P. 1
Khutbah Idul Fitri 1434 H

Khutbah Idul Fitri 1434 H

|Views: 12|Likes:
Published by Kusriyanto Bachri

More info:

Published by: Kusriyanto Bachri on Aug 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/22/2014

pdf

text

original

Khutbah Idul Fitri 1434 H: Menjadikan Masjid Seperti Rumah Sendiri

‫هللا أك بر هللا أك بر هللا أك بر هللا أك بر هللا أك بر هللا‬ ‫أك بر هللا أك بر هللا أك بر هللا أك بر‬ ‫ر‬ ‫هللا‬ ‫ب‬ ‫ب‬ ‫هللا‬ ‫هللا‬ ‫هللا‬ ‫ر‬ ‫هللا‬ ‫ب‬ : ‫ب هللا‬ : ‫ر‬ : ‫ر‬ ‫أ‬ ‫أ‬ ‫ر‬

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu Kaum Muslimin Yang Berbahagia. dakwatuna.com - Kembali puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah swt yang telah memberikan kenikmatan beribadah kepada kita, khususnya pada bulan Ramadhan yang baru saja kita lalui, bahkan ibadah shalat Id kita pada pagi ini. Karenanya kita berharap semoga semua itu dapat mengokohkan ketaqwaan kita kepada Allah swt dalam menjalani sisa kehidupan kita di dunia. Ketaqwaan yang membuat kita bisa keluar dari berbagai persoalan hidup dan mengangkat derajat kita menjadi amat mulia di hadapan Allah swt. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat dan para penerusnya hingga hari akhir nanti. Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu Kaum Muslimin Yang Berbahagia. Salah satu yang tidak terpisah dari aktivitas Ramadhan yang baru saja kita lalui adalah memakmurkan masjid. Selama Ramadhan, masjid kita relatif jauh lebih makmur, pengurus dan jamaah masjid lebih besar perhatiannya dengan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran hingga dana. Ini merupakan pelajaran bagi kita semua bahwa seharusnya setiap kita menyadari betapa masjid itu sangat penting bagi kaum muslimin.

Nilai-nilai yang sudah kita bina selama ibadah Ramadhan harus dapat kita lestarikan, paling tidak sampai Ramadhan tahun yang akan datang. Dalam konteks inilah menjadi penting memfungsikan masjid sebagai pusat pembinaan umat Islam. Bagi kita, seharusnya masjid kita posisikan seperti rumah kita sendiri atau kalau boleh disebut sebagai rumah kedua umat Islam. Rasulullah saw bersabda:

.
Masjid itu adalah rumah setiap orang yang bertaqwa, Allah memberi jaminan kepada orang yang menganggap masjid sebagai rumahnya, bahwa ia akan diberi ketenangan dan rahmat serta kemampuan untuk melintasi shiratal mustaqim menuju keridhaan Allah, yakni surga (HR. Thabrani dan Bazzar dari Abud Darda RA). Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu. Kaum Muslimin Rahimakumullah. Dari hadits di atas, bila kita menjadikan masjid seperti rumah kita sendiri, maka kita akan memperoleh tiga hal. Pertama, ketenangan jiwa. Hal ini karena masjid merupakan rumah Allah swt dan sumber ketenangan itu adalah Allah swt. Ketika orang berdosa mau kembali ke masjid sebagai salah satu tanda taubatnya, maka Allah swt menerimanya dengan senang hati, ini tentu membuat si pendosa menjadi tenang. Ketika orang takut dan cemas mau ke masjid niscaya ia akan mendapatkan ketenangan karena di masjid hati dan pikirannya dijernihkan, bahkan ketika orang punya problem dalam hidup, pengurus masjid bersama jamaah yang lain akan membantu menyelesaikan masalah dan mencari jalan keluar. Dalam konteks inilah, para khatib dan muballigh melalui khutbah dan ceramahnya harus dapat memberikan ketenangan, sedangkan pengurus masjid dan jamaah bekerja sama untuk dapat membangun ketenangan itu melalui program memakmurkan jamaah sehingga problematika yang dihadapi jamaah dapat dibantu dan dicarikan jalan keluarnya. Kedua, bila masjid kita jadikan seperti rumah sendiri, maka kita akan memperoleh rahmat atau kasih sayang dari Allah swt. Dalam konteks kehidupan berjamaah atau bermasyarakat, rahmat Allah swt amat kita butuhkan, karena dengan demikian kita akan berlaku lemah lembut dalam berinteraksi atau berkomunikasi dengan sesama, baik dalam keluarga maupun masyarakat dan bangsa. Sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang yang kasar menunjukkan bahwa ia masih jauh dari rahmat Allah swt. Karena itu, sebesar-besarnya kekecewaan atau kemarahan Rasulullah saw, beliau tidak dibenarkan berlaku kasar, tetapi tetap lemah lembut, mudah memberi maaf atas kesalahan orang lain, bahkan harus mendoakan

ampunan baginya serta menjadi soliditas atau kekompakan dalam berjamaah dengan bermusyawarah, ini semua hanya bisa dilakukan karena rahmat Allah swt, sebagaimana firman-Nya:

Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS Ali Imran [3]:159). Keuntungan Ketiga bila kita menjadikan masjid seperti rumah sendiri adalah diberi kemampuan melintas shirat atau jembatan menuju surga. Ini merupakan dambaan setiap muslim. Hal ini karena berhasil melewati shirat membuat kita akan masuk ke dalam surga. Keberhasilan kita melewati shirat sangat tergantung pada bagaimana kita menjalani kehidupan di dunia ini, salah satunya adalah bila kita komitmen kepada pemakmuran masjid. Kemudahan melewati shirat karena telah memperoleh cara yang sempurna, Rasulullah saw bersabda:

Berbahagialah orang-orang yang banyak berjalan ke masjid dalam kegelapan, mereka meraih cahaya yang sempurna pada hari kiamat (HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Hakim). Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu. Jamaah Shat Id Yang Berbahagia. Persoalan kita kemudian adalah bagaimana mewujudkan masjid seperti rumah kita sendiri. Paling tidak, ada empat hal yang harus kita lakukan. Pertama, memiliki komitmen atau ikatan batin sebagaimana hal itu kita tunjukkan terhadap rumah kita sendiri. Ikatan batin yang kuat terhadap masjid membuat kita rindu kepada masjid dan selalu ingin mendatanginya. Karena itu, perbedaan pendapat, ketidakcocokan pengurus dengan pengurus, ketidakcocokan jamaah dengan pengurus hingga perbedaan pendapat tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk tidak mau mendatangi masjid. Saling menghormati atas adanya perbedaan, bermusyawarah dan mencari titik kesamaan merupakan sesuatu yang amat penting untuk

tercapainya masjid yang makmur. Mendatangi masjid adalah komitmen kita kepada Allah swt dan persoalan kita secara pribadi dengan sesama pengurus dan jamaah adalah persoalan lain. Bila kita sudah memiliki ikatan batin dengan masjid, kita akan mendapatkan perlindungan dari Allah swt pada hari kiamat, sesuatu yang amat kita butuhkan, Rasulullah saw bersabda:

.
Ada tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah: …seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid ketika ia keluar hingga kembali kepadanya (HR. Bukhari dan Muslim). Selain itu, orang yang sudah rajin datang ke masjid dalam rangka memakmurkannya tidak perlu kita ragukan keimanannya, Rasulullah saw bersabda:

Apabila kamu sekalian melihat seseorang biasa ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia benar-benar beriman (HR. Tirmidzi dari Abu Sa‟id Al Khudri). Kedua, betah berada di dalamnya. Karenanya seorang mukmin bila berada di masjid menjadi seperti ikan di dalam air, sedangkan orang munafik justru seperti burung dalam sangkar. Ramadhan adalah bulan di mana kita merasakan lebih banyak waktu untuk berada di Masjid, apalagi pada 10 hari terakhir Ramadhan. Orang yang betah berada di masjid selama tidak mengabaikan kewajibannya yang lain mendapatkan penghargaan khusus dari Allah swt. Bila shalat berjamaah, orang yang betah di masjid menunggu saatnya pelaksanaan shalat berjamaah sehingga menunggunya dihitung seperti shalat, Rasulullah saw bersabda:

Selalu seseorang teranggap dalam shalat selama tertahan oleh menantikan shalat, tiada yang menahannya untuk kembali ke rumahnya hanya semata-mata karena menantikan shalat (HR. Bukhari dan Muslim). Begitu pula dengan ibadah Jumat yang berusaha dihadirinya lebih pagi sehingga mendapat nilai yang luar biasa besar, Rasulullah saw bersabda:

.
Jika tiba hari Jumat, para malaikat berdiri di pintu-pintu masjid menulis yang hadir pertama dan yang seterusnya. Dan perumpamaan orang yang berangkat pertama adalah seperti orang yang berkorban seekor unta, kemudian seperti orang yang berkorban sapi, kemudian seekor domba, kemudian seekor ayam, kemudian sebutir telur. Jika imam telah hadir, maka mereka menutup buku catatan dan menyimak dzikir (khutbah). (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah). Ketiga, mau bertanggung jawab terhadap eksistensi dan pemakmurannya. Kata ―memakmurkan‖ berasal dari kata dasar ―makmur‖ Kata itu merupakan serapan dari bahasa Arab – ) yang memiliki banyak arti. Di antaranya adalah: membangun, memperbaiki, mendiami, menetapi, mengisi, menghidupkan, mengabdi, menghormati dan memelihara serta memfungsikan sesuai dengan fungsi yang ditetapkan Allah swt dan Rasul-Nya. Kata itu dipakai oleh Allah dalam firman-Nya yang juga menunjukkan keutamaan pemakmur masjid:

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orangorang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS At-Taubah [9]:18) Dengan demikian, memakmurkan masjid berarti membangun, mendirikan dan memelihara masjid, menghormati dan menjaganya agar bersih dan suci, serta mengisi dan menghidupkannya dengan berbagai ibadah dan ketaatan kepada Allah swt. Salah satu yang diperingatkan oleh Rasulullah saw adalah bila masjid sudah dibangun, apalagi dengan megah dan indah, tapi hanya sedikit orang yang memakmurkannya, beliau bersabda:

Sungguh akan datang pada umatku suatu masa di mana mereka saling bermegahmegahan dengan membangun masjid tapi yang memakmurkannya hanya sedikit (HR. Abu Daud).

Keempat, menyejahterakan dan memajukan orang yang berada di dalamnya mulai dari memecahkan problematika yang dihadapi jamaah, mendamaikan jamaah yang konflik, mengurangi atau mengatasi beban hidup jamaah masjid, membekali dan meningkatkan keterampilan usaha, memberi modal usaha, bantuan musibah dan berbagai usaha sosial lainnya. Rasulullah saw telah mencontohkan semua itu ketika membangun shuffah atau semacam asrama di masjid Nabawi sehingga boleh dibilang pada masa Nabi tidak ada gelandangan karena masalah sosial. Karena itu, bila semua kita mau berkontribusi atau memberi sumbangsih bagi peran masjid di bidang sosial, niscaya tidak ada persoalan jamaah yang tidak teratasi. Dengan demikian, tugas kita bersama adalah bagaimana masjid-masjid kita yang lebih makmur pada bulan Ramadhan dapat kita tindaklanjuti pemakmurannya sesudah Ramadhan berakhir. Kondisi masyarakat kita yang sulit, kemerosotan akhlak pada berbagai tingkatan masyarakat dan berbagai persoalan yang menghadang kehidupan menuntut peran serta masjid sehingga tidak hanya jamaah harus memakmurkan masjid tapi masjid juga harus memakmurkan jamaahnya. Akhirnya marilah kita akhiri khutbah Id kita hari ini dengan sama-sama berdoa:

.
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu‘minin dan mu‘minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.

.
Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang zhalim dan kafir.

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tak bermanfaat, dari hati yang tak khusyu dan jiwa yang tak pernah merasa puas serta dari doa yang tak didengar (Ahmad, Muslim, Nasa‘i)

.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.
Drs. H. Ahmad Yani adalah Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khairu Ummah, Ketua Majelis Dai Paguyuban Ikhlas, Ketua..

Khutbah Idul Fitri 1434 H Pemimpin Jangan Terpenjara Masalah

Pendahuluan . .
dakwatuna.com - Pada hari kemenangan ini, mari kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah Swt. Tuhan Maha Pengasih yang menganugerahi kita bulan Ramadhan. Bulan penuh berkah di mana pahala amal saleh dilipatgandakan dan pintu-pintu ampunan dibuka lebar. Dalam hadits riwayat Imam Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah, Rasulullah Saw bersabda:

.
“Hai umat manusia. Akan datang kepada kalian bulan mulia dan penuh berkah. Di dalamnya ada lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Allah mewajibkan puasa di bulan itu, dan shalat tarawih di malam harinya sebagai ibadah sunah. Orang yang mendekatkan diri dengan melakukan ibadah sunah, pahalanya sama dengan melakukan ibadah wajib di bulan lain. Sementara itu, orang yang melakukan ibadah wajib, pahalanya senilai tujuh puluh ibadah wajib di bulan lain.” Hakikat Ibadah Ramadhan Semua rangkaian ibadah di bulan Ramadhan, baik yang wajib seperti puasa dan zakat, maupun yang sunah seperti tarawih dan tadarus, hakikatnya adalah media pelatihan rabbani agar kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan intelektual kita terus meningkat dari waktu ke waktu. Ini merupakan cara Tuhan menata kehidupan hamba yang dicinta-Nya. Supaya kita berevolusi menjadi pribadi yang semakin baik dan semakin siap menghadapi perjumpaan dengan-Nya. Mari jadikan perayaan Idul Fitri ini sebagai momentum untuk menguatkan tekad menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Lanjutkan semua tradisi positif yang biasa kita lakukan selama bulan Ramadhan, buang seluruh kebiasaan buruk yang kita hindari selama berpuasa. Patrikan niat untuk merawat dan mengisi harihari di sebelas bulan berikutnya dengan beragam kebajikan yang bernilai pahala, agar kita termasuk hamba yang diridhai dan berhak atas surga seperti dijanjikan Allah dalam surah Al-Fajr ayat 27-30:

.
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.” Shalawat dan Salam Shalawat dan salam mari kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW Nabi akhir zaman yang berhasil mengubah bangsa Arab pagan menjadi beriman. Yang terpecah karena fanatisme kesukuan, menjadi bersatu dalam

persaudaraan. Yang egois karena membanggakan silsilah keturunan, menjadi humanis dan menjunjung tinggi asas kesetaraan. Beliaulah pemimpin yang lahir secara alami di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan figur amanah dan bisa dipercaya, sosok pemersatu yang diterima semua golongan, serta pribadi cerdas yang bisa menyelesaikan semua persoalan. Kepemimpinan beliau tidak diperoleh secara instan melalui citra yang direkayasa. Tidak pula karena memanfaatkan kekuatan finansial meskipun istrinya, Khadijah adalah saudagar kaya, dan bukan juga karena faktor genetik karena beliau keturunan bangsawan Quraisy. Kepemimpinan Rasulullah Saw tumbuh melalui ketulusan untuk menyelamatkan umat dari kebiadaban tradisi Jahiliyah. Ditempa melalui beragam cacian, makian, intimidasi, dan perlakuan keji. Serta dikuatkan oleh jasa baik yang manfaatnya dirasakan semua kabilah Arab. Alhamdulillah, Allah Swt. menakdirkan kita untuk menjadi umatnya. Mari kita syukuri nikmat ini dengan keseriusan meneladani sifat, sikap, dan perilaku beliau dalam kehidupan kita. Hakikat dan Fungsi Kepemimpinan

. .
Tanpa sedikit pun mengurangi kekhusyukan dalam mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid, Khatib al-Faqir mengajak hadirin sekalian untuk merenungkan ajaran Islam tentang kepemimpinan. Hal ini sangat penting dipahami karena Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah kepemimpinan. Dalam setiap sektor kehidupan, baik formal maupun non-formal, dalam skala kecil maupun besar, untuk kegiatan yang bermuatan ibadah ataupun amaliyah, Islam selalu menganjurkan umatnya untuk memilih pemimpin. Dalam hadits panjang yang sudah sering kita dengar, Rasulullah Saw menegaskan bahwa kita semua, apa pun jenis kelamin dan status sosialnya di mata manusia, di depan Allah Swt. kita tetaplah seorang pemimpin. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw bersabda:

.

“Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang pria adalah pemimpin bagi keluarganya, dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya, dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang pembantu adalah pemimpin bagi harta majikannya, dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.” Dengan mengangkat setiap Muslim sebagai pemimpin, hadits ini sebenarnya meneguhkan jati diri kita sebagai khalifah. Wakil Tuhan yang bertugas memakmurkan bumi dengan beragam kebaikan. Manusia-manusia pilihan yang dituntut berkompetisi melakukan amal saleh demi meraih ridha-Nya, dan umat terbaik yang dibebani tanggung jawab menegakkan amar ma‘r uf nahi mungkar sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas masing-masing. Tak satu pun dari kita yang bisa mengelak dari amanah kepemimpinan. Mengelak amanah kepemimpinan, berarti mengingkari fitrah sebagai khalifah, sekaligus mengingkari status sebagai Muslim. Ingat, ancaman Allah begitu jelas bagi orang-orang seperti ini. Dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Rasulullah Saw bersabda:

.
“Orang yang diserahi kekuasaan urusan manusia, lalu menghindar dan mengelak tidak melayani kaum yang lemah dan orang-orang yang membutuhkan, maka Allah tidak akan mengindahkannya pada Hari Kiamat.” Agar tidak termasuk orang-orang yang diabaikan Allah Swt. pada Hari Kiamat, mari tunaikan amanah kepemimpinan yang dibebankan kepada kita dengan baik. Jalankan tiga fungsi kepemimpinan seperti yang diajarkan Islam dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw berikut para sahabat besar generasi salafus saleh. Pertama, Pemimpin Adalah Imam, Pelopor Kebajikan Dalam bahasa Arab, kata imam berasal dari amma-yaummu yang berarti menuju, menumpu, dan meneladani. Artinya, seorang pemimpin harus berada di garda terdepan dalam memberi teladan positif. Menjadi pelopor dalam setiap kebaikan. Menjadi kreator yang selalu tampil dengan ide-ide kreatif untuk memajukan masyarakat. Cerdas membaca situasi dan cekatan dalam memberikan solusi, berani mengambil risiko atas keputusan yang sudah ditetapkan, serta konsisten menjalankan kebijakan yang sudah digariskan meskipun terkesan tidak populer. Rasulullah Saw adalah contoh imam yang sangat ideal. Saat perintah shalat turun, beliau tidak hanya rajin menyuruh umat untuk mendirikan shalat. Tapi beliau

sendiri shalat sampai kakinya bengkak. Untuk meningkatkan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar, beliau menggagas persaudaraan massal, di mana setiap sahabat Anshar harus mengangkat satu orang sahabat Muhajirin sebagai saudaranya. Ketika beliau membaca gelagat kekecewaan kaum Muslimin atas isi perjanjian Hudaibiyah yang sepintas terkesan merugikan, sehingga mereka tidak segera melaksanakan perintah mencukur rambut, Rasulullah SAW langsung mencukur rambut di hadapan para sahabat, menyadarkan mereka bahwa isi perjanjian Hudaibiyah sebenarnya sangat menguntungkan kaum Muslimin, dan konsisten menaatinya, hingga kafir Quraisy sendiri melanggar perjanjian tersebut. Kedua, Pemimpin Adalah Ra’in, Pelayan Masyarakat Kata ra‟in biasa diartikan memelihara, menjaga, atau menggembala. Maknanya, seorang pemimpin harus selalu bersedia melayani umat. Rela mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menyelamatkan masyarakat dari belitan derita, lalu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan mereka. Tidak pernah enggan apalagi malu bergaul dengan rakyat secara langsung. Tidak menciptakan jarak dan sekat protokolariat yang membuat masyarakat kesulitan untuk mengadukan masalah mereka, dan bersikap empati terhadap penderitaan umatnya. Mari kita contoh Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Hampir setiap malam dia menyempatkan diri berkeliling Madinah untuk mengetahui kondisi riil masyarakat Islam. Ia tidak pernah merasa puas dengan laporan-laporan yang disampaikan pejabat pemerintahannya mengenai kondisi rakyat. Ia merasa perlu untuk turun langsung ke bawah agar tahu pasti keadaan masyarakat. Ia tidak canggung membangunkan istrinya tengah malam lalu memanggul karung gandum sendiri, demi membantu persalinan keluarga miskin di pinggiran kota Madinah. Ia juga tidak ragu dan menghindar ketika seorang Yahudi Mesir mengadukan gubuknya yang digusur. Dengan penuh empati, Umar langsung mengirim ultimatum kepada Gubernur Mesir agar hak-hak Yahudi tersebut dikembalikan. Ketiga, Pemimpin Adalah Khalifah, Penerus Risalah Nabi untuk Memimpin Rakyat Kata khalifah merupakan bentuk turunan dari khalafa-yakhlifu yang berarti pengganti atau pelanjut. Maknanya, seorang pemimpin harus bisa menjadi motivator yang mendorong masyarakat untuk maju. Peka mendengarkan aspirasi rakyat, lalu mewujudkan keinginan mereka, selama keinginan tersebut mengandung kemaslahatan umum. Telaten mendengarkan masukan serta terbuka untuk dikritisi. Tidak egois apalagi angkuh dengan meyakini diri paling pintar dan paling benar. Lihatlah Abu Bakat Ash-Shiddiq yang tekun memotivasi rakyat agar terus bersatu dan bersemangat menyebarkan kebajikan setelah ditinggal oleh Rasulullah SAW.

Cermati ketika dia mendengar masukan agar Al-Quran dibukukan karena banyak sahabat yang hafal Al-Quran syahid di medan perang. Simak keterbukaannya untuk dikritisi dan dikoreksi dalam pidato pengangkatannya sebagai khalifah:

.
“Saudara-saudara sekalian, aku diangkat menjadi pemimpin bukan karena aku yang terbaik di antara kalian. Oleh karena itu, jika aku berbuat baik, bantulah aku, dan jika berbuat salah, luruskanlah aku.” Ketiga fungsi kepemimpinan tersebut di atas, diterjemahkan secara etnik oleh Ki Hajar Dewantara lalu dijadikan sebagai falsafah bangsa dalam kalimat Ing Ngarso sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani (Di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan). Antara Rekam Jejak dan Kinerja Pemimpin

. .
Karena setiap individu dari kita sudah dibekali potensi kepemimpinan, bahkan ditugaskan untuk memimpin sebagaimana diamanahkan surah Ali Imran ayat 110:

“Kalian adalah umat terbaik yang diutus untuk manusia.” Berarti kita semua peluang untuk meniti amanah kepemimpinan dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Dalam bahasa demokrasi kita mengenal istilah, setiap warga negara memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk dipilih dan memilih. Walaupun begitu, ada baiknya bagi kita, untuk menangkap pesan moral yang dicontohkan para sahabat dalam prosesi memilih pemimpin secara demokratis. Pesan Moral Terpilihnya Utsman Sebagai Khalifah Sejarah demokrasi dalam Islam yang lebih dikenal dengan istilah syura, digagas oleh Umar bin Khaththab saat menyerahkan suksesi kepemimpinan setelahnya kepada enam sahabat besar. Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa‘ad bin Abi al -Waqqash, dan

Abdurrahman bin Auf. Keenam sahabat ini kemudian bermusyawarah dan menetapkan Utsman bin Affan sebagai khalifah. Pertanyaannya, mengapa bukan Ali bin Abi Thalib yang dipilih? Bukankah dia merupakan anak angkat Rasulullah SAW yang cerdas dan jenius? Dalam hadits riwayat Imam Hakim dan Thabrani, Rasulullah SAW bersabda memuji kecerdasan Ali:

.
“Aku adalah gudang ilmu, dan Ali adalah gerbangnya.” Mengapa bukan Sa‘ad bin Abi Al-Waqqash, panglima perang yang dipercaya Umar untuk menaklukkan Persia? Mengapa juga bukan Zubair bin Awwam yang dikenal wara‘ dan zuhud? Pesan moral yang bisa ditangkap dari terpilihnya Utsman sebagai khalifah adalah, karena rekam jejak positifnya mengungguli kelima sahabat besar yang lain. Dialah sahabat yang telah membeli surga dua kali. Pertama ketika membeli Sumur Rumah milik Yahudi lalu mewakafkannya kepada kaum Muslimin, dan kedua ketika membekali Jaisyul Usrah (Pasukan yang kesulitan dana). Dalam hadits riwayat Hakim, Rasulullah SAW bersabda:

.
“Apa pun yang dilakukan „Utsman setelah hari ini tidak mendatangkan mudarat baginya.” Kedermawanan Utsman bin Affan tentu bukan satu-satunya faktor yang membuatnya terpilih sebagai pemimpin. Masih banyak faktor lain yang menjadikannya dianggap paling layak menggantikan Umar bin Khattab sebagai khalifah. Di antaranya adalah, Utsman merupakan sosok pemalu, sehingga malaikat pun malu terhadapnya. Selain itu, kedermawanan Utsman dalam menginfakkan harta, juga jauh berbeda dengan praktik money politic yang sering dilakukan kandidat pemimpin untuk menduduki jabatan ketua ormas, ketua partai, atau kepala pemerintahan baik di daerah maupun di pusat. Mereka membagi-bagikan uang karena ingin menduduki jabatan. Ada pamrih dan ada transaksi di balik kedermawanan semu yang mereka perlihatkan. Sementara itu, kedermawanan Utsman lahir dari keikhlasan berderma untuk memenuhi perintah Al-Quran surah At-Taubah ayat 41:

.
“Dan berjuanglah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Fungsi Rekam Jejak Pemimpin Rekam jejak menjadi unsur yang harus diperhatikan dalam suksesi kepemimpinan, karena hal itu merupakan satu-satunya media yang paling akurat untuk mengukur komitmen sekaligus memprediksi integritas calon pemimpin. Seorang figur yang masa lalunya dipenuhi beragam kesan positif, misalnya, punya visi yang jelas dalam meningkatkan kesejahteraan, punya garis perjuangan yang tegas dalam mengawal dan menyalurkan aspirasi, memiliki jasa besar yang manfaatnya dirasakan orang banyak, tidak punya cacat moral dan kepercayaan dari masyarakat, tentu lebih layak untuk diangkat menjadi pemimpin, dibanding figur yang masa lalunya abu-abu, tidak memiliki visi yang jelas dalam membangun bangsa, apalagi sudah memiliki aib moral dan menderita cacat kepercayaan. Rekam Jejak Pemimpin dan Efektivitas Pemerintahan Selain itu, rekam jejak juga punya pengaruh besar terhadap jalannya kepemimpinan. Pemimpin yang track record-nya dinilai buruk, pasti tersandera oleh masa lalunya, sehingga mustahil bisa menjalankan amanah kepemimpinan dengan tegas. Ia pasti berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri dari ancaman sanksi moral akibat beban masa lalunya. Ia pasti tertuntut untuk menghapus dosa-dosa sosialnya dengan memberikan kompensasi, fasilitas, serta kemudahan kepada pihak-pihak yang pernah dirugikan. Inilah jawaban di balik maraknya politik pencitraan setiap kali mendekati masamasa pemilihan pemimpin. Inilah pangkal di balik terjadinya transaksi politik yang menguntungkan segelintir kalangan dan merugikan masyarakat. Inilah poros di balik merebaknya negosiasi yang berujung pada korupsi, kolusi, nepotisme, dan penyimpangan kekuasaan lainnya. Dalam hadits riwayat Imam Thabrani, Rasulullah SAW bersabda:

.
“Khianat yang paling besar adalah bila seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya.” Di tangan pemimpin yang cacat moral, kekuasaan takkan berjalan efektif dan efisien. Begitu banyak kepentingan yang harus diakomodasi agar dosa-dosa masa lalunya tidak diungkit dan dipersoalkan. Sebab, hal itu bisa berujung pada pemakzulan dan hilangnya jabatan yang diperoleh dengan modal besar. Pada titik tertentu, pemimpin seperti ini bisa menjadi boneka yang dikendalikan oleh orangorang yang pernah dizhaliminya.

Sebaliknya, pemimpin yang track record-nya positif, pasti bisa memimpin dengan tegas. Tak ada beban moral yang menghambat upayanya dalam mewujudkan kedaulatan politik yang bebas dari intervensi asing, menegakkan supremasi hukum, membangun kemandirian ekonomi, menata kehidupan sosial, serta merumuskan program-program kreatif untuk memberdayakan masyarakat. Pemimpin seperti inilah yang bisa menjalankan pemerintahan dengan transparan dan penuh integritas. Pemimpin seperti inilah yang harus dipatuhi dalam suka dan duka sebagaimana diwasiatkan Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Ibnu Hibban:

.
“Dengarkan dan patuhi pemimpinmu dalam suka dan duka, saat senang dan susah” Pemimpin Harus Selesai dengan Dirinya

. .
Agar kekuasaan negeri ini tidak jatuh ke tangan pemimpin yang tersandera masa lalunya, maka setiap individu yang menyimpan ambisi untuk menduduki jabatan publik harus introspeksi diri. Ingat kembali perjalanan hidupnya yang lampau. Adakah dosa sosial dan politik yang belum diselesaikan? Adakah cacat moral yang belum diperbaiki? Jika ada, manfaatkan waktu yang tersisa ini untuk melakukan taubatan nasuha. Tunaikan hak-hak orang yang pernah dirugikan lalu minta keikhlasan mereka untuk memaafkan. Klarifikasi semua cacat moral yang dialami lalu tunjukkan komitmen untuk tidak mengulangi. Jangan malu untuk mengakui kesalahan-kesalahan yang telah lalu dan jangan ragu untuk meminta maaf. Jangan pernah khawatir langkah itu akan menurunkan kredibilitas dan elektabilitasnya di mata masyarakat. Karena yang terjadi justru sebaliknya, masyarakat lebih suka kepada figur yang rendah hati, mau mengakui kesalahan dan berjanji untuk memperbaikinya. Islam juga mengajarkan bahwa orang yang baik bukan yang tidak pernah salah. Orang yang baik adalah yang cepat menyadari kesalahan dan bersegegas meminta maaf, sebagaimana hadits riwayat Hakim dan Ibnu Majah:

.
“Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Sebaik-baik pelaku kesalahan adalah yang segera bertobat.”

Sejarah sudah membuktikan bahwa masyarakat cenderung simpatik dan mudah melupakan kesalahan orang yang menyadari kesalahannya lalu bertobat. Kita mungkin pernah mendengar nama Fudhail bin Iyadh, ulama besar Persia yang sangat disegani dan nasihatnya dipatuhi. Semua orang tahu bahwa awalnya dia adalah perampok sadis, namun setelah bertobat, Khalifah Harun Ar-Rasyid sering meminta sarannya dalam menjalankan pemerintahan. Kita juga tahu bahwa Sunan Kalijaga awalnya adalah seorang penjahat. Dijuluki Brandal Lokajaya, ia menjadi momok bagi orang-orang kaya di pesisir utara tanah Jawa. Namun setelah bertobat dan berkomitmen untuk berdakwah, tak satu pun dari masyarakat yang meragukan kredibilitasnya sebagai pemimpin agama. Berkaca dari kedua tokoh ini, para pemimpin harusnya sadar bahwa tugas-tugas kepemimpinan hanya bisa diemban oleh orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Tidak punya beban masalah di masa lalu, dan tidak sedang terbelit masalah di masa kini. Jabatan publik memerlukan dedikasi, totalitas, sangat menyita perhatian dan energi. Amanah ini hanya bisa dipikul oleh orang-orang yang tak lagi disibukkan dengan urusan dirinya. Tak lagi direpotkan dengan masalah-masalah pribadinya. Hanya pemimpin seperti inilah yang bisa fokus mencurahkan segenap potensinya untuk menyejahterakan rakyat. Benar-benar bisa menjadi abdi yang selalu siap untuk melayani masyarakat sebagaimana hadits riwayat Abu Na‘im:

.
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” Membiarkan jabatan publik jatuh ke tangan pemimpin yang terpenjara masalah, berarti kita menyiapkan diri untuk melayani, bukan dilayani. Menyiapkan diri untuk disibukkan dengan urusan pemimpin, bukan dia yang disibukkan oleh urusan kita. Dan ini artinya, kita dengan sadar membiarkan negara ini terjebak dalam kemunduran bahkan kebangkrutan. Na‟udzubillah min dzalik. Doa dan Harapan Sebelum mengakhiri khutbah ini, khatib al-faqir ingin mengingatkan bahwa pesta demokrasi 2014 sudah berada dalam hitungan hari. Sejumlah tokoh politik sudah mulai gencar melakukan sosialisasi, memperkenalkan diri, dan berusaha menarik simpati publik. Sebagai warga negara yang cerdas, mari sikapi fenomena politik ini dengan bijaksana. Jangan terburu-buru menjatuhkan pilihan sebelum mengetahui pasti kapabilitas, integritas, dan komitmen kejuangan kandidat pemimpin. Sadari bahwa pilihan kita sangat menentukan perjalanan bangsa ini ke depan. Semoga Allah Swt. membimbing kita untuk menjatuhkan pilihan pada figur yang amanah.

Figur yang memandang jabatan sebagai sarana untuk beribadah menegakkan amar ma‘ruf nahi mungkar Aamiin ya rabbal „alamiin.

. .

‫ر‬

‫ك‬

.

Wahai Tuhan Yang mempunyai kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

.
Ya Allah, muliakanlah agama Islam dan tinggikanlah derajat kaum muslimin. Hapuskan segala bentuk kekufuran dan enyahkan segala bentuk kejahatan. Tegakkan panji-panji kebesaran-Mu hingga akhir nanti, dengan Rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Pengasih.

.
Ya Allah, tanamkan kepada kami rasa cinta kepada iman. Hiasi hati kami dengan iman. Jauhkan kami dari segala bentuk kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Jadikan kami orang-orang yang selalu berada dalam petunjuk-Mu.

.
Ya Tuhan kami, berikanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.

.
Ya Allah, tolonglah penguasa kami, pemimpin kaum yang beriman, tolonglah para ulama, tolonglah para menteri, pejabat, serta tentaranya hingga hari Akhir. Tetapkan keselamatan dan kesehatan bagi kami, orang-orang yang sedang berjuang, para musafir, serta yang tidak bepergian, baik yang ada di darat atau di laut-Mu— umat Muhammad dan seluruh umat manusia.

.
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.

.
Mahasuci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan Penguasa alam semesta. ‫هللا رك‬

AM Fatwa Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI).

Khutbah Idul Fitri 1434 H Fithrah Manusia Harmoni Penuh Cinta

Ma‟asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah dakwatuna.com - Pagi ini kita ungkapkan syukur kepada Allah atas karunia nikmat yang tidak terhingga, dan syukur kita hari ini menjadi sangat bermakna karena setelah sebulan penuh kita laksanakan puasa Ramadhan, satu dari lima pilar agama Islam. Maka dengan mengumandangkan takbir (Allahu Akbar, hanya Allah Yang Maha Besar), tahlil (laa ilaaha illallah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), tahmid (alhamdulillah, segala puji milik Allah). Kita syukuri semua nikmat itu dan terus berharap agar Allah tambahkan lagi nikmat kepada kita semua, agar dapat hidup berbahagia di dunia dan akhirat Shalawat serta salam senantiasa kita sanjungkan untuk Rasulullah saw, beserta keluarga dan para sahabatnya serta pengikutnya hingga akhir zaman. ‫هللا‬ ‫هللا‬ ‫أكبر هللا أكبر‬

Ma‟asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah Kumandang takbir Idul fitri kali ini semoga semakin menegaskan dan menyegarkan kesadaran kita sebagai manusia makhluk ciptaan Allah. Makhluk yang telah Allah berikan berbagai macam kelebihan, keunggulan, dan kemuliaan

sekaligus keterbatasan-keterbatasan. Oleh karena itu untuk memantapkan rasa syukur kita, kita harus mampu memahami makna fitrah kelahiran kita, fitrah kelahiran setiap insan di dunia, Ma‟asyiral Muslimin rahimakumullah Kita tidak akan lahir ke dunia ini tanpa adanya mawaddah warahmah atau mahabbah warahmah, cinta dan kasih sayang. Kita lahir karena adanya cinta dan kasih sayang dari ibu dan bapak kita. Kita lahir melalui kasih sayang kedua orang tua kita dan kelahiran kita disambut oleh kasih sayang kerabat, saudara dan handai taulan kita. Oleh karena itu kita lahir untuk membawa misi rahmatan lilalamin. Kita lahir untuk menyebar kasih sayang kepada seluruh lapisan umat manusia, bahkan sesama makhluk ciptaan Allah Yang Maha Kuasa. Kita mencintai orang tua, mencintai keluarga, mencintai kerabat dan sanak saudara, mencintai tetangga, mencintai seluruh lapisan bangsa, bahkan seluruh lapisan kemanusiaan. Kita lahir dengan membawa mahabbah warahmah. Hanya karena godaan dan pengaruh syethanlah manusia kehilangan fitrahnya, berubah menjadi makhluk yang kehilangan cinta, menjadi pembenci, pendengki, pendendam kepada sesama manusia. Seperti dalam firman Allah:

19
Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. Al Maidah: 91) Ma‟asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah Dengan modal kasih sayang dan cinta kepada sesama itulah, kita berharap mendapatkan kasih sayang Allah yang sangat dalam setiap gerak, langkah dan kehidupan kita. Sebagaimana sabda Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam:

Mereka yang menyayangi itu akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi maka yang ada di langit akan menyayangimu. (HR. At Tirmidzi) Ma‟asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah Dengan fitrah dan kelahiran yang penuh cinta itulah kita mendapatkan kehormatan dan kemuliaan, dengan kemuliaan dan kehormatan yang tidak diberikan kepada makhluk selain manusia.

“….dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (Al-Isra: 70) Allah subhanahu wata‘ala pemilik kehormatan hakiki, telah memberikan kemuliaan kepada kita –kaum mukminin- di atas semua makhluk lainnya yang diciptakan-Nya.

8]
Padahal izzah (kehormatan) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (Qs Munafiqun 8) Kita lahir dengan kehormatan dan kemuliaan, oleh karena itu setelah kita diberi kehormatan dan kemuliaan oleh Allah, tidak boleh kita menempatkan diri kita dalam posisi yang lemah dan hina, karena kita telah lahir dengan kehormatan dan kemuliaan setelah sebelumnya kita lahir dengan kecintaan dan kasih sayang Ma‟asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah Keberadaan kita di dunia ini adalah untuk membangun kehormatan dan kemuliaan umat, bangsa dan negara serta kemanusiaan secara keseluruhan. Kita dilahirkan ke dunia dengan mengemban amanah dan memikul tanggung jawab. Kita lahir dengan membawa misi ibadah dan tugas kekhilafahan di dunia ini.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS Adz-Dzariyat: 56)

30]
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Qs. Al -Baqarah: 30) Ma‟asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah Kita lahir sudah dengan mengemban amanah dan memikul tanggung jawab yang sebelumnya telah ditawarkan oleh Allah SWT kepada makhluk-makhluk-Nya yang lain:

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh. (Qs. Al Ahzab 72) Amanah dan tanggung jawab ini yang akan semakin meninggikan derajat kaum mukminin di hadapan Allah, dan pada saat yang sama amanah dan tanggung jawab itu menjadi malapetaka bagi kaum munafik dan orang-orang musyrik.

Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab: 73)

Sebagai pengemban amanah dan tanggung jawab di muka bumi maka seluruh gerak, ibadah, tindakan dan ucapan kita akan dituntut pertanggungjawabannya oleh Allah SWT, inna sam‟a wal bashoro wal fuadakullun ulaika kana anhu masula :

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al Isra: 36) Oleh karena itu kita harus menyadari bahwa kita tidak bisa mengkhianati amanah yang kita emban dan tanggung jawab yang kita pikul tersebut:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (Qs. Al-Anfal: 27) Ma‟asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah Selain fitrah cinta dan amanah sebagai makhluk yang bertugas memakmurkan bumi ini, fitrah kehidupan menegaskan tentang keanekaragaman perbedaan manusia. Ada perbedaan suku bangsa, perbedaan bahasa, perbedaan warna kulit, perbedaan rizki, ada mustahiq ada muzakki, ada yang kuat ada yang lemah, dan masih banyak lagi perbedaan lain yang tak terhitung jumlahnya.

13]
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat: 13)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Ar Rum: 22) Ma‟asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah Allah menciptakan berbagai perbedaan itu untuk menjalin sinergi dan kerjasama, tidak untuk saling merendahkan dan menghina. Bukankah indahnya taman itu ketika ada bunga yang beraneka ragam warna. Rasulullah mengingatkan hal ini dalam khutbahnya di Mina pada hari tasyriq:

Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu, dan ayah kalian adalah satu, ketahuilah bahwasanya tidak ada keutamaan bangsa Arab atas bangsa „Ajam (non Arab) demikian juga tidak ada keutamaan bangsa ajam atas bangsa Arab. Tidak ada keutamaan yang berkulit merah atas yang berkulit hitam, atau yang hitam atas yang merah kecuali karena taqwanya. HR. Ahmad Ma‟asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah Merayakan Idul fitri, kembali kepada fitrah manusia, adalah penyegaran kesadaran akan fitrah kemanusiaan, fitrah kelahiran, nilai kemuliaan, peran dan fungsi keberadaan manusia di dunia, mengemban amanah dan mas‟uliyah (tanggung jawab) ini, serta kesadaran akan keanekaragaman dan perbedaan manusia untuk menjalin sinergi dalam memakmurkan bumi, menghadirkan kebahagiaan dan kemajuan alam semesta. Semoga syukur kita dalam perayaan Idul fitri kali ini diterima Allah subhanahu wa ta‘ala dan menempatkan kita dalam himpunan min ibadihi-syakuur di antara hamba-hamba-Nya yang bersyukur. Dan dengan landasan dan semangat syukur ini kita dapat bekerja lebih baik lagi, beramal dengan kualitas ahsanu amala. Sehingga semakin banyak kebaikan yang kita dapatkan, yang dengan demikian kita dapat terus menerus merasakan tambahan nikmat dari Allah sepanjang masa. Ma‟asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah Sebagai penutup khutbah kali ini marilah kita memohon kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, memohon kemaslahatan diri kita, keluarga, umat, bangsa,

negara, agar dapat meraih dan mengelola serta mendayagunakan kehormatan dan kemuliaan dunia ini untuk kemuliaan di akhirat nanti.

.

Demikian khutbah Idul fitri hari ini, mohon maaf atas segala kekhilafan dan tutur kata yang tidak berkenan. Selamat merayakan iedul fitri 1434 H. Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua. ‫ر‬ ‫أ‬ ‫ك‬

H. Muhith Muhammad Ishaq, Lc. MPdI
Anggota Badan Pengembangan Yayasan Islamic Center IQRO’, Pondok Gede. Pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darul Hikmah, Jati Asi.

Khutbah Idul Fitri 1434 H Refleksi Kemenangan Dalam Cinta dan Harmoni

Jamaah „Ied rahimakumullaah Ilustrasi – Silaturahim Idul Fitri (fitb.itb.ac.id) dakwatuna.com - Puji syukur layak terpanjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Agung, penguasa kerajaan langit dan bumi yang tiada henti mencurahkan rahmatNya untuk kita sekalian. Dia-lah yang telah menganugerahkan fajar cerah di pagi ini yang memancarkan sinarnya menghampar ke segala penjuru bumi, sinar yang menghembuskan hawa kebahagiaan hingga wajah-wajah kita terlihat begitu menawan dengan senyuman kebahagiaan dan hati-hati kita terasa begitu damai dan tenteram. Inilah dampak kemenangan yang telah kita raih, kemenangan atas hawa nafsu dan kemenangan atas iblis yang terkutuk serta bala tentaranya, namun di antara semua itu hikmah dari kemenangan yang terpenting bagi kita adalah keberhasilan meraih pakaian takwa yang menjadikan kita begitu mulia di sisi Allah SWT. Idul Fitri, inilah hari besar yang kita rayakan, inilah hari yang penuh cinta, inilah hari yang telah sanggup menghalangi manusia dari berbagai perbuatan mudharat. Hari ini, tindak kriminalitas menurun secara drastis, perbuatan maksiat dan fahisyah turun hingga ke titik nadir, hampir tak ada penjahat yang ditangkap, pengadilan atas kejahatan terhenti untuk sejenak. Peperangan, pembantaian, penindasan juga sirna untuk sebentar. Orientasi keduniaan kita yang cenderung menghiasi kehidupan kita di ruang-ruang kerja, di kantor, di tempat hiburan, di pusat-pusat perbelanjaan, di darat dan di lautan juga untuk sementara waktu kita

redam. Kebisingan kota, hilir mudik kendaraan di jalanan, keriuhan di pasar-pasar dan mall-mall, juga kesibukan di perkantoran, di pabrik-pabrik untuk sejenak juga lengang berganti dengan riuh suara takbir, tahmid dan tahlil.

Di hari yang penuh berkah ini, dunia dipenuhi kedamaian dalam indahnya nuansa silaturahim. Saling berbagi dan saling menyapa menghias di tengah gema takbir, tahmid dan tahlil yang terus berkumandang. Itulah pekik kemenangan kita setelah berpuasa sebulan penuh, tidak hanya sekadar kemenangan fisik belaka dengan sekadar mengalahkan hawa nafsu perut kita dan hawa nafsu seksual kita, akan tetapi lebih dari itu kita telah berhasil memenangkan orientasi atau tujuan ukhrawi kita atas syahwat duniawi kita. Jamaah „Ied rahimakumullah …, Sebagai orang beriman tentu kita memahami bahwa segala anugerah dan nikmat batin yang kita rasakan di hari raya ini tidak terjadi begitu saja. Allah SWT jualah yang telah menghendaki kemenangan ini, Dia yang telah menghendaki hadirnya rasa bahagia di hati ini, Dia yang telah menghendaki kelapangan di dada ini hingga kita menjadi begitu pemurah dan mudah memaafkan kesalahan orang, Dia pulalah yang menghendaki hadirnya rasa haru di hati kita tatkala membayangkan wajahwajah orang yang kita kasihi tidak lagi bersama kita di hari yang penuh bahagia ini. Bagi sanak famili yang jauh, alhamdulillah dengan kecanggihan alat komunikasi di era modern ini kita dapat berkomunikasi dengan orang-orang tercinta kita dengan erat walau tangan ini tak sanggup untuk terjabat. Namun bagi orang-orang terkasih yang telah mendahului kita maka apalah daya, hanya doa yang dapat kita panjatkan sebagai bentuk salam kerinduan kita untuk mereka yang dulu pernah kita kecup tangannya yang terbalut keriput, dan dulu pernah kita peluk erat tubuhnya yang telah tua renta. Kini kebersamaan itu tiada lagi, sosok orang-orang yang kita kasihi itu kini terkulai di bawah seonggok tanah berbatu nisan, makamnya yang belum tentu dapat kita ziarahi setiap saat. Semoga Allah merahmati mereka yang telah mendahului kita.

Jamaah „ied rahimakumullaah, Marilah kita merefleksi sejenak kemenangan dari hasil perjuangan kita yang dianugerahkan Allah SWT melalui Ramadhan-Nya yang insya Allah sanggup kita pertahankan dalam keseharian hidup sebagai ciri ketaqwaan kita. Di antara kemenangan itu adalah:

Kemurahan Hati Kita yang Mengalahkan Sifat Kikir dan Tamak

Ketamakan dan kekikiran adalah sisi buruk dari perilaku manusia yang mendatangkan mudharat. Inilah sumber malapetaka sosial yang melanda umat negeri ini. Ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial yang melanda negeri ini telah memporak-porandakan pranata sosial di tengah-tengah masyarakat. Jurang pemisah antara kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, ulama dan umatnya semakin terasa begitu menganga. Di tengah maraknya kemewahan yang dipertontonkan oleh kalangan elit yang semakin materialistik di atas negeri yang bertebaran 60 juta orang miskin ini sangat mungkin menimbulkan ‗kekecewaan sosial‘ dan melahirkan ‗kemarahan massal‘ dari mereka secara langsung ataupun tidak menjadi korban ketamakan dan kebakhilan kalangan elit di negeri ini. Ramadhan telah mengantarkan manusia lebih dekat kepada nilai-nilai kemanusiaannya. Membangun kecintaan kepada sesama manusia, menebarkan kasih sayang, silaturahim, serta menebar kemurahan hati akan menciptakan pranata sosial yang bersahaja karena akan terjadi harmoni yang indah antara semua elemen dalam masyarakat; antara kaya dan miskin, konglomerat dan kaum melarat, pejabat dan rakyat jelata, pemimpin dan bawahan, ulama dan umat dan seterusnya. Di bulan Ramadhan kepekaan sosial kita terasah. Dengan puasa, kita terlatih untuk melakukan pengorbanan dan bermurah hati. Dr Carl, seorang psikoanalis mengatakan, ―untuk mencapai peningkatan yang simultan dan menyeluruh harus diikuti dengan pengorbanan dan ketulusan. Kemurnian jiwa hanya dapat dicapai dengan mengorbankan materi dan popularitas. Pengorbanan diri adalah kebiasaan orang-orang yang memahami keadilan dan kebenaran iman kepada Allah. Orang yang mengorbankan jiwa mereka untuk keadilan, cinta dan keharmonisan telah mampu mengawinkan antara akal, cinta serta kasih sayang. Pada keadaan inilah manusia akan mencapai puncak mega keindahan, cahaya kebenaran dan keadilan ‖ Mungkin inilah yang sering kita anggap dengan kepuasan batin yang tak dapat dinilai dengan harta. Rasulullah SAW bersabda: ―Orang yang murah hati dan berakhlak baik selalu berada di bawah lindungan Allah. Allah selalu dekat dengan mereka dan akan membimbing mereka menuju kebahagiaan. Tidak ada seorang yang adil yang tidak memiliki sifat pemurah dan kasih sayang‖ Mari kita renungkan sebuah kisah bagaimana ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA telah mengajarkan kemurahan hati pada keluarganya yang pernah diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA, bahwa pada suatu ketika kedua putra Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husain sedang sakit parah, maka Ali dan istrinya Fathimah binti Rasulullah bernazar apabila kedua putra mereka sembuh maka mereka akan berpuasa 3 hari sebagai tanda syukur. Atas karunia Allah SWT kedua anak mereka pun sembuh. Keduanya pun mulai berpuasa nazar. Akan tetapi mereka tidak

memiliki sesuatu walau sekadar untuk makan sahur dan berbuka. Mereka berpuasa dalam keadaan sangat lapar. Pada pagi harinya, Ali pergi kepada seorang Yahudi bernama Syam‘un Ali kemudian berkata kepadanya: ‗Jika engkau ingin menyuruh seseorang untuk memintal wol dengan imbalan, maka istriku bersedia melakukannya‘ Orang Yahudi itu menyetujui dengan kesepakatan satu gulung wol dihargai tiga sha‘ gandum Pada hari pertama, Fathimah memintal sepertiga bagian wol, kemudian ditukarkan dengan 1 sha‘ gandum, lalu ditumbuk dan dimasaknya menjadi 5 potong roti kering, yakni untuk Ali, Fathimah, Hasan, Husain, dan seorang hamba sahaya perempuannya bernama Fidhdhah. Ketika waktu berbuka puasa tiba. Ali baru saja kembali dari shalat Maghrib berjamaah dengan Rasulullah. Fathimah pun dalam keadaan letih setelah bekerja seharian penuh kemudian menyiapkan hidangan untuk keluarganya, tikar alas makan telah dibentangkan, di atasnya telah disiapkan roti dan air. Ali mengambil roti bagiannya, tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara seorang fakir dari balik pintu rumah sederhana mereka yang mengharap belas kasih agar diberi makanan, ‗Wahai keluarga Muhammad, aku seorang fakir, berilah makanan kepadaku, semoga Allah SWT memberimu makan dari makanan surga‘ Ali kemudian men datangi pengemis itu dan memberikan roti keringnya. Seluruh keluarganya juga tak tinggal diam, mereka juga memberikan roti mereka. Ali memberitahukan bahwa dia telah memberikan rotinya kepada pengemis itu Namun mereka menjawabnya, ‗kami juga ingin memperoleh kehormatan di sisi Allah seperti engkau, biarkanlah kami memberikan milik kami‘ Akhirnya mereka pun hanya berbuka dengan segelas air pada hari itu. Allah menguji mereka dengan keadaan itu selama tiga hari, dengan berturut-turut didatangi oleh anak yatim dan seorang tawanan dan mereka pun melakukan hal yang sama. Pada hari ke empat mereka memang tidak berpuasa, tetapi apalah juga yang mau dimakan. Hari itu tak ada makanan apapun di rumah mereka. Ali RA kemudian membawa kedua anaknya Hasan dan Husain sambil berjalan tertatih-tatih karena menahan lapar mengunjungi Rasulullah SAW sekadar untuk menghibur hati. Rasulullah SAW kemudian bersabda: ‗Sungguh menyedihkan hatiku melihat kalian menderita kekurangan dan kesengsaraan Mari kita temui Fathimah‘ Rasulullah SAW menemui putrinya Fathimah yang dilihatnya sedang mengerjakan shalat nafil. Mata Fathimah terlihat cekung. Perutnya tertarik sampai menempel ke punggung karena sangat lapar. Rasulullah SAW kemudian memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang dan mendoakan rahmat Allah baginya dan keluarganya. Pada saat itulah malaikat Jibril AS mendatangi Rasulullah SAW untuk menyampaikan kabar dan wahyu. Kejadian itu telah menggetarkan ‗Arsy Allah karena para Malaikat bertasbih memuji perilaku keluarga yang mulia itu. Kisah inilah yang menjadi asbab nuzulnya Surat al-Insan, di mana pada ayat ke-8 dan 9 Allah SWT berfirman:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 8 – 9)

Keikhlasan Kita yang Mengalahkan Sifat Riya

Mukhlisin adalah golongan orang-orang yang Allah SWT begitu ridha dengan mereka. Namun seikhlas-ikhlasnya dalam setiap amal tidak boleh sedikit pun merasa aman dari penyakit riya. Di sinilah peran kesabaran dalam ketaatan menjalankan perintah Allah SWT. Kesabaran adalah proses puncak menuju maqom mukhlisin. Puasa mengajarkan kita tentang bagaimana sebuah amal yang kita kerjakan hanya diketahui oleh Allah SWT. Keadaan kita berpuasa atau keadaan tidak berpuasa menjadi rahasia antara kita dengan Allah semata. Inilah hikmah penting ibadah puasa kita. Melalui puasa sebulan penuh Allah mentarbiyah kita untuk belajar meluruskan niat beramal agar tak tersusupi oleh sifat riya, ujub dan sum‘ah Riya menjadi penyebab rusaknya amal seseorang hingga tidak bernilai sama sekali di sisi Allah SWT. Bahkan Rasulullah SAW menyampaikan kekhawatirannya di depan para sahabat utamanya, ―Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, maka para sahabat bertanya: ‗apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?‘ Beliau pun bersabda: ‗Syirik kecil itu adalah riya‘ Pada hari kiamat ketika manusia dibalas dengan amal perbuatannya maka Allah akan berkata kepada orang-orang yang berbuat riya: ‗pergilah kalian kepada apa-apa yang kalian berbuat riya‘, maka lihatlah apakah kalian mendapat balasan dari mereka‖ (HR Ahmad) Tak ada seorang pun yang dapat merasa aman dari perbuatan syirik kecil ini bahkan para sahabat utama sekalipun seperti Abu Bakar dan Umar bin Khatthab tidak merasa aman darinya apalagi kita yang banyak disibukkan oleh perkaraperkara dunia. Penyakit riya amatlah berbahaya karena ia menjangkiti seseorang bukan dalam keadaan seseorang bermaksiat tetapi justru ketika seseorang beramal shalih. Selain itu bila seorang yang beriman dalam amal shalihnya ternodai oleh sifat riya, berarti terdapat dalam dirinya satu bagian dari sifat-sifat kaum munafiqun. Allah SWT berfirman:

―Dan apabila mereka (kaum munafiq) berdiri mengerjakan shalat, maka mereka berdiri dalam keadaan malas dan riya di hadapan manusia dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali‖ (QS An-Nisaa‘: 142)

Puasa adalah ibadah sirriyyah (tersembunyi) antara hamba dengan Kholiqnya. Di sinilah kita diajarkan untuk mengalahkan sifat riya. Berbeda dengan shalat yang dapat terlihat dari gerakannya, zakat yang nampak dari pemberiannya, dan haji yang nampak dari manasiknya. Banyak dari kalangan ahli ibadah ketika amal-amal kebajikannya ditimbang justru sama sekali tidak membuat mizan itu bergerak. Hal ini dikarenakan amal-amalnya tersebut ternodai oleh sifat riya. Perbaikilah selalu niat kita dalam beramal, landasilah dengan keikhlasan. Bila terbersit riya di dalam hati maka lawanlah dan jangan menunda amal, karena yakinlah itu adalah godaan syaithon yang meniupkan was-was di dalam hati kita. Pandanglah kecil amal kita dan jangan terjerumus pada kebanggaan terhadap amal. Firman Allah SWT:

―Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…‖ (QS. Al-Bayyinah: 5)

Pengendalian Diri Kita yang Mengalahkan Sifat Menuruti Hawa Nafsu

Bulan Ramadhan yang telah berlalu telah memberikan latihan berharga terhadap seluruh unsur dalam diri kita. Unsur fikrah, jasad, ruh, hati dan harta kita telah kita arahkan menuju kemaslahatan bagi diri kita dan orang lain. Ramadhan telah memberikan banyak ajaran berupa batasan dan rambu-rambu bagi orang yang menjalankan ibadah puasa. Di sinilah peran kesabaran kita dalam menahan diri dari perbuatan melanggar larangan Allah. Bagi orang yang berpuasa maka tantangan terberat yang dihadapi adalah dorongan untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya. Namun, karena ketabahan dan kesungguhan kita dalam menjalankan ibadah shaum maka kita dapat mengendalikan keinginan-keinginan hawa nafsu itu. Kegigihan kita dalam menahan pandangan dari perkara-perkara yang diharamkan, keseriusan kita dalam menjaga lisan dari perkataan-perkataan buruk, kehati-hatian kita dalam menghindarkan perut kita dari masuknya makanan-

makanan syubhat dan haram, kesungguhan kita membersihkan pikiran dan hati dari prasangka buruk, sifat iri, dengki, dendam, amarah dan kesombongan, ketaatan dalam menjaga kemaluan kita dari hal-hal yang diharamkan, tidak mengumpulkan dan membelanjakan harta pada perkara-perkara yang dilarang oleh agama, mengendalikan tangan dan kaki kita agar tidak menyentuh atau melangkah ke tempat-tempat yang mengandung maksiat, serta menutup pendengaran kita dari ghibah dan perkataan-perkataan jelek dan mengandung cela. Maka ketika semua itu dapat kita kendalikan, barulah kita bisa merasakan manisnya iman. Inilah yang menjadi sebab datangnya hidayah dan taufik Allah SWT kepada kita. Amalan ibadah puasa kita telah membuat hawa nafsu kita lebih stabil dan terkendali. Kita berharap semoga semua anggota tubuh yang telah kita kendalikan itu akan menjadi saksi yang akan membela kita di hadapan pengadilan Qodhi Robbul Jalil. Ingatlah firman Allah SWT:

Artinya: ―Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan ‖ QS An Nur: 24

―Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan‖ (QS Fushshilat Ayat: 22) Inilah tiga hal di antara sekian banyak kemenangan yang telah kita capai di bulan Ramadhan dengan sebuah harapan semoga Allah memberi kemudahan untuk kita mempertahankannya di hari-hari selanjutnya. Tiga kemenangan yang akan senantiasa menyuplai energi amal bagi hadirnya cinta dan harmoni antara miskin dan kaya, atasan dan bawahan, dan di antara seluruh komponen bangsa dan umat ini. Kini kita telah kembali fithrah, jangan nodai ke-fithrah-an ini hingga membuat kemenangan Idul fithri ini menjadi sia-sia. Kita senantiasa berlindung kepada Allah dan memohon ampun kepadanya atas segala dosa dan kekhilafan yang kita lakukan. Demikianlah khutbah ini jamaah sekalian, semoga ini menjadi bahan renungan bagi kita semuanya dan menjadikan kita semakin yakin dan percaya diri untuk menjadi manusia paripurna atau insan kamil dengan kemenangan ini. Ja‟alanallaahu wa iyyaakum minal „aa‟idiina wal faa‟iziin. Taqabbalallahu minna wa minkum. Wassalaamu „alaikum wr. Wb.

Khutbah Idul Fitri 1434 H Beragama Islam Secara Totalitas

: }
Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Wa lillahil hamd! Ma‟asyiral Muslimin, rahimakumullah! dakwatuna.com - Di pagi hari ini kita merasakan kegembiraan yang luar biasa, tapi juga ada perasaan sedih yang sangat mendalam. Gembira, karena kita berada dalam suasana hari Raya Idul Fitri. Tapi juga sedih, karena ditinggal bulan Ramadhan pergi. Kita merasakan betapa Ramadhan cepat berlalu. Kenangan yang begitu sangat indah cepat sekali berakhir. Kita tak menyangka Ramadhan berlalu secepat ini. Kita sekarang baru sadar bahwa kita belum begitu banyak beribadah di bulan Ramadhan ini. Banyak amalan dan waktu yang kita sia-siakan. Kebanyakan kita bersemangat di awal lalu melemah di akhir. Kita lebih banyak mempersiapkan makan dan minuman, dari pada beribadah. Kini kita sadar bahwa Ramadhan telah pergi, dan tak mungkin mau diminta kembali lagi. Kecuali, tahun yang akan datang. Sementara kita belum tentu masih hidup. Ma‘asyiral Muslimin, rahimakumullah Meskipun kita belum tentu bertemu lagi dengan bulan Ramadhan, yang pasti sekarang masih ada waktu. Allah

mengarahkan ketika kita sudah menyelesaikan suatu urusan maka kita harus segera mengerjakan urusan lain.

―Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmu, hendaknya kamu berharap ‖ (Asy-Syarh: 7-8). Mari kita mohon ampun kepada Allah atas segala kekurangan, kesalahan dan kekhilafan. Sedang ibadah dan kebajikan yang sudah kita lakukan dengan baik hendaknya tetap kita lakukan. Kita jaga nilai-nilainya sehingga mewarnai kehidupan kita bersama. Jangan sampai terjadi, semuanya berakhir bersamaan dengan berakhirnya bulan Ramadhan. Allah memerintahkan kepada kita semua, orang-orang yang beriman, agar memeluk Islam itu secara kaaffah. Totalitas. Tetap beribadah kepada-Nya secara utuh dalam semua waktu dan keadaan. Allah membenci orang yang beragama setengah-setengah. Beragama secara parsialilitas itu adalah salah satu dari cara Syetan menyesatkan kita. Allah Swt. berfirman:

٢٠٨﴾
Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kamu secara kaaffah (totalitas), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 208) Beragama Islam secara kaffah (totalitas) paling tidak mencakup empat hal. Pertama, kaaffah dalam pengertian keseluruhan ajaran Islam. Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah berikan kepada kita untuk mengatur keseluruhan aspek kehidupan. Oleh karena itu, maka kita harus menerima dan mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah. Salah satu ajarannya kita amalkan, sementara ajarannya yang lain kita buang. Banyak orang yang ketika shalat menggunakan tata aturan Islam, tapi sayang ketika berjual beli tidak mau diatur Islam. Ada juga yang saat berpuasa konsisten dengan tata aturan Islam; tidak makan, tidak minum dan tidak berdusta, tapi saat berpolitik tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam sehingga bermain culas, lalu korupsi dan suka berbohong. Banyak yang punya anggapan ini masalah politik, bukan masalah agama. Seakan-akan kalau berpolitik lalu boleh berdusta dan culas. Padahal Islam sesungguhnya sebagaimana mengatur tentang shalat dan puasa juga

mengatur tentang dagang dan mengatur urusan negara. Islam sebagaimana mengatur tentang keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan tata cara berbusana. Pendek kata, Islam itu mengatur manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi bahkan saat tidur. Mengatur manusia dari lahir hingga menguburnya saat mati. Islam mengatur mulai dari masuk kamar mandi hingga mengatur bangsa dan negara bahkan dunia. Kita sudah lama dicekoki dengan ajaran sesat sekularisme, yang memisahkan antara urusan dunia dan akhirat, yang memisahkan antara urusan negara dan agama. Perlu ditegaskan bahwa Al-Qur‘an diturunkan oleh Allah adalah agar kita jadikan pedoman hidup. Kita amalkan semua ajarannya. Bukan sekadar kita baca untuk mencari pahala, sementara tata aturannya kita tinggalkan. Kita ambil mana yang kita suka dan kita buang mana yang kita tak suka. Sungguh, Allah mengecam berat terhadap orang-orang yang beragama secara parsial.

٨٥﴾
―Apakah kamu beriman kepada sebagian isi Al Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari kamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat ‖ (Al-Baqarah: 85). Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah Kalau hari ini kita merasakan kehinaan, krisis dan bencana yang menimpa kita umat Islam, maka harus segera kita sadari karena kita tidak mengamalkan ajaran Islam secara totalitas. Bangsa Indonesia, negara kita yang tercinta ini, merdeka dari penjajahan portugis, Belanda, Jepang, dll adalah jelas berkat rahmat Allah yang maha kuasa. Tapi sungguh sangat miris, tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan, hingga dengan saat ini, hukum penjajah yang masih kita pegang teguh untuk mengatur negara ini, sementara hukum dan tata aturan Allah kita jauhkan. Marilah kita segera sadar, kalau ingin selamat dunia akhirat, dan menjadi bangsa dan negara yang kuat, maju, adil dan makmur, tak ada pilihan lain kecuali harus

mengamalkan ajaran Islam secara lengkap dan totalitas, dalam seluruh lini kehidupan. Allah berfirman:

١٣٨﴾
“Pegang teguhlah Shibghah (tata aturan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghah (tata aturan) nya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.” (Al-Baqarah: 138) Ma‘asyiral Muslimiin rahimakumullah Yang kedua, kaaffah (totalitas) dalam pengertian tempat. Artinya, kita harus mengamalkan ajaran Islam di mana pun kita berada. Karena Islam diturunkan oleh Allah untuk semua manusia di seluruh kolong jagat ini. Ada yang punya pandangan bahwa Indonesia bukan Arab, maka tak bisa diatur dengan Islam ―Beda dengan Arab,‖ kata mereka Ini adalah pandangan yang sangat keliru. Bumi Arab adalah Allah penciptanya, dan bumi Indonesia adalah sama, Allah penciptanya. Dan, memang bumi ini secara keseluruhan di mana saja adalah Allah Penciptanya. Maka siapa saja yang tak mau diatur oleh Islam yang diturunkan oleh Allah hendaknya tidak berada di bumi yang diciptakan oleh Allah. Di mana bumi dipijak, di sana langit harus dijunjung. Di bumi mana pun kita berada, hendaknya hukum langit kita patuhi Adat bersandi Syara‘, Syara‘ bersandi Kitabullah. Allah berfirman:

٣٣﴾
―Hai kaum jin dan manusia, jika kamu bisa menembus (keluar) dari penjuru langit dan bumi, maka keluarlah. Kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan ‖ (QS Ar-Rahman: 33). Ada juga di antara kita yang saat berada di kota Madinah atau Mekah tunduk dan patuh kepada aturan Islam, rajin ke masjid, berdoa dan menangis beristighfar dan bertaubat, tapi sayang tidak lagi seperti itu bila sudah pulang ke kampung halaman. Ini berarti tidak kaaffah secara tempat. Apakah kita mengira Allah itu ada hanya di Mekah dan Madinah, dan tidak ada Allah bila sudah di Bengkulu atau di Jakarta?! Oleh karena itu, jangan sampai dibiarkan bila ada yang mempunyai pemikiran menjadikan Enggano, Pulau Baai atau tempat-tempat lainnya sebagai tempat kemaksiatan. Perlu kita sadari, sebagai orang beriman, bahwa Allah melihat kita di mana saja kita berada. Di Arab dilihat Allah, maka di Amerika, Eropa, Mesir, Cina, Indonesia

dan di mana saja juga sama dilihat Allah. Tidak ada tempat di muka bumi ini, sejengkal pun, yang manusia boleh seenaknya berbuat dosa. Allahu akbar3x walillahimhamd. Yang ketiga, kaaffah (totalitas) dalam pengertian keseluruhan waktu. Artinya, kita harus berislam, tunduk dan patuh kepada Allah kapan saja. Pagi maupun sore. Siang atau malam Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum‘at dan Sabtu. Ada di antara kita ke Masjid kalau hari Jum‘at saja Padahal kita dipanggil oleh Allah lima kali dalam setiap hari Bahkan ada yang hanya ‗Idul Adha dan ‗Idul Fithri saja. Termasuk banyak di antara kita yang rajin ibadah hanya di bulan Ramadhan saja. Setelah bulan Ramadhan, selesai semuanya. Banyak artis dan penyiar TV memakai jilbab, tapi setelah Ramadhan dibuka kembali. Seakan-akan Allah hanya ada di bulan Ramadhan dan tak ada lagi di bulan-bulan yang lainnya. Ini berarti tidak kaaffah. Yang keempat, kaaffah dalam pengertian keseluruhan keadaan. Artinya, kita harus berislam, tunduk dan patuh kepada Allah baik dalam kondisi gembira atau susah, lapang atau sempit, sehat atau sakit, suka atau duka. Ada orang yang ketika sehat rajin shalat, tapi ketika sakit tidak lagi. Atau sebaliknya, ketika sakit rajin shalat dan berdzikir serta berdoa, tapi ketika sehat lupa kepada Allah. Ketika miskin rajin ke Masjid, tapi ketika sudah kaya dan jadi pejabat tak lagi ke masjid. Allah berfirman:

١١﴾
―Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di pinggiran. Maka jika ia memperoleh kebaikan (kesenangan) tetaplah ia dalam keadaan itu. Dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana (yang tidak menyenangkan) berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata ‖ (Al-Hajj: 11) Nabi bersabda:

―Ingatlah kamu saat senang, niscaya Allah mengingatmu saat susah ‖ (Hr Thabrani) Ma‘asyiral Muslimiin rahimakumullah

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaaffah (totalitas),” Kita dipanggil agar ketika kita telah menyatakan diri sebagai orang yang beriman maka kita harus benar-benar menerima dan mengamalkan keseluruhan dari ajaran Islam di mana pun, kapan pun dan dalam kondisi apa pun. Selanjutnya kita pun diingatkan:

٢٠٨﴾
“Dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnhya Syetan itu musuh yang nyata bagi kamu.” Syetan itu sangat licik, dan memiliki seribu satu cara untuk menyesatkan manusia. Syetan itu menyesatkan, tapi bisa datang dengan seakan-akan memberi nasihat (alA‘raf: 21) Syetan juga biasa mengubah nama sesuatu yang buruk dengan nama yang baik. Pohon larangan yang dilarang oleh Allah, dinamakan oleh Iblis sebagai syajarah khuldi yang berarti pohon keabadian (Thaha: 120, Al-A‘raf: 20) Syetan juga bisa menyulap sesuatu yang buruk tampak baik dan yang baik tampak buruk, yang diperintah terasa berat dan yang dilarang terasa ringan. (Al-Hijr: 39). Di samping itu syetan akan menggoda manusia dari seluruh penjuru. Dari depan, dari belakang, samping kanan dan kiri. (Al-A‘raf: 17) Syetan itu adalah musuh yang sangat nyata bagi kita. Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

٦﴾
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongan (partai) nya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Faathir: 6)

Mari kita jadikan Syetan sebagai musuh kita bersama. Syetan pun mempunyai partai, maka hendaknya kita semua berhati-hati. Syetan itu selalu kampanye setiap hari bahkan setiap detik. Tidak hanya lima tahun sekali. Dan, kini Syetan-Syetan itu pun telah dilepas kembali setelah diikat selama bulan Ramadhan. Mari kita buktikan, bahwa kita bisa mengalahkan syetan bukan hanya saat syetan diikat, yaitu di bulan Ramadhan. Kita harus juga bisa mengalahkan syetan meski telah dilepas yaitu di luar bulan Ramadhan. Allah berfirman:

١٠٢﴾
―Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenarbenar takwa kepada-Nya. Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan (benar-benar) beragama Islam ‖ (Ali Imran: 102) Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd. Mari kita bershalawat buat Nabi Muhammad. Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga beliau, sahabat beliau dan umat beliau yang setia hingga akhir zaman.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, kedua orang tua, guru-guru kami, dan saudara-saudara kami, kaum Muslimin semua, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Ya Allah, hanya kepada-Mu, kami mengabdi. Hanya kepadaMu, kami shalat dan sujud. Hanya kepada-Mu, kami menuju dan tunduk. Kami mengharapkan rahmat dan kasih sayang-Mu. Kami takut azab-Mu, karena azabMu sangat pedih. Ya Allah, jagalah kami dengan Islam dalam keadaan berdiri. Ya Allah, jagalah kami dengan Islam dalam keadaan duduk dan jagalah kami dengan Islam dalam keadaan tidur. Jagalah kami dengan Islam saat kami sehat maupun saat kami sakit. Jangan cabut nyawa kecuali kami dalam kondisi beragama Islam. Ya Allah, Engkau yang menyelamatkan nabi Nuh dari taufan badai dan banjir yang menenggelamkan dunia, Engkau yang menyelamatkan nabi Ibrahim dari kobaran api menyala, Engkau yang menyelamatkan Isa dari salib kaum durjana, Engkau yang menyelamatkan Yunus dari gelapnya perut ikan, Engkau yang menyelamatkan Nabi Muhammad dari makar kafir Quraisy, Yahudi pendusta, munafik pengkhianat, pasukan Ahzab angkara murka. Ya Allah, hancurkanlah

orang-orang yang tak suka dengan Agama-Mu, yang menghina Kitab-Mu, Yang mempermainkan Syariat-Mu. Baik yang ada di Mesir, di Suriah, di negeri-negeri Arab, maupun yang ada di sini, di timur dan Barat. Ya Allah persatukanlah kami kaum Muslimin, untuk mengamalkan dan menegakkan Agama-Mu. Dan, karuniakanlah kepada kamu keberkahan dari langit dan bumi. Laa ilaaha illa anta subhanaka innaa kunnaa minadhdhaalimiin…3X Ya Allah, yang mendengar rintihan hamba lemah dan banyak dosa. Ya Allah, lindungi kami, masyarakat kami, dan anak-anak kami dari berbuat dosa dan godaan Syetan. Jangan segera Engkau lenyapkan hari yang suci ini. Berikanlah waktu kepada kami. Kami masih ingin bertemu dengan bulan Ramadhan lagi. Kami masih ingin shalat ‗Idul Fitri kembali Ya Allah, jangan biarkan orang -orang yang sengaja merusak kesucian ‗Idul Fitri dengan pesta dosa d an kemaksiatan. Yang membuat masyarakat kami rusak dan anak-anak kami hancur. Ya Allah, jauhkan mereka dari kami. Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang sedang dilanda kesedihan, dan musibah, para janda, anak-anak yatim, kaum lemah, dan para fakir-miskin. Sembuhkan yang sakit. Tolong dan lindungi mereka yang ditimpa musibah. Baik yang di Aceh, di Jawa, di Sulawesi, di Mesir, di Palestina, di Suriah, di Eropa dan di mana pun mereka berada. Anugerahkan kebahagiaan kepada mereka. Siramilah mereka dengan rizki yang melimpah dari sisi- Mu yang penuh berkah. Kami lemah tak begitu berdaya membantu dan menyantuni mereka. Ampuni kami, ya Allah. Ya Allah, kumpulkanlah hati-hati kami di atas dasar kecintaan kepada-Mu, pertemukanlah di jalan ketaatan kepada-Mu, satukanlah di jalan dakwah-Mu, dan ikatlah di atas janji setia demi membela syariat-Mu. Ya Allah, padukanlah jiwajiwa ini sebagai hamba-hamba-Mu yang beriman dan bertaqwa. Ya Allah, lepaskanlah dan jauhkanlah dari kami penguasa-penguasa zhalim, fasik, dan kafir. Anugerahkan kepada kami pemimpin-pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur dan amanah, yang menjadikan Kitab-Mu sebagai landasan kepemimpinannya, menerapkan Syariat-Mu, dan membawa kami ke jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhai. Ya Allah, selamatkanlah kami, anak-anak kami, keluarga kami, daerah kami, negeri kami, dan umat kami dari badai krisis, fitnah, bencana, dan dosa yang membinasakan. Ya Allah, janganlah Engkau goyangkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk dan tetapkan hati kami di atas agama-Mu.

Ya Allah, jadikanlah hari terbaik kami sebagai hari pertemuan kami dengan-Mu, jadikanlah amal terbaik kami sebagai pamungkasnya, dan jadikan usia terbaik kami sebagai akhir ajal kami. Ya Allah, limpahkanlah rahmat, ampunan, dan hidayahMu kepada kami semuanya Aamiin Aamiin ya Rabbal ‗alamin…

Muhammad Syamlan

Khutbah Idul Fitri 1434 H Beramal Dengan Cinta
. . .

.

.

. .

.

dakwatuna.com - Allahu akbar dengan segala kemuliaan-Nya. Allahu akbar dengan segala kesantunan dan kasih sayang-Nya. Allahu akbar dengan derma dan pemberian-Nya. Allahu akbar yang meninggikan langit tanpa tiang, yang menggelar bumi tanpa lelah, yang menundukkan siang dan malam untuk bekerja dan istirahat, yang menurunkan hujan untuk hamba-Nya dengan cinta-Nya, dan mengendalikan planet beredar dengan hikmah dan ketentuan-Nya. Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil-Hamdu… Ma‘asyiral Muslimin, rahimakumullah… Mulai dari bersembunyinya sang mentari di senja kala kemarin hari, gema takbir membahana mengiringinya beranjak ke dalam dekapan malam. Ratusan juta lisan mengagungkan nama Pemilik jagat raya dengan hati fitri bagai bayi yang lahir dari ibunya. Begitulah manusia beriman telah lahir dari rahim Ramadhan. Makhluk baru ini lahir dengan nama muttaqi (orang yang bertaqwa) siap menatap hari-hari depan dengan penuh optimisme apapun yang diperbuat oleh zaman terhadapnya. Bulan penuh berkah yang meninggalkan kita mendidik kita menjadi manusia tangguh, hempasan dan tempaan lapar dan dahaga memastikan kita menjadi manusia mukmin yang siap melakukan segalanya untuk meraih cinta dan ridha Allah Azza wa Jalla. Dahaga terhadap tetesan air selamanya akan mewariskan dahaga terhadap ampunan dan maghfirah-Nya. Usahlah kau tanya di mana ridha Tuhanmu bersembunyi, bagai singa lapar, ia akan mencari dan mengejarnya, terus berlari dan tidak pernah berhenti sampai ia mendapatkannya. Seperti malam-malam kemarin, beratnya mata oleh deraan kantuk tak menyurutkannya untuk mengeja kalam suci-Nya. Saat sebagian mata tertutup oleh penatnya bekerja mengais rezki, ia berdiri, sujud, dan ruku‘ hidupkan malam dan gairahkan suasana dengan hangatnya spiritual yang senantiasa ditempa dan diasah. Semua dilakukannya karena cintanya kepada Rabbnya yang memberinya hidup dan menjamin penghidupannya. Maka, tak ada penat, lelah, dan kantuk yang menghambat langkahnya mengejar cinta-Nya. Lilitan lapar dan kerontangnya dahaga bukan karena kebencian, hukuman, bahkan kutukan dari Tuhannya. Lebih karena cinta-Nya kepada seorang mukmin. Sebab Rabbnya akan memberinya dua kebahagiaan kepadanya; kebahagiaan saat mereguk hidangan berbuka dan saat mereguk nikmat surga dan bertemu dengan Rabbnya. Seperti yang diberitakan oleh Rasul yang mulia,

“Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kebahagiaan, jika ia berbuka ia berbahagia dan jika bertemu dengan Rabbnya ia berbahagia karena puasanya.” (Hadits Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil-Hamdu… Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah… Ramadhan menyemai cinta di lubuk hati. Cinta kepada Allah membuat hamba mengabaikan seluruh lelah, lapar, dahaga, bahkan luka. Bertahan dalam ketaatan, bersabar dalam ujian setangguh para demonstran di Rabiah Adawiyah dan Medan An-Nahdhah. Ramadhan memupuk cinta kepada sesama, hamba-hamba Allah berbaris bershaf-shaf dalam sujud dan ruku‘, bersama mengalunkan pujian, takbir dan tahmid. Dengan cinta mereka saling berbagi dan membantu. Lihatlah sore hari, saat para pengguna jalan raya berdesakan merangsek di dekat lampu merah. Para penjaja makanan dan minuman dengan senyum berbagi ta‘jil, bukan untuk dijual Begitupun suasana di masjid-masjid, para shaimin duduk berbaris berjejer menunggu bedug Maghrib sedang di hadapan mereka hidangan berbuka kiriman dari warga. Karena Rasul yang mulia mengabarkan kepada umatnya,

“Barangsiapa memberi buka kepada orang yang berpuasa, dia mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya (orang yang berpuasa itu) tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (Tirmidzi) Segala perbedaan yang ada tak membuat orang-orang berpuasa berselisih apalagi bermusuhan. Tak masalah apakah kau berpuasa mulai hari Rabu atau hari Selasa. Tak mengapa apakah kau shalat Tarawih 20 rakaat atau 8 rakaat. Perbedaan yang dilandasi dengan cinta justru melahirkan harmoni keindahan. Bagai lukisan di kanvas dengan aneka warna yang berbeda, ia menciptakan gradasi dan pesonanya. Karena puasa memberikan cinta dan keindahan. Rasulullah mengajarkan,

“Sekiranya ada yang memeranginya atau mencacinya hendaknya ia katakan, sesungguhnya aku sedang puasa, dua kali.” Maka dengan cinta karena Allah seorang mukmin bekerja, beramal, berbagai, berkontribusi, bersilaturahim. Bekerja dengan cinta akan melahirkan ketulusan, daya tahan, dan kebahagiaan. Meski di dunia engkau tak mendapatkan apa-apa. Meski tak ada yang membalasmu dengan terima kasih atau senyuman. Bahkan terkadang berbalas cacian dan cibiran. Seperti cinta Rasul kepada manusia.

Diriwayatkan bahwa istri beliau, Aisyah RA bertanya kepada beliau, ―Ya Rasulullah, adakah hari yang lebih sulit yang kau alami daripada hari Uhud?‖ beliau menjawab, ―Aku pernah mengalaminya bersama kaummu sesuatu yang lebih berat dari hari Aqabah. Saat aku tawarkan Islam kepada Ibnu Abdu Yalalil bin Abdu Kilal, namun ia tidak merespon seperti yang aku inginkan. Aku pun tinggalkan dia dalam keadaan gundah gulana. Aku tidak sadar tiba-tiba sudah berada di Qarnu Ats-Tsa‘alib (nama tempat di Mekah) Aku angkat kepalaku tiba tiba ada awan yang menaungiku. Aku lihat di atas, ternyata Jibril memanggilku, ‗Allah telah mendengar ucapan kaummu dan balasan mereka kepadamu Allah Juga telah mengutus malaikat penjaga gunung agar kau perintahkan semaumu. Lalu malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku, ‗Ya Muhammad, Allah telah mendengar ucapan kaummu dan aku ini penjaga gunung. Tuhanmu telah memerintahkan aku agar engkau perintahkan aku semaumu. Jika kau mau, aku bisa timpakan kepada mereka Al-Akhbasyain (bukit Abu Qubais dan Qu‘ayqu‘an, Mekah) ‖ Rasul pun menjawab, ―Yang aku inginkan adalah agar Allah mengeluarkan di antara anak cucu mereka orang-orang yang hanya menyembah-Nya dan tidak menyekutukannya dengan sesuatupun ‖ Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil-Hamdu… Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah… Teruslah berkarya untuk orang-orang tercinta, keluarga, masyarakat, dan bangsa sampai engkau mendapatkan cinta dan ridha-Nya. Bahkan sampai kaummu mencintaimu dan Allah menghembuskan cinta di dada mereka kepadamu. Menanam kebaikan tak harus kau petik hasilnya hari ini atau esok. Kau siram dan pupuk tanaman kebaikanmu dan bertahanlah untuknya terhadap serangan angin dan hama. Mungkin tanah yang kau pilih tandus dan beragam hama siap memangsa. Dan cinta membuatmu terus menyirami, memelihara, dan menjaganya. Cinta yang bersemi yang disemai oleh madrasah Ramadhan dalam dirimu membuatmu seolah terlahir kembali di alam raya ini, dibangkitkan kembali di dunia yang lebih indah dengan bunga dan aroma yang membuat hidup terasa lebih hidup. Yang membuatmu menghiasi diri dengan sifat pecinta sejati, di antaranya: Mengenalinya Dengan Sebaik-baiknya Kau mencintainya karena kau telah mengenalinya dengan baik. Pupuklah pengetahuanmu tentang yang kau cintai niscaya kau akan lihay bersikap kepadanya dengan pengetahuan itu. Kenali masyarakatmu, kenali bangsamu niscaya kau akan bisa bersikap dengan mereka dengan kearifan. Memperdalam pengetahuan tentang Allah melalui asma dan sifat-Nya membuatmu pandai berinteraksi dengan-Nya sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan-Nya.

Segera Memenuhi Panggilannya Saat yang kau cintai memanggil, segera kau merespon tanpa menghiraukan sesibuk apakah kau saat itu. Dengan suka-cita kau lakukan perintahnya dan kau turuti kehendaknya. Begitulah kiranya orang bertaqwa menyambut seruan Rabbnya, mengais ampunan dan surga-Nya

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (Ali Imran: 133) Berkorban Untuknya Cinta yang tumbuh karena Allah membuatmu mampu berkorban meski manusia memandang sia-sia pengorbananmu. Kau dianggap orang bodoh melakukan kekonyolan. Keyakinan di hatimu membuatmu bisa memastikan bahwa kau tidak melakukan kekonyolan dan pengorbananmu tidaklah salah alamat. Seperti seorang ibu yang berkorban untuk anaknya, seorang pejuang yang mengorbankan harta bahkan nyawa untuk tanah airnya. Tidak ada yang sia-sia bagi yang melandasi pengorbanannya dengan cinta. Mencintai Orang yang Dicintainya Cinta kita kepada Rasulullah karena beliau orang yang paling dicintai Allah. Demikian pula para wali Allah. Akhirnya Anda tergabung dalam rombongan para pecinta yang bergerak menebarkan cinta di alam semesta dan membawa kemaslahatan kepada sesama. Gelombang yang ditimbulkannya pun menjadi besar dan arus yang dihasilkannya menjadi kuat. Maka memohonlah kepada Allah cinta mereka juga, agar kau kelak dibangkitkan bersama mereka di hari Akhir

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Attaubah: 119) Rasulullah bersabda,

“Seseorang itu dibangkitkan bersama siapa yang dicintainya.”

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil-Hamdu… Ma‘asyiral Muslimin, rahimakumullah… Beramal dengan cinta memperpanjang daya tahan dan menambah amunisi serta energi seorang hamba, bahkan melipat gandakan tenaganya. Berbagai jalan kemudahan akan terbuka dan berbagai keajaiban tiba. Kesungguhan yang kau tunjukkan kepada Rabbmu membuatmu terbimbing menuju jalan-jalan kebaikan. Boleh jadi di permulaan jalan kau hanya menempuh satu cara menuju kebaikan, namun dengan cinta dan kesungguhanmu kau dapati berjuta jalan terbentang menuju Rabbmu. Firman Allah,

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69). Sebab ketika kita mencintai, kita terasa terlahir kembali dan dibangunkan kembali dari tidur yang panjang, di alam yang penuh bunga-bunga keindahan Sebab ketika kita mencintai, pandangan kita kepada segala sesuatu berubah, pikiran kita tentang segala sesuatu berubah, dan perasaan kita kepada sesuatu berubah. Sebab ketika kita mencintai, mimpi yang kita alami terdengar suaranya, senyum kita terdengar, dan rindu kita terdengar Sebab ketika kita mencintai, malam lebih kita cintai daripada siangnya, menghabiskannya berlama-lama di bawah temaram cahaya bulan Sebab ketika kita mencintai, bunga melebihi fungsi dia diciptakan, begitupun pos dan telepon. Sebab ketika kita mencintai, kita lebih memahami kehidupan ini ketimbang sebelumnya, lebih memahami diri kita dan lebih memahami orang lain. Sebab ketika kita mencintai, kita bisa memberi tanpa batas dan rindu tanpa tepi Sebab ketika kita mencintai, lalu banyak kesukaan baru, kreativitas baru, dan perhatian baru Sebab ketika kita mencintai, kita bisa mengubah kebiasaan buruk kita, pikiran buruk, dan akhlak buruk kita. Maka suara kita berubah, mimpi kita berubah, dan selera kita berubah

Sebab ketika kita mencintai, kita banyak berpikir, banyak bermimpi, banyak khawatir Sebab ketika kita mencintai, selalu terkenang wajah mereka, suara mereka, sikap mereka, dan sapa mereka Sebab ketika kita mencintai, tulisan yang terangkai untuk mereka lebih detail, susunan hurufnya lebih tertata indah dan kita ulang-ulang dalam merangkainya Sebab ketika kita mencintai, kalimat terasa berbobot, jenak-jenak waktu terasa berarti dan kebahagiaan terasa bermakna Sebab ketika kita mencintai, kita menulis catatan rencana, berinteraksi dengan ketidaksengajaan, berterima kasih atas semua kondisi

.

.

. .

.

Tentang Asfuri Bahri, Lc
Lahir di Lamongan dan telah dikaruniai Allah 6 orang anak. Lulusan MTS di Gresik, MA di Gresik, dan LIPIA Jakarta. Sehari-hari sebagai Pe... Selengkapnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->