SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

MATERI PELATIHAN GURU
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 SMA

MATEMATIKA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2013
Pendahuluan | i

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

Diterbitkan oleh: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2013

Copyright © 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pendahuluan | ii

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt, Kurikulum 2013 secara terbatas mulai dilaksanakan tahun 2013 pada sekolah-sekolah yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan secara selektif. Kurikulum 2013 merupakan pengembangan dari kurikulum sebelumnya untuk merespon berbagai tantangan tantangan internal dan eksternal. Titik tekan pengembangan Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan. Pengembangan kurikulum menjadi amat penting sejalan dengan kontinuitas kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya serta perubahan masyarakat pada tataran lokal, nasional, regional, dan global di masa depan. Aneka kemajuan dan perubahan itu melahirkan tantangan internal dan eksternal yang di bidang pendidikan pendidikan. Karena itu, implementasi Kurikulum 2013 merupakan langkah strategis dalam menghadapi globalisasi dan tuntutan masyarakat Indonesia masa depan. Pengembangan Kurikulum 2013 dilaksanakan atas dasar beberapa prinsip utama. Pertama, standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan. Kedua, standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran. Ketiga, semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Keempat, mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai. Kelima, semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti. Keenam, keselarasan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian. Aplikasi yang taat asas dari prinsip-prinsip ini menjadi sangat esensial dalam mewujudkan keberhasilan implementasi Kurikulum 2013.

Mudah-mudahan implementasi Kurikulum 2013 ini bisa berjalan dengan baik. Akhirnya, kepada semua pihak yang telah mendedikasikan dirinya dalam mempersiapkan Kurikulum 2013, saya mengucaplkan banyak terima kasih. Semoga bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa Indonesia.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Muhammad Nuh

Pendahuluan | iii

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya Modul Bahan Ajar Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Modul bahan ajar ini merupakan bahan ajar wajib dalam rangka pelatihan calon instruktur, guru inti, dan guru untuk memahami Kurikulum 2013 dan kemudian dalam proses pembelajaran di sekolah. Kurikulum 2013 ini diberlakukan secara bertahap mulai tahun ajaran 2013-2014 melalui pelaksanaan terbatas, khususnya bagi sekolah-sekolah yang sudah siap melaksanakannya. Pada Tahun Ajaran 2013/2014, Kurikulum 2013 dilaksanakan secara terbatas untuk Kelas I dan IV Sekolah Dasar/Madrasah Ibtida’iyah (SD/MI), Kelas VII Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Kelas X Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah (SMA/SMK/MA/MAK). Pada Tahun Ajaran 2015/2016 diharapkan Kurikulum 2013 telah dilaksanakan di seluruh kelas I sampai dengan Kelas XII. Menjelang implementasi Kurikulum 2013, penyiapan tenaga guru dan tenaga kependidikan lainnya sebagai pelaksana kurikulum di lapangan perlu dilakukan. Sehubungan dengan itu, Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP), telah menyiapkan strategi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas. Pada tahun 2013 pelatihan akan dilakukan bagi pengawas SD/SMP/SMA/SMK, kepala sekolah SD/SMP/SMA/SMK, dan guru Kelas I dan IV SD, guru Kelas VII SMP untuk 9 mata pelajaran, dan guru Kelas X SMA/SMK untuk 3 mata pelajaran. Guna menjamin kualitas pelatihan tersebut, maka BPSDMPK dan PMP telah menyiapkan 14 Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, sesuai dengan kelas, mata pelajaran, dan jenjang pendidikan. Modul ini diharapkan dapat membantu semua pihak menjalankan tugas dalam Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Saya mengucpkan terima kasih dan penghargaan atas partisipasi aktif kepada pejabat dan staf di jajaran BPSDMPK dan PMP, dosen perguruan tinggi, konsultan, widyaiswara, pengawas, kepala sekolah, dan guru yang terlibat di dalam penyusunan modul-modul tersebut di atas.

Jakarta, Juni 2013 Kepala Badan PSDMPK-PMP

Syawal Gultom NIP. 19620203 198703 1 002

Pendahuluan | iv

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

DAFTAR ISI

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAGIAN I PENDAHULUAN A. Tujuan Umum Pelatihan B. Indikator Umum Ketercapaian Tujuan C. Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai D. Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan E. Tahapan, Nara Sumber, dan Peserta Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, untuk Guru, Kepala Sekolah, F. dan Pengawas G. Penilaian H. Panduan Narasumber dan Fasilitator I. Kode Etik Narasumber J. Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013

iii iv v 1 2 2 3 3 3 5 6 6 7 8 10 11 13 15 19 25 29 32 33 34 34 34 34 35 59 60 60 60 61 62 64 93 105

Sistematika Modul BAGIAN II SILABUS PELATIHAN A. Silabus Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset B. Silabus Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013 C. Silabus Materi Pelatihan 2: Analisis Materi Ajar D. Silabus Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran E. Silabus Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing BAGIAN III MATERI PELATIHAN MATERI PELATIHAN 0: PERUBAHAN MINDSET A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D Perangkat pelatihan Skenario kegiatan Bahan tayang MATERI PELATIHAN 1 : KONSEP KURIKULUM 2013 A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 1.1 Rasional Kurikulum 1.2 Elemen Perubahan Kurikulum 1.3 SKL, KI, dan KD
K.

Pendahuluan | v

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

1.4 Strategi Implementasi Kurikulum MATERI PELATIHAN 2 : ANALISIS MATERI AJAR A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 2.1 Konsep Pendekatan Scientific 2.2 Model Pembelajaran 2.3 Konsep Penilaian Autentik pada Pembelajaran 2.4 Analisis Buku Guru dan Siswa MATERI PELATIHAN 3 : MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 3.1 Penyusunan RPP 3.2 Perancangan Penilaian Autentik MATERI PELATIHAN 4 : PRAKTEK PEMBELAJARAN TERBIMBING A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Kompetensi Peserta Pelatihan D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 4.1 Simulasi Pembelajaran 4.2 Peer Teaching

127 131 132 132 132 133 134 137 171 222 246 259 260 260 260 260 261 263 280 291 292 292 292 292 294 295 304

Pendahuluan | vi

1 Penyusunan RPP 1.2 Elemen Perubahan 1.1 Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu 2. Tujuan Umum Pelatihan Indikator Umum KetercapaianTujuan Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan Tahapan. C.3 SKL.2 Konsep Pendekatan Scientific 2.3 Model Pembelajaran 2. E. dan Peserta Pelatihan Struktur Pelatihan Penilaian Panduan Narasumber dan Fasilitator Kode Etik Narasumber Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Sistematika Materi Pelatihan Silabus Perubahan Mindset Silabus Konsep Kurikulum 2013 Silabus Analisis Materi Ajar Silabus Model Rancangan Pembelajaran Silabus Praktik Pembelajaran Terbimbing BAGIAN 2: SILABUS A. I.1 Rasional 1. A. Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran 1. D. F. Narasumber.4 Strategi Implementasi C. Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing 4. Program Pendampingan BAGIAN 3: MATERI PELATIHAN Pendahuluan | vii .2 Peer Teaching F.5 Analisis Buku Guru dan Buku SIswa D. B. C. J.4 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar 2. Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset B. Materi Pelatihan 2: Analisis Materi Ajar 2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 GAMBARAN STRUKTUR MATERI PELATIHAN GURU IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGIAN 1: PENDAHULUAN A. KI.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar E. D. K. KD 1. Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013 1. H. G. E.1 Simulasi Pembelajaran 4. B.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN I PENDAHULUAN Matematika – SMA/MA/SMK | 1 .

isi. 3. (2) Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. VII. mata pelajaran dan jenjang pendidikan. isi. Bahan/Materi Pelatihan yang dimaksud meliputi hand-out. (4) Panduan Penilaian. 2. proses pembelajaran. A. bahan tayang baik dalam bentuk slide power point maupun rekaman video. X mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan. dan penilaian Kurikulum 2013. Modul ini memberi panduan bagi para pengguna mengenai (1) Tahapan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Tujuh puluh persen (70%) guru kelas I. dan Pengawas Sekolah Inti. sumber daya manusia. 2. IV. 3. sarana. Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013 mendapatkan bantuan secara benar dari pengawas sekolah selama implementasi Kurikulum 2013. Kepala Sekolah Inti. Narasumber yang dimaksudkan adalah Narasumber Nasional.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN I PENDAHULUAN Modul Pelatihan ini disiapkan untuk digunakan para Narasumber Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 sesuai dengan kelas. sasaran pelatihan. Matematika – SMA/MA/SMK | 2 . 1. dan kebijakan sekolah. menunjukkan di bawah ini. Instruktur Nasional. 1. B. Tujuan Umum Pelatihan Tujuan Umum Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 adalah sebagai berikut. (5) Bahan/Materi Pelatihan untuk masing-masing Mata Pelatihan. Indikator Umum Ketercapaian Tujuan Hasil monitoring dan evaluasi implementasi Kurikulum 2013 pada akhir Tahun Ajaran 2013/2014. Guru mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan. dan penilaian Kurikulum 2013. Sesuai dengan Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. dan struktur pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 untuk tahun kalender 2013. Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013 tidak mengalami hambatan biaya. Guru Inti. Pengawas sekolah mampu memberikan bantuan teknis secara benar kepada sekolah dalam mengatasi hambatan selama implementasi Kurikulum 2013. (3) Panduan Narasumber. Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP) telah menetapkan jenjang atau tahapan pelatihan. lembar kerja/worksheet. proses pembelajaran. Kepala sekolah mampu mengerahkan sumber daya yang dimiliki dalam rangka menjamin keterlaksanaan implementasi Kurikulum 2013.

KI. Memiliki keterampilan melaksanakan penilaian autentik dengan benar. Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan pendekatan Scientific secara benar. 6. KD untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. 3. Memiliki pemahaman yang mendalam tentang Kurikulum 2013 (rasional. 1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 C. 5. 2. dan Buku Siswa. SKL. Project Based Learning. dan santun. Analisis SKL. benar. Narasumber. selama 1 semester. kepala sekolah. maka pelatihan ini menerapkan strategi pelatihan bertahap atau berjenjang. Mengingat jumlah sasaran akhir pelatihan sangat besar dan sebaran sasaran akhir pelatihan sangat luas. 4. 9. Contoh RPP untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. Tahapan. 4. dan Discovery Learning. selama 1 semester. Tahapan atau Matematika – SMA/MA/SMK | 3 . guru. Memiliki keterampilan menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP) dengan mengacu pada Kurikulum 2013. Memiliki keterampilan berkomunikasi lisan dan tulis dengan runtut. KI dan KD. dan pengawas sekolah mampu mewujudkan hasil kerja secara kolektif berikut ini. selama 1 semester. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013. 8. dan Peserta Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Sasaran akhir dari pelatihan ini adalah guru. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013. Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai Berdasarkan Indikator Ketercapaian Tujuan. selama 1 semester. Analisis buku siswa dan buku guru untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. maka berikut ini kompetensi inti yang harus dicapai peserta setelah mengikuti pelatihan. Buku Guru. 1. 7. E. D. 3. 2. Kompetensi Inti (KI). elemen perubahan. Kompetensi Dasar (KD). Contoh instrumen penilaian untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. kepala sekolah dan pengawas. Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan Setelah selesai mengikuti pelatihan. serta strategi implementasi). Memiliki keterampilan menganalisis keterkaitan antara Standar Kompetensi Kelulusan (SKL).

Matematika – SMA/MA/SMK | 4 . Narasumber: Narasumber Nasional PELATIHAN INSTRUKTUR NASIONAL Peserta: Instruktur Nasional Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN GURU INTI Peserta: Guru Inti Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN KEPALA SEKOLAH INTI Peserta: Kepala Sekolah Inti Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN PENGAWAS INTI Peserta: Pengawas Inti Narasumber: Guru Inti PELATIHAN GURU KELAS/MAPEL Peserta: Guru Kelas/Mapel/BK Narasumber: Kepala Sekolah Inti PELATIHAN KEPALA SEKOLAH Peserta: Kepala Sekolah Narasumber: Pengawas Inti PELATIHAN PENGAWAS Peserta: Pengawas Diagram 1. Pelatihan Pengawas Inti. Tahapan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Tahapan pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 dapat dilihat pada diagram 1 di atas. Pelatihan Kepala sekolah. Pelatihan Guru Inti. Pelatihan Kepala Sekolah Inti. dan Pelatihan Pengawas. serta sasaran peserta dapat dijelaskan pada diagram berikut ini. Secara keseluruhan terdapat 7 jenis pelatihan.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 jenjang pelatihan. narasumber yang akan bertugas. dan Tingkat Kabupaten/Kota. Diagram tersebut menunjukan terdapat 3 tahap pelatihan yaitu:Pelatihan Tingkat Nasional. Pelatihan Guru Kelas/ Mapel. yakni: Pelatihan Instruktur Nasional. Tingkat Provinsi.

Kecukupan.5 0. dan PengawasSekolah Tabel 1: Struktur Pelatihan Guru.5 0.5 0.5 2 1 2.1 1.2 2.1 PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING Simulasi Pembelajaran 22 8 22 8 22 8 22 8 22 8 22 8 Matematika – SMA/MA/SMK | 5 .2 MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN Penyusunan RPP Perancangan Penilaian Autentik 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 4.5 2 1 Kelas IV 2 4 0. 2.4 PERUBAHAN MINDSET KONSEP KURIKULUM 2013 Rasional Elemen Perubahan SKL. dan Kedalaman Materi) 2. Kepala Sekolah.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 F.5 0.5 2 1 Lainnya 2 4 0. Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013.4 Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian.3 1. untuk Guru.5 2 1 SMP/MTs SMA/SMK /MA 2 4 0.5 6 6 4 4 6 6 3.5 2 1 IPA 2 4 0.2 1. 1. dan Pengawas Sekolah SD/MI No MateriPelatihan Kelas I 0.1 ANALISIS MATERI AJAR Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu Konsep Pembelajaran IPA Terpadu Konsep Pembelajaran IPS Terpadu 12 2 12 2 12 12 12 12 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2.5 0.1 3.3 2. 3.5 2 1 IPS 2 4 0. Kepala Sekolah. 4. 1.5 0. KI dan KD Strategi Implementasi 2 4 0.

Penilaian meliputi tiga ranah yaitu: 1. pengetahuan. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang narasumber adalah berikut ini. H. dan pengamatan. dan melakukan penilaian kepada peserta. 4. Jumlah narasumber yang akan bertugas sebanyak 3 (tiga) orang selama proses pelatihan. Metode penilaian yang diterapkan di dalam penilaian ini meliputi: 1. Penilaian Seusai pelatihan. Panduan Narasumber dan Fasilitator Narasumber memainkan peran yang sangat penting untuk menjadikan suatu pelatihan yang menarik dan menyenangkan. Matematika – SMA/MA/SMK | 6 . keterampilan Penilaian autentik diterapkan di dalam pelatihan ini. tes akhir. sikap 2. dan pengawas inti dinyatakan lulus apabila mencapai nilai 75 dan memiliki kewenangan untuk melatih.2 Peer Teaching 14 14 14 14 14 14 PENDAMPINGAN 2 2 2 2 2 2 TES AWAL DAN TES AKHIR 2 2 2 2 2 2 TOTAL 52 52 52 52 52 52 G. panitia pelatihan akan mengumumkan hasil penilaian peserta. portofolio. 1. memberikan penjelasan tambahan. Ketika seorang narasumber bertugas memberikan materi pelatihan.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 4. 2. kepala sekolah inti. dan 3. 3. Setiap calon instruktur nasional. Narasumber membagi tugas secara bersama-sama dengan prinsip keadilan. maka narasumber lainnya berperan sebagai fasilitator yang membantu dalam menyiapkan perangkat pelatihan. tes awal. Memahami isi modul sesuai bidang yang ditugaskan. guru inti.

Mencatat kehadiran peserta sebagai bagian dari bahan penilaian. Kode Etik Narasumber Setiap fasilitator pelatihan wajib menyetujui dan menerapkan kode etik berikut ini. berperilaku. Terpancing dalam perdebatan dengan peserta yang dapat mengakibatkan habisnya waktu. Matematika – SMA/MA/SMK | 7 . Menyerahkan laporan tertulis setiap selesai melakukan pelatihan. Menghindari hal-hal berikut ini. 3. dan penilaian proses. menggali data. memberikan motivasi. Membagi bahan pelatihan kepada peserta sesuai haknya. 9. tetapi wajib melibatkan peserta secara aktif dalam mencari. yang tua. menjawab pertanyaan. pengetahuan. menanyakan argumentasinya mengapa peserta mengambil simpulan itu. 5. sumber. dan sebagainya. Menjawab pertanyaan yang tidak dipahami maksudnya. Memotivasi peserta untuk mengambil kesimpulan sendiri. Memanggil nama peserta untuk mengurangi ketegangan. Menyiapkan alat. c. 6. memecahkan masalah. dan media belajar yang diperlukan.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 2. yang meliputi ranah sikap. dan keterampilan. d. 4. Mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab peserta sesering mungkin (jangan pertanyaan yang sulit dijawab atau terlalu mudah dijawab peserta). Melaksanakan penilaian terdiri atas: tes awal. a. 8. Mengaktifkan peserta untuk menjawab pertanyaan peserta lain. 7. Menjawab pertanyaan yang tidak perlu dijawab. e. 10. maupun penguasaan materi pelatihan. 5. Memberikan contoh panutan bagi peserta. Melaksanakan pelatihan sesuai dengan modul dan mematuhi urutan dalam skenario pelatihan yang telah disusun. I. yang minoritas. mengambil keputusan atau simpulan. 2. 4. 3.. baik dalam hal disiplin. dan memberikan konfirmasi. Menjawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabnya. tes akhir. menganalisis alternatif temuan. b. Mengurangi penjelasan definisi. cara memberikan pertanyaan. Tugas Narasumber yang Berperan sebagai Fasilitator 1. Berperan sebagai orang yang serba tahu. menguatkan dan menekankan simpulan itu. yang pendiam. cara memberikan umpan balik. Memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta baik laki-laki maupun perempuanyang memiliki keterbatasan berbicara.

KI. KD Strategi Implementasi Hand-Out Naskah Kurikulum 2013 Contoh Analisis Keterkaitan antara SKL. KI. KI.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 1. Menghormati kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan implementasi Kurikulum 2013. KI.4/3. KD Kerja/Rubrik ANALISIS MATERI AJAR Video Bahan Tayang Pembelajaran Matematika SMA Model-model Pembelajaran Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Project Based Learning KODE PPT-0. Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013 Jenis bahan dan lembar kerja untuk masing-masing materi pelatihan dapat dilihat berikut ini. dan KD Lembar Analisis Keterkaitan SKL.1/3. dan KD SKL. Tabel 2.1 V-2.1/4.1/1.3 2. 1. 3. J.3/2. Memberlakukan peserta secara adil dan tidak diskriminatif. Daftar dan Pengkodean Materi Pelatihan NO.3 PPT-2.2/1. V-2.2 PPT-1.3 HO-1. Mengacu pada prinsip-prinsip andragogi dalam bersikap dan berperilaku. Menjaga kerahasiaan semua alat penilaian yang akan digunakan. Beberapa dokumen pelatihan digunakan sebagai acuan untuk beberapa materi pelatihan sebagaimana tercermin dalam pengkodean bahan pelatihan. MATERI PELATIHAN PERUBAHAN MINDSET Bahan Tayang Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 KONSEP KURIKULUM 2013 Video Tayangan Paparan Kurikulum 2013 oleh Mendikbud Bahan Tayang Perubahan Mindset Rasional dan Elemen Perubahan SKL.2 LK-1.4 HO-1.1-1 PPT-2. 5. 2. 0.1 V-1.4 HO-1.3 PPT-1.1 PPT-1.1 PPT-1. Melakukan penilaian secara objektif. 4.2-1 Matematika – SMA/MA/SMK | 8 .

1 R-4.1-2 HO-2.4-2 R-2.2-3 PPT-2.2 HO-3. Video Bahan Tayang PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING Lembar Kerja/Rubrik Matematika – SMA/MA/SMK | 9 .1 PPT-4.1 PPT-4.2-1 PPT-4.4/3.2-1 HO-2.3/2.1/3.1-2 HO-2.2-2 PPT-2.3 PPT-2.1/3. KI.2 R-3. Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku Guru dan Siswa MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN Bahan Tayang Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP yang Telah Dibuat SKL.1-1 PPT-3.2-2 LK-4.1 Hand-Out Lembar Kerja/Rubrik 4.3/3.2 HO-1.2 LK-3.3/3.1-1 HO-2.2 V-2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 NO.2 LK-2. MATERI PELATIHAN Model Pembelajaran Problem Based Learning Model Pembelajaran Discovery Learning Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Siswa Hand-Out Konsep Pendekatan Scientific Contoh Penerapan Pendekatan scientific dalam Pembelajaran Matematika Model Pembelajaran Project Based Learning Model Pembelajaran Problem Based Learning Model Pembelajaran Discovery Learning Konsep Penilaian Autentik Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika Analisis Buku Guru Analisis Buku Siswa KODE PPT-2.1/4.2-2 HO-2.3 HO-2.2-3 HO-2.4-1 LK-2. dan KD Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific Contoh RPP Matematika SMA Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Telaah RPP Rubrik Penilaian Telaah RPP Video Pembelajaran Matematika Strategi Pengamatan Tayangan Video Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran Melalui Peer-Teaching Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran Analisis Pembelajaran pada Tayangan Video Rubrik Penilaian Analisis Pembelajaran pada Tayangan Video PPT-3.4 Lembar Kerja/Rubrik 3.1/3.1-1 HO-3.4 HO-2.

3/2.1/2. . Sistematika Modul Modul pelatihan implementasi kurikulum ini dibagi dalam tiga bagian berikut ini.2 artinya hand-out ini digunakan sebagai acuan untuk beberapa materi pelatihan yaitu sebagai berikut: . PPT-1. submateri 3.1/3. K. Submateri 3 (SKL. . MATERI PELATIHAN Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran Rubrik Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran KODE LK-4.Materi Pelatihan 3.4/3. submateri 1 dan 4.KI.3 artinya bahan presentasi ini digunakan saat menyampaikan Materi Pelatihan 1 (Konsep Kurikulum).Materi Pelatihan 1. Bagian I Bagian II : : Pendahuluan Silabus Pelatihan Materi Pelatihan Bagian III : Matematika – SMA/MA/SMK | 10 .KD) HO-1. submateri 1 dan 2. 2.2 Keterangan: V PPT HO LK R : : : : : Video Powerpoint Presentation Hand-Out Lembar Kerja Rubrik Catatan Pengkodean: 1.2 R-4.Materi Pelatihan 2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 NO.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN II SILABUS PELATIHAN Matematika – SMA/MA/SMK | 11 .

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 JENJANG: SMA/MA. SMK/MAK MATA PELAJARAN: MATEMATIKA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2013 Matematika – SMA/MA/SMK | 12 .

1) WAKTU (JP) 2 NO 0. 4. PERUBAHAN MINDSET 2 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. Mendiskusikan 6 PENILAIAN ASPEK Sikap Terbuka untuk menerima dan mengimpleme ntasikan Kurikulum 2013. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan pelatihan. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013 2.1 INDIKATOR 1. Mendiskusikan cara baru dalam belajar. Matematika – SMA/MA/SMK | 13 . SMK/MAK MATEMATIKA KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN 1. 2. Curah pendapat membandingkan antara berpikir berbasis kendala (constraintbased thinking) dengan berpikir berbasis kesempatan (opportunitybased thinking) 3. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimpleme ntasikan Kurikulum 2013. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS Bahan Tayang DESKRIPSI Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (PPT-0. Menunjukan sikap terbuka terhadap perubahan. 2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: SUBMATERI PELATIHAN Tantangan Indonesia dalam Abad ke21 0. KEGIATAN PELATIHAN 1. Tanya jawab tentang tantangan Indonesia dalam Abad ke-21.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN pendorong utama teknologi pendidikan yang harus diperhatikan 5. Tanya jawab tentang High order thingking WAKTU (JP) Matematika – SMA/MA/SMK | 14 .

Menjelaskan rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan. Video DESKRIPSI Tayangan Paparan Kurikulum 2013 oleh Mendikbud (V-1. Pengetahuan Memahami secara utuh rasional kurikulum 2013 . Hand-out Matematika – SMA/MA/SMK | 15 . 2. 2. SMK/MAK MATEMATIKA KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Memahami secara utuh rasional Kurikulum 2013. Menerima rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan. 2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: SUBMATERI PELATIHAN Rasional 1. Menjelaskan permasalahan Kurikulum 2006 (KTSP). Menyimpulkan rasional Kurikulum 2013 yang mencakup permasalahan PENILAIAN ASPEK Sikap Menerima latar belakang alasan perubahan Kurikulum 2013. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1.1/1.5 NO 1.1) Naskah Kurikulum 2013 (D-1. Bahan Tayang Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 3.1 INDIKATOR 1. Menyimak dan melakukan tanya jawab tentang paparan rasional Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan kurikulum di Indonesia. KEGIATAN PELATIHAN 1. KONSEP KURIKULUM 4 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. 3.4) WAKTU (JP) 0.1) Rasional Kurikulum 2013 (PPT-1. Mengamati dan menyimak tayangan paparan tentang Kurikulum 2013 oleh Mendikbud.2/1. 3.

kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal. Standar Proses. SI. SI.5 2. dan Standar Penilaian. Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. Menyimak dan melakukan tanya jawab tentang empat elemen perubahan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan kurikulum.1/1. Sikap Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 Pengetahuan Memahami elemen perubahan Kurikulum 2013 dan hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. Menjelaskan empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. KEGIATAN PELATIHAN kurikulum 2006 (KTSP).SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR 4. Mengidentifikasi kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal. 2. 5. Menjelaskan alasan pengembangan kurikulum. Bahan Tayang Elemen Perubahan Kurikulum 2013 (PPT-1.4) 0. 2. serta alasan pengembangan kurikulum. 1. Standar Proses.2/1. WAKTU (JP) 1. 1. Hand-out Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda Matematika – SMA/MA/SMK | 16 .2 Elemen Perubahan Kurikulum 2013 Memahami secara utuh elemen perubahan Kurikulum 2013. Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1.2) Naskah Kurikulum 2013 (D-1. Menyimpulkan empat elemen perubahan Kurikulum 2013. dan Standar Penilaian.

KI. 2.3) a. KI. KI. KI.1/3. dan KD serta keterkaitan antara ketiga kompetensi Tes Tertulis Matematika – SMA/MA/SMK | 17 . Bekerja sama dalam menganalisis keterkaitan SKL. dan KD pada Kurikulum 2013. dan KD melalui diskusi kelompok pada format yang sudah disediakan (Tiap kelompok menganalisis keterkaitan SKL. dan KD (HO-1. Bahan Tayang 2. KI.3 ) 2 Penugasan Rubrik penilaian hasil analisis keterkaitan SKL. dan KD (HO-1. Menyimak paparan SKL. 3. KI dan KD (R-1. dan KD (PPT-1. KI. Lembar Kerja Pengetahuan Kemampuan memahami konsep SKL. KI.4/ 3. dan KD.3) Analisis Keterkaitan SKL. Menjelaskan empat elemen perubahan kurikulum dalam hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. Menganalisis keterkaitan SKL. Menganalisis keterkaitan antara SKL.3 SKL.3) Tes Objektif Pilihan Ganda 3. dan KD. 1. dan KD. Contoh Analisis Keterkaitan antara SKl. KI. KI. SKL. KI dan KD Memahami keterkaitan antara SKL.2) b. dan KD. dan KD yang akan dijadikan dasar dalam Sikap Bekerja sama dalam kelompok dengan baik dan benar Keterampilan Terampil menganalisis keterkaitan SKL. Hand-Out SKL. 1. KI. KI. 2. KI.3/ 2. Memberi contoh analisis keterkaitan SKL. KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 1. dan KD (LK-1. dan KD Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. KI.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR 3.

Hand-out Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda Matematika – SMA/MA/SMK | 18 . Mengkomunikasi kan hasil diskusi kelas.4) Naskah Kurikulum 2013 (D-1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK tersebut. Merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi kelas.4) 1 2.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013 Memahami secara utuh strategi implementasi Kurikulum 2013. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. 2. 5.2/1. 1.1/1. Pengetahuan Memahami elemenelemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. Berkomunikasi dengan bahasa yang runtut dan komunikatif untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok. 3. WAKTU (JP) 1. sistematis. Sikap Berkomunikasi dengan bahasa yang santun. Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. dan komunikatif dalam meyampaikan ide-ide. Diskusi kelas untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN membuat RPP) 4. 2. 1. Menilai hasil kerja kelompok lain. Bahan Tayang Strategi Implementasi Kurikulum (PPT-1.

1) a. 2. KEGIATAN PELATIHAN 1.1 SUBMATERI PELATIHAN Konsep Pendekatan Scientific KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika. Contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika (PPT-2. ANALISIS MATERI AJAR 12 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. INDIKATOR 1.1-1) b.1-2) a. Mengamati tayangan video pembelajaran Matematika. Pengetahuan Konsep pendekatan scientific dan penerapannya dalam pembelajaran Matematika. 2. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 19 . Konsep pendekatan scientific NO 2. Video DESKRIPSI Pembelajaran Matematika (V-2. Bahan Tayang Tes tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 3. Mengkaji pendekatan scientific berdasarkan tayangan video melalui diskusi kelompok. Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERIPELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 2. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar pengamatan sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. 3. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain. WAKTU (JP) 2 2. Konsep pendekatan scientific (PPT-2. Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika.1/4. Menjelaskan konsep pendekatan scientific 3. Mendiskusikan contoh-contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika.

Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Project Based Learning. Project Based Learning (PPT-2. Bahan Tayang Unjuk kerja Rubrik penilaian 3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI (HO-2.3-3) a.3. Focus Group Discussion Panduan FGD 1. Keterampilan Menganalisis. Problem Based Learning. 1.1) b. Mengidentifikasi karakteristik 3 model pembelajaran. Problem Based Learning.3) a. dan Discovery Learning. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok. 2. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Discovery Learning. Contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika (HO-2. Discovery Learning (PPT-2.3-2) c. 3.1-1) b. Problem Based Learning. Project Based Learning 2 Tes Tulis Tes Objektif Pilihan Ganda 2. dan Discovery Learning). 1. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 20 . Mengidentifikasi penerapan Pendekatan Sikap Menyadari manfaat penerapan tiga model pembelajaran Pengetahuan Karakteristik Project Based Learning. Mengamati tayangan 3 jenis model pembelajaran (Project Based Learning. 2. dan Discovery Learning. Problem Based Learning (PPT-2. 2. 3. Video Contoh Pembelajaran dengan 3 model pembelajaran (V-2.2 Model Pembelajaran Membedakan Model Pembelajaran Project Based Learning.1-2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 4.

Mendiskusikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. Problem Based Learning (HO-2.3) b.3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK membedakan. 3.3/3.1) b. Menjelaskan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.3-2) c. 1. Contoh penerapan TEKNIK WAKTU (JP) mengaitkan.2) a.3) b. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 21 .3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar 1. Sikap Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madrasah dan menghargai pendapat orang lain. 2.3-3) 1. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar (HO-2. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (PPT-2. 2. Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madarasah dan menghargai pendapat orang lain. 2. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar (PPT-2. Discovery Learning (HO-2. Bahan Tayang a. Pengamatan Lembar pengamatan sikap 2 Tes tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 2. NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN Scientific pada 3 model pembelajaran BAHAN PELATIHAN BENTUK INSTRUMEN hasil kerja JENIS DESKRIPSI (HO-2. Pengetahuan Konsep penilaian autentik pada pembelajaran Matematika. Menyajikan kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan bentuk tes dalam penilaian autentik.

2) a. dan Kedalaman Materi) 1. KI.3/2. 3.2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 2. dan KD dalam diskusi Sikap Teliti dan serius dalam bekerja baik secara mandiri maupun berkelompok. KI. Analisis Buku Guru (LK-2. 1. dan KD (HO-1. 2. Menganalisis kesesuaian buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Hand-out Penugasan Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (R-2.3/3. 2. KI. Mengidentifikasi kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Mencermati format analisis buku guru dan buku siswa. Lembar Kerja Matematika – SMA/MA/SMK | 22 .1/3. KI. Diskusi kelompok membahas hasil penilaian buku guru dan buku siswa. Pengamatan Lembar pengamatan sikap 1. dan KD.4/ 3.4) 3.4-1) b. Ketelitian dan keseriusan menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. Analisis Buku Siswa (LK-2. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. dan KD. Kecukupan. 4. KI.4) SKL. Peserta pelatihan menilai buku guru dan buku siswa.4-2) 6 2. Keterampilan Terampil menganalisis buku guru dan siswa.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (HO-2. dan KD. Bahan Tayang Analisis buku guru dan buku siswa (PPT-2. 1.

dan pola pikir keilmuan materi pelajaran. pendekatan scientific. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN kelompok. Menganalisis kesesuaian proses. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. Mendeskripsikan kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa secara kelompok. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa. pendekatan scientific. 3. WAKTU (JP) 2. 5. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa melalui belajar 4. struktur. 3. Membaca isi materi. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku melalui diskusi kelompok. Matematika – SMA/MA/SMK | 23 . Menganalisis kesesuaian isi buku dengan standar proses. 7. struktur. Menjelaskan secara utuh materi. Menguasai secara utuh materi. 6. 5. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa. struktur.

6. 10. Menyimpulkan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. WAKTU (JP) 4. Menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. Mempresentasi kan hasil analisis buku guru dan buku siswa (perwakilan kelompok). Membuat contoh-contoh penerapan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari secara berkelompok.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN mandiri. 7. 9. Matematika – SMA/MA/SMK | 24 . 8. Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. 5.

emosional. SKL. Penugasan Rubrik Penilaian Telaah RPP (R-3. 2. KEGIATAN PELATIHAN 1. KI.3/2.1 Penyusunan RPP KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Menyusun RPP yang menerapkan pendekatan scientific sesuai model belajar yang relevan dengan mempertimbang kan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP Keterampilan Menyusun RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. sosial. Panduan tugas telaah RPP (PPT-3. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 25 .1/3.2) 2. Peserta pelatihan menilai RPP yang dibawa oleh peserta lain.1-1) b.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 3. Mendiskusikan rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific. kultural. INDIKATOR NO 1. MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN 8 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. Bahan Tayang DESKRIPSI a. dan KD (HO-1. Mengidentifikasi rambu-rambu penyusunan RPP.4/ SUBMATERI PELATIHAN 3. Rambu-rambu penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific (PPT-3. Menunjukkan sikap tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP. WAKTU (JP) 5 2. moral.1-2) a.

Standar Proses. Mendiskusikan format telaahRPP . Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. KI. Contoh RPP Matematika (HO-3. Lembar Kerja SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR NO KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 3. Menelaah RPP yang disusun kelompok lain (LK-3.1/3.2) Matematika – SMA/MA/SMK | 26 .1/3. dan KD. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. 3. KI. MenelaahRPP yang disusun kelompok lain sesuai format telaah RPP. 5. Mempresentasikan hasil RPP yang sudah direvisi (sampel) 4.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN maupun intelektual PENILAIAN ASPEK Pengetahuan RPPyang menerapkan pendekatan scientific TEKNIK Tes Tertulis BENTUK INSTRUMEN Tes Objektif Pilihan Ganda BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI 3. dan pendekatan scientific secara berkelompok (terutama KD awal semester I) 4. dan KD.2 b. 6.1-1) c. Merevisi RPP berdasarkan hasil telaah. Rambu-rambu penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific (HO-3.1-2) Telaah RPP 3. Standar Proses. dan pendekatan scientific. 7.

Menelaah rancangan penilaian 4.4/ 3.2) a. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. Panduan tugas menelaah rancangan penilaian pada RPP yang telah dibuat (PPT-3. Bahan Tayang DESKRIPSI a.2) b. SKL. 4. Penugasan Rubrik Penilaian Telaah RPP (R-3.3/3. KEGIATAN PELATIHAN 1. WAKTU (JP) 3 2.3/2. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (PPT-2. termasuk portofolio. Keterampilan Merancang penilaian autentik Pengetahuan Penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika. 3. Menunjukkan sikap tanggung dan kreatifdalam menyusun rancangan penilaian autentik. Mengidentifikasi kaidah perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.2) Tes Objektif Pilihan Ganda 2. dan KD (HO-1. KI.1/3.3/3. Mendiskusikan tentang kaidah merancang penilaian autentik berbentuk tes dan nontes. Mendiskusikan dan melakukan tanya jawabtentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes. Hand out Tes Tertulis 3. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (HO-2. Menelaah rancangan penilaian Matematika – SMA/MA/SMK | 27 .2) SUBMATERI PELATIHAN 3.1/3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Merancang penilaian autentik pada proses dan hasil belajar PENILAIAN ASPEK Sikap Tanggung jawab dankreatif dalam menyusun rancangan penilaian autentik. Mengkaji penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika melalui contoh.2) b. 2. Mengidentifikasi jenis dan bentuk penilaian pada proses dan hasil belajar sesuai karakteristik mata pelajaran Matematika.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar INDIKATOR NO 1.

6. Mempresentasi kan rancangan penilaian proses dan hasil belajar yang sudah direvisi (sampel) WAKTU (JP) Matematika – SMA/MA/SMK | 28 .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR NO autentik pada proses dan hasil belajar yang ada dalam RPP. KEGIATAN PELATIHAN autentik pada RPP yang telah disusun. 5. Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun berdasarkan hasil telaah.

1) Analisis pembelajaran pada tayangan video (LK-4. 3.1/4. emosional. PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING 22 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. menganalisis tayangan video pelaksanaan pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientificdan penilaian autentik.1 SUBMATERI PELATIHAN Simulasi Pembelajaran KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Mengkaji pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati.1) Tes Objektif Pilihan Ganda 3. mengolah. Bahan Tayang 2. Mengamati tayangan video pembelajaran WAKTU (JP) 8 2.1) NO 4. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. Video DESKRIPSI Pembelajaran Matematika (V-2. kultural. sosial. menyaji. menanya. Menganalisis simulasi pembelajaran melalui tayangan video pembelajaran. mencoba. INDIKATOR 1. 2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERIPELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 4.1) Strategi pengamatan video pembelajaran (PPT-4. Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran. Mengkonfirmasi penerapan pendekatan Penugasan Rubrik Penilaian Analisis pembelajaran pada tayangan video (R-4. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran Keterampilan Menganalisis pembelajaran pada tayangan video. Melalui diskusi. menalar. Lembar Kerja Pengetahuan Prinsipprinsip pendekatan scientific dan Tes Tertulis Matematika – SMA/MA/SMK | 29 . mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. moral. KEGIATAN PELATIHAN 1.

Melaksanakan peer teaching yang menerapkan pendekatan Tes Tertulis Rubrik penilaian pelaksanaan pembelajaran (R-4. menalar. Menjelaskan garis besar instrumen penilaian pelaksanaan Sikap Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching Keterampilan Melaksanakan pembelajaran yang menerapkan Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. WAKTU (JP) 3. 1. Mempresentasi kan contoh RPP untuk kegiatan peer teaching. Panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran melalui peer teaching (PPT-4. Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching.2 Peer Teaching Melaksanakan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. menyaji.2) Tes Objektif Matematika – SMA/MA/SMK | 30 . 4.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN maupun. menanya.2-1) b. Menginformasik an panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran melalui peer teaching. intelektual. mencipta) 1. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN scientific dan penilaian autentik mengacu pada tayangan video pembelajaran. Merevisi RPP sehingga menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik untuk kegiatan peer teaching. mengolah. Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (PPT-4. Merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran. Bahan Tayang a. 2. mencoba. 5. PENILAIAN ASPEK penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika.2-2) 14 4. Penugasan 2.

TEKNIK BENTUK INSTRUMEN Ganda BAHAN PELATIHAN JENIS 2. Melakukan refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching. WAKTU (JP) 3. KEGIATAN PELATIHAN pembelajaran 3. emosional. Menilai pelaksanaan peer teaching peserta lain. kultural.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. intelektual. maupun. Matematika – SMA/MA/SMK | 31 . Menilai kegiatan peer teaching menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran 6. Mempraktikkan pembelajaran melalui peer teaching secara individual. Lembar Kerja DESKRIPSI Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (LK-4. Pengetahuan Prinsipprinsip pendekatan scientific dan penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika. Mempersiapkan pelaksanaan peer teaching berdasarkan RPP yang telah disusun. 5. PENILAIAN ASPEK pendekatan scientific. moral. 4.2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR scientific dan penilaian autentik menggunakan RPP yang telah disusun. sosial.

BAGIAN III MATERI PELATIHAN Matematika – SMA/MA/SMK | 32 .

MATERI PELATIHAN: PERUBAHAN MINDSET Matematika – SMA/MA/SMK | 33 .

D. 2. Menunjukkan sikap menerima secara terbuka terhadap perubahan Kurikulum dalam rangka menghadapi tantangan Indonesia dalam Abad ke-21. 5. 5. 2. Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skill). KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (Mengapa Kita Harus Berubah). 3. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013. C. Berpikir Berbasis Kendala (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir Berbasis Kesempatan (Opportunity Based) Cara Baru dalam Belajar Enam Pendorong Utama Teknologi Pendidikan yang Harus Diperhatikan. 4. Menunjukkan sikap menghargai perubahan kurikulum. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan materi pelatihan perubahan mindset. LINGKUP MATERI 1.MATERI PELATIHAN: PERUBAHAN MINDSET A. Merespon secara positif terhadap cara baru dalam belajar. Bahan Tayang: Tantangan Indonesia dalam Abad 21 (Mengapa Kita Harus Berubah) ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 34 . 2. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013. INDIKATOR 3. PERANGKAT PELATIHAN 1. B. 4. 6.

kompetensi. Curah pendapat untuk membandingkan berpikir berbasis kendala 15 menit (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based). serius. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. atau media pembelajaran lainnnya. Laptop. dan Laser Pointer. semangat. tujuan. mengajak berdinamika agar saling mengenal. Mendiskusikan cara baru dalam belajar. seperti LCD Projector. indikator.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN PERUBAHAN MINDSET 2 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN WAKTU Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. 15 Menit KEGIATAN PENDAHULUAN KEGIATAN INTI Perubahan Mindset 60 Menit Tanya jawab tentang tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 15 Menit (mengapa kita harus berubah). Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. Fasilitator memotivasi peserta. alokasi waktu. Fasilitator mengingatkankan peserta agar membaca referensi yang relevan. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset. File. Active Speaker. 10 Menit Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi pendidikan yang 20 Menit harus diperhatikan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skill) KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Perubahan Mindset. Fasilitator menutup pembelajaran 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 35 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 36 . serius.Langkah Kegiatan Inti Pengkondisian Peserta dilanjutkan Tanya Jawab 30 Menit Curah Pendapat Diskusi Diskusi Dilanjutkan Tanya Jawab 15 Menit 10 Menit 20 Menit Pengkondisian Peserta dilanjutkan Tanya Jawab Perkenalan. indikator. tujuan. diakhiri membuat rangkuman. mengajak berdinamika agar saling mengenal. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset. Diskusi Diskusi cara baru dalam belajar Diskusi. Curah Pendapat Curah pendapat untuk membandingkan berpikir berbasis kendala (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based). semangat. dan Penutup Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi pendidikan yang harus diperhatikan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi. Tanya Jawab. refleksi. Fasilitator memotivasi peserta. dan umpan balik. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. alokasi waktu. Tanya jawab tentang Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (mengapa kita harus berubah). fasilitator menjelaskan nama. kompetensi.

Matematika – SMA/MA/SMK | 37 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 38 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 39 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 40 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 41 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 42 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 43 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 44 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 45 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 46 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 47 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 48 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 49 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 50 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 51 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 52 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 53 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 54 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 55 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 56 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 57 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 58 .

MATERI PELATIHAN 1: KONSEP KURIKULUM 2013 1.1 Rasional 1. dan KD 1.4 Strategi Implementasi Matematika – SMA/MA/SMK | 59 . KI.3 SKL.2 Elemen Perubahan 1.

dan KD. 2. Menjelaskan empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. dalam kaitannya dengan 2. Menerima rasional pengembangan Kurikulum 2013 perkembangan masa depan.MATERI PELATIHAN 1: KONSEP KURIKULUM A. 3. LINGKUP MATERI 1. KI. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. dan Standar Penilaian. dan KD pada kurikulum 2013. memahami secara utuh elemen perubahan Kurikulum 2013. 2. memahami secara utuh rasional Kurikulum 2013. Matematika – SMA/MA/SMK | 60 . 7. dan Standar Penilaian. Menjelaskan permasalahan Kurikulum 2006 (KTSP). Standar Penilaian Strategi Implementasi Kurikulum 2013 4. SI. KI. 6. INDIKATOR 1. 4. KI. 3. memahami keterkaitan antara SKL. Rasional Kurikulum 2013 Elemen Perubahan Kurikulum 2013 Standar Nasional Pendidikan a. C. Menjelaskan alasan pengembangan kurikulum. Standar Proses. 8. dan memahami secara utuh strategi implementasi Kurikulum 2013. Menjelaskan empat elemen perubahan kurikulum dalam hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. 3. Menganalisis keterkaitan SKL. 4. SI. B. 10. Mengidentifikasi kesenjangan implementasi kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) b. Menjelaskan rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan. Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. Standar Proses. Menganalisis keterkaitan antara SKL. dan KD pada Kurikulum 2013. Standar Proses d. Standar Isi yang berisi Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) c. 9. 5.

Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Strategi Implementasi Kurikulum 2013 3. Video tentang Rasional Kurikulum 2013 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2. D. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. KI. 12. Rasional Kurikulum 2013 b. Hand-Out a. dan KD 4. PERANGKAT PELATIHAN 1. Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Kompetensi Inti (KI). dan Kompetensi Dasar (KD) d.11. Elemen Perubahan Kurikulum 2013 c. Strategi Implementasi Kurikulum 2013 5. ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 61 . dan Kompetensi Dasar (KD) d. Rasional Kurikulum 2013 b. Standar Isi (Kompetensi Inti (KI). Lembar Kerja Analisis SKL. Elemen Perubahan Kurikulum 2013 c. Bahan Tayang a. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013 dengan bahasa yang runtut dan komunikatif.

Laptop. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 1. Active Speaker. tujuan. Tanya jawab tentang Rasional Kurikulum 2013 yang 5 Menit mencakup: permasalahan kurikulum 2006 (KTSP). serta alasan pengembangan kurikulum.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 1. kompetensi. SI.1. indikator. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama.1. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Konsep Kurikulum. kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dan kondisi ideal. dan Laser Pointer. KONSEP KURIKULUM 4 JP (@45 MENIT) SMA/MA.1 Rasional 25 Menit Penayangan Video Mendikbud tentang Paparan Kurikulum 10 Menit 2013 dengan menggunakan V-1. dan Standar Penilaian dan hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan dengan menggunakan Matematika – SMA/MA/SMK | 62 . dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. 1. alokasi waktu. Fasilitator memotivasi peserta. mengajak berdinamika agar saling mengenal. semangat. atau media pembelajaran lainnya. serius.2 Elemen Perubahan Kurikulum 20 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang Elemen Perubahan 10 Menit Kurikulum yang mencakup SKL. File. Standar Proses. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran seperti LCD Projector. Pemaparan oleh fasilitator tentang Rasional Kurikulum 10 Menit 2013 dengan menggunakan PPT-1.

Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. Mengkomunikasikan hasil diskusi kelompok.4. dan KD 5 Menit 60 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang SKL.PPT-1. Fasilitator menutup pembelajaran 10 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 63 .3.3 Memberi contoh analisis keterkaitan antara SKL. 10 Menit kemudian fasilitator menyimpulkannya.3 SKL. Kerja kelompok untuk menganalisis keterkaitan SKL. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Konsep Kurikulum.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013 45 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang Strategi Implementasi 10 Menit Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1. dan KD 5 Menit dengan menggunakan HO-1. KI. KI. kemudian merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.2. KI. sementara kelompok 15 Menit lainnnya memberi komentar/ tanggapan dan menilai hasil kerja kelompok. 1. ICE BREAKER 1.3. Diskusi kelas tentang elemen-elemen penting Strategi 25 Menit Implementasi Kurikulum 2013. dan KD dengan 10 Menit menggunakan PPT-1. dan 30 Menit KD yang akan dijadikan dasar untuk membuat RPP dengan menggunakan LK-1. KI. Tanya jawab tentang Elemen Perubahan Kurikulum. Presentasi hasil kerja kelompok.

penetapan platform untuk mata pelajaran tertentu (geografi untuk IPS. perubahan pendekatan pembelajaran yaitu Scientific Approach. Matematika – SMA/MA/SMK | 64 . Kemudian fasilitator menyimpulkannya.1 dan PPT-1. dan penilaian hasil belajar).1 RASIONAL KURIKULUM Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur dengan menggunakan PPT-1.SUBMATERI PELATIHAN : 1. bahasa sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge. Biologi untuk IPA)dengan menggunakan PPT-1.2 10 Menit Tanya Jawab 10 Menit Pemaparan Instruktur menyampaikan materi Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum yang mencakup: 4 standar. Tanya Jawab Diskusi dan tanya jawab terkait dengan Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: a. TIK merupakan sarana pembelajaran yang dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain. Alasan pengembangan kurikulum. proses pembelajaran.2. c. Manfaat adanya perubahan kurikulum. Identifikasi perubahan yang penting dalam kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya (struktur kurikulum. b. tematik terpadu untuk SD kls 1 dan 4.

Matematika – SMA/MA/SMK | 65 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 66 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 67 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 68 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 69 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 70 .

isi. standar isi. RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 A. B. LATAR BELAKANG PERLUNYA PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan. berakhlak mulia. RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Pengembangan kurikulum perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan yang dihadapi.4 I. Matematika – SMA/MA/SMK | 71 . berilmu. kreatif. Tantangan internal lainnya terkait dengan faktor perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. yang diyakini akan menjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan negara Indonesia sepanjang zaman. kurikulum merupakan salah satu unsur yang memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. standar sarana prasarana. baik tantangan internal maupun tantangan eksternal. dan standar kompetensi lulusan. mandiri. dan (3) warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. pengetahuan. Kurikulum sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal 1 Ayat (19) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. standar pendidik dan tenaga kependidikan. Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.HO-1. standar biaya. dan keterampilan secara terpadu. Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan. standar proses. sehat. standar penilaian.1/1. cakap. dan (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi tidak dapat disangkal lagi bahwa kurikulum yang dikembangkan dengan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.2/1. Tantangan Internal Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar pengelolaan. 1.

Terkait dengan tantangan internal pertama. Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar SDM usia produktif yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi SDM yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban (Gambar 2). Reformasi Pendidikan Mengacu Pada 8 Standar Kurikulum 2013 Sedang Dikerjakan Telah dan terus Dikerjakan -Peningkatan Kualifikasi & Sertifikasi -Pembayaran Tunjangan Sertifikasi -Uji Kompetensi dan Pengukuran Kinerja -Rehab Gedung Sekolah -Penyediaan Lab dan Perpustakaan -Penyediaan Buku -BOS -Bantuan Siswa Miskin -BOPTN/Bidik Misi (di PT) Manajemen Berbasis Sekolah Gambar 1 Terkait dengan perkembangan penduduk. (Gambar 1). Gambar 2 Matematika – SMA/MA/SMK | 72 . berbagai kegiatan dilaksanakan untuk mengupayakan agar penyelenggaraan pendidikan dapat mencapai ke delapan standar yang telah ditetapkan. Namun apabila tidak memiliki kompetensi dan keterampilan tentunya akan menjadi beban pembangunan. SDM usia produktif yang melimpah apabila memiliki kompetensi dan keterampilan akan menjadi modal pembangunan yang luar biasa besarnya.

l. Kerpek.. m. persepsi masyarakat. Dari kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan. Dari usaha sadar tunggal menuju jamak. n. e. CAFTA Masalah lingkungan hidup Kemajuan teknologi informasi Konvergensi ilmu dan teknologi Ekonomi berbasis pengetahuan Kebangkitan industri kreatif dan budaya Pergeseran kekuatan ekonomi dunia Pengaruh dan imbas teknosains Mutu. g. Pergeseran itu meliputi proses pembelajaran sebagai berikut: a. perkembangan pengetahuan dan pedagogi. Dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif. Dari satu ilmu pengetahuan bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak. Dari alat tunggal menuju alat multimedia. Tekanan Untuk Pengembangan Kurikulum Tantangan Masa Depan • • • • • • • • • Globalisasi: WTO. Dari pasif menuju aktif-menyelidiki. f. ASEAN Community. Dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata. b. d. Dari isolasi menuju lingkungan jejaring. i. j. Dari pembelajaran pribadi menuju pembelajaran berbasis tim. APEC. Dari satu arah menuju interaktif. serta berbagai fenomena negatif yang mengemuka.) §Gejolak masyarakat (social unrest) Perkembangan Pengetahuan dan Pedagogi • Neurologi • Psikologi • Observation based [discovery] learning dan Collaborative learning Gambar 3 3.2. Dari luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan. o. h. Dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala penjuru. Dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan. k. kompetensi yang diperlukan di masa depan. c. Dari pemikiran faktual menuju kritis. Tantangan Eksternal Tantangan eksternal yang dihadapi dunia pendidikan antara lain berkaitan dengan tantangan masa depan. Dari penyampaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan. investasi dan transformasi pada sektor pendidikan • Materi TIMSS dan PISA Kompetensi Masa Depan • Kemampuan berkomunikasi • Kemampuan berpikir jernih dan kritis • Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan • Kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab • Kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda • Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal • Memiliki minat luas dalam kehidupan • Memiliki kesiapan untuk bekerja • Memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya • Memiliki rasa tanggungjawab terhadap lingkungan Persepsi Masyarakat • Terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif • Beban siswa terlalu berat • Kurang bermuatan karakter Fenomena Negatif yang Mengemuka §Perkelahian pelajar §Narkoba §Korupsi §Plagiarisme §Kecurangan dalam Ujian (Contek. Matematika – SMA/MA/SMK | 73 . Dari berpusat pada guru menuju berpusat pada siswa. Penyempurnaan Pola Pikir Pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan hanya akan dapat terwujud apabila terjadi pergeseran atau perubahan pola pikir. p.

Guru lebih diberikan kesempatan mengembangkan proses pembelajaran tanpa harus dibebani dengan tugas-tugas penyusunan silabus yang memakan waktu yang banyak dan memerlukan penguasaan teknis penyusunan yang sangat memberatkan guru. Setelah kompetensi ditetapkan kemudian ditentukan kurikulumnya yang terdiri dari kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum. Pendekatan dalam penyusunan SKL pada KBK 2004 dan KTSP 2006 dapat dilihat di Gambar 4 dan penyempurnaan pola pikir perumusan kurikulum dapat dilihat di Tabel 1. Satuan pendidikan dan guru tidak diberikan kewenangan menyusun silabus. dan kebutuhan. Penguatan Tata Kelola Kurikulum Pada Kurikulum 2013. perlu dilakukan penyempurnaan pola pikir dan penggunaan pendekatan baru dalam perumusan Standar Kompetensi Lulusan. tujuan pendidikan nasional. Tabel 1 4. Perbandingan kerangka kerja penyusunan kurikulum dapat dilihat pada Gambar 5.Sejalan dengan itu. tapi disusun pada tingkat nasional. Matematika – SMA/MA/SMK | 74 . penyusunan kurikulum dimulai dengan menetapkan standar kompetensi lulusan berdasarkan kesiapan peserta didik. Perumusan SKL di dalam KBK 2004 dan KTSP 2006 yang diturunkan dari SI harus diubah menjadi perumusan yang diturunkan dari kebutuhan.

dikaitkan dengan kesulitan yang dihadapi guru dalam melaksanakan KTSP. Yuridis. perlu diambil langkah penguatan tata kelola antara lain dengan menyiapkan pada tingkat pusat buku pegangan pembelajaran yang terdiri dari buku pegangan siswa dan buku pegangan guru. maka sangat penting untuk menyiapkan guru supaya memahami pemanfaatan sumber belajar yang telah disiapkan dan sumber lain yang dapat mereka manfaatkan. Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR ISI (SKL MAPEL. Hasil monitoring dan evaluasi ini juga menunjukkan bahwa banyak kompetensi yang perumusannya sulit dipahami guru. Dengan keyakinan Matematika – SMA/MA/SMK | 75 . juga perlu diperkuat peran pendampingan dan pemantauan oleh pusat dan daerah. 5 (lima). Rumusan kompetensi juga sulit dijabarkan ke dalam indikator dengan akibat sulit dijabarkan ke pembelajaran. sulit diajarkan karena terlalu kompleks. Untuk menjamin keterlaksanaan implementasi kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran. SK MAPEL. KD MAPEL) STANDAR PROSES STANDAR KOMPETENSI LULUSAN STANDAR PENILAIAN PEDOMAN SILABUS RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Oleh Satuan Pendidikan PEMBELAJARAN & PENILAIAN BUKU TEKS SISWA RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Oleh Satuan Pendidikan PEDOMAN SILABUS BUKU TEKS SISWA PEMBELAJARAN & PENILAIAN Kerangka Kerja Penyusunan Kurikulum 2013 KESIAPAN PESERTA DIDIK TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL KEBUTUHAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) SATUAN PENDIDIKAN KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. hampir semua peserta didik Indonesia hanya mampu menguasai pelajaran sampai level 3 (tiga) saja. dan kalau diajarkan kepada siswa sulit dicapai oleh siswa. ada kemungkinan waktu yang dialokasikan dalam Standar Isi tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya. sulit dijabarkan ke penilaian. Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR ISI (SKL MAPEL. SMP. dan 6 (enam). Pendalaman dan Perluasan Materi Berdasarkan analisis hasil PISA 2009. Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR PROSES KI KELAS & KD MAPEL (STANDAR ISI) STANDAR PENILAIAN SILABUS PANDUAN GURU Oleh Satuan Pendidikan PEMBELAJARAN & PENILAIAN (KTSP) BUKU TEKS SISWA 1 Gambar 5 Hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang dilakukan Balitbang pada tahun 2010 juga menunjukkan bahwa secara umum total waktu pembelajaran yang dialokasikan oleh banyak guru untuk beberapa mata pelajaran di SD. Di samping itu. sementara negara lain yang terlibat di dalam studi ini banyak yang mencapai level 4 (empat). media. Untuk menjamin ketercapaian kompetensi sesuai dengan yang telah ditetapkan dan untuk memudahkan pemantauan dan supervisi pelaksanaan pengajaran. Yuridis. dan SMA lebih kecil dari total waktu pembelajaran yang dialokasikan menurut Standar Isi. dan sumber belajar. Yuridis. SK MAPEL.Kerangka Kerja Penyusunan KBK 2004 TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL Kerangka Kerja Penyusunan KTSP 2006 TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. Karena guru merupakan faktor yang sangat penting di dalam pelaksanaan kurikulum. ditemukan bahwa dari 6 (enam) level kemampuan yang dirumuskan di dalam studi PISA. KD MAPEL) STANDAR PROSES STANDAR KOMPETENSI LULUSAN STANDAR PENILAIAN KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. 5. dan sulit diajarkan karena keterbatasan sarana.

Hasil studi pada tahun 2007 dan 2011 menunjukkan bahwa lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau yang distandarkan di tingkat internasional (Gambar 7). Untuk bidang matematika. hanya satu. interpretasi yang dapat disimpulkan dari hasil studi ini. Gambar 6 Analisis hasil TIMSS tahun 2007 dan 2011 di bidang matematika dan IPA untuk peserta didik kelas 2 SMP juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. sementara misalnya di Taiwan hampir 50% peserta didiknya mampu mencapai level tinggi dan advance.bahwa semua manusia diciptakan sama. lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah. Gambar 7 Untuk bidang IPA. sementara hampir 40% peserta didik Taiwan mampu mencapai level tinggi Matematika – SMA/MA/SMK | 76 . yaitu yang kita ajarkan berbeda dengan tuntutan zaman (Gambar 6). pencapaian peserta didik kelas 2 SMP juga tidak jauh berbeda dengan pencapaian yang mereka peroleh untuk bidang matematika.

Gambar 8 Hasil studi internasional untuk reading dan literacy (PIRLS) yang ditujukan untuk kelas IV SD juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan hasil studi untuk tingkat SMP seperti yang dipaparkan terdahulu. Gambar 9 Hasil analisis lebih jauh untuk studi TIMSS dan PIRLS menunjukkan bahwa soal-soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dibagi menjadi empat kategori. kesimpulan yang dapat diambil dari studi ini adalah bahwa apa yang diajarkan kepada peserta didik di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau distandarkan di tingkat internasional. Hal ini juga menunjukkan bahwa apa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan dan distandarkan pada tingkat internasional (Gambar 9). sementara lebih dari 50% siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. lebih dari 95% peserta didik Indonesia di SD kelas IV juga hanya mampu mencapai level menengah. Dengan keyakinan bahwa semua anak dilahirkan sama. Dalam hal membaca. yaitu: Matematika – SMA/MA/SMK | 77 .dan lanjut (advanced). (Gambar 8).

sehingga menyulitkan bagi peserta didik kelas VIII SMP menjawab pertanyaan yang terdapat di dalam TIMSS (Tabel 3). Hal yang sama juga terdapat di kurikulum matematika kelas VIII SMP di mana juga terdapat beberapa topik yang belum diajarkan di kelas XIII.- low mengukur kemampuan sampai level knowing intermediate mengukur kemampuan sampai level applying high mengukur kemampuan sampai level reasoning advance mengukur kemampuan sampai level reasoning with incomplete information. Lebih parahnya lagi. Tabel 3 Matematika – SMA/MA/SMK | 78 . malah terdapat beberapa topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini. Tabel 2 Analisis lebih jauh untuk membandingkan kurikulum IPA SMP kelas VIII yang ada di Indonesia dengan materi yang terdapat di TIMSS menunjukkan bahwa terdapat beberapa topik yang sebenarnya belum diajarkan di kelas VIII SMP (Tabel 2).

II. harus mencakup kompetensi dalam ranah sikap. mempertahankan materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. kreatif. Di samping itu juga perlu dievaluasi ulang tingkat kedalaman materi sesuai dengan tuntutan perbandingan internasional dan menyusun kompetensi dasar yang sesuai dengan materi yang dibutuhkan. Secara singkatnya. TUJUAN KURIKULUM Tujuan Pendidikan nasional sebagaimana telah dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Cerdas yang dimaksud disini adalah cerdas komprehensif. seperti bisa dilihat pada Tabel 4. sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang telah disampaikan di atas. Sejalan dengan arahan undang-undang tersebut. sehat. pengetahuan. Di mana kompeten tersebut. dan menambahkan materi yang dianggap penting dalam perbandingan internasional. perlu dilakukan langkah penguatan materi dengan mengevaluasi ulang ruang lingkup materi yang terdapat di dalam kurikulum dengan cara meniadakan materi yang tidak esensial atau tidak relevan bagi peserta didik. berakhlak mulia. dan keterampilan sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan pasal 35 undangundang tersebut. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. serta cerdas kinestetis dalam ranah keterampilan. yaitu cerdas spiritual dan cerdas sosial/emosional dalam ranah sikap. cakap. cerdas intelektual dalam ranah pengetahuan. Tabel 4 Dalam kaitan itu. Matematika – SMA/MA/SMK | 79 . undang-undang tersebut berharap pendidikan dapat membuat peserta didk menjadi kompeten dalam bidangnya. telah pula ditetapkan visi pendidikan tahun 2025 yaitu menciptakan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. berilmu.Hal yang sama juga terjadi di kurikulum matematika kelas IV SD pada studi internasional di mana juga terdapat topik yang belum diajarkan pada kelas IV dan topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini. mandiri.

yang dikembangkan dari warisan nilai dan pretasi bangsa di masa lalu. Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Perubahan PP No. Pewarisan nilai dan pretasi bangsa di masa lampau memberikan dasar bagi kehidupan bangsa dan individu sebagai anggota masyarakat. dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat. Landasan teoritik memberikan dasar-dasar teoritik pengembangan kurikulum sebagai dokumen dan proses. A. bernegara dan peradaban dunia. daerah. serta kemudian diwariskan serta dikembangkan untuk kehidupan masa depan. dan keterampilan sehingga dapat menjadi pribadi dan warga negara yang produktif. dan afektif III.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Landasan Filosofis Secara singkat kurikulum adalah untuk membangun kehidupan masa kini dan masa akan datang bangsa. modal yang digunakan dan dikembangkan untuk membangun kualitas kehidupan bangsa dan individu yang diperlukan bagi kehidupan masa kini. dan KTSP. berbangsa. Lebih lanjut. produktif. Landasan filosofis adalah landasan yang mengarahkan kurikulum kepada manusia apa yang akan dihasilkan kurikulum. implementasi kurikulum. Ketiga dimensi kehidupan bangsa. Landasan Yuridis Landasan yuridis kurikulum adalah Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Kerangka Dasar juga digunakan sebagai pedoman untuk mengembangkan kurikulum tingkat nasional. KERANGKA DASAR KURIKULUM 2013 Kerangka dasar adalah pedoman yang digunakan untuk mengembangkan dokumen kurikulum. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. menjadi landasan filosofis pengembangan kurikulum. dan evaluasi kurikulum. 2. 1. kreatif. dan keberlanjutan kehidupan bangsa dan Matematika – SMA/MA/SMK | 80 . Pembelajaran Aktif dan Pendidikan Kewirausahaan. masa lalu-masa sekarang-masa yang akan datang. dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 tahun Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah.Dengan demikian Kurikulum 2013 adalah dirancang dengan tujuan untuk mempersiapkan insan Indonesia supaya memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warganegara yang beriman. landasan filosofis. kreatif. Kurikulum adalah instrumen pendidikan untuk dapat membawa insan Indonesia memiliki kompetensi sikap. Landasan yuridis pengembangan Kurikulum 2013 lainnya adalah Instruksi Presiden Republik Indonesia tahun 2010 tentang Pendidikan Karakter. dan landasan empirik. pengetahuan. Landasan yuridis merupakan ketentuan hukum yang dijadikan dasar untuk pengembangan kurikulum dan yang mengharuskan adanya pengembangan kurikulum baru. Landasan empirik memberikan arahan berdasarkan pelaksanaan kurikulum yang sedang berlaku di lapangan. pengembangan Kurikulum 2013 diamanatkan oleh Rencana Pendidikan Pendidikan Menengah Nasional (RJPMN). inovatif. LANDASAN KURIKULUM 2013 Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan kurikulum baru. inovatif.

dan pembentukan karakter.3%. Matematika – SMA/MA/SMK | 81 . Sebagai negara bangsa yang besar dari segi geografis. kreatif.4% (www. kurikulum harus mampu membentuk manusia Indonesia yang mampu menyeimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat untuk memajukan jatidiri sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan kebutuhan untuk berintegrasi sebagai satu entitas bangsa Indonesia. Oleh karena itu. namun karena hasil gemblengan pada tiap jenjang satuan pendidikan dengan kurikulum sebagai pengarahnya.W. Berbagai elemen masyarakat telah memberikan kritikan. Momentum pertumbuhan ekonomi ini harus terus dijaga dan ditingkatkan. yakni baca. Landasan Empiris Pada saat ini perekonomian Indonesia terus tumbuh di tengah bayang-bayang resesi dunia.php/indikator). kurikulum perlu direorientasi dan direorganisasi terhadap beban belajar dan kegiatan pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan ini. Berbagai kasus yang berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang.go. kurikulum harus mampu memandu upaya karakterisasi nilai-nilai kejujuran pada peserta didik.5%. dan mandiri. dan beragamnya kemajuan pembangunan dari satu daerah ke daerah lain. Dengan tiga dimensi kehidupan tersebut kurikulum selalu menempatkan peserta didik dalam lingkungan sosial-budayanya. Generasi seperti ini seharusnya tidak muncul karena hasil seleksi alam. sangat diperlukan untuk memantapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. khususnya siswa sekolah dasar. 31/05/2012). Walaupun belum ada kajian ilmiah bahwa kekerasan tersebut berhulu dari kurikulum.warganegara di masa mendatang. komentar. termasuk masih adanya kecurangan di dalam Ujian Nasional menunjukkan mendesaknya upaya menumbuhkan budaya jujur dan antikorupsi melalui kegiatan pembelajaran di dalam satuan pendidikan. dan saran berkaitan dengan beban belajar siswa. suku bangsa. Kecenderungan ini juga menimpa generasi muda.id/index.5 – 6.7%. dan membangun kehidupan masa depan yang lebih baik lagi. namun beberapa ahli pendidikan dan tokoh masyarakat menyatakan bahwa salah satu akar masalahnya adalah implementasi kurikulum yang terlalu menekankan aspek kognitif dan keterkungkungan peserta didik di ruang belajarnya dengan kegiatan yang kurang menantang peserta didik. Martowardojo. ulet. 5. manipulasi.presidenri. Maka. Dewasa ini. kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan kasus pemaksaan kehendak sering muncul di Indonesia. 2008: 6. misalnya pada kasus-kasus perkelahian massal. dalam Rapat Paripurna DPR. Maka. Generasi muda berjiwa wirausaha yang tangguh. Maka. 3. kurikulum pada tingkat sekolah dasar perlu diarahkan kepada peningkatan 3 (tiga) kemampuan dasar. potensi ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 2005 sampai dengan 2008 berturut-turut 5.9 % (Agus D. tulis. jujur. sekecil apapun ancaman disintegrasi bangsa masih tetap ada. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara – negara ASEAN sebesar 6. Beban belajar ini salah satunya berhulu dari banyaknya matapelajaran yang ada di tingkat sekolah dasar. mengembangkan kehidupan individu peserta didik sebagai warganegara yang tidak kehilangan kepribadian dan kualitas untuk kehidupan masa kini yang lebih baik. Beban belajar ini bahkan secara kasatmata terwujud pada beratnya beban buku yang harus dibawa ke sekolah. 6. dan hitung.

dan IPAmenunjukkan peringkat Indonesia baru bisa menduduki 10 besar terbawah dari 65 negara. (3) pemakaian alat. Kurikulum seharusnya juga diarahkan untuk membangun kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan alam dan menumbuhkan kemampuan untuk merumuskan pemecahan masalah secara kreatif terhadap isu-isu lingkungan dan ketahanan pangan. semakin berkurangnya sumber air bersih adanya potensi rawan pangan pada berbagai beahan dunia. (2) teori. Hasil-hasil ini menunjukkan perlu ada perubahan orientasi kurikulum. Hasil Riset TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) menunjukkan siswa Indonesia berada pada rangking amat rendah dalam kemampuan (1) memahami informasi yang komplek. Matematika – SMA/MA/SMK | 82 . analisis dan pemecahan masalah. Hasil riset PISA (Program for International Student Assessment). Dengan berbagai kemajuan yang telah dicapai. mutu pendidikan Indonesia harus terus ditingkatkan. prosedur dan pemecahan masalah dan (4) melakukan investigasi.Pada saat ini. matematika. upaya pemenuhan kebutuhan manusia telah secara nyata mempengaruhi secara negatif lingkungan alam. dengan tidak membebani peserta didik dengan konten namun pada aspek kemampuan esensial yang diperlukan semua warga negara untuk berperanserta dalam membangun negaranya pada abad 21. dan pemanasan global merupakan tantangan yang harus dihadapi generasi muda di masa kini dan di masa yang akan datang. studi yang memfokuskan pada literasi bacaan. Pencemaran.

dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu untuk SMP/MTS. SMK/MAK. Kompetensi adalah kemampuan sesorang untuk bersikap. pengetahuan. dan keterampilan. dan teori kurikulum berbasis kompetensi. KARAKTERISTIK KURIKULUM 2013 Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi. 3. masyarakat. Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik untuk mengembangkan sikap. Standar Kompetensi Lulusan mencakup sikap. B. Matematika – SMA/MA/SMK | 83 . Pendidikan berdasarkan standar adalah pendidikan yang menetapkan standar nasional sebagai kualitas minimal warganegara untuk suatu jenjang pendidikan. SMA/MA. dan ketrampilan (kognitif dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah. Standar Kompetensi Lulusan dikembangkan menjadi Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan yaitu SKL SD/MI. kelas dan mata pelajaran. Standar bukan kurikulum dan kurikulum dikembangkan agar peserta didik mampu mencapai kualitas standar nasional atau di atasnya. Standar kualitas nasional dinyatakan sebagai Standar Kompetensi Lulusan. Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap. Kompetensi Inti adalah kualitas yang harus dimiliki seorang peserta didik untuk setiap kelas melalui pembelajaran KD yang diorganisasikan dalam proses pembelajaran siswa aktif. SMK/MAK. 2. ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun kemampuan yang dirumuskan dalam SKL. SMP/MTS. Isi atau konten kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) kelas dan dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran.4. Landasan Teoritik Kurikulum 2013 dikembangkan atas dasar teori “pendidikan berdasarkan standar” (standardbased education). Hasil dari pengalaman belajar tersebut adalah hasil belajar peserta didik yang menggambarkan manusia dengan kualitas yang dinyatakan dalam SKL. SMA/MA. Keberhasilan kurikulum dartikan sebagai pencapaian kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh peserta didik. Demikian pula penilaian hasil belajar dan hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi. Kurikulum berbasis kompetensi adalah outcomes-based curriculum dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL. dan lingkungan dimana yang bersangkutan berinteraksi. Kompetensi untuk Kurikulum 2013 dirancang sebagai berikut: 1. pengetahuan. menggunakan pengetahuan dan ketrampilan untuk melaksanakan suatu tugas di sekolah. Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu tema untuk SD/MI.

b. Proses pembelajaran tidak langsung (indirect) terjadi pada setiap kegiatan belajar yang terjadi di kelas. rumah dan masyarakat. Proses pembelajaran di SD/MI berdasarkan tema sedangkan di SMP/MTS. Proses pembelajaran intra-kurikuler adalah proses pembelajaran yang berkenaan dengan mata pelajaran dalam struktur kurikulum dan dilakukan di kelas. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dikembangkan dari setiap KD yang untuk mata pelajaran dan kelas tersebut. sedangkan sikap adalah konten developmental dan dikembangkan melalui proses pendidikan yang tidak langsung (indirect teaching). Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris (organizing elements) Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti. d. dan saling memperkuat antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar di jenjang pendidikan menengah diutamakan pada ranah sikap sedangkan pada jenjang pendidikan menengah pada kemampuan intelektual (kemampuan kognitif tinggi).4. e. SMA/MA. Dalam silabus tercantum seluruh KD untuk tema atau mata pelajaran di kelas tersebut. Proses pembelajaran dikembangkan atas dasar karakteristik konten kompetensi yaitu pengetahuan yang merupakan konten yang bersifat mastery dan diajarkan secara langsung (direct teaching). Proses pembelajaran didasarkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif untuk menguasai Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti pada tingkat yang memuaskan (excepted). PROSES PEMBELAJARAN Proses pembelajaran Kurikulum 2013 terdiri atas pembelajaran intra-kurikuler dan pembelajaran ekstra-kurikuler. saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal). 5. Proses pembelajaran tidak langsung bukan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) karena sikap yang dikembangkan dalam Matematika – SMA/MA/SMK | 84 . Silabus dikembangkan sebagai rancangan belajar untuk satu tema (SD/MI) atau satu kelas dan satu mata pelajaran (SMP/MTS. SMA/MA. dan masyarakat. sekolah. 6. Pembelajaran kompetensi untuk konten yang bersifat developmentaldilaksanakan berkesinambungan antara satu pertemuan dengan pertemuan lainnya. dan SMK/MAK berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dikembangkan guru. 8. Pembelajaran intra kurikuler didasarkan pada prinsip berikut: a. Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif. 1. c. f. ketrampilan kognitif dan psikomotorik adalah konten yang bersifat developmental yang dapat dilatih (trainable) dan diajarkan secara langsung (direct teaching). 7. C. SMK/MAK). sekolah.

ulangan. ketrampilan berpikir. chart. 2. dan tugas setiap peserta didik. Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi. dan lain-lain). Pembelajaran ekstrakurikuler Pembelajaran ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan untuk aktivitas yang dirancang sebagai kegiatan di luar kegiatan pembelajaran terjadwal secara rutin setiap minggu. membaca. 3. 4. dan program pendidikan. h. Kurikulum didasarkan pada standar kompetensi lulusan yang ditetapkan untuk satu satuan pendidikan. Kurikulum bukan hanya merupakan sekumpulan daftar mata pelajaran karena mata pelajaran hanya merupakan sumber materi pembelajaran untuk mencapai kompetensi. PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip berikut: 1. Pramuka adalah kegiatan ekstrakurikuler wajib.proses pembelajaran tidak langsung harus tercantum dalam silabus. mendengar. 5. menyimak). tulis. mengkomunikasikan (lisan. kelompok atau kelas sesuai dengan hasil analisis jawaban peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler wajib dinilai yang hasilnya digunakan sebagai unsur pendukung kegiatan intrakurikuler. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah mengenai Wajib Belajar 12 Tahun maka Standar Kompetensi Lulusan yang menjadi dasar pengembangan kurikulum adalah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan selama 12 tahun. grafik. Kegiatan ekstra-kurikuler terdiri atas kegiatan wajib dan pilihan. Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat. Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap. keterampilan dan pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kompetensi Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi. bersifat formatif dan hasilnya segera diikuti dengan pembelajaran remedial untuk memastikan penguasaan kompetensi pada tingkat memuaskan. Pembelajaran remedial dirancang dan dilaksanakan berdasarkan kelemahan yang ditemukan berdasarkan analisis hasil tes. Kurikulum didasarkan pada model kurikulum berbasis kompetensi. menganalis (menghubungkan. menentukan keterkaitan. Pembelajaran remedial dilaksanakan untuk membantu peserta didik menguasai kompetensi yang masih kurang. i. jenjang pendidikan. membangun cerita/konsep). gambar. Kurikulum didasarkan atas prinsip bahwa setiap sikap. menanya (lisan. Pembelajaran remedial dirancang untuk individu. tabel. tulis). D. 2. g. Matematika – SMA/MA/SMK | 85 . dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat guru. Proses pembelajaran dikembangkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif melalui kegiatan mengamati (melihat. ketrampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran. pengetahuan.

teknologi. dan seni. 9. pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Struktur kurikulum adalah juga merupakan aplikasi konsep pengorganisasian konten dalam sistem belajar dan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. Kurikulum harus diarahkan kepada proses pengembangan. STRUKTUR KURIKULUM Struktur kurikulum menggambarkan konseptualisasi konten kurikulum dalam bentuk mata pelajaran. 8. dan III masing-masing 30. Matematika 5. IV. perkembangan. 34 sedangkan untuk kelas IV. Ilmu Pengetahuan Alam 6. 11. V. kebutuhan.Kurikulum didasarkan kepada kepentingan nasional dan kepentingan daerah. 7. posisi konten/mata pelajaran dalam kurikulum. Beban belajar di SD/MI kelas I. 10.6. Struktur Kurikulum SD/MI adalah sebagai berikut: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU I Kelompok A 1. 32. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. distribusi konten/mata pelajaran dalam semester atau tahun. Olah Raga dan Kesehatan 4 5 8 5 4 4 II 4 6 8 6 4 4 III IV 4 6 10 6 4 4 4 4 7 6 3 3 5 4 V 4 4 7 6 3 3 5 4 VI 4 4 7 6 3 3 5 4 MATA PELAJARAN Matematika – SMA/MA/SMK | 86 . A. dan VI masing-masing 36 jam setiap minggu. STRUKTUR KURIKULUM SD/MI Beban belajar dinyatakan dalam jam belajar setiap minggu untuk masa belajar selama satu semester. Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan. Jam belajar SD/MI adalah 35 menit. Bahasa Indonesia 4. Pendidikan Jasmani. Kurikulum berpusat pada potensi. II. budaya. Pengorganisasian konten dalam sistem belajar yang digunakan untuk kurikulum yang akan datang adalah sistem semester sedangkan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran berdasarkan jam pelajaran per semester. Kekurangan tersebut harus segera diikuti dengan proses memperbaiki kekurangan dalam aspek hasil belajar yang dimiliki seorang atau sekelompok peserta didik. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik berada pada posisi sentral dan aktif dalam belajar. Ilmu Pengetahuan Sosial Kelompok B 1.Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan memperbaiki pencapaian kompetensi. dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. beban belajar untuk mata pelajaran dan beban belajar per minggu untuk setiap siswa. Instrumen penilaian hasil belajar adalah alat untuk mengetahui kekurangan yang dimiliki setiap peserta didik atau sekelompok peserta didik. Seni Budaya dan Prakarya 2.

Kompetensi Dasar IPA dan IPS berdiri sendiri dan kemudian diintegrasikan ke dalam tema-tema yang ada untuk kelas IV. serta aktivitas masyarakat di bidang ekonomi dalam ruang atau space wilayah NKRI. Ilmu Pengetahuan Alam 6. Bahasa Indonesia 4. Bahasa Indonesia. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. dan Kesehatan 3. Disamping itu. Pendidikan Jasmani. Seni Budaya 2. serta pengenalan berbagai keunggulan wilayah nusantara. dan III. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. serta Pendidikan Jasmani. dan 32 menjadi 38.Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu 30 32 34 36 36 36 = Pembelajaran Tematik Integratif Keterangan: Mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dapat Bahasa Daerah. Prakarya Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu Keterangan: Mata pelajaran Seni Budaya dapat memuat Bahasa Daerah. Sedangkan lama belajar untuk setiap jam belajar di SMP/MTs tetap yaitu 40 menit. pengembangan kemampuan berpikir. tujuan pendidikan IPS menekankan pada pengetahuan tentang bangsanya. rasa ingin tahu. II. V dan VI. semangat kebangsaan. IPA dan IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science dan integrative social studies. dan IX. Bahasa Inggris Kelompok B 1. Olahraga dan Kesehatan yang berlaku untuk kelas I. V dan VI. kemampuan belajar. patriotisme. IPA juga ditujukan untuk pengenalan lingkungan biologi dan alam sekitarnya. Matematika. dan pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan alam. STRUKTUR KURIKULUM SMP/MTS Dalam struktur kurikulum SMP/MTs ada penambahan jam belajar per minggu dari semula 32. Matematika 5. Sedangkan untuk kelas IV. 38 dan 38 untuk masing-masing kelas VII. Matematika – SMA/MA/SMK | 87 . Struktur Kurikulum SMP/MTS adalah sebagai berikut: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU VII VIII IX 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 MATA PELAJARAN Kelompok A 1. bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. 32. VIII. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. B. Integrasi Kompetensi Dasar IPA dan IPS didasarkan pada keterdekatan makna dari konten Kompetensi Dasar IPA dan IPS dengan konten Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Keduanya sebagai pendidikan berorientasi aplikatif. Ilmu Pengetahuan Sosial 7. Olah Raga.

Bahasa Inggris Kelompok B (Wajib) 7. seni musik. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3.Kelompok mata pelajaran peminatan yang diikuti oleh peserta didik sesuai dengan bakat. dan Kesehatan 9. yakni seni rupa. Sejarah Indonesia 6. C. Kelompok mata pelajaran peminatan SMA/MA bersifat akademik. Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah adalah sebagaimana yang tertera di dalam tabel berikut ini: Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah kelompok mata pelajaran wajib: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU X XI XII 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 MATA PELAJARAN Kelompok A (Wajib) 1.Seni Budaya terdiri atas empat aspek. Prakarya dan Kewirausahaan Jumlah Jam Pelajaran Kelompok A dan B per minggu Kelompok C (Peminatan) Matematika – SMA/MA/SMK | 88 . Pendidikan Jasmani. Seni Budaya 8.Kelompok mata pelajaran wajib yang diikuti oleh seluruh peserta didik . yakni kerajinan. Bahasa Indonesia 4. Mata pelajaran wajib sebanyak 9 (sembilan) mata pelajaran dengan beban belajar 24 jam per minggu. rekayasa. 1. budidaya. Matematika 5. dan seni teater. minat. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. Prakarya terdiri atas empat aspek. dan kemampuannya. Masingmasing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan menyelenggarakan pembelajaran prakarya paling sedikit dua aspek prakarya sesuai dengan kemampuan dan potensi daerah pada satuan pendidikan itu. sedangkan untuk SMK/MAK bersifat vokasional. dan 20 jam per minggu untuk kelas XI dan XII. Struktur ini menempatkan prinsip bahwa peserta didik adalah subjek dalam belajar dan mereka memiliki hak untuk memilih sesuai dengan minatnya. Kelompok mata pelajaran peminatan SMK/MAK masing-masing 24 jam per kelas. STRUKTUR KURIKULUM PENDIDIKAN MENENGAH (SMA/MA/SMK/MAK) Struktur kurikulum SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: . Adanya kelompok mata pelajaran wajib dan mata pelajaran peminatan dimaksudkan untuk menerapkan prinsip kesamaan antara SMA/MA dan SMK/MAK. Masing-masing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan dapat memilih aspek yang diajarkan sesuai dengan kemampuan (guru dan fasilitas) pada satuan pendidikan itu. Olah Raga. seni tari. Kelompok mata pelajaran peminatan SMA/MA terdiri atas 18 jam per minggu untuk kelas X. dan pengolahan.

Setiap Kelompok Peminatan terdiri atas 4 (empat) mata pelajaran dan Matematika – SMA/MA/SMK | 89 . Kelompok Peminatan Peminatan Matematika dan Ilmu-Ilmu Alam I 1 Matematika 2 Biologi 3 Fisika 4 Kimia Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial II 1 Geografi 2 Sejarah 3 Sosiologi 4 Ekonomi Peminatan Ilmu-Ilmu Bahasa dan Budaya III 1 Bahasa dan Sastra Indonesia 2 Bahasa dan Sastra Inggris 3 Bahasa dan Sastra Asing Lainnya 4 Antropologi Mata Pelajaran Pilihan dan Pendalaman Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat Jumlah jam pelajaran yang tersedia per minggu Jumlah jam pelajaran yang harus ditempuh per minggu Kelas XI 24 X 24 XII 24 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 6 66 42 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 76 44 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 76 44 Kelompok Peminatan terdiri atas Peminatan Matematika dan Ilmu-ilmu Alam. Pada akhir minggu ketiga semester pertama peserta didik masih mungkin mengubah pilihan peminatannya berdasarkan rekomendasi para guru dan ketersediaan tempat duduk. Struktur Kurikulum SMA/MA MATA PELAJARAN Kelompok A dan B (Wajib) C. dan Peminatan Ilmu-ilmu Bahasa dan Budaya. dan XII masing-masing 43 jam belajar per minggu. Satu jam belajar adalah 45 menit. Untuk sekolah yang mampu menyediakan layanan khusus maka setelah akhir semester pertama peserta didik masih mungkin mengubah pilihan peminatannya.Mata Pelajaran Peminatan Akademik (SMA/MA) Jumlah Jam Pelajaran yang Harus Ditempuh per Minggu 18 42 20 44 20 44 Beban belajar di SMA/MA untuk Tahun X. Pemilihan peminatan berdasarkan nilai rapor di SMP/MTsdan/atau nilai UN SMP/MTs dan/atau rekomendasi guru BK di SMP/MTs dan/atau hasil tes penempatan (placement test) ketika mendaftar di SMA/MA dan/atau tes bakat minat oleh psikolog dan/atau rekomendasi guru BK di SMA/MA. Peminatan Ilmu-ilmu Sosial. Sejak kelas X peserta didik sudah harus memilih kelompok peminatan yang akan dimasuki. selain ketiga peminatan tersebut ditambah dengan Kelompok Peminatan Keagamaan. 2. XI. Semua mata pelajaran yang terdapat dalam suatu Kelompok Peminatan yang dipilih peserta didik harus diikuti. Untuk MA.

Pemerintah bertanggungjawab dalam melakukan evaluasi pelaksanaan kurikulum secara nasional. bahwa sekolah adalah satu kesatuan lembaga pendidikan dan kurikulum adalah kurikulum satuan pendidikan. mengembangkan kurikulum secara bersama-sama. Setiap peserta didik memiliki beban belajar per semester selama 42 jam pelajaran untuk kelas X dan 44 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. Implementasi kurikulum adalah usaha bersama antara Pemerintah dengan pemerintah propinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota. c. peserta didik mengambil Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat dengan jumlah jam pelajaran pilihan per minggu berdurasi 4 jam pelajaran yang dapat diambil dengan pilihan sebagai berikut: a.masing-masing mata pelajaran berdurasi 3 jampelajaran untuk kelas X. 2. bukan daftar mata pelajaran b. Pelaksanaan implementasi kurikulum di satuan pendidikan dievaluasi oleh kepala sekolah. V. Mata pelajaran Pendalaman Kelompok Peminatan yang dipilihnya. Beban belajar ini terdiri atas Kelompok Mata Pelajaran Wajib A dan B dengan durasi 24 jam pelajaran dan Kelompok Mata Pelajaran Peminatan dengan durasi 12 jam pelajaran untuk kelas X dan 16 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. Sedangkan pada kelas XI dan XII. c. Manajemen Implementasi a. Guru di satu satuan pendidikan adalah satu satuan pendidik (community of educators). Dua mata pelajaran di luar Kelompok Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam satu Kelompok Peminatan lainnya. Matematika – SMA/MA/SMK | 90 . Pengembangan Kurikulum 2013 pada Satuan Pendidikan Pengembangan Kurikulum 2013 dilakukan atas prinsip: a. dan/atau b. jumlah jam pelajaran pilihan per minggu berdurasi 6 jam pelajaran yang dapat diambil dengan pilihan sebagai berikut: a. IMPLEMENTASI 1. b. dan/atau b. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KURIKULUM A. dan 4 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. Satu mata pelajaran di luar Kelompok Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam Kelompok Peminatan lainnya. Pemerintah bertangungjawab dalam mempersiapkan guru dan kepala sekolah untuk melaksanakan kurikulum. Untuk Mata Pelajaran Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat kelas X. Satu mata pelajaran dari masing-masing Kelompok Peminatan yang lainnya. Pengembangan kurikulum di jenjang satuan pendidikan dipimpin langsung oleh kepala sekolah d.

hanya kelas terakhir SMP/MTs. sistem administrasi.Juli 2014: Kelas I. 3. dan X (SMA/MA. VIII. e. Seperti tahun pertama maka SD akan dipilih sebanyak 30% sehingga secara keseluruhan implementasi kurikulum pada tahun kedua sudah mencakup 60% SD di seluruh wilayah NKRI. kepemimpinan dan budaya kerja guru yang baru. . X. dimulai dari bulan Januari – Desember 2013. Sedangkan pedoman pembelajaran dan penilaian hasil belajara secara rinci tercantum dalam buku pedoman pembelajaran dan penilaian. Matematika – SMA/MA/SMK | 91 . dan seluruh VII (SMP/MTs). Isi buku babon guru adalah sama dengan buku babon peserta didik dengan tambahan strategi pembelajaran dan penilaian hasil belajar. dan XI: tahun 2014 adalah tahun kedua implementasi. Kepala Sekolah dan Pengawas. Pengembangan manajemen. kepala sekolah yang akan melaksanakan Kurikulum 2013 dan dilakukan sebelum Kurikulum 2013 diimplementasikan. Pengembangan buku babon. Prinsip ini menjadi prinsip utama implementasi dimana guru. Pelatihan guru. . Untuk SD akan dipilih 30% SD dari setiap kabupaten/kota di setiap propinsi. Pelaksanaan kurikulum di seluruh sekolah dan jenjang pendidikan yaitu: . Implementasi Kurikulum 2013 mensyaratkan penataan administrasi.Juli 2015: seluruh kelas dan seluruh sekolah SD/MI. SMK/MAK telah melaksanakan sepenuhnya Kurikulum 2013. Pemerintah propinsi bertanggungjawab dalam melakukan supervisi dan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum di propinsi terkait. IV. d. kepemimpinan. VII.d. Pelatihan Guru. manajemen. SMA/MA. II.Juli 2013: Kelas I. Pada prinsipnya ketika implementasi Kurikulum 2013 memasuki tahun 2015-2016 seluruh buku babon sudah teredia di setiap sekolah. dari tahun 2013 – 2016.Dengan penerapan pelatihan ini maka implementasi Kurikulum tidak hanya berkenaan dengan upaya realisasi ide dan rancangan kurikulum tetapi juga pembenahan pada pelaksanaan pendidikan di satuan pendidikan. Sejalan dengan strategi implementasi. dari tahun 2013 – 2016. Dengan demikian. SMP/MTs. Stategi Implementasi Kurikulum terdiri atas: a. ketika Kurikulum 2013 akan diimplementasikan pada tahun pembelajaran 2015-2016. c. b. SMK/MAK yang belum melaksanakan kurikulum. Ini adalah tahun pertama implementasi dan dilakukan di seluruh wilayah NKRI. dan pengembangan budaya sekolah (budaya kerja guru) terutama untuk SMA/MA dan SMK/MAK. kepala sekolah dan pengawas di seluruh Indonesia sudah mendapatkan pelatihan untuk melaksanakan kurikulum. Oleh karena itu dalam persiapan implementasi Kurikulum 2013. Buku babon terdiri atas buku untuk peserta didik dan buku untuk guru. seluruh guru. penulisan dan percetakan serta distribusi buku babon akan seluruhnya selesai pada awal tahun terakhir implementasi kurikulum atau sebelumnya. Pada tahun kedua ini. SMK/MAK). SMA/MA. kepala sekolah dan pengawas di wilayah sekolah terkait yang akan mengimplemntasikan kurikulum adalah mereka yang sudah terlatih. kepala sekolah dan pengawas adalah untuk guru. IV terbatas pada sejumlah SD/MI (30%). V. pelatihan juga berkenaan dengan tata kerja baru para guru dan kepemimpinan kepala sekolah. Pemerintah kabupaten/kota bertanggungjawab dalam memberikan bantuan profesional kepada guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan kurikulum di kabupaten/kota terkait.

e. Pendampingan dalam bentuk Monitoring dan Evaluasi untuk menemukan kesulitan dan masalah implementasi dan upaya penanggulangan: Juli 2013 – 2016. Strategi implementasi Kurikulum 2013 menghindari pelatihan yang dinamakan one-shot training sebagai strategi implementasi mengingat kelemahan strategi tersebut. Pleatihan yang dilakukan untuk para guru, kepala sekolah, dan pengawas akan diikuti dengan monitoring dan evaluasi sepanjang pelaksanaan paling tidak dari tahun pertama sampai tahun ketiga implementasi. Pada akhir tahun ketiga implementasi diharapkan permasalahan yang dihadapi para pelaksana sudah tidak lagi merupakan masalah mendasar dan kurikulum sudah dapat dilaksanakan sebagaimana seharusnya. Permasalahan lapangan yang muncul adalah yang dapat diselesaikan oleh kolaborasi guru, kepala sekolah dan pengawas di bawah supervisi dinas pendidikan kabupaten/kota.

B. EVALUASI KURIKULUM Evaluasi Kurikulum dilaksanakan selama masa pengembangan ide (deliberation process), pengembangan desain dan dokumen kurikulum, dan selama masa implementasi kurikulum. Evaluasi dalam deliberation process menghasilkan penyempurnaan dalam Kompetensi Inti yang dijadikan organising element dalam mengikat Kompetensi dasar mata pelajaran. Pelaksanaan evaluasi implementasi kurikulum dilaksanakan sebagai berikut: 1. Sampai tahun pelajaran 2015-2016: untuk memperbaiki berbagai kesulitan pelaksanaan kurikulum. 2. Sampai tahun pelajaran 2016 secara menyeluruh untuk menentukan efektivitas, kelayakan, kekuatan, dan kelemahan implementasi kurikulum. Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum (implementasi kurikulum) diselenggarakan dengan tujuan untuk mengidentifikai masalah pelaksanaan kurikulum dan membantu kepala sekolah dan guru menyelesaikan masalah tersebut. Evaluasi dilakukan pada setiap satuan pendidikan dan dilaksanakan pada satuan pendidikan di wilayah kota/kabupaten secara rutin dan bergiliran. Hasil evaluasi dilakukan sebagai bahan untuk memperbaiki kelemahan kurikulum agar lebih efektif lagi di masa yang akan datang.

Matematika – SMA/MA/SMK | 92

SUBMATERI PELATIHAN : 1.2 ELEMEN PERUBAHAN KURIKULUM

Langkah Kegiatan Inti

Pemaparan oleh Instruktur dengan menggunakan PPT-1.1 dan PPT-1.2 10 Menit

Tanya Jawab

10 Menit

Pemaparan
Instruktur menyampaikan materi Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum yang mencakup: 4 standar, tematik terpadu untuk SD kls 1 dan 4, TIK merupakan sarana pembelajaran yang dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain, perubahan pendekatan pembelajaran yaitu Scientific Approach, bahasa sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge, penetapan platform untuk mata pelajaran tertentu (geografi untuk IPS, Biologi untuk IPA)dengan menggunakan PPT-1.2.

Tanya Jawab
Diskusi dan tanya jawab terkait dengan Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: d. Alasan pengembangan kurikulum. e. Identifikasi perubahan yang penting dalam kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya (struktur kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian hasil belajar). f. Manfaat adanya perubahan kurikulum. Kemudian fasilitator menyimpulkannya.

Matematika – SMA/MA/SMK | 93

Matematika – SMA/MA/SMK | 94

Matematika – SMA/MA/SMK | 95

Matematika – SMA/MA/SMK | 96

Matematika – SMA/MA/SMK | 97

Matematika – SMA/MA/SMK | 98 .

dan KD dengan menggunakan HO-1.3: SKL. Sementara kelompok lainnnya memberi komentar/ tanggapan dan menilai hasil kerja kelompok lainnya.3. setiap kelompok diberi tugas menganalisis keterkaitan SKL.3/3.1/3. KI.2 Kerja Kelompok Peserta dibagi menjadi 5 kelompok.SUBMATERI PELATIHAN 1.3/2. KI. KI.3 Matematika – SMA/MA/SMK | 99 . KI. KD masing-masing mapel selama 1 tahun yang akan dijadikan dasar untuk membuat RPP dengan menggunakan LK 1.1/2. KI. Masing-masing kelompok mengerjakan KD yang berbeda agar peserta mendapat bahan hasil analisis semua KI dan KD selama 1 tahun kelas X. dan KD dengan menggunakan PPT-1. KD 5 Menit Kerja Kelompok Presentasi Hasil Kelompok 10 Menit 30 Menit 15 Menit Pemaparan Instuktur memberikan materi SKL. Memberi Contoh Instruktur memberikan contoh analisis keterkaitan antara SKL. DAN KD Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur Memberi Contoh Analisis Keterkaitan SKL. Presentasi Hasil Kerja Kelompok Masing-masing kelompok memaparkan hasil kerja kelompok. Peserta yang akan memaparkan akan ditunjuk oleh Intruktur.

Matematika – SMA/MA/SMK | 100 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 101 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 102 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 103 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 104 .

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR MATEMATIKA (WAJIB) SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)/MADRASAH ALIYAH (MA) KELAS: X Matematika – SMA/MA/SMK | 105 .2 STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) SMA/MA/SMALB*/Paket C Aspek Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Sikap Pengetahuan Keterampilan Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman. Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri. dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. teknologi. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian.1/2. seni. dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan. dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Memiliki pengetahuan faktual. berilmu. kenegaraan.HO-1. prosedural.4/3. percaya diri.1/3.3/2. konseptual. kebangsaan. berakhlak mulia.

Matematika – SMA/MA/SMK | 106 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 107 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 108 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 109 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 110 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 111 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 112 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 113 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 114 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 115 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 116 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 117 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 118 .

siku-siku.CONTOH ANALISIS SKL. disiplin. mengembangkan rasa percayadiri. lingkungan sosial peduli (gotong identitas trigonometri konsisten. sikap dan alam serta royong.3 Aspek Sikap Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Lingkup Materi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Memiliki perilaku 1. macam dan kemampuan efektif dengan tanggungjawab. ukuran sudut serta bekerjasama. dan sikap cerminan bangsa dan pro-aktif dan jujur dan bekerjasama. untuk disiplin. berinteraksi secara perilaku jujur. dan bertanggung 2. kerjasama. KI dan KD Mata Pelajaran : Matematika Kelas : X Materi Pokok : Perbandingan Trigonometri Standar Kompetensi Lulusan Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi HO – 1. berakhlak dianutnya. percaya diri. mulia. dirinya sebagai santun. dalam menempatkan toleran. konsisten. perbedaan solusi atas berbagai problem soving serta strategi berpikir permasalahan dalam macam dan ukuran dalam memilih berinteraksi secara sudut untuk dan menerapkan efektif dengan mengembangkan strategi lingkungan sosial toleransi. toleransi dalam pergaulan menunjukkan sikap dalam dunia sebagai bagian dari  Identitas Trigonometri. damai). bekerjasama menyelesaikan Siswa menelaah hubungan perbandingan trigonometri dengan sudut pada segitiga sikusiku Siswa memecahkan masalah perbandingan trigonometri untuk sudut lebih dari atau kurang dari dengan/tanpa bimbingan guru Siswa memecahkan masalah perbandingan trigonometri untuk sudut lebih dari satu putaran Teknik Penilaian: Non tes (pengamatan) Bentuk Instrumen: Lembar pengamatan perkembangan sikap Matematika – SMA/MA/SMK | 119 .1 Memiliki jawab dalam mengamalkan trigonometri segitiga motivasi internal. Menghayati dan  Perbandingan 2. responsif disiplin. Menghayati dan yang mencerminkan mengamalkan sikap orang ajaran agama yang beriman.

sudut lebih berpilaku jujur. rasa ingin tahu. menalar. dan menganalisis pengetahuan 3. dalam melakukan tugas belajar  Problem solving untuk matematika.d. kritis perilaku kritis.Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) dan alam serta masalah. mencoba dan Teknik Penilaian:  Tes tertulis terkait : perbandingan Matematika – SMA/MA/SMK | 120 . 3600. konseptual. sikap dan disiplin rasa ingin tahu. Memahami. dari 3600 dan sudut tangguh negatif untuk mengadapi mengembangkan masalah.3 Menunjukkan lingkungan sikap bertanggung jawab. dan 3. menerapkan. serta kesadaran hak dalam menempatkan dan kewajiban diri sebagai cerminan 2. mengembangkan rasa percaya diri dan peduli 2.14 Mendeskripsikan konsep perbandingan trigonometri pada  Nilai perbandingan sisi-sisi segitiga sikusiku (perbandinga trigonometri)  Melakukan kegiatan mengamati fakta matematika. Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual. jujur dan perilaku peduli lingkungan. menanya (berfikir divergen).2 Mampu bangsa dalam mentransformasi  Fungsi Trigonometri pergaulan dunia sudut lebih dari 900 diri dalam s. prosedural.

misalnya in . kenegaraan. menanya (berfikir divergen). mencoba dan membuktikan serta menyimpulkan terkait sudut berelasi (sudut di kuadrani. memilih dan menerapkan dalam penyelesaian Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi membuktikan dan menyimpulkan o terkait nilai perbandingan sisi segitiga siku-siku o terkait dengan perluasan nilai perbandingan trigonometri untuk sudut siku-siku. teknologi. kuadran III dan kuadran IV)  Portofolio hasil kerja siswa dan catatan guru Bentuk instrumen penilaian:  Soal uraian  Portofolio Matematika – SMA/MA/SMK | 121 .siku sebangun. Kompetensi Inti faktual. teknologi.Aspek Standar Kompetensi Lulusan metakognitif dalam ilmu pengetahuan. serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah Kompetensi Dasar segitiga siku-siku melalui penyelidikan dan diskusi tentang hubungan perbandingan sisi-sisi yang bersesuaian dalam beberapa segitiga siku. perluasan konsep pada kordinat kartesius dalam kaitannya dengan sudut berelasi  Hubungan antar perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku  Nilai perbandingan trigonometri diperluas dengan mengaitkan kordinat  Perbandingan trigonometri di berbagai kuadran dan pemahaman  Melakukan kegiatan mengamati fakta matematika. kebangsaan. budaya. sudut tumpul dan sudut tumpul Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) segitiga siku-siku (kuadran I) . dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian. 3. 3. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian.16 Mendeskripsikan dan menentukan hubungan perbandingan trigonometri dari sudut di setiap kuadran. kuadran II. konseptual. dan prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan. seni. kenegaraan. menalar.15 Menemukan sifatsifat dan hubungan antar perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku. seni. dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. kebangsaan. dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan.

4 Mengolah. menalar. (misalnya menggunakan bayangan. klinometer dan sebagainya)  Unjuk kerja (dengan instrumen pengamatan) Matematika – SMA/MA/SMK | 122 . dan mampu menggunakan 4. dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri.15 Menyajikan grafik fungsi trigonometri  Penerapan perbandingan trigonometri  Melukis grafik fungsi trigonometri  Menentukan tinggi gedung dengan memanfaatkan perbandingan trigonometri dengan berbagai cara. busur.14 Menerapkan perbandingan trigonometri dalam menyelesaikan masalah 4.Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti Kompetensi Dasar masalah nyata dan matematika 3.17 Mendeskripsikan konsep fungsi trigonometri dan menganalisis grafik fungsinya serta menentukan hubungan nilai fungsi trigonometri dari sudut-sudut istimewa Lingkup Materi sudut berelasi  Grafik fungsi trigonometri Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri.

Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti metoda sesuai kaidah keilmuan Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Matematika – SMA/MA/SMK | 123 .

Tentukan teknik dan instrumen penilaiannya dengan mengacu silabus mata pelajaran 8.3 PETUNJUK KEGIATAN ANALISIS SKL. 2. Analisislah lingup materi dari setiap KD mengacu silabus mata pelajaran 6. 5. Bacalah substansi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tahun 2013. Bacalah KD mata pelajaran matematika SMA kelas X. KI DAN KD Kompetensi Tujuan Kegiatan Kelompok Kerja : : : Memahami keterkaitan antara SKL. Bacalah dan komparasikan dengan SKL Tahun 2006 (Permendiknas Th 2006). Tulislah aktivitas/ kegiatan belajar siswa untuk mencapai kompetensi tersebut dengan mengacu silabus mata pelajaran 7. 3. dan KD matematika kelas X yang sudah disiapkan! Matematika – SMA/MA/SMK | 124 . Setelah selesai masukkan dalam Lembar Kerja Analisis Keterkaitan SKL. 4.LEMBAR KERJA ANALISIS KETERKAITAN SKL. KI. dan KD MATEMATIKA KELAS X LK – 1. Bacalah KI mata pelajaran matematika SMA kelas X. KI. KI dan KD pada Kurikulum 2013 Menganalisis keterkaitan SKL. KI dan KD 1.

KI. konseptual. Kompetensi Inti Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur.3 Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual. konseptual. percaya diri. disiplin. menganalisis pengetahuan faktual. dan KD MATA PELAJARAN : MATEMATIKA KELAS :X MATERI AJAR : Domain Sikap Standar Kompetensi Lulusan Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman. prosedural. tanggungjawab. damai). berilmu. toleran. ilmu Matematika – SMA/MA/SMK | 125 . prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas/Kegiatan Belajar Siswa untuk Mencapai Kompetensi LK – 1. peduli (gotong royong. menerapkan. dan metakognitif dalam matematika.LEMBAR KERJA ANALISIS KETERKAITAN SKL. dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. berakhlak mulia. responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Memahami . santun. kerjasama.

dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas/Kegiatan Belajar Siswa untuk Mencapai Kompetensi Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret dalam menyelesaikan masalah secara mandiri. serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian.Domain Standar Kompetensi Lulusan pengetahuan. seni. seni. teknologi. kebangsaan. dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian. dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. budaya. teknologi. Kompetensi Inti pengetahuan. kenegaraan. - Matematika – SMA/MA/SMK | 126 . dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan. kebangsaan. menalar. kenegaraan. Mengolah.

4 Diskusi Kelas Mendiskusikan elemen penting dalam implementasi kurikulum 2013. Dukungan manajemen sekolah atau kultur sekolah dalam mensukseskan pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013.MATERI PELATIHAN 1. kepala sekolah. pengawas sekolah. Peran guru. dan guru BK. 2. Membuat Rangkuman Instruktur merangkum semua materi pelatihan Konsep Kurikulum yang telah disampaikan selama 4 JP sebagai kegiatan penutup. Matematika – SMA/MA/SMK | 127 .4: STRATEGI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur Diskusi Kelas Merangkum Hasil Diskusi Kelas Refleksi dan umpan balik untuk seluruh materi pelatihan 15 Menit 10 Menit 20 Menit 10 Menit Pemaparan Paparan oleh fasilitatortentang Strategi Implementasi Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1. 1. meliputi berikut ini. Dukungan dinas pendidikan kabupaten dan organisasi profesi dalam implementasi kurikulum 2013. 3.

Matematika – SMA/MA/SMK | 128 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 129 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 130 .

4 Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik BAGIAN Analisis Buku Guru danIII Siswa Matematika – SMA/MA/SMK | 131 .MATERI PELATIHAN 2: ANALISIS MATERI AJAR 2.2 2.3 2.1 2.

serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. Mengidentifikasi kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. 4. dan Kedalaman Materi) C. Menganalisis kesesuaian proses.MATERI PELATIHAN 2: ANALISIS MATERI AJAR A. Menjelaskan konsep pendekatan scientific. KI. 5. 10. mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran. struktur. Matematika – SMA/MA/SMK | 132 . 3. 6. B. INDIKATOR 1. dan KD. Menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL. 6. 5. menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan seharihari. mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. 9. 11. pendekatan belajar . struktur. Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain. 8. menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. dan KD. Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madrasah dan menghargai pendapat orang lain. Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran. 2. Menjelaskan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. Menjelaskan secara utuh materi. LINGKUP MATERI 1. 7. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa. menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa. 2. 7. KI. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. 2. menguasai secara utuh materi. dan KD secara teliti dan serius. KI. dan memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran. 3. Kecukupan. 3. 4. Konsep Pendekatan Scientific Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian.

4. D. b. ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 133 . 2. PERANGKAT PELATIHAN 1. 3. b. d. c. Konsep Pendekatan Scientific Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Lembar Kerja Dokumen Bahan Bacaan a. Konsep Pendekatan Scientific Konsep Penilaian Autentik 5.12. Video Pembelajaran Bahan Tayang a. Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran.

1-2. seperti LCD Projector. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Analisis Materi Ajar.1. teliti. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. kompetensi. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 2. Fasilitator memotivasi peserta agar serius. File. Diskusi kelompok tentang konsep pendekatan scientific dengan 30 Menit menggunakan HO-2.1-1 dan contoh-contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika dengan mengacu pada HO-2.3 Model-model Pembelajaran 90 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 134 .2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung.1 Konsep Pendekatan Scientific 90 Menit Penayangan Video pembelajaran Matematika dengan menggunakan 20 Menit V-2. antusias. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. Diskusi kelompok untuk mengkaji pendekatan scientific yang 40 Menit mengacu pada tayangan video.2-1 dan Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Matematika dengan menggunakan PPT-2. dan Laser Pointer.1/4. Active Speaker.2.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 2. Laptop. ANALISIS MATERI AJAR 12 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. indikator.dilanjutkan dengan paparan materi oleh fasilitator tentang Konsep Pendekatan Scientific dengan menggunakan PPT-2. tujuan. 2. atau media pembelajaran lainnya. alokasi waktu.

2. Diskusi tentang konsep penilaian autentik pada proses dan hasil 30 Menit belajar.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian.Mengamati tayangan tiga jenis model pembelajaran (Project Based Learning. Kerja kelompok untuk mengidentifikasi penerapan Pendekatan Scientific pada tiga model pembelajaran. dan kedalaman materi. dan KD dengan menggunakan LK-2. Problem Based Learning.3 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran 20 menit 30 menit 40 menit 90 Menit Kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan 15 Menit bentuk penilaian autentik. dan Discovery Learning). 2. Menerapkan Focus Group Discussion untuk mengidentifikasi karakteristik tiga model pembelajaran. dan Kedalaman Materi) Menilai buku dilakukan oleh peserta dengan bimbingan fasilitator 20 Menit dilihat dari aspek kesesuaian. ICE BREAKER 2. KI. kecukupan.4-2.2/3. ICE BREAKER 5 Menit 5 Menit 240 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 135 . Menyimpulkan hasil diskusi dan menyampaikan format lembar 15 Menit kerja yang telah disiapkan. Kerja kelompok untuk menganalisis kesesuaian buku guru dan buku 60 Menit siswa dengan tuntutan SKL. Presentasi hasil diskusi kelompok 25 Menit Paparan materi tentang Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan 15 Menit Hasil Belajar dengan menggunakan bahan tayang PPT-2. Kecukupan.41 dan LK -2. Diskusi kelompok hasil penilaian buku dilanjutkan dengan 30 Menit pemaparan materi tentang Analisis Buku Guru dan Buku Siswa dengan menggunakan PPT-2.3 dan Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika menggunakan bahan tayang PPT-2.

Fasilitator menutup pembelajaran 30 Menit 20 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 136 . Menyimpulkan materi analisis buku oleh fasilitator.Diskusi kelompok untuk menganalisis kesesuaian proses. Kerja kelompok untuk membuat contoh-contoh penerapan materi 30 Menit pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan. Presentasi hasil kerja kelompok. 30 Menit pendekatan scientific. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Analisis materi Ajar.

Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya. 2.1 dan Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2.2-2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi.2. tugas diskusi kelompok sebagai berikut. Diskusi Kelompok Diskusi kelompok Contoh-contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran. Matematika – SMA/MA/SMK | 137 . 2. Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok. 3. 1.1: Konsep Pendekatan Scientific Langkah Kegiatan Inti Diskusi Kelompok Contohcontoh Pendekatan Scientific dan Penerapannya 45 Menit Diskusi Kelompok Pendekatan Scientific 45 Menit Diskusi Kelompok 1. Mengkaji pendekatan scientific yang mengacu pada tayangan video. KD yang ditetapkan adalah KD semester 1. 3. Mengidentifikasi konsep pendekatan scientific yang disampaikan pada tayangan video. Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok 1.Materi Pelatihan 2. Paparan Materi Fasilitator menyampaikan Konsep Pendekatan Scientific dengan menggunakan PPT-2. Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok. kelompok lain dapat dijadikan pembahas dan penanya. Membuat contoh pembelajaran salah satu KD dengan menggunakan pendekatan scientific. 2. Membuat urutan aktivitas pada pendekatan scientific.

Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya. 3. kelompok lain dapat dijadikan pembahas dan penanya. Matematika – SMA/MA/SMK | 138 . Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok. Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok. 2.Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok 1.

Matematika – SMA/MA/SMK | 139 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 140 .

Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah. Pendekatan Ilmiah dan Non-ilmiah dalam Pembelajaran Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradidional. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum. dan menguji hipotesis. atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah. retensi informasi dari guru sebesar lebih dari 90 persen setelah dua hari dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 50-70 persen. kemudian memformulasi. Karena itu Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran.Karena itu. menganalisis. Matematika – SMA/MA/SMK | 141 .Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap. Esensi Pendekatan Ilmiah Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah. metode ilmiah umumnya memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen. Sebaliknya. penalaran induktif menempatkan buktibukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas. B. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada pembelajaran tradisional. Pada pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah. mengolah informasi atau data. dan pengetahuan peserta didik. keterampilan.1-1 PENDEKATAN ILMIAH DALAM PEMBELAJARAN A.HO-2. empiris. para ilmuan lebih mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning)ketimbang penalaran deduktif (deductivereasoning). retensi informasi dari guru sebesar 10 persensetelah 15 menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25 persen. memperoleh pengetahuan baru. Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi. dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Sejatinya. Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala.

menerapkan. analitis. Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis.Proses pembelajaran dengan berbasis pendekatan ilmiah harus dipandu dengan kaida-kaidah pendekatan ilmiah. memecahkan masalah. atau dongeng semata. respon peserta didik. penalaran. Namun demikian. Intuisi sering dimaknai sebagai kecakapan praktis yang kemunculannya bersifat irasional dan individual. dan tepat dalam mengidentifikasi.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami. Dengan demikian. akal sehat. Matematika – SMA/MA/SMK | 142 . jelas. intuisi sama sekali menafikan dimensi alur pikir yang sistemik. dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran. dan keterampilan secara cepat dan berjalan dengan sendirinya.  Substansi atau materipembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu. dan penjelasan tentang suatu kebenaran. dan fakta empiris yang dapatdipertanggung-jawabkan. atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.  Penjelasan guru. dan menarik sistem penyajiannya. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan. kesamaan. penemuan. atau kriteria ilmiah. bukan sebatas kira-kira. penemuan melalui coba-coba. prinsip-prinsip.  Intuisi. Istilah ini sering juga dipahami sebagai penilaian terhadap sikap. pemikiran subjektif. legenda. dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran. Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai non-ilmiah yang meliputiintuisi. Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini. Intuisi juga bermakna kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki oleh seseorang atas dasar pengalaman dan kecakapannya. Kemampuan intuitif itu biasanya didapat secara cepat tanpa melalui proses panjang dan tanpa disadari. proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai. pengabsahan. pengetahuan. khayalan. dan asal berpikir kritis.   Berbasis pada konsep.prasangka. dan tautan satu dengan yang lain dari substansi atau materi pembelajaran. memahami. dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta. teori.

tidak memiliki kepastian. keterampilan. keterampilan. dan pengetahuan yang benar.Karena itu. jika diwarnai oleh kepentingan subjektif guru dan peserta didik. Akal sehat. Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat selama proses pembelajaran. tiba-tiba dia kaget komputer laptop itu menyala. Namun demikian. harus diserta dengan pencatatan atas setiap tindakan. sampai dengan menemukan kepastian jawaban. tindakan coba-coba itu ada manfaatnya bahkanmampu mendorong kreatifitas. peserta didik. dan sejenisnya) yang menjadi pelakunya. Tentu saja. seringkali mereka menjeneralisasi hal-hal khusus menjadi terlalu luas. kalau memang tindakan coba-coba ini akan dilakukan. Ketika akal sehat terlalu kuat didomplengi kepentingan pelakunya. keterampilan dan pengetahuan yang ditemukan dengan caracoba-coba selalu bersifat tidak terkontrol. dan tidak bersistematika baku. Hal inilah yang menyebabkan penggunaan akal sehat berubah menjadi prasangka atau pemikiran skeptis.Sikap.Tindakan atau aksi coba-coba seringkali melahirkan wujud atau temuan yang bermakna. khususnya mereka yang normal hingga jenius. Orang seperti ini biasanya pemikirannya dipercaya benar oleh banyak orang. Misalnya.  Penemuan coba-coba. Tentu saja hasil pemikirannya itu Matematika – SMA/MA/SMK | 143 . Sebaliknya akan berubah menjadi prasangka buruk atau sikap tidak percaya. karena memang hal itu dapat menunjukan ranah sikap. Namun demikian.  Prasangka. dan pengetahuan yang diperoleh semata-mata atas dasar akal sehat (comon sense) umumnya sangat kuat dipandu kepentingan seseorang (guru. seorang peserta didik mencoba meraba-raba tombol-tombol sebuah komputer laptop. Secara akademik diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang bependidikan tinggi. hingga dia sampai pada kepastian jawaban atas tombol dengan lambang seperti apa yang bisa memastikan bahwa komputer laptop itu bisa menyala. jika guru dan peserta didik hanya sematamata menggunakan akal sehat dapat pula menyesatkanmereka dalam proses dan pencapaian tujuan pembelajaran.Kamampuan berpikir kritis itu ada pada semua orang. Peserta didik pun melihat lambang tombol yang menyebabkan komputer laptop itu menyala dan mengulangi lagi tindakannya.  Berpikir kritis. Berpikir skeptis atau prasangka itu memang penting. jika diolah secara baik.

keterampilan. bertanya. karena bukan berdasarkan hasil esperimen yang valid dan reliabel. C. pengetahuan. yaitu sikap. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘bagaimana’. karena pendapatnya itu hanya didasari atas pikiran yang logis semata. dan keterampilan. Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran. dan pengetahuan.Hasil akhirnya adalahpeningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik(soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills)dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap. Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Ilmiah Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah. ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘mengapa’. yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Matematika – SMA/MA/SMK | 144 . Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggali informasi melaui pengamatan.tidak semuanya benar. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘apa’.

dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran. menalar. Metode ini memiliki keunggulan tertentu. Kegiatan observasi dalam proses pembelajaran meniscayakan keterlibatan peserta didik secara langsung.Merepa juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan pelaku. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru. kemudian mengolah data atau informasi. Namun demikian. atau situasi yang diamati. kamera. peserta didik senang dan tertantang. berbeda dengan observasi biasa. dan mudah pelaksanaannya. peserta didiksama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku. baik primer maupun sekunder  Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi  Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar  Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi .  Observasi terkendali (controlled observation). materi. seperti menggunakan buku catatan.  Observasi biasa (common observation). atau situasi tertentu.  Menentukan objek apa yang akan diobservasi  Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi  Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diobservasi. Pada observasi biasa untuk kepentingan pembelajaran. guru harus memahami bentuk keterlibatan peserta didik dalam observasi tersebut. Pada kondisi seperti ini. seperti menyajikan media obyek secara nyata. Seperti halnya observasi biasa. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. peserta didik merupakan subjek yang sepenuhnya melakukan observasi (complete observer). kemudian menyimpulkan. Untuk mata pelajaran. objek. tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. padaobservasi terkendali untuk kepentingan pembelajaran. menyajikan data atau informasi. atau situasi yang diamati. biaya dan tenaga relatif banyak. Pendekatan ilmiah pembelajaran disajikan berikut ini. atau situasi yang diamati.percobaan. Mengamati Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. tape recorder. Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. dan mencipta. objek. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang. video perekam. objek. Matematika – SMA/MA/SMK | 145 . Dalam kaitan ini. dilanjutkan dengan menganalisis. Di sini peserta didik sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut ini. pada observasi terkendalipelaku atau objek yang diamati ditempatkan pada ruang atau situasi yang dikhususkan. 1. dan alat-alat tulis lainnya.

Observasi semacam ini mengharuskan peserta didik melibatkan diri pada pelaku. observasi semacam ini paling lazim dilakukan dalam penelitian antropologi khususnya etnografi. Prinsip-rinsip yang harus diperhatikan oleh guru dan peserta didik selama observasi pembelajaran disajikan berikut ini.Karena itu. Kedua cara pelibatan dimaksud yaitu observasi berstruktur dan observasi tidak berstruktur. objektif. Praktik observasi dalam pembelajaran hanya akan efektif jika peserta didik dan guru melengkapi diri dengan dengan alat-alat pencatatan dan alat-alat lain.  Observasipartisipatif (participant observation). Matematika – SMA/MA/SMK | 146 . Selama proses pembelajaran. tidak ditentukan secara baku atau rijid mengenai apa yang harus diobservasi oleh peserta didik.faktor yang akan diobservasi. dan alat mekanikal (mechanical device). atau mengingat dalam memori secara spontan atas subjek. pada pembelajaran dengan observasi terkendali termuat nilai-nilai percobaan atau eksperimen atas diri pelaku atau objek yang diobservasi. objek. dengan menggunakan pendekatan ini berarti peserta didik hadir dan “bermukim” langsung di tempat subjek atau komunitas tertentu dan pada waktu tertentu pula untuk mempelajari bahasa atau dialek setempat. Pada observasipartisipatif. untuk merekam kegiatan objek atau secara audio-visual. objektif. Pada observasi yang tidak berstruktur dalam rangka proses pembelajaran. atau faktor.  Observasiberstruktur. seperti: (1) tape recorder. atau situasi yang diobservasi. komunitas. peserta didik dapat melakukan observasi dengan dua cara pelibatan diri. (2) film atau video. peserta didik melibatkan diri secara langsung dengan pelaku atau objek yang diamati. fenomena subjek. Daftar cek dapat berupa suatu daftar yang berisikan nama-nama subjek. untuk merekam objek atau kegiatan secara visual. misalnya. dan jujur serta terfokus pada objek yang diobservasi untuk kepentingan pembelajaran. untuk merekam pembicaraan. peserta didik membuat catatan.  Observasitidak berstruktur. berupa alat untuk mencatat gejala atau fenomena menurut tingkatannya. Skala rentang . alat atau instrumen yang digunakan dalam melakukan observasi. catatan anekdotal (anecdotal record). dapat berupa daftar cek (checklist). Di bidang pengajaran bahasa. skala rentang (rating scale). seperti dijelaskan berikut ini. termasuk melibakan diri secara langsung dalam situasi kehidupan mereka. Sejatinya. Catatan anekdotalberupa catatan yang dibuat oleh peserta didik dan guru mengenai kelakuan-kelakuan luar biasa yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi. Alat mekanikalberupa alat mekanik yang dapat dipakai untuk memotret atau merekam peristiwa-peristiwa tertentu yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi. atau situasi apa yang ingin diobservasi oleh peserta didik telah direncanakan oleh secara sistematis di bawah bimbingan guru. Dalam kerangka ini. dan (3) alat-alat lain sesuai dengan keperluan. (1) kamera. Secara lebih luas. atau objek yang diamati. Pada observasi berstruktur dalam rangka proses pembelajaran. objek. catatan berkala.  Cermat. rekaman.

guru dan peserta didik sebaiknya menentukan dan menyepakati cara dan prosedur pengamatan. asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal. ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik. serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul. dan perhatian peserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran. Fungsi bertanya  Membangkitkan rasa ingin tahu. misalnya: Apakah ciri-ciri kalimat yang efektif? Bentuk pernyataan. atau situasi yang diobservasi. misalnya: Sebutkan ciri-ciri kalimay efektif!  a. keterampilan. mengajukan pertanyaan. serta bagaimana membuat catatan atas perolehan observasi. dan menggunakan bahasa yang baik dan benar. keterampilan. minat. Pada saat guru bertanya. Menanya Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap.  Guru dan peserta didik perlu memahami apa yang hendak dicatat. makin sulit kegiatan obervasi itu dilakukan. direkam. objek. Banyak atau sedikit serta homogenitas atau hiterogenitas subjek. mengembangkan kemampuan berpikir. atau situasi yang diobservasi. dan memberi jawaban secara logis. dan pengetahuannya. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya. berargumen.  Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat. dan menarik simpulan. serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok. Makin banyak dan hiterogensubjek.  Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain.  Mendorong partisipasipeserta didik dalam berdiskusi. dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan. dan sejenisnya.  Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara. objek.  Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar. serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”. melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan. Bentuk pertanyaan. Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyara. Matematika – SMA/MA/SMK | 147 .2.  Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya. Kriteria pertanyaan yang baik  Singkat dan jelas. b. pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik.  Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan. sistematis. Sebelum obsevasi dilaksanakan. pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. memperkaya kosa kata.

 Bersifat validatif atau penguatan. Jawaban atas pertanyaan itu dimaksudkan untuk memvalidsi atau melakukan penguatan atas jawaban peserta didik sebelumnya. namun sifatnya menguatkan. Ketika beberapa orang peserta didik telah memberikan jawaban yang sama. apakah peserta didik harus rajin belajar?(2) Mengapa peserta didik yang sangat malas belajar cenderung menjadi putus sekolah? Pertanyaan pertama cukup dijawab oleh peserta didik dengan Ya atau Tidak. Pertanyaan dapat diajukan dengan cara meminta kepada peserta didik yang berbeda untuk menjawab pertanyaan yang sama. pertanyaan kedua menuntut jawaban yang bervariasi urutan jawaban dan penjelasannya. yang kemungkinan memiliki bobot kebenaran yang sama. kemalasan. peserta didik yang keenam dan seterusnya.  Bersifat probing atau divergen. dan keterisolasian geografis. Sebaliknya. Jika masih tersedia alternatif jawaban lain. bisa dimintai jawaban. Peserta didik pertama hingga kelima misalnya menjawab: kebodohan. tidak memiliki modal usaha. Pertanyaan yang luas seperti di atas dapat dipersempit.  Menginspirasi jawaban.Contoh: (1) Seberapa jauh pemahaman Anda mengenai faktor-faktor yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? (2) Faktor-faktor apakah yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? Pertanyaan kedua lebih singkat dan lebih jelas dibandingkan dengan pertanyaan pertama. Contoh: Membangun semangat kerukunan umat beragama itu sangat penting pada bangsa yang multiagama. kelangkaan sumber daya alam.  Memiliki fokus. jika suatu bangsa gagal membangun kerukunan umat beragama?Dua kalimat yang mengawali pertanyaan di muka merupakan contoh yang diberikan guru untuk menginspirasi jawaban peserta menjawab pertanyaan. Jika suatu bangsa gagal membangun semangat kerukukan beragama. Coba jelaskan dampak sosial apa saja yang muncul. Contoh: o o Guru: “mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan”? Peserta didik I: “karena orang yang malas lebih banyak diam ketimbang bekerja. sebaiknya guru menghentikan pertanyaan itu atau meminta mereka memunculkan jawaban yang lain yang berbeda.” Matematika – SMA/MA/SMK | 148 . akan muncul aneka persoalan sosial kemasyarakatan. misalnya: Mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan? Pertanyaan seperti ini dimintakan jawabannya kepada peserta didik secara perorangan. Contoh: (1) Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar. Contoh: Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kemiskinan? Untuk pertanyaan seperti ini sebaiknya masing-masing peserta didik diminta memunculkan satu jawaban.

guru hendaknya menunggu beberapa saat sebelum meminta atau menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan itu. sesuai dengan tuntunan tingkat kognitifnya. Misalnya: (1) Apa faktor picu utama Belanda menjajah Indonesia?. (2) Apa motif utama Belanda menjajah Indonesia? Jika dengan pertanyaan pertama guru belum memperoleh jawaban yang memuaskan. Bobot pertanyaan yang menggambarkan tingkatan kognitif yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi disajikan berikut ini. analisis. ada baiknya dia mengubah pertanyaan seperti pertanyaan kedua. Setelah itu. Guru mengemas atau mengubah pertanyaan yang menuntut jawaban dengan tingkat kognitif rendah ke makin tinggi. sehingga kehilangan waktu terlalu banyak untuk bekerja. Pertanyaan guru yang baik mendorong munculnya interaksi dan suasana menyenangkan pada diri peserta didik.  Merangsang proses interaksi. mengapa. setelah menyampaikan pertanyaan. Guru harus memahami kualitas pertanyaan. guru memberikan kesempatan kepada peserta didik mendiskusikan jawabannya. Kata-kata kunci pertanyaan ini. dan seterusnya. Jika dengan pertanyaan tertentu tidak ada peserta didik yang bisa menjawah dengan baik. Tingkatan Pertanyaan Pertanyaan guru yang baik dan benar menginspirasi peserta didik untuk memberikan jawaban yang baik dan benar pula. sintesis. Pola bertanya seperti ini memposisikan guru sebagai wahana pemantul. c.Dalam kaitan ini. seperti dari sekadar mengingat fakta ke pertanyaan yang menggugah kemampuan kognitif yang lebih tinggi. sehingga menggambarkan tingkatan kognitif seperti apa yang akan disentuh.o o o o Guru: “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?” Peserta didik II: “karena lebih banyak diam ketimbang bekerja. peserta didik memerlukan waktu yang cukup untuk memikirkan jawabannya dan memverbalkannya dengan kata-kata. Pertanyaan guru yang baik membuka peluang peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang makin meningkat. sangat dianjurkan guru mengubah pertanyaannya.  Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif. Karena itu. Matematika – SMA/MA/SMK | 149 . seperti: apa. Untuk menjawab pertanyaan dari guru. mulai dari yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi.”  Memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang. bagaimana. penerapan. dan evaluasi. orang yang malas tidak produktif” Guru : “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?” Peserta didik III: “orang malas tidak bertindak aktif. setelah mengajukan pertanyaan. karena itu dia tidak produktif. seperti pemahaman. guru memberi kesempatan kepada seorang atau beberapa orang peserta didik diminta menyampaikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

.. Kemukakan bukti-bukti… Mengapa… Identifikasikan… Tunjukkanlah sebabnya… Berilah alasan-alasan…  Pemahaman (comprehension)  Penerapan (application Kognitif  Analisis (analysis) yang lebih tinggi  Sintesis (synthesis) Ramalkanlah… Bentuk… Ciptakanlah… Susunlah… Rancanglah...... Buatlah.. Tulislah contoh.. Berikanlah interpretasi.... Bedakanlah... Terjemahkanlah.. Ubahlah. Tulislah… Bagaimana kita dapat memecahkan…  Apa yang terjadi seaindainya…  Bagaimana kita dapat memperbaiki…  Kembangkan… Matematika – SMA/MA/SMK | 150 . Kapan..... Berilah nama... Siapa.... Bandingkan... Di mana... Sebutkan.. Dll. Carilah hubungan. Analisislah.. Simpulkan....... Siapkanlah... Klasifikasikanlah...... Gunakanlah.. Persamaan kata. Demonstrasikanlah..... Golongkan.Tingkatan Subtingkatan Kognitif  Pengetahuan yang (knowledge) lebih rendah Kata-kata kunci pertanyaan                                       Apa.. Tunjukkanlah. Terangkahlah.. Jodohkan atau pasangkan...

meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. maka perilaku peserta didik akan melemah. Menurut Thorndike. yang juga dikenal dengan teori Stimulus-Respon (S-R). Ini bermakna bahwa reward akan meningkatkan perilaku peserta didik. yang kemudian dikenal dengan teori asosiasi. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar. Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating. Jadi. efek dari reward (akibat yang menyenangkan) jauh lebih besar dalam memperkuat perilaku peserta didik dibandingkan efek punishment (akibat yang tidak menyenangkan) dalam memperlemah perilakunya. Dari persepektif psikologi. istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Pola ineraksi itu dilakukan melalui stimulus dan respons (S-R). Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Thorndike mengemukakan berapa hukum dalam proses pembelajaran. Esensi Menalar Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak. maka perilaku peserta didik akan mengalami penguatan. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Karena itu. Teori ini dikembangan kerdasarkan hasil eksperimen Thorndike. tetapi punishment belum tentu akan mengurangi atau menghilangkan perilakunya. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas faktakata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Matematika – SMA/MA/SMK | 151 . proses pembelajaran. di mana intensitas hubungan antara stimulus (S) dan respon (R) selama proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh konsekuensi dari hubungan yang terjadi. Sebaliknya. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. lebih khusus lagi proses belajar peserta didik terjadi secara perlahan atau inkremental/bertahap. asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu. jika akibat hubungan S-R dirasa tidak menyenangkan.  Hukum efek (The Law of Effect). bukan merupakan terjemanan dari reasonsing. pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Menalar a. Menurut Thorndike. proses pembelajaran pembelajaran akan berhasil secara efektif jika terjadi interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik. prinsip dasar proses pembelajaran yang dianut oleh Thorndike adalah asosiasi. Jika akibat dari hubungan S-R itu dirasa menyenangkan. bukan secara tibatiba. meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. Menurut teori asosiasi. Evaluasi (evaluation)  Berilah pendapat…  Alternatif mana yang lebih baik…  Setujukah anda…  Kritiklah…  Berilah alasan…  Nilailah…  Bandingkan…  Bedakanlah… 3.

kreativitas. Pelaziman operan adalah bentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi.  Oleh karena tidak semua perilaku belajar atau pembelajaran dapat dijelaskan dengan pelaziman sebagaimana dikembangkan oleh Ivan Pavlov. Dalam proses pembelajaran. dan ganjaran. Kemampuan peserta didik dalam meniru respons menjadi pengungkit utama aktivitas belajarnya. Kedua. Memang. Prinsip-prinsip dasar dari Thorndike kemudian diperluas oleh B. latihan berulang tetap dapat diberikan. yaitu hubungan antara S-R akan semakin melemah jika tidak dilatih atau dilakukan berulang-ulang. Manfaat hasil belajar yang diperoleh oleh peserta didik dirasakan langsung oleh mereka dalam dalam dunia kehidupannya. Matematika – SMA/MA/SMK | 152  . Hukum latihan (The Law of Exercise). proses pembelajaran akan makin efektif jika peserta didik makin giat belajar. hal ini bermakna bahwa jika peserta dalam keadaan siap dan belajar dilakukan.F. yang setelah tahun 1930 dinyatakan dicabut oleh Thorndike. Dengan begitu. Teori S – S ini memang terkesan robotik. Menurut Thorndike.  Latihan (exercise). hukuman. Guru harus benar-benar siap mengajar dan peserta didik benar-benar siap menerima pelajaran dari gurunya. mengendapkan hasil memperhatikan model dalam pikiran pebelajar (retention).  Pertama. teman. Kesiapan diidentifikasi berkaitan langsung dengan motivasi peserta didik. dan lain-lain) dan pengalaman vicarious yaitu belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain itu. memberi penghargaan. Kesiapan itu harus ada pada diri guru dan peserta didik. Menurut Bandura. Awalnya. dimana peserta didik belajar dengan cara meniru perilaku orang lain (guru. Merujuk pada teori S-R. Ada empat konsep dasar teori belajar sosial (social learning theory) dari Bandura. Kaidah atau prinsip “pengaruh” dalam pembelajaran berkaitan dengan kemamouan guru menciptakan suasana. hukum ini terdiri dari duajenis. meliputi fase memberi perhatian terhadap model (attentional). teori asosiasi biasanya menambahkan teori belajar sosial (social learning) yang dikembangkan oleh Bandura. Sebaliknya. Kaidah dasar yang digunakan dalam teori S-R adalah:  Kesiapan (readiness). maka mereka akan merasa puas. pemodelan (modelling). Karenanya. perilaku dapat dibentuk dengan menggunakan penguatan (reinforcement). teori ini terkesan mengenyampingkan peranan minat. dan apirasi peserta didik. anggota masyarakat. tetapi yang terpenting adalah individu menyadari konsekuensi perilakunya. pada prinsipnya apakah sesuatu itu akan menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk dipelajari tergantung pada kesiapan belajar individunya. Sejalan dengan itu. Hukum kesiapan (The Law of Readiness). fase belajar. Pengulangan ini memungkinkan hubungan antara S dengan R makin intensif dan ekstensif. maka mereka akan merasa tidak puas bahkan mengalami frustrasi. Skinner dalam Operant Conditioning atau pelaziman/pengkondisian operan. berarti makin tinggi pula kemampuannya dalam menghubungkan S dengan R. jika pesert didik dalam keadaan tidak siap dan belajar terpaksa dilakukan. celaan. segala sumber daya pembelajaran pun perlu disiapkan secara baik dan saksama. Law of Use yaitu hubungan antara S-R akan semakin kuat jika sering digunakan atau berulang-ulang.  Pengaruh (effect).Menurut Thorndike.  Kedua. Law of Disuse. Hubungan yang intensif dan berulang-ulang antara S dengan R akan meningkatkan kualitas ranah sikap. keterampilan. Latihan merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara berulang oleh peserta didik. Karena dia menyadari bahwa latihan saja tidak dapat memperkuat atau membentuk perilaku. Pertama. dan pengetahuan peserta didik sebagai hasil belajarnya. belajar terjadi karena proses peniruan (imitation).

baik dilakukan sendiri maupun dengan cara simulasi. Pada penalaran deduktif tedapat premis. belajar vicarious. berkembangbiak dengan cara melahirkan  Harimau binatang berdaun telinga.  Guru menyusun bahan pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap sesuai dengan tuntutan kurikulum. silogisme hipotesis. memberi ganjaran atau hukuman terhadap perilakunya sendiri.  Guru mencatat semua kemajuan peserta didik untuk kemungkinan memberikan tindakan pembelajaran perbaikan. Penarikan simpulan dapat dilakukan melalui dua cara. berkembangbiak dengan cara melahirkan  Ikan Paus binatang berdaun telinga berkembangbiak dengan melahirkan  Simpulan: Semua binatang yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataanpernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. Teori asosiasi ini sangat efektif menjadi landasan menanamkan sikap ilmiah dan motivasi pada peserta didik berkenaan dengan nilai-nilai instrinsik dari pembelajaran partisipatif. dimana peserta didik mengamati.  Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah. Penalaran induktif merupakan cara menalardengan menarik simpulan dari fenomena atau atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. dimana peserta didik belajar dengan melihat apakah orang lain diberi ganjaran atau hukuman selama terlibat dalam perilaku-perilaku tertentu. Contoh:  Singa binatang berdaun telinga. sebagai proposisi menarik simpulan. Simpulan Matematika – SMA/MA/SMK | 153 . b. Jadi. yaitu langsung dan tidak langsung. yaitu silogisme kategorial. Ada tiga jenis silogisme. Cara menalar Seperti telah dijelaskan di muka. yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif.  Bahan pembelajaran disusun secara berjenjang atau hierarkis. dan motivasi (motivation) ketika peserta didik berkeinginan mengulang-ulang perilaku model yang mendatangkan konsekuensi-konsekuensi positif dari lingkungan. silogisme alternatif. pengaturan-diri (self-regulation).  Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang nyata atau otentik. Tugas utama guru adalah memberi instruksi singkat tapi jelas dengan disertai contoh-contoh. mempertimbangkan. dimulai dari yang sederhana (persyaratan rendah) sampai pada yang kompleks (persyaratan tinggi). terdapat dua cara menalar. menalar secara induktif adalah proses penarikan simpulan dari kasus-kasus yang bersifat nyata secara individual atau spesifik menjadi simpulan yang bersifat umum. Bagaimana aplikasinya dalam proses pembelajaran? Aplikasi pengembangan aktivitas pembelajaran untuk meningkatkan daya menalar peserta didik dapat dilakukan dengan cara berikut ini.Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus. Pola penalaran deduktif dikenal dengan pola silogisme. Dengan cara ini peserta didik akan melakukan peniruan terhadap apa yang nyata diobservasinya dari kinerja guru dan temannya di kelas.  Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati  Seriap kesalahan harus segera dikoreksi atau diperbaiki  Perlu dilakukan pengulangan dan latihan agar perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan atau pelaziman.menampilkan ulang perilaku model oleh pebelajar (reproduction).  Keempat.  Ketiga.

staf tatalaksana. analogi terdiri dari dua jenis. khususnya hubungan sebab-akibat. Seperti halnya penalaran.secara langsung ditarik dari satu premis. kemampuan menghubungkan antarfenomena atau gejala sangat penting dalam proses pembelajaran. untuk mewujudkan hasil yang baik diperlukan sinergitas antara ranah sikap. Hubungan Antarfenonena Seperti halnya penalaran dan analogi. Contoh: Kegiatan kepeserta didikan akan berjalan baik jika terjadi sinergitas kerja antara kepala sekolah.Analogi deklaratif ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru. yaitu analogi induktif dan analogi deduktif. Atas dasar persamaan dua gejala atau fenomena itu ditarik simpulan bahwa apa yang ada pada fenomena atau gejala pertama terjadi juga pada fenomena atau gejala kedua.Peserta didik Pulan akan mengikuti kompetisi pada Olimpiade Sains Tingkat Internasional. karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik. tahun ini juga. Penalaran induksi sebab akibat terdiri dri tiga jenis. atau gejala menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah dketahui secara nyata dan dipercayai. Penalaran sebab-akibat ini masuk dalam ranah penalaran induktif. karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik.sedangkan simpulan tidak langsung ditarik dari dua premis. Contoh: Peserta didik Pulan merupakan pebelajar yang tekun. dengan sesuatu yang sudah dikenal. guru. yang disebut dengan penalaran induktif sebab-akibat. dan peserta didik. Analogi induktifdisusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena atau gejala. Analogi adalah suatu proses penalaran dalam pembelajaran dengan cara membandingkan sifat esensial yang mempunyai kesamaan atau persamaan. Contoh :  Kamera adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi  Telepon genggam adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperas. Kedua analogi itu dijelaskan berikut ini. Analogi deklaratif merupakan suatu‘metode menalar’untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu fenomena atau gejala yang belum dikenal atau masih samar.  Simpulan: semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk beroperasi. guru dan peserta didik adakalamua menalar secara analogis. Analogi dalam Pembelajaran Selama proses pembelajaran. pengurus organisasi peserta didik intra sekolah. Dengan demikian. Matematika – SMA/MA/SMK | 154 . Di sinilah esensi bahwa guru dan peserta didik dituntut mampu memaknai hubungan antarfenonena atau gejala. dan pengetahuan. Berpikir analogis sangat penting dalam pembelajaran.Suatu simpulan yang menjadi sebab dari satu atau beberapa fakta itu atau dapat juga menjadi akibat dari satuatau beberapa fakta tersebut. Dengan demikian. Dia lulus seleksi Olimpiade Sains Tingkat Nasional tahun ini. guru dan pesert didik sering kali menemukan fenomena yang bersifat analog atau memiliki persamaan. fenomena. keterampilan. Untuk itu dia harus belajar lebih tekun lagi. Seperti halnya kegiatan belajar. Analogi induktif merupakan suatu ‘metode menalar’yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu simpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua fenomena atau gejala khusus yang diperbandingkan. Hubungan sebab-akibat diambil dengan menghubungkan satu atau beberapa fakta yang satu dengan datu atau beberapa fakta yang lain.

 Hubungan akibat–sebab.  Matematika – SMA/MA/SMK | 155 . (2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan. (3)mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya. Pada mata pelajaran IPA. sehingga mengalami dekandensi moral secara massal. peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan. belajar tekun. Pada penalaran hubungan sebab-akibat. Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka: (1) Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan murid (2) Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan (3) Perlu memperhitungkan tempat dan waktu (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid (5) Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen (6) Membagi kertas kerja kepada murid (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum. Contoh: Bekerja keras. terutama untuk materi atau substansi yang sesuai.  Hubungan sebab–akibat 1 – akibat 2. bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal. hidupnya terisolasi. penyalahgunaan Nakoba di kalangan generasi muda. selanjutnya ditarik simpulan yang merupakan penyebabnya. dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya. Akibat kedua menjadi penyebab sehingga menimbulkan akibat ketiga. keterampilan. Kemiskinan keluarga yang akut menyebabkan anak-anak mereka tidak berkesempatan menempuh pendidikan yang baik. sehingga muncullah kemiskinan keluarga yang akut. yaitu sikap. kemudian ditarik simpulan yang berupa akibat. Akibat yang pertama menjadi penyebab. Dampak lanjutannya. dan seterusnya. Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar. perkelahian antarpeserta didik. berdoa. sehingga menimbulkan akibat kedua. Keterisolasian itu menyebabkan mereka kehilangan akses untuk melakukan aktivitas ekonomi.peserta didik harus memahami konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. menganalisis. hal-hal yang menjadi sebab dikemukakan terlebih dahulu. dan (7)membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan. dan pengetahuan. angka putus sekolah. Mencoba Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik. dan menyajikan data. Pada penalaran hubungan akibat-sebab. dan tidak putus asa adalah faktor pengungkit yang bisa membuat kita mencapai puncak kesuksesan. bukan tidak mungkin terjadi kemiskinan yang terus berlangsung secara siklikal. Contoh: Masyarakat yang tinggal di daerah terpencil. Pada penalaran hubungan sbab-akibat 1 –akibat 2. (4) melakukan dan mengamati percobaan.(6) menarik simpulan atas hasil percobaan. yang disebabkan oleh pengabaian orang tua dan ketidaan keteladanan tokoh masyarakat. suatu penyebab dapat menimbulkan serangkaian akibat. Contoh : Akhir-ahir ini sangat marak kenakalan remaja. serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar.Hubungan sebab–akibat. 4. (5) mencatat fenomena yang terjadi. misalnya. hal-hal yang menjadi akibat dikemukakan terlebih dahulu.

Persiapan    Menentapkan tujuan eksperimen Mempersiapkan alat atau bahan Mempersiapkan tempat eksperimen sesuai dengan jumlah peserta didikserta alat atau bahan yang tersedia. Jika pembelajaran kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafah peribadi. Jejaring Pembelajaran atau Pembelajaran Kolaboratif Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kolaboratif? Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal. sebaliknya.  c. persiapan. yaitu.   b. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama. Tindak lanjut      Peserta didik mengumpulkan laporan hasil eksperimen kepada guru Guru memeriksa hasil eksperimen peserta didik Guru memberikan umpan balik kepada peserta didik atas hasil eksperimen. guru hendaknya memperhatikan situasi secara keseluruhan. pelaksanaan. Di sini guru perlu menimbang apakah peserta didik akan melaksanakan eksperimen atau mencoba secara serentak atau dibagi menjadi beberapa kelompok secara paralel atau bergiliran Memertimbangkanmasalah keamanan dan kesehatan agar dapat memperkecil atau menghindari risiko yang mungkin timbul Memberikan penjelasan mengenai apa yang harus diperhatikan dan tahapa-tahapan yang harus dilakukan peserta didik. a.Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan eksperimen atau mencoba dilakukan melalui tiga tahap. Di sini guru harus memberikan dorongan dan bantuan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik agar kegiatan itu berhasil dengan baik. Ketiga tahapan eksperimen atau mencoba dimaksud dijelaskan berikut ini. termasuk hal-hal yang dilarang atau membahayakan. Guru dan peserta didik mendiskusikan masalah-masalah yang ditemukan selama eksperimen. dan tindak lanjut. Pelaksanaan  Selama proses eksperimen atau mencoba. Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar. maka ia menyentuh tentang identitas peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang Matematika – SMA/MA/SMK | 156 . lebih dari sekadar sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. termasuk membantu mengatasi dan memecahkan masalahmasalah yang akan menghambat kegiatan pembelajaran. Selama proses eksperimen atau mencoba. guru ikut membimbing dan mengamati proses percobaan. Guru dan peserta didik memeriksa dan menyimpan kembali segala bahan dan alat yang digunakan 5. peserta didiklah yang harus lebih aktif.

dan “can do alone“. sehingga memungkin peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tntutan belajar secara bersama-sama. Contoh: Jika guru mengajarkan topik “hidup bersama secara damai. strategi dan konsep pembelajaran sesuai dengan teori. Istilah ”Proximal” yang digunakan di sini bisa bermakna “next“. dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing. “can do with help“. pengalaman dan pengetahuannya dihargai dan dapat dibagikan dalam jaringan pembelajaran mereka. menghormati antarsesa. mendoorong tumbuhnya ide-ide cerdas. Sifat keempat menyatakan isi kelas atau pembelajaran kolaboratif. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif. Seperti termuat dalam gambar. serta menautkan kondisi sosiobudaya dengan situasi pembelajaran. jika proses pembelajaran mampu menarik pebelajar dari zona tersebut dengan cara kolaborasi atau pembelajaran kolaboratif. terlibat dalam pemikiran kreatif dan kritis serta memupuk dan menggalakkan mereka mengambil peran secara terbuka dan bermakna.  Guru sebagai mediator. dan memberi garis-garis besar arus komunikasi antar peserta didik. Menurut Vygotsky. Di sini peserta didik juga dapat merumuskan kaitan antara proses pembelajaran yang sedang dilakukan dengan dunia sebenarnya. Potensi tersebut dapat teraktualisasi dengan cara menerapkan ketuntasan belajar (mastery learning). Cara ini memungkinan peserta didik menimba pengalaman mereka sendiri. khususnya untuk hal-hal tertentu. pengalaman personal. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman. berbagi strategi dan informasi. Dua sifat berkenaan dengan perubahan hubungan antara guru dan peserta didik. 2. guru berperan sebagai mediator atau perantara. mereka akan bekerja sebaik-baiknya ketika bekerjasama atau berkolaborasi dengan temannya. Pakar ini sangat terkenal dengan teori “Zone of Proximal Development” atau ZPD. Akan tetapi di antara potensi dan aktualisasi peserta didik itu terdapat terdapat wilayah abu-abu. peserta didik memiliki ruang gerak untuk menilai dan membina ilmu pengetahuan.” Peserta didik yang mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan topik tersebut berpeluang menyatakan sesuatu pada sesi pembelajaran. Sifat ketiga berkaitan dengan pendekatan baru dari penyampaian guru selama proses pembelajaran. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif. Guru dan peserta didik saling berbagi informasi. Mereka pun akan termotivasi untuk melihat dan mendengar. Jika peserta didikmemahami dan melihat fenomena nyata kehidupan bersama yang damai itu. Ada empat sifat kelas atau pembelajaran kolaboratif. ZPD merupakan wilayah “can do with help”yang sifatnya tidak permanen. Di sini. bahasa komunikasi. 1. guru berbagi tugas dan kewenangan dengan peserta didik. Guru memiliki berkewajiban menjadikan wilayah “abu-abu”yang ada pada peserta didik itu dapat teraktualisasi dengan cara belajar kelompok. berbagi idea. Vygostsky mengemukakan tiga wilayah yang tergamit dalam ZPD yang disebut dengan “cannot yet do”. setiap manusia (dalam konteks ini disebut peserta didik) mempunyai potensi tertentu. Guru berperan membantu menghubungkan informasi baru dengan pengalaman yang ada serta membantu peserta didik jika mereka mengalami kebutuan dan bersedia menunjukkan cara bagaimana mereka memiliki kesungguhan untuk belajar. peserta didik berinteraksi dengan empati. Vigotsky merupakan salah satu pengagas teori konstruktivisme sosial. saling menghormati. Berbagi tugas dan kewenangan. Matematika – SMA/MA/SMK | 157 . peran guru lebih banyak sebagai pembimbing dan manajer belajar ketimbang memberi instruksi dan mengawasi secara rijid.lain atau guru. Hasil penelitian Vygotsky membuktikan bahwa ketika peserta didik diberi tugas untuk dirinya sediri. Dalam situasi kolaboratif itu. Dengan pembelajaran kolaboratif.

tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasari pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok peserta didik. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. penggolongan sifat. Peserta didik dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil.  CI = Complex Instruction. Kepada peserta didik diberikan kartu indeks yang memuat informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori. atau mengulangi informasi tentang objek.  STAD = Student Team Achievement Divisions. Penilaian didasari pada rata-rata skor tes kelompok. Kelompok peserta didik yang heterogen. khususnya dalam bidang sains. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para peserta didik yang sangat heterogen. Anggotaanggota dalam setiap kelompok bertindak saling membelajarkan. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua peserta didiksebagai anggota kelompok terhadap pokok bahasan.     3. dan ilmu pengetahuan sosial. Metodeini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/kolaboratif dengan pembelajaran individual. Guru ingin mengajarkan tentang konsep.  TAI = Team Accelerated Instruction. Pada kelas kolaboratif peserta didikdapat menunjukkan kemampuan dan keterampilan mereka. Peserta didik diminta untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama.serta mendengar atau membahas sumbangan informasi dari peserta didik lainnya. Agar masing-masing peserta didik anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan. Untuk keperluan pembelajaran ini dia menggunakan media sortir kartu (card sort). Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu peserta didik lainnya. Prosedurnya dapat dilakukan seperti berikut ini. matematika. Selama masing-masing katagori dipresentasikan oleh peserta didik. fakta. buatlah catatan dengan kata kunci (point) dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting. Berikan kepada peserta didik yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri kepada rekanhya. Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif Banyak merode yang dipakai dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Pembelajaran dilakukan dengan cara peserta didik sebagai anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda mengenai suatu pokok bahasan. berbagi informasi. setiap peserta didik mengerjakan soal-soal Matematika – SMA/MA/SMK | 158 . Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok. Dengan cara seperti ini akan muncul “keseragaman” di dalam heterogenitas peserta didik. Beberapa di antaranya dijelaskan berikut ini. dan pengetahuan peserta didk yang tumbuh dan berkembang sangat penting untuk memperkaya pembelajaran di kelas. Sikap.  JP = Jigsaw Proscedure. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar. Secara bertahap. setiap peserta didik sebagai anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. keterampilan. Titik tekan metode ini adalam pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan.

Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah. Pada metode ini. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya. CLS = Cooperative Learning Stuctures. LT = Learning Together Pada metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan peserta didik yang beragam kemampuannya. para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. kedua peserta didik yang saling berpasangan itu berganti peran. menulis dan tata bahasa.      a. Namun jika seorang peserta didik belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar. Pemanfaatan Internet Pemanfaatan internet sangat dianjurkan dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. para peserta didik saling menilai kemampuan membaca. Bila jawaban tutee benar. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok. Penilaian didasari pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok peserta didik. internet merupakan salah satu jejaring pembelajaran dengan akses dan ketersediaan informasi yang luas dan mudah. CIRC = Cooperative Integrated Reading and Composition. Masa depan adalah milik peserta didik Matematika – SMA/MA/SMK | 159 . hubungan antarpribadi. Pada metode ini semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Penggunaan internet disarakan makin mendesak sejalan denan perkembangan pengetahuan terjadi secara eksponensial. ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Seorang peserta didik bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Dalam pembelajaran ini. pertimbangan. pemikiran kritis. TGT = Teams-Games-Tournament. AC = Academic-Constructive Controversy. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Metode pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca. menulis dan tata bahasa. Pada metode ini setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masingmasing. Karena memang. berikutnya. Penilaian didasari pada hasil belajar individual maupun kelompok. setelah belajar bersama kelompoknya sendiri. Pada metode pembelajaran ini mirip dengan TAI. kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Saat ini internet telah menyediakan diri sebagai referensi yang murah dan mudah bagi peserta didik atau siapa saja yang hendak mengubah wajah dunia. Pada penerapan metode pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua peserta didik (berpasangan). GI = Group Investigation.

. (1985). K. 195203.. 62. A. D.. Science Education. Quinn.. K. Science Education. Cronin. Transfer and retention of transfer of the science processes of observation and comparison in junior high school students. L.yang memiliki akses hampir ke seluruh informasi tanpa batas dan mereka yang mampu memanfaatkan informasi diterima secepat mungkin. An examination of the ability of third grade children from the Science Curriculum Improvement Study to identify experimental variables and to recognize change. 58. Teaching hypothesis formation. The development and validation of the test of basic process skills. (1974). & Twiest. & George. & George. Matematika – SMA/MA/SMK | 160 . 13. (1976). 57. Tomera. Journal of Research in Science Teaching. D. L. (1975). 123-151. Some factors affecting the use of the science process skill of prediction by elementary school children. 215-221. R. French Lick. Science Education. M. (1973). Paper presented at the annual meeting of the National Association for Research in Science Teaching. 59. Thiel. Daftar Pustaka Allen. IN. M. Padilla. M. Science Education. 155-166. 289-296.

Sebelum membicarakan mengenai pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah ini memerlukan langkah-langkah pokok (umum): 1) Mengamati 2) Menanya 3) Menalar 4) Mencoba Matematika – SMA/MA/SMK | 161 . ramalan dsb) 3) Ingin tahu 4) Tidak mudah membuat prasangka 5) Selalu optimis Selanjutnya secara sederhana pendekatan ilmiah merupakan suatu cara atau mekanisme untuk mendapatkan pengetahuan dengan prosedur yang didasarkan pada suatu metode ilmiah. Sebenarnya apa yang kita bicarakan dengan metode ilmiah merujuk pada: (1) adanya fakta. metode ilmiah umumnya memuat rangkaian kegiatan koleksi data atau fakta melalui observasi dan ekperimen. Karena itu. Ada juga yang mengartikan pendekatan ilmiah sebagai mekanisme untuk memperoleh pengetahuan yang didasarkan pada struktur logis. dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik.1. Dengan demikian diperlukan adanya penalaran dalam rangka pencarian (penemuan). Dengan metode ilmiah seperti ini diharapkan kita akan mempunya sifat 1) Kecintaan pada kebenaran yang objektif 2) Tidak gampang percaya pada hal-hal yang tidak rasional (takhayul.2 CONTOH PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA A. dan (4) adanya analisa. (2) sifat bebas prasangka. Metode ilmiah pada dasarnya memandang fenomena khusus (unik) dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan pada simpulan. metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi. perlu dipahami lagi mengenai metode ilmiah. Suatu pengetahuan ilmiah hanya dapat diperoleh dari metode ilmiah. Pengantar Pendekatan scientific atau lebih umum dikatakan pendekatan ilmiah menjadi keniscayaan dalam kurikulum 2013. Pengetahuan dapat merupakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. kemudian memformulasi dan menguji hipotesis. (3) sifat objektif. Untuk dapat disebut ilmiah. empiris. Pada umumnya sesorang selalu ingin memperoleh pengetahuan.HO – 2.

Ada juga refensi yang menyatakan bahwa metode ilmiah adalah wujud dari pendekatan ilmiah. Karena yang dikehendaki adalah jawaban mengenai fakta-fakta (matematika) maka pendekatan dengan langkah-langkah tersebut dikatakan sangat erat dengan metode ilmiah. Secara mudah dapat dipahami eperti halnya “matematika kontek tual”. B. Pengamatan seperti ini cocok untuk anak sekolah dasar atau sekolah menengah pada kelas rendah dimana karakter penalarannya masih bertaraf induktif. Mi alkan kita mengamati air mancur Matematika – SMA/MA/SMK | 162 . Fenomena alam akan menghasilkan suatu fakta yang dituangkan dalam bahasa matematika.5) Membentuk jejaring Dalam kenyataanya karakter keilmuan dari setiap materi pelajaran tidak sama. Misalnya dalam pelajaran matematika. Oleh karena itu pendekatan ilmiah dalam pelajaran tertentu tidak sama persis dengan pelajaran tertentu lainnya. maka langkah-langkahnya dalam pendekatan ilmiah sebagai berikut: 1) Mengamati fakta (matematika) 2) Menanya (perwujudan dari berfikir divergen) 3) Menalar (menentukan/menemukan solusi selanjutnya) 4) Mencoba 5) Menyimpulkan (mengaitkan dengan konsep lain) Langkah-langkah di atas boleh dikatakan sebagai pengejaran terhadap pengetahuan ilmiah yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis dalam matematika dan juga tidak kaku dalam urutan. Contoh pendekatan ilmiah dalam matematika Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa karakter keilmuan dari setiap materi pelajaran tidak sama maka khusus untuk matematika langkah dalam pendekatan ilmiah dapat dicontohkan sebagai berikut: 1) Mengamati fakta Mengamati fakta matematika dapat dibagi dalam dua pengertian a. Pengamatan nyata fenomena alam atau lingkungan.

Pengamatan objek matematika Pengamatan seperti ini sangat cocok untuk siswa yang mulai menerima kebenaran logis. Matematika – SMA/MA/SMK | 163 . Misalnya. Pengamatan ini akan sangat terbantu jika dalam penyampaian menggunakan TIK. postulat. Maka (nantinya) akan terlihat bahwa mempengaruhi “runcingnya” titik puncak parabola yang terbentuk. grafik dan lain sebagainya. walaupun objeknya tidak nyata. sifat. siswa diminta menggambar ( ) dengan nilai fungsi dan tertentu. siswa memahami kebenaran postulat setiap dua titik pasti hanya dapat dibuat tepat satu garis yang melaluinya. Selanjutnya nilai kuadrat diubah dalam berbagai nilai sedangkan b dan c tetap.Sebenarnya (nantinya) gerakan air mancur ini terkait dengan konsep fungsi kuadrat b. garis itu pasti garis yang tadi juga. Contoh lain misalnya dalam geometri datar. Pengamatan seperti ini lebih tepat dikatakan sebagai pengumpulan dan pemahaman kebenaran matematika. sehingga mereka tidak mempermasalahkan suatu rangkaian kebenaran sebelumnya yang didapatkan dari penalaran yang benar. Artinya. tidak mungkin terjadi gambar seperti di bawah. jika ada garis lain. teorema. aksioma. Fakta yang didapatkan dapat berupa definisi. Jadi jika digambarkan (diamati).

Dalam matematika permasalahan seperti ini dapat dijawab dengan mengaitkan teorema lain atau pendefinisian baru terutama bagi siswa yang sudah dapat menerima kebenaran logis. bernilai positif kecil dan sebagainya. bagi siswa sekolah dasar kebenaran empirik masih dominan dibanding Matematika – SMA/MA/SMK | 164 . dengan menanyakan alternatif-alternatif yang mungkin dari solusi itu. Dalam hal ini guru tidak boleh memberi tahu. Ini terjadi karena siswa cenderung menghafal algoritma atau prosedur tertentu. sampai siswa sendiri yang menyelesaikan dan mencari alternatif yang lain. sedangkan definisi Pertanyaan seperti di atas memerlukan adanya solusi (jawaban) melalui suatu penalaran. . dimana . Tidak terbangun suatu pemikiran yang divergen. bagaimana untuk negatif. Misalkan dalam grafik fungsi kuadrat ( ) untuk bernilai positif besar. . guru hanya memberikan pertanyaan pancingan. Contoh lain. Untuk menggalinya dapat dilakukan dengan memanfaatkan solusi yang mereka hasilkan (pemikiran siswa). Sebaliknya. Pemikiran yang divergen ini dapat dibangkitkan dari suatu pertanyaan.2) Menanya Kecenderungan yang ada sekarang adalah siswa gagal menyelesaikan suatu masalah matematika jika konteksnya diubah sedikit saja. untuk bagaimana menentukan nilai sinus untuk (fakta) awal in Karena banyak guru membuat jembatan keledai dengan menyingkat “SINDEMI KOSAMI TANDESA” yaitu .

Misalkan menemukan volum kerucut dengan takaran.kebenaran logis. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus. Demikian pula untuk sudut siku-siku ( ) dan sudut lurus ( ). Perlu diingat juga bahwa penalaran diartikan juga sebagai penyerupaan atau analogi atau dalam bahasa sosial asosiasi Terkait dengan contoh diatas dapat digambarkan sebagai berikut Matematika – SMA/MA/SMK | 165 . Oleh karena itu pertanyaan yang diajukan tentu berbeda siswa pada sekolah menengah. modus tolen dan silogisme. Disini penalaran dapat bermakna penyerupaan (associating) dan juga dapat bermakna akibat (reasoning). Ada dua cara menalar. Penalaran yang paling dikenal dalam matematika terkait penarikan kesimpiulan adalah modus ponen. Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik. 3) Penalaran Sejatinya penalaran secara umum adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Penalaran induktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari fenomena khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. 3 kali Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataanpernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Sedangkan pada contoh sebelumnya yaitu menentukan nilai sinus sudut di kuadran II maka dengan kejadian seperti ini perlu adanya pengertian atau definisi baru sebagai perluasan (memikirkan perlunya hal baru).

Dengan definisi akan mewadahi atau memenuhi sistem dalam matematika itu sendiri. Dari sini diperlukan adanya langkah atau tahap berikutnya yaitu mencoba atau secara lebih luas membuktikan. tetapi terkait dengan posisi kordinat. Matematika – SMA/MA/SMK | 166 .Dalam hal ini (nantinya) definisi sinus tidak sebatas pada perbandingan panjang sisi segitiga siku-siku seperti pada definisi awal.

Dari pengertian awal in sedangkan dengan perluasan in Jadi disini terlihat bahwa in in √ √ .4) Mencoba Pengertian mencoba disini dapat diartikan secara sempit seperti menunjukkan dan dapat diartikan secara luas yaitu membuktikan. nilai ordinat (komponen-y) positif dan panjang jari-jari positif. Sebagai cotoh nilai sinus sebagai perluasan ternyata merupakan perbandingan ordinat dengan panjang jari-jari. Untuk sudut di kuadran I. nilai ordinat (komponen-y) positif dan panjang jari-jari positif. Pada akhirnya langakah ini untuk menunjukkan bahwa jika besar sudut berada di kuadran II ( in in( ) maka dipenuhi ). Namun contoh seperti ini bukan merupakan pembuktian dalam matematika. hanya sekedar contoh tahapan/langkah dalam pendekatan ilmiah. Selanjutnya dicoba untuk besar sudut yang lain. Adapun tahapan yang lebih spesifik dalam matematika yaitu membuktikan berlakunya in in( ) untuk ( ) masih memerlukan pengerjaan lanjutan Matematika – SMA/MA/SMK | 167 . Demikian pula untuk sudut di kuadran II.

(i). co .5) Menyimpulkan (mengaitkan dengan konsep dan aplikasi lain) Pengertian menyimpulkan disini mengandung dua pengertian. Dengan diperolehnya hubungan in antara sudut dan sudut in( ) maka siswa memahami kaitan yaitu mempunyai nilai sinus yang sama. Persisnya berelasi melalui nilai sinus yang sama. Dengan menerapkan prinsip perbandingan pada tangen maka dapat ditentukan tinggi pohon secara tidak langsung Matematika – SMA/MA/SMK | 168 . Simpulan ini kemudian dikaitkan dengan pengertian matematka lain misalnya co tan in co tan ) dan sebagainya. Misalnya dalam pengerjaan dimunculkan hasil berikut: Selanjutnya diharapkan siswa dapat menyimpulkan bahwa sudut yang demikian adalah sudut yang berelasi. Disamping itu hasil yang diperoleh oleh siswa digunakan untuk aplikasi dalam dunia nyata maupun dikaitkan dengan pengetahuan lain (fisika. co ( ) in Contohnya hubungan in( (ii). yaitu mengaitkan konsep dalam matematika itu sendiri (matematika vertikal) dan mengaitkan konsep yang diperoleh dengan dunia nyata (matematika horizontal). Sebagai contoh siswa ingin mengetahui tinggi suatu pohon. geografi dll).

prosedural. dan metakognitif terkait bidang kajian matematika dapat digunakan untuk memecahkan masalah. cinta damai. peduli. siswa mengaitkan fungsi trigonometri dengan gerak ayunan dalam fisika Ada juga literasi yang memaknai tahapan menyimpulkan sebagai tindakan membentuk jejaring (networking) secara fisik yaitu bekerjasama atau berkolaborasi antar siswa. penerapan dan analisis dari pengetahuan faktual. tanggung jawab. santun. Penutup Langkah-langkah dalam pendekatan ilmiah seperti dijelaskan di atas tentu saja harus dijiwai oleh perilaku (jujur. kerjasama.Contoh lain. Matematika – SMA/MA/SMK | 169 . C. ramah lingkungan. responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Disamping itu pemahaman. disiplin. konseptual. gotong royong.

Makalah pada Workshop Kurikulum. Jakarta [3] http://www..the-scientist. (2008). Pendekatan-pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran. Teaching Mathematics Today.com/2009/07/06/pendekatan-ilmiah/ Februari 2013 : diakses 16 Matematika – SMA/MA/SMK | 170 . CA 92649-1030: Shell Education [2] Sudarwan. (2013).com/?articles. Prof.wordpress.view/articleNo/24488/title/The-ScientificApproach/: diakses 16 Februari 2013 [4] http://ariasusman.Referensi: [1] Shelly Frei. Huntington Beach.

danDiscovery Learning).2: Model Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Mengamati tayangan pembelajaran Diskusi Kelompok (Focus Group Discussion) 30 Menit Kerja Kelompok 20 Menit 40 Menit Mengamatitayangan tiga jenis model pembelajaran (Project Based Learning. Kerjakelompok untuk mengidentifikasi penerapan Pendekatan Scientific pada tiga model pembelajaran. Menerapkan Focus Group Discussion untuk mengidentifikasi karakteristik tiga model pembelajaran. Matematika – SMA/MA/SMK | 171 . Problem Based Learning.Materi Pelatihan2.

Matematika – SMA/MA/SMK | 172 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 173 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 174 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 175 .

Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja. Dengan pembelajaran “berbasis produksi” peserta didik di SMK diperkenalkan dengan suasana dan makna kerja yang sesungguhnya di dunia kerja. Matematika – SMA/MA/SMK | 176 . Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata. hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. Pada saat pertanyaan terjawab. secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. sintesis. Melalui PjBL. Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dikatakan sebagai operasionalisasi konsep “Pendidikan Berbasis Produksi” yang dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata.HO-2. 2. Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik. Peserta didik melakukan eksplorasi. dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. KONSEP/DEFINISI Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL) adalah metoda pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. SMK sebagai institusi yang berfungsi untuk menyiapkan lulusan untuk bekerja di dunia usaha dan industri harus dapat membekali peserta didiknya dengan “kompetensi terstandar” yang dibutuhkan untuk bekerja dibidang masing-masing. penilaian. proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun ( a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum.2-1 MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK/ PROJECT BASED LEARNING A. maka Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya. interpretasi. PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata. Dengan demikian model pembelajaran yang cocok untuk SMK adalah pembelajaran berbasis proyek. Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda. dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.

seperti: traditional class (teori). proses evaluasi dijalankan secara kontinyu. sehingga kebutuhan listrik bertambah. Pembelajaran Berbasis Proyek memerlukan banyak waktu yang harus disediakan untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek. 1. Untuk itu disarankan menggunakan team teaching dalam proses pembelajaran. 6. discussion group (pembuatan konsep dan pembagian tugas kelompok). situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan Peran instruktur atau guru dalam Pembelajaran Berbasis Proyek sebaiknya sebagai fasilitator. kreasi dan inovasi dari siswa. beberapa contoh perubahan lay-out ruang kelas. peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan. Banyak instruktur merasa nyaman dengan kelas tradisional . 8. 7. circle (presentasi).dimana instruktur memegang peran utama di kelas. 4. Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan. peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar. lab tables (saat mengerjakan tugas mandiri). Atau buatlah suasana belajar menyenangkan. Ini merupakan suatu transisi yang sulit. penasehat dan perantara untuk mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan daya imajinasi. B. 2. FAKTA EMPIRIK KEBERHASILAN Kelebihan dan kekurangan pada penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dijelaskan sebagai berikut. bahkan saat diskusi dapat dilakukan di taman. b. Keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek: a. mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting. 5. dan akan lebih menarik lagi jika suasana ruang belajar tidak monoton. dan mereka perlu untuk dihargai.3. pelatih. Banyaknya peralatan yang harus disediakan. Beberapa hambatan dalam implementasi metode Pembelajaran Berbasis Proyek antara lain: 1. karena menambah biaya untuk memasuki system baru. peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan. 4. produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif. 3. Matematika – SMA/MA/SMK | 177 . artinya belajar tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. terutama bagi instruktur yang kurang atau tidak menguasai teknologi.

f. Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional. i. Menurut studi penelitian. di mana instruktur memegang peran utama di kelas. f. kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata. Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki. Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan. Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek. sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran. memilih lokasi penelitian yang mudah dijangkau sehingga tidak membutuhkan banyak waktu dan biaya. Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problemproblem yang kompleks. dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda. Pembelajaran Berbasis Proyek ini juga menuntut siswa untuk mengembangkan keterampilan seperti kolaborasi dan refleksi. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan. Membutuhkan biaya yang cukup banyak c. dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan Untuk mengatasi kelemahan dari pembelajaran berbasis proyek di atas seorang pendidik harus dapat mengatasi dengan cara memfasilitasi peserta didik dalam menghadapi masalah. meminimalis dan menyediakan peralatan yang sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar. e. Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber. Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata. h. e. menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga instruktur dan peserta didik merasa nyaman dalam proses pembelajaran. g. Meningkatkan kolaborasi. b. membatasi waktu peserta didik dalam menyelesaikan proyek. Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek: a. Banyaknya peralatan yang harus disediakan. g. Pembelajaran Berbasis Proyek Matematika – SMA/MA/SMK | 178 . d. j.c. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah. Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok. d. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi. 2.

2. 1. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Antusias peserta didik cenderung untuk mempertahankan apa yang mereka pelajari. Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project) Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Ketika anak-anak bersemangat dan antusias tentang apa yang mereka pelajari. mereka sering mendapatkan lebih banyak terlibat dalam subjek dan kemudian memperluas minat mereka untuk mata pelajaran lainnya. 1 PENENTUAN PERTANYAAN MENDASAR 2 MENYUSUN PERECANAAN PROYEK 3 MENYUSUN JADUAL 6 EVALUASI PENGALAMAN 5 MENGUJI HASIL 4 MONITORING Diagram 1. dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin. Perencanaan berisi tentang aturan main. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik. pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial. Langkah langkah Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek Penjelasan langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut. Dengan emikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question) Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial. C. termasuk orang dewasa. bukan melupakannya secepat mereka telah lulus tes.membantu siswa untuk meningkatkan keterampilan sosial mereka. LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL Langkah langkah pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dijelaskan dengan diagram sebagai berikut. sering menyebabkan absensi berkurang dan lebih sedikit masalah disiplin di kelas. serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk Matematika – SMA/MA/SMK | 179 . yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Pelajaran berbasis proyek juga meningkatkan antusiasme untuk belajar. Siswa juga menjadi lebih percaya diri berbicara dengan kelompok orang.

dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.membantu penyelesaian proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap roses. e. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. 1. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek. Merencanakan dan mendesain pembelajaran Membuat strategi pembelajaran Membayangkan interaksi yang akan terjadi antara guru dan siswa Mencari keunikan siswa Menilai siswa dengan cara transparan dan berbagai macam penilaian Membuat portofolio pekerjaan siswa Matematika – SMA/MA/SMK | 180 . Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek. pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Menguji Hasil (Assess the Outcome) Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar. dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara. 5. 6. Peran Guru a. Menyusun Jadwal (Create a Schedule) Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran. Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience) Pada akhir proses pembelajaran. (2) membuat deadline penyelesaian proyek. membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya. (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing. 4. f. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project) Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek.masing peserta didik. memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik. 3. Peran guru dan peserta didik dalam pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut. b. c. d. Agar mempermudah proses monitoring.

f. g.2. d. pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. Peran Peserta Didik a. mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa dalam melaksanakan pembelajaran berbasis proyek. observasi. Menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir Melakukan riset sederhana Mempelajari ide dan konsep baru Belajar mengatur waktu dengan baik Melakukan kegiatan belajar sendiri/kelompok Mengaplikasikanhasil belajar lewat tindakan Melakukan interaksi sosial (wawancara. survey. 1. e. Pengertian Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Penilaian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. D. Penilaian Pembelajaran Berbasis Proyek dapat menggunakan teknik penilaian yang dikembangkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu penilaian proyek atau penilaian produk. Penilaian Proyek a. dll). b. kemampuan mengaplikasikan. pengorganisasian. c. dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik. 2) Relevansi Kesesuaian dengan mata pelajaran. Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan yaitu: 1) Kemampuan pengelolaan Kemampuan peserta didik dalam memilih topik. dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan. SISTEM PENILAIAN Penilaian pembelajaran dengan metoda Pembelajaran Berbasis Proyek harus diakukan secara menyeluruh terhadap sikap. pengumpulan data. Matematika – SMA/MA/SMK | 181 . pengolahan dan penyajian data. 3) Keaslian Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya. kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan.

sampai hasil akhir proyek. proses pengerjaan sampai dengan akhir proyek. guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. Analisis Data e. Matematika – SMA/MA/SMK | 182 . analisis data.b. Teknik Penilaian Proyek Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan. Untuk itu perlu memperhatikan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. dan penyiapkan laporan tertulis. Kuantitas Sumber Data d. Penarikan Kesimpulan LAPORAN PROYEK : a. Contoh Teknik Penilaian Proyek Mata Pelajaran Nama Proyek Alokasi Waktu Guru Pembimbing Nama NIS Kelas No. Persiapan b. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Performans b. Presentasi / Penguasaan TOTAL SKOR SKOR (1 . 1 : : : : : : : ASPEK PERENCANAAN : a. Rumusan Judul PELAKSANAAN : a. Pelaksanaan penilaian dapat juga menggunakan rating scale dan checklist. proses pengerjaan. Untuk itu. Sistematika Penulisan b. seperti penyusunan disain. Keakuratan Sumber Data / Informasi c.5) 2 3 Penilaian Proyek dilakukan mulai dari perencanaan . Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/ instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. pengumpulan data.

gambar). Pengertian Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk.2. Matematika – SMA/MA/SMK | 183 . yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni. 2) Tahap pembuatan produk (proses). dan mengembangkan gagasan. barang-barang terbuat dari kayu. hasil karya seni (patung. pakaian. seperti: makanan. Cara analitik. keramik. meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan. Teknik Penilaian Produk Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik. yaitu berdasarkan aspek-aspek produk. dan logam. biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan. alat. 3) Tahap penilaian produk (appraisal). dan teknik. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu: 1) Tahap persiapan. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan. plastik. b. menggali. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan. dan mendesain produk. lukisan. biasanya dilakukan pada tahap appraisal. Penilaian Produk a. 1) 2) Cara holistik.

Teknik Pengolahan c. The learning that lies between play and academics in afterschool programs. [Online].bie. Diakses di http://digilib.niost. Teaching for meaningful learning: A review of research on inquiry-based and cooperative learning. (2008).edutopia.. K3 (Keselamatan kerja. E. (2000). Diakses di http://www. Persiapan alat dan bahan b. National Institute on Out-of-School Time. B. dengan ketentuan semakin lengkap jawaban dan ketepatan dalam proses pembuatan maka semakin tinggi nilainya. & Darling-Hammond. org/pdfs/edutopia-teaching-for-meaningful-learning. keamanan dan kebersihan) Tahap Akhir (Hasil Produk) a. Buck Institute for Education.Contoh Penilaian Produk Mata Ajar : Nama Proyek : Alokasi Waktu : Nama Peserta didik : Kelas/SMT : No. Introduction to Project Based Learning.sunan-ampel. Matematika – SMA/MA/SMK | 184 . L.org/images/uploads/general/20fa7d42c216e2ec171a212e97fd4a9e.pdf (17 Oktober 2011).pdf.Metode Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) [online]. Retrieved from http://www. Admin. Barron. 1 2 Tahapan Tahap Perencanaan Bahan Tahap Proses Pembuatan : a.ac. D. Inovasi TOTAL SKOR Skor ( 1 – 5 )* 3 Catatan : *) Skor diberikan dengan rentang skor 1 sampai dengan 5. Daftar Pustaka Alexander. Retrieved from http://www. Bentuk fisik b.pdf (18 Oktober 2011).org/ Publications/papers.id/files/disk1/151/hubptain-gdl-ellyikasus-7509-3-babii.

brighthub. Research summary: Project-based learning in middle grades mathematics. San Diego. [Online].ch/en/Project-based_learning (18 Oktober 2011). Project-based learning. Journal of Problem-Based Learning. Lucas. Diakses di http://www. George .org/modules/PBL/whatpbl. dihttp://edutechwiki.aspx (18 Oktober 2011) Grant. R. The Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning. Suzanne. 3(1).(2005). J.unige. Novato.com/education/k-12/articles/90553. Savery. 2005. ResearchSummaries/ProjectBasedLearninginMath/tabid/1570/Default.Daniel K. M. Diakses Florin. 9–20. Project-based learning handbook (2nd ed.php.org/Research/ResearchSummaries. (2006). 1(1). The Success of Project Based Learning. Schneider. [Online]. CA: Buck Institute for Education. 2010. Diakses tanggal 13 Juli 2010. April).nmsa. http://www. T.aspx. Matematika – SMA/MA/SMK | 185 . (2003). Understanding projects in projectbased learning: A student’s perspective. Retrieved from http://www.edutopia. Instructional Module Project Based Learning.). 12–43. Markham. Paper presented at Annual Meeting of the American Educational Research Association. CA. Overview of problem-based learning: Definitions and distinctions. (2009.

Matematika – SMA/MA/SMK | 186 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 187 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 188 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 189 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 190 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 191 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 192 .

Ada lima strategi dalam menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) yaitu: 1) Permasalahan sebagai kajian. Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan adanya pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh peserta didik yang diharapkan dapat menambah keterampilan peserta didik dalam pencapaian materi pembelajaran. dirancang masalah-masalah yang menuntut peserta didik mendapat pengetahuan penting. A. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud.. 2) Permasalahan sebagai penjajakan pemahaman Matematika – SMA/MA/SMK | 193 .HO-2. dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. Konsep/Definisi Definisi: 1) Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah. Dalam kurikulumnya. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Masalah diberikan kepada peserta didik.2-2 MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) Problem Based Learning (PBL) adalah kurikulum dan proses pembelajaran. bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world) 2) Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”.

3) Permasalahan sebagai contoh 4) Permasalahan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses 5) Permasalahan sebagai stimulus aktivitas otentik Peran guru, peserta didik dan masalah dalam pembelajaran berbasis masalah dapat digambarkan sebagai berikut: Guru sebagai pelatih o Asking about thinking (bertanya tentang pemikiran) o memonitor pembelajaran o probbing ( menantang peserta didik untuk berfikir ) o menjaga agar peserta didik terlibat o mengatur dinamika kelompok o menjaga berlangsungnya proses Peserta didik sebagai problem solver o peserta yang aktif o terlibat langsung dalam pembelajaran o membangun pembelajaran Masalah sebagai awal tantangan dan motivasi o menarik untuk dipecahkan o menyediakan kebutuhan yang ada hubungannya dengan pelajaran yang dipelajari

Tujuan dan hasil dari model pembelajaran berbasis masalah ini adalah: 1) Keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah Pembelajaran berbasis masalah ini ditujukan untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. 2) Pemodelan peranan orang dewasa. Bentuk pembelajaran berbasis masalah penting menjembatani gap antara pembelajaran sekolah formal dengan aktivitas mental yang lebih praktis yang dijumpai di luar sekolah. Aktivitas-aktivitas mental di luar sekolah yang dapat dikembangkan adalah : PBL mendorong kerjasama dalam menyelesaikan tugas. PBL memiliki elemen-elemen magang. Hal ini mendorong pengamatan dan dialog dengan yang lain sehingga peserta didik secara bertahap dapat memi peran yang diamati tersebut.  PBL melibatkan peserta didik dalam penyelidikan pilihan sendiri, yang memungkinkan mereka menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun femannya tentang fenomena itu. 3) Belajar Pengarahan Sendiri (self directed learning) Pembelajaran berbasis masalah berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus dapat menentukan sendiri apa yang harus dipelajari, dan dari mana informasi harus diperoleh, di bawah bimbingan guru. Pendekatan PBL mengacu pada hal-hal sebagai berikut : a. Kurikulum : PBL tidak seperti pada kurikulum tradisional, karena memerlukan suatu strategi sasaran di mana proyek sebagai pusat.  

Matematika – SMA/MA/SMK | 194

b. Responsibility : PBL menekankan responsibility dan answerability para peserta didik ke diri dan panutannya. c. Realisme : kegiatan peserta didik difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya. Aktifitas ini mengintegrasikan tugas otentik dan menghasilkan sikap profesional. d. Active-learning : menumbuhkan isu yang berujung pada pertanyaan dan keinginan peserta didik untuk menemukan jawaban yang relevan, sehingga dengan demikian telah terjadi proses pembelajaran yang mandiri. e. Umpan Balik : diskusi, presentasi, dan evaluasi terhadap para peserta didik menghasilkan umpan balik yang berharga. Ini mendorong kearah pembelajaran berdasarkan pengalaman. f. Keterampilan Umum : PBL dikembangkan tidak hanya pada ketrampilan pokok dan pengetahuan saja, tetapi juga mempunyai pengaruh besar pada keterampilan yang mendasar seperti pemecahan masalah, kerja kelompok, dan self-management.

g. Driving Questions : PBL difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan yang memicu peserta didik untuk berbuat menyelesaikan permasalahan dengan konsep, prinsip dan ilmu pengetahuan yang sesuai. h. Constructive Investigations : sebagai titik pusat, proyek harus disesuaikan dengan pengetahuan para peserta didik. i. Autonomy : proyek menjadikan aktifitas peserta didik sangat penting.

B. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil Pembelajaran Kelebihan menggunakan PBL, antara lain; (1) Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik/mahapeserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan; (2) Dalam situasi PBL, peserta didik/mahapeserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan; dan (3) PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik/mahapeserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok. Metoda ini memiliki kecocokan terhadap konsep inovasi pendidikan bidang keteknikan, terutama dalam hal sebagai berikut : 1. peserta didik memperoleh pengetahuan dasar (basic sciences) yang berguna untuk memecahkan masalah bidang keteknikan yang dijumpainya,
Matematika – SMA/MA/SMK | 195

2. peserta didik belajar secara aktif dan mandiri dengan sajian materi terintegrasi dan relevan dengan kenyataan sebenarnya, yang sering disebut student-centered, 3. peserta didik mampu berpikir kritis, dan mengembangkan inisiatif. Berikut adalah beberapa hasil penelitian berkaitan dengan model PBL. 1. Wagiran, dkk, 2010, Pengembangan Pembelajaran Model Problem Based Learning Dengan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer dalam Matadiklat Measuring Bagi Peserta didik SMK (Hibah Bersaing Perguruan Tinggi), 2010: Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Penelitian dirancang dalam tiga tahap dalam kurun waktu 3 tahun. Pada tahun pertama penelitian bertujuan untuk merancang, membuat dan mengembangkan media pembelajaran berbantuan komputer berikut perangkatnya dalam mendukung model pembelajaran PBL-PBK. Pada tahun kedua, penelitian ini bertujuan untuk menerapkan dan menguji model pembelajaran PBL-PBK dalam lingkup luas sekaligus melihat efektivitasnya. Pada tahun ketiga, penelitian ini memfokuskan pada tahap sosialisasi model pembelajaran PBL-PBK dalam lingkup yang lebih luas. Penelitian dirancang menggunakan pendekatan Research and Development Sumber data dalam penelitian ini meliputi kalangan industri permesinan, perumus kebijakan, kepala sekolah, guru, peserta didik, dan ahli pendidikan. Penerapan model direncanakan di 5 SMK dengan metode eksperimen. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kuantitatif yaitu deskriptif, dan komparatif. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah diperolehnya kompetensi Measuring dan diperolehnya media pembelajaran berbantuan komputer dalam mendukung pembelajaran PBL-PBK yang teruji. Hasil evaluasi ahli tentang kualitas media dilihat dari sisi materi menunjukkan skor 3,38 (dalam kategori baik), dari kualitas tampilan menunjukkan skor 3,04 (dalam kategori baik), sedangkan dari sisi pengorganisasian materi penunjukan skornya adalah: konsistensi sebesar 2,92 (cukup baik), format sebesar 3,13 (baik), pengorganisasian sebesar 3,25 (baik), bentuk dan ukuran huruf sebesar 2,63 (cukup baik). Hasil uji kelayakan(ujicoba) kepada peserta didik menunjukkan bahwa kualitas media dilihat dari sisi materi menunjukkan skor 3,28 (dalam kategori baik), dari kualitas tampilan dan daya tarik menunjukkan skor 3,30 (dalam kategori baik), sedangkan dari sisi pengorganisasian materi penunjukan skornya adalah: sebesar 3,22 (baik) Dengan demikian media berbantuan komputer dalam matadiklat measuring layak untuk diterapkan. Media berbantuan komputer yang disusun telah memnuhi aspek kelayakan baik dari segi teoritis maupun dari segi empiris. Tedapat tiga pola implementasi pembelajaran menggunakan media berbantuan komputer yaitu: (a) sebagai media tayamg, (b) sebagai media pendukung praktek, dan (c) sebagai media pembelajaran individual dan interaktif. 2. Dian Mala Sari, Pebriyenni ., Yulfia Nora, 2013, Peningkatan Partisipasi dan Hasil Belajar Peserta didik Kelas IVB dalam Pembelajaran IPS Melalui Model Problem Based Learning di SDN 20 Kurao Pagang, Faculty of Education, Bung Hatta University
Matematika – SMA/MA/SMK | 196

Penelitian ini dilatarbelakangi kurangnya partisipasi peserta didik kelas IVB pada pembelajaran IPS. Yang berdampak terhadap rendahnya hasil belajar peserta didik. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan peningkatan partisipasi dan hasil belajar peserta didik kelas IVB dalam pembelajaran IPS melalui model PBL di SDN 20 Kurao Pagang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan secara partisipan. Subjek penelitian ini peserta didik kelas IVB SDN 20 Kurao Pagang. Instrumen penelitian yang digunakan lembar observasi partisipasi peserta didik, lembar observasi aktivitas guru, tes hasil belajar dan catatan lapangan. Hasil penelitian diketahui bahwa partisipasi dalam menjawab pertanyaan meningkat dari 52,5 % di siklus I menjadi 70%, di siklus II. Partisipasi peserta didik menanggapi jawaban meningkat dari 40% di siklus I menjadi 65% di siklus II, dan partisipasi peserta didik dalam presentasi meningkat dari 27,5% di siklus I menjadi 67,5% di siklus II. Hasil belajar peserta didik siklus I meningkat dari 57,25% menjadi 72,75% di siklus II. Sedangkan persentase ketuntasan belajar yang ditentukan 70%. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa partisipasi dan hasil belajar peserta didik kelas IVB dapat ditingkatkan melalui model PBL dalam pembelajaran IPS di SDN 20 Kurao Pagang. C. Langkah-langkah Operasional Imlementasi dalam Proses Pembelajaran Pembelajaran suatu materi pelajaran dengan menggunakan PBL sebagai basis model dilaksanakan dengan cara mengikuti lima langkah PBL dengan bobot atau kedalaman setiap langkahnya disesuaikan dengan mata pelajaran yang bersangkutan. 1. Konsep Dasar (Basic Concept) Jika dipandang perlu, fasilitator dapat memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik lebih cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan ‘peta’ yang akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran. Lebih jauh, hal ini diperlukan untuk memastikan peserta didik memperoleh kunci utama materi pembelajaran, sehingga tidak ada kemungkinan terlewatkan oleh peserta didik seperti yang dapat terjadi jika peserta didik mempelajari secara mandiri. Konsep yang diberikan tidak perlu detail, diutamakan dalam bentuk garis besar saja, sehingga peserta didik dapat mengembangkannya secara mandiri secara mendalam. 2. Pendefinisian Masalah (Defining the Problem) Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan skenario atau permasalahan dan dalam kelompoknya, peserta didik melakukan berbagai kegiatan. Pertama, brainstorming yang dilaksanakan dengan cara semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat. Setiap anggota kelompok memiliki hak yang sama dalam memberikan dan menyampaikan ide dalam diskusi serta mendokumentasikan secara tertulis pendapat masing-masing dalam kertas kerja. Selain itu, setiap kelompok harus mencari istilah yang kurang dikenal dalam skenario tersebut dan berusaha mendiskusikan maksud dan artinya. Jika ada peserta didik yang
Matematika – SMA/MA/SMK | 197

mengetahui artinya, segera menjelaskan kepada teman yang lain. Jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis dalam permasalahan kelompok. Selanjutnya, jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis sebagai isu dalam permasalahan kelompok. Kedua, melakukan seleksi alternatif untuk memilih pendapat yang lebih fokus. Ketiga, menentukan permasalahan dan melakukan pembagian tugas dalam kelompok untuk mencari referensi penyelesaian dari isu permasalahan yang didapat. Fasilitator memvalidasi pilihan-pilihan yang diambil peserta didik. Jika tujuan yang diinginkan oleh fasilitator belum disinggung oleh peserta didik, fasilitator mengusulkannya dengan memberikan alasannya. Pada akhir langkah peserta didik diharapkan memiliki gambaran yang jelas tentang apa saja yang mereka ketahui, apa saja yang mereka tidak ketahui, dan pengetahuan apa saja yang diperlukan untuk menjembataninya. Untuk memastikan setiap peserta didik mengikuti langkah ini, maka pendefinisian masalah dilakukan dengan mengikuti petunjuk. 3. Pembelajaran Mandiri (Self Learning) Setelah mengetahui tugasnya, masing-masing peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu: (1) agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan (2) informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami. Di luar pertemuan dengan fasilitator, peserta didik bebas untuk mengadakan pertemuan dan melakukan berbagai kegiatan. Dalam pertemuan tersebut peserta didik akan saling bertukar informasi yang telah dikumpulkannya dan pengetahuan yang telah mereka bangun. Peserta didik juga harus mengorganisasi informasi yang didiskusikan, sehingga anggota kelompok lain dapat memahami relevansi terhadap permasalahan yang dihadapi. 4. Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge) Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara peserrta didik berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya. Tiap kelompok menentukan ketua diskusi dan tiap peserta didik menyampaikan hasil pembelajaran mandiri dengan cara mengintegrasikan hasil pembelajaran mandiri untuk mendapatkan kesimpulan kelompok. Langkah selanjutnya presentasi hasil dalam pleno (kelas besar) dengan mengakomodasi masukan dari pleno, menentukan kesimpulan akhir, dan dokumentasi akhir. Untuk memastikan setiap peserta didik mengikuti langkah ini maka dilakukan dengan mengikuti petunjuk.
Matematika – SMA/MA/SMK | 198

5. Penilaian (Assessment) Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan. Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran dalam pembelajaran. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. D. Contoh Penerapan Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu. Kemudian peserta didik diminta mencatat masalah-masalah yang muncul. Setelah itu tugas guru adalah meransang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka. Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar. Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan peserta didik, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar diluar kelas. Peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran. Tahapan-Tahapan Model PBL FASE-FASE Fase 1 Orientasi peserta didik kepada masalah Fase 2 Mengorganisasikan peserta didik Fase 3 Membimbing penyelidikan individu dan kelompok Fase 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya PERILAKU GURU  Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yg dibutuhkan  Memotivasi peserta didik untuk terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang dipilih Membantu peserta didik mendefinisikan danmengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut Mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah Membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, model dan berbagi tugas dengan teman
Matematika – SMA/MA/SMK | 199

tetapi lebih kepada belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi peserta didik yang mandiri. Guru akan bertindak sebagai pembimbing yang siap membantu. Guru sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja Matematika – SMA/MA/SMK | 200 . dan 4. dan sebagainya. Dalam penggunaan PBL. Oleh sebab itu. peserta didik didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi. Ada empat hal yang perlu dilakukan dalam proses ini. Tidak ada ide yang akan ditertawakan oleh guru atau teman sekelas. sebuah masalah yang rumit atau kompleks mempunyai banyak penyelesaian dan seringkali bertentangan. Permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai jawaban mutlak “benar“. Fase 2: Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar Disamping mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah. Prinsip-prinsip pengelompokan peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen. Semua peserta didik diberi peluang untuk menyumbang kepada penyelidikan dan menyampaikan ide-ide mereka. yaitu: 1. guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok peserta didik dimana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Tujuan utama pengajaran tidak untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru. Selama tahap penyelidikan (dalam pengajaran ini). serta dijelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses pembelajaran. Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar peserta didik dapat mengerti dalam pembelajaran yang akan dilakukan. pentingnya interaksi antar anggota. Selama tahap analisis dan penjelasan. komunikasi yang efektif. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. pembelajaran PBL juga mendorong peserta didik belajar berkolaborasi. tahapan ini sangat penting dimana guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh peserta didik dan juga oleh guru. 3. peserta didik akan didorong untuk menyatakan ide-idenya secara terbuka dan penuh kebebasan. adanya tutor sebaya. 2. namun peserta didik harus berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan temannya.FASE-FASE Fase 5 Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah PERILAKU GURU Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari /meminta kelompok presentasi hasil kerja Fase 1: Mengorientasikan peserta didik pada masalah Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitasaktivitas yang akan dilakukan.

Tujuannya adalah agar peserta didik mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri. Fase 5: Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah Matematika – SMA/MA/SMK | 201 . Guru membantu peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber. dan sajian multimedia. dan pemecahan. guru harus mendorong peserta didik untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. Pada tahap ini. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini adalah mengupayakan agar semua peserta didik aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting. Setelah peserta didik mengumpulkan cukup data dan memberikan permasalahan tentang fenomena yang mereka selidiki.masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran. dan jadwal. penjelesan. guru-guru. Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis. namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik. dan memberikan pemecahan. dan ia seharusnya mengajukan pertanyaan pada peserta didik untuk berifikir tentang masalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan. program komputer. tugas-tugas penyelidikan. yakni pengumpulan data dan eksperimen. guru mendorong peserta didik untuk menyampikan semua ide-idenya dan menerima secara penuh ide tersebut. Guru juga harus mengajukan pertanyaan yang membuat peserta didik berfikir tentang kelayakan hipotesis dan solusi yang mereka buat serta tentang kualitas informasi yang dikumpulkan. Fase 3: Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok Penyelidikan adalah inti dari PBL. berhipotesis dan penjelasan. Setelah peserta didik diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar selanjutnya guru dan peserta didik menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik. Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil karya) dan mempamerkannya Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran. model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya). Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat berfikir peserta didik. dan lainnya yang dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik. selanjutnya mereka mulai menawarkan penjelasan dalam bentuk hipotesis. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. Selama pengajaran pada fase ini. orang tua. namun bisa suatu video tape (menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan). Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda. Akan lebih baik jika dalam pemeran ini melibatkan peserta didik-peserta didik lainnya.

kecakapan (skill). dokumen. maupun kemampuan perancangan dan pengujian. peserta didik diminta untuk unjuk kerja atau mendemonstrasikan kemampuan melakukan tugas-tugas tertentu. 1. atau melukis suatu gambar. Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran. memainkan suatu lagu.Fase ini merupakan tahap akhir dalam PBL. dan kehadiran dalam pembelajaran. yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi. ujian tengah semester (UTS). Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment. dan laporan. Penilaian portofolio peserta didik. 2. seperti menulis karangan. dan sikap (attitude). Peer-assessment. 2. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya. kemampuan bekerjasama dalam tim. Fase ini dimaksudkan untuk membantu peserta didik menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. Sistem Penilaian Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge). Penilaian kinerja peserta didik. PR. kuis. baik software. Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS). melakukan suatu eksperimen. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. Penilaian yang relevan dalam PBL antara lain sebagai berikut: 1. Selama fase ini guru meminta peserta didik untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya E. Penilaian portofolio adalah penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam suatu Matematika – SMA/MA/SMK | 202 . Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran. Self-assessment. Pada penilaian kinerja ini. menginterpretasikan jawaban pada suatu masalah. Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap usahausahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar. hardware. Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill.

Informasi perkembangan peserta didik dapat berupa hasil karya terbaik peserta didik selama proses belajar. assesment autentik dan 3). bagaimana peserta didik dan evaluator menilai produk (hasil akhir) proses 2. maka di samping pengembangan kurikulum juga perlu dikembangkan model pembelajaran yang sesuai tujuan kurikulum yang memungkinkan peserta didik dapat secara aktif mengembangkan kerangka berfikir dalam memecahkan masalah serta kemampuannya untuk bagaimana belajar (learning how to learn). Self assessment adalah penilaian yang dilakukan oleh peserta didik itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai oleh peserta didik itu sendiri dalam belajar. Menilai usaha kelompok seperti yang dlakukan pada pembelajaran kooperatif dapat dilakukan pada PBL. Penilaian usaha kelompok mengurangi kompetisi merugikan yang sering terjadi.assesment kerja. Penilaian kolaboratif dalam PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self assesment) dan peer assesment. Penilaian usaha kelompok. Penilaian kinerja memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan dalam situasi yang sebenarnya. Dari informasi perkembangan itu peserta didik dan guru dapat menilai kemajuan belajar yang dicapai dan peserta didik terus berusaha memperbaiki diri. Tahap evaluasi pada PBM terdiri atas tiga hal : 1. piagam penghargaan. Penilaian yang diarahkan untuk mengukur potensi belajar peserta didik yaitu mengukur kemampuan yang dapat ditingkatkan dengan bantuan guru atau teman-temannya yang lebih maju. Sebagian masalah dalam kehidupan nyata bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman dan konteks atau lingkungannya. 2). 4. Penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan oleh peserta didik sebagai hasil pekerjaan mereka dan mendiskusikan hasil pekerjaan secara bersama-sama. penilaian ini antara lain: 1). Peer assessment adalah penilian dimana peserta didik berdiskusi untuk memberikan penilaian upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang diselesaikan sendiri maupun teman dalam kelompoknya. pekerjaan hasil tes.periode tertentu. 3. atau bentuk informasi lain yang terkait kompetensi tertentu dalam suatu mata pelajaran. PBL yang memberi tugas-tugas pemecahan masalah memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan dan mengenali potensi kesiapan belajarnya. Dasar pemikiran pengembangan strategi pembelajaran tersebut sesuai dengan pandangan kontruktivis yang menekankan kebutuhan peserta didik untuk menyelidiki lingkungannya dan membangun pengetahuan secara pribadi pengetahuan bermakna. melihat bagaimana peserta didik menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya. bagaimana mereka menerapkan tahapan Matematika – SMA/MA/SMK | 203 . Penilain dengan portofolio dapat dipakai untuk penilaian pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif. misalnya membandingkan peserta didik dengan temannya. Dengan kemampuan atau kecakapan tersebut diharapkan peserta didik akan mudah beradaptasi. Penilaian proses dapat digunakan untuk menilai pekerjaan peserta didik tersebut. Penilaian potensi belajar. portofolio. Penilaian proses bertujuan agar guru dapat melihat bagaimana peserta didik merencanakan pemecahan masalah.

(1990). Kualitatif dan R&D.D.uga.coe.edu/pbl/cte/spr96-phys. Metode Penelitian Kuantitatif. 2009. Penerapan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Penguasaan konsep Fisika serta Mengembangkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi dan Kecakapan Ilmiah. Betsy. misalnya secara lisan atau verbal. Bandung: Tidak diterbitkan Major.. [21 Juli 2010]. Tersedia : http://www. (1993). [Online].. M. S. teaching.edu/epltt/ProblemBasedInstruct. Problems: A Key Factor in PBL. [Online]. (2007). M. F.htm.PBM untuk bekerja melalui masalah 3. Tersedia : http://www.com/AE Qweb/mop4spr01.udel. New York: Springer Publishing Dahlan. Orey (Ed. Ibrahim. Glazer.). M dan Nur. laporan tertulis. [17 Juni 2005].A. In M. Assessing the Effectiveness of Problem-Based Learning in Higher Education: Lessons from the Literature. & Mitchell. atau sebagai suatu bentuk penyajian formal lainnya. (2001). Bandung: Diponegoro. et al. Dr. Model-Model Mengajar . Emerging perspectives on learning. Bandung: Alfabeta Das Salirawati. J..htm [14 Juli 2010] Matematika – SMA/MA/SMK | 204 . & Tamblyn. Penerapan Problem Based Learning Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Peserta Didik Dalam Memecahkan Masalah. Makalah Duch. Evan. (2008). Problem Based Learning: an Approach to Medical Education. R.H dan Palmer. Barbara.rapidintellect.S.M. Claire. Surabaya: University Press Karim. (1980). (2005). and technology [Online]. bagaimana peserta didik akan menyampaikan pengetahuan hasil pemecahan akan masalah atau sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian atau respon-respon mereka dalam berbagai bentuk yang beragam. Prof. Tersedia: http://www. Pengajaran Berdasarkan Masalah. Sebagian dari evaluasi memfokuskan pada pemecahan masalah oleh peserta didik maupun dengan cara melakukan proses belajar kolaborasi (bekerja bersama pihak lain). Problem Based Instruction. H. S.Daftar Pustaka Albanese. (1995).html. Sugiyono. Journal of Academic Medicine Barrows. Proposal Hibah Kompetitif UPI 2007. Problem Based Learning: a Review of The Literature on Outcomes and Implementation Issues. 2001.

Kurikulum 2004: Pertanyaan dan Jawaban.Melvin L. 2010. Model Pembelajaran Pemecahan Masalah. Martinis. 2006. Jambi: Gaung Persada Press Matematika – SMA/MA/SMK | 205 . Jambi: Universitas Jambi Sudjana. Panduan Pelaksanaan Collaborative Learning & Problem Based Learning. (2004). (2002). Active Learning: 101 Strategies to Teach any Subject. Bandung : Lembaga Penelitian IKIP Bandung Yamin. Haris. Model Pembelajaran Sains. USA: Allyn & Bacon Mudjiman. Jakarta: Grasindo Proyek DUeLike Universitas Indonesia. Surakarta: Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS Press) Nurhadi. & Silberman. (1982). Paradigma Baru Pembelajaran. Belajar Mandiri. D. Depok: UI Siburian. Jodion. (1996). 2011.

Matematika – SMA/MA/SMK | 206 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 207 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 208 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 209 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 210 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 211 .

Dengan mengaplikasikan metode Discovery Learning secara berulang-ulang dapat meningkatkan kemampuan penemuan diri individu yang bersangkutan. tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Perbedaannya dengan discovery ialah bahwa pada discovery masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru. Bruner memakai metode yang disebutnya Discovery Learning. pengukuran.HO-2. dan hubungan. terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. klasifikasi. Discovery terjadi bila indifidu terlibat. Definisi Metode Discovery Learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya. Definisi/ Konsep 1. Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving. 1996:41). Sebagai strategi belajar. Merubah Matematika – SMA/MA/SMK | 212 . Metode Discovery Learning adalah memahami konsep. pada Discovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Penggunaan metode Discovery Learning. Yang menjadikan dasar ide Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas. ingin merubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. arti. 1986:103). sedangkan Problem Solving lebih memberi tekanan pada kemampuan menyelesaikan masalah. Akan tetapi prinsip belajar yang nampak jelas dalam Discovery Learning adalah materi atau bahan pelajaran yang akan disampaikan tidak disampaikan dalam bentuk final akan tetapi siswa sebagai peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorgansasi atau membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir.2-3 MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING) A. but rather is required to organize it him self” (Lefancois dalam Emetembun. penentuan dan inferi. Discovery dilakukan melalaui observasi. 2001:219). Sebagaimana pendapat Bruner. 2005:43). sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian. Sund dalam Malik. melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini. prediksi. Mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented. dimana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono. Sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps and principles in the mind (Robert B. bahwa: “Discovery Learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter in the final form.

baik yang pokok maupun tidak. atau lebih sering disebut sistem-sistem coding. yaitu: enactive. seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. pegangan. semakin dominan sistem simbolnya. Konsep Dalam Konsep Belajar. Tahap iconic. Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak simbol. Tahap enaktive. logika. yaitu lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi. dan symbolic.modus Ekspository siswa hanya menerima informasi secara keseluruhan dari guru ke modus Discovery siswa menemukan informasi sendiri. Tahap symbolic. matematika. Pembentukan kategori-kategori dan sistem-sistem coding dirumuskan demikian dalam arti relasi-relasi (similaritas & difference) yang terjadi diantara obyek-obyek dan kejadian-kejadian (events). 3) Karakteristik. Sebagaimana teori Bruner tentang kategorisasi yang nampak dalam Discovery. iconic. yang dapat memungkinkan terjadinya generalisasi. Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa. Bruner memandang bahwa suatu konsep atau kategorisasi memiliki lima unsur. 2. Lingkungan seperti ini bertujuan agar siswa dalam proses belajar dapat berjalan dengan baik dan lebih kreatif. dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. misalnya melalui gigitan. sesungguhnya metode Discovery Learning merupakan pembentukan kategori-kategori atau konsep-konsep. 2) Contohcontoh baik yang positif maupun yang negative. dan sebagainya. Bruner menjelaskan bahwa pembentukan konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda yang menuntut proses berfikir yang berbeda pula. seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan sekitarnya. Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh bagaimana cara lingkungan. Semakin matang seseorang dalam proses berpikirnya. Untuk memfasilitasi proses belajar yang baik dan kreatif harus berdasarkan pada manipulasi bahan pelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. sentuhan. 4) Rentangan karakteristik. Manipulasi bahan pelajaran bertujuan untuk memfasilitasi kemampuan siswa dalam berfikir (merepresentasikan apa yang dipahami) sesuai dengan tingkat perkembangannya. Secara Matematika – SMA/MA/SMK | 213 . 5) Kaidah (Budiningsih. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa. Maksudnya. dan sebagainya. dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi). Lingkungan ini dinamakan Discovery Learning Environment. dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik. artinya. Di dalam proses belajar. seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. meliputi: 1) Nama. penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui. Seluruh kegiatan mengkategori meliputi mengidentifikasi dan menempatkan contoh-contoh (obyek-obyek atau peristiwaperistiwa) ke dalam kelas dengan menggunakan dasar kriteria tertentu. 2005:43). dan siswa dikatakan memahami suatu konsep apabila mengetahui semua unsur dari konsep itu. bahwa Discovery adalah pembentukan kategori-kategori. Untuk menunjang proses belajar perlu lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu siswa pada tahap eksplorasi.

aturan. Dengan demikian seorang guru dalam aplikasi metode Discovery Learning harus dapat menempatkan siswa pada kesempatan-kesempatan dalam belajar yang lebih mandiri. Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep. historin. bimbingan guru hendaklah lebih berkurang dari pada metode-metode mengajar lainnya. atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya (Budiningsih. 2005:41). karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil. sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan (Sardiman. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini. Hal tersebut memungkinkan murid-murid menemukan arti bagi diri mereka sendiri. c. Dan melalui kegiatan tersebut siswa akan menguasainya. Kemudian pada fase iconic ia menjelaskan keseimbangan pada gambar atau bagan dan akhirnya ia menggunakan bahasa untuk menjelaskan prinsip keseimbangan ini fase symbolic (Syaodih. Hal yang menarik dalam pendapat Bruner yang menyebutkan: hendaknya guru harus memberikan kesempatan muridnya untuk menjadi seorang problem solver. 2005:145). menerapkan. teori. Dalam metode Discovery Learning bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir. historin. Matematika – SMA/MA/SMK | 214 . Tetapi bimbingan yang diberikan tidak hanya dikurangi direktifnya melainkan pelajar diberi responsibilitas yang lebih besar untuk belajar sendiri. siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi. atau ahli matematika. b. Hal ini tak berarti bahwa guru menghentikan untuk memberikan suatu bimbingan setelah problema disajikan kepada pelajar. dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti mereka. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil Pembelajaran Berdasarkan fakta dan hasil pengamatan. penerapan pendekatan Discovery Learning dalam pembelajaran memiliki kelebhihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan. seorang scientist. Karakteristik yang paling jelas mengenai Discovery sebagai metode mengajar ialah bahwa sesudah tingkat-tingkat inisial (pemulaan) mengajar. mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulankesimpulan. ingatan dan transfer. menganalisis. membandingkan. mengkategorikan. Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian. atau ahli matematika. Kelebihan Penerapan Discovery Learning a. Menimbulkan rasa senang pada siswa. 1. iconic dan symbolic adalah anak menjelaskan sesuatu melalui perbuatan (ia bergeser ke depan atau kebelakang di papan mainan untuk menyesuaikan beratnya dengan berat temannya bermain) ini fase enactive. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented.sederhana teori perkembangan dalam fase enactive. Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif. 85:2001). seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya. serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya. mengintegrasikan. seorang scientis. B. Pada akhirnya yang menjadi tujuan dalam metode Discovery Learning menurut Bruner adalah hendaklah guru memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver.

C. sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi. Kelemahan Penerapan Discovery Learning a. Mendorong siswa berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri. Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak. j. Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri. Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri. keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian. Bagi siswa yang kurang pandai. Menentukan tujuan pembelajaran b. Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang. i. dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi. h. Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan manusia seutuhnya. l. karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya. Langkah Persiapan Metode Discovery Learning a. gaya belajar. Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik. 2.d. Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal. dan sebagainya) Matematika – SMA/MA/SMK | 215 . g. karena membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya. Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa. r. Pada beberapa disiplin ilmu. Langkah-langkah Operasional Implementasi dalam Proses Pembelajaran Langkah-langkah dalam mengaplikasikan model discovery learning di kelas adalah sebagai berikut: 1. e. Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri. Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru. misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur gagasan yang dikemukakan oleh para siswa f. Metode ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya. f. Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. minat. Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman. e. b. p. n. yang tertulis atau lisan. Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasangagasan. Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik. q. Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar. Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berfikir yang akan ditemukan oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru. c. Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama. sedangkan mengembangkan aspek konsep. m. d. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa. o. akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep. k. Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.

anjuran membaca buku. ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut: a. Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis. b. ilustrasi. wawancara dengan nara sumber. Dengan demikian seorang Guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus kepada siswa agar tujuan mengaktifkan siswa untuk mengeksplorasi dapat tercapai. tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa f. melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. mengamati objek. Sedangkan menurut permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. membaca literatur. atau dari tahap enaktif. Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah. dari yang konkret ke abstrak. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan. kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi. merupakan teknik yang berguna dalam membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah. Dalam hal ini Bruner memberikan stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. Memilih materi pelajaran. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh. Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah) Setelah dilakukan stimulation langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran. Memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisa permasasalahan yang mereka hadapi. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contohcontoh generalisasi) e. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks. c. dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. d. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa 2. atau hipotesis.c. Prosedur Aplikasi Metode Discovery Learning Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning di kelas. Data collection (pengumpulan data). ikonik sampai ke simbolik g. 2004:244). Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan) Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya. yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan. kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah 2004:244). Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan. Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa belajar secara aktif Matematika – SMA/MA/SMK | 216 .

Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. diacak. apakah terbukti atau tidak. teori. serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu. Data processing (pengolahan data) Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara. atau informasi yang ada. aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. dengan demikian secara tidak disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki. dan sebagainya. Semua informai hasil bacaan. lalu ditafsirkan. wawancara.untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi. 2002:22). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Verification menurut Bruner. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran. observasi. d. 2004:244). Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang. f. dihubungkan dengan hasil data processing (Syah. dan sebagainya. observasi. pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek. Verification (pembuktian) Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif. bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis e. bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep. dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah. 2004:244). apakah terjawab atau tidak. ditabulasi. semuanya diolah. diklasifikasikan. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi) Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama. Matematika – SMA/MA/SMK | 217 .

menggambar dan lain sebagainya. Penilaian Tertulis Penilaian tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. menjodohkan  Soal dengan mensuplai-jawaban. Pilihan ganda mempunyai kelemahan. sikap. yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). misalnya kesesuian soal dengan indikator pada kurikulum. konstruksi. dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kemampuan. dan menjodohkan merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah. misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda. b. Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. Jika bentuk penialainnya berupa penilaian kognitif. Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut: a. Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda. misalnya mengemukakan pendapat. c. yaitu:  Soal dengan memilih jawaban a. Sistem Penilaian Dalam Model Pembelajaran Discovery Learning. Alat penilaian ini kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas karena tidak menggambarkan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya. penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun non tes. a. Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami. materi. proses. pilihan ganda b. bahasa. dua pilihan (benar-salah. isian atau melengkapi b. mewarnai. Sedangkan penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif. sikap. ya-tidak) c. yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar. Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses. maka pelaksanaan penilaian dapat menggunakan contohcontoh format penilaian seperti tersebut di bawah ini. dan menyimpulkan. memahami. soal uraian Dari berbagai alat penilaian tertulis. atau penilaian hasil kerja siswa. berpikir logis. maka dalam model pembelajaran discovery learning dapat menggunakan tes tertulis. tes memilih jawaban benar-salah. misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas. Matematika – SMA/MA/SMK | 218 .D. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas. 1. Ada dua bentuk soal tes tertulis. jawaban singkat c. dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. maka peserta didik akan menerka. atau penilaian hasil kerja siswa. isian singkat.

dapat mendorong. berkaitan dengan kompetensi kognitif.. status. Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. . Teknik penilaian diri dapat digunakan dalam berbagai aspek penilaian. Nama Siswa Komitmen Tugas Kerja Sama Ketelitian Minat Jumlah Skor Nilai Matematika – SMA/MA/SMK | 219 . misalnya: peserta didik dapat diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dalam mata pelajaran tertentu. afektif dan psikomotor. peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. Berkaitan dengan kompetensi afektif. yang berkaitan dengan kompetensi kognitif. dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya c. misalnya. di mana subyek yang ingin dinilai diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan. 3. peserta didik dapat diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya sebagai hasil belajar berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. karena ketika mereka melakukan penilaian. peserta didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Keuntungan penggunaan teknik ini dalam penilaian di kelas antara lain sebagai berikut: a. Berkaitan dengan kompetensi psikomotorik. Selanjutnya. Penilaian Diri Penilaian diri (self assessment) adalah suatu teknik penilaian. b. dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. karena mereka dituntut untuk jujur dan obyektif dalam melakukan penilaian.2. membiasakan. Dalam proses pembelajaran di kelas. Penilaian Sikap Contoh Format Penilaian Sikap Mata Pelajaran: _________ Kelompok : _________ Semester: _________ Kelas : _________ Skor No 1 2 3 4 5 . karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri. berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu obyek sikap tertentu..

uraian yang dijabarkan kurang rinci dan diperoleh dengan menggunakan sebagian besar indra dengan gambar-gambar atau diagram C: Pengelompokan yang dilakukan siswa cukup baik. 2. 2. Penilaian Hasil Kerja Siswa Nama Siswa: ……………… Input Tanggal: ……………… Proses Out Put/Hasil Kelas: ……………… Nilai Matematika – SMA/MA/SMK | 220 . 4. Baik Sekali Baik Cukup Kurang 4 3 2 1 Kriteria Penilaian 10 – 12 A 7– 9 B 4–6 C ≤ 3 D A: Pengelompokan yang dilakukan siswa sangat baik. 3. Jumlah Contoh Format Penilaian Kinerja Tanggal: ……………… Kelas: ……………… Aspek Yang Dinilai 1 Tingkat Kemampuan 2 3 4 Kriteria Penskoran 1. uraian yang dijabarkan tidak rinci dan diperoleh dengan menggunakan sebagian kecil indra dengan gambar-gambar atau diagram D: Pengelompokan yang dilakukan siswa kurang baik. uraian yang dijabarkan rinci dan diperoleh dengan menggunakan seluruh indra disertai dengan gambar-gambar atau diagram B: Pengelompokan yang dilakukan siswa baik. uraian yang dijabarkan kurang sesuai dan diperoleh dengan menggunakan sebagian besar indra dengan gambargambar atau diagram 5.4. Penilaian Kinerja Nama Siswa: ……………… NO 1.

Bandung. Holiwarni. Aplikasi Metode Discovery Learning Dalam Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah.com/2012/10/definisi-belajar-menurut-para-ahli. Penerbit Erlangga. http://darussholahjember.. Rizqi. RW.Daftar Pustaka Dahar. dkk. M. Penerapan Metode Penemuan Terbimbing pada Mata Pelajaran Sains untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN 016 Pekanbaru Kota (Laporan Penelitian)..html (23 Mei 2013). 2000. 8-13. Pekanbaru. Teori-Teori Belajar. Jakarta. http://prismabekasi. 1996. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berorientasi Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guide-Discovery Learning) yang Mengintegrasikan Kegiatan Laboratorium untuk Fisika SLTP Bahan Kajian Pengukuran. Syamsudini .blogspot.com/pengertian-model-pembelajaran-discovery-learning-menurutpara-ahli-pdf-d368189396 (23 Mei 2013). http://ebookbrowse.blogspot.. B.html (23 Mei 2013) Jurnal Geliga Sains 3 (2). Tesis. Lemlit UNRI. Syah. PT Remaja Rosdakarya. UNESA (tidak dipublikasikan). Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. 1991. 2012. Motivasi Belajar Dan Daya Ingat Siswa. 2008. Matematika – SMA/MA/SMK | 221 .. 2009 Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Riau ISSN 1978-502X.com/2011/05/aplikasi-metode-discovery-learning.

Matematika – SMA/MA/SMK | 222 . Paparan materi Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.3: Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Kegiatan Interaktif Diskusi Kelompok Paparan Materi 15 Menit 50 Menit 20 Menit Kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan bentuk penilaian autentik.3 Paparan materi Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.2. Diskusi materi Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar.Materi Pelatihan 2.3/3.

Matematika – SMA/MA/SMK | 223 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 224 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 225 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 226 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 227 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 228 .

Untuk mendapatkan pemahaman cukup komprehentif mengenai arti asesmen autentik. mencoba. Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013 Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Dalam American Librabry Association asesmen autentik didefinisikan sebagai proses evaluasi untuk mengukur kinerja. Istilah autentik merupakan sinonim dari asli. dan sebagainya. aktivitas mengamati dan mencoba. asesmen autentik sangat relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran. Karena. dan nilai prestasi luar sekolah. Dalam kehidupan akademik keseharian. Karenanya. khususnya jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai. Asesmen autentik adakalanya disebut penilaian responsif. memberikan analisa oral terhadap peristiwa. B. atau evaluasi. mulai dari mereka Matematika – SMA/MA/SMK | 229 . berkolaborasi dengan antarsesama melalui debat. Secara konseptual asesmen autentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar sekali pun. berikut ini dikemukakan beberapa definisi. tidak lazim digunakan. keterampilan. Ketika menerapkan asesmen autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik. Dalam Newton Public School. Definsi dan Makna Asesmen Autentik Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap. prestasi. Asesmen autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual. dan sikap-sikap peserta didik pada aktifitas yang relevan dalam pembelajaran. baik dalam rangka mengobservasi. dan lain-lain. menulis.3-1 KONSEP PENILAIAN AUTENTIK A. pengujian. memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik. Wiggins mendefinisikan asesmen autentik sebagai upaya pemberian tugas kepada peserta didik yang mencerminkan prioritas dan tantangan yang ditemukan dalam aktifitas-aktifitas pembelajaran. frasa pengukuran atau pengujian autentik. motivasi. Kata lain dari asesmen autentik adalah penilaian kinerja. asesmen autentik diartikan sebagai penilaian atas produk dan kinerja yang berhubungan dengan pengalaman kehidupan nyata peserta didik. guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan. suatu metode yang sangat populer untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik yang miliki ciri-ciri khusus. valid. atau reliabel. membangun jejaring. nyata.HO-2. Akan tetapi. seperti meneliti. dan penilaian proyek. asesmen semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik. portofolio. Istilah asesmen merupakan sinonim dari penilaian. merevisi dan membahas artikel. frasa asesmen autentik dan penilaian autentik sering dipertukarkan. pengukuran. menalar. dan pengetahuan.

karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek. memilih kegiatan yang strategis. dan sebagainya. Asumsinya. dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik. benar–salah. C. Asesmen autentik dapat juga diterapkan dalam bidang ilmu tertentu seperti seni atau ilmu pengetahuan pada umumnya. guru dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja. Contoh asesmen autentik antara lain keterampilan kerja. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang dilakukan oleh peserta didik dikaitkan dengan realitas di luar sekolah atau kehidupan pada umumnya. guru dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remidial harus dilakukan. Asesmen semacam ini cenderung berfokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual bagi peserta didik. Asesmen autentik harus mampu menggambarkan sikap. hingga yang jenius. keterampilan. Peserta didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi. seringkali pelibatan siswa sangat penting. pola penilaian seperti ini tidak diantikan dalam proses pembelajaran. Asesmen Autentik dan Belajar Autentik Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. Pada asesmen autentik guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan. Dalam asesmen autentik. peserta didik bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka lakukan. motivasi dan keterlibatan peserta didik. menjodohkan. dengan orientasi utamanya pada proses atau hasil pembelajaran. serta memamerkan dan menampilkan sesuatu. serta keterampilan belajar. yang memungkinkan mereka secara nyata menunjukkan kompetensi atau keterampilan yang dimilikinya. atau membuat jawaban singkat. dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar. pilihan ganda. kemampuan mengaplikasikan atau menunjukkan perolehan pengetahuan tertentu. Asesmen autentik mencoba menggabungkan kegiatan guru mengajar. simulasi dan bermain peran.yang mengalami kelainan tertentu. Matematika – SMA/MA/SMK | 230 . dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah. kajian keilmuan. karena memang lzim digunakan dan memperoleh legitimasi secara akademik. atau guru bekerja sama dengan peserta didik. bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya. Asesmen autentik dapat dibuat oleh guru sendiri. Karena penilaian itu merupakan bagian dari proses pembelajaran. Dalam beberapa kasus. peserta didik dapat melakukan aktivitas belajar lebih baik ketika mereka tahu bagaimana akan dinilai. Atas dasar itu. kegiatan siswa belajar. Asesmen autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunkan standar tes berbasis norma. memiliki bakat dan minat khusus. guru secara tim. Asesmen autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik. portofolio. Tentu saja.

dan pengetahuan yang ada. menganalisis. dan mengasimilasikan pemahaman peserta didik. Mengetahui bagaimana menilai kekuatan dan kelemahan peserta didik serta desain pembelajaran. Untuk bisa melaksanakan pembelajaran autentik. mensintesis. Keterlibatan peserta didik dalam melaksanakan tugas sangat bermakna bagi perkembangan pribadi mereka. memahahi aneka fenomena atau gejala dan hubungannya satu sama lain secara mendalam. 3. analisis proses yang digunakan untuk menghasilkan respon peserta didik atas perolehan sikap. meski dengan satuan waktu yang berbeda. dan pengetahuan dicapai melalui penyelesaian tugas di mana peserta didik telah memainkan peran aktif dan kreatif. seperti tes pilihan ganda. benar/salah. menjelaskan. guru dan peserta didik memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi. pengukuran langsung keterampilan peserta didik yang berhubungan dengan hasil jangka panjang pendidikan seperti kesuksesan di tempat kerja. Menjadi pengasuh proses pembelajaran. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang diperlukan dalam kenyataannya di luar sekolah. asesmen autentik akan bermakna bagi guru untuk menentukan cara-cara terbaik agar semua siswa dapat mencapai hasil akhir. Ketiga. Konstruksi sikap. peserta didik diminta mengumpulkan informasi dengan pendekatan saintifik. keterampilan. Asesmen autentik adalah komponen penting dari reformasi pendidikan sejak tahun 1990an. keteampilan. Tes semacam ini telah gagal memperoleh gambaran yang utuh Matematika – SMA/MA/SMK | 231 . dan mengevaluasi informasi untuk kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan baru. Asesmen autentik pun mendorong peserta didik mengkonstruksi. melainkan juga pada penilaian.” Peran guru bukan hanya pada proses pembelajaran. Pertama. Peserta didik pun tahu apa yang mereka ingin pelajari. dan lain-lain telah gagal mengetahui kinerja peserta didik yang sesungguhnya. Dalam pembelajaran autentik. mengorganisasikan. serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia nyata yang luar sekolah. Menjadi kreatif tentang bagaimana proses belajar peserta didik dapat diperluas dengan menimba pengalaman dari dunia di luar tembok sekolah. guru harus menjadi “guru autentik. memiliki parameter waktu yang fleksibel. Asesmen Autentik terdiri dari berbagai teknik penilaian. penilaian atas tugas-tugas yang memerlukan keterlibatan yang luas dan kinerja yang kompleks. pada pembelajaran autentik. Dengan demikian. menjodohkan.Asesmen autentik mengharuskan pembelajaran yang autentik pula. dan bertanggungjawab untuk tetap pada tugas. menafsirkan. Mengetahui bagaimana cara membimbing peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan mereka sebelumnya dengan cara mengajukan pertanyaan dan menyediakan sumberdaya memadai bagi peserta didik untuk melakukan akuisisi pengetahuan. Kedua. Sejalan dengan deskripsi di atas. 1. 4. Wiggins (1993) menegaskan bahwa metode penilaian tradisional untuk mengukur prestasi. guru harus memenuhi kriteria tertentu seperti disajikan berikut ini. melihat informasi baru. Di sini. 2.

mengenai sikap. Jenis-jenis Asesmen Autentik Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik. seperti penalaran. dan pengetahuan peserta didik dikaitkan dengan kehidupan nyata mereka di luar sekolah atau masyarakat. berkaitan dengan sikap. 1. seperti menilai kompetisi Olimpiade Sains Nasional. Asesmen hasil belajar yang tradisional bahkan cenderung mereduksi makna kurikulum. keterampilan. guru dapat memberikan umpan balik terhadap kinerja peserta didik baik dalam bentuk laporan naratif mauun laporan kelas. keberanian berpendapat. guru harus bertanya pada diri sendiri. Beberapa jenis asesmen autentik disajikan berikut ini. dan kemampuan berpikir yang diartikulasikan dalam banyak mata pelajaran atau disiplin ilmu. keterampilan. Namun demikian. Dengan menggunakan informasi ini. dan sebagainya. misalnya. kuanitatif. keterampilan. dan pengetahuan apa yang akan dinilai. Ada beberapa cara berbeda untuk merekam hasil penilaian berbasis kinerja: Matematika – SMA/MA/SMK | 232 . keterampilan. dan rendah daya prediksinya terhadap derajat sikap. D. Analisis kualitatif dari asesmen otentif berupa narasi atau deskripsi atas capaian hasil belajar peserta didik. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya. khususnya berkaitan dengan: (1) sikap. atau proses. Data asesmen autentik digunakan untuk berbagai tujuan seperti menentukan kelayakan akuntabilitas implementasi kurikulum dan pembelajaran di kelas tertentu. Memang. karena tidak menyentuh esensi nyata dari proses dan hasil belajar peserta didik. mengenai keunggulan dan kelemahan. memori. Analisis kuantitatif dari data asesmen autentik menerapkan rubrik skor atau daftar cek (checklist) untuk menilai tanggapan relatif peserta didik relatif terhadap kriteria dalam kisaran terbatas dari empat atau lebih tingkat kemahiran (misalnya: sangat mahir. khususnya dalam proses dan aspek-aspek yangg akan dinilai. sebagian mahir. Analisis holistik memberikan skor keseluruhan kinerja peserta didik. Penilaian Kinerja Asesmen autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik. dan lingkungannya melalui asesmen proses dan hasil belajar yang autentik. sudah saatnya guru profesional pada semua satuan pendidikan memandu gerakan memadukan potensi peserta didik. tidak mampu menggambarkan kompetensi dasar. Untuk itu. dan pengetahuan. (2) fokus penilaian akan dilakukan. misalnya. guru harus memahami secara jelas tujuan yang ingin dicapai. maupun kuantitatif. motivasi. Data asesmen autentik dapat dianalisis dengan metode kualitatif. ketika itu pula asesmen autentik memperoleh traksi yang cukup kuat. pendekatan apa pun yang dipakai dalam penilaian tetap tidak luput dari kelemahan dan kelebihan. sekolah. dan (3) tingkat pengetahuan apa yang akan dinilai. mahir. Ketika asesmen tradisional cenderung mereduksi makna kurikulum. Rubrik penilaian dapat berupa analitik atau holistik. dan tidak mahir).

Misalnya. Cara seperti tetap ada manfaatnya. b. Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records). Misalnya: 5 = baik sekali. Matematika – SMA/MA/SMK | 233 . 2 = kurang. seperti berpidato. Keempat. dengan tanpa membuat catatan. bercerita. misalnya. berdiskusi. khususnya indikator esensial yang akan diamati. afektif dan psikomotor. dan wawancara. seperti penilaian sikap. 3 = cukup. Memori atau ingatan (memory approach). dari aspek keterampilan berbicara. Penilaian kinerja memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus. guru dapat mengobservasinya pada konteks yang. urutan dari kemampuan atau keerampilan peserta didik yang akan diamati. d. Skala penilaian (rating scale). c.  Penilaian ranah sikap. Untuk mengamati kinerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen.a. Pengamatan atas kinerja peserta didik perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Kedua. Digunakan dengan cara guru menulis laporan narasi tentang apa yang dilakukan oleh masing-masing peserta didik selama melakukan tindakan. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan oleh peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. Untuk menilai keterampilan berbahasa peserta didik. Dari sini akan diperoleh keutuhan mengenai keterampilan berbicara dimaksud. Dari laporan tersebut. Daftar cek (checklist). namun tidak cukup dianjurkan. Pertama. peserta didik diminta mengungkapkan curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. guru dapat menentukan seberapa baik peserta didik memenuhi standar yang ditetapkan. ketepatan dan kelengkapan aspek kinerja yang dinilai. langkahlangkah kinerja harus dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja yang nyata untuk suatu atau beberapa jenis kompetensi tertentu. Digunakan oleh guru dengan cara mengamati peserta didik ketika melakukan sesuatu. fokus utama dari kinerja yang akan dinilai. Biasanya digunakan dengan menggunakan skala numerik berikut predikatnya. 1 = kurang sekali. Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang harus muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan. Ketiga. pertanyaan langsung. Guru menggunakan informasi dari memorinya untuk menentukan apakah peserta didik sudah berhasil atau belum. 4 = baik. observasi perilaku. atau pertanyaan pribadi. Penilaian-diri (self assessment) termasuk dalam rumpun penilaian kinerja. Penilaian diri merupakan suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status. Kelima. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif.

Misalnya. penyelidikan. peserta didik diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya oleh dirinya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan untuk menilai kualitas dan bentuk hasil akhir secara holistik dan analitik. Penilaian proyek dapat menggunakan instrumen daftar cek. dan produk proyek. seperti makanan. Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap. pakaian. Ketiga. pengorganisasian. peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan sikap. Selama mengerjakan sebuah proyek pembelajaran. pengumpulan data. Teknik penilaian-diri bermanfaat memiliki beberapa manfaat positif. Keempat. mengolah dan menganalisis. menumbuhkan semangat untuk maju secara personal. Penilaian Proyek Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. keterampilan. dan melatih peserta didik berperilaku jujur. hasil karya Matematika – SMA/MA/SMK | 234 . Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik. Penilaian ranah pengetahuan. mendorong. dan penyajian data. Penilaian ranah keterampilan. mulai dari perencanaan. c. keterampilan. Pertama. analisis data. peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. pada setiap penilaian proyek. peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Penilaian produk dimaksud meliputi penilaian atas kemampuan peserta didik menghasilkan produk. dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik.  2. penilaian proyek bersentuhan dengan aspek pemahaman. Penilaian proyek berfokus pada perencanaan. skala penilaian. menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. Dengan demikian. mengaplikasikan. dan penyiapkan laporan. atau narasi. Kedua. Misalnya. pengerjaan. membiasakan. b. dan lain-lain. pengumpulan data. Orijinalitas atas keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik. dan menulis laporan. a. pengolahan. setidaknya ada tiga hal yang memerlukan perhatian khusus dari guru. Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan penilaian khusus. memberi makna atas informasi yang diperoleh. Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau tertulis. Keterampilan peserta didik dalam memilih topik. dan pengetahuannya. Karena itu. Dalam kaitan ini serial kegiatan yang harus dilakukan oleh guru meliputi penyusunan rancangan dan instrumen penilaian. analisis. mencari dan mengumpulkan data.

Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai. surat. b. mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran. dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi. resensi buku/ literatur. c. Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio. Memalui penilaian portofolio guru akan mengetahui perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik.Fokus penilaian portofolio adalah kumpulan karya peserta didik secara individu atau kelompok pada satu periode pembelajaran tertentu. dan karya logam. Misalnya.seni (gambar. hasil tes (bukan nilai). Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini. komposisi musik. gambar. foto. disertai catatan tanggal pengumpulannya. Matematika – SMA/MA/SMK | 235 . kertas. Jika memungkinkan. d. Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio. laporan penelitian. lukisan. patung. Penilaian Portofolio Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. kulit. meski dapat juga oleh peserta didik sendiri. Penilaian secara holistik merujuk pada apresiasi atau kesan secara keseluruhan atas produk yang dihasilkan. barang-barang terbuat dari kayu. atau informasi lain yang releban dengan sikap. guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan. Penilaian terutama dilakukan oleh guru. plastik. e. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik. sinopsis. lukisan. Atas dasar penilaian itu. keterampilan. hasil karya mereka dalam menyusun atau membuat karangan. a. guru dan/atau peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan pembelajaran. dan lain-lain). dan lain-lain. Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat. keramik. puisi. Penilaian secara analitik merujuk pada semua kriteria yang harus dipenuhi untuk menghasilkan produk tertentu. f. memerlukan refleksi peserta didik. 3. Peserta didik. Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu. dan pengetahuan yang dituntut oleh topik atau mata pelajaran tertentu. g. karet. baik sendiri maupun kelompok. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok.

dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari. memahami. Pada tes tertulis berbentuk esai. Masing-masing sisi pandang ini akan melahirkan jawaban berbeda. Teaching Exceptional Children. Contextualizing Authentic Assessment. yaitu jawaban terbuka (extendedresponse) atau jawaban terbatas (restricted-response). Tes tertulis terdiri dari memilih atau mensuplai jawaban dan uraian. Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat. Memilih jawaban dan mensuplai jawaban. menganalisis. Cumming. menjodohkan. J. sehingga mampu menggambarkan ranah sikap. & Maxwell. dan sebab-akibat. menerapkan. namun tetap terbuka memiliki kebenarann yang sama. dan pengetahuan peserta didik. Tes semacam ini memberi kesempatan pada guru untuk dapat mengukur hasil belajar peserta didik pada tingkatan yang lebih tinggi atau kompleks. peserta didik tertentu melihat fenomena kemiskinan dari sisi pandang kebiasaan malas bekerja. 25(4). S. namun tetap terbuka memperoleh nilai yang sama. keterampilan. 2005. 177–194. (1999). penilaian tertulis atas hasil pembelajaran tetap lazim dilakukan. Muslimin. M. 63–67. Tahapan Pengembangan dan Contoh. J.. Daftar Pustaka Ibrahim. Mensuplai jawaban terdiri dari isian atau melengkapi. Hal ini sangat tergantung pada bobot soal yang diberikan oleh guru. & Malouf. Memilih jawaban terdiri dari pilihan ganda. Tes tersulis berbentuk esai biasanya menuntut dua jenis pola jawaban.. mensintesis. D. Assessment in Education. Matematika – SMA/MA/SMK | 236 . jawaban singkat atau pendek. ya-tidak. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehentif. (1993). atau kelangkaan sumberdaya alam. dan uraian.4. 6(2). rendahnya keterampilan. Asesmen Berkelanjutan: Konsep dasar. Misalnya. Surabaya: UNESA University Press Anggota IKAPI Coutinho. G. mengorganisasikan. Performance assessment and children with disabilities: Issues and possibilities. mengevaluasi. Penilaian Tertulis Meski konsepsi asesmen autentik muncul dari ketidakpuasan terhadap tes tertulis yang lazim dilaksanakan pada era sebelumnya. pilihan benar-salah. peserta didik berkesempatan memberikan jawabannya sendiri yang berbeda dengan teman-temannya. asalkan analisisnya benar.

J. 23(4). Hakikat Asesmen Otentik Sebagai Penilaian Proses Dan Produk Dalam Pembelajaran Yang Berbasis Kompetensi (Makalah disampaikan pada In House Training (IHT) SMA N 1 Kuta Utara). (2006). 34(1). Phi Delta Kappan. Hallam. Matematika – SMA/MA/SMK | 237 .. Nyoman.Dantes. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha Gatlin. Action in Teacher Education. & Ysseldyke. 28–34. R.. & Jacob. (2004). 200 – 214. (1993). context and validity. L. Assessment in special and inclusive education (9th ed.. New York: Houghton Mifflin. Salvia. 45–51. Assessment: Authenticity. Grisham-Brown. R. Using authentic assessment to evidence children's progress toward early learning standards. Standards-based digital portfolios: A component of authentic assessment for preservice teachers. 2008.). Wiggins. 75(3). G. J. J. (2002). E. Early Childhood Education Journal.. S. & Brookshire.

Prinsip kedua: Metode asesmen harus dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa mampu mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui bukan mengungkap apa yang tidak diketahui. Makna yang sebenarnya dari asesmen tidak hanya menyangkut penyedian informasi tentang hasil belajar dalam bentuk nilai. (ii). Tambahan lagi bahwa penilaian bukan akhir dari pembelajaran tapi yang paling utama adalah balikan dari proses belajar yang telah berlangsung. Karena kemampuan berpikir tingkat tinggi lebih sulit untuk diases. karena tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan yang sudah mereka miliki. Sejatinya tujuan penilaian adalah untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas belajar siswa. Asesmen seringkali dipandang sebagai produk akhir dari suatu proses pembelajaran yang tujuan utamanya untuk memberikan penilaian bagi masing-masing siswa. Prinsip pertama: Asesmen harus ditujukan untuk meningkatkan kualitas belajar dan pengajaran. penilaian (asesmen) merupakan bagian yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari kegiatan pembelajaran itu sendiri. Jika pendekatan negatif yang cenderung digunakan. maka seperangkat alat asesmen harus mencakup berbagai variasi yang bisa secara efektif mengungkap kemampuan yang dimiliki siswa. (iii). menengah dan tinggi. tetapi pendekatan yang digunakan lebih bersifat negatif.3-2 CONTOH PENERAPAN PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA A. Matematika – SMA/MA/SMK | 238 . melainkan harus mencakup ketiga tingkatan asesmen. Jadi penilaian bukan sekedar untuk menentukan rangking atau skor siswa yang pada akhirnya justru dapat menjadi penghalang bagi peningkatan kualitas belajar. akan tetapi yang terpenting adalah adanya balikan tentang proses belajar yang telah terjadi. akan tetapi maknanya sering disalahartikan dalam proses belajar mengajar. Walaupun ide ini bukan hal yang baru. Walaupun hal ini tidak sepenuhnya salah. Menurut de Lange (dalam Tatang Herman) terdapat lima prinsip utama yang melandasi asesmen dalam pembelajaran. Prinsip ketiga: Asesmen harus bersifat operasional untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. maka siswa akan kehilangan rasa percaya diri. yaitu: rendah. Pengantar Dalam proses pembelajaran. kelima prinsip tersebut adalah sebagai berikut: (i). Dengan demikian alat asesmen yang digunakan tentunya tidak hanya mencakup tingkatan tertentu saja. Berdasarkan pengalaman asesmen sering diartiakan sebagai upaya untuk mengungkap aspek-aspek yang belum diketahui siswa.HO-2.

Kaitannya dengan pengertian ada beberapa definisi mengenai penilaian autentik. Prinsip kelima: Alat asesmen hendaknya bersifat praktis. Akibat dari penerapan pandangan ini adalah bahwa suatu alat asesmen hanya terdiri atas sejumlah soal dengan tingkatan rendah yang memudahkan dalam melakukan penskoran. Walaupun untuk menyusun alat asesmen dengan tingkatan tinggi lebih sulit. Konsep ini sesungguhnya mempunya core bahwa kemajuan belajar itu diperlukan selama proses pembelajaran. pengalaman menunjukkan bahwa tugas-tugas yang ada didalamnya memiliki banyak keunggulan. terpadu. dan pengetahuan Matematika – SMA/MA/SMK | 239 .(iv). akuntabel dan edukatif. Artinya. Prinsip keempat: Kualitas alat asesmen tidak ditentukan oleh mudahnya pemberian skor secara objektif. jika ada tanda-tanda siswa mengalami kemacetan dalam belajar. (v). Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input). Umumnya pemberian skor secara objektif bagi setiap siswa menjadi faktor yang sangat dominan manakala dilakukan asesmen terhadap kualitas suatu tes. ekonomis. keterampilan.66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan disebutkan bahwa penilaian hasil peserta didik didasarkan prinsip objektif. Sehingga penilaian tidak hanya dilakukan di akhir periode pembelajaran tetapi dilakukan bersama (simultan) dan merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam pembelajaran. guru segara bisa mengambil langkah yang tepat. proses dan keluaran (output) pembelajaran b. Dengan demikian konstruksi tes dapat disusun dengan format yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan serta pencapaian tujuan yang ingin diungkap. Terkait dengan konsep penilaian autentik. Selain itu guru dimungkinkan untuk melihat secara mendalam proses berpikir yang digunakan siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan. Gambaran perkembangan belajar siswa ini perlu diketahui oleh guru agar bisa menentukan tindakan selanjutnya disamping memastikan bahwa siswa telah mengalami pembelajaran dengan benar. Penilaian autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap. diantaranya adalah a. Salah satu keunggulannya siswa memiliki kebebasan untuk mengekspresikan ide-idenya sehingga jawaban yang diberikan mereka biasanya sangat bervariasi. transparan. penilaian adalah proses pengumpulan berbagai informasi yang dapat memberikan gambaran sebenarnya tentang perkembangan belajar siswa. Sementara itu dalam Permendikbud No.

Penilaian autentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan. pada saat/setelah kegiatan pembelajaran berlangsung. Dari berbagai pendefinisian diatas ada satu benang merah yang mengaitkan ketiganya yaitu penilaian yang mengutamakan perolehan fakta aktual (pada saat itu) tentang pengetahuan. Penilaian autentik merupakan proses pengamatan. keterampilan dan sikap dengan berbagai cara. Penilaian autentik adalah penilaian yang dilakukan menggunakan beragam sumber. e. dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pembelajaran. d. membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai. perekaman dan pendokumentasian karya (apa yang dilakukan anak dan bagaimana hal itu dilakukan) sebagai dasar penentuan keputusan yang dapat menuju pada pembentukan anak sebagai individual learner (pembelajar mandiri).c. Dibawah ini adalah gambaran penilaian autentik dibanding penilaian tradisional Penilaian autentik komprehensif Penilaian tradisional Matematika – SMA/MA/SMK | 240 .

Penilaian autentik dalam matematika Seperti penjelasan terdahulu. Kemudian diberikan soal/instrumen untuk menilai sebagai berikut. Dari contoh ter ebut terlihat sangat nyata kelemahan penilaian dengan instrumen pilihan ganda seperti di atas yang tidak melihat proses pengerjaan. Ternyata ada dua siswa yang memilih jawaban yang benar (Jawaban: E). SISWA 1 SISWA 2 Jelas bahwa siswa 1 tidak memahami cara menyelesaikan persamaan linear karena dia hanya menerapkan prin ip “a al ama dicoret” ementara siswa 2 amat paham proses penyelesaian per amaan linear. Terlihat adanya upaya ‘i ola i’ variabel di rua kiri. namun sebenarnya mereka mengerjakan dengan cara yang sangat berbeda. Matematika – SMA/MA/SMK | 241 . kita ingin mengetahui kompetensi siswa dalam belajar (memahami) solusi persamaan linear. Sebagai contoh. penilaian tradisional yang selama ini kita terapkan tidak akan menggambarkan kompetensi atau kualitas belajar siswa. dimana kedua siswa terjaring (oleh penilaian tradisional) sebagai berkemampuan sama padahal sejatinya sangat berbeda.B.

sikap dan keterampilan dari semua bidang. Penilaian kompetensi sikap Teknik  Observasi  Penilaian diri  Penilaian antar peserta didik  Jurnal b. Daftar pertanyaan pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas c. benarsalah. penilaian kompetensi ketrampilan  praktik  proyek  praktik Daftar cek/skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran. pengetahuan. disertai rubric Instrumen Daftar cek/skala penilaian (rating scale) yang Matematika – SMA/MA/SMK | 242 . (3) kemampuan pemecahan masalah dan (4) sikap matematis Teknik dan instrumen dalam penilaian autentik Berbagai macam cara untuk memperoleh informasi kemampuan atau kualitas belajar siswa dalam rangka penilaian autentik. dan uraian. dan keterampilan sebagai berikut. isian. menjodohkan. (2) keterampilan matematika. yaitu pengetahuan. Oleh karena itu perlu adanya jabaran mengenai aspek penilaian autentik dalam matematika.Aspek penilaian autentik Semangat kurikulum sekarang mengamanatkan bahwa kompetensi harus meliputi tiga ranah. penilaian kompetensi pengetahuan  Tes lisan  Penugasan  tes tulis Soal pilihan ganda. Teknik dan instrumen yang digunakan untuk penilaian kompetensi sikap. Secara khusus aspek yang akan dimunculkan dalam untuk mengetahui kualitas belajar matematika adalah (1) pemahaman konsep matematika. Aspek a. jawab singkat.

Contoh dari hasil pengamatan kelas didapatkan Nama Siswa Jabar Hasil Pengamatan Jabar tidak begitu menanggapi jika ditanya teman sebangkunya Alfa tidak memahami pencoretan dalam persamaan. Tugas dapat dapat dikaitkan dengan fenomena lingkungan atau bisa juga murni mengenai konsep yang ada di matematika. Tugas Gambaran mengenai perkembangan kualitas belajar matematika dapat dilihat dari tugas yang diselesaikan. 2.Berikut ini contoh penilaian autentik: 1. dst Trigono sering keliru dalam mengalikan dan menjumlah kan pecahan Gamma berpikirnya divergen dan sangat terampil dalam menggunakan jangka. 3. Oleh karena penilaiannya setelah Matematika – SMA/MA/SMK | 243 . Tanya jawab Wujud dari tanya jawab ini boleh saja berupa kegiatan presentasi oleh siswa atau tanya jawab secara personal.. karena untuk menentukan nilai dia melakukan pengerjaan: Alfa Trigono Gamma . Pengamatan langsung (observasi) Sesungguhnya pengamatan langsung ini sering kita lakukan dalam kegiatan pembelajaran. namun dengan dipersiapkan secara nyata akan lebih membantu dalam melakukan pengamatan.. walaupun sekedar menyiapkan catatan.

Penilaian haruslah tertuju pada peningkatan kualitas belajar siswa dan kualitas pembelajaran. Portofolio merupakan sumber data yang sangat baik bagi guru. 5. dan sebagainya. Portofolio Bahasa sederhana dari potofolio adalah kumpulan pekerjaan yang telah dilakukan oleh siswa. Oleh karena itu setiap portofolio harus diberi catatan tanggal penyusunannya Untuk menjamin penilaian benar-benar faktual maka perlu adanya kombinasi dari berbagai teknik di atas C. Pada kenyataannya. Misalnya siswa diminta mengukur tinggi tiang bendera dengan menggunakan identiitas trigonometri. hasil tes. Selain itu portofolio dapat digunakan oleh siswa untuk melihat perkembangan yang terjadi terhadap dirinya dalam kurun waktu tertentu.tugas diselesaikan maka akan sangat bagus jika dikombinasikan dengan teknik lainnya misalnya dengan wawancara. 4. tes dilakukan setelah proses pembelajaran atau kegiatan selesai. model pilihan ganda yang paling banyak digunakan. Penilaian autentik hakekatnya adalah menggali informasi sebenarnya Matematika – SMA/MA/SMK | 244 . laporan. Pragmatis penyekoran sering sebagai pertimbangan. sehingga cenderung mangabaikan proses. Sayangnya tes seperti biasanya berujung pada penyekoran. Penutup Kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari proses pembelajaran adalah penilaian. catatan guru. Untuk memberikan ruang bagi penilaian autentik maka pilihan ganda perlu ditambah dengan cara pengerjaan. Tes Sesuai dengan penjelasan sebelumnya. Di dalamnya bisa termasuk tugas.

Referensi Kemdikbud.com/rdg/res/litass/auth.tentang kemampuan siswa dalam belajar. (2013). Asesmen Otentik. Jurusan Pendidikan Matematika http://www. (2013). Jakarta Tatang Herman.html diakses 17 Februari 2013 http://www. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2013 Tentang Standar Penilaian Pendidikan.ntu. Asesmen dalam Pembelajaran Matematika. Tetapi perlu dicatat bahwa penilaian autentik bukan refleksi dari kemampuan yang telah dimiliki melainkan refleksi terhadap kemampuan yang dapat dikembangkan. Makalah pada Workshop Kurikulum. . Jakarta Sudarwan.edu. Prof..(_____).vn diakses 17 Februari 2013 Matematika – SMA/MA/SMK | 245 .eduplace.

4-1 dan LK -2.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Langkah Kegiatan Inti Menilai Buku Diskusi Kelompok Menyimpulkan Hasil Kerja Kelompok 20 Menit 80 Menit 20 Menit 40 Menit Menyimpulkan Presentasi Kerja Kelompok Diskusi Kelompok 15 Menit 30 Menit 30 Menit 30 Menit Menilai Buku Peserta menilai buku dengan bimbingan fasilitator dilihat dari aspek kesesuaian.4-2. Simpulan Menyimpulkan hasil diskusi dan menyampaikan format lembar kerja yang telah disiapkan. dan KD dengan menggunakan LK-2.Materi Pelatihan : 2. Matematika – SMA/MA/SMK | 246 . KI. Diskusi Kelompok Diskusi kelompok hasil penilaian buku dilanjutkan dengan pemaparan materi Analisis Buku Guru dan Buku Siswa dengan menggunakan PPT-2.4 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. dan kedalaman materi. Kerja Kelompok Kerja kelompok menganalisis kesesuaian buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. kecukupan.

Simpulan Fasilitatormenyimpulkan materi analisis buku. pendekatan belajar. Presentasi Presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Kerja Kelompok Kerja kelompokmembuat contoh-contoh penerapan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. Matematika – SMA/MA/SMK | 247 . serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku.Diskusi Kelompok Diskusi kelompok untuk menganalisis kesesuaian proses.

Matematika – SMA/MA/SMK | 248 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 249 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 250 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 251 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 252 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 253 .

Panduan Kegiatan 1. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Jika sesuai dengan kebutuhan. tuliskan tindak lanjut hasil analisis sebagai berikut! a. buku bisa digunakan dalam pembelajaran. Kerjakanlah secara berkelompok! 2. Anda disarankan untuk memberikan rekomendasi tindak lanjut yang harus dikerjakan guru sebagai pengguna buku guru tersebut. Menganalisis keterpaduan antar mata pelajaran atau antar konsep/topik. 4. Siapkan SKL. Merencanakan tindak lanjut dari hasil analisis . Menganalisis kesesuaian isi buku dengan konsep pendekatan scientificdan penialain autentik. Pelajari format Analisis Buku Sswa! 3. Menganalisis kesesuaian isi buku siswa dengan SKL. 2. Cermatilah buku siswa yang sesuai dengan materi ajar yang Anda ampu! 5. Tujuan 1. 2. 3. b. Jika kurang/tidak sesuai.LK–2. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. Matematika – SMA/MA/SMK | 254 . Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Lakukanlah analisis terhadap buku tersebut dengan menggunakan format yang tersedia! 6. dan KD.4-1 LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU PETUNJUK PENGISIAN LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU Kompetensi 1. KI dan KD. 3. KI dan KD sesuai jenjang pendidikan dan mata pelajaran! 4. KI. Berdasarkan hasil analisis.

................ Penerapan Pendekatan Scientific Penilaian Autentik yang Tersedia dalam Buku Siswa TIDAK SESUAI SESUAI SEBAGIAN SESUAI TINDAK LANJUT HASIL ANALISIS 8................................. HASIL ANALISIS NO... dan b................................................... Karakteristik siswa 7..........................LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU Judul buku Kelas Jenjang Tema/Topik : .. : ....................... Pola pikir keilmuan............. ASPEK YANG DIANALISIS Kesesuaian dengan SKL Kesesuaian dengan KI Kesesuaian dengan KD Kesesuaian dengan Topik Kecukupan materi ditinjau dari: a..... 5..................... Matematika – SMA/MA/SMK | 255 .......................................... : . alokasi waktu........... 6.. cakupan konsep/materi esensial... 3................................................................... 1............................................................ dan b................... : .. 2........ 4... Kedalaman materi ditinjau dari: a......

Pelajari format Analisis Buku Sswa! 3. Siapkan SKL. KI dan KD sesuai jenjang pendidikan dan mata pelajaran! 4. Cermatilah buku siswa yang sesuai dengan materi ajar yang Anda ampu! 5. Tujuan 1. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. 4. Jika kurang/tidak sesuai. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. 3. KI dan KD. Panduan Kegiatan 1.LK–2. Berdasarkan hasil analisis. KI. buku bisa digunakan dalam pembelajaran. Lakukanlah analisis terhadap buku tersebut dengan menggunakan format yang tersedia! 6. tuliskan tindak lanjut hasil analisis sebagai berikut! a. Matematika – SMA/MA/SMK | 256 . b. Merencanakan tindak lanjut dari hasil analisis . Menganalisis keterpaduan antar mata pelajaran atau antar konsep/topik. 2. Menganalisis kesesuaian isi buku siswa dengan SKL. Jika sesuai dengan kebutuhan. Kerjakanlah secara berkelompok! 2. 2. dan KD. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Anda disarankan untuk memberikan rekomendasi tindak lanjut yang harus dikerjakan guru sebagai pengguna buku guru tersebut. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan konsep pendekatan scientificdan penialain autentik.4-2 LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA PETUNJUK PENGISIAN LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA Kompetensi 1. 3.

...................... 6............ : ........... Penerapan Pendekatan Scientific Penilaian Autentik yang Tersedia dalam Buku Siswa TIDAK SESUAI SESUAI SEBAGIAN SESUAI TINDAK LANJUT HASIL ANALISIS 8... dan d............................ dan d.............................. HASIL ANALISIS NO...................... Pola pikir keilmuan........ 2... 4......... 1........... alokasi waktu........... cakupan konsep/materi esensial................................................ : ............ : .................LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA Judul buku Kelas Jenjang Tema/Topik : . 3.............................. ASPEK YANG DIANALISIS Kesesuaian dengan SKL Kesesuaian dengan KI Kesesuaian dengan KD Kesesuaian dengan Topik Kecukupan materi ditinjau dari: c............................................................................ Matematika – SMA/MA/SMK | 257 .................... 5............................. Kedalaman materi ditinjau dari: c........... Karakteristik siswa 7...

Cermati format penilaian analisis buku guru atau buku siswa serta hasil analisis peserta yang akan dinilai! 2. tindak lanjut kurang logis Hasil analisis kurang tepat.4 RUBRIK PENILAIAN HASIL ANALISIS BUKU GURU DAN SISWA Rubrik penilaian analisis buku guru dan buku siswa digunakan fasilitator untuk menilai hasil analisis peserta terhadap buku guru dan buku siswa sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Matematika – SMA/MA/SMK | 258 . jumlahkan nilai seluruh komponen sehingga menghasilkan nilai hasil analisis buku guru/siswa. Berikan nilai pada setiap aspek yang dianalisis sesuai dengan penilaian Anda terhadap hasil analisis peserta menggunakan rentang nilai sebagai berikut! PERINGKAT Amat Baik ( AB) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 < A ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 80 < 70 KRITERIA Hasil analisis tepat. tindak lanjut logis dan bisa dilaksanakan Hasil analisis tepat.R–2. Setelah selesai penilaian masing-masing komponen. 1. tindak lanjut logis Hasil analisis kurang tepat. tindak lanjut tidak logis 3. Langkah-langkah penilaian hasil analisis.

2.1.MATERI PELATIHAN 3 : MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN (8 JP) 3. Penyusunan RPP 3. Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Matematika – SMA/MA/SMK | 259 .

PERANGKAT PELATIHAN 1. Bahan Tayang a. 8. 2. moral. Panduan tugas telaah RPP.MATERI PELATIHAN 3: MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN A. menyusun RPP yang menerapkan pendekatan scientific sesuai model belajar yang relevan dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. 2. Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar. Mengidentifikasi kaidah perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. 2.1 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. emosional. c. Standar Proses. 4. b. Menunjukkan sikap tanggung dan kreatif dalam menyusun rancangan penilaian autentik. KI dan KD. Menelaah RPP. kultural. maupun intelektual. D. LINGKUP MATERI 1. 7. Rambu-rambu Penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3. dan pendekatan scientific. B. dan merancang penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. 9. Lembar KerjaTelaah RPP ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 260 . 3. sosial. Menunjukkan sikap tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP. C. 6. 5. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. INDIKATOR 1. Panduan tugas menelaah rancangan penilaian pada RPP. Menelaah rancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar yang ada dalam RPP. Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun. Penyusunan RPP. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. 3. 2. Menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran. Mengidentifikasi rambu-rambu penyusunan RPP.

dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. kompetensi. indikator.1. dan KD. dilanjutkan dengan paparan materi tentang Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3. File.2 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. alokasi waktu. Menyimpulkan hasil penilaian RPP dengan dipandu oleh fasilitator. Active Speaker. teliti. Laptop. 205 Menit 15 menit 10 Menit 40 Menit 80 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 261 . SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN 8 JP (@45 MENIT) SMA/MA. Standar Proses.1. Fasilitator memotivasi peserta agar serius. tujuan. Kerja kelompok untuk menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 3. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. dan Laser Pointer. seperti LCD Projector.1 Penyusunan RPP Saling menilai RPP yang dibawa setiap peserta. atau media pembelajaran lainnya. KI.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 3. dan pendekatan scientific (terutama KD di awal semester 1). antusias. Diskusi rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran.1 dan Panduan Tugas Telaah RPP dengan menggunakan PPT-3.

2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. ICE BREAKER 3. Kerja Kelompok untuk menelaah RPP yang disusun kelompok lain dengan menggunakan LK-3. Kerja kelompok untuk menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika menggunakan HO-2.Diskusi format telaah RPP dengan mengacu pada bahan tayang PPT-3.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Diskusi dan tanya jawab tentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes termasuk portofolio.2. dilanjutkan dengan pemaparan oleh fasilitator tentang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika menggunakan PPT 2.2/3. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.2.1.2 serta Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP yang tealh dibuat dengan menggunakan PPT-3.1/3.2/3. Fasilitator menutup pembelajaran 20 Menit 35 menit 5 Menit 120 Menit 40 Menit 30 Menit 60 Menit 10 Menit 5 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 262 .2. Kerja kelompok untuk menelaah dan merevisi rancangan penilaian autentik pada RPP yang telah disusun berdasarkan panduan tugas menelaah rancangan penilaian Presentasi hasil kerja kelompok (sampel) ICE BREAKER KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.

Instruktur mencatat hasil penilaian yang dilaporkan peserta. Peserta lainnya menyampaikan hasil penilaian yang tidak sama dengan peserta lainnya. Hasil penilaian dipresentasikan oleh peserta yang ditunjuk instruktur.1: Penyusunan RPP Langkah Kegiatan Inti Tugas Individu: Saling Menilai RPP Menyimpulkan Hasil Penilaian RPP Diskusi 15 Menit 10 Menit 40 Menit Kerja Kelompok Diskusi Kerja Kelompok 35 Menit 20 Menit 80 Menit Aktivitas 1: Menilai RPP Menilai RPP Peserta Lain a. b. Hasil penilaian dituliskan langsung pada halaman depan RPP. Peserta menyimpulkan hasil penilaian RPP dengan dipandu oleh Instruktur. Setiap peserta diwajibkan membawa dua set RPP yang telah digunakan dalam proses pembelajaran sesuai mata pelajaran yang diampu. Diskusi rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific. RPP tersebut dikumpulkan kepada panitia untuk kemudian dibagikan kembali ke peserta untuk dinilai oleh peserta lainnya dengan menggunakan acuan pengetahuan masing-masing peserta. c. Matematika – SMA/MA/SMK | 263 .Materi Pelatihan 3.

1/3.1 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.2. Standar Proses.1. Aktivitas 2: Kerja Kelompok Kerja kelompok untuk menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. dan pendekatan scientific (terutama KD di awal semester 1). Matematika – SMA/MA/SMK | 264 . KI. dan KD. Diskusi format telaah RPPdengan mengacu pada bahan tayang PPT-3. Aktivitas 3: Kerja Kelompok Kerja Kelompok untuk menelaah RPP yang disusun kelompok lain dengan menggunakan LK-3.Paparan materi tentang Rambu-rambu Penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3.

Matematika – SMA/MA/SMK | 265 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 266

Matematika – SMA/MA/SMK | 267

Matematika – SMA/MA/SMK | 268

HO-3.1-2

CONTOH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Satuan Pendidikan Kelas/Semester Mata Pelajaran Topik Waktu : SMA : X/2 : Matematika-Wajib : Trigonometri : 2 × 45 menit

A. Kompetensi Inti SMA kelas X: 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia 3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. B. Kompetensi Dasar 2.1 Menunjukkan sikap senang, percaya diri, motivasi internal, sikap kritis, bekerjasama, jujur dan percaya diri dalam menyelesaikan berbagai permasalahan nyata. 2.2 Memiliki sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif 3.17Memahami dan menentukan hubungan perbandingan Trigonometri dari sudut di setiap kuadran, memilih dan menerapkan dalam penyelesaian masalah nyata dan matematika 4.7 Memanfaatkan informasi dari suatu permasalahan nyata, membuat model berupa fungsi dan persamaan Trigonometri serta menggunakannya dalam menyelesaikan masalah. C. Indikator Pencapaian Kompetensi 1. Terlibat aktif dalam pembelajaran trigonometri. 2. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok. 3. Toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
Matematika – SMA/MA/SMK | 269

4. Menjelaskan kembali pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis, ordinat, dan jari-jari pada sumbu koordinat. 5. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I. 6. Terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. D. Tujuan Pembelajaran Dengan kegiatan diskusi dan pembelajaran kelompok dalam pembelajaran trigonometri inii diharapkan siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan bertanggungjawab dalam menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, memberi saran dan kritik, serta dapat 1. Menjelaskan kembali pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis, ordinat, dan jari-jari pada sumbu koordinat kartesius secara tepat, sistematis, dan menggunakan simbol yang benar. 2. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I secara tepat dan kreatif. E. Materi Matematika 1. Mengingat kembali mengenai perbandingan trigonometri, fungsi trigonometri, besar sudut (tumpul dan refleks), dan koordinat kartesian. Dengan domain { : 0o    90o}, fungsi trigonometri didefinisikan lewat perbandingan trigonometri, sbb. sin  = (panjang sisi di depan sudut ) / panjang hipotenusa cos  = (panjang sisi di samping sudut ) / panjang hipotenusa tan  = (panjang sisi di depan sudut ) / (panjang sisi di samping sudut ) sec  = 1/cos  csc  = 1/sin  cot  = 1/tan  Sudut telah didefinisikan sebagai bangun geometri yang dibentuk oleh dua sinar bertitik pangkal sama. Dengan definisi tsb, dikenal beberapa macam sudut berdasarkan besarnya, sbb. sudut nol :  = 0o sudut lancip : 0o    90o sudut siku-siku: :  = 90o sudut tumpul : 90o    180o sudut lurus :  = 180o sudut refleks : 180o    360o

Matematika – SMA/MA/SMK | 270

Bidang datar berdasarkan sistem koordinat kartesian terbagi ke dalam 4 region/daerah: kuadran I, kuadran II, kuadran III, dan kuadran IV. Kuadran I Kuadran II Kuadran III Kuadran IV : : : : absis dan ordinat positif absis negatif, ordinat positif absis dan ordinat negatif absis positif, ordinat negatif
II III I IV

2. Perluasan definisi fungsi trigonometri dari perbandingan sisi-sisi segitiga siku-siku menjadi perbandingan absis, ordinat dan jari-jari. Beberapa pertanyaan penggugah:  Apakah perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku, dapat mendefinisikan fungsi trigonometri untuk sudut 90o?  Apakah perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku, juga dapat mendefinisikan fungsi trigonometri untuk sudut di atas 90o, misalnya kosinus dari 120o?  Dapatkah kita memperluas definisi fungsi trigonometri menggunakan cara lain (yang tidak bertentangan dengan definisi perbandingan trigonomeri pada segitiga siku-siku)? Jika titik sudut ditempatkan pada titik pusat sumbu koordinat kartesian dan salah satu kaki sudut berimpit dengan sumbu x positif, serta daerah interior sudut terletak pada kuadran I maka posisi yang demikian disebut posisi standar (baku) sudut tsb. Pada posisi standar maka perbandingan sisi-sisi pada segitiga siku-siku dapat diganti menjadi perbandingan absis, ordinat dan jari-jari. panjang sisi di depan sudut diganti menjadi ordinat panjang sisi di samping sudut diganti menjadi absis hipotenusa segitiga siku-siku diganti menjadi jari-jari Jadi, sin  = ordinat / jari-jari cos  = absis / jari-jari tan  = ordinat / absis c

b a

P(x,y) r

O
Matematika – SMA/MA/SMK | 271

b c a cos  = c b tan  = a

sin  =

y r x cos  = r y tan  = x

sin  =

3. Hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan nilai fungsi trigonometri di kuadran I. Jika pada posisi standar, salah satu kaki sudut berada di kuadran II maka sudut tsb kita namakan sudut di kuadran II. Pengertian yang sama untuk konsep sudut di kuadran II, dan sudut di kuadran IV.

Berdasarkan definisi fungsi trigonometri berdasarkan absis, ordinat dan jari-jari maka nilai fungsi trigonometri untuk sudut-sudut di kuadran II, II, dan IV sebagai berikut. Misalkan 0o    90o maka Kuadran II (sudut (180o   ) atau (90o +  ) di kuadran II) sin (180o   ) = sin  atau sin (90o +  ) = cos  cos (180o   ) = cos  atau cos (90o +  ) = sin  tan (180o   ) = tan  atau tan (90o +  ) = cot  Kuadran III (sudut (180o +  ) atau (270o   ) di kuadran III) sin (180o +  ) = sin  atau sin (270o   ) = cos  cos (180o +  ) = cos  atau cos (270o   ) = sin  tan (180o +  ) = tan  atau tan (270o   ) = cot  Kuadran IV (sudut (360o   ) di kuadran IV) sin (360o   ) = sin  atau sin (270o +  ) = cos  cos (360o   ) = cos  atau cos (270o +  ) = sin 
Matematika – SMA/MA/SMK | 272

tan (360o   ) = tan 

atau

tan (270o +  ) = cot 

Tampak bahwa  Pada kuadran II hanya nilai sinus yang positif, pada kuadran III hanya nilai tangen yang positif, dan pada kuadran IV hanya nilai kosinus yang positif.  Untuk relasi sudut yang jumlah atau selisihnya merupakan kelipatan 180 o maka jenis fungsi trigonometrinya tidak berubah.  Untuk relasi sudut yang jumlah atau selisihnya merupakan kelipatan 90 o maka jenis fungsi trigonometrinya berbeda saling komplementer. (sinus dengan kosinus, tangen dengan kotangen). F. Model/Metode Pembelajaran Pendekatan pembelajaran adalah pendekatan saintifik (scientific). Pembelajaran koperatif (cooperative learning) menggunakan kelompok diskusi yang berbasis masalah (problem-based learning).

G. Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Pendahuluan Deskripsi Kegiatan Alokasi Waktu

1. Guru memberikan gambaran tentang pentingnya 10 menit memahami Trigonometri dan memberikan gambaran tentang aplikasi Trigonometri dalam kehidupan seharihari. 2. Sebagai apersepsi untuk mendorong rasa ingin tahu dan berpikir kritis, siswa diajak memecahkan masalah mengenai bagaimana mendapatkan nilai sinus sudut 90 o dan nilai sinus sudut di atas 90o, misalnya 120o. (tidak terpecahkan bila menggunakan definisi menggunakan sisi-sisi pada segitiga siku-siku). 3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yaitu memperluas definisi fungsi trigonometri agar nilai fungsi trigonometri dapat diperoleh untuk besar sudut 0o, 90o, sudut tumpul dan sudut refleks. 1. Guru bertanya tentang bagaimana mengaitkan sisi-sisi 70 menit pada segitiga siku-siku dengan koordinat pada sumbu koordinat kartesius. 2. Bila siswa belum mampu menjawabnya, guru memberi scaffolding dengan mengingatkan siswa dengan sudut sebagai besar putaran. 3. Dengan tanya jawab, disimpulkan bahwa pada kuadran I, istilah panjang sisi di depan sudut dapat diganti
Matematika – SMA/MA/SMK | 273

Inti

4.

5.

6. 7.

8.

9.

10. 11.

12.

13. Penutup

ordinat, panjang sisi di samping sudut diganti absis, dan hipotenusa diganti jari-jari. Dengan tanya jawab, siswa diyakinkan bahwa definisi menggunakan absis, ordinat, dan jari-jari ini lebih luas dari pada definisi menggunakan sisi-sisi segitiga sikusiku. Selanjutnya, guru membuka cakrawala penerapan definisi fungsi yang diperluas itu untuk sudut yang sama atau lebih besar dari 90o, yaitu bila salah satu kaki sudut di kuadran II, III, atau IV. Dengan bantuan presentasi komputer, guru mengingatkan pengertian sudut di kuadran II, sudut di kuadran II, dan sudut di kuadran IV. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok dengan tiap kelompok terdiri atas 4 siswa. Tiap kelompok mendapat tugas untuk mendefinisikan fungsi-fungsi trigonometri untuk sudut di kuadran II atau III atau IV atau sudut negatif, serta menentukan hubungannya dengan fungsi trigonometri sudut di kuadran I. Tugas diselesaikan berdasarkan worksheet atau lembar kerja yang dibagikan. Selama siswa bekerja di dalam kelompok, guru memperhatikan dan mendorong semua siswa untuk terlibat diskusi, dan mengarahkan bila ada kelompok yang melenceng jauh pekerjaannya. Salah satu kelompok diskusi (tidak harus yang terbaik) diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas. Sementara kelompok lain, menanggapi dan menyempurnakan apa yang dipresentasikan. Guru mengumpulkan semua hasil diskusi tiap kelompok Dengan tanya jawab, guru mengarahkan semua siswa pada kesimpulan mengenai fungsi trigonometri di berbagai kuadran dan hubungannya dengan fungsi trigonometri di kuadran I, berdasarkan hasil reviu terhadap presentasi salah satu kelompok. Guru memberikan dua (2) soal yang terkait dengan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, atau IV. Dengan tanya jawab, siswa dan guru menyelesaikan kedua soal yang telah diberikan dengan menggunakan strategi yang tepat. Guru memberikan lima (5) soal untuk dikerjakan tiap siswa, dan dikumpulkan.

1. Siswa diminta menyimpulkan tentang bagaimana 10 menit menentukan nilai fungsi trigonometri sudut di berbagai kuadran. 2. Dengan bantuan presentasi komputer, guru menayangkan apa yang telah dipelajari dan disimpulkan mengenai nilai fungsi trigonometri untuk sudut di berbagai kuadran.
Matematika – SMA/MA/SMK | 274

Teknik Penilaian: pengamatan. dan menggunakan simbol yang benar. Lembar penilaian 4.3. H. Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan untuk tetap belajar. Pengetahuan a. c. dan jari-jari pada sumbu koordinat kartesius secara tepat. Prosedur Penilaian: No 1. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran Penyelesaian tugas individu dan kelompok Matematika – SMA/MA/SMK | 275 . jangkaWorksheet atau lembar kerja (siswa) 2. Video tentang lebah I. Bahan tayang 3. Terlibat aktif dalam pembelajaran trigonometri. ordinat. b. busur. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok. Penggaris. Menjelaskan kembali Pengamatan dan tes pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis. Toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. 2. tes tertulis 2. Penilaian Hasil Belajar 1. Alat/Media/Sumber Pembelajaran 1. 4. b. Sikap Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Pengamatan Waktu Penilaian Selama pembelajaran dan saat diskusi a. sistematis. Guru memberikan tugas PR beberapa soal mengenai penerapan nilai fungsi di berbagai kuadran.

Mula-mula Ari menghadap searah dengan arah jalan. Dengan menuliskan langkah-langkah yang jelas. hitunglah nilai dari [sin 321o + cos 0. Tentukanlah nilai dari sin 150o secara eksak (tidak menggunakan desimal) menggunakan sifat relasi sudut pada fungsi trigonometri! 3. Jika lebar gang adalah 4 meter. tan 150 grad dengan menggunakan kalkulator saintifik. Ari ditempatkan tepat di tengah-tengah sebuah gang yang bertembok tepat di tepi kiri dan kanannya. tidak saja memberi skor untuk jawaban akhir. komunikasi matematis Matematika – SMA/MA/SMK | 276 . Berapa tinggi gelombang suara Paus tsb untuk t = 120o? 5. Setelah melalui studi yang mendalam. 3. Terampil menerapkan Pengamatan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. Gambarlah pada sebuah sumbu koordinat kartesian sebuah sudut pada kuadran III. Pada sebuah permainan. lalu nyatakan pengertian fungsi secan untuk sudut tersebut! 2. gelombang suara dari seekor ikan Paus akhirnya dapat digambarkan dengan suatu pendekatan menggunakan fungsi trigonometri sebagai berikut I(t) = 2. tetapi juga proses pemecahan yang terutama meliputi pemahaman.tan (2t) + cos t dengan t dalam derajat.7. Keterampilan a. berapa jarak yang ditempuh Ari jika kemudian ia berjalan lurus hingga menyentuh tembok gang? Catatan: Penyekoran bersifat holistik dan komprehensif. kemudian Ari diputar oleh temannya searah dengan arah perputaran jarum jam sebesar 660o.No Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Waktu Penilaian II.13 (rad)]. Instrumen Penilaian Hasil belajar Tes tertulis 1. dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I secara tepat dan kreatif. 4. Penyelesaian tugas (baik individu maupun kelompok) dan saat diskusi J. III.

(ketepatan penggunaan simbol dan istilah). penalaran (logis). WORKSHEET (untuk tugas kelompok) Matematika – SMA/MA/SMK | 277 . serta ketepatan strategi memecahkan masalah.

3. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian dalam menyelesaikan tugas kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten Indikator sikap bekerjasama dalam kegiatan kelompok. No Nama Siswa Aktif KB 1 2 3 4 Dhianika Rahma Nur Fadillah Galuh Lalita Mahaghora Muhammad Rasyid Alfaruqi Nur Endah Filaili B SB KB Sikap Bekerjasama B SB KB Toleran B SB Matematika – SMA/MA/SMK | 278 . 2. Kurang baik jika sama sekali tidak bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. 3. Kurang baik jika sama sekali tidak berusaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif tetapi masuih belum ajeg/konsisten. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam pembelajaran 2. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok tetapi masih belum ajeg/konsisten. Indikator sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. 1. Sangat baik jika menunjukkan adanya usaha bekerjasama dalam kegiatan kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten. Sangat baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif secara terus menerus dan ajeg/konsisten. 1. 2. Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha ambil bagian dalam pembelajaran tetapi belum ajeg/konsisten 3.LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP Mata Pelajaran Kelas/Semester Tahun Pelajaran Waktu Pengamatan : Matematika : X/2 : 2013/2014 : Indikator sikap aktif dalam pembelajaran trigonometri 1.

Bagaskara Adi Pamungkas Bram Yudhistira Hasna Amalia Faza Daniawan Dwi Nurrohman Devi Ristiyanti Nitya Sekar Tresnaningtyas Rafi Ibnu Ramadhan Ivan Akhir Julian Gasik Prawestri Intan Aringtyas Junaidi Muhammad Rafi Nurdiansyah Elvana Novita Candra Danuja Widigdaya Isnaeni Putri Nur Afifah Intan Putri Ristyaningrum Lisa Dewi Afrilita Gea Hanin Nisacita Rizki Kartika Angkasa Yudha Putri Adipertiwi A-Bach Keterangan: KB B SB : Kurang baik : Baik : Sangat baik Matematika – SMA/MA/SMK | 279 . Shikarini Amirul P Arinta Destri Larasati Khanza Adzkia Vujira Joean Akbar Saputra Khansa Sitostra Tufana Arsy A.5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Zerarita Amalia Ramadhani Febrian Anggoro Widiyanto Rizky Rachmadewi Elvan Saffria Charta R. Aj.

Aj. jika menunjukkan adanya usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran dan sudah tepat. Bagaskara Adi Pamungkas T ST Matematika – SMA/MA/SMK | 280 . Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan. 1. 3. Terampil jika menunjukkan sudah ada usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran tetapi belum tepat. Kurang terampil jika sama sekali tidak dapat menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran 2.LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN KETERAMPILAN Mata Pelajaran Kelas/Semester Tahun Pelajaran Waktu Pengamatan : Matematika : X/2 : 2013/2014 : Indikator terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. No Nama Siswa Keterampilan Menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah KT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Dhianika Rahma Nur Fadillah Galuh Lalita Mahaghora Muhammad Rasyid Alfaruqi Nur Endah Filaili Zerarita Amalia Ramadhani Febrian Anggoro Widiyanto Rizky Rachmadewi Elvan Saffria Charta R. Shikarini Amirul P Arinta Destri Larasati Khanza Adzkia Vujira Joean Akbar Saputra Khansa Sitostra Tufana Arsy A. Sangat terampill.

15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Bram Yudhistira Hasna Amalia Faza Daniawan Dwi Nurrohman Devi Ristiyanti Nitya Sekar Tresnaningtyas Rafi Ibnu Ramadhan Ivan Akhir Julian Gasik Prawestri Intan Aringtyas Junaidi Muhammad Rafi Nurdiansyah Elvana Novita Candra Danuja Widigdaya Isnaeni Putri Nur Afifah Intan Putri Ristyaningrum Lisa Dewi Afrilita Gea Hanin Nisacita Rizki Kartika Angkasa Yudha Putri Adipertiwi A-Bach Keterangan: KT T ST : Kurang terampil : Terampil : Sangat terampil Matematika – SMA/MA/SMK | 281 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 282 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 283 .

D. Kesesuaian penggunaan kata kerja operasional dengan kompetensi yang diukur.1/3.KI dan KD. 2. Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 2. Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Matematika – SMA/MA/SMK | 284 . C. mata pelajaran atau tema pelajaran.kelas. Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 3. semester. program/program keahlian.2 LEMBAR KERJA PENELAAHAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Identitas RPP yang ditelaah: ………………………………… Berilah tanda cek ( V) pada kolom skor (1. 2. Perumusan Indikator Kesesuaian dengan SKL. Identitas Mata Pelajaran Satuan pendidikan. dan keterampilan. Pemilihan Materi Ajar Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. 1.LK . Perumusan Tujuan Pembelajaran Kesesuaian dengan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai. Kesesuaian dengan kompetensi dasar. pengetahuan. 2. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Hasil Penelaahan dan Skor 1 Tidak Ada 2 Kurang Lengkap 3 Sudah Lengkap Catatan A 1.3. B. 1. Kesesuaian dengan aspek sikap. 1. jumlah pertemuan. 3 ) sesuai dengan kriteria yang tertera pada kolom tersebut! Berikan catatan atau saran untuk perbaikan RPP sesuai penilaian Anda! No.

Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. G. Kesesuaian dengan materi pembelajaran dan pendekatan scientific. 1. 3. Kesesuaian alokasi waktu dengan cakupan materi. Kesesuaian dengan alokasi waktu. 1. 1.No. 2. 2. 2. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. Model Pembelajaran Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran. Kesesuaian penyajian dengan sistematika materi. Penilaian Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 3. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Hasil Penelaahan dan Skor 2 3 Catatan 3. Skenario Pembelajaran Menampilkan kegiatan pendahuluan. 3. Matematika – SMA/MA/SMK | 285 . H. 1. inti. 2. Pemilihan Media Belajar Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran. 4. Kesesuaian dengan pendekatan Scientific. Pemilihan Sumber Belajar Kesesuaian dengan KI dan KD. F. Kesesuaian dengan materi pembelajaran dan pendekatan scientific. dan penutup dengan jelas. Kesesuaian kegiatan dengan pendekatan scientific. E. I.

..................................... .........................................No.......................................... Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Hasil Penelaahan dan Skor 2 3 Catatan 1..................................... 4... Komentar terhadap RPP secara umum.................................. .... Kesesuaian dengan teknik dan bentuk penilaian autentik...... Jumlah 2............... Matematika – SMA/MA/SMK | 286 ... Kesesuaian kunci jawaban dengan soal........................................................ Kesesuaian pedoman penskoran dengan soal....................... 3...................... Kesesuaian dengan dengan indikator pencapaian kompetensi............

Berikan catatan khusus atau saran perbaikan setiap komponen RPP jika diperlukan! 4.R-3.1/3. Selanjutnya nilai RPP dimasukkan ke dalam nilai portofolio peserta. 1. Setelah selesai penilaian. (2) dan (3) sesuai dengan penilaian Anda terhadap RPP tersebut! 3.2 RUBRIK PENILAIAN TELAAH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Rubrik penilaian RPP digunakan fasilitator untuk menilai RPP peserta yang digunakan peerteaching. Langkah-langkah penilaian RPP sebagai berikut. Cermati format penilaian RPP dan RPP yang akan dinilai! 2. jumlahkan skor seluruh komponen! 5. Berikan nilai setiap komponen RPP dengan cara membubuhkan tanda cek (√) pada kolom pilihan skor (1 ). Tentukan nilai RPP menggunakan rumus sbb: Skor yang diperoleh PERINGKAT Amat Baik ( AB) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 ≤ A ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 75 < 60 Matematika – SMA/MA/SMK | 287 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 288 . Kerja kelompok untuk merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun.2-2.2 dan Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP dengan menggunakan PPT-3.2. Bahan Tayang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2.3/3.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Langkah Kegiatan Inti Diskusi dan Tanya jawab Kerja Kelompok Kerja Kelompok Presentasi Merangkum dan Refleksi 40 Menit 30 Menit 25 Menit 20 Menit 20 Menit Diskusi dan tanya jawab tentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes termasuk portofolio.3/3. Fasilitator menutup pembelajaran.Materi Pelatihan : 3.2 dan Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP dengan menggunakan PPT-3.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Presentasi hasil kerja kelompok. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. Membuat rangkuman materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.3/3. dilanjutkan dengan Pemaparan materi oleh fasilitator tentang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2. Kerja kelompok untuk menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran yang terdapat dalam HO-2.

Matematika – SMA/MA/SMK | 289 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 290 .

MATERI PELATIHAN 4 : PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING (24 JP) 4.1 Simulasi Pembelajaran 4.2 Peer Teaching Matematika – SMA/MA/SMK | 291 .

Simulasi Pembelajaran Peer Teaching C. Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching. emosional. Menilai pelaksanaan peer teaching peserta lain. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. intelektual. menanya. LINGKUP MATERI 1. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. 2. intelektual. KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN 1. kultural. mencoba. menyaji. moral. 2.MATERI PELATIHAN 4: PRAKTEK PEMBELAJARAN TERBIMBING (24 JP) A. c. menyaji. mengolah. Menyimpulkan alur pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik. moral. Panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran. 4. maupun. 3. dan melaksanakan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. 5. 2. B. sosial. sosial. Merevisi RPP sehingga menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik untuk kegiatan peer teaching. menalar. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran. kultural. maupun. PERANGKAT PELATIHAN 1. Menganalisis simulasi pembelajaran melalui tayangan video pembelajaran. Matematika – SMA/MA/SMK | 292 . menanya. menalar. Bahan Tayang a. Melaksanakan peer teaching pembelajaranyang menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik. 6. Garis besar instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran. mencoba. D. Strategi Pengamatan tayangan video. mengkaji pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. emosional. b. 7. mengolah.

Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (Alat Penilaian Kinerja Guru). ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 293 . 3.2. b. Analisis pembelajaran pada tayangan video. Lembar Kerja a.

dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Praktik Pembelajaran Terbimbing. mengajak berdinamika agar saling mengenal. semangat.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 4. tujuan. File. Mengkonfirmasi penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik mengacu pada tayangan video pembelajaran Kerja kelompok untuk merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran. indikator. seperti LCD Projector. alokasi waktu. atau media pembelajaran lainnya. 360 Menit 20 Menit 20 Menit 60 Menit 30 Menit 135 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 294 .1 oleh fasilitator. Laptop. Kerja kelompok untuk menganalisis tayangan video pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik dengan menggunakan LK -4.1. Penayangan video pembelajaran Matematika dengan menggunakan V-2. PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING 22 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA.1. 15 Menit KEGIATAN Pengkondisian Peserta PENDAHULUAN Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama.1 Simulasi Pembelajaran Pemaparan Strategi Pengamatan Video Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT-4. kompetensi. Active Speaker. Fasilitator memotivasi peserta. serius.1/4. dan Laser Pointer. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN WAKTU Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. KEGIATAN INTI 4.

Persiapan peer teaching. Praktik peer teaching pembelajaran Matematika secara individual. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan. Menilai kegiatan peer teaching menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan LK-4. 90 Menit 5 Menit 600 Menit 20 Menit 20 Menit 20 Menit 510 Menit 30 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 295 .4. untuk setiap peserta 30 menit dipandu fasilitator.Presentasi contoh RPP yang akan digunakan dalam kegiatan peer teaching. Refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching.1 Paparan oleh fasilitator tentang Garis Besar Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan PPT-4. ICE BREAKER 4. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.2.2 Peer Teaching Paparan oleh fasilitator tentang Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran melalui peer teaching dengan menggunakan PPT. Fasilitator menutup pembelajaran.2. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Praktik Pembelajaran Terbimbing.2.2.

Presentasi contoh RPP yang akan digunakan dalam kegiatan peer teaching. Menyimpulkan alur pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik. Kerja kelompok untuk menganalisis tayangan video pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik dengan menggunakan LK 4.Materi Pelatihan : 4.1.1.1 Simulasi Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Paparan Tayangan Video Kerja Kelompok 20 Menit 20 Menit 60 Menit Presentasi Kerja Kelompok Menyimpulkan 90 Menit 135 Menit 30 Menit Pemaparan Strategi Pengamatan Video Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT4.1 oleh fasilitator. Kerja kelompok untuk merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran.1/4. Matematika – SMA/MA/SMK | 296 . Penayangan video pembelajaran dengan menggunakan V-2.

Matematika – SMA/MA/SMK | 297 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 298 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 299 .

.... Tema : ........ Melaksanakan pembelajaran secara runtut............. d Mengajak peserta didik berdinamika/melakukan sesuatu kegiatan yang terkait dengan materi.. b........ : ............. a.... c..... a..... a Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran.............1 LEMBAR KERJA ANALISIS PEMBELAJARAN DALAM TAYANGAN VIDEO PEMBELAJARAN 1................. Asal Sekolah 3.... Kemampuan menyesuaikan materi dengan tujuan pembelajaran. dari konkrit ke abstrak) Guru menerapkan strategi pembelajaran yang mendidik.. Menguasai kelas dengan baik.... Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang diintegrasikan secara relevandengan perkembangan Iptek dankehidupan nyata .4.. : . Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai......... Mata Pelajaran 3............... d.LK .... Nama Peserta 2.. Menyajikan materi dalam tema secara sistematis dan gradual (dari yang mudah ke sulit.. Aspek yang Diamati Kegiatan Pendahuluan Melakukan apersepsi dan motivasi.......... Kegiatan Inti Guru menguasai materi yang diajarkan......... b Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik dalam perjalanan menuju sekolah atau dengan tema sebelumnya................. : ......... c...... Ya Tidak Catatan Matematika – SMA/MA/SMK | 300 ......... b.... Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual.. c Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitan dengan tema yang akan dibelajarkan......

Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar pembelajaran. Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. b. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengamati. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran. Merespon positif partisipasi peserta didik. d. Melakukan penilaian keterampilan peserta didik dalam melakukan aktifitas individu/kelompok. Guru menerapkan pendekatan scientific. Guru melaksanakan penilaian autentik. c. Mendokumentasikan hasil pengamatan skap. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media pembelajaran. Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect). Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar pembelajaran. Matematika – SMA/MA/SMK | 301 . perilaku dan keterampilan peserta didik. Menumbuhkan keceriaan dan antusisme peserta didik dalam belajar. f. Ya Tidak Catatan a b c a.Aspek yang Diamati e. a. a b c d f Memberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan menganalisis. Mengamati sikap dan perilaku peserta didik dalam mengikuti pelajaran. b. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif. c. d. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengkomunikasikan. Guru memicu dan/atau memelihara keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik. e. Memancing peserta didik untuk peserta didik bertanya. sumber belajar. Guru memanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran. Menghasilkan pesan yang menarik. e. peserta didik.

Ya Tidak Catatan b. Aspek yang Diamati Guru menggunakan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar. Penutup Pembelajaran Guru mengakhiri pembelajaran dengan efektif a. Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai. atau kegiatan. Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan. atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan.a. b. Matematika – SMA/MA/SMK | 302 . c. Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik.

kegiatan inti. dan kegiatan penutup dengan lengkap namun kurang terinci. teliti. Hanyamenandaisetiap item padalembarkerjaanalisis proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar yang disajikandalamtayangan video. Menunjukkansikapantusias. bersungguhsungguhdenganpenuh rasa ingintahu danaktifdalamberdiskusi. kegiatan inti. dan kegiatan penutup dengan lengkap dan terinci yang disertai contoh kongkret hasil pengamatan. bersungguhsungguhdenganpenuh rasa ingintahu saja.20 25 . Kriteria Rentangan Nilai 25 . kegiatan inti. :………………………………………………………….30 Nilai Peserta Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal.1 RUBRIK PENILAIAN HASIL ANALISIS PEMBELAJARAN PADA TAYANGAN VIDEO NAMA PESERTA DIKLAT KELAS/ TANGGAL PENILAIAN Aspek Pengamatan Video (15-30) :…………………………………………………………. 21 .25 Matematika – SMA/MA/SMK | 303 .15 8 .30 21 ..20 12 . dan kegiatan penutup namun tidaklengkap. Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal.11 5-7 21 ..R . Komentardan Simpulan (10-25) Memberikankomentar yang faktual dan terstruktur sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran yang terdiri dari pengalaman yang dapat diambil dari tayangan video dan kesimpulan. Mendeskripsikansetiap item padalembarkerjaanalisis Lembarkerjaanali proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar sispembelajaran yang disajikandalamtayangan video denganjelas.24 15 .24 15 .. :…………………………………………………………. bersungguhgamati sungguhdenganpenuh rasa ingintahu yang (5-15) disertaidenganpolaberpikiranalitikdalammengamatida nberdiskusi. dalam Video lengkapdanbenar.4. teliti. (15-30) Mendeskripsikansetiap item padalembarkerjaanalisis proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar yang disajikandalamtayangan video denganjelas. Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal. teliti. Sikapselamamen Menunjukkansikapantusias. Menunjukkansikapantusias.

.. ………...............……………......... Rentangan Nilai Nilai Peserta 16 -20 10 -15 100 JUMLAH ……………….... (.............) Matematika – SMA/MA/SMK | 304 ..Aspek Kriteria Memberikan komentar yang faktual dan terstruktur sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran yang terdiri dari pengalaman yang dapat diambil daritayangan video... 2013 Fasilitator.... Memberikan komentar sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran....

untuk setiap peserta 30 menit dipandu fasilitator.2-2. Refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching.2-1. Matematika – SMA/MA/SMK | 305 .2.4.Materi Pelatihan : 4. Paparan oleh fasilitator tentang Garis Besar Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan PPT-4.2 Peer Teaching Langkah Kegiatan Inti Paparan Panduan Paparan Instrumen Penilaian Persiapan Peer Teaching 20 Menit 20 Menit 20 Menit Refleksi Praktik Peer Teaching 30 Menit 510 Menit Paparan oleh fasilitator tentang Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran melalui peer teaching dengan menggunakan PPT. Praktik peer teaching pembelajaran secara individual. Menilai kegiatan peer teachingoleh fasilitator dengan menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran LK-4. Persiapan peer teaching.

Matematika – SMA/MA/SMK | 306 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 307 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 308 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 309 .

. Kegiatan Inti Penguasaan Materi Pelajaran 1 2 3 4 Kemampuan menyesuiakan materi dengan tujuan pembelajaran....LK ...... perkembangan iptek .. Penyampaian Kompetensi dan Rencana Kegiatan 1 Menyampaikan kemampuan yang akan dicapai peserta didik....4........ 3 4 Melaksanakan pembelajaran secara runtut.. 2 Menfasilitasi kegiatan yang memuat komponen eksplorasi.......... elaborasi dan konfirmasi........ Menyajikan materi secara sistematis (mudah ke sulit. dan melakukan observasi........ 2 Mengajukan pertanyaan menantang....... Ya Tidak Catatan Aspek yang Diamati Kegiatan Pendahuluan Apersepsi dan Motivasi 1 Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik atau pembelajaran sebelumnya...... dan kehidupan nyata....... : .. Menyajikan pembahasan materi pembelajaran dengan tepat....... Menguasai kelas..... 4 Mendemonstrasikan sesuatu yang terkait dengan materi pembelajaran............... 2 Menyampaikan rencana kegiatan misalnya........... Topik : .....2 LEMBAR KERJA INSTRUMEN PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 1... : .. dari konkrit ke abstrak) Penerapan Strategi Pembelajaran yang Mendidik 1 Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.... individual...... Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan.... Asal Sekolah 3.............. Matematika – SMA/MA/SMK | 310 . kerja kelompok....... Nama Peserta 2......... 3 Menyampaikan manfaat materi pembelajaran....

sumber belajar. Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran. Menumbuhkan keceriaan atau antuisme peserta didik dalam belajar. Merespon positif partisipasi peserta didik. Menghasilkan pesan yang menarik. Pelibatan Peserta Didik dalam Pembelajaran 1 2 3 4 5 Penggunaan Bahasa yang Benar dan Tepat dalam Pembelajaran 1 2 Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk berkomunikasi. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar pembelajaran. peserta didik. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik. Memfasilitasi peserta didik untuk menganalisis. Memberikan pertanyaan peserta didik untuk menalar (proses berfikir yang logis dan sistematis). Kegiatan Penutup Penutup pembelajaran Matematika – SMA/MA/SMK | 311 .Aspek yang Diamati 5 Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual. Ya Tidak Catatan Penerapan Pendekatan scientific 1 2 3 4 5 6 7 Pemanfaatan Sumber Belajar/Media dalam Pembelajaran 1 2 3 4 5 Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar pembelajaran. Memfasilitasi peserta didik untuk mencoba. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media pembelajaran. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru. Memfasilitasi peserta didik untuk mengamati. 6 7 Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect). Memancing peserta didik untuk bertanya. Memberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif.

Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan kegiatan berikutnya dan tugas pengayaan. Jumlah Ya Tidak Catatan Matematika – SMA/MA/SMK | 312 . Mengumpulkan hasil kerja sebagai bahan portofolio. Memberikan tes lisan atau tulisan .Aspek yang Diamati 1 2 3 4 Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik.

3. Berikan tanda cek (√) pada kolom pilihan YA atau TIDAK sesuai dengan penilaian Anda terhadap penyajian guru pada saat pelaksanaan pembelajaran! Berikan catatan khusus atau saran perbaikan pelaksanaan pembelajaran! Hitung jumlah nilai YA dan TIDAK ! Tentukan Nilai menggunakan rumus berikut ini! PERINGKAT Amat Baik ( A) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 < AB ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 75 < 60 Matematika – SMA/MA/SMK | 313 . 2.R . Langkah Kegiatan 1.2 RUBRIK PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Rubrik Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran ini digunakan fasilitator untuk menilai kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran pada saat Peer Teaching. 4. Selanjutnya nilai PeerTeaching dimasukkan ke dalam nilai portofolio peserta.4.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.