaian dengan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai. dan keterampilan. jumlah pertemuan. 1.KI dan KD.1/3.kelas. Kesesuaian penggunaan kata kerja operasional dengan kompetensi yang diukur. Kesesuaian dengan aspek sikap. pengetahuan. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Hasil Penelaahan dan Skor 1 Tidak Ada 2 Kurang Lengkap 3 Sudah Lengkap Catatan A 1. 2. D.2 LEMBAR KERJA PENELAAHAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Identitas RPP yang ditelaah: ………………………………… Berilah tanda cek ( V) pada kolom skor (1.

Pemilihan Media Belajar Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran. Penilaian Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 3. inti. 2. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. 3. Model Pembelajaran Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran. Kesesuaian dengan alokasi waktu. 1. dan penutup dengan jelas. Pemilihan Sumber Belajar Kesesuaian dengan KI dan KD. Kesesuaian kegiatan dengan pendekatan scientific. Kesesuaian dengan materi pembelajaran dan pendekatan scientific. G. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. H. 2. Skenario Pembelajaran Menampilkan kegiatan pendahuluan. F. 4. 1. 1. 1. 3. 2. Matematika – SMA/MA/SMK | 285 . Kesesuaian dengan materi pembelajaran dan pendekatan scientific. I. E.No. Kesesuaian alokasi waktu dengan cakupan materi. Kesesuaian penyajian dengan sistematika materi. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Hasil Penelaahan dan Skor 2 3 Catatan 3. Kesesuaian dengan pendekatan Scientific. 2.

.......................No.......... Kesesuaian pedoman penskoran dengan soal.......................... Matematika – SMA/MA/SMK | 286 ........................... Kesesuaian dengan teknik dan bentuk penilaian autentik. 3.................... Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Hasil Penelaahan dan Skor 2 3 Catatan 1. Komentar terhadap RPP secara umum............................................................ 4................................................................ ..... Kesesuaian dengan dengan indikator pencapaian kompetensi....................................................... Jumlah 2.. Kesesuaian kunci jawaban dengan soal...... ...................................

Tentukan nilai RPP menggunakan rumus sbb: Skor yang diperoleh PERINGKAT Amat Baik ( AB) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 ≤ A ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 75 < 60 Matematika – SMA/MA/SMK | 287 .2 RUBRIK PENILAIAN TELAAH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Rubrik penilaian RPP digunakan fasilitator untuk menilai RPP peserta yang digunakan peerteaching. Setelah selesai penilaian. Selanjutnya nilai RPP dimasukkan ke dalam nilai portofolio peserta. Berikan catatan khusus atau saran perbaikan setiap komponen RPP jika diperlukan! 4. jumlahkan skor seluruh komponen! 5. Cermati format penilaian RPP dan RPP yang akan dinilai! 2.1/3. Langkah-langkah penilaian RPP sebagai berikut. Berikan nilai setiap komponen RPP dengan cara membubuhkan tanda cek (√) pada kolom pilihan skor (1 ).R-3. (2) dan (3) sesuai dengan penilaian Anda terhadap RPP tersebut! 3. 1.

Kerja kelompok untuk menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran yang terdapat dalam HO-2. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.2 dan Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP dengan menggunakan PPT-3. Fasilitator menutup pembelajaran.2. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.2 dan Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP dengan menggunakan PPT-3.Materi Pelatihan : 3.3/3.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.3/3. Matematika – SMA/MA/SMK | 288 .2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Langkah Kegiatan Inti Diskusi dan Tanya jawab Kerja Kelompok Kerja Kelompok Presentasi Merangkum dan Refleksi 40 Menit 30 Menit 25 Menit 20 Menit 20 Menit Diskusi dan tanya jawab tentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes termasuk portofolio. Presentasi hasil kerja kelompok.2-2. Kerja kelompok untuk merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun. Bahan Tayang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2. dilanjutkan dengan Pemaparan materi oleh fasilitator tentang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2.3/3. Membuat rangkuman materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran.

Matematika – SMA/MA/SMK | 289 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 290 .

1 Simulasi Pembelajaran 4.MATERI PELATIHAN 4 : PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING (24 JP) 4.2 Peer Teaching Matematika – SMA/MA/SMK | 291 .

menanya. mengkaji pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. B. 4. Bahan Tayang a. Strategi Pengamatan tayangan video. mencoba. moral. Menilai pelaksanaan peer teaching peserta lain. Panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran. kultural. maupun. menyaji. Menganalisis simulasi pembelajaran melalui tayangan video pembelajaran. menalar. Menyimpulkan alur pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik. mengolah. 2. 7. D. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. Merevisi RPP sehingga menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik untuk kegiatan peer teaching. kultural. Garis besar instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. LINGKUP MATERI 1. c. emosional. moral. b. Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching. mencoba. KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN 1. 2. intelektual. 2. menalar. 3. 5. menanya. mengolah. menyaji. 6. emosional. intelektual. dan melaksanakan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati.MATERI PELATIHAN 4: PRAKTEK PEMBELAJARAN TERBIMBING (24 JP) A. Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran. sosial. maupun. Simulasi Pembelajaran Peer Teaching C. Matematika – SMA/MA/SMK | 292 . sosial. PERANGKAT PELATIHAN 1. Melaksanakan peer teaching pembelajaranyang menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik.

b. 3. Lembar Kerja a. Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (Alat Penilaian Kinerja Guru).2. ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 293 . Analisis pembelajaran pada tayangan video.

indikator. kompetensi. Laptop.1 oleh fasilitator. seperti LCD Projector. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. 15 Menit KEGIATAN Pengkondisian Peserta PENDAHULUAN Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. tujuan. serius.1/4. Fasilitator memotivasi peserta. File.1. Kerja kelompok untuk menganalisis tayangan video pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik dengan menggunakan LK -4. atau media pembelajaran lainnya. KEGIATAN INTI 4. semangat.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 4. 360 Menit 20 Menit 20 Menit 60 Menit 30 Menit 135 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 294 . alokasi waktu. mengajak berdinamika agar saling mengenal. PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING 22 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA.1 Simulasi Pembelajaran Pemaparan Strategi Pengamatan Video Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT-4. Mengkonfirmasi penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik mengacu pada tayangan video pembelajaran Kerja kelompok untuk merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN WAKTU Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran.1. Active Speaker. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Praktik Pembelajaran Terbimbing. dan Laser Pointer. Penayangan video pembelajaran Matematika dengan menggunakan V-2.

2. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Praktik Pembelajaran Terbimbing.2.1 Paparan oleh fasilitator tentang Garis Besar Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan PPT-4.Presentasi contoh RPP yang akan digunakan dalam kegiatan peer teaching. Fasilitator menutup pembelajaran. Refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching. ICE BREAKER 4. 90 Menit 5 Menit 600 Menit 20 Menit 20 Menit 20 Menit 510 Menit 30 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 295 . Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.2 Peer Teaching Paparan oleh fasilitator tentang Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran melalui peer teaching dengan menggunakan PPT. Menilai kegiatan peer teaching menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan LK-4.2.4.2. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. Persiapan peer teaching. Praktik peer teaching pembelajaran Matematika secara individual. untuk setiap peserta 30 menit dipandu fasilitator.

Kerja kelompok untuk menganalisis tayangan video pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik dengan menggunakan LK 4.1 Simulasi Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Paparan Tayangan Video Kerja Kelompok 20 Menit 20 Menit 60 Menit Presentasi Kerja Kelompok Menyimpulkan 90 Menit 135 Menit 30 Menit Pemaparan Strategi Pengamatan Video Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT4. Menyimpulkan alur pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik.Materi Pelatihan : 4.1/4.1. Kerja kelompok untuk merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran. Presentasi contoh RPP yang akan digunakan dalam kegiatan peer teaching.1 oleh fasilitator. Matematika – SMA/MA/SMK | 296 . Penayangan video pembelajaran dengan menggunakan V-2.1.

Matematika – SMA/MA/SMK | 297 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 298 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 299 .

c Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitan dengan tema yang akan dibelajarkan.......... : ............. Kegiatan Inti Guru menguasai materi yang diajarkan..... : ........ d Mengajak peserta didik berdinamika/melakukan sesuatu kegiatan yang terkait dengan materi......... b.... a. Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang diintegrasikan secara relevandengan perkembangan Iptek dankehidupan nyata ...... Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual......4......... c........... Aspek yang Diamati Kegiatan Pendahuluan Melakukan apersepsi dan motivasi.... a. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai..... Nama Peserta 2.... Kemampuan menyesuaikan materi dengan tujuan pembelajaran............ Mata Pelajaran 3.......... Tema : ...1 LEMBAR KERJA ANALISIS PEMBELAJARAN DALAM TAYANGAN VIDEO PEMBELAJARAN 1.... Menguasai kelas dengan baik.......... : ...LK ........................ dari konkrit ke abstrak) Guru menerapkan strategi pembelajaran yang mendidik........ Asal Sekolah 3.. Ya Tidak Catatan Matematika – SMA/MA/SMK | 300 .. Menyajikan materi dalam tema secara sistematis dan gradual (dari yang mudah ke sulit. Melaksanakan pembelajaran secara runtut............... d.. b.. b Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik dalam perjalanan menuju sekolah atau dengan tema sebelumnya..... a Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran.......... c...

Menghasilkan pesan yang menarik. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengkomunikasikan. d. d. Guru memicu dan/atau memelihara keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. Mendokumentasikan hasil pengamatan skap. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan menganalisis. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar pembelajaran. Guru menerapkan pendekatan scientific. b. Menumbuhkan keceriaan dan antusisme peserta didik dalam belajar. b. Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru. Guru memanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran. f. c. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media pembelajaran. Matematika – SMA/MA/SMK | 301 . Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect). c. a b c d f Memberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar pembelajaran. Merespon positif partisipasi peserta didik. Melakukan penilaian keterampilan peserta didik dalam melakukan aktifitas individu/kelompok. e. a. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik.Aspek yang Diamati e. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran. Ya Tidak Catatan a b c a. peserta didik. e. perilaku dan keterampilan peserta didik. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. Memancing peserta didik untuk peserta didik bertanya. Guru melaksanakan penilaian autentik. Mengamati sikap dan perilaku peserta didik dalam mengikuti pelajaran. sumber belajar. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengamati.

Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik. Ya Tidak Catatan b. Penutup Pembelajaran Guru mengakhiri pembelajaran dengan efektif a. Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai. atau kegiatan. Matematika – SMA/MA/SMK | 302 .a. atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan. b. Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar. c. Aspek yang Diamati Guru menggunakan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar.

teliti.11 5-7 21 . bersungguhgamati sungguhdenganpenuh rasa ingintahu yang (5-15) disertaidenganpolaberpikiranalitikdalammengamatida nberdiskusi.. Menunjukkansikapantusias. kegiatan inti. dan kegiatan penutup dengan lengkap dan terinci yang disertai contoh kongkret hasil pengamatan.4.R . dan kegiatan penutup dengan lengkap namun kurang terinci. kegiatan inti. kegiatan inti. :………………………………………………………….15 8 .24 15 . :…………………………………………………………. dan kegiatan penutup namun tidaklengkap. 21 . bersungguhsungguhdenganpenuh rasa ingintahu danaktifdalamberdiskusi. Sikapselamamen Menunjukkansikapantusias. Kriteria Rentangan Nilai 25 .25 Matematika – SMA/MA/SMK | 303 .30 21 . dalam Video lengkapdanbenar. Hanyamenandaisetiap item padalembarkerjaanalisis proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar yang disajikandalamtayangan video.1 RUBRIK PENILAIAN HASIL ANALISIS PEMBELAJARAN PADA TAYANGAN VIDEO NAMA PESERTA DIKLAT KELAS/ TANGGAL PENILAIAN Aspek Pengamatan Video (15-30) :………………………………………………………….30 Nilai Peserta Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal.20 12 . Menunjukkansikapantusias. teliti. Komentardan Simpulan (10-25) Memberikankomentar yang faktual dan terstruktur sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran yang terdiri dari pengalaman yang dapat diambil dari tayangan video dan kesimpulan. Mendeskripsikansetiap item padalembarkerjaanalisis Lembarkerjaanali proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar sispembelajaran yang disajikandalamtayangan video denganjelas. (15-30) Mendeskripsikansetiap item padalembarkerjaanalisis proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar yang disajikandalamtayangan video denganjelas.20 25 . teliti.. Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal..24 15 . bersungguhsungguhdenganpenuh rasa ingintahu saja. Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal.

... (..Aspek Kriteria Memberikan komentar yang faktual dan terstruktur sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran yang terdiri dari pengalaman yang dapat diambil daritayangan video.……………....... ……….........) Matematika – SMA/MA/SMK | 304 . 2013 Fasilitator..... Memberikan komentar sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran......... Rentangan Nilai Nilai Peserta 16 -20 10 -15 100 JUMLAH ………………...................

Persiapan peer teaching. Paparan oleh fasilitator tentang Garis Besar Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan PPT-4.2 Peer Teaching Langkah Kegiatan Inti Paparan Panduan Paparan Instrumen Penilaian Persiapan Peer Teaching 20 Menit 20 Menit 20 Menit Refleksi Praktik Peer Teaching 30 Menit 510 Menit Paparan oleh fasilitator tentang Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran melalui peer teaching dengan menggunakan PPT.Materi Pelatihan : 4.2-1. Refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching. untuk setiap peserta 30 menit dipandu fasilitator. Praktik peer teaching pembelajaran secara individual. Matematika – SMA/MA/SMK | 305 .2.4. Menilai kegiatan peer teachingoleh fasilitator dengan menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran LK-4.2-2.

Matematika – SMA/MA/SMK | 306 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 307 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 308 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 309 .

.... individual...... 3 Menyampaikan manfaat materi pembelajaran... Asal Sekolah 3.... 3 4 Melaksanakan pembelajaran secara runtut...........4.... Menyajikan pembahasan materi pembelajaran dengan tepat.......... Nama Peserta 2...... dan melakukan observasi....... 2 Mengajukan pertanyaan menantang...... Menyajikan materi secara sistematis (mudah ke sulit..... : ... Penyampaian Kompetensi dan Rencana Kegiatan 1 Menyampaikan kemampuan yang akan dicapai peserta didik......... elaborasi dan konfirmasi...... Menguasai kelas................ Ya Tidak Catatan Aspek yang Diamati Kegiatan Pendahuluan Apersepsi dan Motivasi 1 Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik atau pembelajaran sebelumnya..... perkembangan iptek ...........2 LEMBAR KERJA INSTRUMEN PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 1. Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan...... 4 Mendemonstrasikan sesuatu yang terkait dengan materi pembelajaran...... 2 Menyampaikan rencana kegiatan misalnya..... Kegiatan Inti Penguasaan Materi Pelajaran 1 2 3 4 Kemampuan menyesuiakan materi dengan tujuan pembelajaran..... : ...... dan kehidupan nyata. Matematika – SMA/MA/SMK | 310 ......... dari konkrit ke abstrak) Penerapan Strategi Pembelajaran yang Mendidik 1 Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.. kerja kelompok. Topik : .LK ...... 2 Menfasilitasi kegiatan yang memuat komponen eksplorasi........

sumber belajar.Aspek yang Diamati 5 Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual. Kegiatan Penutup Penutup pembelajaran Matematika – SMA/MA/SMK | 311 . Pelibatan Peserta Didik dalam Pembelajaran 1 2 3 4 5 Penggunaan Bahasa yang Benar dan Tepat dalam Pembelajaran 1 2 Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar. Merespon positif partisipasi peserta didik. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif. Memberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran. Menumbuhkan keceriaan atau antuisme peserta didik dalam belajar. Memancing peserta didik untuk bertanya. Menghasilkan pesan yang menarik. 6 7 Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect). Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar pembelajaran. Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar. peserta didik. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk berkomunikasi. Memberikan pertanyaan peserta didik untuk menalar (proses berfikir yang logis dan sistematis). Memfasilitasi peserta didik untuk mencoba. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. Memfasilitasi peserta didik untuk menganalisis. Memfasilitasi peserta didik untuk mengamati. Ya Tidak Catatan Penerapan Pendekatan scientific 1 2 3 4 5 6 7 Pemanfaatan Sumber Belajar/Media dalam Pembelajaran 1 2 3 4 5 Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar pembelajaran. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media pembelajaran.

Memberikan tes lisan atau tulisan . Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan kegiatan berikutnya dan tugas pengayaan. Jumlah Ya Tidak Catatan Matematika – SMA/MA/SMK | 312 . Mengumpulkan hasil kerja sebagai bahan portofolio.Aspek yang Diamati 1 2 3 4 Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik.

Langkah Kegiatan 1.R . 3. Selanjutnya nilai PeerTeaching dimasukkan ke dalam nilai portofolio peserta.2 RUBRIK PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Rubrik Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran ini digunakan fasilitator untuk menilai kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran pada saat Peer Teaching. 4. 2.4. Berikan tanda cek (√) pada kolom pilihan YA atau TIDAK sesuai dengan penilaian Anda terhadap penyajian guru pada saat pelaksanaan pembelajaran! Berikan catatan khusus atau saran perbaikan pelaksanaan pembelajaran! Hitung jumlah nilai YA dan TIDAK ! Tentukan Nilai menggunakan rumus berikut ini! PERINGKAT Amat Baik ( A) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 < AB ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 75 < 60 Matematika – SMA/MA/SMK | 313 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful