SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

MATERI PELATIHAN GURU
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 SMA

MATEMATIKA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2013
Pendahuluan | i

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

Diterbitkan oleh: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2013

Copyright © 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pendahuluan | ii

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt, Kurikulum 2013 secara terbatas mulai dilaksanakan tahun 2013 pada sekolah-sekolah yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan secara selektif. Kurikulum 2013 merupakan pengembangan dari kurikulum sebelumnya untuk merespon berbagai tantangan tantangan internal dan eksternal. Titik tekan pengembangan Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan. Pengembangan kurikulum menjadi amat penting sejalan dengan kontinuitas kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya serta perubahan masyarakat pada tataran lokal, nasional, regional, dan global di masa depan. Aneka kemajuan dan perubahan itu melahirkan tantangan internal dan eksternal yang di bidang pendidikan pendidikan. Karena itu, implementasi Kurikulum 2013 merupakan langkah strategis dalam menghadapi globalisasi dan tuntutan masyarakat Indonesia masa depan. Pengembangan Kurikulum 2013 dilaksanakan atas dasar beberapa prinsip utama. Pertama, standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan. Kedua, standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran. Ketiga, semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Keempat, mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai. Kelima, semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti. Keenam, keselarasan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian. Aplikasi yang taat asas dari prinsip-prinsip ini menjadi sangat esensial dalam mewujudkan keberhasilan implementasi Kurikulum 2013.

Mudah-mudahan implementasi Kurikulum 2013 ini bisa berjalan dengan baik. Akhirnya, kepada semua pihak yang telah mendedikasikan dirinya dalam mempersiapkan Kurikulum 2013, saya mengucaplkan banyak terima kasih. Semoga bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa Indonesia.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Muhammad Nuh

Pendahuluan | iii

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya Modul Bahan Ajar Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Modul bahan ajar ini merupakan bahan ajar wajib dalam rangka pelatihan calon instruktur, guru inti, dan guru untuk memahami Kurikulum 2013 dan kemudian dalam proses pembelajaran di sekolah. Kurikulum 2013 ini diberlakukan secara bertahap mulai tahun ajaran 2013-2014 melalui pelaksanaan terbatas, khususnya bagi sekolah-sekolah yang sudah siap melaksanakannya. Pada Tahun Ajaran 2013/2014, Kurikulum 2013 dilaksanakan secara terbatas untuk Kelas I dan IV Sekolah Dasar/Madrasah Ibtida’iyah (SD/MI), Kelas VII Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Kelas X Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah (SMA/SMK/MA/MAK). Pada Tahun Ajaran 2015/2016 diharapkan Kurikulum 2013 telah dilaksanakan di seluruh kelas I sampai dengan Kelas XII. Menjelang implementasi Kurikulum 2013, penyiapan tenaga guru dan tenaga kependidikan lainnya sebagai pelaksana kurikulum di lapangan perlu dilakukan. Sehubungan dengan itu, Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP), telah menyiapkan strategi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas. Pada tahun 2013 pelatihan akan dilakukan bagi pengawas SD/SMP/SMA/SMK, kepala sekolah SD/SMP/SMA/SMK, dan guru Kelas I dan IV SD, guru Kelas VII SMP untuk 9 mata pelajaran, dan guru Kelas X SMA/SMK untuk 3 mata pelajaran. Guna menjamin kualitas pelatihan tersebut, maka BPSDMPK dan PMP telah menyiapkan 14 Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, sesuai dengan kelas, mata pelajaran, dan jenjang pendidikan. Modul ini diharapkan dapat membantu semua pihak menjalankan tugas dalam Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Saya mengucpkan terima kasih dan penghargaan atas partisipasi aktif kepada pejabat dan staf di jajaran BPSDMPK dan PMP, dosen perguruan tinggi, konsultan, widyaiswara, pengawas, kepala sekolah, dan guru yang terlibat di dalam penyusunan modul-modul tersebut di atas.

Jakarta, Juni 2013 Kepala Badan PSDMPK-PMP

Syawal Gultom NIP. 19620203 198703 1 002

Pendahuluan | iv

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

DAFTAR ISI

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAGIAN I PENDAHULUAN A. Tujuan Umum Pelatihan B. Indikator Umum Ketercapaian Tujuan C. Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai D. Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan E. Tahapan, Nara Sumber, dan Peserta Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, untuk Guru, Kepala Sekolah, F. dan Pengawas G. Penilaian H. Panduan Narasumber dan Fasilitator I. Kode Etik Narasumber J. Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013

iii iv v 1 2 2 3 3 3 5 6 6 7 8 10 11 13 15 19 25 29 32 33 34 34 34 34 35 59 60 60 60 61 62 64 93 105

Sistematika Modul BAGIAN II SILABUS PELATIHAN A. Silabus Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset B. Silabus Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013 C. Silabus Materi Pelatihan 2: Analisis Materi Ajar D. Silabus Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran E. Silabus Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing BAGIAN III MATERI PELATIHAN MATERI PELATIHAN 0: PERUBAHAN MINDSET A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D Perangkat pelatihan Skenario kegiatan Bahan tayang MATERI PELATIHAN 1 : KONSEP KURIKULUM 2013 A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 1.1 Rasional Kurikulum 1.2 Elemen Perubahan Kurikulum 1.3 SKL, KI, dan KD
K.

Pendahuluan | v

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

1.4 Strategi Implementasi Kurikulum MATERI PELATIHAN 2 : ANALISIS MATERI AJAR A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 2.1 Konsep Pendekatan Scientific 2.2 Model Pembelajaran 2.3 Konsep Penilaian Autentik pada Pembelajaran 2.4 Analisis Buku Guru dan Siswa MATERI PELATIHAN 3 : MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 3.1 Penyusunan RPP 3.2 Perancangan Penilaian Autentik MATERI PELATIHAN 4 : PRAKTEK PEMBELAJARAN TERBIMBING A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Kompetensi Peserta Pelatihan D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 4.1 Simulasi Pembelajaran 4.2 Peer Teaching

127 131 132 132 132 133 134 137 171 222 246 259 260 260 260 260 261 263 280 291 292 292 292 292 294 295 304

Pendahuluan | vi

B. dan Peserta Pelatihan Struktur Pelatihan Penilaian Panduan Narasumber dan Fasilitator Kode Etik Narasumber Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Sistematika Materi Pelatihan Silabus Perubahan Mindset Silabus Konsep Kurikulum 2013 Silabus Analisis Materi Ajar Silabus Model Rancangan Pembelajaran Silabus Praktik Pembelajaran Terbimbing BAGIAN 2: SILABUS A. D. Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran 1. C.3 SKL. Program Pendampingan BAGIAN 3: MATERI PELATIHAN Pendahuluan | vii .5 Analisis Buku Guru dan Buku SIswa D. D. Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013 1.4 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar 2. A. Tujuan Umum Pelatihan Indikator Umum KetercapaianTujuan Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan Tahapan. G.1 Rasional 1. KI.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar E.1 Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu 2. E.1 Simulasi Pembelajaran 4.2 Konsep Pendekatan Scientific 2. K. F. B. H. Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing 4. Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset B. KD 1. Materi Pelatihan 2: Analisis Materi Ajar 2.1 Penyusunan RPP 1.2 Elemen Perubahan 1.2 Peer Teaching F. C. I.3 Model Pembelajaran 2.4 Strategi Implementasi C.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 GAMBARAN STRUKTUR MATERI PELATIHAN GURU IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGIAN 1: PENDAHULUAN A. Narasumber. J. E.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN I PENDAHULUAN Matematika – SMA/MA/SMK | 1 .

(2) Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN I PENDAHULUAN Modul Pelatihan ini disiapkan untuk digunakan para Narasumber Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 sesuai dengan kelas. Kepala sekolah mampu mengerahkan sumber daya yang dimiliki dalam rangka menjamin keterlaksanaan implementasi Kurikulum 2013. (3) Panduan Narasumber. lembar kerja/worksheet. Tujuan Umum Pelatihan Tujuan Umum Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 adalah sebagai berikut. Indikator Umum Ketercapaian Tujuan Hasil monitoring dan evaluasi implementasi Kurikulum 2013 pada akhir Tahun Ajaran 2013/2014. Narasumber yang dimaksudkan adalah Narasumber Nasional. 2. IV. Pengawas sekolah mampu memberikan bantuan teknis secara benar kepada sekolah dalam mengatasi hambatan selama implementasi Kurikulum 2013. proses pembelajaran. mata pelajaran dan jenjang pendidikan. (4) Panduan Penilaian. dan kebijakan sekolah. sumber daya manusia. X mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan. dan Pengawas Sekolah Inti. bahan tayang baik dalam bentuk slide power point maupun rekaman video. dan struktur pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 untuk tahun kalender 2013. dan penilaian Kurikulum 2013. isi. VII. A. Kepala Sekolah Inti. menunjukkan di bawah ini. sarana. Guru mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan. 1. 3. Tujuh puluh persen (70%) guru kelas I. Sesuai dengan Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. sasaran pelatihan. dan penilaian Kurikulum 2013. 2. Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013 mendapatkan bantuan secara benar dari pengawas sekolah selama implementasi Kurikulum 2013. (5) Bahan/Materi Pelatihan untuk masing-masing Mata Pelatihan. Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP) telah menetapkan jenjang atau tahapan pelatihan. Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013 tidak mengalami hambatan biaya. Guru Inti. Matematika – SMA/MA/SMK | 2 . proses pembelajaran. 1. 3. Modul ini memberi panduan bagi para pengguna mengenai (1) Tahapan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Bahan/Materi Pelatihan yang dimaksud meliputi hand-out. isi. Instruktur Nasional. B.

dan Buku Siswa. SKL.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 C. Kompetensi Inti (KI). benar. 9. Mengingat jumlah sasaran akhir pelatihan sangat besar dan sebaran sasaran akhir pelatihan sangat luas. Memiliki keterampilan melaksanakan penilaian autentik dengan benar. Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. 1. KD untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. selama 1 semester. 3. Memiliki keterampilan menganalisis keterkaitan antara Standar Kompetensi Kelulusan (SKL). Analisis buku siswa dan buku guru untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. Analisis SKL. 5. Project Based Learning. dan Peserta Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Sasaran akhir dari pelatihan ini adalah guru. 6. Memiliki keterampilan berkomunikasi lisan dan tulis dengan runtut. Contoh instrumen penilaian untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. 7. 8. 2. E. kepala sekolah. elemen perubahan. maka pelatihan ini menerapkan strategi pelatihan bertahap atau berjenjang. Tahapan atau Matematika – SMA/MA/SMK | 3 . 2. 1. Buku Guru. D. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013. Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan pendekatan Scientific secara benar. Narasumber. dan santun. maka berikut ini kompetensi inti yang harus dicapai peserta setelah mengikuti pelatihan. Tahapan. Contoh RPP untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. serta strategi implementasi). kepala sekolah dan pengawas. Memiliki pemahaman yang mendalam tentang Kurikulum 2013 (rasional. guru. selama 1 semester. Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai Berdasarkan Indikator Ketercapaian Tujuan. Kompetensi Dasar (KD). 4. KI dan KD. dan pengawas sekolah mampu mewujudkan hasil kerja secara kolektif berikut ini. 4. selama 1 semester. Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan Setelah selesai mengikuti pelatihan. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013. 3. selama 1 semester. Memiliki keterampilan menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP) dengan mengacu pada Kurikulum 2013. KI. dan Discovery Learning.

Diagram tersebut menunjukan terdapat 3 tahap pelatihan yaitu:Pelatihan Tingkat Nasional. Secara keseluruhan terdapat 7 jenis pelatihan. Pelatihan Pengawas Inti. Tingkat Provinsi. Narasumber: Narasumber Nasional PELATIHAN INSTRUKTUR NASIONAL Peserta: Instruktur Nasional Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN GURU INTI Peserta: Guru Inti Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN KEPALA SEKOLAH INTI Peserta: Kepala Sekolah Inti Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN PENGAWAS INTI Peserta: Pengawas Inti Narasumber: Guru Inti PELATIHAN GURU KELAS/MAPEL Peserta: Guru Kelas/Mapel/BK Narasumber: Kepala Sekolah Inti PELATIHAN KEPALA SEKOLAH Peserta: Kepala Sekolah Narasumber: Pengawas Inti PELATIHAN PENGAWAS Peserta: Pengawas Diagram 1. yakni: Pelatihan Instruktur Nasional. dan Tingkat Kabupaten/Kota. Pelatihan Guru Kelas/ Mapel. narasumber yang akan bertugas.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 jenjang pelatihan. Pelatihan Kepala Sekolah Inti. serta sasaran peserta dapat dijelaskan pada diagram berikut ini. Pelatihan Kepala sekolah. dan Pelatihan Pengawas. Pelatihan Guru Inti. Matematika – SMA/MA/SMK | 4 . Tahapan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Tahapan pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 dapat dilihat pada diagram 1 di atas.

5 0. Kepala Sekolah.5 0.5 2 1 Kelas IV 2 4 0.2 MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN Penyusunan RPP Perancangan Penilaian Autentik 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 4.5 0.5 2 1 IPA 2 4 0. KI dan KD Strategi Implementasi 2 4 0.1 ANALISIS MATERI AJAR Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu Konsep Pembelajaran IPA Terpadu Konsep Pembelajaran IPS Terpadu 12 2 12 2 12 12 12 12 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2.4 PERUBAHAN MINDSET KONSEP KURIKULUM 2013 Rasional Elemen Perubahan SKL.5 0.5 2 1 2. untuk Guru. 1.1 1.3 2. Kecukupan.3 1. dan Kedalaman Materi) 2.5 6 6 4 4 6 6 3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 F.5 0. 3.2 2.5 2 1 IPS 2 4 0. dan PengawasSekolah Tabel 1: Struktur Pelatihan Guru. 1. Kepala Sekolah.1 PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING Simulasi Pembelajaran 22 8 22 8 22 8 22 8 22 8 22 8 Matematika – SMA/MA/SMK | 5 . 2.1 3.5 0.4 Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. 4. Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013.5 2 1 Lainnya 2 4 0. dan Pengawas Sekolah SD/MI No MateriPelatihan Kelas I 0.5 2 1 SMP/MTs SMA/SMK /MA 2 4 0.2 1.

Jumlah narasumber yang akan bertugas sebanyak 3 (tiga) orang selama proses pelatihan. Panduan Narasumber dan Fasilitator Narasumber memainkan peran yang sangat penting untuk menjadikan suatu pelatihan yang menarik dan menyenangkan. Narasumber membagi tugas secara bersama-sama dengan prinsip keadilan. Penilaian meliputi tiga ranah yaitu: 1. Ketika seorang narasumber bertugas memberikan materi pelatihan. Memahami isi modul sesuai bidang yang ditugaskan. Metode penilaian yang diterapkan di dalam penilaian ini meliputi: 1. portofolio. 3. panitia pelatihan akan mengumumkan hasil penilaian peserta. Penilaian Seusai pelatihan.2 Peer Teaching 14 14 14 14 14 14 PENDAMPINGAN 2 2 2 2 2 2 TES AWAL DAN TES AKHIR 2 2 2 2 2 2 TOTAL 52 52 52 52 52 52 G. guru inti. pengetahuan.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 4. maka narasumber lainnya berperan sebagai fasilitator yang membantu dalam menyiapkan perangkat pelatihan. 2. Matematika – SMA/MA/SMK | 6 . tes awal. dan 3. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang narasumber adalah berikut ini. 1. kepala sekolah inti. keterampilan Penilaian autentik diterapkan di dalam pelatihan ini. tes akhir. memberikan penjelasan tambahan. sikap 2. dan pengawas inti dinyatakan lulus apabila mencapai nilai 75 dan memiliki kewenangan untuk melatih. Setiap calon instruktur nasional. H. 4. dan pengamatan. dan melakukan penilaian kepada peserta.

Menjawab pertanyaan yang tidak dipahami maksudnya. mengambil keputusan atau simpulan. c. Menjawab pertanyaan yang tidak perlu dijawab. yang minoritas. b. Memanggil nama peserta untuk mengurangi ketegangan. dan memberikan konfirmasi.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 2. Membagi bahan pelatihan kepada peserta sesuai haknya. menanyakan argumentasinya mengapa peserta mengambil simpulan itu. Melaksanakan pelatihan sesuai dengan modul dan mematuhi urutan dalam skenario pelatihan yang telah disusun. menganalisis alternatif temuan. memberikan motivasi. Terpancing dalam perdebatan dengan peserta yang dapat mengakibatkan habisnya waktu. dan penilaian proses. sumber. Kode Etik Narasumber Setiap fasilitator pelatihan wajib menyetujui dan menerapkan kode etik berikut ini. dan sebagainya. 9. cara memberikan pertanyaan. menguatkan dan menekankan simpulan itu. Mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab peserta sesering mungkin (jangan pertanyaan yang sulit dijawab atau terlalu mudah dijawab peserta). tetapi wajib melibatkan peserta secara aktif dalam mencari. berperilaku. Matematika – SMA/MA/SMK | 7 . cara memberikan umpan balik. 5. Memberikan contoh panutan bagi peserta. d. Memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta baik laki-laki maupun perempuanyang memiliki keterbatasan berbicara. Berperan sebagai orang yang serba tahu. a. Melaksanakan penilaian terdiri atas: tes awal. 3. Memotivasi peserta untuk mengambil kesimpulan sendiri. menggali data.. Mengaktifkan peserta untuk menjawab pertanyaan peserta lain. Menghindari hal-hal berikut ini. Mencatat kehadiran peserta sebagai bagian dari bahan penilaian. 4. yang pendiam. 6. pengetahuan. 5. menjawab pertanyaan. maupun penguasaan materi pelatihan. Menjawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabnya. 10. I. 2. e. 8. Mengurangi penjelasan definisi. memecahkan masalah. 3. 4. baik dalam hal disiplin. tes akhir. dan keterampilan. 7. Tugas Narasumber yang Berperan sebagai Fasilitator 1. yang tua. Menyerahkan laporan tertulis setiap selesai melakukan pelatihan. dan media belajar yang diperlukan. yang meliputi ranah sikap. Menyiapkan alat.

1/3. KI.1-1 PPT-2. 3. KI. MATERI PELATIHAN PERUBAHAN MINDSET Bahan Tayang Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 KONSEP KURIKULUM 2013 Video Tayangan Paparan Kurikulum 2013 oleh Mendikbud Bahan Tayang Perubahan Mindset Rasional dan Elemen Perubahan SKL.1/1. 2.1 PPT-1. dan KD SKL. KI. dan KD Lembar Analisis Keterkaitan SKL. Memberlakukan peserta secara adil dan tidak diskriminatif.2 LK-1. J. KD Strategi Implementasi Hand-Out Naskah Kurikulum 2013 Contoh Analisis Keterkaitan antara SKL. Mengacu pada prinsip-prinsip andragogi dalam bersikap dan berperilaku.3 HO-1.1 V-2.2/1.1/4.3/2. Tabel 2.1 PPT-1. 0. Beberapa dokumen pelatihan digunakan sebagai acuan untuk beberapa materi pelatihan sebagaimana tercermin dalam pengkodean bahan pelatihan. 1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 1.3 PPT-2. Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013 Jenis bahan dan lembar kerja untuk masing-masing materi pelatihan dapat dilihat berikut ini. V-2. 4.4 HO-1.4/3.4 HO-1. Daftar dan Pengkodean Materi Pelatihan NO. 5. Melakukan penilaian secara objektif. Menghormati kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan implementasi Kurikulum 2013. KD Kerja/Rubrik ANALISIS MATERI AJAR Video Bahan Tayang Pembelajaran Matematika SMA Model-model Pembelajaran Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Project Based Learning KODE PPT-0.2 PPT-1. Menjaga kerahasiaan semua alat penilaian yang akan digunakan.1 V-1.3 PPT-1.3 2. KI.2-1 Matematika – SMA/MA/SMK | 8 .

2 V-2.1 PPT-4.2-1 HO-2.2-2 LK-4.2 HO-3. KI.1 R-4.3 PPT-2. MATERI PELATIHAN Model Pembelajaran Problem Based Learning Model Pembelajaran Discovery Learning Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Siswa Hand-Out Konsep Pendekatan Scientific Contoh Penerapan Pendekatan scientific dalam Pembelajaran Matematika Model Pembelajaran Project Based Learning Model Pembelajaran Problem Based Learning Model Pembelajaran Discovery Learning Konsep Penilaian Autentik Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika Analisis Buku Guru Analisis Buku Siswa KODE PPT-2.3/3. Video Bahan Tayang PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING Lembar Kerja/Rubrik Matematika – SMA/MA/SMK | 9 .2 R-3.1-1 HO-3. Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku Guru dan Siswa MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN Bahan Tayang Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP yang Telah Dibuat SKL.2-1 PPT-4.3 HO-2.1 PPT-4.2-3 PPT-2.4-1 LK-2.4-2 R-2.3/2.1-2 HO-2.2-2 PPT-2.4 Lembar Kerja/Rubrik 3.1-1 HO-2.1-2 HO-2. dan KD Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific Contoh RPP Matematika SMA Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Telaah RPP Rubrik Penilaian Telaah RPP Video Pembelajaran Matematika Strategi Pengamatan Tayangan Video Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran Melalui Peer-Teaching Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran Analisis Pembelajaran pada Tayangan Video Rubrik Penilaian Analisis Pembelajaran pada Tayangan Video PPT-3.1/3.3/3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 NO.2 LK-2.4/3.1-1 PPT-3.4 HO-2.1/4.2 HO-1.1/3.2 LK-3.1 Hand-Out Lembar Kerja/Rubrik 4.2-3 HO-2.1/3.2-2 HO-2.

2 Keterangan: V PPT HO LK R : : : : : Video Powerpoint Presentation Hand-Out Lembar Kerja Rubrik Catatan Pengkodean: 1. submateri 1 dan 4.3 artinya bahan presentasi ini digunakan saat menyampaikan Materi Pelatihan 1 (Konsep Kurikulum). .1/3. submateri 1 dan 2.4/3.Materi Pelatihan 2.1/2. Sistematika Modul Modul pelatihan implementasi kurikulum ini dibagi dalam tiga bagian berikut ini. . K.KI. Submateri 3 (SKL. MATERI PELATIHAN Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran Rubrik Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran KODE LK-4.3/2. 2.2 artinya hand-out ini digunakan sebagai acuan untuk beberapa materi pelatihan yaitu sebagai berikut: .KD) HO-1. submateri 3.2 R-4. PPT-1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 NO.Materi Pelatihan 1. Bagian I Bagian II : : Pendahuluan Silabus Pelatihan Materi Pelatihan Bagian III : Matematika – SMA/MA/SMK | 10 .Materi Pelatihan 3.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN II SILABUS PELATIHAN Matematika – SMA/MA/SMK | 11 .

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 JENJANG: SMA/MA. SMK/MAK MATA PELAJARAN: MATEMATIKA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2013 Matematika – SMA/MA/SMK | 12 .

Mendiskusikan cara baru dalam belajar.1) WAKTU (JP) 2 NO 0. Tanya jawab tentang tantangan Indonesia dalam Abad ke-21.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: SUBMATERI PELATIHAN Tantangan Indonesia dalam Abad ke21 0. 2. Mendiskusikan 6 PENILAIAN ASPEK Sikap Terbuka untuk menerima dan mengimpleme ntasikan Kurikulum 2013. Menunjukan sikap terbuka terhadap perubahan. 2. 4. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimpleme ntasikan Kurikulum 2013. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013 2. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS Bahan Tayang DESKRIPSI Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (PPT-0. PERUBAHAN MINDSET 2 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. KEGIATAN PELATIHAN 1. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan pelatihan.1 INDIKATOR 1. Matematika – SMA/MA/SMK | 13 . Curah pendapat membandingkan antara berpikir berbasis kendala (constraintbased thinking) dengan berpikir berbasis kesempatan (opportunitybased thinking) 3. SMK/MAK MATEMATIKA KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN 1.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN pendorong utama teknologi pendidikan yang harus diperhatikan 5. Tanya jawab tentang High order thingking WAKTU (JP) Matematika – SMA/MA/SMK | 14 .

Mengamati dan menyimak tayangan paparan tentang Kurikulum 2013 oleh Mendikbud. KEGIATAN PELATIHAN 1.1) Rasional Kurikulum 2013 (PPT-1. 2. KONSEP KURIKULUM 4 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA.2/1.5 NO 1. Bahan Tayang Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 3. Menerima rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan. 3. 2. Hand-out Matematika – SMA/MA/SMK | 15 . Menyimak dan melakukan tanya jawab tentang paparan rasional Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan kurikulum di Indonesia. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. Menjelaskan permasalahan Kurikulum 2006 (KTSP). 3.1 INDIKATOR 1. Video DESKRIPSI Tayangan Paparan Kurikulum 2013 oleh Mendikbud (V-1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: SUBMATERI PELATIHAN Rasional 1.1/1. Pengetahuan Memahami secara utuh rasional kurikulum 2013 .1) Naskah Kurikulum 2013 (D-1. SMK/MAK MATEMATIKA KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Memahami secara utuh rasional Kurikulum 2013. 2.4) WAKTU (JP) 0. Menyimpulkan rasional Kurikulum 2013 yang mencakup permasalahan PENILAIAN ASPEK Sikap Menerima latar belakang alasan perubahan Kurikulum 2013. Menjelaskan rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan.

Standar Proses. Menyimpulkan empat elemen perubahan Kurikulum 2013. 5. Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. dan Standar Penilaian. serta alasan pengembangan kurikulum.4) 0. Sikap Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 Pengetahuan Memahami elemen perubahan Kurikulum 2013 dan hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. Bahan Tayang Elemen Perubahan Kurikulum 2013 (PPT-1. WAKTU (JP) 1. Menyimak dan melakukan tanya jawab tentang empat elemen perubahan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan kurikulum. Menjelaskan empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. dan Standar Penilaian. Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1.5 2.1/1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR 4. SI. Mengidentifikasi kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal.2/1. 2. Standar Proses. KEGIATAN PELATIHAN kurikulum 2006 (KTSP). 1. 1. Hand-out Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda Matematika – SMA/MA/SMK | 16 . 2. Menjelaskan alasan pengembangan kurikulum.2) Naskah Kurikulum 2013 (D-1.2 Elemen Perubahan Kurikulum 2013 Memahami secara utuh elemen perubahan Kurikulum 2013. SI. kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal.

dan KD (HO-1. KI. KI dan KD Memahami keterkaitan antara SKL. dan KD melalui diskusi kelompok pada format yang sudah disediakan (Tiap kelompok menganalisis keterkaitan SKL. dan KD. 1. dan KD pada Kurikulum 2013.3) a. KI. 2.3/ 2. Hand-Out SKL. KI.4/ 3.3) Tes Objektif Pilihan Ganda 3. dan KD. 2.1/3. dan KD (LK-1. KI. Menganalisis keterkaitan antara SKL. dan KD yang akan dijadikan dasar dalam Sikap Bekerja sama dalam kelompok dengan baik dan benar Keterampilan Terampil menganalisis keterkaitan SKL. KI. dan KD Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. KI. KI. dan KD (PPT-1. dan KD. dan KD (HO-1. Bahan Tayang 2. Contoh Analisis Keterkaitan antara SKl. 3. Bekerja sama dalam menganalisis keterkaitan SKL. KI. Memberi contoh analisis keterkaitan SKL. dan KD.3) Analisis Keterkaitan SKL. Menyimak paparan SKL. KI. 1. KI. KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 1. Menganalisis keterkaitan SKL. KI. SKL. KI. KI.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR 3. dan KD serta keterkaitan antara ketiga kompetensi Tes Tertulis Matematika – SMA/MA/SMK | 17 . Menjelaskan empat elemen perubahan kurikulum dalam hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan.3 SKL. Lembar Kerja Pengetahuan Kemampuan memahami konsep SKL.2) b.3 ) 2 Penugasan Rubrik penilaian hasil analisis keterkaitan SKL. KI dan KD (R-1.

4) 1 2. dan komunikatif dalam meyampaikan ide-ide. Berkomunikasi dengan bahasa yang runtut dan komunikatif untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. Sikap Berkomunikasi dengan bahasa yang santun. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN membuat RPP) 4. Menilai hasil kerja kelompok lain. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok. Mengkomunikasi kan hasil diskusi kelas. Diskusi kelas untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013.2/1. 1. Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. 2. Merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi kelas.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013 Memahami secara utuh strategi implementasi Kurikulum 2013. Hand-out Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda Matematika – SMA/MA/SMK | 18 . 5. sistematis. 2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK tersebut.4) Naskah Kurikulum 2013 (D-1. Pengetahuan Memahami elemenelemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013.1/1. 3. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. WAKTU (JP) 1. Bahan Tayang Strategi Implementasi Kurikulum (PPT-1. 1.

Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 19 . Bahan Tayang Tes tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERIPELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 2. Menjelaskan konsep pendekatan scientific 3. Video DESKRIPSI Pembelajaran Matematika (V-2. Konsep pendekatan scientific (PPT-2. ANALISIS MATERI AJAR 12 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar pengamatan sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1.1) a. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain. Mengkaji pendekatan scientific berdasarkan tayangan video melalui diskusi kelompok. 2. Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain. KEGIATAN PELATIHAN 1. WAKTU (JP) 2 2.1 SUBMATERI PELATIHAN Konsep Pendekatan Scientific KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika. Konsep pendekatan scientific NO 2.1/4. 2. 3. INDIKATOR 1. Mengamati tayangan video pembelajaran Matematika. Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika. Contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika (PPT-2.1-1) b. Mendiskusikan contoh-contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika. Pengetahuan Konsep pendekatan scientific dan penerapannya dalam pembelajaran Matematika.1-2) a.

3-2) c. Problem Based Learning. Problem Based Learning.1-2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 4.3-3) a. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI (HO-2. Project Based Learning 2 Tes Tulis Tes Objektif Pilihan Ganda 2.1-1) b. 2. dan Discovery Learning. Mengidentifikasi penerapan Pendekatan Sikap Menyadari manfaat penerapan tiga model pembelajaran Pengetahuan Karakteristik Project Based Learning. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Project Based Learning. Mengidentifikasi karakteristik 3 model pembelajaran.1) b. 2. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 20 .3) a. Keterampilan Menganalisis. 1. Contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika (HO-2. Problem Based Learning.3. dan Discovery Learning). Problem Based Learning (PPT-2.2 Model Pembelajaran Membedakan Model Pembelajaran Project Based Learning. Video Contoh Pembelajaran dengan 3 model pembelajaran (V-2. 3. Bahan Tayang Unjuk kerja Rubrik penilaian 3. 2. 3. Discovery Learning (PPT-2. Mengamati tayangan 3 jenis model pembelajaran (Project Based Learning. 1. dan Discovery Learning. Project Based Learning (PPT-2. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Discovery Learning. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok. Focus Group Discussion Panduan FGD 1.

3-2) c.3) b. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar (PPT-2. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok.2) a. Mendiskusikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. 2. 2. 2. Menjelaskan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.1) b. Pengamatan Lembar pengamatan sikap 2 Tes tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 2. Menyajikan kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan bentuk tes dalam penilaian autentik.3-3) 1. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar (HO-2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK membedakan. 3.3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar 1. Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madarasah dan menghargai pendapat orang lain. 1.3) b.3. Problem Based Learning (HO-2.3/3. Bahan Tayang a. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 21 . Discovery Learning (HO-2. Pengetahuan Konsep penilaian autentik pada pembelajaran Matematika. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (PPT-2. Sikap Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madrasah dan menghargai pendapat orang lain. Contoh penerapan TEKNIK WAKTU (JP) mengaitkan. NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN Scientific pada 3 model pembelajaran BAHAN PELATIHAN BENTUK INSTRUMEN hasil kerja JENIS DESKRIPSI (HO-2.

1. Analisis Buku Siswa (LK-2. 3. KI.4-2) 6 2. KI. Diskusi kelompok membahas hasil penilaian buku guru dan buku siswa.3/2. Kecukupan.4/ 3. Mencermati format analisis buku guru dan buku siswa. 1.4-1) b.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (HO-2. 2.2) a. dan KD. dan KD (HO-1. dan Kedalaman Materi) 1. Ketelitian dan keseriusan menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL.2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 2. 4. Mengidentifikasi kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. KI.1/3. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. dan KD. Keterampilan Terampil menganalisis buku guru dan siswa. KI.3/3. Hand-out Penugasan Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (R-2. Peserta pelatihan menilai buku guru dan buku siswa. 2.4) 3. Pengamatan Lembar pengamatan sikap 1.4) SKL. Menganalisis kesesuaian buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. Lembar Kerja Matematika – SMA/MA/SMK | 22 . dan KD. dan KD dalam diskusi Sikap Teliti dan serius dalam bekerja baik secara mandiri maupun berkelompok. Analisis Buku Guru (LK-2. KI. Bahan Tayang Analisis buku guru dan buku siswa (PPT-2.

dan pola pikir keilmuan materi pelajaran. 7. Matematika – SMA/MA/SMK | 23 . Menganalisis kesesuaian isi buku dengan standar proses. struktur. struktur. Mendeskripsikan kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa secara kelompok. pendekatan scientific. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa. Menganalisis kesesuaian proses. Menjelaskan secara utuh materi. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku melalui diskusi kelompok. 3. pendekatan scientific. WAKTU (JP) 2. 6. Menguasai secara utuh materi. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. 3. struktur. Membaca isi materi. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa melalui belajar 4.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN kelompok. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa. 5. 5.

Mempresentasi kan hasil analisis buku guru dan buku siswa (perwakilan kelompok). 8. Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Matematika – SMA/MA/SMK | 24 . 5. WAKTU (JP) 4. 9. Menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. Membuat contoh-contoh penerapan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari secara berkelompok. 6. Menyimpulkan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN mandiri. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. 10. 7.

Mendiskusikan rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific.1/3.2) 2. INDIKATOR NO 1. KEGIATAN PELATIHAN 1. Panduan tugas telaah RPP (PPT-3. KI. Peserta pelatihan menilai RPP yang dibawa oleh peserta lain. emosional. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP Keterampilan Menyusun RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. Rambu-rambu penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific (PPT-3.3/2. SKL. WAKTU (JP) 5 2. Penugasan Rubrik Penilaian Telaah RPP (R-3.1-1) b. dan KD (HO-1. Menunjukkan sikap tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 25 .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 3. Mengidentifikasi rambu-rambu penyusunan RPP. MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN 8 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA.1-2) a. kultural.4/ SUBMATERI PELATIHAN 3. Bahan Tayang DESKRIPSI a. 2.1 Penyusunan RPP KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Menyusun RPP yang menerapkan pendekatan scientific sesuai model belajar yang relevan dengan mempertimbang kan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. moral. sosial.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN maupun intelektual PENILAIAN ASPEK Pengetahuan RPPyang menerapkan pendekatan scientific TEKNIK Tes Tertulis BENTUK INSTRUMEN Tes Objektif Pilihan Ganda BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI 3. Rambu-rambu penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific (HO-3. Mempresentasikan hasil RPP yang sudah direvisi (sampel) 4. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. 5. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. KI. dan KD. Merevisi RPP berdasarkan hasil telaah.1/3. dan pendekatan scientific.1-1) c. Menelaah RPP yang disusun kelompok lain (LK-3. Mendiskusikan format telaahRPP . Standar Proses. dan KD.2 b.1-2) Telaah RPP 3. MenelaahRPP yang disusun kelompok lain sesuai format telaah RPP. 7. 3. 6.1/3. Standar Proses. dan pendekatan scientific secara berkelompok (terutama KD awal semester I) 4. Contoh RPP Matematika (HO-3. Lembar Kerja SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR NO KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 3. KI.2) Matematika – SMA/MA/SMK | 26 .

1/3.3/3. Mengidentifikasi kaidah perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.2) b. termasuk portofolio. KEGIATAN PELATIHAN 1. Penugasan Rubrik Penilaian Telaah RPP (R-3. Menelaah rancangan penilaian 4.2) a. dan KD (HO-1.2) Tes Objektif Pilihan Ganda 2. Mengkaji penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika melalui contoh. 2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Merancang penilaian autentik pada proses dan hasil belajar PENILAIAN ASPEK Sikap Tanggung jawab dankreatif dalam menyusun rancangan penilaian autentik. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (PPT-2. Menunjukkan sikap tanggung dan kreatifdalam menyusun rancangan penilaian autentik.3/2.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar INDIKATOR NO 1.4/ 3. Keterampilan Merancang penilaian autentik Pengetahuan Penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika.2) SUBMATERI PELATIHAN 3. Mendiskusikan tentang kaidah merancang penilaian autentik berbentuk tes dan nontes. Mengidentifikasi jenis dan bentuk penilaian pada proses dan hasil belajar sesuai karakteristik mata pelajaran Matematika. Bahan Tayang DESKRIPSI a.2) b. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (HO-2.3/3. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. 3. Menelaah rancangan penilaian Matematika – SMA/MA/SMK | 27 . WAKTU (JP) 3 2.1/3. KI. 4. Hand out Tes Tertulis 3. Panduan tugas menelaah rancangan penilaian pada RPP yang telah dibuat (PPT-3. Mendiskusikan dan melakukan tanya jawabtentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes. SKL.

KEGIATAN PELATIHAN autentik pada RPP yang telah disusun.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR NO autentik pada proses dan hasil belajar yang ada dalam RPP. 5. Mempresentasi kan rancangan penilaian proses dan hasil belajar yang sudah direvisi (sampel) WAKTU (JP) Matematika – SMA/MA/SMK | 28 . Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun berdasarkan hasil telaah. 6.

kultural.1 SUBMATERI PELATIHAN Simulasi Pembelajaran KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Mengkaji pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik.1) Strategi pengamatan video pembelajaran (PPT-4. emosional. Video DESKRIPSI Pembelajaran Matematika (V-2. menyaji.1) Analisis pembelajaran pada tayangan video (LK-4.1) Tes Objektif Pilihan Ganda 3. Melalui diskusi. 3. PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING 22 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. Lembar Kerja Pengetahuan Prinsipprinsip pendekatan scientific dan Tes Tertulis Matematika – SMA/MA/SMK | 29 .1/4. 2. Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERIPELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 4. menanya. sosial. INDIKATOR 1. KEGIATAN PELATIHAN 1. Mengkonfirmasi penerapan pendekatan Penugasan Rubrik Penilaian Analisis pembelajaran pada tayangan video (R-4. moral. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. Menganalisis simulasi pembelajaran melalui tayangan video pembelajaran. menganalisis tayangan video pelaksanaan pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientificdan penilaian autentik. Bahan Tayang 2.1) NO 4. mencoba. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran Keterampilan Menganalisis pembelajaran pada tayangan video. mengolah. menalar. Mengamati tayangan video pembelajaran WAKTU (JP) 8 2.

2. Merevisi RPP sehingga menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik untuk kegiatan peer teaching. menanya. mengolah. 5. menyaji. Penugasan 2.2-2) 14 4.2 Peer Teaching Melaksanakan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (PPT-4. 4. 1. Menginformasik an panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran melalui peer teaching. PENILAIAN ASPEK penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika. mencipta) 1. Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching. intelektual. menalar. WAKTU (JP) 3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN maupun. Mempresentasi kan contoh RPP untuk kegiatan peer teaching. Melaksanakan peer teaching yang menerapkan pendekatan Tes Tertulis Rubrik penilaian pelaksanaan pembelajaran (R-4.2-1) b.2) Tes Objektif Matematika – SMA/MA/SMK | 30 . Merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran. Bahan Tayang a. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN scientific dan penilaian autentik mengacu pada tayangan video pembelajaran. Panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran melalui peer teaching (PPT-4. mencoba. Menjelaskan garis besar instrumen penilaian pelaksanaan Sikap Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching Keterampilan Melaksanakan pembelajaran yang menerapkan Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1.

WAKTU (JP) 3. PENILAIAN ASPEK pendekatan scientific. kultural. intelektual. Menilai kegiatan peer teaching menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran 6. 4. sosial. Lembar Kerja DESKRIPSI Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (LK-4. Melakukan refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching. Mempraktikkan pembelajaran melalui peer teaching secara individual. Matematika – SMA/MA/SMK | 31 . TEKNIK BENTUK INSTRUMEN Ganda BAHAN PELATIHAN JENIS 2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. emosional. Pengetahuan Prinsipprinsip pendekatan scientific dan penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika. KEGIATAN PELATIHAN pembelajaran 3. Mempersiapkan pelaksanaan peer teaching berdasarkan RPP yang telah disusun. Menilai pelaksanaan peer teaching peserta lain.2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR scientific dan penilaian autentik menggunakan RPP yang telah disusun. 5. maupun. moral.

BAGIAN III MATERI PELATIHAN Matematika – SMA/MA/SMK | 32 .

MATERI PELATIHAN: PERUBAHAN MINDSET Matematika – SMA/MA/SMK | 33 .

5. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan materi pelatihan perubahan mindset. 4. Berpikir Berbasis Kendala (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir Berbasis Kesempatan (Opportunity Based) Cara Baru dalam Belajar Enam Pendorong Utama Teknologi Pendidikan yang Harus Diperhatikan. 2. LINGKUP MATERI 1. Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skill). 3. Menunjukkan sikap menghargai perubahan kurikulum. 4. B. Merespon secara positif terhadap cara baru dalam belajar. 2. Bahan Tayang: Tantangan Indonesia dalam Abad 21 (Mengapa Kita Harus Berubah) ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 34 . INDIKATOR 3. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (Mengapa Kita Harus Berubah). Menunjukkan sikap menerima secara terbuka terhadap perubahan Kurikulum dalam rangka menghadapi tantangan Indonesia dalam Abad ke-21. 6. D. 5. 2. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013. PERANGKAT PELATIHAN 1. C.MATERI PELATIHAN: PERUBAHAN MINDSET A.

Active Speaker. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. Laptop. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. Mendiskusikan cara baru dalam belajar. seperti LCD Projector. File. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. Fasilitator menutup pembelajaran 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 35 . dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset. atau media pembelajaran lainnnya. serius. kompetensi. Curah pendapat untuk membandingkan berpikir berbasis kendala 15 menit (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based). alokasi waktu. indikator. dan Laser Pointer. Fasilitator mengingatkankan peserta agar membaca referensi yang relevan. Fasilitator memotivasi peserta. mengajak berdinamika agar saling mengenal. semangat. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN WAKTU Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. 10 Menit Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi pendidikan yang 20 Menit harus diperhatikan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skill) KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Perubahan Mindset. tujuan. 15 Menit KEGIATAN PENDAHULUAN KEGIATAN INTI Perubahan Mindset 60 Menit Tanya jawab tentang tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 15 Menit (mengapa kita harus berubah).SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN PERUBAHAN MINDSET 2 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA.

Matematika – SMA/MA/SMK | 36 . diakhiri membuat rangkuman. refleksi. Curah Pendapat Curah pendapat untuk membandingkan berpikir berbasis kendala (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based). Tanya Jawab. fasilitator menjelaskan nama. dan umpan balik. semangat.Langkah Kegiatan Inti Pengkondisian Peserta dilanjutkan Tanya Jawab 30 Menit Curah Pendapat Diskusi Diskusi Dilanjutkan Tanya Jawab 15 Menit 10 Menit 20 Menit Pengkondisian Peserta dilanjutkan Tanya Jawab Perkenalan. indikator. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset. dan Penutup Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi pendidikan yang harus diperhatikan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi. serius. mengajak berdinamika agar saling mengenal. alokasi waktu. Tanya jawab tentang Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (mengapa kita harus berubah). Fasilitator memotivasi peserta. kompetensi. tujuan. Diskusi Diskusi cara baru dalam belajar Diskusi. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung.

Matematika – SMA/MA/SMK | 37 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 38 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 39 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 40 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 41 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 42 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 43 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 44 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 45 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 46 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 47 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 48 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 49 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 50 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 51 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 52 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 53 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 54 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 55 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 56 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 57 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 58 .

KI.1 Rasional 1. dan KD 1.4 Strategi Implementasi Matematika – SMA/MA/SMK | 59 .3 SKL.MATERI PELATIHAN 1: KONSEP KURIKULUM 2013 1.2 Elemen Perubahan 1.

dan memahami secara utuh strategi implementasi Kurikulum 2013. 6. 2. LINGKUP MATERI 1. Standar Penilaian Strategi Implementasi Kurikulum 2013 4. Standar Proses. dan Standar Penilaian. INDIKATOR 1. Standar Isi yang berisi Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) c. C. 9. 4. memahami keterkaitan antara SKL. 3. memahami secara utuh elemen perubahan Kurikulum 2013. Menerima rasional pengembangan Kurikulum 2013 perkembangan masa depan. Menjelaskan empat elemen perubahan kurikulum dalam hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. Matematika – SMA/MA/SMK | 60 . SI. Menjelaskan permasalahan Kurikulum 2006 (KTSP). KI. KI. 8. 4. Menjelaskan empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. 3. Menjelaskan rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan. Standar Proses.MATERI PELATIHAN 1: KONSEP KURIKULUM A. dan Standar Penilaian. Mengidentifikasi kesenjangan implementasi kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal. Menganalisis keterkaitan SKL. 5. dan KD pada Kurikulum 2013. dan KD. Menganalisis keterkaitan antara SKL. 10. Menjelaskan alasan pengembangan kurikulum. 7. dan KD pada kurikulum 2013. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) b. Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. SI. Rasional Kurikulum 2013 Elemen Perubahan Kurikulum 2013 Standar Nasional Pendidikan a. Standar Proses d. KI. B. 3. 2. memahami secara utuh rasional Kurikulum 2013. dalam kaitannya dengan 2.

Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013 dengan bahasa yang runtut dan komunikatif. Kompetensi Inti (KI). KI. Bahan Tayang a. Standar Isi (Kompetensi Inti (KI). Strategi Implementasi Kurikulum 2013 5. Elemen Perubahan Kurikulum 2013 c. Rasional Kurikulum 2013 b. Video tentang Rasional Kurikulum 2013 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2. Rasional Kurikulum 2013 b. Hand-Out a. PERANGKAT PELATIHAN 1. dan KD 4. Strategi Implementasi Kurikulum 2013 3. 12. Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Elemen Perubahan Kurikulum 2013 c. Lembar Kerja Analisis SKL. D. Standar Kompetensi Lulusan (SKL). dan Kompetensi Dasar (KD) d. ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 61 .11. dan Kompetensi Dasar (KD) d. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013.

indikator. Tanya jawab tentang Rasional Kurikulum 2013 yang 5 Menit mencakup: permasalahan kurikulum 2006 (KTSP). Fasilitator memotivasi peserta. alokasi waktu. File. Standar Proses.1 Rasional 25 Menit Penayangan Video Mendikbud tentang Paparan Kurikulum 10 Menit 2013 dengan menggunakan V-1. serius. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Konsep Kurikulum. serta alasan pengembangan kurikulum. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran seperti LCD Projector. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. Active Speaker. atau media pembelajaran lainnya. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. KONSEP KURIKULUM 4 JP (@45 MENIT) SMA/MA.2 Elemen Perubahan Kurikulum 20 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang Elemen Perubahan 10 Menit Kurikulum yang mencakup SKL. mengajak berdinamika agar saling mengenal. dan Standar Penilaian dan hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan dengan menggunakan Matematika – SMA/MA/SMK | 62 . Pemaparan oleh fasilitator tentang Rasional Kurikulum 10 Menit 2013 dengan menggunakan PPT-1. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 1. semangat. tujuan. 1. kompetensi. Laptop. dan Laser Pointer.1. SI. kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dan kondisi ideal.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 1.1.

Mengkomunikasikan hasil diskusi kelompok. KI. Fasilitator menutup pembelajaran 10 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 63 . KI. ICE BREAKER 1. Diskusi kelas tentang elemen-elemen penting Strategi 25 Menit Implementasi Kurikulum 2013. 1.3 Memberi contoh analisis keterkaitan antara SKL. dan KD 5 Menit dengan menggunakan HO-1.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013 45 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang Strategi Implementasi 10 Menit Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. KI. 10 Menit kemudian fasilitator menyimpulkannya.2.3 SKL. dan KD dengan 10 Menit menggunakan PPT-1. dan 30 Menit KD yang akan dijadikan dasar untuk membuat RPP dengan menggunakan LK-1. Tanya jawab tentang Elemen Perubahan Kurikulum. kemudian merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi. KI. Kerja kelompok untuk menganalisis keterkaitan SKL. sementara kelompok 15 Menit lainnnya memberi komentar/ tanggapan dan menilai hasil kerja kelompok. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Konsep Kurikulum. dan KD 5 Menit 60 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang SKL.PPT-1.4. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan. Presentasi hasil kerja kelompok.3.3.

Identifikasi perubahan yang penting dalam kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya (struktur kurikulum. tematik terpadu untuk SD kls 1 dan 4.1 dan PPT-1. b. Alasan pengembangan kurikulum. bahasa sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge. Kemudian fasilitator menyimpulkannya.2. Manfaat adanya perubahan kurikulum. Biologi untuk IPA)dengan menggunakan PPT-1. proses pembelajaran. dan penilaian hasil belajar).2 10 Menit Tanya Jawab 10 Menit Pemaparan Instruktur menyampaikan materi Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum yang mencakup: 4 standar. TIK merupakan sarana pembelajaran yang dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain. c.1 RASIONAL KURIKULUM Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur dengan menggunakan PPT-1. perubahan pendekatan pembelajaran yaitu Scientific Approach. Matematika – SMA/MA/SMK | 64 .SUBMATERI PELATIHAN : 1. penetapan platform untuk mata pelajaran tertentu (geografi untuk IPS. Tanya Jawab Diskusi dan tanya jawab terkait dengan Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: a.

Matematika – SMA/MA/SMK | 65 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 66 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 67 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 68 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 69 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 70 .

pengetahuan.HO-1. dan keterampilan secara terpadu. mandiri. dan (3) warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. cakap. isi. kreatif.4 I. 1. standar pendidik dan tenaga kependidikan. sehat. standar proses.1/1. Matematika – SMA/MA/SMK | 71 . dan (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. yang diyakini akan menjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan negara Indonesia sepanjang zaman. Tantangan internal lainnya terkait dengan faktor perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. B. dan standar kompetensi lulusan. kurikulum merupakan salah satu unsur yang memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. Kurikulum sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal 1 Ayat (19) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. LATAR BELAKANG PERLUNYA PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan. standar biaya. Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan. berakhlak mulia. baik tantangan internal maupun tantangan eksternal. RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 A. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. standar sarana prasarana. Jadi tidak dapat disangkal lagi bahwa kurikulum yang dikembangkan dengan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. standar penilaian. Tantangan Internal Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar pengelolaan. Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap. RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Pengembangan kurikulum perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan yang dihadapi.2/1. standar isi. berilmu.

Reformasi Pendidikan Mengacu Pada 8 Standar Kurikulum 2013 Sedang Dikerjakan Telah dan terus Dikerjakan -Peningkatan Kualifikasi & Sertifikasi -Pembayaran Tunjangan Sertifikasi -Uji Kompetensi dan Pengukuran Kinerja -Rehab Gedung Sekolah -Penyediaan Lab dan Perpustakaan -Penyediaan Buku -BOS -Bantuan Siswa Miskin -BOPTN/Bidik Misi (di PT) Manajemen Berbasis Sekolah Gambar 1 Terkait dengan perkembangan penduduk. Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar SDM usia produktif yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi SDM yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban (Gambar 2). Namun apabila tidak memiliki kompetensi dan keterampilan tentunya akan menjadi beban pembangunan. SDM usia produktif yang melimpah apabila memiliki kompetensi dan keterampilan akan menjadi modal pembangunan yang luar biasa besarnya. berbagai kegiatan dilaksanakan untuk mengupayakan agar penyelenggaraan pendidikan dapat mencapai ke delapan standar yang telah ditetapkan. Gambar 2 Matematika – SMA/MA/SMK | 72 . (Gambar 1).Terkait dengan tantangan internal pertama.

Dari luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan. g. Dari penyampaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan. b. l. Kerpek.. h. Dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif. kompetensi yang diperlukan di masa depan.2. d. i. Dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala penjuru. Penyempurnaan Pola Pikir Pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan hanya akan dapat terwujud apabila terjadi pergeseran atau perubahan pola pikir.) §Gejolak masyarakat (social unrest) Perkembangan Pengetahuan dan Pedagogi • Neurologi • Psikologi • Observation based [discovery] learning dan Collaborative learning Gambar 3 3. Matematika – SMA/MA/SMK | 73 . Dari pasif menuju aktif-menyelidiki. ASEAN Community. Pergeseran itu meliputi proses pembelajaran sebagai berikut: a. c. Dari satu arah menuju interaktif. persepsi masyarakat. Dari alat tunggal menuju alat multimedia. CAFTA Masalah lingkungan hidup Kemajuan teknologi informasi Konvergensi ilmu dan teknologi Ekonomi berbasis pengetahuan Kebangkitan industri kreatif dan budaya Pergeseran kekuatan ekonomi dunia Pengaruh dan imbas teknosains Mutu. serta berbagai fenomena negatif yang mengemuka. Dari isolasi menuju lingkungan jejaring. m. e. Dari berpusat pada guru menuju berpusat pada siswa. Dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan. APEC. o. Tekanan Untuk Pengembangan Kurikulum Tantangan Masa Depan • • • • • • • • • Globalisasi: WTO. k. f. Dari pemikiran faktual menuju kritis. p. investasi dan transformasi pada sektor pendidikan • Materi TIMSS dan PISA Kompetensi Masa Depan • Kemampuan berkomunikasi • Kemampuan berpikir jernih dan kritis • Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan • Kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab • Kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda • Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal • Memiliki minat luas dalam kehidupan • Memiliki kesiapan untuk bekerja • Memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya • Memiliki rasa tanggungjawab terhadap lingkungan Persepsi Masyarakat • Terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif • Beban siswa terlalu berat • Kurang bermuatan karakter Fenomena Negatif yang Mengemuka §Perkelahian pelajar §Narkoba §Korupsi §Plagiarisme §Kecurangan dalam Ujian (Contek. perkembangan pengetahuan dan pedagogi. j. Tantangan Eksternal Tantangan eksternal yang dihadapi dunia pendidikan antara lain berkaitan dengan tantangan masa depan. Dari pembelajaran pribadi menuju pembelajaran berbasis tim. Dari satu ilmu pengetahuan bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak. Dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata. n. Dari kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan. Dari usaha sadar tunggal menuju jamak.

Perumusan SKL di dalam KBK 2004 dan KTSP 2006 yang diturunkan dari SI harus diubah menjadi perumusan yang diturunkan dari kebutuhan. Penguatan Tata Kelola Kurikulum Pada Kurikulum 2013. Setelah kompetensi ditetapkan kemudian ditentukan kurikulumnya yang terdiri dari kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum. dan kebutuhan. Tabel 1 4. tapi disusun pada tingkat nasional. Perbandingan kerangka kerja penyusunan kurikulum dapat dilihat pada Gambar 5. Matematika – SMA/MA/SMK | 74 . tujuan pendidikan nasional. penyusunan kurikulum dimulai dengan menetapkan standar kompetensi lulusan berdasarkan kesiapan peserta didik. Pendekatan dalam penyusunan SKL pada KBK 2004 dan KTSP 2006 dapat dilihat di Gambar 4 dan penyempurnaan pola pikir perumusan kurikulum dapat dilihat di Tabel 1.Sejalan dengan itu. perlu dilakukan penyempurnaan pola pikir dan penggunaan pendekatan baru dalam perumusan Standar Kompetensi Lulusan. Satuan pendidikan dan guru tidak diberikan kewenangan menyusun silabus. Guru lebih diberikan kesempatan mengembangkan proses pembelajaran tanpa harus dibebani dengan tugas-tugas penyusunan silabus yang memakan waktu yang banyak dan memerlukan penguasaan teknis penyusunan yang sangat memberatkan guru.

KD MAPEL) STANDAR PROSES STANDAR KOMPETENSI LULUSAN STANDAR PENILAIAN PEDOMAN SILABUS RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Oleh Satuan Pendidikan PEMBELAJARAN & PENILAIAN BUKU TEKS SISWA RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Oleh Satuan Pendidikan PEDOMAN SILABUS BUKU TEKS SISWA PEMBELAJARAN & PENILAIAN Kerangka Kerja Penyusunan Kurikulum 2013 KESIAPAN PESERTA DIDIK TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL KEBUTUHAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) SATUAN PENDIDIKAN KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. dan 6 (enam). Karena guru merupakan faktor yang sangat penting di dalam pelaksanaan kurikulum. Untuk menjamin ketercapaian kompetensi sesuai dengan yang telah ditetapkan dan untuk memudahkan pemantauan dan supervisi pelaksanaan pengajaran. ada kemungkinan waktu yang dialokasikan dalam Standar Isi tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya. Rumusan kompetensi juga sulit dijabarkan ke dalam indikator dengan akibat sulit dijabarkan ke pembelajaran. Di samping itu. ditemukan bahwa dari 6 (enam) level kemampuan yang dirumuskan di dalam studi PISA. Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR ISI (SKL MAPEL. Yuridis. sulit diajarkan karena terlalu kompleks. Yuridis. dan sumber belajar. dikaitkan dengan kesulitan yang dihadapi guru dalam melaksanakan KTSP. dan SMA lebih kecil dari total waktu pembelajaran yang dialokasikan menurut Standar Isi. hampir semua peserta didik Indonesia hanya mampu menguasai pelajaran sampai level 3 (tiga) saja. Untuk menjamin keterlaksanaan implementasi kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran. KD MAPEL) STANDAR PROSES STANDAR KOMPETENSI LULUSAN STANDAR PENILAIAN KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. Hasil monitoring dan evaluasi ini juga menunjukkan bahwa banyak kompetensi yang perumusannya sulit dipahami guru. SK MAPEL. dan sulit diajarkan karena keterbatasan sarana. dan kalau diajarkan kepada siswa sulit dicapai oleh siswa. juga perlu diperkuat peran pendampingan dan pemantauan oleh pusat dan daerah. Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR ISI (SKL MAPEL. SK MAPEL. media. sementara negara lain yang terlibat di dalam studi ini banyak yang mencapai level 4 (empat). 5 (lima). Dengan keyakinan Matematika – SMA/MA/SMK | 75 . Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR PROSES KI KELAS & KD MAPEL (STANDAR ISI) STANDAR PENILAIAN SILABUS PANDUAN GURU Oleh Satuan Pendidikan PEMBELAJARAN & PENILAIAN (KTSP) BUKU TEKS SISWA 1 Gambar 5 Hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang dilakukan Balitbang pada tahun 2010 juga menunjukkan bahwa secara umum total waktu pembelajaran yang dialokasikan oleh banyak guru untuk beberapa mata pelajaran di SD. perlu diambil langkah penguatan tata kelola antara lain dengan menyiapkan pada tingkat pusat buku pegangan pembelajaran yang terdiri dari buku pegangan siswa dan buku pegangan guru. SMP.Kerangka Kerja Penyusunan KBK 2004 TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL Kerangka Kerja Penyusunan KTSP 2006 TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. maka sangat penting untuk menyiapkan guru supaya memahami pemanfaatan sumber belajar yang telah disiapkan dan sumber lain yang dapat mereka manfaatkan. sulit dijabarkan ke penilaian. Pendalaman dan Perluasan Materi Berdasarkan analisis hasil PISA 2009. Yuridis. 5.

yaitu yang kita ajarkan berbeda dengan tuntutan zaman (Gambar 6). interpretasi yang dapat disimpulkan dari hasil studi ini. Hasil studi pada tahun 2007 dan 2011 menunjukkan bahwa lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau yang distandarkan di tingkat internasional (Gambar 7). lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah. hanya satu.bahwa semua manusia diciptakan sama. sementara misalnya di Taiwan hampir 50% peserta didiknya mampu mencapai level tinggi dan advance. Gambar 7 Untuk bidang IPA. sementara hampir 40% peserta didik Taiwan mampu mencapai level tinggi Matematika – SMA/MA/SMK | 76 . Untuk bidang matematika. Gambar 6 Analisis hasil TIMSS tahun 2007 dan 2011 di bidang matematika dan IPA untuk peserta didik kelas 2 SMP juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. pencapaian peserta didik kelas 2 SMP juga tidak jauh berbeda dengan pencapaian yang mereka peroleh untuk bidang matematika.

sementara lebih dari 50% siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. lebih dari 95% peserta didik Indonesia di SD kelas IV juga hanya mampu mencapai level menengah. kesimpulan yang dapat diambil dari studi ini adalah bahwa apa yang diajarkan kepada peserta didik di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau distandarkan di tingkat internasional. Gambar 9 Hasil analisis lebih jauh untuk studi TIMSS dan PIRLS menunjukkan bahwa soal-soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dibagi menjadi empat kategori. yaitu: Matematika – SMA/MA/SMK | 77 . Dengan keyakinan bahwa semua anak dilahirkan sama. Dalam hal membaca. (Gambar 8). Hal ini juga menunjukkan bahwa apa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan dan distandarkan pada tingkat internasional (Gambar 9).dan lanjut (advanced). Gambar 8 Hasil studi internasional untuk reading dan literacy (PIRLS) yang ditujukan untuk kelas IV SD juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan hasil studi untuk tingkat SMP seperti yang dipaparkan terdahulu.

Hal yang sama juga terdapat di kurikulum matematika kelas VIII SMP di mana juga terdapat beberapa topik yang belum diajarkan di kelas XIII. malah terdapat beberapa topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini. Tabel 2 Analisis lebih jauh untuk membandingkan kurikulum IPA SMP kelas VIII yang ada di Indonesia dengan materi yang terdapat di TIMSS menunjukkan bahwa terdapat beberapa topik yang sebenarnya belum diajarkan di kelas VIII SMP (Tabel 2).- low mengukur kemampuan sampai level knowing intermediate mengukur kemampuan sampai level applying high mengukur kemampuan sampai level reasoning advance mengukur kemampuan sampai level reasoning with incomplete information. sehingga menyulitkan bagi peserta didik kelas VIII SMP menjawab pertanyaan yang terdapat di dalam TIMSS (Tabel 3). Tabel 3 Matematika – SMA/MA/SMK | 78 . Lebih parahnya lagi.

sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang telah disampaikan di atas. dan keterampilan sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan pasal 35 undangundang tersebut. II. dan menambahkan materi yang dianggap penting dalam perbandingan internasional. undang-undang tersebut berharap pendidikan dapat membuat peserta didk menjadi kompeten dalam bidangnya. cerdas intelektual dalam ranah pengetahuan. seperti bisa dilihat pada Tabel 4. serta cerdas kinestetis dalam ranah keterampilan. Di mana kompeten tersebut. Tabel 4 Dalam kaitan itu. harus mencakup kompetensi dalam ranah sikap. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. mandiri. Secara singkatnya. Cerdas yang dimaksud disini adalah cerdas komprehensif. telah pula ditetapkan visi pendidikan tahun 2025 yaitu menciptakan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. mempertahankan materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Di samping itu juga perlu dievaluasi ulang tingkat kedalaman materi sesuai dengan tuntutan perbandingan internasional dan menyusun kompetensi dasar yang sesuai dengan materi yang dibutuhkan. kreatif. pengetahuan.Hal yang sama juga terjadi di kurikulum matematika kelas IV SD pada studi internasional di mana juga terdapat topik yang belum diajarkan pada kelas IV dan topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini. berilmu. perlu dilakukan langkah penguatan materi dengan mengevaluasi ulang ruang lingkup materi yang terdapat di dalam kurikulum dengan cara meniadakan materi yang tidak esensial atau tidak relevan bagi peserta didik. berakhlak mulia. sehat. Matematika – SMA/MA/SMK | 79 . Sejalan dengan arahan undang-undang tersebut. TUJUAN KURIKULUM Tujuan Pendidikan nasional sebagaimana telah dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. cakap. yaitu cerdas spiritual dan cerdas sosial/emosional dalam ranah sikap.

dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat. KERANGKA DASAR KURIKULUM 2013 Kerangka dasar adalah pedoman yang digunakan untuk mengembangkan dokumen kurikulum. modal yang digunakan dan dikembangkan untuk membangun kualitas kehidupan bangsa dan individu yang diperlukan bagi kehidupan masa kini. LANDASAN KURIKULUM 2013 Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan kurikulum baru. produktif. Landasan teoritik memberikan dasar-dasar teoritik pengembangan kurikulum sebagai dokumen dan proses.Dengan demikian Kurikulum 2013 adalah dirancang dengan tujuan untuk mempersiapkan insan Indonesia supaya memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warganegara yang beriman. pengetahuan. Pewarisan nilai dan pretasi bangsa di masa lampau memberikan dasar bagi kehidupan bangsa dan individu sebagai anggota masyarakat. kreatif. Landasan yuridis merupakan ketentuan hukum yang dijadikan dasar untuk pengembangan kurikulum dan yang mengharuskan adanya pengembangan kurikulum baru. dan keberlanjutan kehidupan bangsa dan Matematika – SMA/MA/SMK | 80 . masa lalu-masa sekarang-masa yang akan datang. Landasan empirik memberikan arahan berdasarkan pelaksanaan kurikulum yang sedang berlaku di lapangan. berbangsa. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. daerah. Kerangka Dasar juga digunakan sebagai pedoman untuk mengembangkan kurikulum tingkat nasional. inovatif. menjadi landasan filosofis pengembangan kurikulum. serta kemudian diwariskan serta dikembangkan untuk kehidupan masa depan. implementasi kurikulum. Pembelajaran Aktif dan Pendidikan Kewirausahaan. landasan filosofis. inovatif. Landasan filosofis adalah landasan yang mengarahkan kurikulum kepada manusia apa yang akan dihasilkan kurikulum. A. 2. kreatif. pengembangan Kurikulum 2013 diamanatkan oleh Rencana Pendidikan Pendidikan Menengah Nasional (RJPMN). Landasan Yuridis Landasan yuridis kurikulum adalah Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. dan landasan empirik. 1. Landasan Filosofis Secara singkat kurikulum adalah untuk membangun kehidupan masa kini dan masa akan datang bangsa. dan KTSP. Lebih lanjut. Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Perubahan PP No. dan keterampilan sehingga dapat menjadi pribadi dan warga negara yang produktif. yang dikembangkan dari warisan nilai dan pretasi bangsa di masa lalu. dan evaluasi kurikulum. Ketiga dimensi kehidupan bangsa. Kurikulum adalah instrumen pendidikan untuk dapat membawa insan Indonesia memiliki kompetensi sikap. Landasan yuridis pengembangan Kurikulum 2013 lainnya adalah Instruksi Presiden Republik Indonesia tahun 2010 tentang Pendidikan Karakter.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 tahun Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. dan afektif III. bernegara dan peradaban dunia.

Maka. kurikulum perlu direorientasi dan direorganisasi terhadap beban belajar dan kegiatan pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan ini. dan membangun kehidupan masa depan yang lebih baik lagi.5 – 6. Martowardojo. Dewasa ini. termasuk masih adanya kecurangan di dalam Ujian Nasional menunjukkan mendesaknya upaya menumbuhkan budaya jujur dan antikorupsi melalui kegiatan pembelajaran di dalam satuan pendidikan. Sebagai negara bangsa yang besar dari segi geografis. 3. kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan kasus pemaksaan kehendak sering muncul di Indonesia. Maka. Berbagai elemen masyarakat telah memberikan kritikan. Maka. dan beragamnya kemajuan pembangunan dari satu daerah ke daerah lain. Walaupun belum ada kajian ilmiah bahwa kekerasan tersebut berhulu dari kurikulum. yakni baca. dan hitung. potensi ekonomi. 31/05/2012). kurikulum pada tingkat sekolah dasar perlu diarahkan kepada peningkatan 3 (tiga) kemampuan dasar. 6. Berbagai kasus yang berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang. Beban belajar ini salah satunya berhulu dari banyaknya matapelajaran yang ada di tingkat sekolah dasar. Dengan tiga dimensi kehidupan tersebut kurikulum selalu menempatkan peserta didik dalam lingkungan sosial-budayanya. suku bangsa. dan saran berkaitan dengan beban belajar siswa. Beban belajar ini bahkan secara kasatmata terwujud pada beratnya beban buku yang harus dibawa ke sekolah.W. Generasi muda berjiwa wirausaha yang tangguh.go. Oleh karena itu.warganegara di masa mendatang. Matematika – SMA/MA/SMK | 81 . Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara – negara ASEAN sebesar 6. komentar. Landasan Empiris Pada saat ini perekonomian Indonesia terus tumbuh di tengah bayang-bayang resesi dunia. kreatif. namun karena hasil gemblengan pada tiap jenjang satuan pendidikan dengan kurikulum sebagai pengarahnya. sekecil apapun ancaman disintegrasi bangsa masih tetap ada. Kecenderungan ini juga menimpa generasi muda.3%. khususnya siswa sekolah dasar. dalam Rapat Paripurna DPR.presidenri. dan mandiri.9 % (Agus D. kurikulum harus mampu membentuk manusia Indonesia yang mampu menyeimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat untuk memajukan jatidiri sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan kebutuhan untuk berintegrasi sebagai satu entitas bangsa Indonesia. 5.id/index.5%. manipulasi. Momentum pertumbuhan ekonomi ini harus terus dijaga dan ditingkatkan. mengembangkan kehidupan individu peserta didik sebagai warganegara yang tidak kehilangan kepribadian dan kualitas untuk kehidupan masa kini yang lebih baik.7%.4% (www. Generasi seperti ini seharusnya tidak muncul karena hasil seleksi alam. tulis. jujur. 2008: 6. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 2005 sampai dengan 2008 berturut-turut 5. namun beberapa ahli pendidikan dan tokoh masyarakat menyatakan bahwa salah satu akar masalahnya adalah implementasi kurikulum yang terlalu menekankan aspek kognitif dan keterkungkungan peserta didik di ruang belajarnya dengan kegiatan yang kurang menantang peserta didik. dan pembentukan karakter. misalnya pada kasus-kasus perkelahian massal. sangat diperlukan untuk memantapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. ulet.php/indikator). kurikulum harus mampu memandu upaya karakterisasi nilai-nilai kejujuran pada peserta didik.

Hasil-hasil ini menunjukkan perlu ada perubahan orientasi kurikulum. (3) pemakaian alat. dengan tidak membebani peserta didik dengan konten namun pada aspek kemampuan esensial yang diperlukan semua warga negara untuk berperanserta dalam membangun negaranya pada abad 21. prosedur dan pemecahan masalah dan (4) melakukan investigasi. mutu pendidikan Indonesia harus terus ditingkatkan. upaya pemenuhan kebutuhan manusia telah secara nyata mempengaruhi secara negatif lingkungan alam. Hasil riset PISA (Program for International Student Assessment). (2) teori. semakin berkurangnya sumber air bersih adanya potensi rawan pangan pada berbagai beahan dunia.Pada saat ini. Hasil Riset TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) menunjukkan siswa Indonesia berada pada rangking amat rendah dalam kemampuan (1) memahami informasi yang komplek. Matematika – SMA/MA/SMK | 82 . studi yang memfokuskan pada literasi bacaan. Pencemaran. matematika. dan IPAmenunjukkan peringkat Indonesia baru bisa menduduki 10 besar terbawah dari 65 negara. Kurikulum seharusnya juga diarahkan untuk membangun kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan alam dan menumbuhkan kemampuan untuk merumuskan pemecahan masalah secara kreatif terhadap isu-isu lingkungan dan ketahanan pangan. dan pemanasan global merupakan tantangan yang harus dihadapi generasi muda di masa kini dan di masa yang akan datang. analisis dan pemecahan masalah. Dengan berbagai kemajuan yang telah dicapai.

Isi atau konten kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) kelas dan dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran. menggunakan pengetahuan dan ketrampilan untuk melaksanakan suatu tugas di sekolah.4. B. dan ketrampilan (kognitif dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah. ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun kemampuan yang dirumuskan dalam SKL. dan teori kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi untuk Kurikulum 2013 dirancang sebagai berikut: 1. Standar Kompetensi Lulusan dikembangkan menjadi Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan yaitu SKL SD/MI. SMA/MA. kelas dan mata pelajaran. Standar Kompetensi Lulusan mencakup sikap. dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu untuk SMP/MTS. Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu tema untuk SD/MI. Kurikulum berbasis kompetensi adalah outcomes-based curriculum dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL. Hasil dari pengalaman belajar tersebut adalah hasil belajar peserta didik yang menggambarkan manusia dengan kualitas yang dinyatakan dalam SKL. Demikian pula penilaian hasil belajar dan hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi. Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap. Matematika – SMA/MA/SMK | 83 . Kompetensi Inti adalah kualitas yang harus dimiliki seorang peserta didik untuk setiap kelas melalui pembelajaran KD yang diorganisasikan dalam proses pembelajaran siswa aktif. SMA/MA. masyarakat. dan lingkungan dimana yang bersangkutan berinteraksi. 3. Pendidikan berdasarkan standar adalah pendidikan yang menetapkan standar nasional sebagai kualitas minimal warganegara untuk suatu jenjang pendidikan. SMK/MAK. SMP/MTS. pengetahuan. dan keterampilan. Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik untuk mengembangkan sikap. SMK/MAK. 2. Landasan Teoritik Kurikulum 2013 dikembangkan atas dasar teori “pendidikan berdasarkan standar” (standardbased education). Kompetensi adalah kemampuan sesorang untuk bersikap. KARAKTERISTIK KURIKULUM 2013 Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi. Standar kualitas nasional dinyatakan sebagai Standar Kompetensi Lulusan. Standar bukan kurikulum dan kurikulum dikembangkan agar peserta didik mampu mencapai kualitas standar nasional atau di atasnya. pengetahuan. Keberhasilan kurikulum dartikan sebagai pencapaian kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh peserta didik.

ketrampilan kognitif dan psikomotorik adalah konten yang bersifat developmental yang dapat dilatih (trainable) dan diajarkan secara langsung (direct teaching).4. C. 6. Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris (organizing elements) Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti. Proses pembelajaran tidak langsung (indirect) terjadi pada setiap kegiatan belajar yang terjadi di kelas. 1. 8. sedangkan sikap adalah konten developmental dan dikembangkan melalui proses pendidikan yang tidak langsung (indirect teaching). PROSES PEMBELAJARAN Proses pembelajaran Kurikulum 2013 terdiri atas pembelajaran intra-kurikuler dan pembelajaran ekstra-kurikuler. Proses pembelajaran didasarkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif untuk menguasai Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti pada tingkat yang memuaskan (excepted). dan SMK/MAK berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dikembangkan guru. c. Pembelajaran kompetensi untuk konten yang bersifat developmentaldilaksanakan berkesinambungan antara satu pertemuan dengan pertemuan lainnya. dan masyarakat. Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif. 7. Proses pembelajaran dikembangkan atas dasar karakteristik konten kompetensi yaitu pengetahuan yang merupakan konten yang bersifat mastery dan diajarkan secara langsung (direct teaching). rumah dan masyarakat. SMA/MA. SMA/MA. f. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar di jenjang pendidikan menengah diutamakan pada ranah sikap sedangkan pada jenjang pendidikan menengah pada kemampuan intelektual (kemampuan kognitif tinggi). Proses pembelajaran di SD/MI berdasarkan tema sedangkan di SMP/MTS. Proses pembelajaran intra-kurikuler adalah proses pembelajaran yang berkenaan dengan mata pelajaran dalam struktur kurikulum dan dilakukan di kelas. Pembelajaran intra kurikuler didasarkan pada prinsip berikut: a. sekolah. d. Proses pembelajaran tidak langsung bukan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) karena sikap yang dikembangkan dalam Matematika – SMA/MA/SMK | 84 . Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dikembangkan dari setiap KD yang untuk mata pelajaran dan kelas tersebut. dan saling memperkuat antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal). sekolah. 5. Dalam silabus tercantum seluruh KD untuk tema atau mata pelajaran di kelas tersebut. Silabus dikembangkan sebagai rancangan belajar untuk satu tema (SD/MI) atau satu kelas dan satu mata pelajaran (SMP/MTS. SMK/MAK). b. e.

Matematika – SMA/MA/SMK | 85 . membaca. menyimak). h. grafik. 3. Pembelajaran remedial dilaksanakan untuk membantu peserta didik menguasai kompetensi yang masih kurang. tulis). Kegiatan ekstrakurikuler wajib dinilai yang hasilnya digunakan sebagai unsur pendukung kegiatan intrakurikuler. dan lain-lain). Proses pembelajaran dikembangkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif melalui kegiatan mengamati (melihat. PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip berikut: 1. ketrampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran. pengetahuan. 2. chart. Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat. keterampilan dan pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kompetensi Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum didasarkan pada standar kompetensi lulusan yang ditetapkan untuk satu satuan pendidikan. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah mengenai Wajib Belajar 12 Tahun maka Standar Kompetensi Lulusan yang menjadi dasar pengembangan kurikulum adalah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan selama 12 tahun. i. Pramuka adalah kegiatan ekstrakurikuler wajib. kelompok atau kelas sesuai dengan hasil analisis jawaban peserta didik. tabel. bersifat formatif dan hasilnya segera diikuti dengan pembelajaran remedial untuk memastikan penguasaan kompetensi pada tingkat memuaskan. Kurikulum didasarkan pada model kurikulum berbasis kompetensi.proses pembelajaran tidak langsung harus tercantum dalam silabus. 2. menganalis (menghubungkan. gambar. dan tugas setiap peserta didik. dan program pendidikan. Pembelajaran remedial dirancang untuk individu. jenjang pendidikan. mengkomunikasikan (lisan. menanya (lisan. mendengar. dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat guru. Pembelajaran ekstrakurikuler Pembelajaran ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan untuk aktivitas yang dirancang sebagai kegiatan di luar kegiatan pembelajaran terjadwal secara rutin setiap minggu. ketrampilan berpikir. g. Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap. Kurikulum didasarkan atas prinsip bahwa setiap sikap. Kegiatan ekstra-kurikuler terdiri atas kegiatan wajib dan pilihan. tulis. D. membangun cerita/konsep). Pembelajaran remedial dirancang dan dilaksanakan berdasarkan kelemahan yang ditemukan berdasarkan analisis hasil tes. 5. Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi. menentukan keterkaitan. 4. Kurikulum bukan hanya merupakan sekumpulan daftar mata pelajaran karena mata pelajaran hanya merupakan sumber materi pembelajaran untuk mencapai kompetensi. ulangan.

Pengorganisasian konten dalam sistem belajar yang digunakan untuk kurikulum yang akan datang adalah sistem semester sedangkan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran berdasarkan jam pelajaran per semester. A. Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Instrumen penilaian hasil belajar adalah alat untuk mengetahui kekurangan yang dimiliki setiap peserta didik atau sekelompok peserta didik. IV. distribusi konten/mata pelajaran dalam semester atau tahun. Kurikulum berpusat pada potensi.Kurikulum didasarkan kepada kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kekurangan tersebut harus segera diikuti dengan proses memperbaiki kekurangan dalam aspek hasil belajar yang dimiliki seorang atau sekelompok peserta didik. dan III masing-masing 30. 9. Beban belajar di SD/MI kelas I. Jam belajar SD/MI adalah 35 menit. budaya. 32. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. 7. Ilmu Pengetahuan Sosial Kelompok B 1. Kurikulum harus diarahkan kepada proses pengembangan. Olah Raga dan Kesehatan 4 5 8 5 4 4 II 4 6 8 6 4 4 III IV 4 6 10 6 4 4 4 4 7 6 3 3 5 4 V 4 4 7 6 3 3 5 4 VI 4 4 7 6 3 3 5 4 MATA PELAJARAN Matematika – SMA/MA/SMK | 86 . teknologi. Struktur kurikulum adalah juga merupakan aplikasi konsep pengorganisasian konten dalam sistem belajar dan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran. 11. Struktur Kurikulum SD/MI adalah sebagai berikut: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU I Kelompok A 1. Seni Budaya dan Prakarya 2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. Bahasa Indonesia 4. posisi konten/mata pelajaran dalam kurikulum. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik berada pada posisi sentral dan aktif dalam belajar. beban belajar untuk mata pelajaran dan beban belajar per minggu untuk setiap siswa. Matematika 5. STRUKTUR KURIKULUM Struktur kurikulum menggambarkan konseptualisasi konten kurikulum dalam bentuk mata pelajaran. II. dan VI masing-masing 36 jam setiap minggu. 8. STRUKTUR KURIKULUM SD/MI Beban belajar dinyatakan dalam jam belajar setiap minggu untuk masa belajar selama satu semester. V. pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan memperbaiki pencapaian kompetensi. 34 sedangkan untuk kelas IV. Ilmu Pengetahuan Alam 6. Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan. dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. dan seni. 10.6. kebutuhan. Pendidikan Jasmani. perkembangan.

V dan VI. serta aktivitas masyarakat di bidang ekonomi dalam ruang atau space wilayah NKRI. serta Pendidikan Jasmani. B. dan 32 menjadi 38.Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu 30 32 34 36 36 36 = Pembelajaran Tematik Integratif Keterangan: Mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dapat Bahasa Daerah. Integrasi Kompetensi Dasar IPA dan IPS didasarkan pada keterdekatan makna dari konten Kompetensi Dasar IPA dan IPS dengan konten Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Olah Raga. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. tujuan pendidikan IPS menekankan pada pengetahuan tentang bangsanya. pengembangan kemampuan berpikir. Bahasa Indonesia 4. V dan VI. Ilmu Pengetahuan Sosial 7. Sedangkan lama belajar untuk setiap jam belajar di SMP/MTs tetap yaitu 40 menit. Matematika – SMA/MA/SMK | 87 . Bahasa Inggris Kelompok B 1. Matematika. dan Kesehatan 3. serta pengenalan berbagai keunggulan wilayah nusantara. dan pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan alam. semangat kebangsaan. Sedangkan untuk kelas IV. Pendidikan Jasmani. Ilmu Pengetahuan Alam 6. IPA dan IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science dan integrative social studies. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. dan IX. Keduanya sebagai pendidikan berorientasi aplikatif. Struktur Kurikulum SMP/MTS adalah sebagai berikut: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU VII VIII IX 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 MATA PELAJARAN Kelompok A 1. 32. VIII. kemampuan belajar. IPA juga ditujukan untuk pengenalan lingkungan biologi dan alam sekitarnya. dan III. patriotisme. Disamping itu. rasa ingin tahu. Bahasa Indonesia. II. Prakarya Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu Keterangan: Mata pelajaran Seni Budaya dapat memuat Bahasa Daerah. Seni Budaya 2. 38 dan 38 untuk masing-masing kelas VII. STRUKTUR KURIKULUM SMP/MTS Dalam struktur kurikulum SMP/MTs ada penambahan jam belajar per minggu dari semula 32. Matematika 5. Kompetensi Dasar IPA dan IPS berdiri sendiri dan kemudian diintegrasikan ke dalam tema-tema yang ada untuk kelas IV. bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. Olahraga dan Kesehatan yang berlaku untuk kelas I.

Prakarya dan Kewirausahaan Jumlah Jam Pelajaran Kelompok A dan B per minggu Kelompok C (Peminatan) Matematika – SMA/MA/SMK | 88 . C. seni tari. dan seni teater. Adanya kelompok mata pelajaran wajib dan mata pelajaran peminatan dimaksudkan untuk menerapkan prinsip kesamaan antara SMA/MA dan SMK/MAK. dan pengolahan. dan kemampuannya. dan Kesehatan 9. yakni kerajinan. Matematika 5.Kelompok mata pelajaran peminatan yang diikuti oleh peserta didik sesuai dengan bakat. Kelompok mata pelajaran peminatan SMK/MAK masing-masing 24 jam per kelas.Seni Budaya terdiri atas empat aspek. Pendidikan Jasmani. 1. yakni seni rupa.Kelompok mata pelajaran wajib yang diikuti oleh seluruh peserta didik . Kelompok mata pelajaran peminatan SMA/MA terdiri atas 18 jam per minggu untuk kelas X. Masing-masing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan dapat memilih aspek yang diajarkan sesuai dengan kemampuan (guru dan fasilitas) pada satuan pendidikan itu. Masingmasing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan menyelenggarakan pembelajaran prakarya paling sedikit dua aspek prakarya sesuai dengan kemampuan dan potensi daerah pada satuan pendidikan itu. Olah Raga. Kelompok mata pelajaran peminatan SMA/MA bersifat akademik. dan 20 jam per minggu untuk kelas XI dan XII. STRUKTUR KURIKULUM PENDIDIKAN MENENGAH (SMA/MA/SMK/MAK) Struktur kurikulum SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: . Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. Bahasa Indonesia 4. Sejarah Indonesia 6. Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah adalah sebagaimana yang tertera di dalam tabel berikut ini: Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah kelompok mata pelajaran wajib: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU X XI XII 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 MATA PELAJARAN Kelompok A (Wajib) 1. seni musik. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. budidaya. rekayasa. Mata pelajaran wajib sebanyak 9 (sembilan) mata pelajaran dengan beban belajar 24 jam per minggu. Seni Budaya 8. sedangkan untuk SMK/MAK bersifat vokasional. minat. Struktur ini menempatkan prinsip bahwa peserta didik adalah subjek dalam belajar dan mereka memiliki hak untuk memilih sesuai dengan minatnya. Bahasa Inggris Kelompok B (Wajib) 7. Prakarya terdiri atas empat aspek.

XI. selain ketiga peminatan tersebut ditambah dengan Kelompok Peminatan Keagamaan. Setiap Kelompok Peminatan terdiri atas 4 (empat) mata pelajaran dan Matematika – SMA/MA/SMK | 89 . dan XII masing-masing 43 jam belajar per minggu. Semua mata pelajaran yang terdapat dalam suatu Kelompok Peminatan yang dipilih peserta didik harus diikuti. dan Peminatan Ilmu-ilmu Bahasa dan Budaya. 2. Satu jam belajar adalah 45 menit. Peminatan Ilmu-ilmu Sosial. Pada akhir minggu ketiga semester pertama peserta didik masih mungkin mengubah pilihan peminatannya berdasarkan rekomendasi para guru dan ketersediaan tempat duduk. Untuk MA. Struktur Kurikulum SMA/MA MATA PELAJARAN Kelompok A dan B (Wajib) C. Untuk sekolah yang mampu menyediakan layanan khusus maka setelah akhir semester pertama peserta didik masih mungkin mengubah pilihan peminatannya. Pemilihan peminatan berdasarkan nilai rapor di SMP/MTsdan/atau nilai UN SMP/MTs dan/atau rekomendasi guru BK di SMP/MTs dan/atau hasil tes penempatan (placement test) ketika mendaftar di SMA/MA dan/atau tes bakat minat oleh psikolog dan/atau rekomendasi guru BK di SMA/MA. Sejak kelas X peserta didik sudah harus memilih kelompok peminatan yang akan dimasuki.Mata Pelajaran Peminatan Akademik (SMA/MA) Jumlah Jam Pelajaran yang Harus Ditempuh per Minggu 18 42 20 44 20 44 Beban belajar di SMA/MA untuk Tahun X. Kelompok Peminatan Peminatan Matematika dan Ilmu-Ilmu Alam I 1 Matematika 2 Biologi 3 Fisika 4 Kimia Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial II 1 Geografi 2 Sejarah 3 Sosiologi 4 Ekonomi Peminatan Ilmu-Ilmu Bahasa dan Budaya III 1 Bahasa dan Sastra Indonesia 2 Bahasa dan Sastra Inggris 3 Bahasa dan Sastra Asing Lainnya 4 Antropologi Mata Pelajaran Pilihan dan Pendalaman Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat Jumlah jam pelajaran yang tersedia per minggu Jumlah jam pelajaran yang harus ditempuh per minggu Kelas XI 24 X 24 XII 24 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 6 66 42 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 76 44 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 76 44 Kelompok Peminatan terdiri atas Peminatan Matematika dan Ilmu-ilmu Alam.

Pengembangan Kurikulum 2013 pada Satuan Pendidikan Pengembangan Kurikulum 2013 dilakukan atas prinsip: a. IMPLEMENTASI 1. peserta didik mengambil Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat dengan jumlah jam pelajaran pilihan per minggu berdurasi 4 jam pelajaran yang dapat diambil dengan pilihan sebagai berikut: a. Untuk Mata Pelajaran Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat kelas X. Beban belajar ini terdiri atas Kelompok Mata Pelajaran Wajib A dan B dengan durasi 24 jam pelajaran dan Kelompok Mata Pelajaran Peminatan dengan durasi 12 jam pelajaran untuk kelas X dan 16 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. jumlah jam pelajaran pilihan per minggu berdurasi 6 jam pelajaran yang dapat diambil dengan pilihan sebagai berikut: a. Pengembangan kurikulum di jenjang satuan pendidikan dipimpin langsung oleh kepala sekolah d. 2. c. bahwa sekolah adalah satu kesatuan lembaga pendidikan dan kurikulum adalah kurikulum satuan pendidikan. dan 4 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. Pelaksanaan implementasi kurikulum di satuan pendidikan dievaluasi oleh kepala sekolah. Pemerintah bertanggungjawab dalam melakukan evaluasi pelaksanaan kurikulum secara nasional. Dua mata pelajaran di luar Kelompok Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam satu Kelompok Peminatan lainnya. bukan daftar mata pelajaran b. Guru di satu satuan pendidikan adalah satu satuan pendidik (community of educators). Pemerintah bertangungjawab dalam mempersiapkan guru dan kepala sekolah untuk melaksanakan kurikulum. Satu mata pelajaran dari masing-masing Kelompok Peminatan yang lainnya. Implementasi kurikulum adalah usaha bersama antara Pemerintah dengan pemerintah propinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota. V. Mata pelajaran Pendalaman Kelompok Peminatan yang dipilihnya. Setiap peserta didik memiliki beban belajar per semester selama 42 jam pelajaran untuk kelas X dan 44 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. Manajemen Implementasi a. Sedangkan pada kelas XI dan XII. dan/atau b. Satu mata pelajaran di luar Kelompok Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam Kelompok Peminatan lainnya. b. mengembangkan kurikulum secara bersama-sama. Matematika – SMA/MA/SMK | 90 . c. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KURIKULUM A.masing-masing mata pelajaran berdurasi 3 jampelajaran untuk kelas X. dan/atau b.

b. Pelatihan Guru. manajemen. kepemimpinan dan budaya kerja guru yang baru. .d. SMK/MAK yang belum melaksanakan kurikulum. II. VII. Untuk SD akan dipilih 30% SD dari setiap kabupaten/kota di setiap propinsi. Pemerintah propinsi bertanggungjawab dalam melakukan supervisi dan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum di propinsi terkait. seluruh guru. Pengembangan manajemen. Prinsip ini menjadi prinsip utama implementasi dimana guru. kepemimpinan.Dengan penerapan pelatihan ini maka implementasi Kurikulum tidak hanya berkenaan dengan upaya realisasi ide dan rancangan kurikulum tetapi juga pembenahan pada pelaksanaan pendidikan di satuan pendidikan. pelatihan juga berkenaan dengan tata kerja baru para guru dan kepemimpinan kepala sekolah. IV terbatas pada sejumlah SD/MI (30%). kepala sekolah dan pengawas di wilayah sekolah terkait yang akan mengimplemntasikan kurikulum adalah mereka yang sudah terlatih. kepala sekolah yang akan melaksanakan Kurikulum 2013 dan dilakukan sebelum Kurikulum 2013 diimplementasikan. dan pengembangan budaya sekolah (budaya kerja guru) terutama untuk SMA/MA dan SMK/MAK. Pada prinsipnya ketika implementasi Kurikulum 2013 memasuki tahun 2015-2016 seluruh buku babon sudah teredia di setiap sekolah.Juli 2014: Kelas I. kepala sekolah dan pengawas di seluruh Indonesia sudah mendapatkan pelatihan untuk melaksanakan kurikulum. Implementasi Kurikulum 2013 mensyaratkan penataan administrasi.Juli 2013: Kelas I. Pada tahun kedua ini. V. . Matematika – SMA/MA/SMK | 91 . penulisan dan percetakan serta distribusi buku babon akan seluruhnya selesai pada awal tahun terakhir implementasi kurikulum atau sebelumnya. Buku babon terdiri atas buku untuk peserta didik dan buku untuk guru. hanya kelas terakhir SMP/MTs. kepala sekolah dan pengawas adalah untuk guru. Sedangkan pedoman pembelajaran dan penilaian hasil belajara secara rinci tercantum dalam buku pedoman pembelajaran dan penilaian. dari tahun 2013 – 2016. Dengan demikian. SMK/MAK telah melaksanakan sepenuhnya Kurikulum 2013. IV. dan X (SMA/MA. Oleh karena itu dalam persiapan implementasi Kurikulum 2013. dan XI: tahun 2014 adalah tahun kedua implementasi. dari tahun 2013 – 2016. Pemerintah kabupaten/kota bertanggungjawab dalam memberikan bantuan profesional kepada guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan kurikulum di kabupaten/kota terkait. Pengembangan buku babon. SMA/MA. dan seluruh VII (SMP/MTs). SMA/MA. d. Pelaksanaan kurikulum di seluruh sekolah dan jenjang pendidikan yaitu: . sistem administrasi.Juli 2015: seluruh kelas dan seluruh sekolah SD/MI. SMK/MAK). Isi buku babon guru adalah sama dengan buku babon peserta didik dengan tambahan strategi pembelajaran dan penilaian hasil belajar. Seperti tahun pertama maka SD akan dipilih sebanyak 30% sehingga secara keseluruhan implementasi kurikulum pada tahun kedua sudah mencakup 60% SD di seluruh wilayah NKRI. ketika Kurikulum 2013 akan diimplementasikan pada tahun pembelajaran 2015-2016. SMP/MTs. VIII. c. Sejalan dengan strategi implementasi. Stategi Implementasi Kurikulum terdiri atas: a. dimulai dari bulan Januari – Desember 2013. e. Kepala Sekolah dan Pengawas. Pelatihan guru. X. Ini adalah tahun pertama implementasi dan dilakukan di seluruh wilayah NKRI. 3.

e. Pendampingan dalam bentuk Monitoring dan Evaluasi untuk menemukan kesulitan dan masalah implementasi dan upaya penanggulangan: Juli 2013 – 2016. Strategi implementasi Kurikulum 2013 menghindari pelatihan yang dinamakan one-shot training sebagai strategi implementasi mengingat kelemahan strategi tersebut. Pleatihan yang dilakukan untuk para guru, kepala sekolah, dan pengawas akan diikuti dengan monitoring dan evaluasi sepanjang pelaksanaan paling tidak dari tahun pertama sampai tahun ketiga implementasi. Pada akhir tahun ketiga implementasi diharapkan permasalahan yang dihadapi para pelaksana sudah tidak lagi merupakan masalah mendasar dan kurikulum sudah dapat dilaksanakan sebagaimana seharusnya. Permasalahan lapangan yang muncul adalah yang dapat diselesaikan oleh kolaborasi guru, kepala sekolah dan pengawas di bawah supervisi dinas pendidikan kabupaten/kota.

B. EVALUASI KURIKULUM Evaluasi Kurikulum dilaksanakan selama masa pengembangan ide (deliberation process), pengembangan desain dan dokumen kurikulum, dan selama masa implementasi kurikulum. Evaluasi dalam deliberation process menghasilkan penyempurnaan dalam Kompetensi Inti yang dijadikan organising element dalam mengikat Kompetensi dasar mata pelajaran. Pelaksanaan evaluasi implementasi kurikulum dilaksanakan sebagai berikut: 1. Sampai tahun pelajaran 2015-2016: untuk memperbaiki berbagai kesulitan pelaksanaan kurikulum. 2. Sampai tahun pelajaran 2016 secara menyeluruh untuk menentukan efektivitas, kelayakan, kekuatan, dan kelemahan implementasi kurikulum. Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum (implementasi kurikulum) diselenggarakan dengan tujuan untuk mengidentifikai masalah pelaksanaan kurikulum dan membantu kepala sekolah dan guru menyelesaikan masalah tersebut. Evaluasi dilakukan pada setiap satuan pendidikan dan dilaksanakan pada satuan pendidikan di wilayah kota/kabupaten secara rutin dan bergiliran. Hasil evaluasi dilakukan sebagai bahan untuk memperbaiki kelemahan kurikulum agar lebih efektif lagi di masa yang akan datang.

Matematika – SMA/MA/SMK | 92

SUBMATERI PELATIHAN : 1.2 ELEMEN PERUBAHAN KURIKULUM

Langkah Kegiatan Inti

Pemaparan oleh Instruktur dengan menggunakan PPT-1.1 dan PPT-1.2 10 Menit

Tanya Jawab

10 Menit

Pemaparan
Instruktur menyampaikan materi Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum yang mencakup: 4 standar, tematik terpadu untuk SD kls 1 dan 4, TIK merupakan sarana pembelajaran yang dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain, perubahan pendekatan pembelajaran yaitu Scientific Approach, bahasa sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge, penetapan platform untuk mata pelajaran tertentu (geografi untuk IPS, Biologi untuk IPA)dengan menggunakan PPT-1.2.

Tanya Jawab
Diskusi dan tanya jawab terkait dengan Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: d. Alasan pengembangan kurikulum. e. Identifikasi perubahan yang penting dalam kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya (struktur kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian hasil belajar). f. Manfaat adanya perubahan kurikulum. Kemudian fasilitator menyimpulkannya.

Matematika – SMA/MA/SMK | 93

Matematika – SMA/MA/SMK | 94

Matematika – SMA/MA/SMK | 95

Matematika – SMA/MA/SMK | 96

Matematika – SMA/MA/SMK | 97

Matematika – SMA/MA/SMK | 98 .

SUBMATERI PELATIHAN 1. Memberi Contoh Instruktur memberikan contoh analisis keterkaitan antara SKL. dan KD dengan menggunakan HO-1. dan KD dengan menggunakan PPT-1.3/3.2 Kerja Kelompok Peserta dibagi menjadi 5 kelompok. KD masing-masing mapel selama 1 tahun yang akan dijadikan dasar untuk membuat RPP dengan menggunakan LK 1. DAN KD Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur Memberi Contoh Analisis Keterkaitan SKL.3 Matematika – SMA/MA/SMK | 99 .3/2. KD 5 Menit Kerja Kelompok Presentasi Hasil Kelompok 10 Menit 30 Menit 15 Menit Pemaparan Instuktur memberikan materi SKL. Masing-masing kelompok mengerjakan KD yang berbeda agar peserta mendapat bahan hasil analisis semua KI dan KD selama 1 tahun kelas X. Peserta yang akan memaparkan akan ditunjuk oleh Intruktur. setiap kelompok diberi tugas menganalisis keterkaitan SKL. KI. KI. KI. KI. Sementara kelompok lainnnya memberi komentar/ tanggapan dan menilai hasil kerja kelompok lainnya. Presentasi Hasil Kerja Kelompok Masing-masing kelompok memaparkan hasil kerja kelompok.3: SKL.1/3.3.1/2. KI.

Matematika – SMA/MA/SMK | 100 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 101 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 102 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 103 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 104 .

berilmu. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR MATEMATIKA (WAJIB) SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)/MADRASAH ALIYAH (MA) KELAS: X Matematika – SMA/MA/SMK | 105 . teknologi. kenegaraan. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian. berakhlak mulia. prosedural. dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. kebangsaan. konseptual.1/3.HO-1. dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Memiliki pengetahuan faktual.3/2. Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri. seni. dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan. percaya diri.1/2.4/3.2 STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) SMA/MA/SMALB*/Paket C Aspek Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Sikap Pengetahuan Keterampilan Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman.

Matematika – SMA/MA/SMK | 106 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 107 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 108 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 109 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 110 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 111 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 112 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 113 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 114 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 115 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 116 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 117 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 118 .

KI dan KD Mata Pelajaran : Matematika Kelas : X Materi Pokok : Perbandingan Trigonometri Standar Kompetensi Lulusan Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi HO – 1. Menghayati dan yang mencerminkan mengamalkan sikap orang ajaran agama yang beriman. bekerjasama menyelesaikan Siswa menelaah hubungan perbandingan trigonometri dengan sudut pada segitiga sikusiku Siswa memecahkan masalah perbandingan trigonometri untuk sudut lebih dari atau kurang dari dengan/tanpa bimbingan guru Siswa memecahkan masalah perbandingan trigonometri untuk sudut lebih dari satu putaran Teknik Penilaian: Non tes (pengamatan) Bentuk Instrumen: Lembar pengamatan perkembangan sikap Matematika – SMA/MA/SMK | 119 . macam dan kemampuan efektif dengan tanggungjawab. responsif disiplin. dirinya sebagai santun. disiplin. dalam menempatkan toleran.CONTOH ANALISIS SKL. berakhlak dianutnya. Menghayati dan  Perbandingan 2. ukuran sudut serta bekerjasama. konsisten. dan sikap cerminan bangsa dan pro-aktif dan jujur dan bekerjasama. perbedaan solusi atas berbagai problem soving serta strategi berpikir permasalahan dalam macam dan ukuran dalam memilih berinteraksi secara sudut untuk dan menerapkan efektif dengan mengembangkan strategi lingkungan sosial toleransi.3 Aspek Sikap Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Lingkup Materi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Memiliki perilaku 1. damai). berinteraksi secara perilaku jujur.1 Memiliki jawab dalam mengamalkan trigonometri segitiga motivasi internal. percaya diri. kerjasama. untuk disiplin. toleransi dalam pergaulan menunjukkan sikap dalam dunia sebagai bagian dari  Identitas Trigonometri. dan bertanggung 2. sikap dan alam serta royong. lingkungan sosial peduli (gotong identitas trigonometri konsisten. siku-siku. mulia. mengembangkan rasa percayadiri.

kritis perilaku kritis. menalar.14 Mendeskripsikan konsep perbandingan trigonometri pada  Nilai perbandingan sisi-sisi segitiga sikusiku (perbandinga trigonometri)  Melakukan kegiatan mengamati fakta matematika. sikap dan disiplin rasa ingin tahu. konseptual.Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) dan alam serta masalah. dan menganalisis pengetahuan 3. jujur dan perilaku peduli lingkungan. serta kesadaran hak dalam menempatkan dan kewajiban diri sebagai cerminan 2. rasa ingin tahu. dari 3600 dan sudut tangguh negatif untuk mengadapi mengembangkan masalah.2 Mampu bangsa dalam mentransformasi  Fungsi Trigonometri pergaulan dunia sudut lebih dari 900 diri dalam s. mencoba dan Teknik Penilaian:  Tes tertulis terkait : perbandingan Matematika – SMA/MA/SMK | 120 . dan 3. menanya (berfikir divergen). Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual. Memahami. mengembangkan rasa percaya diri dan peduli 2. sudut lebih berpilaku jujur. 3600. dalam melakukan tugas belajar  Problem solving untuk matematika. menerapkan.3 Menunjukkan lingkungan sikap bertanggung jawab.d. prosedural.

mencoba dan membuktikan serta menyimpulkan terkait sudut berelasi (sudut di kuadrani. kuadran II. misalnya in . kebangsaan. perluasan konsep pada kordinat kartesius dalam kaitannya dengan sudut berelasi  Hubungan antar perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku  Nilai perbandingan trigonometri diperluas dengan mengaitkan kordinat  Perbandingan trigonometri di berbagai kuadran dan pemahaman  Melakukan kegiatan mengamati fakta matematika. dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian. kenegaraan. kuadran III dan kuadran IV)  Portofolio hasil kerja siswa dan catatan guru Bentuk instrumen penilaian:  Soal uraian  Portofolio Matematika – SMA/MA/SMK | 121 . kenegaraan. menalar. dan prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan.siku sebangun. konseptual. dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan. 3. teknologi. memilih dan menerapkan dalam penyelesaian Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi membuktikan dan menyimpulkan o terkait nilai perbandingan sisi segitiga siku-siku o terkait dengan perluasan nilai perbandingan trigonometri untuk sudut siku-siku.Aspek Standar Kompetensi Lulusan metakognitif dalam ilmu pengetahuan. seni. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian. menanya (berfikir divergen).16 Mendeskripsikan dan menentukan hubungan perbandingan trigonometri dari sudut di setiap kuadran. serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah Kompetensi Dasar segitiga siku-siku melalui penyelidikan dan diskusi tentang hubungan perbandingan sisi-sisi yang bersesuaian dalam beberapa segitiga siku. kebangsaan. dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. 3. budaya. teknologi. seni. Kompetensi Inti faktual.15 Menemukan sifatsifat dan hubungan antar perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku. sudut tumpul dan sudut tumpul Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) segitiga siku-siku (kuadran I) .

4 Mengolah. dan mampu menggunakan 4. (misalnya menggunakan bayangan. busur.14 Menerapkan perbandingan trigonometri dalam menyelesaikan masalah 4.17 Mendeskripsikan konsep fungsi trigonometri dan menganalisis grafik fungsinya serta menentukan hubungan nilai fungsi trigonometri dari sudut-sudut istimewa Lingkup Materi sudut berelasi  Grafik fungsi trigonometri Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri. dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri.15 Menyajikan grafik fungsi trigonometri  Penerapan perbandingan trigonometri  Melukis grafik fungsi trigonometri  Menentukan tinggi gedung dengan memanfaatkan perbandingan trigonometri dengan berbagai cara. menalar.Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti Kompetensi Dasar masalah nyata dan matematika 3. klinometer dan sebagainya)  Unjuk kerja (dengan instrumen pengamatan) Matematika – SMA/MA/SMK | 122 .

Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti metoda sesuai kaidah keilmuan Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Matematika – SMA/MA/SMK | 123 .

KI dan KD 1. KI dan KD pada Kurikulum 2013 Menganalisis keterkaitan SKL. Tentukan teknik dan instrumen penilaiannya dengan mengacu silabus mata pelajaran 8. Bacalah KD mata pelajaran matematika SMA kelas X.LEMBAR KERJA ANALISIS KETERKAITAN SKL. Tulislah aktivitas/ kegiatan belajar siswa untuk mencapai kompetensi tersebut dengan mengacu silabus mata pelajaran 7. Bacalah dan komparasikan dengan SKL Tahun 2006 (Permendiknas Th 2006). 5. dan KD matematika kelas X yang sudah disiapkan! Matematika – SMA/MA/SMK | 124 . Bacalah KI mata pelajaran matematika SMA kelas X.3 PETUNJUK KEGIATAN ANALISIS SKL. KI. Setelah selesai masukkan dalam Lembar Kerja Analisis Keterkaitan SKL. 4. KI DAN KD Kompetensi Tujuan Kegiatan Kelompok Kerja : : : Memahami keterkaitan antara SKL. Analisislah lingup materi dari setiap KD mengacu silabus mata pelajaran 6. 3. dan KD MATEMATIKA KELAS X LK – 1. 2. Bacalah substansi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tahun 2013. KI.

kerjasama. dan KD MATA PELAJARAN : MATEMATIKA KELAS :X MATERI AJAR : Domain Sikap Standar Kompetensi Lulusan Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman. konseptual.LEMBAR KERJA ANALISIS KETERKAITAN SKL. santun. menerapkan. konseptual. toleran. berilmu. KI. berakhlak mulia. dan metakognitif dalam matematika. responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Memahami . percaya diri. ilmu Matematika – SMA/MA/SMK | 125 . dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.3 Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual. Kompetensi Inti Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur. disiplin. menganalisis pengetahuan faktual. tanggungjawab. prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas/Kegiatan Belajar Siswa untuk Mencapai Kompetensi LK – 1. peduli (gotong royong. prosedural. damai).

kenegaraan. menalar. Mengolah. budaya. Kompetensi Inti pengetahuan. teknologi. teknologi. dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian. dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan. kebangsaan.Domain Standar Kompetensi Lulusan pengetahuan. kebangsaan. seni. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian. kenegaraan. serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. - Matematika – SMA/MA/SMK | 126 . seni. dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri. dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas/Kegiatan Belajar Siswa untuk Mencapai Kompetensi Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret dalam menyelesaikan masalah secara mandiri.

Matematika – SMA/MA/SMK | 127 . 2. pengawas sekolah. 3. 1. Peran guru.MATERI PELATIHAN 1. Membuat Rangkuman Instruktur merangkum semua materi pelatihan Konsep Kurikulum yang telah disampaikan selama 4 JP sebagai kegiatan penutup. Dukungan manajemen sekolah atau kultur sekolah dalam mensukseskan pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013. Dukungan dinas pendidikan kabupaten dan organisasi profesi dalam implementasi kurikulum 2013. dan guru BK. meliputi berikut ini.4: STRATEGI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur Diskusi Kelas Merangkum Hasil Diskusi Kelas Refleksi dan umpan balik untuk seluruh materi pelatihan 15 Menit 10 Menit 20 Menit 10 Menit Pemaparan Paparan oleh fasilitatortentang Strategi Implementasi Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1.4 Diskusi Kelas Mendiskusikan elemen penting dalam implementasi kurikulum 2013. kepala sekolah.

Matematika – SMA/MA/SMK | 128 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 129 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 130 .

3 2.MATERI PELATIHAN 2: ANALISIS MATERI AJAR 2.4 Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik BAGIAN Analisis Buku Guru danIII Siswa Matematika – SMA/MA/SMK | 131 .2 2.1 2.

5. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa. pendekatan belajar . 3. 6. menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. Menjelaskan konsep pendekatan scientific. Kecukupan. 6. 3. menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan seharihari. dan KD. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. Mengidentifikasi kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. 2. Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain. 7. mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. KI. KI. 5. 7. Matematika – SMA/MA/SMK | 132 . serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. 11. menguasai secara utuh materi. dan KD secara teliti dan serius. 4. struktur. 3. 4. struktur. dan Kedalaman Materi) C. 2. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran. dan memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. 2. mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran.MATERI PELATIHAN 2: ANALISIS MATERI AJAR A. Konsep Pendekatan Scientific Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. LINGKUP MATERI 1. 10. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa. dan KD. B. KI. INDIKATOR 1. Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madrasah dan menghargai pendapat orang lain. 9. Menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL. Menjelaskan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran. menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. Menjelaskan secara utuh materi. 8. Menganalisis kesesuaian proses.

ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 133 . c. b.12. 2. d. PERANGKAT PELATIHAN 1. 3. Video Pembelajaran Bahan Tayang a. 4. Konsep Pendekatan Scientific Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Lembar Kerja Dokumen Bahan Bacaan a. Konsep Pendekatan Scientific Konsep Penilaian Autentik 5. Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. D. b.

ANALISIS MATERI AJAR 12 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. antusias.3 Model-model Pembelajaran 90 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 134 . dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. kompetensi. Diskusi kelompok untuk mengkaji pendekatan scientific yang 40 Menit mengacu pada tayangan video.1. dan Laser Pointer. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. alokasi waktu. 2. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 2.1 Konsep Pendekatan Scientific 90 Menit Penayangan Video pembelajaran Matematika dengan menggunakan 20 Menit V-2. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama.2. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Analisis Materi Ajar.1-1 dan contoh-contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika dengan mengacu pada HO-2. atau media pembelajaran lainnya. seperti LCD Projector.2-1 dan Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Matematika dengan menggunakan PPT-2. indikator. tujuan. Fasilitator memotivasi peserta agar serius.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 2. File.1-2. Laptop. teliti. Diskusi kelompok tentang konsep pendekatan scientific dengan 30 Menit menggunakan HO-2.1/4. Active Speaker.dilanjutkan dengan paparan materi oleh fasilitator tentang Konsep Pendekatan Scientific dengan menggunakan PPT-2.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.

Problem Based Learning. Kerja kelompok untuk mengidentifikasi penerapan Pendekatan Scientific pada tiga model pembelajaran. Presentasi hasil diskusi kelompok 25 Menit Paparan materi tentang Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan 15 Menit Hasil Belajar dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.41 dan LK -2.Mengamati tayangan tiga jenis model pembelajaran (Project Based Learning. Diskusi tentang konsep penilaian autentik pada proses dan hasil 30 Menit belajar. dan kedalaman materi.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian.3 dan Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika menggunakan bahan tayang PPT-2. Diskusi kelompok hasil penilaian buku dilanjutkan dengan 30 Menit pemaparan materi tentang Analisis Buku Guru dan Buku Siswa dengan menggunakan PPT-2.3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran 20 menit 30 menit 40 menit 90 Menit Kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan 15 Menit bentuk penilaian autentik.2/3.3 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Kerja kelompok untuk menganalisis kesesuaian buku guru dan buku 60 Menit siswa dengan tuntutan SKL. ICE BREAKER 5 Menit 5 Menit 240 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 135 . dan KD dengan menggunakan LK-2. kecukupan. dan Discovery Learning). ICE BREAKER 2.4-2. Menerapkan Focus Group Discussion untuk mengidentifikasi karakteristik tiga model pembelajaran. Menyimpulkan hasil diskusi dan menyampaikan format lembar 15 Menit kerja yang telah disiapkan. KI. Kecukupan.2. 2. dan Kedalaman Materi) Menilai buku dilakukan oleh peserta dengan bimbingan fasilitator 20 Menit dilihat dari aspek kesesuaian.

Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan. 30 Menit pendekatan scientific. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Analisis materi Ajar. Presentasi hasil kerja kelompok. Fasilitator menutup pembelajaran 30 Menit 20 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 136 . Menyimpulkan materi analisis buku oleh fasilitator.Diskusi kelompok untuk menganalisis kesesuaian proses. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. Kerja kelompok untuk membuat contoh-contoh penerapan materi 30 Menit pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari.

2-2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi. tugas diskusi kelompok sebagai berikut. kelompok lain dapat dijadikan pembahas dan penanya. 1. 3. Paparan Materi Fasilitator menyampaikan Konsep Pendekatan Scientific dengan menggunakan PPT-2. Mengidentifikasi konsep pendekatan scientific yang disampaikan pada tayangan video. Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok. Matematika – SMA/MA/SMK | 137 . KD yang ditetapkan adalah KD semester 1. 2.1 dan Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2. Membuat contoh pembelajaran salah satu KD dengan menggunakan pendekatan scientific. 3. Diskusi Kelompok Diskusi kelompok Contoh-contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran. Membuat urutan aktivitas pada pendekatan scientific.Materi Pelatihan 2.1: Konsep Pendekatan Scientific Langkah Kegiatan Inti Diskusi Kelompok Contohcontoh Pendekatan Scientific dan Penerapannya 45 Menit Diskusi Kelompok Pendekatan Scientific 45 Menit Diskusi Kelompok 1.2. Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya. Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok 1. Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok. 2. Mengkaji pendekatan scientific yang mengacu pada tayangan video. 2.

Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok 1. Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya. kelompok lain dapat dijadikan pembahas dan penanya. Matematika – SMA/MA/SMK | 138 . 2. 3. Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok. Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok.

Matematika – SMA/MA/SMK | 139 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 140 .

menganalisis. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah. B. Pada pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah. mengolah informasi atau data. atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Pendekatan Ilmiah dan Non-ilmiah dalam Pembelajaran Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradidional. metode ilmiah umumnya memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen. kemudian memformulasi. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada pembelajaran tradisional. retensi informasi dari guru sebesar 10 persensetelah 15 menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25 persen. penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. keterampilan.HO-2. penalaran induktif menempatkan buktibukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas.Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap. dan menguji hipotesis. memperoleh pengetahuan baru. retensi informasi dari guru sebesar lebih dari 90 persen setelah dua hari dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 50-70 persen.1-1 PENDEKATAN ILMIAH DALAM PEMBELAJARAN A. Matematika – SMA/MA/SMK | 141 . Esensi Pendekatan Ilmiah Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah. Sebaliknya. empiris. Karena itu Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. dan pengetahuan peserta didik.Karena itu. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum. dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Untuk dapat disebut ilmiah. metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi. para ilmuan lebih mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning)ketimbang penalaran deduktif (deductivereasoning). Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala. Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. Sejatinya.

Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan. memecahkan masalah. atau dongeng semata. Dengan demikian. khayalan. prinsip-prinsip.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami. penemuan melalui coba-coba. Intuisi sering dimaknai sebagai kecakapan praktis yang kemunculannya bersifat irasional dan individual. proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai. dan asal berpikir kritis. Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai non-ilmiah yang meliputiintuisi. akal sehat. kesamaan.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis.prasangka. dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran. pengetahuan. jelas. penemuan. analitis. dan keterampilan secara cepat dan berjalan dengan sendirinya.   Berbasis pada konsep. menerapkan. dan menarik sistem penyajiannya. Istilah ini sering juga dipahami sebagai penilaian terhadap sikap. bukan sebatas kira-kira. dan tepat dalam mengidentifikasi.  Penjelasan guru. intuisi sama sekali menafikan dimensi alur pikir yang sistemik. pemikiran subjektif. Intuisi juga bermakna kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki oleh seseorang atas dasar pengalaman dan kecakapannya. dan fakta empiris yang dapatdipertanggung-jawabkan. penalaran. dan penjelasan tentang suatu kebenaran. dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta. Namun demikian. atau kriteria ilmiah. memahami. legenda. Kemampuan intuitif itu biasanya didapat secara cepat tanpa melalui proses panjang dan tanpa disadari. teori. respon peserta didik. dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran. Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini. Matematika – SMA/MA/SMK | 142 .  Substansi atau materipembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu.Proses pembelajaran dengan berbasis pendekatan ilmiah harus dipandu dengan kaida-kaidah pendekatan ilmiah.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan. atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis. pengabsahan. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana. dan tautan satu dengan yang lain dari substansi atau materi pembelajaran.  Intuisi.

Kamampuan berpikir kritis itu ada pada semua orang. jika guru dan peserta didik hanya sematamata menggunakan akal sehat dapat pula menyesatkanmereka dalam proses dan pencapaian tujuan pembelajaran. Tentu saja. keterampilan.  Penemuan coba-coba. Secara akademik diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang bependidikan tinggi. jika diolah secara baik. Misalnya. Sebaliknya akan berubah menjadi prasangka buruk atau sikap tidak percaya. Berpikir skeptis atau prasangka itu memang penting. dan tidak bersistematika baku. harus diserta dengan pencatatan atas setiap tindakan. Peserta didik pun melihat lambang tombol yang menyebabkan komputer laptop itu menyala dan mengulangi lagi tindakannya.  Prasangka. dan pengetahuan yang diperoleh semata-mata atas dasar akal sehat (comon sense) umumnya sangat kuat dipandu kepentingan seseorang (guru. Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat selama proses pembelajaran. Orang seperti ini biasanya pemikirannya dipercaya benar oleh banyak orang. peserta didik. Ketika akal sehat terlalu kuat didomplengi kepentingan pelakunya. sampai dengan menemukan kepastian jawaban. tindakan coba-coba itu ada manfaatnya bahkanmampu mendorong kreatifitas. kalau memang tindakan coba-coba ini akan dilakukan. Akal sehat. karena memang hal itu dapat menunjukan ranah sikap.Sikap. Namun demikian.Karena itu.  Berpikir kritis. Hal inilah yang menyebabkan penggunaan akal sehat berubah menjadi prasangka atau pemikiran skeptis. keterampilan dan pengetahuan yang ditemukan dengan caracoba-coba selalu bersifat tidak terkontrol. dan sejenisnya) yang menjadi pelakunya. seorang peserta didik mencoba meraba-raba tombol-tombol sebuah komputer laptop. Namun demikian. Tentu saja hasil pemikirannya itu Matematika – SMA/MA/SMK | 143 . tidak memiliki kepastian. seringkali mereka menjeneralisasi hal-hal khusus menjadi terlalu luas. dan pengetahuan yang benar. keterampilan. hingga dia sampai pada kepastian jawaban atas tombol dengan lambang seperti apa yang bisa memastikan bahwa komputer laptop itu bisa menyala.Tindakan atau aksi coba-coba seringkali melahirkan wujud atau temuan yang bermakna. jika diwarnai oleh kepentingan subjektif guru dan peserta didik. tiba-tiba dia kaget komputer laptop itu menyala. khususnya mereka yang normal hingga jenius.

C. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran. keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah. ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘mengapa’. yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. dan keterampilan. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘apa’. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggali informasi melaui pengamatan. karena bukan berdasarkan hasil esperimen yang valid dan reliabel. karena pendapatnya itu hanya didasari atas pikiran yang logis semata.tidak semuanya benar. dan pengetahuan.Hasil akhirnya adalahpeningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik(soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills)dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap. Matematika – SMA/MA/SMK | 144 . bertanya. pengetahuan. Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Ilmiah Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘bagaimana’. yaitu sikap.

Untuk mata pelajaran. Pada kondisi seperti ini. peserta didiksama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku. dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran. Matematika – SMA/MA/SMK | 145 . seperti menyajikan media obyek secara nyata. guru harus memahami bentuk keterlibatan peserta didik dalam observasi tersebut. Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. peserta didik merupakan subjek yang sepenuhnya melakukan observasi (complete observer). Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut ini. materi. berbeda dengan observasi biasa. kemudian menyimpulkan. Dalam kaitan ini. Namun demikian.  Observasi biasa (common observation). Pendekatan ilmiah pembelajaran disajikan berikut ini. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang. objek. baik primer maupun sekunder  Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi  Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar  Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi . video perekam.percobaan. seperti menggunakan buku catatan. Mengamati Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). menalar. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. atau situasi yang diamati. pada observasi terkendalipelaku atau objek yang diamati ditempatkan pada ruang atau situasi yang dikhususkan. Metode ini memiliki keunggulan tertentu. dan mencipta.  Observasi terkendali (controlled observation). kemudian mengolah data atau informasi. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru.  Menentukan objek apa yang akan diobservasi  Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi  Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diobservasi. tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. atau situasi yang diamati. kamera. Pada observasi biasa untuk kepentingan pembelajaran. dan alat-alat tulis lainnya. Seperti halnya observasi biasa. menyajikan data atau informasi. sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. atau situasi tertentu. objek.Merepa juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan pelaku. dilanjutkan dengan menganalisis. biaya dan tenaga relatif banyak. Di sini peserta didik sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku. Kegiatan observasi dalam proses pembelajaran meniscayakan keterlibatan peserta didik secara langsung. 1. peserta didik senang dan tertantang. dan mudah pelaksanaannya. tape recorder. atau situasi yang diamati. objek. padaobservasi terkendali untuk kepentingan pembelajaran.

Di bidang pengajaran bahasa. seperti dijelaskan berikut ini. Skala rentang . catatan anekdotal (anecdotal record). objektif. atau faktor. atau mengingat dalam memori secara spontan atas subjek. peserta didik melibatkan diri secara langsung dengan pelaku atau objek yang diamati. skala rentang (rating scale). komunitas. dapat berupa daftar cek (checklist). Kedua cara pelibatan dimaksud yaitu observasi berstruktur dan observasi tidak berstruktur. Pada observasi yang tidak berstruktur dalam rangka proses pembelajaran. termasuk melibakan diri secara langsung dalam situasi kehidupan mereka. objek. misalnya. Pada observasi berstruktur dalam rangka proses pembelajaran. alat atau instrumen yang digunakan dalam melakukan observasi. dengan menggunakan pendekatan ini berarti peserta didik hadir dan “bermukim” langsung di tempat subjek atau komunitas tertentu dan pada waktu tertentu pula untuk mempelajari bahasa atau dialek setempat. Alat mekanikalberupa alat mekanik yang dapat dipakai untuk memotret atau merekam peristiwa-peristiwa tertentu yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi. Praktik observasi dalam pembelajaran hanya akan efektif jika peserta didik dan guru melengkapi diri dengan dengan alat-alat pencatatan dan alat-alat lain. berupa alat untuk mencatat gejala atau fenomena menurut tingkatannya.faktor yang akan diobservasi. rekaman. objektif. Observasi semacam ini mengharuskan peserta didik melibatkan diri pada pelaku.  Cermat.  Observasiberstruktur. fenomena subjek. (2) film atau video. Matematika – SMA/MA/SMK | 146 .  Observasitidak berstruktur. Selama proses pembelajaran. atau situasi yang diobservasi.  Observasipartisipatif (participant observation). Dalam kerangka ini. (1) kamera. seperti: (1) tape recorder. Sejatinya. Pada observasipartisipatif. dan jujur serta terfokus pada objek yang diobservasi untuk kepentingan pembelajaran. untuk merekam pembicaraan. dan alat mekanikal (mechanical device). Secara lebih luas. dan (3) alat-alat lain sesuai dengan keperluan. atau objek yang diamati. observasi semacam ini paling lazim dilakukan dalam penelitian antropologi khususnya etnografi. peserta didik membuat catatan. objek.Karena itu. untuk merekam objek atau kegiatan secara visual. Catatan anekdotalberupa catatan yang dibuat oleh peserta didik dan guru mengenai kelakuan-kelakuan luar biasa yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi. atau situasi apa yang ingin diobservasi oleh peserta didik telah direncanakan oleh secara sistematis di bawah bimbingan guru. pada pembelajaran dengan observasi terkendali termuat nilai-nilai percobaan atau eksperimen atas diri pelaku atau objek yang diobservasi. tidak ditentukan secara baku atau rijid mengenai apa yang harus diobservasi oleh peserta didik. untuk merekam kegiatan objek atau secara audio-visual. Daftar cek dapat berupa suatu daftar yang berisikan nama-nama subjek. catatan berkala. Prinsip-rinsip yang harus diperhatikan oleh guru dan peserta didik selama observasi pembelajaran disajikan berikut ini. peserta didik dapat melakukan observasi dengan dua cara pelibatan diri.

dan perhatian peserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran. Kriteria pertanyaan yang baik  Singkat dan jelas. atau situasi yang diobservasi. keterampilan. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”.  Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya. objek. melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan. dan menggunakan bahasa yang baik dan benar. dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan. atau situasi yang diobservasi. misalnya: Sebutkan ciri-ciri kalimay efektif!  a. guru dan peserta didik sebaiknya menentukan dan menyepakati cara dan prosedur pengamatan. Makin banyak dan hiterogensubjek. Matematika – SMA/MA/SMK | 147 .  Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap. pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal. mengembangkan kemampuan berpikir. Bentuk pertanyaan. Menanya Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap. makin sulit kegiatan obervasi itu dilakukan. direkam. serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri.  Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat.  Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain. Fungsi bertanya  Membangkitkan rasa ingin tahu. misalnya: Apakah ciri-ciri kalimat yang efektif? Bentuk pernyataan.  Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan. Pada saat guru bertanya. sistematis.  Mendorong partisipasipeserta didik dalam berdiskusi. ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.  Guru dan peserta didik perlu memahami apa yang hendak dicatat. dan pengetahuannya. Sebelum obsevasi dilaksanakan. serta bagaimana membuat catatan atas perolehan observasi. objek.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar. dan memberi jawaban secara logis.2. minat. keterampilan. serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul. b. memperkaya kosa kata. mengajukan pertanyaan. serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok. dan menarik simpulan.  Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara. berargumen. pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. Banyak atau sedikit serta homogenitas atau hiterogenitas subjek. dan sejenisnya. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya. Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyara.

Pertanyaan dapat diajukan dengan cara meminta kepada peserta didik yang berbeda untuk menjawab pertanyaan yang sama. Jawaban atas pertanyaan itu dimaksudkan untuk memvalidsi atau melakukan penguatan atas jawaban peserta didik sebelumnya. peserta didik yang keenam dan seterusnya. kelangkaan sumber daya alam.  Menginspirasi jawaban. namun sifatnya menguatkan. Pertanyaan yang luas seperti di atas dapat dipersempit. Peserta didik pertama hingga kelima misalnya menjawab: kebodohan. misalnya: Mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan? Pertanyaan seperti ini dimintakan jawabannya kepada peserta didik secara perorangan.  Bersifat probing atau divergen.  Memiliki fokus. Ketika beberapa orang peserta didik telah memberikan jawaban yang sama. Contoh: (1) Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar. Contoh: Membangun semangat kerukunan umat beragama itu sangat penting pada bangsa yang multiagama. yang kemungkinan memiliki bobot kebenaran yang sama. Jika masih tersedia alternatif jawaban lain. jika suatu bangsa gagal membangun kerukunan umat beragama?Dua kalimat yang mengawali pertanyaan di muka merupakan contoh yang diberikan guru untuk menginspirasi jawaban peserta menjawab pertanyaan.Contoh: (1) Seberapa jauh pemahaman Anda mengenai faktor-faktor yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? (2) Faktor-faktor apakah yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? Pertanyaan kedua lebih singkat dan lebih jelas dibandingkan dengan pertanyaan pertama. sebaiknya guru menghentikan pertanyaan itu atau meminta mereka memunculkan jawaban yang lain yang berbeda. bisa dimintai jawaban. Contoh: Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kemiskinan? Untuk pertanyaan seperti ini sebaiknya masing-masing peserta didik diminta memunculkan satu jawaban. tidak memiliki modal usaha. Sebaliknya.  Bersifat validatif atau penguatan. Contoh: o o Guru: “mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan”? Peserta didik I: “karena orang yang malas lebih banyak diam ketimbang bekerja. pertanyaan kedua menuntut jawaban yang bervariasi urutan jawaban dan penjelasannya. Jika suatu bangsa gagal membangun semangat kerukukan beragama. apakah peserta didik harus rajin belajar?(2) Mengapa peserta didik yang sangat malas belajar cenderung menjadi putus sekolah? Pertanyaan pertama cukup dijawab oleh peserta didik dengan Ya atau Tidak.” Matematika – SMA/MA/SMK | 148 . akan muncul aneka persoalan sosial kemasyarakatan. kemalasan. dan keterisolasian geografis. Coba jelaskan dampak sosial apa saja yang muncul.

guru memberikan kesempatan kepada peserta didik mendiskusikan jawabannya. Jika dengan pertanyaan tertentu tidak ada peserta didik yang bisa menjawah dengan baik. c. mengapa. Tingkatan Pertanyaan Pertanyaan guru yang baik dan benar menginspirasi peserta didik untuk memberikan jawaban yang baik dan benar pula. Pola bertanya seperti ini memposisikan guru sebagai wahana pemantul.  Merangsang proses interaksi. mulai dari yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi. ada baiknya dia mengubah pertanyaan seperti pertanyaan kedua. seperti dari sekadar mengingat fakta ke pertanyaan yang menggugah kemampuan kognitif yang lebih tinggi. Guru mengemas atau mengubah pertanyaan yang menuntut jawaban dengan tingkat kognitif rendah ke makin tinggi. seperti: apa. Pertanyaan guru yang baik mendorong munculnya interaksi dan suasana menyenangkan pada diri peserta didik. dan seterusnya. dan evaluasi. Misalnya: (1) Apa faktor picu utama Belanda menjajah Indonesia?. Untuk menjawab pertanyaan dari guru. guru hendaknya menunggu beberapa saat sebelum meminta atau menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan itu. sehingga menggambarkan tingkatan kognitif seperti apa yang akan disentuh. peserta didik memerlukan waktu yang cukup untuk memikirkan jawabannya dan memverbalkannya dengan kata-kata. seperti pemahaman. Setelah itu. guru memberi kesempatan kepada seorang atau beberapa orang peserta didik diminta menyampaikan jawaban atas pertanyaan tersebut.o o o o Guru: “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?” Peserta didik II: “karena lebih banyak diam ketimbang bekerja. Guru harus memahami kualitas pertanyaan. orang yang malas tidak produktif” Guru : “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?” Peserta didik III: “orang malas tidak bertindak aktif. analisis. Pertanyaan guru yang baik membuka peluang peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang makin meningkat. karena itu dia tidak produktif. sangat dianjurkan guru mengubah pertanyaannya. Karena itu. Matematika – SMA/MA/SMK | 149 . sehingga kehilangan waktu terlalu banyak untuk bekerja. Bobot pertanyaan yang menggambarkan tingkatan kognitif yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi disajikan berikut ini. setelah mengajukan pertanyaan. bagaimana. sintesis. sesuai dengan tuntunan tingkat kognitifnya.”  Memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang. penerapan. (2) Apa motif utama Belanda menjajah Indonesia? Jika dengan pertanyaan pertama guru belum memperoleh jawaban yang memuaskan.Dalam kaitan ini. Kata-kata kunci pertanyaan ini. setelah menyampaikan pertanyaan.  Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif.

.. Tunjukkanlah.. Bandingkan... Demonstrasikanlah.. Di mana... Tulislah… Bagaimana kita dapat memecahkan…  Apa yang terjadi seaindainya…  Bagaimana kita dapat memperbaiki…  Kembangkan… Matematika – SMA/MA/SMK | 150 . Jodohkan atau pasangkan.. Terangkahlah. Tulislah contoh... Dll. Analisislah.. Buatlah. Simpulkan... Sebutkan.......... Ubahlah.. Persamaan kata... Gunakanlah.. Golongkan.... Kapan.....Tingkatan Subtingkatan Kognitif  Pengetahuan yang (knowledge) lebih rendah Kata-kata kunci pertanyaan                                       Apa..... Klasifikasikanlah. Siapa... Berikanlah interpretasi..... Siapkanlah. Kemukakan bukti-bukti… Mengapa… Identifikasikan… Tunjukkanlah sebabnya… Berilah alasan-alasan…  Pemahaman (comprehension)  Penerapan (application Kognitif  Analisis (analysis) yang lebih tinggi  Sintesis (synthesis) Ramalkanlah… Bentuk… Ciptakanlah… Susunlah… Rancanglah.... Terjemahkanlah. Bedakanlah.... Carilah hubungan. Berilah nama...

prinsip dasar proses pembelajaran yang dianut oleh Thorndike adalah asosiasi. meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. proses pembelajaran. Menurut Thorndike. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah. Dari persepektif psikologi. Menurut teori asosiasi. bukan merupakan terjemanan dari reasonsing. meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating. Matematika – SMA/MA/SMK | 151 . efek dari reward (akibat yang menyenangkan) jauh lebih besar dalam memperkuat perilaku peserta didik dibandingkan efek punishment (akibat yang tidak menyenangkan) dalam memperlemah perilakunya. asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu. yang juga dikenal dengan teori Stimulus-Respon (S-R). Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas faktakata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. jika akibat hubungan S-R dirasa tidak menyenangkan. lebih khusus lagi proses belajar peserta didik terjadi secara perlahan atau inkremental/bertahap. Thorndike mengemukakan berapa hukum dalam proses pembelajaran. proses pembelajaran pembelajaran akan berhasil secara efektif jika terjadi interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik. pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. maka perilaku peserta didik akan mengalami penguatan. Karena itu. Menalar a. yang kemudian dikenal dengan teori asosiasi.  Hukum efek (The Law of Effect). Jika akibat dari hubungan S-R itu dirasa menyenangkan. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Pola ineraksi itu dilakukan melalui stimulus dan respons (S-R). Menurut Thorndike. bukan secara tibatiba. istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar. Evaluasi (evaluation)  Berilah pendapat…  Alternatif mana yang lebih baik…  Setujukah anda…  Kritiklah…  Berilah alasan…  Nilailah…  Bandingkan…  Bedakanlah… 3. Sebaliknya. Esensi Menalar Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. maka perilaku peserta didik akan melemah. Jadi. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Teori ini dikembangan kerdasarkan hasil eksperimen Thorndike. di mana intensitas hubungan antara stimulus (S) dan respon (R) selama proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh konsekuensi dari hubungan yang terjadi. Ini bermakna bahwa reward akan meningkatkan perilaku peserta didik. tetapi punishment belum tentu akan mengurangi atau menghilangkan perilakunya.

perilaku dapat dibentuk dengan menggunakan penguatan (reinforcement). Awalnya. proses pembelajaran akan makin efektif jika peserta didik makin giat belajar.  Kedua. Dengan begitu. Pelaziman operan adalah bentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi. maka mereka akan merasa puas.  Oleh karena tidak semua perilaku belajar atau pembelajaran dapat dijelaskan dengan pelaziman sebagaimana dikembangkan oleh Ivan Pavlov. yaitu hubungan antara S-R akan semakin melemah jika tidak dilatih atau dilakukan berulang-ulang. anggota masyarakat.  Pertama. Hukum latihan (The Law of Exercise). Law of Disuse. pada prinsipnya apakah sesuatu itu akan menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk dipelajari tergantung pada kesiapan belajar individunya. dimana peserta didik belajar dengan cara meniru perilaku orang lain (guru. teman. tetapi yang terpenting adalah individu menyadari konsekuensi perilakunya.  Pengaruh (effect). yang setelah tahun 1930 dinyatakan dicabut oleh Thorndike. teori ini terkesan mengenyampingkan peranan minat. teori asosiasi biasanya menambahkan teori belajar sosial (social learning) yang dikembangkan oleh Bandura. Kedua. Hubungan yang intensif dan berulang-ulang antara S dengan R akan meningkatkan kualitas ranah sikap. hukum ini terdiri dari duajenis. Merujuk pada teori S-R. meliputi fase memberi perhatian terhadap model (attentional). Kemampuan peserta didik dalam meniru respons menjadi pengungkit utama aktivitas belajarnya. Latihan merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara berulang oleh peserta didik. berarti makin tinggi pula kemampuannya dalam menghubungkan S dengan R. kreativitas. Ada empat konsep dasar teori belajar sosial (social learning theory) dari Bandura. Memang. memberi penghargaan. dan pengetahuan peserta didik sebagai hasil belajarnya. Kaidah dasar yang digunakan dalam teori S-R adalah:  Kesiapan (readiness).F. Menurut Bandura. dan ganjaran. Manfaat hasil belajar yang diperoleh oleh peserta didik dirasakan langsung oleh mereka dalam dalam dunia kehidupannya. Sejalan dengan itu. Karenanya. belajar terjadi karena proses peniruan (imitation). Hukum kesiapan (The Law of Readiness). mengendapkan hasil memperhatikan model dalam pikiran pebelajar (retention). celaan. Karena dia menyadari bahwa latihan saja tidak dapat memperkuat atau membentuk perilaku. dan lain-lain) dan pengalaman vicarious yaitu belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain itu. pemodelan (modelling).Menurut Thorndike. Pengulangan ini memungkinkan hubungan antara S dengan R makin intensif dan ekstensif. segala sumber daya pembelajaran pun perlu disiapkan secara baik dan saksama. latihan berulang tetap dapat diberikan. keterampilan. Kesiapan itu harus ada pada diri guru dan peserta didik. jika pesert didik dalam keadaan tidak siap dan belajar terpaksa dilakukan. dan apirasi peserta didik. Kaidah atau prinsip “pengaruh” dalam pembelajaran berkaitan dengan kemamouan guru menciptakan suasana. hal ini bermakna bahwa jika peserta dalam keadaan siap dan belajar dilakukan. Guru harus benar-benar siap mengajar dan peserta didik benar-benar siap menerima pelajaran dari gurunya. Pertama. Sebaliknya. Prinsip-prinsip dasar dari Thorndike kemudian diperluas oleh B. Matematika – SMA/MA/SMK | 152  . Teori S – S ini memang terkesan robotik. fase belajar.  Latihan (exercise). hukuman. maka mereka akan merasa tidak puas bahkan mengalami frustrasi. Law of Use yaitu hubungan antara S-R akan semakin kuat jika sering digunakan atau berulang-ulang. Dalam proses pembelajaran. Kesiapan diidentifikasi berkaitan langsung dengan motivasi peserta didik. Menurut Thorndike. Skinner dalam Operant Conditioning atau pelaziman/pengkondisian operan.

Penalaran induktif merupakan cara menalardengan menarik simpulan dari fenomena atau atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum.  Bahan pembelajaran disusun secara berjenjang atau hierarkis. Teori asosiasi ini sangat efektif menjadi landasan menanamkan sikap ilmiah dan motivasi pada peserta didik berkenaan dengan nilai-nilai instrinsik dari pembelajaran partisipatif. silogisme hipotesis. dan motivasi (motivation) ketika peserta didik berkeinginan mengulang-ulang perilaku model yang mendatangkan konsekuensi-konsekuensi positif dari lingkungan.  Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang nyata atau otentik.  Guru menyusun bahan pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap sesuai dengan tuntutan kurikulum. pengaturan-diri (self-regulation). dimana peserta didik belajar dengan melihat apakah orang lain diberi ganjaran atau hukuman selama terlibat dalam perilaku-perilaku tertentu.  Ketiga. yaitu langsung dan tidak langsung. Bagaimana aplikasinya dalam proses pembelajaran? Aplikasi pengembangan aktivitas pembelajaran untuk meningkatkan daya menalar peserta didik dapat dilakukan dengan cara berikut ini.  Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah.Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik. Dengan cara ini peserta didik akan melakukan peniruan terhadap apa yang nyata diobservasinya dari kinerja guru dan temannya di kelas.  Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati  Seriap kesalahan harus segera dikoreksi atau diperbaiki  Perlu dilakukan pengulangan dan latihan agar perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan atau pelaziman. Pada penalaran deduktif tedapat premis. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus.menampilkan ulang perilaku model oleh pebelajar (reproduction). Contoh:  Singa binatang berdaun telinga. Simpulan Matematika – SMA/MA/SMK | 153 . b. Ada tiga jenis silogisme. dimana peserta didik mengamati.  Guru mencatat semua kemajuan peserta didik untuk kemungkinan memberikan tindakan pembelajaran perbaikan. berkembangbiak dengan cara melahirkan  Ikan Paus binatang berdaun telinga berkembangbiak dengan melahirkan  Simpulan: Semua binatang yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataanpernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. mempertimbangkan. memberi ganjaran atau hukuman terhadap perilakunya sendiri.  Keempat. Pola penalaran deduktif dikenal dengan pola silogisme. menalar secara induktif adalah proses penarikan simpulan dari kasus-kasus yang bersifat nyata secara individual atau spesifik menjadi simpulan yang bersifat umum. berkembangbiak dengan cara melahirkan  Harimau binatang berdaun telinga. belajar vicarious. Cara menalar Seperti telah dijelaskan di muka. Tugas utama guru adalah memberi instruksi singkat tapi jelas dengan disertai contoh-contoh. yaitu silogisme kategorial. yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. baik dilakukan sendiri maupun dengan cara simulasi. Penarikan simpulan dapat dilakukan melalui dua cara. dimulai dari yang sederhana (persyaratan rendah) sampai pada yang kompleks (persyaratan tinggi). sebagai proposisi menarik simpulan. terdapat dua cara menalar. silogisme alternatif. Jadi.

yaitu analogi induktif dan analogi deduktif. Untuk itu dia harus belajar lebih tekun lagi. Analogi induktif merupakan suatu ‘metode menalar’yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu simpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua fenomena atau gejala khusus yang diperbandingkan. khususnya hubungan sebab-akibat. Atas dasar persamaan dua gejala atau fenomena itu ditarik simpulan bahwa apa yang ada pada fenomena atau gejala pertama terjadi juga pada fenomena atau gejala kedua. analogi terdiri dari dua jenis. Berpikir analogis sangat penting dalam pembelajaran. Penalaran induksi sebab akibat terdiri dri tiga jenis. karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik.secara langsung ditarik dari satu premis. Seperti halnya penalaran. Analogi dalam Pembelajaran Selama proses pembelajaran. Penalaran sebab-akibat ini masuk dalam ranah penalaran induktif. staf tatalaksana. guru. pengurus organisasi peserta didik intra sekolah. Analogi deklaratif merupakan suatu‘metode menalar’untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu fenomena atau gejala yang belum dikenal atau masih samar. Kedua analogi itu dijelaskan berikut ini. Dengan demikian. Hubungan sebab-akibat diambil dengan menghubungkan satu atau beberapa fakta yang satu dengan datu atau beberapa fakta yang lain. yang disebut dengan penalaran induktif sebab-akibat. Seperti halnya kegiatan belajar. kemampuan menghubungkan antarfenomena atau gejala sangat penting dalam proses pembelajaran. Di sinilah esensi bahwa guru dan peserta didik dituntut mampu memaknai hubungan antarfenonena atau gejala. Contoh: Kegiatan kepeserta didikan akan berjalan baik jika terjadi sinergitas kerja antara kepala sekolah. untuk mewujudkan hasil yang baik diperlukan sinergitas antara ranah sikap. guru dan pesert didik sering kali menemukan fenomena yang bersifat analog atau memiliki persamaan. Analogi induktifdisusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena atau gejala. Analogi adalah suatu proses penalaran dalam pembelajaran dengan cara membandingkan sifat esensial yang mempunyai kesamaan atau persamaan. dengan sesuatu yang sudah dikenal. Dia lulus seleksi Olimpiade Sains Tingkat Nasional tahun ini. tahun ini juga.Suatu simpulan yang menjadi sebab dari satu atau beberapa fakta itu atau dapat juga menjadi akibat dari satuatau beberapa fakta tersebut. karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik. Hubungan Antarfenonena Seperti halnya penalaran dan analogi. atau gejala menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah dketahui secara nyata dan dipercayai.Peserta didik Pulan akan mengikuti kompetisi pada Olimpiade Sains Tingkat Internasional. Contoh: Peserta didik Pulan merupakan pebelajar yang tekun. guru dan peserta didik adakalamua menalar secara analogis. dan pengetahuan. Matematika – SMA/MA/SMK | 154 .  Simpulan: semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk beroperasi. Dengan demikian. keterampilan.sedangkan simpulan tidak langsung ditarik dari dua premis. fenomena.Analogi deklaratif ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru. dan peserta didik. Contoh :  Kamera adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi  Telepon genggam adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperas.

(5) mencatat fenomena yang terjadi. hal-hal yang menjadi sebab dikemukakan terlebih dahulu. angka putus sekolah.(6) menarik simpulan atas hasil percobaan. Kemiskinan keluarga yang akut menyebabkan anak-anak mereka tidak berkesempatan menempuh pendidikan yang baik. Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka: (1) Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan murid (2) Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan (3) Perlu memperhitungkan tempat dan waktu (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid (5) Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen (6) Membagi kertas kerja kepada murid (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru. menganalisis. suatu penyebab dapat menimbulkan serangkaian akibat. Pada mata pelajaran IPA. yaitu sikap.  Hubungan sebab–akibat 1 – akibat 2. dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya. hidupnya terisolasi. kemudian ditarik simpulan yang berupa akibat. Pada penalaran hubungan sebab-akibat. dan tidak putus asa adalah faktor pengungkit yang bisa membuat kita mencapai puncak kesuksesan. 4. sehingga menimbulkan akibat kedua. penyalahgunaan Nakoba di kalangan generasi muda. Pada penalaran hubungan sbab-akibat 1 –akibat 2. berdoa. yang disebabkan oleh pengabaian orang tua dan ketidaan keteladanan tokoh masyarakat. Contoh : Akhir-ahir ini sangat marak kenakalan remaja. dan pengetahuan. Contoh: Masyarakat yang tinggal di daerah terpencil. serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. belajar tekun. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar. Keterisolasian itu menyebabkan mereka kehilangan akses untuk melakukan aktivitas ekonomi. (2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan. terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Mencoba Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik. Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar. keterampilan.peserta didik harus memahami konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. hal-hal yang menjadi akibat dikemukakan terlebih dahulu.Hubungan sebab–akibat. Dampak lanjutannya. dan (7)membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan. bukan tidak mungkin terjadi kemiskinan yang terus berlangsung secara siklikal. Pada penalaran hubungan akibat-sebab. Akibat yang pertama menjadi penyebab. sehingga mengalami dekandensi moral secara massal. bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal. dan menyajikan data. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum. (3)mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya.  Hubungan akibat–sebab. Contoh: Bekerja keras. perkelahian antarpeserta didik. Akibat kedua menjadi penyebab sehingga menimbulkan akibat ketiga. dan seterusnya. misalnya.  Matematika – SMA/MA/SMK | 155 . (4) melakukan dan mengamati percobaan. peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan. selanjutnya ditarik simpulan yang merupakan penyebabnya. sehingga muncullah kemiskinan keluarga yang akut.

termasuk membantu mengatasi dan memecahkan masalahmasalah yang akan menghambat kegiatan pembelajaran. sebaliknya. persiapan. Di sini guru harus memberikan dorongan dan bantuan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik agar kegiatan itu berhasil dengan baik. lebih dari sekadar sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. termasuk hal-hal yang dilarang atau membahayakan. Jejaring Pembelajaran atau Pembelajaran Kolaboratif Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kolaboratif? Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal. guru hendaknya memperhatikan situasi secara keseluruhan. Ketiga tahapan eksperimen atau mencoba dimaksud dijelaskan berikut ini. yaitu. dan tindak lanjut. Tindak lanjut      Peserta didik mengumpulkan laporan hasil eksperimen kepada guru Guru memeriksa hasil eksperimen peserta didik Guru memberikan umpan balik kepada peserta didik atas hasil eksperimen. guru ikut membimbing dan mengamati proses percobaan. Guru dan peserta didik mendiskusikan masalah-masalah yang ditemukan selama eksperimen.  c. Selama proses eksperimen atau mencoba. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama. Jika pembelajaran kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafah peribadi. Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar. Persiapan    Menentapkan tujuan eksperimen Mempersiapkan alat atau bahan Mempersiapkan tempat eksperimen sesuai dengan jumlah peserta didikserta alat atau bahan yang tersedia. pelaksanaan.   b. Guru dan peserta didik memeriksa dan menyimpan kembali segala bahan dan alat yang digunakan 5. peserta didiklah yang harus lebih aktif. a. Di sini guru perlu menimbang apakah peserta didik akan melaksanakan eksperimen atau mencoba secara serentak atau dibagi menjadi beberapa kelompok secara paralel atau bergiliran Memertimbangkanmasalah keamanan dan kesehatan agar dapat memperkecil atau menghindari risiko yang mungkin timbul Memberikan penjelasan mengenai apa yang harus diperhatikan dan tahapa-tahapan yang harus dilakukan peserta didik. Pelaksanaan  Selama proses eksperimen atau mencoba.Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan eksperimen atau mencoba dilakukan melalui tiga tahap. maka ia menyentuh tentang identitas peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang Matematika – SMA/MA/SMK | 156 .

pengalaman personal. dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing. pengalaman dan pengetahuannya dihargai dan dapat dibagikan dalam jaringan pembelajaran mereka. Vigotsky merupakan salah satu pengagas teori konstruktivisme sosial. peserta didik berinteraksi dengan empati. dan “can do alone“. Guru dan peserta didik saling berbagi informasi. Akan tetapi di antara potensi dan aktualisasi peserta didik itu terdapat terdapat wilayah abu-abu. Potensi tersebut dapat teraktualisasi dengan cara menerapkan ketuntasan belajar (mastery learning). Vygostsky mengemukakan tiga wilayah yang tergamit dalam ZPD yang disebut dengan “cannot yet do”. jika proses pembelajaran mampu menarik pebelajar dari zona tersebut dengan cara kolaborasi atau pembelajaran kolaboratif. berbagi strategi dan informasi. setiap manusia (dalam konteks ini disebut peserta didik) mempunyai potensi tertentu. menghormati antarsesa. Pakar ini sangat terkenal dengan teori “Zone of Proximal Development” atau ZPD. peserta didik memiliki ruang gerak untuk menilai dan membina ilmu pengetahuan. Ada empat sifat kelas atau pembelajaran kolaboratif. guru berperan sebagai mediator atau perantara. Guru memiliki berkewajiban menjadikan wilayah “abu-abu”yang ada pada peserta didik itu dapat teraktualisasi dengan cara belajar kelompok. Dalam situasi kolaboratif itu. Contoh: Jika guru mengajarkan topik “hidup bersama secara damai. Di sini peserta didik juga dapat merumuskan kaitan antara proses pembelajaran yang sedang dilakukan dengan dunia sebenarnya. Mereka pun akan termotivasi untuk melihat dan mendengar. bahasa komunikasi. dan memberi garis-garis besar arus komunikasi antar peserta didik. Istilah ”Proximal” yang digunakan di sini bisa bermakna “next“. khususnya untuk hal-hal tertentu. Sifat ketiga berkaitan dengan pendekatan baru dari penyampaian guru selama proses pembelajaran. Berbagi tugas dan kewenangan. peran guru lebih banyak sebagai pembimbing dan manajer belajar ketimbang memberi instruksi dan mengawasi secara rijid. mereka akan bekerja sebaik-baiknya ketika bekerjasama atau berkolaborasi dengan temannya. terlibat dalam pemikiran kreatif dan kritis serta memupuk dan menggalakkan mereka mengambil peran secara terbuka dan bermakna. Jika peserta didikmemahami dan melihat fenomena nyata kehidupan bersama yang damai itu. Sifat keempat menyatakan isi kelas atau pembelajaran kolaboratif. Guru berperan membantu menghubungkan informasi baru dengan pengalaman yang ada serta membantu peserta didik jika mereka mengalami kebutuan dan bersedia menunjukkan cara bagaimana mereka memiliki kesungguhan untuk belajar. mendoorong tumbuhnya ide-ide cerdas.  Guru sebagai mediator. Dengan pembelajaran kolaboratif.lain atau guru. guru berbagi tugas dan kewenangan dengan peserta didik. 2. serta menautkan kondisi sosiobudaya dengan situasi pembelajaran. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif.” Peserta didik yang mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan topik tersebut berpeluang menyatakan sesuatu pada sesi pembelajaran. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman. “can do with help“. Seperti termuat dalam gambar. Matematika – SMA/MA/SMK | 157 . Hasil penelitian Vygotsky membuktikan bahwa ketika peserta didik diberi tugas untuk dirinya sediri. berbagi idea. Cara ini memungkinan peserta didik menimba pengalaman mereka sendiri. saling menghormati. Di sini. sehingga memungkin peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tntutan belajar secara bersama-sama. 1. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif. ZPD merupakan wilayah “can do with help”yang sifatnya tidak permanen. strategi dan konsep pembelajaran sesuai dengan teori. Dua sifat berkenaan dengan perubahan hubungan antara guru dan peserta didik. Menurut Vygotsky.

Untuk keperluan pembelajaran ini dia menggunakan media sortir kartu (card sort). penggolongan sifat. khususnya dalam bidang sains. Selama masing-masing katagori dipresentasikan oleh peserta didik. dan ilmu pengetahuan sosial. matematika. Kelompok peserta didik yang heterogen. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu peserta didik lainnya. Penilaian didasari pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok peserta didik. Beberapa di antaranya dijelaskan berikut ini.  JP = Jigsaw Proscedure. Dengan cara seperti ini akan muncul “keseragaman” di dalam heterogenitas peserta didik. setiap peserta didik mengerjakan soal-soal Matematika – SMA/MA/SMK | 158 . Metodeini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/kolaboratif dengan pembelajaran individual.serta mendengar atau membahas sumbangan informasi dari peserta didik lainnya. Secara bertahap. Berikan kepada peserta didik yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri kepada rekanhya. Guru ingin mengajarkan tentang konsep. Prosedurnya dapat dilakukan seperti berikut ini.     3. Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif Banyak merode yang dipakai dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Anggotaanggota dalam setiap kelompok bertindak saling membelajarkan.  STAD = Student Team Achievement Divisions.  TAI = Team Accelerated Instruction. Peserta didik diminta untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama. dan pengetahuan peserta didk yang tumbuh dan berkembang sangat penting untuk memperkaya pembelajaran di kelas. Peserta didik dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok. buatlah catatan dengan kata kunci (point) dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting. Titik tekan metode ini adalam pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan. atau mengulangi informasi tentang objek. setiap peserta didik sebagai anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Pembelajaran dilakukan dengan cara peserta didik sebagai anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda mengenai suatu pokok bahasan. Penilaian didasari pada rata-rata skor tes kelompok. berbagi informasi. Pada kelas kolaboratif peserta didikdapat menunjukkan kemampuan dan keterampilan mereka. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok.  CI = Complex Instruction. Sikap. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua peserta didiksebagai anggota kelompok terhadap pokok bahasan. tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar. Kepada peserta didik diberikan kartu indeks yang memuat informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para peserta didik yang sangat heterogen. Agar masing-masing peserta didik anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan. keterampilan. fakta.

internet merupakan salah satu jejaring pembelajaran dengan akses dan ketersediaan informasi yang luas dan mudah. kedua peserta didik yang saling berpasangan itu berganti peran. pemikiran kritis. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. LT = Learning Together Pada metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan peserta didik yang beragam kemampuannya. Karena memang. para peserta didik saling menilai kemampuan membaca. Pada metode ini setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masingmasing. Pada metode ini semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya. berikutnya. hubungan antarpribadi. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah. CIRC = Cooperative Integrated Reading and Composition. Seorang peserta didik bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Penggunaan internet disarakan makin mendesak sejalan denan perkembangan pengetahuan terjadi secara eksponensial. ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Pemanfaatan Internet Pemanfaatan internet sangat dianjurkan dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. pertimbangan.      a. setelah belajar bersama kelompoknya sendiri. kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok. Namun jika seorang peserta didik belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar. Bila jawaban tutee benar. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Penilaian didasari pada hasil belajar individual maupun kelompok. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok. Penilaian didasari pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok peserta didik. menulis dan tata bahasa. GI = Group Investigation. Metode pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca. Pada metode pembelajaran ini mirip dengan TAI. Dalam pembelajaran ini. baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Saat ini internet telah menyediakan diri sebagai referensi yang murah dan mudah bagi peserta didik atau siapa saja yang hendak mengubah wajah dunia. Pada metode ini. AC = Academic-Constructive Controversy. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya. menulis dan tata bahasa. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya. CLS = Cooperative Learning Stuctures. TGT = Teams-Games-Tournament. Pada penerapan metode pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua peserta didik (berpasangan). Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Masa depan adalah milik peserta didik Matematika – SMA/MA/SMK | 159 .

& George. IN. A. (1974). 123-151. 289-296.. (1985). 155-166. Science Education. 59. Padilla. Journal of Research in Science Teaching. 57. French Lick. Science Education.yang memiliki akses hampir ke seluruh informasi tanpa batas dan mereka yang mampu memanfaatkan informasi diterima secepat mungkin. R. Tomera. M. Science Education. (1975). Thiel. 58. Matematika – SMA/MA/SMK | 160 . K. Daftar Pustaka Allen. Science Education. Paper presented at the annual meeting of the National Association for Research in Science Teaching. The development and validation of the test of basic process skills. & Twiest. Quinn. M. (1976). 215-221. M. Transfer and retention of transfer of the science processes of observation and comparison in junior high school students. Some factors affecting the use of the science process skill of prediction by elementary school children. D. & George. Teaching hypothesis formation.. K.. 13. L. D. 195203. Cronin. (1973).. L. 62. An examination of the ability of third grade children from the Science Curriculum Improvement Study to identify experimental variables and to recognize change.

Pengetahuan dapat merupakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. empiris. perlu dipahami lagi mengenai metode ilmiah. Sebelum membicarakan mengenai pendekatan ilmiah. Ada juga yang mengartikan pendekatan ilmiah sebagai mekanisme untuk memperoleh pengetahuan yang didasarkan pada struktur logis. Untuk dapat disebut ilmiah.2 CONTOH PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA A. ramalan dsb) 3) Ingin tahu 4) Tidak mudah membuat prasangka 5) Selalu optimis Selanjutnya secara sederhana pendekatan ilmiah merupakan suatu cara atau mekanisme untuk mendapatkan pengetahuan dengan prosedur yang didasarkan pada suatu metode ilmiah. metode ilmiah umumnya memuat rangkaian kegiatan koleksi data atau fakta melalui observasi dan ekperimen. Pendekatan ilmiah ini memerlukan langkah-langkah pokok (umum): 1) Mengamati 2) Menanya 3) Menalar 4) Mencoba Matematika – SMA/MA/SMK | 161 . (2) sifat bebas prasangka. Suatu pengetahuan ilmiah hanya dapat diperoleh dari metode ilmiah. Dengan demikian diperlukan adanya penalaran dalam rangka pencarian (penemuan). (3) sifat objektif. dan (4) adanya analisa. Sebenarnya apa yang kita bicarakan dengan metode ilmiah merujuk pada: (1) adanya fakta.HO – 2. Dengan metode ilmiah seperti ini diharapkan kita akan mempunya sifat 1) Kecintaan pada kebenaran yang objektif 2) Tidak gampang percaya pada hal-hal yang tidak rasional (takhayul. Pada umumnya sesorang selalu ingin memperoleh pengetahuan. metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi. Karena itu. Pengantar Pendekatan scientific atau lebih umum dikatakan pendekatan ilmiah menjadi keniscayaan dalam kurikulum 2013. Metode ilmiah pada dasarnya memandang fenomena khusus (unik) dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan pada simpulan. dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. kemudian memformulasi dan menguji hipotesis.1.

Pengamatan nyata fenomena alam atau lingkungan. Oleh karena itu pendekatan ilmiah dalam pelajaran tertentu tidak sama persis dengan pelajaran tertentu lainnya. Ada juga refensi yang menyatakan bahwa metode ilmiah adalah wujud dari pendekatan ilmiah. Contoh pendekatan ilmiah dalam matematika Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa karakter keilmuan dari setiap materi pelajaran tidak sama maka khusus untuk matematika langkah dalam pendekatan ilmiah dapat dicontohkan sebagai berikut: 1) Mengamati fakta Mengamati fakta matematika dapat dibagi dalam dua pengertian a. maka langkah-langkahnya dalam pendekatan ilmiah sebagai berikut: 1) Mengamati fakta (matematika) 2) Menanya (perwujudan dari berfikir divergen) 3) Menalar (menentukan/menemukan solusi selanjutnya) 4) Mencoba 5) Menyimpulkan (mengaitkan dengan konsep lain) Langkah-langkah di atas boleh dikatakan sebagai pengejaran terhadap pengetahuan ilmiah yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis dalam matematika dan juga tidak kaku dalam urutan. Mi alkan kita mengamati air mancur Matematika – SMA/MA/SMK | 162 . Misalnya dalam pelajaran matematika. Karena yang dikehendaki adalah jawaban mengenai fakta-fakta (matematika) maka pendekatan dengan langkah-langkah tersebut dikatakan sangat erat dengan metode ilmiah. Pengamatan seperti ini cocok untuk anak sekolah dasar atau sekolah menengah pada kelas rendah dimana karakter penalarannya masih bertaraf induktif. Secara mudah dapat dipahami eperti halnya “matematika kontek tual”. Fenomena alam akan menghasilkan suatu fakta yang dituangkan dalam bahasa matematika.5) Membentuk jejaring Dalam kenyataanya karakter keilmuan dari setiap materi pelajaran tidak sama. B.

garis itu pasti garis yang tadi juga. Artinya. Maka (nantinya) akan terlihat bahwa mempengaruhi “runcingnya” titik puncak parabola yang terbentuk.Sebenarnya (nantinya) gerakan air mancur ini terkait dengan konsep fungsi kuadrat b. Contoh lain misalnya dalam geometri datar. Jadi jika digambarkan (diamati). grafik dan lain sebagainya. Fakta yang didapatkan dapat berupa definisi. sehingga mereka tidak mempermasalahkan suatu rangkaian kebenaran sebelumnya yang didapatkan dari penalaran yang benar. aksioma. Selanjutnya nilai kuadrat diubah dalam berbagai nilai sedangkan b dan c tetap. teorema. Misalnya. jika ada garis lain. Pengamatan objek matematika Pengamatan seperti ini sangat cocok untuk siswa yang mulai menerima kebenaran logis. sifat. Matematika – SMA/MA/SMK | 163 . siswa memahami kebenaran postulat setiap dua titik pasti hanya dapat dibuat tepat satu garis yang melaluinya. postulat. Pengamatan seperti ini lebih tepat dikatakan sebagai pengumpulan dan pemahaman kebenaran matematika. Pengamatan ini akan sangat terbantu jika dalam penyampaian menggunakan TIK. walaupun objeknya tidak nyata. siswa diminta menggambar ( ) dengan nilai fungsi dan tertentu. tidak mungkin terjadi gambar seperti di bawah.

2) Menanya Kecenderungan yang ada sekarang adalah siswa gagal menyelesaikan suatu masalah matematika jika konteksnya diubah sedikit saja. guru hanya memberikan pertanyaan pancingan. Tidak terbangun suatu pemikiran yang divergen. Dalam matematika permasalahan seperti ini dapat dijawab dengan mengaitkan teorema lain atau pendefinisian baru terutama bagi siswa yang sudah dapat menerima kebenaran logis. Contoh lain. . Untuk menggalinya dapat dilakukan dengan memanfaatkan solusi yang mereka hasilkan (pemikiran siswa). Misalkan dalam grafik fungsi kuadrat ( ) untuk bernilai positif besar. Sebaliknya. bernilai positif kecil dan sebagainya. Dalam hal ini guru tidak boleh memberi tahu. dimana . sedangkan definisi Pertanyaan seperti di atas memerlukan adanya solusi (jawaban) melalui suatu penalaran. sampai siswa sendiri yang menyelesaikan dan mencari alternatif yang lain. untuk bagaimana menentukan nilai sinus untuk (fakta) awal in Karena banyak guru membuat jembatan keledai dengan menyingkat “SINDEMI KOSAMI TANDESA” yaitu . Pemikiran yang divergen ini dapat dibangkitkan dari suatu pertanyaan. bagi siswa sekolah dasar kebenaran empirik masih dominan dibanding Matematika – SMA/MA/SMK | 164 . . Ini terjadi karena siswa cenderung menghafal algoritma atau prosedur tertentu. dengan menanyakan alternatif-alternatif yang mungkin dari solusi itu. bagaimana untuk negatif.

yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Sedangkan pada contoh sebelumnya yaitu menentukan nilai sinus sudut di kuadran II maka dengan kejadian seperti ini perlu adanya pengertian atau definisi baru sebagai perluasan (memikirkan perlunya hal baru). Misalkan menemukan volum kerucut dengan takaran. Oleh karena itu pertanyaan yang diajukan tentu berbeda siswa pada sekolah menengah. Perlu diingat juga bahwa penalaran diartikan juga sebagai penyerupaan atau analogi atau dalam bahasa sosial asosiasi Terkait dengan contoh diatas dapat digambarkan sebagai berikut Matematika – SMA/MA/SMK | 165 . Demikian pula untuk sudut siku-siku ( ) dan sudut lurus ( ). 3) Penalaran Sejatinya penalaran secara umum adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.kebenaran logis. Penalaran yang paling dikenal dalam matematika terkait penarikan kesimpiulan adalah modus ponen. Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus. Penalaran induktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari fenomena khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. Ada dua cara menalar. Disini penalaran dapat bermakna penyerupaan (associating) dan juga dapat bermakna akibat (reasoning). 3 kali Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataanpernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. modus tolen dan silogisme.

Matematika – SMA/MA/SMK | 166 . Dari sini diperlukan adanya langkah atau tahap berikutnya yaitu mencoba atau secara lebih luas membuktikan. tetapi terkait dengan posisi kordinat. Dengan definisi akan mewadahi atau memenuhi sistem dalam matematika itu sendiri.Dalam hal ini (nantinya) definisi sinus tidak sebatas pada perbandingan panjang sisi segitiga siku-siku seperti pada definisi awal.

Pada akhirnya langakah ini untuk menunjukkan bahwa jika besar sudut berada di kuadran II ( in in( ) maka dipenuhi ). Dari pengertian awal in sedangkan dengan perluasan in Jadi disini terlihat bahwa in in √ √ . nilai ordinat (komponen-y) positif dan panjang jari-jari positif. hanya sekedar contoh tahapan/langkah dalam pendekatan ilmiah. Selanjutnya dicoba untuk besar sudut yang lain. Adapun tahapan yang lebih spesifik dalam matematika yaitu membuktikan berlakunya in in( ) untuk ( ) masih memerlukan pengerjaan lanjutan Matematika – SMA/MA/SMK | 167 . Untuk sudut di kuadran I.4) Mencoba Pengertian mencoba disini dapat diartikan secara sempit seperti menunjukkan dan dapat diartikan secara luas yaitu membuktikan. Demikian pula untuk sudut di kuadran II. nilai ordinat (komponen-y) positif dan panjang jari-jari positif. Sebagai cotoh nilai sinus sebagai perluasan ternyata merupakan perbandingan ordinat dengan panjang jari-jari. Namun contoh seperti ini bukan merupakan pembuktian dalam matematika.

Dengan menerapkan prinsip perbandingan pada tangen maka dapat ditentukan tinggi pohon secara tidak langsung Matematika – SMA/MA/SMK | 168 . Persisnya berelasi melalui nilai sinus yang sama. (i). Simpulan ini kemudian dikaitkan dengan pengertian matematka lain misalnya co tan in co tan ) dan sebagainya. Dengan diperolehnya hubungan in antara sudut dan sudut in( ) maka siswa memahami kaitan yaitu mempunyai nilai sinus yang sama. Sebagai contoh siswa ingin mengetahui tinggi suatu pohon. geografi dll). Disamping itu hasil yang diperoleh oleh siswa digunakan untuk aplikasi dalam dunia nyata maupun dikaitkan dengan pengetahuan lain (fisika.5) Menyimpulkan (mengaitkan dengan konsep dan aplikasi lain) Pengertian menyimpulkan disini mengandung dua pengertian. co ( ) in Contohnya hubungan in( (ii). Misalnya dalam pengerjaan dimunculkan hasil berikut: Selanjutnya diharapkan siswa dapat menyimpulkan bahwa sudut yang demikian adalah sudut yang berelasi. yaitu mengaitkan konsep dalam matematika itu sendiri (matematika vertikal) dan mengaitkan konsep yang diperoleh dengan dunia nyata (matematika horizontal). co .

kerjasama. siswa mengaitkan fungsi trigonometri dengan gerak ayunan dalam fisika Ada juga literasi yang memaknai tahapan menyimpulkan sebagai tindakan membentuk jejaring (networking) secara fisik yaitu bekerjasama atau berkolaborasi antar siswa. konseptual. Matematika – SMA/MA/SMK | 169 . gotong royong. Disamping itu pemahaman. cinta damai. dan metakognitif terkait bidang kajian matematika dapat digunakan untuk memecahkan masalah. prosedural. santun.Contoh lain. C. tanggung jawab. ramah lingkungan. peduli. disiplin. penerapan dan analisis dari pengetahuan faktual. Penutup Langkah-langkah dalam pendekatan ilmiah seperti dijelaskan di atas tentu saja harus dijiwai oleh perilaku (jujur. responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

Prof. (2008). Huntington Beach.com/?articles.view/articleNo/24488/title/The-ScientificApproach/: diakses 16 Februari 2013 [4] http://ariasusman. Jakarta [3] http://www. Makalah pada Workshop Kurikulum. Pendekatan-pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran.wordpress.com/2009/07/06/pendekatan-ilmiah/ Februari 2013 : diakses 16 Matematika – SMA/MA/SMK | 170 .. (2013).Referensi: [1] Shelly Frei.the-scientist. CA 92649-1030: Shell Education [2] Sudarwan. Teaching Mathematics Today.

Problem Based Learning. Kerjakelompok untuk mengidentifikasi penerapan Pendekatan Scientific pada tiga model pembelajaran.2: Model Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Mengamati tayangan pembelajaran Diskusi Kelompok (Focus Group Discussion) 30 Menit Kerja Kelompok 20 Menit 40 Menit Mengamatitayangan tiga jenis model pembelajaran (Project Based Learning. Menerapkan Focus Group Discussion untuk mengidentifikasi karakteristik tiga model pembelajaran. danDiscovery Learning).Materi Pelatihan2. Matematika – SMA/MA/SMK | 171 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 172 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 173 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 174 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 175 .

Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dikatakan sebagai operasionalisasi konsep “Pendidikan Berbasis Produksi” yang dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). KONSEP/DEFINISI Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL) adalah metoda pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. maka Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya. SMK sebagai institusi yang berfungsi untuk menyiapkan lulusan untuk bekerja di dunia usaha dan industri harus dapat membekali peserta didiknya dengan “kompetensi terstandar” yang dibutuhkan untuk bekerja dibidang masing-masing. hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik. PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata. Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda. 2. hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Peserta didik melakukan eksplorasi. secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. Melalui PjBL. proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun ( a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum. Matematika – SMA/MA/SMK | 176 . Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. Dengan pembelajaran “berbasis produksi” peserta didik di SMK diperkenalkan dengan suasana dan makna kerja yang sesungguhnya di dunia kerja. Dengan demikian model pembelajaran yang cocok untuk SMK adalah pembelajaran berbasis proyek.2-1 MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK/ PROJECT BASED LEARNING A. dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. interpretasi. penilaian. peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja. Pada saat pertanyaan terjawab. Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. sintesis. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata.HO-2.

7. seperti: traditional class (teori). Pembelajaran Berbasis Proyek memerlukan banyak waktu yang harus disediakan untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek. 2. bahkan saat diskusi dapat dilakukan di taman. 6. 5. Banyaknya peralatan yang harus disediakan. 4. situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan Peran instruktur atau guru dalam Pembelajaran Berbasis Proyek sebaiknya sebagai fasilitator. peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan. Ini merupakan suatu transisi yang sulit. pelatih. lab tables (saat mengerjakan tugas mandiri). circle (presentasi). sehingga kebutuhan listrik bertambah. Banyak instruktur merasa nyaman dengan kelas tradisional . Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan. beberapa contoh perubahan lay-out ruang kelas. artinya belajar tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas. terutama bagi instruktur yang kurang atau tidak menguasai teknologi. Keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek: a. Atau buatlah suasana belajar menyenangkan.3. peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan. penasehat dan perantara untuk mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan daya imajinasi. discussion group (pembuatan konsep dan pembagian tugas kelompok). Beberapa hambatan dalam implementasi metode Pembelajaran Berbasis Proyek antara lain: 1.dimana instruktur memegang peran utama di kelas. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Untuk itu disarankan menggunakan team teaching dalam proses pembelajaran. dan akan lebih menarik lagi jika suasana ruang belajar tidak monoton. 8. mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting. proses evaluasi dijalankan secara kontinyu. b. 3. dan mereka perlu untuk dihargai. FAKTA EMPIRIK KEBERHASILAN Kelebihan dan kekurangan pada penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dijelaskan sebagai berikut. karena menambah biaya untuk memasuki system baru. Matematika – SMA/MA/SMK | 177 . kreasi dan inovasi dari siswa. peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan. 1. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar. B. produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif. 4.

Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan. Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber. j. Pembelajaran Berbasis Proyek ini juga menuntut siswa untuk mengembangkan keterampilan seperti kolaborasi dan refleksi. h. i. Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek: a. d. menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga instruktur dan peserta didik merasa nyaman dalam proses pembelajaran. f. Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki. e. Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional. Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problemproblem yang kompleks. Meningkatkan kolaborasi. dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas. Membutuhkan biaya yang cukup banyak c. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan. Banyaknya peralatan yang harus disediakan. Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda. kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata. d. 2. di mana instruktur memegang peran utama di kelas. Pembelajaran Berbasis Proyek Matematika – SMA/MA/SMK | 178 . g. memilih lokasi penelitian yang mudah dijangkau sehingga tidak membutuhkan banyak waktu dan biaya. sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran. Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata. Menurut studi penelitian. e. b. dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan Untuk mengatasi kelemahan dari pembelajaran berbasis proyek di atas seorang pendidik harus dapat mengatasi dengan cara memfasilitasi peserta didik dalam menghadapi masalah. f. Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok. meminimalis dan menyediakan peralatan yang sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.c. g. membatasi waktu peserta didik dalam menyelesaikan proyek. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi.

Antusias peserta didik cenderung untuk mempertahankan apa yang mereka pelajari. serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk Matematika – SMA/MA/SMK | 179 . yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. C. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik. Siswa juga menjadi lebih percaya diri berbicara dengan kelompok orang. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question) Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial. Perencanaan berisi tentang aturan main. sering menyebabkan absensi berkurang dan lebih sedikit masalah disiplin di kelas. Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project) Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Langkah langkah Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek Penjelasan langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut. dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin.membantu siswa untuk meningkatkan keterampilan sosial mereka. bukan melupakannya secepat mereka telah lulus tes. Ketika anak-anak bersemangat dan antusias tentang apa yang mereka pelajari. termasuk orang dewasa. Dengan emikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Pelajaran berbasis proyek juga meningkatkan antusiasme untuk belajar. pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial. mereka sering mendapatkan lebih banyak terlibat dalam subjek dan kemudian memperluas minat mereka untuk mata pelajaran lainnya. 1. LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL Langkah langkah pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dijelaskan dengan diagram sebagai berikut. 2. 1 PENENTUAN PERTANYAAN MENDASAR 2 MENYUSUN PERECANAAN PROYEK 3 MENYUSUN JADUAL 6 EVALUASI PENGALAMAN 5 MENGUJI HASIL 4 MONITORING Diagram 1.

1. (2) membuat deadline penyelesaian proyek. f. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran. 3. (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek. Peran Guru a. membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya. sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.membantu penyelesaian proyek. pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Peran guru dan peserta didik dalam pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut. Menguji Hasil (Assess the Outcome) Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project) Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. e. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek. c. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap roses. 6. Agar mempermudah proses monitoring. dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara. 5. Menyusun Jadwal (Create a Schedule) Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik. dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting. Merencanakan dan mendesain pembelajaran Membuat strategi pembelajaran Membayangkan interaksi yang akan terjadi antara guru dan siswa Mencari keunikan siswa Menilai siswa dengan cara transparan dan berbagai macam penilaian Membuat portofolio pekerjaan siswa Matematika – SMA/MA/SMK | 180 . Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience) Pada akhir proses pembelajaran. (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru. berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. d. b.masing peserta didik. 4.

2. 1. f. g. dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan. dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik. kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan yaitu: 1) Kemampuan pengelolaan Kemampuan peserta didik dalam memilih topik. pengolahan dan penyajian data. d. Menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir Melakukan riset sederhana Mempelajari ide dan konsep baru Belajar mengatur waktu dengan baik Melakukan kegiatan belajar sendiri/kelompok Mengaplikasikanhasil belajar lewat tindakan Melakukan interaksi sosial (wawancara. c. pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa dalam melaksanakan pembelajaran berbasis proyek. Penilaian Proyek a. Pengertian Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. 2) Relevansi Kesesuaian dengan mata pelajaran. kemampuan mengaplikasikan. 3) Keaslian Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya. pengorganisasian. b. e. SISTEM PENILAIAN Penilaian pembelajaran dengan metoda Pembelajaran Berbasis Proyek harus diakukan secara menyeluruh terhadap sikap. Matematika – SMA/MA/SMK | 181 . Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman. survey. pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. Penilaian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. observasi. Peran Peserta Didik a. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan. dll). pengumpulan data. Penilaian Pembelajaran Berbasis Proyek dapat menggunakan teknik penilaian yang dikembangkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu penilaian proyek atau penilaian produk. D.

Penarikan Kesimpulan LAPORAN PROYEK : a. Pelaksanaan penilaian dapat juga menggunakan rating scale dan checklist. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/ instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. Sistematika Penulisan b. guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. Presentasi / Penguasaan TOTAL SKOR SKOR (1 . pengumpulan data. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Untuk itu perlu memperhatikan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. Keakuratan Sumber Data / Informasi c. dan penyiapkan laporan tertulis. 1 : : : : : : : ASPEK PERENCANAAN : a. proses pengerjaan. analisis data. Teknik Penilaian Proyek Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan.b.5) 2 3 Penilaian Proyek dilakukan mulai dari perencanaan . proses pengerjaan sampai dengan akhir proyek. Matematika – SMA/MA/SMK | 182 . Kuantitas Sumber Data d. seperti penyusunan disain. Persiapan b. Contoh Teknik Penilaian Proyek Mata Pelajaran Nama Proyek Alokasi Waktu Guru Pembimbing Nama NIS Kelas No. Untuk itu. Rumusan Judul PELAKSANAAN : a. Performans b. sampai hasil akhir proyek. Analisis Data e.

biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan. 2) Tahap pembuatan produk (proses). Pengertian Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. keramik. yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk. b. 3) Tahap penilaian produk (appraisal). menggali. meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan. alat. gambar). meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni. dan teknik. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan.2. hasil karya seni (patung. Penilaian Produk a. Matematika – SMA/MA/SMK | 183 . plastik. dan logam. pakaian. biasanya dilakukan pada tahap appraisal. dan mendesain produk. Cara analitik. barang-barang terbuat dari kayu. Teknik Penilaian Produk Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik. 1) 2) Cara holistik. lukisan. yaitu berdasarkan aspek-aspek produk. dan mengembangkan gagasan. seperti: makanan. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu: 1) Tahap persiapan.

Metode Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) [online]. keamanan dan kebersihan) Tahap Akhir (Hasil Produk) a. org/pdfs/edutopia-teaching-for-meaningful-learning.edutopia. dengan ketentuan semakin lengkap jawaban dan ketepatan dalam proses pembuatan maka semakin tinggi nilainya. Matematika – SMA/MA/SMK | 184 . Introduction to Project Based Learning. Buck Institute for Education. (2000).niost.pdf (18 Oktober 2011). 1 2 Tahapan Tahap Perencanaan Bahan Tahap Proses Pembuatan : a.ac. Admin. Diakses di http://www.org/ Publications/papers.org/images/uploads/general/20fa7d42c216e2ec171a212e97fd4a9e. K3 (Keselamatan kerja.sunan-ampel. National Institute on Out-of-School Time. (2008).pdf. Teknik Pengolahan c. L. Bentuk fisik b. B. Teaching for meaningful learning: A review of research on inquiry-based and cooperative learning. Diakses di http://digilib. The learning that lies between play and academics in afterschool programs. E. Persiapan alat dan bahan b.id/files/disk1/151/hubptain-gdl-ellyikasus-7509-3-babii. Retrieved from http://www.. & Darling-Hammond. Barron. Inovasi TOTAL SKOR Skor ( 1 – 5 )* 3 Catatan : *) Skor diberikan dengan rentang skor 1 sampai dengan 5.bie. D.Contoh Penilaian Produk Mata Ajar : Nama Proyek : Alokasi Waktu : Nama Peserta didik : Kelas/SMT : No. [Online]. Daftar Pustaka Alexander. Retrieved from http://www.pdf (17 Oktober 2011).

Project-based learning.unige. [Online]. Overview of problem-based learning: Definitions and distinctions. Matematika – SMA/MA/SMK | 185 . (2009. Understanding projects in projectbased learning: A student’s perspective. R. Novato. April). The Success of Project Based Learning. Paper presented at Annual Meeting of the American Educational Research Association.aspx (18 Oktober 2011) Grant. San Diego.brighthub. Suzanne.php. 12–43. Markham. The Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning. George .). 2010.org/Research/ResearchSummaries.aspx. Research summary: Project-based learning in middle grades mathematics. M. http://www.nmsa. Project-based learning handbook (2nd ed. 1(1). Journal of Problem-Based Learning. 3(1). ResearchSummaries/ProjectBasedLearninginMath/tabid/1570/Default. Diakses tanggal 13 Juli 2010. Schneider.ch/en/Project-based_learning (18 Oktober 2011).Daniel K. Diakses di http://www. Lucas. (2003). [Online]. T. J. CA: Buck Institute for Education. Diakses Florin. 9–20. Savery. dihttp://edutechwiki.edutopia. Instructional Module Project Based Learning.com/education/k-12/articles/90553.(2005). Retrieved from http://www.org/modules/PBL/whatpbl. CA. (2006). 2005.

Matematika – SMA/MA/SMK | 186 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 187 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 188 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 189 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 190 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 191 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 192 .

bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. Masalah diberikan kepada peserta didik. Konsep/Definisi Definisi: 1) Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. A. Dalam kurikulumnya. Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan adanya pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh peserta didik yang diharapkan dapat menambah keterampilan peserta didik dalam pencapaian materi pembelajaran. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah. Ada lima strategi dalam menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) yaitu: 1) Permasalahan sebagai kajian. 2) Permasalahan sebagai penjajakan pemahaman Matematika – SMA/MA/SMK | 193 . yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah.HO-2. peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world) 2) Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”..2-2 MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) Problem Based Learning (PBL) adalah kurikulum dan proses pembelajaran. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. dirancang masalah-masalah yang menuntut peserta didik mendapat pengetahuan penting.

3) Permasalahan sebagai contoh 4) Permasalahan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses 5) Permasalahan sebagai stimulus aktivitas otentik Peran guru, peserta didik dan masalah dalam pembelajaran berbasis masalah dapat digambarkan sebagai berikut: Guru sebagai pelatih o Asking about thinking (bertanya tentang pemikiran) o memonitor pembelajaran o probbing ( menantang peserta didik untuk berfikir ) o menjaga agar peserta didik terlibat o mengatur dinamika kelompok o menjaga berlangsungnya proses Peserta didik sebagai problem solver o peserta yang aktif o terlibat langsung dalam pembelajaran o membangun pembelajaran Masalah sebagai awal tantangan dan motivasi o menarik untuk dipecahkan o menyediakan kebutuhan yang ada hubungannya dengan pelajaran yang dipelajari

Tujuan dan hasil dari model pembelajaran berbasis masalah ini adalah: 1) Keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah Pembelajaran berbasis masalah ini ditujukan untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. 2) Pemodelan peranan orang dewasa. Bentuk pembelajaran berbasis masalah penting menjembatani gap antara pembelajaran sekolah formal dengan aktivitas mental yang lebih praktis yang dijumpai di luar sekolah. Aktivitas-aktivitas mental di luar sekolah yang dapat dikembangkan adalah : PBL mendorong kerjasama dalam menyelesaikan tugas. PBL memiliki elemen-elemen magang. Hal ini mendorong pengamatan dan dialog dengan yang lain sehingga peserta didik secara bertahap dapat memi peran yang diamati tersebut.  PBL melibatkan peserta didik dalam penyelidikan pilihan sendiri, yang memungkinkan mereka menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun femannya tentang fenomena itu. 3) Belajar Pengarahan Sendiri (self directed learning) Pembelajaran berbasis masalah berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus dapat menentukan sendiri apa yang harus dipelajari, dan dari mana informasi harus diperoleh, di bawah bimbingan guru. Pendekatan PBL mengacu pada hal-hal sebagai berikut : a. Kurikulum : PBL tidak seperti pada kurikulum tradisional, karena memerlukan suatu strategi sasaran di mana proyek sebagai pusat.  

Matematika – SMA/MA/SMK | 194

b. Responsibility : PBL menekankan responsibility dan answerability para peserta didik ke diri dan panutannya. c. Realisme : kegiatan peserta didik difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya. Aktifitas ini mengintegrasikan tugas otentik dan menghasilkan sikap profesional. d. Active-learning : menumbuhkan isu yang berujung pada pertanyaan dan keinginan peserta didik untuk menemukan jawaban yang relevan, sehingga dengan demikian telah terjadi proses pembelajaran yang mandiri. e. Umpan Balik : diskusi, presentasi, dan evaluasi terhadap para peserta didik menghasilkan umpan balik yang berharga. Ini mendorong kearah pembelajaran berdasarkan pengalaman. f. Keterampilan Umum : PBL dikembangkan tidak hanya pada ketrampilan pokok dan pengetahuan saja, tetapi juga mempunyai pengaruh besar pada keterampilan yang mendasar seperti pemecahan masalah, kerja kelompok, dan self-management.

g. Driving Questions : PBL difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan yang memicu peserta didik untuk berbuat menyelesaikan permasalahan dengan konsep, prinsip dan ilmu pengetahuan yang sesuai. h. Constructive Investigations : sebagai titik pusat, proyek harus disesuaikan dengan pengetahuan para peserta didik. i. Autonomy : proyek menjadikan aktifitas peserta didik sangat penting.

B. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil Pembelajaran Kelebihan menggunakan PBL, antara lain; (1) Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik/mahapeserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan; (2) Dalam situasi PBL, peserta didik/mahapeserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan; dan (3) PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik/mahapeserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok. Metoda ini memiliki kecocokan terhadap konsep inovasi pendidikan bidang keteknikan, terutama dalam hal sebagai berikut : 1. peserta didik memperoleh pengetahuan dasar (basic sciences) yang berguna untuk memecahkan masalah bidang keteknikan yang dijumpainya,
Matematika – SMA/MA/SMK | 195

2. peserta didik belajar secara aktif dan mandiri dengan sajian materi terintegrasi dan relevan dengan kenyataan sebenarnya, yang sering disebut student-centered, 3. peserta didik mampu berpikir kritis, dan mengembangkan inisiatif. Berikut adalah beberapa hasil penelitian berkaitan dengan model PBL. 1. Wagiran, dkk, 2010, Pengembangan Pembelajaran Model Problem Based Learning Dengan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer dalam Matadiklat Measuring Bagi Peserta didik SMK (Hibah Bersaing Perguruan Tinggi), 2010: Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Penelitian dirancang dalam tiga tahap dalam kurun waktu 3 tahun. Pada tahun pertama penelitian bertujuan untuk merancang, membuat dan mengembangkan media pembelajaran berbantuan komputer berikut perangkatnya dalam mendukung model pembelajaran PBL-PBK. Pada tahun kedua, penelitian ini bertujuan untuk menerapkan dan menguji model pembelajaran PBL-PBK dalam lingkup luas sekaligus melihat efektivitasnya. Pada tahun ketiga, penelitian ini memfokuskan pada tahap sosialisasi model pembelajaran PBL-PBK dalam lingkup yang lebih luas. Penelitian dirancang menggunakan pendekatan Research and Development Sumber data dalam penelitian ini meliputi kalangan industri permesinan, perumus kebijakan, kepala sekolah, guru, peserta didik, dan ahli pendidikan. Penerapan model direncanakan di 5 SMK dengan metode eksperimen. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kuantitatif yaitu deskriptif, dan komparatif. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah diperolehnya kompetensi Measuring dan diperolehnya media pembelajaran berbantuan komputer dalam mendukung pembelajaran PBL-PBK yang teruji. Hasil evaluasi ahli tentang kualitas media dilihat dari sisi materi menunjukkan skor 3,38 (dalam kategori baik), dari kualitas tampilan menunjukkan skor 3,04 (dalam kategori baik), sedangkan dari sisi pengorganisasian materi penunjukan skornya adalah: konsistensi sebesar 2,92 (cukup baik), format sebesar 3,13 (baik), pengorganisasian sebesar 3,25 (baik), bentuk dan ukuran huruf sebesar 2,63 (cukup baik). Hasil uji kelayakan(ujicoba) kepada peserta didik menunjukkan bahwa kualitas media dilihat dari sisi materi menunjukkan skor 3,28 (dalam kategori baik), dari kualitas tampilan dan daya tarik menunjukkan skor 3,30 (dalam kategori baik), sedangkan dari sisi pengorganisasian materi penunjukan skornya adalah: sebesar 3,22 (baik) Dengan demikian media berbantuan komputer dalam matadiklat measuring layak untuk diterapkan. Media berbantuan komputer yang disusun telah memnuhi aspek kelayakan baik dari segi teoritis maupun dari segi empiris. Tedapat tiga pola implementasi pembelajaran menggunakan media berbantuan komputer yaitu: (a) sebagai media tayamg, (b) sebagai media pendukung praktek, dan (c) sebagai media pembelajaran individual dan interaktif. 2. Dian Mala Sari, Pebriyenni ., Yulfia Nora, 2013, Peningkatan Partisipasi dan Hasil Belajar Peserta didik Kelas IVB dalam Pembelajaran IPS Melalui Model Problem Based Learning di SDN 20 Kurao Pagang, Faculty of Education, Bung Hatta University
Matematika – SMA/MA/SMK | 196

Penelitian ini dilatarbelakangi kurangnya partisipasi peserta didik kelas IVB pada pembelajaran IPS. Yang berdampak terhadap rendahnya hasil belajar peserta didik. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan peningkatan partisipasi dan hasil belajar peserta didik kelas IVB dalam pembelajaran IPS melalui model PBL di SDN 20 Kurao Pagang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan secara partisipan. Subjek penelitian ini peserta didik kelas IVB SDN 20 Kurao Pagang. Instrumen penelitian yang digunakan lembar observasi partisipasi peserta didik, lembar observasi aktivitas guru, tes hasil belajar dan catatan lapangan. Hasil penelitian diketahui bahwa partisipasi dalam menjawab pertanyaan meningkat dari 52,5 % di siklus I menjadi 70%, di siklus II. Partisipasi peserta didik menanggapi jawaban meningkat dari 40% di siklus I menjadi 65% di siklus II, dan partisipasi peserta didik dalam presentasi meningkat dari 27,5% di siklus I menjadi 67,5% di siklus II. Hasil belajar peserta didik siklus I meningkat dari 57,25% menjadi 72,75% di siklus II. Sedangkan persentase ketuntasan belajar yang ditentukan 70%. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa partisipasi dan hasil belajar peserta didik kelas IVB dapat ditingkatkan melalui model PBL dalam pembelajaran IPS di SDN 20 Kurao Pagang. C. Langkah-langkah Operasional Imlementasi dalam Proses Pembelajaran Pembelajaran suatu materi pelajaran dengan menggunakan PBL sebagai basis model dilaksanakan dengan cara mengikuti lima langkah PBL dengan bobot atau kedalaman setiap langkahnya disesuaikan dengan mata pelajaran yang bersangkutan. 1. Konsep Dasar (Basic Concept) Jika dipandang perlu, fasilitator dapat memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik lebih cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan ‘peta’ yang akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran. Lebih jauh, hal ini diperlukan untuk memastikan peserta didik memperoleh kunci utama materi pembelajaran, sehingga tidak ada kemungkinan terlewatkan oleh peserta didik seperti yang dapat terjadi jika peserta didik mempelajari secara mandiri. Konsep yang diberikan tidak perlu detail, diutamakan dalam bentuk garis besar saja, sehingga peserta didik dapat mengembangkannya secara mandiri secara mendalam. 2. Pendefinisian Masalah (Defining the Problem) Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan skenario atau permasalahan dan dalam kelompoknya, peserta didik melakukan berbagai kegiatan. Pertama, brainstorming yang dilaksanakan dengan cara semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat. Setiap anggota kelompok memiliki hak yang sama dalam memberikan dan menyampaikan ide dalam diskusi serta mendokumentasikan secara tertulis pendapat masing-masing dalam kertas kerja. Selain itu, setiap kelompok harus mencari istilah yang kurang dikenal dalam skenario tersebut dan berusaha mendiskusikan maksud dan artinya. Jika ada peserta didik yang
Matematika – SMA/MA/SMK | 197

mengetahui artinya, segera menjelaskan kepada teman yang lain. Jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis dalam permasalahan kelompok. Selanjutnya, jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis sebagai isu dalam permasalahan kelompok. Kedua, melakukan seleksi alternatif untuk memilih pendapat yang lebih fokus. Ketiga, menentukan permasalahan dan melakukan pembagian tugas dalam kelompok untuk mencari referensi penyelesaian dari isu permasalahan yang didapat. Fasilitator memvalidasi pilihan-pilihan yang diambil peserta didik. Jika tujuan yang diinginkan oleh fasilitator belum disinggung oleh peserta didik, fasilitator mengusulkannya dengan memberikan alasannya. Pada akhir langkah peserta didik diharapkan memiliki gambaran yang jelas tentang apa saja yang mereka ketahui, apa saja yang mereka tidak ketahui, dan pengetahuan apa saja yang diperlukan untuk menjembataninya. Untuk memastikan setiap peserta didik mengikuti langkah ini, maka pendefinisian masalah dilakukan dengan mengikuti petunjuk. 3. Pembelajaran Mandiri (Self Learning) Setelah mengetahui tugasnya, masing-masing peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu: (1) agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan (2) informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami. Di luar pertemuan dengan fasilitator, peserta didik bebas untuk mengadakan pertemuan dan melakukan berbagai kegiatan. Dalam pertemuan tersebut peserta didik akan saling bertukar informasi yang telah dikumpulkannya dan pengetahuan yang telah mereka bangun. Peserta didik juga harus mengorganisasi informasi yang didiskusikan, sehingga anggota kelompok lain dapat memahami relevansi terhadap permasalahan yang dihadapi. 4. Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge) Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara peserrta didik berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya. Tiap kelompok menentukan ketua diskusi dan tiap peserta didik menyampaikan hasil pembelajaran mandiri dengan cara mengintegrasikan hasil pembelajaran mandiri untuk mendapatkan kesimpulan kelompok. Langkah selanjutnya presentasi hasil dalam pleno (kelas besar) dengan mengakomodasi masukan dari pleno, menentukan kesimpulan akhir, dan dokumentasi akhir. Untuk memastikan setiap peserta didik mengikuti langkah ini maka dilakukan dengan mengikuti petunjuk.
Matematika – SMA/MA/SMK | 198

5. Penilaian (Assessment) Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan. Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran dalam pembelajaran. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. D. Contoh Penerapan Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu. Kemudian peserta didik diminta mencatat masalah-masalah yang muncul. Setelah itu tugas guru adalah meransang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka. Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar. Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan peserta didik, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar diluar kelas. Peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran. Tahapan-Tahapan Model PBL FASE-FASE Fase 1 Orientasi peserta didik kepada masalah Fase 2 Mengorganisasikan peserta didik Fase 3 Membimbing penyelidikan individu dan kelompok Fase 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya PERILAKU GURU  Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yg dibutuhkan  Memotivasi peserta didik untuk terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang dipilih Membantu peserta didik mendefinisikan danmengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut Mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah Membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, model dan berbagi tugas dengan teman
Matematika – SMA/MA/SMK | 199

Semua peserta didik diberi peluang untuk menyumbang kepada penyelidikan dan menyampaikan ide-ide mereka. Prinsip-prinsip pengelompokan peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen. pentingnya interaksi antar anggota. sebuah masalah yang rumit atau kompleks mempunyai banyak penyelesaian dan seringkali bertentangan. peserta didik akan didorong untuk menyatakan ide-idenya secara terbuka dan penuh kebebasan. 2. yaitu: 1. Oleh sebab itu. adanya tutor sebaya. dan sebagainya. 3. Tujuan utama pengajaran tidak untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru. tetapi lebih kepada belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi peserta didik yang mandiri. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. Selama tahap analisis dan penjelasan.FASE-FASE Fase 5 Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah PERILAKU GURU Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari /meminta kelompok presentasi hasil kerja Fase 1: Mengorientasikan peserta didik pada masalah Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitasaktivitas yang akan dilakukan. dan 4. Permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai jawaban mutlak “benar“. Fase 2: Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar Disamping mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah. Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar peserta didik dapat mengerti dalam pembelajaran yang akan dilakukan. Ada empat hal yang perlu dilakukan dalam proses ini. serta dijelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses pembelajaran. Selama tahap penyelidikan (dalam pengajaran ini). namun peserta didik harus berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan temannya. Guru sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja Matematika – SMA/MA/SMK | 200 . guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok peserta didik dimana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. pembelajaran PBL juga mendorong peserta didik belajar berkolaborasi. Guru akan bertindak sebagai pembimbing yang siap membantu. peserta didik didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi. komunikasi yang efektif. Dalam penggunaan PBL. Tidak ada ide yang akan ditertawakan oleh guru atau teman sekelas. tahapan ini sangat penting dimana guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh peserta didik dan juga oleh guru.

namun bisa suatu video tape (menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan). model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya). Pada tahap ini. program komputer. Setelah peserta didik diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar selanjutnya guru dan peserta didik menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil karya) dan mempamerkannya Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran. Guru membantu peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber. guru harus mendorong peserta didik untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. dan jadwal. penjelesan. Setelah peserta didik mengumpulkan cukup data dan memberikan permasalahan tentang fenomena yang mereka selidiki. dan sajian multimedia.masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran. Fase 5: Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah Matematika – SMA/MA/SMK | 201 . Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda. Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat berfikir peserta didik. Akan lebih baik jika dalam pemeran ini melibatkan peserta didik-peserta didik lainnya. namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik. tugas-tugas penyelidikan. berhipotesis dan penjelasan. Selama pengajaran pada fase ini. guru-guru. Tujuannya adalah agar peserta didik mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri. yakni pengumpulan data dan eksperimen. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting. dan pemecahan. Guru juga harus mengajukan pertanyaan yang membuat peserta didik berfikir tentang kelayakan hipotesis dan solusi yang mereka buat serta tentang kualitas informasi yang dikumpulkan. orang tua. dan lainnya yang dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik. dan ia seharusnya mengajukan pertanyaan pada peserta didik untuk berifikir tentang masalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini adalah mengupayakan agar semua peserta didik aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut. Fase 3: Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok Penyelidikan adalah inti dari PBL. guru mendorong peserta didik untuk menyampikan semua ide-idenya dan menerima secara penuh ide tersebut. selanjutnya mereka mulai menawarkan penjelasan dalam bentuk hipotesis. Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis. dan memberikan pemecahan.

ujian tengah semester (UTS). Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap usahausahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar. Sistem Penilaian Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge). Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment. melakukan suatu eksperimen. dan kehadiran dalam pembelajaran. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya. kecakapan (skill). PR. peserta didik diminta untuk unjuk kerja atau mendemonstrasikan kemampuan melakukan tugas-tugas tertentu. Self-assessment. Peer-assessment. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS). Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment. Penilaian portofolio adalah penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam suatu Matematika – SMA/MA/SMK | 202 . seperti menulis karangan. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill. baik software. 1. 2. Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran. dan laporan. dan sikap (attitude). memainkan suatu lagu. yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi. Penilaian yang relevan dalam PBL antara lain sebagai berikut: 1. kemampuan bekerjasama dalam tim. Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran. dokumen. maupun kemampuan perancangan dan pengujian. Penilaian portofolio peserta didik. atau melukis suatu gambar. Pada penilaian kinerja ini. Selama fase ini guru meminta peserta didik untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya E. Penilaian kinerja peserta didik. kuis.Fase ini merupakan tahap akhir dalam PBL. hardware. menginterpretasikan jawaban pada suatu masalah. 2. Fase ini dimaksudkan untuk membantu peserta didik menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan.

Penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan oleh peserta didik sebagai hasil pekerjaan mereka dan mendiskusikan hasil pekerjaan secara bersama-sama. Dasar pemikiran pengembangan strategi pembelajaran tersebut sesuai dengan pandangan kontruktivis yang menekankan kebutuhan peserta didik untuk menyelidiki lingkungannya dan membangun pengetahuan secara pribadi pengetahuan bermakna. portofolio. 2). Menilai usaha kelompok seperti yang dlakukan pada pembelajaran kooperatif dapat dilakukan pada PBL. melihat bagaimana peserta didik menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya. PBL yang memberi tugas-tugas pemecahan masalah memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan dan mengenali potensi kesiapan belajarnya. Sebagian masalah dalam kehidupan nyata bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman dan konteks atau lingkungannya. bagaimana mereka menerapkan tahapan Matematika – SMA/MA/SMK | 203 . misalnya membandingkan peserta didik dengan temannya. Penilain dengan portofolio dapat dipakai untuk penilaian pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif.assesment kerja. Self assessment adalah penilaian yang dilakukan oleh peserta didik itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai oleh peserta didik itu sendiri dalam belajar. Penilaian usaha kelompok mengurangi kompetisi merugikan yang sering terjadi. Penilaian usaha kelompok. Dari informasi perkembangan itu peserta didik dan guru dapat menilai kemajuan belajar yang dicapai dan peserta didik terus berusaha memperbaiki diri.periode tertentu. Penilaian proses dapat digunakan untuk menilai pekerjaan peserta didik tersebut. piagam penghargaan. Penilaian kolaboratif dalam PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self assesment) dan peer assesment. Penilaian proses bertujuan agar guru dapat melihat bagaimana peserta didik merencanakan pemecahan masalah. Informasi perkembangan peserta didik dapat berupa hasil karya terbaik peserta didik selama proses belajar. Penilaian yang diarahkan untuk mengukur potensi belajar peserta didik yaitu mengukur kemampuan yang dapat ditingkatkan dengan bantuan guru atau teman-temannya yang lebih maju. Penilaian kinerja memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan dalam situasi yang sebenarnya. assesment autentik dan 3). 4. pekerjaan hasil tes. Tahap evaluasi pada PBM terdiri atas tiga hal : 1. Peer assessment adalah penilian dimana peserta didik berdiskusi untuk memberikan penilaian upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang diselesaikan sendiri maupun teman dalam kelompoknya. Dengan kemampuan atau kecakapan tersebut diharapkan peserta didik akan mudah beradaptasi. bagaimana peserta didik dan evaluator menilai produk (hasil akhir) proses 2. Penilaian potensi belajar. penilaian ini antara lain: 1). 3. atau bentuk informasi lain yang terkait kompetensi tertentu dalam suatu mata pelajaran. maka di samping pengembangan kurikulum juga perlu dikembangkan model pembelajaran yang sesuai tujuan kurikulum yang memungkinkan peserta didik dapat secara aktif mengembangkan kerangka berfikir dalam memecahkan masalah serta kemampuannya untuk bagaimana belajar (learning how to learn).

Surabaya: University Press Karim. bagaimana peserta didik akan menyampaikan pengetahuan hasil pemecahan akan masalah atau sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian atau respon-respon mereka dalam berbagai bentuk yang beragam. Bandung: Diponegoro.S. Proposal Hibah Kompetitif UPI 2007. Problem Based Instruction.htm [14 Juli 2010] Matematika – SMA/MA/SMK | 204 .PBM untuk bekerja melalui masalah 3. Orey (Ed. Barbara.H dan Palmer. Problems: A Key Factor in PBL. [17 Juni 2005]. (2001). In M..). and technology [Online]. (1995). [Online].html. Dr. (2007). Kualitatif dan R&D. Penerapan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Penguasaan konsep Fisika serta Mengembangkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi dan Kecakapan Ilmiah.. Ibrahim. laporan tertulis. Claire. F. Betsy. Journal of Academic Medicine Barrows. Pengajaran Berdasarkan Masalah. [Online]. (1990). 2009.. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Tidak diterbitkan Major. [21 Juli 2010]. M. Sugiyono. & Tamblyn.htm. et al. Penerapan Problem Based Learning Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Peserta Didik Dalam Memecahkan Masalah. Tersedia : http://www.A. R. H.Daftar Pustaka Albanese. M. (2008).D.edu/epltt/ProblemBasedInstruct. Emerging perspectives on learning. Glazer.rapidintellect. misalnya secara lisan atau verbal. teaching. Prof. S.M. J.uga. (1980). Evan. New York: Springer Publishing Dahlan. atau sebagai suatu bentuk penyajian formal lainnya.edu/pbl/cte/spr96-phys. (1993). Problem Based Learning: an Approach to Medical Education. & Mitchell.udel.com/AE Qweb/mop4spr01. M dan Nur. (2005). Problem Based Learning: a Review of The Literature on Outcomes and Implementation Issues.coe. Model-Model Mengajar . Sebagian dari evaluasi memfokuskan pada pemecahan masalah oleh peserta didik maupun dengan cara melakukan proses belajar kolaborasi (bekerja bersama pihak lain). Assessing the Effectiveness of Problem-Based Learning in Higher Education: Lessons from the Literature. 2001. Bandung: Alfabeta Das Salirawati. Makalah Duch. Tersedia : http://www. S. Tersedia: http://www.

Jakarta: Grasindo Proyek DUeLike Universitas Indonesia. Kurikulum 2004: Pertanyaan dan Jawaban. Panduan Pelaksanaan Collaborative Learning & Problem Based Learning. USA: Allyn & Bacon Mudjiman. 2010. Belajar Mandiri. (2004). Paradigma Baru Pembelajaran. 2011. Active Learning: 101 Strategies to Teach any Subject. (2002). D. 2006. Martinis. Depok: UI Siburian. & Silberman. Haris. Jodion. Surakarta: Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS Press) Nurhadi. Bandung : Lembaga Penelitian IKIP Bandung Yamin. Model Pembelajaran Pemecahan Masalah. Model Pembelajaran Sains. (1996). Jambi: Gaung Persada Press Matematika – SMA/MA/SMK | 205 . (1982). Jambi: Universitas Jambi Sudjana.Melvin L.

Matematika – SMA/MA/SMK | 206 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 207 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 208 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 209 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 210 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 211 .

prediksi. tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri.2-3 MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING) A. Perbedaannya dengan discovery ialah bahwa pada discovery masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru. Sebagaimana pendapat Bruner. penentuan dan inferi. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini. 1996:41). but rather is required to organize it him self” (Lefancois dalam Emetembun. Metode Discovery Learning adalah memahami konsep. Dengan mengaplikasikan metode Discovery Learning secara berulang-ulang dapat meningkatkan kemampuan penemuan diri individu yang bersangkutan. 1986:103). pengukuran. dimana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono.HO-2. Discovery terjadi bila indifidu terlibat. sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian. Definisi/ Konsep 1. sedangkan Problem Solving lebih memberi tekanan pada kemampuan menyelesaikan masalah. Merubah Matematika – SMA/MA/SMK | 212 . Akan tetapi prinsip belajar yang nampak jelas dalam Discovery Learning adalah materi atau bahan pelajaran yang akan disampaikan tidak disampaikan dalam bentuk final akan tetapi siswa sebagai peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorgansasi atau membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir. ingin merubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih. Penggunaan metode Discovery Learning. Definisi Metode Discovery Learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya. pada Discovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. 2005:43). terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Sund dalam Malik. arti. Sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa. Bruner memakai metode yang disebutnya Discovery Learning. Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving. Discovery dilakukan melalaui observasi. Sebagai strategi belajar. dan hubungan. Mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented. bahwa: “Discovery Learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter in the final form. Yang menjadikan dasar ide Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas. klasifikasi. 2001:219). Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps and principles in the mind (Robert B.

Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh bagaimana cara lingkungan. logika. 2005:43). Manipulasi bahan pelajaran bertujuan untuk memfasilitasi kemampuan siswa dalam berfikir (merepresentasikan apa yang dipahami) sesuai dengan tingkat perkembangannya. Bruner memandang bahwa suatu konsep atau kategorisasi memiliki lima unsur. iconic. yaitu lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi. Untuk menunjang proses belajar perlu lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu siswa pada tahap eksplorasi. penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui. Lingkungan seperti ini bertujuan agar siswa dalam proses belajar dapat berjalan dengan baik dan lebih kreatif. Lingkungan ini dinamakan Discovery Learning Environment. dan siswa dikatakan memahami suatu konsep apabila mengetahui semua unsur dari konsep itu. dan sebagainya.modus Ekspository siswa hanya menerima informasi secara keseluruhan dari guru ke modus Discovery siswa menemukan informasi sendiri. semakin dominan sistem simbolnya. Tahap symbolic. Tahap enaktive. Konsep Dalam Konsep Belajar. seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. meliputi: 1) Nama. sentuhan. matematika. 4) Rentangan karakteristik. Bruner menjelaskan bahwa pembentukan konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda yang menuntut proses berfikir yang berbeda pula. baik yang pokok maupun tidak. sesungguhnya metode Discovery Learning merupakan pembentukan kategori-kategori atau konsep-konsep. seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan sekitarnya. 3) Karakteristik. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa. artinya. dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi). Seluruh kegiatan mengkategori meliputi mengidentifikasi dan menempatkan contoh-contoh (obyek-obyek atau peristiwaperistiwa) ke dalam kelas dengan menggunakan dasar kriteria tertentu. misalnya melalui gigitan. dan symbolic. Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak simbol. bahwa Discovery adalah pembentukan kategori-kategori. Semakin matang seseorang dalam proses berpikirnya. Sebagaimana teori Bruner tentang kategorisasi yang nampak dalam Discovery. dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Di dalam proses belajar. 2) Contohcontoh baik yang positif maupun yang negative. Maksudnya. Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa. Tahap iconic. dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik. seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. yaitu: enactive. yang dapat memungkinkan terjadinya generalisasi. Secara Matematika – SMA/MA/SMK | 213 . pegangan. 5) Kaidah (Budiningsih. Untuk memfasilitasi proses belajar yang baik dan kreatif harus berdasarkan pada manipulasi bahan pelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. atau lebih sering disebut sistem-sistem coding. Pembentukan kategori-kategori dan sistem-sistem coding dirumuskan demikian dalam arti relasi-relasi (similaritas & difference) yang terjadi diantara obyek-obyek dan kejadian-kejadian (events). 2. dan sebagainya.

B. teori. serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya. aturan.sederhana teori perkembangan dalam fase enactive. Dengan demikian seorang guru dalam aplikasi metode Discovery Learning harus dapat menempatkan siswa pada kesempatan-kesempatan dalam belajar yang lebih mandiri. historin. Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif. mengintegrasikan. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil Pembelajaran Berdasarkan fakta dan hasil pengamatan. bimbingan guru hendaklah lebih berkurang dari pada metode-metode mengajar lainnya. 2005:41). Hal yang menarik dalam pendapat Bruner yang menyebutkan: hendaknya guru harus memberikan kesempatan muridnya untuk menjadi seorang problem solver. Kemudian pada fase iconic ia menjelaskan keseimbangan pada gambar atau bagan dan akhirnya ia menggunakan bahasa untuk menjelaskan prinsip keseimbangan ini fase symbolic (Syaodih. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini. Hal tersebut memungkinkan murid-murid menemukan arti bagi diri mereka sendiri. b. mengkategorikan. Pada akhirnya yang menjadi tujuan dalam metode Discovery Learning menurut Bruner adalah hendaklah guru memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver. seorang scientist. atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya (Budiningsih. atau ahli matematika. menerapkan. Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian. dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti mereka. Matematika – SMA/MA/SMK | 214 . Menimbulkan rasa senang pada siswa. sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan (Sardiman. Karakteristik yang paling jelas mengenai Discovery sebagai metode mengajar ialah bahwa sesudah tingkat-tingkat inisial (pemulaan) mengajar. c. atau ahli matematika. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented. 85:2001). seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya. Hal ini tak berarti bahwa guru menghentikan untuk memberikan suatu bimbingan setelah problema disajikan kepada pelajar. Kelebihan Penerapan Discovery Learning a. iconic dan symbolic adalah anak menjelaskan sesuatu melalui perbuatan (ia bergeser ke depan atau kebelakang di papan mainan untuk menyesuaikan beratnya dengan berat temannya bermain) ini fase enactive. historin. 2005:145). membandingkan. mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulankesimpulan. penerapan pendekatan Discovery Learning dalam pembelajaran memiliki kelebhihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan. ingatan dan transfer. Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. Tetapi bimbingan yang diberikan tidak hanya dikurangi direktifnya melainkan pelajar diberi responsibilitas yang lebih besar untuk belajar sendiri. Dan melalui kegiatan tersebut siswa akan menguasainya. seorang scientis. Dalam metode Discovery Learning bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir. Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep. siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi. 1. menganalisis. karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil.

b. o. l. n. q. h. m. Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri. Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik. Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik. r. akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep. c. dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi. i. Pada beberapa disiplin ilmu. Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri. Langkah Persiapan Metode Discovery Learning a. d. Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang. Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasangagasan. e. minat. Bagi siswa yang kurang pandai. k. Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berfikir yang akan ditemukan oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru. j. Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar. Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa.d. Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak. gaya belajar. Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan manusia seutuhnya. Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti. Menentukan tujuan pembelajaran b. Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman. dan sebagainya) Matematika – SMA/MA/SMK | 215 . Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa. g. 2. Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama. e. Mendorong siswa berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri. Metode ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya. karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya. Kelemahan Penerapan Discovery Learning a. f. C. sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal. p. misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur gagasan yang dikemukakan oleh para siswa f. keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian. Langkah-langkah Operasional Implementasi dalam Proses Pembelajaran Langkah-langkah dalam mengaplikasikan model discovery learning di kelas adalah sebagai berikut: 1. karena membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya. yang tertulis atau lisan. Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri. sedangkan mengembangkan aspek konsep. Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru.

ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut: a. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan) Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya. Data collection (pengumpulan data). atau hipotesis. melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. Memilih materi pelajaran. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contohcontoh generalisasi) e. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh. Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah) Setelah dilakukan stimulation langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran. dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi. Dalam hal ini Bruner memberikan stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah 2004:244). Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan. tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa f. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa 2. d. membaca literatur. merupakan teknik yang berguna dalam membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah. Memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisa permasasalahan yang mereka hadapi. 2004:244).c. ilustrasi. Dengan demikian seorang Guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus kepada siswa agar tujuan mengaktifkan siswa untuk mengeksplorasi dapat tercapai. Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah. anjuran membaca buku. agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. b. dari yang konkret ke abstrak. mengamati objek. Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa belajar secara aktif Matematika – SMA/MA/SMK | 216 . Sedangkan menurut permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks. atau dari tahap enaktif. c. wawancara dengan nara sumber. Prosedur Aplikasi Metode Discovery Learning Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning di kelas. Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis. ikonik sampai ke simbolik g.

d. dan sebagainya. dihubungkan dengan hasil data processing (Syah. diacak. f. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang. serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu. ditabulasi. bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep. Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. semuanya diolah. dan sebagainya. lalu ditafsirkan. wawancara. 2004:244). Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi) Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama. teori. observasi. 2002:22). bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah. dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah. Matematika – SMA/MA/SMK | 217 . Verification menurut Bruner. atau informasi yang ada. pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek. Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Semua informai hasil bacaan.untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi. observasi. apakah terjawab atau tidak. 2004:244). dengan demikian secara tidak disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki. diklasifikasikan. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis e. Data processing (pengolahan data) Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran. apakah terbukti atau tidak. aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Verification (pembuktian) Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif.

dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. soal uraian Dari berbagai alat penilaian tertulis. sikap. tes memilih jawaban benar-salah. Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut: a. jawaban singkat c. penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun non tes. b. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kemampuan. misalnya kesesuian soal dengan indikator pada kurikulum. maka pelaksanaan penilaian dapat menggunakan contohcontoh format penilaian seperti tersebut di bawah ini. bahasa. c. Sistem Penilaian Dalam Model Pembelajaran Discovery Learning. a. pilihan ganda b. proses. konstruksi. Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami. maka dalam model pembelajaran discovery learning dapat menggunakan tes tertulis. isian singkat. menggambar dan lain sebagainya. yaitu:  Soal dengan memilih jawaban a. memahami.D. Pilihan ganda mempunyai kelemahan. menjodohkan  Soal dengan mensuplai-jawaban. atau penilaian hasil kerja siswa. berpikir logis. materi. yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar. mewarnai. dan menjodohkan merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah. isian atau melengkapi b. misalnya mengemukakan pendapat. yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). Ada dua bentuk soal tes tertulis. misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda. Penilaian Tertulis Penilaian tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Jika bentuk penialainnya berupa penilaian kognitif. misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas. dua pilihan (benar-salah. Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses. dan menyimpulkan. dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari. Alat penilaian ini kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas karena tidak menggambarkan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya. Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. Matematika – SMA/MA/SMK | 218 . sikap. Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat. Sedangkan penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif. maka peserta didik akan menerka. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda. atau penilaian hasil kerja siswa. ya-tidak) c. 1. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas.

Berkaitan dengan kompetensi afektif. dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur. membiasakan. Teknik penilaian diri dapat digunakan dalam berbagai aspek penilaian. misalnya. yang berkaitan dengan kompetensi kognitif. harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya c. Keuntungan penggunaan teknik ini dalam penilaian di kelas antara lain sebagai berikut: a. berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. karena ketika mereka melakukan penilaian. Dalam proses pembelajaran di kelas. karena mereka dituntut untuk jujur dan obyektif dalam melakukan penilaian. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. di mana subyek yang ingin dinilai diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan.2. karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri.. misalnya: peserta didik dapat diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dalam mata pelajaran tertentu. Penilaian Sikap Contoh Format Penilaian Sikap Mata Pelajaran: _________ Kelompok : _________ Semester: _________ Kelas : _________ Skor No 1 2 3 4 5 . peserta didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. berkaitan dengan kompetensi kognitif. afektif dan psikomotor. peserta didik dapat diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya sebagai hasil belajar berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.. Penilaian Diri Penilaian diri (self assessment) adalah suatu teknik penilaian. dapat mendorong. peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. 3. dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. status. Selanjutnya. . Berkaitan dengan kompetensi psikomotorik. b. Nama Siswa Komitmen Tugas Kerja Sama Ketelitian Minat Jumlah Skor Nilai Matematika – SMA/MA/SMK | 219 . peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu obyek sikap tertentu. Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang.

Jumlah Contoh Format Penilaian Kinerja Tanggal: ……………… Kelas: ……………… Aspek Yang Dinilai 1 Tingkat Kemampuan 2 3 4 Kriteria Penskoran 1.4. uraian yang dijabarkan rinci dan diperoleh dengan menggunakan seluruh indra disertai dengan gambar-gambar atau diagram B: Pengelompokan yang dilakukan siswa baik. uraian yang dijabarkan kurang rinci dan diperoleh dengan menggunakan sebagian besar indra dengan gambar-gambar atau diagram C: Pengelompokan yang dilakukan siswa cukup baik. Penilaian Hasil Kerja Siswa Nama Siswa: ……………… Input Tanggal: ……………… Proses Out Put/Hasil Kelas: ……………… Nilai Matematika – SMA/MA/SMK | 220 . uraian yang dijabarkan kurang sesuai dan diperoleh dengan menggunakan sebagian besar indra dengan gambargambar atau diagram 5. Baik Sekali Baik Cukup Kurang 4 3 2 1 Kriteria Penilaian 10 – 12 A 7– 9 B 4–6 C ≤ 3 D A: Pengelompokan yang dilakukan siswa sangat baik. uraian yang dijabarkan tidak rinci dan diperoleh dengan menggunakan sebagian kecil indra dengan gambar-gambar atau diagram D: Pengelompokan yang dilakukan siswa kurang baik. 2. 2. Penilaian Kinerja Nama Siswa: ……………… NO 1. 3. 4.

Motivasi Belajar Dan Daya Ingat Siswa. http://ebookbrowse. 2012. 1991... Holiwarni. 2009 Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Riau ISSN 1978-502X. 2000. http://prismabekasi. Teori-Teori Belajar..html (23 Mei 2013) Jurnal Geliga Sains 3 (2). 1996.com/2012/10/definisi-belajar-menurut-para-ahli. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berorientasi Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guide-Discovery Learning) yang Mengintegrasikan Kegiatan Laboratorium untuk Fisika SLTP Bahan Kajian Pengukuran. Tesis.com/2011/05/aplikasi-metode-discovery-learning. Penerapan Metode Penemuan Terbimbing pada Mata Pelajaran Sains untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN 016 Pekanbaru Kota (Laporan Penelitian). Rizqi. 2008. Syamsudini . Aplikasi Metode Discovery Learning Dalam Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah. UNESA (tidak dipublikasikan). Matematika – SMA/MA/SMK | 221 . Pekanbaru. RW. 8-13. Jakarta. M. Penerbit Erlangga.blogspot. Syah.com/pengertian-model-pembelajaran-discovery-learning-menurutpara-ahli-pdf-d368189396 (23 Mei 2013).Daftar Pustaka Dahar.html (23 Mei 2013). B. PT Remaja Rosdakarya. Bandung. http://darussholahjember.. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. dkk. Lemlit UNRI.blogspot.

Diskusi materi Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar.3 Paparan materi Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.3: Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Kegiatan Interaktif Diskusi Kelompok Paparan Materi 15 Menit 50 Menit 20 Menit Kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan bentuk penilaian autentik.2.Materi Pelatihan 2. Paparan materi Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar dengan menggunakan bahan tayang PPT-2. Matematika – SMA/MA/SMK | 222 .3/3.

Matematika – SMA/MA/SMK | 223 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 224 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 225 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 226 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 227 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 228 .

Untuk mendapatkan pemahaman cukup komprehentif mengenai arti asesmen autentik. baik dalam rangka mengobservasi. Asesmen autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual. frasa pengukuran atau pengujian autentik. prestasi. portofolio. Dalam American Librabry Association asesmen autentik didefinisikan sebagai proses evaluasi untuk mengukur kinerja. Secara konseptual asesmen autentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar sekali pun. dan sebagainya. atau reliabel. Istilah asesmen merupakan sinonim dari penilaian. valid. asesmen autentik sangat relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran. frasa asesmen autentik dan penilaian autentik sering dipertukarkan. merevisi dan membahas artikel. dan nilai prestasi luar sekolah. aktivitas mengamati dan mencoba. Asesmen autentik adakalanya disebut penilaian responsif. Akan tetapi. asesmen semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik. guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan. pengujian. menulis. dan sikap-sikap peserta didik pada aktifitas yang relevan dalam pembelajaran. berikut ini dikemukakan beberapa definisi. mencoba. memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik. Dalam kehidupan akademik keseharian. Karenanya. Wiggins mendefinisikan asesmen autentik sebagai upaya pemberian tugas kepada peserta didik yang mencerminkan prioritas dan tantangan yang ditemukan dalam aktifitas-aktifitas pembelajaran. B. motivasi. berkolaborasi dengan antarsesama melalui debat. seperti meneliti. asesmen autentik diartikan sebagai penilaian atas produk dan kinerja yang berhubungan dengan pengalaman kehidupan nyata peserta didik. Istilah autentik merupakan sinonim dari asli. Kata lain dari asesmen autentik adalah penilaian kinerja. suatu metode yang sangat populer untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik yang miliki ciri-ciri khusus.HO-2. Dalam Newton Public School. atau evaluasi. dan penilaian proyek. Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013 Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. dan lain-lain. khususnya jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai. Ketika menerapkan asesmen autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik. tidak lazim digunakan. menalar. dan pengetahuan. keterampilan. pengukuran. Karena. Definsi dan Makna Asesmen Autentik Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap. mulai dari mereka Matematika – SMA/MA/SMK | 229 . membangun jejaring. nyata. memberikan analisa oral terhadap peristiwa.3-1 KONSEP PENILAIAN AUTENTIK A.

dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik. Asesmen autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunkan standar tes berbasis norma. dengan orientasi utamanya pada proses atau hasil pembelajaran. pola penilaian seperti ini tidak diantikan dalam proses pembelajaran. Asesmen Autentik dan Belajar Autentik Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. kajian keilmuan. Asesmen autentik harus mampu menggambarkan sikap. karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek. peserta didik bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka lakukan. memiliki bakat dan minat khusus. kegiatan siswa belajar. Asesmen autentik dapat dibuat oleh guru sendiri. guru dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remidial harus dilakukan. Tentu saja. keterampilan. seringkali pelibatan siswa sangat penting. Asesmen semacam ini cenderung berfokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual bagi peserta didik. pilihan ganda. menjodohkan. Atas dasar itu. serta memamerkan dan menampilkan sesuatu. kemampuan mengaplikasikan atau menunjukkan perolehan pengetahuan tertentu. portofolio. bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya. motivasi dan keterlibatan peserta didik. dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar. atau guru bekerja sama dengan peserta didik. benar–salah. simulasi dan bermain peran. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang dilakukan oleh peserta didik dikaitkan dengan realitas di luar sekolah atau kehidupan pada umumnya. Dalam asesmen autentik. Peserta didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi. memilih kegiatan yang strategis. yang memungkinkan mereka secara nyata menunjukkan kompetensi atau keterampilan yang dimilikinya. dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah. serta keterampilan belajar. guru secara tim. dan sebagainya. atau membuat jawaban singkat. Contoh asesmen autentik antara lain keterampilan kerja. Asesmen autentik dapat juga diterapkan dalam bidang ilmu tertentu seperti seni atau ilmu pengetahuan pada umumnya.yang mengalami kelainan tertentu. peserta didik dapat melakukan aktivitas belajar lebih baik ketika mereka tahu bagaimana akan dinilai. Asesmen autentik mencoba menggabungkan kegiatan guru mengajar. Asumsinya. karena memang lzim digunakan dan memperoleh legitimasi secara akademik. Dalam beberapa kasus. Matematika – SMA/MA/SMK | 230 . C. hingga yang jenius. Karena penilaian itu merupakan bagian dari proses pembelajaran. guru dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja. Asesmen autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik. Pada asesmen autentik guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan.

meski dengan satuan waktu yang berbeda. Untuk bisa melaksanakan pembelajaran autentik. menjelaskan. dan mengasimilasikan pemahaman peserta didik. benar/salah. 1. guru harus menjadi “guru autentik. 4. pengukuran langsung keterampilan peserta didik yang berhubungan dengan hasil jangka panjang pendidikan seperti kesuksesan di tempat kerja. peserta didik diminta mengumpulkan informasi dengan pendekatan saintifik. Asesmen autentik pun mendorong peserta didik mengkonstruksi. seperti tes pilihan ganda. dan pengetahuan dicapai melalui penyelesaian tugas di mana peserta didik telah memainkan peran aktif dan kreatif. Keterlibatan peserta didik dalam melaksanakan tugas sangat bermakna bagi perkembangan pribadi mereka. 3. memahahi aneka fenomena atau gejala dan hubungannya satu sama lain secara mendalam. melainkan juga pada penilaian. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang diperlukan dalam kenyataannya di luar sekolah. memiliki parameter waktu yang fleksibel. 2. Menjadi pengasuh proses pembelajaran. Menjadi kreatif tentang bagaimana proses belajar peserta didik dapat diperluas dengan menimba pengalaman dari dunia di luar tembok sekolah. Dengan demikian. dan mengevaluasi informasi untuk kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan baru. Mengetahui bagaimana menilai kekuatan dan kelemahan peserta didik serta desain pembelajaran. guru harus memenuhi kriteria tertentu seperti disajikan berikut ini. Dalam pembelajaran autentik. analisis proses yang digunakan untuk menghasilkan respon peserta didik atas perolehan sikap. dan pengetahuan yang ada. melihat informasi baru. guru dan peserta didik memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi. Kedua.” Peran guru bukan hanya pada proses pembelajaran. menjodohkan. keterampilan. Pertama. menafsirkan. keteampilan. Peserta didik pun tahu apa yang mereka ingin pelajari. dan lain-lain telah gagal mengetahui kinerja peserta didik yang sesungguhnya. Wiggins (1993) menegaskan bahwa metode penilaian tradisional untuk mengukur prestasi. penilaian atas tugas-tugas yang memerlukan keterlibatan yang luas dan kinerja yang kompleks. menganalisis.Asesmen autentik mengharuskan pembelajaran yang autentik pula. mengorganisasikan. Di sini. Asesmen Autentik terdiri dari berbagai teknik penilaian. Tes semacam ini telah gagal memperoleh gambaran yang utuh Matematika – SMA/MA/SMK | 231 . serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia nyata yang luar sekolah. dan bertanggungjawab untuk tetap pada tugas. asesmen autentik akan bermakna bagi guru untuk menentukan cara-cara terbaik agar semua siswa dapat mencapai hasil akhir. Sejalan dengan deskripsi di atas. Ketiga. Asesmen autentik adalah komponen penting dari reformasi pendidikan sejak tahun 1990an. Konstruksi sikap. Mengetahui bagaimana cara membimbing peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan mereka sebelumnya dengan cara mengajukan pertanyaan dan menyediakan sumberdaya memadai bagi peserta didik untuk melakukan akuisisi pengetahuan. pada pembelajaran autentik. mensintesis.

keterampilan. Data asesmen autentik digunakan untuk berbagai tujuan seperti menentukan kelayakan akuntabilitas implementasi kurikulum dan pembelajaran di kelas tertentu. karena tidak menyentuh esensi nyata dari proses dan hasil belajar peserta didik. Memang. Untuk itu. tidak mampu menggambarkan kompetensi dasar. sudah saatnya guru profesional pada semua satuan pendidikan memandu gerakan memadukan potensi peserta didik. memori. keberanian berpendapat. Data asesmen autentik dapat dianalisis dengan metode kualitatif. seperti penalaran. Asesmen hasil belajar yang tradisional bahkan cenderung mereduksi makna kurikulum. mengenai keunggulan dan kelemahan. Dengan menggunakan informasi ini. guru harus memahami secara jelas tujuan yang ingin dicapai. sebagian mahir. dan kemampuan berpikir yang diartikulasikan dalam banyak mata pelajaran atau disiplin ilmu. atau proses. motivasi. keterampilan. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya. misalnya. Jenis-jenis Asesmen Autentik Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik. pendekatan apa pun yang dipakai dalam penilaian tetap tidak luput dari kelemahan dan kelebihan. keterampilan. kuanitatif. Penilaian Kinerja Asesmen autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik. Analisis holistik memberikan skor keseluruhan kinerja peserta didik. dan (3) tingkat pengetahuan apa yang akan dinilai. Rubrik penilaian dapat berupa analitik atau holistik. dan lingkungannya melalui asesmen proses dan hasil belajar yang autentik. guru harus bertanya pada diri sendiri. keterampilan. Ada beberapa cara berbeda untuk merekam hasil penilaian berbasis kinerja: Matematika – SMA/MA/SMK | 232 . berkaitan dengan sikap. Ketika asesmen tradisional cenderung mereduksi makna kurikulum. sekolah. seperti menilai kompetisi Olimpiade Sains Nasional. mahir.mengenai sikap. dan sebagainya. Namun demikian. dan pengetahuan peserta didik dikaitkan dengan kehidupan nyata mereka di luar sekolah atau masyarakat. dan rendah daya prediksinya terhadap derajat sikap. guru dapat memberikan umpan balik terhadap kinerja peserta didik baik dalam bentuk laporan naratif mauun laporan kelas. khususnya berkaitan dengan: (1) sikap. D. ketika itu pula asesmen autentik memperoleh traksi yang cukup kuat. Analisis kualitatif dari asesmen otentif berupa narasi atau deskripsi atas capaian hasil belajar peserta didik. dan pengetahuan apa yang akan dinilai. dan pengetahuan. misalnya. Beberapa jenis asesmen autentik disajikan berikut ini. Analisis kuantitatif dari data asesmen autentik menerapkan rubrik skor atau daftar cek (checklist) untuk menilai tanggapan relatif peserta didik relatif terhadap kriteria dalam kisaran terbatas dari empat atau lebih tingkat kemahiran (misalnya: sangat mahir. dan tidak mahir). maupun kuantitatif. 1. khususnya dalam proses dan aspek-aspek yangg akan dinilai. (2) fokus penilaian akan dilakukan.

misalnya. Daftar cek (checklist). ketepatan dan kelengkapan aspek kinerja yang dinilai. 3 = cukup. pertanyaan langsung.a. Matematika – SMA/MA/SMK | 233 . Misalnya. Kelima. atau pertanyaan pribadi. Guru menggunakan informasi dari memorinya untuk menentukan apakah peserta didik sudah berhasil atau belum. khususnya indikator esensial yang akan diamati. seperti penilaian sikap. d. Pengamatan atas kinerja peserta didik perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Keempat. Dari sini akan diperoleh keutuhan mengenai keterampilan berbicara dimaksud. dan wawancara. Misalnya: 5 = baik sekali. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif. Ketiga. urutan dari kemampuan atau keerampilan peserta didik yang akan diamati. Pertama. guru dapat mengobservasinya pada konteks yang. Memori atau ingatan (memory approach). dengan tanpa membuat catatan. c. Skala penilaian (rating scale). afektif dan psikomotor. Cara seperti tetap ada manfaatnya. 2 = kurang. langkahlangkah kinerja harus dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja yang nyata untuk suatu atau beberapa jenis kompetensi tertentu. berdiskusi. Untuk menilai keterampilan berbahasa peserta didik. Penilaian diri merupakan suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status. bercerita. b. Dari laporan tersebut. namun tidak cukup dianjurkan. fokus utama dari kinerja yang akan dinilai. Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records). Untuk mengamati kinerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen. Penilaian kinerja memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus. Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang harus muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan. seperti berpidato. guru dapat menentukan seberapa baik peserta didik memenuhi standar yang ditetapkan.  Penilaian ranah sikap. Kedua. observasi perilaku. 1 = kurang sekali. peserta didik diminta mengungkapkan curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan oleh peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. Biasanya digunakan dengan menggunakan skala numerik berikut predikatnya. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. Digunakan oleh guru dengan cara mengamati peserta didik ketika melakukan sesuatu. dari aspek keterampilan berbicara. Digunakan dengan cara guru menulis laporan narasi tentang apa yang dilakukan oleh masing-masing peserta didik selama melakukan tindakan. 4 = baik. Penilaian-diri (self assessment) termasuk dalam rumpun penilaian kinerja.

Penilaian proyek dapat menggunakan instrumen daftar cek. Selama mengerjakan sebuah proyek pembelajaran. memberi makna atas informasi yang diperoleh. Ketiga. Keterampilan peserta didik dalam memilih topik. mencari dan mengumpulkan data. Dengan demikian. analisis data. penyelidikan. pengerjaan. dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik. analisis. pengolahan. dan pengetahuannya. Penilaian ranah keterampilan. dan melatih peserta didik berperilaku jujur. dan lain-lain. Misalnya. penilaian proyek bersentuhan dengan aspek pemahaman. skala penilaian. dan penyiapkan laporan. Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau tertulis. Dalam kaitan ini serial kegiatan yang harus dilakukan oleh guru meliputi penyusunan rancangan dan instrumen penilaian. b. peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan. hasil karya Matematika – SMA/MA/SMK | 234 . setidaknya ada tiga hal yang memerlukan perhatian khusus dari guru. dan penyajian data. Penilaian ranah pengetahuan. mulai dari perencanaan. seperti makanan. Penilaian produk dimaksud meliputi penilaian atas kemampuan peserta didik menghasilkan produk. Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap. menumbuhkan semangat untuk maju secara personal. dan menulis laporan. pengumpulan data. mengaplikasikan. menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. a. Penilaian Proyek Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penilaian proyek berfokus pada perencanaan. Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan untuk menilai kualitas dan bentuk hasil akhir secara holistik dan analitik. Pertama. pada setiap penilaian proyek. pengumpulan data. Orijinalitas atas keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik. pakaian. Kedua. peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan sikap. Teknik penilaian-diri bermanfaat memiliki beberapa manfaat positif. c. dan produk proyek. keterampilan. peserta didik diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya oleh dirinya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. membiasakan. pengorganisasian. Karena itu. Misalnya. mengolah dan menganalisis. Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan penilaian khusus. mendorong. atau narasi. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik.  2. Keempat. keterampilan.

e. Penilaian Portofolio Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini. dan lain-lain. Penilaian secara holistik merujuk pada apresiasi atau kesan secara keseluruhan atas produk yang dihasilkan. guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan. kertas. komposisi musik.Fokus penilaian portofolio adalah kumpulan karya peserta didik secara individu atau kelompok pada satu periode pembelajaran tertentu. dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi. gambar. resensi buku/ literatur. Atas dasar penilaian itu. d. sinopsis. patung. 3. keramik. karet. Misalnya. Peserta didik. Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu. a. mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran. disertai catatan tanggal pengumpulannya. Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio. g. barang-barang terbuat dari kayu. atau informasi lain yang releban dengan sikap. Memalui penilaian portofolio guru akan mengetahui perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik. surat. Penilaian secara analitik merujuk pada semua kriteria yang harus dipenuhi untuk menghasilkan produk tertentu. dan lain-lain). hasil karya mereka dalam menyusun atau membuat karangan. Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat.seni (gambar. lukisan. f. lukisan. laporan penelitian. Jika memungkinkan. guru dan/atau peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan pembelajaran. Penilaian terutama dilakukan oleh guru. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik. Matematika – SMA/MA/SMK | 235 . plastik. keterampilan. b. foto. meski dapat juga oleh peserta didik sendiri. puisi. memerlukan refleksi peserta didik. Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio. Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai. dan karya logam. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok. c. dan pengetahuan yang dituntut oleh topik atau mata pelajaran tertentu. kulit. Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. baik sendiri maupun kelompok. hasil tes (bukan nilai).

mensintesis. menjodohkan. Memilih jawaban dan mensuplai jawaban. Mensuplai jawaban terdiri dari isian atau melengkapi. & Malouf. 25(4). Tahapan Pengembangan dan Contoh. J. Penilaian Tertulis Meski konsepsi asesmen autentik muncul dari ketidakpuasan terhadap tes tertulis yang lazim dilaksanakan pada era sebelumnya.. namun tetap terbuka memiliki kebenarann yang sama. ya-tidak. M. dan sebab-akibat. namun tetap terbuka memperoleh nilai yang sama. 2005. mengevaluasi. Teaching Exceptional Children. peserta didik tertentu melihat fenomena kemiskinan dari sisi pandang kebiasaan malas bekerja.4. Performance assessment and children with disabilities: Issues and possibilities. (1993). Contextualizing Authentic Assessment. penilaian tertulis atas hasil pembelajaran tetap lazim dilakukan. Hal ini sangat tergantung pada bobot soal yang diberikan oleh guru. Asesmen Berkelanjutan: Konsep dasar. Pada tes tertulis berbentuk esai. & Maxwell. Tes tersulis berbentuk esai biasanya menuntut dua jenis pola jawaban. asalkan analisisnya benar.. D. pilihan benar-salah. menerapkan. dan uraian. Muslimin. Matematika – SMA/MA/SMK | 236 . Masing-masing sisi pandang ini akan melahirkan jawaban berbeda. Assessment in Education. yaitu jawaban terbuka (extendedresponse) atau jawaban terbatas (restricted-response). Daftar Pustaka Ibrahim. Misalnya. dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari. J. Surabaya: UNESA University Press Anggota IKAPI Coutinho. memahami. (1999). Cumming. 6(2). rendahnya keterampilan. Memilih jawaban terdiri dari pilihan ganda. keterampilan. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehentif. Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat. mengorganisasikan. sehingga mampu menggambarkan ranah sikap. 177–194. atau kelangkaan sumberdaya alam. Tes semacam ini memberi kesempatan pada guru untuk dapat mengukur hasil belajar peserta didik pada tingkatan yang lebih tinggi atau kompleks. Tes tertulis terdiri dari memilih atau mensuplai jawaban dan uraian. dan pengetahuan peserta didik. jawaban singkat atau pendek. menganalisis. S. peserta didik berkesempatan memberikan jawabannya sendiri yang berbeda dengan teman-temannya. G. 63–67.

J. 34(1). Action in Teacher Education. 2008. (2004). J. (1993). J. S. Early Childhood Education Journal. R. (2002). G. Standards-based digital portfolios: A component of authentic assessment for preservice teachers. & Ysseldyke. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha Gatlin. Matematika – SMA/MA/SMK | 237 . 28–34. Hakikat Asesmen Otentik Sebagai Penilaian Proses Dan Produk Dalam Pembelajaran Yang Berbasis Kompetensi (Makalah disampaikan pada In House Training (IHT) SMA N 1 Kuta Utara). Phi Delta Kappan. Wiggins. & Jacob. Using authentic assessment to evidence children's progress toward early learning standards.Dantes.. & Brookshire.. Assessment: Authenticity.. 23(4). L. (2006). E.). R. Grisham-Brown. 75(3). 45–51. Salvia. Assessment in special and inclusive education (9th ed.. New York: Houghton Mifflin. Nyoman. context and validity. Hallam. 200 – 214.

maka siswa akan kehilangan rasa percaya diri. Dengan demikian alat asesmen yang digunakan tentunya tidak hanya mencakup tingkatan tertentu saja. menengah dan tinggi. Jika pendekatan negatif yang cenderung digunakan. penilaian (asesmen) merupakan bagian yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari kegiatan pembelajaran itu sendiri. akan tetapi maknanya sering disalahartikan dalam proses belajar mengajar.3-2 CONTOH PENERAPAN PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA A. kelima prinsip tersebut adalah sebagai berikut: (i). (ii). melainkan harus mencakup ketiga tingkatan asesmen. (iii). Prinsip ketiga: Asesmen harus bersifat operasional untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Sejatinya tujuan penilaian adalah untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas belajar siswa. maka seperangkat alat asesmen harus mencakup berbagai variasi yang bisa secara efektif mengungkap kemampuan yang dimiliki siswa. Berdasarkan pengalaman asesmen sering diartiakan sebagai upaya untuk mengungkap aspek-aspek yang belum diketahui siswa. tetapi pendekatan yang digunakan lebih bersifat negatif. Matematika – SMA/MA/SMK | 238 .HO-2. Walaupun hal ini tidak sepenuhnya salah. Asesmen seringkali dipandang sebagai produk akhir dari suatu proses pembelajaran yang tujuan utamanya untuk memberikan penilaian bagi masing-masing siswa. Makna yang sebenarnya dari asesmen tidak hanya menyangkut penyedian informasi tentang hasil belajar dalam bentuk nilai. Prinsip kedua: Metode asesmen harus dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa mampu mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui bukan mengungkap apa yang tidak diketahui. Jadi penilaian bukan sekedar untuk menentukan rangking atau skor siswa yang pada akhirnya justru dapat menjadi penghalang bagi peningkatan kualitas belajar. yaitu: rendah. karena tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan yang sudah mereka miliki. Prinsip pertama: Asesmen harus ditujukan untuk meningkatkan kualitas belajar dan pengajaran. Karena kemampuan berpikir tingkat tinggi lebih sulit untuk diases. akan tetapi yang terpenting adalah adanya balikan tentang proses belajar yang telah terjadi. Pengantar Dalam proses pembelajaran. Menurut de Lange (dalam Tatang Herman) terdapat lima prinsip utama yang melandasi asesmen dalam pembelajaran. Tambahan lagi bahwa penilaian bukan akhir dari pembelajaran tapi yang paling utama adalah balikan dari proses belajar yang telah berlangsung. Walaupun ide ini bukan hal yang baru.

Walaupun untuk menyusun alat asesmen dengan tingkatan tinggi lebih sulit. pengalaman menunjukkan bahwa tugas-tugas yang ada didalamnya memiliki banyak keunggulan. Salah satu keunggulannya siswa memiliki kebebasan untuk mengekspresikan ide-idenya sehingga jawaban yang diberikan mereka biasanya sangat bervariasi. (v). guru segara bisa mengambil langkah yang tepat. Terkait dengan konsep penilaian autentik. penilaian adalah proses pengumpulan berbagai informasi yang dapat memberikan gambaran sebenarnya tentang perkembangan belajar siswa. akuntabel dan edukatif. terpadu. dan pengetahuan Matematika – SMA/MA/SMK | 239 . Artinya. diantaranya adalah a. proses dan keluaran (output) pembelajaran b. Dengan demikian konstruksi tes dapat disusun dengan format yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan serta pencapaian tujuan yang ingin diungkap. ekonomis. Konsep ini sesungguhnya mempunya core bahwa kemajuan belajar itu diperlukan selama proses pembelajaran. Prinsip keempat: Kualitas alat asesmen tidak ditentukan oleh mudahnya pemberian skor secara objektif. Gambaran perkembangan belajar siswa ini perlu diketahui oleh guru agar bisa menentukan tindakan selanjutnya disamping memastikan bahwa siswa telah mengalami pembelajaran dengan benar. jika ada tanda-tanda siswa mengalami kemacetan dalam belajar.66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan disebutkan bahwa penilaian hasil peserta didik didasarkan prinsip objektif. transparan. Sehingga penilaian tidak hanya dilakukan di akhir periode pembelajaran tetapi dilakukan bersama (simultan) dan merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam pembelajaran. Umumnya pemberian skor secara objektif bagi setiap siswa menjadi faktor yang sangat dominan manakala dilakukan asesmen terhadap kualitas suatu tes. Akibat dari penerapan pandangan ini adalah bahwa suatu alat asesmen hanya terdiri atas sejumlah soal dengan tingkatan rendah yang memudahkan dalam melakukan penskoran. Selain itu guru dimungkinkan untuk melihat secara mendalam proses berpikir yang digunakan siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan. Prinsip kelima: Alat asesmen hendaknya bersifat praktis. Sementara itu dalam Permendikbud No. Kaitannya dengan pengertian ada beberapa definisi mengenai penilaian autentik. Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input).(iv). Penilaian autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap. keterampilan.

perekaman dan pendokumentasian karya (apa yang dilakukan anak dan bagaimana hal itu dilakukan) sebagai dasar penentuan keputusan yang dapat menuju pada pembentukan anak sebagai individual learner (pembelajar mandiri). Dari berbagai pendefinisian diatas ada satu benang merah yang mengaitkan ketiganya yaitu penilaian yang mengutamakan perolehan fakta aktual (pada saat itu) tentang pengetahuan. Penilaian autentik adalah penilaian yang dilakukan menggunakan beragam sumber. pada saat/setelah kegiatan pembelajaran berlangsung. e. d. dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pembelajaran. Penilaian autentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan.c. keterampilan dan sikap dengan berbagai cara. Penilaian autentik merupakan proses pengamatan. membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai. Dibawah ini adalah gambaran penilaian autentik dibanding penilaian tradisional Penilaian autentik komprehensif Penilaian tradisional Matematika – SMA/MA/SMK | 240 .

Ternyata ada dua siswa yang memilih jawaban yang benar (Jawaban: E). Kemudian diberikan soal/instrumen untuk menilai sebagai berikut. namun sebenarnya mereka mengerjakan dengan cara yang sangat berbeda. Penilaian autentik dalam matematika Seperti penjelasan terdahulu. Terlihat adanya upaya ‘i ola i’ variabel di rua kiri. penilaian tradisional yang selama ini kita terapkan tidak akan menggambarkan kompetensi atau kualitas belajar siswa. Dari contoh ter ebut terlihat sangat nyata kelemahan penilaian dengan instrumen pilihan ganda seperti di atas yang tidak melihat proses pengerjaan.B. Matematika – SMA/MA/SMK | 241 . Sebagai contoh. kita ingin mengetahui kompetensi siswa dalam belajar (memahami) solusi persamaan linear. SISWA 1 SISWA 2 Jelas bahwa siswa 1 tidak memahami cara menyelesaikan persamaan linear karena dia hanya menerapkan prin ip “a al ama dicoret” ementara siswa 2 amat paham proses penyelesaian per amaan linear. dimana kedua siswa terjaring (oleh penilaian tradisional) sebagai berkemampuan sama padahal sejatinya sangat berbeda.

Oleh karena itu perlu adanya jabaran mengenai aspek penilaian autentik dalam matematika. benarsalah. Secara khusus aspek yang akan dimunculkan dalam untuk mengetahui kualitas belajar matematika adalah (1) pemahaman konsep matematika. menjodohkan. Daftar pertanyaan pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas c. disertai rubric Instrumen Daftar cek/skala penilaian (rating scale) yang Matematika – SMA/MA/SMK | 242 . jawab singkat. Penilaian kompetensi sikap Teknik  Observasi  Penilaian diri  Penilaian antar peserta didik  Jurnal b. (3) kemampuan pemecahan masalah dan (4) sikap matematis Teknik dan instrumen dalam penilaian autentik Berbagai macam cara untuk memperoleh informasi kemampuan atau kualitas belajar siswa dalam rangka penilaian autentik. Teknik dan instrumen yang digunakan untuk penilaian kompetensi sikap. dan uraian. (2) keterampilan matematika. Aspek a. pengetahuan. sikap dan keterampilan dari semua bidang.Aspek penilaian autentik Semangat kurikulum sekarang mengamanatkan bahwa kompetensi harus meliputi tiga ranah. yaitu pengetahuan. penilaian kompetensi pengetahuan  Tes lisan  Penugasan  tes tulis Soal pilihan ganda. penilaian kompetensi ketrampilan  praktik  proyek  praktik Daftar cek/skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran. dan keterampilan sebagai berikut. isian.

Tugas Gambaran mengenai perkembangan kualitas belajar matematika dapat dilihat dari tugas yang diselesaikan. dst Trigono sering keliru dalam mengalikan dan menjumlah kan pecahan Gamma berpikirnya divergen dan sangat terampil dalam menggunakan jangka. Tanya jawab Wujud dari tanya jawab ini boleh saja berupa kegiatan presentasi oleh siswa atau tanya jawab secara personal. Contoh dari hasil pengamatan kelas didapatkan Nama Siswa Jabar Hasil Pengamatan Jabar tidak begitu menanggapi jika ditanya teman sebangkunya Alfa tidak memahami pencoretan dalam persamaan. namun dengan dipersiapkan secara nyata akan lebih membantu dalam melakukan pengamatan.Berikut ini contoh penilaian autentik: 1.. Tugas dapat dapat dikaitkan dengan fenomena lingkungan atau bisa juga murni mengenai konsep yang ada di matematika. 3. Pengamatan langsung (observasi) Sesungguhnya pengamatan langsung ini sering kita lakukan dalam kegiatan pembelajaran. 2.. walaupun sekedar menyiapkan catatan. Oleh karena penilaiannya setelah Matematika – SMA/MA/SMK | 243 . karena untuk menentukan nilai dia melakukan pengerjaan: Alfa Trigono Gamma .

Pada kenyataannya. Di dalamnya bisa termasuk tugas. Misalnya siswa diminta mengukur tinggi tiang bendera dengan menggunakan identiitas trigonometri. hasil tes. Untuk memberikan ruang bagi penilaian autentik maka pilihan ganda perlu ditambah dengan cara pengerjaan. Penutup Kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari proses pembelajaran adalah penilaian. 4. dan sebagainya. Penilaian autentik hakekatnya adalah menggali informasi sebenarnya Matematika – SMA/MA/SMK | 244 . 5. Portofolio merupakan sumber data yang sangat baik bagi guru. Pragmatis penyekoran sering sebagai pertimbangan.tugas diselesaikan maka akan sangat bagus jika dikombinasikan dengan teknik lainnya misalnya dengan wawancara. tes dilakukan setelah proses pembelajaran atau kegiatan selesai. model pilihan ganda yang paling banyak digunakan. Selain itu portofolio dapat digunakan oleh siswa untuk melihat perkembangan yang terjadi terhadap dirinya dalam kurun waktu tertentu. Sayangnya tes seperti biasanya berujung pada penyekoran. Penilaian haruslah tertuju pada peningkatan kualitas belajar siswa dan kualitas pembelajaran. sehingga cenderung mangabaikan proses. Tes Sesuai dengan penjelasan sebelumnya. laporan. Oleh karena itu setiap portofolio harus diberi catatan tanggal penyusunannya Untuk menjamin penilaian benar-benar faktual maka perlu adanya kombinasi dari berbagai teknik di atas C. Portofolio Bahasa sederhana dari potofolio adalah kumpulan pekerjaan yang telah dilakukan oleh siswa. catatan guru.

(2013). Tetapi perlu dicatat bahwa penilaian autentik bukan refleksi dari kemampuan yang telah dimiliki melainkan refleksi terhadap kemampuan yang dapat dikembangkan.(_____).html diakses 17 Februari 2013 http://www. . Jakarta Sudarwan. Asesmen Otentik. Jurusan Pendidikan Matematika http://www. Prof. Referensi Kemdikbud..tentang kemampuan siswa dalam belajar. Makalah pada Workshop Kurikulum.vn diakses 17 Februari 2013 Matematika – SMA/MA/SMK | 245 .ntu. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2013 Tentang Standar Penilaian Pendidikan.eduplace. (2013). Jakarta Tatang Herman.com/rdg/res/litass/auth. Asesmen dalam Pembelajaran Matematika.edu.

4 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Matematika – SMA/MA/SMK | 246 . Kerja Kelompok Kerja kelompok menganalisis kesesuaian buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Simpulan Menyimpulkan hasil diskusi dan menyampaikan format lembar kerja yang telah disiapkan.4-1 dan LK -2. dan KD dengan menggunakan LK-2. kecukupan. dan kedalaman materi.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Langkah Kegiatan Inti Menilai Buku Diskusi Kelompok Menyimpulkan Hasil Kerja Kelompok 20 Menit 80 Menit 20 Menit 40 Menit Menyimpulkan Presentasi Kerja Kelompok Diskusi Kelompok 15 Menit 30 Menit 30 Menit 30 Menit Menilai Buku Peserta menilai buku dengan bimbingan fasilitator dilihat dari aspek kesesuaian. KI. Diskusi Kelompok Diskusi kelompok hasil penilaian buku dilanjutkan dengan pemaparan materi Analisis Buku Guru dan Buku Siswa dengan menggunakan PPT-2.4-2.Materi Pelatihan : 2.

pendekatan belajar.Diskusi Kelompok Diskusi kelompok untuk menganalisis kesesuaian proses. Presentasi Presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Kerja Kelompok Kerja kelompokmembuat contoh-contoh penerapan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. Simpulan Fasilitatormenyimpulkan materi analisis buku. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. Matematika – SMA/MA/SMK | 247 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 248 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 249 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 250 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 251 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 252 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 253 .

Pelajari format Analisis Buku Sswa! 3. 4. 3. Berdasarkan hasil analisis. tuliskan tindak lanjut hasil analisis sebagai berikut! a. buku bisa digunakan dalam pembelajaran. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. Matematika – SMA/MA/SMK | 254 . Jika kurang/tidak sesuai. Menganalisis kesesuaian isi buku siswa dengan SKL. 3. KI dan KD. Anda disarankan untuk memberikan rekomendasi tindak lanjut yang harus dikerjakan guru sebagai pengguna buku guru tersebut. Jika sesuai dengan kebutuhan. Siapkan SKL. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan konsep pendekatan scientificdan penialain autentik. Tujuan 1. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Lakukanlah analisis terhadap buku tersebut dengan menggunakan format yang tersedia! 6. b. 2. Menganalisis keterpaduan antar mata pelajaran atau antar konsep/topik. KI. KI dan KD sesuai jenjang pendidikan dan mata pelajaran! 4. Panduan Kegiatan 1. Kerjakanlah secara berkelompok! 2. dan KD.LK–2.4-1 LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU PETUNJUK PENGISIAN LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU Kompetensi 1. 2. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Cermatilah buku siswa yang sesuai dengan materi ajar yang Anda ampu! 5. Merencanakan tindak lanjut dari hasil analisis .

...... : ................ : ....................... 2........... 4... Penerapan Pendekatan Scientific Penilaian Autentik yang Tersedia dalam Buku Siswa TIDAK SESUAI SESUAI SEBAGIAN SESUAI TINDAK LANJUT HASIL ANALISIS 8.......... dan b.................. Kedalaman materi ditinjau dari: a............ 6..LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU Judul buku Kelas Jenjang Tema/Topik : .................................... Karakteristik siswa 7.. 5..................................................... 1.... dan b.. Matematika – SMA/MA/SMK | 255 .......... ASPEK YANG DIANALISIS Kesesuaian dengan SKL Kesesuaian dengan KI Kesesuaian dengan KD Kesesuaian dengan Topik Kecukupan materi ditinjau dari: a.................... HASIL ANALISIS NO..................................................................................... alokasi waktu................... cakupan konsep/materi esensial. 3............................... : .......................... Pola pikir keilmuan...........................

buku bisa digunakan dalam pembelajaran. 3. dan KD. Pelajari format Analisis Buku Sswa! 3. Jika kurang/tidak sesuai. Siapkan SKL. 4. KI dan KD. Menganalisis kesesuaian isi buku siswa dengan SKL.4-2 LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA PETUNJUK PENGISIAN LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA Kompetensi 1. Panduan Kegiatan 1. 3.LK–2. Lakukanlah analisis terhadap buku tersebut dengan menggunakan format yang tersedia! 6. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. 2. Kerjakanlah secara berkelompok! 2. Anda disarankan untuk memberikan rekomendasi tindak lanjut yang harus dikerjakan guru sebagai pengguna buku guru tersebut. tuliskan tindak lanjut hasil analisis sebagai berikut! a. Tujuan 1. KI. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan konsep pendekatan scientificdan penialain autentik. 2. Cermatilah buku siswa yang sesuai dengan materi ajar yang Anda ampu! 5. Berdasarkan hasil analisis. Jika sesuai dengan kebutuhan. b. Merencanakan tindak lanjut dari hasil analisis . KI dan KD sesuai jenjang pendidikan dan mata pelajaran! 4. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Menganalisis keterpaduan antar mata pelajaran atau antar konsep/topik. Matematika – SMA/MA/SMK | 256 .

.................................................... HASIL ANALISIS NO.. dan d................................................. : ........ cakupan konsep/materi esensial............. : ....LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA Judul buku Kelas Jenjang Tema/Topik : ......................... ASPEK YANG DIANALISIS Kesesuaian dengan SKL Kesesuaian dengan KI Kesesuaian dengan KD Kesesuaian dengan Topik Kecukupan materi ditinjau dari: c............. Matematika – SMA/MA/SMK | 257 ....... alokasi waktu................... 2....... Penerapan Pendekatan Scientific Penilaian Autentik yang Tersedia dalam Buku Siswa TIDAK SESUAI SESUAI SEBAGIAN SESUAI TINDAK LANJUT HASIL ANALISIS 8....... 4.. 5............................................ 1....... 6.................. dan d...................... Karakteristik siswa 7............ 3........................................ Kedalaman materi ditinjau dari: c............ Pola pikir keilmuan......... : .............................................

Setelah selesai penilaian masing-masing komponen. tindak lanjut tidak logis 3. jumlahkan nilai seluruh komponen sehingga menghasilkan nilai hasil analisis buku guru/siswa. tindak lanjut logis Hasil analisis kurang tepat. Matematika – SMA/MA/SMK | 258 . Langkah-langkah penilaian hasil analisis. 1. tindak lanjut logis dan bisa dilaksanakan Hasil analisis tepat.R–2. Berikan nilai pada setiap aspek yang dianalisis sesuai dengan penilaian Anda terhadap hasil analisis peserta menggunakan rentang nilai sebagai berikut! PERINGKAT Amat Baik ( AB) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 < A ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 80 < 70 KRITERIA Hasil analisis tepat. tindak lanjut kurang logis Hasil analisis kurang tepat.4 RUBRIK PENILAIAN HASIL ANALISIS BUKU GURU DAN SISWA Rubrik penilaian analisis buku guru dan buku siswa digunakan fasilitator untuk menilai hasil analisis peserta terhadap buku guru dan buku siswa sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Cermati format penilaian analisis buku guru atau buku siswa serta hasil analisis peserta yang akan dinilai! 2.

2. Penyusunan RPP 3.1.MATERI PELATIHAN 3 : MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN (8 JP) 3. Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Matematika – SMA/MA/SMK | 259 .

Standar Proses. Lembar KerjaTelaah RPP ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 260 . LINGKUP MATERI 1. dan pendekatan scientific. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. Panduan tugas menelaah rancangan penilaian pada RPP. B. PERANGKAT PELATIHAN 1. c. C. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1.1 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. 5. 2. Menunjukkan sikap tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP. 2. kultural. Penyusunan RPP. Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar. 3. 3. 6. 4. 7. Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun. 8. emosional. Menunjukkan sikap tanggung dan kreatif dalam menyusun rancangan penilaian autentik. Panduan tugas telaah RPP. Bahan Tayang a. Menelaah rancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar yang ada dalam RPP. 2. INDIKATOR 1. Rambu-rambu Penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3. D. menyusun RPP yang menerapkan pendekatan scientific sesuai model belajar yang relevan dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. Mengidentifikasi kaidah perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. 9. 2. b. dan merancang penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. Menelaah RPP. Menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran. KI dan KD.MATERI PELATIHAN 3: MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN A. Mengidentifikasi rambu-rambu penyusunan RPP. sosial. maupun intelektual. moral.

Menyimpulkan hasil penilaian RPP dengan dipandu oleh fasilitator. File. Kerja kelompok untuk menyusun RPP yang sesuai dengan SKL.2 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.1. teliti. alokasi waktu.1. indikator. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung.1 dan Panduan Tugas Telaah RPP dengan menggunakan PPT-3. dan pendekatan scientific (terutama KD di awal semester 1).SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 3. 205 Menit 15 menit 10 Menit 40 Menit 80 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 261 . dan KD. Laptop. MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN 8 JP (@45 MENIT) SMA/MA. atau media pembelajaran lainnya. kompetensi. KI. seperti LCD Projector. Active Speaker. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 3. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran. dan Laser Pointer.1 Penyusunan RPP Saling menilai RPP yang dibawa setiap peserta. antusias. dilanjutkan dengan paparan materi tentang Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3. Standar Proses. Fasilitator memotivasi peserta agar serius. tujuan. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. Diskusi rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran.

2/3.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Diskusi dan tanya jawab tentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes termasuk portofolio.Diskusi format telaah RPP dengan mengacu pada bahan tayang PPT-3. ICE BREAKER 3. Fasilitator menutup pembelajaran 20 Menit 35 menit 5 Menit 120 Menit 40 Menit 30 Menit 60 Menit 10 Menit 5 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 262 .2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Kerja kelompok untuk menelaah dan merevisi rancangan penilaian autentik pada RPP yang telah disusun berdasarkan panduan tugas menelaah rancangan penilaian Presentasi hasil kerja kelompok (sampel) ICE BREAKER KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran.2 serta Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP yang tealh dibuat dengan menggunakan PPT-3. Kerja Kelompok untuk menelaah RPP yang disusun kelompok lain dengan menggunakan LK-3.2. Kerja kelompok untuk menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika menggunakan HO-2. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.1/3. dilanjutkan dengan pemaparan oleh fasilitator tentang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika menggunakan PPT 2.2.1.2/3.2. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.

Matematika – SMA/MA/SMK | 263 . c.1: Penyusunan RPP Langkah Kegiatan Inti Tugas Individu: Saling Menilai RPP Menyimpulkan Hasil Penilaian RPP Diskusi 15 Menit 10 Menit 40 Menit Kerja Kelompok Diskusi Kerja Kelompok 35 Menit 20 Menit 80 Menit Aktivitas 1: Menilai RPP Menilai RPP Peserta Lain a. Hasil penilaian dipresentasikan oleh peserta yang ditunjuk instruktur. Setiap peserta diwajibkan membawa dua set RPP yang telah digunakan dalam proses pembelajaran sesuai mata pelajaran yang diampu. RPP tersebut dikumpulkan kepada panitia untuk kemudian dibagikan kembali ke peserta untuk dinilai oleh peserta lainnya dengan menggunakan acuan pengetahuan masing-masing peserta.Materi Pelatihan 3. Hasil penilaian dituliskan langsung pada halaman depan RPP. Peserta menyimpulkan hasil penilaian RPP dengan dipandu oleh Instruktur. Diskusi rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific. b. Instruktur mencatat hasil penilaian yang dilaporkan peserta. Peserta lainnya menyampaikan hasil penilaian yang tidak sama dengan peserta lainnya.

dan KD.1 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.1. Aktivitas 2: Kerja Kelompok Kerja kelompok untuk menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. Standar Proses. Diskusi format telaah RPPdengan mengacu pada bahan tayang PPT-3. Matematika – SMA/MA/SMK | 264 . Aktivitas 3: Kerja Kelompok Kerja Kelompok untuk menelaah RPP yang disusun kelompok lain dengan menggunakan LK-3. KI. dan pendekatan scientific (terutama KD di awal semester 1).Paparan materi tentang Rambu-rambu Penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3.1/3.2.

Matematika – SMA/MA/SMK | 265 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 266

Matematika – SMA/MA/SMK | 267

Matematika – SMA/MA/SMK | 268

HO-3.1-2

CONTOH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Satuan Pendidikan Kelas/Semester Mata Pelajaran Topik Waktu : SMA : X/2 : Matematika-Wajib : Trigonometri : 2 × 45 menit

A. Kompetensi Inti SMA kelas X: 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia 3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. B. Kompetensi Dasar 2.1 Menunjukkan sikap senang, percaya diri, motivasi internal, sikap kritis, bekerjasama, jujur dan percaya diri dalam menyelesaikan berbagai permasalahan nyata. 2.2 Memiliki sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif 3.17Memahami dan menentukan hubungan perbandingan Trigonometri dari sudut di setiap kuadran, memilih dan menerapkan dalam penyelesaian masalah nyata dan matematika 4.7 Memanfaatkan informasi dari suatu permasalahan nyata, membuat model berupa fungsi dan persamaan Trigonometri serta menggunakannya dalam menyelesaikan masalah. C. Indikator Pencapaian Kompetensi 1. Terlibat aktif dalam pembelajaran trigonometri. 2. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok. 3. Toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
Matematika – SMA/MA/SMK | 269

4. Menjelaskan kembali pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis, ordinat, dan jari-jari pada sumbu koordinat. 5. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I. 6. Terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. D. Tujuan Pembelajaran Dengan kegiatan diskusi dan pembelajaran kelompok dalam pembelajaran trigonometri inii diharapkan siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan bertanggungjawab dalam menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, memberi saran dan kritik, serta dapat 1. Menjelaskan kembali pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis, ordinat, dan jari-jari pada sumbu koordinat kartesius secara tepat, sistematis, dan menggunakan simbol yang benar. 2. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I secara tepat dan kreatif. E. Materi Matematika 1. Mengingat kembali mengenai perbandingan trigonometri, fungsi trigonometri, besar sudut (tumpul dan refleks), dan koordinat kartesian. Dengan domain { : 0o    90o}, fungsi trigonometri didefinisikan lewat perbandingan trigonometri, sbb. sin  = (panjang sisi di depan sudut ) / panjang hipotenusa cos  = (panjang sisi di samping sudut ) / panjang hipotenusa tan  = (panjang sisi di depan sudut ) / (panjang sisi di samping sudut ) sec  = 1/cos  csc  = 1/sin  cot  = 1/tan  Sudut telah didefinisikan sebagai bangun geometri yang dibentuk oleh dua sinar bertitik pangkal sama. Dengan definisi tsb, dikenal beberapa macam sudut berdasarkan besarnya, sbb. sudut nol :  = 0o sudut lancip : 0o    90o sudut siku-siku: :  = 90o sudut tumpul : 90o    180o sudut lurus :  = 180o sudut refleks : 180o    360o

Matematika – SMA/MA/SMK | 270

Bidang datar berdasarkan sistem koordinat kartesian terbagi ke dalam 4 region/daerah: kuadran I, kuadran II, kuadran III, dan kuadran IV. Kuadran I Kuadran II Kuadran III Kuadran IV : : : : absis dan ordinat positif absis negatif, ordinat positif absis dan ordinat negatif absis positif, ordinat negatif
II III I IV

2. Perluasan definisi fungsi trigonometri dari perbandingan sisi-sisi segitiga siku-siku menjadi perbandingan absis, ordinat dan jari-jari. Beberapa pertanyaan penggugah:  Apakah perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku, dapat mendefinisikan fungsi trigonometri untuk sudut 90o?  Apakah perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku, juga dapat mendefinisikan fungsi trigonometri untuk sudut di atas 90o, misalnya kosinus dari 120o?  Dapatkah kita memperluas definisi fungsi trigonometri menggunakan cara lain (yang tidak bertentangan dengan definisi perbandingan trigonomeri pada segitiga siku-siku)? Jika titik sudut ditempatkan pada titik pusat sumbu koordinat kartesian dan salah satu kaki sudut berimpit dengan sumbu x positif, serta daerah interior sudut terletak pada kuadran I maka posisi yang demikian disebut posisi standar (baku) sudut tsb. Pada posisi standar maka perbandingan sisi-sisi pada segitiga siku-siku dapat diganti menjadi perbandingan absis, ordinat dan jari-jari. panjang sisi di depan sudut diganti menjadi ordinat panjang sisi di samping sudut diganti menjadi absis hipotenusa segitiga siku-siku diganti menjadi jari-jari Jadi, sin  = ordinat / jari-jari cos  = absis / jari-jari tan  = ordinat / absis c

b a

P(x,y) r

O
Matematika – SMA/MA/SMK | 271

b c a cos  = c b tan  = a

sin  =

y r x cos  = r y tan  = x

sin  =

3. Hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan nilai fungsi trigonometri di kuadran I. Jika pada posisi standar, salah satu kaki sudut berada di kuadran II maka sudut tsb kita namakan sudut di kuadran II. Pengertian yang sama untuk konsep sudut di kuadran II, dan sudut di kuadran IV.

Berdasarkan definisi fungsi trigonometri berdasarkan absis, ordinat dan jari-jari maka nilai fungsi trigonometri untuk sudut-sudut di kuadran II, II, dan IV sebagai berikut. Misalkan 0o    90o maka Kuadran II (sudut (180o   ) atau (90o +  ) di kuadran II) sin (180o   ) = sin  atau sin (90o +  ) = cos  cos (180o   ) = cos  atau cos (90o +  ) = sin  tan (180o   ) = tan  atau tan (90o +  ) = cot  Kuadran III (sudut (180o +  ) atau (270o   ) di kuadran III) sin (180o +  ) = sin  atau sin (270o   ) = cos  cos (180o +  ) = cos  atau cos (270o   ) = sin  tan (180o +  ) = tan  atau tan (270o   ) = cot  Kuadran IV (sudut (360o   ) di kuadran IV) sin (360o   ) = sin  atau sin (270o +  ) = cos  cos (360o   ) = cos  atau cos (270o +  ) = sin 
Matematika – SMA/MA/SMK | 272

tan (360o   ) = tan 

atau

tan (270o +  ) = cot 

Tampak bahwa  Pada kuadran II hanya nilai sinus yang positif, pada kuadran III hanya nilai tangen yang positif, dan pada kuadran IV hanya nilai kosinus yang positif.  Untuk relasi sudut yang jumlah atau selisihnya merupakan kelipatan 180 o maka jenis fungsi trigonometrinya tidak berubah.  Untuk relasi sudut yang jumlah atau selisihnya merupakan kelipatan 90 o maka jenis fungsi trigonometrinya berbeda saling komplementer. (sinus dengan kosinus, tangen dengan kotangen). F. Model/Metode Pembelajaran Pendekatan pembelajaran adalah pendekatan saintifik (scientific). Pembelajaran koperatif (cooperative learning) menggunakan kelompok diskusi yang berbasis masalah (problem-based learning).

G. Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Pendahuluan Deskripsi Kegiatan Alokasi Waktu

1. Guru memberikan gambaran tentang pentingnya 10 menit memahami Trigonometri dan memberikan gambaran tentang aplikasi Trigonometri dalam kehidupan seharihari. 2. Sebagai apersepsi untuk mendorong rasa ingin tahu dan berpikir kritis, siswa diajak memecahkan masalah mengenai bagaimana mendapatkan nilai sinus sudut 90 o dan nilai sinus sudut di atas 90o, misalnya 120o. (tidak terpecahkan bila menggunakan definisi menggunakan sisi-sisi pada segitiga siku-siku). 3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yaitu memperluas definisi fungsi trigonometri agar nilai fungsi trigonometri dapat diperoleh untuk besar sudut 0o, 90o, sudut tumpul dan sudut refleks. 1. Guru bertanya tentang bagaimana mengaitkan sisi-sisi 70 menit pada segitiga siku-siku dengan koordinat pada sumbu koordinat kartesius. 2. Bila siswa belum mampu menjawabnya, guru memberi scaffolding dengan mengingatkan siswa dengan sudut sebagai besar putaran. 3. Dengan tanya jawab, disimpulkan bahwa pada kuadran I, istilah panjang sisi di depan sudut dapat diganti
Matematika – SMA/MA/SMK | 273

Inti

4.

5.

6. 7.

8.

9.

10. 11.

12.

13. Penutup

ordinat, panjang sisi di samping sudut diganti absis, dan hipotenusa diganti jari-jari. Dengan tanya jawab, siswa diyakinkan bahwa definisi menggunakan absis, ordinat, dan jari-jari ini lebih luas dari pada definisi menggunakan sisi-sisi segitiga sikusiku. Selanjutnya, guru membuka cakrawala penerapan definisi fungsi yang diperluas itu untuk sudut yang sama atau lebih besar dari 90o, yaitu bila salah satu kaki sudut di kuadran II, III, atau IV. Dengan bantuan presentasi komputer, guru mengingatkan pengertian sudut di kuadran II, sudut di kuadran II, dan sudut di kuadran IV. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok dengan tiap kelompok terdiri atas 4 siswa. Tiap kelompok mendapat tugas untuk mendefinisikan fungsi-fungsi trigonometri untuk sudut di kuadran II atau III atau IV atau sudut negatif, serta menentukan hubungannya dengan fungsi trigonometri sudut di kuadran I. Tugas diselesaikan berdasarkan worksheet atau lembar kerja yang dibagikan. Selama siswa bekerja di dalam kelompok, guru memperhatikan dan mendorong semua siswa untuk terlibat diskusi, dan mengarahkan bila ada kelompok yang melenceng jauh pekerjaannya. Salah satu kelompok diskusi (tidak harus yang terbaik) diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas. Sementara kelompok lain, menanggapi dan menyempurnakan apa yang dipresentasikan. Guru mengumpulkan semua hasil diskusi tiap kelompok Dengan tanya jawab, guru mengarahkan semua siswa pada kesimpulan mengenai fungsi trigonometri di berbagai kuadran dan hubungannya dengan fungsi trigonometri di kuadran I, berdasarkan hasil reviu terhadap presentasi salah satu kelompok. Guru memberikan dua (2) soal yang terkait dengan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, atau IV. Dengan tanya jawab, siswa dan guru menyelesaikan kedua soal yang telah diberikan dengan menggunakan strategi yang tepat. Guru memberikan lima (5) soal untuk dikerjakan tiap siswa, dan dikumpulkan.

1. Siswa diminta menyimpulkan tentang bagaimana 10 menit menentukan nilai fungsi trigonometri sudut di berbagai kuadran. 2. Dengan bantuan presentasi komputer, guru menayangkan apa yang telah dipelajari dan disimpulkan mengenai nilai fungsi trigonometri untuk sudut di berbagai kuadran.
Matematika – SMA/MA/SMK | 274

Teknik Penilaian: pengamatan. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran Penyelesaian tugas individu dan kelompok Matematika – SMA/MA/SMK | 275 . tes tertulis 2. Toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. Penilaian Hasil Belajar 1. jangkaWorksheet atau lembar kerja (siswa) 2. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok. Prosedur Penilaian: No 1. dan menggunakan simbol yang benar. b. Lembar penilaian 4. 4. Penggaris.3. dan jari-jari pada sumbu koordinat kartesius secara tepat. 2. Menjelaskan kembali Pengamatan dan tes pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis. Terlibat aktif dalam pembelajaran trigonometri. Bahan tayang 3. Sikap Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Pengamatan Waktu Penilaian Selama pembelajaran dan saat diskusi a. c. sistematis. Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan untuk tetap belajar. ordinat. Video tentang lebah I. b. busur. H. Alat/Media/Sumber Pembelajaran 1. Pengetahuan a. Guru memberikan tugas PR beberapa soal mengenai penerapan nilai fungsi di berbagai kuadran.

7. hitunglah nilai dari [sin 321o + cos 0. Gambarlah pada sebuah sumbu koordinat kartesian sebuah sudut pada kuadran III. Ari ditempatkan tepat di tengah-tengah sebuah gang yang bertembok tepat di tepi kiri dan kanannya. Pada sebuah permainan. komunikasi matematis Matematika – SMA/MA/SMK | 276 . III. 4.No Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Waktu Penilaian II. Jika lebar gang adalah 4 meter. Berapa tinggi gelombang suara Paus tsb untuk t = 120o? 5. Dengan menuliskan langkah-langkah yang jelas. 3. Instrumen Penilaian Hasil belajar Tes tertulis 1. tetapi juga proses pemecahan yang terutama meliputi pemahaman. tidak saja memberi skor untuk jawaban akhir. gelombang suara dari seekor ikan Paus akhirnya dapat digambarkan dengan suatu pendekatan menggunakan fungsi trigonometri sebagai berikut I(t) = 2. Mula-mula Ari menghadap searah dengan arah jalan. Tentukanlah nilai dari sin 150o secara eksak (tidak menggunakan desimal) menggunakan sifat relasi sudut pada fungsi trigonometri! 3. dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I secara tepat dan kreatif. Penyelesaian tugas (baik individu maupun kelompok) dan saat diskusi J.13 (rad)]. Setelah melalui studi yang mendalam. lalu nyatakan pengertian fungsi secan untuk sudut tersebut! 2. Terampil menerapkan Pengamatan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. Keterampilan a. tan 150 grad dengan menggunakan kalkulator saintifik. kemudian Ari diputar oleh temannya searah dengan arah perputaran jarum jam sebesar 660o. berapa jarak yang ditempuh Ari jika kemudian ia berjalan lurus hingga menyentuh tembok gang? Catatan: Penyekoran bersifat holistik dan komprehensif.tan (2t) + cos t dengan t dalam derajat.

penalaran (logis). serta ketepatan strategi memecahkan masalah. WORKSHEET (untuk tugas kelompok) Matematika – SMA/MA/SMK | 277 .(ketepatan penggunaan simbol dan istilah).

No Nama Siswa Aktif KB 1 2 3 4 Dhianika Rahma Nur Fadillah Galuh Lalita Mahaghora Muhammad Rasyid Alfaruqi Nur Endah Filaili B SB KB Sikap Bekerjasama B SB KB Toleran B SB Matematika – SMA/MA/SMK | 278 . Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan. 3. Sangat baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif secara terus menerus dan ajeg/konsisten.LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP Mata Pelajaran Kelas/Semester Tahun Pelajaran Waktu Pengamatan : Matematika : X/2 : 2013/2014 : Indikator sikap aktif dalam pembelajaran trigonometri 1. 1. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian dalam menyelesaikan tugas kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten Indikator sikap bekerjasama dalam kegiatan kelompok. 2. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok tetapi masih belum ajeg/konsisten. Kurang baik jika sama sekali tidak bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. Indikator sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam pembelajaran 2. 1. 2. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif tetapi masuih belum ajeg/konsisten. Kurang baik jika sama sekali tidak berusaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok. Sangat baik jika menunjukkan adanya usaha bekerjasama dalam kegiatan kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten. 3. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha ambil bagian dalam pembelajaran tetapi belum ajeg/konsisten 3.

Bagaskara Adi Pamungkas Bram Yudhistira Hasna Amalia Faza Daniawan Dwi Nurrohman Devi Ristiyanti Nitya Sekar Tresnaningtyas Rafi Ibnu Ramadhan Ivan Akhir Julian Gasik Prawestri Intan Aringtyas Junaidi Muhammad Rafi Nurdiansyah Elvana Novita Candra Danuja Widigdaya Isnaeni Putri Nur Afifah Intan Putri Ristyaningrum Lisa Dewi Afrilita Gea Hanin Nisacita Rizki Kartika Angkasa Yudha Putri Adipertiwi A-Bach Keterangan: KB B SB : Kurang baik : Baik : Sangat baik Matematika – SMA/MA/SMK | 279 .5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Zerarita Amalia Ramadhani Febrian Anggoro Widiyanto Rizky Rachmadewi Elvan Saffria Charta R. Shikarini Amirul P Arinta Destri Larasati Khanza Adzkia Vujira Joean Akbar Saputra Khansa Sitostra Tufana Arsy A. Aj.

Sangat terampill. jika menunjukkan adanya usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran dan sudah tepat. Terampil jika menunjukkan sudah ada usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran tetapi belum tepat. 3. Kurang terampil jika sama sekali tidak dapat menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran 2. 1. Shikarini Amirul P Arinta Destri Larasati Khanza Adzkia Vujira Joean Akbar Saputra Khansa Sitostra Tufana Arsy A. No Nama Siswa Keterampilan Menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah KT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Dhianika Rahma Nur Fadillah Galuh Lalita Mahaghora Muhammad Rasyid Alfaruqi Nur Endah Filaili Zerarita Amalia Ramadhani Febrian Anggoro Widiyanto Rizky Rachmadewi Elvan Saffria Charta R.LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN KETERAMPILAN Mata Pelajaran Kelas/Semester Tahun Pelajaran Waktu Pengamatan : Matematika : X/2 : 2013/2014 : Indikator terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan. Aj. Bagaskara Adi Pamungkas T ST Matematika – SMA/MA/SMK | 280 .

15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Bram Yudhistira Hasna Amalia Faza Daniawan Dwi Nurrohman Devi Ristiyanti Nitya Sekar Tresnaningtyas Rafi Ibnu Ramadhan Ivan Akhir Julian Gasik Prawestri Intan Aringtyas Junaidi Muhammad Rafi Nurdiansyah Elvana Novita Candra Danuja Widigdaya Isnaeni Putri Nur Afifah Intan Putri Ristyaningrum Lisa Dewi Afrilita Gea Hanin Nisacita Rizki Kartika Angkasa Yudha Putri Adipertiwi A-Bach Keterangan: KT T ST : Kurang terampil : Terampil : Sangat terampil Matematika – SMA/MA/SMK | 281 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 282 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 283 .

Perumusan Indikator Kesesuaian dengan SKL. 1. B.3. Identitas Mata Pelajaran Satuan pendidikan. 2. C. semester. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Hasil Penelaahan dan Skor 1 Tidak Ada 2 Kurang Lengkap 3 Sudah Lengkap Catatan A 1.kelas. dan keterampilan. program/program keahlian. Perumusan Tujuan Pembelajaran Kesesuaian dengan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai.2 LEMBAR KERJA PENELAAHAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Identitas RPP yang ditelaah: ………………………………… Berilah tanda cek ( V) pada kolom skor (1. Kesesuaian dengan aspek sikap. Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Matematika – SMA/MA/SMK | 284 . Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 3.LK . D. 1. 2.1/3. Pemilihan Materi Ajar Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik.KI dan KD. Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 2. Kesesuaian penggunaan kata kerja operasional dengan kompetensi yang diukur. 1. pengetahuan. jumlah pertemuan. Kesesuaian dengan kompetensi dasar. mata pelajaran atau tema pelajaran. 3 ) sesuai dengan kriteria yang tertera pada kolom tersebut! Berikan catatan atau saran untuk perbaikan RPP sesuai penilaian Anda! No. 2.

4. Kesesuaian alokasi waktu dengan cakupan materi. 1. Model Pembelajaran Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran.No. 3. E. Kesesuaian penyajian dengan sistematika materi. Kesesuaian dengan alokasi waktu. inti. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. Kesesuaian kegiatan dengan pendekatan scientific. 2. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. Skenario Pembelajaran Menampilkan kegiatan pendahuluan. Kesesuaian dengan pendekatan Scientific. 2. Kesesuaian dengan materi pembelajaran dan pendekatan scientific. Pemilihan Sumber Belajar Kesesuaian dengan KI dan KD. 1. Pemilihan Media Belajar Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Hasil Penelaahan dan Skor 2 3 Catatan 3. F. 2. dan penutup dengan jelas. 2. 1. 1. Kesesuaian dengan materi pembelajaran dan pendekatan scientific. G. 3. H. I. Matematika – SMA/MA/SMK | 285 . Penilaian Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 3.

.......... Kesesuaian kunci jawaban dengan soal..................................... Jumlah 2.. Kesesuaian dengan dengan indikator pencapaian kompetensi. ..... Komentar terhadap RPP secara umum.......................................................... 3........................ .............. Kesesuaian dengan teknik dan bentuk penilaian autentik................. 4.......................................................................................................................... Matematika – SMA/MA/SMK | 286 .. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Hasil Penelaahan dan Skor 2 3 Catatan 1.................. Kesesuaian pedoman penskoran dengan soal.....................No....

1/3. Berikan catatan khusus atau saran perbaikan setiap komponen RPP jika diperlukan! 4. Langkah-langkah penilaian RPP sebagai berikut. jumlahkan skor seluruh komponen! 5. Tentukan nilai RPP menggunakan rumus sbb: Skor yang diperoleh PERINGKAT Amat Baik ( AB) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 ≤ A ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 75 < 60 Matematika – SMA/MA/SMK | 287 .R-3. Selanjutnya nilai RPP dimasukkan ke dalam nilai portofolio peserta. Setelah selesai penilaian. 1. Cermati format penilaian RPP dan RPP yang akan dinilai! 2. Berikan nilai setiap komponen RPP dengan cara membubuhkan tanda cek (√) pada kolom pilihan skor (1 ). (2) dan (3) sesuai dengan penilaian Anda terhadap RPP tersebut! 3.2 RUBRIK PENILAIAN TELAAH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Rubrik penilaian RPP digunakan fasilitator untuk menilai RPP peserta yang digunakan peerteaching.

Kerja kelompok untuk menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran yang terdapat dalam HO-2. Kerja kelompok untuk merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun.2 dan Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP dengan menggunakan PPT-3.3/3. Fasilitator menutup pembelajaran. Presentasi hasil kerja kelompok.2 dan Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP dengan menggunakan PPT-3.Materi Pelatihan : 3. dilanjutkan dengan Pemaparan materi oleh fasilitator tentang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2.3/3. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.2-2. Bahan Tayang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2. Membuat rangkuman materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.2.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Matematika – SMA/MA/SMK | 288 .2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Langkah Kegiatan Inti Diskusi dan Tanya jawab Kerja Kelompok Kerja Kelompok Presentasi Merangkum dan Refleksi 40 Menit 30 Menit 25 Menit 20 Menit 20 Menit Diskusi dan tanya jawab tentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes termasuk portofolio.3/3.

Matematika – SMA/MA/SMK | 289 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 290 .

MATERI PELATIHAN 4 : PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING (24 JP) 4.1 Simulasi Pembelajaran 4.2 Peer Teaching Matematika – SMA/MA/SMK | 291 .

kultural. Bahan Tayang a. Menyimpulkan alur pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik. intelektual. Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran. menalar. emosional.MATERI PELATIHAN 4: PRAKTEK PEMBELAJARAN TERBIMBING (24 JP) A. mengkaji pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. 2. menanya. mencoba. mencoba. 3. LINGKUP MATERI 1. Melaksanakan peer teaching pembelajaranyang menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik. dan melaksanakan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. maupun. 5. KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN 1. PERANGKAT PELATIHAN 1. Garis besar instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran. sosial. maupun. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. mengolah. menalar. menyaji. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. D. menyaji. 6. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. mengolah. 7. sosial. Simulasi Pembelajaran Peer Teaching C. emosional. b. moral. 2. 2. 4. Menilai pelaksanaan peer teaching peserta lain. kultural. intelektual. Merevisi RPP sehingga menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik untuk kegiatan peer teaching. c. menanya. Menganalisis simulasi pembelajaran melalui tayangan video pembelajaran. Strategi Pengamatan tayangan video. Matematika – SMA/MA/SMK | 292 . B. Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching. Panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran. moral.

Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (Alat Penilaian Kinerja Guru). Analisis pembelajaran pada tayangan video. Lembar Kerja a.2. b. 3. ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 293 .

semangat. seperti LCD Projector. Kerja kelompok untuk menganalisis tayangan video pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik dengan menggunakan LK -4. Active Speaker. alokasi waktu. Penayangan video pembelajaran Matematika dengan menggunakan V-2. serius.1/4. Mengkonfirmasi penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik mengacu pada tayangan video pembelajaran Kerja kelompok untuk merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran. File. indikator. atau media pembelajaran lainnya. PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING 22 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN WAKTU Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. 15 Menit KEGIATAN Pengkondisian Peserta PENDAHULUAN Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. kompetensi. 360 Menit 20 Menit 20 Menit 60 Menit 30 Menit 135 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 294 .SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 4. mengajak berdinamika agar saling mengenal.1 oleh fasilitator. tujuan. dan Laser Pointer.1 Simulasi Pembelajaran Pemaparan Strategi Pengamatan Video Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT-4. Laptop.1.1. KEGIATAN INTI 4. Fasilitator memotivasi peserta. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Praktik Pembelajaran Terbimbing.

KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Praktik Pembelajaran Terbimbing. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.2. Menilai kegiatan peer teaching menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan LK-4. 90 Menit 5 Menit 600 Menit 20 Menit 20 Menit 20 Menit 510 Menit 30 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 295 . untuk setiap peserta 30 menit dipandu fasilitator.1 Paparan oleh fasilitator tentang Garis Besar Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan PPT-4. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. Fasilitator menutup pembelajaran. Refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching.2 Peer Teaching Paparan oleh fasilitator tentang Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran melalui peer teaching dengan menggunakan PPT.2.4.Presentasi contoh RPP yang akan digunakan dalam kegiatan peer teaching.2. Praktik peer teaching pembelajaran Matematika secara individual. ICE BREAKER 4. Persiapan peer teaching.2.

Menyimpulkan alur pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik.1.1 oleh fasilitator. Matematika – SMA/MA/SMK | 296 . Kerja kelompok untuk merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran.1 Simulasi Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Paparan Tayangan Video Kerja Kelompok 20 Menit 20 Menit 60 Menit Presentasi Kerja Kelompok Menyimpulkan 90 Menit 135 Menit 30 Menit Pemaparan Strategi Pengamatan Video Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT4. Kerja kelompok untuk menganalisis tayangan video pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik dengan menggunakan LK 4.1. Presentasi contoh RPP yang akan digunakan dalam kegiatan peer teaching. Penayangan video pembelajaran dengan menggunakan V-2.1/4.Materi Pelatihan : 4.

Matematika – SMA/MA/SMK | 297 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 298 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 299 .

..... Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual........1 LEMBAR KERJA ANALISIS PEMBELAJARAN DALAM TAYANGAN VIDEO PEMBELAJARAN 1...... d Mengajak peserta didik berdinamika/melakukan sesuatu kegiatan yang terkait dengan materi..........LK ......... b Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik dalam perjalanan menuju sekolah atau dengan tema sebelumnya..... Nama Peserta 2.... Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai............. : ..... b.. b............... Aspek yang Diamati Kegiatan Pendahuluan Melakukan apersepsi dan motivasi. a.. Melaksanakan pembelajaran secara runtut.... Kemampuan menyesuaikan materi dengan tujuan pembelajaran.. Ya Tidak Catatan Matematika – SMA/MA/SMK | 300 ................. c............ Menguasai kelas dengan baik.......4.. Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang diintegrasikan secara relevandengan perkembangan Iptek dankehidupan nyata ...... dari konkrit ke abstrak) Guru menerapkan strategi pembelajaran yang mendidik.. a Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran.... Asal Sekolah 3....... Menyajikan materi dalam tema secara sistematis dan gradual (dari yang mudah ke sulit.. c..... a.................. Kegiatan Inti Guru menguasai materi yang diajarkan....... c Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitan dengan tema yang akan dibelajarkan... : ....... d...... : .. Mata Pelajaran 3.......... Tema : ....

Guru menerapkan pendekatan scientific. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengkomunikasikan. Mengamati sikap dan perilaku peserta didik dalam mengikuti pelajaran. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar pembelajaran. Merespon positif partisipasi peserta didik. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik. Matematika – SMA/MA/SMK | 301 . Mendokumentasikan hasil pengamatan skap. peserta didik. perilaku dan keterampilan peserta didik. f. Melakukan penilaian keterampilan peserta didik dalam melakukan aktifitas individu/kelompok. Ya Tidak Catatan a b c a. Guru memicu dan/atau memelihara keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. Memancing peserta didik untuk peserta didik bertanya. b. c. e. d. Menghasilkan pesan yang menarik. Guru melaksanakan penilaian autentik. c. a. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif. e. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media pembelajaran. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. a b c d f Memberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana. Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengamati. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar pembelajaran. d.Aspek yang Diamati e. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan menganalisis. Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect). sumber belajar. Menumbuhkan keceriaan dan antusisme peserta didik dalam belajar. b. Guru memanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran.

Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar. b.a. atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan. Ya Tidak Catatan b. Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai. Penutup Pembelajaran Guru mengakhiri pembelajaran dengan efektif a. c. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik. atau kegiatan. Matematika – SMA/MA/SMK | 302 . Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan. Aspek yang Diamati Guru menggunakan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar.

kegiatan inti. Mendeskripsikansetiap item padalembarkerjaanalisis Lembarkerjaanali proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar sispembelajaran yang disajikandalamtayangan video denganjelas. teliti. teliti.24 15 . 21 . Komentardan Simpulan (10-25) Memberikankomentar yang faktual dan terstruktur sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran yang terdiri dari pengalaman yang dapat diambil dari tayangan video dan kesimpulan.30 Nilai Peserta Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal. Sikapselamamen Menunjukkansikapantusias. Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal. dalam Video lengkapdanbenar.4.1 RUBRIK PENILAIAN HASIL ANALISIS PEMBELAJARAN PADA TAYANGAN VIDEO NAMA PESERTA DIKLAT KELAS/ TANGGAL PENILAIAN Aspek Pengamatan Video (15-30) :………………………………………………………….. Kriteria Rentangan Nilai 25 .20 12 . teliti.20 25 . Menunjukkansikapantusias. dan kegiatan penutup dengan lengkap dan terinci yang disertai contoh kongkret hasil pengamatan. bersungguhsungguhdenganpenuh rasa ingintahu saja. Menunjukkansikapantusias.25 Matematika – SMA/MA/SMK | 303 . Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal.30 21 .24 15 . kegiatan inti.. bersungguhsungguhdenganpenuh rasa ingintahu danaktifdalamberdiskusi. dan kegiatan penutup dengan lengkap namun kurang terinci. (15-30) Mendeskripsikansetiap item padalembarkerjaanalisis proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar yang disajikandalamtayangan video denganjelas. bersungguhgamati sungguhdenganpenuh rasa ingintahu yang (5-15) disertaidenganpolaberpikiranalitikdalammengamatida nberdiskusi. kegiatan inti. :…………………………………………………………..15 8 .R . dan kegiatan penutup namun tidaklengkap.11 5-7 21 . :…………………………………………………………. Hanyamenandaisetiap item padalembarkerjaanalisis proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar yang disajikandalamtayangan video.

........... (. ……….......... Memberikan komentar sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran...... Rentangan Nilai Nilai Peserta 16 -20 10 -15 100 JUMLAH ………………..Aspek Kriteria Memberikan komentar yang faktual dan terstruktur sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran yang terdiri dari pengalaman yang dapat diambil daritayangan video. 2013 Fasilitator...) Matematika – SMA/MA/SMK | 304 .....................…………….

untuk setiap peserta 30 menit dipandu fasilitator. Praktik peer teaching pembelajaran secara individual.2. Menilai kegiatan peer teachingoleh fasilitator dengan menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran LK-4. Matematika – SMA/MA/SMK | 305 . Paparan oleh fasilitator tentang Garis Besar Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan PPT-4.Materi Pelatihan : 4. Refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching. Persiapan peer teaching.2 Peer Teaching Langkah Kegiatan Inti Paparan Panduan Paparan Instrumen Penilaian Persiapan Peer Teaching 20 Menit 20 Menit 20 Menit Refleksi Praktik Peer Teaching 30 Menit 510 Menit Paparan oleh fasilitator tentang Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran melalui peer teaching dengan menggunakan PPT.4.2-1.2-2.

Matematika – SMA/MA/SMK | 306 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 307 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 308 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 309 .

.......... Menyajikan materi secara sistematis (mudah ke sulit......4..... 3 4 Melaksanakan pembelajaran secara runtut. elaborasi dan konfirmasi.... Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan............. Nama Peserta 2.... 2 Menyampaikan rencana kegiatan misalnya.... kerja kelompok........ dari konkrit ke abstrak) Penerapan Strategi Pembelajaran yang Mendidik 1 Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai..... Menyajikan pembahasan materi pembelajaran dengan tepat.. Ya Tidak Catatan Aspek yang Diamati Kegiatan Pendahuluan Apersepsi dan Motivasi 1 Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik atau pembelajaran sebelumnya............ : ... Topik : ........ dan kehidupan nyata. dan melakukan observasi. Menguasai kelas........2 LEMBAR KERJA INSTRUMEN PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 1.... 2 Menfasilitasi kegiatan yang memuat komponen eksplorasi......... Kegiatan Inti Penguasaan Materi Pelajaran 1 2 3 4 Kemampuan menyesuiakan materi dengan tujuan pembelajaran... Asal Sekolah 3.... : ....... Penyampaian Kompetensi dan Rencana Kegiatan 1 Menyampaikan kemampuan yang akan dicapai peserta didik....LK ............. 3 Menyampaikan manfaat materi pembelajaran........ 4 Mendemonstrasikan sesuatu yang terkait dengan materi pembelajaran....... 2 Mengajukan pertanyaan menantang. Matematika – SMA/MA/SMK | 310 .. perkembangan iptek .......... individual......

Menyajikan kegiatan peserta didik untuk berkomunikasi. Menumbuhkan keceriaan atau antuisme peserta didik dalam belajar. peserta didik. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media pembelajaran. Menghasilkan pesan yang menarik. Memfasilitasi peserta didik untuk menganalisis. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. Memancing peserta didik untuk bertanya. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik. Pelibatan Peserta Didik dalam Pembelajaran 1 2 3 4 5 Penggunaan Bahasa yang Benar dan Tepat dalam Pembelajaran 1 2 Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar. Merespon positif partisipasi peserta didik. Kegiatan Penutup Penutup pembelajaran Matematika – SMA/MA/SMK | 311 . Ya Tidak Catatan Penerapan Pendekatan scientific 1 2 3 4 5 6 7 Pemanfaatan Sumber Belajar/Media dalam Pembelajaran 1 2 3 4 5 Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar pembelajaran. Memfasilitasi peserta didik untuk mencoba. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran. Memfasilitasi peserta didik untuk mengamati. sumber belajar.Aspek yang Diamati 5 Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar pembelajaran. Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar. Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru. Memberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana. 6 7 Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect). Memberikan pertanyaan peserta didik untuk menalar (proses berfikir yang logis dan sistematis).

Memberikan tes lisan atau tulisan . Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan kegiatan berikutnya dan tugas pengayaan. Mengumpulkan hasil kerja sebagai bahan portofolio.Aspek yang Diamati 1 2 3 4 Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik. Jumlah Ya Tidak Catatan Matematika – SMA/MA/SMK | 312 .

Langkah Kegiatan 1. 3. 2.R . Selanjutnya nilai PeerTeaching dimasukkan ke dalam nilai portofolio peserta. 4.2 RUBRIK PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Rubrik Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran ini digunakan fasilitator untuk menilai kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran pada saat Peer Teaching. Berikan tanda cek (√) pada kolom pilihan YA atau TIDAK sesuai dengan penilaian Anda terhadap penyajian guru pada saat pelaksanaan pembelajaran! Berikan catatan khusus atau saran perbaikan pelaksanaan pembelajaran! Hitung jumlah nilai YA dan TIDAK ! Tentukan Nilai menggunakan rumus berikut ini! PERINGKAT Amat Baik ( A) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 < AB ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 75 < 60 Matematika – SMA/MA/SMK | 313 .4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful