P. 1
Sma Matematika

Sma Matematika

5.0

|Views: 685|Likes:
Published by Ridwan Baihaqi

More info:

Published by: Ridwan Baihaqi on Aug 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/18/2015

pdf

text

original

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

MATERI PELATIHAN GURU
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 SMA

MATEMATIKA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2013
Pendahuluan | i

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

Diterbitkan oleh: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2013

Copyright © 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pendahuluan | ii

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt, Kurikulum 2013 secara terbatas mulai dilaksanakan tahun 2013 pada sekolah-sekolah yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan secara selektif. Kurikulum 2013 merupakan pengembangan dari kurikulum sebelumnya untuk merespon berbagai tantangan tantangan internal dan eksternal. Titik tekan pengembangan Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan. Pengembangan kurikulum menjadi amat penting sejalan dengan kontinuitas kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya serta perubahan masyarakat pada tataran lokal, nasional, regional, dan global di masa depan. Aneka kemajuan dan perubahan itu melahirkan tantangan internal dan eksternal yang di bidang pendidikan pendidikan. Karena itu, implementasi Kurikulum 2013 merupakan langkah strategis dalam menghadapi globalisasi dan tuntutan masyarakat Indonesia masa depan. Pengembangan Kurikulum 2013 dilaksanakan atas dasar beberapa prinsip utama. Pertama, standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan. Kedua, standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran. Ketiga, semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Keempat, mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai. Kelima, semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti. Keenam, keselarasan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian. Aplikasi yang taat asas dari prinsip-prinsip ini menjadi sangat esensial dalam mewujudkan keberhasilan implementasi Kurikulum 2013.

Mudah-mudahan implementasi Kurikulum 2013 ini bisa berjalan dengan baik. Akhirnya, kepada semua pihak yang telah mendedikasikan dirinya dalam mempersiapkan Kurikulum 2013, saya mengucaplkan banyak terima kasih. Semoga bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa Indonesia.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Muhammad Nuh

Pendahuluan | iii

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya Modul Bahan Ajar Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Modul bahan ajar ini merupakan bahan ajar wajib dalam rangka pelatihan calon instruktur, guru inti, dan guru untuk memahami Kurikulum 2013 dan kemudian dalam proses pembelajaran di sekolah. Kurikulum 2013 ini diberlakukan secara bertahap mulai tahun ajaran 2013-2014 melalui pelaksanaan terbatas, khususnya bagi sekolah-sekolah yang sudah siap melaksanakannya. Pada Tahun Ajaran 2013/2014, Kurikulum 2013 dilaksanakan secara terbatas untuk Kelas I dan IV Sekolah Dasar/Madrasah Ibtida’iyah (SD/MI), Kelas VII Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Kelas X Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah (SMA/SMK/MA/MAK). Pada Tahun Ajaran 2015/2016 diharapkan Kurikulum 2013 telah dilaksanakan di seluruh kelas I sampai dengan Kelas XII. Menjelang implementasi Kurikulum 2013, penyiapan tenaga guru dan tenaga kependidikan lainnya sebagai pelaksana kurikulum di lapangan perlu dilakukan. Sehubungan dengan itu, Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP), telah menyiapkan strategi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas. Pada tahun 2013 pelatihan akan dilakukan bagi pengawas SD/SMP/SMA/SMK, kepala sekolah SD/SMP/SMA/SMK, dan guru Kelas I dan IV SD, guru Kelas VII SMP untuk 9 mata pelajaran, dan guru Kelas X SMA/SMK untuk 3 mata pelajaran. Guna menjamin kualitas pelatihan tersebut, maka BPSDMPK dan PMP telah menyiapkan 14 Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, sesuai dengan kelas, mata pelajaran, dan jenjang pendidikan. Modul ini diharapkan dapat membantu semua pihak menjalankan tugas dalam Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Saya mengucpkan terima kasih dan penghargaan atas partisipasi aktif kepada pejabat dan staf di jajaran BPSDMPK dan PMP, dosen perguruan tinggi, konsultan, widyaiswara, pengawas, kepala sekolah, dan guru yang terlibat di dalam penyusunan modul-modul tersebut di atas.

Jakarta, Juni 2013 Kepala Badan PSDMPK-PMP

Syawal Gultom NIP. 19620203 198703 1 002

Pendahuluan | iv

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

DAFTAR ISI

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAGIAN I PENDAHULUAN A. Tujuan Umum Pelatihan B. Indikator Umum Ketercapaian Tujuan C. Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai D. Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan E. Tahapan, Nara Sumber, dan Peserta Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, untuk Guru, Kepala Sekolah, F. dan Pengawas G. Penilaian H. Panduan Narasumber dan Fasilitator I. Kode Etik Narasumber J. Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013

iii iv v 1 2 2 3 3 3 5 6 6 7 8 10 11 13 15 19 25 29 32 33 34 34 34 34 35 59 60 60 60 61 62 64 93 105

Sistematika Modul BAGIAN II SILABUS PELATIHAN A. Silabus Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset B. Silabus Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013 C. Silabus Materi Pelatihan 2: Analisis Materi Ajar D. Silabus Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran E. Silabus Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing BAGIAN III MATERI PELATIHAN MATERI PELATIHAN 0: PERUBAHAN MINDSET A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D Perangkat pelatihan Skenario kegiatan Bahan tayang MATERI PELATIHAN 1 : KONSEP KURIKULUM 2013 A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 1.1 Rasional Kurikulum 1.2 Elemen Perubahan Kurikulum 1.3 SKL, KI, dan KD
K.

Pendahuluan | v

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

1.4 Strategi Implementasi Kurikulum MATERI PELATIHAN 2 : ANALISIS MATERI AJAR A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 2.1 Konsep Pendekatan Scientific 2.2 Model Pembelajaran 2.3 Konsep Penilaian Autentik pada Pembelajaran 2.4 Analisis Buku Guru dan Siswa MATERI PELATIHAN 3 : MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 3.1 Penyusunan RPP 3.2 Perancangan Penilaian Autentik MATERI PELATIHAN 4 : PRAKTEK PEMBELAJARAN TERBIMBING A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Kompetensi Peserta Pelatihan D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 4.1 Simulasi Pembelajaran 4.2 Peer Teaching

127 131 132 132 132 133 134 137 171 222 246 259 260 260 260 260 261 263 280 291 292 292 292 292 294 295 304

Pendahuluan | vi

I. J. B. Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing 4. E. A.3 SKL. K. F.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar E. KD 1. dan Peserta Pelatihan Struktur Pelatihan Penilaian Panduan Narasumber dan Fasilitator Kode Etik Narasumber Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Sistematika Materi Pelatihan Silabus Perubahan Mindset Silabus Konsep Kurikulum 2013 Silabus Analisis Materi Ajar Silabus Model Rancangan Pembelajaran Silabus Praktik Pembelajaran Terbimbing BAGIAN 2: SILABUS A. Program Pendampingan BAGIAN 3: MATERI PELATIHAN Pendahuluan | vii .5 Analisis Buku Guru dan Buku SIswa D. D. Narasumber. B.3 Model Pembelajaran 2. E.2 Konsep Pendekatan Scientific 2.1 Simulasi Pembelajaran 4. KI.4 Strategi Implementasi C. Tujuan Umum Pelatihan Indikator Umum KetercapaianTujuan Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan Tahapan. Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset B.1 Rasional 1. H. Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013 1. D.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 GAMBARAN STRUKTUR MATERI PELATIHAN GURU IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGIAN 1: PENDAHULUAN A.1 Penyusunan RPP 1.4 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar 2.2 Peer Teaching F. Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran 1. C.1 Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu 2. C. G. Materi Pelatihan 2: Analisis Materi Ajar 2.2 Elemen Perubahan 1.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN I PENDAHULUAN Matematika – SMA/MA/SMK | 1 .

Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013 mendapatkan bantuan secara benar dari pengawas sekolah selama implementasi Kurikulum 2013. bahan tayang baik dalam bentuk slide power point maupun rekaman video. isi. menunjukkan di bawah ini. B. Instruktur Nasional. sumber daya manusia. Matematika – SMA/MA/SMK | 2 . 2. Pengawas sekolah mampu memberikan bantuan teknis secara benar kepada sekolah dalam mengatasi hambatan selama implementasi Kurikulum 2013. dan struktur pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 untuk tahun kalender 2013. Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP) telah menetapkan jenjang atau tahapan pelatihan. X mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan. 3. Indikator Umum Ketercapaian Tujuan Hasil monitoring dan evaluasi implementasi Kurikulum 2013 pada akhir Tahun Ajaran 2013/2014. Modul ini memberi panduan bagi para pengguna mengenai (1) Tahapan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013 tidak mengalami hambatan biaya. sasaran pelatihan. Tujuh puluh persen (70%) guru kelas I. sarana. (5) Bahan/Materi Pelatihan untuk masing-masing Mata Pelatihan. mata pelajaran dan jenjang pendidikan. dan penilaian Kurikulum 2013. VII. Guru Inti. A. Narasumber yang dimaksudkan adalah Narasumber Nasional. (4) Panduan Penilaian.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN I PENDAHULUAN Modul Pelatihan ini disiapkan untuk digunakan para Narasumber Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 sesuai dengan kelas. Tujuan Umum Pelatihan Tujuan Umum Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 adalah sebagai berikut. 1. (2) Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. 1. Kepala sekolah mampu mengerahkan sumber daya yang dimiliki dalam rangka menjamin keterlaksanaan implementasi Kurikulum 2013. (3) Panduan Narasumber. IV. isi. lembar kerja/worksheet. dan penilaian Kurikulum 2013. dan kebijakan sekolah. Sesuai dengan Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. dan Pengawas Sekolah Inti. proses pembelajaran. 2. 3. proses pembelajaran. Kepala Sekolah Inti. Bahan/Materi Pelatihan yang dimaksud meliputi hand-out. Guru mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan.

Analisis buku siswa dan buku guru untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. Narasumber. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013. KI dan KD. 4. dan Discovery Learning. Memiliki keterampilan menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP) dengan mengacu pada Kurikulum 2013. Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. maka berikut ini kompetensi inti yang harus dicapai peserta setelah mengikuti pelatihan. dan santun. Tahapan. Buku Guru. 9. 3. benar. Memiliki keterampilan menganalisis keterkaitan antara Standar Kompetensi Kelulusan (SKL). maka pelatihan ini menerapkan strategi pelatihan bertahap atau berjenjang. selama 1 semester. dan pengawas sekolah mampu mewujudkan hasil kerja secara kolektif berikut ini. serta strategi implementasi). 7. Kompetensi Inti (KI). dan Buku Siswa. elemen perubahan. Mengingat jumlah sasaran akhir pelatihan sangat besar dan sebaran sasaran akhir pelatihan sangat luas. dan Peserta Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Sasaran akhir dari pelatihan ini adalah guru. D. 1. 8.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 C. Contoh instrumen penilaian untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. Contoh RPP untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. Tahapan atau Matematika – SMA/MA/SMK | 3 . kepala sekolah. Kompetensi Dasar (KD). Project Based Learning. selama 1 semester. KD untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. 5. kepala sekolah dan pengawas. Analisis SKL. guru. 6. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013. Memiliki keterampilan berkomunikasi lisan dan tulis dengan runtut. 2. 4. selama 1 semester. Memiliki keterampilan melaksanakan penilaian autentik dengan benar. selama 1 semester. KI. SKL. Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai Berdasarkan Indikator Ketercapaian Tujuan. Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan Setelah selesai mengikuti pelatihan. 2. Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan pendekatan Scientific secara benar. 3. Memiliki pemahaman yang mendalam tentang Kurikulum 2013 (rasional. E. 1.

yakni: Pelatihan Instruktur Nasional. Pelatihan Guru Inti. Tingkat Provinsi. dan Pelatihan Pengawas. Diagram tersebut menunjukan terdapat 3 tahap pelatihan yaitu:Pelatihan Tingkat Nasional. serta sasaran peserta dapat dijelaskan pada diagram berikut ini. Matematika – SMA/MA/SMK | 4 . Tahapan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Tahapan pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 dapat dilihat pada diagram 1 di atas.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 jenjang pelatihan. Pelatihan Pengawas Inti. Pelatihan Guru Kelas/ Mapel. Narasumber: Narasumber Nasional PELATIHAN INSTRUKTUR NASIONAL Peserta: Instruktur Nasional Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN GURU INTI Peserta: Guru Inti Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN KEPALA SEKOLAH INTI Peserta: Kepala Sekolah Inti Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN PENGAWAS INTI Peserta: Pengawas Inti Narasumber: Guru Inti PELATIHAN GURU KELAS/MAPEL Peserta: Guru Kelas/Mapel/BK Narasumber: Kepala Sekolah Inti PELATIHAN KEPALA SEKOLAH Peserta: Kepala Sekolah Narasumber: Pengawas Inti PELATIHAN PENGAWAS Peserta: Pengawas Diagram 1. Secara keseluruhan terdapat 7 jenis pelatihan. dan Tingkat Kabupaten/Kota. narasumber yang akan bertugas. Pelatihan Kepala Sekolah Inti. Pelatihan Kepala sekolah.

dan Kedalaman Materi) 2. untuk Guru.1 1.1 3.2 MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN Penyusunan RPP Perancangan Penilaian Autentik 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 4. 3.5 0.5 0.4 Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. 2. Kepala Sekolah.5 0.5 2 1 Lainnya 2 4 0.5 2 1 IPS 2 4 0.5 6 6 4 4 6 6 3.2 2. dan PengawasSekolah Tabel 1: Struktur Pelatihan Guru.5 2 1 2.1 PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING Simulasi Pembelajaran 22 8 22 8 22 8 22 8 22 8 22 8 Matematika – SMA/MA/SMK | 5 .5 2 1 SMP/MTs SMA/SMK /MA 2 4 0.5 0.4 PERUBAHAN MINDSET KONSEP KURIKULUM 2013 Rasional Elemen Perubahan SKL.1 ANALISIS MATERI AJAR Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu Konsep Pembelajaran IPA Terpadu Konsep Pembelajaran IPS Terpadu 12 2 12 2 12 12 12 12 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2.5 0.5 2 1 IPA 2 4 0.3 1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 F. 1. 4.2 1.3 2. 1. KI dan KD Strategi Implementasi 2 4 0. Kecukupan. Kepala Sekolah. Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013.5 0.5 2 1 Kelas IV 2 4 0. dan Pengawas Sekolah SD/MI No MateriPelatihan Kelas I 0.

Matematika – SMA/MA/SMK | 6 . Memahami isi modul sesuai bidang yang ditugaskan. 2. Penilaian meliputi tiga ranah yaitu: 1. pengetahuan. Ketika seorang narasumber bertugas memberikan materi pelatihan. tes akhir. Panduan Narasumber dan Fasilitator Narasumber memainkan peran yang sangat penting untuk menjadikan suatu pelatihan yang menarik dan menyenangkan. dan pengawas inti dinyatakan lulus apabila mencapai nilai 75 dan memiliki kewenangan untuk melatih. Metode penilaian yang diterapkan di dalam penilaian ini meliputi: 1. guru inti. portofolio. Setiap calon instruktur nasional. Narasumber membagi tugas secara bersama-sama dengan prinsip keadilan. sikap 2. H. dan pengamatan. Jumlah narasumber yang akan bertugas sebanyak 3 (tiga) orang selama proses pelatihan. 3. dan 3. dan melakukan penilaian kepada peserta. panitia pelatihan akan mengumumkan hasil penilaian peserta. 1. keterampilan Penilaian autentik diterapkan di dalam pelatihan ini. 4. kepala sekolah inti. maka narasumber lainnya berperan sebagai fasilitator yang membantu dalam menyiapkan perangkat pelatihan.2 Peer Teaching 14 14 14 14 14 14 PENDAMPINGAN 2 2 2 2 2 2 TES AWAL DAN TES AKHIR 2 2 2 2 2 2 TOTAL 52 52 52 52 52 52 G. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang narasumber adalah berikut ini.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 4. memberikan penjelasan tambahan. tes awal. Penilaian Seusai pelatihan.

3. b. 6. Mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab peserta sesering mungkin (jangan pertanyaan yang sulit dijawab atau terlalu mudah dijawab peserta). yang minoritas. Terpancing dalam perdebatan dengan peserta yang dapat mengakibatkan habisnya waktu. 5. Menjawab pertanyaan yang tidak perlu dijawab.. menjawab pertanyaan. yang tua. Menghindari hal-hal berikut ini. I. Melaksanakan pelatihan sesuai dengan modul dan mematuhi urutan dalam skenario pelatihan yang telah disusun. Berperan sebagai orang yang serba tahu. 5. 8. tes akhir. Mengaktifkan peserta untuk menjawab pertanyaan peserta lain. Matematika – SMA/MA/SMK | 7 . baik dalam hal disiplin. e. berperilaku. Menyiapkan alat. dan sebagainya. 10. Menjawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabnya. Memanggil nama peserta untuk mengurangi ketegangan. tetapi wajib melibatkan peserta secara aktif dalam mencari. 4. sumber. Memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta baik laki-laki maupun perempuanyang memiliki keterbatasan berbicara. 7. Melaksanakan penilaian terdiri atas: tes awal. pengetahuan. 4. yang pendiam. dan keterampilan. Mengurangi penjelasan definisi. 3. cara memberikan umpan balik. Mencatat kehadiran peserta sebagai bagian dari bahan penilaian. menganalisis alternatif temuan. Tugas Narasumber yang Berperan sebagai Fasilitator 1. 9. Memberikan contoh panutan bagi peserta. menguatkan dan menekankan simpulan itu. 2. dan penilaian proses. memberikan motivasi. cara memberikan pertanyaan. dan media belajar yang diperlukan. menggali data. Menjawab pertanyaan yang tidak dipahami maksudnya. Menyerahkan laporan tertulis setiap selesai melakukan pelatihan.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 2. yang meliputi ranah sikap. menanyakan argumentasinya mengapa peserta mengambil simpulan itu. dan memberikan konfirmasi. Membagi bahan pelatihan kepada peserta sesuai haknya. a. Memotivasi peserta untuk mengambil kesimpulan sendiri. c. Kode Etik Narasumber Setiap fasilitator pelatihan wajib menyetujui dan menerapkan kode etik berikut ini. memecahkan masalah. d. mengambil keputusan atau simpulan. maupun penguasaan materi pelatihan.

J.2 PPT-1.2-1 Matematika – SMA/MA/SMK | 8 . Memberlakukan peserta secara adil dan tidak diskriminatif.3 2. KI.2 LK-1. dan KD SKL. Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013 Jenis bahan dan lembar kerja untuk masing-masing materi pelatihan dapat dilihat berikut ini. KI.3 HO-1. Melakukan penilaian secara objektif. Beberapa dokumen pelatihan digunakan sebagai acuan untuk beberapa materi pelatihan sebagaimana tercermin dalam pengkodean bahan pelatihan.1 PPT-1. 4.1/1.4 HO-1.1 PPT-1. 3. KI.1/3. KD Strategi Implementasi Hand-Out Naskah Kurikulum 2013 Contoh Analisis Keterkaitan antara SKL. V-2. dan KD Lembar Analisis Keterkaitan SKL.3 PPT-2. Daftar dan Pengkodean Materi Pelatihan NO. 0. MATERI PELATIHAN PERUBAHAN MINDSET Bahan Tayang Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 KONSEP KURIKULUM 2013 Video Tayangan Paparan Kurikulum 2013 oleh Mendikbud Bahan Tayang Perubahan Mindset Rasional dan Elemen Perubahan SKL.2/1.3/2.1/4. Mengacu pada prinsip-prinsip andragogi dalam bersikap dan berperilaku. 2.1 V-2. 1.3 PPT-1. KI.1 V-1. KD Kerja/Rubrik ANALISIS MATERI AJAR Video Bahan Tayang Pembelajaran Matematika SMA Model-model Pembelajaran Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Project Based Learning KODE PPT-0.4 HO-1. Tabel 2.1-1 PPT-2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 1. 5. Menghormati kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan implementasi Kurikulum 2013. Menjaga kerahasiaan semua alat penilaian yang akan digunakan.4/3.

1 R-4.4-2 R-2.3/3.1 PPT-4.2-2 PPT-2.2 HO-3.3 PPT-2.2 R-3.2 LK-3.1 Hand-Out Lembar Kerja/Rubrik 4.2-1 HO-2.1/3.4-1 LK-2.1-1 HO-3. Video Bahan Tayang PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING Lembar Kerja/Rubrik Matematika – SMA/MA/SMK | 9 . dan KD Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific Contoh RPP Matematika SMA Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Telaah RPP Rubrik Penilaian Telaah RPP Video Pembelajaran Matematika Strategi Pengamatan Tayangan Video Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran Melalui Peer-Teaching Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran Analisis Pembelajaran pada Tayangan Video Rubrik Penilaian Analisis Pembelajaran pada Tayangan Video PPT-3.2-2 HO-2. KI.4 HO-2.1/3.2-1 PPT-4.1-2 HO-2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 NO. MATERI PELATIHAN Model Pembelajaran Problem Based Learning Model Pembelajaran Discovery Learning Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Siswa Hand-Out Konsep Pendekatan Scientific Contoh Penerapan Pendekatan scientific dalam Pembelajaran Matematika Model Pembelajaran Project Based Learning Model Pembelajaran Problem Based Learning Model Pembelajaran Discovery Learning Konsep Penilaian Autentik Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika Analisis Buku Guru Analisis Buku Siswa KODE PPT-2.1/4.1/3.2-2 LK-4.3/2.3 HO-2.3/3.1-1 PPT-3.2 HO-1.2-3 HO-2.4 Lembar Kerja/Rubrik 3.1-2 HO-2.1-1 HO-2.4/3.2-3 PPT-2.2 V-2. Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku Guru dan Siswa MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN Bahan Tayang Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP yang Telah Dibuat SKL.1 PPT-4.2 LK-2.

2 artinya hand-out ini digunakan sebagai acuan untuk beberapa materi pelatihan yaitu sebagai berikut: .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 NO. Bagian I Bagian II : : Pendahuluan Silabus Pelatihan Materi Pelatihan Bagian III : Matematika – SMA/MA/SMK | 10 . submateri 3. submateri 1 dan 4.2 Keterangan: V PPT HO LK R : : : : : Video Powerpoint Presentation Hand-Out Lembar Kerja Rubrik Catatan Pengkodean: 1.KD) HO-1. Sistematika Modul Modul pelatihan implementasi kurikulum ini dibagi dalam tiga bagian berikut ini.2 R-4. Submateri 3 (SKL. K.Materi Pelatihan 1. PPT-1.1/3.3 artinya bahan presentasi ini digunakan saat menyampaikan Materi Pelatihan 1 (Konsep Kurikulum). MATERI PELATIHAN Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran Rubrik Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran KODE LK-4. .4/3.3/2. submateri 1 dan 2.Materi Pelatihan 3.1/2.Materi Pelatihan 2. 2. .KI.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN II SILABUS PELATIHAN Matematika – SMA/MA/SMK | 11 .

SMK/MAK MATA PELAJARAN: MATEMATIKA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2013 Matematika – SMA/MA/SMK | 12 .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 JENJANG: SMA/MA.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: SUBMATERI PELATIHAN Tantangan Indonesia dalam Abad ke21 0. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan pelatihan. 2. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013 2. KEGIATAN PELATIHAN 1. Mendiskusikan 6 PENILAIAN ASPEK Sikap Terbuka untuk menerima dan mengimpleme ntasikan Kurikulum 2013. Curah pendapat membandingkan antara berpikir berbasis kendala (constraintbased thinking) dengan berpikir berbasis kesempatan (opportunitybased thinking) 3. SMK/MAK MATEMATIKA KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN 1. Menunjukan sikap terbuka terhadap perubahan. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimpleme ntasikan Kurikulum 2013. Matematika – SMA/MA/SMK | 13 .1 INDIKATOR 1. PERUBAHAN MINDSET 2 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS Bahan Tayang DESKRIPSI Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (PPT-0. Mendiskusikan cara baru dalam belajar. Tanya jawab tentang tantangan Indonesia dalam Abad ke-21. 4. 2.1) WAKTU (JP) 2 NO 0.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN pendorong utama teknologi pendidikan yang harus diperhatikan 5. Tanya jawab tentang High order thingking WAKTU (JP) Matematika – SMA/MA/SMK | 14 .

3. Menerima rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan.1/1.2/1. Menjelaskan rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan. Video DESKRIPSI Tayangan Paparan Kurikulum 2013 oleh Mendikbud (V-1. KEGIATAN PELATIHAN 1. KONSEP KURIKULUM 4 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA.1 INDIKATOR 1. 2.1) Naskah Kurikulum 2013 (D-1. Pengetahuan Memahami secara utuh rasional kurikulum 2013 . 3. Mengamati dan menyimak tayangan paparan tentang Kurikulum 2013 oleh Mendikbud.1) Rasional Kurikulum 2013 (PPT-1. Menyimpulkan rasional Kurikulum 2013 yang mencakup permasalahan PENILAIAN ASPEK Sikap Menerima latar belakang alasan perubahan Kurikulum 2013. Hand-out Matematika – SMA/MA/SMK | 15 . Bahan Tayang Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 3. SMK/MAK MATEMATIKA KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Memahami secara utuh rasional Kurikulum 2013. Menjelaskan permasalahan Kurikulum 2006 (KTSP). TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1.5 NO 1. Menyimak dan melakukan tanya jawab tentang paparan rasional Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan kurikulum di Indonesia. 2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: SUBMATERI PELATIHAN Rasional 1.4) WAKTU (JP) 0. 2.

Menjelaskan empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL.2) Naskah Kurikulum 2013 (D-1. Standar Proses. serta alasan pengembangan kurikulum. Menyimak dan melakukan tanya jawab tentang empat elemen perubahan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan kurikulum. Menyimpulkan empat elemen perubahan Kurikulum 2013. 2. 2. SI. Sikap Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 Pengetahuan Memahami elemen perubahan Kurikulum 2013 dan hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal. Mengidentifikasi kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal. dan Standar Penilaian. Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1.4) 0. dan Standar Penilaian. Standar Proses. 5.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR 4.1/1.2/1.5 2. Menjelaskan alasan pengembangan kurikulum. Hand-out Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda Matematika – SMA/MA/SMK | 16 . KEGIATAN PELATIHAN kurikulum 2006 (KTSP).2 Elemen Perubahan Kurikulum 2013 Memahami secara utuh elemen perubahan Kurikulum 2013. WAKTU (JP) 1. 1. Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. Bahan Tayang Elemen Perubahan Kurikulum 2013 (PPT-1. SI. 1.

2. dan KD (HO-1. 2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR 3. KI. dan KD (PPT-1. KI. Menganalisis keterkaitan antara SKL. 3. 1. Bekerja sama dalam menganalisis keterkaitan SKL. SKL. Bahan Tayang 2.3/ 2. KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 1. KI. KI.4/ 3.3 SKL. KI. dan KD. KI. dan KD. dan KD (LK-1. KI dan KD (R-1. dan KD pada Kurikulum 2013. dan KD yang akan dijadikan dasar dalam Sikap Bekerja sama dalam kelompok dengan baik dan benar Keterampilan Terampil menganalisis keterkaitan SKL.1/3. Menjelaskan empat elemen perubahan kurikulum dalam hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. dan KD Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. KI.3) Analisis Keterkaitan SKL. dan KD (HO-1.2) b. Menyimak paparan SKL. KI dan KD Memahami keterkaitan antara SKL. dan KD serta keterkaitan antara ketiga kompetensi Tes Tertulis Matematika – SMA/MA/SMK | 17 . KI. KI.3 ) 2 Penugasan Rubrik penilaian hasil analisis keterkaitan SKL. dan KD. dan KD. 1. dan KD melalui diskusi kelompok pada format yang sudah disediakan (Tiap kelompok menganalisis keterkaitan SKL. KI. KI.3) a. KI. Lembar Kerja Pengetahuan Kemampuan memahami konsep SKL. KI. Memberi contoh analisis keterkaitan SKL.3) Tes Objektif Pilihan Ganda 3. Menganalisis keterkaitan SKL. Hand-Out SKL. Contoh Analisis Keterkaitan antara SKl.

WAKTU (JP) 1.1/1. sistematis.4) Naskah Kurikulum 2013 (D-1. Berkomunikasi dengan bahasa yang runtut dan komunikatif untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. 3. 5.4) 1 2. Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. Hand-out Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda Matematika – SMA/MA/SMK | 18 . 2. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN membuat RPP) 4.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK tersebut. Diskusi kelas untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. Merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi kelas.2/1. 1. Sikap Berkomunikasi dengan bahasa yang santun. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. Pengetahuan Memahami elemenelemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. Menilai hasil kerja kelompok lain. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok. 1. 2.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013 Memahami secara utuh strategi implementasi Kurikulum 2013. Bahan Tayang Strategi Implementasi Kurikulum (PPT-1. Mengkomunikasi kan hasil diskusi kelas. dan komunikatif dalam meyampaikan ide-ide.

3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERIPELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 2. Bahan Tayang Tes tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 3. Menjelaskan konsep pendekatan scientific 3. WAKTU (JP) 2 2. INDIKATOR 1.1/4.1 SUBMATERI PELATIHAN Konsep Pendekatan Scientific KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika.1) a. Video DESKRIPSI Pembelajaran Matematika (V-2. Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain. Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika. Mendiskusikan contoh-contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika. Contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika (PPT-2. KEGIATAN PELATIHAN 1.1-1) b. Konsep pendekatan scientific NO 2. Konsep pendekatan scientific (PPT-2. Pengetahuan Konsep pendekatan scientific dan penerapannya dalam pembelajaran Matematika. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 19 . SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain.1-2) a. 2. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar pengamatan sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. Mengkaji pendekatan scientific berdasarkan tayangan video melalui diskusi kelompok. 2. Mengamati tayangan video pembelajaran Matematika. ANALISIS MATERI AJAR 12 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA.

3-2) c.3-3) a. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning. dan Discovery Learning. dan Discovery Learning.1-1) b. Problem Based Learning. Problem Based Learning. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok.3) a. 2. Project Based Learning (PPT-2. 1. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 20 .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI (HO-2. 3. Contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika (HO-2. Problem Based Learning (PPT-2. Focus Group Discussion Panduan FGD 1. Mengamati tayangan 3 jenis model pembelajaran (Project Based Learning. Discovery Learning (PPT-2. dan Discovery Learning). Mengidentifikasi penerapan Pendekatan Sikap Menyadari manfaat penerapan tiga model pembelajaran Pengetahuan Karakteristik Project Based Learning. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Project Based Learning. 1. Project Based Learning 2 Tes Tulis Tes Objektif Pilihan Ganda 2. Video Contoh Pembelajaran dengan 3 model pembelajaran (V-2. Mengidentifikasi karakteristik 3 model pembelajaran. Bahan Tayang Unjuk kerja Rubrik penilaian 3. Keterampilan Menganalisis.1) b. 2. Problem Based Learning. 2. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Discovery Learning.2 Model Pembelajaran Membedakan Model Pembelajaran Project Based Learning. 3.1-2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 4.3.

Menjelaskan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. Sikap Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madrasah dan menghargai pendapat orang lain. Bahan Tayang a.3-3) 1. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 21 . 2.3/3. Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madarasah dan menghargai pendapat orang lain. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar (HO-2. Contoh penerapan TEKNIK WAKTU (JP) mengaitkan.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK membedakan.1) b. Problem Based Learning (HO-2.3) b.3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar 1.3) b.2) a. 1. Menyajikan kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan bentuk tes dalam penilaian autentik.3.3-2) c. NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN Scientific pada 3 model pembelajaran BAHAN PELATIHAN BENTUK INSTRUMEN hasil kerja JENIS DESKRIPSI (HO-2. 2. Mendiskusikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. 3. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (PPT-2. Pengamatan Lembar pengamatan sikap 2 Tes tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 2. 2. Discovery Learning (HO-2. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar (PPT-2. Pengetahuan Konsep penilaian autentik pada pembelajaran Matematika.

3/2. 4. 1.1/3. Menganalisis kesesuaian buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Analisis Buku Guru (LK-2.4) 3. KI. Lembar Kerja Matematika – SMA/MA/SMK | 22 .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (HO-2.4/ 3. dan KD dalam diskusi Sikap Teliti dan serius dalam bekerja baik secara mandiri maupun berkelompok.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. Peserta pelatihan menilai buku guru dan buku siswa. dan KD (HO-1. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. dan KD. KI. Kecukupan. Bahan Tayang Analisis buku guru dan buku siswa (PPT-2. Analisis Buku Siswa (LK-2. 2. dan KD. 3. KI. Mengidentifikasi kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. 2. Keterampilan Terampil menganalisis buku guru dan siswa. dan KD.4) SKL. Ketelitian dan keseriusan menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL. dan Kedalaman Materi) 1. KI. Pengamatan Lembar pengamatan sikap 1. Diskusi kelompok membahas hasil penilaian buku guru dan buku siswa. 1. Hand-out Penugasan Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (R-2.2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 2. KI.2) a. Mencermati format analisis buku guru dan buku siswa.4-1) b.3/3.4-2) 6 2.

struktur. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa. WAKTU (JP) 2. Menjelaskan secara utuh materi. Menguasai secara utuh materi. Membaca isi materi. Menganalisis kesesuaian proses. struktur. Mendeskripsikan kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa secara kelompok. pendekatan scientific. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran. struktur. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan standar proses. 5. 5. 3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN kelompok. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa melalui belajar 4. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. 7. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku melalui diskusi kelompok. pendekatan scientific. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa. 6. 3. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. Matematika – SMA/MA/SMK | 23 .

Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Membuat contoh-contoh penerapan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari secara berkelompok. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. 10. Matematika – SMA/MA/SMK | 24 . 8. 6. 9. Menyimpulkan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. 5. 7. Mempresentasi kan hasil analisis buku guru dan buku siswa (perwakilan kelompok).SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN mandiri. WAKTU (JP) 4. Menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari.

Mengidentifikasi rambu-rambu penyusunan RPP.4/ SUBMATERI PELATIHAN 3. Peserta pelatihan menilai RPP yang dibawa oleh peserta lain. 2. INDIKATOR NO 1. kultural. Rambu-rambu penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific (PPT-3. sosial. moral. KEGIATAN PELATIHAN 1. Menunjukkan sikap tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 25 .1/3. SKL.1-2) a.2) 2. Panduan tugas telaah RPP (PPT-3. Bahan Tayang DESKRIPSI a.1-1) b. MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN 8 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 3. dan KD (HO-1. emosional. WAKTU (JP) 5 2. Mendiskusikan rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP Keterampilan Menyusun RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1.3/2. KI. Penugasan Rubrik Penilaian Telaah RPP (R-3.1 Penyusunan RPP KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Menyusun RPP yang menerapkan pendekatan scientific sesuai model belajar yang relevan dengan mempertimbang kan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik.

Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. Standar Proses. 7. Merevisi RPP berdasarkan hasil telaah. Contoh RPP Matematika (HO-3. 3.1-1) c.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN maupun intelektual PENILAIAN ASPEK Pengetahuan RPPyang menerapkan pendekatan scientific TEKNIK Tes Tertulis BENTUK INSTRUMEN Tes Objektif Pilihan Ganda BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI 3. Lembar Kerja SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR NO KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 3. Standar Proses. Mendiskusikan format telaahRPP . 5. MenelaahRPP yang disusun kelompok lain sesuai format telaah RPP. dan pendekatan scientific. KI.2) Matematika – SMA/MA/SMK | 26 . Rambu-rambu penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific (HO-3. dan pendekatan scientific secara berkelompok (terutama KD awal semester I) 4.1/3. 6. dan KD. Menelaah RPP yang disusun kelompok lain (LK-3. KI. dan KD.2 b.1/3.1-2) Telaah RPP 3. Mempresentasikan hasil RPP yang sudah direvisi (sampel) 4. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL.

dan KD (HO-1. KI. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. WAKTU (JP) 3 2. Mengidentifikasi jenis dan bentuk penilaian pada proses dan hasil belajar sesuai karakteristik mata pelajaran Matematika.2) SUBMATERI PELATIHAN 3. Hand out Tes Tertulis 3.3/3. Menunjukkan sikap tanggung dan kreatifdalam menyusun rancangan penilaian autentik. Mengkaji penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika melalui contoh. SKL.4/ 3. 4. Bahan Tayang DESKRIPSI a. Menelaah rancangan penilaian 4.1/3. Mengidentifikasi kaidah perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.2) Tes Objektif Pilihan Ganda 2. KEGIATAN PELATIHAN 1. 2. 3.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar INDIKATOR NO 1. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (HO-2. termasuk portofolio.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Merancang penilaian autentik pada proses dan hasil belajar PENILAIAN ASPEK Sikap Tanggung jawab dankreatif dalam menyusun rancangan penilaian autentik. Penugasan Rubrik Penilaian Telaah RPP (R-3.3/3. Panduan tugas menelaah rancangan penilaian pada RPP yang telah dibuat (PPT-3. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (PPT-2. Keterampilan Merancang penilaian autentik Pengetahuan Penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika.2) b.3/2. Mendiskusikan tentang kaidah merancang penilaian autentik berbentuk tes dan nontes.1/3.2) a. Mendiskusikan dan melakukan tanya jawabtentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes. Menelaah rancangan penilaian Matematika – SMA/MA/SMK | 27 .2) b.

6. 5. KEGIATAN PELATIHAN autentik pada RPP yang telah disusun.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR NO autentik pada proses dan hasil belajar yang ada dalam RPP. Mempresentasi kan rancangan penilaian proses dan hasil belajar yang sudah direvisi (sampel) WAKTU (JP) Matematika – SMA/MA/SMK | 28 . Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun berdasarkan hasil telaah.

sosial. menyaji.1) NO 4. Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran. kultural. Melalui diskusi.1/4.1) Strategi pengamatan video pembelajaran (PPT-4. menganalisis tayangan video pelaksanaan pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientificdan penilaian autentik. INDIKATOR 1. Mengkonfirmasi penerapan pendekatan Penugasan Rubrik Penilaian Analisis pembelajaran pada tayangan video (R-4. Menganalisis simulasi pembelajaran melalui tayangan video pembelajaran. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. Bahan Tayang 2. mengolah. mencoba. KEGIATAN PELATIHAN 1. moral. 3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERIPELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 4.1) Analisis pembelajaran pada tayangan video (LK-4. menanya.1) Tes Objektif Pilihan Ganda 3.1 SUBMATERI PELATIHAN Simulasi Pembelajaran KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Mengkaji pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. Mengamati tayangan video pembelajaran WAKTU (JP) 8 2. emosional. menalar. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. Lembar Kerja Pengetahuan Prinsipprinsip pendekatan scientific dan Tes Tertulis Matematika – SMA/MA/SMK | 29 . 2. Video DESKRIPSI Pembelajaran Matematika (V-2. PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING 22 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran Keterampilan Menganalisis pembelajaran pada tayangan video.

Bahan Tayang a.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN maupun. menalar. Mempresentasi kan contoh RPP untuk kegiatan peer teaching. mengolah. WAKTU (JP) 3. mencoba.2-2) 14 4. Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (PPT-4. menanya. Merevisi RPP sehingga menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik untuk kegiatan peer teaching. 1. 2. Menjelaskan garis besar instrumen penilaian pelaksanaan Sikap Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching Keterampilan Melaksanakan pembelajaran yang menerapkan Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. Penugasan 2. Panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran melalui peer teaching (PPT-4. Merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran. PENILAIAN ASPEK penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika.2) Tes Objektif Matematika – SMA/MA/SMK | 30 . TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN scientific dan penilaian autentik mengacu pada tayangan video pembelajaran. intelektual.2-1) b. Menginformasik an panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran melalui peer teaching. Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching. 5. menyaji.2 Peer Teaching Melaksanakan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. mencipta) 1. Melaksanakan peer teaching yang menerapkan pendekatan Tes Tertulis Rubrik penilaian pelaksanaan pembelajaran (R-4. 4.

maupun. WAKTU (JP) 3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. Menilai pelaksanaan peer teaching peserta lain. sosial. kultural. Melakukan refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching. KEGIATAN PELATIHAN pembelajaran 3. Pengetahuan Prinsipprinsip pendekatan scientific dan penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika. Mempersiapkan pelaksanaan peer teaching berdasarkan RPP yang telah disusun. intelektual. 5. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN Ganda BAHAN PELATIHAN JENIS 2. Mempraktikkan pembelajaran melalui peer teaching secara individual. emosional. 4. moral.2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR scientific dan penilaian autentik menggunakan RPP yang telah disusun. Menilai kegiatan peer teaching menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran 6. Matematika – SMA/MA/SMK | 31 . Lembar Kerja DESKRIPSI Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (LK-4. PENILAIAN ASPEK pendekatan scientific.

BAGIAN III MATERI PELATIHAN Matematika – SMA/MA/SMK | 32 .

MATERI PELATIHAN: PERUBAHAN MINDSET Matematika – SMA/MA/SMK | 33 .

5. Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skill). 3. PERANGKAT PELATIHAN 1. 2. B. Bahan Tayang: Tantangan Indonesia dalam Abad 21 (Mengapa Kita Harus Berubah) ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 34 . Merespon secara positif terhadap cara baru dalam belajar. Menunjukkan sikap menerima secara terbuka terhadap perubahan Kurikulum dalam rangka menghadapi tantangan Indonesia dalam Abad ke-21. 4. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013. 6. LINGKUP MATERI 1. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013. D. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan materi pelatihan perubahan mindset. 5. 2. C. 2. Berpikir Berbasis Kendala (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir Berbasis Kesempatan (Opportunity Based) Cara Baru dalam Belajar Enam Pendorong Utama Teknologi Pendidikan yang Harus Diperhatikan. 4. INDIKATOR 3. Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (Mengapa Kita Harus Berubah). Menunjukkan sikap menghargai perubahan kurikulum. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1.MATERI PELATIHAN: PERUBAHAN MINDSET A.

Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. seperti LCD Projector. Fasilitator memotivasi peserta. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN PERUBAHAN MINDSET 2 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. Mendiskusikan cara baru dalam belajar. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN WAKTU Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. Fasilitator menutup pembelajaran 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 35 . Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset. Curah pendapat untuk membandingkan berpikir berbasis kendala 15 menit (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based). 10 Menit Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi pendidikan yang 20 Menit harus diperhatikan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skill) KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Perubahan Mindset. kompetensi. dan Laser Pointer. tujuan. Laptop. semangat. Fasilitator mengingatkankan peserta agar membaca referensi yang relevan. 15 Menit KEGIATAN PENDAHULUAN KEGIATAN INTI Perubahan Mindset 60 Menit Tanya jawab tentang tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 15 Menit (mengapa kita harus berubah). indikator. serius. alokasi waktu. File. atau media pembelajaran lainnnya. mengajak berdinamika agar saling mengenal. Active Speaker.

dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset. dan Penutup Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi pendidikan yang harus diperhatikan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi. diakhiri membuat rangkuman. alokasi waktu. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. Diskusi Diskusi cara baru dalam belajar Diskusi. refleksi. tujuan.Langkah Kegiatan Inti Pengkondisian Peserta dilanjutkan Tanya Jawab 30 Menit Curah Pendapat Diskusi Diskusi Dilanjutkan Tanya Jawab 15 Menit 10 Menit 20 Menit Pengkondisian Peserta dilanjutkan Tanya Jawab Perkenalan. indikator. Tanya jawab tentang Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (mengapa kita harus berubah). dan umpan balik. semangat. Fasilitator memotivasi peserta. Tanya Jawab. kompetensi. Curah Pendapat Curah pendapat untuk membandingkan berpikir berbasis kendala (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based). mengajak berdinamika agar saling mengenal. fasilitator menjelaskan nama. serius. Matematika – SMA/MA/SMK | 36 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 37 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 38 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 39 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 40 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 41 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 42 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 43 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 44 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 45 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 46 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 47 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 48 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 49 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 50 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 51 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 52 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 53 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 54 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 55 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 56 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 57 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 58 .

KI.3 SKL.1 Rasional 1.2 Elemen Perubahan 1. dan KD 1.4 Strategi Implementasi Matematika – SMA/MA/SMK | 59 .MATERI PELATIHAN 1: KONSEP KURIKULUM 2013 1.

Menjelaskan rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan. Standar Proses. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. Menjelaskan empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. 3. dan Standar Penilaian. 4. 8. Menerima rasional pengembangan Kurikulum 2013 perkembangan masa depan. Standar Isi yang berisi Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) c. Matematika – SMA/MA/SMK | 60 . Standar Proses d. dan KD. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) b. Menganalisis keterkaitan SKL. LINGKUP MATERI 1. dalam kaitannya dengan 2. memahami secara utuh rasional Kurikulum 2013. Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. 6. 7. 3. 4. Standar Proses. dan Standar Penilaian. dan KD pada Kurikulum 2013. dan KD pada kurikulum 2013. 3. KI. Rasional Kurikulum 2013 Elemen Perubahan Kurikulum 2013 Standar Nasional Pendidikan a. Menjelaskan permasalahan Kurikulum 2006 (KTSP). memahami keterkaitan antara SKL. 2.MATERI PELATIHAN 1: KONSEP KURIKULUM A. Mengidentifikasi kesenjangan implementasi kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal. 2. SI. Menjelaskan alasan pengembangan kurikulum. memahami secara utuh elemen perubahan Kurikulum 2013. C. SI. 9. INDIKATOR 1. KI. B. 5. Standar Penilaian Strategi Implementasi Kurikulum 2013 4. KI. Menganalisis keterkaitan antara SKL. Menjelaskan empat elemen perubahan kurikulum dalam hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. 10. dan memahami secara utuh strategi implementasi Kurikulum 2013.

12. Hand-Out a. Rasional Kurikulum 2013 b. Elemen Perubahan Kurikulum 2013 c. Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Bahan Tayang a. dan Kompetensi Dasar (KD) d. PERANGKAT PELATIHAN 1. dan Kompetensi Dasar (KD) d. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013 dengan bahasa yang runtut dan komunikatif. Standar Isi (Kompetensi Inti (KI).11. Strategi Implementasi Kurikulum 2013 5. Standar Kompetensi Lulusan (SKL). ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 61 . Elemen Perubahan Kurikulum 2013 c. Strategi Implementasi Kurikulum 2013 3. D. Video tentang Rasional Kurikulum 2013 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2. Rasional Kurikulum 2013 b. Kompetensi Inti (KI). KI. Lembar Kerja Analisis SKL. dan KD 4. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013.

2 Elemen Perubahan Kurikulum 20 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang Elemen Perubahan 10 Menit Kurikulum yang mencakup SKL. Tanya jawab tentang Rasional Kurikulum 2013 yang 5 Menit mencakup: permasalahan kurikulum 2006 (KTSP). File. kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dan kondisi ideal. tujuan. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. kompetensi. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 1. Standar Proses. Active Speaker.1.1. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran seperti LCD Projector.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 1. serius. KONSEP KURIKULUM 4 JP (@45 MENIT) SMA/MA. Laptop.1 Rasional 25 Menit Penayangan Video Mendikbud tentang Paparan Kurikulum 10 Menit 2013 dengan menggunakan V-1. indikator. Pemaparan oleh fasilitator tentang Rasional Kurikulum 10 Menit 2013 dengan menggunakan PPT-1. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. SI. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Konsep Kurikulum. serta alasan pengembangan kurikulum. atau media pembelajaran lainnya. Fasilitator memotivasi peserta. semangat. 1. dan Standar Penilaian dan hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan dengan menggunakan Matematika – SMA/MA/SMK | 62 . mengajak berdinamika agar saling mengenal. alokasi waktu. dan Laser Pointer.

KI.3. dan KD 5 Menit 60 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang SKL. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.3. Fasilitator menutup pembelajaran 10 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 63 . KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Konsep Kurikulum. 10 Menit kemudian fasilitator menyimpulkannya. sementara kelompok 15 Menit lainnnya memberi komentar/ tanggapan dan menilai hasil kerja kelompok. Diskusi kelas tentang elemen-elemen penting Strategi 25 Menit Implementasi Kurikulum 2013. kemudian merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi.3 SKL.2. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan. Mengkomunikasikan hasil diskusi kelompok. KI. Presentasi hasil kerja kelompok. dan 30 Menit KD yang akan dijadikan dasar untuk membuat RPP dengan menggunakan LK-1. Tanya jawab tentang Elemen Perubahan Kurikulum. Kerja kelompok untuk menganalisis keterkaitan SKL. ICE BREAKER 1.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013 45 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang Strategi Implementasi 10 Menit Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1. dan KD dengan 10 Menit menggunakan PPT-1. 1. KI.PPT-1.3 Memberi contoh analisis keterkaitan antara SKL.4. dan KD 5 Menit dengan menggunakan HO-1. KI.

Alasan pengembangan kurikulum. Identifikasi perubahan yang penting dalam kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya (struktur kurikulum. Tanya Jawab Diskusi dan tanya jawab terkait dengan Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: a.2.1 RASIONAL KURIKULUM Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur dengan menggunakan PPT-1.2 10 Menit Tanya Jawab 10 Menit Pemaparan Instruktur menyampaikan materi Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum yang mencakup: 4 standar. penetapan platform untuk mata pelajaran tertentu (geografi untuk IPS. Biologi untuk IPA)dengan menggunakan PPT-1. tematik terpadu untuk SD kls 1 dan 4. Matematika – SMA/MA/SMK | 64 . perubahan pendekatan pembelajaran yaitu Scientific Approach. Manfaat adanya perubahan kurikulum. proses pembelajaran. c.1 dan PPT-1. dan penilaian hasil belajar). b. bahasa sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge. TIK merupakan sarana pembelajaran yang dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain. Kemudian fasilitator menyimpulkannya.SUBMATERI PELATIHAN : 1.

Matematika – SMA/MA/SMK | 65 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 66 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 67 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 68 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 69 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 70 .

Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan.4 I. dan (3) warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. standar penilaian. cakap. baik tantangan internal maupun tantangan eksternal. B. yang diyakini akan menjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan negara Indonesia sepanjang zaman. Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap.2/1. Jadi tidak dapat disangkal lagi bahwa kurikulum yang dikembangkan dengan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. pengetahuan. dan keterampilan secara terpadu. standar biaya.1/1. Tantangan Internal Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar pengelolaan. isi. Tantangan internal lainnya terkait dengan faktor perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. standar isi. Kurikulum sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal 1 Ayat (19) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan.HO-1. kreatif. dan standar kompetensi lulusan. 1. mandiri. LATAR BELAKANG PERLUNYA PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. kurikulum merupakan salah satu unsur yang memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. standar sarana prasarana. standar pendidik dan tenaga kependidikan. standar proses. Matematika – SMA/MA/SMK | 71 . RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Pengembangan kurikulum perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan yang dihadapi. RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 A. berilmu. berakhlak mulia. dan (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. sehat.

(Gambar 1). SDM usia produktif yang melimpah apabila memiliki kompetensi dan keterampilan akan menjadi modal pembangunan yang luar biasa besarnya. berbagai kegiatan dilaksanakan untuk mengupayakan agar penyelenggaraan pendidikan dapat mencapai ke delapan standar yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar SDM usia produktif yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi SDM yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban (Gambar 2).Terkait dengan tantangan internal pertama. Namun apabila tidak memiliki kompetensi dan keterampilan tentunya akan menjadi beban pembangunan. Reformasi Pendidikan Mengacu Pada 8 Standar Kurikulum 2013 Sedang Dikerjakan Telah dan terus Dikerjakan -Peningkatan Kualifikasi & Sertifikasi -Pembayaran Tunjangan Sertifikasi -Uji Kompetensi dan Pengukuran Kinerja -Rehab Gedung Sekolah -Penyediaan Lab dan Perpustakaan -Penyediaan Buku -BOS -Bantuan Siswa Miskin -BOPTN/Bidik Misi (di PT) Manajemen Berbasis Sekolah Gambar 1 Terkait dengan perkembangan penduduk. Gambar 2 Matematika – SMA/MA/SMK | 72 .

Dari isolasi menuju lingkungan jejaring. b. persepsi masyarakat. Dari satu arah menuju interaktif. Dari kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan. serta berbagai fenomena negatif yang mengemuka. h. g. perkembangan pengetahuan dan pedagogi. Kerpek. Dari berpusat pada guru menuju berpusat pada siswa. APEC. m. e. Dari usaha sadar tunggal menuju jamak. investasi dan transformasi pada sektor pendidikan • Materi TIMSS dan PISA Kompetensi Masa Depan • Kemampuan berkomunikasi • Kemampuan berpikir jernih dan kritis • Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan • Kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab • Kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda • Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal • Memiliki minat luas dalam kehidupan • Memiliki kesiapan untuk bekerja • Memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya • Memiliki rasa tanggungjawab terhadap lingkungan Persepsi Masyarakat • Terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif • Beban siswa terlalu berat • Kurang bermuatan karakter Fenomena Negatif yang Mengemuka §Perkelahian pelajar §Narkoba §Korupsi §Plagiarisme §Kecurangan dalam Ujian (Contek. Dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan. Dari penyampaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan.2. Dari pembelajaran pribadi menuju pembelajaran berbasis tim. Dari pasif menuju aktif-menyelidiki. Dari pemikiran faktual menuju kritis. kompetensi yang diperlukan di masa depan. l. n. d. Tekanan Untuk Pengembangan Kurikulum Tantangan Masa Depan • • • • • • • • • Globalisasi: WTO. Penyempurnaan Pola Pikir Pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan hanya akan dapat terwujud apabila terjadi pergeseran atau perubahan pola pikir. Dari satu ilmu pengetahuan bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak. o.) §Gejolak masyarakat (social unrest) Perkembangan Pengetahuan dan Pedagogi • Neurologi • Psikologi • Observation based [discovery] learning dan Collaborative learning Gambar 3 3. p. j. Dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala penjuru.. Dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif. f. Dari alat tunggal menuju alat multimedia. Pergeseran itu meliputi proses pembelajaran sebagai berikut: a. Tantangan Eksternal Tantangan eksternal yang dihadapi dunia pendidikan antara lain berkaitan dengan tantangan masa depan. Matematika – SMA/MA/SMK | 73 . ASEAN Community. Dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata. k. c. i. CAFTA Masalah lingkungan hidup Kemajuan teknologi informasi Konvergensi ilmu dan teknologi Ekonomi berbasis pengetahuan Kebangkitan industri kreatif dan budaya Pergeseran kekuatan ekonomi dunia Pengaruh dan imbas teknosains Mutu. Dari luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan.

Perbandingan kerangka kerja penyusunan kurikulum dapat dilihat pada Gambar 5. perlu dilakukan penyempurnaan pola pikir dan penggunaan pendekatan baru dalam perumusan Standar Kompetensi Lulusan. Guru lebih diberikan kesempatan mengembangkan proses pembelajaran tanpa harus dibebani dengan tugas-tugas penyusunan silabus yang memakan waktu yang banyak dan memerlukan penguasaan teknis penyusunan yang sangat memberatkan guru. dan kebutuhan. tujuan pendidikan nasional. Setelah kompetensi ditetapkan kemudian ditentukan kurikulumnya yang terdiri dari kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum. penyusunan kurikulum dimulai dengan menetapkan standar kompetensi lulusan berdasarkan kesiapan peserta didik.Sejalan dengan itu. Tabel 1 4. Perumusan SKL di dalam KBK 2004 dan KTSP 2006 yang diturunkan dari SI harus diubah menjadi perumusan yang diturunkan dari kebutuhan. Penguatan Tata Kelola Kurikulum Pada Kurikulum 2013. Pendekatan dalam penyusunan SKL pada KBK 2004 dan KTSP 2006 dapat dilihat di Gambar 4 dan penyempurnaan pola pikir perumusan kurikulum dapat dilihat di Tabel 1. Matematika – SMA/MA/SMK | 74 . tapi disusun pada tingkat nasional. Satuan pendidikan dan guru tidak diberikan kewenangan menyusun silabus.

Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR PROSES KI KELAS & KD MAPEL (STANDAR ISI) STANDAR PENILAIAN SILABUS PANDUAN GURU Oleh Satuan Pendidikan PEMBELAJARAN & PENILAIAN (KTSP) BUKU TEKS SISWA 1 Gambar 5 Hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang dilakukan Balitbang pada tahun 2010 juga menunjukkan bahwa secara umum total waktu pembelajaran yang dialokasikan oleh banyak guru untuk beberapa mata pelajaran di SD. dan SMA lebih kecil dari total waktu pembelajaran yang dialokasikan menurut Standar Isi. Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR ISI (SKL MAPEL. KD MAPEL) STANDAR PROSES STANDAR KOMPETENSI LULUSAN STANDAR PENILAIAN KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. Rumusan kompetensi juga sulit dijabarkan ke dalam indikator dengan akibat sulit dijabarkan ke pembelajaran. dikaitkan dengan kesulitan yang dihadapi guru dalam melaksanakan KTSP. Di samping itu. maka sangat penting untuk menyiapkan guru supaya memahami pemanfaatan sumber belajar yang telah disiapkan dan sumber lain yang dapat mereka manfaatkan. media. ada kemungkinan waktu yang dialokasikan dalam Standar Isi tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya. SMP. SK MAPEL. dan sulit diajarkan karena keterbatasan sarana. 5 (lima). dan sumber belajar. Dengan keyakinan Matematika – SMA/MA/SMK | 75 . Yuridis. ditemukan bahwa dari 6 (enam) level kemampuan yang dirumuskan di dalam studi PISA. juga perlu diperkuat peran pendampingan dan pemantauan oleh pusat dan daerah. 5. Hasil monitoring dan evaluasi ini juga menunjukkan bahwa banyak kompetensi yang perumusannya sulit dipahami guru. Untuk menjamin ketercapaian kompetensi sesuai dengan yang telah ditetapkan dan untuk memudahkan pemantauan dan supervisi pelaksanaan pengajaran. Untuk menjamin keterlaksanaan implementasi kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran.Kerangka Kerja Penyusunan KBK 2004 TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL Kerangka Kerja Penyusunan KTSP 2006 TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. hampir semua peserta didik Indonesia hanya mampu menguasai pelajaran sampai level 3 (tiga) saja. sulit diajarkan karena terlalu kompleks. Yuridis. sementara negara lain yang terlibat di dalam studi ini banyak yang mencapai level 4 (empat). perlu diambil langkah penguatan tata kelola antara lain dengan menyiapkan pada tingkat pusat buku pegangan pembelajaran yang terdiri dari buku pegangan siswa dan buku pegangan guru. sulit dijabarkan ke penilaian. Karena guru merupakan faktor yang sangat penting di dalam pelaksanaan kurikulum. dan kalau diajarkan kepada siswa sulit dicapai oleh siswa. KD MAPEL) STANDAR PROSES STANDAR KOMPETENSI LULUSAN STANDAR PENILAIAN PEDOMAN SILABUS RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Oleh Satuan Pendidikan PEMBELAJARAN & PENILAIAN BUKU TEKS SISWA RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Oleh Satuan Pendidikan PEDOMAN SILABUS BUKU TEKS SISWA PEMBELAJARAN & PENILAIAN Kerangka Kerja Penyusunan Kurikulum 2013 KESIAPAN PESERTA DIDIK TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL KEBUTUHAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) SATUAN PENDIDIKAN KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. Yuridis. Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR ISI (SKL MAPEL. SK MAPEL. dan 6 (enam). Pendalaman dan Perluasan Materi Berdasarkan analisis hasil PISA 2009.

yaitu yang kita ajarkan berbeda dengan tuntutan zaman (Gambar 6).bahwa semua manusia diciptakan sama. pencapaian peserta didik kelas 2 SMP juga tidak jauh berbeda dengan pencapaian yang mereka peroleh untuk bidang matematika. hanya satu. sementara misalnya di Taiwan hampir 50% peserta didiknya mampu mencapai level tinggi dan advance. Gambar 6 Analisis hasil TIMSS tahun 2007 dan 2011 di bidang matematika dan IPA untuk peserta didik kelas 2 SMP juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. interpretasi yang dapat disimpulkan dari hasil studi ini. sementara hampir 40% peserta didik Taiwan mampu mencapai level tinggi Matematika – SMA/MA/SMK | 76 . lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah. Hasil studi pada tahun 2007 dan 2011 menunjukkan bahwa lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau yang distandarkan di tingkat internasional (Gambar 7). Untuk bidang matematika. Gambar 7 Untuk bidang IPA.

yaitu: Matematika – SMA/MA/SMK | 77 . Hal ini juga menunjukkan bahwa apa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan dan distandarkan pada tingkat internasional (Gambar 9). Dengan keyakinan bahwa semua anak dilahirkan sama. Dalam hal membaca. kesimpulan yang dapat diambil dari studi ini adalah bahwa apa yang diajarkan kepada peserta didik di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau distandarkan di tingkat internasional.dan lanjut (advanced). Gambar 9 Hasil analisis lebih jauh untuk studi TIMSS dan PIRLS menunjukkan bahwa soal-soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dibagi menjadi empat kategori. lebih dari 95% peserta didik Indonesia di SD kelas IV juga hanya mampu mencapai level menengah. sementara lebih dari 50% siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. Gambar 8 Hasil studi internasional untuk reading dan literacy (PIRLS) yang ditujukan untuk kelas IV SD juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan hasil studi untuk tingkat SMP seperti yang dipaparkan terdahulu. (Gambar 8).

- low mengukur kemampuan sampai level knowing intermediate mengukur kemampuan sampai level applying high mengukur kemampuan sampai level reasoning advance mengukur kemampuan sampai level reasoning with incomplete information. sehingga menyulitkan bagi peserta didik kelas VIII SMP menjawab pertanyaan yang terdapat di dalam TIMSS (Tabel 3). Tabel 3 Matematika – SMA/MA/SMK | 78 . Tabel 2 Analisis lebih jauh untuk membandingkan kurikulum IPA SMP kelas VIII yang ada di Indonesia dengan materi yang terdapat di TIMSS menunjukkan bahwa terdapat beberapa topik yang sebenarnya belum diajarkan di kelas VIII SMP (Tabel 2). Lebih parahnya lagi. malah terdapat beberapa topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini. Hal yang sama juga terdapat di kurikulum matematika kelas VIII SMP di mana juga terdapat beberapa topik yang belum diajarkan di kelas XIII.

mempertahankan materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. yaitu cerdas spiritual dan cerdas sosial/emosional dalam ranah sikap. dan menambahkan materi yang dianggap penting dalam perbandingan internasional. undang-undang tersebut berharap pendidikan dapat membuat peserta didk menjadi kompeten dalam bidangnya. dan keterampilan sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan pasal 35 undangundang tersebut. Di samping itu juga perlu dievaluasi ulang tingkat kedalaman materi sesuai dengan tuntutan perbandingan internasional dan menyusun kompetensi dasar yang sesuai dengan materi yang dibutuhkan. mandiri.Hal yang sama juga terjadi di kurikulum matematika kelas IV SD pada studi internasional di mana juga terdapat topik yang belum diajarkan pada kelas IV dan topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini. serta cerdas kinestetis dalam ranah keterampilan. perlu dilakukan langkah penguatan materi dengan mengevaluasi ulang ruang lingkup materi yang terdapat di dalam kurikulum dengan cara meniadakan materi yang tidak esensial atau tidak relevan bagi peserta didik. Di mana kompeten tersebut. kreatif. berakhlak mulia. sehat. Sejalan dengan arahan undang-undang tersebut. seperti bisa dilihat pada Tabel 4. telah pula ditetapkan visi pendidikan tahun 2025 yaitu menciptakan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Secara singkatnya. TUJUAN KURIKULUM Tujuan Pendidikan nasional sebagaimana telah dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang telah disampaikan di atas. Matematika – SMA/MA/SMK | 79 . II. pengetahuan. Cerdas yang dimaksud disini adalah cerdas komprehensif. Tabel 4 Dalam kaitan itu. cakap. harus mencakup kompetensi dalam ranah sikap. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. cerdas intelektual dalam ranah pengetahuan. berilmu.

produktif. bernegara dan peradaban dunia. kreatif. dan landasan empirik. Landasan Yuridis Landasan yuridis kurikulum adalah Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 tahun Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. 2. A. Pewarisan nilai dan pretasi bangsa di masa lampau memberikan dasar bagi kehidupan bangsa dan individu sebagai anggota masyarakat. Landasan yuridis pengembangan Kurikulum 2013 lainnya adalah Instruksi Presiden Republik Indonesia tahun 2010 tentang Pendidikan Karakter. masa lalu-masa sekarang-masa yang akan datang. LANDASAN KURIKULUM 2013 Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan kurikulum baru. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pembelajaran Aktif dan Pendidikan Kewirausahaan. 1. Ketiga dimensi kehidupan bangsa. dan evaluasi kurikulum. implementasi kurikulum. kreatif. Landasan empirik memberikan arahan berdasarkan pelaksanaan kurikulum yang sedang berlaku di lapangan.Dengan demikian Kurikulum 2013 adalah dirancang dengan tujuan untuk mempersiapkan insan Indonesia supaya memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warganegara yang beriman. Kerangka Dasar juga digunakan sebagai pedoman untuk mengembangkan kurikulum tingkat nasional. KERANGKA DASAR KURIKULUM 2013 Kerangka dasar adalah pedoman yang digunakan untuk mengembangkan dokumen kurikulum. daerah. dan KTSP. Landasan filosofis adalah landasan yang mengarahkan kurikulum kepada manusia apa yang akan dihasilkan kurikulum. inovatif. Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Perubahan PP No. menjadi landasan filosofis pengembangan kurikulum. Lebih lanjut. Kurikulum adalah instrumen pendidikan untuk dapat membawa insan Indonesia memiliki kompetensi sikap. Landasan teoritik memberikan dasar-dasar teoritik pengembangan kurikulum sebagai dokumen dan proses.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. modal yang digunakan dan dikembangkan untuk membangun kualitas kehidupan bangsa dan individu yang diperlukan bagi kehidupan masa kini. pengetahuan. landasan filosofis. Landasan Filosofis Secara singkat kurikulum adalah untuk membangun kehidupan masa kini dan masa akan datang bangsa. pengembangan Kurikulum 2013 diamanatkan oleh Rencana Pendidikan Pendidikan Menengah Nasional (RJPMN). Landasan yuridis merupakan ketentuan hukum yang dijadikan dasar untuk pengembangan kurikulum dan yang mengharuskan adanya pengembangan kurikulum baru. inovatif. berbangsa. dan keberlanjutan kehidupan bangsa dan Matematika – SMA/MA/SMK | 80 . serta kemudian diwariskan serta dikembangkan untuk kehidupan masa depan. dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat. yang dikembangkan dari warisan nilai dan pretasi bangsa di masa lalu. dan afektif III. dan keterampilan sehingga dapat menjadi pribadi dan warga negara yang produktif.

9 % (Agus D. Matematika – SMA/MA/SMK | 81 .W. namun beberapa ahli pendidikan dan tokoh masyarakat menyatakan bahwa salah satu akar masalahnya adalah implementasi kurikulum yang terlalu menekankan aspek kognitif dan keterkungkungan peserta didik di ruang belajarnya dengan kegiatan yang kurang menantang peserta didik. Martowardojo. Momentum pertumbuhan ekonomi ini harus terus dijaga dan ditingkatkan. Generasi muda berjiwa wirausaha yang tangguh. Generasi seperti ini seharusnya tidak muncul karena hasil seleksi alam.id/index. tulis.4% (www. Oleh karena itu. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 2005 sampai dengan 2008 berturut-turut 5. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara – negara ASEAN sebesar 6.warganegara di masa mendatang. suku bangsa. mengembangkan kehidupan individu peserta didik sebagai warganegara yang tidak kehilangan kepribadian dan kualitas untuk kehidupan masa kini yang lebih baik. sangat diperlukan untuk memantapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.5 – 6. potensi ekonomi. Beban belajar ini bahkan secara kasatmata terwujud pada beratnya beban buku yang harus dibawa ke sekolah. ulet. komentar. kurikulum perlu direorientasi dan direorganisasi terhadap beban belajar dan kegiatan pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan ini. Maka. Maka. Dewasa ini. yakni baca. dan membangun kehidupan masa depan yang lebih baik lagi. dan mandiri. khususnya siswa sekolah dasar. Berbagai elemen masyarakat telah memberikan kritikan. dalam Rapat Paripurna DPR. misalnya pada kasus-kasus perkelahian massal.go. Beban belajar ini salah satunya berhulu dari banyaknya matapelajaran yang ada di tingkat sekolah dasar. 2008: 6.3%. kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan kasus pemaksaan kehendak sering muncul di Indonesia. Berbagai kasus yang berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang. 5. dan hitung. kurikulum harus mampu memandu upaya karakterisasi nilai-nilai kejujuran pada peserta didik. Landasan Empiris Pada saat ini perekonomian Indonesia terus tumbuh di tengah bayang-bayang resesi dunia. Dengan tiga dimensi kehidupan tersebut kurikulum selalu menempatkan peserta didik dalam lingkungan sosial-budayanya.php/indikator). jujur. dan beragamnya kemajuan pembangunan dari satu daerah ke daerah lain. Walaupun belum ada kajian ilmiah bahwa kekerasan tersebut berhulu dari kurikulum. Sebagai negara bangsa yang besar dari segi geografis. kurikulum pada tingkat sekolah dasar perlu diarahkan kepada peningkatan 3 (tiga) kemampuan dasar. kreatif. termasuk masih adanya kecurangan di dalam Ujian Nasional menunjukkan mendesaknya upaya menumbuhkan budaya jujur dan antikorupsi melalui kegiatan pembelajaran di dalam satuan pendidikan. 3.presidenri. dan saran berkaitan dengan beban belajar siswa.7%. manipulasi. dan pembentukan karakter. Maka.5%. 31/05/2012). kurikulum harus mampu membentuk manusia Indonesia yang mampu menyeimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat untuk memajukan jatidiri sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan kebutuhan untuk berintegrasi sebagai satu entitas bangsa Indonesia. sekecil apapun ancaman disintegrasi bangsa masih tetap ada. 6. namun karena hasil gemblengan pada tiap jenjang satuan pendidikan dengan kurikulum sebagai pengarahnya. Kecenderungan ini juga menimpa generasi muda.

Hasil-hasil ini menunjukkan perlu ada perubahan orientasi kurikulum. dan IPAmenunjukkan peringkat Indonesia baru bisa menduduki 10 besar terbawah dari 65 negara. mutu pendidikan Indonesia harus terus ditingkatkan. analisis dan pemecahan masalah. dengan tidak membebani peserta didik dengan konten namun pada aspek kemampuan esensial yang diperlukan semua warga negara untuk berperanserta dalam membangun negaranya pada abad 21. upaya pemenuhan kebutuhan manusia telah secara nyata mempengaruhi secara negatif lingkungan alam. Matematika – SMA/MA/SMK | 82 . Kurikulum seharusnya juga diarahkan untuk membangun kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan alam dan menumbuhkan kemampuan untuk merumuskan pemecahan masalah secara kreatif terhadap isu-isu lingkungan dan ketahanan pangan. (2) teori. dan pemanasan global merupakan tantangan yang harus dihadapi generasi muda di masa kini dan di masa yang akan datang. Hasil Riset TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) menunjukkan siswa Indonesia berada pada rangking amat rendah dalam kemampuan (1) memahami informasi yang komplek. prosedur dan pemecahan masalah dan (4) melakukan investigasi. studi yang memfokuskan pada literasi bacaan. semakin berkurangnya sumber air bersih adanya potensi rawan pangan pada berbagai beahan dunia. Pencemaran. (3) pemakaian alat.Pada saat ini. Hasil riset PISA (Program for International Student Assessment). Dengan berbagai kemajuan yang telah dicapai. matematika.

masyarakat. dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu untuk SMP/MTS. Isi atau konten kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) kelas dan dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran. pengetahuan. Standar Kompetensi Lulusan mencakup sikap. KARAKTERISTIK KURIKULUM 2013 Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik untuk mengembangkan sikap. Standar kualitas nasional dinyatakan sebagai Standar Kompetensi Lulusan. Kompetensi Inti adalah kualitas yang harus dimiliki seorang peserta didik untuk setiap kelas melalui pembelajaran KD yang diorganisasikan dalam proses pembelajaran siswa aktif. SMK/MAK. menggunakan pengetahuan dan ketrampilan untuk melaksanakan suatu tugas di sekolah. pengetahuan. SMK/MAK. Kurikulum berbasis kompetensi adalah outcomes-based curriculum dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL. dan lingkungan dimana yang bersangkutan berinteraksi.4. Matematika – SMA/MA/SMK | 83 . B. Pendidikan berdasarkan standar adalah pendidikan yang menetapkan standar nasional sebagai kualitas minimal warganegara untuk suatu jenjang pendidikan. Kompetensi adalah kemampuan sesorang untuk bersikap. 3. kelas dan mata pelajaran. SMP/MTS. Standar bukan kurikulum dan kurikulum dikembangkan agar peserta didik mampu mencapai kualitas standar nasional atau di atasnya. Keberhasilan kurikulum dartikan sebagai pencapaian kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh peserta didik. Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu tema untuk SD/MI. 2. Hasil dari pengalaman belajar tersebut adalah hasil belajar peserta didik yang menggambarkan manusia dengan kualitas yang dinyatakan dalam SKL. SMA/MA. ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun kemampuan yang dirumuskan dalam SKL. Kompetensi untuk Kurikulum 2013 dirancang sebagai berikut: 1. Landasan Teoritik Kurikulum 2013 dikembangkan atas dasar teori “pendidikan berdasarkan standar” (standardbased education). dan teori kurikulum berbasis kompetensi. dan keterampilan. SMA/MA. dan ketrampilan (kognitif dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah. Standar Kompetensi Lulusan dikembangkan menjadi Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan yaitu SKL SD/MI. Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap. Demikian pula penilaian hasil belajar dan hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi.

4. d. b. Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris (organizing elements) Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti. dan SMK/MAK berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dikembangkan guru. dan masyarakat. rumah dan masyarakat. Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif. Pembelajaran kompetensi untuk konten yang bersifat developmentaldilaksanakan berkesinambungan antara satu pertemuan dengan pertemuan lainnya. Proses pembelajaran di SD/MI berdasarkan tema sedangkan di SMP/MTS. Proses pembelajaran intra-kurikuler adalah proses pembelajaran yang berkenaan dengan mata pelajaran dalam struktur kurikulum dan dilakukan di kelas. 8. PROSES PEMBELAJARAN Proses pembelajaran Kurikulum 2013 terdiri atas pembelajaran intra-kurikuler dan pembelajaran ekstra-kurikuler. sekolah. SMA/MA. saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal). 7. Pembelajaran intra kurikuler didasarkan pada prinsip berikut: a. sekolah. Proses pembelajaran didasarkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif untuk menguasai Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti pada tingkat yang memuaskan (excepted). Proses pembelajaran tidak langsung bukan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) karena sikap yang dikembangkan dalam Matematika – SMA/MA/SMK | 84 . SMK/MAK). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dikembangkan dari setiap KD yang untuk mata pelajaran dan kelas tersebut. sedangkan sikap adalah konten developmental dan dikembangkan melalui proses pendidikan yang tidak langsung (indirect teaching). SMA/MA. 5. Proses pembelajaran dikembangkan atas dasar karakteristik konten kompetensi yaitu pengetahuan yang merupakan konten yang bersifat mastery dan diajarkan secara langsung (direct teaching). e. Proses pembelajaran tidak langsung (indirect) terjadi pada setiap kegiatan belajar yang terjadi di kelas. 6. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar di jenjang pendidikan menengah diutamakan pada ranah sikap sedangkan pada jenjang pendidikan menengah pada kemampuan intelektual (kemampuan kognitif tinggi). 1. C. dan saling memperkuat antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Silabus dikembangkan sebagai rancangan belajar untuk satu tema (SD/MI) atau satu kelas dan satu mata pelajaran (SMP/MTS. ketrampilan kognitif dan psikomotorik adalah konten yang bersifat developmental yang dapat dilatih (trainable) dan diajarkan secara langsung (direct teaching). Dalam silabus tercantum seluruh KD untuk tema atau mata pelajaran di kelas tersebut. c. f.

Pembelajaran remedial dirancang untuk individu. dan lain-lain). 2. menentukan keterkaitan. menganalis (menghubungkan. Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi. i. dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat guru. grafik. PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip berikut: 1.proses pembelajaran tidak langsung harus tercantum dalam silabus. ketrampilan berpikir. dan program pendidikan. gambar. Pembelajaran remedial dirancang dan dilaksanakan berdasarkan kelemahan yang ditemukan berdasarkan analisis hasil tes. membaca. tulis). Kegiatan ekstra-kurikuler terdiri atas kegiatan wajib dan pilihan. bersifat formatif dan hasilnya segera diikuti dengan pembelajaran remedial untuk memastikan penguasaan kompetensi pada tingkat memuaskan. 2. keterampilan dan pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kompetensi Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi. Matematika – SMA/MA/SMK | 85 . tulis. Kurikulum didasarkan pada standar kompetensi lulusan yang ditetapkan untuk satu satuan pendidikan. D. ketrampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran. ulangan. 5. Kurikulum bukan hanya merupakan sekumpulan daftar mata pelajaran karena mata pelajaran hanya merupakan sumber materi pembelajaran untuk mencapai kompetensi. Proses pembelajaran dikembangkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif melalui kegiatan mengamati (melihat. Pramuka adalah kegiatan ekstrakurikuler wajib. menanya (lisan. kelompok atau kelas sesuai dengan hasil analisis jawaban peserta didik. jenjang pendidikan. Kurikulum didasarkan pada model kurikulum berbasis kompetensi. chart. membangun cerita/konsep). mengkomunikasikan (lisan. Pembelajaran remedial dilaksanakan untuk membantu peserta didik menguasai kompetensi yang masih kurang. 4. mendengar. Kurikulum didasarkan atas prinsip bahwa setiap sikap. Pembelajaran ekstrakurikuler Pembelajaran ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan untuk aktivitas yang dirancang sebagai kegiatan di luar kegiatan pembelajaran terjadwal secara rutin setiap minggu. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah mengenai Wajib Belajar 12 Tahun maka Standar Kompetensi Lulusan yang menjadi dasar pengembangan kurikulum adalah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan selama 12 tahun. g. 3. tabel. menyimak). Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat. Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap. h. Kegiatan ekstrakurikuler wajib dinilai yang hasilnya digunakan sebagai unsur pendukung kegiatan intrakurikuler. pengetahuan. dan tugas setiap peserta didik.

Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan. 34 sedangkan untuk kelas IV.6. A. V. Instrumen penilaian hasil belajar adalah alat untuk mengetahui kekurangan yang dimiliki setiap peserta didik atau sekelompok peserta didik. Jam belajar SD/MI adalah 35 menit. 10. Beban belajar di SD/MI kelas I. II. IV. 11.Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan memperbaiki pencapaian kompetensi. Olah Raga dan Kesehatan 4 5 8 5 4 4 II 4 6 8 6 4 4 III IV 4 6 10 6 4 4 4 4 7 6 3 3 5 4 V 4 4 7 6 3 3 5 4 VI 4 4 7 6 3 3 5 4 MATA PELAJARAN Matematika – SMA/MA/SMK | 86 . beban belajar untuk mata pelajaran dan beban belajar per minggu untuk setiap siswa. distribusi konten/mata pelajaran dalam semester atau tahun. Kurikulum harus diarahkan kepada proses pengembangan. Bahasa Indonesia 4. STRUKTUR KURIKULUM Struktur kurikulum menggambarkan konseptualisasi konten kurikulum dalam bentuk mata pelajaran. dan III masing-masing 30. dan VI masing-masing 36 jam setiap minggu. teknologi. dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Struktur kurikulum adalah juga merupakan aplikasi konsep pengorganisasian konten dalam sistem belajar dan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran. pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Pengorganisasian konten dalam sistem belajar yang digunakan untuk kurikulum yang akan datang adalah sistem semester sedangkan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran berdasarkan jam pelajaran per semester. perkembangan. Matematika 5. STRUKTUR KURIKULUM SD/MI Beban belajar dinyatakan dalam jam belajar setiap minggu untuk masa belajar selama satu semester. Ilmu Pengetahuan Alam 6.Kurikulum didasarkan kepada kepentingan nasional dan kepentingan daerah. 7. Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Ilmu Pengetahuan Sosial Kelompok B 1. 32. Pendidikan Jasmani. Seni Budaya dan Prakarya 2. 8. Kekurangan tersebut harus segera diikuti dengan proses memperbaiki kekurangan dalam aspek hasil belajar yang dimiliki seorang atau sekelompok peserta didik. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik berada pada posisi sentral dan aktif dalam belajar. budaya. Struktur Kurikulum SD/MI adalah sebagai berikut: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU I Kelompok A 1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. posisi konten/mata pelajaran dalam kurikulum. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. dan seni. 9. kebutuhan. Kurikulum berpusat pada potensi.

Seni Budaya 2. serta pengenalan berbagai keunggulan wilayah nusantara. Olahraga dan Kesehatan yang berlaku untuk kelas I. pengembangan kemampuan berpikir. V dan VI. Sedangkan lama belajar untuk setiap jam belajar di SMP/MTs tetap yaitu 40 menit. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. serta aktivitas masyarakat di bidang ekonomi dalam ruang atau space wilayah NKRI. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. B. Matematika 5. dan 32 menjadi 38. Disamping itu. dan pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan alam. Sedangkan untuk kelas IV. V dan VI. IPA dan IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science dan integrative social studies. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. Keduanya sebagai pendidikan berorientasi aplikatif. tujuan pendidikan IPS menekankan pada pengetahuan tentang bangsanya. Bahasa Indonesia. dan Kesehatan 3. Prakarya Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu Keterangan: Mata pelajaran Seni Budaya dapat memuat Bahasa Daerah. Struktur Kurikulum SMP/MTS adalah sebagai berikut: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU VII VIII IX 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 MATA PELAJARAN Kelompok A 1. Kompetensi Dasar IPA dan IPS berdiri sendiri dan kemudian diintegrasikan ke dalam tema-tema yang ada untuk kelas IV.Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu 30 32 34 36 36 36 = Pembelajaran Tematik Integratif Keterangan: Mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dapat Bahasa Daerah. bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. Pendidikan Jasmani. Matematika – SMA/MA/SMK | 87 . Integrasi Kompetensi Dasar IPA dan IPS didasarkan pada keterdekatan makna dari konten Kompetensi Dasar IPA dan IPS dengan konten Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. dan III. Bahasa Indonesia 4. 38 dan 38 untuk masing-masing kelas VII. II. STRUKTUR KURIKULUM SMP/MTS Dalam struktur kurikulum SMP/MTs ada penambahan jam belajar per minggu dari semula 32. VIII. dan IX. Olah Raga. semangat kebangsaan. kemampuan belajar. rasa ingin tahu. patriotisme. serta Pendidikan Jasmani. Matematika. Ilmu Pengetahuan Alam 6. Ilmu Pengetahuan Sosial 7. 32. Bahasa Inggris Kelompok B 1. IPA juga ditujukan untuk pengenalan lingkungan biologi dan alam sekitarnya.

Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah adalah sebagaimana yang tertera di dalam tabel berikut ini: Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah kelompok mata pelajaran wajib: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU X XI XII 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 MATA PELAJARAN Kelompok A (Wajib) 1. Bahasa Inggris Kelompok B (Wajib) 7. C. yakni seni rupa. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. STRUKTUR KURIKULUM PENDIDIKAN MENENGAH (SMA/MA/SMK/MAK) Struktur kurikulum SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: . Kelompok mata pelajaran peminatan SMA/MA bersifat akademik. Masing-masing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan dapat memilih aspek yang diajarkan sesuai dengan kemampuan (guru dan fasilitas) pada satuan pendidikan itu. Pendidikan Jasmani. yakni kerajinan. Sejarah Indonesia 6. Adanya kelompok mata pelajaran wajib dan mata pelajaran peminatan dimaksudkan untuk menerapkan prinsip kesamaan antara SMA/MA dan SMK/MAK. Seni Budaya 8. Prakarya dan Kewirausahaan Jumlah Jam Pelajaran Kelompok A dan B per minggu Kelompok C (Peminatan) Matematika – SMA/MA/SMK | 88 . dan seni teater. Bahasa Indonesia 4. Olah Raga.Kelompok mata pelajaran peminatan yang diikuti oleh peserta didik sesuai dengan bakat.Seni Budaya terdiri atas empat aspek. dan kemampuannya. rekayasa. Matematika 5. Mata pelajaran wajib sebanyak 9 (sembilan) mata pelajaran dengan beban belajar 24 jam per minggu. Struktur ini menempatkan prinsip bahwa peserta didik adalah subjek dalam belajar dan mereka memiliki hak untuk memilih sesuai dengan minatnya. dan 20 jam per minggu untuk kelas XI dan XII. dan Kesehatan 9. minat. Kelompok mata pelajaran peminatan SMA/MA terdiri atas 18 jam per minggu untuk kelas X. Kelompok mata pelajaran peminatan SMK/MAK masing-masing 24 jam per kelas. sedangkan untuk SMK/MAK bersifat vokasional. seni musik. seni tari. dan pengolahan. Prakarya terdiri atas empat aspek.Kelompok mata pelajaran wajib yang diikuti oleh seluruh peserta didik . budidaya. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. Masingmasing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan menyelenggarakan pembelajaran prakarya paling sedikit dua aspek prakarya sesuai dengan kemampuan dan potensi daerah pada satuan pendidikan itu. 1.

Mata Pelajaran Peminatan Akademik (SMA/MA) Jumlah Jam Pelajaran yang Harus Ditempuh per Minggu 18 42 20 44 20 44 Beban belajar di SMA/MA untuk Tahun X. dan XII masing-masing 43 jam belajar per minggu. selain ketiga peminatan tersebut ditambah dengan Kelompok Peminatan Keagamaan. Satu jam belajar adalah 45 menit. Semua mata pelajaran yang terdapat dalam suatu Kelompok Peminatan yang dipilih peserta didik harus diikuti. Peminatan Ilmu-ilmu Sosial. XI. Setiap Kelompok Peminatan terdiri atas 4 (empat) mata pelajaran dan Matematika – SMA/MA/SMK | 89 . Pemilihan peminatan berdasarkan nilai rapor di SMP/MTsdan/atau nilai UN SMP/MTs dan/atau rekomendasi guru BK di SMP/MTs dan/atau hasil tes penempatan (placement test) ketika mendaftar di SMA/MA dan/atau tes bakat minat oleh psikolog dan/atau rekomendasi guru BK di SMA/MA. Pada akhir minggu ketiga semester pertama peserta didik masih mungkin mengubah pilihan peminatannya berdasarkan rekomendasi para guru dan ketersediaan tempat duduk. Untuk MA. Untuk sekolah yang mampu menyediakan layanan khusus maka setelah akhir semester pertama peserta didik masih mungkin mengubah pilihan peminatannya. dan Peminatan Ilmu-ilmu Bahasa dan Budaya. Struktur Kurikulum SMA/MA MATA PELAJARAN Kelompok A dan B (Wajib) C. Sejak kelas X peserta didik sudah harus memilih kelompok peminatan yang akan dimasuki. Kelompok Peminatan Peminatan Matematika dan Ilmu-Ilmu Alam I 1 Matematika 2 Biologi 3 Fisika 4 Kimia Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial II 1 Geografi 2 Sejarah 3 Sosiologi 4 Ekonomi Peminatan Ilmu-Ilmu Bahasa dan Budaya III 1 Bahasa dan Sastra Indonesia 2 Bahasa dan Sastra Inggris 3 Bahasa dan Sastra Asing Lainnya 4 Antropologi Mata Pelajaran Pilihan dan Pendalaman Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat Jumlah jam pelajaran yang tersedia per minggu Jumlah jam pelajaran yang harus ditempuh per minggu Kelas XI 24 X 24 XII 24 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 6 66 42 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 76 44 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 76 44 Kelompok Peminatan terdiri atas Peminatan Matematika dan Ilmu-ilmu Alam. 2.

Beban belajar ini terdiri atas Kelompok Mata Pelajaran Wajib A dan B dengan durasi 24 jam pelajaran dan Kelompok Mata Pelajaran Peminatan dengan durasi 12 jam pelajaran untuk kelas X dan 16 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. b. dan 4 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. Pemerintah bertanggungjawab dalam melakukan evaluasi pelaksanaan kurikulum secara nasional. Dua mata pelajaran di luar Kelompok Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam satu Kelompok Peminatan lainnya. V. c. Guru di satu satuan pendidikan adalah satu satuan pendidik (community of educators). dan/atau b. Manajemen Implementasi a. Sedangkan pada kelas XI dan XII. peserta didik mengambil Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat dengan jumlah jam pelajaran pilihan per minggu berdurasi 4 jam pelajaran yang dapat diambil dengan pilihan sebagai berikut: a. IMPLEMENTASI 1. Pengembangan kurikulum di jenjang satuan pendidikan dipimpin langsung oleh kepala sekolah d. Pemerintah bertangungjawab dalam mempersiapkan guru dan kepala sekolah untuk melaksanakan kurikulum. c. Pelaksanaan implementasi kurikulum di satuan pendidikan dievaluasi oleh kepala sekolah. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KURIKULUM A. Mata pelajaran Pendalaman Kelompok Peminatan yang dipilihnya. bahwa sekolah adalah satu kesatuan lembaga pendidikan dan kurikulum adalah kurikulum satuan pendidikan. Satu mata pelajaran dari masing-masing Kelompok Peminatan yang lainnya. Untuk Mata Pelajaran Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat kelas X. bukan daftar mata pelajaran b. dan/atau b.masing-masing mata pelajaran berdurasi 3 jampelajaran untuk kelas X. Implementasi kurikulum adalah usaha bersama antara Pemerintah dengan pemerintah propinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota. jumlah jam pelajaran pilihan per minggu berdurasi 6 jam pelajaran yang dapat diambil dengan pilihan sebagai berikut: a. 2. Pengembangan Kurikulum 2013 pada Satuan Pendidikan Pengembangan Kurikulum 2013 dilakukan atas prinsip: a. Matematika – SMA/MA/SMK | 90 . mengembangkan kurikulum secara bersama-sama. Satu mata pelajaran di luar Kelompok Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam Kelompok Peminatan lainnya. Setiap peserta didik memiliki beban belajar per semester selama 42 jam pelajaran untuk kelas X dan 44 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII.

X. kepala sekolah dan pengawas di seluruh Indonesia sudah mendapatkan pelatihan untuk melaksanakan kurikulum. Pelatihan Guru. kepala sekolah dan pengawas adalah untuk guru. seluruh guru.Juli 2014: Kelas I. Pada prinsipnya ketika implementasi Kurikulum 2013 memasuki tahun 2015-2016 seluruh buku babon sudah teredia di setiap sekolah. II. ketika Kurikulum 2013 akan diimplementasikan pada tahun pembelajaran 2015-2016. IV. e. Kepala Sekolah dan Pengawas. VII.Juli 2013: Kelas I. dari tahun 2013 – 2016. Matematika – SMA/MA/SMK | 91 . sistem administrasi. Ini adalah tahun pertama implementasi dan dilakukan di seluruh wilayah NKRI. kepemimpinan. SMK/MAK telah melaksanakan sepenuhnya Kurikulum 2013. Untuk SD akan dipilih 30% SD dari setiap kabupaten/kota di setiap propinsi. Prinsip ini menjadi prinsip utama implementasi dimana guru. kepala sekolah yang akan melaksanakan Kurikulum 2013 dan dilakukan sebelum Kurikulum 2013 diimplementasikan. d. pelatihan juga berkenaan dengan tata kerja baru para guru dan kepemimpinan kepala sekolah. Pemerintah kabupaten/kota bertanggungjawab dalam memberikan bantuan profesional kepada guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan kurikulum di kabupaten/kota terkait. Stategi Implementasi Kurikulum terdiri atas: a. Pelatihan guru. dimulai dari bulan Januari – Desember 2013. Seperti tahun pertama maka SD akan dipilih sebanyak 30% sehingga secara keseluruhan implementasi kurikulum pada tahun kedua sudah mencakup 60% SD di seluruh wilayah NKRI. SMA/MA. c. Pada tahun kedua ini. manajemen. SMA/MA. b. kepemimpinan dan budaya kerja guru yang baru. Isi buku babon guru adalah sama dengan buku babon peserta didik dengan tambahan strategi pembelajaran dan penilaian hasil belajar. . SMP/MTs. Pengembangan manajemen.d. dari tahun 2013 – 2016. IV terbatas pada sejumlah SD/MI (30%). Dengan demikian.Juli 2015: seluruh kelas dan seluruh sekolah SD/MI. penulisan dan percetakan serta distribusi buku babon akan seluruhnya selesai pada awal tahun terakhir implementasi kurikulum atau sebelumnya. Sejalan dengan strategi implementasi. Sedangkan pedoman pembelajaran dan penilaian hasil belajara secara rinci tercantum dalam buku pedoman pembelajaran dan penilaian. SMK/MAK yang belum melaksanakan kurikulum. hanya kelas terakhir SMP/MTs. dan seluruh VII (SMP/MTs). V. VIII. Pengembangan buku babon. SMK/MAK).Dengan penerapan pelatihan ini maka implementasi Kurikulum tidak hanya berkenaan dengan upaya realisasi ide dan rancangan kurikulum tetapi juga pembenahan pada pelaksanaan pendidikan di satuan pendidikan. 3. Oleh karena itu dalam persiapan implementasi Kurikulum 2013. kepala sekolah dan pengawas di wilayah sekolah terkait yang akan mengimplemntasikan kurikulum adalah mereka yang sudah terlatih. Pemerintah propinsi bertanggungjawab dalam melakukan supervisi dan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum di propinsi terkait. Pelaksanaan kurikulum di seluruh sekolah dan jenjang pendidikan yaitu: . . dan X (SMA/MA. dan XI: tahun 2014 adalah tahun kedua implementasi. Buku babon terdiri atas buku untuk peserta didik dan buku untuk guru. Implementasi Kurikulum 2013 mensyaratkan penataan administrasi. dan pengembangan budaya sekolah (budaya kerja guru) terutama untuk SMA/MA dan SMK/MAK.

e. Pendampingan dalam bentuk Monitoring dan Evaluasi untuk menemukan kesulitan dan masalah implementasi dan upaya penanggulangan: Juli 2013 – 2016. Strategi implementasi Kurikulum 2013 menghindari pelatihan yang dinamakan one-shot training sebagai strategi implementasi mengingat kelemahan strategi tersebut. Pleatihan yang dilakukan untuk para guru, kepala sekolah, dan pengawas akan diikuti dengan monitoring dan evaluasi sepanjang pelaksanaan paling tidak dari tahun pertama sampai tahun ketiga implementasi. Pada akhir tahun ketiga implementasi diharapkan permasalahan yang dihadapi para pelaksana sudah tidak lagi merupakan masalah mendasar dan kurikulum sudah dapat dilaksanakan sebagaimana seharusnya. Permasalahan lapangan yang muncul adalah yang dapat diselesaikan oleh kolaborasi guru, kepala sekolah dan pengawas di bawah supervisi dinas pendidikan kabupaten/kota.

B. EVALUASI KURIKULUM Evaluasi Kurikulum dilaksanakan selama masa pengembangan ide (deliberation process), pengembangan desain dan dokumen kurikulum, dan selama masa implementasi kurikulum. Evaluasi dalam deliberation process menghasilkan penyempurnaan dalam Kompetensi Inti yang dijadikan organising element dalam mengikat Kompetensi dasar mata pelajaran. Pelaksanaan evaluasi implementasi kurikulum dilaksanakan sebagai berikut: 1. Sampai tahun pelajaran 2015-2016: untuk memperbaiki berbagai kesulitan pelaksanaan kurikulum. 2. Sampai tahun pelajaran 2016 secara menyeluruh untuk menentukan efektivitas, kelayakan, kekuatan, dan kelemahan implementasi kurikulum. Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum (implementasi kurikulum) diselenggarakan dengan tujuan untuk mengidentifikai masalah pelaksanaan kurikulum dan membantu kepala sekolah dan guru menyelesaikan masalah tersebut. Evaluasi dilakukan pada setiap satuan pendidikan dan dilaksanakan pada satuan pendidikan di wilayah kota/kabupaten secara rutin dan bergiliran. Hasil evaluasi dilakukan sebagai bahan untuk memperbaiki kelemahan kurikulum agar lebih efektif lagi di masa yang akan datang.

Matematika – SMA/MA/SMK | 92

SUBMATERI PELATIHAN : 1.2 ELEMEN PERUBAHAN KURIKULUM

Langkah Kegiatan Inti

Pemaparan oleh Instruktur dengan menggunakan PPT-1.1 dan PPT-1.2 10 Menit

Tanya Jawab

10 Menit

Pemaparan
Instruktur menyampaikan materi Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum yang mencakup: 4 standar, tematik terpadu untuk SD kls 1 dan 4, TIK merupakan sarana pembelajaran yang dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain, perubahan pendekatan pembelajaran yaitu Scientific Approach, bahasa sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge, penetapan platform untuk mata pelajaran tertentu (geografi untuk IPS, Biologi untuk IPA)dengan menggunakan PPT-1.2.

Tanya Jawab
Diskusi dan tanya jawab terkait dengan Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: d. Alasan pengembangan kurikulum. e. Identifikasi perubahan yang penting dalam kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya (struktur kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian hasil belajar). f. Manfaat adanya perubahan kurikulum. Kemudian fasilitator menyimpulkannya.

Matematika – SMA/MA/SMK | 93

Matematika – SMA/MA/SMK | 94

Matematika – SMA/MA/SMK | 95

Matematika – SMA/MA/SMK | 96

Matematika – SMA/MA/SMK | 97

Matematika – SMA/MA/SMK | 98 .

KI.3/3. dan KD dengan menggunakan PPT-1. Sementara kelompok lainnnya memberi komentar/ tanggapan dan menilai hasil kerja kelompok lainnya. Memberi Contoh Instruktur memberikan contoh analisis keterkaitan antara SKL.2 Kerja Kelompok Peserta dibagi menjadi 5 kelompok. KI. dan KD dengan menggunakan HO-1. KI. setiap kelompok diberi tugas menganalisis keterkaitan SKL. KI. Masing-masing kelompok mengerjakan KD yang berbeda agar peserta mendapat bahan hasil analisis semua KI dan KD selama 1 tahun kelas X. DAN KD Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur Memberi Contoh Analisis Keterkaitan SKL.3 Matematika – SMA/MA/SMK | 99 . Presentasi Hasil Kerja Kelompok Masing-masing kelompok memaparkan hasil kerja kelompok.1/2.3: SKL. KI.SUBMATERI PELATIHAN 1. Peserta yang akan memaparkan akan ditunjuk oleh Intruktur. KD masing-masing mapel selama 1 tahun yang akan dijadikan dasar untuk membuat RPP dengan menggunakan LK 1. KD 5 Menit Kerja Kelompok Presentasi Hasil Kelompok 10 Menit 30 Menit 15 Menit Pemaparan Instuktur memberikan materi SKL.3/2.3.1/3.

Matematika – SMA/MA/SMK | 100 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 101 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 102 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 103 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 104 .

konseptual. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR MATEMATIKA (WAJIB) SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)/MADRASAH ALIYAH (MA) KELAS: X Matematika – SMA/MA/SMK | 105 . dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Memiliki pengetahuan faktual.HO-1.1/3. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian. kenegaraan. berakhlak mulia. dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan. Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri. percaya diri.1/2. dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. prosedural.4/3. teknologi. berilmu. seni.3/2.2 STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) SMA/MA/SMALB*/Paket C Aspek Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Sikap Pengetahuan Keterampilan Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman. kebangsaan.

Matematika – SMA/MA/SMK | 106 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 107 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 108 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 109 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 110 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 111 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 112 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 113 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 114 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 115 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 116 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 117 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 118 .

perbedaan solusi atas berbagai problem soving serta strategi berpikir permasalahan dalam macam dan ukuran dalam memilih berinteraksi secara sudut untuk dan menerapkan efektif dengan mengembangkan strategi lingkungan sosial toleransi. responsif disiplin. macam dan kemampuan efektif dengan tanggungjawab. mengembangkan rasa percayadiri. bekerjasama menyelesaikan Siswa menelaah hubungan perbandingan trigonometri dengan sudut pada segitiga sikusiku Siswa memecahkan masalah perbandingan trigonometri untuk sudut lebih dari atau kurang dari dengan/tanpa bimbingan guru Siswa memecahkan masalah perbandingan trigonometri untuk sudut lebih dari satu putaran Teknik Penilaian: Non tes (pengamatan) Bentuk Instrumen: Lembar pengamatan perkembangan sikap Matematika – SMA/MA/SMK | 119 . konsisten. dalam menempatkan toleran. mulia. untuk disiplin. siku-siku. Menghayati dan yang mencerminkan mengamalkan sikap orang ajaran agama yang beriman. kerjasama. ukuran sudut serta bekerjasama. toleransi dalam pergaulan menunjukkan sikap dalam dunia sebagai bagian dari  Identitas Trigonometri. lingkungan sosial peduli (gotong identitas trigonometri konsisten. KI dan KD Mata Pelajaran : Matematika Kelas : X Materi Pokok : Perbandingan Trigonometri Standar Kompetensi Lulusan Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi HO – 1. berinteraksi secara perilaku jujur. dan sikap cerminan bangsa dan pro-aktif dan jujur dan bekerjasama. damai). sikap dan alam serta royong. percaya diri.1 Memiliki jawab dalam mengamalkan trigonometri segitiga motivasi internal. berakhlak dianutnya. dan bertanggung 2.3 Aspek Sikap Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Lingkup Materi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Memiliki perilaku 1.CONTOH ANALISIS SKL. disiplin. dirinya sebagai santun. Menghayati dan  Perbandingan 2.

kritis perilaku kritis. jujur dan perilaku peduli lingkungan. menerapkan. dalam melakukan tugas belajar  Problem solving untuk matematika.Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) dan alam serta masalah.d. menanya (berfikir divergen).2 Mampu bangsa dalam mentransformasi  Fungsi Trigonometri pergaulan dunia sudut lebih dari 900 diri dalam s. dan menganalisis pengetahuan 3. mencoba dan Teknik Penilaian:  Tes tertulis terkait : perbandingan Matematika – SMA/MA/SMK | 120 .3 Menunjukkan lingkungan sikap bertanggung jawab. Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual. rasa ingin tahu. prosedural. sikap dan disiplin rasa ingin tahu. Memahami. konseptual. menalar. dari 3600 dan sudut tangguh negatif untuk mengadapi mengembangkan masalah. 3600. sudut lebih berpilaku jujur. dan 3.14 Mendeskripsikan konsep perbandingan trigonometri pada  Nilai perbandingan sisi-sisi segitiga sikusiku (perbandinga trigonometri)  Melakukan kegiatan mengamati fakta matematika. serta kesadaran hak dalam menempatkan dan kewajiban diri sebagai cerminan 2. mengembangkan rasa percaya diri dan peduli 2.

dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan. teknologi. kebangsaan. 3. menalar.16 Mendeskripsikan dan menentukan hubungan perbandingan trigonometri dari sudut di setiap kuadran.15 Menemukan sifatsifat dan hubungan antar perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku. teknologi. sudut tumpul dan sudut tumpul Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) segitiga siku-siku (kuadran I) . kebangsaan. dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah Kompetensi Dasar segitiga siku-siku melalui penyelidikan dan diskusi tentang hubungan perbandingan sisi-sisi yang bersesuaian dalam beberapa segitiga siku. konseptual. misalnya in . seni. kuadran III dan kuadran IV)  Portofolio hasil kerja siswa dan catatan guru Bentuk instrumen penilaian:  Soal uraian  Portofolio Matematika – SMA/MA/SMK | 121 . perluasan konsep pada kordinat kartesius dalam kaitannya dengan sudut berelasi  Hubungan antar perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku  Nilai perbandingan trigonometri diperluas dengan mengaitkan kordinat  Perbandingan trigonometri di berbagai kuadran dan pemahaman  Melakukan kegiatan mengamati fakta matematika. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian.siku sebangun. kenegaraan. mencoba dan membuktikan serta menyimpulkan terkait sudut berelasi (sudut di kuadrani. menanya (berfikir divergen). dan prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan. memilih dan menerapkan dalam penyelesaian Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi membuktikan dan menyimpulkan o terkait nilai perbandingan sisi segitiga siku-siku o terkait dengan perluasan nilai perbandingan trigonometri untuk sudut siku-siku. kenegaraan.Aspek Standar Kompetensi Lulusan metakognitif dalam ilmu pengetahuan. seni. dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian. Kompetensi Inti faktual. kuadran II. budaya. 3.

klinometer dan sebagainya)  Unjuk kerja (dengan instrumen pengamatan) Matematika – SMA/MA/SMK | 122 .15 Menyajikan grafik fungsi trigonometri  Penerapan perbandingan trigonometri  Melukis grafik fungsi trigonometri  Menentukan tinggi gedung dengan memanfaatkan perbandingan trigonometri dengan berbagai cara. dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri.17 Mendeskripsikan konsep fungsi trigonometri dan menganalisis grafik fungsinya serta menentukan hubungan nilai fungsi trigonometri dari sudut-sudut istimewa Lingkup Materi sudut berelasi  Grafik fungsi trigonometri Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri. menalar. 4 Mengolah. (misalnya menggunakan bayangan. dan mampu menggunakan 4.Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti Kompetensi Dasar masalah nyata dan matematika 3.14 Menerapkan perbandingan trigonometri dalam menyelesaikan masalah 4. busur.

Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti metoda sesuai kaidah keilmuan Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Matematika – SMA/MA/SMK | 123 .

Analisislah lingup materi dari setiap KD mengacu silabus mata pelajaran 6. dan KD MATEMATIKA KELAS X LK – 1. Bacalah KD mata pelajaran matematika SMA kelas X. KI. KI dan KD 1. Tentukan teknik dan instrumen penilaiannya dengan mengacu silabus mata pelajaran 8.LEMBAR KERJA ANALISIS KETERKAITAN SKL. KI. Bacalah dan komparasikan dengan SKL Tahun 2006 (Permendiknas Th 2006). Bacalah KI mata pelajaran matematika SMA kelas X. KI dan KD pada Kurikulum 2013 Menganalisis keterkaitan SKL. Bacalah substansi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tahun 2013. 5. 4. Tulislah aktivitas/ kegiatan belajar siswa untuk mencapai kompetensi tersebut dengan mengacu silabus mata pelajaran 7. KI DAN KD Kompetensi Tujuan Kegiatan Kelompok Kerja : : : Memahami keterkaitan antara SKL. Setelah selesai masukkan dalam Lembar Kerja Analisis Keterkaitan SKL.3 PETUNJUK KEGIATAN ANALISIS SKL. dan KD matematika kelas X yang sudah disiapkan! Matematika – SMA/MA/SMK | 124 . 3. 2.

berilmu. dan KD MATA PELAJARAN : MATEMATIKA KELAS :X MATERI AJAR : Domain Sikap Standar Kompetensi Lulusan Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman. kerjasama. KI.3 Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual. Kompetensi Inti Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur. percaya diri. responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Memahami . berakhlak mulia. tanggungjawab. ilmu Matematika – SMA/MA/SMK | 125 . menganalisis pengetahuan faktual. menerapkan. dan metakognitif dalam matematika. disiplin. dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. peduli (gotong royong. konseptual. prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas/Kegiatan Belajar Siswa untuk Mencapai Kompetensi LK – 1. konseptual. santun.LEMBAR KERJA ANALISIS KETERKAITAN SKL. toleran. damai). prosedural.

serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. kebangsaan. - Matematika – SMA/MA/SMK | 126 . seni. teknologi. dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan. dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas/Kegiatan Belajar Siswa untuk Mencapai Kompetensi Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret dalam menyelesaikan masalah secara mandiri. Kompetensi Inti pengetahuan. kebangsaan. kenegaraan. seni. dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian. teknologi. dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri. kenegaraan. budaya. menalar.Domain Standar Kompetensi Lulusan pengetahuan. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian. dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. Mengolah.

dan guru BK.4: STRATEGI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur Diskusi Kelas Merangkum Hasil Diskusi Kelas Refleksi dan umpan balik untuk seluruh materi pelatihan 15 Menit 10 Menit 20 Menit 10 Menit Pemaparan Paparan oleh fasilitatortentang Strategi Implementasi Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1.MATERI PELATIHAN 1. 2. Dukungan dinas pendidikan kabupaten dan organisasi profesi dalam implementasi kurikulum 2013. Dukungan manajemen sekolah atau kultur sekolah dalam mensukseskan pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013. pengawas sekolah. Membuat Rangkuman Instruktur merangkum semua materi pelatihan Konsep Kurikulum yang telah disampaikan selama 4 JP sebagai kegiatan penutup. Matematika – SMA/MA/SMK | 127 .4 Diskusi Kelas Mendiskusikan elemen penting dalam implementasi kurikulum 2013. Peran guru. meliputi berikut ini. 3. 1. kepala sekolah.

Matematika – SMA/MA/SMK | 128 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 129 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 130 .

MATERI PELATIHAN 2: ANALISIS MATERI AJAR 2.4 Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik BAGIAN Analisis Buku Guru danIII Siswa Matematika – SMA/MA/SMK | 131 .3 2.1 2.2 2.

Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain. 5. Mengidentifikasi kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. 2. B. dan memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Menjelaskan konsep pendekatan scientific. 3. mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. 11. Konsep Pendekatan Scientific Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. LINGKUP MATERI 1. KI. menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan seharihari. struktur. 6. 4. 7. Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari.MATERI PELATIHAN 2: ANALISIS MATERI AJAR A. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa. 10. dan Kedalaman Materi) C. Matematika – SMA/MA/SMK | 132 . dan KD secara teliti dan serius. INDIKATOR 1. Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran. dan KD. Menjelaskan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. Menganalisis kesesuaian proses. dan KD. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. 4. 7. 2. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa. Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madrasah dan menghargai pendapat orang lain. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran. 2. 3. 8. menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran. struktur. 9. Menjelaskan secara utuh materi. menguasai secara utuh materi. 3. Menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL. menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. pendekatan belajar . KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. 5. Kecukupan. 6. KI. KI.

3. PERANGKAT PELATIHAN 1.12. b. D. 4. c. Konsep Pendekatan Scientific Konsep Penilaian Autentik 5. d. ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 133 . Konsep Pendekatan Scientific Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Lembar Kerja Dokumen Bahan Bacaan a. Video Pembelajaran Bahan Tayang a. b. 2. Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran.

1-2.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 2. Fasilitator memotivasi peserta agar serius. 2. Laptop. Diskusi kelompok untuk mengkaji pendekatan scientific yang 40 Menit mengacu pada tayangan video. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung.1. ANALISIS MATERI AJAR 12 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. Active Speaker.dilanjutkan dengan paparan materi oleh fasilitator tentang Konsep Pendekatan Scientific dengan menggunakan PPT-2. antusias. atau media pembelajaran lainnya. Diskusi kelompok tentang konsep pendekatan scientific dengan 30 Menit menggunakan HO-2.1/4.1-1 dan contoh-contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika dengan mengacu pada HO-2. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 2.2-1 dan Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Matematika dengan menggunakan PPT-2. indikator. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran.1 Konsep Pendekatan Scientific 90 Menit Penayangan Video pembelajaran Matematika dengan menggunakan 20 Menit V-2. dan Laser Pointer. seperti LCD Projector.2. alokasi waktu. tujuan. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Analisis Materi Ajar.3 Model-model Pembelajaran 90 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 134 . File.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. kompetensi. teliti.

Menerapkan Focus Group Discussion untuk mengidentifikasi karakteristik tiga model pembelajaran.3 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. dan Kedalaman Materi) Menilai buku dilakukan oleh peserta dengan bimbingan fasilitator 20 Menit dilihat dari aspek kesesuaian. KI.2. Diskusi tentang konsep penilaian autentik pada proses dan hasil 30 Menit belajar. Kerja kelompok untuk menganalisis kesesuaian buku guru dan buku 60 Menit siswa dengan tuntutan SKL.3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran 20 menit 30 menit 40 menit 90 Menit Kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan 15 Menit bentuk penilaian autentik.Mengamati tayangan tiga jenis model pembelajaran (Project Based Learning. Diskusi kelompok hasil penilaian buku dilanjutkan dengan 30 Menit pemaparan materi tentang Analisis Buku Guru dan Buku Siswa dengan menggunakan PPT-2. ICE BREAKER 2. Presentasi hasil diskusi kelompok 25 Menit Paparan materi tentang Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan 15 Menit Hasil Belajar dengan menggunakan bahan tayang PPT-2. kecukupan. Kecukupan. dan KD dengan menggunakan LK-2.2/3. ICE BREAKER 5 Menit 5 Menit 240 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 135 . Menyimpulkan hasil diskusi dan menyampaikan format lembar 15 Menit kerja yang telah disiapkan.3 dan Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika menggunakan bahan tayang PPT-2. Kerja kelompok untuk mengidentifikasi penerapan Pendekatan Scientific pada tiga model pembelajaran.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. 2.4-2.41 dan LK -2. dan Discovery Learning). Problem Based Learning. dan kedalaman materi.

Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Analisis materi Ajar. Presentasi hasil kerja kelompok. Kerja kelompok untuk membuat contoh-contoh penerapan materi 30 Menit pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. 30 Menit pendekatan scientific. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. Menyimpulkan materi analisis buku oleh fasilitator.Diskusi kelompok untuk menganalisis kesesuaian proses. Fasilitator menutup pembelajaran 30 Menit 20 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 136 .

2.2. Paparan Materi Fasilitator menyampaikan Konsep Pendekatan Scientific dengan menggunakan PPT-2. Mengidentifikasi konsep pendekatan scientific yang disampaikan pada tayangan video. 2. Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok. kelompok lain dapat dijadikan pembahas dan penanya.Materi Pelatihan 2. 3. Membuat urutan aktivitas pada pendekatan scientific. KD yang ditetapkan adalah KD semester 1. Matematika – SMA/MA/SMK | 137 . 3. 2. Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok.1: Konsep Pendekatan Scientific Langkah Kegiatan Inti Diskusi Kelompok Contohcontoh Pendekatan Scientific dan Penerapannya 45 Menit Diskusi Kelompok Pendekatan Scientific 45 Menit Diskusi Kelompok 1. tugas diskusi kelompok sebagai berikut. 1.1 dan Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2. Membuat contoh pembelajaran salah satu KD dengan menggunakan pendekatan scientific. Mengkaji pendekatan scientific yang mengacu pada tayangan video. Diskusi Kelompok Diskusi kelompok Contoh-contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran. Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok 1.2-2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi. Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya.

Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok. kelompok lain dapat dijadikan pembahas dan penanya. Matematika – SMA/MA/SMK | 138 . 2. Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok. Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya. 3.Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok 1.

Matematika – SMA/MA/SMK | 139 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 140 .

penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Matematika – SMA/MA/SMK | 141 . metode ilmiah umumnya memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen. retensi informasi dari guru sebesar 10 persensetelah 15 menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25 persen. menganalisis. metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi. Sejatinya. retensi informasi dari guru sebesar lebih dari 90 persen setelah dua hari dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 50-70 persen. Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala. Pada pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah.HO-2. Sebaliknya. Pendekatan Ilmiah dan Non-ilmiah dalam Pembelajaran Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradidional. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada pembelajaran tradisional.1-1 PENDEKATAN ILMIAH DALAM PEMBELAJARAN A. Untuk dapat disebut ilmiah. empiris. dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik.Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap. kemudian memformulasi. keterampilan. atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum. mengolah informasi atau data. Karena itu Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. memperoleh pengetahuan baru. dan pengetahuan peserta didik. para ilmuan lebih mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning)ketimbang penalaran deduktif (deductivereasoning). Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah. Esensi Pendekatan Ilmiah Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah. penalaran induktif menempatkan buktibukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas.Karena itu. dan menguji hipotesis. Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. B.

dan tautan satu dengan yang lain dari substansi atau materi pembelajaran. dan penjelasan tentang suatu kebenaran.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis. penemuan melalui coba-coba. prinsip-prinsip. Istilah ini sering juga dipahami sebagai penilaian terhadap sikap.prasangka. pemikiran subjektif. dan asal berpikir kritis. intuisi sama sekali menafikan dimensi alur pikir yang sistemik. legenda. proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai. Intuisi sering dimaknai sebagai kecakapan praktis yang kemunculannya bersifat irasional dan individual. respon peserta didik. dan tepat dalam mengidentifikasi. bukan sebatas kira-kira.  Penjelasan guru. khayalan. penemuan. Intuisi juga bermakna kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki oleh seseorang atas dasar pengalaman dan kecakapannya. atau kriteria ilmiah. dan keterampilan secara cepat dan berjalan dengan sendirinya. dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran. analitis. dan menarik sistem penyajiannya. Matematika – SMA/MA/SMK | 142 . Kemampuan intuitif itu biasanya didapat secara cepat tanpa melalui proses panjang dan tanpa disadari. Dengan demikian. menerapkan. dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan. memecahkan masalah. dan fakta empiris yang dapatdipertanggung-jawabkan. memahami. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana. Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini. kesamaan.  Intuisi. jelas. Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan. atau dongeng semata.  Substansi atau materipembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu. atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis. dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran. pengabsahan.   Berbasis pada konsep. pengetahuan. Namun demikian.Proses pembelajaran dengan berbasis pendekatan ilmiah harus dipandu dengan kaida-kaidah pendekatan ilmiah. penalaran. akal sehat.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami. teori. Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai non-ilmiah yang meliputiintuisi.

hingga dia sampai pada kepastian jawaban atas tombol dengan lambang seperti apa yang bisa memastikan bahwa komputer laptop itu bisa menyala. jika diolah secara baik. jika diwarnai oleh kepentingan subjektif guru dan peserta didik. dan tidak bersistematika baku. Hal inilah yang menyebabkan penggunaan akal sehat berubah menjadi prasangka atau pemikiran skeptis. keterampilan. Tentu saja hasil pemikirannya itu Matematika – SMA/MA/SMK | 143 . tindakan coba-coba itu ada manfaatnya bahkanmampu mendorong kreatifitas. seringkali mereka menjeneralisasi hal-hal khusus menjadi terlalu luas. karena memang hal itu dapat menunjukan ranah sikap. harus diserta dengan pencatatan atas setiap tindakan. Peserta didik pun melihat lambang tombol yang menyebabkan komputer laptop itu menyala dan mengulangi lagi tindakannya.Sikap.  Penemuan coba-coba. Orang seperti ini biasanya pemikirannya dipercaya benar oleh banyak orang.Kamampuan berpikir kritis itu ada pada semua orang.  Berpikir kritis.  Prasangka. dan pengetahuan yang benar. keterampilan dan pengetahuan yang ditemukan dengan caracoba-coba selalu bersifat tidak terkontrol. tidak memiliki kepastian. Secara akademik diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang bependidikan tinggi. jika guru dan peserta didik hanya sematamata menggunakan akal sehat dapat pula menyesatkanmereka dalam proses dan pencapaian tujuan pembelajaran. peserta didik. dan pengetahuan yang diperoleh semata-mata atas dasar akal sehat (comon sense) umumnya sangat kuat dipandu kepentingan seseorang (guru. Berpikir skeptis atau prasangka itu memang penting. Sebaliknya akan berubah menjadi prasangka buruk atau sikap tidak percaya. Tentu saja. tiba-tiba dia kaget komputer laptop itu menyala. seorang peserta didik mencoba meraba-raba tombol-tombol sebuah komputer laptop.Karena itu. Namun demikian. kalau memang tindakan coba-coba ini akan dilakukan. khususnya mereka yang normal hingga jenius. dan sejenisnya) yang menjadi pelakunya. Namun demikian. Misalnya. keterampilan. Akal sehat.Tindakan atau aksi coba-coba seringkali melahirkan wujud atau temuan yang bermakna. Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat selama proses pembelajaran. sampai dengan menemukan kepastian jawaban. Ketika akal sehat terlalu kuat didomplengi kepentingan pelakunya.

karena bukan berdasarkan hasil esperimen yang valid dan reliabel. Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Ilmiah Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah. bertanya. pengetahuan. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran. Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah. yaitu sikap. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggali informasi melaui pengamatan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah. yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘bagaimana’. Matematika – SMA/MA/SMK | 144 . keterampilan.tidak semuanya benar. ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘mengapa’. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘apa’. dan keterampilan.Hasil akhirnya adalahpeningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik(soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills)dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap. dan pengetahuan. C. karena pendapatnya itu hanya didasari atas pikiran yang logis semata.

kemudian mengolah data atau informasi. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut ini. Dalam kaitan ini. padaobservasi terkendali untuk kepentingan pembelajaran.  Menentukan objek apa yang akan diobservasi  Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi  Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diobservasi. atau situasi yang diamati. Kegiatan observasi dalam proses pembelajaran meniscayakan keterlibatan peserta didik secara langsung. baik primer maupun sekunder  Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi  Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar  Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi . video perekam. tape recorder. atau situasi tertentu. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru.percobaan. peserta didik senang dan tertantang. biaya dan tenaga relatif banyak. Seperti halnya observasi biasa. objek. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. atau situasi yang diamati. dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran. 1. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang. materi. dan alat-alat tulis lainnya. Pada kondisi seperti ini. berbeda dengan observasi biasa. seperti menggunakan buku catatan. Mengamati Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). dilanjutkan dengan menganalisis. peserta didik merupakan subjek yang sepenuhnya melakukan observasi (complete observer). Metode ini memiliki keunggulan tertentu. tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. kemudian menyimpulkan.  Observasi terkendali (controlled observation). kamera. menyajikan data atau informasi. dan mencipta. dan mudah pelaksanaannya. Untuk mata pelajaran. Pada observasi biasa untuk kepentingan pembelajaran. pada observasi terkendalipelaku atau objek yang diamati ditempatkan pada ruang atau situasi yang dikhususkan. Di sini peserta didik sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku. Namun demikian. objek. Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. guru harus memahami bentuk keterlibatan peserta didik dalam observasi tersebut.  Observasi biasa (common observation). atau situasi yang diamati. sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural.Merepa juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan pelaku. peserta didiksama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku. objek. menalar. Pendekatan ilmiah pembelajaran disajikan berikut ini. seperti menyajikan media obyek secara nyata. Matematika – SMA/MA/SMK | 145 .

faktor yang akan diobservasi. dan alat mekanikal (mechanical device). Pada observasipartisipatif. komunitas. atau situasi apa yang ingin diobservasi oleh peserta didik telah direncanakan oleh secara sistematis di bawah bimbingan guru. dapat berupa daftar cek (checklist). Matematika – SMA/MA/SMK | 146 . Kedua cara pelibatan dimaksud yaitu observasi berstruktur dan observasi tidak berstruktur. Daftar cek dapat berupa suatu daftar yang berisikan nama-nama subjek. Pada observasi yang tidak berstruktur dalam rangka proses pembelajaran. peserta didik membuat catatan. (1) kamera. peserta didik melibatkan diri secara langsung dengan pelaku atau objek yang diamati. Dalam kerangka ini. Catatan anekdotalberupa catatan yang dibuat oleh peserta didik dan guru mengenai kelakuan-kelakuan luar biasa yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi. observasi semacam ini paling lazim dilakukan dalam penelitian antropologi khususnya etnografi. Prinsip-rinsip yang harus diperhatikan oleh guru dan peserta didik selama observasi pembelajaran disajikan berikut ini. alat atau instrumen yang digunakan dalam melakukan observasi. termasuk melibakan diri secara langsung dalam situasi kehidupan mereka. dengan menggunakan pendekatan ini berarti peserta didik hadir dan “bermukim” langsung di tempat subjek atau komunitas tertentu dan pada waktu tertentu pula untuk mempelajari bahasa atau dialek setempat. (2) film atau video. objektif. untuk merekam objek atau kegiatan secara visual. misalnya. Skala rentang .  Observasitidak berstruktur. catatan anekdotal (anecdotal record). fenomena subjek. catatan berkala. peserta didik dapat melakukan observasi dengan dua cara pelibatan diri. atau mengingat dalam memori secara spontan atas subjek. pada pembelajaran dengan observasi terkendali termuat nilai-nilai percobaan atau eksperimen atas diri pelaku atau objek yang diobservasi. Praktik observasi dalam pembelajaran hanya akan efektif jika peserta didik dan guru melengkapi diri dengan dengan alat-alat pencatatan dan alat-alat lain. Pada observasi berstruktur dalam rangka proses pembelajaran. Secara lebih luas. berupa alat untuk mencatat gejala atau fenomena menurut tingkatannya. objektif. objek.  Cermat. dan (3) alat-alat lain sesuai dengan keperluan. skala rentang (rating scale).  Observasiberstruktur. atau situasi yang diobservasi. tidak ditentukan secara baku atau rijid mengenai apa yang harus diobservasi oleh peserta didik. Observasi semacam ini mengharuskan peserta didik melibatkan diri pada pelaku. Sejatinya. Di bidang pengajaran bahasa.Karena itu. rekaman.  Observasipartisipatif (participant observation). untuk merekam kegiatan objek atau secara audio-visual. untuk merekam pembicaraan. seperti dijelaskan berikut ini. dan jujur serta terfokus pada objek yang diobservasi untuk kepentingan pembelajaran. atau faktor. Alat mekanikalberupa alat mekanik yang dapat dipakai untuk memotret atau merekam peristiwa-peristiwa tertentu yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi. Selama proses pembelajaran. seperti: (1) tape recorder. atau objek yang diamati. objek.

 Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan. misalnya: Apakah ciri-ciri kalimat yang efektif? Bentuk pernyataan. atau situasi yang diobservasi. misalnya: Sebutkan ciri-ciri kalimay efektif!  a. objek. Sebelum obsevasi dilaksanakan.  Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap. atau situasi yang diobservasi. keterampilan. Kriteria pertanyaan yang baik  Singkat dan jelas. dan pengetahuannya. Banyak atau sedikit serta homogenitas atau hiterogenitas subjek. dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan. serta bagaimana membuat catatan atas perolehan observasi. ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar. dan menggunakan bahasa yang baik dan benar. dan perhatian peserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran.  Mendorong partisipasipeserta didik dalam berdiskusi.  Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain. melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan. Menanya Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap. sistematis. keterampilan. serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri. dan sejenisnya. Matematika – SMA/MA/SMK | 147 . dan memberi jawaban secara logis. pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. berargumen. minat. serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul.  Guru dan peserta didik perlu memahami apa yang hendak dicatat.  Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat. mengajukan pertanyaan.2. Bentuk pertanyaan.  Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara. serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya. mengembangkan kemampuan berpikir. memperkaya kosa kata. objek.  Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya. Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyara. Pada saat guru bertanya. pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. guru dan peserta didik sebaiknya menentukan dan menyepakati cara dan prosedur pengamatan. dan menarik simpulan. Fungsi bertanya  Membangkitkan rasa ingin tahu. asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal. direkam. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”. b. makin sulit kegiatan obervasi itu dilakukan. Makin banyak dan hiterogensubjek.

peserta didik yang keenam dan seterusnya. jika suatu bangsa gagal membangun kerukunan umat beragama?Dua kalimat yang mengawali pertanyaan di muka merupakan contoh yang diberikan guru untuk menginspirasi jawaban peserta menjawab pertanyaan. yang kemungkinan memiliki bobot kebenaran yang sama. pertanyaan kedua menuntut jawaban yang bervariasi urutan jawaban dan penjelasannya. Peserta didik pertama hingga kelima misalnya menjawab: kebodohan.” Matematika – SMA/MA/SMK | 148 . Jika masih tersedia alternatif jawaban lain. kelangkaan sumber daya alam. Contoh: Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kemiskinan? Untuk pertanyaan seperti ini sebaiknya masing-masing peserta didik diminta memunculkan satu jawaban. Jawaban atas pertanyaan itu dimaksudkan untuk memvalidsi atau melakukan penguatan atas jawaban peserta didik sebelumnya. Contoh: Membangun semangat kerukunan umat beragama itu sangat penting pada bangsa yang multiagama. sebaiknya guru menghentikan pertanyaan itu atau meminta mereka memunculkan jawaban yang lain yang berbeda. akan muncul aneka persoalan sosial kemasyarakatan. misalnya: Mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan? Pertanyaan seperti ini dimintakan jawabannya kepada peserta didik secara perorangan.  Bersifat validatif atau penguatan. tidak memiliki modal usaha. Pertanyaan dapat diajukan dengan cara meminta kepada peserta didik yang berbeda untuk menjawab pertanyaan yang sama. Sebaliknya. Contoh: (1) Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar. Pertanyaan yang luas seperti di atas dapat dipersempit. Ketika beberapa orang peserta didik telah memberikan jawaban yang sama.  Menginspirasi jawaban. bisa dimintai jawaban. Jika suatu bangsa gagal membangun semangat kerukukan beragama. namun sifatnya menguatkan.  Memiliki fokus.  Bersifat probing atau divergen. Coba jelaskan dampak sosial apa saja yang muncul. apakah peserta didik harus rajin belajar?(2) Mengapa peserta didik yang sangat malas belajar cenderung menjadi putus sekolah? Pertanyaan pertama cukup dijawab oleh peserta didik dengan Ya atau Tidak. Contoh: o o Guru: “mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan”? Peserta didik I: “karena orang yang malas lebih banyak diam ketimbang bekerja. dan keterisolasian geografis.Contoh: (1) Seberapa jauh pemahaman Anda mengenai faktor-faktor yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? (2) Faktor-faktor apakah yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? Pertanyaan kedua lebih singkat dan lebih jelas dibandingkan dengan pertanyaan pertama. kemalasan.

sehingga kehilangan waktu terlalu banyak untuk bekerja.Dalam kaitan ini. setelah menyampaikan pertanyaan. Setelah itu. seperti: apa. bagaimana. guru memberikan kesempatan kepada peserta didik mendiskusikan jawabannya. seperti dari sekadar mengingat fakta ke pertanyaan yang menggugah kemampuan kognitif yang lebih tinggi. Misalnya: (1) Apa faktor picu utama Belanda menjajah Indonesia?. Pertanyaan guru yang baik membuka peluang peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang makin meningkat. mengapa. sehingga menggambarkan tingkatan kognitif seperti apa yang akan disentuh. Guru harus memahami kualitas pertanyaan. seperti pemahaman.  Merangsang proses interaksi. setelah mengajukan pertanyaan. Guru mengemas atau mengubah pertanyaan yang menuntut jawaban dengan tingkat kognitif rendah ke makin tinggi.”  Memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang. Bobot pertanyaan yang menggambarkan tingkatan kognitif yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi disajikan berikut ini. guru hendaknya menunggu beberapa saat sebelum meminta atau menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan itu. mulai dari yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi. dan seterusnya. Pertanyaan guru yang baik mendorong munculnya interaksi dan suasana menyenangkan pada diri peserta didik.o o o o Guru: “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?” Peserta didik II: “karena lebih banyak diam ketimbang bekerja. ada baiknya dia mengubah pertanyaan seperti pertanyaan kedua. Tingkatan Pertanyaan Pertanyaan guru yang baik dan benar menginspirasi peserta didik untuk memberikan jawaban yang baik dan benar pula. Kata-kata kunci pertanyaan ini. sintesis. sesuai dengan tuntunan tingkat kognitifnya. Untuk menjawab pertanyaan dari guru. dan evaluasi. Matematika – SMA/MA/SMK | 149 . peserta didik memerlukan waktu yang cukup untuk memikirkan jawabannya dan memverbalkannya dengan kata-kata. c. sangat dianjurkan guru mengubah pertanyaannya. karena itu dia tidak produktif. Pola bertanya seperti ini memposisikan guru sebagai wahana pemantul. penerapan.  Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif. guru memberi kesempatan kepada seorang atau beberapa orang peserta didik diminta menyampaikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Karena itu. analisis. orang yang malas tidak produktif” Guru : “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?” Peserta didik III: “orang malas tidak bertindak aktif. (2) Apa motif utama Belanda menjajah Indonesia? Jika dengan pertanyaan pertama guru belum memperoleh jawaban yang memuaskan. Jika dengan pertanyaan tertentu tidak ada peserta didik yang bisa menjawah dengan baik.

.. Siapa. Kapan.. Klasifikasikanlah... Carilah hubungan. Ubahlah........ Tulislah… Bagaimana kita dapat memecahkan…  Apa yang terjadi seaindainya…  Bagaimana kita dapat memperbaiki…  Kembangkan… Matematika – SMA/MA/SMK | 150 .. Di mana. Bandingkan.... Gunakanlah... Bedakanlah. Golongkan.. Dll. Terangkahlah. Siapkanlah.. Jodohkan atau pasangkan... Simpulkan.......Tingkatan Subtingkatan Kognitif  Pengetahuan yang (knowledge) lebih rendah Kata-kata kunci pertanyaan                                       Apa.. Demonstrasikanlah.... Tulislah contoh... Persamaan kata.. Sebutkan.......... Terjemahkanlah... Analisislah. Kemukakan bukti-bukti… Mengapa… Identifikasikan… Tunjukkanlah sebabnya… Berilah alasan-alasan…  Pemahaman (comprehension)  Penerapan (application Kognitif  Analisis (analysis) yang lebih tinggi  Sintesis (synthesis) Ramalkanlah… Bentuk… Ciptakanlah… Susunlah… Rancanglah. Berikanlah interpretasi... Berilah nama.. Buatlah. Tunjukkanlah....

lebih khusus lagi proses belajar peserta didik terjadi secara perlahan atau inkremental/bertahap. Menurut Thorndike. di mana intensitas hubungan antara stimulus (S) dan respon (R) selama proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh konsekuensi dari hubungan yang terjadi. Pola ineraksi itu dilakukan melalui stimulus dan respons (S-R). pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. tetapi punishment belum tentu akan mengurangi atau menghilangkan perilakunya. Jadi. Sebaliknya. Menurut teori asosiasi. maka perilaku peserta didik akan mengalami penguatan. Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating. Teori ini dikembangan kerdasarkan hasil eksperimen Thorndike. jika akibat hubungan S-R dirasa tidak menyenangkan. bukan merupakan terjemanan dari reasonsing. asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Thorndike mengemukakan berapa hukum dalam proses pembelajaran. Dari persepektif psikologi. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak. efek dari reward (akibat yang menyenangkan) jauh lebih besar dalam memperkuat perilaku peserta didik dibandingkan efek punishment (akibat yang tidak menyenangkan) dalam memperlemah perilakunya. Menurut Thorndike. yang juga dikenal dengan teori Stimulus-Respon (S-R).  Hukum efek (The Law of Effect). Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas faktakata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. proses pembelajaran. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah. Karena itu. yang kemudian dikenal dengan teori asosiasi. bukan secara tibatiba. prinsip dasar proses pembelajaran yang dianut oleh Thorndike adalah asosiasi. maka perilaku peserta didik akan melemah. istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Esensi Menalar Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Ini bermakna bahwa reward akan meningkatkan perilaku peserta didik. Evaluasi (evaluation)  Berilah pendapat…  Alternatif mana yang lebih baik…  Setujukah anda…  Kritiklah…  Berilah alasan…  Nilailah…  Bandingkan…  Bedakanlah… 3. proses pembelajaran pembelajaran akan berhasil secara efektif jika terjadi interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar. meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Menalar a. Jika akibat dari hubungan S-R itu dirasa menyenangkan. Matematika – SMA/MA/SMK | 151 .

Karena dia menyadari bahwa latihan saja tidak dapat memperkuat atau membentuk perilaku. meliputi fase memberi perhatian terhadap model (attentional). Sebaliknya. berarti makin tinggi pula kemampuannya dalam menghubungkan S dengan R. Hubungan yang intensif dan berulang-ulang antara S dengan R akan meningkatkan kualitas ranah sikap. Matematika – SMA/MA/SMK | 152  . celaan. jika pesert didik dalam keadaan tidak siap dan belajar terpaksa dilakukan. Kaidah atau prinsip “pengaruh” dalam pembelajaran berkaitan dengan kemamouan guru menciptakan suasana. Menurut Thorndike. Latihan merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara berulang oleh peserta didik. Kedua. Dengan begitu. pada prinsipnya apakah sesuatu itu akan menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk dipelajari tergantung pada kesiapan belajar individunya. Teori S – S ini memang terkesan robotik. Law of Disuse. Merujuk pada teori S-R. fase belajar. belajar terjadi karena proses peniruan (imitation). Awalnya. yaitu hubungan antara S-R akan semakin melemah jika tidak dilatih atau dilakukan berulang-ulang. Kesiapan diidentifikasi berkaitan langsung dengan motivasi peserta didik. teori asosiasi biasanya menambahkan teori belajar sosial (social learning) yang dikembangkan oleh Bandura. keterampilan. kreativitas.  Oleh karena tidak semua perilaku belajar atau pembelajaran dapat dijelaskan dengan pelaziman sebagaimana dikembangkan oleh Ivan Pavlov. Guru harus benar-benar siap mengajar dan peserta didik benar-benar siap menerima pelajaran dari gurunya. Kesiapan itu harus ada pada diri guru dan peserta didik.Menurut Thorndike. Manfaat hasil belajar yang diperoleh oleh peserta didik dirasakan langsung oleh mereka dalam dalam dunia kehidupannya.  Latihan (exercise). Kaidah dasar yang digunakan dalam teori S-R adalah:  Kesiapan (readiness). mengendapkan hasil memperhatikan model dalam pikiran pebelajar (retention). segala sumber daya pembelajaran pun perlu disiapkan secara baik dan saksama. Hukum kesiapan (The Law of Readiness). hal ini bermakna bahwa jika peserta dalam keadaan siap dan belajar dilakukan. Pengulangan ini memungkinkan hubungan antara S dengan R makin intensif dan ekstensif. proses pembelajaran akan makin efektif jika peserta didik makin giat belajar. Karenanya. Pelaziman operan adalah bentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi. dan pengetahuan peserta didik sebagai hasil belajarnya. Memang. teman. anggota masyarakat. Pertama. dan lain-lain) dan pengalaman vicarious yaitu belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain itu. hukuman. Kemampuan peserta didik dalam meniru respons menjadi pengungkit utama aktivitas belajarnya. hukum ini terdiri dari duajenis. maka mereka akan merasa tidak puas bahkan mengalami frustrasi. memberi penghargaan. Menurut Bandura. Hukum latihan (The Law of Exercise). dimana peserta didik belajar dengan cara meniru perilaku orang lain (guru.  Pengaruh (effect). Prinsip-prinsip dasar dari Thorndike kemudian diperluas oleh B. tetapi yang terpenting adalah individu menyadari konsekuensi perilakunya. maka mereka akan merasa puas. Sejalan dengan itu. yang setelah tahun 1930 dinyatakan dicabut oleh Thorndike.  Pertama. perilaku dapat dibentuk dengan menggunakan penguatan (reinforcement). dan apirasi peserta didik. Law of Use yaitu hubungan antara S-R akan semakin kuat jika sering digunakan atau berulang-ulang. Dalam proses pembelajaran. Skinner dalam Operant Conditioning atau pelaziman/pengkondisian operan.F.  Kedua. latihan berulang tetap dapat diberikan. dan ganjaran. teori ini terkesan mengenyampingkan peranan minat. Ada empat konsep dasar teori belajar sosial (social learning theory) dari Bandura. pemodelan (modelling).

yaitu langsung dan tidak langsung. berkembangbiak dengan cara melahirkan  Ikan Paus binatang berdaun telinga berkembangbiak dengan melahirkan  Simpulan: Semua binatang yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataanpernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. yaitu silogisme kategorial. Pola penalaran deduktif dikenal dengan pola silogisme. Dengan cara ini peserta didik akan melakukan peniruan terhadap apa yang nyata diobservasinya dari kinerja guru dan temannya di kelas.  Keempat. Pada penalaran deduktif tedapat premis.  Ketiga. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus. Penalaran induktif merupakan cara menalardengan menarik simpulan dari fenomena atau atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. menalar secara induktif adalah proses penarikan simpulan dari kasus-kasus yang bersifat nyata secara individual atau spesifik menjadi simpulan yang bersifat umum. b. dan motivasi (motivation) ketika peserta didik berkeinginan mengulang-ulang perilaku model yang mendatangkan konsekuensi-konsekuensi positif dari lingkungan. terdapat dua cara menalar. silogisme alternatif.  Bahan pembelajaran disusun secara berjenjang atau hierarkis.  Guru menyusun bahan pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap sesuai dengan tuntutan kurikulum. Penarikan simpulan dapat dilakukan melalui dua cara. dimulai dari yang sederhana (persyaratan rendah) sampai pada yang kompleks (persyaratan tinggi).  Guru mencatat semua kemajuan peserta didik untuk kemungkinan memberikan tindakan pembelajaran perbaikan. dimana peserta didik mengamati.  Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang nyata atau otentik. Tugas utama guru adalah memberi instruksi singkat tapi jelas dengan disertai contoh-contoh. dimana peserta didik belajar dengan melihat apakah orang lain diberi ganjaran atau hukuman selama terlibat dalam perilaku-perilaku tertentu.  Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati  Seriap kesalahan harus segera dikoreksi atau diperbaiki  Perlu dilakukan pengulangan dan latihan agar perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan atau pelaziman. belajar vicarious. berkembangbiak dengan cara melahirkan  Harimau binatang berdaun telinga. silogisme hipotesis.menampilkan ulang perilaku model oleh pebelajar (reproduction). mempertimbangkan. Bagaimana aplikasinya dalam proses pembelajaran? Aplikasi pengembangan aktivitas pembelajaran untuk meningkatkan daya menalar peserta didik dapat dilakukan dengan cara berikut ini. pengaturan-diri (self-regulation). baik dilakukan sendiri maupun dengan cara simulasi. Cara menalar Seperti telah dijelaskan di muka. yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Simpulan Matematika – SMA/MA/SMK | 153 . Teori asosiasi ini sangat efektif menjadi landasan menanamkan sikap ilmiah dan motivasi pada peserta didik berkenaan dengan nilai-nilai instrinsik dari pembelajaran partisipatif.Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik. memberi ganjaran atau hukuman terhadap perilakunya sendiri.  Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah. Jadi. sebagai proposisi menarik simpulan. Contoh:  Singa binatang berdaun telinga. Ada tiga jenis silogisme.

analogi terdiri dari dua jenis. karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik.  Simpulan: semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk beroperasi.Peserta didik Pulan akan mengikuti kompetisi pada Olimpiade Sains Tingkat Internasional. guru dan pesert didik sering kali menemukan fenomena yang bersifat analog atau memiliki persamaan. Hubungan Antarfenonena Seperti halnya penalaran dan analogi. Hubungan sebab-akibat diambil dengan menghubungkan satu atau beberapa fakta yang satu dengan datu atau beberapa fakta yang lain. Analogi deklaratif merupakan suatu‘metode menalar’untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu fenomena atau gejala yang belum dikenal atau masih samar.sedangkan simpulan tidak langsung ditarik dari dua premis.Analogi deklaratif ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru. Analogi induktif merupakan suatu ‘metode menalar’yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu simpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua fenomena atau gejala khusus yang diperbandingkan. Matematika – SMA/MA/SMK | 154 . kemampuan menghubungkan antarfenomena atau gejala sangat penting dalam proses pembelajaran. Analogi dalam Pembelajaran Selama proses pembelajaran. Dengan demikian. atau gejala menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah dketahui secara nyata dan dipercayai. Analogi adalah suatu proses penalaran dalam pembelajaran dengan cara membandingkan sifat esensial yang mempunyai kesamaan atau persamaan. Dia lulus seleksi Olimpiade Sains Tingkat Nasional tahun ini. untuk mewujudkan hasil yang baik diperlukan sinergitas antara ranah sikap. Penalaran induksi sebab akibat terdiri dri tiga jenis. guru dan peserta didik adakalamua menalar secara analogis. Analogi induktifdisusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena atau gejala. khususnya hubungan sebab-akibat. Seperti halnya penalaran. Kedua analogi itu dijelaskan berikut ini. yaitu analogi induktif dan analogi deduktif. Contoh: Kegiatan kepeserta didikan akan berjalan baik jika terjadi sinergitas kerja antara kepala sekolah.Suatu simpulan yang menjadi sebab dari satu atau beberapa fakta itu atau dapat juga menjadi akibat dari satuatau beberapa fakta tersebut. guru. dan pengetahuan. Atas dasar persamaan dua gejala atau fenomena itu ditarik simpulan bahwa apa yang ada pada fenomena atau gejala pertama terjadi juga pada fenomena atau gejala kedua. Di sinilah esensi bahwa guru dan peserta didik dituntut mampu memaknai hubungan antarfenonena atau gejala. dan peserta didik. staf tatalaksana. Seperti halnya kegiatan belajar. Untuk itu dia harus belajar lebih tekun lagi. fenomena. karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik. dengan sesuatu yang sudah dikenal. pengurus organisasi peserta didik intra sekolah. Berpikir analogis sangat penting dalam pembelajaran.secara langsung ditarik dari satu premis. tahun ini juga. Dengan demikian. yang disebut dengan penalaran induktif sebab-akibat. keterampilan. Penalaran sebab-akibat ini masuk dalam ranah penalaran induktif. Contoh :  Kamera adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi  Telepon genggam adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperas. Contoh: Peserta didik Pulan merupakan pebelajar yang tekun.

sehingga muncullah kemiskinan keluarga yang akut. sehingga menimbulkan akibat kedua. Pada mata pelajaran IPA. yaitu sikap. (2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan. berdoa.  Hubungan akibat–sebab. bukan tidak mungkin terjadi kemiskinan yang terus berlangsung secara siklikal.(6) menarik simpulan atas hasil percobaan. Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar. Akibat yang pertama menjadi penyebab. hidupnya terisolasi. hal-hal yang menjadi sebab dikemukakan terlebih dahulu. dan menyajikan data. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum. Pada penalaran hubungan akibat-sebab. misalnya. belajar tekun. keterampilan. menganalisis. (3)mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya. dan pengetahuan. dan tidak putus asa adalah faktor pengungkit yang bisa membuat kita mencapai puncak kesuksesan. selanjutnya ditarik simpulan yang merupakan penyebabnya. yang disebabkan oleh pengabaian orang tua dan ketidaan keteladanan tokoh masyarakat. Contoh: Masyarakat yang tinggal di daerah terpencil. Pada penalaran hubungan sbab-akibat 1 –akibat 2.  Hubungan sebab–akibat 1 – akibat 2. Keterisolasian itu menyebabkan mereka kehilangan akses untuk melakukan aktivitas ekonomi. terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. (4) melakukan dan mengamati percobaan. dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya. (5) mencatat fenomena yang terjadi. hal-hal yang menjadi akibat dikemukakan terlebih dahulu. angka putus sekolah. Akibat kedua menjadi penyebab sehingga menimbulkan akibat ketiga.peserta didik harus memahami konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. sehingga mengalami dekandensi moral secara massal.  Matematika – SMA/MA/SMK | 155 . Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka: (1) Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan murid (2) Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan (3) Perlu memperhitungkan tempat dan waktu (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid (5) Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen (6) Membagi kertas kerja kepada murid (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru. Contoh : Akhir-ahir ini sangat marak kenakalan remaja. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar. Contoh: Bekerja keras. Pada penalaran hubungan sebab-akibat. 4. Kemiskinan keluarga yang akut menyebabkan anak-anak mereka tidak berkesempatan menempuh pendidikan yang baik. dan seterusnya. peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan. suatu penyebab dapat menimbulkan serangkaian akibat. Dampak lanjutannya. Mencoba Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik.Hubungan sebab–akibat. bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal. perkelahian antarpeserta didik. dan (7)membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan. serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. penyalahgunaan Nakoba di kalangan generasi muda. kemudian ditarik simpulan yang berupa akibat.

Selama proses eksperimen atau mencoba. maka ia menyentuh tentang identitas peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang Matematika – SMA/MA/SMK | 156 . Pelaksanaan  Selama proses eksperimen atau mencoba. termasuk membantu mengatasi dan memecahkan masalahmasalah yang akan menghambat kegiatan pembelajaran.   b. Tindak lanjut      Peserta didik mengumpulkan laporan hasil eksperimen kepada guru Guru memeriksa hasil eksperimen peserta didik Guru memberikan umpan balik kepada peserta didik atas hasil eksperimen. Jejaring Pembelajaran atau Pembelajaran Kolaboratif Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kolaboratif? Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal. yaitu. termasuk hal-hal yang dilarang atau membahayakan. dan tindak lanjut. lebih dari sekadar sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. pelaksanaan. persiapan. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama. peserta didiklah yang harus lebih aktif. Persiapan    Menentapkan tujuan eksperimen Mempersiapkan alat atau bahan Mempersiapkan tempat eksperimen sesuai dengan jumlah peserta didikserta alat atau bahan yang tersedia. Jika pembelajaran kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafah peribadi. Di sini guru perlu menimbang apakah peserta didik akan melaksanakan eksperimen atau mencoba secara serentak atau dibagi menjadi beberapa kelompok secara paralel atau bergiliran Memertimbangkanmasalah keamanan dan kesehatan agar dapat memperkecil atau menghindari risiko yang mungkin timbul Memberikan penjelasan mengenai apa yang harus diperhatikan dan tahapa-tahapan yang harus dilakukan peserta didik. Di sini guru harus memberikan dorongan dan bantuan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik agar kegiatan itu berhasil dengan baik.Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan eksperimen atau mencoba dilakukan melalui tiga tahap. Guru dan peserta didik mendiskusikan masalah-masalah yang ditemukan selama eksperimen. sebaliknya. guru hendaknya memperhatikan situasi secara keseluruhan. a. Ketiga tahapan eksperimen atau mencoba dimaksud dijelaskan berikut ini. guru ikut membimbing dan mengamati proses percobaan.  c. Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar. Guru dan peserta didik memeriksa dan menyimpan kembali segala bahan dan alat yang digunakan 5.

mereka akan bekerja sebaik-baiknya ketika bekerjasama atau berkolaborasi dengan temannya. Berbagi tugas dan kewenangan. Di sini peserta didik juga dapat merumuskan kaitan antara proses pembelajaran yang sedang dilakukan dengan dunia sebenarnya. Contoh: Jika guru mengajarkan topik “hidup bersama secara damai. menghormati antarsesa. Vygostsky mengemukakan tiga wilayah yang tergamit dalam ZPD yang disebut dengan “cannot yet do”. guru berbagi tugas dan kewenangan dengan peserta didik. ZPD merupakan wilayah “can do with help”yang sifatnya tidak permanen. Guru berperan membantu menghubungkan informasi baru dengan pengalaman yang ada serta membantu peserta didik jika mereka mengalami kebutuan dan bersedia menunjukkan cara bagaimana mereka memiliki kesungguhan untuk belajar. Jika peserta didikmemahami dan melihat fenomena nyata kehidupan bersama yang damai itu. Matematika – SMA/MA/SMK | 157 . saling menghormati. Potensi tersebut dapat teraktualisasi dengan cara menerapkan ketuntasan belajar (mastery learning). berbagi idea. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif. sehingga memungkin peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tntutan belajar secara bersama-sama. Guru dan peserta didik saling berbagi informasi. Guru memiliki berkewajiban menjadikan wilayah “abu-abu”yang ada pada peserta didik itu dapat teraktualisasi dengan cara belajar kelompok. Di sini. dan memberi garis-garis besar arus komunikasi antar peserta didik. Ada empat sifat kelas atau pembelajaran kolaboratif. Dengan pembelajaran kolaboratif. Hasil penelitian Vygotsky membuktikan bahwa ketika peserta didik diberi tugas untuk dirinya sediri. pengalaman dan pengetahuannya dihargai dan dapat dibagikan dalam jaringan pembelajaran mereka. pengalaman personal. guru berperan sebagai mediator atau perantara.lain atau guru. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif. serta menautkan kondisi sosiobudaya dengan situasi pembelajaran. 2.” Peserta didik yang mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan topik tersebut berpeluang menyatakan sesuatu pada sesi pembelajaran. Menurut Vygotsky. Mereka pun akan termotivasi untuk melihat dan mendengar. “can do with help“. Dua sifat berkenaan dengan perubahan hubungan antara guru dan peserta didik. Vigotsky merupakan salah satu pengagas teori konstruktivisme sosial. Cara ini memungkinan peserta didik menimba pengalaman mereka sendiri. peserta didik berinteraksi dengan empati. Akan tetapi di antara potensi dan aktualisasi peserta didik itu terdapat terdapat wilayah abu-abu. bahasa komunikasi. setiap manusia (dalam konteks ini disebut peserta didik) mempunyai potensi tertentu. 1. Dalam situasi kolaboratif itu. dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing. terlibat dalam pemikiran kreatif dan kritis serta memupuk dan menggalakkan mereka mengambil peran secara terbuka dan bermakna. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman. Seperti termuat dalam gambar. jika proses pembelajaran mampu menarik pebelajar dari zona tersebut dengan cara kolaborasi atau pembelajaran kolaboratif. Sifat keempat menyatakan isi kelas atau pembelajaran kolaboratif. strategi dan konsep pembelajaran sesuai dengan teori. Pakar ini sangat terkenal dengan teori “Zone of Proximal Development” atau ZPD. Istilah ”Proximal” yang digunakan di sini bisa bermakna “next“. Sifat ketiga berkaitan dengan pendekatan baru dari penyampaian guru selama proses pembelajaran.  Guru sebagai mediator. peran guru lebih banyak sebagai pembimbing dan manajer belajar ketimbang memberi instruksi dan mengawasi secara rijid. khususnya untuk hal-hal tertentu. dan “can do alone“. berbagi strategi dan informasi. mendoorong tumbuhnya ide-ide cerdas. peserta didik memiliki ruang gerak untuk menilai dan membina ilmu pengetahuan.

Sikap. Dengan cara seperti ini akan muncul “keseragaman” di dalam heterogenitas peserta didik. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok.serta mendengar atau membahas sumbangan informasi dari peserta didik lainnya. Pada kelas kolaboratif peserta didikdapat menunjukkan kemampuan dan keterampilan mereka. fakta.  CI = Complex Instruction. Secara bertahap. Kelompok peserta didik yang heterogen.     3. keterampilan. Beberapa di antaranya dijelaskan berikut ini. Prosedurnya dapat dilakukan seperti berikut ini. matematika. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu peserta didik lainnya. Penilaian didasari pada rata-rata skor tes kelompok. penggolongan sifat. dan pengetahuan peserta didk yang tumbuh dan berkembang sangat penting untuk memperkaya pembelajaran di kelas. tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Untuk keperluan pembelajaran ini dia menggunakan media sortir kartu (card sort). Titik tekan metode ini adalam pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para peserta didik yang sangat heterogen. Guru ingin mengajarkan tentang konsep. Berikan kepada peserta didik yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri kepada rekanhya. berbagi informasi. Selama masing-masing katagori dipresentasikan oleh peserta didik. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Anggotaanggota dalam setiap kelompok bertindak saling membelajarkan. dan ilmu pengetahuan sosial. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar. setiap peserta didik sebagai anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Metodeini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/kolaboratif dengan pembelajaran individual. Peserta didik dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil.  JP = Jigsaw Proscedure.  TAI = Team Accelerated Instruction. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua peserta didiksebagai anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif Banyak merode yang dipakai dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Agar masing-masing peserta didik anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan. Penilaian didasari pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok peserta didik. atau mengulangi informasi tentang objek. Kepada peserta didik diberikan kartu indeks yang memuat informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori. khususnya dalam bidang sains. setiap peserta didik mengerjakan soal-soal Matematika – SMA/MA/SMK | 158 .  STAD = Student Team Achievement Divisions. buatlah catatan dengan kata kunci (point) dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting. Peserta didik diminta untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama. Pembelajaran dilakukan dengan cara peserta didik sebagai anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda mengenai suatu pokok bahasan.

Masa depan adalah milik peserta didik Matematika – SMA/MA/SMK | 159 . Seorang peserta didik bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. kedua peserta didik yang saling berpasangan itu berganti peran. para peserta didik saling menilai kemampuan membaca. Penggunaan internet disarakan makin mendesak sejalan denan perkembangan pengetahuan terjadi secara eksponensial. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya. GI = Group Investigation. CLS = Cooperative Learning Stuctures. pemikiran kritis. Penilaian didasari pada hasil belajar individual maupun kelompok. menulis dan tata bahasa. Bila jawaban tutee benar. Dalam pembelajaran ini. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Penilaian didasari pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok peserta didik. Namun jika seorang peserta didik belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar.      a. Pada metode ini. Saat ini internet telah menyediakan diri sebagai referensi yang murah dan mudah bagi peserta didik atau siapa saja yang hendak mengubah wajah dunia. Metode pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca. setelah belajar bersama kelompoknya sendiri. Pada metode ini setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masingmasing. Pada metode ini semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Pada penerapan metode pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua peserta didik (berpasangan). berikutnya. ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Pemanfaatan Internet Pemanfaatan internet sangat dianjurkan dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. internet merupakan salah satu jejaring pembelajaran dengan akses dan ketersediaan informasi yang luas dan mudah. hubungan antarpribadi. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya. AC = Academic-Constructive Controversy. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah. kesehatan psikis dan keselarasan. CIRC = Cooperative Integrated Reading and Composition. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Pada metode pembelajaran ini mirip dengan TAI. LT = Learning Together Pada metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan peserta didik yang beragam kemampuannya. pertimbangan. ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Karena memang. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok. menulis dan tata bahasa. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya. TGT = Teams-Games-Tournament. baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain.

Science Education. Teaching hypothesis formation. Daftar Pustaka Allen. M. 62. (1975). IN. Journal of Research in Science Teaching. L. & George. Tomera. M. (1985). Transfer and retention of transfer of the science processes of observation and comparison in junior high school students. D. 13. 57. Some factors affecting the use of the science process skill of prediction by elementary school children. Science Education. 289-296. (1974). 195203.. French Lick. A. Paper presented at the annual meeting of the National Association for Research in Science Teaching. Science Education.yang memiliki akses hampir ke seluruh informasi tanpa batas dan mereka yang mampu memanfaatkan informasi diterima secepat mungkin. (1973). Thiel.. (1976). An examination of the ability of third grade children from the Science Curriculum Improvement Study to identify experimental variables and to recognize change. D.. 59. R. Padilla. Science Education. K.. M. 58. Cronin. L. & George. The development and validation of the test of basic process skills. K. 215-221. 123-151. Quinn. & Twiest. 155-166. Matematika – SMA/MA/SMK | 160 .

Karena itu. Untuk dapat disebut ilmiah. (3) sifat objektif.1. Sebenarnya apa yang kita bicarakan dengan metode ilmiah merujuk pada: (1) adanya fakta.HO – 2. dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. ramalan dsb) 3) Ingin tahu 4) Tidak mudah membuat prasangka 5) Selalu optimis Selanjutnya secara sederhana pendekatan ilmiah merupakan suatu cara atau mekanisme untuk mendapatkan pengetahuan dengan prosedur yang didasarkan pada suatu metode ilmiah. Pengantar Pendekatan scientific atau lebih umum dikatakan pendekatan ilmiah menjadi keniscayaan dalam kurikulum 2013. perlu dipahami lagi mengenai metode ilmiah. Pengetahuan dapat merupakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. Dengan metode ilmiah seperti ini diharapkan kita akan mempunya sifat 1) Kecintaan pada kebenaran yang objektif 2) Tidak gampang percaya pada hal-hal yang tidak rasional (takhayul. Suatu pengetahuan ilmiah hanya dapat diperoleh dari metode ilmiah. kemudian memformulasi dan menguji hipotesis. Sebelum membicarakan mengenai pendekatan ilmiah. (2) sifat bebas prasangka. dan (4) adanya analisa. Pada umumnya sesorang selalu ingin memperoleh pengetahuan. empiris. Ada juga yang mengartikan pendekatan ilmiah sebagai mekanisme untuk memperoleh pengetahuan yang didasarkan pada struktur logis. metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi. metode ilmiah umumnya memuat rangkaian kegiatan koleksi data atau fakta melalui observasi dan ekperimen. Dengan demikian diperlukan adanya penalaran dalam rangka pencarian (penemuan). Pendekatan ilmiah ini memerlukan langkah-langkah pokok (umum): 1) Mengamati 2) Menanya 3) Menalar 4) Mencoba Matematika – SMA/MA/SMK | 161 .2 CONTOH PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA A. Metode ilmiah pada dasarnya memandang fenomena khusus (unik) dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan pada simpulan.

Pengamatan nyata fenomena alam atau lingkungan. Contoh pendekatan ilmiah dalam matematika Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa karakter keilmuan dari setiap materi pelajaran tidak sama maka khusus untuk matematika langkah dalam pendekatan ilmiah dapat dicontohkan sebagai berikut: 1) Mengamati fakta Mengamati fakta matematika dapat dibagi dalam dua pengertian a. Karena yang dikehendaki adalah jawaban mengenai fakta-fakta (matematika) maka pendekatan dengan langkah-langkah tersebut dikatakan sangat erat dengan metode ilmiah. Fenomena alam akan menghasilkan suatu fakta yang dituangkan dalam bahasa matematika. B.5) Membentuk jejaring Dalam kenyataanya karakter keilmuan dari setiap materi pelajaran tidak sama. maka langkah-langkahnya dalam pendekatan ilmiah sebagai berikut: 1) Mengamati fakta (matematika) 2) Menanya (perwujudan dari berfikir divergen) 3) Menalar (menentukan/menemukan solusi selanjutnya) 4) Mencoba 5) Menyimpulkan (mengaitkan dengan konsep lain) Langkah-langkah di atas boleh dikatakan sebagai pengejaran terhadap pengetahuan ilmiah yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis dalam matematika dan juga tidak kaku dalam urutan. Secara mudah dapat dipahami eperti halnya “matematika kontek tual”. Mi alkan kita mengamati air mancur Matematika – SMA/MA/SMK | 162 . Oleh karena itu pendekatan ilmiah dalam pelajaran tertentu tidak sama persis dengan pelajaran tertentu lainnya. Ada juga refensi yang menyatakan bahwa metode ilmiah adalah wujud dari pendekatan ilmiah. Misalnya dalam pelajaran matematika. Pengamatan seperti ini cocok untuk anak sekolah dasar atau sekolah menengah pada kelas rendah dimana karakter penalarannya masih bertaraf induktif.

Maka (nantinya) akan terlihat bahwa mempengaruhi “runcingnya” titik puncak parabola yang terbentuk. teorema. Contoh lain misalnya dalam geometri datar. Selanjutnya nilai kuadrat diubah dalam berbagai nilai sedangkan b dan c tetap. Misalnya. jika ada garis lain. Pengamatan seperti ini lebih tepat dikatakan sebagai pengumpulan dan pemahaman kebenaran matematika. Jadi jika digambarkan (diamati). Artinya. sifat. garis itu pasti garis yang tadi juga. Matematika – SMA/MA/SMK | 163 . Pengamatan ini akan sangat terbantu jika dalam penyampaian menggunakan TIK. siswa memahami kebenaran postulat setiap dua titik pasti hanya dapat dibuat tepat satu garis yang melaluinya. Fakta yang didapatkan dapat berupa definisi. tidak mungkin terjadi gambar seperti di bawah. Pengamatan objek matematika Pengamatan seperti ini sangat cocok untuk siswa yang mulai menerima kebenaran logis. aksioma. sehingga mereka tidak mempermasalahkan suatu rangkaian kebenaran sebelumnya yang didapatkan dari penalaran yang benar.Sebenarnya (nantinya) gerakan air mancur ini terkait dengan konsep fungsi kuadrat b. postulat. walaupun objeknya tidak nyata. siswa diminta menggambar ( ) dengan nilai fungsi dan tertentu. grafik dan lain sebagainya.

bagaimana untuk negatif. . Misalkan dalam grafik fungsi kuadrat ( ) untuk bernilai positif besar. Untuk menggalinya dapat dilakukan dengan memanfaatkan solusi yang mereka hasilkan (pemikiran siswa). dengan menanyakan alternatif-alternatif yang mungkin dari solusi itu. Sebaliknya. untuk bagaimana menentukan nilai sinus untuk (fakta) awal in Karena banyak guru membuat jembatan keledai dengan menyingkat “SINDEMI KOSAMI TANDESA” yaitu . guru hanya memberikan pertanyaan pancingan. Tidak terbangun suatu pemikiran yang divergen. . Dalam matematika permasalahan seperti ini dapat dijawab dengan mengaitkan teorema lain atau pendefinisian baru terutama bagi siswa yang sudah dapat menerima kebenaran logis. Contoh lain. Dalam hal ini guru tidak boleh memberi tahu. sampai siswa sendiri yang menyelesaikan dan mencari alternatif yang lain.2) Menanya Kecenderungan yang ada sekarang adalah siswa gagal menyelesaikan suatu masalah matematika jika konteksnya diubah sedikit saja. Ini terjadi karena siswa cenderung menghafal algoritma atau prosedur tertentu. bagi siswa sekolah dasar kebenaran empirik masih dominan dibanding Matematika – SMA/MA/SMK | 164 . dimana . Pemikiran yang divergen ini dapat dibangkitkan dari suatu pertanyaan. bernilai positif kecil dan sebagainya. sedangkan definisi Pertanyaan seperti di atas memerlukan adanya solusi (jawaban) melalui suatu penalaran.

3 kali Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataanpernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. modus tolen dan silogisme. Oleh karena itu pertanyaan yang diajukan tentu berbeda siswa pada sekolah menengah. Penalaran yang paling dikenal dalam matematika terkait penarikan kesimpiulan adalah modus ponen. Misalkan menemukan volum kerucut dengan takaran. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus. Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik. Penalaran induktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari fenomena khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. Perlu diingat juga bahwa penalaran diartikan juga sebagai penyerupaan atau analogi atau dalam bahasa sosial asosiasi Terkait dengan contoh diatas dapat digambarkan sebagai berikut Matematika – SMA/MA/SMK | 165 . yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Disini penalaran dapat bermakna penyerupaan (associating) dan juga dapat bermakna akibat (reasoning). 3) Penalaran Sejatinya penalaran secara umum adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Sedangkan pada contoh sebelumnya yaitu menentukan nilai sinus sudut di kuadran II maka dengan kejadian seperti ini perlu adanya pengertian atau definisi baru sebagai perluasan (memikirkan perlunya hal baru).kebenaran logis. Ada dua cara menalar. Demikian pula untuk sudut siku-siku ( ) dan sudut lurus ( ).

Matematika – SMA/MA/SMK | 166 . Dari sini diperlukan adanya langkah atau tahap berikutnya yaitu mencoba atau secara lebih luas membuktikan. Dengan definisi akan mewadahi atau memenuhi sistem dalam matematika itu sendiri.Dalam hal ini (nantinya) definisi sinus tidak sebatas pada perbandingan panjang sisi segitiga siku-siku seperti pada definisi awal. tetapi terkait dengan posisi kordinat.

Dari pengertian awal in sedangkan dengan perluasan in Jadi disini terlihat bahwa in in √ √ . Namun contoh seperti ini bukan merupakan pembuktian dalam matematika.4) Mencoba Pengertian mencoba disini dapat diartikan secara sempit seperti menunjukkan dan dapat diartikan secara luas yaitu membuktikan. Pada akhirnya langakah ini untuk menunjukkan bahwa jika besar sudut berada di kuadran II ( in in( ) maka dipenuhi ). Adapun tahapan yang lebih spesifik dalam matematika yaitu membuktikan berlakunya in in( ) untuk ( ) masih memerlukan pengerjaan lanjutan Matematika – SMA/MA/SMK | 167 . hanya sekedar contoh tahapan/langkah dalam pendekatan ilmiah. nilai ordinat (komponen-y) positif dan panjang jari-jari positif. Selanjutnya dicoba untuk besar sudut yang lain. Demikian pula untuk sudut di kuadran II. nilai ordinat (komponen-y) positif dan panjang jari-jari positif. Sebagai cotoh nilai sinus sebagai perluasan ternyata merupakan perbandingan ordinat dengan panjang jari-jari. Untuk sudut di kuadran I.

Sebagai contoh siswa ingin mengetahui tinggi suatu pohon.5) Menyimpulkan (mengaitkan dengan konsep dan aplikasi lain) Pengertian menyimpulkan disini mengandung dua pengertian. yaitu mengaitkan konsep dalam matematika itu sendiri (matematika vertikal) dan mengaitkan konsep yang diperoleh dengan dunia nyata (matematika horizontal). (i). Dengan diperolehnya hubungan in antara sudut dan sudut in( ) maka siswa memahami kaitan yaitu mempunyai nilai sinus yang sama. Simpulan ini kemudian dikaitkan dengan pengertian matematka lain misalnya co tan in co tan ) dan sebagainya. geografi dll). Persisnya berelasi melalui nilai sinus yang sama. co ( ) in Contohnya hubungan in( (ii). Dengan menerapkan prinsip perbandingan pada tangen maka dapat ditentukan tinggi pohon secara tidak langsung Matematika – SMA/MA/SMK | 168 . Misalnya dalam pengerjaan dimunculkan hasil berikut: Selanjutnya diharapkan siswa dapat menyimpulkan bahwa sudut yang demikian adalah sudut yang berelasi. co . Disamping itu hasil yang diperoleh oleh siswa digunakan untuk aplikasi dalam dunia nyata maupun dikaitkan dengan pengetahuan lain (fisika.

prosedural. tanggung jawab. cinta damai. santun. responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. disiplin. dan metakognitif terkait bidang kajian matematika dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Disamping itu pemahaman. peduli. C. kerjasama. Matematika – SMA/MA/SMK | 169 . penerapan dan analisis dari pengetahuan faktual. konseptual. ramah lingkungan. siswa mengaitkan fungsi trigonometri dengan gerak ayunan dalam fisika Ada juga literasi yang memaknai tahapan menyimpulkan sebagai tindakan membentuk jejaring (networking) secara fisik yaitu bekerjasama atau berkolaborasi antar siswa.Contoh lain. Penutup Langkah-langkah dalam pendekatan ilmiah seperti dijelaskan di atas tentu saja harus dijiwai oleh perilaku (jujur. gotong royong.

Pendekatan-pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran.the-scientist. Jakarta [3] http://www. (2008).Referensi: [1] Shelly Frei. Prof. Huntington Beach.view/articleNo/24488/title/The-ScientificApproach/: diakses 16 Februari 2013 [4] http://ariasusman.wordpress. CA 92649-1030: Shell Education [2] Sudarwan. (2013). Teaching Mathematics Today. Makalah pada Workshop Kurikulum.com/2009/07/06/pendekatan-ilmiah/ Februari 2013 : diakses 16 Matematika – SMA/MA/SMK | 170 ..com/?articles.

Menerapkan Focus Group Discussion untuk mengidentifikasi karakteristik tiga model pembelajaran.2: Model Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Mengamati tayangan pembelajaran Diskusi Kelompok (Focus Group Discussion) 30 Menit Kerja Kelompok 20 Menit 40 Menit Mengamatitayangan tiga jenis model pembelajaran (Project Based Learning. danDiscovery Learning). Problem Based Learning.Materi Pelatihan2. Kerjakelompok untuk mengidentifikasi penerapan Pendekatan Scientific pada tiga model pembelajaran. Matematika – SMA/MA/SMK | 171 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 172 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 173 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 174 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 175 .

hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. penilaian. Dengan pembelajaran “berbasis produksi” peserta didik di SMK diperkenalkan dengan suasana dan makna kerja yang sesungguhnya di dunia kerja. Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda. KONSEP/DEFINISI Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL) adalah metoda pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. SMK sebagai institusi yang berfungsi untuk menyiapkan lulusan untuk bekerja di dunia usaha dan industri harus dapat membekali peserta didiknya dengan “kompetensi terstandar” yang dibutuhkan untuk bekerja dibidang masing-masing. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata. hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. Melalui PjBL. PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata. Pada saat pertanyaan terjawab. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata.HO-2. Peserta didik melakukan eksplorasi. secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. Matematika – SMA/MA/SMK | 176 . sintesis. maka Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya. Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dikatakan sebagai operasionalisasi konsep “Pendidikan Berbasis Produksi” yang dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja.2-1 MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK/ PROJECT BASED LEARNING A. Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. interpretasi. Dengan demikian model pembelajaran yang cocok untuk SMK adalah pembelajaran berbasis proyek. 2. proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun ( a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum. adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik.

Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar. lab tables (saat mengerjakan tugas mandiri). Untuk itu disarankan menggunakan team teaching dalam proses pembelajaran. 8. FAKTA EMPIRIK KEBERHASILAN Kelebihan dan kekurangan pada penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dijelaskan sebagai berikut. dan akan lebih menarik lagi jika suasana ruang belajar tidak monoton. Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan. Beberapa hambatan dalam implementasi metode Pembelajaran Berbasis Proyek antara lain: 1. kreasi dan inovasi dari siswa. b. 1. discussion group (pembuatan konsep dan pembagian tugas kelompok). seperti: traditional class (teori). penasehat dan perantara untuk mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan daya imajinasi. Banyak instruktur merasa nyaman dengan kelas tradisional . Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. dan mereka perlu untuk dihargai. terutama bagi instruktur yang kurang atau tidak menguasai teknologi. artinya belajar tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas. produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif. peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan. karena menambah biaya untuk memasuki system baru. 7. peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan. proses evaluasi dijalankan secara kontinyu. situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan Peran instruktur atau guru dalam Pembelajaran Berbasis Proyek sebaiknya sebagai fasilitator.dimana instruktur memegang peran utama di kelas. bahkan saat diskusi dapat dilakukan di taman. Matematika – SMA/MA/SMK | 177 . Pembelajaran Berbasis Proyek memerlukan banyak waktu yang harus disediakan untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek. beberapa contoh perubahan lay-out ruang kelas. Banyaknya peralatan yang harus disediakan. peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan. 4. Atau buatlah suasana belajar menyenangkan. pelatih.3. mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting. circle (presentasi). 2. Keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek: a. Ini merupakan suatu transisi yang sulit. B. 5. 3. 4. sehingga kebutuhan listrik bertambah. 6.

memilih lokasi penelitian yang mudah dijangkau sehingga tidak membutuhkan banyak waktu dan biaya. Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok. f. Pembelajaran Berbasis Proyek ini juga menuntut siswa untuk mengembangkan keterampilan seperti kolaborasi dan refleksi. menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga instruktur dan peserta didik merasa nyaman dalam proses pembelajaran. meminimalis dan menyediakan peralatan yang sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar. sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda. Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber. Pembelajaran Berbasis Proyek Matematika – SMA/MA/SMK | 178 . kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah. Meningkatkan kolaborasi.c. Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek. f. i. Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan. dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan Untuk mengatasi kelemahan dari pembelajaran berbasis proyek di atas seorang pendidik harus dapat mengatasi dengan cara memfasilitasi peserta didik dalam menghadapi masalah. membatasi waktu peserta didik dalam menyelesaikan proyek. Menurut studi penelitian. h. Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki. g. d. g. e. j. Banyaknya peralatan yang harus disediakan. dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas. di mana instruktur memegang peran utama di kelas. 2. Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional. Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata. Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problemproblem yang kompleks. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi. d. b. e. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan. Membutuhkan biaya yang cukup banyak c. Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek: a.

membantu siswa untuk meningkatkan keterampilan sosial mereka. yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project) Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. bukan melupakannya secepat mereka telah lulus tes. 1. Dengan emikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. C. Langkah langkah Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek Penjelasan langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. 1 PENENTUAN PERTANYAAN MENDASAR 2 MENYUSUN PERECANAAN PROYEK 3 MENYUSUN JADUAL 6 EVALUASI PENGALAMAN 5 MENGUJI HASIL 4 MONITORING Diagram 1. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik. Perencanaan berisi tentang aturan main. 2. LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL Langkah langkah pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dijelaskan dengan diagram sebagai berikut. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question) Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial. Ketika anak-anak bersemangat dan antusias tentang apa yang mereka pelajari. dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin. pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial. Antusias peserta didik cenderung untuk mempertahankan apa yang mereka pelajari. sering menyebabkan absensi berkurang dan lebih sedikit masalah disiplin di kelas. serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk Matematika – SMA/MA/SMK | 179 . Siswa juga menjadi lebih percaya diri berbicara dengan kelompok orang. mereka sering mendapatkan lebih banyak terlibat dalam subjek dan kemudian memperluas minat mereka untuk mata pelajaran lainnya. Pelajaran berbasis proyek juga meningkatkan antusiasme untuk belajar. termasuk orang dewasa.

pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap roses. Peran guru dan peserta didik dalam pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran. d. b. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. (2) membuat deadline penyelesaian proyek. Merencanakan dan mendesain pembelajaran Membuat strategi pembelajaran Membayangkan interaksi yang akan terjadi antara guru dan siswa Mencari keunikan siswa Menilai siswa dengan cara transparan dan berbagai macam penilaian Membuat portofolio pekerjaan siswa Matematika – SMA/MA/SMK | 180 . f. (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru. 6.masing peserta didik. 1. sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.membantu penyelesaian proyek. 5. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience) Pada akhir proses pembelajaran. 4. Menguji Hasil (Assess the Outcome) Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar. e. Peran Guru a. Agar mempermudah proses monitoring. Menyusun Jadwal (Create a Schedule) Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project) Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara. 3. berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing. (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek. c.

SISTEM PENILAIAN Penilaian pembelajaran dengan metoda Pembelajaran Berbasis Proyek harus diakukan secara menyeluruh terhadap sikap. 1. b. pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. 2) Relevansi Kesesuaian dengan mata pelajaran. Pengertian Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. kemampuan mengaplikasikan. Peran Peserta Didik a. survey. c. dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik. Matematika – SMA/MA/SMK | 181 . Penilaian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan. e. pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa dalam melaksanakan pembelajaran berbasis proyek. mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. 3) Keaslian Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya. d. Menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir Melakukan riset sederhana Mempelajari ide dan konsep baru Belajar mengatur waktu dengan baik Melakukan kegiatan belajar sendiri/kelompok Mengaplikasikanhasil belajar lewat tindakan Melakukan interaksi sosial (wawancara. kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. pengolahan dan penyajian data. Penilaian Pembelajaran Berbasis Proyek dapat menggunakan teknik penilaian yang dikembangkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu penilaian proyek atau penilaian produk.2. f. observasi. pengumpulan data. g. D. Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan yaitu: 1) Kemampuan pengelolaan Kemampuan peserta didik dalam memilih topik. dll). pengorganisasian. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman. Penilaian Proyek a. dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan.

dan penyiapkan laporan tertulis. seperti penyusunan disain.5) 2 3 Penilaian Proyek dilakukan mulai dari perencanaan . Kuantitas Sumber Data d. 1 : : : : : : : ASPEK PERENCANAAN : a. Penarikan Kesimpulan LAPORAN PROYEK : a. guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. Pelaksanaan penilaian dapat juga menggunakan rating scale dan checklist. analisis data. Keakuratan Sumber Data / Informasi c. pengumpulan data. Sistematika Penulisan b. Teknik Penilaian Proyek Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan. Performans b. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/ instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. proses pengerjaan. Matematika – SMA/MA/SMK | 182 . Rumusan Judul PELAKSANAAN : a. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Persiapan b. Untuk itu. sampai hasil akhir proyek. Untuk itu perlu memperhatikan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai.b. proses pengerjaan sampai dengan akhir proyek. Presentasi / Penguasaan TOTAL SKOR SKOR (1 . Contoh Teknik Penilaian Proyek Mata Pelajaran Nama Proyek Alokasi Waktu Guru Pembimbing Nama NIS Kelas No. Analisis Data e.

alat. plastik. yaitu berdasarkan aspek-aspek produk. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan. dan mengembangkan gagasan. meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan. 3) Tahap penilaian produk (appraisal). Matematika – SMA/MA/SMK | 183 . seperti: makanan. pakaian. Penilaian Produk a. dan logam. menggali. Teknik Penilaian Produk Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik. yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan. lukisan. biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan. biasanya dilakukan pada tahap appraisal. Cara analitik. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu: 1) Tahap persiapan. 2) Tahap pembuatan produk (proses). Pengertian Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. keramik.2. barang-barang terbuat dari kayu. dan teknik. 1) 2) Cara holistik. b. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni. gambar). dan mendesain produk. hasil karya seni (patung.

Diakses di http://digilib. Matematika – SMA/MA/SMK | 184 . Retrieved from http://www. Inovasi TOTAL SKOR Skor ( 1 – 5 )* 3 Catatan : *) Skor diberikan dengan rentang skor 1 sampai dengan 5.pdf (17 Oktober 2011). [Online].org/ Publications/papers.niost.bie.edutopia. (2008). Teknik Pengolahan c. Introduction to Project Based Learning.ac.org/images/uploads/general/20fa7d42c216e2ec171a212e97fd4a9e. L. Barron. keamanan dan kebersihan) Tahap Akhir (Hasil Produk) a. 1 2 Tahapan Tahap Perencanaan Bahan Tahap Proses Pembuatan : a. National Institute on Out-of-School Time. (2000). D. Teaching for meaningful learning: A review of research on inquiry-based and cooperative learning. & Darling-Hammond. K3 (Keselamatan kerja. dengan ketentuan semakin lengkap jawaban dan ketepatan dalam proses pembuatan maka semakin tinggi nilainya.sunan-ampel. Admin. The learning that lies between play and academics in afterschool programs.Contoh Penilaian Produk Mata Ajar : Nama Proyek : Alokasi Waktu : Nama Peserta didik : Kelas/SMT : No. Retrieved from http://www.pdf (18 Oktober 2011). B.. Persiapan alat dan bahan b. Buck Institute for Education.pdf. org/pdfs/edutopia-teaching-for-meaningful-learning. Diakses di http://www. Bentuk fisik b.id/files/disk1/151/hubptain-gdl-ellyikasus-7509-3-babii.Metode Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) [online]. E. Daftar Pustaka Alexander.

Instructional Module Project Based Learning.unige.aspx (18 Oktober 2011) Grant. Retrieved from http://www. 1(1). Diakses tanggal 13 Juli 2010. Project-based learning handbook (2nd ed. Research summary: Project-based learning in middle grades mathematics. Savery. Schneider.nmsa. Journal of Problem-Based Learning. CA: Buck Institute for Education. 3(1). Overview of problem-based learning: Definitions and distinctions. Paper presented at Annual Meeting of the American Educational Research Association. R.).com/education/k-12/articles/90553.org/Research/ResearchSummaries.brighthub. Markham.Daniel K. Matematika – SMA/MA/SMK | 185 . [Online]. The Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning. 2010.aspx. http://www. George . (2006). 2005. The Success of Project Based Learning. Lucas.org/modules/PBL/whatpbl. dihttp://edutechwiki. Diakses Florin. San Diego. Diakses di http://www. [Online]. 9–20.php. T. 12–43. CA. Novato. Suzanne. (2003). J. Understanding projects in projectbased learning: A student’s perspective. (2009. ResearchSummaries/ProjectBasedLearninginMath/tabid/1570/Default. M.(2005). April). Project-based learning.ch/en/Project-based_learning (18 Oktober 2011).edutopia.

Matematika – SMA/MA/SMK | 186 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 187 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 188 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 189 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 190 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 191 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 192 .

2-2 MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) Problem Based Learning (PBL) adalah kurikulum dan proses pembelajaran. A. Masalah diberikan kepada peserta didik. 2) Permasalahan sebagai penjajakan pemahaman Matematika – SMA/MA/SMK | 193 . sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan.. dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah.HO-2. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. dirancang masalah-masalah yang menuntut peserta didik mendapat pengetahuan penting. Konsep/Definisi Definisi: 1) Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah. Ada lima strategi dalam menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) yaitu: 1) Permasalahan sebagai kajian. Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan adanya pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh peserta didik yang diharapkan dapat menambah keterampilan peserta didik dalam pencapaian materi pembelajaran. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kurikulumnya. peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world) 2) Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”.

3) Permasalahan sebagai contoh 4) Permasalahan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses 5) Permasalahan sebagai stimulus aktivitas otentik Peran guru, peserta didik dan masalah dalam pembelajaran berbasis masalah dapat digambarkan sebagai berikut: Guru sebagai pelatih o Asking about thinking (bertanya tentang pemikiran) o memonitor pembelajaran o probbing ( menantang peserta didik untuk berfikir ) o menjaga agar peserta didik terlibat o mengatur dinamika kelompok o menjaga berlangsungnya proses Peserta didik sebagai problem solver o peserta yang aktif o terlibat langsung dalam pembelajaran o membangun pembelajaran Masalah sebagai awal tantangan dan motivasi o menarik untuk dipecahkan o menyediakan kebutuhan yang ada hubungannya dengan pelajaran yang dipelajari

Tujuan dan hasil dari model pembelajaran berbasis masalah ini adalah: 1) Keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah Pembelajaran berbasis masalah ini ditujukan untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. 2) Pemodelan peranan orang dewasa. Bentuk pembelajaran berbasis masalah penting menjembatani gap antara pembelajaran sekolah formal dengan aktivitas mental yang lebih praktis yang dijumpai di luar sekolah. Aktivitas-aktivitas mental di luar sekolah yang dapat dikembangkan adalah : PBL mendorong kerjasama dalam menyelesaikan tugas. PBL memiliki elemen-elemen magang. Hal ini mendorong pengamatan dan dialog dengan yang lain sehingga peserta didik secara bertahap dapat memi peran yang diamati tersebut.  PBL melibatkan peserta didik dalam penyelidikan pilihan sendiri, yang memungkinkan mereka menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun femannya tentang fenomena itu. 3) Belajar Pengarahan Sendiri (self directed learning) Pembelajaran berbasis masalah berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus dapat menentukan sendiri apa yang harus dipelajari, dan dari mana informasi harus diperoleh, di bawah bimbingan guru. Pendekatan PBL mengacu pada hal-hal sebagai berikut : a. Kurikulum : PBL tidak seperti pada kurikulum tradisional, karena memerlukan suatu strategi sasaran di mana proyek sebagai pusat.  

Matematika – SMA/MA/SMK | 194

b. Responsibility : PBL menekankan responsibility dan answerability para peserta didik ke diri dan panutannya. c. Realisme : kegiatan peserta didik difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya. Aktifitas ini mengintegrasikan tugas otentik dan menghasilkan sikap profesional. d. Active-learning : menumbuhkan isu yang berujung pada pertanyaan dan keinginan peserta didik untuk menemukan jawaban yang relevan, sehingga dengan demikian telah terjadi proses pembelajaran yang mandiri. e. Umpan Balik : diskusi, presentasi, dan evaluasi terhadap para peserta didik menghasilkan umpan balik yang berharga. Ini mendorong kearah pembelajaran berdasarkan pengalaman. f. Keterampilan Umum : PBL dikembangkan tidak hanya pada ketrampilan pokok dan pengetahuan saja, tetapi juga mempunyai pengaruh besar pada keterampilan yang mendasar seperti pemecahan masalah, kerja kelompok, dan self-management.

g. Driving Questions : PBL difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan yang memicu peserta didik untuk berbuat menyelesaikan permasalahan dengan konsep, prinsip dan ilmu pengetahuan yang sesuai. h. Constructive Investigations : sebagai titik pusat, proyek harus disesuaikan dengan pengetahuan para peserta didik. i. Autonomy : proyek menjadikan aktifitas peserta didik sangat penting.

B. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil Pembelajaran Kelebihan menggunakan PBL, antara lain; (1) Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik/mahapeserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan; (2) Dalam situasi PBL, peserta didik/mahapeserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan; dan (3) PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik/mahapeserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok. Metoda ini memiliki kecocokan terhadap konsep inovasi pendidikan bidang keteknikan, terutama dalam hal sebagai berikut : 1. peserta didik memperoleh pengetahuan dasar (basic sciences) yang berguna untuk memecahkan masalah bidang keteknikan yang dijumpainya,
Matematika – SMA/MA/SMK | 195

2. peserta didik belajar secara aktif dan mandiri dengan sajian materi terintegrasi dan relevan dengan kenyataan sebenarnya, yang sering disebut student-centered, 3. peserta didik mampu berpikir kritis, dan mengembangkan inisiatif. Berikut adalah beberapa hasil penelitian berkaitan dengan model PBL. 1. Wagiran, dkk, 2010, Pengembangan Pembelajaran Model Problem Based Learning Dengan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer dalam Matadiklat Measuring Bagi Peserta didik SMK (Hibah Bersaing Perguruan Tinggi), 2010: Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Penelitian dirancang dalam tiga tahap dalam kurun waktu 3 tahun. Pada tahun pertama penelitian bertujuan untuk merancang, membuat dan mengembangkan media pembelajaran berbantuan komputer berikut perangkatnya dalam mendukung model pembelajaran PBL-PBK. Pada tahun kedua, penelitian ini bertujuan untuk menerapkan dan menguji model pembelajaran PBL-PBK dalam lingkup luas sekaligus melihat efektivitasnya. Pada tahun ketiga, penelitian ini memfokuskan pada tahap sosialisasi model pembelajaran PBL-PBK dalam lingkup yang lebih luas. Penelitian dirancang menggunakan pendekatan Research and Development Sumber data dalam penelitian ini meliputi kalangan industri permesinan, perumus kebijakan, kepala sekolah, guru, peserta didik, dan ahli pendidikan. Penerapan model direncanakan di 5 SMK dengan metode eksperimen. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kuantitatif yaitu deskriptif, dan komparatif. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah diperolehnya kompetensi Measuring dan diperolehnya media pembelajaran berbantuan komputer dalam mendukung pembelajaran PBL-PBK yang teruji. Hasil evaluasi ahli tentang kualitas media dilihat dari sisi materi menunjukkan skor 3,38 (dalam kategori baik), dari kualitas tampilan menunjukkan skor 3,04 (dalam kategori baik), sedangkan dari sisi pengorganisasian materi penunjukan skornya adalah: konsistensi sebesar 2,92 (cukup baik), format sebesar 3,13 (baik), pengorganisasian sebesar 3,25 (baik), bentuk dan ukuran huruf sebesar 2,63 (cukup baik). Hasil uji kelayakan(ujicoba) kepada peserta didik menunjukkan bahwa kualitas media dilihat dari sisi materi menunjukkan skor 3,28 (dalam kategori baik), dari kualitas tampilan dan daya tarik menunjukkan skor 3,30 (dalam kategori baik), sedangkan dari sisi pengorganisasian materi penunjukan skornya adalah: sebesar 3,22 (baik) Dengan demikian media berbantuan komputer dalam matadiklat measuring layak untuk diterapkan. Media berbantuan komputer yang disusun telah memnuhi aspek kelayakan baik dari segi teoritis maupun dari segi empiris. Tedapat tiga pola implementasi pembelajaran menggunakan media berbantuan komputer yaitu: (a) sebagai media tayamg, (b) sebagai media pendukung praktek, dan (c) sebagai media pembelajaran individual dan interaktif. 2. Dian Mala Sari, Pebriyenni ., Yulfia Nora, 2013, Peningkatan Partisipasi dan Hasil Belajar Peserta didik Kelas IVB dalam Pembelajaran IPS Melalui Model Problem Based Learning di SDN 20 Kurao Pagang, Faculty of Education, Bung Hatta University
Matematika – SMA/MA/SMK | 196

Penelitian ini dilatarbelakangi kurangnya partisipasi peserta didik kelas IVB pada pembelajaran IPS. Yang berdampak terhadap rendahnya hasil belajar peserta didik. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan peningkatan partisipasi dan hasil belajar peserta didik kelas IVB dalam pembelajaran IPS melalui model PBL di SDN 20 Kurao Pagang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan secara partisipan. Subjek penelitian ini peserta didik kelas IVB SDN 20 Kurao Pagang. Instrumen penelitian yang digunakan lembar observasi partisipasi peserta didik, lembar observasi aktivitas guru, tes hasil belajar dan catatan lapangan. Hasil penelitian diketahui bahwa partisipasi dalam menjawab pertanyaan meningkat dari 52,5 % di siklus I menjadi 70%, di siklus II. Partisipasi peserta didik menanggapi jawaban meningkat dari 40% di siklus I menjadi 65% di siklus II, dan partisipasi peserta didik dalam presentasi meningkat dari 27,5% di siklus I menjadi 67,5% di siklus II. Hasil belajar peserta didik siklus I meningkat dari 57,25% menjadi 72,75% di siklus II. Sedangkan persentase ketuntasan belajar yang ditentukan 70%. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa partisipasi dan hasil belajar peserta didik kelas IVB dapat ditingkatkan melalui model PBL dalam pembelajaran IPS di SDN 20 Kurao Pagang. C. Langkah-langkah Operasional Imlementasi dalam Proses Pembelajaran Pembelajaran suatu materi pelajaran dengan menggunakan PBL sebagai basis model dilaksanakan dengan cara mengikuti lima langkah PBL dengan bobot atau kedalaman setiap langkahnya disesuaikan dengan mata pelajaran yang bersangkutan. 1. Konsep Dasar (Basic Concept) Jika dipandang perlu, fasilitator dapat memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik lebih cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan ‘peta’ yang akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran. Lebih jauh, hal ini diperlukan untuk memastikan peserta didik memperoleh kunci utama materi pembelajaran, sehingga tidak ada kemungkinan terlewatkan oleh peserta didik seperti yang dapat terjadi jika peserta didik mempelajari secara mandiri. Konsep yang diberikan tidak perlu detail, diutamakan dalam bentuk garis besar saja, sehingga peserta didik dapat mengembangkannya secara mandiri secara mendalam. 2. Pendefinisian Masalah (Defining the Problem) Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan skenario atau permasalahan dan dalam kelompoknya, peserta didik melakukan berbagai kegiatan. Pertama, brainstorming yang dilaksanakan dengan cara semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat. Setiap anggota kelompok memiliki hak yang sama dalam memberikan dan menyampaikan ide dalam diskusi serta mendokumentasikan secara tertulis pendapat masing-masing dalam kertas kerja. Selain itu, setiap kelompok harus mencari istilah yang kurang dikenal dalam skenario tersebut dan berusaha mendiskusikan maksud dan artinya. Jika ada peserta didik yang
Matematika – SMA/MA/SMK | 197

mengetahui artinya, segera menjelaskan kepada teman yang lain. Jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis dalam permasalahan kelompok. Selanjutnya, jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis sebagai isu dalam permasalahan kelompok. Kedua, melakukan seleksi alternatif untuk memilih pendapat yang lebih fokus. Ketiga, menentukan permasalahan dan melakukan pembagian tugas dalam kelompok untuk mencari referensi penyelesaian dari isu permasalahan yang didapat. Fasilitator memvalidasi pilihan-pilihan yang diambil peserta didik. Jika tujuan yang diinginkan oleh fasilitator belum disinggung oleh peserta didik, fasilitator mengusulkannya dengan memberikan alasannya. Pada akhir langkah peserta didik diharapkan memiliki gambaran yang jelas tentang apa saja yang mereka ketahui, apa saja yang mereka tidak ketahui, dan pengetahuan apa saja yang diperlukan untuk menjembataninya. Untuk memastikan setiap peserta didik mengikuti langkah ini, maka pendefinisian masalah dilakukan dengan mengikuti petunjuk. 3. Pembelajaran Mandiri (Self Learning) Setelah mengetahui tugasnya, masing-masing peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu: (1) agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan (2) informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami. Di luar pertemuan dengan fasilitator, peserta didik bebas untuk mengadakan pertemuan dan melakukan berbagai kegiatan. Dalam pertemuan tersebut peserta didik akan saling bertukar informasi yang telah dikumpulkannya dan pengetahuan yang telah mereka bangun. Peserta didik juga harus mengorganisasi informasi yang didiskusikan, sehingga anggota kelompok lain dapat memahami relevansi terhadap permasalahan yang dihadapi. 4. Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge) Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara peserrta didik berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya. Tiap kelompok menentukan ketua diskusi dan tiap peserta didik menyampaikan hasil pembelajaran mandiri dengan cara mengintegrasikan hasil pembelajaran mandiri untuk mendapatkan kesimpulan kelompok. Langkah selanjutnya presentasi hasil dalam pleno (kelas besar) dengan mengakomodasi masukan dari pleno, menentukan kesimpulan akhir, dan dokumentasi akhir. Untuk memastikan setiap peserta didik mengikuti langkah ini maka dilakukan dengan mengikuti petunjuk.
Matematika – SMA/MA/SMK | 198

5. Penilaian (Assessment) Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan. Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran dalam pembelajaran. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. D. Contoh Penerapan Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu. Kemudian peserta didik diminta mencatat masalah-masalah yang muncul. Setelah itu tugas guru adalah meransang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka. Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar. Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan peserta didik, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar diluar kelas. Peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran. Tahapan-Tahapan Model PBL FASE-FASE Fase 1 Orientasi peserta didik kepada masalah Fase 2 Mengorganisasikan peserta didik Fase 3 Membimbing penyelidikan individu dan kelompok Fase 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya PERILAKU GURU  Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yg dibutuhkan  Memotivasi peserta didik untuk terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang dipilih Membantu peserta didik mendefinisikan danmengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut Mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah Membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, model dan berbagi tugas dengan teman
Matematika – SMA/MA/SMK | 199

Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar peserta didik dapat mengerti dalam pembelajaran yang akan dilakukan. Tujuan utama pengajaran tidak untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru. dan sebagainya. Ada empat hal yang perlu dilakukan dalam proses ini. adanya tutor sebaya. 3. Dalam penggunaan PBL. tetapi lebih kepada belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi peserta didik yang mandiri. Semua peserta didik diberi peluang untuk menyumbang kepada penyelidikan dan menyampaikan ide-ide mereka. Guru sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja Matematika – SMA/MA/SMK | 200 . tahapan ini sangat penting dimana guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh peserta didik dan juga oleh guru. sebuah masalah yang rumit atau kompleks mempunyai banyak penyelesaian dan seringkali bertentangan. Selama tahap penyelidikan (dalam pengajaran ini). peserta didik akan didorong untuk menyatakan ide-idenya secara terbuka dan penuh kebebasan. pembelajaran PBL juga mendorong peserta didik belajar berkolaborasi. Tidak ada ide yang akan ditertawakan oleh guru atau teman sekelas. guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok peserta didik dimana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda.FASE-FASE Fase 5 Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah PERILAKU GURU Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari /meminta kelompok presentasi hasil kerja Fase 1: Mengorientasikan peserta didik pada masalah Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitasaktivitas yang akan dilakukan. Prinsip-prinsip pengelompokan peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen. peserta didik didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi. Guru akan bertindak sebagai pembimbing yang siap membantu. yaitu: 1. Permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai jawaban mutlak “benar“. Selama tahap analisis dan penjelasan. dan 4. Oleh sebab itu. pentingnya interaksi antar anggota. komunikasi yang efektif. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. 2. Fase 2: Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar Disamping mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah. namun peserta didik harus berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan temannya. serta dijelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses pembelajaran.

guru-guru. Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis. Pada tahap ini. tugas-tugas penyelidikan. Selama pengajaran pada fase ini. guru mendorong peserta didik untuk menyampikan semua ide-idenya dan menerima secara penuh ide tersebut. penjelesan. Fase 5: Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah Matematika – SMA/MA/SMK | 201 . dan pemecahan. Tujuannya adalah agar peserta didik mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri. guru harus mendorong peserta didik untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. dan sajian multimedia. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini adalah mengupayakan agar semua peserta didik aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut. Akan lebih baik jika dalam pemeran ini melibatkan peserta didik-peserta didik lainnya. dan ia seharusnya mengajukan pertanyaan pada peserta didik untuk berifikir tentang masalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan. selanjutnya mereka mulai menawarkan penjelasan dalam bentuk hipotesis. Setelah peserta didik mengumpulkan cukup data dan memberikan permasalahan tentang fenomena yang mereka selidiki. dan memberikan pemecahan. Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil karya) dan mempamerkannya Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran. dan lainnya yang dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik. Setelah peserta didik diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar selanjutnya guru dan peserta didik menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik. yakni pengumpulan data dan eksperimen. berhipotesis dan penjelasan. orang tua. Guru juga harus mengajukan pertanyaan yang membuat peserta didik berfikir tentang kelayakan hipotesis dan solusi yang mereka buat serta tentang kualitas informasi yang dikumpulkan.masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda. Fase 3: Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok Penyelidikan adalah inti dari PBL. dan jadwal. namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik. model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya). Guru membantu peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber. program komputer. Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat berfikir peserta didik. namun bisa suatu video tape (menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan).

Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. Pada penilaian kinerja ini. Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap usahausahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar. hardware. Penilaian yang relevan dalam PBL antara lain sebagai berikut: 1. Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment. kecakapan (skill). atau melukis suatu gambar. yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi.Fase ini merupakan tahap akhir dalam PBL. Penilaian portofolio peserta didik. 1. seperti menulis karangan. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill. Self-assessment. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya. Penilaian kinerja peserta didik. baik software. dan kehadiran dalam pembelajaran. Peer-assessment. peserta didik diminta untuk unjuk kerja atau mendemonstrasikan kemampuan melakukan tugas-tugas tertentu. Penilaian portofolio adalah penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam suatu Matematika – SMA/MA/SMK | 202 . Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment. dan sikap (attitude). PR. Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran. Sistem Penilaian Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge). maupun kemampuan perancangan dan pengujian. dokumen. Selama fase ini guru meminta peserta didik untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya E. dan laporan. Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS). memainkan suatu lagu. menginterpretasikan jawaban pada suatu masalah. melakukan suatu eksperimen. Fase ini dimaksudkan untuk membantu peserta didik menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. 2. Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran. kuis. ujian tengah semester (UTS). kemampuan bekerjasama dalam tim. 2.

melihat bagaimana peserta didik menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya. bagaimana mereka menerapkan tahapan Matematika – SMA/MA/SMK | 203 . Tahap evaluasi pada PBM terdiri atas tiga hal : 1. piagam penghargaan. Penilaian kinerja memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan dalam situasi yang sebenarnya. Penilain dengan portofolio dapat dipakai untuk penilaian pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif. penilaian ini antara lain: 1). Penilaian proses dapat digunakan untuk menilai pekerjaan peserta didik tersebut. bagaimana peserta didik dan evaluator menilai produk (hasil akhir) proses 2. pekerjaan hasil tes. Penilaian kolaboratif dalam PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self assesment) dan peer assesment. PBL yang memberi tugas-tugas pemecahan masalah memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan dan mengenali potensi kesiapan belajarnya. maka di samping pengembangan kurikulum juga perlu dikembangkan model pembelajaran yang sesuai tujuan kurikulum yang memungkinkan peserta didik dapat secara aktif mengembangkan kerangka berfikir dalam memecahkan masalah serta kemampuannya untuk bagaimana belajar (learning how to learn). 4. misalnya membandingkan peserta didik dengan temannya. Penilaian usaha kelompok mengurangi kompetisi merugikan yang sering terjadi. Peer assessment adalah penilian dimana peserta didik berdiskusi untuk memberikan penilaian upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang diselesaikan sendiri maupun teman dalam kelompoknya. Sebagian masalah dalam kehidupan nyata bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman dan konteks atau lingkungannya. Dengan kemampuan atau kecakapan tersebut diharapkan peserta didik akan mudah beradaptasi. atau bentuk informasi lain yang terkait kompetensi tertentu dalam suatu mata pelajaran. Menilai usaha kelompok seperti yang dlakukan pada pembelajaran kooperatif dapat dilakukan pada PBL. Penilaian proses bertujuan agar guru dapat melihat bagaimana peserta didik merencanakan pemecahan masalah. Penilaian usaha kelompok. Dasar pemikiran pengembangan strategi pembelajaran tersebut sesuai dengan pandangan kontruktivis yang menekankan kebutuhan peserta didik untuk menyelidiki lingkungannya dan membangun pengetahuan secara pribadi pengetahuan bermakna. Informasi perkembangan peserta didik dapat berupa hasil karya terbaik peserta didik selama proses belajar. 3.assesment kerja. Penilaian potensi belajar. Self assessment adalah penilaian yang dilakukan oleh peserta didik itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai oleh peserta didik itu sendiri dalam belajar. Penilaian yang diarahkan untuk mengukur potensi belajar peserta didik yaitu mengukur kemampuan yang dapat ditingkatkan dengan bantuan guru atau teman-temannya yang lebih maju. Dari informasi perkembangan itu peserta didik dan guru dapat menilai kemajuan belajar yang dicapai dan peserta didik terus berusaha memperbaiki diri. Penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan oleh peserta didik sebagai hasil pekerjaan mereka dan mendiskusikan hasil pekerjaan secara bersama-sama. 2). portofolio. assesment autentik dan 3).periode tertentu.

bagaimana peserta didik akan menyampaikan pengetahuan hasil pemecahan akan masalah atau sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian atau respon-respon mereka dalam berbagai bentuk yang beragam.html. laporan tertulis. Bandung: Tidak diterbitkan Major.M. Sugiyono.rapidintellect. (2007). (1995).udel.. 2001. M. S.coe. and technology [Online]. & Mitchell. Dr. Bandung: Alfabeta Das Salirawati.uga. Problems: A Key Factor in PBL. Ibrahim. F. Problem Based Learning: a Review of The Literature on Outcomes and Implementation Issues. (1993). Evan. Pengajaran Berdasarkan Masalah. (1980). R. (2005). & Tamblyn. misalnya secara lisan atau verbal. Kualitatif dan R&D. et al. Tersedia : http://www. Proposal Hibah Kompetitif UPI 2007. [17 Juni 2005]. New York: Springer Publishing Dahlan. Journal of Academic Medicine Barrows. Tersedia : http://www. S. Surabaya: University Press Karim.htm [14 Juli 2010] Matematika – SMA/MA/SMK | 204 . Problem Based Instruction. Glazer. [21 Juli 2010].H dan Palmer. Sebagian dari evaluasi memfokuskan pada pemecahan masalah oleh peserta didik maupun dengan cara melakukan proses belajar kolaborasi (bekerja bersama pihak lain).com/AE Qweb/mop4spr01. Betsy. M dan Nur. Makalah Duch. 2009.Daftar Pustaka Albanese. Prof.D.edu/epltt/ProblemBasedInstruct. Claire. J.edu/pbl/cte/spr96-phys. (1990). Model-Model Mengajar . (2008). teaching. [Online]. Bandung: Diponegoro.S. In M. Tersedia: http://www.PBM untuk bekerja melalui masalah 3. Penerapan Problem Based Learning Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Peserta Didik Dalam Memecahkan Masalah. H.. atau sebagai suatu bentuk penyajian formal lainnya.htm. Problem Based Learning: an Approach to Medical Education.). Metode Penelitian Kuantitatif. M. Orey (Ed. [Online]. Barbara. Assessing the Effectiveness of Problem-Based Learning in Higher Education: Lessons from the Literature.A. (2001).. Penerapan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Penguasaan konsep Fisika serta Mengembangkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi dan Kecakapan Ilmiah. Emerging perspectives on learning.

Jambi: Gaung Persada Press Matematika – SMA/MA/SMK | 205 . 2006. (1982). Bandung : Lembaga Penelitian IKIP Bandung Yamin. Jambi: Universitas Jambi Sudjana. (2004). Model Pembelajaran Pemecahan Masalah. Belajar Mandiri. USA: Allyn & Bacon Mudjiman. Jodion. Jakarta: Grasindo Proyek DUeLike Universitas Indonesia. Haris. Model Pembelajaran Sains. 2011. (2002). Paradigma Baru Pembelajaran.Melvin L. Kurikulum 2004: Pertanyaan dan Jawaban. Active Learning: 101 Strategies to Teach any Subject. & Silberman. 2010. D. Surakarta: Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS Press) Nurhadi. Depok: UI Siburian. (1996). Panduan Pelaksanaan Collaborative Learning & Problem Based Learning. Martinis.

Matematika – SMA/MA/SMK | 206 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 207 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 208 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 209 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 210 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 211 .

2-3 MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING) A. tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. 1996:41). Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps and principles in the mind (Robert B. sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian. dan hubungan. pengukuran. Discovery terjadi bila indifidu terlibat. Yang menjadikan dasar ide Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas. 2001:219). Penggunaan metode Discovery Learning. Sebagaimana pendapat Bruner. klasifikasi. arti. Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving. ingin merubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. dimana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono. Sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa. Akan tetapi prinsip belajar yang nampak jelas dalam Discovery Learning adalah materi atau bahan pelajaran yang akan disampaikan tidak disampaikan dalam bentuk final akan tetapi siswa sebagai peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorgansasi atau membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir. Sund dalam Malik. Definisi/ Konsep 1. but rather is required to organize it him self” (Lefancois dalam Emetembun. sedangkan Problem Solving lebih memberi tekanan pada kemampuan menyelesaikan masalah. Bruner memakai metode yang disebutnya Discovery Learning. bahwa: “Discovery Learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter in the final form. melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih. prediksi. Definisi Metode Discovery Learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya. pada Discovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented. Sebagai strategi belajar. Discovery dilakukan melalaui observasi. Merubah Matematika – SMA/MA/SMK | 212 .HO-2. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini. 2005:43). Metode Discovery Learning adalah memahami konsep. Perbedaannya dengan discovery ialah bahwa pada discovery masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru. Dengan mengaplikasikan metode Discovery Learning secara berulang-ulang dapat meningkatkan kemampuan penemuan diri individu yang bersangkutan. penentuan dan inferi. terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. 1986:103).

iconic. 3) Karakteristik. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa. 2) Contohcontoh baik yang positif maupun yang negative. Maksudnya. seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Manipulasi bahan pelajaran bertujuan untuk memfasilitasi kemampuan siswa dalam berfikir (merepresentasikan apa yang dipahami) sesuai dengan tingkat perkembangannya. atau lebih sering disebut sistem-sistem coding. seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan sekitarnya. Konsep Dalam Konsep Belajar. artinya. misalnya melalui gigitan. dan siswa dikatakan memahami suatu konsep apabila mengetahui semua unsur dari konsep itu. penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui. baik yang pokok maupun tidak. Lingkungan seperti ini bertujuan agar siswa dalam proses belajar dapat berjalan dengan baik dan lebih kreatif. Untuk memfasilitasi proses belajar yang baik dan kreatif harus berdasarkan pada manipulasi bahan pelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. 4) Rentangan karakteristik. yaitu lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi. dan symbolic. 2005:43). yang dapat memungkinkan terjadinya generalisasi. Seluruh kegiatan mengkategori meliputi mengidentifikasi dan menempatkan contoh-contoh (obyek-obyek atau peristiwaperistiwa) ke dalam kelas dengan menggunakan dasar kriteria tertentu. Lingkungan ini dinamakan Discovery Learning Environment. seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Pembentukan kategori-kategori dan sistem-sistem coding dirumuskan demikian dalam arti relasi-relasi (similaritas & difference) yang terjadi diantara obyek-obyek dan kejadian-kejadian (events). pegangan. Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak simbol. Tahap symbolic. bahwa Discovery adalah pembentukan kategori-kategori. Tahap iconic. Bruner memandang bahwa suatu konsep atau kategorisasi memiliki lima unsur. sentuhan. 2. 5) Kaidah (Budiningsih.modus Ekspository siswa hanya menerima informasi secara keseluruhan dari guru ke modus Discovery siswa menemukan informasi sendiri. meliputi: 1) Nama. semakin dominan sistem simbolnya. Secara Matematika – SMA/MA/SMK | 213 . logika. Untuk menunjang proses belajar perlu lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu siswa pada tahap eksplorasi. dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi). Semakin matang seseorang dalam proses berpikirnya. dan sebagainya. Di dalam proses belajar. matematika. Tahap enaktive. Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh bagaimana cara lingkungan. Bruner menjelaskan bahwa pembentukan konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda yang menuntut proses berfikir yang berbeda pula. dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik. Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa. dan sebagainya. yaitu: enactive. sesungguhnya metode Discovery Learning merupakan pembentukan kategori-kategori atau konsep-konsep. Sebagaimana teori Bruner tentang kategorisasi yang nampak dalam Discovery.

Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. aturan. Kelebihan Penerapan Discovery Learning a. Dan melalui kegiatan tersebut siswa akan menguasainya. ingatan dan transfer. atau ahli matematika. Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian. mengintegrasikan. Dalam metode Discovery Learning bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir. teori. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented. Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep. dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti mereka. bimbingan guru hendaklah lebih berkurang dari pada metode-metode mengajar lainnya. atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya (Budiningsih. Menimbulkan rasa senang pada siswa. Matematika – SMA/MA/SMK | 214 . seorang scientist. 1. Dengan demikian seorang guru dalam aplikasi metode Discovery Learning harus dapat menempatkan siswa pada kesempatan-kesempatan dalam belajar yang lebih mandiri. siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi. 85:2001). Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil Pembelajaran Berdasarkan fakta dan hasil pengamatan. historin. sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan (Sardiman. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini. 2005:145). Hal tersebut memungkinkan murid-murid menemukan arti bagi diri mereka sendiri. Hal ini tak berarti bahwa guru menghentikan untuk memberikan suatu bimbingan setelah problema disajikan kepada pelajar. menerapkan. historin. atau ahli matematika. menganalisis.sederhana teori perkembangan dalam fase enactive. serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya. Kemudian pada fase iconic ia menjelaskan keseimbangan pada gambar atau bagan dan akhirnya ia menggunakan bahasa untuk menjelaskan prinsip keseimbangan ini fase symbolic (Syaodih. B. 2005:41). Tetapi bimbingan yang diberikan tidak hanya dikurangi direktifnya melainkan pelajar diberi responsibilitas yang lebih besar untuk belajar sendiri. membandingkan. Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif. mengkategorikan. Karakteristik yang paling jelas mengenai Discovery sebagai metode mengajar ialah bahwa sesudah tingkat-tingkat inisial (pemulaan) mengajar. seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya. mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulankesimpulan. c. karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil. seorang scientis. iconic dan symbolic adalah anak menjelaskan sesuatu melalui perbuatan (ia bergeser ke depan atau kebelakang di papan mainan untuk menyesuaikan beratnya dengan berat temannya bermain) ini fase enactive. penerapan pendekatan Discovery Learning dalam pembelajaran memiliki kelebhihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan. Hal yang menarik dalam pendapat Bruner yang menyebutkan: hendaknya guru harus memberikan kesempatan muridnya untuk menjadi seorang problem solver. b. Pada akhirnya yang menjadi tujuan dalam metode Discovery Learning menurut Bruner adalah hendaklah guru memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver.

Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang. e. Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan manusia seutuhnya. Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru. 2. n. Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik. q. Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar. Mendorong siswa berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri. h. Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri. Pada beberapa disiplin ilmu. j. c. karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya. Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasangagasan. gaya belajar. i. Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik. Langkah Persiapan Metode Discovery Learning a. Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri. Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu. misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur gagasan yang dikemukakan oleh para siswa f. sedangkan mengembangkan aspek konsep. minat. k. e. m. g. Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama. Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berfikir yang akan ditemukan oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru. karena membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya. r. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal. Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti. dan sebagainya) Matematika – SMA/MA/SMK | 215 . Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa. d.d. Menentukan tujuan pembelajaran b. sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi. o. b. Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. C. akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep. l. Langkah-langkah Operasional Implementasi dalam Proses Pembelajaran Langkah-langkah dalam mengaplikasikan model discovery learning di kelas adalah sebagai berikut: 1. Kelemahan Penerapan Discovery Learning a. Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak. Metode ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya. yang tertulis atau lisan. p. Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri. keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian. Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa. dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi. f. Bagi siswa yang kurang pandai. Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman.

anjuran membaca buku. yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan. membaca literatur. tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa f. ilustrasi. Prosedur Aplikasi Metode Discovery Learning Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning di kelas. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa 2. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. ikonik sampai ke simbolik g. Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis. atau dari tahap enaktif. agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa belajar secara aktif Matematika – SMA/MA/SMK | 216 . kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi. Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah) Setelah dilakukan stimulation langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran. kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah 2004:244). wawancara dengan nara sumber. Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah. ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut: a. dari yang konkret ke abstrak. Data collection (pengumpulan data).c. mengamati objek. Dalam hal ini Bruner memberikan stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh. dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan. Memilih materi pelajaran. dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisa permasasalahan yang mereka hadapi. atau hipotesis. b. 2004:244). melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan) Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya. c. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contohcontoh generalisasi) e. merupakan teknik yang berguna dalam membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks. d. Sedangkan menurut permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. Dengan demikian seorang Guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus kepada siswa agar tujuan mengaktifkan siswa untuk mengeksplorasi dapat tercapai.

Semua informai hasil bacaan. aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. f. teori. 2004:244). dan sebagainya. dan sebagainya. pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek. lalu ditafsirkan.untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi. diklasifikasikan. Verification menurut Bruner. bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep. dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah. ditabulasi. 2002:22). Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang. Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. wawancara. diacak. 2004:244). bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah. apakah terbukti atau tidak. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis e. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi) Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama. Matematika – SMA/MA/SMK | 217 . serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu. semuanya diolah. Data processing (pengolahan data) Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara. dihubungkan dengan hasil data processing (Syah. dengan demikian secara tidak disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki. atau informasi yang ada. Verification (pembuktian) Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif. apakah terjawab atau tidak. d. observasi. Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. observasi.

Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar. Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas. Ada dua bentuk soal tes tertulis. ya-tidak) c. pilihan ganda b. c. sikap. Sedangkan penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif. Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut: a. konstruksi. tes memilih jawaban benar-salah. yaitu:  Soal dengan memilih jawaban a. dan menjodohkan merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah. Matematika – SMA/MA/SMK | 218 . bahasa. memahami. b. sikap. dua pilihan (benar-salah. proses. jawaban singkat c. isian singkat. misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas. dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari. soal uraian Dari berbagai alat penilaian tertulis. maka pelaksanaan penilaian dapat menggunakan contohcontoh format penilaian seperti tersebut di bawah ini. Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat. a. Alat penilaian ini kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas karena tidak menggambarkan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya. misalnya mengemukakan pendapat. Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami. maka peserta didik akan menerka. atau penilaian hasil kerja siswa. dan menyimpulkan. Penilaian Tertulis Penilaian tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. isian atau melengkapi b. menggambar dan lain sebagainya. misalnya kesesuian soal dengan indikator pada kurikulum. maka dalam model pembelajaran discovery learning dapat menggunakan tes tertulis. yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun non tes. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda. materi. Jika bentuk penialainnya berupa penilaian kognitif. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kemampuan. mewarnai. Pilihan ganda mempunyai kelemahan. atau penilaian hasil kerja siswa. 1. berpikir logis. Sistem Penilaian Dalam Model Pembelajaran Discovery Learning. menjodohkan  Soal dengan mensuplai-jawaban.D. misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda.

di mana subyek yang ingin dinilai diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan. 3. Nama Siswa Komitmen Tugas Kerja Sama Ketelitian Minat Jumlah Skor Nilai Matematika – SMA/MA/SMK | 219 . Teknik penilaian diri dapat digunakan dalam berbagai aspek penilaian. Keuntungan penggunaan teknik ini dalam penilaian di kelas antara lain sebagai berikut: a.2. peserta didik dapat diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya sebagai hasil belajar berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Selanjutnya. yang berkaitan dengan kompetensi kognitif. Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. membiasakan. misalnya. status. berkaitan dengan kompetensi kognitif. karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri. misalnya: peserta didik dapat diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dalam mata pelajaran tertentu. karena ketika mereka melakukan penilaian. dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur. karena mereka dituntut untuk jujur dan obyektif dalam melakukan penilaian. Penilaian Sikap Contoh Format Penilaian Sikap Mata Pelajaran: _________ Kelompok : _________ Semester: _________ Kelas : _________ Skor No 1 2 3 4 5 . peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu obyek sikap tertentu. Berkaitan dengan kompetensi afektif. dapat mendorong. dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. . afektif dan psikomotor. Penilaian Diri Penilaian diri (self assessment) adalah suatu teknik penilaian. Dalam proses pembelajaran di kelas. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.. Berkaitan dengan kompetensi psikomotorik. peserta didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. b.. harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya c.

uraian yang dijabarkan kurang rinci dan diperoleh dengan menggunakan sebagian besar indra dengan gambar-gambar atau diagram C: Pengelompokan yang dilakukan siswa cukup baik.4. Jumlah Contoh Format Penilaian Kinerja Tanggal: ……………… Kelas: ……………… Aspek Yang Dinilai 1 Tingkat Kemampuan 2 3 4 Kriteria Penskoran 1. Penilaian Hasil Kerja Siswa Nama Siswa: ……………… Input Tanggal: ……………… Proses Out Put/Hasil Kelas: ……………… Nilai Matematika – SMA/MA/SMK | 220 . 2. 2. uraian yang dijabarkan tidak rinci dan diperoleh dengan menggunakan sebagian kecil indra dengan gambar-gambar atau diagram D: Pengelompokan yang dilakukan siswa kurang baik. 3. uraian yang dijabarkan rinci dan diperoleh dengan menggunakan seluruh indra disertai dengan gambar-gambar atau diagram B: Pengelompokan yang dilakukan siswa baik. Baik Sekali Baik Cukup Kurang 4 3 2 1 Kriteria Penilaian 10 – 12 A 7– 9 B 4–6 C ≤ 3 D A: Pengelompokan yang dilakukan siswa sangat baik. 4. uraian yang dijabarkan kurang sesuai dan diperoleh dengan menggunakan sebagian besar indra dengan gambargambar atau diagram 5. Penilaian Kinerja Nama Siswa: ……………… NO 1.

http://ebookbrowse. M.com/pengertian-model-pembelajaran-discovery-learning-menurutpara-ahli-pdf-d368189396 (23 Mei 2013). http://darussholahjember. UNESA (tidak dipublikasikan). Teori-Teori Belajar. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berorientasi Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guide-Discovery Learning) yang Mengintegrasikan Kegiatan Laboratorium untuk Fisika SLTP Bahan Kajian Pengukuran.. Holiwarni. RW.com/2012/10/definisi-belajar-menurut-para-ahli. 2000. Rizqi.Daftar Pustaka Dahar.com/2011/05/aplikasi-metode-discovery-learning. Lemlit UNRI. 2012. PT Remaja Rosdakarya. 1996.html (23 Mei 2013). Bandung. Penerbit Erlangga. Pekanbaru..blogspot.blogspot. Motivasi Belajar Dan Daya Ingat Siswa.html (23 Mei 2013) Jurnal Geliga Sains 3 (2). 8-13. Tesis. Penerapan Metode Penemuan Terbimbing pada Mata Pelajaran Sains untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN 016 Pekanbaru Kota (Laporan Penelitian). B. Syah. Syamsudini . 1991. 2009 Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Riau ISSN 1978-502X. Jakarta. Aplikasi Metode Discovery Learning Dalam Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah.. dkk. 2008. http://prismabekasi. Matematika – SMA/MA/SMK | 221 . Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru..

Diskusi materi Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar. Matematika – SMA/MA/SMK | 222 .2.Materi Pelatihan 2.3: Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Kegiatan Interaktif Diskusi Kelompok Paparan Materi 15 Menit 50 Menit 20 Menit Kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan bentuk penilaian autentik.3/3. Paparan materi Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.3 Paparan materi Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.

Matematika – SMA/MA/SMK | 223 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 224 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 225 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 226 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 227 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 228 .

mencoba. prestasi. portofolio. pengukuran. aktivitas mengamati dan mencoba. nyata. Karena. menulis. dan sikap-sikap peserta didik pada aktifitas yang relevan dalam pembelajaran. B. suatu metode yang sangat populer untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik yang miliki ciri-ciri khusus. dan pengetahuan. atau evaluasi. Untuk mendapatkan pemahaman cukup komprehentif mengenai arti asesmen autentik. membangun jejaring. Definsi dan Makna Asesmen Autentik Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap. dan sebagainya. Kata lain dari asesmen autentik adalah penilaian kinerja. frasa asesmen autentik dan penilaian autentik sering dipertukarkan. Dalam kehidupan akademik keseharian. memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik. dan penilaian proyek. seperti meneliti. baik dalam rangka mengobservasi. atau reliabel. Dalam American Librabry Association asesmen autentik didefinisikan sebagai proses evaluasi untuk mengukur kinerja. Secara konseptual asesmen autentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar sekali pun.HO-2. khususnya jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai. valid. asesmen autentik sangat relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran. Karenanya. Ketika menerapkan asesmen autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik. Asesmen autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual. Asesmen autentik adakalanya disebut penilaian responsif. guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan. Istilah asesmen merupakan sinonim dari penilaian. berkolaborasi dengan antarsesama melalui debat. merevisi dan membahas artikel. Dalam Newton Public School. pengujian. berikut ini dikemukakan beberapa definisi. Wiggins mendefinisikan asesmen autentik sebagai upaya pemberian tugas kepada peserta didik yang mencerminkan prioritas dan tantangan yang ditemukan dalam aktifitas-aktifitas pembelajaran. mulai dari mereka Matematika – SMA/MA/SMK | 229 . keterampilan. Akan tetapi. tidak lazim digunakan. asesmen semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik. memberikan analisa oral terhadap peristiwa. menalar. Istilah autentik merupakan sinonim dari asli. frasa pengukuran atau pengujian autentik. asesmen autentik diartikan sebagai penilaian atas produk dan kinerja yang berhubungan dengan pengalaman kehidupan nyata peserta didik. dan lain-lain. Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013 Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013.3-1 KONSEP PENILAIAN AUTENTIK A. dan nilai prestasi luar sekolah. motivasi.

yang mengalami kelainan tertentu. pola penilaian seperti ini tidak diantikan dalam proses pembelajaran. keterampilan. pilihan ganda. Asesmen autentik mencoba menggabungkan kegiatan guru mengajar. Dalam asesmen autentik. Pada asesmen autentik guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan. dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah. memilih kegiatan yang strategis. Contoh asesmen autentik antara lain keterampilan kerja. Karena penilaian itu merupakan bagian dari proses pembelajaran. Asesmen autentik dapat juga diterapkan dalam bidang ilmu tertentu seperti seni atau ilmu pengetahuan pada umumnya. kemampuan mengaplikasikan atau menunjukkan perolehan pengetahuan tertentu. dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik. dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar. portofolio. memiliki bakat dan minat khusus. Asesmen Autentik dan Belajar Autentik Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. menjodohkan. serta keterampilan belajar. dan sebagainya. Asesmen autentik harus mampu menggambarkan sikap. hingga yang jenius. seringkali pelibatan siswa sangat penting. guru dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remidial harus dilakukan. Tentu saja. motivasi dan keterlibatan peserta didik. guru secara tim. Asesmen autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunkan standar tes berbasis norma. Asesmen autentik dapat dibuat oleh guru sendiri. Asesmen semacam ini cenderung berfokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual bagi peserta didik. karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek. kegiatan siswa belajar. dengan orientasi utamanya pada proses atau hasil pembelajaran. C. peserta didik dapat melakukan aktivitas belajar lebih baik ketika mereka tahu bagaimana akan dinilai. bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya. kajian keilmuan. atau guru bekerja sama dengan peserta didik. Peserta didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi. serta memamerkan dan menampilkan sesuatu. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang dilakukan oleh peserta didik dikaitkan dengan realitas di luar sekolah atau kehidupan pada umumnya. yang memungkinkan mereka secara nyata menunjukkan kompetensi atau keterampilan yang dimilikinya. Asumsinya. Atas dasar itu. benar–salah. Dalam beberapa kasus. atau membuat jawaban singkat. Asesmen autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik. guru dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja. Matematika – SMA/MA/SMK | 230 . peserta didik bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka lakukan. karena memang lzim digunakan dan memperoleh legitimasi secara akademik. simulasi dan bermain peran.

Di sini. asesmen autentik akan bermakna bagi guru untuk menentukan cara-cara terbaik agar semua siswa dapat mencapai hasil akhir. Tes semacam ini telah gagal memperoleh gambaran yang utuh Matematika – SMA/MA/SMK | 231 . Wiggins (1993) menegaskan bahwa metode penilaian tradisional untuk mengukur prestasi. Mengetahui bagaimana cara membimbing peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan mereka sebelumnya dengan cara mengajukan pertanyaan dan menyediakan sumberdaya memadai bagi peserta didik untuk melakukan akuisisi pengetahuan. dan bertanggungjawab untuk tetap pada tugas. menganalisis. serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia nyata yang luar sekolah. meski dengan satuan waktu yang berbeda. mengorganisasikan. keterampilan. memiliki parameter waktu yang fleksibel. mensintesis. Pertama. Dalam pembelajaran autentik. Menjadi pengasuh proses pembelajaran. dan pengetahuan yang ada. pengukuran langsung keterampilan peserta didik yang berhubungan dengan hasil jangka panjang pendidikan seperti kesuksesan di tempat kerja. Dengan demikian. seperti tes pilihan ganda. Ketiga. pada pembelajaran autentik. Untuk bisa melaksanakan pembelajaran autentik. 4.Asesmen autentik mengharuskan pembelajaran yang autentik pula. Keterlibatan peserta didik dalam melaksanakan tugas sangat bermakna bagi perkembangan pribadi mereka. keteampilan.” Peran guru bukan hanya pada proses pembelajaran. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang diperlukan dalam kenyataannya di luar sekolah. menjodohkan. guru dan peserta didik memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi. Menjadi kreatif tentang bagaimana proses belajar peserta didik dapat diperluas dengan menimba pengalaman dari dunia di luar tembok sekolah. 1. melihat informasi baru. analisis proses yang digunakan untuk menghasilkan respon peserta didik atas perolehan sikap. guru harus memenuhi kriteria tertentu seperti disajikan berikut ini. 2. melainkan juga pada penilaian. Konstruksi sikap. Mengetahui bagaimana menilai kekuatan dan kelemahan peserta didik serta desain pembelajaran. Peserta didik pun tahu apa yang mereka ingin pelajari. guru harus menjadi “guru autentik. benar/salah. dan lain-lain telah gagal mengetahui kinerja peserta didik yang sesungguhnya. Asesmen autentik adalah komponen penting dari reformasi pendidikan sejak tahun 1990an. dan mengasimilasikan pemahaman peserta didik. menjelaskan. peserta didik diminta mengumpulkan informasi dengan pendekatan saintifik. Asesmen autentik pun mendorong peserta didik mengkonstruksi. dan pengetahuan dicapai melalui penyelesaian tugas di mana peserta didik telah memainkan peran aktif dan kreatif. 3. Kedua. dan mengevaluasi informasi untuk kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan baru. menafsirkan. Sejalan dengan deskripsi di atas. Asesmen Autentik terdiri dari berbagai teknik penilaian. penilaian atas tugas-tugas yang memerlukan keterlibatan yang luas dan kinerja yang kompleks. memahahi aneka fenomena atau gejala dan hubungannya satu sama lain secara mendalam.

Dengan menggunakan informasi ini. Beberapa jenis asesmen autentik disajikan berikut ini. misalnya. berkaitan dengan sikap. Data asesmen autentik dapat dianalisis dengan metode kualitatif. seperti menilai kompetisi Olimpiade Sains Nasional. sebagian mahir. pendekatan apa pun yang dipakai dalam penilaian tetap tidak luput dari kelemahan dan kelebihan. Rubrik penilaian dapat berupa analitik atau holistik. dan pengetahuan peserta didik dikaitkan dengan kehidupan nyata mereka di luar sekolah atau masyarakat. Memang. maupun kuantitatif. keterampilan. sekolah. dan tidak mahir). atau proses. misalnya. guru dapat memberikan umpan balik terhadap kinerja peserta didik baik dalam bentuk laporan naratif mauun laporan kelas. mengenai keunggulan dan kelemahan. sudah saatnya guru profesional pada semua satuan pendidikan memandu gerakan memadukan potensi peserta didik. Namun demikian. dan rendah daya prediksinya terhadap derajat sikap. keterampilan. Ada beberapa cara berbeda untuk merekam hasil penilaian berbasis kinerja: Matematika – SMA/MA/SMK | 232 . tidak mampu menggambarkan kompetensi dasar.mengenai sikap. 1. seperti penalaran. keterampilan. Penilaian Kinerja Asesmen autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik. guru harus memahami secara jelas tujuan yang ingin dicapai. Jenis-jenis Asesmen Autentik Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik. guru harus bertanya pada diri sendiri. Analisis holistik memberikan skor keseluruhan kinerja peserta didik. Analisis kualitatif dari asesmen otentif berupa narasi atau deskripsi atas capaian hasil belajar peserta didik. Untuk itu. khususnya berkaitan dengan: (1) sikap. Asesmen hasil belajar yang tradisional bahkan cenderung mereduksi makna kurikulum. dan sebagainya. dan (3) tingkat pengetahuan apa yang akan dinilai. dan lingkungannya melalui asesmen proses dan hasil belajar yang autentik. Data asesmen autentik digunakan untuk berbagai tujuan seperti menentukan kelayakan akuntabilitas implementasi kurikulum dan pembelajaran di kelas tertentu. memori. kuanitatif. motivasi. Analisis kuantitatif dari data asesmen autentik menerapkan rubrik skor atau daftar cek (checklist) untuk menilai tanggapan relatif peserta didik relatif terhadap kriteria dalam kisaran terbatas dari empat atau lebih tingkat kemahiran (misalnya: sangat mahir. Ketika asesmen tradisional cenderung mereduksi makna kurikulum. khususnya dalam proses dan aspek-aspek yangg akan dinilai. (2) fokus penilaian akan dilakukan. karena tidak menyentuh esensi nyata dari proses dan hasil belajar peserta didik. D. ketika itu pula asesmen autentik memperoleh traksi yang cukup kuat. mahir. dan pengetahuan apa yang akan dinilai. dan kemampuan berpikir yang diartikulasikan dalam banyak mata pelajaran atau disiplin ilmu. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya. keterampilan. keberanian berpendapat. dan pengetahuan.

urutan dari kemampuan atau keerampilan peserta didik yang akan diamati. observasi perilaku. 3 = cukup. Skala penilaian (rating scale).a. c. Dari laporan tersebut. berdiskusi. Keempat. Misalnya: 5 = baik sekali. khususnya indikator esensial yang akan diamati. Pengamatan atas kinerja peserta didik perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Kelima. atau pertanyaan pribadi. bercerita. seperti penilaian sikap. Misalnya. Cara seperti tetap ada manfaatnya. 4 = baik. d. Digunakan dengan cara guru menulis laporan narasi tentang apa yang dilakukan oleh masing-masing peserta didik selama melakukan tindakan.  Penilaian ranah sikap. dan wawancara. namun tidak cukup dianjurkan. fokus utama dari kinerja yang akan dinilai. guru dapat mengobservasinya pada konteks yang. Penilaian diri merupakan suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status. Memori atau ingatan (memory approach). Dari sini akan diperoleh keutuhan mengenai keterampilan berbicara dimaksud. misalnya. Penilaian-diri (self assessment) termasuk dalam rumpun penilaian kinerja. Guru menggunakan informasi dari memorinya untuk menentukan apakah peserta didik sudah berhasil atau belum. Pertama. guru dapat menentukan seberapa baik peserta didik memenuhi standar yang ditetapkan. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. peserta didik diminta mengungkapkan curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Matematika – SMA/MA/SMK | 233 . Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records). 2 = kurang. pertanyaan langsung. Ketiga. Penilaian kinerja memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus. seperti berpidato. Digunakan oleh guru dengan cara mengamati peserta didik ketika melakukan sesuatu. ketepatan dan kelengkapan aspek kinerja yang dinilai. 1 = kurang sekali. dengan tanpa membuat catatan. Untuk menilai keterampilan berbahasa peserta didik. Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang harus muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan. dari aspek keterampilan berbicara. b. Untuk mengamati kinerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen. Daftar cek (checklist). langkahlangkah kinerja harus dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja yang nyata untuk suatu atau beberapa jenis kompetensi tertentu. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif. Biasanya digunakan dengan menggunakan skala numerik berikut predikatnya. afektif dan psikomotor. Kedua. kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan oleh peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran.

 Penilaian ranah keterampilan. pengolahan. skala penilaian. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik. Pertama. mencari dan mengumpulkan data. c. dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik. mulai dari perencanaan. peserta didik diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya oleh dirinya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Orijinalitas atas keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik. membiasakan. dan lain-lain. Karena itu. menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. dan penyiapkan laporan. analisis. Selama mengerjakan sebuah proyek pembelajaran. setidaknya ada tiga hal yang memerlukan perhatian khusus dari guru. Dengan demikian. Penilaian proyek berfokus pada perencanaan. analisis data. keterampilan. pengumpulan data. Penilaian proyek dapat menggunakan instrumen daftar cek.  2. pengerjaan. penyelidikan. peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan. pakaian. Ketiga. Penilaian Proyek Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Keterampilan peserta didik dalam memilih topik. dan menulis laporan. pengorganisasian. Dalam kaitan ini serial kegiatan yang harus dilakukan oleh guru meliputi penyusunan rancangan dan instrumen penilaian. pada setiap penilaian proyek. keterampilan. Penilaian produk dimaksud meliputi penilaian atas kemampuan peserta didik menghasilkan produk. Misalnya. mengolah dan menganalisis. Teknik penilaian-diri bermanfaat memiliki beberapa manfaat positif. dan penyajian data. atau narasi. seperti makanan. Keempat. pengumpulan data. mengaplikasikan. a. Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau tertulis. Kedua. menumbuhkan semangat untuk maju secara personal. peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan penilaian khusus. mendorong. dan pengetahuannya. Misalnya. memberi makna atas informasi yang diperoleh. dan produk proyek. Penilaian ranah pengetahuan. b. penilaian proyek bersentuhan dengan aspek pemahaman. hasil karya Matematika – SMA/MA/SMK | 234 . peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan sikap. dan melatih peserta didik berperilaku jujur. Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap. Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan untuk menilai kualitas dan bentuk hasil akhir secara holistik dan analitik.

komposisi musik. lukisan. hasil karya mereka dalam menyusun atau membuat karangan. memerlukan refleksi peserta didik. resensi buku/ literatur. gambar. foto. Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio. Matematika – SMA/MA/SMK | 235 . plastik. baik sendiri maupun kelompok. Misalnya. Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini. hasil tes (bukan nilai). Penilaian Portofolio Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. g. dan pengetahuan yang dituntut oleh topik atau mata pelajaran tertentu. dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi. atau informasi lain yang releban dengan sikap. Penilaian secara analitik merujuk pada semua kriteria yang harus dipenuhi untuk menghasilkan produk tertentu. Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu. Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. puisi. barang-barang terbuat dari kayu. lukisan. Penilaian terutama dilakukan oleh guru. Atas dasar penilaian itu. dan karya logam. sinopsis. a. dan lain-lain). mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran. laporan penelitian. d. meski dapat juga oleh peserta didik sendiri. Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat. Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio. surat. kertas. disertai catatan tanggal pengumpulannya. patung. keterampilan. guru dan/atau peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan pembelajaran. Memalui penilaian portofolio guru akan mengetahui perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik. dan lain-lain. Peserta didik. karet. kulit.seni (gambar. Penilaian secara holistik merujuk pada apresiasi atau kesan secara keseluruhan atas produk yang dihasilkan. guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan. c. e. Jika memungkinkan. Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok. b. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik.Fokus penilaian portofolio adalah kumpulan karya peserta didik secara individu atau kelompok pada satu periode pembelajaran tertentu. keramik. f. 3.

Hal ini sangat tergantung pada bobot soal yang diberikan oleh guru. Penilaian Tertulis Meski konsepsi asesmen autentik muncul dari ketidakpuasan terhadap tes tertulis yang lazim dilaksanakan pada era sebelumnya. Tahapan Pengembangan dan Contoh. mensintesis. Surabaya: UNESA University Press Anggota IKAPI Coutinho. Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat. Asesmen Berkelanjutan: Konsep dasar. (1993). menganalisis. Tes tersulis berbentuk esai biasanya menuntut dua jenis pola jawaban. dan uraian. dan sebab-akibat. rendahnya keterampilan. sehingga mampu menggambarkan ranah sikap. yaitu jawaban terbuka (extendedresponse) atau jawaban terbatas (restricted-response). Pada tes tertulis berbentuk esai. Memilih jawaban dan mensuplai jawaban. & Maxwell. J. Daftar Pustaka Ibrahim.. Teaching Exceptional Children. Muslimin. Masing-masing sisi pandang ini akan melahirkan jawaban berbeda. G. J. peserta didik berkesempatan memberikan jawabannya sendiri yang berbeda dengan teman-temannya. namun tetap terbuka memperoleh nilai yang sama. keterampilan. 177–194. dan pengetahuan peserta didik. atau kelangkaan sumberdaya alam. mengevaluasi.4. namun tetap terbuka memiliki kebenarann yang sama. Mensuplai jawaban terdiri dari isian atau melengkapi. penilaian tertulis atas hasil pembelajaran tetap lazim dilakukan. menjodohkan. Tes tertulis terdiri dari memilih atau mensuplai jawaban dan uraian. M. S. mengorganisasikan. peserta didik tertentu melihat fenomena kemiskinan dari sisi pandang kebiasaan malas bekerja. Performance assessment and children with disabilities: Issues and possibilities. 2005. Memilih jawaban terdiri dari pilihan ganda. pilihan benar-salah. memahami. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehentif. Misalnya. & Malouf. 63–67. Cumming. Matematika – SMA/MA/SMK | 236 . D. jawaban singkat atau pendek. asalkan analisisnya benar. dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari. Tes semacam ini memberi kesempatan pada guru untuk dapat mengukur hasil belajar peserta didik pada tingkatan yang lebih tinggi atau kompleks. (1999). Contextualizing Authentic Assessment. 6(2). 25(4). menerapkan. ya-tidak.. Assessment in Education.

(2006). Hallam.Dantes. & Ysseldyke. context and validity. New York: Houghton Mifflin. Matematika – SMA/MA/SMK | 237 . Assessment: Authenticity.. Grisham-Brown. 23(4).. 28–34. (2004). Standards-based digital portfolios: A component of authentic assessment for preservice teachers. J. L. J. E. Nyoman. Wiggins.. 45–51. S. (2002). & Brookshire. Action in Teacher Education. R. 200 – 214. (1993). G. Hakikat Asesmen Otentik Sebagai Penilaian Proses Dan Produk Dalam Pembelajaran Yang Berbasis Kompetensi (Makalah disampaikan pada In House Training (IHT) SMA N 1 Kuta Utara). Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha Gatlin. Using authentic assessment to evidence children's progress toward early learning standards. Early Childhood Education Journal. J. & Jacob. Salvia. Phi Delta Kappan. Assessment in special and inclusive education (9th ed. 34(1). 75(3).. 2008. R.).

tetapi pendekatan yang digunakan lebih bersifat negatif. melainkan harus mencakup ketiga tingkatan asesmen. Makna yang sebenarnya dari asesmen tidak hanya menyangkut penyedian informasi tentang hasil belajar dalam bentuk nilai. akan tetapi yang terpenting adalah adanya balikan tentang proses belajar yang telah terjadi. Asesmen seringkali dipandang sebagai produk akhir dari suatu proses pembelajaran yang tujuan utamanya untuk memberikan penilaian bagi masing-masing siswa. Walaupun ide ini bukan hal yang baru. Walaupun hal ini tidak sepenuhnya salah. maka siswa akan kehilangan rasa percaya diri. karena tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan yang sudah mereka miliki. penilaian (asesmen) merupakan bagian yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari kegiatan pembelajaran itu sendiri. (iii). Jika pendekatan negatif yang cenderung digunakan. Karena kemampuan berpikir tingkat tinggi lebih sulit untuk diases. Menurut de Lange (dalam Tatang Herman) terdapat lima prinsip utama yang melandasi asesmen dalam pembelajaran. Dengan demikian alat asesmen yang digunakan tentunya tidak hanya mencakup tingkatan tertentu saja. maka seperangkat alat asesmen harus mencakup berbagai variasi yang bisa secara efektif mengungkap kemampuan yang dimiliki siswa. Prinsip ketiga: Asesmen harus bersifat operasional untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Prinsip pertama: Asesmen harus ditujukan untuk meningkatkan kualitas belajar dan pengajaran. Jadi penilaian bukan sekedar untuk menentukan rangking atau skor siswa yang pada akhirnya justru dapat menjadi penghalang bagi peningkatan kualitas belajar. (ii).HO-2. Prinsip kedua: Metode asesmen harus dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa mampu mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui bukan mengungkap apa yang tidak diketahui. Berdasarkan pengalaman asesmen sering diartiakan sebagai upaya untuk mengungkap aspek-aspek yang belum diketahui siswa. Sejatinya tujuan penilaian adalah untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas belajar siswa. menengah dan tinggi. akan tetapi maknanya sering disalahartikan dalam proses belajar mengajar. yaitu: rendah. Pengantar Dalam proses pembelajaran.3-2 CONTOH PENERAPAN PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA A. Matematika – SMA/MA/SMK | 238 . kelima prinsip tersebut adalah sebagai berikut: (i). Tambahan lagi bahwa penilaian bukan akhir dari pembelajaran tapi yang paling utama adalah balikan dari proses belajar yang telah berlangsung.

66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan disebutkan bahwa penilaian hasil peserta didik didasarkan prinsip objektif. Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input). guru segara bisa mengambil langkah yang tepat. Selain itu guru dimungkinkan untuk melihat secara mendalam proses berpikir yang digunakan siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan. dan pengetahuan Matematika – SMA/MA/SMK | 239 . keterampilan. transparan. Sehingga penilaian tidak hanya dilakukan di akhir periode pembelajaran tetapi dilakukan bersama (simultan) dan merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam pembelajaran. Walaupun untuk menyusun alat asesmen dengan tingkatan tinggi lebih sulit. Dengan demikian konstruksi tes dapat disusun dengan format yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan serta pencapaian tujuan yang ingin diungkap. (v). Gambaran perkembangan belajar siswa ini perlu diketahui oleh guru agar bisa menentukan tindakan selanjutnya disamping memastikan bahwa siswa telah mengalami pembelajaran dengan benar. Prinsip keempat: Kualitas alat asesmen tidak ditentukan oleh mudahnya pemberian skor secara objektif. Penilaian autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap. proses dan keluaran (output) pembelajaran b. Prinsip kelima: Alat asesmen hendaknya bersifat praktis. akuntabel dan edukatif. ekonomis. Akibat dari penerapan pandangan ini adalah bahwa suatu alat asesmen hanya terdiri atas sejumlah soal dengan tingkatan rendah yang memudahkan dalam melakukan penskoran. jika ada tanda-tanda siswa mengalami kemacetan dalam belajar. Sementara itu dalam Permendikbud No.(iv). Konsep ini sesungguhnya mempunya core bahwa kemajuan belajar itu diperlukan selama proses pembelajaran. Terkait dengan konsep penilaian autentik. terpadu. diantaranya adalah a. Umumnya pemberian skor secara objektif bagi setiap siswa menjadi faktor yang sangat dominan manakala dilakukan asesmen terhadap kualitas suatu tes. Kaitannya dengan pengertian ada beberapa definisi mengenai penilaian autentik. penilaian adalah proses pengumpulan berbagai informasi yang dapat memberikan gambaran sebenarnya tentang perkembangan belajar siswa. Salah satu keunggulannya siswa memiliki kebebasan untuk mengekspresikan ide-idenya sehingga jawaban yang diberikan mereka biasanya sangat bervariasi. pengalaman menunjukkan bahwa tugas-tugas yang ada didalamnya memiliki banyak keunggulan. Artinya.

Penilaian autentik merupakan proses pengamatan. Dibawah ini adalah gambaran penilaian autentik dibanding penilaian tradisional Penilaian autentik komprehensif Penilaian tradisional Matematika – SMA/MA/SMK | 240 . dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pembelajaran. Penilaian autentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan. membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai.c. pada saat/setelah kegiatan pembelajaran berlangsung. Penilaian autentik adalah penilaian yang dilakukan menggunakan beragam sumber. perekaman dan pendokumentasian karya (apa yang dilakukan anak dan bagaimana hal itu dilakukan) sebagai dasar penentuan keputusan yang dapat menuju pada pembentukan anak sebagai individual learner (pembelajar mandiri). keterampilan dan sikap dengan berbagai cara. d. e. Dari berbagai pendefinisian diatas ada satu benang merah yang mengaitkan ketiganya yaitu penilaian yang mengutamakan perolehan fakta aktual (pada saat itu) tentang pengetahuan.

Ternyata ada dua siswa yang memilih jawaban yang benar (Jawaban: E). penilaian tradisional yang selama ini kita terapkan tidak akan menggambarkan kompetensi atau kualitas belajar siswa. Sebagai contoh. Matematika – SMA/MA/SMK | 241 . dimana kedua siswa terjaring (oleh penilaian tradisional) sebagai berkemampuan sama padahal sejatinya sangat berbeda. namun sebenarnya mereka mengerjakan dengan cara yang sangat berbeda. Terlihat adanya upaya ‘i ola i’ variabel di rua kiri. Kemudian diberikan soal/instrumen untuk menilai sebagai berikut. Dari contoh ter ebut terlihat sangat nyata kelemahan penilaian dengan instrumen pilihan ganda seperti di atas yang tidak melihat proses pengerjaan. kita ingin mengetahui kompetensi siswa dalam belajar (memahami) solusi persamaan linear. SISWA 1 SISWA 2 Jelas bahwa siswa 1 tidak memahami cara menyelesaikan persamaan linear karena dia hanya menerapkan prin ip “a al ama dicoret” ementara siswa 2 amat paham proses penyelesaian per amaan linear. Penilaian autentik dalam matematika Seperti penjelasan terdahulu.B.

jawab singkat. dan keterampilan sebagai berikut. dan uraian. Secara khusus aspek yang akan dimunculkan dalam untuk mengetahui kualitas belajar matematika adalah (1) pemahaman konsep matematika. pengetahuan. Aspek a. Oleh karena itu perlu adanya jabaran mengenai aspek penilaian autentik dalam matematika. Penilaian kompetensi sikap Teknik  Observasi  Penilaian diri  Penilaian antar peserta didik  Jurnal b. isian. penilaian kompetensi pengetahuan  Tes lisan  Penugasan  tes tulis Soal pilihan ganda. Teknik dan instrumen yang digunakan untuk penilaian kompetensi sikap. (3) kemampuan pemecahan masalah dan (4) sikap matematis Teknik dan instrumen dalam penilaian autentik Berbagai macam cara untuk memperoleh informasi kemampuan atau kualitas belajar siswa dalam rangka penilaian autentik. disertai rubric Instrumen Daftar cek/skala penilaian (rating scale) yang Matematika – SMA/MA/SMK | 242 . penilaian kompetensi ketrampilan  praktik  proyek  praktik Daftar cek/skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran. (2) keterampilan matematika. menjodohkan. yaitu pengetahuan. sikap dan keterampilan dari semua bidang.Aspek penilaian autentik Semangat kurikulum sekarang mengamanatkan bahwa kompetensi harus meliputi tiga ranah. benarsalah. Daftar pertanyaan pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas c.

. Pengamatan langsung (observasi) Sesungguhnya pengamatan langsung ini sering kita lakukan dalam kegiatan pembelajaran. karena untuk menentukan nilai dia melakukan pengerjaan: Alfa Trigono Gamma . dst Trigono sering keliru dalam mengalikan dan menjumlah kan pecahan Gamma berpikirnya divergen dan sangat terampil dalam menggunakan jangka. namun dengan dipersiapkan secara nyata akan lebih membantu dalam melakukan pengamatan. walaupun sekedar menyiapkan catatan. Tugas dapat dapat dikaitkan dengan fenomena lingkungan atau bisa juga murni mengenai konsep yang ada di matematika. Tanya jawab Wujud dari tanya jawab ini boleh saja berupa kegiatan presentasi oleh siswa atau tanya jawab secara personal.Berikut ini contoh penilaian autentik: 1. Tugas Gambaran mengenai perkembangan kualitas belajar matematika dapat dilihat dari tugas yang diselesaikan. Oleh karena penilaiannya setelah Matematika – SMA/MA/SMK | 243 . 2. 3. Contoh dari hasil pengamatan kelas didapatkan Nama Siswa Jabar Hasil Pengamatan Jabar tidak begitu menanggapi jika ditanya teman sebangkunya Alfa tidak memahami pencoretan dalam persamaan..

Penilaian autentik hakekatnya adalah menggali informasi sebenarnya Matematika – SMA/MA/SMK | 244 . tes dilakukan setelah proses pembelajaran atau kegiatan selesai. Sayangnya tes seperti biasanya berujung pada penyekoran. Portofolio merupakan sumber data yang sangat baik bagi guru. dan sebagainya. Untuk memberikan ruang bagi penilaian autentik maka pilihan ganda perlu ditambah dengan cara pengerjaan. Penilaian haruslah tertuju pada peningkatan kualitas belajar siswa dan kualitas pembelajaran. Portofolio Bahasa sederhana dari potofolio adalah kumpulan pekerjaan yang telah dilakukan oleh siswa.tugas diselesaikan maka akan sangat bagus jika dikombinasikan dengan teknik lainnya misalnya dengan wawancara. Tes Sesuai dengan penjelasan sebelumnya. 4. Pada kenyataannya. catatan guru. Selain itu portofolio dapat digunakan oleh siswa untuk melihat perkembangan yang terjadi terhadap dirinya dalam kurun waktu tertentu. Oleh karena itu setiap portofolio harus diberi catatan tanggal penyusunannya Untuk menjamin penilaian benar-benar faktual maka perlu adanya kombinasi dari berbagai teknik di atas C. 5. Di dalamnya bisa termasuk tugas. Pragmatis penyekoran sering sebagai pertimbangan. model pilihan ganda yang paling banyak digunakan. hasil tes. Misalnya siswa diminta mengukur tinggi tiang bendera dengan menggunakan identiitas trigonometri. laporan. sehingga cenderung mangabaikan proses. Penutup Kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari proses pembelajaran adalah penilaian.

Jakarta Sudarwan.eduplace. Referensi Kemdikbud.vn diakses 17 Februari 2013 Matematika – SMA/MA/SMK | 245 .html diakses 17 Februari 2013 http://www.com/rdg/res/litass/auth. Tetapi perlu dicatat bahwa penilaian autentik bukan refleksi dari kemampuan yang telah dimiliki melainkan refleksi terhadap kemampuan yang dapat dikembangkan.ntu.. Makalah pada Workshop Kurikulum. Asesmen Otentik.tentang kemampuan siswa dalam belajar. .(_____). Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2013 Tentang Standar Penilaian Pendidikan.edu. Prof. Jurusan Pendidikan Matematika http://www. (2013). (2013). Asesmen dalam Pembelajaran Matematika. Jakarta Tatang Herman.

kecukupan. Simpulan Menyimpulkan hasil diskusi dan menyampaikan format lembar kerja yang telah disiapkan. Diskusi Kelompok Diskusi kelompok hasil penilaian buku dilanjutkan dengan pemaparan materi Analisis Buku Guru dan Buku Siswa dengan menggunakan PPT-2. Matematika – SMA/MA/SMK | 246 .4-1 dan LK -2.4-2. dan KD dengan menggunakan LK-2.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Langkah Kegiatan Inti Menilai Buku Diskusi Kelompok Menyimpulkan Hasil Kerja Kelompok 20 Menit 80 Menit 20 Menit 40 Menit Menyimpulkan Presentasi Kerja Kelompok Diskusi Kelompok 15 Menit 30 Menit 30 Menit 30 Menit Menilai Buku Peserta menilai buku dengan bimbingan fasilitator dilihat dari aspek kesesuaian.Materi Pelatihan : 2. KI. Kerja Kelompok Kerja kelompok menganalisis kesesuaian buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. dan kedalaman materi.4 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.

Simpulan Fasilitatormenyimpulkan materi analisis buku. Presentasi Presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. pendekatan belajar. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. Matematika – SMA/MA/SMK | 247 . Kerja Kelompok Kerja kelompokmembuat contoh-contoh penerapan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari.Diskusi Kelompok Diskusi kelompok untuk menganalisis kesesuaian proses.

Matematika – SMA/MA/SMK | 248 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 249 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 250 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 251 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 252 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 253 .

Panduan Kegiatan 1.4-1 LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU PETUNJUK PENGISIAN LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU Kompetensi 1. tuliskan tindak lanjut hasil analisis sebagai berikut! a. KI. Pelajari format Analisis Buku Sswa! 3.LK–2. Lakukanlah analisis terhadap buku tersebut dengan menggunakan format yang tersedia! 6. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. b. 4. buku bisa digunakan dalam pembelajaran. 2. 3. Tujuan 1. Menganalisis kesesuaian isi buku siswa dengan SKL. 3. KI dan KD. Siapkan SKL. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Menganalisis keterpaduan antar mata pelajaran atau antar konsep/topik. Cermatilah buku siswa yang sesuai dengan materi ajar yang Anda ampu! 5. dan KD. Berdasarkan hasil analisis. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. 2. Jika sesuai dengan kebutuhan. Matematika – SMA/MA/SMK | 254 . Kerjakanlah secara berkelompok! 2. Merencanakan tindak lanjut dari hasil analisis . KI dan KD sesuai jenjang pendidikan dan mata pelajaran! 4. Jika kurang/tidak sesuai. Anda disarankan untuk memberikan rekomendasi tindak lanjut yang harus dikerjakan guru sebagai pengguna buku guru tersebut. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan konsep pendekatan scientificdan penialain autentik.

........... ASPEK YANG DIANALISIS Kesesuaian dengan SKL Kesesuaian dengan KI Kesesuaian dengan KD Kesesuaian dengan Topik Kecukupan materi ditinjau dari: a.... : ...... Kedalaman materi ditinjau dari: a.......................................... Karakteristik siswa 7.............................LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU Judul buku Kelas Jenjang Tema/Topik : ........................ alokasi waktu.... 5... Pola pikir keilmuan.................................................. 4.......... Penerapan Pendekatan Scientific Penilaian Autentik yang Tersedia dalam Buku Siswa TIDAK SESUAI SESUAI SEBAGIAN SESUAI TINDAK LANJUT HASIL ANALISIS 8......................................... : ............................. dan b............................................... 3............. HASIL ANALISIS NO...... 1...................... Matematika – SMA/MA/SMK | 255 ......... 2........ cakupan konsep/materi esensial.. 6................................................. dan b. : .......

Tujuan 1.4-2 LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA PETUNJUK PENGISIAN LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA Kompetensi 1. Panduan Kegiatan 1. Siapkan SKL. Lakukanlah analisis terhadap buku tersebut dengan menggunakan format yang tersedia! 6. Kerjakanlah secara berkelompok! 2.LK–2. Matematika – SMA/MA/SMK | 256 . 3. buku bisa digunakan dalam pembelajaran. Anda disarankan untuk memberikan rekomendasi tindak lanjut yang harus dikerjakan guru sebagai pengguna buku guru tersebut. b. 4. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. 2. KI. KI dan KD sesuai jenjang pendidikan dan mata pelajaran! 4. KI dan KD. Pelajari format Analisis Buku Sswa! 3. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Menganalisis kesesuaian isi buku siswa dengan SKL. 2. Jika kurang/tidak sesuai. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan konsep pendekatan scientificdan penialain autentik. Cermatilah buku siswa yang sesuai dengan materi ajar yang Anda ampu! 5. Berdasarkan hasil analisis. Merencanakan tindak lanjut dari hasil analisis . dan KD. Jika sesuai dengan kebutuhan. Menganalisis keterpaduan antar mata pelajaran atau antar konsep/topik. tuliskan tindak lanjut hasil analisis sebagai berikut! a. 3. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi.

............. HASIL ANALISIS NO... : ..................................... 5... alokasi waktu.... 3............... 4...................................................... Karakteristik siswa 7...................................................... 6... Kedalaman materi ditinjau dari: c.. Matematika – SMA/MA/SMK | 257 ............................ : ........................................... Pola pikir keilmuan........... ASPEK YANG DIANALISIS Kesesuaian dengan SKL Kesesuaian dengan KI Kesesuaian dengan KD Kesesuaian dengan Topik Kecukupan materi ditinjau dari: c....................................................................... Penerapan Pendekatan Scientific Penilaian Autentik yang Tersedia dalam Buku Siswa TIDAK SESUAI SESUAI SEBAGIAN SESUAI TINDAK LANJUT HASIL ANALISIS 8......... cakupan konsep/materi esensial.............. 1............... 2....................LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA Judul buku Kelas Jenjang Tema/Topik : . dan d. : .. dan d..............

tindak lanjut logis dan bisa dilaksanakan Hasil analisis tepat. jumlahkan nilai seluruh komponen sehingga menghasilkan nilai hasil analisis buku guru/siswa. tindak lanjut logis Hasil analisis kurang tepat.R–2. Berikan nilai pada setiap aspek yang dianalisis sesuai dengan penilaian Anda terhadap hasil analisis peserta menggunakan rentang nilai sebagai berikut! PERINGKAT Amat Baik ( AB) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 < A ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 80 < 70 KRITERIA Hasil analisis tepat. tindak lanjut tidak logis 3. tindak lanjut kurang logis Hasil analisis kurang tepat. Setelah selesai penilaian masing-masing komponen. Langkah-langkah penilaian hasil analisis. Matematika – SMA/MA/SMK | 258 .4 RUBRIK PENILAIAN HASIL ANALISIS BUKU GURU DAN SISWA Rubrik penilaian analisis buku guru dan buku siswa digunakan fasilitator untuk menilai hasil analisis peserta terhadap buku guru dan buku siswa sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. 1. Cermati format penilaian analisis buku guru atau buku siswa serta hasil analisis peserta yang akan dinilai! 2.

2. Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Matematika – SMA/MA/SMK | 259 . Penyusunan RPP 3.MATERI PELATIHAN 3 : MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN (8 JP) 3.1.

Menelaah RPP. INDIKATOR 1. PERANGKAT PELATIHAN 1. D. emosional. 5. Penyusunan RPP. 8. Panduan tugas menelaah rancangan penilaian pada RPP. 2. moral. Bahan Tayang a. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. C. Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun. 7. 6. 2.1 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar. Menelaah rancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar yang ada dalam RPP.MATERI PELATIHAN 3: MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN A. Mengidentifikasi rambu-rambu penyusunan RPP. 3. B. c. Menunjukkan sikap tanggung dan kreatif dalam menyusun rancangan penilaian autentik. Standar Proses. maupun intelektual. 9. Menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran. 3. dan merancang penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. Panduan tugas telaah RPP. 2. 2. Menunjukkan sikap tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP. Lembar KerjaTelaah RPP ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 260 . dan pendekatan scientific. sosial. LINGKUP MATERI 1. 4. KI dan KD. b. Mengidentifikasi kaidah perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. kultural. Rambu-rambu Penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3. menyusun RPP yang menerapkan pendekatan scientific sesuai model belajar yang relevan dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik.

Standar Proses.1 dan Panduan Tugas Telaah RPP dengan menggunakan PPT-3. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran. dilanjutkan dengan paparan materi tentang Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3. dan pendekatan scientific (terutama KD di awal semester 1). kompetensi. KI.1. Laptop. 205 Menit 15 menit 10 Menit 40 Menit 80 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 261 . Menyimpulkan hasil penilaian RPP dengan dipandu oleh fasilitator. File. tujuan. antusias.2 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. seperti LCD Projector. atau media pembelajaran lainnya. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 3.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 3. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. Kerja kelompok untuk menyusun RPP yang sesuai dengan SKL.1. teliti.1 Penyusunan RPP Saling menilai RPP yang dibawa setiap peserta. Diskusi rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific. alokasi waktu. dan Laser Pointer. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN 8 JP (@45 MENIT) SMA/MA. dan KD. Active Speaker. indikator. Fasilitator memotivasi peserta agar serius.

2 serta Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP yang tealh dibuat dengan menggunakan PPT-3.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Diskusi dan tanya jawab tentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes termasuk portofolio. Kerja Kelompok untuk menelaah RPP yang disusun kelompok lain dengan menggunakan LK-3.2/3.2. Kerja kelompok untuk menelaah dan merevisi rancangan penilaian autentik pada RPP yang telah disusun berdasarkan panduan tugas menelaah rancangan penilaian Presentasi hasil kerja kelompok (sampel) ICE BREAKER KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran. ICE BREAKER 3.1.1/3. dilanjutkan dengan pemaparan oleh fasilitator tentang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika menggunakan PPT 2. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.2.2.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Kerja kelompok untuk menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika menggunakan HO-2.Diskusi format telaah RPP dengan mengacu pada bahan tayang PPT-3. Fasilitator menutup pembelajaran 20 Menit 35 menit 5 Menit 120 Menit 40 Menit 30 Menit 60 Menit 10 Menit 5 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 262 . Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.2/3.

Peserta menyimpulkan hasil penilaian RPP dengan dipandu oleh Instruktur. Hasil penilaian dituliskan langsung pada halaman depan RPP. b. Hasil penilaian dipresentasikan oleh peserta yang ditunjuk instruktur. Peserta lainnya menyampaikan hasil penilaian yang tidak sama dengan peserta lainnya. c. RPP tersebut dikumpulkan kepada panitia untuk kemudian dibagikan kembali ke peserta untuk dinilai oleh peserta lainnya dengan menggunakan acuan pengetahuan masing-masing peserta. Instruktur mencatat hasil penilaian yang dilaporkan peserta.1: Penyusunan RPP Langkah Kegiatan Inti Tugas Individu: Saling Menilai RPP Menyimpulkan Hasil Penilaian RPP Diskusi 15 Menit 10 Menit 40 Menit Kerja Kelompok Diskusi Kerja Kelompok 35 Menit 20 Menit 80 Menit Aktivitas 1: Menilai RPP Menilai RPP Peserta Lain a. Setiap peserta diwajibkan membawa dua set RPP yang telah digunakan dalam proses pembelajaran sesuai mata pelajaran yang diampu. Matematika – SMA/MA/SMK | 263 .Materi Pelatihan 3. Diskusi rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific.

Paparan materi tentang Rambu-rambu Penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3. Aktivitas 3: Kerja Kelompok Kerja Kelompok untuk menelaah RPP yang disusun kelompok lain dengan menggunakan LK-3. Aktivitas 2: Kerja Kelompok Kerja kelompok untuk menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. Diskusi format telaah RPPdengan mengacu pada bahan tayang PPT-3. KI.2. Standar Proses. dan pendekatan scientific (terutama KD di awal semester 1). Matematika – SMA/MA/SMK | 264 .1.1/3. dan KD.1 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.

Matematika – SMA/MA/SMK | 265 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 266

Matematika – SMA/MA/SMK | 267

Matematika – SMA/MA/SMK | 268

HO-3.1-2

CONTOH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Satuan Pendidikan Kelas/Semester Mata Pelajaran Topik Waktu : SMA : X/2 : Matematika-Wajib : Trigonometri : 2 × 45 menit

A. Kompetensi Inti SMA kelas X: 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia 3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. B. Kompetensi Dasar 2.1 Menunjukkan sikap senang, percaya diri, motivasi internal, sikap kritis, bekerjasama, jujur dan percaya diri dalam menyelesaikan berbagai permasalahan nyata. 2.2 Memiliki sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif 3.17Memahami dan menentukan hubungan perbandingan Trigonometri dari sudut di setiap kuadran, memilih dan menerapkan dalam penyelesaian masalah nyata dan matematika 4.7 Memanfaatkan informasi dari suatu permasalahan nyata, membuat model berupa fungsi dan persamaan Trigonometri serta menggunakannya dalam menyelesaikan masalah. C. Indikator Pencapaian Kompetensi 1. Terlibat aktif dalam pembelajaran trigonometri. 2. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok. 3. Toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
Matematika – SMA/MA/SMK | 269

4. Menjelaskan kembali pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis, ordinat, dan jari-jari pada sumbu koordinat. 5. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I. 6. Terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. D. Tujuan Pembelajaran Dengan kegiatan diskusi dan pembelajaran kelompok dalam pembelajaran trigonometri inii diharapkan siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan bertanggungjawab dalam menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, memberi saran dan kritik, serta dapat 1. Menjelaskan kembali pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis, ordinat, dan jari-jari pada sumbu koordinat kartesius secara tepat, sistematis, dan menggunakan simbol yang benar. 2. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I secara tepat dan kreatif. E. Materi Matematika 1. Mengingat kembali mengenai perbandingan trigonometri, fungsi trigonometri, besar sudut (tumpul dan refleks), dan koordinat kartesian. Dengan domain { : 0o    90o}, fungsi trigonometri didefinisikan lewat perbandingan trigonometri, sbb. sin  = (panjang sisi di depan sudut ) / panjang hipotenusa cos  = (panjang sisi di samping sudut ) / panjang hipotenusa tan  = (panjang sisi di depan sudut ) / (panjang sisi di samping sudut ) sec  = 1/cos  csc  = 1/sin  cot  = 1/tan  Sudut telah didefinisikan sebagai bangun geometri yang dibentuk oleh dua sinar bertitik pangkal sama. Dengan definisi tsb, dikenal beberapa macam sudut berdasarkan besarnya, sbb. sudut nol :  = 0o sudut lancip : 0o    90o sudut siku-siku: :  = 90o sudut tumpul : 90o    180o sudut lurus :  = 180o sudut refleks : 180o    360o

Matematika – SMA/MA/SMK | 270

Bidang datar berdasarkan sistem koordinat kartesian terbagi ke dalam 4 region/daerah: kuadran I, kuadran II, kuadran III, dan kuadran IV. Kuadran I Kuadran II Kuadran III Kuadran IV : : : : absis dan ordinat positif absis negatif, ordinat positif absis dan ordinat negatif absis positif, ordinat negatif
II III I IV

2. Perluasan definisi fungsi trigonometri dari perbandingan sisi-sisi segitiga siku-siku menjadi perbandingan absis, ordinat dan jari-jari. Beberapa pertanyaan penggugah:  Apakah perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku, dapat mendefinisikan fungsi trigonometri untuk sudut 90o?  Apakah perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku, juga dapat mendefinisikan fungsi trigonometri untuk sudut di atas 90o, misalnya kosinus dari 120o?  Dapatkah kita memperluas definisi fungsi trigonometri menggunakan cara lain (yang tidak bertentangan dengan definisi perbandingan trigonomeri pada segitiga siku-siku)? Jika titik sudut ditempatkan pada titik pusat sumbu koordinat kartesian dan salah satu kaki sudut berimpit dengan sumbu x positif, serta daerah interior sudut terletak pada kuadran I maka posisi yang demikian disebut posisi standar (baku) sudut tsb. Pada posisi standar maka perbandingan sisi-sisi pada segitiga siku-siku dapat diganti menjadi perbandingan absis, ordinat dan jari-jari. panjang sisi di depan sudut diganti menjadi ordinat panjang sisi di samping sudut diganti menjadi absis hipotenusa segitiga siku-siku diganti menjadi jari-jari Jadi, sin  = ordinat / jari-jari cos  = absis / jari-jari tan  = ordinat / absis c

b a

P(x,y) r

O
Matematika – SMA/MA/SMK | 271

b c a cos  = c b tan  = a

sin  =

y r x cos  = r y tan  = x

sin  =

3. Hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan nilai fungsi trigonometri di kuadran I. Jika pada posisi standar, salah satu kaki sudut berada di kuadran II maka sudut tsb kita namakan sudut di kuadran II. Pengertian yang sama untuk konsep sudut di kuadran II, dan sudut di kuadran IV.

Berdasarkan definisi fungsi trigonometri berdasarkan absis, ordinat dan jari-jari maka nilai fungsi trigonometri untuk sudut-sudut di kuadran II, II, dan IV sebagai berikut. Misalkan 0o    90o maka Kuadran II (sudut (180o   ) atau (90o +  ) di kuadran II) sin (180o   ) = sin  atau sin (90o +  ) = cos  cos (180o   ) = cos  atau cos (90o +  ) = sin  tan (180o   ) = tan  atau tan (90o +  ) = cot  Kuadran III (sudut (180o +  ) atau (270o   ) di kuadran III) sin (180o +  ) = sin  atau sin (270o   ) = cos  cos (180o +  ) = cos  atau cos (270o   ) = sin  tan (180o +  ) = tan  atau tan (270o   ) = cot  Kuadran IV (sudut (360o   ) di kuadran IV) sin (360o   ) = sin  atau sin (270o +  ) = cos  cos (360o   ) = cos  atau cos (270o +  ) = sin 
Matematika – SMA/MA/SMK | 272

tan (360o   ) = tan 

atau

tan (270o +  ) = cot 

Tampak bahwa  Pada kuadran II hanya nilai sinus yang positif, pada kuadran III hanya nilai tangen yang positif, dan pada kuadran IV hanya nilai kosinus yang positif.  Untuk relasi sudut yang jumlah atau selisihnya merupakan kelipatan 180 o maka jenis fungsi trigonometrinya tidak berubah.  Untuk relasi sudut yang jumlah atau selisihnya merupakan kelipatan 90 o maka jenis fungsi trigonometrinya berbeda saling komplementer. (sinus dengan kosinus, tangen dengan kotangen). F. Model/Metode Pembelajaran Pendekatan pembelajaran adalah pendekatan saintifik (scientific). Pembelajaran koperatif (cooperative learning) menggunakan kelompok diskusi yang berbasis masalah (problem-based learning).

G. Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Pendahuluan Deskripsi Kegiatan Alokasi Waktu

1. Guru memberikan gambaran tentang pentingnya 10 menit memahami Trigonometri dan memberikan gambaran tentang aplikasi Trigonometri dalam kehidupan seharihari. 2. Sebagai apersepsi untuk mendorong rasa ingin tahu dan berpikir kritis, siswa diajak memecahkan masalah mengenai bagaimana mendapatkan nilai sinus sudut 90 o dan nilai sinus sudut di atas 90o, misalnya 120o. (tidak terpecahkan bila menggunakan definisi menggunakan sisi-sisi pada segitiga siku-siku). 3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yaitu memperluas definisi fungsi trigonometri agar nilai fungsi trigonometri dapat diperoleh untuk besar sudut 0o, 90o, sudut tumpul dan sudut refleks. 1. Guru bertanya tentang bagaimana mengaitkan sisi-sisi 70 menit pada segitiga siku-siku dengan koordinat pada sumbu koordinat kartesius. 2. Bila siswa belum mampu menjawabnya, guru memberi scaffolding dengan mengingatkan siswa dengan sudut sebagai besar putaran. 3. Dengan tanya jawab, disimpulkan bahwa pada kuadran I, istilah panjang sisi di depan sudut dapat diganti
Matematika – SMA/MA/SMK | 273

Inti

4.

5.

6. 7.

8.

9.

10. 11.

12.

13. Penutup

ordinat, panjang sisi di samping sudut diganti absis, dan hipotenusa diganti jari-jari. Dengan tanya jawab, siswa diyakinkan bahwa definisi menggunakan absis, ordinat, dan jari-jari ini lebih luas dari pada definisi menggunakan sisi-sisi segitiga sikusiku. Selanjutnya, guru membuka cakrawala penerapan definisi fungsi yang diperluas itu untuk sudut yang sama atau lebih besar dari 90o, yaitu bila salah satu kaki sudut di kuadran II, III, atau IV. Dengan bantuan presentasi komputer, guru mengingatkan pengertian sudut di kuadran II, sudut di kuadran II, dan sudut di kuadran IV. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok dengan tiap kelompok terdiri atas 4 siswa. Tiap kelompok mendapat tugas untuk mendefinisikan fungsi-fungsi trigonometri untuk sudut di kuadran II atau III atau IV atau sudut negatif, serta menentukan hubungannya dengan fungsi trigonometri sudut di kuadran I. Tugas diselesaikan berdasarkan worksheet atau lembar kerja yang dibagikan. Selama siswa bekerja di dalam kelompok, guru memperhatikan dan mendorong semua siswa untuk terlibat diskusi, dan mengarahkan bila ada kelompok yang melenceng jauh pekerjaannya. Salah satu kelompok diskusi (tidak harus yang terbaik) diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas. Sementara kelompok lain, menanggapi dan menyempurnakan apa yang dipresentasikan. Guru mengumpulkan semua hasil diskusi tiap kelompok Dengan tanya jawab, guru mengarahkan semua siswa pada kesimpulan mengenai fungsi trigonometri di berbagai kuadran dan hubungannya dengan fungsi trigonometri di kuadran I, berdasarkan hasil reviu terhadap presentasi salah satu kelompok. Guru memberikan dua (2) soal yang terkait dengan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, atau IV. Dengan tanya jawab, siswa dan guru menyelesaikan kedua soal yang telah diberikan dengan menggunakan strategi yang tepat. Guru memberikan lima (5) soal untuk dikerjakan tiap siswa, dan dikumpulkan.

1. Siswa diminta menyimpulkan tentang bagaimana 10 menit menentukan nilai fungsi trigonometri sudut di berbagai kuadran. 2. Dengan bantuan presentasi komputer, guru menayangkan apa yang telah dipelajari dan disimpulkan mengenai nilai fungsi trigonometri untuk sudut di berbagai kuadran.
Matematika – SMA/MA/SMK | 274

Video tentang lebah I. Menjelaskan kembali Pengamatan dan tes pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis. b. Alat/Media/Sumber Pembelajaran 1. dan menggunakan simbol yang benar. jangkaWorksheet atau lembar kerja (siswa) 2. dan jari-jari pada sumbu koordinat kartesius secara tepat. 2. busur. Sikap Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Pengamatan Waktu Penilaian Selama pembelajaran dan saat diskusi a.3. Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan untuk tetap belajar. Lembar penilaian 4. Terlibat aktif dalam pembelajaran trigonometri. Toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. ordinat. Bahan tayang 3. sistematis. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran Penyelesaian tugas individu dan kelompok Matematika – SMA/MA/SMK | 275 . Teknik Penilaian: pengamatan. c. H. 4. b. Prosedur Penilaian: No 1. Penilaian Hasil Belajar 1. Penggaris. Pengetahuan a. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok. Guru memberikan tugas PR beberapa soal mengenai penerapan nilai fungsi di berbagai kuadran. tes tertulis 2.

hitunglah nilai dari [sin 321o + cos 0. Berapa tinggi gelombang suara Paus tsb untuk t = 120o? 5. Setelah melalui studi yang mendalam. Mula-mula Ari menghadap searah dengan arah jalan. tetapi juga proses pemecahan yang terutama meliputi pemahaman. Terampil menerapkan Pengamatan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran.No Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Waktu Penilaian II. tidak saja memberi skor untuk jawaban akhir. berapa jarak yang ditempuh Ari jika kemudian ia berjalan lurus hingga menyentuh tembok gang? Catatan: Penyekoran bersifat holistik dan komprehensif.tan (2t) + cos t dengan t dalam derajat. III.7. lalu nyatakan pengertian fungsi secan untuk sudut tersebut! 2. 3. gelombang suara dari seekor ikan Paus akhirnya dapat digambarkan dengan suatu pendekatan menggunakan fungsi trigonometri sebagai berikut I(t) = 2. kemudian Ari diputar oleh temannya searah dengan arah perputaran jarum jam sebesar 660o. dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I secara tepat dan kreatif. 4. Pada sebuah permainan. komunikasi matematis Matematika – SMA/MA/SMK | 276 . Tentukanlah nilai dari sin 150o secara eksak (tidak menggunakan desimal) menggunakan sifat relasi sudut pada fungsi trigonometri! 3. Gambarlah pada sebuah sumbu koordinat kartesian sebuah sudut pada kuadran III. Penyelesaian tugas (baik individu maupun kelompok) dan saat diskusi J. Ari ditempatkan tepat di tengah-tengah sebuah gang yang bertembok tepat di tepi kiri dan kanannya.13 (rad)]. Dengan menuliskan langkah-langkah yang jelas. Instrumen Penilaian Hasil belajar Tes tertulis 1. Jika lebar gang adalah 4 meter. Keterampilan a. tan 150 grad dengan menggunakan kalkulator saintifik.

serta ketepatan strategi memecahkan masalah.(ketepatan penggunaan simbol dan istilah). WORKSHEET (untuk tugas kelompok) Matematika – SMA/MA/SMK | 277 . penalaran (logis).

1. Indikator sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. 1. 2. Sangat baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif secara terus menerus dan ajeg/konsisten. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian dalam menyelesaikan tugas kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten Indikator sikap bekerjasama dalam kegiatan kelompok. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok tetapi masih belum ajeg/konsisten. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha ambil bagian dalam pembelajaran tetapi belum ajeg/konsisten 3. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam pembelajaran 2. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif tetapi masuih belum ajeg/konsisten. Sangat baik jika menunjukkan adanya usaha bekerjasama dalam kegiatan kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten. 3. Kurang baik jika sama sekali tidak bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. No Nama Siswa Aktif KB 1 2 3 4 Dhianika Rahma Nur Fadillah Galuh Lalita Mahaghora Muhammad Rasyid Alfaruqi Nur Endah Filaili B SB KB Sikap Bekerjasama B SB KB Toleran B SB Matematika – SMA/MA/SMK | 278 .LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP Mata Pelajaran Kelas/Semester Tahun Pelajaran Waktu Pengamatan : Matematika : X/2 : 2013/2014 : Indikator sikap aktif dalam pembelajaran trigonometri 1. 2. Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan. 3. Kurang baik jika sama sekali tidak berusaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok.

Shikarini Amirul P Arinta Destri Larasati Khanza Adzkia Vujira Joean Akbar Saputra Khansa Sitostra Tufana Arsy A. Aj.5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Zerarita Amalia Ramadhani Febrian Anggoro Widiyanto Rizky Rachmadewi Elvan Saffria Charta R. Bagaskara Adi Pamungkas Bram Yudhistira Hasna Amalia Faza Daniawan Dwi Nurrohman Devi Ristiyanti Nitya Sekar Tresnaningtyas Rafi Ibnu Ramadhan Ivan Akhir Julian Gasik Prawestri Intan Aringtyas Junaidi Muhammad Rafi Nurdiansyah Elvana Novita Candra Danuja Widigdaya Isnaeni Putri Nur Afifah Intan Putri Ristyaningrum Lisa Dewi Afrilita Gea Hanin Nisacita Rizki Kartika Angkasa Yudha Putri Adipertiwi A-Bach Keterangan: KB B SB : Kurang baik : Baik : Sangat baik Matematika – SMA/MA/SMK | 279 .

No Nama Siswa Keterampilan Menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah KT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Dhianika Rahma Nur Fadillah Galuh Lalita Mahaghora Muhammad Rasyid Alfaruqi Nur Endah Filaili Zerarita Amalia Ramadhani Febrian Anggoro Widiyanto Rizky Rachmadewi Elvan Saffria Charta R. Bagaskara Adi Pamungkas T ST Matematika – SMA/MA/SMK | 280 . jika menunjukkan adanya usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran dan sudah tepat. Terampil jika menunjukkan sudah ada usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran tetapi belum tepat. Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan. Shikarini Amirul P Arinta Destri Larasati Khanza Adzkia Vujira Joean Akbar Saputra Khansa Sitostra Tufana Arsy A. Aj.LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN KETERAMPILAN Mata Pelajaran Kelas/Semester Tahun Pelajaran Waktu Pengamatan : Matematika : X/2 : 2013/2014 : Indikator terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. 3. 1. Sangat terampill. Kurang terampil jika sama sekali tidak dapat menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran 2.

15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Bram Yudhistira Hasna Amalia Faza Daniawan Dwi Nurrohman Devi Ristiyanti Nitya Sekar Tresnaningtyas Rafi Ibnu Ramadhan Ivan Akhir Julian Gasik Prawestri Intan Aringtyas Junaidi Muhammad Rafi Nurdiansyah Elvana Novita Candra Danuja Widigdaya Isnaeni Putri Nur Afifah Intan Putri Ristyaningrum Lisa Dewi Afrilita Gea Hanin Nisacita Rizki Kartika Angkasa Yudha Putri Adipertiwi A-Bach Keterangan: KT T ST : Kurang terampil : Terampil : Sangat terampil Matematika – SMA/MA/SMK | 281 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 282 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 283 .

2. B. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Hasil Penelaahan dan Skor 1 Tidak Ada 2 Kurang Lengkap 3 Sudah Lengkap Catatan A 1. 3 ) sesuai dengan kriteria yang tertera pada kolom tersebut! Berikan catatan atau saran untuk perbaikan RPP sesuai penilaian Anda! No. Identitas Mata Pelajaran Satuan pendidikan.KI dan KD. Perumusan Indikator Kesesuaian dengan SKL. Kesesuaian penggunaan kata kerja operasional dengan kompetensi yang diukur.kelas. Kesesuaian dengan aspek sikap. semester. Kesesuaian dengan kompetensi dasar. Pemilihan Materi Ajar Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik.LK . 1. C. D. Perumusan Tujuan Pembelajaran Kesesuaian dengan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai. Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 2. program/program keahlian. dan keterampilan.1/3.2 LEMBAR KERJA PENELAAHAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Identitas RPP yang ditelaah: ………………………………… Berilah tanda cek ( V) pada kolom skor (1.3. Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Matematika – SMA/MA/SMK | 284 . Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 3. mata pelajaran atau tema pelajaran. 1. jumlah pertemuan. pengetahuan. 2. 2. 1.

Model Pembelajaran Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran. 2. 1. Matematika – SMA/MA/SMK | 285 . 3. Skenario Pembelajaran Menampilkan kegiatan pendahuluan. 2. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. Kesesuaian dengan materi pembelajaran dan pendekatan scientific. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Hasil Penelaahan dan Skor 2 3 Catatan 3. Pemilihan Media Belajar Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran. Kesesuaian dengan alokasi waktu. 3. Kesesuaian dengan materi pembelajaran dan pendekatan scientific. F. E. Penilaian Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 3. G. 1. 2. 1. inti.No. Kesesuaian kegiatan dengan pendekatan scientific. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. Pemilihan Sumber Belajar Kesesuaian dengan KI dan KD. 2. 1. dan penutup dengan jelas. I. 4. Kesesuaian penyajian dengan sistematika materi. H. Kesesuaian alokasi waktu dengan cakupan materi. Kesesuaian dengan pendekatan Scientific.

................. Matematika – SMA/MA/SMK | 286 ................... Kesesuaian kunci jawaban dengan soal......... 3.... 4...... Kesesuaian dengan teknik dan bentuk penilaian autentik.................... ....... Kesesuaian dengan dengan indikator pencapaian kompetensi................. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Hasil Penelaahan dan Skor 2 3 Catatan 1............... Komentar terhadap RPP secara umum....................No................... Kesesuaian pedoman penskoran dengan soal......................................... Jumlah 2................................................................................ .............................................................

Cermati format penilaian RPP dan RPP yang akan dinilai! 2.1/3. Berikan nilai setiap komponen RPP dengan cara membubuhkan tanda cek (√) pada kolom pilihan skor (1 ). Setelah selesai penilaian. Berikan catatan khusus atau saran perbaikan setiap komponen RPP jika diperlukan! 4. Selanjutnya nilai RPP dimasukkan ke dalam nilai portofolio peserta.2 RUBRIK PENILAIAN TELAAH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Rubrik penilaian RPP digunakan fasilitator untuk menilai RPP peserta yang digunakan peerteaching.R-3. (2) dan (3) sesuai dengan penilaian Anda terhadap RPP tersebut! 3. Tentukan nilai RPP menggunakan rumus sbb: Skor yang diperoleh PERINGKAT Amat Baik ( AB) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 ≤ A ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 75 < 60 Matematika – SMA/MA/SMK | 287 . Langkah-langkah penilaian RPP sebagai berikut. 1. jumlahkan skor seluruh komponen! 5.

3/3.3/3.2 dan Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP dengan menggunakan PPT-3. Matematika – SMA/MA/SMK | 288 .2 dan Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP dengan menggunakan PPT-3.Materi Pelatihan : 3. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. Fasilitator menutup pembelajaran. Membuat rangkuman materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran. Kerja kelompok untuk merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun. Kerja kelompok untuk menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran yang terdapat dalam HO-2.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.2. Presentasi hasil kerja kelompok. Bahan Tayang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Langkah Kegiatan Inti Diskusi dan Tanya jawab Kerja Kelompok Kerja Kelompok Presentasi Merangkum dan Refleksi 40 Menit 30 Menit 25 Menit 20 Menit 20 Menit Diskusi dan tanya jawab tentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes termasuk portofolio.3/3. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.2-2. dilanjutkan dengan Pemaparan materi oleh fasilitator tentang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2.

Matematika – SMA/MA/SMK | 289 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 290 .

2 Peer Teaching Matematika – SMA/MA/SMK | 291 .MATERI PELATIHAN 4 : PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING (24 JP) 4.1 Simulasi Pembelajaran 4.

7. c. KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN 1. 3. dan melaksanakan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. Melaksanakan peer teaching pembelajaranyang menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik. moral. menalar. 4. kultural. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. mengkaji pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. mengolah. Bahan Tayang a. intelektual. emosional. Menganalisis simulasi pembelajaran melalui tayangan video pembelajaran. Menyimpulkan alur pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik.MATERI PELATIHAN 4: PRAKTEK PEMBELAJARAN TERBIMBING (24 JP) A. maupun. mencoba. kultural. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. menyaji. 2. menanya. maupun. Simulasi Pembelajaran Peer Teaching C. menyaji. sosial. PERANGKAT PELATIHAN 1. Merevisi RPP sehingga menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik untuk kegiatan peer teaching. Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran. intelektual. Panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran. 6. b. mengolah. sosial. Menilai pelaksanaan peer teaching peserta lain. D. emosional. 2. Garis besar instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran. Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching. mencoba. moral. B. menalar. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. 5. 2. LINGKUP MATERI 1. menanya. Matematika – SMA/MA/SMK | 292 . Strategi Pengamatan tayangan video.

Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (Alat Penilaian Kinerja Guru). Analisis pembelajaran pada tayangan video. b. ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 293 . Lembar Kerja a.2. 3.

File. Active Speaker.1. 15 Menit KEGIATAN Pengkondisian Peserta PENDAHULUAN Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama.1 Simulasi Pembelajaran Pemaparan Strategi Pengamatan Video Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT-4.1 oleh fasilitator. Mengkonfirmasi penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik mengacu pada tayangan video pembelajaran Kerja kelompok untuk merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 4. tujuan. semangat. 360 Menit 20 Menit 20 Menit 60 Menit 30 Menit 135 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 294 . Fasilitator memotivasi peserta. KEGIATAN INTI 4. indikator. mengajak berdinamika agar saling mengenal. dan Laser Pointer. alokasi waktu. Laptop.1. serius. PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING 22 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. atau media pembelajaran lainnya. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN WAKTU Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung.1/4. kompetensi. seperti LCD Projector. Kerja kelompok untuk menganalisis tayangan video pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik dengan menggunakan LK -4. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Praktik Pembelajaran Terbimbing. Penayangan video pembelajaran Matematika dengan menggunakan V-2.

ICE BREAKER 4. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Praktik Pembelajaran Terbimbing.Presentasi contoh RPP yang akan digunakan dalam kegiatan peer teaching. Menilai kegiatan peer teaching menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan LK-4. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan. 90 Menit 5 Menit 600 Menit 20 Menit 20 Menit 20 Menit 510 Menit 30 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 295 .2. Refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.2. untuk setiap peserta 30 menit dipandu fasilitator.1 Paparan oleh fasilitator tentang Garis Besar Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan PPT-4.2.4.2 Peer Teaching Paparan oleh fasilitator tentang Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran melalui peer teaching dengan menggunakan PPT. Fasilitator menutup pembelajaran. Persiapan peer teaching.2. Praktik peer teaching pembelajaran Matematika secara individual.

1. Presentasi contoh RPP yang akan digunakan dalam kegiatan peer teaching. Matematika – SMA/MA/SMK | 296 .1 Simulasi Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Paparan Tayangan Video Kerja Kelompok 20 Menit 20 Menit 60 Menit Presentasi Kerja Kelompok Menyimpulkan 90 Menit 135 Menit 30 Menit Pemaparan Strategi Pengamatan Video Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT4.1.1 oleh fasilitator. Kerja kelompok untuk merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran. Penayangan video pembelajaran dengan menggunakan V-2.1/4. Menyimpulkan alur pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik. Kerja kelompok untuk menganalisis tayangan video pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik dengan menggunakan LK 4.Materi Pelatihan : 4.

Matematika – SMA/MA/SMK | 297 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 298 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 299 .

....... Menyajikan materi dalam tema secara sistematis dan gradual (dari yang mudah ke sulit..LK .. Asal Sekolah 3.................................... d... Menguasai kelas dengan baik... Kegiatan Inti Guru menguasai materi yang diajarkan........... dari konkrit ke abstrak) Guru menerapkan strategi pembelajaran yang mendidik. c..... : .. : ..... Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang diintegrasikan secara relevandengan perkembangan Iptek dankehidupan nyata ......... b Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik dalam perjalanan menuju sekolah atau dengan tema sebelumnya.......... d Mengajak peserta didik berdinamika/melakukan sesuatu kegiatan yang terkait dengan materi...............4......... Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual....... Nama Peserta 2... Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai......... b.. : .......... c. Kemampuan menyesuaikan materi dengan tujuan pembelajaran. c Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitan dengan tema yang akan dibelajarkan...... b. Mata Pelajaran 3... Ya Tidak Catatan Matematika – SMA/MA/SMK | 300 .. a Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran. a................. Tema : . a............ Melaksanakan pembelajaran secara runtut...........1 LEMBAR KERJA ANALISIS PEMBELAJARAN DALAM TAYANGAN VIDEO PEMBELAJARAN 1. Aspek yang Diamati Kegiatan Pendahuluan Melakukan apersepsi dan motivasi....

a b c d f Memberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana. Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect). Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. Merespon positif partisipasi peserta didik. c. peserta didik. e. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran. b. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengamati. Mengamati sikap dan perilaku peserta didik dalam mengikuti pelajaran. d. Guru memicu dan/atau memelihara keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif. Menumbuhkan keceriaan dan antusisme peserta didik dalam belajar.Aspek yang Diamati e. b. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar pembelajaran. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengkomunikasikan. Mendokumentasikan hasil pengamatan skap. Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru. Menghasilkan pesan yang menarik. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar pembelajaran. Guru memanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media pembelajaran. sumber belajar. Melakukan penilaian keterampilan peserta didik dalam melakukan aktifitas individu/kelompok. c. perilaku dan keterampilan peserta didik. Memancing peserta didik untuk peserta didik bertanya. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan menganalisis. Ya Tidak Catatan a b c a. a. f. Matematika – SMA/MA/SMK | 301 . e. Guru menerapkan pendekatan scientific. d. Guru melaksanakan penilaian autentik.

b. Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar. c. Ya Tidak Catatan b. atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan. atau kegiatan. Matematika – SMA/MA/SMK | 302 . Penutup Pembelajaran Guru mengakhiri pembelajaran dengan efektif a. Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan. Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai. Aspek yang Diamati Guru menggunakan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar.a. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik.

. kegiatan inti.. Sikapselamamen Menunjukkansikapantusias. dan kegiatan penutup dengan lengkap dan terinci yang disertai contoh kongkret hasil pengamatan. Menunjukkansikapantusias.4. Kriteria Rentangan Nilai 25 . Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal.. dalam Video lengkapdanbenar. bersungguhsungguhdenganpenuh rasa ingintahu danaktifdalamberdiskusi.R .24 15 .30 21 . dan kegiatan penutup dengan lengkap namun kurang terinci. (15-30) Mendeskripsikansetiap item padalembarkerjaanalisis proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar yang disajikandalamtayangan video denganjelas. Mendeskripsikansetiap item padalembarkerjaanalisis Lembarkerjaanali proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar sispembelajaran yang disajikandalamtayangan video denganjelas. Hanyamenandaisetiap item padalembarkerjaanalisis proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar yang disajikandalamtayangan video. Menunjukkansikapantusias. teliti.1 RUBRIK PENILAIAN HASIL ANALISIS PEMBELAJARAN PADA TAYANGAN VIDEO NAMA PESERTA DIKLAT KELAS/ TANGGAL PENILAIAN Aspek Pengamatan Video (15-30) :………………………………………………………….15 8 .25 Matematika – SMA/MA/SMK | 303 . Komentardan Simpulan (10-25) Memberikankomentar yang faktual dan terstruktur sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran yang terdiri dari pengalaman yang dapat diambil dari tayangan video dan kesimpulan.30 Nilai Peserta Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal. dan kegiatan penutup namun tidaklengkap. kegiatan inti. bersungguhgamati sungguhdenganpenuh rasa ingintahu yang (5-15) disertaidenganpolaberpikiranalitikdalammengamatida nberdiskusi.20 12 . 21 . teliti.20 25 . teliti. :…………………………………………………………. kegiatan inti.24 15 .11 5-7 21 . :…………………………………………………………. bersungguhsungguhdenganpenuh rasa ingintahu saja. Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal.

...... Rentangan Nilai Nilai Peserta 16 -20 10 -15 100 JUMLAH ………………............ 2013 Fasilitator...... (........) Matematika – SMA/MA/SMK | 304 ........…………….... ………...Aspek Kriteria Memberikan komentar yang faktual dan terstruktur sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran yang terdiri dari pengalaman yang dapat diambil daritayangan video. Memberikan komentar sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran........

Menilai kegiatan peer teachingoleh fasilitator dengan menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran LK-4.4. Refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching.2 Peer Teaching Langkah Kegiatan Inti Paparan Panduan Paparan Instrumen Penilaian Persiapan Peer Teaching 20 Menit 20 Menit 20 Menit Refleksi Praktik Peer Teaching 30 Menit 510 Menit Paparan oleh fasilitator tentang Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran melalui peer teaching dengan menggunakan PPT. Persiapan peer teaching. Paparan oleh fasilitator tentang Garis Besar Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan PPT-4. untuk setiap peserta 30 menit dipandu fasilitator.Materi Pelatihan : 4. Matematika – SMA/MA/SMK | 305 .2-1.2.2-2. Praktik peer teaching pembelajaran secara individual.

Matematika – SMA/MA/SMK | 306 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 307 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 308 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 309 .

Menyajikan materi secara sistematis (mudah ke sulit......... elaborasi dan konfirmasi............ dan melakukan observasi. perkembangan iptek . Penyampaian Kompetensi dan Rencana Kegiatan 1 Menyampaikan kemampuan yang akan dicapai peserta didik... 3 Menyampaikan manfaat materi pembelajaran........ individual............. Topik : .............. : ..LK ............. Asal Sekolah 3..4......... Kegiatan Inti Penguasaan Materi Pelajaran 1 2 3 4 Kemampuan menyesuiakan materi dengan tujuan pembelajaran...... 3 4 Melaksanakan pembelajaran secara runtut.. Menguasai kelas........ kerja kelompok..... : ..2 LEMBAR KERJA INSTRUMEN PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 1. Menyajikan pembahasan materi pembelajaran dengan tepat.. 4 Mendemonstrasikan sesuatu yang terkait dengan materi pembelajaran..... Ya Tidak Catatan Aspek yang Diamati Kegiatan Pendahuluan Apersepsi dan Motivasi 1 Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik atau pembelajaran sebelumnya... Nama Peserta 2.............. Matematika – SMA/MA/SMK | 310 .... dari konkrit ke abstrak) Penerapan Strategi Pembelajaran yang Mendidik 1 Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.. dan kehidupan nyata.... Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan.. 2 Menfasilitasi kegiatan yang memuat komponen eksplorasi. 2 Mengajukan pertanyaan menantang.............. 2 Menyampaikan rencana kegiatan misalnya...........

Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran. peserta didik. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk berkomunikasi. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media pembelajaran. Ya Tidak Catatan Penerapan Pendekatan scientific 1 2 3 4 5 6 7 Pemanfaatan Sumber Belajar/Media dalam Pembelajaran 1 2 3 4 5 Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar pembelajaran. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik. Pelibatan Peserta Didik dalam Pembelajaran 1 2 3 4 5 Penggunaan Bahasa yang Benar dan Tepat dalam Pembelajaran 1 2 Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar. Memancing peserta didik untuk bertanya. Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru. Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar. Merespon positif partisipasi peserta didik. Menumbuhkan keceriaan atau antuisme peserta didik dalam belajar. sumber belajar. Memberikan pertanyaan peserta didik untuk menalar (proses berfikir yang logis dan sistematis). Menghasilkan pesan yang menarik. Memfasilitasi peserta didik untuk mencoba. Kegiatan Penutup Penutup pembelajaran Matematika – SMA/MA/SMK | 311 .Aspek yang Diamati 5 Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual. Memfasilitasi peserta didik untuk mengamati. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar pembelajaran. Memfasilitasi peserta didik untuk menganalisis. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif. Memberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana. 6 7 Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect).

Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan kegiatan berikutnya dan tugas pengayaan.Aspek yang Diamati 1 2 3 4 Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik. Jumlah Ya Tidak Catatan Matematika – SMA/MA/SMK | 312 . Mengumpulkan hasil kerja sebagai bahan portofolio. Memberikan tes lisan atau tulisan .

2. Selanjutnya nilai PeerTeaching dimasukkan ke dalam nilai portofolio peserta.2 RUBRIK PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Rubrik Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran ini digunakan fasilitator untuk menilai kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran pada saat Peer Teaching. 3.R . 4.4. Berikan tanda cek (√) pada kolom pilihan YA atau TIDAK sesuai dengan penilaian Anda terhadap penyajian guru pada saat pelaksanaan pembelajaran! Berikan catatan khusus atau saran perbaikan pelaksanaan pembelajaran! Hitung jumlah nilai YA dan TIDAK ! Tentukan Nilai menggunakan rumus berikut ini! PERINGKAT Amat Baik ( A) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 < AB ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 75 < 60 Matematika – SMA/MA/SMK | 313 . Langkah Kegiatan 1.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->