ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) TUBERKULOSIS PARU (TB PARU

)
TUBERKULOSIS PARU (TB PARU) A. Pengertian Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Kuman batang tanhan asam ini dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit. Ada beberapa mikrobakteria patogen , tettapi hanya strain bovin dan human yang patogenik terhadap manusia. Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 μm, ukuran ini lebih kecil dari satu sel darah merah. B. Etiologi Penyebabnya adalah kuman microorganisme yaitu mycobacterium tuberkulosis dengan ukuran panjang 1 – 4 um dan tebal 1,3 – 0,6 um, termasuk golongan bakteri aerob gram positif serta tahan asam atau basil tahan asam. C. Patofisiologi Penularan terjadi karena kuman dibatukan atau dibersinkan keluar menjadi droflet nuklei dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1 – 2 jam, tergantung ada atau tidaknya sinar ultra violet. dan ventilasi yang baik dan kelembaban. Dalam suasana yang gelap dan lembab kuman dapat bertahan sampai berhari – hari bahkan berbulan, bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang yang sehat akan menempel pada alveoli kemudian partikel ini akan berkembang bisa sampai puncak apeks paru sebelah kanan atau kiri dan dapat pula keduanya dengan melewati pembuluh linfe, basil berpindah kebagian paru – paru yang lain atau jaringan tubuh yang lain. Setelah itu infeksi akan menyebar melalui sirkulasi, yang pertama terangsang adalah limfokinase, yaitu akan dibentuk lebih banyak untuk merangsang macrofage, berkurang tidaknya jumlah kuman tergantung pada jumlah macrofage. Karena fungsinya adalah membunuh kuman / basil apabila proses ini berhasil & macrofage lebih banyak maka klien akan sembuh dan daya tahan tubuhnya akan meningkat. Tetapi apabila kekebalan tubuhnya menurun maka kuman tadi akan bersarang didalam jaringan paru-paru dengan membentuk tuberkel (biji – biji kecil sebesar kepala jarum). Tuberkel lama kelamaan akan bertambah besar dan bergabung menjadi satu dan lama-lama timbul perkejuan ditempat tersebut.apabila jaringan yang nekrosis dikeluarkan saat penderita batuk yang menyebabkan pembuluh darah pecah, maka klien akan batuk darah (hemaptoe). D. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala pada klien secara obyektif adalah : 1. Keadaan postur tubuh klien yang tampak etrangkat kedua bahunya. 2. BB klien biasanya menurun; agak kurus. 3. Demam, dengan suhu tubuh bisa mencapai 40 – 41° C. 4. Batu lama, > 1 bulan atau adanya batuk kronis. 5. Batuk yang kadang disertai hemaptoe. 6. Sesak nafas. 7. Nyeri dada. 8. Malaise, (anorexia, nafsu makan menurun, sakit kepala, nyeri otot, berkeringat pada malam hari).

GDA dapat tidak normal tergantung lokasi. dapat tidak normal tergantung lokasi dan bertanya infeksi . o Rifampicin. berat dan kerusakan sisa pada paru.Hyponaremia. Dengan tata cara pengobatan : setiap hari dengan jangka waktu 1 – 3 bulan. o Isoniazid 400 mg. Kemudian dilanjutkan dengan jangka panjang. Elektrosit. Penatalaksanaan Dalam pengobatan TB paru dibagi 2 bagian : 1. 2. tata cara pengobatannya adalah setiap 2 x seminggu. Histologi atau kultur jaringan ( termasuk pembersihan gaster . Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mycobacterium yang berbeda. o Streptomisin inj 750 mg. peningkatan ruang mati. kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural (TB paru kronis luas). Pemeriksaan fungsi pada paru . 8. o Ethambutol 1000 mg. selama 13 – 18 bulan. ex . Ziehl Neelsen : (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) positif untuk basil asam cepat. Kultur sputum : positif untuk mycobakterium pada tahap akhir penyakit. Pemeriksaan Penunjang 1. biopsi kulit ) positif untuk mycobakterium tubrerkulosis. adanya sel raksasa menunjukan nekrosis. Elisa / Western Blot : dapat menyatakan adanya HIV. 4. reaksi positif (area durasi 10 mm) terjadi 48 – 72 jam setelah injeksi intra dermal.E. Antigen menunjukan infeksi masa lalu dan adanya anti body tetapi tidak secara berarti menunjukan penyakit aktif. penurunan kapasitas vital. perubahan menunjukan lebih luas TB dapat masuk rongga area fibrosa. 5. o Pas 10 mg. Therapi TB paru dapat dilakkukan dengan minum obat saja. tetapi setelah perkembangan pengobatan ditemukan terapi. . F. 7. peningkatan rasio udara resido dan kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkhim / fibrosis. 9. potongan vollmer) . Foto thorax . obat yang diberikan dengan jenis : o INH. Jangka pendek. 6. dapat menunjukan infiltrsi lesi awal pada area paru atas. simpanan kalsium lesi sembuh primer atau efusi cairan. Test kulit : (PPD. positif untuk granula TB . urien dan cairan serebrospinal. Mantoux. 3. didapat pada TB paru luas. karena retensi air tidak normal. Biopsi jarum pada jarinagn paru .

(khususnya selama tahap dini). rumah. o Perasaan tak berdaya / tak ada harapan. Tanda : o Menyangkal. o Mimpi buruk. . o Tidak dapat mencerna makanan. 4. Dengan menggunakan obat program TB paru kombipack bila ditemukan dalam pemeriksan sputum BTA ( + ) dengan kombinasi obat : o Rifampicin. o Penurunan BB. Tanda : o Berhati-hati pada area yang sakit. o Masalah keuanagan. Gejala : o Anorexia. nyeri dan sesak (pada tahap lanjut). Tanda : o Peningkatan frekuensi nafas. o Pyridoxin (B6). o Kehilangan lemak subkutan pada otot. o Ethambutol. Makanan / cairan. Aktivitas / istirahat. o Populasi budaya. Dengan fase selama 2 x seminggu. menggigil dan atau berkeringat. Gejala : o Batuk produktif atau tidak produktif. o Kesulitan tidur pada malam atau demam pada malam hari. 3. 2. Tanda : o Takhikardi. Pengkajian 1. o Kelelahan otot. o Nafas pendek. Tanda : o Turgor kulit buruk. ketakutan. Gejala : o Nyeri dada meningkat karena batuk berulang. / dispnoe pada kerja. tachipnoe. 5. o Riwayat tuberkulosis / terpajan pada individu terinjeksi. dengan lama pengobatan kesembuhan menjadi 6-9 bulan. o Isoniazid (INH). o Perilaku distraksi. o Nafas pendek karena bekerja. gelisah. Integritas Ego. Gejala : o Kelelahan umum dan kelemahan. o Ancietas. Gejala : o Adanya faktor stres lama. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN TUBERKULOSIS PARU (TB PARU) A.o Ethambutol. Pernafasan. Nyeri / kenyamanan. 2. mudah tersinggung.

: Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah. mukoid kuning atau bercampur darah. • Tahan napas selama 3 – 5 detik kemudian secara perlahan-lahan. perubahan mental ( tahap lanjut ).o Pengembangan pernafasan tak simetris. Lakukan napas ke dua . R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif. o Ketidakmampuan umum / status kesehatan buruk. • Mendemontrasikan batuk efektif. Gejala : o Riwayat keluarga TB. R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret. Interaksi sosial. R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat. tes HIV positif (+) Tanda : o Demam rendah atau sakit panas akut. R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. B. pernapasan. o Perkusi dan penurunan fremitus vokal. Keamanan. • Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin. Kriteria hasil : • Mencari posisi yang nyaman yang memudahkan peningkatan pertukaran udara. o Karakteristik sputum . • Menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi. contoh . keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut. bunyi nafas menurun tak secara bilateral atau unilateral (effusi pleura / pneomothorax) bunyi nafas tubuler dan / atau bisikan pektoral diatas lesi luas. Intervensi Diagnosa Keperawatan 1. 7. 8. Gejala : o Adanya kondisi penekana imun. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah. R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas. o Deviasi trakeal ( penyebaran bronkogenik ). AIDS. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler. o Perubahan pola biasa dalam tangguang jaawab / perubahan kapasitas fisik untuk melaksankan peran. o Gagal untuk membaik / kambuhnya TB. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar. Intervensi : • Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. • Lakukan pernapasan diafragma. kanker. mudah terangsang yang nyata. Tujuan : Kebersihan jalan napas efektif. krekels tercatat diatas apeks paru selam inspirasi cepat setelah batuk pendek (krekels – posttusic). o Tak perhatian. 2. Gejala : o Perasaan isolasi / penolakan karena penyakit menular. menyebabkan frustasi. Diagnosa keperawatan Yang Muncul 1. • Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk. 6. hijau purulen. o Tidak berpartisipasi dalam therapy. . C. Penyuluhan / pembelajaran.

1990. pemberian antibiotika. Evelyn. 1992. • Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan dokter : pemberian antibiotika. meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi. Diagnosis Keperawatan 2. R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus. • Observasi fungsi pernapasan. Intervensi : • Berikan posisi yang nyaman. DAFTAR PUSTAKA Doenges. R/ Meningkatkan inspirasi maksimal. Tujuan : Pertukaran gas efektif. konsul photo toraks. yang mengarah pada atelektasis. E. • Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru. • Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan dokter : pemberian expectoran. • Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru. bantu pasien untuk kontrol diri dengan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam. R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut. R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia. : Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin. Jakarta. Pearce. R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya. C. R/ Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien. EGC. catat frekuensi pernapasan.• Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk. konsul photo toraks. Jakarta.Anatomi dan Fisiologi untuk paramedis. R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. Marylin.Nursing Care Plan. Tinggalkan sebuah Komentar Ditulis dalam Uncategorized Oleh: dwaney | Februari 19. • Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan. 2011 ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KLIEN TBC . • Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk. biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia. yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas. R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya. dispnea atau perubahan tandatanda vital. • Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab. R/Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. • Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat. meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit. Kriteria hasil : • Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif. pemeriksaan sputum dan kultur sputum. • Pertahankan perilaku tenang.

Dua faktorpenentu keberhasilan pemaparan Tuberkulosis pada individu baru yakni konsentrasi droplet nucleidalam udara dan panjang waktu individu bernapas dalam udara yang terkontaminasi tersebut disamping daya tahan tubuh yang bersangkutan. Lipid inilah yang membuatkuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik. hal ini disebabkan banyak penderita yang tidak berhasil disembuhkan. maka terjadilah infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar kekelenjar getah bening setempatdan terbentuklah primer kompleks (ranke). Tuberkulosis yangkebanyakan didapatkan pad usia 1-3 tahun. Di bawah sinar matahari langsung basil tuberkel matidengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab dapat bertahan sampai beberapa jam. meskipun sejak tahun 1993 telah dicanangkan kedaruratan global penyakit tuberkulosis. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lainnya.6/mm. Dasar Teori 1. Proses Penularan Tuberkulosis tergolong airborne disease yakni penularan melalui droplet nuclei yangdikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif. Dari sifat dormant inikuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali.ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KLIEN TBC A. 1997). Insiden Penyakit tuberkulosis adalah penyakit yang sangat epidemik karena kuman mikrobakteriumtuberkulosa telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia.3-0. 2. Sifat lain kuman adalahaerob. diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar sembilan juta penderita dengankematian tiga juta orang (WHO. penyakittuberkulosis tidak terkendali. Sedangkan yang disebut tuberkulosis post primer(reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang yang mana di dalamtubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil tersebut 3. Di samping penularan melalui saluran pernapasan (paling sering). tuberculosis juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit (lebih jarang) 4. Pada tahun 1995.sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis. Penularan umumnya terjadi di dalam ruangan dimana droplet nucleidapat tinggal di udara dalam waktu lebih lama.Kegelisahan global ini didasarkan pada fakta bahwa pada sebagian besar negara di dunia. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). M. sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/mm dantebal 0. Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Pengertian Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan olehMycobacterium tubeculosis. peradanganterjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium. keduanya dinamakan tuberkulosis primer. Etiologi Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakteriumtuberkulosis tipe humanus.terutama penderita menular (BTA positif). Setiapkali penderita ini batuk dapatmengeluarkan 3000 droplet nuclei. Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran pernapasan. yang dalamperjalanannya sebagian besar akan mengalami penyembuhan. Di negara-negara berkembang kematian . Tuberkulosis paru primer. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandunganoksigennya. Program penaggulangan secara terpadu barudilakkan pada tahun 1995 melalui strategi DOTS (directly observed treatment shortcoursechemoterapy). Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Basilmikrobakterium tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection) sampaialveoli.

karena penyakit inimerupakan 25 % dari seluruh kematian.Tuberkulosis juga telah menyebabkan kematian lebih banyak terhadap wanita dibandingkan dengankasus kematian karena kehamilan.Trachea atau batang tenggorok kira-kira 9 cm panjangnya trachea berjalan dari larynx sarnpai kira-kiraketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat ini bercabang mcnjadi dua bronckus (bronchi). Diperkirakan 95 % penyakittuberkulosis berada di negara berkembang.Trachea tersusun atas 16 – 20 lingkaran taklengkap yang berupan cincin tulang rawan yang diikatbersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah belakang trachea. berjalan dari farinx. Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira vertebrata torakaliskelima. Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari bronkhiolus dan respiratorius yangterkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya. dan nomor satu dari golongan penyakitinfeksi. sampai ketinggian vertebrata servikals dan masuk ke dalarn trachea dibawahnya. asinus atau.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderitabaru tuberkulosis dengan BTA positif. selain itujuga membuat beberapa jaringan otot. (rongga) hidung. persalinan dan nifas.kadangdisebut lobolus primer memiliki tangan kira-kira 0. Anatomi dan Fisiologi Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung. rongga hidung. dan berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadibeberapa cabang yang berjalan kelobus atas dan bawah.000 kasus baru tuberkulosis dengan kematiansekitar 140.jenis sel yang sama. WHO memperkirakan setiap tahun menjadi 583.bronkus.5 s/d 1. Hidung . Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus yang ukurannya semakinkecil. larinx trachea. Larynx terdiri atas kepingan tulang rawan yang diikat bersama oleh ligarnen dan membran. dan bersambungdengan lapisan farinx dan dengan selaput lendir sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam. Terdapat . dan bronkiolus.000.Saluran-saluran itu bermuara ke dalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum. Laringx (tenggorok) terletak di depan bagian terendah farinx yang mernisahkan dari columnavertebrata. hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukkanbahwa penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung danpenyakit infeksi saluran pernapasan pada semua kelompok usia.rongga hidung. adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampaipersambungannya dengan oesopagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. Ductus alveolaris seluruhnyadibatasi oleh alveoilis dan sakus alveolaris terminalis merupakan akhir paru-paru. yaitu saluran udara terkecil yang tidakmengandung alveoli (kantong udara). 5. disebut bronckus lobus bawah. Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus lobaris dan kernudianmenjadi lobus segmentalis.0 cm.Bronkhiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan.Rongga hidung dilapisi sebagai selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah. yang sebenarnya dapat dicegah. Bronckus kanan lebih pendek danlebih lebar daripada yang kiri. farinx. Di indonesia pada tahun yang sama. Bronkus kiri lebih panjang danlebih langsing dari yang kanan. Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkbiolus terminalisdisebut saluran penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempatpertukaran gas paru-paru. sampai akhirnya menjadi bronkhiolus terminalis. secara kasar diperkirakan setiap 100. Farinx (tekak) . 75 % adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuahcabang utama lewat di bawah arteri. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehinggaukurannya dapat berubah. Maka ‘letaknya dibelakang larinx (larinx-faringeal). Nares anterior adalah saluran-saluran di dalam. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke arah tampuk paru. mempunyai struktur serupa dengan trachea dan dilapisi oleh. Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih I mm.

Proses fisiologi pernafasan dimana 02 dipindahkan dari udara ke dalam jaringan-jaringan.Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Stadium kedua. Basil juga menyebarmelalui getah bening menuju ke kelenjar bening regional. yaitu pemindahan gas secara efektif antara. Stadium pertama adalah ventilasiyaitu masuknya campuran gas-gas ke dalam dan keluar paru-paru. kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (air borne). Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi terdiri dari satu sampaitiga gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkusdan tidak menyebabkan penyakit. venula.5 urn). Basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. dan C02 terbentuk sebagai sampah proses metabolismesel dan dikeluarkan oleh paru-paru (4) Transportasi.mendapatkan energi. Secara garis besar bahwa Paru-paru memiliki fungsi sebagai berikut: (1) Terdapat permukaan gas-gas yaitu mengalirkan Oksigen dari udara atmosfer kedarah venadan mengeluarkan gas carbondioksida dari alveoli keudara atmosfer. (3) Reaksi kimia dan fisik dari 02 dan C02dengan darah respimi atau respirasi interna menipak-an stadium akhir dari respirasi. Patofisiologi Port de’ entri kuman microbaterium tuberculosis adalah saluran pernafasan. yaitu. bronchial venula. Diperkirakan bahwa stiap paruparu mengandung 150 juta alveoli. arteriola. sakkus alveolardan alveoli. atau di bagian atas lobus bawah. karena ada selisih tekanan yangterdapat antara atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik dari otot-otot. dari unit pulmonary harus sesuai pada orang normaldengan posisi tegak dan keadaan istirahat maka ventilasi dan perfusi hampir seimbang kecuali padaapeks paru-paru. transportasiyang terdiri dan beberapa aspek yaitu : (1) Difusi gas antara alveolus dan kapiler paru-paru (respirasieksternal) dan antara darah sistemik dan sel. Kekuatan mendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah danfase gas. (2) menyaring bahan beracun darisirkulasi (3) reservoir darah (4) fungsi utamanya adalah pertukaran gasgas 5. Di dalam rongga pleura terdapat cairan surfaktan yang berfungsiuntuk lubrikai. ductus alveolar. saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn. Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya di bagian bawah lobusatau paru-paru. alveolus dan kapiler paru-parumembutuhkan distribusi merata dari udara dalam paruparu dan perfusi (aliran darah) dalam kapilerdengan perkataan lain ventilasi dan perfusi.Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit bacteria namun tidakmembunuh organisme tersebut. yaitu sel dimanametabolik dioksida untuk. Paru kanan dibagi atas tiga lobus yaitu lobus superior. medius dan inferior sedangkanparu kiri dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan inferior. (5) Perfusi. yaitumelalui inhalasi droppet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yangterinfeksi. Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastikyang mengandung pembuluh limfe. atau proses dapatjuga berjalan terus. sehingga mempunyaipermukaan yang cukup luas untuk tempat permukaan/pertukaran gas. Makrofag yang mengadakan infiltrasimcajadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel . tahap kcdua dari proses pemapasanmencakup proses difusi gas-gas melintasi membran alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari0.sekitar 20 kali percabanganmulai dari trachea sampai Sakus Alveolaris. Dilapisi oleh pleura yaituparietal pleura dan visceral pleura. Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan kanan. danC02 dikeluarkan keudara ekspirasi dapat dibagi menjadi tiga stadium.-sel jaringan (2) Distribusi darah dalam sirkulasi pulmonaldan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus. dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Pneumoniaseluler ini dapat sembuh dengan sendirinya sehingga tidak ada sisa yang tertinggal. Sesudah hari-hari pertama maka leukosit diganti oleh makrofag.

• Gejala klinis Haemoptoe: Kita harus memastikan bahwa perdarahan dari nasofaring dengan cara membedakan ciricirisebagai berikut : 1. anemia dan lain-lain. Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnyapembuluh darah yang pecah. anoreksia. Gejala sistemik lain Gejala sistemik lain ialah keringat malam. Sesak napas Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura. Batuk darah a. d. b. panas. Benzidin test negatif 2. Darah berwarna hitam karena bercampur asam lambung . Batuk Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. meliputi: a. Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan. penurunan berat badan serta malaise. meliputi: a. Nyeri dada Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. gejala respiratorik dan gejala sistemik: 1. c. Gejala respiratorik. hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebasserangan makin pendek. pneumothorax. Darah segar berwarna merah muda d. Gejala sistemik. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 10 sampai 20 hari. Anemia kadang-kadang terjadi f.tuberkel epiteloit. b. Batuk darah Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi. Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena 2. Padasejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan kadang-kadangasimtomatik. 6. Batuk darak terjadikarena pecahnya pembuluh darah.Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan. mungkin tampak berupa garis atau bercakbercak darak. sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala pneumonia. Muntah darah a. Darah bercampur sisa makanan c. yang dikelilingioleh fosit. Demam\ Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari miripdemam influenza. Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan b. Darah berbuih bercampur udara c. akan tetapi penampilan akutdengan batuk. Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada kerusakanjaringan. Darah bersifat alkalis e. Darah dimuntahkan dengan rasa mual b. Manifestasi Klinik Tuberkulosis sering dijuluki “the great imitator” yaitu suatu penyakit yang mempunyai banyakkemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak.

Pemeriksaansputum adalah diagnostik yang terpenting dalam prograrn pemberantasan TBC paru di Indonesia. Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif 2. b. 4. Batuk pelan kadang keluar c. TB Paru BTA Positif dengan kriteria: 1. Test Diagnostik ➢Foto thorax PA dengan atau tanpa literal merupakan pemeriksaan radiology standar. Dengan atau tanpa gejala klinik 2. Darah menetes dari hidung b. Klasifikasi ini penting karena merupakan salah satu faktor determinan untukmenetapkan strategi terapi. Darah bersifat asam e. Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru. 9. Epistaksis a. 3. menunjukkan serial foto yang tidak berubah.Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 . oblik. Bayangan lesi radiology yang terletak di lapangan atas paru. bakteriologik. radiologik dan riwayatpengobatan sebelumnya. Anemia jarang terjadi 7. b. Karakteristik radiology yang menunjang diagnostik antara lain : a.mencegsah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata rantai penularan. Benzidin test positif 3. Pada pemeriksaan pertama. Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru. c. 8.d. Bekas TB Paru dengan kriteria: 1. Ditemukannya kuman micobakterium TBC dari dahak penderita memastikan diagnosis tuberculosis paru. biakan negatif tetapi radiologik positif. sebaiknya 3 kali pemeriksaan dahak. Pengambilan dahak yang benar sangat penting untuk mendapatkanhasil yang sebaik-baiknya. Bayang yang menetap atau relatif menetap setelah beberapa minggu e. Darah berwarna merah segar d. terutama bila terdapat di lapangan atas paru d. Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung). BTA positif: mikroskopik positif 2 kali. tomogram dan lain-lain. Ujiresistensi harus dilakukan apabila ada dugaan resistensi terhadap pengobatan. Pemeriksaan biasanya lebih sensitive daripadasediaan apus (mikroskopis). Jenis pemeriksaan radiology lain hanya atas indikasi Top foto. Kelainan yang bilateral. Darah bersifat alkalis e. Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif 2. BTA negatif. Bayangan yang berawan (patchy) atau berbercak (noduler) c. Klasifikasi Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik. Bayangan bilier ➢Pemeriksaan Bakteriologik (Sputum) . Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif. Sesuai dengan program Gerdunas P2TB klasifikasi TB Paru dibagi sebagai berikut: a. Penanganan Medik Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk mengobati juga mencegah kematian. Anemia seriang terjadi f. 3. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria: 1. mikroskopik positif 1 kali disokong biakan positif satu kali atau disokong radiologik positif 1 kali.

1. Pada foto thorax . b. 4. hasil pemeriksaan bakteriologik. keringat malam. kemudianmeningkat setelah masa remaja di mana TB paru-paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (seringdisertai lubang/kavitas pada paru-paru). kolaps.Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup. 5) Malaise : ditemukan berupa anorexia. Jenis obat utama yangdigunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin. Angka kejadian (prevalensi) TB paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah. 2. derivat Rifampisin/INH.Pencatatan dan pelaporan yang baku. 4) Nyeri dada : ini jarang ditemukan.bulan) dan fase lanjutan (4-7bulan). berat ringannya penyakit. Anak lebih sering mengalami TB luar paru-paru (extrapulmonary) dibanding TB paru-parudengan perbandingan 3:1. 2) Batuk : terjadi karena adanya iritasi pada bronchus. 6) Pada atelektasis terdapat gejala berupa : cyanosis. 5. nyeri otot. Biasanya timbul padalingkungan rumah dengan kepadatan tinggi yang tidak memungkinkan cahaya matahari masuk kedalam rumah. sesak nafas. Kuinolon. Di samping itu perlu pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yangdikenal sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) yang direkomendasikan oleh WHOyang terdiri dari lima komponen yaitu: 1. Sedang jenis obat tambahan adalah Kanamisin.. Streptomisin danEtambutol. dimulai dari batuk kering sampai dengan batuk purulen (menghasilkan sputum). 3. 3) Sesak nafas : bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru. Bio Data Penyakit Tuberkulosa dapat menyerang dari mulai anak sampai dengan dewasa dengankomposisi antara laki-laki dan perempuan yang hampir sama menderita. TB luar paru-paru dan TB yang berat terutama ditemukan pada usia < 3tahun. namun usia paling umum adalah antara 14tahun. Riwayat Kesehatan Keluhan yang sering muncul antara lain : 1) Demam : subfebris. Makrolide dan Amoksisilin +Asam Klavulanat. Pirasinamid. B. hapusan dahak dan riwayatpengobatan sebelumnya. Pengkajian a.Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung sedang pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur dapat dilaksanakan di unit pelayanan yang memiliki sarana tersebut. nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan. batuk ini terjadi untuk membuang / mengeluarkan produksi radang. febris (40-41C) hilang timbul.Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam penanggulangan TB. Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu berdasarkan lokasituberkulosa.Pengobatan TB dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan pertama dimana penderita harus minum obat setiap hari. nafsu makan menurun. Proses Keperawatan 1. INH. sakit kepala. TB pada anak dapat terjadi pada usia berapa pun. Bagian dada klien tidak bergerak pada saat bernafas dan jantung terdorong ke sisi yang sakit. berat badan menurun.

Perubahan mengindikasikanTB yang lebih berat dapat mencakup area berlubang dan fibrous. mungkin ditemukan pada TB paru kronik lanjut. berat dan sisa kerusakan paru. LED meningkat. penurunan geraan silia. 6) Needle Biopsi of Lung Tissue : positif untuk granuloma TB. dyspnea atau anoreksia d. Mantoux. Vollmer Patch) : reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih. • Pada keadaan lanjut Atropi dan retraksi interkostal dan fibrosis • Bila mengenai pleura terjadi effusi pleura (perkusi memberikan suara pekak) d. Tine. 3. Intervensi ➢Diagnosa : Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah. c. Pemeriksaan Fisik • Pada tahap dini sulit diketahui. • Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberikan suara umforik. 4) Chest X-Ray : dapat memperlihatkan infiltrasi kecil pada lesi awal di bagian paru-paru bagian atas. deposit kalsium pada lesi primer yang membaik atau cairan pada effusi. 2. b. c. biopsi kulit) : positif untuk mycobacterium tuberkulosa. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.tampak pada sisi yang sakit bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas. Diagnosis Keperawatan a. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan produksi sputum/batuk. adanya sel-sel besar yang mengindi. Dead Space meningkat. 8) ABGs : mungkin abnormal.kasikan nekrosis. kasar dan nyaring. urine dan CSF. stasis dari sekresi. 2) Ziehl Neelsen (Acid-fast Staind applied to smear of body fluid) : positif untuk BTA 3) Skin Test (PPD. Tujuan : Kebersihan jalan napas efektif. Kurang pengetahuan tentang kondisi. 9) Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB. 7) Elektrolit : mungkin abnormal tergantung dari lokasi dan beratnya infeksi. Mencari posisi yang nyaman yang memudahkan peningkatan pertukaran udara. misalnya hiponatremia mengakibatkan retensi air. . tergantung lokasi. e. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer. Mendemontrasikan batuk efektif. Pemeriksaan Tambahan 1) Sputum Culture : Positif untuk mycobacterium tuberkulosa pada stadium aktif. terapi dan pencegahan berhubungan dengan infornmasi kurang / tidak akurat. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah. Kriteria hasil : 1. TLC meningkat dan menurunnya satu-rasi oksigen yang merupakan gejala sekunder dari fibrosis/infiltrasi parenchim paru dan penyakit pleura 2. • Ronchi basah. 11) Test Fungsi Paru : VC menurun. timbul 48 – 72 jam setelah injeksi antigen intradermal) mengindikasikan infeksi lama dan adanya antibodi tetapi tidak mengindikasikan penyakit sedang aktif. karena biasanya penyakit ini muncul bukan karena sebagai penyakit keturunan tetapi merupakan penyakit infeksi menular. 5) Histologi atau Culture jaringan (termasuk kumbah lambung. 7) Perlu ditanyakan dengan siapa pasien tinggal. 10) Darah : lekositosis.

menyebabkan frustasi. Rationale : Memungkinkan ekspansi paru lebih luas. Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang ade-kuat. Observasi fungsi pernapasan. Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin. yang mengarah pada atelektasis. Rationale : Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. Lakukan pernapasan diafragma. tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat. 5.Lakukan napas ke dua . 8. Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk. 6. Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. Rationale : Meningkatkan inspirasi maksimal. 2. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin. biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. ➢Diagnosis : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolarkapiler. Rationale : Pernapasan diafragma menurunkan frek. radiologi dan fisioterapi. Balik ke sisi yang sakit.2. meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi. ➢Konsul photo toraks.3. 7. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk. Rationale : Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya. ➢Pemberian expectoran ➢Pemberian antibiotika. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk. Menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi. Tujuan : Pertukaran gas efektif. Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru. Rencana tindakan : 1. dispnea atau perubahan tanda- . Rencana Tindakan : 1. Rationale : Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus. Tahan napas selama 3 – 5 detik kemudian secara perlahan-lahan. 2. keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut. Rationale : Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut. 3. Rationale : Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien. catat frekuensi pernapasan. 9. 4. Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar. Berikan posisi yang nyaman. meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit. Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : ➢Dengan dokter. Rationale : Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret. Kriteria hasil : 1. Rationale : Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif. pernapasan.3.

Jelaskan kebutuhan peningkatan masukan makanan tinggi elemen berikut : a. radiologi dan fisioterapi. 2. Zat besi (jeroan. Pembatasan cairan pada makanan dan menghindari cairan 1 jam sebelum dan sesudah makan. buncis. ➢Pemberian antibiotika.tanda vital. Rationale : Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. Peningkatan berat badan tanpa peningkatan edema Rencana tindakan 1. Rationale : Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepa-tuhan klien terhadap rencana teraupetik. 5. menurunkan napsu makan dan masukan. Menyebutkan makanan mana yang tinggi protein dan kalori 2. Rationale : Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya. Pertahankan perilaku tenang. Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan. 3. Diskusikan penyebab anoreksia. kacang segar). 6. Rationale : Ini meningkatkan kemungkinan klien mengkonsumsi jumlah protein dan kalori adekuat. dyspnea atau anoreksia Tujuan : Kebutuhan nutrisi adekuat Kriteria hasil : 1. 3. daging). Rationale : Dengan membantu klien memahami kondisi dapat menurunkan ansietas dan dapat membantu memperbaiki kepatuhan teraupetik. Menu makanan yang disajikan habis 3. Thiamine (kacang-kacang. Rationale : cairan dapat lebih pada lambung. Rationale : Peningkatan tekanan intra abdomen dapat menurunkan/menekan saluran GI dan menurunkan kapasitas. oranges). b. daging ayam. sayuran hijau. Rationale : Keletihan berlanjut menurunkan keinginan untuk makan. kacang-kacangan. Vitamin B12 (telur. kerang). Rationale : Masukan vitamin harus ditingkatkan untuk mengkompensasi penurunan metabolisme dan . Tawarkan makan sedikit tapi sering (enam kali sehari plus tambahan). Rationale : Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia. ➢Konsul photo toraks. Rationale : Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia. yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas. Asam folat (sayur berdaun hijau. buah yang dikeringkan. 4. 6. 4. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : ➢Dengan dokter. c. ➢Diagnosis : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan produksi sputum/batuk. Atur makanan dengan protein/kalori tinggi yang disajikan pada waktu klien merasa paling suka untuk memakannya. ➢Pemeriksaan sputum dan kultur sputum. bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam. d. dispnea dan mual. 5.

Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi. penurunan geraan silia.. 9. Rationale : Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi. Pengobatan jangka pendek INH dan Rifampisin selama 9 bulan dan Etambutol untuk 2 bulan pertama. resiko. menggunakan obat penekan imun/ kortikosteroid. meludah. 10. Rationale : Periode menular dapat terjadi hanya 2-3 hari setelah permulaan kemoterapi jika sudah terjadi kavitas. 8.total. Rationale : Pengetahuan tentang faktor-faktor ini membantu pasien untuk mengubah gaya hidup dan menghindari/mengurangi keadaan yang lebih buruk. kanker. bersin. para-amino salisik (PAS). Rationale : Mengurangi risilio penyebaran infeksi. Rationale : Membantu pasien agar mau mengerti dan menerima terapi yang diberikan untuk mencegah komplikasi 2. 4. malnutrisi. stasis dari sekresi. Monitor temperatur. Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani. penyebaran infeksi melalui bronkus pada jaringan sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko infeksi melalui batuk. sikloserin. penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan.aman. orang dalam satu perkumpulan. 6.penyimpanan vitamin karena kerusakan jarinagn hepar. Pemberian terapi Pyrazinamid (PZA)/Aldinamide. adanya diabetes melitus. Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif. Rationale : Orang-orang yang beresiko perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran infeksi. nutrisi parenteral. operasi bypass intestinal. Rencana tindakan 1. Rifampisin. Rationale : INH adalah obat pilihan bagi penyakit Tuberkulosis primer dikombinasikan dengan obat. Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan yang tertutup jika batuk. ➢Diagnosa : Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer. tertawa. teman. strep. Identifikasi orang-orang yang beresiko terkena infeksi seperti anggota keluarga.obat lainnya.tomisin. Rationale : Kemungkinan diperlukan suplemen tinggi protein. seperti: alkoholisme. Pemberian terapi INH. Rationale : Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten. Tujuan: Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan. 7. ciuman atau menyanyi.Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang. atau makanan personde. etambutol. 7. Rationale : Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi. . Gunakan masker setiap melakukan tindakan. Monitor sputum BTA Rationale : Untuk mengawasi keefektifan obat dan efeknya serta respon pasien terhadap terapi. 5. terapi dan pencegahan berhubungan dengan infornmasi kurang / tidak akurat. 3. Identifikasi individu yang berisiko tinggi untuk terinfeksi ulang Tuberkulosis paru. ➢Diagnosi : Kurang pengetahuan tentang kondisi.Konsul dengan dokter/shli gizi bila klien tidak mengkonsumsi nutrien yang cukup.

Rationale : Meningkatkan partisipasi pasien mematuhi aturan terapi dan mencegah putus obat. Rationale : Merokok tidak menstimulasi kambuhnya Tuberkulosis. efusi pleura. Rationale : Mencukupi kebutuhan metabolik. 10. kehilangan pendengaran. Review tentang cara penularan Tuberkulosis dan resiko kambuh lagi. Keefektifan bersihan jalan napas. Anjurkan untuk berhenti merokok. Rationale : Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan/ kambuh kembali. Berikan gambaran tentang pekerjaan yang berisiko terhadap penyakitnya misalnya: bekerja di pengecoran logam. vertigo. empierna. Penyangkalan dapat memperburuk mekanisme koping. gangguan penglihatan. Keberhasilan tergantung pada kemarnpuan pasien. Rationale : Indikasi perkembangan penyakit atau efek samping obat yang membutuhkan evaluasi secepatnya. Identifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya: hemoptisis. e. nyeri dada. Komplikasi Tuberkulosis: formasi abses. media. c. l2. Kaji kemampuan belajar pasien misalnya: tingkat kecemasan. pneumotorak. Rationale : Kebiasaan minurn alkohol berkaitan dengan terjadinya hepatitis 8. peningkatan tekanan darah Rationale : Mencegah keraguan terhadap pengobatan sehingga mampu menjalani terapi. 4. 6. 7. Instestinal (GD. Dorong pasien dan keluarga untuk mengungkapkan kecemasan. Rationale : Debu silikon beresiko keracunan silikon yang mengganggu fungsi paru/bronkus. tingkat pengetahuan. berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi. Fungsi pernapasan adekuat untuk mernenuhi kebutuhan individu. 11. jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering. Anjurkan pasien untuk tidak minurn alkohol jika sedang terapi INH. pengecatan. tingkat partisipasi. frekuensi. sakit kepala. orang dipercaya. Jangan menyangkal. Rujuk perneriksaan mata saat mulai dan menjalani terapi etambutol. intake cairan membantu mengencerkan dahak. Perilaku/pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi. jelaskan penatalaksanaan obat: dosis. Kebutuhan nutrisi adekuat. tindakan dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama. kelelahan. Rationale : Menurunkan kecemasan. mengurangi kelelahan. Pemahaman tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dan perubahan . u1serasi Gastro. demam. Tuberkulosis laring. lingkungan belajar. d. 9. Ulangi penyuluhan tentang interaksi obat Tuberkulosis dengan obat lain. b. 5. Evaluasi a. Mengidentifikasi gejala yangmernerlukan evaluasi/intervensi. fibrosis. 4. Rationale : Efek samping etambutol: menurunkan visus. hernoptisis. Menerima perawatan kesehatan adekuat. kurang mampu melihat warna hijau. kesulitan bernafas. Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya: jadwal minum obat. Tekankan pentingnya asupan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) dan intake cairan yang adekuat. fistula bronkopleural. pertambangan. konstipasi.Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn danmenurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru. Rencana tindakan 1. 3. 2. tapi gangguan pernapasan/ bronchitis. dan penularan kuman. Rationale : Informasi tertulis dapat membantu mengingatkan pasien. Rationale : Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. empisema. bronkiektasis. perhatian.

Referensi: Zulkifli Amin. 2006.perilaku untuk memperbaiki kesehatan. Jakarta: UI . Asril Bahar. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Tuberkulosis Paru.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful