P. 1
KHUTBAH NIKAH, PErnikahan

KHUTBAH NIKAH, PErnikahan

5.0

|Views: 4,469|Likes:
Published by metaphors619
Khutbah Nikah, Pernikahan
Khutbah Nikah, Pernikahan
Khutbah Nikah, Pernikahan
Khutbah Nikah, Pernikahan
Khutbah Nikah, Pernikahan
Khutbah Nikah, Pernikahan
Khutbah Nikah, Pernikahan
Khutbah Nikah, Pernikahan
Khutbah Nikah, Pernikahan
Khutbah Nikah, Pernikahan
Khutbah Nikah, Pernikahan
Khutbah Nikah, Pernikahan

More info:

Published by: metaphors619 on Aug 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2015

pdf

text

original

Sections

  • HUKUM PERNIKAHAN MENURUT ISLAM
  • SYARAT NIKAH
  • RUKUN NIKAH
  • KHUTBAH NIKAH
  • 1. Khutbah nikah panjang teks bahasa Arab
  • 2. Khutbah Nikah Pendek berdasar hadits Ibnu Masud riwayat Abu Dawud
  • WALI NIKAH
  • URUTAN WALI NIKAH
  • SYARAT MENJADI WALI NIKAH
  • WALI HAKIM
  • WALI DARI ANAK ZINA
  • SEMUA WALI TIDAK ADA
  • WALI TIDAK ADA SETUJU TANPA ALASAN SYAR'I
  • WALI PERGI DALAM JARAK QASHAR
  • AKAD NIKAH (IJAB KABUL)
  • A. TEKS BACAAN AKAD NIKAH LANGSUNG OLEH WALI DALAM BAHASA ARAB
  • B. TEKS BACAAN AKAD NIKAH OLEH WAKIL WALI DALAM BAHASA ARAB
  • C. TEKS KABUL JAWABAN PENGANTIN PUTRA KEPADA WALI
  • DOA SETELAH AKAD NIKAH
  • DOA 1
  • UCAPAN DOA UNTUK KEDUA MEMPELAI SETELAH AKAD NIKAH
  • DOA UNTUK KEDUA MEMPELAI
  • DOA SAAT BERDUA DI MALAM PERTAMA
  • DOA SETIAP AKAN BERHUBUNGAN INTIM (JIMAK)
  • PERNIKAHAN HARAM (DILARANG) DALAM ISLAM

KHUTBAH NIKAH

Pernikahan dalam Islam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

DAFTAR ISI:

Daftar isi

[sembunyikan]

1 Hikmah Pernikahan

2 Pemilihan calon

o

2.1 Ciri-ciri bakal suami

3 Penyebab haramnya sebuah pernikahan

4 Peminangan

5 Nikah

o

5.1 Rukun nikah

o

5.2 Syarat calon suami

o

5.3 Syarat bakal istri

o

5.4 Syarat wali

o

5.5 Jenis-jenis wali

o

5.6 Syarat-syarat saksi

o

5.7 Syarat ijab

o

5.8 Syarat qobul

6 Wakil Wali/ Qadi

7 Lihat juga

8 Referensi

9 Pranala luar

Pernikahan atau nikah artinya adalah terkumpul dan menyatu. Menurut istilah lain juga dapat berarti Ijab
Qobul (akad nikah) yang mengharuskan perhubungan antara sepasang manusia yang diucapkan oleh kata-
kata yang ditujukan untuk melanjutkan ke pernikahan, sesusai peraturan yang diwajibkan oleh Islam [1]
.

Kata zawaj digunakan dalam al-Quran artinya adalahpasangan yang dalam penggunaannya pula juga dapat
diartikan sebagai pernikahan, Allahs.w.t. menjadikan manusia itu saling berpasangan, menghalalkan
pernikahan dan mengharamkan zina.

Daftar isi

[sembunyikan]

1 Hikmah Pernikahan

2 Pemilihan calon

o

2.1 Ciri-ciri bakal

suami

3 Penyebab haramnya sebuah

pernikahan

4 Peminangan

5 Nikah

o

5.1 Rukun nikah

o

5.2 Syarat calon suami

o

5.3 Syarat bakal istri

o

5.4 Syarat wali

o

5.5 Jenis-jenis wali

o

5.6 Syarat-syarat saksi

o

5.7 Syarat ijab

o

5.8 Syarat qobul

6 Wakil Wali/ Qadi

7 Lihat juga

8 Referensi

9 Pranala luar

[sunting]Hikmah Pernikahan

Cara yang halal dan suci untuk menyalurkan nafsu syahwat melalui ini selain lewat perzinahan,

pelacuran, dan lain sebagainya yang dibenci Allah dan amat merugikan.

Untuk memperoleh ketenangan hidup, kasih sayang dan ketenteraman

Memelihara kesucian diri

Melaksanakan tuntutan syariat

Membuat keturunan yang berguna bagi agama, bangsa dan negara.

Sebagai media pendidikan: Islam begitu teliti dalam menyediakan lingkungan yang sehat untuk

membesarkan anak-anak. Anak-anak yang dibesarkan tanpa orangtua akan memudahkan untuk membuat
sang anak terjerumus dalam kegiatan tidak bermoral. Oleh karena itu, institusi kekeluargaan yang
direkomendasikan Islam terlihat tidak terlalu sulit serta sesuai sebagai petunjuk dan pedoman pada anak-
anak

Mewujudkan kerjasama dan tanggungjawab

Dapat mengeratkan silaturahim

[sunting]Pemilihan calon

Islam mensyaratkan beberapa ciri bagi calon suami dan calon isteri yang dituntut dalam Islam. Namun, ini
hanyalah panduan dan tidak ada paksaan untuk mengikuti panduan-panduan ini.

[sunting]Ciri-ciri bakal suami

Sekadar gambar hiasan: Sebuah acara pernikahan di Indonesian dan diadakan dengan budaya Jawa

beriman & bertaqwa kepada Allah s.w.t

bertanggungjawab terhadap semua benda

memiliki akhlak-akhlak yang terpuji

berilmu agama agar dapat membimbing calon isteri dan anak-anak ke jalan yang benar

tidak berpenyakit yang berat seperti gila, AIDS dan sebagainya

rajin bekerja untuk kebaikan rumahtangga seperti mencari rezeki yang halal untuk kebahagiaan

keluarga.

[sunting]Penyebab haramnya sebuah pernikahan

Perempuan yang diharamkan menikah oleh laki-laki disebabkan karena keturunannya (haram

selamanya) serta dijelaskan dalam surah an-Nisa: Ayat 23 yang berbunyi, “Diharamkan kepada kamu
menikahi ibumu, anakmu, saudaramu, anak saudara perempuan bagi saudara laki-laki, dan anak saudara
perempuan bagi saudara perempuan.”:

Ibu

Nenek dari ibu maupun bapak

Anak perempuan & keturunannya

Saudara perempuan segaris atau satu bapak atau satu ibu

Anak perempuan kepada saudara lelaki mahupun perempuan, uaitu semua anak saudara

perempuan

Perempuan yang diharamkan menikah oleh laki-laki disebabkan oleh susuan ialah:

Ibu susuan

Nenek dari saudara ibu susuan

Saudara perempuan susuan

Anak perempuan kepada saudara susuan laki-laki atau perempuan

Sepupu dari ibu susuan atau bapak susuan

Perempuan muhrim bagi laki-laki karena persemendaan ialah:

Ibu mertua

Ibu tiri

Nenek tiri

Menantu perempuan

Anak tiri perempuan dan keturunannya

Adik ipar perempuan dan keturunannya

Sepupu dari saudara istri

Anak saudara perempuan dari istri dan keturunannya

[sunting]Peminangan

Pertunangan atau bertunang merupakan suatu ikatan janji pihak laki-laki dan perempuan untuk
melangsungkan pernikahan mengikuti hari yang dipersetujui oleh kedua pihak. Meminang merupakan adat
kebiasaan masyarakat Melayu yang telah dihalalkan oleh Islam. Peminangan juga merupakan awal proses
pernikahan. Hukum peminangan adalah harus dan hendaknya bukan dari istri orang, bukan saudara sendiri,
tidak dalam iddah, dan bukan tunangan orang. Pemberian seperti cincin kepada wanita semasa peminangan
merupakan tanda ikatan pertunangan. Apabila terjadi ingkar janji yang disebabkan oleh sang laki-laki,
pemberian tidak perlu dikembalikan dan jika disebabkan oleh wanita, maka hendaknya dikembalikan, namun
persetujuan hendaknya dibuat semasa peminangan dilakukan. Melihat calon suami dan calon istri adalah
sunat, karena tidak mau penyesalan terjadi setelah berumahtangga. Anggota yang diperbolehkan untuk dilihat
untuk seorang wanita ialah wajah dan kedua tangannya saja.

Hadist Rasullullah mengenai kebenaran untuk melihat tunangan dan meminang:

"Abu Hurairah RA berkata,sabda Rasullullah SAW kepada seorang laki-laki yang hendak menikah
dengan seorang perempuan: "Apakah kamu telah melihatnya?jawabnya tidak(kata lelaki itu kepada
Rasullullah).Pergilah untuk melihatnya supaya pernikahan kamu terjamin kekekalan." (Hadis Riwayat
Tarmizi dan Nasai)

Hadis Rasullullah mengenai larangan meminang wanita yang telah bertunangan:

"Daripada Ibnu Umar RA bahawa Rasullullah SAW telah bersabda: "Kamu tidak boleh meminang
tunangan saudara kamu sehingga pada akhirnya dia membuat ketetapan untuk
memutuskannya". (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim(Asy-Syaikhan))

[sunting]Nikah

[sunting]Rukun nikah

Pengantin laki-laki

Pengantin perempuan

Wali

Dua orang saksi laki-laki

Mahar

Ijab dan kabul (akad nikah)

[sunting]Syarat calon suami

Islam

Laki-laki yang tertentu

Bukan lelaki muhrim dengan calon istri

Mengetahui wali yang sebenarnya bagi akad nikah tersebut

Bukan dalam ihram haji atau umroh

Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan

Tidak mempunyai empat orang istri yang sah dalam suatu waktu

Mengetahui bahwa perempuan yang hendak dinikahi adalah sah dijadikan istri

[sunting]Syarat bakal istri

Islam

Perempuan yang tertentu

Bukan perempuan muhrim dengan calon suami

Bukan seorang banci

Bukan dalam ihram haji atau umroh

Tidak dalam iddah

Bukan istri orang

[sunting]Syarat wali

Islam, bukan kafir dan murtad

Lelaki dan bukannya perempuan

Telah pubertas

Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan

Bukan dalam ihram haji atau umroh

Tidak fasik

Tidak cacat akal pikiran, gila, terlalu tua dan sebagainya

Merdeka

Tidak dibatasi kebebasannya ketimbang membelanjakan hartanya

Sebaiknya calon istri perlu memastikan syarat WAJIB menjadi wali. Jika syarat-syarat wali terpenuhi seperti di
atas maka sahlah sebuah pernikahan itu.Sebagai seorang mukmin yang sejati, kita hendaklah menitik beratkan
hal-hal yag wajib seperti ini.Jika tidak, kita hanya akan dianggap hidup dalam berzinahan selamanya.

[sunting]Jenis-jenis wali

Wali mujbir : Wali dari bapaknya sendiri atau kakek dari bapa yang mempunyai hak mewalikan

pernikahan anak perempuannya atau cucu perempuannya dengan persetujuannya (sebaiknya perlu
mendapatkan kerelaan calon istri yang hendak dinikahkan)

Wali aqrab: Wali terdekat yang telah memenuhi syarat yang layak dan berhak menjadi wali

Wali ab’ad: Wali yang sedikit mengikuti susunan yang layak menjadi wali, jikalau wali aqrab

berkenaan tidak ada. Wali ab’ad ini akan digantikan oleh wali ab’ad lain dan begitulah seterusnya
mengikut susunan tersebut jika tidak ada yang terdekat lagi.

Wali raja/hakim: Wali yang diberi hak atau ditunjuk oleh pemerintah atau pihak berkuasa pada negeri

tersebut oleh orang yang telah dilantik menjalankan tugas ini dengan sebab-sebab tertentu

[sunting]Syarat-syarat saksi

Sekurang-kurangya dua orang

Islam

Berakal

Telah pubertas

Laki-laki

Memahami isi lafal ijab dan qobul

Dapat mendengar, melihat dan berbicara

Adil (Tidak melakukan dosa-dosa besar dan tidak terlalu banyak melakukan dosa-dosa kecil)

Merdeka

[sunting]Syarat ijab

Pernikahan nikah ini hendaklah tepat

Tidak boleh menggunakan perkataan sindiran

Diucapkan oleh wali atau wakilnya

Tidak diikatkan dengan tempo waktu seperti mutaah(nikah kontrak atau pernikahan (ikatan suami istri)

yang sah dalam tempo tertentu seperti yang dijanjikan dalam persetujuan nikah muataah)

Tidak secara taklik(tidak ada sebutan prasyarat sewaktu ijab dilafalkan)

Contoh bacaan Ijab:Wali/wakil Wali berkata kepada calon suami:"Aku nikahkan Anda dengan Diana Binti
Daniel dengan mas kawin berupa seperangkap alat salat dibayar tunai".

[sunting]Syarat qobul

Ucapan mestilah sesuai dengan ucapan ijab

Tidak ada perkataan sindiran

Dilafalkan oleh calon suami atau wakilnya (atas sebab-sebab tertentu)

Tidak diikatkan dengan tempo waktu seperti mutaah(seperti nikah kontrak)

Tidak secara taklik(tidak ada sebutan prasyarat sewaktu qobul dilafalkan)

Menyebut nama calon istri

Tidak ditambahkan dengan perkataan lain

Contoh sebutan qabul(akan dilafazkan oleh bakal suami):"Aku terima nikahnya dengan Diana Binti Daniel
dengan mas kawin berupa seperangkap alat salat dibayar tunai" ATAU "Aku terima Diana Binti Daniel sebagai
istriku".

Setelah qobul dilafalkan Wali/wakil Wali akan mendapatkan kesaksian dari para hadirin khususnya dari dua
orang saksi pernikahan dengan cara meminta saksi mengatakan lafal "SAH" atau perkataan lain yang sama
maksudya dengan perkataan itu.

Selanjutnya Wali/wakil Wali akan membaca doa selamat agar pernikahan suami istri itu kekal dan bahagia
sepanjang kehidupan mereka serta doa itu akan diAminkan oleh para hadirin

Bersamaan itu pula, mas kawin/mahar akan diserahkan kepada pihak istri dan selanjutnya berupa cincin akan
dipakaikan kepada jari cincin istri oleh suami sebagai tanda dimulainya ikatan kekeluargaan atau simbol
pertalian kebahagian suami istri.Aktivitas ini diteruskan dengan suami mencium istri.Aktivitas ini disebut
sebagai "Pembatalan Wudhu".Ini karena sebelum akad nikah dijalankan suami dan isteri itu diminta untuk
berwudhu terlebih dahulu.

Suami istri juga diminta untuk salat sunat nikah sebagai tanda syukur setelah pernikahan berlangsung.
Pernikahan Islam yang memang amat mudah karena ia tidak perlu mengambil masa yang lama dan
memerlukan banyak aset-aset pernikahan disamping mas kawin,hantaran atau majelis umum (walimatul
urus)yang tidak perlu dibebankan atau dibuang.

[sunting]Wakil Wali/ Qadi

Wakil wali/Qadi adalah orang yang dipertanggungjawabkan oleh institusi Masjid atau jabatan/pusat Islam untuk
menerima tuntutan para Wali untuk menikahkan/mengahwinkan bakal istri dengan bakal suami.Segala urusan
pernikahan,penyediaan aset pernikahan seperti mas kawin,barangan hantaran(hadiah),penyedian tempat
pernikahan,jamuan makan kepada para hadirin dan lainnya adalah tanggungjawab pihak suami istri itu. Qadi
hanya perlu memastikan aset-aset itu telah disediakan supaya urusan pernikahan berjalan lancar.Disamping
tanggungjawabnya menikahi suami istri berjalan dengan sempurna,Qadi perlu menyempurnakan dokumen-

dokumen berkaitan pernikahan seperti sertifikat pernikahan dan pengesahan suami istri di pihak tertinggi
seperti mentri agama dan administratif negara.Untuk memastikan status resmi suami isteri itu sentiasa sulit
dan terpelihara.Qadi selalunya dilantik dari kalangan orang-orang alim(yang mempunyai pengetahuan dalam
agama Islam dengan luas) seperti Ustaz,Muallim,Mufti,Sheikh ulIslam dan sebagainya.Qadi juga mesti
merupakan seorang laki-laki Islam yang sudah merdeka dan telah pubertas.

Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tatacara ataupun proses sebuah
pernikahan yang berlandaskan proses empat yaitu Akad Nikah

Akad nikah adalah perjanjian yang berlangsung antara dua pihak yang
melangsungkan pernikahan dalam bentuk ijab dan qabul.

Ijab adalah penyerahan dari pihak pertama, sedangkan qabul adalah penerimaan
dari pihak kedua. Ijab dari pihak wali si perempuan dengan ucapannya, misalnya:
“Saya nikahkan anak saya yang bernama si A kepadamu dengan mahar sebuah
kitab Riyadhus Shalihin.”

Qabul adalah penerimaan dari pihak suami dengan ucapannya, misalnya: “Saya
terima nikahnya anak Bapak yang bernama si A dengan mahar sebuah kitab
Riyadhus Shalihin.”

Sebelum dilangsungkannya akad nikah, disunnahkan untuk menyampaikan khutbah
yang dikenal dengan khutbatun nikah atau khutbatul hajah. Lafadznya sebagai
berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu dengan sebenar-benar taqwa
kepada-Nya, dan janganlah kamu mati melainkan dalam beragama Islam.” (QS Ali
Imran: 102)

“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rab-mu, yang telah menciptakan
kamu dari yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan dari
keduanya Allah mengembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan
bertaqwalah kepada Allah, yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan
(peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah menjaga dan
mengawasimu.”(QS an-Nisa’: 1)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan berkatalah
dengan perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-
amalanmu, dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati
Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya dia telah mendapat kemenangan yang
besar”(QS al-Ahzab: 70-71)

Adapun beberapa adab agar Nikah semakin berberkah anda bisa baca disini
Adab dalam Akad Nikah

[Ilu] Akad
Nikah

Agar akad nikah Anda semakin berkah, berikut beberapa adab yang perlu
diperhatikan:

Pertama, hindari semua hal yang menyebabkan ketidak-absahan akad nikah.

Karena itu, pastikan kedua mempelai saling ridha dan tidak ada unsur paksaan,
pastikan adanya wali pihak wanita, saksi dua orang yang amanah. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak sah nikah, kecuali dengan wali (pihak wanita) dan dua saksi yang adil
(amanah).” (HR. Turmudzi dan lainnya serta dishahihkan Al-Albani)

Kedua, dianjurkan adanya khutbatul hajah sebelum akad nikah.
Yang dimaksud khutbatul hajah adalah bacaan:
Dalil anjuran ini adalah hadis dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau
mengatakan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami khutbatul hajah…-sebagaimana
lafadz di atas – …(HR. Abu Daud 2118 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

Syu’bah (salah satu perawi hadis) bertanya kepada gurunya Abu Ishaq, “Apakah ini
khusus untuk khutbah nikah atau boleh dibaca pada kesempatatan yang lainnya.”
“Diucapkan pada setiap acara yang penting.” Jawab Abu Ishaq.

Sebagian orang beranggapan dianjurkannya mengucapkan khutbah ini ketika
walimah, meskipun acara walimah tersebut dilaksanakan setelah kumpul suami
istri. Namun yang tepat –wallahu a’lam– anjuran mengucapkan khutbatul hajah
sebagaimana ditunjukkan hadis Ibn Mas’ud radhiallahu ‘anhu adalah sebelum akad

nikah bukan ketika walimah. (A’unul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, 5:3 dan
Tuhafatul Ahwadzi Syarh Sunan Turmudzi, 4:201). Wallahu a’lam.

Ketiga, tidak ada anjuran untuk membaca syahadat ketika hendak akad, atau
anjuran untuk istighfar sebelum melangsungkan akad nikah, atau membaca surat
Al-Fatihah. Semua itu sudah diwakili dengan lafadz khutbatul hajah di atas. Tidak
perlu calon pengantin diminta bersyahadat atau istighfar.

Keempat, hendaknya pengantin wanita tidak ikut dalam majlis akad nikah. Karena
umumnya majlis akad nikah dihadiri banyak kaum lelaki yang bukan mahramnya,
termasuk pegawai KUA. Pengantin wanita ada di lokasi itu, hanya saja dia dibalik
tabir. Karena pernikahan dilangsungkan dengan wali si wanita. Allah Ta’ala
mengajarkan,

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (wanita yang bukan
mahram), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi
hatimu dan hati mereka.” (QS. Al-Ahzab: 53)

Semua orang tentu menginginkan hatinya lebih suci, sebagaimana yang Allah
nyatakan. Karena itu, ayat ini tidak hanya berlaku untuk para istri Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam tapi juga untuk semua mukmin.

Jika dalam kondisi normal dan ada lelaki yang hendak menyampaikan kebutuhan
atau hajat tertentu kepada wanita yang bukan mahram, Allah syariatkan agar
dilakukan di balik hijab maka tentu kita akan memberikan sikap yang lebih ketat
atau setidaknya semisal untuk peristiwa akad nikah. Karena umumnya dalam
kondisi ini, pengantin wanita dalam keadaan paling menawan dan paling indah
dipandang. Dia didandani dengan make up yang tidak pada umumnya dikenakan.

Kesalahan yang banyak tersebar di masyarakat dalam hal ini, memposisikan calon
pengantin wanita berdampingan dengan calon pengantin lelaki ketika akad. Bahkan
keduanya diselimuti dengan satu kerudung di atasnya. Bukankah kita sangat yakin,
keduanya belum berstatus sebagai suami istri sebelum akad? Menyandingkan calon
pengantin, tentu saja ini menjadi pemandangan yang bermasalah secara syariah.

Ketika Anda sepakat bahwa pacaran itu haram, Anda seharusnya sepakat bahwa
ritual semacam ini juga terlarang.

Kelima, tidak ada lafadz khusus untuk ijab qabul. Dalam pengucapn ijab kabul,
tidak disyaratkan menggunakan kalimat tertentu dalam ijab kabul. Akan tetapi,
semua kalimat yang dikenal masyarakat sebagai kalimat ijab kabul akad nikah
maka status nikahnya sah.

Lajnah Daimah ditanya tentang lafadz nikah. Mereka menjawab,

Semua kalimat yang menunjukkan ijab Kabul, maka akad nikahnya sah dengan
menggunakan kalimat tersebut, menurut pendapat yang lebih kuat. Yang paling
tegas adalah kalimat: ‘zawwajtuka’ dan ‘ankahtuka’ (aku nikahkan kamu),
kemudian ‘mallaktuka’ (aku serahkan padamu). (Fatawa Lajnah Daimah, 17:82).

Keenam, hindari bermesraan setelah akad di tempat umum

Pemandangan yang menunjukkan kurangnya rasa malu sebagian kaum muslimin,
bermesraan setelah akad nikah di depan banyak orang. Kita sepakat, keduanya
telah sah sebagai suami istri. Apapun yang sebelumnya diharamkan menjadi halal.
Hanya saja, Anda tentu sadar bahwa untuk melampiaskan kemesraan ada
tempatnya sendiri, bukan di tempat umum semacam itu.

Bukankah syariah sangat ketat dalam urusan syahwat? Menampakkan adegan
semacam ini di muka umum, bisa dipastikan akan mengundang syahwat mata-mata
masyarakat yang ada di sekitarnya. Hadis berikut semoga bisa menjadi pelajaran
penting bagi kita.

Dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau menceritakan:

Fadhl bin Abbas (saudaranya Ibn Abbas) pernah membonceng Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam di belakang beliau, karena tunggangan Fadhl kecapekan. Fadhl
adalah pemuda yang cerah wajahnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

berhenti di atas tunggangannya, untuk menjawab pertanyaan banyak sahabat yang
mendatangi beliau. Tiba-tiba datang seorang wanita dari Bani Khats’am, seorang
wanita yang sangat cerah wajahnya untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam. Ibnu Abbas melanjutkan,

Maka Fadhl-pun langsung mengarahkan pandangan kepadanya, dan takjub dengan
kecantikannya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memalingkan wajah
beliau, namun Fadhl tetap mengarahkan pandangannya ke wanita tersebut. Lalu
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang rahang Fadhl dan memalingkan
wajahnya agar tidak melihat si wanita…. (HR. Bukhari, no.6228)

Bagaimana sikap orang yang bertaqwa sekelas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau tidak mengandalkan taqwanya, merasa yakin tidak mungkin terpengaruh
syahwat, dst.. Beliau juga tidak membiarkan pemuda yang ada didekatnya untuk
melakukan kesalahan itu. Beliau palingkan wajahnya. Apa latar belakangnya? Tidak
lain adalah masalah syahwat. Apa yang bisa Anda katakan untuk kasus bermesraan
pasca-akad nikah di tempat umum? Tentu itu lebih mengundang syahwat.

Ketujuh, adakah anjuran akad nikah di masjid?

Terdapat hadis yang menganjurkan untuk mengadakan akad nikah di masjid,
hadisnya berbunyi:

“Umumkan pernikahan, adakan akad nikah di masjid dan meriahkan dengan
memukul rebana.” (HR. At Turmudzi, 1:202 dan Baihaqi, 7:290)

Hadis dengan redaksi lengkap sebagaimana teks di atas statusnya dhaif. Karena
dalam sanadnya ada seorang perawi bernama Isa bin Maimun Al Anshari yang
dinilai dhaif oleh para ulama, di antaranya Al Hafidz Ibn Hajar, Al Baihaqi, Al
Bukhari, dan Abu Hatim. Akan tetapi, hadis ini memiliki penguat dari jalur yang lain
hanya saja tidak ada tambahan “..Adakan akad tersebut di masjid..”. Maka
potongan teks yang pertama untuk hadis ini, yang menganjurkan diumumkannya

pernikahan statusnya shahih. Sedangkan potongan teks berikutnya statusnya
mungkar. (As Silsilah Ad Dla’ifah, hadis no. 978).

Karena hadisnya dhaif, maka anjuran pelaksanaan walimah di masjid adalah
anjuran yang tidak berdasar. Artinya syariat tidak memberikan batasan baik wajib
maupun sunah berkaitan dengan tempat pelaksanaan walimah nikah. Syaikh Amr
bin Abdul Mun’im Salim mengatakan, “Siapa yang meyakini adanya anjuran
melangsungkan akad nikah di masjid atau akad di masjid memiliki nilai lebih dari
pada di tempat lain maka dia telah membuat bid’ah dalam agama Allah.” (Adab Al
Khitbah wa Al Zifaf, Hal.70)

Kedelapan, dianjurkan untuk menyebutkan mahar ketika akad nikah.

Tujuan dari hal ini adalah menghindari perselisihan dan masalah selanjutnya. Dan
akan lebih baik lagi, mahar diserahkan di majlis akad. Meskipun ulama sepakat,
akad nikah tanpa menyebut mahar statusnya sah.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan:

Menyebut mahar ketika akad bukanlah syarat sah nikah. Karena itu, boleh nikah
tanpa menyebut mahar dengan sepakat ulama. (Mausu’ah fiqhiyah Kuwaitiyah,
39:151)

Hanya saja, penyebutan mahar dalam akad nikah akan semakin menenangkan
kedua belah pihak, terutama keluarga.

Kesembilan, dianjurkan mengikuti prosedur administrasi akad nikah, sebagaimana
yang ditetapkan KUA. Ini semua dalam rangka menghindari timbulnya perselisihan
dan masalah administrasi negara. Hanya saja, sebisa mungkin proses pernikahan
dimudahkan dan tidak berbelit-belit. Semakin mudah akad nikah, semakin baik
menurut kaca mata syariah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Nikah yang terbaik adalah yang paling mudah.” (HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan
Al-Albani)

Sifat mudah ini mencakup masalah nilai mahar, tata cara nikah, proses akad, dst.

Kesepuluh, tidak ada anjuran untuk melafadzkan ijab kabul dalam sekali nafas,
sebagaimana anggapan sebagian orang. Karena inti dari ijab qabul akad nikah
adalah pernyataan masing-masing pihak, bahwa wali pengantin wanita telah
menikahkan putrinya dengannya, dan pernyataan kesediaan dari pengantin laki-
laki.

Mengharuskan akad nikah dan ijab kabul dengan harus satu nafas bisa disebut
pemaksaan yang berlebihan.

Kesebelas, doa selepas akad nikah.

Dianjurkan bagi siapapun yang hadir ketika peristiwa itu, untuk mendoakan
pengantin. Di antara lafadz doa yang dianjurkan untuk dibaca adalah

“Semoga Allah memberkahimu di waktu senang dan memberkahimu di waktu
susah, dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”

Dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak memberikan ucapan
selamat kepada orang yang menikah, beliau mendoakan: baarakallahu laka…dst.”
(HR. Turmudzi, Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani)

Dari A’isyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku, kemudian ibuku mendatangiku dan
mengajakku masuk ke dalam rumah. Ternyata di dalamnya terdapat banyak wanita
Anshar. Mereka semua mendoakan kebaikan, keberkahan karena
keberuntunganku. (HR. Bukhari dan Muslim)

Syarat Saksi Nikah

Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah menjelaskan,
Syarat untuk saksi nikah: Berakal, baligh, bisa mendengar ucapan orang yang
melakukan akad, dan memahami maksud dari ucapan akad nikah. Karena itu, jika
yang menajdi saksi nikah adalah anak kecil, orang gila, orang tuli, atau orang

mabuk, maka nikahnya tidak sah. Karena keberadaan mereka di tempat akad nikah
tidak teranggap.
Apakah disyaratkan harus Adil?

Yang dimaksud muslim yang adil adalah muslim yang menjalankan kewajiban dan
tidak melakukan dosa besar atau kebohongan.

Pertama, Hanafiyah berpendapat bahwa sifat adil untuk saksi, bukan
syarat. Pernikahan hukumnya sah, meskipun dengan saksi dua orang fasik. Setiap
orang yang layak menjadi wali nikah, maka dia layak menjadi saksi. Karena maksud
utama adanya saksi adalah pengumuman adanya pernikahan.
Kedua, Syafi’iyah dan mayoritas ulama berpendapat bahwa saksi dalam urusan
manusia harus adil. Berdasarkan hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ل

حاكن

لإ

يلوب

يدهاشو

لدع

“Tidak ada nikah kecuali dengan wali (wanita) dan dua saksi yang adil.” (HR. At-
Thabrani dalam al-Ausath, Ad-Daruquhni, dan dishahihkan al-Albani).
Selanjutnya Sayid Sabiq menyimpulkan,

Pendapat Hanafiyah lebih kuat. Karena pernikahan berlangsung di masyarakat, di
desa, kampung, sementara tidak diketahui status keadilan mereka. Tidak ada
jaminan mereka telah lepas dari dosa besar. Sehingga, mempersyaratkan
saksi nikah harus orang yang adil, akan sangat memberatkan. Karena itu, cukup
dengan melihat penilaian umum pada saksi, tanpa harus mengetahui detail apakah
dia pernah melakukan dosa besar atau tidak.
Kemudian, jika ternyata setelah akad diketahui bahwa ternyata saksi adalah orang
fasik, ini tidak mempengaruhi keabsahan akad. Karena penilaian sifat adil dilihat
pada keumuman sikapnya, bahwa dirinya bukan orang fasik. Meskipun setelah itu
diketahui dia melakukan dosa besar (Fiqhus Sunnah, 2:58).

Penjelasan Syaikhul Islam

Lain dari penjelasan beliau, Syaikhul Islam menjelaskan bahwa kriteria adil dalam
masalah saksi, kembali pada standar yang ada di masyarakat. Artinya jika
seseorang itu masih dianggap sebagai orang baik-baik di mata masyarakatnya,
maka dia layak untuk menjadi saksi, kerena telah memenuhi kriteria adil di
masyarakat tersebut, meskipun bisa jadi dia pernah melakukan transaksi riba atau
melakukan ghibah. Ini berdasarkan firman Allah :

اودُهِشْتَسْاوَ

نِيْدَيهِشَ

نْمِ

مْكُلِاجَرِ

نْإِفَ

مْلَ

انَوكُيَ

نِيْلَجُرَ

لٌجُرَفَ

نِاتَأَرَمْاوَ

نْمّمِ

نَوْضَرْتَ

نَمِ

ءِادَهَشّلا

“Ambillah saksi dua orang laki-laki. Jika tidak ada dua orang laki-laki maka saksi
dengan seorang laki-laki dan dua orang wanita, yang kalian relakan (untuk menjadi
saksi).” (QS. Al-Baqarah: 282).
Setelah menyebutkan ayat ini, Syaikhul islam mengatakan:

يضِتَقْيَ

هُنّأَ

لُبَقْيُ

يفِ

ةِدَاهَشّلا

ىلَعَ

قِوقُحُ

نَييّمِدَلْا

نْمَ

هُوضُرَ

ادًيهِشَ

مْهُنَيْبَ

لَوَ

رُظَنْيُ

ىلَإ

هِتِلَادَعَ

امَكَ

نُوكُيَ

لًوبُقْمَ

مْهِيْلَعَ

امَيفِ

هُونُمَتَئْا

هِيْلَعَ

“Ayat ini menunjukkan bahwa diterima persaksian dalam masalah hak anak Adam
dari orang yang mereka ridhai untuk menjadi saksi dalam interaksi diantara
mereka, dan tidak harus melihat sifat adilnya. Mereka menerima urusan yang
diamanahkan di antara sesama mereka.”
Selanjutnya beliau memberikan alasan,

لُدْعَلْاوَ

يفِ

لّكُ

نٍامَزَ

نٍاكَمَوَ

ةٍفَئِاطَوَ

اهَبِسَحَبِ

نُوكُيَفَ

دُهِاشّلا

يفِ

لّكُ

مٍوْقَ

نْمَ

نَاكَ

اذَ

لٍدْعَ

مْهِيفِ

نْإِوَ

نَاكَ

وْلَ

نَاكَ

يفِ

مْهِرِيْغَ

نَاكَلَ

هُلُدْعَ

ىلَعَ

هٍجْوَ

اذَهَبِوَ .رَخَآ

نُكِمْيُ

مُكْحُلْا

نَيْبَ

سِانّلا

لّإِوَ

وْلَفَ

رَبِتُعْاُ

يفِ

دِوهُشُ

لّكُ

ةٍفَئِاطَ

نْأَ

لَ

دَهَشْيَ

مْهِيْلَعَ

لّإ

نْمَ

نُوكُيَ

امًئِاقَ

ءِادَأَ
بِ

تِابَجِاوَلْا

كِرْتَوَ

تِامَرّحَمُلْا

امَكَ

نَاكَ

ةُبَاحَصّلا

تْلَطَبَلَ

تُادَاهَشّلا

اهَلّكُ

وْأَ

.اهَبُلِاغَ

“Kriteria adil dalam setiap waktu, tempat, dan masyarakat berbeda-beda sesuai
dengan keadaan mereka. Karena itu, saksi dalam setiap masyarakat adalah orang
yang dianggap baik di tengah mereka. Meskipun andaikan di tempat lain, kriteria
adil berbeda lagi. Dengan keterangan ini, memungkinkan untuk
ditegakkan hukum di tengah masyarakat. Karena jika yang boleh menjadi saksi
dalam setiap masyarakat hanyalah orang yang melakukan semua kewajiban syariat
dan menjauhi semua yang haram, sebagaimana yang dulu ada di zaman sahabat,
tentu syariat persaksian dalam setiap kasus tidak akan berjalan, semuanya atau
umumnya.” (al-Fatawa al-Kubro, 5:574)
Allahu a’lam

Tata Cara Pernikahan Dalam Islam : 2. Aqad Nikah

Dalam aqad nikah ada beberapa syarat, rukun dan kewajiban yang harus dipenuhi,
yaitu adanya:

1. Rasa suka sama suka dari kedua calon mempelai
2. Izin dari wali
3. Saksi-saksi (minimal dua saksi yang adil)
4. Mahar
5. Ijab Qabul

• Wali
Yang dikatakan wali adalah orang yang paling dekat dengan si wanita. Dan orang
paling berhak untuk menikahkan wanita merdeka adalah ayahnya, lalu kakeknya,
dan seterusnya ke atas. Boleh juga anaknya dan cucunya, kemudian saudara
seayah seibu, kemudian saudara seayah, kemudian paman. [1]

Ibnu Baththal rahimahullaah berkata, “Mereka (para ulama) ikhtilaf tentang wali.
Jumhur ulama di antaranya adalah Imam Malik, ats-Tsauri, al-Laits, Imam asy-
Syafi’i, dan selainnya berkata, “Wali dalam pernikahan adalah ‘ashabah (dari pihak
bapak), sedangkan paman dari saudara ibu, ayahnya ibu, dan saudara-saudara dari
pihak ibu tidak memiliki hak wali.” [2]

Disyaratkan adanya wali bagi wanita. Islam mensyaratkan adanya wali bagi wanita
sebagai penghormatan bagi wanita, memuliakan dan menjaga masa depan mereka.
Walinya lebih mengetahui daripada wanita tersebut. Jadi bagi wanita, wajib ada wali
yang membimbing urusannya, mengurus aqad nikahnya. Tidak boleh bagi seorang
wanita menikah tanpa wali, dan apabila ini terjadi maka tidak sah pernikahannya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa saja wanita yang menikah tanpa seizin walinya, maka nikahnya bathil (tidak
sah), pernikahannya bathil, pernikahannya bathil. Jika seseorang menggaulinya,
maka wanita itu berhak mendapatkan mahar dengan sebab menghalalkan
kemaluannya. Jika mereka berselisih, maka sulthan (penguasa) adalah wali bagi
wanita yang tidak mempunyai wali.” [3]

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak sah nikah melainkan dengan wali.” [4]

Juga sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Tidak sah nikah kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang adil.” [5]

Tentang wali ini berlaku bagi gadis maupun janda. Artinya, apabila seorang gadis
atau janda menikah tanpa wali, maka nikahnya tidak sah.

Tidak sahnya nikah tanpa wali tersebut berdasarkan hadits-hadits di atas yang
shahih dan juga berdasarkan dalil dari Al-Qur’anul Karim.

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan apabila kamu menceraikan isteri-isteri (kamu), lalu sampai masa ‘iddahnya,
maka jangan kamu (para wali) halangi mereka menikah (lagi) dengan calon
suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dengan cara yang
baik. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman
kepada Allah dan hari Akhir. Itu lebih suci bagimu dan lebih bersih. Dan Allah
mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” [Al-Baqarah : 232]

Ayat di atas memiliki asbaabun nuzul (sebab turunnya ayat), yaitu satu riwayat
berikut ini. Tentang firman Allah: “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi
mereka,” al-Hasan al-Bashri rahimahullaah berkata, Telah menceritakan kepadaku
Ma’qil bin Yasar, sesungguhnya ayat ini turun berkenaan dengan dirinya. Ia berkata,

“Aku pernah menikahkan saudara perempuanku dengan seorang laki-laki,
kemudian laki-laki itu menceraikannya. Sehingga ketika masa ‘iddahnya telah
berlalu, laki-laki itu (mantan suami) datang untuk meminangnya kembali. Aku
katakan kepadanya, ‘Aku telah menikahkan dan mengawinkanmu (dengannya) dan
aku pun memuliakanmu, lalu engkau menceraikannya. Sekarang engkau datang
untuk meminangnya?! Tidak! Demi Allah, dia tidak boleh kembali kepadamu
selamanya! Sedangkan ia adalah laki-laki yang baik, dan wanita itu pun
menghendaki rujuk (kembali) padanya. Maka Allah menurunkan ayat ini: ‘Maka
janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka.’ Maka aku berkata, ‘Sekarang aku
akan melakukannya (mewalikan dan menikahkannya) wahai Rasulullah.’” Kemudian
Ma‘qil menikahkan saudara perempuannya kepada laki-laki itu.[6]

Hadits Ma’qil bin Yasar ini adalah hadits yang shahih lagi mulia. Hadits ini
merupakan sekuat-kuat hujjah dan dalil tentang disyaratkannya wali dalam akad
nikah. Artinya, tidak sah nikah tanpa wali, baik gadis maupun janda. Dalam hadits
ini, Ma’qil bin Yasar yang berkedudukan sebagai wali telah menghalangi pernikahan
antara saudara perempuannya yang akan ruju’ dengan mantan suaminya, padahal
keduanya sudah sama-sama ridha. Lalu Allah Ta’ala menurunkan ayat yang mulia
ini (yaitu surat al-Baqarah ayat 232) agar para wali jangan menghalangi pernikahan
mereka. Jika wali bukan syarat, bisa saja keduanya menikah, baik dihalangi atau
pun tidak. Kesimpulannya, wali sebagai syarat sahnya nikah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaah berkata, “Para ulama berselisih tentang
disyaratkannya wali dalam pernikahan. Jumhur berpendapat demikian. Mereka
berpendapat bahwa pada prinsipnya wanita tidak dapat menikahkan dirinya sendiri.
Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang telah disebutkan di atas tentang
perwalian. Jika tidak, niscaya penolakannya (untuk menikahkan wanita yang berada
di bawah perwaliannya) tidak ada artinya. Seandainya wanita tadi mempunyai hak
menikahkan dirinya, niscaya ia tidak membutuhkan saudara laki-lakinya. Ibnu
Mundzir menyebutkan bahwa tidak ada seorang Shahabat pun yang menyelisihi hal
itu.” [7]

Imam asy-Syafi’i rahimahullaah berkata, “Siapa pun wanita yang menikah tanpa izin
walinya, maka tidak ada nikah baginya (tidak sah). Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, ‘Maka nikahnya bathil (tidak sah).’”[8]

Imam Ibnu Hazm rahimahullaah berkata, “Tidak halal bagi wanita untuk menikah,
baik janda maupun gadis, melainkan dengan izin walinya: ayahnya, saudara laki-
lakinya, kakeknya, pamannya, atau anak laki-laki pamannya…” [9]

Imam Ibnu Qudamah rahimahullaah berkata, “Nikah tidak sah kecuali dengan wali.
Wanita tidak berhak menikahkan dirinya sendiri, tidak pula selain (wali)nya. Juga
tidak boleh mewakilkan kepada selain walinya untuk menikahkannya. Jika ia
melakukannya, maka nikahnya tidak sah. Menurut Abu Hanifah, wanita boleh
melakukannya. Akan tetapi kita memiliki dalil bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,

“Pernikahan tidak sah, melainkan dengan adanya wali.”

• Keharusan Meminta Persetujuan Wanita Sebelum Pernikahan
Apabila pernikahan tidak sah, kecuali dengan adanya wali, maka merupakan
kewajiban juga meminta persetujuan dari wanita yang berada di bawah
perwaliannya. Apabila wanita tersebut seorang janda, maka diminta persetujuannya
(pendapatnya). Sedangkan jika wanita tersebut seorang gadis, maka diminta juga
ijinnya dan diamnya merupakan tanda ia setuju.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,

“Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta perintahnya.
Sedangkan seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta ijinnya.”
Para Shahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah ijinnya?” Beliau
menjawab, “Jika ia diam saja.” [11]

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma bahwasanya ada seorang gadis yang
mendatangi Rasulullah shal-lallaahu ‘alaihi wa sallam dan mengadu bahwa ayahnya
telah menikahkannya, sedangkan ia tidak ridha. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi
wa sallam menyerahkan pilihan kepadanya (apakah ia ingin meneruskan
pernikahannya, ataukah ia ingin membatalkannya). [12]

• Mahar
“Dan berikanlah mahar (maskawin) kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai
pemberian yang penuh kerelaan.” [An-Nisaa’ : 4]

Mahar adalah sesuatu yang diberikan kepada isteri berupa harta atau selainnya
dengan sebab pernikahan.

Mahar (atau diistilahkan dengan mas Kimpoi) adalah hak seorang wanita yang
harus dibayar oleh laki-laki yang akan menikahinya. Mahar merupakan milik
seorang isteri dan tidak boleh seorang pun mengambilnya, baik ayah maupun yang
lainnya, kecuali dengan keridhaannya.

Syari’at Islam yang mulia melarang bermahal-mahal dalam menentukan mahar,
bahkan dianjurkan untuk meringankan mahar agar mempermudah proses
pernikahan.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah
bersabda:

“Di antara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya dan
mudah rahimnya.” [13]

‘Urwah berkata, “Yaitu mudah rahimnya untuk melahirkan.”

‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:

‘Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.’” [14]

Seandainya seseorang tidak memiliki sesuatu untuk membayar mahar, maka ia
boleh membayar mahar dengan mengajarkan ayat Al-Qur’an yang dihafalnya. [15]

Quote: • Khutbah Nikah
Menurut Sunnah, sebelum dilangsungkan akad nikah diadakan khutbah terlebih
dahulu, yang dinamakan Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat. [16] Adapun teks
Khutbah Nikah adalah sebagai berikut:
Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan
ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami
dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka
tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka
tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali
Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad
shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-
benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”
[Ali ‘Imran : 102]

“Wahai manusia! Bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari
diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya;
dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang
banyak. Bertaqwalah kepada Allah yang dengan Nama-Nya kamu saling meminta,
dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguh-nya Allah selalu menjaga dan
mengawasimu.” [An-Nisaa' : 1]

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dan
ucapkanlah perkataan yang benar, nis-caya Allah akan memperbaiki amal-amalmu
dan meng-ampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya,
maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar.” [Al-Ahzaab : 70-71]

Amma ba’du

Syarat Saksi Nikah & Syarat Ijab Qabul
Pasal 40 Tentang Syarat-Syarat Syahid

Bahwa syarat-syarat sah yang harus terpenuhi oleh kedua orang saksi di dalam
pernikahan (ijab dan qabul) ialah sebanyak 16 perkara:

1. Beragama Islam. Tidak sah saksi orang kafir.

2. Berakal sehat. Tidak sah saksi orang yang hilang akalnya.

3. Sudah usia dewasa. Tidak sah saksi anak-anak.

4. Lelaki. Tidak sah saksi wali wanita.

5. Merdeka. Tidak sah saksi budak belian.

6. Dua orang. Tidak sah saksi satu orang.

7. Melihat. Tidak sah saksi buta.

8. Mendengar. Tidak sah saksi tuli.

9. Bisa berbicara benar. Tidak sah saksi bisu.

10. Bukan anak. Tidak sah saksi anaknya sendiri.

11. Bukan bapak. Tidak sah saksi bapaknya sendiri.

12. Bukan musuh. Tidak sah musuh menjadi saksi

13. Tidak fasiq. Tidak sah saksi fasiq

14. Menjaga keperwiraan. Tidak sah saksi cidera keperwiraan (marwat).

15. Selamat I’tiqad. Tidak sah saksi mukim sesat bid’ah seperti Qadariyah dan
Jabariyah.

16. Sentosa pikiran (tidak terlalu pemarah). Tidak sah saksi seorang yang besar
nafsu ketika marah terhadap orang lain, sehingga melampaui batas kewajaran.

Pasal 41 Tentang Dua Saksi Yang Adil

Bahwa yang disebut adil adalah orang islam yang berakal dan kedatangan hukum
syari’ah yang tidak mengerjakan dosa besar dan tidak mengekalkan haram kecil
(Bujairami ala al-Khatib: 1/ 245).

Pasal 42 Tentang Arti Fasiq

Bahwa yang disebut fasiq ialah manusia berakal yang sudah berusia baligh dan
melakukan salah satu dosa besar atau mengekalkan haram kecil (tetapi merasa
berdosa).

Pasal 43 Tentang Ijab dan Qabul

Bahwa arti ijab ialah ucapan menikahkan lisankan oleh wali pengantin perempuan.
Sedangkan Qabul ialah penerimaan (penjawaban) yang dilisankan oleh pengantin
lelaki.

Pasal 44 Tentang Syarat Sah Ijab Qabul

Bahwa syarat-syarat sah ijab qabul akad nikah sebanyak ada enam perkara:

1. Hendaklah pengantin lelaki yang menerima (qabul), bukan anak kecil, karena
syarat pengantin lelaki harus baligh.

2. Hendaklah pengantin lelaki jangan kelamaan dalam menjawab ucapan wali
yang menikahkan pengantin wanita (istrinya).

3. Hendaklah muafakat pengucapnya wali pada pengantin lelaki.

4. Hendaklah muafakat dalam penyebutan wali pada jumlah maskawin.

5. Hendaklah jangan dijanji talak nanti setelah disetubuhi.

6. Hendaklah antara keduanya faham akan bahasa yang diucapkan

Pernikahan atau perkawinan dalam istilah syariah (fiqh) Islam adalah suatu akad
(transaksi) yang menyebabkan menjadi halal atau legalnya hubungan seksual
antara seorang laki-laki dan perempuan dengan memakai kata (bahasa
Arab) inkah (كَتُحْكَنْأَ) atau tazwij (كَتُجْوّزَ) atau terjemahannya dalam bahasa setempat.
[1] Dalam pengertian umum, pernikahan/perkawinan adalah upacara pengikatan
janji nikah yang dilaksanakan oleh calon mempelai pria dan wanita. dengan tujuan
melegalkan hubungan dua lawan jenis yang akan hidup dalam satu atap baik legal
secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->