P. 1
pendidikan kewarganegaraan

pendidikan kewarganegaraan

5.0

|Views: 23,655|Likes:
Published by budi agus hermana

More info:

Published by: budi agus hermana on May 31, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/19/2013

pdf

text

original

Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakikatnya merupakan sistem filsafat.
Yang dimaksud dengan sistem ialah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling
berhubungan, saling bekerjasama untuk satu tujuan tertentu dan secara keseluruhan
merupakan suatu kesatuan yang utuh. Sila-sila pancasila yang merupakan sistem
filsafat pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan organis. Antara sila-sila pancasila
itu saling berkaitan, saling berhubungan bahkan saling mengkualifikasi. Sila yang satu
senantiasa dikualifikasi oleh sila-sila lainya.secara demikian ini maka pancasila pada
hakikatnya merupakan sistem, dalam pengertian bahwa bagian-bagian, sila-silanya
saling berhubungan secara erat sehingga membentuk suatu struktrur yang menyeluruh.

(Prof. Dr. H. Kaelan, M.Si. Pendidikan Kewarganegaraan.2007 : Hal 9)

Susunan Pancasila yang Bersifat Hierarkhis dan Berbentuk Piramidal

12

Susunan pancasila adalah hierarkhis dan mempunyai bentuk piramidal.
Pengertian matematika piramidal digunakan untuk menggambarkan hubungan
hierarkhi sila-sila dari pancasila dalam urut-urutan luas dan juga dalam hal sifat-
sifatnya. Jika dilihat dari intinya, urut-urutan lima sila menunjukan suatu rangkaian
tingkat dalam luasnya dan isi sifatnya, merupakan pengkhususan dari sila-sila yang
dimukanya. Jika urut-urutan lima sila dianggap mempunyai maksud demikian, maka
diantara lima sila ada hubungan yang mengikat yang satu kepada yang lain sehingga
pancasila merupakan suatu kesatuan keseluruhan yang bulat. Andai kata urut-urutan
itu dipandang sebagai tidak mutlak. Diantara satu sila dengan sila yang lainnya tidak
ada sangkut pautnya, maka pancasila itu menjadi terpecah pecah, oleh karena itu tidak
daat dipergunakan sebagai suatu asas kerohanian bagi negara.

(Prof. Dr. H. Kaelan, M.Si. Pendidikan Kewarganegaraan.2007 : Hal 10)

Kesatuan sila-sila Pancasila yang Saling Mengisi dan Saling Mengkualifikasi

13

Sila-sila pancasila sebagai kesatuan dapat dirumuskan pula dalam hubunganya
saling mengisi atau mengkualifikasi dalm rangka hubungan hierarkhis piramidal tadi.
Tiap-tiap sila seperti telah disebutkan diatas mengandung empat sila lainya,
dikualifikasi oleh empat sila lainnya. Untuk kelengkapan dari hubungan kesatuan
keseluruhan dari sila-sila pancasila dipersatukan dengan rumus hierarkhis tersebut
diatas.

(Prof. Dr. H. Kaelan, M.Si. Pendidikan Kewarganegaraan.2007 : Hal 12)

Kesatuan Sila-sila Pancasila sebagai Suatu Sistem Filsafat

14

Kesatuan sila-sila Pancasila pada hakikatnya bukanlah hanya merupakan
kesatuan dasar ontologis, dasar epistemologis serta dasar aksiologis dari sila-sila
Pancasila. Secara filosofis Pancasila sebagai suatu kesatuan sistem filsafat memiliki
dasar ontologis, dasar epistemologis dan dasar aksiologis sendiri yang berbeda dengan
sistem filsafat lainnya misalnya materialisme, liberalisme, pragmatisme, komunisme,
idealisme dan lain paham filsafat di dunia.

(Prof. Dr. H. Kaelan, M.Si. Pendidikan Kewarganegaraan.2007 : Hal 13)

Dasar Ontologis Sila-sila Pancasila

15

Dasar ontologis pancasila pada hakikatnya adalah manusia, yang memiliki
hakikat mutlak monopluralis, oleh karena itu hakikat dasar ini juga disebut sebagai
dasar antropoligis. Subjek pendukung pokok sila-sila pancasia adalah manusia, hal ini
dapat dijelaskan sebagai berikut: bahwa yang berketuhanan Yang Maha Esa, yang
berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan, yang berkerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan serta yang
berkeadilan sosial pada hakikatnya adalah manusia.

(Prof. Dr. H. Kaelan, M.Si. Pendidikan Kewarganegaraan.2007 : Hal 13)

Dasar Epistemologis Sila-sila Pancasila

16

Dasar epistemologis Pancasila pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dengan
dasar ontologisnya. Pancasila sebagai suatu ideologi bersumber pada nilai-nilai
dasarnya yaitu filsafat pancasia. Oleh karena itu dasar epistemologis Pancasila tidak
dapat dipisahkan dengan konsep dasarnya tentang hakikat manusia. Kalau manusia
merupakan basis ontologis dari pancasila, maka dengan demikian mempunyai
implikasi terhadap bangunan epistemologi, yaitu bangunan epistemologi yang
ditempatkan dalam bangunan filsafat manusia.

(Prof. Dr. H. Kaelan, M.Si. Pendidikan Kewarganegaraan.2007 : Hal 15)

Dasar Aksiologis Sila-sila Pancasila

17

Sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem filsafat juga memiliki satu kesatuan
dasar aksiologisnya, yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila pada
hakikatnya merupakan suatu kesatuan. Terdapat berbagai macam teori tentang nilai
dan hal ini sangat tergantung pada titik tolak dan sudut pandangnya masing-masing
dalam menentukan tentang pengertian nilai dan hierarkinya. Misalnya kalangan
materialis memandang bahwa hakikat nilai yang tertinggi adalah nilai material,
kalangan hedonis berpandangan bahwa nilai yang tertinggi adalah nilai kenikmatan.

(Prof. Dr. H. Kaelan, M.Si. Pendidikan Kewarganegaraan.2007 : Hal 18)

Teori Nilai

18

Terdapat berbagai macam pandangan tentang nilai dan ini sangat tergantung
pada titik tolak dan sudut pandangnya masing-masing dalam menentukan tentang
pengertia serta haerarki nilai.Misalnya kalangan materialis memandang bahwa hakikat
nilai yang tertinggi adalah nilai material, kalangan hedonis berpandangan bahwa nilai
yang tertinggi adalah nilai kenikmatan. Pada hakikatnya segala sesuatu itu bernilai,
hanya nilai macam apa yang serta bagaimana hubungan nilai tersebut dan
penggolongan tersebut amat beraneka ragam, tergantung pada sudut pandang dalam
rangka penggolongan itu.

(Prof. Dr. H. Kaelan, M.Si. Pendidikan Kewarganegaraan.2007 : Hal 19)

19

Menurut tinggi rendahnya, nilai-nilai dapat dikelompokan dalam empat

tingkatan sebagai berikut :

1.Nilai-nilai kenikmatan : dalam tingkatan ini terdapat deretan nilai-
nilai yang mengenakan dan tidak mengenakan (Die Wartreihe des
Angnehmen und Unangehmen), yang menyebabkan orang senang atau
menderita tidak enak.
2.Nilai-nilai kehidupan : dalam tingkatan ini terdapatlah nilai-nilai yang
penting bagi kehidupan (Werte des vitalen Fuhlens) misalnya
kesehatan.
3.Nilai-nilai kejiwaan : dalam tingkatan ini terdapat nilai-nilai kejiwaan
(geistige werte) yang sama sekali tidak tergantung dari keadaan jasmani
maupun lingkungan. Nilai-nilai semacam ini ialah keindahan,
kebenaran, dan pengetahuan murni yang dicapai dalam filsafat.
4.Nilai-nilai kerokhanian : dalam tingkat ini terdapatlah modalitas nilai
dari yang suci dan tak suci (wermodalitas des heiligen und unheiligen).
Nilai-nilaisemacam ini terutama terdiri dari nilai-nilai pribadi.

(Prof. Dr. H. Kaelan, M.Si. Pendidikan Kewarganegaraan.2007 : Hal 20)

20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->