SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

MATERI PELATIHAN GURU
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 SMA

MATEMATIKA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2013
Pendahuluan | i

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

Diterbitkan oleh: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2013

Copyright © 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pendahuluan | ii

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt, Kurikulum 2013 secara terbatas mulai dilaksanakan tahun 2013 pada sekolah-sekolah yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan secara selektif. Kurikulum 2013 merupakan pengembangan dari kurikulum sebelumnya untuk merespon berbagai tantangan tantangan internal dan eksternal. Titik tekan pengembangan Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan. Pengembangan kurikulum menjadi amat penting sejalan dengan kontinuitas kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya serta perubahan masyarakat pada tataran lokal, nasional, regional, dan global di masa depan. Aneka kemajuan dan perubahan itu melahirkan tantangan internal dan eksternal yang di bidang pendidikan pendidikan. Karena itu, implementasi Kurikulum 2013 merupakan langkah strategis dalam menghadapi globalisasi dan tuntutan masyarakat Indonesia masa depan. Pengembangan Kurikulum 2013 dilaksanakan atas dasar beberapa prinsip utama. Pertama, standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan. Kedua, standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran. Ketiga, semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Keempat, mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai. Kelima, semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti. Keenam, keselarasan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian. Aplikasi yang taat asas dari prinsip-prinsip ini menjadi sangat esensial dalam mewujudkan keberhasilan implementasi Kurikulum 2013.

Mudah-mudahan implementasi Kurikulum 2013 ini bisa berjalan dengan baik. Akhirnya, kepada semua pihak yang telah mendedikasikan dirinya dalam mempersiapkan Kurikulum 2013, saya mengucaplkan banyak terima kasih. Semoga bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa Indonesia.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Muhammad Nuh

Pendahuluan | iii

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya Modul Bahan Ajar Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Modul bahan ajar ini merupakan bahan ajar wajib dalam rangka pelatihan calon instruktur, guru inti, dan guru untuk memahami Kurikulum 2013 dan kemudian dalam proses pembelajaran di sekolah. Kurikulum 2013 ini diberlakukan secara bertahap mulai tahun ajaran 2013-2014 melalui pelaksanaan terbatas, khususnya bagi sekolah-sekolah yang sudah siap melaksanakannya. Pada Tahun Ajaran 2013/2014, Kurikulum 2013 dilaksanakan secara terbatas untuk Kelas I dan IV Sekolah Dasar/Madrasah Ibtida’iyah (SD/MI), Kelas VII Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Kelas X Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah (SMA/SMK/MA/MAK). Pada Tahun Ajaran 2015/2016 diharapkan Kurikulum 2013 telah dilaksanakan di seluruh kelas I sampai dengan Kelas XII. Menjelang implementasi Kurikulum 2013, penyiapan tenaga guru dan tenaga kependidikan lainnya sebagai pelaksana kurikulum di lapangan perlu dilakukan. Sehubungan dengan itu, Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP), telah menyiapkan strategi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas. Pada tahun 2013 pelatihan akan dilakukan bagi pengawas SD/SMP/SMA/SMK, kepala sekolah SD/SMP/SMA/SMK, dan guru Kelas I dan IV SD, guru Kelas VII SMP untuk 9 mata pelajaran, dan guru Kelas X SMA/SMK untuk 3 mata pelajaran. Guna menjamin kualitas pelatihan tersebut, maka BPSDMPK dan PMP telah menyiapkan 14 Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, sesuai dengan kelas, mata pelajaran, dan jenjang pendidikan. Modul ini diharapkan dapat membantu semua pihak menjalankan tugas dalam Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Saya mengucpkan terima kasih dan penghargaan atas partisipasi aktif kepada pejabat dan staf di jajaran BPSDMPK dan PMP, dosen perguruan tinggi, konsultan, widyaiswara, pengawas, kepala sekolah, dan guru yang terlibat di dalam penyusunan modul-modul tersebut di atas.

Jakarta, Juni 2013 Kepala Badan PSDMPK-PMP

Syawal Gultom NIP. 19620203 198703 1 002

Pendahuluan | iv

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

DAFTAR ISI

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAGIAN I PENDAHULUAN A. Tujuan Umum Pelatihan B. Indikator Umum Ketercapaian Tujuan C. Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai D. Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan E. Tahapan, Nara Sumber, dan Peserta Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, untuk Guru, Kepala Sekolah, F. dan Pengawas G. Penilaian H. Panduan Narasumber dan Fasilitator I. Kode Etik Narasumber J. Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013

iii iv v 1 2 2 3 3 3 5 6 6 7 8 10 11 13 15 19 25 29 32 33 34 34 34 34 35 59 60 60 60 61 62 64 93 105

Sistematika Modul BAGIAN II SILABUS PELATIHAN A. Silabus Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset B. Silabus Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013 C. Silabus Materi Pelatihan 2: Analisis Materi Ajar D. Silabus Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran E. Silabus Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing BAGIAN III MATERI PELATIHAN MATERI PELATIHAN 0: PERUBAHAN MINDSET A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D Perangkat pelatihan Skenario kegiatan Bahan tayang MATERI PELATIHAN 1 : KONSEP KURIKULUM 2013 A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 1.1 Rasional Kurikulum 1.2 Elemen Perubahan Kurikulum 1.3 SKL, KI, dan KD
K.

Pendahuluan | v

SMA/MA/SMK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

1.4 Strategi Implementasi Kurikulum MATERI PELATIHAN 2 : ANALISIS MATERI AJAR A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 2.1 Konsep Pendekatan Scientific 2.2 Model Pembelajaran 2.3 Konsep Penilaian Autentik pada Pembelajaran 2.4 Analisis Buku Guru dan Siswa MATERI PELATIHAN 3 : MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Indikator D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 3.1 Penyusunan RPP 3.2 Perancangan Penilaian Autentik MATERI PELATIHAN 4 : PRAKTEK PEMBELAJARAN TERBIMBING A. Kompetensi B. Lingkup materi C. Kompetensi Peserta Pelatihan D. Perangkat pelatihan Skenario kegiatan 4.1 Simulasi Pembelajaran 4.2 Peer Teaching

127 131 132 132 132 133 134 137 171 222 246 259 260 260 260 260 261 263 280 291 292 292 292 292 294 295 304

Pendahuluan | vi

B.5 Analisis Buku Guru dan Buku SIswa D. E. KI. Program Pendampingan BAGIAN 3: MATERI PELATIHAN Pendahuluan | vii . I.2 Peer Teaching F.4 Strategi Implementasi C. A. K. C. Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset B. Narasumber.1 Penyusunan RPP 1. G.1 Rasional 1. D. Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing 4.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar E.1 Simulasi Pembelajaran 4. Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013 1. E. Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran 1. Materi Pelatihan 2: Analisis Materi Ajar 2.4 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar 2. Tujuan Umum Pelatihan Indikator Umum KetercapaianTujuan Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan Tahapan. KD 1. dan Peserta Pelatihan Struktur Pelatihan Penilaian Panduan Narasumber dan Fasilitator Kode Etik Narasumber Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Sistematika Materi Pelatihan Silabus Perubahan Mindset Silabus Konsep Kurikulum 2013 Silabus Analisis Materi Ajar Silabus Model Rancangan Pembelajaran Silabus Praktik Pembelajaran Terbimbing BAGIAN 2: SILABUS A. C. D.2 Konsep Pendekatan Scientific 2. H. B.1 Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu 2.2 Elemen Perubahan 1. F.3 Model Pembelajaran 2.3 SKL.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 GAMBARAN STRUKTUR MATERI PELATIHAN GURU IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGIAN 1: PENDAHULUAN A. J.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN I PENDAHULUAN Matematika – SMA/MA/SMK | 1 .

Guru Inti. Narasumber yang dimaksudkan adalah Narasumber Nasional. Bahan/Materi Pelatihan yang dimaksud meliputi hand-out. Kepala sekolah mampu mengerahkan sumber daya yang dimiliki dalam rangka menjamin keterlaksanaan implementasi Kurikulum 2013. 3. (3) Panduan Narasumber. menunjukkan di bawah ini. X mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan. VII. isi. (4) Panduan Penilaian. IV. Modul ini memberi panduan bagi para pengguna mengenai (1) Tahapan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Instruktur Nasional. 1. Tujuh puluh persen (70%) guru kelas I. 2. Guru mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan. (5) Bahan/Materi Pelatihan untuk masing-masing Mata Pelatihan. Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP) telah menetapkan jenjang atau tahapan pelatihan.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN I PENDAHULUAN Modul Pelatihan ini disiapkan untuk digunakan para Narasumber Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 sesuai dengan kelas. mata pelajaran dan jenjang pendidikan. Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013 tidak mengalami hambatan biaya. 2. Indikator Umum Ketercapaian Tujuan Hasil monitoring dan evaluasi implementasi Kurikulum 2013 pada akhir Tahun Ajaran 2013/2014. bahan tayang baik dalam bentuk slide power point maupun rekaman video. Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013 mendapatkan bantuan secara benar dari pengawas sekolah selama implementasi Kurikulum 2013. Kepala Sekolah Inti. Tujuan Umum Pelatihan Tujuan Umum Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 adalah sebagai berikut. Sesuai dengan Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 1. dan penilaian Kurikulum 2013. B. isi. sasaran pelatihan. lembar kerja/worksheet. sumber daya manusia. sarana. 3. proses pembelajaran. dan penilaian Kurikulum 2013. dan kebijakan sekolah. Pengawas sekolah mampu memberikan bantuan teknis secara benar kepada sekolah dalam mengatasi hambatan selama implementasi Kurikulum 2013. proses pembelajaran. (2) Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. dan struktur pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 untuk tahun kalender 2013. A. Matematika – SMA/MA/SMK | 2 . dan Pengawas Sekolah Inti.

Tahapan. 2. 3. Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. Buku Guru. Memiliki pemahaman yang mendalam tentang Kurikulum 2013 (rasional. D. Project Based Learning. selama 1 semester. 5. 8. Kompetensi Dasar (KD). Contoh RPP untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. 1. selama 1 semester. elemen perubahan. Analisis buku siswa dan buku guru untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. maka pelatihan ini menerapkan strategi pelatihan bertahap atau berjenjang. 6. 4. Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan Setelah selesai mengikuti pelatihan. Mengingat jumlah sasaran akhir pelatihan sangat besar dan sebaran sasaran akhir pelatihan sangat luas. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013. kepala sekolah dan pengawas. E. Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai Berdasarkan Indikator Ketercapaian Tujuan. guru. Memiliki keterampilan menganalisis keterkaitan antara Standar Kompetensi Kelulusan (SKL). Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013. KD untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. Contoh instrumen penilaian untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya. Memiliki keterampilan melaksanakan penilaian autentik dengan benar. Memiliki keterampilan menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP) dengan mengacu pada Kurikulum 2013. 3. dan pengawas sekolah mampu mewujudkan hasil kerja secara kolektif berikut ini. dan Peserta Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Sasaran akhir dari pelatihan ini adalah guru. maka berikut ini kompetensi inti yang harus dicapai peserta setelah mengikuti pelatihan. dan Discovery Learning. SKL. Memiliki keterampilan berkomunikasi lisan dan tulis dengan runtut. 4. selama 1 semester. Narasumber. dan santun. KI dan KD. Tahapan atau Matematika – SMA/MA/SMK | 3 . benar. KI. 2. Kompetensi Inti (KI). 7. Analisis SKL. Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan pendekatan Scientific secara benar. serta strategi implementasi).SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 C. dan Buku Siswa. 9. selama 1 semester. kepala sekolah. 1.

Pelatihan Guru Inti. narasumber yang akan bertugas. Narasumber: Narasumber Nasional PELATIHAN INSTRUKTUR NASIONAL Peserta: Instruktur Nasional Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN GURU INTI Peserta: Guru Inti Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN KEPALA SEKOLAH INTI Peserta: Kepala Sekolah Inti Narasumber: Instruktur Nasional PELATIHAN PENGAWAS INTI Peserta: Pengawas Inti Narasumber: Guru Inti PELATIHAN GURU KELAS/MAPEL Peserta: Guru Kelas/Mapel/BK Narasumber: Kepala Sekolah Inti PELATIHAN KEPALA SEKOLAH Peserta: Kepala Sekolah Narasumber: Pengawas Inti PELATIHAN PENGAWAS Peserta: Pengawas Diagram 1. Tahapan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Tahapan pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 dapat dilihat pada diagram 1 di atas.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 jenjang pelatihan. dan Tingkat Kabupaten/Kota. Diagram tersebut menunjukan terdapat 3 tahap pelatihan yaitu:Pelatihan Tingkat Nasional. yakni: Pelatihan Instruktur Nasional. Pelatihan Guru Kelas/ Mapel. Pelatihan Pengawas Inti. Pelatihan Kepala Sekolah Inti. Secara keseluruhan terdapat 7 jenis pelatihan. Matematika – SMA/MA/SMK | 4 . serta sasaran peserta dapat dijelaskan pada diagram berikut ini. Pelatihan Kepala sekolah. dan Pelatihan Pengawas. Tingkat Provinsi.

5 6 6 4 4 6 6 3.1 1.3 2.5 0.1 ANALISIS MATERI AJAR Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu Konsep Pembelajaran IPA Terpadu Konsep Pembelajaran IPS Terpadu 12 2 12 2 12 12 12 12 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2.5 0. KI dan KD Strategi Implementasi 2 4 0. dan Kedalaman Materi) 2. Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. 3.2 2. 1.1 3.5 2 1 Kelas IV 2 4 0. 2.2 1.5 2 1 SMP/MTs SMA/SMK /MA 2 4 0.1 PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING Simulasi Pembelajaran 22 8 22 8 22 8 22 8 22 8 22 8 Matematika – SMA/MA/SMK | 5 . Kepala Sekolah.4 PERUBAHAN MINDSET KONSEP KURIKULUM 2013 Rasional Elemen Perubahan SKL. untuk Guru.5 0.5 0.5 2 1 2.5 2 1 IPA 2 4 0. Kecukupan.4 Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. 4. 1. dan Pengawas Sekolah SD/MI No MateriPelatihan Kelas I 0. dan PengawasSekolah Tabel 1: Struktur Pelatihan Guru. Kepala Sekolah.5 2 1 IPS 2 4 0.2 MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN Penyusunan RPP Perancangan Penilaian Autentik 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 8 5 3 4.5 0.5 2 1 Lainnya 2 4 0.3 1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 F.5 0.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 4. dan 3. memberikan penjelasan tambahan. 1.2 Peer Teaching 14 14 14 14 14 14 PENDAMPINGAN 2 2 2 2 2 2 TES AWAL DAN TES AKHIR 2 2 2 2 2 2 TOTAL 52 52 52 52 52 52 G. Memahami isi modul sesuai bidang yang ditugaskan. Penilaian Seusai pelatihan. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang narasumber adalah berikut ini. keterampilan Penilaian autentik diterapkan di dalam pelatihan ini. 4. tes akhir. sikap 2. panitia pelatihan akan mengumumkan hasil penilaian peserta. Setiap calon instruktur nasional. guru inti. Ketika seorang narasumber bertugas memberikan materi pelatihan. Penilaian meliputi tiga ranah yaitu: 1. dan pengawas inti dinyatakan lulus apabila mencapai nilai 75 dan memiliki kewenangan untuk melatih. dan melakukan penilaian kepada peserta. Metode penilaian yang diterapkan di dalam penilaian ini meliputi: 1. dan pengamatan. portofolio. Jumlah narasumber yang akan bertugas sebanyak 3 (tiga) orang selama proses pelatihan. 2. 3. maka narasumber lainnya berperan sebagai fasilitator yang membantu dalam menyiapkan perangkat pelatihan. Panduan Narasumber dan Fasilitator Narasumber memainkan peran yang sangat penting untuk menjadikan suatu pelatihan yang menarik dan menyenangkan. kepala sekolah inti. Narasumber membagi tugas secara bersama-sama dengan prinsip keadilan. H. Matematika – SMA/MA/SMK | 6 . tes awal. pengetahuan.

Mengaktifkan peserta untuk menjawab pertanyaan peserta lain. Mengurangi penjelasan definisi. menjawab pertanyaan. maupun penguasaan materi pelatihan.. mengambil keputusan atau simpulan. Membagi bahan pelatihan kepada peserta sesuai haknya. yang minoritas. Menyiapkan alat. 8. pengetahuan. d. tes akhir. e. cara memberikan umpan balik. dan media belajar yang diperlukan. Tugas Narasumber yang Berperan sebagai Fasilitator 1. Menjawab pertanyaan yang tidak dipahami maksudnya. menguatkan dan menekankan simpulan itu. Menjawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabnya. 7. 4. Kode Etik Narasumber Setiap fasilitator pelatihan wajib menyetujui dan menerapkan kode etik berikut ini. yang tua. Mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab peserta sesering mungkin (jangan pertanyaan yang sulit dijawab atau terlalu mudah dijawab peserta). 10. 2. menanyakan argumentasinya mengapa peserta mengambil simpulan itu. menggali data. cara memberikan pertanyaan. 3. yang meliputi ranah sikap. Menjawab pertanyaan yang tidak perlu dijawab. c. Memanggil nama peserta untuk mengurangi ketegangan. 5. Mencatat kehadiran peserta sebagai bagian dari bahan penilaian. Memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta baik laki-laki maupun perempuanyang memiliki keterbatasan berbicara. 3. Menyerahkan laporan tertulis setiap selesai melakukan pelatihan. dan keterampilan. menganalisis alternatif temuan. Melaksanakan pelatihan sesuai dengan modul dan mematuhi urutan dalam skenario pelatihan yang telah disusun. sumber. baik dalam hal disiplin. memecahkan masalah. dan sebagainya. Terpancing dalam perdebatan dengan peserta yang dapat mengakibatkan habisnya waktu. Memotivasi peserta untuk mengambil kesimpulan sendiri. Memberikan contoh panutan bagi peserta. 5. Melaksanakan penilaian terdiri atas: tes awal. 6. berperilaku. 4. a. yang pendiam. tetapi wajib melibatkan peserta secara aktif dalam mencari. Matematika – SMA/MA/SMK | 7 .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 2. b. dan penilaian proses. Berperan sebagai orang yang serba tahu. dan memberikan konfirmasi. Menghindari hal-hal berikut ini. 9. I. memberikan motivasi.

KI.3 PPT-2.2 PPT-1.1/3. 4.3 HO-1. KD Strategi Implementasi Hand-Out Naskah Kurikulum 2013 Contoh Analisis Keterkaitan antara SKL. 3. KI.3 2.4/3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 1. KI. Menjaga kerahasiaan semua alat penilaian yang akan digunakan.1/1. 0. 2.4 HO-1. Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013 Jenis bahan dan lembar kerja untuk masing-masing materi pelatihan dapat dilihat berikut ini. KD Kerja/Rubrik ANALISIS MATERI AJAR Video Bahan Tayang Pembelajaran Matematika SMA Model-model Pembelajaran Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Project Based Learning KODE PPT-0. V-2. 1.1/4. Mengacu pada prinsip-prinsip andragogi dalam bersikap dan berperilaku.1 PPT-1.1-1 PPT-2. Menghormati kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan implementasi Kurikulum 2013. MATERI PELATIHAN PERUBAHAN MINDSET Bahan Tayang Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 KONSEP KURIKULUM 2013 Video Tayangan Paparan Kurikulum 2013 oleh Mendikbud Bahan Tayang Perubahan Mindset Rasional dan Elemen Perubahan SKL. Tabel 2. Melakukan penilaian secara objektif.2-1 Matematika – SMA/MA/SMK | 8 . Beberapa dokumen pelatihan digunakan sebagai acuan untuk beberapa materi pelatihan sebagaimana tercermin dalam pengkodean bahan pelatihan.2 LK-1. KI. J.2/1.4 HO-1.1 V-1.1 PPT-1.3/2. Memberlakukan peserta secara adil dan tidak diskriminatif. 5. dan KD SKL.3 PPT-1. dan KD Lembar Analisis Keterkaitan SKL.1 V-2. Daftar dan Pengkodean Materi Pelatihan NO.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 NO.1 R-4.1 Hand-Out Lembar Kerja/Rubrik 4.3/3.2 LK-2.1 PPT-4.1/3. Video Bahan Tayang PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING Lembar Kerja/Rubrik Matematika – SMA/MA/SMK | 9 .1-1 HO-3.1-2 HO-2.3/2.3 HO-2.1-1 PPT-3.2-2 HO-2.2 HO-3.2 HO-1.2-3 HO-2.1-1 HO-2.4 Lembar Kerja/Rubrik 3.2-1 HO-2. MATERI PELATIHAN Model Pembelajaran Problem Based Learning Model Pembelajaran Discovery Learning Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Siswa Hand-Out Konsep Pendekatan Scientific Contoh Penerapan Pendekatan scientific dalam Pembelajaran Matematika Model Pembelajaran Project Based Learning Model Pembelajaran Problem Based Learning Model Pembelajaran Discovery Learning Konsep Penilaian Autentik Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika Analisis Buku Guru Analisis Buku Siswa KODE PPT-2.3 PPT-2.1/4. dan KD Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific Contoh RPP Matematika SMA Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Telaah RPP Rubrik Penilaian Telaah RPP Video Pembelajaran Matematika Strategi Pengamatan Tayangan Video Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran Melalui Peer-Teaching Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran Analisis Pembelajaran pada Tayangan Video Rubrik Penilaian Analisis Pembelajaran pada Tayangan Video PPT-3.2-2 LK-4.4-1 LK-2.4 HO-2.4/3.3/3.2 R-3.2 V-2.1/3.1 PPT-4. KI.2 LK-3.2-1 PPT-4.2-2 PPT-2.2-3 PPT-2.1/3.4-2 R-2. Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku Guru dan Siswa MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN Bahan Tayang Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP yang Telah Dibuat SKL.1-2 HO-2.

KD) HO-1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 NO.4/3.KI.2 artinya hand-out ini digunakan sebagai acuan untuk beberapa materi pelatihan yaitu sebagai berikut: .3 artinya bahan presentasi ini digunakan saat menyampaikan Materi Pelatihan 1 (Konsep Kurikulum). 2. Submateri 3 (SKL. MATERI PELATIHAN Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran Rubrik Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran KODE LK-4. submateri 1 dan 2.1/2. submateri 1 dan 4.3/2. Bagian I Bagian II : : Pendahuluan Silabus Pelatihan Materi Pelatihan Bagian III : Matematika – SMA/MA/SMK | 10 .2 Keterangan: V PPT HO LK R : : : : : Video Powerpoint Presentation Hand-Out Lembar Kerja Rubrik Catatan Pengkodean: 1. PPT-1. submateri 3.Materi Pelatihan 3. . . Sistematika Modul Modul pelatihan implementasi kurikulum ini dibagi dalam tiga bagian berikut ini.Materi Pelatihan 2.1/3.2 R-4.Materi Pelatihan 1. K.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 BAGIAN II SILABUS PELATIHAN Matematika – SMA/MA/SMK | 11 .

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 JENJANG: SMA/MA. SMK/MAK MATA PELAJARAN: MATEMATIKA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2013 Matematika – SMA/MA/SMK | 12 .

TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS Bahan Tayang DESKRIPSI Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (PPT-0. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013 2. KEGIATAN PELATIHAN 1. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan pelatihan. Curah pendapat membandingkan antara berpikir berbasis kendala (constraintbased thinking) dengan berpikir berbasis kesempatan (opportunitybased thinking) 3. Matematika – SMA/MA/SMK | 13 .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: SUBMATERI PELATIHAN Tantangan Indonesia dalam Abad ke21 0.1) WAKTU (JP) 2 NO 0. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimpleme ntasikan Kurikulum 2013. Mendiskusikan 6 PENILAIAN ASPEK Sikap Terbuka untuk menerima dan mengimpleme ntasikan Kurikulum 2013. 2.1 INDIKATOR 1. Menunjukan sikap terbuka terhadap perubahan. SMK/MAK MATEMATIKA KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN 1. 2. Mendiskusikan cara baru dalam belajar. Tanya jawab tentang tantangan Indonesia dalam Abad ke-21. 4. PERUBAHAN MINDSET 2 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA.

Tanya jawab tentang High order thingking WAKTU (JP) Matematika – SMA/MA/SMK | 14 .SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN pendorong utama teknologi pendidikan yang harus diperhatikan 5.

TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. Menyimak dan melakukan tanya jawab tentang paparan rasional Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan kurikulum di Indonesia.1) Rasional Kurikulum 2013 (PPT-1. 2.4) WAKTU (JP) 0.5 NO 1. Pengetahuan Memahami secara utuh rasional kurikulum 2013 . KONSEP KURIKULUM 4 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. 3. Menjelaskan permasalahan Kurikulum 2006 (KTSP). 2. Mengamati dan menyimak tayangan paparan tentang Kurikulum 2013 oleh Mendikbud.2/1. 2.1 INDIKATOR 1. KEGIATAN PELATIHAN 1. Video DESKRIPSI Tayangan Paparan Kurikulum 2013 oleh Mendikbud (V-1. Bahan Tayang Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 3. 3.1/1. Hand-out Matematika – SMA/MA/SMK | 15 . Menyimpulkan rasional Kurikulum 2013 yang mencakup permasalahan PENILAIAN ASPEK Sikap Menerima latar belakang alasan perubahan Kurikulum 2013. SMK/MAK MATEMATIKA KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Memahami secara utuh rasional Kurikulum 2013. Menjelaskan rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan. Menerima rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan.1) Naskah Kurikulum 2013 (D-1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: SUBMATERI PELATIHAN Rasional 1.

dan Standar Penilaian. 2.1/1. Menjelaskan alasan pengembangan kurikulum.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR 4. dan Standar Penilaian. 1. serta alasan pengembangan kurikulum.5 2. kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal. Menjelaskan empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. SI. 5. Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. SI. Bahan Tayang Elemen Perubahan Kurikulum 2013 (PPT-1. Menyimak dan melakukan tanya jawab tentang empat elemen perubahan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan kurikulum.2/1. Standar Proses. KEGIATAN PELATIHAN kurikulum 2006 (KTSP).2 Elemen Perubahan Kurikulum 2013 Memahami secara utuh elemen perubahan Kurikulum 2013. WAKTU (JP) 1.4) 0. Sikap Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 Pengetahuan Memahami elemen perubahan Kurikulum 2013 dan hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. 2.2) Naskah Kurikulum 2013 (D-1. Mengidentifikasi kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal. Hand-out Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda Matematika – SMA/MA/SMK | 16 . 1. Menyimpulkan empat elemen perubahan Kurikulum 2013. Standar Proses. Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL.

3) a. KI. Menganalisis keterkaitan antara SKL.3) Tes Objektif Pilihan Ganda 3. dan KD. KI. 3. dan KD pada Kurikulum 2013. dan KD yang akan dijadikan dasar dalam Sikap Bekerja sama dalam kelompok dengan baik dan benar Keterampilan Terampil menganalisis keterkaitan SKL. Contoh Analisis Keterkaitan antara SKl.3 ) 2 Penugasan Rubrik penilaian hasil analisis keterkaitan SKL. Bahan Tayang 2.2) b. dan KD (PPT-1. KI. KI. KI. 1. dan KD (HO-1. Menyimak paparan SKL. 2. KI dan KD (R-1.3) Analisis Keterkaitan SKL.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR 3. Memberi contoh analisis keterkaitan SKL. KI. 1. dan KD. 2. Lembar Kerja Pengetahuan Kemampuan memahami konsep SKL. KI. dan KD melalui diskusi kelompok pada format yang sudah disediakan (Tiap kelompok menganalisis keterkaitan SKL.3/ 2. KI. dan KD. KI.1/3. SKL. KI. KI. KI.3 SKL. dan KD (HO-1. Hand-Out SKL. Menganalisis keterkaitan SKL.4/ 3. dan KD serta keterkaitan antara ketiga kompetensi Tes Tertulis Matematika – SMA/MA/SMK | 17 . KI. Bekerja sama dalam menganalisis keterkaitan SKL. dan KD Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 1. dan KD (LK-1. dan KD. KI dan KD Memahami keterkaitan antara SKL. Menjelaskan empat elemen perubahan kurikulum dalam hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan.

Mengkomunikasi kan hasil diskusi kelas.4) 1 2. 5. Pengetahuan Memahami elemenelemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013.1/1. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. Menilai hasil kerja kelompok lain. 2. dan komunikatif dalam meyampaikan ide-ide. Sikap Berkomunikasi dengan bahasa yang santun. Bahan Tayang Strategi Implementasi Kurikulum (PPT-1. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013 Memahami secara utuh strategi implementasi Kurikulum 2013. 2. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN membuat RPP) 4. sistematis. 3. WAKTU (JP) 1. Diskusi kelas untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. 1.4) Naskah Kurikulum 2013 (D-1. Hand-out Tes Tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda Matematika – SMA/MA/SMK | 18 . Berkomunikasi dengan bahasa yang runtut dan komunikatif untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK tersebut. Merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi kelas.2/1. 1. Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1.

1) a. Contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika (PPT-2. 3.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERIPELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 2. INDIKATOR 1.1-1) b. ANALISIS MATERI AJAR 12 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA.1/4. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar pengamatan sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. Mengkaji pendekatan scientific berdasarkan tayangan video melalui diskusi kelompok. Konsep pendekatan scientific NO 2. Konsep pendekatan scientific (PPT-2. Bahan Tayang Tes tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 3. 2. KEGIATAN PELATIHAN 1. Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain. Menjelaskan konsep pendekatan scientific 3. Pengetahuan Konsep pendekatan scientific dan penerapannya dalam pembelajaran Matematika. Mendiskusikan contoh-contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika. Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika. WAKTU (JP) 2 2. Mengamati tayangan video pembelajaran Matematika. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain.1 SUBMATERI PELATIHAN Konsep Pendekatan Scientific KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika. 2. Video DESKRIPSI Pembelajaran Matematika (V-2.1-2) a. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 19 .

2. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning. Contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika (HO-2. 2.3-2) c. Project Based Learning 2 Tes Tulis Tes Objektif Pilihan Ganda 2.3-3) a. Problem Based Learning (PPT-2. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok. dan Discovery Learning. 3.3. Bahan Tayang Unjuk kerja Rubrik penilaian 3. Focus Group Discussion Panduan FGD 1. Discovery Learning (PPT-2. Video Contoh Pembelajaran dengan 3 model pembelajaran (V-2. Project Based Learning (PPT-2. Problem Based Learning. Problem Based Learning.1) b. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Project Based Learning.3) a. Problem Based Learning. Mengamati tayangan 3 jenis model pembelajaran (Project Based Learning. Mengidentifikasi karakteristik 3 model pembelajaran. dan Discovery Learning. 1. 2.2 Model Pembelajaran Membedakan Model Pembelajaran Project Based Learning. Mengidentifikasi penerapan Pendekatan Sikap Menyadari manfaat penerapan tiga model pembelajaran Pengetahuan Karakteristik Project Based Learning. Keterampilan Menganalisis.1-2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 4.1-1) b. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 20 . dan Discovery Learning). 1. 3. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran Discovery Learning.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI (HO-2.

3-3) 1. Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madarasah dan menghargai pendapat orang lain. 1. Menyajikan kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan bentuk tes dalam penilaian autentik.3) b. 2.3. 2. Menjelaskan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.2) a. Mempresentasi kan hasil diskusi kelompok.1) b.3/3. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar (PPT-2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK membedakan. Bahan Tayang a.3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar 1. 3. Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 21 . Pengetahuan Konsep penilaian autentik pada pembelajaran Matematika.3-2) c. Discovery Learning (HO-2.3) b. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (PPT-2. Sikap Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madrasah dan menghargai pendapat orang lain. Pengamatan Lembar pengamatan sikap 2 Tes tertulis Tes Objektif Pilihan Ganda 2. Problem Based Learning (HO-2. Mendiskusikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN Scientific pada 3 model pembelajaran BAHAN PELATIHAN BENTUK INSTRUMEN hasil kerja JENIS DESKRIPSI (HO-2. 2. Contoh penerapan TEKNIK WAKTU (JP) mengaitkan. Konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar (HO-2.

4) SKL. Kecukupan. KI. 1. KI. Analisis Buku Siswa (LK-2.2) a. 3. Mengidentifikasi kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Bahan Tayang Analisis buku guru dan buku siswa (PPT-2. dan KD. Ketelitian dan keseriusan menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL. 1. Menganalisis kesesuaian buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Lembar Kerja Matematika – SMA/MA/SMK | 22 . Keterampilan Terampil menganalisis buku guru dan siswa.4) 3. dan KD. KI.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. KI. Pengamatan Lembar pengamatan sikap 1. 4.4-1) b. dan KD dalam diskusi Sikap Teliti dan serius dalam bekerja baik secara mandiri maupun berkelompok. 2. Hand-out Penugasan Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (R-2.3/2. Mencermati format analisis buku guru dan buku siswa.4/ 3. dan KD. Diskusi kelompok membahas hasil penilaian buku guru dan buku siswa.3/3. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. dan KD (HO-1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (HO-2. Peserta pelatihan menilai buku guru dan buku siswa.2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 2. KI.4-2) 6 2. Analisis Buku Guru (LK-2.1/3. dan Kedalaman Materi) 1. 2.

Matematika – SMA/MA/SMK | 23 . Menganalisis kesesuaian proses. WAKTU (JP) 2. 3. Menjelaskan secara utuh materi. struktur. Mendeskripsikan kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa secara kelompok. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa. struktur. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran. 6. Membaca isi materi. 5. 3. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku melalui diskusi kelompok. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa melalui belajar 4. pendekatan scientific. Menguasai secara utuh materi. 5. pendekatan scientific. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan standar proses. struktur.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN kelompok. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. 7.

Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. 5. 7. Matematika – SMA/MA/SMK | 24 . Mempresentasi kan hasil analisis buku guru dan buku siswa (perwakilan kelompok). 8. 9. Menyimpulkan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. 10. 6.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN mandiri. Menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. Membuat contoh-contoh penerapan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari secara berkelompok. Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. WAKTU (JP) 4. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran.

Hand out Matematika – SMA/MA/SMK | 25 . KI.3/2. Rambu-rambu penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific (PPT-3. KEGIATAN PELATIHAN 1.1/3. sosial. WAKTU (JP) 5 2. SKL. dan KD (HO-1. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP Keterampilan Menyusun RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1.1 Penyusunan RPP KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Menyusun RPP yang menerapkan pendekatan scientific sesuai model belajar yang relevan dengan mempertimbang kan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik.2) 2. Mendiskusikan rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific. Peserta pelatihan menilai RPP yang dibawa oleh peserta lain. MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN 8 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. kultural. moral. 2. INDIKATOR NO 1.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 3.4/ SUBMATERI PELATIHAN 3. Mengidentifikasi rambu-rambu penyusunan RPP. emosional. Panduan tugas telaah RPP (PPT-3.1-2) a.1-1) b. Menunjukkan sikap tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP. Penugasan Rubrik Penilaian Telaah RPP (R-3. Bahan Tayang DESKRIPSI a.

dan pendekatan scientific secara berkelompok (terutama KD awal semester I) 4.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN maupun intelektual PENILAIAN ASPEK Pengetahuan RPPyang menerapkan pendekatan scientific TEKNIK Tes Tertulis BENTUK INSTRUMEN Tes Objektif Pilihan Ganda BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI 3. Merevisi RPP berdasarkan hasil telaah.1-2) Telaah RPP 3. Contoh RPP Matematika (HO-3. Lembar Kerja SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR NO KEGIATAN PELATIHAN WAKTU (JP) 3. Standar Proses. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. dan KD. MenelaahRPP yang disusun kelompok lain sesuai format telaah RPP.2) Matematika – SMA/MA/SMK | 26 . 7. KI.1/3. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL.1-1) c. Menelaah RPP yang disusun kelompok lain (LK-3. Mempresentasikan hasil RPP yang sudah direvisi (sampel) 4. Mendiskusikan format telaahRPP . dan KD. Rambu-rambu penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific (HO-3.1/3. 3. 6. dan pendekatan scientific. 5. KI.2 b. Standar Proses.

2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar INDIKATOR NO 1.1/3.2) Tes Objektif Pilihan Ganda 2. Menunjukkan sikap tanggung dan kreatifdalam menyusun rancangan penilaian autentik. Keterampilan Merancang penilaian autentik Pengetahuan Penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Merancang penilaian autentik pada proses dan hasil belajar PENILAIAN ASPEK Sikap Tanggung jawab dankreatif dalam menyusun rancangan penilaian autentik. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. KEGIATAN PELATIHAN 1. Mendiskusikan dan melakukan tanya jawabtentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes. Menelaah rancangan penilaian 4. Panduan tugas menelaah rancangan penilaian pada RPP yang telah dibuat (PPT-3.3/3. Penugasan Rubrik Penilaian Telaah RPP (R-3.2) b. 4. KI. termasuk portofolio. Mengidentifikasi kaidah perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.2) SUBMATERI PELATIHAN 3. 3.3/2.3/3. WAKTU (JP) 3 2. Bahan Tayang DESKRIPSI a.1/3. 2. Mengidentifikasi jenis dan bentuk penilaian pada proses dan hasil belajar sesuai karakteristik mata pelajaran Matematika.2) a. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (HO-2.4/ 3.2) b. Menelaah rancangan penilaian Matematika – SMA/MA/SMK | 27 . SKL. Contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika (PPT-2. dan KD (HO-1. Hand out Tes Tertulis 3. Mengkaji penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika melalui contoh. Mendiskusikan tentang kaidah merancang penilaian autentik berbentuk tes dan nontes.

SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN PENILAIAN ASPEK TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR NO autentik pada proses dan hasil belajar yang ada dalam RPP. Mempresentasi kan rancangan penilaian proses dan hasil belajar yang sudah direvisi (sampel) WAKTU (JP) Matematika – SMA/MA/SMK | 28 . Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun berdasarkan hasil telaah. 5. KEGIATAN PELATIHAN autentik pada RPP yang telah disusun. 6.

1 SUBMATERI PELATIHAN Simulasi Pembelajaran KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN Mengkaji pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. SMK/MAK MATEMATIKA PENILAIAN ASPEK Sikap Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran Keterampilan Menganalisis pembelajaran pada tayangan video. emosional. Mengamati tayangan video pembelajaran WAKTU (JP) 8 2.1) NO 4. moral. menyaji. 3. menanya. Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran. PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING 22 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. TEKNIK Pengamatan BENTUK INSTRUMEN Lembar Pengamatan Sikap BAHAN PELATIHAN JENIS 1. kultural. INDIKATOR 1. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATERIPELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: 4. 2.1) Analisis pembelajaran pada tayangan video (LK-4. mencoba. KEGIATAN PELATIHAN 1.1) Strategi pengamatan video pembelajaran (PPT-4. Bahan Tayang 2. Lembar Kerja Pengetahuan Prinsipprinsip pendekatan scientific dan Tes Tertulis Matematika – SMA/MA/SMK | 29 .1) Tes Objektif Pilihan Ganda 3. mengolah. Mengkonfirmasi penerapan pendekatan Penugasan Rubrik Penilaian Analisis pembelajaran pada tayangan video (R-4. Video DESKRIPSI Pembelajaran Matematika (V-2.1/4. menalar. sosial. Melalui diskusi. menganalisis tayangan video pelaksanaan pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientificdan penilaian autentik. Menganalisis simulasi pembelajaran melalui tayangan video pembelajaran.

2-2) 14 4.2-1) b. Penugasan 2.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN maupun. Menginformasik an panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran melalui peer teaching. mengolah. PENILAIAN ASPEK penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika. 2. menyaji. menanya.2) Tes Objektif Matematika – SMA/MA/SMK | 30 . 4. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN BAHAN PELATIHAN JENIS DESKRIPSI NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR KEGIATAN PELATIHAN scientific dan penilaian autentik mengacu pada tayangan video pembelajaran. 5. intelektual. Mempresentasi kan contoh RPP untuk kegiatan peer teaching. menalar.2 Peer Teaching Melaksanakan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. Menjelaskan garis besar instrumen penilaian pelaksanaan Sikap Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching Keterampilan Melaksanakan pembelajaran yang menerapkan Pengamatan Lembar Pengamatan Sikap 1. Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching. Bahan Tayang a. Melaksanakan peer teaching yang menerapkan pendekatan Tes Tertulis Rubrik penilaian pelaksanaan pembelajaran (R-4. mencoba. Merevisi RPP sehingga menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik untuk kegiatan peer teaching. Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (PPT-4. Merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran. WAKTU (JP) 3. 1. Panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran melalui peer teaching (PPT-4. mencipta) 1.

WAKTU (JP) 3. emosional. 4. kultural.2) NO SUBMATERI PELATIHAN INDIKATOR scientific dan penilaian autentik menggunakan RPP yang telah disusun. Menilai pelaksanaan peer teaching peserta lain.SMA/MA/SMK Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. Matematika – SMA/MA/SMK | 31 . intelektual. KEGIATAN PELATIHAN pembelajaran 3. Pengetahuan Prinsipprinsip pendekatan scientific dan penerapan penilaian autentik dalam pembelajaran Matematika. Mempersiapkan pelaksanaan peer teaching berdasarkan RPP yang telah disusun. moral. Mempraktikkan pembelajaran melalui peer teaching secara individual. Melakukan refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching. PENILAIAN ASPEK pendekatan scientific. maupun. TEKNIK BENTUK INSTRUMEN Ganda BAHAN PELATIHAN JENIS 2. 5. Lembar Kerja DESKRIPSI Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (LK-4. Menilai kegiatan peer teaching menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran 6. sosial.

BAGIAN III MATERI PELATIHAN Matematika – SMA/MA/SMK | 32 .

MATERI PELATIHAN: PERUBAHAN MINDSET Matematika – SMA/MA/SMK | 33 .

2. Bahan Tayang: Tantangan Indonesia dalam Abad 21 (Mengapa Kita Harus Berubah) ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 34 . 2. Menunjukkan sikap menerima secara terbuka terhadap perubahan Kurikulum dalam rangka menghadapi tantangan Indonesia dalam Abad ke-21. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013. D. Berpikir Berbasis Kendala (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir Berbasis Kesempatan (Opportunity Based) Cara Baru dalam Belajar Enam Pendorong Utama Teknologi Pendidikan yang Harus Diperhatikan. 6. 4. B. Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skill). PERANGKAT PELATIHAN 1. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013. C. 2. INDIKATOR 3.MATERI PELATIHAN: PERUBAHAN MINDSET A. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. 4. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan materi pelatihan perubahan mindset. 5. Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (Mengapa Kita Harus Berubah). 5. Menunjukkan sikap menghargai perubahan kurikulum. Merespon secara positif terhadap cara baru dalam belajar. LINGKUP MATERI 1. 3.

Fasilitator mengingatkankan peserta agar membaca referensi yang relevan. seperti LCD Projector. tujuan. Fasilitator menutup pembelajaran 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 35 . 15 Menit KEGIATAN PENDAHULUAN KEGIATAN INTI Perubahan Mindset 60 Menit Tanya jawab tentang tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 15 Menit (mengapa kita harus berubah). Fasilitator memotivasi peserta. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN WAKTU Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. kompetensi. Curah pendapat untuk membandingkan berpikir berbasis kendala 15 menit (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based). alokasi waktu. mengajak berdinamika agar saling mengenal. File. Mendiskusikan cara baru dalam belajar. indikator. dan Laser Pointer. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. semangat.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN PERUBAHAN MINDSET 2 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. atau media pembelajaran lainnnya. Active Speaker. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. serius. Laptop. 10 Menit Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi pendidikan yang 20 Menit harus diperhatikan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skill) KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Perubahan Mindset.

dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset. kompetensi.Langkah Kegiatan Inti Pengkondisian Peserta dilanjutkan Tanya Jawab 30 Menit Curah Pendapat Diskusi Diskusi Dilanjutkan Tanya Jawab 15 Menit 10 Menit 20 Menit Pengkondisian Peserta dilanjutkan Tanya Jawab Perkenalan. mengajak berdinamika agar saling mengenal. dan Penutup Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi pendidikan yang harus diperhatikan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi. dan umpan balik. indikator. serius. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. Tanya jawab tentang Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (mengapa kita harus berubah). Fasilitator memotivasi peserta. Diskusi Diskusi cara baru dalam belajar Diskusi. semangat. Curah Pendapat Curah pendapat untuk membandingkan berpikir berbasis kendala (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based). fasilitator menjelaskan nama. Tanya Jawab. Matematika – SMA/MA/SMK | 36 . diakhiri membuat rangkuman. alokasi waktu. refleksi. tujuan.

Matematika – SMA/MA/SMK | 37 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 38 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 39 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 40 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 41 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 42 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 43 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 44 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 45 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 46 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 47 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 48 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 49 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 50 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 51 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 52 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 53 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 54 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 55 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 56 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 57 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 58 .

MATERI PELATIHAN 1: KONSEP KURIKULUM 2013 1. dan KD 1. KI.2 Elemen Perubahan 1.4 Strategi Implementasi Matematika – SMA/MA/SMK | 59 .1 Rasional 1.3 SKL.

Standar Penilaian Strategi Implementasi Kurikulum 2013 4. Menganalisis keterkaitan SKL. dalam kaitannya dengan 2. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. 3. KI. 8. dan KD pada Kurikulum 2013. SI. 4. dan Standar Penilaian. 2. Standar Isi yang berisi Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) c. Menganalisis keterkaitan antara SKL. 9. 3. 7. 10. Menjelaskan empat elemen perubahan kurikulum dalam hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan. memahami secara utuh elemen perubahan Kurikulum 2013. LINGKUP MATERI 1. dan KD pada kurikulum 2013. B. Standar Proses. KI. Menerima rasional pengembangan Kurikulum 2013 perkembangan masa depan.MATERI PELATIHAN 1: KONSEP KURIKULUM A. Matematika – SMA/MA/SMK | 60 . Menjelaskan rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya dengan perkembangan masa depan. 5. Menjelaskan permasalahan Kurikulum 2006 (KTSP). 6. Standar Proses d. dan KD. INDIKATOR 1. Mengidentifikasi kesenjangan implementasi kurikulum antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal. Standar Proses. Menjelaskan empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. memahami keterkaitan antara SKL. Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL. dan Standar Penilaian. SI. C. memahami secara utuh rasional Kurikulum 2013. Rasional Kurikulum 2013 Elemen Perubahan Kurikulum 2013 Standar Nasional Pendidikan a. 2. 4. Menjelaskan alasan pengembangan kurikulum. 3. KI. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) b. dan memahami secara utuh strategi implementasi Kurikulum 2013.

Strategi Implementasi Kurikulum 2013 5. PERANGKAT PELATIHAN 1. Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Bahan Tayang a. Elemen Perubahan Kurikulum 2013 c. dan Kompetensi Dasar (KD) d. Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013. Lembar Kerja Analisis SKL. dan KD 4. Video tentang Rasional Kurikulum 2013 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2. D.11. Elemen Perubahan Kurikulum 2013 c. Strategi Implementasi Kurikulum 2013 3. Standar Isi (Kompetensi Inti (KI). Rasional Kurikulum 2013 b. Rasional Kurikulum 2013 b. Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Mengidentifikasi elemen-elemen penting strategi implementasi Kurikulum 2013 dengan bahasa yang runtut dan komunikatif. Kompetensi Inti (KI). dan Kompetensi Dasar (KD) d. 12. ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 61 . KI. Hand-Out a.

Standar Proses. alokasi waktu. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 1. atau media pembelajaran lainnya. dan Laser Pointer. Laptop. kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dan kondisi ideal. KONSEP KURIKULUM 4 JP (@45 MENIT) SMA/MA. File. semangat. Tanya jawab tentang Rasional Kurikulum 2013 yang 5 Menit mencakup: permasalahan kurikulum 2006 (KTSP). SI. Fasilitator memotivasi peserta. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran seperti LCD Projector. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 1.2 Elemen Perubahan Kurikulum 20 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang Elemen Perubahan 10 Menit Kurikulum yang mencakup SKL. 1. Pemaparan oleh fasilitator tentang Rasional Kurikulum 10 Menit 2013 dengan menggunakan PPT-1.1. kompetensi. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. mengajak berdinamika agar saling mengenal.1 Rasional 25 Menit Penayangan Video Mendikbud tentang Paparan Kurikulum 10 Menit 2013 dengan menggunakan V-1. dan Standar Penilaian dan hubungannya dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan dengan menggunakan Matematika – SMA/MA/SMK | 62 . serius. Active Speaker.1. tujuan. serta alasan pengembangan kurikulum. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Konsep Kurikulum. indikator.

dan KD 5 Menit dengan menggunakan HO-1.3 Memberi contoh analisis keterkaitan antara SKL.3. dan KD dengan 10 Menit menggunakan PPT-1. KI. kemudian merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi. Mengkomunikasikan hasil diskusi kelompok. dan 30 Menit KD yang akan dijadikan dasar untuk membuat RPP dengan menggunakan LK-1.3.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013 45 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang Strategi Implementasi 10 Menit Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. sementara kelompok 15 Menit lainnnya memberi komentar/ tanggapan dan menilai hasil kerja kelompok. KI.PPT-1. KI. Kerja kelompok untuk menganalisis keterkaitan SKL.4. KI. Fasilitator menutup pembelajaran 10 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 63 . ICE BREAKER 1. Diskusi kelas tentang elemen-elemen penting Strategi 25 Menit Implementasi Kurikulum 2013.2. 10 Menit kemudian fasilitator menyimpulkannya. 1. dan KD 5 Menit 60 Menit Pemaparan oleh fasilitator tentang SKL.3 SKL. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan. Tanya jawab tentang Elemen Perubahan Kurikulum. Presentasi hasil kerja kelompok. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Konsep Kurikulum.

tematik terpadu untuk SD kls 1 dan 4. b. Kemudian fasilitator menyimpulkannya. dan penilaian hasil belajar).2. TIK merupakan sarana pembelajaran yang dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain. Matematika – SMA/MA/SMK | 64 . Biologi untuk IPA)dengan menggunakan PPT-1.1 RASIONAL KURIKULUM Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur dengan menggunakan PPT-1. Manfaat adanya perubahan kurikulum. c. perubahan pendekatan pembelajaran yaitu Scientific Approach.2 10 Menit Tanya Jawab 10 Menit Pemaparan Instruktur menyampaikan materi Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum yang mencakup: 4 standar. Tanya Jawab Diskusi dan tanya jawab terkait dengan Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: a. penetapan platform untuk mata pelajaran tertentu (geografi untuk IPS.1 dan PPT-1.SUBMATERI PELATIHAN : 1. Identifikasi perubahan yang penting dalam kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya (struktur kurikulum. proses pembelajaran. Alasan pengembangan kurikulum. bahasa sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge.

Matematika – SMA/MA/SMK | 65 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 66 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 67 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 68 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 69 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 70 .

Tantangan internal lainnya terkait dengan faktor perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. sehat. dan (3) warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. pengetahuan. dan standar kompetensi lulusan. dan (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berakhlak mulia. Kurikulum sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal 1 Ayat (19) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. berilmu. B. RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Pengembangan kurikulum perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan yang dihadapi. baik tantangan internal maupun tantangan eksternal.HO-1. kreatif. Tantangan Internal Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar pengelolaan. mandiri. standar isi. LATAR BELAKANG PERLUNYA PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. standar pendidik dan tenaga kependidikan. Jadi tidak dapat disangkal lagi bahwa kurikulum yang dikembangkan dengan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.1/1. kurikulum merupakan salah satu unsur yang memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. standar biaya. yang diyakini akan menjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan negara Indonesia sepanjang zaman. Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap. RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 A. Matematika – SMA/MA/SMK | 71 .2/1. 1. Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan. standar sarana prasarana. isi. cakap.4 I. dan keterampilan secara terpadu. standar penilaian. standar proses.

Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar SDM usia produktif yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi SDM yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban (Gambar 2). Namun apabila tidak memiliki kompetensi dan keterampilan tentunya akan menjadi beban pembangunan. SDM usia produktif yang melimpah apabila memiliki kompetensi dan keterampilan akan menjadi modal pembangunan yang luar biasa besarnya.Terkait dengan tantangan internal pertama. berbagai kegiatan dilaksanakan untuk mengupayakan agar penyelenggaraan pendidikan dapat mencapai ke delapan standar yang telah ditetapkan. (Gambar 1). Gambar 2 Matematika – SMA/MA/SMK | 72 . Reformasi Pendidikan Mengacu Pada 8 Standar Kurikulum 2013 Sedang Dikerjakan Telah dan terus Dikerjakan -Peningkatan Kualifikasi & Sertifikasi -Pembayaran Tunjangan Sertifikasi -Uji Kompetensi dan Pengukuran Kinerja -Rehab Gedung Sekolah -Penyediaan Lab dan Perpustakaan -Penyediaan Buku -BOS -Bantuan Siswa Miskin -BOPTN/Bidik Misi (di PT) Manajemen Berbasis Sekolah Gambar 1 Terkait dengan perkembangan penduduk.

ASEAN Community. f. CAFTA Masalah lingkungan hidup Kemajuan teknologi informasi Konvergensi ilmu dan teknologi Ekonomi berbasis pengetahuan Kebangkitan industri kreatif dan budaya Pergeseran kekuatan ekonomi dunia Pengaruh dan imbas teknosains Mutu. Dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan. Dari isolasi menuju lingkungan jejaring. kompetensi yang diperlukan di masa depan. p. serta berbagai fenomena negatif yang mengemuka. e. c. Dari pemikiran faktual menuju kritis. Dari pasif menuju aktif-menyelidiki. Dari satu ilmu pengetahuan bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak. Dari usaha sadar tunggal menuju jamak.. Penyempurnaan Pola Pikir Pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan hanya akan dapat terwujud apabila terjadi pergeseran atau perubahan pola pikir. Dari berpusat pada guru menuju berpusat pada siswa. m. o. n. Tekanan Untuk Pengembangan Kurikulum Tantangan Masa Depan • • • • • • • • • Globalisasi: WTO. investasi dan transformasi pada sektor pendidikan • Materi TIMSS dan PISA Kompetensi Masa Depan • Kemampuan berkomunikasi • Kemampuan berpikir jernih dan kritis • Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan • Kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab • Kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda • Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal • Memiliki minat luas dalam kehidupan • Memiliki kesiapan untuk bekerja • Memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya • Memiliki rasa tanggungjawab terhadap lingkungan Persepsi Masyarakat • Terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif • Beban siswa terlalu berat • Kurang bermuatan karakter Fenomena Negatif yang Mengemuka §Perkelahian pelajar §Narkoba §Korupsi §Plagiarisme §Kecurangan dalam Ujian (Contek. Dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala penjuru. persepsi masyarakat. Matematika – SMA/MA/SMK | 73 . Dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif. Dari satu arah menuju interaktif. i. d. Kerpek. h. APEC. Dari pembelajaran pribadi menuju pembelajaran berbasis tim. l. perkembangan pengetahuan dan pedagogi. Dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata.) §Gejolak masyarakat (social unrest) Perkembangan Pengetahuan dan Pedagogi • Neurologi • Psikologi • Observation based [discovery] learning dan Collaborative learning Gambar 3 3. b. j. Dari alat tunggal menuju alat multimedia. Tantangan Eksternal Tantangan eksternal yang dihadapi dunia pendidikan antara lain berkaitan dengan tantangan masa depan. Pergeseran itu meliputi proses pembelajaran sebagai berikut: a. Dari luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan. Dari penyampaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan. k. g. Dari kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan.2.

tujuan pendidikan nasional. Satuan pendidikan dan guru tidak diberikan kewenangan menyusun silabus. Perumusan SKL di dalam KBK 2004 dan KTSP 2006 yang diturunkan dari SI harus diubah menjadi perumusan yang diturunkan dari kebutuhan. tapi disusun pada tingkat nasional. perlu dilakukan penyempurnaan pola pikir dan penggunaan pendekatan baru dalam perumusan Standar Kompetensi Lulusan. Guru lebih diberikan kesempatan mengembangkan proses pembelajaran tanpa harus dibebani dengan tugas-tugas penyusunan silabus yang memakan waktu yang banyak dan memerlukan penguasaan teknis penyusunan yang sangat memberatkan guru.Sejalan dengan itu. dan kebutuhan. Setelah kompetensi ditetapkan kemudian ditentukan kurikulumnya yang terdiri dari kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum. Tabel 1 4. Pendekatan dalam penyusunan SKL pada KBK 2004 dan KTSP 2006 dapat dilihat di Gambar 4 dan penyempurnaan pola pikir perumusan kurikulum dapat dilihat di Tabel 1. penyusunan kurikulum dimulai dengan menetapkan standar kompetensi lulusan berdasarkan kesiapan peserta didik. Penguatan Tata Kelola Kurikulum Pada Kurikulum 2013. Perbandingan kerangka kerja penyusunan kurikulum dapat dilihat pada Gambar 5. Matematika – SMA/MA/SMK | 74 .

perlu diambil langkah penguatan tata kelola antara lain dengan menyiapkan pada tingkat pusat buku pegangan pembelajaran yang terdiri dari buku pegangan siswa dan buku pegangan guru. Yuridis. Untuk menjamin keterlaksanaan implementasi kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran. sulit dijabarkan ke penilaian. KD MAPEL) STANDAR PROSES STANDAR KOMPETENSI LULUSAN STANDAR PENILAIAN KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR ISI (SKL MAPEL. dan sulit diajarkan karena keterbatasan sarana. maka sangat penting untuk menyiapkan guru supaya memahami pemanfaatan sumber belajar yang telah disiapkan dan sumber lain yang dapat mereka manfaatkan. dan SMA lebih kecil dari total waktu pembelajaran yang dialokasikan menurut Standar Isi. SMP. Yuridis. Karena guru merupakan faktor yang sangat penting di dalam pelaksanaan kurikulum. Dengan keyakinan Matematika – SMA/MA/SMK | 75 . sementara negara lain yang terlibat di dalam studi ini banyak yang mencapai level 4 (empat). Untuk menjamin ketercapaian kompetensi sesuai dengan yang telah ditetapkan dan untuk memudahkan pemantauan dan supervisi pelaksanaan pengajaran. Di samping itu. dikaitkan dengan kesulitan yang dihadapi guru dalam melaksanakan KTSP. 5. ditemukan bahwa dari 6 (enam) level kemampuan yang dirumuskan di dalam studi PISA.Kerangka Kerja Penyusunan KBK 2004 TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL Kerangka Kerja Penyusunan KTSP 2006 TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. juga perlu diperkuat peran pendampingan dan pemantauan oleh pusat dan daerah. 5 (lima). Pendalaman dan Perluasan Materi Berdasarkan analisis hasil PISA 2009. sulit diajarkan karena terlalu kompleks. dan 6 (enam). Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR ISI (SKL MAPEL. media. SK MAPEL. SK MAPEL. Konseptual) STRUKTUR KURIKULUM STANDAR PROSES KI KELAS & KD MAPEL (STANDAR ISI) STANDAR PENILAIAN SILABUS PANDUAN GURU Oleh Satuan Pendidikan PEMBELAJARAN & PENILAIAN (KTSP) BUKU TEKS SISWA 1 Gambar 5 Hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang dilakukan Balitbang pada tahun 2010 juga menunjukkan bahwa secara umum total waktu pembelajaran yang dialokasikan oleh banyak guru untuk beberapa mata pelajaran di SD. dan kalau diajarkan kepada siswa sulit dicapai oleh siswa. Rumusan kompetensi juga sulit dijabarkan ke dalam indikator dengan akibat sulit dijabarkan ke pembelajaran. KD MAPEL) STANDAR PROSES STANDAR KOMPETENSI LULUSAN STANDAR PENILAIAN PEDOMAN SILABUS RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Oleh Satuan Pendidikan PEMBELAJARAN & PENILAIAN BUKU TEKS SISWA RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Oleh Satuan Pendidikan PEDOMAN SILABUS BUKU TEKS SISWA PEMBELAJARAN & PENILAIAN Kerangka Kerja Penyusunan Kurikulum 2013 KESIAPAN PESERTA DIDIK TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL KEBUTUHAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) SATUAN PENDIDIKAN KERANGKA DASAR KURIKULUM (Filosofis. dan sumber belajar. hampir semua peserta didik Indonesia hanya mampu menguasai pelajaran sampai level 3 (tiga) saja. Hasil monitoring dan evaluasi ini juga menunjukkan bahwa banyak kompetensi yang perumusannya sulit dipahami guru. Yuridis. ada kemungkinan waktu yang dialokasikan dalam Standar Isi tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya.

yaitu yang kita ajarkan berbeda dengan tuntutan zaman (Gambar 6). sementara hampir 40% peserta didik Taiwan mampu mencapai level tinggi Matematika – SMA/MA/SMK | 76 . interpretasi yang dapat disimpulkan dari hasil studi ini. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau yang distandarkan di tingkat internasional (Gambar 7). Gambar 7 Untuk bidang IPA. Untuk bidang matematika. Hasil studi pada tahun 2007 dan 2011 menunjukkan bahwa lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah. sementara misalnya di Taiwan hampir 50% peserta didiknya mampu mencapai level tinggi dan advance.bahwa semua manusia diciptakan sama. hanya satu. lebih dari 95% peserta didik Indonesia hanya mampu mencapai level menengah. pencapaian peserta didik kelas 2 SMP juga tidak jauh berbeda dengan pencapaian yang mereka peroleh untuk bidang matematika. Gambar 6 Analisis hasil TIMSS tahun 2007 dan 2011 di bidang matematika dan IPA untuk peserta didik kelas 2 SMP juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda.

Gambar 8 Hasil studi internasional untuk reading dan literacy (PIRLS) yang ditujukan untuk kelas IV SD juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan hasil studi untuk tingkat SMP seperti yang dipaparkan terdahulu. yaitu: Matematika – SMA/MA/SMK | 77 .dan lanjut (advanced). kesimpulan yang dapat diambil dari studi ini adalah bahwa apa yang diajarkan kepada peserta didik di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan atau distandarkan di tingkat internasional. Dengan keyakinan bahwa semua anak dilahirkan sama. (Gambar 8). sementara lebih dari 50% siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. Hal ini juga menunjukkan bahwa apa yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan apa yang diujikan dan distandarkan pada tingkat internasional (Gambar 9). Dalam hal membaca. Gambar 9 Hasil analisis lebih jauh untuk studi TIMSS dan PIRLS menunjukkan bahwa soal-soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dibagi menjadi empat kategori. lebih dari 95% peserta didik Indonesia di SD kelas IV juga hanya mampu mencapai level menengah.

Tabel 2 Analisis lebih jauh untuk membandingkan kurikulum IPA SMP kelas VIII yang ada di Indonesia dengan materi yang terdapat di TIMSS menunjukkan bahwa terdapat beberapa topik yang sebenarnya belum diajarkan di kelas VIII SMP (Tabel 2).- low mengukur kemampuan sampai level knowing intermediate mengukur kemampuan sampai level applying high mengukur kemampuan sampai level reasoning advance mengukur kemampuan sampai level reasoning with incomplete information. Lebih parahnya lagi. malah terdapat beberapa topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini. Hal yang sama juga terdapat di kurikulum matematika kelas VIII SMP di mana juga terdapat beberapa topik yang belum diajarkan di kelas XIII. Tabel 3 Matematika – SMA/MA/SMK | 78 . sehingga menyulitkan bagi peserta didik kelas VIII SMP menjawab pertanyaan yang terdapat di dalam TIMSS (Tabel 3).

yaitu cerdas spiritual dan cerdas sosial/emosional dalam ranah sikap. mandiri. Cerdas yang dimaksud disini adalah cerdas komprehensif. harus mencakup kompetensi dalam ranah sikap. sehat. berilmu. telah pula ditetapkan visi pendidikan tahun 2025 yaitu menciptakan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Tabel 4 Dalam kaitan itu. cakap. cerdas intelektual dalam ranah pengetahuan. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. pengetahuan. Di mana kompeten tersebut. berakhlak mulia. TUJUAN KURIKULUM Tujuan Pendidikan nasional sebagaimana telah dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Matematika – SMA/MA/SMK | 79 . Di samping itu juga perlu dievaluasi ulang tingkat kedalaman materi sesuai dengan tuntutan perbandingan internasional dan menyusun kompetensi dasar yang sesuai dengan materi yang dibutuhkan. mempertahankan materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.Hal yang sama juga terjadi di kurikulum matematika kelas IV SD pada studi internasional di mana juga terdapat topik yang belum diajarkan pada kelas IV dan topik yang sama sekali tidak terdapat di dalam kurikulum saat ini. dan menambahkan materi yang dianggap penting dalam perbandingan internasional. undang-undang tersebut berharap pendidikan dapat membuat peserta didk menjadi kompeten dalam bidangnya. sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang telah disampaikan di atas. Sejalan dengan arahan undang-undang tersebut. kreatif. dan keterampilan sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan pasal 35 undangundang tersebut. Secara singkatnya. perlu dilakukan langkah penguatan materi dengan mengevaluasi ulang ruang lingkup materi yang terdapat di dalam kurikulum dengan cara meniadakan materi yang tidak esensial atau tidak relevan bagi peserta didik. II. serta cerdas kinestetis dalam ranah keterampilan. seperti bisa dilihat pada Tabel 4.

Pewarisan nilai dan pretasi bangsa di masa lampau memberikan dasar bagi kehidupan bangsa dan individu sebagai anggota masyarakat. landasan filosofis. kreatif.Dengan demikian Kurikulum 2013 adalah dirancang dengan tujuan untuk mempersiapkan insan Indonesia supaya memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warganegara yang beriman. Kerangka Dasar juga digunakan sebagai pedoman untuk mengembangkan kurikulum tingkat nasional. bernegara dan peradaban dunia. yang dikembangkan dari warisan nilai dan pretasi bangsa di masa lalu. Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Perubahan PP No. Landasan Yuridis Landasan yuridis kurikulum adalah Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. inovatif. 2. dan KTSP. Landasan teoritik memberikan dasar-dasar teoritik pengembangan kurikulum sebagai dokumen dan proses. Landasan empirik memberikan arahan berdasarkan pelaksanaan kurikulum yang sedang berlaku di lapangan. dan keterampilan sehingga dapat menjadi pribadi dan warga negara yang produktif. Landasan yuridis pengembangan Kurikulum 2013 lainnya adalah Instruksi Presiden Republik Indonesia tahun 2010 tentang Pendidikan Karakter. dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 tahun Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. LANDASAN KURIKULUM 2013 Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan kurikulum baru. Lebih lanjut. pengetahuan. dan landasan empirik. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ketiga dimensi kehidupan bangsa. dan keberlanjutan kehidupan bangsa dan Matematika – SMA/MA/SMK | 80 . KERANGKA DASAR KURIKULUM 2013 Kerangka dasar adalah pedoman yang digunakan untuk mengembangkan dokumen kurikulum. dan afektif III. inovatif. 1. Landasan Filosofis Secara singkat kurikulum adalah untuk membangun kehidupan masa kini dan masa akan datang bangsa. Pembelajaran Aktif dan Pendidikan Kewirausahaan. masa lalu-masa sekarang-masa yang akan datang. Landasan yuridis merupakan ketentuan hukum yang dijadikan dasar untuk pengembangan kurikulum dan yang mengharuskan adanya pengembangan kurikulum baru. daerah. Landasan filosofis adalah landasan yang mengarahkan kurikulum kepada manusia apa yang akan dihasilkan kurikulum. implementasi kurikulum. A. Kurikulum adalah instrumen pendidikan untuk dapat membawa insan Indonesia memiliki kompetensi sikap. produktif. serta kemudian diwariskan serta dikembangkan untuk kehidupan masa depan. menjadi landasan filosofis pengembangan kurikulum. pengembangan Kurikulum 2013 diamanatkan oleh Rencana Pendidikan Pendidikan Menengah Nasional (RJPMN). berbangsa.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat. modal yang digunakan dan dikembangkan untuk membangun kualitas kehidupan bangsa dan individu yang diperlukan bagi kehidupan masa kini. dan evaluasi kurikulum. kreatif.

5 – 6. 5. Oleh karena itu. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara – negara ASEAN sebesar 6. dalam Rapat Paripurna DPR. Martowardojo. 3. Generasi muda berjiwa wirausaha yang tangguh. Dengan tiga dimensi kehidupan tersebut kurikulum selalu menempatkan peserta didik dalam lingkungan sosial-budayanya. dan pembentukan karakter. dan mandiri.3%. kurikulum harus mampu membentuk manusia Indonesia yang mampu menyeimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat untuk memajukan jatidiri sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan kebutuhan untuk berintegrasi sebagai satu entitas bangsa Indonesia. 6.5%. Kecenderungan ini juga menimpa generasi muda. Beban belajar ini salah satunya berhulu dari banyaknya matapelajaran yang ada di tingkat sekolah dasar.go. namun beberapa ahli pendidikan dan tokoh masyarakat menyatakan bahwa salah satu akar masalahnya adalah implementasi kurikulum yang terlalu menekankan aspek kognitif dan keterkungkungan peserta didik di ruang belajarnya dengan kegiatan yang kurang menantang peserta didik. komentar. potensi ekonomi. Matematika – SMA/MA/SMK | 81 . kurikulum harus mampu memandu upaya karakterisasi nilai-nilai kejujuran pada peserta didik. Dewasa ini.7%. dan saran berkaitan dengan beban belajar siswa. Berbagai elemen masyarakat telah memberikan kritikan. mengembangkan kehidupan individu peserta didik sebagai warganegara yang tidak kehilangan kepribadian dan kualitas untuk kehidupan masa kini yang lebih baik. Generasi seperti ini seharusnya tidak muncul karena hasil seleksi alam. Momentum pertumbuhan ekonomi ini harus terus dijaga dan ditingkatkan. Maka.9 % (Agus D. misalnya pada kasus-kasus perkelahian massal. Walaupun belum ada kajian ilmiah bahwa kekerasan tersebut berhulu dari kurikulum. kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan kasus pemaksaan kehendak sering muncul di Indonesia. yakni baca. sekecil apapun ancaman disintegrasi bangsa masih tetap ada. Sebagai negara bangsa yang besar dari segi geografis.warganegara di masa mendatang. dan membangun kehidupan masa depan yang lebih baik lagi. dan hitung. kurikulum pada tingkat sekolah dasar perlu diarahkan kepada peningkatan 3 (tiga) kemampuan dasar. khususnya siswa sekolah dasar. ulet. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 2005 sampai dengan 2008 berturut-turut 5.W.php/indikator). Maka. 2008: 6. Landasan Empiris Pada saat ini perekonomian Indonesia terus tumbuh di tengah bayang-bayang resesi dunia. Maka. suku bangsa. termasuk masih adanya kecurangan di dalam Ujian Nasional menunjukkan mendesaknya upaya menumbuhkan budaya jujur dan antikorupsi melalui kegiatan pembelajaran di dalam satuan pendidikan.presidenri. 31/05/2012). Beban belajar ini bahkan secara kasatmata terwujud pada beratnya beban buku yang harus dibawa ke sekolah. sangat diperlukan untuk memantapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. namun karena hasil gemblengan pada tiap jenjang satuan pendidikan dengan kurikulum sebagai pengarahnya. dan beragamnya kemajuan pembangunan dari satu daerah ke daerah lain. manipulasi. Berbagai kasus yang berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang. jujur.4% (www. tulis.id/index. kreatif. kurikulum perlu direorientasi dan direorganisasi terhadap beban belajar dan kegiatan pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan ini.

dan IPAmenunjukkan peringkat Indonesia baru bisa menduduki 10 besar terbawah dari 65 negara.Pada saat ini. dan pemanasan global merupakan tantangan yang harus dihadapi generasi muda di masa kini dan di masa yang akan datang. (2) teori. semakin berkurangnya sumber air bersih adanya potensi rawan pangan pada berbagai beahan dunia. studi yang memfokuskan pada literasi bacaan. analisis dan pemecahan masalah. Matematika – SMA/MA/SMK | 82 . Hasil riset PISA (Program for International Student Assessment). upaya pemenuhan kebutuhan manusia telah secara nyata mempengaruhi secara negatif lingkungan alam. Hasil-hasil ini menunjukkan perlu ada perubahan orientasi kurikulum. Dengan berbagai kemajuan yang telah dicapai. Kurikulum seharusnya juga diarahkan untuk membangun kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan alam dan menumbuhkan kemampuan untuk merumuskan pemecahan masalah secara kreatif terhadap isu-isu lingkungan dan ketahanan pangan. Pencemaran. (3) pemakaian alat. mutu pendidikan Indonesia harus terus ditingkatkan. dengan tidak membebani peserta didik dengan konten namun pada aspek kemampuan esensial yang diperlukan semua warga negara untuk berperanserta dalam membangun negaranya pada abad 21. Hasil Riset TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) menunjukkan siswa Indonesia berada pada rangking amat rendah dalam kemampuan (1) memahami informasi yang komplek. prosedur dan pemecahan masalah dan (4) melakukan investigasi. matematika.

Standar bukan kurikulum dan kurikulum dikembangkan agar peserta didik mampu mencapai kualitas standar nasional atau di atasnya. dan keterampilan. pengetahuan. SMK/MAK. SMK/MAK. Pendidikan berdasarkan standar adalah pendidikan yang menetapkan standar nasional sebagai kualitas minimal warganegara untuk suatu jenjang pendidikan. dan teori kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap. Kurikulum berbasis kompetensi adalah outcomes-based curriculum dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL. SMA/MA. Demikian pula penilaian hasil belajar dan hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi. 3. Keberhasilan kurikulum dartikan sebagai pencapaian kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh peserta didik. Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu tema untuk SD/MI. Kompetensi adalah kemampuan sesorang untuk bersikap. Matematika – SMA/MA/SMK | 83 .4. KARAKTERISTIK KURIKULUM 2013 Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi. Isi atau konten kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) kelas dan dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran. B. Landasan Teoritik Kurikulum 2013 dikembangkan atas dasar teori “pendidikan berdasarkan standar” (standardbased education). dan lingkungan dimana yang bersangkutan berinteraksi. kelas dan mata pelajaran. ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun kemampuan yang dirumuskan dalam SKL. dan ketrampilan (kognitif dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah. menggunakan pengetahuan dan ketrampilan untuk melaksanakan suatu tugas di sekolah. Standar Kompetensi Lulusan dikembangkan menjadi Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan yaitu SKL SD/MI. SMP/MTS. Hasil dari pengalaman belajar tersebut adalah hasil belajar peserta didik yang menggambarkan manusia dengan kualitas yang dinyatakan dalam SKL. Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik untuk mengembangkan sikap. SMA/MA. dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu untuk SMP/MTS. pengetahuan. Standar Kompetensi Lulusan mencakup sikap. 2. Standar kualitas nasional dinyatakan sebagai Standar Kompetensi Lulusan. Kompetensi untuk Kurikulum 2013 dirancang sebagai berikut: 1. Kompetensi Inti adalah kualitas yang harus dimiliki seorang peserta didik untuk setiap kelas melalui pembelajaran KD yang diorganisasikan dalam proses pembelajaran siswa aktif. masyarakat.

5. Proses pembelajaran di SD/MI berdasarkan tema sedangkan di SMP/MTS. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dikembangkan dari setiap KD yang untuk mata pelajaran dan kelas tersebut. Proses pembelajaran tidak langsung bukan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) karena sikap yang dikembangkan dalam Matematika – SMA/MA/SMK | 84 . Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris (organizing elements) Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti. Proses pembelajaran intra-kurikuler adalah proses pembelajaran yang berkenaan dengan mata pelajaran dalam struktur kurikulum dan dilakukan di kelas. Pembelajaran intra kurikuler didasarkan pada prinsip berikut: a. sedangkan sikap adalah konten developmental dan dikembangkan melalui proses pendidikan yang tidak langsung (indirect teaching). dan saling memperkuat antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).4. 7. rumah dan masyarakat. 1. f. SMA/MA. dan SMK/MAK berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dikembangkan guru. ketrampilan kognitif dan psikomotorik adalah konten yang bersifat developmental yang dapat dilatih (trainable) dan diajarkan secara langsung (direct teaching). 8. SMK/MAK). PROSES PEMBELAJARAN Proses pembelajaran Kurikulum 2013 terdiri atas pembelajaran intra-kurikuler dan pembelajaran ekstra-kurikuler. Proses pembelajaran dikembangkan atas dasar karakteristik konten kompetensi yaitu pengetahuan yang merupakan konten yang bersifat mastery dan diajarkan secara langsung (direct teaching). e. Silabus dikembangkan sebagai rancangan belajar untuk satu tema (SD/MI) atau satu kelas dan satu mata pelajaran (SMP/MTS. C. d. Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif. SMA/MA. sekolah. sekolah. c. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar di jenjang pendidikan menengah diutamakan pada ranah sikap sedangkan pada jenjang pendidikan menengah pada kemampuan intelektual (kemampuan kognitif tinggi). 6. Dalam silabus tercantum seluruh KD untuk tema atau mata pelajaran di kelas tersebut. Proses pembelajaran didasarkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif untuk menguasai Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti pada tingkat yang memuaskan (excepted). Proses pembelajaran tidak langsung (indirect) terjadi pada setiap kegiatan belajar yang terjadi di kelas. Pembelajaran kompetensi untuk konten yang bersifat developmentaldilaksanakan berkesinambungan antara satu pertemuan dengan pertemuan lainnya. b. dan masyarakat.

Matematika – SMA/MA/SMK | 85 . tulis. Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap. dan tugas setiap peserta didik.proses pembelajaran tidak langsung harus tercantum dalam silabus. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah mengenai Wajib Belajar 12 Tahun maka Standar Kompetensi Lulusan yang menjadi dasar pengembangan kurikulum adalah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan selama 12 tahun. pengetahuan. 5. menentukan keterkaitan. Kurikulum didasarkan pada standar kompetensi lulusan yang ditetapkan untuk satu satuan pendidikan. dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat guru. Pembelajaran remedial dilaksanakan untuk membantu peserta didik menguasai kompetensi yang masih kurang. g. Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi. PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip berikut: 1. Kegiatan ekstra-kurikuler terdiri atas kegiatan wajib dan pilihan. Kurikulum didasarkan pada model kurikulum berbasis kompetensi. membaca. menanya (lisan. tabel. gambar. keterampilan dan pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kompetensi Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat. membangun cerita/konsep). 2. 4. menganalis (menghubungkan. D. h. Kurikulum bukan hanya merupakan sekumpulan daftar mata pelajaran karena mata pelajaran hanya merupakan sumber materi pembelajaran untuk mencapai kompetensi. bersifat formatif dan hasilnya segera diikuti dengan pembelajaran remedial untuk memastikan penguasaan kompetensi pada tingkat memuaskan. Pembelajaran remedial dirancang dan dilaksanakan berdasarkan kelemahan yang ditemukan berdasarkan analisis hasil tes. ketrampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran. Pembelajaran remedial dirancang untuk individu. i. dan program pendidikan. chart. 2. ulangan. dan lain-lain). jenjang pendidikan. 3. kelompok atau kelas sesuai dengan hasil analisis jawaban peserta didik. Pembelajaran ekstrakurikuler Pembelajaran ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan untuk aktivitas yang dirancang sebagai kegiatan di luar kegiatan pembelajaran terjadwal secara rutin setiap minggu. grafik. Pramuka adalah kegiatan ekstrakurikuler wajib. ketrampilan berpikir. Proses pembelajaran dikembangkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif melalui kegiatan mengamati (melihat. menyimak). Kurikulum didasarkan atas prinsip bahwa setiap sikap. mengkomunikasikan (lisan. mendengar. tulis). Kegiatan ekstrakurikuler wajib dinilai yang hasilnya digunakan sebagai unsur pendukung kegiatan intrakurikuler.

9. distribusi konten/mata pelajaran dalam semester atau tahun. Ilmu Pengetahuan Alam 6.Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan memperbaiki pencapaian kompetensi. 32. IV. Jam belajar SD/MI adalah 35 menit. Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan. A. dan seni. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. Ilmu Pengetahuan Sosial Kelompok B 1.6. Struktur Kurikulum SD/MI adalah sebagai berikut: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU I Kelompok A 1. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik berada pada posisi sentral dan aktif dalam belajar. Pengorganisasian konten dalam sistem belajar yang digunakan untuk kurikulum yang akan datang adalah sistem semester sedangkan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran berdasarkan jam pelajaran per semester. perkembangan. posisi konten/mata pelajaran dalam kurikulum. kebutuhan. Olah Raga dan Kesehatan 4 5 8 5 4 4 II 4 6 8 6 4 4 III IV 4 6 10 6 4 4 4 4 7 6 3 3 5 4 V 4 4 7 6 3 3 5 4 VI 4 4 7 6 3 3 5 4 MATA PELAJARAN Matematika – SMA/MA/SMK | 86 . Struktur kurikulum adalah juga merupakan aplikasi konsep pengorganisasian konten dalam sistem belajar dan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran. Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. budaya.Kurikulum didasarkan kepada kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Bahasa Indonesia 4. dan III masing-masing 30. Kekurangan tersebut harus segera diikuti dengan proses memperbaiki kekurangan dalam aspek hasil belajar yang dimiliki seorang atau sekelompok peserta didik. Pendidikan Jasmani. Kurikulum harus diarahkan kepada proses pengembangan. STRUKTUR KURIKULUM SD/MI Beban belajar dinyatakan dalam jam belajar setiap minggu untuk masa belajar selama satu semester. 10. STRUKTUR KURIKULUM Struktur kurikulum menggambarkan konseptualisasi konten kurikulum dalam bentuk mata pelajaran. teknologi. Matematika 5. 11. Instrumen penilaian hasil belajar adalah alat untuk mengetahui kekurangan yang dimiliki setiap peserta didik atau sekelompok peserta didik. dan VI masing-masing 36 jam setiap minggu. 34 sedangkan untuk kelas IV. 8. beban belajar untuk mata pelajaran dan beban belajar per minggu untuk setiap siswa. V. 7. dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. Kurikulum berpusat pada potensi. Beban belajar di SD/MI kelas I. II. pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Seni Budaya dan Prakarya 2.

tujuan pendidikan IPS menekankan pada pengetahuan tentang bangsanya. Prakarya Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu Keterangan: Mata pelajaran Seni Budaya dapat memuat Bahasa Daerah. Olahraga dan Kesehatan yang berlaku untuk kelas I. VIII. STRUKTUR KURIKULUM SMP/MTS Dalam struktur kurikulum SMP/MTs ada penambahan jam belajar per minggu dari semula 32. IPA juga ditujukan untuk pengenalan lingkungan biologi dan alam sekitarnya. bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. pengembangan kemampuan berpikir. semangat kebangsaan. dan pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan alam. dan 32 menjadi 38. Ilmu Pengetahuan Sosial 7. B. serta pengenalan berbagai keunggulan wilayah nusantara. Kompetensi Dasar IPA dan IPS berdiri sendiri dan kemudian diintegrasikan ke dalam tema-tema yang ada untuk kelas IV. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. dan IX. 32. V dan VI. Sedangkan untuk kelas IV. Struktur Kurikulum SMP/MTS adalah sebagai berikut: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU VII VIII IX 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 3 3 6 5 5 4 4 3 3 2 38 MATA PELAJARAN Kelompok A 1. dan III. V dan VI. Disamping itu. Bahasa Indonesia. serta Pendidikan Jasmani. Keduanya sebagai pendidikan berorientasi aplikatif. patriotisme. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. Seni Budaya 2. IPA dan IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science dan integrative social studies. Pendidikan Jasmani. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. Matematika. kemampuan belajar. 38 dan 38 untuk masing-masing kelas VII. II. Ilmu Pengetahuan Alam 6. Matematika – SMA/MA/SMK | 87 . Bahasa Indonesia 4. dan Kesehatan 3. Integrasi Kompetensi Dasar IPA dan IPS didasarkan pada keterdekatan makna dari konten Kompetensi Dasar IPA dan IPS dengan konten Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Olah Raga. Matematika 5. Bahasa Inggris Kelompok B 1. serta aktivitas masyarakat di bidang ekonomi dalam ruang atau space wilayah NKRI. Sedangkan lama belajar untuk setiap jam belajar di SMP/MTs tetap yaitu 40 menit. rasa ingin tahu.Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu 30 32 34 36 36 36 = Pembelajaran Tematik Integratif Keterangan: Mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dapat Bahasa Daerah.

Olah Raga. dan pengolahan. Matematika 5. rekayasa.Seni Budaya terdiri atas empat aspek. Kelompok mata pelajaran peminatan SMA/MA terdiri atas 18 jam per minggu untuk kelas X. budidaya. 1. Prakarya dan Kewirausahaan Jumlah Jam Pelajaran Kelompok A dan B per minggu Kelompok C (Peminatan) Matematika – SMA/MA/SMK | 88 . Adanya kelompok mata pelajaran wajib dan mata pelajaran peminatan dimaksudkan untuk menerapkan prinsip kesamaan antara SMA/MA dan SMK/MAK. dan 20 jam per minggu untuk kelas XI dan XII. sedangkan untuk SMK/MAK bersifat vokasional. yakni kerajinan. seni tari.Kelompok mata pelajaran peminatan yang diikuti oleh peserta didik sesuai dengan bakat. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2. Kelompok mata pelajaran peminatan SMK/MAK masing-masing 24 jam per kelas. seni musik. Mata pelajaran wajib sebanyak 9 (sembilan) mata pelajaran dengan beban belajar 24 jam per minggu. Kelompok mata pelajaran peminatan SMA/MA bersifat akademik. Bahasa Indonesia 4. Pendidikan Jasmani. dan Kesehatan 9. dan kemampuannya. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. dan seni teater. Sejarah Indonesia 6. Struktur ini menempatkan prinsip bahwa peserta didik adalah subjek dalam belajar dan mereka memiliki hak untuk memilih sesuai dengan minatnya.Kelompok mata pelajaran wajib yang diikuti oleh seluruh peserta didik . Bahasa Inggris Kelompok B (Wajib) 7. C. Prakarya terdiri atas empat aspek. Masing-masing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan dapat memilih aspek yang diajarkan sesuai dengan kemampuan (guru dan fasilitas) pada satuan pendidikan itu. Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah adalah sebagaimana yang tertera di dalam tabel berikut ini: Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah kelompok mata pelajaran wajib: ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU X XI XII 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 3 2 4 4 2 2 2 3 2 24 MATA PELAJARAN Kelompok A (Wajib) 1. Seni Budaya 8. minat. STRUKTUR KURIKULUM PENDIDIKAN MENENGAH (SMA/MA/SMK/MAK) Struktur kurikulum SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: . yakni seni rupa. Masingmasing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan menyelenggarakan pembelajaran prakarya paling sedikit dua aspek prakarya sesuai dengan kemampuan dan potensi daerah pada satuan pendidikan itu.

Mata Pelajaran Peminatan Akademik (SMA/MA) Jumlah Jam Pelajaran yang Harus Ditempuh per Minggu 18 42 20 44 20 44 Beban belajar di SMA/MA untuk Tahun X. Sejak kelas X peserta didik sudah harus memilih kelompok peminatan yang akan dimasuki. Pemilihan peminatan berdasarkan nilai rapor di SMP/MTsdan/atau nilai UN SMP/MTs dan/atau rekomendasi guru BK di SMP/MTs dan/atau hasil tes penempatan (placement test) ketika mendaftar di SMA/MA dan/atau tes bakat minat oleh psikolog dan/atau rekomendasi guru BK di SMA/MA. Untuk MA. Setiap Kelompok Peminatan terdiri atas 4 (empat) mata pelajaran dan Matematika – SMA/MA/SMK | 89 . Satu jam belajar adalah 45 menit. Peminatan Ilmu-ilmu Sosial. Kelompok Peminatan Peminatan Matematika dan Ilmu-Ilmu Alam I 1 Matematika 2 Biologi 3 Fisika 4 Kimia Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial II 1 Geografi 2 Sejarah 3 Sosiologi 4 Ekonomi Peminatan Ilmu-Ilmu Bahasa dan Budaya III 1 Bahasa dan Sastra Indonesia 2 Bahasa dan Sastra Inggris 3 Bahasa dan Sastra Asing Lainnya 4 Antropologi Mata Pelajaran Pilihan dan Pendalaman Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat Jumlah jam pelajaran yang tersedia per minggu Jumlah jam pelajaran yang harus ditempuh per minggu Kelas XI 24 X 24 XII 24 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 6 66 42 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 76 44 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 76 44 Kelompok Peminatan terdiri atas Peminatan Matematika dan Ilmu-ilmu Alam. dan Peminatan Ilmu-ilmu Bahasa dan Budaya. Pada akhir minggu ketiga semester pertama peserta didik masih mungkin mengubah pilihan peminatannya berdasarkan rekomendasi para guru dan ketersediaan tempat duduk. XI. Struktur Kurikulum SMA/MA MATA PELAJARAN Kelompok A dan B (Wajib) C. Semua mata pelajaran yang terdapat dalam suatu Kelompok Peminatan yang dipilih peserta didik harus diikuti. dan XII masing-masing 43 jam belajar per minggu. selain ketiga peminatan tersebut ditambah dengan Kelompok Peminatan Keagamaan. 2. Untuk sekolah yang mampu menyediakan layanan khusus maka setelah akhir semester pertama peserta didik masih mungkin mengubah pilihan peminatannya.

Manajemen Implementasi a. c. b. Satu mata pelajaran dari masing-masing Kelompok Peminatan yang lainnya. dan 4 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. bukan daftar mata pelajaran b. Untuk Mata Pelajaran Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat kelas X. Beban belajar ini terdiri atas Kelompok Mata Pelajaran Wajib A dan B dengan durasi 24 jam pelajaran dan Kelompok Mata Pelajaran Peminatan dengan durasi 12 jam pelajaran untuk kelas X dan 16 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. Pengembangan Kurikulum 2013 pada Satuan Pendidikan Pengembangan Kurikulum 2013 dilakukan atas prinsip: a. Sedangkan pada kelas XI dan XII. mengembangkan kurikulum secara bersama-sama. Pemerintah bertangungjawab dalam mempersiapkan guru dan kepala sekolah untuk melaksanakan kurikulum. Matematika – SMA/MA/SMK | 90 . IMPLEMENTASI 1. bahwa sekolah adalah satu kesatuan lembaga pendidikan dan kurikulum adalah kurikulum satuan pendidikan. Pemerintah bertanggungjawab dalam melakukan evaluasi pelaksanaan kurikulum secara nasional. c. Implementasi kurikulum adalah usaha bersama antara Pemerintah dengan pemerintah propinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota. dan/atau b. 2. dan/atau b. Pengembangan kurikulum di jenjang satuan pendidikan dipimpin langsung oleh kepala sekolah d. Pelaksanaan implementasi kurikulum di satuan pendidikan dievaluasi oleh kepala sekolah. Dua mata pelajaran di luar Kelompok Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam satu Kelompok Peminatan lainnya. V.masing-masing mata pelajaran berdurasi 3 jampelajaran untuk kelas X. Satu mata pelajaran di luar Kelompok Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam Kelompok Peminatan lainnya. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KURIKULUM A. Mata pelajaran Pendalaman Kelompok Peminatan yang dipilihnya. jumlah jam pelajaran pilihan per minggu berdurasi 6 jam pelajaran yang dapat diambil dengan pilihan sebagai berikut: a. Setiap peserta didik memiliki beban belajar per semester selama 42 jam pelajaran untuk kelas X dan 44 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. peserta didik mengambil Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat dengan jumlah jam pelajaran pilihan per minggu berdurasi 4 jam pelajaran yang dapat diambil dengan pilihan sebagai berikut: a. Guru di satu satuan pendidikan adalah satu satuan pendidik (community of educators).

b. kepala sekolah dan pengawas adalah untuk guru. 3. SMK/MAK yang belum melaksanakan kurikulum. Sejalan dengan strategi implementasi. II. kepemimpinan dan budaya kerja guru yang baru. c. X.Dengan penerapan pelatihan ini maka implementasi Kurikulum tidak hanya berkenaan dengan upaya realisasi ide dan rancangan kurikulum tetapi juga pembenahan pada pelaksanaan pendidikan di satuan pendidikan. seluruh guru. VII. SMK/MAK).Juli 2015: seluruh kelas dan seluruh sekolah SD/MI. e. Pemerintah kabupaten/kota bertanggungjawab dalam memberikan bantuan profesional kepada guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan kurikulum di kabupaten/kota terkait. hanya kelas terakhir SMP/MTs. . SMP/MTs. Isi buku babon guru adalah sama dengan buku babon peserta didik dengan tambahan strategi pembelajaran dan penilaian hasil belajar. Pelatihan Guru. dan pengembangan budaya sekolah (budaya kerja guru) terutama untuk SMA/MA dan SMK/MAK. dan X (SMA/MA. dan seluruh VII (SMP/MTs). Dengan demikian.Juli 2014: Kelas I. SMK/MAK telah melaksanakan sepenuhnya Kurikulum 2013. sistem administrasi. Pelatihan guru. SMA/MA. Seperti tahun pertama maka SD akan dipilih sebanyak 30% sehingga secara keseluruhan implementasi kurikulum pada tahun kedua sudah mencakup 60% SD di seluruh wilayah NKRI. d. dimulai dari bulan Januari – Desember 2013. manajemen. Pengembangan manajemen.Juli 2013: Kelas I. ketika Kurikulum 2013 akan diimplementasikan pada tahun pembelajaran 2015-2016. kepala sekolah dan pengawas di wilayah sekolah terkait yang akan mengimplemntasikan kurikulum adalah mereka yang sudah terlatih. SMA/MA. kepemimpinan. Prinsip ini menjadi prinsip utama implementasi dimana guru. IV terbatas pada sejumlah SD/MI (30%). kepala sekolah yang akan melaksanakan Kurikulum 2013 dan dilakukan sebelum Kurikulum 2013 diimplementasikan.d. dari tahun 2013 – 2016. Matematika – SMA/MA/SMK | 91 . Pada tahun kedua ini. Oleh karena itu dalam persiapan implementasi Kurikulum 2013. dan XI: tahun 2014 adalah tahun kedua implementasi. Pengembangan buku babon. Pada prinsipnya ketika implementasi Kurikulum 2013 memasuki tahun 2015-2016 seluruh buku babon sudah teredia di setiap sekolah. Kepala Sekolah dan Pengawas. V. kepala sekolah dan pengawas di seluruh Indonesia sudah mendapatkan pelatihan untuk melaksanakan kurikulum. dari tahun 2013 – 2016. Untuk SD akan dipilih 30% SD dari setiap kabupaten/kota di setiap propinsi. Stategi Implementasi Kurikulum terdiri atas: a. Pelaksanaan kurikulum di seluruh sekolah dan jenjang pendidikan yaitu: . Buku babon terdiri atas buku untuk peserta didik dan buku untuk guru. Implementasi Kurikulum 2013 mensyaratkan penataan administrasi. pelatihan juga berkenaan dengan tata kerja baru para guru dan kepemimpinan kepala sekolah. . IV. Sedangkan pedoman pembelajaran dan penilaian hasil belajara secara rinci tercantum dalam buku pedoman pembelajaran dan penilaian. Ini adalah tahun pertama implementasi dan dilakukan di seluruh wilayah NKRI. VIII. penulisan dan percetakan serta distribusi buku babon akan seluruhnya selesai pada awal tahun terakhir implementasi kurikulum atau sebelumnya. Pemerintah propinsi bertanggungjawab dalam melakukan supervisi dan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum di propinsi terkait.

e. Pendampingan dalam bentuk Monitoring dan Evaluasi untuk menemukan kesulitan dan masalah implementasi dan upaya penanggulangan: Juli 2013 – 2016. Strategi implementasi Kurikulum 2013 menghindari pelatihan yang dinamakan one-shot training sebagai strategi implementasi mengingat kelemahan strategi tersebut. Pleatihan yang dilakukan untuk para guru, kepala sekolah, dan pengawas akan diikuti dengan monitoring dan evaluasi sepanjang pelaksanaan paling tidak dari tahun pertama sampai tahun ketiga implementasi. Pada akhir tahun ketiga implementasi diharapkan permasalahan yang dihadapi para pelaksana sudah tidak lagi merupakan masalah mendasar dan kurikulum sudah dapat dilaksanakan sebagaimana seharusnya. Permasalahan lapangan yang muncul adalah yang dapat diselesaikan oleh kolaborasi guru, kepala sekolah dan pengawas di bawah supervisi dinas pendidikan kabupaten/kota.

B. EVALUASI KURIKULUM Evaluasi Kurikulum dilaksanakan selama masa pengembangan ide (deliberation process), pengembangan desain dan dokumen kurikulum, dan selama masa implementasi kurikulum. Evaluasi dalam deliberation process menghasilkan penyempurnaan dalam Kompetensi Inti yang dijadikan organising element dalam mengikat Kompetensi dasar mata pelajaran. Pelaksanaan evaluasi implementasi kurikulum dilaksanakan sebagai berikut: 1. Sampai tahun pelajaran 2015-2016: untuk memperbaiki berbagai kesulitan pelaksanaan kurikulum. 2. Sampai tahun pelajaran 2016 secara menyeluruh untuk menentukan efektivitas, kelayakan, kekuatan, dan kelemahan implementasi kurikulum. Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum (implementasi kurikulum) diselenggarakan dengan tujuan untuk mengidentifikai masalah pelaksanaan kurikulum dan membantu kepala sekolah dan guru menyelesaikan masalah tersebut. Evaluasi dilakukan pada setiap satuan pendidikan dan dilaksanakan pada satuan pendidikan di wilayah kota/kabupaten secara rutin dan bergiliran. Hasil evaluasi dilakukan sebagai bahan untuk memperbaiki kelemahan kurikulum agar lebih efektif lagi di masa yang akan datang.

Matematika – SMA/MA/SMK | 92

SUBMATERI PELATIHAN : 1.2 ELEMEN PERUBAHAN KURIKULUM

Langkah Kegiatan Inti

Pemaparan oleh Instruktur dengan menggunakan PPT-1.1 dan PPT-1.2 10 Menit

Tanya Jawab

10 Menit

Pemaparan
Instruktur menyampaikan materi Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum yang mencakup: 4 standar, tematik terpadu untuk SD kls 1 dan 4, TIK merupakan sarana pembelajaran yang dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain, perubahan pendekatan pembelajaran yaitu Scientific Approach, bahasa sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge, penetapan platform untuk mata pelajaran tertentu (geografi untuk IPS, Biologi untuk IPA)dengan menggunakan PPT-1.2.

Tanya Jawab
Diskusi dan tanya jawab terkait dengan Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: d. Alasan pengembangan kurikulum. e. Identifikasi perubahan yang penting dalam kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya (struktur kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian hasil belajar). f. Manfaat adanya perubahan kurikulum. Kemudian fasilitator menyimpulkannya.

Matematika – SMA/MA/SMK | 93

Matematika – SMA/MA/SMK | 94

Matematika – SMA/MA/SMK | 95

Matematika – SMA/MA/SMK | 96

Matematika – SMA/MA/SMK | 97

Matematika – SMA/MA/SMK | 98 .

Masing-masing kelompok mengerjakan KD yang berbeda agar peserta mendapat bahan hasil analisis semua KI dan KD selama 1 tahun kelas X. setiap kelompok diberi tugas menganalisis keterkaitan SKL. KD masing-masing mapel selama 1 tahun yang akan dijadikan dasar untuk membuat RPP dengan menggunakan LK 1. Memberi Contoh Instruktur memberikan contoh analisis keterkaitan antara SKL. KI. KI.3. Presentasi Hasil Kerja Kelompok Masing-masing kelompok memaparkan hasil kerja kelompok. dan KD dengan menggunakan PPT-1. KI.1/2. KI.SUBMATERI PELATIHAN 1. Sementara kelompok lainnnya memberi komentar/ tanggapan dan menilai hasil kerja kelompok lainnya.3 Matematika – SMA/MA/SMK | 99 . DAN KD Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur Memberi Contoh Analisis Keterkaitan SKL.3/2. Peserta yang akan memaparkan akan ditunjuk oleh Intruktur. KD 5 Menit Kerja Kelompok Presentasi Hasil Kelompok 10 Menit 30 Menit 15 Menit Pemaparan Instuktur memberikan materi SKL.1/3.3: SKL. dan KD dengan menggunakan HO-1.3/3.2 Kerja Kelompok Peserta dibagi menjadi 5 kelompok. KI.

Matematika – SMA/MA/SMK | 100 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 101 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 102 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 103 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 104 .

Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri. kenegaraan. kebangsaan.HO-1. berakhlak mulia. berilmu.3/2.2 STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) SMA/MA/SMALB*/Paket C Aspek Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Sikap Pengetahuan Keterampilan Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman. seni.1/2.1/3. konseptual. percaya diri. dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Memiliki pengetahuan faktual.4/3. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian. prosedural. teknologi. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR MATEMATIKA (WAJIB) SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)/MADRASAH ALIYAH (MA) KELAS: X Matematika – SMA/MA/SMK | 105 . dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan.

Matematika – SMA/MA/SMK | 106 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 107 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 108 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 109 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 110 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 111 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 112 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 113 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 114 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 115 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 116 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 117 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 118 .

disiplin. KI dan KD Mata Pelajaran : Matematika Kelas : X Materi Pokok : Perbandingan Trigonometri Standar Kompetensi Lulusan Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi HO – 1. bekerjasama menyelesaikan Siswa menelaah hubungan perbandingan trigonometri dengan sudut pada segitiga sikusiku Siswa memecahkan masalah perbandingan trigonometri untuk sudut lebih dari atau kurang dari dengan/tanpa bimbingan guru Siswa memecahkan masalah perbandingan trigonometri untuk sudut lebih dari satu putaran Teknik Penilaian: Non tes (pengamatan) Bentuk Instrumen: Lembar pengamatan perkembangan sikap Matematika – SMA/MA/SMK | 119 . untuk disiplin. konsisten. dan sikap cerminan bangsa dan pro-aktif dan jujur dan bekerjasama. siku-siku. Menghayati dan yang mencerminkan mengamalkan sikap orang ajaran agama yang beriman. percaya diri. mengembangkan rasa percayadiri. dirinya sebagai santun. kerjasama. Menghayati dan  Perbandingan 2. mulia. berakhlak dianutnya. macam dan kemampuan efektif dengan tanggungjawab. sikap dan alam serta royong. dalam menempatkan toleran. ukuran sudut serta bekerjasama.1 Memiliki jawab dalam mengamalkan trigonometri segitiga motivasi internal. toleransi dalam pergaulan menunjukkan sikap dalam dunia sebagai bagian dari  Identitas Trigonometri. lingkungan sosial peduli (gotong identitas trigonometri konsisten.CONTOH ANALISIS SKL. dan bertanggung 2. perbedaan solusi atas berbagai problem soving serta strategi berpikir permasalahan dalam macam dan ukuran dalam memilih berinteraksi secara sudut untuk dan menerapkan efektif dengan mengembangkan strategi lingkungan sosial toleransi.3 Aspek Sikap Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Lingkup Materi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Memiliki perilaku 1. berinteraksi secara perilaku jujur. responsif disiplin. damai).

kritis perilaku kritis. mengembangkan rasa percaya diri dan peduli 2. 3600.3 Menunjukkan lingkungan sikap bertanggung jawab. dalam melakukan tugas belajar  Problem solving untuk matematika. Memahami.d. menalar. serta kesadaran hak dalam menempatkan dan kewajiban diri sebagai cerminan 2. rasa ingin tahu. menanya (berfikir divergen). dan menganalisis pengetahuan 3.2 Mampu bangsa dalam mentransformasi  Fungsi Trigonometri pergaulan dunia sudut lebih dari 900 diri dalam s.Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) dan alam serta masalah. konseptual.14 Mendeskripsikan konsep perbandingan trigonometri pada  Nilai perbandingan sisi-sisi segitiga sikusiku (perbandinga trigonometri)  Melakukan kegiatan mengamati fakta matematika. Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual. dan 3. menerapkan. sudut lebih berpilaku jujur. sikap dan disiplin rasa ingin tahu. prosedural. jujur dan perilaku peduli lingkungan. dari 3600 dan sudut tangguh negatif untuk mengadapi mengembangkan masalah. mencoba dan Teknik Penilaian:  Tes tertulis terkait : perbandingan Matematika – SMA/MA/SMK | 120 .

misalnya in . memilih dan menerapkan dalam penyelesaian Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi membuktikan dan menyimpulkan o terkait nilai perbandingan sisi segitiga siku-siku o terkait dengan perluasan nilai perbandingan trigonometri untuk sudut siku-siku. konseptual. dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan. 3. sudut tumpul dan sudut tumpul Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) segitiga siku-siku (kuadran I) . dan prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan.siku sebangun. seni.15 Menemukan sifatsifat dan hubungan antar perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku. Kompetensi Inti faktual. kenegaraan. seni. kebangsaan. menalar.Aspek Standar Kompetensi Lulusan metakognitif dalam ilmu pengetahuan.16 Mendeskripsikan dan menentukan hubungan perbandingan trigonometri dari sudut di setiap kuadran. kenegaraan. teknologi. mencoba dan membuktikan serta menyimpulkan terkait sudut berelasi (sudut di kuadrani. kuadran III dan kuadran IV)  Portofolio hasil kerja siswa dan catatan guru Bentuk instrumen penilaian:  Soal uraian  Portofolio Matematika – SMA/MA/SMK | 121 . dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian. menanya (berfikir divergen). dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian. serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah Kompetensi Dasar segitiga siku-siku melalui penyelidikan dan diskusi tentang hubungan perbandingan sisi-sisi yang bersesuaian dalam beberapa segitiga siku. budaya. kebangsaan. perluasan konsep pada kordinat kartesius dalam kaitannya dengan sudut berelasi  Hubungan antar perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku  Nilai perbandingan trigonometri diperluas dengan mengaitkan kordinat  Perbandingan trigonometri di berbagai kuadran dan pemahaman  Melakukan kegiatan mengamati fakta matematika. teknologi. kuadran II. 3.

menalar. busur. (misalnya menggunakan bayangan. klinometer dan sebagainya)  Unjuk kerja (dengan instrumen pengamatan) Matematika – SMA/MA/SMK | 122 .17 Mendeskripsikan konsep fungsi trigonometri dan menganalisis grafik fungsinya serta menentukan hubungan nilai fungsi trigonometri dari sudut-sudut istimewa Lingkup Materi sudut berelasi  Grafik fungsi trigonometri Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri.14 Menerapkan perbandingan trigonometri dalam menyelesaikan masalah 4.Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti Kompetensi Dasar masalah nyata dan matematika 3.15 Menyajikan grafik fungsi trigonometri  Penerapan perbandingan trigonometri  Melukis grafik fungsi trigonometri  Menentukan tinggi gedung dengan memanfaatkan perbandingan trigonometri dengan berbagai cara. dan mampu menggunakan 4. dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri. 4 Mengolah.

Aspek Standar Kompetensi Lulusan Kompetensi Inti metoda sesuai kaidah keilmuan Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas yang Dilakukan agar Siswa Memperoleh Kompetensi Penilaian Autentik (Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen) Matematika – SMA/MA/SMK | 123 .

LEMBAR KERJA ANALISIS KETERKAITAN SKL. Bacalah dan komparasikan dengan SKL Tahun 2006 (Permendiknas Th 2006). 3. Tentukan teknik dan instrumen penilaiannya dengan mengacu silabus mata pelajaran 8. Bacalah substansi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tahun 2013. 2. KI dan KD pada Kurikulum 2013 Menganalisis keterkaitan SKL.3 PETUNJUK KEGIATAN ANALISIS SKL. Tulislah aktivitas/ kegiatan belajar siswa untuk mencapai kompetensi tersebut dengan mengacu silabus mata pelajaran 7. KI. KI DAN KD Kompetensi Tujuan Kegiatan Kelompok Kerja : : : Memahami keterkaitan antara SKL. Bacalah KD mata pelajaran matematika SMA kelas X. dan KD matematika kelas X yang sudah disiapkan! Matematika – SMA/MA/SMK | 124 . Bacalah KI mata pelajaran matematika SMA kelas X. 5. Analisislah lingup materi dari setiap KD mengacu silabus mata pelajaran 6. KI dan KD 1. Setelah selesai masukkan dalam Lembar Kerja Analisis Keterkaitan SKL. dan KD MATEMATIKA KELAS X LK – 1. 4. KI.

LEMBAR KERJA ANALISIS KETERKAITAN SKL. responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Memahami . menerapkan. dan metakognitif dalam matematika. tanggungjawab. prosedural. kerjasama. berakhlak mulia. ilmu Matematika – SMA/MA/SMK | 125 . damai). disiplin. konseptual. dan KD MATA PELAJARAN : MATEMATIKA KELAS :X MATERI AJAR : Domain Sikap Standar Kompetensi Lulusan Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman. percaya diri. prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas/Kegiatan Belajar Siswa untuk Mencapai Kompetensi LK – 1. santun. KI. peduli (gotong royong.3 Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual. dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. konseptual. Kompetensi Inti Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur. toleran. berilmu. menganalisis pengetahuan faktual.

kebangsaan. dan budaya dengan wawasan kemanusiaan. seni. teknologi. menalar. dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian. dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri. dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan. Kompetensi Inti pengetahuan. Mengolah. - Matematika – SMA/MA/SMK | 126 . seni. kenegaraan. dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan Kompetensi Dasar Lingkup Materi Aktivitas/Kegiatan Belajar Siswa untuk Mencapai Kompetensi Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret dalam menyelesaikan masalah secara mandiri. budaya. teknologi.Domain Standar Kompetensi Lulusan pengetahuan. serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. kebangsaan. kenegaraan. dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian.

Matematika – SMA/MA/SMK | 127 . kepala sekolah.4: STRATEGI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 Langkah Kegiatan Inti Pemaparan oleh Instruktur Diskusi Kelas Merangkum Hasil Diskusi Kelas Refleksi dan umpan balik untuk seluruh materi pelatihan 15 Menit 10 Menit 20 Menit 10 Menit Pemaparan Paparan oleh fasilitatortentang Strategi Implementasi Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1. Dukungan manajemen sekolah atau kultur sekolah dalam mensukseskan pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013. Membuat Rangkuman Instruktur merangkum semua materi pelatihan Konsep Kurikulum yang telah disampaikan selama 4 JP sebagai kegiatan penutup. 3.4 Diskusi Kelas Mendiskusikan elemen penting dalam implementasi kurikulum 2013. dan guru BK. 2.MATERI PELATIHAN 1. meliputi berikut ini. 1. Dukungan dinas pendidikan kabupaten dan organisasi profesi dalam implementasi kurikulum 2013. Peran guru. pengawas sekolah.

Matematika – SMA/MA/SMK | 128 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 129 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 130 .

2 2.4 Konsep Pendekatan Scientific Model Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik BAGIAN Analisis Buku Guru danIII Siswa Matematika – SMA/MA/SMK | 131 .MATERI PELATIHAN 2: ANALISIS MATERI AJAR 2.3 2.1 2.

dan pola pikir keilmuan materi pelajaran yang terdapat dalam buku siswa. KI. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. 5. Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain.MATERI PELATIHAN 2: ANALISIS MATERI AJAR A. dan Kedalaman Materi) C. dan KD secara teliti dan serius. Kecukupan. Menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL. INDIKATOR 1. 3. KI. menguasai secara utuh materi. 2. Mengidentifikasi kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan seharihari. 2. 6. 4. struktur. 4. Menerima penerapan konsep penilaian autentik di sekolah/ madrasah dan menghargai pendapat orang lain. struktur. LINGKUP MATERI 1. 6. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa. dan KD. Menjelaskan konsep pendekatan scientific. 11. 5. 2. Menjelaskan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. B. 9. mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran. Menganalisis kesesuaian proses. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. dan memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Matematika – SMA/MA/SMK | 132 . 7. menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. dan pola pikir keilmuan materi pelajaran. 3. Konsep Pendekatan Scientific Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. 7. dan KD. Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari. 10. 8. KI. Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran. pendekatan belajar . 3. menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. Menjelaskan secara utuh materi.

c. D.12. ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 133 . Video Pembelajaran Bahan Tayang a. Konsep Pendekatan Scientific Konsep Penilaian Autentik 5. 2. PERANGKAT PELATIHAN 1. d. 4. 3. Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. b. Konsep Pendekatan Scientific Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Lembar Kerja Dokumen Bahan Bacaan a. b.

ANALISIS MATERI AJAR 12 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA.2. atau media pembelajaran lainnya.1.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.1-2.1 Konsep Pendekatan Scientific 90 Menit Penayangan Video pembelajaran Matematika dengan menggunakan 20 Menit V-2.3 Model-model Pembelajaran 90 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 134 .dilanjutkan dengan paparan materi oleh fasilitator tentang Konsep Pendekatan Scientific dengan menggunakan PPT-2. tujuan. File. seperti LCD Projector. Diskusi kelompok tentang konsep pendekatan scientific dengan 30 Menit menggunakan HO-2. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Analisis Materi Ajar. indikator. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. Active Speaker.2-1 dan Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Matematika dengan menggunakan PPT-2. Laptop. alokasi waktu.1-1 dan contoh-contoh penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran Matematika dengan mengacu pada HO-2.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 2. dan Laser Pointer. teliti.1/4. Diskusi kelompok untuk mengkaji pendekatan scientific yang 40 Menit mengacu pada tayangan video. kompetensi. Fasilitator memotivasi peserta agar serius. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 2. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. antusias. 2.

41 dan LK -2.4-2. Kerja kelompok untuk mengidentifikasi penerapan Pendekatan Scientific pada tiga model pembelajaran.3 dan Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika menggunakan bahan tayang PPT-2.3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran 20 menit 30 menit 40 menit 90 Menit Kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan 15 Menit bentuk penilaian autentik.2/3.Mengamati tayangan tiga jenis model pembelajaran (Project Based Learning.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian. Diskusi kelompok hasil penilaian buku dilanjutkan dengan 30 Menit pemaparan materi tentang Analisis Buku Guru dan Buku Siswa dengan menggunakan PPT-2. Diskusi tentang konsep penilaian autentik pada proses dan hasil 30 Menit belajar. KI. ICE BREAKER 2. kecukupan. dan Kedalaman Materi) Menilai buku dilakukan oleh peserta dengan bimbingan fasilitator 20 Menit dilihat dari aspek kesesuaian. Presentasi hasil diskusi kelompok 25 Menit Paparan materi tentang Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan 15 Menit Hasil Belajar dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.2. dan kedalaman materi. Kecukupan. dan KD dengan menggunakan LK-2. dan Discovery Learning). ICE BREAKER 5 Menit 5 Menit 240 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 135 . Kerja kelompok untuk menganalisis kesesuaian buku guru dan buku 60 Menit siswa dengan tuntutan SKL. 2. Menerapkan Focus Group Discussion untuk mengidentifikasi karakteristik tiga model pembelajaran. Menyimpulkan hasil diskusi dan menyampaikan format lembar 15 Menit kerja yang telah disiapkan. Problem Based Learning.3 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.

Fasilitator menutup pembelajaran 30 Menit 20 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 136 . Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.Diskusi kelompok untuk menganalisis kesesuaian proses. 30 Menit pendekatan scientific. Menyimpulkan materi analisis buku oleh fasilitator. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Analisis materi Ajar. Presentasi hasil kerja kelompok. Kerja kelompok untuk membuat contoh-contoh penerapan materi 30 Menit pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari.

Materi Pelatihan 2. Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya. Matematika – SMA/MA/SMK | 137 . Membuat contoh pembelajaran salah satu KD dengan menggunakan pendekatan scientific.1 dan Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2. KD yang ditetapkan adalah KD semester 1. Mengkaji pendekatan scientific yang mengacu pada tayangan video. 2.1: Konsep Pendekatan Scientific Langkah Kegiatan Inti Diskusi Kelompok Contohcontoh Pendekatan Scientific dan Penerapannya 45 Menit Diskusi Kelompok Pendekatan Scientific 45 Menit Diskusi Kelompok 1. Membuat urutan aktivitas pada pendekatan scientific. tugas diskusi kelompok sebagai berikut. 2. kelompok lain dapat dijadikan pembahas dan penanya. Mengidentifikasi konsep pendekatan scientific yang disampaikan pada tayangan video. Diskusi Kelompok Diskusi kelompok Contoh-contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran. Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok 1. 1. 2. Paparan Materi Fasilitator menyampaikan Konsep Pendekatan Scientific dengan menggunakan PPT-2. 3.2. 3. Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok. Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok.2-2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi.

kelompok lain dapat dijadikan pembahas dan penanya. Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya. 2. Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok.Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok 1. Matematika – SMA/MA/SMK | 138 . Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok. 3.

Matematika – SMA/MA/SMK | 139 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 140 .

1-1 PENDEKATAN ILMIAH DALAM PEMBELAJARAN A. Esensi Pendekatan Ilmiah Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah. Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala. para ilmuan lebih mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning)ketimbang penalaran deduktif (deductivereasoning). retensi informasi dari guru sebesar 10 persensetelah 15 menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25 persen. dan menguji hipotesis. memperoleh pengetahuan baru. metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi. penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Karena itu Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. retensi informasi dari guru sebesar lebih dari 90 persen setelah dua hari dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 50-70 persen. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah.Karena itu. metode ilmiah umumnya memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen. menganalisis. penalaran induktif menempatkan buktibukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas. Matematika – SMA/MA/SMK | 141 . Pada pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada pembelajaran tradisional. Sejatinya. mengolah informasi atau data. dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik.Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap. Pendekatan Ilmiah dan Non-ilmiah dalam Pembelajaran Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradidional. keterampilan. B. Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. dan pengetahuan peserta didik. kemudian memformulasi.HO-2. Sebaliknya. empiris. Untuk dapat disebut ilmiah. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum.

prinsip-prinsip. penemuan. dan asal berpikir kritis. dan menarik sistem penyajiannya. respon peserta didik. dan penjelasan tentang suatu kebenaran.  Substansi atau materipembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu. memecahkan masalah. proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai. teori. bukan sebatas kira-kira. atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.  Intuisi. legenda. memahami. dan fakta empiris yang dapatdipertanggung-jawabkan. intuisi sama sekali menafikan dimensi alur pikir yang sistemik.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan. penemuan melalui coba-coba.Proses pembelajaran dengan berbasis pendekatan ilmiah harus dipandu dengan kaida-kaidah pendekatan ilmiah. analitis. Matematika – SMA/MA/SMK | 142 .  Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis.   Berbasis pada konsep. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana.prasangka. pengabsahan. dan tepat dalam mengidentifikasi. Kemampuan intuitif itu biasanya didapat secara cepat tanpa melalui proses panjang dan tanpa disadari. Intuisi sering dimaknai sebagai kecakapan praktis yang kemunculannya bersifat irasional dan individual. Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini. Istilah ini sering juga dipahami sebagai penilaian terhadap sikap. kesamaan. atau kriteria ilmiah. penalaran. dan keterampilan secara cepat dan berjalan dengan sendirinya. menerapkan. Namun demikian. dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta. khayalan. Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan. akal sehat. Dengan demikian. dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran. dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran. atau dongeng semata. Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai non-ilmiah yang meliputiintuisi. dan tautan satu dengan yang lain dari substansi atau materi pembelajaran. jelas. pemikiran subjektif.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami.  Penjelasan guru. Intuisi juga bermakna kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki oleh seseorang atas dasar pengalaman dan kecakapannya. pengetahuan.

harus diserta dengan pencatatan atas setiap tindakan. dan pengetahuan yang benar.  Berpikir kritis. jika diwarnai oleh kepentingan subjektif guru dan peserta didik. Ketika akal sehat terlalu kuat didomplengi kepentingan pelakunya. tiba-tiba dia kaget komputer laptop itu menyala. seorang peserta didik mencoba meraba-raba tombol-tombol sebuah komputer laptop. Hal inilah yang menyebabkan penggunaan akal sehat berubah menjadi prasangka atau pemikiran skeptis. karena memang hal itu dapat menunjukan ranah sikap. Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat selama proses pembelajaran. peserta didik. Namun demikian. Misalnya. keterampilan. Orang seperti ini biasanya pemikirannya dipercaya benar oleh banyak orang. keterampilan. seringkali mereka menjeneralisasi hal-hal khusus menjadi terlalu luas.  Prasangka. khususnya mereka yang normal hingga jenius. dan pengetahuan yang diperoleh semata-mata atas dasar akal sehat (comon sense) umumnya sangat kuat dipandu kepentingan seseorang (guru. tidak memiliki kepastian. Berpikir skeptis atau prasangka itu memang penting. Akal sehat. Peserta didik pun melihat lambang tombol yang menyebabkan komputer laptop itu menyala dan mengulangi lagi tindakannya. dan tidak bersistematika baku. kalau memang tindakan coba-coba ini akan dilakukan.Tindakan atau aksi coba-coba seringkali melahirkan wujud atau temuan yang bermakna.Kamampuan berpikir kritis itu ada pada semua orang. keterampilan dan pengetahuan yang ditemukan dengan caracoba-coba selalu bersifat tidak terkontrol. Tentu saja hasil pemikirannya itu Matematika – SMA/MA/SMK | 143 .Karena itu. Tentu saja. jika diolah secara baik. Sebaliknya akan berubah menjadi prasangka buruk atau sikap tidak percaya. jika guru dan peserta didik hanya sematamata menggunakan akal sehat dapat pula menyesatkanmereka dalam proses dan pencapaian tujuan pembelajaran. sampai dengan menemukan kepastian jawaban. dan sejenisnya) yang menjadi pelakunya.  Penemuan coba-coba.Sikap. hingga dia sampai pada kepastian jawaban atas tombol dengan lambang seperti apa yang bisa memastikan bahwa komputer laptop itu bisa menyala. Namun demikian. Secara akademik diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang bependidikan tinggi. tindakan coba-coba itu ada manfaatnya bahkanmampu mendorong kreatifitas.

dan pengetahuan. karena bukan berdasarkan hasil esperimen yang valid dan reliabel. C. yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. yaitu sikap.tidak semuanya benar. keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah. bertanya. dan keterampilan. Matematika – SMA/MA/SMK | 144 . Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Ilmiah Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah. ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘mengapa’. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggali informasi melaui pengamatan. Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘apa’. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘bagaimana’. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran.Hasil akhirnya adalahpeningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik(soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills)dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap. pengetahuan. karena pendapatnya itu hanya didasari atas pikiran yang logis semata.

Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. atau situasi yang diamati. 1. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. baik primer maupun sekunder  Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi  Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar  Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi . Pada kondisi seperti ini.  Observasi terkendali (controlled observation). Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut ini. Matematika – SMA/MA/SMK | 145 .  Menentukan objek apa yang akan diobservasi  Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi  Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diobservasi. atau situasi yang diamati. Namun demikian. Pendekatan ilmiah pembelajaran disajikan berikut ini. berbeda dengan observasi biasa. materi. seperti menyajikan media obyek secara nyata. Metode ini memiliki keunggulan tertentu. Mengamati Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. objek. dan alat-alat tulis lainnya. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang. guru harus memahami bentuk keterlibatan peserta didik dalam observasi tersebut.  Observasi biasa (common observation). Dalam kaitan ini. Seperti halnya observasi biasa. dan mudah pelaksanaannya. dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran. peserta didik senang dan tertantang. video perekam. atau situasi tertentu. Di sini peserta didik sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku. Kegiatan observasi dalam proses pembelajaran meniscayakan keterlibatan peserta didik secara langsung. dan mencipta.percobaan. peserta didiksama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku. atau situasi yang diamati. kamera. biaya dan tenaga relatif banyak. Pada observasi biasa untuk kepentingan pembelajaran. dilanjutkan dengan menganalisis. tape recorder. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru.Merepa juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan pelaku. seperti menggunakan buku catatan. kemudian mengolah data atau informasi. objek. menyajikan data atau informasi. pada observasi terkendalipelaku atau objek yang diamati ditempatkan pada ruang atau situasi yang dikhususkan. peserta didik merupakan subjek yang sepenuhnya melakukan observasi (complete observer). Untuk mata pelajaran. padaobservasi terkendali untuk kepentingan pembelajaran. kemudian menyimpulkan. tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. objek. menalar.

skala rentang (rating scale). dan alat mekanikal (mechanical device).  Cermat. Sejatinya. Di bidang pengajaran bahasa. Praktik observasi dalam pembelajaran hanya akan efektif jika peserta didik dan guru melengkapi diri dengan dengan alat-alat pencatatan dan alat-alat lain. atau situasi yang diobservasi. objektif. Pada observasi yang tidak berstruktur dalam rangka proses pembelajaran. Observasi semacam ini mengharuskan peserta didik melibatkan diri pada pelaku. peserta didik dapat melakukan observasi dengan dua cara pelibatan diri. Alat mekanikalberupa alat mekanik yang dapat dipakai untuk memotret atau merekam peristiwa-peristiwa tertentu yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi.  Observasitidak berstruktur. objek. dengan menggunakan pendekatan ini berarti peserta didik hadir dan “bermukim” langsung di tempat subjek atau komunitas tertentu dan pada waktu tertentu pula untuk mempelajari bahasa atau dialek setempat. alat atau instrumen yang digunakan dalam melakukan observasi. Catatan anekdotalberupa catatan yang dibuat oleh peserta didik dan guru mengenai kelakuan-kelakuan luar biasa yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi.  Observasipartisipatif (participant observation). dan jujur serta terfokus pada objek yang diobservasi untuk kepentingan pembelajaran. atau faktor. atau mengingat dalam memori secara spontan atas subjek. atau objek yang diamati. peserta didik membuat catatan. Secara lebih luas. pada pembelajaran dengan observasi terkendali termuat nilai-nilai percobaan atau eksperimen atas diri pelaku atau objek yang diobservasi. Matematika – SMA/MA/SMK | 146 . (2) film atau video. dan (3) alat-alat lain sesuai dengan keperluan. peserta didik melibatkan diri secara langsung dengan pelaku atau objek yang diamati. Kedua cara pelibatan dimaksud yaitu observasi berstruktur dan observasi tidak berstruktur.faktor yang akan diobservasi. objektif. fenomena subjek. seperti: (1) tape recorder. seperti dijelaskan berikut ini. (1) kamera. termasuk melibakan diri secara langsung dalam situasi kehidupan mereka. komunitas. Pada observasipartisipatif. untuk merekam kegiatan objek atau secara audio-visual.Karena itu. Selama proses pembelajaran. dapat berupa daftar cek (checklist). untuk merekam pembicaraan. Dalam kerangka ini. misalnya. rekaman. atau situasi apa yang ingin diobservasi oleh peserta didik telah direncanakan oleh secara sistematis di bawah bimbingan guru.  Observasiberstruktur. tidak ditentukan secara baku atau rijid mengenai apa yang harus diobservasi oleh peserta didik. Prinsip-rinsip yang harus diperhatikan oleh guru dan peserta didik selama observasi pembelajaran disajikan berikut ini. Skala rentang . berupa alat untuk mencatat gejala atau fenomena menurut tingkatannya. untuk merekam objek atau kegiatan secara visual. Daftar cek dapat berupa suatu daftar yang berisikan nama-nama subjek. catatan berkala. catatan anekdotal (anecdotal record). observasi semacam ini paling lazim dilakukan dalam penelitian antropologi khususnya etnografi. Pada observasi berstruktur dalam rangka proses pembelajaran. objek.

dan perhatian peserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran. serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri. mengajukan pertanyaan. misalnya: Sebutkan ciri-ciri kalimay efektif!  a. keterampilan. serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok.  Mendorong partisipasipeserta didik dalam berdiskusi. memperkaya kosa kata. direkam.  Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan. Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyara. dan pengetahuannya.  Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap. makin sulit kegiatan obervasi itu dilakukan. guru dan peserta didik sebaiknya menentukan dan menyepakati cara dan prosedur pengamatan. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”. pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. dan sejenisnya. Makin banyak dan hiterogensubjek. dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.2. pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal.  Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya. Bentuk pertanyaan. sistematis. dan memberi jawaban secara logis. Fungsi bertanya  Membangkitkan rasa ingin tahu.  Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya.  Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat.  Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara. berargumen. Pada saat guru bertanya. dan menarik simpulan. Banyak atau sedikit serta homogenitas atau hiterogenitas subjek. asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal. ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik. dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan. atau situasi yang diobservasi. melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan. Sebelum obsevasi dilaksanakan. keterampilan.  Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar. Kriteria pertanyaan yang baik  Singkat dan jelas. objek. objek. serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul. b. misalnya: Apakah ciri-ciri kalimat yang efektif? Bentuk pernyataan. mengembangkan kemampuan berpikir. serta bagaimana membuat catatan atas perolehan observasi. atau situasi yang diobservasi.  Guru dan peserta didik perlu memahami apa yang hendak dicatat. minat. Matematika – SMA/MA/SMK | 147 . Menanya Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap.

Pertanyaan dapat diajukan dengan cara meminta kepada peserta didik yang berbeda untuk menjawab pertanyaan yang sama. Contoh: (1) Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar. misalnya: Mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan? Pertanyaan seperti ini dimintakan jawabannya kepada peserta didik secara perorangan. pertanyaan kedua menuntut jawaban yang bervariasi urutan jawaban dan penjelasannya. Contoh: o o Guru: “mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan”? Peserta didik I: “karena orang yang malas lebih banyak diam ketimbang bekerja. jika suatu bangsa gagal membangun kerukunan umat beragama?Dua kalimat yang mengawali pertanyaan di muka merupakan contoh yang diberikan guru untuk menginspirasi jawaban peserta menjawab pertanyaan. Jika masih tersedia alternatif jawaban lain.  Bersifat probing atau divergen.  Bersifat validatif atau penguatan. namun sifatnya menguatkan. Jawaban atas pertanyaan itu dimaksudkan untuk memvalidsi atau melakukan penguatan atas jawaban peserta didik sebelumnya.  Menginspirasi jawaban. yang kemungkinan memiliki bobot kebenaran yang sama. kelangkaan sumber daya alam. bisa dimintai jawaban. dan keterisolasian geografis. peserta didik yang keenam dan seterusnya. Coba jelaskan dampak sosial apa saja yang muncul.  Memiliki fokus. akan muncul aneka persoalan sosial kemasyarakatan. Jika suatu bangsa gagal membangun semangat kerukukan beragama. Contoh: Membangun semangat kerukunan umat beragama itu sangat penting pada bangsa yang multiagama. Ketika beberapa orang peserta didik telah memberikan jawaban yang sama. Sebaliknya. Contoh: Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kemiskinan? Untuk pertanyaan seperti ini sebaiknya masing-masing peserta didik diminta memunculkan satu jawaban. kemalasan.Contoh: (1) Seberapa jauh pemahaman Anda mengenai faktor-faktor yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? (2) Faktor-faktor apakah yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? Pertanyaan kedua lebih singkat dan lebih jelas dibandingkan dengan pertanyaan pertama. tidak memiliki modal usaha. sebaiknya guru menghentikan pertanyaan itu atau meminta mereka memunculkan jawaban yang lain yang berbeda. apakah peserta didik harus rajin belajar?(2) Mengapa peserta didik yang sangat malas belajar cenderung menjadi putus sekolah? Pertanyaan pertama cukup dijawab oleh peserta didik dengan Ya atau Tidak. Peserta didik pertama hingga kelima misalnya menjawab: kebodohan.” Matematika – SMA/MA/SMK | 148 . Pertanyaan yang luas seperti di atas dapat dipersempit.

Pertanyaan guru yang baik membuka peluang peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang makin meningkat. sehingga kehilangan waktu terlalu banyak untuk bekerja. seperti pemahaman. (2) Apa motif utama Belanda menjajah Indonesia? Jika dengan pertanyaan pertama guru belum memperoleh jawaban yang memuaskan. sintesis. Kata-kata kunci pertanyaan ini. sesuai dengan tuntunan tingkat kognitifnya. seperti: apa. guru memberi kesempatan kepada seorang atau beberapa orang peserta didik diminta menyampaikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Guru mengemas atau mengubah pertanyaan yang menuntut jawaban dengan tingkat kognitif rendah ke makin tinggi. c. Guru harus memahami kualitas pertanyaan. dan evaluasi. Misalnya: (1) Apa faktor picu utama Belanda menjajah Indonesia?. seperti dari sekadar mengingat fakta ke pertanyaan yang menggugah kemampuan kognitif yang lebih tinggi. Matematika – SMA/MA/SMK | 149 . Pertanyaan guru yang baik mendorong munculnya interaksi dan suasana menyenangkan pada diri peserta didik. orang yang malas tidak produktif” Guru : “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?” Peserta didik III: “orang malas tidak bertindak aktif. sangat dianjurkan guru mengubah pertanyaannya. bagaimana. sehingga menggambarkan tingkatan kognitif seperti apa yang akan disentuh.Dalam kaitan ini. guru memberikan kesempatan kepada peserta didik mendiskusikan jawabannya. analisis. guru hendaknya menunggu beberapa saat sebelum meminta atau menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan itu. ada baiknya dia mengubah pertanyaan seperti pertanyaan kedua. Karena itu.o o o o Guru: “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?” Peserta didik II: “karena lebih banyak diam ketimbang bekerja. mulai dari yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi. Setelah itu. Jika dengan pertanyaan tertentu tidak ada peserta didik yang bisa menjawah dengan baik.  Merangsang proses interaksi. dan seterusnya. peserta didik memerlukan waktu yang cukup untuk memikirkan jawabannya dan memverbalkannya dengan kata-kata. Untuk menjawab pertanyaan dari guru. Tingkatan Pertanyaan Pertanyaan guru yang baik dan benar menginspirasi peserta didik untuk memberikan jawaban yang baik dan benar pula. Bobot pertanyaan yang menggambarkan tingkatan kognitif yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi disajikan berikut ini. setelah menyampaikan pertanyaan.  Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif. mengapa. setelah mengajukan pertanyaan. karena itu dia tidak produktif. penerapan.”  Memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang. Pola bertanya seperti ini memposisikan guru sebagai wahana pemantul.

Bandingkan... Berilah nama........ Ubahlah. Persamaan kata. Simpulkan........Tingkatan Subtingkatan Kognitif  Pengetahuan yang (knowledge) lebih rendah Kata-kata kunci pertanyaan                                       Apa. Analisislah..... Carilah hubungan. Siapkanlah. Terjemahkanlah........ Di mana. Gunakanlah.. Sebutkan. Klasifikasikanlah. Tulislah contoh.. Terangkahlah...... Berikanlah interpretasi. Dll. Buatlah. Jodohkan atau pasangkan.... Kapan. Golongkan..... Kemukakan bukti-bukti… Mengapa… Identifikasikan… Tunjukkanlah sebabnya… Berilah alasan-alasan…  Pemahaman (comprehension)  Penerapan (application Kognitif  Analisis (analysis) yang lebih tinggi  Sintesis (synthesis) Ramalkanlah… Bentuk… Ciptakanlah… Susunlah… Rancanglah. Demonstrasikanlah..... Tunjukkanlah. Tulislah… Bagaimana kita dapat memecahkan…  Apa yang terjadi seaindainya…  Bagaimana kita dapat memperbaiki…  Kembangkan… Matematika – SMA/MA/SMK | 150 ....... Bedakanlah.. Siapa.

efek dari reward (akibat yang menyenangkan) jauh lebih besar dalam memperkuat perilaku peserta didik dibandingkan efek punishment (akibat yang tidak menyenangkan) dalam memperlemah perilakunya. Jika akibat dari hubungan S-R itu dirasa menyenangkan. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak. maka perilaku peserta didik akan mengalami penguatan. Menurut Thorndike. Matematika – SMA/MA/SMK | 151 . jika akibat hubungan S-R dirasa tidak menyenangkan. proses pembelajaran pembelajaran akan berhasil secara efektif jika terjadi interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik. Dari persepektif psikologi. proses pembelajaran. yang kemudian dikenal dengan teori asosiasi. lebih khusus lagi proses belajar peserta didik terjadi secara perlahan atau inkremental/bertahap. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas faktakata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Pola ineraksi itu dilakukan melalui stimulus dan respons (S-R). maka perilaku peserta didik akan melemah. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Menurut Thorndike. meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu. Teori ini dikembangan kerdasarkan hasil eksperimen Thorndike. di mana intensitas hubungan antara stimulus (S) dan respon (R) selama proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh konsekuensi dari hubungan yang terjadi. Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating. Menalar a. Jadi. yang juga dikenal dengan teori Stimulus-Respon (S-R). prinsip dasar proses pembelajaran yang dianut oleh Thorndike adalah asosiasi. tetapi punishment belum tentu akan mengurangi atau menghilangkan perilakunya. pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Thorndike mengemukakan berapa hukum dalam proses pembelajaran. Ini bermakna bahwa reward akan meningkatkan perilaku peserta didik. bukan merupakan terjemanan dari reasonsing. bukan secara tibatiba. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Menurut teori asosiasi. meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Sebaliknya. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori.  Hukum efek (The Law of Effect). Esensi Menalar Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar. istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Karena itu. Evaluasi (evaluation)  Berilah pendapat…  Alternatif mana yang lebih baik…  Setujukah anda…  Kritiklah…  Berilah alasan…  Nilailah…  Bandingkan…  Bedakanlah… 3. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah.

Kaidah atau prinsip “pengaruh” dalam pembelajaran berkaitan dengan kemamouan guru menciptakan suasana.Menurut Thorndike. Kemampuan peserta didik dalam meniru respons menjadi pengungkit utama aktivitas belajarnya. Manfaat hasil belajar yang diperoleh oleh peserta didik dirasakan langsung oleh mereka dalam dalam dunia kehidupannya. dimana peserta didik belajar dengan cara meniru perilaku orang lain (guru. segala sumber daya pembelajaran pun perlu disiapkan secara baik dan saksama. dan pengetahuan peserta didik sebagai hasil belajarnya. maka mereka akan merasa tidak puas bahkan mengalami frustrasi. Prinsip-prinsip dasar dari Thorndike kemudian diperluas oleh B.F. Matematika – SMA/MA/SMK | 152  . pada prinsipnya apakah sesuatu itu akan menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk dipelajari tergantung pada kesiapan belajar individunya. Pengulangan ini memungkinkan hubungan antara S dengan R makin intensif dan ekstensif. keterampilan. dan ganjaran. memberi penghargaan. dan apirasi peserta didik.  Oleh karena tidak semua perilaku belajar atau pembelajaran dapat dijelaskan dengan pelaziman sebagaimana dikembangkan oleh Ivan Pavlov. Memang. Karena dia menyadari bahwa latihan saja tidak dapat memperkuat atau membentuk perilaku. kreativitas. Awalnya. teori asosiasi biasanya menambahkan teori belajar sosial (social learning) yang dikembangkan oleh Bandura. Ada empat konsep dasar teori belajar sosial (social learning theory) dari Bandura. Pertama. hal ini bermakna bahwa jika peserta dalam keadaan siap dan belajar dilakukan. Pelaziman operan adalah bentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi. Menurut Thorndike. Guru harus benar-benar siap mengajar dan peserta didik benar-benar siap menerima pelajaran dari gurunya. latihan berulang tetap dapat diberikan. Kedua. meliputi fase memberi perhatian terhadap model (attentional). fase belajar. Hubungan yang intensif dan berulang-ulang antara S dengan R akan meningkatkan kualitas ranah sikap. Kesiapan itu harus ada pada diri guru dan peserta didik. Sejalan dengan itu.  Kedua. Law of Use yaitu hubungan antara S-R akan semakin kuat jika sering digunakan atau berulang-ulang. Kesiapan diidentifikasi berkaitan langsung dengan motivasi peserta didik. perilaku dapat dibentuk dengan menggunakan penguatan (reinforcement). Latihan merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara berulang oleh peserta didik.  Pertama. mengendapkan hasil memperhatikan model dalam pikiran pebelajar (retention). yang setelah tahun 1930 dinyatakan dicabut oleh Thorndike. Merujuk pada teori S-R. Law of Disuse. hukum ini terdiri dari duajenis. Kaidah dasar yang digunakan dalam teori S-R adalah:  Kesiapan (readiness). Hukum kesiapan (The Law of Readiness).  Pengaruh (effect). jika pesert didik dalam keadaan tidak siap dan belajar terpaksa dilakukan. belajar terjadi karena proses peniruan (imitation). proses pembelajaran akan makin efektif jika peserta didik makin giat belajar. hukuman. Skinner dalam Operant Conditioning atau pelaziman/pengkondisian operan. Karenanya. dan lain-lain) dan pengalaman vicarious yaitu belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain itu. yaitu hubungan antara S-R akan semakin melemah jika tidak dilatih atau dilakukan berulang-ulang. anggota masyarakat. Dalam proses pembelajaran. celaan. berarti makin tinggi pula kemampuannya dalam menghubungkan S dengan R. Teori S – S ini memang terkesan robotik. pemodelan (modelling). Sebaliknya. Hukum latihan (The Law of Exercise). teman. Menurut Bandura. Dengan begitu. maka mereka akan merasa puas. tetapi yang terpenting adalah individu menyadari konsekuensi perilakunya. teori ini terkesan mengenyampingkan peranan minat.  Latihan (exercise).

menampilkan ulang perilaku model oleh pebelajar (reproduction). Penalaran induktif merupakan cara menalardengan menarik simpulan dari fenomena atau atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. yaitu silogisme kategorial. yaitu langsung dan tidak langsung.Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik. baik dilakukan sendiri maupun dengan cara simulasi.  Keempat.  Guru mencatat semua kemajuan peserta didik untuk kemungkinan memberikan tindakan pembelajaran perbaikan. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus. sebagai proposisi menarik simpulan. silogisme alternatif. menalar secara induktif adalah proses penarikan simpulan dari kasus-kasus yang bersifat nyata secara individual atau spesifik menjadi simpulan yang bersifat umum. pengaturan-diri (self-regulation). Penarikan simpulan dapat dilakukan melalui dua cara. b.  Ketiga.  Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati  Seriap kesalahan harus segera dikoreksi atau diperbaiki  Perlu dilakukan pengulangan dan latihan agar perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan atau pelaziman. memberi ganjaran atau hukuman terhadap perilakunya sendiri. Jadi. Contoh:  Singa binatang berdaun telinga. Bagaimana aplikasinya dalam proses pembelajaran? Aplikasi pengembangan aktivitas pembelajaran untuk meningkatkan daya menalar peserta didik dapat dilakukan dengan cara berikut ini.  Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah. Tugas utama guru adalah memberi instruksi singkat tapi jelas dengan disertai contoh-contoh. Simpulan Matematika – SMA/MA/SMK | 153 . Ada tiga jenis silogisme. Pola penalaran deduktif dikenal dengan pola silogisme. dimulai dari yang sederhana (persyaratan rendah) sampai pada yang kompleks (persyaratan tinggi). berkembangbiak dengan cara melahirkan  Harimau binatang berdaun telinga. belajar vicarious. dimana peserta didik mengamati.  Guru menyusun bahan pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap sesuai dengan tuntutan kurikulum. Dengan cara ini peserta didik akan melakukan peniruan terhadap apa yang nyata diobservasinya dari kinerja guru dan temannya di kelas.  Bahan pembelajaran disusun secara berjenjang atau hierarkis.  Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang nyata atau otentik. Teori asosiasi ini sangat efektif menjadi landasan menanamkan sikap ilmiah dan motivasi pada peserta didik berkenaan dengan nilai-nilai instrinsik dari pembelajaran partisipatif. berkembangbiak dengan cara melahirkan  Ikan Paus binatang berdaun telinga berkembangbiak dengan melahirkan  Simpulan: Semua binatang yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataanpernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. silogisme hipotesis. yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. dimana peserta didik belajar dengan melihat apakah orang lain diberi ganjaran atau hukuman selama terlibat dalam perilaku-perilaku tertentu. dan motivasi (motivation) ketika peserta didik berkeinginan mengulang-ulang perilaku model yang mendatangkan konsekuensi-konsekuensi positif dari lingkungan. Cara menalar Seperti telah dijelaskan di muka. Pada penalaran deduktif tedapat premis. mempertimbangkan. terdapat dua cara menalar.

Berpikir analogis sangat penting dalam pembelajaran. fenomena. guru dan pesert didik sering kali menemukan fenomena yang bersifat analog atau memiliki persamaan. Analogi dalam Pembelajaran Selama proses pembelajaran. Penalaran sebab-akibat ini masuk dalam ranah penalaran induktif. Analogi adalah suatu proses penalaran dalam pembelajaran dengan cara membandingkan sifat esensial yang mempunyai kesamaan atau persamaan. dan peserta didik.secara langsung ditarik dari satu premis. Penalaran induksi sebab akibat terdiri dri tiga jenis. khususnya hubungan sebab-akibat. staf tatalaksana. Dia lulus seleksi Olimpiade Sains Tingkat Nasional tahun ini. keterampilan. dengan sesuatu yang sudah dikenal. guru. Contoh :  Kamera adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi  Telepon genggam adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperas. tahun ini juga. Dengan demikian.Suatu simpulan yang menjadi sebab dari satu atau beberapa fakta itu atau dapat juga menjadi akibat dari satuatau beberapa fakta tersebut. pengurus organisasi peserta didik intra sekolah. Analogi deklaratif merupakan suatu‘metode menalar’untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu fenomena atau gejala yang belum dikenal atau masih samar. Contoh: Kegiatan kepeserta didikan akan berjalan baik jika terjadi sinergitas kerja antara kepala sekolah. Contoh: Peserta didik Pulan merupakan pebelajar yang tekun. Di sinilah esensi bahwa guru dan peserta didik dituntut mampu memaknai hubungan antarfenonena atau gejala. Hubungan Antarfenonena Seperti halnya penalaran dan analogi. atau gejala menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah dketahui secara nyata dan dipercayai. guru dan peserta didik adakalamua menalar secara analogis.Peserta didik Pulan akan mengikuti kompetisi pada Olimpiade Sains Tingkat Internasional. Dengan demikian.  Simpulan: semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk beroperasi. Analogi induktifdisusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena atau gejala. analogi terdiri dari dua jenis. karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik. Seperti halnya kegiatan belajar. Untuk itu dia harus belajar lebih tekun lagi. dan pengetahuan. Atas dasar persamaan dua gejala atau fenomena itu ditarik simpulan bahwa apa yang ada pada fenomena atau gejala pertama terjadi juga pada fenomena atau gejala kedua. Hubungan sebab-akibat diambil dengan menghubungkan satu atau beberapa fakta yang satu dengan datu atau beberapa fakta yang lain. Analogi induktif merupakan suatu ‘metode menalar’yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu simpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua fenomena atau gejala khusus yang diperbandingkan. untuk mewujudkan hasil yang baik diperlukan sinergitas antara ranah sikap.Analogi deklaratif ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru. Matematika – SMA/MA/SMK | 154 . yaitu analogi induktif dan analogi deduktif. Seperti halnya penalaran. kemampuan menghubungkan antarfenomena atau gejala sangat penting dalam proses pembelajaran. yang disebut dengan penalaran induktif sebab-akibat.sedangkan simpulan tidak langsung ditarik dari dua premis. karena hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik. Kedua analogi itu dijelaskan berikut ini.

(5) mencatat fenomena yang terjadi. Keterisolasian itu menyebabkan mereka kehilangan akses untuk melakukan aktivitas ekonomi. 4. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum. hidupnya terisolasi.Hubungan sebab–akibat. keterampilan. dan pengetahuan. belajar tekun. Pada penalaran hubungan akibat-sebab.  Hubungan sebab–akibat 1 – akibat 2. hal-hal yang menjadi akibat dikemukakan terlebih dahulu.  Matematika – SMA/MA/SMK | 155 . sehingga muncullah kemiskinan keluarga yang akut. perkelahian antarpeserta didik. Pada penalaran hubungan sbab-akibat 1 –akibat 2. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar. terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. menganalisis. penyalahgunaan Nakoba di kalangan generasi muda. Contoh: Bekerja keras.  Hubungan akibat–sebab. yang disebabkan oleh pengabaian orang tua dan ketidaan keteladanan tokoh masyarakat. Pada penalaran hubungan sebab-akibat. (4) melakukan dan mengamati percobaan. bukan tidak mungkin terjadi kemiskinan yang terus berlangsung secara siklikal. Mencoba Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik. yaitu sikap. selanjutnya ditarik simpulan yang merupakan penyebabnya. dan (7)membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan. misalnya. berdoa. bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal. Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar. sehingga menimbulkan akibat kedua. dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya. (2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan. Contoh: Masyarakat yang tinggal di daerah terpencil. Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka: (1) Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan murid (2) Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan (3) Perlu memperhitungkan tempat dan waktu (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid (5) Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen (6) Membagi kertas kerja kepada murid (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru. dan tidak putus asa adalah faktor pengungkit yang bisa membuat kita mencapai puncak kesuksesan. kemudian ditarik simpulan yang berupa akibat. angka putus sekolah.(6) menarik simpulan atas hasil percobaan. dan menyajikan data. Pada mata pelajaran IPA. Kemiskinan keluarga yang akut menyebabkan anak-anak mereka tidak berkesempatan menempuh pendidikan yang baik.peserta didik harus memahami konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. (3)mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya. suatu penyebab dapat menimbulkan serangkaian akibat. Akibat kedua menjadi penyebab sehingga menimbulkan akibat ketiga. Dampak lanjutannya. Contoh : Akhir-ahir ini sangat marak kenakalan remaja. serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan. hal-hal yang menjadi sebab dikemukakan terlebih dahulu. dan seterusnya. sehingga mengalami dekandensi moral secara massal. Akibat yang pertama menjadi penyebab.

Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar. a. Guru dan peserta didik memeriksa dan menyimpan kembali segala bahan dan alat yang digunakan 5. Di sini guru harus memberikan dorongan dan bantuan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik agar kegiatan itu berhasil dengan baik. termasuk membantu mengatasi dan memecahkan masalahmasalah yang akan menghambat kegiatan pembelajaran. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama.   b. peserta didiklah yang harus lebih aktif. Selama proses eksperimen atau mencoba. sebaliknya. termasuk hal-hal yang dilarang atau membahayakan. Guru dan peserta didik mendiskusikan masalah-masalah yang ditemukan selama eksperimen. Persiapan    Menentapkan tujuan eksperimen Mempersiapkan alat atau bahan Mempersiapkan tempat eksperimen sesuai dengan jumlah peserta didikserta alat atau bahan yang tersedia. Ketiga tahapan eksperimen atau mencoba dimaksud dijelaskan berikut ini. persiapan. Jika pembelajaran kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafah peribadi. guru ikut membimbing dan mengamati proses percobaan.Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan eksperimen atau mencoba dilakukan melalui tiga tahap. dan tindak lanjut. guru hendaknya memperhatikan situasi secara keseluruhan. Jejaring Pembelajaran atau Pembelajaran Kolaboratif Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kolaboratif? Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal. Di sini guru perlu menimbang apakah peserta didik akan melaksanakan eksperimen atau mencoba secara serentak atau dibagi menjadi beberapa kelompok secara paralel atau bergiliran Memertimbangkanmasalah keamanan dan kesehatan agar dapat memperkecil atau menghindari risiko yang mungkin timbul Memberikan penjelasan mengenai apa yang harus diperhatikan dan tahapa-tahapan yang harus dilakukan peserta didik. Pelaksanaan  Selama proses eksperimen atau mencoba. yaitu. maka ia menyentuh tentang identitas peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang Matematika – SMA/MA/SMK | 156 . Tindak lanjut      Peserta didik mengumpulkan laporan hasil eksperimen kepada guru Guru memeriksa hasil eksperimen peserta didik Guru memberikan umpan balik kepada peserta didik atas hasil eksperimen. pelaksanaan. lebih dari sekadar sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah.  c.

jika proses pembelajaran mampu menarik pebelajar dari zona tersebut dengan cara kolaborasi atau pembelajaran kolaboratif. Menurut Vygotsky. Cara ini memungkinan peserta didik menimba pengalaman mereka sendiri. Dua sifat berkenaan dengan perubahan hubungan antara guru dan peserta didik. Istilah ”Proximal” yang digunakan di sini bisa bermakna “next“.lain atau guru. berbagi strategi dan informasi.  Guru sebagai mediator. Di sini peserta didik juga dapat merumuskan kaitan antara proses pembelajaran yang sedang dilakukan dengan dunia sebenarnya. Matematika – SMA/MA/SMK | 157 . Vygostsky mengemukakan tiga wilayah yang tergamit dalam ZPD yang disebut dengan “cannot yet do”. Ada empat sifat kelas atau pembelajaran kolaboratif. Guru memiliki berkewajiban menjadikan wilayah “abu-abu”yang ada pada peserta didik itu dapat teraktualisasi dengan cara belajar kelompok. dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing. 1. Akan tetapi di antara potensi dan aktualisasi peserta didik itu terdapat terdapat wilayah abu-abu. mendoorong tumbuhnya ide-ide cerdas. peran guru lebih banyak sebagai pembimbing dan manajer belajar ketimbang memberi instruksi dan mengawasi secara rijid. terlibat dalam pemikiran kreatif dan kritis serta memupuk dan menggalakkan mereka mengambil peran secara terbuka dan bermakna. pengalaman dan pengetahuannya dihargai dan dapat dibagikan dalam jaringan pembelajaran mereka. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif. Vigotsky merupakan salah satu pengagas teori konstruktivisme sosial. 2. khususnya untuk hal-hal tertentu. setiap manusia (dalam konteks ini disebut peserta didik) mempunyai potensi tertentu. guru berbagi tugas dan kewenangan dengan peserta didik. Berbagi tugas dan kewenangan. berbagi idea. guru berperan sebagai mediator atau perantara. Contoh: Jika guru mengajarkan topik “hidup bersama secara damai. pengalaman personal. Guru berperan membantu menghubungkan informasi baru dengan pengalaman yang ada serta membantu peserta didik jika mereka mengalami kebutuan dan bersedia menunjukkan cara bagaimana mereka memiliki kesungguhan untuk belajar. “can do with help“. strategi dan konsep pembelajaran sesuai dengan teori. sehingga memungkin peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tntutan belajar secara bersama-sama. Hasil penelitian Vygotsky membuktikan bahwa ketika peserta didik diberi tugas untuk dirinya sediri. peserta didik memiliki ruang gerak untuk menilai dan membina ilmu pengetahuan. Guru dan peserta didik saling berbagi informasi.” Peserta didik yang mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan topik tersebut berpeluang menyatakan sesuatu pada sesi pembelajaran. dan “can do alone“. Sifat keempat menyatakan isi kelas atau pembelajaran kolaboratif. dan memberi garis-garis besar arus komunikasi antar peserta didik. serta menautkan kondisi sosiobudaya dengan situasi pembelajaran. Dalam situasi kolaboratif itu. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif. mereka akan bekerja sebaik-baiknya ketika bekerjasama atau berkolaborasi dengan temannya. menghormati antarsesa. Sifat ketiga berkaitan dengan pendekatan baru dari penyampaian guru selama proses pembelajaran. Mereka pun akan termotivasi untuk melihat dan mendengar. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman. saling menghormati. Jika peserta didikmemahami dan melihat fenomena nyata kehidupan bersama yang damai itu. ZPD merupakan wilayah “can do with help”yang sifatnya tidak permanen. Pakar ini sangat terkenal dengan teori “Zone of Proximal Development” atau ZPD. Dengan pembelajaran kolaboratif. peserta didik berinteraksi dengan empati. Di sini. Seperti termuat dalam gambar. Potensi tersebut dapat teraktualisasi dengan cara menerapkan ketuntasan belajar (mastery learning). bahasa komunikasi.

Untuk keperluan pembelajaran ini dia menggunakan media sortir kartu (card sort). Beberapa di antaranya dijelaskan berikut ini.  STAD = Student Team Achievement Divisions. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar. dan ilmu pengetahuan sosial. penggolongan sifat. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua peserta didiksebagai anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Peserta didik diminta untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama. Selama masing-masing katagori dipresentasikan oleh peserta didik. Peserta didik dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. setiap peserta didik sebagai anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu.     3. Sikap. Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif Banyak merode yang dipakai dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Metodeini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/kolaboratif dengan pembelajaran individual. Berikan kepada peserta didik yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri kepada rekanhya. Guru ingin mengajarkan tentang konsep. Kepada peserta didik diberikan kartu indeks yang memuat informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori. Secara bertahap.  CI = Complex Instruction. buatlah catatan dengan kata kunci (point) dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting. fakta. Pada kelas kolaboratif peserta didikdapat menunjukkan kemampuan dan keterampilan mereka. Penilaian didasari pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok peserta didik. dan pengetahuan peserta didk yang tumbuh dan berkembang sangat penting untuk memperkaya pembelajaran di kelas. khususnya dalam bidang sains. Penilaian didasari pada rata-rata skor tes kelompok. Prosedurnya dapat dilakukan seperti berikut ini. Pembelajaran dilakukan dengan cara peserta didik sebagai anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda mengenai suatu pokok bahasan. Dengan cara seperti ini akan muncul “keseragaman” di dalam heterogenitas peserta didik. Agar masing-masing peserta didik anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan. Titik tekan metode ini adalam pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para peserta didik yang sangat heterogen. Kelompok peserta didik yang heterogen. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok. setiap peserta didik mengerjakan soal-soal Matematika – SMA/MA/SMK | 158 .  JP = Jigsaw Proscedure. matematika. atau mengulangi informasi tentang objek. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu peserta didik lainnya.serta mendengar atau membahas sumbangan informasi dari peserta didik lainnya. keterampilan. Anggotaanggota dalam setiap kelompok bertindak saling membelajarkan.  TAI = Team Accelerated Instruction. tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. berbagi informasi.

Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya. Bila jawaban tutee benar. Penggunaan internet disarakan makin mendesak sejalan denan perkembangan pengetahuan terjadi secara eksponensial. para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasari pada hasil belajar individual maupun kelompok. Dalam pembelajaran ini. menulis dan tata bahasa. para peserta didik saling menilai kemampuan membaca. Pemanfaatan Internet Pemanfaatan internet sangat dianjurkan dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok. ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah. pertimbangan. kesehatan psikis dan keselarasan. internet merupakan salah satu jejaring pembelajaran dengan akses dan ketersediaan informasi yang luas dan mudah. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok. Pada penerapan metode pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua peserta didik (berpasangan). Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Masa depan adalah milik peserta didik Matematika – SMA/MA/SMK | 159 . baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya. Seorang peserta didik bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. AC = Academic-Constructive Controversy. CLS = Cooperative Learning Stuctures. hubungan antarpribadi. Metode pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. berikutnya. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. GI = Group Investigation. kedua peserta didik yang saling berpasangan itu berganti peran. pemikiran kritis. baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya. menulis dan tata bahasa. LT = Learning Together Pada metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan peserta didik yang beragam kemampuannya. Penilaian didasari pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok peserta didik. ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. CIRC = Cooperative Integrated Reading and Composition. Saat ini internet telah menyediakan diri sebagai referensi yang murah dan mudah bagi peserta didik atau siapa saja yang hendak mengubah wajah dunia. Pada metode pembelajaran ini mirip dengan TAI. Pada metode ini. Namun jika seorang peserta didik belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar. Pada metode ini semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi.      a. Karena memang. TGT = Teams-Games-Tournament. setelah belajar bersama kelompoknya sendiri. Pada metode ini setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masingmasing.

59. 58. 155-166.. (1973). & Twiest. Teaching hypothesis formation. French Lick. Matematika – SMA/MA/SMK | 160 ... 195203. M. Science Education. An examination of the ability of third grade children from the Science Curriculum Improvement Study to identify experimental variables and to recognize change. 123-151. & George. Cronin. Tomera. 215-221. 57. & George. D. (1985). Quinn. Paper presented at the annual meeting of the National Association for Research in Science Teaching. M. Science Education. Thiel. 289-296. A. 62. L. (1975). R. Science Education.. Some factors affecting the use of the science process skill of prediction by elementary school children. 13. L. K. M.yang memiliki akses hampir ke seluruh informasi tanpa batas dan mereka yang mampu memanfaatkan informasi diterima secepat mungkin. (1976). Journal of Research in Science Teaching. Padilla. (1974). Daftar Pustaka Allen. IN. Transfer and retention of transfer of the science processes of observation and comparison in junior high school students. Science Education. D. K. The development and validation of the test of basic process skills.

Dengan demikian diperlukan adanya penalaran dalam rangka pencarian (penemuan).1. Pada umumnya sesorang selalu ingin memperoleh pengetahuan. (2) sifat bebas prasangka. ramalan dsb) 3) Ingin tahu 4) Tidak mudah membuat prasangka 5) Selalu optimis Selanjutnya secara sederhana pendekatan ilmiah merupakan suatu cara atau mekanisme untuk mendapatkan pengetahuan dengan prosedur yang didasarkan pada suatu metode ilmiah. Suatu pengetahuan ilmiah hanya dapat diperoleh dari metode ilmiah. Untuk dapat disebut ilmiah. dan (4) adanya analisa. kemudian memformulasi dan menguji hipotesis. perlu dipahami lagi mengenai metode ilmiah. (3) sifat objektif.HO – 2. Sebenarnya apa yang kita bicarakan dengan metode ilmiah merujuk pada: (1) adanya fakta. empiris. metode ilmiah umumnya memuat rangkaian kegiatan koleksi data atau fakta melalui observasi dan ekperimen. dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik.2 CONTOH PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA A. Pengantar Pendekatan scientific atau lebih umum dikatakan pendekatan ilmiah menjadi keniscayaan dalam kurikulum 2013. metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi. Metode ilmiah pada dasarnya memandang fenomena khusus (unik) dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan pada simpulan. Pendekatan ilmiah ini memerlukan langkah-langkah pokok (umum): 1) Mengamati 2) Menanya 3) Menalar 4) Mencoba Matematika – SMA/MA/SMK | 161 . Pengetahuan dapat merupakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. Sebelum membicarakan mengenai pendekatan ilmiah. Ada juga yang mengartikan pendekatan ilmiah sebagai mekanisme untuk memperoleh pengetahuan yang didasarkan pada struktur logis. Karena itu. Dengan metode ilmiah seperti ini diharapkan kita akan mempunya sifat 1) Kecintaan pada kebenaran yang objektif 2) Tidak gampang percaya pada hal-hal yang tidak rasional (takhayul.

Pengamatan seperti ini cocok untuk anak sekolah dasar atau sekolah menengah pada kelas rendah dimana karakter penalarannya masih bertaraf induktif. Mi alkan kita mengamati air mancur Matematika – SMA/MA/SMK | 162 .5) Membentuk jejaring Dalam kenyataanya karakter keilmuan dari setiap materi pelajaran tidak sama. Fenomena alam akan menghasilkan suatu fakta yang dituangkan dalam bahasa matematika. Karena yang dikehendaki adalah jawaban mengenai fakta-fakta (matematika) maka pendekatan dengan langkah-langkah tersebut dikatakan sangat erat dengan metode ilmiah. Oleh karena itu pendekatan ilmiah dalam pelajaran tertentu tidak sama persis dengan pelajaran tertentu lainnya. maka langkah-langkahnya dalam pendekatan ilmiah sebagai berikut: 1) Mengamati fakta (matematika) 2) Menanya (perwujudan dari berfikir divergen) 3) Menalar (menentukan/menemukan solusi selanjutnya) 4) Mencoba 5) Menyimpulkan (mengaitkan dengan konsep lain) Langkah-langkah di atas boleh dikatakan sebagai pengejaran terhadap pengetahuan ilmiah yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis dalam matematika dan juga tidak kaku dalam urutan. B. Pengamatan nyata fenomena alam atau lingkungan. Secara mudah dapat dipahami eperti halnya “matematika kontek tual”. Misalnya dalam pelajaran matematika. Contoh pendekatan ilmiah dalam matematika Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa karakter keilmuan dari setiap materi pelajaran tidak sama maka khusus untuk matematika langkah dalam pendekatan ilmiah dapat dicontohkan sebagai berikut: 1) Mengamati fakta Mengamati fakta matematika dapat dibagi dalam dua pengertian a. Ada juga refensi yang menyatakan bahwa metode ilmiah adalah wujud dari pendekatan ilmiah.

Pengamatan ini akan sangat terbantu jika dalam penyampaian menggunakan TIK.Sebenarnya (nantinya) gerakan air mancur ini terkait dengan konsep fungsi kuadrat b. Jadi jika digambarkan (diamati). Artinya. siswa diminta menggambar ( ) dengan nilai fungsi dan tertentu. Selanjutnya nilai kuadrat diubah dalam berbagai nilai sedangkan b dan c tetap. sifat. teorema. Fakta yang didapatkan dapat berupa definisi. Matematika – SMA/MA/SMK | 163 . Contoh lain misalnya dalam geometri datar. Maka (nantinya) akan terlihat bahwa mempengaruhi “runcingnya” titik puncak parabola yang terbentuk. Pengamatan objek matematika Pengamatan seperti ini sangat cocok untuk siswa yang mulai menerima kebenaran logis. Misalnya. garis itu pasti garis yang tadi juga. tidak mungkin terjadi gambar seperti di bawah. Pengamatan seperti ini lebih tepat dikatakan sebagai pengumpulan dan pemahaman kebenaran matematika. jika ada garis lain. walaupun objeknya tidak nyata. sehingga mereka tidak mempermasalahkan suatu rangkaian kebenaran sebelumnya yang didapatkan dari penalaran yang benar. grafik dan lain sebagainya. aksioma. siswa memahami kebenaran postulat setiap dua titik pasti hanya dapat dibuat tepat satu garis yang melaluinya. postulat.

Pemikiran yang divergen ini dapat dibangkitkan dari suatu pertanyaan. dimana . untuk bagaimana menentukan nilai sinus untuk (fakta) awal in Karena banyak guru membuat jembatan keledai dengan menyingkat “SINDEMI KOSAMI TANDESA” yaitu . dengan menanyakan alternatif-alternatif yang mungkin dari solusi itu. guru hanya memberikan pertanyaan pancingan. bernilai positif kecil dan sebagainya. Untuk menggalinya dapat dilakukan dengan memanfaatkan solusi yang mereka hasilkan (pemikiran siswa). . . Dalam matematika permasalahan seperti ini dapat dijawab dengan mengaitkan teorema lain atau pendefinisian baru terutama bagi siswa yang sudah dapat menerima kebenaran logis. Sebaliknya. Ini terjadi karena siswa cenderung menghafal algoritma atau prosedur tertentu. bagi siswa sekolah dasar kebenaran empirik masih dominan dibanding Matematika – SMA/MA/SMK | 164 . bagaimana untuk negatif. Misalkan dalam grafik fungsi kuadrat ( ) untuk bernilai positif besar. Contoh lain. Tidak terbangun suatu pemikiran yang divergen. sedangkan definisi Pertanyaan seperti di atas memerlukan adanya solusi (jawaban) melalui suatu penalaran. sampai siswa sendiri yang menyelesaikan dan mencari alternatif yang lain.2) Menanya Kecenderungan yang ada sekarang adalah siswa gagal menyelesaikan suatu masalah matematika jika konteksnya diubah sedikit saja. Dalam hal ini guru tidak boleh memberi tahu.

Penalaran induktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari fenomena khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. Sedangkan pada contoh sebelumnya yaitu menentukan nilai sinus sudut di kuadran II maka dengan kejadian seperti ini perlu adanya pengertian atau definisi baru sebagai perluasan (memikirkan perlunya hal baru). Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik. 3 kali Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataanpernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus. 3) Penalaran Sejatinya penalaran secara umum adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Perlu diingat juga bahwa penalaran diartikan juga sebagai penyerupaan atau analogi atau dalam bahasa sosial asosiasi Terkait dengan contoh diatas dapat digambarkan sebagai berikut Matematika – SMA/MA/SMK | 165 . Penalaran yang paling dikenal dalam matematika terkait penarikan kesimpiulan adalah modus ponen. Disini penalaran dapat bermakna penyerupaan (associating) dan juga dapat bermakna akibat (reasoning). Demikian pula untuk sudut siku-siku ( ) dan sudut lurus ( ). modus tolen dan silogisme. Misalkan menemukan volum kerucut dengan takaran. Ada dua cara menalar. Oleh karena itu pertanyaan yang diajukan tentu berbeda siswa pada sekolah menengah. yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif.kebenaran logis.

tetapi terkait dengan posisi kordinat. Dengan definisi akan mewadahi atau memenuhi sistem dalam matematika itu sendiri.Dalam hal ini (nantinya) definisi sinus tidak sebatas pada perbandingan panjang sisi segitiga siku-siku seperti pada definisi awal. Dari sini diperlukan adanya langkah atau tahap berikutnya yaitu mencoba atau secara lebih luas membuktikan. Matematika – SMA/MA/SMK | 166 .

Selanjutnya dicoba untuk besar sudut yang lain. hanya sekedar contoh tahapan/langkah dalam pendekatan ilmiah.4) Mencoba Pengertian mencoba disini dapat diartikan secara sempit seperti menunjukkan dan dapat diartikan secara luas yaitu membuktikan. Untuk sudut di kuadran I. Namun contoh seperti ini bukan merupakan pembuktian dalam matematika. Dari pengertian awal in sedangkan dengan perluasan in Jadi disini terlihat bahwa in in √ √ . Pada akhirnya langakah ini untuk menunjukkan bahwa jika besar sudut berada di kuadran II ( in in( ) maka dipenuhi ). Adapun tahapan yang lebih spesifik dalam matematika yaitu membuktikan berlakunya in in( ) untuk ( ) masih memerlukan pengerjaan lanjutan Matematika – SMA/MA/SMK | 167 . Sebagai cotoh nilai sinus sebagai perluasan ternyata merupakan perbandingan ordinat dengan panjang jari-jari. nilai ordinat (komponen-y) positif dan panjang jari-jari positif. nilai ordinat (komponen-y) positif dan panjang jari-jari positif. Demikian pula untuk sudut di kuadran II.

(i). Dengan diperolehnya hubungan in antara sudut dan sudut in( ) maka siswa memahami kaitan yaitu mempunyai nilai sinus yang sama. geografi dll).5) Menyimpulkan (mengaitkan dengan konsep dan aplikasi lain) Pengertian menyimpulkan disini mengandung dua pengertian. Dengan menerapkan prinsip perbandingan pada tangen maka dapat ditentukan tinggi pohon secara tidak langsung Matematika – SMA/MA/SMK | 168 . Disamping itu hasil yang diperoleh oleh siswa digunakan untuk aplikasi dalam dunia nyata maupun dikaitkan dengan pengetahuan lain (fisika. co ( ) in Contohnya hubungan in( (ii). Persisnya berelasi melalui nilai sinus yang sama. Misalnya dalam pengerjaan dimunculkan hasil berikut: Selanjutnya diharapkan siswa dapat menyimpulkan bahwa sudut yang demikian adalah sudut yang berelasi. Sebagai contoh siswa ingin mengetahui tinggi suatu pohon. yaitu mengaitkan konsep dalam matematika itu sendiri (matematika vertikal) dan mengaitkan konsep yang diperoleh dengan dunia nyata (matematika horizontal). co . Simpulan ini kemudian dikaitkan dengan pengertian matematka lain misalnya co tan in co tan ) dan sebagainya.

ramah lingkungan. prosedural. responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Penutup Langkah-langkah dalam pendekatan ilmiah seperti dijelaskan di atas tentu saja harus dijiwai oleh perilaku (jujur. konseptual. santun. Disamping itu pemahaman. Matematika – SMA/MA/SMK | 169 . kerjasama. cinta damai. gotong royong. penerapan dan analisis dari pengetahuan faktual. dan metakognitif terkait bidang kajian matematika dapat digunakan untuk memecahkan masalah. tanggung jawab. C. peduli. siswa mengaitkan fungsi trigonometri dengan gerak ayunan dalam fisika Ada juga literasi yang memaknai tahapan menyimpulkan sebagai tindakan membentuk jejaring (networking) secara fisik yaitu bekerjasama atau berkolaborasi antar siswa. disiplin.Contoh lain.

com/2009/07/06/pendekatan-ilmiah/ Februari 2013 : diakses 16 Matematika – SMA/MA/SMK | 170 .the-scientist. Makalah pada Workshop Kurikulum.view/articleNo/24488/title/The-ScientificApproach/: diakses 16 Februari 2013 [4] http://ariasusman. (2013). Prof. Pendekatan-pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran.wordpress. CA 92649-1030: Shell Education [2] Sudarwan. Huntington Beach.Referensi: [1] Shelly Frei. Jakarta [3] http://www.. (2008). Teaching Mathematics Today.com/?articles.

Matematika – SMA/MA/SMK | 171 .2: Model Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Mengamati tayangan pembelajaran Diskusi Kelompok (Focus Group Discussion) 30 Menit Kerja Kelompok 20 Menit 40 Menit Mengamatitayangan tiga jenis model pembelajaran (Project Based Learning. danDiscovery Learning). Kerjakelompok untuk mengidentifikasi penerapan Pendekatan Scientific pada tiga model pembelajaran.Materi Pelatihan2. Problem Based Learning. Menerapkan Focus Group Discussion untuk mengidentifikasi karakteristik tiga model pembelajaran.

Matematika – SMA/MA/SMK | 172 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 173 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 174 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 175 .

interpretasi. sintesis. SMK sebagai institusi yang berfungsi untuk menyiapkan lulusan untuk bekerja di dunia usaha dan industri harus dapat membekali peserta didiknya dengan “kompetensi terstandar” yang dibutuhkan untuk bekerja dibidang masing-masing. Matematika – SMA/MA/SMK | 176 . 2. Peserta didik melakukan eksplorasi. maka Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya. secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya.2-1 MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK/ PROJECT BASED LEARNING A. penilaian. KONSEP/DEFINISI Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL) adalah metoda pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja.HO-2. dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Dengan pembelajaran “berbasis produksi” peserta didik di SMK diperkenalkan dengan suasana dan makna kerja yang sesungguhnya di dunia kerja. hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda. dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. Pada saat pertanyaan terjawab. adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata. Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dikatakan sebagai operasionalisasi konsep “Pendidikan Berbasis Produksi” yang dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dengan demikian model pembelajaran yang cocok untuk SMK adalah pembelajaran berbasis proyek. PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata. hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun ( a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum. Melalui PjBL.

7. Pembelajaran Berbasis Proyek memerlukan banyak waktu yang harus disediakan untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek. Beberapa hambatan dalam implementasi metode Pembelajaran Berbasis Proyek antara lain: 1. 3. b. 1. beberapa contoh perubahan lay-out ruang kelas. dan akan lebih menarik lagi jika suasana ruang belajar tidak monoton. 6. 8. circle (presentasi). sehingga kebutuhan listrik bertambah. peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan. mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting. Banyak instruktur merasa nyaman dengan kelas tradisional . Banyaknya peralatan yang harus disediakan. 5.dimana instruktur memegang peran utama di kelas. 4.3. proses evaluasi dijalankan secara kontinyu. kreasi dan inovasi dari siswa. situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan Peran instruktur atau guru dalam Pembelajaran Berbasis Proyek sebaiknya sebagai fasilitator. Keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek: a. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar. 2. Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan. peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan. penasehat dan perantara untuk mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan daya imajinasi. artinya belajar tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas. dan mereka perlu untuk dihargai. peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan. pelatih. Atau buatlah suasana belajar menyenangkan. 4. Untuk itu disarankan menggunakan team teaching dalam proses pembelajaran. FAKTA EMPIRIK KEBERHASILAN Kelebihan dan kekurangan pada penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dijelaskan sebagai berikut. karena menambah biaya untuk memasuki system baru. B. produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif. lab tables (saat mengerjakan tugas mandiri). terutama bagi instruktur yang kurang atau tidak menguasai teknologi. Ini merupakan suatu transisi yang sulit. bahkan saat diskusi dapat dilakukan di taman. discussion group (pembuatan konsep dan pembagian tugas kelompok). Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Matematika – SMA/MA/SMK | 177 . seperti: traditional class (teori).

h. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi. Banyaknya peralatan yang harus disediakan. Menurut studi penelitian. g. dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas. Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber. e. Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan. kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata. Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek: a. f.c. i. e. di mana instruktur memegang peran utama di kelas. f. Meningkatkan kolaborasi. dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan Untuk mengatasi kelemahan dari pembelajaran berbasis proyek di atas seorang pendidik harus dapat mengatasi dengan cara memfasilitasi peserta didik dalam menghadapi masalah. g. sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran. d. Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki. Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda. b. Pembelajaran Berbasis Proyek Matematika – SMA/MA/SMK | 178 . d. Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek. Pembelajaran Berbasis Proyek ini juga menuntut siswa untuk mengembangkan keterampilan seperti kolaborasi dan refleksi. membatasi waktu peserta didik dalam menyelesaikan proyek. meminimalis dan menyediakan peralatan yang sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah. Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problemproblem yang kompleks. 2. memilih lokasi penelitian yang mudah dijangkau sehingga tidak membutuhkan banyak waktu dan biaya. j. Membutuhkan biaya yang cukup banyak c. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan. Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok. Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional. menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga instruktur dan peserta didik merasa nyaman dalam proses pembelajaran.

Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project) Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin. Langkah langkah Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek Penjelasan langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut. sering menyebabkan absensi berkurang dan lebih sedikit masalah disiplin di kelas. Perencanaan berisi tentang aturan main. LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL Langkah langkah pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dijelaskan dengan diagram sebagai berikut. Dengan emikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. termasuk orang dewasa. Ketika anak-anak bersemangat dan antusias tentang apa yang mereka pelajari. pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial. 1. yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik. C. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question) Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial. 1 PENENTUAN PERTANYAAN MENDASAR 2 MENYUSUN PERECANAAN PROYEK 3 MENYUSUN JADUAL 6 EVALUASI PENGALAMAN 5 MENGUJI HASIL 4 MONITORING Diagram 1. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Antusias peserta didik cenderung untuk mempertahankan apa yang mereka pelajari. mereka sering mendapatkan lebih banyak terlibat dalam subjek dan kemudian memperluas minat mereka untuk mata pelajaran lainnya. 2. serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk Matematika – SMA/MA/SMK | 179 . Pelajaran berbasis proyek juga meningkatkan antusiasme untuk belajar. bukan melupakannya secepat mereka telah lulus tes.membantu siswa untuk meningkatkan keterampilan sosial mereka. Siswa juga menjadi lebih percaya diri berbicara dengan kelompok orang.

pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran. 6. dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara. dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting. memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Menyusun Jadwal (Create a Schedule) Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.membantu penyelesaian proyek. 5. Peran guru dan peserta didik dalam pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut. b. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap roses. Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience) Pada akhir proses pembelajaran. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. 1.masing peserta didik. Merencanakan dan mendesain pembelajaran Membuat strategi pembelajaran Membayangkan interaksi yang akan terjadi antara guru dan siswa Mencari keunikan siswa Menilai siswa dengan cara transparan dan berbagai macam penilaian Membuat portofolio pekerjaan siswa Matematika – SMA/MA/SMK | 180 . d. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek. Peran Guru a. (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek. (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru. (2) membuat deadline penyelesaian proyek. Menguji Hasil (Assess the Outcome) Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar. sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Agar mempermudah proses monitoring. 3. berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing. f. e. c. 4. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project) Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek.

SISTEM PENILAIAN Penilaian pembelajaran dengan metoda Pembelajaran Berbasis Proyek harus diakukan secara menyeluruh terhadap sikap. D. survey. Penilaian Pembelajaran Berbasis Proyek dapat menggunakan teknik penilaian yang dikembangkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu penilaian proyek atau penilaian produk. 1. c. pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman. Matematika – SMA/MA/SMK | 181 . dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan. Penilaian Proyek a. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan. kemampuan mengaplikasikan. Penilaian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.2. pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa dalam melaksanakan pembelajaran berbasis proyek. Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan yaitu: 1) Kemampuan pengelolaan Kemampuan peserta didik dalam memilih topik. pengorganisasian. 3) Keaslian Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya. Pengertian Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. e. g. dll). pengolahan dan penyajian data. b. observasi. d. Peran Peserta Didik a. kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. f. Menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir Melakukan riset sederhana Mempelajari ide dan konsep baru Belajar mengatur waktu dengan baik Melakukan kegiatan belajar sendiri/kelompok Mengaplikasikanhasil belajar lewat tindakan Melakukan interaksi sosial (wawancara. 2) Relevansi Kesesuaian dengan mata pelajaran. pengumpulan data. dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik.

Keakuratan Sumber Data / Informasi c. Analisis Data e. Persiapan b. Matematika – SMA/MA/SMK | 182 . dan penyiapkan laporan tertulis. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/ instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. Pelaksanaan penilaian dapat juga menggunakan rating scale dan checklist. Sistematika Penulisan b.b.5) 2 3 Penilaian Proyek dilakukan mulai dari perencanaan . Performans b. Contoh Teknik Penilaian Proyek Mata Pelajaran Nama Proyek Alokasi Waktu Guru Pembimbing Nama NIS Kelas No. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Untuk itu perlu memperhatikan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. proses pengerjaan. Presentasi / Penguasaan TOTAL SKOR SKOR (1 . Untuk itu. Rumusan Judul PELAKSANAAN : a. sampai hasil akhir proyek. proses pengerjaan sampai dengan akhir proyek. seperti penyusunan disain. Kuantitas Sumber Data d. guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. pengumpulan data. Penarikan Kesimpulan LAPORAN PROYEK : a. Teknik Penilaian Proyek Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan. 1 : : : : : : : ASPEK PERENCANAAN : a. analisis data.

keramik. dan mengembangkan gagasan. biasanya dilakukan pada tahap appraisal. dan teknik. pakaian. lukisan. biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan. plastik. 3) Tahap penilaian produk (appraisal). meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan. dan mendesain produk. Pengertian Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu: 1) Tahap persiapan. alat. meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan. yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni. seperti: makanan. yaitu berdasarkan aspek-aspek produk.2. Teknik Penilaian Produk Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik. Matematika – SMA/MA/SMK | 183 . Cara analitik. 2) Tahap pembuatan produk (proses). dan logam. Penilaian Produk a. gambar). 1) 2) Cara holistik. menggali. hasil karya seni (patung. b. barang-barang terbuat dari kayu.

org/ Publications/papers. Retrieved from http://www.edutopia. keamanan dan kebersihan) Tahap Akhir (Hasil Produk) a. Persiapan alat dan bahan b. dengan ketentuan semakin lengkap jawaban dan ketepatan dalam proses pembuatan maka semakin tinggi nilainya. Introduction to Project Based Learning. org/pdfs/edutopia-teaching-for-meaningful-learning. [Online].niost. Diakses di http://digilib. Daftar Pustaka Alexander. Admin. (2000). The learning that lies between play and academics in afterschool programs.pdf (18 Oktober 2011). Barron. Diakses di http://www. B. Retrieved from http://www. Teaching for meaningful learning: A review of research on inquiry-based and cooperative learning. E. L. (2008). Matematika – SMA/MA/SMK | 184 . Inovasi TOTAL SKOR Skor ( 1 – 5 )* 3 Catatan : *) Skor diberikan dengan rentang skor 1 sampai dengan 5.id/files/disk1/151/hubptain-gdl-ellyikasus-7509-3-babii.pdf (17 Oktober 2011). & Darling-Hammond.Contoh Penilaian Produk Mata Ajar : Nama Proyek : Alokasi Waktu : Nama Peserta didik : Kelas/SMT : No.sunan-ampel. National Institute on Out-of-School Time. Bentuk fisik b. D. Buck Institute for Education. Teknik Pengolahan c.. K3 (Keselamatan kerja.bie.Metode Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) [online].pdf. 1 2 Tahapan Tahap Perencanaan Bahan Tahap Proses Pembuatan : a.org/images/uploads/general/20fa7d42c216e2ec171a212e97fd4a9e.ac.

php. Savery. Retrieved from http://www. J.brighthub. Project-based learning. [Online]. Understanding projects in projectbased learning: A student’s perspective. R. (2009. dihttp://edutechwiki.(2005). Overview of problem-based learning: Definitions and distinctions. Diakses tanggal 13 Juli 2010. Schneider. 2010. [Online]. Markham.ch/en/Project-based_learning (18 Oktober 2011). 2005. April). CA: Buck Institute for Education.Daniel K.com/education/k-12/articles/90553. George . http://www. (2006).nmsa. Journal of Problem-Based Learning. ResearchSummaries/ProjectBasedLearninginMath/tabid/1570/Default. 1(1). 3(1). Matematika – SMA/MA/SMK | 185 . Diakses di http://www. The Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning. M. Instructional Module Project Based Learning. Lucas.).unige.org/Research/ResearchSummaries. Novato. 9–20. The Success of Project Based Learning.aspx (18 Oktober 2011) Grant. San Diego. Diakses Florin.aspx. Project-based learning handbook (2nd ed. 12–43. Research summary: Project-based learning in middle grades mathematics. (2003). T.edutopia. CA. Paper presented at Annual Meeting of the American Educational Research Association. Suzanne.org/modules/PBL/whatpbl.

Matematika – SMA/MA/SMK | 186 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 187 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 188 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 189 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 190 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 191 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 192 .

Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.HO-2. sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah. 2) Permasalahan sebagai penjajakan pemahaman Matematika – SMA/MA/SMK | 193 . A. bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Konsep/Definisi Definisi: 1) Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Masalah diberikan kepada peserta didik.2-2 MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) Problem Based Learning (PBL) adalah kurikulum dan proses pembelajaran. peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world) 2) Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”. Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan adanya pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh peserta didik yang diharapkan dapat menambah keterampilan peserta didik dalam pencapaian materi pembelajaran.. Dalam kurikulumnya. Ada lima strategi dalam menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) yaitu: 1) Permasalahan sebagai kajian. dirancang masalah-masalah yang menuntut peserta didik mendapat pengetahuan penting.

3) Permasalahan sebagai contoh 4) Permasalahan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses 5) Permasalahan sebagai stimulus aktivitas otentik Peran guru, peserta didik dan masalah dalam pembelajaran berbasis masalah dapat digambarkan sebagai berikut: Guru sebagai pelatih o Asking about thinking (bertanya tentang pemikiran) o memonitor pembelajaran o probbing ( menantang peserta didik untuk berfikir ) o menjaga agar peserta didik terlibat o mengatur dinamika kelompok o menjaga berlangsungnya proses Peserta didik sebagai problem solver o peserta yang aktif o terlibat langsung dalam pembelajaran o membangun pembelajaran Masalah sebagai awal tantangan dan motivasi o menarik untuk dipecahkan o menyediakan kebutuhan yang ada hubungannya dengan pelajaran yang dipelajari

Tujuan dan hasil dari model pembelajaran berbasis masalah ini adalah: 1) Keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah Pembelajaran berbasis masalah ini ditujukan untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. 2) Pemodelan peranan orang dewasa. Bentuk pembelajaran berbasis masalah penting menjembatani gap antara pembelajaran sekolah formal dengan aktivitas mental yang lebih praktis yang dijumpai di luar sekolah. Aktivitas-aktivitas mental di luar sekolah yang dapat dikembangkan adalah : PBL mendorong kerjasama dalam menyelesaikan tugas. PBL memiliki elemen-elemen magang. Hal ini mendorong pengamatan dan dialog dengan yang lain sehingga peserta didik secara bertahap dapat memi peran yang diamati tersebut.  PBL melibatkan peserta didik dalam penyelidikan pilihan sendiri, yang memungkinkan mereka menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun femannya tentang fenomena itu. 3) Belajar Pengarahan Sendiri (self directed learning) Pembelajaran berbasis masalah berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus dapat menentukan sendiri apa yang harus dipelajari, dan dari mana informasi harus diperoleh, di bawah bimbingan guru. Pendekatan PBL mengacu pada hal-hal sebagai berikut : a. Kurikulum : PBL tidak seperti pada kurikulum tradisional, karena memerlukan suatu strategi sasaran di mana proyek sebagai pusat.  

Matematika – SMA/MA/SMK | 194

b. Responsibility : PBL menekankan responsibility dan answerability para peserta didik ke diri dan panutannya. c. Realisme : kegiatan peserta didik difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya. Aktifitas ini mengintegrasikan tugas otentik dan menghasilkan sikap profesional. d. Active-learning : menumbuhkan isu yang berujung pada pertanyaan dan keinginan peserta didik untuk menemukan jawaban yang relevan, sehingga dengan demikian telah terjadi proses pembelajaran yang mandiri. e. Umpan Balik : diskusi, presentasi, dan evaluasi terhadap para peserta didik menghasilkan umpan balik yang berharga. Ini mendorong kearah pembelajaran berdasarkan pengalaman. f. Keterampilan Umum : PBL dikembangkan tidak hanya pada ketrampilan pokok dan pengetahuan saja, tetapi juga mempunyai pengaruh besar pada keterampilan yang mendasar seperti pemecahan masalah, kerja kelompok, dan self-management.

g. Driving Questions : PBL difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan yang memicu peserta didik untuk berbuat menyelesaikan permasalahan dengan konsep, prinsip dan ilmu pengetahuan yang sesuai. h. Constructive Investigations : sebagai titik pusat, proyek harus disesuaikan dengan pengetahuan para peserta didik. i. Autonomy : proyek menjadikan aktifitas peserta didik sangat penting.

B. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil Pembelajaran Kelebihan menggunakan PBL, antara lain; (1) Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik/mahapeserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan; (2) Dalam situasi PBL, peserta didik/mahapeserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan; dan (3) PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik/mahapeserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok. Metoda ini memiliki kecocokan terhadap konsep inovasi pendidikan bidang keteknikan, terutama dalam hal sebagai berikut : 1. peserta didik memperoleh pengetahuan dasar (basic sciences) yang berguna untuk memecahkan masalah bidang keteknikan yang dijumpainya,
Matematika – SMA/MA/SMK | 195

2. peserta didik belajar secara aktif dan mandiri dengan sajian materi terintegrasi dan relevan dengan kenyataan sebenarnya, yang sering disebut student-centered, 3. peserta didik mampu berpikir kritis, dan mengembangkan inisiatif. Berikut adalah beberapa hasil penelitian berkaitan dengan model PBL. 1. Wagiran, dkk, 2010, Pengembangan Pembelajaran Model Problem Based Learning Dengan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer dalam Matadiklat Measuring Bagi Peserta didik SMK (Hibah Bersaing Perguruan Tinggi), 2010: Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Penelitian dirancang dalam tiga tahap dalam kurun waktu 3 tahun. Pada tahun pertama penelitian bertujuan untuk merancang, membuat dan mengembangkan media pembelajaran berbantuan komputer berikut perangkatnya dalam mendukung model pembelajaran PBL-PBK. Pada tahun kedua, penelitian ini bertujuan untuk menerapkan dan menguji model pembelajaran PBL-PBK dalam lingkup luas sekaligus melihat efektivitasnya. Pada tahun ketiga, penelitian ini memfokuskan pada tahap sosialisasi model pembelajaran PBL-PBK dalam lingkup yang lebih luas. Penelitian dirancang menggunakan pendekatan Research and Development Sumber data dalam penelitian ini meliputi kalangan industri permesinan, perumus kebijakan, kepala sekolah, guru, peserta didik, dan ahli pendidikan. Penerapan model direncanakan di 5 SMK dengan metode eksperimen. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kuantitatif yaitu deskriptif, dan komparatif. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah diperolehnya kompetensi Measuring dan diperolehnya media pembelajaran berbantuan komputer dalam mendukung pembelajaran PBL-PBK yang teruji. Hasil evaluasi ahli tentang kualitas media dilihat dari sisi materi menunjukkan skor 3,38 (dalam kategori baik), dari kualitas tampilan menunjukkan skor 3,04 (dalam kategori baik), sedangkan dari sisi pengorganisasian materi penunjukan skornya adalah: konsistensi sebesar 2,92 (cukup baik), format sebesar 3,13 (baik), pengorganisasian sebesar 3,25 (baik), bentuk dan ukuran huruf sebesar 2,63 (cukup baik). Hasil uji kelayakan(ujicoba) kepada peserta didik menunjukkan bahwa kualitas media dilihat dari sisi materi menunjukkan skor 3,28 (dalam kategori baik), dari kualitas tampilan dan daya tarik menunjukkan skor 3,30 (dalam kategori baik), sedangkan dari sisi pengorganisasian materi penunjukan skornya adalah: sebesar 3,22 (baik) Dengan demikian media berbantuan komputer dalam matadiklat measuring layak untuk diterapkan. Media berbantuan komputer yang disusun telah memnuhi aspek kelayakan baik dari segi teoritis maupun dari segi empiris. Tedapat tiga pola implementasi pembelajaran menggunakan media berbantuan komputer yaitu: (a) sebagai media tayamg, (b) sebagai media pendukung praktek, dan (c) sebagai media pembelajaran individual dan interaktif. 2. Dian Mala Sari, Pebriyenni ., Yulfia Nora, 2013, Peningkatan Partisipasi dan Hasil Belajar Peserta didik Kelas IVB dalam Pembelajaran IPS Melalui Model Problem Based Learning di SDN 20 Kurao Pagang, Faculty of Education, Bung Hatta University
Matematika – SMA/MA/SMK | 196

Penelitian ini dilatarbelakangi kurangnya partisipasi peserta didik kelas IVB pada pembelajaran IPS. Yang berdampak terhadap rendahnya hasil belajar peserta didik. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan peningkatan partisipasi dan hasil belajar peserta didik kelas IVB dalam pembelajaran IPS melalui model PBL di SDN 20 Kurao Pagang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan secara partisipan. Subjek penelitian ini peserta didik kelas IVB SDN 20 Kurao Pagang. Instrumen penelitian yang digunakan lembar observasi partisipasi peserta didik, lembar observasi aktivitas guru, tes hasil belajar dan catatan lapangan. Hasil penelitian diketahui bahwa partisipasi dalam menjawab pertanyaan meningkat dari 52,5 % di siklus I menjadi 70%, di siklus II. Partisipasi peserta didik menanggapi jawaban meningkat dari 40% di siklus I menjadi 65% di siklus II, dan partisipasi peserta didik dalam presentasi meningkat dari 27,5% di siklus I menjadi 67,5% di siklus II. Hasil belajar peserta didik siklus I meningkat dari 57,25% menjadi 72,75% di siklus II. Sedangkan persentase ketuntasan belajar yang ditentukan 70%. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa partisipasi dan hasil belajar peserta didik kelas IVB dapat ditingkatkan melalui model PBL dalam pembelajaran IPS di SDN 20 Kurao Pagang. C. Langkah-langkah Operasional Imlementasi dalam Proses Pembelajaran Pembelajaran suatu materi pelajaran dengan menggunakan PBL sebagai basis model dilaksanakan dengan cara mengikuti lima langkah PBL dengan bobot atau kedalaman setiap langkahnya disesuaikan dengan mata pelajaran yang bersangkutan. 1. Konsep Dasar (Basic Concept) Jika dipandang perlu, fasilitator dapat memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik lebih cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan ‘peta’ yang akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran. Lebih jauh, hal ini diperlukan untuk memastikan peserta didik memperoleh kunci utama materi pembelajaran, sehingga tidak ada kemungkinan terlewatkan oleh peserta didik seperti yang dapat terjadi jika peserta didik mempelajari secara mandiri. Konsep yang diberikan tidak perlu detail, diutamakan dalam bentuk garis besar saja, sehingga peserta didik dapat mengembangkannya secara mandiri secara mendalam. 2. Pendefinisian Masalah (Defining the Problem) Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan skenario atau permasalahan dan dalam kelompoknya, peserta didik melakukan berbagai kegiatan. Pertama, brainstorming yang dilaksanakan dengan cara semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat. Setiap anggota kelompok memiliki hak yang sama dalam memberikan dan menyampaikan ide dalam diskusi serta mendokumentasikan secara tertulis pendapat masing-masing dalam kertas kerja. Selain itu, setiap kelompok harus mencari istilah yang kurang dikenal dalam skenario tersebut dan berusaha mendiskusikan maksud dan artinya. Jika ada peserta didik yang
Matematika – SMA/MA/SMK | 197

mengetahui artinya, segera menjelaskan kepada teman yang lain. Jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis dalam permasalahan kelompok. Selanjutnya, jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis sebagai isu dalam permasalahan kelompok. Kedua, melakukan seleksi alternatif untuk memilih pendapat yang lebih fokus. Ketiga, menentukan permasalahan dan melakukan pembagian tugas dalam kelompok untuk mencari referensi penyelesaian dari isu permasalahan yang didapat. Fasilitator memvalidasi pilihan-pilihan yang diambil peserta didik. Jika tujuan yang diinginkan oleh fasilitator belum disinggung oleh peserta didik, fasilitator mengusulkannya dengan memberikan alasannya. Pada akhir langkah peserta didik diharapkan memiliki gambaran yang jelas tentang apa saja yang mereka ketahui, apa saja yang mereka tidak ketahui, dan pengetahuan apa saja yang diperlukan untuk menjembataninya. Untuk memastikan setiap peserta didik mengikuti langkah ini, maka pendefinisian masalah dilakukan dengan mengikuti petunjuk. 3. Pembelajaran Mandiri (Self Learning) Setelah mengetahui tugasnya, masing-masing peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu: (1) agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan (2) informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami. Di luar pertemuan dengan fasilitator, peserta didik bebas untuk mengadakan pertemuan dan melakukan berbagai kegiatan. Dalam pertemuan tersebut peserta didik akan saling bertukar informasi yang telah dikumpulkannya dan pengetahuan yang telah mereka bangun. Peserta didik juga harus mengorganisasi informasi yang didiskusikan, sehingga anggota kelompok lain dapat memahami relevansi terhadap permasalahan yang dihadapi. 4. Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge) Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara peserrta didik berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya. Tiap kelompok menentukan ketua diskusi dan tiap peserta didik menyampaikan hasil pembelajaran mandiri dengan cara mengintegrasikan hasil pembelajaran mandiri untuk mendapatkan kesimpulan kelompok. Langkah selanjutnya presentasi hasil dalam pleno (kelas besar) dengan mengakomodasi masukan dari pleno, menentukan kesimpulan akhir, dan dokumentasi akhir. Untuk memastikan setiap peserta didik mengikuti langkah ini maka dilakukan dengan mengikuti petunjuk.
Matematika – SMA/MA/SMK | 198

5. Penilaian (Assessment) Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan. Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran dalam pembelajaran. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. D. Contoh Penerapan Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu. Kemudian peserta didik diminta mencatat masalah-masalah yang muncul. Setelah itu tugas guru adalah meransang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka. Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar. Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan peserta didik, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar diluar kelas. Peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran. Tahapan-Tahapan Model PBL FASE-FASE Fase 1 Orientasi peserta didik kepada masalah Fase 2 Mengorganisasikan peserta didik Fase 3 Membimbing penyelidikan individu dan kelompok Fase 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya PERILAKU GURU  Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yg dibutuhkan  Memotivasi peserta didik untuk terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang dipilih Membantu peserta didik mendefinisikan danmengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut Mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah Membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, model dan berbagi tugas dengan teman
Matematika – SMA/MA/SMK | 199

pembelajaran PBL juga mendorong peserta didik belajar berkolaborasi. guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok peserta didik dimana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. adanya tutor sebaya. tahapan ini sangat penting dimana guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh peserta didik dan juga oleh guru. Guru akan bertindak sebagai pembimbing yang siap membantu.FASE-FASE Fase 5 Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah PERILAKU GURU Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari /meminta kelompok presentasi hasil kerja Fase 1: Mengorientasikan peserta didik pada masalah Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitasaktivitas yang akan dilakukan. 3. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. tetapi lebih kepada belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi peserta didik yang mandiri. Tujuan utama pengajaran tidak untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru. Oleh sebab itu. dan sebagainya. Selama tahap penyelidikan (dalam pengajaran ini). Selama tahap analisis dan penjelasan. namun peserta didik harus berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan temannya. sebuah masalah yang rumit atau kompleks mempunyai banyak penyelesaian dan seringkali bertentangan. komunikasi yang efektif. Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar peserta didik dapat mengerti dalam pembelajaran yang akan dilakukan. peserta didik akan didorong untuk menyatakan ide-idenya secara terbuka dan penuh kebebasan. Dalam penggunaan PBL. Permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai jawaban mutlak “benar“. Tidak ada ide yang akan ditertawakan oleh guru atau teman sekelas. peserta didik didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi. Fase 2: Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar Disamping mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah. 2. Semua peserta didik diberi peluang untuk menyumbang kepada penyelidikan dan menyampaikan ide-ide mereka. dan 4. serta dijelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses pembelajaran. Prinsip-prinsip pengelompokan peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen. yaitu: 1. Ada empat hal yang perlu dilakukan dalam proses ini. pentingnya interaksi antar anggota. Guru sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja Matematika – SMA/MA/SMK | 200 .

yakni pengumpulan data dan eksperimen. tugas-tugas penyelidikan. Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat berfikir peserta didik. namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik. selanjutnya mereka mulai menawarkan penjelasan dalam bentuk hipotesis. Guru membantu peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber. Setelah peserta didik diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar selanjutnya guru dan peserta didik menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik. orang tua. Guru juga harus mengajukan pertanyaan yang membuat peserta didik berfikir tentang kelayakan hipotesis dan solusi yang mereka buat serta tentang kualitas informasi yang dikumpulkan. dan jadwal. Fase 5: Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah Matematika – SMA/MA/SMK | 201 . dan pemecahan. program komputer. Fase 3: Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok Penyelidikan adalah inti dari PBL. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini adalah mengupayakan agar semua peserta didik aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. Akan lebih baik jika dalam pemeran ini melibatkan peserta didik-peserta didik lainnya. Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil karya) dan mempamerkannya Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran. guru-guru. Tujuannya adalah agar peserta didik mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri. dan lainnya yang dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda. Setelah peserta didik mengumpulkan cukup data dan memberikan permasalahan tentang fenomena yang mereka selidiki.masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran. guru harus mendorong peserta didik untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. guru mendorong peserta didik untuk menyampikan semua ide-idenya dan menerima secara penuh ide tersebut. dan memberikan pemecahan. dan ia seharusnya mengajukan pertanyaan pada peserta didik untuk berifikir tentang masalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan. dan sajian multimedia. penjelesan. Selama pengajaran pada fase ini. model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya). Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis. namun bisa suatu video tape (menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan). Pada tahap ini. berhipotesis dan penjelasan.

yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi. Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran. peserta didik diminta untuk unjuk kerja atau mendemonstrasikan kemampuan melakukan tugas-tugas tertentu. dokumen. kemampuan bekerjasama dalam tim. dan laporan. Pada penilaian kinerja ini. Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap usahausahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar. Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya. Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran. PR. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.Fase ini merupakan tahap akhir dalam PBL. ujian tengah semester (UTS). seperti menulis karangan. dan sikap (attitude). Selama fase ini guru meminta peserta didik untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya E. hardware. 1. menginterpretasikan jawaban pada suatu masalah. Penilaian kinerja peserta didik. baik software. atau melukis suatu gambar. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill. 2. Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment. Penilaian portofolio adalah penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam suatu Matematika – SMA/MA/SMK | 202 . Penilaian yang relevan dalam PBL antara lain sebagai berikut: 1. Sistem Penilaian Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge). dan kehadiran dalam pembelajaran. Self-assessment. kecakapan (skill). Peer-assessment. 2. kuis. Penilaian portofolio peserta didik. memainkan suatu lagu. melakukan suatu eksperimen. Fase ini dimaksudkan untuk membantu peserta didik menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. maupun kemampuan perancangan dan pengujian. Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS).

Penilaian usaha kelompok mengurangi kompetisi merugikan yang sering terjadi. Dari informasi perkembangan itu peserta didik dan guru dapat menilai kemajuan belajar yang dicapai dan peserta didik terus berusaha memperbaiki diri. misalnya membandingkan peserta didik dengan temannya. piagam penghargaan. Informasi perkembangan peserta didik dapat berupa hasil karya terbaik peserta didik selama proses belajar. atau bentuk informasi lain yang terkait kompetensi tertentu dalam suatu mata pelajaran. Peer assessment adalah penilian dimana peserta didik berdiskusi untuk memberikan penilaian upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang diselesaikan sendiri maupun teman dalam kelompoknya. Dasar pemikiran pengembangan strategi pembelajaran tersebut sesuai dengan pandangan kontruktivis yang menekankan kebutuhan peserta didik untuk menyelidiki lingkungannya dan membangun pengetahuan secara pribadi pengetahuan bermakna. Dengan kemampuan atau kecakapan tersebut diharapkan peserta didik akan mudah beradaptasi. Penilaian proses bertujuan agar guru dapat melihat bagaimana peserta didik merencanakan pemecahan masalah.periode tertentu. Penilaian kinerja memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan dalam situasi yang sebenarnya. 2). maka di samping pengembangan kurikulum juga perlu dikembangkan model pembelajaran yang sesuai tujuan kurikulum yang memungkinkan peserta didik dapat secara aktif mengembangkan kerangka berfikir dalam memecahkan masalah serta kemampuannya untuk bagaimana belajar (learning how to learn). melihat bagaimana peserta didik menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya. pekerjaan hasil tes. Menilai usaha kelompok seperti yang dlakukan pada pembelajaran kooperatif dapat dilakukan pada PBL. 3. Penilaian proses dapat digunakan untuk menilai pekerjaan peserta didik tersebut. portofolio. bagaimana peserta didik dan evaluator menilai produk (hasil akhir) proses 2. Penilaian potensi belajar. assesment autentik dan 3). penilaian ini antara lain: 1). 4. Penilaian usaha kelompok.assesment kerja. Penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan oleh peserta didik sebagai hasil pekerjaan mereka dan mendiskusikan hasil pekerjaan secara bersama-sama. PBL yang memberi tugas-tugas pemecahan masalah memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan dan mengenali potensi kesiapan belajarnya. Penilain dengan portofolio dapat dipakai untuk penilaian pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif. Penilaian kolaboratif dalam PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self assesment) dan peer assesment. Tahap evaluasi pada PBM terdiri atas tiga hal : 1. Sebagian masalah dalam kehidupan nyata bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman dan konteks atau lingkungannya. bagaimana mereka menerapkan tahapan Matematika – SMA/MA/SMK | 203 . Self assessment adalah penilaian yang dilakukan oleh peserta didik itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai oleh peserta didik itu sendiri dalam belajar. Penilaian yang diarahkan untuk mengukur potensi belajar peserta didik yaitu mengukur kemampuan yang dapat ditingkatkan dengan bantuan guru atau teman-temannya yang lebih maju.

uga. Bandung: Tidak diterbitkan Major. [17 Juni 2005].com/AE Qweb/mop4spr01.coe. (1995). (2001). Makalah Duch.A. Sugiyono. J.M.). Tersedia : http://www.rapidintellect. Penerapan Problem Based Learning Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Peserta Didik Dalam Memecahkan Masalah. et al. Assessing the Effectiveness of Problem-Based Learning in Higher Education: Lessons from the Literature. Pengajaran Berdasarkan Masalah. (1980). laporan tertulis. Dr. Surabaya: University Press Karim. Claire.htm. Bandung: Alfabeta Das Salirawati. Problem Based Instruction. Tersedia : http://www. Bandung: Diponegoro. bagaimana peserta didik akan menyampaikan pengetahuan hasil pemecahan akan masalah atau sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian atau respon-respon mereka dalam berbagai bentuk yang beragam.D.edu/pbl/cte/spr96-phys. (2005). Problem Based Learning: a Review of The Literature on Outcomes and Implementation Issues. 2009. (2007).. Proposal Hibah Kompetitif UPI 2007. S. atau sebagai suatu bentuk penyajian formal lainnya. Orey (Ed. misalnya secara lisan atau verbal. M.Daftar Pustaka Albanese. In M.htm [14 Juli 2010] Matematika – SMA/MA/SMK | 204 . Betsy. Sebagian dari evaluasi memfokuskan pada pemecahan masalah oleh peserta didik maupun dengan cara melakukan proses belajar kolaborasi (bekerja bersama pihak lain).. Problems: A Key Factor in PBL. and technology [Online]. & Mitchell. Tersedia: http://www. F. Model-Model Mengajar .PBM untuk bekerja melalui masalah 3. Problem Based Learning: an Approach to Medical Education.udel. M. [Online]. [Online]. & Tamblyn. Barbara.S. H. Evan. Metode Penelitian Kuantitatif. S. Emerging perspectives on learning. (1993). Prof..html. R. Kualitatif dan R&D. M dan Nur. Glazer. (1990). (2008). 2001. Penerapan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Penguasaan konsep Fisika serta Mengembangkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi dan Kecakapan Ilmiah. New York: Springer Publishing Dahlan.H dan Palmer. Journal of Academic Medicine Barrows. [21 Juli 2010].edu/epltt/ProblemBasedInstruct. Ibrahim. teaching.

Haris. Martinis. Belajar Mandiri. Jambi: Universitas Jambi Sudjana. Jodion. (1982). Active Learning: 101 Strategies to Teach any Subject. Panduan Pelaksanaan Collaborative Learning & Problem Based Learning. Bandung : Lembaga Penelitian IKIP Bandung Yamin. & Silberman. D. (2004).Melvin L. Jambi: Gaung Persada Press Matematika – SMA/MA/SMK | 205 . USA: Allyn & Bacon Mudjiman. Jakarta: Grasindo Proyek DUeLike Universitas Indonesia. Model Pembelajaran Pemecahan Masalah. Model Pembelajaran Sains. 2011. Depok: UI Siburian. Paradigma Baru Pembelajaran. 2006. 2010. Surakarta: Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS Press) Nurhadi. (1996). (2002). Kurikulum 2004: Pertanyaan dan Jawaban.

Matematika – SMA/MA/SMK | 206 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 207 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 208 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 209 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 210 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 211 .

dan hubungan. penentuan dan inferi. Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving. Penggunaan metode Discovery Learning. Definisi Metode Discovery Learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya. but rather is required to organize it him self” (Lefancois dalam Emetembun. Definisi/ Konsep 1. pada Discovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. ingin merubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. Sebagaimana pendapat Bruner. klasifikasi. Mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented. 1996:41). dimana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono. Sebagai strategi belajar. Discovery terjadi bila indifidu terlibat. tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Bruner memakai metode yang disebutnya Discovery Learning.2-3 MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING) A. terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian. Metode Discovery Learning adalah memahami konsep. melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih. arti. Yang menjadikan dasar ide Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas. Dengan mengaplikasikan metode Discovery Learning secara berulang-ulang dapat meningkatkan kemampuan penemuan diri individu yang bersangkutan. sedangkan Problem Solving lebih memberi tekanan pada kemampuan menyelesaikan masalah. Merubah Matematika – SMA/MA/SMK | 212 . 2005:43). prediksi. pengukuran. Sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa. Sund dalam Malik. bahwa: “Discovery Learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter in the final form. Discovery dilakukan melalaui observasi. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini. 2001:219). Akan tetapi prinsip belajar yang nampak jelas dalam Discovery Learning adalah materi atau bahan pelajaran yang akan disampaikan tidak disampaikan dalam bentuk final akan tetapi siswa sebagai peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorgansasi atau membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir. 1986:103).HO-2. Perbedaannya dengan discovery ialah bahwa pada discovery masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps and principles in the mind (Robert B.

Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh bagaimana cara lingkungan. matematika. Tahap symbolic. sentuhan.modus Ekspository siswa hanya menerima informasi secara keseluruhan dari guru ke modus Discovery siswa menemukan informasi sendiri. Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak simbol. seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan sekitarnya. iconic. dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Seluruh kegiatan mengkategori meliputi mengidentifikasi dan menempatkan contoh-contoh (obyek-obyek atau peristiwaperistiwa) ke dalam kelas dengan menggunakan dasar kriteria tertentu. pegangan. Tahap enaktive. penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui. Di dalam proses belajar. yaitu lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi. misalnya melalui gigitan. Secara Matematika – SMA/MA/SMK | 213 . atau lebih sering disebut sistem-sistem coding. artinya. dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi). logika. Konsep Dalam Konsep Belajar. yang dapat memungkinkan terjadinya generalisasi. Semakin matang seseorang dalam proses berpikirnya. Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa. Untuk memfasilitasi proses belajar yang baik dan kreatif harus berdasarkan pada manipulasi bahan pelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. semakin dominan sistem simbolnya. 5) Kaidah (Budiningsih. meliputi: 1) Nama. Manipulasi bahan pelajaran bertujuan untuk memfasilitasi kemampuan siswa dalam berfikir (merepresentasikan apa yang dipahami) sesuai dengan tingkat perkembangannya. dan symbolic. 2. Tahap iconic. Lingkungan seperti ini bertujuan agar siswa dalam proses belajar dapat berjalan dengan baik dan lebih kreatif. yaitu: enactive. dan siswa dikatakan memahami suatu konsep apabila mengetahui semua unsur dari konsep itu. sesungguhnya metode Discovery Learning merupakan pembentukan kategori-kategori atau konsep-konsep. Sebagaimana teori Bruner tentang kategorisasi yang nampak dalam Discovery. 2) Contohcontoh baik yang positif maupun yang negative. 4) Rentangan karakteristik. baik yang pokok maupun tidak. Pembentukan kategori-kategori dan sistem-sistem coding dirumuskan demikian dalam arti relasi-relasi (similaritas & difference) yang terjadi diantara obyek-obyek dan kejadian-kejadian (events). seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. 2005:43). dan sebagainya. Bruner menjelaskan bahwa pembentukan konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda yang menuntut proses berfikir yang berbeda pula. seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Lingkungan ini dinamakan Discovery Learning Environment. dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik. dan sebagainya. bahwa Discovery adalah pembentukan kategori-kategori. Maksudnya. Bruner memandang bahwa suatu konsep atau kategorisasi memiliki lima unsur. Untuk menunjang proses belajar perlu lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu siswa pada tahap eksplorasi. 3) Karakteristik.

sederhana teori perkembangan dalam fase enactive. Hal yang menarik dalam pendapat Bruner yang menyebutkan: hendaknya guru harus memberikan kesempatan muridnya untuk menjadi seorang problem solver. Dan melalui kegiatan tersebut siswa akan menguasainya. mengintegrasikan. atau ahli matematika. Karakteristik yang paling jelas mengenai Discovery sebagai metode mengajar ialah bahwa sesudah tingkat-tingkat inisial (pemulaan) mengajar. 85:2001). Tetapi bimbingan yang diberikan tidak hanya dikurangi direktifnya melainkan pelajar diberi responsibilitas yang lebih besar untuk belajar sendiri. atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya (Budiningsih. dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti mereka. 1. Hal ini tak berarti bahwa guru menghentikan untuk memberikan suatu bimbingan setelah problema disajikan kepada pelajar. membandingkan. seorang scientist. Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian. historin. Kelebihan Penerapan Discovery Learning a. seorang scientis. mengkategorikan. aturan. menerapkan. c. teori. serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya. Menimbulkan rasa senang pada siswa. mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulankesimpulan. Hal tersebut memungkinkan murid-murid menemukan arti bagi diri mereka sendiri. Kemudian pada fase iconic ia menjelaskan keseimbangan pada gambar atau bagan dan akhirnya ia menggunakan bahasa untuk menjelaskan prinsip keseimbangan ini fase symbolic (Syaodih. menganalisis. siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi. Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. historin. atau ahli matematika. Pada akhirnya yang menjadi tujuan dalam metode Discovery Learning menurut Bruner adalah hendaklah guru memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented. ingatan dan transfer. penerapan pendekatan Discovery Learning dalam pembelajaran memiliki kelebhihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan. sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan (Sardiman. b. Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep. B. Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif. bimbingan guru hendaklah lebih berkurang dari pada metode-metode mengajar lainnya. Dengan demikian seorang guru dalam aplikasi metode Discovery Learning harus dapat menempatkan siswa pada kesempatan-kesempatan dalam belajar yang lebih mandiri. iconic dan symbolic adalah anak menjelaskan sesuatu melalui perbuatan (ia bergeser ke depan atau kebelakang di papan mainan untuk menyesuaikan beratnya dengan berat temannya bermain) ini fase enactive. 2005:41). karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil Pembelajaran Berdasarkan fakta dan hasil pengamatan. Matematika – SMA/MA/SMK | 214 . seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini. Dalam metode Discovery Learning bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir. 2005:145).

Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik. karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya. d. Mendorong siswa berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri. m. dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa. Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri. Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman. h. Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar. gaya belajar. Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu. misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur gagasan yang dikemukakan oleh para siswa f. q. Menentukan tujuan pembelajaran b. g. Langkah Persiapan Metode Discovery Learning a. f. Bagi siswa yang kurang pandai. e. Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa. j.d. b. Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru. Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berfikir yang akan ditemukan oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru. i. Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. o. k. 2. karena membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya. Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti. minat. yang tertulis atau lisan. Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak. p. Metode ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya. e. Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang. akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep. Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik. sedangkan mengembangkan aspek konsep. keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian. Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan manusia seutuhnya. Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama. r. Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri. C. n. Langkah-langkah Operasional Implementasi dalam Proses Pembelajaran Langkah-langkah dalam mengaplikasikan model discovery learning di kelas adalah sebagai berikut: 1. sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi. Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri. dan sebagainya) Matematika – SMA/MA/SMK | 215 . Kelemahan Penerapan Discovery Learning a. Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasangagasan. l. Pada beberapa disiplin ilmu. c. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal.

Sedangkan menurut permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. Memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisa permasasalahan yang mereka hadapi. ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut: a. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contohcontoh generalisasi) e. kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah 2004:244). Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah) Setelah dilakukan stimulation langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran. wawancara dengan nara sumber. kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi. dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan. Data collection (pengumpulan data). anjuran membaca buku.c. tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa f. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks. dari yang konkret ke abstrak. b. 2004:244). atau hipotesis. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan) Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya. melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. ikonik sampai ke simbolik g. ilustrasi. merupakan teknik yang berguna dalam membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah. Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa belajar secara aktif Matematika – SMA/MA/SMK | 216 . Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah. d. yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh. c. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. Dalam hal ini Bruner memberikan stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. membaca literatur. Prosedur Aplikasi Metode Discovery Learning Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning di kelas. Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis. agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Dengan demikian seorang Guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus kepada siswa agar tujuan mengaktifkan siswa untuk mengeksplorasi dapat tercapai. mengamati objek. Memilih materi pelajaran. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan. dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa 2. atau dari tahap enaktif.

diacak. Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran. Verification menurut Bruner. Matematika – SMA/MA/SMK | 217 . observasi. bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep. dihubungkan dengan hasil data processing (Syah.untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis e. 2004:244). Semua informai hasil bacaan. dan sebagainya. apakah terjawab atau tidak. observasi. f. dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah. wawancara. d. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi) Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama. 2002:22). semuanya diolah. diklasifikasikan. pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek. Verification (pembuktian) Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif. aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu. 2004:244). Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang. dan sebagainya. apakah terbukti atau tidak. Data processing (pengolahan data) Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara. dengan demikian secara tidak disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki. teori. lalu ditafsirkan. ditabulasi. Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. atau informasi yang ada. bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah.

Alat ini dapat menilai berbagai jenis kemampuan. Alat penilaian ini kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas karena tidak menggambarkan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya. materi. Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses. yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). dua pilihan (benar-salah. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas. dan menjodohkan merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah. bahasa. b. proses. atau penilaian hasil kerja siswa. sikap. sikap. yaitu:  Soal dengan memilih jawaban a. jawaban singkat c. dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut: a. berpikir logis. soal uraian Dari berbagai alat penilaian tertulis. pilihan ganda b. Matematika – SMA/MA/SMK | 218 . misalnya mengemukakan pendapat. Ada dua bentuk soal tes tertulis. isian atau melengkapi b. dan menyimpulkan. Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun non tes. isian singkat. ya-tidak) c. 1. maka dalam model pembelajaran discovery learning dapat menggunakan tes tertulis. atau penilaian hasil kerja siswa. maka peserta didik akan menerka. mewarnai. misalnya kesesuian soal dengan indikator pada kurikulum. Pilihan ganda mempunyai kelemahan. Sistem Penilaian Dalam Model Pembelajaran Discovery Learning. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda. menggambar dan lain sebagainya. Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat. a. c. maka pelaksanaan penilaian dapat menggunakan contohcontoh format penilaian seperti tersebut di bawah ini. Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami. misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda. konstruksi. tes memilih jawaban benar-salah. yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar. memahami. Sedangkan penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif. dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari. misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas. Jika bentuk penialainnya berupa penilaian kognitif. menjodohkan  Soal dengan mensuplai-jawaban.D. Penilaian Tertulis Penilaian tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan.

Selanjutnya. 3. Keuntungan penggunaan teknik ini dalam penilaian di kelas antara lain sebagai berikut: a. status. misalnya. yang berkaitan dengan kompetensi kognitif. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya c. Berkaitan dengan kompetensi afektif. karena ketika mereka melakukan penilaian. peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya.. Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur. misalnya: peserta didik dapat diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dalam mata pelajaran tertentu. Penilaian Diri Penilaian diri (self assessment) adalah suatu teknik penilaian. berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.2. dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. Teknik penilaian diri dapat digunakan dalam berbagai aspek penilaian. peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu obyek sikap tertentu. berkaitan dengan kompetensi kognitif. peserta didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. membiasakan.. di mana subyek yang ingin dinilai diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan. Nama Siswa Komitmen Tugas Kerja Sama Ketelitian Minat Jumlah Skor Nilai Matematika – SMA/MA/SMK | 219 . karena mereka dituntut untuk jujur dan obyektif dalam melakukan penilaian. peserta didik dapat diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya sebagai hasil belajar berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Dalam proses pembelajaran di kelas. Penilaian Sikap Contoh Format Penilaian Sikap Mata Pelajaran: _________ Kelompok : _________ Semester: _________ Kelas : _________ Skor No 1 2 3 4 5 . b. karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri. . dapat mendorong. afektif dan psikomotor. Berkaitan dengan kompetensi psikomotorik.

Baik Sekali Baik Cukup Kurang 4 3 2 1 Kriteria Penilaian 10 – 12 A 7– 9 B 4–6 C ≤ 3 D A: Pengelompokan yang dilakukan siswa sangat baik. Penilaian Kinerja Nama Siswa: ……………… NO 1. uraian yang dijabarkan kurang rinci dan diperoleh dengan menggunakan sebagian besar indra dengan gambar-gambar atau diagram C: Pengelompokan yang dilakukan siswa cukup baik. 4. 3. 2.4. uraian yang dijabarkan tidak rinci dan diperoleh dengan menggunakan sebagian kecil indra dengan gambar-gambar atau diagram D: Pengelompokan yang dilakukan siswa kurang baik. uraian yang dijabarkan rinci dan diperoleh dengan menggunakan seluruh indra disertai dengan gambar-gambar atau diagram B: Pengelompokan yang dilakukan siswa baik. 2. uraian yang dijabarkan kurang sesuai dan diperoleh dengan menggunakan sebagian besar indra dengan gambargambar atau diagram 5. Jumlah Contoh Format Penilaian Kinerja Tanggal: ……………… Kelas: ……………… Aspek Yang Dinilai 1 Tingkat Kemampuan 2 3 4 Kriteria Penskoran 1. Penilaian Hasil Kerja Siswa Nama Siswa: ……………… Input Tanggal: ……………… Proses Out Put/Hasil Kelas: ……………… Nilai Matematika – SMA/MA/SMK | 220 .

M. 2000.html (23 Mei 2013).com/2011/05/aplikasi-metode-discovery-learning. Syah.html (23 Mei 2013) Jurnal Geliga Sains 3 (2). Jakarta.Daftar Pustaka Dahar. RW. 8-13. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berorientasi Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guide-Discovery Learning) yang Mengintegrasikan Kegiatan Laboratorium untuk Fisika SLTP Bahan Kajian Pengukuran. 2008. Pekanbaru. Aplikasi Metode Discovery Learning Dalam Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah. 1991.. Rizqi.blogspot. Penerapan Metode Penemuan Terbimbing pada Mata Pelajaran Sains untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN 016 Pekanbaru Kota (Laporan Penelitian). Motivasi Belajar Dan Daya Ingat Siswa. http://ebookbrowse.. Syamsudini . Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Holiwarni. Teori-Teori Belajar. 2012. Bandung.. 1996. dkk. PT Remaja Rosdakarya. B. http://prismabekasi. 2009 Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Riau ISSN 1978-502X. UNESA (tidak dipublikasikan). Tesis. http://darussholahjember.blogspot.com/2012/10/definisi-belajar-menurut-para-ahli. Matematika – SMA/MA/SMK | 221 .com/pengertian-model-pembelajaran-discovery-learning-menurutpara-ahli-pdf-d368189396 (23 Mei 2013).. Penerbit Erlangga. Lemlit UNRI.

3: Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Kegiatan Interaktif Diskusi Kelompok Paparan Materi 15 Menit 50 Menit 20 Menit Kegiatan interaktif untuk menyamakan persepsi tentang jenis dan bentuk penilaian autentik. Paparan materi Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.3/3.Materi Pelatihan 2. Diskusi materi Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar.2. Matematika – SMA/MA/SMK | 222 .3 Paparan materi Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT-2.

Matematika – SMA/MA/SMK | 223 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 224 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 225 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 226 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 227 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 228 .

pengujian. aktivitas mengamati dan mencoba. Istilah asesmen merupakan sinonim dari penilaian. asesmen semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik. frasa asesmen autentik dan penilaian autentik sering dipertukarkan. asesmen autentik diartikan sebagai penilaian atas produk dan kinerja yang berhubungan dengan pengalaman kehidupan nyata peserta didik. mencoba. Asesmen autentik adakalanya disebut penilaian responsif. berkolaborasi dengan antarsesama melalui debat. Dalam American Librabry Association asesmen autentik didefinisikan sebagai proses evaluasi untuk mengukur kinerja. keterampilan. Akan tetapi. dan penilaian proyek. dan sikap-sikap peserta didik pada aktifitas yang relevan dalam pembelajaran. Secara konseptual asesmen autentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar sekali pun. Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013 Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. B. Wiggins mendefinisikan asesmen autentik sebagai upaya pemberian tugas kepada peserta didik yang mencerminkan prioritas dan tantangan yang ditemukan dalam aktifitas-aktifitas pembelajaran. Kata lain dari asesmen autentik adalah penilaian kinerja. Dalam kehidupan akademik keseharian. guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan. membangun jejaring. pengukuran. mulai dari mereka Matematika – SMA/MA/SMK | 229 . prestasi. motivasi. khususnya jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai. Istilah autentik merupakan sinonim dari asli. merevisi dan membahas artikel. dan sebagainya. menalar. Dalam Newton Public School. Ketika menerapkan asesmen autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik. tidak lazim digunakan. suatu metode yang sangat populer untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik yang miliki ciri-ciri khusus. Untuk mendapatkan pemahaman cukup komprehentif mengenai arti asesmen autentik. Karena.HO-2.3-1 KONSEP PENILAIAN AUTENTIK A. Definsi dan Makna Asesmen Autentik Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap. Asesmen autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual. memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik. asesmen autentik sangat relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran. Karenanya. dan pengetahuan. memberikan analisa oral terhadap peristiwa. valid. menulis. dan nilai prestasi luar sekolah. berikut ini dikemukakan beberapa definisi. nyata. dan lain-lain. frasa pengukuran atau pengujian autentik. seperti meneliti. baik dalam rangka mengobservasi. atau reliabel. atau evaluasi. portofolio.

Asesmen autentik mencoba menggabungkan kegiatan guru mengajar. serta keterampilan belajar. Asesmen Autentik dan Belajar Autentik Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. hingga yang jenius. Karena penilaian itu merupakan bagian dari proses pembelajaran. Dalam asesmen autentik. C. Asesmen autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik. simulasi dan bermain peran. Asesmen autentik dapat dibuat oleh guru sendiri. Asesmen autentik harus mampu menggambarkan sikap. bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya. kajian keilmuan. peserta didik dapat melakukan aktivitas belajar lebih baik ketika mereka tahu bagaimana akan dinilai. kemampuan mengaplikasikan atau menunjukkan perolehan pengetahuan tertentu. dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah. Peserta didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi. peserta didik bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka lakukan. keterampilan. memiliki bakat dan minat khusus. pola penilaian seperti ini tidak diantikan dalam proses pembelajaran. atau guru bekerja sama dengan peserta didik. Asesmen autentik dapat juga diterapkan dalam bidang ilmu tertentu seperti seni atau ilmu pengetahuan pada umumnya. Matematika – SMA/MA/SMK | 230 . menjodohkan. atau membuat jawaban singkat. dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar. dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik. karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek. guru dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remidial harus dilakukan. dengan orientasi utamanya pada proses atau hasil pembelajaran. guru dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja. Asesmen semacam ini cenderung berfokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual bagi peserta didik. Asumsinya. Dalam beberapa kasus.yang mengalami kelainan tertentu. Asesmen autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunkan standar tes berbasis norma. Pada asesmen autentik guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan. benar–salah. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang dilakukan oleh peserta didik dikaitkan dengan realitas di luar sekolah atau kehidupan pada umumnya. motivasi dan keterlibatan peserta didik. memilih kegiatan yang strategis. dan sebagainya. Tentu saja. guru secara tim. karena memang lzim digunakan dan memperoleh legitimasi secara akademik. serta memamerkan dan menampilkan sesuatu. portofolio. kegiatan siswa belajar. yang memungkinkan mereka secara nyata menunjukkan kompetensi atau keterampilan yang dimilikinya. Atas dasar itu. seringkali pelibatan siswa sangat penting. pilihan ganda. Contoh asesmen autentik antara lain keterampilan kerja.

benar/salah. Dalam pembelajaran autentik. 2. Asesmen autentik adalah komponen penting dari reformasi pendidikan sejak tahun 1990an. Peserta didik pun tahu apa yang mereka ingin pelajari.” Peran guru bukan hanya pada proses pembelajaran. menjelaskan. penilaian atas tugas-tugas yang memerlukan keterlibatan yang luas dan kinerja yang kompleks. dan lain-lain telah gagal mengetahui kinerja peserta didik yang sesungguhnya. dan mengasimilasikan pemahaman peserta didik. 1. menjodohkan. keterampilan. dan pengetahuan yang ada. Menjadi kreatif tentang bagaimana proses belajar peserta didik dapat diperluas dengan menimba pengalaman dari dunia di luar tembok sekolah. melihat informasi baru. mensintesis. guru harus memenuhi kriteria tertentu seperti disajikan berikut ini. dan mengevaluasi informasi untuk kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan baru. Wiggins (1993) menegaskan bahwa metode penilaian tradisional untuk mengukur prestasi. memahahi aneka fenomena atau gejala dan hubungannya satu sama lain secara mendalam. asesmen autentik akan bermakna bagi guru untuk menentukan cara-cara terbaik agar semua siswa dapat mencapai hasil akhir. Di sini. menganalisis. Kedua. dan pengetahuan dicapai melalui penyelesaian tugas di mana peserta didik telah memainkan peran aktif dan kreatif. Konstruksi sikap. Mengetahui bagaimana cara membimbing peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan mereka sebelumnya dengan cara mengajukan pertanyaan dan menyediakan sumberdaya memadai bagi peserta didik untuk melakukan akuisisi pengetahuan. analisis proses yang digunakan untuk menghasilkan respon peserta didik atas perolehan sikap. guru harus menjadi “guru autentik. Tes semacam ini telah gagal memperoleh gambaran yang utuh Matematika – SMA/MA/SMK | 231 . guru dan peserta didik memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi. Pertama. menafsirkan. serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia nyata yang luar sekolah. meski dengan satuan waktu yang berbeda. Mengetahui bagaimana menilai kekuatan dan kelemahan peserta didik serta desain pembelajaran.Asesmen autentik mengharuskan pembelajaran yang autentik pula. Sejalan dengan deskripsi di atas. Dengan demikian. dan bertanggungjawab untuk tetap pada tugas. keteampilan. Untuk bisa melaksanakan pembelajaran autentik. Menjadi pengasuh proses pembelajaran. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang diperlukan dalam kenyataannya di luar sekolah. pada pembelajaran autentik. 4. memiliki parameter waktu yang fleksibel. Ketiga. mengorganisasikan. peserta didik diminta mengumpulkan informasi dengan pendekatan saintifik. 3. Keterlibatan peserta didik dalam melaksanakan tugas sangat bermakna bagi perkembangan pribadi mereka. pengukuran langsung keterampilan peserta didik yang berhubungan dengan hasil jangka panjang pendidikan seperti kesuksesan di tempat kerja. seperti tes pilihan ganda. Asesmen Autentik terdiri dari berbagai teknik penilaian. melainkan juga pada penilaian. Asesmen autentik pun mendorong peserta didik mengkonstruksi.

Rubrik penilaian dapat berupa analitik atau holistik. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya. Ketika asesmen tradisional cenderung mereduksi makna kurikulum. Namun demikian. misalnya. motivasi. mahir. seperti menilai kompetisi Olimpiade Sains Nasional. keterampilan. Untuk itu. atau proses. dan sebagainya. kuanitatif. guru harus bertanya pada diri sendiri. dan kemampuan berpikir yang diartikulasikan dalam banyak mata pelajaran atau disiplin ilmu. Dengan menggunakan informasi ini. khususnya berkaitan dengan: (1) sikap. guru dapat memberikan umpan balik terhadap kinerja peserta didik baik dalam bentuk laporan naratif mauun laporan kelas. berkaitan dengan sikap. keterampilan. Analisis kuantitatif dari data asesmen autentik menerapkan rubrik skor atau daftar cek (checklist) untuk menilai tanggapan relatif peserta didik relatif terhadap kriteria dalam kisaran terbatas dari empat atau lebih tingkat kemahiran (misalnya: sangat mahir. misalnya. Data asesmen autentik digunakan untuk berbagai tujuan seperti menentukan kelayakan akuntabilitas implementasi kurikulum dan pembelajaran di kelas tertentu. mengenai keunggulan dan kelemahan. khususnya dalam proses dan aspek-aspek yangg akan dinilai. 1. ketika itu pula asesmen autentik memperoleh traksi yang cukup kuat. (2) fokus penilaian akan dilakukan. dan rendah daya prediksinya terhadap derajat sikap. Jenis-jenis Asesmen Autentik Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik. keberanian berpendapat. keterampilan. Ada beberapa cara berbeda untuk merekam hasil penilaian berbasis kinerja: Matematika – SMA/MA/SMK | 232 . keterampilan. Analisis holistik memberikan skor keseluruhan kinerja peserta didik. tidak mampu menggambarkan kompetensi dasar. Analisis kualitatif dari asesmen otentif berupa narasi atau deskripsi atas capaian hasil belajar peserta didik. Memang. karena tidak menyentuh esensi nyata dari proses dan hasil belajar peserta didik. pendekatan apa pun yang dipakai dalam penilaian tetap tidak luput dari kelemahan dan kelebihan. guru harus memahami secara jelas tujuan yang ingin dicapai. dan pengetahuan peserta didik dikaitkan dengan kehidupan nyata mereka di luar sekolah atau masyarakat. seperti penalaran. sebagian mahir. Asesmen hasil belajar yang tradisional bahkan cenderung mereduksi makna kurikulum. sekolah. memori. Data asesmen autentik dapat dianalisis dengan metode kualitatif. sudah saatnya guru profesional pada semua satuan pendidikan memandu gerakan memadukan potensi peserta didik. Penilaian Kinerja Asesmen autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik. dan pengetahuan apa yang akan dinilai. dan lingkungannya melalui asesmen proses dan hasil belajar yang autentik. dan pengetahuan. maupun kuantitatif. dan tidak mahir). dan (3) tingkat pengetahuan apa yang akan dinilai. D. Beberapa jenis asesmen autentik disajikan berikut ini.mengenai sikap.

peserta didik diminta mengungkapkan curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Penilaian kinerja memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus. pertanyaan langsung. Untuk mengamati kinerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen. Digunakan oleh guru dengan cara mengamati peserta didik ketika melakukan sesuatu. Kelima.a. 1 = kurang sekali. ketepatan dan kelengkapan aspek kinerja yang dinilai. observasi perilaku. dari aspek keterampilan berbicara. khususnya indikator esensial yang akan diamati. Untuk menilai keterampilan berbahasa peserta didik. 2 = kurang. Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang harus muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan. Matematika – SMA/MA/SMK | 233 . Cara seperti tetap ada manfaatnya. Digunakan dengan cara guru menulis laporan narasi tentang apa yang dilakukan oleh masing-masing peserta didik selama melakukan tindakan. d. Misalnya. langkahlangkah kinerja harus dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja yang nyata untuk suatu atau beberapa jenis kompetensi tertentu. guru dapat menentukan seberapa baik peserta didik memenuhi standar yang ditetapkan. Guru menggunakan informasi dari memorinya untuk menentukan apakah peserta didik sudah berhasil atau belum. Skala penilaian (rating scale). kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan oleh peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. Keempat. namun tidak cukup dianjurkan. Memori atau ingatan (memory approach). Biasanya digunakan dengan menggunakan skala numerik berikut predikatnya. misalnya. Penilaian diri merupakan suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status. Pertama. Penilaian-diri (self assessment) termasuk dalam rumpun penilaian kinerja. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif. Daftar cek (checklist). Kedua. Dari sini akan diperoleh keutuhan mengenai keterampilan berbicara dimaksud. Misalnya: 5 = baik sekali. seperti penilaian sikap. Ketiga. urutan dari kemampuan atau keerampilan peserta didik yang akan diamati. dengan tanpa membuat catatan. 4 = baik. guru dapat mengobservasinya pada konteks yang. proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. fokus utama dari kinerja yang akan dinilai. c. seperti berpidato. Dari laporan tersebut. 3 = cukup. atau pertanyaan pribadi. berdiskusi. b. bercerita. afektif dan psikomotor. Pengamatan atas kinerja peserta didik perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records).  Penilaian ranah sikap. dan wawancara.

peserta didik diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya oleh dirinya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Penilaian Proyek Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. pengumpulan data. Penilaian proyek dapat menggunakan instrumen daftar cek. dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik. mengaplikasikan. keterampilan. penyelidikan. mendorong. skala penilaian. pengorganisasian. Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan untuk menilai kualitas dan bentuk hasil akhir secara holistik dan analitik. peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. mencari dan mengumpulkan data. a. peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan. pada setiap penilaian proyek. dan penyajian data. peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan sikap. dan produk proyek. keterampilan. hasil karya Matematika – SMA/MA/SMK | 234 . Teknik penilaian-diri bermanfaat memiliki beberapa manfaat positif. pengerjaan. Ketiga. Dengan demikian. mengolah dan menganalisis. atau narasi. dan penyiapkan laporan. Pertama. Penilaian produk dimaksud meliputi penilaian atas kemampuan peserta didik menghasilkan produk. penilaian proyek bersentuhan dengan aspek pemahaman. analisis data. Selama mengerjakan sebuah proyek pembelajaran. Penilaian proyek berfokus pada perencanaan. Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan penilaian khusus. dan lain-lain. Penilaian ranah pengetahuan. setidaknya ada tiga hal yang memerlukan perhatian khusus dari guru. Penilaian ranah keterampilan. dan pengetahuannya.  2. dan menulis laporan. seperti makanan. Keempat. menumbuhkan semangat untuk maju secara personal. pengumpulan data. Misalnya. analisis. pengolahan. Kedua. pakaian. dan melatih peserta didik berperilaku jujur. b. mulai dari perencanaan. menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. c. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik. Dalam kaitan ini serial kegiatan yang harus dilakukan oleh guru meliputi penyusunan rancangan dan instrumen penilaian. Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau tertulis. Keterampilan peserta didik dalam memilih topik. memberi makna atas informasi yang diperoleh. Karena itu. Orijinalitas atas keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik. Misalnya. Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap. membiasakan.

guru dan/atau peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan pembelajaran. karet. a. Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio. c. hasil karya mereka dalam menyusun atau membuat karangan. kertas. sinopsis. patung. dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi. foto. Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu. atau informasi lain yang releban dengan sikap. gambar. lukisan. komposisi musik. resensi buku/ literatur. g. plastik. hasil tes (bukan nilai). Penilaian Portofolio Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. 3. barang-barang terbuat dari kayu. Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini. meski dapat juga oleh peserta didik sendiri. dan lain-lain. surat. dan karya logam. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik. Matematika – SMA/MA/SMK | 235 . keramik. Atas dasar penilaian itu. b. Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai. Penilaian terutama dilakukan oleh guru. laporan penelitian. Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio. Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat. Misalnya. Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Memalui penilaian portofolio guru akan mengetahui perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik. dan pengetahuan yang dituntut oleh topik atau mata pelajaran tertentu. f. memerlukan refleksi peserta didik. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok. baik sendiri maupun kelompok. Penilaian secara analitik merujuk pada semua kriteria yang harus dipenuhi untuk menghasilkan produk tertentu.Fokus penilaian portofolio adalah kumpulan karya peserta didik secara individu atau kelompok pada satu periode pembelajaran tertentu. disertai catatan tanggal pengumpulannya. Jika memungkinkan. d. lukisan. guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan. dan lain-lain). puisi.seni (gambar. e. kulit. keterampilan. Penilaian secara holistik merujuk pada apresiasi atau kesan secara keseluruhan atas produk yang dihasilkan. Peserta didik. mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran.

Teaching Exceptional Children. Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat.. Memilih jawaban terdiri dari pilihan ganda. Tahapan Pengembangan dan Contoh. jawaban singkat atau pendek. menjodohkan. penilaian tertulis atas hasil pembelajaran tetap lazim dilakukan. Asesmen Berkelanjutan: Konsep dasar. Penilaian Tertulis Meski konsepsi asesmen autentik muncul dari ketidakpuasan terhadap tes tertulis yang lazim dilaksanakan pada era sebelumnya. Pada tes tertulis berbentuk esai. asalkan analisisnya benar..4. memahami. 2005. 63–67. Performance assessment and children with disabilities: Issues and possibilities. & Malouf. (1999). dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari. 6(2). Matematika – SMA/MA/SMK | 236 . Tes tersulis berbentuk esai biasanya menuntut dua jenis pola jawaban. Cumming. mensintesis. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehentif. mengevaluasi. peserta didik tertentu melihat fenomena kemiskinan dari sisi pandang kebiasaan malas bekerja. menerapkan. J. Masing-masing sisi pandang ini akan melahirkan jawaban berbeda. dan pengetahuan peserta didik. D. Hal ini sangat tergantung pada bobot soal yang diberikan oleh guru. S. yaitu jawaban terbuka (extendedresponse) atau jawaban terbatas (restricted-response). 25(4). namun tetap terbuka memiliki kebenarann yang sama. Assessment in Education. sehingga mampu menggambarkan ranah sikap. Muslimin. Misalnya. Contextualizing Authentic Assessment. menganalisis. pilihan benar-salah. Memilih jawaban dan mensuplai jawaban. Daftar Pustaka Ibrahim. peserta didik berkesempatan memberikan jawabannya sendiri yang berbeda dengan teman-temannya. Surabaya: UNESA University Press Anggota IKAPI Coutinho. Mensuplai jawaban terdiri dari isian atau melengkapi. dan sebab-akibat. namun tetap terbuka memperoleh nilai yang sama. 177–194. & Maxwell. rendahnya keterampilan. Tes semacam ini memberi kesempatan pada guru untuk dapat mengukur hasil belajar peserta didik pada tingkatan yang lebih tinggi atau kompleks. Tes tertulis terdiri dari memilih atau mensuplai jawaban dan uraian. (1993). atau kelangkaan sumberdaya alam. keterampilan. dan uraian. M. mengorganisasikan. J. G. ya-tidak.

. Action in Teacher Education. Matematika – SMA/MA/SMK | 237 . 45–51. Grisham-Brown. R. R. 34(1). Nyoman. J. context and validity. New York: Houghton Mifflin. Hallam. G.Dantes. L. Early Childhood Education Journal. & Ysseldyke. Phi Delta Kappan. (1993).. S. 200 – 214. Using authentic assessment to evidence children's progress toward early learning standards. & Brookshire. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha Gatlin. 75(3). 23(4). J. (2004). (2002). E. 2008. J. Salvia.. Standards-based digital portfolios: A component of authentic assessment for preservice teachers.). 28–34. Hakikat Asesmen Otentik Sebagai Penilaian Proses Dan Produk Dalam Pembelajaran Yang Berbasis Kompetensi (Makalah disampaikan pada In House Training (IHT) SMA N 1 Kuta Utara). Wiggins. & Jacob. Assessment in special and inclusive education (9th ed. Assessment: Authenticity.. (2006).

kelima prinsip tersebut adalah sebagai berikut: (i). menengah dan tinggi. (iii). akan tetapi maknanya sering disalahartikan dalam proses belajar mengajar. tetapi pendekatan yang digunakan lebih bersifat negatif. Pengantar Dalam proses pembelajaran. Asesmen seringkali dipandang sebagai produk akhir dari suatu proses pembelajaran yang tujuan utamanya untuk memberikan penilaian bagi masing-masing siswa. maka siswa akan kehilangan rasa percaya diri. karena tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan yang sudah mereka miliki. penilaian (asesmen) merupakan bagian yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari kegiatan pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan pengalaman asesmen sering diartiakan sebagai upaya untuk mengungkap aspek-aspek yang belum diketahui siswa. Prinsip kedua: Metode asesmen harus dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa mampu mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui bukan mengungkap apa yang tidak diketahui. yaitu: rendah.HO-2. melainkan harus mencakup ketiga tingkatan asesmen. Jika pendekatan negatif yang cenderung digunakan. Dengan demikian alat asesmen yang digunakan tentunya tidak hanya mencakup tingkatan tertentu saja. Jadi penilaian bukan sekedar untuk menentukan rangking atau skor siswa yang pada akhirnya justru dapat menjadi penghalang bagi peningkatan kualitas belajar. Sejatinya tujuan penilaian adalah untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas belajar siswa. Matematika – SMA/MA/SMK | 238 . Karena kemampuan berpikir tingkat tinggi lebih sulit untuk diases. (ii). Tambahan lagi bahwa penilaian bukan akhir dari pembelajaran tapi yang paling utama adalah balikan dari proses belajar yang telah berlangsung. Walaupun ide ini bukan hal yang baru. Prinsip ketiga: Asesmen harus bersifat operasional untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Makna yang sebenarnya dari asesmen tidak hanya menyangkut penyedian informasi tentang hasil belajar dalam bentuk nilai. maka seperangkat alat asesmen harus mencakup berbagai variasi yang bisa secara efektif mengungkap kemampuan yang dimiliki siswa. Menurut de Lange (dalam Tatang Herman) terdapat lima prinsip utama yang melandasi asesmen dalam pembelajaran. Prinsip pertama: Asesmen harus ditujukan untuk meningkatkan kualitas belajar dan pengajaran. akan tetapi yang terpenting adalah adanya balikan tentang proses belajar yang telah terjadi. Walaupun hal ini tidak sepenuhnya salah.3-2 CONTOH PENERAPAN PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA A.

pengalaman menunjukkan bahwa tugas-tugas yang ada didalamnya memiliki banyak keunggulan. Selain itu guru dimungkinkan untuk melihat secara mendalam proses berpikir yang digunakan siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan. proses dan keluaran (output) pembelajaran b. penilaian adalah proses pengumpulan berbagai informasi yang dapat memberikan gambaran sebenarnya tentang perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa ini perlu diketahui oleh guru agar bisa menentukan tindakan selanjutnya disamping memastikan bahwa siswa telah mengalami pembelajaran dengan benar. akuntabel dan edukatif.66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan disebutkan bahwa penilaian hasil peserta didik didasarkan prinsip objektif. Sehingga penilaian tidak hanya dilakukan di akhir periode pembelajaran tetapi dilakukan bersama (simultan) dan merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam pembelajaran. diantaranya adalah a. Terkait dengan konsep penilaian autentik. Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input). Akibat dari penerapan pandangan ini adalah bahwa suatu alat asesmen hanya terdiri atas sejumlah soal dengan tingkatan rendah yang memudahkan dalam melakukan penskoran. Artinya. terpadu. transparan. Penilaian autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap. guru segara bisa mengambil langkah yang tepat. dan pengetahuan Matematika – SMA/MA/SMK | 239 .(iv). Dengan demikian konstruksi tes dapat disusun dengan format yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan serta pencapaian tujuan yang ingin diungkap. Umumnya pemberian skor secara objektif bagi setiap siswa menjadi faktor yang sangat dominan manakala dilakukan asesmen terhadap kualitas suatu tes. Prinsip kelima: Alat asesmen hendaknya bersifat praktis. Salah satu keunggulannya siswa memiliki kebebasan untuk mengekspresikan ide-idenya sehingga jawaban yang diberikan mereka biasanya sangat bervariasi. Walaupun untuk menyusun alat asesmen dengan tingkatan tinggi lebih sulit. jika ada tanda-tanda siswa mengalami kemacetan dalam belajar. Konsep ini sesungguhnya mempunya core bahwa kemajuan belajar itu diperlukan selama proses pembelajaran. (v). keterampilan. ekonomis. Prinsip keempat: Kualitas alat asesmen tidak ditentukan oleh mudahnya pemberian skor secara objektif. Kaitannya dengan pengertian ada beberapa definisi mengenai penilaian autentik. Sementara itu dalam Permendikbud No.

perekaman dan pendokumentasian karya (apa yang dilakukan anak dan bagaimana hal itu dilakukan) sebagai dasar penentuan keputusan yang dapat menuju pada pembentukan anak sebagai individual learner (pembelajar mandiri). Penilaian autentik merupakan proses pengamatan. d. Penilaian autentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan.c. Dari berbagai pendefinisian diatas ada satu benang merah yang mengaitkan ketiganya yaitu penilaian yang mengutamakan perolehan fakta aktual (pada saat itu) tentang pengetahuan. dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pembelajaran. Penilaian autentik adalah penilaian yang dilakukan menggunakan beragam sumber. keterampilan dan sikap dengan berbagai cara. pada saat/setelah kegiatan pembelajaran berlangsung. e. membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai. Dibawah ini adalah gambaran penilaian autentik dibanding penilaian tradisional Penilaian autentik komprehensif Penilaian tradisional Matematika – SMA/MA/SMK | 240 .

B. SISWA 1 SISWA 2 Jelas bahwa siswa 1 tidak memahami cara menyelesaikan persamaan linear karena dia hanya menerapkan prin ip “a al ama dicoret” ementara siswa 2 amat paham proses penyelesaian per amaan linear. Kemudian diberikan soal/instrumen untuk menilai sebagai berikut. dimana kedua siswa terjaring (oleh penilaian tradisional) sebagai berkemampuan sama padahal sejatinya sangat berbeda. Dari contoh ter ebut terlihat sangat nyata kelemahan penilaian dengan instrumen pilihan ganda seperti di atas yang tidak melihat proses pengerjaan. kita ingin mengetahui kompetensi siswa dalam belajar (memahami) solusi persamaan linear. penilaian tradisional yang selama ini kita terapkan tidak akan menggambarkan kompetensi atau kualitas belajar siswa. Terlihat adanya upaya ‘i ola i’ variabel di rua kiri. namun sebenarnya mereka mengerjakan dengan cara yang sangat berbeda. Matematika – SMA/MA/SMK | 241 . Penilaian autentik dalam matematika Seperti penjelasan terdahulu. Sebagai contoh. Ternyata ada dua siswa yang memilih jawaban yang benar (Jawaban: E).

(2) keterampilan matematika.Aspek penilaian autentik Semangat kurikulum sekarang mengamanatkan bahwa kompetensi harus meliputi tiga ranah. Penilaian kompetensi sikap Teknik  Observasi  Penilaian diri  Penilaian antar peserta didik  Jurnal b. pengetahuan. jawab singkat. Daftar pertanyaan pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas c. menjodohkan. (3) kemampuan pemecahan masalah dan (4) sikap matematis Teknik dan instrumen dalam penilaian autentik Berbagai macam cara untuk memperoleh informasi kemampuan atau kualitas belajar siswa dalam rangka penilaian autentik. sikap dan keterampilan dari semua bidang. yaitu pengetahuan. dan uraian. dan keterampilan sebagai berikut. disertai rubric Instrumen Daftar cek/skala penilaian (rating scale) yang Matematika – SMA/MA/SMK | 242 . isian. penilaian kompetensi pengetahuan  Tes lisan  Penugasan  tes tulis Soal pilihan ganda. Secara khusus aspek yang akan dimunculkan dalam untuk mengetahui kualitas belajar matematika adalah (1) pemahaman konsep matematika. Aspek a. benarsalah. Teknik dan instrumen yang digunakan untuk penilaian kompetensi sikap. penilaian kompetensi ketrampilan  praktik  proyek  praktik Daftar cek/skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran. Oleh karena itu perlu adanya jabaran mengenai aspek penilaian autentik dalam matematika.

Tugas dapat dapat dikaitkan dengan fenomena lingkungan atau bisa juga murni mengenai konsep yang ada di matematika. karena untuk menentukan nilai dia melakukan pengerjaan: Alfa Trigono Gamma . Tugas Gambaran mengenai perkembangan kualitas belajar matematika dapat dilihat dari tugas yang diselesaikan. 3. namun dengan dipersiapkan secara nyata akan lebih membantu dalam melakukan pengamatan. Contoh dari hasil pengamatan kelas didapatkan Nama Siswa Jabar Hasil Pengamatan Jabar tidak begitu menanggapi jika ditanya teman sebangkunya Alfa tidak memahami pencoretan dalam persamaan. Tanya jawab Wujud dari tanya jawab ini boleh saja berupa kegiatan presentasi oleh siswa atau tanya jawab secara personal.. Pengamatan langsung (observasi) Sesungguhnya pengamatan langsung ini sering kita lakukan dalam kegiatan pembelajaran. 2. walaupun sekedar menyiapkan catatan.Berikut ini contoh penilaian autentik: 1.. Oleh karena penilaiannya setelah Matematika – SMA/MA/SMK | 243 . dst Trigono sering keliru dalam mengalikan dan menjumlah kan pecahan Gamma berpikirnya divergen dan sangat terampil dalam menggunakan jangka.

Pada kenyataannya. Sayangnya tes seperti biasanya berujung pada penyekoran. Portofolio merupakan sumber data yang sangat baik bagi guru. dan sebagainya. Penilaian autentik hakekatnya adalah menggali informasi sebenarnya Matematika – SMA/MA/SMK | 244 . Di dalamnya bisa termasuk tugas. hasil tes. laporan. Misalnya siswa diminta mengukur tinggi tiang bendera dengan menggunakan identiitas trigonometri.tugas diselesaikan maka akan sangat bagus jika dikombinasikan dengan teknik lainnya misalnya dengan wawancara. sehingga cenderung mangabaikan proses. 4. Tes Sesuai dengan penjelasan sebelumnya. Penilaian haruslah tertuju pada peningkatan kualitas belajar siswa dan kualitas pembelajaran. Pragmatis penyekoran sering sebagai pertimbangan. model pilihan ganda yang paling banyak digunakan. Oleh karena itu setiap portofolio harus diberi catatan tanggal penyusunannya Untuk menjamin penilaian benar-benar faktual maka perlu adanya kombinasi dari berbagai teknik di atas C. Selain itu portofolio dapat digunakan oleh siswa untuk melihat perkembangan yang terjadi terhadap dirinya dalam kurun waktu tertentu. Penutup Kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari proses pembelajaran adalah penilaian. 5. tes dilakukan setelah proses pembelajaran atau kegiatan selesai. Untuk memberikan ruang bagi penilaian autentik maka pilihan ganda perlu ditambah dengan cara pengerjaan. Portofolio Bahasa sederhana dari potofolio adalah kumpulan pekerjaan yang telah dilakukan oleh siswa. catatan guru.

Jakarta Sudarwan. Jurusan Pendidikan Matematika http://www.com/rdg/res/litass/auth.ntu. Jakarta Tatang Herman. Referensi Kemdikbud.eduplace. (2013)..html diakses 17 Februari 2013 http://www. (2013). Tetapi perlu dicatat bahwa penilaian autentik bukan refleksi dari kemampuan yang telah dimiliki melainkan refleksi terhadap kemampuan yang dapat dikembangkan.tentang kemampuan siswa dalam belajar. . Asesmen dalam Pembelajaran Matematika. Makalah pada Workshop Kurikulum.edu. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2013 Tentang Standar Penilaian Pendidikan.vn diakses 17 Februari 2013 Matematika – SMA/MA/SMK | 245 . Prof.(_____). Asesmen Otentik.

Materi Pelatihan : 2. dan kedalaman materi.4 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.4-1 dan LK -2. Diskusi Kelompok Diskusi kelompok hasil penilaian buku dilanjutkan dengan pemaparan materi Analisis Buku Guru dan Buku Siswa dengan menggunakan PPT-2. kecukupan. Kerja Kelompok Kerja kelompok menganalisis kesesuaian buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL.4-2. Simpulan Menyimpulkan hasil diskusi dan menyampaikan format lembar kerja yang telah disiapkan. Matematika – SMA/MA/SMK | 246 . KI.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Langkah Kegiatan Inti Menilai Buku Diskusi Kelompok Menyimpulkan Hasil Kerja Kelompok 20 Menit 80 Menit 20 Menit 40 Menit Menyimpulkan Presentasi Kerja Kelompok Diskusi Kelompok 15 Menit 30 Menit 30 Menit 30 Menit Menilai Buku Peserta menilai buku dengan bimbingan fasilitator dilihat dari aspek kesesuaian. dan KD dengan menggunakan LK-2.

Simpulan Fasilitatormenyimpulkan materi analisis buku. pendekatan belajar. Presentasi Presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Matematika – SMA/MA/SMK | 247 . Kerja Kelompok Kerja kelompokmembuat contoh-contoh penerapan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari.Diskusi Kelompok Diskusi kelompok untuk menganalisis kesesuaian proses. serta strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam buku.

Matematika – SMA/MA/SMK | 248 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 249 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 250 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 251 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 252 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 253 .

b. KI dan KD sesuai jenjang pendidikan dan mata pelajaran! 4. Jika kurang/tidak sesuai. Menganalisis keterpaduan antar mata pelajaran atau antar konsep/topik. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. 3. Matematika – SMA/MA/SMK | 254 . Jika sesuai dengan kebutuhan. Cermatilah buku siswa yang sesuai dengan materi ajar yang Anda ampu! 5.LK–2. buku bisa digunakan dalam pembelajaran. Merencanakan tindak lanjut dari hasil analisis . Pelajari format Analisis Buku Sswa! 3. Kerjakanlah secara berkelompok! 2. KI dan KD. 2. tuliskan tindak lanjut hasil analisis sebagai berikut! a. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan konsep pendekatan scientificdan penialain autentik.4-1 LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU PETUNJUK PENGISIAN LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU Kompetensi 1. Tujuan 1. 4. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Lakukanlah analisis terhadap buku tersebut dengan menggunakan format yang tersedia! 6. Anda disarankan untuk memberikan rekomendasi tindak lanjut yang harus dikerjakan guru sebagai pengguna buku guru tersebut. Panduan Kegiatan 1. KI. Menganalisis kesesuaian isi buku siswa dengan SKL. dan KD. 3. Siapkan SKL. Berdasarkan hasil analisis. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. 2.

dan b............................ : ...LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU GURU Judul buku Kelas Jenjang Tema/Topik : ................ Karakteristik siswa 7........................................................................................ 6.................... 2....... 5.... : ...................... Pola pikir keilmuan.................................. 3..... 4................... ASPEK YANG DIANALISIS Kesesuaian dengan SKL Kesesuaian dengan KI Kesesuaian dengan KD Kesesuaian dengan Topik Kecukupan materi ditinjau dari: a............ Matematika – SMA/MA/SMK | 255 .......... dan b................ cakupan konsep/materi esensial................... HASIL ANALISIS NO. Kedalaman materi ditinjau dari: a.............. alokasi waktu.............. 1...................................... Penerapan Pendekatan Scientific Penilaian Autentik yang Tersedia dalam Buku Siswa TIDAK SESUAI SESUAI SEBAGIAN SESUAI TINDAK LANJUT HASIL ANALISIS 8................................ : ...............

Anda disarankan untuk memberikan rekomendasi tindak lanjut yang harus dikerjakan guru sebagai pengguna buku guru tersebut.LK–2. Pelajari format Analisis Buku Sswa! 3. Berdasarkan hasil analisis. Menganalisis keterpaduan antar mata pelajaran atau antar konsep/topik. Kerjakanlah secara berkelompok! 2. KI. Matematika – SMA/MA/SMK | 256 . Menganalisis kesesuaian isi buku dengan konsep pendekatan scientificdan penialain autentik. b. KI dan KD. dan KD. tuliskan tindak lanjut hasil analisis sebagai berikut! a. 2.4-2 LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA PETUNJUK PENGISIAN LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA Kompetensi 1. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL. Tujuan 1. Merencanakan tindak lanjut dari hasil analisis . 3. Jika kurang/tidak sesuai. Jika sesuai dengan kebutuhan. 4. buku bisa digunakan dalam pembelajaran. 3. Cermatilah buku siswa yang sesuai dengan materi ajar yang Anda ampu! 5. 2. Menganalisis kesesuaian isi buku siswa dengan SKL. Panduan Kegiatan 1. Siapkan SKL. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan pembelajaran. Lakukanlah analisis terhadap buku tersebut dengan menggunakan format yang tersedia! 6. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan kedalaman materi. KI dan KD sesuai jenjang pendidikan dan mata pelajaran! 4.

......................... Penerapan Pendekatan Scientific Penilaian Autentik yang Tersedia dalam Buku Siswa TIDAK SESUAI SESUAI SEBAGIAN SESUAI TINDAK LANJUT HASIL ANALISIS 8............. Karakteristik siswa 7.. alokasi waktu................... : ...... : .... : ........... ASPEK YANG DIANALISIS Kesesuaian dengan SKL Kesesuaian dengan KI Kesesuaian dengan KD Kesesuaian dengan Topik Kecukupan materi ditinjau dari: c...................... dan d........................................LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU SISWA Judul buku Kelas Jenjang Tema/Topik : ....... 2.......................... Kedalaman materi ditinjau dari: c......................... 1............................ 6........... 5.................. cakupan konsep/materi esensial.............................. 3............................ dan d............ 4....................... Matematika – SMA/MA/SMK | 257 ............................................. Pola pikir keilmuan. HASIL ANALISIS NO.....................

tindak lanjut logis dan bisa dilaksanakan Hasil analisis tepat. Setelah selesai penilaian masing-masing komponen. Berikan nilai pada setiap aspek yang dianalisis sesuai dengan penilaian Anda terhadap hasil analisis peserta menggunakan rentang nilai sebagai berikut! PERINGKAT Amat Baik ( AB) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 < A ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 80 < 70 KRITERIA Hasil analisis tepat. Cermati format penilaian analisis buku guru atau buku siswa serta hasil analisis peserta yang akan dinilai! 2. Matematika – SMA/MA/SMK | 258 . Langkah-langkah penilaian hasil analisis. tindak lanjut logis Hasil analisis kurang tepat.4 RUBRIK PENILAIAN HASIL ANALISIS BUKU GURU DAN SISWA Rubrik penilaian analisis buku guru dan buku siswa digunakan fasilitator untuk menilai hasil analisis peserta terhadap buku guru dan buku siswa sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. tindak lanjut tidak logis 3. 1.R–2. jumlahkan nilai seluruh komponen sehingga menghasilkan nilai hasil analisis buku guru/siswa. tindak lanjut kurang logis Hasil analisis kurang tepat.

Penyusunan RPP 3. Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Matematika – SMA/MA/SMK | 259 .1.2.MATERI PELATIHAN 3 : MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN (8 JP) 3.

2. C. 7. Bahan Tayang a.MATERI PELATIHAN 3: MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN A. Menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran. 3. Menunjukkan sikap tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP. B. PERANGKAT PELATIHAN 1. c. Penyusunan RPP. menyusun RPP yang menerapkan pendekatan scientific sesuai model belajar yang relevan dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. Mengidentifikasi rambu-rambu penyusunan RPP. maupun intelektual. KI dan KD. 2. dan pendekatan scientific. 6. 2. Standar Proses. kultural. Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun. INDIKATOR 1. dan merancang penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. 8. Lembar KerjaTelaah RPP ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 260 . Menelaah rancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar yang ada dalam RPP. 3.1 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. LINGKUP MATERI 1. Mengidentifikasi kaidah perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar. Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar. 2. b. sosial. Rambu-rambu Penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3. 4. Panduan tugas telaah RPP. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. Menelaah RPP. Panduan tugas menelaah rancangan penilaian pada RPP. 5. Menunjukkan sikap tanggung dan kreatif dalam menyusun rancangan penilaian autentik. moral. emosional. D. 9.

indikator. WAKTU KEGIATAN PENDAHULUAN 15 Menit KEGIATAN INTI 3.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 3. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran. Active Speaker. seperti LCD Projector. teliti.1. Standar Proses.1 dan Panduan Tugas Telaah RPP dengan menggunakan PPT-3. File. alokasi waktu. dan KD. KI. antusias. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. dilanjutkan dengan paparan materi tentang Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3. 205 Menit 15 menit 10 Menit 40 Menit 80 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 261 . Kerja kelompok untuk menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. kompetensi. dan pendekatan scientific (terutama KD di awal semester 1). Laptop.1 Penyusunan RPP Saling menilai RPP yang dibawa setiap peserta.2 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN 8 JP (@45 MENIT) SMA/MA. dan Laser Pointer. tujuan. Pengkondisian Peserta Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. Fasilitator memotivasi peserta agar serius.1. Menyimpulkan hasil penilaian RPP dengan dipandu oleh fasilitator. atau media pembelajaran lainnya. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. Diskusi rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan pendekatan scientific.

2/3. Kerja kelompok untuk menelaah dan merevisi rancangan penilaian autentik pada RPP yang telah disusun berdasarkan panduan tugas menelaah rancangan penilaian Presentasi hasil kerja kelompok (sampel) ICE BREAKER KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran. ICE BREAKER 3. Kerja Kelompok untuk menelaah RPP yang disusun kelompok lain dengan menggunakan LK-3. Kerja kelompok untuk menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran Matematika menggunakan HO-2. Fasilitator menutup pembelajaran 20 Menit 35 menit 5 Menit 120 Menit 40 Menit 30 Menit 60 Menit 10 Menit 5 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 262 . Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.2.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.2.2 serta Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP yang tealh dibuat dengan menggunakan PPT-3. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. dilanjutkan dengan pemaparan oleh fasilitator tentang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Matematika menggunakan PPT 2.2.1.2/3.Diskusi format telaah RPP dengan mengacu pada bahan tayang PPT-3.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Diskusi dan tanya jawab tentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes termasuk portofolio.1/3.

Materi Pelatihan 3. b. Matematika – SMA/MA/SMK | 263 . Setiap peserta diwajibkan membawa dua set RPP yang telah digunakan dalam proses pembelajaran sesuai mata pelajaran yang diampu. Peserta menyimpulkan hasil penilaian RPP dengan dipandu oleh Instruktur. Hasil penilaian dituliskan langsung pada halaman depan RPP. Diskusi rambu-rambu penyusunan RPP yang mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan Scientific. RPP tersebut dikumpulkan kepada panitia untuk kemudian dibagikan kembali ke peserta untuk dinilai oleh peserta lainnya dengan menggunakan acuan pengetahuan masing-masing peserta. c. Hasil penilaian dipresentasikan oleh peserta yang ditunjuk instruktur. Peserta lainnya menyampaikan hasil penilaian yang tidak sama dengan peserta lainnya.1: Penyusunan RPP Langkah Kegiatan Inti Tugas Individu: Saling Menilai RPP Menyimpulkan Hasil Penilaian RPP Diskusi 15 Menit 10 Menit 40 Menit Kerja Kelompok Diskusi Kerja Kelompok 35 Menit 20 Menit 80 Menit Aktivitas 1: Menilai RPP Menilai RPP Peserta Lain a. Instruktur mencatat hasil penilaian yang dilaporkan peserta.

1.Paparan materi tentang Rambu-rambu Penyusunan RPP mengacu pada Standar Proses dan Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3. dan pendekatan scientific (terutama KD di awal semester 1).1 oleh fasilitator yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.2.1/3. KI. Standar Proses. Diskusi format telaah RPPdengan mengacu pada bahan tayang PPT-3. Aktivitas 3: Kerja Kelompok Kerja Kelompok untuk menelaah RPP yang disusun kelompok lain dengan menggunakan LK-3. dan KD. Aktivitas 2: Kerja Kelompok Kerja kelompok untuk menyusun RPP yang sesuai dengan SKL. Matematika – SMA/MA/SMK | 264 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 265 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 266

Matematika – SMA/MA/SMK | 267

Matematika – SMA/MA/SMK | 268

HO-3.1-2

CONTOH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Satuan Pendidikan Kelas/Semester Mata Pelajaran Topik Waktu : SMA : X/2 : Matematika-Wajib : Trigonometri : 2 × 45 menit

A. Kompetensi Inti SMA kelas X: 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia 3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. B. Kompetensi Dasar 2.1 Menunjukkan sikap senang, percaya diri, motivasi internal, sikap kritis, bekerjasama, jujur dan percaya diri dalam menyelesaikan berbagai permasalahan nyata. 2.2 Memiliki sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif 3.17Memahami dan menentukan hubungan perbandingan Trigonometri dari sudut di setiap kuadran, memilih dan menerapkan dalam penyelesaian masalah nyata dan matematika 4.7 Memanfaatkan informasi dari suatu permasalahan nyata, membuat model berupa fungsi dan persamaan Trigonometri serta menggunakannya dalam menyelesaikan masalah. C. Indikator Pencapaian Kompetensi 1. Terlibat aktif dalam pembelajaran trigonometri. 2. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok. 3. Toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
Matematika – SMA/MA/SMK | 269

4. Menjelaskan kembali pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis, ordinat, dan jari-jari pada sumbu koordinat. 5. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I. 6. Terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. D. Tujuan Pembelajaran Dengan kegiatan diskusi dan pembelajaran kelompok dalam pembelajaran trigonometri inii diharapkan siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan bertanggungjawab dalam menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, memberi saran dan kritik, serta dapat 1. Menjelaskan kembali pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis, ordinat, dan jari-jari pada sumbu koordinat kartesius secara tepat, sistematis, dan menggunakan simbol yang benar. 2. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I secara tepat dan kreatif. E. Materi Matematika 1. Mengingat kembali mengenai perbandingan trigonometri, fungsi trigonometri, besar sudut (tumpul dan refleks), dan koordinat kartesian. Dengan domain { : 0o    90o}, fungsi trigonometri didefinisikan lewat perbandingan trigonometri, sbb. sin  = (panjang sisi di depan sudut ) / panjang hipotenusa cos  = (panjang sisi di samping sudut ) / panjang hipotenusa tan  = (panjang sisi di depan sudut ) / (panjang sisi di samping sudut ) sec  = 1/cos  csc  = 1/sin  cot  = 1/tan  Sudut telah didefinisikan sebagai bangun geometri yang dibentuk oleh dua sinar bertitik pangkal sama. Dengan definisi tsb, dikenal beberapa macam sudut berdasarkan besarnya, sbb. sudut nol :  = 0o sudut lancip : 0o    90o sudut siku-siku: :  = 90o sudut tumpul : 90o    180o sudut lurus :  = 180o sudut refleks : 180o    360o

Matematika – SMA/MA/SMK | 270

Bidang datar berdasarkan sistem koordinat kartesian terbagi ke dalam 4 region/daerah: kuadran I, kuadran II, kuadran III, dan kuadran IV. Kuadran I Kuadran II Kuadran III Kuadran IV : : : : absis dan ordinat positif absis negatif, ordinat positif absis dan ordinat negatif absis positif, ordinat negatif
II III I IV

2. Perluasan definisi fungsi trigonometri dari perbandingan sisi-sisi segitiga siku-siku menjadi perbandingan absis, ordinat dan jari-jari. Beberapa pertanyaan penggugah:  Apakah perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku, dapat mendefinisikan fungsi trigonometri untuk sudut 90o?  Apakah perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku, juga dapat mendefinisikan fungsi trigonometri untuk sudut di atas 90o, misalnya kosinus dari 120o?  Dapatkah kita memperluas definisi fungsi trigonometri menggunakan cara lain (yang tidak bertentangan dengan definisi perbandingan trigonomeri pada segitiga siku-siku)? Jika titik sudut ditempatkan pada titik pusat sumbu koordinat kartesian dan salah satu kaki sudut berimpit dengan sumbu x positif, serta daerah interior sudut terletak pada kuadran I maka posisi yang demikian disebut posisi standar (baku) sudut tsb. Pada posisi standar maka perbandingan sisi-sisi pada segitiga siku-siku dapat diganti menjadi perbandingan absis, ordinat dan jari-jari. panjang sisi di depan sudut diganti menjadi ordinat panjang sisi di samping sudut diganti menjadi absis hipotenusa segitiga siku-siku diganti menjadi jari-jari Jadi, sin  = ordinat / jari-jari cos  = absis / jari-jari tan  = ordinat / absis c

b a

P(x,y) r

O
Matematika – SMA/MA/SMK | 271

b c a cos  = c b tan  = a

sin  =

y r x cos  = r y tan  = x

sin  =

3. Hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, dan IV dengan nilai fungsi trigonometri di kuadran I. Jika pada posisi standar, salah satu kaki sudut berada di kuadran II maka sudut tsb kita namakan sudut di kuadran II. Pengertian yang sama untuk konsep sudut di kuadran II, dan sudut di kuadran IV.

Berdasarkan definisi fungsi trigonometri berdasarkan absis, ordinat dan jari-jari maka nilai fungsi trigonometri untuk sudut-sudut di kuadran II, II, dan IV sebagai berikut. Misalkan 0o    90o maka Kuadran II (sudut (180o   ) atau (90o +  ) di kuadran II) sin (180o   ) = sin  atau sin (90o +  ) = cos  cos (180o   ) = cos  atau cos (90o +  ) = sin  tan (180o   ) = tan  atau tan (90o +  ) = cot  Kuadran III (sudut (180o +  ) atau (270o   ) di kuadran III) sin (180o +  ) = sin  atau sin (270o   ) = cos  cos (180o +  ) = cos  atau cos (270o   ) = sin  tan (180o +  ) = tan  atau tan (270o   ) = cot  Kuadran IV (sudut (360o   ) di kuadran IV) sin (360o   ) = sin  atau sin (270o +  ) = cos  cos (360o   ) = cos  atau cos (270o +  ) = sin 
Matematika – SMA/MA/SMK | 272

tan (360o   ) = tan 

atau

tan (270o +  ) = cot 

Tampak bahwa  Pada kuadran II hanya nilai sinus yang positif, pada kuadran III hanya nilai tangen yang positif, dan pada kuadran IV hanya nilai kosinus yang positif.  Untuk relasi sudut yang jumlah atau selisihnya merupakan kelipatan 180 o maka jenis fungsi trigonometrinya tidak berubah.  Untuk relasi sudut yang jumlah atau selisihnya merupakan kelipatan 90 o maka jenis fungsi trigonometrinya berbeda saling komplementer. (sinus dengan kosinus, tangen dengan kotangen). F. Model/Metode Pembelajaran Pendekatan pembelajaran adalah pendekatan saintifik (scientific). Pembelajaran koperatif (cooperative learning) menggunakan kelompok diskusi yang berbasis masalah (problem-based learning).

G. Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Pendahuluan Deskripsi Kegiatan Alokasi Waktu

1. Guru memberikan gambaran tentang pentingnya 10 menit memahami Trigonometri dan memberikan gambaran tentang aplikasi Trigonometri dalam kehidupan seharihari. 2. Sebagai apersepsi untuk mendorong rasa ingin tahu dan berpikir kritis, siswa diajak memecahkan masalah mengenai bagaimana mendapatkan nilai sinus sudut 90 o dan nilai sinus sudut di atas 90o, misalnya 120o. (tidak terpecahkan bila menggunakan definisi menggunakan sisi-sisi pada segitiga siku-siku). 3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yaitu memperluas definisi fungsi trigonometri agar nilai fungsi trigonometri dapat diperoleh untuk besar sudut 0o, 90o, sudut tumpul dan sudut refleks. 1. Guru bertanya tentang bagaimana mengaitkan sisi-sisi 70 menit pada segitiga siku-siku dengan koordinat pada sumbu koordinat kartesius. 2. Bila siswa belum mampu menjawabnya, guru memberi scaffolding dengan mengingatkan siswa dengan sudut sebagai besar putaran. 3. Dengan tanya jawab, disimpulkan bahwa pada kuadran I, istilah panjang sisi di depan sudut dapat diganti
Matematika – SMA/MA/SMK | 273

Inti

4.

5.

6. 7.

8.

9.

10. 11.

12.

13. Penutup

ordinat, panjang sisi di samping sudut diganti absis, dan hipotenusa diganti jari-jari. Dengan tanya jawab, siswa diyakinkan bahwa definisi menggunakan absis, ordinat, dan jari-jari ini lebih luas dari pada definisi menggunakan sisi-sisi segitiga sikusiku. Selanjutnya, guru membuka cakrawala penerapan definisi fungsi yang diperluas itu untuk sudut yang sama atau lebih besar dari 90o, yaitu bila salah satu kaki sudut di kuadran II, III, atau IV. Dengan bantuan presentasi komputer, guru mengingatkan pengertian sudut di kuadran II, sudut di kuadran II, dan sudut di kuadran IV. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok dengan tiap kelompok terdiri atas 4 siswa. Tiap kelompok mendapat tugas untuk mendefinisikan fungsi-fungsi trigonometri untuk sudut di kuadran II atau III atau IV atau sudut negatif, serta menentukan hubungannya dengan fungsi trigonometri sudut di kuadran I. Tugas diselesaikan berdasarkan worksheet atau lembar kerja yang dibagikan. Selama siswa bekerja di dalam kelompok, guru memperhatikan dan mendorong semua siswa untuk terlibat diskusi, dan mengarahkan bila ada kelompok yang melenceng jauh pekerjaannya. Salah satu kelompok diskusi (tidak harus yang terbaik) diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas. Sementara kelompok lain, menanggapi dan menyempurnakan apa yang dipresentasikan. Guru mengumpulkan semua hasil diskusi tiap kelompok Dengan tanya jawab, guru mengarahkan semua siswa pada kesimpulan mengenai fungsi trigonometri di berbagai kuadran dan hubungannya dengan fungsi trigonometri di kuadran I, berdasarkan hasil reviu terhadap presentasi salah satu kelompok. Guru memberikan dua (2) soal yang terkait dengan nilai fungsi trigonometri di kuadran II, III, atau IV. Dengan tanya jawab, siswa dan guru menyelesaikan kedua soal yang telah diberikan dengan menggunakan strategi yang tepat. Guru memberikan lima (5) soal untuk dikerjakan tiap siswa, dan dikumpulkan.

1. Siswa diminta menyimpulkan tentang bagaimana 10 menit menentukan nilai fungsi trigonometri sudut di berbagai kuadran. 2. Dengan bantuan presentasi komputer, guru menayangkan apa yang telah dipelajari dan disimpulkan mengenai nilai fungsi trigonometri untuk sudut di berbagai kuadran.
Matematika – SMA/MA/SMK | 274

jangkaWorksheet atau lembar kerja (siswa) 2. dan menggunakan simbol yang benar. Guru memberikan tugas PR beberapa soal mengenai penerapan nilai fungsi di berbagai kuadran. c. H. Sikap Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Pengamatan Waktu Penilaian Selama pembelajaran dan saat diskusi a. sistematis. Toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. Alat/Media/Sumber Pembelajaran 1. busur. Penggaris. tes tertulis 2. 4. Pengetahuan a. Menyatakan kembali hubungan nilai fungsi trigonometri di kuadran Penyelesaian tugas individu dan kelompok Matematika – SMA/MA/SMK | 275 . b. Bahan tayang 3. b. Penilaian Hasil Belajar 1. 2. Menjelaskan kembali Pengamatan dan tes pengertian fungsi trigonometri pada segitiga siku-siku dengan menggunakan istilah absis. Teknik Penilaian: pengamatan. Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan untuk tetap belajar. dan jari-jari pada sumbu koordinat kartesius secara tepat. Terlibat aktif dalam pembelajaran trigonometri. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok. Video tentang lebah I. Prosedur Penilaian: No 1.3. Lembar penilaian 4. ordinat.

Ari ditempatkan tepat di tengah-tengah sebuah gang yang bertembok tepat di tepi kiri dan kanannya. Penyelesaian tugas (baik individu maupun kelompok) dan saat diskusi J. Gambarlah pada sebuah sumbu koordinat kartesian sebuah sudut pada kuadran III. Terampil menerapkan Pengamatan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran.tan (2t) + cos t dengan t dalam derajat. Pada sebuah permainan. Dengan menuliskan langkah-langkah yang jelas. 4.13 (rad)]. tan 150 grad dengan menggunakan kalkulator saintifik.No Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Waktu Penilaian II. III. tidak saja memberi skor untuk jawaban akhir. Instrumen Penilaian Hasil belajar Tes tertulis 1. Mula-mula Ari menghadap searah dengan arah jalan. komunikasi matematis Matematika – SMA/MA/SMK | 276 . berapa jarak yang ditempuh Ari jika kemudian ia berjalan lurus hingga menyentuh tembok gang? Catatan: Penyekoran bersifat holistik dan komprehensif. Berapa tinggi gelombang suara Paus tsb untuk t = 120o? 5. gelombang suara dari seekor ikan Paus akhirnya dapat digambarkan dengan suatu pendekatan menggunakan fungsi trigonometri sebagai berikut I(t) = 2. Setelah melalui studi yang mendalam. hitunglah nilai dari [sin 321o + cos 0. Tentukanlah nilai dari sin 150o secara eksak (tidak menggunakan desimal) menggunakan sifat relasi sudut pada fungsi trigonometri! 3. 3.7. kemudian Ari diputar oleh temannya searah dengan arah perputaran jarum jam sebesar 660o. Jika lebar gang adalah 4 meter. Keterampilan a. dan IV dengan perbandingan trigonometri di kuadran I secara tepat dan kreatif. tetapi juga proses pemecahan yang terutama meliputi pemahaman. lalu nyatakan pengertian fungsi secan untuk sudut tersebut! 2.

serta ketepatan strategi memecahkan masalah. WORKSHEET (untuk tugas kelompok) Matematika – SMA/MA/SMK | 277 . penalaran (logis).(ketepatan penggunaan simbol dan istilah).

1. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif tetapi masuih belum ajeg/konsisten. 2. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian dalam menyelesaikan tugas kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten Indikator sikap bekerjasama dalam kegiatan kelompok. Indikator sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. 1.LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP Mata Pelajaran Kelas/Semester Tahun Pelajaran Waktu Pengamatan : Matematika : X/2 : 2013/2014 : Indikator sikap aktif dalam pembelajaran trigonometri 1. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok tetapi masih belum ajeg/konsisten. Kurang baik jika sama sekali tidak berusaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok. Sangat baik jika menunjukkan adanya usaha bekerjasama dalam kegiatan kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten. Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan. 3. 3. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha ambil bagian dalam pembelajaran tetapi belum ajeg/konsisten 3. Kurang baik jika sama sekali tidak bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. No Nama Siswa Aktif KB 1 2 3 4 Dhianika Rahma Nur Fadillah Galuh Lalita Mahaghora Muhammad Rasyid Alfaruqi Nur Endah Filaili B SB KB Sikap Bekerjasama B SB KB Toleran B SB Matematika – SMA/MA/SMK | 278 . 2. Sangat baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif secara terus menerus dan ajeg/konsisten. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam pembelajaran 2.

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Zerarita Amalia Ramadhani Febrian Anggoro Widiyanto Rizky Rachmadewi Elvan Saffria Charta R. Bagaskara Adi Pamungkas Bram Yudhistira Hasna Amalia Faza Daniawan Dwi Nurrohman Devi Ristiyanti Nitya Sekar Tresnaningtyas Rafi Ibnu Ramadhan Ivan Akhir Julian Gasik Prawestri Intan Aringtyas Junaidi Muhammad Rafi Nurdiansyah Elvana Novita Candra Danuja Widigdaya Isnaeni Putri Nur Afifah Intan Putri Ristyaningrum Lisa Dewi Afrilita Gea Hanin Nisacita Rizki Kartika Angkasa Yudha Putri Adipertiwi A-Bach Keterangan: KB B SB : Kurang baik : Baik : Sangat baik Matematika – SMA/MA/SMK | 279 . Shikarini Amirul P Arinta Destri Larasati Khanza Adzkia Vujira Joean Akbar Saputra Khansa Sitostra Tufana Arsy A. Aj.

No Nama Siswa Keterampilan Menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah KT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Dhianika Rahma Nur Fadillah Galuh Lalita Mahaghora Muhammad Rasyid Alfaruqi Nur Endah Filaili Zerarita Amalia Ramadhani Febrian Anggoro Widiyanto Rizky Rachmadewi Elvan Saffria Charta R.LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN KETERAMPILAN Mata Pelajaran Kelas/Semester Tahun Pelajaran Waktu Pengamatan : Matematika : X/2 : 2013/2014 : Indikator terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran. Terampil jika menunjukkan sudah ada usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran tetapi belum tepat. Aj. Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan. 3. Sangat terampill. jika menunjukkan adanya usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran dan sudah tepat. 1. Shikarini Amirul P Arinta Destri Larasati Khanza Adzkia Vujira Joean Akbar Saputra Khansa Sitostra Tufana Arsy A. Kurang terampil jika sama sekali tidak dapat menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan nilai fungsi di berbagai kuadran 2. Bagaskara Adi Pamungkas T ST Matematika – SMA/MA/SMK | 280 .

15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Bram Yudhistira Hasna Amalia Faza Daniawan Dwi Nurrohman Devi Ristiyanti Nitya Sekar Tresnaningtyas Rafi Ibnu Ramadhan Ivan Akhir Julian Gasik Prawestri Intan Aringtyas Junaidi Muhammad Rafi Nurdiansyah Elvana Novita Candra Danuja Widigdaya Isnaeni Putri Nur Afifah Intan Putri Ristyaningrum Lisa Dewi Afrilita Gea Hanin Nisacita Rizki Kartika Angkasa Yudha Putri Adipertiwi A-Bach Keterangan: KT T ST : Kurang terampil : Terampil : Sangat terampil Matematika – SMA/MA/SMK | 281 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 282 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 283 .

D. 1. 2. 1. Kesesuaian dengan kompetensi dasar. Pemilihan Materi Ajar Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. dan keterampilan.2 LEMBAR KERJA PENELAAHAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Identitas RPP yang ditelaah: ………………………………… Berilah tanda cek ( V) pada kolom skor (1. semester. mata pelajaran atau tema pelajaran.3. program/program keahlian. jumlah pertemuan.KI dan KD. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Hasil Penelaahan dan Skor 1 Tidak Ada 2 Kurang Lengkap 3 Sudah Lengkap Catatan A 1. B. Kesesuaian penggunaan kata kerja operasional dengan kompetensi yang diukur. Kesesuaian dengan aspek sikap. 2. Identitas Mata Pelajaran Satuan pendidikan. Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 3. pengetahuan. 2. C. Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Matematika – SMA/MA/SMK | 284 . Perumusan Tujuan Pembelajaran Kesesuaian dengan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai. 3 ) sesuai dengan kriteria yang tertera pada kolom tersebut! Berikan catatan atau saran untuk perbaikan RPP sesuai penilaian Anda! No.kelas. 1. Perumusan Indikator Kesesuaian dengan SKL.1/3. Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 2.LK .

1. F. 3. Kesesuaian alokasi waktu dengan cakupan materi. 2. 1. Matematika – SMA/MA/SMK | 285 . Kesesuaian dengan alokasi waktu. 1. inti. 2. Kesesuaian dengan materi pembelajaran dan pendekatan scientific. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. 4. 3. Pemilihan Media Belajar Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. 2. H. Penilaian Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya Tidak Sesuai Sesuai Sebagian Sesuai Seluruhnya 3. 2.No. Kesesuaian kegiatan dengan pendekatan scientific. G. 1. Model Pembelajaran Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran. I. Kesesuaian dengan materi pembelajaran dan pendekatan scientific. E. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Hasil Penelaahan dan Skor 2 3 Catatan 3. Kesesuaian dengan pendekatan Scientific. Skenario Pembelajaran Menampilkan kegiatan pendahuluan. Kesesuaian penyajian dengan sistematika materi. Pemilihan Sumber Belajar Kesesuaian dengan KI dan KD. dan penutup dengan jelas.

........... Komentar terhadap RPP secara umum...........No............... Jumlah 2............................. Matematika – SMA/MA/SMK | 286 ..................................................................... Kesesuaian dengan dengan indikator pencapaian kompetensi..... ... Kesesuaian dengan teknik dan bentuk penilaian autentik....... Kesesuaian pedoman penskoran dengan soal........................................................................ Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Hasil Penelaahan dan Skor 2 3 Catatan 1.......................... Kesesuaian kunci jawaban dengan soal.... 4..... ................................ 3..............................................

1/3. Selanjutnya nilai RPP dimasukkan ke dalam nilai portofolio peserta.2 RUBRIK PENILAIAN TELAAH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Rubrik penilaian RPP digunakan fasilitator untuk menilai RPP peserta yang digunakan peerteaching. jumlahkan skor seluruh komponen! 5. Cermati format penilaian RPP dan RPP yang akan dinilai! 2. Setelah selesai penilaian. Tentukan nilai RPP menggunakan rumus sbb: Skor yang diperoleh PERINGKAT Amat Baik ( AB) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 ≤ A ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 75 < 60 Matematika – SMA/MA/SMK | 287 .R-3. 1. (2) dan (3) sesuai dengan penilaian Anda terhadap RPP tersebut! 3. Langkah-langkah penilaian RPP sebagai berikut. Berikan catatan khusus atau saran perbaikan setiap komponen RPP jika diperlukan! 4. Berikan nilai setiap komponen RPP dengan cara membubuhkan tanda cek (√) pada kolom pilihan skor (1 ).

2-2.2 yang disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut. Fasilitator menutup pembelajaran.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar Langkah Kegiatan Inti Diskusi dan Tanya jawab Kerja Kelompok Kerja Kelompok Presentasi Merangkum dan Refleksi 40 Menit 30 Menit 25 Menit 20 Menit 20 Menit Diskusi dan tanya jawab tentang penilaian autentik dalam bentuk tes dan nontes termasuk portofolio.3/3. Kerja kelompok untuk merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun. Kerja kelompok untuk menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran yang terdapat dalam HO-2.2 dan Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP dengan menggunakan PPT-3.Materi Pelatihan : 3. dilanjutkan dengan Pemaparan materi oleh fasilitator tentang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2. Matematika – SMA/MA/SMK | 288 .3/3. Membuat rangkuman materi pelatihan Model Rancangan Pembelajaran.2. Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran. Presentasi hasil kerja kelompok. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.3/3.2 dan Panduan Tugas Menelaah Rancangan Penilaian pada RPP dengan menggunakan PPT-3. Bahan Tayang Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan menggunakan PPT-2.

Matematika – SMA/MA/SMK | 289 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 290 .

2 Peer Teaching Matematika – SMA/MA/SMK | 291 .MATERI PELATIHAN 4 : PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING (24 JP) 4.1 Simulasi Pembelajaran 4.

Bahan Tayang a. sosial. Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran. c. KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN 1. 3. maupun. mengolah. 2. D. emosional. 6. mencoba. mengkaji pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. menalar. 2. 5.MATERI PELATIHAN 4: PRAKTEK PEMBELAJARAN TERBIMBING (24 JP) A. menanya. Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching. kultural. kultural. PERANGKAT PELATIHAN 1. menyaji. Garis besar instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran. Merevisi RPP sehingga menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik untuk kegiatan peer teaching. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. Menganalisis simulasi pembelajaran melalui tayangan video pembelajaran. intelektual. 4. KOMPETENSI Peserta pelatihan dapat: 1. sosial. emosional. mencoba. B. intelektual. Menilai pelaksanaan peer teaching peserta lain. 7. Menyimpulkan alur pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik. moral. mengolah. b. menanya. menalar. moral. Simulasi Pembelajaran Peer Teaching C. Melaksanakan peer teaching pembelajaranyang menerapkan pendekatan scientific dan penilaian autentik. maupun. Panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran. menyaji. LINGKUP MATERI 1. 2. Strategi Pengamatan tayangan video. dan melaksanakan pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific (mengamati. mencipta) dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik. Matematika – SMA/MA/SMK | 292 .

3. ATK Matematika – SMA/MA/SMK | 293 . Lembar Kerja a. b. Analisis pembelajaran pada tayangan video. Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (Alat Penilaian Kinerja Guru).2.

tujuan. dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Praktik Pembelajaran Terbimbing.1. Mengkonfirmasi penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik mengacu pada tayangan video pembelajaran Kerja kelompok untuk merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran.1/4. Penayangan video pembelajaran Matematika dengan menggunakan V-2. Laptop. 360 Menit 20 Menit 20 Menit 60 Menit 30 Menit 135 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 294 . kompetensi. dan bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. alokasi waktu.1 Simulasi Pembelajaran Pemaparan Strategi Pengamatan Video Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT-4.1. mengajak berdinamika agar saling mengenal. 15 Menit KEGIATAN Pengkondisian Peserta PENDAHULUAN Perkenalan Fasilitator menjelaskan nama. serius. KEGIATAN INTI 4. indikator. PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING 22 JP (@ 45 MENIT) SMA/MA. atau media pembelajaran lainnya. semangat. dan Laser Pointer. File. SMK/MAK MATEMATIKA DESKRIPSI KEGIATAN WAKTU Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat pembelajaran. Fasilitator memotivasi peserta. seperti LCD Projector. Active Speaker.1 oleh fasilitator.SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN MATERI PELATIHAN: ALOKASI WAKTU: JENJANG: MATA PELAJARAN: TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN 4. Kerja kelompok untuk menganalisis tayangan video pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik dengan menggunakan LK -4.

Menilai kegiatan peer teaching menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan LK-4. Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca referensi yang relevan.2. Praktik peer teaching pembelajaran Matematika secara individual. Refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching. KEGIATAN PENUTUP Membuat rangkuman materi pelatihan Praktik Pembelajaran Terbimbing.4.2.2 Peer Teaching Paparan oleh fasilitator tentang Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran melalui peer teaching dengan menggunakan PPT.1 Paparan oleh fasilitator tentang Garis Besar Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan PPT-4. ICE BREAKER 4. Persiapan peer teaching. untuk setiap peserta 30 menit dipandu fasilitator.2.Presentasi contoh RPP yang akan digunakan dalam kegiatan peer teaching.2. Fasilitator menutup pembelajaran. 90 Menit 5 Menit 600 Menit 20 Menit 20 Menit 20 Menit 510 Menit 30 Menit 15 Menit Matematika – SMA/MA/SMK | 295 . Refleksi dan umpan balik tentang proses pembelajaran.

1/4.1.Materi Pelatihan : 4. Presentasi contoh RPP yang akan digunakan dalam kegiatan peer teaching. Penayangan video pembelajaran dengan menggunakan V-2. Kerja kelompok untuk menganalisis tayangan video pembelajaran dengan fokus pada penerapan pendekatan scientific dan penilaian autentik dengan menggunakan LK 4.1 oleh fasilitator.1 Simulasi Pembelajaran Langkah Kegiatan Inti Paparan Tayangan Video Kerja Kelompok 20 Menit 20 Menit 60 Menit Presentasi Kerja Kelompok Menyimpulkan 90 Menit 135 Menit 30 Menit Pemaparan Strategi Pengamatan Video Pembelajaran dengan menggunakan bahan tayang PPT4.1. Kerja kelompok untuk merevisi RPP sesuai dengan hasil analisis tayangan video pembelajaran. Matematika – SMA/MA/SMK | 296 . Menyimpulkan alur pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan scientific dan penilaian autentik.

Matematika – SMA/MA/SMK | 297 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 298 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 299 .

.... a.......... Kemampuan menyesuaikan materi dengan tujuan pembelajaran...... Menguasai kelas dengan baik.. : .... b.LK .... d Mengajak peserta didik berdinamika/melakukan sesuatu kegiatan yang terkait dengan materi.... Asal Sekolah 3.. c.. a Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran. : ... d............... a. c.... Mata Pelajaran 3................ Tema : ......... c Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitan dengan tema yang akan dibelajarkan...... Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual.... Ya Tidak Catatan Matematika – SMA/MA/SMK | 300 ......... Nama Peserta 2... Melaksanakan pembelajaran secara runtut. Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang diintegrasikan secara relevandengan perkembangan Iptek dankehidupan nyata .........1 LEMBAR KERJA ANALISIS PEMBELAJARAN DALAM TAYANGAN VIDEO PEMBELAJARAN 1.... Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.. b........ Menyajikan materi dalam tema secara sistematis dan gradual (dari yang mudah ke sulit. Aspek yang Diamati Kegiatan Pendahuluan Melakukan apersepsi dan motivasi.............. : ............ Kegiatan Inti Guru menguasai materi yang diajarkan........................... b Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik dalam perjalanan menuju sekolah atau dengan tema sebelumnya.... dari konkrit ke abstrak) Guru menerapkan strategi pembelajaran yang mendidik..............4......

d. Melakukan penilaian keterampilan peserta didik dalam melakukan aktifitas individu/kelompok. Menghasilkan pesan yang menarik. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar pembelajaran. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media pembelajaran. a. Memancing peserta didik untuk peserta didik bertanya. c. Mengamati sikap dan perilaku peserta didik dalam mengikuti pelajaran. Menumbuhkan keceriaan dan antusisme peserta didik dalam belajar. f. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengkomunikasikan. Guru memicu dan/atau memelihara keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. a b c d f Memberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana. Mendokumentasikan hasil pengamatan skap. e. Guru melaksanakan penilaian autentik. e. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar pembelajaran. b. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran. Guru memanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran. perilaku dan keterampilan peserta didik. sumber belajar. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif. Matematika – SMA/MA/SMK | 301 . c. d. b. Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik. Merespon positif partisipasi peserta didik.Aspek yang Diamati e. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengamati. Ya Tidak Catatan a b c a. peserta didik. Menyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan menganalisis. Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect). Guru menerapkan pendekatan scientific.

atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan. Matematika – SMA/MA/SMK | 302 . Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai.a. Aspek yang Diamati Guru menggunakan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar. c. Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik. Penutup Pembelajaran Guru mengakhiri pembelajaran dengan efektif a. Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar. atau kegiatan. Ya Tidak Catatan b. b.

30 Nilai Peserta Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal.20 12 .24 15 . teliti.30 21 .4. dan kegiatan penutup namun tidaklengkap. dalam Video lengkapdanbenar. (15-30) Mendeskripsikansetiap item padalembarkerjaanalisis proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar yang disajikandalamtayangan video denganjelas.1 RUBRIK PENILAIAN HASIL ANALISIS PEMBELAJARAN PADA TAYANGAN VIDEO NAMA PESERTA DIKLAT KELAS/ TANGGAL PENILAIAN Aspek Pengamatan Video (15-30) :………………………………………………………….. bersungguhsungguhdenganpenuh rasa ingintahu danaktifdalamberdiskusi. bersungguhgamati sungguhdenganpenuh rasa ingintahu yang (5-15) disertaidenganpolaberpikiranalitikdalammengamatida nberdiskusi.11 5-7 21 . kegiatan inti. Menunjukkansikapantusias. Kriteria Rentangan Nilai 25 .20 25 . kegiatan inti. Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal.25 Matematika – SMA/MA/SMK | 303 .15 8 . Mendeskripsikan hasil pengamatan kegiatan awal.. teliti. dan kegiatan penutup dengan lengkap dan terinci yang disertai contoh kongkret hasil pengamatan.R . 21 . kegiatan inti. Menunjukkansikapantusias. dan kegiatan penutup dengan lengkap namun kurang terinci.24 15 . :…………………………………………………………. bersungguhsungguhdenganpenuh rasa ingintahu saja. Mendeskripsikansetiap item padalembarkerjaanalisis Lembarkerjaanali proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar sispembelajaran yang disajikandalamtayangan video denganjelas.. teliti. Sikapselamamen Menunjukkansikapantusias. Hanyamenandaisetiap item padalembarkerjaanalisis proses belajarmengajarsesuaidengankompetensidasar yang disajikandalamtayangan video. :…………………………………………………………. Komentardan Simpulan (10-25) Memberikankomentar yang faktual dan terstruktur sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran yang terdiri dari pengalaman yang dapat diambil dari tayangan video dan kesimpulan.

....... Memberikan komentar sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran........Aspek Kriteria Memberikan komentar yang faktual dan terstruktur sesuai dengan keterlaksanaan skenario pembelajaran yang ada dalam tayangan PBM video pembelajaran yang terdiri dari pengalaman yang dapat diambil daritayangan video............... Rentangan Nilai Nilai Peserta 16 -20 10 -15 100 JUMLAH ………………..........……………. 2013 Fasilitator........ ……….) Matematika – SMA/MA/SMK | 304 . (.....

2-2. Persiapan peer teaching. Menilai kegiatan peer teachingoleh fasilitator dengan menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran LK-4. Matematika – SMA/MA/SMK | 305 .2. Refleksi terhadap pelaksanaan peer teaching.2 Peer Teaching Langkah Kegiatan Inti Paparan Panduan Paparan Instrumen Penilaian Persiapan Peer Teaching 20 Menit 20 Menit 20 Menit Refleksi Praktik Peer Teaching 30 Menit 510 Menit Paparan oleh fasilitator tentang Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan Pembelajaran melalui peer teaching dengan menggunakan PPT. Praktik peer teaching pembelajaran secara individual. untuk setiap peserta 30 menit dipandu fasilitator.2-1.4. Paparan oleh fasilitator tentang Garis Besar Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan PPT-4.Materi Pelatihan : 4.

Matematika – SMA/MA/SMK | 306 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 307 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 308 .

Matematika – SMA/MA/SMK | 309 .

.. kerja kelompok... 2 Mengajukan pertanyaan menantang. Menguasai kelas...... 3 4 Melaksanakan pembelajaran secara runtut.. dan melakukan observasi......... Ya Tidak Catatan Aspek yang Diamati Kegiatan Pendahuluan Apersepsi dan Motivasi 1 Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik atau pembelajaran sebelumnya.............. Kegiatan Inti Penguasaan Materi Pelajaran 1 2 3 4 Kemampuan menyesuiakan materi dengan tujuan pembelajaran......... 3 Menyampaikan manfaat materi pembelajaran.......2 LEMBAR KERJA INSTRUMEN PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 1..... Menyajikan pembahasan materi pembelajaran dengan tepat... Matematika – SMA/MA/SMK | 310 . Penyampaian Kompetensi dan Rencana Kegiatan 1 Menyampaikan kemampuan yang akan dicapai peserta didik...... individual. 4 Mendemonstrasikan sesuatu yang terkait dengan materi pembelajaran....4........... perkembangan iptek .......... : ...................LK ............ Topik : ....... dan kehidupan nyata........... : .... Asal Sekolah 3.... dari konkrit ke abstrak) Penerapan Strategi Pembelajaran yang Mendidik 1 Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.. 2 Menyampaikan rencana kegiatan misalnya. elaborasi dan konfirmasi......... Nama Peserta 2.. Menyajikan materi secara sistematis (mudah ke sulit. 2 Menfasilitasi kegiatan yang memuat komponen eksplorasi.. Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan.....

Memfasilitasi peserta didik untuk mengamati. Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru. peserta didik. Menghasilkan pesan yang menarik. Kegiatan Penutup Penutup pembelajaran Matematika – SMA/MA/SMK | 311 . Menumbuhkan keceriaan atau antuisme peserta didik dalam belajar. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran. Merespon positif partisipasi peserta didik. Memberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana. Memfasilitasi peserta didik untuk menganalisis. sumber belajar. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media pembelajaran. Memfasilitasi peserta didik untuk mencoba. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. 6 7 Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect). Menyajikan kegiatan peserta didik untuk berkomunikasi. Memancing peserta didik untuk bertanya. Memberikan pertanyaan peserta didik untuk menalar (proses berfikir yang logis dan sistematis). Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar pembelajaran. Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar. Pelibatan Peserta Didik dalam Pembelajaran 1 2 3 4 5 Penggunaan Bahasa yang Benar dan Tepat dalam Pembelajaran 1 2 Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar.Aspek yang Diamati 5 Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual. Ya Tidak Catatan Penerapan Pendekatan scientific 1 2 3 4 5 6 7 Pemanfaatan Sumber Belajar/Media dalam Pembelajaran 1 2 3 4 5 Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar pembelajaran.

Memberikan tes lisan atau tulisan . Jumlah Ya Tidak Catatan Matematika – SMA/MA/SMK | 312 .Aspek yang Diamati 1 2 3 4 Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik. Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan kegiatan berikutnya dan tugas pengayaan. Mengumpulkan hasil kerja sebagai bahan portofolio.

Langkah Kegiatan 1. 3.2 RUBRIK PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Rubrik Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran ini digunakan fasilitator untuk menilai kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran pada saat Peer Teaching.4. 4. Selanjutnya nilai PeerTeaching dimasukkan ke dalam nilai portofolio peserta. Berikan tanda cek (√) pada kolom pilihan YA atau TIDAK sesuai dengan penilaian Anda terhadap penyajian guru pada saat pelaksanaan pembelajaran! Berikan catatan khusus atau saran perbaikan pelaksanaan pembelajaran! Hitung jumlah nilai YA dan TIDAK ! Tentukan Nilai menggunakan rumus berikut ini! PERINGKAT Amat Baik ( A) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) NILAI 90 < AB ≤ 100 75 ≤ B < 90 60 ≤ C < 75 < 60 Matematika – SMA/MA/SMK | 313 . 2.R .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful