P. 1
Makalah Politik Hukum 1

Makalah Politik Hukum 1

|Views: 86|Likes:
Published by gus_nadi

More info:

Published by: gus_nadi on Aug 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/04/2014

pdf

text

original

TUGAS MATA KULIAH

POLITIK HUKUM POLITIK HUKUM DALAM PEMBENTUKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS
Oleh : Gusnadi NPM : 7110296

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM

Ilmu Hukum. Hal. Dimensi pertama disebut sebagai kebijakan dasar (basic policy) yaitu alasan dasar dari dibentuknya suatu peraturan yang hendak dipakai perundang-undangan 1 2 Hikmahanto Juwana.1 Politik hukum dengan demikian dapat diartikan sebagai cara atau alasan dan tindakan yang dilakukan dengan memebentuk atau menetapkan peraturan hukum. Kata Politik juga diartikan sebagai cara atau kebijakan (policy) yang merupakan suatu tindakan untuk mencapai tujuan tertentu yang ditetapkan atau dikehendaki. PT Citra Aditya Bakti. Pendapat lain yang senada. Satjipto Rahardjo. Cet. 358. Politik Hukum UU Bidang Ekonomi di Indonesia. wilayah dan pemerintah yang berdaulat. Makalah. Berbagai tujuan dan alasan dari dibentuknya suatu peraturan disebut sebagai politik hukum (legal policy). bahwa politik hukum adalah merupakan aktivitas untuk menentukan suatu pilihan mengenai tujuan maupun cara-cara unrtuk mencapai tujuan tersebut. Pendahuluan Politik selalu dikaitkan dengan kekuasaan dan negara. keena-2006. Kata Politik sendiri berasal dari Yunani yang diartikan sebagai negara kota (city state) yang didalamnya terdapat rakyat.2 Politik hukum dapat dibagi menjadi dua dimensi. Bandung. Pembentukan atau penetapan peraturan hukum tersebut tentu dilandasi dengan tujuan-tujuan yang diharapkan dapat dicapai.POLITIK HUKUM DALAM PEMBENTUKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS A. . Tujuan dan alasan dibentuknya peraturan perundang-undangan dapat beraneka ragam.

Sebelum ditetapkan dan bahkan juga sesudah ditetapkan. keinginan partai politik. Kebijakan Pemberlakuan dari Insititusi yang memiliki kekuasaan membentuk UU kerap dipengaruhi berbagai faktor. Faktor Internal berasal dari Dalam Negeri sedangkan Faktor Eksternal dari Luar Negeri. Dimensi kedua disebut sebagai kebijakan pemberlakuan (enacment policy) yaitu tujuan atau alasan yang muncul dibalik pemberlakuan suatu peraturan perundang-undangan. Faktor-faktor tersebut bersifat Internal dan Eksternal. Kebijakan Pemberlakuan3 Kebijakan Pemberlakuan memiliki muatan politis. Undang-undang No. Hikmahanto Juwana. Ini berbeda dengan Kebijakan Dasar yang relatif netral dan bergantung pada nilai universal dari tujuan dan alasan pembuatan undang-undang. Politik Hukum UU Bidang Ekonomi di Indonesia .peraturan perundang-undangan. Hal yang manjadi bahan pembicaraan adalah kewajiban mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dikenal sebagai Corporate Social Responsibility (CSR). Dikatakan demikian karena kebijakan pemberlakuan undang-undang (UU) pada dasarnya sangat bergantung pada apa yang diinginkan pembuat UU. LSM dan kelompok kepentingan juga bahkan juga keinginan 3 Bagian B. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas di sahkan oleh Pemerintah atas persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam Rapat Paripurna DPR RI tanggal 20 Juli 2007. disarikan dari Makalah Prof . Faktor Internal bisa berasal dari keinginan individu yang memegang kekuasaan membentuk UU. undang-undang ini menjadi bahan pembicaraan yang luas terutama sekali bagi kalangan pengusaha. Makalah ini mencoba membahas masalah Politik Hukum dalam pembentukan Undangundang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas ini dalam dimensi “Kebijakan Pemberlakuan”. B.

Kebijakan ini tidak semuanya tercermin dalam pasal-pasal dalam UU ini. a. Kedua kebijakan ini harus diterjemahkan dalam UU dan perumusan pasal-pasalnya. negara donor. Perumusan kebijakan tersebut sering bersifat hiperbolis dan menggunakan kata-kata yang memiliki pengertian laus dan abstrak. sefisien berkeadilan. berkelanjutan. Misalnya pada Pasal 74 masalah tanggungjawab sosial dan lingkungan. Dari penelitian atas UU PT ditemui Kebijakan Pemberlakuan Internal dan Pemberlakuan Eksternal sebagai berikut: 1. Faktor Internal Perumusan kebijakan-kebijakan pemberlakuan yang bersifat internal dalam UU dilihat secara ekplisit dalam konsiderans menimbang ataupun penjelasan umum. bahkan kewajiban yang muncul karena suatu perjanjian internasional.masyarakat. sedangkan Kebijakan Dasar hanya satu. Kebijakan Pemberlakuan bisa lebih dari satu. kebijakan berwawasan lingkungan. perlu didukung oleh lembaga perekonomian yang kokoh dalam rangka mewujudkan kesejahterann masyarakat. Kebijakan-kebijakan Pemberlakuan dalam UU Perseroan Terbatas. kemandirian serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan usaha nasional. Bahwa perekonomian nasional yang diselenggarakan berdasar asas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan. berwawasan lingkungan. Sedangkan Faktor Eksternal dapat berasal dari Lembaga Keuangan Internasional. . tercermi pada pasal-pasal dalam UU ini. Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Kebijakan pemberlakuan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat menjadi kebijakan pemberlakuan internal yang paling dahulu dinyatakan. C.

Syarat untuk dapat diangkat menjadi Direski sebagaimana diatur dalam Pasal 93 ayat (1) yaitu kecakapaan dan belum pernah dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan negara Ketentuan mengenai pertanggungjawaban setiap anggota Dewan Komisaris secara pribadi atas kerugian persroan apabila yang bersangkuatn lalai dalam menjalankan tugasnya diatur dalam pasal 114 ayat (3). Peningkatan pembangunan perekonomian ini dilakukan dengan menciptakan landasan berupa UU ini. Tujuan pemberlakuan ini sangat luas dan abstrak.b. Kebijakan pemberlakuan berikutnya adalah dalam rangka menggantikan ketentuan lama yang telah usang dan tidak sesuai perkembangan. UU yang baru memang banyak merubah ketentuan yang mendasar. c. Menggantikan Ketentuan Lama Yang Sudah Tidak Sesuai Perkembangan. Meningkatkan Pembangunan Perekonomian Nasional Kebijakan pemberlakuan yang berikutnya adalah untuk meningkatkna pembangunan perekonomian nasional. maka pada UU ini kedudukan Organ-organ perseroan lain yaitu Direksi dan Dewan Komisaris setara dengan RUPS. Diharapkan dengan itu maka akan menjamin terselenggaranya iklim dunia usah yang kondusif. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Masing-masing mempunyai hak dan kewajiban sesuai dengan fungsi dan kedudukannya dalam organ perseroan. antara lain kedudukan Organ Perseroan. . sehingga sulit dimana pasal mana hal ini tercermin. Jika UU yang lama menetapkan Kedudukan Organ RUPS adalah organ tertinggi. UU ini mengantikan UU No.

Pengaturan atas aktivitas yang dijalankan dengan prinsip syariah telah diatur pula dalam UU ini. Corporate Social Responsibility Isu yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari perkembangan dunia usaha global adalah Corporate Social Responsibility (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan). Tentang Dewan Komisaris Independen yang sebelumnya tidak diatur dalam UU lama. Faktor eksternal tidak secara langsung mempengaruhi kebijakan pemberlakuan UU ini. 2. Faktor Eksternal Faktor eksternal mempengaruhi kebijakan pemberlakuan karena adanya ketergantungan ekonomi pada negara lain atau lembaga keuangan internasional. pertama dengan memberikan insentif dan kedua memberikan sanksi. Produk-produk ekspor Indonesia yang sebagian besar adalah produk yang dihasilkan dari ekploitasi dan eksplorasi sumber daya alam tentu akan jika tidak memperhatikan permasalahan isu lingkungan hidup. . Faktor Kebijakan tersebut adalah: a. Dalam UU ini masalah perusahaan yang berwawasan lingkungan manjadi kebijakan pemberlakuan yang tercermin dalam konsideran maupun pasal-pasalnya. b. Faktor eksternal tersebut mempengaruhi melalui dua cara. Isu Lingkungan Hidup Isu lingkungan hidup telah menjadi isu yang mendunia. akan tetapi secara tidak langsung. Kampanye anti pemakaian produk yang tidak ramah lingkungan dan proses produksi yang tidak berwawasan lingkungan menjadi isu dunia yang mau tidak mau harus diperhatikan oleh dunia usaha dan pemerintah.

. Laba lah yang menjadi tanggung jawab perseroan karena memang dibentuk untuk mencari laba. Corporate Social Responsibility muncul sebagai konsekuensi dari faham “Kedaulatan Rakyat”. Fungsi negara juga menyangkut kegiatan-kegiatan social security. Isu ini mendapat tanggapan keras dari dunia usaha. Dalam konsep negara kesejahteraan negara dituntut untuk memperluas tanggung-jawabnya kepada masalah-masalah sosial ekonomi yang dihadapi rakyat. sedangkan tanggung jawab sosial menjadi tanggung jawab pemerintah dan manusia sebagai individu. Mereka khawatir UU ini akan menjadi sumber legitimasi praktik pungutan liar karena peraturan ini mencakup kewajiban perusahaan mengalokasikan dana untuk tanggung jawab sosial dan lingkungan. kerusakan hutan dan kerusakan lingkungan lainnya. seperti polusi udara. mereka antara lain berprinsip bahwa tanggung jawab sosial adalah tanggungjawab pemerintah. konsepsi negara tentang negara mengalami perkembangan dari konsep “negara penjaga malam” (nachwachterstaat) kemudian bergeser ke konsep “negara kesejahteraan” (welvaartstaat).Corporate Social Responsibility telah menjadi kelaziman dalam bisnis global. dunia usah sesuai dengan kodratnya adalah mencari laba. dan juga social cost yang timbul dan lazim disebut externalities. KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) dan sejumlah asosiasi pengusaha yang disuarakan oleh Sofjan Wanandi menolak ketentuan ini saat dalam RUU. peristiwa-peristiwa konflik maupun aktivitas korporasi yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat sekitar dan lingkungan hidup telah menjadi issue-issue yang hangat.

melain kan menjadi paksaan. tetapi dalam kenyataan semua itu Cuma bagus di atas kertas. jelas memperpanjang daftar yang tidak menyenangkan untuk . Indonesia pun akan termasuk negara paling hebat di dunia karena semua perusahaan yang bergerak dan /atau berkaitan dengan sumber daya alam melakukan Corporate Social Responsibility (CSR). yang disetujui DPR untuk disahkan.Media Indonesia dalam editorialnya tanggal 28 Juli 2007 menyatakan pendapatnya “Kebijakan sosial bukan lagi sebuah keikhlasan. Memasukan CSR sebagai sebuah kewajiban dengan memasukkannya kedalm sistem hukum. Ia bukan lagi sesuatu yang lahir karena komitmen moral. tetapi semua tahu. Indonesia bukan negara yang kekurangan undang-undang di bidang lingkungan hidup. CSR mustinya merupakan komitmen moral. selam itu pula kewajiban CSR tersebut pun dapat dibeli. Itulah yang terjadi dengan Undang-Undang Perseroan Terbatas yang baru. melainkan karena diperintah undang-undang. Pasal 74 Undang-undang PT itu mewajibkan perseroan yang usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Sealam hukum dapat dibeli. Dan. Perusahaan melaksankan CSR dengan ketulusan. Tanggungjawab sosial itu dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan. Indonesia akan menjadi negara yang paling hebat aturan hukumnya mengenai tanggung jawab sosial perusahaan. Jumat (20/7). Tapi jangan heran jika serentak dengan itu. yang tidak melakssanakan dikenai sanksi. karena panggilan dan bukan karena dipaksa undang-undang. perusakan lingkungan dilakukan terus terang dan terbuka.

berinvestasi di Indonesia. Permasalah terjadi bila antara DPR dengan Pemerintah terdapat ketidak sesuaian dalam kebijakan yang akan dirumuskan. tanggal 28 Juli 2007. Dalam UU ini sangat terlihat adanya pertentangan dan perbedaan pandangan yang cukup besar baik antar fraksi di DPR maupun antara Pemerintah dengan DPR. yang dalam kenyataannya justru dapat di beli dengan mudah dan murah. akan tetapi adanya kepentingan yang saling bertentangan anatara yang satu dengan yang lain. Perumusan pasal yang jelas dan pengaturannya dapat langsung berlaku segera tentu lebih efektiv dari pada yang perumusan dan pengaturannya diatur lebih lanjut diatur dengan ketentuan yang lebih rendah. . Tidak menyenangkan karena kebajikan sosial bukan lagi keikhlasan. dengan yang beranggapan 4 Editorial Media Indonesai. Permasalahn yang muncul dalam perumusan tidak sekedar masalah perancangan saja. D. melainkan paksaan.4 Kritik yang keras dari sebuah media nasional yang mewakili media akan tetapi mungkin saja suara tersebut adalah suara korporasi yang diwakili oleh media tersebut.”. Efektivitas Kebijakan Dalam Perumusan Pasal Perumusan pasal-pasal dalam undang-undang akan berpengaruh terhadap efektivitas penerapan pasal pasal tersebut. Perkara yang semestinya menjadi komitmen moral dipindahkan menjadi kewajiban hukum. Dua kubu utama adalah yang menganggap masalah CSR adalah masalah yang bersifat voluntary bukan mandatory sehingga tidak perlu dimasukkan dalam UU. Pertentangan atau perbedaan pandangan antara DPR dengan Pemerintah terlihat sangat kuat terutama dalam masalah Corporate Social Responsibility (CSR).

dengan lingkungan.” . Batasan dan Ruang Lingkup CSR diatur dalam pasal. Pasal 74 ayat (1) “Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan”. Yang dimaksud dengan “Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang sumberdaya alam” adalah Perseroan yang kegiatan usahanya mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam. dan sesuai. Penjelasan Pasal 74 ayat (1) “Ketentuan ini bertujuan untuk tetap menciptakan hubungan Perseroan yang serasi. seimbang.bahwa masalah CSR harus diatur dan merupakan norma yang wajib sehingga harus di atur dalam UU. norma. Yang dimaksud dengan “Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya berkaitan dengan sumberdaya alam” adalah Perseroan yang tidak mengelola dan tidak memanfaatkan sumber daya alam. Pasal 74 ayat (2) “Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiaban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran. Sedangkan pembiayaan mengenai “Tanggung Jawab Soisal dan Lingkungan” diatur dalam pasal. dan budaya masyarakat setempat. tetapi kegiatan usahanya berdampak pada fungsi kemampuan sumber daya alam”. nilai. Perumusan pasal tersebut adalah sebagi berikut: Pelaku.

Penjelasan Pasal 74 ayat (1) “Ketentuan ini bertujuan untuk tetap menciptakan hubungan Perseroan yang serasi. tetapi kegiatan usahanya berdampak pada fungsi kemampuan sumber daya alam”. nilai. Yang dimaksud dengan “Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang sumberdaya alam” adalah Perseroan yang kegiatan usahanya mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam. seimbang. Mengenai Sanksi diatur dalam pasal. Yang dimaksud dengan “Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya berkaitan dengan sumberdaya alam” adalah Perseroan yang tidak mengelola dan tidak memanfaatkan sumber daya alam. Pasal 74 ayat (4) “Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 74 ayat (3) “Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dengan lingkungan. dan sesuai. dan budaya masyarakat setempat. Hal ini dinyatakan pasal.” Penjelasan Pasal 74 ayat (3) “Yang dimaksud dengan “dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan” adalah dikenai segala bentuk sanksi yang diatur dalam ketentuan perundang-undangan yang terkait”. norma.” . Pasal yang merupakan kompromi dan menggambarkan adanya pertentangan dalam implementasi adalah mengenai pengaturan lebih lanjut dari ketentuan ini yang diatuar dalam peraturan yang lebih rendah.

5 Kenyataan yang terjadi memang demikian. Bahkan penyerahan ke peraturan perundang-undangan yang lebih rendah bukannya menyelesaikan masalah tetapi menambah masalah. Praktik ini seolah memberi cek kosong kepada Presiden untuk bebas menafsirkan keberlakuan suatu ketentuan dalam UU berdasarkan Peraturan Pemerintah atau Keputusan Presiden.Kompromi dilakukan dengan cara menyerahkan pada peraturan perundang-undangan yang lebih rendah. akhirnya diselesaikan dengan pengaturan yang bersifat kompromis yaitu dengan menyerahkan pengaturan lebih lanjut diatur dalam Peraturan yang lebih rendah dari UU. sampai dengan saat ini PP mengenai tanggungjawab sosial dan lingkungan belum juga keluar. E. 5 Hikmahanto Juwana. Makalah. sejak di undangkannya peraturan pemerintah mengenai PT ini. Politik Hukum UU Bidang Ekonomi di Indonesia. Penutup Dari penelitian yang dilakukan terhadap UU Perseroan Terbatas terlihat bahwa Kebijakan Pemberlakuan yang dirumuskan belum tercermin sepenuhnya dalam perumusan pasal-pasal. . Beberpa issue yang menjadi pembicaraan luas dan penolakan sebagian besar dunia usaha. mengingat PP kadang membutuhkan waktu lama untuk dikeluarkan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->