Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab OPINI | 24 November 2012 | 16:55 Dibaca: 107 Komentar: 0 Nihil

Baru-baru ini dunia heboh ketika Israel melancarkan serangan roket ke jalur Gaza. Ini jelas menimbulkan reaksi keras dari dunia internasional. Israel melanggar HAM, Israel tidak berprikemanusiaan. Reaksi terhadap Israel muncul juga di Indonesia. Berbagai elemen masyarakat Indonesia mulai dari mahasiswa, himmpunan-himpunan keagamaan, pemerintah, dan bahkan dari anggota-anggota DPR mengecam Israel. Mereka menuding Israel adalah pelanggar HAM berat. Bahkan dari mereka ada yang menyarankan pemerintah untuk menekan Amerika Serikat agar menghukum Israel. Saya sangat setuju dengan pendapatpendapat mereka tapi disisi lain ada yang menggeletik nurani saya. Di satu sisi kita punya pendapat yang tegas dank eras terhadap Israel sebagai pelanggar HAM tapi disisi lain banyak pelanggaran HAM di Negara kita sendiri Indonesia yang belum terselesaikan dan terbengkalai seperti kasus bentrokan di Lampung, kerusuhan di Sampang Madura di mana masyarakat syiah terpaksa mengungsi, kasus di Papua dimana demonstran yang berdemo ditembaki oleh aparat, penyerangan warga Ahmadiyah, kerusuhan pembangunan rumah Ibadah di Bekasi dan kasus-kasus lama seperti hilangnya aktivis jaman orde baru serta pembunuhan terhadap aktivis HAM Munir. Dari banyak kasus pelanggaran HAM dalam negeri di Indonesia yang belum dapat diselesaikan dengan benar bahkan beberapa diantaranya sudah mengundang perhatian dunia Internasional apakah suara Indonesia di dunia Internasional yang berkoar-koar tentang pelanggaran HAM di Gaza akan didengar? Sangat aneh melihat perkembangan Indonesia sekarang ini. Apakah ini seperti pepatah “Semut di seberang pulau terlihat tetapi gajah di pelupuk mata tidak terlihat?” Apakah kita sudah mulai jadi bangsa yang munafik ketika kita memperjuangkan HAM di negara orang tapi menginjak-nginjaknya di negara sendiri. Ketika kasus bentrokan di Lampung terjadi bagaimana reaksi pemerintah? Bagaimana reaksi dari DPR? Bagimana reaksi elemen lainnya? Pemerintah hanya mengeluarkan statemen semata, DPR juga statemen, dan demodemo terjadi tidak terlalu besar. Bandingkan dengan kasus Gaza bagaimana reaksinya. Ada wacana komisi 1 DPR mau mengunjungi Gaza dan demo terjadi di mana-mana lebih heboh dari demo kasus Pelecehan TKW Indonesia di Malaysia. Sungguh saya melihat suara-suara tentang kemanusiaan yang ada di Indonesia tidak sungguh-sungguh tulus tentang

Jadi dalam alam kemerdekaan sudah seharusnya bangsa Indonesia memperlakukan sesama manusia secara manusiawi. yang dideklarasikan oleh PBB pada . 1. Subtansi ini juga tercermin pada paragrap awal dari pembukaan UUD ’45 yang berbunyi: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu. Bagaimana bersikap adil dan manusiawi dalam menegakan HAM di negara sendiri. dan tidak meniru model penjajahan manusia oleh manusia yang berasal dari budaya masa lalu yang masih biadab. Saya melihat ini hanya sekedar mencari pencitraan ataupun menunjukan eksistensi sebuah kelompok-kelompok yang ada. Dalam masyarakat Jawa ada istilah “tepo slira” yang artinya kurang lebih bahwa kita sebagai manusia diharapkan memperlakukan manusia yang lain seperti kita memperlakukan diri kita sendiri (dalam bahasa yang berbeda masyarakat bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke dipastikan mempunyai sikap hidup seperti ini). Oleh karena itu bisa juga dikatakan bahwa Kemanusian Yang Adil dan beradab digali dari budaya bangsa Indonesia sendiri. Pada bahasa modern-nya Kemanusian Yang Adil dan Beradab juga bisa diartikan sebagai penghargaan terhadap hak-hak azasi manusia yaitu bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dan bangsa Indonesia sudah seharuskan menghargai Universal Declaration of Human Rights (UDHR). secara adil. maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.kemanusiaan. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab Dasar pemikiran kenapa Kemanusian Yang Adil dan Beradab dijadikan sila kedua dari Pancasila dikarenakan pencetus ide Pancasila – Bung Karno – yang hidup di masa penjajahan Belanda merasa ada perlakuan yang tidak manusiawi dari penjajah Belanda terhadap bangsa pribumi atau mayoritas bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke dengan satu dan lain cara. Sila kedua pancasila berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan berhadap” Sebagai orang Indonesia saya b angga dengan hal itu. Kemanusiaan adalah salah satu pilar berdirinya bangsa ini. Untuk menunjukan Indonesia sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kemanusiaan tidak cukup hanya mengkritik dan berkoar-koar tentang kemanusiaan di dunia internasional tetapi harus memberikan suatu contoh bagaimana caranya menjunjung tinggi kemanusiaan.

Karena penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia secara formal juridis punya kekuatan hukum dalam konstitusi baru mulai tahun 2000.tanggal 10 December. yang mempelajari hanya terbatas sebagian kecil praktisi hukum maupun LSM yang bergerak dibidang perlindungan HAM. Sebetulnya setelah amandemen ke-2 UUD’45. . Walaupun esensi Kemanusian Yang Adil dan Beradab memang sudah ada sejak ada pada UUD’45 pada pembukaan UUD’45 dan secara umum di pasal 27 dan 28. Seolah-olah pemerintah saat itu melakukan pembenaran melakukan pelanggaran HAM dikarenakan tidak punya landasan yang kuat yang tercantum di konstitusi atau UUD’45 sebelum amandemen ke 2. tahun 2000. 1948 dan Hak Azasi Manusia atau Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab kemudian secara operational dijabarkan dalam UUD ’45 pasal-pasal tentang HAM yaitu Bab XA yang secara komprehensif telah disisipkan pada amandemen ke 2 UUD’45 tahun 2000 dari Pasal 28A s/d Pasal 28J . 2. tahun 2000. Tapi realitasnya pada fase pemerintahan Bung Karno dan apalagi pada masa pemerintahan Soeharto banyak sekali peristiwa yang baik pemerintah maupun rakyat Indonesia sama sekali tidak menghiraukan hak asasi manusia. Hal ini disebabkan sosialiasi deklarasi hak asasi manusia versi PBB tidak pernah dilakukan oleh pemerintah saat itu. Penghayatan Bangsa Indonesia Terhadap Sila Kemanusian Yang Adil dan Beradab Pelaksanaan sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab yang diartikan sebagai penghormatan Bangsa dan Negara terhadap Hak Asasi Manusia harus dibagi dalam dua periode yaitu periode sebelum amandemen 2 tahun 2000 dan sesudahnya. tidak pernah diwajibkan baik kalangan pemerintah maupun rakyatnya untuk mempelajari atau mentaati deklarasi hak asasi manusia versi PBB. Hal ini sangat diperlukan karena sifat pelanggaran HAM bisa bersifat vertikal yang umumnya terjadi antara pemerintah yang punya kekuasan terhadap rakyat atau sebaliknya dan juga bisa bersifat horizontal yaitu yang terjadi antara sesama anggota masyarakat baik secara organisasi atau bersifat pribadi. tidak ada alasan lagi bagi para pejabat pemerintah terutama para penegak hukumnya maupun rakyat Indonesia secara keseluruhan untuk tidak mempelajari dan mentaati UUD’45 bab XA tentang HAM ditambah juga keharusan untuk mempelajari dan mentaati deklarasi HAM versi PBB. Sebagai anggota PBB tentu Indonesia harus juga patuh pada deklarasi hak asasi manusia yang dicanangkan oleh PBB.

Pelanggaran sila Kemanusian Yang Adil dan Beradab yang bersifat vertikal Seperti juga sila ini ditarik dari pengalaman bangsa yang dijajah. Dalam banyak kasus yang menyangkut pihak aparat keamanan (terutama militer). tahun 2000. kejaksaan. itulah wajah Indonesia. rakyat dengan dominasi pemerintahnya. Hal ini terjadi sejak jaman kemerdekaan sampai dengan saat ini. perlindungan. rakyat dengan dominasi kekuasaan. baik ke kalangan para pejabat pemerintah pusat dan pemerintah daerah maupun ke masyarakat luas? Apakah pemerintah pernah punya priorotas melakukan sosialisasi? Kalau tidak. Dalam penghayatan Kemanusian Yang Adil dan Beradab yang paling penting dan tidak pernah bisa dijalankan oleh pemerintah adalah supremasi hukum yang tidak pandang bulu seperti diamanatkan oleh UUD ’45 pasal 28D ayat (1) Setiap orang berhak atas pengakuan. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum.Masalahnya apakah pemerintah pernah melakukan sosialisasi secara luas amandemen ke 2 UUD’45. Dikarenakan pemerintah dilengkapi dengan sarana pengamanan seperti militer lengkap dengan senjatanya ataupun penegak hukum lainya seperti polisi. Ini yang dinamakan pelanggaran HAM yang bersifat vertikal. jaminan. setelah kemerdekaan bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa sendiri yang kebetulan dipercaya oleh rakyat untuk duduk dalam posisi sebagai pengelola Negara. sehingga kemerdekaan yang seharusnya memberikan kemerdekaan sepenuhnya buat rakyat tetapi yang terjadi justru penjajahan yang masa lalu dilakukan oleh Belanda. yang dikuasai dengan sang penguasa. apapun yang ada pada tataran ideal tidak pernah bisa secara nyata terjadi. penegakan HAM menjadi tumpul di Indonesia sebagai contoh (ini suatu indikasi bahwa kekuatan militer masih punya pengaruh yang cukup dominan dalam pemerintahan Negara Keatuan Republik Indonesia yang katanya demokratis saat ini): . Sangat mudah terjadi penyimpangan yang disatu sisi pemerintah dengan kekuasaan seharusnya mengayomi atau memberi rasa aman kepada masyarakat justru sebaliknya malahan menjalankan pemerintahan yang represif dan menghantui rakyatnya dengan rasa takut apabila berhadapan dengan penegak hukum yang berlaku sewenang-wenang dalam melakukan penegakan hukum. 3. pelanggaran nilai-nilai HAM paling sering terjadi antara yang dijajah dengan yang menjajah. kehakiman dll.

c) Tidak pernah terungkapnya siapa penembak mahasiswa di peristiwa Semanggi I & II pada periode tanggal 8 – 14 November 1998. Tidak pernah ada tindakan penegak hukum untuk praktek pemaksaan kehendak ini. Pelanggaran sila Kemanusian Yang Adil dan Beradab yang bersifat horizontal Rakyat bisa juga mencoba melakukan intimidasi.a) Tidak tuntasnya siapa sebenarnya penembak mati 4 mahasiswa Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998. mungkin juga terjadi dikota-kota besar lainnya diseluruh Indonesia. b) Praktek pungutan keamanan untuk para pedagang kaki lima. c) Pembiaran praktek “debt collector” yang dipraktekkan oleh seluruh perbankkan di Indonesia termasuk didalamnya Bank Asing. Beberapa contoh praktek premanisme yang dibiarkan secara berlarut-larut oleh oknum penegak hukum karena membawa manfaat secara pribadi terhadap oknum penegak hukum tersebut adalah: a) Pemandangan yang biasa di Jakarta adanya terminal bayangan di jalan-jalan di Kota Jakarta yang dikuasai sekelompok preman dan mengharuskan sopir angkot untuk memberi uang menurut tarif yang mereka tentukan sendiri apabila melewati terminal bayangan ini. pemaksaan kehendak terhadap rakyat yang lain sehingga menimbulkan keterpaksaan lain pihak dalam melakukan sesuatu atau pada banyak hal memberikan sesuatu secara terpaksa kepada pihak lain. Yang paling akhir adalah apa yang terjadi dibalik kematian mahasiswa Unas yang sempat ditahan polisi dalam peristiwa penyerbuan polisi kedalam kampus Unas pada saat demo protes kenaikan BBM. 4. b) Tidak pernah terungkapnya siapa sebetulnya yang berada dibalik kerusuhan 13-14 Mei 1998. pasar ataupun toko-toko kecil hampir diseluruh jalan di Jakarta. Mungkin masih banyak contoh-contoh lain yang terlewatkan yang pada hakekatnya masih tipisnya para pejabat NKRI dalam menghayati atau menjalankan sila 2 dari Pancasila – Kemanusian Yang Adil dan Beradab. Bank Pemerintah maupun perusahaan leasing . Yang paling menonjol saat ini di Indonesia adalahpraktek premanisme dan mafia pengadilan. Biasanya ini dilakukan jutru oleh organisasi massa yang berafiliasi dengan partai politik. apakah itu secara organisasi ataupun secara individu. d) e) Berbelit-belitnya penyelesiaan masalah siapa dibalik skenario pembunuhan Munir.

Penegak hukum menutup mata bahkan oleh oknum-oknum ditubuh militer dan kepolisian dijadikan objek penambahan penghasilan dengan cara memberikan backing. Praktek mafia pengadilan bisa juga dikatakan pelanggaran HAM horizontal karena ada unsur pemerasan kelompok mafia pengadilan apabila oleh sesuatu hal kita berhubungan dengan penegak hukum karena terkena kasus hukum baik yang ringan ataupun yang berat. Pemerintah akankah dapat menghilangkan mafia pengadilan yang sudah pasti terus menggelumbungkan kocek para penegak hukum yang hampir secara mayoritas terjadi di Indonesia. Peristiwa makelar pengadilan dilakukan oleh Artalyta Suryani yang mempunyai hubungannya yang baik dengan hampir semua pejabat Kejaksaan Agung adalah hanya satu contoh yang kebetulan ditemukan pada lembaga tinggi peradilan kita yang seharusnya melaksanakan supremasi hukum. Pada hakekatnya praktek premanisme merupakan bisnis yang empuk bagi sebahagian rakyat kepada rakyat yang lain berupa pemaksaan kehendak dengan tindak kekerasan yang tidak jarang berujung dengan penganiayan bahkan pembunuhan. Rakyat tidak punya tempat untuk mengadu.mobil/motor yang melakukan intimidasi dan kata-kata yang kotor bagi para penunggak kredit. Jika tidak akan semakin jauh bangsa Indonesia maupun Negara Kesatuan Republik Indonesia bisa menghayati dan menjalankan sila ke 2 dari Pancasila – Kemanusian Yang Adil dan Beradab dan masih banyak yang harus dilakukan bangsa Indonesia maupun Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk betul-betul bisa menghayati dan menjalankan sila ke 2 dari Pancasila – Kemanusian Yang Adil dan beradab. kalaupun mengadu tidak akan mendapat tanggapan dari pihak yang berwewenang. d) Pembiaran oleh pemerintah. Hampir setiap perkara hukum akan terjadi proses mediasi semacam ini yang bahkan kadang-kadang disponsori atau diinisiasi para pengacaranya sendiri. organisasi preman berkedok agama yang merusak tempattempat usaha hiburan bahkan yang terakhir peristiwa Monas yang target kekerasan adalah organisasi massa lainnya. selalu akan ada makelar pengadilan atau kelompok mafia pengadilan yang akan mengurus masalah pembebasan atau paling tidak peringanan hukuman melalui kelompok ini yang mengenal baik para pejabat penegak hukum. Bukannya proses hukum yang dilakukan untuk menegakkan hukum secara adil dan beradab tapi proses mediasi dengan motif uang gratifikasi yang menjadi fokusnya. .

kita bangsa Indonesai hanya bisa melihat sila ke 2 dari Pancasila – Kemanusian Yang Adil dan Beradab sebatas formal juridis tanpa mampu menyentuh realitas hidup berbangsa dan bernegara. berbangsa. tahun 2000. keluarga. Atau pemilu akhirnya – seperti pada masa orde baru – adalah sekedar formalitas penunjukan pemimpin atau rotasi giliran pergantian kekuasaan tanpa menyentuh esensi kemampuan dalam menyelesaikan masalah bangsa secara komprehensip. martabat. bagaimanapun juga kita perlu memberikan apresiasi ide penggali Pancasila yang punya pemikiran “forward looking” dimana ide penghargaan . kehormatan. Sesuai dengan UUD’45 Pasal 28I ayat (4) Perlindungan. terutama pemerintah. Rakyat akan menilai dari waktu ke waktu apakah kewajiban ini betul-betul akan dijalankan oleh pemerintah yang dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilu yang demokratis. Dengan memasukkan pasal-pasal penghargaan terhadap HAM didalam amandemen ke2 UUD’45. dan bernegara. pemajuan. paling tidak ada sudah ada langkah maju niat dan kehendak Negara dan masyarakat Indonesia untuk mulai memperhatikan penghargaan terhadap HAM oleh karena itu walaupun dalam pelaksanaan sila 2 . serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. Pada banyak kasus pembebasan tanah sangat sering terjadi intimidasi terhadap pemilik tanah agar menjual tanahnya dengan harga yang dipaksakan oleh pembeli melalui intimidasi. Juga pasal 28J ayat (1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat. Sampai kita bisa menemukan pemimpin yang punya kemampuan seperti ini. Mungkin pemerintah juga tidak tahu bahwa pemerintah punya kewajiban untuk melindunginya warganegaranya yang dijadikan objek kekerasan dan pemerasan seperti tercermin padaUUD’45 pasal 28G ayat (1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi.Peri Kemanusian Yang Adil dan Beradab masih mengalami berbagai kendala.Sangat banyak hal yang terjadi di masyarakat yang berkaitan dengan intimidasi kelompok masyarakat yang satu terhadap kelompok mayarakat lainnya. dan harta benda yang dibawah kekuasaannya. Ini adalah tugas yang sangat berat yang harus dipikul pemerintah sebagai konsekwensi dan tanggung jawab pemerintah sebagai kepercayaan pilihan yang dilakukan oleh rakyat dalam proses demokrasi. penegakan. dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara. Kemungkinan besar masyarakat Indonesia banyak yang tidak mengetahui bahwa setiap tindak pemerasan dan pemaksaan kehendak terhadap pihak lain adalah salah satu pelanggaran hak azasi manusia.

nama Bahasa baru yang semulanya tidak ada. c) Usaha separatisme yang ingin memisahkan diri dari NKRI seperti halnya GAM. Organisasi Papua Merdeka dll.terhadap HAM sudah dicetuskan pada tanggal 1 Juni 1945 oleh pemimpin bangsa dan dicantumkan sebagai sila ke 2 dari Pancasila yang akhirnya dijadikan dasar NKRI sedangkan PBB baru mendeklarasikan Universal Human Right pada tanggal 10 Desember 1948. wilayahnya dulunya namanya Hindia Belanda. apakah itu . Permesta. pengamalan. guncangan itu adalah: a) Terjadinya perang kemerdekaan mempertahankan NKRI dari kembalinya penjajah Belanda yang membonceng Sekutu (Inggris) pada saat serah terima dari Jepang terhadap teritori yang diduduki Jepang yang dikalahkan Sekutu pada Perang Dunia ke II. suku-suku bangsanya banyak. praktek premanisme masih sangat kuat mencengkeram dalam masyarakat dan praktek mafia pengadilan masih mencengkeram sangat kuat dalam sistem peradilan kita. Oleh karena itu boleh dikatakan sulit sekali untuk bisa merubah paradigma Persatuan Indonesia yang juga cerminan sila ke 3 dari Pancasila.dan pelaksanaan sila ke 3 – Persatuan Indonesia – oleh Negara dan masyarakat bangsa Indonesia) Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah hasil idealisme para pejuang kemerdekaan yang memberi nama Negara Baru. RMS. Suatu usaha untuk menghidupkan kembali Pancasila haruslah juga dengan cara penegakkan hak azasi manusia sebagai refleksi pelaksanaan sila ke-2 Pancasila: Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab atau seperti yang tercantum dalam UUD ’45 Pasal 28A s/d Pasal 28J. Apapun namanya gerakan yang sedang dan akan dilakukan untuk bisa merubah secara radikal bentuk dan haluan NKRI. dan dengan banyak goncangan yang terjadi setelah proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 sampai dengan saat ini Negara Kesatuan Republik Indonesia masih kokoh berdiri. nama Bangsa baru. dan DI/TII. kemudian secara radikal para pejuang kemerdekaan merubah semuanya ini jadi Indonesia. bahasanya juga banyak tergantung sukunya. PRRI. Dalam proses ini tidak diragukan peranan Negara dan aparatnya terutama TNI/Polri dalam kontribusinya agar Persatuan Indonesia tetap kokoh. b) Usaha merubah bentuk dan haluan negara dengan adanya pemberontakan PKI. BUKTI SEJARAH PELAKSANAAN SILA PERSATUAN INDONESIA (Refleksi penghayatan. Saat ini terasa seperti jalan jalan ditempat.

Karena komitmen yang sangat besar dari para penyelengara Negara terhadap Persatuan Indonesia sebagai bentuk penghargaan yang tidak terhingga terhadap idealisme para pejuang kemerdekaan. Sebagian partai Islam bahkan mengatakan dasar negara Pancasila sudah diterima secara final dan tidak perlu dipertentangkan dengan agama. Satu Bangsa. Satu Nusa. Komitmen masyarakat bangsa Indonesia terhadap Persatuan Indonesia. tetap ada usaha-usaha dari sebahagian masyarakat maupun organisasi kemasyarakatan terus mencoba untuk merubah atau merusaknya. Diterima sebagai realitas kehidupan sehari-hari. indikasi tersebut adalah: a) b) Kuatnya dukungan masyarakat terhadap partai-partai yang berhaluan Nasionalis. Satu Bahasa. diamalkan. mengamalkan dan melaksanakan sila ke 3 dari Pancasila.sifatnya ideologis maupun separatisme akan sulit bisa terlaksana. Oleh karena itu adalah penting untuk Mahkamah Konstitusi melakukan uji materi Perda sebelum diumumkan secara resmi di daerah. Indonesia telah dihayati dan dijalankan oleh mayoritas bangsa Indonesia. Kerancuan sikap daerah untuk bisa membuat Peraturan Daerah (Perda) sendiri atas persetujuan DPRD tanpa mengikuti benang merah UUD’45 dan pembukaannya dasar negara Pancasila. (Note: walaupun ada juga partai Islam yang menerima Pancasila setengah hati atau hanya sekedar sebagai strategi saja). bisa berakibat fatal dimana Daerah punya Peraturan Daerah (Perda) Otonomi yang bertentangan dengan UUD’45 dan Pancasila maupun UU Negara lainnya yang lebih merinci pasal-pasal di UUD’45. c) Secara umum Sumpah Pemuda. Selama ini indikasi yang ada mayoritas masyarakat Indonesia masih setia dan hormat dalam menghayati. Ini diperkuat dengan apa yang tercantum dalam lambang Negara Garuda Pancasila yaitu sikap hidup – Bhineka Tunggal Ika – beranekaragam tapi tetap satu. jadi negara adalah otoritas dibawah agama yang tidak perlu . c) Masih adanya kelompok agama yang memandang agama sebagai otoritas tertinggi yang secara formal harus diikuti. b) Adanya kemungkinan timbulnya separatisme model baru dengan pelaksanaan Otonomi Daerah. dan dilaksanakan dengan baik selama ini. yaitu: a) Masih adanya usaha separatisme yang belum sepenuhnya bisa diatasi seperti RMS dan OPM (Organisasi Papua Merdeka). Kuatnya dukungan partai-partai berhaluan agama terhadap komitmen Pancasila sebagai dasar Negara. Walaupun secara umum sila ke 3 dari Pancasila – Persatuan Indonesia – baik oleh Negara maupun rakyat Indonesia telah dihayati. Hal ni adalah separatisme berselubungkan otonomi daerah yang perlu dicermati.

Sedangkan NKRI sesuai dengan UUD’45. BENTUK DAN KEDAULATAN.ditaati. Pasal (3) Negara Indonesia adalah negara hukum. Apakah itu melalui cara teror kekerasan massa. Oleh karena itu adalah tidak masuk akal apabila agama tertentu mengklaim ingin menjadikan Indonesia menjalankan hukum agama tertentu. Proses Persatuan Indonesia adalah suatu proses kebangsaan berdasarkan senasib sepenanggungan karena sama-sama menderita dalam penjajahan Belanda melalui proses Bhineka Tunggal Ika. Pancasila adalah satu-satunya sumber landasan hukum yang terbaik bagi seluruh masyarakat Indonesia dari Sabang ke Merauke. . sebaiknya kita juga tetap waspada dengan usaha-usaha yang menentangnya. Pasal (2) Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang Undang Dasar. Note: Tidak ada dalam pasal UUD’45 yang mengatakan bahwa Negara mendasarkan diri dengan agama tertentu dan dengan sendirinya hukum negara berlaku untuk seluruh warganegara tanpa pandang bulu dan warganegara wajib untuk mentaatinya. BAB I. Walaupun usaha apapun untuk melakukan perubahan haluan dan dasar NKRI pada sila ke 3 dari Pancasila – Persatuan Indonesia – pada hakekatnya akan mendapatkan tentangan dari sebagian besar kalangan masyarakat Indonesia maupun sebagian besar rakyat Indonesia. Suatu usaha untuk menghidupkan kembali Pancasila pada sila ke-3 adalah dengan cara selalu waspada terhadap hal-hal bisa merusak Persatuan Indonesia. Hal Ini adalah juga sikap yang ditunjukkan oleh beberapa organisasi masyarakat yang melakukan aksi penertiban langsung terhadap anggota masyarakat lainnya tanpa konsolidasi dengan aparat keamanan negara karena menurut mereka otoritas agama mengizinkan bahkan menganjurkan hal itu dilakukan. menggunakan jalur formal sarana lembaga demokrasi yang ada ataupun menggunakan sarana otonomi daerah yang sedang mulai dibangun. pemberontakan bersenjata. sama sekali bukan suatu proses pengembangan agama tertentu. yang berbentuk Republik. Pasal (1) – Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan. Jelas ini sikap ekstrim yang berbahaya karena ada kecenderungan untuk merubah otoritas negara dan otorotis agama adalah satu kesatuan yang tidak mungkin dipisahkan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful